Page 1

32

Mozaik

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018

Lakukan Hal yang Disukai

Tiap orang pasti mengalami stress dalam hidupnya. Baik itu karena masalah pekerjaan ataupun masalah lainnya. Stres bisa menjadi sesuatu yang positif apabila dires­ pons secara baik, dikelola dengan benar sehingga tidak berkembang menjadi depresi. Ada banyak cara mengatasi stres, diantaranya olahraga dan meditasi.

P

enyanyi jazz, Andien Aisyah, menyebut salah satu caranya mengatasi stres adalah de­ ngan berolahraga. Olahraga membuatnya merasa fresh baik fisik maupun pikirannya. “Dalam kondisi fresh, fisik maupun pikiran, kita bisa lebih baik dalam menghadapi masalah. Lagipula olahraga adalah kegiatan yang aku suka. Makin banyak pekerjaan aku makin sering olahraga, untuk keseimbangan,” ungkap ibu satu anak ini. Bukan hanya olahraga, tambah Andien, ada banyak hal yang dilakukannya agar tidak terlalu stres dengan banyaknya aktivitas yang dijalaninya sehari-hari. “Aku punya banyak aktivitas setiap harinya, kegiatan berbeda-beda. Itu mulai pagi bahkan kadang sampai malam. Mulai dari urus keluarga, anak, olahraga, menyanyi, dll. Banyak kegiatan apalagi berbeda-beda, tentu masalah yang datang pun berbedabeda pula. Stres ya pasti lah, namanya manusia. Jadi ya biasa saja. Juga ada Ippe (suami) yang selalu membantu,” ungkap penembang ‘Let It Be My Way’ ini. Sebenarnya, tambah Andien yang menjadi

a dan pelatihnya

Prilly Latuconsin

brand ambassador produk pewangi dan pelembut pakaian, memberi waktu untuk kesenangan diri sendiri adalah salah satu cara ampuh agar tidak terlalu stres. Hal ini, kadang sering diabaikan orang yang memiliki banyak kesibukan.

“Banyak orang yang terlalu sibuk bekerja sampai mengabaikan untuk kesenangannya sendiri, walaupun hanya sejenak. Padahal ini penting sekali untuk keseimbangan diri, kesehatan rohani dan jasmani. Dari pagi sampai malam orang hanya bekerja, abai pada kesenangannya. Itu bisa membuat orang mudah stress, mudah emosi,” tuturnya. Memahami akan hal itu, dirinya meski disibukkan dengan berbagai aktivitas selalu berusaha meluangkan waktu untuk hal-hal yang menyenangkannya, untuk dinikmati sendiri. “Aku suka fashion dan menikmatinya. Mix and match penampilan, desain, dll. Ngomongin fashion bisa bikin aku betah dan stres pun ‘menguap’,” kata Andien seraya menyebut dia memiliki banyak kesenangan yang tak jarang dilakukannya di sela-sela rutinitas kesibukannya. “Menyenangkan diri meski hanya sebentar tapi itu bermanfaat untuk diri kita,” ujarnya. Prilly Latuconsina, artis yang kariernya sedang naik daun, mengaku kerap mengalami stres. Ini lantaran begitu tingginya kesibukan, baik di dunia entertainment maupun sejumlah bisnis yang ditanganinya. Tapi kata Prilly dia memiliki cara jitu untuk mengatasinya. “Kalau stres atau jenuh, ya karena pekerjaan atau hal lain, aku biasanya olahraga. Kalau masalah makin banyak, ya olahraga makin sering. Rata-rata seminggu tiga kali,” ujar pemeran film Danur: I Can See Ghosts’ ini. Saat banyak tekanan, melakukan hal-hal yang disukai adalah penting agar tidak terlalu

Andien Aisyah

stres. “Melakukan hal yang sama itu-itu saja juga bisa bikin jenuh dan stres lho,” tutur Prilly yang tahun ini lebih berkonsentrasi layar lebar ketimbang sinetron. “Aku sangat suka musik. Jadi kalau lagi stres, kalau sedang nggak olahraga, ya denger musik. Dengar lagu-lagu yang aku suka. Ikutan nyanyi juga untuk melepas stress,” kata Prilly yang film horor terbarunya, ‘Danur 2 Maddah’ bakal tayang di bioskop 29 Maret mendatang. (Diana Runtu)

I Gusti Ayu Purnamawati, S.E., M.Si., Ak.

Bangun Iklim Kerja Menyenangkan Menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan yang positif tentu sangat baik untuk mengisi waktu di usia yang produktif. Kadang orang sering lupa diri bahkan memforsir waktunya dengan berbagai pekerjaan. Tidak jarang juga banyaknya pekerjaan menimbulkan tekanan sehingga menyebabkan stres. Hal tersebut juga disampaikan oleh akademisi Undiksha I Gusti Ayu Purnamawati, S.E., M.Si., Ak. Menurutnya, tuntutan dan tekanan dalam pekerjaaan menjadi faktor utama penyebab stres. Bahkan tekanan juga sering datang dari masalah keluarga maupun interaksi sosial. Stres yang Ayu rasakan tentu akan menyebabkan labilnya emosi sehingga sangat berdampak terhadap keluarga maupun pekerjaan itu sendiri. “Kalau sudah stres, kita pasti ingin melampiaskan emosi sehingga ngajar menjadi tidak mood bahkan melakukan pekerjaan

apapun menjadi tidak ada semangat,” jelasnya. Perempuan kelahiran Mataram 4 November 1979 ini menambahkan untuk menghindari stres dalam pekerjaan dengan memilih misi untuk memotivasi diri sehingga pekerjaan yang dijalani dapat memberikan arti dan manfaat bagi diri sendiri. Dirinya juga menambahkan untuk tidak terlalu tenggelam dalam suatu pekerjaan. Lebih baik fokus mengerjakan satu pekerjaan dengan hasil yang maksimal sehingga kita benar-benar paham tugas dan tanggung jawab. Tekanan pekerjaan biasanya timbul akibat tidak terselesaikannya pekerjaan tepat waktu sehingga pikiran tidak akan fokus dikejar deadline. “Membagi waktu antara urusan pekerjaan dan pribadi dan keluarga sangat penting. Jangan sampai waktu yang seharusnya di rumah digunakan untuk mengerjakan pekerjaan kantor,” jelasnya. Membangun iklim kerja yang menyenangkan dengan terbuka dan berkomunikasi dengan baik sesama rekan kerja juga sangat ampuh untuk menghindari stres. Dengan bersikap terbuka maka akan menciptakan suasana kerja yang nyaman sehingga pekerjaan yang dijalankan menjadi

menyenangkan. Dengan komunikasi yang baik pula maka dirinya lebih mudah mendelegasikan pekerjaan kepada rekan kerja. “Jangan memaksakan diri kalau memang tidak bisa mengerjakan sehingga tidak menjadi beban,” ungkapnya. Perempuan yang saat ini menjabat sebagai Sekretaris Jurusan D3 Akutansi Undiksha Singaraja ini mengatakan stres berawal dari pikiran sehingga sangat perlu mengolahragakan pikiran dengan cara refreshing maupun yoga. Dengan mengikuti kelas yoga, Ayu mengaku lebih dapat menjaga dan mengontrol emosi. “Saya memang rutin mengikuti kelas yoga untuk merilekskan pikiran,” akunya. CIPTAKAN HUBUNGAN KONDUSIF Sementara itu, Ni Ketut Sari Adnyani, S.Pd., M.Hum., yang juga seorang akademisi mengatakan stres akibat pekerjaan merupakan hal yang biasa. Menumpuknya pekerjaan dan tidak selesainya pekerjaan tepat waktu adalah penyebab utama stres. Stres akan sangat mengganggu pikiran dan sangat berdampak pada kesehatan badan. Sebagai tenaga pendidik, dirinya

harus yakin bahwa pekerjaan yang ia jalani merupakan hal yang menyenangkan sehingga berorientasi terhadap perkembangan karier ke depan. Stres yang ia alami kerap kali berawal dari pekerjaan yang tidak dikelola dengan baik. Dengan begitu, dirinya telah terbiasa membuat job description untuk memprioritaskan pekerjaan yang akan lebih dulu dikerjakan. “Secara otomatis kita akan bisa membagi waktu sehingga tidak lelah pikiran dan lelah tenaga,” jelasnya. Perempuan kelahiran Tianyar, 4 Februari 1982 ini mengatakan stres sangat berimplikasi dengan kesehatan sehingga menjaga pola makan menjadi pilihan utama. Membudayakan hidup sehat secara fisik dan psikis juga kerap dilakukan Sari. Selain mengomsumsi makan sehat, dirinya juga selalu melakukan olahraga dan menciptakan pola hubungan kondusif dalam interaksi dengan rekan kerja. “Sebagai seorang tenaga pendidik dapat mengembangkan adaptasi ilmu pengetahuan yang diperoleh terhadap peserta didik dan rekan sejawat merupakan bukti bahwa kita bisa membangun hubungan sosial,” jelasnya. (Wiwin Meliana)

redaksi@cybertokoh.com, iklan@cybertokoh.com

cybertokoh

@cybertokoh

@cybertokoh

www.cybertokoh.com


Espresso

2

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018

Mozaik

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018

PEREMPUAN DAN PENDIDIKAN

GORO-GORO

kasihan

Putra salah seorang tetangga sudah sering aneh kelakuannya arena halusinasi ketahuan mempergunakan akibat pengaruh narkoba, kok orangtuanya Bapak narkoba. Orangtuanya burubersyukur?!” Putu Wijaya buru menemui Amat, minta ajak“Ya! Karena syukurlah orangtuanya yang tahu. petunjuk. Jadi Wayan tinggal dilaporkan ke BNN untuk “Pak Amat, tiba-tiba saja Wayan berlari masuk direhabilitasi! Coba kalau BNN yang tahu duluan, ke rumah, lalu langsung naik ke gudang kami yang Wayan pasti ditangkap dan dipenjara! Paling sedikit tempatnya di atas langit-langit kamar tidur. Dia bisa satu tahun di penjara! Begitu! Syukur kan?!” bilang sedang dikejar-kejar mau dibunuh dan berBu Amat tersenyum dan mengedipkan mata pada teriak menyuruh kami menyembunyikan barang suaminya. Lalu menoleh kepada orangtua Wayan. berharganya yang disembunyikan di bawah kolong “Jadi begitu Bapak dan Bu Ktut. Bersyukurlan tempat tidurnya!” tidak kedahuluan BNN. Sekarang bujuk Wayan “Waktu kami periksa ternyata itu narkoba! Apa supaya ia tidak marah kalau Bapak dan Bu Ktut yang harus kami lakukan?” akan melaporkannya ke BNN.” Amat terkejut. Sama sekali tak menyangka Orangtua Wayan Apik termenung. Mereka Wayan Apik yang kalem, santun dan pinter itu, nampak susah menerima keadaan itu. Maklum bisa kejeblos narkoba. Wayan Apik anak kesayangan  mereka. “Tetapi mau apa lagi kalau sudah begitu keAmat yang semula jengkel karena istrinya, nyataannya?” kata Bu Amat.”Harus berani diseperti tidak mengerti msaalah narkoba, lalu terseterima!” nyum. Ia menghampiri ortu Wayan Apik: “Sekarang apa sebaiknya yang harus kami laku“Saya tahu, kalian berdua pasti tak sampai hati kan, Pak Amat?” melaporkan anak sendiri ke polisi. Karena seorang Amat menjawab dingin. tua yang baik  sehrusnya melindungi anak. Tapi “Ya, bersyukurlah.” narkoba itu jahat dan bahaya sekali. Kalau sayang Orangtua Wayan Apik kaget. Bu Amat langsung sama Wayan, cinta kepada dia, kalau ingin memembentak suaminya: lindungi dia, kalau Bapak dan Bu Ktut betul-betul “Lho, Bapak ini bagaimana sih! Jangan nyeleneh mengasihi putra Bapak dan ibu, Wayan Apik itu, begitu! Ini serius! Orangtuanya panik, bertanya jangan sekali-kali mengasihani dia!” baik-baik. Bapak kok menanggapi ugal-ugalan TIDAK TERBIT begitu?!” “Ugal-ugalan bagaimana?” Terkait dengan Hari Raya Nyepi dan Ngembak “Jangan begitulah jawabannya sama tetangga Geni yang jatuh pada Sabtu (17/3) dan Minggu yang lagi kesusahan. Bapak dan Bu Ktut  ini bin(18/3), Tokoh tidak terbit pada Minggu (18/3). gung, tahu?” Tokoh kembali terbit Minggu (25/3). Kepada Amat bengong lalu bertanya, para pembaca dan relasi, harap maklum. “Lho, Bapak  kan sedang berusaha mengajak mereka, menerima kenyataan dan menahan diri!” “Kok pakai menahan diri segala?” “Habis, kalau  mereka panik. Kami Perusahan Media Massa dengan jangkauan pembaca Kita lkut-ikutan panik, akhirnya di Bali, NTB, Jatim, dan Jakarta mencari semua akan berantakan!” STAF PEMASARAN “Siapa yang nyuruh panik!  Cuma kasihlah pandangan yang Syarat: jernih supaya orangtuanya tahu - Pria/Wanita usia maksimal 35 tahun apa yang harus mereka laku- Penampilan menarik, ramah, dan komunikatif kan.” - Bisa bekerja dalam tim “Makanya Bapak bilang bersyu- Menyukai tantangan kur. Bersyukur artinya, memujikan Kebesaran  Yang Di Atas Situ!” Kirim lamaran lengkap ke: “Memujikan bagamana?” “Memujikan karena diperkeGedung Pers Bali K. Nadha. Lantai III nankan masih bisa bersyukur!” Jalan Kebo Iwa 63A Denpasar “Lho kok bersyukur? Wayan Telepon: (0361) 425373 Apik pecandu narkoba, sekarang

LOWONGAN

bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

31

Peserta Press Tour Pemkab Blitar berkunjung ke Gedung Pers Bali K. Nadha, Rabu (7/3). Mereka menyempatkan melihat ruang kerja Redaksi Tokoh dan foto bersama.

Tokoh melakukan audensi ke Kabag Humas Setda Badung pada Selasa (6/3). Tim Tokoh diterima Kabag Humas Drs Putu Ngurah Thomas Yuniarta, M.Si yang juga menyatakan siap untuk bersinergi untuk publikasi tokoh-tokoh perempuan di Badung.

Selamat hari Perempuan Internasional yang diperingati pada tanggal 8 Maret. Beberapa waktu yang lalu, sempat menjumpai gadis remaja. Saat itu adalah jam sekolah anakanak pada umumnya tetapi tidak dengan gadis ini, ia berjualan buah-buahan di sebuah kios kecil. Ketika ditanya kelas berapa, jawabannya “Baru lulus SD”. Ketika ditanya sekarang sekolah jam berapa, kepalanya menggeleng sambil menjawab “Sudah tidak sekolah, bantu jualan”. Ketika dilanjutkan, apa yang membuat tidak sekolah “Malu minta sekolah lagi, saya perempuan”. Ini mungkin tidak satu-satunya kisah yang masih kita dengar. Terkadang karena tugas domestik yang nanti akan diemban perempuan. Muncul larangan untuk mengeksplorasi diri lebih jauh termasuk dalam pendidikan. Pandangan lainnya yang tak jarang membuat

perempuan enggan melanjutkan sekolah adalah “Jangan sekolah tinggi-tinggi nanti tidak ada lakilaki yang mau”, pernah mendengarnya?. Atau yang ini “Buat apa sekolah tinggi, besok juga masuk dapur...”, iya kah? Perempuan punya peranan dalam kehidupan, tidak hanya dalam keluarga tetapi juga masyarakat. Karena peranan itulah, bukankah pendidikan baik secara formal maupun informal menjadi penting untuk perempuan? Pendidikan dan kepercayaan diri. Serangkaian penelitian menunjukkan bahwa perempuan yang memiliki jenjang pendidikan yang baik secara tidak langsung berkaitan dengan kepercayaan diri yang juga baik. Misalnya saja, pendidikan yang baik dapat membantu perempuan menjadi lebih mandiri secara ekonomi serta mampu membantu perekonomian keluarga. Selain itu, pendidikan yang baik juga mendukung kes-

Ketut Netra, S.H.,M.Kn

Made Padma Dewi Bajirani

ejahteraan hidup yang lebih baik selain faktor keluarga. Hal ini menggambarkan bahwa dengan pendidikan, perempuan akan merasa lebih berharga untuk diri dan lingkungannya. Tidak hanya itu, pendidikan yang memadai berkaitan dengan

peningkatan kesadaran dan kualitas kesehatan pada perempuan. Kesehatan yang dimaksud mencakup kesehatan secara mental maupun fisik. Salah satu contohnya adalah pendidikan yang layak akan menambah pengetahuan perempuan tentang pentingnya kesehatan, menjaga pola hidup yang sehat, mengenal dan mengindari faktor-faktor yang berisiko terhadap masalah kesehatan, menjaga keseimbangan kesehatan mental, dan termasuk juga penerapan pola asuh pada anak-anak. Ketika kesadaran tersebut mulai diterapkan dalam kehidupan sehari-hari maka akan berdampak pada peningkatan kualitas kesehatan perempuan,

keluarga, dan komunitas. Pendidikan pada perempuan sebagai bekal masa depan. Pendidikan adalah bagian dari ilmu yang dapat menjadi pegangan kuat untuk perempuan menghadapi tantangan di masa depan. Akses pendidikan pada perempuan yang semakin terbuka dapat memberikan manfaat bagi perempuan dan keluarganya kelak. Pendidikan yang baik dapat memfasilitasi perempuan dalam menyalurkan pendapatnya di lingkungan dengan harapan dapat memberikan pengaruh positif bagi sekelilingnya. Made Padma Dewi Bajirani

Kata Hati Rubrik ini khusus untuk menuangkan ide/pemikiran/gagasan dalam bentuk tulisan. Tema terkait wanita dan keluarga serta tidak mengandung unsur SARA. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter. Lampirkan juga foto close up (bukan pasfoto). Cantumkan nama lengkap, profesi, nomor hp, dan alamat email. Naskah dikirim ke redaksi@cybertokoh.com, redaksitokoh@yahoo.com.

Yoga bersama Dian Kania (Markandeya Yoga) Memperhatikan wajah Koran Tokoh edisi yang terakhir, 5–11 Maret 2018, tampaknya ada sesuatu yang baru, yaitu format atau ukuran koran yang nyaris segi empat sama sisi. Pertanyaan saya, apakah hal itu masih bisa dikatakan koran atau tabloid atau nama lain barangkali ... ? Yang jelas, tampilan yang terakhir ini lebih seksi dibanding sebelumnya. Satu lagi, saya sebagai pembaca yang sejak dulu mengikuti isi ataupun sajian-sajian Tokoh, kalau boleh saya usulkan, dalam setiap tulisan (reportase, telaah pustaka, liputan, maupun opini), hendaknya dicantumkan profil/data singkat tentang orang yang menjadi objek tulisan tersebut. Dengan demikian, tulisan yang tersaji akan menjadi semakin komprehensif dan pembacapun senang dibuatnya.

Bunda Dian

Teknik Pernapasan untuk Penderita Diabetes Militus

Romi Sudhita Jln. Srikandi, Singaraja Terima kasih banyak atas perhatian dan usulan Bapak Romi Sudhita. Kami sangat mengapresiasi perhatian Bapak dan menjadikan ini masukan positif. Mengenai format, sampai saat ini Tokoh masih dalam format tabloid mingguan. Namun, kertas yang digunakan ukurannya mengecil menyesuaikan dengan ketersediaan kertas di pasaran.

Penanggung Jawab/Pemimpin Redaksi: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Iklan Denpasar: IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti, Sagung ­Inten. Buleleng: Wiwin Meliana. Jakarta: Diana Runtu. NTB: Naniek Dwi Surahmi. Desain Grafis: IDN Alit ­Budi­artha, ­I Made Ary ­Supratman. Manajer Sirkulasi dan Iklan: I Ketut Budiarta, Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama, Ayu Wika Yuliani. Se­kretariat: Ayu ­Agustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Ombudsman: Jimmy Silalahi. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­D enpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­merah ­Barat 21 G Jakarta Pusat 10270–Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­­Faksi­mile (031) 5675240. Surat Elektronik: info@cybertokoh.com, redaksi@cybertokoh.com, iklan@cybertokoh.com. Bank: BRI ­Cabang ­Gajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

Peraga: Ni Komang Sukerni

Gambar ke - 1 Teknik mengepalkan tangan yang harus diketahui untuk terapi diabetes militus Yaitu: posisi duduk bersimpuh, kemudian konsentrasikan kedua ibu jari ditekuk dan ditempel ke telapak tangan

Gambar ke - 2 Sikap masih duduk bersimpuh, kemudian tekuk ke- 4 jari tangan menekan ibu jari

Gambar ke - 3 Meletakkan ke -2 kepalan tangan di bawah perut. Kemudian menekan ke rongga pinggul. Sedangkan kepalan tangan mendorong ke atas sehingga terasa organ perut naik.

Gambar ke - 4 Menurunkan badan ke depan kening menyentuh matras. Bagi pemula biasanya belum bisa menyentuh matras, maka dapat melakukan posisi semampunya.  Reaksi yang dirasakan pada saat melakukan teknik pernapasan ini akan sedikit terasa kurang nyaman. Namun, sangat membantu dalam meningkatkan fungsi pancreas.  Teknik pernapasan ini disarankan dilakukan sebanyak 21 kali, yakni menarik dan menghembuskan napas  Catatan:  Lakukan pernapasan menarik napas melalui hidung dan hembuskan melalui hidung juga  Selamat berlatih, Semoga bermanfaat.


Rileks

30 Pertanyaan TTS No. 002 MENDATAR: 4. Ukuran suhu 8. Tingkatan kedua 10. Lari 42,195 Km 12. Ilham 14. Nikah 18. Calon pastor 20. Rapi 21. Tidak berpihak 23. Tempat parkir pesawat 26. Biaya 28. Negara di Eropa 29. Tidak tidur 32. Penyesuaian 35. Diskon 36. Pramuka 37. Tapal kuda 38. Kerudung 39. Hamil 40. Arena

MENURUN: 1. Pace 2. Seni tiruan yang jenaka 3. Alat musik tiup 5. Tempat pemberhentian bus 6. Hari raya Budha 7. Juru masak 9. Kakek 11. Empat 13. Bangsawan 15. Pemotongan 16. Pangkat kemiliteran 17. Cepat 19. Bagian mata 22. Petir 24. Perkataan suci 25. Seni merangkai bunga ala Jepang 26. Alat pemutar sekrup 27. Busur 30. Penjaga hutan 31. Berat sebelah 33. Suku di Kalimantan 34. Gila

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018

TTS tokoh

Dayu Nanda

KETENTUAN MENJAWAB Jawaban ditulis di kertas dan masukkan dalam amplop atau ditulis di kartu pos. Tempelkan guntingan kupon TTS No 001 serta identitas lengkap (nama, alamat, no HP). Kirim ke Redaksi Tokoh, Gedung Pers Bali K. Nadha lantai III, Jln. Kebo Iwa no 63 A Denpasar, paling lambat Kamis 22 Maret 2018. Pemenang diumumkan Minggu 1 April 2018. Tersedia dua hadiah voucer belanja senilai @Rp 100.000 dari Cellular World untuk dua orang pemenang. Pemenang agar ­mengambil hadiah ke Kantor Redaksi Tokoh setiap hari kerja dengan membawa identitas diri (KTP/SIM)

Hillary Clinton Nama Hillary Diane Rodham Clinton popular ketika ia menjadi Ibu Negara Amerika Serikat periode 1993-2001. Hillary yang pengacara ini mendampingi suaminya Bill Clin­ ton sebagai Presiden AS ke-42. Kasus kontroversial yang menimpa suaminya di penghujung masa jabatan membuat Hillary tegar dan tetap disampingi Bill Clinton.

K

iprah perempuan kelahiran 26 Ok­ tober 1947 ini lebih banyak di bi­ dang hukum. Alumnus Sekolah

Hukum Yale ini tercatat sebagai rekan wanita pertama di Firma Hukum Rose dan dua kali masuk dalam daftar 100 pengacara paling berpengaruh di Amerika

Dayu Nanda bersama suami dan putranya

Akuntan Publik Wanita Termuda Kupon TTS tokoh No. 002

tokoh dunia

Sosialita

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018

Serikat. Ia mulai aktif dalam berbagai organisasi kemanu­ siaan ketika suaminya menjadi Gubernur Arkansas. Usai menjadi Ibu Negara, Hillary terpilih sebagai Sena­ tor Negara Bagian New York. Ia menjadi mantan Ibu Negara AS pertama yang memenangi pemilihan Senat. Ia kemudian ikut bertarung di Konvensi Partai Demokrat untuk menjadi calon Presiden AS. Setelah per­ jalanan panjang, akhir­ nya Barack Obama yang terpilih seba­ gai Presiden dan Hillary ditugaskan sebagai Menteri Luar Negeri. Usai menjalan­

kan tugas sebagai Menteri Luar Negeri, aktivitas politik Hillary berlanjut ketika ia mencalonkan diri lagi dalam Konvensi Partai Demokrat. Melalui persaingan yang sengit, Hillary berhasil menjadi calon Presiden AS dari Partai Demokrat dan berhadap­ an dengan Donald Trump dari Partai Republik dalam Pilres AS tahun 2016. Ibu dari Chelsea Clinton ini gagal dalam pemilihan Presiden AS pada 8 November 2016. Ia pun menerima kekalahan tersebut dan mengakui rasa sakit dari kekalahannya itu. Kepada pendukungnya, diminta untuk menerima Trump sebagai Presiden AS ke-45. (Wikipedia)

Melakoni sesuatu yang sudah dikenal sejak kecil memudahkan orang meraih kesuksesan. Kesuksesan juga dihasilkan dari perjuangan untuk terus belajar dan mengatasi tantangan. Hal inilah yang dialami Ida Ayu Budhananda Munidewi, SE., Ak.,MSA.,CA.,CPA, pendiri Kantor Akuntan Publik (KAP) Budhananda Munidewi.

P

erempuan yang akrab disapa Dayu Nanda ini menuturkan sejak kecil sudah bercita-cita menjadi akuntan. “Orangtua terutama Ajik sangat berperan dalam mengenalkan saya dunia akuntansi. Lingkungan juga menjadikan saya sangat dekat dengan dunia akuntansi. Saat SMA, sempat berpikir untuk mengubah cita-cita menjadi arsitek atau desain interior, ternyata ujungujungnya saya memilih akuntansi,” ujar alumnus Jurusan Akuntansi FE Unud tahun 2011 ini. Lulus kuliah, putri pasangan Dr. Ida Bagus Teddy Prianthara, SE.,M.Si., Ak.,CA.,CPA dan IGA Wirati Adriati ,SE.,MM, ini mengikuti Pendidikan Profesi Akuntansi dan S2 Akuntansi di Universitas Brawijaya, Malang. Tahun 2014, ia pun berhak menyandang gelar Master Sains Akuntansi. Tak berhenti sampai di situ. Dayu Nanda lalu mengikuti short course CPA review di Pusat Pengembangan Akun­ tansi (PPA) FEB Universitas Indonesia selama empat bulan. Ia juga bergabung dengan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dan tersertifikasi sebagai Char­ tered ­Accountant (CA) dan Akuntan

Beregister Negara dengan Nomor 2495. “Setelah mengikuti tiga kali ujian akhirnya saya lulus dan mendapat gelar Certified Public Accountant (CPA) ta­ hun 2015. Waktu itu belum boleh buka kantor sendiri. Proses selanjutnya, saya mendaftar ke Kementerian Keuangan untuk menjadi Akuntan Publik Beregis­ ter Negara. Akhirnya April 2016 semua

persyaratan terpenuhi, saya boleh membuka kantor sendiri dan memberi layanan audit dan akuntansi,” jelas su­ lung dari empat bersaudara ini. Menekuni dunia akuntansi membuat perempuan kelahiran 15 Januari 1990 ini menemukan banyak hal. Menurut­ nya masyarakat masih ada yang kurang sadar pentingnya pencatatan keuangan. Laporan keuangan dianggap hanya diperlukan kalau mencari kredit di bank atau ikut tender. “Pencatatan itu tidak tergantung besar atau kecilnya perusahaan atau be­ sar kecilnya pendapatan. Semua harus dicatat karena berkaitan dengan ke­ sinambungan perusahaan. Kadang ada perusahaan yang didirikan berdasarkan kepercayaan namun tidak membuat laporan keuangan yang tercatat. Ke­ tika muncul masalah di kemudian hari, barulah sibuk. Karena itulah kami hadir untuk ikut mengedukasi masyarakat agar tertib pembukuan,” tegas istri dari IB Gde Mahadiptha Bramantha Maharddika, SH.,M.Kn dan ibu dari IB Gde Mahasena Gyan Pradiptha ini. Sebagai KAP, pihaknya sering mena­ ngani kasus keuangan yang bermasalah. Audit kasus ini bahkan sampai berlanjut ke pengadilan. Akuntan publik menjadi

3

Kunjungan dari PPPK Kementerian Keuangan ke KAP Budhananda Munidewi

saksi fakta untuk menjelaskan apa pe­ nyebab terjadinya masalah di laporan keuangan yang dipicu penyalahgunaan wewenang dan indikasi kecurangan. SENI MENGHITUNG DAN MENCATAT Suka dan duka pun dialami Dayu Nanda menjadi akuntan publik wanita

Saat hut kantor dengan tim auditor

Sharing untuk Refreshing Pekerjaan apapun yang dilakoni secara terus menerus, bisa men­ imbulkan kejenuhan. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi kejenuhan. Bagi Ida Ayu Budhananda Munidewi, SE., Ak.,MSA.,CA.,CPA,

solusinya adalah nonton film di bioskop dan jalan-jalan di pantai. “Saya selalu meluangkan waktu di akhir pekan untuk keluarga. Ada tiga prioritas dalam hidup saya, keseha­ tan, keluarga, dan karier. Saya selalu berusaha mengatur waktu agar tiga hal tersebut mendapat perhatian,” ungkap Dayu Nanda. Ia juga punya kiat khusus untuk menjaga kualitas auditornya. “Kami punya program Learning and Development. Kami mengundang teman yang berpengalaman untuk diajak sharing. Bagi kami, kerja tidak hanya berori­ entasi pada uang tetapi bagaimana kita bisa berkarya. Sharing untuk refreshing ini sangat membantu kami,”

Sharing di KAP Budhananda Munidewi

ujar pendiri KAP Budhananda Munide­ wi yang mengawali kariernya sebagai auditor junior di KAP Ngurah Arya dan Rekan lalu menjadi Supervisor Audit untuk KAP Sodikin Harijanto. Dayu Nanda juga mengajar di FE Universitas Mahasaraswati Denpasar. Ia memanfaatkan kesempatan menga­ jar untuk sharing pengalaman dengan mahasiswa. Tujuannya, menggaet kaum muda untuk terjun ke bidang akuntansi sebagai penyedia jasa pro­ fesional. “Semoga saya bisa mengin­ spirasi kaum muda untuk menekuni bidang audit dan akuntansi,” harap Akuntan Publik dengan izin AP No 1231 ini dan berkantor di Griya Graha Jln. Tukad Irawadi 18A Lantai 2 dan 3 Panjer, Denpasar ini. -wah

dan termuda di Bali ini. “Pekerjaan ini memiliki banyak tantangan namun saya menyukainya. Saya bekerja dengan berbagai karakteristik orang. Intinya harus sabar dan tenang dalam melayani mereka. Saya pun jadi banyak belajar,” ujarnya. Karena KAP miliknya sendiri, Dayu Nanda bisa mengeksplor diri. Standard Operation Procedure (SOP) ia rancang sendiri agar timnya yang terdiri dari delapan auditor bisa bekerja mak­ simal. Pengelolaan kantor pun dise­ suaikan dengan gaya kekinian tapi sesuai batasan. “Saya juga selalu meng­ ingatkan tim tentang profesi akuntan. Suatu saat harus bisa berkembang dan membuka peluang kerja untuk yang lain. Dasarnya adalah mencintai akuntansi, seni menghitung dan men­ catat,” ungkap Bendahara Korwil IAPI Bali Nusra ini. Menjadi akuntan publik yang memi­ liki jaringan luas, ilmu yang dipelajari tak hanya akuntansi. Ilmu lain seperti hukum, psikologi, manajemen SDM dan kantor pun harus dikuasai. Ber­ sama tim yang relatif masih muda, Dayu Nanda tak mau terlalu mendikte mereka. Ia hanya memberikan penga­ rahan saja. “Dukanya kalau harus lembur, wak­ tu dengan keluarga berkurang. Tetapi, karena keluarga sudah paham dengan profesi saya, jadi tidak masalah. Selain itu, kadang klien tidak menghargai au­ ditor. Seharusnya auditor diposisikan sebagai partner bukan disuruh-suruh. Ada juga yang diberi saran tapi tidak diikuti. Ada masalah baru datang lagi. Memang pelanggan adalah raja tapi ada batasan yang harus kita hormati,” ujarnya tentang duka menjadi akuntan publik. Ke depannya, Dayu Nanda meng­ akui ada tantangan yang dihadapi KAP yakni masuknya auditor luar negeri. Kadang ada kesan yang dari luar negeri dianggap lebih berkualitas, padahal yang lokal juga banyak yang berkuali­ tas. Pemerintah tentu harus membuat aturan yang tegas. Adanya UU nomor 5 Tahun 2011 tentang Akuntan Publik bisa menjadi acuan. Dari sisi auditor, juga harus terus meningkatkan kemampuan. “Kami juga berharap masyarakat lebih sadar dengan profesi akuntan publik. Jadikan akuntan publik partner menyusun laporan keuangan yang standar. Audit bukan hanya untuk cari kredit atau tender. Yang terpenting bagaimana perusahaan bisa berkesinambungan,” tegasnya. -wah


4

Kreasi

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018

Rangkaian Cantik dengan Bunga Lokal

Keinginan agar anak memiliki kepribadian dan bertingkah laku baik adalah impian kebanyakan orangtua. Keinginan ataupun impian itu bisa jadi hanyalah sebatas mimpi jika orangtua tidak bisa memberi dan menjadi teladan bagi anak. Karena teladan adalah bagian sangat­penting­ dalam proses pendidikan anak. Teladan orangtua juga orang di lingkungan terdekat anak akan mempengaruhi perkembangan kepribadian anak.

Kreativitas terhadap bunga yang ada di sekitar pekarangan, ternyata mampu menampilkan rangkaian yang apik. Seperti yang ditampilkan dalam acara “Pelatihan Merangkai Bunga Lokal” yang diselenggarakan Dinas Pertanian Kota Denpasar dengan menghadirkan perangkai bunga profesional Teresia Maria Inneke Turangan, AIFD didampingi Amik dari Bali Sekar. Berikut beberapa hasil rangkaian sederhana namun menarik.

Inneke dan Amik

Rangkaian 1 Berwadah kap lampu tinggi dari bambu ini, sangat sesuai diletakkan di sudut atau meja konsul. Ada paduan lontar warna ungu dan fuschia di antara bunga jengger ayam warna senada serta anthurium pink untuk aksen megah dan daun palem kipas.

Rangkaian 2 Model paralel segi yang sederhana ini, serasi dengan bunga seperti pisangpisangan obor, spectabilies warna oranye, merah dan hijau. Bagian bawah diberi bunga gerbera yang dipotong pendek. Ada juga lontar warna natural untuk kesan etnik dari wadah bokor persegi dan variasi janur bentuk sriti.

Rangkaian 3 Kap lampu bambu bulat diletakkan di atas dulang dengan bagian tengah ditancapkan bunga gerbera oranye dan sebagai pelengkap rangkaian ditancapkan heliconia pagar beberapa tangkai.

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018

Rangkaian 4 Di sini memakai penutup lampu anyaman bambu yang cukup besar diberi hiasan ranting di atasnya. Di tengahnya ditancapkan bunga gerbera pink dan salem secara melingkar bulat. Rangkaian ini bisa diletakkan di sudut atau tengah meja buffet.

H

al itu disadari betul oleh Mona Ratuliu dan Titi Kamal, dua artis yang sangat konsen pada masalah pendidikan anak-anaknya. Menurut Mona, mendidik anak terbaik adalah dengan memberi teladan kepada anak. Orangtua melakukan halhal nyata (teladan) yang kemudian ditiru oleh anak. Tapi, katanya, dia sebagai orangtua tidak serta-merta mendapat ‘ilmu’ itu. Bahkan dulu, dia sempat merasa salah dalam mendidik anak. “Aku kan dulu menikah muda, umur 20 tahun. Ketika itu aku nggak tahu apaapa bagaimana cara mendidik anak yang benar. Menjadi orangtua kan nggak ada sekolahnya. Jadi dulu aku berpikir ya mengalir saja. Ternyata salah,” ungkap Mona yang namanya melejit di dunia hiburan berkat penampilannya dalam sinetron ‘Pelangi di Matamu’. Dirinya baru menyadari telah salah dalam mendidik anak ketika Mima-Davina Shava Felisa (15)—anak sulungnya berusia enam tahun. “Ketika itu aku bertengkar hebat dengan Mima yang waktu itu masih umur 6 tahun. Aku sempat deg ketika Mima bilang, ‘Aku nggak suka punya Ibu kayak Bunda’. Dia bilang, nggak suka tinggal di rumah ini. Aku shock, kaget, Mima sampai ngomong begitu dengan marah,” kata

Sudut Pandang

Jadilah Contoh yang Baik dll. “Aku berusaha memperbaiki diri aku, menjadi ibu yang baik,” ungkap pendiri web ParenThink ini. Untuk menjadi orangtua yang baik memerlukan proses. Perubahan dirinya dalam mengasuh dan mendidik anak, secara perlahan mengubah sikap Mima yang berkembang menjadi baik. Dari proses jugalah Mona menyadari untuk mendidik anak dengan baik, orangtua jangan gemar memerintah. Yang paling efektif adalah menjadi contoh yang baik, teladan yang baik bagi anak. Apalagi, anak suka meniru halMona Ratuliu dan keluarga hal yang ada di lingkungannya, termasuk Mona mengenang pengalamannya perilaku orangtua. “Jadi bagaimana agar mengasuh anak. anak meniru hal-hal positif ya kita seKejadian itu, kata Mona yang kini bagai orangtua harus memberi teladan aktif memberi seminar parenting, mem- tentang hal-hal positif. Misalnya, tidak buat dirinya introspeksi tentang apa suka marah-marah, tidak mudah meng­ yang terjadi, bagaimana dia menjalani hukum anak, membuang sampah pada perannya sebagai ibu dalam mengasuh tempatnya, dll. Ketika kita memberi anak, bagaimana dia menerapkan pola teladan, maka anak pun akan meniru,” asuh anak. tuturnya. “Aku pernah lho merasa sebagai “Aku menempatkan diri bukan ibu yang gagal, nggak becus mendidik hanya sebagai Bunda mereka tapi juga anak. Mungkin karena aku suka marah- sahabat yang selalu siap menerima marah pada anak, nyubit anak, dll, itulah curhat anak-anaknya. Bagi aku quality kenapa dulu Mima jadi seperti itu,” time lebih penting daripada selalu bertambahnya. sama tapi kurang komunikasi dari hati Dari kejadian itu, ia pun mulai aktif ke hati,” tegasnya. Sebagai orangtua, tanya sana-sini tentang pola pengasuhan meski anak sudah remaja tetap harus anak, bagaimana mendidik anak secara konsisten menjaga sikap, selalu membenar,dll. Mona mencari buku parent- beri teladan. Aku yakin itu semua akan ing, hadir di seminar-seminar, diskusi, sangat berpengaruh positif pada anak,”

Cintai Diri Sepenuhnya

Rangkaian ke 5 Wadahnya terbuat dari lontar warna natural dibuat melingkar. Kemudian ditancapkan daun asparagus bintang, bunga salidago, gerbera warna kuning dan sedikit kamboja putih–kuning. Bagian luarnya diberi sentuhan etnik janur bentuk kipas.

Rangkaian 6 Bunga modern yang dimonopo­li­garis paralel. Perbedaan warna menjadi dinamikanya. Ada juga janur di antara bunga anthurium putih.

Rangkaian 7 Menggunakan teknik floating ini, anyaman bambu kap lampu ukuran sedang dengan posisi terbalik yang dihiasi bunga pisang-pisangan heliconia tegak dan daun kadaka. Juga ditusukkan dedaunan beserta bunga gerber nerzh untuk menambah dimensi rangkaiannya. (Sri Ardhini)

29

Lagu Mariah Carey yang berjudul ‘The Greatest Love of All’ menjadi salam dari seorang wanita bernama Ni Nyoman Tripitasih, S.Pd., Marketing Director Awi Tour, Bali saat ditemui Tokoh pekan lalu di kantornya di Kawasan Pertokoan Grand Sudirman, Denpasar. Tri begitu panggilannya mengatakan ‘The Greatest Love of All’ itu adalah bagaimana seseorang dalam hal ini seorang anak bisa menghargai dirinya, mencintai dirinya sebelum mencintai orang lain. “Salah satu tujuan kita lahir adalah untuk mengetahui keunikan masing-masing. Keunikan ini menjadi prioritas, dan tanggung jawab setiap anak. Kita sebagai orangtua bertugas memelihara, mementori dan menjaganya. Menanamkan dengan bahagia agar mereka bangga dengan keunikannya ,” ujar ibu dari Leo (21) dan Lia (20) ini.

ujar ibu tiga anak ini, Davina (15), Barata Rahadian Nezar (9) dan Syanala Kania Salsabila (6). AJARKAN KEDISIPLINAN Bicara tentang orangtua harus menjadi teladan anak juga diamini oleh Titi Kamal. Menikah saat usianya 28 tahun dan baru memiliki anak empat tahun kemudian (32 tahun) membuatnya relatif lebih siap ketika menjadi seorang ibu. “Pola mendidik anak aku diskusikan dengan Tian (Christian Sugiono). Dengan begitu jadi kompak, bukan ayahnya kemana (mendidik) ibu kemana. Tapi sama,” ucap Titi yang Desember lalu melahirkan anak keduanya, Kai Attar Sugiono. Juna— Arjuna Zayan Sugiono (4,4 tahun)— tutur Titi

berkembang ­dengan baik dan sesuai usianya maka dia banyak meniru hal-hal yang terjadi di sekelilingnya. Itu juga yang membuat Titi maupun Tian hati-hati dalam bersikap dan berkata-kata.

