Page 14

14 PANGGUNG

MINGGU, 22 APRIL 2012 M 30 JUMADIL AWAL 1433 H

PEMENTASAN “MATA SUNYI” TEATER RUMAH TEDUH

Kaya Simbol, Sepi Eksplorasi

SALAH satu adegan “Mata Sunyi” sutradara Eka Satiawan. Dok

Oleh: Esha Tegar Putra Panyair dan peminat seni pertunjukan “LAMPU padam lagi,” seorang lelaki berumur kira-kira 40 tahun menyahut seorang perempuan yang duduk di kursi jauh di belakangnya. “Seperti biasanya,” perempuan itu menjawab. “Kau belum tidur,” sahut laki-laki itu lagi. “Seperti biasa,” jawab perempuan sembari mengatakan, “tidurlah, hujan turun sampai pagi.” Lelaki itu pun berteriak, “dingin”. Lantas ruangan tempat si laki-laki dan perempuan itu duduk jadi riuh karena musik. Lebih riuh dari musik berawal lamban yang mengiringin percakapan dua orang itu. Ruangan itu seperti ruangan club malam. Selain kursi berjauhan tempat si laki-laki dan perempuan duduk, di bagian sudut kanan adatiga tabung terbuat dari plastik transparan yang di dalamnya masingmasing ada perempuan sedang menari. Seorang disk jockey (DJ), di antara tabung itu terlihat dengan lincahnya mengolah musik dari turntable dan menghasilkan bunyi musik elektronik yang mengatur ritme penari. Sesekali penari itu mengikuti ritme, sesekali tidak, seolah perempuan di

dalam tabung itu mempunyai dunianya sendiri di luar musik. Tapi suasana tersebut bukanlah di club malam, melainkan di panggung Teater Utama Taman Budaya Sumatera Barat, Jumat (20/4) lalu. Suasana yang dibangun dalam pementasan “Mata Sunyi” karya Marhalim Zaini, sutradara Eka Satiawan, produksi ke-27 Teater Rumah Teduh Unit Kegiatan Seni Universitas Andalas. Aktor utama, si lakilaki (Feri Irawan) adalah seorang buta dan si perempuan yang disahut itu adalah istrinya, Ella (Ikka Klamazetta). Serta penari-penari dan DJ di panggung tersebut adalah bangunan suasana untuk pementasan tersebut. Suasana yang seakan-akan berada pada dunia di dalam ‘hasrat’, dunia yang bukan benar-benar ada di ruangan dialog antara sepasang suami istri tersebut melainkan di dalam dirinya. Atau tidak, itu adalah hasrat, dari sebuah kesepian akut yang ditanggungkan sepasang suami istri tersebut. Dari awal memasuki pementasan tersebut penonton sudah dihadirkan dengan iriangan musik

dari seorang DJ (Harry kurniawan). Musik yang sebenarnya adalah hasil permainan komputerisasi digabungkan alat musik organ yang dibentuk sedemikian rupa di panggung hingga terlihat seperti turntable. Dan DJ, seolah siasat dalam pementasan menghadirkan pemusik ke atas panggung. Jika pementasan dibandingkan dengan suasana naskah “Mata Sunyi” yang ditulis oleh Marhalim Zaini tersebut, banyak sekali perombakan yang dilakukan oleh sutradara. Dan secara keseluruhan, usaha tersebut adalah siasat untuk naskah yang boleh jadi digolongkan sebagai naskah ‘kamar’. Naskah tersebut penuh dengan percakapan puitik dengan suasanaya melankolik, yang jika tidak disiasati dan dimainkan apa adanya akan terasa sangat monoton—akan hanya ada percakapan puitik dari sepasang suami istri yang kesepian. Tapi tidak begitu dari pementasan tersebut. Dihadirkanlah beberapa penari, tiga orang bermain konstan di tabung dan dua orang bermain secara dialogis, seorang DJ, dan lampu kerlap-kerlip seakan panggung itu diusahakan menjadi club malam. Kesemuanya itu adalah siasat bagi naskah yang awalnya boleh jadi

digolongkan naskan ‘kamar’. Meski usaha tersebut tidak sepenuhnya utuh. Pementasan tersebut pun bercerita tentang sepasang suami istri yang dirajam kesepian selama tujuh tahun usia perkawinan mereka. Si suami buta seorang yang dianggap misterius oleh si istri bernama Ella yang sejatinya seringkali disebut sebagai “penyair”. Tapi siapah yang lebih sepi, si suami atau si istri? Dan tarik-menarik dialog kesepian inilah yang terjadi di panggung. Di satu sisi, si suami tak pernah mengungkapkan keinginannya pada si istri akan tetapi mempertanyakan soal cinta. Di sisi lain si istri juga mempertanyakan cintanya, sedangkan dari tujuh tahun usia perkawinan mereka tak sekalipun si suami menjalankan tugasnya selaknya suami; memberikan nafkah lahir dan batin. Percakapan demi percakapan puitik hadir, beberapa aforisma-aforisma penyair seperti Octavio Paz dan Derec Walcottt membayangi percakapan dua orang aktor tersebut. Percakapan mereka pun seakan percakapan dua orang intelektual yang membicarakan soal sejarah manusia, puisi, politik, terutama soal cinta dan kesepian akut.

