Page 1


Pemimpin Editor Baselina Fika Rosario Labobar Staf Editor Paskalia Irene J. Lejap, Setfania Bengan Haban, Gabriella Anindita Kusumasputri, Ni Luh Putu Rusdiyanti, Radixa Meta Utami

Edisi Januari-Juni 2018 Ilustrasi Sampul: Julia Noor Abdillah Pendamping Sony Christian Sudarsono, S.S., M.A Pemimpin Umum Meylina Br Barus Sekretaris I Gusti Komang Mila Anggreni dewi Angela Reza Widi Pratiwi Bendahara Nerry Suhartono Pemimpin Redaksi Media Cetak Dyas Putri Winayu Staf Media Cetak Nabilla Maharani, Kitana Larasati, Hidegardis Astrin, Felicia Tungadi Pemimpin Redaktur Media Online Yosaphat Made Dharma Suryanata Staf Media Online Christin Ayu Rizky, Agnes Pearlyta, Eka Pranata Putra Zai, Jhon Cipta Levrando Aritonang R

Kepala Divisi Artistik Yohakhim Ragil Anantya Staf Ilustrator Julia Noor Abdillah, Margareta Kusumaningrum Staf Fotografi Tyasti Anugrahani Staf Layout Anastasia Aretia Anjani, Irfan Arif Widiatmoko Kepala Divisi Litbang Martinus Danang Pratama W Staf PSDM Abdullah Azzam, Helena Winih Widhiasih Staf PDI Renata Winning Sekar Sari, Griselda Afni Wulandari Kepala Divisi Jaringan Kerja Clarita Fransiska Simarmata Staf Internal Gilang Yudhistyra D, Elia Silvi Hendriani Christiana Staf Eksternal Veronika Stela Dince Wiran, Kadek Asriyani Alamat: Gedung Student Center lt. 2 Kampus II Universitas Sanata Dharma, Tromol Pos 29 Yogyakarta 55002. Surel Redaksi lpm.natas@gmail.com. Media Online www.natasmedia.com


DAFTAR I S I 4 59-TOKOH Ahmad Syafii Maarif: Dunia ini Milik Bersama SEKILAS ANGKA 61 6 CATATAN SANG FOKUS REDAKSI 12 62JURNALIS Menimbang Gaungan Kota Toleran NYIA dan Relokasi Rumah Warga 64 Kulon Progo LAPORAN UTAMA 14Yogyakarta dan Kasus MERAH Intoleransinya 65-JAS 33 Masa Kelam Gejayan di Balik Kampung Wisata Halal Prawirotaman 67Reformasi Dinamika Memperjuangkan Hak INFO Disabilitas 68Salam: Sanggar Anak Alam, BelaPendidikan Berlatarkan Muatan Toleransi 71jar Bersama Alam LIPUTAN KAMPUS 3472-RESENSI Menilik Kinerja Biro Baru Film: Leap Year Ikatan Alumni Bukan Sekedar 44 Bayang-Bayang Tuhan dan 77Buku: Reuni Imajinasi GAUNG SUMBANG 46Stigma Gerakan Mahasiswa 79-SASTRA Cerpen: Tak Ada Lagi 49 85Puisi: Istirahat PERS KITA 50Sebelah Mata Pers Mahasiswa yang Mengalami Pengepresan Layaknya Kandang 52 86SI ICHIR OPINI 53Wabah Intoleransi dan Masa Depan Dunia Pendidikan Bangsa 58 Sepotong Kisah Tempe dan Kedelai FOTO


Sejumlah umat Hindu membawa sesaji saat upacara Melasti di Pantai Parangkusumo, Kretek, Bantul, DIY. (11/3/2018). Upacara Melasti yang diikuti ribuan umat tersebut bertujuan untuk menyucikan diri dalam menyambut perayaan Hari Raya Nyepi tahun baru saka 1940 atau pada 17 Maret 2018. Foto: Tyasti Anugrahani

4 | natas | JAN-JUN 2018


2018 JAN-JUN | natas | 5


S EK I LAS A N G KA 1. Mencari dan mengumpulkan info mengenai kasus intoleransi dan toleransi di Indonesia (setara institutre) 2. Perkembangan intoleransi di Yogyakarta setiap tahun (sudah dari crcs) 3. Membagi kejadian dan peristiwa toleransi dalam wilayahnya. 4. Penyebab, pengaruh dan dampak intoleransi.(kutip di wahid foundation) JAWABAN Sumber : http://setara-institute.org/indekskota-toleran-tahun-2017/ 1. Berdasarkan data dan indexing terhadap 94 kota di Indonesia, dalam hal isu promosi dan praktik toleransi dari SETARA institute tanggal 16 Desember 2017, diketahui bahwa Manado menjadi salah satu dari lima kota dengan tingkat toleransi yang tinggi yaitu sebesar 5.90. Sedangkan Yogyakarta yang pada tahun sebelumnya berada pada kluster satu bersama sepuluh kota lain dengan skor toleransi tinggi, pada tahun 2017 ini masuk dalam sepuluh kota dengan toleransi terendah peringkat 6 dengan skor toleransi sebesar 3,40. ďƒź Sedangkan dilihat dari data yang disajikan oleh Wahid Institute tahun 2014 Yogyakarta adalah daerah dengan yang tingkat kekerasan atau pelanggaran kebebasan beragama tertinggi kedua setelah Jawa Barat. 2. Data diambil dari crcs DATA KEJADIAN KEKERASAN BERNUANSA IDENTITAS DI YOGYAKARTA 2011-2016 Perkembangan intoleransi di Yogyakarta setiap tahun mengalami peningkatan dan penurunan, persentase dapat dilihat dari table berikut ini : Rumus excel : %perubahan = nilai perubahan/nilai sebelum perubahan x 100%

6 | natas | JAN-JUN 2018

tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016

banyak kasus 7 6 6 28 15 26

% perubahan 0% -14% 0% 367% -46% 73%

Kota teratas dengan skor toleransi tertinggi No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Kota Manado Pematangsiantar Salatiga Singkawang Tual Binjai Kotamobagu Palu Tebing Tinggi Surakarta

Kota terbawah terendah No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

dengan

Kota DKI Jakarta Banda Aceh Bogor Cilegon Depok Yogyakarta Banjarmasin Makassar Padang Mataram

Skor 5,90 5,90 5,90 5,90 5,90 5,80 5,80 5,80 5,80 5,72 skor

toleransi Skor 2,30 2,90 3,05 3,20 3,30 3,40 3,55 3,65 3,75 3,78


S EK I LAS A N G KA

3. Berdasarkan wilayah di Yogyakarta, kasus intoleransi dapat dibagi menjadi wilayah-wilayah seperti ini Tahun 2011 Penghentian Paksa kegiatan festival film Q atas tuduhan mempromosikan LGBT. Intimidasi terhadap kegiatan diskusi memperingati International Day against Homophobia (IDAHO) atas tuduhan mempromosikan LGTB. Pengusiran pendeta GPdI Semanu dan penutupan gereja. Bantul

Gunungkidul

Pemberhentian paksa doa keliling lintas iman (Katolik) di Bantul atas tuduhan mempromosikan pluralism. Penutupan paksa Gereja Pentakosta di Gunungkidul

Tahun 2012 • Kekerasan terhadap seniman dan aktivis HAM Bramantyo • Prijosusilo yang melakukan aksi tunggal melawan radikalisme di depan kantor Majelis Mujahidin Indonesia. Yogya

• Pemberhentian paksa kegiatan kajian Islam di SMA PIRI karena dituduh mempromosikan ajaran Ahmadiyah.

Sleman

• Penghentian paksa acara diskusi buku dengan aktivis lesbian (Irshad Manji) di UGM.

Bantul

• Penghentian paksa acara diskusi buku dengan aktivis lesbian (Irshad Manji) di LKiS.

2018 JAN-JUN | natas | 7


S EK I LAS A N G KA Gunungkidul

• Intimidasi terhadap Goa Maria Gedangsari, Gunungkidul.

Tahun 2013 • Tragedi Cebongan: Kekerasan antar kelompok ‘geng’ dengan sentimen kedaerahan. Yogya

• Sekelompok massa bercadar merusak makam cucu Sultan Hamengkubuwono VI atas tuduhan praktik syirik.

Sleman

• Penyerangan ke komunitas yang dianggap Syiah di Sleman. • Penutupan paksa diskusi Komunisme di Sleman.

Tahun 2014 • Ditentang FUI, seminar tentang LGBT di Universitas Sanata Dharma dibatalkan. • Merobohkan patung manusia yang terletak di pusat kota karena dianggap sesat/ berhala. • Penutupan paksa kegiatan Rausyan Fikr karena dianggap Syiah. • Penyerangan ke jurnalis yang meliput isu HAM. • Penyerangan aktivis transgender. • Pemberhentian paksa training literasi media karena dianggap kampanye anti-Islam. Yogya Sleman

Aksi FJI menolak pendirian Gereja Kristen Saksi Yehuwa, di Baciro, Kota Yogyakarta • FJI membubarkan kegiatan perkemahan remaja gereja Adven di Cangkringan, Sleman. • Penutupan Gereja Isa Almasih, Godean, Sleman. • Perusakan Gereja Pentakosta Indonesia di Pangukan, Tridadi, Sleman. • Penyerangan kegiatan ibadah umat Katolik yang digelar di rumah direktur penerbit buku Galang Press, Julius Felacianus di Ngaglik, Sleman.

8 | natas | JAN-JUN 2018


S EK I LAS A N G KA Bantul

• Percobaan pembakaran Gereja Baptis Indonesia di Saman, Bantul.

Gunungkidul

• Aktivis lintasiman Gunungkidul, Aminuddin Azis, dikeroyok massa FJI. • Penutupan paksa Gereja Pentakosta di Playen, Gunungkidul. • Pemberhentian paksa kegiatan umat dalam perayaan Hari Paskah Adiyuswana di Gunungkidul • Penutupan paksa Gereja Kristen Injili di Gunungkidul. • Massa FUI menyisir pantai di Gunungkidul karena informasi akan ada kegiatan “Rave Party”.

Tahun 2015 • Penutupan Pos Gereja Kristen Indonesia (GKI) Palagan pada 2 Oktober 2015. • Pemukulan warga oleh massa konvoi PPP. • Kekerasan terhadap pendukung partai oleh massa GPK. Yogya

• FUI dan sejumlah Ormas berupaya menggagalkan perayaan Paskah di Stadion Kridosono tetapi berhasil digagalkan oleh aparat. • Pembatalan acara kemah Gereja adventis oleh FJI.

Sleman

• Intimidasi dan pembatalan pemutaran film Senyap. • Ancaman penyerangan Lembaga Kajian Filsafat Islam Rausyan Fikr pada 22 November 2013 dan 2015. FJI mendatangi Rausyan Fikr, berusaha menutup kegiatan tetapi berakhir dengan dialog antara pimpinan FJI dengan pimpinan Rausyan Fikr Safwan serta pihak RT. • Intimidasi rencana diskusi international tribunal soal kasus ‘65. Acara ini sebelumnya ditawarkan ke beberapa kampus, akan tetapi kampus-kampus tersebut mundur (termasuk filsafat UGM), sampai akhirnya dilaksanakan di UIN tanpa publisitas.

2018 JAN-JUN | natas | 9


S EK I LAS A N G KA Bantul

• Pengungsi Afghanistan di Bantul diusir massa karena dituduh Syiah. • Bantrok massa PDIP-PPP pada waktu kampanye Pilkada Bantul • Upaya penutupan Gereja Baptis Indonesia (GBI) Saman tetapi digagalkan oleh aparat . • Pembakaran pintu Gereja Babtis Saman.

Tahun 2016 • Pembunuhan anggota GPK, Anoraga Elang. GPK melakukan aksi menyisir perkampungan untuk mencari pelaku. GPK menyerbu kampung Cuwiri. • Sebelumnya, anggota GPK yang lain Didin Bolewan meninggal karena diserang bom molotov waktu konvoi. • Pembubaran Festival Lady First atas tuduhan mempromosikan LGBT. • Patung Bunda Maria di Gua Maria di Prambanan dirusak. Yogyakarta

• Pembubaran pemutaran film Senyap di AJI. • Pembubaran film Pulau Buru Tanah Air Beta • Penurunan baliho mahasiswi berjilbab di Universitas Kristen Duta Wacana. • Aparat bersama ormas mengepung asrama Papua. • Pengepungan Asrama Papua pada saat rencana kegiatan pentas budaya dalam rangka memperingati budayawan Papua.

10 | natas | JAN-JUN 2018


S EK I LAS A N G KA Sleman

• Klithih menyasar siswa SMA Muhammadyah di Gamping, Sleman. Intimidasi untuk menghentikan pembangunan Gua Maria di Giriwening Gunungkidul • Penghentian paksa kegiatan ibadah di Gereja Pentakosta di Indonesia (GPdI) Pangukan, Tridadi Sleman. • Ancaman terhadap pembubaran diskusi Film Pulau Buru Tanah Air Beta, Fisipol Universitas Gajah Mada pada 23 Mei 2016. • Ancaman pembubaran diskusi dan peluncuran buku berjudul Aidit, Marxisme-Leninisme dan Revolusi Indonesia yang diselenggarakan Indie Book Corner (IBC).

Bantul

• Perusakan kaki patung Gua Maria di Bantul. • Upaya penutupan Pesantren Waria. • Upaya membongkar patung Kerahiman Gereja Santo Yakubus, Pajangan, Bantul di Bantul.

Gunungkidul

• Klithih di Gunungkidul menyasar rombongan siswa SMA Muhammadiyah I Yogyakarta • Penolakan pembangunan Gedung Klasis Gereja Kristen Jawa, Wonosari, Gunungkidul. • Bentrok warga dengan MTA di Wonosari.

4. Berdasarkan uraian mengenai kasus-kasus intoleransi di Yogyakarta, secara garis besar ada empat point menonjol yang dapat ditemukan, yaitu pertama, kelompok ‘laskar’ yang menyasar tempat-tempat yang dianggap maksiat. Kedua, penutupan dan pembubaran paksa terhadap kegiatan diskusi yang dituduh mempromosikan LGBT dan komunisme. Ketiga, kekerasan terjadi sebagian besar antarkelompok ormas kemudian yang terakhir sasaran vigilantisme yang tidak hanya menyasar kelompok-kelompok minoritas tetapi juga kegiatan seni dan lintas iman.

2018 JAN-JUN | natas | 11


fo ku s r eda ks i

Menimbang

Kota Toleran

L

aporan mengenai kota intoleran yang dilansir oleh Wahid Foundation menempatkan Yogyakarta sebagai Kota Intoleran mengejutkan banyak pihak. Predikat City of Tolerance yang digaungkan akhir-akhir ini bersanding dengan predikat Jogja Berhati Nyaman ternyata perlu dikaji ulang. Hingga tahun 2018 sudah banyak kasus intoleransi yang terjadi di Yogyakarta. Peristiwa ini mengusik ketentraman antar golongan yang sudah dijaga sejak lama. Keberadaan masyarakat Yogyakarta yang multietnis tidak lepas dari peristiwa pindahnya ibu kota Indonesia dari Jakarta ke Yogyakarta. Keinginan Belanda untuk menguasai Indonesia kembali membuat pemerintahan yang masih seumur jagung itu diboyong menuju Yogyakarta pada tengah malam 3 Januari 1946. Di Yogyakarta inilah republik dibangun kembali demi

12 | natas | JAN-JUN 2018

Ilustrasi: Tyasti Anugrahani

Gaungan

mempertahankan pemerintahan yang baru berdiri. D amp a k dari perpindahan ibu kota ke Yogyakarta menyedot perhatian dari seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Keberadaan Soekarno sebagai tokoh sentral juga menjadi faktor utama masyarakat ikut pula ke Yogyakarta. Masyarakat dari seluruh penjuru Indonesia berdatangan ke Yogyakarta sehingga masyarakat yang tinggal tidak hanya berasal dari Jawa saja melainkan dari beragam etnis. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat telah memandang Yogyakarta sebagai wilayah yang berpengaruh.


fo ku s r eda ks i Seiring berkembangnya zaman, masyakarat Yogyakarta menjadi semakin multikultural. Terlebih menyandang predikat sebagai Kota Pelajar, menjadikan Yogyakarta rujukan bagi pemuda Indonesia untuk menimba ilmu. Beragam suku, agama, ras, dan golongan berkumpul di suatu daerah yang istimewa bernama Yogyakarta. Kota yang terkenal dengan keramah-tamahannya ini pun digadang-gadang menjadi kota yang toleran. Semakin majemuknya masyarakat harus diimbangi dengan tingkat toleransi yang semakin tinggi terlebih bagi penyandang predikat Kota Toleran. Akan tetapi kenyatannya tidak sejalan dengan realita. Nyatanya tidak sedikit tindak intoleransi yang tercatat. Merujuk data dari Wahid Foundation, Yo g y a k a r t a menempati posisi ke-2 di Indonesia sebagai kota yang paling tidak toleran dengan total 21 kasus intoleransi. Pada tahun selanjutnya turun pada posisi ke-4 dengan jumlah kasus 10. Hal serupa terlihat dari laporan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta pada tahun 2016 yang mencatat terdapat 35 kasus pelanggaran. Serta menurut laporan Indeks Kota Toleran (IKT) 2017 yang dilakukan oleh SETARA Insitute

menyatakan Yogyakarta sebagai kota paling toleran bearada dalam urutan ke-89 dari 94 kota. Menunjukkan Yogyakarta masih dalam posisi 10 besar kota tidak toleran di Indonesia, meski posisinya berangsurangsur membaik. Pada tingkat pendidikan, toleransi sudah seharusnya ditanamkan sehingga terbentuk rasa menghargai satu sama lain. Dikutip dari penelitian yang dilakukan oleh Institut DIAN mengenai muatan toleransi dalam pendidikan agama di sekolah bahwa pendidikan agama bagai pedang bermata dua. Ia dapat untuk memproklamasikan toleransi atau penghargaan terhadap perbedaan atau keberagaman, namun juga, disadari atau tidak, dapat pula menjadi sarana penyebaran benih intoleransi. Pendidikan agama di beberapa sekolah di Yogyakarta pun telah menanamkan semangat toleransi yang dibina melalui ibadah dan penanaman karakter sesuai dengan kurikulum 2013. Saat pelajaran agama siswa menempati kelas sesuai dengan keyakinan masing-masing didampingi guru agama. Tidak terdapat paksaan bagi siswa yang beragama minoritas untuk mengikuti pelajaran agama yang tidak diyakininya. Akan tetapi, tindak intoleransi masih sering dirasakan pada tingkat yang lebih tinggi yaitu di bangku kuliah. Bukan kampusnya, melainkan indekos yang menjadi tempat mahasiswa tinggal sementara di kota gudeg ini. Pasalnya beberapa indekos menolak mahasiswa dengan latar belakang ras dan agama yang berbeda. Banyak indekos yang menolak mahasiswa yang berasal dari daerah timur Indonesia. Penolakan mahasiswa yang berasal dari Indonesia Timur masih berdasarkan stereotip yang berkembang di masyarakat. Bahwasanya mahasiswa yang berasal dari daerah timur acap kali membuat onar di indekos. Melihat realitanya, tidak semua mahasiswa tersebut membuat onar seperti 2018 JAN-JUN | natas | 13


fo ku s r eda ks i yang dibicarakan. Namun, para pemilik indekos tetap kekeh untuk menolak mahasiswa yang berasal dari daerah Timur. Tidak hanya itu, indekos berlabel muslimah/syar’i semakin menjamur di Yogyakarta. Indekos tersebut hanya menerima mahasiswa yang beragama muslim saja. Mengingat Yogyakarta merupakan Kota Pendidikan, pelajar yang datang tidak berasal dari golongan agama, ras, ataupun suku tertentu. Masyarakat Yogyakarta diharapkan dapat lebih terbuka dengan perbedaan yang ada. Tidak sebatas menyekat-nyekat ruang hidup berdasarkan “warna� yang sama. Menengok satu “warna� yang sama, akhir-akhir ini terdengar wacana akan pembangunan kampung wisata halal. Jalan Prawirotaman dicanangkan sebagai kampung wisata halal yang bebas dari minuman keras beralkohol. Peredaran minuman keras di Prawirotaman tidak dapat dipisahkan dengan kehadiran para pelancong dari luar negeri yang pada umumnya meminum minuman beralkohol. Dengan perencanaan kampung wisata halal, minuman beralkohol di daerah Prawirotaman akan direduksi jumlahnya. Deklarasi tersebut mendorong Pemerintah Kota Yogyakarta untuk menertibkan kafe-kafe di sekitaran Mergangsan dan Mantrijeron. Wacana kampung wisata halal dapat dilihat sebagai bentuk toleransi yang dicanangkan pemerintah bagi kaum Muslim. Penegasannya bahwa daerah Prawirotaman tidak hanya diperuntukkan bagi turis mancanegara melainkan halal untuk dikunjungi kaum Muslim pula. Sayangnya, hal tersebut dapat pula dilihat dari kacamata yang berbeda. Bahwasanya kawasan wisata tidak perlu diberi embel-embel halal ataupun semacamnya. Daerah wisata harusnya terbuka untuk siapa saja tanpa perlu mencantumkan suatu golongan. Perlu kajian mendalam mengenai kampung wisata halal 14 | natas | JAN-JUN 2018

yang masih direncanakan dan pernyataan dinas terkait gagasan tersebut. Membicarakan toleransi yang ada di Yogyakarta tidak hanya sebatas suku, agama, ras, dan golongan saja, tetapi keramahan pada penyandang disabilitas. Peraturan Daerah Provinsi DIY Nomor 4 tahun 2012 menjamin perlindungan dan pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas. Peraturan tersebut menjamin hak penyandang disabilitas untuk memperoleh pendidikan dan pekerjaan yang sama. Disabilitas masih dipandang sebelah mata dan menjadi nomor dua dalam skala prioritas penerima kerja. Susahnya mencari pekerjaan juga dikarenakan faktor lulusan dari Sekolah Luar Biasa (SLB) yang dianggap masih belum setara dengan sekolah reguler. Keadaan tersebut membuat penyandang disabilitas menuntut ilmu di SLB karena sekolah inklusi baru berkembang belakangan ini. Pasal 31 UU No. 28 tahun 2002 menekankan bahwa disabilitas memiliki hak dalam akses fasilitas umum. Faktanya peraturan tersebut tidak menjamin penyandang disabilitas secara penuh untuk mendapatkan akses yang sama. Masih banyak fasilitas gedung perkantoran dan sarana umum yang tidak ramah terhadap penyandang disabilitas. Toleransi merupakan salah satu variabel kunci dalam membina dan mewujudkan kerukunan dalam masyarakat. Yogyakarta masih dalam peringkat 10 besar kota paling tidak toleran se-Indonesia. Perlu usaha dari semua elemen baik pemerintah maupun masyarakat dalam membangun kota toleran. Toleransi dalam arti adanya kesadaran dan penghargaan atas realitas kehidupan yang beragam, bukan gaungan predikat yang masih semu terlihat. Dyas Putri Winayu


la po r a n u ta m a Yogyakarta dan Kasus Intoleransinya

Y

ogyakarta adalah kota paling intoleran keenam di Indonesia pada tahun 2017. Data tersebut diperoleh dari hasil penelitian Setara Institute, yang diukur dari banyaknya kasus-kasus intoleran di Yogyakarta sepanjang tahun tersebut. Sebelumnya pada tahun 2014 The Wahid Institute (kini Wahid Foundation) menobatkan Yogyakarta sebagai kota paling tak toleran nomor dua di Indonesia pada 2014. Dari total 154 kasus intoleransi serta pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan yang dicatat Wahid Foundation sepanjang tahun itu, 21 peristiwa terjadi di Yogyakarta. Saat ini Yogyakarta memang terkenal dengan predikat kota pelajar, itu yang menjadikan banyak mahasiswa luar daerah yang ingin menimba ilmu di Yogyakarta. Selain itu masyarakat Yogyakarta juga terkenal ramah dan murah senyum, oleh karenanya tak heran bila Yogyakarta juga dinobatkan sebagai kota toleran. Namun nampaknya predikat Yogyakarta sebagai kota toleran semakin terkikis dengan dibuktikannya beberapa kasus tindak intoleransi yang terjadi di kota gudeg ini. Sebagai kota pelajar, banyak mahasiswa dari luar Jogja yang memutuskan untuk menimba ilmu di kota gudeg ini. Termasuk Agustina Alomang atau yang kerap disapa Tina. Gadis berusia 21 tahun asal Papua ini tidak mengelah jika Yogyakarta memang merupakan kota pelajar. “Yang mendasari aku kuliah di kota jogja itu jurusannya. Jadi kalau di papua kan tidak ada jurusan sastra indonesia, makanya kakaku suruh ke jogja karena di sini ada jurusan sastra indoneisa,” ucapnya.

