Majalah Minerize HMTA 2020 Edisi 7

Page 1

BATUBARA, SI EMAS HITAM SUMBER SOLUSI KREATIF MENGURANGI CO2 ENERGI DUNIA OMNIBUS LAW di SEKTOR PERTAMBANGAN ANCAMAN PENYAKIT PARA PEKERJA TAMBANG dampak corona terhadap industri pertambangan HILIRISASI GASIFIKASI EMAS HITAM MENILIK MASA DEPAN BATUBARA DISKUSI PUBLIK hmta : RARE EARTH ELEMENT FORUM KAJIAN PERKEMBANGAN DUNIA PERTAMBANGAN “HILIRISASI DI INDONESIA” ISSN 2723-3219 EDISI 2020 1


2

Ardiansya www.hmtaupmyk.com


intro

H

impunan Mahasiswa Teknik Pertambangan (HMTA) UPN “Veteran” Yogyakarta, pada Mei 2020 yang lalu merayakan hari ulang tahun ke-26 tahun. Sejak didirikan 27 Mei 1994 sampai sekarang HMTA tidak pernah kehabisan ide untuk melakukan pembaharuan baik internal maupun eksternal. Pembaharuan tersebut dilakukan guna mengasah kemampuan dan jiwa yang bertanggung jawab untuk anggotanya. Majalah Minerize merupakan salah satu bentuk usaha pembaharuan wawasan dalam menyikapi perubahan industri pertambangan. Minerize diambil dari kata “Miner” yang artinya penambang dengan ditambah imbuhan “-ize” yang memiliki arti sebuah proses, Minerize mengandung arti sebuah proses menjadi seorang penambang. Majalah Minerize edisi ini membahas mendalam mengenai seluk beluk batubara, mulai dari sisi geologi, ekonomi, sejarah, teknologi, hingga perkiraan nasib batubara di masa depan. Di samping membahas batubara, Majalah Minerize edisi ini juga membahas hal-hal lain mengenai industri pertambangan yang terjadi beberapa bulan belakangan, salah satunya dampak virus COVID-19 bagi industri pertambangan.

MINING PHOTOGRAPHY

ah Rizal Ahimsa / 112160125

1


KetuaJurusan Jurusan Ketua Assalaamu’alaikum wr wb... Demi tercapainya suasana kampus yang nyaman dan sejuk (green mining) bagi stakeholder pada Kepengerusan Jurusan Teknik Pertambangan Periode 2020-2024, maka terbitnya Majalah Ilmiah HMTA edisi ke-7 tahun 2020 adalah salah satu wujud pengembangan kreativitas mahasiswa di bidang akademis. Pada era revolusi industri 4.0, pengembangan teknologi dan ilmu pertambangan memerlukan wahana yang dapat menampung hasil penelitian dan inovasi-inonasi terbaru,salah satunya adalah terbitnya majalah-majalah ilmiah di bidang pertambangan. Semoga majalah ilmiah HMTA terus berkembang dan menjadi pioner majalah pertambangan di masa yang akan datang. Wassalamualaikum wr wb... Ketua Jurusan Dr. Ir. Eddy Winarno, S.Si, M.T

Ketua Himpunan Himpunan Ketua Assalamualaikum wr.wb. VIVA TAMBANG! Puji syukur kehadirat Allah swt atas terbitnya majalah Minerize edisi 7 tahun 2020. Saya harap dengan terbitnya majalah HMTA, anggota dapat terus menyalurkan pemikirian kreatif melalui karya tulisannya dan juga dengan terbitnya majalah ini dapat menjadi ilmu baru serta menjadi media informasi terkait kegiatan HMTA kepada seluruh pembaca Akhir kata saya ucapkan terima kasih banyak kepada seluruh pihak yang mendukung majalah Minerize dan semoga majalah Minerize dapat diketahui oleh akademisi, praktisi, maupun masyarakat umum, sehingga kami dapat terpacu untuk terus berkarya melalui majalah minerize Wassalamualaikum wr.wb. Ketua Himpunan M. Yogi Pratama

2

www.hmtaupmyk.com


SUSUNAN TIM REDAKSI

TIM REDAKSI MAJALAH MINERIZE 2020

KEPALA BIDANG INFOKOM HMTA Rezki Ramadhan PENANGGUNG JAWAB UMUM Jimmi Ramadhani PEMIMPIN REDAKSI Didit Adi Setiaji Syahrudin EDITOR Gede Gupta Rastika DESAIN GRAFIS Derifqi Miko Dwi Ariputra FOTOGRAFER Yahya Mushaffa REPORTER Eka Malinda KONTRIBUTOR Badai Harish Faza Taufik Fuad Dermawan Dymas Albert Nasrullah Muhammad Hisyam Novriza Jellyta Irnadia Annisya Aulia Rahma

SALAM REDAKSI Puji dan syukur kehadirat Allah swt karena dengan rahmat-Nya penyusunan Majalah dapat berjalan dengan baik. Terima kasih banyak juga kepada seluruh pihak yang telah membantu berjalannya proses penyusunan Majalah Minerize edisi 2020. Kritik dan saran akan selalu kami tunggu dari para pembaca karena melalui kritik dan saran itulah Majalah Minerize mampu terus berkembang menjadi lebih baik lagi kedepannya. Selamat membaca, Viva Tambang! Hormat kami, Tim Redaksi Majalah Minerize 2020

3


DITERBITKAN OLEH BIDANG INFORMASI DAN KOMUNIKASI HIMPUNAN MAHASISWA TEKNIK PERTAMBANGAN UPN VETERAN YOGYAKARTA SEKRETARIAT GEDUNG PERTAMBANGAN Lt. 1 UPN Veteran Yogyakarta Jl. Ring Road Utara No. 104, Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta - Indonesia

DAFTAR ISI 2 SALAM PEMBUKA 3 SUSUNAN TIM REDAKSI 7 BATUBARA, SI EMAS HITAM SUMBER ENERGI DUNIA

14ANCAMAN PENYAKIT PARA PEKERJA TAMBANG

18HILIRISASI GASIFIKASI EMAS HITAM

20

DISKUSI PUBLIK : RARE EARTH ELEMENT

4

www.hmtaupmyk.com

28

SOLUSI KREATIF MENGURANGI CO2

30

OMNIBUS LAW SEKTOR

PERTAMBANGAN

38

TAMBANG DAN CORONA

46

MENILIK MASA DEPAN

BATUBARA

52

HASIL FORUM KAJIAN HILIRISASI

58

APA PENDAPAT MEREKA?


MINING MINING PHOTOGRAPHY PHOTOGRAPHY

Ardiansyah Rizal Ahimsa / 112160125

5


MINING PHOTOGRAPHY

Ardiansyah Rizal Ahimsa / 112160125

6

www.hmtaupmyk.com


Batubara, Si Emas Hitam Sumber Energi Dunia oleh ; gede gupta rastika

Batubara bukan lagi komoditas yang asing dalam dunia pertambangan. Batubara merupakan salah satu komoditas tambang terbesar di dunia. Hampir seluruh benua di dunia memiliki cadangan batubara. Tidak ada yang tahu pasti kapan batubara mulai ditambang dan digunakan di dunia.

“Bagaimana sejarahnya?”

