Skip to main content

Tokoh Edisi 910 | Tokoh

Page 1

24

Edisi 910/ 18 - 24 Juli 2016

Pemerhati tayangan entertainment tentu tak asing dengan tampang salah satu mantan personil Coboy Junior, Bastian Bintang Simbolon. Bocah imut dengan rambutnya yang kribo. Babas, begitu ia menyebut dirinya, kini tumbuh remaja dan tetap eksis di jagat tariksuara sekalipun dia memilih jalur ‘solo karier’. Bukan itu saja, bahkan pelantun tembang ‘Juara di Hati’ kini mulai me­ napaki dunia akting.

S

Ba sti a n Bi nt a n g Si m bolon

etidaknya ada sejumlah film dan sinteron yang telah dimainkannya. Yang teranyar adalah penampilannya di film ‘Rudy Habibie (Habibie&Ainun 2)’ yang kini tengah tayang di bioskopbioskop tanah air. Dalam film ini, remaja kelahiran Bandung, 21 September 1999 itu, memerankan sosok Habibie kecil. “Aku bangga dapat kesempatan memerankan tokoh Habibie kecil meski sulit,” ungkap Babas yang mengaku sempat merasa tertekan. Ya maklum saja, sebagai pemula dengan pengalaman minim langsung dipercaya oleh sutradara Hanung Bramantyo memerankan seorang Habibie, salah satu tokoh besar Indonesia yang juga mantan Presiden. Tak heran hati Babas sempat gentar, apalagi film Habibie dan Ainun 1 yang diputar tahun 2012 adalah sebuah film yang sukses di pasaran. Pem-

Mulai dari Nol erannya, Reza Rahadian yang berperan sebagai Habibie mampu memainkan dengan baik karakter sang tokoh. “Sulit! Karena memerankan karakter orang, berbeda kalau kita memerankan karakter yang dibuat sendiri. Kita bisa bebas berimprovisasi. Kita bisa buat sendiri. Nah yang ini kan karakternya Pak Habibie, itu yang harus diperankan. Tapi kan Reza (tokoh Habibie dewasa) berhasil sekali memerankannya. Jadi Babas yang jadi Habibie kecil pun tertantang untuk juga bisa berhasil,” ujar Babas di sela-sela acara promosi film ‘Rudy Habibie’, di Plaza Slipi, Jakarta. “Jangan sampai Babas hanya berhasil mendapat pengalaman yang luar biasa namun gagal berakting baik. Tapi syukurlah hasilnya baik. Teman-teman Babas bilang bagus. Tapi terus terang waktu itu Babas merasa deg-deg-an banget,” kata Babas yang pernah menjuarai lomba breakdance se-Bandung, Jawa Barat. Babas mengaku, seperti halnya menyanyi, dia pun merasa sangat menyukai dunia akting yang baru dimasukinya. Orangtuanya, Jamian Simbolon dan Monalisa Sitorus juga sangat mendukung kari-

ernya. “Orangtua sangat mendukung karier Babas. Cuma mama berpendapat menyanyi itu lebih enak. Papa yang menekuni dunia menyanyi justru lebih senang Babas berkiprah di film. Hahaha...tapi prinsipnya orangtua Babas mendukung,” paparnya. Karena dia menyukai kedua bidang itu, ia berharap agar keduanya dapat seiring sejalan. “Babas harap menyanyi maupun akting bisa sama-sama berjalan,” kata remaja yang berniat akan tampil beda pada HUT-nya ke 17 September mendatang. SEJUTA MIMPI BABAS Babas yang memiliki banyak kebisaan ini, ternyata menyimpan banyak impian untuk kehidupannya kelak. Salah satunya adalah menjadi artis yang diakuinya sebagai mimpinya sejak masih kecil. Ia mengaku telah mendoakannya dan meminta pada Tuhan agar citacitanya itu bisa terwujud. Ternyata doanya cepat terjawab. Berawal dari penampilannya di ajang Idola Cilik 2, Babas yang ketika itu berusia 10 tahun tampil menggemaskan dengan ram-

Sudut Pandang

butnya yang kribo. Meski langkahnya di Idola Cilik terhenti di tengah jalan, namun bocah yang memiliki banyak penggemar karena penampilannya yang imut, diminta bergabung di Coboy Junior (CJ), yakni kumpulan bocah yang terlibat dalam ‘Musikal Laskar Pelangi’. Sejak itu penampakan Babas pun makin sering di layar kaca seiring makin tenarnya Coboy Junior. Tahun 2014 lalu muncul berita mengejutkan, Babas keluar dari CJ yang membesarkan namanya. Entah apa sebab. Dia memilih bersolo karier. Babas mengaku, ternyata, tidak semudah yang terlihat, apalagi dia harus memulainya dari bawah. “Ternyata susah memulai karier dari nol lagi. Babas pernah merasakan di puncak popularitas tapi kemudian mulai dari bawah lagi. Jadi merasa canggung, apalagi jika membayangkan ekspektasi masyarakat. Tapi meski sulit akhirnya semua berjalan baik-baik saja. Babas bersyukur banget,” kata Babas yang tahun lalu meraih penghargaan Mom&Kids untuk kategori Penyanyi Pria Kesayangan. Ia berhasil mengungguli nominator lainnya seperti Afgan,

Tulus, Vidi Aldiano dan Al Ghazali. Saat ini kata Babas, ia tengah mempersiapkan single keduanya yang akan diluncurkan tahun ini. Ia juga sekarang tengah belajar menulis lagu sendiri. Remaja multitalenta ini berharap apa yang dicita-citakan dan ditargetkannya bisa berjalan baik. Harapan tinggi juga disimpan Babas untuk kariernya di dunia perfilman. Dia mengaku sejak kecil sudah mencintai film lantaran sering diajak nonton film oleh ayahnya. “Pokoknya Babas suka film apa saja. Kalau ada waktu luang, misalnya libur syuting atau menyanyi, Babas nonton di bioskop. Suka banget. Mungkin karena dulu sering banget diajak papa nonton bioskop,” katanya. Maka ketika ia menjejakkan kaki di industri perfilman dia pun memiliki sejuta mimpi. Kalau sekarang sekalipun ia telah tempil di sejumlah film maupun sinetron, namun belum sempat mendapat peran utama. “Babas pengen main film yang ceritanya oke, juga jadi pemeran utama,” kata Babas yang ternyata diam-diam memiliki keinginan menjadi sutradara kelak. Sejak kecil, aku Babas, dia sudah hobi bikin video sendiri dan mengeditnya. “Dulu, kan, belajarnya pakai handphone. Makanya nanti Babas mau kuliah ambil jurusan perfilman,” tambahnya.—Diana Runtu

Anak sebagai Subjek dan Objek Forum Anak Daerah (FAD) Bali telah mengajarkannya banyak hal dan mengenalkannya dengan banyak orang hebat yang berperan dalam perlindungan anak, salah satunya Ni Nyoman Masni yang merupakan Pembina FAD Bali, juga anak muda yang sarat prestasi seperti Kadek Ridoi Rahayu, Wahyu Adi Raditya dan masih banyak lagi yang lain. Hal tersebut disampaikan oleh Luh Vida Sasmitha, yang bergabung di FAD Bali sejak tahun 2011, setelah menjadi peserta Mimbar Anak Bali V/2011, dan masih aktif sampai saat ini sebagai Ketua FAD. Bagi gadis kelahiran Gianyar, 17 Juni 1995, yang saat ini sedang kuliah di Jurusan Farmasi FMIPA Universitas Udayana, semester 7 ini, FAD Bali dibentuk pada 26 Desember 2006 oleh Kadek Ridoi Rahayu. Saat ini FAD Bali sudah berada di tahun ke 10 dan tetap aktif dalam melakukan kegiatan yang berkaitan tentang pemenuhan hak anak dan perlindungan anak. FAD Bali saat ini masih berada di bawah binaan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Provinsi Bali sejak pertama terbentuk. Organisasi ini berbeda dengan organisasi yang lain, karena di FAD Bali bukan hanya tentang kepedulian tapi juga tanggung jawab dan pengorbanan. Bergabung di FAD Bali, bagi merupakan kebanggaan terbesar bagiVida. Kesempatan menjadi duta anak Bali di tahun 2011 dan mewakili Bali ke KongresAnak Indonesia di Bandung. Hal ini baginya merupakan hadiah yang tidak pernah saya duga sebelumnya. “Tapi hadiah terbesar yang saya dapat sejak bergabung di FAD Bali adalah mengenal banyaak anak Bali yang mau peduli dengan anak Bali lainnya di sekitar mereka dan berani mengambil langkah bersama untuk membangun FAD Bali dan mewujudkan mimpi mereka,”paparnya. Selama hampi 5 tahun ada di organisasi ini, sudah banyak hal yang ia lewati, suka duka, kecewa marah dan bahagia merupakan hal yang selalu terjadi ketika mereka melakukan kegiatan. FAD Bali adalah organisasi yang mengumpulkan seluruh anak-anak Bali yang mau dan mampu menjadi pilar dan penghubung dalam mencegah kejahatan dan kekerasan kepada anak. Kegiatan yang banyak mereka lakukan adalah kegiatan berupa penggalangan dana bantuan, kunjungan ke Lapas Anak, lomba-lomba yang berkaitan dengan kreativitas anak serta kegiatan terbesar yang mereka lakukan setiap tahun adalah Mimbar Anak Bali (MAB).