Mahasiswa semester 4 itupun juga berpendapat bahwa masyarakat Yogyakarta memang terkenal dengan keramah tamaah nya. Namun pandangan ia tentang hal tersebut tiba-tiba sirna ketika ia mengalami sebuah tindakan intoleransi di kota pelajar ini. Kejadian tersebut terjadi di awal kedatangannya ke Jogja. Bermaksud untuk mencari sebuah indekos namun di situlah ia mengalami tindakan intoleran. “Waktu itu saya mau cari kos lalu ibunya bilang mbak nya dari mana ya. Lalu saya jawab saya dari Papua. Terus ibunya bilang kalau dari Papua kami tidak terima,” ujarnya kala itu. Ucapan yang ia lontarkan menambah deretan catatan jika kota Yogyakarta ini memang kota dengan toleransi yang rendah. Namun kendati demikian, gadis asal Papua tersebut tetap bersihkukuh untuk mencari indekos lainnya. Tidak hanya itu, rupanya Tina juga pernah mendapatkan tindakan intoleransi di indekos lain. Awalnya ia hanya menemani seorang teman yang sedang melihat-lihat indekos. Namun si pemilik indekos malah tidak memperbolehkan Tina untuk masuk ke kamar dengan alasan bahwa orang timur tidak diperbolehkan untuk masuk. “Kata pemiliknya, orang timur tidak diijinkan masuk ke dalam kostnya, jadi kami ga masuk ke kamar tapi temanku bisa masuk untuk melihat kosong,” katanya sembari menunduk. Gadis berambut kepang itu pun bercerita bahwa di kehidupan sehari-hari terkadang ia juga mengalami tindakan tidak menyenangkan dari warga sekitar. “ Jadi ketika aku lewat, banyak ibu-ibu. Aku 2018 JAN-JUN | natas | 15


la po r a n u ta m a

Salah satu kost-kost-an yang berada di jalan Gejayan gang Surya Yogyakarta. Foto: Nabilla Maharani

kan sudah buang senyuman sama mereka. Kadang tu mereka gimana ya, macam tanggapannya tu lain gitu dengan muka yang sinis ga merespon senyumanku gitu. Terus kalau disalamin gitu pokoknya, ih ga di sapa balik, ga direspon,” ucapnya sore itu. Walaupun demikian ada pula warga yang ramah dengan kehadiran Tina bahkan menjadi akrab dengannya. Gadis kelahiran 21 tahun silam berharap agar orang-orang Jogja harus lebih ramah lagi, terutama dengan orang-orang bagian Timur.”Kita sama sama manusia, sama sama makan nasi. Jadi ya gitulah. Kita harus saling membantu,” ungkapnya sembari tersenyum. Kasus tersebut tentu bukan satusatunya yang terjadi di kota pelajar ini, masih 16 | natas | JAN-JUN 2018

banyak kasus tindakan intoleransi berbasis ras yang terjadi di Yogyakarta. Perihal kejadian tersebut, tentu kita ingat dengan perkataan Sri Sultan HB X yang menjamin perlindungan orang-orang papua yang sedang menuntut ilmu di Yogyakarta. “Kita wajib melindungi masyarakat Yogyakarta. Walaupun berasal dari Papua, ia merupakan masyarakat Yogyakarta,” ujar Sri Sultan seperti dikutip dari mediaindonesia, Selasa (15/11). Rupanya hal tersebut tidak berdampak kepada mahasiswa papua maupun mahasiswa timur yang ingin menimba ilmu di Yogyakarta. Ditemui sore hari, Riski selaku ketua Mahasiswa Papua Raja Ampat membenarkan bahwa untuk orang-orang papua sendiri memang merasa kesulitan ketika mencari indekos di sini. Ia


la po r a n u ta m a

Salah satu kost putri yang terletak di jalan Tantular, Depok Sleman, Yogyakarta. Foto: Nabilla Maharani

mengerti bahwa alasan si pemilik menolak orang-orang Papua untuk menyewa kamar karena takut menggangu dan ribut. “Ada beberapa orang yang istilahnya seperti nilai kan urusan mereka. Jadi itu pribadi seseorang lalu dilibatkan keseluruhan. Mungkin saat itu mabuk, buat onar, terus kita yang lainnya yang tidak tahu apa-apa kena stereotypes nya,” ucapnya. Walau demikian kontarakan Mahasiswa Papua Raja Ampat yang ditempati Riski tidak pernah terlibat permasalahan dengan warga sekitar. Bahkan Riski dan kawan-kawanya pun juga aktif dalam kegiatan RT. “Sampai sekarang belum pernah ada masalah dengan warga sekitar. Jadi kita saat rapat RT yang tiap bulan itu kita terlibat dikasih undangan. Terus halal bihalal juga, 17 belasan juga, biasanya pentas seni juga terlibat. Kita gabung acara RT dan acara desa, jaga malam juga terlibat,” Jelasnya. Ia juga menambahkan bahwa stereotip masyarakat Yogyakarta mengenai orang-orang papua baru bermunculan di awal tahun 2000an. “Dulu orang tua saya kuliah disini baik semua sama warga. Jadi stereotypes nya itu baru muncul tahun 2000an ke atas. Dulu tahun 90an itu akrab”

ujar mahasiswa yang sudah semester 8 itu. Kasus intoleransi berbasis ras rupanya sedang marak terjadi di kota pelajar ini. Tak hanya dari orang Papua saja, namun orang Timur seperti Nusa Tenggara Timur (NTT) juga mengalami hal serupa. Karina Wibi Bahagia, mahasiswa Universitas Sanata Dharma itu pun membenarkan bahwa untuk mencari indekos di Yogyakarta memang tidak mudah. Beberapa kali ia ditolak namun ia tidak berputus asa. Ia bercerita awal mula kasus intoleransi itu terjadi ketika ia sedang mencari indekos di dekat kampus. “Awalnya itu pemilik kost nya suruh melihat-lihat dulu kamarnya. Pas saya sudah cek saya bilang kalau saya milih yang ini. Ketika mau kasih uang DP terus saya ditanya dari mana asalnya, lalu saya bilang dari Flores. Terus ibu kost bilang kalau kamarnya sudah dilesan dan sudah penuh,” ujarnya saat itu. Gadis asal Flores itu juga menyayangkan sikap masyarakat Yogyakarta yang seperti itu. Ia berharap agar pemilik kost sebaiknya tidak memandang ras . Ia juga menambahkan bahwa tidak semua orang Timur itu bersikap kasar. Hal itupun diperkuat dari pendapat salah satu pemilik kost, Endira namanya. 2018 JAN-JUN | natas | 17


la po r a n u ta m a Wanita paruh baya itupun berpandapat bahwa orang NTT atau orang Papua suka bergerombol dan bila diberi tahu terkadang tak terima. “Dulu pernah saya terima tapi dia suka pakai barang anak lain, dan baunya ganggu, kadang-kadang bayarnya sulit, dan kurang menjaga kebersihan,” ungkapnya. Stigma bahwa orang-orang Timur yang kasar dan menggangu rupaya memang sudah merebak ke khalayak ramai. Ibu Endira juga menjelaskan bahwa ibu-ibu kost biasanya sudah takut duluan terhadap orang timur, dari pada terkena resiko. Begitu pula dengan pendapat Hasan, lelaki yang sudah bekerja selama satu tahun lebih untuk menjaga indekos berkata “ Kalau ada orang Timur saya bimbang ya mba bisa masuk ke cost ini atau tidak”. Ia juga menambahkan bahwa ada beberapa orang Timur yang nongkrong hingga larut malam dan memenuhi jalanan dan ia merasa jika hal tersebut sangat menggangu. Lelaki berperawakan tinggi itupun juga bercerita bahwa pernah terjadi keributan yang berkaitan dengan orang Timur dan indekos. “Jadi gini, yang di pertigaan itu kan ada yang orang NTB atau NTT nah itu bayar telat terus , pulang tapi barang masih ada di costan situ. Udah lama ga balik, setelah beberapa bulan tiba-tiba dia kembali. Tapikan barangbarangnya udah dikeluarin dari kamar dalam arti udah di pakai orang baru. Pas dia balik malah manggil teman-temannya itu. Salah dia juga sih udah telat bayar terus pulang ga pamitan jadikan dikira udah pindah cost ternyata balik lagi,” ungkapnya. Dari kasus tersebut Hasan menjadi bimbang untuk menerima orang Timur jika ada yang ingin menyewa. Selain kasus intoleransi berbasis ras yang mulai merebak, Yogyakarta juga mempunyai catatan dari kasus-kasus intoleransi berbasis agama. Tentu kalian ingat mengenai kasus penyerangan Gereja Santa Lidwina, Bedog, Trihanggo, Sleman, Yogyakarta. Kasus tersebut menjadi catatan bahwa Yogyakarta kini memang darurat

dengan toleransinya. Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika pun mengatakan bahwa Yogyakarta semakin kehilangan semangat toleransi. Maraknya kasus penutupan rumah ibadah menjadi catatan buruk pelanggaran hak beribadah di daerah ini. Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika juga mencatat pada tahun 2015 setidaknya terdapat 15 kasus intoleransi. Dari total kasus intoleransi, yang paling banyak adalah pemerintah tidak memberi izin pendirian rumah ibadah. Tidak adanya izin ini terjadi akibat desakan kelompok intoleran. Dari banyaknya kasus tersebut, masyarakat Yogyakarta berharap agar Sultan HB X lebih turun ke lapangan untuk menjaga agar kasus intoleransi tak semakin merebak di Yogyakarta. Sebagai contoh adalah perumahan muslim di Bantul, ada beberapa seperti Pesona Kota Gede yang terletak di Singosaren, Baitus Sakinah yang terletak di Jalan Wonosari. Di Kabupaten Sleman, ada perumahan Muslim Darussalam yang terletak di Gamping, perumahan Muslim Djogja Village yang terletak di Plosokuning. Di Kulonprogo, ada perumahan Muslim Griya Nadhifa. Sementara di Gunung Kidul, perumahan Muslim De Afifa Residence yang terletak di Wonosari, perumahan Muslim Rahmani Green Resident, dll. Selain itu banyak pula imdekos berlebel Muslimah/syar’i. Seperti contoh adalah kost Muslim yang berada di daerah Universitas Amikom Yogyakarta. Ditemui siang hari, Jefri selaku pemilik indekos muslimah berpendapat bahwa hal yang membedakan kost muslimah dengan biasa adalah kebebasan. “kalau cost non muslim kebanyakan bebas,” ujarnya. Namun kendati demikian, jefri mengatakan bahwa jika ada calon penyewa yang tidak berjilbab tetap diperbolehkan tinggal di indekos itu asalkan ia beragama islam. Nabilla Maharani


la po r a n u ta m a Sumber: www.tripadvisor.com

Kampung Wisata Halal Prawirotaman

B

anyak destinasi wisata di Yogyakarta yang menambah pesona Yogya; dari segi kebudayaan, kuliner, dan kesenian. Kali ini, dikabarkan bahwa di Jalan Prawirotaman yang merupakan salah satu kawasan wisata di Yogya akan disediakan sebuah kampung wisata halal, yang bebas dari minuman keras beralkohol. Hal ini merupakan sebuah inovasi untuk pariwisata Yogya. Namun, tidak semua memiliki sudut pandang yang sama mengenai wacana ini. Suasana di Jalan Prawirotaman, Brontokusuman, Mergangsan, Yogyakarta (18/4) sore itu ramai dengan banyaknya pengunjung, baik dari dalam maupun luar negeri. Kendaraan yang berlalu lalang juga turut menambah ramainya suasana. Sebagian rumah makan dan kafe dipenuhi oleh pengunjung, sementara sebagian lainnya dan beberapa toko terlihat sepi. Meskipun cuaca pada saat itu terlihat mendung dan gerimis, hal ini tidak menghentikan para pengunjung

dalam beraktivitas. Toko-toko serta rumah makan yang terlihat sepi pun tetap dibuka dan menjalankan aktivitasnya seperti biasa. Di samping rumah makan, kafe, toko-toko, hotel, dan guest house yang telah ada, direncanakan akan disediakannya sebuah kampung wisata halal di jalan ini, yang pertama kali disebutkan dalam Majalah Tempo edisi 4460 tanggal 19-25 Februari 2018 dalam sebuah artikel berjudul Setelah Raja Yogya Bersabda. Dalam artikel tersebut, dituliskan bahwa rencana itu bermula dari desakan salah satu organisasi keagamaan bersama sejumlah organisasi kemasyarakatan dalam acara deklarasi Mewujudkan Yogyakarta Kota Serambi Madinah, di mana tujuan terlaksananya acara deklarasi tersebut adalah untuk mendorong Pemerintah Kota Yogyakarta agar menertibkan kafe-kafe yang ada di Mergangsan dan Mantrijeron. “Untuk rencana kampung wisata halal ini tetap akan dilaksanakan,� ucap Heriyanti Ayis (59) selaku Ketua RT


la po r a n u ta m a 26, Prawirotaman yang ditemui di teras rumahnya sore hari itu. “Saat ini sedang dalam istilahnya, tahap penggodokan peraturan untuk masalah minuman keras,” lanjutnya. Ayis juga mengatakan bahwa keberadaan minuman keras (miras) tidak dilarang di kawasan ini tetapi untuk bir masih ada semacam tarik-ulur dari pihak religius, terutama yang Muslim, baik dari Prawirotaman maupun kawasan lainnya tidak mengijinkan adanya bir. Sementara bagi pihak hotel jika tidak ada bir, Kampung Prawirotaman tidak akan menjadi kampung wisata ataupun internasional lagi karena Prawirotaman boleh dikatakan sebagai kampung internasional atau pariwisata yang sering mengadakan event-event yang bertujuan menarik perhatian. Ia menambahkan bahwa eventevent tersebut diadakan setiap bulan Juli, dengan contoh kegiatan yang dilaksanakan seperti penampilan karnaval-karnaval kebudayaan, tari-tarian anak dan orang dewasa, jathilan, dan penampilan keseniankesenian tradisional lainnya. Selain itu, ia berkata bahwa wacana kampung wisata halal ini muncul secara otomatis serupa dengan kemunculan kampung internasional di Prawirotaman. Mengenai bentuk kampung wisata halal ini, pria yang sudah menjadi ketua RT selama 33 tahun dan telah lama menetap di kampung ini menjelaskan bahwa mungkin belum tergambar dengan jelas, sementara untuk kampung internasional adalah sebaliknya. Hal ini dikarenakan banyaknya kehadiran tamu-tamu, yaitu orang-orang internasional dari banyak negara, antara lain Amerika, Malaysia, Singapura, Jepang, Belanda, dan Jerman. Selain itu juga tersedia banyak hotel dan kafe di depan toko-toko yang ada. “Kampung wisata halal ini baru berupa wacana, kalau memang memungkinkan bisa saja direncanakan perbedaan lokasi antara kampung wisata halal 20 | natas | JAN-JUN 2018

dengan kampung internasional, tergantung dari para tamu. Atau mungkin bisa seperti itu tetapi untuk orang-orang yang menjual dan mau minum miras akan disediakan tempat-tempat tertentu, kemungkinan di hotel-hotel bintang empat dan bintang lima. Belum ada penjelasan lebih lanjut lagi mengenai hal tersebut,” tuturnya. Di sisi lain tanggapan berbeda diutarakan oleh Ayis mengenai rencana kampung wisata halal ini dan setuju, terutama untuk mirasnya. “Kalau miras kadangkadang yang beli tidak hanya orang-orang bule, mungkin juga pemuda-pemuda di sini beli dan kadang-kadang mereka mabuk di jalan, itu kelakuan yang tidak benar. Tetapi untuk bule-bule itu kalau menyetir tidak mungkin mabuk, karena sudah kebiasaan mereka untuk minum-minum seperti itu,” tambahnya. Untuk fasilitas yang akan disediakan di kampung wisata halal ini, Ayis mengatakan akan diadakan penampilan keseniankesenian tradisional seperti penabuh gamelan dan tari-tarian tradisional yang mulai dihidupkan di kawasan ini. “Kedua kesenian tradisional ini sudah berlangsung agak lama, tetapi peserta yang mengikuti baru sedikit,” tambahnya. Sementara itu, mengenai perencanaan dan wacana pembangunan kampung wisata halal ini, Ayis mengatakan belum mengetahui pasti kapan akan dimulai karena masih dalam tahap penggodokan masalah peraturan seperti yang telah disebutkan di atas. “Kalau bagi orang-orang yang tidak menginginkan bir itu secepatnya, tapi bagi pihak hotel ya nanti dulu karena kalau hotel-hotel itu kan tidak setiap bulan ada turis dan pada musim-musim tertentu mereka membutuhkan miras tersebut. Tapi seandainya bukan pada saat musim dingin atau panas dan kunjungan wisatawan mancanegara sepi, kemungkinan mereka tidak butuh itu, ”papar Ayis. Ia juga mengatakan bahwa dari segi keagamaan, banyak orang-orang yang


la po r a n u ta m a meminta seperti itu, sedangkan dari pihak kepolisian dan pihak kecamatan juga kalau memang bisa dilaksanakan, mereka akan mendukung tetapi untuk pelaksanaannya dilakukan tanpa dengan kekerasan, dijalankan dengan bentuk kekeluargaan. Dan mereka yang tidak mendukung tidak boleh bertindak sendiri, jadi tidak ada benturan antara pihak hotel, warga kampung, dan pihak religi. “Tanggapan mayoritas warga di sini terhadap wacana tersebut, ya biasa-biasa saja karena mereka sudah terbiasa melihat orangorang yang meminum bir. Bagi mereka, bir itu sudah seperti minuman-minuman yang biasa, bukan minuman keras. Jumlah warga yang mendukung dan tidak mendukung rata-rata berjumlah sama, 50:50,� ucap pria yang masih berambut hitam dan berkumis itu. Lebih lanjut, ia mengatakan ada wargawarga di sini yang sudah mendapatkan penghasilan dari hotel-hotel dan kafe-kafe, baik sebagai keamanan dan tukang parkir. Bagi mereka, jika kafe dan rumah-rumah makan sepi, penghasilan warga juga sepi. Harus dipikirkan dulu bagaimana baiknya, yang penting tidak saling merugikan,� tuturnya. Ayis juga menambahkan bahwa rencana pembangunan kampung wisata halal ini ditangani dengan serius oleh pemerintah dan pejabat. Ini terlihat dari dibentuknya suatu aliansi, yang menetapkan bahwa kafekafe di Yogya, khususnya di kecamatan ini dimohon untuk tidak menyediakan minuman keras. Beberapa hari kemudian, dari pihak pemerintahan turun tangan dengan dibantu satpol pp dan kepolisian mengontrol peredaran-peredaran miras itu, dan banyak yang tertangkap serta banyak minuman-minuman keras yang disita, dimana diketahui bahwa mereka menjual miras tersebut tanpa izin. Bagi Ayis, dampak positif dari kampung wisata halal ini, dengan memberikan lapangan pekerjaan bagi para pemuda di kawasan itu dan berkontribusi

terhadap Rw dan masyarakat di kampung itu. Walaupun baru sedikit yang dibicarakan para pengusaha di sini dimohon retribusinya pada hukum karena banyaknya kegiatan yang membutuhkan dana yang cukup besar, Dikarenakan mereka mempunyai hutang dan masyarakat di kampung membutuhkan biaya untuk kegiatan sosial. Lebih lanjut, ia mengatakan kontribusi yang akan diberikan oleh kampung wisata halal ini terhadap kebudayaan Indonesia belum terlihat walaupun sudah sering diadakan pentas budaya di Kampung Prawirotaman setahun sekali. Dikarenakan kawasan ini terdapat perkumpulan yang bernama Perkumpulan Pengusaha Pariwisata Prawirotaman Yogyakarta (P4Y). Mereka mengadakan kegiatan, baik dari seni tradisional maupun modern, biasanya selama 2 hari. Kegiatan yang diadakan antara lain berupa pawai-pawai untuk anak-anak maupun orang dewasa, sedangkan pada malam hari diadakan panggung-panggung kesenian, juga untuk anak-anak muda dan orang-orang tua. Ia juga menceriterakan bahwa Kampung Prawirotaman pada awalnya bukanlah daerah wisata dan tempat-tempat hotel seperti sekarang ini, melainkan berupa tempat pengusaha batik yang terkenal . Ketika usaha batik semakin sepi, dilakukan perubahan haluan menjadi hotel, yang kemudian menimbulkan kemunculan kafekafe dan rumah-rumah makan. Dengan kehadiran ketiga usaha tersebut, Kampung Prawirotaman mulai melayani bidang yang berhubungan dengan orang-orang internasional. Sri Wahyuni (77), pengelola Rumah Makan terkenal di kalangan wisatawan mancanegara lewat menu makanan dan minuman khas Indonesia, mengatakan bahwa ia sudah pernah mendengar mengenai wacana kampung wisata halal ini lewat media cetak majalah dan koran. “Saya setuju saja jika memang akan dilaksanakan seperti itu, karena menurut saya bir masih layak untuk

2018 JAN-JUN | natas | 21


la po r a n u ta m a

Kawasan wisata Jalan Prawirotaman, Brontokusuman, Mergangsan, Yogyakarta. Sumber: travel.detik.com

dikonsumsi oleh para wisatawan,� ucap pemilik Warung Heru yang sudah berdiri selama 7 tahun itu. Akan tetapi, ia juga merasa dengan adanya kampung wisata halal ini pariwisata di Prawirotaman mungkin akan mengalami sedikit kemunduran karena adanya pembatasan bir sejak mulai masa puasa. Ia juga menyebutkan pengumuman yang mengatakan bir tetap boleh disediakan, asalkan tidak dalam jumlah yang banyak. Baginya, kampung wisata halal ini mempunyai dampak positif bagi masyarakat Prawirotaman dan perekonomian, tetapi akan mengalami kemunduran dalam pariwisata seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Pembatasan dan pelarangan minuman keras ini juga mendapat kritikan karena banyaknya wisatawan dari berbagai dunia. Menurutnya, hal ini juga berdampak terhadap Warung Heru, restoran, dan kafe lainnya jika kampung wisata halal ini telah terealisasikan. Secara pribadi, wanita berkacamata itu tidak mempermasalahkan adanya bir, dikarenakan para wisatawan yang mengunjungi Warung Heru lebih mengutamakan masakannya yang beraneka 22 | natas | JAN-JUN 2018

ragam. Ia juga berencana untuk berkunjung dan melihat ke sana. Sementara itu salah seorang warga Prawirotaman, Tumidan (55) baru akhirakhir ini mendengar mengenai wacana kampung wisata halal tersebut. Ketika pertama kali mendengar mengenai wacana ini, ia berpendapat bahwa hal tersebut tidak akan begitu maju jika dilakukan dalam bentuk penginapan karena kebiasaan para wisatawan mancanegara minum bir dan minuman keras lainnya. Meskipun demikian, pria yang sehari-harinya bekerja sebagai tukang ojek dan becak ini mengatakan bahwa dirinya senang jika kampung wisata halal ini sudah jadi karena dapat membantu transportasinya lewat banyaknya wisatawan yang datang sebagai penumpang potensial. Ia juga merasa bahwa perekonomian Kawasan Prawirotaman dapat mengalami peningkatan dengan adanya kampung wisata halal ini. Pria yang sudah tinggal di Prawirotaman sejak tahun 1989 itu menceritakan bahwa pada tahun 1991 kawasan ini sangat ramai dengan wisatawan, tetapi pasca terjadinya bom Bali wisatawan yang datang mulai berkurang, salah satunya


la po r a n u ta m a

Tanda nama Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak. Sumber: yohanfajarsidik.wordpress.com

adalah wisatawan dari Australia. Ia juga berharap pelayanan di kampung wisata halal ini nantinya terasa ramah dan mengenang untuk wisatawan yang datang.

bagus,” lanjutnya yang menandakan bahwa informasi mengenai kampung wisata halal ini belum begitu diketahui oleh anggotaanggota pondok pesantren yang lain.

Salah satu santri Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak, Kumaedi juga mengutarakan pendapatnya perihal rencana kampung wisata halal di Prawirotaman ini. Ia menjawab sudah pernah mendengar mengenai informasi ini melalui media sosial, tetapi tidak mengetahui tentang programnya secara mendetail. “Tanggapan/pendapat pribadi saya mengenai hal tersebut, ya bagus-bagus saja sebagai bentuk wisata, lalu kemudian untuk promo dan meningkatkan kapasitas pengunjung wisata, saya kira selama itu sesuatu yang positif, berguna, dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar tentu saja saya setuju,” ucapnya.

Menurut Kumaedi, kampung wisata halal adalah tagline atau distingsi dengan konsep acara, kegiatan, atau tempat yang dibangun untuk menarik minat perhatian khalayak masyarakat umum, yang bertujuan untuk wisata halal. Lanjutnya, wisata ini memiliki bentuk yang serupa dengan jenis-jenis wisata yang lain, hanya saja menggunakan label ‘wisata halal’.

