24
Edisi 917/ 5 - 11 September 2016
KCKB Kenalkan Kamen Bali ke Kancah Internasional
Komunitas Cinta Kamen Bali (KCKB) yang beranggotakan perempuan dari beragam profesi dan usaha ini, terus melangkah sesuai dengan visi dan misinya, yakni mengajak perempuan Bali khususnya untuk mencintai kamen Bali. Mengenakan kamen Bali dalam beberapa kegiatan, agar rasa cinta akan kamen Bali terus ditingkatkan, sebagai salah satu cara mencintai budaya berkain di Indonesia.
S
eperti yang dilakukan pada acara Buffet Terpanjang (The Longlest Buffet in Indonesia) yang dicatat Rekor Muri di Grand Istana Rama, Kuta pada Selasa (16/8). Dalam kesempatan yang dihadiri oleh tamu-tamu mancanegara tersebut, KCKB menyampaikan pemahaman tentang berbagai hal mengenai kain tradisional Bali, kamen yang mereka kenakan. Di acara itu pula, anggota KCKB
KCKB usai donor darah di Bounty Cruise
tampil anggun dan mencintai kamen Bali elegan dengan kebaya sebagai bentuk kearifan warna merah dan anelokal Budaya Indonesia. Selanjutnya untuk ka kamen Bali, sebagai kegiatan sosial KCKB rasa cinta pada hasil yang tercatat sebagai budaya yang memagenda tahunan, telah banggakan. Mereka sekaligus merayakan dilaksanakan rutin se tiap 3 bulan. Pada bulan kemerdekaan dengan Agustus lalu, KCKB juga memilih kebaya warna menyalurkan bantuan merah yang menggamdengan berbagi kepabarkan rasa nasionalisme. Sedangkan untuk da seorang nenek yang mengurus cucunya yang model kebayanya, sebukan hanya kurang gizi luruh anggota KCKB tapi juga menderita pemengusung gaya tranyakit asma. disional dengan kutu baru. Selanjutnya KCKB juga melangsungkan donor Begitu juga dengan darah bersama di acara kehadiran KCKB di HUT Bounty Cruise, pada arena Legian Beach 14 Agustus di Benoa. Festival. Komunitas ini menggelar acar a Bu Bara mengatakan mereka bersyukur bisa Fashion Show, dengan terus berbagi dan semmenampilkan pesona bari merasakan indahnya berbagai mode kebaya kebersamaan. Selain dan kamen-nya. Model Bu Bara dan Bu Eva dua sahabat penggagas KCKB itu mereka juga berdan desainernya pun bahagia, sebab beberapa langsung dari anggota kegiatan yang dilakukan, intinya anggota KCKB yang pertama kali KCKB. Menurut penggagas KCKB, Bu untuk terus bisa menginspirasi sebagai donor darah juga lolos dan Bara didampingi sahabatnya, Bu sekaligus menggugah ibu-ibu di bisa mendonorkan darahnya. Dikatakan oleh Bu Bara dan diEva yang bergandengan mengger- Bali khususnya, untuk mau mengakkan KCKB, bahwa di ajang Legian gunakan kamen Bali, sebagai salah amini oleh Bu Eva, bahwa mereka Beach Festival, anggota KCKB satu produk lokal yang mesti dijaga, bersyukur semua langkah dalam menjalankan visi dan misi KCKB memang diberikan ruang untuk dilestarikan dan dikembangkan. Ditambahkan oleh oleh Bu Eva selama ini berjalan lancar, baik menuangkan berbagai kreativitas dalam padu–padan busana mulai bahwa terbentuknya KCKB selain untuk aktivitas terkait budayanya dari yang tradisional hingga yang bentuk mencintai budaya Indonemengikuti trend dengan sentuhan sia juga gerakan kepedulian akan nasionalisme. Berjuang membela modern. Bu Bara mengatakan, segala negara dengan cara tindakan nyata
KCKB saat mengikuti dialog Tren Budaya Adat Bali antara Tradisi dan Globalisasi
KCKB usai fashion show di Legian Beach Festival
Bu Bara dan Bu Eva di acara Grand Istana Rama Kuta
maupun aksi peduli sesamanya, karena kekompakan dan ketulus an seluruh anggota komunitas selama ini. -ard
KCKB dalam kegiatan sosial berbagi dengan sesama
KCKB di acara Buffet Terpanjang Rekor Muri di Grand Istana Rama Kuta
redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id
mingguantokoh
@mingguantokoh
mingguantokoh
www.tokoh.co.id
2
Edisi 917/ 5 - 11 september 2016
GORO-GORO Kemerdekaan bagiku. bukan bebas lepas bablas. Itu atribut orang yang tak merdeka! Orang yang merdeka adaPutu Wijaya lah orang yang tak pernah tersekap, terpasung, terperangkap terikat oleh apa pun, termasuk merdeka dari kemerdekaan itu sendiri. Karena itulah aku terus berpikir, agar merdeka dari yang tak kuketahui, merdeka dari yang sudah kuketahui dan merdeka dari yang akan kuketahui. Aku juga harus merdeka dari yang sedang kupikirkan. Tapi karena aku terus dicekoki oleh hasrat merdeka dari segala yang
bisa membelenguku, aku pun akhirnya jadi orang yang tidak merdeka. Itulah lingkaran setan kemerdekaan Jadi aku orang merdeka yang sekaligus tak merdeka. Atau kalau dibalik, aku adalah orang tidak merdeka yang merdeka sekali. Jadi aku bukan orang bebas juga sama sekali tidak pernah kepincut untuk bablas. Lepas juga bukan, karena aku mematuhi undang-undang, peraturan, tugas-kewajiban serta hak orang lain. Bukan dengan terpaksa! Tidak! Aku nikmati ketidakbebasanku, ketidakbablasanku, ketidaklepasanku. Dan aku nikmati juga ketidakmerdekaanku. Karena aku orang merdeka! Ha-ha-ha! Anak muda itu tertawa bangga dan berhenti di situ. Lantas ia menatap Amat yang sudah mendengarkan
Ekspresso
BEBAS LEPAS BABLAS
curhatnya dengan tekun. “Jadi bagi kamu itulah kemerdekaan?” “Betul, Pak Amat. Buat saya dari saya untuk saya!” “Bagaimana kalau ada orang lain yang berbeda pendapat, bahkan bertentangan?” “Itu terserah. Berbeda adalah bagian dari dinamika kemerdekaan!” “Tapi kalau perbedaan menjadi pertentangan dan akhirnya permusuhan?” “Ya itulah kemerdekaan! Itulah risiko merdeka! Kalau takut itu artinya tidak berani merdeka dan tidak akan bisa merdeka!” “Kalau sampai jadi perkelahian? Apa itu juga kemerdekaan?” “Ya! Kenapa tidak? Jangan pikir
kemerdekaan enak-enak saja! Jeleknya juga banyak sekali, Pak Amat!” Amat terpesona, “Tapi kalau memang banyak jeleknya, lalu untuk apa kita merdeka?” Anak muda itu menatap Amat heran. “Untuk apa merdeka?” “Ya, kamu bilang banyak sekali jeleknya, jadi Bapak tanya buat apa mengorbankan nyawa untuk cari yang jelek-jelek?” Anak muda itu tambah heran. Ia menatap Amat seperti melihat barang antik. “Pak Amat sudah menikah?” Amat ketawa. “ Ya sudah, sudah merayakan pernikahan perak dan punya cucu!” “Oke, bagus? Pernah bertengkar dengan istri?” “Ya, itu normal. Itu dinamika pernikahan.” “Saya cuma tanya, pernah atau tidak?! “Ya namanya suami istri, itu biasa,
malah sering, tapi ...” “Nah! Kalau sudah tahu akan ada pertengkaran, untuk apa menikah? Ha?!” Amat mau menjawab, tetapi anak muda itu memotong. “Tidak usah dijawab, Pak Amat. Saya tahu jawabannya dan Bapak mesti tahu juga jawaban kenapa kita berjuang bertaruh nyawa untuk merdeka padahal merdeka itu penuh kesulitan. Karena kesulitan itu sehat dan indah, Pak Amat. Selamat sore! Terimakasih sudah mau mendengarkan ocehan saya! Tidak banyak orang tua yang mau mendengarkan aspirasi anak muda! Merdeka!” Anak muda itu ngeloyor pergi. Amat memandangnya. Dengan rindu. Rindu sekali. Bahkan kemudian ia terpaksa mengusap mata terharu. “Kenapa, Pak?” Amat terkejut, melihat istrinya mengulurkan secangkir kopi. “Bapak sakit mata?” “Bapak baru saja bicara dengan masa muda Bapak.”
Melawan Lupa Generasi Muda Hindu
terhadap Filosofi Perayaan Hari Raya Galungan
Sebagai umat yang beragama Hindu, Khususnya umat Hindu Nusantara, setiap 6 bulan (lebih tepatnya setiap 210 hari sekali) selalu merayakan hari raya Galungan. Kata “Galungan” berasal dari bahasa Jawa Kuna yang artinya menang atau bertarung. Galungan juga sama artinya dengan dungulan, yang juga berarti menang. Karena itu di Jawa, wuku yang kesebelas disebut Wuku Galungan, sedangkan di Bali wuku yang kesebelas itu disebut Wuku Dungulan. Namanya berbeda, tapi artinya sama saja. Menurut lontar Purana Bali Dwipa, Galungan pertama kali dirayakan pada hari Purnama Kapat, Budha Kliwon Dungulan, tahun Saka 804 atau tahun 882 Masehi. Sejak itu Galungan terus dirayakan oleh umat Hindu di Bali secara meriah. Setelah Galungan ini dirayakan kurang lebih selama tiga abad, tiba-tiba entah apa dasar pertimbangannya pada tahun 1103 Saka perayaan hari raya itu dihentikan. Itu terjadi ketika Raja Sri Ekajaya memegang tampuk pemerintahan. Galungan juga belum dirayakan ketika tampuk pemerintahan dipegang Raja Sri Dhanadi. Selama Galungan tidak dirayakan, konon musibah datang tak henti-henti. Umur para pejabat kerajaan konon menjadi relatif pendek. Ketika Sri Dhanadi mangkat dan digantikan Raja Sri Jayakasunu pada tahun 1126 Saka, barulah Galungan dirayakan kembali, setelah sempat terlupakan kurang lebih selama 23 tahun. Keterangan ini bisa dilihat pada lontar Sri Jayakasunu. Dalam lontar tersebut diceritakan bahwa Raja Sri Jayakasunu merasa heran mengapa raja dan pejabat-pejabat raja sebelumnya selalu berumur pendek. Untuk mengetahui penyebabnya, Raja Sri Jayakasunu mengadakan tapa brata dan samadhi di Bali yang terkenal dengan istilah Dewa Sraya artinya mendekatkan diri pada Dewa. Dewa Sraya itu dilakukan di Pura Dalem Puri, tak jauh dari Pura Besakih. Karena kesungguhannya melakukan tapa brata, Raja Sri Jayakasunu mendapatkan pawisik atau “bisikan religius” dari Dewi Durgha, sakti dari Dewa Siwa. Dalam pawisik itu Dewi Durgha menjelaskan kepada raja bahwa leluhurnya selalu berumur pendek
bacaan wanita dan keluarga
Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998
karena tidak lagi merayakan Galungan. Karena itu Dewi Durgha meminta kepada Raja Sri Jayakasunu supaya kembali merayakan Galungan setiap Rabu Kliwon Dungulan sesuai dengan tradisi yang pernah berlaku. Di samping itu disarankan pula supaya seluruh umat Hindu memasang penjor pada hari Penampahan Galungan (sehari sebelum Galungan). Disebutkan pula, inti pokok perayaan hari Penampahan Galungan adalah melaksanakan byakala yaitu upacara yang bertujuan untuk melepaskan kekuatan negatif (Buta Kala) dari diri manusia dan lingkungannya. Semenjak Raja Sri Jayakasunu mendapatkan bisikan religius itu, Galungan dirayakan lagi dengan hikmat dan meriah oleh umat Hindu di Bali. Rentetan Hari Raya Galungan, sebenarnya sudah dimulai dari 25 hari sebelum hari raya Galungan, adanya Tumpek Uduh, yang merupakan penghormatan kepada Tuhan atas karunianya dari hasil tumbuh-tumbuhan. Diharapkan buah yang dihasilkan dari tumbuh-tumbuhan ini, dapat dipergunakan pada saat perayaan Hari Raya Galungan. Kemudian pada hari Kamis, 6 hari sebelum hari raya Galungan adalah hari Sugihan Jawa, sebagai pertanda pembersihan buana agung atau dalam istilahnya mengembalikan kesadaran kita akan keseimbangan yang terjadi di alam semesta beserta isinya. Kemudian sehari setelah itu adalah hari Sugihan Bali, sebagai pertanda pembersihan terhadap buana alit, atau dalam istilahnya bagaimana kita membersihkan diri kita masing-masing baik secara sekala maupun niskala, dan mempertajam trikaya parisudha. Dua hari sebelum hari raya Galungan adalah hari raya Penyajahan Galungan. Pada hari penyajahan ini, umat biasanya mempersiapkan berbagai jenis kue/ jajanan yang diperlukan untuk sesajen yang akan dipersembahkan pada saat hari raya Galungan. Tradisi ini dilakukan oleh para wanita. H-1 adalah hari raya Penampahan Galungan. Ini merupakan hari penampahan, umat akan melakukan penyembelihan terhadap hewan, sebagai simbolis bahwa kita bisa menghilangkan sifat-sifat kebinatangan dalam diri kita masing-masing. Pada hari inilah dianggap sebagai hari untuk mengalahkan
Arya Suarnata Butha Galungan dengan upacara pokok yaitu membuat banten byakala yang disebut pamyakala lara melara. Pada saat Penampahan Galungan umat Hindu diwajibkan untuk membuat membuat penjor, dan mecenigan (menghias merajan, memasang wastra untuk pelinggih di merajan). Penjor tersebut berasal dari kata penjor, yang berarti pengajum, atau pengastawa, kalau dihilangkan huruf “ny” , menjadi kata benda yaitu penyor yang berarti sebagai sarana untuk melaksanakan pengastawa. Bahan dari penjor sebatang bambu yang ujungnya melengkung, dihiasi dengan janur/daun enau yang muda serta daun-daunan lainnya (plawa). Perlengkapan penjor pala bungkah, pala gantung, pala wija jajan, serta sanggah Ardha Candra lengkap dengan sesajennya. Pada ujung penjor digantungkan sampiyan penjor lengkap dengan porosan dan bunga. Memasang penjor bertujuan untuk mewujudkan rasa bakti dan sebagai ungkapan terima kasih kita atas kemakmuran yang diberikan oleh Ida Sang Hyang Widhi (Tuhan). Bambu yang melengkung adalah gambaran dari gunung tertinggi sebagai tempat yang suci, hiasan penjor yang terdiri dari kelapa, buah, jajan, dan kain adalah wakil dari semua tumbuh-
tumbuhan dan benda sandang pangan, yang dikaruniai oleh Hyang Widhi Wasa. Keberadaan bahan-bahan pembuat penjor tersebut tentu memiliki arti dan filosofinya masing-masing. Berdasarkan lontar Tutur Dewi Tapini menyebutkan : Ndah Ta Kita Sang Sujana Sujani, Sira Umara Yadnva, Wruha Kiteng Rumuhun, Rikedaden Dewa, Bhuta Umungguhi Ritekapi Yadnya, Dewa Mekabehan Menadya Saraning Jagat Apang Saking Dewa Mantuk Ring Widhi, Widhi Widana Ngaran Apan Sang Hyang Tri Purusa Meraga Sedaging Jagat Rat, Bhuwana Kabeh, Hyang Siwa Meraga Candra, Hyang Sadha Siwa Meraga “Windhune”, Sang Hyang Parama Siwa Nadha Artinya : Wahai kamu orang-orang bijaksana, yang menyelenggarakan yadnya, agar kalian mengerti proses menjadi kedewataan, maka dari itu sang Bhuta menjadi tempat/tatakan/dasar dari yadnya itu, kemudian semua Dewa menjadi sarinya dari jagat raya, agar dari dewa semua kembali kepada hyang widhi, widhi widhana (ritualnya) bertujuan agar sang Tri Purusa menjadi isi dari jagat raya, Hyang Siwa menjadi Bulan, Hyang Sadha Siwa menjadi windu (titik O), sang hyang parama siwa menjadi nadha (kecek), yang mana kesemuanya ini merupakan simbol dari Ong Kara. Penjor Galungan bersifat religius, yang mempunyai fungsi tertentu dalam upacara keagamaan,dan wajib dibuat lengkap dengan kelengkapannya, membuat penjor untuk upacara memerlukan syarat tertentu, dan sesuai dengan Sastra Agama, agar tidak berkesan sebagai hiasan saja. Di dalam lontar Tutur Dewi Tapini juga telah disebutkan bahwa setiap unsur pada penjor melambangkan simbol-simbol suci, yaitu sebagai berikut : Bambu (dan kue) sebagai vibrasi kekuatan Dewa Brahma. Kelapa sebagai simbol vibrasi Dewa Rudra. Kain Kuning dan Janur sebagai simbol vibrasi Dewa Mahadewa. Daun-daunan (plawa) sebagai simbol vibrasi Dewa Sangkara. Pala bungkah dan pala gantung sebagai simbol vibrasi Dewa Wisnu. Padi sebagai simbol vibrasi Dewi Sri. Kain putih sebagai simbol vibrasi Dewa Iswara. Sanggah sebagai simbol vibrasi Dewa Siwa.
Upakara sebagai simbol vibrasi Dewa Sadha Siwa dan Parama Siwa Buda Kliwon Dunggulan adalah Hari Raya Galungan itu sendiri. Disini umat akan melakukan persembahyangan di Pura dan di sanggah masing-masing. Pada hari raya inilah merupakan kesempatan bagi berkumpulnya seluruh anggota keluarga untuk melakukan persembahyangan dan melakukan silahturahmi dan peningkatan keimanan dan ketakwaan terhadap Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Belum selesai sampai disini, keesokan harinya adalah hari raya manis Galungan yang biasanya dipergunakan bagi anggota keluarga yang sudah berkumpul untuk saling mengunjungi sanak keluarga yang lainnya untuk bersilahturahmi. Pada hari ini umat mengenang betapa indahnya kemenangan dharma. Umat pada umumnya melampiaskan kegembiraan dengan mengunjungi tempattempat hiburan terutama panorama yang indah. Dua hari setelah hari raya Galungan adalah hari raya pahing Galungan. Pada hari ini, umat akan melakukan pembersihan kembali terhadap perabotan tempat sesajen, tempat suci, dll sebagai persiapan untuk menyambut datangnya Hari Raya Kuningan yang hanya berselang 10 hari setelah hari raya Galungan. Hasil akhir yang ingin dicapai dari merayakan hari raya Galungan ini adalah tercapainya pikiran suci, untuk menjadi orang yang Jayabaya (menang dalam menghadapi semua halangan/ marabahaya). Sehingga dengan adanya perayaan hari raya Galungan ini kita selalu diharapkan untuk menggali ke dalam diri masing masing, mengingatkan kita untuk selalu mencari pengetahuan yang suci untuk mengenali diri yang sejati, sehingga dengan mengenali sang diri yang sejati maka di setiap hari hari yang kita lalui, kita akan selalu menang melawan godaan-godaan buruk yang berasal dari dalam diri, maupun luar diri sebagaimana tujuan hidup yang ingin kita capai yakni Moksatham ja gadhita ya Cai thi Dharma diharapkan akan dapat tercapai. Arya Suarnata Sekretaris KNPI Buleleng
Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti, Sagung Inten. Buleleng: Wiwin Meliana. Jakarta: Diana Runtu. NTB: Naniek Dwi Surahmi. Desain Grafis: IDN Alit Budiartha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama, Ayu Wika Yuliani. Sek retariat: Ayu A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan Palm erah B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–Telepon (0370) 639543– Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456– F aksim ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.
Sudut Pandang
Edisi 917/ 5 - 11 september 2016
Sanksi bagi yang Merokok
lah. “Sesuai dengan surat edaran dari provinsi, seluruh warga sekolah dilarang merokok, kecuali disediakan ruangan khusus rokok bagi guru atau pegawai,” lanjutnya. Akan tetapi sebagai sekolah yang tidak menyediakan ruang rokok khusus maka ia mengimbau kepada pegawainya untuk tidak merokok di sekolah. “Kalau ketahuan kami juga sediakan sanksi di sekolah,” pungkasnya.
Bahaya rokok dinilai semakin membahayakan. Mendikbud berencana memasukkan ke dalam kurikulum pendidikan. Dengan begitu, seorang tenaga pendidik diharapkan mampu secara komperehensif memberikan penjelasan mengenai bahaya rokok. Sebab institusi pendidikan merupakan tempat anak atau remaja menghabiskan sebagian waktunya.
K
epala SMK Ke sehatan Bhaktiyasa Singaraja I Putu Eva E ndrawan, S.Pd. mendukung jika antirokok masuk ke dalam kurikulum pembelajaran, karena rokok tidak hanya berdampak buruk bagi fisik anak tetapi juga psikis anak. Menurutnya anak yang berusia dibawah 18 tahun belum mampu menyikapi permasalahan yang ditimbulkan oleh rokok baik dari penghasilan untuk membeli rokok, masalah kesehatan yang ditimbulkan serta masalah lingkungan.
“Banyak yang mengira rokok itu tidak berdampak secara psikis bagi anak, padahal dampaknya begitu besar,” jelasnya. Ia mencontohkan sehari saja pecandu rokok tidak mendapatkan rokok maka mereka akan merasa bingung, emosi tidak stabil bahkan aksi pencurian pun bisa dilakukan untuk memenuhi kebutuhan akan rokok. Jika kondisi ini dibiarkan secara terus menerus maka akan menimbulkan akibat yang fatal. Sebagai sekolah kesehatan, pihaknya sangat melarang ada siswa yang merokok di lingkungan sekolah. Bahkan tidak tanggungtanggung, dirinya sebagai kepala sekolah memberikan sanksi tegas bagi siswa yang kedapatan merokok. “Kalau ketahuan akan langsung kami pecat (drop outI) akan tetapi selama ini belum pernah kami memecat siswa karena merokok,” ujarnya. Pria kelahiran
23
I Putu Eva Endrawan, S.Pd.
Dr. I Made Sundayana, M.Si.
24 Maret 1988 tersebut mengaku jika pengawasan terhadap siswa hanya bisa dilakukan di kawasan sekolah saja. “Terus terang kalau di luar sekolah itu tidak bisa kami jangkau,” tambahnya. Maka dari itu, peran serta dan campur tangan orangtua untuk menjauhkan anak-anaknya terhadap rokok sangat diharapkan. Maka dari itu, setiap tahun ajaran baru pihaknya mengundang para orangtua untuk bersama-sama mengetahui perkembangan anak. Namun, ia begitu menyayangkan jika ada orangtua yang tidak mendukung program pemerintah, karena kesulitan menyamakan persepsi dan pendapat akibat perbedaan latar belakang. “Terkadang ada orangtua yang membiarkan anaknya merokok, minum alkohol asal tidak di sekolah, mereka menganggap toh juga itu uang mereka. Itu yang selama ini menjadi kendala kami,” tandasnya. Menurutnya hal yang sangat rentan menyebab-
kan seorang anak menjadi perokok adalah lingkungan baik keluarga maupun teman terdekat. “Kebanyakan anak merokok karena ayahnya juga seorang perokok ataupun anak yang berasal dari keluarga broken,” paparnya. Selain itu, mudahnya peredaran rokok membuat anak-anak yang masih di bawah umur tidak ada kesulitan untuk mendapatkan rokok. “Di emperan saja ada yang jual rokok, coba bandingkan dengan negara lain, rokok hanya di jual ditempattempat yang berkelas,” ujarnya. Jika pemerintah berupaya mengurangi perokok maka diimbangi juga dengan penekanan pendistribusiannya jangan sampai rokok terlalu gampang didapatkan. “Namanya perokok berapa pun harganya pasti dibeli, jika rokok harganya mahal bisa-bisa malah terjadi pencurian rokok bukan lagi pencuria emas,” ungkapnya. Pria yang lebih akrab disapa Eva ini juga menerangkan bahwa sebagai seorang pendidik, maka guru dan staf pegawai juga dilarang merokok di lingkungan seko-
ilustrasi
INTEGRASIKAN DALAM PERKULIAHAN Ketua Stikes Buleleng Dr. I Made Sundayana, M.Si., juga mengungkapkan bahwa pihaknya sangat mendukung program yang akan dicanangkan pemerintah. Bahkan sebagai kampus kesehatan dirinya melarang mahasiswanya merokok dikarenakan sebagai orang yang akan bertugas menyosialisikan bahaya rokok kepada masyarakat maka sepatutnya mahasiswa menghindari rokok. “Ya nantinya kan mereka yang akan terjun ke masyarakat, kalau mereka sendiri merokok bagaimana bisa mengajak masyarakat tidak merokok?” jelasnya. Sundayana menambahkan ketika pihaknya menerima mahasiswa baru tentu berasal dari latar belakang yang berbeda baik perokok maupun tidak. Sebagai orang akan nantinya akan berkecimpung dalam dunia kesehatan maka meraka sadar benar dampak yang ditimbulkan oleh rokok tersebut. “Secara otomatis mereka akan sadar bahaya rokok itu karena kami juga integrasikan ke dalam pembelajaran perkuliahan,” ungkapnya. Menurutnya, memang sudah seharusnya antirokok masuk ke dalam pendidikan karena sekolah merupakan dasar untuk menurunkan jumlah perokok. –Wiwin
Naik Pangkat Jika tidak Merokok Rokok kembali menjadi isu hangat setelah muncul wacana kenaikan harga rokok. Sebelumnya Bali sendiri memiliki Perda Kawasan Tanpa Rokok. Bagaimana penerapan aturan Perda ini di lapangan? Menurut Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Bali, I Nyoman Parta, Perda Kawasan Tanpa Rokok memang belum bisa berjalan maksimal. Dalam Perda Kawasan Tanpa Rokok ada beberapa konten, pertama, motivasi mengapa perlu ada perda. Kedua, penentuan kawasan yang steril dari rokok. Ada beberapa kawasan yang harus steril dari rokok, seperti fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan dengan segala turunannya, fasilitas umum, tempat umum, tempat bermain anak-anak, dan kantor pemerintahan, Selanjutnya, ada fungsi yang dilakukan setiap orang dan stakeholder seperti, pendidikan bahaya rokok. Ketiga, menyangkut penyediaan pusat rehabilitasi orang yang ingin berhenti merokok. Konten lain yang diatur, tentang sanksi. “Kawasan tanpa rokok saja belum bisa ditertibkan, apalagi menyangkut di luar itu. Di gedung DPRD ini saja banyak yang merokok. Tapi saya tidak bisa menertibkan, yang bisa menertib-
kan Satpol PP yang memeriksa mereka dan melakukan sidang tipiring di gedung DPRD ini,” kata Parta. Ia juga menilai, soal pendidikan dan sosialisasi bahaya tembakau/rokok juga sangat minim. Padahal, kata Parta, pemprov dan pemkab/pemkot se-Bali, mendapatkan dana Rp 148 miliar dari bagi hasil dari cukai rokok. “Harusnya dana ini tidak dipakai untuk kepentingan lain tapi dipakai untuk kepentingan rehabilitasi, mengedukasi masyarakat tentang bahaya rokok, dan dipakai menyiapkan tenaga dan alat-alat yang berkaitan untuk konsultasi berhenti merokok,” kata Parta. Banyak orang mengatakan, bahkan, para perokok militan mengatakan, merokok itu tidak baik dan menganggu kesehatan. Ketika, ditanya, apakah Anda ingin berhenti? Tentu menjawab ingin, tapi bagaimana caranya berhenti, ini yang susah. Menurutnya, kecanduan rokok agak susah dihentikan, oleh karena itu, ia menyarankan, pentingnya ada klinik atau pusat konsultasi untuk berhenti merokok. Disinggung dengan naiknya harga rokok, ia menilai, tidak memiliki dampak yang signifikan. “Sebagai upaya untuk
mengerem bisa jadi, tapi kurang efektif. Para perokok adalah loyal dan militan. Loyal terhadap merek, dan dalam situasi apapun mereka ingin melakukannya (merokok),” ucap Parta. PAKAI CARA RADIKAL Walaupun rokok dijual dengan harga Rp 50 ribu per bungkus, di Indonesia, orang bisa membeli rokok eceran. Hal inilah, kata Parta, yang membuat anak muda begitu muda mendapatkan rokok. “Dengan uang Rp 1500 atau Rp 2 ribu, anak muda sudah bisa mendapatkan rokok. Hal ini mengakibatkan jumlah perokok usia dini makin meningkat dratis. Upaya ini tidak akan efektif, jika tidak ada pembatasan penjualan eceran,” tegas Parta Ia hanya berharap, pemerintah menyadari jangan sampai biaya APBD disedot untuk kepentingan kesehatan yang berhubungan dengan riwayat rokok. Menurutnya, solusi yang baik adalah harus lebih radikal jika ingin serius menghadapi masalah ini. Caranya, di mulai dari kantor pemerintah misalnya, kenaikan pangkat di jabatan SKPD salah satunya tidak me
I Nyoman Parta
rokok. Syarat untuk kepala sekolah SD, SMP, SMA, tidak merokok. Bagaimana mungkin kepala sekolah mengajarkan anak didiknya tidak merokok, sementara, dia sendiri merokok. Cara lain lagi, berhenti memasang reklame rokok. Kalau pemerintah serius, harusnya berani,” kata Parta. –Wirati Astiti
22
Sosialita
Edisi 917/ 5 - 11 september 2016
Masih belum puas dengan keberhasilan pelaksanaan sistem genap-ganjil dalam pengaturan lalu lintas, Pemda DKI Jakarta berencana menaikkan tarif parkir on street menjadi Rp 10.000 per jam untuk mobil dan Rp 5.000 per jam untuk motor. Pengenaan tarif ini bertujuan agar pengguna kendaraan bermotor berpindah ke angkutan umum. Dengan demikian kemacetan lalu lintas di Jakarta yang disebabkan melubernya kendaraan bermotor, khususnya mobil, akan dapat diatasi.
Andri Yansyah
M
eski memahami maksud Pemda DKI Jakarta namun tetap saja warga Jakarta keberatan dengan wacana ini. Bukan saja tarif parkir belum lama naik menjadi Rp 5.000 per jam—itu saja warga sampai sekarang masih mengeluhkan lantaran terlalu tinggi--- namun juga kondisi angkutan umum meski sudah banyak dilakukan perbaikan namun belum sesuai harapan rakyat. Di sisi lain, kondisi ekonomi yang melemah dalam beberapa waktu terakhir membuat daya beli masyarakat pun ikut menurun. “Maksudnya sih baik ya untuk mengurangi masalah kemacetan di Jakarta. Tapi tolong juga dilihat (oleh Pemda) angkutan umum belum memadai benar. Meski sudah banyak dilakukan perbaikan tapi
Edisi 917/ 5 - 11 september 2016
3
Mahalnya Parkir di Jakarta belum ideal. Angkutan umum yang diperbaiki kan baru di pusat-pusat kota belum menyeluruh, jadi tetap saya kami harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk mencapai tempat tujuan dibanding naik kendaraan pribadi,” kata Ahmad, warga Marunda, Cilincing, Jakarta Utara, yang bekerja di wilayah Jakarta Pusat. Karena itu, ucap Ahmad, hendaknya Pemda mengkaji lebih dalam wacana itu. Maksud baik kalau diterapkan tidak tepat waktunya juga akan menyengsarakan rakyat. “Tolong dikaji secara komprehensif, jangan hanya memikirkan macet yang harus dikurangi tapi pikirkan juga kondisi ekonomi masyarakat saat ini,” tegas Ahmad yang sehari-hari mengendarai motor ke kantornya. “Dengan motor ongkos saya bisa menjadi sangat irit. Lalu kalau ganti kendaraan umum, rumah saya di Marunda, harus beberapa kali naik angkutan, biayanya berapa? Belum lagi biaya makan dan lainlain. Satu hari pengeluaran bisa Rp 50.000 lebih, sementara gaji UMR Rp 3,1 juta, mana cukup? Apa Pemda tidak kasihan sama warganya?” tambahnya menggerutu. Ahmad masih belum puas, ia pun menambahkan, kecuali kalau Pemda DKI Jakarta berani menggratiskan angkutan umum, atau memberi subsidi lebih banyak pada angkutan umum sehingga tarifnya lebih murah, maka pasti banyak warga Jakarta akan beralih keangkutan umum. Karena faktanya tarif murah itu hanya ada di Transjakarta, sedang
Pemasangan mesin parkir on street diperbanyak
Djarot Saiful Hidayat
angkutan umum swasta lainnya tetap saja mahal. Jika rencana Pemda mengintegrasikan semua angkutan umum di Jakarta, kemudian pembayaran dengan kartu yang telah disubsidi, pasti banyak yang mau. “Warga bakal makin sengsara kalau jadi Rp 5.000 per jam (motor),” katanya. Menurut Wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat, nilai kenaikan tarif parkir tidak akan seragam, tergantung dari zonasinya. Jadi nantinya akan dibagi berdasarkan zonasi. “Jadi masih dikaji pembagian zona nya, terutama yang on street karena ini punya kontribusi terhadap kemacetan. Pembagian zona ini akan dilakukan oleh Dinas
Perhubungan,” jelas Djarot. Ia berharap kenaikan tarif parkir cukup signifikan dalam mengurangi kemacetan lalu lintas. “Di sisi lain kami juga terus berupaya memperbaiki transportasi masal,” ucapnya. Mengomentari wacana kenaikan tarif parkir, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Tulus Abadi mengatakan, hendaknya sebelum menaikkan tarif parkir, sistem transportasi umumnya dibereskan dahulu. Dengan demikian masyarakat menjadi memiliki pilihan. “Dengan tarif setinggi itu, kan harusnya sistem transportasi umum sudah dibereskan. Masyarakat jadi punya pilihan, mau naik kendaraan pribadi atau mau naik angkutan umum,” jelasnya. Selain itu, tuturnya, penerapan tarif parkir juga harus diatur sesuai zona. Jadi kenaikan tarif jangan disamakan besarnya, harus berbeda-beda sesuai
SUKSES GENAP-GANJIL Pemda DKI Jakarta melakukan berbagai cara untuk mengatasi masalah kemacetan lalu lintas yang kronis di Jakarta. Salah satunya adalah memberlakukan sistem nopol genap-ganjil di jalur-jalur jalan ex-three in one. Program baru ini sudah mulai diterapkan per-30 Agustus lalu, bagi yang melanggar bakal terkena denda Rp 500.000. Namun sebelum pemberlakuan dengan sanksi, dua bulan sebelumnya dilakukan sosialisasi juga uji coba. Dari evaluasi pelaksanaan uji coba nopol genap-ganjil ternyata didapat hasil yang lumayan menggembirakan. Misalnya, waktu tempuh kendaraan mengalami peningkatan sekitar 19%, rata-rata waktu tempuh yang tadinya 18 menit menjadi 14 menit. Sedang kecepatan rata-rata dari 24,6 km per jam menjdi 28,19 km per jam. Di sisi lain, masyarakat agaknya
g n u g A t u t e K AA Ayu
Dukung Misi Budaya ke Hongkong Setelah dikukuhkan sebagai perias termuda di Indonesia oleh Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Asosiasi Ahli Rias Pengantin Modifikasi dan Modern Indonesia (Katalia), Hj. Kundari Mulyono, S.E., MA. tahun 2015, Anak Agung Sagung Diva Wastuningtyas diundang untuk mengisi acara Misi Budaya ke Hongkong, 19 s.d. 25 Agustus 2016.
Pelanggaran sistem genap-ganjil
dengan zona. “Misalnya makin jauh dari pusat kota tarifnya makin kecil. Jadi jangan disamakan,” ucapnya. Sepakat dengan YLKI, Gubernur Basuki Tjahaja Purnama mengatakan, kenaikan tarif parkir masih dikaji. Namun intinya, tarif parkir makin ke tengah (kota) makin mahal, makin ke luar makin murah,” jelasnya. Ahok, begitu biasa dia akrab disapa, menyebut bahwa Pemda juga berencana membangun tempattempat parkir baru di pusat kota. Jadi nantinya masyarakat dapat meninggalkan kendaraan pribadinya di tempat parkir dan melanjutkan perjalanan dengan menggunakan angkutan umum. Untuk itu, tegasnya, Pemrov DKI Jakarta saat itu terus melakukan pembenahan terhadap transportasi umum agar menjadi lebih baik dan nyaman. Sehingga, masyarakat mau beralih ke transportasi umum.
sudah banyak yang tahu tentang program ini. Hal ini dilihat dari jumlah pelanggaran nopol genapganjil yang menurun. Secara umum, diberlakukannya nopol genap-ganjil ini berhasil menurunkan kemacetan lalu lintas hingga 20%. “Hasilnya (evaluasi) cukup menggembirakan. Selain waktu tempuh kendaraan menjadi lebih cepat juga jumlah penumpang bus Transjakarta selama pelaksanaan uji coba meningkat menjadi 30%,” ujar Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Andri Yansyah. Menurut Ahok, meski sistem genap-ganjil lumayan efektif, namun sistem ini bukan solusi utama. Ini hanyalah penunjang sebelum penerapan sistem ERP (electronic road pricing). “Memang jalan relatif agak longgar (jalan) ya tapi ini bukan solusi utama. Ini hanya penunjang sebelum berlaku ERP,” katanya. —Diana Runtu
Tari Legong Keraton yang ditarikan oleh (dari kika): Bu Agung, CIA Pemayun, Sagung Diva, Ny. IA Asiati Oka, dan AA Istri Ari Atu Dewi
I
stimewanya, a c a r a y a n g digelar Consulat General of The Republic of Indonesia Hongkong serangkaian peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke-71 tersebut didukung oleh istri Gubernur Bali periode 1988-1998 Ny. Ida Ayu Asiati Oka, Ketua DWP Prov Bali Cokorda Istri Anom Pemayun, S.H., M.H., AA Istri Ari Atu Dewi, S.H., M.H. yang juga dosen Hukum Unud, Cok Istri Laksmidewi Pemayun, S.E. Ak., serta pakar tata rias Bali Dr. Anak Agung Ayu Ketut Agung, M.M. Mereka semua yang
berusia di atas 55 tahun ini juga ikut menghibur penonton dengan menampilkan Tari Legong Keraton dan mendapatkan sambutan meriah. Usai tampil, mereka pun menerima penghargaan yang diserahkan langsung oleh Kepala Perwakilan RI di Hongkong, Chalief Akbar. Selain merias “para penari yang bukan penari” tersebut, Sagung Diva, siswi kelas IX SMPN 3 Denpasar ini juga men-
demontrasikan keterampilannya memasang hiasan bunga emas di kepala hanya dalam waktu 5 menit. Putri kedua dari AA Ayu Ketut Agung dan I Gusti Ngurah Ardana dari Puri Agung Tabanan ini, sebelumnya juga berkesempatan merias istri Gubernur NTT Ny. Lucia Adinda Leburaya. AA Ayu Ketut Agung, pemilik Yayasan Agung yang menaungi LKP Agung, TUK Agung, dan PKBM Agung ini mengatakan, keterampilan yang dimiliki putrinya itu tak serta-merta didapatkannya. Sagung Diva sudah mulai intensif belajar merias sejak kelas IV SD. Sedikit tidaknya, Bu Agung-panggilan akrabnya berharap dengan munculnya Sagung Diva sebagai perias muda, bisa menjadi motivasi bagi para orangtua untuk membekali putraputri mereka sejak dini dengan keterampilan khusus, yang nantinya bisa bermanfaat untuk masa depan putraputri tercinta. –inten
Sagung Diva bersama Istri Gubernur NTT Ny. Lucia Adinda Leburaya
Sagung Diva saat mendemontrasikan kepiawaiannya merias
Diskon 50% Kursus Tata Rias Ditemui di sela-sela kesibukannya ngayah memberikan pelatihan singkat tata rias ke daerah-daerah, tanpa dipungut biaya, bekerjasama dengan Kelomok Media Bali Post dan Viva Cosmetics, AA Ayu Ketut Agung, Ketua Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Agung mengucapkan “Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan” bagi semeton sedharma. Menyambut Hari Galungan dan Kuningan ini, dan sebagai bentuk apresiasi yang besar terhadap pelestarian budaya Bali serta untuk lebih menyosialisasikan dan membangkitkan minat masyarakat dalam tata rias dan busana adat Bali, LKP Agung memberikan diskon 50% untuk Kursus Tata Rias (regular). Materi yang diajarkan mencakup 3 paket yakni Tata Kecantikan Kulit, Tata Kecantikan Rambut, dan Tata Rias Pengantin (payas nista, payas madya, payas agung, modifikasi, dan tengkuluk lelunakan). Disediakan juga beasiswa kursus gratis bagi mereka yang kurang mampu dan putus sekolah, yang benar-benar berminat di bidang tata kecantikan. Syarat dan ketentuan berlaku. Silakan menghubungi Sekretariat LKP Agung, Jalan Anggrek No. 12 Kreneng, Denpasar. Telepon 0361 233850, faks. 0361 247153. Cabang Tohpati, Jalan WR. Supratman No. 303 A, Tohpati, Denpasar. Email: lkp_agung@yahoo. com website: www.salonagung.com. –inten
4
Inspirasi
Edisi 917/ 5 - 11 september 2016
Sri Wahyuni Agustiani
Banjir Pujian Follower Bertambah
Tapi Yuni mengaku ia belum puas dengan capaiannya. Ia ingin meraih medali emas Olimpiade. “Aku masih harus kerja keras, kepingin dapat medali emas,” ucap Yuni yang akan mulai kembali berlatih setelah beberapa waktu libur. Menurutnya, ada beberapa kejuaraan yang harus dihadapinya dalam waktu dekat. “Yang paling dekat adalah PON, setelah itu harus siap-siap Kejuaraan Dunia, Asian Games dan Olimpiade Tokyo 2020. Itu memang masih lama tapi persiapan harus dari sekarang,” tuturnya.
Meski sudah sering ikut kejuaraan internasional, namun tetap saja ada rasa gugup yang dialami oleh setiap atlet yang bakal bertarung di arena Olimpiade. Maklum, selain event akbar ini menjadi sorotan dunia juga yang terberat adalah beban kebanggaan negara tergantung di pundak setiap atlet. Tuntutan meraih medali di Olimpiade menjadi begitu tinggi lebih dibanding event-event biasa. Apalagi –jika—sebelumnya di cabang itu sudah pernah atau bahkan selalu meraih medali.
