Issuu on Google+

TOKOH

YASMIN AHMAD

GRATIS

kineforum kineforum adalah ruang pemutaran film alternatif di Jakarta, berkapasitas 45 orang, yang dikelola oleh Dewan Kesenian Jakarta, para relawan muda, serta kerja sama dengan Studio 21. Kami menawarkan ragam program meliputi film klasik maupun kontemporer, dari film lokal sampai international, untuk mengajak publik menjadi bagian dari sinema dunia – dulu dan sekarang. Pada November ini, kineforum menghadirkan program Tokoh, yang membahas karya sutradara besar dari negeri tetangga, Malaysia: Yasmin Ahmad. Taman Ismail Marzuki (belakang Galeri Cipta 3) Jl Cikini Raya 73, Jakarta Pusat 10330, Indonesia [T] 021-3162780 [E] kineforumdkj@yahoo.co.id [W] www.kineforum.org / www.dkj.or.id [TW] @kineforum [FB] www.facebook.com/kineforum


PROFIL disponsori oleh Pusat Studi Asia Tenggara, University of Hawaii, dan the Honolulu Academy of Arts. Yasmin meninggal pada tahun 2009 setelah mengalami stroke dan pendarahan di otak. ——

rumahfilm.org

Yasmin Ahmad (7 Januari 1958-25 Juli 2009) adalah seorang sutradara film, penulis, dan penulis naskah dari Malaysia, dan juga direktur eksekutif kreatif di Leo Burnett Kuala Lumpur. Iklan TV dan film-filmnya terkenal di Malaysia karena humornya, hati dan cinta yang melintasi hambatan lintasbudaya. Khususnya dalam iklannya untuk Petronas, perusahaan minyak dan gas nasional. Karya-karyanya telah memenangkan beberapa penghargaan baik di Malaysia maupun internasional. Namun, di Malaysia sendiri, filmnya sangat kontroversial karena menggambarkan peristiwa dan hubungan yang dilarang jika dilihat secara konservatif, khususnya interpretasi garis keras terhadap Islam. Yasmin lahir di Kampung Bukit Treh di Muar, Johor. Ia adalah lulusan jurusan seni, dalam politik dan psikologi, dari Newcastle University di Inggris. Ia pernah bekerja sebagai bankir trainee pada tahun 1982 selama dua minggu kemudian bekerja untuk IBM sebagai perwakilan pemasaran, sementara bekerja sampingan sebagai penyanyi blues dan pianis di malam hari. Yasmin memulai karirnya di iklan sebagai copywriter di Ogilvy & Mather dan pada tahun 1993 ia pindah ke Leo Burnett sebagai direktur kreatif bersama dengan Ali Mohammed, sampai akhirnya menjadi direktur eksekutif kreatif di perusahaan cabang Kuala Lumpur. Film fitur panjang pertamanya adalah  Rabun  pada tahun 2002. Sedangkan  Mukhsin  memenangkan sebuah penghargaan film fitur anak terbaik dan disebutkan secara khusus oleh penghargaan juri anak-anak. Sebagian besar iklan dan filmnya telah diputar di Berlin, San Francisco, dan Cannes Lions International Advertising Festival. Filmnya pernah diputar dalam sebuah retrospektif khusus di Festival Film Internasional ke-19 di Tokyo pada bulan Oktober 2006. Pada April 2007, retrospektif film-filmnya

Penghargaan • Crystal Bear-Special Mention, Generation Kplus-Best Feature Film for Mukhsin, Berlin International Film Festival 2007 • Best ASEAN Film for  Mukhsin,  Cinemanila International Film Festival 2007 • Lino Brocka Award, Southeast Asia Competition for  Talentime, Cinemanila International Film Festival 2009 • Grand Prix for Sepet, Créteil International Women’s Film Festival 2005 • Best Director and Best Screenplay for  Talentime,  Malaysian Film Festival 2009 • Best Film and Best Screenplay for Gubra, Malaysian Film Festival 2006 • Best Film and Best Original Screenplay for Sepet, Malaysian Film Festival 2005 • Asian Film-Special Contribution Award, Tokyo International Film Festival 2009 • Asian Film Award-Special Mention for Muallaf, Tokyo International Film Festival 2008 • Asian Film Award for Sepet, Tokyo International Film Festival 2005 • Malaysia Video Awards for Best Director (1999) – Forgiving Petronas commercial • Association of Accredited Advertising Agents Malaysia’s Golden Kancil Award for Best Advertising Agency (1999/2000) • Malaysia Video Awards silver award for Best Scriptwriting (2000) Yuzy Petronas Road Safety Campaign • Malaysia Video Awards bronze award for Best Scriptwriting (2000) Vas Dentures Celcom


TOKOH: YASMIN AHMAD

Pada November ini, kineforum menyajikan program Tokoh, yang membahas karya sutradara besar dari negeri tetangga, Malaysia: Yasmin Ahmad. Yasmin Ahmad merupakan tokoh penting dalam pergerakan sinema di Malaysia. Beliau menghasilkan karya yang humoris, menyentuh dengan mengangkat isu seputar budaya dan agama, yang banyak menuai kontroversi dari masyarakat Malaysia. Film-filmnya yang mengangkat tema multikulturalisme dengan penuh kedalaman dan kedewasaan itu masih sangat relevan dengan kondisi Indonesia dewasa ini. Karya-karyanyatelah mendapat pernghargaan dari festival-festival besar di dunia. Bulan Juli lalu, telah terbit buku yang berjudul “Yasmin How You Know?“, yang merupakan kumpulan tulisan seputar dirinya, diterbitkan oleh Leo Burnett Malaysia. Keuntungan dari buku ini akan disumbangkan untuk Mercy Indonesia, yayasan favorit Yasmin. Melengkapi pemutaran film-filmnya, November ini kineforum juga akan mengadakan diskusi buku “Yasmin How You Know?” (YHYK?) dengan pembicara Orked Ahmad (adik Yasmin Ahmad, penyusun buku YHYK?), Jovian Lee (Leo Burnett Malaysia, penyusun buku YHYK?) dan Ekky Imanjaya selaku programmer sekaligus pembicara untuk program ini. Selamat menonton dan berdiskusi! Sugar Nadia Azier Manajer kineforum

TENTANG “YASMIN HOW YOU KNOW?”

