Page 1

KEMENTERIAN KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA DIREKTORAT JENDERAL NILAI BUDAYA, SENI DAN FILM

DIREKTORAT KESENIAN 2010

PAMERAN SENI MEDIA

Universitas Negeri Medan Sumatera Utara (UNIMED ) 25 - 30 Mei 2010 KURATOR: ADE DARMAWAN & HAFIZ


PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

PAMERAN SENI MEDIA

1


2

PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

PAMERAN SENI MEDIA

Penasehat: Drs. Tjetjep Suparman, M.Si. Drs. Sulistyo Tirtokusumo,M.M Dewan Artistik: Drs. Pustanto, M.M Yusuf Hartanto Hafiz Ade Darmawan Kurator: Hafiz Ade Darmawan Asisten Kurator: Arif Ash Shiddiq Mahardika Yudha Desain dan Tata Letak: Riosadja

Diterbitkan oleh: Direktorat Kesenian Direktorat Jenderal Nilai Budaya, Seni dan Film Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Gedung E Lantai 9, Kompleks Kemendiknas, Jl. Jendral Sudirman, Senayan Jakarta 10270 Telp/Fax: (021) 572 5561, 725046, 5725534.


PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

3

SAMBUTAN DIREKTUR JENDERAL NILAI BUDAYA, SENI DAN FILM Perkembangan dan kemajuan ilmu teknologi dewasa ini telah mempengaruhi dunia kesenian. Berbagai macam bentuk seni dengan berbasis teknologi menjadi arus besar yang mengikuti fenomena sosial yang terjadi. Seni-seni dengan berbasis teknologi, yang sering disebut seni media (media art) atau fenomena terakhir dengan kata media baru (new media art) sangat sering ditemukan pada acaraacara besar kesenian seperti biennale, triennale, art fair dan berbagai festival lainnya yang berbasis teknologi. Seni media merupakan salah satu cabang dari seni. Seni media pada hakikatnya adalah seni hibrida yang lahir dari pertemuan ekspresi estetik dengan perkembangan teknologi. Era keterbukaan dan masuknya teknologi digital yang murah telah memberi peluang kepada kreator-kreator (terutama seniman muda) untuk bereksperimen dan mengeksplorasi seni media dalam karya-karyanya. Fenomena seni media di Indonesia mulai berkembang sekitar tahun 1990-an. Akan tetapi, sampai saat ini masyarakat masih banyak yang kebingungan tentang kehadiran seni media. Berbagai pertanyaan seputar seni media bermunculan, padahal dalam kesehariannya mereka telah menjadi bagian dari tumbuh-kembangnya kehadiran seni media. Kami berharap, semoga penyelenggaraan pameran ini, dapat menjadi wahana yang efektif dalam mensosialisasikan dan menjembatani terjadinya interaksi, komunikasi, serta memberikan ruang apresiasi yang representatif bagi masyarakat tentang perkembangan seni media di Indonesia. Dalam kesempatan ini, kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh komponen yang telah membantu tenaga dan pikirannya, sehingga pameran seni media ini dapat terselenggara dengan baik. Selamat berpameran dan selamat menikmati. Jakarta, 25 Mei 2010 Direktur Jenderal Nilai Budaya, Seni dan Film

Drs. Tjetjep Suparman, M.Si.


4

PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

Sambutan Rektor Universitas Negeri Medan Assalamu’alaikum wr. wb. Diiringi rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa berkat rahmat dan hidayah-Nya Universitas Negeri Medan kembali dapat menggelar pameran seni media bertaraf nasional. Pameran kali ini merupakan kerja sama yang baik dengan pihak Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Direktorat Jenderal Nilai Budaya, Seni, dan Film. Dengan sangat gembira kami selaku Rektor menyambut penyelenggaraan Pameran Seni Media wilayah Barat dengan tema “Lokalitas dalam Perspektif Teknologi” ini yang pelaksanaannya didampingi oleh karya para dosen dan mahasiswa Jurusan Seni Rupa FBS UNIMED. Jalinan kerja sama yang baik ini dilakukan dalam upaya mengakomodasi dan mensosialisasikan karya multimedia kepada publik. Hal itu juga sejalan dengan visi dan misi Universitas Negeri Medan yang menekankan pada tiga pilar, yakni unggul dalam bidang pendidikan, industri, dan pariwisata. Sebagaimana kita ketahui bahwa perkembangan teknologi informasi dan media telah mendorong munculnya para pecinta dan inovator media baru. Penggunaan perangkat komputer, televisi, maupun video telah membantu mereka untuk mengekspresikan ide maupun gagasannya kepada publik. Pameran seni media ini diharapkan dapat menambah kecintaan akan dunia seni rupa khususnya seni media, dimana proses visualisasinya membutuhkan kreativitas tinggi serta memerlukan perangkat teknologi. Selain itu diharapkan juga dapat memacu kreativitas seni di kalangan insan seni rupa Medan dan sekitarnya. Bagi dosen kegiatan pameran seni media ini tentu sangat penting dilakukan guna menumbuhkembangkan sikap keteladanan sebagai seorang pendidik sekaligus sebagai seniman, dan bagi para mahasiswa akan memberikan hikmah tentang manfaat karya-karya seni media yang mengeksplorasi berbagai bidang sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Ide dan gagasan para seniman dari berbagai kota di wilayah Indonesia bagian Barat yang kreatif, inovatif dan dinamis serta representatif di bidangnya, akan mendorong pemanfaatan karya seni untuk menginspirasi berbagai sektor pembangunan khususnya untuk memperkuat karakter anak-anak bangsa ini. Akhirnya kami mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak khususnya kepada Direktorat Jenderal Budaya, Seni, dan Film Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata yang telah bersedia melaksanakan kegiatan pameran seni media wilayah Barat ini di Universitas Negeri Medan. Selamat berpameran dan berdiskusi tentang “Seni Media dalam Perspektif Seni Rupa Kontemporer” semoga dapat meningkatkan apresiasi masyarakat serta menambah semaraknya perkembangan seni rupa khususnya seni media di Medan. Terima kasih. Wassalamu’alaikum wr. wb. Medan, 25 Mei 2010 Rektor Universitas Negeri Medan Prof. Dr. Syawal Gultom, M. Pd.


PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

5

kuratorial Seni Media, Mari Melihat Kita dengan Teknologi Tak terbendungnya perkembangan teknologi informasi dan audio visual telah membawa pengaruh yang sangat besar mengubah cara pandang kita terhadap realitas. Medium audio visual menawarkan realitas atau ‘kebenaran’ yang sangat atraktif dengan citra visual yang berpendar dan bersuara. Kekuatan media ini yang dapat melakukan proses merekam (recording), diubah menjadi frekuensi dan ditransmisikan (transmitting), dan disimpan dalam format digital (storing data) dan dapat dengan mudah digandakan (reproducing) dan disebar, dan data digital ini juga dapat diubah menjadi kode kode yang dapat dibaca di dunia maya. Kita bisa menyaksikan hari ini bagaimana kehadiran pesawat televisi dari warung rokok di sudut jalan sampai kafe dan restoran besar, mal, hingga, TV wall di ruang publik kota. Begitu juga dengan kamera video, dari mulai dalam ruang kecil ATM hingga di sebuah resepsi pernikahan. Murid murid SMU telah pula menghasilkan film atau video lewat handphone yang berfasilitas kamera video. Teknologi komputer pun telah menjadi bagian dalam keseharian kita. Ini semua hanya sebagian kecil kenyataan bagaimana media audio visual dan teknologi perekaman yang berkembang pesat bersamaan dengan kemajuan teknologi perangkat produksi citra dan perangkat penyebarannya telah hadir di sekitar kita, di keseharian kita. Kemajuan teknologi yang sangat cepat yang menjadi konsumsi masyarakat luas serta fenomena budaya tontonan lewat Televisi dan media audio visual lainnya yang semakin lama semakin kuat di masyarakat mendorong kita untuk harus melihat fenomena ini dengan sudut pandang kritis. Pesatnya teknologi audio visual dan semakin mudahnya dimiliki serta diakses oleh masyarakat luas, didorong pula oleh tingkat konsumerisme masyarakat yang tinggi, tidak diimbangi oleh kesadaran yang strategis dalam memakai teknologi tersebut. Teknologi itu hanya menjadi menjadi produk konsumsi yang belum banyak dipakai untuk kepentingan masyarakat dalam mendokumentasi, mengobservasi serta merefleksi dan lebih jauh sebagai medium ekspresi. Salah satu fenomena seni rupa kontemporer yang paling mengemuka dalam sepuluh tahun terakhir adalah munculnya seni media, yaitu; seni yang berbasis teknologi yang saling kait mengkait antara kerja kreatif, ide dan perkembangan teknologi. Agung Hujatnika mengatakan kata media dalam istilah ini memang merujuk pada pengertian umum tentang media sebagai ‘perantara pesan’, di mana diandaikan ada sebuah transfer informasi dan proses komunikasi antara pengirim pesan dan penerima pesan. Dalam konteks pengertian media memang terus berubah sejalan dengan perkembangan caracara penyampaian pesan dari masa ke masa, yang dalam hal ini sangat difasilitasi oleh perkembangan teknologi informasi (Agung Hujatnika, 2006: 11-12). Media baru berbasis teknologi audio visual dan perekaman dengan kelebihan serta kekuatan seperti dipaparkan di atas menjadi sangat relevan untuk digunakan sebagai sebuah medium ekspresi yang dapat digunakan sebagai alat untuk merekam kenyataan atau memproduksi kenyataan baru. Seni media juga bisa digunakan sebagai salah satu alat untuk menyatakan sesuatu dan memproduksi kenyataannnya sendiri dengan mandiri sebagai alternatif tontonan di tengah referensi audio visual arus utama yang dengan gencarnya menawarkan kenyatan kenyataannya sendiri yang tentunya lebih berorientasi komersial dan politis.


6

PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

Ditengah perkembangan masyarakat kontemporer telah banyak seniman yang juga menggunakan media media baru yang berbasis pada perkembangan teknologi komputer, manipulasi digital, internet dan video (audio visual) tersebut sebagai sebuah medium ekspresi. Seniman menggunakannya sebagai sebuah cara baru dalam menciptakan citraan citraan baru, yang dengan kekhususan tertentu hanya dapat dicapai oleh medium ini, misalnya gagasan waktu dalam medium video atau citraan citraan yang hanya dapat dicapai melalui manipulasi digital seperti dalam animasi atau cetak digital. Melihat berkolaborasinya seni dan teknologi dalam seni media, ia juga telah memperkaya wacana perkembangan senirupa kontemporer Indonesia dengan mencoba melihat fenomena terbaru dalam perkembangan teknologi audio visual sebagai sebuah medium ekspresi seni. Di ranah publik, seni media juga mempunyai peran dan potensi yang sangat penting dalam memperkaya wawasan atau perspektif publik melalui alternatif tontonan dalam melihat budaya tontonan yang sebelumnya telah terbangun hanya melalui media televisi dan industri film mainstream. Saat ini, telah banyak seniman yang juga menggunakan media media baru yang berbasis pada perkembangan teknologi komputer, manipulasi digital, internet dan video (audio visual) sebagai sebuah medium ekspresi. Berbagai aspek teknologi informasi digunakan dalam berkarya seni rupa, baik secara visual (estetik) maupun aspek teknologinya. Apabila dilihat pada perkembangan terakhir, karya-karya berbasis media audio visual masih mendominasi. Namun, perkembangan medium digital dan objek teknologinya juga memperlihatkan perkembangannya. Hal ini dapat kita lihat dari berbagai pameran dalam beberapa tahun terakhir, karya instalasi yang menggunakan teknologi mulai muncul ke permukaan seperti karya Kuswidananto aka Jompet, Java Machine: Phantasmagoria yang dipamerkan pada Yokohama Triennale 2009, di Jepang. Pada kompetisi ASEAN New Media Art Competition 2007, tiga seniman Indonesia (Mualana M. Pasha, Muhammad Akbar dan Ari Satria Dharma) meraih hadiah utama pada kompetisi tingkat regional Asia Tenggara ini. Pada 2008, Maulana M. Pasha mendapatkan hadiah pertama Indonesian Art Award (IAA) yang diselenggarakan oleh Yayasan Seni Rupa Indonesia. Karya video Jalan Tak Ada Ujung adalah karya pertama dengan medium video yang mendapatkan hadiah utama kompetisi seni rupa dua tahunan di Galeri Nasional Indonesia ini. Gambaran ini menjadi penanda bahwa praktek dan kehadiran seni media dalam seni rupa kontemporer Indonesia telah nyata. Untuk itu perlu dilakukan pemetaan, pembacaan dan sosialisasi terus menerus untuk melihat bagaimana perkembangan penggunaan medium ini di kalangan perupa di Indonesia. Pameran Seni Media, Lokalitas Dalam Perspektif Teknologi merupakan salah satu dari sedikit kegiatan yang mencoba merangkum dan merepresentasikan fenomena ini. Pada pameran ini kami menghadirkan karya karya seni video, sound art, karya cetak berbasis manipulasi digital, serta karya berbasis virtual/internet dari beberapa seniman Indonesia yang telah aktif mengeksplorasi medium ini dalam kurun sepuluh tahun terakhir. Beberapa seniman yang di hadirkan pada pameran ini adalah; Eko Nugoroho, Muhammad Akbar, Wimo A. Bayang, Maulana M. Pasha, Reza Afisina, Tintin Wulia, Ari Satria Darma, Ari Dina Krestiawan, Anggun Priambodho, Henry Foundation, Irwan Ahmett, Otty Widasari, Yusuf Ismail, Andang Kelana, Bandung Center For Media Art – Bandung, The House of Natural Fiber – Yogyakarta dan beberapa seniman lainnya. Untuk menangkap


PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

7

perkembangan yang terjadi di berbagai daerah, terutama di wilayah Sumatera, kami juga mengundang beberapa seniman dari wilayah ini. Sumatera adalah salah satu sentra kelahiran seniman dan perupa penting di Indonesia. Dengan menghadirkan karya dari seniman-seniman di berbagai wilayah di Indonesia, diharapkan dapat dibaca dan dipetakan bagaimana seni berkolaborasi dengan teknologi yang telah terjadi berbagai daerah. Pembacaan dan pemetaan ini juga menjadi sangat penting untuk menjadi awal dari usaha untuk melihat peta yang lebih besar sehingga diharapkan kita bisa sama sama melihat sebuah gambaran yang lebih utuh dan mampu merancang sebuah langkah yang lebih strategis dalam konteks perkembangan seni budaya di Indonesia. Ada banyak proses kreatif dalam seni yang muncul di berbagai wilayah Indonesia. Tidak terkecuali seni media. Intervensi teknologi informasi ke masyarakat begitu besar yang tekadang tidak di sadari oleh masyarakat itu sendiri. Seniman sebagai manusia “kreatif� tentu mempunyai caranya sendiri dalam merespon fenomena ini dengan pengaruh dan pendekatan konteks lokalnya. Medium-medium seni rupa yang selama ini kita kenal, seperti seni lukis, patung dan seni grafis telah menjadi dan menemukan “bahasa� visual sendiri dalam seni rupa kita. Berbeda dengan medium seni lain yang berbasis materi seperti seni lukis dengan kanvasnya. Seni media akan selalu berkembang sejalan dengan penemuan penemuan teknologi baru yang mempengaruhi kehidupan masyarakat kontemporer. Seni media akan terus bergerak dengan pesat membuka diri untuk kebaruan gagasan seni dan teknologi yang ada dimasyarakat. Kita tentunya akan terus menyaksikan dan mengalami penemuan penemuan teknologi baru dalam melihat citra, dan kenyataan. Pameran Seni Media, Lokalitas Dalam Perspektif Teknologi mencoba membaca fenomena ini dengan merangkum beberapa perkembangan mutakhir seni media di Indonesia. Tentu dalam pameran ini tidak semua jenis karya seni media dapat ditampilkan karena keterbatasan waktu dan teknis. Namun, dari pameran yang diprakarasai oleh Direktorat Nilai Budaya, Seni dan Film, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata ini, minimal kita dapat melihat bagaimana pencapaian serta perkembangan gagasan dalam konteks seni dan kolaborasinya dengan teknologi ini. Jakarta 18 Mei 2010 Hafiz Ade Darmawan Kurator


8

PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

the government love us (2010 | digital imaging) Mateus Bondan


PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

Next (2010 | animasi) RIOSADJA Sekali ‘NEXT’, Berarti selamanya bakal terjebak di dunia tombol.

9


10

PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

B (2003 | 4’ 45” | seni video) FORUM Lenteng Bising dan bergetar, itulah ciri khas dari kendaraan ini.


PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

Bercerobong (2002 | 5’ 11” | animasi) Eko Nugroho Sebagai seorang komikus yang handal dan produktif, Eko Nugroho dengan cerdik memanfaatkan teknik drawing dan animasi sederhana untuk karya videonya “Bercerobong”. Ia mencoba menggambarkan sebuah kondisi yang terjadi dalam diri segolongan orang, tepatnya ketika terjadi perubahan agenda politik setelah jatuhnya rezim Suharto. Semua orang berubah: politisi, tentara, pejabat, agamawan, dan Iain-lain. Layaknya bunglon, mereka harus seketika merubah sikap hidup, gaya bicara dan tindakan, menyesuaikan diri dengan lingkungan dan lawan bicaranya. Terkadang dengan cara yang licik mereka memanfaatkan situasi yang ada demi kepentingan pribadi masing-masing.

11


12

PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

Bomb to Dance (2007 | 2’ 11� | seni video) Wok The Rock Video ini adalah komedi satir yang menanggapi kemelut perang antara George W. Bush melawan Saddam Hussein. Seorang gadis dengan topeng superhero, berkaoskan Monterey Festival menari dengan iringan lagu tentang Harley Davidson dalam bahasa Prancis. Masa bodoh dengan perang, mari merakit bom untuk lantai dansa!


PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

Manapuak Aia di Dulang, Tapaciak Muko Surang (2006 | 4’ 54” | seni video) Meidy, Alberto, Linda, Chika, Fadri (WORKSHOP OK. VIDEO MILITIA - PADANG) Video ini merupakan visualisasi tanpa metafor tentang pribahasa Minang, Menapik Air di Dulang, Terpercik Muka Sendiri.

13


14

PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

Once Upon a Time in China (2005 | 4’ 15” | seni video) Wimo Ambala Bayang Ia berjalan dengan normal di antara ruang sosialnya yang bergerak mundur.


PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

Crash (2004 | 4’ | seni video) Anggun Priambodo Manipulasi kamera yang dapat menyembunyikan objek lain yang dengan mata telanjang seharusnya bisa dilihat semuanya. Saya sering membayangkan sebuah kecelakaan di depan mata saya terjadi di sebuah perempatan jalan.

15


16

PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

Kaki (2007 | 13’ 40” | seni video) Jefri Hunter, Hauza Syaukani, Oki Helfiska, Madun, Ino UIN (WORKSHOP OK. VIDEO MILITIA - PEKANBARU) Video tentang sampah dan sepatu yang mewakili budaya dan karakter seseorang.


PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

Everything’s OK (2003 | 5’ 37” | seni video) Tintin Wulia Sebuah puisi naratif tentang evolusi dan kota.

17


18

PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

Kuketuk Pintu Hatimu (2010 | seni video) Yashar Menginginkan sesuatu.


PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

Guess (2004 | 7’ 4” |seni video) Henry Foundation Bermain dengan imajinasi rupa-rupa yang terbentuk pada awan. Dengan cerdik, video ini memanfaatkan citraan-citraan beku (still image) yang disunting menjadi rangkaian gambar bergerak (moving image) berbasis waktu.

19


20

PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

Happiness is Milk (2001 | 6’ 10” | seni video) Aditya Satria This man dreamt about places he passed by during the marching . . . But mostly he dreamt about milk, because milk is happiness.


PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

Keberangkatan Kereta (2007 | 4’ 17” | seni video) Ari Dina Krestiawan Imajinasi seorang anak mampu memberinya kekuatan untuk menggerakkan kereta api.

21


22

PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

Iqra (2005 | 2’ 10” | animasi) ARI Satria Darma Bagaimana jika huruf yang membentuk kata, lalu membentuk kalimat – yang merupakan bagian dari keseharian kita dalam sarana komunikasi untuk promosi – tiba-tiba perlahan pergi, atau “dihapus”, hingga meninggalkan penampang yang kosong? Apakah karena masyarakat yang terlalu konsumtif, sehingga melihat penampang tersebut menjadi benar-benar kosong? Atau huruf tersebut ingin membentuk pesannya sendiri? Bagaimana bila hal ini terjadi?


PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

Jalan Tak Ada Ujung (2006 | 6’ 23” | seni video) Adel Maulana Pasha Ketika arah dan alamat tidak lagi pasti, ketika petunjuk dan arahan mengajak anda berfantasi akan lokasi. Tidak ada patokan pasti, berjalan dalam sebuah labirin kota.

23


24

PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

Intersection (2010 | 5’ 49” | seni video) Syaiful Anwar Ilusi visual tidak lagi berbasis teknologi. Sedikit berangkat dari isu keseharian kota tentang banjir, ilusi medium berangkat dari logika dibalik perekaman. Bagaimana tidak ada ‘kepastian’ yang sejajar antara ‘merekam’ dan ‘direkam’.


PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

www.tanggalmerah.info (2010 | internet) Irwan Ahmett ‘Kertas tidak lagi merupakan sisi berlawanan dari teknologi. Bersama dengan terluaskannya realitas, kertas memegang peranan penting yang baru. Bermain-main dengan persepsi warga masyarakat mengenai hari akhir pekan, hari libur dan hari gajian, karya ini menawarkan satu rangsangan interaksi.’ Irwan Ahmett membuat satu permainan intektif yangmenyarankan kertas sebagai media tradisional dengan kemajuan media baru di era digital. Karya ini akan memunculkan berbagai informasi melalui jaringan komputer saat ditangkap dengan kamera web. Menelisik sifat penasaran/ keingintahuan yang manusiawi, Irwan Ahmett juga menyusun representasi sangat bagus soal metamorfosis nilai kertas dalam perkembangan kebudayaan manusia.

25


26

PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

Kegigihan (2010 | seni video) Mangatas Pasaribu


PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

Enraptured (2007 | 1’ 4” | seni video) Devy Kurnia Alamsyah Semua berawal dari mata. dari awal mata dibuka sampai mata tertutup kembali selalu tampil brand image yang ‘memesonakan’, luar biasa dalam memengaruhi pola pikir konsumerisme masyarakat.

27


28

PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

Ketik Reg Spasi blablabla (2008 | seni video) Yusuf Ismail Dengan model para kurator (Asmudjo J. Irianto, Rifky Effendy, Aminudin TH Siregar, Heru Hikayat dan Agung Hujatnikajennong) yang menjajakan iklan layanan SMS dan menjanjikan perubahan nasib seorang seniman dalam karirnya. Di karya ini saya melakukan twist atau pembelokkan narasi yang disampaikan.


PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

Theremin Room (2008 | Instalasi interaktif suara dan ruangan) Lily Adi Permana Karya instalasi ruang dan suara interaktif dalam sebuah ruangan yang tedapat beberapa jenis theremin yang telah dikembangkan. Audience dapat menggunakan theremin yang berada pada ruangan serta dapat membuat atau mengembangkan theremin tersebut.

29


30

PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

FISH MARKET (2003 | 5’ 46� | seni video) Mahesa Almeida Mahesa Almeida ingin mengekspos kenyataan dengan cara yang lain. Ia menggunakan bahasa media baru untuk membawa kita pada sebuah pemandangan di sebuah pasar Ikan. Tampilan yang muncul melalui video ini hanya bisa dicerap dengan pemahaman mendasar tentang bahasa gambar bergerak yang biasa digunakan dalam video digital. Namun peran latar suara nampaknya di sini menjadi penting, karena melaluinyalah persepsi mental dapat mengarahkan kita untuk menangkap apa yang sedang terjadi di sana.


PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

Kumohon, Cintailah Aku (2008 | 1’ | animasi) Wurry Agus Parluten ‘Kumohon, Cintailah Aku’ bercerita tentang seorang cowok yang jatuh cinta dengan kekasih orang lain. Bodohnya cowok ini, dia mau menunggu hingga si cewek putus dari pacarnya.

31


32

PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

Mamah (2006 | 1 x 1.2 m | pixelart) OomLeo


PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

My Brother Doel (2007 | 5’ | animasi) Ricky Zulman Berkisah tentang sang adik yg ingin terbang mengekor abangnya, tapi tak pernah bisa mengejar dan menjangkau dunia abangnya.

33


34

PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

Membangun Semangat Untuk Mencapai Cita-cita yang Diinginkan (2010 | seni video) Khairul Saleh


PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

Direct Action (2007 | 2’ 7” | seni video) Muhammad Akbar Video ini memainkan visual bendera Amerika melalui pixel-pixel yang tak tersusun dengan lazim.

35


36

PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

5 DETIK 10 MENIT 24 JAM (2003 | 13’ 49” | seni video) FORUM Lenteng Pernahkah anda memperhatikan aktifitas di dalam halte selama 24 jam non-stop? Kalau belum pernah, dalam film ini kita dapat berbagi pengalaman tentang itu.


PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

Sinema Elektronik (2009 | 4’ 17� seni video) Anggun Priambodo Setiap kali melihat tayangan sinetron di tv, saya selalu senang untuk mengejeknya, memparodikannya dengan sesama teman yang sama-sama menonton, kadang teman atau saudara juga merasa risih akhirnya, saat tau kalau saya merasa terganggu dengan tontonan ini. Namun saya tidak mau egois, saya memilih pergi dan melewatkan acara tersebut. Video ini dibuat untuk memparodikannya, seperti saat saya mencoba berakting menirukan gaya mereka, cemberut, marah, sedih, gembira. Sepertinya saya dapat dengan mudah menirukannya. Tapi saya tidak menikmatinya pada akhirnya, hanya sekedar memparodikan. Sama seperti saat saya mencibir dan tertawa saat menontonnya.

37


38

PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

The Train (2010 | animasi) Riosadja Saya tidak suka suara kereta. Entah mengapa, gemuruhnya yang melintas tiba-tiba itu selalu mengagetkan saya, dan saban hari-setiap saat Saya dipaksa ‘menikmatinya’.


PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

Piknikit (2006 | 7’ | seni video) Ari Dina Krestiawan Dengan membuat sebuah produk sendiri, Ari Dina Krestiawan pun menciptakan video iklannya sendiri dengan meniru gaya video iklan di televisi dengan cara memparodikannya.

39


40

PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

RUMAH (2007 | 7’ 37” | seni video) Otty Widasari Tentang interaksi warga Jakarta yang datang dari berbagai asal-usul dalam satu tempat tinggal yang sama. Karena didesak oleh situasi dengan alasan entah apa, dalam ketidakcocokan ‘kami’ harus saling berinteraksi, bersama-sama menjaga irama yang tidak pernah sama itu berjalan bersamaan dalam satu tempo yang kacau. “Tapi ‘kami’ tidak pernah pergi ke mana-mana, kami di sini saja” * (*dari puisi Bin Harlan: Rumahku, Kantorku). Video eksperimental dengan dua layer yang berhadap-hadapan, tentang interaksi warga Jakarta yang datang dari berbagai asal-usul dalam satu tempat tinggal yang sama. Karena didesak oleh situasi dengan alasan entah apa, dalam ketidakcocokan ‘kami’ harus saling berinteraksi, bersama-sama menjaga irama yang tidak pernah sama itu berjalan bersamaan dalam satu tempo yang kacau.


PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

Refleksi Aku Medium (2010 | Instalasi seni video) David Darmadi Warnet atau warung internet saat sekarang sudah menjadi kebutuhan bagi banyak orang. di salah satu warnet yang ada di Padang Panjang, yaitu Icha_Net. Seorang pria berumur 20-an membawa kamera video untuk merekam aktifitas anak-anak yang masih berumur belasan tahunan yang sedang bermain game on-line Point Blank. Tiba-tiba seorang anak laki berumur 12 tahun menanyakan tentang kamera video milik pria berumur 20-an. Ingatan masa kecil pria berumur 20-an yang saat itu belum begitu mengenal internet saling bertukar cerita dengan kekinian masa kecil anak laki berumur 12 tahun yang saat sekarang sudah mengenal internet.

41


42

PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

Sunrise Jive (2005 | 7’ 12� | seni video) Mahardika Yudha Dokumenter tentang pekerja pabrik mobil yang melakukan senam setiap pagi sebelum memulai kerja. Rutinitas dalam bekerja memang membosankan, tetapi ada sesuatu di balik itu yang dapat membuat kita tersenyum dengan rutinitas.


PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

Andy Bertanya (2003 | 13’ 57” | seni video) Forum Lenteng Banyak cara sebuah usaha dalam mengiklankan diri. Jasa iklan di media massa sangatlah mahal. Dan ada cara untuk menyelesaikannya. “Taruh nomor telepon anda di jalanan!”