M

enurut beberapa ahli, batubara diyakini pertama kali ditambang pada tahun 3490 SM di dataran China. Catatan sejarah dari Aristoteles, seorang filsuf Yunani menunjukkan bahwa batubara digunakan oleh peradaban Romawi pada tahun 400 SM.

Menurut catatan sejarah Indonesia, penambangan batubara pertama dikelola oleh Kesultanan Kutai. Kemudian, para penjajah menguasai sebagian besar batubara di Kalimantan. Oost-Borneo Maatchappij dan Oranje Nassau adalah perusahaan besar yang menambang batubara selama masa penjajahan di Indonesia. Dapat dilihat bahwa Kalimantan memang menjadi pusat penambangan batubara di Indonesia sejak dulu.

“Apa itu batubara?”

sumber : flickr.com

Penggunaan batubara mulai melonjak signifikan sejak James Watt menemukan mesin uap pada tahun 1769. Mesin uap memulai era revolusi Industri di Eropa. Batubara digunakan sebagai sumber energi untuk menggerakkan berbagai mesin, mulai dari mesin lokomotif, mesin kapal uap, hingga mesin pabrik-pabrik tekstil. Mesin uap James Watt menjadi tonggak awal perkembangan batubara sebagai sumber energi saat ini.

Banyak ahli mendefinisikan apa itu batubara. Secara ringkas, batubara didefinisikan sebagai batuan karbonat berbentuk padat, rapuh, berwarna cokelat tua sampai hitam, dan dapat terbakar (Elliot,2005). Batubara terbentuk sebagai hasil dari vegetasi yang mengalami perubahan baik secara fisik maupun kimiawi. Batubara sering disebut sebagai emas hitam. Hal tersebut karena nilai ekonomis yang dimiliki oleh batubara, walaupun tidak semahal emas.

“Bagaimana batubara bisa ada?”

Batubara terbentuk melalu proses alami dalam jangka waktu yang amat panjang. Batubara mulai terbentuk di muka bumi pada Jaman Karbon (Carboniferous Period) yang berlansgung sekitar 360 juta hingga 290 juta tahun yang lalu. Proses pembentukan batubara melalui dua proses

7


utama yang mengubah kondisi fisik dan kimia dari tumbuhan yang terendapkan. Dua proses itu adalah penggambutan (peatification) dan pembatubaraan (coalification). Penggambutan akan mengubah vegetasi rawa menjadi gambut melalui proses anaerob di dalam genangan air. Kemudian gambut mengalami penambahan tekanan dan temperatur akibat beban sedimen diatasnya, proses ini disebut coalification. Penambahan beban mengakibatkan oksigen dan unsur hidrogen akan berkurang, sementara unsur karbon terus bertambah seiring waktu. Akhirnya terbentuk berbagai jenis batubara yang ditambang oleh manusia.

(Gambut) Sumber: pexels.com

“Ragam jenis batubara”

Batubara dapat disebut sebagai fosil vegetasi purba yang terbagi dalam beberapa jenis. Kandungan dan tekstur batubara akan menentukan kualitasnya. Mulai dari gambut yang masih memperlihatkan sifat-sifat tumbuhan yang terendapkan. Gambut memiliki kandungan air lebih dari 75%. Kemudian lignit atau batubara coklat, merupakan batubara yang sudah memperlihatkan struktur perlapisan dan kekar. Tekstur dari lignit sangat lunak dengan kandungan air 35%-75% dari beratnya. Selanjutnya adalah sub-bitumen, yaitu batubara dengan material yang sudah mulai terkompaksi. Sub-bitumen mengandung air dan karbon dalam ukuran sedang. Terdapat pula batubara jenis bitumen dengan kandungan carbon cukup besar, antara 68%-86% dari beratnya dan berkadar air 8%-10% dari beratnya. Terakhir adalah antrasit, merupakan batubara dengan kandungan karbon tertinggi. Kadar karbonnya antara 86%-98% dengan kadar air dibawah 8%. Antrasit berwarna hitam mengkilat dengan tekstur yang sangat kompak.

8

www.hmtaupmyk.com

(PLTU Batubara) Sumber: flickr.com

“Manfaat utama si emas hitam”

Batubara memiliki banyak manfaat sebagai sumber energi maupun digunakan dalam industri. Bukan hal yang asing lagi bahwa batubara merupakan salah satu sumber energi utama untuk pembangkit listrik. Batubara juga dapat diolah menjadi gas maupun bahan bakar cair sebagai sumber energi. Dari data Dewan Energi Nasional mengenai bauran energi primer nasional Indonesia, pada tahun 2019 batubara menempati peringkat pertama sebagai sumber energi di Indonesia dengan persentase 37,15%. Batubara dengan kalori rendah seperti bitumen dan sub-bitumen sering digunakan untuk sumber energi pembangkit listrik. Batubara juga banyak digunakan dalam sektor perindustrian. Pada industri semen, batubara digunakan untuk proses pembakaran semen. Pada industri baja, gas dan panas kokas dari batubara digunakan untuk memanaskan dan memisahkan beberapa produk baja seperti aluminium.

“Dimana kita batubara?”

bisa

menemukan

Cadangan batubara dapat ditemukan di seluruh benua. Pada tahun 2017 diketahui cadangan batubara dunia sebesar 708.533 juta ton (World Data Atlas). Dari total cadangan tersebut, sebesar 31,16% atau 220.800 juta ton dimiliki oleh Amerika Serikat. Diikuti oleh China sebesar 18,47% atau 130.851 juta ton. Sementara Indonesia berada di urutan ke-9 dengan persentase 2,13% atau 15.068 juta ton. China menjadi negara dengan konsumsi batubara terbesar dengan persentase 51% atau 1892 Mtoe (Eniscuola Energy and Environment, 2017). Di sisi lain, dari sumber data yang sama, China merupakan


b at u b a r a , s i e m a s h i ta m s u m b e r e n e r g i d u n i a 91,8 juta ton (Sourcewatch, 2017).

(Cadangan Batubara Dunia 2017) Sumber: World Data Atlas

Adaro dan KPC (Kaltim Prima Coal) adalah dua perusahaan asal Indonesia yang ternyata menjadi salah satu perusahaan dengan produksi terbesar di dunia. Hal tersebut didasarkan pada produksi tahun 2013 - 2014. Adaro menempati posisi ke-3 di dunia dengan produksi sebesar 55,3 juta ton dan KPC (Kaltim Prima Coal) menempati posisi ke-4 dengan produksi sebesar 45,5 juta ton (Sourcewatch, 2017).

”Bagaimana batubara di pasar dan dunia bisnis?”

negara dengan jumlah produksi batubara terbesar di dunia. China memproduksi 1747 Mtoe batubara dengan persentase 46,4% dari total produksi dunia. Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia sendiri pada tahun 2017 memproduksi sekitar 420 juta ton batubara dengan konsumsi domestik sekitar 100 juta ton (Indonesian Energy Outlook).