JANGAN BERHENTI BERMIMPI Vida menjelaskan MAB adalah sebuah kegiatan yang mengumpulkan perwakilan anak Bali di setiap kabupatennya dan merumuskan aspirasi mereka yang diberi nama Suara Anak Bali.Selama mengikuti MAB, baik sebagai peserta maupun panitia, sangat menyenangkan. Sebab, dengan kegiatan tersebut ia bukan hanya menambah teman tetapi juga belajar tentang bagaimana menjadi pemimpin, berpendapat dan menjadi apa yang diinginkan. “Seluruh kegiatan yang kami lakukan di FAD Bali dipertanggungjawabkan oleh anak-anak. Sehingga, dalam kegiatan, anak-anak bukan hanya berperan sebagai objek tetapi juga sebagai subjek, karena peranan yang diambil sangat banyak. Dimulai dari persiapan tema, tempat dan teknis pelaksanaan, tidak banyak campur tangan orang dewasa baik Pembina FAD Bali sendiri,” ujarnya. Terpilih menjadi Ketua FAD Bali bagi Vida juga merupakan hadiah dan kebanggaan karena dapat berperan lebih di FAD Bali.Tapi tentu saja tanggung jawab yang saya miliki juga besar, dan menjadi pemimpin di organisasi satu ini juga tidak mudah, banyak yang harus dipertimbangkan dalam mengambil keputusan, karena yang dihadapi bukan dengan orang berumur sama tetapi dengan anak-anak yang relatif masih cukup labil dan memiliki kesibukan yang berbeda-beda karena dari kabupaten berbeda pula. “Namun selama 2 tahun ini saya sangat bangga dengan anak-anak yang bergabung di FAD Bali, karena dengan peran aktif mereka saat ini sangat Luh Vida Sasmitha membantu saya dalam melaksanakan tanggungjawab menjadi seorang Ketua,” tegasnya. Ditanya soal harapannya untuk anak-anak Bali, Vida ingin mereka tetap menjadi anak-anak sesuai dengan umurnya. Belajar yang baik, menjadi anak baik dan jadilah apa yang diinginkan dan jangan berhenti bermimpi. Anak-anak, lanjutnya punya hak untuk berpendapat, berpartisipasi dan membela diri tapi bukan berarti bisa melawan orangtua, karena menghormati orangtua adalah kewajiban sebagai anak, jadi seimbangkan hak dan kewajiban. “Kalau ingin tahu seperti apa FAD Bali bisa follow kami di IG : @fadbali, twitter: @fadbali, fb : Forum Anak Daerah Bali atau kunjungi blog kami di fad-bali.blogspot.com,” tandasnya. – Sri Ardhini

redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id

mingguantokoh

@mingguantokoh

mingguantokoh

www.tokoh.co.id


2

Edisi 910/ 18 - 24 juli 2016

GORO-GORO B i l a gelombang mudik padat, arus baliknya pun akan lebih dahsyat. Bagai Putu Wijaya dilanda tsunami, manusia dan kendaraan yang surut dari ibukota, akan melabrak balik dengan boncengan para pengadu untung baru, yang percaya, Jakarta adalah masa depannya. Tetapi Jakarta tak mungkin dimasadepankan oleh semua orang. Paling banter hanya untuk segelintir yang beruntung saja. Sisanya akan jadi pecundang. “Betul sekali!” seru Amat mendukung obrolan kosong di tetangga. “Karena cara melihat ibukota seperti itu, masa depan kota nomor satu kita itu, akan terus tambah kumuh! Bayangkan!” Amat lalu menirukan pengakuan seorang “pendatang haram” ke Jakarta di masa arus

balik, sebagaimana yang didengarnya di warung: “Tak apa jadi kecoak di kota metropolitan. Kalau dalam setahun, mudik lebaran bisa naik motor cicilan, padahal hanya ngemis di perempatan bawah jalan layang. Daripada hangus terbakar di sawah kampung, tetapi buntutnya panen busuk ditelan banjir, akhirnya harta warisan lenyap gagal ditebus dari lintah darat. Buat apa!” Amat tak lupa menceritakan bahwa banyak pengemis, di ibukota, penghasilannya lebih besar dari gaji pegawai negeri. Habis “jam kerja” nukar duit di tukang es, pesan sate dan ngebul-ngebul rokok. “Mengemis yang di sini kita anggap ulah pemalas yang hina dan memalukan, kalau dilakukan oleh anak muda yang sehat, di situ malah jadi profesi basah. Berarti tata-nilai kita sudah kacau balau! Sama saja dengan korupsi yang dulu dianggap aib, sekarang

arus balik

malah dianggap kiat, kelihaian memelintir kesempatan. Bahkan dibanggakan oleh pelakunya, karena dia merasa ngetop jadi selebriti di TV! Zaman serba salah kaprah! Arus balik harus disaring.” Pulang dari tetangga Amat disambut Bu Amat dengan dampratan. “Saya dengar apa yang Bapak katakan di situ tadi!” “ O, ya? Yang mana? Bagaimana? Betul kan?!” “Soal penumpang haram itu, Bapak keliru!” Amat terkejut. “Keliru bagaimana?” “Arus mudik itu tidak akan diboncengi pendatang haram, kalau orang Jakartanya sendiri tidak mudik sambil membawa pesanan juragan-juragan ibukota yang perlu pembantu, sopir, tukang kebun, buruh bangunan dan sebagainya. Lha Bapak sendiri dulu bilang pernah membawa calon pembantu yang

“Tolong -Terima Kasih” Singkat tapi Bermanfaat “Eh… eh… ambilin gelas itu, duuhh cepetin mbak!”, kata seorang anak pada asisten rumah tangga dan berlalu kemudian. “Mbak sini, sepatu ini ditaruh di depan, bajunya dicuci, kalau sudah bantu angkat kardus ini ya… ”, pinta remaja perempuan. Coba kita tirukan kata- kata bercetak miring di dalam tanda kutip tersebut, apa yang Anda rasakan?. Adakah yang janggal atau kurang?. Ini bukan masalah budaya Barat atau Timur atau anak zaman kini berbeda dengan zaman dulu tetapi lebih kepada apa yang orangtua kenalkan pada anak di rumah. Ya, kata ‘tolong’ dan ‘terima kasih’ mulai digaungkan kembali karena semakin jarang kita dengar saat kita akan meminta bantuan dan dibantu. Kata-kata ini terdengar sepele tetapi memulai sesuatu yang baik tidak mengenal besar atau kecilnya. Kata tolong adalah kata yang dirancang dan dikenal secara umum untuk meminta sesuatu dan terima kasih ketika keinginannya telah terpenuhi. Kata-kata ini

bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

Made Padma Dewi Bajirani, S.Psi.