I
tu juga yang dirasakan Sri Wahyuni Agustiani, lifter Indonesia kala berlaga di Olimpiade. “Iya saya sempat gugup. Meski sudah berkalikali ikut kejuaraan internasional tapi Olimpiade berbeda. Apalagi ini adalah Olimpiade saya yang pertama,” ungkap Yuni, begitu gadis 22 tahun ini akrab disapa. Bagi Yuni yang membuat gugup bukan karena lawannya tapi ‘kebesaran’ Olimpiade juga nama bangsa dan negara yang dipertaruhkan. “Untuk menenangkan hati, selain berdoa meminta ketenangan dan kekuatan dari Tuhan juga saya mendengar lagu-lagu koleksi di HP. Ha.. haha saya kan punya koleksi lagu dangdut, religi, dll. Atau, ya nonton film saja, saya lebih suka di kamar,” katanya mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Bhayangkara, Bekasi, ini sambil tertawa. Untungnya begitu masuk arena ‘PD’ nya muncul, gugup pun hilang. Seperti kata pelatihnya, Yuni memiliki mental juara. Maka tak heran dia bisa dengan cepat mengatasi kegugupannya. Juga, asal tahu saja, Yuni sebelumnya nyaris gagal masuk tim Olimpiade lantaran pada Kejuaraan Dunia 2016 di Amerika baru lalu, ia terkena sanksi lantaran berat tubuhnya naik menjadi 53 Kg, sementara
ia turun di nomor 48 Kg. Nyaris duduk di bangku cadangan, Yuni justru berhasil mempersembahkan medali. Tak sia-sia kerja kerasnya. Di Olimpiade Rio, gadis yang telah mengoleksi 32 medali dari berbagai kejuaraan yang diikutinya, berhasil meraih medali perak dengan total angkatan 192 Kg, yakni snatch 85 Kg dan clean & jerk 107 Kg. Selisih angkatan Yuni dengan peraih medali emas asal Thailand adalah 8 kg. Lumayan tipis. “Meski dapat perak, aku bangga sekali. Apalagi ini medali pertama bagi Indonesia di ajang Olimpiade pertama saya. Alhamdulilah, ini medali untuk HUT Kemerdekaan Indonesia ke 71,” kata semringah. Keberhasilan ini juga sekaligus ikut menaikan moral kontingen tim Indonesia yang makin percaya diri berlaga di arena Olimpiade. Di antaranya, tentu saja, adalah teman sesama lifter Eko Yuli Irawan (perak) juga pasangan ganda campuran Indonesia, Liliyana/Tantowi yang akhirnya berhasil mempersembahkan medali emas pertama dan satu-satunya bagi negeri ini. Rasa syukur yang sama juga dirasakan oleh semua masyarakat Indonesia atas prestasi ini. Yuni pun bukan hanya banjir ucapan selamat tapi juga pujapuji dari berbagai kalangan termasuk
Sri Wahyuni di antara para official kontingen Indonesia di Olimpiade Rio
Sri Mulyani dan dua peraih medali olimpiade
dari Presiden Joko Widodo. “Garagara ini, follower saya di twitter melonjak drastis hahahah...sampai seribu lebih,” tambah Yuni yang dipanggil ‘Eneng’ oleh keluarganya. HADIAH MELIMPAH UNTUK MASA DEPAN Atas keberhasilan itu, anak sulung pasangan Candiana dan Rosita ini diganjar dengan limpahan hadiah, mulai dari hadiah uang hingga barang berharga lainnya. Di antaranya hadiah dari pemerintah uang kontan tanpa potongan pajak Rp2 miliar dan Rp100 juta dari Pemprov Jawa Barat, daerah di mana Yuni berasal. Yuni yang ditanya akan diapakan hadiah uang yang diterimanya, mengaku, sampai sekarang dia belum memikirkan lebih jauh. “Tapi yang pasti akan saya tabung, sama seperti hadiah-hadiah uang yang saya dapat dari berbagai kejuaraan sebelumnya, semuanya ditabung untuk masa depan.Saya belum tahu mau dipergunakan untuk apa, juga belum berpikir untuk buka usaha seperti teman-teman lain,” tuturnya. Bagi Yuni, prestasi yang dia ukir serta hadiah-hadiah yang ‘membanjir’ yang diterimanya juga membawa pesan bagi generasi muda. “Apa yang saya lakukan juga ganjaran yang saya terima bisa menjadi motivasi untuk saya juga para generasi muda lain untuk berkarya sebaik-baiknya. Khususnya untuk atlet, utamanya atlet angkat besi untuk terus berjuang meraih prestasi terbaik. Atas jerih payah kita, pasti akan ada apresiasi,” ucap gadis tomboy ini. Yuni mulai menekuni olah raga sejak kecil. Awalnya ia terjun di cabang atletik khususnya di nomor
marathon. Ketika berangkat remaja, Yuni mulai menunjukkan ketertarikan pada olah raga angkat besi. Itu setelah melihat bagaimana gagahnya teman ayahnya, Siti Aisyah berlatih olah raga itu. “Bisa seperti cowok, kuat dan keren,” ungkap gadis kelahiran Bandung 13 Agustus 1994 ini sambil tertawa. Sejak itu dia mulai rajin berlatih. Tak sia-sia, prestasi demi prestasi ia raih. Tahun 2014 lalu, ia berhasil menyabet dua medali emas dan satu perak di Kejuaraan Dunia Junior Angkat Besi yang berlangsung di Rusia. Pada tahun yang sama ia juga menyabet medali perak Asian Games. Sebelumnya, 2013, ia sukses meraih emas di SEA Games Myanmar dan medali emas di Islamic Solidarity Games III dan meraih perak di Kejuaraan Asia di Kazakhstan. Rentetan prestasi cemerlang itu menghantar Yuni menjadi salah satu atlet angkat besi andalan Indonesia. Meski begitu, aku Yuni, ia tetap saja merasa terkejut ketika namanya ikut terpilih masuk dalam tim angkat besi yang diberangkatkan ke Olimpade Rio de Janeiro, Brasil. Pasalnya ia merasa di cabang angkat besi ada banyak atlet yang punya prestasi cemerlang. “Jadi saya sempat terkejut juga sekaligus bersyukur karena saya lah yang dipilih. Bagi saya ini adalah sebuah kesempatan untuk meraih prestasi terbaik. Saya sudah pernah meraih medali di beberapa kejuaraan baik dalam negeri maupun luar negeri, mulai dari PON, SEA Games, Asian Games, Kejuaraan Dunia, dan berharap juga dapat medali di Olimpiade dan akhirnya terwujud juga,” katanya.
SIBUK BERLATIH, KULIAH KETETERAN Lalu bagaimana dengan kuliahnya? Sembari tertawa Yuni mengaku memang sempat terbengkalai karena dia sibuk latihan. Selama persiapan Olimpiade Rio, katanya, dia boleh dibilang jarang sekali kuliah. “Paling aku masuk hanya kalau ujian. Tapi pihak kampus sudah memberi dispensasi kok, jadi nggak apa-apa. Jadi sekarang ini selain berlatih persiapan kejuaraan juga mengejar ketinggalan pelajaran di kampus,” kata Yuni yang mengaku memilih belajar di Fakultas Hukum karena tertarik dengan ilmu hukum. Meski sekarang usianya masih muda, kata Yuni, ia juga sadar tidak bisa selamanya menjadi atlet. Karena itu ia pun selain tetap berusaha mencapai prestasi setinggi mungkin juga mempersiapkan diri sejak dini untuk masa depannya. Salah satunya adalah dengan menabung sebagian besar penghasilannya dari kemenangan di berbagai kejuaraan. Kebahagiaannya bisa makin lengkap karena belum lama ini Menpora Imam Nahrawi menyebut pemerintah berencana memberi uang pensiun bagi atlet-atlet peraih medali Olimpiade. Uang pensiun yang disebut sebagai jaminan kesejahteraan atlet, merupakan wujud penghargaan pemerintah terhadap atlet yang telah mengharumkan nama bangsa dan negara. Sekaligus juga memberi kepastian hari tua kepada para mantan atlet berprestasi. Apresiasi ini juga diharap menjadi pendorong bagi para atlet muda lainnya untuk berprestasi setinggi mungkin di kancah internasional. “Rencananya semua mantan atlet yang pernah meraih medali —dari Olimpiade yang pertama sampai sekarang--- akan mendapat itu,” ujar Imam. —Diana Runtu
Mandalika
Edisi 917/ 5 - 11 september 2016
21
Kampanye Bahaya Sampah Plastik lewat Pantomim Beberapa waktu yang lalu, di halaman rumah salah seorang warga, di lapangan kecil desa serta di bawah pohon jambu dan di salah satu sekolah di Kecamatan Pemenang Lombok Utara, beberapa aktor pantomim menggelar pertunjukan. Namun ini bukan pergelaran biasa karena para aktor langsung berinteraksi dengan warga dan menggelarnya dari satu tempat ke tempat lainnya di tengah perkampungan. Pemandangan ini tentu saja unik mengingat aktivitas kesenian seperti ini biasanya lebih lumrah digelar dalam lingkungan ruang dan audiens kesenian. Beginilah cara para mahasiswa yang jauh-jauh datang dari Taiwan untuk mengkampanyekan masalah lingkungan.
S
elama beberapa jam, dengan keringat yang menetes membasahi wajah mereka yang disapu dengan make up khas pantomim berwarna putih, tiga orang aktor pantomim profesional, Yao- Sun-Teck, Su-Ling dan Un Lat-Hou dari L’Enfant Sauvage Theatre, Taiwan, yang datang bersama mahasiswa lainnya dari National Chi-Nan University, Taiwan, Jurusan Asia Tenggara,berinteraksi langsung dengan warga memperlihat betapa berbahayanya sampah, khususnya sampah plastik bagi kehidupan manusia. Mereka “menyampaikan” hal tersebut melalui pertunjukan pantomim yang menarik. Isu lingkungan adalah fokus yang dibawa oleh para mahasiswa yang melakukan residensi bersama Komunitas Pasir Putih di Lombok Utara dalam program ‘Be Young’ . Dalam pertunjukan itulah, salah seorang pelakon pantomim lulusan sekolah keaktoran di Paris, Prancis Yao- Sun-Teck “tewas” akibat sampah plastik. Adegan yang dibuat dramatis dengan memperlihatkan ancaman bahaya sampah plastik yang digelar di bawah terik matahari itu, kemudian diakhiri dengan tepuk tangan dari warga yang menonton dan mengikuti aktivitas mereka. Pertunjukan tersebut merupakan salah satu dari program aktivitas sosial dari para mahasiswa National Chi-Nan University seperti Peng, Yi-Jia (S3) Lo, Sin-Yi (asisten), Hung, Kuo-Chan
(S2) dan Hsiao, Jin-Yi, sudah sering bekerja sama dengan pemain pantomim itu. Mereka melakukannya hal ini dengan sangat serius yang terlihat dari kerja sungguhsungguh yang mereka lakukan, termasuk mereka mampu menyesuaikan diri ketika bagian dari program ini juga masuk dalam lingkungan salah satu sekolah
Islam Madrasah Aliyah Al-Hikmah di Kecamatan Pemenang, mereka memakai kerudung/hijab. Bagi mereka isu lingkungan itu sangat penting untuk dikampanyekan demi menyelamatkan manusia dan lingkungan hidup agar terjaga dan lestari. ”Sebab masalah lingkungan itu vital bagi kelangsungan hidup manusia,” kata Lee Wooi Han, mahasiswa (program S3) Sociology, Macguarie University di Sidney Australia, yang kini sedang melakukan riset
sosial di Surabaya. Lee terbilang mahir berbahasa Indonesia dan membantu menerjemahkan penjelasan Hsiao dan rekan lainnya dari bahasa Mandarin. Lombok menarik perhatian mahasiswa ini untuk melakukan kerja sosialnya karena mereka ingin belajar dari masyarakat Lombok juga karena suasana perdesaan di Lombok relatif mirip dengan suasana perdesaan di Taiwan. Hal ini diungkapkan Hsiao, koordinator mahasiswa dalam program ini. “Dari pengalaman saya selama ini, di Lombok sangat menarik, masyarakatnya ramah
dan terbuka,” ungkap Hsiao. Komunikasi melalui pertunjukan pantomim dalam mengkampanyekan isu lingkungan sebelum dilakukan di Indonesia (Lombok) seperti ini juga sudah dilakukan di negaranya sendiri juga beberapa negara Eropa, Korea, dan Asia Tenggara. Pesan yang diungkap melalui pertunjukan pantomim seperti ini dinilainya lebih mudah dipahami oleh masyarakat karena bahasa pantomim yang universal dan mampu memberi
kesan apalagi dengan budaya yang berbeda. Pendekatan seni yang dilakukan mahasiswa-mahasiswa Taiwan ini sekaligus untuk mempelajari situasi sosial setempat. Karena itulah mereka tidak segan berinteraksi langsung dengan masyarakat lokal. Mereka juga mengadakan workshop pantomim selama dua hari, bersama siswasiswi Madrasah Aliyah Al-Hikmah Kecamatan Pemenang Kabupaten Lombok Utara (KLU). Para siswa ini pun akhirnya menggelar pertunjukan singkat bersama mereka di salah satu sudut desa. Akting para siswa yang terlibat dalam pertunjukan dari hasil workshop tersebut, menurut Kongso Sukoco, sutradara teater kawakan NTB yang ikut menyaksikan pertunjukan dalam kampung ini, dinilainya cukup menarik. “Setidaknya mereka berani mengekspresikan diri untuk menyampaikan suatu pesan yang baik tentang lingkungan,” ungkap Kongso. Selama berada di Lombok Utara, oleh Komunitas Pasir Putih para mahasiswa asal Taiwan
ini juga dipertemukan dengan salah seorang pelopor Bank Sampah NTB, Aisyah Odits, untuk mendiskusikan daur ulang sampah plastik. Menarik perhatian mereka karena dari daur ulang sampah plastik ini dapat menjadi barang-barang produktif yang bernilai ekonomis. Juga dari hasil dari workshop itu kerajinan dari bahan limbah plastik dipamerkan di tengah kampung. Selain pentas teater, workshop dan pameran ini juga digelar pameran fotografi tentang kegiatan sehari-hari masyarakat kampung di Pemenang. Tema seluruh rangkaian kegiatan itu adalah ‘gotong royong’. Diakuinya, banyak hal-hal baru dipahaminya setelah melakukan pengamatan langsung selama dua minggu dan melakukan interaksi bersama masyarakat Pemenang. Hsiao dan kawan-kawannya menemukan tema ‘gotong royong’ dalam programnya itu, juga setelah melakukan serangkaian diskusi berbagi ide bersama Komunitas Pasir Putih, yang melihat isu sosial berdasarkan perspektif lokal Lombok Utara. -Naniek I. Taufan
Kegiatan yang mengangkat isu lingkungan yang dilakukan para aktor pantomim dan mahasiswa dari National Chi-Nan University Taiwan di Kecamatan Pemenang
20
Nine
Edisi 917/ 5 - 11 september 2016
Indrastuti Darjanto
Motivasi Orang Lain untuk Maksimalkan Potensi
Bahagia, senang dan semua berjalan baik serta lancar sesuai rencana, itulah yang diharapkan oleh seluruh panitia penyelenggara dari sebuah penyelenggaraan event. Hal inilah yang membuat semua akhirnya dapat bernafas lega tatkala kegiatan berakhir. Sebuah kegiatan terutama kegiatan besar, tidak mungkin dapat berjalan lancar jika seluruh penyelenggara tidak kompak dalam pelaksanaannya. Meskipun tentu saja kekurangan di sana sini pasti ada namun tidak mengganggu subtansi penyelenggaraan acara.
Indrastuti Darjanto
S
oliditas panitia penyelenggara dapat terlihat dari suksesnya sebuah acara, seperti yang terjadi saat penyelenggaraan event Internasional Jazz Worl Music Senggigi 2016 yang berlangsung di Pantai Senggigi Lombok beberapa waktu lalu. Internasional Jazz Worl Music Senggigi, kemudian kini dikenal dengan singkatan JWM. Kegiatan yang pertama kalinya diselenggarakan di Lombok ini secara umum berlangsung sukses. Selain kerja keras dan keseriusan seluruh tim penyelenggara, rupanya ada seorang perempuan yang memegang perang sangat penting dalam mengatur lalu lintas proses untuk memastikan semua pihak terpenuhi kebutuhannya yang berakhir pada sebuah “kebahagiaan” yang menjadi milik bersama. Adalah Indrastuti Darjanto, perempuan cekatan di balik urusan membahagiakan seluruh penyelenggaraan kegiatan, termasuk di dalamnya adalah urusan talent (para artis) pengisi acara, pendamping para artis, tim panitia hingga para volunteer pada kegiatan ini. Ibu dua anak inilah yang memastikan seluruh kebutuhan, mulai dari urusan perjalanan para para artis pengisi acara baik dalam maupun luar negeri,
menyediakan hotel, perjalanan wisata para artis selama berada di Lombok, transportasi, komunikasi dengan para pendamping artis mulai dari artis mendarat ke Bandara Internasional Lombok sampai pulang hingga urusan konsumsi. Indrastutilah yang memastikan semua itu berjalan dengan baik dan lancar. Alhasil, setelah seluruh kegiatan berakhir, panitia penyelenggara tidak menerima komplin berarti terutama yang datang dari para artis. Hal-hal yang bersifat prinsip dalam hubungannya mengatur kenyamanan, kebahagiaan dan ketenangan para pengisi acara yang nota bene menjadi tamu penting dalam kegiatan tersebut, berjalan lancar. Yang ada di balik semua ini adalah Indrastuti. “Kalau tidak ada dia, bisa kacau JWM bilahari,” ungkap Nuniks Gayatri, salah seorang penggagas kegiatan yang kini banyak dibicarakan itu, khususnya lagi oleh berbagai kalangan di NTB. Di tangan ibu dari si kembar, Annisa dan Satria inilah manajemen dan administrasi kegiatan ini berada. Kapasitas dan kredibilitas Indras dalam mengatur urusan ini tentulah sangat teruji karena ia pernah menghabiskan waktu 20 tahun (hingga tahun 2014), menjadi sosok yang kesehariannya memastikan kebahagiaan, kenyamanan dan ketenangan bagi orang yang menjadi tamu di hotel tempatnya bekerja. Ia adalah mantan Resoursces and Training Manager pada salah satu hotel berbintang yang masuk dalam grup Starwoods Hotels and Resots, di Jimbaran Bali. Kedisiplinan yang diterapkannya dalam menangani urusan yang menjadi tanggung jawabnya ini, ditambah lagi kemampuannya berkomunikasi dan berkoordinasi dengan semua pihak yang terlibat membuat seluruh kegiatannya berjalan lancar. Pengalamannya melatih dan memilih calon pegawai, membuatnya mengerti benar bagaimana mendapatkan orang/sosok yang pas untuk mengerjakan masing-masing bidang. Tentu saja ia piawai dalam memetakan sumber daya manu-
Indras (dua dari kiri) bersama tim penyelenggara JWM
sia untuk diajak bekerja bersama dalam tujuan yang sama. Indras mengawali karirnya di bidang perhotelan sejak tahun 1998 seusai menyelesaikan pendidikan di Sekolah Tingga Bahasa Asing (STBA) Bandung, Jawa Barat. Untuk menjadi seorang Manajer HRD hotel berkelas, tentu saja tidak diperolehnya dengan jalan yang mudah. Ia mengawali kareirnya dengan duduk di depan meja penerima telepon, sebagai operator yang mengandalkan kemampuannya berbahasa Inggris. Dari pekerjaan sederhana itulah ia belajar. Menurutnya, suksesnya bekerja tim itu tidak ditentukan oleh hal yang besar saja, melainkan berangkat dari hal-hal yang kecil yang implikasinya bisa menjadi besar jika salah menanganinya. Karena itulah, ia memastikan semua orang dapat bekerja sesuai dengan kesepakatan. “Alhamdulillah seluruh tim terutama para pendamping artis pengisi acara JWM, bekerja dengan luar biasa. Saya mengagumi keseriusan tim JWM lalu,” katanya. Indras memiliki pengalaman yang cukup dalam memberi motivasi bagi calon pegawai. “Memotivasi orang lain untuk bisa memaksimalkan potensinya demi kepentingan bersama itu yang paling susah,” katanya tentang pengalamannya. Itulah sebabnya ia merasa beruntung mendapatkan tim JWM yang berada di bawah tanggung jawabnya adalah tim yang memiliki kemauan yang kuat dan rajin serta bertanggung jawab, sehingga semua berjalan lancar. “Komunikasi dan koordinasi yang baik itulah yang paling penting dilakukan antar orang dalam tim,” katanya. PUNYA PRIORITAS HIDUP Dari seorang operator telepon, Indras terus meniti kariernya duduk di balik meja resepsionis lalu bisnis center, hingga menjadi sekretaris General Manager dan Manager HRD. Indras meniti karier tersebut dengan tingkatan yang jelas
dan terukur karena ia memiliki jiwa yang dinamis. Jiwa Indras yang dinamis tersebut rupanya datang juga oleh hobinya berkendara. Ia termasuk salah seorang lady biker (pengendara perempuan) yang tergabung dalam Pulsarian. Ia sangat menyukai hobi yang sejak dulu digelutinya ini. Indras menjadi satu dari sedikit perempuan yang tergabung dalam hobi yang umumnya diminati laki-laki ini. Perjalanan karier Indras di bidang perhotelan dilakoninya dengan sangat ajeg dan dalam ukuran waktu yang tidak bisa dikatakan sebentar. Namun, di tahun 2014, Indras kemudian memutuskan untuk berhenti bekerja di saat kariernya tengah bersinar, sebagai Manager HDR sebuah hotel berbintang di Jimbaran Bali. “Saya ingin mengurus anak dan keluarga,” ujar istri dari musisi Ary Juliant ini. Pilihan sikap yang diambil oleh Indras tentulah ridak bisa diukur dengan apapun atau dibandingkan dengan siapa saja karena baginya itulah pilihan yang terbaik. Bagi Indras memiliki dan merawat dua anak kembar
adalah prioritas yang harus ia utamakan dibandingkan gemerlapnya karier yang menanti. Sempat lebih kurang dua tahun ia pulang pergi Bali Lombok untuk bekerja (di Bali) dan mengurus anak-anak serta keluarganya (di Lombok), membuatnya memutuskan bahwa anak-anaknya membutuhkan dirinya. “Apapun alasannya semua anak-anak pasti membutuhkan ibunya dalam porsi yang lebih dibandingkan dengan hanya seorang ayah yang mengurusnya. Akan jauh lebih baik lagi saat anak-anak tumbuh bersama ayah dan ibunya,” kata Indras. Dua tahun melihat perkembangan anak-anak tanpa banyak bersamanya, naluri Indras sebagai seorang ibu memutuskan bahwa ia harus memilih prioritas dalam hidupnya. Prioritas itu adalah anak-anak dan keluarga. Pilihan itu diambilnya dengan sadar karena ia tidak mau ketinggalan masa-masa kecil anaknya yang tidak akan mungkin dapat terulang. “Saya tidak mau menyesal kemudian ketika saya tidak tahu perkembangan anak-anak saya. Masa kecil mereka yang membutuhkan perhatian tentu saja tidak mungkin saya buat ulang,” ujarnya. Sejak dua tahun lalu itulah, Indras memilih menjadi ibu rumah tangga. “Jangan dipikir menjadi ibu rumah itu pekerjaan yang mudah, justru yang rasakan jauh lebih kompleks dari bekerja di kantoran,” ujarnya. Namun, dengan pengalamannya dalam mengatur dan mengurus, Indras dapat memastikan semua pekerjaan sebagai ibu rumah tangga tersebut berjalan dengan sangat baik, meskipun selalu ada kompromi di sana sini demi kebaikan bersama seluruh keluarga.
Indras bersama rekan-rekan sesama bikers
-Naniek I. Taufan
Inspirasi
Edisi 917/ 5 - 11 september 2016
5
AA Gede Oka Wisnumurti
Selalu Ada Target Sejak kecil selalu dipercaya menjadi pemimpin. Waktu duduk di sekolah dasar, ia dipercaya menjadi ketua kelas dan ketua sepak bola di desa. Terus berlanjut sampai SMP, SMA, dan kuliah. “Mungkin saya terlahir sebagai organisatoris,” ujar Ketua Yayasan Kesejahteraan KORPRI Provinsi Bali Dr. Drs. Anak Agung Gede Oka Wisnumurti, M.Si.
S
embari tertawa, Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Bali, periode 2003-2008 ini menuturkan, bahkan, istrinya, Ir. Agusriwana Wahidiah, sudah sangat paham betul, waktunya memang sebagian besar untuk orang lain. “Istri ketemu waktu kuliah di Universitas Jember. Jadi dia tahu betul kegiatan saya di organisasi,” kata ayah dari Anak Agung Gde Brahmantya Murti dan Anak Agung Gede Ananda Murti ini. Wisnumurti mengatakan, saat duduk di semester IV sudah mengisi acara mimbar agama Hindu di RRI Jember. “Bayangkan saja, masih muda sudah bicara agama Hindu. Intinya, agar Hindu dikenal waktu itu,” kata Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Bali ini. Walaupun waktunya lebih banyak untuk orang lain, ia tetap tidak melupakan tanggungjawab sebagai suami dan bapak. “Waktu itu bisa diatur. Kitalah yang mengatur. Begitu pun berkomunikasi dengan keluarga, dengan teknologi yang semakin canggih, dengan berbagai fitur yang disediakan, lewat ponsel kita tetap bisa
intens berkomunikasi,” ujar tamatan Magister (S2) Program Studi Sosiologi, Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, dan Doktor (S3) Program Kajian Budaya Program Pascasarjana Universitas Udayana ini. “Yang penting, kualitas pertemuan, ada waktu yang kami manfaatkan untuk berdiskusi dengan keluarga. Syukurlah anak-anak tidak mengeluh. Istri juga sangat mendukung aktivitas di luar. Walaupun, kadang diingatkan, untuk menjaga kesehatan. Yang namanya aktivis memang sering kelupaan makan,” kata dosen Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Warmadewa ini. Dalam menjalankan aktivitasnya, ia merasakan tak ada masalah. Karena baginya, apapun yang dikerjakan asal dinikmati, hasilnya pasti baik. Seperti motonya, bagai air mengalir. Menurutnya, bangun tidur merupakan waktu yang baik untuk berkomunikasi dengan keluarga. “Kalau kita bangun pukul 5, ada waktu dua jam untuk komunikasi dengan keluarga,” ucap Ketua Asosiasi Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (ABPPTSI), 2013-2018 ini. Tips lain yang diungkap-
kannya, ia jarang membawa pekerjaan ke rumah. Ia selalu usahakan, pekerjaan harus diselesaikan di kantor. Baginya, urusan menyama braya, menjadi satu keasyikan tersendiri. “Kita tidak hanya memikirkan kehidupan perkotaan, tapi harus juga di kampung halaman. Saat ini saya dipercaya menjadi Ketua Sabha Desa Pekraman Siangan Gianyar,” imbuhnya. Kesukaannya pada organisasi, ternyata diikuti kedua putranya. Untuk urusan mendidik anak, ia lebih menerapkan sistem teman dengan kedua putranya yang sudah beranjak dewasa. “Anak itu saya posisikan sebagai teman. Anak mengritik orangtua itu biasa. Anak punya pilihan lain itu sudah biasa. Tugas kita sebagai orangtua, hanya mengarahkan apa yang dia mau. Menanyakan dia mau kemana, termasuk pilihan sekolah dan karier,” ujarnya. Kedekatannya dengan kedua putranya, ternyata memberi kebanggaan tersendiri. “Anak sulung saya yang kuliah di UGM Yogyakarta, kalau pulang ke Bali, minta tidur bareng. Di sinilah kesempatan saya mengobrol dengan dia termasuk soal pendidikan dan kegiatannya di kampus,” katanya. Untuk urusan karier, Wisnmurti mengatakan, selalu punya target. Sejak kecil sudah ingin sekali mejadi dosen. Dalam benaknya, tergambar sangat asyik melihat guru dan murid berinteraksi. Seperti terlihat dari keseharian orangtuanya yang berprofesi sebagai guru. “Kalau ada orang yang mengiming-imingi saya pekerjaan lain, saya tetap menjadi dosen saja
karena saya sangat menikmatinya,” ujarnya. Ia memulai karier sebagai dosen di Universitas Warwadewa tahun 1990. Tahun 1992, ia memutuskan menikah, dan tahun 1993 ia melanjutkan studinya ke S-2 Program Studi Sosiologi. Tahun 2003 ia dpercaya menjadi Ketua KPU provinsi Bali. Tahun 2008, ia tidak lagi melanjutkan di KPU, padahal ia boleh mencalonkan diri lagi. “Sebenarnya, saya mau istirahat. Pas paginya saya pamitan di KPU, sorenya saya ditelepon pengurus Yayasan Kesejahteraan KORPRI Provinsi Bali yang lama, saya diminta menjadi ketua yayasan. Tepat tanggal 24 September 2008, saya resmi menjadi ketua Yayasan Kesejahteraan KORPRI Provinsi Bali Awalnya, jujur saja, saya tidak tahu apa saja yang harus dikerjakan sebagai ketua yayasan. Namun, saya mengatakan siap saja. Saat saya masuk universitas Warwadewa sedang mengalami penurunan. Awal masuk saya berani mengatakan, ini kebangkitan kedua. Padahal belum punya apa-apa.
Syukurlah dengan dukungan teman-teman, semua unit, bisa menyatukan visi kita. Saya merasa bersyukur, walaupun belum apa-apa. Masih banyak mimpi-mimpi lain,” katanya. Kiat suksesnya, dimana pun ia ditugaskan, ia selalu membuat peta konsep. Saat ia di KPU, ia juga menerapkan kiat suksesnya ini. “Saya banyak belajar di KPU, belajar kehidupan, belajar politik, politisi, kinerja pemerintah, termasuk belajar hidup. Ini juga yang saya terapkan di tempat sekarang,” kata lelaki yang pernah menyabet penghargaan Widya Pataka yang diberikan Gubernur Bali Tahun 2009 dan Maharishi Award dari Maharishi University Of Management IOWA, AS 2015 ini. Namun, ada satu hal yang sedang menjadi ganjalannya. “Kelemahan orang organisasi, dia bisa menyukseskan orang lain tapi lupa mengurus dirinya. Saya termasuk korban. Mengurus diri sendiri susah. Sampai sekarang gelar professor belum tercapai. Mudahan tahun 2017 bisa terwujud,” ujarnya sembari tertawa. –Wirati Astiti
Kita sebagai makhluk sosial pasti pernah punya kesalahan yang tidak disengaja, karena itu, dengan menghargai orang lain, paling tidak bisa meminimalkan masalah,” kata Pertamawati,
yang mulai menjabat sejak 28 Oktober 2015 ini. Ia juga menegaskan, tak punya target. Ia berusaha mengukur kemampuan. Sehingga ia terus ingin belajar dan belajar. “Kalau sudah diberi kepercayaan, ya harus dijalani, kita harus bisa mengabdi,” kata Pertamawati. Sebelum akhirnya memutuskan, menjadi dosen, awalnya Pertamawati bercita-cita menjadi guru. “Awalnya saya ingin masuk SPG tapi gagal. Akhirnya tertarik mau jadi pegawai bank. Namun, setelah dipikir, kerjanya berat sampai sore. Akhirnya, saya melamar jadi dosen. Awalnya jadi dosen di Panji Sakti Singaraja. Karena suami dipindahkan ke Denpasar, saya melamar di Warmadewa,” ujarnya menceritakan perjalanan awal kariernya. Saat ini, ia mengatakan, sangat menikmati perannya yang multi. Mulai sebagai dosen, istri,
ibu dari 4 anak, dan anggota masyarakat. Untuk menjaga kebersamaan bersama suami, tiap pagi, mereka melakukan jogging bersama. Khusus di hari Minggu, kalau ia tak memiliki kegiatan di kampus, ia bersama suami, rutin berkeliling jalan kaki di areal GOR Ngurah Rai. “Olahraga jalan kaki tiap hari selain untuk menjaga kesehatan, juga untuk kebersamaan bersama suami. Biasanya, saya lakukan 30 menit tiap hari,” kata Pertamawati tentang kiatnya menjaga keharmonisan keluarga. Apalagi, dengan kondisi anak-anaknya yang sudah dewasa, tentu waktu bersama suami lebih banyak. Baginya, dengan berbagai kesibukan berkarier, ia tetap mengutamakan keluarga, dan tak lupa mebanten, sebelum menuju kantor. Bahkan, di kampus, ia dikenal sangat rajin tiap pagi keliling mebanten.
Ni Putu Pertamawati
Manusia bukan Mesin Menganggap orang lain sebagai manusia yang berbudaya bukan mesin dan selalu menghargai waktu, kiat perempuan bernama lengkap Ni Putu Pertamawati, S.E., M.M. ini. Bagi perempuan usia 56 tahun ini, dalam berkarier ia tak terlalu memasang target. “Saya lebih suka menjalaninya dan membiarkan orang lain yang menilai kinerja saya,” kata istri Ir. Nyoman Sudiana ini. Berkarier sejak tahun 1991 sebagai dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Warwadewa, Pertamawati, tak pernah menargetkan dipercaya sebagai satu-satunya pejabat
perempuan di tingkat wakil rektor, di kampus di bawah naungan Yayasan Kesejahteraan KORPRI Provinsi Bali ini. Prinsipnya, dalam menjabat, berusaha menghargai orang lain, karena manusia bukanlah mesin, dan tidak membedakan staf yang ada. Ia berusaha bekerja sesuai tupoksi, bekerja sama dengan sesama pimpinan dan mengerti bawahan. Yang penting, harus bisa mengendalikan diri sendiri, karena bagaimana pun juga, manusia tidak ada yang sempurna, dan bisa memaafkan orang lain. “Saya tidak pernah membedakan staf dan cleaning service.
–Wirati Astiti
6
Edisi 917/ 5 - 11 september 2016
SMAN 7 Denpasar ditunjuk sebagai pilot project oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai satu-satunya sekolah di Kota Denpasar, dari dua sekolah di Bali untuk membudayakan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). “Kepercayaan dari pusat ini menjadi cambuk bagi kami untuk melakukan yang terbaik,” ujar Kepala SMAN 7 Denpasar Cok Istri Mirah Kusuma Widiawati di sela-sela perayaan HUT ke-27 SMAN 7 Denpasar.
B
ersamaan dengan momen istimewa itu pula Wali Kota Denpasar IB Rai D. Mantra meresmikan “Penerapan Budaya Literasi” di SMAN 7 Denpasar. Hadir juga dalam kesempatan itu Ketua Komite Sekolah Cokorda Pemecutan. Jika merenung sejenak, berdasarkan penelitian terakhir dari Unesco, indeks minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah, berada di urutan ke 64 dari 65 negara yang diteliti. Artinya, minat baca orang Indonesia baru mencapai 0.0001 atau dari 1.000 penduduk hanya 1 orang yang memiliki minat baca. The World’s Most Literate Nations mencatat tingkat literasi tertinggi di dunia diduduki Finlandia. Amerika Serikat dan Jerman berada di posisi 7 dan 8. Indonesia ada di posisi 60 dari 61 negara yang diambil sampel ujinya. Untuk itu Indonesia harus bekerja keras untuk meningkatkan minat baca para peserta didik dengan GLS. “Dasar pemikiran kami, untuk
Woman on Top Cok Istri Mirah Kusuma Widiawati
Budayakan Gerakan Literasi Sekolah
melakukan kebiasaan berpikir dan nanti di-rolling dengan yangkreatif dan inovatif, harus kelas lain,” jelasnya. diikuti denga sebuah proses Selain di masing-masing membaca dan menulis sehingga kelas, ada dua pojok pustaka menghasilkan sebuah karya. yang dibuat di bale bengong, Karena itu, kami di SMAN 7 dan pada pojok yang baru saja sudah mulai menerapkan budiresmikan. “Sementara itu daya literasi ini sejak dua bulan yang baru bisa kami lakukan terakhir,” ucap Cok Mirah. untuk penerapan GLS ini,” Untuk mengondisikan hal cetusnya. tersebut, SMAN 7 membuat Wali Kota Denpasar IB “pembiasaan” dengan melakuRai D. Mantra sangat ankan kegiatan literasi yaitu memtusias atas apa yang sudah baca 15 menit di awal setiap dilakukan di SMAN 7 ini. kegiatan pembelajaran sebelum Karena menurutnya budaya jam pertama, bagi murid dan baca adalah dasar untuk guru. Dalam proses itu, anakmeningkatkan pola berpikir anak membaca buku nonpelaanak. Jadi jika pola pikir jaran yakni buku apapun yang anak sudah dibiasakan untuk disukainya kemudian menumembaca otomatis anak Wali Kota IB Rai D. Mantra meresmikan “Penerapan Budaya Literasi” di SMAN 7 Denpasar liskan dalam bentuk resume 1 akan menghasilkan karyayang benar-benar bisa menilai bagus Berikutnya, ia juga ingin menye- karya. Dari sanalah anak akan bisa sampai 2 paragraf. Budaya membaca dan menulis tidaknya puisi, juga keoriginalitasan barkan budaya literasi ini di Kota memiliki budi pekerti yang luhur. Jika ini dikatakan Cok Mirah akan san- karya anak, bukan jiplakan. Dari sana, Denpasar dengan mengundang SMA/ sudah membaca ilmu, pola pikir akan gat membantu anak-anak untuk hasil-hasil karya terbaik anak akan SMK dan SMP baik murid maupun berubah dan membuka wawasan meningkatkan prestasinya. Karena dibukukan. “Dengan cara seperti itu guru sebagai perwakilannya. SMAN anak. Bahkan, orang nomor satu di memang selama ini kita lihat banyak anak-anak sudah berkarya, dan pasti 7 Denpasar akan menyebarkan dan Denpasar tersebut berharap gerakan sekali anak yang tidak memiliki atau bangga karyanya dibukukan. Tagihan- menginformasikan bagaimana yang ini juga bisa menjamah hingga ke kurang minatnya untuk membaca. tagihan seperti itu yang akan kami disebut budaya literasi tersebut. sekolah dasar (SD). Dalam GLS yang diterapkan di “Ke depannya, kami minta tagihan lakukan kedepan. Mungkin tak hanya Karena itu Wali Kota Denpasar dalam bentuk hasil karya anak-anak,” puisi, bisa cerpen, karikatur, komik SMAN 7 ini, selain anak-anak diminta menyebut gerakan ini tak hanya dan apa saja, yang penting adalah membawa bukunya dan diresume, menjadi tugas pemerintah, namun ujarnya. Ia menyontohkan, dari 1.265 itu hasil karya anak. Sehingga dalam CIM Kusuma Widiawati menyam- juga termasuk stakeholder yang siswa sekolah diminta membuat setahun kami bisa punya satu atau paikan dalam bulan ini akan terwujud paling bawah harus buka mata dan puisi. Kemudian puisi itu dikumpul- dua hasil karya siswa yang bisa kami pojok pustaka yang ada di masing- singsingkan lengan baju untuk kita kan, dan akan dicarikan pakar puisi tunjukkan sebagai bukti bahwa anak- masing kelas. “Bukunya sumbangan bekerja berusaha untuk memicu anak benar-benar bisa menghasilkan dari anak-anak yang selama ini sudah supaya budaya literasi ini bisa diterkarya,” ujar Cok Mirah. berjalan. Buku itu ditaruh di kelas apkan. –Inten Indrawati
Sudut Pandang
Harga Rokok Naik, Pedagang Stop Jual Rokok
Warung kelontong “Ibu Kendri” yang menjual sembako dan kebutuhan lainnya, membuat warung yang berlokasi di pinggir jalan di Jalan Tukad Banyusari, Panjer, Denpasar ini, tak pernah sepi pembeli. Sama seperti sebagian besar warung lainnya, warung ini juga menjual rokok. “Banyak yang beli, tapi belinya sedikit-sedikit,” ujar Ketut Kendri. Memang benar, ketika tokoh menyambangi warung ini dan ngobrol dengan pemiliknya sekitar 15 menit, setidaknya ada empat konsumen yang datang dengan tujuan membeli rokok. Pembeli pertama seorang bapak-bapak. Ia merogoh satu lembar uang lima puluh ribu dari kantongnya untuk membayar dua bungkus rokok dan barang-barang lain yang dibelinya. Ketika ditanya
apakah akan berhenti merokok jika harga rokok naik menjadi Rp 50 ribu, ia menjawab enteng, “Ya masih, tapi mungkin belinya ngecer saja.” Tak berselang lama, seorang pria dewasa juga datang khusus untuk membeli satu bungkus rokok. Tanpa banyak basa-basi, pria itu hanya menyebut satu merek rokok dan menyodorkan uangnya. Selanjutnya, seorang pria remaja seusia pelajar SMA membeli rokok eceran. Ia hanya mengeluarkan satu lembar sepuluh ribuan yang ditukar dengan beberapa batang rokok, itu pun ia masih menerima uang kembalian. Berikutnya, seorang bocah laki-laki datang dengan santainya. “Bu, Bapak saya beli rokok,” ujarnya sembari menyodorkan uang dua puluh ribuan. Sepertinya anak kecil ini sudah cukup
Warung kelontong “Ibu Kendri”
sering diberi tugas oleh Bapaknya membeli rokok. Ketut Kendri mengatakan, meski ada yang membeli bungkusan, namun lebih banyak konsumennya yang membeli rokok eceran. Dalam sehari, setidaknya 100 batang rokok habis dijualnya eceran. Sejak berembusnya wacana harga rokok akan naik menjadi Rp 50 ribu, ia mengaku banyak konsumennya yang bertanya dulu
sebelum membeli. “Berapa harga rokok sekarang Bu? Apa sudah naik? Kalo naik, saya berhenti merokok saja”. Demikian ucapan segelintir konsumen rokok langganannya. “Kalau sampai harga rokok Rp 50 ribu, saya juga akan berhenti jualan rokok,” ujar Ketut Kendri menimpali. Pernyataannya tersebut cukup beralasan. Modalnya besar untungnya sama, selain itu pembelian rokok tidak bisa dibon.
Ia menyebut keuntungan menjual rokok hanya Rp 400 – Rp 600 per bungkus, tergantung harga rokok. Sementara pembelian rokok eceran rata-rata mendapat untung Rp 90 per batang. Dari beberapa merek rokok yang beredar di pasaran dan khususnya yang tersedia di warungnya, harga rokok saat ini berkisar antara Rp 13.000 hingga Rp 20.000 per bungkus. –Inten Indrawati
Tetap Rokok Tembakau bukan Rokok Elektrik Jika harga rokok naik jadi Rp 50.000, apakah serta merta akan menyetop para perokok aktif? Mungkin ada beberapa orang yang menjawab akan mengurangi, namun ada juga yang tak mempermasalahkannya. “Tidak ada urusan dengan kenaikan harga rokok. Saya tetap memilih untuk merokok seperti biasa. Iru sudah laku bagi saya,” ujar Demas, seniman muda berusia 26 tahun. Apakah ada kemungkinan beralihke rokok elektrik seperti yang banyak dilakukan pemudapemuda seusianya. “Jawaban saya tidak. Karena menghisap rokok elektrik itu tidak menghisap tembakau. Yang dihisap uap dari cairan. Jadi intinya di tembakaunya itu,” ucapnya lagi. Demas mengaku sudah menjadi perokok aktif sejak usia 19 tahun saat duduk di bangku kuliah. Pertamakali menghisap tembakau saat berusia 11 tahun, kelas 5 SD. Ia mengisahkan, saat itu ada upacara adat di rumah, dan rokok sebagai salah satu sajian mebraya bertebaran di mana-mana seperti kacang goreng. “Iseng saja saya ngambil sebatang dan merokok bersama adik perempuan saya. SMP sampai SMA merokoknya jarang-jarang, palingan
ketika ada acara menabuh baru ngerokok. Jika tidak ada acara, ya tidak merokok. Saya benar-benar jadi perokok aktif saat kuliah usia 19 tahun,” kisahnya. Uang untuk membeli rokok ia dapatkan dari hasil kerja serabutan. Hasil dari bantu-bantu teman, bantu jadi EO di beberapa acara, ikut jadi volunter di sebuah instansi pemerintah, dll. “Jadi uang untuk beli rokoknya dari sana. Kalau untuk makan baru uang dari orangtua,” ucapnya. Meski kakek dan pamannya adalah perokok berat, ia mengatakan keluarga maupun teman tak ada hubungannya dengan keputusannya sebagai perokok. “Jadi perokok adalah keputusan pribadi saya, alasan spiritual. Ada beberapa sesajen yang harus saya suguhkan dilengkapi dengan penginangan (sirih, buah pinang, gambir, kapur, dan tembakau). Jadi saya mengikuti suguhan itu. Selain aktif merokok saya juga aktif nginang sejak lama, sejak usia 18 tahun, meneruskan tradisi, ” ucapnya tersenyum. Mungkin karena alasan itu pula, Demas mengaku tak merasakan mulutnya asam, kepala pusing, dll. seperti yang dikeluhkan kebanyakan perokok jika tak “kena rokok”. Saat ini setidaknya ia menghabiskan sebungkus rokok sehari, tidak seberat dulu yang bisa hingga tiga bungkus sehari. –Inten Indrawati
Java’s Chromatic adalah grup band asal Surabaya dengan konsep memadukan beberapa jenis musik diantaranya keroncong, latin, fusion, jazz, pop, dan tradisional yang kemudian dibalut secara apik menjadi komposisi-komposisi musik yang enak didengar untuk semua kalangan.