Ketika prioritas ini terpenuhi, dirinya tidak ingin menjadi orangtua yang otoriter. Ia siap memberikan ruang bagi anak untuk bertumbuh sesuai keunikannya. Mengingat zaman yang berbeda, Tri juga tahu diri jika ingin memberitahukan sesuatu pada sang anak. “Selalu ada kata awal, ketika mama,…tanpa ada kalimat yang memaksakan kehendak,” cetusnya. Ia juga menekankan pemahaman ini yang harus ada di setiap ibu di samping banyak berdoa. Menurut istri Drs. Nyoman Kandia, M.Ag atau yang dikenal dengan Mangku Kandia ini, hubungan dengan anak adalah ‘the real unconditional love’ kita di dunia. Secara fisik sejak di dalam perut sudah ada ikatan. Ini juga yang memudahkan seoran g ibu mendeteksi keunikan kemudian membimbing mereka agar dapat menghidupkan the beauty inside/inner beauty/inner power-nya. Sebagai orangtua, Tri mengaku harus tahu diri tidak semua hal yang kita sampaikan cocok di eranya anakanak. Kadangkala orangtua sering tidak tahu kalau si anak sebenarnya sudah tahu lebih dahulu. “Bahkan ada hal tertentu, kita belajar dari anak. Seperti soal ide yang bagus. Kenapa tidak, jika kita pakai. Kita tidak perlu gengsi,” ucapnya. Masih bicara tugas seorang ibu, Tri kembali menekankan kalau dalam kesehariannya telah berupaya berpikir, berkata dan berbuat yang baik. Baginya, jika

Titi Kamal

“Misalnya aku dan Tian sangat menjaga tingkah laku dan ucapan utamanya ketika berada dekat dengan Juna. Kita orangtua kan harus menjadi teladan anak. Anak seusia Juna mudah sekali meniru,” tutur Titi. Menjadi orangtua bukan hanya mengajarkan dengan kata-kata tapi utamanya adalah menjadi contoh bagi anak. Teladan juga ketika mengajarkan anak tidak membuang sampah sembarangan, orangtua pun berprilaku seperti itu. Artinya, ketika kita mengajarkan anak ini dan itu, maka orangtua pun harus melakukan hal serupa. Selain itu, dirinya juga mengajarkan tentang kedisiplinan dan tidak terlalu memanjakan anak. Ini bukan berarti tidak sayang anak. Sebaliknya justru berguna bagi anak. “Misalnya soal makan, aku mengajarkan anak kalau makan harus duduk manis, tidak boleh sambil lari-

lari. Itu sudah aku biasakan sejak Juna masih kecil dan hasilnya baik. Aku nggak pernah repot saat Juna makan,” tuturnya. (Diana Runtu)

upaya baik telah dilakukan, maka anak akan menye­ rapnya dan merekam semua di memorinya. Nantinya ia akan belajar dengan caranya sendiri, menjadi dirinya sendiri hanya ibunya sebagai inspirasinya. Sambil menebar cinta kasih, katanya ia bakal terus mendampingi dan menjaga utamanya saat anak bermasalah. Orangtua tidak berhak menjadikan anak miliknya apalagi mengikuti kemauannya menjadi seperti orangtuanya. Esensi ibu bagi Tri adalah memelihara tanpa menjadikan anak sebagai peliharaan. “Hal lain yang selalu saya sampaikan pada anak, cinta di dunia ini telah terdistorsi oleh kepentingan berbagai hal. Maka perlu hati-hati mencintai orang lain. Jangan memberi cinta 100% agar tidak kecewa. Tapi, cintai diri sepenuhnya. Ketika, kita sudah mencintai diri kita, apapun yang dilakukan baik menjadi sukses atau gagal kita akan tetap kokoh dan gigih,” tuturnya Dalam setiap kebersamaann, Tri menyatakan ia lebih banyak mendengar, toh dirinya sudah biasa banyak yang mendengarkan. Kini saatnya ia memberikan panggung sang anak untuk bicara, menyampaikan semua yang ada di kepalanya tanpa khawatir. Jika si anak merasa nyaman dan sudah matang, maka ia akan memiliki cinta yang cukup untuk dirinya dan mampu memberi cinta ke orang lain di sekitarnya. (Sri Ardhini)


Sudut Pandang

28 Setiap tanggal 8 Maret di­per­­ i­ngati sebagai hari Perempuan Internasional. Indonesia rutin memperingati acara tersebut dengan digelar berbagai aksi dan diskusi. Sementara, kasus ke­ke­ rasan seksual terhadap perempuan makin meningkat. Apa yang sedang terjadi? Demikian yang tergambar dalam peringatan Hari Perempuan Internasional yang digelar Aliansi Perempuan Peduli dan Anak terdiri dari Bali Sruti, LBH Apik Bali, LBH Bali, LAB, dan LPA di Wantilan DPRD Bali, Kamis( 8/3).

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018

Isu Perempuan Dianggap “Pinggiran”

fisik, psikis, seksual dan ancaman tertentu. Dengan adanya UU Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan, mulai banyak korban yang melapor. Tahun 2017 tercatat 347.469 kasus kekerasan terhadap perempuan. “Data itu adalah kasus yang mengadukan. Bagaimana dengan yang tidak mengadukan pasti jumlahnya lebih besar. Karena korban yang berani melapor, harus siap secara mental dan sosial. Apalagi, dengan adanya stigma dia dipersalahkan tercara yang dibuka anggota masuk tekanan dari pelaku,” ujarnya. Komisi IV DPRD Provinsi Angka kekerasan seksual terhadap Bali Utami Dwi Suryadi perempuan di tahun 2011 tercatat, seini, menghadirkan nara- tiap hari sebanyak 35 perempuan yang sumber dari Komnas perempuan, mengalami kekerasan seksual. Artinya, Masruchah; Ketua LSM Bali Sruti Luh tiap dua jam ada tiga perempuan meng­ Riniti Rahayu; dan Komisioner KPU Bali alami kekerasan seksual. Widhiartini. Masruchah menambahkan, tahun Menurut Masruchah, sejak tahun 2015-2016 kasus kekerasan seksual 2000 dengan tercetusnya deklarasi yang dilakukan berkelompok menjadi terhadap perempuan, yang dimaksud paling menghebohkan dengan mundengan kekerasan terhadap perempuan culnya banyak kasus di media, dan mencakup, segala tindakan kekerasan menjadi isu nasional. Sementara, yang tidak muncul di media, mungkin jumlahnya lebih banyak. Bahkan, kasus ke­ kerasan seksual ini juga dialami para penyandang disabilitas, seperti pelecehan seksual, aborsi paksa jika terjadi pemerkosaan, termasuk pemaksaan pemakai­ an alat kontra­s epsi. Menurutnya, negara perlu melakukan upaya khusus tidak saja soal quota 30% Masruchah Gede Bagus

5

Gusti Anindya Hayuningtyas

Backpacking Ajarkan Kemandirian Berwisata selalu menjadi tren. Berwisata tak mengenal umur dan status serta bisa menjadi hobi siapa saja. Ditempat wisata pasti ada saja kita lihat pengunjung dengan tas punggung berukuran besar. Mereka para traveler yang dikenal dengan sebutan backpacker.

A

Acara peringatan Hari Perempuan dihadiri sekitar 300 orang yang dibuka Anggota Komisi IV DPRD Bali Utami Dwi Suryadi perempuan dalam politik, tapi juga upaya sebagai hak konstitusional semua warga negara. KAMPANYE LEWAT MUSIK Ia juga menilai, kekerasan terhadap perempuan juga masuk dalam ranah politik, khususnya diskriminasi. Masruchah mencermati, fenomena pilkada DKI, bisa saja diadopsi daerah lain, karena kadang-kadang politik identitas dilakukan untuk memenangkan calon tertentu. Fenomena ini luar biasa di berbagai daerah. Pihak yang berkompeten, seperti KPU, Bawaslu, masyarakat sipil, dan para pemantau, harus tegas, yang berkaitan dengan diskriminasi dan isu SARA jangan sampai muncul.

Bebaskan Anak Tentukan Masa Depan Orangtua memiliki peran yang sangat sentral dalam mendidik anak. Mencetak anak dengan kualitas terbaik tentu harus menggunakan metode terbaik pula. Keteladan merupakan metode yang paling utama dalam mendidik anak. Berikan teladan bukan hanya sekadar contoh, karena anak belajar dari apa yang mereka lihat. Sikap keteladanan juga diterapkan Ni Kadek Turkini dalam mendidik ketiga buah hatinya. Menjadi seorang wakil rakyat tentu membuat waktu perempuan yang akrab disapa Turkini ini dihabiskan untuk berbagai kegiatan baik di masyarakat maupun di partainya. Apalagi sang suami, Made Kardika juga sebagai seorang politikus. Hal inilah yang membuat dirinya lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja dibandingkan di rumah. Sadar akan keadaan tersebut, putri dari (alm) Jro Nyoman Belgia ini sudah menanamkan kemandirian sejak dini terhadap ketiga anaknya. Turkini mempercayakan pola asuh anak kepada diri sendiri dan suami serta dukungan keluarga dekatnya.

Inspirasi

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018

Menurut pengamatannya, feno­ mena ini bisa saja terjadi hampir di seluruh daerah. Parahnya, isu perempuan dianggap pinggiran, padahal, setengah penduduk Indonesia adalah perempuan. Pemilih yang patuh adalah perempuan. Problem ini sering tidak dilihat pejabat negara. Kekerasan seksual seperti ancam­ an perkosaan terhadap perempuan juga sangat besar dalam dunia online. Ini temuan Komnas Perempuan yang fenomenal di tahun 2017. Ada ke­ lompok tertentu yang mengancam perempuan, jika tidak memilih calon tertentu bisa diperkosa. Dengan maraknya kasus kekerasan seksual terhadap perempuan Komnas Perempuan mendesak DPR-RI segera

mengesahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual. Sementara, musisi Bali Gede Bagus menilai, dalam upaya meme­ ra­ngi kekerasan seksual, kaum lakilaki sebaiknya ikut dilibatkan, apalagi, pelaku kekerasan seksual lebih ba­ nyak laki-laki. Ia sejak 1,5 tahun lalu ikut bersama Komnas Perempuan berkampanye lewat musik dengan bandnya yang bernama Sister in Dangerous, “Musik merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk berkampanye ke sekolah-sekolah dan kampus untuk mengajak para generasi muda ikut terlibat dalam kampanye penghapusan kekerasan seksual terhadap perempuan ini,” katanya.

Setiap orang tentu menginginkan anaknya sukses. Pun demikan dengan ibunda dari Putu Reza Aditya Tirandika, Made Rosa Anastasya Tirandika, dan Komang Rian Adi Rajasa Tirandika ini. Dirinya selalu mengutamakan pendidikan sang anak. Kedisiplinan dalam menuntut ilmu akan selalu ia tekankan agar sang anak menjadi orang yang sukses nantinya.

orang lain dengan cara mendisiplinkan diri sendiri dulu,” ungkapnya. Selain disiplin waktu, dirinya juga menekankan kedisiplinan dalam pembelajaran. Paradigma pembelajaran yang berpusat pada siswa sehingga siswa dituntut lebih aktif menemukan konsep-konsep dibandingkan mendengarkan dari dosen. Sehingga untuk menerapkan sistem tersebut dengan baik dirinya selalu memberikan tugas sebelum memulai pembelajaran. “Tugas yang diberikan juga harus jelas yang nantinya akan dipresentasikan. Sebagai calon guru mereka harus mampu menuliskan gagasan-gagasan yang mereka baca melalui ringkasan. Mereka juga mempresentasikan untuk melatih bahasa inggrisnya,” jelasnya. Sebagai seorang dosen Ratminingsih yang menjabat sebagai Ketua Kantor Urusan Internasional dan Kerjasama Undiksha ini mengatakan untuk tidak mencari salah atau benar mahasiswa tetapi bagaimana dosen mengahargai setiap pendapat dan gagasan mahasiswa untuk dituntun kearah yang lebih baik. “Salah benar itu biasa, dan saya berusaha mengatakan itu baik untuk mengahargai tetapi juga menunjukkan kekurangannya di mana sehingga lebih bersifat konstruktif,” imbuhnya. Ini bertujuan untuk membuat mahasiswa lebih baik dari sebelumnya, karena keberhasilan seorang tenaga pendidik adalah melihat anak didiknya sukses melebihi gurunya. (Wiwin Meliana)

Bahkan saat anak-anaknya menginjak remaja pun Turkini memilih tetap tidak PEMBELAJARAN meggunakan asisten rumah KARAKTER tangga dalam membantu Sikap keteladan juga harus meringankan pekerjaan diterapkan oleh seorang tenaga rumah. Justru dirinya dan pendidik. Seorang pendidik suamilah yang bekerjasama harus menjadi panutan dalam dalam membagi tugas untuk prilaku maupun dan tutur bamengerjakan segala pekerhasanya karena secara tidak jaan rumah tangga. langsung sikap tenaga pendidik “Dalam keluarga kami akan mencerminka sikap anak selalu bergotong royong, didiknya. Ini juga disampaikan jika saya sibuk suami yang oleh Dr. Ni Made Ratminingsih, akan mengerjakan tugas M.A., akademisi Undiksha yang rumah begitu sebaliknya,” saat ini mengajar di Jurusan S1 tutur perempuan kelahiran Ni Made Ratminingsih Ni Kadek Turkini Pendidikan Bahasa Inggris. 2 Maret 1976 tersebut. Ini Menurutnya, dia merupakan merupakan contoh nyata yang ia dan kebebasan kepada sang anak untuk salah satu dosen yang sangat disiplin dasuami berikan untuk diteladani oleh menentukan masa depannya kelak. Na- lam mengajar terutama yang berkaitan anak-anaknya. Dengan saling memban- mun ada pesan yang selalu ia sampaikan dengan waktu. Perempuan yang akrab tu dan bekerjasama untuk meringankan bahwa setiap pekerjaan yang dijalani disapa Ratmi ini mengaku selalu ontime harus dilakukan dengan disiplin. “Kami masuk kelas jika ada jam mengajar segala tugas-tugas rumah. Memiliki latar belakang keluarga hanya selalu menekankan kedisiplinan bahkan seringkali dirinya mendahului 10 yang bergelut di bidang politik tidak bahwa apa yang anak-anak jalani harus menit sebelum jam pelajaran dimulai. lantas membuat Turkini terobsesi mem- dilakukan dengan serius dan disiplin Sikap disiplin inilah yang ia teladankan buat anak-anak mengikuti jejaknya. agar tidak mengecewakan orang ban- kepada anak didiknya. “Ini adalah pemDirinya mengungkapkan memberi yak,” jelasnya. belajaran karakter. Saya mendisiplinkan

(Wirati Astiti)

Uti

J

ika berwisata dengan travel agent kita bisa bersantai dan tinggal terima jadi, tapi berwisata ala backpacker memiliki tantangan tersendiri. Hal ini diungkapkan Uti, mahasiswi S1 jurusan Ilmu Psikologi Universitas Airlangga Surabaya yang memiliki hobi traveling. Menurut Uti yang beberapa kali traveling tanpa travel agent ini, backpacking mengajarinya survive dan kemandirian. “Kita bisa bertemu dan berkenalan dengan banyak orang baru, sebab kita harus banyak bertanya mencari informasi, jadilah kita lebih banyak punya cerita, pokoknya lebih memorable deh,” ungkap mahasiswi yang besar di Tangerang ini. Uti menuturkan banyak sekali hal-hal positif yang ia dapatkan dari pengalamannya sebagai backpacker. “Aku merasa jadi lebih mengenal

diri sendiri, aku banyak mencoba hal-hal yang aku kira nggak bakal bisa aku lakukan. Aku bertemu banyak orang-orang dan sedikt mengenal tipe-tipe orang dan belajar beradaptasi, serta jadi mandiri itu pasti. Intinya banyak sekali hal yang membuat aku bahagia dan lebih positif,” ungkapnya. Dampak negatif yang bisa saja muncul seperti terganggunya kuliah jika tidak bisa mengatur waktu dengan benar, “Tapi menurutku belajar dan pintar akan hal-hal di luar akademis itu juga penting,” tambahnya tersenyum. Uti yang bernama lengkapnya Gusti Anindya Hayuningtyas, mengaku awal mula menyukai travelingkarena terinspirasi dari buku para traveler terkenal, salah satunya buku Trinity The Naked Traveler. Selain itu, Uti mengaku bahwa ia tumbuh besar di keluarga yang memang suka jalan-jalan keluar kota, Makanya sehingga dari kecil ia sudah mengunjungi banyak tempat bersama keluarga sampai akhirnya ketika kuliah ini ia memberanikan diri traveling sendiri dengan uang tabungannya. Uti mengatakan soal keuangan dan pentingnya menabung supaya kita tidak merepotkan orangtua untuk menjalankan hobi traveling. Begitu pula bila ingin bacpacking kita harus pandai-pandai mengatur pengeluaran, karena segala sesuatunya kita yang harus menyi­apkannya sendiri. Ia menuturkan pernah berangkat dengan budget mulai Rp 300 ribuan hingga Rp 2 jutaan.

Pulau Pahawang, Lampung

BELAJAR SEJARAH Awal tahun 2017 adalah pertama kalinya Uti backpacking seorang diri. Ia memilih kota Solo sebagai tujuannya. Setelah itu ia mulai berani melanjutkan hobinya dengan backpacking lagi ke beberapa kota lain, baik sendiri maupun bersama teman yang juga backpacker. Sebagian besar kota yang dipilih Uti sebagai destinasi bacpacking-nya di tahun 2017 kemarin memang masih di Pulau Jawa, seperti Solo, Dieng, Purwokerto, Banyuwangi, Malang, Blitar, Tulungagung, Magelang, Pacitan, Semarang, Purwekorto, Jember, dan Boyolali. Ia juga sempat berwisata ke Sumba dan Lampung. Jika dihitung dari tahun-tahun sebelumnya Uti juga sering traveling bersama keluarganya, tempat yang pernah ia kunjungi lebih banyak lagi dari itu. Ia juga sudah beberapa kali keluar negeri. Destinasi terjauh yang ia kunjungi Januari 2018, Turki. “Sudah

mengantar kami, penjaga warung dekat pantai, orang-orang yang bertugas merawat pantai, dan masih banyak lagi,” katanya. Sumba menarik perhatiannya karena pantai, bukit, bahkan seafood-nya benar-benar bikin betah dan puas. Ketika berkunjung ke Sumba, anak bungsu dari empat bersaudara buah hati pasangan suami-istri Wahyudi Prawira dan Nurihastuty Jusuf ini juga membawa buku yang dibagikan ke anak-anak di Bukit Wairinding, Pambotanjara, Waingapu, Sumba Timur. Uti mengaku banyak tempat yang ingin ia kunjungi. Lombok, Karimun Jawa, keliling Sumatera, Makassar, Toraja, dan Jepang, Halmahera, Kalimantan, Labuan Bajo, Maluku, Nepal, India, Kamboja, Maldives, dan Maroko sudah masuk dalam daftarnya. (Nina)

dari lama sekali ingin kesana, karena aku tertarik belajar sejarahnya,” jawab dara kelahiran Jakarta, 4 September 1998 ini. Ketika diminta memilih satu tempat yang paling berkesan dan membuat ketagihan untuk mengunjungi lagi dan lagi, Uti menyebut daerah Tulungagung dan Sumba. “Tulungagung itu berkesan sekali, karena saat aku dan temanku harus struggle di perjalanan menuju pantai Kedung Tumpang. Tapi hal itu terbayar karena pantainya super cantik. Aku bertemu orang-orang yang super ramah dan baik. Uti (paling kanan) di Bukit Wairinding, Seperti ojek yang Pambotanjara, Waingapu, Sumba

Tips untuk Backpacker

yang khusus, sama jadi backpacker? Sebenarnya tak ada Apa saja barang bawaan Uti saat men atan, dan barang pribadi pakaian, alat mandi, skincare, obat-ob seperti wisatawan biasa. Beberapa cocok dengan makanan di sebagai makanan cadangan jika ia tak lainnya. Tapi Uti tak lupa bawa abon makanan, memilih nasi soal uang haha,” ujarnya polos. Masih pernah ia cicipi saat sana , “Jaga-jaga juga kalau kehabisan yang zat Bali sebagai makanan terle pur cam nasi dan Solo di a cob ia rames yang traveling sejauh ini. reka yang Beberapa tips darinya untuk me kpacker: bac ala ya susn ingin traveling khu ju. ditu yang si loka k jara - Mencari tahu rutenya. Selalu sedia ada di daerah tujuan dan mempelajari yang m umu i rtas spo tran tahu cari - Men tertentu tak bisa selalu penginapan, karena dalam kondisi catatan nomor telepon dan alamat mengandalkan gadget. beli hal yang tak diperlukan. - Mengatur pengeluaran, tidak mem gan warga lokal. tama untuk bertanya dan kenalan den (Nina) - Selalu menjaga sopan santun teru


6

Woman on Top

Amelia Tjandra

Nomor Dua Dukungan produsen otomotif terhadap dunia olahraga tak diragukan lagi. Duku­ngan itu tak hanya untuk olahraga yang berkaitan de­ngan otomotif, tetapi olahraga popular seper­ti sepakbola, bulutangkis, dan basket.

B

erdasarkan survei AC Nielsen, olahraga merupakan tontonan favorit orang Indonesia. Posisi pertama dipegang sepakbola sedangkan di urutan kedua adalah bulutangkis. “Sebenarnya pada 2014, Daihatsu mensponsori Manchester City yang merupakan klub sepakbola Liga Inggris yang saat itu ada di peringkat kedua. Namun di 2016, kami beralih fokus ke badminton,” ungkap Amelia Tjandra, Direktur Marketing PT. Astra Daihatsu Motor (ADM) saat

jumpa pers Daihatsu Astec Open (DAO) di Denpasar. Sejak itulah, Daihatsu memfokuskan diri dengan menggelar Daihatsu Astec Open (DAO) bekerjasama dengan Astec. Pada tahun pertamanya, ada 7 kota di Indonesia yang disambangi. Begitu pula pada tahun kedua di 2017. Baru pada 2018 ini, DAO menggelar turnamen di 10 kota, termasuk salah satunya di Denpasar. Ia mengatakan dukungan Daihatsu terhadap bulutangkis bukan bersifat komersial. Daihatsu ingin melekatkan tagline barunya “Daihatsu Sahabatku” di hati masyarakat Indonesia. Pendekatan olahraga dianggap cukup mampu untuk mewujudkan tujuan

itu. “Kami ingin memperkuat tagline “Daihatsu Sahabatku” dengan memberikan sumbangsih pada masyarakat,” tegasnya didampingi Hendrayadi Lastiyoso (Marketing & CR Division Head PT Astra International Daihatsu Sales Operation), Alan Budikusuma (founder Astec), dan Made Darmayasa (Sekum Pengprov PBSI Bali). Amelia menegaskan Daihatsu akan konsisten membantu pembinaan atlet bulutangkis karena melihat potensi yang dimiliki. Jika tidak ada sponsor besar yang mendukung secara konsisten dan berkesinambungan, bulutangkis akan makin sulit berkembang. Nantinya para juara DAO aka nada yang diberangkatkan ke Jepang untuk diadu

dengan pebulutangkis Jepang yang menjadi binaan Daihatsu Jepang. Perempuan ramah ini juga menuturkan penjualan Daihatsu kini duduk di posisi nomor dua dari sisi market share penjualan, baik secara nasional maupun di Bali. Pun, saat memilih untuk mendukung aktivitas olahraga demi menumbuhkembangkan bibit-bibit baru di bidang itu, Daihatsu lebih memilih fokus di bulutangkis yang merupakan olahraga favorit kedua masyarakat setelah sepakbola. “Nomor dua menjadi magic number bagi Daihatsu. Saat kami memilih bulutangkis, kami juga memilih beker­jasama dengan Astec yang dimiliki Alan Budikusuma dan Susi Susanti yang merupakan dua atlet kebanggaan Indonesia. Jadi dua bisa

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018 dikatakan jadi magic number Daihatsu,” ujarnya sembari tersenyum. Alan pun mengakui saat ini kekuatan bulutangkis saat ini sudah merata. Tidak ada negara yang benar-benar mendominasi. Untuk kategori putri, setelah era Susi Susanti memang kesulitan untuk mencari yang sepadan. “Susi terakhir main 1998. Setelah itu ada Mia Audina, ternyata dia pindah. Setelah itu prestasi putri tidak begitu bagus. Cari pemain putrid juga agak sulit. Melalui DAO ini kami berharap bisa menjaring bibit usia dini untuk dikader dan dimasukkan program jangka panjang. Target kami, Olimpiade 2020, ada pemain putri yang masuk,” tegasnya. (Ngurah Budi)

“Putus III“ Salam Senyum

“Coba Anda jelaskan dengan detail, kenapa cek ini bisa diba­ yarkan. Padahal jelas tanda tan­ gan itu bukan tanda tangan saya. Lihat ini, tarikan garis saya tidak seperti ini.Apalagi ini tidak ada garis lengkung kecil di bawah. Jelas ini pemalsuan. Tapi Anda sebagai teller kenapa bisa lolos membayarkannya. Saya minta ganti rugi. Apalagi saya kenal baik dengan Pak Eko, pimpinan Anda. Kalau beliau sampai tahu hal ini, saya yakin Anda akan mendapat sanksi. Bahkan saya minta Anda diberhentikan saja jadi pegawai di sini. Hal seperti ini bisa mengurangi kepercayaan nasabah karena kecerobohan Anda bekerja. Atau, Anda sengaja bekerjasama dengan orang lain untuk hal ini?” Seorang pria paruh baya de­ ngan gaya yang modis terlihat berbincang serius dengan pe­ gawai salah satu bank ternama di kota ini. Pegawai bank kelihatan menunduk dan seakan-akan ingin memberikan jawaban dan argu­ men kepada customer nya yang komplain. Namun, sama sekali tidak diberi kesempatan oleh

pria tadi. Walaupun customer yang komplain tidak meledak ledak bahkan cenderung tenang, tapi tidak bisa dianggap sepele. Karena dia terlihat sangat paham dengan prosedur yang berlaku di perbankan. Pembaca setia Dhani’s Art In Service, dua tulisan saya sebel­ umnya sudah membahas tentang bagaimana menghadapi para complainer yang mempunyai tipe agresif maupun pasif. Sebelum menangani komplain itu sudah saya tulis juga kalau kita wa­ jib untuk mengetahui terlebih dahulu, langkah apa yang akan kita lakukan. Yang pertama kita wajib untuk mengetahui ciri-ciri atau tipe dari para complainer. Selanjutnya langkah yang kedua, kuasai hal–hal yang akan dilaku­ kan. Langkah yang ketiga adalah kuasai hal-hal yang dilarang untuk dilakukan. Contoh peristiwa di sebuah jasa perbankan yang saya tulis di atas adalah customer dengan tipe profesional complainers. Tipe ini sebenarnya bisa dibi­ lang paling berbahaya. Kenapa? Karena biasanya tipe profesional complainer seakan akan memang berprofesi sebagai orang yang

complain. Atau lebih jelasnya, mereka sengaja mencari titik cel­ ah atau kelemahan dalam sebuah prosedur, agar dapat menyalah­ kan bahkan mendapat ganti rugi dari perusaha­an penyedia jasa. Pada cerita di atas , penyedia jasa adalah petugas bank atau bank itu sendiri. Seperti ketika ingin mengenal seseorang lebih dekat, paling tidak mengetahui ciri-ciri dari orang tersebut terlebih dahulu. Begitu juga dalam menghadapi para complainer, kita harus tahu tipenya melalui ciri-ciri yang ditampakkan. Tipe profesional complainer sering kita temui. Bahkan tipe paling ditakuti. Inilah tipe yang sangat berbahaya. Kar­ ena selain bisa merusak pribadi yang melayaninya, mereka bisa juga merusak citra perusahaan. Dia sangat berbeda dengan tipe agresif dan tipe pasif. Kalau tipe agresif kita akan melihat ek­ spresi, gerakan, kata-kata yang dilontarkan, sehingga kita dapat menanggapinya dengan segera. Untuk tipe pasif, dia lebih pandai menyembunyikan sehingga tam­ pak baik-baik saja. Namun kita dapat menanggapinya dengan proaktif. Tapi sungguh berbeda dengan customer dengan tipe professional complainer. Tipe ini hampir tidak mempunyai itikad baik untuk membuat kita berbe­ nah dan memperbaiki diri kita

demi memuaskan mereka. Tipe ini cenderung mencari keuntungan pribadi. Ciri-ciri tipe ini adalah san­ gat pandai, menguasai product knowledge dan prosedur, bahkan ada yang tahu nama pejabat perusahaan kita. Kebanyakan mereka berpenampilan bagus, gaya bahasa berkelas dan santun. Selain itu piawai menggunakan pendekatan hukum. Biasanya menggunakan bahasa yang datar. Namun tidak jarang sebagian dari mereka sebenarnya tidak tahu apa yang mereka katakan. Menghadapi customer dengan tipe profesional seperti ini, sebai­ knya harus ekstra hati- hati ketika menanganinya. Siapkan mental dan hati yang baik. Tampakkan bahasa tubuh yang tenang dan ter­ buka, sembunyikan segala grogi/ kegugupan dengan senyuman. Dengarkan dengan baik setiap keluhannya, bila perlu catat. Ketika kita sudah berhada­ pan dengan mereka, sebaiknya libatkan atasan kita. Menjawab dengan prosedur yang benar, di­ sertai dengan bukti yang akurat akan dapat membantu kepuasan layanan untuk menjawab para professional complainer. Hindari berdebat dengan mereka. Kalau kita sudah berpengalaman meng­ hadapi customer, kita akan lebih berhati –hati jika melayaninya, agar mereka tidak dapat meng­

gunakan celah untuk menyalah­ kan kita sebagai pelaku layanan. Kuasai prosedur yang benar, lebih teliti dalam memberikan layanan, tentu akan dapat mencegah para professional complainer untuk melihat titik lemahnya sebuah layanan. Tipe complainer yang lain selain tipe Agresif, Passive Complainer dan Professional Complainer ada­ lah tipe Constructive Complainer. Ciri-ciri tipe ini beserta contohnya dan cara penangannya akan saya tulis di Rubrik Dhani’s Art In Ser­ vice dua minggu ke depan. Mari kita tangani komplain se­ cara profesional, agar kata ‘putus’ yang terlontar dari pelanggan akan dapat kita hindari. Mereka akan tetap menjadi pelanggan yang loyal terhadap produk, jasa dan perusaha­an kita… (bersambung) Materi ini juga terdapat di buku saya, ‘Service A La Carte”. Ingin mengetahui bagaimana memeta­ kan sebuah layanan yang baik di perusahaan/instansi yang Bapak/ Ibu pimpin? Silakan hubungi Manajemen Sri Sumahardani Academy atau buka website kami di www.srisumahardani.com. Kami siap untuk membantu. Salam 3SP Salam Senyum Sang Penyihir Sri Sumahardani Srisumahardani3sp@gmail.com www.srisumahardani.com

27

Vakum di Panggung Hiburan

Masuk ke Panggung Politik Tahun 2018 disebut sebagai ‘Tahun Politik’. Selain karena tahun ini bakal digelar pilkada serentak di berbagai daerah di Indonesia, juga semua pihak yang terkait perpolitikan Tanah Air tengah mempersiapkan diri untuk bertarung di tahun 2019. Tahun depan untuk pemilihan DPR, DPD, dan DPRD maupun Pemilihan Presiden.

S

Amelia didampingi Hendrayadi Lastiyoso (Marketing & CR Division Head PT Astra International Daihatsu Sales Operation), Alan Budikusuma (founder Astec), dan Made Darmayasa (Sekum Pengprov PBSI Bali).

Metropolitan

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018

uhu politik tahun ini terasa sekali ‘hangatnya’. Salah satu yang menarik di ‘Tahun Politik’ ini adalah kiprah para selebriti yang ramai-ramai terjun ke politik. Banyak dari mereka yang kemudian masuk parpol dan berniat menjadi calon legislatif. Tahun ini memang kesempatannya untuk bisa terdaftar sebagai caleg legislatif untuk pertarungan tahun depan. Pendaftaran dilaksanakan 4-17 Juli 2018. Satu per-satu selebriti tampil menunjukkan identitas mereka. Artis-artis yang dulunya mengaku tak minat berpolitik pun ternyata kini terpikat juga. Bisa jadi hal ini selain minat mereka, juga melihat kiprah teman seprofesinya yang sudah lebih dulu ‘meleng-

gang’ di Senayan (DPR). Ditambah lagi yang tak kalah pentingnya adalah gencarnya partai politik ‘merayu’ para artis ini. Parpol sadar artis atau selebriti punya pengaruh signifikan dalam meraup suara. Apalagi jika artis itu adalah artis terkenal yang sudah pasti memiliki banyak fans. Giring Nidji mengaku dirinya terjun ke politik bukan karena ‘rayuan’ parpol tapi memang dia memiliki ketertarikan khusus dengan bidang itu. Pentolan band Nidji ini malah mengaku mempersiapkan diri untuk terjun ke politik sejak lama, mulai dari kuliah lagi di jurusan politik hingga mengurangi aktivitas manggung bersama band yang dibesarkannya, Nidji. “Kalau sudah penetapan caleg baru gua bener-bener vakum manggung (musik). Gua mau fokus,” ucap Giring yang kini bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia. Bagi penembang hits ‘Hapus Aku’, rasanya berat kalau masih harus

‘cawe-cawe’ manggung sambil menjadi wakil rakyat yang jelasjelas memiliki banyak pekerjaan. “Manggung seperti yang biasa gue kerjakan, memerlukan energi besar, sementara menjadi anggota DPR pun perlu energi juga besar. Jadi kalau dua-duanya jalan, rasanya berat. Apalagi gua memang niatnya mau fokus dan bekerja sungguh-sungguh. Jadi paling nanti, kalau terwujud (jadi legislator), yang masih memungkinkan gua lakukan adalah menulis lagu. Itu kan tidak terikat waktu, begitu juga rekaman,” ungkap lelaki bernama lengkap Giring Ganesha ini. Pilihannya ini, bukan hal yang mudah. Bukan hanya temantemannya di Nidji yang sempat tidak setuju, bahkan sang istri pun menolak dan menangis. Cukup lama, untuk bisa meyakinkan istrinya tentang niatnya terjun ke politik. “Akhirnya istri gua ngerti dan memberi restu. Itu melegakan,” ujarnya. Selain Giring, yang juga cukup mengejutkan publik adalah niatan Vicky Shu untuk terjun ke politik dan menjadi caleg. Penyanyi bernama lengkap Vicky Veranita Yudhasoka Shu ini, mengaku memiliki ketertarikan pada politik sejak lama. Bahkan saat kuliah pun dia memilih Fakultas Ilmu Sosial

dan Politik jurusan Hubungan Internasional. Karenanya, bukan hal yang mengherankan kalau sekarang dia terjun ke politik. Juga bukan sekadar ikut-ikutan karena setidaknya dia sudah memiliki ‘bekal’ akademik. “Jadi aku ini kan sarjana politik, ya sesuai lah kalau sekarang terjun ke politik praktis. Kalau sebelumnya memang aku sempat belok dulu ke seni,” ujar Vicky yang berniat maju sebagai caleg Partai Demokrat. “Kalau diarahkan jadi caleg, aku siap,” ucapnya peraih penghargaan Penyanyi Terbaik Perempuan Dahsyat Award 2013 ini. Yang pasti, niatnya terjun ke politik adalah keinginannya yang besar untuk

membantu masyarakat, khususnya daerah asalnya Cilacap. Lewat jalur legislatif, dirasakan bisa lebih efektif dalam memperjuangkan kemajuan daerahnya. Suaminya, juga mendukung niat dirinya untuk masuk ke dunia politik. “Suami aku cuma tanya, apakah sudah siap. Aku jawab, sudah. Suami aku bilang, oke. Ya sudah,” ucap pelantun ‘Mari Bercinta 2’. Namun berbeda dengan Giring yang akan vakum dari manggung, Vicky mengaku tidak memutuskan mundur dari dunia menyanyi. “Saat ini belum memutuskan itu. Lagi pula paling off air saja. Itupun kalau bisa dan memungkinkan,” ujarnya.

Popularitas belum Jaminan

Vicky Shu

Artis lain yang juga akan meramaikan bursa calon legislatif di antaranya adalah Tommy Kurniawan, Said Saleh Bajuri, Sandi Nayoan. Pengamat politik dari Indobarometer, M. Qodari dalam sebuah kesempatan pernah menyebut, meskipun artis memiliki kepopularan namun belum tentu dalam pemilihan legislatif bisa meraih suara terbanyak. Jadi untuk terpilih dan mendapatkan banyak suara, bukan semata-mata kepopuleran namun kemampuan. Diakuinya, untuk bertarung dalam pileg, artis memang tidak memerlukan modal terlalu besar karena dirinya sudah populer. “Popular belum menjamin tingginya elektabilitas. Karena faktanya pendulang suara terbanyak justru berasal dari kalangan nonartis,” tegasnya. Apa yang dipaparkan Qodari bisa jadi benar. Karena pada pileg lalu (2014-2019), dari 44 orang artis yang terdaftar sebagai caleg, hanya 15 orang yang berhasil menembus Senayan (DPR). Di antaranya adalah Okky Asokawati, Dessy Ratnasari, Jamal Mirdad dan Anang Hermansyah. (Diana Runtu)

Giring Nidji

(Diana Runtu)


Surabaya

26 Indonesia dikenal memiliki kekayaan alam dan budaya melimpah. Keanekaragaman budaya ini didukung sejarah yang masih melekat dengan masyarakat. Hal ini terlihat jelas dengan adanya berbagai situs peninggalan sejarah, berupa arca dan candicandi yang menjadi saksi bisu tentang keberadaan kisah maupun mitosmitos yang bertebaran di masyarakat.

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018

Petirtaan Sumber Tetek di Pasuruan

Sembuhkan Penyakit dan Awet Muda

D

i Jawa Timur terdapat sebuah candi yang diduga merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Airlangga pada abad ke-11. Candi Belahan atau masyarakat setempat menyebutnya sebagai Petirtaan Sumber Tetek. Asal-usul nama Candi Tetek sendiri berasal dari kata “tetek” yang merupakan adaptasi dari bahasa Jawa yang berarti puting payudara. Hal ini dikarenakan dalam arca Dewi Laksmi, mengalir sumber air dari kedua payudaranya. Untuk itu, mengapa petirtaan ini dinamai dengan Candi Sumber Tetek.

