Page 1

Mozaik

32

Edisi 998/ 9 - 15 april 2018

Peredaran narkoba, kasus pornografi dan pornoaksi, serta kekerasan terhadap perempuan dan anak yang marak dewasa ini menjadi perhatian yang serius pemerintah dan masyarakat. Untuk itu, Polda Bali menggelar penyuluhan mengenai bahaya kasus tersebut kepada 1.520 orang yang terdiri dari siswa SMP & SMA, anggota Bhayangkari, Dharma Wanita/PKK, Persit Kartika Chandra Kirana, PIA Ardhya Garini, Jalasnastri, Adhyaksa Dharma Karini, Dharmayukti Karini, Prajurit TNI (AD, AL, AU), anggota Polri, Korps Wanita TNI (AD, AL, AU), Polwan, Karang Taruna, dan Warakawuri di Aston Grand Ballroom, Selasa (3/4).

A

cara juga dihadiri Ibu Negara RI, Iriana Joko Widodo dan istri Wakil Presiden, Mufidah Jusuf Kalla bersama rombongan. Pembicara dalam acara bertema   “Sosialisasi Anti Narkoba, Pornografi, serta Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak Demi Masa Depan Indonesia Gemilang” tersebut adalah dr. Aisyah Dahlan, dan perwakilan dari Ditnarkoba Polda Bali. Dialog secara interaktif juga dilakukan oleh Iriana setelah sesi sosialisasi, dan bagi para peserta yang mengajukan pertanyaan menarik maupun bagi mereka yang berhasil menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Ibu Negara berhak mendapat hadiah diantaranya sepeda dan laptop. Salah satu penerima hadiah sepeda adalah Pijar Candra, siswa SMA Negeri 1 Mengwi. Pijar diminta Iriana pura-pura sebagai teman dekatnya. Skenarionya, Iriana sebagai pecandu narkoba dan Pijar mencoba membujuk Iriana supaya menjauhi narkoba karena merusak masa depan.

tkh/eka

Ibu Negara bersama peserta “Sosialisasi Anti Narkoba, Pornografi, serta Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak Demi Masa Depan Indonesia Gemilang”

Pesan Antinarkoba dari Ibu Negara Tanpa sungkan, Iriana berakting menolak bujukan tersebut. Namun Pijar terus berupaya membujuk dengan gaya ABG-nya.   “Izin Bapak Jokowi bukan bermaksud saya menggoda,” ucap Pijar. Selain itu, Pijar berusaha mengedukasi agar Iriana meninggalkan dunia gelap penyalahgunaan narkoba dan mau menjalani rehabilitasi di Badan Narkotika Nasional (BNN) supaya tidak ketergantungan lagi dengan

obat-obatan terlarang tersebut. Lagilagi, Iriana menolaknya dan membuat Pijar kebingungan. Pijar langsung menanggapi saat Iriana pura-pura menaksirnya. “Iriana jika kamu ingin mengejar cita-cita dan masih ingin menjadi istri dari Bapak Presiden Indonesia, sebaiknya kamu jauhi narkoba. Berkumpul dengan teman-teman yang tidak menggunakan narkoba dan jadi generasi muda yang antinarkoba,” kata Pijar.

OASE Apresiasi Produk Spa Tradisional boreh Bali tersebut menarik perhatian. Hal ini dibuktikan juga dengan dibelinya beberapa produk Bali Tangi tersebut. “Beberapa istri menteri juga sempat merasakan polesan lulur di tangan mereka. Yang paling istimewa ketika Bu JK menanyakan bagaimana usahanya kami bisa berkembang sampai seperti sekarang ini,” ungkap Yuliani. (Sri Ardhini)

Ibu Mufidah JK bersama Ni Made Yuliani Djajanegara

Selain mengikuti sosialisasi di Hotel Aston Denpasar, rombongan OASE Kabinet Kerja berkunjung ke workshop Bali Tangi. Ibu Negara tidak ikut karena harus ke Solo untuk melayat besannya yang meninggal dunia. Di Bali Tangi, Ibu Mufidah JK dan para istri menteri lainnya sangat mengapresiasi produk spa tradisional dan organik yang diproduksi Ni Made Yuliani Djajanegara. Produk berbasis

Ibu Mufidah JK saat berkunjung ke Bali Tangi

INISIASI IBU NEGARA DAN OASE Kapolda Bali  Irjen (Pol) Dr. Petrus Reinhard Golose usai kegiatan tersebut menegaskan, pihaknya memiliki komitmen kuat memberantas peredaran narkoba. Selain itu, video porno melalui jejaring media online juga menjadi prioritas penanganannya karena   membahayakan generasi muda dan masyarakat di Pulau Dewata. Kepolisian juga mendukung upaya edukasi kepada keluarga agar tidak melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Menurutnya program di kepolisian bersama seluruh pemangku kepentingan mendukung kegiatan yang dilakukan Ibu Negara dan istri Wakil Presiden. Irjen Golose  menilai antusiasme ibu-ibu tergabung dalam Organisasi Aksi Solidaritas Era (OASE) Kabinet Kerja ini sangat luar biasa dalam melindungi generasi muda agar tidak terjerumus ke dalam penyalahgunaan barang haram ini, maupun menonton video porno.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada Ibu Negara karena turut membantu kepolisian dalam upaya pencegahan peredaran narkoba, pornografi serta kekerasan terhadap perempuan dan anak  di Pulau Dewata ini. Tuan rumah acara ini adalah Bhayangkari Polda Bali, namun kegiatan ini merupakan inisiasi Ibu Negara Iriana Joko Widodo bersama OASE,” tegas Golose. Lilik Amini, General Manager In-Charge Aston Denpasar Hotel & Convention Center menambahkan bahaya narkoba sudah tidak diragukan lagi, begitupun dengan penyalahgunaannya yang semakin marak di berbagai negara termasuk di Indonesia. “Semoga melalui acara sosialisasi yang dihadiri oleh Ibu Iriana Joko Widodo dan Ibu Mufidah Jusuf Kalla dapat memberikan dan menambah pengetahuan, serta pemahaman bagimana untuk tidak terperosok ke dalamnya, bahkan dapat membantu saudara maupun teman yang tengah menga­laminya,” ungkapnya. (Ngurah Budi/Ngurah Ken) 

redaksi@cybertokoh.com, iklan@cybertokoh.com

cybertokoh

@cybertokoh

@cybertokoh

www.cybertokoh.com


Espresso

2

Edisi 998/ 9 - 15 April 2018

GORO-GORO Mau Praktis prt C harus Kritis

Dalam rumah terdenPutu Wijaya gar pertengkaran tukang bakso dengan Amat. “Tikus putih?” “Betul Pak! Lebih panas dari daging RW, monyet, kalong bahkan lebih manjur dari darah kobra! Makanya harganya mahal, Bu! Aduh!” Tukang bakso terdorong keluar, langkahnya keselimpet, ia hampir jatuh, mangkoknya jatuh berantakan. Amat keluar diikuti istrinya. “Jadi bakso kamu betul-betul daging tikus!” “Bukan yang biasan, tapi dewanya.” “Tapi tikus!” “Putih tapi!” “Tikus mana ada yang putih!” “Makanya satu mangkok 25 ribu!” “Putih, biru atau belangbonteng tetap saja tikus!” “Tapi khasiatnya dong, Pak! Menyembuhkan seribu satu penyakit! Termasuk mengembalikan keperkasaan Bapak!” “Penyebar wabah pes!” “Warga gorong-gorong yang makan kotoran!” “Makanya rasanya maknyus, Pak! Tandas 4 mangkok, kan?! Bapak itu juga. Sedang ganyang mangkok ketiga!” (Tukang bakso menunjuk lelaki yang duduk di kursi lagi makan bakso mangkok ketiga dengan sangat rakus) Amat dan istrinya menoleh. Baru sadar di situ ada KABUL, agen pembantu yang mereka tunggu-tunggu. “Pak Kabul?!” Lelaki itu ketawa. “Maaf Bu Amat, Pak Amat. Saya lagi fokus. Soalnya ueeeenak sekali!” “Mau tambah lagi, Pak?” “Satu mangkok lagi, tapi do-

bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

bel!” “Siap! Saya bilang apa. Enak kok!” Tukang bakso mau kembli ke dagangannya. Amat berteriak: “Tunggu!” Tukang bakso terkejut. Ia memegang dadanya. “Pak Kabul?!” “Saya Pak Amat.” “Betul enak?” “Wah sulit dikatakan, Bu. Terlalu maknyus. Saya sudah pernah makan ular, cacing, cecak, lintah, senua, tapi tak ada yang lebih nendang dari ini. Sekarang saya sudah dah mau lima ini! Cepat, Bung, biar nyambung!” “Bapak tahu itu daging apa?” Kabul terkejut. “Ah? Rasanya, seperti, bukannya, katanya daging rusa Kalimantan! Atau daging kalong, ya?” “Itu daging tikus!” “Tikus?” “Tikus putih, Pak!” “ Ya A l l a h ! T i k u s ? T i k u s yang?” “Makan kotoran!” “Ya, ampunnn!” Kabul langsung mual. Dia lari ke halaman dan muntah. Tukang bakso ketawa.. “Bagus, bagus sekali, Pak! Kalau bisa muntah, artinya penyakit Bapak dikuras. Nanti Bapak akan perkasa seperti Rambo!” Kabul menyumpah-nyumpah. “Bangsat! Aku pasti ditolak masuk surga gara-gara mengganyang tikus! Bajingannnnn! Kriminal ini harus dieksekusi!” Kabul berdiri lari kembali ke teras rumah. Langsung meraup mangkok bakso di meja, melempari tukang bakso. Tukang bakso lari. Kabul mengejar, tapi perutnya mual lagi. Dia mencopot celananya mau buang hajat di halaman. Bu. Amat berteriak: “Jangan di sini! Pakkk!” “Jangan di situ banyak lintah

di situ!” Kabul pindah, langsung jongkok “Pakkkk!”. “Jangan di situ!” “Pohon mawarku bisa rontok!” “Maaf, Bu! Ini emerjensi! Apa  boleh buat! Nanti diganti! Habis tidak bisa ditahan lagi. Daging tikus, Pakkkk! Keluar, keluar semua!” “Pak!” “Awas! Di situ ada sarang ularrr!” Kabul berteriak kaget. “Aduh!” Kabul terpaksa berdiri dan lari, mau masuk rumah. “Jangan ke mari!” “WC-nya mana, Pak?” “Jangan! Kami tidak terima berak daging tikus!” “Tenang, tenang, Pak. Sudah keluar semua. Ini cuma mau cebok!” “Bagaimana, Bu?” “Tidak boleh!” Tiba-tiba Kabul berteriak. “Aduhh mau keluar lagi!” Kabul jongkok. “Jangan di sini!” “Ya Tuhan, habis di mana?” “Terserah! Risiko tanggung sendiri!” “Apa boleh buat! Rawe-rawe rantas malang-malang putung! Maafffff!” Kabul nekat mau menerobos masuk. Tapi Bu Amat berdiri di pintu menunjukkan pisaunya. Kabul terpaksa kabur ke jalanan. “Ampunnnn!” Terdengar klakson mobil panik karena Kabul berlari di jalan cari selokan. Tukang bakso mengendap-endap mengambil mangkoknya. Pak Amat dan Bu Amat pura-pura tak melihat. Begitu tukang bakso sudah berhasil  mengambil semua mangkok, Pak Amat menggertak sambil menirukan salak anjing. “Kuk-huk-huk-huk!” Tukang bakso lari pontangpanting. Suara klakson mobil tambah rame.

Kasus makanan kalengan mencuat lagi. Adanya temuan cacing di ikan makarel dalam kaleng membuat masyarakat khawatir. BPOM di berbagai daerah pun bergerak untuk melakukan pemeriksaan. Hasilnya, memang ada temuan makanan dalam kaleng yang positif mengandung cacing. Masyarakat sudah mengenal makanan dalam kaleng sebagai makanan yang praktis. Kapan pun bisa dibeli kemudian disimpan sebagai stok makanan. Proses pengolahannya pun dibuat mudah. Tetapi, adanya kasus ini membuat masyarakat tersadar. Makanan kaleng ternyata memiliki sisi negatif. Daripada sibuk memikirkan siapa yang bersalah, lebih baik mencari solusi. Jika memungkinkan, konsumsilah makanan segar. Jika harus memilih makanan dalam kaleng, perhatikan dengan detail tentang kemasannya apakah utuh atau ada yang rusak, masa kedaluwarsanya. Kalau mau yang praktis, pembeli harus kritis untuk memperhatikan semuanya dan bertanya kepada penjual. Langkah berikutnya, jika memilih makanan kaleng perhatikan cara memasaknya. Ikuti prosedur yang sudah tertera di kemasan. Memodifikasi bahan makanan dengan menambahkan bumbu bisa menjadi solusi. Namun, hal yang tetap diprioritaskan adalah menjaga kesehatan. Rubrik “Sudut Pandang” di edisi 998 ini menampilkan tentang komentar dan tips tentang makanan dalam kemasan termasuk makanan kaleng. Ada yang tak mau lagi membeli makanan kaleng. Ada yang merasa perlu makanan kaleng karena situasi tertentu. Ada juga tips bagaimana mengolah dan menyimpan makanan dalam kaleng. Laporan yang tak kalah menarik adalah kehadiran Ibu Negara Iriana Jokowi dan istri Wakil Presiden Ny. Mufidah Jusuf Kalla beserta beberapa istri Menteri Kabinet Kerja di Bali. Beragam acara mereka ikuti selama berada di Pulau Dewata. Salam Redaksi

Mozaik

Edisi 998/ 9 - 15 April 2018

Lahirnya gagasan full day school oleh Mendikbud Muhajir Effendi pada 2016 yang kemudian diperkuat dengan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017 tentang hari sekolah telah mengundang pro dan kontra di kalangan masyarakat pendidikan Indonesia. Walaupun Permendikbud itu tidak secara eksplisit menyebutkan full day school, kalangan awam telanjur menerjemahkan sekolah sehari penuh. Akibatnya, orangtua siswa banyak yang berkeberatan karena berkurangnya waktu anak membantu orangtua di rumah, lagi pula bekal sekolah bertambah, sementara penghasilan orangtua tetap. Selain itu, secara geografis dan iklim, tampaknya full day school bagi Indonesia kurang mendukung. Karena itu, wajar Daoed Joesoef menggugat dalam tulisannya di Kompas, (14/10/2016) dalam tajuk “Sekolah 24 Jam Buat Apa“. Untuk mengakhiri pro kontra itu, terbitlah Perpres Nomor 87 Tahun 2017 tanggal 6 September 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Di dalam Perpres itu disebutkan PPK adalah gerakan pendidikan di bawah tanggung jawab satuan pendidikan untuk memperkuat satuan pendidikan melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olahraga dengan pelibatan dan kerjasama antar satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat sebagai bagian integral dari Gerakan Nasional Revolusi Mental. Terbitnya Perpres 87 Tahun 2017

Hari Keluarga Berwisata

memang tidak secara eksplisit menghentikan kisruh wacana yang dihembuskan Mendikbud Muhadjir Effendy, tentang lima hari sekolah dalam sepekan. Namun Mendikbud mengatakan gagasan lima hari sekolah bersifat alternatif dan pelaksanaannya diserahkan kepada masing-masing sekolah mengatur. Hal ini patut diapresiasi dalam konteks penguatan pendidikan karakter. Pertama, menjadikan SabtuMinggu sebagai hari keluarga berwisata setelah lima hari anak-anak mereka belajar di sekolah. Lima hari belajar di sekolah juga diniatkan untuk menyelesaikan seluruh tugas-tugas akademik anak di sekolah sehingga mereka tidak direpotkan kembali dengan PR setelah di rumah. Dengan demikian, Sabtu– Minggu benar-benar menjadi hari keluarga berwisata tanpa beban PR. Kedua, komitmen Mendikbud, Mahadjir Effendy melaksanakan MoU dengan Menteri Pariwisata, Arief Yahya yang ditandatangani pada 25 Januari 2017 di Sawangan, Depok. Inti dari MoU itu adalah gerak langkah bersama antara dua kementerian untuk saling berkolaborasi membangun SDM khususnya para siswa dengan mengajak mereka berkunjung ke objek wisata melalui karya wisata. Metode belajar sambil berwisata dan diupayakan berlangsung menyenangkan penuh kenangan sesuai dengan nilai-nilai sapta pesona dalam dunia pariwisata. Ketiga, menyerahkan anak-anak sekolah dua hari penuh dalam gem-

Penanggung Jawab/Pemimpin Redaksi: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Iklan Denpasar: IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti, Sagung ­Inten. Buleleng: Wiwin Meliana. Jakarta: Diana Runtu. NTB: Naniek Dwi Surahmi. Desain Grafis: IDN Alit ­Budi­artha, ­I Made Ary ­Supratman. Manajer Sirkulasi dan Iklan: I Ketut Budiarta, Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama, Ayu Wika Yuliani. Se­kretariat: Ayu ­Agustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Ombudsman: Jimmy Silalahi. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­D enpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­merah ­Barat 21 G Jakarta Pusat 10270–Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­­Faksi­mile (031) 5675240. Surat Elektronik: info@cybertokoh.com, redaksi@cybertokoh.com, iklan@cybertokoh.com. Bank: BRI ­Cabang ­Gajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

blengan orangtua sambil berekreasi. Diharapkan kesempatan ini menjadi wahana komunikasi yang efektif bagi orangtua mendampingi anak-anak mereka. Inilah bentuk dukungan orangtua menyeimbangkan dan mempraktikkan pendidikan yang diperoleh di sekolah di lingkungan keluarga dan masyarakat. Relasi dan integritas ketiga lembaga pendidikan ini diharapkan mampu mengonfirmasi secara triangulasi hasil pendidikan di sekolah selama lima hari dengan keluarga dan masyarakat. Keempat, Sabtu-Minggu menjadi bahan refleksi bagi keluarga terkait dengan pendidikan anak-anaknya se-

sehingga para siswa terhindar dari gerakan radikalisme dan intoleransi. Walaupun tidak ada kewajiban melaksanakan lima hari sekolah, Mendikbud sangat arif menyikapinya, dengan memberikan alternatif melaksanakan bagi sekolah yang siap. Nyatanya, yang lebih siap melaksanakan adalah sejumlah sekolah swasta tertentu yang daya dukungnya memadai. Terlepas dari semua itu, gagasan lima hari sekolah selain membangkitkan ekonomi kerakyatan melalui perjalanan wisata keluarga, juga mendorong ekonomi kreatif tumbuh melalui jasa para orangtua yang mampu menginspirasi ke sekolah setelah berwisata ke berbagai objek. Jadi, terbuka pula untuk mengembangkan wisata pemikiran dan gagasan (wisata edukasi) untuk dibagi kepada seluruh warga sekolah. Dengan demikian, hari keluarga berwisata dapat dikembalikan oleh orangtua siswa dengan berbagi cerita dan pengalaman melalui kelas inspiratif dalam tajuk Parenting Class. Inilah implementasi dari Hari Keluarga Nasional yang dirayakan setiap 29 Juni. I Nyoman Tingkat SMAN 1 Kuta Selatan

Kata Hati Rubrik ini khusus untuk menuangkan ide/pemikiran/gagasan dalam bentuk tulisan. Tema terkait wanita dan keluarga serta tidak mengandung unsur SARA. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter. Lampirkan juga foto close up (bukan pasfoto). Cantumkan nama lengkap, profesi, nomor hp, dan alamat email. Naskah dikirim ke redaksi@cybertokoh.com, redaksitokoh@yahoo.com.

Yoga bersama Dian Kania (Markandeya Yoga)

Teknik Pernapasan Yoga untuk Mempersiapkan Menopause Gambar 1 dan 2 Tahap 1  Posisi duduk bersila dan menutup hidung kanan dengan ibu jari. Jari tengah menyentuh kening kemudian merasakan hangat dan cahaya. Jika kita belum bisa merasakannya, bayangkan cahaya matahari masuk melalui ubun-ubun dan cahaya tersebut menyebar ke tulang punggung.   

Bunda Dian

Kelompok Media Bali Post (KMB) siap bersinergi dengan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Hal ini terungkap saat diskusi Kepala Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kawasan Amerika dan Eropa Kementerian Luar Negeri RI Leonard F. Hutabarat, Ph.D. dengan tim KMB di Denpasar, Jumat (6/7). Diskusi diakhiri dengan foto bersama Leonard (pakai batik) dan tim KMB.

I Nyoman Tingkat

lama sepekan di sekolah. Refleksi dapat menjadi masukan bagi pihak sekolah untuk memperbaiki fungsi pelayanan yang kurang dan menguatkan fungsi pelayanan yang berkualitas. Dalam konteks ini, penting untuk selalu mengundang orangtua dengan membuat kelas parenting setelah mereka berwisata dengan anak-anaknya. Kelas parenting berguna bagi seluruh civitas sekolah dan dapat diaplikasikan di keluarga masing-masing sesuai dengan situasi dan kondisi. Kolaborasi dan komunikasi ini dapat membangun kemesraan antara orangtua siswa dengan sekolah demi kemajuan bersama. Kelima, menguatkan pendidikan karakter siswa yang dalam program Nawacita Presiden Jokowi diringkas menjadi lima nilai, yaitu religius, integritas, mandiri, gotong royong, dan nasionalis. Kelima nilai itu mengacu pada kepada sila-sila Pancasila yang perlu terus dibumikan dan diakarkan dalam pembelajaran secara terintegrasi yang selanjutnya dapat disuburkan oleh keluarga dan masyarakat sebagai langkah bersama menjaga ideologi Pancasila

31

Pada saat menopause pada umumnya hormon mengalami fluktuasi, sehingga menimbulkan suasana hati yang tidak menentu. Selain itu juga tulang menjadi lebih rapuh. Dengan melatih teknik pernapasan serta gerakan-gerakan di bawah ini dapat meringankan gejala-gejala menopause.

Tahap 2 Selanjutnya hembuskan napas pelan-pelan dari hidung sambil merasakan hangat di tulang punggung. Lakukan 7 kali penarikan napas dan menghembuskan napas. Begitu sebaliknya lakukan dengan menutup hidung kiri dan tangan kanan letakkan di atas lutut serta lakukan teknik yang sama seperti teknik yang pertama.

4 2

1

Gambar 3 Masih dalam posisi duduk seperti terlihat pada gambar nomor 3 dengan mengangkat kedua tangan naik ke atas. Mulailah rasakan cahaya matahari masuk melalui ubun-ubun menuju ke organ reproduksi (rahim). Rasakan cahaya semakin membesar di area rahim secara perlahan dan tersenyum. Kemudian mulai menarik napas, kembungkan perut alirkan napas di rahim dan hembuskan napas perlahan melalui hidung. Lakukan pernapasan ini 7 kali putaran.

3

Gambar 4 Mengubah posisi duduk yaitu dengan duduk bersimpuh, usahakan pinggul menyentuh tumit. Apabila terasa tidak nyaman, boleh mengambil handuk dan tempatkan handuk diantara tumit dan pinggul. Lanjutkan dengan memanjangkan kedua tangan begitu pula tulang punggung diluruskan. Biarkan diam sejenak dengan posisi ini.  Dengan perasaan nyaman dan tersenyum, mulai menarik napas melalui hidung arahkan napas ke daerah rahim kembali buang napas dari hidung. Lakukan  7 kali putaran. Selamat berlatih dengan senyum Salam Markandeya Yoga Indonesia

Model : Chandra Diah (Markandeya Yoga Indonesia)


Rileks

30 Pertanyaan TTS No. 005

MENDATAR: 2. SERAMBI 3. TEMPAT MEMASAK 5. MAKANAN KHAS JEPANG 7. MAKAN PAGI 8. KOLOM 9. BERISIK 11. TEMPAT PEJALAN KAKI 13. SEPATU KUDA 15. KERETA API 16. PENGGORENGAN 18. PUKAT 19. PAHAT 23. CACAH 24. PILIHAN 27. PURBA 28. MEREK 30. KEBUN

MENURUN: 1. GOSONG 3. STATIS 4. USIA 5. SENDOK 6. KARCIS 10. WARUNG 11. PERALIHAN 12. KANGEN 13. LENTERA 14. PETASAN 17. UDANG KERING 20. SIPUT 21. SULIT 22. KABIN 25. BUBUR KERTAS 26. KELEBIHAN 29. RUTE

Edisi 998/ 9 - 15 april 2018

TTS tokoh

J

TTS No. 003 MENDATAR: 2. FEMININ 5. HIDROPONIK 6. INSANG 11. KEMBANG 12. LEGAWA 13. KEBAYA 14. RIMBA 17. TAPLAK 22. WASIT 26. MERAPI 27. TOKOH 28. NATURAL 29. KASIHAN 31. TSUNAMI

MENURUN: 1. GILIMANUK 3. KANGGURU 4. BRAWIJAYA 7. SAKURA 8. FILATELIS 9. DONAT 10. JANIN 15. BETAWI 16. RAJIN 18. AKTOR 19. SAMOSIR 20. ATRIBUT 21. DEBUS 23. BONSAI 24. CENGENG 25. ETALASE 30. SUDUT

Pemenang TTS No. 003 1. Ni Putu Narayati (Bajera, Tabanan) 2. AA Oka Puspawati (Pekutatan, Jembrana)

Pilkada untuk Semua

KETENTUAN MENJAWAB Jawaban ditulis di kertas dan masukkan dalam amplop atau ditulis di kartu pos. Tempelkan gun­ tingan kupon TTS No 001 serta identitas lengkap (nama, alamat, no HP). Kirim ke Redaksi Tokoh, Gedung Pers Bali K. Nadha lantai III, Jln. Kebo Iwa no 63 A Denpasar, paling lambat Kamis 19 April 2018. Pemenang diumumkan Minggu 22 April 2018. Tersedia dua hadiah voucer belanja senilai @Rp 100.000 dari Cellular World untuk dua orang pemenang. Pemenang agar ­mengambil hadiah ke Kantor Redaksi Tokoh setiap hari kerja dengan membawa identitas diri (KTP/SIM)

Oprah Gail Winfrey lahir di Kosciusko, Mississippi, Amerika Serikat, 29 Januari 1954. Ia seorang selebriti dan pengusaha Amerika Serikat yang namanya melambung setelah membawakan sebuah acara bincang-bincang yang sa­ ngat populer,The Oprah Winfrey Show. Dengan kekaya­an sekitar 1,3 miliar dolar AS, ia masuk dalam daftar miliarder di dunia.

O

e Luh Ged i Herryan

Kupon TTS tokoh No. 005

tokoh dunia

prah dibesarkan di sebuah pe­ ternakan oleh neneknya yang keras (Hattie Mae) selama enam tahun. Ketika berusia enam tahun, ibunya, Vernita, mendapatkan pekerjaan sebagai pembantu di Milwaukee, Wisconsin dan akhirnya mengambil Oprah kembali dari neneknya. Di Milwaukee, ia

Puncak acara Pemilihan Umum Gubernur Bali (Pil­ gub) Bali 2018 adalah 27 Juni mendatang. Saat itu bakal dilangsungkan pencoblo­ san. Pasangan dengan suara terbanyak akan menjadi pemenangnya. ika ingin ikut bersama-sama dengan pemimpin terpilih berkontribusi untuk daerah, demi kemajuan dan gerak pembangu­ nan kedepannya, maka jangan golput. Gunakan hak pilih kita, terutama pada para perempuan, mengingat angka pemilih perem­ puan sangat besar. Begitu disam­ paikan Luh Gede Herryani, S.H., M.Kn., Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrat Buleleng ini saat bertemu Tokoh di rumahnya di kawasan Jalan Tukad Badung, Denpasar. Perempuan yang akrab disapa Luh De ini mengajak seluruh ele­ man masyarakat untuk bersamasama menyukseskan perhelatan lima tahunan ini. “Pilkada me­ nyeluruh kali ini berlangsung di 17 provinsi, 115 kabupaten serta 39 kota di Indonesia, seyogyanya akan berjalan aman, lancar, tertib dan demokratis,” ucap Notaris, PPAT, Pejabat Lelang Kelas II ini.

JAWABAN

Sosialita

Edisi 998/ 9 - 15 april 2018

harus tinggal dalam satu kamar bersama ibu dan dua saudara tiri, laki-laki dan perempuan. Setiap hari Vernita meninggalkan anakanak itu pagi-pagi sekali dan baru pulang pada malam hari, sehingga ia tidak punya waktu

Oprah Winfrey

untuk keluarganya. Menginjak usia 14 tahun, Oprah hamil dan bayinya meninggal tidak lama set­ elah dilahirkan. Ketika Oprah melari­ kan diri selama satu minggu, ibunya memutuskan untuk mengirim Oprah hidup bersama ayahnya di Nashville. Oprah yang benar–benar takut den­ gan ayahnya. Ayah Oprah tidak bisa mentoleransi sikap negatif Oprah atau nilai sekolahnya yang buruk. Oprah mem­ peroleh nilai-nilai C di Milwaukee, tetapi hanya nilai A yang bisa diterima oleh ayahnya. Awalnya, Oprah benci pada aturan tegas dan harapan tinggi mereka. Tapi,

ternyata justru itulah yang ia perlukan, orang­ tua yang membuat peraturan dan menerap­ kannya dengan tegas, tetapi juga memberikan cinta dan perhatian yang diinginkannya. Oprah pun bangkit. Tidak saja nilai sekolahnya yang meroket, Oprah juga jadi lebih ramah dan populer daripada sebelumnya. Pada 1976, Oprah menjadi pembawa acara TV di Baltimore dan kemudian dipromosikan sebagai pendamping pemandu acara bincangbincang pagi (talk show) yang bernama People Are Talking (Orang–orang Mulai Berbicara). The Oprah Winfrey Show membuat debut nasional pertamanya pada tahun 1986, dan meraih sukses dengan cepat dengan menjadi pertunjukan yang paling populer di televisi, menjadikannya wanita kulit hitam yang bangkit dari kemiskinan dan menjadi bintang dengan bayaran tertinggi. (Wikipedia)

Ia mengatakan pilkada ini ada­ lah proses demokrasi milik kita se­ mua. Karenanya ia percaya semua pihak yang terlibat dalam pelak­ sanaan pilgub Bali kali ini, akan menjalankan tugasnya dengan baik. “Mari kita membangun seka­ ligus menyebarluaskan semangat kebebasan berdemokrasi kepada semua orang untuk nantinya bisa

menerima apapun hasil Pilgub secara wajar. Dalam arti siap me­ nang juga siap kalah,” tegasnya. Ditanya soal sosok pemimpin Bali, Luh De berharap pemimpin yang terpilih nanti ada­ lah pemimpin yang ber­ sih, jujur (berintegritas), santun, cerdas, memiliki tanggung jawab (responsibility) dan pastinya mempunyai programprogram yang pro rakyat atau berkomitmen tinggi untuk menyejahterakan masyarakat. Programnya mesti bersentu­ han langsung dengan masyarakat terbawah disertai pembangunan infrastruktur yang dapat mem­ bantu program pengembangan ekonomi rakyat. Mengenai perekonomian rakyat, juga terhitung wajib

menjadi perhatian serius pemimpin Bali ke depan­ nya. Pemerintah nanti mesti mencanangkan program yang bertujuan mengurangi masyarakat miskin serta percepatan pembangunan . Sepa­ tutnya pula pemimpin terpilih yang baik dan kompeten adalah set­ elah dilantik mengetahui permasalahan yang ada di wilayahnya serta meny­ usun strategi penanganan­ nya secara komprehensif dengan para tenaga ahli. Sekali lagi diingatkannya kalau kita gagal memilih pemimpin yang tepat dalam pilkada kali ini maka, pem­ bangunan daerah kita akan terganggu. “Semoga penye­ lenggaraan pilgub di daerah kita berjalan dalam suasana demokrasi yang aman dan jujur,” katanya.

3 MENJAGA BUDAYA BALI Menjaga konsep Bali berarti menjaga “budaya”-nya. Karenanya “budaya” ini perlu dilestari­ kan. “Kenapa diles­ tarikan? Mengin­ gat bahwa ke­ hidupan kita, bukan hanya pada saat ini saja. Masih ada anak” cucu kita yang akan melanjut­ kannya nanti. Budaya bukan­ lah hanya sekadar bisa menari dan bisa berbahasa Bali. Namun lebih dari itu, di dalamnya ada tata krama, seperti pada ber­ bagai kegiatan keagamaan yang dikenal san­ gat kuat mencer­ minkan

budaya Bali,” papar Luh De. Ia berharap generasi muda memiliki kepedulian yang tinggi pula terhadap tradisi dan kultur lokal. Pemimpin Bali nanti me­ nyiapkan program yang konsisten bagi generasi muda agar memaha­ mi dan menjadikan budaya sebagai warna dalam kes­ eharian mereka. Apalagi, katan­ ya kalau bicara pelestarian bu­ daya. Hal ini tidak semata-mata untuk sisi ekonomi saja, na­ mun sejarah dan spirit yang ada di dalamnya. Semen­ tara itu juga masyarakat Bali, wajib diingatkan untuk berkontribusi menjaga alam Bali dengan meme­ gang teguh konsep Tri Hita Karana. Tiga hal yang mengatur harmonis, yakni hubungan manusia dengan sesama (pawongan) juga manusia kepada alam, lingkungan (palemahan) serta hubungan harmonis dengan sang pencipta yakni Tuhan (parahyangan). Luh De juga mengatakan perlu ada penekanan bahwa inilah yang menuntun masyarakat Bali dapat sa­ling menghargai sekaligus menjaga nilai keseimbangan atau harmonisasi dalam hidup. Tri Hita Karana juga, sesungguhnya dapat diaplikasikan dengan cara sederhana dan bisa dilaku­ kan oleh siapa. Misalnya membuang sampah pada tempatnya. Meski sudah ada juga upaya lainnya untuk menjaga budaya, yakni melalui are­ na Taman budaya yang bernama Art Center di ka­ wasan jalan Nusa Indah Denpasar. Namun, kegiatan yang padat budaya di dalamnya mung­ kin hanya ramai pada saat diseleng­ garakannya Pesta Kesenian Bali saja. Sementara ketika kita bicara serbuan budaya asing, tentu tak bisa dihindari. Maka di sini juga perlu mendapatkan perhatian serta fil­ terisasi yang baik. Maka, siapapun yang akan menjadi pemimpin Bali tentu hal ini sudah menjadi bagian dari program pengembangan sekaligus menjaga Bali ke depan­ nya. -ard


Inspirasi

4

Edisi 998/ 9 - 15 April 2018

SHERINA MUNAF

Dari Wushu ke Pencak Silat

Generasi tahun 90-an tentu ingat dengan Sherina Munaf, penyanyi cilik yang kala itu sangat populer. Putri kedua Kepala Badan Ekonomi Kreatif ini lama menghilang dari dunia hiburan tanah air, tiba-tiba memberi kejutan kepada publik dengan berpartisipasi dalam film ‘Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212’.

M

enariknya, Sherina dulu terkesan tidak terlalu tertarik mengembangkan karier di dunia akting. Satu-satunya film yang dibintanginya adalah ‘Petualangan Sherina’ yang terbilang sukses dipasaran ketika itu, 2001. Setelahnya, meski banyak tawaran main film mengalir, dia menolak dan memilih menekuni dunia musik. Menurut sang ayah, Triawan Munaf, meski dulu tawaran main film banyak, namun sebagai ayah ia sengaja membatasi Sherina. Hal itu karena ia menginginkan anaknya fokus pada dunia pendidikan. “Sherina kan dulu masih kecil, nggak baik lah seorang anak punya komitmen kerja saat usia begitu. Itu bisa menggangu masa kanakkanaknya. Dia juga akan merasa terbeban. Saya ingin dia konsentrasi pada pendidikan. Nah kalau sekarang sudah besar, ya terserah Sherina,” papar Triawan Munaf beberapa waktu lalu. Sherina sendiri mengaku sepakat dengan pandangan ayahnya. Jadi, katanya, kalau sekarang main film bukan soal suka atau tidak suka akting tapi lebih pada ketertarikan pada sesuatu. “Bukan suka atau tidak suka. Tapi saya hanya mau melakukan sesuatu yang membuat saya tertarik. Enggak tahu sejak kapan saya punya janji seperti itu. Tapi kalau saya tertarik pasti saya akan melakukannya,” kata Sherina yang sejak beberapa bulan lalu telahmenyelesaikan syuting Wiro Sableng. Terkait kemunculannya di film, dirinya awalnya mengaku sempat heran dan bingung kenapa disodori main film. Apalagi proyek tersebut adalah film besar yang dikerjakan Lifelike Picture bekerja sama dengan perusahaan film Hollywood, Fox International Production, anak perusahaan 20th Century Fox. “Tahu-tahu aku disodori script (skenario) film itu. Aku bingung, heran, kok aku yang dipilih? Kan pengalaman akting aku minim

banget. Cuma sekali main film (Petualangan Sherina) itu pun sudah lama. Tapi setelah aku baca scriptnya, aku benar-benar tertarik. Tokoh Anggini, pendekar wanita yang aku perankan sangat menantang.” “Meski begitu, aku tetap merasa ragu dan nggak percaya diri. Apakah mampu memainkan karakter itu? Yah lagi-lagi, itu kan karena aku minim pengalaman akting, aku nggak familiar sama akting hahaha,” ungkap Sherina menceritakan pengalamannya dari mulai ditawari main film hingga akhirnya menyelesaikan proses syuting yang ber-

langsung selama empat bulan. Sebagaimana diketahui, Sherina pertama kali muncul di panggung hiburan saat berusia 9 tahun dengan meluncurkan album ‘Andai Aku Besar Nanti’, lagu-lagu gubahan Elfa Secioria yang kemudian melejitkan namanya menjadi penyanyi cilik papan atas. Namanya semakin populer dengan tampilnya Sherina dalam film yang berjudul namanya ‘Petualangan Sherina’ pada 2001. Setelah film tersebut, dia lebih berkonsentrasi pada dunia musik. Setidaknya dalam kariernya bermusik dia telah menelurkan enam album dan 12 single. Terakhir album ‘Tuna’ yang dirilis 2013. Serta, meraih penghargaan AMI sebagai Pendatang Baru Terbaik. Setelah itu dia ‘menghilang’ dan baru muncul lagi dalam film Wiro Sableng.

Sherina Munaf Foto: kapanlagi.com

MENDAPAT BANYAK ILMU Bagi gadis kelahiran Juni

1990 ini, bukan hal yang mudah mengikuti proses syuting Wiwo Sableng, apalagi medan syutingnya cukup berat. Di sisi lain, karena dia main film laga dan memerankan tokoh pendekar, maka dirinya harus memperkuat fisik. Untungnya, tambah Sherina yang menyelesaikan pendidikan animasinya di Jepang beberapa waktu lalu, sejak kecil dia telah berlatih bela diri wushu. Bahkan kalau saja tidak ‘terhalang’ dengan kegiatannya di dunia musik, dia bisa jadi sudah menjadi atlet wushu yang aktif di berbagai kejuaraan. “Aku berlatih wushu sejak kecil, kelas 2 SMP, umur 14 tahun,” ujar Sherina yang sejak itu terus berlatih wushu, bukan saja untuk kesehatan tapi juga membuat tubuhnya lebih fleksibel dan tidak mudah cidera. “Banyak manfaat wushu, bukan hanya untuk bela diri. Kebetulan juga dari keluarga pihak ayah, ada keturunan scoliosis (kelainan bentuk tulang belakang). Dengan berlatih wushu aku bisa menghambat scoliosis agar tidak berkembang parah,” tuturnya. Nah kembali ke soal Wiro Sableng. Menurut Sherina dengan dasar wushu yang dimilikinya setidaknya dia telah memiliki ‘modal’ untuk tampil dalam film laga. Hanya saja, ilmu bela diri yang dimainkan dalam film laga tersebut adalah pencak silat dan itu cukup menyulitkannya. “Sempat menyulitkan sih karena pencak silat kan berbeda dengan wushu. Hanya karena aku menguasai wushu jadi bisa lebih luwes dalam belajar. Untungnya ada kang Yayan (aktor yang juga pelatih pencak silat) yang membimbing aku da-

lam pencak silat juga koreony, turur Sherina yang pernah berduet dengan boyband asal Irlandia, Westlife, dalam lagu ‘I Have a Dream’. Soal pendalaman peran, tuturnya, dia diberi kebebasan oleh sutradara. Demi tidak terhambatnya imajinasi dirinya terhadap peran yang dimainkan, ia pun memilih tidak membaca buku Wiro Sableng. Dengan begitu dia bebas mengintepretasikan perannya. Ada tiga tokoh yang menjadi inspirasinya dalam pendalaman peran yakni San, Buffy Summer dan Xena. Sebagai penggemar berat animasi, San yang berasal dari film animasi Princess Mononoke dijadikan Sherina sebagai inspirasi. Begitu juga Buffy Summer, tokoh dalam serial fiksi tahun 90-an ‘Buffy the Vampire Slayer’. Sedangkan tokoh Xena, tentu semua tahu. Sherina yang lahir di tahun 90-an sangat menggembari film serial Xena yang dulu begitu populer di tanah air. Sherina mengaku lega akhirnya berhasil menuntaskan filmnya. Dia mengaku sangat beruntung bisa terlibat dalam proyek film tersebut karena banyak ilmu yang dia dapat selama proses syuting. “Aku dapat banyak pelajaran penting dari pengalaman aku main di film ini. Pelajaran-pelajaran sangat berguna untuk karier aku ke depannya. Secara mental juga aku dapat pelajaran bagaimana mengendalikan diri, mengandalikan emosi. Dan juga yang aku suka, aku belajar bela diri lagi dan ini pencak silat,” ungkap Sherina. Lalu apakah setelah ini akan berkarier di dunia akting? Sherina mengaku belum tahu. Meski mengaku sangat tertarik dengan karakter tokoh yang diperankannya sekarang bukan berarti ke depannya dia akan mendalami seni peran. “Lihat bagaimana nanti saja. Aku belum mutuskan apakah akan terus berakting,” ucapnya. Yang pasti katanya, dia akan melakukan jika ia benar-benar tertarik, tambah keponakan penyanyi Fariz RM ini. CUEK DAN APA ADANYA Kebetulan juga karakter tokoh Anggini yang diperankannya memiliki karakter yang sama dengannya yakni cuek. Dalam keseharian, memang Sherina tidak seperti kebanyakan artis lainnya yang begitu peduli pada penampilan dalam artian selalu mengikuti tren mode. “Aku nggak gitu banget. Biasa saja.Sehari-hari aku lebih suka pakaian santai, casual. Kalau ada acara tertentu, tergantung acaranya apa ya aku menyesuaikan. Sedang sehari-hari ya tergantung mood,” ungkap gadis penyuka warna cerah khususnya biru.“Yang penting enak dipakai, sesuai keadaan. Lebih dari itu kan yang terpenting adalah karakter orang yang memakainya, kepribadiannya,” tambah gadis yang mengaku tak terlalu suka belanja barang fashion. (Diana Runtu)

Edisi 998/ 9 - 15 April 2018

Sudut Pandang

29

Pilihan Praktis Pendaki Gunung Heboh soal makanan kaleng sarden berulat sempat membuat masyarakat khususnya ibu rumah tangga kaget. Berita tentang hal ini yang mewarnai media massa membuat mereka ‘merinding’. Beruntungnya para ibu rumah tangga di Mataram yang sempat di wawancarai rata-rata tidak mengonsumsi makanan kaleng ini.