“Untuk tanggapan/pendapat mayoritas anggota pondok pesantren yang lain, tentu harus dilakukan survei untuk itu, karena saya kira wacana tentang hal itu belum begitu marak. Mestinya harus ditanyakan satu-satu kepada setiap anggota, bukan hanya dari pendapat saya saja, kemudian menetralisir pendapat-pendapat mereka. Saya kira secara prinsip, selama itu baik dan bermanfaat bagi masyarakat itu

Ia merasa masyarakat juga perlu tahu bentuk kegiatan dan apa yang dimaknai oleh para konseptor sebagai wisata halal. Untuk dampak positif dari adanya kampung wisata halal ini dalam konteks ekonomi dan konteks pemberdayaan masyarakat adalah masyarakat, terutama wisatawan bisa mengetahui, mengunjungi, dan merasakan seperti apa wisata halal ini. Mengenai konsep kampung wisata halal, Kumaedi berpendapat bahwa masyarakat atau para konseptor ingin memberikan alternatif kepada masyarakat, pengunjung hotel atau wisatawan yang merupakan market umum. Sehingga di antara mereka yang muslim baik wisatawan 2018 JAN-JUN | natas | 23


la po r a n u ta m a dari barat, timur tengah, dan seterusnya mengetahui bahwa di kawasan tersebut ada tempat tertentu yang menawarkan menumenu halal. “Menurut saya, hal tersebut biasa-biasa dan bagus-bagus saja, serta dapat juga menjadi alternatif tambahan menu dari sekian banyak menu yang ada,” terang pria yang sudah menjadi salah satu santri Pondok Pesantren Krapyak selama sekitar 10 tahunan. Ia kemudian mengibaratkan wacana kampung wisata halal ini seperti di Eropa yang mayoritas muslim. Kemudian ada 1 komunitas muslim yang menyediakan toko makanan halal, tentu hal itu menjadi alternatif bagi mereka yang secara keyakinan agama memiliki ketentuan-ketentuan yang mengharuskan mereka untuk mengkonsumsi sesuatu yang baik menurut ajaran agama, dan baginya itu merupakan suatu pilihan. Kumaedi mengatakan bahwa ia belum terbayang mengenai bentuk kampung wisata halal ini, karena masih berupa gagasan. Secara prinsip, baginya selama itu sesuatu yang baik secara etik, moral dan kemanusiaan, serta berjiwa semangat dalam pemberdayaan dan peningkatan kapasitas ekonomi masyarakat sekitar, dan secara nilai pariwisata pun hal itu menjadi alternatif penyemarak wisata di situ. Itu tentu saja merupakan sesuatu yang positif dan tidak ada pihak yang dirugikan. Kampung wisata halal ini juga menjadi alternatif bagi wisatawan yang ingin mengonsumsi makanan halal. Seandainya, kampung wisata halal ini sudah terealisasikan, secara institusi belum ada rencana dari Pondok Pesantren ini untuk melakukan kunjungan ke tempat tersebut. Namun, secara pribadi bagi Kumaedi hal itu bisa dilakukan dalam bentuk wisata yang biasa dan anggotaanggota pondok pesantren untuk melakukan kunjungan tersebut, baik itu dalam bentuk personal atau akademik, kira-kira dapat dilaksanakan. Ia juga mengatakan bahwa baginya, Kota Yogya dari dulu sampai sekarang masih 24 | natas | JAN-JUN 2018

bertahan dan dikenal sebagai kota yang menjunjung tinggi nilai-nilai buday. “Bisa dikatakan salah satunya sebagai jantung peradaban Indonesia, di mana mungkin bisa menjadi gambaran budaya Indonesia yang terdiri dari banyak suku dan agama bersatu menjadi satu komunitas masyarakat, yang selama ini dan memang sejak dulu hidup damai,” tuturnya. Ia juga berpendapat bahwa Yogya mempunyai potensi besar dalam merekatkan penghubung keagamaan dan kemanusiaan masyarakat, dengan adanya ‘kampung wisata’ bisa dimaknai sebagai bentuk kreativitas orang-orang Yogya yang menangkap potensi wisata dalam bentuk yang berbeda dan unik. “Menurut saya, semangat mereka adalah semangat untuk memberikan tawaran alternatif bagi para wisatawan dan kembali saya tegaskan, selama kegiatan itu positif, memberikan peningkatan ekonomi bagi masyarakat hal itu tidak menjadi masalah,” kembali ia berujar. Kumaedi juga memberikan pendapatnya mengenai banyaknya kejadiankejadian yang bernada intoleransi di negara ini tetapi ia meyakini satu hal, bahwa budaya intoleransi dan kecurigaan saat bertemu umat beragama yang lain pada dasarnya adalah sifat dasar masyarakat Indonesia, terutama di Yogya. Ia juga mengatakan budaya Indonesia adalah budaya yang ramah dan saling menghargai orang lain. Walaupun contohnya hari ini kita melihat kenyataan-kenyataan mengenai kejadian intoleransi, baginya hal itu adalah contoh kecil saja yang dilakukan oleh orangorang yang sebenarnya tidak menyelami semangat keberagaman. “Menurut saya, jati diri kita sebagai orang Indonesia adalah pribadi yang cinta damai dan persatuan untuk melewati batas-batas primordial yang ada dan seterusnya, sementara semangat paling besar dari orang Indonesia, termasuk orang Yogya, adalah semangat kebersamaan dan kekeluargaan,” ujarnya. Felicia Tungadi


la po r a n u ta m a Dinamika memperjuangkan hak disabilitas Penyandang disabilitas adalah salah satu dari lima gender yang menjadi prioritas pemerintah yang dilindungi oleh Pasal 28 H ayat 2 UUD 1945, secara tertulis penyandang disabilitas memiliki hak dalam penyediaan aksesbilitas. Undang – undang disabilitas selalu memiliki perkembangan berdasarkan kebutuhan mobilitas dan pembangunan yang berkelanjutan. Adapun fakta yang menunjukan berbagai bentuk penyimpangan dalam skala prioritas yang sering disalah artikan oleh masyarakat. Tidak melulu soal aksesbilitas dalam fasilitas umum namun juga kesempatan memperoleh pekerjaan. Disabilitas harus mampu menunjukan kemampuan dengan usaha lebih tanpa kebutuhan empati.

A

nggapan tersebut dilontarkan oleh Triyono selaku CEO Difa Ojek di Yogyakarta yang memberikan pelayanan ojek dengan motor khusus untuk penyandang disablitas. Bergerak di bidang jasa, dapat bermanfaat tidak sebagai mata pencaharian bagi penyadang disabilitas. Namun ,dapat melakukan pendekatan ke masyarakat dalam memberi edukasi mengenai kemampuan penyandang disabilitas yang tidak melulu hidup dari rasa empati. Memiliki kualitas dalam pekerjaan yang sama dengan orang bertubuh normal dan ditambahkan fasilitas yang menyesuaikan kemampuan dapat membantu penyandang disabilitas menjadi mandiri. “Masyarakat khususnya di Jogja masih memandang sebelah mata, kalau disabilitas itu orang yang tidak mampu melakukan apa-apa,” jelas Triyono. Hak penyadang disabilitas di masyarakat tengah gencar dilakukan oleh pemerintah saat ini. Beragam fasilitas publik dan undang-undang perlindungan telah disahkan. Triyono menyahut, “masyarakat masih beranggapan bahwa disabilitas ‘berbeda’ dari mereka baik secara kasat mata maupun dalam hal pemenuhan hidup yang sebagian besar dikotak-kotakan dalam pencarian pekerjaan”

“Disabilitas anggapannya adalah kaktus yang dipaksa hidup di tumbuhan air, kan tidak bisa. Mereka punya ruang sendiri yang bermanfaat bagi orang lain, jadi sulit bagi disabilitas untuk bekerja di perusahaan karena fasilitasnya tidak ada dan dianggap remeh,” kata Triyono saat memaparkan alasan tujuan Difa Ojek yang berfokus dalam pemenuhan kesejahteraan disabilitas sebagai pengendara. Beliau menganggap bahwa memberikan pekerjaan yang ‘berbeda’ bagi peyandang disabilitas masih sulit, karena masyakat masih terbiasa dengan profesi ‘biasa’ seperti jasa pijat tunanetra. Inisiatif membentuk moral masyarakat Ruang kerja Difa Ojek dibangun sendiri olehTriyono, seorang tunadaksa karena keyakinan dapat membuka pandangan masyarakat guna menyuarakan hak disabilitas dalam pekerjaaan. Karyawannya direkrut dengan pendekatan oleh sesama penyandang disabilitas hingga ke pelosok daerah. “Ada beberapa yang saya temukan mereka dikurung di dalam rumah agar tidak menjadi aib keluarga,” imbuh Triyono. Anggapan tersebut ingin dibantahkan oleh Triyono dalam bentuk aksi Difa Ojek, sangat ironis baginya untuk menyaksikan secara langsung bagaimana kemampuan disabilitas masih dianggap tabu, dengan target memperkerjakan 100 orang disabilitas baru terkumpul 20 orang dengan 18 armada Difa Ojek yang beroperasi. 2018 JAN-JUN | natas | 25


la po r a n u ta m a Dalam Pasal 28 dan 29 PP No 43 tahun 1998 yang mewajibkan setiap perusahaan melakukan penyerapan kuota 1% penyandang disabilitas dari total seluruh karyawan, Triyono tidak menampik isi dalam undang-undang tersebut. Menurut beliau, fasilitas bagi penyandang disabilitas terbatas dalam sebuah gedung perkantoran. Selain itu, menerima orang dengan kekurangan fisik untuk bekerja dan kesadaran orang sekitar untuk membantu mengakses fasilitas umum seperti kamar kecil masih minim. Hal ini justru memutarbalikan fakta dalam Pasal 28 H ayat 2 UUD 1945 tentang penyediaan aksesbilitas bagi penyandang disabilitas. Kemudian ditegaskan dalam Keputusan Menteri PU mo 468/kpts/1998 tanggal 1 Desember 1988 tentang persyaratan teknis aksesbilitas pada bangunan umum dan lingkungan, dan pasal 31 UU no 28 tahun 2002 tentang pembangunan gedung yang menekankan syarat kelayakan fasilitas umum dan ditekanan bahwa disabilitas memiliki hak dalam akses fasilitas umum. Namun pada faktanya, tidak semua fasilitas gedung baik di perkantoran maupun instansi pendidikan menerapkan undang-undang tersebut yang notabene bersifat wajib. Miris dengan fakta tersebut, Triyono berharap bahwa masyarakat dapat menaikan skala prioritas bagi penyadang disabilitas dalam mendapatkan fasilitas umum seperti toilet dan jalanan khusus disabilitas maupun ketersediaan lift gedung bertingkat di Yogyakarta. Keluar dari zona nyaman Dalam Pasal 5 no 13 tahun 2003 “Setiap tenaga kerja memiliki kesamaan kesempatan tanpa diskriminasi untuk memperoleh pekerjaan” menunjukan eksistensi kemampuan setiap individu termasuk disabilitas yang disesuaikan dengan kemampuan yang dijelaskan dalam Pasal 13 UU no 4 tahun 1997 “Setiap penyandang cacat mempunyai kesamaan kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan sesuai dengan kecacatannya”.

26 | natas | JAN-JUN 2018

Wahyu, tuna daksa yang bekerja sebagai teknisi Bank BRI. Foto: Kitana Larasati

Wahyu Linanto, seorang pengidap tunadaksa di bidang teknisi BRI Cabang DIY, yang kesehariannya bekerja di dalam kantor. Beliau dibantu para koleganya dalam akses fasilitas . ”Rekan kerja saya menyadari skala prioritas bagi penyandang disabilitas,namun saya sudah terbiasa mandiri,” jelas Wahyu. Beliau adalah seorang disabilitas dari total sekian karyawan di Bank BRI yang menerapkan penyerapan kuota sesuai dikondisikan dengan kemampuan saat penerimaan pekerja. “ Saya sudah kebiasaan dari kecil berbaur karena merasa normal dan tidak minder, justru teman-teman mendukung saya,” lanjutnya. Moral masyarakat terhadap penyandang disabilitas seringkali menjadi hambatan dalam mengekspresi kemampuan yang dipengaruhi edukasi dari lingkungan sebelumnya. “Masyarakat memang seringkali memandang sebelah mata terhadap disabilitas. Saya pun terbiasa dengan hal itu, tinggal bagaimana kita dapat menyikapinya,”iImbuh Wahyu. Pada kenyataannya masalah mental yang dialami penyandang disabilitas serta merta dipengaruhi oleh pengaruh masyarakat yang masih minim edukasi mengenai


la po r a n u ta m a

Triyono saat ditemui di kantor Difa Ojek yang menjadi pondasi pemberdayaan SDM difabel Yogyakarta. Foto: Ragil Anantya

disabilitas. Tidak hanya menjadi momok bagi penyadang yang mendengarnya namun juga menjadi kebiasaan apabila hal itu tidak segera dihentikan. Dalam hal ini diskriminasi merujuk pada psikologi secara langsung. Pendekatan penyandang disabilitas di masyarakat Dinas sosial Kota Yogyakarta telah berupaya dalam edukasi mengenai disabilitas kepada masyarakat. Dengan dibentuknya enam kecamatan inklusi ramah disabilitas di tahun 2017 yaitu Kecamatan Tegalrejo, Wirobrajan, Kotagede, Gondokusuman, Keraton, dan Jetis, diharapkan masyarakat yang telah mendapat edukasi dapat menghargai sesama termasuk disabilitas dan pejabat di tingkat kelurahan maupun kecamatan sadar untuk mengembangkan fasilitas umum bagi disabilitas. Lokasi – lokasi tersebut menjadi target awal menuju keseluruhan 14 kecamatan di Kota Yogyakarta yang ramah disabilitas. upaya

Namun, banyak faktor penghambat edukasi tersebut berdampak

pada masyarakat. Salah satunya isu yang sempat diberitakan mengenai penolakan memberikan tumpangan bagi penumpang berkursi roda oleh oknum Trans Jogja. “Oh saya baru mengetahui berita itu tidak pernah terdengar sebelumnya, bahkan di KR (Kedaulatan Rakyat – red) pun tidak ada,” ujar Retno Sekretaris seksi rehabilitasi sosial penyandang cacat Dinas Sosial Kota Yogyakarta, saat tersentak mendengar berita tersebut. Beliau menampik berita tersebut, “Saya yakin kalau hal tersebut dari karyawan bukan bagian dinas perhubungan karena kami PNS sudah mengetahui cara memperlakukan disabilitas dengan baik dan benar.” Validitas berita tersebut diragukan beliau karena berita yang didapatkan sebagai bahan evaluasi dinas sosial hanya berasal dari media cetak bukan media digital yang cenderung bersifat konvensional. Selain program kecamatan inklusi ramah disabilitas, program lainnya adalah kegiatan rutin yaitu pemberian alat bantu kepada disabilitas, sosialisasi kepada orang tua pengidap disabilitas, dan mengkondisikan 2018 JAN-JUN | natas | 27


la po r a n u ta m a

Rumah sekaligus kantor operasional bagi driver Difa Ojek yang menyerap SDM difabel. Foto: Ragil Anantya

fasilitas gedung yang ramah disabilitas. Halhal tersebut sebagai upaya untuk melindungi dan mengedukasi segenap elemen masyarakat. Sedangkan untuk menyuarakan hak penyandang disabilitas, dinas sosial membentuk Komite perlindungan dan pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas (PPHD). Saat ditanya apakah dinas sosial bekerja sama dengan aktivis dari luar dinas atau Komite PPHD, beliau menjawab “Kami belum mengetahui tentang aktivis yang anda sebutkan, karena kami mendengar suara dari komite kami dan sejauh ini kami sudah bekerja sama dengan Pak Triyono dari Difa Ojek”. Kemudian dapat disimpulkan bahwa seluruh aktivis maupun komunitas di DIY butuh usaha lebih lagi agar suara mereka dapat tersampaikan ke pemerintah. Setidaknya ada harapan baru untuk penyandang disabilitas dalam memperoleh pendidikan dan nantinya pekerjaan yang lebih baik lagi dengan dibentuknya program bekerja sama dengan dinas pendidikan. “Setiap sekolah di Kota Yogyakarta wajib menerima satu disabilitas dan nanti guru28 | natas | JAN-JUN 2018

guru akan dilatih untuk berkomunikasi dan mandiri,” jelas Retno. Program ini berlaku untuk jenjang SD hingga SMA yang direncanakan akan dimulai pada tahun ini. Program tersebut merupakan suatu bentuk kemajuan karena menurut Triyono, CEO Difa Ojek yang pernah bersekolah di sekolah luar biasa mengemukakan pendapatnya “Kalau lulusan dari SLB susah diterima di perguruan tinggi atau pekerjaan karena standarnya jauh di bawah. Kalau ada satu yang buang air, kelas langsung bubar semua,” cerita Triyono dengan gelak tawa. Jumlah penyandang disabilitas yang diterima perguruan tinggi masih terbilang sedikit disebabkan pendidikan di sekolah luar biasa masih di bawah standar pendidikan sekolah umum dalam berbagai faktor antara lain waktu dan kondisi belajar yang kurang kondusif. Menurut data Dinas Ketenagakerjaan Kota Yogyakarta tahun 2016 sebagian besar penyandang disabilitas masih mengenyam pendidikan di bawah jenjang SMA, hal ini menuntut penyandang disabilitas untuk bekerja.


la po r a n u ta m a

Seorang difabel yang berusia senja sedang menjajakan korandi depan Mako BrimobBaciro, Yogyakarta. Foto: Kitana Larasati

Triarmo, staff Dinas Ketenagakerjaan bidang penempatan kerja mengemukakan bahwa setiap tahunnya, Dinas Ketenagakerjaan DIY telah memberikan pelatihan sumber daya manusia bagi disabilitas dengan target 20 orang di masingmasing pelatihan yang berjalan sekitar lima hari. Hasil dari pelatihan tersebut kemudian menjadi bekal untuk menjadi wirausaha atau bekerja di perusahaan. “Kita membantu penyandang disabilitas untuk bekerja di perusahaan-perusahaan di kota yang jumlah tidak banyak ini ya, misalnya ada perusahaan Kenji di Kranggan, sebagian besar ada penyandang disabilitas,� jelas Triarmo. Perusahaan yang dipilih oleh Dinasker Kota Yogyakarta bergerak di manufaktur, yang secara spontan disalurkan tanpa menargetkan jumlah perusahaan yang bekerja sama dalam lowongan untuk penyandang disabilitas. Setelah disalurkan kemudian peserta melanjutkan tahap seleksi sesuai kebijakan

perusahaan. Kualitas karyawan disabilitas banyak mendapat umpan balik positif dari pelaku usaha. Namun, di sisi lain pelaku usaha mengeluhkan ketimpangan jumlah pekerja dan pengangguran di Yogyakarta. “Masalahnya begini, orang yang normal saja mencari pekerjaan sulit, tubuh mereka utuh bisa kesana sini apalagi yang penyandang disabilitas,� kata Triyono. Menjawab apakah di dinas ketenagakerjaan maupun dinas sosial Kota Yogyakarta pernah menerima seorang penyandang disabilitas, Triarmo dan Retno menjawab belum. Triarmo pun mengakui bahwa penyandang disabilitas masih dianggap nomor dua dalam skala prioritas penerimaan kerja karena pelaku usaha atau instansi pemerintah lebih mementingkan kecepatan dalam hasil. Kitana Larasati

2018 JAN-JUN | natas | 29


la po r a n u ta m a Pendidikan Berlatarkan Muatan Toleransi

S

MAN 1 Teladan Yogyakarta yang terletak di Jalan Hos Cokroaminoto No.10 Pakuncen, Wirobrajan, Yogyakarta tampak ramai pada Jumat, (21/04/2018). Hari itu sedang berlangsung acara kesenian yaitu menampilkan karya seni para siswa. SMA ini terkesan sejuk, sebab di sekeliling sekolah ditanami pohon yang rindang. Lingkungan sekolah juga bersih serta kendaraan milik siswa dan guru berjajar rapi. Di depan sekolah proses pembuatan jalan sedang berlangsung, namun hal itu tidak menghalangi kegiatan belajar mengajar.

Veronika Destia, siswi kelas XI membenarkan hal tersebut. Ia mengatakan bahwa para siswa tidak menutup diri terhadap teman yang beragama lain. “Kami berteman tanpa membedakan latar belakang serta kepercayaannya. Ketika beribadah pun semuanya saling menghargai,” jelasnya. Terkait perbedaan tangga antara siswa lakilaki dan perempuan, pihak sekolah memiliki alasan tersendiri. Asrori menegaskan, perbedaan tersebut disebabkan para siswa menempati ruangan berbeda. Keharusan siswi Muslim melepas jilbab saat salat menjadi alasan ruangan dipisahkan.

“SMAN 1 Teladan adalah sekolah toleransi, salah satunya terhadap agama,” kata Asrori selaku Humas SMAN 1 Teladan Yogyakarta. Ia memberi contoh, terdapat Masjid bagi siswa Muslim untuk beribadah, sedangkan siswa Kristen dan Katolik disediakan ruangan tersendiri. Selain itu,

Asrori mengatakan bahwa mayoritas siswa SMAN 1 beragama Islam. Walau begitu, pihak sekolah tidak jarang mengundang pemuka agama lain dalam kegiatan keagamaan. Dalam hal berpakaian, tidak ada kewajiban memakai jilbab bagi siswi Islam, seragam sama seperti aturan

saat pelajaran agama seluruh siswa memiliki kesempatan belajar sesuai keyakinan masingmasing. “Hubungan antarsiswa pun terjalin baik,” ungkap Asrori.

sistem pendidikan. “Senin dan Selasa memakai pakaian putih biru, Rabu dan Kamis mengenakan seragam abu-abu serta hari Jumat dan Sabtu mengenakan pakaian olahraga,” imbuhnya.

30 | natas | JAN-JUN 2018


la po r a n u ta m a Senada dengan Asrori, kepala SMPN 5, Suharno, mengatakan bahwa pemakaian jilbab merupakan sebuah kewajiban bagi siswi Muslim, sesuai dengan yang tertera dalam Alquran, bukan aturan yang diberikan sekolah. “SMPN 5 memiliki program tersendiri,” kata Suharno. Dia melanjutkan bahwa sebelum masuk kelas, para siswa wajib bersalaman dengan guru. Kemudian, siswa dipersilakan berdoa sesuai agama masingmasing selama 15 menit yang kemudian dilanjutkan menyanyi lagu Indonesia Raya. “Di sini ada dua nilai yang ditanamkan, penanaman karakter melalui kegiatan ibadah, serta penegakkan sikap nasionalisme melalui lagu Indonesia Raya,” tuturnya. Menurut Suharno, seseorang yang mendalami agamanya dengan sungguhsungguh tidak akan mencela orang yang

beragama lain. “Intoleransi dapat terjadi apabila seseorang mempelajari agama secara setengah-setengah. Bukan intoleransi agama, namun intoleransi lingkungan,” jelas Suharno di sela-sela pekerjaannya. Seperti yang tertulis di makalah penelitian mengenai muatan toleransi dalam pendidikan agama di sekolah: Pengalaman Enam SMA di Yogyakarta oleh Tim Peneliti Institut DIAN, pendidikan agama idealnya ikut menjawab tantangan zaman dan berkontribusi bagi masyarakat. Dalam hal ini, masyarakat Yogyakarta dapat turut mempromosikan toleransi di kalangan siswa. Toleransi dalam bentuk kesadaran atas realitas kehidupan yang beragam, seperti perbedaan dalam hal agama dan keyakinan yang dianut, serta kesediaan untuk hidup bersama secara harmonis. Sebagai

Kota

Pendidikan

dan

SMAN 1 Teladan Yogyakarta. Foto: Helena WInih

2018 JAN-JUN | natas | 31


la po r a n u ta m a

SMPN 5 Yogyakarta yang terletak di Jalan Wardhani no 1 Kotabaru. Sumber: Wikimipia.org

Kota Toleran, pendidikan agama di sekolah termasuk di SMAN 1 Teladan Yogyakarta sudah menggalakkan sikap toleransi. “Berpegang pada kurikulum 2013, pendidikan agama tidak hanya mengajarkan tentang ilmu tetapi juga karakter,” jelas Caecillia Esti selaku guru agama Katolik.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Institut DIAN, pendidikan agama di sekolah dapat dianalogikan sebagai pedang bermata dua. Di satu sisi berfungsi sebagai pedoman toleransi, namun di sisi lain dapat disalahgunakan sebagai sarana penyebaran benih intoleransi.