sangatlah singkat dan terkesan biasa saja sekalipun kita tidak mengucapkannya. Tetapi tahukah Anda jika kata-kata ini memilliki makna yang luar biasa bagi yang mendengarkannya? Saat kita menyampaikan ‘tolong’ atau ‘terima kasih’ secara tidak langsung kita mengajak anak untuk membentuk perilaku menghargai orang lain. Ucapan

‘terima kasih’ dapat dijadikan sebagai bentuk penghargaan pada seseorang atas jasa yang telah dilakukan. Dimana kata ‘tolong’ dan ‘terima kasih’ dapat digunakan sebagai media reward atau apresiasi paling dasar yang dapat menguatkan perilaku yang diharapkan. Sekalipun Anda memintanya pada anak Anda, cobalah untuk membiasakan mengucapkan ini saat Anda membutuhkan bantuan dan dibantu olehnya. Ketika anak merasa dihargai, maka anak lebih mampu mencontoh hal tersebut dan mengaplikasikannya pada orang lain. Mengenalkan anak tentang kata terima kasih akan menanamkan tentang kebersyukuran anak terhadap segala hal yang diterimanya. Dalam kajian psikologi, kata tolong dan terima kasih dapat memberikan makna yang positif bagi yang mengucapkan dan mendengarnya. Ketika anak mampu mengucapkan terima kasih atau tolong maka anak dapat menguatkan emosi positif. Seperti fungsi dasarnya, kata ‘tolong’ dan ‘terima kasih’ dapat menjadi indikator pengenalan

dipesan oleh orang Jakarta, ingat tidak?” “Tapi itu kan karena diminta Bos waktu itu, nganterin tukang buat putranya!” “Tapi sesudah itu, Bapak bilang dapat pesanan dari tetangganya, cari pembantu, ya kan?!” “Tapi itu kan baik. Daripada di sini jadi pengangguran, ya kan?!” “Nah jangan salahkan arus balik! Bukan arus balik yang membuat ibukota kebanjiran orang, tapi... !” “Tapi apa?” “Orang Jakarta yang hidup dengan mental desa itu! Baru punya uang sedikit, malas masak, malas ngurus rumah, punya mobil tapi tidak mau nyupir. Lihat di

nilai-nilai kesopanan pada anak. Sehingga ketika anak telah mampu menggunakan kata ‘tolong’ atau ‘terima kasih’ sesuai dengan konteksnya, anak juga melatih dan meningkatkan kemampuan komunikasi dan sosialisasinya. Saat semua anggota bisa melakukannya secara timbal balik, maka komunikasi positif ini dapat meningkatkan keharmonisan dalam keluarga. Sudah menerapkannya, tetapi… Kedua kata ini memiliki makna yang positif saat disampaikan pada orang lain. Tentunya ketika kita berkomunikasi tidak hanya penyampaian secara verbal yang nampak, namun juga nonverbal. Salah satu bentuk komunikasi nonverbal yang dapat menyertai adalah ekspresi wajah yang seseuai. Anda bisa membayangkan jika Anda mengucapkan ‘tolong’ dan ‘terima kasih’ dengan wajah yang cemberut atau marah? Ya, anak juga merasakan hal tersebut.

Ekspresso TV, bule-bule itu sudah kayanya seperti itu, nggak ada yang punya pembantu!” Amat tercengang. Ia menatap istrinya tak percaya. “Jangan bengong begitu!” lanjut Bu Amat sambil ketawa, “yang ngajarin bilang begitu kan Bapak sendiri juga, makanya sampai sekarang kita tak punya pembantu!” Amat manggut-manggut merasa kebakaran jenggot. Esoknya, ketika para tetangga ngerumpi lagi, ia sudah siap-siap mau bilang, “Bukan arus balik itu yang membuat penduduk Jakarta terus membengkak, tapi mental penduduknya sendiri.” “Sayangnya bukan arus balik lagi yang digunjingkan,”kata Amat kemudian laporan sama istrinya, “tapi soal I Putu Sudiarsana yang tertangkap basah oleh KPK hingga kondite kita, orang Bali, anjlog!”

Karena pada dasarnya anak juga memiliki kepekaan terhadap ketidak sejalanan kata-kata dan ekspresi wajah Anda. Pada intinya kata-kata ini akan bermakna positif saat orang lain menyampaikannya dengan intonasi dan ekspresi yang tepat seperti tersenyum. Mulai tanamkan sejak dini. Kita bisa membiasakannya pada hal-hal kecil di sekitar kita tanpa mengenal usia anak misalnya “tolong ambilkan gelas” setelahnya ucapkanlah “terima kasih”. Ketika hal ini sudah ditanamkan sejak dini di rumah, anak akan memiliki pola tersebut dan mampu menerapkannya di lingkungan sekolah dan masyarakat. Karena “anak tidak mudah melakukan apa yang kita perintahkan, tetapi apa yang sudah kita lakukan”. Made Padma Dewi Bajirani, S.Psi.

Mahasiswi

Kata Hati Rubrik ini khusus untuk wanita yang ingin menuangkan ide/pemikiran/ gagasan dalam bentuk tulisan. Tema terkait wanita dan keluarga serta tidak mengandung unsur SARA. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter (1,5 halaman A4; spasi 1,5; times new roman 12). Lampirkan juga foto close up (bukan pasfoto). Cantumkan nama lengkap, profesi, nomor hp, dan alamat email. Naskah dikirim ke redaksi@tokoh.co.id, redaksitokoh@yahoo.com. Tulisan yang dimuat mendapatkan bingkisan dari Telkomsel. Telkomsel sebagai satu-satunya operator paling Indonesia selalu berkomitmen untuk membangun dan memajukan Indonesia. #UntukIndonesia

Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti, Sagung Inten. Buleleng: Wiwin Meliana. Jakarta: Diana Runtu. NTB: Naniek Dwi Surahmi. Desain Grafis: IDN Alit ­Budi­artha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama, Ayu Wika Yuliani. Se­k retariat: Ayu ­A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­m erah ­B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­ ­F aksi­m ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang ­G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

Sudut Pandang

Edisi 910/ 18 - 24 juli 2016

23

Laporkan Kekerasan yang Dialami Kekerasan terhadap perempuan dan anak masih saja terjadi. Berbagai upaya dilakukan untuk mengatasinya. Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (BP3A) Provinsi Bali Ni Luh Putu Praharsini mengatakan, saat ini, lembaganya sedang fokus pada program sosialisasi ke sekolah-sekolah untuk siswa SD dan SMP. “Kami sedang fokus untuk sosialisasi bagaimana mengenali kekerasan terhadap anak, dan bagaimana agar anak mau melaporkan kekerasan yang dialaminya, baik kepada guru atau temannya,” ujarnya.

I

a menilai, banyak sekali kekerasan yang dialami anak, tapi mereka takut melaporkannya. Karena itu, kata dia, saat ini, fokus kampanye ke sekolah-sekolah, agar bagaimana anak menjadi berani untuk menyuarakan kekerasan yang mereka alami. Program ini

diberikan masing-masing sekali ke tiap-tiap SD dan SMP kabupaten/ kota. Selain itu, Forum Anak Daerah juga sudah terbentuk yang bertujuan sama, agar anak-anak berani menyuarakan hak mereka, dan mengajak teman-teman mereka yang mengalami kekerasan

Ni Luh Putu Praharsini

untuk berani melapor. BP3A Provinsi Bali juga fokus pada program dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yakni program

Maksimalkan Peran Orangtua Tindak kriminal yang dilakukan oleh anak beberapa akhir belakangan di Buleleng memang meningkat. Anak yang masih dibawah umur harus bersentuhan langsung dengan hukum karena berbagai jenis tindak kriminalitas yang dilakukan. Tindakan kriminal yang dilakukan oleh anak disebabkan oleh beberapa faktor di antaranya faktor pengawasan orangtua, lingkungan, dan ekonomi. Hal tersebut yang disampaikan oleh Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Satuan Reserse Polres Buleleng Putu Edi Sukariawan, S.H. Beberapa kasus kriminal yang pernah ditangani adalah kasus pencurian. “Kasus yang sedang kami tangani saat ini adalah kasus curanmor yang dilakukan oleh anak dibawah umur,” ungkapnya. Untuk mencegah aksi kejahatan tersebut pihaknya menerangkan sudah melakukan sinergi dengan pihak-pihak terkait untuk melakukan sosialisasi. “Kami gencar melakukan penyuluhan ke masing-masing kecamatan melalui unit PPA di masing-masing Polsek kepada masyarakat khususnya anak-anak,” paparnya. Sukariawan juga mengungkapkan bahwa dalam penanganan kasus yang dilakukan oleh anak-anak akan diselesaikan secara khusus. Menurut peraturan yang mengatur tentang perlindungan anak, anak-anak yang bersentuhan dengan hukum akan dilakukan diversi.