(World Coal Production)

“Perusahaan raksasa penghasil emas hitam”

Walaupun China merupakan negara dengan produksi batubara terbesar di dunia, nyatanya berdasar data tahun 2013 - 2014 perusahaan tambang batubara terbesar di dunia justru berada di Amerika. Perusahaan itu adalah Peabody Energy dengan produksi sebesar 107 juta ton dan di urutan ke-2 adalah Arch Coal dengan produksi sebesar

Batubara memiliki harga yang naik turun atau tidak stabil di pasar. Dalam 10 tahun ini, dari tahun 2010 hingga tahun 2020 berdasarkan data KESDM, Harga Batubara Acuan (HBA) tertinggi terjadi di tahun 2011. Saat itu harga batubara mencapai 122.05 USD/ton. Permintaan barang-barang produksi Asia meningkat pada tahun 2011. Hal itu menyebabkan konsumsi energi juga meningkat dan secara tidak langsung meningkatkan permintaan batubara. Harga batubara pun akhirnya melesat naik di tahun ini. Permintaan batubara juga meningkat akibat cuaca ekstrem pada tahun 2011.

(World Coal Consumtion)

Fenomena La Nina di Samudra Pasifik menjadi pemicu cuaca ekstrem ini. Lima tahun kemudian, pada bulan Februari tahun 2016 batubara berada di posisi terendahnya dengan HBA sebesar 50.92 USD/ton. Penurunan harga terjadi karena permintaan batubara yang terus berkurang. Berbagai sentimen negatif memperburuk harga batubara di tahun 2016.

9


Untungnya harga batubara melesat naik pada tahun yang sama. Batubara memiliki harga sebesar 101.69 USD/ton di akhir tahun 2016. China mengurangi jam kerja untuk penambangan batubara pada tahun itu sehingga produksinya juga menurun. Pengurangan jam kerja ini mengharuskan China mengimpor lebih banyak batubara. Permintaan yang meningkat oleh China menjadi faktor yang memperkuat harga batubara di akhir tahun 2016.

penambangannya. Semua pasti masih ingat film dokumenter Sexy Killer yang memperlihatkan berbagai dampak negatif tambang batubara di Indonesia. Mulai dari merusak hutan dan sumber air warga hingga lubang bekas bukaan tambang yang menelan korban jiwa. Semuanya ditampilkan dengan blak-blakan oleh film tersebut.

“Kemudian. Bagaimana kondisinya saat “Dipandang sebelah mata” Namun, film tersebut dianggap terlalu berat ini?” Harga batubara masih lesu dan terus mengalami penurunan sejak tahun 2018. Harga batubara sempat menguat pada awal tahun 2020 dan turun kembali akibat sentimen negatif wabah COVID-19. Saat ini harga batubara berada di posisi yang rendah, yaitu 65.77 USD/ton.

“Sisi kelam si emas hitam”

Batubara dikenal murah dan efektif sebagai sumber energi pembangkit listrik. Itu mengapa batubara berada di peringkat pertama bauran energi nasional Indonesia tahun 2019. Namun, batubara juga menjadi salah satu sumber polusi udara terbesar. Pembakaran batubara menghasilkan CO2 yang mencemari udara. Pencemaran akibat penggunaan batubara sebagai sumber energi menyebabkan banyak lembaga lingkungan yang menolak keberadaan PLTU batubara. Salah satu bentuk protes pernah terjadi pada bulan Juli 2019. Walhi memprotes keberadaan PLTU berbahan bakar batubara di Jakarta. Menurut mereka keberadaan PLTU tersebut telah menyumbang polusi yang besar di Jakarta. Mereka memperkirakan bahwa PLTU batubara menyumbangkan 20% - 30% polusi udara. Protes tersebut dibantah oleh Direktur Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), menurutnya selama ini segala kebijakan ketenagalistrikan telah diatur dengan baik agar tidak mencemari lingkungan. Selain itu PLTU yang ada juga sudah dilengkapi Continuous Emission Monitoring System (CEMS) yang berfungsi memonitor emisi buangan PLTU secara kontinu. Selain diprotes dalam penggunaannya sebagai sumber energi, batubara juga sering diprotes sebagai perusak lingkungan akibat proses

10

www.hmtaupmyk.com

sebelah tanpa memperhatikan berbagai aspek positif dari kegiatan penambangan batubara. Penambangan batubara telah membuka lapangan kerja dan memajukan ekonomi di daerah sekitar penambangan. Batubara juga menjadi salah satu tumpuan utama untuk menghasilkan listrik di Indonesia. Tanpa batubara, kebutuhan listrik di Indonesia tidak dapat terpenuhi.

“Batubara memang dapat menghasilkan polusi dan penambangannya dapat menimbulkan banyak masalah, tetapi apakah pemerintah diam saja?” Karena hal tersebut pemerintah Indonesia terus berusaha mengembangkan berbagai sumber energi terbarukan untuk mengurangi penggunaan batubara. Berbagai EBT (Energi Baru Terbarukan) terus dikembangkan oleh pemerintah. Pemerintah juga sedang gencarnya mencari cara lain untuk memanfaatkan batubara. Ini dilakukan untuk memaksimalkan pemanfaatan batubara dan mengurangi polusi yang diakibatkannya. Berbagai inovasi telah dilakukan untuk mengolah dan mengekstraksi batubara. Metode gasifikasi batubara adalah salah satunya. Metode ini dianggap mampu mengolah batubara dengan efisien tanpa menimbulkan polusi yang berlebih. Gasifikasi batubara juga diharapkan mampu mengatasi masalah pemerintah dalam impor LPG selama ini. Beberapa perusahaan di Indonesia juga sudah mulai mengembangkan metode ini seperti PT. Bukit Asam. Pengganti batubara sebagai sumber energi pembangkit listrik juga mulai dikembangkan, seperti kayu kaliandra yang diolah menjadi pelet kayu. Pelet kayu kaliandra ini dianggap


b at u b a r a , s i e m a s h i ta m s u m b e r e n e r g i d u n i a

(Kayu Kaliandra) Sumber: kompas.com

mampu menggantikan batubara kalori rendah yang digunakan pada PLTU. Pelet kayu kaliandra ini juga diklaim menghasilkan emisi karbon yang lebih sedikit dibandingkan batubara. Hal ini tentu dapat menjawab permasalahan emisi karbon akibat batubara selama ini. Selain berusaha untuk mengurangi penggunaan batubara, metode lain juga dilakukan untuk mengurangi dampak negatif penggunaan batubara, salah satunya adalah metode CCS. Metode CCS (Carbon Capture and Storage) merupakan metode pembuangan gas CO2 hasil pembakaran batubara. Emisi gas CO2 hasil pembakaran batubara di PLTU akan dibuang ke dalam cebakan minyak atau reservoir minyak yang sudah kosong. CO2 akan terperangkap di dalam cebakan dan tidak dapat keluar ke udara bebas Selain terjebak, CO2 juga diharapkan akan bereaksi dengan berbagai mineral yang ada di dalam cebakan sehingga tidak akan mengotori udara. Metode ini telah diteliti sejak tahun 1980-an dan terus dikembangkan hingga saat ini. Sementara di Indonesia metode ini masih asing. Para geolog Indonesia saat ini masih terus berusaha mengembangkan metode CCS di Indonesia.

“Jadi, apakah penggunaan si emas hitam dapat dihapuskan?” Berbagai pro dan kontra mengenai batubara memang sudah ada sejak dulu. Walaupun batubara sering dianggap sebagai perusak lingkungan atau penghasil polusi, tetapi perlu diingat bahwa tanpa batubara listrik tidak dapat dinikmati

dengan maksimal oleh masyarakat. Keberadaan kayu kaliandra juga tidak sepenuhnya dapat menggantikan batubara. Batubara juga memiliki banyak manfaat di bidang industri dan belum ada yang bisa menggantikannya. Menghapus penggunaan batubara bukanlah hal yang mudah saat ini. Batubara memerlukan pengawasan, pengontrolan dan pengembangan dalam penggunaan ataupun penambangannya. Dengan demikian batubara dapat tetap dimanfaatkan dengan baik tanpa menimbulkan dampak negatif yang berlebih. Hal ini tentu dapat mengurangi sentimen negatif terhadap batubara, si emas hitam yang masih menjadi salah satu sumber energi dunia.