A

yu misalnya, mengaku sama sekali tidak pernah mengonsumsi makanan kaleng ini karena selalu mengingat nasehat ibunya agar mengonsumsi makana sehat segar saja. “Aduuuhh… maaf, saya paling tidak suka makanan kaleng karena kurang baik. Itu pesan dan nasehat almarhum ibu saya,” ungkap Ayu yang tinggal di kawasan pantai wisata Ampenan. Karena itulah ia tidak pernah menyetok makanan kaleng seperti sarden, buah termasuk juga susu. Ayu tidak ingin yang praktis dalam hal ini melainkan ia berprinsip biar capek sedikit pergi ke pasar dan memasak bahan segar baginya lebih aman dikonsumsi oleh keluarganya. Menyikapi maraknya kabar

makanan kaleng berulat/cacing, membuat Ayu menyarankan agar masyarakat khususnya ibu-ibu yang sering membeli makanan kaleng untuk lebih berhati-hati lagi dan waspada serta mengecek dengan teliti tanggal kadaluarsa makanan yang dibeli. Ririn seorang pegawai negeri yang juga mengurus sendiri makanan untuk keluarganya juga mengaku tidak suka, bahkan sangat tidak suka makanan kaleng. Saat ditanya tanggapannya tentang makanan kaleng, ia malah bercanda lebih suka makanan gratis. Sikap Ririn ini memperlihatkan bahwa ia memang sama sekali tidak pernah menyukai makanan kaleng apalagi sampai menyetok untuk kebutuhan sehari-hari. Baginya praktis tidak

berlaku dalam hal ini. “Rasanya… bagaimanaaaa gitu… mau makan makanan sarden kaleng, geli aja rasanya karena tahu makanan itu sudah berbulan-bulan dimasaknya,” kata Ririn. Begitu juga dengan keluarga Ari yang kebetulan tidak makan ikan. Jadi mereka tidak pernah menyetok makanan kaleng berupa ikan kecuali sejenis coklat. Meski keluarga ini tergolong sibuk, mereka lebih memilih membeli makanan jadi yang segar dibandingkan makan makanan kaleng. Setiap pagi mereka memilih sibuk bersama menyiapkan sarapan bagi anak-anak mereka sebelum sekolah dan pulangnya Ari membeli makanan jadi di rumah makan langganannya. “Daripada makan makanan kaleng, saya lebih baik pesan katering harian saat saya memerlukannya,” ujarnya. Selain Ayu, Ririn dan Ari, beberapa ibu rumah tangga lain, seperti Hana yang tinggal di kawasan Sweta, Devi di Cemara, Pipit di Meninting dan lainnya juga tidak pernah menyetok makanan kaleng khususnya sarden. Bagi mereka

selain karena harganya juga lumayan mahal dibandingkan membeli ikan segar juga karena tidak terbiasa mengonsumsinya. Para ibu rumah tangga ini sedikit berbeda dengan para pendaki gunung yang rata-rata pernah mengonsumsi makanan kaleng seperti sarden. Meski tidak sering beberapa pendaki, seperti Muslim, Rani dan rekan-rekannya pernah membawa makanan kaleng untuk dikonsumsi selama pendakian. Alasannya sederhana, praktis dan cocok untuk keperluan selama pendakian. Misalnya saja mereka mendaki gunung Rinjani dan Tambora di Lombok dan Pulau Sumbawa yang rata-rata memerlukan waktu perjalanan lebih kurang empat hari. Selama empat hari berada di gunung,

maka yang paling praktis yaitu makanan kaleng. “Untuk bawa makanan segar tidak mungkin bertahan hingga empat hari,” kata Rani, pendaki gunung yang kini sudah jarang melakukan pendakian. Reza, pendaki aktif yang juga bergaul di dunia pariwisata termasuk yang sering mengonsumsi makanan kaleng ini. Ia mengaku selalu membawa makanan kaleng untuk stok makanan saat pendakian karena dinilai praktis. Namun, setelah merebak kabar soal makanan kaleng sarden yang mengandung cacing/ulat, mereka kemudian berpikir kembali untuk membawa makanan kaleng untuk keperluan selama pendakian. (Naniek I. Taufan)

Tips Memilih Makanan Kaleng Kemajuan zaman dan makin banyaknya wanita yang bekerja di luar rumah membuat konsumsi makanan kaleng makin meningkat. Selain mudah dalam penyajiannya, jenis makanan dalam kaleng yang beredar di pasaran pun sudah sangat beragam, mulai dari jenis ikan, daging, sampai buah-buahan. Makanan kaleng kerap dianggap sebagai makanan kemasan paling aman dan berkualitas baik. Namun, jika kita tidak cermat, makanan kaleng juga bisa menjadi berbahaya. Apa yang harus diketahui dalam memilih makanan kaleng? Menurut ahli gizi, Ida Ayu Eka Padmiari, SKM., M.Kes., beberapa kandungan gizi yang ada pada makanan kaleng juga terbukti dapat diserap lebih baik oleh tubuh, misalnya saja serat. “Pada beberapa jenis sayur berdaun yang dikalengkan, yang lebih mudah serap dibandingkan dengan bentuk segarnya, tetapi vitamin dan mineral sudah banyak berkurang karena sudah mengalami beberapa kali pengolahan,” jelas dosen Politeknik Kesehatan Denpasar ini. Namun, ia menegaskan, bagaimanapun berkualitasnya makanan kaleng tentu masih jauh

lebih baik mengonsumsi makanan segar yang minim pengolahan artinya makanan segar jauh lebih baik dibandingkan makanan kaleng. Menurut The Canned Food Alliance dan NSF Public Health and Safety Organization, beberapa hal secara fisik yang perlu kita perhatikan dari makanan kaleng adalah: Makanan kaleng yang berkarat menunjukkan adanya ketidakcocokan atau kontaminasi yang bisa dari suhu, cahaya atau kelembaban, selama proses distribusi, penyimpanan atau saat berada di rak penjualan. Hal ini akan meningkatkan risiko masuknya bakteri pada kemasan hingga menyebabkan keracunan. Makanan kaleng yang menggembung menunjukkan adanya reaksi kontaminasi bakteri sehingga kemasan kaleng rusak. Untuk itu selalu cermati seluruh bagian makanan kaleng dan hindari memilih produk kalengan yang menggembung. Keadaan kaleng kembung menunjukkan sudah adanya bakteri yang berkembang seperti misalnya clostridium botulinem. Makanan kaleng tentu harus tertutup rapat untuk menghindari

Ida Ayu Eka Padmiari

adanya risiko kontaminan bakteri dari luar. Perhatikan secara seksama jika ada lubang kecil yang memungkinkan masuknya udara atau kontaminan lain. Pastikan dengan mengecek isi produk, pastikan makanan memiliki tampilan, rasa, tekstur, dan bau yang normal. Seperti halnya memilih bahan makanan di pasar, makanan kaleng

pun harus dipilih dengan baik. Padmiari menyebutkan, hal pertama yang harus kita lakukan pada saat akan membeli makanan kaleng adalah harus melihat tanggal kadaluarsa dari makanan kaleng tersebut. Jangan sampai membeli dengan tanggal kadaluarsa yang sudah lewat. “Pilihlah tanggal dan bulan 6 bulan sebelum tanggal yang tertera,” jelasnya. Ia juga mengingatkan, perhatikan kondisi kemasan kalengnya. Pada saat membelinya maka perhatikan kemasan kalengnya. “Kaleng tersebut utuh dan kondisinya bagus tidak penyok dan juga tidak berlubang cacat dan sebagainya. Jangan lupa lihat kondisi kalengnya jika terdapat lubang dan berbau ada indikasi kemasan tersebut bocor. Berarti tidak layak untuk dikonsumsi,” ujar Padmiari. Sebaiknya makanan kaleng hanya dimasak sekali dan segera habiskan. Pemasakan yang berulang akan merusak tekstur makanan dan menghilangkan zat-zat gizi yang terkandung di dalamnya. Selain itu, kata dia, untuk mendapatkan rasa yang lebih lezat, makanan kaleng bisa ditambahkan dengan bumbu

yang lain seperti tomat, minyak zaitun atau bawang goreng. Hal penting yang juga harus diketahui adalah cara menyimpan makanan kaleng. Pastikan kemasan dalam kondisi bersih dan tersegel baik sebelum disimpan. “Pilihlah tempat penyimpanan yang bersih, kering, sejuk, dan mempunyai temperatur ruang yang stabil, misalnya di dalam lemari, kabinet dapur, atau rak tertutup, mudah dijangkau dan sering digunakan sebagai tempat penyimpanan. Hindari menyimpan di tempat yang tersembunyi, gelap, terlalu dekat dengan lantai, atau langit-langit ruangan,” ujarnya mengingatkan. Simpan makanan kaleng dengan aturan sebagai berikut, kelompokkan produk berdasarkan jenis makanan yang dikalengkan. Letakkan produk yang baru Anda beli di belakang produk yang lama. Susun produk berdasarkan tanggal kadaluarsa. “Untuk makanan kaleng yang kemasannya sudah terbuka, sebaiknya simpan di dalam kulkas. Jangan lupa rapatkan kembali kemasannya atau pindahkan ke dalam wadah tertutup lainnya,” kata Padmiari. (Wirati Astiti)


Sudut Pandang

28

Edisi 998/ 9 - 15 April 2018

Perhatikan Masa Kedaluwarsa Produk Kasus ikan makarel kaleng yang mengandung parasit cacing sangat menggemparkan masyarakat. Ikan dalam kaleng termasuk makanan favorit rakyat, selain harga terjangkau juga rasanya yang enak. Gara-gara kasus menghebohkan itu masyarakat jadi semakin waspada dengan berbagai produk kalengan. melakukan sidak hingga ke warung-warung. “Iya saya mengikuti pemberitaan itu. Kalau nggak salah awalnya temuan dari tempat saya di Batam,” ungkap Lusi Efriani Kiroyan yang kini tengah berada di Melbourne, Australia dalam rangka roadshow di sejumlah kota di negeri Kangguru itu. Dengan adanya kasus ini, Perhatikan tanggal kedaluwarsa produk masyarakat menjadi lebih arena kasus yang berhati-hati lagi dalam membeli dan terkait makanan mengonsumsi makanan kaleng. kalengan ataupun “Untungnya, saya sudah lama makanan dalam ke- tidak mengonsumsi makanan masan lain bukan baru kali ini saja kaleng. Hampir nggak pernah lagi. terjadi. Hanya saja karena ikan Kalaupun terpaksa karena situasi, kaleng sudah ada sejak puluhan pasti saya akan sangat teliti benar tahun lalu dan termasuk produk khususnya memperhatikan bentuk digemari maka reaksi pun menjadi kemasan juga expire date (masa luar biasa. Apalagi, dari berbagai kedaluwarsa) produk itu,” ungkap pemberitaan media yang gencar, pengusaha cantik ini. khususnya televisi dan media Menurut Lusi, alasannya tidak online, memperlihatkan aparat lagi mengonsumsi makanan kadi berbagai daerah secara intensif leng adalah karena ingin menjaga

K

kesehatan dan pola hidup sehat. “Sebisa mungkin makanan yang saya konsumsi adalah berasal dari bahan segar seperti ikan, tempe, tahu, sayuran yang dibeli di pasar. Jadi bukan makanan kalengan dan produk-produk berbahan pengawet,” ucapnya. Jika sedang di rumah (Batam) dan ada waktu luang, biasanya dia sendiri berbelanja ke pasar segala keperluan bahan makanan. “Nanti mbak di rumah yang masak hahha,” tambah Lusi yang mengaku tak pandai memasak. Menjaga pola hidup sehat, sangat penting dilakukan apalagi dirinya adalah orang yang sibuk. “Saya nggak pernah diet, saya makan banyak karena kerjanya banyak, jadi membutuhkan energi banyak. Seperti di sini (Melbourne) harga makanan lumayan mahal, tapi saya tetap berusaha cari makanan sehat. Makanan enak, hahaha.” “Karena saya perlu banyak energi untuk bekerja. Jadi biar harganya mahal tetap beli hehe. Ibu saya bilang, kalau untuk ma-

kan jangan ngirit-ngirit karena kita perlu tenaga untuk bekerja. Kalau hal lain boleh mengirit,” ungkap pendiri Yayasan Cinderella from Indonesia ini sambil tertawa. Ketika ditanya, dulu ketika masih suka mengonsumsi makanan kaleng, apa hal yang menjadi perhatiannya, Lusi menjawab yang pertama dan pasti dilakukannya adalah melihat expire date dari produk. Seperti yang disarankan Badan POM (Pengawasan Obat dan Makanan) yakni cek dengan ‘KLIK’ yakni, cek kemasan apakah dalam kondisi baik, baca label maksudnya informasi produk, cek izin edar dan masa kedaluwarsa. “Yang pertama ya biasanya saya lihat expire date-nya, untuk meyakini bahwa makanan itu aman. Untuk pengecekan expire date bukan hanya untuk makanan kaleng, ya, tapi hampir rata-rata kalau kita membeli produk. Aneka makanan, kan, sekarang ada expire date-nya ya. Itu penting,” jelas Lusi. (Diana Runtu)

Netralisir dengan

Buah dan Sayur

Gede Eka Subiarta Hidup sehat menjadi tujuan semua orang. Untuk dapat hidup sehat setiap orang harus menerapkan pola makan sehat. Walaupun tidak ada jaminan terbebas dari penyakit, namun setidaknya dengan penerapan pola makan sehat, kita akan memperhatikan asupan makanan yang dikonsumsi sehingga mampu meminimalisir risiko kemungkinan terserang penyakit.

Hidup sehat hanya sekadar wacana jika dalam kehidupan sehari-hari kita masih terlalu sering mengonsumsi makanan yang kurang bergizi, salah satunya makanan siap saji. Biasanya mereka yang tidak memiliki waktu yang cukup dan ingin praktis, memilih makanan siap saji sebagai menu andalan. Di balik kepraktisannya, makanan siap saji memiliki dampak yang buruk bagi kesehatan. Hal ini disampaikan Gede Eka Subiarta, SST., ahli gizi di RSUD Kabupaten Buleleng. Menurutnya, selain menyebabkan kekurangan gizi, makanan siap saji juga akan menimbulkan berbagai penyakit metabolik seperti diabetes, kerusakan hati dan obesitas. Hal ini disebabkan oleh gula buatan dan berbagai

zat pengawet yang terdapat pada makan instan. “Zat pengawet yang terdapat dalam makan instan secara tidak langsung akan menghambat penyerapan zat gizi dalam tubuh sehingga gampang terkena penyakit metabolik,” jelasnya. Pria kelahiran 30 Agustus 1984 ini juga mengatakan makanan siap saji sangat perlu dihindari oleh anak-anak dan ibu hamil. Dampak yang ditimbulkan bagi anak-anak akan memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan fisik dan mental anak. Anak akan kurang respons dan kurang adaptif terhadap lingkungan sekitar dan rentan terkena penyakit. Sedangkan pada ibu hamil, makanan siap saji juga akan menganggu perkembangan janin yang notabene memerlukan asupan gizi

Senang bisa Berbagi B

yang tinggal di Desa Sudaji, Kecamatan Sawan, Buleleng ini. Dirinya menegaskan tiap orang pernah mengonsumsi makanan siap saji, hanya saja yang membedakan intensitas dalam mengonsumsi makanan tersebut. Jikapun harus mengonsumsi makanan siap saji, ia harus memastikan pengolahannya dilakukan dengan cara yang benar serta untuk menetralisir zat-zat berbahaya diimbangi dengan konsumsi buah dan sayur. “Pastikan dalam sehari kita konsumsi satu jenis buah dan satu jenis sayur serta konsumsi air putih yang cukup,” terangnya. Adanya kasus ikan makarel dalam kaleng yang ditarik dari peredaran karena mengandung cacing, Eka juga memberikan beberapa cara untuk memilih makanan dalam kaleng. Sebelum membeli, pastikan cari tahun tentang produk makanan tersebut dan pastikan aman untuk dikonsumsi. Perhatikan juga tanggal kadaluarsa dan tidak ada kerusakan kemasan dalam makanan kaleng. “Terakhir pastikan ada izin Depkes dan sertifikat halal,” tandasnya. (Wiwin Meliana)

5

Agung Mia

Muda, smart dan sarat prestasi. Esai dengan topik “Jika aku adalah Sekretaris Jendral (Sekjen) ASEAN”, perempuan muda ini terpilih menjadi menjadi Duta Muda ASEAN Provinsi Bali.

Lusi Efriani Kiroyan

dari berbagai jenis makanan yang dikonsumsi oleh ibunya. Eka sapaan pria yang juga membuka praktek swasta "Klinik Sahabat" ini juga menambahkan ada beberapa jenis makanan instan yang harus dihindari untuk dikonsumsi di antaranya makanan dalam kaleng yang banyak mengandung zat pengawet yang berpengaruh terhadap kelainan reproduksi, efek imunitas tubuh dan juga penyakit metabolik. Daging olahan juga menjadi salah satu di antaranya. Banyak hewan peternak yang dibesarkan dengan penggunaan obat-obatan, antibiotik dan hormon bukan dibesarkan secara alami. “Secara tidak langsung banyak kandungan tersebut masih ada dalam daging olahan yang dijual,” ungkap pria

Inspirasi

Edisi 998/ 9 - 15 April 2018

pengalaman serta mempromosikan ASEAN melalui media sosial. Disinggung berbagai kegiatan yang dijalaninya, Agung Mia mengatakan, kalau dirinya mengatur waktu menggunakan skala prioritas. Mana yang lebih penting atau mendesak, itu yang diutamakannya. “Saat ini saya sering diundang sebagai pembicara di kampus membawakan materi “Public Speaking”, Etika di Media Sosial, “Critical Thinking”, “Personality”, Jurnalistik, hingga mengenai pandangan saya tentang generasi milienial dan perkembangan politik. Saya senang bisa berbagi pengalaman dan berdiskusi dengan banyak pihak,” ungkapnya.

ukan hanya itu, perem- Duta Muda ASEAN Provinsi Bali. Ia puan multitalenta ini berkesempatan mengikuti pendidik­ kini tercatat aktif se- an dan pelatihan di Kementerian Luar bagai Presenter Bali Negeri RI di Jakarta. Selanjutnya, TV, MC profesional, entrepreneur sebagai Duta Muda ASEAN, Agung dan pembicara di berbagai kam- Mia aktif mendukung program Kepus. Sempat mewakili Indonesia menterian Luar Negeri, diundang dalam acara pertukaran pemuda ke ke berbagai komunitas dan kampus Amerika Serikat. Bahkan kini, lulusan untuk berbagi terbaik Hubungan Internasional (HI), FISIP Udayana tahun 2017 ini telah merintis usaha di bidang pendidikan. Nama lengkapnya Anak Agung Mia Intentilia, S.IP. Nama panggilannya Agung Mia. Anak muda de­ ngan wawasan luas ini memulai percakapan dengan menjawab pertanyaan tentang Duta Muda ASEAN. “Program ini memilih generasi muda Indonesia yang memiliki pengetahuan tentang ASEAN. Duta Muda ASEAN diselenggarakan oleh Kementerian Luar Negeri RI Direktorat Jendral Kerjasama ter ASEAN,” ujar sulung Saat syuting sebagai presen dari 3 bersaudara pasutri Anak Agung Gede Arnawa & Ni Luh Gede Utarini ini. Dengan bekal ilmu dari Hl Unud, senang mempelajari isu-isu internasional, dan skripsi yang membahas tentang ASEAN ini, ia mengaku mengamati, banyak masyarakat Indonesia belum tahu ASEAN. Padahal Indonesia adalah negara terbesar di ASEAN. “Apalagi saat ini kita sudah memasuki MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN). Saya ingin menjadi generasi muda yang paham program Kementerian Luar Negeri dan membantu diplomasi publik dengan me­ ningkatkan kesadaran mengenai ASEAN. Karena itu saya mengikuti pemilihan Duta Muda ASEAN,” tutur Agung Mia. Setelah memenuhi kriteria pemilihan Duta Muda ASEAN, ia pun berhasil lolos melalui semua proses, dan sukses terpilih menjadi Foto bertugas sebagai Duta ASEAN 4

SELALU BERSYUKUR Terhadap kariernya hingga saat ini, Agung Mia menyatakan karena dukungan orangtuanya. “Mereka selalu mendukung saya mengi-

Gung Mia saat di Jepang

Saat di Amerika

kuti kegiatan yang positif. Selalu memberikan nasihat dan semangat untuk memahami suatu hal. Tidak pernah memaksa saya untuk mencapai sesuatu. Dan, pastinya menekankan pentingnya pendidikan

untuk bekal masa depan, untuk me­ ningkatkan skill serta memahami bahwa pintar saja tidak cukup, tapi harus memiliki sikap, etika, dan budi pekerti yang baik,” papar penghobi baca yang ingin melanjutkan S2 di Eropa ini. Kalau saya gagal atau kecewa terhadap suatu hal, lanjutnya, maka orangtuanya dengan sabar me­ nguatkan, kalau kegagalan adalah proses pembelajaran mengetahui kekurangan kita. “Selain itu, mereka juga menekankan untuk selalu ber-

syukur. Sebab, orang yang bersyukur akan bahagia dengan apa yang dimilikinya dan tetap semangat mencapai mimpinya,” ujar penggemar busana dengan style elegan ini. Kini, perempuan yang ingin menjadi seorang sociopreneur ini, tengah membuka usaha di bidang pendidikan yang juga bisa berkontribusi untuk kegiatan sosial. “Saya sedang mengembangkan S & I Class, yang terdiri dari English Speaking Class dan Public Speaking Class. Saya juga membuka S & I Translator untuk membantu mahasiswa dan dosen untuk menerjemahkan skripsi atau jurnal Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris atau sebaliknya,” kata Delegasi Indonesia dalam pertukaran pemuda Ship for Southeast Asian and Japanese Youth Program (SSEAYP) di Jepang, Myanmar, Filipina, Malaysia, dan Vietnam 2015 ini. Agung Mia juga sempat menyebutkan pengalamannya yang menarik, saat ia mewakili Indonesia dalam acara pertukaran pemuda ke Amerika Serikat. Saat itu bersama mahasiswa berprestasi dari berbagai negara diundang ke Washington DC bertemu para Duta Besar di ASEANUS Business Council. “Momen yang sangat berkesan, terutama saat saya terpilih mewakili peserta dari berbagai negara untuk menyampaikan pidato di depan para Duta Besar dan para pejabat Amerika Serikat. Saya tidak menyangka tampil berbicara di depan orang-orang penting dalam acara berskala internasional,” kenang Runner Up 1 Jegeg Badung 2015 ini tersenyum. (Sri Ardhini)


6

ih

s Yulining

Woman on Top usaha membuka usaha pembua­ tan egg roll. “Saya mem­ berani­ kan diri untuk membu­ ka usaha egg roll ber­ bekal resep wari­ san turun temurun dari keluarga” kata Yuliningsih yang juga owner egg roll UKM Cita Rasa Alami. Setelah tiga tahun menjalan­ kan usaha pembuatan egg roll dibawah bimbingan dan arahan program Pahlawan Ekonomi, bisnis yang digelutinya berkem­ bang sangat pesat. Dia mampu melepaskan diri dari utang yang selama ini melilitnya. Dari produk yang dibanderol dengan harga jual Rp 25.000 untuk kemasan box dan Rp 35.000 untuk kemasan tabung, dia mampu mencapai omzet Rp

Berbekal Resep Warisan Jalan kehidupan manusia berbeda beda. Ada yang terjal dan ada yang landai-landai saja. Adalah Yuliningsih seorang sales alat rumah tangga yang mengalami per­soalan ekonomi dalam keluarganya. Anaknya kembar lahir secara premateur. Kondisi ini menyebabkan perempuan yang tinggal di Lakarsantri ini harus menanggung utang hingga Rp 40 juta.

B

eban berat yang dia­ lami oleh Yuliningsih, memaksa alumnus SMA Kencong ini un­ tuk berpikir keras mencari jalan

keluar untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapi. Setelah berdiskusi panjang dengan Wi­ narso, suaminya, Akhirnya dia memutuskan untuk berwira­

Edisi 998/ 9 - 15 april 2018

Edisi 998/ 9 - 15 april 2018

40 juta sampai Rp 45 juta per­ bulan. “Produk saya dipasarkan oleh Lapis Kukus Surabaya dan Rumah Kreatif Mandiri,“ jelas Yuliningsih yang juga narasum­ ber pelatihan di berbagai instansi pemerintah. Karena seringnya mengikuti pameran di luar kota, maka egg roll Ricetta buatan Yuliningsih tidak hanya beredar di Surabaya tetapi juga sudah merambah Se­ marang, Jakarta, Manado, hingga Singapura. Walikota Surabaya Tri Risma­ harini, memberikan perhatian tersendiri kepada Yuliningsih, Risma menyarankan untuk melakukan inovasi pembuatan egg roll semanggi sebagai bentuk kepedulian terhadap kearifan lokal serta sebagai oleh-oleh khas Surabaya. “Keinginan saya sederhana, produk saya diterima pasar dan omzet meningkat. Se­ hingga perekonomian keluarga saya bisa menjadi lebih baik lagi,“ jelas Yuliningsih.

Gara-gara kasus ikan ka­ leng mengandung parasit ca­ cing, masyarakat pun heboh. Ikan kaleng sejak berpuluh tahun dikonsumsi masyarakat luas dari semua kalangan. Mencuatnya kasus ikan kaleng makarel mengandung cacing membuat masyarakat waswas soal kesehatan mereka. Namun baik pakar (peneliti), ahli gizi maupun Menteri Kese­hatan sudah mengklari­ fikasi agar masyarakat tidak cemas dan panik.

(Nanang Sutrisno/Bisnis Surabaya)

“SILVERSMITH” Salam Unique... Mengamati perkembangan industri perhiasan yang berbahan baku perak saat ini sangatlah pe­ sat. Bahkan industri perhiasan ini sudah menjadi salah satu destinasi wisata. Baik di Indonesia ataupun negara-negara yang sangat terke­ nal dengan perkembangan fashionnya. Perkembangan ini tentunya tidak mengesampingkan faktor manusianya, atau yang lebih dike­ nal dengan silversmith (pekerja/ pandai perak). Seperti kita ketahui bersama juga kualitas, desain dan harga menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Untuk tulisan kali ini kita akan bahas tentang silversmith itu sendiri sebagai bagian yang sangat penting dalam industri perhiasan yang berbahan baku perak. Ketika industri perhiasan yang berbahan baku perak masih di era yang bisa dikatakan tradisional, kita akan melihat mereka, para silversmith belum memiliki dan memakai alat-alat yang modern. Era ini terjadi sebelum tahun

1990. Kebanyakan mereka belajar dari otodidak atau dari garis ketu­ runan yang dalam sebuah keluarga yang mewariskan keahlian sebagai pekerja perak. Nyoman Eriawan, pemilik UC Silver yang tentu sudah malang melintang di dunia perhiasan yang berbahan baku perak sangat me­ mahami perkembangan ini. Dapat digambarkan saat itu belum ada mesin polish, sehingga pembuatan­ nya masih menggunakan tangan. Mereka belajar secara otodidak atau turun temurun dari orangtua ke putra mereka. Namun, kar­ ena mempunyai kekuatan taksu maka karya yang dihasilkan juga mempunyai ruh dan tentu dapat mencirikan masing-masing daerah pembuatnya. Seperti contoh di Bali sendiri yang paling menonjol di era tersebut adalah perhiasan perak yang bernuansa atau ber­ corak cirri khas Bali. Walaupun masih pengerjaan secara tra­ disional, yang dihasilkan oleh para silversmith di saat itu tetap memperlihatkan kekuatan taksu. Dimana perhiasan yang dihasilkan

seakan - akan punya ruh dan men­ jadikan pencinta perhiasan makin memburunya. Di era modern saat ini, industri perak menuntut para silversmith harus mengikuti perkembangan zaman. Meraka harus mempunyai knowladge (pengetahuan) yang baik untuk mengerjakan sebuah barang. Seperti di antaranya mengetahui dengan baik apa dan bagaimana bahan bakunya. Sifat logam terebut seperti apa. Bahan-bahan penolong apa untuk menghasilkan barang yang sesuai dengan harapan publik di pasar international. Mereka tentu tidak terpaku dengan mengandalkan kemampuan yang masih tradis­ ional. Saat ini, semua berpacu dengan teknologi. Dibantu dengan pemakaian alat-alat yang mum­ puni. Misalnya, saat ini sudah tidak zamannya lagi memakai cap atau stempel dengan tangan.Tapi harus sudah memakai laser. Meng­ gambar pun seperti itu. Seka­ rang sudah memakai alat gambar tiga dimensi. Bukan dengan cara manual. Nyoman Eriawan, yang mem­ punyai talenta lebih dalam per­

hiasan berbahan baku perak me­ negaskan para silversmith harus aware perkembangan teknologi. Tentu hal ini akan menghasilkan barang yang bertaraf interna­ sional. Khusus di Bali sendiri, dari booming-nya perhiasan perak di antara tahun 1980 sampai 2000. Erawan menambahkan regenerasi para silversmith jarang dilakukan. Maka terjadilah kebuntuan dalam pemenuhan sumber daya manusia. Apalagi dipacu dengan kebutuhan silversmith yang mumpuni di bi­ dang tersebut. UC Silver sebagai indutrsi perhiasan berbahan baku perak yang sudah sangat terkenal den­ gan karya unique dengan kualitas internasional, sangat berperan da­ lam mengembangkan hal ini. Dari sejak lima belas tahun yang lalu mempunyai workshop, merekrut tenaga di bidang-bidang tertentu yang diajarkan di-training UC Silver atau dikirim ke luar negeri. Sehingga dapat menghasilkan sumber daya manusia yang expert dengan perkembangan teknolo­ gi moderen saat ini. Eriawan berharap, para stakeholder dan pelaku industri perhiasan perak

khususnya di Bali, untuk bersama -sama, bagaimana mewujudkan suatu lembaga pelatihan dengan sistem yang baik, sehingga meng­ hasilkan silversmith yang expert di bidangnya masing-masing. Apa saja yang akan kami tulis untuk kolom ini selanjutnya. Nantikan tulisan kami setiap dua minggu sekali, kami akan hadir di kolom ‘I AM UNIQUE’ yang membagi informasi secara detail tentang UC Silver. Bagaimana cara memilih kualitas perhiasan. Apa dan dari apa saja bahannya, bagaimana gambaran dan desain keunikannya, apa saja hasil karya , bahkan sampai filosofi keunikan dari masing-masing karya yang tercipta, dan lain sebagainya. Ada yang penasaran juga tempatnya dimana? Silakan langsung kun­ jungi tempat produksi dan galeri kami di Jalan Raya Batu Bulan Gg Candrametu nomor 1 Batu Bulan Gianyar 80582. Telepon (0361) 461511. Atau, kunjungi website kami di www.uc-silver.com. I am Unique I am Happy UC Silver Bali info@ucsilverbali.com

S

Nila Moeloek

epanjang ikan kaleng dimasak terlebih dahulu maka ikan ka­ leng tersebut tidak berbahaya untuk dikonsumsi karena menurut mereka parasit cacing akan mati dimasak pada suhu tinggi. “Setahu saya, asalkan tidak dimakan langsung, tapi dimasak terlebih dahulu maka cac­ ing akan mati. Jadi kalau sudah dimasak ya sudah steril. Insyaallah enggak apaapa,” ungkap Menteri Kesehatan Nila Moeloek. Awalnya di Kepulauan Riau, masyarakat menemukan adanya ca­ cing dalam ikan makarel, lalu BPOM

Metropolitan

27

27 Merek Makanan Kaleng Mengandung Cacing

melakukan uji produk, hasilnya ada empat merek ikan kaleng makarel yang mengandung cacing. Kemudian BPPOM Pusat melakukan pengujian lebih luas dengan mengumpulkan produk ma­ kanan kaleng yang beredar di pasaran untuk dilakukan pengujian. Menurut Kepala Badan Pom, Penny K Lupito dalam jumpa pers pekan lalu, BPOM telah melakukan sampling dan pengujian terhadap 541 sample ikan dalam kemasan kaleng yang terdiri atas 66 merek. “Dari pengujian tersebut terdapat 27 merek (138 bets) positif mengandung parasit cacing, terdiri dari 16 merek produk impor dan 11 mereka produk dalam negeri. Penny menginstruksikan untuk penghentian sementara (peredaran) dan menarik produk yang ada di pasa­ ran. “Semua balai (BPOM) mengawasi ini, meski itu adalah tanggungjawab dari produsen ataupun importir untuk melakukan penarikan. Kami tetap me­ monitor,” tegasnya. Sayangnya meski BPOM telah men­ jelaskan bahwa yang tercemar cacing hanyalah produk ikan kaleng makarel, namun sebagian masyarakat mengira ikan makarel dan ikan sarden yang juga populer di masyarakat, adalah sama. Padahal keduanya sangat berbeda, baik produk maupun jenis ikan yang menjadi bahan dasarnya. Karena ketidaktahuan masyarakat, maka produk ikan sarden kaleng pun kena imbasnya. Masyarakat enggan membeli ikan sarden. “Ikan kaleng sarden dan ikan kaleng tuna sejauh ini aman. Yang dari hasil pengujian mengandung parasit cacing hanyalah ikan makarel kaleng. Itulah yang diinstruksikan untuk ditarik dari pasaran dan dimusnahkan,” ungkap pihak BPOM.

Ikan makarel yang diuji POM

Benarkah ikan kaleng (mengandung cacing) tidak berbahaya jika dikon­ sumsi? Wati, seorang ibu rumah tangga

Wisnu Nurcahyo

Kepala BPOM Pusat Penny K Lupito jumpa pers kasus cacing dalam ikan kaleng makarel

mengaku cukup resah dengan adanya kasus itu. Karena meski dirinya tidak selalu mengonsumsi ikan kaleng, na­ mun makanan itu kerap dikonsumsi keluarganya. “Saya termasuk jarang ya makan ikan kaleng, hanya sesekali saja. Tapi keluarga saya suka ikan kaleng. Biasanya, ikan kaleng jadi makanan alternatif jika bosan dengan masakan lainnya. Tapi sejauh ini kami biasa saja kok, tidak sakit. Tidak ada masalah kesehatan lain. Kan, ikan­ nya tidak dikonsumsi langsung, tapi dimasak sampai benar-benar matang, juga diberi aneka bumbu agar tambah sedap,” kata Wati yang juga pekerja kantoran. Namun dengan adanya kasus terse­ but, kata Wati, dirinya merasa tak ingin makan ikan kaleng. “Sekarang enggak dulu lah, saya ngeri juga geli,” ucapnya. Apa yang dirasakan Wati, bisa jadi juga dirasakan masyarakat lainnya. MASAK DALAM SUHU TINGGI Sejumlah pakar maupun peneliti berusaha meyakinkan mengonsumsi ikan kaleng yang –kalaupun mengand­ ung cacing—tidak bermasalah sepanjang ikan tersebut dimasak kembali dengan suhu tinggi. Sebenarnya, kata pakar, ikan yang telah melakui proses pengalengan telah dimasak dalam suhu tinggi bahkan lebih dari 120 drajat celcius. Cacing anisakis ataupun larva, akan mati pada suhu tinggi. Menurut Wisnu Nurcahyo, ahli pasi­ tologi cacing yang terdapat dalam ikan kaleng makarel adalah berjenis anisakis yang di Indonesia punya habitat hidup di ikan kakap, kerapu, kembung, kuwe dan berbagai jenis ikan karnivora lainnya. “Sebenarnya bila manusia makan ikan makarel yang di dalamnya terdapat cacing anisakis, secara langsung tidak apa-apa karena ikan itu sudah dimasak dengan pemanasan suhu tinggi. Dengan dipanaskan dalam suhu tinggi, cacing anisakis mati akibat proses memasak itu,” jelas dosen Universitas Gadjah Mada itu.

Karenanya, masyarakat tidak perlu cemas dengan adanya kasus ikan makarel mengandung cacing. “Makan ikan laut tidak berbahaya asalkan dengan proses pemasakan yang be­ nar sehingga cacing dipastikan mati,” ucapnya. Namun demikian ada catatan tersendiri dari Wisnu. Menurutnya, ikan kaleng yang mengandung cacing bisa bermasalah bagi penderita alergi karena bisa memicu reaksi alergi yang berlebihan. Jika itu terjadi penderita harus segera ditangani (ke dokter). Tentang tidak berbahayanya men­ gonsumsi makanan ikan kaleng juga disampaikan Kartika Dewi, Peneliti Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indo­ nesia). Menurutnya, masyarakat tidak perlu panik adanya kasus tersebut. Cacing anisakis jika dimasak dalam suhu 60 derajat Celcius pun akan mati, apalagi dengan ikan kaleng yang dalam proses pengalengan mengguna­ kan susu di atas 120 derajat Celcius. “Larva atau cacing anisakis tidak tahan dengan panas. Dengan mati maka kemampuan menginfeksi pun akan hilang,” katanya. Sementara itu Kertua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indone­ sia, Tulus Abadi meminta agar BPOM melakukan penyelidikan mendalam tentang kasus ini. Karena pihaknya menduga, hal tersebut terjadi karena proses produksi yang tidak higienis. “BPOM harus menyelidiki lebih jauh dan menemukan penyebabnya kenapa produk makarel sampai terkontami­ nasi cacing,” tegasnya. BPOM jangan hanya melakukan pe­ narikan produk tapi harus menyelidiki. “Perlu investigasi secara menyeluruh mulai dari sisi hulu hingga hilir,” ucap­ nya. Selain itu, dengan terungkapnya kasus ini, YLKI juga meminta agar BPOM melakukan pengawasan lebih ketat lagi di pasaran. “Jangan sampai penarikan produk itu hanya simbolik, sementara di pasaran ternyata produk tersebut masih dijual bebas,” katanya. (Diana Runtu)


Surabaya

26

Edisi 998/ 9 - 15 april 2018

Mom Zaman Now

da

n Tias Ana

Produksi Kue Sambil Gendong Anak Yenny Mei Sianawati, perempuan kelahir­ an Surabaya, 27 Mei 1985 pantas dijuluki Super Mom atau Mom zaman Now. Istri dari Fiki Widian ini benar benar memberikan inspirasi bagi ibu-ibu modern.

D

i tengah menjalankan kewajiban sebagai seorang ibu, dia masih bisa berwirausaha memproduksi kue sus semanggi untuk membantu suaminya dalam memenuhi kebutuhan rumah tangganya. “Sambil menyusui anak dalam gendongan, saya menunggui kue sus yang sedang dipanggang di oven “ kata pemilik usaha sus semanggi Mipaphu ini. Seringkali Yenny menunggu sampai buah hatinya tertidur supaya dia dan suaminya leluasa memproduksi kue sus mereka, pernah sekali waktu anak semata wayang itu terbangun dan kemudian mengacak acak adonan serta menghamburkan tepung bahan sus ke wajahnya. Sebelum menjalankan bisnis sus semanggi, alumni SMA YP Trisla ini adalah seorang sekretaris di PT Sanbe Farma, sebuah perusahaan produsen obat-obatan, dan pernah bekerja sebagai tenaga administrasi di sebuat perusahaan spare part sepeda motor Win. Pada saat menikah, perempuan berkacamata ini berhenti bekerja, dan setelah melahirkan anaknya Fiolettha Widian, terbersit keinginan untuk kembali bekerja. Tetapi bekerja di rumah supaya bisa tetap mengasuh putri kesayangannya itu. Desember 2017, ibu satu anak ini mulai berwirausaha membuat kue sambil melakukan koordinasi dengan pihak kecamatan untuk mencari informasi tentang program bimbingan wirausaha dari pemerintah. Atas masukan pihak Kecamatan maka Januari 2018 dia bergabung dengan program Pejuang Muda dan aktif setiap Sabtu untuk mengikuti bimbingan dan pelatihan di Kapas Krampung Plaza. “Awalnya saya memproduksi cake kekinian, namun oleh te-

man saya di Pejuang Muda Mas Sigit saya disarankan membuat sus semanggi,” ujar Yenny Berbekal pengetahuan yang diperoleh dari kursus membuat kue secara online di facebook, maka Yenny mulai mencoba resep donat dan sus kering. Setelah berkali-kali melakukan percobaan, kue sus semangginya mulai diterima di pasaran. Sus semanggi buatan Yenny mempunyai varian rasa original, keju pedes, BBQ, dan balado. Produk yang kemasannya telah masuk program tatarupa tersebut tidak hanya dipasarkan di outletoutlet di Surabaya seperti di Via Valen, Sentra UKM Siola, dan

“Suksma Sampun Nresnain” Jadi Kado Spesial “Menatap indah muan beline, kalem mewibawa. Ne ngaenang hatine milih beli, milih dadi kurenan beli, Ne seken sayang, Perhatian beli ne ngeluluhin hati”

Pusat Oleh-Oleh Genteng Kali, tetapi juga dipasarkan sampai Denpasar dan Balikpapan. “Dari harga produk yang dibanderol Rp 15.000 per bungkus, saya bisa mendapat omzet Rp 3 juta sampai Rp 4 juta per bulan,” jelas Yenny yang mewarisi hobi memasak dari ibunya. Kue sus semanggi tidak hanya mengangkat potensi dan kearifan lokal semata, tetapi juga menjadi produk oleh-oleh alternatif khas Surabaya. Karena itu tiap pameran Yenny sangat gencar mempromosikan produknya supaya masyarakat tahu bahwa semanggi tidak hanya bisa dibuat pecel sayur saja. Yenny berharap agar ibu-ibu muda juga mulai melakukan wirausaha, jangan takut gagal dalam berwirausaha. Menurutnya, Thomas Alfa Edison juga mengalami kegagalan hampir 1.000 kali, tetapi dia terus mencoba hingga terciptalah bola lampu seprti yang kita nikmati seperti sekarang ini.

I

tulah sepenggal lirik single terbaru dari penyanyi pop Bali Tias Ananda yang berjudul “Suksema Sampun Nresnain”. Single kedua itu diciptakan oleh Widhi Wikan dengan aransemen musik dari Dek Artha Harta Pro. Perempuan bernama lengkap Ni Made Sariasih,S.Pd.,M.Pd. ini menjelaskan cerita dari single terbarunya mengisahkan seorang laki-laki yang berwibawa dan

(Nanang Sutrisno/Bisnis Surabaya)

Cookies Jari Manis

Nikmatnya tak pernah Habis Bulan-bulan menjelang lebaran adalah masa panen bagi pengusaha produsen kue, karena biasanya 2 bulan sebelum lebaran orang-orang mulai berburu kue lebaran untuk disajikan di meja bagi tamu dan keluarga yang datang di hari Idulfitri yang penuh berkah tersebut. Karena itu para pebisnis kue kering berlomba lomba untuk memproduksi kue kering yang lezat, berpenampilan cantik dan dikemas dalam wadah menarik. Habsiyah, S.Psi adalah salah satu pengusaha kue kering yang sukses menangkap manisnya peluang di bulan Ramadhan. Ia memproduksi kue kering sampai 20 kg, mulai dari nastar, conflakes, blueberry, hingga kastengel. Perempuan kelahiran Surabaya, 31 Agustus 1983 ini sedang gencargencarnya mempromokan cookies jari manis

Woman on Top

Edisi 998/ 9 - 15 april 2018

buatannya. Kudapan lebaran nan lezat ini terbuat dari tepung, gula, dan keju merupakan inovasi terbaru yang dia ciptakan. Cookies jari manis tersebut dibanderol Rp 160.000 per kg dan dipasarkan secara online di jejaring sosial whatsapp, facebook, instagram serta resaler. “Awalnya cookies jari manis namanya kuku macan, tapi karena kuku macan identik dengan nama kerupuk maka namanya berubah jadi jari manis. Kue ini nikmatnya serasa tak pernah habis,” kata Habsiyah, alumnus Fakultas Psikologi Universitas Airlangga ini Sebelum memproduksi aneka kue kering, istri Husin Al Muqdor ini berusaha dengan berdagang aneka makanan frozen seperti kebab, lompia, risol, dan sosis, dan aneka kue basah seperti lapis Surabaya, cake susu, dan cake zebra. Kemudian dalam pikiran ibu dari Fatimah dan Muhammad ini terbersit suatu keinginan untuk berusaha membuat

kue basah. Ia bertanya tentang resep kue kering kepada seorang teman tetapi dia merasa dilecehkan karena dianggap tidak akan mampu membuat kue kering yang ditanyakan tersebut. “Kejadian tersebut makin memicu dan memacu saya untuk sukses di bisnis pembuatan kue kering,” jelas Habsiyah. Dukungan dari keluarga untuk menjalankan bisnis ini dibuktikan tidak hanya resep semata tetapi fasilitas juga diberikan kepadanya dalam berusaha. Karena selama ini Habsiyah memproduksi kue pesanan di rumah orang tua dan mertuanya. Untuk menambah pengetahuan serta memperluas jaringan dan pemasaran, tahun 2017 perempuan manis keturunan Arab ini bergabung di Pahlawan Ekonomi (PE). Disana dia bertemu banyak teman yang selalu mensuportnya antara lain Renny Widyastuti, pelaku UKM produksi minuman segar mojito. Dari perkenalannya dengan PE, Habsiyah banyak mengikuti pameran antara lain di Cak Durasim, Universitas Ciputra, World Trade Centre, dll. Saat ini dia juga tercatat sebagai anggota wadah UKM Gerakan Wirausaha Mandiri (GW Man) “Saya ingin mempunyai rumah yang tidak hanya bisa digunakan untuk tempat tinggal tetapi juga untuk produksi,” ujar Habsiyah saat ditanya tentang keinginan dan im­ piannya. (Nanang Sutrisno/Bisnis Surabaya)

memiliki cinta yang tulus. Ketulusan itulah yang membuat hati si perempuan luluh dan mencintai si laki-laki tersebut. “Lagu ini bisa dibilang menjadi momen spesial saya untuk merayakan hari ultah perkawinan yang ke-14. Cerita lagu ini pun berdasarkan apa yang saya rasakan,” ungkap penyanyi yang juga guru SMAN 2 Mengwi

ini. Tias Ananda menambahkan dirinya sengaja merilis single keduanya ini sebagai kado spesial untuk dirinya dan sang suami. Selain itu, Tias pun ingin merayakan hari bahagianya itu lewat karya musik pop Bali. “Saya memang sudah mempersiapkan lagu ini jauh-jauh hari sebelumnya. Saya

7 ingin memiliki momen yang spesial di usia pernikahan saya yang sudah menginjak usia 14 tahun. Semoga kedepan makin langgeng dan tetap bersama hingga kakek nenek,” ujar perempuan kelahiran Singaraja, 11 September ini. Ia berharap single tersebut bisa diterima oleh seluruh lapisan masyarakat serta bisa menginspirasi banyak orang untuk bisa terus menjaga pernikahannya. “Saya berharap lagu ini bisa menjadi inspirasi. Bagaimana bisa kita menjaga sebuah pernikahan agar tetap utuh dan bertahan. Saya juga berharap lagu ini bisa diterima oleh seluruh lapisan masyarakat pencinta musik Bali dimanapun berada,” pungkasnya. (Winatha)


Bunda Ananda

8

Edisi 998/ 9 - 15 April 2018

Lingkungan Bentuk Anak Saat ini, sudah sangat jarang kita bisa menemui anak bermain-main dengan tanah. Sepeti tanah yang diumpamakan sebagai nasi dan bermacam daun sebagai sayurannya, dalam bermain masak-masakan atau dagang-dagangan pada anak zaman dulu. Sekarang ini, justru banyak anak yang dibekali gadget untuk sarana bermainnya. Namun, tak sedikit pula orangtua yang menyadari dampak negatif bermain gadget.

“K

alau anak saya, hari Sabtu-Minggu saja saya bolehkan main gadget,” ujar Jro Padma. Aturan ini berlaku bagi Kezia dan Chesie, kedua putri kecilnya yang kini masih duduk di kelas 3 dan 2 SD. “Kalau kakaknya sudah pada kuliah, jadi sudah bisa bertanggung jawab dengan dirinya,” imbuhnya. Keseharian mereka selepas pulang sekolah, atau bisa dibilang agenda rutin mereka tiap sore adalah membantu mamanya, mulai dari menjepret janur yang sudah ia tuas (dipotong dan dibentuk) hingga nanding canang. “Setiap hari kami nanding 168 canang untuk di rumah saja, karena ada iringan sesuunan dan dasaran,” ujar Jro Padma. Ia menuturkan, Chezie, putri bungsunya itu sejak TK B sudah mulai bisa membantu dirinya. “Hanya dia yang mewarisi salah satu sifat papanya, suka bersih- bersih dan ringan tangan. Kalau Kezia, dia lebih bisa menghapal mantra-mantra,” ucapnya istri seorang Pamen di kepolisian ini tersenyum. Saat momen nanding canang ini, Jro Padma sangat menikmati kebersamaan dengan putri kecilnya itu. Sembari tangan mungilnya meletakkan bermacam bunga di atas sampyan uras, Chezie biasanya sambil bercerita tentang pengalamannya tadi di sekolah, bagaimana teman-temannya di

kelas, dengan siapa ia bermain, dll. Dan, Chezie juga kerap bertanya tentang aktivitas yang mereka lakukan tersebut. “…Ma, kok bunga warna ini harus disini, warna ini harus disitu, kenapa pakai pisang mas kok bukan pisang susu, pisang hijau, atau pisang raja..” Terkadang juga sambil bernyanyinyanyi. “Jadi, meski kadang agak berantakan, saya sangat terbantu, minimal ada yang diajak bercerita. Dan mendengar ocehannya itu, adem banget,” tuturnya riang. Bahkan, ketika mamanya berhalangan, Chezie dan kakaknyalah yang menggantikan tugas mebanten. Kezia yang membawakan banten, Chezie yang menghaturkannya. Untuk urusan membantu bersih-bersih rumah, seperti menyapu, mengepel dan melipat pakaian yang belum disetrika itu sudah biasa bagi Chezie. Apalagi kalau melihat mamanya yang lagi ramai pasien nunas tamba yang tentu saja menguras banyak tenaga, bocah 8 tahun ini dengan sigap mengambil semua pekerjaan yang bisa dilakukannya, sampai mencuci piring. Seperti anak kecil pada umumnya yang masih suka bermainmain, meski hanya diperbolehkan main gadget pada Sabtu-Minggu saja, Chezie dan Kezia memilih bermain yang lain seperti main skiping, main bulu tangkis, atau berjalan-jalan dengan anjing kesayangannya di sekitar areal rumah mereka.

Andin saat mengikuti lomba akting

Edisi 998/ 9 - 15 April 2018

Sore itu, pelataran Masjid Terapung Ama Hami Kota Bima ramai oleh warga yang menikmati sore di tepi pantai tempat bangunan masjid ini berdiri. Selain bersantai, warga juga menanti waktu saat magrib tiba. Mereka ingin melaksanakan salat magrib di masjid yang kini menjadi ikon Kota Bima itu.

