Page 1

HIMPUNAN MAHASISWA GEOFISIKA

UNIVERSITAS GADJAH MADA

ISSN 2580-7870

YOUR GEOPHYSICS PORTAL

Geothermal Indonesia Menjawab Tantangan Energi Masa Depan Bangsa

Matano Lake Surga Tersembunyi di Selatan Sulawesi

Preliminary Study Result

EDISI 5 | AGUSTUS 2018

Control on The Occurrences Thermal Springs at The Southeastern Area of Singkarak Lake, West Sumatra :


Pembina : Theodosius Marwan Irnaka Steering Comitee : Yosua Alfontius M. Althariqsyah Ketua Redaksi : Candra Teja Kusuma Sponsorship : Editor : Rafida Salma Rahmawati Risydazanna M. Z. Faldaira Atsiila Kontributor : Vorma Sisi Meilinda Nirmalasari Titis A. - NIR Dimas Bayu Seto Dewi Yuanita - DEW M. Latiful K. Khaif Nurkhaliza - IF Layouter : Disky Aria J. - DAJ Iqbal Asyadad Wahyu S. - SLS Sofi Nur Arifah Aliffa Yuli R. - ALF Andhika Dana Pradipta Fairusi Dika P. - UC Nanda Febrian S. Anandito R. P. - ARP Suharti W. - TIW Desain Cover : Rafida Salma Rahmawati Annisa Amalia - AML

Tim Redaksi Spectral Edisi Ke-5

YOUR GEOPHY


YSICS PORTAL Salam Redaksi, Majalah SPECTRAL edisi kelima mengusung tema yaitu Geothermal. Edisi sebelumnya, kami mengangkat tema Geofisika: Sang Pengungkap Misteri Bumi, yang mengibaratkan Geofisika sebagai seorang detektif yang berusaha menguak fenomena-fenomena yang terjadi di muka maupun dalam Bumi. Dewasa ini kebutuhan energi semakin meningkat, khususnya di Indonesia. Tak dapat dipungkiri bahwa dalam kurun waktu yang dekat, keberadaan sumber energi baru dan terbarukan akan menjadi prioritas utama bagi kelangsungan kehidupan. Peran geothermal atau panas bumi sebagai salah satu sumber energi baru dan terbarukan yang mampu dieksplorasi guna memenuhi kebutuhan pasokan energi. Namun, banyak pihak yang kurang memperhatikan aspek panas bumi di Indonesia padahal Indonesia memiliki sekitar 40% cadangan energi panas bumi di dunia. Hal ini dikarenakan tantangan pada eksplorasi energi panas bumi yang tidak mudah, banyak aspek yang masih harus digali dan dipelajari lebih lanjut untuk mengoptimalkan sumber daya yang ada. Di sinilah, majalah SPECTRAL hadir untuk membawa kita dan menggali lebih dalam wawasan seputar Geothermal. Kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dan mendukung terbitnya majalah SPECTRAL edisi kelima: Geothermal. Kami mohon maaf apabila dalam penulisan majalah ini banyak dijumpai kesalahan maupun kekurangan. Oleh karenanya, kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan untuk menjadikan majalah kami lebih baik di kesempatan ke depan. Semoga apa yang kami sajikan dapat membuka wawasan serta menginspirasi pembaca untuk lebih peka terhadap isu-isu global dan keberadaan energi di Bumi yang menunjang kelangsungan kehidupan. Enjoy! And see you in the next edition, Felas! Agustus, 2018 Tim Redaksi

Rafida Salma R. Ketua Eksternal

Candra Teja K. Ketua Redaksi


GEOTHERMAL Geothermal Indonesia Menjawab Tantangan Energi Masa Depan Bangsa

PAPERIKA Geothermal Power Generation in Indonesia, a Country Within The Ring of Fire: Current Status, Future Development and Policy

Control on The Occurrences Thermal Springs at The Southeastern Area of Singkarak Lake, West Sumatra :

S O SO K

Preliminary Study Result

Moch. Nukman Pemelajar yang Ramah dan Tak Pernah Berhenti Belajar

Matano Lake Surga Tersembunyi di Selatan Sulawesi

E K S P L O R A S I


S E I S T R A Traum Suchende Sang Pencari Mimpi

NGGUYULOGI

Komik Salah Denger

KALDERA

Teka Teki Silang

Field Camp 2018 SEG UGM-SC

Geophysics Expedition 2018


GEOTHERMAL INDONESIA MENJAWAB TANTANGAN ENERGI MASA DEPAN BANGSA Dewasa ini, konsumsi energi final negara terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan ekonomi, penduduk, harga energi, dan kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah. Dari total konsumsi energi tersebut, bahan bakar fosil masih mendominasi, meliputi Bahan Bakar Minyak (BBM) mencapai 25%, gas bumi (11%), listrik (11%), batubara (6,2%), dan LPG (4,8%). Bahkan, kebutuhan BBM diprediksi akan terus meningkat dengan laju pertumbuhan 4,7% per tahunnya. Demikian pula kebutuhan batubara yang akan meningkat hingga 10 kali lipat sampai tahun 2050. Kondisi ini berbanding terbalik dengan jumlah cadangan energi fosil yang dimiliki. Dengan cadangan terbukti minyak bumi yang dimiliki Indonesia saat ini, yakni sekitar 3,7 miliar barel pada akhir tahun 2015, diprediksi akan habis dalam kurun 11 tahun. Hal senada juga dijumpai pada bahan bakar fosil lainnya, seperti gas bumi yang akan habis dalam waktu 36 tahun dan batubara dalam waktu 70 tahun, jika tidak ditemukan lagi cadangan terbukti bahan bakar fosil tersebut.

8

ISU

Kondisi cadangan energi fosil yang terus berkurang ini sudah saatnya diantisipasi melalui diversifikasi bahan b a k a r. Te r l e b i h , I n d o n e s i a t e l a h berkomitmen untuk mendukung Paris Agreement dengan isu utama untuk meningkatkan penggunaan teknologi energi rendah karbon. Salah satu caranya adalah dengan transisi energi ke jenis Energi Baru dan Terbarukan (EBT). Pada dasarnya, Indonesia memiliki potensi sumber daya EBT yang cukup besar dengan variasi yang cukup beragam. Salah satu jenis EBT yang mendominasi penyediaan energi primer adalah panas bumi (geothermal). Senada dengan lokasi Indonesia yang termasuk dalam gugus vulkanik (ring of fire), Indonesia menyimpan potensial geothermal yang besar. Menurut Bertani (2015), cadangan geothermal Indonesia mencapai ± 29 Giga Wa (GW) atau setara dengan 40% cadangan dunia. Namun pemanfaatannya sat ini hanya mencapai 1,699 Mega Wa (MW) atau sekitar 6% dari total cadangan yang ada. Dengan jumlah total yang telah dikembangkan ini, Indonesia menduduki peringkat ketiga pengguna geothermal di dunia, setelah Amerika Serikat dan Filipina.


Berbagai tantangan masih harus dihadapi Indonesia dalam mengoptimalkan potensi geothermal ini. Dari segi ekonomi, biaya instalasi sumber pembangkit tenaga panas bumi yang cukup tinggi, masih harus dipertimbangkan efektiďŹ tas dan eďŹ siensinya. P e n e l i t i a n d a n i n ov a si l eb i h l a n j u t diperlukan untuk menjawab tantangan ini. Selain itu, faktor lokasi keterdapatan sumber di daerah pegunungan yang masih minim akses juga menghambat optimalisasi cadangan yang ada. Perlahan namun pasti, pemerintah harus mulai gencar membenahi infrastruktur, seperti jalan raya dan fasilitas pendukung lainnya demi kemudahan akses pengembangan potensi geothermal. Tantangan lain dari segi regulasi juga masih perlu dikaji. Secara umum, ke t e r d a p a t a n p o t e n s i s u m b e r d a y a geothermal di daerah hutan lindung maupun taman nasional terhambat oleh regulasi yang melarang adanya segala jenis aktivitas pertambangan. Namun, regulasi ini tidak mempertimbangkan bahwa aktivitas geothermal tidak tergolong sebagai aktivitas pertambangan. Lahan yang dibuka pun tidak seluas lahan pada pertambangan, sehingga deforestasi akan diminimalisir.