Sumber:

Coal Resources Book (World Coal Institute) iea.org minerba.esdm.go.id pln.batubara.co.id apbi.icma.org kideco.co.id minelog-services.com ptba.co.id cnnindonesia.com kompasiana.com

11


MINING PHOTOGRAPHY

12

www.hmtaupmyk.com


Ardiansyah Rizal Ahimsa / 112160125

13


14

www.hmtaupmyk.com


a n c a m a n p e n ya k i t p a r a p e k e r j a ta m b a n g

15


16

www.hmtaupmyk.com


MINING PHOTOGRAPHY

Ardiansyah Rizal Ahimsa / 112160125

17


18

www.hmtaupmyk.com


h i l i r i s a s i g a s i f i k a s i e m a s h i ta m

19


20

www.hmtaupmyk.com


21


22

www.hmtaupmyk.com


23


24

www.hmtaupmyk.com


25


26

www.hmtaupmyk.com


27


28

www.hmtaupmyk.com


MINING PHOTOGRAPHY

Ardiansyah Rizal Ahimsa / 112160125

29


30

www.hmtaupmyk.com


o m n i b u s l a w d i s e k t o r p e r ta m b a n g a n

31


MINING PHOTOGRAPHY

32

www.hmtaupmyk.com


Ardiansyah Rizal Ahimsa / 112160125

33


34

www.hmtaupmyk.com


s o l u s i k r e at i f m e n g u r a n g i e m i s i c o 2

35


36

www.hmtaupmyk.com


MINING PHOTOGRAPHY

Ardiansyah Rizal Ahimsa / 112160125

37


38

www.hmtaupmyk.com


ta m b a n g d a n c o r o n a

39


40

www.hmtaupmyk.com


ta m b a n g d a n c o r o n a

41


42

www.hmtaupmyk.com


ta m b a n g d a n c o r o n a

43


Ardiansyah Rizal Ahimsa / 112160125

44

www.hmtaupmyk.com


MINING PHOTOGRAPHY

45


menilik masa dep oleh : jimmi ramadhani dan badai harish faza

P

enurunan harga batubara tahun 2020 ini masih terus berlanjut. Harga Batubara Acuan (HBA) bulan April 2020 sebesar USD 65,77 per ton. Bayang-bayang krisis harga batu bara seperti yang terjadi pada tahun 2015 menghantui banyak pihak. Anjloknya harga batubara pada saat itu menyebabkan perusahaan terpaksa harus menghentikan operasionalnya. Harga jual batu bara sudah tidak bisa menutupi lagi biaya produksi yang dikeluarkan oleh perusahaan. Sehingga PHK masal tidak bisa dihindari. Bagi Negara, potensi penerimaan Negara bukan pajak (PNBP) dari sektor mineral dan batubara pasti ikut menurun. Baik dalam bentuk penjualan hasil tambang, royalty, dan iuran tetap minerba. Isu lingkungan juga menjadi salah satu isu utama yang terus menghantam bisnis batubara. Banyak pihak yang sadar kelestarian alam menjadi pemicu penolakan penggunaan batubara. Aktivitas penambangan batubara pasti akan berdampak terhadap lingkungan. Dalam proses

46

www.hmtaupmyk.com

pembakarannya di PLTU, batubara mengeluarkan polusi zat-zat beracun, mulai dari karbon monoksida, merkuri, sampai ke karbon dioksida, gas rumah kaca penyebab pemanasan global. Menurut hasil kajian 9 lembaga riset internasional tentang energi (ExternE, UK SDC, Univ. of Wisconsin, CRIEPI (Japan), Paul Scherrer Inst., UK Energy Review, IAEA, Vattenfall AB, dan British Energy), gas karbon dioksida yang dikeluarkan oleh PLTU Batubara berkisar 755 – 990 kgCO2/ Mweh. Hal ini menyebabkan banyak negara mulai mengganti pemakaian energi fosil ini ke energi terbarukan. Negara-negara di dunia telah menetapkan kebijakan terkait penggunaan batubara. Pada tahun 2016, banyak Negara telah menandatangani Kesepakatan Paris. Salah satu kesepakatannya adalah berhenti menjadikan batubara sebagai sumber energi. Ada 155 negara yang telah meratifikasi kesepakatan tersebut. Indonesia termasuk Negara yang menandatangani kesepakatan Paris, tepatnya pada 22 April 2016. Namun, selama ini ada inkonsistensi pemerintah dalam perjanjian paris dalam beberapa tahun terakhir.


m e n i l i k m a s a d e p a n b at u b a r a

pan batubara Beberapa negara bahkan berani mengambil langkah lebih lanjut dalam menghentikan produksi batubara untuk PLTU. Dubai pada tahun 2016 mengumumkan akan membangun pembangkit listrik tenaga surya sebesar 800 megawatt pada 27 Juni lalu. Ini menjadi salah satu langkah dalam Strategi Energi Bersih Dubai 2050. Kanada berencana menghentikan pembangkit listrik batubara tahun 2030, Inggris berencana menghentikan pembangkit listrik batubara tahun 2025, Prancis berencana menghentikan pembangkit listrik batubara tahun 2023. Portugal diperkirakan menghentikan pembangkit listrik batubara tahun 2020-an, dan Austria menyatakan akan bebas batubara paling lambat pada tahun 2025. Negara yang berani mengambil langkah menghentikan produksi batubara kebanyakan dilakukan oleh negara-negara maju, sedangkan negara-negara berkembang masih banyak mempertimbangkan hal tersebut dan lebih memilih mengurangi penggunaannya secara perlahan daripada menghentikan total produksi PLTU batubara. Di sisi lain ada juga negara yang masih berfokus terhadap PLTU batubara, salah satunya adalah Amerika Serikat yang pada tahun 2019 menarik diri dari Perjanjian Paris.

Kebijakan memberhentikan penggunaan batubara berdampak pada pasar batubara. Laporan terbaru Internasional Energy Agency (IEA) menyebut permintaan batu bara global akan tetap stabil hingga 2024. Dalam laporan tersebut IEA menyebutkan bahwa penurunan permintaan di Eropa dan AS akan diimbangi oleh peningkatan permintaan dari kawasan Asia. Menurut CNBC Indonesia konsumsi batu bara India pada 2024 akan mencapai 748 juta ton naik dari 585 juta ton pada 2018. Sementara itu konsumsi batu bara China akan terus meningkat dan mencapai puncaknya pada 2022.