Edi Sukariawan

“Untuk kasus yang sedang kami tangani saat ini sudah merupakan pengulangan tindak pidana sehingga dengan sangat terpaksa harus kami proses sesuai dengan hukum yang berlaku,” jelasnya. Meskipun diproses secara hukum namun proses hukum yang dijalani tidak dapat disamakan dengan orang dewasa. “Khususnya ini berarti penanganannya harus cepat, dan penahanannya pun tidak bisa digabungkan dengan orang dewasa,” tambahnya.

3 Ends yakni Akhiri kekerasan pada perempuan dan anak, Akhiri perdagangan manusia, dan Akhiri ketidakadilan akses ekonomi untuk perempuan. “Sudah ada terpilih 50 partisipasi publik untuk kesejahteraan perempuan dan anak tingkat nasional, dan 4 orang wakil dari Bali. Mereka ini adalah orang-orang dari masyarakat umum yang secara swadaya melakukan pemberdayaan dan pembinaan kepada perempuan dan anak, bersinergi membantu program pemerintah,” ujarnya. Pada tanggal 21 Juli, dalam peringatan hari Anak di Bali, akan digelar juga pemberian apresiasi penghargaan kepada mereka yang sudah peduli kepada perempuan dan anak sekabupaten/kota di Bali. “Tanggal 20 Juli mereka akan melakukan persentasi tentang kegiatan apa yang sudah mereka laku-

kan. Bagaimana kiprah mereka memberikan pembinaan dan pemberdayaan kepada perempuan dan anak, dan membuat orang lain ikut melakukan hal yang sama. Untuk pemberian penghargaan akan dilakukan 21 Juli,” ucapnya. Partisipasi dari masyarakat umum ini bisa dari media, LSM, ibu rumahtangga, pengusaha, dll. Ia berpandangan, upaya untuk mewujudkan program 3 Ends ini tidak bisa diwujudkan sendiri, tapi perlu partisipasi masyarakat umum, bila perlu bersinergi dengan pemerintah. Target dari BP3A, jelas untuk menekan kekerasan terhadap perempuan dan anak ke depannya. Memang, ia mengakui, program ini tak bisa instan, semua perlu proses yang berkesinambungan dan dilakukan terusmenerus. –Wirati Astiti

Selain aksi pencurian, pria kelahiran 5 Desember 1976 ini juga mengatakan kejahatan yang sedang marak di kalangan remaja adalah penggunaan narkoba. Pihaknya juga selalu gencar melakukan sosialisasi mengenai bahaya narkoba ke sekolah-sekolah yang ada di Buleleng. “Tanpa diminta oleh sekolah pun kami akan melakukan penyuluhan karena narkoba merupakan kejahatan luar biasa,” lanjutnya. Ia menerangkan bahwa selain dijerumuskan untuk menggunakan, anak-anak dimanfaatkan sebagai kurir. “Ini yang menjadi kelemahan sebab anak-anak itu dilindungi oleh Undang-undang sehingga tidak bisa dituntut secara hukum,” ujarnya. Sukariawan sangat berharap pengawasan terhadap anak

oleh orangtua juga dimaksimalkan. Selain narkoba, rokok juga dapat menimbulkan hal negatif terhadap anak. “Sama-sama menimbulkan kecanduan tetapi kami tidak bisa melarang sepenuhnya agar anak tidak merokok,” tandasnya. Maka dari itu peran serta orangtua, lingkungan, dan pergaulan sangat berperan penting agar anak terhindar dari bahaya rokok. Ia juga sangat berharap kepada anak-anak yang merupakan aset bangsa dapat memikirkan dampak dari hukuman pidana tersebut. Selain itu, keharmonisan antara instansi terkait juga sangat dibutuhkan untuk bersamasama melakukan antisipasi kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh anak. –Wiwin

Emosi Keceriaan Anak

Permainan anak-anak yang tradisional mulai jarang dimainkan. Anak-anak sekarang lebih sering bermain dengan gadget. Namun, fotografer Gede Lila Kantiana membuat terobosan dengan mendokumentasikan permainan anak-anak melalui akun IG: traditional_childrens_ games. “Permainan anak-anak terutama yang tradisional makin terlupakan dan tergantikan oleh permainan modern (gadget). Terkadang nilai atau manfaat dari permainan tradisional tidak didapat di permainan modern. Memotret permainan yang melibatkan anak-anak juga memberikan rasa kesenangan yang berbeda, ada emosi ceria, bahagia, semangat kebersamaan di sana,” ujarnya memberi alasan memilih fotografi permainan anak. Untuk mencari referensi, Lila mengaku di zaman modern ini

segala informasi dengan mudah didapatkan. “Walau dunia internet memiliki pengaruh sehingga permainan tradisional hampir dilupakan namun internet berdampak positif. Kita dengan mudah mengetahui segala jenis permainan yang ada di nusantara, walau permainan sama tapi terkadang nama dari masing-masing daerah berbeda-beda,” ujar fotografer asal Apuan, Baturiti, Tabanan ini. Lila berharap dokumentasi permainan tradisional sangat bermanfaat untuk anak-anak. Ia melihat ada nilai-nilai kebersamaan, bagaimana cara bersahabat, bersaing untuk menang tapi dalam susasana yang penuh kebahagiaan, ada rasa saling percaya dengan temanteman, misal lomba balap

bakiak (kebersamaan dan saling percaya). “Banyak manfaat positif yang bisa kita dapatkan untuk pendidikan anak-anak. Saya sangat berharap permainan tradisional

ini tidak punah dan selalu bisa dimainkan oleh anak-anak. Adakan selalu perlombaan permainan tradisional di sekolah atau setiap perayaan hari-hari besar kenegaraan,” usulnya. –Ngurah Budi

Permainan tradisional

Foto: Gede Lila Kantiana


22

Sosialita

Edisi 910/ 18 - 24 juli 2016

Ketika sejumlah tokoh dan para politisi blingsatan gara-gara game ‘Pokemon Go’ , Pemda DKI Jakarta justru berusaha mengambil untung dengan keberadaan game yang kini tengah digilai masyarakat. Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama juga telah mengizinkan instansi di lingkungan DKI Jakarta, khususnya bidang pariwisata, yang ingin memanfaatkan momen demam Pokemon Go demi perkembangan Jakarta. Bahkan Ahok pun mengizinkan para gamer yang ingin berburu Pokemon di lingkungan kantornya, Balaikota.

“Di belakang laki-laki yang sukses ada perempuan yang hebat”. Sepertinya ungkapan ini tepat ditujukan pada BPR Sukawati Pancakanti. Keberadaannya k i n i ya n g m e m a s u k i usia ke-27 Tahun, BPRKanti (Sukawati Pancakanti) kian berkibar. Keempat Srikandi behind BPRKanti ini adalah Ni Made RestuWidiasih,S.E.(istri pemegang saham BPRKanti yang berprofesi dan menjabat sebagai wakil Pimpinan Cabang Bank BUMN Terbesar Indonesia di Bali), Ni Wayan Tantri, S.E. (Direktur Bisnis BPRKanti), Ni Made Sumartini, S.E. (Komisaris Utama BPRKanti), KadekAry Pramayanty,S.H (istri Direktur Utama BPRKanti yang berprofesi sebagai Pengacara-Advokat PERADI Bali).