Selain itu, tantangan pada tahap eksplorasi juga masih perlu dipelajari lebih lanjut. Proyek geothermal tergolong sangat beresiko, dengan segi geologi sebagai resiko tertinggi. Parameter yang menjadi pengembangan geothermal antara lain temperatur, permeabilitas, dan ukuran reservoar. Ketiga informasi tersebut melalui survey 3G (Geology, Geophysics and Geochemistry). Terkadang, hasil interpretasi data tidak sesuai dengan pengeboran dan menyebabkan kerugian ekonomi yang cukup besar. Oleh karena itu, kolaborasi berbagai pihak, meliputi pemerintah, akademisi, perusahaan energi nasional, dan segenap masyarakat umum penting untuk pengembangan potensi geothermal ini dan dapat mendukung terwujudnya Indonesia yang mandiri energi. -AML

ISU

9


Geothermal Power Generation in Indonesia, a Country Within The Ring of Fire: Current Status, Future Development and Policy Dr. Eng. Nugroho Agung Pambudi, M. Eng. Mechanical Engineering Education, Universitas Negeri Sebelas Maret, Jl. Ir. Sutami 36A, Surakarta 57126, Indonesia International Institute for Carbon-Neutral Research (WPI-I2CNER), Kyushu University, 744 Motooka, Nishi-ku, Fukuoka 819-0395, Japan (Published on Renewable and Sustainable Energy Reviews Volume 81, Part 2, January 2018, Pages 2893-2901) Indonesia menjadi salah satu negara di Asia Tenggara yang memiliki iklim tropis dan hutan-hutan indah dengan persebaran flora dan fauna yang sangat beragam. Namun, selain keindahan itu, Indonesia juga sebagai negara di dunia yang memiliki potensi panas bumi yang cukup besar. Daerah yang memiliki potensi panas bumi antara lain Jawa, Sulawesi dan Sumatra, Bali, serta Nusa Tenggara dan Sulawesi. Hal

12

PAPERIKA

ini disebabkan karena Indonesia berada pada area “Ring of Fire� atau Cincin Api Pasifik yang mengelilingi cekungan Samudra Pasifik. Sebagai pertemuan lempeng tektonik, area ini sering mengalami gempa bumi, adanya gunung api yang aktif, dan potensial-potensial alami lainnya. Terjadinya pergerakan lempeng tektonik, mengubah kerak samudra menjadi magma dan


“Area Ulubelu� www.pge.pertamina.com

tekanan yang tinggi jauh di bawah permukaan yang kemudian akan membuat magma tersebut naik ke permukaan. Naiknya magma ini dapat menyebabkan aktivitas gunung api, atau magma juga bisa sebagai sumber panas bagi fluida yang terperangkap di bawah permukaan, yang kemudian disebut sebagai panas bumi. Terkadang panas bumi muncul ke permukaan sebagai sumber air atau air mancur panas, namun jika tetap terperangkap di bawah permukaan disebut sebagai energi panas bumi. Oleh sebab itu, posisi yang terletak pada pertemuan lempeng tektonik menjadikan Indonesia sebagai penyimpan energi panas bumi. Daerah berpotensi panas bumi memiliki tiga istilah yaitu, possible, probable, dan proven. Possible berarti perkiraan berdasarkan pemeriksaan detail,

sedangkan probable, selain berdasarkan pemeriksaan secara detail, juga melihat identifikasi pengeboran dan pendahuluan studi kelayakan. Istilah proven terdapat informasi detail sumur seperti kapasitas aliran fluida panas bumi. Klasifikasi ini tidak mengidentifikasi entalpi. Indonesia berada pada urutan ketiga dalam memproduksi tenaga panas bumi. Indonesia memiliki estimasi potensi panas bumi sebesar 28.910 MW yang tersebar dalam 312 lapangan. Namun, meskipun potensinya besar, ternyata kurang dari 5% yang dimanfaatkan. Total kapasitas terpasang sebesar 1533,5 MW yang menunjukkan bahwa rasio pemanfaatan energi panas bumi masih rendah. Pada urutan pertama peringkat ini adalah

PAPERIKA

13


Amerika Serikat, disusul oleh Filipina yang menunjukkan rasio pemanfaatan tertinggi yakni sebesar 45%. Banyak hal yang mempengaruhi pemanfaatan energi panas bumi, antara lain kebijakan dari pemerintah daerah setempat, regulasi, sumber daya manusia, dan dorongan infrastruktur. Di Indonesia, potensi panas bumi dapat ditemukan dan dimanfaatkan antara lain pada Pulau Sumatra, Jawa, Sulawesi, Bali, dan Nusa Tenggara. Pada daerah Kalimantan dan Maluku tidak memiliki kapasitas panas bumi terpasang. Hingga tahun 2017, terdapat 11 lapangan panas bumi yang telah dimanfaatkan. Lapangan-lapangan ini dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik. Indonesia sendiri memiliki total potensi panas bumi sebesar 28.910 MW, namun baru sekitar 1403 MW yang dipasang untuk dimanfaatkan. Lapanganlapangan tersebut berada di Sibayak, Ulubelu, Lahendong, Gunung Salak, Wayang Windu, Patuha, Kamojang, Darajat, Dieng, Mataloko, dan Ulumbu. Lapangan ini tersebar pada daerah Sumatra, Jawa, Sulawesi, Bali, dan Nusa Tenggara. Lapangan yang berada di Gunung Salak merupakan lapangan panas bumi terbesar. Lapangan panas bumi Sibayak berada di daerah sekitar Gunung Sibayak, Karo, Sumatra Utara. Pada daerah ini terdapat 3 gunung api aktif yakni Gunung Pintau (2212 m), Gunung Sibayak (2090 m), dan Gunung Pratetekan (1844 m). Pembangkit listrik di Sibayak ini mulai beroperasi pada tahun 2007 dan memiliki energi sebesar 12 MW. Lapangan Ulubelu berada di Muara Dua, Pagar Alam, Sumatra Selatan. Pembangkit listrik di Ulubelu ini mulai beroperasi pada tahun 2012 dan dan menghasilkan listrik sebesar 165 MW.