Java’s Chromatic
Edisi 917/ 5 - 11 september 2016
19
Dari Iseng Jadi Berkah
D
ari keunikan inilah yang kemudian membawa Java’s Chromatic mendapat banyak tawaran untuk menghibur di berbagai acara. Awal berdiri grup ini memang sudah cukup lama semua bermula saat para personil didalamnya bergabung pada UKM UNAIR lebih tepatnya adalah UKTK UNAIR (Unit Kegiatan Tari dan Karawitan Universitas Airlangga). “Dari project iseng-iseng namun ketagihan untuk berkarya itu yang kami rasakan, dengan format awal kami memberi nama Chromatic Performing Art, nama ini kami gunakan kurang lebih 3 tahun dan kemudian kami me-
mutuskan untuk berganti nama menjadi Java’s Chromatic dengan tujuan untuk menyegarkan performa kami dalam bermusik dan
berkesenian” tutur Eko Febriyanto, pentolan Java’s Chromatic. Nama Java’s Chromatic resmi digunakan 3 Februari 2016,
seolah-olah nama ini menjadi suatu berkah bagi mereka. Belum genap 1 minggu nama ini diresmikan sudah mendapat tawaran untuk mengisi suatu program di stasiun TV lokal Surabaya selama 5 bulan. Berawal dari sinilah Java’s Chromatic kemudian lebih dikenal orang dan konsep bermusik yang disajikan mulai dapat dinikmati banyak kalangan sehingga bermunculan tawaran-tawaran dari pihak-pihak hotel untuk mengundang mereka pada setiap event besar yang diadakan dengan target sasaran adalah tamu dari luar negeri yang harapanya akan terhibur dengan konsep musik yang unik. “Java’s Chromatic saat ini memang belum memiliki album
ataupun single namun kami sudah mempersiapkan materi untuk itu semua, dengan konsep-konsep serta warna-warna fusion yang akan kami berikan ke depan, dan untuk saat ini kami masih mempelajari beberapa tawarantawaran dari investor yang masuk pada kami untuk melakukan recording dan pembuatan single,” ujar Eko. Masuknya Java’s Chromatic pada event Jazz Traffic 2016 sebagai ajang pembuktian bahwa band lokal Surabaya memiliki kualitas yang tidak kalah dengan band-band nasional dan semoga dari sinilah ke depan Java’s Chromatic juga dapat masuk pada jajaran event bergengsi lainya seperti Java Jazz, Jazz Gunung, dll. -Dona
Atmosfer Baru Festival Jazz Mengulang kesuksesan tahun lalu festival musik jazz terbesar di Surabaya, Jazz Traffic Festival 2016 digelar 27-28 Agustus 2016. Kali ini festival tahunan yang merupakan usungan Suara Surabaya Media, kembali bertempat di Grand City Convex Surabaya, dengan mengu sung tagline berbeda yaitu ‘Beyond Space’. Tagline ini sengaja diusung sebagai upaya membangun nilai di luar batas dan bentuk ruang yang biasanya, atau yang lebih dikenal de ngan antimeanstream. Hal tersebut dibenarkan oleh Wahyu Widodo, Direktur Usaha Suara Surabaya Media. Ia mengatakan Jazz Traffic Festival tahun ini memang menabrak batas-batas yang ada. “Beyond Space itu seperti membangun nilai tambah dari sebuah
ruang atau aktivitas.Jazz Traffic Festival ini ruangnya, yang akan mempunyai nilai tambah dengan atmosfer baru dan spirit yang luar biasa,” ujarnya. Untuk tahun ini, PP Properti bergabung untuk bekerjasama menampilkan Jazz Traffic Festival yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. “Ini konsistensi kami, setiap tahun memberikan apresiasi di event musik jazz paling besar di kota Surabaya,” jelas Wahyu Widodo. Beberapa bintang yang pernah tampil di Jazz Traffic Festival di tahun sebelumnya, kembali meramaikan Jazz Traffic 2016, seperti Glenn Fredly, Maliq & D’Essentials, Tohpati, Idang Rasjidi, Andien, Sierra Soetedjo, Alsa, Hivi, Dekat dan Barry Likumahuwa. -Dona
18
Edisi 917/ 5 - 11 september 2016
Buleleng Krisis Tenaga Medis
Pemerintah kabupaten Buleleng selalu berusaha menangani masalah dari segala lini kehidupan masyarakatnya. Terbukti, masalah kekurangan guru sudah mampu di atasi dengan merekrut guru kontrak. Namun, tidak demikian dengan masalah krisis tenaga medis utamanya dokter. Hal tersebut dibenarkan oleh Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana, ST.
B
upati mengungkapkan itu saat evaluasi empat tahun kepemimpinan PAS-Sutjidra di Buleleng. Krisis tenaga medis dirasakan bukan saja ketika masa jabatannya melainkan situasi ini sudah dirasakan ketika era kepemimpinan bupati terdahulu. Tentu hal tersebut sangat berdampak terhadap penempatan jumlah dokter di rumah sakit dan pukesmas pembantu (pustu) di desa-desa. Untuk mengatasi persoalan tersebut, pihaknya berupaya menangani
krisis dokter dengan merekrut dokter kontrak dan petugas medis lain. “Saya sebagai kepala daerah untuk menggaji dokter dengan sistem kontrak, siap dan tidak ada masalah tapi tidak ada yang mau,” paparnya. Pihaknya mengaku heran sarjana kedokteran dari luar daerah belum ada yang tertarik menjadi dokter kontrak di Buleleng. Bahkan harapan menambah tenaga medis dengan jalur rekrutmen CPNS gagal lantaran formasi untuk dokter tidak terpenuhi. “Dari 40 yang melamar cuma 4 yang lulus, sedemikian ketatnya Kementrian Kesehatan menerima spesialis. Saat penerimaan jalur CPNS pun tidak terisi lantaran tidak ada pelamar,” jelasnya. Maka dari itu pihaknya berniat mendiskusikan masalah tersebut dengan Dinas Kesehatan. “Apa boleh misalnya sarjana keperawatan diberdayakan, regulasinya
Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana bersama jajarannya
kota saja sedangkan sementara akses Buleleng Barat dan Buleleng Timur masih kurang,” ungkapnya.
Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana
perlu ditanyakan karena ini menyangkut nyawa manusia,” tambahnya. Atas kondisi tersebut, pemerintah daerah mengalihkan anggaran yang dialokasikan untuk melengkapi fasilitas di RSUD Buleleng. Salah satu yang sudah terwujud adalah pembangunan gedung IRD yang kini sudah ada pada tahap finishing. “Tinggal melengkapi alat kesehatan saja dan rencananya akan beroperasi akhir tahun ini,” lengkapnya. Sementara itu, pemerintah juga berkomitmen untuk mendekatkan akses pelayanan kesehatan kepada masyarakat dengan membangun rumah sakit tanpa kelas (Rumah Sakit Pratama) di desa Tangguwisia, Seririt. Rumah sakit di desa Girimas, Sawan dengan fasilitas yang sama pun akan dibangun tahun ini. “Selama ini pelayanan kesehatan hanya terpusat di
GUDANG PENYIMPANAN PASCAPANEN Sementara dari sektor pertanian, daya serap tenaga kerja sektor tersebut mencapai sekitar 34,80 persen penduduk. Hal tersebut menjadikan sektor pertanian sebagai tumpuan utama perekonomian masyarakatnya. Bupati mengatakan bahwa sektor pertanian membutuhkan daya dukung infrastruktur yang mumpuni sehingga mampu memberikan aksesibilitas yang baik guna memberikan akses kepada masyarakat. “Target saya adalah pembenahan infrastruktur selama lima tahun tuntas sehingga outcome nya adalah distribusi hasil pertanian lebih mudah dilakukan,” ujarnya. Sementara itu, mengenai status jalan dari awalnya jalan desa ditingkatkan menjadi jalan kabupaten berjarak sekitar 123 kilometer. “Kami berharap tahun 2017 mendatang pembenahan jalan kabupaten selesai dan yang 123 kilometer juga selesai,” tambahnya. Perhatian dimaksud merupakan bentuk keseriusan prioritaskan pemerintah dan membantu kemudahan petani dalam mengakses jalan. Mengenai pembangunan sektor pertanian Bupati PAS ke depan akan merancang peningkatan jumlah anggaran mencapai 10 kali lipat di tahun 2018. Pemerintah menunjukan eksistensi menggenjot anggaran dibidang pertanian mendatang. Perhatian terhadap pertanian akan di mulai dari pasca panen karena menurut hasil studi keunggulan komperatif masingmasing desa memiliki keunggulan
berbeda-beda. “Ada desa yang mangganya hebat, pisangnya, durennya, anggurnya, ada juga desa yang tumpang sari antara manggis, isen, jahe, dan kunyitnya yang hebat,” imbuhnya. Ia menambahkan bahwa Buleleng merupakan kabupaten yang memiliki bermacam-macam vegetasi sehingga perlu ada model yang lebih detail desa per desa untuk pertanian. Bupati asal desa Banyuatis tersebut menambahkan jika pihaknya beserta jajarannya akan lebih konsen terhadap masalah pertanian dengan harapan pendapatan petani dapat meningkat dengan penyerapan hasil produksi pascapanen. Menurutnya, selama ini kelemahan pertanian di Buleleng adalah anjloknya harga setelah pasca panen sehingga perlu dicarikan jalan keluar. “Saya berniat mengirim temanteman pertanian untuk belajar masalah gudang atau tempat penyimpanan buah,” ucapnya. Jika hanya masalah meningkatkan hasil produksi itu hal yang mudah, namum jika tidak ada sistem supplay yang terus menerus maka distribusi buah akan terputus. “Menangani pasca panen dengan standar quality control yang baik itu yang tidak mudah,” imbuhnya. Hal itulah yang membuat pemerintah ingin membuat badan penyangga dengan membiayai pembelian di petani dengan harga yang sesuai. Begitu juga dengan masalah teknis, ia berharap ada petani yang lebih berani melakukan cara-cara yang ilmiah baik dari segi pemangkasan, pemupukan, penyiraman sehingga mempercepat proses pembuahan. “Jika tanaman lebih cepat berbuah dari seharusnya tentu dapat harga yang lebih mahal,” jelasnya. -Wiwin
Stikes Buleleng Cetak Lulusan Berdaya Saing Global Stikes Buleleng melepas 178 wisudawan di gedung aula Stikes Buleleng, Senin (29/9). Dalam wisuda yang kedua ini, Stikes Buleleng melepas 77 wisudawan dari prodi DIII Kebidanan, 70 wisudawan dari prodi S1 Ke perawatan, dan 41 wisudawan dari prodi Profesi Ners. Jumlah tersebut tidak berbeda jauh den gan wisuda tahun lalu, yakni ter catat 162 wisudawan. Ini berarti Stikes Buleleng telah meluluskan sebanyak 340 orang. Ketua Stikes Buleleng Made Sundayana mengatakan seluruh wisudawan adalah mahasiswa yang telah mengakhiri masa
studinya baik secara teori maupun praktik serta telah menyelesaikan tugas akhir. Pihaknya menekankan kepada lulusan Stikes Buleleng agar dapat menunjukkan kepada masyarakat bahwa mereka benarbenar seorang akademisi. “Dengan bekal ijazah itu mereka diharap kan sudah memiliki skill dan kompeten di bidangnya,” ujarnya. Pihaknya membekali masingmasing prodi dengan kompetensi standar khususnya di negara ASEAN sehingga ketika di dalam dunia kerja mereka dapat diterima secara global bukan hanya seba gai penonton. “Kompetensi yang mereka dapatkan akan disertai
dengan sertifikat kompetensi, di sanalah mereka harus bisa mem buktikan kompetensi tersebut,” imbuhnya. Para alumni juga diharapkan dapat menjaga kompetensi di bidangnya masing-masing se hingga memiliki daya saing yang tinggi. “Kami berharap para bidan dan perawat ini selalu menjaga konsistensinya dalam melayani masyarakat dengan sepenu hati, dengan senantiasa memegang konsep kerja cerdas, kerja lugas dan kerja tuntas dan berkualitas,” paparnya. Bertepatan dengan momen wisuda kali ini, Sundayana juga
Ketua Stikes bersama mahasiswa lulusan terbaik
Wisuda Stikes Buleleng ke II
menambahkan bahwa akan dilaunching program Smart Digital Campus yang merupakan ker jasama antara Stikes Buleleng dan Gamatek. Peluncuran program ini merupakan terobosan dalam dunia pendidikan yang bertujuan untuk mengefisienkan segala urusan administrasi kampus baik Kartu Rencana Studi (KRS), tracer study para alumni dan lain-lain. Selain itu, Sundayana juga berha sil lulus dalam pelatihan Asesor Kompetensi Ilmu Keperawatan yang nantinya dengan sertifikat itu dirinya akan mengembangkan kompetensi di lembaganya. Dalam acara wisuda tersebut juga dihadiri oleh Koordinator Ko pertis Wilayah VIII, Prof. Dr. Nen
gah Dasi Astawa, M.Si serta para pejabat lainnya. Pada kesempa tan itu, Dasi Astawa memberikan motivasi kepada wisudawan agar senantiasa semangat dan menanamkan sikap kemandi rian, tanggung jawab dan men jadi pemenang dalam kempetisi dunia kerja. Dia menambahkan sebagai lulusan Stikes Buleleng, para wisudawan tidak harus bekerja di sektor formal seperti pegawai rumah sakit, PNS, bidan dan lain-lain. Akan tetapi tetap memerhatikan peluang bisnis yang bisa menciptakan lapan gan pekerjaan bagi masyarakat sehingga konsep kerja cerdas, kerja lugas, da kerja tuntas bisa diaplikasikan. -win
Life
Story
Edisi 917/ 5 - 11 september 2016
7
Lewati Ujian Keikhlasan “Ikhlaskan semua dan bersujudlah di depan Ka’bah memohon ampun pada Allah,” ujar Reni pada seorang sahabatnya yang hendak berangkat haji pada musim haji tahun 2016 ini. Saat musim haji tiba seperti ini, Reni selalu terharu kala mengingat proses yang luar biasa terjadi dalam dirinya ketika ia berhaji pada tahun 2006. Di depan Ka’bah, dengan jutaan umat muslim dari seluruh dunia yang tengah melaksanakan ibadah Haji, Reni bersujud, menangis dan memohon ampunan atas kesalahan dan dosanya selama ini, termasuk rasa sakit dan dendam pada suaminya.
P
erjalanan hidup Reni (58) memang sangat menyakitkan. Namun, ia termasuk yang beruntung karena mengalami proses penyadaran diri di saat yang tepat. Allah memberikannya hidayah ketika ia benar-benar menginginkan untuk
melepas rasa dendam dan sakit hati yang menguasai dirinya selama ini. 20 puluh tahun hidup berumah tangga dengan suaminya, Ali, Reni nyaris tak mendapatkan kebahagiaan yang diimipikan oleh semua perempuan terhadap suaminya. Reni menikah dengan Ali yang berprofesi sebagai pengemudi truk yang melintasi pulaupulau di Indonesia. Ketika menikah Reni memang tidak “datang” dengan cara yang baik karena ia masuk dalam kehidupan Ali yang telah beristri. Ketegangan dan keributan saat pernikahan mereka itu memang tidak dapat dihindari. Rasa cinta Reni dan Ali justru semakin kuat dan Reni rela dicaci maki istri pertama Ali bahkan dicemooh orang atas pilihannya itu. Ali juga menunjukkan rasa cintanya yang kuat pada Reni bahkan setelah Reni sama sekali sudah tidak bisa menganggapnya sebagai suami kelak. Atas rasa bersalah pada istri pertama Ali, Reni berusaha keras mengambil hati istri pertama Ali dengan cara mengalah dan bersabar. Ia bahkan selalu melakukan hal-hal baik asalkan istri pertama Ali mau memaafkannya. Dan itu terbukti setelah lama kelamaan istri pertama Ali dapat menerimanya. “Hubungan kami menjadi sangat baik dan terus semakin baik, sampai kami rasanya
Sudut Pandang
Tinggalkan Area Para Perokok Rumah dan tempat kerja atau kantor adalah dua dari beberapa area yang umumnya menjadi cerobong asap bagi mereka yang tidak merokok atau disebut perokok pasif. Seringkali masih terlihat orang-orang yang merokok seenaknya di kantor maupun di rumah. Sangat disesalkan ketika perempuan dan anak-anak dinyatakan sebagai korban terbanyak sebagai menjadi perokok pasif. Bahkan, mereka ini lebih menderitadibanding si perokok Lantas bagaimana Bintang Mira Erika Sedana sebaiknya menyikapi situasi seperti ini, khususnya jika kita adalah Erika juga mengaku sangat bersyuperokok pasif. kur bahwa pasangan hidupnya Putu Ari Menurut Made Herry Erika Sedana, Sedana ST, tidak merokok. Maka seA.Md., S.E., mantan penyiar program cara bersama-sama mereka fokus denberbahasa Inggris TVRI Bali (Balivision), gan membekali anak-anak pengetahuan di banyak tempat di Bali masih menjadi tentang bahayanya sebagai perokok pasif. restricted area untuk para perokok. Mau Begitu juga yang disampikan desainer papan tidak mau hal ini katanya menjadi kita atas Bali, Bintang Mira, bahwa setiap orang perokok pasif. “Karenanya saya lebih memilih untuk meninggalkan area para berhak atas udara yang bersih. Namun, perokok. Perokok pasif justru berisiko sepertinya perilaku merokok sudah menjadi terhadap bahaya kesehatan 3 kali lipat dari kebiasaan yang wajar bagi masyarakat kita. perokok aktif. Artinya racun yang dihasil- Jumlah perokok tidak pernah surut, karena kan dari asap rokok itu 75% masuk ke memang selama pengamatannya selalu ditubuh perokok pasif karena tidak terfilter pandang sebagai hal yang biasa. Meski tidak secara langsung merokok, sama sekali,” katanya. Dikatakannya anak-anak juga san- perokok pasif, lanjutnya bisa turut terkena gat perlu dibekali dengan pengetahuan dampak buruknya juga. Makin sering sesini. Sebab, bagi para ayah dan ibu yang eorang terpapar asap rokok, makin tinggi merokok terkadang tidak menyadari pula risiko gangguan kesehatan yang bakal bahaya terhadap pasangan dan putra dialaminya Berangkat dari keprihatinannya, Bintang putri mereka. Karena rokok bersifat adiktif dan barangkali mereka sulit untuk Mira dengan yakin mengatakan sikapnya sebagai berhenti merokok .Jadi. untuk sementara seorang perokok pasif . Pertama, menghindari yang dapat kita kontrol adalah perokok lingkungan perokok aktif . Kedua, membuat pasif. Sebisa mungkin juga hindari area rambu larangan merokok di lingkungan kita perokok aktif saat mereka merokok sebab (terutama di areal anak-anak). Ketiga, menegur akan benar-benar dapat membahayakan secara halus. Keempat, tidak menyediakan kesehatan terutama bisa menjadi trigger asbak di rumah kita atau tempat bisnis atau gangguan pernapasan, kanker paru-paru, lingkungan kerja kita yang memang seharusnya bebas dari asap rokok. – Sri Ardhini serangan jantung hingga kematian dini.
sudah seperti saudara,” ungkap Reni. Hubungan baik mereka membuat Reni merasa nyaman dalam rumah tangganya bersama Ali. Mereka saling berbagi satu sama lain dalam hubungan yang sangat baik. Sampai akhirnya Reni melahirkan anak pertamanya yang disambut dengan suka cita oleh istri pertama Ali yang memang tidak bisa memiliki anak karena alasan medis. Sampai pernikahannya dengan Ali berjalan delapan tahun mereka tidak memiliki anak. Karena itu kelahiran anak Reni juga menjadi kebahagiaan bagi istri pertama Ali. “Anak pertama saya sejak bayi baru lahir sampai hari ini berada di dalam perawatannya. Bahkan saat anak pertama saya menikah, yang mengurus pernikahannya adalah dia (istri pertama Ali),” kata Reni yang saat anak pertamanya menikah itu ia tengah menjadi TKW di Saudi Arabia. Setelah kelahiran anak pertama itu, Reni berturut-turut melahirkan tiga anak berikutnya yang menambah keba- hagiaan Reni, Ali dan istri pertamanya. Saking baiknya hubungan Reni dan istri pertama suaminya itu, mereka sampai-sampai tidak hanya berbagi suami dalam damai, mereka berbagi anak. “Saya lahirkan empat anak, dua saya rawat dan besarkan dua lagi saya berikan pada istri pertama suami saya,” ujar Reni tersenyum. Keikhlasan dan kebahagiaan istri pertama Ali merawat dua anaknya itu membuat Reni merasa dua anaknya seperti memiliki dua ibu kandung. “Dia sangat sayang dan perhatian pada anak-anak saya yang dibesarkannya. Bahkan dua anak saya yang lain juga betah bersamanya jika saya tinggal,” kata Reni. Perjalanan rumah tangga Reni dan Ali serta istri pertamanya yang tinggal di Pulau Sumbawa ini berjalan dengan sangat damai, sampai akhirnya suatu hari Ali membuat masalah dengan menikah lagi. Kedua istrinya ini meradang dan tidak terima dengan pernikahan diam-diam itu. Reni dan istri pertama Ali bahkan datang melabrak perempuan itu dan menjambak rambut Ali secara bersamasama. Namun entah mengapa, Ali tidak mau menceraikan istri ketiganya yang sedang hamil itu. Reni dan istri pertama Ali terus berusaha keras memisahkan Ali dengan istri ketiganya yang oleh masyarakat di kampungnya dikenal bukan perempuan baik-baik. Semua usaha keduanya itu tidak berhasil. Situasi ini berjalan hingga tiga tahun, sampai akhirnya keduanya sudah tidak tahan lagi dengan situasi tersebut. “Suami kami sepertinya kena guna-guna. Dia jarang pulang kepada kami. Tiap kali pulang dari bekerja ia selalu pulang ke rumah perempuan itu,” ujar Reni. Hal inilah yang membuat istri pertama Ali memilih tegas menceraikan Ali dan Reni pergi meninggalkannya. “Saya berangkat jadi TKW ke Arab Saudi. Anak-anak saya membutuhkan biaya sekolah, penghasilan suami saya sebagai supir truk hanya untuk istri ketiganya,” kata Reni yang mengaku beruntung memiiki seorang madu yang baik dan mau mengurus keempat anaknya saat ia tinggal. Namun sesungguhnya sebelum berangkat sebagai TKW, Reni yang memilih tidak menceraikan suaminya itu masih mengalami hal-hal yang menyakitkan. Dua kali suaminya menikah lagi dan kerapkali perempuan-perempuan mendatanginya mengaku sebagai kekasih suaminya. Semua itu menumpuk rasa sakit dalam diri Reni. NGOBROL DI RUMAH ANAK Tahun 2006 saat ia menjadi TKW, Reni berkesempatan melaksanakan ibadah haji. Rasa sakit yang teramat mencabik-cabik hati dan rasa cinta pada suaminya yang sempat begitu luar biasa menyimpan rasa dendam dalam dirinya
tiba-tiba lenyap ketika ia memandang Ka’bah dan menyerahkan diri sepenuhnya pada Allah. Peristiwa itu dimulai ketika ia salat di depan Ka’bah. Ia menyimpan dompet dan telepon genggamnya persis di depannya, dimana ia dapat melihatnya dengan jelas. “Tiba-tiba di depan saya seperti ada seseorang yang rasanya ingin mengambil dompet dan HP saya tapi saya tidak berusaha menghalanginya,” katanya. Di sanalah ia merasa ikhlas jika pun HP dan dompet tersebut diambil orang maka ia merasa begitulah jalannya dan ia tidak ingin membatalkan salatnya
hanya untuk menyelamatkan hartanya itu. “Saya sama sekali tidak akan merasa khawatir dengan hal itu dan saya terus melanjutkan salat,” kata Reni yang merasa bahwa HP dan uang dalam dompet miliknya itu ia dapatkan dengan cara yang halal. Benar saja, orang di hadapannya itu pergi sampai Reni menyelesaikan salatnya. Bagi Reni yang merasa peristiwa dan orang tersebut sesungguhnya simbul bahwa ia tengah diuji, antara ibadah, keihklasan dan harta. Ia beruntung telah memilih hal yang tepat melanjutkan salat dan tidak peduli dengan harta benda. Dari sana jugalah ia lalu mengingat suaminya. “Meski dia sudah sangat menyakiti saya, tapi saya merasa mungkin pernah bersalah tanpa saya sadari. Saya lalu mengambil HP dan meneleponnya untuk meminta maaf,” ungkapnya. Sayangnya telepon dari Mekkah itu dijawab oleh istri ketiga suaminya yang kemudian memaki-makinya. “Saya tidak marah tapi saya minta ia menyampaikan salam permintaan maaf saya,” ujarnya. Tampaknya suaminya tahu telepon itu dan meneleponnya balik. “Suami saya menangis meraung-raung, memohon saya juga memaafkannya,” kata Reni. Itulah titik balik rasa cinta Reni pada suaminya yang tadinya cinta sebagai suami istri lalu berubah menjadi seperti saudara. Sepuluh tahun sejak peristiwa itu, beberapa kali Reni bertemu suaminya yang masih sangat mengharapkannya kembali, ia menjadi biasa saja. “Saya sudah tidak punya rasa sama sekali padanya. Dia sudah seperti saudara saja bagi saya. Saat ketemu saya dia selalu ingin menyentuh saya sebagai istri, tapi saya tidak bisa,” ungkapnya. Sejak Reni menjadi TKW beberapa kali pulang ke Indonesia namun sudah tidak bertemu suaminya itu dalam waktu yang lama. “Ada jarak lima tahun, dua tahun lalu pulang sebentar dan tak bertemu lagi dua tahun. Itu yang membuat saya merasa bahwa meski kami tidak bercerai secara resmi, tapi saya merasa sudah tidak sah melakukan halhal sebagai suami istri,” katanya. Reni memang tidak pernah menceraikan Ali, begitu pun sebaliknya. Ia juga tidak ingin mengonsultasikan hal ini dengan siapa pun. Waktu dan peristiwa telah membuat perasaan Reni berubah terhadap suaminya yang kini dianggapnya sebagai saudara, sudah cukup baginya menganggap bahwa pernikahannya telah berakhir dengan cara yang tidak biasa. Bahkan setelah tiga tahun kembali pulang ke kampung halamannya, Reni menghindar untuk bersama dengan suaminya dalam suasana yang layaknya sebagai suami istri. Ia hanya nyaman bertemu suaminya dalam situasi biasa. “Ketemu ngobrol di rumah anak kami untuk melihat cucu kami. Selebihnya saya tidak mau bersamanya seperti suami istri,” ungkapnya. -Naniek I. Taufan
8
Bunda & Ananda
Edisi 917/ 5 - 11 september 2016
Orangtua jangan Merokok di Depan Anak Bahaya merokok telah diketahui oleh sebagian besar masyarakat, perokok maupun bukan perokok. Hal ini tentunya tidak lepas dari kampanye pihak pemerintah dan non-pemerintah. Mulai dari kemasan rokok yang menyebutkan bahaya merokok (yang dilengkapi dengan gambar-gambar menyeramkan tentang akibat rokok), sampai pembatasan area merokok di kota-kota besar.
D
ari data statistik perokok di Indonesia, menyebutkan angka 27,6% yang artinya setiap 4 orang Indonesia, terdapat 1 orang perokok. Orang dewasa perokok disebutkan sekitar 34% dan anak/remaja perokok sebesar 13,5%. Data WHO menunjukkan 65 juta penduduk Indonesia merokok dengan konsumsi 225 batang rokok per tahun. Jumlah penduduk Indonesia yang merokok bertambah dalam 9 tahun terakhir, yaitu 0,9% per tahun pada periode 2000-2008. Mengapa orang dewasa sudah tahu dampak merokok, tetapi masih ada yang tetap merokok? “Banyak faktor yang menyebabkan seseorang menjadi perokok, dimulai pada usia muda di antaranya merokok yang pada awalnya dimaksudkan “untuk mengurangi cemas dan stress” dan dapat menimbulkan relaksasi. Efek tersebut disebabkan oleh kerja nikotin dosis kecil yang ada dalam hirupan asap rokok menimbulkan efek nikotinik memberikan efek stimulasi atau rangsangan ganglionik menimbulkan efori, relaksasi dan dosis besar bekerja muskarinik menimbulkan relaksasi otot. Asap rokok yang dihirup dapat mencapai otak dalam waktu 7 detik,” jelas dr I Gusti Ayu Indah Ardani SpKJ, Staf Bagian/SMF Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unud-RSUP Sanglah Denpasar. Ia menambahkan, ketika sudah berkeluarga dan punya anak, kebiasaan merokok tetap dilakoni karena merokok sudah menjadi kebiasaan/ habit. Selain itu faktor
stres salah satu faktor yang dialami oleh orang yang sudah berkeluarga sehingga rasa ingin merokok selalu akan dirasakan. Walaupun 75%-80% perokok memiliki keinginan untuk berhenti merokok, dan sepertiganya melakukan setidaknya 3 usaha serius untuk berhenti merokok, kurang dari 50% dari perokok tersebut yang berhasil untuk berhenti sebelum berusia 60 tahun. Terdapat beberapa faktor yang paling berkontribusi pada suatu individu untuk mulai dan tetap mengonsumsi rokok, antara lain efek psikoaktif dari nikotin, proses belajar yang terkait, budaya setempat (termasuk akses dan ketersediaan pada produk tembakau, penerimaan masyarakat, dan contoh dari orangtua serta lingkungan), karakteristik individu (contoh, genetik, ciri kepribadian, tingkat pendidikan, sosioekonomi), dan faktor yang diturunkan (suatu penelitian ganda menunjukan suatu kontribusi genetis sebesar 50% dalam prevalensi dari merokok, kemampuan untuk berhenti merokok, dan jumlah rokok yang dikonsumsi setiap harinya). Ketergantungan pada nikotin dan tekanan psikologis yang dialami pasien saat berhenti merokok merupakan suatu faktor prediktif penting yang dikenal secara luas dalam keberhasilan untuk berhenti merokok. “Efek konsumsi nikotin menyebabkan ketergantungan. Sinyal untuk merokok cenderung mempertahankan prilaku merokok diakibatkan efek yang ditimbulkan nikotin pada otak, dimana nikotin menstimulasi pusat reseptor kolinergik nikotinik termasuk pelepasan beberapa neurotransmitter di otak antara lain dopamine, yang memegang peranan penting karena menimbulkan sensasi yang menyenangkan yang memicu konsumsi nikotin berulang. Neurotransmiter lain, termasuk norepinephrine, acetylcholine, serotonin, asam-aminobutyric (GABA), glutamate, dan endorphin memberikan efek sensasi menyenangkan, modulasi mood, pening-
dr I Gusti Ayu Indah Ardani SpK
Ilustrasi di bungkus rokok
katan performa, analgesik, dan penurunan berat badan yang berhubungan dengan merokok, menyebabkan juga seseorang tetap mempertahankan perilaku merokok,” jelas dokter spesialis Ilmu Kedokteran Jiwa lulusan Universitas Airlangga ini. Keberhasilan seseorang untuk berhenti merokok bergantung pada keseimbangan antara motivasi pribadi untuk berhenti merokok (contoh, keuntungan yang diharapkan dari berhenti merokok). Dalam pendampingan program untuk berhenti merokok motivasi untuk berhenti merokok adalah syarat kunci untuk memulai usaha berhenti merokok. Langkah sederhana yang dapat dilakukan sebagai motivasi perokok untuk berhenti merokok adalah dengan memperingatkan masyarakat tentang bahaya perokok pasif, promosi kesehatan dapat berpengaruh dengan memberikan rasa tidak nyaman pada perokok untuk merokok ditempat umum. Lebih dari itu, orang-orang yang bukan perokok cenderung akan melihat perokok sebagai pecandu obatobatan yang memiliki prilaku yang
merugikan kesehatannya sendiri serta orang-orang disekitarnya. KOMUNIKASI EFEKTIF Bagaimana dengan perilaku orangtua yang merokok di depan anaknya? Dr. Indah menyarankan orangtua sebaiknya tidak boleh merokok di depan anak-anak, karena seorang anak akan “memodeling” apa yang dilakukan oleh orangtuanya dan orangtua sebaiknya memberitahukan kepada anaknya bahwa perilaku merokok merupakan perbuatan yang tidak baik sehingga anak-anak sebaiknya menghindari rokok. Selain orangtua, anak juga terpengaruh teman sebaya yang merokok. “Pada kelompok teman sebaya sebaiknya pada usia remaja awal sebaiknya sudah ditanamkan dari orangtua mengenai penjelasan bagaimana bahaya merokok terhadap tubuh dan mengetahui akibat yang merugikan dari merokok. Sehingga perlunya penyuluhan juga di kalangan siswa agar tidak merokok baik di sekolah maupun di rumah,” ujar perempuan kelahiran Denpasar 19 September 1973 ini.
Pesan bagi orangtua dan anak yang merokok, sebaiknya anakanak menghindari rokok mengingat akibat yang merugikan dari merokok. Orangtua lebih intensif mengajak anak-anak mereka dalam berkomunikasi efektif sehingga hubungan orangtua anak lebih baik sehingga perilaku merokok dapat dihindari. Sebaiknya orangtua tidak memberikan contoh perilaku merokok kepada anak agar tidak merugikan masa depan bangsa dan negara kita. Langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah, dengan memperingatkan masyarakat tentang bahaya perokok pasif, promosi kesehatan dapat berpengaruh dengan memberikan rasa tidak nyaman pada perokok untuk merokok di tempat umum. Lebih dari itu, orang-orang yang bukan perokok cenderung akan melihat perokok sebagai pecandu obatobatan yang memiliki prilaku yang merugikan kesehatannya sendiri serta orang-orang di sekitarnya. Suatu literatur internasional melaporkan bukti bahwa denormalisasi dari merokok merupakan suatu komponen dari langkah-kangkah yang efektif yang bertujuan untuk mengurangi konsumsi tembakau. Suatu penelitian longlitudinal pada data yang dikumpulkan di Kanada, USA, UK, dan Australia menyimpulkan bahwa perokok cenderung untuk memiliki keinginan untuk berhenti dan tidak merokok di kemudian hari ketika mereka memiliki suatu denormalisasi kepercayaan sosial yang penting tentang merokok, seperti perasaan ditolak karena merokok, merasa tidak nyaman untuk merokok di area publik, dan diberikan saran untuk berhenti merokok oleh orang-orang terdekatnya. –Ngurah Budi
Mendongeng Lima Menit WARNA DAN BAU BUNGA
Konon zaman dahulu, bunga-bunga tidak berwarna dan tidak berbau. Sekarang bunga-bunga itu berwarna indah dan berbau harum. Namun ada juga bunga yang berbau busuk. Tahukah anda apa Made Taro sebabnya? Di lereng gunung ada sebuah danau yang sangat indah. Siang-malam airnya memancarkan cahaya warna-warni dan berbau harum semerbak. Di sekelilingnya tumbuh banyak bunga, namun bunga-bunga itu semua berwarna hijau, sama dengan warna daunnya. Tambah lagi tidak berbau sama sekali. Bunga-bunga itu sepakat mohon berbagi warna dan bau dengan air danau tetangganya itu. “Sahabatku, Danau!” kata bunga-bunga. “Maukah kau bermurah hati membagikan warna-warni dan bau harum airmu? Kami kira kalau bungabunga berwarna-warni dan berbau harum, pastilah pemandangan di lereng gunung ini tambah indah dan serasi.” “Sungguh senang aku mendengar permintaanmu!” jawab Danau yang murah hati itu. “Kalau kamu bersungguh-sungguh, jatuhkanlah sekuntum bungamu ke permukaan airku pada malam bulan
pernama. Mintalah warna dan bau apa yang kau kehendaki!” Maka tibalah malam yang ditunggu-tunggu itu. Semua pohon bunga melepaskan sekuntum bunganya, lalu secepatnya mengajukan permohonan. Nah, lihatlah! Pohon mawar berwarna merah, kuning, putih, bahkan ada yang hitam. Baunya pun sangat harum. Kembang sepatu juga berwarna merah, putih, kuning, namun lupa memohon bau harum. Pohon cempaka hanya ingat memohon bau harum, tetapi lupa jenis-jenis warna. Ia hanya ingat warna putih dan kuning. Dan itu, si sedap malam, ia bingung memilih warna. Ia hanya ingat bau harum yang dikeluarkan danau setiap malam hari. Anehnya lagi, si bunga bangkai yang kurang pergaulan dan pelupa itu. Ia tidak ingat nama-nama bau, lalu keceplosan meminta bau busuk. Itulah sebabnya ia dipanggil teman-temannya dengan nama Bunga Bangkai. Ketika matahari hampir terbit, barulah ketahuan, bahwa tidak semua bunga memanfaatkan kesempatan yang baik itu. Ternyata ada bunga yang ketiduran. “Hai, Bunga! Bangun, bangun!” Demikian teriak teman-temannya membangunkan bunga yang lengah itu. Bunga itu terkejut dan tersipu malu-malu. Waktu yang ditentukan telah lewat. Ia tidak mendapat bagian warna dan bau. Temantemannya menertawakan dan mengejeknya. Bunga yang bernasib malang itu diberi nama julukan si Kejut atau si Putri Malu. (Malaysia)
Edisi 917/ 5 - 11 september 2016
17
16
Edukasi Penutupan OSPEK Mahasiswa Baru IKIP PGRI Bali
Edisi 917/ 5 - 11 september 2016
Orientasi Study dan Pengenalan Kampus (OSPEK) Mahasiswa Baru IKIP PGRI Bali yang dilaksanakan mulai Kamis (2/9), ditutup hari ini, Minggu (4/9) di Pemelisan Desa Adat Pekraman Sesetan, Kelurahan Sesetan.
Tanam Pohon Langka untuk Kebutuhan Upakara
M
engundang Ketua TP PKK Kota Denpasar Ny. IA Selly Mantra yang diawali dengan gerakan penghijauan yakni penanaman pohon cempaka, pohon bambu, pohon kelapa, pohon sentul, pohon badung, pohon mundeh, pohon bekul, dan pohon belimbing. “Pohon-pohon yang dipilih ini disesuaikan dengan kebutuhan, dan nantinya bisa dipergunakan sepanjang zaman. Sehingga IKIP PGRI Bali akan membuat sejarah disana karena pohon yang ditanam benar-benar langka yang dikaitkan dengan kebutuhan upakara,” ujar Rektor IKIP PGRI Bali Dr. Made Suarta, S.H., M.Hum. Ia menegaskan, sama seperti tahun-tahun sebelumnya, OSPEK tahun ini penekanannya pada ranah kognitif, yakni pemahaman pada materi-materi yang disam-
paikan penceramah. Mulai dari pendidikan karakter, yang membentuk bagaimana berperilaku keseharian dan juga bagaimana berbangsa dan bernegara. Karena perilaku seorang guru yang patut digugu dan ditiru dikatakannya ada di ranah tersebut. “Memahami dulu apa yang harus digugu dan ditiru, baru kemudian bertindak,” ujarnya. Ketua Panitia yang juga Wakil Rektor III Dr. Drs. I Wayan Citrawan, M.Pd. menambahkan, selain materi Pendidikan Karakter oleh Rektor Made Suarta, mahasiswa baru juga dikenalkan dengan sejarah IKIP PGRI Bali oleh Ketua Yayasan IGB Arthanegara; Kegiatan Akademik di Perguruan Tinggi oleh Wakil Rektor I Pande Wayan Bawa; Layanan Mahasiswa oleh Wakil Rektor II Dewa Juwana; Organisasi dan Kegiatan Kemahasiswaan oleh Wakil Rektor III Wayan Citrawan;
Kamtibnas dari Kapolda Bali; Bahaya Narkoba dari Kepala BNN Provinsi Bali; serta Literasi Informasi oleh Kepala Bagian Perpustakaan IKIP PGRI Bali. OSPEK yang bertema “Melalui OSPEK Kita Tumbuhkan Sikap Inovatif, Uket, dan Tekun dalam Menghadapi MEA” ini diikuti 607 peserta. Kegiatan ini dikatakan Wayan Citrawan dalam rangka menyiapkan mental dan memberikan gambaran tentang sistem pembelajaran dan kehidupan kampus bagi mahasiswa baru untuk mempercepat beradaptasi dengan lingkungan barunya. Masa orientasi ini pun dikatakannya dapat dijadikam titik tolak inisisi pembinaan idealism, menanamkan dan membina sikap cinta tanah air, kepedulian terhadap lingkungan dalam rangka menciptakan generasi yang berkarakter, jujur, cerdas, bertanggungjawab dan tangguh.
Potensi alam Kecamatan Tembuku, Bangli nampaknya tak pernah habis. Disamping air terjun Tangkup, ternyata di daerah yang berada di bagian timur ini juga terdapat air terjun Cepung atau juga dikenal dengan air terjun “Turun dari Langit”. Air terjun Cepung berada di Banjar Penida Kelod, Desa/ Kecamatan Tembuku, Bangli. Untuk sampai di lokasi, harus berjalan kaki ratusan meter dari jalan raya melalui jalan
“Turun dari Langit”
setapak dan berundag. Perjalanan dilanjutkan dengan menyisiri Sungai Yeh Gadang dan berlanjut ke Sungai Cepung. Saat itu, mata akan dimanjakan dengan keindahan alam berupa tebing bebatuan dan juga goa sangat mempesona yang terbentuk secara alami. Suara gemericik air sungai yang seolah-olah tak rela dihadang bebatuan. Tak hanya itu, hijaunya daun pepohonan juga menunjukkan potensi alam
yang menawan. Sekitar 10 menit berjalan, tibalah di air terjun tersebut. Mata akan dihipnotis dengan indahnya deburan air yang sangat hening dan dikelilingi batu cadas. Saat itu pula, dirasakan sensasi seperti masuk ke dalam goa. Pancaran sinar matahari memunculkan warna berdegradasi. Berkat keindahan yang dimiliki, air terjun setinggi 15 meter ini juga diberi julukan air terjun ‘Turun dari Langit”. Kete-
Beberapa waktu lalu sebagian masyarakat sempat resah garagara beredar kabar menggegerkan harga rokok bakal naik hingga Rp 50.000 per bungkus seiring dengan kenaikan cukai rokok. Ditambah lagi muncul pernyataan dari Ketua DPR Ade Komaruddin yang mendukung wacana tersebut dengan harapan jumlah perokok menurun. Isu menjadi semakin liar karena di medsos juga beredar foto-foto sejumlah supermarket di Jakarta telah menaikkan harga rokok.