Candi Sumber Tetek sendiri merupakan sebuah bangunan persegi berbentuk kolam yang terdiri dari tumpukan batu bata

merah berukuran 5x5 meter persegi yang disampingnya terdapat dua arca Dewi Sri dan Dewi Laksmi, yang mengeluarkan air

dari kedua payudaranya. Hadirnya wujud Dewi Sri, ini dipercaya masyarakat setempat sebagai lambang kesuburan dan

Gang Dolly Jadi Kawasan Produktif Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya berhasil mengubah kawasan eks lokalisasi Dolly dan Jarak menjadi sebuah kawasan yang produktif. Saat ini, kawasan tersebut sudah mengalami banyak perubahan, pasca ditutup empat tahun silam.  Baik perubahan dari aspek sosial maupun ekonomi. Tempat yang dulunya ramai berjajar rumah-rumah bordil, kini telah bermetamorfosis menjadi sebuah kampung yang produktif. Camat Sawahan Surabaya M. Yunus mengatakan kawasan eks lokalisasi Dolly dan Jarak, saat ini mulai banyak berkembang salah satunya dari segi ekonomi. Dengan adanya beberapa usaha industri kreatif yang mulai berkembang di kawasan tersebut, pastinya juga memberikan dampak yang positif bagi perekonomian warga sekitar. “Selama ini Pemkot terus melakukan berbagai upaya agar perekonomian warga sekitaran eks lokalisasi makin meningkat, termasuk mendirikan industri kreatif bagi warga sekitar,” kata Yunus. Ia mengungkapkan, saat ini terdapat sebanyak 23 kelompok Usaha Kecil Menengah (UKM) di kawasan tersebut.  Rinciannya, untuk produk olahan batik berjumlah empat kelompok UKM, yaitu Jarak Arum, Alpujabar, Canting Surya, dan Warna Ayu. Sementara itu, untuk olahan makanan dan minuman berjumlah 13 UKM dengan rincian yaitu, TBM Kawain, olahan bandeng, Jarwo Tempe, Sami Jali, Pangsit Hijau, Cak Mimin (Dian Rujak), UKM Puja (telur asin, botok telur asin), UKM Squel (olahan keripik), UKM Vigts (jamu herbal), Gendis (bumbu pecel), UKM Henrik (olahan

mereka lebih produktif dan kesejahteraan keluarga mereka lebih meningkat. Pemkot juga telah memberikan fasilitas berupa Dolly Saiki Point, sebuah tempat yang khusus dijadikan sebagai pusat oleholeh penjualan berbagai produk UKM dari seluruh warga sekitaran eks lokalisasi. “Mulai dari awal proses produksi hingga menuju market place, kami terus melakukan pembinaan dan pendampingan ke mereka. Selain itu, secara periodik mereka juga kita kumpulkan. Tujuannya untuk evaluasi, seperti ketika ada kesulitan kita wadahi mereka, dan kita sampaikan ke tkh/ist dinas terkait,” tegasnya. Kerajinan seni batik yang melibatkan warga eks Dolly. Yunus mengungkapkan, omzet yang didapatkan dari industri sandal dan sepatu bisa semanggi dan es puter) dan olahan minuman mencapai sekitar Rp 30 hingga Rp 40 juta per budari rumput laut. lan, dengan jumlah produksi sebanyak 300 buah “Setiap kelompok UKM itu terdiri dari tiga per hari. Sementara untuk usaha batik omsetnya hingga 10 orang dan merupakan warga dari bisa mencapai Rp 17 hingga Rp 28 juta per bulan. sekitaran eks lokalisasi Dolly dan Jarak,” ujar “Saat ini yang ramai itu pesanan untuk sanpria berkacamata ini. Disamping itu, untuk usaha dal hotel. Sekitar 10 hotel di Surabaya yang industri kreatif di tempat ini berjumlah sebanpesan. Sementara untuk pesanan yang palyak lima. Rinciannya yaitu, KUB Mampu Jaya ing jauh dari Sorong, Papua,” terangnya. (produksi sandal, sepatu dan goody bag), sablon, Kedepan, untuk industri dalam waktu dekat akan minyak rambut (phomade dan semir), handycraft (manik-manik) dan usaha dalam bentuk lukisan. dikembangkan lagi di sekitaran bangunan gedung yang dulunya bernama eks Wisma Barbara ini. “Kami juga saat ini sedang menyiapkan untuk Sebab, menurut dia, melihat begitu banyaknya industri sabun rumahan. Jadi nanti, tidak hanya pesanan membuat kebutuhan produksi perlu unproduk sandal dan goody bag saja yang kita tawartuk ditingkatkan. “Lokasinya nanti ada di belakang kan ke pihak hotel, tapi juga ada produk olahan bekas bangunan eks wisma Barbara, sudah kita sabun,” ujarnya. Pemkot Surabaya, lanjut Yunus, tawarkan ke beberapa warga dan mereka sangat terus berupaya untuk memberdayakan keluarga begitu antusias,” pungkasnya. di kawasan eks lokalisasi. Tidak hanya para suami, (Antonius Andhika/Bisnis Surabaya) namun juga para istri diberdayakan agar keluarga

Dewi Laksmi, sebagai lambang kemakmuran. Banyak masyarakat yang mempercayai bahwa Petirtaan Sumber Tetek ini dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit dan bisa membuat awet muda. Ta k h e r a n , j i k a b a n y a k masyarakat dan pengunjung dari berbagai kota berbondong-bondong datang ke tempat ini untuk mendapatkan air petirtaan untuk dibawa pulang. Di dalam Candi Tetek terdapat Arca Lingga Yoni di seberang kolam dan dahulu dalam catatan sejarah sebenarnya di atas Arca Dewi Sri dan Dewi Laksmi, terdapat Arca Prabu Airlangga dalam wujud Dewa Wisnu menaiki Garuda, yang sekarang sudah dibawa ke Museum Purbakala Sejarah Trowulan, Mojokerto dan telah mengalami restorasi oleh tim Arkeologi pada 1986. HADIAH KELAHIRAN AIRLANGGA Berdasarkan catatan sejarah, Petirtaan Sumber Tetek dibangun Raja Airlangga pada 1009 Masehi atau dimasa Kerajaan Kahuripan. Salah satu juru kunci Petirtaan Sumber Tetek, Astono, menuturkan, petirtaan dibangun oleh Raja Airlangga, putra dari Raja Udayana. Raja Udayana sendiri merupakan raja dari Bali yang menikah dengan seorang putri dari Jawa, Gunapriya Dharmapathi, pada masa Kerajaan Majapahit. “Sebagai hadiah menyambut kelahiran putranya (Airlangga), Raja Udayana memutuskan untuk membuat kolam yang dinamakan dengan Petirtaan Jolotundo. Petirtaan itu dibangun sekitar 997 Masehi,’’ kata Tono. Petirtaan Jolotundo merupakan cikal-bakal dibangunnya Candi Belahan atau akrab disebut dengan Petirtaan Sumber Tetek. Hal ini didasarkan pada penemuan prasasti yang terdapat di sekitar situs. Prasasti yang sekarang berada di Museum Trowulan, Mojokerto tersebut mencatat, Candi Belahan Sumber Tetek dibangun pada masa Kerajaan Kahuripan. Petirtaan yang secara administrasi berada di kawasan Dusun Belahan Desa Wonosunyo Kecamatan Gempol, Pasuruan Jatim ini, konon menjadi tempat pertapaan Raja Airlangga dan pemandian dua permaisurinya. Candi yang berada diketinggian 700 MDPL ini juga menawarkan keindahan alam yang asri. Belum lagi adanya gemericik air yang membuat pengunjung betah berlama-lama di tempat ini untuk melakukan meditasi atau mencari ketenangan di tengah kebisingan kota. (Hanny/Bisnis Surabaya)

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018

7


8

Bunda Ananda

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018

Bumi Gora

25

NTB Rencanakan Pembangunan Tiga Kawasan Potensial

Pembangunan di Nusa Tenggara Barat kini sudah memenuhi sebagian besar dari prioritas pembangunan di daerah, seperti pembangunan manusia melalui pengurangan kemiskinan, peningkatan pelayanan dasar, pengurangan kesenjangan antarwilayah melalui penguatan konektivitas dan kemaritiman serta peningkatan nilai tambah ekonomi melalui pertanian, industri, dan jasa produktif. Terpenuhinya prioritas pembangunan tersebut dapat dilihat pada angka-angka pertumbuhan tahun 2017, pertumbuhan ekonomi NTB non tambang tumbuh 7,1%, angka pengangguran menurun di angka 3,2% dan menjadi salah satu provinsi yang progresif dalam penurunan angka kemiskinan.

Pupuk Jiwa Gotong Royong dan Toleransi Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1940, yang jatuh pada 17 Maret 2018, tinggal menghitung hari. Menjelang hari yang disucikan tersebut dilaksanakan serangkaian upacara, salah satunya Pengerupukan (sehari sebelum Nyepi) yang diramaikan dengan pengarakan ogoh-ogoh.

P

awai ogoh- ogoh ini menjadi tradisi unik yang sangat menarik bagi segala usia. Terlebih bagi anak-anak. Boneka raksasa yang merupakan simbolisasi dari unsur negatif,

sifat buruk, dan kejahatan ini menjadi rebutan bagi anak-anak untuk bisa mengaraknya. “Semua ingin mengaraknya, makanya kami beri kesempatan untuk bergiliran. Ada yang mengarak ogoh-ogoh, ada yang membawa

obor dan kober, ada juga yang megambel,” ujar Kepala PG/ TK Lingga Murti School (LMS) AA Putu Eka Yuliawati, S.Pd. usai mendampingi anak-anak didiknya mengarak ogoh-ogoh, Sabtu (10/3). Kegiatan mengarak ogohogoh ini dikatakan Miss Agung— demikian ia biasa disapa, menjadi agenda rutin LMS dalam rangka memperingati Hari Raya Nyepi. “Sejak dini anak-anak kami perkenalkan dengan salah satu tradisi adat budaya di Bali. Dengan dilibatkan langsung, kami berharap setidaknya mereka tahu tentang adat dan budayanya,” ucapnya. Mengambil start di halaman

I K L A N

sekolah LMS, anak-anak didampingi orangtua dan para guru yang berpakaian adat madya mengarak beberapa ogoh-ogoh mini, barong bangkung, dan dimeriahkan dengan obor, kober, serta iringan gambelan, konvoi ini melewati Jalan Gurita menuju Lapangan Pegok dan kembali ke sekolah. Meski tampak kelelahan, anak-anak sangat bersemangat mengikuti acara ini, termasuk para orangtua siswa. Jauhjauh hari para guru telah mempersiapkan segala

CANT IK

“P

embangunan di NTB sudah memenuhi apa yang disebut dengan pembangunan inklusif. Ada pertumbuhan ekonomi, penurunan angka pengangguran, rasio gini dapat dikendalikan dan tingkat kemiskinan juga dapat diturunkan secara progresif,” ungkap Gubernur NTB Dr. TGH. M. Zainul Majdi pada Pembukaan Koordinasi Teknis Perencanaan Pembangunan (Kortekrenbang)

proyek, target, lokasi, dan anggaran pembangunan nasional antara pemerintah pusat dan daerah. Gubernur NTB menyampaikan beberapa rencana besar yang sedang dilaksanakan NTB pada kegiatan yang dihadiri Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional RI yang juga Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro. Rencananya tersebut adalah pembangunan tiga kawasan potensial yaitu KEK Mandalika, kawasan Samota dan Global Hub Bandar

AA Putu Eka Yuliawati, S.Pd.

perlengkapan, seperti obor dan kober yang dibuat dari kertas. “Semua ini untuk keamanan. Namun, kami tetap mengambil filosofi dari pawai ogoh-ogoh yang sebenarnya,” ujar Miss Agung. Selain sebagai upaya memperkenalkan adat dan budaya apada anak-anak, Miss Agung mengatakan kegiatan ini juga bertujuan untuk memupuk jiwa gotong-royong pada saat mereka mengarak ogoh-ogoh. Serta melatih jiwa toleransi, dengan bersedia bergiliran (tidak berebutan) mengarak ogoh-ogoh. (Inten Indrawati)

“Sejak dini anak-anak kami perkenalkan dengan salah satu tradisi adat budaya di Bali. Dengan dilibatkan langsung, kami berharap setidaknya mereka tahu ­tentang adat dan budayanya”

Regional 2 Tahun 2018 di Mataram, beberapa waktu lalu. Koordinasi teknis perencanaan pembangunan (Kortekrenbang) dengan tema “Melalui Kortekrenbang kita Wujudkan Perencanaan Pembangunan Nasional dan Daerah yang Efektif dalam Pencapaian Target Akhir Nawacita” yang diikuti oleh 34 kementerian/ lembaga dan 17 provinsi lingkup Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku dan Papua ini, merupakan salah satu wadah bagi pemerintah pusat maupun pemerintah daerah untuk secara bersama-sama bersinergi melakukan sinkronisasi dan harmonisasi. Dengan tujuan mencapai target pembangunan nasional melalui penyelerasan program, kegiatan,

Kayangan. “Ketiga kawasan ini tidak bisa kami selesaikan sendiri dan masih perlu koordinasi dan regulasi dari pemerintah pusat. Demikian juga supporting pendanaan dan segala yang diperlukan dalam pembangunan agar kawasan yang sangat potensial ini  bisa berhasil di masa-masa yang akan datang,” ujarnya.  Menteri PPN/Bappenas RI, Bambang Brodjonegoro yang hadir dan membuka acara tersebut menyebutkan bahwa terdapat beberapa prioritas nasional. “Beberapa yang harus menjadi skala prioritas di daerah antara lain pembangunan manusia melalui pengurangan kemiskinan dan peningkatan pelayanan  dasar, pengu-

rangan kesenjangan antar wilayah melalui Penguatan Konektivitas dan Kemaritiman, peningkatan nilai tambah ekonomi melalui pertanian, industri, dan jasa produktif. RKP tahun 2019 harus memokuskan pada optimalisasi pemanfaatan seluruh sumber daya (pemerintah, swasta, perbankan) untuk mengejar pencapaian tujuan dan sasaran pembangunan nasional dalam RPJMN 2015-2019,” ujarnya. Melalui kegiatan ini diharapkan, penyusunan RKPD bisa menjadi lebih baik. ”Kami dari pusat mengharapkan partisipasi dari bapak ibu dari semua provinsi yang hadir pada hari ini untuk menyinkronkan RKP antara pusat dan daerah bapak ibu sekalian. Saya juga harapkan penyusunan RKP 2019 ini masih menerapkan prinsip Money Follow yang artinya program dan kegiatan strategis yang memang menjadi prioritaslah yang mendapatkan anggaran. Tujuannya, agar perencanaan lebih holistik, tematik, terintegrasi, dan spasial dan diperkuat oleh empat fokus perkuatan. Pertama, perkuatan perencanaan dan penganggaran melalui penajaman prioritas nasional dan program prioitas, kedua perkuat pengendalian perencanaan dengan menyusun proyek prioritas

pembangunan hingga level proyek atau “satuan 3”, ketiga perkuat perencanaan berbasis kewilayahan yang memokuskan aspek spasial hingga detil rencana lokasi pembangunan dan yang keempat perkuat integrasi sumber pendanaan baik yang bersumber dari APBN, APBD, maupun badan usaha serta melalui skema KPBU dan PINA (Pembiayaan Investasi Non Anggaran Pemerintah),” katanya. Ketua panitia kegiatan Kortekrenbang, Ir. Diah Indrajati, M.Sc., yang juga Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah Kementerian Dalam Negeri RI, mengatakan bahwa kegiatan ini diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia bersama Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/ Bappenas) sesuai dengan amanat

Dr. TGH. M. Zainul Majdi

pasal 258 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang sinkronisasi antara kementerian/ lembaga dan Pemerintah Daerah mengenai target capaian pembangunan nasional yang pelaksanaannya dilakukan melalui Kortekrenbang pada pagi hari ini. Diah juga mengungkapkan bahwa kegiatan ini dilaksanakan di dua regional, untuk regional I telah dilaksanakan di Yogyakarta, diikuti oleh 34 kementerian/ lembaga dan 17 provinsi lingkup Sumatera, Jawa dan Bali. Sementara untuk regional II saat ini dilaksanakan di Mataram NTB dan diikuti oleh 34 kemeterian/ lembaga dan 17 provinsi lingkup Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku dan Papua. (Naniek I. Taufan)


Bumi Gora

24 Ketika anak-anak jauh dari orangtua, biasanya ibu adalah orang yang paling detil menanyakan kabar anak-anak tersebut. Apalagi kepergian anak-anak ini ke tempat yang cukup jauh. Hal ini terlihat selama dua minggu terakhir dalam program pertukaran pelajar yang dilakukan oleh SMAN 2 Mataram ke Christian College Geelong (CCG) Australia.

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018

Belajar Banyak Hal

S

epanjang waktu itu, para ibulah yang terlihat lebih aktif memantau perkembangan dan kegiatan anak-anak mereka selama berada di Geelong Australia. Sejak pagi waktu Indonesia, mereka sudah bergantian bertanya tentang kondisi anak-anak mereka. Ada kehangatan keluarga yang terasa terbangun dari perhatian para ibu ini terhadap anak-anak mereka. Karakter masing-masing ibu dan anak pun terlihat dalam obrolanobrolan, salah satunya lewat grup media sosial yang sengaja dibuat sebagai tempat untuk berkomunikasi antara anak, orangtua dan pihak sekolah khususnya para guru pendamping anak-anak ini. Komunikasi ini secara tidak langsung juga merupakan bagian dari pendidikan yang dibangun antara anak, orangtua dan pihak sekolah. Bagaimana tidak, sejak menjelang keberangkatan dua minggu lalu, antusiasme orangtua, khususnya para ibu dari 28 anak yang menjadi peserta pertukaran pelajar ini begitu luar biasa.

Kunjungan ke pusat kebudayaan Aborigin Australia.

Karena dari sini mereka bisa belajar banyak hal. Fitriah ibu dari Rezkia Fikriyanti salah seorang peserta mengungkapkan bahwa ia sangat senang dengan adanya program ini di SMAN 2 Mataram. Pasalnya ia mengaku bahkan sampai menangis karena bangga melihat video anaknya dan juga anak-anak lainnya ternyata mampu tampil dengan baik untuk bicara sendiri di atas po-

Kebahagiaan para siswa saat makan mi yang merupakan makanan yang biasa mereka makan saat di Indonesia.

Menyiapkan segala keperluan anak hingga mengajari mereka hal detil seperti mengatur pakaian sendiri, bagaimana harus bersikap yang baik hingga memberi nasihat-nasihat penting kepada anak-anak mereka, agar selama mengikuti program ini dapat memberi manfaat bagi mereka. Program pertukaran pelajar ini dinilai sangat baik oleh para orangtua terutama para ibu dari pesertanya.

dium di CCG Australia. “Saya bangga sampai nangis melihat anakanak saat perkenalan di depan podium. Ternyata anak yang selama ini nggak bisa jauh dari mamanya sampai di negeri orang dengan gagah dan beraninya berbicara di hadapan tamu undangan. Alhamdulil-

Mengenal budaya dan kebiasaan warga Australia menjadi salah satu tujuan pertukaran pelajar. Foto; Tihang bersama keluarga tua asuhnya Carleson Family.

lah…,” ungkapnya lega. Hal yang sama diungkapkan Rahma Kurniawati, ibunda dari Dita Alvita Dakota. Ia menilai kegiatan semacam ini luar biasa untuk kemajuan anak-anak atau para siswa. “Anak-anak rupanya tidak butuh waktu lama untuk bisa beradaptasi dengan para host-nya yang berbeda kebiasaan, adat istiadat dan lain-lain dengan  kita,” ujarnya.  Sambutan yang baik dari para siswa di CCG membuat para siswa dari SMAN 2 Mataram mampu berinteraksi dengan baik. Dita mengisahkan hal ini kepada ibundanya. Sri Saptianingsih, ibunda M. Tegar Audryon Arzayka turut terkesan karena program ini memberi pengalaman berbeda. “Berada dan beraktivitas di luar negeri yang tentu saja berbeda budaya, karakter dan lingkungannya dengan di Indonesia,” kata Sri yang mengaku takjub melihat penampilan anaknya

ketika berbicara di depan umum. “Itu di luar dugaan kami, ternyata anak saya berani bicara tanpa teks,” katanya. Rupanya ayah Ryon yang melihat rekaman videonya langsung bertepuk tangan saking senangnya melihat anaknya itu akhirnya berani tampil. “Ini akan menjadi kenangan yang sangat berharga buat anak-anak khususnya peserta program ini,” ujarnya. Begitu juga dengan Jumriah Duma Basri, ibunda dari Arzety yang mengaku sangat terkesan dengan kegiatan ini karena bisa membuat anaknya itu belajar mandiri. “Anak saya akhirnya bisa mandiri walaupun awalnya agak berat menyesuaikan terutama masalah makanan,” katanya. Memang salah satu yang menjadi bahan diskusi para ibu adalah soal makanan bagi anak-anak mereka yang jarang ‘bertemu’ dengan nasi dan makanan Indonesia selama berada di Australia. Makanan yang khas bagi warga Australia adalah kentang dan roti. BELAJAR BERADAPTASI Namun uniknya, para ibu saling memberi saran kepada putraputrinya

untuk bisa menyikapinya. Ada yang meminta mereka mencari restoran masakan Indonesia, ada pula yang menyarankan mereka untuk mencoba. Bahkan ada yang memberi saran agar anakanak belajar menyesuaikan diri dengan situasinya hari itu. Saran itu semacam peribahasa ‘di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Anak-anak peserta pertukaran pelajar ini setidaknya bisa belajar beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan apa yang mereka rasakan saat itu di negeri orang. Kelakar anak-anak justru menenangkan para ibunya, ketika ada seorang anak memosting daftar menu pada restoran Indonesia dengan harga snack yang terbilang mahal. Anak-anak pun saling sahut dan menertawakan keinginan mereka untuk ‘bertemu’ nasi. Mereka rupanya enjoy saja dengan situasinya yang rata-rata merindukan nasi dan makanan Indonesia. Kelakar-kelakar anak-anak ini justru menenangkan hati para ibu. Salah seorang guru pendamping yang paling banyak berinteraksi dengan para orangtua, Izdhar Azizi, mengungkapkan bahwa memang akan selalu ada yang namanya adaptasi, terutama soal makanan. Ia sendiri mendapat host lakilaki yang tidak pernah tahu bahasa Indonesia dan juga tidak pernah berkunjung ke Indonesia. “Makanan yang disajikan memang seperti makanan aneh (bagi kita) tapi kita berusaha belajar menyesuaikan diri,” ujarnya. Menurutnya, disitulah uniknya program ini, karena siswa bisa belajar langsung dari sumbernya. Masalah makanan rupanya bisa menjadi salah satu pembelajaran bagi anak-anak dalam beradaptasi. “Mereka akan secara mandiri menyelesaikan masalah yang dihadapi,” ujar Izdhar. Hal ini dinilainya baik karena tujuan dari program ini adalah untuk membuat anak bisa belajar belajar budaya Australia dan kebiasaan mereka. Melihat dinamika dan perkembangan selama dua minggu terakhir program ini berjalan, ternyata bukan hanya anak yang belajar jauh dari orangtua tetapi juga pelajaran baiknya adalah orangtua, khususnya ibu belajar menyikapi situasi dengan bijak ketika mereka jauh dari anak-anaknya. Hal lain yang menarik adalah perhatian para ibu kepada keluarga angkat anak-anak mereka di Australia dengan menyiapkan cinderamata yang khas Indonesia, khususnya yang berbau Lombok. Mulai dari kaus Lombok, kain tenun khas Lombok, batik Yogyakarta dan lain-lain yang mencirikan Lombok. Rahma Kurniawati, Ibunda dari Dita juga memberikan bingkisan lain khas Indonesia yang dipesan host anaknya, seperti  kopiko, indomie, teh celup sosro. (Naniek I. Taufan)

Edukasi

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018

9

Peningkatan Kualitas Input Saat ini Undiksha memang menjadi salah satu perguruan tinggi negeri yang memiliki banyak peminat. Menurut Rektor Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja Dr. Nyoman Jampel, M.Pd., banyaknya minat masayarakat untuk menjadi bagian dari kampus terbesar di Bali Utara tersebut menjadikan Undiksha lebih mengedepankan kualitas dibandingkan kuantitas.

H

al dapat dilihat dari sistem penjaringan calon mahasiswa baru yang akan lebih diperketat. “Kami akan menjaring calon mahasiswa baru melalui tiga jalur yang berbeda yakni Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN),

Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) dan jalur mandiri,” ungkapnya. Undiksha merupakan institusi pendidikan tinggi negeri yang mencetak sumber daya manusia dalam bidang kependidikan dan nonkependidikan. Dalam bidang pendidikan,

Dr. Nyoman Jampel, M.Pd.

Undiksha merupakan pencetak sumber daya manusia pendidik yang terbesar di Bali. Sampai saat ini, Undiksha telah menghasilkan lebih dari 33 ribu lulusan yang kebanyakan tenaga pendidik. Jampel mengatakan Undiksha menerima kuota mahasiswa ­masing-masing 50% melalui jalur SNMPTN, 40% melalui jalur SBMPTN dan 10% kuota melalui jalur mandiri. Penerimaan mahasiswa baru akan diprioritaskan pada dua jalur penerimaan yaitu SNMPTN dan SBMPTN. Apabila kedua jalur tersebut sudah memenuhi penerimaan mahasiswa, maka tidak lagi dilakukan penerimaan jalur mandiri. Tetapi melihat pengalaman dari tahun sebelumnya, ada saja kekurangan dari beberapa prodi dari penerimaan jalur SNMPTN dan SBMPTN sehingga masih ada slot untuk jalur mandiri. “Tahun ini kami lebih fokus pada kualitas sehingga diperkirakan paling banyak menampung mahasiswa sekitar tiga ribu orang saja. Melihat keadaan kelas yang ada sehingga diharapkan ada kelas sisa untuk kegiatan tambah­an mahasiswa,” jelasnya. Peningkatan kualitas input ini juga sebagai bentuk upaya mendukung program re-akreditasi untuk menjadi perguruan tinggi unggul. Ditambahkan Jampel, Undiksha memiliki tujuh fakultas dengan puluhan program studi yang rata-rata kini sudah berstatus terakreditasi A dan B. (Wiwin Meliana)

Mendongeng Lima Menit Made Taro

KELUHAN SEEKOR SINGA

Seekor singa betina menghadap Raja Salomon. Sambil mencucurkan air mata, ia menumpahkan kejengkelannya. “Tuanku, tidakkah Tuanku dapat menindak Manusia Pemburu itu? Ketika hamba berburu makanan untuk anak-anak, pemburu yang jahat itu menembak anak hamba, kemudian mengulitinya di depan hamba. Sungguh, manusia itu sangat kejam dan tidak punya belas kasihan! Bunuhlah pemburu itu, Tuanku!” “Sebelum aku bertindak, dengar dulu ceritaku!” jawab Raja Salomon. “Pada suatu hari,” demikian sang Raja memulai ceritanya. “Seekor mongoose bertemu dengan seekor cerpelai. Cerpelai itu mengeluh. “Ketika aku meninggalkan rumah, mencari makanan untuk anak-anak, seekor ular memangsa semua anakku. Tidakkah kamu menemukan akal, bagaimana cara membunuh ular jahat itu?” “Ada usaha, pasti ada jalan,” jawab Mongoose. “Pasang kail berumpan ikan di depan rumahnya. Setelah ia makan ikan itu, segeralah tarik! Kita pestakan ular itu!” Waktu itu juga kedua hewan bersahabat itu melakukan akal yang jitu tersebut. Mencium bau gurih, sang ular segera keluar dari lubangnya. Mongoose tidak mau membuang-buang waktu. Ia segera mencaplok ular yang berbisa itu. Dalam waktu yang sama seekor anak ayam mencari-cari sumber bau ikan yang gurih itu. Namun sebelum sampai ke tempat itu, ia disengat oleh seekor kalajengking yang berada dekat tempat itu. Anak ayam itu mengaduh menahan sakit. Ia menangis menciap-ciap, mengadu kepada seekor ayam jago. Ayam jago yang pemberani itu marah, lalu berteriak menantang, “Kukuruyuuuk….!” Seekor serigala mendengar teriakan yang melengking itu. Nafsu makannya terangsang, lalu ia mendekati ayam jago itu. Namun di tengah jalan, perhatiannya berubah. Ia melihat anak-anak cerpelai di dalam rumahnya tanpa dijaga sang induk. Induk cerpelai itu terpaksa meninggalkan rumahnya, karena ia berburu makanan untuk anak-anaknya. Tentu saja sang serigala dengan mudahnya dapat memangsa anak-anak cerpelai itu. Sang induk pun mengadu sambil menangis kepada Raja Salomon. “Hewan apa yang kau buru untuk makanan anakmu?” Tanya sang raja. “Burung, Tuanku!” jawab cerpelai. Selesai bercerita seperti itu, Raja Salomon lalu bertanya kepada singa betina yang sedang mencucurkan air mata. “Pernahkah kau berburu manusia untuk makanan anakmu?” Singa tidak bisa menjawab. Ia tersipu-sipu malu. “Jangan berbuat seperti itu, kalau tidak mau diperlakukan seperti itu,” kata Raja Salomon. (Roger Jenkins, Singapura)

Perlu Pendirian PAUD Hindu Negeri Pendidikan Anak Usia Dini begitu penting sebagai pondasi awal anakanak sebelum memasuki Sekolah Dasar. Dengan mengikuti PAUD diharapkan dapat membentuk karakter peserta didik sejak usia dini. Hal ini juga disampaikan oleh Ketua Dewan Pimpinan Kabupaten (DPK) Perhimpunan Pemuda Hindu (Peradah) Buleleng, I Made Bagus Andi Purnomo, M.Pd. Dirinya mengatakan sangat mendukung upaya pemerintah daerah setempat untuk terus mengembangkan PAUD yang ada di Buleleng. salah satunya dengan mendorong pemerintah setempat untuk segera merealisasikan rencana pendirian Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Hindu Negeri. “Kami mendorong agar rencana tersebut segera direalisasikan. Terlebih lagi, belum ada PAUD berbasis Hindu di Buleleng yang berstatus negeri,” jelasnya. Dengan sekolah berbasis Hindu

diyakini dapat menumbuhkankembangkan karakter peserta didik yang sering diwacanakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). “Agama dan budaya mengandung nilai-nilai pendidikan adilihung. Agama dan budaya mengandung nilai-nilai karakter pendidikan yang sangat rele­ van diaplikasikan. Anak-anak usia dini harus mulai dikenalkan dengan agama dan budayanya. Dengan hal itu akan tumbuh rasa memiliki, melaksanakan kemudian mengimplementasikan,” papar dia sembari mengingatkan bahwa sesuai Permendiknas No. 58 tahun 2009, PAUD juga dijabarkan sebagai pendidikan awal untuk mengembangkan moral dan agama. Bagus yang juga sebagai Wakil Ketua Forum Generasi Muda Lintas Agama Buleleng itu juga menilai perkembangan globalisasi begitu cepat. Anak usia dini kini mulai terbiasa dengan segala yang yang berbau modern. Anak-anak terbiasa bermain

hanya dengan telepon pintar mereka saja. Satu sisi ada hal positif dimana anak dapat belajar dengan mengakses info pendidikan dengan cepat, namun disisi lain berdampak pada minimnya sosialisasi dengan lingkungan, adat dan budayanya. “Beberapa contoh misalnya anak-anak mulai enggan untuk belajar ‘nabuh’ atau ‘mengambel’. Permaikan tradisional dilupakan. Coba tanya berapa anak yang bisa memainkan permainan tradisional. Masih banyak lagi hal lain yang perlu mendapatkan sorotan,” tuturnya. Pihaknya juga menilai pendirian PAUD Hindu sejalan dengan program pemerintah daerah dalam upaya mening­katkan pelayanan pendidikan anak usia dini. Terlebih banyak penghargaan yang diterima Kabupaten Buleleng dalam hal pembinaan PAUD di berbagai wilayah desa dan kecamatan di daerah itu. “Jika Pemkab dapat merealisasikan satu PAUD Hindu setiap satu kecamatan seperti yang

direncanakan. Saya kira sangat baik sekali. Sebagai awal dapat digunakan sebagai percontohan dulu. Jika sistem dan kurikulumnya jalan bagus, baru kemudian direalisasikan tiap satu desa, berdiri satu PAUD Hindu,” tegasnya. Lebih lanjut, dirinya juga mengingatkan, generasi saat ini merupakan pewaris pembangunan masa mendatang. Mereka (anak usia dini) merupakan elemen penting guna mewujudkan cita-cita besar mewujudkan Indonesia emas pada 2045. “Anak-anak usia dini saat ini merupakan generasi emas pada 2045 mendatang. Mereka akan berada pada usia produktif. Jadi harus dididik dan digodok

dengan sistem yang benar. Analogi­ nya sederhana. Bibit yang bagus akan menghasilkan tanaman yang terbaik apabila ditanam pada lahan subur dan dengan sistem tanam profesional. Sebaliknya, jika bibit bagus ditanam pada lahan kering. Memang akan tumbuh, tapi hanya menjadi tanaman tidak berkualitas dan cen­ derung cepat mati,” tuturnya. (Wiwin Meliana)

I Made Bagus Andi Purnomo, M.Pd.


10

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018

Buleleng

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018

Kom an g

23

R ed iasa

Berharap Menamatkan Sekolah Potret wisata Bali dengan wajah pariwisatanya seakan meyakinkan siapa saja bahwa provinsi ini tidak lagi tersentuh kemiskinan. Dibalik gambaran kemakmuran masyarakat di Bali Selatan ada ketimpangan status ekonomi di sejumlah kabupaten lain di Bali. Salah satunya Kabupaten Buleleng.

K

emiskinan rupanya masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah di tengah upaya pengembangan-pengembangan berbagai sektor untuk memajukan Buleleng. Buleleng yang memiliki wilayah terluas di Bali memang memiliki jumlah penduduk terbanyak di antara kabupaten lain, sehingga berbagai masalah timbul dari mobilitas sosial. Kemiskinan merupakan suatu keadaan yang sering dihubungkan dengan kebutuhan, kesulitan dan kekurangan di berbagai kebutuhan hidup yang menggambarkan kekurangan materi. Salah satu potret kemiskinan ada di Desa Sudaji Kecamatan Sawan, Buleleng. Komang Rediasa hidup di tengah keluarga yang serba terbatas. Di usianya yang masih sangat belia, Komang (7 tahun) begitu ia dipanggil tidak bisa merasakan masa kecil yang bahagia seperti anak-anak pada umumnya. Orangtuanya, Luh Sekri dan Ketut Mas Sumadi tidak punya cukup uang untuk membelikannya mainan atau makanan yang enak. Dalam keseharian, sang ayahlah yang menjadi tulang punggung tunggal dalam keluarganya, sedangkan sang hanya sebagai buruh serabutan. Jika memungkinkan sang ibu turut membantu bekerja untuk menambah penghasilan keluarga, jika tidak sang ibu hanya fokus mengurus anak-anaknya di rumah. Saat ditemui Tokoh di kediamannya, Banjar Kaja Kauh Desa Sudaji, Buleleng, Komang baru saja pulang dari sekolah. Dirinya saat ini duduk di kelas 1 SD Negeri 4 Sudaji. Dengan pakaian lusuh yang seharusnya masih baru bagi anak yang baru masuk di SD, Komang nampak begitu kurang bersemangat. Sambutan hangat sang ibu tidak didapatnya sepulang sekolah. Komang sudah terbiasa hidup

mandiri, bahkan di usianya yang masih sangat kecil dirinya sudah biasa di tinggal sendiri di rumah dan mengerjakan segala sesuatu kebutuhannya sendiri. Ibunya sedang bekerja menjadi buruh angkut pasir. Komang tinggal bersama orangtua, kakaknya Kadek Anggara Natha (11), dan adiknya Ketut Ani Ningsih (3). Kakak sulungnya Gede Ariaba (13) yang telah putus sekolah sedang

bekerja di wilayah Tabanan sebagai buruh pasir. Mereka tinggal bersama di bawah rumah yang tidak layak huni. Rumah dua kamar ini merupakan warisan dari kakeknya, ayah dari Mas Sumadi. Rumah tua ini, tak hanya sudah rapuh tetapi atapnya yang terbuat dari seng juga sudah karatan dan berlubang. Mirisnya, ketika turun hujan mereka menggunakan terpal untuk berteduh. “Kalau hujan semuanya bocor buku-buku dan seragam harus dicarikan tempat aman,� tuturnya. Rumah yang ia tinggali terdapat dua kamar. Satu kamar untuk keluarga, satu kamar lagi untuk pamannya, adik ayahnya. Bahkan daun

pintu dan jendela pun sudah dibuka karena di makan rayap. Yang lebih memprihatinkan lagi, tidak ada kamar mandi di bangunan rumah itu. Semua kebutuhan untuk memasak, mandi, cuci pakaian, hingga kebutuhan buang hajat dilakukan lah di saluran irigasi dekat saat pulang seko Komang Rediasa rumah mereka. Untuk keperluan sekolah Komang Komang berharap dapat menamatkan hanya mengandalkan penghasilan sekolahnya tidak seperti kakaknya sang ayah yang tidak menentu. yang harus putus sekolah dan harus Bahkan pergi ke sekolah pun dirinya membantu kebutuhan ekonomi kejarang mendapat bekal dari sang ayah. luarga di usianya yang masih sangat Kalaupun diberikan hanya 2 ribu saja. belia. (Wiwin Meliana)

Komang Rediasa dan keluarga


Buleleng

22

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018

Bahasa Bali Diusulkan Masuk di Perguruan Tinggi Saat ini pemerintah daerah mulai waspada terhadap keberadaan Bahasa Bali di kalangan penutur terutama orang Bali. Selama ini, Bahasa Bali memiliki peran sentral dalam kehidupan berbudaya, kesenian. Sehingga, dirasa perlu ada sebuah regulasi yang mengatur usaha-usaha pelestarian bahasa Bali ke depan. Sebab, keberadaan Perda No. 3 Tahun 1992 tentang Bahasa, Sastra dan Aksara Bali, masih belum menjamin secara keseluruhan upaya pelestarian Bahasa Bali.

B

ertempat di Ruang Gabungan Komisi DPRD Buleleng, anggota Pansus I DPRD Bali menggelar rapat dengar pendapat untuk menyerap masukan dari para praktisi Bahasa dan Aksara Bali yang ada di Buleleng. Pertemuan yang dihadiri penyuluh Bahasa Bali se-Kabupaten Buleleng ini juga membahas penyempurnaan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang Perubahan Atas Perda Nomor 3 Tahun 1992 tentang Bahasa, Aksara dan Sastra Bali, Selasa (27/2). Dalam kesempatan itu turut hadir, Wakil Ketua Pansus I DPRD Bali, Wayan Rawa Atmaja, beserta anggota, Kepala Dinas Pendidikan

Provinsi Bali, TIA Kusuma War­ dhani beserta jajarannya. Menurut Wakil Ketua Pansus, Rawan Atmaja pentingnya dilakukan revisi terhadap Ranperda agar upaya pelestarian Bahasa, Sastra, dan Aksara Bali dapat dilakukan sesuai dengan perkembangan zaman. “Ini untuk penyempurnaan Ranperda perubahan Perda yang sudah berumur 26 tahun. Jadi, kami keliling Bali, karena setiap daerah punya kelebihan dan kekurangan untuk kami serap masukannya,” ungkapnya. Dalam dengar pendapat di Buleleng, sambungnya banyak masukan yang diperoleh. Uta-

Rapat dengar pendapat Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang Perubahan Atas Perda Nomor 3 Tahun 1992 tentang Bahasa, Aksara dan Sastra Bali, Selasa (27/2)

manya, bagaimana penerapan pelajaran Bahasa Bali agar masuk di semua jenjang pendidikan, terutama di Perguruan Tinggi. Masukan itu diakuinya, memang sulit diterapkan, mengingat setiap perguruan tinggi atau Universitas memiliki kemandirian. “Ya, kami kembalikan ke masing-masing Universitas. Kami berharap Bahasa Bali masuk sebagai Mata Kuliah Dasar Umum,” imbuhnya.

Terhadap Ranperda Bahasa, Aksara dan Sastra Bali, mendapatkan antusias yang tinggi dari praktisi Bahasa Bali yang hadir. Hanya saja, kebutuhan akan guru bahasa Bali dan Penyuluh Bahasa Bali tercover dalam Perda itu nantinya. “Kami wajib hukumnya sebagai guru menjaga anak didik, agar mengetahui budaya Bali sebagai generasi Bali ke depan. Memang saat ini, media canggih dan animo generasi muda

bergeser, maka kami akan menarik kembali mereka mengenal budaya Bali lewat Bahasa Bali,” ungkap salah seorang Guru Bahasa Bali SMAN 1 Gerokgak, Wayan Sweta. Sementara itu, Ketua Aliansi Peduli Bahasa Daerah Bali I Nyoman Suka Ardiyasa sangat mengapresiasi upaya pemerintah daerah dalam pelestarian Bahasa dan Sastra Bali. Hal ini sebagai angin segar bagi semua penyuluh Bahasa Bali untuk lebih eksis dan giat lagi bekerja dalam upaya penyelamatan bahasa, sastra dan aksara. Selama ini kendala di lapangan dalam upaya pelestarian tersebut masih terkendala anggaran. Pihaknya bersama anggota hanya dibekali Sumber Daya Manusia sehingga perlu dana stimulan untuk berjalannya suatu program. “Kalau mengerjakan lontar misalnya, lontar itu tidak hanya dibaca tetapi juga ada proses perawatan. Kendala ini menjadi kendala utama ketika kami bergerak, namun tidak menutup kemungkinan selama ini program kami tetap jalan karena ada kesadaran dari masyarakat,” jelasnya. Dengan adanya rapat dengar pendapat ini di setiap Kabupaten/ Kota di seluruh Bali, diharapkan akan mendapatkan masukan yang nantinya bisa dipakai untuk menyempurnakan Ranperda ini. DPRD Bali akan membahas Ranpererda ini pada masa sidang pertama, Januari sampai April. Jika dalam waktu itu belum selesai, maka waktu pembahasan akan diperpanjang. (Wiwin Meliana)

Calon TKI Diimbau Lengkapi Dokumen Resmi

Animo masyarakat untuk be­kerja di Luar Negeri memang sangat tinggi. Dengan gaji tinggi diharapkan dapat meningkatkan taraf ekonomi keluarga. Berdasarkan data di Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Buleleng, tahun 2017 sebanyak 984 orang mengadu nasib di negeri orang. Kebanyakan dari mereka bekerja di kapal pesiar, hotel maupun spa. Mengingat tingginya minat masyarakat Buleleng bekerja di luar negeri, maka Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Denpasar, melakukan sosialisasi de­ngan menghadirkan seluruh Prebekel se­Kabupaten Buleleng. Melalui ke­­gi­ atan yang bertajuk Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia ini, BP3TKI menginginkan agar se­ti­ ap tenaga kerja yang memilih untuk mengadu nasib di luar negeri, agar menjadi TKI yang resmi dilengkapi dengan dokumen-dokumen yang legal, Senin (26/2) di Ruang pertemuan camat Sukasada. Kepala BP3TKI Denpasar, ­Ilham Ahmad mengatakan, jumlah TKI yang berasal dari Buleleng memang tergolong cukup banyak, bila dibandingkan dengan yang ada di

Sosialisasi BP3TKI kepada prebekel se-Kabupaten Buleleng

kabupaten maupun kota lain di Bali. Inilah yang menjadi alasan mengapa pihaknya gencar melakukan sosialiasi, agar seluruh TKI yang berasal dari Bumi Panji Sakti menjadi tenaga kerja yang handal, aman dan nyaman dalam bekerja. Diakui Ilham, akhir-akhir ini memang banyak permasalahan yang menimpa TKI asal Buleleng. Contohnya, seperti kasus yang menimpa Ni Kadek Ayu Ratih Sinta (21), mahasiswi Sekolah Tinggi Perhotelan Bali (STPBI), yang tewas setelah terlibat kecelakaan di Miami, Amerika Serikat. Belakangan diketahui, wanita asal Kecamatan

Gobleg itu merupakan seorang TKI Ilegal. Informasi terakhir yang diterima, akte kematian Ratih Sinta telah diterbitkan. Namun kata Ilham, pemulangan jenazah memang membutuhkan waktu yang lama. “Harus bersabar, kita juga harus menyadari pengiriman jenazah tidak gampang. Berkaca pada kasus tersebut, saya imbau kepada semua pelaku penempatan maupun calon TKI, agar minimal bisa melindungi dirinya sendiri. Jangan kalau sudah ada masalah seperti ini semua tiarap, tidak ada yang mau bicara. Ini lah yang disesalkan, seolah peme­ rintah yang disalahkan,” tegasnya.