14

PAPERIKA

“Kamojang� oleh: Deni Sugandi

Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang http://geomagz.geologi.esdm.go.id

Lapangan Gunung Salak berada di taman nasional Gunung Salak dan merupakan lapangan terbesar. Area ini dikenal juga dengan nama Awi Bengkok dan termasuk dalam 2 daerah administrasi, Sukabumi dan Bogor. Di lapangan Gunung Salak ini terdapat 100 sumur yang beroperasi dengan listrik dihasilkan sebanyak 377 MW. Listrik yang dihasilkan ini dikirim ke jaringan listrik Jawa, Madura, dan Bali. Lapangan ini dikelola oleh Chevron Geothermal Salak (CGS). Pengembangan proyek ini sudah dimulai sejak tahun 1982 oleh Unoval Geothermal Indonesia (UGI). Lapangan Wayang Windu berada di Pengalengan, Jawa Barat dan dikelola oleh Star Energy. Aktivitas panas bumi di lapangan ini dalam bentuk sumber mata air panas, air mancur panas, dan lapangan uap. Perwujudan ini berasal dari rekahan alami yang muncul. Lapangan ini mulai dioperasikan pada tahun 2002 dan sekarang menghasilkan listrik 227 MW. Lapangan Patuha berada di Bandung, Jawa Barat dan berbeda dengan lapangan lain, lapangan ini memiliki reservoir atau penyimpanan yang

didominasi oleh uap. Aktivitas panas bumi yang dihasilkan dalam bentuk air mancur panas, sumber mata air panas yang asam, dan alterasi hidrothermal. Pada tahun 2015 lapangan ini mulai memproduksi listrik sebesar 55 MW. Lapangan Kamojang berada di Jawa Barat dan mulai dilakukan penelitian pada tahun 1918, sebelum Indonesia merdeka dan masih di bawah kekuasaan Belanda. Di lapangan ini, sama seperti lapangan Patuha, reservoirnya didominasi oleh uap. Kamojang menghasilkan listrik sebesar 235 MW. Lapangan Darajat berada di barat Garut, Jawa Barat dan reservoirnya didominasi oleh uap. Lapangan ini dimiliki oleh Chevron, sebagai perusahaan terbesar di dunia yang mengelola panas bumi. Darajat menghasilkan listrik sebesar 270 MW. Lapangan Dieng berada di Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah. Dieng sebagai gunung api yang cukup komp leks dan menciptakan sumber mata air panas dan air mancur panas. Oleh karenanya, Dieng merupakan salah satu lapangan panas bumi yang memiliki prospek cukup baik di Indonesia, hal ini pernah


disampaikan oleh UNESCO. Dieng memiliki potensi sebesar 300 MW, namun yang sudah dimanfaatkan sekitar 60 MW. Adanya banyak kandungan silika di Dieng membuat penurunan potensi listrik yang bisa dimanfaatkan. Lapangan Lahendong berada di Tomohon, Sulawesi Utara dan merupakan penelitian kolaborasi antara Indonesia dan Jerman. Lapangan ini menghasilkan listrik sebesar 120 MW. UNESCO menyampaikan bahwa Dieng memiliki potensi sebesar 300 MW, namun yang sudah dimanfaatkan sekitar 60 MW. Adanya banyak kandungan silika di Dieng membuat penurunan potensi listrik yang bisa dimanfaatkan. Lapangan Lahendong berada di Tomohon, Sulawesi Utara dan merupakan penelitian kolaborasi antara Indonesia dan Jerman. Lapangan ini menghasilkan listrik sebesar 120 MW. Lapangan Mataloko berada di Bajawa Mataloko, Ngada, Nusa Tenggara Timur. Lapangan ini memiliki nilai entalpi fluida yang tinggi, dengan penelitian data geofisika menunjukkan bahwa ada area potensial sebesar 5 km3 berpH normal. Penelitian pada daerah ini pada zaman dahulu sebagai proyek “Eksplorasi Panas Bumi Berskala Kecil di Indonesia Bagian

Timur”. Sekarang, Mataloko dikelola oleh PLN, MEMR, dan gubernur daerah Ngada dan menghasilkan listrik sebesar 2,5 MW. Sedangkan lapangan Ulumbu berada di Satarmese, Manggarai, Nusa Tenggara Timur yang menghasilkan listrik sebesar 10 MW. Pada 10 tahun terakhir pengembangan pembangkit listrik tenaga panas bumi, ditetapkan target pemanfaatan panas bumi untuk listrik sebesar 7000 MW untuk tahun 2025. Untuk mengoptimalkan energi panas bumi yang ada, Undang-Undang No. 21 Tahun 2014 menggantikan Undang-Undang No. 27 Tahun 2003. Pada undang-undang ini, panas bumi tidak lagi tergolong sebagai operasi pertambangan, sehingga panas bumi dalam dieksplorasi di daratan. Eksplorasi dan pengembangan panas bumi di hutan diizinkan dengan tetap berhati-hati agar tidak mengganggu keseimbangan alam. Pengawasan dilakukan langsung oleh pemerintah pusat. Sedangkan untuk penggunaan langsung energi panas bumi non-listrik seperti pariwisata, agribisnis, dan industri harus dilaporkan kepada pemerintah daerah setempat. Harga untuk energi panas bumi bervariasi, tergantung dari biaya produksinya yang dibagi menjadi 3 area. Area I terdiri atas Sumatra,

Jawa, dan Bali dengan harga terrendah. Area II terdiri atas Sulawesi, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Halmahera, Maluku, Papua, dan Kalimantan. Area III terdiri atas daerah area I dan area II yang terisolasi dan masih menggunakan pembangkit listrik berbahan bakar minyak. Jadi, sebagai negara yang berada pada “Ring of Fire”, Indonesia memiliki potensi panas bumi yang banyak. Telah diprediksi berpotensi sekitar 28.910 MW yang tersebar pada 312 lokasi dari Sumatra sampai dengan Sulawesi. Namun, meskipun berpotensi tinggi, ternyata masih kurang dari 5% dari total potensi tersebut yang telah dikelola, yakni hanya sekitar 1.533,5 MW. Kurang optimalnya pemanfaatan panas bumi ini dikarenakan kebijakan dari pemerintah daerah setempat, regulasi, sumber daya manusia, dan dorongan infrastruktur. Oleh karenanya, Undang-Undang No. 21 Tahun 2014 disesuaikan agar pemanfaatan sumber daya panas bumi dapat digunakan se-optimal mungkin dengan tetap memperhatikan lingkungan sekitar. Hal ini dilakukan agar keseimbangan alam tetap terjaga. –NIR

PT GEO DIPA ENERGI (PERSERO)

PAPERIKA

15


Control on the occurrences thermal springs at the southeastern area of Singkarak Lake, West Sumatra : preliminary study result Mochamad Nukman, Salahuddin Husein, Riando Elang Desilva (Published on 42nd Workshop on Geothermal Reservoir Engineering Stanford, California, February 13-15, 2017 SGP-TR-212)

Along Sumatran Fault, there are springs discharging from several tectonics and volcanic lakes or pull-apart basins, e.g. Toba, Ranau, Tarutung, etc (Hochstein & Sudarman, 1993; Muraoka et al., 2010). However, around Singkarak Lake, West Sumatra there are some thermal springs discharging which is on the vicinity of pull-apart area. The hot springs are discharging at the southeastern of Singkarak Lake, are not discusses or mapped yet for research need. This paper attempt to describe the structural characteristic of these thermal manifestations based on travertine distribution, fracture types, and its relationship to regional tectonics. Singkarak Lake was formed in a pull-apart setting between two major segments of the Sumatran Fault System, with Sianok Fault and Sumani Fault as the bounding faults (Barber & Crow, 2005). The Sumani Faults striking NW-SE, forming a simple straight fault geometry. Meanwhile, the Sianok Faults runs from the northeast shore of Singkarak Lake to northwest along the southwest flank of Marapi Volcano. Stratigraphic described by Silitonga & Kastowo (1995) and Kastowo et al. (1996), the oldest stratigraphic unit exposed at western wall of Singkarak Lake is the limestone also at south-east of the lake are shale and phyllite which are Carboniferous-Permian age. These units were overlain by early Triassic sandy limestone and intruded by granite-granodiorite at Middle-Late Triassic. The youngest rock units are Quartenary undifferentiated volcanic rocks and alluvium deposit. The thermal springs are aligned at NNE-SSW. There are two hot springs as data in this paper (i.e. AP-1 and AP-2). AP-1 has greatest temperature with widely spread out young travertine sinter. The second springs (i.e. AP-2) has lower temperature and it also has widely spread out travertine sinter, but it is more extensive than in AP-1. Here is fossil travertine with its exposed cave structure. The springs are discharging at the top and lower hill of the cave. From

16

PAPERIKA

top to below, there are springs above the cave, soil, and the cave itself. It indicates that travertine cave is older than the current discharging springs and travertine in AP-1. The first and second outcrops of travertine (i.e. AP-1 and AP-2) and also their active springs are aligned in NNE-SSW. Minor fractures that occurring in AP-2 travertine are observed and mostly have NNESSW fracture trend. Generally, the existence of systematic pattern of travertine could indicate the presence of opening structure. This occurrence is also occurring in other places such as at Pamukkale (Turkey), Repolano (Italy), Tarutung (North Sumatra, Indonesia), and Yellowstone (USA) (Hancock et al., 1999; Brogi, 2010; Nukman and Moeck, 2013; Filipps & Billi, 2012,). It could happen because when there are opening fractures, these allow the existing bicarbonate water in the area discharge continuously then depositing travertine on the near or on the surface. In southeastern Singkarak, can be found extensional fracture component with NNE-SSW structural trend formed by compressional stress.