RENCANA KERJA SAMA DENGAN GOOGLE Terkait dengan ‘Pokemon Go’ itu pula saat ini Pemda DKI Jakarta tengah

Demam “Pokemon Go”

Museum Nasional Diserbu

membahasnya untuk bisa bekerja sama karena nanti akan ada pengecakan dan dengan Google dalam membangun verifikasi laporan. Nah, user dengan aplikasi ‘Pokemon Go’ di kawasan jumlah total like atau support yang Balaikota dan lokasi-lokasi wisata lain- tertinggi dari laporan tersebut akan nya di Jakarta. Ketua UPT Jakarta Smart mendapat hadiah dari Qlue,” ucap City, Setiaji mengatakan, pihaknya Elita Yunanda, Head of Communicaakan bekerja sama dengan Google tion Qlue. untuk menambah monster Pokemon Sebagaimana diketahui aplikasi di Balaikota. “Supaya orang bisa lebih Qlue milik Pemda DKI Jakarta merusering datang,” ucap Setiaji. pakan aplikasi untuk peTidak hanya itu, Pemda laporan permasalahan DKI juga menawarkan para lingkungan yang tergamer memanfaatkan layanjadi di Ibukota. Laporan an Qlue. Jadi sambil berburu tersebut bisa diberikan pokemon juga memotret oleh siapa saja karkeluhan lingkungan. Dengan enanya aplikasi tersebegitu, Pemda mendapat but bisa di-download keuntungan, para gamer juga oleh umum. Nantinya ikut membantu pengawasan akan ditindaklanjuti karena para gamer dalam oleh petugas terkait. berburu Pokemon melakuLampu hijau yang kan perjalanan keliling Jadiberikan Pemda DKI karta. Maka ada baiknya juga Jakarta ini membuat ikut memotret lingkungan para gamer Ibukota yang dilewatinya. Yang pasti, yang kebanyakan adaatas upaya para gamer ini, lah para remaja dan ada hadiah menarik yang Basuki Tjahaja Purnama mahasiswa semakin disediakan. bersemangat mengunjungi tempat“Harus diingat, ya, laporan tempat wisata. Kebetulan juga saat harus kredibel dan benar-benar ini masih liburan sekolah maka tak terjadi. Bukan foto re- usah heran kalau kini di jalan-jalan kayasa tampak kalangan muda berkelompokkelompok sembari menatapi ponselnya. Sebut saja di kawasan Kota Tua, Monas, museum, juga sejumlah pusat perbelanjaan hingga ke Gelora Bung Karno, dll. –Diana Runtu

Berburu Pokemon di Museum Nasional Indonesia

3

Srikandi Behind BPRKanti

dangkan sejumlah radio. Maka tak heran beberapa hari terakhir ini Museum Nasional terlihat ‘lebih meriah’ dari biasanya karena banyak anak-anak muda yang datang.

“A

salkan hati-hati dalam berburu. Jangan menyetir sendiri kendaraan baik itu mobil ataupun motor saat berburu Pokemon. Lebih baik jalan kaki. Jangan juga terlalu keasyikan, tapi lihat juga sekelilingnya,” pesan Ahok sembari tertawa. Tapi yang sudah jelas telah memanfaatkan demam ‘Pokemon Go’ adalah Museum Nasional Indonesia, yang terletak di Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta. Sejak demam ‘Pokemon Go’ mewabah pekan lalu, pengelola Museum Nasional langsung sigap men-twit undangan agar para gamer datang ke Museum Nasional karena di sana ba­ nyak Pokemon yang siap ditangkap. Beginilah bunyi undangan itu: “Apa kamu seorang pokemon master/ trainer? Yuk berburu pokemon di Museum Nasional. Menambah wawasan dg cara fun!” Twitt ini langsung mendapat tanggapan beragam dari para follower, di antaranya adalah mempertanyakan soal keamanan barang koleksi museum. “Apakah tidak ada-apa berburu Pokemon di museum karena di sana ada banyak benda bersejarah yang usianya ratusan tahun, bagaimana kalau rusak gara-gara para gamer keasyikan berburu lupa melihat situasi?” Begitu antara lain pertanyaan para follower MNI. “Nggak apa-apa, kok. Karena di setiap ruangan ada penjaganya, tetap diawasi. Pun di koleksi yang rapuh disimpan dalam lemari/vitrin yang cukup kuat, jadi nggak masalah. Yuk mampir ke museum,” jawab staf pengelola museum. Sebagai informasi, saat ini Museum Nasional memiliki 140.000 lebih koleksi, namun hanya sepertiganya yang dipamerkan kepada umum. Pihak museum berharap dengan datangnya para gamer, mereka bukan hanya berburu Pokemon, tapi juga menambah wawasan sejarah dengan melihat-lihat koleksi museum. Ajakan berkunjung ke museum sembari berburu Pokemon pun ikut dikuman-

Edisi 910/ 18 - 24 juli 2016

P

enghargaan bergengsi berturut-turut disabet BPRKanti yang berkantor pusat di Jalan Batuyang 67B, Batubulan Gianyar ini. Di antaranya; Enterprise 50 dariAccenture International yang berkedudukan di Singapura bekerjasama dengan Majalah Swa Sembada dan HIPMI, Annual Refort Award (ARA) tahun 2009, InfoBank Award ,2010,2011, 2012, 2013, 2014

(Golden Award) dan 2015 dengan kinerja keuangan SANGAT BAGUS, Economic Review 2013, 2014, 2015, Penghargaan dari Kompas TV, Peringkat I Marketing PT denganAset Rp 100 Miliar s.d. Rp 250 Miliar, Peringkat II Corporate Social Responsibility BPR dengan Aset Rp 100 Miliar s.d. Rp 250 Miliar, Peringkat II BPR Swasta- Terbaik Indonesia, Peringkat III Human Capital BPR denganAset Rp 100 Miliar s.d. Rp 250 Miliar. Berikutnya, Direktur Utama BPRKanti juga menyabet The Best Leadership CEO-BPR Indonesia 2015 yang diraih oleh CEO BPRKanti Made AryaAmitaba, S.E,M.M., Peringkat II BPR Swasta-Terbaik Indonesia 2015 bidang IT, The Best Performing Micro Finance Company of The Year dalam ajang Indonesian Creativity And Best Leader Award 2016, International Outstanding Business Award 2015, International Microfinance Exposure Bangladesh, dll. ​A ryaAmit a b a menga t a ka n, prestasi-prestasi yang diraih BPRKanti tak terlepas dari kerjasama keluarga besar Kanti, dan tetap menjaga keseimbangan antara bisnis dan yadnya, juga masyarakat dan lingkungan. Seperti, Minggu (3/4), dalam rangka acara piodalan di Pura SamuanTiga, Gianyar, BPRKanti melaksanakan acara bakti sosial yaitu ngayah. Acara ini dihadiri para Alumni SMAN 1 Gianyar angkatan 91 bersamaWakil

Dialog Seminar dengan tema “Penguatan Lembaga Adat dan Budaya Bali di era Masyarakat EkonomiAsean (MEA) yang menghadirkan 4 narasumber, Made Arya Amitaba, M.M., Wakil Bupati Gianyar Made Agus Mahayastra, ­ Prof. Dr. I Wayan P. Windia, S.H., dan I Gde Pasek Suardika,S.H.