Imbuh Ilham, jika mendengar secara global, permasalahan tenaga kerja di luar negeri 80 persen sumbernya berasal dari hulu alias Desa, asal TKI itu sendiri. Padahal sebut dia, pemerintah desa memiliki tugas dan tanggung jawab dalam menerima dan memberikan informasi pekerjaan, melakukan verifikasi dan pencatatan calon pekerja,  memasilitasi pemenuh­ an persyaratan administrasi kependudukan calon pekerja, serta melakukan pemantauan keberangkatan dan kepulangan pekerja. “Manakala di desa sudah salah, indetitas ke depan ya salah terus. Aparatur desa tidak boleh lagi main-main. Kalau memang ada warganya yang tidak boleh berangkat, harus dikasih solusi.  Kalau tetap ngotot mau berangkat, dokumen harus dilengkapi. Aparatur desa dan Dinas Tenaga Kerja harus melayani. Supaya angka permasalahan ini bisa ditekan,” jelasnya. Untuk itu, Ilham pun berharap  kepada calon-calon TKI khususnya untuk melengkapi dokumen-dokumen resmi. Agar pihaknya bisa memantau, dan memberikan perlindungan terhadap TKI tersebut seandainya sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Serta ke depan-

nya, agar para TKI lebih mematuhi peraturan-peraturan yang berlaku. “Kalau aturan dan dokumen sudah terpenuhi tidak ada lagi yang ditakuti. Kalau tidak lengkap, ini akan menjadi kesalahan yang sangat fatal bagi TKI itu,” tandasnya. Ditemui di tempat yang sama, I Nyoman Susila selaku Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja dan Transmigrasi Dinas Tenaga Kerja Buleleng mengungkapkan, berdasarkan data pada tahun 2017, jumlah tenaga kerja yang mengadu nasib di luar negeri asal Buleleng sebanyak 984 orang. “Mereka tersebar di berbagai negara. Ada yang bekerja di kapal pesiar, spa dan hotel. Sedangkan 2018 diprediksi akan semakin bertambah,” katanya. Untuk itu, sosialisasi seperti ini pun diharapkan oleh Susila agar rutin dilakukan oleh BP3TKI. “Dari segi untuk menjamin perlindungan kepada para TKI, kami terus ber­koordinasi dengan BP3TKI Denpasar ya. Semoga BP3TKI tidak bosan-bosan memberikan so­sialisasi. Dan kami harap ke depannya sosialisasi bisa langsung menyasar pada masyarakat di desa,” pungkasnya. (Wiwin Meliana)

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018

11


Pelesir

12

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018

Gili Putih

Pesona Gundukan Pasir di Tengah Laut

Pantai di Buleleng selalu menawarkan daya tarik untuk dikunjungi para wisatawan. Sebagai kabupaten yang terletak di Bali Utara, sebagian besar pantai Buleleng memiliki pasir hitam dengan pesonanya. Tetapi, di bagian Barat, ada ‘permata’ yang mulai bersinar.

U

ntuk menikmati keindahan laut di tengah laut, kini tidak perlu pergi jauh-jauh, cukup di Buleleng. Pulau Gili Putih merupakan salah satu destinasi pantai baru yang terletak di desa Sumberkima, Kecamatan Gerokgak. Pulau Gili Putih merupakan sebuah gundukan pasir putih di tengah laut mirip seperti sebuah pulau namun tak berpenghuni, hanya gundukan pasir putih yang cantik. Keuni-

kan pulau ini, bentuknya selalu berbeda-beda sesuai dengan kondisi pasang surut gelombang laut. Maka itu, luas pulau ini juga sering kali berubah-ubah. Kini pulau Gili Putih ini menjadi salah satu objek wisata baru di Buleleng. Untuk menuju Gili Putih, wisatawan dapat menggunakan perahu nelayan. Selama perjalanan, mata akan terhibur oleh pemandangan air laut yang sangat jernih. Pasir putih di bawah air terlihat begitu mengkilap,

sementara beberapa terumbu karang sudah mulai bertumbuh. Di beberapa sudut perairan, tampak sejumlah keramba apung tempat budidaya perikanan. Kepala Dinas Pariwisata Buleleng Nyoman Sutrisna mengungkapkan, sudah dibentuk Pokdarwis untuk mengelola kawasan kawasan Gili Putih agar ada pihak yang bertanggung jawab jika ada wisatawan yang berkunjung. Pembentukan Pokdarwis ini juga bertujuan agar ada pihak yang mengelola sehingga nantinya Gili Putih menjadi salah satu objek wisata favorit. “Ke depan kami dan Pokdarwis akan melakukan pengembangan terhadap kawasan tersebut untuk mempercantik area Gili Putih untuk menarik wisatawan datang ke lokasi tersebut,” ungkapnya.

Dapatkan

Awalnya, Pulau Gili Putih ini kerap disinggahi wisatawan yang akan menyeberang ke Pulau Menjangan. Tak jarang juga wisatawan yang transit di Gili Putih juga melakukan aktivitas snorkeling di sekitar pulau ini. Namun saat ini, masyarakat yang penasaran dengan keindahannya bahkan dengan sengaja datang hanya untuk berswafoto. Gundukan pasir putih di tengah laut yang disebut sebagai Gili Putih ini memang sangat cocok di gunakan masyarakat sebagai spot foto. Bahkan saat ini, Gili Putih ini juga sering dicari sebagai objek fotografi maupun untuk lokasi prewedding. Jangan khawatir untuk berlama-lama di pulau ini, karena sejumlah payung disediakan untuk pengunjung yang menikmati teriknya matahari. Di dalam pulau juga ada bale kecil untuk duduk santai sambil menikmati keindahan pulau nan cantik ini. (Wiwin Meliana)

bacaan wanita dan keluarga

di Pesawat Garuda dan Lounge Garuda m Bali Post

Jln. Kepundung 67A Denpasar. Tlp. (0361) 225764 m Sekretariat Tokoh Jln. Kebo Iwa 63A Denpasar. Tlp. (0361) 425373 m Kios Sumber Dana Budi Jaya Jln. Hayam Wuruk 58 Denpasar. Tlp (0361) 223958 m Kios 66 Jln. Wahidin 66 Denpasar. Tlp. (0361) 425126 m Kios Widia Sari Jln. Bakung Sari No. 2 Kuta (Pasar Senggol Kuta). Tlp. 759482 m Safii Roit (Ria Agency) Jln. Kediri 28 Tuban. Tlp. 765542 m Warung Media Singaraja Jln. A Yani, Pertokoan Terminal Banyuasri. Tlp. (0362) 21059 m Radio Singaraja FM Jln. Raya Singaraja Seririt Km 6 Desa Tukad Mungga. Tlp. (0362) 41124 m Warung Media Tabanan Jln. Jepun No. 9 (Ruko Pasar Kodok) m Warung Media Negara Jln. Merak No. 36 Pendem- Jembrana m Warung Media Gianyar Jln. Astina Timur (Utara Patung Arjuna). Tlp. (0361) 943570 m Warung Media Bangli Jln. Nusantara (Banjar Cempaga) HP. 0812 46 9 1915 m Warung Media Klungkung Jln. Raya Puputan 95 Semarapura. HP. 085 935 511 4131 m Warung Media Karangasem Radio Besakih Jln. Surapati, Gg. Sedap Malam 8. Tlp. (0363) 21791 m Warung Media Besakih Pesraman Besakih Jln. Raya Besakih HP. 087760050056, 081999275859 m Warung Media Kintamani Jln. Raya Kintamani Batur (Selatan Pura Batur) m Warung Media Nusa Penida Jln. Raya Ped (Depan Pura Dalem Ped Nusa Penida) HP. 082236657588

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018

21


20

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018

Bugar

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018

13

JE Paling Sering Serang Anak-anak Virus japanese encephalitis (JE) ramai diperbincangkan sejak terdeteksinya kasus ini di Bali. Pemberian vaksin JE pun digencarkan. Apa itu penyakit JE?

dr. Made Agus Hendrayana, M.Ked.

M

enurut dosen Bagian/SMF. Mikrobiologi Klinik FK.Unud/ RS.Sanglah, dr. Made Agus Hendrayana, M.Ked., penyakit japanese encephalitis adalah radang otak pada manusia yang disebabkan adanya infeksi virus japanese encephalitis.

Penyakit ini tergolong penyakit zoonosis atau penyakit yang mengenai hewan tetapi juga dapat menyerang manusia. Penyakit ini banyak ditemukan sporadis di negara-negara Asia yang termasuk agraris dimana masih banyak terdapat lahan pertanian seperti Fi­ l­ipina, Tiong­kok, India, Thailand, Malaysia, termasuk Indonesia. “Penyakit ini disebut japanese enchepalitis karena penyakit radang otak ini pertama dikenal pada tahun 1871 di Jepang. Penyakit ini telah menginfeksi lebih kurang 6.000 orang pada tahun 1924, dan sering terjadi wabah setelahnya. Penyakit ini diketahui penyebabnya adalah virus japanese encephalitis setelah diisolasi pada tahun 1934 dari jaringan otak penderita ensefalitis yang telah meninggal,” ungkapnya. Di Indonesia virus japanese encephalitis telah diteliti sejak pada

tahun 1972. Beberapa penelitian di Bali terutama di Rumah Sakit Sanglah sudah dimulai sejak awal tahun 1990 dimana ditemukan kasus serologi positif terhadap virus japanese encephalitis. “Virus japanese encephalitis dapat menginfeksi manusia karena kebetulan digigit nyamuk yang telah mengandung virus japanese encephalitis. Penyakit ini paling sering menyerang anak-anak terutama di rentang usia 1-15 tahun. Tetapi tidak semua manusia yang ter­infeksi virus ini menjadi sakit dan menimbulkan gejala klinis,” kata dr. Agus. Penyebaran penyakit ini lebih marak terutama pada musim hujan saat populasi nyamuk culex meningkat. “Nyamuk culex tritaeniorhynchus dapat menularkan virus ini baik ke manusia maupun ke hewan peliharaan lainnya, sehingga virus japanese encepha-

Kolesterol Baik dan Kolesterol Jahat (dr. Ayu Putu Harina Ferdiyanthi, S.Ked)

Kolesterol selama ini biasanya selalu dikaitkan dengan hal yang kurang baik. Tapi tahukah Anda, tubuh kita memerlukan kolesterol itu sendiri. Selama kadar atau jumlah kolesterol berada dalam rentang normal, maka perannya baik untuk tubuh. Berdasarkan sifatnya, kolesterol dibagi menjadi kolesterol baik dan kolesterol jahat. Kolesterol Jahat Kolesterol jenis ini adalah LDL (low density lipoprotein). Bila jumlahnya berlebih, maka kolesterol ini akan berperan jahat. Hal ini karena LDL dapat menimbulkan penyumbatan pada pembuluh darah dengan membentuk plak pada dinding pembuluh darah. Plak inilah yang nantinya, bila makin menyumbat pembuluh darah, akan menjadi risiko penyakit jantung koroner dan stroke. Tetapi, bila jumlahnya lebih rendah dari rentang normal, juga tidak baik. Dalam jumlah normal kolesterol ini memiliki peran penting. Kolesterol Baik Kolesterol jenis ini adalah HDL (high density lipoprotein). Kolesterol ini berfungsi mengikat dan mengangkut kolesterol lain yang sudah tidak dibutuhkan oleh tubuh dibawa kembali ke hati dan diproses untuk dikeluarkan dari tubuh. Fungsi lainnya adalah melepaskan kolesterol LDL yang menempel pada dinding pembuluh darah, sehingga aliran darah menjadi lebih lancar. Otomatis mengurangi risiko terjadinya penyakit jantung koroner dan stroke. Mengingat fungsinya yang seperti inilah, kita harus senantiasa menjaga agar kadar HDL tetap tinggi. Adapun rentang normal kadar kolesterol dalam darah adalah: (lihat tabel) Apa saja faktor-faktor yang dapat membuat kolesterol meningkat? Faktor yang dapat dimodifikasi: - Merokok - Merokok dapat menurunkan HDL - Kegemukan - Kelebihan berat badan cenderung meningkatkan LDL, dilihat dari berlebihnya lemak yang disim-

- -

- - - - -

pan. Tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa orang kurus tidak memiliki LDL berlebih. Kurangnya aktifitas fisik Kolesterol dalam tubuh juga dapat diubah menjadi energi. Bila seseorang jarang beraktivitas fisik, maka kolesterol tidak diubah menjadi energi, melainkan hanya menumpuk dalam tubuh. Konsumsi makanan yang tidak sehat Terlalu banyak mengonsumsi makanan berlemak, juga membuat lemak banyak tertimbun dalam tubuh. Konsumsi alkohol berlebihan Tekanan darah tinggi Penyakit komorbid, seperti diabetes (kencing manis), penyakit ginjang, hipertensi, dll)

Faktor yang tidak dapat dimodifikasi: - Usia - Jenis Kelamin - Faktor Keturunan Mencegah tentunya lebih baik daripada mengobati. Berbagai hal dapat dilakukan untuk mencegah dan mengurangi risiko terjadinya kolesterol berlebih (hiperkolesterolemia), antara lain adalah perubahan gaya hidup, termasuk mengonsumsi makanan sehat dan rajin berolahraga. Bila sudah mengalami hiperkolesterolemia, dan dengan perubahan gaya hidup tetap tinggi, maka perlu mendapatkan pengobatan. Berkonsultasilah terlebih dahulu dengan dokter untuk mendapat terapi yang paling tepat.

litis termasuk dalam kelompok penyakit arbovirus yaitu virus yang ditularkan serangga atau nyamuk,” jelas dr. Agus. Masyarakat di Bali terutama yang dekat dengan kandang babi harus lebih waspada dengan penyakit ini. Di Bali, babi merupakan salah satu ternak yang masih banyak dipelihara di sekitar pekarangan rumah dan banyak pula terdapat peternakan babi skala besar. Selain itu, kata dia, di Bali juga masih banyak terdapat lahan persawahan yang merupakan tempat yang baik untuk kembang biak nyamuk culex. Belum ada pengobatan khusus antivirus yang dapat membunuh virus ini. “Pengobatan pada pasien yang terkena lebih kepada pengobatan simtomatis untuk mena­n gani gejala yang timbul dan terapi suportif untuk menjaga kualitas hidup pasien yang terkena,” kata Magister Ilmu Kedokteran Tropis Universitas Airlangga Surabaya ini. Pasien yang menunjukkan gejala harus dirawat di rumah sakit

untuk mendapatkan terapi agar mencegah terjadi kecacatan fisik, mental atau mencegah kematian. Pasien dengan defisit neurologis membutuhkan fisioterapi dan rehabilitasi. Penyakit ini dapat dicegah dengan memberikan vaksinasi. Beberapa negara di Asia sudah memasukkan imunisasi japanese encephalitis ke dalam program rutin. “Vaksinasi pada manusia, terutama pada anak-anak perlu dberikan di daerah yang sering terjadi kasus japanese encephalitis. Imunisasi juga dianjurkan untuk orang yang bepergian ke daerah endemik japanese encephalitis. Selain vaksinasi terhadap manusia, ada juga vaksinasi untuk hewan terutama untuk kuda dan ternak lainnya,” ujar dokter yang pernah mengikuti pelatihan di Springschool on Tropical Medicine, Infectious Diseases and Molecular Biology, UMG, Göttingen, Jerman dan Microbiology Research and Diagnostic, Erasmus Medical Centre, Rotterdam, Belanda ini. (Wirati Astiti)

Mengenal Patah Tulang Lebih Dekat

Patah Tulang, Diurut atau IGD? (dr. Putu Teguh Aryanugraha)

Apakah ciri-ciri dari patah tulang? Bagaimana penanganannya sebelum dibawa ke rumah sakit? Patah tulang adalah keadaan ketika salah satu tulang retak atau pecah menjadi beberapa bagian. Ini juga dikenal dengan kata “fraktur” dalam dunia kedokteran. Hal ini bisa disebabkan oleh cedera olahraga, kecelakaan, atau trauma kekerasan. Tulang yang patah pada umumnya tidak mengancam nyawa, tapi mereka memerlukan perawatan medis sesegera mungkin. Mari kita pelajari cara mengenali gejala dan tanda dari tulang yang patah, berikan pertolongan pertama, dan dapatkan bantuan medis profesional secepatnya. Apakah tanda dan gejala dari patah tulang? Mari kita mengenal lebih dekat lagi. - Sebuah tulang yang patah dapat menyebabkan satu atau lebih dari tanda dan gejala berikut ini: - Rasa sakit yang hebat di daerah luka yang makin parah saat digerakkan - Mati rasa di daerah yang terluka - Warna kebiru-biruan, bengkak, atau kelainan bentuk terlihat pada daerah yang cedera - Tulang menonjol melalui kulit - Pendarahan berat di lokasi luka Bagaimanakah kita bisa memberikan perawatan sebagai penanganan pertama bagi patah tulang di rumah? Jika Anda menduga seseorang mengalami patah tulang, berikan pertolongan pertama dan bantu mereka mendapatkan perawatan dari tenaga medis: - Hentikan pendarahan: Jika terdapat perdarahan, angkat dan berikan tekanan pada luka menggunakan perban steril, kain bersih, atau pakaian bersih. - Imobilisasi area yang cedera: Jika Anda menduga terjadi patah tulang di daerah leher atau punggung mereka, bantulah mereka tetap dalam posisi diam. Jika Anda menduga mereka telah mematahkan tulang di salah satu anggota badan mereka yang lain, lakukan imobilisasi

daerah tersebut dengan menggunakan kain atau selempang dengan bantuan benda lurus keras dan tebal (contohnya koran atau penggaris) seperti gambar di bawah. - Balut dingin daerah patah tulang: Bungkus es atau kantong es batu di selembar kain dan oleskan ke area yang cedera hingga 10 menit setiap kalinya. - Tenangkan penderita: Bantu penderita mengambil posisi yang nyaman, anjurkan penderita untuk beristirahat, dan meyakinkan mereka untuk tetap tenang. Tutupi penderita dengan selimut atau pakaian agar tetap hangat. - Berikan obat penghilang rasa nyeri: untuk membantu rasa nyeri bisa juga memberikan Paracetamol 500-1000 mg (1-2 tablet) atau Ibuprofen 200-400mg (1-2 tablet) untuk penderita dewasa. Hindari pemberian obat apabila penderita masih anak-anak di bawah umur 18 tahun. - Dapatkan bantuan profesional: Hubungi ambulans atau bantu mereka ke instalasi gawat darurat (IGD) untuk mendapatkan perawatan medis. Jika penderita tampak tidak bernafas atau tidak sadar, hubungi ambulans segera untuk mendapatkan pertolongan medis dan mulailah RJP. Anda juga harus menghubungi jika: Anda menduga penderita telah mematahkan tulang di kepala, leher, atau punggung dan tulang menembus kulit hingga terjadi perdarahan yang hebat. Jika tidak, bantu mereka ke gawat darurat dengan mobil atau cara lain sehingga dokter dapat sesegera mungkin mendiagnosa kondisi mereka dan merekomendasikan perawatan yang tepat.


Life Story

14

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018

“Susik” Rindu Hibur Masyarakat

Nama Drs. I Made Ngurah Sadika dikenal sebagai seniman bondres Buleleng. Pria yang sudah menekuni bebondresan sejak 1986 ini­ lah yang mempopulerkan peran Susik, karak­ ter manja yang berhasil mengocok perut penontonnya.

B

anyolan lawakan dari Susik Bondres masih melekat di ingatan masyarakat. Susik dikenal sebagai gadis centil, sok pintar, dan sok cantik. Bukan hanya di Buleleng, Susik dikenal hingga di Bali bahkan beberapa wilayah Indonesia dengan lawakan khas Bulelengnya. Sadika yang tinggal di Jalan Kresna, Kelurahan Kendran, Buleleng ini sejak beberapa bu­ lan terakhir tidak menerima job untuk mengisi berbagai acara karena menderita sakit komplikasi dan gagal ginjal. Hal tersebut juga diungkapkan putra sulungnya I Gede Arya Dharmadi. “Bapak terakhir manggung Oktober 2017 di Nusa Lembongan,” ujar Arya yang akrab disapa Cimcim ini. Susik yang sering sekali mel­ ontarkan kata “Nyan Galakine Jak Memek” di setiap pentas lawakannya hanya bisa terbaring lemah di kediamannya. “Sakitnya Bapak sekitar dua tahun lalu, tapi kerasnya Oktober 2017. Awalnya kencing batu lalu merembet ke jantung dan akhirnya divonis gagal ginjal,” imbuh Cimcim. Walaupun sakit, ada saja ta­ waran untuk manggung. Sadika yang memiliki darah seni sejak kecil memang dikenal pantang menolak tawaran manggung kec­ uali kondisi tidak memungkinkan. Cimcim menuturkan sang ayah sering curhat dengan dirinya mengatakan rindu saat manggung dan menghibur para penonton. Sekarang rutinitas yang dilakukan adalah cuci darah, seminggu dua kali, tiap hari Selasa dan Jumat. Cimcim menambahkan saat ini tengah fokus untuk kesembuhan ayahnya. Meskipun dirinya sadar tidak mendapatkan kesembuhan total tetapi ia berkeyakinan agar sang ayah tetap bisa berkarya kembali. “Saya hanya bisa mem­ berikan motivasi agar bapak tetap

Kondisi I Made Ngurah Sadika saat ini

semangat dan bisa pulih kembali seperti sediakala,” tandasnya. KEMBARAN SUSIK Sejak Sadika sakit, praktis kara­ kter Susik tidak bisa lagi menghiasi panggung hiburan. Masyarakat pun dibuat rindu oleh sosok cen­ til, sok pintar dan sok cantik ini. Karakter Susik Bondres yang sejak lama melekat dalam diri Sadika. Kini karakter Susik Bondres seakan hidup kembali melalui peran sang anak, I Gede Arya Dharmadi. Sejak sang ayah sakit, Cimcim memang ditunjuk lang­ sung oleh sang ayah untuk membawakan karakter Susik. Ini juga sebagai pengobat rindu masyarakat ter­ hadap banyolan lawak Susik di setiap pen­ tasnya. “Kami katakan ter­ us terang Susik asli sedang sakit dan ada Susik yang diperank­ an oleh lain yang bisa menghibur,” ungkap­ nya. Beberapa orang memang menyetujui tetapi beberapa juga membatalkan tawaran pentas tersebut. Cimcin bukan orang baru dalam dunia seni. Ia lama berkecimpung dalam dunia seni sebagai pe­ nambuh, penari dan bondres. Sebelumnya, Cimcim tergabung dalam grup Bondres Sunari Badjra dengan memerankan Gek Mawar yang memiliki karakter perempuan centil dan manja. Un­

tuk memerankan karakter Susik dirinya hanya perlu memoles dan menghaluskan karakter-karakter unik yang dimiliki Susik. Memang tidak mudah me­ merankan karakter Susik yang diperankan oleh ayahnya. Dari segi suara, Cimcim mengaku

belum sepenuhnya dapat me­ niru suara Susik yang tinggi yang melengking. “Kalau suara Susik itu melengking saya belum bisa sepenuhnya meniru, tetapi dari manjanya, centilnya, dan cara jalannya saya menemukan karak­ ter itu,” jelasnya.

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018

Style

Bahkan sebelum sang syah terbaring sakit, Cimcim sempat juga duet dalam suatu pementasan. Pada kesempata itu, ia diperkenal­ kan sebagai karakter Susik Kembar dengan karakter sama. “Pada pementasan Nawa Natya, kami sempat manggung bersama. Saya diperkenalkan sebagai kembaran­ nya Susik. Dua orang dengan kara­ kter yang sama bahkan tapelnya pun sama tidak ada bedanya. Hanya saja waktu itu nama saya tetap Gek Mawar,” ungkap pria kelahiran 14 September 1990 tersebut. Cimcim pun sudah beberapa kali pentas menggunakan peran Susik. Pertama kali dia memer­ ankan peran Susik ketika pentas di Lombok. Sebelumnya dirinya sudah menjelaskan bahwa pem­ eran Susik tengah tergolek sakit sehingga dirinya yang diutus untuk menghibur masyarakat di sana. “Setelah pementasan saya meli­ hat masyarakat tetap menerima bahkan mereka tidak menyadari bahwa Susik bukan diperankan oleh aslinya,” tambahnya. (Wiwin Meliana)

dengan Denim Melihat aksen denim sobek-sobek atau distressed, sudah biasa. Nah, kali ini Tokoh menampilkan beberapa model denim kekinian, melalui ekplorasi yang berbeda dan menarik, karya kolekstif dari desainer LPTB 4 kota, yakni Jakarta, Semarang, Bali dan Surabaya.

A

dalah Andri Sutami, Wita Sasika Gayatri,Bianca Evangelia, Agied Derta, Dewa Made Putra lan, Mag­ gie Wienadi, Sandra Christina Halim, Nazhira Ranitya dan Christina Novalia, yang meng­ eksplorasi jeans atau denim ini habis –habisan. Ada yang digunting, disikat dan diserut hingga ber­ jumbai-jumbai atau dilaser dengan intensitas panas yang dapat diatur. Panas sedang untuk menghasilkan gambar berdasarkan pola diatas bahan, Sedangkan panas tinggi untuk membuat bahan bolong menjadi motif. Beberapa model denim dengan detil unik berikut ini bisa jadi inspirasi “ootd” (outfit of the day), terutama mereka yang berani berekspresi! (Sri Ardhini)

19


Jelita

18

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018

Sulam Alis Alami yang harus diperhatikan adalah konsumen dalam kondisi sehat, dan tidak mengonsumsi alkohol 24-38 jam sebelum sulam alis. Konsumen tidak sedang hamil atau menyusui

Skizofrenia bukan Orang Gila

M

enurut Melati Pyo, seorang penata rias di Denpasar, teknik sulam alis adalah menyisipkan tinta herbal di antara rambut alis asli dan membuat terlihat lebih tebal sekaligus alami. “Pada dasarnya sulam alis hanya merapikan alis yang tidak rapi atau untuk mengisi yang tidak memiliki alis. Selama ia melakukan proses tersebut, sangat jarang terjadi efek samping yang buruk. Asal, kata dia, memilih tempat untuk sulam

Skizofrenia bukan orang gila tapi perlu orang-orang “gila” yang peduli pada kami. Jangan kasihani kami, tapi kasihilah kami. Demikian slogan yang terpampang dalam s­ elebaran yang dibagikan beberapa anggota komunitas Rumah ­Berdaya dalam pameran HUT Kota Denpasar, pekan lalu.

Beberapa model sulam alis

dan tidak mengidap diabetes dan penyakit menular lainnya. Setelah sulam alis, ia menyarankan konsumen tidak berenang dan tidak melakukan kegiatan yang menimbulkan keringat berlebihan. “Alis juga tidak dipegang dengan tangan kotor. Alis minimal dua kali sehari diolesi salep aftercare,” ujarnya. Sampai saat ini, ia menilai, jarang terjadi efek samping, jika memang tepat memilih tempat sulam yang bersih, dan konsumen jujur menceritakan riwayat kesehatannya kepada eyebrow artist.

Melati Pyo

Proses sulam alis

R

umah Berdaya merupakan tempat rehabilitasi psikososial orang dengan skizofrenia (ODS). Komunitas Peduli ­Skizofrenia Indonesia Simpul Bali (KPSI) difasilitasi Pemkot Denpasar. Rumah Berdaya beralamat di Jalan Hayam Wuruk 179 Denpasar, dan beberapa kegiatannya bisa diakses melalui situs rumahberdaya.net dan instagram @rumahberdaya. Koordinator Rumah Berdaya,

Nyoman Sudiasa menuturkan, ke­ giatan yang dilakukan di Rumah Berdaya mulai Senin sampai Sabtu dari ppukul 8 sampai 18.00. Kegiatan se­ perti, Me GAE ( group art expression), mengobrol bersama, sembahyang, senam, bersih-bersih, membuat sabun, memasak, membaca buku, mendengarkan dan bermain musik, membuat dupa, membuat kerajinan tangan, bermain catur, berkebun, dan memelihara ikan. Beberapa produk Rumah Ber-

­ uswara. Akhirnya, dengan fasilitas K Pemkot Denpasar, Walikota Denpasar memberikan satu tempat kantor yang tidak terpakai di Jalan Hayam Wuruk sebagai base camp mereka. Menurut Sudiasa, sampai saat ini, stigma terhadap ODS masih sangat keras. Ia sendiri pernah merasakan saat baru keluar dari RS Jiwa ­Bangli. “Skizofrenia bukan orang gila,” ujarnya.

Salah satu kegiatan ODS

daya seperti tote bag, bokor, dulang, besek, dupa, kaus, sabun, apron, lukisan, spons kursi. Produk ini bisa dibeli lewat online di instagram @ rumahberdaya_onlineshop.

(Wirati Astiti)

Hal Penting Sebelum Pasang Behel Gigi Baik untuk alasan kesehapasti akan menginformasitan atau kecantikan, banyak kan hal ini berdasarkan orang yang ingin mengguanalisanya. nakan behel gigi. Namun, Ia menyebutkan, bersebelum  memutuskan undasarkan bahannya tidak tuk pasang behel gigi, ada ada behel yang warnahal yang harus diperhatikan,  warni. Hanya ada yang agar hasil perawatan sesuai metal bracket dan clear dengan yang Anda  inginkan. bracket dengan komposisi Jangan sampai, bukan sebahan yang berbeda-beda. nyum cantik yang didapat “Warna warni yang ada itu malah gusi bengkak. Baadalah aksesoris tambahan gaimana sebaiknya jika ingin yang dipasang kalau dipermemasang behel gigi? lukan untuk menggerakkan Menurut drg. I DG Budhigigi,” kata drg. I DG Budhijanana, pemasangan behel janana.  yang dikenal di masyarakat Ia menegaskan, pemasanmerupakan bagian dari tingan behel tidak akan pernah dakan medis yang harus menimbulkan efek samping, dilakukan  dokter gigi bukan sepanjang dikerjakan tenaga tukang gigi. “Sebelum pemedis yang berkompeten masangan behel gigi, perlu dan kerja sama yang baik mempertimbangkan kesedengan penderita. hatan umum dan kesehatan Namun,  sayangnya I DG Budhijanana gigi dan mulut penderita.  masih ada masyarakat yang Pemasangan behel hanya diizinkan pada penderita memasang behel pada oknum tukang gigi  yang yang memang memiliki keluhan pada fungsi dan bisa dipastikan hasilnya pasti bermasalah. “Saya estetik dari gigi-giginya karena berdesakan, gigimbau  seluruh masyarakat untuk tidak memasang inya jarang-jarang, tonggos, cakil, gigitan terbuka, behel ke tukang gigi, karena memang bukan dsb.,” ujarnya.  kompetensinya. Sudah terlalu banyak kasus-kasus  Ia mengatakan, penyelesaian kasus-kasus  pada yang justru memperburuk gigi penderita setelah pemakaian behel sangat tergantung pada tingkat pemasangan behel di tukang gigi,” ujar drg. Bukeparahan kasusnya dan dokter yang merawat dhijanana. (Wirati Astiti)

15

Rumah Berdaya

Tidak semua orang punya bentuk alis yang indah. Untuk membuat cantik, kita harus mencabut, mencukur dan menyempurnakannya dengan pensil alis. Kini, banyak perempuan beralih ke cara yang lebih praktis yakni sulam alis sehingga tampil cantik alami dan tidak norak.

alis yang bersih dan menggunakan jarum sulam yang steril dan baru. Ia menyebutkan, sebelum melakukan sulam alis

Komunitas

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018

Tingkatkan Kualitas SDM Berbasis Online Sebagai salah satu universitas swasta terbesar di Bali, Universitas Warmadewa (Unwar) terus berupaya berkomitmen meningkatkan kulitas SDM, agar mampu bersaing di era revolusi IV. Demikian disampaikan Rektor Unwar, Prof. dr. Dewa Putu Widjana, DAP &E, Sp.Park saat media gathering dengan awak media, pekan lalu. “Saya berharap ada masukan dan kritik membangun dari semua pihak untuk kemajuan Unwar. Dengan saran membangun ini kami berharap terus dapat meningkatkan SDM yang berkualitas,” ucapnya. Sementara Wakil Rektor I, Ir. I Nyoman Kaca, M.Si, menambahkan, upaya Unwar dalam mencetak SDM berkualitas telah diakui, sehingga jumlah mahasiswa terus meningkat bahkan mahasiswa berasal dari 30 provinsi. “Kami bangga dapat memberikan sumbangsih dalam meningkatkan kualitas SDM karena negara yang maju sangat ditentukan oleh SDM,” ujarnya. Kepala BAPPSIK Unwar, I Made Artawan, SE.MM. menambahkan, menghadapi revolusi IV semua harus berubah. Untuk itu, Unwar sejak dini sudah melakukan perubahan teruama di bidang sistem informasi yang menetapkan SIM-T Unwar menjadi salah satu pangkalan data di Unwar. Unwar telah menaikkan bandwith dari 80 Mbps menjadi 150 Mbps . Selain itu juga telah dikembangkan sistem informasi berbasis online seperti jadwal kuliah online, input KRS dll. “Kami selalu mengikuti perkembangan teknologi sehingga SDM yang kami cetak juga sudah terbiasa menggunakan teknologi infromasi dan siap hadapi revolusi IV,” imbuhnya. (Wirati Astiti)

SERING NGAMUK Nyoman Sudiasa menuturkan ia menderita skizofrenia sejak tahun 2001. Ia sering merasa curiga berlebih­ an seolah-olah setiap orang yang berbicara sedang membicarakan buruk dirinya. Bahkan, di kantor, ia merasa kurang bersemangat kerja. Ia sering gelisah dan cemas. Apalagi, ia merasa selalu diawasi saat bekerja sehingga tidak tenang. Akhirnya, ia mengamuk di kantor, semua barang dihancurkan dan ngomong ngalur ngidul. Bukan hanya di kantor, di rumah ia juga sering mengamuk dan memukul ibu dan istrinya. Atas persetujuan keluarga, ia dibawa ke RS Sanglah. Ia sempat dirawat 4 hari. Saat balik ke rumah, Sudiasa kumat lagi. Ia terus mengamuk. Bahkan, rencananya ia akan dipasung oleh keluarganya. Namun, tidak jadi, ia akhirnya dibawa ke RS Bangli. Sudiasa mulai tenang dan pada hari ke delapan ia minta pulang ke rumah. Sampai sekarang ia terus kontrol ke RS Wangaya untuk menebus obat yang harus diminum setiap hari seumur hidup. Sejak bergabung di Rumah Berdaya, Sudiasa merasa lebih baik. Ia mulai suka mengobrol dan bercanda, sangat berbeda dengan sebelumnya yang lebih suka diam. Saat ini Sudiasa dipercaya menjadi pegawai kontrak ODS. Lain lagi kisah Agus, anggota yang lain. Lelaki ini awalnya kuliah sembari kerja dan kursus. Saking sibuknya dan tidak bisa membagi waktu, Agus mulai menderita gangguan. Ia mengaku

sering inguh dan mengamuk. Bahkan, bosnya di kantor pernah dicekik. Di rumahnya, Agus sering berteriak dan mengamuk sehingga membuat para tetangga takut. Akhirnya, atas saran kelian, Agus dibawa ke pskiater. Namun, Agus tidak mau minum obat. Untung saja orangtuanya bisa mengakali, obat dicampur dalam minuman sehingga Agus mulai bisa tenang. Kemudian, Agus diperkenalkan Rumah Berdaya dan masuk dalam komunitas tersebut. Sejak bergabung di Rumah Berdaya, Agus mulai ada perubahan. Ia bisa menyalurkan bakatnya menggambar. Saat ini, Agus juga dipercaya menjadi pegawai kontrak di ODS. Sudiasa mengatakan, saat ini, anggota Rumah Berdaya berjumlah 44 orang, 4 orang perempuan dan sisanya laki-laki. Usia berkisar dari 23 tahun sampai dengan 60 tahun. Rumah Berdaya awalnya didirikan dr. I Gst Rai Putra Wiguna, Sp.KJ. Awalnya, ia memberikan rumah orangtuanya sebagai tempat Rumah Berdaya. Kemudian, sempat pindah ke rumah pelukis Budi Agung

GANGGUAN JIWA BERAT Skizofrenia adalah gangguan kadar neuro transmitter di dalam otak dan termasuk salah satu jenis gangguan jiwa berat. Gangguan fungsi otak tersebut menyebabkan terganggunya emosi, persepsi, dan pemikiran yang kemudian menyebabkan perilaku tidak wajar. Ketidakwajaran prilaku tersebut kemudian dapat mempe­ngaruhi kehidupannya, pekerjaan, aktivitas, dan untuk mengurus diri mereka seharihari. Gejala awal gangguan ini biasanya muncul pada usia 18 hingga 30 tahun namun bisa saja gangguan muncul di luar rentang tersebut. Skizofrenia mempengaruhi lakilaki dan perempuan dengan tingkat risiko yang sama. Sekitar satu per seratus orang dari populasi dunia mengalami skizofrenia. Tingkat ke­kambuhan gangguan skizofrenia sangat tinggi jika tidak dilakukan penanganan yang tepat. Obat-obatan psikotik bisa me­ ngurangi gejala ODS secara efektif misalnya waham, halusinasi, dan pikiran-pikiran yang tidak teratur. Obat-obatan juga bisa mengendalikan kecemasan dan membantu ODS untuk kembali ke kehidupan nyata. Terapi non obat sebagai pendukung biasanya dikombinaskan dengan antipsikotik guna membantu meng­ atasi gejala skizofrenia, mencegah kekambuhan, membantu ODS tetap berobat, dan membantu mereka bisa ke kehidupan normal. (Wirati Astiti)

Hasil karya ODS yang dipamerkan saat ulang tahun Kota Denpasar


16

Kuliner

Churros

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018

Ayam Lodho Lombok Ijo

Kue Kering Bertabur Gula Pedagang makanan kian kreatif. Ada saja ide untuk disajikan dan dijual kepada pecinta kuliner. Salah satunya gerai yang menjual churros. Dari beberapa referensi, ada yang mengatakan kue kering ini berasal dari Meksiko, tetapi ada juga yang mengatakan dari Spanyol. Darimana pun asalnya, kue ini bisa dinikmati di Denpasar.

C

Penjual churros

hurros sepintas mirip dengan sus kering berbentuk panjang. Bedanya, kue sus kering dipanggang sedangkan churros digoreng. Bahan bakunya yang sama. Bahkan kini sudah tersedia mesin pengolah yang bisa mengeluarkan adonan berbentuk sus panjang. Adonan churros dipotong sepanjang 20 cm atau sesuai keinginan lalu digoreng. Proses menggorengnya tidak terlalu lama. Usai ditiriskan, kue ini ditaburi topping. Ada pilihan gula halus dan gula bubuk kayu manis. Selanjutnya churros sudah bisa dinikmati sambil mencelupkan-

nya ke saus cokelat. Perpaduan kue kering yang lembut dan berasa manis berpadu dengan cokelat kental. “Anak-anak suka cokelat. Tiap ketemu penjual churros pasti beli. Porsinya juga pas untuk anak-anak sebagai camilan,” ujar Dewi yang membeli churros di lorong yang menjadi akses parkir menuju Level 21 Denpasar. Churros yang dibuat di rumah juga cukup awet disimpan dalam toples dalam keadaan kering tanpa taburan gula atau celupan cokelat. Begitu adonan digoreng lalu ditiriskan hingga minyaknya habis. Selanjutnya simpan di toples. (Ngurah Budi)

Bahan: 1 ekor : ayam pejantan 20 buah : cabe rawit utuh 3 le,bar : daun salam 3 lembar : daun jeruk 2 batang : serai memarkan 700 ml : santan encer 250 ml : santan kental Gula,garam, kaldu bubuk secukupnya Minyak untuk menumis bumbu secukupnya Bumbu Halus : 11 buah : bawang merah

Menikmati buah durian ketika musimnya tiba adalah hal yang sangat dinanti oleh para penggemarnya. Menjadi pengalaman yang sulit dilupakan jika makan durian bisa langsung di bawah pohon durian sepuasnya. Pengalaman ini didapatkan oleh pengunjung Rama Shinta Farm dalam acara Festival Makan Durian (FMD) 2018. Festival ini merupakan acara festival pertanian yang dikemas dengan konsep rekreasi. Di areal perkebunan 2 hektare di Desa Tajun, Kubutambahan, Buleleng, pengunjung dimanjakan dengan berbagai jenis buah lokal maupun impor yang ditanaman I Made Arnaja. Menurut Arnaja, pelaksanaan acara sepenuhnya dilakukan di tengah lahan perkebunan. Hal ini sengaja dilakukan untuk lebih memberikan kenikmatan bagi setiap pengunjung dan peserta. Sesuai dengan tema yang diusung

dalam festival kali ini, “Farm Education and Fun”. Sebanyak 250 peserta dari target 300 peserta memadati perkebunan Rama Shinta Farm, Minggu (4/3). Kegiatan yang digelar sehari ini menyediakan 500 buah durian lokal desa Tajun. Memilih menggunakan buah

durian lokal Desa Tajun dalam festival ini sesungguhnya bertujuan untuk memperkenalkan cita rasa buah durian yang tumbuh subur di sekitar desa. Pengunjung dan peserta juga dimanjakan dengan digelarnya bazar buah, bazar kuliner, live music, live karikatur serta lelang buah.

Festival Makan Durian 2018

Arnaja yang ditemui disela-sela acara mengatakan sangat puas dengan lancarnya acara yang digelar. Kepuasan ini tidak terlepas dari antusias pengunjung yang datang ke lokasi dan sangat menikmati setiap acara yang disuguhkan. Ia berharap bisa menjadikan event ini sebagai ajang tahunan meski dengan konsep yang berbeda. “Kami berharap dapat menjadikan ini event tahunan, kalalu tidak festival ya lomba durian dengan menyuguhkan durian lokal dan dilombakan dari segi kualitas,” imbuhnya. Acara yang kali pertama dilaksanakan dengan konsep rekreasi ini mendapat apresiasi dari Pemkab Buleleng. Hal tersebut disampaikan Bupati Buleleng Putu Agus

4 siung : bawang putih 8 buah : cabe hijau besar kukus 20 cabe : rawit hijau kukus 2 ruas : jari jahe 1 ruas : jari kencur 1 ruas : jari kunyit bakar 2 ruas : jari lengkuas 1 sdm : ketumbar 11 butir : lada utuh 4 butir : kemiri sangrai

Cara Membuat : - Cuci bersih ayam, potong jadi empat bagian, sayat-sayat, lumuri garam dan sedikit diremas-remas. - Lalu bakar ayam hingga matang, tiriskan. Panaskan minyak dalam panci hingga panas lalu masukkan bumbu halus bersama daun jeruk, daun salam, serai, tumis hingga matang.