“Blue Sigkarak� Rafy Sugiri

Figure 1: Singkarak Lake, West Sumatra


Regional maximum principal stress striking NNESSW. This extensional fracture occur within Sumani Fault striking NW-SE. The extensional fracture pattern in NNE-SSW in Sumani Fault zone produce permeability pattern within area. Other travertine exposure that have similar trend, NNE-SSW located in North Sumatra (i.e. Tarutung). This outcrop exposed within the central segment of Sumatra Fault. Besides occurring in transtensional fracture in NW-SE trend, Tarutung's travertine mostly occur in extensional fracture (NNE-SSW) (Nukman & Moeck, 2013). The first and second outcrops of travertine (i.e. AP-1 and AP-2) and also their active springs are aligned in NNE-SSW. Minor fractures that occurring in AP-2 travertine are observed and mostly have NNESSW fracture trend. Generally, the existence of systematic pattern of travertine could indicate the presence of opening structure. This occurrence is also occurring in other places such as at Pamukkale (Turkey), Repolano (Italy), Tarutung (North Sumatra, Indonesia), and Yellowstone (USA) (Hancock et al., 1999; Brogi, 2010; Nukman and Moeck, 2013; Filipps & Billi, 2012,). It could happen because when there are opening fractures, these allow the existing bicarbonate water in the area discharge continuously then depositing travertine on the near or on the surface. In southeastern Singkarak, can be found extensional fracture component with NNE-SSW structural trend formed by compressional stress. Regional maximum principal stress striking NNESSW. This extensional fracture occur within Sumani Fault striking NW-SE. The extensional fracture pattern in NNE-SSW in Sumani Fault zone produce permeability pattern within area. Other travertine exposure that have similar trend, NNE-SSW located in North Sumatra (i.e. Tarutung). This outcrop exposed within the central segment of Sumatra Fault. Besides occurring in transtensional fracture in NW-SE trend, Tarutung's travertine mostly occur in extensional fracture (NNE-SSW) (Nukman & Moeck, 2013). In Sumatra, the finding of travertine usually one of several evidences that indicates some outflow in a geothermal system, particularly within volcanic settings. However, some studies from this paper shows that might be found within upflow zone where there are crustal deep seated fault (i.e. SFS; Nukman, 2014). Meanwhile the presence of springs located in southeastern Singkarak, the travertine discovery maybe controlled by dissolution of Permian Limestone. The limestone itself located at the NW area. In that area exist the thermal fluid that possibly transferred through the western strand of SFS (i.e. Sumani Fault) and flowing to the southeast. To

confirm this model, we could use some geochemical studies.

Figure 2: Detail map and photos of springs at southeastern Singkarak. (Nukman, 2017)

Some thermal springs are discharging at the southeastern area of Singkarak Lake, West Sumatra. Rather than volcanic control, the structure of deepseated fault of Sumatran Fault System might be controlling the thermal regime at the perioheral of Singkarak Lake and possibly acts as the heat transfer media. In those springs could be found travertine that widely spread out around. While travertine in southeastern Singkarak is indicated an active fault control which strikes in NNE-SSW. Regional compression NNE-SSW cause this fault and produce extensional component as a result. The NNE-SSW fracture that located within the western segment of Sumatran Fault System in Singkarak called Sumani Fault. In this paper, study of travertine occurrences around Singkarak pull-apart basin expected to be adding the database of travertine studies that indicates the relation to tectonics and permeability mapping. To be more convincing and complete the interpretation of thermal system which around Singkarak Lake area, the geochemical analysis of springs that located at southeastern Singkarak is needed. -DEW

PAPERIKA

17


Moch. Nukman

Pengajar yang Ramah dan Tak Pernah Berhenti Belajar

Saat membicarakan tentang bidang studi kebumian, khususnya geothermal, maka kita tidak dapat melupakan sosok yang berjasa dalam mendalami bidang tersebut. Beliau adalah Pak Nukman, salah satu dosen di Program St udi Ge of isika, Un iver sit a s Gadja h Mada. Dengan nama lengkap Mochamad Nukman, beliau lahir di Banyuwangi pada tanggal 10 November 1974. Beliau memulai studi S1 di Teknik Geologi di Universitas Gadjah Mada. Ketertarikan beliau akan geothermal mulai dirasakan sejak duduk di bangku kuliah. Tidak ada alasan khusus akan hal itu, hanya saja beliau mengatakan bahwa pada saat itu belum banyak yang menda la m i bida ng ge ot her ma l. Menur ut b eliau, geothermal merupakan sumber energi yang friendly use dan di Indonesia terdapat potensi geothermal yang sangat besar, akan tetapi memiliki peminat yang sedikit. Beliau mengangkat tema interpretasi geofisika dalam bidang geothermal pada skripsinya. Minatnya akan geothermal terus dilanjutkan hingga beliau mendapatkan b easiswa ke Geot her mal Instit ute, University of Auckland, New Zealand untuk studi program graduate diploma dalam bidang energi geothermal. Beliau terus melanjut kan st udi hingga mendapat kan b easiswa master di Australia, yaitu School of Earth & Geography Sciences, University of Westren Australia. Namun, karena di Australia tidak ada riset geothermal, beliau mengambil studi mineral. Tidak berhenti sampai di sit u, b eliau melanjut kan program doktor dengan memperoleh beasiswa di Jerman, tepatnya di Berlin Technische Universitat dengan kembali mengambil studi tentang geothermal.

20

SOSOK

Dengan berbagai tingkatan pendidikan yang telah d i t em p u h, t ent u nya d i i m b a ng i p u la d enga n p engala ma n ya ng didapat ka n, b eliau b erha sil merumuskan salah satu konsep dalam eksplorasi geothermal (optimasi data-data struktur geologi dari endapan travertine untuk memetakan str uktur p er m e a bi l i t a s). Menu r u t b el iau, I n d o n e s ia merupakan negara yang sangat beruntung karena mempunyai potensi geothermal yang melimpah. Negara Indonesia mempunyai setting tektonik aktif d a n m em i l i k i b a nya k v u l ka n i sm e, s eh i ngga mempunyai kompleks potensi geothermal yang cukup banyak. Berbeda dengan sumber energi geot her ma l Jer ma n ya ng pa sif (t ida k ba nya k vulkanisme). Maka dari itu kita akan sangat merugi jika tidak memanfaatkannya. Penget a hua n d a n p enga la m a n b el iau t id a k b eliau sia-sia kan b egit u saja. Salah sat u cara b er bagi p enga la ma n da n ilmu b eliau ada la h d enga n m enja d i d o s en d i G e of i s i ka UGM. Sebagai dosen, pasti ada b eb erapa tantangan yang akan dihadapi. Menurut beliau, tantangan ya ng d i ha d a pi t er b ag i m enja d i d ua bid a ng, akademis dan penelitian. Dalam dunia akademis, t a nt a nga n ya ng di ha d a pi a d a la h b aga i ma na untuk memberi ilmu kepada mahasiswa dengan metode yang menarik. Dalam praktiknya, beliau s er i ng m em b awa co nt o h b at ua n d a n m engga m b a r i lu s t ra s i d ib a n d i ng ka n d enga n menghafal. Selain it u, b eliau juga mela kukan riset. Tantangan yang dihadapi sebagai peneliti adalah bagaimana meneliti dengan mengangkat potensi lokal yang ada ke kancah internasional.