Selain itu, salah satu variabel dari model pendidikan adalah kesesuaian materi dengan kompetensi pelajaran. “Pendidikan agama Islam merupakan bagian dari pendidikan nasional,” kata Nurul Yagin selaku guru agama Islam. Seperti halnya pendidikan agama Katolik, pendidikan agama Islam pun juga berfokus pada pengembangan karakter spiritual dan sosial, yang merupakan bagian dari kompetensi inti.

Sehubungan dengan pendidikan agama bermuatan toleransi termasuk metode, perspektif guru, dan praktik pengajaran, Caecillia berharap jika materi tersebut nantinya dapat membentuk karakter siswa menjadi lebih toleran. “Muatan karakter budaya sekolah diberikan di awal pembelajaran, budaya kelas seperti tanggung jawab, jujur dan kerja kelas berada di tengah pembelajaran, sedangkan budaya masyarakat misalnya toleransi dan nasionalisme disampaikan di akhir pembelajaran,” ujarnya.

32 | natas | JAN-JUN 2018


la po r a n u ta m a

Siswa-siswi SMPN 5 saat sedang mengikuti kegiatan sekolah. Foto: Andhika Purwandi

Saat ini, predikat Yogyakarta sebagai Kota Pelajar, Budaya, dan Wisata mengalami rintangan dalam relasi sosial di masyarakat, khususnya relasi lintas iman. Pada tahun 2006, Yogyakarta dideklarasikan sebagai Kota Toleran (Yogyakarta, City of Tolerance). Namun dalam beberapa tahun terakhir perkembangannya, Yogyakarta malah dinobatkan sebagai salah satu kota intoleran se-Indonesia (Wahid Institute, 2014 dan 2015). Menurut Ahmad Syafii Maarif atau kerap disapa Buya, penyebab utama seseorang menjadi intoleran adalah tidak percaya diri. Lebih lanjut ia menuturkan, hal seperti ini tidak hanya terjadi di negara Indonesia tetapi merambah sampai benua Eropa. Selain itu, adanya ancaman dalam

segi ekonomi, ketidakberdayaan politik, dan mentalitas masyarakat yang masih terpaku pada “sistem kasta� mayoritas-minoritas juga menjadi faktor tersendiri. Menurut lelaki yang merupakan seorang ulama, ilmuwan, dan pendidik Indonesia ini, langkah awal untuk menangkal konflik adalah dengan optimalisasi pergerakan aparat. Buya menegaskan bahwa Sila ke-5 Pancasila yaitu keadilan sosial belum diturunkan ke bumi, maka dari sanalah timbul berbagai persoalan. “Ucapkan selamat tinggal untuk mentalitas yang tidak toleran, dan bina kebersamaan lintas agama dan suku, karena Jogja adalah Indonesia mini,� tuturnya. Hidegardis Astrin 2018 JAN-JUN | natas | 33


li p u ta n ka m p u s menilik kinerja biro baru Biro Pengembangan Karir dan Kerjasama Alumni yang berlokasi di Gedung Pusat Lantai Dasar USD Sumber: Gabriella Anindita

Julukan “kota pelajar� yang lekat dalam diri Kota Yogyakarta tidak menjadi jaminan untuk dapat menghasilkan akademisi yang siap bersaing di dunia kerja. Ini diperkuat oleh hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) pada Agustus 2015, bahwa sebesar 7.560.822 pengangguran terbuka tersebar di Daerah Istimewa Yogyakarta. Ironisnya, sebanyak 653.586 pengangguran berasal dari tingkat perguruan tinggi. Di sisi lain, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia merilis jumlah tenaga kerja masih didominasi oleh pekerja dengan pendidikan terendah, sedangkan yang berasal dari perguruaan tinggi hanya 11,34 persen dari total yang ada. Hal ini dapat menjadi perhatian khusus bagi Universitas Sanata Dharma (USD) dalam usahanya menghasilkan lulusan yang kompeten untuk mencari pekerjaan. Rektor USD, Johanes Eka Priyatma menyatakan bahwa Biro Pengembangan Karir dan Kerjasama 34 | natas | JAN-JUN 2018

Alumni (BKA) dibentuk guna mempermudah mahasiswa mencari pekerjaan. Sebelum didirikan pada September 2014, semua hal yang berkaitan dengan kemahasiswaan termasuk informasi mengenai lowongan kerja ditangani langsung oleh Wakil Rektor III. Namun seiring meningkatnya jumlah peminat, pihak universitas merasa kewalahan sehingga sejalan dengan pembentukan Wakil Rektor IV, memutuskan untuk membentuk biro khusus demi memfasilitasi mahasiswa mencari informasi pekerjaan. Berdasarkan pernyataan Martono, kepala BKA, yang dihubungi melalui surel, informasi tersebut termasuk lowongan kerja, campus hiring, pelaksanaan Job Fair, dan Karir Workshop atau Seminar Karir. Selain itu, pembentukan BKA juga bertujuan untuk menjalin komunikasi dengan alumni serta mengadministrasi data alumni.


li p u ta n ka m p u s BKA menyelenggarakan Job Fair secara berkala. Job Fair universitas diselenggarakan pada bulan Maret dan September (satu minggu sebelum wisuda). Dalam acara ini, biro turut mengundang lulusan PTN/PTS. Selain itu, pada bulan Februari dan Agustus BKA melaksanakan Job Fair khusus

kemudian membandingkan dengan Job Fair kampus lain, yang lebih bervariasi. Dari Job Fair kampus tersebut, ia berhasil melamar pekerjaan yang sesuai dengan kriteria yang ia inginkan. “Tapi yang diutamakan tentu lulusan kampus itu sendiri, sedangkan saya statusnya bukan mahasiswa sana,” ujarnya.

Info seputar lowongan kerja ditempelkan di papan pengumuman yang terletak di dekat kantor BKA. Sumber: Gabriella Anindita

perusahaan dari Farmasi serta lulusannya.

Penyelenggaraan Job Fair Maret tahun ini mendapat respon cukup baik oleh mahasiswa Sanata Dharma. Ini terlihat dari sejumlah mahasiswa yang datang ke Aula untuk melihat informasi lowongan kerja. Ditemui pada Rabu (16/3), Rubi, alumnus jurusan Pendidikan Ekonomi angkatan 2012 berpendapat bahwa ini adalah kali pertama ia datang ke Job Fair yang diadakan universitas. “Ya, Job Fair ini lumayan membantu, walaupun masih ada kekurangannya,” katanya. Ia

Sambil menyeruput segelas kopi, ia mengungkapkan kesulitannya dalam mencari pekerjaan. Minimnya informasi yang dimiliki termasuk salah satu faktornya. Baginya, pihak universitas belum optimal dalam memberikan kontribusi untuk para lulusan. Sebagai contoh, walaupun BKA telah dibentuk, Rubi merasa publikasi yang dilakukan masih kurang menyeluruh. “BKA tempatnya di mana toh? Menurut saya, BKA kurang dipublikasikan, saya sebagai alumnus juga kurang begitu pa-

2018 JAN-JUN | natas | 35


li p u ta n ka m p u s ham,” ujarnya. “Mungkin pihak kampus bisa mencoba memanfaatkan media sosial, instagram misalnya. Saya rasa itu lebih terpantau oleh kami karena kita kan pegang gadget tiap hari,” ungkapnya.

siswa seimbang dengan informasi lowongan kerja. “Salah satu alasannya karena tidak semua mahasiswa memiliki kemampuan yang sama untuk mendapat beasiswa,” imbuhnya.

Ia tidak menampik jika pihak kampus telah berusaha mengenalkan BKA kepada mahasiswa. Hanya saja, informasi tentang tata cara atau alur yang diberikan kurang mendetail sehingga banyak mahasiswa yang bingung atau bahkan malas untuk datang ke BKA. Pengenalan BKA yang baru dilaksanakan mendekati prosesi wisuda dirasa terlalu mepet. “Mungkin jika sosialisasi BKA dilaksanakan sewaktu awal masuk kuliah atau saat skripsi, hasilnya bisa berbeda,” katanya.

Menurut Feby, pelaksanaan Job Fair yang diadakan BKA memiliki sisi positif dan negatif tersendiri. “Job fair sebenarnya dapat sangat membantu namun sayangnya terhalang dengan banyak saingan. Kadang, perusahaan tidak semuanya terbuka dengan job fair. Sekalipun iya, banyak yang hanya melaksanakan formalitas wawancara dengan pelamar yang sudah memiliki link sebelumnya. Ini menutup kesempatan bagi pelamar lain yang sebenarnya lebih mumpuni,” ujar Feby.

Berbeda dengan Rubi, ketika ditanya awak natas pada Sabtu (3/3) mengenai keberadaan BKA, Fabiola Nimas, mahasiswi Pendidikan Bahasa Inggris angkatan 2014 memaparkan bahwa ia tahu akan keberadaan BKA, namun kinerjanya tidak terlalu memberikan dampak yang signifikan. Menurut pandangan Feby—sapaan akrabnya, konsentrasi kampus terhadap mahasiswa akhir masih kurang terarah. “Sanata Dharma lebih gencar mempromosikan Student Exchange atau beasiswa, sedangkan kalau bicara men-

Walaupun belum diwisuda, sekarang Feby telah bekerja sebagai asisten manajer di salah satu perusahaan furnitur di Yogyakarta. Ia mengaku tidak mencoba datang ke BKA untuk mencari tahu tentang pekerjaan. “Sadhar bukan tipe kampus yang tidak matang merencanakan sesuatu. Namun kenyataannya, banyak lulusan yang tidak menggunakan fasilitas BKA. Grup prodi atau alumni lebih membantu dari biro karena kita memegang gadget 24 jam. Kalau biro, kita harus datang dan belum tentu update,” teran-

genai informasi pekerjaan sangat kurang maksimal,” tuturnya.

gnya. Feby menambahkan jika keberadaan alumni dapat menjadi aset untuk mahasiswa Sanata Dharma. “Sayangnya, tidak semua alumni merasa terikat dengan universitas,”

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa idealnya porsi Student Exchange atau bea36 | natas | JAN-JUN 2018


li p u ta n ka m p u s katanya. “Biro alumni bisa sangat membantu jika konsisten meng-update konten dan menjangkau mahasiswa. Kalau sistemnya masih seperti sekarang, itu sama saja biro hanya berfungsi sebagai formalitas belaka. Daripada dibentuk biro alumni universitas, akan lebih efektif apabila mengembangkan biro tingkat prodi atau fakultas,” tutur Feby. Ditemui usai prosesi wisuda, Kosmas Krisna,lulusan Pendidikan Bahasan dan

yang belum bekerja, jujur saya tidak pernah datang ke biro dan hadir dalam acara-acaranya,” terangnya. Eksistensi BKA yang asing di telinga mahasiswa tidak lepas juga dari sikap para mahasiswanya yang acuh tak acuh terhadap fasilitas kampus. “Mungkin juga karena mahasiswanya yang kurang peka terhadap fasilitas yang telah diberikan kampus, saya kemarin juga seperti itu,” ujarnya. Kosmas menambahkan, “Sebagai sebuah kampus, keberadaan biro karir penting karena terkesan lebih resmi dan akurat, han-

Antusiasme para pencari kerja yang memenuhi aula kampus 1 USD. Berbagai perusahaan dan instansi pendidikan membuka lowongan pekerjaan pada Job Fair (13/5) yang diselengarakan BKA. Sumber: Herry Suhartono

Sastra Indonesia angkatan 2012 mengaku mendapat info pekerjaan dari teman-teman yang sudah bekerja lewat grup whatsapp. “Selain menjaga silaturahim, grup ini juga bisa memberikan sarana bagi teman-teman

ya saja sebisa mungkin biro memaksimalkan promosi dan variasi lowongan kerjanya”. Hal berbeda diutarakan oleh Elisabeth. Lulusan Pendidikan Guru dan Sekolah

2018 JAN-JUN | natas | 37


li p u ta n ka m p u s Dasar (PGSD) ini merasa kinerja biro sudah cukup optimal meskipun ia belum pernah berkunjung langsung untuk konsultasi pekerjaan. “Kalau info mengenai pekerjaan saya lebih memilih mencari lewat internet atau sekretariat PGSD,” katanynya. Perempuan yang lulus dengan predikat cumlaude ini datang ke BKA hanya untuk mengurus kartu alumni. Ia memilih pekerjaan yang ia dapat dari Job Fair. Dalam mempublikasikan informasi lowongan kerja, BKA melakukan dua cara utama yaitu publikasi soft copy dan hard copy. Publikasi soft copy diunggah melalui media sosial dan web karir.usd.ac.id sedangkan hard copy akan dipasang di papan pengumuman milik Biro Karir dan alumni bertempat di Lobi Gedung Pusat Lantai Ground dan papan pengumuman fakultas/jurusan/ prodi. Rupanya, usaha publikasi yang dilakukan BKA ini belum menjangkau seluruh mahasiswa. Feby mengeluhkan papan pengumuman milik BKA yang tidak pernah diganti. “Setahu saya di depan dekanat jarang diganti, selain itu mayoritas lowongan hanya ditujukan untuk mahasiswa program studi pendidikan. Prodi seperti sejarah, pendidikan ekonomi, atau Sastra Indonesia kurang mendapat perhatian, ” imbuhnya. Menanggapi komentar Feby, pihak BKA berdalih tidak pernah membeda-bedakan dan memilih-milih informasi lowongan 38 | natas | JAN-JUN 2018

kerja untuk mahasiswa kalangan tertentu. “Semua informasi lowongan kerja kami bagikan lewat web.karir.usd.ac.id dan papan pengumuman sesuai dengan formasi lulusan prodinya. Bagi kami tidak ada yang dianak emaskan – semua mahasiswa dan lulusan adalah intan berlian yang sangat berharga di masyarakat,” jawab Martono. Sependapat dengan pihak BKA, Eka menjelaskan bahwa universitas tidak bisa memaksa BKA untuk mendapat lebih banyak jenis pekerjaan. “Kita tidak bisa memaksa, kita menawari perusahaan-perusahaan untuk melakukan promosi namun tidak mungkin semua perusahaan akan berminat ke kampus ini. Selain itu, ada beberapa fakultas yang menyelenggarakan Job Fair khusus. Biro yang diselenggarakan universitas ini memang kebanyakan ditujukan untuk jurusan pendidikan. Sebagian alumni memang dipersiapkan untuk menjadi guru. Meskipun kita tidak lagi IKIP, 50% mahasiswa berasal dari fakultas keguruan,” jelas Eka. Eka mengakui, sebagai biro yang baru berjalan empat tahun, BKA memang belum efektif, berbeda dengan biro yang sudah lama berdiri dan berpengalaman. “Kendala universitas adalah mendeteksi kebutuhan alumni setelah lulus dan menyesuaikan kemampuan universitas untuk memenuhinya. Alumni sudah tersebar di Indonesia, tidak mudah memenuhi kebutuhan alumni yang bervariasi, di tempat yang bervariasi


li p u ta n ka m p u s juga,” ungkapnya. Kendala lain adalah masih banyak alumni Sanata Dharma yang sedang berjuang membangun karir. “Sebagai universitas, Sanata Dharma baru berusia 25 tahun, ini menandakan usia lulusan alumninya paling tua 15 tahun bekerja. Jadi, dari segi kemapanan hidup butuh waktu lebih lama lagi untuk bisa berkontribusi terhadap universitas. Mungkin 10 tahun lagi banyak alumni yang mampu dan ingin membangun universitas,” ujar Eka. Menanggapi komentar dari Feby, Rektor USD angkat bicara. Eka berpendapat bahwa pembentukan biro alumni setingkat prodi atau fakultas tidak bisa diwujudkan. Hal tersebut karena prodi dan fakultas hanya berfokus pada pengembangan Tridharma, yaitu Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian. Eka juga menerangkan “Prodi dan fakultas tidak mengurusi hal-hal yang berada di luar Tridharma. Kalau begitu, nanti kinerjanya tidak efisien dan bisa kehilangan fokus”. Kristiawan, lulusan Teknik Elektro 2010 juga mempertanyakan kinerja BKA. “Kalau saya jujur belum tau kinerja biro seperti apa, fungsi dan tujuannya untuk apa. Yang saya pertanyakan adalah apakah sudah meliputi seluruh yayasan Sanata Dharma? Ataukah cuman di Mrican saja?” katanya.

grup media sosial lebih efektif. “Jika ada berita terbaru dari dosen atau fakultas lebih bisa tertampung,” jelasnya. Kristiawan berpendapat bahwa mahasiswa tidak bisa mengandalkan BKA untuk mencari pekerjaan. Ia mengimbau para pencari kerja untuk mengurangi rasa idealisme sebab fresh graduate masih muda dan harus mencari pengalaman terlebih dahulu. “Mungkin kita punya cita-cita mendapat gaji tinggi, namun jika tidak mampu memenuhi kualifikasi, tidak usah pilih-pilih, cari pengalaman dulu saja. Selain itu lebih membuka diri terhadap kesempatan yang ada seperti aktif bertanya pada dosen,” ujarnya. Menanggapi keluhan yang dirasakan mahasiswa maupun lulusan mengenai kinerja BKA, Martono mengungkapkan akan melakukan penyebaran kuesioner untuk menilai sejauh mana peran dan keberadaan BKA diketahui oleh mahasiswa, khususnya mahasiswa tingkat akhir. “Dalam kuesioner ini kami akan meminta metode apa yang paling tepat untuk melakukan promosi ke mahasiswa khususnya mahasiswa semester V ke atas,” tulis Martono dalam surelnya pada awak natas.

Gabriella Anindita

Ia menyetujui apabila penggunaan 2018 JAN-JUN | natas | 39


li p u ta n ka m p u s

Temu alumni pendidikan akuntansi 1980. Sumber : Biro karir dan alumni

Ikatan Alumni Bukan Sekadar Reuni

Ikatan alumni merupakan kelompok yang beranggotakan para alumni atau orangorang yang telah lulus dari sebuah institusi pendidikan seperti sekolah dan universitas. Alumni yang berprestasi dan memiliki reputasi baik dalam sepak terjang karirnya dipercaya akan mengangkat derajat dan prestasi almamater dari alumni tersebut. Namun, selain untuk membuktikan eksistensi sebuah institusi pendidikan, ikatan alumni juga dibentuk untuk membangun jejaring yang baik antara institusi dengan para alumninya agar dapat saling memberikan timbal balik. Meskipun begitu, pada kenyataannya masih banyak sekolah maupun universitas di Indonesia yang belum mengoptimalkan

40 | natas | JAN-JUN 2018

masing-masing ikatan alumninya padahal kelompok ini sangat penting keberadaannya. Ikatan Alumni USD Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta bukanlah kampus yang bisa dianggap muda lagi sebab di tahun 2018 ini akan beranjak ke usia 63 tahun. Selama enam dekade, setiap tahunnya USD telah menghasilkan ratusan orang lulusannya. Bahkan ketika acara wisuda terakhir kali tepatnya pada 24 Maret 2018 lalu, Rektor USD, Johanes Eka Priyatma, telah mewisuda 800 orang dari total 37 program studi yang ada. Melihat hal itu, tak dipungkiri bahwa ikatan alumni USD merupakan keluarga yang sangat besar.


li p u ta n ka m p u s Berdasarkan sumber dari website resmi USD, pada saat pertama kali pembentukkannya, ikatan alumni USD digagas memang hanya sebagai ajang temu kangen. Ikatan alumni tersebut berawal dari adanya kelompok Jumat Siang, kelompok informal bentukan para alumni IKIP (sebelum berubah nama menjadi universitas pada tahun 1993) Sanata Dharma lulusan tahun 1964 yang kemudian mencetuskan ide untuk mengumpulkan para alumni IKIP Sanata Dharma lainnya yang berada di Jakarta. Kelompok ini terdiri dari Bpk. Sugiharso, Bpk Budimaryoto, Bpk Sumartedjo, Bpk. Soedijono, Bpk. Asmadhi, Bpk Suparno, Bpk Mudjojo, dan Ibu Utari yang setiap hari Jumat (sebulan sekali) sesudah jam 13.00 WIB mengadakan pertemuan di Kantor Tenaga Kerja (NAKER) DKI Jakarta. Pertemuan pertama dengan bentuk arisan dan pada pertemuan berikutnya tercetus gagasan untuk mendirikan yayasan. Masih berdasarkan sumber dari website resmi USD, pada 29 Juni 1990 atas prakarsa dari Keluarga Alumni Jakarta, diadakan reuni akbar dengan agenda membentuk Ikatan Alumni Sanata Dharma. Pertemuan reuni akbar dalam rangka peringatan Lustrum ke V atau Dies Natalis ke 35Â USD ini akhirnya mengesahkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Keluarga Alumni IKIP Sanata Dharma. Kemudian, pada pertemuan alumni di tahun 1995, IKIP Sanata Dharma telah berganti nama

menjadi Universitas Sanata Dharma, maka terbentuklah kepengurusan dengan nama IKIP-nya yang dihilangkan yaitu Keluarga Alumni Sanata Dharma (Kasadhar). Kini Kasadhar dikenal dengan nama Ikatan Alumni Sanata Dharma (IKASADHA) yang bertempat di Kantor Wakil Rektor IV, Gedung Pusat Lantai II, Kampus 2 USD, Mrican. Kegiatan temu kangen dan reuni masing-masing program studi atau fakultas tiap angkatan pun secara berkala masih rutin dilakukan. Selain sebagai ajang melepas rindu, tujuan yang lebih dalam lagi adalah para alumni pun dapat saling berbagi ilmu dan pengalaman terhadap satu sama lain maupun untuk berkembangnya USD menjadi lebih baik lagi. Hubungan Mutualisme Hubungan antara alumni dengan kampus bukanlah lagi sebatas menjalin komunikasi secara formalitas atau ajang melepas kangen semata. Semenjak USD akhirnya membentuk Biro Pengembangan Karir dan Kerjasama Alumni (BKA) pada September 2014, hingga kini jalinan komunikasi dengan alumni ditangani langsung oleh biro tersebut. BKA memiliki dua urusan pokok yang harus dikerjakan, salah satunya adalah urusan untuk mewadahi alumni. Maka, USD dalam hal ini telah terwakilkan oleh BKA bersama alumni dapat saling bersinergi demi timbal balik yang positif untuk kedua pihak. Meskipun jauh sebelum terbentuknya 2018 JAN-JUN | natas | 41


li p u ta n ka m p u s BKA ikatan alumni sudah lebih dahulu ada, harapan dari terbentuknya biro ini agar urusan karir dan alumni dapat lebih terarah dan terorganisir.

yang telah bekerja juga sangat dibutuhkan untuk pengembangan lebih lanjut apabila BKA melakukan pendampingan kaum muda di universitas, terkhususnya pendampingan