43


44

PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

Thousand-Yard Stare (2010 | experimental sound) Reza Asung Afisina


PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

Listerik (2006 | 12’ | seni video) Riosadja, Riri, M. Ridwan, ID (WORKSHOP OK. VIDEO MILITIA - PADANG) Video ini mengkritik dengan cara khas Minang tentang birokrasi dan pelayanan publik pada Perusahaan Listrik Negara (PLN).

45


46

PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

Redam (2006 | 6’ 40” | seni video) Karpov, Fariko, Marlin, Hapis, Azwar (WORKSHOP OK. VIDEO MILITIA - PADANG) Video ini mencoba mengeksplorasi kemungkinan visual dalam video melalui bingkai kamera.


PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

Keputusan di Sungai Ciujung (2009 | 11’ 19� | seni video) Syaiful Anwar Bagaimanakah Wandi, seorang remaja akan memutuskan harga dirinya sebagai seorang lelaki dalam tradisi sungai Ciujung? Apakah kekuatan-kekuatan sosial di lingkungannya mampu menaklukkan kecemasannya daripada melecehkan dirinya.

47


48

PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

What (2001 | 10’ 42� | seni video) Reza Afisina Dalam video performance ini Reza Afisina menggunakan tubuhnya sebagai metafora individu yang mempertanyakan dosa-dosanya di hadapan ajaran suatu agama. ia menjadikan tubuh sebagai sebuah objek atau situs untuk menumpahkan hukuman atas kesalahan yang ia perbuat sendiri. ia seperti menggantikan posisi Tuhan sebagai penghukum.


PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

Ciphervideo (2010 | mixmedia) Andang Kelana Sejarah menjadi semacam arsip, sebentuk database, bersesuai dengan logika budaya digital dan modus produksi web 2.0 yang bergantung pada arsip dan data. Ini memaksa kita untuk berpikir mengenai ontologi arsip sebagai tempat di mana sejarah mengemuka, yang juga menikung dan membelok, menjadi suatu rangkaian dampak dan akibat yang kompleks. Arsip memungkinkan karya-karya media tidak terbatas pada apa yang ada. Berbagai posisi diskursif dan media imajiner mulai menggantikan pemikiran mengenai media lebih dari sekadar cara-cara tradisional yang terikat pada bentuk-bentuk siaran dan alat siar.1 Sekarang, gunakan telepon genggam anda untuk menonton video. Dan, selamat menonton!

http://www.jurnalfootage.net/web/en/article/36-artikel/273-arkeologi-seni-media.html

1

49


50

PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

HOTSPOT (2010 | 1 x 1.2 m | pixelart) OomLeo


PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

KETIKA AKU PULANG, TIDAK ADA MAMAH DI DEPAN PINTU (2007 | 6’ 42” | seni video) gelar agryano soemantri Sebuah puisi tentang kehidupan di pinggiran yang tidak pernah membosankan.

51


52

PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

LOVE SESSION #2 (2010 | SOUND) Anggun Priambodo Love Session adalah sebuah program diskusi mingguan, diprakasai oleh ruangrupa dan Yayasan Culapo Mandiri. Program ini mengulas lika liku kehidupan secara bijak tanpa ragu. Dalam sesi kedua ini menampilkan Love Guru.


PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

53

Adel Maulana Pasha Lahir 1984 di Jakarta. Lulusan IISIP (2006) ini turut mendirikan Forum Lenteng di tahun 2003. Ia terlibat dalam Massroom Project, proyek pertama Forum Lenteng. Meraih juara pertama dalam ASEAN New Media Art Award 2007 dan karya videonya juga memenangkan Indonesian Art Award 2008. Di tahun yang sama ia mengikuti 13th Asian Art Biennale Bangladesh. Ia aktif berpameran di dalam dan luar negeri.

Aditya Satria Darma Seorang perupa video-digital. Lulusan dari Universitas Pelita Harapan. Tahun 2001 menjadi salah satu partisipan dalam Silent Forces Video Art Project yang digagas oleh ruangrupa.

Andang Kelana Lahir 1983 di Jakarta. Salah satu pendiri Forum Lenteng. Hingga kini menetap dan bekerja di Jakarta sebagai Sekretaris Jenderal Forum Lenteng, desainer grafis paruh waktu, sekarang mencoba menjelajahi dunia web, dan redaktur di www.jurnalfootage.net. Tahun 2009 menjadi Koordinator Artistik Festival Rendra yang diinisiasikan oleh Dewan Kesenian Jakarta. Di tahun yang sama menjadi partisipan dalam VIDEO:WRK di Galeri Pemuda, Surabaya; Tahun 2004 mengikuti residensi seniman di ruangrupa dalam proyek fotografi TOP COLLECTION. Tahun 2005 proyek video EL TVDCM (El Taller Video Documental de Ciudad de Mexico) kerjasama antara El Despacho, Meksiko and Forum Lenteng, Jakarta.

Anggun Priambodo Lahir di Trenggalek, Jawa Timur pada 16 Mei 1977. Ia lulusan Desain Interior di Fakultas Seni Rupa dan Desain di Institut Kesenian Jakarta. Ia aktif berpameran sejak 1998 hingga kini, dan saat ini bekerja sebagai sutradara video musik di Jakarta. Pada 2002-2005, ia membentuk The Jadugar bersama Henry Foundation, dan berhasil memenangkan Best Director MTV Video Music Award 2004 untuk video klip Train Song, LAIN. Sejak 2005, ia banyak menyutradarai video musik berbagai band, diantaranya adalah Naif, White Shoes & The Couples Company, Efek Rumah Kaca, dan Goodnight Electric. Ia juga aktif membuat TVC untuk produk-produk dan karya seni video.

Ari Dina Krestiawan Lahir di Semarang, Indonesia pada 1976. Lulus dari Jurusan ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro pada 2002, dan sempat mendapat beasiswa dari FFTV IKJ selama dua semester. Mendapat penghargaan Sutradara dan Video Klip Terbaik Kompetisi Video Klip Independen Indonesia 2005 yang diadakan oleh FFTV IKJ. Tahun 2005 proyek video EL TVDCM (El Taller Video Documental de Ciudad de Mexico) kerjasama antara El Despacho, Meksiko and Forum Lenteng, Jakarta. Tahun 2006, menjadi seniman residensi di ruangrupa bersama Sebastian Friedman (Argentina), Rara Queencyputri (Makassar, Indonesia) dan dalam projek seni bertajuk Picnic Kit. Tahun 2009 partisipan Jakarta Biennale 2009. Tahun 2010, Move on Asia –Exhibition Tour, Para/Site Art Space - Hong Kong.

Ari Satria Darma Lahir di Padang, Sumatera Barat tahun 1978. Menyelesaikan studinya di Fakultas Seni Rupa Desain di Institut Kesenian Jakarta tahun 2005. Tahun 2006 pameran tunggal karya-karya videonya di ruangrupa, Jakarta. Setahun kemudian, tahun 2007, ia menjadi salah satu pemenang dalam kompetisi ASEAN New Media Art di Galeri Nasional Indonesia. Karya-karya videonya telah diputar di beberapa negara, antara lain; Space and Shadow, World of house culture, Berlin; International Contemporary Art, London; KO.Video, Durban South Africa; Prog: Me – Rio De Janeiro, Brazil; Insomnia 48.