MINING PHOTOGRAPHY

Ardiansyah Rizal Ahimsa / 112160125

47


Untuk mengatasi dampak lingkungan batubara diperlukan teknologi yang mampu mengurangi dampaknya. Di Indonesia sendiri, PLTU sudah dilengkapi dengan Super Critical Represitator untuk me-reduce dan meminimalisir sebaran fly ash buttom ash yang bisa menghemat konsumsi batubara 46%, sedangkan pembangkit konvensional hanya sekitar 30%. Selain Super Critical Respirator juga masih ada banyak teknologi terbarukan yang mampu mengurangi dampak batubara. Integrated Gasification Combined Cycle (IGCC), mentreatment gas buang dengan uap untuk menghilangkan sulfurdioksida, carbon capture, pencucian secara kimia, upgrading batubara peringkat rendah untuk memperbaiki nilai kalor dan efisiensi. Pada awalnya fokus utamanya adalah mereduksi SO2 dan partikulat, karena menyebabkan hujan asam. Akan tetapi kemudian fokus berkembang ke CO2 karena memberikan dampak pemanasan global. Efisiensinya bisa mencapai 35-48% atau sekitar 5-10% lebih tinggi dari pembangkit konvensional. FGD (Flue Gas Desulfurization) menggunakan bahan baku air laut sebagai media penyerap emisi sulfur dengan hasil samping berupa gypsum dapat mengurangi emisi SO2 sebesar 43 % (103 menuju 58 mg/Nm3) hingga sebesar 36,23% (87,82 menuju 56 mg/Nm3). Carbon Capture and Storage (CCS) merupakan salah satu teknologi mitigasi pemanasan global dengan cara mengurangi emisi CO2 ke atmosfer. Teknologi ini merupakan rangkaian pelaksanaan proses yang terkait satu sama lain, mulai dari pemisahan dan penangkapan CO2 dari sumber emisi gas buang (capture), pengangkutan CO2 tertangkap ke tempat penyimpanan (transportation), dan penyimpanan ke tempat yang aman (storage). Di sisi limbah pun sebenarnya masih bisa diolah lagi agar lebih bermanfaat. Limbah batu bara,

48

www.hmtaupmyk.com

abu batu bara itu bisa digunakan untuk bahan kontruksi seperti yang dilakukan Amerika Serikat, India, Tiongkok, dan Jepang, fly ash, bottom ash, dan gipsum diolah sebagai bahan pembuatan jalan, jembatan, paving blok, semen, dan sebagainya. Akan tetapi, sampai saat ini Indonesia belum mampu untuk melakukan hal tersebut karena limbah-limbah tersebut masih dianggap limbah B3. Lalu, bagaimana dengan masa depan batubara di Indonesia? Masih mengacu pada Road Map Kebijakan Energi Nasional, penggunaan batubara sebagai energi nasional 30% pada 2025 dan 25% pada 2050. Kementerian ESDM belum bisa memastikan kapan konsumsi batu bara di Indonesia mencapai puncaknya untuk kemudian bisa diturunkan. Alasannya, karena Indonesia masih membangun dan masih banyak daerah yang membutuhkan listrik. Dampak Batubara merusak lingkungan dan kesehatan memang tidak bisa dibantahkan melihat realita yang ada sekarang ini. Namun, mengingat potensi sumber daya dan cadangan batubara Indonesia yang melimpah ditambah dengan adanya teknologi-teknologi yang bisa meminimalisir emisi dan pemanfaatan limbahnya ini juga patut diperhitungkan. Dengan catatan, pemakaian batubara harus dilakukan secara cermat agar tidak ada energi yang terbuang sia-sia dan lebih memelihara lingkungan. Keputusan pemerintah untuk terus memakai batubara sebagai sumber energi memang patut diperdebatkan bagi beberapa pihak. Jadi, bagaimana menurut Anda?

Referensi : http://www.greenfacts.org/en/co2-capture-storage/index.htm https://jurnal.umk.ac.id/index.php/SNA/article/view/1276 https://www.greenpeace.org/indonesia/siaran-pers/1287/23-negara-dan-negara-bagian-akan-meninggalkan-industri-batubara-dengan-kapital-senilai-432-juta-usd/ https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=http://ejurnal.bppt.go.id/index.php/JTL/article/ download/1259/1068&ved=2ahUKEwiJ99ujm_roAhW86XMBHTQhAy4QFjACegQIARAC&usg=AOvVaw1DD3IeouA9NaCKtjBGPuZR&cshid=1587496149739 https://mediaindonesia.com/read/detail/275432-pengelolaan-limbah-batu-bara-perlu-jadi-perhatian-serius http://www.apbi-icma.org/news/2000/menyoal-dampak-limbah-batu-bara-dari-pltu


MINING PHOTOGRAPHY

Ardiansyah Rizal Ahimsa / 112160125

49


MINING PHOTOGRAPHY

50

www.hmtaupmyk.com


Ardiansyah Rizal Ahimsa / 112160125

51


FORUM KAJIAN PERKEMBANGAN DUNIA PERTAMBANGAN “HILIRISASI DI INDONESIA” Oleh : Bidang Penelitian dan Pengembangan

Latar Belakang Pemerintah Indonesia sejak tahun 2014 melalui Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral dan Batubara serta peraturan perundang-undangan turunannya, mewajibkan pemegang Kontrak Karya (KK) dan Izin Usaha Pertambangan (IUP) melakukan peningkatan nilai tambah mineral dan melarang ekspor produk-produk tambang jenis tertentu dalam bentuk mentah. Kemudian melalui Peraturan Menteri ESDM Nomor 5 Tahun 2017 tentang Peningkatan Nilai Tambah Mineral Melalui Kegiatan Pengolahan dan Pemurnian di Dalam Negeri, ditetapkan batasan minimum pengolahan dan pemurnian komoditas tambang mineral di dalam negeri. Komoditas tambang mineral tersebut termasuk produk samping/sisa hasil/mineral ikutan, mineral bukan logam dan batuan tertentu yang akan dijual ke luar negeri. Apabila tidak memenuhi ketentuan itu, pemerintah akan mengenakan sanksi terhadap perusahaan bersangkutan, termasuk mencabut izin operasi tambang. Namun harus diakui bahwa masih banyak terdapat kendala dan tantangan yang menghambat program hilirisasi mineral dan batubara, akibatnya terdapat beberapa proyek pembangunan idustri smelter masih sulit terlaksana, antara lain pengaplikasian kebijakan pemerintah yang kurang tegas kepada para perusahaan pertambangan yang wajib membangun smelter, keterbatasan infrastruktur seperti kurangnya akses jalan, listrik maupun pelabuhan serta masih tumpang tindihnya kebijakan pemerintah terakit peningkatan nilai tambah dan pembangunan smelter. Untuk itu demi mewujudkan program hilirisasi mineral di dalam negeri, Pemerintah diharapkan segera mengatasi kendala dan hambatan tersebut sebab ekspor bahan mentah mineral bukan saja membuat semakin lemahnya struktur industri namun juga membuat Indonesia kehilangan nilai tambah yang besar. Berdasarkan gambaran di atas, Himpunan Mahasiswa Teknik Pertambangan Bersama dengan Pemerintah dan Stakeholder perlu melakukan Kajian Perkembangan Dunia Pertambngan “Hilirisasi Di Indonesia” yang bertujuan untuk memberikan pengetahuan kepada mahasiswa khususnya program studi Teknik Pertambangan UPN”Veteran” Yogyakar-