Bumi Gora

25

Kaya Simbol, Masjid Terapung Layak Jadi Ikon Kota Bima

P

Jro Padma dan Chezie yang asyik nanding canang

SALAH TETAP PEDE Memang benar kata orang, lingkunganlah yang membentuk anak. Chezie yang sudah pintar nanding canang karena melihat kegiatan keseharian mamanya seperti itu, tentu berbeda dengan Andin yang ibunya senang berkesenian. “Kalau Andin belum pernah nanding canang karena saya biasanya beli canang. Paling kalau pas ketika nanding banten saiban untuk sembahyang, dia ikut menaruhnaruh nasi dan lauknya,” ujar Sagung Ayu, ibunya. Andin akan sangat bersemangat jika diajak beraktivitas menggambar, menari dan aktivitas lainnya yang mengharuskan dia tampil, seperti menyanyi atau baca puisi. Kata malu tampil, sangat jauh darinya. Untuk lebih mengasah mentalnya itu, ibunya sering mengikutkannya berbagai macam lomba. “Dia lumayan di baca puisi dan pernah juga dapat juara akting. Kalau di lomba menyanyi dan menggambar, masih belum,” ujar sang ibu. Perawakan Andin yang kecil mungil kerap menjadi perhatian orang, kecil-kecil cabe rawit katanya. Untung saja Andin orangnya cuek. Pernah dalam sebuah lomba baca puisi yang diikutinya pertama kali tahun lalu, ia salah membaca salah satu kalimat puisi di awal. Dengan cueknya ia bilang “..eh, salah”.. dan mengulanginya kembali membaca dari awal. Sang ibu yang mendampinginya lomba saat itu sudah khawatir anaknya akan down. “Eh, biar salah ternyata dia tetap pede

dan cuek membaca ulang lagi puisinya. Malahan saya yang khawatir karena biasanya kalau sudah salah, anak sering ciut nyalinya,” ujar Sagung Ayu. Pada ajang kompetisi yang pertsmakali diikutinya itu akhirnya Andin berhasil meraih Juara 2. Pengalaman lain saat ikut lomba akting September tahun lalu, Andin juga menjadi salah satu peserta cilik yang turut bersaing dengan ratusan peserta kategori umum lainnya. Menunggu giliran tampil hingga lebih dari 4 jam, tentu membuat mood anak-anak hilang. Karena itu, sembari menunggu, Sagung Ayu menuruti apa Chezie membantu menjepret-jepret tetuasan untuk sampyan uras saja permintaan putrid bungsunya itu. “Minta ber- ton dan peserta lainnya. Apalagi main, beli es krim, dan ayam ketika ia mampu memperagakan nugget, semua saya penuhi, tantangan untuk berakting “terbiar mood nya tetap bagus saja,” tawa pada suatu yang tidak lucu kisahnya. (tertawa tengal)”. “Untung juga Sekitar pukul 13.00, Andin su- ia mendapat tantangan itu, jadi dah capek dan mengantuk. “Saya pas banget dengan karakter dia. membiarkan dia tiduran di paha Karena kita kan tidak tahu mau saya. Setelah nomor gilirannya disuruh akting apa, kebetulan akan tiba, saya bangunin pelan- dapat kertas undiannya seperti pelan. Saya benar-benar menjaga itu,” kisah Sagung Ayu. Andin mood-nya dia,” tuturnya. pun berhasil meraih Juara HaraSebagai peserta mungil yang pan I yang memperebutkan Piala terakhir saat itu, Andin menda- Wakil Gubernur Sudikerta. pat tepuk tangan meriah penon(Inten Indrawati)

embangunan masjid terapung Ama Hami ini merupakan bagian dari grand design kawasan tumbuh cepat Niu – LawataAma Hami. Masjid Terapung Kota Bima ini merupakan ide Wali Kota Bima Qurais H. Abidin. Ia begitu antusias untuk membangun masjid yang kini menjadi salah satu kebanggaan bagi masyarakat Kota Bima. Pembangunan Masjid Terapung ini sangat cepat, hanya kurang dari 10 bulan sejak tanggal 10 April 2017, Wali Kota Bima menepati janji tersebut. Pada tanggal 18 Januari 2018, Masjid Terapung Ama Hami yang berlokasi di Kelurahan Dara Kota Bima ini resmi difungsikan untuk kegiatan ibadah untuk umum. Dan pada Jumat 19 Januari 2018, di masjid ini dilakukan Salat Jumat perdana yang menandai resminya masjid ini difungsikan. Masjid Terapung Ama Hami Kota Bima adalah satu dari beberapa masjid terapung yang ada di Indonesia, seperti di pantai Losari Makassar dan di Padang Sumatera Barat. Keunikan masjid terapung ini terletak pada arsitekturnya. Dalam desain dan arsitektur Masjid Terapung Ama Hami Kota Bima prinsipnya memadukan desain khas lokal dengan desain modern, terutama sekali mengadopsi nilai-nilai kearifan lokal da-

lam arsitekturnya. Arsitekturnya merupakan elaborasi dari simbol lokalitas dan Islamic simbol. Simbol-simbol lokal itu seperti bunga satako (bunga setangkai), yaitu merupakan salah satu motif khas tenunan bima. Ada nggusu waru (segi delapan), yaitu 8 filosofi kepemimpinan bima atau 8 aspek yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, yaitu: dou maja labo dahu, artinya orang yang merasa malu dan takut kepada Allah SWT, dou ma bae ade, artinya orang yang memiliki kapasitas intelektual serta kepekaan jiwa, dou ma mbani labo disa, artinya orang yang memiliki sifat berani melakukan perubahan (reformasi) kearah yang lebih positif, dou ma lembo ade ro ma na’e sabar, artinya orang yang lapang dada (berjiwa demokratis) yang mampu menjembatani hal-hal yang dapat menimbulkan prokontra, dou ma nggahi rawi pahu, artinya orang yang jujur, satu kata dengan perbuatannya, dou ma taho

hid’i atau londo dou ma taho, artinya orang yang memiliki integritas kepribadian yang kokoh-kuat dan berwibawa, dou ma di woha dou, artinya orang yang selalu merasa terpanggil untuk mengambil tanggung jawab ditengahtengah komunitasnya, baik pada tingkat lokal, memiliki akses tingkat nasional, maupun di tingkat internasional, dou ma ntau ro wara, artinya orang yang memiliki kekayaan (maksudnya, bukan hanya memiliki kekayaan bersifat materi-kebendaan saja, tetapi yang penting kaya rohani). Kearifan lokal lainnya adalah ciri yang sangat khas uma lengge (lumbung), yaitu bangunan tempat menyimpan padi sebagai lambang kemakmuran masyarakat Bima. Unsur-unsur dalam desain masjid ini juga dipadukan dengan

simbol bintang dalam Islam atau Rub Al-Hizb yang dikenal sebagai Bintang Al-Quds karena mirip

dengan Masjidil Aqsha yang berbentuk segi delapan.

(Naniek I. Taufan)

TERAPKAN TIGA KONSEP Untuk memudahkan para pengunjung dari kawasan taman (wisatawan) serta pengunjung dari kawasan pasar Ama Hami (penjual dan pembeli), masjid ini memiliki dua pintu yang bisa diakses dengan mudah. Setidaknya ada tiga konsep yang diterapkan dalam rancangan ini, yaitu, terbuka, sehingga sirkulasi udara bersifat alami; intersection, yaitu masjid berada pada persimpangan jalan dan mudah diakses dari arah manapun; serta ikonik, dengan harapan bahwa masjid tersebut kelak akan menjadi bangunan yang paling megah di kawasan tersebut. Kini, hampir setiap sore hari masjid yang terletak di pintu masuk menuju Kota Bima ini banyak dikunjungi warga untuk sekadar menikmati suasana sore maupun untuk melakukan salat berjamaah. Suasana nyaman yang ditawarkan membuat pengunjung betah. Banyak yang berfoto, banyak pula yang mengabadikan masjid terapung ini di media sosialnya. Ini menjadi tempat baru bagi kunjungan santai warga

Kota Bima. “Setiap sore akhir pekan begini, kami selalu menghabiskan waktu menikmati pemandangan tepi pantai sekaligus menanti waktu salat magrib untuk salat berjamaah,” kata Reny warga Kota Bima yang datang bersama suami dan dua anaknya. Tidak sedikit yang mengagumi arsitektur masjid terapung ini karena mengambil kearifan lokal Mbojo (Bima).“Kami bangga karena banyak simbol lokal yang dipakai untuk masjid ini, sehingga layak menjadi ikon Kota Bima,” kata Ridwan, pengunjung lainnya. Selain warga Kota Bima, warga dari Kabupaten Bima yang bersebelahan langsung dengan Kota Bima juga banyak yang khusus datang untuk salat berjamaah di masjid ini. Keluarga Muhammad Amin misalnya, mengajak istri dan anak-anak serta keluarganya untuk melakukan salat berjamaah di masjid ini. “Nyaman dan khusyuk,” ujar Amin tentang nikmatnya salat di masjid ini. (Naniek I. Taufan)


24

Yani Marlina

Bumi Gora

Edisi 998/ 9 - 15 april 2018

Dalam kehidupan itu ada pasang ada surut. Roda terus berputar. Ada kalanya hidup berjaya namun pada satu kesempatan, tidak ada yang tahu bahwa masa yang menyedihkan juga bisa terjadi. Hal inilah yang pernah dialami oleh Yani Marlina, istri WaliKota Bima. Lahir dan besar dari keluarga berkecukupan, lalu menikah dengan Qurais H. Abidin yang berasal dari keluarga berada, membuat kehidupan Yani tidak pernah kekurangan apa-apa karena hidup dalam limpahan materi yang cukup.

A

Menyikapi masa sulit mereka, Yani (tiga dari kiri) setia mendampingi Qurais dan sukses bersandiwara. Foto: Saat bersama suaminya ketika pelantikan Walikota Bima tahun 2013

sangat kuat menghadapi semua itu. Di saat Qurais semakin melemah jiwanya dihantam badai keruntuhan itu, sebagai istri Yani tampil menguatkan hatinya. Yani adalah perempuan yang kuat. Ia tahu benar jika suaminya itu berada pada posisi paling rendah dalam hidupnya, sehingga ia tidak ikut memperlihatkan perasaannya yang terpuruk. Sekuat tenaga Yani menyembunyikan, kesedihannya, menyembunyikan rasa depresinya dengan terus berpikir untuk mencari jalan

keluar bagi keluarganya, khususnya dalam hal ekonomi. Bayangkan, dari kehidupan serba berada ia dan suaminya, terutama anak-anaknya harus mengalami hidup yang kekurangan. Yani kerap menyembunyikan air matanya di belakang suamkarena ia tidak ingin suaminya itu semakin terpukul. Ia tidak lagi memegang uang bulanan yang cukup, tidak lagi bisa membeli apaapa kecuali untuk makan sehari-hari. Itu pun sering kekurangan. Saat mereka bangkrut, kebanyakan kawan menjauh dari mereka. “Jangankan kawan, nyamuk saja tidak ada yang mau mendekat pada saya,” ujarnya. Lalu apa yang bisa diperbuatnya? Yani belajar betul dari masa kejatuhannya itu. Sebagai istri Yani sukses bersandiwara dalam hal ini. Tekanan itu dihadapinya dengan selalu tampil bahagia seperti orang yang tidak pernah kekurangan apa pun. Ini dilakukannya untuk memberi semangat pada suaminya. Sejujurnya Yani kala itu merasa sangat minder namun tidak ingin memperlihatkannya kepada siapa pun. Beginilah perjuangan Yani untuk bisa bertahan dalam situasi sulit dan agar suaminya bisa tetap percaya diri untuk bangkit kembali. Ia tidak ingin larut dalam kesedihan. Selain tetap ceria dan memperlihatkan kebahagiaan di depan suami dan anak-anaknya, Yani juga konsisten bersandiwara di depan komunitasnya sesama ibu-ibu jika berkumpul. “Kalau ke pesta saya tetap tampil gaya seperti orang kaya,” ujarnya. Yani selalu berdandan untuk mempertahankan ‘marwah’ keberadaannya. Meski tahu bahwa itu membohongi diri sendiri, Yani tetap melakukannya karena menurutnya itu merupakan salah satu cara bagi mereka untuk mengatasi situasi yang tengah menimpanya. Jika ada yang mengetahui bahwa yang dipakainya itu imitasi, Yani menanggapinya dengan santai. “Saya jawab saja, ini kan lagi mode,” ujarnya. Saat mengalami kebangkrutan Yani Marlina, mendukung suaminya Qurais H. Abidin dengan tidak memperlihatkan rasa sedihnya

9

Dramatari “Rajapala” di Makassar

Sukses Bersandiwara kan tetapi, ada masa sulit yang tidak bisa dihindarinya yakni ketika bisnis suaminya jatuh yang begitu mempengaruhi kehidupan ekonomi keluarganya. Dalam situasi depresi ekonomi ini, mereka tidak bisa berbuat banyak. Namun beruntung bagi Qurais memiliki seorang istri yang

Edukasi

Edisi 998/ 9 - 15 april 2018

Ia tetap memperlihatkan kepercayaan diri yang tinggi, malah lebih gaya dari orang kaya sesungguhnya. Padahal sebenarnya Yani tidak pernah memamerkan kekayaan itu di saat mereka benar-benar memilikinya. Namun demi suksesnya sandiwara guna membangun kembali rasa percaya diri suaminya itu, ia rela menjadi (zaman sekarang menyebutnya) lebay. Jika ia melihat ada perempuan berpenampilan menarik dan dia ingin tampil seperti itu, Yani memutar otaknya, bagaimana agar ia bisa seperti mereka itu tetapi dengan biaya yang seirit mungkin. “Ada kalanya saya ingin juga tampil cantik seperti orang-orang itu dengan barang-barangnya yang mahal. Tapi saya sadar saya tidak bisa mendapatkannya,” ujarnya. Yani tidak memelihara sifat iri dalam dirinya. Jadi ketika ia ingin seperti yang dipakai mereka maka ia berusaha semampunya untuk mendapatkannya. Tentu saja dengan cara semurah-murahnya tetapi dengan hasil yang tidak kalah dengan yang mereka miliki. Memiliki jiwa yang kreatif dan mau berusaha, membuat Yani mudah menemukan solusinya. Untuk bisa memakai baju seperti yang diinginkannya, ia membeli kain kiloan yang harganya murah lalu ia jahit sendiri. Ini hal yang luar biasa dalam diri Yani. Jangankan menjahit, memasukan benang pada jarum saja tidak pernah dilakukannya. Ia sama sekali tidak memiliki latar belakang bisa menjahit, tetapi karena keinginannya untuk mendapatkan sesuatu ia belajar sendiri sampai akhirnya mampu mendesain juga menjahit baju tersebut. Dengan telaten dan teliti, Yani menjahit pakaiannya, berusaha serapi mungkin. “Ternyata hasilnya bagus dan saya puas bisa tampil seperti mereka,” ujarnya. Jika lebaran tiba, ia ingin anakanaknya tetap bisa memakai baju baru. Tentu saja ia tidak mampu membeli pakaian jadi yang baru untuk ke empat anaknya. Ia menyiasati dengan kembali membeli kain kiloan yang murah meriah. Itu dilakukannya sejak awal puasa agar dipakai pas lebaran. Malam-malam usai salat taraweh Yani harus rela menjahit hingga kantuk menyerang. Ketika waktu sahur tiba, sembari menunggu nasi matang, ia melanjutkan menjahit baju baru untuk anak-anaknya itu. Begitu setiap hari dilakukannya selama puasa. Saat lebaran tiba, anak-

anaknya tetap tampil gaya dengan baju baru. “Anak-anak bisa lebaran pakai baju baru kayak orang masih kaya saja,” katanya tertawa. Di rumah, Yani selalu berusaha menyiapkan makanan di rumah seperti biasa agar gizi anak-anak dan suaminya tetap terjaga. Tentu saja itu dilakukannya dengan super ketat mengirit semua biaya, seirit-iritnya. Sampai-sampai Qurais sempat tidak percaya kalau istrinya itu tidak memiliki uang karena ia pandai sekali menyiapkan hidangan di rumah mereka. Begitu cara Yani menaikkan moral suaminya untuk bisa bangkit kembali meski perlahan-lahan. Ia tidak ingin perasaan mereka berdua jatuh bangkrut. “Cukuplah bangkrut harta, tapi jangan sampai bangrut perasaan. Saya jaga benar perasaan kami berdua,” ujarnya.Ia mendukung suaminya dengan segala cara, termasuk ia tidak pernah bilang pada suaminya bahwa ketika anak-anak mereka ke empatnya jatuh sakit, ia pernah membagi satu resep obat untuk anak-anak tersebut. SATU RESEP BAGI EMPAT Suatu waktu empat anak mereka jatuh sakit bersamaan. Untuk membawa ke empatnya ke dokter membutuhkan biaya tetapi Yani tidak memiliki uang yang cukup. Ia sedih karena anakanaknya harus berobat. Seperti biasa, Yani tidak mengeluh dan tidak bicara apa-apa pada suaminya. Tiba-tiba ia punya ide. Yani mendatangi seorang dokter yang kebetulan adalah kawannya. Ia minta satu resep obat kepadanya. “Satu resep itu saya bagi empat agar anakanak saya bisa minum obat semuanya,” ujar Yani. Apa yang sudah dijalani dalam hidup susah itu, membuat hidupnya bahkan lebih lengkap dari orang lain. Apalagi mereka bisa melewati masa-masa sulit itu lalu bangkit dan kembali berjaya. Yani bersyukur karena Tuhan telah memberikan mereka kehidupan yang lengkap.Yani bersyukur dengan cobaan hidup yang diberikan Tuhan kepada kepada mereka sehingga ia bisa lebih menghargai kehidupannya hari ini dan hari esok. “Kebahagiaan itu tidak terletak pada banyaknya harta benda kita, tetapi kebahagiaan itu ada pada cara kita menyikapi hidup ini,” ujar Yani. (Naniek I. Taufan)

Berada di perantauan tidak membuat orang Bali lupa dengan jiwa seninya. Hal inilah yang dialami warga Bali yang ada di Makassar, Sulawesi Selatan. Mereka menampilkan dramatari “Rajapala” untuk memeriahkan Dharma Santi Nyepi Tahun Baru Saka 1940. “Ide membuat drama tari memang sudah muncul bulan Januari 2018. Namun, latih­an intensif untuk dramatari hanya empat kali menjelang pementasan. Selebihnya pemain yang belajar

Made Taro

sendiri-sendiri,” ujar Ketut Bali Putra, pemeran Rajapala. Ia menuturkan latihan intensif hanya empat kali karena banyak yang juga perlu disiapkan untuk perayaan Nyepi, diantaranya latihan Baris Gede, Rejang Dewa dan Rejang Renteng untuk melasti. Latihan topeng dan bebondresan untuk ngerupuk dan caru manca kelud. Setelah itu persiapan Ngembak Geni dan open house. Pementasan dramatari ini melibatkan Sanggar Gita Saras-

KUBURAN IBU KODOK

Di sepetak sawah tinggallah seekor kodok bernama Ibu Kodok. Ia punya anak semata wayang. Anak itu biasa dipanggil Anak Kodok Jantan. Ibu Kodok sangat sayang kepada anaknya. Ke mana-mana ia membanggakan anaknya yang tampan itu. “Anak Kodok Jantan itulah kelak yang akan meneruskan keturunanku,” demikian pikir Ibu Kodok. Ibu Kodok tidak ingin anaknya mendapat kesusahan. Ia sangat memanjakannya. Kalau mencari makan, sang Ibu selalu mendampinginya. Akibatnya anak itu menjadi malas dan tak pernah berusaha mengatasi dirinya sendiri. Pada suatu hari Anak Kodok Jantan bermain-main ke luar rumah bersama teman-temannya. “Boleh Nak, tetapi sebelum matahari tenggelam, kamu harus sudah berada di rumah,” demikian pesan ibunya. Apa yang terjadi? Sampai larut malam sang Anak belum juga pulang. Sang Ibu gelisah. Setelah pulang, anak yang tidak menurut itu mendapat omelan. Anak itu tidak mau mengakui kesalahannya, malah melawan. Ia memukul-mukul pintu rumah dan melemparkan perabotan dapur. Semakin beranjak dewasa, anak kodok itu makin menyakiti hati ibunya. Ia selalu menentang perintah. Kalau disuruh membersihkan rumah, ia bahkan sengaja membuang sampah di halaman. Kalau disuruh memetik sayuran di kebun, ia justru pergi memancing ke sungai. Sang Ibu semakin hari semakin makan hati. Akhirnya jatuh sakit. Si Anak Kodok Jantan, bukannya menolong ibunya yang sakit, tetapi pergi meninggalkan rumah berlama-lama. Menjelang ajal, ibunya memanggil anak kesayangannya itu. “Anakku Sayang!” kata ibunya dengan suara lemah. “Bila tiba ajalku, kuburkanlah aku di pinggir sungai, dekat tempatmu memancing.” Sebetulnya sang Ibu ingin dikuburkan di lereng bukit. Ia ingin tempat yang aman dan hening. Ia tahu, anaknya pasti akan berbuat sebaliknya. Oleh karena itu ia mengatakan agar di kubur di pinggir sungai. Namun sang Ibu salah perhitungan. Setelah mati, anak satu-satunya itu menangis meraung-raung di sebelah jasad sang Ibu. Ia menyesali perbuatannya yang selalu menyakiti hati sang Ibu. Sesungguhnya ia sangat mengasihi ibunya. Anak Kodok Jantan bertekad menebus dosa. Bersama teman-temannya, ia menggotong mayat sang Ibu ke pinggir sungai. Sambil menangis, ia kuburkan jasad ibunya dekat tempat ia memancing. Lama berselang, musim hujan pun tiba. Sang Anak yang sangat terpukul oleh kematian ibunya, selalu memeriksa kuburan itu di pinggir sungai. Ia takut, kalau-kalau kuburan itu dihanyutkan banjir. “Teman-teman!” katanya memanggil kodok-kodok lainnya. “Ayo kita bernyanyi, mendoakan, agar air hujan yang lebat ini tidak menghanyutkan kuburan Ibu kita tercinta.” Demikianlah yang terjadi hingga saat ini. Setiap musim hujan, kodokkodok itu bernyanyi beramai-ramai. “Kung kek, kung kek, kung kek….! Jangan hanyutkan kuburan ibu kami! Jangan hanyutkan kuburan ibu kami!” (Korea)

dana. Latihan dilakukan di Pura Giri Natha Makassar. “Kami sempat pesimis karena saat gladi masih berantakan. Untungnya saat hari pementasan semua dalam posisi siap. Akhir­nya pementasan kami sukses,” ujar Bali tentang drama yang melibatkan belasan penari ini dengan Ken Sulasih diperan­kan Kuntia Putri Jnani serta I Durma diperan­ kan Ganesh.

wati Kota Makassar pimpinan I Made Semadi, S.Sos. Ide cerita untuk mengangkat drama Rajapala berasal dari Semadi yang juga menjadi pelatih tari bersama Ni Wayan Kurniasih. Semadi juga menjadi dalang bersama Agung Novianti. Penata tabuh dipercayakan kepada Wayan Swar-

(Ngurah Budi)

Ambil Hikmah Dibohongi Kata “bohong”, orientasinya pasti negatif. Namun, pada kondisi dan situasi tertentu, berbohong bisa dibenarkan. “Tidak selalu berbohong itu tidak baik. Ada bohong yang sifatnya mendidik,” ujar Ketua YPLP IKIP PGRI Bali Drs. IGB Arthanegara,S.H., M.Pd.

I

a mengumpamakan bohong yang positif yang sering dilakukan pada anak-anak, seperti, “ini permen”, padahal itu obat. Contoh lain, “tidak boleh menyapu malam hari nanti sang kala bangun.” Padahal maksudnya, karena malam kondisinya gelap, jangan sampai ada jarum tersapu. “Jangan duduk di bantal nanti bisul”, yang mana sesungguhnya pesan yang ingin disampaikan bahwa tidak etis menduduki bantal yang biasanya dipakai untuk kepala. Demikian halnya jika berada dalam pasukan perang. Penyair dan cerpenis ini memberi contoh kalimat penyemangat, “Tenang saja, lima menit lagi akan ada bantuan bagi kita”, padahal sebenarnya tidak ada. Arthanegara mengatakan, dirinya juga pernah diperlakukan seperti itu ketika ia berada di negeri Cina, “Satu orang mati disini, 10 ribu orang Cina tebusannya dibantai di Indonesia. Asalkan Anda

G30S, dalam bentuk novel berjudul “Dunia Kampus Yang Lain” di tahun 2007. Sebagai akademisi dan tokoh pendidik, yang selalu mengajarkan “kejujuran” alias tidak berbohong, ia mengaku terkadang hal ini menjadi dilema. Namun, ia meyakini diri bahwa bohong yang dilakukan guru kepada muridnya adalah dengan tujuan baik. Itu pula yang ia rasakan saat ini. “Dulu, saya pasti juga dibohongi oleh guru. Tapi sekarang saya bisa memetik hikmahnya. Saya bisa lebih mengevaluasi diri, terkontrol, sehingga tidak sembarangan mengambil langkahlangkah yang tidak baik,” tandasnya.

mati didampingi teman, jangan sampai sendiri. Kedutaan adalah daerah kita satu-satunya. Jadi kalau kamu mati di kedutaan, kamu terhormat”. Demikian kata-kata penyemangat bagi mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang sedang studi di Cina sekitar tahun 1960(Inten Indrawati) an di tengah memanasnya hubungan diplomatik CinaIndonesia. “Padahal kami tahu itu tidak mungkin. Itu kan bohong,tapi itu sangat membesarkan hati kami sehingga kami jadi berani,” ucapnya. Novelis yang sekaligus sebagai pelaku sejarah ini pun kemudian mengisahkan perjalanannya melanjutkan kuliah di Cina dan terpaksa pulang karena keteDrs. IGB Arthanegara,S.H., M.Pd. gangan politik pasca


Dara

10

Edisi 998/ 9 - 15 april 2018

Dorayaki Band

Seiring berkembangnya teknologi pertanian, berbagai teknik bercocok tanam pun ditemukan. Hingga kemudian ditemukan teknologi pertanian yang tidak lagi tergantung pada tanah sebagai media tanam tetapi beralih menggunakan media air sebagai suplai nutrisi tanaman. Dengan sistem pertanian hidroponik hambatan lahan bisa diatasi dengan hasil yang tak kalah bagusnya dengan sistem pertanian konvensional.

Baru Terbentuk Langsung Juara Mengambil tema “Satu Hati, Satu Pikiran, Satu Kata”, Singaraja baru saja memperi­ ngati hari jadi yang ke-414, pada 31 Maret 2018. Semarak perayaan HUT kota Singa­ raja memang sangat dirasakan oleh semua kalangan masyarakat.

P

eringatan HUT kota Singaraja diisi berbagai kegiatan digelar dengan melibatkan secara langsung masyarakat secara umum. Salah satu kegiatan yang digelar adalah lomba Band Pemuda se-Bali. Dibawah naungan dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga kabupaten Buleleng, lomba ini bertujuan untuk menggali potensi anak-anak muda Buleleng di bidang musik. Apalagi saat ini musik sangat berkembang di Buleleng dengan banyaknya band-band lokal yang mampu menunjukkan diri secara kualitas dan mampu bersaing di dunia tarik suara. Maka dengan adanya lomba band ini diharapkan sebagai wadah untuk mengapresiasi aktivitas seniman di bidang musik. Rupanya, lomba yang digelar dengan beberapa tahapan ini cukup banyak diminati masyarakat. Tercatat 28 peserta dari seluruh Bali yang mendaftarkan bandnya hingga babak penyisihan, Kamis 29 Maret 2018. Dalam babak

penyisihan ada 10 band yang terpilih untuk layak bertanding pada babak

Arya Suarnata Vokalis Dorayaki Band

Personil Dorayaki Band

final. Band yang terpilih tampil kembali pada malam final 31 Maret 2018 di Lapangan Bhuana Patra Singaraja. Setelah tampil kurang lebih 4 hingga 5 jam perlombaan, akhirnya juri memutuskan satu band yang menjadi juara. Tentu penentuan juara berlangsung alot karena penampilan band terbaik memang dari hasil penjaringan yang sangat ketat. Semua band yang berhasil lolos pada babak penyisihan tampil luar biasa mulai dari aksi panggung serta kualitas musik dan penyanyi sangat memukau. Dalam malam final, Dorayaki Band berhasil memboyong piala karena berhasil meraih juara I dan menyingkirkan lawan-lawannya. Band yang diperkuat oleh personil dengan berbagai profesi ini mampu memukau para juri dan penonton dengan aksi panggungnya. Arya Suarnata sebagai vokalis yang kesehariannya sebagai pegawai di Kantor Kemenag Kabupaten Buleleng merupakan orang sudah tidak asing lagi di dunia musik. Berbagai prestasi pernah dia raih baik akademik maupun dunia musik. Putu Widhy di keyboard merupakan pegawai samsat pemerintah provinsi Bali, kemudian pada bass diperkuat oleh Agus Sanjaya yang juga sebagai guru Bahasa Indonesia di SMPN 1 Seririt, selain itu di posisi gitaris ada Made Sutrisnawan yang diketahui sebagai pegawai swasta dan terakhir ada Ikrar Satria yang piawai memainkan drum. Uniknya band Dorayaki ini merupakan band yang baru terbentuk namun memiliki personil yang telah lama malang melintang di dunia musik. “Kami memang sengaja membentuk Dorayaki untuk ikut berpartisipasi dalam lomba band untuk memperingati HUT Kota Singaraja,” ungkap Arya Suarnata. Sebagai band yang baru terbentuk, pihaknya sangat senang karena mampu menunjukkan kualitas sehingga semua pengorbanan dalam

proses latihan terbayarkan. “Tentunya bahagia karena proses bolak balik Singaraja-Seririt empat kali seminggu cukup menguras tenaga,”jelasnya. Dorayaki merupakan nama yang diberikan oleh sang gitaris karena suka dengan karakter Doraemon dalam kartun asal Jepang. “Kebetulan bodinya juga agak berisi sehingga kami pakai nama Dorayaki,” tandasnya. (Wiwin Meliana)

Personil Dorayaki Band

IKLAN CANTIK

Buleleng

Edisi 998/ 9 - 15 april 2018

S

istem pertanian hidroponik juga semakin trend di masyarakat seiring kesadaran masyarakat akan hidup sehat dengan mengonsumsi sayur-sayuran berkualitas. Bahkan kelebihan sistem tanam ini dari cara konvensional semakin membuat sistem hidroponik berkembang di tengah masyarakat khususnya Buleleng. Salah satu warga yang dua tahun belakangan ini tengah fokus dengan usaha sistem pertanian hidroponik adalah Putu Budiasa dari Desa Dencarik. Menurut Budiasa, sistem tanam ini memiliki kelebihan dibandingkan penanaman secara konvensional yakni mampu mengefesiensi lahan, mudah dalam pengendalian hama

23

Efisiensi Lahan

Sistem Pertanian Hidroponik makin Digemari dan tidak membutuhkan tanah yang banyak. Juga menjadi peluang usaha yang menjanjikan karena dorongan pasar akan kebutuhan tanaman hidroponik khususnya sayur kian meningkat. Selain itu sayur hidro-

ponik cenderung memiliki nilai jual yang lebih tinggi. Ia mengatakan, meskipun baru dalam skala kecil namun peluang bisnis tanaman hidropinik yang sudah ia tekuni dari dua tahun lalu ini sudah mampu menghasilkan keuntungan. Bahkan hasil yang di dapatkan lebih besar dibanding menjalankan pertanian konvensional. Karena dengan memiliki lahan sempit dirinya dapat menjalankan bisnis tanaman hidroponik dengan sangat mudah. Diatas lahan 4 x 8 meter dengan 2000 lubang sebagai media tanam, beberapa jenis sayuran seperti kangkung, sawi hijau, sawi pakcoi, dan seladah hijau serta merah mampu tumbuh subur dengan system hodroponik

dengan tanah serta serangan hama dapat diminalisir karena biasanya budidaya hidroponik tidak dilakukan di dalam ruang terbuka melainkan dibuatkan rumah khusus seperti grenn house terbuat dari plastik atau paranet dan tentunya benih serta nustrisi untuk pertumbuhan tanaman. Sementara jarak media tanam tergantung dari pada jenis tanaman, sementara itu ukuran diameter tanaman mulai 20- 25 cm. Diterangkannya, dalam budidaya hidroponik penting dalam memperhatikan penggunaan nutrisi, karena penggunaan nutrisi yang tepat menentukan hasil produktivitas dan kandungan nutrisi pada tanaman. “Tanaman hidroponik cenderung lebih higienis karena menggunakan media air dan nustrisi untuk merangsang pertumbuhan

tanaman,”ungkapnya. Sementara hasil produksi di pasarkan ke sejumlah hotel, restoran dan rumah makan. “Kita berani budidaya dengan sekala besar - besaran karena adanya dorongan dan permintaan pasar yang kian hari semakin tinggi,”ungkapnya. Ia juga mengatakan, hingaa saat ini kendala yang masih ditemukan di dalam budidaya hidroponik ini adalah penanggulangan hama sayur serta cuaca. “Hama pasti selalu ada bagaimana untuk menanggulangi itu dan di Singaraja cuaca juga cenderung panas sehingga membutuhkan peralatan seperti paranet untuk melindungi tanaman dari paparan sinar matahari langsung,”ungkapnya. (Wiwin Meliana)

ini. “Kebutuhan sayur hidroponik sebenarnya sangat tinggi karena lebih higienis dan kualitas rasa pun berbeda dari sayur yang ditanam dengan cara konvensional,”ungkapnya. Diterangkannya, tehknik penanaman berbagai jenis sayuran pada media taman hidroponik ini tentu diawali dengan penyemaian benih terlebih dahulu sebelum di pindahkan ke media tanam hidroponik. Sementara itu untuk proses perawatan hingga penanganan pasca panen cukup dengan nutrisi serta pupuk organik. Diungkapkannya untuk delapan lubang tanaman mampu menghasilkan satu kilogram sayuran. Seperti hidroponik pada umumnya media tanam hidroponik ini sangat ramah lingkungan karena menggunakan instalasi pipa paralon serta peralatan yang mendukung budidaya hidroponik seperti sumbu panel, net pot sehingga tidak kontak langsung

Tanaman hidroponik milik Putu Budiasa


Buleleng

22

Edisi 998/ 9 - 15 April 2018

Seka Gong Kebyar Eka Wakya

Tetap Ajeg di Tengah Perkembangan Zaman

Kreasi

Edisi 998/ 9 - 15 April 2018

11

Dalang Cilik

Pelipur Nestapa Wayang Kulit Bali

Seniman di balik pementasan wayang kulit disebut dalang. Tugas seorang dalang ketika menyajikan seni teater berbentuk boneka pipih dua dimensi ini sungguh berat. Dia bertindak selaku sutradara sekaligus membawakan segenap aspek sebuah pagelaran wayang kulit. Lakon yang dituturkannya, diungkapkan dengan puluhan wayang tokoh manusia, dewa, gu-tunggu khalayak ba­nyak. Para ngan kegamangan wayang kulit raksasa, dan binatang dengan karakter yang berbeda-beda. penonton menyaksikan dengan yang menjerit di seluruh Bali.

S

Seka Gong Kebyar Eka Wakya Banjar Paketan Desa Pakraman Buleleng

Kesenian daerah saat ini memang perlu dibangkitkan kembali agar tidak ikut tergerus arus moderenisasi. Berbagai kesenian daerah mulai jarang dikenal dan dijumpai karena minat masyarakat untuk melestarikannya berkurang. Namun, tidak demikian dengan Banjar Paketan Desa Pakraman Buleleng. Masyarakatnya tetap konsisten untuk mengajegkan kesenian daerah sebagai kesenian warisan leluhur yang memiliki nilai adiluhung.

S

eka Gong Kebyar Eka Wakya (KEW) merupakan seka gong terbaik yang dimiliki Buleleng. Hampir rata-rata pemuda-pemudi yang ada di Banjar Paketan memiliki visi yang sama. Yakni ingin tetap melestarikan kesenian yang telah diwariskan secara turun temurun. Sehingga pencarian angota Seka Gong Kebyar Eka Wakya (KEW) tidak lah terlalu sulit. Pihak banjar membentuk seka KEW ini dalam beberapa bagian, mulai dari seka dewasa, remaja, anak-anak dan ibu-ibu PKK. Konon, seka gong ini sudah ada sejak tahun 1926, dan bisa dikatan sebagai seka tertua di wilayah Kota Singaraja. Sebagai bukti, gong tertua asli milik Banjar Paketan kini tersimpan rapi di musem Belanda. Made Astawa selaku Klian Gong KEW mengatatakan, sejatinya warga meyakini bahwa seka gong di wilayah tersebut sudah ada jauh sebelum tahun 1926. Hal ini dibuktikan denga

asal-usul sang maestro seniman kendang Gede Mendra (alm), yang memang berasal dari Banjar Paketan. “Pemerintah pernah berencana akan memberikan penghargaan Wijaya Kusuma pada keluarga Almarhum Gede Mendra. namun itu terhalang karena tidak memiliki bukti foto,” ungkapnya. Nama Eka Wakya dikatakan Astawa mengadung arti ‘satu suara’. Entah siapa yang membuat nama tersebut, namun diperkirakan sudah ada sejak jaman dahulu. Seka Gong KEW kerap kali tampil di berbagai ajang bergengsi, baik ditingkat kabupaten maupun di Provinsi Bali. Dalam pembinaan dan pelatihan, masing-masing seka memiliki pendalaman tersendiri. Seperti pada gong kebyar dewasa, disiapkan untuk membawakan gambelan khas Buleleng. Sedangkan seka gong remaja dan anakanak dilatih untuk pengawasan tabuh dan tari kreasi. Namun seluruhnya tetap memegang teguh kekebyaran khas Bule-

leng. “Tiap minggu balai banjar kami tidak pernah sepi. Seka di sini memang semangat untuk berlatih. Dan hampir 99 persen anak-anak di sini bisa nabuh,” terangnya. Disebutkan Astawa, keunikan gong kebyar yang dimiliki oleh Seka Gong KEW adalah terdapat pada bagian gongnya yang masih mepacek alias tidak digantung. Barungannya pun berbeda, khusus Di Banjar Paketan, pihaknya memiliki barungan delapan gangsa, empat kantilan, dua pemugal, dua penyahcah, empat calung, dua jegog, dua gong, terompong gede, terompong cenik, barangan besar dan lain sebagainya. “Kalau zaman sekarang kan barungannya hanya empat gangsa. Sedangkan kami punya delapan dan calungnya kami punya empat. Ini artinya barungan kami itu merupakan barungan versi lama. Ini biasnya dipakai hanya untuk kegiatan upcara keagamaan karena identik dengan kesakralannya. Tapi tidak menutup kemungkinan juga kami gunakan di berbagai acara kalau ada pemesanan,” ungkapnya. I Gede Arya Septiawan (22), merupakan salah satu anggota Seka Gong KEW. Mahasiswa semester 6, Jurusan Pendidikan Agama Hindu di Kampus Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja ini mulai serius belajar menabuh sejak masih duduk dibangku kelas 4

“Rasanya puas dan bangga. Bisa dilihat oleh banyak orang. Karena Sekaa gong juga sangat diutamakan di desa dalam bidang adat. Acara apapun yang ada di desa pasti tidak pernah lepas dari gamelan. Dari sana lah akhirnya saya memutuskan untuk serius belajar meggambel. Disamping bisa dikenal oleh banyak orang, saya juga bisa menjalankan kewajiban ngayah” Sekolah Dasar (SD). Pria yang juga berperan sebagai Koordinator Seka Gong Anak-Anak ini mengaku memiliki kebanggaan tersendiri dapat bergabung dalam Seka Gong KEW. Selain dapat dikenal oleh banyak orang, ia juga dapat menunaikan kewajibanya untuk ngayah. “Rasanya puas dan bangga. Bisa dilihat oleh banyak orang. Karena Seka gong juga sangat diutamakan di desa dalam bidang adat. Acara apapun yang ada di desa pasti tidak pernah lepas dari gamelan. Dari sana lah akhirnya saya memutuskan untuk serius belajar meggambel. Disamping bisa dikenal oleh banyak orang, saya juga bisa menjalankan kewajiban ngayah,” ungkapnya. Bagi Gede Arya, tehknologi bisa saja canggih dan zaman boleh saja berubah.Tidak muluk-muluk ia pun tahu bahwa

semua orang memiliki kesibukan masing-masing utamanya untuk memenuhi kebutuhan finansial. Namun ia berharap agar sekiranya tradisi ngayah tetap dipertahankan oleh seluruh masyarakat Bali utamanya untum anak muda zaman now. “Memang beberapa orang sedang disibukkan dengan aktivitasnya sendiri baik kuliah atau bekerja atau bahkan main game online. Tapi yang perlu diingat ‘mani poan nyen lakar ngencanin rage amen sing banjarane lakar ngencanin’. Intinya swadarma mereka sebagai pelajar dan pekerja memang tetap harus berjalan, ngayah juga jangan dilupakan,” ungkapnya. Beberapa prestasi yang pernah diraih oleh Seka Gong Kebyar Eka Wakya Banjar Paketan di antaranya Juara 1 dalam lomba Utsawa Merdangga Gong Kebyar Dewasa Kabupaten Buleleng (2008), Juara 2 sebagai Duta Kabupaten Buleleng dalam PKB Provinsi Bali melawan Duta Kodya Denpasar (2009), Sebagai Duta Pendampung Provinsi Bali Gong Kebyar Anak-anak melawan Duta Kabupaten Gianyar Dalam PKB Provinsi Bali (2013), Membawa Gamelan Klasik Terompong Ngandang ke PKB Probinsi Balo (2015-2016), Juara 1 Lomba Utsawa Angklung Kebyar Kabupaten Buleleng (2017), dan Menjadi Duta Angklung Kebyar Kabupaten Buleleng dalam PKB Provinsi Bali (2018). (Wiwin Meliana)

elain berkisah dengan dialog verbal, seorang dalang juga dituntut bernarasi dengan beragam nyanyian klasik. Bahkan bukan hanya bibirnya saja yang berceloteh dan tak hanya kedua tangannya saja yang bergerak, kakinya pun menghentak-hentak membunyikan kotak wayang, memberikan aksen-aksen musikal dan dramatik. Demikian kompleksnya keterampilan seni yang mesti dimiliki oleh pelaku seni salah satu teater Nusantara yang disebut terindah di dunia ini. Dalang adalah pelaku seni yang serba bisa. Idealnya, dalang harus memiliki kemampuan dalam bidang seni tari, musik, sastra, dan seni rupa. Memainkan wayang dituntut keperigelan estetika gerak yang erat kaitannya dengan iringan musiknya, gender wayang. Berkisah dengan tema, lakon, lengkap dengan pesan moralnya tentu memerlukan wawasan sastrawi. Mengungkapkan karakter pada masing-masing figur yang ditampilkan menuntut kepekaan tersendiri dari aspek rupa visual wayang. Mungkin karena begitu jelimetnya kesenian ini, seniman dalang jadi manusia langka. Kelangkaan dalang di Jawa dan Bali sama saja.

Di Bali, upaya “mencetak” dalang telah dilakukan seperti yang terlihat di arena PKB, namun belum menunjukkan hasil yang melegakan. Kabupaten Gianyar sebagai lumbung seni, belum lama ini, mencoba menggairahkan seni pedalangan dengan jurus pengkaderan dalang cilik. Sepuluh orang dalang cilik unjuk kebolehan selama lima malam pada tanggal 4-8 Maret 2018 lalu, mengambil tempat pentas di Sukawati, Blahbatuh, dan Ubud. Meskipun semua masih pemula, bakatbakat gen-

erasi dini menjadi penerus seni pedalangan sungguh menjanjikan. Jika potensi mereka terus diasah dan diarahkan secara berkesinambungan, bukan mustahil mereka akan menjadi dalang-dalang tangguh di kemudian hari. Hari ini dan bisa jadi di hari-hari kemudian, perjuangan para dalang di tengah masyarakatnya tampak semakin penuh tantangan. Wayang kulit sebagai salah satu kesenian adi luhung sedang bimbang di tikungan zaman. Di Bali, sekitar t�������������������� ahun 1970-an, pementasan wayang kulit masih mengundang takjub. Saat itu, sebuah rencana pagelaran teater wayang merupakan kabar yang menggembirakan yang pementasannya ditung-

penuh perhatian keseluruhan proses dan detail pementasan, baik yang disajikan dalam konteks ritual keagamaan maupun pertunjukan wayang dalam ajang profan. Bagaimana asyiknya penonton menyimak adegan demi adegan sepanjang 3-4 jam dan kemudian mendiskusikan seusai pementasan, menunjukan begitu karismatiknya kesenian yang diduga sudah mempesona penonton pada zaman Airlangga, abad ke-11 itu. Pesona wayang kulit Bali terasa mulai redup ketika industri budaya global seperti film, video, dan media televisi merambah seluruh sudut kehidupan. Kehadiran media elektronik modern yang menerobos ruang-ruang keluarga hingga kamar-kamar pribadi itu mengguncang stabilitas dan integralitas masyarakat dengan nilainilai budayanya, termasuk juga terhadap ekspresi kesenian yang menjadi identitas etniknya. Pentas wayang kulit Bali kiranya juga didera involusi, tergerus zaman yang dengan gencar menawarkan beragam bentuk budaya instant. Revolusi televisi yang menyatukan masyarakat dunia dengan kemasan informasi, dan terutama homogenitas budaya populernya sungguh memporakporandakan sikap dan keragaman budaya yang sebelumnya dikawal komunitasnya dengan penuh kebanggaan. Kendatipun pada tahun 2003, wayang kulit telah diakui oleh Unesco (PBB) sebagai warisan agung budaya dunia, realitanya, eksistensi seni bayangbayang yang berasal dari zaman pra sejarah ini, belakangan semakin terpinggir. Fenomena dari popularitas Wayang Ceng Blong sama sekali tak bertautan de­

Pemetasan wayang kulit yang hadir sebagai bagian ritus keagamaan memang masih fungsional. Wayang kulit sebagai kesenian yang sangat berwibawa seperti di masa lampau terasa memudar yang dilirik masyarakat secara hambar. Saripati kehidupan yang dikomunikasikan jagat wayang mulai tak nyambung dengan generasi sekarang. Namun sungguh mengharukan. Meski wayang kulit berkubang tantangan, para dalang cilik Gianyar tersebut tampil dengan rona penuh percaya diri. Justru mereka tanpa beban mengumandangkan pesan moral kebenaran, kejujuran, ketulusan, dan keadilan dalam beragam lakon yang diangkat dari epos Mahabharata. Dalang cilik Kadek Arya Maesa Putra mengisahkan kepahlawanan dalam lakon “Bima Duta”, Kadek Sugi Sidiarta menuturkan lakon tema heroik “Gatotkaca Duta”, dan Made Dian Dhairya Dhanesswara menuturkan tentang pengorbanan dan keberanian tokoh Bima melalui lakon “Caru Mangan Caru”. Tokoh-tokoh panutan yang dulu menjadi acuan dan identifikasi penonton, selain Bima dan Gatotkaca, Yudistira yang arif bijaksana, Kresna yang cerdik pandai, Arjuna yang gagah berani, dan lain-lainnya, dalam pentas para dalang cilik itu, diaktualisasikan kembali dan digelorakan keteladanannya. Cerita yang dituturkan wayang kulit sarat dengan nilai-nilai keteladan yang dalam centang perenang kehidupkan kekinian mengalami krisis keteladanan. Namun, keteladanan dalam bidang seni budaya kini telah ditunjukan oleh para dalang cilik itu. Di usia yang masih belia, mereka dengan suka cita menekuni bidang seni yang sedang didera duka nestapa. Melalui tuturan pentas wayangnya, mereka mengusik kesadaran masyarakat untuk bercermin kembali pada jagat wayang, mereguk saripatinya, sebagai tuntunan hidup, kini dan nanti. (Kadek Suartaya)


Pelesir

12 Banyak tempat wisata baru bermunculan di daerah Malang Raya, dan bahkan ada beberapa yang buka sampai malam hari. Bagi yang punya jadwal kegiatan padat di siang dan sore hari bisa memilih wisata malam di beberapa tempat di Malang Raya.