Beliau telah melakukan berbagai riset yang b er hubunga n d enga n bida ng ge ot her ma l. Beberapa kar ya beliau, seperti paper telah d ip u bl i ka s i ka n. B eb era p a ka r ya b el iau, diantaranya adalah Str uctural Controls On A Geothermal System In The Tarutung Basin, NorthCentral Sumatra (2013); Control On The O ccu r r en ce s T h er m a l Sp r i ng s At T h e Southeastern Area Of Singkarak Lake, West Sumatra : Preliminary Study Results (2017). Riset t er k i n i ya ng s e d a ng b el iau ja la n i ya it u memperkuat paradigma kehadiran travertine yang belum tentu menandakan adanya outflow.

Beliau terkenal akan semangatnya yang militan dan tak lupa untk ditularkan kepada mahasiswanya. Selalu dikatakan oleh beliau kepada mahasiswanya untuk tidak pernah melupakan aspek geologi dalam interpretasi geofiska yang dilakukan, mahasiswa harus menggabungkan kedua aspek tersebut dengan baik. Pesan yang ingin disampaikan beliau kepada mahasiswa yang sedang berjuang dalam menempuh bangku kuliah adalah harus tetap semangat dan enjoy terhadap semua yang sedang dilakukan, serta harus mempunyai motivasi yang tinggi untuk terus berjuang dan jangan pernah lupa untuk saling menyapa. -DEW

Selain melakukan riset, beliau juga sangat menyukai fieldtrip. Menurut beliau belajar tidak harus selalu dikelas, melainkan kita juga harus keluar dan melihat alam. Beliau juga sangat m enggemari m elu k is d a n fotograf i ya ng disalurkan b eliau disela kesibukannya. Di Geofisika UGM sendiri, Pak Nukman dikenal sebagai sosok yang ramah dan penuh semangat.

SOSOK

21


Matano Lake

Surga Tersembunyi di Selatan Sulawesi Danau tektonik yang berada pada ketinggian

kedalamannya mencapai 590 m. Matano yang

382 mdpl yang berlokasi di ujung timur

b erarti “mata air� dalam ba ha sa setempat

Provinsi Sulawesi Selatan tepatnya Kecamatan

merupakan satu dari dua

Nuha Kabupaten Luwu Timur ini menyajikan

sistem Danau Malili (yang lainnya namanya Danau

berjuta keindahan. Menurut data dari Badan

Towuti), dahulu terbentuk dari sesar geser aktif

Konservasi Lingkungan Dunia (WWF), Danau

y a n g d i s e b u t s e b a ga i P a t a h a n M a t a n o

Matano merupakan danau terdalam se-Asia

pada masa Pleosen sekitar 1-4 juta tahun yang

Tenggara d a n t erd a la m ke- 8 s e- d u n ia,

lalu.

24

EKSPLORASI

danau utama dalam


Karena danau ini merupakan danau yang terisolasi dilihat dari lebatnya hutan di sekitar danau maka kita dapat menemui hewan dan tumbuhan endemik yang pastinya tidak akan dijumpai di tempat lain. Ada 60 spesies moluska endemik, lebih dari 25 spesies ikan endemik (salah satunya adalah ikan p u r b a b er na ma i ka n b u tt i n i Glo s s o go biu s

Dinfor ma sika n oleh warga s ek it ar ba hwa Da nau Mat a no m em ilik i dua jen is suhu a ir. Di bawa h permukaan danau terdapat lapisan yang kaya akan

matanensis atau pa ktini), 10 sp esies udang

oksigen, bersifat anoxic yang kaya akan zat besi

endemik dan 3 spesies kepiting endemik. Danau

serta lapisan yang sedikit oksigen. Pada kedalaman

ini juga rumah bagi populasi bakteri green sulfur,

di atas 100 meter,suhunya berbeda serta kadar oksigen

ya ng m ela k u ka n fot o s i nt e s i s d enga n

airnya tipis membuat badan lebih ringan daripada

Bacteriochlorophyle E.

berenang di air dengan kadar oksigen tinggi. Hubungan antara formasi yang kaya akan oksigen dan besi ini dapat berguna untuk mengetahui keadaan lautan di bumi pada eon archean. Terlepas dari keindahan alamnya nih sobat ceile e e e, Da nau Mat a no juga terkena l a ka n goa tengkoraknya yang biasanya menjadi tujuan wajib saat mengunjungi danau ini. Tempat dimana kita dapat menjumpai banyak tulang-tulang manusia karena dulunya merupakan tempat peristirahatan terakhir bagi mereka yang telah meninggal dunia sebelum agama masuk ke daerah ini. Diantara palung-palung atau celah dasar danau juga dapat kita temui benda-benda purbakala berusia ratusan tahun. Diantaranya adalah perlengkapan dapur, tembikar dan beberapa patung hiasan rumahan. Pintu goa biasanya tertutup air sehingga wisatawan yang ingin m a s u k

h a r u s

m e n y e l a m .

-TIW

Sumber: www.geomagz.geologi.esdm.go.id www.azwisata .com www.lakepedia.com

EKSPLORASI

25


TRAUM SUCHENDE SANG PENCARI MIMPI

K

ehidupan terus berjalan hingga Tuhan sendiri yang menghentikan. Masa lalu tidak akan pernah terulang, tersisalah masa sekarang untuk menjemput masa depan. Terkadang manusia terombang-ambing dalam ganasnya gelombang kehidupan karena tidak mempunyai tujuan. Hingga jatuh tenggelam karena sudah lelah dengan sesuatu yang bernama kegagalan. Menyerah bukan jawaban. Terus bermimpi dan berusaha itulah yang lebih bijaksana. Setiap orang mempunyai mimpi masing-masing. Melihat antusiasme para pejuang mimpi akan melihat betapa kuatnya tekad. Berusaha menentukan mimpi akan selalu mereka ingat. Karenanya momen perjuangan akan dimulai demi mimpi sebagai tujuan. Sungguh penuh makna dalam menjemput masa depan dengan mimpi sebagai kendaraan. “Rat, kamu kayaknya ngantuk banget. Abis begadang tadi malem?”, suara Rahayu mengagetkanku yang mulai terlelap. “Ratriii!”, teriak Rahayu. “Aish menyebalkan,” batinku. “Iya Rahayu. Aku habis begadang, puas?”, jawabku ketus. “Kali ini apa alasannya? Ngerjain praktikum gak mungkin. Rapat organisasi juga gak mungkin, kan kamu gak ikut organisasi apapun,” nadanya seolah menyindirku. “Iya-iya yang rajin rapat sana sini,” jawabku malas. “Tadi malem aku nonton Bayern Munchen Vs Borussia Dortmund. Seru banget apalagi Bayern Munchen menang,” lanjutku sedikit bersemangat mengabaikan rasa kantukku. “Ckck, Kamu udah ngerjain PR ngartiin Jurnal Budaya Jerman dari Ibu Erika?”, tanya Rahayu. “Alamak, aku lupa!”, jawabku frustasi sambil mengacak rambutku. Aku seorang mahasiswa program studi Bahasa dan Kebudayaan Jerman. Sudah dua tahun Aku kuliah disini. Hanya karena di SMA pernah mengambil mata pelajaran Bahasa Jerman, aku memutuskan mengambil program studi ini. Hari terus berlalu. Saat ini aku sedang menanti kuliah dimulai sambil memanfaatkan wifi di pojok kelas. Aku menoleh ketika mendengar pintu terbuka. Kulihat seseorang memasuki ruang kelas. “Hai Anin, lama gak ketemu. Lagi sibuk apa nih?”, tanyaku kepada teman satu program studiku ini. “Haha, iya ya Rat. Kayaknya kita jarang ketemu. Aku yang sibuk atau kamu yang jarang keliatan karena di kos terus?”, tanyanya terkesan menggodaku. Aku hanya menyengir dan menggaruk tengkukku yang tidak gatal. “Ini lagi coba-coba bikin paper. Siapa tau bisa tembus nasional. Pengin banget ketemu banyak orang dari universitas lain dan liat karya-karya mereka,” tutur Anin sambil tersenyum. “Wah, semangat ya Anin. Ngomong-ngomong aku jarang liat Krisna akhir-akhir ini.” “Mungkin lagi sibuk. Dia kan jadi ketua festival tahunan Fakultas Bahasa.” “Beneran? Kukira cuma guyonan doang pas dulu dia ngayal bakal jadi ketua festival,” ucapku sedikit tidak percaya. “Dia memang begitu, terkesan gak serius tapi sebenarnya serius. Dia itu kalau sudah punya kemauan pasti akan terus dikejar,” kata Anin kepadaku. Tidak terasa matahari telah kembali ke persemayamannya. Malam ini aku bersantai sambil berselancar di dunia maya. Sebuah notifikasi muncul dan membuatku tersenyum. Saras seorang teman SMA yang meneruskan kuliah keguruan PGSD di Bandung mengirimkan voice note kepadaku. Aku tebak pasti isinya curhatan. 28