52

www.hmtaupmyk.com

ta, menumbuhkan sikap peka dan kritis mahsiswa terkait isu-isu pertambangan, dan mahsiswa dapat memberikan saran dan tanggapan secara langsung kepada pemerintah dan stakeholder. Landasan Hukum Peraturan teknis lainnya yang telah dikeluarkan Pemerintah dalam mendorong peningkatan nilai tambah mineral di dalam negeri antara lain sebagai berikut : 1. Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 Tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara pada pasal 93, yang menyatakan Pemegang IUP operasi produksi dan IUPK operasi produksi mineral wajib melakukan pengolahan dan pemurnian untuk meningkatkan nilai tambah mineral yang diproduksi baik secara langsung maupun melalui kerjasama dengan perusahaan, pemegang IUP dan IUPK lainnya; 2. Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2014 Perubahan kedua atas Peraturan Pemerintah Nomor 23 tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara pasal 112C, bahwa : 2.1 Pemegang Kontrak Karya yang melakukan penambangan mineral logam dan telah melakukan kegiatan pemurnian dapat melakukan penjualan ke luar negeri dalam jumlah tertentu; 2.2 Pemegang IUP Operasi Produksi yang melakukan penambangan mineral logam dan telah melakukan kegiatan pengolahan dapat melakukan penjualan ke luar negeri dalam jumlah tertentu. 3. Peraturan Pemerintah Nomor 77 Tahun 2014 Perubahan ketiga atas Peraturan Pemerintah Nomor 23 tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara, bahwa : 3.1 Pemegang IUP dan IUPK yang melakukan perubahan dari penanaman modal dalam negeri menjadi penanaman modal asing, kepemilikan saham asing paling banyak 75% untuk IUP/IUPK Eksplorasi, 49% untuk IUP/IUPK Operasi Produksi yang tidak melakukan pengolahan dan/atau pemurnian sendiri, 60% IUP/IUPK Operasi Produksi yang melakukan pengolahan dan/atau pemurnian sendiri. 3.2 Pemegang IUP Operasi Produksi yang telah


f o r u m k a j i a n h i l i r i s a s i p e r ta m b a n g a n mendapatkan perpanjangan sebanyak dua kali harus menyampaikan laporan keberadaan potensi dan cadangan mineral dan batubara dalam jangka waktu tiga tahun kepada Menteri, Gubernur atau Bupati/Walikota. Sedangkan bagi pemegang IUPK Operasi Produksi menyampaikan laporan potensi dan cadangan kepada Menteri. 4. Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2017 Perubahan keempat atas Peraturan Pemerintah Nomor 23 tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara, bahwa : 4.1 Permohonan perpanjangan IUP Operasi Produksi mineral bukan logam atau batuan diajukan kepada Menteri, Gubernur, atau Bupati/Walikota paling cepat dua tahun dan paling lambat enam bulan sebelum berakhirnya jangka waktu IUP Operasi Produksi. 4.2 Permohonan perpanjangan IUPK Operasi Produksi diajukan kepada Menteri paling cepat lima tahun dan paling lambat satu tahun sebelum berakhirnya jangka waktu IUPK Operasi Produksi. 4.3 Pemegang IUP Operasi Produksi mineral atau batubara yang menjual mineral atau batubara yang diproduksi wajib berpedoman pada harga patokan mineral logam yang ditetapkan oleh Menteri. 4.4 Pemegang IUP dan IUPK dalam rangka penanaman modal asing, setelah lima tahun sejak berproduksi wajib melakukan divestasi sahamnya secara bertahap, sehingga pada tahun kesepuluh sahamnya paling sedikit 51% dimiliki peserta Indonesia. Kepemilikan peserta Indonesia setiap tahun setelah akhir tahun kelima sejak produksi tidak boleh kurang dari 20% pada tahun keenam, 30% pada tahun ketujuh, 37% pada tahun kedelapan, 44% pada tahun kesembilan dan 51% pada tahun kesepuluh. 5. Peraturan Menteri ESDM Nomor 1 Tahun 2014 yang direvisi dengan Peraturan Menteri ESDM Nomor 8 Tahun 2015 tentang Peningkatan Nilai Tambah Mineral Melalui Kegiatan Pengolahan dan Pemurnian Mineral di Dalam Negeri, menyatakan bahwa Pemegang Kontrak Karya Mineral Logam, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 112C Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2014 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara, dapat melakukan penjualan ke luar negeri dalam jumlah tertentu hasil pengolahan termasuk hasil pemurnian setelah memenuhi batasan minimum pengolahan dan pemurnian sebagaimana dimaksud dalam

Lampiran I Peraturan Menteri ini. 6. Peraturan Menteri ESDM Nomor 5 Tahun 2017 tentang Peningkatan Nilai Tambah Mineral Melalui Kegiatan Pengolahan dan Pemurnian Mineral di Dalam Negeri, bahwa : 6.1 Pemegang IUP Operasi Produksi Mineral Logam dan IUPK Operasi Produksi Mineral Logam wajib melakukan pengolahan dan pemurnian hasil penambangan di dalam negeri sesuai dengan batasan minimum yang ditetapkan. 6.2 Pemegang IUP Operasi Produksi, IUPK Operasi Produksi, IUP Operasi Produksi khusus pengolahan dan/atau pemurnian, dan pihak lain yang melakukan pengolahan dan/atau pemurnian wajib memanfaatkan Mineral Logam dengan kriteria tertentu hasil penambangan di dalam negeri yaitu nikel dengan kadar 42%. Pemegang Kontrak Karya Mineral Logam dapat melakukan penjualan hasil pemurnian ke luar negeri setelah memenuhi batasan minimum pemurnian sebagaimana dalam Lampiran I. Serta dapat melakukan penjualan hasil pengolahan sesuai batasan minimum ke luar negeri dalam jumlah tertentu paling lama lima tahun sejak berlakunya Peraturan Menteri ini, setelah melakukan perubahan bentuk pengusahaan menjadi IUPK Operasi Produksi dan membayar bea keluar. 6.3 Pemegang IUP Operasi Produksi Mineral Logam dapat melakukan penjualan hasil pengolahan sesuai batasan minimum ke luar negeri dalam jumlah tertentu paling lama lima tahun sejak berlakunya Peraturan Menteri ini dan setelah membayar bea keluar. 6.4 Pemegang IUP Operasi Produksi khusus untuk pengolahan dan/atau pemurnian yang diterbitkan sebelum berlakunya Peraturan Menteri ini dan telah menghasilkan produk hasil pengolahan dapat melakukan penjualan hasil pengolahannya sesuai batasan minimum ke luar negeri dalam jumlah tertentu paling lama lima tahun sejak berlakunya Peraturan Menteri ini dan setelah membayar bea keluar. Produk samping atau sisa pemurnian logam tembaga yaitu Lumpur Anoda wajib dilakukan peningkatan kemurnian lebih lanjut di dalam negeri sesuai batasan minimum. 6.5 Produk samping atau sisa pengolahan logam timah berupa konsentrat zirkon, ilmenit, rutil, monasit dan senotim wajib dilakukan pengolahan dan/atau pemurnian di dalam negeri sesuai batasan minimum. 7. Peraturan Menteri ESDM Nomor 6 Tahun 2017 tentang Tata Cara dan Persyaratan Pemberian