T
Rektor Made Suarta usai menyematkan tanda peserta pada perwakilan peserta OSPEK didampingin Ketua Yayasan Arthanegara dan Ketua Panitia Wayan Citrawan
Selain itu, Rektor Made Suarta juga menegaskan bahwa OSPEK ini ada sertifikatnya dan merupakan salah satu syarat diwisuda
Kegiatan ceramah untuk memberikan pembekalan bagi mahasiswa baru IKIP PGRI Bali
Pesona Air Terjun
Sudut Pandang
narannya tak hanya di lingkungan Bangli saja. Sejak tiga bulan lalu, pengunjung yang datang dari luar Bangli cukup ramai. Akibat terkesan keindahan yang ditawarkan, pengunjung pun tak hanya mengabadikannya melalui foto saja. Namun ada pula yang langsung mandi. Suasana alami yang dirasakan tak hanya itu saja. Dekat air terjun ini juga terdapat sejumlah pancoran disucikan warga yang disebut “Patirtaan Nawa Ratna”. Konon diyakini berkhasiat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Ketua Pemuda Banjar Penida Kelod Putu Waliana menuturkan sebelum dikenal banyak orang, air terjun ini hanya dikunjungi warga sekitar dan itu pun sangat jarang. Setelah diunggah di media sosial, tibatiba menjadi tenar. Pengunjung yang datang seakanakan tak pernah habis. “Sejak beredar di medsos, air terjun ini ba nyak yang mengunjungi,” ujarnya. Kunjungan semakin ramai saat hari libur tiba. Tiket masuknya hanya berupa sumbangan sukarela atau punia. “Pengunjung yang
nanti. “Jadi OSPEK ini wajib diikuti mahasiswa,” tegasnya. Dalam kesempatan itu, Ketua YPLP PT IKIP PGRI Bali Drs. IGB Arthanegara, M.H.,M.Pd. juga menyampaikanrasa syukur dan beretrimakasih kepada masyarakat karena dari beberapa LPTK di Bali, IKIP PGRI Bali masih sangat dipercaya. Terbukti dari jumlah mahasisma baru IKIP PGRI Bali, angkanya cukup stagnan dari tahun ke tahun. Darisini ia melihat bahwa generasi muda yang bercita-cita menjadi guru masih tetap tinggi. “Profesi guru masih dicintai generasi muda, sehingga kami berharap ke depannya kita tak sampai kekurangan tenaga guru,” ujarnya. –ten
datang tak hanya domestik. Asing juga ada. Sementara tarif masuknya masih sukarela,” imbuhnya. Perbekel Tembuku I Ketut Mudiarsa mengatakan menurut penilaian beberapa waktu lalu, air terjun Cepung tersebut menduduki peringkat ke tujuh terindah di Bali. Ke depan juga ada rencana dikembangkan untuk dijadikan wisata paket. “Di desa kami juga ada arca sebagai tempat melukat. Potensi alam lainnya juga mendukung. Mudah-mudahan nanti bisa jadi wisata paket,” tandasnya. -Sosiawan
ak heran kalau sempat muncul aksi borong rokok yang dilakukan oleh sebagian kalangan perokok. Herman misalnya, tak tanggung-tanggung memborong 10 slop rokok favoritnya. Meski sadar stok rokok itu tak akan ada artinya karena toh akan habis dan dia harus membeli. “Iya lah tahu stok gua nggak seberapa karena pasti nanti juga bakal beli. Tapi setidaknya kan jika benar-benar naik Rp 50.000, merasa lebih tenang. Yang pasti, ya harus ngirit ngerokoknya, biar nggak cepat habis,” katanya sambil tertawa. Kabar kenaikan harga rokok yang ‘fantastis’ ini juga ditanggapi oleh sejumlah produsen rokok besar. Mereka menolak keras jika kenaikan harga rokok menjadi begitu besar. Karena imbasnya, bukan hanya para perokok yang terkena, tapi mereka yang terlibat dalam industri rokok pasti akan sangat terpukul. Mereka meminta pemerintah mengkaji lebih dalam masalah ini. Untungnya gonjang-ganjing ini tidak berlangsung lama, pernyataan pemerintah telah membantu menenangkan masyarakat yang resah. Sri Mulyani, Menteri Keuangan, mengatakan, saat ini pihaknya sedang mengkaji soal soal besaran cukai rokok karena itu soal harga eceran rokok belum ditentukan. Pernyataan itu sekaligus membatah isu yang beredar bahwa pemerintah sudah setuju dengan kenaikan rokok menjadi Rp 50.000.
S
E
Edisi 917/ 5 - 11 september 2016
9
Kerugian akibat Rokok 3,7 Kali Cukai Tembakau
Untuk diketahui bahwa kenaikan harga rokok per Januari 2016 adalah rata-rata 11,19%. Kenaikan ini sudah termasuk paling tinggi jika dibanding rata-rata kenaikan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini karena banyaknya aspek yang harus dipertimbangkan terkait industri rokok. Dengan demikian jika rokok benar-benar menjadi Rp 50.000 berarti kenaikan mencapai sekitar 300%. Lalu, bagaimana asal-usulnya sehingga muncul kabar yang meresahkan itu? Merebaknya isu kenaikan harga rokok muncul dari hasil penelitian Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia tentang seberapa besar publik mendukung kenaikan cukai rokok dan penggunaan dana cukai rokok untuk Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Hasil survei ini dipublikasi ke jurnal ilmiah pada akhir Juli lalu. Salah satu hasil penelitian itu mengatakan, perokok akan berhenti merokok jika harga rokok dinaikkan hingga tiga kali lipat. Menurut Zahrina, asisten peneliti Ketua PKEKK UI Prof Hasbullah Thabrany, penelitian tersebut dilakukan pada Desember 2015-Januari 2016 bertema ‘Polling Phone Survey Rokok dan Jaminan Kesehatan Nasional’. “Tujuan polling ini untuk mengetahui seberapa besar publik mendukung kenaikan cukai rokok dan penggunaan dana cukai rokok untuk jaminan kesehatan nasional,” jelasnya seraya menyebut ada 1.000 responden yang menjawab dengan lengkap, rentang usia responden adalah 14-78 tahun. Mereka berdomisili di 34 provinsi di Indonesia. Dari hasil tersebut diketahui dari 41,5% perokok, 49,2% mengonsumsi 1-2 bungkus per hari. Sebanyak 80,3% responden setuju menaikkan cukai dan harga rokok untuk mendanai JKN. Sebanyak 96,8% mengaku mengetahui bahaya rokok dan 60% yang merokok
X DU
Thabrany juga menambahkan bahwa kenaikan harga rokok yang ditanyakan bukan hanya Rp 50.000 tapi juga ada angka Rp 25.000 dan Rp 35.000. Namun untuk dua harga terakhir itu, ternyata masyarakat masih mau dan rela membelinya. Barulah ketika pada angka Rp 50.000 masyarakat menjawab tidak mau membeli. Pihak-pihak yang mendukung kenaikkan harga rokok Rp 50.000 berharap, pemerintah dalam mempertimbangkan kenaikkan harga rokok lebih mengedepankan masalah kesehatan masyarakat ketimbang kepentingan industri rokok. Data Global Adult Tobacco Survey 2014 menyebutkan, setidaknya 190.260 orang di Indonesia meninggal dunia akibat mengkonsumsi rokok.
Prof Hasbullah Thabrany
mengaku sulit berhenti merokok. Sebanyak 46% perokok setuju untuk menaikkan harga rokok menjadi Rp 50.000 atau lebih. Sebanyak 72,3% perokok menyebut jika harga rokok Rp 50.000 per bungkus atau lebih akan membuat perokok berhenti merokok. Hasil penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan tahun 2013 menyebutkan, tingginya kerugian negara akibat konsumsi rokok tidak sebanding dengan pendapatan yang diterima negara dari rokok. Kerugian total akibat konsumsi rokok selama 2013 mencapai Rp 378,75 triliun yang meliputi hilangnya produktivitas akibat sakit, disabilitas, kematian prematur di usia muda dan biaya berobat akibat penyakit-penyakit terkait tembakau. “Jumlah itu 3,7 kali lebih besar dibanding cukai tembakau yang diperoleh negara yakni Rp 103,02 triliun di tahun yang sama,” ujar Ketua PKEKK UI Prof Hasbullah Thabrany.
BUKAN SEKADAR MASALAH KESEHATAN Sementara pihak lain di luar itu mengatakan, mereka bukan tidak mendukung kenaikan cukai rokok karena toh memang setiap tahun pasti mengalami kenaikan. Tidak adanya gejolak kenaikkan sebelumnya karena besarannya dianggap pas yakni kisaran 11% lebih. Namun jika sampai kenaikan Rp 50.000 atau sekitar 300%, pasti akan terjadi gejolak. Karena persoalan rokok bukan semata masalah kesehatan masyarakat namun industri ini memiliki mata rantai yang panjang, salah satu yang pasti adalah persoalan lapangan pekerjaan. “Memangnya kalau terjadi PHK besar-besaran terhadap mereka yang terkait dalam industri rokok—lantaran menurunnya daya beli masyarakat --- akankah ada yang menyediakan lapangan pekerjaan pengganti? Jumlah pekerja dalam mata rantai ini jutaan, lho? “ ungkap seorang pemerhati masalah sosial. Hal senada juga diungkap oleh Setyati Endang Nusantari, Kasubdit Industri Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian.
Menurutnya, jika harga rokok menjadi sangat mahal maka daya beli masyarakat akan melemah. “Jika daya beli lemah maka konsumsi akan turun. Jika terjadi penurunan konsumsi maka produksi juga akan turun,” ucap Setyati dalam diskusi yang berlangsung di sebuah restoran di bilangan Cikini, Jakarta, pekan lalu. Dampak dari produksi menurun, paparnya, adalah pada tenaga kerja di industri tersebut di mana nantinya akan terjadi efisiensi tenaga kerja dari tenaga manusia beralih ke tenaga mesin. Contohnya, satu orang bisa melinting 5.000 batang sedang mesin bisa melinting 5-10 ribu per menit. “Jadi nanti akan terjadi efisiensi dimana sigaret kretek tangan akan beralih ke mesin pelinting. Nanti juga akan marak pertumbuhan rokok ilegal. Yang namanya ilegal maka pendapatan tidak masuk ke kas negara,” kata Setyati panjang-lebar. “Yang juga akan merasakan dampaknya adalah para petani, baik itu petani tembakau dan cengkih,” tambahnya. Sementara Tulus Abadi dari YLKI yang juga hadir dalam diskusi tersebut mengatakan, data BPS menyebutkan 70% perokok berasal dari rumah tangga miskin. Diindikasikan, jelas Tulus, yang menyebabkan kemiskinan di rumah tangga miskin adalah fluktuasi harga beras dan konsumsi rokok. Karena, berdasarkan data BPS itu terlihat kalau salah satu alokasi budget rumah tangga miskin adalah untuk rokok. Itulah sebabnya, Tulus menyebut, pihaknya sangat berharap agar pemerintah juga DPR perhatian terhadap masalah ini. YLKI sendiri secara tegas juga telah menyatakan kalau pihaknya mendukung wacana kenaikan harga rokok menjadi Rp 50.000 per bungkus. Hal ini sebagai bentuk kepedulian YLKI untuk melindungi konsumen perokok juga non perokok, khususnya masyarakat menengah ke bawah, anak-anak dan remaja. –Diana Runtu
Kirim surat Anda ke Redaksi Tokoh dan cantumkan “Sex Edu” di amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh.co.id. Rubrik ini diasuh Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI) Denpasar.
dr. Oka Negara, FIAS
SEKS ORAL
Dok, saya belakangan ini sering melakukan oral sex dengan suami. Kami berdua saling menikmatinya. Tetapi apakah berbahaya jika ini sering dilakukan? Terus, ada teman saya bilang kalau oral sex juga tetap bisa bikin pasangan kita hamil, apa benar dok? (Rina, 27 thn) Oral sex atau seks oral adalah aktivitas seksual dengan memberikan stimulasi melalui mulut dan lidah pada organ seks atau kelamin pasangan. Saat ini semakin banyak yang melakukannya, terutama di kalangan muda sebagai variasi seksual. Jika pihak perempuan yang melakukan seks oral pada kelamin laki-laki disebut dengan fellatio, sebaliknya jika pihak laki-laki yang melakukan oral seks pada kelamin perempuan disebut dengan cunnilingus. Sesungguhnya seks oral itu aman dan tidak berbahaya bila dilakukan secara higienis, tanpa adanya penyakit serta atas keinginan bersama. Tentu saja sebelum dan sesudah seks oral, alat
kelamin harus selalu bersih. Biasanya, seks oral merupakan salah satu “adegan” variasi seksual yang sering dilakukan pada saat “foreplay” atau pemanasan, yang disusul kemudian dengan penetrasi kelamin untuk mencapai kepuasan seksual. Beberapa lakilaki cenderung menyenangi pasangannya untuk melakukan seks oral, meskipun terkadang permintaannya tidak selalu dipenuhi. Laki-laki yang menyukai seks oral menyebutkan menyukainya karena seks oral terasa enak dan lebih menyenangkan, juga dirasa nyaman karena bisa memperhatikan dan mengontrol pasangan, sekaligus dianggap bisa mengurangi stres. Tetapi sesungguhnya perempuan juga senang jika pasangannya melakukan seks oral, karena saat seks oral lah klitoris yang merupakan salah satu organ paling peka rangsangan di vagina akan terangsang secara maksimal. Kuman ataupun virus yang bisa hidup di kelamin, juga dapat hidup di rongga mulut karena lingkungan mulut yang hangat, gelap dan lembab. Tentu saja itu berarti risiko infeksi menular seksual pada kelamin juga bisa terjadi pada mereka
yang biasa melakukan seks oral. Infeksi menular seksual seperti gonore, sifilis, herpes hingga jamur kandida juga bisa menginfeksi area mulut, rongga mulut dan sekitarnya. Jadi pastikan mulut tidak sedang mengalami luka, keradangan dan berpenyakit saat melakukan seks oral. Beberapa jenis bakteri seperti klamidia dan gonore dapat hidup di tenggorokan dengan gejala yang dikeluhkan bisa berupa sakit tenggorokan. Bila hal ini tidak segera ditangani, lama kelamaan bakteri dapat menyebar ke dalam paruparu mengakibatkan infeksi. Tentang seks oral bisa mengakibatkan kehamilan, tentu saja itu keliru dan mitos belaka. Tidak ada kebenarannya sama sekali. Walaupun pernah dilaporkan kasus menghebohkan kehamilan gadis 15 tahun akibat menelan sperma, tentu saja ada kebohongan di dalam kasus ini. Karena spermatozoa hanya akan menempel pada dinding rahim jika melalui saluran vagina saja, sedangkan jika sperma tertelan dan masuk saluran cerna, maka akan keluar lewat anus, bukan masuk ke rahim. Jadi, seks oral sesungguhnya bisa dijadikan variasi seks yang sangat me-
nyenangkan, selama itu disepakati bersama, tidak ada tekanan dan rasa jijik untuk melakukannya dan tentu saja kelamin dalam keadaan bersih dan tidak sedang terkena penyakit menular. Jika, salah satu pihak tidak nyaman melakukannya, sebaiknya ditunda buat melakukan seks oral. Jika salah satunya mengidap infeksi menular seksual, sebaiknya seks oral juga tidak dilakukan dan sembuhkan dulu infeksinya. Tetapi jika tetap memaksakan diri untuk melakukan seks oral dengan pasangan yang sedang terinfeksi menular seksual atau dengan pasangan yang tidak diketahui kondisi kesehatan seksualnya, gunakan juga kondom. Kini sudah tersedia berbagai kondom dengan berbagai warna, pelumas dan pilihan rasa untuk menambah sensasi menyenangkan dalam melakukan hubungan seksual dan seks oral. Menggunakan kondom saat melakukan seks oral bukan sebuah keanehan, bukan juga berarti tidak percaya terhadap pasangan. Justru dengan menggunakan kondom sebagai proteksi, Anda sesungguhnya telah menghormati dan melindungi pasangan Anda.
10
Kreasi
Edisi 917/ 5 - 11 september 2016
Motif Dulang Ikuti Perkembangan Teknologi
Industri kreatif yang berkembang di Kabupaten Bangli sangat beragam. Yang terkenal tak hanya berbahan bambu saja. Industri berbahan kayu, salah satunya dulang juga demikian.
motif pada dulang terus mengala-
mi inovasi. Demikian juga dengan bahannya. Belakangan, kayu albesia sebagai bahan utama makin sulit didapatkan. Atas kondisi itu, perajin beralih menggunakan fiber. Meski berbeda bahan, kualitasnya tetap tak kalah. “Penyedia kayu biasanya dari warga lokal. Tapi sekarang sudah sulit mencarinya. Jadinya perajin beralih ke fiber,” jelasnya. Di balik adanya tantangan
pasar, pemasaran dulang ini masih tergolong stabil. Maklum karena tempatnya di Bali. Banyak yang menggunakannya saat upacara di Pura. Saat ditinjau lebih jauh, ternyata beberapa produk home industry ini sudah pernah terjual ke luar negeri, salah satunya Dubai. Namun, karena lesunya perekonomian, itu tak lagi berjalan. “Dulu sampai ekspor,” tandas perbekel yang juga seorang pelukis ini. -Sosiawan
setiap kesempatan diminta untuk mengajar kepada siapa saja tidak pernah menolaknya. Selain terkenal sebagai pembuat rindik, Jingga juga sangat dipercaya dalam membina sekaa tari joged. Tidak kurang dari 45 sekaa joged pernah dibinanya sejak tahun 1970-an hingga sekarang yang tersebar di kabupaten Buleleng, Karangasem, Klungkung, Bangli, Gianyar, dan Tabanan. Meskipun saat ini stigma joged sebagai tarian yang vulgar, namun Jingga tetap mempertahankan etika tarian tersebut. “Joged di sini tetap menjadi yang terbaik dan contoh karena tetap mempertahankan tarian joged yang sebenarnya kalau ada yang pesan joged vulgar kami suruh ke tempat saja,” jelas peraih penghargaan Wija Kusuma se-
bagai seniman tabuh dan tari joged tersebut. Memang secara sekilas dari segi pakaian tidak ada yang berbeda dengan joged vulgar akan tetapi yang membedakan adalah tariannya. “Kalau joged vulgar tariannya lebih erotis,” tambahnya. Saat ini masyarakat yang ingin ngupah joged sudah jarang yang mencari vulgar malahan memesan joged dengan tarian sopan. Pria yang pernah dinobatkan sebagai seniman tua oleh pemerintah provinsi Bali tahun 2012 itu juga mengaku jika masyarakat yang ingin belajar membuat rindik sudah kian berkurang. “Belum ada yang mau belajar, mungkin karena buatnya susah,” ungkapnya. Ia sangat berharap ada yang meneruskan usahanya membuat rindik tersebut baik anak maupun cucunya. -Wiwin
M
emasuki daerah yang berada di B a ng li Ti m u r ini, mata akan dimanjakan dengan daerah yang masih hijau. Udara pegunungan terasa sangat sejuk. Semilir angin membawa pikiran melayang dan menghempas rasa penat. Di balik itu, terlihat pula warga yang tengah sibuk membebet kayu. Beberapa juga terlihat ada yang mengamplas dan mengecat. Tangannya nampak kuat dan tak mengenal lelang. Beberapa juga ada yang mengoleskan cat ke permukaan kayu itu. Sungguh sangat piawai. Kuas dan tangan seolah-olah sudah bersahabat. Nyaris tak ada cat yang menetes. Di tengah sinar matahari, juga tampak yang sibuk
Perajin dulang
menjemur kayu yang telah terbentuk. Itulah sekilas gambaran sejumlah warga di Desa/Kecamatan Tembuku, Bangli yang bergelut sebagai perajin dulang. Perbekel Tembuku Ketut Mudiarsa menuturkan di desanya terdapat delapan banjar, Tembuku Kawan, Tembuku Bakas, Tembuku Sesetan, Tembuku Kaja, Penida Kelod, Penida Kaja, Tegalasah dan Kedwi. Di seluruh daerah itu, sebagian besar warganya bergelut pada kerajinan yang sangat lekat dengan masyarakat
Hindu di Bali ini. “Kerajinan dulang
sudah berkembang sejak dulu. Sudah menjadi ciri khas daerah kami,” ujarnya. Dulang yang diciptakan tangan-tangan kreatif warga ini bukan sembarangan. Kualitas yang ditawarkan cukup baik. Berkat itu, pemasarannya bisa merambah sejumlah pasar di Bali, maupun luar Bali, salah satunya daerah yang menjadi tujuan transmigrasi. Makin berkembangnya teknologi,
I Ketut Jingga
Berharap Ada Penerus
I Ketut Jingga
Di usianya yang makin senja, tidak mematahkan semangantnya untuk tetap berkarya dalam dunia seni. Aktivitas kehidupannya tidak bisa dipisahkan dari seni, keadaan itu mengantarkan I Ketut Jingga menjadi seniman serba bisa, aktif menciptakan kreasi-kreasi baru bidang tabuh, musik dan tari Bali. Aktivitasnya yang paling menonjol sebagai pelatih tari joged dan pembuat rindik, alat musik tradisonal Bali yang terbuat dari bambu
yang biasanya digunakan untuk mengiringi tari joged. Keahlian khususnya dalam membuat rindik ia dapatkan dari darah seni yang mengalir dalam tubuh ayahnya Nyoman Adya Yana. Untuk dapat membuat rindik yang memiliki kualitas bagus dan suara merdu harus menggunakan bambu tabah. “Bambu tabah itu merupakan bambu yang keringnya di pohon bukan buatan dan biasanya baru didapat setahun sekali,” ungkapnya. Agar mendapatkan suara yang sama pada tingkatan nada pada rindik yang dibuatnya, Ketut harus bekerja cermat dan hati-hati. Hal ini dikarenakan, sedikit saja ukuran dan potongan yang berbeda akan menghasilkan bunyi tidak sesuai dengan yang diinginkan. Sulitnya menentukan nada, membuat pria kelahiran 31 Desember 1952 tersebut hanya mampu membuat dua tungguh rindik dalam sehari. Maka dari itu, ia hanya membuat rindik jika sudah ada pesanan pasti dari konsumen.
Berkat ketekunannya, sejak tahun 1959 Ketut tetap berupaya mempertahankan usahanya hingga kini. Bahkan ia telah memasarkan rindik buatannya ke seluruh Bali, Indonesia dan mancanegara. “Selain membuat rindik saya juga melatih bulebule dari Amerika, India, Jerman untuk belajar tari dan rindik,” tambah pria yang tinggal di Banjar Dajan Margi, Desa Sari Mekar, Kota Singaraja, Kabupaten Buleleng ini. Wisatawan yang sedang menikmati liburan di Bali juga tertarik untuk mempelajari tabuh dan tari Bali. Bagi Jingga
I Ketut Jingga dan gamelan buatannya
Style
Edisi 917/ 5 - 11 september 2016
Akulturasi Budaya Indonesia-India dalam Busana
15
“Kebaya and Saree for the World” Kehadiran desainer Shinta Chrisna dalam ajang tahunan Sanur Village Festival 2016 berbeda dengan sebelumnya. Kali ini, ia berkolaborasi dengan desainer dari India, Monica Mohindra, memperkenalkan new label yaitu Chrisna Monica.
C
hrisna Monica ini lahir terinspirasi dari kebaya dan kain tradisional Indonesia yang dipresentasikan dalam gaya busana tradisi India yaitu sari dan lehengga. Untuk konsep warna dipilih warna-warna cerah berani dan glamour yang memang menjadi kesukaan masyarakat India dan Indonesia. “Semoga inspirasi akulturasi dari dua budaya yang dipresentasikan dalam gaya busana baru ini, dapat diterima oleh masyarakat Bali, Indonesia dan dunia,” ujar Shinta Chrisna. Demikan halnya dengan Monica Mohindra, ia juga berharap kain sari bisa dipakai seluruh masyarakat dunia. “Dan,
Shinta Chrisna
saya juga berharap seluruh wanita di dunia mengenakan kebaya,” imbuhnya. Dengan tagline “Kebaya and Saree for the World”, Kamis (25/8), di panggung utama Sanfest 2016, dua desainer cantik ini mempersembahkan karya-karya mereka dalam fashion show yang mengusung tema “Uttaran The Bollywood Vaganza”. Fashion show ini didukung oleh LT Pro Lv Cnc, Sakabross dan sahabat-sahabat tercinta Shinta Chrisna. Dengan pilihan lagu soundtrac Uttaran serta lagu Bollywod terkenal lainnya, fashion show minidrama ini tampil begitu memukau hingga penonton tak kunjung beranjak walaupun hujan menerpa. –Inten Indrawati
14
Jelita
Edisi 917/ 5 - 11 september 2016
Kulit adalah salah satu poin penting untuk menjaga kecantikan wajah yang sekaligus akan mendukung penampilan seseorang. Karenanya, tak heran banyak orang melakukan beragam cara untuk menjaga kecantikannya. Malah, mereka rela merogoh kocek cukup besar demi memeperoleh wajah cantik.
S
ebenarnya jika mereka mau sedikit saja belajar, mereka tak perlu menggelontorkan banyak dana untuk urusan kecantikan. Sebab yang paling mendasar untuk wajah bisa cantik dan segar adalah kulit yang sehat. Untuk itu, kita perlu melakukan perawatan. Memang , kita tidak bisa
Tips Merawat Kulit menghindari yang namanya polusi udara yang kadang diakibatkan oleh debu ataupun asap kendaraan. Kondisi ini bisa membuat kulit menjadi kering dan kusam. Karena itulah kita perlu membersihkan kulit agar tetap terlihat bersih dan segar. Demikian disampaikan dr. Laksmi Duarsa, Sp. KK, saat ditemui usai berbicara mengenai “Tips Merawat Kulit” di Lantai III Gedung Bali Post, Jalan Kepundung, Denpasar , Sabtu (27/8). Oleh karena itu sangat diharapkan kita melakukan pembersihan kulit setidaknya 2 kali dalam sehari dengan menggunakan air bersih yaitu, pada pagi hari
saat bangun tidur dan malam hari sebelum beranjak tidur. Hal ini perlu dilakukan mengingat debu akibat polusi udara merupakan salah satu penyebab timbulnya jerawat. Berikutnya dokter spesialis kulit ini menguraikan beberapa poin yang perlu dilakukan untuk merawat kesehatan kulit agar tetap cerah, sehat.dan segar. Air putih, kata dokter Laksmi memiliki sangat banyak manfaat untuk manusia, salah satunya yakni untuk menjaga kesehatan kulit. Dengan mengonsumsi air, seseorang terhindar dari stres kulit. Selain itu, air putih dapat pula menjauhkan kita dari kulit
Tips Praktis Merias Wajah dan Membuat Sanggul Sendiri
Salon Agung memberikan peragaan tatarias rambut dalam acara workshop kecantikan di Lantai III Kantor Bali Post
Serangkaian peringatan HUT ke-68 Bali Post dan HUT ke-71 Proklamasi RI, digelar acara kekeluargaan yang melibatkan anggota keluarga karyawan Bali Post. Beragam aksi sosial digelar hingga mendatangkan narasumber dr. Laksmi Duarsa, Sp. K.K. dan pakar tata rias Bali Dr. AA Ayu Ketut Agung, M.M. Usai dr. Laksmi membahas tentang perawatan kulit, Pemilik Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Agung, Bu Agung menyampaikan tips praktis merias wajah untuk diri sendiri serta membuat dan memasang sanggul Bali (pusung tagel). Pusung tagel ini dikatakan Bu Agung melambangkan kedewasaan (dalam arti luas), yakni mereka yang sudah menstruasi atau yang sudah menikah. Pusung tagel bisa diaplikasikan pada perempuan yang memiliki rambut panjang maupun pendek, dengan bantuan cemara/antol, hairpiece, atau dengan rambut sendiri (jika rambutnya panjang). Mungkin masih banyak perempuan Bali yang berpikir bahwa membuat dan memasang pusung tagel itu susah dan ribet. Namun pada kesempatan itu, Bu Agung membagi trik praktisnya. Ia mempraktikkan dan menuntun peserta untuk membuat sanggul dengan hairpiece. Pertama-tama, rambut dibagi dua, bagian depan dan belakang. Ambil rambut di depan sebatas telinga, kemudian ikat di bagian belakang. Ikat rambut bagian belakang setinggi lebih kurang 5 jari
dari perbatasan pertumbuhan rambut belakang. Berikutnya, rapikan rambut depan, dengan disasak atau tanpa disasak. Dengan bantuan sisir dan jari telunjuk, bentuklah sunggar. Sempurnakan bentuk sunggar dengan jalan memasukkan ibu jari. Agar bentuknya tetap, gunakan bantuan jepit. Selanjutnya, rambut yang diikat tadi disisir. Buat batun pusungan/pusung gonjer, kemudian ditekuk/ditagel ke bagian dalam, sejajar dagu tanpa menyentuh pundak. Lalu, bungkus pusung tagel yang sudah terbentuk dengan hairnet. Rapikan dengan menyemprotkan hairspray. Dengan tips praktis yang disampaikannya, hanya dalam hitungan menit, sanggul pun jadi. Demikian halnya dengan tata rias wajah. Ia mengingatkan untuk berhati-hati membentuk alis. Karena jika memasang alis terlalu tinggi akan memberikan kesan angkuh, demikian halnya jika terlau rendah, memberi kesan loyo/sakit/sedih. “Cepat dan gampang kan? Jadi, ibu-ibu tak perlu lagi berlama-lama menghabiskan waktu untuk mepayas, dan tidak perlu lagi sedikit-sedikit ke salon,” ujarnya. Selain sanggul Bali, Bu Agung juga mendemontrasikan cara membuat sanggul keong (sanggul modern) ala pramugari. Di akhir acara, para peserta diminta mempraktikkan langsung membuat sanggul keong, dan beberapa hasil terbaik diberikan bingkisan. –Inten Indrawati
dr. Laksmi Duarsa, Sp. KK
keriput. Jumlah minimal air yang harus anda konsumsi untuk setiap harinya adalah 8 gelas. Perlu diketahui juga pentingnya jumlah waktu tidur yang cukup dan benar. Sebab, menurut penelitian, seseorang yang kurang tidur kulitnya akan menjadi kusam, cepat keriput dan warna kulit menjadi tidak rata. Oleh sebab itu kita harus bisa mengatur waktu tidur. Standar waktu tidur dalam jangka waktu 24 jam adalah 7 jam. Dalam waktu 7 jam tersebut, kulit akan beregenerasi sehingga keesokan harinya kita akan terlihat lebih segar. Dikatakan oleh dokter spesialis kulit ini, selain dengan mencukupi waktu istirahat, kesehatan kulit juga bisa dijaga dengan m,enggunakan tabir surya, terutama saat kita terpapar sinar matahari diantara pukul 10.00 pagi sampai pukul 15. 00 sore . Karena, kulit yang terpapar sinar matahari secara terus menerus tanpa memakai pelindung, disamping akan terlihat
kusam dan kering. Kulit juga akan lebih mudahitamterkena kanker kulit. Kita bisa menggunakan baju lengan panjang, topi atau kacamata hitam dan tabir surya sebagai pelindung. Untuk tabir surya bisa digunakan sun cream dengan SPF 15 sampai 30. Tabir surya ini, hendaknya kita gunakan 30 menit sebelum terpapar sinar matahari. Pemakaianya bisa diulang kembali jika diperlukan. Hindari makanan yang banyak mengandung gula. Makanan yang mengandung gula terlalu tinggi menyebabkan kolagen dan elastin rusak sehingga kulit menjadi keriput dan menjadi kendur. Konsumsilah lebih banyak buah dan sayur. Bicara kesehtan kulit, dokter Laksmi menyampaikan bahwa hal lain yang terkait dengan kulit adalah hadirnya tanda-tanda penuaan pada wajah dengan bertambahnya usia. Hal ini juga kerap menjadi problem dan dikeluhkan banyak perempuan. Namun, dengan rajin melakukan perawat kulit dengan produk yang sesuai jenis kulit, maka siapa pun bisa menikmati kulit yang senantiasa kencang dan sehat. Pertumbahan usia juga seringkali memunculkan flek atau bercak-bercak hitam. Pada kondisi yang ringan kita bisa melakukan perawatan kulit di malam hari dengan menggunaklann cream atau lotion yang mengandung retinol yang digunakan secara bertahap dan tipis-tipis supaya tidak menyebabkan kulit iritasi, kemerahan, dan mengelupas. Cream atau lotion dengan kandungan hyaluronic acid juga bisa digunakan untuk menyamarkan garis-garis halus dan menjaga kulit tetap kencang. – Sri Ardhini
Bugar
4 M Solusi Pencegahan DB
yang menularkan itu. Nyamuk yang menularkan adalah aedes aegypti. Nyamuk ini memerlukan darah untuk mematangkan telurnya. Yang mengisap darah adalah nyamuk betina. Ia mengatakan, sesungguhnya demam dengue tidak berbahaya, namun, jika sudah stadium berat akan menjadi demam berdarah (DB) atau disebut komplikasi dari demam dengue. Pada stadium ini, bisa menimbulkan kematian. Dari tahun ke tahun, kasus demam dengue terus meningkat. Walaupun sesungguhnya, dari tahun 2010 ke atas, ada tendensi angka kematian menurun. Itu menandakan bahwa upaya pee n u r u t P r o f. merintah dalam menanggulangi dr. I Dewa Putu demam dengue sudah ada hasilWidjana, DAP nya. Namun, tetap tidak berhasil & E.Sp.Park., menurunkan kasusnya. Mengapa? peran nyamuk yang menularkan Susahnya penanggulangan nyamuk ini sangat luar biasa. Oleh karena aedes aegyti ini. Populasi nyamuk itu, kita harus tahu sifat nyamuk terus semakin banyak. Tempat bertelur sangat bervariasi. Prinsipnya, suka bertelur pada genangan air bersih, seperti kamar mandi, ban yang dibiarkan berserakan, kaleng bekas, makanan burung, terutama yang paling susah di pelepah pisang, ujar Rektor Universitas Warwadewa ini. Ia menyebutkan, nyamuk ini bertelur di tempat-tempat aliran air. Bertahan dalam kekeri ngan setahun. Nyamuk itu bisa terbang dalam radius 400 meter, jangkitan sangat cepat sekali. Penyakit ini menularnya cepat sekali apalagi daerah kepadatan padat. Penularan epidemik tiap 5 tahun. Penyakit Prof. dr. I Dewa Putu Widjana, DAP & E.Sp.Park.
Masyarakat sudah salah kaprah menyebutkan, setiap demam yang disebabkan virus sering disebut demam berdarah. Padahal, sesungguhnya demam dengue, yakni demam atau satu sindrom yang disebabkan virus dengue yang dibawa atau ditularkan nyamuk.
M
11
Edisi 917/ 5 - 11 september 2016
ini ada di seluruh dunia. Tapi angka kejadiannya lebih banyak di negara sosial ekonomi kurang, seperti Indonesia. Ditemukan pertamakali tahun 1969 di Surabaya, setelah itu menyebar ke seluruh Indobnesia. Untuk Bali, khususnya Denpasar, Badung, dan Buleleng, penyebarannya terba nyak karena jumlah penduduknya padat. Demam dengue yang ringan tidak ada gejala, mungkin
net
tkh/
bisa seperti flu. Ada panas atau tidak ada gejala, ujarnya. Ia menambahkan, kalau sudah pernah terkena, sangat berisiko sekali terkena untuk kedua kalinya. Misalnya, satu bulan lalu terkena type 1, kemudian sebulan kemudian terkena dengan type 3, akibatnya bisa berat. Demam dengue yang ditambah gejala pendarahan disebut demam berdarah. Gejala yang perlu diwaspadai, demam tinggi 2-7 hari, mual keras, ada bintikbintik di kulit, dan hari keenam perut sakit. Perut membesar karena ada penumpukan serum. Ini menyebabkan otak dan jantung tdak mendapatkan darah sehingga terjadi kegagalan organ dalam. Jika ini terjadi, pasien bisa koma dan akhirnya meninggal. Menurutnya, cara yang bisa dilakukan adalah dengan memberantas sarang nyamuk, mulai dari di sekitar kita dengan 4 M
Plus yakni Menguras, Menutup, Mengubur dan Mengawasi, se hingga perkembangan nyamuk aedes aegypti bisa dikendalikan dari mulai jentik dan Plus-nya seperti membersihkan lingkungan seminggu sekali. Memang ia tak menampik, teorinya sangat gampang, namun, praktiknya susah karena menyangkut prilaku. Menurutnya, fogging hanya usaha untuk menanggulangi nyamuk dewasa. Saya dengar, efektivitasnya kurang, mungkin saja dosisnya dikurangi atau nyamuknya sudah resisten. Sesungguhnya yang bisa dilakukan hanya dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN), katanya. Ia menambahkan, dengan PSN kita bisa mengendalikan populasi nyamuk. Sampai saat ini, tidak ada obat yang bisa membunuh virus. Ke depan, harapannya, mungkin ada pengembangan vaksin. -Wirati Astiti
12
Kuliner
Edisi 917/ 5 - 11 september 2016
Pizza Sambal Matah Tips Melipat Napkin L
ive cooking chef Akbar dari Bali Paragon Resort Hotel menjadi tontonan menarik saat media gathering, Kamis (2/9) di restoran Table Spon setempat. Ada dua menu yang didemokan, Sate Lilit dan Balinese Pizza. Dua makanan ini menjadi
favorit para tamu yang menginap di hotel yang berlokasi di Jimbaran ini. Kreasi pizza diberi topping sambal matah ternyata sangat lezat. Apalagi, bagi yang suka pedas, selera Anda akan termanjakan. Anda tertarik mencobanya, berikut resepnya. -Wirati Astiti
Pizza Sambal Matah Bahan adonan pizza: 250 gr : tepung terigu 10 gr : yeast/ragi 1sdt : garam Salad oil secukupnya
2
Ini merupakan jenis lipatan napkin yang klasik. Sebelum melipat napkin dengan bentuk ini terlebih dahulu setrikalah
napkin yang akan digunakan agar kaku - Bentangkan napkin dengan posisi terbalik
Bahan topping pizza: Sambal matah Keju mozarela Daging ayam Saus pizza Cara membuat: - Buat adonan kulit pizza. Semua bahan dicampur, sampai menghasilkan adonan kalis. Diamkan 30 menit, siap digunakan. - Giling adonan kulit sampai tipis 3 cm dan diameter 25 cm. Cetak dengan piring. Kemudian panggang 5 menit sampai krispi. - Ambil kulit pizza yang sudah matang, beri toping, isi saus pizza, daging ayam, sambal matah, dan terakhir keju yang sudah diparut. Oven lagi 5 menit dengan suhu 180°C. Siap disajikan panas-panas.
1
The Bishop’s Hat
Cara membuat saus pizza: - Tomat kukus dan keluarkan isinya. Tumis bawang Bombay dan bawang putih, kemudian masukkan tomat pasta dan isi tomat tadi. Tambahkan daun basil dan siap dijadikan saus tomat.
S at e Li lit
Bahan: 250 gr : 2 sdm : 2 sdm : 1 sdt : 3 sdm : 3 sdm : 2 lembar : 3 sdm : 2 sdm :
ikan tuna gula bali basa genep merica hitam bawang merah iris bawang putih iris daun jeruk santan kental cabai rawit
Cara membuat: - Daging ikan dihaluskan. - Semua bumbu dihaluskan, campur dengan ikan. Kemudian ambil tusukan sate, dan lilit sate. - Panggang sate sampai matang.
Sarwan
1 5
6
7
The Arrow Cara melipat napkin yang satu ini juga terbilang sangat simpel dan bisa dipakai untuk hampir semua jenis napkin. Jenis lipatan napkin ini akan memberikan tampilan yang elegan untuk meja. - Bentangkan napkin secara terbalik - Lipat napkin secara mendatar - Lipat ujung napkin bagian
13
kanan atas ke arah bawah - Ulangi langkah ini untuk ujung napkin bagian kiri atas - Lipat sisi terbuka napkin bagian kanan ke atas secara diagonal - Lakukan hal yang sama untuk sisi terbuka bagian kiri - Tarik bagian kiri dan kanan napkin ke belakang secara bersamaan dengan perlahan
Rawon Buntut Sapi Ganas
3
4
- Lipat napkin anda secara mendatar - Ambil ujung kanan bagian atas dari napkin dan lipat secara diagonal mengarah ke tengah - Kemudian ambil ujung kiri bawah dari napkin dan lipat mengarah ke tengah sehingga napkin sekarang membentuk jajaran genjang - Balik napkin - Lipat bagian bawah napkin ke atas, perhatikan pada sisi bawah napkin terdapat ujung napkin, jangan lipat ujung ini - Ambil ujung napkin yang satu lagi yang berada di sisi bawah - Lipat ujung napkin bagian kiri ke sisi belakang - Balik kembali posisi napkin - Lipat ujung kanan napkin yang sudah dibalik dan masukkan ke dalam lipatan satunya - Secara perlahan tegakkan napkin dan buka bagian tengahnya - Rapikan dan napkin siap digunakan. –Wirati Astiti
Edisi 917/ 5 - 11 september 2016
2
Bahan : 1 kg : buntut sapi, presto, potong-potong menurut selera 3 lembar : daun jeruk purut 2 batang : serai, memarkan 2 ruas : jari lengkuas, memarkan 750 ml : air Gula, garam, kaldu bubuk rasa sapi, minyak secukupnya Bumbu Halus : 9 buah : bawang merah
4 siung 4 buah 10 buah 1 sdm 2 ruas 2 ruas 5 butir 200 gr
: : : : : : : :
bawang putih cabe besar merah cabe rawit ketumbar jari jahe jari kunyit bakar kemiri sangrai daging kluwek, rendam air panas
Cara Membuat: Tumis bumbu halus sampai matang, masukkan daun jeruk, serai dan lengkuas. Aduk-aduk hingga tercampur lalu masukkan prestoan buntut sapi. Masukkan air, rebus sampai bumbu meresap. Siap disajikan dengan taburan bawang putih goreng dan irisan daun bawang.
Iga Saus Kuning Bahan : 1 kg : iga sapi, potong menurut selera, bersihkan 2 lembar : daun jeruk purut 2 batang : serai, memarkan 200 ml : santan kental Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya Bumbu Halus : 9 buah : bawang merah 4 siung : bawang putih 4 ruas : jari kunyit bakar
2 ruas : jari jahe 4 butir : kemiri sangrai 2 buah : cabe besar merah 10 buah : cabe rawit Cara Membuat: Presto iga hingga matang, sisihkan. Tumis bumbu halus, daun jeruk dan serai hingga matang. Lalu masukkan iga presto dan santan kental, gula, garam dan kaldu bubuk. Masak hingga matang dan bumbu meresap dan agak menge ring kuahnya. Siap disajikan.