Churros

Sensasi Makan Durian Sepuasnya Suradnyana dalam sambutannya yang dibacakan Sekretaris Dinas Pariwisata Buleleng Ketut Arjana. FMD 2018 ini adalah salah satu cara untuk mendukung potensi pariwisata di Buleleng apalagi desa Tajun yang nantinya akan dirancang sebagai Desa Wisata. Diharapkan pula, kegiatan FMD ini dapat dijadikan event tahunan nasional. Kesan seru diungkapkan Arya asal Tejakula dan Jeriyanti dari Medan. “Seru banget. Sensasi beda dari biasanya. Biasanya makan duren satu berempat tapi disini kita bisa makan sesuka hati sampai mabuk. Saya berharap kegiatan ini tahun depan ada lagi,” ujar Arya. (Wiwin Meliana)

17

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018

Oseng-oseng Brokoli Tahu

Bahan: 300 gr : brokoli putih potong kuntum 2 buah : tahu poto dadu goreng matang 1 sdm : bawang prai cincang 1 sdm : bawang bombai cincang 3 siung : bawang putih cincang 1 buah : wortel potong serong 1 buah : tomat iris-iris 200 ml : air 1 sdt : kaldu bubuk ½ sdt : garam 1 sdt : gula 2 buah : cabe merah besar cincang ½ sdt : lada bubuk Minyak secukupnya

Cara Membuat : - Rebus air kira-kira 500 ml sampai mendidih, lalu masukkan brokoli selama 5 menit, tiriskan, lalu masukkan potongan wortel masak 5 menit, tiriskan. - Panaskan minyak dalam wajan sampai panas lalu masukkan potongan bawang bombai juga bawang putih hingga harum, lalu masukkan potongan bawang prei, aduk. - Masukkan air juga bahan-bahan lainnya, aduk rata, agarkan sampai bumbu meresap dan matang. - Siap disajikan

- Masukkan ayam bakar lalu masukkam santan encer, gula, garam, kaldu bubuk, aduk rata, lalu tutup. - Masak hingga mendidih dan ayam lunak, masukkan santan kental, aduk rata, masak lagi sampai mendidih dan agak mengental, siap disajikan, taburi dengan bawang putih goreng.

Chef Sarwan

Tom Yam Jamur Pedas Hot

Bahan: 200 gr : udang kupas sisakan ekorya 200 gr : jamur tiram belah 150 gr : ayam fille potong dadu 1 tangkai : daun ketumbar 1 liter : air kaldu rebusan kulit udang dan kepala udang saring 4 batang : serai memarkan 4 ruas : jari lengkuas memarkan 7 lembar : daun jeruk ½ sdm : gula pasir 3 sdm : kecap ikan 15 buah : blimbing wuluh potong-potong 1 batang : daun ketumbar cincang 2-3 sdm : air jeruk nipis atau lemon 1 blok : meggi rasa ayam Garam secukupnya

4 siung : bawang putih 11 buah : cabe merah kriting kukus 2 ruas : jari jahe 1 sdt : terasi bakar Cara Membuat : Rebus air kaldu, udang, serai, daun jeruk juga lengkuas hingga mendidih, lalu masukkan udang, irisan ayam, dan jamur tiram. Masukkan gula, garam dan blimbing wuluh, lalu tumis bumbu halus sampai matang lalu masukkan rebusan kaldu. Masukkan irisan cabe juga air jeruk dan sisa bahan lainnya, aduk rata matang, sajikan.

Bumbu Halus : 9 buah : cabe besar merah kukus 4 butir : kemiri sangrai 9 buah : bawang merah

Cah Sawi Putih Bahan: 250 gr : sawi putih potongpotong 2 ruas jari : lengkuas memarkan 2 ruas jari : jahe memarkan 1 sdm : kecap ikan 1 sdm : kecap manis ½ sdm : minyak wijen 1 sdt : kaldu bubuk rasa ayam 200 ml : air 1 sdt : garam ½ sdt : lada bubuk 5 buah : cabe rawit cincang halus 3 siung : bawang putih cincang 1 sdm : margarine Cara Membuat : Panaskan margarin hingga panas, masukkan irisan bawang putih, jahe, juga lengkuas dan cincangan cabe rawit, aduk sampai baunya harum.

Masukkan air, kaldu bubuk, garam, lada, juga kecap manis, kecap ikan, juga minyak wijen, aduk rata lalu masukkan potongan sawi putih.

Aduk sampai layu, angkat, sajikan dengan taburan bawang putih goreng.


Jelita

18

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018

Sulam Alis Alami yang harus diperhatikan adalah konsumen dalam kondisi sehat, dan tidak mengonsumsi alkohol 24-38 jam sebelum sulam alis. Konsumen tidak sedang hamil atau menyusui

Skizofrenia bukan Orang Gila

M

enurut Melati Pyo, seorang penata rias di Denpasar, teknik sulam alis adalah menyisipkan tinta herbal di antara rambut alis asli dan membuat terlihat lebih tebal sekaligus alami. “Pada dasarnya sulam alis hanya merapikan alis yang tidak rapi atau untuk mengisi yang tidak memiliki alis. Selama ia melakukan proses tersebut, sangat jarang terjadi efek samping yang buruk. Asal, kata dia, memilih tempat untuk sulam

Skizofrenia bukan orang gila tapi perlu orang-orang “gila” yang peduli pada kami. Jangan kasihani kami, tapi kasihilah kami. Demikian slogan yang terpampang dalam s­ elebaran yang dibagikan beberapa anggota komunitas Rumah ­Berdaya dalam pameran HUT Kota Denpasar, pekan lalu.

Beberapa model sulam alis

dan tidak mengidap diabetes dan penyakit menular lainnya. Setelah sulam alis, ia menyarankan konsumen tidak berenang dan tidak melakukan kegiatan yang menimbulkan keringat berlebihan. “Alis juga tidak dipegang dengan tangan kotor. Alis minimal dua kali sehari diolesi salep aftercare,” ujarnya. Sampai saat ini, ia menilai, jarang terjadi efek samping, jika memang tepat memilih tempat sulam yang bersih, dan konsumen jujur menceritakan riwayat kesehatannya kepada eyebrow artist.

Melati Pyo

Proses sulam alis

R

umah Berdaya merupakan tempat rehabilitasi psikososial orang dengan skizofrenia (ODS). Komunitas Peduli ­Skizofrenia Indonesia Simpul Bali (KPSI) difasilitasi Pemkot Denpasar. Rumah Berdaya beralamat di Jalan Hayam Wuruk 179 Denpasar, dan beberapa kegiatannya bisa diakses melalui situs rumahberdaya.net dan instagram @rumahberdaya. Koordinator Rumah Berdaya,

Nyoman Sudiasa menuturkan, ke­ giatan yang dilakukan di Rumah Berdaya mulai Senin sampai Sabtu dari ppukul 8 sampai 18.00. Kegiatan se­ perti, Me GAE ( group art expression), mengobrol bersama, sembahyang, senam, bersih-bersih, membuat sabun, memasak, membaca buku, mendengarkan dan bermain musik, membuat dupa, membuat kerajinan tangan, bermain catur, berkebun, dan memelihara ikan. Beberapa produk Rumah Ber-

­ uswara. Akhirnya, dengan fasilitas K Pemkot Denpasar, Walikota Denpasar memberikan satu tempat kantor yang tidak terpakai di Jalan Hayam Wuruk sebagai base camp mereka. Menurut Sudiasa, sampai saat ini, stigma terhadap ODS masih sangat keras. Ia sendiri pernah merasakan saat baru keluar dari RS Jiwa ­Bangli. “Skizofrenia bukan orang gila,” ujarnya.

Salah satu kegiatan ODS

daya seperti tote bag, bokor, dulang, besek, dupa, kaus, sabun, apron, lukisan, spons kursi. Produk ini bisa dibeli lewat online di instagram @ rumahberdaya_onlineshop.

(Wirati Astiti)

Hal Penting Sebelum Pasang Behel Gigi Baik untuk alasan kesehapasti akan menginformasitan atau kecantikan, banyak kan hal ini berdasarkan orang yang ingin mengguanalisanya. nakan behel gigi. Namun, Ia menyebutkan, bersebelum  memutuskan undasarkan bahannya tidak tuk pasang behel gigi, ada ada behel yang warnahal yang harus diperhatikan,  warni. Hanya ada yang agar hasil perawatan sesuai metal bracket dan clear dengan yang Anda  inginkan. bracket dengan komposisi Jangan sampai, bukan sebahan yang berbeda-beda. nyum cantik yang didapat “Warna warni yang ada itu malah gusi bengkak. Baadalah aksesoris tambahan gaimana sebaiknya jika ingin yang dipasang kalau dipermemasang behel gigi? lukan untuk menggerakkan Menurut drg. I DG Budhigigi,” kata drg. I DG Budhijanana, pemasangan behel janana.  yang dikenal di masyarakat Ia menegaskan, pemasanmerupakan bagian dari tingan behel tidak akan pernah dakan medis yang harus menimbulkan efek samping, dilakukan  dokter gigi bukan sepanjang dikerjakan tenaga tukang gigi. “Sebelum pemedis yang berkompeten masangan behel gigi, perlu dan kerja sama yang baik mempertimbangkan kesedengan penderita. hatan umum dan kesehatan Namun,  sayangnya I DG Budhijanana gigi dan mulut penderita.  masih ada masyarakat yang Pemasangan behel hanya diizinkan pada penderita memasang behel pada oknum tukang gigi  yang yang memang memiliki keluhan pada fungsi dan bisa dipastikan hasilnya pasti bermasalah. “Saya estetik dari gigi-giginya karena berdesakan, gigimbau  seluruh masyarakat untuk tidak memasang inya jarang-jarang, tonggos, cakil, gigitan terbuka, behel ke tukang gigi, karena memang bukan dsb.,” ujarnya.  kompetensinya. Sudah terlalu banyak kasus-kasus  Ia mengatakan, penyelesaian kasus-kasus  pada yang justru memperburuk gigi penderita setelah pemakaian behel sangat tergantung pada tingkat pemasangan behel di tukang gigi,” ujar drg. Bukeparahan kasusnya dan dokter yang merawat dhijanana. (Wirati Astiti)

15

Rumah Berdaya

Tidak semua orang punya bentuk alis yang indah. Untuk membuat cantik, kita harus mencabut, mencukur dan menyempurnakannya dengan pensil alis. Kini, banyak perempuan beralih ke cara yang lebih praktis yakni sulam alis sehingga tampil cantik alami dan tidak norak.

alis yang bersih dan menggunakan jarum sulam yang steril dan baru. Ia menyebutkan, sebelum melakukan sulam alis

Komunitas

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018

Tingkatkan Kualitas SDM Berbasis Online Sebagai salah satu universitas swasta terbesar di Bali, Universitas Warmadewa (Unwar) terus berupaya berkomitmen meningkatkan kulitas SDM, agar mampu bersaing di era revolusi IV. Demikian disampaikan Rektor Unwar, Prof. dr. Dewa Putu Widjana, DAP &E, Sp.Park saat media gathering dengan awak media, pekan lalu. “Saya berharap ada masukan dan kritik membangun dari semua pihak untuk kemajuan Unwar. Dengan saran membangun ini kami berharap terus dapat meningkatkan SDM yang berkualitas,” ucapnya. Sementara Wakil Rektor I, Ir. I Nyoman Kaca, M.Si, menambahkan, upaya Unwar dalam mencetak SDM berkualitas telah diakui, sehingga jumlah mahasiswa terus meningkat bahkan mahasiswa berasal dari 30 provinsi. “Kami bangga dapat memberikan sumbangsih dalam meningkatkan kualitas SDM karena negara yang maju sangat ditentukan oleh SDM,” ujarnya. Kepala BAPPSIK Unwar, I Made Artawan, SE.MM. menambahkan, menghadapi revolusi IV semua harus berubah. Untuk itu, Unwar sejak dini sudah melakukan perubahan teruama di bidang sistem informasi yang menetapkan SIM-T Unwar menjadi salah satu pangkalan data di Unwar. Unwar telah menaikkan bandwith dari 80 Mbps menjadi 150 Mbps . Selain itu juga telah dikembangkan sistem informasi berbasis online seperti jadwal kuliah online, input KRS dll. “Kami selalu mengikuti perkembangan teknologi sehingga SDM yang kami cetak juga sudah terbiasa menggunakan teknologi infromasi dan siap hadapi revolusi IV,” imbuhnya. (Wirati Astiti)

SERING NGAMUK Nyoman Sudiasa menuturkan ia menderita skizofrenia sejak tahun 2001. Ia sering merasa curiga berlebih­ an seolah-olah setiap orang yang berbicara sedang membicarakan buruk dirinya. Bahkan, di kantor, ia merasa kurang bersemangat kerja. Ia sering gelisah dan cemas. Apalagi, ia merasa selalu diawasi saat bekerja sehingga tidak tenang. Akhirnya, ia mengamuk di kantor, semua barang dihancurkan dan ngomong ngalur ngidul. Bukan hanya di kantor, di rumah ia juga sering mengamuk dan memukul ibu dan istrinya. Atas persetujuan keluarga, ia dibawa ke RS Sanglah. Ia sempat dirawat 4 hari. Saat balik ke rumah, Sudiasa kumat lagi. Ia terus mengamuk. Bahkan, rencananya ia akan dipasung oleh keluarganya. Namun, tidak jadi, ia akhirnya dibawa ke RS Bangli. Sudiasa mulai tenang dan pada hari ke delapan ia minta pulang ke rumah. Sampai sekarang ia terus kontrol ke RS Wangaya untuk menebus obat yang harus diminum setiap hari seumur hidup. Sejak bergabung di Rumah Berdaya, Sudiasa merasa lebih baik. Ia mulai suka mengobrol dan bercanda, sangat berbeda dengan sebelumnya yang lebih suka diam. Saat ini Sudiasa dipercaya menjadi pegawai kontrak ODS. Lain lagi kisah Agus, anggota yang lain. Lelaki ini awalnya kuliah sembari kerja dan kursus. Saking sibuknya dan tidak bisa membagi waktu, Agus mulai menderita gangguan. Ia mengaku

sering inguh dan mengamuk. Bahkan, bosnya di kantor pernah dicekik. Di rumahnya, Agus sering berteriak dan mengamuk sehingga membuat para tetangga takut. Akhirnya, atas saran kelian, Agus dibawa ke pskiater. Namun, Agus tidak mau minum obat. Untung saja orangtuanya bisa mengakali, obat dicampur dalam minuman sehingga Agus mulai bisa tenang. Kemudian, Agus diperkenalkan Rumah Berdaya dan masuk dalam komunitas tersebut. Sejak bergabung di Rumah Berdaya, Agus mulai ada perubahan. Ia bisa menyalurkan bakatnya menggambar. Saat ini, Agus juga dipercaya menjadi pegawai kontrak di ODS. Sudiasa mengatakan, saat ini, anggota Rumah Berdaya berjumlah 44 orang, 4 orang perempuan dan sisanya laki-laki. Usia berkisar dari 23 tahun sampai dengan 60 tahun. Rumah Berdaya awalnya didirikan dr. I Gst Rai Putra Wiguna, Sp.KJ. Awalnya, ia memberikan rumah orangtuanya sebagai tempat Rumah Berdaya. Kemudian, sempat pindah ke rumah pelukis Budi Agung

GANGGUAN JIWA BERAT Skizofrenia adalah gangguan kadar neuro transmitter di dalam otak dan termasuk salah satu jenis gangguan jiwa berat. Gangguan fungsi otak tersebut menyebabkan terganggunya emosi, persepsi, dan pemikiran yang kemudian menyebabkan perilaku tidak wajar. Ketidakwajaran prilaku tersebut kemudian dapat mempe­ngaruhi kehidupannya, pekerjaan, aktivitas, dan untuk mengurus diri mereka seharihari. Gejala awal gangguan ini biasanya muncul pada usia 18 hingga 30 tahun namun bisa saja gangguan muncul di luar rentang tersebut. Skizofrenia mempengaruhi lakilaki dan perempuan dengan tingkat risiko yang sama. Sekitar satu per seratus orang dari populasi dunia mengalami skizofrenia. Tingkat ke­kambuhan gangguan skizofrenia sangat tinggi jika tidak dilakukan penanganan yang tepat. Obat-obatan psikotik bisa me­ ngurangi gejala ODS secara efektif misalnya waham, halusinasi, dan pikiran-pikiran yang tidak teratur. Obat-obatan juga bisa mengendalikan kecemasan dan membantu ODS untuk kembali ke kehidupan nyata. Terapi non obat sebagai pendukung biasanya dikombinaskan dengan antipsikotik guna membantu meng­ atasi gejala skizofrenia, mencegah kekambuhan, membantu ODS tetap berobat, dan membantu mereka bisa ke kehidupan normal. (Wirati Astiti)

Hasil karya ODS yang dipamerkan saat ulang tahun Kota Denpasar


Life Story

14

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018

“Susik” Rindu Hibur Masyarakat

Nama Drs. I Made Ngurah Sadika dikenal sebagai seniman bondres Buleleng. Pria yang sudah menekuni bebondresan sejak 1986 ini­ lah yang mempopulerkan peran Susik, karak­ ter manja yang berhasil mengocok perut penontonnya.

B

anyolan lawakan dari Susik Bondres masih melekat di ingatan masyarakat. Susik dikenal sebagai gadis centil, sok pintar, dan sok cantik. Bukan hanya di Buleleng, Susik dikenal hingga di Bali bahkan beberapa wilayah Indonesia dengan lawakan khas Bulelengnya. Sadika yang tinggal di Jalan Kresna, Kelurahan Kendran, Buleleng ini sejak beberapa bu­ lan terakhir tidak menerima job untuk mengisi berbagai acara karena menderita sakit komplikasi dan gagal ginjal. Hal tersebut juga diungkapkan putra sulungnya I Gede Arya Dharmadi. “Bapak terakhir manggung Oktober 2017 di Nusa Lembongan,” ujar Arya yang akrab disapa Cimcim ini. Susik yang sering sekali mel­ ontarkan kata “Nyan Galakine Jak Memek” di setiap pentas lawakannya hanya bisa terbaring lemah di kediamannya. “Sakitnya Bapak sekitar dua tahun lalu, tapi kerasnya Oktober 2017. Awalnya kencing batu lalu merembet ke jantung dan akhirnya divonis gagal ginjal,” imbuh Cimcim. Walaupun sakit, ada saja ta­ waran untuk manggung. Sadika yang memiliki darah seni sejak kecil memang dikenal pantang menolak tawaran manggung kec­ uali kondisi tidak memungkinkan. Cimcim menuturkan sang ayah sering curhat dengan dirinya mengatakan rindu saat manggung dan menghibur para penonton. Sekarang rutinitas yang dilakukan adalah cuci darah, seminggu dua kali, tiap hari Selasa dan Jumat. Cimcim menambahkan saat ini tengah fokus untuk kesembuhan ayahnya. Meskipun dirinya sadar tidak mendapatkan kesembuhan total tetapi ia berkeyakinan agar sang ayah tetap bisa berkarya kembali. “Saya hanya bisa mem­ berikan motivasi agar bapak tetap

Kondisi I Made Ngurah Sadika saat ini

semangat dan bisa pulih kembali seperti sediakala,” tandasnya. KEMBARAN SUSIK Sejak Sadika sakit, praktis kara­ kter Susik tidak bisa lagi menghiasi panggung hiburan. Masyarakat pun dibuat rindu oleh sosok cen­ til, sok pintar dan sok cantik ini. Karakter Susik Bondres yang sejak lama melekat dalam diri Sadika. Kini karakter Susik Bondres seakan hidup kembali melalui peran sang anak, I Gede Arya Dharmadi. Sejak sang ayah sakit, Cimcim memang ditunjuk lang­ sung oleh sang ayah untuk membawakan karakter Susik. Ini juga sebagai pengobat rindu masyarakat ter­ hadap banyolan lawak Susik di setiap pen­ tasnya. “Kami katakan ter­ us terang Susik asli sedang sakit dan ada Susik yang diperank­ an oleh lain yang bisa menghibur,” ungkap­ nya. Beberapa orang memang menyetujui tetapi beberapa juga membatalkan tawaran pentas tersebut. Cimcin bukan orang baru dalam dunia seni. Ia lama berkecimpung dalam dunia seni sebagai pe­ nambuh, penari dan bondres. Sebelumnya, Cimcim tergabung dalam grup Bondres Sunari Badjra dengan memerankan Gek Mawar yang memiliki karakter perempuan centil dan manja. Un­

tuk memerankan karakter Susik dirinya hanya perlu memoles dan menghaluskan karakter-karakter unik yang dimiliki Susik. Memang tidak mudah me­ merankan karakter Susik yang diperankan oleh ayahnya. Dari segi suara, Cimcim mengaku

belum sepenuhnya dapat me­ niru suara Susik yang tinggi yang melengking. “Kalau suara Susik itu melengking saya belum bisa sepenuhnya meniru, tetapi dari manjanya, centilnya, dan cara jalannya saya menemukan karak­ ter itu,” jelasnya.

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018

Style

Bahkan sebelum sang syah terbaring sakit, Cimcim sempat juga duet dalam suatu pementasan. Pada kesempata itu, ia diperkenal­ kan sebagai karakter Susik Kembar dengan karakter sama. “Pada pementasan Nawa Natya, kami sempat manggung bersama. Saya diperkenalkan sebagai kembaran­ nya Susik. Dua orang dengan kara­ kter yang sama bahkan tapelnya pun sama tidak ada bedanya. Hanya saja waktu itu nama saya tetap Gek Mawar,” ungkap pria kelahiran 14 September 1990 tersebut. Cimcim pun sudah beberapa kali pentas menggunakan peran Susik. Pertama kali dia memer­ ankan peran Susik ketika pentas di Lombok. Sebelumnya dirinya sudah menjelaskan bahwa pem­ eran Susik tengah tergolek sakit sehingga dirinya yang diutus untuk menghibur masyarakat di sana. “Setelah pementasan saya meli­ hat masyarakat tetap menerima bahkan mereka tidak menyadari bahwa Susik bukan diperankan oleh aslinya,” tambahnya. (Wiwin Meliana)

dengan Denim Melihat aksen denim sobek-sobek atau distressed, sudah biasa. Nah, kali ini Tokoh menampilkan beberapa model denim kekinian, melalui ekplorasi yang berbeda dan menarik, karya kolekstif dari desainer LPTB 4 kota, yakni Jakarta, Semarang, Bali dan Surabaya.

A

dalah Andri Sutami, Wita Sasika Gayatri,Bianca Evangelia, Agied Derta, Dewa Made Putra lan, Mag­ gie Wienadi, Sandra Christina Halim, Nazhira Ranitya dan Christina Novalia, yang meng­ eksplorasi jeans atau denim ini habis –habisan. Ada yang digunting, disikat dan diserut hingga ber­ jumbai-jumbai atau dilaser dengan intensitas panas yang dapat diatur. Panas sedang untuk menghasilkan gambar berdasarkan pola diatas bahan, Sedangkan panas tinggi untuk membuat bahan bolong menjadi motif. Beberapa model denim dengan detil unik berikut ini bisa jadi inspirasi “ootd” (outfit of the day), terutama mereka yang berani berekspresi! (Sri Ardhini)

19


20

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018

Bugar

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018

13

JE Paling Sering Serang Anak-anak Virus japanese encephalitis (JE) ramai diperbincangkan sejak terdeteksinya kasus ini di Bali. Pemberian vaksin JE pun digencarkan. Apa itu penyakit JE?

dr. Made Agus Hendrayana, M.Ked.

M

enurut dosen Bagian/SMF. Mikrobiologi Klinik FK.Unud/ RS.Sanglah, dr. Made Agus Hendrayana, M.Ked., penyakit japanese encephalitis adalah radang otak pada manusia yang disebabkan adanya infeksi virus japanese encephalitis.

Penyakit ini tergolong penyakit zoonosis atau penyakit yang mengenai hewan tetapi juga dapat menyerang manusia. Penyakit ini banyak ditemukan sporadis di negara-negara Asia yang termasuk agraris dimana masih banyak terdapat lahan pertanian seperti Fi­ l­ipina, Tiong­kok, India, Thailand, Malaysia, termasuk Indonesia. “Penyakit ini disebut japanese enchepalitis karena penyakit radang otak ini pertama dikenal pada tahun 1871 di Jepang. Penyakit ini telah menginfeksi lebih kurang 6.000 orang pada tahun 1924, dan sering terjadi wabah setelahnya. Penyakit ini diketahui penyebabnya adalah virus japanese encephalitis setelah diisolasi pada tahun 1934 dari jaringan otak penderita ensefalitis yang telah meninggal,” ungkapnya. Di Indonesia virus japanese encephalitis telah diteliti sejak pada

tahun 1972. Beberapa penelitian di Bali terutama di Rumah Sakit Sanglah sudah dimulai sejak awal tahun 1990 dimana ditemukan kasus serologi positif terhadap virus japanese encephalitis. “Virus japanese encephalitis dapat menginfeksi manusia karena kebetulan digigit nyamuk yang telah mengandung virus japanese encephalitis. Penyakit ini paling sering menyerang anak-anak terutama di rentang usia 1-15 tahun. Tetapi tidak semua manusia yang ter­infeksi virus ini menjadi sakit dan menimbulkan gejala klinis,” kata dr. Agus. Penyebaran penyakit ini lebih marak terutama pada musim hujan saat populasi nyamuk culex meningkat. “Nyamuk culex tritaeniorhynchus dapat menularkan virus ini baik ke manusia maupun ke hewan peliharaan lainnya, sehingga virus japanese encepha-

Kolesterol Baik dan Kolesterol Jahat (dr. Ayu Putu Harina Ferdiyanthi, S.Ked)

Kolesterol selama ini biasanya selalu dikaitkan dengan hal yang kurang baik. Tapi tahukah Anda, tubuh kita memerlukan kolesterol itu sendiri. Selama kadar atau jumlah kolesterol berada dalam rentang normal, maka perannya baik untuk tubuh. Berdasarkan sifatnya, kolesterol dibagi menjadi kolesterol baik dan kolesterol jahat. Kolesterol Jahat Kolesterol jenis ini adalah LDL (low density lipoprotein). Bila jumlahnya berlebih, maka kolesterol ini akan berperan jahat. Hal ini karena LDL dapat menimbulkan penyumbatan pada pembuluh darah dengan membentuk plak pada dinding pembuluh darah. Plak inilah yang nantinya, bila makin menyumbat pembuluh darah, akan menjadi risiko penyakit jantung koroner dan stroke. Tetapi, bila jumlahnya lebih rendah dari rentang normal, juga tidak baik. Dalam jumlah normal kolesterol ini memiliki peran penting. Kolesterol Baik Kolesterol jenis ini adalah HDL (high density lipoprotein). Kolesterol ini berfungsi mengikat dan mengangkut kolesterol lain yang sudah tidak dibutuhkan oleh tubuh dibawa kembali ke hati dan diproses untuk dikeluarkan dari tubuh. Fungsi lainnya adalah melepaskan kolesterol LDL yang menempel pada dinding pembuluh darah, sehingga aliran darah menjadi lebih lancar. Otomatis mengurangi risiko terjadinya penyakit jantung koroner dan stroke. Mengingat fungsinya yang seperti inilah, kita harus senantiasa menjaga agar kadar HDL tetap tinggi. Adapun rentang normal kadar kolesterol dalam darah adalah: (lihat tabel) Apa saja faktor-faktor yang dapat membuat kolesterol meningkat? Faktor yang dapat dimodifikasi: - Merokok - Merokok dapat menurunkan HDL - Kegemukan - Kelebihan berat badan cenderung meningkatkan LDL, dilihat dari berlebihnya lemak yang disim-

- -

- - - - -

pan. Tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa orang kurus tidak memiliki LDL berlebih. Kurangnya aktifitas fisik Kolesterol dalam tubuh juga dapat diubah menjadi energi. Bila seseorang jarang beraktivitas fisik, maka kolesterol tidak diubah menjadi energi, melainkan hanya menumpuk dalam tubuh. Konsumsi makanan yang tidak sehat Terlalu banyak mengonsumsi makanan berlemak, juga membuat lemak banyak tertimbun dalam tubuh. Konsumsi alkohol berlebihan Tekanan darah tinggi Penyakit komorbid, seperti diabetes (kencing manis), penyakit ginjang, hipertensi, dll)

Faktor yang tidak dapat dimodifikasi: - Usia - Jenis Kelamin - Faktor Keturunan Mencegah tentunya lebih baik daripada mengobati. Berbagai hal dapat dilakukan untuk mencegah dan mengurangi risiko terjadinya kolesterol berlebih (hiperkolesterolemia), antara lain adalah perubahan gaya hidup, termasuk mengonsumsi makanan sehat dan rajin berolahraga. Bila sudah mengalami hiperkolesterolemia, dan dengan perubahan gaya hidup tetap tinggi, maka perlu mendapatkan pengobatan. Berkonsultasilah terlebih dahulu dengan dokter untuk mendapat terapi yang paling tepat.

litis termasuk dalam kelompok penyakit arbovirus yaitu virus yang ditularkan serangga atau nyamuk,” jelas dr. Agus. Masyarakat di Bali terutama yang dekat dengan kandang babi harus lebih waspada dengan penyakit ini. Di Bali, babi merupakan salah satu ternak yang masih banyak dipelihara di sekitar pekarangan rumah dan banyak pula terdapat peternakan babi skala besar. Selain itu, kata dia, di Bali juga masih banyak terdapat lahan persawahan yang merupakan tempat yang baik untuk kembang biak nyamuk culex. Belum ada pengobatan khusus antivirus yang dapat membunuh virus ini. “Pengobatan pada pasien yang terkena lebih kepada pengobatan simtomatis untuk mena­n gani gejala yang timbul dan terapi suportif untuk menjaga kualitas hidup pasien yang terkena,” kata Magister Ilmu Kedokteran Tropis Universitas Airlangga Surabaya ini. Pasien yang menunjukkan gejala harus dirawat di rumah sakit

untuk mendapatkan terapi agar mencegah terjadi kecacatan fisik, mental atau mencegah kematian. Pasien dengan defisit neurologis membutuhkan fisioterapi dan rehabilitasi. Penyakit ini dapat dicegah dengan memberikan vaksinasi. Beberapa negara di Asia sudah memasukkan imunisasi japanese encephalitis ke dalam program rutin. “Vaksinasi pada manusia, terutama pada anak-anak perlu dberikan di daerah yang sering terjadi kasus japanese encephalitis. Imunisasi juga dianjurkan untuk orang yang bepergian ke daerah endemik japanese encephalitis. Selain vaksinasi terhadap manusia, ada juga vaksinasi untuk hewan terutama untuk kuda dan ternak lainnya,” ujar dokter yang pernah mengikuti pelatihan di Springschool on Tropical Medicine, Infectious Diseases and Molecular Biology, UMG, Göttingen, Jerman dan Microbiology Research and Diagnostic, Erasmus Medical Centre, Rotterdam, Belanda ini. (Wirati Astiti)

Mengenal Patah Tulang Lebih Dekat

Patah Tulang, Diurut atau IGD? (dr. Putu Teguh Aryanugraha)

Apakah ciri-ciri dari patah tulang? Bagaimana penanganannya sebelum dibawa ke rumah sakit? Patah tulang adalah keadaan ketika salah satu tulang retak atau pecah menjadi beberapa bagian. Ini juga dikenal dengan kata “fraktur” dalam dunia kedokteran. Hal ini bisa disebabkan oleh cedera olahraga, kecelakaan, atau trauma kekerasan. Tulang yang patah pada umumnya tidak mengancam nyawa, tapi mereka memerlukan perawatan medis sesegera mungkin. Mari kita pelajari cara mengenali gejala dan tanda dari tulang yang patah, berikan pertolongan pertama, dan dapatkan bantuan medis profesional secepatnya. Apakah tanda dan gejala dari patah tulang? Mari kita mengenal lebih dekat lagi. - Sebuah tulang yang patah dapat menyebabkan satu atau lebih dari tanda dan gejala berikut ini: - Rasa sakit yang hebat di daerah luka yang makin parah saat digerakkan - Mati rasa di daerah yang terluka - Warna kebiru-biruan, bengkak, atau kelainan bentuk terlihat pada daerah yang cedera - Tulang menonjol melalui kulit - Pendarahan berat di lokasi luka Bagaimanakah kita bisa memberikan perawatan sebagai penanganan pertama bagi patah tulang di rumah? Jika Anda menduga seseorang mengalami patah tulang, berikan pertolongan pertama dan bantu mereka mendapatkan perawatan dari tenaga medis: - Hentikan pendarahan: Jika terdapat perdarahan, angkat dan berikan tekanan pada luka menggunakan perban steril, kain bersih, atau pakaian bersih. - Imobilisasi area yang cedera: Jika Anda menduga terjadi patah tulang di daerah leher atau punggung mereka, bantulah mereka tetap dalam posisi diam. Jika Anda menduga mereka telah mematahkan tulang di salah satu anggota badan mereka yang lain, lakukan imobilisasi

daerah tersebut dengan menggunakan kain atau selempang dengan bantuan benda lurus keras dan tebal (contohnya koran atau penggaris) seperti gambar di bawah. - Balut dingin daerah patah tulang: Bungkus es atau kantong es batu di selembar kain dan oleskan ke area yang cedera hingga 10 menit setiap kalinya. - Tenangkan penderita: Bantu penderita mengambil posisi yang nyaman, anjurkan penderita untuk beristirahat, dan meyakinkan mereka untuk tetap tenang. Tutupi penderita dengan selimut atau pakaian agar tetap hangat. - Berikan obat penghilang rasa nyeri: untuk membantu rasa nyeri bisa juga memberikan Paracetamol 500-1000 mg (1-2 tablet) atau Ibuprofen 200-400mg (1-2 tablet) untuk penderita dewasa. Hindari pemberian obat apabila penderita masih anak-anak di bawah umur 18 tahun. - Dapatkan bantuan profesional: Hubungi ambulans atau bantu mereka ke instalasi gawat darurat (IGD) untuk mendapatkan perawatan medis. Jika penderita tampak tidak bernafas atau tidak sadar, hubungi ambulans segera untuk mendapatkan pertolongan medis dan mulailah RJP. Anda juga harus menghubungi jika: Anda menduga penderita telah mematahkan tulang di kepala, leher, atau punggung dan tulang menembus kulit hingga terjadi perdarahan yang hebat. Jika tidak, bantu mereka ke gawat darurat dengan mobil atau cara lain sehingga dokter dapat sesegera mungkin mendiagnosa kondisi mereka dan merekomendasikan perawatan yang tepat.


Pelesir

12

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018

Gili Putih

Pesona Gundukan Pasir di Tengah Laut

Pantai di Buleleng selalu menawarkan daya tarik untuk dikunjungi para wisatawan. Sebagai kabupaten yang terletak di Bali Utara, sebagian besar pantai Buleleng memiliki pasir hitam dengan pesonanya. Tetapi, di bagian Barat, ada ‘permata’ yang mulai bersinar.

U

ntuk menikmati keindahan laut di tengah laut, kini tidak perlu pergi jauh-jauh, cukup di Buleleng. Pulau Gili Putih merupakan salah satu destinasi pantai baru yang terletak di desa Sumberkima, Kecamatan Gerokgak. Pulau Gili Putih merupakan sebuah gundukan pasir putih di tengah laut mirip seperti sebuah pulau namun tak berpenghuni, hanya gundukan pasir putih yang cantik. Keuni-

kan pulau ini, bentuknya selalu berbeda-beda sesuai dengan kondisi pasang surut gelombang laut. Maka itu, luas pulau ini juga sering kali berubah-ubah. Kini pulau Gili Putih ini menjadi salah satu objek wisata baru di Buleleng. Untuk menuju Gili Putih, wisatawan dapat menggunakan perahu nelayan. Selama perjalanan, mata akan terhibur oleh pemandangan air laut yang sangat jernih. Pasir putih di bawah air terlihat begitu mengkilap,

sementara beberapa terumbu karang sudah mulai bertumbuh. Di beberapa sudut perairan, tampak sejumlah keramba apung tempat budidaya perikanan. Kepala Dinas Pariwisata Buleleng Nyoman Sutrisna mengungkapkan, sudah dibentuk Pokdarwis untuk mengelola kawasan kawasan Gili Putih agar ada pihak yang bertanggung jawab jika ada wisatawan yang berkunjung. Pembentukan Pokdarwis ini juga bertujuan agar ada pihak yang mengelola sehingga nantinya Gili Putih menjadi salah satu objek wisata favorit. “Ke depan kami dan Pokdarwis akan melakukan pengembangan terhadap kawasan tersebut untuk mempercantik area Gili Putih untuk menarik wisatawan datang ke lokasi tersebut,” ungkapnya.

Dapatkan

Awalnya, Pulau Gili Putih ini kerap disinggahi wisatawan yang akan menyeberang ke Pulau Menjangan. Tak jarang juga wisatawan yang transit di Gili Putih juga melakukan aktivitas snorkeling di sekitar pulau ini. Namun saat ini, masyarakat yang penasaran dengan keindahannya bahkan dengan sengaja datang hanya untuk berswafoto. Gundukan pasir putih di tengah laut yang disebut sebagai Gili Putih ini memang sangat cocok di gunakan masyarakat sebagai spot foto. Bahkan saat ini, Gili Putih ini juga sering dicari sebagai objek fotografi maupun untuk lokasi prewedding. Jangan khawatir untuk berlama-lama di pulau ini, karena sejumlah payung disediakan untuk pengunjung yang menikmati teriknya matahari. Di dalam pulau juga ada bale kecil untuk duduk santai sambil menikmati keindahan pulau nan cantik ini. (Wiwin Meliana)

bacaan wanita dan keluarga

di Pesawat Garuda dan Lounge Garuda m Bali Post

Jln. Kepundung 67A Denpasar. Tlp. (0361) 225764 m Sekretariat Tokoh Jln. Kebo Iwa 63A Denpasar. Tlp. (0361) 425373 m Kios Sumber Dana Budi Jaya Jln. Hayam Wuruk 58 Denpasar. Tlp (0361) 223958 m Kios 66 Jln. Wahidin 66 Denpasar. Tlp. (0361) 425126 m Kios Widia Sari Jln. Bakung Sari No. 2 Kuta (Pasar Senggol Kuta). Tlp. 759482 m Safii Roit (Ria Agency) Jln. Kediri 28 Tuban. Tlp. 765542 m Warung Media Singaraja Jln. A Yani, Pertokoan Terminal Banyuasri. Tlp. (0362) 21059 m Radio Singaraja FM Jln. Raya Singaraja Seririt Km 6 Desa Tukad Mungga. Tlp. (0362) 41124 m Warung Media Tabanan Jln. Jepun No. 9 (Ruko Pasar Kodok) m Warung Media Negara Jln. Merak No. 36 Pendem- Jembrana m Warung Media Gianyar Jln. Astina Timur (Utara Patung Arjuna). Tlp. (0361) 943570 m Warung Media Bangli Jln. Nusantara (Banjar Cempaga) HP. 0812 46 9 1915 m Warung Media Klungkung Jln. Raya Puputan 95 Semarapura. HP. 085 935 511 4131 m Warung Media Karangasem Radio Besakih Jln. Surapati, Gg. Sedap Malam 8. Tlp. (0363) 21791 m Warung Media Besakih Pesraman Besakih Jln. Raya Besakih HP. 087760050056, 081999275859 m Warung Media Kintamani Jln. Raya Kintamani Batur (Selatan Pura Batur) m Warung Media Nusa Penida Jln. Raya Ped (Depan Pura Dalem Ped Nusa Penida) HP. 082236657588

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018

21


Buleleng

22

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018

Bahasa Bali Diusulkan Masuk di Perguruan Tinggi Saat ini pemerintah daerah mulai waspada terhadap keberadaan Bahasa Bali di kalangan penutur terutama orang Bali. Selama ini, Bahasa Bali memiliki peran sentral dalam kehidupan berbudaya, kesenian. Sehingga, dirasa perlu ada sebuah regulasi yang mengatur usaha-usaha pelestarian bahasa Bali ke depan. Sebab, keberadaan Perda No. 3 Tahun 1992 tentang Bahasa, Sastra dan Aksara Bali, masih belum menjamin secara keseluruhan upaya pelestarian Bahasa Bali.

B

ertempat di Ruang Gabungan Komisi DPRD Buleleng, anggota Pansus I DPRD Bali menggelar rapat dengar pendapat untuk menyerap masukan dari para praktisi Bahasa dan Aksara Bali yang ada di Buleleng. Pertemuan yang dihadiri penyuluh Bahasa Bali se-Kabupaten Buleleng ini juga membahas penyempurnaan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang Perubahan Atas Perda Nomor 3 Tahun 1992 tentang Bahasa, Aksara dan Sastra Bali, Selasa (27/2). Dalam kesempatan itu turut hadir, Wakil Ketua Pansus I DPRD Bali, Wayan Rawa Atmaja, beserta anggota, Kepala Dinas Pendidikan

Provinsi Bali, TIA Kusuma War­ dhani beserta jajarannya. Menurut Wakil Ketua Pansus, Rawan Atmaja pentingnya dilakukan revisi terhadap Ranperda agar upaya pelestarian Bahasa, Sastra, dan Aksara Bali dapat dilakukan sesuai dengan perkembangan zaman. “Ini untuk penyempurnaan Ranperda perubahan Perda yang sudah berumur 26 tahun. Jadi, kami keliling Bali, karena setiap daerah punya kelebihan dan kekurangan untuk kami serap masukannya,” ungkapnya. Dalam dengar pendapat di Buleleng, sambungnya banyak masukan yang diperoleh. Uta-

Rapat dengar pendapat Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang Perubahan Atas Perda Nomor 3 Tahun 1992 tentang Bahasa, Aksara dan Sastra Bali, Selasa (27/2)

manya, bagaimana penerapan pelajaran Bahasa Bali agar masuk di semua jenjang pendidikan, terutama di Perguruan Tinggi. Masukan itu diakuinya, memang sulit diterapkan, mengingat setiap perguruan tinggi atau Universitas memiliki kemandirian. “Ya, kami kembalikan ke masing-masing Universitas. Kami berharap Bahasa Bali masuk sebagai Mata Kuliah Dasar Umum,” imbuhnya.