B

agi backpacker dari luar kota, dan akan berlibur di Malang, tapi tidak punya banyak waktu karena sebagian besar waktu dihabiskan di perjalanan, jangan khawatir lagi bila tidak bisa menikmati Malang pada malam hari. Berikut ini ada tempat wisata di Malang Raya rekomendasi buat yang mau menikmati Malang di malam hari. Inilah beberapa tempat wisata yang buka sampai malam hari, seperti Batu Night Spectacular (BNS) merupakan sebuah tempat wisata yang berada di Kota Batu, Malang, Jawa Timur. Batu Night Spectacular menggabungkan konsep pusat perbelanjaan, permainan, olahraga, dan hiburan. BNS memiliki konsep taman dengan aneka macam lampu lampion yang menghiasi, dan membuat tempat wisata yang satu ini cocok untuk dikunjungi

Pilih Paralayang untuk Lihat Pemandangan

pada malam hari. Harga tiket masuk cukup terjangkau antara Rp 30.000-Rp 40.000. Kemudian destinasi Wisa-

ta Paralayang Batu merupakan salah satu tempat wisata terpopuler di Malang. Tempat yang akan menyuguhkan keindahan Kota Wisata Batu dari ketinggian. Tempat wisata ini terletak di Jalan Songgokerto, Kecamatan Batu, Kota Batu. Disini pengunjung bisa menemukan taman langit

yang menyuguhkan pemanda­ngan yang indah. Banyak pengunjung yang memilih paralayang di

malam hari kare­ na bisa melihat indahnya pemandangan lampu-lampu kota Batu yang kelap-kelip dari atas dan bagus untuk dijadikan background foto. Untuk harga

350.000 hingga Rp 500.000. Tempat selanjutnya yaitu Pasar Apung Nusantara Malang. Disini pengunjung bisa mendapatkan berbagai hal menarik seper­ ti cindera mata, hingga kuliner. Disini bisa menikmati jajanan khas Malang yang disajikan di tepi sungai buatan. Me-

nariknya lagi, pengunjung dapat berkeliling menyusuri kawasan Pasar Apung Nusantara menggunakan sebuah perahu yang hanya berkapasitas maksimal 2-3 orang dengan biaya Naik paralayang

Suasana malam di Malang

tiket masuk cukup murah Rp 10.000/orang. Jika ingin menikmati sensasi olahraga paralayang, bisa menco banya dengan harga mulai Rp

Bergaya di Udara Bergaya di hammock

Edisi 998/ 9 - 15 april 2018

Kota Batu menjadi salah satu objek wisata yang dikunjungi keluarga Juniko saat liburan. Belum lama ini mereka menjajal Flower Garden yang menyediakan berbagai wahana

menantang. Bergaya di udara sambil duduk di hammock menjadi pilihan favorit mereka. “Naiknya dengan jalan di seutas tali. Turunnya gampang karena dikatrol sama petugas di bawah. Karena angin cukup kencang, kami tidak bisa banyak bergerak,” ungkap Juniko yang berlibur bersama istri dan tiga putranya. Selain menjajal hammock bertingkat, keluarga Juniko juga menjajal paralayang dan bersepeda di udara. Bagi mereka, berbagai wahana ini sangat menarik untuk Bersepeda di udara dicoba. (Ngurah Budi)

sekitar Rp 10.000/orang untuk satu putaran mengelilingi pasar. Selain itu pengunjung juga di­ suguhi pemandangan rumah adat dari berbagai daerah di Indonesia,

Dapatkan

seperti : Kalimantan, Madura, Lombok, Nias, Jawa, Sulawesi. Namanya juga wisata bertema nusantara, jadinya kawasan wisata ini juga menyediakan kuliner khas dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Soto, Srabi, Tiwul Bothok, Nasi Buk Madura, Pawon Kentang, dan masih banyak lagi. Tempat lainnya Alun-Alun Batu Malang, disini terdapat Bianglala atau wahana kincir angin. AlunAlun Kota Wisata Batu Malang ini berada di Jalan Agus Salim, Sisir, Kecamatan Batu, KotaBatu. Tiket naik hanya sebesar Rp 5.000/ orang. Bianglala dibuka pukul 09.00 – 22.00 WIB. Kemudian destinasi yang kelima adalah Malang Night Paradise. Destinasi ini terletak di Jalan Graha Kencana Raya No 66, Balearjosari, Blimbing, Malang. Tempat wisata yang satu ini terbilang cukup baru , tapi hadir dengan konsep yang berbeda dengan lainnya, yang tentunya lebih spektakuler. Harga tiket antara Rp 30.000 - Rp 40.000/orang. Itulah beberapa tempat wisata yang buka sampai malam hari, yang bisa dicoba ketika berada di Malang Raya. (Yuliati Ningsih)

bacaan wanita dan keluarga

di Pesawat Garuda dan Lounge Garuda m Bali Post

Jln. Kepundung 67A Denpasar. Tlp. (0361) 225764 m Sekretariat Tokoh Jln. Kebo Iwa 63A Denpasar. Tlp. (0361) 425373 m Kios Sumber Dana Budi Jaya Jln. Hayam Wuruk 58 Denpasar. Tlp (0361) 223958 m Kios 66 Jln. Wahidin 66 Denpasar. Tlp. (0361) 425126 m Kios Widia Sari Jln. Bakung Sari No. 2 Kuta (Pasar Senggol Kuta). Tlp. 759482 m Safii Roit (Ria Agency) Jln. Kediri 28 Tuban. Tlp. 765542 m Warung Media Singaraja Jln. A Yani, Pertokoan Terminal Banyuasri. Tlp. (0362) 21059 m Radio Singaraja FM Jln. Raya Singaraja Seririt Km 6 Desa Tukad Mungga. Tlp. (0362) 41124 m Warung Media Tabanan Jln. Jepun No. 9 (Ruko Pasar Kodok) m Warung Media Negara Jln. Merak No. 36 Pendem- Jembrana m Warung Media Gianyar Jln. Astina Timur (Utara Patung Arjuna). Tlp. (0361) 943570 m Warung Media Bangli Jln. Nusantara (Banjar Cempaga) HP. 0812 46 9 1915 m Warung Media Klungkung Jln. Raya Puputan 95 Semarapura. HP. 085 935 511 4131 m Warung Media Karangasem Radio Besakih Jln. Surapati, Gg. Sedap Malam 8. Tlp. (0363) 21791 m Warung Media Besakih Pesraman Besakih Jln. Raya Besakih HP. 087760050056, 081999275859 m Warung Media Kintamani Jln. Raya Kintamani Batur (Selatan Pura Batur) m Warung Media Nusa Penida Jln. Raya Ped (Depan Pura Dalem Ped Nusa Penida) HP. 082236657588

Edisi 998/ 9 - 15 april 2018

Zaman sekarang ini, di tengah ber­ bagai aktivitas, ba­ nyak yang memenuhi keperluan sehari-hari untuk makanan atau minuman dengan cara membeli. Bukan hanya yang mentah sehingga harus diolah lagi sesuai selera, tapi tak jarang juga kita membeli dalam bentuk yang sudah di­ masak atau siap saji.

K

ebiasaan membeli makanan ini, juga terjadi pada Dewi Suarjani. Sebagai orang yang suka hal-hal yang praktis, sudah tentu dalam melakukan sesuatu ia tidak suka yang namanya ribet. Apalagi selama ini aktivitasnya banyak di luar rumah, maka Dewi harus pintar mengatur waktu antara melayani klien dan urusan keluarga. Satu sisi ia harus bekerja, sisi lainnya ia harus bisa memenuhi keperluan keluarganya. “Membeli ini sangat membantu,” cetusnya.

Sudut Pandang

21

Teliti sebelum Membeli

Dewi mengatakan kalau dirinya meski selama ini suka membeli, ia lebih memilih membeli makanan segar untuk langsung dikonsumsi. Namun, ia juga tak menampik masih suka membeli makanan dan minuman dalam kemasan. “Saya sadar bahwa membeli makanan atau minuman yang sudah masak dan siap dikonsumsi saja kita harus berhati-hati. Apalagi untuk makanan yang akan disimpan dulu, ini harus lebih waspada lagi, jangan sampai menimbulkan masalah, karena menyangkut kesehatan,” kata ibu dua anak ini. Bicara soal makanan kemasan, meski tidak menjadi favorit dirinya dan keluarga, namun menurut Dewi ia tetap memerlukan untuk cadangan dalam kondisi tertentu. Selain itu juga, bisa membantu saat tengah sibuk. Menurut Dewi minuman kemasan yang suka disimpannya di antaranya; yogurt, cincau dan beberapa jenis minuman kemasan karton lainnya. “Kalau saya sedang sibuk menyiapkan desain dan mentok… terus minum yogurt

Dewi Suarjani

yang segar atau minuman kotak lainnya, maaf saya tidak ingin menyebut mereknya. Hal ini bisa sedikit membantu untuk lebih siap lagi melanjutkan menggarap ide,” katanya tertawa.

Dewi juga mengatakan khusus untuk minuman dalam kemasan karton, selain kemasannya membantu menjaga food safety juga tergolong ramah lingkungan. Sebab, kemasan karton dapat didaur ulang. “Apalagi saya diinfokan teman yang paham, bahwa minuman kemasan karton itu lebih banyak memakai kemasan ‘tetra pak’, yang katanya tidak menggunakan bahan pengawet. Untuk makanan sudah cukup lama saya tidak lagi membeli yang dalam kemasan, kecuali sereal,” ujarnya sembari mengatakan kalau dirinya selalu mengingatkan keluarganya untuk mengonsumsi minuman dalam kemasan diusahakan untuk menghabiskan dalam sekali minum. Meski tidak membeli minuman kemasan dalam jumlah banyak, Dewi mengaku selalu memperhatikan kemasannya utuh atau tidak penyok, kemudian melihat tanggal kedaluwarsanya, sebab semua bahan memiliki tenggang waktu tersendiri untuk bertahan. Hal ini juga untuk memastikan, misalnya untuk

yogurt, apakah masih segar dan layak dikonsumsi. Selain itu, ia juga selalu ingat untuk melihat keterangan yang ada pada label kemasan. Karena disana biasanya ada sejumlah informasi misalnya, nama produk, daftar bahan, berat bersih, dan sebagainya. “Apalagi jika ada keluarga yang alergi terhadap bahan tertentu, Hal ini haruslah menjadi perhatian yang lebih,” katanya sembari mengatakan di pasaran sekarang apa saja ada, yang penting adalah teliti sebelum membeli. “Saya juga biasa membeli minuman kemasan hanya pada toko yang saya sudah kenal atau supermarket yang direkomendasikan teman,” lanjut Dewi yang rajin mencari informasi perihal minuman kemasan apa saja yang bisa disimpan di kulkas dan apa yang tidak perlu dimasukkan ke dalam kulkas. Ia pernah punya pengalaman membelikan teman makanan kemasan.Tanggal keda­ luwarsanya belum lewat, namun kondisi makanannya sudah tidak baik. “Kalau begini juga lebih baik kita tidak membelinya. Mungkin ini terjadi akibat gesekan atau sempat terjatuh,” paparnya. (Sri Ardhini)

Stok Makanan agar Praktis Setiap orang pasti menyadari bahwa makanan yang segar juga kentang. “Biar tokonya agak jauh, saya lebih memilih memlebih sehat dari makanan dalam kemasan, terlebih bagi ibu belinya disini dibandingkan di mini market atau di pasar yang rumah tangga yang notabene memegang kendali urusan lebih dekat dengan rumah, karena selain lebih banyak pilihan, dapur dalam sebuah rumah tangga. Namun, dengan alasan juga lebih lengkap,” ujarnya. praktis, tak sedikit pula dari mereka yang bergelut di ranah Bahkan, kalaupun jika kebetulan belanja di super market, domestik sekaligus membantu mencari nafkah ini, menyetok Bintang tak lantas membeli makanan tersebut disana. Dia masih makanan-makanan yang simpel dalam penyajian, seperti mi teringat dengan pesan adiknya yang pernah membeli nugget di instan, telur, sosis, nugget, kentang. sebuah super market saat belanja bulanan. Jadi ceritanya saat “Mi dan telur itu pasti selalu ada, karena gampang juga itu adiknya membeli segala keperluan rumah tangga seperti belinya dan bisa dipakai lama,” ujar Bintang Ariani, seorang sabun, pasta gigi, shampoo, gula, minyak, beras, telur, mi instan, ibu rumah tangga yang juga PNS ini. Tiap pagi, dia hanya dll. Sekalian juga membeli sebungkus nugget. Namun, setelah memasak nasi yang kini juga serba praktis. Hanya dengan dibuka, dipakai, disimpan di freezer, dan selang beberapa hari memencet tombol “cook” di magic jar, dalam hitungan baru kembali dibuka untuk digoreng, rasanya sudah agak sekitar 30 menit, nasi sudah jadi. Dalam kurun waktu itu, berubah. “Mungkin, nugget itu sudah diproduksi agak lama. banyak aktivitas yang bisa dilakukan sembari bersiap-siap Apalagi kalau belinya di toko yang tidak khusus menjual itu, jadi berangkat ke kantor. “Jadi, jika anak-anak atau suami mau orang yang kesana tidak prioritas membeli nugget,” tutur adiknya makan pagi atau siangnya, mereka tinggal menyiapkan lauknya yang dikutip Bintang. saja sendiri,” ujar Bintang yang mengaku pukul 06.30 sudah Ia pun juga pernah mengalami hal yang sama. Karena itu, ia berangkat kerja ini. tak pernah menyetok banyak, karena selain itu juga membuat Sebagai menu makan malam, dia lebih sering membeli penuh isi kulkas. “Iya, walaupun ditaruh di freezer, makanan makanan jadi untuk disantap bersama. Untuk persediaan mi, yang sudah dibuka segelnya, juga tidak bisa bertahan lama, pa­ Bintang membeli eceran dengan segala rasa. Sementara telur, ling lama belum seminggu sudah habis. Makanan ini kami pakai sekitar 10 butir dalam sekali belanja, yang habisnya tidak bisa stok saja, takutnya pas malam-malam apalagi hujan, atau pas ditentukan. “Karena, selain dipakai telur ceplok, kadang juga malas keluar, anak-anak pada lapar, jadi tidak perlu lagi keluar Bintang Ariani dan anaknya dipakai untuk campuran membuat jajan oleh anak saya,” ujarnya. rumah,” ucapnya. Biar tidak bosan, sesekali dia juga mengisi kulkasnya dengan sosis, nugget, dan Terkadang jika ada waktu untuk memasak, Bintang kerap juga memasukkan pokentang yang dibelinya di toko yang agak jauh dari rumahnya. Di toko ini memang tongan sosis sebagai campuran pada sayur karena membuat citarasanya lebih enak. khusus menjual sosis dan nugget dengan berbagai macam merek, rasa, dan ukuran, Bisa juga ditambahkan saat membuat telur dadar. (Inten Indrawati)


Griya Devito Art

20

Edisi 998/ 9 - 15 April 2018

Karakter Unik Akar Kayu Jati

Edisi 998/ 9 - 15 April 2018

Jangan Abaikan PTSD Selama kariernya sebagai psikiater, Dr. dr. Made Nyandra, Sp.KJ., M.Repro., FIAS mempunyai berbagai pengalaman terjun menolong dan merehablitasi kejiwaan korban saat bencana besar seperti bom Bali, bom Ambon, dan tsunami Aceh. Seperti apa?

Beberapa tahun belakangan ini, desain dengan tema natural makin disukai. Bahkan, bisa dikatakan, mebel yang mengusung konsep natural dan lawas ini selalu memiliki pangsa pasar. Untuk mendapatkan karakter tersebut, selain bermain di finishing, banyak juga pengerajin yang memanfaatkan bentuk alami dari bahan bakunya.

S

Widodo

emisal, mebel berbahan baku akar kayu jati. Berbagai produk mebel seperti meja makan, meja bar, m e j a k o n t er, m e j a k o n s u l , kursi, dan rak pajang, didisplay di Devito Art Gallery yang berlokasi di Jalan Teuku Umar Barat, Denpasar. Ada juga yang dibentuk sebagai dekorasi, seperti untuk partisi, pajangan, guci, dll. “Tiap akar pasti memiliki bentuk dan karakter

yang berbeda. Sehingga, ketika sudah diolah menjadi mebel kursi misalnya, meskipun rancangannya sama, bentuknya pasti berbeda antara satu dengan produk lainnya. Jadi, tidak pernah bosan melihatnya,” ujar

Berbagai produk mebel akar kayu jati

Widodo, owner Devito. Keunikannya inilah menjadi kekhasan dan daya tarik mebel dari akar kayu, yang bentuknya sangat bervariatif. Menurut

Widodo, peminat mebel akar kayu jati ini merata, baik orang lokal maupun ekspatriat. Dalam proses pengerjaannya, akar kayu jati yang sudah berusia pulutan tahun ini dibentuk sesuai pesanan. Dan, tentu saja dengan tetap mempertahankan bentuk alaminya. Setelah menjadi satu produk m e b e l , To m i n , k a r y a w a n bagian produksi ini menjelaskan proses selanjutnya adalah digerinda untuk memperhalus permukaan akar. “Proses finishingnya, pertama disemprot menggunakan spry gun/spet dengan sending melamin, baru kemudian di clear agar mengkilap,” jelasnya. (Inten Indrawati)

Bugar

Dr. dr. Made Nyandra, Sp.KJ. M.Repro., FIAS

“S

alah satu risiko yang terjadi pada para korban yang masih hidup selepas bencana besar adalah trauma kejiwaan. Trauma itu terjadi akibat goncangan mental yang ditimbulkan cobaan berat bertubi-tubi yang menimpa diri korban. Bentuk traumanya dapat berupa stres paskatrauma (post traumatic stress disorder atau disebut PTSD),” ujar dr. Nyandra. Menurutnya, selain karena banyaknya bencana yang menimpa kita, PTSD dapat menyerang siapa pun yang mengalami kejadian traumatik, tanpa pandang usia, dan jenis kelamin. Ia mengatakan gangguan PTSD ditandai dengan adanya kilas balik tentang kejadian bencana yang dialami. Ada beberapa hal menarik yang ditemukan pada korban bom Bali, misalnya. Ada yang tidak sanggup melihat api, karena terbayang lagi api dari ledakan bom, atau tidak sanggup mendegar suara keras. Flash back bisa dalam pikiran atau dalam mimpi korban, sehingga membuat mereka menghindari hal tersebut. Mereka tidak mampu lagi lewat di tengah kejadian tsb. Kemudian mereka menjadi sensitif, mudah terkejut, sehingga aktivitasnya terganggu. Hal itu biasanya terjadi setelah satu bulan sampai enam bulan dari kejadian. Sangat sering PTSD terjadi bersamaan dengan depresi atau kecemasan. Nyandra menilai, begitu banyak respons bantuan dari masyarakat ketika terjadi bencana bom Bali. Banyak instansi

yang memberi bantuan, Namun, hanya sedikit yang memperhatikan masalah mental korban. “Beberapa rumah sakit menyediakan bantuan mengatasi gangguan mental yang terjadi, namun, korban belum sadar tentang gangguan mental yang kemungkinan akan terjadi sehingga tentu saja hanya sedikit yang pergi ke rumah sakit. Itu sebabnya, penting sekali memberikan kesadaran kepada masyarakat,” kata Rektor Universitas Dhyana Pura ini. Waktu itu, ia masih bertugas di RS Wangaya. Ia ikut tergabung dalam International Medical Corp (IMC) menggunakan media TV, radio, dan kesenian wayang untuk memberikan sosialisasi PTSD. “Kalau malam hari ada talk show tentang PTSD, maka besoknya atau beberapa hari kemudian ada yang datang berkonsultasi,” ujar dr. Nyandra. Menurutnya, masyarakat harus diberi pengertian dan kesadaran bahwa ada gangguan kejiwaan yang bisa muncul, entah berkaitan langsung atau tidak langsung dari kejadian bencana. Kalau tidak diperhatikan dengan baik atau tidak diatasi dengan memberi pertolongan kepada penderita, gangguan ini akan berlanjut. Bentuknya bisa berupa late PTSD, atau menjadi gangguan depresi atau kecemasan, yang tentu saja menggangu fungsi kerja, fungsi keseharian dari yang bersangkutan. Ada cerita menarik yang ia temui selama menangani korban bom. Seorang ibu yang sepertinya tidak berpengaruh suaminya menjadi korban bom. Ibu ini bahkan ikut aktif bekerja membantu korban lain. Namun, satu tahun kemudian, ibu ini menjadi sangat depresi. Syukurlah ibu ini sudah mendapatkan bantuan yang baik. Satu lagi adalah seorang ibu yang juga kelihatannya sangat kuat dan ceria, bahkan tidak menujukkan gejala gangguan apapun. Setelah hampir lima tahun kejadiannya berlalu, barulah mengalami gangguan depresi. Ia mengatakan, ada sebagian korban yang bisa segera menerima kenyataan pahit, karena ada budaya dan keyakinan tentang karmapala. Ada keyakinan perjalanan hidup seseorang sudah mempunyai karma sendiri yang kita tidak ketahui sebelumnya. Orang yang melakukan perbuatan baik atau buruk akan menerima buahnya, sehingga kita harus ikhlas. Namun,

“Saya mendampingi korban bom Bali sampai sekitar tahun 2016, mereka masih memerlukan bantuan. Syukurlah mereka membentuk yayasan tempat mereka berbagai dan mencari jalan keluar, yang bernama Yayasan Isana Dewata,”

masalah tidak berhenti sampai di sana, kemudian muncul masalah lain seperti masalah sosial, ekonomi, Apakah mereka mau kawin lagi, bagimana menghidupi anak-anak yang memerlukan biaya sekolah dll. PENDEKATAN HOLISTIK Ia menilai, kebanyakan korban bom mengalami gangguan stress pascatrauma, depresi dan kecemasan. Namun, gejala yang muncul bisa dalam berbagai bentuk seperti sangat sensitif, tidak merasa nyaman, tidak sadar melakukan tindakan tertentu, misalnya kekerasan dll. “Saya mendampingi korban bom Bali sampai sekitar tahun 2016, mereka masih memerlukan bantuan. Syukurlah mereka membentuk yayasan tempat mereka berbagai dan mencari jalan keluar, yang bernama Yayasan Isana Dewata,” kata dr. Nyandra. Belajar dari pengalamannya membantu

13

penanganan dampak bencana, ia berpkir sejak awal sudah harus diperhitungkan pendampingan psikologis pada setiap bencana. Wilayah Indonesia sangat luas dan mempunyai kerentanan yang tinggi terhadap bencana, terutama bencana alam. Karena itu, kata dia, perlu dipersiapkan lembaga yang dapat mengoordinir penanggulangan, dan bantuan. “Perhatian, pendampingan dan pertolongan harus dilakukan secara menyeluruh, termasuk aspek psikologisnya. Aspek psikologis itu dampaknya sangat panjang atau sangat lama. Pendekatan yang dilakukan harus holistik, tidak hanya pendekatan fisik, tetapi juga pendekatan psikologis dan sosial, sejak awal,” sarannya. Ia menambahkan, kalau sedari awal dipikirkan aspek psikologisnya, pastilah para korban akan mendapatkan penanganan yang baik. “Kadang-kadang respons masyarakat atau pemerintah terhadap bencana sangat cepat dan bagus, namun, sering terlupakan bahwa efek bencana sangat panjang. Karena itu, perlu ada penataan sedemikian rupa agar ada pendampingan paskabencana yang dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya pada korban,” ujar dr. Nyandra. (Wirati Astiti)

Mengenal Varises pada Kaki dan Pencegahannya (dr. I Gst. Bgs. Pt. Suwarjana K., S.Ked) Adv Kesehatan

Ketika mendengar istilah ‘varises’, sebagian orang tentu memikirkan adanya pelebaran pembuluh darah pada kaki. Akan tetapi, tahukah Anda bahwa varises pada kaki bisa dicegah? Varises merupakan perubahan bentuk vena yang ditandai oleh adanya vena yang berkelok, menonjol, dengan pelebaran >3mm. Varises lebih sering ditemukan pada perempuan (25-30%) dibandingkan pada laki-laki (10-20%). Varises merupakan istilah umum, dan varises ini bukan hanya ditemukan pada kaki, namun dapat pula ditemukan pada korda spermatikum (varikokel), vulva, rectum (hemoroid) dan esofagus. Vena adalah pembuluh darah yang membawa darah kembali ke jantung. Vena memiliki struktur yang unik, dimana terdapat katup yang berfungsi untuk menjaga aliran darah balik dari kaki ke jantung. Secara teori, pada saat seseorang berdiri, efek gravitasi akan menarik darah menuju bagian tubuh terbawah. Hal inilah yang dicegah oleh katup vena, sehingga darah yang seharusnya menuju ke jantung tidak kembali turun ke kaki. Varises muncul apabila terjadi gangguan dalam proses pengembalian darah ke jantung, seperti pada kehamilan, usia lanjut, kebiasaan berdiri terlalu lama, keturunan, serta obesitas. Selain itu, penyakit-penyakit tertentu seperti thrombosis vena dalam juga dapat mencetuskan terjadinya varises. Keluhan yang paling sering ditimbulkan meliputi nyeri pada tungkai, sensasi terbakar, atau gatal. Keluhan ini biasanya muncul dan memberat pada akhir aktivitas (setelah berdiri lama) dan menghilang saat duduk dan mengangkat kaki. Meskipun sangat jarang menimbulkan komplikasi medis, beberapa penyakit lain seperti perubahan warna kulit, eczema, infeksi, serta ulkus vena dapat terjadi apabila

varises tidak ditangani secara optimal. Varises adalah penyakit yang dapat dicegah. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya varises atau mengurangi varises yang sudah ada antara lain Jangan berdiri atau duduk diam dalam waktu yang lama, usahakan untuk menggerakkan kaki dengan berjalan minimal setiap 1-2 jam. Istirahat teratur dan tinggikan posisi kaki dengan meletakkan bantal atau alas lainnya sehingga posisi kaki terletak lebih tinggi dari jantung. Olahraga secara teratur. Olahraga dapat membantu memperbaiki aliran darah balik serta menjaga berat badan agar tetap ideal. Konsultasikan dengan dokter Anda apabila Anda memiliki gejala varises. Tidak perlu takut! Sebagian besar varises dapat ditangani secara konservatif dengan kompresi dan latihan fisik, walaupun terkadang terapi minimal invasif atau pembedahan dapat dilakukan pada kasus-kasus tertentu.


Life Story

14

Edisi 998/ 9 - 15 april 2018

Menolak Menyerah

Tertarik pada dunia usaha sejak masa kanak-kanak, me­ ngantar Qurais H. Abidin men­ jadi seorang pengusaha sukses. Di usia 11 tahun ia telah me­ ninggalkan Bima, pergi meran­ tau ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Ketika anak-anak lain masih galau menentukan tujuan hidupnya, Qurais justru telah terjun secara serius ke dunia bisnis pada usia 17 tahun.

P

erjalanan hidupnya terbilang lengkap. Ia pernah berada pada titik puncak kesuk­ sesan yang membawanya pada ‘dunia muda’ penuh catatan. Pernah pula berada pada titik terendah dalam hidupnya akibat krisis moneter yang melanda negeri ini. Ia jatuh bang­ krut tak berdaya sampai menyentuh titik nol. Kegigihannya untuk menolak me­ nyerah, membuktikan Qurais adalah pengusaha berkelas. Ia bangkit dan meraih kembali kejayaannya itu. Tahun 2008, sosoknya yang muda dan par­ lente, banyak dilirik politisi Kota Bima. Qurais menjadi pendatang baru yang memesona pada ajang pilkada pertama yang digelar Kota Bima kala itu dengan terpilih sebagai Wakil Walikota Bima. Tahun 2013, ia mendominasi suara memenangkan Pilkada Kota Bima mengalahkan enam pasangan lainnya. Delapan tahun ia memimpin Kota Bima sebagai Walikota hingga tahun 2018 ini, telah mengubah Kota Bima menjadi kota yang tertata rapi dan memiliki arah yang terukur. Sebelum akhirnya meraih kembali kejayaan sebagai pengusaha sukses lalu masuk ke dunia politik, Qurais pernah mengalami masa keruntuhan bisnis yang membuatnya nyaris putus asa. Perjalanan bisnis Qurais yang telah dirintisnya sejak masa remaja, berjalan dengan baik. Tidak ada yang mampu mengejar langkah Qurais sebagai pen­ gusaha muda yang sukses khususnya di Bima. Selain memiliki SPBU dan bisnis lainnya, ia juga mulai membangun pe­ rumahan dan pertokoan. Kehidupan mereka melesat bak meteor. Namun siapa menduga, bahwa tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah SWT. Manusia boleh berhitung dengan cermat, namun segala ketentuan itu ada di tangan Allah SWT. Tahun 1997-1998, ketika krisis moneter melanda negaranegara anggota ASEAN, menjadikan struktur perekonomian negara-negara tersebut terguncang hebat, termasuk pula Indonesia. Krisis ini menghantam sungguh parah. Imbasnya menerjang berbagai sektor kehidupan masyarakat. Tidak terkecuali imbas itu menghantam hingga ke Bima. Qurais kelimpungan juga menghadapi situasi ini. Bisnis yang selama puluhan tahun dibangun ayahnya lalu dilanjutkan oleh dirinya, seketika itu juga runtuh. Usaha Qurais terjun payung tanpa arah. Qurais bangkrut total. Ini masa dimana kesedihan, kepedihan dan luka yang sangat dalam pernah menghing­ gapi hidupnya. Pinjamannya Qurais

di bank waktu itu mencapai angka fantastis Rp 3 miliar. Nilai utang yang tidak main-main. Krisis datang disam­ but pula dengan kebijakan tight money policy. Lengkap sudah penderitaan para pengusaha seperti Qurais. “Tight money policy keluar, saya tidak bisa apa-apa,” ujar Qurais. Dari kebijakan ini yang langsung dirasakan oleh Qurais adalah naiknya suku bunga bank dari awalnya hanya 17%, dalam satu bulan bahkan bisa naik lagi 10%. Situasi ini nyaris setara dengan badai besar yang mampu mencabut pondasi pertahanan para pengusaha yang memiliki pinjaman di bank. Perputaran uangnya menjadi timpa­ ng, bukan lagi tidak seimbang melainkan tidak adil. Di satu sisi ia harus memba­ yar bunga bank yang begitu besar, di sisi lain usahanya terus terjun payung jatuh bangkrut sehingga ia tak memiliki sedikit pun celah pemasukan. Alhasil, inilah masa di mana Qurais berada di titik nol, titik terendah dalam hidupnya. Ia bangkrut total habis-habisan. Bukan hanya dirinya, satu persatu pula pengusaha lain yang dikenalnya turut bangkrut. Semua menyerah dalam ketidak­ berdayaan. Tidak ada lagi yang mampu membayar bunga bank. Para pengu­ saha ‘sekarat’ pasrah. “Saya akhirnya meng­ hadap kepala bank. Saya sudah tidak sanggup lagi. Seluruh harta saya sudah habis, rumah, toko-toko dan warisan orangtua su­ dah habis saya jual. Saya sudah tidak punya ke­ mampuan lagi,” ujarnya. Dalam masa terpu­ ruk itu, Qurais bersyu­ kur karena selalu saja ada orang-orang baik yang membantunya sehingga ia bia berpijak untuk bang­ kit kembali. Dari sanalah perlahan-lahan ia kembali bangkit lalu meraih kem­ bali kejayaannya sebagai pengusaha sukses. Bagian perjalanan ini adalah bagian di mana Qurais menjadi semakin yakin bahwa tangan Allah SWT selalu ada untuk mem­ bantunya. Allah SWT yang memberi semuanya, Allah SWT pula yang mengambil seluruhnya dan Allah SWT pulalah yang memberinya kembali. BELI KEMBALI IZIN SPBU Yang paling tidak bisa dilupakannya adalah ke­ tika ia menunaikan ibadah haji bersama istrinya Yani Marlina di saat hidup mer­ eka terpuruk, ia khusus berdoa agar Allah SWT mengampuninya dan memberinya kesempatan sekali lagi untuk beru­ saha. Perjalanan batin selama beribadah ini, membuat­

nya menyadari bahwa segala hidup ini merupakan milik Allah SWT. Sedangkan manusia tidak berhak mengklaim seba­ gai miliknya. Sepulang haji, Qurais ‘lahir’ sebagai pribadi yang baru. Ia menjalani kehidupannya seperti memulai dari nol. Sekembalinya dari Tanah Suci Mekkah, secercah harapan mulat terlihat. Doadoa yang panjatkan mulai sedikit demi sedikit dikabulkan oleh Allah SWT. Aset-aset peninggalan ayahnya yang menjadi warisan untuk dirinya, mulai kembali ke pangkuannya. Hal ini se­ makin membuatnya dekat kepada Allah SWT. Ia mulai kembali memiliki uang se­ hingga izin SPBU yang pernah dijualnya kepada Bupati Bima, ia usahakan untuk bisa dibelinya kembali. “Sesungguhnya harta yang kita miliki di dunia ini adalah milik Allah SWT. Kita hanya mendapatkan amanah untuk menjaga titipan tersebut. Sewaktuwaktu, jika Allah SWT menghendaki maka Ia bisa mengambilnya kembali. Namun sewaktu-waktu, kapan pun yang Ia mau, bisa dititipkan-Nya kemba­ li ke kita,” ujar Qurais yang memaknai benar arti kejatuhan itu. (Naniek I. Taufan)

Setelah ‘pulih’ dari titik nadir kehidupannya Qurais menyadari bahwa semua yang ada pada dirinya adalah milik Allah SWT yang hanya menjadi titipan-Nya sementara

Edisi 998/ 9 - 15 april 2018

Style

19

Natural dalam

Balutan Modern Look Pilihannya motif rempah dipadu gambar peta tua dan tokoh penjelajah dunia. Pesonanya kemudian dituangkan dalam bentuk motif dengan teknik digital print. Ada kain lurik atau surjan sebagai paduan bahan demi mengentalkan kesan tradisional. Itulah koleksi dari Elfi Lila yang di pilih Tokoh untuk halaman Style pekan ini.

K

arya busa­ na anggota IFC Den pasar ini, bertajuk “Jalur Rempah Nusantara” Gaya yang terinspirasi dari cerita seja­

rah besar bangsa Indonesia yang mendunia. Di sini, Elfi Lila berhasil memadukan nuansa Colonial Look . Java Look dan Morrocan Look ke dalam bentuk modern. Elfi Lila yang sudah 19 tahun bekerja di industri fashion dan sempat mendedikasikan diri seba­

gai guru sekolah fashion selama 8 tahun ini adalah pemilik label ‘Art of Lila’ Pada setiap karya­ nya ia menghadirkan filosopi simplicity, beauty, ecofriendly, dengan sentuhan seni dan bahan natural, sebagai­mana yang terpajang kali ini. (Sri Ardhini)


Jelita

18

Edisi 998/ 9 - 15 April 2018

Selulit yang Sulit M

aliran darah sehingga cairan bertahan di dalam tubuh. Penyebab lain karena hormon, konsumsi lemak berlebihan, diet berlebihan, dan pemendekan serat di lapisan dermis. Namun dari beberapa penelitian, penyebab tersebut belum dapat dipastikan. Banyak orang melakukan berbagai cara menghilangkan selulit, walaupun hasilnya disebut kurang memuaskan. Dari beberapa penelitian menunjukkan hasil yang dilakukan tersebut sebagian besar kurang memuaskan. Ada yang menawarkan massage mulai dari tradisional sampai dengan pijatan dengan mesin. Ada juga yang memakai obat-obatan suntik, walaupun sebenarnya tidak direkomendasikan FDA. “Ada juga yang menawarkan, menghilangkan selulit dengan radio frekuensi yang dikombinasikan infrared. Malah sebelumnya, dilakukan pemijatan dulu, hasilnya juga belum memuaskan,” ujarnya. Ia mengatakan, laser bisa juga menjadi pilihan, namun, perlu dilakukan pengulangan dan biayanya sangat tinggi. Menurutnya,

Kawal Industri Fashion Indonesia

Indonesian Fashion Chamber (IFC) adalah wadah yang lahir dari rasa peduli sekumpulan pelaku industri fashion di Indonesia. Mereka pada dasarnya memiliki keinginan dan semangat yang sama untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat mode. Selain itu, bersama pemerintah, membangun perekonomian dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia melalui bisnis fashion.

A

dr. Ni Luh Putu Ratih Fibriyanti Karna walaupun ada pengurangan selulit sedikit, jika disebabkan karena faktor genetik, tentu selulit akan kembali lagi Ada juga ditawarkan krim selulit, yang diolesi di atas permu-

15

IFC Denpasar

Selulit adalah kondisi dimana lemak terperangkap sehingga menimbulkan gumpalan-gumpalan kecil yang terlihat seperti kulit jeruk. Selulit memang tidak berbahaya, namun, dampaknya memberi rasa ketidaknyamanan. Siapa pun bisa kena, wanita ataupun laki-laki, dewasa atau pun remaja. enurut dr. Ni Luh Putu Ratih Fibriyanti Karna, Sp.K.K., FINS, DV., permukaan kulit yang bergelombang seperti kulit jeruk tidak hanya terjadi pada orang gemuk, namun selulit juga kerap ditemukan pada orang yang berbadan normal ataupun kurus. “Selulit biasanya muncul di paha atas, lengan bawah, perut bahkan payudara,” ujar Staf Bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FK Unud/RS Sanglah ini. Ia mengatakan, sebagian besar wanita memang menderita selulit. Sementara, laki-laki persentasenya lebih kecil. Alasannya, karena serat jaringan ikat vibrus wanita dan laki-laki berbeda. Meski begitu, laki-laki juga bisa kena di bagian perut dan leher belakang. Hanya saja, laki-laki memiliki kulit lebih tebal sehingga mampu menutupi tumpukan lemak di bawah jaringan kulitnya. Ia menyebutkan, beberapa penyebab selulit, faktor genetik, kurangnya berolahraga menyebabkan menurunnya suplai

Komunitas

Edisi 998/ 9 - 15 April 2018

kaan kulit. Menurutnya, lapisan selulit tersebut adanya di lapisan dalam kulit sehingga manfaat dari krim tersebut tentu prosesnya sangat lama. “Sesuai namanya selulit memang memerlukan ekstra kesabaran dalam penanganannya karena sulit,” ujarnya. Menurutnya, sebelum selulit datang menyerang, lakukan pencegahan di awal, dengan

cara, olahraga yang teratur dan jaga berat badan tetap seimbang. “Olahraga mulai dari bersepeda dan jogging secara teratur minimal tiga kali seminggu dapat membuat otot menjadi kencang sehingga dapat mencegah selulit,” sarannya. Selain itu, pilihlah makan yang sehat dengan lebih banyak mengonsumsi makanan berserat. (Wirati Astiti)

nggota lembaga nirlaba yang terdiri dari perancang busana wanita dan pria, perancang perhiasan dan aksesoris yang terdepan melalui usaha yang terpadu. IFC akan menjadikan Indonesia sebagai salah satu kiblat fashion di samping menjadi terdepan dalam busana Muslim. Begitu disampaikan Weda Githa, Ketua IFC Denpasar didampingi Cindy Lavina, Sekretaris IFC; Linda Lirose, Bidang Marcom dan Public Relation; serta Elfi Lila, Bidang Edukasi. Menurut Weda Githa, dengan berpegang teguh pada filosofi inspirasi lokal dan semangat kontemporer, dalam menghasilkan karya-karya rancangannya. Anggota IFC akan berusaha penuh mengoptimalkan penggunaan sumber daya dan kekayaan lokal, melalui kegiatan yang bernilai positif seperti pelatihan, seminar, diskusi grup, serta pameran dalam skala domestik maupun internasional. “IFC juga berupaya memperkuat kerja sama dengan lembaga-lembaga yang terlibat secara mutualisme dengan industri fashion, diantaranya lembaga pemerintahan, badan-badan usaha dari setiap kelas, institusi pendidikan hingga komunitas fashion,” imbuh Linda Lirose. Untuk mencapai hasil yang maksimal kata Elfi, mereka mengaku penting mensinergikan setiap kegiatan dan pekerjaan yang dilaksanakan

IFC. Terutama, untuk menghindari terjadinya duplikasi program dan kegiatan pengembangan. Salah satu usaha untuk menjaga kesinergian tersebut, dirancang dengan mempromosikan kegiatan fashion sebagai bagian penting dari perkembangan industri kreatif anak bangsa. Weda Githa pun menjelaskan lagi jika industri fashion itu sendiri terdiri dari berbagai sub-divisi kreatif, yaitu: rancangan, sumber daya, produksi, distribusi, pemasaran dan penjualan, serta analisa kemampuan lingkungan dan pengarsipan. Sebagai anggota IFC, pribadi

tersebut dengan penuh kesadaran yang bertanggung jawab berhak menjadi yang terdepan dalam industri yang digelutinya, dan secara otomatis menjadi titik simpul dalam mata rantai divisi-divisi kreatif tersebut. IFC mendukung penuh perkembangan konten lokal dalam industri kreatif fashion dan dunia seni perancangan, dengan menggunakan semaksimalnya sumber daya lokal dalam setiap proses kreativitas yang dilakukan. “Hal ini menegaskan bahwa pergerakan inovatif dan tampilan keunikan IFC dapat dipertanggungjawabkan dari sudut pandang lingkungan maupun sosial,” tandas Weda Githa. BUDAYA INDONESIA SEBAGAI INSPIRASI Elfi Lila menambahkan dalam menciptakan hasil karya tangan

produk fashion siap pakai, IFC saat ini bekerja dengan tiga landasan utama, yakni; penelitian, kapasitas pembangunan, dan perkembangan usaha. Hal ini , sebagai salah

satu usaha untuk memposisikan Indonesia ke dalam peta pusat perhatian fashion dunia. IFC pun secara rutin mengembangkan dan mengadakan ‘Indonesia Trend Forecasting’. Kegiatan ini lebih khususnya ditujukan untuk meningkatkan kesadaran nasional terhadap potensi dan kekayaan elemen budaya Indonesia, sebagai inspirasi untuk menghasilkan produk gaya hidup masa kini dengan kualitas barang maupun kualitas rancangan terbaik. Selanjutnya pengadaan inovasi dan pengembangan karya anak bangsa yang bersinergi dan berkelanjutan setiap tahunnya, salah satunya diwujudkan melalui ajang “Bali Fashion Trend (BFT) 2019”. Acara ini bakal digelar pada 11- 13 Mei 2018. BFT merupakan salah satu upaya menyampaikan ide-iden tren fashion 2019 yang tersinkronisasi dengan matang demi menempatkan Indonesia sebagai salah satu pusat perhatian di dalam industri fashion dunia. (Sri Ardhini)


Kuliner

16

Edisi 998/ 9 - 15 April 2018

Nikmatnya Santapan Berkuah

Ayam Bakar Chef Sarwan Bahan: 1 ekor : ayam potong-potong 3 batang : serai memarkan 500 ml : air kelapa 3 lembar : daun salam 2 ruas jari : lengkuas memarkan 2 sdm : air asam jawa 2 sdm : gula jawa merah 2 lembar : daun jeruk purut Garam, kaldu bubuk

ala Makassar Makassar merupakan kota terbesar kelima di Indonesia dilihat dari jumlah penduduknya. Ibukota Sulawesi Selatan ini pun selain padat penduduk juga menyimpan wisata kuliner yang layak untuk dicoba.

Bumbu Halus : 3 ruas : jari jahe 4 butir : kemiri sangrai 11 buah : bawang merah ½ sdt : jinten ¼ sdt : pala 2 ruas jari : kunyit bakar 7 buah : cabe rawit

Cara Membuat : Tumis bumbu halus bersama serai, lengkuas juga daun

salam dan daun jeruk hingga harum. Masukkan ayam, air kelapa, bahan-bahan lainnya, masak hingga bumbu meresap dan air kelapa agak nyemek-nyemek dan matang. Bakar ayam, olesi dengan sisa bumbu sambil dibolakbalik hingga matang dan agak hangus agar lebih enak. Siap disajikan dengan lalapan menurut selera.

Chef Sarwan

Tahu Brontak Pedas

tkh/ist

tidak mencicipi sajian berkuah yang satu ini. Selain Coto Makassar, ada Sop Saudara yang juga menggugah selera. Meski makanan berkuah yang disajikan dalam mangkuk kecil ini mirip Coto Makassar, namun kuahnya yang gelap memiliki rasa yang bening. Makanan tradisional khas Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan ini banyak dijual di Makassar. Sop Saudara ini dibuat dari daging sapi, bihun serta kentang goreng yang umumnya dibentuk bola-bola kecil. Biasanya dihidangkan bersama dengan nasi putih. Ada tambahan jika tidak puas dengan seporsi Sop Saudara. Tambahannya telur asin maupun

beragam lauk gorengan. Satu lagi masakan berkuah yang cukup populer adalah Pallubasa. Masakan khas Makassar ini juga mirip Coto Makassar. Letak perbedaannya terdapat pada proses memasaknya. Jeroan untuk Pallubasa direbus dalam waktu yang lama. Setelah matang, jeroan dan daging diiris dan dihidangkan dalam mangkuk. Perbedaan lainnya pada kuah Pallubasa ditambahkan kelapa parut yang telah disangrai sehingga kuahnya menjadi kental dan gurih. Tambahan lain, adanya telur ayam yang dimasak setengah matang dan dicampur dalam kuah Pallubasa. (Diah Dewi)

Pall ub

tkh/ist

Bahan A : 12 tahu : kulit iris segitiga Minyak secukupnya

M

asakan khas Makassar memang beraneka ragam, mulai dari Konro Bakar hingga Coto Makassar. Saat berpergian ke Makassar, tidak ada salahnya mencoba sajian lezat berkuah yang menggoda selera. Sebab, di Makassar banyak terdapat kuliner berkuah yang sangat enak disantap, terlebih saat cuaca sedang mendung maupun hujan. Makanan khas Makassar yang paling populer dan banyak dijajakan penjual makanan adalah Coto Makassar. Menurut orang-orang Makassar, Coto terenak bisa dinikmati di Jalan Nusantara. Namanya Coto Nusantara. Meski tempatnya sederhana, kelezatan masakan di rumah makan itu tidak perlu dipertanyakan lagi. Coto yang kaya rempah ini benar-benar sangat populer. Tak lengkap jika ke Makassar

17

Edisi 998/ 9 - 15 April 2018

asa

Bahan B: 250 gr : tauge 100 gr : wortel serut 1 sdm : daun bawang iris halus 3 siung : bawang putih cincang 5 buah : bawang merah cincang 15 buah : cabe rawit cincang halus ½ sdt : lada bubuk 1 sdt : gula Garam, kaldu bubuk secukupnya 3 sdm : minyak goreng

Bahan C: 250 gr : tepung terigu 3 siung : bawang putih 1 ruas jari : kunyit bakar 1 sdt : garam atau lebih 2 butir : telur 6 sdm : air Cara Membuat : -Belah tahu sisi miring hingga berongga, sisihkan. Bahan B, panaskan minyak, tumis bawang putih, bawang merah hingga layu, lalu masukkan tauge dan wortel parut, aduk rata. Masukkan sisa bahan B, lalu aduk matang, sisihkan. Bahan C, haluskan kunyit dan bawang putih, campur semua bahan C, aduk rata, sisihkan. Ambil satu buah tahu, isi dengan tumisan bahan B hingga penuh, lakukan semuanya hingga tahu habis. -Panaskan minyak goreng dengan api sedang, celupkan tahu dalam adonan C, langsung goreng hingga kuning kecokelatan, angkat. Sajikan dengan pelengkap cabe rawit dan saus sambal siap saji.

Cah Tahu Tauge Kucai

Bahan : 2 buah : tahu putih potong dadu 150 gr : tauge 5 buah : bawang merah cincang 2 buah : cabe merah iris serong 50 gr : kucai potong-potong 7 buah : cabe rawit cincang ¼ sdt : lada bubuk 100 ml : air 1 ruas jari : lengkuas memarkan

Cumi Pedas Manis

Sop Saudara

Penjual Sop Saudara

tkh/diah

Bahan : 750 gr : cumi buang tintanya potong bulat 1 sdm : air jeruk nipis 2 batang : serai, ambil daging putihnya, potong-potong 4 siung : bawang putih cincang 1 sdm : bawang bombai cincang 1 buah : tomat potong dadu 3 buah : bawang merah cincang halus 20 buah : cabe rawit cincang halus 2 ruas jari : jahe memarkan 3 sdm : saus sambal 1 sdm : saus tomat

1 sdm ¼ sdt 1 sdm Garam,

: saus tiram : lada bubuk : bawang prei cincang gula, kaldu bubuk secukupnya

Cara Membuat : Cuci bersih cumi, lalu lumuri dengan air jeruk nipis, diamkan selama 10 menit, lalu bilas lagi sampai bersih, tiriskan. Panaskan minyak, masukkan cincangan bawang putih, bawang bombai, jahe dan serai hingga harum, lalu masukkan semua bahan, aduk rata, masak hingga matang dan bumbu meresap, siap disajikan.

2 sdm : saus tiram Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya Cara Membuat : Goreng tahu agak matang kecokelatan, lalu tumis irisan bawang, irisan cabe sampai harum. Masukkan tauge, tahu dan semua bahan-bahan, aduk, biarkan sampai mendidih dan bumbu meresap, matang, sajikan.