12
Kuliner
Edisi 917/ 5 - 11 september 2016
Pizza Sambal Matah Tips Melipat Napkin L
ive cooking chef Akbar dari Bali Paragon Resort Hotel menjadi tontonan menarik saat media gathering, Kamis (2/9) di restoran Table Spon setempat. Ada dua menu yang didemokan, Sate Lilit dan Balinese Pizza. Dua makanan ini menjadi
favorit para tamu yang menginap di hotel yang berlokasi di Jimbaran ini. Kreasi pizza diberi topping sambal matah ternyata sangat lezat. Apalagi, bagi yang suka pedas, selera Anda akan termanjakan. Anda tertarik mencobanya, berikut resepnya. -Wirati Astiti
Pizza Sambal Matah Bahan adonan pizza: 250 gr : tepung terigu 10 gr : yeast/ragi 1sdt : garam Salad oil secukupnya
2
Ini merupakan jenis lipatan napkin yang klasik. Sebelum melipat napkin dengan bentuk ini terlebih dahulu setrikalah
napkin yang akan digunakan agar kaku - Bentangkan napkin dengan posisi terbalik
Bahan topping pizza: Sambal matah Keju mozarela Daging ayam Saus pizza Cara membuat: - Buat adonan kulit pizza. Semua bahan dicampur, sampai menghasilkan adonan kalis. Diamkan 30 menit, siap digunakan. - Giling adonan kulit sampai tipis 3 cm dan diameter 25 cm. Cetak dengan piring. Kemudian panggang 5 menit sampai krispi. - Ambil kulit pizza yang sudah matang, beri toping, isi saus pizza, daging ayam, sambal matah, dan terakhir keju yang sudah diparut. Oven lagi 5 menit dengan suhu 180°C. Siap disajikan panas-panas.
1
The Bishop’s Hat
Cara membuat saus pizza: - Tomat kukus dan keluarkan isinya. Tumis bawang Bombay dan bawang putih, kemudian masukkan tomat pasta dan isi tomat tadi. Tambahkan daun basil dan siap dijadikan saus tomat.
S at e Li lit
Bahan: 250 gr : 2 sdm : 2 sdm : 1 sdt : 3 sdm : 3 sdm : 2 lembar : 3 sdm : 2 sdm :
ikan tuna gula bali basa genep merica hitam bawang merah iris bawang putih iris daun jeruk santan kental cabai rawit
Cara membuat: - Daging ikan dihaluskan. - Semua bumbu dihaluskan, campur dengan ikan. Kemudian ambil tusukan sate, dan lilit sate. - Panggang sate sampai matang.
Sarwan
1 5
6
7
The Arrow Cara melipat napkin yang satu ini juga terbilang sangat simpel dan bisa dipakai untuk hampir semua jenis napkin. Jenis lipatan napkin ini akan memberikan tampilan yang elegan untuk meja. - Bentangkan napkin secara terbalik - Lipat napkin secara mendatar - Lipat ujung napkin bagian
13
kanan atas ke arah bawah - Ulangi langkah ini untuk ujung napkin bagian kiri atas - Lipat sisi terbuka napkin bagian kanan ke atas secara diagonal - Lakukan hal yang sama untuk sisi terbuka bagian kiri - Tarik bagian kiri dan kanan napkin ke belakang secara bersamaan dengan perlahan
Rawon Buntut Sapi Ganas
3
4
- Lipat napkin anda secara mendatar - Ambil ujung kanan bagian atas dari napkin dan lipat secara diagonal mengarah ke tengah - Kemudian ambil ujung kiri bawah dari napkin dan lipat mengarah ke tengah sehingga napkin sekarang membentuk jajaran genjang - Balik napkin - Lipat bagian bawah napkin ke atas, perhatikan pada sisi bawah napkin terdapat ujung napkin, jangan lipat ujung ini - Ambil ujung napkin yang satu lagi yang berada di sisi bawah - Lipat ujung napkin bagian kiri ke sisi belakang - Balik kembali posisi napkin - Lipat ujung kanan napkin yang sudah dibalik dan masukkan ke dalam lipatan satunya - Secara perlahan tegakkan napkin dan buka bagian tengahnya - Rapikan dan napkin siap digunakan. –Wirati Astiti
Edisi 917/ 5 - 11 september 2016
2
Bahan : 1 kg : buntut sapi, presto, potong-potong menurut selera 3 lembar : daun jeruk purut 2 batang : serai, memarkan 2 ruas : jari lengkuas, memarkan 750 ml : air Gula, garam, kaldu bubuk rasa sapi, minyak secukupnya Bumbu Halus : 9 buah : bawang merah
4 siung 4 buah 10 buah 1 sdm 2 ruas 2 ruas 5 butir 200 gr
: : : : : : : :
bawang putih cabe besar merah cabe rawit ketumbar jari jahe jari kunyit bakar kemiri sangrai daging kluwek, rendam air panas
Cara Membuat: Tumis bumbu halus sampai matang, masukkan daun jeruk, serai dan lengkuas. Aduk-aduk hingga tercampur lalu masukkan prestoan buntut sapi. Masukkan air, rebus sampai bumbu meresap. Siap disajikan dengan taburan bawang putih goreng dan irisan daun bawang.
Iga Saus Kuning Bahan : 1 kg : iga sapi, potong menurut selera, bersihkan 2 lembar : daun jeruk purut 2 batang : serai, memarkan 200 ml : santan kental Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya Bumbu Halus : 9 buah : bawang merah 4 siung : bawang putih 4 ruas : jari kunyit bakar
2 ruas : jari jahe 4 butir : kemiri sangrai 2 buah : cabe besar merah 10 buah : cabe rawit Cara Membuat: Presto iga hingga matang, sisihkan. Tumis bumbu halus, daun jeruk dan serai hingga matang. Lalu masukkan iga presto dan santan kental, gula, garam dan kaldu bubuk. Masak hingga matang dan bumbu meresap dan agak menge ring kuahnya. Siap disajikan.
14
Jelita
Edisi 917/ 5 - 11 september 2016
Kulit adalah salah satu poin penting untuk menjaga kecantikan wajah yang sekaligus akan mendukung penampilan seseorang. Karenanya, tak heran banyak orang melakukan beragam cara untuk menjaga kecantikannya. Malah, mereka rela merogoh kocek cukup besar demi memeperoleh wajah cantik.
S
ebenarnya jika mereka mau sedikit saja belajar, mereka tak perlu menggelontorkan banyak dana untuk urusan kecantikan. Sebab yang paling mendasar untuk wajah bisa cantik dan segar adalah kulit yang sehat. Untuk itu, kita perlu melakukan perawatan. Memang , kita tidak bisa
Tips Merawat Kulit menghindari yang namanya polusi udara yang kadang diakibatkan oleh debu ataupun asap kendaraan. Kondisi ini bisa membuat kulit menjadi kering dan kusam. Karena itulah kita perlu membersihkan kulit agar tetap terlihat bersih dan segar. Demikian disampaikan dr. Laksmi Duarsa, Sp. KK, saat ditemui usai berbicara mengenai “Tips Merawat Kulit” di Lantai III Gedung Bali Post, Jalan Kepundung, Denpasar , Sabtu (27/8). Oleh karena itu sangat diharapkan kita melakukan pembersihan kulit setidaknya 2 kali dalam sehari dengan menggunakan air bersih yaitu, pada pagi hari
saat bangun tidur dan malam hari sebelum beranjak tidur. Hal ini perlu dilakukan mengingat debu akibat polusi udara merupakan salah satu penyebab timbulnya jerawat. Berikutnya dokter spesialis kulit ini menguraikan beberapa poin yang perlu dilakukan untuk merawat kesehatan kulit agar tetap cerah, sehat.dan segar. Air putih, kata dokter Laksmi memiliki sangat banyak manfaat untuk manusia, salah satunya yakni untuk menjaga kesehatan kulit. Dengan mengonsumsi air, seseorang terhindar dari stres kulit. Selain itu, air putih dapat pula menjauhkan kita dari kulit
Tips Praktis Merias Wajah dan Membuat Sanggul Sendiri
Salon Agung memberikan peragaan tatarias rambut dalam acara workshop kecantikan di Lantai III Kantor Bali Post
Serangkaian peringatan HUT ke-68 Bali Post dan HUT ke-71 Proklamasi RI, digelar acara kekeluargaan yang melibatkan anggota keluarga karyawan Bali Post. Beragam aksi sosial digelar hingga mendatangkan narasumber dr. Laksmi Duarsa, Sp. K.K. dan pakar tata rias Bali Dr. AA Ayu Ketut Agung, M.M. Usai dr. Laksmi membahas tentang perawatan kulit, Pemilik Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Agung, Bu Agung menyampaikan tips praktis merias wajah untuk diri sendiri serta membuat dan memasang sanggul Bali (pusung tagel). Pusung tagel ini dikatakan Bu Agung melambangkan kedewasaan (dalam arti luas), yakni mereka yang sudah menstruasi atau yang sudah menikah. Pusung tagel bisa diaplikasikan pada perempuan yang memiliki rambut panjang maupun pendek, dengan bantuan cemara/antol, hairpiece, atau dengan rambut sendiri (jika rambutnya panjang). Mungkin masih banyak perempuan Bali yang berpikir bahwa membuat dan memasang pusung tagel itu susah dan ribet. Namun pada kesempatan itu, Bu Agung membagi trik praktisnya. Ia mempraktikkan dan menuntun peserta untuk membuat sanggul dengan hairpiece. Pertama-tama, rambut dibagi dua, bagian depan dan belakang. Ambil rambut di depan sebatas telinga, kemudian ikat di bagian belakang. Ikat rambut bagian belakang setinggi lebih kurang 5 jari
dari perbatasan pertumbuhan rambut belakang. Berikutnya, rapikan rambut depan, dengan disasak atau tanpa disasak. Dengan bantuan sisir dan jari telunjuk, bentuklah sunggar. Sempurnakan bentuk sunggar dengan jalan memasukkan ibu jari. Agar bentuknya tetap, gunakan bantuan jepit. Selanjutnya, rambut yang diikat tadi disisir. Buat batun pusungan/pusung gonjer, kemudian ditekuk/ditagel ke bagian dalam, sejajar dagu tanpa menyentuh pundak. Lalu, bungkus pusung tagel yang sudah terbentuk dengan hairnet. Rapikan dengan menyemprotkan hairspray. Dengan tips praktis yang disampaikannya, hanya dalam hitungan menit, sanggul pun jadi. Demikian halnya dengan tata rias wajah. Ia mengingatkan untuk berhati-hati membentuk alis. Karena jika memasang alis terlalu tinggi akan memberikan kesan angkuh, demikian halnya jika terlau rendah, memberi kesan loyo/sakit/sedih. “Cepat dan gampang kan? Jadi, ibu-ibu tak perlu lagi berlama-lama menghabiskan waktu untuk mepayas, dan tidak perlu lagi sedikit-sedikit ke salon,” ujarnya. Selain sanggul Bali, Bu Agung juga mendemontrasikan cara membuat sanggul keong (sanggul modern) ala pramugari. Di akhir acara, para peserta diminta mempraktikkan langsung membuat sanggul keong, dan beberapa hasil terbaik diberikan bingkisan. –Inten Indrawati
dr. Laksmi Duarsa, Sp. KK
keriput. Jumlah minimal air yang harus anda konsumsi untuk setiap harinya adalah 8 gelas. Perlu diketahui juga pentingnya jumlah waktu tidur yang cukup dan benar. Sebab, menurut penelitian, seseorang yang kurang tidur kulitnya akan menjadi kusam, cepat keriput dan warna kulit menjadi tidak rata. Oleh sebab itu kita harus bisa mengatur waktu tidur. Standar waktu tidur dalam jangka waktu 24 jam adalah 7 jam. Dalam waktu 7 jam tersebut, kulit akan beregenerasi sehingga keesokan harinya kita akan terlihat lebih segar. Dikatakan oleh dokter spesialis kulit ini, selain dengan mencukupi waktu istirahat, kesehatan kulit juga bisa dijaga dengan m,enggunakan tabir surya, terutama saat kita terpapar sinar matahari diantara pukul 10.00 pagi sampai pukul 15. 00 sore . Karena, kulit yang terpapar sinar matahari secara terus menerus tanpa memakai pelindung, disamping akan terlihat
kusam dan kering. Kulit juga akan lebih mudahitamterkena kanker kulit. Kita bisa menggunakan baju lengan panjang, topi atau kacamata hitam dan tabir surya sebagai pelindung. Untuk tabir surya bisa digunakan sun cream dengan SPF 15 sampai 30. Tabir surya ini, hendaknya kita gunakan 30 menit sebelum terpapar sinar matahari. Pemakaianya bisa diulang kembali jika diperlukan. Hindari makanan yang banyak mengandung gula. Makanan yang mengandung gula terlalu tinggi menyebabkan kolagen dan elastin rusak sehingga kulit menjadi keriput dan menjadi kendur. Konsumsilah lebih banyak buah dan sayur. Bicara kesehtan kulit, dokter Laksmi menyampaikan bahwa hal lain yang terkait dengan kulit adalah hadirnya tanda-tanda penuaan pada wajah dengan bertambahnya usia. Hal ini juga kerap menjadi problem dan dikeluhkan banyak perempuan. Namun, dengan rajin melakukan perawat kulit dengan produk yang sesuai jenis kulit, maka siapa pun bisa menikmati kulit yang senantiasa kencang dan sehat. Pertumbahan usia juga seringkali memunculkan flek atau bercak-bercak hitam. Pada kondisi yang ringan kita bisa melakukan perawatan kulit di malam hari dengan menggunaklann cream atau lotion yang mengandung retinol yang digunakan secara bertahap dan tipis-tipis supaya tidak menyebabkan kulit iritasi, kemerahan, dan mengelupas. Cream atau lotion dengan kandungan hyaluronic acid juga bisa digunakan untuk menyamarkan garis-garis halus dan menjaga kulit tetap kencang. – Sri Ardhini
Bugar
4 M Solusi Pencegahan DB
yang menularkan itu. Nyamuk yang menularkan adalah aedes aegypti. Nyamuk ini memerlukan darah untuk mematangkan telurnya. Yang mengisap darah adalah nyamuk betina. Ia mengatakan, sesungguhnya demam dengue tidak berbahaya, namun, jika sudah stadium berat akan menjadi demam berdarah (DB) atau disebut komplikasi dari demam dengue. Pada stadium ini, bisa menimbulkan kematian. Dari tahun ke tahun, kasus demam dengue terus meningkat. Walaupun sesungguhnya, dari tahun 2010 ke atas, ada tendensi angka kematian menurun. Itu menandakan bahwa upaya pee n u r u t P r o f. merintah dalam menanggulangi dr. I Dewa Putu demam dengue sudah ada hasilWidjana, DAP nya. Namun, tetap tidak berhasil & E.Sp.Park., menurunkan kasusnya. Mengapa? peran nyamuk yang menularkan Susahnya penanggulangan nyamuk ini sangat luar biasa. Oleh karena aedes aegyti ini. Populasi nyamuk itu, kita harus tahu sifat nyamuk terus semakin banyak. Tempat bertelur sangat bervariasi. Prinsipnya, suka bertelur pada genangan air bersih, seperti kamar mandi, ban yang dibiarkan berserakan, kaleng bekas, makanan burung, terutama yang paling susah di pelepah pisang, ujar Rektor Universitas Warwadewa ini. Ia menyebutkan, nyamuk ini bertelur di tempat-tempat aliran air. Bertahan dalam kekeri ngan setahun. Nyamuk itu bisa terbang dalam radius 400 meter, jangkitan sangat cepat sekali. Penyakit ini menularnya cepat sekali apalagi daerah kepadatan padat. Penularan epidemik tiap 5 tahun. Penyakit Prof. dr. I Dewa Putu Widjana, DAP & E.Sp.Park.
Masyarakat sudah salah kaprah menyebutkan, setiap demam yang disebabkan virus sering disebut demam berdarah. Padahal, sesungguhnya demam dengue, yakni demam atau satu sindrom yang disebabkan virus dengue yang dibawa atau ditularkan nyamuk.
M
11
Edisi 917/ 5 - 11 september 2016
ini ada di seluruh dunia. Tapi angka kejadiannya lebih banyak di negara sosial ekonomi kurang, seperti Indonesia. Ditemukan pertamakali tahun 1969 di Surabaya, setelah itu menyebar ke seluruh Indobnesia. Untuk Bali, khususnya Denpasar, Badung, dan Buleleng, penyebarannya terba nyak karena jumlah penduduknya padat. Demam dengue yang ringan tidak ada gejala, mungkin
net
tkh/
bisa seperti flu. Ada panas atau tidak ada gejala, ujarnya. Ia menambahkan, kalau sudah pernah terkena, sangat berisiko sekali terkena untuk kedua kalinya. Misalnya, satu bulan lalu terkena type 1, kemudian sebulan kemudian terkena dengan type 3, akibatnya bisa berat. Demam dengue yang ditambah gejala pendarahan disebut demam berdarah. Gejala yang perlu diwaspadai, demam tinggi 2-7 hari, mual keras, ada bintikbintik di kulit, dan hari keenam perut sakit. Perut membesar karena ada penumpukan serum. Ini menyebabkan otak dan jantung tdak mendapatkan darah sehingga terjadi kegagalan organ dalam. Jika ini terjadi, pasien bisa koma dan akhirnya meninggal. Menurutnya, cara yang bisa dilakukan adalah dengan memberantas sarang nyamuk, mulai dari di sekitar kita dengan 4 M
Plus yakni Menguras, Menutup, Mengubur dan Mengawasi, se hingga perkembangan nyamuk aedes aegypti bisa dikendalikan dari mulai jentik dan Plus-nya seperti membersihkan lingkungan seminggu sekali. Memang ia tak menampik, teorinya sangat gampang, namun, praktiknya susah karena menyangkut prilaku. Menurutnya, fogging hanya usaha untuk menanggulangi nyamuk dewasa. Saya dengar, efektivitasnya kurang, mungkin saja dosisnya dikurangi atau nyamuknya sudah resisten. Sesungguhnya yang bisa dilakukan hanya dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN), katanya. Ia menambahkan, dengan PSN kita bisa mengendalikan populasi nyamuk. Sampai saat ini, tidak ada obat yang bisa membunuh virus. Ke depan, harapannya, mungkin ada pengembangan vaksin. -Wirati Astiti
10
Kreasi
Edisi 917/ 5 - 11 september 2016
Motif Dulang Ikuti Perkembangan Teknologi
Industri kreatif yang berkembang di Kabupaten Bangli sangat beragam. Yang terkenal tak hanya berbahan bambu saja. Industri berbahan kayu, salah satunya dulang juga demikian.
motif pada dulang terus mengala-
mi inovasi. Demikian juga dengan bahannya. Belakangan, kayu albesia sebagai bahan utama makin sulit didapatkan. Atas kondisi itu, perajin beralih menggunakan fiber. Meski berbeda bahan, kualitasnya tetap tak kalah. “Penyedia kayu biasanya dari warga lokal. Tapi sekarang sudah sulit mencarinya. Jadinya perajin beralih ke fiber,” jelasnya. Di balik adanya tantangan
pasar, pemasaran dulang ini masih tergolong stabil. Maklum karena tempatnya di Bali. Banyak yang menggunakannya saat upacara di Pura. Saat ditinjau lebih jauh, ternyata beberapa produk home industry ini sudah pernah terjual ke luar negeri, salah satunya Dubai. Namun, karena lesunya perekonomian, itu tak lagi berjalan. “Dulu sampai ekspor,” tandas perbekel yang juga seorang pelukis ini. -Sosiawan
setiap kesempatan diminta untuk mengajar kepada siapa saja tidak pernah menolaknya. Selain terkenal sebagai pembuat rindik, Jingga juga sangat dipercaya dalam membina sekaa tari joged. Tidak kurang dari 45 sekaa joged pernah dibinanya sejak tahun 1970-an hingga sekarang yang tersebar di kabupaten Buleleng, Karangasem, Klungkung, Bangli, Gianyar, dan Tabanan. Meskipun saat ini stigma joged sebagai tarian yang vulgar, namun Jingga tetap mempertahankan etika tarian tersebut. “Joged di sini tetap menjadi yang terbaik dan contoh karena tetap mempertahankan tarian joged yang sebenarnya kalau ada yang pesan joged vulgar kami suruh ke tempat saja,” jelas peraih penghargaan Wija Kusuma se-
bagai seniman tabuh dan tari joged tersebut. Memang secara sekilas dari segi pakaian tidak ada yang berbeda dengan joged vulgar akan tetapi yang membedakan adalah tariannya. “Kalau joged vulgar tariannya lebih erotis,” tambahnya. Saat ini masyarakat yang ingin ngupah joged sudah jarang yang mencari vulgar malahan memesan joged dengan tarian sopan. Pria yang pernah dinobatkan sebagai seniman tua oleh pemerintah provinsi Bali tahun 2012 itu juga mengaku jika masyarakat yang ingin belajar membuat rindik sudah kian berkurang. “Belum ada yang mau belajar, mungkin karena buatnya susah,” ungkapnya. Ia sangat berharap ada yang meneruskan usahanya membuat rindik tersebut baik anak maupun cucunya. -Wiwin
M
emasuki daerah yang berada di B a ng li Ti m u r ini, mata akan dimanjakan dengan daerah yang masih hijau. Udara pegunungan terasa sangat sejuk. Semilir angin membawa pikiran melayang dan menghempas rasa penat. Di balik itu, terlihat pula warga yang tengah sibuk membebet kayu. Beberapa juga terlihat ada yang mengamplas dan mengecat. Tangannya nampak kuat dan tak mengenal lelang. Beberapa juga ada yang mengoleskan cat ke permukaan kayu itu. Sungguh sangat piawai. Kuas dan tangan seolah-olah sudah bersahabat. Nyaris tak ada cat yang menetes. Di tengah sinar matahari, juga tampak yang sibuk
Perajin dulang
menjemur kayu yang telah terbentuk. Itulah sekilas gambaran sejumlah warga di Desa/Kecamatan Tembuku, Bangli yang bergelut sebagai perajin dulang. Perbekel Tembuku Ketut Mudiarsa menuturkan di desanya terdapat delapan banjar, Tembuku Kawan, Tembuku Bakas, Tembuku Sesetan, Tembuku Kaja, Penida Kelod, Penida Kaja, Tegalasah dan Kedwi. Di seluruh daerah itu, sebagian besar warganya bergelut pada kerajinan yang sangat lekat dengan masyarakat
Hindu di Bali ini. “Kerajinan dulang
sudah berkembang sejak dulu. Sudah menjadi ciri khas daerah kami,” ujarnya. Dulang yang diciptakan tangan-tangan kreatif warga ini bukan sembarangan. Kualitas yang ditawarkan cukup baik. Berkat itu, pemasarannya bisa merambah sejumlah pasar di Bali, maupun luar Bali, salah satunya daerah yang menjadi tujuan transmigrasi. Makin berkembangnya teknologi,
I Ketut Jingga
Berharap Ada Penerus
I Ketut Jingga
Di usianya yang makin senja, tidak mematahkan semangantnya untuk tetap berkarya dalam dunia seni. Aktivitas kehidupannya tidak bisa dipisahkan dari seni, keadaan itu mengantarkan I Ketut Jingga menjadi seniman serba bisa, aktif menciptakan kreasi-kreasi baru bidang tabuh, musik dan tari Bali. Aktivitasnya yang paling menonjol sebagai pelatih tari joged dan pembuat rindik, alat musik tradisonal Bali yang terbuat dari bambu
yang biasanya digunakan untuk mengiringi tari joged. Keahlian khususnya dalam membuat rindik ia dapatkan dari darah seni yang mengalir dalam tubuh ayahnya Nyoman Adya Yana. Untuk dapat membuat rindik yang memiliki kualitas bagus dan suara merdu harus menggunakan bambu tabah. “Bambu tabah itu merupakan bambu yang keringnya di pohon bukan buatan dan biasanya baru didapat setahun sekali,” ungkapnya. Agar mendapatkan suara yang sama pada tingkatan nada pada rindik yang dibuatnya, Ketut harus bekerja cermat dan hati-hati. Hal ini dikarenakan, sedikit saja ukuran dan potongan yang berbeda akan menghasilkan bunyi tidak sesuai dengan yang diinginkan. Sulitnya menentukan nada, membuat pria kelahiran 31 Desember 1952 tersebut hanya mampu membuat dua tungguh rindik dalam sehari. Maka dari itu, ia hanya membuat rindik jika sudah ada pesanan pasti dari konsumen.
Berkat ketekunannya, sejak tahun 1959 Ketut tetap berupaya mempertahankan usahanya hingga kini. Bahkan ia telah memasarkan rindik buatannya ke seluruh Bali, Indonesia dan mancanegara. “Selain membuat rindik saya juga melatih bulebule dari Amerika, India, Jerman untuk belajar tari dan rindik,” tambah pria yang tinggal di Banjar Dajan Margi, Desa Sari Mekar, Kota Singaraja, Kabupaten Buleleng ini. Wisatawan yang sedang menikmati liburan di Bali juga tertarik untuk mempelajari tabuh dan tari Bali. Bagi Jingga
I Ketut Jingga dan gamelan buatannya
Style
Edisi 917/ 5 - 11 september 2016
Akulturasi Budaya Indonesia-India dalam Busana
15
“Kebaya and Saree for the World” Kehadiran desainer Shinta Chrisna dalam ajang tahunan Sanur Village Festival 2016 berbeda dengan sebelumnya. Kali ini, ia berkolaborasi dengan desainer dari India, Monica Mohindra, memperkenalkan new label yaitu Chrisna Monica.
C
hrisna Monica ini lahir terinspirasi dari kebaya dan kain tradisional Indonesia yang dipresentasikan dalam gaya busana tradisi India yaitu sari dan lehengga. Untuk konsep warna dipilih warna-warna cerah berani dan glamour yang memang menjadi kesukaan masyarakat India dan Indonesia. “Semoga inspirasi akulturasi dari dua budaya yang dipresentasikan dalam gaya busana baru ini, dapat diterima oleh masyarakat Bali, Indonesia dan dunia,” ujar Shinta Chrisna. Demikan halnya dengan Monica Mohindra, ia juga berharap kain sari bisa dipakai seluruh masyarakat dunia. “Dan,
Shinta Chrisna
saya juga berharap seluruh wanita di dunia mengenakan kebaya,” imbuhnya. Dengan tagline “Kebaya and Saree for the World”, Kamis (25/8), di panggung utama Sanfest 2016, dua desainer cantik ini mempersembahkan karya-karya mereka dalam fashion show yang mengusung tema “Uttaran The Bollywood Vaganza”. Fashion show ini didukung oleh LT Pro Lv Cnc, Sakabross dan sahabat-sahabat tercinta Shinta Chrisna. Dengan pilihan lagu soundtrac Uttaran serta lagu Bollywod terkenal lainnya, fashion show minidrama ini tampil begitu memukau hingga penonton tak kunjung beranjak walaupun hujan menerpa. –Inten Indrawati
16
Edukasi Penutupan OSPEK Mahasiswa Baru IKIP PGRI Bali
Edisi 917/ 5 - 11 september 2016
Orientasi Study dan Pengenalan Kampus (OSPEK) Mahasiswa Baru IKIP PGRI Bali yang dilaksanakan mulai Kamis (2/9), ditutup hari ini, Minggu (4/9) di Pemelisan Desa Adat Pekraman Sesetan, Kelurahan Sesetan.
Tanam Pohon Langka untuk Kebutuhan Upakara
M
engundang Ketua TP PKK Kota Denpasar Ny. IA Selly Mantra yang diawali dengan gerakan penghijauan yakni penanaman pohon cempaka, pohon bambu, pohon kelapa, pohon sentul, pohon badung, pohon mundeh, pohon bekul, dan pohon belimbing. “Pohon-pohon yang dipilih ini disesuaikan dengan kebutuhan, dan nantinya bisa dipergunakan sepanjang zaman. Sehingga IKIP PGRI Bali akan membuat sejarah disana karena pohon yang ditanam benar-benar langka yang dikaitkan dengan kebutuhan upakara,” ujar Rektor IKIP PGRI Bali Dr. Made Suarta, S.H., M.Hum. Ia menegaskan, sama seperti tahun-tahun sebelumnya, OSPEK tahun ini penekanannya pada ranah kognitif, yakni pemahaman pada materi-materi yang disam-
paikan penceramah. Mulai dari pendidikan karakter, yang membentuk bagaimana berperilaku keseharian dan juga bagaimana berbangsa dan bernegara. Karena perilaku seorang guru yang patut digugu dan ditiru dikatakannya ada di ranah tersebut. “Memahami dulu apa yang harus digugu dan ditiru, baru kemudian bertindak,” ujarnya. Ketua Panitia yang juga Wakil Rektor III Dr. Drs. I Wayan Citrawan, M.Pd. menambahkan, selain materi Pendidikan Karakter oleh Rektor Made Suarta, mahasiswa baru juga dikenalkan dengan sejarah IKIP PGRI Bali oleh Ketua Yayasan IGB Arthanegara; Kegiatan Akademik di Perguruan Tinggi oleh Wakil Rektor I Pande Wayan Bawa; Layanan Mahasiswa oleh Wakil Rektor II Dewa Juwana; Organisasi dan Kegiatan Kemahasiswaan oleh Wakil Rektor III Wayan Citrawan;
Kamtibnas dari Kapolda Bali; Bahaya Narkoba dari Kepala BNN Provinsi Bali; serta Literasi Informasi oleh Kepala Bagian Perpustakaan IKIP PGRI Bali. OSPEK yang bertema “Melalui OSPEK Kita Tumbuhkan Sikap Inovatif, Uket, dan Tekun dalam Menghadapi MEA” ini diikuti 607 peserta. Kegiatan ini dikatakan Wayan Citrawan dalam rangka menyiapkan mental dan memberikan gambaran tentang sistem pembelajaran dan kehidupan kampus bagi mahasiswa baru untuk mempercepat beradaptasi dengan lingkungan barunya. Masa orientasi ini pun dikatakannya dapat dijadikam titik tolak inisisi pembinaan idealism, menanamkan dan membina sikap cinta tanah air, kepedulian terhadap lingkungan dalam rangka menciptakan generasi yang berkarakter, jujur, cerdas, bertanggungjawab dan tangguh.
Potensi alam Kecamatan Tembuku, Bangli nampaknya tak pernah habis. Disamping air terjun Tangkup, ternyata di daerah yang berada di bagian timur ini juga terdapat air terjun Cepung atau juga dikenal dengan air terjun “Turun dari Langit”. Air terjun Cepung berada di Banjar Penida Kelod, Desa/ Kecamatan Tembuku, Bangli. Untuk sampai di lokasi, harus berjalan kaki ratusan meter dari jalan raya melalui jalan
“Turun dari Langit”
setapak dan berundag. Perjalanan dilanjutkan dengan menyisiri Sungai Yeh Gadang dan berlanjut ke Sungai Cepung. Saat itu, mata akan dimanjakan dengan keindahan alam berupa tebing bebatuan dan juga goa sangat mempesona yang terbentuk secara alami. Suara gemericik air sungai yang seolah-olah tak rela dihadang bebatuan. Tak hanya itu, hijaunya daun pepohonan juga menunjukkan potensi alam
yang menawan. Sekitar 10 menit berjalan, tibalah di air terjun tersebut. Mata akan dihipnotis dengan indahnya deburan air yang sangat hening dan dikelilingi batu cadas. Saat itu pula, dirasakan sensasi seperti masuk ke dalam goa. Pancaran sinar matahari memunculkan warna berdegradasi. Berkat keindahan yang dimiliki, air terjun setinggi 15 meter ini juga diberi julukan air terjun ‘Turun dari Langit”. Kete-
Beberapa waktu lalu sebagian masyarakat sempat resah garagara beredar kabar menggegerkan harga rokok bakal naik hingga Rp 50.000 per bungkus seiring dengan kenaikan cukai rokok. Ditambah lagi muncul pernyataan dari Ketua DPR Ade Komaruddin yang mendukung wacana tersebut dengan harapan jumlah perokok menurun. Isu menjadi semakin liar karena di medsos juga beredar foto-foto sejumlah supermarket di Jakarta telah menaikkan harga rokok.
T
Rektor Made Suarta usai menyematkan tanda peserta pada perwakilan peserta OSPEK didampingin Ketua Yayasan Arthanegara dan Ketua Panitia Wayan Citrawan
Selain itu, Rektor Made Suarta juga menegaskan bahwa OSPEK ini ada sertifikatnya dan merupakan salah satu syarat diwisuda
Kegiatan ceramah untuk memberikan pembekalan bagi mahasiswa baru IKIP PGRI Bali
Pesona Air Terjun
Sudut Pandang
narannya tak hanya di lingkungan Bangli saja. Sejak tiga bulan lalu, pengunjung yang datang dari luar Bangli cukup ramai. Akibat terkesan keindahan yang ditawarkan, pengunjung pun tak hanya mengabadikannya melalui foto saja. Namun ada pula yang langsung mandi. Suasana alami yang dirasakan tak hanya itu saja. Dekat air terjun ini juga terdapat sejumlah pancoran disucikan warga yang disebut “Patirtaan Nawa Ratna”. Konon diyakini berkhasiat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Ketua Pemuda Banjar Penida Kelod Putu Waliana menuturkan sebelum dikenal banyak orang, air terjun ini hanya dikunjungi warga sekitar dan itu pun sangat jarang. Setelah diunggah di media sosial, tibatiba menjadi tenar. Pengunjung yang datang seakanakan tak pernah habis. “Sejak beredar di medsos, air terjun ini ba nyak yang mengunjungi,” ujarnya. Kunjungan semakin ramai saat hari libur tiba. Tiket masuknya hanya berupa sumbangan sukarela atau punia. “Pengunjung yang
nanti. “Jadi OSPEK ini wajib diikuti mahasiswa,” tegasnya. Dalam kesempatan itu, Ketua YPLP PT IKIP PGRI Bali Drs. IGB Arthanegara, M.H.,M.Pd. juga menyampaikanrasa syukur dan beretrimakasih kepada masyarakat karena dari beberapa LPTK di Bali, IKIP PGRI Bali masih sangat dipercaya. Terbukti dari jumlah mahasisma baru IKIP PGRI Bali, angkanya cukup stagnan dari tahun ke tahun. Darisini ia melihat bahwa generasi muda yang bercita-cita menjadi guru masih tetap tinggi. “Profesi guru masih dicintai generasi muda, sehingga kami berharap ke depannya kita tak sampai kekurangan tenaga guru,” ujarnya. –ten
datang tak hanya domestik. Asing juga ada. Sementara tarif masuknya masih sukarela,” imbuhnya. Perbekel Tembuku I Ketut Mudiarsa mengatakan menurut penilaian beberapa waktu lalu, air terjun Cepung tersebut menduduki peringkat ke tujuh terindah di Bali. Ke depan juga ada rencana dikembangkan untuk dijadikan wisata paket. “Di desa kami juga ada arca sebagai tempat melukat. Potensi alam lainnya juga mendukung. Mudah-mudahan nanti bisa jadi wisata paket,” tandasnya. -Sosiawan
ak heran kalau sempat muncul aksi borong rokok yang dilakukan oleh sebagian kalangan perokok. Herman misalnya, tak tanggung-tanggung memborong 10 slop rokok favoritnya. Meski sadar stok rokok itu tak akan ada artinya karena toh akan habis dan dia harus membeli. “Iya lah tahu stok gua nggak seberapa karena pasti nanti juga bakal beli. Tapi setidaknya kan jika benar-benar naik Rp 50.000, merasa lebih tenang. Yang pasti, ya harus ngirit ngerokoknya, biar nggak cepat habis,” katanya sambil tertawa. Kabar kenaikan harga rokok yang ‘fantastis’ ini juga ditanggapi oleh sejumlah produsen rokok besar. Mereka menolak keras jika kenaikan harga rokok menjadi begitu besar. Karena imbasnya, bukan hanya para perokok yang terkena, tapi mereka yang terlibat dalam industri rokok pasti akan sangat terpukul. Mereka meminta pemerintah mengkaji lebih dalam masalah ini. Untungnya gonjang-ganjing ini tidak berlangsung lama, pernyataan pemerintah telah membantu menenangkan masyarakat yang resah. Sri Mulyani, Menteri Keuangan, mengatakan, saat ini pihaknya sedang mengkaji soal soal besaran cukai rokok karena itu soal harga eceran rokok belum ditentukan. Pernyataan itu sekaligus membatah isu yang beredar bahwa pemerintah sudah setuju dengan kenaikan rokok menjadi Rp 50.000.
S
E
Edisi 917/ 5 - 11 september 2016
9
Kerugian akibat Rokok 3,7 Kali Cukai Tembakau
Untuk diketahui bahwa kenaikan harga rokok per Januari 2016 adalah rata-rata 11,19%. Kenaikan ini sudah termasuk paling tinggi jika dibanding rata-rata kenaikan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini karena banyaknya aspek yang harus dipertimbangkan terkait industri rokok. Dengan demikian jika rokok benar-benar menjadi Rp 50.000 berarti kenaikan mencapai sekitar 300%. Lalu, bagaimana asal-usulnya sehingga muncul kabar yang meresahkan itu? Merebaknya isu kenaikan harga rokok muncul dari hasil penelitian Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia tentang seberapa besar publik mendukung kenaikan cukai rokok dan penggunaan dana cukai rokok untuk Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Hasil survei ini dipublikasi ke jurnal ilmiah pada akhir Juli lalu. Salah satu hasil penelitian itu mengatakan, perokok akan berhenti merokok jika harga rokok dinaikkan hingga tiga kali lipat. Menurut Zahrina, asisten peneliti Ketua PKEKK UI Prof Hasbullah Thabrany, penelitian tersebut dilakukan pada Desember 2015-Januari 2016 bertema ‘Polling Phone Survey Rokok dan Jaminan Kesehatan Nasional’. “Tujuan polling ini untuk mengetahui seberapa besar publik mendukung kenaikan cukai rokok dan penggunaan dana cukai rokok untuk jaminan kesehatan nasional,” jelasnya seraya menyebut ada 1.000 responden yang menjawab dengan lengkap, rentang usia responden adalah 14-78 tahun. Mereka berdomisili di 34 provinsi di Indonesia. Dari hasil tersebut diketahui dari 41,5% perokok, 49,2% mengonsumsi 1-2 bungkus per hari. Sebanyak 80,3% responden setuju menaikkan cukai dan harga rokok untuk mendanai JKN. Sebanyak 96,8% mengaku mengetahui bahaya rokok dan 60% yang merokok
X DU
Thabrany juga menambahkan bahwa kenaikan harga rokok yang ditanyakan bukan hanya Rp 50.000 tapi juga ada angka Rp 25.000 dan Rp 35.000. Namun untuk dua harga terakhir itu, ternyata masyarakat masih mau dan rela membelinya. Barulah ketika pada angka Rp 50.000 masyarakat menjawab tidak mau membeli. Pihak-pihak yang mendukung kenaikkan harga rokok Rp 50.000 berharap, pemerintah dalam mempertimbangkan kenaikkan harga rokok lebih mengedepankan masalah kesehatan masyarakat ketimbang kepentingan industri rokok. Data Global Adult Tobacco Survey 2014 menyebutkan, setidaknya 190.260 orang di Indonesia meninggal dunia akibat mengkonsumsi rokok.
Prof Hasbullah Thabrany
mengaku sulit berhenti merokok. Sebanyak 46% perokok setuju untuk menaikkan harga rokok menjadi Rp 50.000 atau lebih. Sebanyak 72,3% perokok menyebut jika harga rokok Rp 50.000 per bungkus atau lebih akan membuat perokok berhenti merokok. Hasil penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan tahun 2013 menyebutkan, tingginya kerugian negara akibat konsumsi rokok tidak sebanding dengan pendapatan yang diterima negara dari rokok. Kerugian total akibat konsumsi rokok selama 2013 mencapai Rp 378,75 triliun yang meliputi hilangnya produktivitas akibat sakit, disabilitas, kematian prematur di usia muda dan biaya berobat akibat penyakit-penyakit terkait tembakau. “Jumlah itu 3,7 kali lebih besar dibanding cukai tembakau yang diperoleh negara yakni Rp 103,02 triliun di tahun yang sama,” ujar Ketua PKEKK UI Prof Hasbullah Thabrany.
BUKAN SEKADAR MASALAH KESEHATAN Sementara pihak lain di luar itu mengatakan, mereka bukan tidak mendukung kenaikan cukai rokok karena toh memang setiap tahun pasti mengalami kenaikan. Tidak adanya gejolak kenaikkan sebelumnya karena besarannya dianggap pas yakni kisaran 11% lebih. Namun jika sampai kenaikan Rp 50.000 atau sekitar 300%, pasti akan terjadi gejolak. Karena persoalan rokok bukan semata masalah kesehatan masyarakat namun industri ini memiliki mata rantai yang panjang, salah satu yang pasti adalah persoalan lapangan pekerjaan. “Memangnya kalau terjadi PHK besar-besaran terhadap mereka yang terkait dalam industri rokok—lantaran menurunnya daya beli masyarakat --- akankah ada yang menyediakan lapangan pekerjaan pengganti? Jumlah pekerja dalam mata rantai ini jutaan, lho? “ ungkap seorang pemerhati masalah sosial. Hal senada juga diungkap oleh Setyati Endang Nusantari, Kasubdit Industri Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian.