SEISTRA


“Rat, aku mau curhat nih. Aku punya impian. Suatu saat nanti aku ingin buat metode menarik agar anak-anak SD tertarik dengan matematika dari kecil. Biar sampai SMA dia suka sama matematika karena tertanam sejak kecil bahwa matematika itu gak menakutkan,� tuturnya menggebu-gebu. “Semangat ya Ras, aku disini mendoakanmu. Semoga impianmu bisa terwujud suatu saat nanti,� doaku tulus kepada Saras. Malam semakin larut, tetapi mata ini tidak kunjung terpejam. Rasanya ada sesuatu yang mengganjal. Ada sesuatu yang tiba-tiba terlintas. Akhir-akhir ini aku mendengar banyak mimpi dari orangorang di sekitarku. Mereka seolah hidup karena impian mereka. Aku tersenyum kecut ketika sadar bahwa selama ini hidupku tidak bermakna. Selama ini aku berjalan tanpa tujuan. Aku terus berpikir hingga mata ini sudah tidak sanggup lagi menahan kantuk, ternyata jam dinding telah menunjukan pukul 02.35. Ah, setidaknya masih ada beberapa jam untuk tidur. Aku tidak berhenti begitu saja. Aku teruskan mencari mimpi yang akan menjadi tujuanku. Rasanya sulit sekali, aku ingin menyerah. Hingga akhirnya aku temukan apa yang bisa membuatku bertahan disini. Jika kalian membaca percakapanku dengan Rahayu pasti kalian bisa menebaknya. Iya, Bayern Munchen. Bukan klub sepakbolanya, tetapi Bayern atau Bavaria negara bagian di Jerman tempat dimana klub sepakbola favoritku berasal. Bayern atau Bavaria adalah sebuah negara bagian yang terletak di selatan Jerman. Aku ingin kesana. Menaklukan setiap kawasan wisata yang tersohor hingga pelosok dunia. Merasakan sensasi pertandingan sepakbola di Stadion Allianz Arena. Tuhan telah menunjukkan jawabanNya atas apa yang kutanyakan selama ini tentang mimpi yang harus kukejar. Tidak mudah untuk memperjuangankan impian yang sudah kutetapkan. Sudah lebih dari se-

ribu hari berlalu dari kala aku bermimpi. Dan disinilah aku berada. Di atas jembatan dan di depan mata tersuguh pemandangan luar biasa dari Pegunungan Alpen. Aku juga bisa melihat megahnya Schloss Neushwanstein yang menjadi kiblat istanaistana Disneyland. Iya benar sekali, aku sudah berada di Bavaria. Menjadi tour guide 'pemandu wisata' mengantarkanku kepada impianku. Tentu saja aku sudah mengunjungi Stadion Allianz Arena dan menyaksikan bagaimana hebatnya Bayern Munchen bertanding. Dinginnya udara tentu tidak membuatku berpaling dari indahnya Bavaria. Kurapatkan mantel dan setia menunggu rombongan turis Indonesia yang sedang berfoto dari atas Marienbrucke ini. Perjalananku masih panjang dan aku masih harus menunjukkan keindahan Bavaria kepada mereka. Masih ada Danau Bodensee dan Danau Konigssee serta Oktoberfest yang akan berlangsung esok hari. Semua itu hanyalah sebagian kecil dari wisata yang ada . Jika aku jabarkan rasanya setahun pun tidak akan usai. Biarkan aku menikmati dinginnya pegunungan lebih lama lagi sebelum melanjutkan perjalanan ini. -IF

SEISTRA

29


-SLS

32

NGGUYULOGI


SPEKTRAL ISILAH TTS BERIKUT

1

2

3 4 5

6 7

8 9

11

10

12

MENDATAR

MENURUN

3. Alat yang mengukur getaran bumi 5. Salah satu metode untuk mendeteksi bijih logam 7. Rektor pertama Universitas Gadjah Mada 8. Metode yang menggunakan frekuensi Gelombang Elektromagnetik rendah 9. Ilmu yang mempelajari tentang gelombang yang melewati bumi 10. Kebalikan dari konduktivitas 12. Satuan besaran gravitasi

1. BUMN yang mengelola pertambangan minyak dan gas bumi di Indonesia 2. Metode yang menggunakan pengukuran geomagnetikalam untuk mengetahui konduktivitas bawah permukaan bumi 4. Getaran di permukaan bumi 6. Metode yang medeteksi anomali densitas batuan sub-permukaan 11. Struktur rekahan yang telah mengalami pergeseran -DAJ

NGGUYULOGI

33


SOCIETY OF EXPLORATION GEOPHYSICISTS Universitas Gadjah Mada Student Chapter

SEG 2018

FIELD CAMP Sebenarnya apa, sih, Fieldcamp SEG – UGM SC itu?