Terhadap Ranperda Bahasa, Aksara dan Sastra Bali, mendapatkan antusias yang tinggi dari praktisi Bahasa Bali yang hadir. Hanya saja, kebutuhan akan guru bahasa Bali dan Penyuluh Bahasa Bali tercover dalam Perda itu nantinya. “Kami wajib hukumnya sebagai guru menjaga anak didik, agar mengetahui budaya Bali sebagai generasi Bali ke depan. Memang saat ini, media canggih dan animo generasi muda

bergeser, maka kami akan menarik kembali mereka mengenal budaya Bali lewat Bahasa Bali,” ungkap salah seorang Guru Bahasa Bali SMAN 1 Gerokgak, Wayan Sweta. Sementara itu, Ketua Aliansi Peduli Bahasa Daerah Bali I Nyoman Suka Ardiyasa sangat mengapresiasi upaya pemerintah daerah dalam pelestarian Bahasa dan Sastra Bali. Hal ini sebagai angin segar bagi semua penyuluh Bahasa Bali untuk lebih eksis dan giat lagi bekerja dalam upaya penyelamatan bahasa, sastra dan aksara. Selama ini kendala di lapangan dalam upaya pelestarian tersebut masih terkendala anggaran. Pihaknya bersama anggota hanya dibekali Sumber Daya Manusia sehingga perlu dana stimulan untuk berjalannya suatu program. “Kalau mengerjakan lontar misalnya, lontar itu tidak hanya dibaca tetapi juga ada proses perawatan. Kendala ini menjadi kendala utama ketika kami bergerak, namun tidak menutup kemungkinan selama ini program kami tetap jalan karena ada kesadaran dari masyarakat,” jelasnya. Dengan adanya rapat dengar pendapat ini di setiap Kabupaten/ Kota di seluruh Bali, diharapkan akan mendapatkan masukan yang nantinya bisa dipakai untuk menyempurnakan Ranperda ini. DPRD Bali akan membahas Ranpererda ini pada masa sidang pertama, Januari sampai April. Jika dalam waktu itu belum selesai, maka waktu pembahasan akan diperpanjang. (Wiwin Meliana)

Calon TKI Diimbau Lengkapi Dokumen Resmi

Animo masyarakat untuk be­kerja di Luar Negeri memang sangat tinggi. Dengan gaji tinggi diharapkan dapat meningkatkan taraf ekonomi keluarga. Berdasarkan data di Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Buleleng, tahun 2017 sebanyak 984 orang mengadu nasib di negeri orang. Kebanyakan dari mereka bekerja di kapal pesiar, hotel maupun spa. Mengingat tingginya minat masyarakat Buleleng bekerja di luar negeri, maka Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Denpasar, melakukan sosialisasi de­ngan menghadirkan seluruh Prebekel se­Kabupaten Buleleng. Melalui ke­­gi­ atan yang bertajuk Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia ini, BP3TKI menginginkan agar se­ti­ ap tenaga kerja yang memilih untuk mengadu nasib di luar negeri, agar menjadi TKI yang resmi dilengkapi dengan dokumen-dokumen yang legal, Senin (26/2) di Ruang pertemuan camat Sukasada. Kepala BP3TKI Denpasar, ­Ilham Ahmad mengatakan, jumlah TKI yang berasal dari Buleleng memang tergolong cukup banyak, bila dibandingkan dengan yang ada di

Sosialisasi BP3TKI kepada prebekel se-Kabupaten Buleleng

kabupaten maupun kota lain di Bali. Inilah yang menjadi alasan mengapa pihaknya gencar melakukan sosialiasi, agar seluruh TKI yang berasal dari Bumi Panji Sakti menjadi tenaga kerja yang handal, aman dan nyaman dalam bekerja. Diakui Ilham, akhir-akhir ini memang banyak permasalahan yang menimpa TKI asal Buleleng. Contohnya, seperti kasus yang menimpa Ni Kadek Ayu Ratih Sinta (21), mahasiswi Sekolah Tinggi Perhotelan Bali (STPBI), yang tewas setelah terlibat kecelakaan di Miami, Amerika Serikat. Belakangan diketahui, wanita asal Kecamatan

Gobleg itu merupakan seorang TKI Ilegal. Informasi terakhir yang diterima, akte kematian Ratih Sinta telah diterbitkan. Namun kata Ilham, pemulangan jenazah memang membutuhkan waktu yang lama. “Harus bersabar, kita juga harus menyadari pengiriman jenazah tidak gampang. Berkaca pada kasus tersebut, saya imbau kepada semua pelaku penempatan maupun calon TKI, agar minimal bisa melindungi dirinya sendiri. Jangan kalau sudah ada masalah seperti ini semua tiarap, tidak ada yang mau bicara. Ini lah yang disesalkan, seolah peme­ rintah yang disalahkan,” tegasnya.

Imbuh Ilham, jika mendengar secara global, permasalahan tenaga kerja di luar negeri 80 persen sumbernya berasal dari hulu alias Desa, asal TKI itu sendiri. Padahal sebut dia, pemerintah desa memiliki tugas dan tanggung jawab dalam menerima dan memberikan informasi pekerjaan, melakukan verifikasi dan pencatatan calon pekerja,  memasilitasi pemenuh­ an persyaratan administrasi kependudukan calon pekerja, serta melakukan pemantauan keberangkatan dan kepulangan pekerja. “Manakala di desa sudah salah, indetitas ke depan ya salah terus. Aparatur desa tidak boleh lagi main-main. Kalau memang ada warganya yang tidak boleh berangkat, harus dikasih solusi.  Kalau tetap ngotot mau berangkat, dokumen harus dilengkapi. Aparatur desa dan Dinas Tenaga Kerja harus melayani. Supaya angka permasalahan ini bisa ditekan,” jelasnya. Untuk itu, Ilham pun berharap  kepada calon-calon TKI khususnya untuk melengkapi dokumen-dokumen resmi. Agar pihaknya bisa memantau, dan memberikan perlindungan terhadap TKI tersebut seandainya sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Serta ke depan-

nya, agar para TKI lebih mematuhi peraturan-peraturan yang berlaku. “Kalau aturan dan dokumen sudah terpenuhi tidak ada lagi yang ditakuti. Kalau tidak lengkap, ini akan menjadi kesalahan yang sangat fatal bagi TKI itu,” tandasnya. Ditemui di tempat yang sama, I Nyoman Susila selaku Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja dan Transmigrasi Dinas Tenaga Kerja Buleleng mengungkapkan, berdasarkan data pada tahun 2017, jumlah tenaga kerja yang mengadu nasib di luar negeri asal Buleleng sebanyak 984 orang. “Mereka tersebar di berbagai negara. Ada yang bekerja di kapal pesiar, spa dan hotel. Sedangkan 2018 diprediksi akan semakin bertambah,” katanya. Untuk itu, sosialisasi seperti ini pun diharapkan oleh Susila agar rutin dilakukan oleh BP3TKI. “Dari segi untuk menjamin perlindungan kepada para TKI, kami terus ber­koordinasi dengan BP3TKI Denpasar ya. Semoga BP3TKI tidak bosan-bosan memberikan so­sialisasi. Dan kami harap ke depannya sosialisasi bisa langsung menyasar pada masyarakat di desa,” pungkasnya. (Wiwin Meliana)

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018

11


10

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018

Buleleng

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018

Kom an g

23

R ed iasa

Berharap Menamatkan Sekolah Potret wisata Bali dengan wajah pariwisatanya seakan meyakinkan siapa saja bahwa provinsi ini tidak lagi tersentuh kemiskinan. Dibalik gambaran kemakmuran masyarakat di Bali Selatan ada ketimpangan status ekonomi di sejumlah kabupaten lain di Bali. Salah satunya Kabupaten Buleleng.

K

emiskinan rupanya masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah di tengah upaya pengembangan-pengembangan berbagai sektor untuk memajukan Buleleng. Buleleng yang memiliki wilayah terluas di Bali memang memiliki jumlah penduduk terbanyak di antara kabupaten lain, sehingga berbagai masalah timbul dari mobilitas sosial. Kemiskinan merupakan suatu keadaan yang sering dihubungkan dengan kebutuhan, kesulitan dan kekurangan di berbagai kebutuhan hidup yang menggambarkan kekurangan materi. Salah satu potret kemiskinan ada di Desa Sudaji Kecamatan Sawan, Buleleng. Komang Rediasa hidup di tengah keluarga yang serba terbatas. Di usianya yang masih sangat belia, Komang (7 tahun) begitu ia dipanggil tidak bisa merasakan masa kecil yang bahagia seperti anak-anak pada umumnya. Orangtuanya, Luh Sekri dan Ketut Mas Sumadi tidak punya cukup uang untuk membelikannya mainan atau makanan yang enak. Dalam keseharian, sang ayahlah yang menjadi tulang punggung tunggal dalam keluarganya, sedangkan sang hanya sebagai buruh serabutan. Jika memungkinkan sang ibu turut membantu bekerja untuk menambah penghasilan keluarga, jika tidak sang ibu hanya fokus mengurus anak-anaknya di rumah. Saat ditemui Tokoh di kediamannya, Banjar Kaja Kauh Desa Sudaji, Buleleng, Komang baru saja pulang dari sekolah. Dirinya saat ini duduk di kelas 1 SD Negeri 4 Sudaji. Dengan pakaian lusuh yang seharusnya masih baru bagi anak yang baru masuk di SD, Komang nampak begitu kurang bersemangat. Sambutan hangat sang ibu tidak didapatnya sepulang sekolah. Komang sudah terbiasa hidup

mandiri, bahkan di usianya yang masih sangat kecil dirinya sudah biasa di tinggal sendiri di rumah dan mengerjakan segala sesuatu kebutuhannya sendiri. Ibunya sedang bekerja menjadi buruh angkut pasir. Komang tinggal bersama orangtua, kakaknya Kadek Anggara Natha (11), dan adiknya Ketut Ani Ningsih (3). Kakak sulungnya Gede Ariaba (13) yang telah putus sekolah sedang

bekerja di wilayah Tabanan sebagai buruh pasir. Mereka tinggal bersama di bawah rumah yang tidak layak huni. Rumah dua kamar ini merupakan warisan dari kakeknya, ayah dari Mas Sumadi. Rumah tua ini, tak hanya sudah rapuh tetapi atapnya yang terbuat dari seng juga sudah karatan dan berlubang. Mirisnya, ketika turun hujan mereka menggunakan terpal untuk berteduh. “Kalau hujan semuanya bocor buku-buku dan seragam harus dicarikan tempat aman,� tuturnya. Rumah yang ia tinggali terdapat dua kamar. Satu kamar untuk keluarga, satu kamar lagi untuk pamannya, adik ayahnya. Bahkan daun

pintu dan jendela pun sudah dibuka karena di makan rayap. Yang lebih memprihatinkan lagi, tidak ada kamar mandi di bangunan rumah itu. Semua kebutuhan untuk memasak, mandi, cuci pakaian, hingga kebutuhan buang hajat dilakukan lah di saluran irigasi dekat saat pulang seko Komang Rediasa rumah mereka. Untuk keperluan sekolah Komang Komang berharap dapat menamatkan hanya mengandalkan penghasilan sekolahnya tidak seperti kakaknya sang ayah yang tidak menentu. yang harus putus sekolah dan harus Bahkan pergi ke sekolah pun dirinya membantu kebutuhan ekonomi kejarang mendapat bekal dari sang ayah. luarga di usianya yang masih sangat Kalaupun diberikan hanya 2 ribu saja. belia. (Wiwin Meliana)

Komang Rediasa dan keluarga


Bumi Gora

24 Ketika anak-anak jauh dari orangtua, biasanya ibu adalah orang yang paling detil menanyakan kabar anak-anak tersebut. Apalagi kepergian anak-anak ini ke tempat yang cukup jauh. Hal ini terlihat selama dua minggu terakhir dalam program pertukaran pelajar yang dilakukan oleh SMAN 2 Mataram ke Christian College Geelong (CCG) Australia.

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018

Belajar Banyak Hal

S

epanjang waktu itu, para ibulah yang terlihat lebih aktif memantau perkembangan dan kegiatan anak-anak mereka selama berada di Geelong Australia. Sejak pagi waktu Indonesia, mereka sudah bergantian bertanya tentang kondisi anak-anak mereka. Ada kehangatan keluarga yang terasa terbangun dari perhatian para ibu ini terhadap anak-anak mereka. Karakter masing-masing ibu dan anak pun terlihat dalam obrolanobrolan, salah satunya lewat grup media sosial yang sengaja dibuat sebagai tempat untuk berkomunikasi antara anak, orangtua dan pihak sekolah khususnya para guru pendamping anak-anak ini. Komunikasi ini secara tidak langsung juga merupakan bagian dari pendidikan yang dibangun antara anak, orangtua dan pihak sekolah. Bagaimana tidak, sejak menjelang keberangkatan dua minggu lalu, antusiasme orangtua, khususnya para ibu dari 28 anak yang menjadi peserta pertukaran pelajar ini begitu luar biasa.

Kunjungan ke pusat kebudayaan Aborigin Australia.

Karena dari sini mereka bisa belajar banyak hal. Fitriah ibu dari Rezkia Fikriyanti salah seorang peserta mengungkapkan bahwa ia sangat senang dengan adanya program ini di SMAN 2 Mataram. Pasalnya ia mengaku bahkan sampai menangis karena bangga melihat video anaknya dan juga anak-anak lainnya ternyata mampu tampil dengan baik untuk bicara sendiri di atas po-

Kebahagiaan para siswa saat makan mi yang merupakan makanan yang biasa mereka makan saat di Indonesia.

Menyiapkan segala keperluan anak hingga mengajari mereka hal detil seperti mengatur pakaian sendiri, bagaimana harus bersikap yang baik hingga memberi nasihat-nasihat penting kepada anak-anak mereka, agar selama mengikuti program ini dapat memberi manfaat bagi mereka. Program pertukaran pelajar ini dinilai sangat baik oleh para orangtua terutama para ibu dari pesertanya.

dium di CCG Australia. “Saya bangga sampai nangis melihat anakanak saat perkenalan di depan podium. Ternyata anak yang selama ini nggak bisa jauh dari mamanya sampai di negeri orang dengan gagah dan beraninya berbicara di hadapan tamu undangan. Alhamdulil-

Mengenal budaya dan kebiasaan warga Australia menjadi salah satu tujuan pertukaran pelajar. Foto; Tihang bersama keluarga tua asuhnya Carleson Family.

lah…,” ungkapnya lega. Hal yang sama diungkapkan Rahma Kurniawati, ibunda dari Dita Alvita Dakota. Ia menilai kegiatan semacam ini luar biasa untuk kemajuan anak-anak atau para siswa. “Anak-anak rupanya tidak butuh waktu lama untuk bisa beradaptasi dengan para host-nya yang berbeda kebiasaan, adat istiadat dan lain-lain dengan  kita,” ujarnya.  Sambutan yang baik dari para siswa di CCG membuat para siswa dari SMAN 2 Mataram mampu berinteraksi dengan baik. Dita mengisahkan hal ini kepada ibundanya. Sri Saptianingsih, ibunda M. Tegar Audryon Arzayka turut terkesan karena program ini memberi pengalaman berbeda. “Berada dan beraktivitas di luar negeri yang tentu saja berbeda budaya, karakter dan lingkungannya dengan di Indonesia,” kata Sri yang mengaku takjub melihat penampilan anaknya

ketika berbicara di depan umum. “Itu di luar dugaan kami, ternyata anak saya berani bicara tanpa teks,” katanya. Rupanya ayah Ryon yang melihat rekaman videonya langsung bertepuk tangan saking senangnya melihat anaknya itu akhirnya berani tampil. “Ini akan menjadi kenangan yang sangat berharga buat anak-anak khususnya peserta program ini,” ujarnya. Begitu juga dengan Jumriah Duma Basri, ibunda dari Arzety yang mengaku sangat terkesan dengan kegiatan ini karena bisa membuat anaknya itu belajar mandiri. “Anak saya akhirnya bisa mandiri walaupun awalnya agak berat menyesuaikan terutama masalah makanan,” katanya. Memang salah satu yang menjadi bahan diskusi para ibu adalah soal makanan bagi anak-anak mereka yang jarang ‘bertemu’ dengan nasi dan makanan Indonesia selama berada di Australia. Makanan yang khas bagi warga Australia adalah kentang dan roti. BELAJAR BERADAPTASI Namun uniknya, para ibu saling memberi saran kepada putraputrinya

untuk bisa menyikapinya. Ada yang meminta mereka mencari restoran masakan Indonesia, ada pula yang menyarankan mereka untuk mencoba. Bahkan ada yang memberi saran agar anakanak belajar menyesuaikan diri dengan situasinya hari itu. Saran itu semacam peribahasa ‘di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Anak-anak peserta pertukaran pelajar ini setidaknya bisa belajar beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan apa yang mereka rasakan saat itu di negeri orang. Kelakar anak-anak justru menenangkan para ibunya, ketika ada seorang anak memosting daftar menu pada restoran Indonesia dengan harga snack yang terbilang mahal. Anak-anak pun saling sahut dan menertawakan keinginan mereka untuk ‘bertemu’ nasi. Mereka rupanya enjoy saja dengan situasinya yang rata-rata merindukan nasi dan makanan Indonesia. Kelakar-kelakar anak-anak ini justru menenangkan hati para ibu. Salah seorang guru pendamping yang paling banyak berinteraksi dengan para orangtua, Izdhar Azizi, mengungkapkan bahwa memang akan selalu ada yang namanya adaptasi, terutama soal makanan. Ia sendiri mendapat host lakilaki yang tidak pernah tahu bahasa Indonesia dan juga tidak pernah berkunjung ke Indonesia. “Makanan yang disajikan memang seperti makanan aneh (bagi kita) tapi kita berusaha belajar menyesuaikan diri,” ujarnya. Menurutnya, disitulah uniknya program ini, karena siswa bisa belajar langsung dari sumbernya. Masalah makanan rupanya bisa menjadi salah satu pembelajaran bagi anak-anak dalam beradaptasi. “Mereka akan secara mandiri menyelesaikan masalah yang dihadapi,” ujar Izdhar. Hal ini dinilainya baik karena tujuan dari program ini adalah untuk membuat anak bisa belajar belajar budaya Australia dan kebiasaan mereka. Melihat dinamika dan perkembangan selama dua minggu terakhir program ini berjalan, ternyata bukan hanya anak yang belajar jauh dari orangtua tetapi juga pelajaran baiknya adalah orangtua, khususnya ibu belajar menyikapi situasi dengan bijak ketika mereka jauh dari anak-anaknya. Hal lain yang menarik adalah perhatian para ibu kepada keluarga angkat anak-anak mereka di Australia dengan menyiapkan cinderamata yang khas Indonesia, khususnya yang berbau Lombok. Mulai dari kaus Lombok, kain tenun khas Lombok, batik Yogyakarta dan lain-lain yang mencirikan Lombok. Rahma Kurniawati, Ibunda dari Dita juga memberikan bingkisan lain khas Indonesia yang dipesan host anaknya, seperti  kopiko, indomie, teh celup sosro. (Naniek I. Taufan)

Edukasi

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018

9

Peningkatan Kualitas Input Saat ini Undiksha memang menjadi salah satu perguruan tinggi negeri yang memiliki banyak peminat. Menurut Rektor Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja Dr. Nyoman Jampel, M.Pd., banyaknya minat masayarakat untuk menjadi bagian dari kampus terbesar di Bali Utara tersebut menjadikan Undiksha lebih mengedepankan kualitas dibandingkan kuantitas.

H

al dapat dilihat dari sistem penjaringan calon mahasiswa baru yang akan lebih diperketat. “Kami akan menjaring calon mahasiswa baru melalui tiga jalur yang berbeda yakni Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN),

Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) dan jalur mandiri,” ungkapnya. Undiksha merupakan institusi pendidikan tinggi negeri yang mencetak sumber daya manusia dalam bidang kependidikan dan nonkependidikan. Dalam bidang pendidikan,

Dr. Nyoman Jampel, M.Pd.

Undiksha merupakan pencetak sumber daya manusia pendidik yang terbesar di Bali. Sampai saat ini, Undiksha telah menghasilkan lebih dari 33 ribu lulusan yang kebanyakan tenaga pendidik. Jampel mengatakan Undiksha menerima kuota mahasiswa ­masing-masing 50% melalui jalur SNMPTN, 40% melalui jalur SBMPTN dan 10% kuota melalui jalur mandiri. Penerimaan mahasiswa baru akan diprioritaskan pada dua jalur penerimaan yaitu SNMPTN dan SBMPTN. Apabila kedua jalur tersebut sudah memenuhi penerimaan mahasiswa, maka tidak lagi dilakukan penerimaan jalur mandiri. Tetapi melihat pengalaman dari tahun sebelumnya, ada saja kekurangan dari beberapa prodi dari penerimaan jalur SNMPTN dan SBMPTN sehingga masih ada slot untuk jalur mandiri. “Tahun ini kami lebih fokus pada kualitas sehingga diperkirakan paling banyak menampung mahasiswa sekitar tiga ribu orang saja. Melihat keadaan kelas yang ada sehingga diharapkan ada kelas sisa untuk kegiatan tambah­an mahasiswa,” jelasnya. Peningkatan kualitas input ini juga sebagai bentuk upaya mendukung program re-akreditasi untuk menjadi perguruan tinggi unggul. Ditambahkan Jampel, Undiksha memiliki tujuh fakultas dengan puluhan program studi yang rata-rata kini sudah berstatus terakreditasi A dan B. (Wiwin Meliana)

Mendongeng Lima Menit Made Taro

KELUHAN SEEKOR SINGA

Seekor singa betina menghadap Raja Salomon. Sambil mencucurkan air mata, ia menumpahkan kejengkelannya. “Tuanku, tidakkah Tuanku dapat menindak Manusia Pemburu itu? Ketika hamba berburu makanan untuk anak-anak, pemburu yang jahat itu menembak anak hamba, kemudian mengulitinya di depan hamba. Sungguh, manusia itu sangat kejam dan tidak punya belas kasihan! Bunuhlah pemburu itu, Tuanku!” “Sebelum aku bertindak, dengar dulu ceritaku!” jawab Raja Salomon. “Pada suatu hari,” demikian sang Raja memulai ceritanya. “Seekor mongoose bertemu dengan seekor cerpelai. Cerpelai itu mengeluh. “Ketika aku meninggalkan rumah, mencari makanan untuk anak-anak, seekor ular memangsa semua anakku. Tidakkah kamu menemukan akal, bagaimana cara membunuh ular jahat itu?” “Ada usaha, pasti ada jalan,” jawab Mongoose. “Pasang kail berumpan ikan di depan rumahnya. Setelah ia makan ikan itu, segeralah tarik! Kita pestakan ular itu!” Waktu itu juga kedua hewan bersahabat itu melakukan akal yang jitu tersebut. Mencium bau gurih, sang ular segera keluar dari lubangnya. Mongoose tidak mau membuang-buang waktu. Ia segera mencaplok ular yang berbisa itu. Dalam waktu yang sama seekor anak ayam mencari-cari sumber bau ikan yang gurih itu. Namun sebelum sampai ke tempat itu, ia disengat oleh seekor kalajengking yang berada dekat tempat itu. Anak ayam itu mengaduh menahan sakit. Ia menangis menciap-ciap, mengadu kepada seekor ayam jago. Ayam jago yang pemberani itu marah, lalu berteriak menantang, “Kukuruyuuuk….!” Seekor serigala mendengar teriakan yang melengking itu. Nafsu makannya terangsang, lalu ia mendekati ayam jago itu. Namun di tengah jalan, perhatiannya berubah. Ia melihat anak-anak cerpelai di dalam rumahnya tanpa dijaga sang induk. Induk cerpelai itu terpaksa meninggalkan rumahnya, karena ia berburu makanan untuk anak-anaknya. Tentu saja sang serigala dengan mudahnya dapat memangsa anak-anak cerpelai itu. Sang induk pun mengadu sambil menangis kepada Raja Salomon. “Hewan apa yang kau buru untuk makanan anakmu?” Tanya sang raja. “Burung, Tuanku!” jawab cerpelai. Selesai bercerita seperti itu, Raja Salomon lalu bertanya kepada singa betina yang sedang mencucurkan air mata. “Pernahkah kau berburu manusia untuk makanan anakmu?” Singa tidak bisa menjawab. Ia tersipu-sipu malu. “Jangan berbuat seperti itu, kalau tidak mau diperlakukan seperti itu,” kata Raja Salomon. (Roger Jenkins, Singapura)

Perlu Pendirian PAUD Hindu Negeri Pendidikan Anak Usia Dini begitu penting sebagai pondasi awal anakanak sebelum memasuki Sekolah Dasar. Dengan mengikuti PAUD diharapkan dapat membentuk karakter peserta didik sejak usia dini. Hal ini juga disampaikan oleh Ketua Dewan Pimpinan Kabupaten (DPK) Perhimpunan Pemuda Hindu (Peradah) Buleleng, I Made Bagus Andi Purnomo, M.Pd. Dirinya mengatakan sangat mendukung upaya pemerintah daerah setempat untuk terus mengembangkan PAUD yang ada di Buleleng. salah satunya dengan mendorong pemerintah setempat untuk segera merealisasikan rencana pendirian Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Hindu Negeri. “Kami mendorong agar rencana tersebut segera direalisasikan. Terlebih lagi, belum ada PAUD berbasis Hindu di Buleleng yang berstatus negeri,” jelasnya. Dengan sekolah berbasis Hindu

diyakini dapat menumbuhkankembangkan karakter peserta didik yang sering diwacanakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). “Agama dan budaya mengandung nilai-nilai pendidikan adilihung. Agama dan budaya mengandung nilai-nilai karakter pendidikan yang sangat rele­ van diaplikasikan. Anak-anak usia dini harus mulai dikenalkan dengan agama dan budayanya. Dengan hal itu akan tumbuh rasa memiliki, melaksanakan kemudian mengimplementasikan,” papar dia sembari mengingatkan bahwa sesuai Permendiknas No. 58 tahun 2009, PAUD juga dijabarkan sebagai pendidikan awal untuk mengembangkan moral dan agama. Bagus yang juga sebagai Wakil Ketua Forum Generasi Muda Lintas Agama Buleleng itu juga menilai perkembangan globalisasi begitu cepat. Anak usia dini kini mulai terbiasa dengan segala yang yang berbau modern. Anak-anak terbiasa bermain

hanya dengan telepon pintar mereka saja. Satu sisi ada hal positif dimana anak dapat belajar dengan mengakses info pendidikan dengan cepat, namun disisi lain berdampak pada minimnya sosialisasi dengan lingkungan, adat dan budayanya. “Beberapa contoh misalnya anak-anak mulai enggan untuk belajar ‘nabuh’ atau ‘mengambel’. Permaikan tradisional dilupakan. Coba tanya berapa anak yang bisa memainkan permainan tradisional. Masih banyak lagi hal lain yang perlu mendapatkan sorotan,” tuturnya. Pihaknya juga menilai pendirian PAUD Hindu sejalan dengan program pemerintah daerah dalam upaya mening­katkan pelayanan pendidikan anak usia dini. Terlebih banyak penghargaan yang diterima Kabupaten Buleleng dalam hal pembinaan PAUD di berbagai wilayah desa dan kecamatan di daerah itu. “Jika Pemkab dapat merealisasikan satu PAUD Hindu setiap satu kecamatan seperti yang

direncanakan. Saya kira sangat baik sekali. Sebagai awal dapat digunakan sebagai percontohan dulu. Jika sistem dan kurikulumnya jalan bagus, baru kemudian direalisasikan tiap satu desa, berdiri satu PAUD Hindu,” tegasnya. Lebih lanjut, dirinya juga mengingatkan, generasi saat ini merupakan pewaris pembangunan masa mendatang. Mereka (anak usia dini) merupakan elemen penting guna mewujudkan cita-cita besar mewujudkan Indonesia emas pada 2045. “Anak-anak usia dini saat ini merupakan generasi emas pada 2045 mendatang. Mereka akan berada pada usia produktif. Jadi harus dididik dan digodok

dengan sistem yang benar. Analogi­ nya sederhana. Bibit yang bagus akan menghasilkan tanaman yang terbaik apabila ditanam pada lahan subur dan dengan sistem tanam profesional. Sebaliknya, jika bibit bagus ditanam pada lahan kering. Memang akan tumbuh, tapi hanya menjadi tanaman tidak berkualitas dan cen­ derung cepat mati,” tuturnya. (Wiwin Meliana)

I Made Bagus Andi Purnomo, M.Pd.


8

Bunda Ananda

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018

Bumi Gora

25

NTB Rencanakan Pembangunan Tiga Kawasan Potensial

Pembangunan di Nusa Tenggara Barat kini sudah memenuhi sebagian besar dari prioritas pembangunan di daerah, seperti pembangunan manusia melalui pengurangan kemiskinan, peningkatan pelayanan dasar, pengurangan kesenjangan antarwilayah melalui penguatan konektivitas dan kemaritiman serta peningkatan nilai tambah ekonomi melalui pertanian, industri, dan jasa produktif. Terpenuhinya prioritas pembangunan tersebut dapat dilihat pada angka-angka pertumbuhan tahun 2017, pertumbuhan ekonomi NTB non tambang tumbuh 7,1%, angka pengangguran menurun di angka 3,2% dan menjadi salah satu provinsi yang progresif dalam penurunan angka kemiskinan.

Pupuk Jiwa Gotong Royong dan Toleransi Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1940, yang jatuh pada 17 Maret 2018, tinggal menghitung hari. Menjelang hari yang disucikan tersebut dilaksanakan serangkaian upacara, salah satunya Pengerupukan (sehari sebelum Nyepi) yang diramaikan dengan pengarakan ogoh-ogoh.

P

awai ogoh- ogoh ini menjadi tradisi unik yang sangat menarik bagi segala usia. Terlebih bagi anak-anak. Boneka raksasa yang merupakan simbolisasi dari unsur negatif,

sifat buruk, dan kejahatan ini menjadi rebutan bagi anak-anak untuk bisa mengaraknya. “Semua ingin mengaraknya, makanya kami beri kesempatan untuk bergiliran. Ada yang mengarak ogoh-ogoh, ada yang membawa

obor dan kober, ada juga yang megambel,” ujar Kepala PG/ TK Lingga Murti School (LMS) AA Putu Eka Yuliawati, S.Pd. usai mendampingi anak-anak didiknya mengarak ogoh-ogoh, Sabtu (10/3). Kegiatan mengarak ogohogoh ini dikatakan Miss Agung— demikian ia biasa disapa, menjadi agenda rutin LMS dalam rangka memperingati Hari Raya Nyepi. “Sejak dini anak-anak kami perkenalkan dengan salah satu tradisi adat budaya di Bali. Dengan dilibatkan langsung, kami berharap setidaknya mereka tahu tentang adat dan budayanya,” ucapnya. Mengambil start di halaman

I K L A N

sekolah LMS, anak-anak didampingi orangtua dan para guru yang berpakaian adat madya mengarak beberapa ogoh-ogoh mini, barong bangkung, dan dimeriahkan dengan obor, kober, serta iringan gambelan, konvoi ini melewati Jalan Gurita menuju Lapangan Pegok dan kembali ke sekolah. Meski tampak kelelahan, anak-anak sangat bersemangat mengikuti acara ini, termasuk para orangtua siswa. Jauhjauh hari para guru telah mempersiapkan segala

CANT IK

“P

embangunan di NTB sudah memenuhi apa yang disebut dengan pembangunan inklusif. Ada pertumbuhan ekonomi, penurunan angka pengangguran, rasio gini dapat dikendalikan dan tingkat kemiskinan juga dapat diturunkan secara progresif,” ungkap Gubernur NTB Dr. TGH. M. Zainul Majdi pada Pembukaan Koordinasi Teknis Perencanaan Pembangunan (Kortekrenbang)

proyek, target, lokasi, dan anggaran pembangunan nasional antara pemerintah pusat dan daerah. Gubernur NTB menyampaikan beberapa rencana besar yang sedang dilaksanakan NTB pada kegiatan yang dihadiri Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional RI yang juga Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro. Rencananya tersebut adalah pembangunan tiga kawasan potensial yaitu KEK Mandalika, kawasan Samota dan Global Hub Bandar

AA Putu Eka Yuliawati, S.Pd.

perlengkapan, seperti obor dan kober yang dibuat dari kertas. “Semua ini untuk keamanan. Namun, kami tetap mengambil filosofi dari pawai ogoh-ogoh yang sebenarnya,” ujar Miss Agung. Selain sebagai upaya memperkenalkan adat dan budaya apada anak-anak, Miss Agung mengatakan kegiatan ini juga bertujuan untuk memupuk jiwa gotong-royong pada saat mereka mengarak ogoh-ogoh. Serta melatih jiwa toleransi, dengan bersedia bergiliran (tidak berebutan) mengarak ogoh-ogoh. (Inten Indrawati)

“Sejak dini anak-anak kami perkenalkan dengan salah satu tradisi adat budaya di Bali. Dengan dilibatkan langsung, kami berharap setidaknya mereka tahu ­tentang adat dan budayanya”

Regional 2 Tahun 2018 di Mataram, beberapa waktu lalu. Koordinasi teknis perencanaan pembangunan (Kortekrenbang) dengan tema “Melalui Kortekrenbang kita Wujudkan Perencanaan Pembangunan Nasional dan Daerah yang Efektif dalam Pencapaian Target Akhir Nawacita” yang diikuti oleh 34 kementerian/ lembaga dan 17 provinsi lingkup Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku dan Papua ini, merupakan salah satu wadah bagi pemerintah pusat maupun pemerintah daerah untuk secara bersama-sama bersinergi melakukan sinkronisasi dan harmonisasi. Dengan tujuan mencapai target pembangunan nasional melalui penyelerasan program, kegiatan,

Kayangan. “Ketiga kawasan ini tidak bisa kami selesaikan sendiri dan masih perlu koordinasi dan regulasi dari pemerintah pusat. Demikian juga supporting pendanaan dan segala yang diperlukan dalam pembangunan agar kawasan yang sangat potensial ini  bisa berhasil di masa-masa yang akan datang,” ujarnya.  Menteri PPN/Bappenas RI, Bambang Brodjonegoro yang hadir dan membuka acara tersebut menyebutkan bahwa terdapat beberapa prioritas nasional. “Beberapa yang harus menjadi skala prioritas di daerah antara lain pembangunan manusia melalui pengurangan kemiskinan dan peningkatan pelayanan  dasar, pengu-

rangan kesenjangan antar wilayah melalui Penguatan Konektivitas dan Kemaritiman, peningkatan nilai tambah ekonomi melalui pertanian, industri, dan jasa produktif. RKP tahun 2019 harus memokuskan pada optimalisasi pemanfaatan seluruh sumber daya (pemerintah, swasta, perbankan) untuk mengejar pencapaian tujuan dan sasaran pembangunan nasional dalam RPJMN 2015-2019,” ujarnya. Melalui kegiatan ini diharapkan, penyusunan RKPD bisa menjadi lebih baik. ”Kami dari pusat mengharapkan partisipasi dari bapak ibu dari semua provinsi yang hadir pada hari ini untuk menyinkronkan RKP antara pusat dan daerah bapak ibu sekalian. Saya juga harapkan penyusunan RKP 2019 ini masih menerapkan prinsip Money Follow yang artinya program dan kegiatan strategis yang memang menjadi prioritaslah yang mendapatkan anggaran. Tujuannya, agar perencanaan lebih holistik, tematik, terintegrasi, dan spasial dan diperkuat oleh empat fokus perkuatan. Pertama, perkuatan perencanaan dan penganggaran melalui penajaman prioritas nasional dan program prioitas, kedua perkuat pengendalian perencanaan dengan menyusun proyek prioritas

pembangunan hingga level proyek atau “satuan 3”, ketiga perkuat perencanaan berbasis kewilayahan yang memokuskan aspek spasial hingga detil rencana lokasi pembangunan dan yang keempat perkuat integrasi sumber pendanaan baik yang bersumber dari APBN, APBD, maupun badan usaha serta melalui skema KPBU dan PINA (Pembiayaan Investasi Non Anggaran Pemerintah),” katanya. Ketua panitia kegiatan Kortekrenbang, Ir. Diah Indrajati, M.Sc., yang juga Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah Kementerian Dalam Negeri RI, mengatakan bahwa kegiatan ini diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia bersama Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/ Bappenas) sesuai dengan amanat

Dr. TGH. M. Zainul Majdi

pasal 258 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang sinkronisasi antara kementerian/ lembaga dan Pemerintah Daerah mengenai target capaian pembangunan nasional yang pelaksanaannya dilakukan melalui Kortekrenbang pada pagi hari ini. Diah juga mengungkapkan bahwa kegiatan ini dilaksanakan di dua regional, untuk regional I telah dilaksanakan di Yogyakarta, diikuti oleh 34 kementerian/ lembaga dan 17 provinsi lingkup Sumatera, Jawa dan Bali. Sementara untuk regional II saat ini dilaksanakan di Mataram NTB dan diikuti oleh 34 kemeterian/ lembaga dan 17 provinsi lingkup Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku dan Papua. (Naniek I. Taufan)


Surabaya

26 Indonesia dikenal memiliki kekayaan alam dan budaya melimpah. Keanekaragaman budaya ini didukung sejarah yang masih melekat dengan masyarakat. Hal ini terlihat jelas dengan adanya berbagai situs peninggalan sejarah, berupa arca dan candicandi yang menjadi saksi bisu tentang keberadaan kisah maupun mitosmitos yang bertebaran di masyarakat.

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018

Petirtaan Sumber Tetek di Pasuruan

Sembuhkan Penyakit dan Awet Muda

D

i Jawa Timur terdapat sebuah candi yang diduga merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Airlangga pada abad ke-11. Candi Belahan atau masyarakat setempat menyebutnya sebagai Petirtaan Sumber Tetek. Asal-usul nama Candi Tetek sendiri berasal dari kata “tetek” yang merupakan adaptasi dari bahasa Jawa yang berarti puting payudara. Hal ini dikarenakan dalam arca Dewi Laksmi, mengalir sumber air dari kedua payudaranya. Untuk itu, mengapa petirtaan ini dinamai dengan Candi Sumber Tetek.