Bupati Gianyar Made Agus Mahayastra, yang dilanjutkan dengan pe­ nyerahan dana punia tempat sampah dari BPR Kanti disaksikan Wakil Bupati di Pura Samu­anTiga. Pe­nyerahan

Asyik berburu Pokemon

DRIVER OJEK KETIBAN REZEKI

Ternyata yang ikut meraup untung dengan ‘kegilaan’ masyarakat pada ‘Pokemon Go’ adalah para pengojek online. Awalnya para pengojek online tidak paham adanya demam Pokemon yang melanda, sampai mereka merasakan sendiri bagaimana ribetnya mengantar seorang berburu Pokemon keliling Jakarta. “Gilaaa..tadinya gua nggak ngerti ini anak mau ngapain minta diantar ke Jakarta Barat ngajak keliling-keliling. Dia asyik melototin hapenya, gua tinggal nunggu komando aja,” kata Aris, driver ojek yang mengaku sempat kebingungan pada awalnya karena ketidakjelasan order layanan. Tapi akhirnya dia bisa tertawa lebar karena hasil kerjanya menemani si remaja berburu membuahkan hasil Rp 150 ribu. “Hahah iya lumayan, dilebihin ama tuh anak,” kata Aris. Hal yang sama juga dialami oleh driver ojek online dari Uber yang mengaku dipesan seorang anak remaja, ternyata memintanya mengantar berburu Pokemon. Dengan gembira ia pun melayani permintaan si anak karena dia pun sudah mendengar demam Pokemon yang melanda. “Iya lagi pada keranjingan Pokemon. Banyak ojek kecipratan rezeki Pokemon nih hahaha,” kata Umar yang mendapat Rp 75.000 dari mengantar anak berburu Pokemon. Pihak Go-Jek sendiri pun sudah mengumumkan ikut meramaikan perburuan Pokemon lewat layanan aplikasinya. “Mau cari Pokemon?#Gojekinaja” begitu bunyi undangan Gojek yang siap mengantar kemanapun para gamer inginkan untuk berburu. Tapi ternyata tidak semua senang menyambut demam Pokemon. Sejumlah anggota DPR RI di Senayan justru merasa khawatir dengan fenomena ini. Bukan apa-apa, mereka khawatir kalau para gamer menjadi terlalu asyik dengan permainan ini sehingga tidak memperhatikan sekelilingnya, walhasil bakal membahayakan dirinya. Terbukti sejumlah gamer di beberapa negara menjadi korban (kecelakaan) karena tidak hati-hati. Anggota DPR Tantowi Yahya juga memiliki khawatiran yang sama kare­ na biasanya para gamer terlalu asyik bermain sehingga abai dengan situasi sekelilingnya. Ditambah lagi, permainan itu dimainkan ditempat-teman umum yang terbuka. “Dampak negatifnya mulai terasa. Ke depannya mungkin akan kita bahas dengan Menkominfo bagaimana sebaiknya,” ujar politisi Partai Golkar itu. Namun, diakuinya juga bahwa ada dampak positif dari permainan ini, khususnya bagi pariwisata. Karena para pemain harus mengunjungi tempattempat umum seperti lokasi-lokasi wisata. –Diana Runtu

Foto Bersama dalam acara kegiatan Edukasi & Literasi Keuangan, Seminar Regional

Tabungan Simpanan Pelajar (SIMPEL) kepada seluruh siswa kelas X dan XI sebanyak 676 orang di SMA Negeri 1 Gianyar Bali. Sabtu (18/6), di Hotel Nikki Denpasar, BPRKanti juga menyelenggarakan program Bhakti Masyarakat sebagai perwujudan pelaksanaan CSR. BPRKanti melaksanakan kegiatan Edukasi & Literasi Keuangan, Seminar Regional dan Grand Launching Produk yaitu: Tabungan ArisanKU berhadiah utama Mobil Toyota Agya, hanya dengan menabung setahun dan hadiah lainnya berupa 15 LED TV; Tabungan SimpananPelajar (Simpel), tabungan khusus bagi pelajar PAUD, SD, SMP, dan SMA; danTabungan Wisata, yang dapat dimanfaatkan untuk mewujudkan impian untuk mengunjungi tempat wisata seperti Beijing, India, Singapura, Malaysia, Bangkok, Lombok, Bandung, Yogja, dll. Seminar Bhakti Masyarakat tersebut dihadiri Direktur Pengawas Jasa Keuangan OJK Wilayah VIII Bali-Nusra, Nasirwan Ilyas, para nasabah, para tokoh adat di Kabupaten Gianyar, Badung dan

Denpasar, PERBARINDO, Forum PSP BPR BALI,tokoh-tokoh LPD & Koperasi, akademisi universitas di Bali, pendiri dan pemegang saham BPRKanti, pengurus dan direksi serta keluarga besar karyawan BPRKanti untuk berdiskusi terkait tema “Penguatan Lembaga Adat dan Budaya Bali di Era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)”. Menghadirkan empat narasumber, DirekturUtama BPR Kanti, Made AryaAmitaba, M.M. yang mengangkat tema “Peran BPR sebagai “Community Bank” dalam Memperkokoh Perekonomian Desa”, Wakil Bupati Gianyar Made Agus Mahayastra yang membahas tentang “Kebijakan Pemerintah Kabupaten Gianyar Mengenai DesaAdat, Desa Dinas dan Budaya Bali”, Pakar Hukum Adat Bali Prof. Dr. I Wayan P. Windia, S.H., yang mengupas tentang “Padum Raksa dan Padum Pada dalam Pewarisan Menurut Hukum Adat Bali”, serta Senator DPD RI Daerah Pemilihan Bali, I Gde Pasek Suardika,S.H., yang berdiskusi tentang “Politik Hukum NKRI Terkait dengan Masyarakat Hukum Adat dan Kebudayaan Daerah”. –ten

Beasiswa untuk Anak Karyawan Belum lama ini, Kamis (7/7), BPRKanti juga melaksanakan Family Gathering yang berlokasi di Taman Nusa-Indonesian Cultural Park, Desa Sidan, Gianyar, Bali. Diikuti sekitar 300 orang, yakni para karyawan BPRKanti beserta keluarga, serta pendiri dan pemegang saham. Acara dimulai dengan sambutanTari Kuda Lumping dan Tari Pendet oleh pihak Taman Nusa. Peserta kemudian mendaftarkan diri untuk mengikuti beberapa lomba, mulai dari lomba lari bakiak, lari kelereng, lomba makan krupuk, yang diikuti karyawan, keluarga, dan anak-anak. Di pengujung acara, yang paling ditunggu anak-anak ialah Penyerahan Beasiswa untuk Anak mulai dari PAUD, TK, SD, SMP, SMA, dan yang sudah duduk di bangku kuliah.–ten

Foto bersama peserta, karyawan, dan keluarga setelah penyerahan beasiswa kepada anak-anak karyawan mengakhiri acara BPRKanti Family Gathering

Perlombaan lari bakiak yang diikuti para karyawan dan segenap direksi beserta keluarga dalam BPR Kanti Family Gathering, Kamis (7/7) di Taman Nusa-Indonesian Cultural Park, Desa Sidan, Gianyar, Bali

Penyerahan Beasiswa​kepada anak-anak​ karyawan, Mulai dari PAUD, TK, SD, SMP, SMA, dan yang sudah duduk di bangku kuliah ​ dalam BPRKanti Family Gathering, Kamis (7/7) di Taman Nusa-Indonesian Cultural Park, Desa Sidan, Gianyar, Bali

Perlombaan makan krupuk yang diikuti anak-anak karya­ wan dalam BPRKanti Family Gathering, Kamis (7/7) di Taman Nusa-Indonesian Cultural Park, Desa Sidan, Gianyar, Bali

Foto bersama peserta, karyawan, dan keluarga sebelum dimulainya acara BPRKanti Family Gathering


4

Inspirasi

Edisi 910/ 18 - 24 juli 2016

Ketahui Potensi Diri Mita

B

erawal dari daerah dan membanggakan tempat kelahiran merupakan salah satu acuan untuk menuai prestasi. Hal ini dilakoni Ni Made Mita Anggraeyani atau akrab disapa Mita, mahasiswi semester akhir Undiksha. Mita berkeyakinan bahwa perempuan muda Bali dapat membanggakan daerahnya dan mampu mengukir prestasi yang cemerlang. Ajang Jegeg Bagus Jembrana 2016 adalah wadah bagi Mita mengasah kemampuan dan mendulang prestasi. Keterlibatannya untuk mengikuti Jegeg Bagus Jembrana juga didorong oleh keyakinan untuk membangun Jembarana lebih baik lagi di bidang pariwisata. “Bagi saya, Jembrana memiliki potensi pariwisata yang bagus. Saya bersama pemerintah Jembrana bekerja sama untuk meningkatkan destinasi wisata Jembrana,” tutur Juara Favorit Jegeg Bagus Jembrana 2016 ini. Jembrana memiliki destinasi wisata seperti Teluk Gilimanuk, Patung Siwa di Gilimanuk, dan Sungai Gelar. Tempat wisata tersebut sangat mampu menarik perhatian pengunjung baik domestik maupun internasional. Bagi Mita, kesadaran untuk mempromosikan daerahnya harus diwujudkan dengan berbagai cara. Salah satunya dengan mengikuti Jegeg Bagus Jembrana. Setelah sebulan melaksanakan karantina, pada 7 Mei 2016, merupakan waktu bagi para

finalis unjuk kebolehan. Mita pun mengutarakan visi misi untuk Jembarana. Berkat pemikirannya dan motivasi dari pendukungnya, Mita pun dipercaya menyandang gelar Jegeg Favorit Jembrana 2016. Bagi dara kelahiran Delod Brawah, 24 Mei 1995 tersebut Jembaran tidak saja tempat pulang. Jembarana adalah ka-