BODY SLIM 100% HERBAL....SUDAH TERBUKTI HASILNYA & AMAN

Meski di dalam pementasan tersebut ada gairah yang dibangun sebagai siasat untuk membuka jalan bagi naskah ‘kamar’ yang putik di atas pentas, tapi beberapa bangunan permainan di panggung kurang mendapat eksplorasi. Misalkan pada tiga orang penari di dalam tabung transparan. Pada klimaks pementasan tersebut, tuntutan seorang istri pada suami yang tidak menafkahinya secara badani, tak ada eksplorasi lebih pada bagian tersebut. Bisa jadi, tiga penari di dalam tabung akan mendapat tafsir yang berbeda seketika penari tersebut dengan tubuhnya bisa membangun ruangnya seakan ‘janin’ yang hendak dan ingin ‘dikeluarkan’, tapi tidak juga dikeluarkan. Atau bisa jadi penari tersebut dijadikan ‘gairah seksual’ dari seorang istri dalam kesepiannya akan sentuhan si suami. Tapi boleh jadi, semuanya serba boleh jadi dalam tafsir, begitu pula seketika sutradara memberi tafsir untuk naskah tersebut. Hal yang utama, dari pementasan “Mata Sunyi”, adalah sambutan penonton. Setidaknya ratusan penonton datang memberi apresiasi. Tim manajeman Teater Rumah Teduh melakukan lagi usaha untuk menjadikan teater sesuatu yang bisa dihidupi secara bersama di balik persoalan keluhan biaya produksi. Dengan tiket yang dijual seharga 5.000 rupiah, meski tidak akan mencukupi, mereka mampu menjaring dan meyakinkan penonton bahwa sebuah pementasan teater layak untuk ditonton dengan mengeluarkan sedikit uang: setidaknya hal itu akan membantu menghidupi teater. „