Candi Sumber Tetek sendiri merupakan sebuah bangunan persegi berbentuk kolam yang terdiri dari tumpukan batu bata

merah berukuran 5x5 meter persegi yang disampingnya terdapat dua arca Dewi Sri dan Dewi Laksmi, yang mengeluarkan air

dari kedua payudaranya. Hadirnya wujud Dewi Sri, ini dipercaya masyarakat setempat sebagai lambang kesuburan dan

Gang Dolly Jadi Kawasan Produktif Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya berhasil mengubah kawasan eks lokalisasi Dolly dan Jarak menjadi sebuah kawasan yang produktif. Saat ini, kawasan tersebut sudah mengalami banyak perubahan, pasca ditutup empat tahun silam.  Baik perubahan dari aspek sosial maupun ekonomi. Tempat yang dulunya ramai berjajar rumah-rumah bordil, kini telah bermetamorfosis menjadi sebuah kampung yang produktif. Camat Sawahan Surabaya M. Yunus mengatakan kawasan eks lokalisasi Dolly dan Jarak, saat ini mulai banyak berkembang salah satunya dari segi ekonomi. Dengan adanya beberapa usaha industri kreatif yang mulai berkembang di kawasan tersebut, pastinya juga memberikan dampak yang positif bagi perekonomian warga sekitar. “Selama ini Pemkot terus melakukan berbagai upaya agar perekonomian warga sekitaran eks lokalisasi makin meningkat, termasuk mendirikan industri kreatif bagi warga sekitar,” kata Yunus. Ia mengungkapkan, saat ini terdapat sebanyak 23 kelompok Usaha Kecil Menengah (UKM) di kawasan tersebut.  Rinciannya, untuk produk olahan batik berjumlah empat kelompok UKM, yaitu Jarak Arum, Alpujabar, Canting Surya, dan Warna Ayu. Sementara itu, untuk olahan makanan dan minuman berjumlah 13 UKM dengan rincian yaitu, TBM Kawain, olahan bandeng, Jarwo Tempe, Sami Jali, Pangsit Hijau, Cak Mimin (Dian Rujak), UKM Puja (telur asin, botok telur asin), UKM Squel (olahan keripik), UKM Vigts (jamu herbal), Gendis (bumbu pecel), UKM Henrik (olahan

mereka lebih produktif dan kesejahteraan keluarga mereka lebih meningkat. Pemkot juga telah memberikan fasilitas berupa Dolly Saiki Point, sebuah tempat yang khusus dijadikan sebagai pusat oleholeh penjualan berbagai produk UKM dari seluruh warga sekitaran eks lokalisasi. “Mulai dari awal proses produksi hingga menuju market place, kami terus melakukan pembinaan dan pendampingan ke mereka. Selain itu, secara periodik mereka juga kita kumpulkan. Tujuannya untuk evaluasi, seperti ketika ada kesulitan kita wadahi mereka, dan kita sampaikan ke tkh/ist dinas terkait,” tegasnya. Kerajinan seni batik yang melibatkan warga eks Dolly. Yunus mengungkapkan, omzet yang didapatkan dari industri sandal dan sepatu bisa semanggi dan es puter) dan olahan minuman mencapai sekitar Rp 30 hingga Rp 40 juta per budari rumput laut. lan, dengan jumlah produksi sebanyak 300 buah “Setiap kelompok UKM itu terdiri dari tiga per hari. Sementara untuk usaha batik omsetnya hingga 10 orang dan merupakan warga dari bisa mencapai Rp 17 hingga Rp 28 juta per bulan. sekitaran eks lokalisasi Dolly dan Jarak,” ujar “Saat ini yang ramai itu pesanan untuk sanpria berkacamata ini. Disamping itu, untuk usaha dal hotel. Sekitar 10 hotel di Surabaya yang industri kreatif di tempat ini berjumlah sebanpesan. Sementara untuk pesanan yang palyak lima. Rinciannya yaitu, KUB Mampu Jaya ing jauh dari Sorong, Papua,” terangnya. (produksi sandal, sepatu dan goody bag), sablon, Kedepan, untuk industri dalam waktu dekat akan minyak rambut (phomade dan semir), handycraft (manik-manik) dan usaha dalam bentuk lukisan. dikembangkan lagi di sekitaran bangunan gedung yang dulunya bernama eks Wisma Barbara ini. “Kami juga saat ini sedang menyiapkan untuk Sebab, menurut dia, melihat begitu banyaknya industri sabun rumahan. Jadi nanti, tidak hanya pesanan membuat kebutuhan produksi perlu unproduk sandal dan goody bag saja yang kita tawartuk ditingkatkan. “Lokasinya nanti ada di belakang kan ke pihak hotel, tapi juga ada produk olahan bekas bangunan eks wisma Barbara, sudah kita sabun,” ujarnya. Pemkot Surabaya, lanjut Yunus, tawarkan ke beberapa warga dan mereka sangat terus berupaya untuk memberdayakan keluarga begitu antusias,” pungkasnya. di kawasan eks lokalisasi. Tidak hanya para suami, (Antonius Andhika/Bisnis Surabaya) namun juga para istri diberdayakan agar keluarga

Dewi Laksmi, sebagai lambang kemakmuran. Banyak masyarakat yang mempercayai bahwa Petirtaan Sumber Tetek ini dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit dan bisa membuat awet muda. Ta k h e r a n , j i k a b a n y a k masyarakat dan pengunjung dari berbagai kota berbondong-bondong datang ke tempat ini untuk mendapatkan air petirtaan untuk dibawa pulang. Di dalam Candi Tetek terdapat Arca Lingga Yoni di seberang kolam dan dahulu dalam catatan sejarah sebenarnya di atas Arca Dewi Sri dan Dewi Laksmi, terdapat Arca Prabu Airlangga dalam wujud Dewa Wisnu menaiki Garuda, yang sekarang sudah dibawa ke Museum Purbakala Sejarah Trowulan, Mojokerto dan telah mengalami restorasi oleh tim Arkeologi pada 1986. HADIAH KELAHIRAN AIRLANGGA Berdasarkan catatan sejarah, Petirtaan Sumber Tetek dibangun Raja Airlangga pada 1009 Masehi atau dimasa Kerajaan Kahuripan. Salah satu juru kunci Petirtaan Sumber Tetek, Astono, menuturkan, petirtaan dibangun oleh Raja Airlangga, putra dari Raja Udayana. Raja Udayana sendiri merupakan raja dari Bali yang menikah dengan seorang putri dari Jawa, Gunapriya Dharmapathi, pada masa Kerajaan Majapahit. “Sebagai hadiah menyambut kelahiran putranya (Airlangga), Raja Udayana memutuskan untuk membuat kolam yang dinamakan dengan Petirtaan Jolotundo. Petirtaan itu dibangun sekitar 997 Masehi,’’ kata Tono. Petirtaan Jolotundo merupakan cikal-bakal dibangunnya Candi Belahan atau akrab disebut dengan Petirtaan Sumber Tetek. Hal ini didasarkan pada penemuan prasasti yang terdapat di sekitar situs. Prasasti yang sekarang berada di Museum Trowulan, Mojokerto tersebut mencatat, Candi Belahan Sumber Tetek dibangun pada masa Kerajaan Kahuripan. Petirtaan yang secara administrasi berada di kawasan Dusun Belahan Desa Wonosunyo Kecamatan Gempol, Pasuruan Jatim ini, konon menjadi tempat pertapaan Raja Airlangga dan pemandian dua permaisurinya. Candi yang berada diketinggian 700 MDPL ini juga menawarkan keindahan alam yang asri. Belum lagi adanya gemericik air yang membuat pengunjung betah berlama-lama di tempat ini untuk melakukan meditasi atau mencari ketenangan di tengah kebisingan kota. (Hanny/Bisnis Surabaya)

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018

7


6

Woman on Top

Amelia Tjandra

Nomor Dua Dukungan produsen otomotif terhadap dunia olahraga tak diragukan lagi. Duku­ngan itu tak hanya untuk olahraga yang berkaitan de­ngan otomotif, tetapi olahraga popular seper­ti sepakbola, bulutangkis, dan basket.

B

erdasarkan survei AC Nielsen, olahraga merupakan tontonan favorit orang Indonesia. Posisi pertama dipegang sepakbola sedangkan di urutan kedua adalah bulutangkis. “Sebenarnya pada 2014, Daihatsu mensponsori Manchester City yang merupakan klub sepakbola Liga Inggris yang saat itu ada di peringkat kedua. Namun di 2016, kami beralih fokus ke badminton,” ungkap Amelia Tjandra, Direktur Marketing PT. Astra Daihatsu Motor (ADM) saat

jumpa pers Daihatsu Astec Open (DAO) di Denpasar. Sejak itulah, Daihatsu memfokuskan diri dengan menggelar Daihatsu Astec Open (DAO) bekerjasama dengan Astec. Pada tahun pertamanya, ada 7 kota di Indonesia yang disambangi. Begitu pula pada tahun kedua di 2017. Baru pada 2018 ini, DAO menggelar turnamen di 10 kota, termasuk salah satunya di Denpasar. Ia mengatakan dukungan Daihatsu terhadap bulutangkis bukan bersifat komersial. Daihatsu ingin melekatkan tagline barunya “Daihatsu Sahabatku” di hati masyarakat Indonesia. Pendekatan olahraga dianggap cukup mampu untuk mewujudkan tujuan

itu. “Kami ingin memperkuat tagline “Daihatsu Sahabatku” dengan memberikan sumbangsih pada masyarakat,” tegasnya didampingi Hendrayadi Lastiyoso (Marketing & CR Division Head PT Astra International Daihatsu Sales Operation), Alan Budikusuma (founder Astec), dan Made Darmayasa (Sekum Pengprov PBSI Bali). Amelia menegaskan Daihatsu akan konsisten membantu pembinaan atlet bulutangkis karena melihat potensi yang dimiliki. Jika tidak ada sponsor besar yang mendukung secara konsisten dan berkesinambungan, bulutangkis akan makin sulit berkembang. Nantinya para juara DAO aka nada yang diberangkatkan ke Jepang untuk diadu

dengan pebulutangkis Jepang yang menjadi binaan Daihatsu Jepang. Perempuan ramah ini juga menuturkan penjualan Daihatsu kini duduk di posisi nomor dua dari sisi market share penjualan, baik secara nasional maupun di Bali. Pun, saat memilih untuk mendukung aktivitas olahraga demi menumbuhkembangkan bibit-bibit baru di bidang itu, Daihatsu lebih memilih fokus di bulutangkis yang merupakan olahraga favorit kedua masyarakat setelah sepakbola. “Nomor dua menjadi magic number bagi Daihatsu. Saat kami memilih bulutangkis, kami juga memilih beker­jasama dengan Astec yang dimiliki Alan Budikusuma dan Susi Susanti yang merupakan dua atlet kebanggaan Indonesia. Jadi dua bisa

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018 dikatakan jadi magic number Daihatsu,” ujarnya sembari tersenyum. Alan pun mengakui saat ini kekuatan bulutangkis saat ini sudah merata. Tidak ada negara yang benar-benar mendominasi. Untuk kategori putri, setelah era Susi Susanti memang kesulitan untuk mencari yang sepadan. “Susi terakhir main 1998. Setelah itu ada Mia Audina, ternyata dia pindah. Setelah itu prestasi putri tidak begitu bagus. Cari pemain putrid juga agak sulit. Melalui DAO ini kami berharap bisa menjaring bibit usia dini untuk dikader dan dimasukkan program jangka panjang. Target kami, Olimpiade 2020, ada pemain putri yang masuk,” tegasnya. (Ngurah Budi)

“Putus III“ Salam Senyum

“Coba Anda jelaskan dengan detail, kenapa cek ini bisa diba­ yarkan. Padahal jelas tanda tan­ gan itu bukan tanda tangan saya. Lihat ini, tarikan garis saya tidak seperti ini.Apalagi ini tidak ada garis lengkung kecil di bawah. Jelas ini pemalsuan. Tapi Anda sebagai teller kenapa bisa lolos membayarkannya. Saya minta ganti rugi. Apalagi saya kenal baik dengan Pak Eko, pimpinan Anda. Kalau beliau sampai tahu hal ini, saya yakin Anda akan mendapat sanksi. Bahkan saya minta Anda diberhentikan saja jadi pegawai di sini. Hal seperti ini bisa mengurangi kepercayaan nasabah karena kecerobohan Anda bekerja. Atau, Anda sengaja bekerjasama dengan orang lain untuk hal ini?” Seorang pria paruh baya de­ ngan gaya yang modis terlihat berbincang serius dengan pe­ gawai salah satu bank ternama di kota ini. Pegawai bank kelihatan menunduk dan seakan-akan ingin memberikan jawaban dan argu­ men kepada customer nya yang komplain. Namun, sama sekali tidak diberi kesempatan oleh

pria tadi. Walaupun customer yang komplain tidak meledak ledak bahkan cenderung tenang, tapi tidak bisa dianggap sepele. Karena dia terlihat sangat paham dengan prosedur yang berlaku di perbankan. Pembaca setia Dhani’s Art In Service, dua tulisan saya sebel­ umnya sudah membahas tentang bagaimana menghadapi para complainer yang mempunyai tipe agresif maupun pasif. Sebelum menangani komplain itu sudah saya tulis juga kalau kita wa­ jib untuk mengetahui terlebih dahulu, langkah apa yang akan kita lakukan. Yang pertama kita wajib untuk mengetahui ciri-ciri atau tipe dari para complainer. Selanjutnya langkah yang kedua, kuasai hal–hal yang akan dilaku­ kan. Langkah yang ketiga adalah kuasai hal-hal yang dilarang untuk dilakukan. Contoh peristiwa di sebuah jasa perbankan yang saya tulis di atas adalah customer dengan tipe profesional complainers. Tipe ini sebenarnya bisa dibi­ lang paling berbahaya. Kenapa? Karena biasanya tipe profesional complainer seakan akan memang berprofesi sebagai orang yang

complain. Atau lebih jelasnya, mereka sengaja mencari titik cel­ ah atau kelemahan dalam sebuah prosedur, agar dapat menyalah­ kan bahkan mendapat ganti rugi dari perusaha­an penyedia jasa. Pada cerita di atas , penyedia jasa adalah petugas bank atau bank itu sendiri. Seperti ketika ingin mengenal seseorang lebih dekat, paling tidak mengetahui ciri-ciri dari orang tersebut terlebih dahulu. Begitu juga dalam menghadapi para complainer, kita harus tahu tipenya melalui ciri-ciri yang ditampakkan. Tipe profesional complainer sering kita temui. Bahkan tipe paling ditakuti. Inilah tipe yang sangat berbahaya. Kar­ ena selain bisa merusak pribadi yang melayaninya, mereka bisa juga merusak citra perusahaan. Dia sangat berbeda dengan tipe agresif dan tipe pasif. Kalau tipe agresif kita akan melihat ek­ spresi, gerakan, kata-kata yang dilontarkan, sehingga kita dapat menanggapinya dengan segera. Untuk tipe pasif, dia lebih pandai menyembunyikan sehingga tam­ pak baik-baik saja. Namun kita dapat menanggapinya dengan proaktif. Tapi sungguh berbeda dengan customer dengan tipe professional complainer. Tipe ini hampir tidak mempunyai itikad baik untuk membuat kita berbe­ nah dan memperbaiki diri kita

demi memuaskan mereka. Tipe ini cenderung mencari keuntungan pribadi. Ciri-ciri tipe ini adalah san­ gat pandai, menguasai product knowledge dan prosedur, bahkan ada yang tahu nama pejabat perusahaan kita. Kebanyakan mereka berpenampilan bagus, gaya bahasa berkelas dan santun. Selain itu piawai menggunakan pendekatan hukum. Biasanya menggunakan bahasa yang datar. Namun tidak jarang sebagian dari mereka sebenarnya tidak tahu apa yang mereka katakan. Menghadapi customer dengan tipe profesional seperti ini, sebai­ knya harus ekstra hati- hati ketika menanganinya. Siapkan mental dan hati yang baik. Tampakkan bahasa tubuh yang tenang dan ter­ buka, sembunyikan segala grogi/ kegugupan dengan senyuman. Dengarkan dengan baik setiap keluhannya, bila perlu catat. Ketika kita sudah berhada­ pan dengan mereka, sebaiknya libatkan atasan kita. Menjawab dengan prosedur yang benar, di­ sertai dengan bukti yang akurat akan dapat membantu kepuasan layanan untuk menjawab para professional complainer. Hindari berdebat dengan mereka. Kalau kita sudah berpengalaman meng­ hadapi customer, kita akan lebih berhati –hati jika melayaninya, agar mereka tidak dapat meng­

gunakan celah untuk menyalah­ kan kita sebagai pelaku layanan. Kuasai prosedur yang benar, lebih teliti dalam memberikan layanan, tentu akan dapat mencegah para professional complainer untuk melihat titik lemahnya sebuah layanan. Tipe complainer yang lain selain tipe Agresif, Passive Complainer dan Professional Complainer ada­ lah tipe Constructive Complainer. Ciri-ciri tipe ini beserta contohnya dan cara penangannya akan saya tulis di Rubrik Dhani’s Art In Ser­ vice dua minggu ke depan. Mari kita tangani komplain se­ cara profesional, agar kata ‘putus’ yang terlontar dari pelanggan akan dapat kita hindari. Mereka akan tetap menjadi pelanggan yang loyal terhadap produk, jasa dan perusaha­an kita… (bersambung) Materi ini juga terdapat di buku saya, ‘Service A La Carte”. Ingin mengetahui bagaimana memeta­ kan sebuah layanan yang baik di perusahaan/instansi yang Bapak/ Ibu pimpin? Silakan hubungi Manajemen Sri Sumahardani Academy atau buka website kami di www.srisumahardani.com. Kami siap untuk membantu. Salam 3SP Salam Senyum Sang Penyihir Sri Sumahardani Srisumahardani3sp@gmail.com www.srisumahardani.com

27

Vakum di Panggung Hiburan

Masuk ke Panggung Politik Tahun 2018 disebut sebagai ‘Tahun Politik’. Selain karena tahun ini bakal digelar pilkada serentak di berbagai daerah di Indonesia, juga semua pihak yang terkait perpolitikan Tanah Air tengah mempersiapkan diri untuk bertarung di tahun 2019. Tahun depan untuk pemilihan DPR, DPD, dan DPRD maupun Pemilihan Presiden.

S

Amelia didampingi Hendrayadi Lastiyoso (Marketing & CR Division Head PT Astra International Daihatsu Sales Operation), Alan Budikusuma (founder Astec), dan Made Darmayasa (Sekum Pengprov PBSI Bali).

Metropolitan

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018

uhu politik tahun ini terasa sekali ‘hangatnya’. Salah satu yang menarik di ‘Tahun Politik’ ini adalah kiprah para selebriti yang ramai-ramai terjun ke politik. Banyak dari mereka yang kemudian masuk parpol dan berniat menjadi calon legislatif. Tahun ini memang kesempatannya untuk bisa terdaftar sebagai caleg legislatif untuk pertarungan tahun depan. Pendaftaran dilaksanakan 4-17 Juli 2018. Satu per-satu selebriti tampil menunjukkan identitas mereka. Artis-artis yang dulunya mengaku tak minat berpolitik pun ternyata kini terpikat juga. Bisa jadi hal ini selain minat mereka, juga melihat kiprah teman seprofesinya yang sudah lebih dulu ‘meleng-

gang’ di Senayan (DPR). Ditambah lagi yang tak kalah pentingnya adalah gencarnya partai politik ‘merayu’ para artis ini. Parpol sadar artis atau selebriti punya pengaruh signifikan dalam meraup suara. Apalagi jika artis itu adalah artis terkenal yang sudah pasti memiliki banyak fans. Giring Nidji mengaku dirinya terjun ke politik bukan karena ‘rayuan’ parpol tapi memang dia memiliki ketertarikan khusus dengan bidang itu. Pentolan band Nidji ini malah mengaku mempersiapkan diri untuk terjun ke politik sejak lama, mulai dari kuliah lagi di jurusan politik hingga mengurangi aktivitas manggung bersama band yang dibesarkannya, Nidji. “Kalau sudah penetapan caleg baru gua bener-bener vakum manggung (musik). Gua mau fokus,” ucap Giring yang kini bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia. Bagi penembang hits ‘Hapus Aku’, rasanya berat kalau masih harus

‘cawe-cawe’ manggung sambil menjadi wakil rakyat yang jelasjelas memiliki banyak pekerjaan. “Manggung seperti yang biasa gue kerjakan, memerlukan energi besar, sementara menjadi anggota DPR pun perlu energi juga besar. Jadi kalau dua-duanya jalan, rasanya berat. Apalagi gua memang niatnya mau fokus dan bekerja sungguh-sungguh. Jadi paling nanti, kalau terwujud (jadi legislator), yang masih memungkinkan gua lakukan adalah menulis lagu. Itu kan tidak terikat waktu, begitu juga rekaman,” ungkap lelaki bernama lengkap Giring Ganesha ini. Pilihannya ini, bukan hal yang mudah. Bukan hanya temantemannya di Nidji yang sempat tidak setuju, bahkan sang istri pun menolak dan menangis. Cukup lama, untuk bisa meyakinkan istrinya tentang niatnya terjun ke politik. “Akhirnya istri gua ngerti dan memberi restu. Itu melegakan,” ujarnya. Selain Giring, yang juga cukup mengejutkan publik adalah niatan Vicky Shu untuk terjun ke politik dan menjadi caleg. Penyanyi bernama lengkap Vicky Veranita Yudhasoka Shu ini, mengaku memiliki ketertarikan pada politik sejak lama. Bahkan saat kuliah pun dia memilih Fakultas Ilmu Sosial

dan Politik jurusan Hubungan Internasional. Karenanya, bukan hal yang mengherankan kalau sekarang dia terjun ke politik. Juga bukan sekadar ikut-ikutan karena setidaknya dia sudah memiliki ‘bekal’ akademik. “Jadi aku ini kan sarjana politik, ya sesuai lah kalau sekarang terjun ke politik praktis. Kalau sebelumnya memang aku sempat belok dulu ke seni,” ujar Vicky yang berniat maju sebagai caleg Partai Demokrat. “Kalau diarahkan jadi caleg, aku siap,” ucapnya peraih penghargaan Penyanyi Terbaik Perempuan Dahsyat Award 2013 ini. Yang pasti, niatnya terjun ke politik adalah keinginannya yang besar untuk

membantu masyarakat, khususnya daerah asalnya Cilacap. Lewat jalur legislatif, dirasakan bisa lebih efektif dalam memperjuangkan kemajuan daerahnya. Suaminya, juga mendukung niat dirinya untuk masuk ke dunia politik. “Suami aku cuma tanya, apakah sudah siap. Aku jawab, sudah. Suami aku bilang, oke. Ya sudah,” ucap pelantun ‘Mari Bercinta 2’. Namun berbeda dengan Giring yang akan vakum dari manggung, Vicky mengaku tidak memutuskan mundur dari dunia menyanyi. “Saat ini belum memutuskan itu. Lagi pula paling off air saja. Itupun kalau bisa dan memungkinkan,” ujarnya.

Popularitas belum Jaminan

Vicky Shu

Artis lain yang juga akan meramaikan bursa calon legislatif di antaranya adalah Tommy Kurniawan, Said Saleh Bajuri, Sandi Nayoan. Pengamat politik dari Indobarometer, M. Qodari dalam sebuah kesempatan pernah menyebut, meskipun artis memiliki kepopularan namun belum tentu dalam pemilihan legislatif bisa meraih suara terbanyak. Jadi untuk terpilih dan mendapatkan banyak suara, bukan semata-mata kepopuleran namun kemampuan. Diakuinya, untuk bertarung dalam pileg, artis memang tidak memerlukan modal terlalu besar karena dirinya sudah populer. “Popular belum menjamin tingginya elektabilitas. Karena faktanya pendulang suara terbanyak justru berasal dari kalangan nonartis,” tegasnya. Apa yang dipaparkan Qodari bisa jadi benar. Karena pada pileg lalu (2014-2019), dari 44 orang artis yang terdaftar sebagai caleg, hanya 15 orang yang berhasil menembus Senayan (DPR). Di antaranya adalah Okky Asokawati, Dessy Ratnasari, Jamal Mirdad dan Anang Hermansyah. (Diana Runtu)

Giring Nidji

(Diana Runtu)


Sudut Pandang

28 Setiap tanggal 8 Maret di­per­­ i­ngati sebagai hari Perempuan Internasional. Indonesia rutin memperingati acara tersebut dengan digelar berbagai aksi dan diskusi. Sementara, kasus ke­ke­ rasan seksual terhadap perempuan makin meningkat. Apa yang sedang terjadi? Demikian yang tergambar dalam peringatan Hari Perempuan Internasional yang digelar Aliansi Perempuan Peduli dan Anak terdiri dari Bali Sruti, LBH Apik Bali, LBH Bali, LAB, dan LPA di Wantilan DPRD Bali, Kamis( 8/3).

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018

Isu Perempuan Dianggap “Pinggiran”

fisik, psikis, seksual dan ancaman tertentu. Dengan adanya UU Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan, mulai banyak korban yang melapor. Tahun 2017 tercatat 347.469 kasus kekerasan terhadap perempuan. “Data itu adalah kasus yang mengadukan. Bagaimana dengan yang tidak mengadukan pasti jumlahnya lebih besar. Karena korban yang berani melapor, harus siap secara mental dan sosial. Apalagi, dengan adanya stigma dia dipersalahkan tercara yang dibuka anggota masuk tekanan dari pelaku,” ujarnya. Komisi IV DPRD Provinsi Angka kekerasan seksual terhadap Bali Utami Dwi Suryadi perempuan di tahun 2011 tercatat, seini, menghadirkan nara- tiap hari sebanyak 35 perempuan yang sumber dari Komnas perempuan, mengalami kekerasan seksual. Artinya, Masruchah; Ketua LSM Bali Sruti Luh tiap dua jam ada tiga perempuan meng­ Riniti Rahayu; dan Komisioner KPU Bali alami kekerasan seksual. Widhiartini. Masruchah menambahkan, tahun Menurut Masruchah, sejak tahun 2015-2016 kasus kekerasan seksual 2000 dengan tercetusnya deklarasi yang dilakukan berkelompok menjadi terhadap perempuan, yang dimaksud paling menghebohkan dengan mundengan kekerasan terhadap perempuan culnya banyak kasus di media, dan mencakup, segala tindakan kekerasan menjadi isu nasional. Sementara, yang tidak muncul di media, mungkin jumlahnya lebih banyak. Bahkan, kasus ke­ kerasan seksual ini juga dialami para penyandang disabilitas, seperti pelecehan seksual, aborsi paksa jika terjadi pemerkosaan, termasuk pemaksaan pemakai­ an alat kontra­s epsi. Menurutnya, negara perlu melakukan upaya khusus tidak saja soal quota 30% Masruchah Gede Bagus

5

Gusti Anindya Hayuningtyas

Backpacking Ajarkan Kemandirian Berwisata selalu menjadi tren. Berwisata tak mengenal umur dan status serta bisa menjadi hobi siapa saja. Ditempat wisata pasti ada saja kita lihat pengunjung dengan tas punggung berukuran besar. Mereka para traveler yang dikenal dengan sebutan backpacker.

A

Acara peringatan Hari Perempuan dihadiri sekitar 300 orang yang dibuka Anggota Komisi IV DPRD Bali Utami Dwi Suryadi perempuan dalam politik, tapi juga upaya sebagai hak konstitusional semua warga negara. KAMPANYE LEWAT MUSIK Ia juga menilai, kekerasan terhadap perempuan juga masuk dalam ranah politik, khususnya diskriminasi. Masruchah mencermati, fenomena pilkada DKI, bisa saja diadopsi daerah lain, karena kadang-kadang politik identitas dilakukan untuk memenangkan calon tertentu. Fenomena ini luar biasa di berbagai daerah. Pihak yang berkompeten, seperti KPU, Bawaslu, masyarakat sipil, dan para pemantau, harus tegas, yang berkaitan dengan diskriminasi dan isu SARA jangan sampai muncul.

Bebaskan Anak Tentukan Masa Depan Orangtua memiliki peran yang sangat sentral dalam mendidik anak. Mencetak anak dengan kualitas terbaik tentu harus menggunakan metode terbaik pula. Keteladan merupakan metode yang paling utama dalam mendidik anak. Berikan teladan bukan hanya sekadar contoh, karena anak belajar dari apa yang mereka lihat. Sikap keteladanan juga diterapkan Ni Kadek Turkini dalam mendidik ketiga buah hatinya. Menjadi seorang wakil rakyat tentu membuat waktu perempuan yang akrab disapa Turkini ini dihabiskan untuk berbagai kegiatan baik di masyarakat maupun di partainya. Apalagi sang suami, Made Kardika juga sebagai seorang politikus. Hal inilah yang membuat dirinya lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja dibandingkan di rumah. Sadar akan keadaan tersebut, putri dari (alm) Jro Nyoman Belgia ini sudah menanamkan kemandirian sejak dini terhadap ketiga anaknya. Turkini mempercayakan pola asuh anak kepada diri sendiri dan suami serta dukungan keluarga dekatnya.

Inspirasi

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018

Menurut pengamatannya, feno­ mena ini bisa saja terjadi hampir di seluruh daerah. Parahnya, isu perempuan dianggap pinggiran, padahal, setengah penduduk Indonesia adalah perempuan. Pemilih yang patuh adalah perempuan. Problem ini sering tidak dilihat pejabat negara. Kekerasan seksual seperti ancam­ an perkosaan terhadap perempuan juga sangat besar dalam dunia online. Ini temuan Komnas Perempuan yang fenomenal di tahun 2017. Ada ke­ lompok tertentu yang mengancam perempuan, jika tidak memilih calon tertentu bisa diperkosa. Dengan maraknya kasus kekerasan seksual terhadap perempuan Komnas Perempuan mendesak DPR-RI segera

mengesahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual. Sementara, musisi Bali Gede Bagus menilai, dalam upaya meme­ ra­ngi kekerasan seksual, kaum lakilaki sebaiknya ikut dilibatkan, apalagi, pelaku kekerasan seksual lebih ba­ nyak laki-laki. Ia sejak 1,5 tahun lalu ikut bersama Komnas Perempuan berkampanye lewat musik dengan bandnya yang bernama Sister in Dangerous, “Musik merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk berkampanye ke sekolah-sekolah dan kampus untuk mengajak para generasi muda ikut terlibat dalam kampanye penghapusan kekerasan seksual terhadap perempuan ini,” katanya.

Setiap orang tentu menginginkan anaknya sukses. Pun demikan dengan ibunda dari Putu Reza Aditya Tirandika, Made Rosa Anastasya Tirandika, dan Komang Rian Adi Rajasa Tirandika ini. Dirinya selalu mengutamakan pendidikan sang anak. Kedisiplinan dalam menuntut ilmu akan selalu ia tekankan agar sang anak menjadi orang yang sukses nantinya.

orang lain dengan cara mendisiplinkan diri sendiri dulu,” ungkapnya. Selain disiplin waktu, dirinya juga menekankan kedisiplinan dalam pembelajaran. Paradigma pembelajaran yang berpusat pada siswa sehingga siswa dituntut lebih aktif menemukan konsep-konsep dibandingkan mendengarkan dari dosen. Sehingga untuk menerapkan sistem tersebut dengan baik dirinya selalu memberikan tugas sebelum memulai pembelajaran. “Tugas yang diberikan juga harus jelas yang nantinya akan dipresentasikan. Sebagai calon guru mereka harus mampu menuliskan gagasan-gagasan yang mereka baca melalui ringkasan. Mereka juga mempresentasikan untuk melatih bahasa inggrisnya,” jelasnya. Sebagai seorang dosen Ratminingsih yang menjabat sebagai Ketua Kantor Urusan Internasional dan Kerjasama Undiksha ini mengatakan untuk tidak mencari salah atau benar mahasiswa tetapi bagaimana dosen mengahargai setiap pendapat dan gagasan mahasiswa untuk dituntun kearah yang lebih baik. “Salah benar itu biasa, dan saya berusaha mengatakan itu baik untuk mengahargai tetapi juga menunjukkan kekurangannya di mana sehingga lebih bersifat konstruktif,” imbuhnya. Ini bertujuan untuk membuat mahasiswa lebih baik dari sebelumnya, karena keberhasilan seorang tenaga pendidik adalah melihat anak didiknya sukses melebihi gurunya. (Wiwin Meliana)

Bahkan saat anak-anaknya menginjak remaja pun Turkini memilih tetap tidak PEMBELAJARAN meggunakan asisten rumah KARAKTER tangga dalam membantu Sikap keteladan juga harus meringankan pekerjaan diterapkan oleh seorang tenaga rumah. Justru dirinya dan pendidik. Seorang pendidik suamilah yang bekerjasama harus menjadi panutan dalam dalam membagi tugas untuk prilaku maupun dan tutur bamengerjakan segala pekerhasanya karena secara tidak jaan rumah tangga. langsung sikap tenaga pendidik “Dalam keluarga kami akan mencerminka sikap anak selalu bergotong royong, didiknya. Ini juga disampaikan jika saya sibuk suami yang oleh Dr. Ni Made Ratminingsih, akan mengerjakan tugas M.A., akademisi Undiksha yang rumah begitu sebaliknya,” saat ini mengajar di Jurusan S1 tutur perempuan kelahiran Ni Made Ratminingsih Ni Kadek Turkini Pendidikan Bahasa Inggris. 2 Maret 1976 tersebut. Ini Menurutnya, dia merupakan merupakan contoh nyata yang ia dan kebebasan kepada sang anak untuk salah satu dosen yang sangat disiplin dasuami berikan untuk diteladani oleh menentukan masa depannya kelak. Na- lam mengajar terutama yang berkaitan anak-anaknya. Dengan saling memban- mun ada pesan yang selalu ia sampaikan dengan waktu. Perempuan yang akrab tu dan bekerjasama untuk meringankan bahwa setiap pekerjaan yang dijalani disapa Ratmi ini mengaku selalu ontime harus dilakukan dengan disiplin. “Kami masuk kelas jika ada jam mengajar segala tugas-tugas rumah. Memiliki latar belakang keluarga hanya selalu menekankan kedisiplinan bahkan seringkali dirinya mendahului 10 yang bergelut di bidang politik tidak bahwa apa yang anak-anak jalani harus menit sebelum jam pelajaran dimulai. lantas membuat Turkini terobsesi mem- dilakukan dengan serius dan disiplin Sikap disiplin inilah yang ia teladankan buat anak-anak mengikuti jejaknya. agar tidak mengecewakan orang ban- kepada anak didiknya. “Ini adalah pemDirinya mengungkapkan memberi yak,” jelasnya. belajaran karakter. Saya mendisiplinkan

(Wirati Astiti)

Uti

J

ika berwisata dengan travel agent kita bisa bersantai dan tinggal terima jadi, tapi berwisata ala backpacker memiliki tantangan tersendiri. Hal ini diungkapkan Uti, mahasiswi S1 jurusan Ilmu Psikologi Universitas Airlangga Surabaya yang memiliki hobi traveling. Menurut Uti yang beberapa kali traveling tanpa travel agent ini, backpacking mengajarinya survive dan kemandirian. “Kita bisa bertemu dan berkenalan dengan banyak orang baru, sebab kita harus banyak bertanya mencari informasi, jadilah kita lebih banyak punya cerita, pokoknya lebih memorable deh,” ungkap mahasiswi yang besar di Tangerang ini. Uti menuturkan banyak sekali hal-hal positif yang ia dapatkan dari pengalamannya sebagai backpacker. “Aku merasa jadi lebih mengenal

diri sendiri, aku banyak mencoba hal-hal yang aku kira nggak bakal bisa aku lakukan. Aku bertemu banyak orang-orang dan sedikt mengenal tipe-tipe orang dan belajar beradaptasi, serta jadi mandiri itu pasti. Intinya banyak sekali hal yang membuat aku bahagia dan lebih positif,” ungkapnya. Dampak negatif yang bisa saja muncul seperti terganggunya kuliah jika tidak bisa mengatur waktu dengan benar, “Tapi menurutku belajar dan pintar akan hal-hal di luar akademis itu juga penting,” tambahnya tersenyum. Uti yang bernama lengkapnya Gusti Anindya Hayuningtyas, mengaku awal mula menyukai travelingkarena terinspirasi dari buku para traveler terkenal, salah satunya buku Trinity The Naked Traveler. Selain itu, Uti mengaku bahwa ia tumbuh besar di keluarga yang memang suka jalan-jalan keluar kota, Makanya sehingga dari kecil ia sudah mengunjungi banyak tempat bersama keluarga sampai akhirnya ketika kuliah ini ia memberanikan diri traveling sendiri dengan uang tabungannya. Uti mengatakan soal keuangan dan pentingnya menabung supaya kita tidak merepotkan orangtua untuk menjalankan hobi traveling. Begitu pula bila ingin bacpacking kita harus pandai-pandai mengatur pengeluaran, karena segala sesuatunya kita yang harus menyi­apkannya sendiri. Ia menuturkan pernah berangkat dengan budget mulai Rp 300 ribuan hingga Rp 2 jutaan.

Pulau Pahawang, Lampung

BELAJAR SEJARAH Awal tahun 2017 adalah pertama kalinya Uti backpacking seorang diri. Ia memilih kota Solo sebagai tujuannya. Setelah itu ia mulai berani melanjutkan hobinya dengan backpacking lagi ke beberapa kota lain, baik sendiri maupun bersama teman yang juga backpacker. Sebagian besar kota yang dipilih Uti sebagai destinasi bacpacking-nya di tahun 2017 kemarin memang masih di Pulau Jawa, seperti Solo, Dieng, Purwokerto, Banyuwangi, Malang, Blitar, Tulungagung, Magelang, Pacitan, Semarang, Purwekorto, Jember, dan Boyolali. Ia juga sempat berwisata ke Sumba dan Lampung. Jika dihitung dari tahun-tahun sebelumnya Uti juga sering traveling bersama keluarganya, tempat yang pernah ia kunjungi lebih banyak lagi dari itu. Ia juga sudah beberapa kali keluar negeri. Destinasi terjauh yang ia kunjungi Januari 2018, Turki. “Sudah

mengantar kami, penjaga warung dekat pantai, orang-orang yang bertugas merawat pantai, dan masih banyak lagi,” katanya. Sumba menarik perhatiannya karena pantai, bukit, bahkan seafood-nya benar-benar bikin betah dan puas. Ketika berkunjung ke Sumba, anak bungsu dari empat bersaudara buah hati pasangan suami-istri Wahyudi Prawira dan Nurihastuty Jusuf ini juga membawa buku yang dibagikan ke anak-anak di Bukit Wairinding, Pambotanjara, Waingapu, Sumba Timur. Uti mengaku banyak tempat yang ingin ia kunjungi. Lombok, Karimun Jawa, keliling Sumatera, Makassar, Toraja, dan Jepang, Halmahera, Kalimantan, Labuan Bajo, Maluku, Nepal, India, Kamboja, Maldives, dan Maroko sudah masuk dalam daftarnya. (Nina)

dari lama sekali ingin kesana, karena aku tertarik belajar sejarahnya,” jawab dara kelahiran Jakarta, 4 September 1998 ini. Ketika diminta memilih satu tempat yang paling berkesan dan membuat ketagihan untuk mengunjungi lagi dan lagi, Uti menyebut daerah Tulungagung dan Sumba. “Tulungagung itu berkesan sekali, karena saat aku dan temanku harus struggle di perjalanan menuju pantai Kedung Tumpang. Tapi hal itu terbayar karena pantainya super cantik. Aku bertemu orang-orang yang super ramah dan baik. Uti (paling kanan) di Bukit Wairinding, Seperti ojek yang Pambotanjara, Waingapu, Sumba

Tips untuk Backpacker

yang khusus, sama jadi backpacker? Sebenarnya tak ada Apa saja barang bawaan Uti saat men atan, dan barang pribadi pakaian, alat mandi, skincare, obat-ob seperti wisatawan biasa. Beberapa cocok dengan makanan di sebagai makanan cadangan jika ia tak lainnya. Tapi Uti tak lupa bawa abon makanan, memilih nasi soal uang haha,” ujarnya polos. Masih pernah ia cicipi saat sana , “Jaga-jaga juga kalau kehabisan yang zat Bali sebagai makanan terle pur cam nasi dan Solo di a cob ia rames yang traveling sejauh ini. reka yang Beberapa tips darinya untuk me kpacker: bac ala ya susn ingin traveling khu ju. ditu yang si loka k jara - Mencari tahu rutenya. Selalu sedia ada di daerah tujuan dan mempelajari yang m umu i rtas spo tran tahu cari - Men tertentu tak bisa selalu penginapan, karena dalam kondisi catatan nomor telepon dan alamat mengandalkan gadget. beli hal yang tak diperlukan. - Mengatur pengeluaran, tidak mem gan warga lokal. tama untuk bertanya dan kenalan den (Nina) - Selalu menjaga sopan santun teru


4

Kreasi

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018

Rangkaian Cantik dengan Bunga Lokal

Keinginan agar anak memiliki kepribadian dan bertingkah laku baik adalah impian kebanyakan orangtua. Keinginan ataupun impian itu bisa jadi hanyalah sebatas mimpi jika orangtua tidak bisa memberi dan menjadi teladan bagi anak. Karena teladan adalah bagian sangat­penting­ dalam proses pendidikan anak. Teladan orangtua juga orang di lingkungan terdekat anak akan mempengaruhi perkembangan kepribadian anak.

Kreativitas terhadap bunga yang ada di sekitar pekarangan, ternyata mampu menampilkan rangkaian yang apik. Seperti yang ditampilkan dalam acara “Pelatihan Merangkai Bunga Lokal” yang diselenggarakan Dinas Pertanian Kota Denpasar dengan menghadirkan perangkai bunga profesional Teresia Maria Inneke Turangan, AIFD didampingi Amik dari Bali Sekar. Berikut beberapa hasil rangkaian sederhana namun menarik.

Inneke dan Amik

Rangkaian 1 Berwadah kap lampu tinggi dari bambu ini, sangat sesuai diletakkan di sudut atau meja konsul. Ada paduan lontar warna ungu dan fuschia di antara bunga jengger ayam warna senada serta anthurium pink untuk aksen megah dan daun palem kipas.

Rangkaian 2 Model paralel segi yang sederhana ini, serasi dengan bunga seperti pisangpisangan obor, spectabilies warna oranye, merah dan hijau. Bagian bawah diberi bunga gerbera yang dipotong pendek. Ada juga lontar warna natural untuk kesan etnik dari wadah bokor persegi dan variasi janur bentuk sriti.

Rangkaian 3 Kap lampu bambu bulat diletakkan di atas dulang dengan bagian tengah ditancapkan bunga gerbera oranye dan sebagai pelengkap rangkaian ditancapkan heliconia pagar beberapa tangkai.

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018

Rangkaian 4 Di sini memakai penutup lampu anyaman bambu yang cukup besar diberi hiasan ranting di atasnya. Di tengahnya ditancapkan bunga gerbera pink dan salem secara melingkar bulat. Rangkaian ini bisa diletakkan di sudut atau tengah meja buffet.

H

al itu disadari betul oleh Mona Ratuliu dan Titi Kamal, dua artis yang sangat konsen pada masalah pendidikan anak-anaknya. Menurut Mona, mendidik anak terbaik adalah dengan memberi teladan kepada anak. Orangtua melakukan halhal nyata (teladan) yang kemudian ditiru oleh anak. Tapi, katanya, dia sebagai orangtua tidak serta-merta mendapat ‘ilmu’ itu. Bahkan dulu, dia sempat merasa salah dalam mendidik anak. “Aku kan dulu menikah muda, umur 20 tahun. Ketika itu aku nggak tahu apaapa bagaimana cara mendidik anak yang benar. Menjadi orangtua kan nggak ada sekolahnya. Jadi dulu aku berpikir ya mengalir saja. Ternyata salah,” ungkap Mona yang namanya melejit di dunia hiburan berkat penampilannya dalam sinetron ‘Pelangi di Matamu’. Dirinya baru menyadari telah salah dalam mendidik anak ketika Mima-Davina Shava Felisa (15)—anak sulungnya berusia enam tahun. “Ketika itu aku bertengkar hebat dengan Mima yang waktu itu masih umur 6 tahun. Aku sempat deg ketika Mima bilang, ‘Aku nggak suka punya Ibu kayak Bunda’. Dia bilang, nggak suka tinggal di rumah ini. Aku shock, kaget, Mima sampai ngomong begitu dengan marah,” kata

Sudut Pandang

Jadilah Contoh yang Baik dll. “Aku berusaha memperbaiki diri aku, menjadi ibu yang baik,” ungkap pendiri web ParenThink ini. Untuk menjadi orangtua yang baik memerlukan proses. Perubahan dirinya dalam mengasuh dan mendidik anak, secara perlahan mengubah sikap Mima yang berkembang menjadi baik. Dari proses jugalah Mona menyadari untuk mendidik anak dengan baik, orangtua jangan gemar memerintah. Yang paling efektif adalah menjadi contoh yang baik, teladan yang baik bagi anak. Apalagi, anak suka meniru halMona Ratuliu dan keluarga hal yang ada di lingkungannya, termasuk Mona mengenang pengalamannya perilaku orangtua. “Jadi bagaimana agar mengasuh anak. anak meniru hal-hal positif ya kita seKejadian itu, kata Mona yang kini bagai orangtua harus memberi teladan aktif memberi seminar parenting, mem- tentang hal-hal positif. Misalnya, tidak buat dirinya introspeksi tentang apa suka marah-marah, tidak mudah meng­ yang terjadi, bagaimana dia menjalani hukum anak, membuang sampah pada perannya sebagai ibu dalam mengasuh tempatnya, dll. Ketika kita memberi anak, bagaimana dia menerapkan pola teladan, maka anak pun akan meniru,” asuh anak. tuturnya. “Aku pernah lho merasa sebagai “Aku menempatkan diri bukan ibu yang gagal, nggak becus mendidik hanya sebagai Bunda mereka tapi juga anak. Mungkin karena aku suka marah- sahabat yang selalu siap menerima marah pada anak, nyubit anak, dll, itulah curhat anak-anaknya. Bagi aku quality kenapa dulu Mima jadi seperti itu,” time lebih penting daripada selalu bertambahnya. sama tapi kurang komunikasi dari hati Dari kejadian itu, ia pun mulai aktif ke hati,” tegasnya. Sebagai orangtua, tanya sana-sini tentang pola pengasuhan meski anak sudah remaja tetap harus anak, bagaimana mendidik anak secara konsisten menjaga sikap, selalu membenar,dll. Mona mencari buku parent- beri teladan. Aku yakin itu semua akan ing, hadir di seminar-seminar, diskusi, sangat berpengaruh positif pada anak,”

Cintai Diri Sepenuhnya

Rangkaian ke 5 Wadahnya terbuat dari lontar warna natural dibuat melingkar. Kemudian ditancapkan daun asparagus bintang, bunga salidago, gerbera warna kuning dan sedikit kamboja putih–kuning. Bagian luarnya diberi sentuhan etnik janur bentuk kipas.