PRIBADI YANG OPTIMIS Tentu kesadaran putri pasangan I Putu Pande Budiasa dan Ni Komang Suartini mengikuti ajang tersebut tidak main-main. Ia mempunyai beberapa latar belakang yang memengaruhi. “Alasan mengikuti Jegeg Bagus Jembarana pertama, membantu pemerintah dalam mempromosikan pariwisata di Jembarana karena Jembrana merupakan kabupaten yang memiliki potensi destinasi wisata. Kedua, memperbanyak kegiatan positif. Terakhir, ingin mengukur kemampuan,” tukas Juara 1 Make Up Competition se-Buleleng 2014 itu. Motivasi utama lahir dari dukungan dan doa dari keluarga juga kekasih. Mereka adalah orang-orang yang menyakini bahwa Mita akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Berkat dukungan orang terdekat, kepercayaan diri Mita pun bertambah. Tentu restu tersebut mengantarkannya mantap menoreh prestasi “Mereka menaruh kepercayaan kepada saya. Yakin, bahwa saya selalu bisa,” ujar saudari dari Ni Putu Eka Puspita Dewi, I Komang Riski Amanda Diputra, dan Ni Ketut Eriska Arinta Putri ini. Menurut pembawa acara wisuda Undiksha dan pembawa acara Dies Natalis Undiksha tersebut, perempuan muda Bali harus mampu mengetahui potensi diri. Mengetahui ke-

Edisi 910/ 18 - 24 juli 2016

Ombak Lakey Digilai Peselancar

Pagi baru saja mengantar matahari bersinar. Cahayanya menyeruak dari balik perbukitan di bagian timur Pantai Lakey yang berada di di Kecamatan Hu’u Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat. Cuaca pagi yang cerah. Para peselancar yang rata-rata adalah bule sudah mulai turun ke laut menenteng papan selancar menuju titik ombak tertinggi yang berada cukup jauh dari bibir pantai. Ditambah lagi anak-anak kecil lokal (anak-anak yang tinggal di Lakey dan juga sekitarnya), turut menenteng papan-papan selancar berukuran kecil, berenang-renang di sekitar bibir pantai menanti sisa-sisa riak ombak yang menepi. Mereka pun rupanya turut berlatih selancar di pantai yang menawarkan surga bagi peselancar itu.

Perempuan muda Bali tidak boleh dipandang sebelah mata. Terbukti banyak perempuan muda Bali yang menoreh prestasi di daerah sampai internasional. Berawal dari kearifan lokal, perempuan muda Bali tentu memiliki karakternya masing-masing. Mengasah keterampilan diri yang berpegang pada kearifan lokal adalah modal utama menghadapi era digital saat ini.

bupaten yang mempunyai banyak destinasi wisata. Mita banyak mempelajari pariwisata tentu dalam ajang Jegeg Bagus Jembrana. Ia merasakan sungguh wawasannya mengenai Jembrana terus bertambah. “Yang paling penting dalam ajang ini adalah kesempatan untuk bersosialisasi. Menjadi bagian dari Semoton Jegeg Bagus Jembrana adalah harapan yang menjadi kenyataan. Di organisasi ini saya bertemu orang-orang hebat dengan karakter dan kemampuan berpikir yang berbedabeda hingga saya terpupuk oleh pengalaman dan pengetahuan,” tutur wakil Jembrana dalam Lomba Oleg Tamulilingan IHDN Denpasar 2011 tersebut.

Mandalika

L

mampuan diri akan memperkuat citra dan karakter perempuan Bali. “Saat ini, perempuan Bali sangat terpengaruh dengan budaya luar, misalnya saja tata cara berpakaian. Untuk itu kita sebagai perempuan Bali hendaknya melandasi diri dengan kearifan lokal,” tuturnya. Mita pun mempunyai keyakinan bahwa kecantikan perempuan tidak saja diukur melalui fisik. “Bagi saya perempuan adalah bentuk dari kecantikan. Perempuan yang cantik, perem-

puan yang memiliki 3B (Brain, Beauty, Behavior),” tutur anggota KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia) tersebut. Motto yang membuat Mita selalu berkreasi dan mengukir prestasi yakni mampu mengetahui kemampuan diri, menghayati kearifan lokal, dan mampu optimis. “Menempatkan diri sebagai pribadi yang optimis adalah hal yang penting. Dengan hal itu, kita mampu menambah wawasan dan pengalaman,” ujarnya. -Wulan

akey, dengan gemuruh ombaknya yang berdentum dan menari-nari dikenal dunia karena kedahsyatan ombaknya yang digilai oleh peselancar-peselancar dunia. Tidak hanya itu, pasir putih dan beningnya sepanjang garis pantai Lakey juga menjadi surga tersendiri untuk berlibur bersama keluarga. Di musim libur lebaran lalu, Pantai Lakey menjadi salah satu tujuan wisata yang sangat ramai dikunjungi, khususnya wisatawan lokal Bima dan Dompu. Mereka biasanya datang menghabiskan waktu berlibur bersama keluarga satu hari. Sangat unik suasananya. Di sana sini tampak warga datang dengan rombongan masing-masing,

membawa perbekalan makanan dan minuman dari rumah. Di setiap sudut Pantai Lakey, asap-asap mengepul dari pembakaran yang sengaja dibuat untuk membakar ayam dan ikan yang juga dibawa dari rumah masingmasing. Suasana kekeluargaan tampak dari cara para wisatawan lokal ini berkumpul. Begitu tiba di Pantai Lakey, para orangtua menyiapkan berbagai makanan yang dibawa dari rumah dan anak-anak langsung terjun ke laut menikmati beningnya Pantai Lakey. Setelah itu mereka makan bersama dengan segarnya ikan dan ayam bakar yang baru saja matang membuat aroma sepanjang pantai itu begitu menggoda selera. Para wisatawan lokal yang datang ke Lakey memilih mem-

Anak-anak sedang bermain pasir di Pantai Lakey

bawa sendiri makanan dari rumah karena di Lakey terbilang jarang yang berjualan makanan yang lengkap sesuai kebutuhan. “Agar puas menikmati dengan keluarga, kami sengaja bawa makanan dari rumah. Asyik bisa bakar ayam dan ikan segar,” ungkap Raodah yang datang bersama keluarganya dari Bima. Mereka selalu berlibur ke Lakey tiap musim libur Lebaran tiba. Selain wisatawan lokal yang datang di siang hingga sore hari, ada pula keluarga-keluarga yang memilih menghabiskan waktu liburannya dengan keluarga besarnya. Beberapa hotel di Lakey telah tersedia untuk menginap dengan nyaman. Harga hotel berkisar antara Rp 250.000 sampai di atas satu juta rupiah.

Keluarga Prima memilih untuk mengajak anak-anak mereka menikmati pantai cantik Lakey yang membuat siapa saja tergoda untuk berenang. Bersama sembilan anggota keluarganya yang lain, ia memilih menginap demi menikmati waktu sore hingga pagi di Lakey. “Karena ombaknya yang diburu peselancar, Pantai Lakey sudah mendunia. Kami ingin anak-anak kami mengetahui dan langsung datang ke mari untuk melihat langsung aktivitas tersebut sehingga tidak hanya tahu dari televisi saja,” ungkap Prima. Karena itulah, pagi-pagi sekali anak-anak dari keluarga ini telah turun ke pantai untuk berenang dan menikmati indahnya Lakey di waktu pagi. Mereka semua

Lakey Cetak Peselancar Cilik Anak-anak Lakey tiap hari juga giat berlatih selancar. Ombak menggulung mereka yang dengan gembira dan cekatan mengendalikan papan selancar mengikuti arus ombak yang keras. Keceriaan tampak benar di wajah anak-anak pantai ini. Dari pinggir pantai, para peselancar yang baru belajar ini, sesekali mengamati ombak yang datang untuk kemudian menerobos tempat yang paling deras ombaknya. Dan tubuh mereka pun meluncur dan berdiri tegak di atas papan-papan selancarnya.