Temu alumni PBI 1978 (15 april 2018). Sumber: Biro Karir dan Alumni

keterangan dari Martono, kepala BKA USD, yang dapat dihubungi melalui surel, para alumni merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dari universitas. Salah satu pekerjaan dari BKA adalah melakukan tracer study atau pengusutan jejak alumni USD di setiap tahunnya. BKA perlu mendata secara online tentang persebaran lulusan USD dalam masyarakat di seluruh Indonesia. Hal ini tentu sangat diperlukan oleh USD karena bila semakin jelas rekam jejak alumni yang dimiliki tentu secara tidak langsung akan berdampak positif untuk peningkatan citra dan reputasi universitas di mata publik. Selain itu, masukan dan saran dari alumni 42 | natas | JAN-JUN 2018

bagi mahasiswa yang sudah masanya untuk memasuki dunia kerja. Masih menurut keterangan dari Martono, BKA yang baru terbentuk seumur jagung ini juga menyadari bahwa masih belum mampu mewadahi seluruh informasi lowongan kerja dan melakukan tracer study secara optimal. Bahkan Johanes Eka Priyatma selaku rektor USD tidak menampik bahwa BKA yang baru berjalan empat tahun ini belum bekerja seefektif biro lain yang sudah lebih dahulu ada di USD. “Alumni sudah tersebar di seluruh Indonesia, jelas saja tidak mudah untuk memenuhi kebutu-


li p u ta n ka m p u s han alumni yang bervariasi, di tempat yang bervariasi juga,” ujar Eka. Terbukti dengan sampai saat ini, job fair atau lowongan kerja yang tertampung oleh BKA masih didominasi oleh variasi pekerjaan untuk mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan dan Keguruan (FKIP). Mengingat sejarah USD yang sebelumnya terfokus pada FKIP dan hingga kini 50% mahasiswanya USD adalah calon sarjana keguruan, oleh sebab itu kerap kali para alumni di masing-masing program studi (apalagi alumni program studi di luar FKIP) secara mandiri membantu melalui pembentukkan grup obrolan di media sosial dan saling membagikan informasi lowongan kerja di grup tersebut. “Saya dan beberapa teman sekelas malah terbantu mendapat informasi lowkernya dari grup alumni. Itu grup dibuat oleh angkatan atas, anak-anak angkatan sebelum saya yang sudah bekerja, akan diberitahu apabila ada lowongan di perusahaan tempat mereka bekerja. Apalagi untuk prodi psikologi seperti saya ini yang memang jarang tersedia informasinya dari BKA,” ungkap Gisela Anggraida atau yang akrab dipanggil Anggi, mahasiswi psikologi yang telah menyelesaikan skripsinya dan diwisuda pada bulan Maret 2018. Ini menunjukkan soliditas para alumni yang kuat sangat diperlukan untuk membantu setiap alumni baru (fresh graduate) dalam mencari pekerjaan. Jelas saja, Martono pun menyebutkan dalam jawabannya bahwa BKA merasa terbantu dengan

inisiatif para alumni tersebut. Demi sinergi yang positif, memang diperlukan pergerakan yang aktif dari kedua belah pihak. Meskipun begitu, Martono mengakui akan memperbaiki lagi kinerja BKA agar bisa mengerjakan kedua tugas pokoknya yaitu urusan karir dan urusan alumni, secara lebih maksimal kedepannya. Meskipun begitu, ada juga sebagian mahasiswa atau alumni yang sudah merasa terbantu oleh BKA secara tidak langsung. “Lowker sekarang banyak jalur kok, secara gak langsung mahasiswa pasti terbantu apalagi kalau sering lihat lowongan kerja yang ditempel di mading fakultas. Walau sebenarnya saya enggak tahu juga itu info lowker dari biro karir atau bukan,” jawab salah satu alumni USD angkatan 2012 yang berinisial D. Kenyataan ini menandakan eksistensi BKA belum dikenal baik oleh semua anggota masyarakat USD. Untuk meningkatkan lagi eksistensi dan kinerja biro yang dipimpinnya, Martono mengaku BKA akan menyebarkan kuisioner serta melakukan pengenalan biro ke mahasiswa dan alumni lebih intens lagi. BKA juga sedang merancang sistem untuk mengirimkan setiap info job fair dan campus hiring langsung ke email mahasiswa dan alumni, sehingga informasi penyelenggaraannya dapat diterima setiap orang. Selain itu, dalam setiap penyelenggaraan job fair maupun seminar karir selalu melibatkan mahasiswa maupun

2018 JAN-JUN | natas | 43


li p u ta n ka m p u s alumni USD dan akan terus meng-update web karir.usd.ac.id. Ketika diwawancara oleh awak natas perihal BKA pada (05/03), Anggi mengaku tahu akan keberadaan BKA namun belum merasa terbantu ketika mencari pekerjaan bila dibandingkan dengan grup obrolan buatan alumninya. “Saran saya sih agar BKA meningkatkan lagi kinerjanya. Bantuan alumni lewat grup di medsos memang sangat baik, alumni sudah sangat solid, namun agar BKA tidaklah terbentuk untuk formalitas saja, lebih baik informasi lowker dari alumni pun terarahnya melalui BKA. Supaya sesuai dengan nama biro tersebut, atau mungkin dibentuk saja biro per fakultasnya agar lebih efektif dalam mengetahui bagaimana kebutuhan mahasiswanya masing-masing,” tambah Anggi yang kala itu ditemui di lobi kampus 3 USD di Paingan. Senada dengan Anggi, alumni USD berinisial D tadi juga mengungkapkan pendapatnya tentang BKA yang dimiliki USD. “Biro karir di universitas lain terlihat lebih kredibel, malah tak sedikit mahasiswa USD yang mendaftar di sana. Kedepannya mungkin biro Sadhar juga bisa seperti biro di universitas lain. Saran saya supaya BKA lebih proaktif dalam membuat kegiatan dan merangkul alumni-alumninya,” ungkapnya. Anggi dan D menaruh harapan BKA USD bisa menjadi lebih baik lagi dalam membantu mahasiswa dan alumni di tahun-tahun berikutnya dan tak kalah dengan biro sejenis milik kampus lain yang ada di 45 | natas | JAN-JUN 2018

Yogyakarta. Ni Luh Putu Rusdiyanti


gau n g s u m ba n g

Stigma Gerakan Mahasiswa

S

etiap perubahan sosial yang terjadi di Indonesia tidak bisa lepas dari peranan para mahasiswa. Kontribusi mahasiswa selalu menjadi faktor substansial terjadinya sebuah perubahan sosial. Mulai dari sebelum republik ini merdeka sampai sekarang, mahasiswa selalu mencoba merajut benang sejarah demi tercapainya kesejahteraan bangsa. Mahasiswa umumnya merefleksikan sikap kritis dan keresahan mereka melalui pergerakannya yang biasa disebut gerakan mahasiswa. Gerakan mahasiswa sendiri dapat diartikan sebagai upaya mahasiswa untuk mengubah realita sosial yang dilandasi atas belum adanya titik keseimbangan antara harapan rakyat dengan pencapaian rezim yang berkuasa.

orde lama cenderung memiliki hubungan erat dengan kekuatan militer sedangkan era orde baru berkonfrontasi dengan militer.

Menurut tinjauan sejarahnya, gerakan mahasiswa dapat dibagi menjadi empat era. Pertama yaitu era pra-kemerdekaan (1900-1945), kedua yaitu era orde lama (1945-1965), ketiga yaitu era orde baru (1965-1998) dan yang keempat adalah era reformasi (1998-sekarang). Masing-masing era memiliki ciri khas tersendiri yang mempresentasikan keadaan sosial pada masanya. Misalnya pada era pra-kemerdekaan gerakan mahasiswa cenderung mengarah untuk melawan kolonialisme. Gerakan mahasiswa era

Tirani Kolonialisme

46 | natas | JAN-JUN 2018

Namun yang perlu digaris bawahi adalah era saat ini yaitu era reformasi. Pergerakan mahasiswa pada era reformasi cenderung kehilangan taringnya. Mahasiswa pada era reformasi cenderung tercengkram neoliberalisme, tantangan digital dan hedonisme. Hal ini membuat mahasiswa lebih fokus terhadap permasalahan individu daripada permasalahan yang ada di masyarakat. Sebelum membahas pergerakan mahasiswa pada era reformasi, perlulah kita juga untuk menengok secara mendalam pergerakan mahasiswa pada era-era sebelumnya.

Gerakan mahasiswa pada masa pra-kemerdekaan memiliki visi dan misi yang jelas yaitu penghapusan kolonialisme. Peranan pergerakan mahasiswa pada era pra-kemerdekaan dimulai dari pemanfaatan kebijakan politik etis yang memungkinkan para kaum muda untuk mengenyam pendidikan hingga luar negeri. Pada 20 Mei 1908 melalui mahasiswa dari lembaga pendidikan STOVIA, berdirilah Boedi Oetomo. Juga pada tahun 1922 berdirilah Indische Ver-


gau n g s u m ba n g eeninging yang akan berganti nama menjadi Perhimpunan Indonesia. Melalu kedua wadah inilah para mahasiswa mulai membentuk sikap kritis, semangat nasionalisme dan semangat persatuan. Dalam perkembangan berikutnya, para mahasiswa mulai membentuk kelompok-kelompok studi seperti Kelompok Studi Indonesia (Indonesische Studie-club), Kelompok Studi Umum (Algemeene Studie-club) dan Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia  (PPPI). Para mahasiswa juga membentuk sebuah kongres pemuda yang akan menjadi cikal bakal lahirnya Sumpah Pemuda. Mulai dari situlah berkembang pemikiran kritis untuk melawan tirani kolonialisme-imperialisme. Titik klimaks pergerakan mahasiswa dan kaum muda pada era pra-kemerdekaan adalah pada peristiwa Rengasdengklok. Saat mendengar kekalahan Jepang terhadap sekutu, mahasiswa dan kaum muda dengan terpaksa menculik dan mendesak Soekarno untuk segera memproklamirkan kemerdekaan. Gerakan mahasiswa dan kaum muda inilah yang memiliki andil sangat besar dalam sejarah kemerdekaan bangsa. Masa Pemerintahan Orde Lama Pada masa pemerintahan orde lama, gerakan mahasiswa cenderung “menginduk” terhadap partai-partai politik yang ada. Para mahasiswa dan kaum muda kala itu percaya bahwa tatanan sosial politik akan lebih mudah dikendalikan melalu partai politik. Hampir seluruh partai politik diafiliasi oleh para mahasiswa dan kaum muda. Namun langkah tersebut menjadi kurang optimal saat demokrasi terpimpin diterapkan oleh Soekarno. Menyiasati hal itu, para mahasiswa dan kaum muda melakukan pengkritisan

terhadap setiap kebijakan Soekarno dan kabinetnya. Namun justru pengkritisan terhadap kebijakan Soekarno itulah yang membuat para mahasiswa terpecah menjadi dua pihak, pro-Soekarno dan anti-Soekarno. Situasi ini berakhir dengan para mahasiswa dan kaum muda anti-Soekarno yang bekerja sama dengan kalangan militer menumbangkan pemerintahan Soekarno. Pemerintahan Represif atau Mahasiswa Anarkis? Berbeda dengan orde lama, gerakan mahasiswa pada orde baru lebih cenderung berkonfrontasi dengan kekuatan militer. Isu kenaikan BBM hingga pemborosan anggaran menjadi sebab terjadinya demonstrasi oleh para mahasiswa. Bentrok antara mahasiswa dan pemerintah seperti yang terjadi pada peristiwa Malari 1974 tidak dapat dihindari. Kedua belah pihak saling menyalahkan satu sama lain. Mahasiswa menyalahkan pemerintah yang represif sedangkan pemerintah menyalahkan mahasiswa yang anarkis. Kulminasi konflik antara pemerintah dan mahasiswa pada orde baru terjadi pada tahun 1998 yang sering disebut gerakan 1998. Kala itu ribuan mahasiswa melakukan sebuah revolusi berdarah yang ditopangi kondisi ekonomi bangsa yang sangat kritis. Melalui gerakan ‘98 ini, mahasiswa berhasil meruntuhkan pemerintahan Soeharto. Pergerakan Stagnan Pada era reformasi, mahasiswa lebih cenderung terikat dengan gaya kehidupan konsumtif dan pola pemikiran hedonisme. Hal ini membuat mereka kurang peka terhadap permasalahan sosial yang terjadi masyarakat. Mahasiswa era reformasi lebih suka bergelut dengan gawai mereka masing-masing dan melihat semuanya dari layar TV. Mereka lebih mementingkan kegiatan-kegia2018 JAN-JUN | natas | 47


gau n g s u m ba n g

Ilustrasi: Julia Noor

tan akademik kampus dan mengesampingkan tugasnya sebagai agen kontrol sosial. Sehingga dapat dikatakan gerakan mahasiswa era reformasi telah menjadi tumpul. Pada umumnya ada dua faktor utama yang menyebabkan taji gerakan mahasiswa pada era reformasi menjadi tumpul. Pertama yaitu fokus dari mahasiswa itu sendiri, seperti yang diungkapkan oleh 48 | natas | JAN-JUN 2018

Eko Prasetyo dalam bukunya yang berjudul “Bangkitlah Gerakan Mahasiswa�. Melalui bukunya, Eko Prasetyo menjelaskan bahwa mahasiswa pada era reformasi menjadi tidak peka terhadap permasalahan sosial karena disibukkan oleh kegiatan-kegiatan akademik dan pencarian IPK. Hal ini menyebabkan pola pemikiran mahasiswa era reformasi terfokus pada dua hal tersebut dan mengesampingkan tugasnya sebagai agen kontrol sosial.


gau n g s u m ba n g Fokus mahasiswa era reformasi ini telah lahir semenjak mereka di bangku kanak-kanak. Orang tua selalu mendoktrin mereka dengan mengatakan bahwa sebuah coretan berbentuk angka yang biasa disebut nilai adalah harga mati dari mengenyam ilmu. Doktrin itu pun dibawa mereka hingga dewasa. Hal ini menyebabkab fokus terhadap IPK dan kegiatan akademik dinilai lebih penting dibandingkan tugas mahasiswa sejati sebagai agen kontrol sosial. Faktor yang kedua adalah teknologi itu sendiri. Jika kita lihat pada era-era sebelumnya, kondisi negatif lingkungan sosial pada era sebelumnya sangat terasa. Kolonialisme dan keotoriteran pemerintah memiliki dampat negatif yang dapat dirasakan secara langsung sehingga mau tak mau mahasiswa pada era sebelumnya harus bergerak memeranginya. Beda halnya dengan era reformasi, permasalahannya terletak pada sesuatu yang dampak negatifnya tidak dapat dirasakan secara langsung yaitu teknologi. Teknologi memang memberi segudang akses instant terhadap berbagai aspek dalam kehidupan. Namun teknologi memiliki sifat “membutakan� secara tidak langsung. Kenikmatan dan kemudahan akses yang ditawarkan teknologi lama-kelamaan akan memberi efek negatif. Sikap apatis, hedonisme dan individualisme akan lahir dari keramahan yang diberikan teknologi. Sikapsikap itulah yang menjadikan mahasiswa era reformasi lebih mementingkan diri sendiri daripada pengabdiannya untuk masyarakat. Dua hal tersebut membuat pergerakan mahasiswa era reformasi dapat dikatakan menjadi stagnan. Keramahan yang diberikan teknologi dan fokus individu mahasiswa era reformasi telah membuat penciuman mereka mengenai permasalahan sosial menjadi tidak tajam lagi. Hal ini membuat korupsi yang se-

harusnya mereka lawan menjadi terabaikan. Eksistensi pergerakan mahasiswa era reformasi pun dipertanyakan. Yang perlu digaris bawahi adalah bahwa mahasiswalah yang seharusnya mengendalikan teknologi bukan sebaliknya. Kegiatan-kegiatan kampus juga dibuat untuk membantu mahasiswa menjadi mahasiswa sejati. Sudah selayaknya mahasiswa era reformasi untuk bangkit dan memulai mengasah taringnya. Sudah waktunya mahasiswa era reformasi menjawab pertanyaan retorik mengenai eksistensi pergerakannya.

Referensi: Bahri, Efri S. Hari-Hari Mahasiswa: Kiprah dan Agenda Pergerakan Mahasiswa, Kediri: Fam Publishing. 2013 Suhawi, Achmad. Gymnastik politik nasionalis radikal: Fluktuasi Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia, Jakarta: Rajawali Press. 2009 Prasetyo, Eko. Bangkitkanlah Gerakan Mahasiswa, Jawa Timur: Intrans Publishing. 2014 Ricklefs, H.C. Hardjowidjono, Dharmono. Sejarah Indonesia Modern, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 1991 Adam, Asvi Warman Nursam. Soeharto: Sisi Gelap Sejarah Indonesia: Yogyakarta: Ombak. 2004

Yosaphat Made Dharma

2018 JAN-JUN | natas | 49


p ers k i ta Pers Mahasiswa yang Mengalami Pengepresan Kata “pengepresan� memiliki arti sebuah proses, cara atau perbuatan mengepres. Lebih jauh lagi mengepres berarti menekan. Pers mahasiswa yang mengalami pengepresan menurut saya berarti pers yang sedang tertekan karena ditekan. Tekanan yang dialami pun berasal dari dalam dan luar. Dulu bentuk pengepresan yang dialami berupa pembredelan yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Pada permulaan tahun 1974, pers mahasiswa tergugah untuk kembali mengkritisi setelah sebelumnya pada tahun 1971 dalam kongres Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI) menyatakan agar pers mahasiswa tidak terlibat dalam pasar penerbitan umum. Tahun 1974 pers mahasiswa menyampaikan kekecewaan mereka terhadap korupsi dan janji palsu pemerintah. Fenomena tersebut tentu membuat pemerintah gelisah dan setelahnya segera membredel beberapa pers yang besar dan berpengaruh pada saat itu seperti Kampus, Salemba, Gelora Mahasiswa, Derap Mahasiswa, Almamater, Airlangga, Kampus dan Media. Alasan pembredelan karena melanggar STT dengan mengedarkan koran kampus ke masyarakat umum di luar kampus. Hingga akhirnya pada tahun 1978,

50 | natas | JAN-JUN 2018

menteri pendidikan mengeluarkan kebijakan Normalisasi Kebijakan Kampus (NKK) dan kemudian disusul dengan Badan Koordinasi Kemahasiswaan (BKK) yang tujuannya untuk menekan pers mahasiswa dengan dampak yang tak kalah serius. Pers mahasiswa yang tetap kritis dapat mengalami berbagai bentuk hukuman seperti ditangkap, ditahan, dipenjara bahkan dibredel jika menerbitkan buletin atau majalah. Ketika reformasi 1998, suara kritis mulai kembali terdengar dan membuat pers mahasiswa kembali tumbuh subur. Meski demikian tentu semuanya tidak berjalan mulus. Be-


p ers k i ta berapa kasus yang terjadi di pers mahasiswa seperti Ekspresi, Lentera, Poros dan Pendapa, adalah sekian banyak contoh bahwa pengepresan terhadap pers mahasiswa terus berlanjut. Pengepresan tersebut terjadi karena pada umumnya pers mahasiswa menulis berita terkait peristiwa 1965 dan kritik terhadap pembangunan yang dilakukan pihak universitas. Dampak yang dirasakan adalah penarikan buletin atau majalah bahkan sampai pada tahap menonaktifkan pers mahasiswa. B e n tuk-bentuk pengepresan di atas menurut saya pribadi sangat “wah”. “Wah” dalam arti menunjukkan betapa beraninya pers mahasiswa di Ilustrasi: Julia Noor masa itu. Mengingatkan kembali pada peristiwa 1998 ketika mahasiswa, sekali lagi dengan berani, menaklukkan pemerintah. Sehingga tidak berlebihan ketika ada ungkapan bahwa presiden justru takut terhadap mahasiswa, meskipun pada kenyataannya posisi mahasiswa berada di bawah dosen, dekan dan rektor. Penge-

presan yang dialami pers mahasiswa kini, berdasar yang saya pahami dan alami, jika dibandingkan dengan masa orde baru justru menunjukkan kemunduran dalam pers mahasiswa. Pers mahasiswa mulai khawatir ketika mereka tidak mendapat dana dari pihak universitas, yang mana merupakan lembaga yang menaungi mereka. Sehingga jika ingin tetap mendapatkan dana, maka yang dilakukan adalah tidak meluncurkan berita-berita yang bentuknya terkait peristiwa 1965 dan kritik terhadap pembangunan yang dilakukan pihak universitas, yang sebelumnya sudah lebih dahulu dilakukan oleh pers mahasiswa seperti Ekspresi, Lentera, Poros dan Pendapa. Sehingga yang terjadi adalah pers mahasiswa kini membatasi diri mereka dengan tidak menyentuh bahkan memasuki “ruang” tersebut. Dampaknya tentu pers mahasiswa mengalami keterbatasan. Bahkan fungsi jurnalistik dalam hal mengkritisi menjadi terbatas karena terdapat “ruang” yang secara lisan tidak boleh disentuh. Selanjutnya pengepresan yang dialami adalah ketika ruang diskusi yang harusnya berisi gagasan-gagasan baru justru mati. Mati bukan karena tidak terciptanya gagasan yang baru melainkan karena sebelum ruang diskusi itu tercipta justru ia sudah mati terlebih dahulu. Mati karena dianggap tidak perlu lagi ada ruang diskusi. Para redaktur hanya menunggu perintah pimpinan untuk melakukan tugas selanjutnya. Tanpa mempertanyakan apakah hal tersebut memang penting untuk dibahas, apakah hal 2018 JAN-JUN | natas | 51


p ers k i ta tersebut memang penting untuk diketahui oleh pembaca, dan apakah hal tersebut sudah mewakili suara pers mahasiswa itu sendiri. Pengepresan lain adalah ketika angkatan tua secara tidak langsung menekan pers mahasiswa dengan cara “mengatur” rubrik berita yang akan diterbitkan. Alasannya berita tersebut merupakan berita yang sedang panas dan sesuai dengan tema yang diangkat. Tapi dibaliknya ternyata alasan berita tersebut diterbitkan karena penulis merupakan salah satu orang yang penting dalam lingkungan fakultas tempat pers mahasiswa tersebut bernaung. Jadi bukan pada apa yang ditulis melainkan pada siapa yang menulis. Pers maha(siswa) sekarang merujuk pada “maha” dan “siswa” itu sendiri. Maha karena terlihat mampu dan dapat mengkritisi suatu persoalan yang ada namun di sisi lain ia, pers mahasiswa, tetaplah seorang siswa yang terbatas karena dibatasi. Lebih menunjukkan siswa dibanding maha karena “disuap” dari berbagai pihak. Tidak maha karena proses berpikir dianggap bukan suatu kemewahan. Mewah kekinian asaslah mewah yang “disuap”. “Suap” yang dimaksud seperti proses menyuapkan makanan yang dilakukan ibu pada anak. Oleh karenanya maha dan siswa dipisahkan, dan memang harus dipisahkan karena ia mengalami ketimpangan. Sisi satu lebih dominan dibandingkan sisi lain. Lalu siapa yang patut disalahkan akan hal ini? Apakah pihak yang terus-menerus melakukan pengepresan? 52 | natas | JAN-JUN 2018

Atau justru pihak yang tidak mau bangkit ketika mengalami pengepresan? Entah. Toh keduanya sama-sama saling menikmati pertunjukan “menyuap” yang dilakukan. Keduanya, mungkin, sama-sama menangkap bahwa “menyuap” adalah bentuk kasih sayang dan perhatian, “Aku menyayangi engkau, oleh karenanya terimalah suapan kasih ini”, ujar penyuap. Penerima kasih menjawab,” Terima kasih kami sebut atas perhatian yang diberi”. Pemaknaan pengepresan berubah arti menjadi bentuk perhatian. Lucu. Sama seperti watak orang Indonesia yang selalu melihat sisi keuntungan dari setiap peristiwa yang dialami. Untung karena hanya dilarang menulis rubrik kiri. Untung karena hanya diminta memasukkan satu rubrik berita milik orang penting. Untung karena masih diberi dana meski tidak sesuai kesepakatan awal. Semuanya untung kalau tidak menyangkut perihal menonaktifkan pers mahasiswa yang dinaungi. Sehingga pengepresan yang dialami, baik dari dalam dan luar pers mahasiswa tersebut, akan dianggap sebagai sesuatu yang sewajarnya terjadi dan tak perlu tuk dipersoalkan.

Claudia Debby C. P


opini Wabah Intolerasi dan Masa Depan Dunia Pendidikan Bangsa

P

eringkat pendidikan Indonesia, menurut data yang dilansir dari Deutsche Welle pada tahun 2017 berada di posisi 108 di dunia, berada di bawah Palestina, Samoa, dan Mongolia. Indonesia berada di peringkat kelima di negara-negara ASEAN di bawah Thailand dan Malaysia. Jika data ini benar dan anda mengamini tentu ada yang bermasalah di internal pendidikan kita. Terlepas dari anda setuju atau tidak, ada beberapa hal yang mereka nilai. Kualitas guru, fasilitas penunjang, mungkin termasuk kualitas murid bahkan interaksi sosial di dalamnya. Toleransi berasal dari kata dalam bahasa Inggris, ‘Tolerance’ yang berarti membiarkan, dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah ‘Tasamuh’ atau sikap lapang dada. Istilah toleransi yang ada dalam bahasa Yunani ‘Tolerantia’ –berasal dari kata kerja ‘tolerare’ berarti menanggung atau membiarkan– digunakan pertama kali pada tahun 46 SM oleh Marcus Tullius Cicero yang berarti kemampuan manusia untuk menanggung keadaan, perihal, dan halangan yang biasa dialaminya. Berangkat dari term di atas, intoleransi dapat diartikan sebagai upaya mencegah atau tidak membiarkan. Istilah

intoleransi

seringkali

disandingkan dengan kata diskriminasi. Menurut Theodarson dan Theodarson, diskriminasi berarti perlakuan yang tidak seimbang terhadap perorangan atau kelompok berdasarkan sesuatu, biasanya bersifat kategorikal atau atribut-atribut khas, seperti berdasarkan ras, kesukubangsaan, agama, atau pun keanggotan kelas-kelas sosial. Biasanya kelas sosial rendah akan mendapat peluang diskriminasi lebih besar. Kedua istilah tersebut bak dua mata keping logam yang pada dasarnya tidak bisa dipisahkan, namun tak pula dapat dianggap bermakna yang sama. Artinya, baik intoleransi maupun diskriminasi merupakan perbuatan tidak terpuji yang terdapat di dalam interaksi sosial masyarakat. Tak pelak, lazim dipraktikkan oleh mereka yang merasa elit mayoritas, bisa juga oleh mereka yang mempunyai kuasa lebih. Hal ini dialami oleh Langgeng Prasetyo. Karena berbeda agama, anak Langgeng Prasetyo yang masih menginjak jenjang pendidikan Taman Kanak-Kanak diejek oleh temannya di lingkungan tempat tinggal mereka sendiri. Hal itu membuat Prasetyo merasa heran, mengingat bagaimana seorang anak yang masih kecil sudah memiliki pandangan yang diskriminatif. Benar saja, informasi tentang

2018 JAN-JUN | natas | 53


opini tindakan bullying terhadap anak sekolah yang berbeda agama marak ditemukan, terutama di media sosial.