Jejak Antigone dalam Los Bagados De Los Pencos Oleh Delvi Yandra Pendongeng dan penggiat di Teater Rumah Teduh. PETIKAN gitar, tabuhan jimbe dan seorang pelayan yang sedang membersihkan sudut ruangan di sebuah rumah sakit jiwa mengawali pementasan berjudul “Los Bagados De Los Pencos” karya WS Rendra sutradara Alvin Sena Bayu. Pementasan yang berdurasi sekitar 40 menit itu ditampilkan oleh kelompok Teater Langkah di Ruang Flash Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, Kamis (19/ 4) petang. Pementasan dengan naskah setebal tujuh halaman ini menceritakan kehidupan pasien-pasien di sebuah rumah sakit jiwa yang diurus oleh dr. Rendra (diperankan Tomi). Dia ditemani Azwar (diperankan Barker) yang merupakan seorang mantri, bekerja menjaga stabilitas keamanan di rumah sakit jiwa tersebut. Bersama Azwar, dr. Rendra mengurus ratusan pasien sinting dan majnun yang menuntut hak-hak yang sama dengan dokter. Azwar tak mampu membendung protes massa yang dipimpin seorang pasien berprofesi sebagai nelayan (diperankan Achie). Tetapi dia mencoba untuk tidak panik dan gugup lalu menjelaskan kepada dr. Rendra bahwa protes itu merupakan suatu kemajuan. Mereka, pasien-pasien itu, menuntut hak-hak berupa kedudukan yang disamakan dengan para dokter di dalam rumah sakit jiwa. Sekaligus menuntut perbaikan gizi. Selanjutnya, dr. Rendra menuduh pasien-pasiennya telah menghina ideologi. Mereka, terus protes sambil menyampaikan teriakan: Los Bagados De Los Pencos! yang membuat dokter bertanya-tanya apa sebenarnya arti kalimat tersebut. Selain menjadi nama partai dari kelompok pasien yang melakukan protes, Los Bagados De Los Pencos juga, menurut mereka, artinya “kemakmuran dan kedamaian”. Aksi itu tentunya berlawanan dengan aturan yang ada di rumah sakit jiwa, tetapi bagi para pasien aturan yang patut dianut adalah aturan orang-orang gila. Tak dinyana, tak dapat membendung aksi protes tersebut, dokter pun menyerah usai dikeroyok pasiennya sendiri. Pada akhir cerita, mereka semua larut dalam tarian dan musik regae. Bersama-sama menyatu dalam Los Bagados De Los Pencos. Tetapi, bukan itu akhir pertunjukan. Saat penonton hendak bertepuk tangan, adegan beralih kembali pada pelayan (diperankan Fauzi) rumah sakit jiwa yang menyapu membersihkan sudut ruangan rumah sakit jiwa. Sekali lagi, sembari beralih pandang ke penonton, dia pun berkata: Los Bagados De Los Pencos! Pementasan pun berakhir. Semula saya tidak menyadari bahwa set panggung merupakan sudut ruangan sebuah rumah sakit jiwa, tetapi setelah terjadi dialog antara dr. Rendra dan Azwar barulah saya mengetahuinya—bahkan saat seorang nelayan masuk dari kanan panggung dengan membawa jaring (yang sebenarnya lebih tampak empat utas karet ban yang memanjang). Hal itu terjadi karena minimnya simbol-simbol sebuah sudut rumah sakit jiwa yang ditawarkan di atas panggung. Pada dasarnya, koor dapat disampaikan oleh empat pasien lainnya bernama Emha Ainun Najisun (diperankan Rury), Mayon Edi Sutrisno (diperankan Randy), Linus Suryadi (diperankan Meli), dan Dedot Muradin (diperankan Norra) tanpa harus menghadirkan tokoh nelayan. Barangkali nama-nama itu mengingatkan kita kepada teman-teman WS Rendra pada masa itu hingga hari ini, termasuk Cak Nun. Tetapi hadirnya tokoh nelayan di sini, barangkali merupakan pilihan tersendiri bagi sutradara—kecuali jika sutradara telah salah menafsirkan tokoh-tokoh di dalam naskah. Nelayan sebagai pemimpin orang-orang yang sakit jiwanya. Tetapi hampir pada keseluruhan adegan tokoh nelayan ini tampil di atas panggung. Sayangnya, motif yang dilakukan oleh nelayan tersebut tidak maksimal sehingga apa yang dilakukannya pada beberapa bagian gerakannya hanya sekedar tempelan belaka. Lantas, bersama empat pasien sakit jiwa lainnya, nelayan turut menyuarakan tuntutannya demi kesetaraan, kemakmuran dan kedamaian pasien-pasien di rumah sakit jiwa: Los Bagados De Los Pencos! Minimnya sarana pementasan yang mumpuni tak menjadi aral bagi kelompok Teater Langkah untuk terus bernafas, apalagi menampilkan wajah-wajah baru dalam dunia seni peran. Tragedi Berselimut Komedi Betapa penting peran teater kampus dalam pengembangan teater secara luas. Dari sana pula, terbangun ruang-ruang baru. Pelaku teater professional perlu jemput bola mencari aktor-aktor berbakat di lingkungan kampus. Los Bagados De Los Pencos layaknya antigone, jejak-jejak tragedi masih menjadi perhatian bagi WS Rendra—tentunya teater sebagai usaha untuk mengaduk akal reaksi dari publik. Landasannya dapat ditangkap melalui emosi-emosi sosial yang mudah dibujuk dengan beberapa susunan kata dan ide yang jelas dan bergaya slogan. Gaya demikian tergambar jelas dalam banyak naskah WS Rendra. Protes sosial dan perlawanan terhadap kekuasaan menjadi modal dalam Los Bagados De Los Pencos. Teater Langkah dalam pementasannya Kamis kemarin, menggunakan teater sebagai pengendapan dari perasaan yang hidup dalam masyarakat pada zamannya. Dan tentu saja hal tersebut merupakan fungsi dari teater: refleksi dari masyarakat, di mana kritik sosial menjadi wujud yang ingin secara sadar disampaikan. Benar, diakui Asrul Sani bahwa kritik sosial di atas panggung sudah ditemukan sejak zaman Tan Tjeng Bok. Dan Rendra konsisten dengan penolakannya. Dan penolakan itu jauh dari kecenderungan memakai kata-kata abstrak yang tanpa warna, bahkan selalu konkret. Terlepas dari segala keterbatasan dan kekurangan, Teater Langkah telah hadir sebagai kelompok yang menanggapi isu-isu sosial dan politik-kekuasaan yang terjadi di lingkungan terdekat— kampus misalnya. Benar, dasar pemikiran semacam itu dapat menjadi modal penting bagi Teater Langkah untuk terus melangkah. Semoga.„

nggak sempat baca

menambah ukuran permanen

klik kami di www.harianhaluan.com

Haluan 22 April 2012  

Haluan 22 April 2012

Haluan 22 April 2012  

Haluan 22 April 2012

Advertisement