Rangkaian 6 Bunga modern yang dimonopo­li­garis paralel. Perbedaan warna menjadi dinamikanya. Ada juga janur di antara bunga anthurium putih.

Rangkaian 7 Menggunakan teknik floating ini, anyaman bambu kap lampu ukuran sedang dengan posisi terbalik yang dihiasi bunga pisang-pisangan heliconia tegak dan daun kadaka. Juga ditusukkan dedaunan beserta bunga gerber nerzh untuk menambah dimensi rangkaiannya. (Sri Ardhini)

29

Lagu Mariah Carey yang berjudul ‘The Greatest Love of All’ menjadi salam dari seorang wanita bernama Ni Nyoman Tripitasih, S.Pd., Marketing Director Awi Tour, Bali saat ditemui Tokoh pekan lalu di kantornya di Kawasan Pertokoan Grand Sudirman, Denpasar. Tri begitu panggilannya mengatakan ‘The Greatest Love of All’ itu adalah bagaimana seseorang dalam hal ini seorang anak bisa menghargai dirinya, mencintai dirinya sebelum mencintai orang lain. “Salah satu tujuan kita lahir adalah untuk mengetahui keunikan masing-masing. Keunikan ini menjadi prioritas, dan tanggung jawab setiap anak. Kita sebagai orangtua bertugas memelihara, mementori dan menjaganya. Menanamkan dengan bahagia agar mereka bangga dengan keunikannya ,” ujar ibu dari Leo (21) dan Lia (20) ini.

ujar ibu tiga anak ini, Davina (15), Barata Rahadian Nezar (9) dan Syanala Kania Salsabila (6). AJARKAN KEDISIPLINAN Bicara tentang orangtua harus menjadi teladan anak juga diamini oleh Titi Kamal. Menikah saat usianya 28 tahun dan baru memiliki anak empat tahun kemudian (32 tahun) membuatnya relatif lebih siap ketika menjadi seorang ibu. “Pola mendidik anak aku diskusikan dengan Tian (Christian Sugiono). Dengan begitu jadi kompak, bukan ayahnya kemana (mendidik) ibu kemana. Tapi sama,” ucap Titi yang Desember lalu melahirkan anak keduanya, Kai Attar Sugiono. Juna— Arjuna Zayan Sugiono (4,4 tahun)— tutur Titi

berkembang ­dengan baik dan sesuai usianya maka dia banyak meniru hal-hal yang terjadi di sekelilingnya. Itu juga yang membuat Titi maupun Tian hati-hati dalam bersikap dan berkata-kata.

Ketika prioritas ini terpenuhi, dirinya tidak ingin menjadi orangtua yang otoriter. Ia siap memberikan ruang bagi anak untuk bertumbuh sesuai keunikannya. Mengingat zaman yang berbeda, Tri juga tahu diri jika ingin memberitahukan sesuatu pada sang anak. “Selalu ada kata awal, ketika mama,…tanpa ada kalimat yang memaksakan kehendak,” cetusnya. Ia juga menekankan pemahaman ini yang harus ada di setiap ibu di samping banyak berdoa. Menurut istri Drs. Nyoman Kandia, M.Ag atau yang dikenal dengan Mangku Kandia ini, hubungan dengan anak adalah ‘the real unconditional love’ kita di dunia. Secara fisik sejak di dalam perut sudah ada ikatan. Ini juga yang memudahkan seoran g ibu mendeteksi keunikan kemudian membimbing mereka agar dapat menghidupkan the beauty inside/inner beauty/inner power-nya. Sebagai orangtua, Tri mengaku harus tahu diri tidak semua hal yang kita sampaikan cocok di eranya anakanak. Kadangkala orangtua sering tidak tahu kalau si anak sebenarnya sudah tahu lebih dahulu. “Bahkan ada hal tertentu, kita belajar dari anak. Seperti soal ide yang bagus. Kenapa tidak, jika kita pakai. Kita tidak perlu gengsi,” ucapnya. Masih bicara tugas seorang ibu, Tri kembali menekankan kalau dalam kesehariannya telah berupaya berpikir, berkata dan berbuat yang baik. Baginya, jika

Titi Kamal

“Misalnya aku dan Tian sangat menjaga tingkah laku dan ucapan utamanya ketika berada dekat dengan Juna. Kita orangtua kan harus menjadi teladan anak. Anak seusia Juna mudah sekali meniru,” tutur Titi. Menjadi orangtua bukan hanya mengajarkan dengan kata-kata tapi utamanya adalah menjadi contoh bagi anak. Teladan juga ketika mengajarkan anak tidak membuang sampah sembarangan, orangtua pun berprilaku seperti itu. Artinya, ketika kita mengajarkan anak ini dan itu, maka orangtua pun harus melakukan hal serupa. Selain itu, dirinya juga mengajarkan tentang kedisiplinan dan tidak terlalu memanjakan anak. Ini bukan berarti tidak sayang anak. Sebaliknya justru berguna bagi anak. “Misalnya soal makan, aku mengajarkan anak kalau makan harus duduk manis, tidak boleh sambil lari-

lari. Itu sudah aku biasakan sejak Juna masih kecil dan hasilnya baik. Aku nggak pernah repot saat Juna makan,” tuturnya. (Diana Runtu)

upaya baik telah dilakukan, maka anak akan menye­ rapnya dan merekam semua di memorinya. Nantinya ia akan belajar dengan caranya sendiri, menjadi dirinya sendiri hanya ibunya sebagai inspirasinya. Sambil menebar cinta kasih, katanya ia bakal terus mendampingi dan menjaga utamanya saat anak bermasalah. Orangtua tidak berhak menjadikan anak miliknya apalagi mengikuti kemauannya menjadi seperti orangtuanya. Esensi ibu bagi Tri adalah memelihara tanpa menjadikan anak sebagai peliharaan. “Hal lain yang selalu saya sampaikan pada anak, cinta di dunia ini telah terdistorsi oleh kepentingan berbagai hal. Maka perlu hati-hati mencintai orang lain. Jangan memberi cinta 100% agar tidak kecewa. Tapi, cintai diri sepenuhnya. Ketika, kita sudah mencintai diri kita, apapun yang dilakukan baik menjadi sukses atau gagal kita akan tetap kokoh dan gigih,” tuturnya Dalam setiap kebersamaann, Tri menyatakan ia lebih banyak mendengar, toh dirinya sudah biasa banyak yang mendengarkan. Kini saatnya ia memberikan panggung sang anak untuk bicara, menyampaikan semua yang ada di kepalanya tanpa khawatir. Jika si anak merasa nyaman dan sudah matang, maka ia akan memiliki cinta yang cukup untuk dirinya dan mampu memberi cinta ke orang lain di sekitarnya. (Sri Ardhini)


Rileks

30 Pertanyaan TTS No. 002 MENDATAR: 4. Ukuran suhu 8. Tingkatan kedua 10. Lari 42,195 Km 12. Ilham 14. Nikah 18. Calon pastor 20. Rapi 21. Tidak berpihak 23. Tempat parkir pesawat 26. Biaya 28. Negara di Eropa 29. Tidak tidur 32. Penyesuaian 35. Diskon 36. Pramuka 37. Tapal kuda 38. Kerudung 39. Hamil 40. Arena

MENURUN: 1. Pace 2. Seni tiruan yang jenaka 3. Alat musik tiup 5. Tempat pemberhentian bus 6. Hari raya Budha 7. Juru masak 9. Kakek 11. Empat 13. Bangsawan 15. Pemotongan 16. Pangkat kemiliteran 17. Cepat 19. Bagian mata 22. Petir 24. Perkataan suci 25. Seni merangkai bunga ala Jepang 26. Alat pemutar sekrup 27. Busur 30. Penjaga hutan 31. Berat sebelah 33. Suku di Kalimantan 34. Gila

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018

TTS tokoh

Dayu Nanda

KETENTUAN MENJAWAB Jawaban ditulis di kertas dan masukkan dalam amplop atau ditulis di kartu pos. Tempelkan guntingan kupon TTS No 001 serta identitas lengkap (nama, alamat, no HP). Kirim ke Redaksi Tokoh, Gedung Pers Bali K. Nadha lantai III, Jln. Kebo Iwa no 63 A Denpasar, paling lambat Kamis 22 Maret 2018. Pemenang diumumkan Minggu 1 April 2018. Tersedia dua hadiah voucer belanja senilai @Rp 100.000 dari Cellular World untuk dua orang pemenang. Pemenang agar ­mengambil hadiah ke Kantor Redaksi Tokoh setiap hari kerja dengan membawa identitas diri (KTP/SIM)

Hillary Clinton Nama Hillary Diane Rodham Clinton popular ketika ia menjadi Ibu Negara Amerika Serikat periode 1993-2001. Hillary yang pengacara ini mendampingi suaminya Bill Clin­ ton sebagai Presiden AS ke-42. Kasus kontroversial yang menimpa suaminya di penghujung masa jabatan membuat Hillary tegar dan tetap disampingi Bill Clinton.

K

iprah perempuan kelahiran 26 Ok­ tober 1947 ini lebih banyak di bi­ dang hukum. Alumnus Sekolah

Hukum Yale ini tercatat sebagai rekan wanita pertama di Firma Hukum Rose dan dua kali masuk dalam daftar 100 pengacara paling berpengaruh di Amerika

Dayu Nanda bersama suami dan putranya

Akuntan Publik Wanita Termuda Kupon TTS tokoh No. 002

tokoh dunia

Sosialita

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018

Serikat. Ia mulai aktif dalam berbagai organisasi kemanu­ siaan ketika suaminya menjadi Gubernur Arkansas. Usai menjadi Ibu Negara, Hillary terpilih sebagai Sena­ tor Negara Bagian New York. Ia menjadi mantan Ibu Negara AS pertama yang memenangi pemilihan Senat. Ia kemudian ikut bertarung di Konvensi Partai Demokrat untuk menjadi calon Presiden AS. Setelah per­ jalanan panjang, akhir­ nya Barack Obama yang terpilih seba­ gai Presiden dan Hillary ditugaskan sebagai Menteri Luar Negeri. Usai menjalan­

kan tugas sebagai Menteri Luar Negeri, aktivitas politik Hillary berlanjut ketika ia mencalonkan diri lagi dalam Konvensi Partai Demokrat. Melalui persaingan yang sengit, Hillary berhasil menjadi calon Presiden AS dari Partai Demokrat dan berhadap­ an dengan Donald Trump dari Partai Republik dalam Pilres AS tahun 2016. Ibu dari Chelsea Clinton ini gagal dalam pemilihan Presiden AS pada 8 November 2016. Ia pun menerima kekalahan tersebut dan mengakui rasa sakit dari kekalahannya itu. Kepada pendukungnya, diminta untuk menerima Trump sebagai Presiden AS ke-45. (Wikipedia)

Melakoni sesuatu yang sudah dikenal sejak kecil memudahkan orang meraih kesuksesan. Kesuksesan juga dihasilkan dari perjuangan untuk terus belajar dan mengatasi tantangan. Hal inilah yang dialami Ida Ayu Budhananda Munidewi, SE., Ak.,MSA.,CA.,CPA, pendiri Kantor Akuntan Publik (KAP) Budhananda Munidewi.

P

erempuan yang akrab disapa Dayu Nanda ini menuturkan sejak kecil sudah bercita-cita menjadi akuntan. “Orangtua terutama Ajik sangat berperan dalam mengenalkan saya dunia akuntansi. Lingkungan juga menjadikan saya sangat dekat dengan dunia akuntansi. Saat SMA, sempat berpikir untuk mengubah cita-cita menjadi arsitek atau desain interior, ternyata ujungujungnya saya memilih akuntansi,” ujar alumnus Jurusan Akuntansi FE Unud tahun 2011 ini. Lulus kuliah, putri pasangan Dr. Ida Bagus Teddy Prianthara, SE.,M.Si., Ak.,CA.,CPA dan IGA Wirati Adriati ,SE.,MM, ini mengikuti Pendidikan Profesi Akuntansi dan S2 Akuntansi di Universitas Brawijaya, Malang. Tahun 2014, ia pun berhak menyandang gelar Master Sains Akuntansi. Tak berhenti sampai di situ. Dayu Nanda lalu mengikuti short course CPA review di Pusat Pengembangan Akun­ tansi (PPA) FEB Universitas Indonesia selama empat bulan. Ia juga bergabung dengan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dan tersertifikasi sebagai Char­ tered ­Accountant (CA) dan Akuntan

Beregister Negara dengan Nomor 2495. “Setelah mengikuti tiga kali ujian akhirnya saya lulus dan mendapat gelar Certified Public Accountant (CPA) ta­ hun 2015. Waktu itu belum boleh buka kantor sendiri. Proses selanjutnya, saya mendaftar ke Kementerian Keuangan untuk menjadi Akuntan Publik Beregis­ ter Negara. Akhirnya April 2016 semua

persyaratan terpenuhi, saya boleh membuka kantor sendiri dan memberi layanan audit dan akuntansi,” jelas su­ lung dari empat bersaudara ini. Menekuni dunia akuntansi membuat perempuan kelahiran 15 Januari 1990 ini menemukan banyak hal. Menurut­ nya masyarakat masih ada yang kurang sadar pentingnya pencatatan keuangan. Laporan keuangan dianggap hanya diperlukan kalau mencari kredit di bank atau ikut tender. “Pencatatan itu tidak tergantung besar atau kecilnya perusahaan atau be­ sar kecilnya pendapatan. Semua harus dicatat karena berkaitan dengan ke­ sinambungan perusahaan. Kadang ada perusahaan yang didirikan berdasarkan kepercayaan namun tidak membuat laporan keuangan yang tercatat. Ke­ tika muncul masalah di kemudian hari, barulah sibuk. Karena itulah kami hadir untuk ikut mengedukasi masyarakat agar tertib pembukuan,” tegas istri dari IB Gde Mahadiptha Bramantha Maharddika, SH.,M.Kn dan ibu dari IB Gde Mahasena Gyan Pradiptha ini. Sebagai KAP, pihaknya sering mena­ ngani kasus keuangan yang bermasalah. Audit kasus ini bahkan sampai berlanjut ke pengadilan. Akuntan publik menjadi

3

Kunjungan dari PPPK Kementerian Keuangan ke KAP Budhananda Munidewi

saksi fakta untuk menjelaskan apa pe­ nyebab terjadinya masalah di laporan keuangan yang dipicu penyalahgunaan wewenang dan indikasi kecurangan. SENI MENGHITUNG DAN MENCATAT Suka dan duka pun dialami Dayu Nanda menjadi akuntan publik wanita

Saat hut kantor dengan tim auditor

Sharing untuk Refreshing Pekerjaan apapun yang dilakoni secara terus menerus, bisa men­ imbulkan kejenuhan. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi kejenuhan. Bagi Ida Ayu Budhananda Munidewi, SE., Ak.,MSA.,CA.,CPA,

solusinya adalah nonton film di bioskop dan jalan-jalan di pantai. “Saya selalu meluangkan waktu di akhir pekan untuk keluarga. Ada tiga prioritas dalam hidup saya, keseha­ tan, keluarga, dan karier. Saya selalu berusaha mengatur waktu agar tiga hal tersebut mendapat perhatian,” ungkap Dayu Nanda. Ia juga punya kiat khusus untuk menjaga kualitas auditornya. “Kami punya program Learning and Development. Kami mengundang teman yang berpengalaman untuk diajak sharing. Bagi kami, kerja tidak hanya berori­ entasi pada uang tetapi bagaimana kita bisa berkarya. Sharing untuk refreshing ini sangat membantu kami,”

Sharing di KAP Budhananda Munidewi

ujar pendiri KAP Budhananda Munide­ wi yang mengawali kariernya sebagai auditor junior di KAP Ngurah Arya dan Rekan lalu menjadi Supervisor Audit untuk KAP Sodikin Harijanto. Dayu Nanda juga mengajar di FE Universitas Mahasaraswati Denpasar. Ia memanfaatkan kesempatan menga­ jar untuk sharing pengalaman dengan mahasiswa. Tujuannya, menggaet kaum muda untuk terjun ke bidang akuntansi sebagai penyedia jasa pro­ fesional. “Semoga saya bisa mengin­ spirasi kaum muda untuk menekuni bidang audit dan akuntansi,” harap Akuntan Publik dengan izin AP No 1231 ini dan berkantor di Griya Graha Jln. Tukad Irawadi 18A Lantai 2 dan 3 Panjer, Denpasar ini. -wah

dan termuda di Bali ini. “Pekerjaan ini memiliki banyak tantangan namun saya menyukainya. Saya bekerja dengan berbagai karakteristik orang. Intinya harus sabar dan tenang dalam melayani mereka. Saya pun jadi banyak belajar,” ujarnya. Karena KAP miliknya sendiri, Dayu Nanda bisa mengeksplor diri. Standard Operation Procedure (SOP) ia rancang sendiri agar timnya yang terdiri dari delapan auditor bisa bekerja mak­ simal. Pengelolaan kantor pun dise­ suaikan dengan gaya kekinian tapi sesuai batasan. “Saya juga selalu meng­ ingatkan tim tentang profesi akuntan. Suatu saat harus bisa berkembang dan membuka peluang kerja untuk yang lain. Dasarnya adalah mencintai akuntansi, seni menghitung dan men­ catat,” ungkap Bendahara Korwil IAPI Bali Nusra ini. Menjadi akuntan publik yang memi­ liki jaringan luas, ilmu yang dipelajari tak hanya akuntansi. Ilmu lain seperti hukum, psikologi, manajemen SDM dan kantor pun harus dikuasai. Ber­ sama tim yang relatif masih muda, Dayu Nanda tak mau terlalu mendikte mereka. Ia hanya memberikan penga­ rahan saja. “Dukanya kalau harus lembur, wak­ tu dengan keluarga berkurang. Tetapi, karena keluarga sudah paham dengan profesi saya, jadi tidak masalah. Selain itu, kadang klien tidak menghargai au­ ditor. Seharusnya auditor diposisikan sebagai partner bukan disuruh-suruh. Ada juga yang diberi saran tapi tidak diikuti. Ada masalah baru datang lagi. Memang pelanggan adalah raja tapi ada batasan yang harus kita hormati,” ujarnya tentang duka menjadi akuntan publik. Ke depannya, Dayu Nanda meng­ akui ada tantangan yang dihadapi KAP yakni masuknya auditor luar negeri. Kadang ada kesan yang dari luar negeri dianggap lebih berkualitas, padahal yang lokal juga banyak yang berkuali­ tas. Pemerintah tentu harus membuat aturan yang tegas. Adanya UU nomor 5 Tahun 2011 tentang Akuntan Publik bisa menjadi acuan. Dari sisi auditor, juga harus terus meningkatkan kemampuan. “Kami juga berharap masyarakat lebih sadar dengan profesi akuntan publik. Jadikan akuntan publik partner menyusun laporan keuangan yang standar. Audit bukan hanya untuk cari kredit atau tender. Yang terpenting bagaimana perusahaan bisa berkesinambungan,” tegasnya. -wah


Espresso

2

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018

Mozaik

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018

PEREMPUAN DAN PENDIDIKAN

GORO-GORO

kasihan

Putra salah seorang tetangga sudah sering aneh kelakuannya arena halusinasi ketahuan mempergunakan akibat pengaruh narkoba, kok orangtuanya Bapak narkoba. Orangtuanya burubersyukur?!” Putu Wijaya buru menemui Amat, minta ajak“Ya! Karena syukurlah orangtuanya yang tahu. petunjuk. Jadi Wayan tinggal dilaporkan ke BNN untuk “Pak Amat, tiba-tiba saja Wayan berlari masuk direhabilitasi! Coba kalau BNN yang tahu duluan, ke rumah, lalu langsung naik ke gudang kami yang Wayan pasti ditangkap dan dipenjara! Paling sedikit tempatnya di atas langit-langit kamar tidur. Dia bisa satu tahun di penjara! Begitu! Syukur kan?!” bilang sedang dikejar-kejar mau dibunuh dan berBu Amat tersenyum dan mengedipkan mata pada teriak menyuruh kami menyembunyikan barang suaminya. Lalu menoleh kepada orangtua Wayan. berharganya yang disembunyikan di bawah kolong “Jadi begitu Bapak dan Bu Ktut. Bersyukurlan tempat tidurnya!” tidak kedahuluan BNN. Sekarang bujuk Wayan “Waktu kami periksa ternyata itu narkoba! Apa supaya ia tidak marah kalau Bapak dan Bu Ktut yang harus kami lakukan?” akan melaporkannya ke BNN.” Amat terkejut. Sama sekali tak menyangka Orangtua Wayan Apik termenung. Mereka Wayan Apik yang kalem, santun dan pinter itu, nampak susah menerima keadaan itu. Maklum bisa kejeblos narkoba. Wayan Apik anak kesayangan  mereka. “Tetapi mau apa lagi kalau sudah begitu keAmat yang semula jengkel karena istrinya, nyataannya?” kata Bu Amat.”Harus berani diseperti tidak mengerti msaalah narkoba, lalu terseterima!” nyum. Ia menghampiri ortu Wayan Apik: “Sekarang apa sebaiknya yang harus kami laku“Saya tahu, kalian berdua pasti tak sampai hati kan, Pak Amat?” melaporkan anak sendiri ke polisi. Karena seorang Amat menjawab dingin. tua yang baik  sehrusnya melindungi anak. Tapi “Ya, bersyukurlah.” narkoba itu jahat dan bahaya sekali. Kalau sayang Orangtua Wayan Apik kaget. Bu Amat langsung sama Wayan, cinta kepada dia, kalau ingin memembentak suaminya: lindungi dia, kalau Bapak dan Bu Ktut betul-betul “Lho, Bapak ini bagaimana sih! Jangan nyeleneh mengasihi putra Bapak dan ibu, Wayan Apik itu, begitu! Ini serius! Orangtuanya panik, bertanya jangan sekali-kali mengasihani dia!” baik-baik. Bapak kok menanggapi ugal-ugalan TIDAK TERBIT begitu?!” “Ugal-ugalan bagaimana?” Terkait dengan Hari Raya Nyepi dan Ngembak “Jangan begitulah jawabannya sama tetangga Geni yang jatuh pada Sabtu (17/3) dan Minggu yang lagi kesusahan. Bapak dan Bu Ktut  ini bin(18/3), Tokoh tidak terbit pada Minggu (18/3). gung, tahu?” Tokoh kembali terbit Minggu (25/3). Kepada Amat bengong lalu bertanya, para pembaca dan relasi, harap maklum. “Lho, Bapak  kan sedang berusaha mengajak mereka, menerima kenyataan dan menahan diri!” “Kok pakai menahan diri segala?” “Habis, kalau  mereka panik. Kami Perusahan Media Massa dengan jangkauan pembaca Kita lkut-ikutan panik, akhirnya di Bali, NTB, Jatim, dan Jakarta mencari semua akan berantakan!” STAF PEMASARAN “Siapa yang nyuruh panik!  Cuma kasihlah pandangan yang Syarat: jernih supaya orangtuanya tahu - Pria/Wanita usia maksimal 35 tahun apa yang harus mereka laku- Penampilan menarik, ramah, dan komunikatif kan.” - Bisa bekerja dalam tim “Makanya Bapak bilang bersyu- Menyukai tantangan kur. Bersyukur artinya, memujikan Kebesaran  Yang Di Atas Situ!” Kirim lamaran lengkap ke: “Memujikan bagamana?” “Memujikan karena diperkeGedung Pers Bali K. Nadha. Lantai III nankan masih bisa bersyukur!” Jalan Kebo Iwa 63A Denpasar “Lho kok bersyukur? Wayan Telepon: (0361) 425373 Apik pecandu narkoba, sekarang

LOWONGAN

bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

31

Peserta Press Tour Pemkab Blitar berkunjung ke Gedung Pers Bali K. Nadha, Rabu (7/3). Mereka menyempatkan melihat ruang kerja Redaksi Tokoh dan foto bersama.

Tokoh melakukan audensi ke Kabag Humas Setda Badung pada Selasa (6/3). Tim Tokoh diterima Kabag Humas Drs Putu Ngurah Thomas Yuniarta, M.Si yang juga menyatakan siap untuk bersinergi untuk publikasi tokoh-tokoh perempuan di Badung.

Selamat hari Perempuan Internasional yang diperingati pada tanggal 8 Maret. Beberapa waktu yang lalu, sempat menjumpai gadis remaja. Saat itu adalah jam sekolah anakanak pada umumnya tetapi tidak dengan gadis ini, ia berjualan buah-buahan di sebuah kios kecil. Ketika ditanya kelas berapa, jawabannya “Baru lulus SD”. Ketika ditanya sekarang sekolah jam berapa, kepalanya menggeleng sambil menjawab “Sudah tidak sekolah, bantu jualan”. Ketika dilanjutkan, apa yang membuat tidak sekolah “Malu minta sekolah lagi, saya perempuan”. Ini mungkin tidak satu-satunya kisah yang masih kita dengar. Terkadang karena tugas domestik yang nanti akan diemban perempuan. Muncul larangan untuk mengeksplorasi diri lebih jauh termasuk dalam pendidikan. Pandangan lainnya yang tak jarang membuat

perempuan enggan melanjutkan sekolah adalah “Jangan sekolah tinggi-tinggi nanti tidak ada lakilaki yang mau”, pernah mendengarnya?. Atau yang ini “Buat apa sekolah tinggi, besok juga masuk dapur...”, iya kah? Perempuan punya peranan dalam kehidupan, tidak hanya dalam keluarga tetapi juga masyarakat. Karena peranan itulah, bukankah pendidikan baik secara formal maupun informal menjadi penting untuk perempuan? Pendidikan dan kepercayaan diri. Serangkaian penelitian menunjukkan bahwa perempuan yang memiliki jenjang pendidikan yang baik secara tidak langsung berkaitan dengan kepercayaan diri yang juga baik. Misalnya saja, pendidikan yang baik dapat membantu perempuan menjadi lebih mandiri secara ekonomi serta mampu membantu perekonomian keluarga. Selain itu, pendidikan yang baik juga mendukung kes-

Ketut Netra, S.H.,M.Kn

Made Padma Dewi Bajirani

ejahteraan hidup yang lebih baik selain faktor keluarga. Hal ini menggambarkan bahwa dengan pendidikan, perempuan akan merasa lebih berharga untuk diri dan lingkungannya. Tidak hanya itu, pendidikan yang memadai berkaitan dengan

peningkatan kesadaran dan kualitas kesehatan pada perempuan. Kesehatan yang dimaksud mencakup kesehatan secara mental maupun fisik. Salah satu contohnya adalah pendidikan yang layak akan menambah pengetahuan perempuan tentang pentingnya kesehatan, menjaga pola hidup yang sehat, mengenal dan mengindari faktor-faktor yang berisiko terhadap masalah kesehatan, menjaga keseimbangan kesehatan mental, dan termasuk juga penerapan pola asuh pada anak-anak. Ketika kesadaran tersebut mulai diterapkan dalam kehidupan sehari-hari maka akan berdampak pada peningkatan kualitas kesehatan perempuan,

keluarga, dan komunitas. Pendidikan pada perempuan sebagai bekal masa depan. Pendidikan adalah bagian dari ilmu yang dapat menjadi pegangan kuat untuk perempuan menghadapi tantangan di masa depan. Akses pendidikan pada perempuan yang semakin terbuka dapat memberikan manfaat bagi perempuan dan keluarganya kelak. Pendidikan yang baik dapat memfasilitasi perempuan dalam menyalurkan pendapatnya di lingkungan dengan harapan dapat memberikan pengaruh positif bagi sekelilingnya. Made Padma Dewi Bajirani

Kata Hati Rubrik ini khusus untuk menuangkan ide/pemikiran/gagasan dalam bentuk tulisan. Tema terkait wanita dan keluarga serta tidak mengandung unsur SARA. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter. Lampirkan juga foto close up (bukan pasfoto). Cantumkan nama lengkap, profesi, nomor hp, dan alamat email. Naskah dikirim ke redaksi@cybertokoh.com, redaksitokoh@yahoo.com.

Yoga bersama Dian Kania (Markandeya Yoga) Memperhatikan wajah Koran Tokoh edisi yang terakhir, 5–11 Maret 2018, tampaknya ada sesuatu yang baru, yaitu format atau ukuran koran yang nyaris segi empat sama sisi. Pertanyaan saya, apakah hal itu masih bisa dikatakan koran atau tabloid atau nama lain barangkali ... ? Yang jelas, tampilan yang terakhir ini lebih seksi dibanding sebelumnya. Satu lagi, saya sebagai pembaca yang sejak dulu mengikuti isi ataupun sajian-sajian Tokoh, kalau boleh saya usulkan, dalam setiap tulisan (reportase, telaah pustaka, liputan, maupun opini), hendaknya dicantumkan profil/data singkat tentang orang yang menjadi objek tulisan tersebut. Dengan demikian, tulisan yang tersaji akan menjadi semakin komprehensif dan pembacapun senang dibuatnya.

Bunda Dian

Teknik Pernapasan untuk Penderita Diabetes Militus

Romi Sudhita Jln. Srikandi, Singaraja Terima kasih banyak atas perhatian dan usulan Bapak Romi Sudhita. Kami sangat mengapresiasi perhatian Bapak dan menjadikan ini masukan positif. Mengenai format, sampai saat ini Tokoh masih dalam format tabloid mingguan. Namun, kertas yang digunakan ukurannya mengecil menyesuaikan dengan ketersediaan kertas di pasaran.

Penanggung Jawab/Pemimpin Redaksi: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Iklan Denpasar: IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti, Sagung ­Inten. Buleleng: Wiwin Meliana. Jakarta: Diana Runtu. NTB: Naniek Dwi Surahmi. Desain Grafis: IDN Alit ­Budi­artha, ­I Made Ary ­Supratman. Manajer Sirkulasi dan Iklan: I Ketut Budiarta, Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama, Ayu Wika Yuliani. Se­kretariat: Ayu ­Agustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Ombudsman: Jimmy Silalahi. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­D enpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­merah ­Barat 21 G Jakarta Pusat 10270–Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­­Faksi­mile (031) 5675240. Surat Elektronik: info@cybertokoh.com, redaksi@cybertokoh.com, iklan@cybertokoh.com. Bank: BRI ­Cabang ­Gajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

Peraga: Ni Komang Sukerni

Gambar ke - 1 Teknik mengepalkan tangan yang harus diketahui untuk terapi diabetes militus Yaitu: posisi duduk bersimpuh, kemudian konsentrasikan kedua ibu jari ditekuk dan ditempel ke telapak tangan

Gambar ke - 2 Sikap masih duduk bersimpuh, kemudian tekuk ke- 4 jari tangan menekan ibu jari

Gambar ke - 3 Meletakkan ke -2 kepalan tangan di bawah perut. Kemudian menekan ke rongga pinggul. Sedangkan kepalan tangan mendorong ke atas sehingga terasa organ perut naik.

Gambar ke - 4 Menurunkan badan ke depan kening menyentuh matras. Bagi pemula biasanya belum bisa menyentuh matras, maka dapat melakukan posisi semampunya.  Reaksi yang dirasakan pada saat melakukan teknik pernapasan ini akan sedikit terasa kurang nyaman. Namun, sangat membantu dalam meningkatkan fungsi pancreas.  Teknik pernapasan ini disarankan dilakukan sebanyak 21 kali, yakni menarik dan menghembuskan napas  Catatan:  Lakukan pernapasan menarik napas melalui hidung dan hembuskan melalui hidung juga  Selamat berlatih, Semoga bermanfaat.


32

Mozaik

Edisi 995/ 12 - 18 maret 2018

Lakukan Hal yang Disukai

Tiap orang pasti mengalami stress dalam hidupnya. Baik itu karena masalah pekerjaan ataupun masalah lainnya. Stres bisa menjadi sesuatu yang positif apabila dires­ pons secara baik, dikelola dengan benar sehingga tidak berkembang menjadi depresi. Ada banyak cara mengatasi stres, diantaranya olahraga dan meditasi.

P

enyanyi jazz, Andien Aisyah, menyebut salah satu caranya mengatasi stres adalah de­ ngan berolahraga. Olahraga membuatnya merasa fresh baik fisik maupun pikirannya. “Dalam kondisi fresh, fisik maupun pikiran, kita bisa lebih baik dalam menghadapi masalah. Lagipula olahraga adalah kegiatan yang aku suka. Makin banyak pekerjaan aku makin sering olahraga, untuk keseimbangan,” ungkap ibu satu anak ini. Bukan hanya olahraga, tambah Andien, ada banyak hal yang dilakukannya agar tidak terlalu stres dengan banyaknya aktivitas yang dijalaninya sehari-hari. “Aku punya banyak aktivitas setiap harinya, kegiatan berbeda-beda. Itu mulai pagi bahkan kadang sampai malam. Mulai dari urus keluarga, anak, olahraga, menyanyi, dll. Banyak kegiatan apalagi berbeda-beda, tentu masalah yang datang pun berbedabeda pula. Stres ya pasti lah, namanya manusia. Jadi ya biasa saja. Juga ada Ippe (suami) yang selalu membantu,” ungkap penembang ‘Let It Be My Way’ ini. Sebenarnya, tambah Andien yang menjadi

a dan pelatihnya

Prilly Latuconsin

brand ambassador produk pewangi dan pelembut pakaian, memberi waktu untuk kesenangan diri sendiri adalah salah satu cara ampuh agar tidak terlalu stres. Hal ini, kadang sering diabaikan orang yang memiliki banyak kesibukan.

“Banyak orang yang terlalu sibuk bekerja sampai mengabaikan untuk kesenangannya sendiri, walaupun hanya sejenak. Padahal ini penting sekali untuk keseimbangan diri, kesehatan rohani dan jasmani. Dari pagi sampai malam orang hanya bekerja, abai pada kesenangannya. Itu bisa membuat orang mudah stress, mudah emosi,” tuturnya. Memahami akan hal itu, dirinya meski disibukkan dengan berbagai aktivitas selalu berusaha meluangkan waktu untuk hal-hal yang menyenangkannya, untuk dinikmati sendiri. “Aku suka fashion dan menikmatinya. Mix and match penampilan, desain, dll. Ngomongin fashion bisa bikin aku betah dan stres pun ‘menguap’,” kata Andien seraya menyebut dia memiliki banyak kesenangan yang tak jarang dilakukannya di sela-sela rutinitas kesibukannya. “Menyenangkan diri meski hanya sebentar tapi itu bermanfaat untuk diri kita,” ujarnya. Prilly Latuconsina, artis yang kariernya sedang naik daun, mengaku kerap mengalami stres. Ini lantaran begitu tingginya kesibukan, baik di dunia entertainment maupun sejumlah bisnis yang ditanganinya. Tapi kata Prilly dia memiliki cara jitu untuk mengatasinya. “Kalau stres atau jenuh, ya karena pekerjaan atau hal lain, aku biasanya olahraga. Kalau masalah makin banyak, ya olahraga makin sering. Rata-rata seminggu tiga kali,” ujar pemeran film Danur: I Can See Ghosts’ ini. Saat banyak tekanan, melakukan hal-hal yang disukai adalah penting agar tidak terlalu

Andien Aisyah

stres. “Melakukan hal yang sama itu-itu saja juga bisa bikin jenuh dan stres lho,” tutur Prilly yang tahun ini lebih berkonsentrasi layar lebar ketimbang sinetron. “Aku sangat suka musik. Jadi kalau lagi stres, kalau sedang nggak olahraga, ya denger musik. Dengar lagu-lagu yang aku suka. Ikutan nyanyi juga untuk melepas stress,” kata Prilly yang film horor terbarunya, ‘Danur 2 Maddah’ bakal tayang di bioskop 29 Maret mendatang. (Diana Runtu)

I Gusti Ayu Purnamawati, S.E., M.Si., Ak.

Bangun Iklim Kerja Menyenangkan Menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan yang positif tentu sangat baik untuk mengisi waktu di usia yang produktif. Kadang orang sering lupa diri bahkan memforsir waktunya dengan berbagai pekerjaan. Tidak jarang juga banyaknya pekerjaan menimbulkan tekanan sehingga menyebabkan stres. Hal tersebut juga disampaikan oleh akademisi Undiksha I Gusti Ayu Purnamawati, S.E., M.Si., Ak. Menurutnya, tuntutan dan tekanan dalam pekerjaaan menjadi faktor utama penyebab stres. Bahkan tekanan juga sering datang dari masalah keluarga maupun interaksi sosial. Stres yang Ayu rasakan tentu akan menyebabkan labilnya emosi sehingga sangat berdampak terhadap keluarga maupun pekerjaan itu sendiri. “Kalau sudah stres, kita pasti ingin melampiaskan emosi sehingga ngajar menjadi tidak mood bahkan melakukan pekerjaan

apapun menjadi tidak ada semangat,” jelasnya. Perempuan kelahiran Mataram 4 November 1979 ini menambahkan untuk menghindari stres dalam pekerjaan dengan memilih misi untuk memotivasi diri sehingga pekerjaan yang dijalani dapat memberikan arti dan manfaat bagi diri sendiri. Dirinya juga menambahkan untuk tidak terlalu tenggelam dalam suatu pekerjaan. Lebih baik fokus mengerjakan satu pekerjaan dengan hasil yang maksimal sehingga kita benar-benar paham tugas dan tanggung jawab. Tekanan pekerjaan biasanya timbul akibat tidak terselesaikannya pekerjaan tepat waktu sehingga pikiran tidak akan fokus dikejar deadline. “Membagi waktu antara urusan pekerjaan dan pribadi dan keluarga sangat penting. Jangan sampai waktu yang seharusnya di rumah digunakan untuk mengerjakan pekerjaan kantor,” jelasnya. Membangun iklim kerja yang menyenangkan dengan terbuka dan berkomunikasi dengan baik sesama rekan kerja juga sangat ampuh untuk menghindari stres. Dengan bersikap terbuka maka akan menciptakan suasana kerja yang nyaman sehingga pekerjaan yang dijalankan menjadi

menyenangkan. Dengan komunikasi yang baik pula maka dirinya lebih mudah mendelegasikan pekerjaan kepada rekan kerja. “Jangan memaksakan diri kalau memang tidak bisa mengerjakan sehingga tidak menjadi beban,” ungkapnya. Perempuan yang saat ini menjabat sebagai Sekretaris Jurusan D3 Akutansi Undiksha Singaraja ini mengatakan stres berawal dari pikiran sehingga sangat perlu mengolahragakan pikiran dengan cara refreshing maupun yoga. Dengan mengikuti kelas yoga, Ayu mengaku lebih dapat menjaga dan mengontrol emosi. “Saya memang rutin mengikuti kelas yoga untuk merilekskan pikiran,” akunya. CIPTAKAN HUBUNGAN KONDUSIF Sementara itu, Ni Ketut Sari Adnyani, S.Pd., M.Hum., yang juga seorang akademisi mengatakan stres akibat pekerjaan merupakan hal yang biasa. Menumpuknya pekerjaan dan tidak selesainya pekerjaan tepat waktu adalah penyebab utama stres. Stres akan sangat mengganggu pikiran dan sangat berdampak pada kesehatan badan. Sebagai tenaga pendidik, dirinya

harus yakin bahwa pekerjaan yang ia jalani merupakan hal yang menyenangkan sehingga berorientasi terhadap perkembangan karier ke depan. Stres yang ia alami kerap kali berawal dari pekerjaan yang tidak dikelola dengan baik. Dengan begitu, dirinya telah terbiasa membuat job description untuk memprioritaskan pekerjaan yang akan lebih dulu dikerjakan. “Secara otomatis kita akan bisa membagi waktu sehingga tidak lelah pikiran dan lelah tenaga,” jelasnya. Perempuan kelahiran Tianyar, 4 Februari 1982 ini mengatakan stres sangat berimplikasi dengan kesehatan sehingga menjaga pola makan menjadi pilihan utama. Membudayakan hidup sehat secara fisik dan psikis juga kerap dilakukan Sari. Selain mengomsumsi makan sehat, dirinya juga selalu melakukan olahraga dan menciptakan pola hubungan kondusif dalam interaksi dengan rekan kerja. “Sebagai seorang tenaga pendidik dapat mengembangkan adaptasi ilmu pengetahuan yang diperoleh terhadap peserta didik dan rekan sejawat merupakan bukti bahwa kita bisa membangun hubungan sosial,” jelasnya. (Wiwin Meliana)

redaksi@cybertokoh.com, iklan@cybertokoh.com

cybertokoh

@cybertokoh

@cybertokoh

www.cybertokoh.com

Tokoh Edisi 995 | Tokoh  

Headline : Dayu Nanda Akuntan Publik Wanita Termuda

Tokoh Edisi 995 | Tokoh  

Headline : Dayu Nanda Akuntan Publik Wanita Termuda

Advertisement