Kuliner

16

Edisi 998/ 9 - 15 April 2018

Nikmatnya Santapan Berkuah

Ayam Bakar Chef Sarwan Bahan: 1 ekor : ayam potong-potong 3 batang : serai memarkan 500 ml : air kelapa 3 lembar : daun salam 2 ruas jari : lengkuas memarkan 2 sdm : air asam jawa 2 sdm : gula jawa merah 2 lembar : daun jeruk purut Garam, kaldu bubuk

ala Makassar Makassar merupakan kota terbesar kelima di Indonesia dilihat dari jumlah penduduknya. Ibukota Sulawesi Selatan ini pun selain padat penduduk juga menyimpan wisata kuliner yang layak untuk dicoba.

Bumbu Halus : 3 ruas : jari jahe 4 butir : kemiri sangrai 11 buah : bawang merah ½ sdt : jinten ¼ sdt : pala 2 ruas jari : kunyit bakar 7 buah : cabe rawit

Cara Membuat : Tumis bumbu halus bersama serai, lengkuas juga daun

salam dan daun jeruk hingga harum. Masukkan ayam, air kelapa, bahan-bahan lainnya, masak hingga bumbu meresap dan air kelapa agak nyemek-nyemek dan matang. Bakar ayam, olesi dengan sisa bumbu sambil dibolakbalik hingga matang dan agak hangus agar lebih enak. Siap disajikan dengan lalapan menurut selera.

Chef Sarwan

Tahu Brontak Pedas

tkh/ist

tidak mencicipi sajian berkuah yang satu ini. Selain Coto Makassar, ada Sop Saudara yang juga menggugah selera. Meski makanan berkuah yang disajikan dalam mangkuk kecil ini mirip Coto Makassar, namun kuahnya yang gelap memiliki rasa yang bening. Makanan tradisional khas Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan ini banyak dijual di Makassar. Sop Saudara ini dibuat dari daging sapi, bihun serta kentang goreng yang umumnya dibentuk bola-bola kecil. Biasanya dihidangkan bersama dengan nasi putih. Ada tambahan jika tidak puas dengan seporsi Sop Saudara. Tambahannya telur asin maupun

beragam lauk gorengan. Satu lagi masakan berkuah yang cukup populer adalah Pallubasa. Masakan khas Makassar ini juga mirip Coto Makassar. Letak perbedaannya terdapat pada proses memasaknya. Jeroan untuk Pallubasa direbus dalam waktu yang lama. Setelah matang, jeroan dan daging diiris dan dihidangkan dalam mangkuk. Perbedaan lainnya pada kuah Pallubasa ditambahkan kelapa parut yang telah disangrai sehingga kuahnya menjadi kental dan gurih. Tambahan lain, adanya telur ayam yang dimasak setengah matang dan dicampur dalam kuah Pallubasa. (Diah Dewi)

Pall ub

tkh/ist

Bahan A : 12 tahu : kulit iris segitiga Minyak secukupnya

M

asakan khas Makassar memang beraneka ragam, mulai dari Konro Bakar hingga Coto Makassar. Saat berpergian ke Makassar, tidak ada salahnya mencoba sajian lezat berkuah yang menggoda selera. Sebab, di Makassar banyak terdapat kuliner berkuah yang sangat enak disantap, terlebih saat cuaca sedang mendung maupun hujan. Makanan khas Makassar yang paling populer dan banyak dijajakan penjual makanan adalah Coto Makassar. Menurut orang-orang Makassar, Coto terenak bisa dinikmati di Jalan Nusantara. Namanya Coto Nusantara. Meski tempatnya sederhana, kelezatan masakan di rumah makan itu tidak perlu dipertanyakan lagi. Coto yang kaya rempah ini benar-benar sangat populer. Tak lengkap jika ke Makassar

17

Edisi 998/ 9 - 15 April 2018

asa

Bahan B: 250 gr : tauge 100 gr : wortel serut 1 sdm : daun bawang iris halus 3 siung : bawang putih cincang 5 buah : bawang merah cincang 15 buah : cabe rawit cincang halus ½ sdt : lada bubuk 1 sdt : gula Garam, kaldu bubuk secukupnya 3 sdm : minyak goreng

Bahan C: 250 gr : tepung terigu 3 siung : bawang putih 1 ruas jari : kunyit bakar 1 sdt : garam atau lebih 2 butir : telur 6 sdm : air Cara Membuat : -Belah tahu sisi miring hingga berongga, sisihkan. Bahan B, panaskan minyak, tumis bawang putih, bawang merah hingga layu, lalu masukkan tauge dan wortel parut, aduk rata. Masukkan sisa bahan B, lalu aduk matang, sisihkan. Bahan C, haluskan kunyit dan bawang putih, campur semua bahan C, aduk rata, sisihkan. Ambil satu buah tahu, isi dengan tumisan bahan B hingga penuh, lakukan semuanya hingga tahu habis. -Panaskan minyak goreng dengan api sedang, celupkan tahu dalam adonan C, langsung goreng hingga kuning kecokelatan, angkat. Sajikan dengan pelengkap cabe rawit dan saus sambal siap saji.

Cah Tahu Tauge Kucai

Bahan : 2 buah : tahu putih potong dadu 150 gr : tauge 5 buah : bawang merah cincang 2 buah : cabe merah iris serong 50 gr : kucai potong-potong 7 buah : cabe rawit cincang ¼ sdt : lada bubuk 100 ml : air 1 ruas jari : lengkuas memarkan

Cumi Pedas Manis

Sop Saudara

Penjual Sop Saudara

tkh/diah

Bahan : 750 gr : cumi buang tintanya potong bulat 1 sdm : air jeruk nipis 2 batang : serai, ambil daging putihnya, potong-potong 4 siung : bawang putih cincang 1 sdm : bawang bombai cincang 1 buah : tomat potong dadu 3 buah : bawang merah cincang halus 20 buah : cabe rawit cincang halus 2 ruas jari : jahe memarkan 3 sdm : saus sambal 1 sdm : saus tomat

1 sdm ¼ sdt 1 sdm Garam,

: saus tiram : lada bubuk : bawang prei cincang gula, kaldu bubuk secukupnya

Cara Membuat : Cuci bersih cumi, lalu lumuri dengan air jeruk nipis, diamkan selama 10 menit, lalu bilas lagi sampai bersih, tiriskan. Panaskan minyak, masukkan cincangan bawang putih, bawang bombai, jahe dan serai hingga harum, lalu masukkan semua bahan, aduk rata, masak hingga matang dan bumbu meresap, siap disajikan.

2 sdm : saus tiram Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya Cara Membuat : Goreng tahu agak matang kecokelatan, lalu tumis irisan bawang, irisan cabe sampai harum. Masukkan tauge, tahu dan semua bahan-bahan, aduk, biarkan sampai mendidih dan bumbu meresap, matang, sajikan.


Jelita

18

Edisi 998/ 9 - 15 April 2018

Selulit yang Sulit M

aliran darah sehingga cairan bertahan di dalam tubuh. Penyebab lain karena hormon, konsumsi lemak berlebihan, diet berlebihan, dan pemendekan serat di lapisan dermis. Namun dari beberapa penelitian, penyebab tersebut belum dapat dipastikan. Banyak orang melakukan berbagai cara menghilangkan selulit, walaupun hasilnya disebut kurang memuaskan. Dari beberapa penelitian menunjukkan hasil yang dilakukan tersebut sebagian besar kurang memuaskan. Ada yang menawarkan massage mulai dari tradisional sampai dengan pijatan dengan mesin. Ada juga yang memakai obat-obatan suntik, walaupun sebenarnya tidak direkomendasikan FDA. “Ada juga yang menawarkan, menghilangkan selulit dengan radio frekuensi yang dikombinasikan infrared. Malah sebelumnya, dilakukan pemijatan dulu, hasilnya juga belum memuaskan,” ujarnya. Ia mengatakan, laser bisa juga menjadi pilihan, namun, perlu dilakukan pengulangan dan biayanya sangat tinggi. Menurutnya,

Kawal Industri Fashion Indonesia

Indonesian Fashion Chamber (IFC) adalah wadah yang lahir dari rasa peduli sekumpulan pelaku industri fashion di Indonesia. Mereka pada dasarnya memiliki keinginan dan semangat yang sama untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat mode. Selain itu, bersama pemerintah, membangun perekonomian dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia melalui bisnis fashion.

A

dr. Ni Luh Putu Ratih Fibriyanti Karna walaupun ada pengurangan selulit sedikit, jika disebabkan karena faktor genetik, tentu selulit akan kembali lagi Ada juga ditawarkan krim selulit, yang diolesi di atas permu-

15

IFC Denpasar

Selulit adalah kondisi dimana lemak terperangkap sehingga menimbulkan gumpalan-gumpalan kecil yang terlihat seperti kulit jeruk. Selulit memang tidak berbahaya, namun, dampaknya memberi rasa ketidaknyamanan. Siapa pun bisa kena, wanita ataupun laki-laki, dewasa atau pun remaja. enurut dr. Ni Luh Putu Ratih Fibriyanti Karna, Sp.K.K., FINS, DV., permukaan kulit yang bergelombang seperti kulit jeruk tidak hanya terjadi pada orang gemuk, namun selulit juga kerap ditemukan pada orang yang berbadan normal ataupun kurus. “Selulit biasanya muncul di paha atas, lengan bawah, perut bahkan payudara,” ujar Staf Bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FK Unud/RS Sanglah ini. Ia mengatakan, sebagian besar wanita memang menderita selulit. Sementara, laki-laki persentasenya lebih kecil. Alasannya, karena serat jaringan ikat vibrus wanita dan laki-laki berbeda. Meski begitu, laki-laki juga bisa kena di bagian perut dan leher belakang. Hanya saja, laki-laki memiliki kulit lebih tebal sehingga mampu menutupi tumpukan lemak di bawah jaringan kulitnya. Ia menyebutkan, beberapa penyebab selulit, faktor genetik, kurangnya berolahraga menyebabkan menurunnya suplai

Komunitas

Edisi 998/ 9 - 15 April 2018

kaan kulit. Menurutnya, lapisan selulit tersebut adanya di lapisan dalam kulit sehingga manfaat dari krim tersebut tentu prosesnya sangat lama. “Sesuai namanya selulit memang memerlukan ekstra kesabaran dalam penanganannya karena sulit,” ujarnya. Menurutnya, sebelum selulit datang menyerang, lakukan pencegahan di awal, dengan

cara, olahraga yang teratur dan jaga berat badan tetap seimbang. “Olahraga mulai dari bersepeda dan jogging secara teratur minimal tiga kali seminggu dapat membuat otot menjadi kencang sehingga dapat mencegah selulit,” sarannya. Selain itu, pilihlah makan yang sehat dengan lebih banyak mengonsumsi makanan berserat. (Wirati Astiti)

nggota lembaga nirlaba yang terdiri dari perancang busana wanita dan pria, perancang perhiasan dan aksesoris yang terdepan melalui usaha yang terpadu. IFC akan menjadikan Indonesia sebagai salah satu kiblat fashion di samping menjadi terdepan dalam busana Muslim. Begitu disampaikan Weda Githa, Ketua IFC Denpasar didampingi Cindy Lavina, Sekretaris IFC; Linda Lirose, Bidang Marcom dan Public Relation; serta Elfi Lila, Bidang Edukasi. Menurut Weda Githa, dengan berpegang teguh pada filosofi inspirasi lokal dan semangat kontemporer, dalam menghasilkan karya-karya rancangannya. Anggota IFC akan berusaha penuh mengoptimalkan penggunaan sumber daya dan kekayaan lokal, melalui kegiatan yang bernilai positif seperti pelatihan, seminar, diskusi grup, serta pameran dalam skala domestik maupun internasional. “IFC juga berupaya memperkuat kerja sama dengan lembaga-lembaga yang terlibat secara mutualisme dengan industri fashion, diantaranya lembaga pemerintahan, badan-badan usaha dari setiap kelas, institusi pendidikan hingga komunitas fashion,” imbuh Linda Lirose. Untuk mencapai hasil yang maksimal kata Elfi, mereka mengaku penting mensinergikan setiap kegiatan dan pekerjaan yang dilaksanakan

IFC. Terutama, untuk menghindari terjadinya duplikasi program dan kegiatan pengembangan. Salah satu usaha untuk menjaga kesinergian tersebut, dirancang dengan mempromosikan kegiatan fashion sebagai bagian penting dari perkembangan industri kreatif anak bangsa. Weda Githa pun menjelaskan lagi jika industri fashion itu sendiri terdiri dari berbagai sub-divisi kreatif, yaitu: rancangan, sumber daya, produksi, distribusi, pemasaran dan penjualan, serta analisa kemampuan lingkungan dan pengarsipan. Sebagai anggota IFC, pribadi

tersebut dengan penuh kesadaran yang bertanggung jawab berhak menjadi yang terdepan dalam industri yang digelutinya, dan secara otomatis menjadi titik simpul dalam mata rantai divisi-divisi kreatif tersebut. IFC mendukung penuh perkembangan konten lokal dalam industri kreatif fashion dan dunia seni perancangan, dengan menggunakan semaksimalnya sumber daya lokal dalam setiap proses kreativitas yang dilakukan. “Hal ini menegaskan bahwa pergerakan inovatif dan tampilan keunikan IFC dapat dipertanggungjawabkan dari sudut pandang lingkungan maupun sosial,” tandas Weda Githa. BUDAYA INDONESIA SEBAGAI INSPIRASI Elfi Lila menambahkan dalam menciptakan hasil karya tangan

produk fashion siap pakai, IFC saat ini bekerja dengan tiga landasan utama, yakni; penelitian, kapasitas pembangunan, dan perkembangan usaha. Hal ini , sebagai salah

satu usaha untuk memposisikan Indonesia ke dalam peta pusat perhatian fashion dunia. IFC pun secara rutin mengembangkan dan mengadakan ‘Indonesia Trend Forecasting’. Kegiatan ini lebih khususnya ditujukan untuk meningkatkan kesadaran nasional terhadap potensi dan kekayaan elemen budaya Indonesia, sebagai inspirasi untuk menghasilkan produk gaya hidup masa kini dengan kualitas barang maupun kualitas rancangan terbaik. Selanjutnya pengadaan inovasi dan pengembangan karya anak bangsa yang bersinergi dan berkelanjutan setiap tahunnya, salah satunya diwujudkan melalui ajang “Bali Fashion Trend (BFT) 2019”. Acara ini bakal digelar pada 11- 13 Mei 2018. BFT merupakan salah satu upaya menyampaikan ide-iden tren fashion 2019 yang tersinkronisasi dengan matang demi menempatkan Indonesia sebagai salah satu pusat perhatian di dalam industri fashion dunia. (Sri Ardhini)


Life Story

14

Edisi 998/ 9 - 15 april 2018

Menolak Menyerah

Tertarik pada dunia usaha sejak masa kanak-kanak, me­ ngantar Qurais H. Abidin men­ jadi seorang pengusaha sukses. Di usia 11 tahun ia telah me­ ninggalkan Bima, pergi meran­ tau ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Ketika anak-anak lain masih galau menentukan tujuan hidupnya, Qurais justru telah terjun secara serius ke dunia bisnis pada usia 17 tahun.

P

erjalanan hidupnya terbilang lengkap. Ia pernah berada pada titik puncak kesuk­ sesan yang membawanya pada ‘dunia muda’ penuh catatan. Pernah pula berada pada titik terendah dalam hidupnya akibat krisis moneter yang melanda negeri ini. Ia jatuh bang­ krut tak berdaya sampai menyentuh titik nol. Kegigihannya untuk menolak me­ nyerah, membuktikan Qurais adalah pengusaha berkelas. Ia bangkit dan meraih kembali kejayaannya itu. Tahun 2008, sosoknya yang muda dan par­ lente, banyak dilirik politisi Kota Bima. Qurais menjadi pendatang baru yang memesona pada ajang pilkada pertama yang digelar Kota Bima kala itu dengan terpilih sebagai Wakil Walikota Bima. Tahun 2013, ia mendominasi suara memenangkan Pilkada Kota Bima mengalahkan enam pasangan lainnya. Delapan tahun ia memimpin Kota Bima sebagai Walikota hingga tahun 2018 ini, telah mengubah Kota Bima menjadi kota yang tertata rapi dan memiliki arah yang terukur. Sebelum akhirnya meraih kembali kejayaan sebagai pengusaha sukses lalu masuk ke dunia politik, Qurais pernah mengalami masa keruntuhan bisnis yang membuatnya nyaris putus asa. Perjalanan bisnis Qurais yang telah dirintisnya sejak masa remaja, berjalan dengan baik. Tidak ada yang mampu mengejar langkah Qurais sebagai pen­ gusaha muda yang sukses khususnya di Bima. Selain memiliki SPBU dan bisnis lainnya, ia juga mulai membangun pe­ rumahan dan pertokoan. Kehidupan mereka melesat bak meteor. Namun siapa menduga, bahwa tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah SWT. Manusia boleh berhitung dengan cermat, namun segala ketentuan itu ada di tangan Allah SWT. Tahun 1997-1998, ketika krisis moneter melanda negaranegara anggota ASEAN, menjadikan struktur perekonomian negara-negara tersebut terguncang hebat, termasuk pula Indonesia. Krisis ini menghantam sungguh parah. Imbasnya menerjang berbagai sektor kehidupan masyarakat. Tidak terkecuali imbas itu menghantam hingga ke Bima. Qurais kelimpungan juga menghadapi situasi ini. Bisnis yang selama puluhan tahun dibangun ayahnya lalu dilanjutkan oleh dirinya, seketika itu juga runtuh. Usaha Qurais terjun payung tanpa arah. Qurais bangkrut total. Ini masa dimana kesedihan, kepedihan dan luka yang sangat dalam pernah menghing­ gapi hidupnya. Pinjamannya Qurais

di bank waktu itu mencapai angka fantastis Rp 3 miliar. Nilai utang yang tidak main-main. Krisis datang disam­ but pula dengan kebijakan tight money policy. Lengkap sudah penderitaan para pengusaha seperti Qurais. “Tight money policy keluar, saya tidak bisa apa-apa,” ujar Qurais. Dari kebijakan ini yang langsung dirasakan oleh Qurais adalah naiknya suku bunga bank dari awalnya hanya 17%, dalam satu bulan bahkan bisa naik lagi 10%. Situasi ini nyaris setara dengan badai besar yang mampu mencabut pondasi pertahanan para pengusaha yang memiliki pinjaman di bank. Perputaran uangnya menjadi timpa­ ng, bukan lagi tidak seimbang melainkan tidak adil. Di satu sisi ia harus memba­ yar bunga bank yang begitu besar, di sisi lain usahanya terus terjun payung jatuh bangkrut sehingga ia tak memiliki sedikit pun celah pemasukan. Alhasil, inilah masa di mana Qurais berada di titik nol, titik terendah dalam hidupnya. Ia bangkrut total habis-habisan. Bukan hanya dirinya, satu persatu pula pengusaha lain yang dikenalnya turut bangkrut. Semua menyerah dalam ketidak­ berdayaan. Tidak ada lagi yang mampu membayar bunga bank. Para pengu­ saha ‘sekarat’ pasrah. “Saya akhirnya meng­ hadap kepala bank. Saya sudah tidak sanggup lagi. Seluruh harta saya sudah habis, rumah, toko-toko dan warisan orangtua su­ dah habis saya jual. Saya sudah tidak punya ke­ mampuan lagi,” ujarnya. Dalam masa terpu­ ruk itu, Qurais bersyu­ kur karena selalu saja ada orang-orang baik yang membantunya sehingga ia bia berpijak untuk bang­ kit kembali. Dari sanalah perlahan-lahan ia kembali bangkit lalu meraih kem­ bali kejayaannya sebagai pengusaha sukses. Bagian perjalanan ini adalah bagian di mana Qurais menjadi semakin yakin bahwa tangan Allah SWT selalu ada untuk mem­ bantunya. Allah SWT yang memberi semuanya, Allah SWT pula yang mengambil seluruhnya dan Allah SWT pulalah yang memberinya kembali. BELI KEMBALI IZIN SPBU Yang paling tidak bisa dilupakannya adalah ke­ tika ia menunaikan ibadah haji bersama istrinya Yani Marlina di saat hidup mer­ eka terpuruk, ia khusus berdoa agar Allah SWT mengampuninya dan memberinya kesempatan sekali lagi untuk beru­ saha. Perjalanan batin selama beribadah ini, membuat­

nya menyadari bahwa segala hidup ini merupakan milik Allah SWT. Sedangkan manusia tidak berhak mengklaim seba­ gai miliknya. Sepulang haji, Qurais ‘lahir’ sebagai pribadi yang baru. Ia menjalani kehidupannya seperti memulai dari nol. Sekembalinya dari Tanah Suci Mekkah, secercah harapan mulat terlihat. Doadoa yang panjatkan mulai sedikit demi sedikit dikabulkan oleh Allah SWT. Aset-aset peninggalan ayahnya yang menjadi warisan untuk dirinya, mulai kembali ke pangkuannya. Hal ini se­ makin membuatnya dekat kepada Allah SWT. Ia mulai kembali memiliki uang se­ hingga izin SPBU yang pernah dijualnya kepada Bupati Bima, ia usahakan untuk bisa dibelinya kembali. “Sesungguhnya harta yang kita miliki di dunia ini adalah milik Allah SWT. Kita hanya mendapatkan amanah untuk menjaga titipan tersebut. Sewaktuwaktu, jika Allah SWT menghendaki maka Ia bisa mengambilnya kembali. Namun sewaktu-waktu, kapan pun yang Ia mau, bisa dititipkan-Nya kemba­ li ke kita,” ujar Qurais yang memaknai benar arti kejatuhan itu. (Naniek I. Taufan)

Setelah ‘pulih’ dari titik nadir kehidupannya Qurais menyadari bahwa semua yang ada pada dirinya adalah milik Allah SWT yang hanya menjadi titipan-Nya sementara

Edisi 998/ 9 - 15 april 2018

Style

19

Natural dalam

Balutan Modern Look Pilihannya motif rempah dipadu gambar peta tua dan tokoh penjelajah dunia. Pesonanya kemudian dituangkan dalam bentuk motif dengan teknik digital print. Ada kain lurik atau surjan sebagai paduan bahan demi mengentalkan kesan tradisional. Itulah koleksi dari Elfi Lila yang di pilih Tokoh untuk halaman Style pekan ini.

K

arya busa­ na anggota IFC Den pasar ini, bertajuk “Jalur Rempah Nusantara” Gaya yang terinspirasi dari cerita seja­

rah besar bangsa Indonesia yang mendunia. Di sini, Elfi Lila berhasil memadukan nuansa Colonial Look . Java Look dan Morrocan Look ke dalam bentuk modern. Elfi Lila yang sudah 19 tahun bekerja di industri fashion dan sempat mendedikasikan diri seba­

gai guru sekolah fashion selama 8 tahun ini adalah pemilik label ‘Art of Lila’ Pada setiap karya­ nya ia menghadirkan filosopi simplicity, beauty, ecofriendly, dengan sentuhan seni dan bahan natural, sebagai­mana yang terpajang kali ini. (Sri Ardhini)


Griya Devito Art

20

Edisi 998/ 9 - 15 April 2018

Karakter Unik Akar Kayu Jati

Edisi 998/ 9 - 15 April 2018

Jangan Abaikan PTSD Selama kariernya sebagai psikiater, Dr. dr. Made Nyandra, Sp.KJ., M.Repro., FIAS mempunyai berbagai pengalaman terjun menolong dan merehablitasi kejiwaan korban saat bencana besar seperti bom Bali, bom Ambon, dan tsunami Aceh. Seperti apa?

Beberapa tahun belakangan ini, desain dengan tema natural makin disukai. Bahkan, bisa dikatakan, mebel yang mengusung konsep natural dan lawas ini selalu memiliki pangsa pasar. Untuk mendapatkan karakter tersebut, selain bermain di finishing, banyak juga pengerajin yang memanfaatkan bentuk alami dari bahan bakunya.

S

Widodo

emisal, mebel berbahan baku akar kayu jati. Berbagai produk mebel seperti meja makan, meja bar, m e j a k o n t er, m e j a k o n s u l , kursi, dan rak pajang, didisplay di Devito Art Gallery yang berlokasi di Jalan Teuku Umar Barat, Denpasar. Ada juga yang dibentuk sebagai dekorasi, seperti untuk partisi, pajangan, guci, dll. “Tiap akar pasti memiliki bentuk dan karakter

yang berbeda. Sehingga, ketika sudah diolah menjadi mebel kursi misalnya, meskipun rancangannya sama, bentuknya pasti berbeda antara satu dengan produk lainnya. Jadi, tidak pernah bosan melihatnya,” ujar

Berbagai produk mebel akar kayu jati

Widodo, owner Devito. Keunikannya inilah menjadi kekhasan dan daya tarik mebel dari akar kayu, yang bentuknya sangat bervariatif. Menurut

Widodo, peminat mebel akar kayu jati ini merata, baik orang lokal maupun ekspatriat. Dalam proses pengerjaannya, akar kayu jati yang sudah berusia pulutan tahun ini dibentuk sesuai pesanan. Dan, tentu saja dengan tetap mempertahankan bentuk alaminya. Setelah menjadi satu produk m e b e l , To m i n , k a r y a w a n bagian produksi ini menjelaskan proses selanjutnya adalah digerinda untuk memperhalus permukaan akar. “Proses finishingnya, pertama disemprot menggunakan spry gun/spet dengan sending melamin, baru kemudian di clear agar mengkilap,” jelasnya. (Inten Indrawati)

Bugar

Dr. dr. Made Nyandra, Sp.KJ. M.Repro., FIAS

“S

alah satu risiko yang terjadi pada para korban yang masih hidup selepas bencana besar adalah trauma kejiwaan. Trauma itu terjadi akibat goncangan mental yang ditimbulkan cobaan berat bertubi-tubi yang menimpa diri korban. Bentuk traumanya dapat berupa stres paskatrauma (post traumatic stress disorder atau disebut PTSD),” ujar dr. Nyandra. Menurutnya, selain karena banyaknya bencana yang menimpa kita, PTSD dapat menyerang siapa pun yang mengalami kejadian traumatik, tanpa pandang usia, dan jenis kelamin. Ia mengatakan gangguan PTSD ditandai dengan adanya kilas balik tentang kejadian bencana yang dialami. Ada beberapa hal menarik yang ditemukan pada korban bom Bali, misalnya. Ada yang tidak sanggup melihat api, karena terbayang lagi api dari ledakan bom, atau tidak sanggup mendegar suara keras. Flash back bisa dalam pikiran atau dalam mimpi korban, sehingga membuat mereka menghindari hal tersebut. Mereka tidak mampu lagi lewat di tengah kejadian tsb. Kemudian mereka menjadi sensitif, mudah terkejut, sehingga aktivitasnya terganggu. Hal itu biasanya terjadi setelah satu bulan sampai enam bulan dari kejadian. Sangat sering PTSD terjadi bersamaan dengan depresi atau kecemasan. Nyandra menilai, begitu banyak respons bantuan dari masyarakat ketika terjadi bencana bom Bali. Banyak instansi

yang memberi bantuan, Namun, hanya sedikit yang memperhatikan masalah mental korban. “Beberapa rumah sakit menyediakan bantuan mengatasi gangguan mental yang terjadi, namun, korban belum sadar tentang gangguan mental yang kemungkinan akan terjadi sehingga tentu saja hanya sedikit yang pergi ke rumah sakit. Itu sebabnya, penting sekali memberikan kesadaran kepada masyarakat,” kata Rektor Universitas Dhyana Pura ini. Waktu itu, ia masih bertugas di RS Wangaya. Ia ikut tergabung dalam International Medical Corp (IMC) menggunakan media TV, radio, dan kesenian wayang untuk memberikan sosialisasi PTSD. “Kalau malam hari ada talk show tentang PTSD, maka besoknya atau beberapa hari kemudian ada yang datang berkonsultasi,” ujar dr. Nyandra. Menurutnya, masyarakat harus diberi pengertian dan kesadaran bahwa ada gangguan kejiwaan yang bisa muncul, entah berkaitan langsung atau tidak langsung dari kejadian bencana. Kalau tidak diperhatikan dengan baik atau tidak diatasi dengan memberi pertolongan kepada penderita, gangguan ini akan berlanjut. Bentuknya bisa berupa late PTSD, atau menjadi gangguan depresi atau kecemasan, yang tentu saja menggangu fungsi kerja, fungsi keseharian dari yang bersangkutan. Ada cerita menarik yang ia temui selama menangani korban bom. Seorang ibu yang sepertinya tidak berpengaruh suaminya menjadi korban bom. Ibu ini bahkan ikut aktif bekerja membantu korban lain. Namun, satu tahun kemudian, ibu ini menjadi sangat depresi. Syukurlah ibu ini sudah mendapatkan bantuan yang baik. Satu lagi adalah seorang ibu yang juga kelihatannya sangat kuat dan ceria, bahkan tidak menujukkan gejala gangguan apapun. Setelah hampir lima tahun kejadiannya berlalu, barulah mengalami gangguan depresi. Ia mengatakan, ada sebagian korban yang bisa segera menerima kenyataan pahit, karena ada budaya dan keyakinan tentang karmapala. Ada keyakinan perjalanan hidup seseorang sudah mempunyai karma sendiri yang kita tidak ketahui sebelumnya. Orang yang melakukan perbuatan baik atau buruk akan menerima buahnya, sehingga kita harus ikhlas. Namun,

“Saya mendampingi korban bom Bali sampai sekitar tahun 2016, mereka masih memerlukan bantuan. Syukurlah mereka membentuk yayasan tempat mereka berbagai dan mencari jalan keluar, yang bernama Yayasan Isana Dewata,”

masalah tidak berhenti sampai di sana, kemudian muncul masalah lain seperti masalah sosial, ekonomi, Apakah mereka mau kawin lagi, bagimana menghidupi anak-anak yang memerlukan biaya sekolah dll. PENDEKATAN HOLISTIK Ia menilai, kebanyakan korban bom mengalami gangguan stress pascatrauma, depresi dan kecemasan. Namun, gejala yang muncul bisa dalam berbagai bentuk seperti sangat sensitif, tidak merasa nyaman, tidak sadar melakukan tindakan tertentu, misalnya kekerasan dll. “Saya mendampingi korban bom Bali sampai sekitar tahun 2016, mereka masih memerlukan bantuan. Syukurlah mereka membentuk yayasan tempat mereka berbagai dan mencari jalan keluar, yang bernama Yayasan Isana Dewata,” kata dr. Nyandra. Belajar dari pengalamannya membantu

13

penanganan dampak bencana, ia berpkir sejak awal sudah harus diperhitungkan pendampingan psikologis pada setiap bencana. Wilayah Indonesia sangat luas dan mempunyai kerentanan yang tinggi terhadap bencana, terutama bencana alam. Karena itu, kata dia, perlu dipersiapkan lembaga yang dapat mengoordinir penanggulangan, dan bantuan. “Perhatian, pendampingan dan pertolongan harus dilakukan secara menyeluruh, termasuk aspek psikologisnya. Aspek psikologis itu dampaknya sangat panjang atau sangat lama. Pendekatan yang dilakukan harus holistik, tidak hanya pendekatan fisik, tetapi juga pendekatan psikologis dan sosial, sejak awal,” sarannya. Ia menambahkan, kalau sedari awal dipikirkan aspek psikologisnya, pastilah para korban akan mendapatkan penanganan yang baik. “Kadang-kadang respons masyarakat atau pemerintah terhadap bencana sangat cepat dan bagus, namun, sering terlupakan bahwa efek bencana sangat panjang. Karena itu, perlu ada penataan sedemikian rupa agar ada pendampingan paskabencana yang dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya pada korban,” ujar dr. Nyandra. (Wirati Astiti)

Mengenal Varises pada Kaki dan Pencegahannya (dr. I Gst. Bgs. Pt. Suwarjana K., S.Ked) Adv Kesehatan

Ketika mendengar istilah ‘varises’, sebagian orang tentu memikirkan adanya pelebaran pembuluh darah pada kaki. Akan tetapi, tahukah Anda bahwa varises pada kaki bisa dicegah? Varises merupakan perubahan bentuk vena yang ditandai oleh adanya vena yang berkelok, menonjol, dengan pelebaran >3mm. Varises lebih sering ditemukan pada perempuan (25-30%) dibandingkan pada laki-laki (10-20%). Varises merupakan istilah umum, dan varises ini bukan hanya ditemukan pada kaki, namun dapat pula ditemukan pada korda spermatikum (varikokel), vulva, rectum (hemoroid) dan esofagus. Vena adalah pembuluh darah yang membawa darah kembali ke jantung. Vena memiliki struktur yang unik, dimana terdapat katup yang berfungsi untuk menjaga aliran darah balik dari kaki ke jantung. Secara teori, pada saat seseorang berdiri, efek gravitasi akan menarik darah menuju bagian tubuh terbawah. Hal inilah yang dicegah oleh katup vena, sehingga darah yang seharusnya menuju ke jantung tidak kembali turun ke kaki. Varises muncul apabila terjadi gangguan dalam proses pengembalian darah ke jantung, seperti pada kehamilan, usia lanjut, kebiasaan berdiri terlalu lama, keturunan, serta obesitas. Selain itu, penyakit-penyakit tertentu seperti thrombosis vena dalam juga dapat mencetuskan terjadinya varises. Keluhan yang paling sering ditimbulkan meliputi nyeri pada tungkai, sensasi terbakar, atau gatal. Keluhan ini biasanya muncul dan memberat pada akhir aktivitas (setelah berdiri lama) dan menghilang saat duduk dan mengangkat kaki. Meskipun sangat jarang menimbulkan komplikasi medis, beberapa penyakit lain seperti perubahan warna kulit, eczema, infeksi, serta ulkus vena dapat terjadi apabila

varises tidak ditangani secara optimal. Varises adalah penyakit yang dapat dicegah. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya varises atau mengurangi varises yang sudah ada antara lain Jangan berdiri atau duduk diam dalam waktu yang lama, usahakan untuk menggerakkan kaki dengan berjalan minimal setiap 1-2 jam. Istirahat teratur dan tinggikan posisi kaki dengan meletakkan bantal atau alas lainnya sehingga posisi kaki terletak lebih tinggi dari jantung. Olahraga secara teratur. Olahraga dapat membantu memperbaiki aliran darah balik serta menjaga berat badan agar tetap ideal. Konsultasikan dengan dokter Anda apabila Anda memiliki gejala varises. Tidak perlu takut! Sebagian besar varises dapat ditangani secara konservatif dengan kompresi dan latihan fisik, walaupun terkadang terapi minimal invasif atau pembedahan dapat dilakukan pada kasus-kasus tertentu.


Pelesir

12 Banyak tempat wisata baru bermunculan di daerah Malang Raya, dan bahkan ada beberapa yang buka sampai malam hari. Bagi yang punya jadwal kegiatan padat di siang dan sore hari bisa memilih wisata malam di beberapa tempat di Malang Raya.

B

agi backpacker dari luar kota, dan akan berlibur di Malang, tapi tidak punya banyak waktu karena sebagian besar waktu dihabiskan di perjalanan, jangan khawatir lagi bila tidak bisa menikmati Malang pada malam hari. Berikut ini ada tempat wisata di Malang Raya rekomendasi buat yang mau menikmati Malang di malam hari. Inilah beberapa tempat wisata yang buka sampai malam hari, seperti Batu Night Spectacular (BNS) merupakan sebuah tempat wisata yang berada di Kota Batu, Malang, Jawa Timur. Batu Night Spectacular menggabungkan konsep pusat perbelanjaan, permainan, olahraga, dan hiburan. BNS memiliki konsep taman dengan aneka macam lampu lampion yang menghiasi, dan membuat tempat wisata yang satu ini cocok untuk dikunjungi

Pilih Paralayang untuk Lihat Pemandangan

pada malam hari. Harga tiket masuk cukup terjangkau antara Rp 30.000-Rp 40.000. Kemudian destinasi Wisa-

ta Paralayang Batu merupakan salah satu tempat wisata terpopuler di Malang. Tempat yang akan menyuguhkan keindahan Kota Wisata Batu dari ketinggian. Tempat wisata ini terletak di Jalan Songgokerto, Kecamatan Batu, Kota Batu. Disini pengunjung bisa menemukan taman langit

yang menyuguhkan pemanda­ngan yang indah. Banyak pengunjung yang memilih paralayang di

malam hari kare­ na bisa melihat indahnya pemandangan lampu-lampu kota Batu yang kelap-kelip dari atas dan bagus untuk dijadikan background foto. Untuk harga

350.000 hingga Rp 500.000. Tempat selanjutnya yaitu Pasar Apung Nusantara Malang. Disini pengunjung bisa mendapatkan berbagai hal menarik seper­ ti cindera mata, hingga kuliner. Disini bisa menikmati jajanan khas Malang yang disajikan di tepi sungai buatan. Me-

nariknya lagi, pengunjung dapat berkeliling menyusuri kawasan Pasar Apung Nusantara menggunakan sebuah perahu yang hanya berkapasitas maksimal 2-3 orang dengan biaya Naik paralayang

Suasana malam di Malang

tiket masuk cukup murah Rp 10.000/orang. Jika ingin menikmati sensasi olahraga paralayang, bisa menco banya dengan harga mulai Rp

Bergaya di Udara Bergaya di hammock

Edisi 998/ 9 - 15 april 2018

Kota Batu menjadi salah satu objek wisata yang dikunjungi keluarga Juniko saat liburan. Belum lama ini mereka menjajal Flower Garden yang menyediakan berbagai wahana

menantang. Bergaya di udara sambil duduk di hammock menjadi pilihan favorit mereka. “Naiknya dengan jalan di seutas tali. Turunnya gampang karena dikatrol sama petugas di bawah. Karena angin cukup kencang, kami tidak bisa banyak bergerak,” ungkap Juniko yang berlibur bersama istri dan tiga putranya. Selain menjajal hammock bertingkat, keluarga Juniko juga menjajal paralayang dan bersepeda di udara. Bagi mereka, berbagai wahana ini sangat menarik untuk Bersepeda di udara dicoba. (Ngurah Budi)

sekitar Rp 10.000/orang untuk satu putaran mengelilingi pasar. Selain itu pengunjung juga di­ suguhi pemandangan rumah adat dari berbagai daerah di Indonesia,

Dapatkan

seperti : Kalimantan, Madura, Lombok, Nias, Jawa, Sulawesi. Namanya juga wisata bertema nusantara, jadinya kawasan wisata ini juga menyediakan kuliner khas dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Soto, Srabi, Tiwul Bothok, Nasi Buk Madura, Pawon Kentang, dan masih banyak lagi. Tempat lainnya Alun-Alun Batu Malang, disini terdapat Bianglala atau wahana kincir angin. AlunAlun Kota Wisata Batu Malang ini berada di Jalan Agus Salim, Sisir, Kecamatan Batu, KotaBatu. Tiket naik hanya sebesar Rp 5.000/ orang. Bianglala dibuka pukul 09.00 – 22.00 WIB. Kemudian destinasi yang kelima adalah Malang Night Paradise. Destinasi ini terletak di Jalan Graha Kencana Raya No 66, Balearjosari, Blimbing, Malang. Tempat wisata yang satu ini terbilang cukup baru , tapi hadir dengan konsep yang berbeda dengan lainnya, yang tentunya lebih spektakuler. Harga tiket antara Rp 30.000 - Rp 40.000/orang. Itulah beberapa tempat wisata yang buka sampai malam hari, yang bisa dicoba ketika berada di Malang Raya. (Yuliati Ningsih)

bacaan wanita dan keluarga

di Pesawat Garuda dan Lounge Garuda m Bali Post

Jln. Kepundung 67A Denpasar. Tlp. (0361) 225764 m Sekretariat Tokoh Jln. Kebo Iwa 63A Denpasar. Tlp. (0361) 425373 m Kios Sumber Dana Budi Jaya Jln. Hayam Wuruk 58 Denpasar. Tlp (0361) 223958 m Kios 66 Jln. Wahidin 66 Denpasar. Tlp. (0361) 425126 m Kios Widia Sari Jln. Bakung Sari No. 2 Kuta (Pasar Senggol Kuta). Tlp. 759482 m Safii Roit (Ria Agency) Jln. Kediri 28 Tuban. Tlp. 765542 m Warung Media Singaraja Jln. A Yani, Pertokoan Terminal Banyuasri. Tlp. (0362) 21059 m Radio Singaraja FM Jln. Raya Singaraja Seririt Km 6 Desa Tukad Mungga. Tlp. (0362) 41124 m Warung Media Tabanan Jln. Jepun No. 9 (Ruko Pasar Kodok) m Warung Media Negara Jln. Merak No. 36 Pendem- Jembrana m Warung Media Gianyar Jln. Astina Timur (Utara Patung Arjuna). Tlp. (0361) 943570 m Warung Media Bangli Jln. Nusantara (Banjar Cempaga) HP. 0812 46 9 1915 m Warung Media Klungkung Jln. Raya Puputan 95 Semarapura. HP. 085 935 511 4131 m Warung Media Karangasem Radio Besakih Jln. Surapati, Gg. Sedap Malam 8. Tlp. (0363) 21791 m Warung Media Besakih Pesraman Besakih Jln. Raya Besakih HP. 087760050056, 081999275859 m Warung Media Kintamani Jln. Raya Kintamani Batur (Selatan Pura Batur) m Warung Media Nusa Penida Jln. Raya Ped (Depan Pura Dalem Ped Nusa Penida) HP. 082236657588

Edisi 998/ 9 - 15 april 2018

Zaman sekarang ini, di tengah ber­ bagai aktivitas, ba­ nyak yang memenuhi keperluan sehari-hari untuk makanan atau minuman dengan cara membeli. Bukan hanya yang mentah sehingga harus diolah lagi sesuai selera, tapi tak jarang juga kita membeli dalam bentuk yang sudah di­ masak atau siap saji.

K

ebiasaan membeli makanan ini, juga terjadi pada Dewi Suarjani. Sebagai orang yang suka hal-hal yang praktis, sudah tentu dalam melakukan sesuatu ia tidak suka yang namanya ribet. Apalagi selama ini aktivitasnya banyak di luar rumah, maka Dewi harus pintar mengatur waktu antara melayani klien dan urusan keluarga. Satu sisi ia harus bekerja, sisi lainnya ia harus bisa memenuhi keperluan keluarganya. “Membeli ini sangat membantu,” cetusnya.

Sudut Pandang

21

Teliti sebelum Membeli

Dewi mengatakan kalau dirinya meski selama ini suka membeli, ia lebih memilih membeli makanan segar untuk langsung dikonsumsi. Namun, ia juga tak menampik masih suka membeli makanan dan minuman dalam kemasan. “Saya sadar bahwa membeli makanan atau minuman yang sudah masak dan siap dikonsumsi saja kita harus berhati-hati. Apalagi untuk makanan yang akan disimpan dulu, ini harus lebih waspada lagi, jangan sampai menimbulkan masalah, karena menyangkut kesehatan,” kata ibu dua anak ini. Bicara soal makanan kemasan, meski tidak menjadi favorit dirinya dan keluarga, namun menurut Dewi ia tetap memerlukan untuk cadangan dalam kondisi tertentu. Selain itu juga, bisa membantu saat tengah sibuk. Menurut Dewi minuman kemasan yang suka disimpannya di antaranya; yogurt, cincau dan beberapa jenis minuman kemasan karton lainnya. “Kalau saya sedang sibuk menyiapkan desain dan mentok… terus minum yogurt

Dewi Suarjani

yang segar atau minuman kotak lainnya, maaf saya tidak ingin menyebut mereknya. Hal ini bisa sedikit membantu untuk lebih siap lagi melanjutkan menggarap ide,” katanya tertawa.

Dewi juga mengatakan khusus untuk minuman dalam kemasan karton, selain kemasannya membantu menjaga food safety juga tergolong ramah lingkungan. Sebab, kemasan karton dapat didaur ulang. “Apalagi saya diinfokan teman yang paham, bahwa minuman kemasan karton itu lebih banyak memakai kemasan ‘tetra pak’, yang katanya tidak menggunakan bahan pengawet. Untuk makanan sudah cukup lama saya tidak lagi membeli yang dalam kemasan, kecuali sereal,” ujarnya sembari mengatakan kalau dirinya selalu mengingatkan keluarganya untuk mengonsumsi minuman dalam kemasan diusahakan untuk menghabiskan dalam sekali minum. Meski tidak membeli minuman kemasan dalam jumlah banyak, Dewi mengaku selalu memperhatikan kemasannya utuh atau tidak penyok, kemudian melihat tanggal kedaluwarsanya, sebab semua bahan memiliki tenggang waktu tersendiri untuk bertahan. Hal ini juga untuk memastikan, misalnya untuk

yogurt, apakah masih segar dan layak dikonsumsi. Selain itu, ia juga selalu ingat untuk melihat keterangan yang ada pada label kemasan. Karena disana biasanya ada sejumlah informasi misalnya, nama produk, daftar bahan, berat bersih, dan sebagainya. “Apalagi jika ada keluarga yang alergi terhadap bahan tertentu, Hal ini haruslah menjadi perhatian yang lebih,” katanya sembari mengatakan di pasaran sekarang apa saja ada, yang penting adalah teliti sebelum membeli. “Saya juga biasa membeli minuman kemasan hanya pada toko yang saya sudah kenal atau supermarket yang direkomendasikan teman,” lanjut Dewi yang rajin mencari informasi perihal minuman kemasan apa saja yang bisa disimpan di kulkas dan apa yang tidak perlu dimasukkan ke dalam kulkas. Ia pernah punya pengalaman membelikan teman makanan kemasan.Tanggal keda­ luwarsanya belum lewat, namun kondisi makanannya sudah tidak baik. “Kalau begini juga lebih baik kita tidak membelinya. Mungkin ini terjadi akibat gesekan atau sempat terjatuh,” paparnya. (Sri Ardhini)

Stok Makanan agar Praktis Setiap orang pasti menyadari bahwa makanan yang segar juga kentang. “Biar tokonya agak jauh, saya lebih memilih memlebih sehat dari makanan dalam kemasan, terlebih bagi ibu belinya disini dibandingkan di mini market atau di pasar yang rumah tangga yang notabene memegang kendali urusan lebih dekat dengan rumah, karena selain lebih banyak pilihan, dapur dalam sebuah rumah tangga. Namun, dengan alasan juga lebih lengkap,” ujarnya. praktis, tak sedikit pula dari mereka yang bergelut di ranah Bahkan, kalaupun jika kebetulan belanja di super market, domestik sekaligus membantu mencari nafkah ini, menyetok Bintang tak lantas membeli makanan tersebut disana. Dia masih makanan-makanan yang simpel dalam penyajian, seperti mi teringat dengan pesan adiknya yang pernah membeli nugget di instan, telur, sosis, nugget, kentang. sebuah super market saat belanja bulanan. Jadi ceritanya saat “Mi dan telur itu pasti selalu ada, karena gampang juga itu adiknya membeli segala keperluan rumah tangga seperti belinya dan bisa dipakai lama,” ujar Bintang Ariani, seorang sabun, pasta gigi, shampoo, gula, minyak, beras, telur, mi instan, ibu rumah tangga yang juga PNS ini. Tiap pagi, dia hanya dll. Sekalian juga membeli sebungkus nugget. Namun, setelah memasak nasi yang kini juga serba praktis. Hanya dengan dibuka, dipakai, disimpan di freezer, dan selang beberapa hari memencet tombol “cook” di magic jar, dalam hitungan baru kembali dibuka untuk digoreng, rasanya sudah agak sekitar 30 menit, nasi sudah jadi. Dalam kurun waktu itu, berubah. “Mungkin, nugget itu sudah diproduksi agak lama. banyak aktivitas yang bisa dilakukan sembari bersiap-siap Apalagi kalau belinya di toko yang tidak khusus menjual itu, jadi berangkat ke kantor. “Jadi, jika anak-anak atau suami mau orang yang kesana tidak prioritas membeli nugget,” tutur adiknya makan pagi atau siangnya, mereka tinggal menyiapkan lauknya yang dikutip Bintang. saja sendiri,” ujar Bintang yang mengaku pukul 06.30 sudah Ia pun juga pernah mengalami hal yang sama. Karena itu, ia berangkat kerja ini. tak pernah menyetok banyak, karena selain itu juga membuat Sebagai menu makan malam, dia lebih sering membeli penuh isi kulkas. “Iya, walaupun ditaruh di freezer, makanan makanan jadi untuk disantap bersama. Untuk persediaan mi, yang sudah dibuka segelnya, juga tidak bisa bertahan lama, pa­ Bintang membeli eceran dengan segala rasa. Sementara telur, ling lama belum seminggu sudah habis. Makanan ini kami pakai sekitar 10 butir dalam sekali belanja, yang habisnya tidak bisa stok saja, takutnya pas malam-malam apalagi hujan, atau pas ditentukan. “Karena, selain dipakai telur ceplok, kadang juga malas keluar, anak-anak pada lapar, jadi tidak perlu lagi keluar Bintang Ariani dan anaknya dipakai untuk campuran membuat jajan oleh anak saya,” ujarnya. rumah,” ucapnya. Biar tidak bosan, sesekali dia juga mengisi kulkasnya dengan sosis, nugget, dan Terkadang jika ada waktu untuk memasak, Bintang kerap juga memasukkan pokentang yang dibelinya di toko yang agak jauh dari rumahnya. Di toko ini memang tongan sosis sebagai campuran pada sayur karena membuat citarasanya lebih enak. khusus menjual sosis dan nugget dengan berbagai macam merek, rasa, dan ukuran, Bisa juga ditambahkan saat membuat telur dadar. (Inten Indrawati)


Buleleng

22

Edisi 998/ 9 - 15 April 2018

Seka Gong Kebyar Eka Wakya

Tetap Ajeg di Tengah Perkembangan Zaman

Kreasi

Edisi 998/ 9 - 15 April 2018

11

Dalang Cilik

Pelipur Nestapa Wayang Kulit Bali

Seniman di balik pementasan wayang kulit disebut dalang. Tugas seorang dalang ketika menyajikan seni teater berbentuk boneka pipih dua dimensi ini sungguh berat. Dia bertindak selaku sutradara sekaligus membawakan segenap aspek sebuah pagelaran wayang kulit. Lakon yang dituturkannya, diungkapkan dengan puluhan wayang tokoh manusia, dewa, gu-tunggu khalayak ba­nyak. Para ngan kegamangan wayang kulit raksasa, dan binatang dengan karakter yang berbeda-beda. penonton menyaksikan dengan yang menjerit di seluruh Bali.