Menurutnya, jika harga rokok menjadi sangat mahal maka daya beli masyarakat akan melemah. “Jika daya beli lemah maka konsumsi akan turun. Jika terjadi penurunan konsumsi maka produksi juga akan turun,” ucap Setyati dalam diskusi yang berlangsung di sebuah restoran di bilangan Cikini, Jakarta, pekan lalu. Dampak dari produksi menurun, paparnya, adalah pada tenaga kerja di industri tersebut di mana nantinya akan terjadi efisiensi tenaga kerja dari tenaga manusia beralih ke tenaga mesin. Contohnya, satu orang bisa melinting 5.000 batang sedang mesin bisa melinting 5-10 ribu per menit. “Jadi nanti akan terjadi efisiensi dimana sigaret kretek tangan akan beralih ke mesin pelinting. Nanti juga akan marak pertumbuhan rokok ilegal. Yang namanya ilegal maka pendapatan tidak masuk ke kas negara,” kata Setyati panjang-lebar. “Yang juga akan merasakan dampaknya adalah para petani, baik itu petani tembakau dan cengkih,” tambahnya. Sementara Tulus Abadi dari YLKI yang juga hadir dalam diskusi tersebut mengatakan, data BPS menyebutkan 70% perokok berasal dari rumah tangga miskin. Diindikasikan, jelas Tulus, yang menyebabkan kemiskinan di rumah tangga miskin adalah fluktuasi harga beras dan konsumsi rokok. Karena, berdasarkan data BPS itu terlihat kalau salah satu alokasi budget rumah tangga miskin adalah untuk rokok. Itulah sebabnya, Tulus menyebut, pihaknya sangat berharap agar pemerintah juga DPR perhatian terhadap masalah ini. YLKI sendiri secara tegas juga telah menyatakan kalau pihaknya mendukung wacana kenaikan harga rokok menjadi Rp 50.000 per bungkus. Hal ini sebagai bentuk kepedulian YLKI untuk melindungi konsumen perokok juga non perokok, khususnya masyarakat menengah ke bawah, anak-anak dan remaja. –Diana Runtu
Kirim surat Anda ke Redaksi Tokoh dan cantumkan “Sex Edu” di amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh.co.id. Rubrik ini diasuh Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI) Denpasar.
dr. Oka Negara, FIAS
SEKS ORAL
Dok, saya belakangan ini sering melakukan oral sex dengan suami. Kami berdua saling menikmatinya. Tetapi apakah berbahaya jika ini sering dilakukan? Terus, ada teman saya bilang kalau oral sex juga tetap bisa bikin pasangan kita hamil, apa benar dok? (Rina, 27 thn) Oral sex atau seks oral adalah aktivitas seksual dengan memberikan stimulasi melalui mulut dan lidah pada organ seks atau kelamin pasangan. Saat ini semakin banyak yang melakukannya, terutama di kalangan muda sebagai variasi seksual. Jika pihak perempuan yang melakukan seks oral pada kelamin laki-laki disebut dengan fellatio, sebaliknya jika pihak laki-laki yang melakukan oral seks pada kelamin perempuan disebut dengan cunnilingus. Sesungguhnya seks oral itu aman dan tidak berbahaya bila dilakukan secara higienis, tanpa adanya penyakit serta atas keinginan bersama. Tentu saja sebelum dan sesudah seks oral, alat
kelamin harus selalu bersih. Biasanya, seks oral merupakan salah satu “adegan” variasi seksual yang sering dilakukan pada saat “foreplay” atau pemanasan, yang disusul kemudian dengan penetrasi kelamin untuk mencapai kepuasan seksual. Beberapa lakilaki cenderung menyenangi pasangannya untuk melakukan seks oral, meskipun terkadang permintaannya tidak selalu dipenuhi. Laki-laki yang menyukai seks oral menyebutkan menyukainya karena seks oral terasa enak dan lebih menyenangkan, juga dirasa nyaman karena bisa memperhatikan dan mengontrol pasangan, sekaligus dianggap bisa mengurangi stres. Tetapi sesungguhnya perempuan juga senang jika pasangannya melakukan seks oral, karena saat seks oral lah klitoris yang merupakan salah satu organ paling peka rangsangan di vagina akan terangsang secara maksimal. Kuman ataupun virus yang bisa hidup di kelamin, juga dapat hidup di rongga mulut karena lingkungan mulut yang hangat, gelap dan lembab. Tentu saja itu berarti risiko infeksi menular seksual pada kelamin juga bisa terjadi pada mereka
yang biasa melakukan seks oral. Infeksi menular seksual seperti gonore, sifilis, herpes hingga jamur kandida juga bisa menginfeksi area mulut, rongga mulut dan sekitarnya. Jadi pastikan mulut tidak sedang mengalami luka, keradangan dan berpenyakit saat melakukan seks oral. Beberapa jenis bakteri seperti klamidia dan gonore dapat hidup di tenggorokan dengan gejala yang dikeluhkan bisa berupa sakit tenggorokan. Bila hal ini tidak segera ditangani, lama kelamaan bakteri dapat menyebar ke dalam paruparu mengakibatkan infeksi. Tentang seks oral bisa mengakibatkan kehamilan, tentu saja itu keliru dan mitos belaka. Tidak ada kebenarannya sama sekali. Walaupun pernah dilaporkan kasus menghebohkan kehamilan gadis 15 tahun akibat menelan sperma, tentu saja ada kebohongan di dalam kasus ini. Karena spermatozoa hanya akan menempel pada dinding rahim jika melalui saluran vagina saja, sedangkan jika sperma tertelan dan masuk saluran cerna, maka akan keluar lewat anus, bukan masuk ke rahim. Jadi, seks oral sesungguhnya bisa dijadikan variasi seks yang sangat me-
nyenangkan, selama itu disepakati bersama, tidak ada tekanan dan rasa jijik untuk melakukannya dan tentu saja kelamin dalam keadaan bersih dan tidak sedang terkena penyakit menular. Jika, salah satu pihak tidak nyaman melakukannya, sebaiknya ditunda buat melakukan seks oral. Jika salah satunya mengidap infeksi menular seksual, sebaiknya seks oral juga tidak dilakukan dan sembuhkan dulu infeksinya. Tetapi jika tetap memaksakan diri untuk melakukan seks oral dengan pasangan yang sedang terinfeksi menular seksual atau dengan pasangan yang tidak diketahui kondisi kesehatan seksualnya, gunakan juga kondom. Kini sudah tersedia berbagai kondom dengan berbagai warna, pelumas dan pilihan rasa untuk menambah sensasi menyenangkan dalam melakukan hubungan seksual dan seks oral. Menggunakan kondom saat melakukan seks oral bukan sebuah keanehan, bukan juga berarti tidak percaya terhadap pasangan. Justru dengan menggunakan kondom sebagai proteksi, Anda sesungguhnya telah menghormati dan melindungi pasangan Anda.
8
Bunda & Ananda
Edisi 917/ 5 - 11 september 2016
Orangtua jangan Merokok di Depan Anak Bahaya merokok telah diketahui oleh sebagian besar masyarakat, perokok maupun bukan perokok. Hal ini tentunya tidak lepas dari kampanye pihak pemerintah dan non-pemerintah. Mulai dari kemasan rokok yang menyebutkan bahaya merokok (yang dilengkapi dengan gambar-gambar menyeramkan tentang akibat rokok), sampai pembatasan area merokok di kota-kota besar.
D
ari data statistik perokok di Indonesia, menyebutkan angka 27,6% yang artinya setiap 4 orang Indonesia, terdapat 1 orang perokok. Orang dewasa perokok disebutkan sekitar 34% dan anak/remaja perokok sebesar 13,5%. Data WHO menunjukkan 65 juta penduduk Indonesia merokok dengan konsumsi 225 batang rokok per tahun. Jumlah penduduk Indonesia yang merokok bertambah dalam 9 tahun terakhir, yaitu 0,9% per tahun pada periode 2000-2008. Mengapa orang dewasa sudah tahu dampak merokok, tetapi masih ada yang tetap merokok? “Banyak faktor yang menyebabkan seseorang menjadi perokok, dimulai pada usia muda di antaranya merokok yang pada awalnya dimaksudkan “untuk mengurangi cemas dan stress” dan dapat menimbulkan relaksasi. Efek tersebut disebabkan oleh kerja nikotin dosis kecil yang ada dalam hirupan asap rokok menimbulkan efek nikotinik memberikan efek stimulasi atau rangsangan ganglionik menimbulkan efori, relaksasi dan dosis besar bekerja muskarinik menimbulkan relaksasi otot. Asap rokok yang dihirup dapat mencapai otak dalam waktu 7 detik,” jelas dr I Gusti Ayu Indah Ardani SpKJ, Staf Bagian/SMF Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unud-RSUP Sanglah Denpasar. Ia menambahkan, ketika sudah berkeluarga dan punya anak, kebiasaan merokok tetap dilakoni karena merokok sudah menjadi kebiasaan/ habit. Selain itu faktor
stres salah satu faktor yang dialami oleh orang yang sudah berkeluarga sehingga rasa ingin merokok selalu akan dirasakan. Walaupun 75%-80% perokok memiliki keinginan untuk berhenti merokok, dan sepertiganya melakukan setidaknya 3 usaha serius untuk berhenti merokok, kurang dari 50% dari perokok tersebut yang berhasil untuk berhenti sebelum berusia 60 tahun. Terdapat beberapa faktor yang paling berkontribusi pada suatu individu untuk mulai dan tetap mengonsumsi rokok, antara lain efek psikoaktif dari nikotin, proses belajar yang terkait, budaya setempat (termasuk akses dan ketersediaan pada produk tembakau, penerimaan masyarakat, dan contoh dari orangtua serta lingkungan), karakteristik individu (contoh, genetik, ciri kepribadian, tingkat pendidikan, sosioekonomi), dan faktor yang diturunkan (suatu penelitian ganda menunjukan suatu kontribusi genetis sebesar 50% dalam prevalensi dari merokok, kemampuan untuk berhenti merokok, dan jumlah rokok yang dikonsumsi setiap harinya). Ketergantungan pada nikotin dan tekanan psikologis yang dialami pasien saat berhenti merokok merupakan suatu faktor prediktif penting yang dikenal secara luas dalam keberhasilan untuk berhenti merokok. “Efek konsumsi nikotin menyebabkan ketergantungan. Sinyal untuk merokok cenderung mempertahankan prilaku merokok diakibatkan efek yang ditimbulkan nikotin pada otak, dimana nikotin menstimulasi pusat reseptor kolinergik nikotinik termasuk pelepasan beberapa neurotransmitter di otak antara lain dopamine, yang memegang peranan penting karena menimbulkan sensasi yang menyenangkan yang memicu konsumsi nikotin berulang. Neurotransmiter lain, termasuk norepinephrine, acetylcholine, serotonin, asam-aminobutyric (GABA), glutamate, dan endorphin memberikan efek sensasi menyenangkan, modulasi mood, pening-
dr I Gusti Ayu Indah Ardani SpK
Ilustrasi di bungkus rokok
katan performa, analgesik, dan penurunan berat badan yang berhubungan dengan merokok, menyebabkan juga seseorang tetap mempertahankan perilaku merokok,” jelas dokter spesialis Ilmu Kedokteran Jiwa lulusan Universitas Airlangga ini. Keberhasilan seseorang untuk berhenti merokok bergantung pada keseimbangan antara motivasi pribadi untuk berhenti merokok (contoh, keuntungan yang diharapkan dari berhenti merokok). Dalam pendampingan program untuk berhenti merokok motivasi untuk berhenti merokok adalah syarat kunci untuk memulai usaha berhenti merokok. Langkah sederhana yang dapat dilakukan sebagai motivasi perokok untuk berhenti merokok adalah dengan memperingatkan masyarakat tentang bahaya perokok pasif, promosi kesehatan dapat berpengaruh dengan memberikan rasa tidak nyaman pada perokok untuk merokok ditempat umum. Lebih dari itu, orang-orang yang bukan perokok cenderung akan melihat perokok sebagai pecandu obatobatan yang memiliki prilaku yang
merugikan kesehatannya sendiri serta orang-orang disekitarnya. KOMUNIKASI EFEKTIF Bagaimana dengan perilaku orangtua yang merokok di depan anaknya? Dr. Indah menyarankan orangtua sebaiknya tidak boleh merokok di depan anak-anak, karena seorang anak akan “memodeling” apa yang dilakukan oleh orangtuanya dan orangtua sebaiknya memberitahukan kepada anaknya bahwa perilaku merokok merupakan perbuatan yang tidak baik sehingga anak-anak sebaiknya menghindari rokok. Selain orangtua, anak juga terpengaruh teman sebaya yang merokok. “Pada kelompok teman sebaya sebaiknya pada usia remaja awal sebaiknya sudah ditanamkan dari orangtua mengenai penjelasan bagaimana bahaya merokok terhadap tubuh dan mengetahui akibat yang merugikan dari merokok. Sehingga perlunya penyuluhan juga di kalangan siswa agar tidak merokok baik di sekolah maupun di rumah,” ujar perempuan kelahiran Denpasar 19 September 1973 ini.
Pesan bagi orangtua dan anak yang merokok, sebaiknya anakanak menghindari rokok mengingat akibat yang merugikan dari merokok. Orangtua lebih intensif mengajak anak-anak mereka dalam berkomunikasi efektif sehingga hubungan orangtua anak lebih baik sehingga perilaku merokok dapat dihindari. Sebaiknya orangtua tidak memberikan contoh perilaku merokok kepada anak agar tidak merugikan masa depan bangsa dan negara kita. Langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah, dengan memperingatkan masyarakat tentang bahaya perokok pasif, promosi kesehatan dapat berpengaruh dengan memberikan rasa tidak nyaman pada perokok untuk merokok di tempat umum. Lebih dari itu, orang-orang yang bukan perokok cenderung akan melihat perokok sebagai pecandu obatobatan yang memiliki prilaku yang merugikan kesehatannya sendiri serta orang-orang di sekitarnya. Suatu literatur internasional melaporkan bukti bahwa denormalisasi dari merokok merupakan suatu komponen dari langkah-kangkah yang efektif yang bertujuan untuk mengurangi konsumsi tembakau. Suatu penelitian longlitudinal pada data yang dikumpulkan di Kanada, USA, UK, dan Australia menyimpulkan bahwa perokok cenderung untuk memiliki keinginan untuk berhenti dan tidak merokok di kemudian hari ketika mereka memiliki suatu denormalisasi kepercayaan sosial yang penting tentang merokok, seperti perasaan ditolak karena merokok, merasa tidak nyaman untuk merokok di area publik, dan diberikan saran untuk berhenti merokok oleh orang-orang terdekatnya. –Ngurah Budi
Mendongeng Lima Menit WARNA DAN BAU BUNGA
Konon zaman dahulu, bunga-bunga tidak berwarna dan tidak berbau. Sekarang bunga-bunga itu berwarna indah dan berbau harum. Namun ada juga bunga yang berbau busuk. Tahukah anda apa Made Taro sebabnya? Di lereng gunung ada sebuah danau yang sangat indah. Siang-malam airnya memancarkan cahaya warna-warni dan berbau harum semerbak. Di sekelilingnya tumbuh banyak bunga, namun bunga-bunga itu semua berwarna hijau, sama dengan warna daunnya. Tambah lagi tidak berbau sama sekali. Bunga-bunga itu sepakat mohon berbagi warna dan bau dengan air danau tetangganya itu. “Sahabatku, Danau!” kata bunga-bunga. “Maukah kau bermurah hati membagikan warna-warni dan bau harum airmu? Kami kira kalau bungabunga berwarna-warni dan berbau harum, pastilah pemandangan di lereng gunung ini tambah indah dan serasi.” “Sungguh senang aku mendengar permintaanmu!” jawab Danau yang murah hati itu. “Kalau kamu bersungguh-sungguh, jatuhkanlah sekuntum bungamu ke permukaan airku pada malam bulan
pernama. Mintalah warna dan bau apa yang kau kehendaki!” Maka tibalah malam yang ditunggu-tunggu itu. Semua pohon bunga melepaskan sekuntum bunganya, lalu secepatnya mengajukan permohonan. Nah, lihatlah! Pohon mawar berwarna merah, kuning, putih, bahkan ada yang hitam. Baunya pun sangat harum. Kembang sepatu juga berwarna merah, putih, kuning, namun lupa memohon bau harum. Pohon cempaka hanya ingat memohon bau harum, tetapi lupa jenis-jenis warna. Ia hanya ingat warna putih dan kuning. Dan itu, si sedap malam, ia bingung memilih warna. Ia hanya ingat bau harum yang dikeluarkan danau setiap malam hari. Anehnya lagi, si bunga bangkai yang kurang pergaulan dan pelupa itu. Ia tidak ingat nama-nama bau, lalu keceplosan meminta bau busuk. Itulah sebabnya ia dipanggil teman-temannya dengan nama Bunga Bangkai. Ketika matahari hampir terbit, barulah ketahuan, bahwa tidak semua bunga memanfaatkan kesempatan yang baik itu. Ternyata ada bunga yang ketiduran. “Hai, Bunga! Bangun, bangun!” Demikian teriak teman-temannya membangunkan bunga yang lengah itu. Bunga itu terkejut dan tersipu malu-malu. Waktu yang ditentukan telah lewat. Ia tidak mendapat bagian warna dan bau. Temantemannya menertawakan dan mengejeknya. Bunga yang bernasib malang itu diberi nama julukan si Kejut atau si Putri Malu. (Malaysia)
Edisi 917/ 5 - 11 september 2016
17
18
Edisi 917/ 5 - 11 september 2016
Buleleng Krisis Tenaga Medis
Pemerintah kabupaten Buleleng selalu berusaha menangani masalah dari segala lini kehidupan masyarakatnya. Terbukti, masalah kekurangan guru sudah mampu di atasi dengan merekrut guru kontrak. Namun, tidak demikian dengan masalah krisis tenaga medis utamanya dokter. Hal tersebut dibenarkan oleh Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana, ST.
B
upati mengungkapkan itu saat evaluasi empat tahun kepemimpinan PAS-Sutjidra di Buleleng. Krisis tenaga medis dirasakan bukan saja ketika masa jabatannya melainkan situasi ini sudah dirasakan ketika era kepemimpinan bupati terdahulu. Tentu hal tersebut sangat berdampak terhadap penempatan jumlah dokter di rumah sakit dan pukesmas pembantu (pustu) di desa-desa. Untuk mengatasi persoalan tersebut, pihaknya berupaya menangani
krisis dokter dengan merekrut dokter kontrak dan petugas medis lain. “Saya sebagai kepala daerah untuk menggaji dokter dengan sistem kontrak, siap dan tidak ada masalah tapi tidak ada yang mau,” paparnya. Pihaknya mengaku heran sarjana kedokteran dari luar daerah belum ada yang tertarik menjadi dokter kontrak di Buleleng. Bahkan harapan menambah tenaga medis dengan jalur rekrutmen CPNS gagal lantaran formasi untuk dokter tidak terpenuhi. “Dari 40 yang melamar cuma 4 yang lulus, sedemikian ketatnya Kementrian Kesehatan menerima spesialis. Saat penerimaan jalur CPNS pun tidak terisi lantaran tidak ada pelamar,” jelasnya. Maka dari itu pihaknya berniat mendiskusikan masalah tersebut dengan Dinas Kesehatan. “Apa boleh misalnya sarjana keperawatan diberdayakan, regulasinya
Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana bersama jajarannya
kota saja sedangkan sementara akses Buleleng Barat dan Buleleng Timur masih kurang,” ungkapnya.
Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana
perlu ditanyakan karena ini menyangkut nyawa manusia,” tambahnya. Atas kondisi tersebut, pemerintah daerah mengalihkan anggaran yang dialokasikan untuk melengkapi fasilitas di RSUD Buleleng. Salah satu yang sudah terwujud adalah pembangunan gedung IRD yang kini sudah ada pada tahap finishing. “Tinggal melengkapi alat kesehatan saja dan rencananya akan beroperasi akhir tahun ini,” lengkapnya. Sementara itu, pemerintah juga berkomitmen untuk mendekatkan akses pelayanan kesehatan kepada masyarakat dengan membangun rumah sakit tanpa kelas (Rumah Sakit Pratama) di desa Tangguwisia, Seririt. Rumah sakit di desa Girimas, Sawan dengan fasilitas yang sama pun akan dibangun tahun ini. “Selama ini pelayanan kesehatan hanya terpusat di
GUDANG PENYIMPANAN PASCAPANEN Sementara dari sektor pertanian, daya serap tenaga kerja sektor tersebut mencapai sekitar 34,80 persen penduduk. Hal tersebut menjadikan sektor pertanian sebagai tumpuan utama perekonomian masyarakatnya. Bupati mengatakan bahwa sektor pertanian membutuhkan daya dukung infrastruktur yang mumpuni sehingga mampu memberikan aksesibilitas yang baik guna memberikan akses kepada masyarakat. “Target saya adalah pembenahan infrastruktur selama lima tahun tuntas sehingga outcome nya adalah distribusi hasil pertanian lebih mudah dilakukan,” ujarnya. Sementara itu, mengenai status jalan dari awalnya jalan desa ditingkatkan menjadi jalan kabupaten berjarak sekitar 123 kilometer. “Kami berharap tahun 2017 mendatang pembenahan jalan kabupaten selesai dan yang 123 kilometer juga selesai,” tambahnya. Perhatian dimaksud merupakan bentuk keseriusan prioritaskan pemerintah dan membantu kemudahan petani dalam mengakses jalan. Mengenai pembangunan sektor pertanian Bupati PAS ke depan akan merancang peningkatan jumlah anggaran mencapai 10 kali lipat di tahun 2018. Pemerintah menunjukan eksistensi menggenjot anggaran dibidang pertanian mendatang. Perhatian terhadap pertanian akan di mulai dari pasca panen karena menurut hasil studi keunggulan komperatif masingmasing desa memiliki keunggulan
berbeda-beda. “Ada desa yang mangganya hebat, pisangnya, durennya, anggurnya, ada juga desa yang tumpang sari antara manggis, isen, jahe, dan kunyitnya yang hebat,” imbuhnya. Ia menambahkan bahwa Buleleng merupakan kabupaten yang memiliki bermacam-macam vegetasi sehingga perlu ada model yang lebih detail desa per desa untuk pertanian. Bupati asal desa Banyuatis tersebut menambahkan jika pihaknya beserta jajarannya akan lebih konsen terhadap masalah pertanian dengan harapan pendapatan petani dapat meningkat dengan penyerapan hasil produksi pascapanen. Menurutnya, selama ini kelemahan pertanian di Buleleng adalah anjloknya harga setelah pasca panen sehingga perlu dicarikan jalan keluar. “Saya berniat mengirim temanteman pertanian untuk belajar masalah gudang atau tempat penyimpanan buah,” ucapnya. Jika hanya masalah meningkatkan hasil produksi itu hal yang mudah, namum jika tidak ada sistem supplay yang terus menerus maka distribusi buah akan terputus. “Menangani pasca panen dengan standar quality control yang baik itu yang tidak mudah,” imbuhnya. Hal itulah yang membuat pemerintah ingin membuat badan penyangga dengan membiayai pembelian di petani dengan harga yang sesuai. Begitu juga dengan masalah teknis, ia berharap ada petani yang lebih berani melakukan cara-cara yang ilmiah baik dari segi pemangkasan, pemupukan, penyiraman sehingga mempercepat proses pembuahan. “Jika tanaman lebih cepat berbuah dari seharusnya tentu dapat harga yang lebih mahal,” jelasnya. -Wiwin
Stikes Buleleng Cetak Lulusan Berdaya Saing Global Stikes Buleleng melepas 178 wisudawan di gedung aula Stikes Buleleng, Senin (29/9). Dalam wisuda yang kedua ini, Stikes Buleleng melepas 77 wisudawan dari prodi DIII Kebidanan, 70 wisudawan dari prodi S1 Ke perawatan, dan 41 wisudawan dari prodi Profesi Ners. Jumlah tersebut tidak berbeda jauh den gan wisuda tahun lalu, yakni ter catat 162 wisudawan. Ini berarti Stikes Buleleng telah meluluskan sebanyak 340 orang. Ketua Stikes Buleleng Made Sundayana mengatakan seluruh wisudawan adalah mahasiswa yang telah mengakhiri masa
studinya baik secara teori maupun praktik serta telah menyelesaikan tugas akhir. Pihaknya menekankan kepada lulusan Stikes Buleleng agar dapat menunjukkan kepada masyarakat bahwa mereka benarbenar seorang akademisi. “Dengan bekal ijazah itu mereka diharap kan sudah memiliki skill dan kompeten di bidangnya,” ujarnya. Pihaknya membekali masingmasing prodi dengan kompetensi standar khususnya di negara ASEAN sehingga ketika di dalam dunia kerja mereka dapat diterima secara global bukan hanya seba gai penonton. “Kompetensi yang mereka dapatkan akan disertai
dengan sertifikat kompetensi, di sanalah mereka harus bisa mem buktikan kompetensi tersebut,” imbuhnya. Para alumni juga diharapkan dapat menjaga kompetensi di bidangnya masing-masing se hingga memiliki daya saing yang tinggi. “Kami berharap para bidan dan perawat ini selalu menjaga konsistensinya dalam melayani masyarakat dengan sepenu hati, dengan senantiasa memegang konsep kerja cerdas, kerja lugas dan kerja tuntas dan berkualitas,” paparnya. Bertepatan dengan momen wisuda kali ini, Sundayana juga
Ketua Stikes bersama mahasiswa lulusan terbaik
Wisuda Stikes Buleleng ke II
menambahkan bahwa akan dilaunching program Smart Digital Campus yang merupakan ker jasama antara Stikes Buleleng dan Gamatek. Peluncuran program ini merupakan terobosan dalam dunia pendidikan yang bertujuan untuk mengefisienkan segala urusan administrasi kampus baik Kartu Rencana Studi (KRS), tracer study para alumni dan lain-lain. Selain itu, Sundayana juga berha sil lulus dalam pelatihan Asesor Kompetensi Ilmu Keperawatan yang nantinya dengan sertifikat itu dirinya akan mengembangkan kompetensi di lembaganya. Dalam acara wisuda tersebut juga dihadiri oleh Koordinator Ko pertis Wilayah VIII, Prof. Dr. Nen
gah Dasi Astawa, M.Si serta para pejabat lainnya. Pada kesempa tan itu, Dasi Astawa memberikan motivasi kepada wisudawan agar senantiasa semangat dan menanamkan sikap kemandi rian, tanggung jawab dan men jadi pemenang dalam kempetisi dunia kerja. Dia menambahkan sebagai lulusan Stikes Buleleng, para wisudawan tidak harus bekerja di sektor formal seperti pegawai rumah sakit, PNS, bidan dan lain-lain. Akan tetapi tetap memerhatikan peluang bisnis yang bisa menciptakan lapan gan pekerjaan bagi masyarakat sehingga konsep kerja cerdas, kerja lugas, da kerja tuntas bisa diaplikasikan. -win
Life
Story
Edisi 917/ 5 - 11 september 2016
7
Lewati Ujian Keikhlasan “Ikhlaskan semua dan bersujudlah di depan Ka’bah memohon ampun pada Allah,” ujar Reni pada seorang sahabatnya yang hendak berangkat haji pada musim haji tahun 2016 ini. Saat musim haji tiba seperti ini, Reni selalu terharu kala mengingat proses yang luar biasa terjadi dalam dirinya ketika ia berhaji pada tahun 2006. Di depan Ka’bah, dengan jutaan umat muslim dari seluruh dunia yang tengah melaksanakan ibadah Haji, Reni bersujud, menangis dan memohon ampunan atas kesalahan dan dosanya selama ini, termasuk rasa sakit dan dendam pada suaminya.
P
erjalanan hidup Reni (58) memang sangat menyakitkan. Namun, ia termasuk yang beruntung karena mengalami proses penyadaran diri di saat yang tepat. Allah memberikannya hidayah ketika ia benar-benar menginginkan untuk
melepas rasa dendam dan sakit hati yang menguasai dirinya selama ini. 20 puluh tahun hidup berumah tangga dengan suaminya, Ali, Reni nyaris tak mendapatkan kebahagiaan yang diimipikan oleh semua perempuan terhadap suaminya. Reni menikah dengan Ali yang berprofesi sebagai pengemudi truk yang melintasi pulaupulau di Indonesia. Ketika menikah Reni memang tidak “datang” dengan cara yang baik karena ia masuk dalam kehidupan Ali yang telah beristri. Ketegangan dan keributan saat pernikahan mereka itu memang tidak dapat dihindari. Rasa cinta Reni dan Ali justru semakin kuat dan Reni rela dicaci maki istri pertama Ali bahkan dicemooh orang atas pilihannya itu. Ali juga menunjukkan rasa cintanya yang kuat pada Reni bahkan setelah Reni sama sekali sudah tidak bisa menganggapnya sebagai suami kelak. Atas rasa bersalah pada istri pertama Ali, Reni berusaha keras mengambil hati istri pertama Ali dengan cara mengalah dan bersabar. Ia bahkan selalu melakukan hal-hal baik asalkan istri pertama Ali mau memaafkannya. Dan itu terbukti setelah lama kelamaan istri pertama Ali dapat menerimanya. “Hubungan kami menjadi sangat baik dan terus semakin baik, sampai kami rasanya
Sudut Pandang
Tinggalkan Area Para Perokok Rumah dan tempat kerja atau kantor adalah dua dari beberapa area yang umumnya menjadi cerobong asap bagi mereka yang tidak merokok atau disebut perokok pasif. Seringkali masih terlihat orang-orang yang merokok seenaknya di kantor maupun di rumah. Sangat disesalkan ketika perempuan dan anak-anak dinyatakan sebagai korban terbanyak sebagai menjadi perokok pasif. Bahkan, mereka ini lebih menderitadibanding si perokok Lantas bagaimana Bintang Mira Erika Sedana sebaiknya menyikapi situasi seperti ini, khususnya jika kita adalah Erika juga mengaku sangat bersyuperokok pasif. kur bahwa pasangan hidupnya Putu Ari Menurut Made Herry Erika Sedana, Sedana ST, tidak merokok. Maka seA.Md., S.E., mantan penyiar program cara bersama-sama mereka fokus denberbahasa Inggris TVRI Bali (Balivision), gan membekali anak-anak pengetahuan di banyak tempat di Bali masih menjadi tentang bahayanya sebagai perokok pasif. restricted area untuk para perokok. Mau Begitu juga yang disampikan desainer papan tidak mau hal ini katanya menjadi kita atas Bali, Bintang Mira, bahwa setiap orang perokok pasif. “Karenanya saya lebih memilih untuk meninggalkan area para berhak atas udara yang bersih. Namun, perokok. Perokok pasif justru berisiko sepertinya perilaku merokok sudah menjadi terhadap bahaya kesehatan 3 kali lipat dari kebiasaan yang wajar bagi masyarakat kita. perokok aktif. Artinya racun yang dihasil- Jumlah perokok tidak pernah surut, karena kan dari asap rokok itu 75% masuk ke memang selama pengamatannya selalu ditubuh perokok pasif karena tidak terfilter pandang sebagai hal yang biasa. Meski tidak secara langsung merokok, sama sekali,” katanya. Dikatakannya anak-anak juga san- perokok pasif, lanjutnya bisa turut terkena gat perlu dibekali dengan pengetahuan dampak buruknya juga. Makin sering sesini. Sebab, bagi para ayah dan ibu yang eorang terpapar asap rokok, makin tinggi merokok terkadang tidak menyadari pula risiko gangguan kesehatan yang bakal bahaya terhadap pasangan dan putra dialaminya Berangkat dari keprihatinannya, Bintang putri mereka. Karena rokok bersifat adiktif dan barangkali mereka sulit untuk Mira dengan yakin mengatakan sikapnya sebagai berhenti merokok .Jadi. untuk sementara seorang perokok pasif . Pertama, menghindari yang dapat kita kontrol adalah perokok lingkungan perokok aktif . Kedua, membuat pasif. Sebisa mungkin juga hindari area rambu larangan merokok di lingkungan kita perokok aktif saat mereka merokok sebab (terutama di areal anak-anak). Ketiga, menegur akan benar-benar dapat membahayakan secara halus. Keempat, tidak menyediakan kesehatan terutama bisa menjadi trigger asbak di rumah kita atau tempat bisnis atau gangguan pernapasan, kanker paru-paru, lingkungan kerja kita yang memang seharusnya bebas dari asap rokok. – Sri Ardhini serangan jantung hingga kematian dini.
sudah seperti saudara,” ungkap Reni. Hubungan baik mereka membuat Reni merasa nyaman dalam rumah tangganya bersama Ali. Mereka saling berbagi satu sama lain dalam hubungan yang sangat baik. Sampai akhirnya Reni melahirkan anak pertamanya yang disambut dengan suka cita oleh istri pertama Ali yang memang tidak bisa memiliki anak karena alasan medis. Sampai pernikahannya dengan Ali berjalan delapan tahun mereka tidak memiliki anak. Karena itu kelahiran anak Reni juga menjadi kebahagiaan bagi istri pertama Ali. “Anak pertama saya sejak bayi baru lahir sampai hari ini berada di dalam perawatannya. Bahkan saat anak pertama saya menikah, yang mengurus pernikahannya adalah dia (istri pertama Ali),” kata Reni yang saat anak pertamanya menikah itu ia tengah menjadi TKW di Saudi Arabia. Setelah kelahiran anak pertama itu, Reni berturut-turut melahirkan tiga anak berikutnya yang menambah keba- hagiaan Reni, Ali dan istri pertamanya. Saking baiknya hubungan Reni dan istri pertama suaminya itu, mereka sampai-sampai tidak hanya berbagi suami dalam damai, mereka berbagi anak. “Saya lahirkan empat anak, dua saya rawat dan besarkan dua lagi saya berikan pada istri pertama suami saya,” ujar Reni tersenyum. Keikhlasan dan kebahagiaan istri pertama Ali merawat dua anaknya itu membuat Reni merasa dua anaknya seperti memiliki dua ibu kandung. “Dia sangat sayang dan perhatian pada anak-anak saya yang dibesarkannya. Bahkan dua anak saya yang lain juga betah bersamanya jika saya tinggal,” kata Reni. Perjalanan rumah tangga Reni dan Ali serta istri pertamanya yang tinggal di Pulau Sumbawa ini berjalan dengan sangat damai, sampai akhirnya suatu hari Ali membuat masalah dengan menikah lagi. Kedua istrinya ini meradang dan tidak terima dengan pernikahan diam-diam itu. Reni dan istri pertama Ali bahkan datang melabrak perempuan itu dan menjambak rambut Ali secara bersamasama. Namun entah mengapa, Ali tidak mau menceraikan istri ketiganya yang sedang hamil itu. Reni dan istri pertama Ali terus berusaha keras memisahkan Ali dengan istri ketiganya yang oleh masyarakat di kampungnya dikenal bukan perempuan baik-baik. Semua usaha keduanya itu tidak berhasil. Situasi ini berjalan hingga tiga tahun, sampai akhirnya keduanya sudah tidak tahan lagi dengan situasi tersebut. “Suami kami sepertinya kena guna-guna. Dia jarang pulang kepada kami. Tiap kali pulang dari bekerja ia selalu pulang ke rumah perempuan itu,” ujar Reni. Hal inilah yang membuat istri pertama Ali memilih tegas menceraikan Ali dan Reni pergi meninggalkannya. “Saya berangkat jadi TKW ke Arab Saudi. Anak-anak saya membutuhkan biaya sekolah, penghasilan suami saya sebagai supir truk hanya untuk istri ketiganya,” kata Reni yang mengaku beruntung memiiki seorang madu yang baik dan mau mengurus keempat anaknya saat ia tinggal. Namun sesungguhnya sebelum berangkat sebagai TKW, Reni yang memilih tidak menceraikan suaminya itu masih mengalami hal-hal yang menyakitkan. Dua kali suaminya menikah lagi dan kerapkali perempuan-perempuan mendatanginya mengaku sebagai kekasih suaminya. Semua itu menumpuk rasa sakit dalam diri Reni. NGOBROL DI RUMAH ANAK Tahun 2006 saat ia menjadi TKW, Reni berkesempatan melaksanakan ibadah haji. Rasa sakit yang teramat mencabik-cabik hati dan rasa cinta pada suaminya yang sempat begitu luar biasa menyimpan rasa dendam dalam dirinya
tiba-tiba lenyap ketika ia memandang Ka’bah dan menyerahkan diri sepenuhnya pada Allah. Peristiwa itu dimulai ketika ia salat di depan Ka’bah. Ia menyimpan dompet dan telepon genggamnya persis di depannya, dimana ia dapat melihatnya dengan jelas. “Tiba-tiba di depan saya seperti ada seseorang yang rasanya ingin mengambil dompet dan HP saya tapi saya tidak berusaha menghalanginya,” katanya. Di sanalah ia merasa ikhlas jika pun HP dan dompet tersebut diambil orang maka ia merasa begitulah jalannya dan ia tidak ingin membatalkan salatnya
hanya untuk menyelamatkan hartanya itu. “Saya sama sekali tidak akan merasa khawatir dengan hal itu dan saya terus melanjutkan salat,” kata Reni yang merasa bahwa HP dan uang dalam dompet miliknya itu ia dapatkan dengan cara yang halal. Benar saja, orang di hadapannya itu pergi sampai Reni menyelesaikan salatnya. Bagi Reni yang merasa peristiwa dan orang tersebut sesungguhnya simbul bahwa ia tengah diuji, antara ibadah, keihklasan dan harta. Ia beruntung telah memilih hal yang tepat melanjutkan salat dan tidak peduli dengan harta benda. Dari sana jugalah ia lalu mengingat suaminya. “Meski dia sudah sangat menyakiti saya, tapi saya merasa mungkin pernah bersalah tanpa saya sadari. Saya lalu mengambil HP dan meneleponnya untuk meminta maaf,” ungkapnya. Sayangnya telepon dari Mekkah itu dijawab oleh istri ketiga suaminya yang kemudian memaki-makinya. “Saya tidak marah tapi saya minta ia menyampaikan salam permintaan maaf saya,” ujarnya. Tampaknya suaminya tahu telepon itu dan meneleponnya balik. “Suami saya menangis meraung-raung, memohon saya juga memaafkannya,” kata Reni. Itulah titik balik rasa cinta Reni pada suaminya yang tadinya cinta sebagai suami istri lalu berubah menjadi seperti saudara. Sepuluh tahun sejak peristiwa itu, beberapa kali Reni bertemu suaminya yang masih sangat mengharapkannya kembali, ia menjadi biasa saja. “Saya sudah tidak punya rasa sama sekali padanya. Dia sudah seperti saudara saja bagi saya. Saat ketemu saya dia selalu ingin menyentuh saya sebagai istri, tapi saya tidak bisa,” ungkapnya. Sejak Reni menjadi TKW beberapa kali pulang ke Indonesia namun sudah tidak bertemu suaminya itu dalam waktu yang lama. “Ada jarak lima tahun, dua tahun lalu pulang sebentar dan tak bertemu lagi dua tahun. Itu yang membuat saya merasa bahwa meski kami tidak bercerai secara resmi, tapi saya merasa sudah tidak sah melakukan halhal sebagai suami istri,” katanya. Reni memang tidak pernah menceraikan Ali, begitu pun sebaliknya. Ia juga tidak ingin mengonsultasikan hal ini dengan siapa pun. Waktu dan peristiwa telah membuat perasaan Reni berubah terhadap suaminya yang kini dianggapnya sebagai saudara, sudah cukup baginya menganggap bahwa pernikahannya telah berakhir dengan cara yang tidak biasa. Bahkan setelah tiga tahun kembali pulang ke kampung halamannya, Reni menghindar untuk bersama dengan suaminya dalam suasana yang layaknya sebagai suami istri. Ia hanya nyaman bertemu suaminya dalam situasi biasa. “Ketemu ngobrol di rumah anak kami untuk melihat cucu kami. Selebihnya saya tidak mau bersamanya seperti suami istri,” ungkapnya. -Naniek I. Taufan
6
Edisi 917/ 5 - 11 september 2016
SMAN 7 Denpasar ditunjuk sebagai pilot project oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai satu-satunya sekolah di Kota Denpasar, dari dua sekolah di Bali untuk membudayakan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). “Kepercayaan dari pusat ini menjadi cambuk bagi kami untuk melakukan yang terbaik,” ujar Kepala SMAN 7 Denpasar Cok Istri Mirah Kusuma Widiawati di sela-sela perayaan HUT ke-27 SMAN 7 Denpasar.
B
ersamaan dengan momen istimewa itu pula Wali Kota Denpasar IB Rai D. Mantra meresmikan “Penerapan Budaya Literasi” di SMAN 7 Denpasar. Hadir juga dalam kesempatan itu Ketua Komite Sekolah Cokorda Pemecutan. Jika merenung sejenak, berdasarkan penelitian terakhir dari Unesco, indeks minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah, berada di urutan ke 64 dari 65 negara yang diteliti. Artinya, minat baca orang Indonesia baru mencapai 0.0001 atau dari 1.000 penduduk hanya 1 orang yang memiliki minat baca. The World’s Most Literate Nations mencatat tingkat literasi tertinggi di dunia diduduki Finlandia. Amerika Serikat dan Jerman berada di posisi 7 dan 8. Indonesia ada di posisi 60 dari 61 negara yang diambil sampel ujinya. Untuk itu Indonesia harus bekerja keras untuk meningkatkan minat baca para peserta didik dengan GLS. “Dasar pemikiran kami, untuk
Woman on Top Cok Istri Mirah Kusuma Widiawati
Budayakan Gerakan Literasi Sekolah
melakukan kebiasaan berpikir dan nanti di-rolling dengan yangkreatif dan inovatif, harus kelas lain,” jelasnya. diikuti denga sebuah proses Selain di masing-masing membaca dan menulis sehingga kelas, ada dua pojok pustaka menghasilkan sebuah karya. yang dibuat di bale bengong, Karena itu, kami di SMAN 7 dan pada pojok yang baru saja sudah mulai menerapkan budiresmikan. “Sementara itu daya literasi ini sejak dua bulan yang baru bisa kami lakukan terakhir,” ucap Cok Mirah. untuk penerapan GLS ini,” Untuk mengondisikan hal cetusnya. tersebut, SMAN 7 membuat Wali Kota Denpasar IB “pembiasaan” dengan melakuRai D. Mantra sangat ankan kegiatan literasi yaitu memtusias atas apa yang sudah baca 15 menit di awal setiap dilakukan di SMAN 7 ini. kegiatan pembelajaran sebelum Karena menurutnya budaya jam pertama, bagi murid dan baca adalah dasar untuk guru. Dalam proses itu, anakmeningkatkan pola berpikir anak membaca buku nonpelaanak. Jadi jika pola pikir jaran yakni buku apapun yang anak sudah dibiasakan untuk disukainya kemudian menumembaca otomatis anak Wali Kota IB Rai D. Mantra meresmikan “Penerapan Budaya Literasi” di SMAN 7 Denpasar liskan dalam bentuk resume 1 akan menghasilkan karyayang benar-benar bisa menilai bagus Berikutnya, ia juga ingin menye- karya. Dari sanalah anak akan bisa sampai 2 paragraf. Budaya membaca dan menulis tidaknya puisi, juga keoriginalitasan barkan budaya literasi ini di Kota memiliki budi pekerti yang luhur. Jika ini dikatakan Cok Mirah akan san- karya anak, bukan jiplakan. Dari sana, Denpasar dengan mengundang SMA/ sudah membaca ilmu, pola pikir akan gat membantu anak-anak untuk hasil-hasil karya terbaik anak akan SMK dan SMP baik murid maupun berubah dan membuka wawasan meningkatkan prestasinya. Karena dibukukan. “Dengan cara seperti itu guru sebagai perwakilannya. SMAN anak. Bahkan, orang nomor satu di memang selama ini kita lihat banyak anak-anak sudah berkarya, dan pasti 7 Denpasar akan menyebarkan dan Denpasar tersebut berharap gerakan sekali anak yang tidak memiliki atau bangga karyanya dibukukan. Tagihan- menginformasikan bagaimana yang ini juga bisa menjamah hingga ke kurang minatnya untuk membaca. tagihan seperti itu yang akan kami disebut budaya literasi tersebut. sekolah dasar (SD). Dalam GLS yang diterapkan di “Ke depannya, kami minta tagihan lakukan kedepan. Mungkin tak hanya Karena itu Wali Kota Denpasar dalam bentuk hasil karya anak-anak,” puisi, bisa cerpen, karikatur, komik SMAN 7 ini, selain anak-anak diminta menyebut gerakan ini tak hanya dan apa saja, yang penting adalah membawa bukunya dan diresume, menjadi tugas pemerintah, namun ujarnya. Ia menyontohkan, dari 1.265 itu hasil karya anak. Sehingga dalam CIM Kusuma Widiawati menyam- juga termasuk stakeholder yang siswa sekolah diminta membuat setahun kami bisa punya satu atau paikan dalam bulan ini akan terwujud paling bawah harus buka mata dan puisi. Kemudian puisi itu dikumpul- dua hasil karya siswa yang bisa kami pojok pustaka yang ada di masing- singsingkan lengan baju untuk kita kan, dan akan dicarikan pakar puisi tunjukkan sebagai bukti bahwa anak- masing kelas. “Bukunya sumbangan bekerja berusaha untuk memicu anak benar-benar bisa menghasilkan dari anak-anak yang selama ini sudah supaya budaya literasi ini bisa diterkarya,” ujar Cok Mirah. berjalan. Buku itu ditaruh di kelas apkan. –Inten Indrawati
Sudut Pandang
Harga Rokok Naik, Pedagang Stop Jual Rokok
Warung kelontong “Ibu Kendri” yang menjual sembako dan kebutuhan lainnya, membuat warung yang berlokasi di pinggir jalan di Jalan Tukad Banyusari, Panjer, Denpasar ini, tak pernah sepi pembeli. Sama seperti sebagian besar warung lainnya, warung ini juga menjual rokok. “Banyak yang beli, tapi belinya sedikit-sedikit,” ujar Ketut Kendri. Memang benar, ketika tokoh menyambangi warung ini dan ngobrol dengan pemiliknya sekitar 15 menit, setidaknya ada empat konsumen yang datang dengan tujuan membeli rokok. Pembeli pertama seorang bapak-bapak. Ia merogoh satu lembar uang lima puluh ribu dari kantongnya untuk membayar dua bungkus rokok dan barang-barang lain yang dibelinya. Ketika ditanya
apakah akan berhenti merokok jika harga rokok naik menjadi Rp 50 ribu, ia menjawab enteng, “Ya masih, tapi mungkin belinya ngecer saja.” Tak berselang lama, seorang pria dewasa juga datang khusus untuk membeli satu bungkus rokok. Tanpa banyak basa-basi, pria itu hanya menyebut satu merek rokok dan menyodorkan uangnya. Selanjutnya, seorang pria remaja seusia pelajar SMA membeli rokok eceran. Ia hanya mengeluarkan satu lembar sepuluh ribuan yang ditukar dengan beberapa batang rokok, itu pun ia masih menerima uang kembalian. Berikutnya, seorang bocah laki-laki datang dengan santainya. “Bu, Bapak saya beli rokok,” ujarnya sembari menyodorkan uang dua puluh ribuan. Sepertinya anak kecil ini sudah cukup
Warung kelontong “Ibu Kendri”
sering diberi tugas oleh Bapaknya membeli rokok. Ketut Kendri mengatakan, meski ada yang membeli bungkusan, namun lebih banyak konsumennya yang membeli rokok eceran. Dalam sehari, setidaknya 100 batang rokok habis dijualnya eceran. Sejak berembusnya wacana harga rokok akan naik menjadi Rp 50 ribu, ia mengaku banyak konsumennya yang bertanya dulu
sebelum membeli. “Berapa harga rokok sekarang Bu? Apa sudah naik? Kalo naik, saya berhenti merokok saja”. Demikian ucapan segelintir konsumen rokok langganannya. “Kalau sampai harga rokok Rp 50 ribu, saya juga akan berhenti jualan rokok,” ujar Ketut Kendri menimpali. Pernyataannya tersebut cukup beralasan. Modalnya besar untungnya sama, selain itu pembelian rokok tidak bisa dibon.