David Darmadi Lahir tahun 1987 di Padang. Ia mahasiswa Fakultas Televisi dan Film di Institut Seni Indonesia Padang


54

PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

Panjang. Ia seorang pembuat video kawinan dan juga karya-karya eksperimen audio visual. Tahun 2009, salah satu karyanya menjadi finalis dalam Indonesia Documentary Film Festival 2009 di Padang In Carnival. Ia juga merupakan penggerak di Komunitas Studi Sarueh dan menjadi Koordinator dalam program Docuroom Project.

Devy Kurnia Alamsyah Lahir di Padang, 6 Desember 1982. Kuliah di Universitas Negeri Padang, jurusan Sastra Inggris. Ia pernah mengikuti berbagai lokakarya, di antaranya lokakarya media audiovisual Pemilu Damai, Yayasan SET (2004), lokakarya media audio-visual Diskomfest, ISI Yogyakarta (2004), dan lokakarya video ruangrupa (2006). Filmnya, 200m dari HI meraih juara pertama dan juga film favorit dalam Film Dokumenter Pemilu Damai, Jakarta, 2004.

Eko Nugroho Lahir di Yogyakarta, 4 Juli 1977. Lulusan Seni Lukis Institut Seni Indonesia, Yogyakarta tahun 2006 ini, selain dikenal karena drawing dan muralnya yang banyak menggunakan idiom komik, juga dikenal sebagai Presiden The Dagingtumbuh, sebuah “galeri berjalan� yang memuat berbagai karya fotokopian dalam bentuk buku dan diterbitkan enam bulan sekali sejak 2000. Ia banyak terlibat dalam berbagai pameran, menerbitkan komik-komiknya, dan beberapa kali menjadi seniman residensi seperti di Haus Der Kulturen Der Welt, Berlin, Jerman, tahun 2005; Artoteek Den Haag, Netherland pada 2006; tahun 2009 di Contemporary Arts Center New Orleans, New Orleans, Lousiana, USA dan Veduta Project, Lyon Biennale X 2009, Lyon france. Ia terpilih sebagai Seniman Terbaik 2005 versi majalah Tempo.

Forum Lenteng Forum Lenteng merupakan organisasi nirlaba yang egaliter sebagai sarana pengembangan studi sosial dan budaya. Berdiri tahun 2003, didirikan oleh mahasiswa (ilmu komunikasi/jurnalistik), pekerja seni, periset dan pengamat kebudayaan. Komunitas ini bekerja dengan merangkum serta mendata aspek-aspek sosial dan budaya yang mencakup kesejarahan dan kekinian. Salah satu medium yang digunakan Forum Lenteng adalah medium audio visual (film, video, fotografi) dan penerbitan. Selain pemutaran karya-karyanya di beberapa negara, Forum Lenteng juga terlibat dalam pameran-pameran seni rupa baik di dalam maupun luar negeri.

Gelar Agryano Soemantri Lahir 1986 di Cianjur. Tinggal di Tanggerang Banten dan menetap di Lenteng Agung. Menyelesaikan studi jurnalistiknya di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta tahun 2009. Beberapa kali ia bekerja sebagai fasilitator Program Workshop Akumassa Forum Lenteng. Aktif sebagai pembuat video dan menulis di www.akumassa.org. Tahun 2008, karyanya diputar di 37th International Film Festival Rotterdam. Tahun 2010, ia mengikuti pameran bersama video . . . yang taksa di CCF Jakarta.

Henry Foundation Lahir pada April 28, 1977, di Jakarta, Indonesia. Tinggal dan bekerja di Jakarta. Ia belajar di Fakultas Seni Rupa, Institut Kesenian Jakarta, dan menamatkan studinya di Jurusan Seni Grafis tahun 2000. Pada 2002 ia mendirikan The Jadugar Production, setahun kemudian mendirikan Goodnight Electric, suatu proyek electro-pop, memulai suatu label independen HFMF Records pada 2004. Tahun 2006 ia mengikuti pameran New Media Art di Galeri Utan Kayu, Jakarta. Pada 2009, pameran tunggal kedua bertajuk copy-paste extraordinaire di Ruru Gallery, Jakarta. Tahun 2010 ia mengikuti beberapa pameran bersama seperti; No Soul For Sale – A Festival Of Independents di Tate Modern, London, Inggris; Move On Asia 2010 : Single Channel Video Art Festival di Alternative Space Loop, Seoul, Korea Selatan; OK. Video Comedy di Galeri Nasional Indonesia.


PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

55

Irwan Ahmett Irwan Ahmett lahir 1975 di Ciamis, Bandung. Desainer grafis ini pernah mendirikan Perum Design Indonesia yang sekarang berganti nama menjadi Ahmett Salina. Salah satu pamerannya adalah Print Making In The Future, Cemeti Art House, Yogyakarta; bersama ruangrupa dalam Gwangju Biennalle, Korea (2001) dan Lekker Eten Zonder Betalen, Cemeti Art House, Yogyakarta (2003). Pada 2005 ia mengadakan proyek Change Yourself. Dilanjutkan kemudian di tahun 2008 dengan Happiness yang dipamerkan sebagai pameran tunggalnya di ruangrupa Jakarta. Tahun 2009 ia menjadi fasilitator untuk workshop di Jakarta Biennale.

Jimi Multhazam & Ricky Malau Jimi Muthalzam lahir di Jakarta. Tahun 1995 memutuskan kuliah di IKJ. Dari major desain grafis cross over ke lukis. Pameran pertama, Jimi vs Henry di gelar di ruang pamer IKJ tahun 1998. Lalu tahun berikutnya turut andil bersama Pameran WC IKJ. Tahun 2001 diundang ruangrupa berkarya dan berpameran bersama Henry Irawan, Porno. Tahun 2001 akhirnya Jimi melakukan cross over yang signifikan, dari seni rupa menjadi musisi independen bersama projek musiknya, The Upstairs.

Khaerul Saleh Khaerul Saleh lahir 1962 di Balikpapan. Ia seorang dosen seni rupa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan.

Lily Adi Permana Lily Adi Permana lahir 1983 di Jakarta. Menyelesaikan studi film di PPHUI tahun 2003. Menetap dan bekerja di Jakarta. Tahun 2005 menjadi terlibat dalam OK. Video SUB/VERSION – 2nd Jakarta Video Festival untuk sesi Music Video Screening. Dua tahun kemudian karya videonya juga dipamerkan di Galeri Nasional dalam OK. Video MILITIA – 3rd Jakarta International Video Festival. Tahun 2008 menjadi salah satu seniman undangan dalam Jakarta 320 Celcius yang dipamerkan di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. Salah satu inisiatif proyek musik (www.myspace/summerinberlin.com).

Mahardika Yudha Mahardika Yudha lahir 1981 di Jakarta. Salah satu pendiri perhimpunan Forum Lenteng. Pernah bekerja sebagai buruh di pabrik mobil Daihatsu. Saat ini bekerja sebagai Koordinator Biro Penelitian dan Pengembangan Forum Lenteng dan Divisi Pengembangan Seni Video ruangrupa.

Mahesa Almeida Seorang video digitalis. Lulusan Desain Grafis Universitas Pelita Harapan. Tinggal dan berkarya di Jakarta.