S

Seka Gong Kebyar Eka Wakya Banjar Paketan Desa Pakraman Buleleng

Kesenian daerah saat ini memang perlu dibangkitkan kembali agar tidak ikut tergerus arus moderenisasi. Berbagai kesenian daerah mulai jarang dikenal dan dijumpai karena minat masyarakat untuk melestarikannya berkurang. Namun, tidak demikian dengan Banjar Paketan Desa Pakraman Buleleng. Masyarakatnya tetap konsisten untuk mengajegkan kesenian daerah sebagai kesenian warisan leluhur yang memiliki nilai adiluhung.

S

eka Gong Kebyar Eka Wakya (KEW) merupakan seka gong terbaik yang dimiliki Buleleng. Hampir rata-rata pemuda-pemudi yang ada di Banjar Paketan memiliki visi yang sama. Yakni ingin tetap melestarikan kesenian yang telah diwariskan secara turun temurun. Sehingga pencarian angota Seka Gong Kebyar Eka Wakya (KEW) tidak lah terlalu sulit. Pihak banjar membentuk seka KEW ini dalam beberapa bagian, mulai dari seka dewasa, remaja, anak-anak dan ibu-ibu PKK. Konon, seka gong ini sudah ada sejak tahun 1926, dan bisa dikatan sebagai seka tertua di wilayah Kota Singaraja. Sebagai bukti, gong tertua asli milik Banjar Paketan kini tersimpan rapi di musem Belanda. Made Astawa selaku Klian Gong KEW mengatatakan, sejatinya warga meyakini bahwa seka gong di wilayah tersebut sudah ada jauh sebelum tahun 1926. Hal ini dibuktikan denga

asal-usul sang maestro seniman kendang Gede Mendra (alm), yang memang berasal dari Banjar Paketan. “Pemerintah pernah berencana akan memberikan penghargaan Wijaya Kusuma pada keluarga Almarhum Gede Mendra. namun itu terhalang karena tidak memiliki bukti foto,” ungkapnya. Nama Eka Wakya dikatakan Astawa mengadung arti ‘satu suara’. Entah siapa yang membuat nama tersebut, namun diperkirakan sudah ada sejak jaman dahulu. Seka Gong KEW kerap kali tampil di berbagai ajang bergengsi, baik ditingkat kabupaten maupun di Provinsi Bali. Dalam pembinaan dan pelatihan, masing-masing seka memiliki pendalaman tersendiri. Seperti pada gong kebyar dewasa, disiapkan untuk membawakan gambelan khas Buleleng. Sedangkan seka gong remaja dan anakanak dilatih untuk pengawasan tabuh dan tari kreasi. Namun seluruhnya tetap memegang teguh kekebyaran khas Bule-

leng. “Tiap minggu balai banjar kami tidak pernah sepi. Seka di sini memang semangat untuk berlatih. Dan hampir 99 persen anak-anak di sini bisa nabuh,” terangnya. Disebutkan Astawa, keunikan gong kebyar yang dimiliki oleh Seka Gong KEW adalah terdapat pada bagian gongnya yang masih mepacek alias tidak digantung. Barungannya pun berbeda, khusus Di Banjar Paketan, pihaknya memiliki barungan delapan gangsa, empat kantilan, dua pemugal, dua penyahcah, empat calung, dua jegog, dua gong, terompong gede, terompong cenik, barangan besar dan lain sebagainya. “Kalau zaman sekarang kan barungannya hanya empat gangsa. Sedangkan kami punya delapan dan calungnya kami punya empat. Ini artinya barungan kami itu merupakan barungan versi lama. Ini biasnya dipakai hanya untuk kegiatan upcara keagamaan karena identik dengan kesakralannya. Tapi tidak menutup kemungkinan juga kami gunakan di berbagai acara kalau ada pemesanan,” ungkapnya. I Gede Arya Septiawan (22), merupakan salah satu anggota Seka Gong KEW. Mahasiswa semester 6, Jurusan Pendidikan Agama Hindu di Kampus Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja ini mulai serius belajar menabuh sejak masih duduk dibangku kelas 4

“Rasanya puas dan bangga. Bisa dilihat oleh banyak orang. Karena Sekaa gong juga sangat diutamakan di desa dalam bidang adat. Acara apapun yang ada di desa pasti tidak pernah lepas dari gamelan. Dari sana lah akhirnya saya memutuskan untuk serius belajar meggambel. Disamping bisa dikenal oleh banyak orang, saya juga bisa menjalankan kewajiban ngayah” Sekolah Dasar (SD). Pria yang juga berperan sebagai Koordinator Seka Gong Anak-Anak ini mengaku memiliki kebanggaan tersendiri dapat bergabung dalam Seka Gong KEW. Selain dapat dikenal oleh banyak orang, ia juga dapat menunaikan kewajibanya untuk ngayah. “Rasanya puas dan bangga. Bisa dilihat oleh banyak orang. Karena Seka gong juga sangat diutamakan di desa dalam bidang adat. Acara apapun yang ada di desa pasti tidak pernah lepas dari gamelan. Dari sana lah akhirnya saya memutuskan untuk serius belajar meggambel. Disamping bisa dikenal oleh banyak orang, saya juga bisa menjalankan kewajiban ngayah,” ungkapnya. Bagi Gede Arya, tehknologi bisa saja canggih dan zaman boleh saja berubah.Tidak muluk-muluk ia pun tahu bahwa

semua orang memiliki kesibukan masing-masing utamanya untuk memenuhi kebutuhan finansial. Namun ia berharap agar sekiranya tradisi ngayah tetap dipertahankan oleh seluruh masyarakat Bali utamanya untum anak muda zaman now. “Memang beberapa orang sedang disibukkan dengan aktivitasnya sendiri baik kuliah atau bekerja atau bahkan main game online. Tapi yang perlu diingat ‘mani poan nyen lakar ngencanin rage amen sing banjarane lakar ngencanin’. Intinya swadarma mereka sebagai pelajar dan pekerja memang tetap harus berjalan, ngayah juga jangan dilupakan,” ungkapnya. Beberapa prestasi yang pernah diraih oleh Seka Gong Kebyar Eka Wakya Banjar Paketan di antaranya Juara 1 dalam lomba Utsawa Merdangga Gong Kebyar Dewasa Kabupaten Buleleng (2008), Juara 2 sebagai Duta Kabupaten Buleleng dalam PKB Provinsi Bali melawan Duta Kodya Denpasar (2009), Sebagai Duta Pendampung Provinsi Bali Gong Kebyar Anak-anak melawan Duta Kabupaten Gianyar Dalam PKB Provinsi Bali (2013), Membawa Gamelan Klasik Terompong Ngandang ke PKB Probinsi Balo (2015-2016), Juara 1 Lomba Utsawa Angklung Kebyar Kabupaten Buleleng (2017), dan Menjadi Duta Angklung Kebyar Kabupaten Buleleng dalam PKB Provinsi Bali (2018). (Wiwin Meliana)

elain berkisah dengan dialog verbal, seorang dalang juga dituntut bernarasi dengan beragam nyanyian klasik. Bahkan bukan hanya bibirnya saja yang berceloteh dan tak hanya kedua tangannya saja yang bergerak, kakinya pun menghentak-hentak membunyikan kotak wayang, memberikan aksen-aksen musikal dan dramatik. Demikian kompleksnya keterampilan seni yang mesti dimiliki oleh pelaku seni salah satu teater Nusantara yang disebut terindah di dunia ini. Dalang adalah pelaku seni yang serba bisa. Idealnya, dalang harus memiliki kemampuan dalam bidang seni tari, musik, sastra, dan seni rupa. Memainkan wayang dituntut keperigelan estetika gerak yang erat kaitannya dengan iringan musiknya, gender wayang. Berkisah dengan tema, lakon, lengkap dengan pesan moralnya tentu memerlukan wawasan sastrawi. Mengungkapkan karakter pada masing-masing figur yang ditampilkan menuntut kepekaan tersendiri dari aspek rupa visual wayang. Mungkin karena begitu jelimetnya kesenian ini, seniman dalang jadi manusia langka. Kelangkaan dalang di Jawa dan Bali sama saja.

Di Bali, upaya “mencetak” dalang telah dilakukan seperti yang terlihat di arena PKB, namun belum menunjukkan hasil yang melegakan. Kabupaten Gianyar sebagai lumbung seni, belum lama ini, mencoba menggairahkan seni pedalangan dengan jurus pengkaderan dalang cilik. Sepuluh orang dalang cilik unjuk kebolehan selama lima malam pada tanggal 4-8 Maret 2018 lalu, mengambil tempat pentas di Sukawati, Blahbatuh, dan Ubud. Meskipun semua masih pemula, bakatbakat gen-

erasi dini menjadi penerus seni pedalangan sungguh menjanjikan. Jika potensi mereka terus diasah dan diarahkan secara berkesinambungan, bukan mustahil mereka akan menjadi dalang-dalang tangguh di kemudian hari. Hari ini dan bisa jadi di hari-hari kemudian, perjuangan para dalang di tengah masyarakatnya tampak semakin penuh tantangan. Wayang kulit sebagai salah satu kesenian adi luhung sedang bimbang di tikungan zaman. Di Bali, sekitar t�������������������� ahun 1970-an, pementasan wayang kulit masih mengundang takjub. Saat itu, sebuah rencana pagelaran teater wayang merupakan kabar yang menggembirakan yang pementasannya ditung-

penuh perhatian keseluruhan proses dan detail pementasan, baik yang disajikan dalam konteks ritual keagamaan maupun pertunjukan wayang dalam ajang profan. Bagaimana asyiknya penonton menyimak adegan demi adegan sepanjang 3-4 jam dan kemudian mendiskusikan seusai pementasan, menunjukan begitu karismatiknya kesenian yang diduga sudah mempesona penonton pada zaman Airlangga, abad ke-11 itu. Pesona wayang kulit Bali terasa mulai redup ketika industri budaya global seperti film, video, dan media televisi merambah seluruh sudut kehidupan. Kehadiran media elektronik modern yang menerobos ruang-ruang keluarga hingga kamar-kamar pribadi itu mengguncang stabilitas dan integralitas masyarakat dengan nilainilai budayanya, termasuk juga terhadap ekspresi kesenian yang menjadi identitas etniknya. Pentas wayang kulit Bali kiranya juga didera involusi, tergerus zaman yang dengan gencar menawarkan beragam bentuk budaya instant. Revolusi televisi yang menyatukan masyarakat dunia dengan kemasan informasi, dan terutama homogenitas budaya populernya sungguh memporakporandakan sikap dan keragaman budaya yang sebelumnya dikawal komunitasnya dengan penuh kebanggaan. Kendatipun pada tahun 2003, wayang kulit telah diakui oleh Unesco (PBB) sebagai warisan agung budaya dunia, realitanya, eksistensi seni bayangbayang yang berasal dari zaman pra sejarah ini, belakangan semakin terpinggir. Fenomena dari popularitas Wayang Ceng Blong sama sekali tak bertautan de­

Pemetasan wayang kulit yang hadir sebagai bagian ritus keagamaan memang masih fungsional. Wayang kulit sebagai kesenian yang sangat berwibawa seperti di masa lampau terasa memudar yang dilirik masyarakat secara hambar. Saripati kehidupan yang dikomunikasikan jagat wayang mulai tak nyambung dengan generasi sekarang. Namun sungguh mengharukan. Meski wayang kulit berkubang tantangan, para dalang cilik Gianyar tersebut tampil dengan rona penuh percaya diri. Justru mereka tanpa beban mengumandangkan pesan moral kebenaran, kejujuran, ketulusan, dan keadilan dalam beragam lakon yang diangkat dari epos Mahabharata. Dalang cilik Kadek Arya Maesa Putra mengisahkan kepahlawanan dalam lakon “Bima Duta”, Kadek Sugi Sidiarta menuturkan lakon tema heroik “Gatotkaca Duta”, dan Made Dian Dhairya Dhanesswara menuturkan tentang pengorbanan dan keberanian tokoh Bima melalui lakon “Caru Mangan Caru”. Tokoh-tokoh panutan yang dulu menjadi acuan dan identifikasi penonton, selain Bima dan Gatotkaca, Yudistira yang arif bijaksana, Kresna yang cerdik pandai, Arjuna yang gagah berani, dan lain-lainnya, dalam pentas para dalang cilik itu, diaktualisasikan kembali dan digelorakan keteladanannya. Cerita yang dituturkan wayang kulit sarat dengan nilai-nilai keteladan yang dalam centang perenang kehidupkan kekinian mengalami krisis keteladanan. Namun, keteladanan dalam bidang seni budaya kini telah ditunjukan oleh para dalang cilik itu. Di usia yang masih belia, mereka dengan suka cita menekuni bidang seni yang sedang didera duka nestapa. Melalui tuturan pentas wayangnya, mereka mengusik kesadaran masyarakat untuk bercermin kembali pada jagat wayang, mereguk saripatinya, sebagai tuntunan hidup, kini dan nanti. (Kadek Suartaya)


Dara

10

Edisi 998/ 9 - 15 april 2018

Dorayaki Band

Seiring berkembangnya teknologi pertanian, berbagai teknik bercocok tanam pun ditemukan. Hingga kemudian ditemukan teknologi pertanian yang tidak lagi tergantung pada tanah sebagai media tanam tetapi beralih menggunakan media air sebagai suplai nutrisi tanaman. Dengan sistem pertanian hidroponik hambatan lahan bisa diatasi dengan hasil yang tak kalah bagusnya dengan sistem pertanian konvensional.

Baru Terbentuk Langsung Juara Mengambil tema “Satu Hati, Satu Pikiran, Satu Kata”, Singaraja baru saja memperi­ ngati hari jadi yang ke-414, pada 31 Maret 2018. Semarak perayaan HUT kota Singa­ raja memang sangat dirasakan oleh semua kalangan masyarakat.

P

eringatan HUT kota Singaraja diisi berbagai kegiatan digelar dengan melibatkan secara langsung masyarakat secara umum. Salah satu kegiatan yang digelar adalah lomba Band Pemuda se-Bali. Dibawah naungan dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga kabupaten Buleleng, lomba ini bertujuan untuk menggali potensi anak-anak muda Buleleng di bidang musik. Apalagi saat ini musik sangat berkembang di Buleleng dengan banyaknya band-band lokal yang mampu menunjukkan diri secara kualitas dan mampu bersaing di dunia tarik suara. Maka dengan adanya lomba band ini diharapkan sebagai wadah untuk mengapresiasi aktivitas seniman di bidang musik. Rupanya, lomba yang digelar dengan beberapa tahapan ini cukup banyak diminati masyarakat. Tercatat 28 peserta dari seluruh Bali yang mendaftarkan bandnya hingga babak penyisihan, Kamis 29 Maret 2018. Dalam babak

penyisihan ada 10 band yang terpilih untuk layak bertanding pada babak

Arya Suarnata Vokalis Dorayaki Band

Personil Dorayaki Band

final. Band yang terpilih tampil kembali pada malam final 31 Maret 2018 di Lapangan Bhuana Patra Singaraja. Setelah tampil kurang lebih 4 hingga 5 jam perlombaan, akhirnya juri memutuskan satu band yang menjadi juara. Tentu penentuan juara berlangsung alot karena penampilan band terbaik memang dari hasil penjaringan yang sangat ketat. Semua band yang berhasil lolos pada babak penyisihan tampil luar biasa mulai dari aksi panggung serta kualitas musik dan penyanyi sangat memukau. Dalam malam final, Dorayaki Band berhasil memboyong piala karena berhasil meraih juara I dan menyingkirkan lawan-lawannya. Band yang diperkuat oleh personil dengan berbagai profesi ini mampu memukau para juri dan penonton dengan aksi panggungnya. Arya Suarnata sebagai vokalis yang kesehariannya sebagai pegawai di Kantor Kemenag Kabupaten Buleleng merupakan orang sudah tidak asing lagi di dunia musik. Berbagai prestasi pernah dia raih baik akademik maupun dunia musik. Putu Widhy di keyboard merupakan pegawai samsat pemerintah provinsi Bali, kemudian pada bass diperkuat oleh Agus Sanjaya yang juga sebagai guru Bahasa Indonesia di SMPN 1 Seririt, selain itu di posisi gitaris ada Made Sutrisnawan yang diketahui sebagai pegawai swasta dan terakhir ada Ikrar Satria yang piawai memainkan drum. Uniknya band Dorayaki ini merupakan band yang baru terbentuk namun memiliki personil yang telah lama malang melintang di dunia musik. “Kami memang sengaja membentuk Dorayaki untuk ikut berpartisipasi dalam lomba band untuk memperingati HUT Kota Singaraja,” ungkap Arya Suarnata. Sebagai band yang baru terbentuk, pihaknya sangat senang karena mampu menunjukkan kualitas sehingga semua pengorbanan dalam

proses latihan terbayarkan. “Tentunya bahagia karena proses bolak balik Singaraja-Seririt empat kali seminggu cukup menguras tenaga,”jelasnya. Dorayaki merupakan nama yang diberikan oleh sang gitaris karena suka dengan karakter Doraemon dalam kartun asal Jepang. “Kebetulan bodinya juga agak berisi sehingga kami pakai nama Dorayaki,” tandasnya. (Wiwin Meliana)

Personil Dorayaki Band

IKLAN CANTIK

Buleleng

Edisi 998/ 9 - 15 april 2018

S

istem pertanian hidroponik juga semakin trend di masyarakat seiring kesadaran masyarakat akan hidup sehat dengan mengonsumsi sayur-sayuran berkualitas. Bahkan kelebihan sistem tanam ini dari cara konvensional semakin membuat sistem hidroponik berkembang di tengah masyarakat khususnya Buleleng. Salah satu warga yang dua tahun belakangan ini tengah fokus dengan usaha sistem pertanian hidroponik adalah Putu Budiasa dari Desa Dencarik. Menurut Budiasa, sistem tanam ini memiliki kelebihan dibandingkan penanaman secara konvensional yakni mampu mengefesiensi lahan, mudah dalam pengendalian hama

23

Efisiensi Lahan

Sistem Pertanian Hidroponik makin Digemari dan tidak membutuhkan tanah yang banyak. Juga menjadi peluang usaha yang menjanjikan karena dorongan pasar akan kebutuhan tanaman hidroponik khususnya sayur kian meningkat. Selain itu sayur hidro-

ponik cenderung memiliki nilai jual yang lebih tinggi. Ia mengatakan, meskipun baru dalam skala kecil namun peluang bisnis tanaman hidropinik yang sudah ia tekuni dari dua tahun lalu ini sudah mampu menghasilkan keuntungan. Bahkan hasil yang di dapatkan lebih besar dibanding menjalankan pertanian konvensional. Karena dengan memiliki lahan sempit dirinya dapat menjalankan bisnis tanaman hidroponik dengan sangat mudah. Diatas lahan 4 x 8 meter dengan 2000 lubang sebagai media tanam, beberapa jenis sayuran seperti kangkung, sawi hijau, sawi pakcoi, dan seladah hijau serta merah mampu tumbuh subur dengan system hodroponik

dengan tanah serta serangan hama dapat diminalisir karena biasanya budidaya hidroponik tidak dilakukan di dalam ruang terbuka melainkan dibuatkan rumah khusus seperti grenn house terbuat dari plastik atau paranet dan tentunya benih serta nustrisi untuk pertumbuhan tanaman. Sementara jarak media tanam tergantung dari pada jenis tanaman, sementara itu ukuran diameter tanaman mulai 20- 25 cm. Diterangkannya, dalam budidaya hidroponik penting dalam memperhatikan penggunaan nutrisi, karena penggunaan nutrisi yang tepat menentukan hasil produktivitas dan kandungan nutrisi pada tanaman. “Tanaman hidroponik cenderung lebih higienis karena menggunakan media air dan nustrisi untuk merangsang pertumbuhan

tanaman,”ungkapnya. Sementara hasil produksi di pasarkan ke sejumlah hotel, restoran dan rumah makan. “Kita berani budidaya dengan sekala besar - besaran karena adanya dorongan dan permintaan pasar yang kian hari semakin tinggi,”ungkapnya. Ia juga mengatakan, hingaa saat ini kendala yang masih ditemukan di dalam budidaya hidroponik ini adalah penanggulangan hama sayur serta cuaca. “Hama pasti selalu ada bagaimana untuk menanggulangi itu dan di Singaraja cuaca juga cenderung panas sehingga membutuhkan peralatan seperti paranet untuk melindungi tanaman dari paparan sinar matahari langsung,”ungkapnya. (Wiwin Meliana)

ini. “Kebutuhan sayur hidroponik sebenarnya sangat tinggi karena lebih higienis dan kualitas rasa pun berbeda dari sayur yang ditanam dengan cara konvensional,”ungkapnya. Diterangkannya, tehknik penanaman berbagai jenis sayuran pada media taman hidroponik ini tentu diawali dengan penyemaian benih terlebih dahulu sebelum di pindahkan ke media tanam hidroponik. Sementara itu untuk proses perawatan hingga penanganan pasca panen cukup dengan nutrisi serta pupuk organik. Diungkapkannya untuk delapan lubang tanaman mampu menghasilkan satu kilogram sayuran. Seperti hidroponik pada umumnya media tanam hidroponik ini sangat ramah lingkungan karena menggunakan instalasi pipa paralon serta peralatan yang mendukung budidaya hidroponik seperti sumbu panel, net pot sehingga tidak kontak langsung

Tanaman hidroponik milik Putu Budiasa


24

Yani Marlina

Bumi Gora

Edisi 998/ 9 - 15 april 2018

Dalam kehidupan itu ada pasang ada surut. Roda terus berputar. Ada kalanya hidup berjaya namun pada satu kesempatan, tidak ada yang tahu bahwa masa yang menyedihkan juga bisa terjadi. Hal inilah yang pernah dialami oleh Yani Marlina, istri WaliKota Bima. Lahir dan besar dari keluarga berkecukupan, lalu menikah dengan Qurais H. Abidin yang berasal dari keluarga berada, membuat kehidupan Yani tidak pernah kekurangan apa-apa karena hidup dalam limpahan materi yang cukup.

A

Menyikapi masa sulit mereka, Yani (tiga dari kiri) setia mendampingi Qurais dan sukses bersandiwara. Foto: Saat bersama suaminya ketika pelantikan Walikota Bima tahun 2013

sangat kuat menghadapi semua itu. Di saat Qurais semakin melemah jiwanya dihantam badai keruntuhan itu, sebagai istri Yani tampil menguatkan hatinya. Yani adalah perempuan yang kuat. Ia tahu benar jika suaminya itu berada pada posisi paling rendah dalam hidupnya, sehingga ia tidak ikut memperlihatkan perasaannya yang terpuruk. Sekuat tenaga Yani menyembunyikan, kesedihannya, menyembunyikan rasa depresinya dengan terus berpikir untuk mencari jalan

keluar bagi keluarganya, khususnya dalam hal ekonomi. Bayangkan, dari kehidupan serba berada ia dan suaminya, terutama anak-anaknya harus mengalami hidup yang kekurangan. Yani kerap menyembunyikan air matanya di belakang suamkarena ia tidak ingin suaminya itu semakin terpukul. Ia tidak lagi memegang uang bulanan yang cukup, tidak lagi bisa membeli apaapa kecuali untuk makan sehari-hari. Itu pun sering kekurangan. Saat mereka bangkrut, kebanyakan kawan menjauh dari mereka. “Jangankan kawan, nyamuk saja tidak ada yang mau mendekat pada saya,” ujarnya. Lalu apa yang bisa diperbuatnya? Yani belajar betul dari masa kejatuhannya itu. Sebagai istri Yani sukses bersandiwara dalam hal ini. Tekanan itu dihadapinya dengan selalu tampil bahagia seperti orang yang tidak pernah kekurangan apa pun. Ini dilakukannya untuk memberi semangat pada suaminya. Sejujurnya Yani kala itu merasa sangat minder namun tidak ingin memperlihatkannya kepada siapa pun. Beginilah perjuangan Yani untuk bisa bertahan dalam situasi sulit dan agar suaminya bisa tetap percaya diri untuk bangkit kembali. Ia tidak ingin larut dalam kesedihan. Selain tetap ceria dan memperlihatkan kebahagiaan di depan suami dan anak-anaknya, Yani juga konsisten bersandiwara di depan komunitasnya sesama ibu-ibu jika berkumpul. “Kalau ke pesta saya tetap tampil gaya seperti orang kaya,” ujarnya. Yani selalu berdandan untuk mempertahankan ‘marwah’ keberadaannya. Meski tahu bahwa itu membohongi diri sendiri, Yani tetap melakukannya karena menurutnya itu merupakan salah satu cara bagi mereka untuk mengatasi situasi yang tengah menimpanya. Jika ada yang mengetahui bahwa yang dipakainya itu imitasi, Yani menanggapinya dengan santai. “Saya jawab saja, ini kan lagi mode,” ujarnya. Saat mengalami kebangkrutan Yani Marlina, mendukung suaminya Qurais H. Abidin dengan tidak memperlihatkan rasa sedihnya

9

Dramatari “Rajapala” di Makassar

Sukses Bersandiwara kan tetapi, ada masa sulit yang tidak bisa dihindarinya yakni ketika bisnis suaminya jatuh yang begitu mempengaruhi kehidupan ekonomi keluarganya. Dalam situasi depresi ekonomi ini, mereka tidak bisa berbuat banyak. Namun beruntung bagi Qurais memiliki seorang istri yang

Edukasi

Edisi 998/ 9 - 15 april 2018

Ia tetap memperlihatkan kepercayaan diri yang tinggi, malah lebih gaya dari orang kaya sesungguhnya. Padahal sebenarnya Yani tidak pernah memamerkan kekayaan itu di saat mereka benar-benar memilikinya. Namun demi suksesnya sandiwara guna membangun kembali rasa percaya diri suaminya itu, ia rela menjadi (zaman sekarang menyebutnya) lebay. Jika ia melihat ada perempuan berpenampilan menarik dan dia ingin tampil seperti itu, Yani memutar otaknya, bagaimana agar ia bisa seperti mereka itu tetapi dengan biaya yang seirit mungkin. “Ada kalanya saya ingin juga tampil cantik seperti orang-orang itu dengan barang-barangnya yang mahal. Tapi saya sadar saya tidak bisa mendapatkannya,” ujarnya. Yani tidak memelihara sifat iri dalam dirinya. Jadi ketika ia ingin seperti yang dipakai mereka maka ia berusaha semampunya untuk mendapatkannya. Tentu saja dengan cara semurah-murahnya tetapi dengan hasil yang tidak kalah dengan yang mereka miliki. Memiliki jiwa yang kreatif dan mau berusaha, membuat Yani mudah menemukan solusinya. Untuk bisa memakai baju seperti yang diinginkannya, ia membeli kain kiloan yang harganya murah lalu ia jahit sendiri. Ini hal yang luar biasa dalam diri Yani. Jangankan menjahit, memasukan benang pada jarum saja tidak pernah dilakukannya. Ia sama sekali tidak memiliki latar belakang bisa menjahit, tetapi karena keinginannya untuk mendapatkan sesuatu ia belajar sendiri sampai akhirnya mampu mendesain juga menjahit baju tersebut. Dengan telaten dan teliti, Yani menjahit pakaiannya, berusaha serapi mungkin. “Ternyata hasilnya bagus dan saya puas bisa tampil seperti mereka,” ujarnya. Jika lebaran tiba, ia ingin anakanaknya tetap bisa memakai baju baru. Tentu saja ia tidak mampu membeli pakaian jadi yang baru untuk ke empat anaknya. Ia menyiasati dengan kembali membeli kain kiloan yang murah meriah. Itu dilakukannya sejak awal puasa agar dipakai pas lebaran. Malam-malam usai salat taraweh Yani harus rela menjahit hingga kantuk menyerang. Ketika waktu sahur tiba, sembari menunggu nasi matang, ia melanjutkan menjahit baju baru untuk anak-anaknya itu. Begitu setiap hari dilakukannya selama puasa. Saat lebaran tiba, anak-

anaknya tetap tampil gaya dengan baju baru. “Anak-anak bisa lebaran pakai baju baru kayak orang masih kaya saja,” katanya tertawa. Di rumah, Yani selalu berusaha menyiapkan makanan di rumah seperti biasa agar gizi anak-anak dan suaminya tetap terjaga. Tentu saja itu dilakukannya dengan super ketat mengirit semua biaya, seirit-iritnya. Sampai-sampai Qurais sempat tidak percaya kalau istrinya itu tidak memiliki uang karena ia pandai sekali menyiapkan hidangan di rumah mereka. Begitu cara Yani menaikkan moral suaminya untuk bisa bangkit kembali meski perlahan-lahan. Ia tidak ingin perasaan mereka berdua jatuh bangkrut. “Cukuplah bangkrut harta, tapi jangan sampai bangrut perasaan. Saya jaga benar perasaan kami berdua,” ujarnya.Ia mendukung suaminya dengan segala cara, termasuk ia tidak pernah bilang pada suaminya bahwa ketika anak-anak mereka ke empatnya jatuh sakit, ia pernah membagi satu resep obat untuk anak-anak tersebut. SATU RESEP BAGI EMPAT Suatu waktu empat anak mereka jatuh sakit bersamaan. Untuk membawa ke empatnya ke dokter membutuhkan biaya tetapi Yani tidak memiliki uang yang cukup. Ia sedih karena anakanaknya harus berobat. Seperti biasa, Yani tidak mengeluh dan tidak bicara apa-apa pada suaminya. Tiba-tiba ia punya ide. Yani mendatangi seorang dokter yang kebetulan adalah kawannya. Ia minta satu resep obat kepadanya. “Satu resep itu saya bagi empat agar anakanak saya bisa minum obat semuanya,” ujar Yani. Apa yang sudah dijalani dalam hidup susah itu, membuat hidupnya bahkan lebih lengkap dari orang lain. Apalagi mereka bisa melewati masa-masa sulit itu lalu bangkit dan kembali berjaya. Yani bersyukur karena Tuhan telah memberikan mereka kehidupan yang lengkap.Yani bersyukur dengan cobaan hidup yang diberikan Tuhan kepada kepada mereka sehingga ia bisa lebih menghargai kehidupannya hari ini dan hari esok. “Kebahagiaan itu tidak terletak pada banyaknya harta benda kita, tetapi kebahagiaan itu ada pada cara kita menyikapi hidup ini,” ujar Yani. (Naniek I. Taufan)

Berada di perantauan tidak membuat orang Bali lupa dengan jiwa seninya. Hal inilah yang dialami warga Bali yang ada di Makassar, Sulawesi Selatan. Mereka menampilkan dramatari “Rajapala” untuk memeriahkan Dharma Santi Nyepi Tahun Baru Saka 1940. “Ide membuat drama tari memang sudah muncul bulan Januari 2018. Namun, latih­an intensif untuk dramatari hanya empat kali menjelang pementasan. Selebihnya pemain yang belajar

Made Taro

sendiri-sendiri,” ujar Ketut Bali Putra, pemeran Rajapala. Ia menuturkan latihan intensif hanya empat kali karena banyak yang juga perlu disiapkan untuk perayaan Nyepi, diantaranya latihan Baris Gede, Rejang Dewa dan Rejang Renteng untuk melasti. Latihan topeng dan bebondresan untuk ngerupuk dan caru manca kelud. Setelah itu persiapan Ngembak Geni dan open house. Pementasan dramatari ini melibatkan Sanggar Gita Saras-

KUBURAN IBU KODOK

Di sepetak sawah tinggallah seekor kodok bernama Ibu Kodok. Ia punya anak semata wayang. Anak itu biasa dipanggil Anak Kodok Jantan. Ibu Kodok sangat sayang kepada anaknya. Ke mana-mana ia membanggakan anaknya yang tampan itu. “Anak Kodok Jantan itulah kelak yang akan meneruskan keturunanku,” demikian pikir Ibu Kodok. Ibu Kodok tidak ingin anaknya mendapat kesusahan. Ia sangat memanjakannya. Kalau mencari makan, sang Ibu selalu mendampinginya. Akibatnya anak itu menjadi malas dan tak pernah berusaha mengatasi dirinya sendiri. Pada suatu hari Anak Kodok Jantan bermain-main ke luar rumah bersama teman-temannya. “Boleh Nak, tetapi sebelum matahari tenggelam, kamu harus sudah berada di rumah,” demikian pesan ibunya. Apa yang terjadi? Sampai larut malam sang Anak belum juga pulang. Sang Ibu gelisah. Setelah pulang, anak yang tidak menurut itu mendapat omelan. Anak itu tidak mau mengakui kesalahannya, malah melawan. Ia memukul-mukul pintu rumah dan melemparkan perabotan dapur. Semakin beranjak dewasa, anak kodok itu makin menyakiti hati ibunya. Ia selalu menentang perintah. Kalau disuruh membersihkan rumah, ia bahkan sengaja membuang sampah di halaman. Kalau disuruh memetik sayuran di kebun, ia justru pergi memancing ke sungai. Sang Ibu semakin hari semakin makan hati. Akhirnya jatuh sakit. Si Anak Kodok Jantan, bukannya menolong ibunya yang sakit, tetapi pergi meninggalkan rumah berlama-lama. Menjelang ajal, ibunya memanggil anak kesayangannya itu. “Anakku Sayang!” kata ibunya dengan suara lemah. “Bila tiba ajalku, kuburkanlah aku di pinggir sungai, dekat tempatmu memancing.” Sebetulnya sang Ibu ingin dikuburkan di lereng bukit. Ia ingin tempat yang aman dan hening. Ia tahu, anaknya pasti akan berbuat sebaliknya. Oleh karena itu ia mengatakan agar di kubur di pinggir sungai. Namun sang Ibu salah perhitungan. Setelah mati, anak satu-satunya itu menangis meraung-raung di sebelah jasad sang Ibu. Ia menyesali perbuatannya yang selalu menyakiti hati sang Ibu. Sesungguhnya ia sangat mengasihi ibunya. Anak Kodok Jantan bertekad menebus dosa. Bersama teman-temannya, ia menggotong mayat sang Ibu ke pinggir sungai. Sambil menangis, ia kuburkan jasad ibunya dekat tempat ia memancing. Lama berselang, musim hujan pun tiba. Sang Anak yang sangat terpukul oleh kematian ibunya, selalu memeriksa kuburan itu di pinggir sungai. Ia takut, kalau-kalau kuburan itu dihanyutkan banjir. “Teman-teman!” katanya memanggil kodok-kodok lainnya. “Ayo kita bernyanyi, mendoakan, agar air hujan yang lebat ini tidak menghanyutkan kuburan Ibu kita tercinta.” Demikianlah yang terjadi hingga saat ini. Setiap musim hujan, kodokkodok itu bernyanyi beramai-ramai. “Kung kek, kung kek, kung kek….! Jangan hanyutkan kuburan ibu kami! Jangan hanyutkan kuburan ibu kami!” (Korea)

dana. Latihan dilakukan di Pura Giri Natha Makassar. “Kami sempat pesimis karena saat gladi masih berantakan. Untungnya saat hari pementasan semua dalam posisi siap. Akhir­nya pementasan kami sukses,” ujar Bali tentang drama yang melibatkan belasan penari ini dengan Ken Sulasih diperan­kan Kuntia Putri Jnani serta I Durma diperan­ kan Ganesh.

wati Kota Makassar pimpinan I Made Semadi, S.Sos. Ide cerita untuk mengangkat drama Rajapala berasal dari Semadi yang juga menjadi pelatih tari bersama Ni Wayan Kurniasih. Semadi juga menjadi dalang bersama Agung Novianti. Penata tabuh dipercayakan kepada Wayan Swar-

(Ngurah Budi)

Ambil Hikmah Dibohongi Kata “bohong”, orientasinya pasti negatif. Namun, pada kondisi dan situasi tertentu, berbohong bisa dibenarkan. “Tidak selalu berbohong itu tidak baik. Ada bohong yang sifatnya mendidik,” ujar Ketua YPLP IKIP PGRI Bali Drs. IGB Arthanegara,S.H., M.Pd.

I

a mengumpamakan bohong yang positif yang sering dilakukan pada anak-anak, seperti, “ini permen”, padahal itu obat. Contoh lain, “tidak boleh menyapu malam hari nanti sang kala bangun.” Padahal maksudnya, karena malam kondisinya gelap, jangan sampai ada jarum tersapu. “Jangan duduk di bantal nanti bisul”, yang mana sesungguhnya pesan yang ingin disampaikan bahwa tidak etis menduduki bantal yang biasanya dipakai untuk kepala. Demikian halnya jika berada dalam pasukan perang. Penyair dan cerpenis ini memberi contoh kalimat penyemangat, “Tenang saja, lima menit lagi akan ada bantuan bagi kita”, padahal sebenarnya tidak ada. Arthanegara mengatakan, dirinya juga pernah diperlakukan seperti itu ketika ia berada di negeri Cina, “Satu orang mati disini, 10 ribu orang Cina tebusannya dibantai di Indonesia. Asalkan Anda

G30S, dalam bentuk novel berjudul “Dunia Kampus Yang Lain” di tahun 2007. Sebagai akademisi dan tokoh pendidik, yang selalu mengajarkan “kejujuran” alias tidak berbohong, ia mengaku terkadang hal ini menjadi dilema. Namun, ia meyakini diri bahwa bohong yang dilakukan guru kepada muridnya adalah dengan tujuan baik. Itu pula yang ia rasakan saat ini. “Dulu, saya pasti juga dibohongi oleh guru. Tapi sekarang saya bisa memetik hikmahnya. Saya bisa lebih mengevaluasi diri, terkontrol, sehingga tidak sembarangan mengambil langkahlangkah yang tidak baik,” tandasnya.

mati didampingi teman, jangan sampai sendiri. Kedutaan adalah daerah kita satu-satunya. Jadi kalau kamu mati di kedutaan, kamu terhormat”. Demikian kata-kata penyemangat bagi mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang sedang studi di Cina sekitar tahun 1960(Inten Indrawati) an di tengah memanasnya hubungan diplomatik CinaIndonesia. “Padahal kami tahu itu tidak mungkin. Itu kan bohong,tapi itu sangat membesarkan hati kami sehingga kami jadi berani,” ucapnya. Novelis yang sekaligus sebagai pelaku sejarah ini pun kemudian mengisahkan perjalanannya melanjutkan kuliah di Cina dan terpaksa pulang karena keteDrs. IGB Arthanegara,S.H., M.Pd. gangan politik pasca


Bunda Ananda

8

Edisi 998/ 9 - 15 April 2018

Lingkungan Bentuk Anak Saat ini, sudah sangat jarang kita bisa menemui anak bermain-main dengan tanah. Sepeti tanah yang diumpamakan sebagai nasi dan bermacam daun sebagai sayurannya, dalam bermain masak-masakan atau dagang-dagangan pada anak zaman dulu. Sekarang ini, justru banyak anak yang dibekali gadget untuk sarana bermainnya. Namun, tak sedikit pula orangtua yang menyadari dampak negatif bermain gadget.

“K

alau anak saya, hari Sabtu-Minggu saja saya bolehkan main gadget,” ujar Jro Padma. Aturan ini berlaku bagi Kezia dan Chesie, kedua putri kecilnya yang kini masih duduk di kelas 3 dan 2 SD. “Kalau kakaknya sudah pada kuliah, jadi sudah bisa bertanggung jawab dengan dirinya,” imbuhnya. Keseharian mereka selepas pulang sekolah, atau bisa dibilang agenda rutin mereka tiap sore adalah membantu mamanya, mulai dari menjepret janur yang sudah ia tuas (dipotong dan dibentuk) hingga nanding canang. “Setiap hari kami nanding 168 canang untuk di rumah saja, karena ada iringan sesuunan dan dasaran,” ujar Jro Padma. Ia menuturkan, Chezie, putri bungsunya itu sejak TK B sudah mulai bisa membantu dirinya. “Hanya dia yang mewarisi salah satu sifat papanya, suka bersih- bersih dan ringan tangan. Kalau Kezia, dia lebih bisa menghapal mantra-mantra,” ucapnya istri seorang Pamen di kepolisian ini tersenyum. Saat momen nanding canang ini, Jro Padma sangat menikmati kebersamaan dengan putri kecilnya itu. Sembari tangan mungilnya meletakkan bermacam bunga di atas sampyan uras, Chezie biasanya sambil bercerita tentang pengalamannya tadi di sekolah, bagaimana teman-temannya di

kelas, dengan siapa ia bermain, dll. Dan, Chezie juga kerap bertanya tentang aktivitas yang mereka lakukan tersebut. “…Ma, kok bunga warna ini harus disini, warna ini harus disitu, kenapa pakai pisang mas kok bukan pisang susu, pisang hijau, atau pisang raja..” Terkadang juga sambil bernyanyinyanyi. “Jadi, meski kadang agak berantakan, saya sangat terbantu, minimal ada yang diajak bercerita. Dan mendengar ocehannya itu, adem banget,” tuturnya riang. Bahkan, ketika mamanya berhalangan, Chezie dan kakaknyalah yang menggantikan tugas mebanten. Kezia yang membawakan banten, Chezie yang menghaturkannya. Untuk urusan membantu bersih-bersih rumah, seperti menyapu, mengepel dan melipat pakaian yang belum disetrika itu sudah biasa bagi Chezie. Apalagi kalau melihat mamanya yang lagi ramai pasien nunas tamba yang tentu saja menguras banyak tenaga, bocah 8 tahun ini dengan sigap mengambil semua pekerjaan yang bisa dilakukannya, sampai mencuci piring. Seperti anak kecil pada umumnya yang masih suka bermainmain, meski hanya diperbolehkan main gadget pada Sabtu-Minggu saja, Chezie dan Kezia memilih bermain yang lain seperti main skiping, main bulu tangkis, atau berjalan-jalan dengan anjing kesayangannya di sekitar areal rumah mereka.

Andin saat mengikuti lomba akting

Edisi 998/ 9 - 15 April 2018

Sore itu, pelataran Masjid Terapung Ama Hami Kota Bima ramai oleh warga yang menikmati sore di tepi pantai tempat bangunan masjid ini berdiri. Selain bersantai, warga juga menanti waktu saat magrib tiba. Mereka ingin melaksanakan salat magrib di masjid yang kini menjadi ikon Kota Bima itu.

Bumi Gora

25

Kaya Simbol, Masjid Terapung Layak Jadi Ikon Kota Bima

P

Jro Padma dan Chezie yang asyik nanding canang

SALAH TETAP PEDE Memang benar kata orang, lingkunganlah yang membentuk anak. Chezie yang sudah pintar nanding canang karena melihat kegiatan keseharian mamanya seperti itu, tentu berbeda dengan Andin yang ibunya senang berkesenian. “Kalau Andin belum pernah nanding canang karena saya biasanya beli canang. Paling kalau pas ketika nanding banten saiban untuk sembahyang, dia ikut menaruhnaruh nasi dan lauknya,” ujar Sagung Ayu, ibunya. Andin akan sangat bersemangat jika diajak beraktivitas menggambar, menari dan aktivitas lainnya yang mengharuskan dia tampil, seperti menyanyi atau baca puisi. Kata malu tampil, sangat jauh darinya. Untuk lebih mengasah mentalnya itu, ibunya sering mengikutkannya berbagai macam lomba. “Dia lumayan di baca puisi dan pernah juga dapat juara akting. Kalau di lomba menyanyi dan menggambar, masih belum,” ujar sang ibu. Perawakan Andin yang kecil mungil kerap menjadi perhatian orang, kecil-kecil cabe rawit katanya. Untung saja Andin orangnya cuek. Pernah dalam sebuah lomba baca puisi yang diikutinya pertama kali tahun lalu, ia salah membaca salah satu kalimat puisi di awal. Dengan cueknya ia bilang “..eh, salah”.. dan mengulanginya kembali membaca dari awal. Sang ibu yang mendampinginya lomba saat itu sudah khawatir anaknya akan down. “Eh, biar salah ternyata dia tetap pede

dan cuek membaca ulang lagi puisinya. Malahan saya yang khawatir karena biasanya kalau sudah salah, anak sering ciut nyalinya,” ujar Sagung Ayu. Pada ajang kompetisi yang pertsmakali diikutinya itu akhirnya Andin berhasil meraih Juara 2. Pengalaman lain saat ikut lomba akting September tahun lalu, Andin juga menjadi salah satu peserta cilik yang turut bersaing dengan ratusan peserta kategori umum lainnya. Menunggu giliran tampil hingga lebih dari 4 jam, tentu membuat mood anak-anak hilang. Karena itu, sembari menunggu, Sagung Ayu menuruti apa Chezie membantu menjepret-jepret tetuasan untuk sampyan uras saja permintaan putrid bungsunya itu. “Minta ber- ton dan peserta lainnya. Apalagi main, beli es krim, dan ayam ketika ia mampu memperagakan nugget, semua saya penuhi, tantangan untuk berakting “terbiar mood nya tetap bagus saja,” tawa pada suatu yang tidak lucu kisahnya. (tertawa tengal)”. “Untung juga Sekitar pukul 13.00, Andin su- ia mendapat tantangan itu, jadi dah capek dan mengantuk. “Saya pas banget dengan karakter dia. membiarkan dia tiduran di paha Karena kita kan tidak tahu mau saya. Setelah nomor gilirannya disuruh akting apa, kebetulan akan tiba, saya bangunin pelan- dapat kertas undiannya seperti pelan. Saya benar-benar menjaga itu,” kisah Sagung Ayu. Andin mood-nya dia,” tuturnya. pun berhasil meraih Juara HaraSebagai peserta mungil yang pan I yang memperebutkan Piala terakhir saat itu, Andin menda- Wakil Gubernur Sudikerta. pat tepuk tangan meriah penon(Inten Indrawati)

embangunan masjid terapung Ama Hami ini merupakan bagian dari grand design kawasan tumbuh cepat Niu – LawataAma Hami. Masjid Terapung Kota Bima ini merupakan ide Wali Kota Bima Qurais H. Abidin. Ia begitu antusias untuk membangun masjid yang kini menjadi salah satu kebanggaan bagi masyarakat Kota Bima. Pembangunan Masjid Terapung ini sangat cepat, hanya kurang dari 10 bulan sejak tanggal 10 April 2017, Wali Kota Bima menepati janji tersebut. Pada tanggal 18 Januari 2018, Masjid Terapung Ama Hami yang berlokasi di Kelurahan Dara Kota Bima ini resmi difungsikan untuk kegiatan ibadah untuk umum. Dan pada Jumat 19 Januari 2018, di masjid ini dilakukan Salat Jumat perdana yang menandai resminya masjid ini difungsikan. Masjid Terapung Ama Hami Kota Bima adalah satu dari beberapa masjid terapung yang ada di Indonesia, seperti di pantai Losari Makassar dan di Padang Sumatera Barat. Keunikan masjid terapung ini terletak pada arsitekturnya. Dalam desain dan arsitektur Masjid Terapung Ama Hami Kota Bima prinsipnya memadukan desain khas lokal dengan desain modern, terutama sekali mengadopsi nilai-nilai kearifan lokal da-

lam arsitekturnya. Arsitekturnya merupakan elaborasi dari simbol lokalitas dan Islamic simbol. Simbol-simbol lokal itu seperti bunga satako (bunga setangkai), yaitu merupakan salah satu motif khas tenunan bima. Ada nggusu waru (segi delapan), yaitu 8 filosofi kepemimpinan bima atau 8 aspek yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, yaitu: dou maja labo dahu, artinya orang yang merasa malu dan takut kepada Allah SWT, dou ma bae ade, artinya orang yang memiliki kapasitas intelektual serta kepekaan jiwa, dou ma mbani labo disa, artinya orang yang memiliki sifat berani melakukan perubahan (reformasi) kearah yang lebih positif, dou ma lembo ade ro ma na’e sabar, artinya orang yang lapang dada (berjiwa demokratis) yang mampu menjembatani hal-hal yang dapat menimbulkan prokontra, dou ma nggahi rawi pahu, artinya orang yang jujur, satu kata dengan perbuatannya, dou ma taho

hid’i atau londo dou ma taho, artinya orang yang memiliki integritas kepribadian yang kokoh-kuat dan berwibawa, dou ma di woha dou, artinya orang yang selalu merasa terpanggil untuk mengambil tanggung jawab ditengahtengah komunitasnya, baik pada tingkat lokal, memiliki akses tingkat nasional, maupun di tingkat internasional, dou ma ntau ro wara, artinya orang yang memiliki kekayaan (maksudnya, bukan hanya memiliki kekayaan bersifat materi-kebendaan saja, tetapi yang penting kaya rohani). Kearifan lokal lainnya adalah ciri yang sangat khas uma lengge (lumbung), yaitu bangunan tempat menyimpan padi sebagai lambang kemakmuran masyarakat Bima. Unsur-unsur dalam desain masjid ini juga dipadukan dengan

simbol bintang dalam Islam atau Rub Al-Hizb yang dikenal sebagai Bintang Al-Quds karena mirip

dengan Masjidil Aqsha yang berbentuk segi delapan.