Nasional yang digelar Komisi Nasional Hak Asasi Manusia di Jakarta, bertepatan dengan Pilkada DKI Jakarta. Ketua Yayasan Cahaya Guru Henny Supolo Henny, memaparkan ada sekolah yang enggan dipimpin oleh ketua OSIS yang berbeda keyakinan.

Motivasi itu yang menggugah keinginan Langgeng Prasetyo mengungkapkan kekhawatirannya sebagai orang tua ketika hendak menyekolahkan Masih di medio yang sama, wakil anak-anak mereka di ketua Komisi D, Dewan Sekolah Dasar umum Perwakilan Rakyat Daerah atau negeri. Pengaduan Kota Yogyakarta, Antonius pun dilayangkannya Fokki Ardiyanto mendapat secara langsung di depan laporan intoleransi siswa Menteri Agama, Lukman di sejumlah Sekolah Hakim Syaifuddin dalam Menengah Pertama dan acara “Sapa Menteri Sekolah Menengah Atas. Agama Republik Fokki memaparkan, Indonesia Bersama sejumlah sekolah memaksa Penyuluh Agama Daerah siswanya memakai Istimewa Yogyakarta”, seragam berdasarkan yang diselenggarakan keyakinan agama tertentu. Ilustrasi: Ragil Anantya pada Rabu, 28 Maret Jika tidak, siswa yang bertempat di Gedung Convention Hall UIN “membangkang” dicap kafir. Sunan Kalijaga. Juga Dilakukan Oleh Negara UIN Sunan Kalijaga sendiri pernah mencoba melakukan tindak diskriminasi terhadap mahasiswi bercadar di lingkungan kampus mereka. Sontak “promosi gratis” ini menghebohkan khalayak seantero tanah air. UIN-SUKA menjadi viral. Pak Rektor mencabut aturan itu karena visi memviralkan UIN yang liberal –kata Khalid Basmalah– dan Inklusif –kata pak Rektor sudah terlaksana dengan baik. Medio 2017, tepatnya pada sebuah diskusi peringatan Hari Pendidikan 54 | natas | JAN-JUN 2018

Jika kita membuka kembali lembaran sejarah, pada tahun 1978, tepatnya pada 19 April, pemerintah melalui Menteri Pendidikan Daoed Joesoef menerapkan kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus serta Badan Koordinasi Kemahasiswaan atau yang lebih dikenal dengan NKK/BKK. Kala itu kebijakan ekonomi pembangunan Soeharto menuai protes dari berbagai kalangan mahasiswa. Puncaknya adalah saat terjadi peristiwa Malapetaka Lima Belas Januari (Malari) pada 15 Januari 1974.


opini Kasus yang masih hangat terjadi adalah apa yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Kulon Progo melalui Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga. Pada Ujian Tengah Semester Genap Tahun Ajaran 2017/2018, tepatnya pada Jumat 02 Maret 2018, para siswa kelas VI dikagetkan dengan soal nomor 17 yang berbunyi “Pemanfaatan Sumber Daya Alam berupa tanah di sebagian kawasan kecamatan Temon kabupaten Kulon Progo dalam peningkatan aktivitas ekonomi adalah ...”. Hampir semua pilihan jawaban mengarah pada aktifitas industrialisasi dan pembangunan bandara yang baru.

akan mempengaruhi pola pikir –berdasarkan pengalaman– si anak itu sendiri.

Perlu Pembenahan Dari Akar Rumput

Saya ingin menutup tulisan ini dengan tiga hal. Pertama, sekolah dalam artian guru dan aparaturnya melakukan tindakan diskriminasi maupun intoleransi terhadap siswanya, tentu berdasarkan pengalaman yang mereka dapat ketika bersekolah. Kedua, pemerintah melakukan tindakan diskriminasi maupun intoleransi terhadap lembaga pendidikan berdasarkan pengalaman yang mereka dapat ketika bersekolah. Ketiga, siswa melakukan tindakan diskriminasi maupun intoleransi terhadap siswa lain berdasarkan pengalaman yang meraka dapat sekolah, bahkan dari gurunya sendiri. Tapi bukan berarti, apa yang disarankan oleh Chu-diel Sekolah Dibubarkan Saja! sebagaimana judul buku yang ditulisnya dapat dibenarkan. Loen Maheng LPM Humanius/UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta SEKJEN PPMI Dewan Kota Yogyakarta

Taman Kanak-Kanak adalah gerbang yang menjadi titik nadi sebagai asupan –selain orang tua tentunya– pertama perkembangan intelektual seorang manusia. Dari sinilah peluang kognitif, afektif, dan psikomotorik memulai petualangan sesungguhnya. Pun taman kanak-kanak merupakan jembatan pendidikan eksternal yang sebelumnya sudah dimulai dan inheren didapat di dalam sebuah keluarga. Saya sendiri mengikuti pendapat yang dipaparkan oleh R. Gagne (1989) yang terkenal dengan teori The Domains of Learning. Belajar adalah suatu proses di mana suatu organisme berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman. “Islam yes!!! Kafir no!!” adalah pengalaman pertama yang sering kita temui di taman kanak-kanak kita. Materi ini diberikan untuk anak yang masih dalam masa pertumbuhan, yang nantinya

Gagne berpendapat lebih lanjut, belajar adalah proses memperoleh motivasi dalam pengetahuan, keterampilan, kebiasaan dan tingkah laku. Anak yang sudah terbiasa mendiskreditkan atau dipaksa mendiskreditkan agama tertentu sejak taman kanak-kanak akan mempengaruhi kebiasaan tingkah lakunya di kemudian hari. Berdasarkan pendapat Gagne, wajar jika anak Langgeng Prasetyo mendapat perlakuan tidak menyenangkan oleh temantemannya sendiri.

2018 JAN-JUN | natas | 55


opini Sepotong Kisah Tempe dan Kedelai

T

ak lebih dari sepuluh bakul angkringan “mengepung” kampus Universitas Sanata Dharma di Mrican. Dengan segenap hidangan dan tampilan yang sederhana, mereka sanggup bersaing melawan warung burjo yang juga menjamur. Berani sumpah, angkringan dan burjo laksana “juru penyelamat” kala mahasiswa-mahasiswi berkantong cekak. Hingga terbit guyonan, mahasiswa tanpa kedua penjaja itu bagaikan sega oseng-oseng tempe tanpa dikareti: ambyar. Kendati berpenampilan berbeda, nuansa yang ditawarkan juga berlainan. Namun sejatinya, ada satu unsur pengikat dimiliki angkringan dan burjo yang digandrungi barisan mahasiswa, yakni tempe mendoan. Selain mengawani acara ngeteh atau ngopi, tempe mendoan yang tak alot seperti gorengan bakwan itu berkarib dengan nasi kucing atau sepiring nasi berlauk sarden plus tempe kering. Tidak terlalu buruk pula sekadar digado sembari menunggu mie rebus yang diolah aak burjo itu matang. Sekalipun lidah kadung akrab dengan tempe, barangkali kita belum terang perihal sisi historis tempe. Menurut sejarawan yang jago memasak, Onghokham, tempe dikembangkan di Jawa setelah 1830 56 | natas | JAN-JUN 2018

sebagai protein nabati menggantikan protein hewani yang lebih sulit didapat. Tetapi, keakraban lidah rakyat dengan tempe sudah dimulai semenjak Kerajaan Mataram Islam (Sultan Agung) berdiri. Dalam Serat Centhini yang ditulis pada tahun 1824, di bab tiga dan duabelas, telah ditemukan kata “tempe”. Bahkan, tempe dari Indonesia sempat diperkenalkan di Eropa. Tahun 1895, ahli mikrobiologi dan ahli kimia Belanda, Prinsen Geerlings mengadakan riset perdana untuk mengidentifikasi jamur tempe. Pabrik tempe pertama di Eropa didirikan di Belanda oleh para pendatang dari Indonesia. Artikel berbahasa Inggris yang menyebut tentang tempe muncul tahun 1931 dalam buku “Vegetables of the Dutch East Indies”, yang ditulis oleh J.J. Ochse. Artikel yang populer tentang tempe terdiri 7 halaman diterbikan di Perancis tahun 1982 dalam Le Compas. Ada laporan yang lebih lawas lagi, yaitu Encyclopaedia van Nederlandsch Indie (1922). Di buku itu dikatakan, tempe adalah makanan berupa kue yang terbuat dari kacang kedelai melalui peragian dan merupakan makanan kerakyatan. Lalu, bagaimana dengan sejarah kedelai di Indonesia sendiri? Dalam laporan Bokhuis dan Von Libbenstein (1932),


opini Indonesia mengimpor kedelai pertama kali dilakukan pada 1928. Komoditas itu didatangkan dari Negara Tirai Bambu dan jumlahnya sekitar 63.000 ton per tahun. Akan tetapi, saat resesi ekonomi dunia 1934 dan menyebabkan melonjaknya harga kedelai global, berimbas p a d a

Hindia Belanda. Selain didukung populasi dan lahan terbentang luas, Belanda juga melakukan pembagian benih gratis. Meskipun produktivitas hanya 6 kuintal per hektare, kebutuhan kedelai bisa dipenuhi hingga 1950-an. Defisit pasokan kedelai k e m b a l i terulang p a d a a w a l 1960an. Era

s t abi l it a s harga di Nusantara. Terutama produk tempe dan tahu yang kala itu digemari di Jawa.

Soekarno p u n Ilustrasi: Tyasti Anugrahani mencanangkan program Semesta Berencana guna meningkatkan produksi kedelai pada 1964.

Tangan besi kolonialisme Belanda mengambil kebijakan melarang impor kedelai. Sebagai penggantinya, dibuat program peningkatan produksi kedelai di

Pusat-pusat tanaman kedelai di pulau Jawa antara lain, Banyuwangi, Blitar, Jember, Jombang, Brebes, Kediri, Bojonegoro. Di samping itu pulau Bali, Madura dan

2018 JAN-JUN | natas | 57


opini pulau di Nusa Tenggara dan Sumatera Utara serta Sulawesi banyak pula andilnya sebagai produsen kedelai di Indonesia. Seluruhnya meliputi area tidak kurang dari 600.000 Ha dengan produksi lebih dari 400.000 ton. Produksi pertanaman kedelai di Indonesia rata-rata hanya menghasilkan kurang lebih 50 persen daripada produksi rata-rata di dunia. Ekspor kedelai yang besar terjadi dalam tahun 1953, meliputi lebih dari 6000 ton. Dari pelabuhan-pelabuhan Tanjung Priok, Ulele, Langsa, Lhoksumawe, Tapanuli, dan lainnya. Kedelai ini diekspor terutama ke Penang, Singapura, dan Hongkong serta Jepang. Akhirnya, Indonesia menjadi teladan swasembada kedelai di Asia Tenggara. Menurut ahli pertanian Sapuan Gafar, keberhasilan peningkatan produksi kedelai tercatat dari periode sebelum intensifikasi (1969-1973) yang produksinya mencapai 0,5 juta ton per tahun menjadi rata-rata 1,5 juta ton pada periode tahun 1989-1998. Keberhasilan tersebut tidak lepas dari kehebatan strategi usaha pengadaan dan tata niaga perkedelaian secara komprehnsif. Pertama, faktor politik, berupa komitmen nasional menuju swasembada kedelai yang didukung seluruh jajaran pemerintahan baik pusat maupun daerah. Komitmen bersama ini selain didukung oleh program penunjang dan anggaran yang cukup, tetapi tidak dikesampingkan juga dorongan dari eksekutif, legislatif hingga masyarakat. Kedua, faktor teknis berupa 58 | natas | JAN-JUN 2018

paket-paket teknologi yang cocok, disertai manajemen di tingkat daerah dan koordinasi lapangan yang andal dengan ujung tombak para penyuluh pertanian. Faktor teknis meliputi pengolahan lahan, pemupukan, pemberantasan hama, cara-cara mengatasi kemasaman tanah, dan penggunaan zat perangsang tumbuh. Ketiga, faktor ekonomi berupa jaminan pasar. Pembentukan harga pasar ditentukan HD kedelai dan Bulog. Pengadaan kedelai yang bisa dilakukan oleh Pemerintah cq Bulog hanya pada tahun 1980, 1981, dan 1982 saja dalam jumlah antara 1.759-5.476 ton. Dengan demikian kesuksesan peningkatan produksi kedelai dari pertengahan tahun 1980-an sampai tahun 1990-an, ialah kombinasi dari berbagai faktor tadi. Demikianlah, penggal riwayat tempe beserta bahan bakunya. Saking akrabnya orang Indonesia dengan tempe, sampai lahir lelucon: “jika tidak mampu beli daging, toh masih ada tahu dan tempe�. Bersama bakul angkringan dan aak burjo, mahasiswa-i menjadi salah satu pilar pelestari tempe. Ayo, mencintai produk lokal tempe dan merawatnya menjadi identitas kolektif. Heri Priyatmoko Dosen Prodi Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma Menulis buku “Sejarah Wisata Kuliner Solo�


Ilustrasi: Ragil Anantya

2018 JAN-JUN | natas | 59


t o ko h Tempat dan tanggal lahir: Sumpurkudus, Sijunjung, Sumatera Barat, 31 Mei 1935 Pendidikan: Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta (1956), Universitas Cokroaminoto Surakarta (1964), IKIP Yogyakarta (1964), Ohio State University, Chicago University (1993) Karier: Wakil Ketua PP Muhammadiyah (1995-1998) Ketua PP Muhammadiyah (1998-2000) Ketua PP Muhammadiyah (2000- 2005) Pemimpin Redaksi majalah Suara Muhammadiyah Yogyakarta (1988-1990) MAARIF Institute for Culture and Humanity (2002) Presiden World Conference on Religion for Peace (WCRP) Karya Tulis: Mengapa Vietnam Jatuh Seluruhnya ke Tangan Komunis, Yayasan FKIS-IKIP, Yogyakarta, 1975 | Dinamika Islam, Shalahuddin Press, 1984 | Islam, Mengapa Tidak?, Shalahuddin Press, 1984 | Percik-percik Pemikiran Iqbal, Shalahuddin Press, 1984 | Islam dan Masalah Kenegaraan, LP3ES, 1985 Prof. Dr. H. Ahmad Syafii Maarif merupakan seorang ulama, ilmuwan, dan pengajar. Beliau sering disapa dengan Buya Ma’arif dan sering disebut-sebut sebagai guru bangsa karena sosoknya yang mempunyai komitmen kebangsaan yang menghargai pluralisme. Selain sebagai tokoh Islam, ia juga dikenal sebagai sosok yang kritis. Ia sering menyikapi isu korupsi, radikalisme hingga mengkritik kebijakan pemerintah atau penegakan hukum yang dinilainya tidak sejalan. Di usianya yang sudah 83 tahun, ia tidak pernah berhenti mengungkapkan pemikirannya. Buah pemikirannya telah diabadikan dalam sebuah buku biografi berjudul: Muazin Bangsa dari Makkah Darat: Biografi Intelektual Ahmad Syafii Maarif yang ditulis oleh sejumlah penulis yang mendeksripsikan pemikiran Buya Syafii. Dalam pembicaraannya dengan awak natas pada Selasa (17/4), beliau mengungkapkan pandangan dan pemikirannya terhadap kasus-kasus intoleransi yang terjadi di Yogyakarta. Berikut percakapannya: Bagaimana tanggapan Anda terhadap maraknya tindak intoleransi yang terjadi di Yogyakarta? Sikap intoleransi yang sering terjadi itu merupakan salah satu contoh hasil penafsiran ajaran agama yang keliru oleh pemeluknya. Tidak ada agama yang mengajarkan permusuhan dan intoleransi.

60 | natas | JAN-JUN 2018

Menurut Anda apa penyebab utama orang menjadi intoleran? Penyebabnya sebenarnya kompleks, bisa karena rasa tidak percaya diri, paranoid, dan perasaan terancam. Merasa terancam dalam ekonomi tidak berdaya, dalam politik juga begitu. Ini merupakan mentalitas mayoritas dan minoritas. Penyebab utama kasus ini merupakan ketidaktahuan dan kebodohan pelaku yang membawa nama


t o ko h agama. Tetapi kasus-kasus intoleran tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi juga di Eropa. Jadi tidak hanya Islam saja yang melakukan tindakan-tindakan intoleran. Penyerang dapat menyulut bagaimana menangkalnya?

konflik,

Aparat tentu saja harus bergerak cepat. Selain itu masyarakat juga harus mempunyai kesadaran. Tokoh lintas iman harus sering bertemu dan berdiskusi. Masyarakat juga sudah seharusnya bisa bercermin dari sila kelima yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Selain itu, pelaku harus didatangi untuk dimintai kejelasan mengapa melakukan tindakan ini, apakah mereka pemain tunggal atau mempunyai jaringan. Urusan pidana atau hukuman merupakan urusan polisi, tetapi menyadarkan pelaku juga penting. Menyadarkan pelaku dengan konsep bahwa kemanusiaan itu satu, humanity is one. Bagaimana tanggapan Anda terhadap upaya pemerintah dalam mengatasi kasuskasus intoleransi? Upaya perintah sudah bagus tapi harus lebih diefektifkan lagi. Tindakan intoleran itu sebenarnya dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Orang-orang ini perlu ditangkap oleh aparat. Cari siapa pelakunya karena jika aparat tidak segera melakukan tindakan, penafsiran masyarakat bisa menjadi liar. Saya berharap polisi bisa lebih sigap mencari pelaku yang meresahkan masyarakat. Polisi juga harus lebih jeli membaca fenomena yang terjadi ini. Namun ini merupakan masalah kita bersama sehingga kita harus saling bahu membahu. Selain itu para tokoh agama juga sudah sering melakukan pertemuan lintas agama. Pemerintah juga memiliki Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), peran dari lembaga ini harus lebih dimaksimalkan. FKUB merupakan forum yang difasilitasi oleh pemerintah namun dibentuk oleh

masyarakat. Forum ini berperan dalam memelihara dan membangun kerukunan dan kesejahteraan umat beragama. Ini merupakan sebuah bukti bahwa sudah banyak hal yang kita lakukan untuk mengatasi kasus-kasus inteloransi ini tetapi kecolongan itu pasti tetap ada. Apakah upaya konkrit yang bisa diambil kaum muda dalam membangun Jogja yang toleran? Pertama kalian harus mengucapkan selamat tinggal kepada mentalitas yang tidak toleran. Kedua kaum muda harus tahu pentingnya membina kebersamaan lintas agama, lintas kultural, dan lintas suku. Jogja itu Indonesia mini sehingga anak-anak muda harus mempunyai radius pergaulan yang luas. Selalu ingat bahwa negara ini milik bersama. Waktu kita melawan Belanda masyarakat Indonesia bisa saling bahu membahu. Kita tidak peduli dengan latar belakang agama yang penting kita orang Indonesia. Kita juga punya sesanti bhineka tunggal ika yang meupakan warisan dari maja pahit. Bhineka tunggal ika sendiri merupakan semboyan kita, berbeda-beda tetapi tetap satu. Kita ini sudah mempunyai nilai sejarah yang luar biasa. Sikap fanatik ada pada setiap agama, budaya, politik, dan pemahaman lainnya. Namun mengapa hanya agama mayoritas yang menjadi sorotan? Fanatik itu ada dalam semua agama. Pengaruh budaya Arab sangat terasa disini sehingga kita menjadi sulit untuk membedakan mana yang Islam dan mana yang Arabisme. Tidak semua pemeluk agama mayoritas itu menjadi fanatik yang negatif, tetapi mereka vokal dan mereka kadangkadang memimpin wacana dan segala macam. Tetapi kita jangan diam. Kita yang waras jangan hanya diam. Kita harus bicara. Christin Ayu Rizky

2018 JAN-JUN | natas | 61


catata n sa n g j u r n a li s NYIA dan Relokasi rumah warga Kulon Progo

K

Tampak pemandangan relokasi rumah di desa Kebonrejo, Kulon Progo. Foto: Yosaphat Made

ULON PROGO, DIY-Pro dan Kontra pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA). Latar belakang pembangunan NYIA disebabkan oleh Bandara Adisutjipto yang sudah melebihi kapasitas yang seharusnya. Dari data Angkasa Pura (AP) 1, jumlah rata-rata pertahun di Adisujipto saat ini sudah mencapai 7,8 juta orang. Padahal, bangunan dan fasilitas yang ada idealnya hanya melayani 1,7 juta penumpang pertahun. Berdasarkan survei yang dilakukan General Manager Bandara Internasional Adisujipto, Agus Pandu Purnama, dilansir dari KOMPAS.com. Namun, di sisi lain Angkasa Pura 1 dikejar target waktu untuk menyelesaikan bandara sampai bulan Maret 2019. Sementara itu, pembangunan NYIA sebenarnya sudah diwacanakan sejak era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di tahun 2011 namun mangkrak, sehingga Jokowi melanjutkannya di Januari 2017. Jokowi pun telah menekankan Peraturan Pemerintah 98/2017 62 | natas | JAN-JUN 2018

tentang percepatan pembangunan dan pengoperasian bandara di Kulon Progo. Selama tahun 2017, Jokowi sering mengunjungi Kulon Progo untuk mengecek pembangunan bandara baru tersebut. Dalam kunjungannya, beliau pernah menceritakan prediksi orang Jawa Kuno yang berbunyi: “Bahwa kelak di Temon akan muncul penjual cincau yang berjualan di angkasa. Kelak, Temon akan menjadi sarang capung besi dan pesawat. Tempat antara utara Gunung Lanang dan selatan Gunung Jeruk akan menjadi kota. Glagah bakal menjadi mercusuar dunia.� Namun, menurut data yang disusun paguyuban penolak NYIA, terdapat 11.501 jiwa warga yang berprofesi sebagai petani, nelayan, dan buruh akan berdampak akibat pembangunan tersebut. Berdasarkan peta dari Pusat Ruang Udara Jerman, lokasi NYIA tersebut rawan gempa dan tsunami. Juga termasuk dalam zona yang paling terkena tsunami dengan peringatan awas dan sangat


catata n sa n g j u r n a li s berbahaya. Setelah itu Kawasan pesisir Kulon Progo tersebut merupakan satu dari 14 gumuk atau bukit pasir pantai di dunia yang memiliki fungsi ekologis sebagai benteng terhadap ancaman tsunami. Dengan adanya pembangunan bandara, akan menghilangkan pengaman alami itu. Berkaitan dengan target swasembada pangan yang dicanangkan Jokowi, setidaknya ada 300 kepala keluarga atau 1.200 orang di lahan terdampak penggusuran bandara Kulon Progo menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Apakah penggusuran akan mencapai target swasembada pangan yang ditargetkan Jokowi harus tercapai pada tahun 2018-2019? Tentu ini merupakan pilihan yang dilematis antara pencapaian target swasembada pangan atau perealisasian infrastruktur. Di lain pihak, warga yang masih menempati rumah mereka di Temon, Kulon Progo, menolak pengosongan lahan untuk pembangunan bandara. Masyarakat yang menolak karena tetap akan mempertahankan rumah mereka dari pembersihan lahan. Mereka terancam kehilangan lahan akibat pembangunan bandara baru tersebut. Sampai awal tahun 2018, masih tersisa sekitar 32 Kepala Keluarga yang menolak pembangunan bandara tersebut. “Terus terang, hidup jadi petani dan

sudah dari keluarga turun-temurun. Dari Wonosari, Cilacap, hingga Temon merupakan tempat terbaik untuk bercocok tanam. Saya sudah memiliki hak milik tanah di sini, sedangkan pemerintah tetap ingin menggusur tanpa memberi peluang kerja. Saya justru lebih terbantu dengan adanya relawan di sini, karena penggusuran yang tanpa sepengetahuan warga dapat diantisipasi dan melindungi warga serta lahan saya yang sedang ditanami sayur dan buah-buahan.� Ujar Pak Sumardi, salah seorang yang masih mempertahankan tempat tinggalnya. Berdasarkan kutipan dari warga yang masih bertahan, mereka tetap pada pendirian untuk tinggal di sana dengan alasan utama mempertahankan ruang hidup. Karena banyak warga yang kehilangan tanah dan pekerjaan. Beberapa warga yang masih bertahan tetap menolak mediasi dari pihak AP 1 bahkan sejak tahun 2011 dan sudah berkali-kali didatangi maupun diberikan sosialisasi hingga sampai berujung kepada pemaksaan. “Bahkan listrik dimatikan karena warga menolak untuk pergi. Menurut warga, aparat hukum ikut ambil dalam mengusir warga di daerah yang akan dibuat proyek oleh AP 1.� Ujar Oza, salah seorang relawan. Namun, beberapa warga yang tidak

Foto: John Cipta Area lokasi rumah warga yang menolak penggusuran, Desa Palihan, Temon, Kulon Progo.