Ia menyebut keuntungan menjual rokok hanya Rp 400 – Rp 600 per bungkus, tergantung harga rokok. Sementara pembelian rokok eceran rata-rata mendapat untung Rp 90 per batang. Dari beberapa merek rokok yang beredar di pasaran dan khususnya yang tersedia di warungnya, harga rokok saat ini berkisar antara Rp 13.000 hingga Rp 20.000 per bungkus. –Inten Indrawati
Tetap Rokok Tembakau bukan Rokok Elektrik Jika harga rokok naik jadi Rp 50.000, apakah serta merta akan menyetop para perokok aktif? Mungkin ada beberapa orang yang menjawab akan mengurangi, namun ada juga yang tak mempermasalahkannya. “Tidak ada urusan dengan kenaikan harga rokok. Saya tetap memilih untuk merokok seperti biasa. Iru sudah laku bagi saya,” ujar Demas, seniman muda berusia 26 tahun. Apakah ada kemungkinan beralihke rokok elektrik seperti yang banyak dilakukan pemudapemuda seusianya. “Jawaban saya tidak. Karena menghisap rokok elektrik itu tidak menghisap tembakau. Yang dihisap uap dari cairan. Jadi intinya di tembakaunya itu,” ucapnya lagi. Demas mengaku sudah menjadi perokok aktif sejak usia 19 tahun saat duduk di bangku kuliah. Pertamakali menghisap tembakau saat berusia 11 tahun, kelas 5 SD. Ia mengisahkan, saat itu ada upacara adat di rumah, dan rokok sebagai salah satu sajian mebraya bertebaran di mana-mana seperti kacang goreng. “Iseng saja saya ngambil sebatang dan merokok bersama adik perempuan saya. SMP sampai SMA merokoknya jarang-jarang, palingan
ketika ada acara menabuh baru ngerokok. Jika tidak ada acara, ya tidak merokok. Saya benar-benar jadi perokok aktif saat kuliah usia 19 tahun,” kisahnya. Uang untuk membeli rokok ia dapatkan dari hasil kerja serabutan. Hasil dari bantu-bantu teman, bantu jadi EO di beberapa acara, ikut jadi volunter di sebuah instansi pemerintah, dll. “Jadi uang untuk beli rokoknya dari sana. Kalau untuk makan baru uang dari orangtua,” ucapnya. Meski kakek dan pamannya adalah perokok berat, ia mengatakan keluarga maupun teman tak ada hubungannya dengan keputusannya sebagai perokok. “Jadi perokok adalah keputusan pribadi saya, alasan spiritual. Ada beberapa sesajen yang harus saya suguhkan dilengkapi dengan penginangan (sirih, buah pinang, gambir, kapur, dan tembakau). Jadi saya mengikuti suguhan itu. Selain aktif merokok saya juga aktif nginang sejak lama, sejak usia 18 tahun, meneruskan tradisi, ” ucapnya tersenyum. Mungkin karena alasan itu pula, Demas mengaku tak merasakan mulutnya asam, kepala pusing, dll. seperti yang dikeluhkan kebanyakan perokok jika tak “kena rokok”. Saat ini setidaknya ia menghabiskan sebungkus rokok sehari, tidak seberat dulu yang bisa hingga tiga bungkus sehari. –Inten Indrawati
Java’s Chromatic adalah grup band asal Surabaya dengan konsep memadukan beberapa jenis musik diantaranya keroncong, latin, fusion, jazz, pop, dan tradisional yang kemudian dibalut secara apik menjadi komposisi-komposisi musik yang enak didengar untuk semua kalangan.
Java’s Chromatic
Edisi 917/ 5 - 11 september 2016
19
Dari Iseng Jadi Berkah
D
ari keunikan inilah yang kemudian membawa Java’s Chromatic mendapat banyak tawaran untuk menghibur di berbagai acara. Awal berdiri grup ini memang sudah cukup lama semua bermula saat para personil didalamnya bergabung pada UKM UNAIR lebih tepatnya adalah UKTK UNAIR (Unit Kegiatan Tari dan Karawitan Universitas Airlangga). “Dari project iseng-iseng namun ketagihan untuk berkarya itu yang kami rasakan, dengan format awal kami memberi nama Chromatic Performing Art, nama ini kami gunakan kurang lebih 3 tahun dan kemudian kami me-
mutuskan untuk berganti nama menjadi Java’s Chromatic dengan tujuan untuk menyegarkan performa kami dalam bermusik dan
berkesenian” tutur Eko Febriyanto, pentolan Java’s Chromatic. Nama Java’s Chromatic resmi digunakan 3 Februari 2016,
seolah-olah nama ini menjadi suatu berkah bagi mereka. Belum genap 1 minggu nama ini diresmikan sudah mendapat tawaran untuk mengisi suatu program di stasiun TV lokal Surabaya selama 5 bulan. Berawal dari sinilah Java’s Chromatic kemudian lebih dikenal orang dan konsep bermusik yang disajikan mulai dapat dinikmati banyak kalangan sehingga bermunculan tawaran-tawaran dari pihak-pihak hotel untuk mengundang mereka pada setiap event besar yang diadakan dengan target sasaran adalah tamu dari luar negeri yang harapanya akan terhibur dengan konsep musik yang unik. “Java’s Chromatic saat ini memang belum memiliki album
ataupun single namun kami sudah mempersiapkan materi untuk itu semua, dengan konsep-konsep serta warna-warna fusion yang akan kami berikan ke depan, dan untuk saat ini kami masih mempelajari beberapa tawarantawaran dari investor yang masuk pada kami untuk melakukan recording dan pembuatan single,” ujar Eko. Masuknya Java’s Chromatic pada event Jazz Traffic 2016 sebagai ajang pembuktian bahwa band lokal Surabaya memiliki kualitas yang tidak kalah dengan band-band nasional dan semoga dari sinilah ke depan Java’s Chromatic juga dapat masuk pada jajaran event bergengsi lainya seperti Java Jazz, Jazz Gunung, dll. -Dona
Atmosfer Baru Festival Jazz Mengulang kesuksesan tahun lalu festival musik jazz terbesar di Surabaya, Jazz Traffic Festival 2016 digelar 27-28 Agustus 2016. Kali ini festival tahunan yang merupakan usungan Suara Surabaya Media, kembali bertempat di Grand City Convex Surabaya, dengan mengu sung tagline berbeda yaitu ‘Beyond Space’. Tagline ini sengaja diusung sebagai upaya membangun nilai di luar batas dan bentuk ruang yang biasanya, atau yang lebih dikenal de ngan antimeanstream. Hal tersebut dibenarkan oleh Wahyu Widodo, Direktur Usaha Suara Surabaya Media. Ia mengatakan Jazz Traffic Festival tahun ini memang menabrak batas-batas yang ada. “Beyond Space itu seperti membangun nilai tambah dari sebuah
ruang atau aktivitas.Jazz Traffic Festival ini ruangnya, yang akan mempunyai nilai tambah dengan atmosfer baru dan spirit yang luar biasa,” ujarnya. Untuk tahun ini, PP Properti bergabung untuk bekerjasama menampilkan Jazz Traffic Festival yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. “Ini konsistensi kami, setiap tahun memberikan apresiasi di event musik jazz paling besar di kota Surabaya,” jelas Wahyu Widodo. Beberapa bintang yang pernah tampil di Jazz Traffic Festival di tahun sebelumnya, kembali meramaikan Jazz Traffic 2016, seperti Glenn Fredly, Maliq & D’Essentials, Tohpati, Idang Rasjidi, Andien, Sierra Soetedjo, Alsa, Hivi, Dekat dan Barry Likumahuwa. -Dona
20
Nine
Edisi 917/ 5 - 11 september 2016
Indrastuti Darjanto
Motivasi Orang Lain untuk Maksimalkan Potensi
Bahagia, senang dan semua berjalan baik serta lancar sesuai rencana, itulah yang diharapkan oleh seluruh panitia penyelenggara dari sebuah penyelenggaraan event. Hal inilah yang membuat semua akhirnya dapat bernafas lega tatkala kegiatan berakhir. Sebuah kegiatan terutama kegiatan besar, tidak mungkin dapat berjalan lancar jika seluruh penyelenggara tidak kompak dalam pelaksanaannya. Meskipun tentu saja kekurangan di sana sini pasti ada namun tidak mengganggu subtansi penyelenggaraan acara.
Indrastuti Darjanto
S
oliditas panitia penyelenggara dapat terlihat dari suksesnya sebuah acara, seperti yang terjadi saat penyelenggaraan event Internasional Jazz Worl Music Senggigi 2016 yang berlangsung di Pantai Senggigi Lombok beberapa waktu lalu. Internasional Jazz Worl Music Senggigi, kemudian kini dikenal dengan singkatan JWM. Kegiatan yang pertama kalinya diselenggarakan di Lombok ini secara umum berlangsung sukses. Selain kerja keras dan keseriusan seluruh tim penyelenggara, rupanya ada seorang perempuan yang memegang perang sangat penting dalam mengatur lalu lintas proses untuk memastikan semua pihak terpenuhi kebutuhannya yang berakhir pada sebuah “kebahagiaan” yang menjadi milik bersama. Adalah Indrastuti Darjanto, perempuan cekatan di balik urusan membahagiakan seluruh penyelenggaraan kegiatan, termasuk di dalamnya adalah urusan talent (para artis) pengisi acara, pendamping para artis, tim panitia hingga para volunteer pada kegiatan ini. Ibu dua anak inilah yang memastikan seluruh kebutuhan, mulai dari urusan perjalanan para para artis pengisi acara baik dalam maupun luar negeri,
menyediakan hotel, perjalanan wisata para artis selama berada di Lombok, transportasi, komunikasi dengan para pendamping artis mulai dari artis mendarat ke Bandara Internasional Lombok sampai pulang hingga urusan konsumsi. Indrastutilah yang memastikan semua itu berjalan dengan baik dan lancar. Alhasil, setelah seluruh kegiatan berakhir, panitia penyelenggara tidak menerima komplin berarti terutama yang datang dari para artis. Hal-hal yang bersifat prinsip dalam hubungannya mengatur kenyamanan, kebahagiaan dan ketenangan para pengisi acara yang nota bene menjadi tamu penting dalam kegiatan tersebut, berjalan lancar. Yang ada di balik semua ini adalah Indrastuti. “Kalau tidak ada dia, bisa kacau JWM bilahari,” ungkap Nuniks Gayatri, salah seorang penggagas kegiatan yang kini banyak dibicarakan itu, khususnya lagi oleh berbagai kalangan di NTB. Di tangan ibu dari si kembar, Annisa dan Satria inilah manajemen dan administrasi kegiatan ini berada. Kapasitas dan kredibilitas Indras dalam mengatur urusan ini tentulah sangat teruji karena ia pernah menghabiskan waktu 20 tahun (hingga tahun 2014), menjadi sosok yang kesehariannya memastikan kebahagiaan, kenyamanan dan ketenangan bagi orang yang menjadi tamu di hotel tempatnya bekerja. Ia adalah mantan Resoursces and Training Manager pada salah satu hotel berbintang yang masuk dalam grup Starwoods Hotels and Resots, di Jimbaran Bali. Kedisiplinan yang diterapkannya dalam menangani urusan yang menjadi tanggung jawabnya ini, ditambah lagi kemampuannya berkomunikasi dan berkoordinasi dengan semua pihak yang terlibat membuat seluruh kegiatannya berjalan lancar. Pengalamannya melatih dan memilih calon pegawai, membuatnya mengerti benar bagaimana mendapatkan orang/sosok yang pas untuk mengerjakan masing-masing bidang. Tentu saja ia piawai dalam memetakan sumber daya manu-
Indras (dua dari kiri) bersama tim penyelenggara JWM
sia untuk diajak bekerja bersama dalam tujuan yang sama. Indras mengawali karirnya di bidang perhotelan sejak tahun 1998 seusai menyelesaikan pendidikan di Sekolah Tingga Bahasa Asing (STBA) Bandung, Jawa Barat. Untuk menjadi seorang Manajer HRD hotel berkelas, tentu saja tidak diperolehnya dengan jalan yang mudah. Ia mengawali kareirnya dengan duduk di depan meja penerima telepon, sebagai operator yang mengandalkan kemampuannya berbahasa Inggris. Dari pekerjaan sederhana itulah ia belajar. Menurutnya, suksesnya bekerja tim itu tidak ditentukan oleh hal yang besar saja, melainkan berangkat dari hal-hal yang kecil yang implikasinya bisa menjadi besar jika salah menanganinya. Karena itulah, ia memastikan semua orang dapat bekerja sesuai dengan kesepakatan. “Alhamdulillah seluruh tim terutama para pendamping artis pengisi acara JWM, bekerja dengan luar biasa. Saya mengagumi keseriusan tim JWM lalu,” katanya. Indras memiliki pengalaman yang cukup dalam memberi motivasi bagi calon pegawai. “Memotivasi orang lain untuk bisa memaksimalkan potensinya demi kepentingan bersama itu yang paling susah,” katanya tentang pengalamannya. Itulah sebabnya ia merasa beruntung mendapatkan tim JWM yang berada di bawah tanggung jawabnya adalah tim yang memiliki kemauan yang kuat dan rajin serta bertanggung jawab, sehingga semua berjalan lancar. “Komunikasi dan koordinasi yang baik itulah yang paling penting dilakukan antar orang dalam tim,” katanya. PUNYA PRIORITAS HIDUP Dari seorang operator telepon, Indras terus meniti kariernya duduk di balik meja resepsionis lalu bisnis center, hingga menjadi sekretaris General Manager dan Manager HRD. Indras meniti karier tersebut dengan tingkatan yang jelas
dan terukur karena ia memiliki jiwa yang dinamis. Jiwa Indras yang dinamis tersebut rupanya datang juga oleh hobinya berkendara. Ia termasuk salah seorang lady biker (pengendara perempuan) yang tergabung dalam Pulsarian. Ia sangat menyukai hobi yang sejak dulu digelutinya ini. Indras menjadi satu dari sedikit perempuan yang tergabung dalam hobi yang umumnya diminati laki-laki ini. Perjalanan karier Indras di bidang perhotelan dilakoninya dengan sangat ajeg dan dalam ukuran waktu yang tidak bisa dikatakan sebentar. Namun, di tahun 2014, Indras kemudian memutuskan untuk berhenti bekerja di saat kariernya tengah bersinar, sebagai Manager HDR sebuah hotel berbintang di Jimbaran Bali. “Saya ingin mengurus anak dan keluarga,” ujar istri dari musisi Ary Juliant ini. Pilihan sikap yang diambil oleh Indras tentulah ridak bisa diukur dengan apapun atau dibandingkan dengan siapa saja karena baginya itulah pilihan yang terbaik. Bagi Indras memiliki dan merawat dua anak kembar
adalah prioritas yang harus ia utamakan dibandingkan gemerlapnya karier yang menanti. Sempat lebih kurang dua tahun ia pulang pergi Bali Lombok untuk bekerja (di Bali) dan mengurus anak-anak serta keluarganya (di Lombok), membuatnya memutuskan bahwa anak-anaknya membutuhkan dirinya. “Apapun alasannya semua anak-anak pasti membutuhkan ibunya dalam porsi yang lebih dibandingkan dengan hanya seorang ayah yang mengurusnya. Akan jauh lebih baik lagi saat anak-anak tumbuh bersama ayah dan ibunya,” kata Indras. Dua tahun melihat perkembangan anak-anak tanpa banyak bersamanya, naluri Indras sebagai seorang ibu memutuskan bahwa ia harus memilih prioritas dalam hidupnya. Prioritas itu adalah anak-anak dan keluarga. Pilihan itu diambilnya dengan sadar karena ia tidak mau ketinggalan masa-masa kecil anaknya yang tidak akan mungkin dapat terulang. “Saya tidak mau menyesal kemudian ketika saya tidak tahu perkembangan anak-anak saya. Masa kecil mereka yang membutuhkan perhatian tentu saja tidak mungkin saya buat ulang,” ujarnya. Sejak dua tahun lalu itulah, Indras memilih menjadi ibu rumah tangga. “Jangan dipikir menjadi ibu rumah itu pekerjaan yang mudah, justru yang rasakan jauh lebih kompleks dari bekerja di kantoran,” ujarnya. Namun, dengan pengalamannya dalam mengatur dan mengurus, Indras dapat memastikan semua pekerjaan sebagai ibu rumah tangga tersebut berjalan dengan sangat baik, meskipun selalu ada kompromi di sana sini demi kebaikan bersama seluruh keluarga.
Indras bersama rekan-rekan sesama bikers
-Naniek I. Taufan
Inspirasi
Edisi 917/ 5 - 11 september 2016
5
AA Gede Oka Wisnumurti
Selalu Ada Target Sejak kecil selalu dipercaya menjadi pemimpin. Waktu duduk di sekolah dasar, ia dipercaya menjadi ketua kelas dan ketua sepak bola di desa. Terus berlanjut sampai SMP, SMA, dan kuliah. “Mungkin saya terlahir sebagai organisatoris,” ujar Ketua Yayasan Kesejahteraan KORPRI Provinsi Bali Dr. Drs. Anak Agung Gede Oka Wisnumurti, M.Si.
S
embari tertawa, Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Bali, periode 2003-2008 ini menuturkan, bahkan, istrinya, Ir. Agusriwana Wahidiah, sudah sangat paham betul, waktunya memang sebagian besar untuk orang lain. “Istri ketemu waktu kuliah di Universitas Jember. Jadi dia tahu betul kegiatan saya di organisasi,” kata ayah dari Anak Agung Gde Brahmantya Murti dan Anak Agung Gede Ananda Murti ini. Wisnumurti mengatakan, saat duduk di semester IV sudah mengisi acara mimbar agama Hindu di RRI Jember. “Bayangkan saja, masih muda sudah bicara agama Hindu. Intinya, agar Hindu dikenal waktu itu,” kata Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Bali ini. Walaupun waktunya lebih banyak untuk orang lain, ia tetap tidak melupakan tanggungjawab sebagai suami dan bapak. “Waktu itu bisa diatur. Kitalah yang mengatur. Begitu pun berkomunikasi dengan keluarga, dengan teknologi yang semakin canggih, dengan berbagai fitur yang disediakan, lewat ponsel kita tetap bisa
intens berkomunikasi,” ujar tamatan Magister (S2) Program Studi Sosiologi, Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, dan Doktor (S3) Program Kajian Budaya Program Pascasarjana Universitas Udayana ini. “Yang penting, kualitas pertemuan, ada waktu yang kami manfaatkan untuk berdiskusi dengan keluarga. Syukurlah anak-anak tidak mengeluh. Istri juga sangat mendukung aktivitas di luar. Walaupun, kadang diingatkan, untuk menjaga kesehatan. Yang namanya aktivis memang sering kelupaan makan,” kata dosen Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Warmadewa ini. Dalam menjalankan aktivitasnya, ia merasakan tak ada masalah. Karena baginya, apapun yang dikerjakan asal dinikmati, hasilnya pasti baik. Seperti motonya, bagai air mengalir. Menurutnya, bangun tidur merupakan waktu yang baik untuk berkomunikasi dengan keluarga. “Kalau kita bangun pukul 5, ada waktu dua jam untuk komunikasi dengan keluarga,” ucap Ketua Asosiasi Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (ABPPTSI), 2013-2018 ini. Tips lain yang diungkap-
kannya, ia jarang membawa pekerjaan ke rumah. Ia selalu usahakan, pekerjaan harus diselesaikan di kantor. Baginya, urusan menyama braya, menjadi satu keasyikan tersendiri. “Kita tidak hanya memikirkan kehidupan perkotaan, tapi harus juga di kampung halaman. Saat ini saya dipercaya menjadi Ketua Sabha Desa Pekraman Siangan Gianyar,” imbuhnya. Kesukaannya pada organisasi, ternyata diikuti kedua putranya. Untuk urusan mendidik anak, ia lebih menerapkan sistem teman dengan kedua putranya yang sudah beranjak dewasa. “Anak itu saya posisikan sebagai teman. Anak mengritik orangtua itu biasa. Anak punya pilihan lain itu sudah biasa. Tugas kita sebagai orangtua, hanya mengarahkan apa yang dia mau. Menanyakan dia mau kemana, termasuk pilihan sekolah dan karier,” ujarnya. Kedekatannya dengan kedua putranya, ternyata memberi kebanggaan tersendiri. “Anak sulung saya yang kuliah di UGM Yogyakarta, kalau pulang ke Bali, minta tidur bareng. Di sinilah kesempatan saya mengobrol dengan dia termasuk soal pendidikan dan kegiatannya di kampus,” katanya. Untuk urusan karier, Wisnmurti mengatakan, selalu punya target. Sejak kecil sudah ingin sekali mejadi dosen. Dalam benaknya, tergambar sangat asyik melihat guru dan murid berinteraksi. Seperti terlihat dari keseharian orangtuanya yang berprofesi sebagai guru. “Kalau ada orang yang mengiming-imingi saya pekerjaan lain, saya tetap menjadi dosen saja
karena saya sangat menikmatinya,” ujarnya. Ia memulai karier sebagai dosen di Universitas Warwadewa tahun 1990. Tahun 1992, ia memutuskan menikah, dan tahun 1993 ia melanjutkan studinya ke S-2 Program Studi Sosiologi. Tahun 2003 ia dpercaya menjadi Ketua KPU provinsi Bali. Tahun 2008, ia tidak lagi melanjutkan di KPU, padahal ia boleh mencalonkan diri lagi. “Sebenarnya, saya mau istirahat. Pas paginya saya pamitan di KPU, sorenya saya ditelepon pengurus Yayasan Kesejahteraan KORPRI Provinsi Bali yang lama, saya diminta menjadi ketua yayasan. Tepat tanggal 24 September 2008, saya resmi menjadi ketua Yayasan Kesejahteraan KORPRI Provinsi Bali Awalnya, jujur saja, saya tidak tahu apa saja yang harus dikerjakan sebagai ketua yayasan. Namun, saya mengatakan siap saja. Saat saya masuk universitas Warwadewa sedang mengalami penurunan. Awal masuk saya berani mengatakan, ini kebangkitan kedua. Padahal belum punya apa-apa.
Syukurlah dengan dukungan teman-teman, semua unit, bisa menyatukan visi kita. Saya merasa bersyukur, walaupun belum apa-apa. Masih banyak mimpi-mimpi lain,” katanya. Kiat suksesnya, dimana pun ia ditugaskan, ia selalu membuat peta konsep. Saat ia di KPU, ia juga menerapkan kiat suksesnya ini. “Saya banyak belajar di KPU, belajar kehidupan, belajar politik, politisi, kinerja pemerintah, termasuk belajar hidup. Ini juga yang saya terapkan di tempat sekarang,” kata lelaki yang pernah menyabet penghargaan Widya Pataka yang diberikan Gubernur Bali Tahun 2009 dan Maharishi Award dari Maharishi University Of Management IOWA, AS 2015 ini. Namun, ada satu hal yang sedang menjadi ganjalannya. “Kelemahan orang organisasi, dia bisa menyukseskan orang lain tapi lupa mengurus dirinya. Saya termasuk korban. Mengurus diri sendiri susah. Sampai sekarang gelar professor belum tercapai. Mudahan tahun 2017 bisa terwujud,” ujarnya sembari tertawa. –Wirati Astiti
Kita sebagai makhluk sosial pasti pernah punya kesalahan yang tidak disengaja, karena itu, dengan menghargai orang lain, paling tidak bisa meminimalkan masalah,” kata Pertamawati,
yang mulai menjabat sejak 28 Oktober 2015 ini. Ia juga menegaskan, tak punya target. Ia berusaha mengukur kemampuan. Sehingga ia terus ingin belajar dan belajar. “Kalau sudah diberi kepercayaan, ya harus dijalani, kita harus bisa mengabdi,” kata Pertamawati. Sebelum akhirnya memutuskan, menjadi dosen, awalnya Pertamawati bercita-cita menjadi guru. “Awalnya saya ingin masuk SPG tapi gagal. Akhirnya tertarik mau jadi pegawai bank. Namun, setelah dipikir, kerjanya berat sampai sore. Akhirnya, saya melamar jadi dosen. Awalnya jadi dosen di Panji Sakti Singaraja. Karena suami dipindahkan ke Denpasar, saya melamar di Warmadewa,” ujarnya menceritakan perjalanan awal kariernya. Saat ini, ia mengatakan, sangat menikmati perannya yang multi. Mulai sebagai dosen, istri,
ibu dari 4 anak, dan anggota masyarakat. Untuk menjaga kebersamaan bersama suami, tiap pagi, mereka melakukan jogging bersama. Khusus di hari Minggu, kalau ia tak memiliki kegiatan di kampus, ia bersama suami, rutin berkeliling jalan kaki di areal GOR Ngurah Rai. “Olahraga jalan kaki tiap hari selain untuk menjaga kesehatan, juga untuk kebersamaan bersama suami. Biasanya, saya lakukan 30 menit tiap hari,” kata Pertamawati tentang kiatnya menjaga keharmonisan keluarga. Apalagi, dengan kondisi anak-anaknya yang sudah dewasa, tentu waktu bersama suami lebih banyak. Baginya, dengan berbagai kesibukan berkarier, ia tetap mengutamakan keluarga, dan tak lupa mebanten, sebelum menuju kantor. Bahkan, di kampus, ia dikenal sangat rajin tiap pagi keliling mebanten.
Ni Putu Pertamawati
Manusia bukan Mesin Menganggap orang lain sebagai manusia yang berbudaya bukan mesin dan selalu menghargai waktu, kiat perempuan bernama lengkap Ni Putu Pertamawati, S.E., M.M. ini. Bagi perempuan usia 56 tahun ini, dalam berkarier ia tak terlalu memasang target. “Saya lebih suka menjalaninya dan membiarkan orang lain yang menilai kinerja saya,” kata istri Ir. Nyoman Sudiana ini. Berkarier sejak tahun 1991 sebagai dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Warwadewa, Pertamawati, tak pernah menargetkan dipercaya sebagai satu-satunya pejabat
perempuan di tingkat wakil rektor, di kampus di bawah naungan Yayasan Kesejahteraan KORPRI Provinsi Bali ini. Prinsipnya, dalam menjabat, berusaha menghargai orang lain, karena manusia bukanlah mesin, dan tidak membedakan staf yang ada. Ia berusaha bekerja sesuai tupoksi, bekerja sama dengan sesama pimpinan dan mengerti bawahan. Yang penting, harus bisa mengendalikan diri sendiri, karena bagaimana pun juga, manusia tidak ada yang sempurna, dan bisa memaafkan orang lain. “Saya tidak pernah membedakan staf dan cleaning service.
–Wirati Astiti
4
Inspirasi
Edisi 917/ 5 - 11 september 2016
Sri Wahyuni Agustiani
Banjir Pujian Follower Bertambah
Tapi Yuni mengaku ia belum puas dengan capaiannya. Ia ingin meraih medali emas Olimpiade. “Aku masih harus kerja keras, kepingin dapat medali emas,” ucap Yuni yang akan mulai kembali berlatih setelah beberapa waktu libur. Menurutnya, ada beberapa kejuaraan yang harus dihadapinya dalam waktu dekat. “Yang paling dekat adalah PON, setelah itu harus siap-siap Kejuaraan Dunia, Asian Games dan Olimpiade Tokyo 2020. Itu memang masih lama tapi persiapan harus dari sekarang,” tuturnya.
Meski sudah sering ikut kejuaraan internasional, namun tetap saja ada rasa gugup yang dialami oleh setiap atlet yang bakal bertarung di arena Olimpiade. Maklum, selain event akbar ini menjadi sorotan dunia juga yang terberat adalah beban kebanggaan negara tergantung di pundak setiap atlet. Tuntutan meraih medali di Olimpiade menjadi begitu tinggi lebih dibanding event-event biasa. Apalagi –jika—sebelumnya di cabang itu sudah pernah atau bahkan selalu meraih medali.
I
tu juga yang dirasakan Sri Wahyuni Agustiani, lifter Indonesia kala berlaga di Olimpiade. “Iya saya sempat gugup. Meski sudah berkalikali ikut kejuaraan internasional tapi Olimpiade berbeda. Apalagi ini adalah Olimpiade saya yang pertama,” ungkap Yuni, begitu gadis 22 tahun ini akrab disapa. Bagi Yuni yang membuat gugup bukan karena lawannya tapi ‘kebesaran’ Olimpiade juga nama bangsa dan negara yang dipertaruhkan. “Untuk menenangkan hati, selain berdoa meminta ketenangan dan kekuatan dari Tuhan juga saya mendengar lagu-lagu koleksi di HP. Ha.. haha saya kan punya koleksi lagu dangdut, religi, dll. Atau, ya nonton film saja, saya lebih suka di kamar,” katanya mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Bhayangkara, Bekasi, ini sambil tertawa. Untungnya begitu masuk arena ‘PD’ nya muncul, gugup pun hilang. Seperti kata pelatihnya, Yuni memiliki mental juara. Maka tak heran dia bisa dengan cepat mengatasi kegugupannya. Juga, asal tahu saja, Yuni sebelumnya nyaris gagal masuk tim Olimpiade lantaran pada Kejuaraan Dunia 2016 di Amerika baru lalu, ia terkena sanksi lantaran berat tubuhnya naik menjadi 53 Kg, sementara
ia turun di nomor 48 Kg. Nyaris duduk di bangku cadangan, Yuni justru berhasil mempersembahkan medali. Tak sia-sia kerja kerasnya. Di Olimpiade Rio, gadis yang telah mengoleksi 32 medali dari berbagai kejuaraan yang diikutinya, berhasil meraih medali perak dengan total angkatan 192 Kg, yakni snatch 85 Kg dan clean & jerk 107 Kg. Selisih angkatan Yuni dengan peraih medali emas asal Thailand adalah 8 kg. Lumayan tipis. “Meski dapat perak, aku bangga sekali. Apalagi ini medali pertama bagi Indonesia di ajang Olimpiade pertama saya. Alhamdulilah, ini medali untuk HUT Kemerdekaan Indonesia ke 71,” kata semringah. Keberhasilan ini juga sekaligus ikut menaikan moral kontingen tim Indonesia yang makin percaya diri berlaga di arena Olimpiade. Di antaranya, tentu saja, adalah teman sesama lifter Eko Yuli Irawan (perak) juga pasangan ganda campuran Indonesia, Liliyana/Tantowi yang akhirnya berhasil mempersembahkan medali emas pertama dan satu-satunya bagi negeri ini. Rasa syukur yang sama juga dirasakan oleh semua masyarakat Indonesia atas prestasi ini. Yuni pun bukan hanya banjir ucapan selamat tapi juga pujapuji dari berbagai kalangan termasuk
Sri Wahyuni di antara para official kontingen Indonesia di Olimpiade Rio
Sri Mulyani dan dua peraih medali olimpiade
dari Presiden Joko Widodo. “Garagara ini, follower saya di twitter melonjak drastis hahahah...sampai seribu lebih,” tambah Yuni yang dipanggil ‘Eneng’ oleh keluarganya. HADIAH MELIMPAH UNTUK MASA DEPAN Atas keberhasilan itu, anak sulung pasangan Candiana dan Rosita ini diganjar dengan limpahan hadiah, mulai dari hadiah uang hingga barang berharga lainnya. Di antaranya hadiah dari pemerintah uang kontan tanpa potongan pajak Rp2 miliar dan Rp100 juta dari Pemprov Jawa Barat, daerah di mana Yuni berasal. Yuni yang ditanya akan diapakan hadiah uang yang diterimanya, mengaku, sampai sekarang dia belum memikirkan lebih jauh. “Tapi yang pasti akan saya tabung, sama seperti hadiah-hadiah uang yang saya dapat dari berbagai kejuaraan sebelumnya, semuanya ditabung untuk masa depan.Saya belum tahu mau dipergunakan untuk apa, juga belum berpikir untuk buka usaha seperti teman-teman lain,” tuturnya. Bagi Yuni, prestasi yang dia ukir serta hadiah-hadiah yang ‘membanjir’ yang diterimanya juga membawa pesan bagi generasi muda. “Apa yang saya lakukan juga ganjaran yang saya terima bisa menjadi motivasi untuk saya juga para generasi muda lain untuk berkarya sebaik-baiknya. Khususnya untuk atlet, utamanya atlet angkat besi untuk terus berjuang meraih prestasi terbaik. Atas jerih payah kita, pasti akan ada apresiasi,” ucap gadis tomboy ini. Yuni mulai menekuni olah raga sejak kecil. Awalnya ia terjun di cabang atletik khususnya di nomor
marathon. Ketika berangkat remaja, Yuni mulai menunjukkan ketertarikan pada olah raga angkat besi. Itu setelah melihat bagaimana gagahnya teman ayahnya, Siti Aisyah berlatih olah raga itu. “Bisa seperti cowok, kuat dan keren,” ungkap gadis kelahiran Bandung 13 Agustus 1994 ini sambil tertawa. Sejak itu dia mulai rajin berlatih. Tak sia-sia, prestasi demi prestasi ia raih. Tahun 2014 lalu, ia berhasil menyabet dua medali emas dan satu perak di Kejuaraan Dunia Junior Angkat Besi yang berlangsung di Rusia. Pada tahun yang sama ia juga menyabet medali perak Asian Games. Sebelumnya, 2013, ia sukses meraih emas di SEA Games Myanmar dan medali emas di Islamic Solidarity Games III dan meraih perak di Kejuaraan Asia di Kazakhstan. Rentetan prestasi cemerlang itu menghantar Yuni menjadi salah satu atlet angkat besi andalan Indonesia. Meski begitu, aku Yuni, ia tetap saja merasa terkejut ketika namanya ikut terpilih masuk dalam tim angkat besi yang diberangkatkan ke Olimpade Rio de Janeiro, Brasil. Pasalnya ia merasa di cabang angkat besi ada banyak atlet yang punya prestasi cemerlang. “Jadi saya sempat terkejut juga sekaligus bersyukur karena saya lah yang dipilih. Bagi saya ini adalah sebuah kesempatan untuk meraih prestasi terbaik. Saya sudah pernah meraih medali di beberapa kejuaraan baik dalam negeri maupun luar negeri, mulai dari PON, SEA Games, Asian Games, Kejuaraan Dunia, dan berharap juga dapat medali di Olimpiade dan akhirnya terwujud juga,” katanya.
SIBUK BERLATIH, KULIAH KETETERAN Lalu bagaimana dengan kuliahnya? Sembari tertawa Yuni mengaku memang sempat terbengkalai karena dia sibuk latihan. Selama persiapan Olimpiade Rio, katanya, dia boleh dibilang jarang sekali kuliah. “Paling aku masuk hanya kalau ujian. Tapi pihak kampus sudah memberi dispensasi kok, jadi nggak apa-apa. Jadi sekarang ini selain berlatih persiapan kejuaraan juga mengejar ketinggalan pelajaran di kampus,” kata Yuni yang mengaku memilih belajar di Fakultas Hukum karena tertarik dengan ilmu hukum. Meski sekarang usianya masih muda, kata Yuni, ia juga sadar tidak bisa selamanya menjadi atlet. Karena itu ia pun selain tetap berusaha mencapai prestasi setinggi mungkin juga mempersiapkan diri sejak dini untuk masa depannya. Salah satunya adalah dengan menabung sebagian besar penghasilannya dari kemenangan di berbagai kejuaraan. Kebahagiaannya bisa makin lengkap karena belum lama ini Menpora Imam Nahrawi menyebut pemerintah berencana memberi uang pensiun bagi atlet-atlet peraih medali Olimpiade. Uang pensiun yang disebut sebagai jaminan kesejahteraan atlet, merupakan wujud penghargaan pemerintah terhadap atlet yang telah mengharumkan nama bangsa dan negara. Sekaligus juga memberi kepastian hari tua kepada para mantan atlet berprestasi. Apresiasi ini juga diharap menjadi pendorong bagi para atlet muda lainnya untuk berprestasi setinggi mungkin di kancah internasional. “Rencananya semua mantan atlet yang pernah meraih medali —dari Olimpiade yang pertama sampai sekarang--- akan mendapat itu,” ujar Imam. —Diana Runtu
Mandalika
Edisi 917/ 5 - 11 september 2016
21
Kampanye Bahaya Sampah Plastik lewat Pantomim Beberapa waktu yang lalu, di halaman rumah salah seorang warga, di lapangan kecil desa serta di bawah pohon jambu dan di salah satu sekolah di Kecamatan Pemenang Lombok Utara, beberapa aktor pantomim menggelar pertunjukan. Namun ini bukan pergelaran biasa karena para aktor langsung berinteraksi dengan warga dan menggelarnya dari satu tempat ke tempat lainnya di tengah perkampungan. Pemandangan ini tentu saja unik mengingat aktivitas kesenian seperti ini biasanya lebih lumrah digelar dalam lingkungan ruang dan audiens kesenian. Beginilah cara para mahasiswa yang jauh-jauh datang dari Taiwan untuk mengkampanyekan masalah lingkungan.
S
elama beberapa jam, dengan keringat yang menetes membasahi wajah mereka yang disapu dengan make up khas pantomim berwarna putih, tiga orang aktor pantomim profesional, Yao- Sun-Teck, Su-Ling dan Un Lat-Hou dari L’Enfant Sauvage Theatre, Taiwan, yang datang bersama mahasiswa lainnya dari National Chi-Nan University, Taiwan, Jurusan Asia Tenggara,berinteraksi langsung dengan warga memperlihat betapa berbahayanya sampah, khususnya sampah plastik bagi kehidupan manusia. Mereka “menyampaikan” hal tersebut melalui pertunjukan pantomim yang menarik. Isu lingkungan adalah fokus yang dibawa oleh para mahasiswa yang melakukan residensi bersama Komunitas Pasir Putih di Lombok Utara dalam program ‘Be Young’ . Dalam pertunjukan itulah, salah seorang pelakon pantomim lulusan sekolah keaktoran di Paris, Prancis Yao- Sun-Teck “tewas” akibat sampah plastik. Adegan yang dibuat dramatis dengan memperlihatkan ancaman bahaya sampah plastik yang digelar di bawah terik matahari itu, kemudian diakhiri dengan tepuk tangan dari warga yang menonton dan mengikuti aktivitas mereka. Pertunjukan tersebut merupakan salah satu dari program aktivitas sosial dari para mahasiswa National Chi-Nan University seperti Peng, Yi-Jia (S3) Lo, Sin-Yi (asisten), Hung, Kuo-Chan
(S2) dan Hsiao, Jin-Yi, sudah sering bekerja sama dengan pemain pantomim itu. Mereka melakukannya hal ini dengan sangat serius yang terlihat dari kerja sungguhsungguh yang mereka lakukan, termasuk mereka mampu menyesuaikan diri ketika bagian dari program ini juga masuk dalam lingkungan salah satu sekolah
Islam Madrasah Aliyah Al-Hikmah di Kecamatan Pemenang, mereka memakai kerudung/hijab. Bagi mereka isu lingkungan itu sangat penting untuk dikampanyekan demi menyelamatkan manusia dan lingkungan hidup agar terjaga dan lestari. ”Sebab masalah lingkungan itu vital bagi kelangsungan hidup manusia,” kata Lee Wooi Han, mahasiswa (program S3) Sociology, Macguarie University di Sidney Australia, yang kini sedang melakukan riset
sosial di Surabaya. Lee terbilang mahir berbahasa Indonesia dan membantu menerjemahkan penjelasan Hsiao dan rekan lainnya dari bahasa Mandarin. Lombok menarik perhatian mahasiswa ini untuk melakukan kerja sosialnya karena mereka ingin belajar dari masyarakat Lombok juga karena suasana perdesaan di Lombok relatif mirip dengan suasana perdesaan di Taiwan. Hal ini diungkapkan Hsiao, koordinator mahasiswa dalam program ini. “Dari pengalaman saya selama ini, di Lombok sangat menarik, masyarakatnya ramah
dan terbuka,” ungkap Hsiao. Komunikasi melalui pertunjukan pantomim dalam mengkampanyekan isu lingkungan sebelum dilakukan di Indonesia (Lombok) seperti ini juga sudah dilakukan di negaranya sendiri juga beberapa negara Eropa, Korea, dan Asia Tenggara. Pesan yang diungkap melalui pertunjukan pantomim seperti ini dinilainya lebih mudah dipahami oleh masyarakat karena bahasa pantomim yang universal dan mampu memberi
kesan apalagi dengan budaya yang berbeda. Pendekatan seni yang dilakukan mahasiswa-mahasiswa Taiwan ini sekaligus untuk mempelajari situasi sosial setempat. Karena itulah mereka tidak segan berinteraksi langsung dengan masyarakat lokal. Mereka juga mengadakan workshop pantomim selama dua hari, bersama siswasiswi Madrasah Aliyah Al-Hikmah Kecamatan Pemenang Kabupaten Lombok Utara (KLU). Para siswa ini pun akhirnya menggelar pertunjukan singkat bersama mereka di salah satu sudut desa. Akting para siswa yang terlibat dalam pertunjukan dari hasil workshop tersebut, menurut Kongso Sukoco, sutradara teater kawakan NTB yang ikut menyaksikan pertunjukan dalam kampung ini, dinilainya cukup menarik. “Setidaknya mereka berani mengekspresikan diri untuk menyampaikan suatu pesan yang baik tentang lingkungan,” ungkap Kongso. Selama berada di Lombok Utara, oleh Komunitas Pasir Putih para mahasiswa asal Taiwan
ini juga dipertemukan dengan salah seorang pelopor Bank Sampah NTB, Aisyah Odits, untuk mendiskusikan daur ulang sampah plastik. Menarik perhatian mereka karena dari daur ulang sampah plastik ini dapat menjadi barang-barang produktif yang bernilai ekonomis. Juga dari hasil dari workshop itu kerajinan dari bahan limbah plastik dipamerkan di tengah kampung. Selain pentas teater, workshop dan pameran ini juga digelar pameran fotografi tentang kegiatan sehari-hari masyarakat kampung di Pemenang. Tema seluruh rangkaian kegiatan itu adalah ‘gotong royong’. Diakuinya, banyak hal-hal baru dipahaminya setelah melakukan pengamatan langsung selama dua minggu dan melakukan interaksi bersama masyarakat Pemenang. Hsiao dan kawan-kawannya menemukan tema ‘gotong royong’ dalam programnya itu, juga setelah melakukan serangkaian diskusi berbagi ide bersama Komunitas Pasir Putih, yang melihat isu sosial berdasarkan perspektif lokal Lombok Utara. -Naniek I. Taufan
Kegiatan yang mengangkat isu lingkungan yang dilakukan para aktor pantomim dan mahasiswa dari National Chi-Nan University Taiwan di Kecamatan Pemenang
22
Sosialita
Edisi 917/ 5 - 11 september 2016
Masih belum puas dengan keberhasilan pelaksanaan sistem genap-ganjil dalam pengaturan lalu lintas, Pemda DKI Jakarta berencana menaikkan tarif parkir on street menjadi Rp 10.000 per jam untuk mobil dan Rp 5.000 per jam untuk motor. Pengenaan tarif ini bertujuan agar pengguna kendaraan bermotor berpindah ke angkutan umum. Dengan demikian kemacetan lalu lintas di Jakarta yang disebabkan melubernya kendaraan bermotor, khususnya mobil, akan dapat diatasi.