53


Rekomendasi Pelaksanaan Penjualan ke Luar Negeri Hasil Pengolahan dan Pemurnian, bahwa : 7.1 Pemegang IUP Operasi Produksi, IUPK Operasi Produksi, IUP Operasi Produksi khusus untuk pengolahan dan/atau pemurnian, IUP Operasi Produksi khusus untuk pengangkutan dan penjualan, dan Kontrak Karya dapat melakukan penjualan ke luar negeri mineral logam yang telah memenuhi batasan minimum. 7.2 Pemegang IUPK Operasi Produksi Mineral Logam, IUP Operasi Produksi Mineral Logam, dan IUP Operasi Produksi khusus untuk pengolahan dan/atau pemurnian dapat melakukan penjualan hasil Pengolahan ke luar negeri dalam jumlah tertentu setelah mendapatkan Persetujuan Ekspor dari Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Kementerian Perdagangan. 7.3 Sebelum mendapatkan Persetujuan Ekspor, pemegang IUPK Operasi Produksi Mineral Logam, IUP Operasi Produksi Mineral Logam, dan IUP Operasi Produksi khusus untuk pengolahan dan/ atau pemurnian wajib mendapatkan Rekomendasi dari Menteri ESDM c.q Direktur Jenderal Mineral dan Batubara. 7.4 Permohonan Rekomendasi harus dilengkapi persyaratan: a. surat pernyataan keabsahan dokumen; b. pakta integritas untuk melakukan pembangunan fasilitas pemurnian di dalam negeri; c. salinan sertifikat Clear and Clean (CnC) bagi pemegang IUP Operasi Produksi Mineral Logam; d. Report of Analysis (RoA) atau Certificate of Analysis (CoA) produk mineral logam yang telah memenuhi batasan minimum yang diterbitkan satu bulan terakhir dari surveyor independen yang ditunjuk oleh Menteri; e. surat keterangan pelunasan pembayaran Penerimaan Negara Bukan Pajak selama satu tahun terakhir; f. salinan perjanjian kerja sama; g. rencana pembangunan fasilitas pemurnian di dalam negeri yang telah diverifikasi oleh Verifikator Independen; h. rencana kerja dan anggaran biaya tahun berjalan yang telah disetujui oleh Menteri atau gubernur; i. laporan hasil verifikasi kemajuan fisik dari Verifikator Independen; j. laporan mutakhir estimasi cadangan; k. rencana penjualan ke luar negeri yang

54

www.hmtaupmyk.com

memuat, antara lain jenis dan jumlah Mineral Logam yang telah memenuhi batasan minimum, nomor Pos Tarif/HS (Harmonized System), pelabuhan muat, pelabuhan bongkar, dan negara tujuan. Rekomendasi Direktur Jenderal atas nama Menteri berlaku untuk jangka waktu satu tahun dan dapat diberikan perpanjangan satu tahun. Maksud dan Tujuan Forum kajian perkembangan dunia pertambangan “Hilirisasi di Indonesia” ini dilakukan bertujuan untuk menambah ilmu pengetahuan mahasiswa khususnya program studi Teknik pertambangan UPN”Veteran” Yogyakarta, menumbuhkan sikap peka dan kritis terhadap isu-isu dalam dunia pertambangan, mahasiswa dapat menyampaikan aspirasinya secara langsung kepada pemerintah dan stakeholder pertambangan dan HMTA UPNVY dapat membuat sebuah laporan hasil kajian yang dapat disampaikan kepada anggota. Ruang Lingkup Kegiatan Ruang lingkup Forum Kajian Perkembangan Dunia Pertambangan “Hilirisasi Di Indonesia” sebagai berikut : 1.1 Pengumpulan data dan informasi terkait sumberdaya, cadangan, kondisi ekonomi dan infrastruktur, serta berbagai kebijakan terkait hilirisasi; 1.2 Pelaksanaan forum kajian yang akan dibahas secara langsung kepada pemerintah dan stakeholder pertambangan berdasarkan data yang diperoleh 1.3 Penyusunan Hasil Forum Kajian.


f o r u m k a j i a n h i l i r i s a s i p e r ta m b a n g a n Data dan Informasi

sumber : presentasi *RPJM Bappenas, 2019

A. Data sumberdaya dan Cadangan

sumber : presentasi *USGS, 2019

B. Posisi sumberdaya Minerba Indonesia VS Negara utama penghasil minerba lainnya

55


sumber : BPS dan Ditjen Minerba, 2019

C. Kontribusi Industri Pertambangan Terhadap PDB Indonesia

sumber : Siaran pers ESDM, No.0111.Pers/04/SJI/2019 dan No.549.Pers/04/SJI/2019 Kemenperin, Rakornas Menko Kemaritiman dan Investasi, 13 Nov 2019

D. Perkembangan pembangunan Industri Smelter

Hasil Forum Kajian Berdasarkan hasil disuksi Forum Kajian Perkembangan Dunia Pertambangan “Hilirisasi Di Indonesia”, hilirisasi adalah suatu proses dan usaha yang melalui suatu kebijakan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk meningkatkan nilai tambah. Aturan dasar dari

56

www.hmtaupmyk.com

pemberlakuan peningkatan nilai tambah telah diatur dalam UU no.4 tahun 2009 pada pasal 102 dan 103. Berdasarkan pemaparan narasumber pada saat forum berlangsung, kondisi dunia pertambangan di Indonesia pada tahun 2011 adalah: 1. Sumber daya dan cadangan tersebar dan jumlahnya terbatas


f o r u m k a j i a n h i l i r i s a s i p e r ta m b a n g a n 2. Kebutuhan domestic mulai meningkat 3. Pengolahan dan pemurnian mineral terbatas 4. Infrastruktur terbatas 5. Keahlian sumber daya manusia terbatas 6. Intevetasi dan teknologi masih rendah Berdasarkan kondisi tersebut dan kurang efisiennya pelaksanaan UU no.4 tahun 2009 mengenai peningkatan nilai tambah tersebut sehingga pada tahun 2014 pemerintah mengeluarkan Permen no. 1 tahun 2014 mengenai batasan produksi yang harus diekspor minimal dilakukan pengolahan terlebih dahulu sehingga menghasilkan konsentrat. Batasan hasil yang harus ekspor dikeluarkan karena sebelum pemberlakuan peraturan ini, hasil produksi tambang yang diekspor berupa raw material dan harapannyatiga tahun setelah peraturan ini diberlakukan adalah batasan pengeksporan berupa pemurnian. Tetapi pada tahun 2017, pelaksanaan pemurnian masih nihil dan tidak berjalan efektif sehingga pemerintah mengeluarkan Permen ESDM no. 5 tahun 2017 mengenai kebijakan peningkatan nilai tambah mineral dengan cara pemurnian. peningkatan nilai tambah mineral logam dilakukan dengan melakukan proses pengolahan dan pemurnian, sedangkan untuk mineral non-logam dan batuan dilakukan dengan pengolahan. Berdasarkan regulasi, pelaksanaan hilirisasi di suatu perusahaan dapat dilakukan dengan: 1. Membangun industry smelter sendiri 2. Menjalin Kerjasama dengan perusahaan lain yang mempunyai smelter di Indonesia. Selain itu, pemerintah menerbitkan PP no.81 tahun 2019 tentang tarif penerimaan Negara melalui insentif atau royalty dengan ketentuan: 1. Bongkahan, dengan royalty 5% 2. Pengolahan, dengan royalty 3% 3. Pemurnian, dengan royalty 1,5% Hal ini dilakukan oleh pemerintah agar semakin mendorong perusahaan untuk meningkatkan nilai tambah produksi tambang tersebut dan berdasarkan biaya produksi yang semakin mahal jika perusahaan tersebut semakin meningkatkan nilai tambah mineralnya.