Pada bulan Juli 2012 lalu, telah terbit buku yang berjudul “Yasmin How You Know?“, yang merupakan kumpulan tulisan seputar Yasmin Ahmad, diterbitkan oleh Leo Burnett Malaysia. Keuntungan dari buku ini akan disumbangkan untuk Mercy Indonesia, yayasan favorit Yasmin. “Yasmin How You Know?” adalah kumpulan dari bentuk ‘kekonyolan’ Yasmin, yang sebenarnya di balik itu, hal tersebut merupakan permata kebijaksanaan dan kecerdasannya. Buku ini melibatkan orang-orang yang dekat dengannya, sehingga mungkin ada beberapa hal yang ditulis dalam present tense - karena bagi mereka, dia masih sangat hidup - hanya tidak dalam arti fisik. Anekdot dalam buku ini berkisar dari hari-harinya sebagai pelajar, dari banyak tahapan hidupnya yang berbeda-beda, sampai pada hari ia meninggal. Dalam buku ini, kita bisa menemukan puisi yang Yasmin tulis, dan karya foto-fotonya (mungkin banyak yang tidak tahu kalau Yasmin adalah seorang penyair ulung dan fotografer). Juga termasuk di dalamnya, dua naskah iklan TV terakhir yang ditulis olehnya. ` Melengkapi pemutaran film-filmnya, November ini kineforum juga akan mengadakan diskusi buku “Yasmin How You Know?” (YHYK?) dengan pembicara Orked Ahmad (adik Yasmin Ahmad, penyusun buku YHYK?), Jovian Lee (Leo Burnett Malaysia, penyusun buku YHYK?) dan Ekky Imanjaya selaku programmer sekaligus pembicara untuk program ini. Buku ini bisa didapatkan di kineforum pada saat diskusi. Diskusi “Yasmin How You Know?” kineforum Sabtu, 3 November 2012 jam 15.00 WIB Kapasitas 45 kursi


SINOPSIS KOMPILASI FILM PENDEK | Yasmin Ahmad Malaysia / 1999 - 2000 / 135 menit / Subteks B. Inggris / 12+

Kumpulan film pendek Yasmin Ahmad, termasuk Chocolate yang merupakan proyek 15Malaysia.

Rabun/My Falling Eyesight | Yasmin Ahmad

Muallaf/The Convert | Yasmin Ahmad

Malaysia / 2003 / 90 menit / Subteks B. Inggris / 15+

Malaysia / 2008 / 80 menit / Subteks B. Inggris / 18+

Sepasang orang tua memutuskan untuk pindah dari kota ke desa. Namun, pasangan yang riang dan penuh kasih sayang ini menemukan bahwa tidak semua kehidupan di pedesaan menyenangkan.

Kisah tentang tiga jiwa yang menemukan kedamaian dalam agama. Berkisah tentang dua saudari, Rohana dan Rohani, yang bermasalah dengan ayahnya dan sedang melakukan perjalanan spiritual. Juga tentang Brian, guru yang bermasalah dengan masa lalunya. Ini film Yasmin yang paling dalam mengkritik isu seputar agama, multiras, dan budaya di Malaysia. Diproduksi 2007, film ini baru diputar di bioskop dua tahun kemudian.

Sepet/Chinese Eye | Yasmin Ahmad Malaysia / 2004 / 104 menit / Subteks B. Inggris / 18+

Cerita tentang bagaimana dua orang muda dari latar belakang yang sama sekali berbeda, menjadi sepasang kekasih, serta mengatasi tekanan keluarga dan sosial. Cerita berfokus pada Orked, wanita muda Melayu. Ini adalah bagian pertama dari Trilogi Orked.

MUKHSIN | Yasmin Ahmad

TALENTIME | Yasmin Ahmad

Malaysia / 2006 / 95 menit / Subteks B. Inggris / SU

Malaysia / 2009 / 120 menit / Subteks B. Inggris / 12+

Bagian ketiga dari trilogi Orked. Penonton diajak ke tahun 1993, seputar cinta pertama dari Orked (10 tahun), ketika seorang anak, Mukhsin (12 tahun), datang dengan kakak dan bibinya untuk menghabiskan liburan sekolah di desa Orked.

Sebuah kompetisi pencarian bakat telah mempertemukan dua hati - Melur, gadis Melayu-campuran dengan siswa laki-laki India, Mahesh. Melur, dengan suara merdunya, yang menyanyi sambil bermain piano, adalah salah satu dari tujuh finaliskompetisi Talentime di sekolahnya diselenggarakan oleh Cikgu Adibah. Tentu kisah cinta beda agama dan budaya ini menimbulkan banyak konflik. Ada juga kisah tentang Hafiz, yang memikat dengan bakat vokal dan gitar, harus membagi waktunya antara sekolah dan ibu, yang dirawat di rumah sakit karena tumor otak. Inilah film yang disebut Yasmin dengan “culturally beautiful”.

GUBRA | Yasmin Ahmad Malaysia / 2006 / 109 menit / Subteks B. Inggris / 18+

“Mengapa kita justru paling menyakiti, orang yang paling kita sayangi?” demikian tagline film yang judulnya berarti “cemas” ini. Kisah kedua dari trilogi Orked yang masih setia dengan tema multikulturalisme. Dibalut dengan kisah romansa dan perselingkuhan, dan berkaitan dengan film sebelumnya. Lokasi sentralnya adalah sebuah rumah sakit.