Andri Yansyah
M
eski memahami maksud Pemda DKI Jakarta namun tetap saja warga Jakarta keberatan dengan wacana ini. Bukan saja tarif parkir belum lama naik menjadi Rp 5.000 per jam—itu saja warga sampai sekarang masih mengeluhkan lantaran terlalu tinggi--- namun juga kondisi angkutan umum meski sudah banyak dilakukan perbaikan namun belum sesuai harapan rakyat. Di sisi lain, kondisi ekonomi yang melemah dalam beberapa waktu terakhir membuat daya beli masyarakat pun ikut menurun. “Maksudnya sih baik ya untuk mengurangi masalah kemacetan di Jakarta. Tapi tolong juga dilihat (oleh Pemda) angkutan umum belum memadai benar. Meski sudah banyak dilakukan perbaikan tapi
Edisi 917/ 5 - 11 september 2016
3
Mahalnya Parkir di Jakarta belum ideal. Angkutan umum yang diperbaiki kan baru di pusat-pusat kota belum menyeluruh, jadi tetap saya kami harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk mencapai tempat tujuan dibanding naik kendaraan pribadi,” kata Ahmad, warga Marunda, Cilincing, Jakarta Utara, yang bekerja di wilayah Jakarta Pusat. Karena itu, ucap Ahmad, hendaknya Pemda mengkaji lebih dalam wacana itu. Maksud baik kalau diterapkan tidak tepat waktunya juga akan menyengsarakan rakyat. “Tolong dikaji secara komprehensif, jangan hanya memikirkan macet yang harus dikurangi tapi pikirkan juga kondisi ekonomi masyarakat saat ini,” tegas Ahmad yang sehari-hari mengendarai motor ke kantornya. “Dengan motor ongkos saya bisa menjadi sangat irit. Lalu kalau ganti kendaraan umum, rumah saya di Marunda, harus beberapa kali naik angkutan, biayanya berapa? Belum lagi biaya makan dan lainlain. Satu hari pengeluaran bisa Rp 50.000 lebih, sementara gaji UMR Rp 3,1 juta, mana cukup? Apa Pemda tidak kasihan sama warganya?” tambahnya menggerutu. Ahmad masih belum puas, ia pun menambahkan, kecuali kalau Pemda DKI Jakarta berani menggratiskan angkutan umum, atau memberi subsidi lebih banyak pada angkutan umum sehingga tarifnya lebih murah, maka pasti banyak warga Jakarta akan beralih keangkutan umum. Karena faktanya tarif murah itu hanya ada di Transjakarta, sedang
Pemasangan mesin parkir on street diperbanyak
Djarot Saiful Hidayat
angkutan umum swasta lainnya tetap saja mahal. Jika rencana Pemda mengintegrasikan semua angkutan umum di Jakarta, kemudian pembayaran dengan kartu yang telah disubsidi, pasti banyak yang mau. “Warga bakal makin sengsara kalau jadi Rp 5.000 per jam (motor),” katanya. Menurut Wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat, nilai kenaikan tarif parkir tidak akan seragam, tergantung dari zonasinya. Jadi nantinya akan dibagi berdasarkan zonasi. “Jadi masih dikaji pembagian zona nya, terutama yang on street karena ini punya kontribusi terhadap kemacetan. Pembagian zona ini akan dilakukan oleh Dinas
Perhubungan,” jelas Djarot. Ia berharap kenaikan tarif parkir cukup signifikan dalam mengurangi kemacetan lalu lintas. “Di sisi lain kami juga terus berupaya memperbaiki transportasi masal,” ucapnya. Mengomentari wacana kenaikan tarif parkir, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Tulus Abadi mengatakan, hendaknya sebelum menaikkan tarif parkir, sistem transportasi umumnya dibereskan dahulu. Dengan demikian masyarakat menjadi memiliki pilihan. “Dengan tarif setinggi itu, kan harusnya sistem transportasi umum sudah dibereskan. Masyarakat jadi punya pilihan, mau naik kendaraan pribadi atau mau naik angkutan umum,” jelasnya. Selain itu, tuturnya, penerapan tarif parkir juga harus diatur sesuai zona. Jadi kenaikan tarif jangan disamakan besarnya, harus berbeda-beda sesuai
SUKSES GENAP-GANJIL Pemda DKI Jakarta melakukan berbagai cara untuk mengatasi masalah kemacetan lalu lintas yang kronis di Jakarta. Salah satunya adalah memberlakukan sistem nopol genap-ganjil di jalur-jalur jalan ex-three in one. Program baru ini sudah mulai diterapkan per-30 Agustus lalu, bagi yang melanggar bakal terkena denda Rp 500.000. Namun sebelum pemberlakuan dengan sanksi, dua bulan sebelumnya dilakukan sosialisasi juga uji coba. Dari evaluasi pelaksanaan uji coba nopol genap-ganjil ternyata didapat hasil yang lumayan menggembirakan. Misalnya, waktu tempuh kendaraan mengalami peningkatan sekitar 19%, rata-rata waktu tempuh yang tadinya 18 menit menjadi 14 menit. Sedang kecepatan rata-rata dari 24,6 km per jam menjdi 28,19 km per jam. Di sisi lain, masyarakat agaknya
g n u g A t u t e K AA Ayu
Dukung Misi Budaya ke Hongkong Setelah dikukuhkan sebagai perias termuda di Indonesia oleh Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Asosiasi Ahli Rias Pengantin Modifikasi dan Modern Indonesia (Katalia), Hj. Kundari Mulyono, S.E., MA. tahun 2015, Anak Agung Sagung Diva Wastuningtyas diundang untuk mengisi acara Misi Budaya ke Hongkong, 19 s.d. 25 Agustus 2016.
Pelanggaran sistem genap-ganjil
dengan zona. “Misalnya makin jauh dari pusat kota tarifnya makin kecil. Jadi jangan disamakan,” ucapnya. Sepakat dengan YLKI, Gubernur Basuki Tjahaja Purnama mengatakan, kenaikan tarif parkir masih dikaji. Namun intinya, tarif parkir makin ke tengah (kota) makin mahal, makin ke luar makin murah,” jelasnya. Ahok, begitu biasa dia akrab disapa, menyebut bahwa Pemda juga berencana membangun tempattempat parkir baru di pusat kota. Jadi nantinya masyarakat dapat meninggalkan kendaraan pribadinya di tempat parkir dan melanjutkan perjalanan dengan menggunakan angkutan umum. Untuk itu, tegasnya, Pemrov DKI Jakarta saat itu terus melakukan pembenahan terhadap transportasi umum agar menjadi lebih baik dan nyaman. Sehingga, masyarakat mau beralih ke transportasi umum.
sudah banyak yang tahu tentang program ini. Hal ini dilihat dari jumlah pelanggaran nopol genapganjil yang menurun. Secara umum, diberlakukannya nopol genap-ganjil ini berhasil menurunkan kemacetan lalu lintas hingga 20%. “Hasilnya (evaluasi) cukup menggembirakan. Selain waktu tempuh kendaraan menjadi lebih cepat juga jumlah penumpang bus Transjakarta selama pelaksanaan uji coba meningkat menjadi 30%,” ujar Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Andri Yansyah. Menurut Ahok, meski sistem genap-ganjil lumayan efektif, namun sistem ini bukan solusi utama. Ini hanyalah penunjang sebelum penerapan sistem ERP (electronic road pricing). “Memang jalan relatif agak longgar (jalan) ya tapi ini bukan solusi utama. Ini hanya penunjang sebelum berlaku ERP,” katanya. —Diana Runtu
Tari Legong Keraton yang ditarikan oleh (dari kika): Bu Agung, CIA Pemayun, Sagung Diva, Ny. IA Asiati Oka, dan AA Istri Ari Atu Dewi
I
stimewanya, a c a r a y a n g digelar Consulat General of The Republic of Indonesia Hongkong serangkaian peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke-71 tersebut didukung oleh istri Gubernur Bali periode 1988-1998 Ny. Ida Ayu Asiati Oka, Ketua DWP Prov Bali Cokorda Istri Anom Pemayun, S.H., M.H., AA Istri Ari Atu Dewi, S.H., M.H. yang juga dosen Hukum Unud, Cok Istri Laksmidewi Pemayun, S.E. Ak., serta pakar tata rias Bali Dr. Anak Agung Ayu Ketut Agung, M.M. Mereka semua yang
berusia di atas 55 tahun ini juga ikut menghibur penonton dengan menampilkan Tari Legong Keraton dan mendapatkan sambutan meriah. Usai tampil, mereka pun menerima penghargaan yang diserahkan langsung oleh Kepala Perwakilan RI di Hongkong, Chalief Akbar. Selain merias “para penari yang bukan penari” tersebut, Sagung Diva, siswi kelas IX SMPN 3 Denpasar ini juga men-
demontrasikan keterampilannya memasang hiasan bunga emas di kepala hanya dalam waktu 5 menit. Putri kedua dari AA Ayu Ketut Agung dan I Gusti Ngurah Ardana dari Puri Agung Tabanan ini, sebelumnya juga berkesempatan merias istri Gubernur NTT Ny. Lucia Adinda Leburaya. AA Ayu Ketut Agung, pemilik Yayasan Agung yang menaungi LKP Agung, TUK Agung, dan PKBM Agung ini mengatakan, keterampilan yang dimiliki putrinya itu tak serta-merta didapatkannya. Sagung Diva sudah mulai intensif belajar merias sejak kelas IV SD. Sedikit tidaknya, Bu Agung-panggilan akrabnya berharap dengan munculnya Sagung Diva sebagai perias muda, bisa menjadi motivasi bagi para orangtua untuk membekali putraputri mereka sejak dini dengan keterampilan khusus, yang nantinya bisa bermanfaat untuk masa depan putraputri tercinta. –inten
Sagung Diva bersama Istri Gubernur NTT Ny. Lucia Adinda Leburaya
Sagung Diva saat mendemontrasikan kepiawaiannya merias
Diskon 50% Kursus Tata Rias Ditemui di sela-sela kesibukannya ngayah memberikan pelatihan singkat tata rias ke daerah-daerah, tanpa dipungut biaya, bekerjasama dengan Kelomok Media Bali Post dan Viva Cosmetics, AA Ayu Ketut Agung, Ketua Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Agung mengucapkan “Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan” bagi semeton sedharma. Menyambut Hari Galungan dan Kuningan ini, dan sebagai bentuk apresiasi yang besar terhadap pelestarian budaya Bali serta untuk lebih menyosialisasikan dan membangkitkan minat masyarakat dalam tata rias dan busana adat Bali, LKP Agung memberikan diskon 50% untuk Kursus Tata Rias (regular). Materi yang diajarkan mencakup 3 paket yakni Tata Kecantikan Kulit, Tata Kecantikan Rambut, dan Tata Rias Pengantin (payas nista, payas madya, payas agung, modifikasi, dan tengkuluk lelunakan). Disediakan juga beasiswa kursus gratis bagi mereka yang kurang mampu dan putus sekolah, yang benar-benar berminat di bidang tata kecantikan. Syarat dan ketentuan berlaku. Silakan menghubungi Sekretariat LKP Agung, Jalan Anggrek No. 12 Kreneng, Denpasar. Telepon 0361 233850, faks. 0361 247153. Cabang Tohpati, Jalan WR. Supratman No. 303 A, Tohpati, Denpasar. Email: lkp_agung@yahoo. com website: www.salonagung.com. –inten
2
Edisi 917/ 5 - 11 september 2016
GORO-GORO Kemerdekaan bagiku. bukan bebas lepas bablas. Itu atribut orang yang tak merdeka! Orang yang merdeka adaPutu Wijaya lah orang yang tak pernah tersekap, terpasung, terperangkap terikat oleh apa pun, termasuk merdeka dari kemerdekaan itu sendiri. Karena itulah aku terus berpikir, agar merdeka dari yang tak kuketahui, merdeka dari yang sudah kuketahui dan merdeka dari yang akan kuketahui. Aku juga harus merdeka dari yang sedang kupikirkan. Tapi karena aku terus dicekoki oleh hasrat merdeka dari segala yang
bisa membelenguku, aku pun akhirnya jadi orang yang tidak merdeka. Itulah lingkaran setan kemerdekaan Jadi aku orang merdeka yang sekaligus tak merdeka. Atau kalau dibalik, aku adalah orang tidak merdeka yang merdeka sekali. Jadi aku bukan orang bebas juga sama sekali tidak pernah kepincut untuk bablas. Lepas juga bukan, karena aku mematuhi undang-undang, peraturan, tugas-kewajiban serta hak orang lain. Bukan dengan terpaksa! Tidak! Aku nikmati ketidakbebasanku, ketidakbablasanku, ketidaklepasanku. Dan aku nikmati juga ketidakmerdekaanku. Karena aku orang merdeka! Ha-ha-ha! Anak muda itu tertawa bangga dan berhenti di situ. Lantas ia menatap Amat yang sudah mendengarkan
Ekspresso
BEBAS LEPAS BABLAS
curhatnya dengan tekun. “Jadi bagi kamu itulah kemerdekaan?” “Betul, Pak Amat. Buat saya dari saya untuk saya!” “Bagaimana kalau ada orang lain yang berbeda pendapat, bahkan bertentangan?” “Itu terserah. Berbeda adalah bagian dari dinamika kemerdekaan!” “Tapi kalau perbedaan menjadi pertentangan dan akhirnya permusuhan?” “Ya itulah kemerdekaan! Itulah risiko merdeka! Kalau takut itu artinya tidak berani merdeka dan tidak akan bisa merdeka!” “Kalau sampai jadi perkelahian? Apa itu juga kemerdekaan?” “Ya! Kenapa tidak? Jangan pikir
kemerdekaan enak-enak saja! Jeleknya juga banyak sekali, Pak Amat!” Amat terpesona, “Tapi kalau memang banyak jeleknya, lalu untuk apa kita merdeka?” Anak muda itu menatap Amat heran. “Untuk apa merdeka?” “Ya, kamu bilang banyak sekali jeleknya, jadi Bapak tanya buat apa mengorbankan nyawa untuk cari yang jelek-jelek?” Anak muda itu tambah heran. Ia menatap Amat seperti melihat barang antik. “Pak Amat sudah menikah?” Amat ketawa. “ Ya sudah, sudah merayakan pernikahan perak dan punya cucu!” “Oke, bagus? Pernah bertengkar dengan istri?” “Ya, itu normal. Itu dinamika pernikahan.” “Saya cuma tanya, pernah atau tidak?! “Ya namanya suami istri, itu biasa,
malah sering, tapi ...” “Nah! Kalau sudah tahu akan ada pertengkaran, untuk apa menikah? Ha?!” Amat mau menjawab, tetapi anak muda itu memotong. “Tidak usah dijawab, Pak Amat. Saya tahu jawabannya dan Bapak mesti tahu juga jawaban kenapa kita berjuang bertaruh nyawa untuk merdeka padahal merdeka itu penuh kesulitan. Karena kesulitan itu sehat dan indah, Pak Amat. Selamat sore! Terimakasih sudah mau mendengarkan ocehan saya! Tidak banyak orang tua yang mau mendengarkan aspirasi anak muda! Merdeka!” Anak muda itu ngeloyor pergi. Amat memandangnya. Dengan rindu. Rindu sekali. Bahkan kemudian ia terpaksa mengusap mata terharu. “Kenapa, Pak?” Amat terkejut, melihat istrinya mengulurkan secangkir kopi. “Bapak sakit mata?” “Bapak baru saja bicara dengan masa muda Bapak.”
Melawan Lupa Generasi Muda Hindu
terhadap Filosofi Perayaan Hari Raya Galungan
Sebagai umat yang beragama Hindu, Khususnya umat Hindu Nusantara, setiap 6 bulan (lebih tepatnya setiap 210 hari sekali) selalu merayakan hari raya Galungan. Kata “Galungan” berasal dari bahasa Jawa Kuna yang artinya menang atau bertarung. Galungan juga sama artinya dengan dungulan, yang juga berarti menang. Karena itu di Jawa, wuku yang kesebelas disebut Wuku Galungan, sedangkan di Bali wuku yang kesebelas itu disebut Wuku Dungulan. Namanya berbeda, tapi artinya sama saja. Menurut lontar Purana Bali Dwipa, Galungan pertama kali dirayakan pada hari Purnama Kapat, Budha Kliwon Dungulan, tahun Saka 804 atau tahun 882 Masehi. Sejak itu Galungan terus dirayakan oleh umat Hindu di Bali secara meriah. Setelah Galungan ini dirayakan kurang lebih selama tiga abad, tiba-tiba entah apa dasar pertimbangannya pada tahun 1103 Saka perayaan hari raya itu dihentikan. Itu terjadi ketika Raja Sri Ekajaya memegang tampuk pemerintahan. Galungan juga belum dirayakan ketika tampuk pemerintahan dipegang Raja Sri Dhanadi. Selama Galungan tidak dirayakan, konon musibah datang tak henti-henti. Umur para pejabat kerajaan konon menjadi relatif pendek. Ketika Sri Dhanadi mangkat dan digantikan Raja Sri Jayakasunu pada tahun 1126 Saka, barulah Galungan dirayakan kembali, setelah sempat terlupakan kurang lebih selama 23 tahun. Keterangan ini bisa dilihat pada lontar Sri Jayakasunu. Dalam lontar tersebut diceritakan bahwa Raja Sri Jayakasunu merasa heran mengapa raja dan pejabat-pejabat raja sebelumnya selalu berumur pendek. Untuk mengetahui penyebabnya, Raja Sri Jayakasunu mengadakan tapa brata dan samadhi di Bali yang terkenal dengan istilah Dewa Sraya artinya mendekatkan diri pada Dewa. Dewa Sraya itu dilakukan di Pura Dalem Puri, tak jauh dari Pura Besakih. Karena kesungguhannya melakukan tapa brata, Raja Sri Jayakasunu mendapatkan pawisik atau “bisikan religius” dari Dewi Durgha, sakti dari Dewa Siwa. Dalam pawisik itu Dewi Durgha menjelaskan kepada raja bahwa leluhurnya selalu berumur pendek
bacaan wanita dan keluarga
Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998
karena tidak lagi merayakan Galungan. Karena itu Dewi Durgha meminta kepada Raja Sri Jayakasunu supaya kembali merayakan Galungan setiap Rabu Kliwon Dungulan sesuai dengan tradisi yang pernah berlaku. Di samping itu disarankan pula supaya seluruh umat Hindu memasang penjor pada hari Penampahan Galungan (sehari sebelum Galungan). Disebutkan pula, inti pokok perayaan hari Penampahan Galungan adalah melaksanakan byakala yaitu upacara yang bertujuan untuk melepaskan kekuatan negatif (Buta Kala) dari diri manusia dan lingkungannya. Semenjak Raja Sri Jayakasunu mendapatkan bisikan religius itu, Galungan dirayakan lagi dengan hikmat dan meriah oleh umat Hindu di Bali. Rentetan Hari Raya Galungan, sebenarnya sudah dimulai dari 25 hari sebelum hari raya Galungan, adanya Tumpek Uduh, yang merupakan penghormatan kepada Tuhan atas karunianya dari hasil tumbuh-tumbuhan. Diharapkan buah yang dihasilkan dari tumbuh-tumbuhan ini, dapat dipergunakan pada saat perayaan Hari Raya Galungan. Kemudian pada hari Kamis, 6 hari sebelum hari raya Galungan adalah hari Sugihan Jawa, sebagai pertanda pembersihan buana agung atau dalam istilahnya mengembalikan kesadaran kita akan keseimbangan yang terjadi di alam semesta beserta isinya. Kemudian sehari setelah itu adalah hari Sugihan Bali, sebagai pertanda pembersihan terhadap buana alit, atau dalam istilahnya bagaimana kita membersihkan diri kita masing-masing baik secara sekala maupun niskala, dan mempertajam trikaya parisudha. Dua hari sebelum hari raya Galungan adalah hari raya Penyajahan Galungan. Pada hari penyajahan ini, umat biasanya mempersiapkan berbagai jenis kue/ jajanan yang diperlukan untuk sesajen yang akan dipersembahkan pada saat hari raya Galungan. Tradisi ini dilakukan oleh para wanita. H-1 adalah hari raya Penampahan Galungan. Ini merupakan hari penampahan, umat akan melakukan penyembelihan terhadap hewan, sebagai simbolis bahwa kita bisa menghilangkan sifat-sifat kebinatangan dalam diri kita masing-masing. Pada hari inilah dianggap sebagai hari untuk mengalahkan
Arya Suarnata Butha Galungan dengan upacara pokok yaitu membuat banten byakala yang disebut pamyakala lara melara. Pada saat Penampahan Galungan umat Hindu diwajibkan untuk membuat membuat penjor, dan mecenigan (menghias merajan, memasang wastra untuk pelinggih di merajan). Penjor tersebut berasal dari kata penjor, yang berarti pengajum, atau pengastawa, kalau dihilangkan huruf “ny” , menjadi kata benda yaitu penyor yang berarti sebagai sarana untuk melaksanakan pengastawa. Bahan dari penjor sebatang bambu yang ujungnya melengkung, dihiasi dengan janur/daun enau yang muda serta daun-daunan lainnya (plawa). Perlengkapan penjor pala bungkah, pala gantung, pala wija jajan, serta sanggah Ardha Candra lengkap dengan sesajennya. Pada ujung penjor digantungkan sampiyan penjor lengkap dengan porosan dan bunga. Memasang penjor bertujuan untuk mewujudkan rasa bakti dan sebagai ungkapan terima kasih kita atas kemakmuran yang diberikan oleh Ida Sang Hyang Widhi (Tuhan). Bambu yang melengkung adalah gambaran dari gunung tertinggi sebagai tempat yang suci, hiasan penjor yang terdiri dari kelapa, buah, jajan, dan kain adalah wakil dari semua tumbuh-
tumbuhan dan benda sandang pangan, yang dikaruniai oleh Hyang Widhi Wasa. Keberadaan bahan-bahan pembuat penjor tersebut tentu memiliki arti dan filosofinya masing-masing. Berdasarkan lontar Tutur Dewi Tapini menyebutkan : Ndah Ta Kita Sang Sujana Sujani, Sira Umara Yadnva, Wruha Kiteng Rumuhun, Rikedaden Dewa, Bhuta Umungguhi Ritekapi Yadnya, Dewa Mekabehan Menadya Saraning Jagat Apang Saking Dewa Mantuk Ring Widhi, Widhi Widana Ngaran Apan Sang Hyang Tri Purusa Meraga Sedaging Jagat Rat, Bhuwana Kabeh, Hyang Siwa Meraga Candra, Hyang Sadha Siwa Meraga “Windhune”, Sang Hyang Parama Siwa Nadha Artinya : Wahai kamu orang-orang bijaksana, yang menyelenggarakan yadnya, agar kalian mengerti proses menjadi kedewataan, maka dari itu sang Bhuta menjadi tempat/tatakan/dasar dari yadnya itu, kemudian semua Dewa menjadi sarinya dari jagat raya, agar dari dewa semua kembali kepada hyang widhi, widhi widhana (ritualnya) bertujuan agar sang Tri Purusa menjadi isi dari jagat raya, Hyang Siwa menjadi Bulan, Hyang Sadha Siwa menjadi windu (titik O), sang hyang parama siwa menjadi nadha (kecek), yang mana kesemuanya ini merupakan simbol dari Ong Kara. Penjor Galungan bersifat religius, yang mempunyai fungsi tertentu dalam upacara keagamaan,dan wajib dibuat lengkap dengan kelengkapannya, membuat penjor untuk upacara memerlukan syarat tertentu, dan sesuai dengan Sastra Agama, agar tidak berkesan sebagai hiasan saja. Di dalam lontar Tutur Dewi Tapini juga telah disebutkan bahwa setiap unsur pada penjor melambangkan simbol-simbol suci, yaitu sebagai berikut : Bambu (dan kue) sebagai vibrasi kekuatan Dewa Brahma. Kelapa sebagai simbol vibrasi Dewa Rudra. Kain Kuning dan Janur sebagai simbol vibrasi Dewa Mahadewa. Daun-daunan (plawa) sebagai simbol vibrasi Dewa Sangkara. Pala bungkah dan pala gantung sebagai simbol vibrasi Dewa Wisnu. Padi sebagai simbol vibrasi Dewi Sri. Kain putih sebagai simbol vibrasi Dewa Iswara. Sanggah sebagai simbol vibrasi Dewa Siwa.
Upakara sebagai simbol vibrasi Dewa Sadha Siwa dan Parama Siwa Buda Kliwon Dunggulan adalah Hari Raya Galungan itu sendiri. Disini umat akan melakukan persembahyangan di Pura dan di sanggah masing-masing. Pada hari raya inilah merupakan kesempatan bagi berkumpulnya seluruh anggota keluarga untuk melakukan persembahyangan dan melakukan silahturahmi dan peningkatan keimanan dan ketakwaan terhadap Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Belum selesai sampai disini, keesokan harinya adalah hari raya manis Galungan yang biasanya dipergunakan bagi anggota keluarga yang sudah berkumpul untuk saling mengunjungi sanak keluarga yang lainnya untuk bersilahturahmi. Pada hari ini umat mengenang betapa indahnya kemenangan dharma. Umat pada umumnya melampiaskan kegembiraan dengan mengunjungi tempattempat hiburan terutama panorama yang indah. Dua hari setelah hari raya Galungan adalah hari raya pahing Galungan. Pada hari ini, umat akan melakukan pembersihan kembali terhadap perabotan tempat sesajen, tempat suci, dll sebagai persiapan untuk menyambut datangnya Hari Raya Kuningan yang hanya berselang 10 hari setelah hari raya Galungan. Hasil akhir yang ingin dicapai dari merayakan hari raya Galungan ini adalah tercapainya pikiran suci, untuk menjadi orang yang Jayabaya (menang dalam menghadapi semua halangan/ marabahaya). Sehingga dengan adanya perayaan hari raya Galungan ini kita selalu diharapkan untuk menggali ke dalam diri masing masing, mengingatkan kita untuk selalu mencari pengetahuan yang suci untuk mengenali diri yang sejati, sehingga dengan mengenali sang diri yang sejati maka di setiap hari hari yang kita lalui, kita akan selalu menang melawan godaan-godaan buruk yang berasal dari dalam diri, maupun luar diri sebagaimana tujuan hidup yang ingin kita capai yakni Moksatham ja gadhita ya Cai thi Dharma diharapkan akan dapat tercapai. Arya Suarnata Sekretaris KNPI Buleleng
Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti, Sagung Inten. Buleleng: Wiwin Meliana. Jakarta: Diana Runtu. NTB: Naniek Dwi Surahmi. Desain Grafis: IDN Alit Budiartha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama, Ayu Wika Yuliani. Sek retariat: Ayu A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan Palm erah B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–Telepon (0370) 639543– Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456– F aksim ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.
Sudut Pandang
Edisi 917/ 5 - 11 september 2016
Sanksi bagi yang Merokok
lah. “Sesuai dengan surat edaran dari provinsi, seluruh warga sekolah dilarang merokok, kecuali disediakan ruangan khusus rokok bagi guru atau pegawai,” lanjutnya. Akan tetapi sebagai sekolah yang tidak menyediakan ruang rokok khusus maka ia mengimbau kepada pegawainya untuk tidak merokok di sekolah. “Kalau ketahuan kami juga sediakan sanksi di sekolah,” pungkasnya.
Bahaya rokok dinilai semakin membahayakan. Mendikbud berencana memasukkan ke dalam kurikulum pendidikan. Dengan begitu, seorang tenaga pendidik diharapkan mampu secara komperehensif memberikan penjelasan mengenai bahaya rokok. Sebab institusi pendidikan merupakan tempat anak atau remaja menghabiskan sebagian waktunya.
K
epala SMK Ke sehatan Bhaktiyasa Singaraja I Putu Eva E ndrawan, S.Pd. mendukung jika antirokok masuk ke dalam kurikulum pembelajaran, karena rokok tidak hanya berdampak buruk bagi fisik anak tetapi juga psikis anak. Menurutnya anak yang berusia dibawah 18 tahun belum mampu menyikapi permasalahan yang ditimbulkan oleh rokok baik dari penghasilan untuk membeli rokok, masalah kesehatan yang ditimbulkan serta masalah lingkungan.
“Banyak yang mengira rokok itu tidak berdampak secara psikis bagi anak, padahal dampaknya begitu besar,” jelasnya. Ia mencontohkan sehari saja pecandu rokok tidak mendapatkan rokok maka mereka akan merasa bingung, emosi tidak stabil bahkan aksi pencurian pun bisa dilakukan untuk memenuhi kebutuhan akan rokok. Jika kondisi ini dibiarkan secara terus menerus maka akan menimbulkan akibat yang fatal. Sebagai sekolah kesehatan, pihaknya sangat melarang ada siswa yang merokok di lingkungan sekolah. Bahkan tidak tanggungtanggung, dirinya sebagai kepala sekolah memberikan sanksi tegas bagi siswa yang kedapatan merokok. “Kalau ketahuan akan langsung kami pecat (drop outI) akan tetapi selama ini belum pernah kami memecat siswa karena merokok,” ujarnya. Pria kelahiran
23
I Putu Eva Endrawan, S.Pd.
Dr. I Made Sundayana, M.Si.
24 Maret 1988 tersebut mengaku jika pengawasan terhadap siswa hanya bisa dilakukan di kawasan sekolah saja. “Terus terang kalau di luar sekolah itu tidak bisa kami jangkau,” tambahnya. Maka dari itu, peran serta dan campur tangan orangtua untuk menjauhkan anak-anaknya terhadap rokok sangat diharapkan. Maka dari itu, setiap tahun ajaran baru pihaknya mengundang para orangtua untuk bersama-sama mengetahui perkembangan anak. Namun, ia begitu menyayangkan jika ada orangtua yang tidak mendukung program pemerintah, karena kesulitan menyamakan persepsi dan pendapat akibat perbedaan latar belakang. “Terkadang ada orangtua yang membiarkan anaknya merokok, minum alkohol asal tidak di sekolah, mereka menganggap toh juga itu uang mereka. Itu yang selama ini menjadi kendala kami,” tandasnya. Menurutnya hal yang sangat rentan menyebab-
kan seorang anak menjadi perokok adalah lingkungan baik keluarga maupun teman terdekat. “Kebanyakan anak merokok karena ayahnya juga seorang perokok ataupun anak yang berasal dari keluarga broken,” paparnya. Selain itu, mudahnya peredaran rokok membuat anak-anak yang masih di bawah umur tidak ada kesulitan untuk mendapatkan rokok. “Di emperan saja ada yang jual rokok, coba bandingkan dengan negara lain, rokok hanya di jual ditempattempat yang berkelas,” ujarnya. Jika pemerintah berupaya mengurangi perokok maka diimbangi juga dengan penekanan pendistribusiannya jangan sampai rokok terlalu gampang didapatkan. “Namanya perokok berapa pun harganya pasti dibeli, jika rokok harganya mahal bisa-bisa malah terjadi pencurian rokok bukan lagi pencuria emas,” ungkapnya. Pria yang lebih akrab disapa Eva ini juga menerangkan bahwa sebagai seorang pendidik, maka guru dan staf pegawai juga dilarang merokok di lingkungan seko-
ilustrasi
INTEGRASIKAN DALAM PERKULIAHAN Ketua Stikes Buleleng Dr. I Made Sundayana, M.Si., juga mengungkapkan bahwa pihaknya sangat mendukung program yang akan dicanangkan pemerintah. Bahkan sebagai kampus kesehatan dirinya melarang mahasiswanya merokok dikarenakan sebagai orang yang akan bertugas menyosialisikan bahaya rokok kepada masyarakat maka sepatutnya mahasiswa menghindari rokok. “Ya nantinya kan mereka yang akan terjun ke masyarakat, kalau mereka sendiri merokok bagaimana bisa mengajak masyarakat tidak merokok?” jelasnya. Sundayana menambahkan ketika pihaknya menerima mahasiswa baru tentu berasal dari latar belakang yang berbeda baik perokok maupun tidak. Sebagai orang akan nantinya akan berkecimpung dalam dunia kesehatan maka meraka sadar benar dampak yang ditimbulkan oleh rokok tersebut. “Secara otomatis mereka akan sadar bahaya rokok itu karena kami juga integrasikan ke dalam pembelajaran perkuliahan,” ungkapnya. Menurutnya, memang sudah seharusnya antirokok masuk ke dalam pendidikan karena sekolah merupakan dasar untuk menurunkan jumlah perokok. –Wiwin
Naik Pangkat Jika tidak Merokok Rokok kembali menjadi isu hangat setelah muncul wacana kenaikan harga rokok. Sebelumnya Bali sendiri memiliki Perda Kawasan Tanpa Rokok. Bagaimana penerapan aturan Perda ini di lapangan? Menurut Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Bali, I Nyoman Parta, Perda Kawasan Tanpa Rokok memang belum bisa berjalan maksimal. Dalam Perda Kawasan Tanpa Rokok ada beberapa konten, pertama, motivasi mengapa perlu ada perda. Kedua, penentuan kawasan yang steril dari rokok. Ada beberapa kawasan yang harus steril dari rokok, seperti fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan dengan segala turunannya, fasilitas umum, tempat umum, tempat bermain anak-anak, dan kantor pemerintahan, Selanjutnya, ada fungsi yang dilakukan setiap orang dan stakeholder seperti, pendidikan bahaya rokok. Ketiga, menyangkut penyediaan pusat rehabilitasi orang yang ingin berhenti merokok. Konten lain yang diatur, tentang sanksi. “Kawasan tanpa rokok saja belum bisa ditertibkan, apalagi menyangkut di luar itu. Di gedung DPRD ini saja banyak yang merokok. Tapi saya tidak bisa menertibkan, yang bisa menertib-
kan Satpol PP yang memeriksa mereka dan melakukan sidang tipiring di gedung DPRD ini,” kata Parta. Ia juga menilai, soal pendidikan dan sosialisasi bahaya tembakau/rokok juga sangat minim. Padahal, kata Parta, pemprov dan pemkab/pemkot se-Bali, mendapatkan dana Rp 148 miliar dari bagi hasil dari cukai rokok. “Harusnya dana ini tidak dipakai untuk kepentingan lain tapi dipakai untuk kepentingan rehabilitasi, mengedukasi masyarakat tentang bahaya rokok, dan dipakai menyiapkan tenaga dan alat-alat yang berkaitan untuk konsultasi berhenti merokok,” kata Parta. Banyak orang mengatakan, bahkan, para perokok militan mengatakan, merokok itu tidak baik dan menganggu kesehatan. Ketika, ditanya, apakah Anda ingin berhenti? Tentu menjawab ingin, tapi bagaimana caranya berhenti, ini yang susah. Menurutnya, kecanduan rokok agak susah dihentikan, oleh karena itu, ia menyarankan, pentingnya ada klinik atau pusat konsultasi untuk berhenti merokok. Disinggung dengan naiknya harga rokok, ia menilai, tidak memiliki dampak yang signifikan. “Sebagai upaya untuk
mengerem bisa jadi, tapi kurang efektif. Para perokok adalah loyal dan militan. Loyal terhadap merek, dan dalam situasi apapun mereka ingin melakukannya (merokok),” ucap Parta. PAKAI CARA RADIKAL Walaupun rokok dijual dengan harga Rp 50 ribu per bungkus, di Indonesia, orang bisa membeli rokok eceran. Hal inilah, kata Parta, yang membuat anak muda begitu muda mendapatkan rokok. “Dengan uang Rp 1500 atau Rp 2 ribu, anak muda sudah bisa mendapatkan rokok. Hal ini mengakibatkan jumlah perokok usia dini makin meningkat dratis. Upaya ini tidak akan efektif, jika tidak ada pembatasan penjualan eceran,” tegas Parta Ia hanya berharap, pemerintah menyadari jangan sampai biaya APBD disedot untuk kepentingan kesehatan yang berhubungan dengan riwayat rokok. Menurutnya, solusi yang baik adalah harus lebih radikal jika ingin serius menghadapi masalah ini. Caranya, di mulai dari kantor pemerintah misalnya, kenaikan pangkat di jabatan SKPD salah satunya tidak me
I Nyoman Parta
rokok. Syarat untuk kepala sekolah SD, SMP, SMA, tidak merokok. Bagaimana mungkin kepala sekolah mengajarkan anak didiknya tidak merokok, sementara, dia sendiri merokok. Cara lain lagi, berhenti memasang reklame rokok. Kalau pemerintah serius, harusnya berani,” kata Parta. –Wirati Astiti
24
Edisi 917/ 5 - 11 September 2016
KCKB Kenalkan Kamen Bali ke Kancah Internasional
Komunitas Cinta Kamen Bali (KCKB) yang beranggotakan perempuan dari beragam profesi dan usaha ini, terus melangkah sesuai dengan visi dan misinya, yakni mengajak perempuan Bali khususnya untuk mencintai kamen Bali. Mengenakan kamen Bali dalam beberapa kegiatan, agar rasa cinta akan kamen Bali terus ditingkatkan, sebagai salah satu cara mencintai budaya berkain di Indonesia.
S
eperti yang dilakukan pada acara Buffet Terpanjang (The Longlest Buffet in Indonesia) yang dicatat Rekor Muri di Grand Istana Rama, Kuta pada Selasa (16/8). Dalam kesempatan yang dihadiri oleh tamu-tamu mancanegara tersebut, KCKB menyampaikan pemahaman tentang berbagai hal mengenai kain tradisional Bali, kamen yang mereka kenakan. Di acara itu pula, anggota KCKB
KCKB usai donor darah di Bounty Cruise
tampil anggun dan mencintai kamen Bali elegan dengan kebaya sebagai bentuk kearifan warna merah dan anelokal Budaya Indonesia. Selanjutnya untuk ka kamen Bali, sebagai kegiatan sosial KCKB rasa cinta pada hasil yang tercatat sebagai budaya yang memagenda tahunan, telah banggakan. Mereka sekaligus merayakan dilaksanakan rutin se tiap 3 bulan. Pada bulan kemerdekaan dengan Agustus lalu, KCKB juga memilih kebaya warna menyalurkan bantuan merah yang menggamdengan berbagi kepabarkan rasa nasionalisme. Sedangkan untuk da seorang nenek yang mengurus cucunya yang model kebayanya, sebukan hanya kurang gizi luruh anggota KCKB tapi juga menderita pemengusung gaya tranyakit asma. disional dengan kutu baru. Selanjutnya KCKB juga melangsungkan donor Begitu juga dengan darah bersama di acara kehadiran KCKB di HUT Bounty Cruise, pada arena Legian Beach 14 Agustus di Benoa. Festival. Komunitas ini menggelar acar a Bu Bara mengatakan mereka bersyukur bisa Fashion Show, dengan terus berbagi dan semmenampilkan pesona bari merasakan indahnya berbagai mode kebaya kebersamaan. Selain dan kamen-nya. Model Bu Bara dan Bu Eva dua sahabat penggagas KCKB itu mereka juga berdan desainernya pun bahagia, sebab beberapa langsung dari anggota kegiatan yang dilakukan, intinya anggota KCKB yang pertama kali KCKB. Menurut penggagas KCKB, Bu untuk terus bisa menginspirasi sebagai donor darah juga lolos dan Bara didampingi sahabatnya, Bu sekaligus menggugah ibu-ibu di bisa mendonorkan darahnya. Dikatakan oleh Bu Bara dan diEva yang bergandengan mengger- Bali khususnya, untuk mau mengakkan KCKB, bahwa di ajang Legian gunakan kamen Bali, sebagai salah amini oleh Bu Eva, bahwa mereka Beach Festival, anggota KCKB satu produk lokal yang mesti dijaga, bersyukur semua langkah dalam menjalankan visi dan misi KCKB memang diberikan ruang untuk dilestarikan dan dikembangkan. Ditambahkan oleh oleh Bu Eva selama ini berjalan lancar, baik menuangkan berbagai kreativitas dalam padu–padan busana mulai bahwa terbentuknya KCKB selain untuk aktivitas terkait budayanya dari yang tradisional hingga yang bentuk mencintai budaya Indonemengikuti trend dengan sentuhan sia juga gerakan kepedulian akan nasionalisme. Berjuang membela modern. Bu Bara mengatakan, segala negara dengan cara tindakan nyata
KCKB saat mengikuti dialog Tren Budaya Adat Bali antara Tradisi dan Globalisasi
KCKB usai fashion show di Legian Beach Festival
Bu Bara dan Bu Eva di acara Grand Istana Rama Kuta
maupun aksi peduli sesamanya, karena kekompakan dan ketulus an seluruh anggota komunitas selama ini. -ard
KCKB dalam kegiatan sosial berbagi dengan sesama
KCKB di acara Buffet Terpanjang Rekor Muri di Grand Istana Rama Kuta
redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id
mingguantokoh
@mingguantokoh
mingguantokoh
www.tokoh.co.id