(Naniek I. Taufan)

TERAPKAN TIGA KONSEP Untuk memudahkan para pengunjung dari kawasan taman (wisatawan) serta pengunjung dari kawasan pasar Ama Hami (penjual dan pembeli), masjid ini memiliki dua pintu yang bisa diakses dengan mudah. Setidaknya ada tiga konsep yang diterapkan dalam rancangan ini, yaitu, terbuka, sehingga sirkulasi udara bersifat alami; intersection, yaitu masjid berada pada persimpangan jalan dan mudah diakses dari arah manapun; serta ikonik, dengan harapan bahwa masjid tersebut kelak akan menjadi bangunan yang paling megah di kawasan tersebut. Kini, hampir setiap sore hari masjid yang terletak di pintu masuk menuju Kota Bima ini banyak dikunjungi warga untuk sekadar menikmati suasana sore maupun untuk melakukan salat berjamaah. Suasana nyaman yang ditawarkan membuat pengunjung betah. Banyak yang berfoto, banyak pula yang mengabadikan masjid terapung ini di media sosialnya. Ini menjadi tempat baru bagi kunjungan santai warga

Kota Bima. “Setiap sore akhir pekan begini, kami selalu menghabiskan waktu menikmati pemandangan tepi pantai sekaligus menanti waktu salat magrib untuk salat berjamaah,” kata Reny warga Kota Bima yang datang bersama suami dan dua anaknya. Tidak sedikit yang mengagumi arsitektur masjid terapung ini karena mengambil kearifan lokal Mbojo (Bima).“Kami bangga karena banyak simbol lokal yang dipakai untuk masjid ini, sehingga layak menjadi ikon Kota Bima,” kata Ridwan, pengunjung lainnya. Selain warga Kota Bima, warga dari Kabupaten Bima yang bersebelahan langsung dengan Kota Bima juga banyak yang khusus datang untuk salat berjamaah di masjid ini. Keluarga Muhammad Amin misalnya, mengajak istri dan anak-anak serta keluarganya untuk melakukan salat berjamaah di masjid ini. “Nyaman dan khusyuk,” ujar Amin tentang nikmatnya salat di masjid ini. (Naniek I. Taufan)


Surabaya

26

Edisi 998/ 9 - 15 april 2018

Mom Zaman Now

da

n Tias Ana

Produksi Kue Sambil Gendong Anak Yenny Mei Sianawati, perempuan kelahir­ an Surabaya, 27 Mei 1985 pantas dijuluki Super Mom atau Mom zaman Now. Istri dari Fiki Widian ini benar benar memberikan inspirasi bagi ibu-ibu modern.

D

i tengah menjalankan kewajiban sebagai seorang ibu, dia masih bisa berwirausaha memproduksi kue sus semanggi untuk membantu suaminya dalam memenuhi kebutuhan rumah tangganya. “Sambil menyusui anak dalam gendongan, saya menunggui kue sus yang sedang dipanggang di oven “ kata pemilik usaha sus semanggi Mipaphu ini. Seringkali Yenny menunggu sampai buah hatinya tertidur supaya dia dan suaminya leluasa memproduksi kue sus mereka, pernah sekali waktu anak semata wayang itu terbangun dan kemudian mengacak acak adonan serta menghamburkan tepung bahan sus ke wajahnya. Sebelum menjalankan bisnis sus semanggi, alumni SMA YP Trisla ini adalah seorang sekretaris di PT Sanbe Farma, sebuah perusahaan produsen obat-obatan, dan pernah bekerja sebagai tenaga administrasi di sebuat perusahaan spare part sepeda motor Win. Pada saat menikah, perempuan berkacamata ini berhenti bekerja, dan setelah melahirkan anaknya Fiolettha Widian, terbersit keinginan untuk kembali bekerja. Tetapi bekerja di rumah supaya bisa tetap mengasuh putri kesayangannya itu. Desember 2017, ibu satu anak ini mulai berwirausaha membuat kue sambil melakukan koordinasi dengan pihak kecamatan untuk mencari informasi tentang program bimbingan wirausaha dari pemerintah. Atas masukan pihak Kecamatan maka Januari 2018 dia bergabung dengan program Pejuang Muda dan aktif setiap Sabtu untuk mengikuti bimbingan dan pelatihan di Kapas Krampung Plaza. “Awalnya saya memproduksi cake kekinian, namun oleh te-

man saya di Pejuang Muda Mas Sigit saya disarankan membuat sus semanggi,” ujar Yenny Berbekal pengetahuan yang diperoleh dari kursus membuat kue secara online di facebook, maka Yenny mulai mencoba resep donat dan sus kering. Setelah berkali-kali melakukan percobaan, kue sus semangginya mulai diterima di pasaran. Sus semanggi buatan Yenny mempunyai varian rasa original, keju pedes, BBQ, dan balado. Produk yang kemasannya telah masuk program tatarupa tersebut tidak hanya dipasarkan di outletoutlet di Surabaya seperti di Via Valen, Sentra UKM Siola, dan

“Suksma Sampun Nresnain” Jadi Kado Spesial “Menatap indah muan beline, kalem mewibawa. Ne ngaenang hatine milih beli, milih dadi kurenan beli, Ne seken sayang, Perhatian beli ne ngeluluhin hati”

Pusat Oleh-Oleh Genteng Kali, tetapi juga dipasarkan sampai Denpasar dan Balikpapan. “Dari harga produk yang dibanderol Rp 15.000 per bungkus, saya bisa mendapat omzet Rp 3 juta sampai Rp 4 juta per bulan,” jelas Yenny yang mewarisi hobi memasak dari ibunya. Kue sus semanggi tidak hanya mengangkat potensi dan kearifan lokal semata, tetapi juga menjadi produk oleh-oleh alternatif khas Surabaya. Karena itu tiap pameran Yenny sangat gencar mempromosikan produknya supaya masyarakat tahu bahwa semanggi tidak hanya bisa dibuat pecel sayur saja. Yenny berharap agar ibu-ibu muda juga mulai melakukan wirausaha, jangan takut gagal dalam berwirausaha. Menurutnya, Thomas Alfa Edison juga mengalami kegagalan hampir 1.000 kali, tetapi dia terus mencoba hingga terciptalah bola lampu seprti yang kita nikmati seperti sekarang ini.

I

tulah sepenggal lirik single terbaru dari penyanyi pop Bali Tias Ananda yang berjudul “Suksema Sampun Nresnain”. Single kedua itu diciptakan oleh Widhi Wikan dengan aransemen musik dari Dek Artha Harta Pro. Perempuan bernama lengkap Ni Made Sariasih,S.Pd.,M.Pd. ini menjelaskan cerita dari single terbarunya mengisahkan seorang laki-laki yang berwibawa dan

(Nanang Sutrisno/Bisnis Surabaya)

Cookies Jari Manis

Nikmatnya tak pernah Habis Bulan-bulan menjelang lebaran adalah masa panen bagi pengusaha produsen kue, karena biasanya 2 bulan sebelum lebaran orang-orang mulai berburu kue lebaran untuk disajikan di meja bagi tamu dan keluarga yang datang di hari Idulfitri yang penuh berkah tersebut. Karena itu para pebisnis kue kering berlomba lomba untuk memproduksi kue kering yang lezat, berpenampilan cantik dan dikemas dalam wadah menarik. Habsiyah, S.Psi adalah salah satu pengusaha kue kering yang sukses menangkap manisnya peluang di bulan Ramadhan. Ia memproduksi kue kering sampai 20 kg, mulai dari nastar, conflakes, blueberry, hingga kastengel. Perempuan kelahiran Surabaya, 31 Agustus 1983 ini sedang gencargencarnya mempromokan cookies jari manis

Woman on Top

Edisi 998/ 9 - 15 april 2018

buatannya. Kudapan lebaran nan lezat ini terbuat dari tepung, gula, dan keju merupakan inovasi terbaru yang dia ciptakan. Cookies jari manis tersebut dibanderol Rp 160.000 per kg dan dipasarkan secara online di jejaring sosial whatsapp, facebook, instagram serta resaler. “Awalnya cookies jari manis namanya kuku macan, tapi karena kuku macan identik dengan nama kerupuk maka namanya berubah jadi jari manis. Kue ini nikmatnya serasa tak pernah habis,” kata Habsiyah, alumnus Fakultas Psikologi Universitas Airlangga ini Sebelum memproduksi aneka kue kering, istri Husin Al Muqdor ini berusaha dengan berdagang aneka makanan frozen seperti kebab, lompia, risol, dan sosis, dan aneka kue basah seperti lapis Surabaya, cake susu, dan cake zebra. Kemudian dalam pikiran ibu dari Fatimah dan Muhammad ini terbersit suatu keinginan untuk berusaha membuat

kue basah. Ia bertanya tentang resep kue kering kepada seorang teman tetapi dia merasa dilecehkan karena dianggap tidak akan mampu membuat kue kering yang ditanyakan tersebut. “Kejadian tersebut makin memicu dan memacu saya untuk sukses di bisnis pembuatan kue kering,” jelas Habsiyah. Dukungan dari keluarga untuk menjalankan bisnis ini dibuktikan tidak hanya resep semata tetapi fasilitas juga diberikan kepadanya dalam berusaha. Karena selama ini Habsiyah memproduksi kue pesanan di rumah orang tua dan mertuanya. Untuk menambah pengetahuan serta memperluas jaringan dan pemasaran, tahun 2017 perempuan manis keturunan Arab ini bergabung di Pahlawan Ekonomi (PE). Disana dia bertemu banyak teman yang selalu mensuportnya antara lain Renny Widyastuti, pelaku UKM produksi minuman segar mojito. Dari perkenalannya dengan PE, Habsiyah banyak mengikuti pameran antara lain di Cak Durasim, Universitas Ciputra, World Trade Centre, dll. Saat ini dia juga tercatat sebagai anggota wadah UKM Gerakan Wirausaha Mandiri (GW Man) “Saya ingin mempunyai rumah yang tidak hanya bisa digunakan untuk tempat tinggal tetapi juga untuk produksi,” ujar Habsiyah saat ditanya tentang keinginan dan im­ piannya. (Nanang Sutrisno/Bisnis Surabaya)

memiliki cinta yang tulus. Ketulusan itulah yang membuat hati si perempuan luluh dan mencintai si laki-laki tersebut. “Lagu ini bisa dibilang menjadi momen spesial saya untuk merayakan hari ultah perkawinan yang ke-14. Cerita lagu ini pun berdasarkan apa yang saya rasakan,” ungkap penyanyi yang juga guru SMAN 2 Mengwi

ini. Tias Ananda menambahkan dirinya sengaja merilis single keduanya ini sebagai kado spesial untuk dirinya dan sang suami. Selain itu, Tias pun ingin merayakan hari bahagianya itu lewat karya musik pop Bali. “Saya memang sudah mempersiapkan lagu ini jauh-jauh hari sebelumnya. Saya

7 ingin memiliki momen yang spesial di usia pernikahan saya yang sudah menginjak usia 14 tahun. Semoga kedepan makin langgeng dan tetap bersama hingga kakek nenek,” ujar perempuan kelahiran Singaraja, 11 September ini. Ia berharap single tersebut bisa diterima oleh seluruh lapisan masyarakat serta bisa menginspirasi banyak orang untuk bisa terus menjaga pernikahannya. “Saya berharap lagu ini bisa menjadi inspirasi. Bagaimana bisa kita menjaga sebuah pernikahan agar tetap utuh dan bertahan. Saya juga berharap lagu ini bisa diterima oleh seluruh lapisan masyarakat pencinta musik Bali dimanapun berada,” pungkasnya. (Winatha)


6

ih

s Yulining

Woman on Top usaha membuka usaha pembua­ tan egg roll. “Saya mem­ berani­ kan diri untuk membu­ ka usaha egg roll ber­ bekal resep wari­ san turun temurun dari keluarga” kata Yuliningsih yang juga owner egg roll UKM Cita Rasa Alami. Setelah tiga tahun menjalan­ kan usaha pembuatan egg roll dibawah bimbingan dan arahan program Pahlawan Ekonomi, bisnis yang digelutinya berkem­ bang sangat pesat. Dia mampu melepaskan diri dari utang yang selama ini melilitnya. Dari produk yang dibanderol dengan harga jual Rp 25.000 untuk kemasan box dan Rp 35.000 untuk kemasan tabung, dia mampu mencapai omzet Rp

Berbekal Resep Warisan Jalan kehidupan manusia berbeda beda. Ada yang terjal dan ada yang landai-landai saja. Adalah Yuliningsih seorang sales alat rumah tangga yang mengalami per­soalan ekonomi dalam keluarganya. Anaknya kembar lahir secara premateur. Kondisi ini menyebabkan perempuan yang tinggal di Lakarsantri ini harus menanggung utang hingga Rp 40 juta.

B

eban berat yang dia­ lami oleh Yuliningsih, memaksa alumnus SMA Kencong ini un­ tuk berpikir keras mencari jalan

keluar untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapi. Setelah berdiskusi panjang dengan Wi­ narso, suaminya, Akhirnya dia memutuskan untuk berwira­

Edisi 998/ 9 - 15 april 2018

Edisi 998/ 9 - 15 april 2018

40 juta sampai Rp 45 juta per­ bulan. “Produk saya dipasarkan oleh Lapis Kukus Surabaya dan Rumah Kreatif Mandiri,“ jelas Yuliningsih yang juga narasum­ ber pelatihan di berbagai instansi pemerintah. Karena seringnya mengikuti pameran di luar kota, maka egg roll Ricetta buatan Yuliningsih tidak hanya beredar di Surabaya tetapi juga sudah merambah Se­ marang, Jakarta, Manado, hingga Singapura. Walikota Surabaya Tri Risma­ harini, memberikan perhatian tersendiri kepada Yuliningsih, Risma menyarankan untuk melakukan inovasi pembuatan egg roll semanggi sebagai bentuk kepedulian terhadap kearifan lokal serta sebagai oleh-oleh khas Surabaya. “Keinginan saya sederhana, produk saya diterima pasar dan omzet meningkat. Se­ hingga perekonomian keluarga saya bisa menjadi lebih baik lagi,“ jelas Yuliningsih.

Gara-gara kasus ikan ka­ leng mengandung parasit ca­ cing, masyarakat pun heboh. Ikan kaleng sejak berpuluh tahun dikonsumsi masyarakat luas dari semua kalangan. Mencuatnya kasus ikan kaleng makarel mengandung cacing membuat masyarakat waswas soal kesehatan mereka. Namun baik pakar (peneliti), ahli gizi maupun Menteri Kese­hatan sudah mengklari­ fikasi agar masyarakat tidak cemas dan panik.

(Nanang Sutrisno/Bisnis Surabaya)

“SILVERSMITH” Salam Unique... Mengamati perkembangan industri perhiasan yang berbahan baku perak saat ini sangatlah pe­ sat. Bahkan industri perhiasan ini sudah menjadi salah satu destinasi wisata. Baik di Indonesia ataupun negara-negara yang sangat terke­ nal dengan perkembangan fashionnya. Perkembangan ini tentunya tidak mengesampingkan faktor manusianya, atau yang lebih dike­ nal dengan silversmith (pekerja/ pandai perak). Seperti kita ketahui bersama juga kualitas, desain dan harga menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Untuk tulisan kali ini kita akan bahas tentang silversmith itu sendiri sebagai bagian yang sangat penting dalam industri perhiasan yang berbahan baku perak. Ketika industri perhiasan yang berbahan baku perak masih di era yang bisa dikatakan tradisional, kita akan melihat mereka, para silversmith belum memiliki dan memakai alat-alat yang modern. Era ini terjadi sebelum tahun

1990. Kebanyakan mereka belajar dari otodidak atau dari garis ketu­ runan yang dalam sebuah keluarga yang mewariskan keahlian sebagai pekerja perak. Nyoman Eriawan, pemilik UC Silver yang tentu sudah malang melintang di dunia perhiasan yang berbahan baku perak sangat me­ mahami perkembangan ini. Dapat digambarkan saat itu belum ada mesin polish, sehingga pembuatan­ nya masih menggunakan tangan. Mereka belajar secara otodidak atau turun temurun dari orangtua ke putra mereka. Namun, kar­ ena mempunyai kekuatan taksu maka karya yang dihasilkan juga mempunyai ruh dan tentu dapat mencirikan masing-masing daerah pembuatnya. Seperti contoh di Bali sendiri yang paling menonjol di era tersebut adalah perhiasan perak yang bernuansa atau ber­ corak cirri khas Bali. Walaupun masih pengerjaan secara tra­ disional, yang dihasilkan oleh para silversmith di saat itu tetap memperlihatkan kekuatan taksu. Dimana perhiasan yang dihasilkan

seakan - akan punya ruh dan men­ jadikan pencinta perhiasan makin memburunya. Di era modern saat ini, industri perak menuntut para silversmith harus mengikuti perkembangan zaman. Meraka harus mempunyai knowladge (pengetahuan) yang baik untuk mengerjakan sebuah barang. Seperti di antaranya mengetahui dengan baik apa dan bagaimana bahan bakunya. Sifat logam terebut seperti apa. Bahan-bahan penolong apa untuk menghasilkan barang yang sesuai dengan harapan publik di pasar international. Mereka tentu tidak terpaku dengan mengandalkan kemampuan yang masih tradis­ ional. Saat ini, semua berpacu dengan teknologi. Dibantu dengan pemakaian alat-alat yang mum­ puni. Misalnya, saat ini sudah tidak zamannya lagi memakai cap atau stempel dengan tangan.Tapi harus sudah memakai laser. Meng­ gambar pun seperti itu. Seka­ rang sudah memakai alat gambar tiga dimensi. Bukan dengan cara manual. Nyoman Eriawan, yang mem­ punyai talenta lebih dalam per­

hiasan berbahan baku perak me­ negaskan para silversmith harus aware perkembangan teknologi. Tentu hal ini akan menghasilkan barang yang bertaraf interna­ sional. Khusus di Bali sendiri, dari booming-nya perhiasan perak di antara tahun 1980 sampai 2000. Erawan menambahkan regenerasi para silversmith jarang dilakukan. Maka terjadilah kebuntuan dalam pemenuhan sumber daya manusia. Apalagi dipacu dengan kebutuhan silversmith yang mumpuni di bi­ dang tersebut. UC Silver sebagai indutrsi perhiasan berbahan baku perak yang sudah sangat terkenal den­ gan karya unique dengan kualitas internasional, sangat berperan da­ lam mengembangkan hal ini. Dari sejak lima belas tahun yang lalu mempunyai workshop, merekrut tenaga di bidang-bidang tertentu yang diajarkan di-training UC Silver atau dikirim ke luar negeri. Sehingga dapat menghasilkan sumber daya manusia yang expert dengan perkembangan teknolo­ gi moderen saat ini. Eriawan berharap, para stakeholder dan pelaku industri perhiasan perak

khususnya di Bali, untuk bersama -sama, bagaimana mewujudkan suatu lembaga pelatihan dengan sistem yang baik, sehingga meng­ hasilkan silversmith yang expert di bidangnya masing-masing. Apa saja yang akan kami tulis untuk kolom ini selanjutnya. Nantikan tulisan kami setiap dua minggu sekali, kami akan hadir di kolom ‘I AM UNIQUE’ yang membagi informasi secara detail tentang UC Silver. Bagaimana cara memilih kualitas perhiasan. Apa dan dari apa saja bahannya, bagaimana gambaran dan desain keunikannya, apa saja hasil karya , bahkan sampai filosofi keunikan dari masing-masing karya yang tercipta, dan lain sebagainya. Ada yang penasaran juga tempatnya dimana? Silakan langsung kun­ jungi tempat produksi dan galeri kami di Jalan Raya Batu Bulan Gg Candrametu nomor 1 Batu Bulan Gianyar 80582. Telepon (0361) 461511. Atau, kunjungi website kami di www.uc-silver.com. I am Unique I am Happy UC Silver Bali info@ucsilverbali.com

S

Nila Moeloek

epanjang ikan kaleng dimasak terlebih dahulu maka ikan ka­ leng tersebut tidak berbahaya untuk dikonsumsi karena menurut mereka parasit cacing akan mati dimasak pada suhu tinggi. “Setahu saya, asalkan tidak dimakan langsung, tapi dimasak terlebih dahulu maka cac­ ing akan mati. Jadi kalau sudah dimasak ya sudah steril. Insyaallah enggak apaapa,” ungkap Menteri Kesehatan Nila Moeloek. Awalnya di Kepulauan Riau, masyarakat menemukan adanya ca­ cing dalam ikan makarel, lalu BPOM

Metropolitan

27

27 Merek Makanan Kaleng Mengandung Cacing

melakukan uji produk, hasilnya ada empat merek ikan kaleng makarel yang mengandung cacing. Kemudian BPPOM Pusat melakukan pengujian lebih luas dengan mengumpulkan produk ma­ kanan kaleng yang beredar di pasaran untuk dilakukan pengujian. Menurut Kepala Badan Pom, Penny K Lupito dalam jumpa pers pekan lalu, BPOM telah melakukan sampling dan pengujian terhadap 541 sample ikan dalam kemasan kaleng yang terdiri atas 66 merek. “Dari pengujian tersebut terdapat 27 merek (138 bets) positif mengandung parasit cacing, terdiri dari 16 merek produk impor dan 11 mereka produk dalam negeri. Penny menginstruksikan untuk penghentian sementara (peredaran) dan menarik produk yang ada di pasa­ ran. “Semua balai (BPOM) mengawasi ini, meski itu adalah tanggungjawab dari produsen ataupun importir untuk melakukan penarikan. Kami tetap me­ monitor,” tegasnya. Sayangnya meski BPOM telah men­ jelaskan bahwa yang tercemar cacing hanyalah produk ikan kaleng makarel, namun sebagian masyarakat mengira ikan makarel dan ikan sarden yang juga populer di masyarakat, adalah sama. Padahal keduanya sangat berbeda, baik produk maupun jenis ikan yang menjadi bahan dasarnya. Karena ketidaktahuan masyarakat, maka produk ikan sarden kaleng pun kena imbasnya. Masyarakat enggan membeli ikan sarden. “Ikan kaleng sarden dan ikan kaleng tuna sejauh ini aman. Yang dari hasil pengujian mengandung parasit cacing hanyalah ikan makarel kaleng. Itulah yang diinstruksikan untuk ditarik dari pasaran dan dimusnahkan,” ungkap pihak BPOM.

Ikan makarel yang diuji POM

Benarkah ikan kaleng (mengandung cacing) tidak berbahaya jika dikon­ sumsi? Wati, seorang ibu rumah tangga

Wisnu Nurcahyo

Kepala BPOM Pusat Penny K Lupito jumpa pers kasus cacing dalam ikan kaleng makarel

mengaku cukup resah dengan adanya kasus itu. Karena meski dirinya tidak selalu mengonsumsi ikan kaleng, na­ mun makanan itu kerap dikonsumsi keluarganya. “Saya termasuk jarang ya makan ikan kaleng, hanya sesekali saja. Tapi keluarga saya suka ikan kaleng. Biasanya, ikan kaleng jadi makanan alternatif jika bosan dengan masakan lainnya. Tapi sejauh ini kami biasa saja kok, tidak sakit. Tidak ada masalah kesehatan lain. Kan, ikan­ nya tidak dikonsumsi langsung, tapi dimasak sampai benar-benar matang, juga diberi aneka bumbu agar tambah sedap,” kata Wati yang juga pekerja kantoran. Namun dengan adanya kasus terse­ but, kata Wati, dirinya merasa tak ingin makan ikan kaleng. “Sekarang enggak dulu lah, saya ngeri juga geli,” ucapnya. Apa yang dirasakan Wati, bisa jadi juga dirasakan masyarakat lainnya. MASAK DALAM SUHU TINGGI Sejumlah pakar maupun peneliti berusaha meyakinkan mengonsumsi ikan kaleng yang –kalaupun mengand­ ung cacing—tidak bermasalah sepanjang ikan tersebut dimasak kembali dengan suhu tinggi. Sebenarnya, kata pakar, ikan yang telah melakui proses pengalengan telah dimasak dalam suhu tinggi bahkan lebih dari 120 drajat celcius. Cacing anisakis ataupun larva, akan mati pada suhu tinggi. Menurut Wisnu Nurcahyo, ahli pasi­ tologi cacing yang terdapat dalam ikan kaleng makarel adalah berjenis anisakis yang di Indonesia punya habitat hidup di ikan kakap, kerapu, kembung, kuwe dan berbagai jenis ikan karnivora lainnya. “Sebenarnya bila manusia makan ikan makarel yang di dalamnya terdapat cacing anisakis, secara langsung tidak apa-apa karena ikan itu sudah dimasak dengan pemanasan suhu tinggi. Dengan dipanaskan dalam suhu tinggi, cacing anisakis mati akibat proses memasak itu,” jelas dosen Universitas Gadjah Mada itu.

Karenanya, masyarakat tidak perlu cemas dengan adanya kasus ikan makarel mengandung cacing. “Makan ikan laut tidak berbahaya asalkan dengan proses pemasakan yang be­ nar sehingga cacing dipastikan mati,” ucapnya. Namun demikian ada catatan tersendiri dari Wisnu. Menurutnya, ikan kaleng yang mengandung cacing bisa bermasalah bagi penderita alergi karena bisa memicu reaksi alergi yang berlebihan. Jika itu terjadi penderita harus segera ditangani (ke dokter). Tentang tidak berbahayanya men­ gonsumsi makanan ikan kaleng juga disampaikan Kartika Dewi, Peneliti Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indo­ nesia). Menurutnya, masyarakat tidak perlu panik adanya kasus tersebut. Cacing anisakis jika dimasak dalam suhu 60 derajat Celcius pun akan mati, apalagi dengan ikan kaleng yang dalam proses pengalengan mengguna­ kan susu di atas 120 derajat Celcius. “Larva atau cacing anisakis tidak tahan dengan panas. Dengan mati maka kemampuan menginfeksi pun akan hilang,” katanya. Sementara itu Kertua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indone­ sia, Tulus Abadi meminta agar BPOM melakukan penyelidikan mendalam tentang kasus ini. Karena pihaknya menduga, hal tersebut terjadi karena proses produksi yang tidak higienis. “BPOM harus menyelidiki lebih jauh dan menemukan penyebabnya kenapa produk makarel sampai terkontami­ nasi cacing,” tegasnya. BPOM jangan hanya melakukan pe­ narikan produk tapi harus menyelidiki. “Perlu investigasi secara menyeluruh mulai dari sisi hulu hingga hilir,” ucap­ nya. Selain itu, dengan terungkapnya kasus ini, YLKI juga meminta agar BPOM melakukan pengawasan lebih ketat lagi di pasaran. “Jangan sampai penarikan produk itu hanya simbolik, sementara di pasaran ternyata produk tersebut masih dijual bebas,” katanya. (Diana Runtu)


Sudut Pandang

28

Edisi 998/ 9 - 15 April 2018

Perhatikan Masa Kedaluwarsa Produk Kasus ikan makarel kaleng yang mengandung parasit cacing sangat menggemparkan masyarakat. Ikan dalam kaleng termasuk makanan favorit rakyat, selain harga terjangkau juga rasanya yang enak. Gara-gara kasus menghebohkan itu masyarakat jadi semakin waspada dengan berbagai produk kalengan. melakukan sidak hingga ke warung-warung. “Iya saya mengikuti pemberitaan itu. Kalau nggak salah awalnya temuan dari tempat saya di Batam,” ungkap Lusi Efriani Kiroyan yang kini tengah berada di Melbourne, Australia dalam rangka roadshow di sejumlah kota di negeri Kangguru itu. Dengan adanya kasus ini, Perhatikan tanggal kedaluwarsa produk masyarakat menjadi lebih arena kasus yang berhati-hati lagi dalam membeli dan terkait makanan mengonsumsi makanan kaleng. kalengan ataupun “Untungnya, saya sudah lama makanan dalam ke- tidak mengonsumsi makanan masan lain bukan baru kali ini saja kaleng. Hampir nggak pernah lagi. terjadi. Hanya saja karena ikan Kalaupun terpaksa karena situasi, kaleng sudah ada sejak puluhan pasti saya akan sangat teliti benar tahun lalu dan termasuk produk khususnya memperhatikan bentuk digemari maka reaksi pun menjadi kemasan juga expire date (masa luar biasa. Apalagi, dari berbagai kedaluwarsa) produk itu,” ungkap pemberitaan media yang gencar, pengusaha cantik ini. khususnya televisi dan media Menurut Lusi, alasannya tidak online, memperlihatkan aparat lagi mengonsumsi makanan kadi berbagai daerah secara intensif leng adalah karena ingin menjaga

K

kesehatan dan pola hidup sehat. “Sebisa mungkin makanan yang saya konsumsi adalah berasal dari bahan segar seperti ikan, tempe, tahu, sayuran yang dibeli di pasar. Jadi bukan makanan kalengan dan produk-produk berbahan pengawet,” ucapnya. Jika sedang di rumah (Batam) dan ada waktu luang, biasanya dia sendiri berbelanja ke pasar segala keperluan bahan makanan. “Nanti mbak di rumah yang masak hahha,” tambah Lusi yang mengaku tak pandai memasak. Menjaga pola hidup sehat, sangat penting dilakukan apalagi dirinya adalah orang yang sibuk. “Saya nggak pernah diet, saya makan banyak karena kerjanya banyak, jadi membutuhkan energi banyak. Seperti di sini (Melbourne) harga makanan lumayan mahal, tapi saya tetap berusaha cari makanan sehat. Makanan enak, hahaha.” “Karena saya perlu banyak energi untuk bekerja. Jadi biar harganya mahal tetap beli hehe. Ibu saya bilang, kalau untuk ma-

kan jangan ngirit-ngirit karena kita perlu tenaga untuk bekerja. Kalau hal lain boleh mengirit,” ungkap pendiri Yayasan Cinderella from Indonesia ini sambil tertawa. Ketika ditanya, dulu ketika masih suka mengonsumsi makanan kaleng, apa hal yang menjadi perhatiannya, Lusi menjawab yang pertama dan pasti dilakukannya adalah melihat expire date dari produk. Seperti yang disarankan Badan POM (Pengawasan Obat dan Makanan) yakni cek dengan ‘KLIK’ yakni, cek kemasan apakah dalam kondisi baik, baca label maksudnya informasi produk, cek izin edar dan masa kedaluwarsa. “Yang pertama ya biasanya saya lihat expire date-nya, untuk meyakini bahwa makanan itu aman. Untuk pengecekan expire date bukan hanya untuk makanan kaleng, ya, tapi hampir rata-rata kalau kita membeli produk. Aneka makanan, kan, sekarang ada expire date-nya ya. Itu penting,” jelas Lusi. (Diana Runtu)

Netralisir dengan

Buah dan Sayur

Gede Eka Subiarta Hidup sehat menjadi tujuan semua orang. Untuk dapat hidup sehat setiap orang harus menerapkan pola makan sehat. Walaupun tidak ada jaminan terbebas dari penyakit, namun setidaknya dengan penerapan pola makan sehat, kita akan memperhatikan asupan makanan yang dikonsumsi sehingga mampu meminimalisir risiko kemungkinan terserang penyakit.

Hidup sehat hanya sekadar wacana jika dalam kehidupan sehari-hari kita masih terlalu sering mengonsumsi makanan yang kurang bergizi, salah satunya makanan siap saji. Biasanya mereka yang tidak memiliki waktu yang cukup dan ingin praktis, memilih makanan siap saji sebagai menu andalan. Di balik kepraktisannya, makanan siap saji memiliki dampak yang buruk bagi kesehatan. Hal ini disampaikan Gede Eka Subiarta, SST., ahli gizi di RSUD Kabupaten Buleleng. Menurutnya, selain menyebabkan kekurangan gizi, makanan siap saji juga akan menimbulkan berbagai penyakit metabolik seperti diabetes, kerusakan hati dan obesitas. Hal ini disebabkan oleh gula buatan dan berbagai

zat pengawet yang terdapat pada makan instan. “Zat pengawet yang terdapat dalam makan instan secara tidak langsung akan menghambat penyerapan zat gizi dalam tubuh sehingga gampang terkena penyakit metabolik,” jelasnya. Pria kelahiran 30 Agustus 1984 ini juga mengatakan makanan siap saji sangat perlu dihindari oleh anak-anak dan ibu hamil. Dampak yang ditimbulkan bagi anak-anak akan memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan fisik dan mental anak. Anak akan kurang respons dan kurang adaptif terhadap lingkungan sekitar dan rentan terkena penyakit. Sedangkan pada ibu hamil, makanan siap saji juga akan menganggu perkembangan janin yang notabene memerlukan asupan gizi

Senang bisa Berbagi B

yang tinggal di Desa Sudaji, Kecamatan Sawan, Buleleng ini. Dirinya menegaskan tiap orang pernah mengonsumsi makanan siap saji, hanya saja yang membedakan intensitas dalam mengonsumsi makanan tersebut. Jikapun harus mengonsumsi makanan siap saji, ia harus memastikan pengolahannya dilakukan dengan cara yang benar serta untuk menetralisir zat-zat berbahaya diimbangi dengan konsumsi buah dan sayur. “Pastikan dalam sehari kita konsumsi satu jenis buah dan satu jenis sayur serta konsumsi air putih yang cukup,” terangnya. Adanya kasus ikan makarel dalam kaleng yang ditarik dari peredaran karena mengandung cacing, Eka juga memberikan beberapa cara untuk memilih makanan dalam kaleng. Sebelum membeli, pastikan cari tahun tentang produk makanan tersebut dan pastikan aman untuk dikonsumsi. Perhatikan juga tanggal kadaluarsa dan tidak ada kerusakan kemasan dalam makanan kaleng. “Terakhir pastikan ada izin Depkes dan sertifikat halal,” tandasnya. (Wiwin Meliana)

5

Agung Mia

Muda, smart dan sarat prestasi. Esai dengan topik “Jika aku adalah Sekretaris Jendral (Sekjen) ASEAN”, perempuan muda ini terpilih menjadi menjadi Duta Muda ASEAN Provinsi Bali.

Lusi Efriani Kiroyan

dari berbagai jenis makanan yang dikonsumsi oleh ibunya. Eka sapaan pria yang juga membuka praktek swasta "Klinik Sahabat" ini juga menambahkan ada beberapa jenis makanan instan yang harus dihindari untuk dikonsumsi di antaranya makanan dalam kaleng yang banyak mengandung zat pengawet yang berpengaruh terhadap kelainan reproduksi, efek imunitas tubuh dan juga penyakit metabolik. Daging olahan juga menjadi salah satu di antaranya. Banyak hewan peternak yang dibesarkan dengan penggunaan obat-obatan, antibiotik dan hormon bukan dibesarkan secara alami. “Secara tidak langsung banyak kandungan tersebut masih ada dalam daging olahan yang dijual,” ungkap pria

Inspirasi

Edisi 998/ 9 - 15 April 2018

pengalaman serta mempromosikan ASEAN melalui media sosial. Disinggung berbagai kegiatan yang dijalaninya, Agung Mia mengatakan, kalau dirinya mengatur waktu menggunakan skala prioritas. Mana yang lebih penting atau mendesak, itu yang diutamakannya. “Saat ini saya sering diundang sebagai pembicara di kampus membawakan materi “Public Speaking”, Etika di Media Sosial, “Critical Thinking”, “Personality”, Jurnalistik, hingga mengenai pandangan saya tentang generasi milienial dan perkembangan politik. Saya senang bisa berbagi pengalaman dan berdiskusi dengan banyak pihak,” ungkapnya.

ukan hanya itu, perem- Duta Muda ASEAN Provinsi Bali. Ia puan multitalenta ini berkesempatan mengikuti pendidik­ kini tercatat aktif se- an dan pelatihan di Kementerian Luar bagai Presenter Bali Negeri RI di Jakarta. Selanjutnya, TV, MC profesional, entrepreneur sebagai Duta Muda ASEAN, Agung dan pembicara di berbagai kam- Mia aktif mendukung program Kepus. Sempat mewakili Indonesia menterian Luar Negeri, diundang dalam acara pertukaran pemuda ke ke berbagai komunitas dan kampus Amerika Serikat. Bahkan kini, lulusan untuk berbagi terbaik Hubungan Internasional (HI), FISIP Udayana tahun 2017 ini telah merintis usaha di bidang pendidikan. Nama lengkapnya Anak Agung Mia Intentilia, S.IP. Nama panggilannya Agung Mia. Anak muda de­ ngan wawasan luas ini memulai percakapan dengan menjawab pertanyaan tentang Duta Muda ASEAN. “Program ini memilih generasi muda Indonesia yang memiliki pengetahuan tentang ASEAN. Duta Muda ASEAN diselenggarakan oleh Kementerian Luar Negeri RI Direktorat Jendral Kerjasama ter ASEAN,” ujar sulung Saat syuting sebagai presen dari 3 bersaudara pasutri Anak Agung Gede Arnawa & Ni Luh Gede Utarini ini. Dengan bekal ilmu dari Hl Unud, senang mempelajari isu-isu internasional, dan skripsi yang membahas tentang ASEAN ini, ia mengaku mengamati, banyak masyarakat Indonesia belum tahu ASEAN. Padahal Indonesia adalah negara terbesar di ASEAN. “Apalagi saat ini kita sudah memasuki MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN). Saya ingin menjadi generasi muda yang paham program Kementerian Luar Negeri dan membantu diplomasi publik dengan me­ ningkatkan kesadaran mengenai ASEAN. Karena itu saya mengikuti pemilihan Duta Muda ASEAN,” tutur Agung Mia. Setelah memenuhi kriteria pemilihan Duta Muda ASEAN, ia pun berhasil lolos melalui semua proses, dan sukses terpilih menjadi Foto bertugas sebagai Duta ASEAN 4

SELALU BERSYUKUR Terhadap kariernya hingga saat ini, Agung Mia menyatakan karena dukungan orangtuanya. “Mereka selalu mendukung saya mengi-

Gung Mia saat di Jepang

Saat di Amerika

kuti kegiatan yang positif. Selalu memberikan nasihat dan semangat untuk memahami suatu hal. Tidak pernah memaksa saya untuk mencapai sesuatu. Dan, pastinya menekankan pentingnya pendidikan

untuk bekal masa depan, untuk me­ ningkatkan skill serta memahami bahwa pintar saja tidak cukup, tapi harus memiliki sikap, etika, dan budi pekerti yang baik,” papar penghobi baca yang ingin melanjutkan S2 di Eropa ini. Kalau saya gagal atau kecewa terhadap suatu hal, lanjutnya, maka orangtuanya dengan sabar me­ nguatkan, kalau kegagalan adalah proses pembelajaran mengetahui kekurangan kita. “Selain itu, mereka juga menekankan untuk selalu ber-

syukur. Sebab, orang yang bersyukur akan bahagia dengan apa yang dimilikinya dan tetap semangat mencapai mimpinya,” ujar penggemar busana dengan style elegan ini. Kini, perempuan yang ingin menjadi seorang sociopreneur ini, tengah membuka usaha di bidang pendidikan yang juga bisa berkontribusi untuk kegiatan sosial. “Saya sedang mengembangkan S & I Class, yang terdiri dari English Speaking Class dan Public Speaking Class. Saya juga membuka S & I Translator untuk membantu mahasiswa dan dosen untuk menerjemahkan skripsi atau jurnal Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris atau sebaliknya,” kata Delegasi Indonesia dalam pertukaran pemuda Ship for Southeast Asian and Japanese Youth Program (SSEAYP) di Jepang, Myanmar, Filipina, Malaysia, dan Vietnam 2015 ini. Agung Mia juga sempat menyebutkan pengalamannya yang menarik, saat ia mewakili Indonesia dalam acara pertukaran pemuda ke Amerika Serikat. Saat itu bersama mahasiswa berprestasi dari berbagai negara diundang ke Washington DC bertemu para Duta Besar di ASEANUS Business Council. “Momen yang sangat berkesan, terutama saat saya terpilih mewakili peserta dari berbagai negara untuk menyampaikan pidato di depan para Duta Besar dan para pejabat Amerika Serikat. Saya tidak menyangka tampil berbicara di depan orang-orang penting dalam acara berskala internasional,” kenang Runner Up 1 Jegeg Badung 2015 ini tersenyum. (Sri Ardhini)


Inspirasi

4

Edisi 998/ 9 - 15 April 2018

SHERINA MUNAF

Dari Wushu ke Pencak Silat

Generasi tahun 90-an tentu ingat dengan Sherina Munaf, penyanyi cilik yang kala itu sangat populer. Putri kedua Kepala Badan Ekonomi Kreatif ini lama menghilang dari dunia hiburan tanah air, tiba-tiba memberi kejutan kepada publik dengan berpartisipasi dalam film ‘Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212’.

M

enariknya, Sherina dulu terkesan tidak terlalu tertarik mengembangkan karier di dunia akting. Satu-satunya film yang dibintanginya adalah ‘Petualangan Sherina’ yang terbilang sukses dipasaran ketika itu, 2001. Setelahnya, meski banyak tawaran main film mengalir, dia menolak dan memilih menekuni dunia musik. Menurut sang ayah, Triawan Munaf, meski dulu tawaran main film banyak, namun sebagai ayah ia sengaja membatasi Sherina. Hal itu karena ia menginginkan anaknya fokus pada dunia pendidikan. “Sherina kan dulu masih kecil, nggak baik lah seorang anak punya komitmen kerja saat usia begitu. Itu bisa menggangu masa kanakkanaknya. Dia juga akan merasa terbeban. Saya ingin dia konsentrasi pada pendidikan. Nah kalau sekarang sudah besar, ya terserah Sherina,” papar Triawan Munaf beberapa waktu lalu. Sherina sendiri mengaku sepakat dengan pandangan ayahnya. Jadi, katanya, kalau sekarang main film bukan soal suka atau tidak suka akting tapi lebih pada ketertarikan pada sesuatu. “Bukan suka atau tidak suka. Tapi saya hanya mau melakukan sesuatu yang membuat saya tertarik. Enggak tahu sejak kapan saya punya janji seperti itu. Tapi kalau saya tertarik pasti saya akan melakukannya,” kata Sherina yang sejak beberapa bulan lalu telahmenyelesaikan syuting Wiro Sableng. Terkait kemunculannya di film, dirinya awalnya mengaku sempat heran dan bingung kenapa disodori main film. Apalagi proyek tersebut adalah film besar yang dikerjakan Lifelike Picture bekerja sama dengan perusahaan film Hollywood, Fox International Production, anak perusahaan 20th Century Fox. “Tahu-tahu aku disodori script (skenario) film itu. Aku bingung, heran, kok aku yang dipilih? Kan pengalaman akting aku minim

banget. Cuma sekali main film (Petualangan Sherina) itu pun sudah lama. Tapi setelah aku baca scriptnya, aku benar-benar tertarik. Tokoh Anggini, pendekar wanita yang aku perankan sangat menantang.” “Meski begitu, aku tetap merasa ragu dan nggak percaya diri. Apakah mampu memainkan karakter itu? Yah lagi-lagi, itu kan karena aku minim pengalaman akting, aku nggak familiar sama akting hahaha,” ungkap Sherina menceritakan pengalamannya dari mulai ditawari main film hingga akhirnya menyelesaikan proses syuting yang ber-

langsung selama empat bulan. Sebagaimana diketahui, Sherina pertama kali muncul di panggung hiburan saat berusia 9 tahun dengan meluncurkan album ‘Andai Aku Besar Nanti’, lagu-lagu gubahan Elfa Secioria yang kemudian melejitkan namanya menjadi penyanyi cilik papan atas. Namanya semakin populer dengan tampilnya Sherina dalam film yang berjudul namanya ‘Petualangan Sherina’ pada 2001. Setelah film tersebut, dia lebih berkonsentrasi pada dunia musik. Setidaknya dalam kariernya bermusik dia telah menelurkan enam album dan 12 single. Terakhir album ‘Tuna’ yang dirilis 2013. Serta, meraih penghargaan AMI sebagai Pendatang Baru Terbaik. Setelah itu dia ‘menghilang’ dan baru muncul lagi dalam film Wiro Sableng.