Film sebagai Media Social Marketing : Yasmin Ahmad Berjualan Ide Multikulturalisme Rosidah Syaukat Ekky Imanjaya2

1

Pengantar Film merupakan media penyampai pesan dan alat komunikasi massa. Pernyataan ini acap terdengar bila kita masuk dalam kajian perfilman. Film, dan media pada umumnya, dapat menjadi alat propaganda yang ampuh. Bahkan Undang-undang Film tahun 2009 Indonesia menyebut film sebagai “…karya seni budaya memiliki peran strategis dalam peningkatan ketahanan budaya bangsa dan kesejahteraan masyarakat lahir batin untuk memperkuat ketahanan nasional” dan “film sebagai media komunikasi massa merupakan sarana pencerdasan kehidupan bangsa, pengembangan potensi diri, pembinaan akhlak mulia, pemajuan kesejahteraan masyarakat, serta wahana promosi Indonesia di dunia internasional”3. Film sebagai alat propaganda, dalam rangka mempengaruhi sikap dan perilaku sosial politik rakyatnya, sudah sejak 18984. Produksi film dinasionalisasikan paska Revolusi Bolshevik, tahun 19175. “Dari semua kesenian, “ ujar Vladimir Lenin,” bagi kami, sinema adalah yang paling penting”. Maka Rusia pun memproduksi film-film propaganda seperti Sergei Eisenstein

1 Faculty Member Jurusan Marketing Communication, Fakultas Komunikasi dan Media, Universitas Bina Nusantara.

dan, V. I. Pudovkin. Jerman di masa Nazi6 juga menggunakan film sebagai alat propaganda dengan Leni Riefenstahl sebagai salah satu sineas utamanya7.

Di Indonesia, film sebagai alat penyampai pesan sudah ada sejak masa kolonial Belanda. Kala itu, film dokumenter menjadi alat penyuluhan untuk pencegahan wabah penyakit pes dan transmigrasi (Tanah Sabrang, Mannus Franken, 1938) yang memakai punakawan, karakter dari dunia wayang (Imanjaya, 2010). Pada masa pendudukan Jepang, ia dimanfaatkan untuk meyakinkan bangsa Indonesia bahwa Jepang adalah saudara tua Asia yang akan membantu membebaskan Indonesia dari penjajahan Barat (Imanjaya, 2010) 8. Dalam dunia pemasaran atau marketing dikenal istilah yang kurang lebih sama fungsinya dengan penyebaran “propaganda”: Pemasaran Sosial (Social Marketing). Tujuannya adalah untuk mencapai tujuan perilaku tertentu untuk kebaikan sosial. Social marketing dapat diterapkan untuk mempromosikan hal-hal kebaikan, atau mencegah hal-hal yang buruk, misalnya mengajak masyarakat tidak merokok di ruang publik, penggunakan sabuk pengaman, penggunakan helm untuk kendaraan bermotor dan masih banyak lagi9. Social Marketing Istilah social marketing lahir di tahun 1970an saat Philip Kotler dan Gerald Zaltman (1971) menyadari bahwa prinsip-prinsip pemasaran yang dipakai untuk menjual produk ke konsumen bisa dipakai juga untuk “menjual” ide, sikap, dan perilaku. Kotler dan Andreasen menyatakan bahwa social

2 Faculty Member Jurusan Film, School of Media and Communication, Binus International, Universitas Bina Nusantara.

6 Untuk film-film propaganda Nazi, silahkan periksa: http://www.subcin.com/nazi. html

3 Periksa: http://www.budpar.go.id/filedata/5168_1434-UU33Tahun2009Perfilman. pdf. diakses 8 Maret 2011.

7 Periksa: http://www.filmreference.com/encyclopedia/Independent-Film-RoadMovies/Propaganda-PROPAGANDA-AND-NATION.html

4 Untuk film-film propaganda awal, periksa: http://www.filmreference.com/encyclopedia/Independent-Film-Road-Movies/Propaganda-EARLY-FILM-HISTORY-ANDPROPAGANDA.html

8 Film propaganda penjajah Jepang banyak beredar di YouTube. Salah satunya adalah klip berikut ini: http://www.youtube.com/watch?v=0W4OflJ1pto. Film-film yang beredar berjudul Keseberang, Berdjoeang, dan Amat Heiho. Sedangkan film panjang pertama di masa PEndudukan Jepang adlaa Kemakmoeran. Semuanya propaganda Jepang karena film sangat diawasi di masa ini (Imanjaya 2010, 32)

5 Silahkan periksa situs Film Reference di: http://www.filmreference.com/encyclopedia/Independent-Film-Road-Movies/Propaganda-PROPAGANDA-AND-NATION. html