2018 JAN-JUN | natas | 63


catata n sa n g j u r n a li s

Salah satu rumah warga yangdipakai oleh aktivis untuk menolak penggusuran. Foto: Yosaphat Made

bekerja maupun sudah tidak menempati desa Kebonrejo lebih memilih rumahnya direlokasi, sebab sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk bertani maupun bercocok tanam dan ingin menikmati masa tua mereka. Ganti rugi lahan dinilai pantas untuk warga dan ingin dijadikan sebagai modal usaha lain sekaligus untuk melanjutkan biaya sekolah anak-anaknya. Sebelumnya sudah ada penyuluhan. Sosialisasi, pendataan, penjumlahan, ganti rugi, sampai pembayaran. Namun banyak warga yang berpesan, sebisanya dalam proyek pembangunan bandara baru dapat melibatkan warga sebagai tenaga kerja, agar tetap memiliki penghasilan. Demikian pernyataan dari beberapa warga yang ditemui di Kebonrejo. Kehidupan warga tetap sama seperti sebelum relokasi, tak ada perubahan karena lahan sawah tidak ikut ambil dari penggusuran. Pembangunan bandara ada di sekitar 1 Km bagian selatan. Pemerintah telah memberi solusi bagi warga yang kehilangan lapangan pekerjaan, dengan memberikan pelatihan dan kelas untuk SDM dari berbagai sumber. “Saya tahunya sebagai satpam, wirausaha, dll.� tukas pak Wahyu. 64 | natas | JAN-JUN 2018

“Tidak apa-apa direlokasi asalkan pemerintah mau membantu warga yang hanya bisa bertani sejak dulu, agar dapat mencari penghasilan dengan cara lain.� Ujar Pak Wahyu. Merupakan tanggung jawab dari Pemerintah untuk mengatasi permasalahan yang tak kunjung mereda. Juga agar dapat menemukan titik temu bagi para warga yang Pro maupun Kontra dalam mengatasi persoalan pembangunan bandara yang selama ini hanya dapat bertahan hidup sebagai petani. Entah apakah karena tak kunjung mau menyerahkan tanahnya, aksi persuasif mulai berubah menjadi intimidatif. Kesekian kalinya kepentingan negara digunakan sebagai dalih menindas kebutuhan rakyat kecil. Ini problem klasik agraria sejak zaman penjajahan Belanda dulu. Pengadaan proyek-proyek yang sejatinya menguntungkan pihak-pihak elit tertentu. Tentu saja ganti rugi yang diberikan tidak akan setara dengan nilai tanah sebagai modal utama menghidupi masyarakat. Terlebih jika sampai melakukan tindakan pemaksaan yang berujung kebencian pada beberapa pihak. John Cipta Levrando Aritonang


Masa Kelam Gejayan Di Balik Reformasi

Sumber: casciscus.com

jas m e r a h

Jalan Gejayan yang rapi, Rabu (6/5), tampil beda dan menjadi awut-awutan. Berbagai pecahan batu dan fasilitas umum berserakan ditengah jalan. Barang-barang yang berserakan itu menjadi saksi bisu terjadinya bentrokan antara massa yang menyuarakan reformasi dengan aparat keamanan (Kedaulatan Rakyat, 6 Mei 1998). Perjuangan yang dilakukan pada awal bulan Mei 1998 ini didasari oleh kekecewaan terhadap cara pemerintahan Orde Baru yang dipimpin Presiden Soeharto. Gerakan ini meminta supaya reformasi segera dilaksanakan dan meminta agar Presiden Soeharto lengser dari jabatannya. Slogan mereka yaitu Soeharto bersama para kroni bersenang-senang diatas penderitaan rakyat; Soeharto memimpin Negara diatas pemerintahan yang korup (Tirto.id: Hari-hari menjelang Soeharto Lengser). Awal Mei menjadi titik munculnya pergerakan mahasiswa diberbagai wilayah di Indonesia. Gerakan ini mulai menyeruak dalam menyuarakan reformasi terhadap pemerintahan Orde baru serta dengan berbagai tuntutan yang diajukan, seperti Amandemen UUD 1945, berantas praktek Korupsi, Kolusi, Nepotisme (KKN), cabut paket 5 UU Politik yang dipandang menghambat

perkembangan demokrasi, dan mencabut Dwifungsi ABRI (Baca Jurnal: Ringkasan Seminar Nasional Meluruskan Jalan Reformasi, Balai Senat Universitas Gadjah Mada, 25-27 September 2003). Krisis finansial yang terjadi di Asia sejak 2 Juli 1997 membuat perekonomian di Indonesia mulai melemah, di langsir dari Indonesia-Investments.com. Ketika itu para investor asing yang telah berinvestasi di Asian Economic Miracle Countries kehilangan kepercayaan dipasar Asia. Indonesia menjadi salah satu negara di Asia yang terkena imbas dari krisis ini, tidak hanya berdampak pada ekonomi tetapi juga berdampak signifikan dan menyeluruh terhadap sistem politik dan keadaan sosial di Indonesia kala itu. Hal inilah yang menjadi salah satu penyebab semakin besarnya keinginan rakyat untuk dilakukannya reformasi karena kegagalan pemerintahan Orde Baru dalam mengatasi 2018 JAN-JUN | natas | 65


j as m er a h Krisis Moneter (Tirto.id: Hari-hari menjelang Soeharto Lengser). Jalan Gejayan yang sekarang dijadikan pusat geliat ekonomi menjadi salah satu saksi bisu gerakan reformasi. Para mahasiswa dari berbagai suku dan ras, berkumpul dan mulai menyuarakan suara ketidakadilan yang mereka terima. Y.R. Subakti, Dosen Pendidikan Sejarah di USD, mengatakan bahwa gerakan mahasiswa ini baru meletus pada tanggal 08 Mei 1998 di Jalan Gejayan, dekat kampus Universitas Sanata Dharma dan IKIP Karangmalang, yang sekarang dikenal dengan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Jalan Gejayan menjadi tempat bagi para mahasiswa di Yogyakarta dalam melakukan demonstrasi untuk menuntut supaya Presiden Soeharto turun dari jabatannya. Akan tetapi, Soeharto yang kala itu terpilih kembali menjadi presiden pada tanggal 10 Maret 1998-2003 (selesai masa jabatan), tidak menyetujui dan tidak mau melakukan reformasi seperti yang dikehendaki oleh para mahasiswa dan masyarakat. Soeharto baru menyetujui diadakannya reformasi setelah masa jabatannya berakhir, yakni pada tahun 2003 (Media Indonesia dan Pikiran Rakyat, 2 Mei 1998). Heri Santosa, Dosen Sejarah di USD, menjelaskan bahwa aksi ini mulanya dilakukan di Bundaran Universitas Gadjah Mada oleh mahasiswa-mahasiswa UGM dan mahasiswa dari Universitas lain yang ikut bergabung. Namun, aksi demo yang dilakukan di Bundaran UGM dicegat oleh aparat keamanan. Hal ini memicu amarah para mahasiswa, sehingga bentrok fisik pun tidak bisa lagi dihindari. Kata Heri Santosa, “Ratusan petugas keamanan diturunkan untuk membubarkan secara paksa aksi para mahasiswa, yang dibuka dengan panser penyemprot air dan tembakan gas air mata untuk memukul mundur para mahasiswa yang melakukan unjuk 66 | natas | JAN-JUN 2018

rasa. Kejadian ini berlangsung didepan Hotel Radison yang terletak dipertigaan antara jln.Gejayan dan jln. Colombo”. “Seketika itu suasana berubah menjadi anarkis, para mahasiswa melakukan perlawanan kepada para petugas keamanan,” tambahnya. “Para mahasiswa yang berunjuk rasa di Bundaran UGM sebagian beralih untuk melanjutkan aksi demo di Jalan Gejayan, yang ternyata sudah ada aksi yang dilakukan oleh mahasiswa USD dan UNY”, ujar Heri Santosa. Para petugas keamanan melakukan pengejaran terhadap para mahasiswa yang terlibat dalam aski demo tersebut, pengejaran yang dilakukan oleh para aparat keamanan sampai memasuki kampus USD dan UNY, tidak hanya sampai disitu mereka juga melakukan pengejaran di kompleks perumahan warga sekitar. Hal yang dilakukan oleh aparat keamanan sudah melanggar aturan, tuturnya. Para pemimpin aktivis mahasiswa dibekali dengan alat pesawat komunikasi yaitu Handy Talkie (HT) supaya bisa mengontrol keadaan, sehingga mereka tetap bisa saling menjaga keamanan bersama dari kejaran aparat keamanan. Bukan hanya di kompleks USD dan UNY bahkan aparat keamanan juga melewati selokan untuk melakukan pengejaran terhadap para mahasiswa yang melarikan diri. Pengejaran yang dilakukan oleh aparat keamanan dihadang oleh warga sekitar Cara ini dianggap cukup berhasil untuk menghalangi aparat keamanan dalam melakukan pengerajan terhadap mahasiswa. Walaupun sebagian mahasiswa tertangkap oleh aparat keamanan,”ujarnya. Dilangsir dari Koran Kedaulatan Rakyat, tanggal 05 Mei 1998, bahwa peserta pengunjuk rasa melawan para petugas dengan melempari batu. Bahkan, ketua DPRD DIY Subagyo Waryadi yang hadir ditengah-tengah massa, yang ingin menjembatani antara keinginan mahasiswa dan aparat sem-


jas m e r a h

Koran Kedaulatan Rakyat tanggal 05 Mei 1998 Sumber: koran Kedaulatan Rakyat

pat disandera oleh mahasiswa. Para peserta aksi demo mendaulat Subagyo dan kolonel Sriyono untuk memimpin massa menuju ke DPRD, namun keduanya tidak bersedia. Y.R. Subakti, Dosen Pendidikan Sejarah di USD, menjelaskan bahwa dalam aksi demonstrasi yang terjadi pada tanggal 08 Mei 1998, telah memakan banyak korban salah satunya yaitu Moses Gatotkaca yang merupakan mahasiswa Universitas Muhamadiya dan tidak terlibat dalam aksi demo namun ditangkap dan dipukuli oleh petugas keamanan yang disangka sebagai mahasiswa USD yang terlibat dalam aksi demo dan dilarikan ke Rumah Sakit Panti rapih, namun sayang tidak bisa diselamatkan. Dikutip KR (06/05/1998) pada saat itu selain menelan puluhan korban luka-luka, bentrokan ini juga membuat prihatin pedagang kaki lima disekitar lokasi kejadian. Ini akibat tindakan aparat keamanan yang berlebihan saat berupaya menangkap para aktivis mahasiswa. Selain barang dagangan hancur ada beberapa rekan mereka yang kini hilang dan tidak tau dimana keberadaanya. Menurut Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Tyasno Sudarto mengungkapkan, aksi demo mahasiswa itu sudah disusupi oleh pihak luar seperti pelaku tindak kriminal dan residivis. Oleh karena itu, aparat tidak mentolerir bagi mahasiswa yang ikut melakukan aksi unjuk rasa.

Koran Kedaulatan Rakyat tanggal 06 Mei 1998 Sumber: koran Kedaulatan Rakyat

Walaupun demikian, perjuangan yang dilakukan oleh para mahasiswa dan masyarakat dalam menyuarakan reformasi membuahkan hasil. Dikutip dari Media Indonesia dan Republika (20/05/1998), bahwa “Presiden Soeharto merespon situasi yang berkembang, sehingga ia mengadakan pertemuan dengan beberapa tokoh masyarakat dan Ulama di Istana Merdeka. Setelah pertemuan itu usai, Presiden Soeharto menyatakan akan mengundurkan diri secara konstitusional dengan mekanisme pergantian presiden dan wakil presiden tetap melalui sidang umum MPR�. Tepat pada tanggal 21 Mei 1998, Presiden Soeharto menyatakan berhenti dari jabatannya sebagai Presiden Republik Indonesia dan menyerahkan kekuasaan kepresidenan kepada Wakil Presiden BJ Habibie (KR 21/05/1998). Beginilah masa kelam yang terjadi di Gejayan, yang dikenal dengan tragedi Yogyakarta. Perjuangan para mahasiswa dalam melawan pemerintahan yang otoriter telah menjadi tonggak depan bagi masyarakat dalam menyuarakan perubahan “reformasi�. Keinginan bersama untuk melakukan pemulihan didalam pemerintahan yang dianggap kurang baik dan misi untuk membuat tatanan kehidupan yang lebih baik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara telah menjadi semangat bagi mahasiswa dan masyarakat dalam memperjuangkan reformasi. EkaPranata Putra Zai

2018 JAN-JUN | natas | 67


info

SALAM: Sanggar Anak Alam, Belajar Bersama Alam

S

ebuah bangunan warna-warni berdiri kokoh di tengah sawah yang terletak di Kabupaten Bantul. Tempat ini adalah sarana belajar bagi mereka yang mau mengakrabkan diri dengan alam. Sekolah non-formal ini didirikan oleh sepasang suami istri Sri Wahyaningsih dan Toto Rahardjo, tepatnya di Desa Lawen pada tahun 2000. Mereka meyakini bahwa pendidikan bukan hanya mengenai papan tulis dan spidol, me68 | natas | JAN-JUN 2018

lainkan bagaimana siswa melihat langsung apa yang terjadi di alam. Keprihatinan pasangan ini bermula sebelum SALAM didirikan. Menurut mereka sistem pendidikan seperti ini salah, sehingga Pak Toto dan Bu Wahya tergerak membuat suatu perubahan kecil untuk pendidikan Indonesia. “Sekolah formal menuntut setiap anak mempunyai kemampuan yang seragam kemudian mereka akan berlomba-lomba untuk mendapat nilai yang baik agar dapat ter-


info

Foto: Yosaphat Made

lihat pintar di mata orang banyak,” kata Pak Toto.

ingin mereka amati. Tidak ada paksaan ataupun tekanan dalam belajar,” lanjutnya.

Pak Toto menuturkan bahwa di SALAM para murid belajar berdasarkan riset. Mereka hanya perlu mengamati dan membuat hasil laporannya. Penilaian yang dilakukan juga bukan hanya dari hasil, melainkan dari proses bagaimana mereka memahami dan memecahkan suatu masalah untuk kepentingan riset mereka. “Mereka diberi keleluasaan untuk memilih hal yang

Menurut beliau dalam mengelola sekolah yang anti-mainstream ini, kendala yang dihadapi sangat banyak. “Dari awal sulit sekali untuk mendapatkan perijinan membangun sekolah, terlebih lagi pemerintah menuntut bahwa seharusnya sekolah yang layak adalah sekolah yang berakreditasi,” tutur Pak Toto. Lebih lanjut ia menuturkan bahwa SALAM tidak mempunyai stan2018 JAN-JUN | natas | 69


info dar-standar penilaian pemerintah. Selain itu juga mereka harus mempelajari indikator kurikulum sekolah formal. Pak Toto menambahkan bahwa mencari fasilitator untuk mendampingi para murid melakukan riset ternyata sulit. “Guru-guru zaman sekarang terlalu terpaku pada kurikulum yang ada, sehingga untuk mencari fasilitator bagi anak-anak di SALAM akan sangat sulit,” imbuhnya. Maka dari itu untuk menutupi kekurangan fasilitator, Pak Toto membuka kesempatan relawan dan orang tua murid untuk mendampingi para murid dalam melakukan risetnya. Pak Yudis, seorang fasilitator yang ditemui, mengatakan bahwa tugas mereka di SALAM bukanlah mengajar tetapi mendampingi setiap proses pembelajaran dan

mengikuti perkembangan para siswa. “Memang penghasilan yang didapat tidak seberapa tetapi kami sudah cukup senang melihat anak-anak berhasil dalam setiap proses yang dilakukan,” ujar Pak Yudis. Kendala yang dihadapi oleh para fasilitator adalah mendampingi siswa-siswa jenjang SMA. Mereka membutuhkan fasilitator yang ahli di bidangnya karena materi risetnya lebih sulit. Tidak dapat dipungkiri bahwa fasilitas menjadi salah satu kendala yang dialami SALAM sampai sekarang. “Walaupun mereka kekurangan fasilitas, para fasilitator tetap mengusahakan hal-hal yang dibutuhkan untuk menunjang riset mereka agar hasil yang di dapat menjadi lebih baik,” jelas Pak Toto. Selain fasilitas dan fasilitator ahli untuk jenjang SMA, kendala yang dihadapi SALAM lainnya adalah menemukan cara yang te-

Foto: Yosaphat Made Pak Toto pendiri SALAM

70 | natas | JAN-JUN 2018


info

Foto: Yosaphat Made Siswa kelas 1 dan 2 SD yang sedang belajar di SALAM

pat untuk menghadapi orang-orang di luar SALAM.

tumbuh menjadi anak-anak yang mandiri dan bertanggungjawab,” jelas Pak Toto.

SALAM membuka kelas mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga SMA dan memiliki dua ratus murid. Kegiatan mereka setiap harinya dimulai pukul 08.00-14.00 WIB dari Senin hingga Jumat. Selain melakukan riset setiap hari, SALAM juga menyediakan makanan ringan dan makan siang yang bertujuan untuk mempererat relasi antar siswa.

Pak Toto dan Bu Wahya mengatakan bahwa menjadi agent of change memang tidak mudah, karena banyak sekali rintangan yang akan dihadapi kedepannya. Pak Toto menginginkan sekolah yang menyenangkan bagi siswanya, bukan semata-mata duduk dan mendengarkan ocehan guru di dalam ruangan. “Tidak ada yang salah dengan sekolah formal pada umumnya, tetapi tidakah terlalu memaksa jika semua materi dipukul rata dan diberikan pada siswa yang kemampuannya berbeda-beda?” tutup Pak Toto

SALAM juga tidak seperti sekolah lainnya yang menekankan tata tertib dan wajib hukumnya untuk ditaati. Hal ini dibuktikan dengan kesepakatan yang sudah disetujui bersama sejak awal mereka menginjakkan kaki di SALAM. “Hal seperti inilah yang membuat para siswa di SALAM

dengan senyuman. Agnes Pearlyta

2018 JAN-JUN | natas | 71


r es en s i

LEAP YEAR Negara

: Amerika Serikat

Bahasa

: Inggris

Durasi : 100 menit ebagian orang percaya bahwa berhasilnya sebuah hubungan hingga menuju janji suci pernikahan bisa dilihat dari berapa lama hubungan asmara yang sudah terjalin. Tahun pertama, tahun kedua, tahun ketiga, hingga tahun keempat terlampaui. Itu artinya hubungan itu siap untuk masuk ke tahap yang lebih serius. Anna dan Jeremy, adalah pasangan yang sudah menjalin hubungan selama empat tahun. Bukan waktu yang singkat.

S

source : rottentomatoes.com

Judul

: Leap Year

Penulis : Simon Beaufoy, Harry Elfont, dan Deborah Kaplan Sutradara

: Anand Tucker

Pemeran : •

Amy Adams sebagai Anna Brady

• Matthew Goode sebagai Declan O’Callaghan • Adam Scott sebagai Jeremy Sloane • John Brady •

Lithgow

sebagai

Jack

Kaitlin Olson sebagai Libby

Tanggal Rilis : 6 Januari 2010 (New York)

72 | natas | JAN-JUN 2018

Anna adalah seorang desainer interior sedangkan Jeremy adalah seorang ahli bedah jantung. Hari-hari mereka dilalui dengan kesibukan masingmasing. Namun, itu bukan penghalang langgengnya hubungan mereka. Sebagai perempuan yang mengidam-idamkan pernikahan, Anna sangat berharap besar bahwa Jeremy akan melamarnya pada tahun keempat hubungan mereka. Telah lama menanti, tibalah waktu yang ditunggu-tunggu. Di suatu malam, di sebuah restoran bernuansa romantis Jeremy memberi sebuah kado kecil. Anna membuka isi kado tersebut dengan semangat dan ia tampak berbungabunga. Bukan, ternyata bukan sebuah benda yang melambangkan komitmen yang diberikan Jeremy kepada Anna. Kecewa bukan main, Anna hanya mendapat sepasang anting-anting dari Jeremy. Benda tersebut tidak sesuai yang


resensi diharapkannya. Di sinilah kisah Anna dimulai. Menurut tradisi Irlandia, pada 29 Februari wanita boleh melamar kekasihnya sedangkan pria tidak boleh menolak lamaran tersebut. Jeremy yang kebetulan sedang melakukan perjalanan bisnis ke Dublin, Irlandia membuat Anna mencoba kesempatan melamarnya di sana karena ia tak kunjung dilamar. Anna melakukan perjalanan ke Dublin. Namun realitanya tidak sebanding dengan ekspektasi Anna. Perjalanan tidak berjalan mulus. Penerbangan menuju Dublin harus dialihkan karena cuaca buruk. Semua akses transportasi menuju Dublin ditunda. Kenekatan Anna menghantarnya ke suatu tempat terpencil, di pinggir pulau, Dingle namanya. Di sana dia bertemu seorang lelaki pemilik penginapan yang juga pengemudi taksi, Declan. Anna meminta Declan mengantarnya ke Dublin, tapi Declan menolaknya. Keesokan harinya setelah Anna menginap di penginapan milik Declan, tawaran mengantar Anna diterima oleh Declan. Declan terdesak hutang dan perlu biaya untuk perbaikan penginapan yang telah rusak karena kecerobohan yang dilakukan Anna semalam. Janji upah sebesar â‚Ź500 membuat Declan bersedia mengantar Anna. Di jalan, Anna bercerita pada Declan mengapa ia perlu ke Dublin saat itu. Declan menertawakannya. Menurutnya itu hal konyol yang hanya dilakukan orang-orang yang tengah putus asa. Reaksi Declan membuat Anna merasa direndahkan, mereka memulai perdebatan. Sepanjang jalan mereka

hanya saling menertawakan satu sama lain. Perdebatan memicu persoalanpersoalan hingga perjalanan kembali tertunda karena mobil milik Declan terjun ke dalam sawah, koper milik Anna dibawa kabur oleh penipu, dan sampai akhirnya tertinggal kereta api. Semua karena kecerobohan Anna. Tinggallah Anna dan Declan di sebuah rumah milik petugas stasiun, karena kereta sudah tidak beroperasi lagi. Di sana mereka terpaksa berpura-pura bahwa mereka telah menikah sehingga pemilik rumah mereka akan mengizinkan mereka untuk tinggal. Saat makan malam, Anna dan Declan dipaksa untuk berciuman, yang menyebabkan beberapa kebingungan untuk mereka. Saat di rumah penjaga stasiun itulah mereka mulai menyimpan rasa satu sama lain. Keesokan harinya, mereka melanjutkan perjalanan. Saat sedang berjalan turun hujan es mereka berlindung di sebuah gereja di mana pernikahan sedang berlangsung. Keesokan harinya, mereka tiba di Dublin dengan menggunakan bus. Saat perjalanan ke hotel tempat Jeremy berada, mereka berhenti di taman. Declan bercerita bahwa ia pernah terlibat pernikahan namun mantan tunangannya kabur bersama sahabatnya dan membawa cincin ibunya yang sangat berharga ke Dublin. Saat itu lah Declan bercerita mengapa dia tidak menyukai kota Dublin, hingga mengapa dia sangat sensitif mengenai hubungan asmara. Anna mendorong Declan untuk mendapatkan cincin ibunya kembali. Ketika Anna sampai di hotel, Jeremy melamarnya, dan dia menerimanya dengan keraguan hati. Pada pesta pertunangannya bersama Jeremy, Anna menguji ketulusan Jeremy. Ternyata benar, Jeremy tidak tulus 2018 JAN-JUN | natas | 73


r es en s i mencintai Anna. Ada maksud terselubung di balik lamaran Jeremy. Kecewa akan hal itu, Anna menyadari bahwa dirinya dan Declan saling mencintai, meskipun mereka baru mengenal satu sama lain. Anna kembali ke Dingle, tempat tinggal Declan. Saat itu pula Declan melamar Anna dengan cincin ibunya yang sudah didapatnya kembali. Film ini mengangkat permasalahan pada sebuah hubungan asmara antara Anna dan Jeremy yang sudah menjalani hubungan selama empat tahun. Hingga tahun keempat mereka berpacaran, Jeremy tak kunjung melamar Anna. Sebagai wanita yang sudah cukup matang usianya tentu sudah sangat mengharapakan dirinya segera dilamar. Tibalah masa yang membuat geram perasaan Anna terhadap Jeremy yang terlalu sibuk dengan pekerjaanya. Sebuah kepercayaan kuno Irlandia mengatakan bahwa pada tanggal 29 Februari, wanita boleh melamar lelaki dan tentunya lelaki yang dilamar tidak boleh menolak lamaran tersebut. Anna pada awalnya tidak percaya dan merasa itu adalah hal konyol dan penuh mitos. Namun karena kegeramannya itu, ia memilih untuk mencobanya. Ia melakukan perjalan ke Dublin, tempat Jeremy sedang melakukan perjalanan bisnis. Tujuan film ini adalah sebagai hiburan dan edukasi terhadap penonton mengenai hubungan asmara yang terkadang terjadi di luar logika. Film bergenre komedi romantis ini sangat menghibur penonton. Film yang berdurasi 100 menit ini sangat ringan untuk diikuti. Sutradara menyajikan film ini dengan alur yang sangat jelas. Kecerobohan dan kekonyolan sosok Anna serta sifat dingin 74 | natas | JAN-JUN 2018

dan bijak Declan lah yang membuat jenis film ini bergenre komedi. Dalam film ini Declan tidak banyak bicara, sesuai karakternya yang tampak dingin dan tenang. Backsound dalam film ini pun tak kalah mendukung suasana dalam setiap adegan. Film ini termasuk kategori film ringan untuk dipahami. Kejadiankejadian yang dialami tokoh sangat dekat dengan realitas sehari-hari. Anand Tucker yang menjadi sutradara film ini membuat cerita yang padat dan jelas. Pemilihan aktor yang top menjadi salah satu keunggulan film ini. Latar tempat yang ditampilkan sangat indah meskipun banyak adegan yang tidak menggunakan latar asli. Namun, setelah menonton film ini penonton akan mendapat pengalaman baru. Kawula muda tentu merasa terhibur dengan film ini. Akhir cerita yang sulit ditebak dan tidak terduga mampu membuat penonton penasaran. Kejadian-kejadian dalam cerita tidak membuat bosan. Penulis sekaligus sutradara mampu mengemasnya dengan naratif dan apik. Jika diberi rentang nilai dari 10 hingga 100, film ini pantas diberi nilai 89. Maecelina Cica P. Silalahi Mahasiswi Sastra Indonesia angkatan 2016


resensi

Bayang-banyang Tuhan dan Imajinasi Resensi buku: Bayang-banyang Tuhan dan Imajinasi Penulis: Yasraf Amir Piliang Cetakan: 1, Mei 2011 Tebal: 371 halaman