Sherina Munaf Foto: kapanlagi.com

MENDAPAT BANYAK ILMU Bagi gadis kelahiran Juni

1990 ini, bukan hal yang mudah mengikuti proses syuting Wiwo Sableng, apalagi medan syutingnya cukup berat. Di sisi lain, karena dia main film laga dan memerankan tokoh pendekar, maka dirinya harus memperkuat fisik. Untungnya, tambah Sherina yang menyelesaikan pendidikan animasinya di Jepang beberapa waktu lalu, sejak kecil dia telah berlatih bela diri wushu. Bahkan kalau saja tidak ‘terhalang’ dengan kegiatannya di dunia musik, dia bisa jadi sudah menjadi atlet wushu yang aktif di berbagai kejuaraan. “Aku berlatih wushu sejak kecil, kelas 2 SMP, umur 14 tahun,” ujar Sherina yang sejak itu terus berlatih wushu, bukan saja untuk kesehatan tapi juga membuat tubuhnya lebih fleksibel dan tidak mudah cidera. “Banyak manfaat wushu, bukan hanya untuk bela diri. Kebetulan juga dari keluarga pihak ayah, ada keturunan scoliosis (kelainan bentuk tulang belakang). Dengan berlatih wushu aku bisa menghambat scoliosis agar tidak berkembang parah,” tuturnya. Nah kembali ke soal Wiro Sableng. Menurut Sherina dengan dasar wushu yang dimilikinya setidaknya dia telah memiliki ‘modal’ untuk tampil dalam film laga. Hanya saja, ilmu bela diri yang dimainkan dalam film laga tersebut adalah pencak silat dan itu cukup menyulitkannya. “Sempat menyulitkan sih karena pencak silat kan berbeda dengan wushu. Hanya karena aku menguasai wushu jadi bisa lebih luwes dalam belajar. Untungnya ada kang Yayan (aktor yang juga pelatih pencak silat) yang membimbing aku da-

lam pencak silat juga koreony, turur Sherina yang pernah berduet dengan boyband asal Irlandia, Westlife, dalam lagu ‘I Have a Dream’. Soal pendalaman peran, tuturnya, dia diberi kebebasan oleh sutradara. Demi tidak terhambatnya imajinasi dirinya terhadap peran yang dimainkan, ia pun memilih tidak membaca buku Wiro Sableng. Dengan begitu dia bebas mengintepretasikan perannya. Ada tiga tokoh yang menjadi inspirasinya dalam pendalaman peran yakni San, Buffy Summer dan Xena. Sebagai penggemar berat animasi, San yang berasal dari film animasi Princess Mononoke dijadikan Sherina sebagai inspirasi. Begitu juga Buffy Summer, tokoh dalam serial fiksi tahun 90-an ‘Buffy the Vampire Slayer’. Sedangkan tokoh Xena, tentu semua tahu. Sherina yang lahir di tahun 90-an sangat menggembari film serial Xena yang dulu begitu populer di tanah air. Sherina mengaku lega akhirnya berhasil menuntaskan filmnya. Dia mengaku sangat beruntung bisa terlibat dalam proyek film tersebut karena banyak ilmu yang dia dapat selama proses syuting. “Aku dapat banyak pelajaran penting dari pengalaman aku main di film ini. Pelajaran-pelajaran sangat berguna untuk karier aku ke depannya. Secara mental juga aku dapat pelajaran bagaimana mengendalikan diri, mengandalikan emosi. Dan juga yang aku suka, aku belajar bela diri lagi dan ini pencak silat,” ungkap Sherina. Lalu apakah setelah ini akan berkarier di dunia akting? Sherina mengaku belum tahu. Meski mengaku sangat tertarik dengan karakter tokoh yang diperankannya sekarang bukan berarti ke depannya dia akan mendalami seni peran. “Lihat bagaimana nanti saja. Aku belum mutuskan apakah akan terus berakting,” ucapnya. Yang pasti katanya, dia akan melakukan jika ia benar-benar tertarik, tambah keponakan penyanyi Fariz RM ini. CUEK DAN APA ADANYA Kebetulan juga karakter tokoh Anggini yang diperankannya memiliki karakter yang sama dengannya yakni cuek. Dalam keseharian, memang Sherina tidak seperti kebanyakan artis lainnya yang begitu peduli pada penampilan dalam artian selalu mengikuti tren mode. “Aku nggak gitu banget. Biasa saja.Sehari-hari aku lebih suka pakaian santai, casual. Kalau ada acara tertentu, tergantung acaranya apa ya aku menyesuaikan. Sedang sehari-hari ya tergantung mood,” ungkap gadis penyuka warna cerah khususnya biru.“Yang penting enak dipakai, sesuai keadaan. Lebih dari itu kan yang terpenting adalah karakter orang yang memakainya, kepribadiannya,” tambah gadis yang mengaku tak terlalu suka belanja barang fashion. (Diana Runtu)

Edisi 998/ 9 - 15 April 2018

Sudut Pandang

29

Pilihan Praktis Pendaki Gunung Heboh soal makanan kaleng sarden berulat sempat membuat masyarakat khususnya ibu rumah tangga kaget. Berita tentang hal ini yang mewarnai media massa membuat mereka ‘merinding’. Beruntungnya para ibu rumah tangga di Mataram yang sempat di wawancarai rata-rata tidak mengonsumsi makanan kaleng ini.

A

yu misalnya, mengaku sama sekali tidak pernah mengonsumsi makanan kaleng ini karena selalu mengingat nasehat ibunya agar mengonsumsi makana sehat segar saja. “Aduuuhh… maaf, saya paling tidak suka makanan kaleng karena kurang baik. Itu pesan dan nasehat almarhum ibu saya,” ungkap Ayu yang tinggal di kawasan pantai wisata Ampenan. Karena itulah ia tidak pernah menyetok makanan kaleng seperti sarden, buah termasuk juga susu. Ayu tidak ingin yang praktis dalam hal ini melainkan ia berprinsip biar capek sedikit pergi ke pasar dan memasak bahan segar baginya lebih aman dikonsumsi oleh keluarganya. Menyikapi maraknya kabar

makanan kaleng berulat/cacing, membuat Ayu menyarankan agar masyarakat khususnya ibu-ibu yang sering membeli makanan kaleng untuk lebih berhati-hati lagi dan waspada serta mengecek dengan teliti tanggal kadaluarsa makanan yang dibeli. Ririn seorang pegawai negeri yang juga mengurus sendiri makanan untuk keluarganya juga mengaku tidak suka, bahkan sangat tidak suka makanan kaleng. Saat ditanya tanggapannya tentang makanan kaleng, ia malah bercanda lebih suka makanan gratis. Sikap Ririn ini memperlihatkan bahwa ia memang sama sekali tidak pernah menyukai makanan kaleng apalagi sampai menyetok untuk kebutuhan sehari-hari. Baginya praktis tidak

berlaku dalam hal ini. “Rasanya… bagaimanaaaa gitu… mau makan makanan sarden kaleng, geli aja rasanya karena tahu makanan itu sudah berbulan-bulan dimasaknya,” kata Ririn. Begitu juga dengan keluarga Ari yang kebetulan tidak makan ikan. Jadi mereka tidak pernah menyetok makanan kaleng berupa ikan kecuali sejenis coklat. Meski keluarga ini tergolong sibuk, mereka lebih memilih membeli makanan jadi yang segar dibandingkan makan makanan kaleng. Setiap pagi mereka memilih sibuk bersama menyiapkan sarapan bagi anak-anak mereka sebelum sekolah dan pulangnya Ari membeli makanan jadi di rumah makan langganannya. “Daripada makan makanan kaleng, saya lebih baik pesan katering harian saat saya memerlukannya,” ujarnya. Selain Ayu, Ririn dan Ari, beberapa ibu rumah tangga lain, seperti Hana yang tinggal di kawasan Sweta, Devi di Cemara, Pipit di Meninting dan lainnya juga tidak pernah menyetok makanan kaleng khususnya sarden. Bagi mereka

selain karena harganya juga lumayan mahal dibandingkan membeli ikan segar juga karena tidak terbiasa mengonsumsinya. Para ibu rumah tangga ini sedikit berbeda dengan para pendaki gunung yang rata-rata pernah mengonsumsi makanan kaleng seperti sarden. Meski tidak sering beberapa pendaki, seperti Muslim, Rani dan rekan-rekannya pernah membawa makanan kaleng untuk dikonsumsi selama pendakian. Alasannya sederhana, praktis dan cocok untuk keperluan selama pendakian. Misalnya saja mereka mendaki gunung Rinjani dan Tambora di Lombok dan Pulau Sumbawa yang rata-rata memerlukan waktu perjalanan lebih kurang empat hari. Selama empat hari berada di gunung,

maka yang paling praktis yaitu makanan kaleng. “Untuk bawa makanan segar tidak mungkin bertahan hingga empat hari,” kata Rani, pendaki gunung yang kini sudah jarang melakukan pendakian. Reza, pendaki aktif yang juga bergaul di dunia pariwisata termasuk yang sering mengonsumsi makanan kaleng ini. Ia mengaku selalu membawa makanan kaleng untuk stok makanan saat pendakian karena dinilai praktis. Namun, setelah merebak kabar soal makanan kaleng sarden yang mengandung cacing/ulat, mereka kemudian berpikir kembali untuk membawa makanan kaleng untuk keperluan selama pendakian. (Naniek I. Taufan)

Tips Memilih Makanan Kaleng Kemajuan zaman dan makin banyaknya wanita yang bekerja di luar rumah membuat konsumsi makanan kaleng makin meningkat. Selain mudah dalam penyajiannya, jenis makanan dalam kaleng yang beredar di pasaran pun sudah sangat beragam, mulai dari jenis ikan, daging, sampai buah-buahan. Makanan kaleng kerap dianggap sebagai makanan kemasan paling aman dan berkualitas baik. Namun, jika kita tidak cermat, makanan kaleng juga bisa menjadi berbahaya. Apa yang harus diketahui dalam memilih makanan kaleng? Menurut ahli gizi, Ida Ayu Eka Padmiari, SKM., M.Kes., beberapa kandungan gizi yang ada pada makanan kaleng juga terbukti dapat diserap lebih baik oleh tubuh, misalnya saja serat. “Pada beberapa jenis sayur berdaun yang dikalengkan, yang lebih mudah serap dibandingkan dengan bentuk segarnya, tetapi vitamin dan mineral sudah banyak berkurang karena sudah mengalami beberapa kali pengolahan,” jelas dosen Politeknik Kesehatan Denpasar ini. Namun, ia menegaskan, bagaimanapun berkualitasnya makanan kaleng tentu masih jauh

lebih baik mengonsumsi makanan segar yang minim pengolahan artinya makanan segar jauh lebih baik dibandingkan makanan kaleng. Menurut The Canned Food Alliance dan NSF Public Health and Safety Organization, beberapa hal secara fisik yang perlu kita perhatikan dari makanan kaleng adalah: Makanan kaleng yang berkarat menunjukkan adanya ketidakcocokan atau kontaminasi yang bisa dari suhu, cahaya atau kelembaban, selama proses distribusi, penyimpanan atau saat berada di rak penjualan. Hal ini akan meningkatkan risiko masuknya bakteri pada kemasan hingga menyebabkan keracunan. Makanan kaleng yang menggembung menunjukkan adanya reaksi kontaminasi bakteri sehingga kemasan kaleng rusak. Untuk itu selalu cermati seluruh bagian makanan kaleng dan hindari memilih produk kalengan yang menggembung. Keadaan kaleng kembung menunjukkan sudah adanya bakteri yang berkembang seperti misalnya clostridium botulinem. Makanan kaleng tentu harus tertutup rapat untuk menghindari

Ida Ayu Eka Padmiari

adanya risiko kontaminan bakteri dari luar. Perhatikan secara seksama jika ada lubang kecil yang memungkinkan masuknya udara atau kontaminan lain. Pastikan dengan mengecek isi produk, pastikan makanan memiliki tampilan, rasa, tekstur, dan bau yang normal. Seperti halnya memilih bahan makanan di pasar, makanan kaleng

pun harus dipilih dengan baik. Padmiari menyebutkan, hal pertama yang harus kita lakukan pada saat akan membeli makanan kaleng adalah harus melihat tanggal kadaluarsa dari makanan kaleng tersebut. Jangan sampai membeli dengan tanggal kadaluarsa yang sudah lewat. “Pilihlah tanggal dan bulan 6 bulan sebelum tanggal yang tertera,” jelasnya. Ia juga mengingatkan, perhatikan kondisi kemasan kalengnya. Pada saat membelinya maka perhatikan kemasan kalengnya. “Kaleng tersebut utuh dan kondisinya bagus tidak penyok dan juga tidak berlubang cacat dan sebagainya. Jangan lupa lihat kondisi kalengnya jika terdapat lubang dan berbau ada indikasi kemasan tersebut bocor. Berarti tidak layak untuk dikonsumsi,” ujar Padmiari. Sebaiknya makanan kaleng hanya dimasak sekali dan segera habiskan. Pemasakan yang berulang akan merusak tekstur makanan dan menghilangkan zat-zat gizi yang terkandung di dalamnya. Selain itu, kata dia, untuk mendapatkan rasa yang lebih lezat, makanan kaleng bisa ditambahkan dengan bumbu

yang lain seperti tomat, minyak zaitun atau bawang goreng. Hal penting yang juga harus diketahui adalah cara menyimpan makanan kaleng. Pastikan kemasan dalam kondisi bersih dan tersegel baik sebelum disimpan. “Pilihlah tempat penyimpanan yang bersih, kering, sejuk, dan mempunyai temperatur ruang yang stabil, misalnya di dalam lemari, kabinet dapur, atau rak tertutup, mudah dijangkau dan sering digunakan sebagai tempat penyimpanan. Hindari menyimpan di tempat yang tersembunyi, gelap, terlalu dekat dengan lantai, atau langit-langit ruangan,” ujarnya mengingatkan. Simpan makanan kaleng dengan aturan sebagai berikut, kelompokkan produk berdasarkan jenis makanan yang dikalengkan. Letakkan produk yang baru Anda beli di belakang produk yang lama. Susun produk berdasarkan tanggal kadaluarsa. “Untuk makanan kaleng yang kemasannya sudah terbuka, sebaiknya simpan di dalam kulkas. Jangan lupa rapatkan kembali kemasannya atau pindahkan ke dalam wadah tertutup lainnya,” kata Padmiari. (Wirati Astiti)


Rileks

30 Pertanyaan TTS No. 005

MENDATAR: 2. SERAMBI 3. TEMPAT MEMASAK 5. MAKANAN KHAS JEPANG 7. MAKAN PAGI 8. KOLOM 9. BERISIK 11. TEMPAT PEJALAN KAKI 13. SEPATU KUDA 15. KERETA API 16. PENGGORENGAN 18. PUKAT 19. PAHAT 23. CACAH 24. PILIHAN 27. PURBA 28. MEREK 30. KEBUN

MENURUN: 1. GOSONG 3. STATIS 4. USIA 5. SENDOK 6. KARCIS 10. WARUNG 11. PERALIHAN 12. KANGEN 13. LENTERA 14. PETASAN 17. UDANG KERING 20. SIPUT 21. SULIT 22. KABIN 25. BUBUR KERTAS 26. KELEBIHAN 29. RUTE

Edisi 998/ 9 - 15 april 2018

TTS tokoh

J

TTS No. 003 MENDATAR: 2. FEMININ 5. HIDROPONIK 6. INSANG 11. KEMBANG 12. LEGAWA 13. KEBAYA 14. RIMBA 17. TAPLAK 22. WASIT 26. MERAPI 27. TOKOH 28. NATURAL 29. KASIHAN 31. TSUNAMI

MENURUN: 1. GILIMANUK 3. KANGGURU 4. BRAWIJAYA 7. SAKURA 8. FILATELIS 9. DONAT 10. JANIN 15. BETAWI 16. RAJIN 18. AKTOR 19. SAMOSIR 20. ATRIBUT 21. DEBUS 23. BONSAI 24. CENGENG 25. ETALASE 30. SUDUT

Pemenang TTS No. 003 1. Ni Putu Narayati (Bajera, Tabanan) 2. AA Oka Puspawati (Pekutatan, Jembrana)

Pilkada untuk Semua

KETENTUAN MENJAWAB Jawaban ditulis di kertas dan masukkan dalam amplop atau ditulis di kartu pos. Tempelkan gun­ tingan kupon TTS No 001 serta identitas lengkap (nama, alamat, no HP). Kirim ke Redaksi Tokoh, Gedung Pers Bali K. Nadha lantai III, Jln. Kebo Iwa no 63 A Denpasar, paling lambat Kamis 19 April 2018. Pemenang diumumkan Minggu 22 April 2018. Tersedia dua hadiah voucer belanja senilai @Rp 100.000 dari Cellular World untuk dua orang pemenang. Pemenang agar ­mengambil hadiah ke Kantor Redaksi Tokoh setiap hari kerja dengan membawa identitas diri (KTP/SIM)

Oprah Gail Winfrey lahir di Kosciusko, Mississippi, Amerika Serikat, 29 Januari 1954. Ia seorang selebriti dan pengusaha Amerika Serikat yang namanya melambung setelah membawakan sebuah acara bincang-bincang yang sa­ ngat populer,The Oprah Winfrey Show. Dengan kekaya­an sekitar 1,3 miliar dolar AS, ia masuk dalam daftar miliarder di dunia.

O

e Luh Ged i Herryan

Kupon TTS tokoh No. 005

tokoh dunia

prah dibesarkan di sebuah pe­ ternakan oleh neneknya yang keras (Hattie Mae) selama enam tahun. Ketika berusia enam tahun, ibunya, Vernita, mendapatkan pekerjaan sebagai pembantu di Milwaukee, Wisconsin dan akhirnya mengambil Oprah kembali dari neneknya. Di Milwaukee, ia

Puncak acara Pemilihan Umum Gubernur Bali (Pil­ gub) Bali 2018 adalah 27 Juni mendatang. Saat itu bakal dilangsungkan pencoblo­ san. Pasangan dengan suara terbanyak akan menjadi pemenangnya. ika ingin ikut bersama-sama dengan pemimpin terpilih berkontribusi untuk daerah, demi kemajuan dan gerak pembangu­ nan kedepannya, maka jangan golput. Gunakan hak pilih kita, terutama pada para perempuan, mengingat angka pemilih perem­ puan sangat besar. Begitu disam­ paikan Luh Gede Herryani, S.H., M.Kn., Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrat Buleleng ini saat bertemu Tokoh di rumahnya di kawasan Jalan Tukad Badung, Denpasar. Perempuan yang akrab disapa Luh De ini mengajak seluruh ele­ man masyarakat untuk bersamasama menyukseskan perhelatan lima tahunan ini. “Pilkada me­ nyeluruh kali ini berlangsung di 17 provinsi, 115 kabupaten serta 39 kota di Indonesia, seyogyanya akan berjalan aman, lancar, tertib dan demokratis,” ucap Notaris, PPAT, Pejabat Lelang Kelas II ini.

JAWABAN

Sosialita

Edisi 998/ 9 - 15 april 2018

harus tinggal dalam satu kamar bersama ibu dan dua saudara tiri, laki-laki dan perempuan. Setiap hari Vernita meninggalkan anakanak itu pagi-pagi sekali dan baru pulang pada malam hari, sehingga ia tidak punya waktu

Oprah Winfrey

untuk keluarganya. Menginjak usia 14 tahun, Oprah hamil dan bayinya meninggal tidak lama set­ elah dilahirkan. Ketika Oprah melari­ kan diri selama satu minggu, ibunya memutuskan untuk mengirim Oprah hidup bersama ayahnya di Nashville. Oprah yang benar–benar takut den­ gan ayahnya. Ayah Oprah tidak bisa mentoleransi sikap negatif Oprah atau nilai sekolahnya yang buruk. Oprah mem­ peroleh nilai-nilai C di Milwaukee, tetapi hanya nilai A yang bisa diterima oleh ayahnya. Awalnya, Oprah benci pada aturan tegas dan harapan tinggi mereka. Tapi,

ternyata justru itulah yang ia perlukan, orang­ tua yang membuat peraturan dan menerap­ kannya dengan tegas, tetapi juga memberikan cinta dan perhatian yang diinginkannya. Oprah pun bangkit. Tidak saja nilai sekolahnya yang meroket, Oprah juga jadi lebih ramah dan populer daripada sebelumnya. Pada 1976, Oprah menjadi pembawa acara TV di Baltimore dan kemudian dipromosikan sebagai pendamping pemandu acara bincangbincang pagi (talk show) yang bernama People Are Talking (Orang–orang Mulai Berbicara). The Oprah Winfrey Show membuat debut nasional pertamanya pada tahun 1986, dan meraih sukses dengan cepat dengan menjadi pertunjukan yang paling populer di televisi, menjadikannya wanita kulit hitam yang bangkit dari kemiskinan dan menjadi bintang dengan bayaran tertinggi. (Wikipedia)

Ia mengatakan pilkada ini ada­ lah proses demokrasi milik kita se­ mua. Karenanya ia percaya semua pihak yang terlibat dalam pelak­ sanaan pilgub Bali kali ini, akan menjalankan tugasnya dengan baik. “Mari kita membangun seka­ ligus menyebarluaskan semangat kebebasan berdemokrasi kepada semua orang untuk nantinya bisa

menerima apapun hasil Pilgub secara wajar. Dalam arti siap me­ nang juga siap kalah,” tegasnya. Ditanya soal sosok pemimpin Bali, Luh De berharap pemimpin yang terpilih nanti ada­ lah pemimpin yang ber­ sih, jujur (berintegritas), santun, cerdas, memiliki tanggung jawab (responsibility) dan pastinya mempunyai programprogram yang pro rakyat atau berkomitmen tinggi untuk menyejahterakan masyarakat. Programnya mesti bersentu­ han langsung dengan masyarakat terbawah disertai pembangunan infrastruktur yang dapat mem­ bantu program pengembangan ekonomi rakyat. Mengenai perekonomian rakyat, juga terhitung wajib

menjadi perhatian serius pemimpin Bali ke depan­ nya. Pemerintah nanti mesti mencanangkan program yang bertujuan mengurangi masyarakat miskin serta percepatan pembangunan . Sepa­ tutnya pula pemimpin terpilih yang baik dan kompeten adalah set­ elah dilantik mengetahui permasalahan yang ada di wilayahnya serta meny­ usun strategi penanganan­ nya secara komprehensif dengan para tenaga ahli. Sekali lagi diingatkannya kalau kita gagal memilih pemimpin yang tepat dalam pilkada kali ini maka, pem­ bangunan daerah kita akan terganggu. “Semoga penye­ lenggaraan pilgub di daerah kita berjalan dalam suasana demokrasi yang aman dan jujur,” katanya.

3 MENJAGA BUDAYA BALI Menjaga konsep Bali berarti menjaga “budaya”-nya. Karenanya “budaya” ini perlu dilestari­ kan. “Kenapa diles­ tarikan? Mengin­ gat bahwa ke­ hidupan kita, bukan hanya pada saat ini saja. Masih ada anak” cucu kita yang akan melanjut­ kannya nanti. Budaya bukan­ lah hanya sekadar bisa menari dan bisa berbahasa Bali. Namun lebih dari itu, di dalamnya ada tata krama, seperti pada ber­ bagai kegiatan keagamaan yang dikenal san­ gat kuat mencer­ minkan

budaya Bali,” papar Luh De. Ia berharap generasi muda memiliki kepedulian yang tinggi pula terhadap tradisi dan kultur lokal. Pemimpin Bali nanti me­ nyiapkan program yang konsisten bagi generasi muda agar memaha­ mi dan menjadikan budaya sebagai warna dalam kes­ eharian mereka. Apalagi, katan­ ya kalau bicara pelestarian bu­ daya. Hal ini tidak semata-mata untuk sisi ekonomi saja, na­ mun sejarah dan spirit yang ada di dalamnya. Semen­ tara itu juga masyarakat Bali, wajib diingatkan untuk berkontribusi menjaga alam Bali dengan meme­ gang teguh konsep Tri Hita Karana. Tiga hal yang mengatur harmonis, yakni hubungan manusia dengan sesama (pawongan) juga manusia kepada alam, lingkungan (palemahan) serta hubungan harmonis dengan sang pencipta yakni Tuhan (parahyangan). Luh De juga mengatakan perlu ada penekanan bahwa inilah yang menuntun masyarakat Bali dapat sa­ling menghargai sekaligus menjaga nilai keseimbangan atau harmonisasi dalam hidup. Tri Hita Karana juga, sesungguhnya dapat diaplikasikan dengan cara sederhana dan bisa dilaku­ kan oleh siapa. Misalnya membuang sampah pada tempatnya. Meski sudah ada juga upaya lainnya untuk menjaga budaya, yakni melalui are­ na Taman budaya yang bernama Art Center di ka­ wasan jalan Nusa Indah Denpasar. Namun, kegiatan yang padat budaya di dalamnya mung­ kin hanya ramai pada saat diseleng­ garakannya Pesta Kesenian Bali saja. Sementara ketika kita bicara serbuan budaya asing, tentu tak bisa dihindari. Maka di sini juga perlu mendapatkan perhatian serta fil­ terisasi yang baik. Maka, siapapun yang akan menjadi pemimpin Bali tentu hal ini sudah menjadi bagian dari program pengembangan sekaligus menjaga Bali ke depan­ nya. -ard


Espresso

2

Edisi 998/ 9 - 15 April 2018

GORO-GORO Mau Praktis prt C harus Kritis

Dalam rumah terdenPutu Wijaya gar pertengkaran tukang bakso dengan Amat. “Tikus putih?” “Betul Pak! Lebih panas dari daging RW, monyet, kalong bahkan lebih manjur dari darah kobra! Makanya harganya mahal, Bu! Aduh!” Tukang bakso terdorong keluar, langkahnya keselimpet, ia hampir jatuh, mangkoknya jatuh berantakan. Amat keluar diikuti istrinya. “Jadi bakso kamu betul-betul daging tikus!” “Bukan yang biasan, tapi dewanya.” “Tapi tikus!” “Putih tapi!” “Tikus mana ada yang putih!” “Makanya satu mangkok 25 ribu!” “Putih, biru atau belangbonteng tetap saja tikus!” “Tapi khasiatnya dong, Pak! Menyembuhkan seribu satu penyakit! Termasuk mengembalikan keperkasaan Bapak!” “Penyebar wabah pes!” “Warga gorong-gorong yang makan kotoran!” “Makanya rasanya maknyus, Pak! Tandas 4 mangkok, kan?! Bapak itu juga. Sedang ganyang mangkok ketiga!” (Tukang bakso menunjuk lelaki yang duduk di kursi lagi makan bakso mangkok ketiga dengan sangat rakus) Amat dan istrinya menoleh. Baru sadar di situ ada KABUL, agen pembantu yang mereka tunggu-tunggu. “Pak Kabul?!” Lelaki itu ketawa. “Maaf Bu Amat, Pak Amat. Saya lagi fokus. Soalnya ueeeenak sekali!” “Mau tambah lagi, Pak?” “Satu mangkok lagi, tapi do-

bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

bel!” “Siap! Saya bilang apa. Enak kok!” Tukang bakso mau kembli ke dagangannya. Amat berteriak: “Tunggu!” Tukang bakso terkejut. Ia memegang dadanya. “Pak Kabul?!” “Saya Pak Amat.” “Betul enak?” “Wah sulit dikatakan, Bu. Terlalu maknyus. Saya sudah pernah makan ular, cacing, cecak, lintah, senua, tapi tak ada yang lebih nendang dari ini. Sekarang saya sudah dah mau lima ini! Cepat, Bung, biar nyambung!” “Bapak tahu itu daging apa?” Kabul terkejut. “Ah? Rasanya, seperti, bukannya, katanya daging rusa Kalimantan! Atau daging kalong, ya?” “Itu daging tikus!” “Tikus?” “Tikus putih, Pak!” “ Ya A l l a h ! T i k u s ? T i k u s yang?” “Makan kotoran!” “Ya, ampunnn!” Kabul langsung mual. Dia lari ke halaman dan muntah. Tukang bakso ketawa.. “Bagus, bagus sekali, Pak! Kalau bisa muntah, artinya penyakit Bapak dikuras. Nanti Bapak akan perkasa seperti Rambo!” Kabul menyumpah-nyumpah. “Bangsat! Aku pasti ditolak masuk surga gara-gara mengganyang tikus! Bajingannnnn! Kriminal ini harus dieksekusi!” Kabul berdiri lari kembali ke teras rumah. Langsung meraup mangkok bakso di meja, melempari tukang bakso. Tukang bakso lari. Kabul mengejar, tapi perutnya mual lagi. Dia mencopot celananya mau buang hajat di halaman. Bu. Amat berteriak: “Jangan di sini! Pakkk!” “Jangan di situ banyak lintah

di situ!” Kabul pindah, langsung jongkok “Pakkkk!”. “Jangan di situ!” “Pohon mawarku bisa rontok!” “Maaf, Bu! Ini emerjensi! Apa  boleh buat! Nanti diganti! Habis tidak bisa ditahan lagi. Daging tikus, Pakkkk! Keluar, keluar semua!” “Pak!” “Awas! Di situ ada sarang ularrr!” Kabul berteriak kaget. “Aduh!” Kabul terpaksa berdiri dan lari, mau masuk rumah. “Jangan ke mari!” “WC-nya mana, Pak?” “Jangan! Kami tidak terima berak daging tikus!” “Tenang, tenang, Pak. Sudah keluar semua. Ini cuma mau cebok!” “Bagaimana, Bu?” “Tidak boleh!” Tiba-tiba Kabul berteriak. “Aduhh mau keluar lagi!” Kabul jongkok. “Jangan di sini!” “Ya Tuhan, habis di mana?” “Terserah! Risiko tanggung sendiri!” “Apa boleh buat! Rawe-rawe rantas malang-malang putung! Maafffff!” Kabul nekat mau menerobos masuk. Tapi Bu Amat berdiri di pintu menunjukkan pisaunya. Kabul terpaksa kabur ke jalanan. “Ampunnnn!” Terdengar klakson mobil panik karena Kabul berlari di jalan cari selokan. Tukang bakso mengendap-endap mengambil mangkoknya. Pak Amat dan Bu Amat pura-pura tak melihat. Begitu tukang bakso sudah berhasil  mengambil semua mangkok, Pak Amat menggertak sambil menirukan salak anjing. “Kuk-huk-huk-huk!” Tukang bakso lari pontangpanting. Suara klakson mobil tambah rame.

Kasus makanan kalengan mencuat lagi. Adanya temuan cacing di ikan makarel dalam kaleng membuat masyarakat khawatir. BPOM di berbagai daerah pun bergerak untuk melakukan pemeriksaan. Hasilnya, memang ada temuan makanan dalam kaleng yang positif mengandung cacing. Masyarakat sudah mengenal makanan dalam kaleng sebagai makanan yang praktis. Kapan pun bisa dibeli kemudian disimpan sebagai stok makanan. Proses pengolahannya pun dibuat mudah. Tetapi, adanya kasus ini membuat masyarakat tersadar. Makanan kaleng ternyata memiliki sisi negatif. Daripada sibuk memikirkan siapa yang bersalah, lebih baik mencari solusi. Jika memungkinkan, konsumsilah makanan segar. Jika harus memilih makanan dalam kaleng, perhatikan dengan detail tentang kemasannya apakah utuh atau ada yang rusak, masa kedaluwarsanya. Kalau mau yang praktis, pembeli harus kritis untuk memperhatikan semuanya dan bertanya kepada penjual. Langkah berikutnya, jika memilih makanan kaleng perhatikan cara memasaknya. Ikuti prosedur yang sudah tertera di kemasan. Memodifikasi bahan makanan dengan menambahkan bumbu bisa menjadi solusi. Namun, hal yang tetap diprioritaskan adalah menjaga kesehatan. Rubrik “Sudut Pandang” di edisi 998 ini menampilkan tentang komentar dan tips tentang makanan dalam kemasan termasuk makanan kaleng. Ada yang tak mau lagi membeli makanan kaleng. Ada yang merasa perlu makanan kaleng karena situasi tertentu. Ada juga tips bagaimana mengolah dan menyimpan makanan dalam kaleng. Laporan yang tak kalah menarik adalah kehadiran Ibu Negara Iriana Jokowi dan istri Wakil Presiden Ny. Mufidah Jusuf Kalla beserta beberapa istri Menteri Kabinet Kerja di Bali. Beragam acara mereka ikuti selama berada di Pulau Dewata. Salam Redaksi

Mozaik

Edisi 998/ 9 - 15 April 2018

Lahirnya gagasan full day school oleh Mendikbud Muhajir Effendi pada 2016 yang kemudian diperkuat dengan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017 tentang hari sekolah telah mengundang pro dan kontra di kalangan masyarakat pendidikan Indonesia. Walaupun Permendikbud itu tidak secara eksplisit menyebutkan full day school, kalangan awam telanjur menerjemahkan sekolah sehari penuh. Akibatnya, orangtua siswa banyak yang berkeberatan karena berkurangnya waktu anak membantu orangtua di rumah, lagi pula bekal sekolah bertambah, sementara penghasilan orangtua tetap. Selain itu, secara geografis dan iklim, tampaknya full day school bagi Indonesia kurang mendukung. Karena itu, wajar Daoed Joesoef menggugat dalam tulisannya di Kompas, (14/10/2016) dalam tajuk “Sekolah 24 Jam Buat Apa“. Untuk mengakhiri pro kontra itu, terbitlah Perpres Nomor 87 Tahun 2017 tanggal 6 September 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Di dalam Perpres itu disebutkan PPK adalah gerakan pendidikan di bawah tanggung jawab satuan pendidikan untuk memperkuat satuan pendidikan melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olahraga dengan pelibatan dan kerjasama antar satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat sebagai bagian integral dari Gerakan Nasional Revolusi Mental. Terbitnya Perpres 87 Tahun 2017

Hari Keluarga Berwisata

memang tidak secara eksplisit menghentikan kisruh wacana yang dihembuskan Mendikbud Muhadjir Effendy, tentang lima hari sekolah dalam sepekan. Namun Mendikbud mengatakan gagasan lima hari sekolah bersifat alternatif dan pelaksanaannya diserahkan kepada masing-masing sekolah mengatur. Hal ini patut diapresiasi dalam konteks penguatan pendidikan karakter. Pertama, menjadikan SabtuMinggu sebagai hari keluarga berwisata setelah lima hari anak-anak mereka belajar di sekolah. Lima hari belajar di sekolah juga diniatkan untuk menyelesaikan seluruh tugas-tugas akademik anak di sekolah sehingga mereka tidak direpotkan kembali dengan PR setelah di rumah. Dengan demikian, Sabtu– Minggu benar-benar menjadi hari keluarga berwisata tanpa beban PR. Kedua, komitmen Mendikbud, Mahadjir Effendy melaksanakan MoU dengan Menteri Pariwisata, Arief Yahya yang ditandatangani pada 25 Januari 2017 di Sawangan, Depok. Inti dari MoU itu adalah gerak langkah bersama antara dua kementerian untuk saling berkolaborasi membangun SDM khususnya para siswa dengan mengajak mereka berkunjung ke objek wisata melalui karya wisata. Metode belajar sambil berwisata dan diupayakan berlangsung menyenangkan penuh kenangan sesuai dengan nilai-nilai sapta pesona dalam dunia pariwisata. Ketiga, menyerahkan anak-anak sekolah dua hari penuh dalam gem-

Penanggung Jawab/Pemimpin Redaksi: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Iklan Denpasar: IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti, Sagung ­Inten. Buleleng: Wiwin Meliana. Jakarta: Diana Runtu. NTB: Naniek Dwi Surahmi. Desain Grafis: IDN Alit ­Budi­artha, ­I Made Ary ­Supratman. Manajer Sirkulasi dan Iklan: I Ketut Budiarta, Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama, Ayu Wika Yuliani. Se­kretariat: Ayu ­Agustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Ombudsman: Jimmy Silalahi. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­D enpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­merah ­Barat 21 G Jakarta Pusat 10270–Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­­Faksi­mile (031) 5675240. Surat Elektronik: info@cybertokoh.com, redaksi@cybertokoh.com, iklan@cybertokoh.com. Bank: BRI ­Cabang ­Gajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

blengan orangtua sambil berekreasi. Diharapkan kesempatan ini menjadi wahana komunikasi yang efektif bagi orangtua mendampingi anak-anak mereka. Inilah bentuk dukungan orangtua menyeimbangkan dan mempraktikkan pendidikan yang diperoleh di sekolah di lingkungan keluarga dan masyarakat. Relasi dan integritas ketiga lembaga pendidikan ini diharapkan mampu mengonfirmasi secara triangulasi hasil pendidikan di sekolah selama lima hari dengan keluarga dan masyarakat. Keempat, Sabtu-Minggu menjadi bahan refleksi bagi keluarga terkait dengan pendidikan anak-anaknya se-

sehingga para siswa terhindar dari gerakan radikalisme dan intoleransi. Walaupun tidak ada kewajiban melaksanakan lima hari sekolah, Mendikbud sangat arif menyikapinya, dengan memberikan alternatif melaksanakan bagi sekolah yang siap. Nyatanya, yang lebih siap melaksanakan adalah sejumlah sekolah swasta tertentu yang daya dukungnya memadai. Terlepas dari semua itu, gagasan lima hari sekolah selain membangkitkan ekonomi kerakyatan melalui perjalanan wisata keluarga, juga mendorong ekonomi kreatif tumbuh melalui jasa para orangtua yang mampu menginspirasi ke sekolah setelah berwisata ke berbagai objek. Jadi, terbuka pula untuk mengembangkan wisata pemikiran dan gagasan (wisata edukasi) untuk dibagi kepada seluruh warga sekolah. Dengan demikian, hari keluarga berwisata dapat dikembalikan oleh orangtua siswa dengan berbagi cerita dan pengalaman melalui kelas inspiratif dalam tajuk Parenting Class. Inilah implementasi dari Hari Keluarga Nasional yang dirayakan setiap 29 Juni. I Nyoman Tingkat SMAN 1 Kuta Selatan

Kata Hati Rubrik ini khusus untuk menuangkan ide/pemikiran/gagasan dalam bentuk tulisan. Tema terkait wanita dan keluarga serta tidak mengandung unsur SARA. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter. Lampirkan juga foto close up (bukan pasfoto). Cantumkan nama lengkap, profesi, nomor hp, dan alamat email. Naskah dikirim ke redaksi@cybertokoh.com, redaksitokoh@yahoo.com.

Yoga bersama Dian Kania (Markandeya Yoga)

Teknik Pernapasan Yoga untuk Mempersiapkan Menopause Gambar 1 dan 2 Tahap 1  Posisi duduk bersila dan menutup hidung kanan dengan ibu jari. Jari tengah menyentuh kening kemudian merasakan hangat dan cahaya. Jika kita belum bisa merasakannya, bayangkan cahaya matahari masuk melalui ubun-ubun dan cahaya tersebut menyebar ke tulang punggung.   

Bunda Dian

Kelompok Media Bali Post (KMB) siap bersinergi dengan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Hal ini terungkap saat diskusi Kepala Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kawasan Amerika dan Eropa Kementerian Luar Negeri RI Leonard F. Hutabarat, Ph.D. dengan tim KMB di Denpasar, Jumat (6/7). Diskusi diakhiri dengan foto bersama Leonard (pakai batik) dan tim KMB.

I Nyoman Tingkat

lama sepekan di sekolah. Refleksi dapat menjadi masukan bagi pihak sekolah untuk memperbaiki fungsi pelayanan yang kurang dan menguatkan fungsi pelayanan yang berkualitas. Dalam konteks ini, penting untuk selalu mengundang orangtua dengan membuat kelas parenting setelah mereka berwisata dengan anak-anaknya. Kelas parenting berguna bagi seluruh civitas sekolah dan dapat diaplikasikan di keluarga masing-masing sesuai dengan situasi dan kondisi. Kolaborasi dan komunikasi ini dapat membangun kemesraan antara orangtua siswa dengan sekolah demi kemajuan bersama. Kelima, menguatkan pendidikan karakter siswa yang dalam program Nawacita Presiden Jokowi diringkas menjadi lima nilai, yaitu religius, integritas, mandiri, gotong royong, dan nasionalis. Kelima nilai itu mengacu pada kepada sila-sila Pancasila yang perlu terus dibumikan dan diakarkan dalam pembelajaran secara terintegrasi yang selanjutnya dapat disuburkan oleh keluarga dan masyarakat sebagai langkah bersama menjaga ideologi Pancasila

31

Pada saat menopause pada umumnya hormon mengalami fluktuasi, sehingga menimbulkan suasana hati yang tidak menentu. Selain itu juga tulang menjadi lebih rapuh. Dengan melatih teknik pernapasan serta gerakan-gerakan di bawah ini dapat meringankan gejala-gejala menopause.

Tahap 2 Selanjutnya hembuskan napas pelan-pelan dari hidung sambil merasakan hangat di tulang punggung. Lakukan 7 kali penarikan napas dan menghembuskan napas. Begitu sebaliknya lakukan dengan menutup hidung kiri dan tangan kanan letakkan di atas lutut serta lakukan teknik yang sama seperti teknik yang pertama.

4 2

1

Gambar 3 Masih dalam posisi duduk seperti terlihat pada gambar nomor 3 dengan mengangkat kedua tangan naik ke atas. Mulailah rasakan cahaya matahari masuk melalui ubun-ubun menuju ke organ reproduksi (rahim). Rasakan cahaya semakin membesar di area rahim secara perlahan dan tersenyum. Kemudian mulai menarik napas, kembungkan perut alirkan napas di rahim dan hembuskan napas perlahan melalui hidung. Lakukan pernapasan ini 7 kali putaran.

3

Gambar 4 Mengubah posisi duduk yaitu dengan duduk bersimpuh, usahakan pinggul menyentuh tumit. Apabila terasa tidak nyaman, boleh mengambil handuk dan tempatkan handuk diantara tumit dan pinggul. Lanjutkan dengan memanjangkan kedua tangan begitu pula tulang punggung diluruskan. Biarkan diam sejenak dengan posisi ini.  Dengan perasaan nyaman dan tersenyum, mulai menarik napas melalui hidung arahkan napas ke daerah rahim kembali buang napas dari hidung. Lakukan  7 kali putaran. Selamat berlatih dengan senyum Salam Markandeya Yoga Indonesia

Model : Chandra Diah (Markandeya Yoga Indonesia)


Mozaik

32

Edisi 998/ 9 - 15 april 2018

Peredaran narkoba, kasus pornografi dan pornoaksi, serta kekerasan terhadap perempuan dan anak yang marak dewasa ini menjadi perhatian yang serius pemerintah dan masyarakat. Untuk itu, Polda Bali menggelar penyuluhan mengenai bahaya kasus tersebut kepada 1.520 orang yang terdiri dari siswa SMP & SMA, anggota Bhayangkari, Dharma Wanita/PKK, Persit Kartika Chandra Kirana, PIA Ardhya Garini, Jalasnastri, Adhyaksa Dharma Karini, Dharmayukti Karini, Prajurit TNI (AD, AL, AU), anggota Polri, Korps Wanita TNI (AD, AL, AU), Polwan, Karang Taruna, dan Warakawuri di Aston Grand Ballroom, Selasa (3/4).

A

cara juga dihadiri Ibu Negara RI, Iriana Joko Widodo dan istri Wakil Presiden, Mufidah Jusuf Kalla bersama rombongan. Pembicara dalam acara bertema   “Sosialisasi Anti Narkoba, Pornografi, serta Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak Demi Masa Depan Indonesia Gemilang” tersebut adalah dr. Aisyah Dahlan, dan perwakilan dari Ditnarkoba Polda Bali. Dialog secara interaktif juga dilakukan oleh Iriana setelah sesi sosialisasi, dan bagi para peserta yang mengajukan pertanyaan menarik maupun bagi mereka yang berhasil menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Ibu Negara berhak mendapat hadiah diantaranya sepeda dan laptop. Salah satu penerima hadiah sepeda adalah Pijar Candra, siswa SMA Negeri 1 Mengwi. Pijar diminta Iriana pura-pura sebagai teman dekatnya. Skenarionya, Iriana sebagai pecandu narkoba dan Pijar mencoba membujuk Iriana supaya menjauhi narkoba karena merusak masa depan.

tkh/eka

Ibu Negara bersama peserta “Sosialisasi Anti Narkoba, Pornografi, serta Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak Demi Masa Depan Indonesia Gemilang”

Pesan Antinarkoba dari Ibu Negara Tanpa sungkan, Iriana berakting menolak bujukan tersebut. Namun Pijar terus berupaya membujuk dengan gaya ABG-nya.   “Izin Bapak Jokowi bukan bermaksud saya menggoda,” ucap Pijar. Selain itu, Pijar berusaha mengedukasi agar Iriana meninggalkan dunia gelap penyalahgunaan narkoba dan mau menjalani rehabilitasi di Badan Narkotika Nasional (BNN) supaya tidak ketergantungan lagi dengan

obat-obatan terlarang tersebut. Lagilagi, Iriana menolaknya dan membuat Pijar kebingungan. Pijar langsung menanggapi saat Iriana pura-pura menaksirnya. “Iriana jika kamu ingin mengejar cita-cita dan masih ingin menjadi istri dari Bapak Presiden Indonesia, sebaiknya kamu jauhi narkoba. Berkumpul dengan teman-teman yang tidak menggunakan narkoba dan jadi generasi muda yang antinarkoba,” kata Pijar.

OASE Apresiasi Produk Spa Tradisional boreh Bali tersebut menarik perhatian. Hal ini dibuktikan juga dengan dibelinya beberapa produk Bali Tangi tersebut. “Beberapa istri menteri juga sempat merasakan polesan lulur di tangan mereka. Yang paling istimewa ketika Bu JK menanyakan bagaimana usahanya kami bisa berkembang sampai seperti sekarang ini,” ungkap Yuliani. (Sri Ardhini)

Ibu Mufidah JK bersama Ni Made Yuliani Djajanegara

Selain mengikuti sosialisasi di Hotel Aston Denpasar, rombongan OASE Kabinet Kerja berkunjung ke workshop Bali Tangi. Ibu Negara tidak ikut karena harus ke Solo untuk melayat besannya yang meninggal dunia. Di Bali Tangi, Ibu Mufidah JK dan para istri menteri lainnya sangat mengapresiasi produk spa tradisional dan organik yang diproduksi Ni Made Yuliani Djajanegara. Produk berbasis

Ibu Mufidah JK saat berkunjung ke Bali Tangi

INISIASI IBU NEGARA DAN OASE Kapolda Bali  Irjen (Pol) Dr. Petrus Reinhard Golose usai kegiatan tersebut menegaskan, pihaknya memiliki komitmen kuat memberantas peredaran narkoba. Selain itu, video porno melalui jejaring media online juga menjadi prioritas penanganannya karena   membahayakan generasi muda dan masyarakat di Pulau Dewata. Kepolisian juga mendukung upaya edukasi kepada keluarga agar tidak melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Menurutnya program di kepolisian bersama seluruh pemangku kepentingan mendukung kegiatan yang dilakukan Ibu Negara dan istri Wakil Presiden. Irjen Golose  menilai antusiasme ibu-ibu tergabung dalam Organisasi Aksi Solidaritas Era (OASE) Kabinet Kerja ini sangat luar biasa dalam melindungi generasi muda agar tidak terjerumus ke dalam penyalahgunaan barang haram ini, maupun menonton video porno.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada Ibu Negara karena turut membantu kepolisian dalam upaya pencegahan peredaran narkoba, pornografi serta kekerasan terhadap perempuan dan anak  di Pulau Dewata ini. Tuan rumah acara ini adalah Bhayangkari Polda Bali, namun kegiatan ini merupakan inisiasi Ibu Negara Iriana Joko Widodo bersama OASE,” tegas Golose. Lilik Amini, General Manager In-Charge Aston Denpasar Hotel & Convention Center menambahkan bahaya narkoba sudah tidak diragukan lagi, begitupun dengan penyalahgunaannya yang semakin marak di berbagai negara termasuk di Indonesia. “Semoga melalui acara sosialisasi yang dihadiri oleh Ibu Iriana Joko Widodo dan Ibu Mufidah Jusuf Kalla dapat memberikan dan menambah pengetahuan, serta pemahaman bagimana untuk tidak terperosok ke dalamnya, bahkan dapat membantu saudara maupun teman yang tengah menga­laminya,” ungkapnya. (Ngurah Budi/Ngurah Ken) 

redaksi@cybertokoh.com, iklan@cybertokoh.com

cybertokoh

@cybertokoh

@cybertokoh

www.cybertokoh.com

Tokoh Edisi 998 | Tokoh  

Headline : Luh Gede Herryani Pilkada Untuk Semua

Tokoh Edisi 998 | Tokoh  

Headline : Luh Gede Herryani Pilkada Untuk Semua

Advertisement