9 Sebagai gambaran awal,silahkan baca http://en.wikipedia.org/wiki/Social_marketing


marketing berupaya mempengaruhi perilaku sosial tidak untuk sematamata keuntungan marketer, tapi juga kepada penonton yang ditargetkan dan juga masyarakat pada umumnya. Menurut Kotler & Roberto (1989), social marketing adalah teknologi manajemen perubahan sosial yang melibatkan desain, implementasi, dan pengendalian program-program yang bertujuan untuk meningkatkan penerimaan ide atau praktik sosial dalam satu atau lebih kelompok pengadopsi sasaran. Lebih lanjut mereka mengatakan social marketing menggunakan konsep-konsep dari segmentasi pasar, penelitian konsumen, pengembangan dan pengujian konsep produk, komunikasi terarah, fasilitasi, insentif, dan teori pertukaran untuk memaksimalkan respon dari target pengadopsi. Para pelaku yang mensponsori kegiatan ini berusaha untuk mengejar tujuan adanya perubahan dengan keyakinan bahwa mereka akan memberikan kontribusi terhadap kepentingan terbaik individu atau masyarakat. Menurut Lefebvre (2011), social marketing adalah aplikasi dari prinsipprinsip dan teknik marketing untuk mendorong terjadinya perubahan atau perbaikan sosial, baik itu menyangkut masalah kesehatan publik, pencegahan kecelakaan (Smith, 2006), isu-isu lingkungan hidup (Maibach, 1993), manajemen tuntutan transportasi (McGovern, 2005) atau kebutuhankebutuhan sosial yang lainnya. Untuk menyebarkan ide ini, peran media sangat penting. Media komunikasi massa adalah â€œâ€Śterlibat dalam ‘distribusi pesan’ atau ‘penyampaian pesan’‌â€? sehingga media adalah â€œâ€Śsaluran utama untuk memasarkan dan mendistribusikan produk sosial yang tak tampak (intangible)â€? (Kotler & Roberto, 1989). Contoh media yang dimaksud, di antaranya, adalah televisi, radio, koran, majalah, komik, jurnal perdagangan, publikasi asing, iklan luar ruangan, iklan transit, poster, dan bioskop. Karena bioskop dianggap sebagai tempat distribusi yang signifikan, maka kita dapat menyimpulkan bahwa film menjadi media social marketing yang penting. Kampanye Perubahan Sosial Kampanye perubahan sosial bukanlah suatu hal yang baru. Sejak dari abad ke-17 hal tersebut sudah banyak dilakukan oleh beberapa negara di dunia. Pada masa sekarang, kampanye perubahan sosial banyak difokuskan pada kegiatan reformasi kesehatan (misalnya: anti rokok, peningkatan

nutrisi, pencegahan penyalahgunaan narkoba), reformasi lingkungan hidup (misalnya: kampanye air bersih, pencegahan polusi udara, pelestarian hutan), reformasi pendidikan (meningkatkan sarana sekolah negeri, peningkatan keahlian pada guru, peningkatan nilai siswa, dan sebagainya), dan reformasi ekonomi (menarik investor asing, peningkatan ketrampilan kerja dan pelatihan, dan sebagainya) (Kotler, 1989). Lalu apa yang dimaksudkan dengan kampanye perubahan sosial? Kotler (1989) pun menjelaskan bahwa kampanye perubahan sosial adalah suatu usaha yang dilakukan oleh satu kelompok (agen perubahan), yang bermaksud untuk membujuk orang lain (pengadopsi/kelompok sasaran) untuk menerima, memodifikasi, atau meninggalkan ide-ide, sikap, praktik, dan perilaku tertentu. Peran Sutradara sebagai Social Change Agent (Agen Perubahan) Dalam konteks kampanye perubahan sosial, agen perubahan sekaligus social marketer adalah pembuat film, yaitu produser dan/atau sutradara. Merekalah otak dari gagasan-gagasan yang tersimpan dalam media film dan kemudian disebarkan sebagai upaya untuk melakukan perubahan sosial. Karena itu, sangat penting untuk mengetahui langsung tujuan pembuatan film dari sang pembuat filmnya sendiri. Selain itu, para agen perubahan ini perlu memiliki keahlian mengemas informasi (isu) yang ingin disampaikan sedemikian rupa sehingga dapat dimengerti dan diterima oleh kelompok pengadopsi sasaran. Hyman dan Sheatsley (dalam Kotler & Roberto, 1989) menyimpulkan bahwa kampanye penyampaian informasi seringkali gagal dikarenakan hal-hal berikut: 1. Ada kelompok yang benar-benar tidak mengetahui apapun (the chronic know-nothings) yang memang mungkin tidak dapat dicapai oleh suatu kampanye. 2. Kemungkinan seseorang menanggapi informasi baru (isu baru) meningkat seiring dengan minat atau keterlibatan mereka terhadap informasi tersebut. Jika hanya sedikit saja orang-orang yang berminat atau merasa memiliki kepentingan, maka sedikit pula yang akan menanggapi. 3. Kemungkinan seseorang untuk menerima informasi baru meningkat seiring dengan kesesuaian informasi baru (isu baru) tersebut dengan sikap mereka sebelumnya. Orang akan cenderung menghindari informasi yang tidak menyenangkan tentunya. 4. Kecenderungan masyarakat merespon dengan cara yang


memanfaatkan filmnya sebagai “kampanye” nilai-nilai kebaikan dan berniat menjadikan film sebagai media untuk mempengaruhi dan mengubah sikap dan perilaku penontonnya. Nilai kebaikan yang dimaksudkan adalah multikulturalisme. Karena itu, akan diperiksa lewat wawancara dan pemberitaan di media massa bahwa sang filmmaker memang bertujuan mempromosikan multikulturalisme. Artikel ini akan membuktikan bahwa Yasmin Ahmad, dengan pernyataan langsung darinya atau pun dari analisa jurnalistik dan akademis, memang bertujuan untuk mengangkat isu multikulturalisme dalam filmnya.