pembangunan smelter menjadi terhambat. Berikut ini adalah beberapa infrastruktur yang dibutuhkan pada pembangunan smelter ialah pembangunan pelabuhan, jalan raya, bandara, power plant, dan pendistribusian listrik. Berdasarkan pernyatan narasumber pemerintah telah membuat sebuah kebijakan bahwa perusahaan yang membangun power plant khususnya di daerah luar Jawa, tetapi listrik yang dihasilkan tersebut tidak dapat terpakai maka pemerintah akan menggantirugi energy listrik yang sudah diproduksi. 2. Adanya oknum-oknum yang tidak menjalankan peraturan sehingga perencanaan yang telah diatur pada kebijakan tidak dapat terlaksana secara maksimal, padahal pelaksanaan aturan hilirisasi harus dilakukan dari pemerintah dan industry hulu sampai industry hilir. Adanya kerjasama yang melibatkan semua pihak tersebut dapat menyukseskan pelaksanaan hilirisasi di Indonesia secara maksimal. 3. Dibutuhkan adanya investasi yang besar yang dapat memberi kemudahan bagi pelaku usaha dalam pembangunan smelter di Indonesia sehingga pembangunan smelter di Indonesia dapat terealisasi. 4. Peringkasan aturan tambang yang dikeluarkan pemerintah melalui kebijakan guna memudahkan pelaku usaha dalam menjalankan kebijakan lain yang diatur oleh pemerintah. Salah satu peringkasan aturan yang sudah dilakukan oleh pemerintah yaitu mengenai izin pertambangan yang dibuat lebih mudah. 5. Menurut narasumber Keadaan setiap perusahaan memiliki kondisi yang berbeda-beda, sehingga pemerintah dalam penerapan kebijakannya harus melihat dari banyak sudut pandang agar kebijakan yang dikeluarkan dapat menguntungkan semua pihak dan tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Serta pemerintah juga tidak dapat secara spontan memberlakukan sanksi yang telah diatur karena akan menimbulkan multiple efek baik kepada pemerintah maupun pelaku usaha.

Kendala yang dihadapi dalam melaksanakan hilirisasi adalah:

6. Masih rancunya pemegang regulasi untuk pembangunan industry smelter karena terdapat dua regulasi yang sama pada dua kementrian yaitu kementrian industry dan kementrian ESDM.

1. Infrastruktur yang kurang memadai Pembangunan infrastruktur yang membutuhkan biaya yang tinggi untuk pembangunan smelter menjadikan pertimbangan khusus pada pemerintah sehingga kesiapan perusahaan yang dalam

7. Menurut narasumber untuk dapat mengoptimalkan Hilirisasi semua pemerintah dan kementrian yang terlibat harus saling bahu-membahu dan bekerjasama agar tujuan pemerintah dalam meningkat nilai tambah dapat terealisasi dengan baik dan cepat.

57


APA PENDAPAT MEREKA? Minerize meminta pendapat beberapa mahasiswa bagaimana pendangan mereka mengenai pembukaan lahan tambang baru di suatu daerah Silvia Rahmawati Pendidikan IPA - Universitas Lambung Mangkurat

Menurut saya dengan membuka lahan pertambangan baru maka akan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) membuat pemerintah membuka peluang investasi sebesarbesarnya disisi lain kita juga harus memikirkan keberlanjutan umur dari sumber daya alam itu sendiri. Karena tambang itu hanya menguntungkan pemilik modal sebab ketika kegiatan pertambangan berakhir, pengusaha pertambangan dengan leluasa meninggalkan wilayah-wilayah yang sudah mereka keruk. Sementara warga disekitar pertambangan mengalami kerugian yang tak terhingga seperti tanah yang dulunya dapat digunakan sebagai lahan pertanian. Listi Teknik Lingkungan - UPN ‘’Veteran’’ Yogyakarta

Menurut saya tidak masalah kalau dibuka lahan pertambangan baru, asal tidak merusak Lingkungan dan tidak mengganggu proses Lingkungan, jika tambang telah tutup maka harus dikembalikan seperti semua atau dilakukan penghijauan.

58

www.hmtaupmyk.com

Seliyaridma Teknik Lingkungan - UPN “Veteran” Yogyakarta

Pendapat saya tentang pembukaan lahan pertambangan baru yaitu boleh-boleh saja dilakukan tetapi asalkan pihak yang bersangkutan harus bertanggung jawab terhadap dampak negatif yang akan ditimbulkan dari pertambangan tersebut dan pertambangan baru tersebut harusnya bisa memberikan dampak positif bagi masyarakat yang hidup pada daerah sekitar pertambangan tersebut dan juga bisa ikut serta untuk meningkatkan pendapatan didaerah tersebut serta bisa memajukan daerah yang menjadi lokasi pertambangan baru tersebut.

Umi Afiva Teknik lingkungan - UPN ‘’Veteran’’ Yogyakarta

Menurut saya terkait pembukaan lahan pertambangan baru pada suatu wilayah merupakan hal yang tidak perlu dijadikan perdebatan, asalkan lahan pertambangan yang dibuka tidak melanggar per undang-undangan yang berlaku dan pembukaan lahan tersebut tidak merugikan masyarakat sekitar disana, namun apabila contohnya warga masyarakat sekitar merasa keberatan terlebih lagi dengan ada nya pembukaan lahan pertambangan yang letaknya tersebut tepat berada pada permukiman warga sehingga mengharuskan wilayah pemukiman itu di gusur, maka menurut saya pihak perusahaan tambang yang akan membuka lahan baru mempertimbangkan Fauzi Daffa Hanatha dengan sebaik mungkin serta Teknik Geofisika - UPN memberi kompensasi dengan ‘’Veteran’’ Yogyakarta harga yang sesuai sehingga tidak terjadi keributan di suatu menurut saya pembukaan lahan daerah yang akan dibangun lahan bertambangan baru memang pertambangan baru itu. baik mengingat indonesia mempunyai banyak potensi Aulia Yasmi kekayaan alam yang belum di Farmasi - Universitas Islam eksplor, dalam pembukaan Indonesia lahan pertambangan baru yang mungkin harus diperhatikan adalah apa yang akan dilakukan Sebenarnya tidak sepenuhnya jika lahan tambang telah selesai setuju soalnya merusak atau habis , bagaimana reklamasi lingkungan tapi disisi lain adanya lahan tersebut karena banyak tambang bisa meningkatkan lahan-lahan pertambangan yang pendapatan daerah. Hal itu telah selesai ditambang malah positif selama sesuai SOP, dan terbengkalai dan tidak banyak tidak masalah selama masyarakat dari beberapa lahan tambang sekitar tidak ada yang dirugikan di yang telah di reklamasi. lingkungan sama ekonomi.


59


DITERBITKAN OLEH BIDANG INFORMASI DAN KOMUNIKASI HIMPUNAN MAHASISWA TEKNIK PERTAMBANGAN UPN “VETERAN” YOGYAKARTA ALAMAT : Gedung Teknik Pertambangan, Kampus Pusat UPN “Veteran” Yogyakarta Jl. Padjajaran, Condong Catur 55238 Telp. 085742474094 Email : hmta_upnyk@yahoo.com Web : www.hmtaupyk.com

60

www.hmtaupmyk.com