Mangatas Pasaribu Mangatas Pasaribu lahir di Sibolga. Bekerja sebagai dosen seni rupa di Universitas Negeri Medan.

Mateus Bondan Matheus Bondan lahir 1977 di Jakarta. Lulus D-3 Desain Grafis IKJ. Ia salah satu dari sejumlah pegrafis yang juga bermusik-ria. Pada 2004 ia membentuk Goodnight Electric, sebuah elektro pop band projek yang dibentuk bersama Henry Foundation dan Oomleo. Ia aktif terlibat dalam beberapa pameran di dalam maupun luar negeri, antara lain; tahun 2002 terlibat dalam Print Project 2000+2 yang dipamerkan di Galeri Cipta II - Taman Ismail Marzuki, Jakarta; Tahun 2007, Dari Cukil Sampai Stensil di Bentara Budaya Jakarta dan Galeri Nasional Indonesia. Pameran terakhirnya Crash Project: Image Factory di SIGIarts, Jakarta.


56

PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

Muhamad Akbar Muhammad Akbar lahir 1984 di Bandung. Lulusan pendidikan bahasa perancis UPI Bandung dan aktif bekerja sebagai desainer dan freelancer desain grafis untuk beberapa perusahaan. Seni video dan bermain musik adalah aktivitas lain yang juga aktif diikutinya. Selain sebagai vokalis band lokal A Stone A, ia pernah menjuarai kompetisi seni video ASEAN New Media Art Competition di tahun 2007. Karyakaryanya telah dipamerkan di dalam dan luar negeri, seperti; South East Asia Video – Bombay Sapphire Art Project 2008 di Valentine Willie Fine Art, Kuala Lumpur-Malaysia; OBERHAUSEN SHORT FILM FESTIVAL 2009, Kurztfilmtage, Oberhausen-Jerman

Oomleo Oomleo, atau Narpati Awangga, pernah menjalani masa pendidikan Seni Grafis di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. Sejak akhir 2003, ia bergabung dengan ruangrupa dan menjadi pekerja grafis serta multimedia hingga saat ini. Menekuni dunia website dan grafis, hingga akhirnya ia memilih pixelart sebagai jalan hidupnya, pada akhir 2004, ia bergabung bersama Henry Foundation dan Bondi Goodboy dalam sebuah band beraliran elektro-pop, Goodnight Electric. Tahun 2009, ia diundang KHOJ International Artist’s Association dalam program seniman residensi dan memberikan workshop pixelart yang berkolaborasi dengan KHOJ dan Mocha Arthouse. Di tahun yang sama, karya videonya Mengapa Orang Kuat dipresentasikan dalam OK. VIDEO COMEDY - 4th Jakarta International Video Festival 2009.

Otty Widasari Lahir 1973 di Balikpapan. Tinggal dan bekerja di Jakarta. Salah satu pendiri Forum Lenteng. Ia seorang pembuat video. Saat ini ia bekerja sebagai Koordinator Program akumassa Forum Lenteng dan pemimpin redaksi www.akumassa.org . Ia juga aktif memberikan workshop video dalam program pengembangan komunitas melalui media (video, teks dan media online) di berbagai daerah di Indonesia. Karya-karya telah diputar dan dipamerkan di berbagai acara dan festival baik nasional dan internasional; OK. Video Militia – 3rd Jakarta International Video Festival 2007, Galeri Nasional Indonesia, Jakarta; Pameran NEO BEGINNERS di TENT. Center Rotterdam, Belanda, project video BE RTDM tahun 2006; Pameran Istanbul Biennale bersama Ruangrupa Jakarta tahun 2005; 5th Short Singapore Film Festival 2009, Singapura; 11th Barcelona Asian Film Festival 2009, Barcelona, Spanyol; 37th dan 38th International Film Festival Rotterdam 2009, Rotterdam, Belanda. Ia juga menjadi finalis Indonesian Art Award tahun 2008.

Reza Asung Afisina Reza ‘asung’ Afisina lahir 1977 di Bandung.Tinggal dan bekerja di Jakarta sebagai Koordinator Artlabruangrupa Jakarta. Ia terlibat dalam projek seni, pameran, dan pemutaran di dalam dan luar negeri antara lain; AGE-Hibition Contemporary di Edwin’s Gallery tahun 2002; Sabka Youth Festival, India di tahun yang sama; MIP (International Performance Manifestation) di CEIA-Belo Horizonte, Minas Gerais, Brasil tahun 2003; AVICON - Asian Video with Videotage – Hong Kong and Video Centre Tokyo – Japan; Tahun 2005, Taboo and Transgression in Contemporary Indonesian Art, at Herbert F. Johnson Museum of Art, Cornell University, Ithaca, United State.

Ricky Zulman Lahir 1977 di Palembang. Lulus tahun 1999 dari Universitas Katolik Parahyangan, Bandung jurusan arsitektur. Ia kemudian mengambil studi animasi dan visual effect di Digital Studio dan selesai tahun 2004. Ia bekerja sebagai illustrator, pembuat video animasi, pembuat video musik, dan Freelance Modeler. Tahun 2005 karyanya menjadi finalis dalam Jakarta International Film Festival untuk kategori Short Film Competition. Tahun 2007 juga menjadi finalis dalam Hellofest. Ia menjuarai lomba film pendek STMIK MDP sebagai untuk kategori film terbaik dan sutradara terbaik di tahun 2009.


PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

57

Riosadja Lahir di Bukittinggi, 1980. Memulai bergiat di Studio Komik Dawat dan Komunitas Seni Belanak di Padang. Selain bertahun-tahun bekerja sebagai ilustrator di media cetak daerah, juga selalu menyempatkan diri menggarap illustrasi, desain grafis dan animasi secara freelance. Mengikuti berbagai pameran-pameran komunitas maupun pameran bersama dengan karya lukis dan ilustrasi. Pameran tunggal pertamanya adalah Saling Membantu Sesama pada akhir 2005 di Padang. Tahun 2010 bergabung dengan Forum Lenteng, dan mulai menekuni karya video.

Syaiful Anwar Lahir 1983 di Jakarta. Menyelesaikan studi jurnalistiknya di Insitut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta tahun 2007. Kini bekerja sebagai Koordinator Produksi di Forum Lenteng. Ia juga pembuat video yang aktif hingga kini. Tahun 2009 mengikuti VIDEO: WRK – 1st Surayaba International Video Festival; Tahun 2010, ia mengikuti pameran bersama video . . . yang taksa di Centre Culturel Francais, Jakarta.

Tintin Wulia Lahir 1972 di Denpasar, Bali. Lulus dari Universitas Katolik Parahyangan, Bandung tahun 1998. Karyakarya videonya telah dipamerkan dan diputar di beberapa acara penting seperti; Insomnia, Institut of Contemporary Art (ICA), London; S.E.A. Eyes, International Film Festival Rotterdam, Belanda; World Social Forum 2005, Brazil; Berlinale Talent Campus, 2004. Flying Circus Project 04 Process Showing, Singapore; 9th Pusan International Film Festival 2004.

Wimo Ambala Bayang Lahir di Magelang 30 tahun lalu. Tamat belajar Fotografi di FSMR ISI Yogyakarta. Bersama temantemannya, ia mendirikan Ruang Mes 56 dan Video Battle. Pria santun ini tinggal dan bekerja di Yogyakarta, selain sebagai seniman yang aktif mengikuti pameran di dalam dan luar negeri, juga bermain musik dalam band PUNKASILA.