berbeda-beda terhadap informasi (isu) yang sama, tergantung dari keyakinan dan nilai yang dimiliki masing-masing. Film, dalam konteks ini pula, dianalogikan sebagai social product, sesuatu yang didesain oleh social marketer¸ sang agen perubahan. Kala mendesain sebuah kampanye, ada faktor-faktor penting dalam penggunaan media massa untuk mengubah perilaku dan sikap publik: faktor audiens, pesan, media, dan response-mechanism (Kotler, 1989). Tulisan ini berfokus pada penonton (sutradara harus menjadikan publik luas sebagai sasaran kampanyenya), pesan (nilai-nilai kebaikan, dalam hal ini multikulturalisme), dan media (film sebagai alat bertutur). Untuk faktor terakhir ini, Kottler dan Roberto (1989) menggarisbawahi bahwa social marketing adalah upaya mengombinasikan elemen-elemen terbaik dari pendekatan tradisional untuk perubahan sosial, dengan rencana dan kerangka kerja aksi yang terintegrasi, serta menggunakan teknologi komunikasi dan kemampuan pemasaran. Teknologi komunikasi dalam konteks tulisan ini adalah film, yaitu film-film karya Yasmin Ahmad. Sedangkan pesan dalam istilah social marketing adalah social product yang terdiri dari ide—seperti keyakinan (belief), sikap (attitude) dan nilainilai (value)—terapan sosial (aksi dan tindakan); serta objek yang tampak (tangible) misalnya, dalam konteks keluarga berencana, pil KB dan kondom. (Kotler & Roberto, 1989). Film sebagai Media Social Marketing Dilihat sebagai suatu media, film dapat digunakan sebagai media untuk mempromosikan kesadaran masyarakat terhadap isu-isu kebaikan seperti disebutkan di atas. Pertanyaannya: Sejauh mana kita bisa mempertimbangkan film sebagai salah satu media untuk social marketing? Dalam tulisan ini, peneliti akan membahas: “Apakah kita dapat mempertimbangkan film sebagai media social marketing?”. Jika dapat, maka “Film yang bagaimana dan seperti apa?”. Peneliti mengambil studi kasus film-film Yasmin Ahmad untuk menganalisa kandungan social marketing di dalamnya. Mengapa Yasmin Ahmad yang kami ambil? Karena: 1.

Sutradara sebagai social marketer. Sang sutradara harusnya menjadi otak di balik gagasan social marketing ini. Artinya, sang sineaslah yang sedari awal

2.

Isi dan cara bertutur Yasmin memandang sinema sebagai sesuatu yang lebih besar dari sekadar hiburan. Ia selalu menyelipkan pesan multikulturalisme dalam hampir semua filmnya (Sepet, Gubra, Mukhsin, Talentime) juga iklan-iklan Petronas yang digarapnya dalam rangka Hari Kemerdekaan Malaysia, khususnya Percintaan Tan Ho Ming. Bagian ini juga akan dibuktikan di subbab analisa.

3.

Konsistensi Semua film Yasmin yang menjadi bahan analisa dalam tulisan ini dengan konsisten mengandung isu multikulturalisme, dengan dibalut dengan kisah cinta atau nilai-nilai kekeluargaan.

4.

Target penonton yang luas Yasmin Ahmad, sebagai social marketer, menargetkan filmnya kepada penonton yang lebih luas, tidak hanya untuk kalangan tertentu saja. Film-film Yasmin Ahmad memang langganan festival film internasional seperti Berlinale, tetapi juga sekaligus berada dalam urutan teratas dalam box office, yaitu yang paling ditonton oleh masyarakat awam. Poin ini juga akan dibuktikan dalam subbab di bawah nanti.

Film karya Yasmin Ahmad dan Ide Multikulturalisme10 Poin-poin di atas adalah elemen yang memperkuat alasan mengapa film10 Untuk mengetahui lebih mendalam film-filmnya, peneliti sarankan untuk membaca buku Amir Muhammad berjudul Yasmin Ahmad’s Films (Matahari Books, 2009), di samping menonton film-filmnya yang sudah beredar dalam format DVD.


film Yasmin peneliti anggap sebagai implementasi social marketing. Semua elemen di atas akan kami jelaskan lebih lanjut di bawah ini. A. Sang sutradara sebagai social marketer Isu multikulturalisme selalu ada dalam mayoritas karya Yasmin. Beliau menganggap pembauran adalah isu besar di Malaysia, khususnya karena perempuannya Melayu. “Jadi masalah karena perempuannya Melayu. Kalau ceritanya tentang pria Malaysia dengan gadis China atau India, tidak akan jadi masalah. Tapi kalau sebaliknya, takkan bisa diterima masyarakat. Karena bagi pria Malaysia, mereka bisa menikah dengan ras apa pun, tapi tidak bagi perempuan Melayu. Jadinya, (untuk pria) tidak terlalu ofensif” (Imanjaya 2007)11. Isu multiras ini selalu hadir di filmnya karena pengalamannya di masa lalu. “Saat saya kecil, ibu saya punya sahabat baik bernama Ibu Tan, seorang Cina. Saya rasa, itu sangat mempengaruhi sepanjang hidup saya,” ungkapnya kepada peneliti (Imanjaya, 2007). Lebih lanjut ia menjabarkan: “Jika Anda percaya dengan kemanusiaan, Anda akan peduli kepada semua orang. Orang tua sayalah, khususnya ibu saya yang punya sahabat dari semua ras, yang mempengaruhi saya untuk melihat masyarakat tanpa warna. Beliau selalu mengatakan pada saya bahwa manusia adalah manusia dan ketika kamu melihat orang yang berbeda denganmu, janganlah dibungkam dan jangan dicurigai hal-hal terburuk dari mereka” (Bissme, 2009). Isu pembauran dan agama yang disentuhnya adalah isu sensitif di Malaysia dan ada juga kelompok yang menganggapnya kontroversial. Tapi, Yasmin tetap membuat film bertema sejenis. Ia menegaskan: “Tujuan saya mengungkap isu sensitif adalah untuk membuat masyarakat bisa membicarakannya dengan perilaku yang beradab”. B. Isi (Nilai kebaikan) Film pertamanya yang dengan gamblang memasukkan pesan ini adalah Sepet (2004) alias Sipit. Ini adalah kisah romansa antara Orked 11 Semua wawancara pribadi dengan peneliti dapat dilihat di http://old.rumahfilm. org/wawancara/wawancara_yasmin.htm