Fieldcamp SEG – UGM SC merupakan salah satu kuliah lapangan wajib di Geosika UGM dan merupakan kuliah lapangan terakhir bagi calon geosikawan UGM. Pada tahun ini Fieldcamp dilaksanakan oleh mahasiswa Geosika UGM angkatan 2014. Fieldcamp tahun ini diselenggarakan pada tanggal 29 April 2018 – 9 Mei 2018 di Sangon, Kokap, Kulon Progo dengan tema “Gold Prospecting and Geological Structure Mapping Using Geophysical Methods for Advancing Prosperity of Society”. Terselenggaranya Fieldcamp SEG – UGM SC tahun ini di bawah komando Bapak Dr. Ing. Ari Setiawan, M.Si. sebagai pembina (project advisor) dan Riando Elang Desilva sebagai ketua acara (project leader). Metode-metode yang digunakan dalam Fieldcamp SEG – UGM SC kali ini di antaranya metode gravity, magnetic, very low frequency (VLF), geolistrik – IP, mikroseismik, serta seismik refraksi dan MASW. Secara umum, rangkaian Fieldcamp SEG – UGM SC tahun ini terdiri dari kegiatan pre-lapangan dan sesi lapangan. Kegiatan pre-lapangan meliputi Seminar Desain Survey dan HSE, Fieldtrip Geologi, serta Presentasi Desain Survey dari masing-masing kelompok. Kegiatan sesi lapangan dilaksanakan kurang lebih selama 10 hari. Waktu 7 hari digunakan untuk akuisisi data, sedangkan 3 hari lainnya digunakan untuk olah data beserta interpretasi, presentasi hasil akhir, dan social project. Selama kurang lebih 7 hari melakukan akuisisi data di lapangan, setiap harinya peserta akan melakukan akuisisi data dengan metode yang berbeda, sehingga diharapkan masing-masing peserta mendapat ilmu dan pengalaman yang lebih maksimal. Tema “gold mining” yang diambil pada tahun ini merujuk pada isu dan potensi lingkungan tempat Fieldcamp SEG – UGM SC diselenggarakan. Di mana Sangon sendiri adalah daerah dengan potensi tambang, salah satunya tambang emas. Namun selama ini, pemanfaatan sumber daya yang ada nampak belum optimal sehingga diperlukan riset dan penelitian yang berkaitan dengan keberadaan dan persebaran emas yang diharapkan dapat sangat bermanfaat bagi masyarakat. 36

KALDERA


Melalui Fieldcamp SEG – UGM SC 2018 ini, mahasiswa Geosika UGM khususnya angkatan 2014 diharapkan dapat menjadi pelaku penelitian guna mengembangkan potensi sumber daya khususnya emas di daerah Sangon. Dalam pelaksanaan kuliah lapangan seperti Fieldcamp yang merupakan kuliah lapangan terakhir bagi mahasiswa geosika, tentunya diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai bagaimana pekerjaan seorang geosikawan dimulai dari akuisisi data sampai dengan interpretasi hasil. Kegiatan di lapangan yang pastinya memiliki resiko yang tinggi dengan berbagai medan yang dihadapi, dalam Fieldcamp kali ini juga ditekankan pada penerapan Health Safety Environtment (HSE), di mana setiap peserta diwajibkan memperhatikan aspek keamanan dan keselamatan. Selain bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai bagaimana dunia kerja di geosika, Fieldcamp SEG – UGM SC juga diharapkan dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar seperti diadakannya social project di lokasi setempat. Social project dilaksanakan dalam bentuk pemeriksaan kesehatan, pembagian susu, penyuluhan mitigasi bencana, dan pemberian beasiswa sekolah. Tujuan dari kuliah lapangan ini diharapkan benar-benar tercapai sesuai dengan temanya yaitu, “Gold Prospecting and Geological Structure Mapping Using Geophysical Methods for Advancing Prosperity of Society”, serta pastinya diharapkan pula kegiatan yang dilaksanakan memberikan manfaat yang nyata untuk kesejahteraan masyarakat Sangon, Kokap, dan Kulon Progo. Selain itu, output yang diharapkan dari Fieldcamp SEG – UGM SC tahun ini, agar mahasiswa dapat memberikan hasil akhir berupa paper atau jurnal ilmiah dari hasil Fieldcamp yang telah dilaksanakan. Sedemikian panjang persiapan dan pelaksanaan Fieldcamp SEG – UGM SC pastinya memberikan pengalaman dan pembelajaran luar biasa bagi setiap orang yang terlibat. Memberikan gambaran mengenai kehidupan ke depan yang tentunya akan lebih luar biasa dan menantang dibandingkan Fieldcamp.

Pelaut ulung tidak lahir dari laut yang tenang, tetapi ia lahir dari gelombang di lautan Selamat berproses! -ALF

KALDERA

37


Geophysics Expedition

2018

Apa

jadinya ketika seorang koki hanya mengetahui resep namun tak bisa memasak? Itulah

perumpamaan bagi seorang geofisikawan yang tak pernah ke lapangan. Sebagai seorang geofisikawan, bumi menjadi objek utama belajar mempunyai segudang daya tarik untuk dipelajari. Tidak cukup hanya di kelas, turun ke lapangan juga diperlukan untuk melengkapi pengetahuan yang didapatkan di kelas. Mendaki gunung, menuruni lembah, dan membelah sungai untuk mengambil data sudah menjadi hal yang lazim bagi seorang geofisikawan. Demi menunjang kredibilitas mahasiswa Geofisika Universitas Gadjah Mada, Himpunan Mahasiswa Geofisika Universitas Gadjah Mada (HMGF UGM) mempunyai sebuah program kerja tahunan yang disebut Geophysics Expedition atau yang umumnya disingkat GE. Pada awalnya, kegiatan ini hanya disebut “uji coba alat geofisika� dan hanya diikuti oleh mahasiswa Geofisika Universitas Gadjah Mada. Namun, seiring berjalannya waktu, kegiatan ini pun berganti nama menjadi Geophysics Expedition dan mulai diikuti oleh mahasiswa mahasiswa dari universitas lain, tanpa menghilangkan tujuan awal dibuatnya kegiatan.

38

KALDERA


Pada periode ini, HMGF UGM mengadakan Geophysics Expedition yang diorganisir oleh Departemen Akademik dengan mengangkat tema “Detecting Lithologic Boundaries for Recognizing Regional Geology Bayat�. GE ini terbagi atas beberapa kegiatan, yaitu sesi kelas, sesi lapangan, dan sesi presentasi paper. Pada kesempatan kali ini, GE diadakan pada tanggal 8 dan 15 April untuk sesi kelas dan 10 sampai 13 Mei untuk sesi lapangannya. GE tahun 2018 ini diikuti oleh mahasiswa Geofisika Universitas Gadjah Mada, Universitas Padjadjaran, Univesitas Diponegoro, dan Universitas Sebelas Maret. Adapun rangkaian acara Geophysics Expedition kali ini adalah sesi kelas yang diadakan sebanyak dua kali yakni pada tanggal 8 dan 15 April, sesi kelas pertama berupa penyampaian materi metode-metode yang akan digunakan oleh para asisten serta pengenalan geologi regional oleh dosen terkait.Pada hari pertama ini pula disampaikan desain survey pengambilan data oleh setiap kelompok metode dan diskusi bersama seluruh peserta yang hadir. Pada sesi kelas kedua diadakan uji coba alat untuk setiap kelompok setiap metode, adapun metode-metode yang digunakan pada Geophysics Expedition kali ini adalah metode Microseismik, Magnetik, Gravitasi, Very Low Frequency (VLF), dan geolistrik yaitu Vertical Electrical Sounding (VES). Diadakannya sesi kelas ini diharapkan dapat membantu persiapan para peserta untuk kegiatan selanjutnya, yakni sesi lapangan.