Wok The Rock Lahir di Madiun, 1975. Ia belajar desain komunikasi visual di Fakultas Seni Rupa, ISI, Yogyakarta. Ia merupakan salah seorang pendiri RuangMES56, sebuah ruang alternatif di Yogyakarta, dan bersama Wimo Ambala Bayang memproduksi Video Battle (kompilasi video). Ia bekerja sebagai desainer grafis dan menjalankan Yes No Wave Music. Karya-karya seninya menggunakan berbagai media, mulai dari fotografi, video, desain grafis, produksi musik, sampai internet.

Wurry Agus Parluten Lahir 1978 di Gelumbang, Sumatera Selatan. Ia seorang produser, penulis skenario, scoring musik, asisten sutradara untuk beberapa tayangan televisi. Menjadi finalis di Jakarta International Film Festival 2007 untuk karyanya Sachet Impian. Ia juga seorang penulis cerpen. Karya filmnya menjadi salah satu nominator dalam Festival Penyutradaraan X, FFTV IKJ 2008.

Yashar Yashar lahir 1990 di Meran. Ia mahasiswa seni rupa Universitas Negeri Medan.

Yusuf Ismail Yusuf Ismail lahir di Bogor. Lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung jurusan Seni Patung. Aktif mengikuti pameran dan pemutaran kelompok di dalam dan luar negeri; Malaysia, Singapura, Australia, Prancis, Yunani, dan Cina. Tahun 2006 membentuk kelompok Buton Kultur 21 yang merupakan gabungan dari kelompok DevilChips dan Restart.


58

PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

BANDUNG CENTER FOR NEW MEDIA ARTS www.bcfnma.commonroom.info Bandung Center for New Media Arts dibentuk pada Desembar 2001, sebagai tanggapan atas pentingnya dialog dan kerjasama di antara berbagai bidang kerja dan keilmuan. Dengan kepedulian pada berbagai bidang lintas ilmu seperti sains, teknologi dan seni, organisasi ini mencoba melibatkan kalangan pribadi dan lembaga untuk bersama-sama menciptakan gagasan-gagasan baru. Bandung Center for New Media Arts memulai kegiatan utamanya dengan seni kontemporer dan arsitektur. Bandung Center for New Media Arts bergiat dalam mendokumentasikan, memediasi teori, program kerjasama dan pendidikan publik. Dengan empat bidang garapan tersebut, organisasi Media Baru ini juga berbagi sumber daya kepada kalangan imuwan dan masyarakat luas dengan kepedulian yang sama. Bandung Center for New Media Arts mengorganisir ruang kebersamaan/ kolektif bernama Common Room yang mengutamakan karya-karya yang bertujuan membangun komunitas berbasis program, bersama dengan Klab Baca Tobucil, organisasi dukungan untuk gerakan membaca di Bandung. Selain itu, Bandung Center for New Media Arts juga membangun jaringan kerjasama dengan Biosampler, kelompok pertunjukan multi media di Bandung yang berdiri sejak 2001, serta Cerahati, rumah produksi yang bergiat memproduksi video musik berskala nasional. Dewan pengurus organisasi ini adalah Reina Wulansari (direktur), Gustaff H. Iskandar dan R.E. Hartanto (koordinator program) dan T. Reza Ismail (penasihat). Sampai kini, organisasi telah bekerjasama dengan sejumlah lembaga budaya di berbagai tempat dan negeri. Contact: Jl. Kyai Gede Utama 8, Bandung – 40132. INDONESIA. Phone & Fax: +62.22.250.3404. E-mail: info@commonroom.info


PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

59

THE HOUSE OF NATURAL FIBER: YOGYAKARTA NEW MEDIA ART LABORATORY www.natural-fiber.com House of natural fiber, Jogjakarta, adalah sebuah bengkel seni Media Baru yang dibentuk pada 1999. Komunitas ini berpendirian pada kritik dan penemuan. Sejak awal, house of natural fiber konsisten berfokus pada pengembangan budaya dan seni Media Baru dengan melakukan sejumlah proyek seni dan workshop Media Baru. Proyek-proyek itu dipusatkan pada sifat interaktifitasnya dengan masyarakat dan lingkungannya. Berpikir positif dan kreatif ke depan merupakan visi komunitas ini. Dalam pelaksanaannya, tiap program kerja komunitas ditujukan kepada pengembangan seni dan teknologi. Upaya terpenting komunitas ini untuk teknologi ialah berpikir tentang masa depan dari teknologi dan seni. Ide dasar komunitas ini ialah untuk mengkomunikasikan segala sesuatu tentang Media Baru dengan berfokus pada keluasan ide-ide, dan membiarkan hasilnya entah akan dipahami oleh dunia seni atau tidak. Venzha yakin, semua hal dapat menjadi seni dan setiap orang dapat membuat karya seni dengan aneka bentuk dan pemahaman masing-masing. Sah-sah sajalah alasan dan tanggungjawab tentang hal itu. Maka, Venzha dan komunitasnya lantas mengerjakan beberapa proyek interaktif, penelitian teknologi, festival seni media, perayaan DIY, workshop-workshop, pertunjukan media, mengajar, gerakan musik elektronik dan sebagainya, yang kesemua ini mungkin dapat menjadikan posisi tawar mereka dalam berangkat dari beragam latarbelakang tetapi saling mendukung. Pribadi-pribadi yang saat ini terlibat dalam komunitas ini, di antaranya: Budi ‘Iyok’ Prakoso, Adhit, Hamam Firdaus, Ade Greden, Sudjud Dartanto, Julian Abraham, Fajar, Aga, Wisnu, Bagus Budiarto, Mario, Hasan Murod, Daniel Hiu, Liya, Agni, Ferial Affif, Bayu ‘Gobex’, (Energyroom dan ‘NULAB’, MC Erno, untuk proyek-proyek khusus), dr. Anton (Specialis), dr.Yance (Vyndrix System), dr. Tri Harnoto (Venndiag), Prof. Irvan D.P, Prof. Jaka W, Sutanto, DJ GOD, Dina, Haris, dan lain-lain. Para pribadi ini berasal dari beragam latar belakang, misalnya dari desainer web, bioteknologi, media interaktif, musik elektronik, grafis, teknik elektro, kedokteran, fisika, insiyur bangunan dan lain sebagainya. Mereka membentuk sebuah komunitas kreatif informal untuk ekpresi kolaboratif. Teks oleh Olivier Krischer (AUS/FR, media artist), diterjemahkan dari www.natural-fiber.com HONF laboratory jl.wora wari 80 Baciro 55252 yogyakarta, Indonesia phone/fax : +62 274 564276 e-mail : venzha@yahoo.com


60

PAMERAN SENI MEDIA: LOKALITAS DALAM PERSPEKTIF TEKNOLOGI

PAMERAN SENI MEDIA

Ucapan Terimakasih Rektor Universitas Negeri Medan, Dekan Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Medan Jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Medan Hafiz (Kurator) Ade Darmawan(Kurator) Ruangrupa Forum Lenteng Seluruh Panitia Seluruh pihak yang telah membantu, mendukung persiapan dan pelaksanaan Pameran ini.

Lokalitas dalam Perspektif Teknologi  

Katalog Pameran Seni Media

Lokalitas dalam Perspektif Teknologi  

Katalog Pameran Seni Media