(gadis muda Melayu Muslim) dengan Jason (pria muda, Cina, Katolik). Dari sini sudah terlihat potensi konflik yang kemungkinan terjadi. Seorang gadis Melayu makan di restoran Cina atau fasih menyanyikan lagu mandarin adalah hal yang tak lazim. Berikutnya adalah Gubra (Cemas, 2006), yang masih bercerita tentang keluarga Orked, namun kali ini lebih dalam dan luas. Orked yang ketika di Sepet ditinggal wafat Jason, kini telah menjadi wanita matang dan menikahi seorang Cina-Muslim, Arif. Saat mengantarkan bapaknya yang terkena serangan jantung ke rumah sakit, ia sekali lagi bertemu dengan keluarga Jason-- berawal dari Alan sang adik--yang juga sedang dirundung duka di sana. Dan ada fakta mengejutkan: Ia mendapati suaminya bermain serong. Film ini mengandung pesan untuk memaafkan, seberat apapun itu, tapi tema multikulturalisme muncul lagi. Misalnya, Orked bertemu dengan Alan dan berdiskusi bahwa musik tidak lagi asyik kalau liriknya hanya satu bahasa.”Saya akan keluar dari negeri ini kalau ini terjadi,” ujar Orked. Film terakhir dari trilogi Orked adalah Mukhsin (2006) yang berfokus pada cinta pertama Orked kala masih di bangku sekolah dasar. Film ini mendapat keuntungan RM 2 juta. Di sini digambarkan Orked yang Muslim bersekolah di sekolah Cina. Dan Mukhsin pun bertanya: “Orked, mengapa ayahmu memasukkanmu ke sekolah Cina?” “Mungkin Abah mau saya pandai bahasa Cina” “Mengapa?” “Karena Orked sudah pandai bahasa Melayu” Di Muallaf—diproduksi 2007 dan dirilis 2009--ada satu ras tambahan selain Melayu dan Cina, yaitu India. inilah cerita Ana dan Ani yang sedang dalam proses pencarian ketuhanan. Keduanya belajar agama, secara mandiri, mulai dari sosiologi agama hingga perbandingan agama. Mereka kabur dari ayahnya yang suka main tangan. Ani, sang adik, bersekolah di sekolah Katolik, dengan kepala sekolah seorang India dan juga ada guru muda Cina-Katolik, Brian, yang diam-diam mencintai Ana, sang kakak. Terakhir, Talentime (2009), ada yang menjulukinya Malaysia High School Musical. “Ini film saya yang beautifully colorful”, tulisnya di email yang ditujukan buat peneliti. Diceritakan, sekolah mengadakan kontes mencari bakat, 7 finalis akan tampil di acara ulang tahun sekolah


itu. Melur, seorang Melayu Muslim, adalah salah satu pemenang. Sedangkan Mahesh adalah seorang India Hindu bisu yang ditugaskan mengantar-jemput Menur, bisa ditebak, keduanya saling jatuh cinta, dan mendapatkan perlawanan khususnya dari pihak Mahesh dengan alasan beda agama. Film-film di atas tidak hanya berbahasa Melayu dan Inggris, yang menjadi bahasa utama di Malaysia, tetapi juga Cina, dan bahkan di Talentime ditambah dengan bahasa Hindi dan bahasa isyarat. Ini adalah fenomena yang jarang terjadi di sinema Malaysia (Muhammad 2009). Iklan yang dibuat Yasmin juga tak luput dari semangatnya menyebarkan ide multikulturalisme. Di antaranya, Tan Ho Ming12 untuk Petronas, dan Funeral13 untuk Kementrian Pemuda Singapura. Tan Ho Ming, seorang bocah cina, sekitar kelas 1 SD, diwawancara tentang sahabat sejati dan cinta pertama. Maka dia pun bercerita tentang wanita pujaannya. Tapi dia sangat malu untuk menyatakan cintanya. Dia hanya mencintai wanita itu diam-diam, begitu pengakuannya. Scene berikutnya, two shot, sang bocah Cina dan sahabatnya itu, seorang wanita Melayu berusia sebaya dengannya. Giliran sang gadis diwawancara. Dan dia menjawab: “pacar saya adalah dia”, sambil menunjuk ke arah Tan Ho Ming. Begitu jawaban terdengar, si pria cilik langsung terkejut, matanya terbelalak, tangan kirinya menutup mulutnya, dan tangan kanannya mengandeng pasangannya menjauh dari kamera, dalam diam—namun tetap dalam mulut yang ternganga tak percaya. Berikutnya, fade out, dan muncul kalimat: “Anak kecil itu buta warna. Mengapa kita harus mengubahnya?”. Funeral mempunyai pesan nilai-nilai keluarga. Seorang ibu dari ras India menyampaikan pidato di upacara kematian suaminya yang Cina. Di sana, menjabarkan bahwa justru ketidaksempurnaan pasangan menjadikannya sempurna. Cukup banyak tulisan, baik yang ilmiah atau popular, yang menganalisa film-film Yasmin Ahmad sebagai penganjur keharmonian dan multikulturalisme, meskipun kontroversial tak terhindarkan. Misalnya