Sesi lapangan diadakan selama kurang lebih 3 hari mulai dari tanggal 10 hingga 13 Mei berlokasi di daerah Bayat, Klaten, Jawa Tengah. Sesi ini mengikuti desain survey yang sudah disampaikan dan dibahas bersama pada sesi kelas sebelumnya. Dari desain survey tiap kelompok akan menentukan target pencapaian hasil survey yang harus dipenuhi dalam rentang waktu tersebut. Tiap kelompok mewakili setiap metode yang akan digunakan untuk mendeteksi batas litologi batuan yang ada di daerah Bayat, hal ini sesuai dengan tujuan dan tema dari Geophysics Expedition kali ini. Di sesi lapangan ini peserta tidak hanya melakukan pengambilan data, namun juga melakukan pengolahan dan pemamaran hasil di setiap malamnya. Dengan 5 metode yang ada, dibuat menjadi 6 kelompok survey dengan masing-masing metode menjadi 1 kelompok dan membuat 2 kelomopok untuk metode gravitasi. Setiap metode memilih daerah penelitian yang berbeda-beda sehingga tersebar di beberapa bagian Bayat, khususnya di sekitaran Watuprau. Metode metode yang digunakan tentu memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing, juga tantangan dalam pengambilan data maupun pengolahannya. Diharapkan setelah mengikuti kegiatan GE kali ini, para peserta dapat lebih memahami metode nonseismik yang digunakan dan dapat menaklukan tantangan dari setiap metode sehingga dapat dijadikan pelajaran untuk survey berikutnya di lain kesempatan. -ARP

KALDERA

39


Menyambut Usia Perak HMGF Apa Kata Mereka? Bapak Imam Suyanto merupakan sosok yang sangat erat kaitannya dengan Himpunan Mahasiswa Geosika UGM. Beliau merupakan panutan sekaligus menjadi tempat curhat yang baik bagi pengurus maupun anggota HMGF. Menjadi pembina HMGF selama bertahun-tahun membuat beliau paham betul bagaimana karakter dari HMGF. Selama berkecimpung dan sekaligus membina himpunan ini, Pak Imam melihat beberapa hal yang dapat disoroti pada HMGF, mulai dari perencanaan organisasi yang mulai membaik, ruang sekretariat yang mumpuni, bahkan karakter orang-orang HMGF yang kian menguat hingga menjadi karakter yang sangat kental. HMGF dulu dan sekarang sudah tidak dapat disamakan karena tuntutan era dan teknologi yang berbeda. Pak Imam berharap di umur yang telah menginjak 25 tahun ini, HMGF dapat memanfaatkan media sebagai salah satu gerbang informasi mengenai Geosika UGM. Harapan lainnya adalah agar nantinya HMGF dapat terus mendukung kebijakan dari Prodi Geosika, Departemen Fisika, FMIPA, dan Universitas Gadjah Mada.

Ibu Ade Anggraeni merupakan salah satu alumni sekaligus dosen Geosika UGM yang ikut kembali membangun HMGF pada tahun 1993 setelah vakum untuk beberapa waktu. Beliau merupakan sosok yang mengikuti perkembangan HMGF hingga saat ini. Ibu Ade menuturkan bahwa pada awalnya HMGF merupakan wadah silaturahmi mahasiswa geosika serta tempat mengembangkan diri dalam rangka memperkaya skill mahasiswa dalam ranah Geosika. HMGF dulu dan sekarang memiliki perbedaan yang cukup signikan. Hal ini disebabkan karena kuantitas mahasiswa yang berbeda jauh sehingga saling membutuhkan satu sama lain, prol dan karakter mahasiswa yang berbeda seiring perkembangan zaman, dan tuntutan waktu akademik yang cukup singkat. Dalam usia HMGF yang beranjak 25 tahun ini, Ibu Ade berharap bahwa HMGF dapat lebih meningkatkan kualitas program kerjanya. Selain itu, Ibu Ade berpesan agar HMGF yang sekarang jangan sampai kalah dengan HMGF yang dulu dan mahasiswa jangan sampai terkotak-kotakkan antar angkatan, sehingga semangat kekeluargaan dapat selalu ditingkatkan. “Kita ini satu, GEOFISIKA UGM” , beliau mengingatkan di akhir perbincangan.

40

KALDERA

Bapak Imam Suyanto

Saya di HMGF ini jelas banyak senangnya. Bagi saya berkumpul bersama jiwa-jiwa muda membuat saya ketularan sehingga semangat muda saya kembali.

Ibu Ade Anggraeni

Di zaman saya HMGF bentuknya sangat sederhana, hanya diurus oleh beberapa orang. Mahasiswa geosika masih sedikit sehingga kami harus berjuang secara militan. Kami secara lintas angkatan bersama sama membangun HMGF.


#SATUJIWA #JAYAGEOFISIKA

Pak Jaka

Sering-seringlah menyapa, mengobrol, dan main ke lantai tiga supaya staff dan mahasiswa bisa saling mengenal.

Mas Budi

Setelah saya bergabung dalam HMGF, saya mengalami sesuatu yang luar biasa. Ternyata HMGF bukanlah suatu organisasi, HMGF adalah suatu keluarga, HMGF adalah bagian dari sedih dan bahagia. Di sini kita bukan hanya memberikan sesuatu yang cuma-cuma, tapi memberikan arti dan makna

Bapak Catur Jaka Priyana merupakan salah satu staff di Prodi Geosika UGM yang akrab dengan para mahasiswa. Staff yang bertugas mengurus administrasi ini sering membantu mahasiswa dalam mengurus kegiatan, menyampaikan surat undangan, dan berbagai kegiatan lainnya. Karena itu, sosok yang akrab dipanggil 'Pak Jaka' ini cukup dekat dengan para mahasiswa. Di mata beliau, HMGF adalah suatu organisasi yang sangat baik, rasa kekeluargaan mahasiswa geosika dapat terbentuk di HMGF melalui kegiatan di kampus dan di lapangan. Dulu, Pak Jaka bersama staff yang lain sering berkumpul di sekretariat HMGF dan memantau langsung kegiatan mahasiswa. Pak Jaka mengikuti perkembangan mahasiswa Geosika UGM mulai dari yang “nyleneh dan suka tidak mengindahkan aturan”, hingga saat ini. Sampai pada saat berlangsungnya pemindahan sekretariat HMGF yang cukup membuat mahasiswa sedih karena kenangan yang telah terbangun, Pak Jaka pun tetap mendampingi mereka. Pesan beliau dalam menyambut 25 tahun HMGF ini agar pengurus HMGF bisa lebih aktif dalam menjalin kerjasama yang baik dengan staff, dosen, dan alumni Geosika UGM.

Mas Budiarjo Al Atsyary adalah salah satu staff sekaligus alumni Geosika UGM yang sangat aktif saat berkuliah. Pada dua tahun pertama perkuliahan, Mas Budi aktif di BEM dan DPM FMIPA, hingga pada satu titik beliau merasa tidak bisa hanya aktif di luar tanpa melihat rumah sendiri, yaitu HMGF. Akhirnya, Mas Budi memutuskan untuk kembali dan ikut membangun HMGF. Menurut Mas Budi, HMGF sudah tidak sedekat dulu. Mas Budi berharap Geosika UGM dapat dibangun dari dua sisi, tidak hanya satu sisi saja. Dua sisi tersebut adalah dosen dan staff, serta mahasiswa. Jika kedua sisi itu dapat menyelimuti atmosfer Geosika UGM, maka akan terciptalah satu kesatuan yang lengkap. Menyambut 25 tahun HMGF ini, Mas Budi berharap melalui HMGF, mahasiswa dapat meningkatkan prestasi dan berpartisipasi dalam event nasional maupun internasional dan selalu menanamkan rasa kekeluargaan di dalam HMGF

“HMGF itu kita. HMGF adalah milik kita bersama. Siapa kita? Kita adalah mahasiswa, dosen, alumni dan staff Geosika UGM”

-UC

KALDERA

41


Follow FACEBOOK

HIMPUNAN MAHASISWA GEOFISIKA UGM

LINE

INSTAGRAM


w Us! WEBSITE

TWITTER

EMAIL


YOUR GEOPHYSICS PORTAL

HIMPUNAN MAHASISWA GEOFISIKA

UNIVERSITAS GADJAH MADA

Spectral 5th Edition (Online Version)  

Peran geothermal atau panas bumi sebagai salah satu sumber energi baru dan terbarukan yang mampu dieksplorasi guna memenuhi kebutuhan pasoka...

Spectral 5th Edition (Online Version)  

Peran geothermal atau panas bumi sebagai salah satu sumber energi baru dan terbarukan yang mampu dieksplorasi guna memenuhi kebutuhan pasoka...

Advertisement