Citra dan Populisme Agama Wacana keagamaan akhir-akhir ini menjadi bahan pembicaraan yang seksi. Semua orang saling berebut otoritas untuk bisa mendapatkan ruang berbicara persoalan agama dan keberagamaan. Bahkan, laku keberagaman saat ini tidak hanya mengenai keimanan dan kepatuhan seseorang kepada Tuhan, yang sifatnya sangat privat dan personal. namun lebih dari itu keimanan juga perlu ditunjukkan dan mendapatkan pengakuaan. Pergeseran nilai dan motif laku keberagaman inilah yang akhirnya memunculkan kasus dan isu yang mengatasnamakan agama di ruang publik, baik lokal maupun internasional. kasus kriminal yang terjadi atas

dasar perbedaan keyakinan, demo berjilid-jilid atas nama membela keyakinan tertentu, bahkan ujaran kebenciaan, dan hoax atas dasar agama juga menjadi hal mudah kita temukan dewasa ini. Tidak hanya itu, laku keberagaaman manusia modren hari ini juga bersifat serba kontradiktif dan paradok. Ritual keagamaan yang sebenarnya manifestasi keimanan manusia kepada Tuhan tidak hanya menjadi hubungan yang sangat privat, personal, dan transenden. namun hal itu juga menjadi prestis sosial yang sekan layak untuk diumbar dan dipertontonkan. Jadi, berdoa dan menjalankan ritual keagamaan tidak tertinggal tapi bersifat material, hedon, dan konsumerisme tetap menjadi kebutuhan. Hal yang perlu kita pertanyakan adalah pergeseran nilai agama dan laku keberagamaan kita dewasa ini. Apakah wajar, apabila agama kita perlakukan sedemikiaan rupa, dan kalaupun tidak bagaiamana kita memposisikan 2018 JAN-JUN | natas | 75


r es en s i agama dan laku keberagamaan di era yang penuh dengan budaya populer, dimana narsisime, materealisme, dan konsumerisme menjadi titik pijaknya. Dalam hal ini, dua hal saling dihadap-hadapkan. agama sebagai sekumpulan dari nilai dan norma Tuhan yang ditunjukkan kepada manusia untuk mencapai kedamaiaan daan keselamatan, dihadapkan dengan gerak langkah sejarah dan laku kebudayaan masyarakat yang juga menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari manusia. Persoalannya, kedua hal itu mempunyai basis ontologis yang berbeda, tapi hidup

source : www.asrofest.wordpress.com

diruang yang sama. Agama bersumber dari Tuhan yang bersifat sakral, tetap, dan mutlak. Sedangkan budaya dan laku kebudayaan sebagai sekumpulan nilai dan kebiasaan manusia dalam rangka mempertahankan kehidupan dengan lingkungan sekitarnya bersifat relatif dan temporal. Atas dasar inilah Yasraf Amir Piliang dalam bukunya “Bayang-Bayang Tuhan dan Imajinasi-Imajinasi Agama� , mencoba memahami diskursus agama dan keberagama dengan sudut pandang yang berbeda, yakni teori kebudayaan populer. Yasraf menggunakan pendekatan cultural studies untuk membuka cakrawala baru diskursus agama dan realitas keagamaan.

76 | natas | JAN-JUN 2018

Kreatifitas dan produktifitas diharapkan akan muncul dengan sudut pandang yang berbeda serta pisau analisis yang kontekstual tersebut. Dalam elaborasinya, ia mencoba keluar dari epistimologi agama yang penuh dengan aturan dan batasan-batasan, di mana seakan agama yang ada hanya aturan dan batasan itu sendiri. Sehingga daya imajinasi yang sesungguhnya juga mendapatkan ruang di narasi keagamaan, tersingkirkan dengan sendirinya, karena tertutup dengan dogma dan doktrin yang mengikat. Dalam bukunya, Yasraf

menyebutkan bahwa dalam historitas keagmaan, sejarah kenabian misalnya sarat akan lukisan imajinatif sebuah umat yang selalu diperjuangkan untuk diwujudkan, melalui perjuangan yang keras, kontinu, pantang menyerah, dan bahkan dengan pengorbanan diri. Inilah yang disebut dengan propertic imagination, yaitu sebuah bayangan yang sama tentang masa depan ummat yang berlandas wahyu Tuhan. (hlm. xx) Artinya imajinasi sebagai daya nalar manusia untuk membayangkan sesuatu tidak bisa dipungkiri juga menjadi pendorong dan penggerak umat untuk menginterpretasikan dunia, kemudian berusaha mewujudkan apa yang menjadi interptretasi tersebut.


resensi Tanpa adanya imajinasi, kitab agama yang penuh dengan simbol dan tanda kebenaran Tuhan tidak mungkin mampu diwujudkan dalam laku kesehariaan. Karena teks dan simbol sudah berakhir dan akan tetap, sedangkan objek dari apa yang dijelaskan kitab tersebut, tentang manusia, alam raya, kehidupan sosial bersifat dinamis dan akan terus berkembang. Maka daya imajinatif sangat diperlukan untuk membaca semesta simbol dan tanda-tanda kebenaran Tuhan. Imajinasi, Citra dan Budaya Populer Imajinasi adalah mekanisme psikis dalam melihat, melukiskan, membayangkan, atau memvisualkan sesuatu di dalam struktur kesadaran yang menghasilkan sebuah citra (image) pada otak. Akan tetapi yang kita bayangkan bisa berasal dari luar (melalui presepsi) atau di dalam dunia mental itu sendiri (seperti mimpi). Imajinasi adalah struktur mental yang meyangkut bagaimana seseorang membuat potret dunia yaitu konsepsi, representasi, dan makna dunia dengan sudut pandang, perasaan, logika, dan keyakinan tertentu. (hlm. xxi) Apa yang diimajinasikan sendiri secara internal akan menghasilkan sebuah citra diri sediri (self-image) atau membayangkan sesuatu yang berada diluar secara eksternal; orang lain, agama lain, etnis lain, ataupun Tuhan akan menghasilkan sebuah citra yang liyan (image of other). Kaitanya dengan sebuah mekanisme pembentukan sebuah citra di dunia populer, Jacques Lacan melukiskan proses imajinasi diri melalui metafora keterbelahan (Sepaltung), artinya ketika lukisan diri individu diproduksi melalui proses identifikasi

dengan citra yang liyan maka secara tidak langsung hal ini akan menjauhkan dari kebenaran diri sendiri, karena seseorang membuat lukisan dirinya melalui lukisan yang dia “imajinasikan di dalam medan Yang Liyan� maka yang terjadi orang akan terjebak kepada citra palsu (pseudo image). Berkaitan dengan citra inilah keberagamaan dalam abad informasi dan virtual mendapat tantangan yang berat dan berliku. Citra dan pencitraan (imagologi) sebagai nilai dasar yang selalu dimunculkan dalam dunia digital secara tidak langsung bersinggungan dengan keberagamaan itu sendiri. Citra visual misalnya, berbagai ritual keberagamaan seperti zikir, doa, dan beramal yang dulunya masih dalam wilayah yang begitu sakral terletak di ruang-ruang yang rahasia dan suci sekarang mendapatkan ruang di dunai virtual. Ritus-ritus keagamaan seakan dimediasi dengan beragam perangkat digital untuk ditampilkan dan ditonton. Pada titik ini Yasraf dalam bukunya, memulai kritik dengan telaah citra, yang dimulai dengan menggunakan imajinasi sebagai basis utamanya. kemudiaan menggunakan berbagai tipologi citra yang direproduksi secara masif di wacana keagaman dengan beragam medianya sebagai objek kajiaan. Maka tidak bisa dipungkiri bahwa citra tersebut berkembang ke arah yang lebih komplek. Seperti halnya, televisi, Internet, realitas virtual, dunia objek, dan komoditas yang seakan tidak bisa dipisahkan dari manusia modren dan itu menjadi ladang basah untuk mereproduksi sebuah citra. Dari media inilah kemudiaan eksisitensi diri dan keberagamaan

2018 JAN-JUN | natas | 77


r es en s i mendapatkan ruang untuk dipertontonkan. Dengan dunia baru yang bernama ruang digital dan virtual ini semua saling berebut untuk mendapatkan panggung, agar eksisitensi diri mendapat pengakuaan. Dalam konteks kehidupan keberagamaan penggunaan citra-citra tertentu adalah upaya untuk menciptakan sebuah imaji tentang realitas agama, yang pada titik tertentu ia diangap sebagai realitas itu sendiri. (hlm. xxxv) Dari fenomena keterkungkungan realitas keberagamaan yang juga masuk ke ranah logika sosial yang ada maka transformasi nilai tersebut masuk ke arah apa yang disebut Guy Debord sebagai masyarakat tontonan (society of the spectecle). Kini agama tidak lagi sekedar relasi antara manusia dan Tuhan, antara aku yang imanen dan Dia yang transenden. Namun sudah menjelma sebuah relasi murni imanen, yaitu agama sebagai sebuah bentuk tontonan. Masyarakat tontonan menurut Debord, adalah masyarakat yang menganggap peran citra sebagai hal yang utama dalam membentuk relasi sosial masyarakat dari pada teks maupun oral. Citra tidak akan pernah berhenti berkembang dan perkembangan tersebut juga berdampak pada relasi komunikasi dan ritual keagamaan. Kita perlu mentelaah lebih kritis citra yang dibentuk atas budaya populer. Sebab, dalam budaya populer relasi kekuasaan sangatlah bersifat hegemonik, di mana kelompok mayoritas dikendalikan oleh elite budaya dalam pola industri budaya. Maksudnya, sebuah kebudayaan yang dibangun atas dasar pola-pola industrial dan komoditas, yang dilandasi oleh keinginan untuk mecari profit dan pengakumulasiaan kapital. Maka kalau

78 | natas | JAN-JUN 2018

ini tidak disadari komodifikasi agama pasti terjadi. Penulis dalam buku ini, ingin mengajak pembaca untuk selalu mengoreksi dan mengkritisi laku keberagaman kita. dengan beragam pendekatan populer dan teori-teori moderen untuk mngupas sebuah diskursus yang komplek. Penulis berusaha semaksimal mungkin agar upaya pembacaan agama dalam konteks budaya populer tidak salah sasaran. Laku keberagamaan sebagai manifestasi dari keyakinan tentunya bersifat sakral dan transendetal, maka hadirnya buku ini mengajak kita tidak terjebak kepada budaya populer yang bersifat profan. Ketika agama menjadi bagiaan dari skema budaya populer, ia akan berpegang pada imajinasi yang memiliki sifat dangkal, permukaan dan banal. (hlm. xi) Maka, “janganlah semangat beragama kita jauh melebihi semangat untuk mempelajari, merenungi, menghayati, agama itu sendiri� tegas penulis mengucapkan. Peresensi; Abdul Rohman


sastra TAK ADA LAGI Endy Langobelen*)

Sore itu, langit menjadi kuasa di antara kaki-kaki yang tertatih pada

bukit bebatu. Tapak-tapak langkah menyusuri kegersangan retak pecah tanah. Rerumputan sabana tampak kering kecokelat-cokelatan. Pepohonan tegak berdiri tanpa daun-daun yang hinggap di tiap rantingnya. Burung-burung gagak terbang mengitari kepala sembari menari dan sesekali bernyanyi. Terik yang menyengat di musim panas mengiringi perjalanan kami. Ama Sira, sang kepala suku, berada di barisan paling depan. Sedang adikku, Kopong, berada di pundakku. Entah dimana mata ini akan memandang dan waktu mulai kembali berkisah, yang pasti telah sehari kami berjalani ke arah terbenamnya matahari. Tak ada lagi rumah, tinggal api yang masih menggumpal asap hitam. Tak ada lagi kebun, tinggal jejak-jejak tapak yang semakin melukis gelisahnya waktu. Tak ada lagi bapak, tak ada lagi emak, tinggal Kopong – si kecil yang masih sempat melanjutkan ceritanya dari atas pundakku.

*** Pagi dengan awan tipis yang terlukis indah menghias langit biru. Matahari terus meninggi. Angin berhembus mengundang debu-debu jalanan menari dalam rima yang tak ten-

tu liuk alunannya. Ayam-ayam mulai berkeliaran mengais-ngais tanah sebagaimana tiap harinya. Saat itu, aku dan kopong sedang berada di kamar, di atas balebale (tempat bersantai yang terbuat dari bambu). Dengan ditemani sepiring jagung titi (makanan khas dari daerah Flores Timur) yang dicampurkan dengan segelas teh hangat, Kopong memulai ceritanya. “Kaka, kemarin malam, saya ikut bapa pergi berburu.” “Benar tidak?” “Benar, kaka.” “Terus kamu dua dapat apa?” “Pertama tu, bapa angkat busur. Terus saya lihat-lihat, bapa sudah lepas itu busur. Babi hutan itu kecil, tapi dia punya taring terlingkar panjang sekali.” “Terus?”

2018 JAN-JUN | natas | 79


sastra “Terus babi huan itu jatuh terkapar di tanah tanpa suara, kaka.� Semua terjadi begitu cepat, ketika datang segerombol laki-laki dari tiap-tiap arah dengan tombak, panah dan busur serta parang di tangan. Mu-

lut mereka tampak berbusa dengan mantera-mantera jahanam. Perang tanding kembali berlangsung. Sekejap Pecahlah gemuruh suara menghempas sunyi di pagi itu. Aku mendengar emak berteriak ketakutan dan di sekeliling rumah anjing-anjing saling menggonggong meraung-meraung sejadinya. Raut wajah Kopong seketika berbuah tangis yang tak bisa kubujuk untuk tenang. Aku segera membawanya dan berlari ke dapur. Sesampai di pintu dapur, aku melihat bapak sudah rebah ke tanah, di samping batu tempat emak biasa meniti jagung. Di sisinya, emak terus menangis menjerit histeris. Aku seakan tidak percaya dengan apa yang tengah terjadi. Tubuhku gemetar. Rasa takut mengguncang detak jantungku. Kepalaku terasa seperti ditimpah beban yang sangat berat, rasanya mau pecah. Mataku melihat dunia berputar kencang dan segalanya berubah menjadi gelap. *** 80 | natas | JAN-JUN 2018

Senja telah berpulang ke dalam palung bumi. Bulan purnama tampak menderang di antara dedaunan dan ranting-ranting pohon. Jutaan bintang bertebaran di antara biasan cahaya purnama. Aku terus berjalan membututi bapak dari belakang. Di tangannya terdapat busur dan anak panah.

D i balik rer u m p u t a n alang-alang terdengar samar s u a r a babi hutan. Sontak aku melihat bapak mengubah irama langkahnya – pelan, semakin pelan dan sangat begitu pelan. Ia memalingkan wajahnya ke arahku dan dengan kode jari telunjuk yang ia sandarkan ke bibirnya, bapak menyuruhku untuk tenang tidak berisik. Suara babi hutan itu kian


sastra menggema ke dalam gendang telinga. Dari suara-suara itu dapat ditebak bahwa bukan cuma satu babi hutan yang ada di situ. Ada sekitar tujuh babi hutan di balik rerumputan tersebut. Bapak semakin mendekat dan diarahkannya busur menuju sumber suara-suara bising itu. Ditariknya sekuat mungkin dan dilepaskannya busur itu.

ing-ranting pepohonan. Bapak hanya berdiam sembari terus melihat ke arah di mana babi-babi itu berada. Ia sama sekali tidak melirik ke arahku. Riuh angin semakin kencang. Purnama tak lagi tampak. Kilau ker-

lap-kerlip bintang telah tenggelam ke dalam gumpalan awan hitam. Tiba-tiba saja sesosok hitam besar keluar dengan mata yang bernyalakan cahaya merah. Ia berlari menuju bapak, dan bapa hanya diam tak melawan. Aku berteriak, aku terus berteriak sekencang-kencangnya. ***

Ilustrasi: Margareta Ningrum

Aneh. Pikirku babi-babi itu akan menjerit ketakutan dan berhamburan keluar. Ternyata tidak sama sekali. Suara yang tadinya begitu bising berubah menjadi senyap. Aku tentu tidak memahami ini. Tidak seperti malam-malam yang biasanya. Perasaanku semakin absurd setelah datang angin mengibas rant-

Matahari menjulang tinggi di puncak langit. Mataku perlahan terbuka. “Kemana hutan? Kemana bulan, bintang, dan awan serta angin yang menyeramkan itu? Kemana?� Aku bertanya-tanya di dalam hatiku. Syukurlah bahwa peristiwa yang baru saja menimpa bapak hanyalah kisah dari buah tidurku. Aku mencoba bangkit berdiri, namun tubuhku terasa berat. Aku hanya dapat duduk. Aku melihat Kopong sedang duduk di sampingku. Kuperhatikan ke sekeliling, tampak Ama Sira sedang berbicara dan bersumpah sembari memukul tanah berkali-kali di tengah-tengah masyarakat. 2018 JAN-JUN | natas | 81


sastra Kopong hanya bergeming. Matanya bengkak, sedikit basah. Aku mencoba mengajaknya berbicara, namun sama sekali tak ditanggapinya. Tatapan matanya mengarah pada satu titik yang teramat jauh. Entahlah, ia kemudian berbalik me-

melukku. Ia menangis sejadi-jadinya di dalam dekapanku. Aku sama sekali tidak mengerti dengan tingkahnya. “Kopong, menangis?”

kenapa

kau

Lagi-lagi ia tak menjawab pertanyaanku. Pelukannya semakin dieratkan. “Kopong, ada apa? Mengapa kau jadi seperti ini? Apa yang telah terjadi dengan dirimu? Perlahan-lahan dilepaskannya dekapan itu. Ia menatapku dengan mimik wajah yang sama sekali tak pernah kulihat sebelumnya. Air matanya terus berlinang. “Emak... Emak dan bapa, kaka. Emak dan bapa sudah tidak ada lagi.” Jawabnya dengan serak isak tangis yang tersendat. Aku sekejap terpaku kaku setelah mendengar perkataannya. Tubuhku lemas. Mataku berkaca-kaca. Aku mencoba menahan beban ini, na-

82 | natas | JAN-JUN 2018

mun aku tak sekuat yang dikira. Air mataku kemudian meluap dan mengalir deras. Ama Sira melihat kami berdua. Ia lalu berjalan menghampiri kami. “No (panggilan untuk anak laki-laki) Sedo, Kopong. Kita semua sudah berusaha untuk selamatkan bapa dan emak, hanya saja mulut Tuhan sudah berkata lain. Tuhan telah mengatur semua ini.” Ia mencoba menguatkan dan memberi ketenangan padaku dan si kecil, Kopong. Akan tetapi, aku sama sekali tak butuh dikuatkan. Aku tak butuh ketenangan. Aku tak butuh segala-galanya, terkecuali emak dan bapak. Tatapan mataku menyorot tajam pada Ama Sira. Aku tahu bahwa semua mimpi buruk ini dapat terjadi karena perang tanding yang telah disetujui oleh Ama Sira; karena sejengkal tanah yang diperebutkan. Sampai saat ini, aku tak pernah mengerti mengapa adat begitu kejam kepada pemeluknya sendiri? Mengapa kematian dalam perang masih saja diagungkan? Apa iya Tuhan benar-benar menyetujui perang tanding ini? Apa iya Tuhan pun merestui kematian yang sekeji ini?


sastra ***

Matahari telah terbenam sempurna. Kami masih terus berjalan, melangkah menuruni lembah di antara bukit-bukit bebatu, di bawah cahaya bulan dan tebaran gugusan bintang-bintang. Angin malam mengelus lembut helai baju dan sesekali menembus kulit.

Ama Sira masih berada di barisan paling depan memimpin langkah. Juga Kopong, masih berada di pundakku. Dan aku masih belum mengetahui arah tempuh yang sedang dituju. Pastinya, kami masih terus berjalan ke arah tenggelamnya mentari. “Kaka...” Kopong memanggil dari atas pundakku. “Iya, Kopong. Ada apa?” Tanyaku padanya. “Cerita saya yang tadi belum selesai, kaka.” Jawabnya, dengan sebuah harapan – aku akan mendengarkan kelanjutan ceritanya.

“Kaka, setelah babi hutan yang dia punya taring terlingkar panjang sekali itu mati, tiba-tiba saja babi hutan itu berubah jadi emak. Saya juga tidak tahu kenapa babi itu bisa berubah jadi emak.” Tak ada lagi rumah, tinggal api yang menggumpal asap hitam. Tak ada lagi kebun, tinggal jejak-jejak tapak yang melukis gelisahnya waktu. Tak ada lagi bapak, tak ada lagi emak, tinggal bau luka serta asin darah yang tersimpan di kediaman benakku.

SEKIAN

*) Endy Langobelen, mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma. Aktif di Bengkel Sastra, Bengkel Jurnalistik, dan komunitas beringinrimbun.

“Terus, bagaimana kelanjutannya?” Aku mencoba mewujudkan harapannya itu.

2018 JAN-JUN | natas | 83


sastra

Istirahat Waktu kini terasa pilu Tak seindah dulu Bahu yang kutempa Kini semakin tak kuasa Cahaya remang di kala binar kota Lelapku meneduh di kolong altar Sungguh diamku berada Kala senja telah tiba Tatap itu semakin buat ku lemah Dulu yang selalu ku puja Kini tak kurasa lagi Memilih diam untuk lari Waktu butuh istirahat

84 | natas | JAN-JUN 2018


sastra Sebelah Mata Kelap kelip jalanan ibukota Keelokan yang tiada tara Membalut semua pesona Memperindah nikmat mata Ada hidup yang tak semudah ucapan Keringat lelah mengalir di kolong jembatan Pemerintah penuh bualan Rakyat terisak ingin harapan Bukan tuduhan Ini keluh pangeran kecil yang selalu menangis tak mau menangis bukan sosok pesimis

Layaknya Kandang Tiap hari ini Membangkang setiap aturan yang tak karuan Terlilit bualan omong kosong yang tak masuk akal Aksi apakah ini Seolah tidak ada hukuman sehabis ini Wartawan kacung media berambisi membuat spekulasi Semua bak mau untung dari sini Memprovokasi tuaian yang tak berisi

Astrid Dyah Wuriastuti

2018 JAN-JUN | natas | 85


86 | natas | JAN-JUN 2018


Profile for Fileksius Gulo

Benang Kusut Toleransi Yogyakarta  

Majalah Jan-Jun 2018

Benang Kusut Toleransi Yogyakarta  

Majalah Jan-Jun 2018

Advertisement