12 Periksa: http://www.youtube.com/watch?v=O-7_Rd8lCdo 13 Silahkan periksa http://www.youtube.com/watch?v=CEE_-BJF-cc

Farah Azalea Mohamed Al Ami dalamt tulisan Controversies Surrounding Malaysian Independent Female Director Yasmin Ahmad’s First Film, Sepet (Ami, 2009) menyatakan bahwa film Yasmin “…selalu menjelajahi kekayaan yang dimungkinkan dalam perjumpaan multiras”. Akademisi dari Australian National University, Gaik Cheng Kho, menulis The Politics of Love: Malaysia’s YAsmin Ahmad (Metro, Summer 2007, issue 155) dan Reading the films of independent filmmaker Yasmin Ahmad: cosmopolitanism, Sufi Islam and Malay subjectivity yang dimuat dalam buku Race and Multiculturalism in Malaysia and Singapore. Sedangkan Gerald Sim, dalam jurnal Film Quarterly, membuat tulisan berjudul Yasmin Ahmad’s “Orked” Trilogy: Discusses Sepet (2004), Gubra (2006), and Mukhsin (2006), a Sequence of Films about an Adolescent Muslim Girl Falling in Love in Multicultural Malaysia”. Dari sisi jurnalistik, Ronald Bergan menulis obituari tentang Yasmin Ahmad di Guardian edisi 12 Agustus 2009. Bergan menulis bahwa karya Yasmin “…merefleksikan keragaman budaya dan etnis yang luas dari negerinya, serta kehidupan dan mimpi orang mudanya”. Lebih jauh, Bergan menyatakan: “Film-film Yasmin menantang stereotipe etnis, dan dia dengan terbuka melawan segala tipe fundamentalisme dan rasisme, dan membuat karyanya selalu mendukung hak-hak minoritas” (Bergan 2009). Tentang film terakhir Yasmin, Talentime (2009), Bergan menulis bahwa Yasmin “mengulang lagi tema tentang iman, toleransi, keluarga, dan hidup di masyarakat yang multikultural” (Bergan 2009). Sedangkan Amir Muhammad menyatakan bahwa Yasmin berhasil melihat warisan multikultural sebagai sebuah rahmat daripada sebuah beban berat (Muhammad 2009). C. Konsisten dengan tema Kalau kita lihat, semua karyanya mengandung ajakan untuk keharmonian dan kedamaian antar etnis dan ras—dalam konteks Malaysia: Melayu, Cina, dan India—dan mengatasi perbedaan. “Saya tidak tersinggung waktu diberitahu ada yang bilang bahwa saya punya tren tertentu di film-film saya. Semua sutradara yang saya kagumi punya tema-tema konsisten dalam film mereka.


Banyak orang bertanya, mengapa saya tidak bikin film perang ada sci-fi dan membuktikan diri bahwa saya adalah pembuat film yang serba bisa. Saya tak pernah bikin film untuk dianggap sutradara serba bisa. Saya ingin memeriksa emosi-emosi. jika Anda ingin orang yang serba bisa, pergilah cari orang lain” (Beesmi 2009). D. Target penonton Dalam wawancara peneliti dengan Yasmin (Imanjaya, 2007) menjelaskan bahwa ia membuat film untuk seluas mungkin penonton. Tujuannya membuat film ada tiga: “…karena ingin lebih memahami Tuhan dan diri sendiri lebih baik lagi, serta untuk membahagiakan orang tua dan teman-teman dekat, bukan ingin lebih memahami jurijuri di festival”. Ia juga tidak mengotak-kotakkan filmnya sebagai film seni atau film komersial. “Saya tak mau menjadi art-house filmmaker. Saya tak mau. Saya mau film-film saya ditonton banyak orang” (Imanjaya. 2007). Lebih lanjut lagi, Yasmin menegaskan: “Saya percaya pada Shintaro Tanikawa dan Pablo Neruda. Neruda bilang, “I want my poetry to be like bread, everybody can eat it”. Shintaro bilang, “aku tak mau pembaca saya menganalisa puisi saya. Saya mau puisi saya seperti makanan, dan saya harap mereka mencicipinya dan merasakan kenikmatannya”. Kedua tokoh itu adalah penyair terbesar yang pernah hidup menurut saya. Dan saya mengkiblatkan pada keduanya, karena mereka lebih hebat dari pembuat film seni yang membosankan” (Imanjaya 2007). Kesimpulan Media menjadi satu hal yang sangat penting untuk kampanye social marketing (Dagron & Tufte, 2006). Dari berbagai media yang dapat digunakan, film merupakan salah satu media ampuh untuk social marketing; untuk mempromosikan ide-ide kebaikan kepada masyarakat dan mengajak mereka untuk mengubah sikap, perilaku atau praktik-praktik tertentu kearah yang lebih baik. Namun banyak hal yang harus diperhatikan atau dipenuhi agar efektifitas komunikasi melalui film dapat tercapai. Pesan atau social issue harus

didesain sedemikian rupa agar dapat menarik perhatian pengadopsi atau kelompok sasaran. Dan juga dengan isi yang dapat dimengerti oleh khalayak ramai. Pemilihan isu, selain merupakan idealisme sang agen perubahan, seharusnya juga menyangkut kepentingan dan minat orang banyak. Dengan demikian kemungkinan masyarakat mau merespon dan menerima isu tersebut menjadi lebih tinggi. Sutradara dan/atau produser yang dalam hal ini berperan sebagai social marketer, haruslah memiliki pengetahuan yang baik dan tingkat sensitifitas yang tinggi dalam mengemas social product yang ingin disampaikan kepada publik. Mereka harus berperan sebagai agen perubahan yang melakukan kampanye-kampanye dalam rangka menawarkan nilai-nilai kepada penontonnya. Para agen perubahan tersebut juga harus secara jeli membidik (targeting) kelompok pengadopsi sasaran, agar pesan dapat secara efektif disampaikan kepada mereka. Berawal dari gagasan sang social marketer yang sekaligus sang sutradara, Yasmin Ahmad menyebarkan nilai-nilai keharmonisan dan kedamaian dalam masyarakat multikultur di dalam film-filmnya. Yasmin pun dengan konsisten selalu menggarisbawahi isu multikultur dalam film-filmnya. Dan ia ingin agar pesannya dapat terdistribusi ke seluas mungkin jangkauan. Artinya, Yasmin membuat film arus utama bergenre drama dengan target pasarnya adalah masyarakat umum. Social marketer yang baik adalah agen perubahan yang dengan terangterangan menyatakan kampanye untuk mengubah sikap dan perilaku masyarakat dengan menyebarkan ide-ide ke seluas mungkin konsumen. Artinya: 1. Ia memang memosisikan diri sebagai agen perubahan 2. Ia membuat pesan berisi nilai-nilai kebaikan 3. Ia mengemasnya dalam film yang dipahami dan bisa dinikmati sebanyak mungkin penonton. 4. Konsistensi adalah nilai plus. Yasmin Ahmad telah berhasil memenuhi keempat faktor di atas. Ia berusaha menciptakan suatu social product yang dapat diterima oleh semua kalangan. Berusaha agar kelompok-kelompok masyarakat yang semula tidak menyadari isu-isu multikulturalisme, menjadi tahu atau bahkan memahami isu tersebut, berkat konsistensinya dalam menanamkan ide tersebut dalam semua film-filmnya.


Lalu bagaimana dengan Indonesia? Banyak sekali film yang sarat dengan pesan idealis, tapi tidak memenuhi semua elemen di atas. Kendala terbesar adalah distribusi dan target penonton. Ada yang film yang pesannya bagus tapi tidak banyak yang menonton, atau hanya beredar dari festival ke festival dengan audiens yang sangat terbatas, atau sulit sekali public dapat mengaksesnya. Sedangkan social marketer yang baik haruslah dapat mendesain social product-nya sedemikian rupa sehingga menjangkau pemirsa seluas-luasnya. Dari sekian banyak sutradara dan/atau produser Indonesia, yang paling mendekati keempat elemen di atas adalah Nia Dinata (ide kesetaraan gender dan feminisme serta hak minoritas gay-lesbian-biseksual-transeksual) dan Deddy Mizwar (kritik sosial, anti korupsi, clean government, dan demokrasi). Semoga artikel ini menjadi semacam studi awal sehingga peneliti lainnya dapat menganalisa sineas dan film-film Indonesia. Daftar Pustaka Ami, F.A.M. (2008). Controversies Surrounding Malaysian Independent Fe male Director Yasmin Ahmad’s First Film, Sepet. Proceeding 17th Biennial Conference of the ASAA, Melbourne, Australia. http://arts.monash.edu.au/mai/asaa farahazaleamohamedalamin.pdf diakses pada 8 Maret 2011. Bergan, R. (2009). Obituary: Yasmin Ahmad http://www.guardian.co.uk/global/2009/aug/12/obituary- yasmin-ahmad diakses pada Guardian, 12 Agustus 2009. Bissme, S. (2009). Yasmin’s immortal words, in Sun2Surf 28 Juli 2009. http://www.sun2surf.com/article.cfm?id=36262 diakses pada 8 Maret 2011. Dagron, A.G. & Tufte, T (Editors). (2006). Communication for social change - Anthology: Historical and contemporary readings. New Jersey: Communication for Social Change Consortium, Inc. Imanjaya, E. (2010). The Backdoors of Jakarta: Jakarta and social issues in post-reform Indonesian cinema. Saarbruecken: Lambert Academic Publishing.

Imanjaya, E. (2007). Wawancara pribadi dengan Yasmin Ahmad (http:// old.rumahfilm.org/wawancara/wawancara_yasmin.htm) diakses pada 8 Maret 2011. Khoo, G. Ch. (2007). The Politics of Love: Malaysia’s Yasmin Ahmad. Metro, Summer-Issue 155, 52-57. Khoo, G. Ch. (2009). Reading the films of independent filmmaker Yasmin Ahmad: cosmopolitanism, Sufi Islam and Malay subjectivity. Race and Multiculturalism in Malaysia and Singapore. Goh, D., Gabrielpillai, M., Holden, P., & Khoo,G.Ch. (Eds). UK: Routledge. Kotler, P. & Roberto E.L. (1989). Social marketing: Strategies for changing public behavior. New York: The Free Press Macmillan Inc. Lefebvre, C. (2011). An integrative model for social marketing. Journal of Social Marketing, Vol. 1, Issue 1. Muhammad, A. (2009). Yasmin Ahmad Films. Kuala Lumpur: Matahari Books. Sim, G. (2009). Yasmin Ahmad’s “Orked” Trilogy: Discusses Sepet (2004), Gubra (2006), and Mukhsin (2006), a Sequence of Films about an Adolescent Muslim Girl Falling in Love in Multicultural Malaysia. Film Quarterly, Vol. 62, No. 3 (Spring, 2009), 48-53.


JADWAL PENAYANGAN JUMAT, 2 NOVEMBER 14.15: 17.00: 19.30:

Kompilasi Film Pendek Rabun Gubra

JUMAT, 9 NOVEMBER 14.15: 17.00: 19.30:

Talentime Kompilasi Film Pendek Rabun

MINGGU, 4 NOVEMBER

SABTU, 3 NOVEMBER 15.00: 17.00: 19.30:

Diskusi Buku “Yasmin, How You Know?” Muallaf Talentime

14.15: 17.00: 19.30:

MINGGU, 11 NOVEMBER

SABTU, 10 NOVEMBER 14.15: 17.00: 19.30:

Sepet Gubra Mukhsin

14.15: 17.00: 19.30:

TERIMA KASIH KEPADA Orked Ahmad Jovian Lee Gerak Budaya (Kimmy) Ekky Imanjaya Leo Burnett

Rabun Mukhsin Sepet

Rabun Muallaf Kompilasi Film Pendek


Yasmin Ahmad 1958 – 2009


Booklet Program Tokoh kineforum: Yasmin Ahmad