Dengan usia belianya, mereka rupanya telah mampu membaca arah ombak yang paling baik. Naluri mereka sudah secara otomatis mengikuti arah ombak. Karena di ombak yang paling deraslah, mereka dapat menemukan kepuasan berselancar. Lakey yang terkenal dengan enam jenis ombak –beberapa di antaranya tidak terdapat di tempat lain, seperti Lakey Peak yang ombaknya bisa dimanfaatkan oleh dua orang dalam waktu bersamaan- Lakey menjadi surga bagi para penghobi selancar. Kete-

Warga yang berwisata ke Pantai Lakey

21

naran Ombak Lakey telah mendunia. Maka tidak mengherankan, nyaris sepanjang tahun –terutama bulan-bulan ombak istimewa seperti Juni, Juli dan Agustus, Lakey dikunjungi banyak peselancar dari berbagai Negara di dunia. Pagi itu, Rijal kecil asal Rasabou Hu’u, desa sekitar Lakey, asik dengan papan selancar kecilnya berenang ke sana kemari memanfaatkan sisa-sisa ombak yang menepi ke pantai. Anak kelas 2 SD ini telah mulai berlatih selancar bersama kakaknya. Rijal baru enam bulan terakhir

ini belajar merasakan ombak dan papan selancar. “Belum berani ke ombak yang besar di tengah itu,” ujarnya sambil matanya menatap ombak tinggi yang bergemuruh di tengah laut. Namun seperti halnya anak-anak Lakey lain yang bahkan ada yang telah berprestasi internasional dalam ajang selancar dunia itu, Rijal menaruh harapan dan cita-cita untuk menjadi peselancar kelak. Lakey telah mencetak peselancar-peselancar cilik yang prestasinya mendunia. Setidaknya hal ini pernah disampaikan Ilyas, Pembina Selancar Lakey beberapa waktu lalu sebelumnya. Ombak Lakey telah secara langsung mencetak bakat-bakat alami anak-anak pantai ini. Memilih hobi menjadi peselancar, bukanlah hal yang mudah, terutama bagi anak-anak. Karena di samping membutuhkan keberanian dan nyali yang besar untuk menghadang serta menaklukan ombak yang “menggila”, juga dibutuhkan perlengkapan surfing (selancar) yang tidak murah. Tapi, bagi mereka yang menggilai olah raga ini, semakin dahsyat ombaknya, maka akan semakin memberikan kepuasan yang membahagiakan. “Setidaknya puluhan orang anak dan peselancar remaja telah mengasah potensi yang mereka miliki. Mereka yang berusia antara

pun tergoda untuk ikut berenang bersama anak-anak. Tidak itu saja, menikmati Lakey juga bisa dilakukan dengan bermain pasir putih yang menambah keriangan anak-anak. Dengan biaya hotel dan fasilitas yang masih terjangkau, Lakey cocok untuk tempat liburan yang menyenangkan. Jaraknya dari Kabupaten Dompu sekitar 45 menit hingga satu jam, dengan akses jalan yang baik membuat Pantai Lakey kini kian ramai dijadikan sebagai tujuan wisata khususnya lokal. Berenang, berselancar dan berfoto dengan latar ombak yang tinggi serta beningnya pantai, adalah tiga hal yang nyaris tidak bisa dilupakan oleh para wisatawan dengan masing-masing pilihannya. –Naniek I. Taufan

10 hingga 16 tahun ini, pertama kali bakatnya dilihat pada tahun 1996,” kata Ilyas, pembina anakanak ini. Dan pada tahun itu pula, anak-anak Lakey pertama kali mengenal dan ikut even lomba surfing di Kuta Bali. Namun sayang, sebagai surga bagi para peselancar dan wisatawan ini, Lakey masih belum memberikan kenyamanan karena sampah belum sepenuhnya tertangani dengan baik. Orangorang yang tinggal di sekitar bibir Pantai Lakey sesungguhnya telah berupaya keras untuk membersihkan pantai ini dari sampah yang berserakan yang berasal dari pengunjung. Namun, kesadaran para pengunjung Lakey yang masih sangat rendah dalam hal membuang sampah pada tempatnya. Hal inilah yang sempat membuat seorang ibu yang tinggal di sekitar Lakey “mengomel” panjang pada pengujung yang membuang sampah sembarangan. “Kami ingin ada kesadaran dari pengunjung lokal untuk bijaksana dalam menyikapi sampah yang mereka hasilkan, setidaknya membuangnya di tempat sampah yang sudah tersedia,” ungkap salah seorang penjaga pantai. Karena orang-orang Lakey sendiri menginginkan nama besar Lakey juga diimbangi dengan kebersihan pantainya. Lakey pantai bening berpasir putih dan berombak dahsyat adalah karya alam yang harus dirawat bersama. -Naniek I. Taufan


20

Nine

Edisi 910/ 18 - 24 juli 2016

Perempuan Rajai Berbagai Lomba

Rajin dan tekun. Tampaknya hal inilah yang membuat lebih banyak siswa perempuan di SMPN 1 Bolo Kabupaten Bima, meraih prestasi baik di sekolah maupun dalam ajang-ajang lomba. Anak-anak perempuan di sekolah ini bisa dibilang ‘menguasai’ arena prestasi mulai dari kelas VII hingga kelas IX. Demikian pula prestasi di luar sekolah yang ikut mengharumkan nama sekolah yang berdiri sejak tahun 1958 ini.

M

eski berada di sebuah kecamatan yang notabene jauh dari Ibu Kota Provinsi Nusa Tenggara Barat, SMPN 1 Bolo yang berdiri di Desa Rato ini merupakan salah satu sekolah yang sangat serius melakukan pembinaan terhadap para siswanya termasuk peningkatan prestasi-prestasinya. Karena itulah, tidak heran jika di tahun 2014 saja, Sekolah Standar Nasional (SSN) ini berhasil keluar sebagai juara 1 dan 2 dalam Lomba Cerdas Cermat Matematika se-Pulau Sumbawa yang diselenggarakan oleh STKIP Taman Siswa Bima. Atas prestasi ini siswa SMPN 1 Bolo pernah mewakili Kabupaten Bima dalam Lomba Cerdas Cermat Matematika yang diselenggarakan oleh IKIP

Makassar di Makassar. Tiap tahun siswa-siswa dari sekolah ini selalu mencatatkan prestasi dalam berbagai lomba, seperti ajang OSN Matematika, Fisika, IPS dan Biologi yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dan tiap tahun sejak 2014, 2015 dan 2016 selalu saja ada siswa dari SMPN I Bolo tampil mewakili Kabupaten Bima ke tingkat Provinsi NTB bahkan tingkat Nasional, khususnya di tahun 2015 dan 2016 ini. Di bidang olahraga bulutangkis, Siti Mardinah yang duduk di kelas III lalu, berhasil meraih Juara 1 Bulutangkis dalam O2SN 2014 dan mewakili NTB pada tingkat Nasional. Begitu juga dengan Fatimatuzzahra yang duduk di kelas VII sukses mewakili Provinsi NTB ke ajang O2SN tingkat

dan antusiasme siswa perempuan cenderung lebih meningkat karena mereka lebih antusias dan aktif dalam mengikuti pembinaan,” ujarnya. Dari catatan Kepala Sekolah SMPN I Bolo ini, dalam dua tahun terakhir inilah, prestasi siswa perempuan di sekolah ini melejit dibandingkan dengan siswa laki-laki. Selain prestasi di luar sekolah, prestasi akademik siswa-siswa perempuan juga lebih banyak. “Hampir 90 persen juara kelas adalah siswa perempuan,” ungkap Suaedin. Prestasi ini terlihat juga dalam deretan perempuan yang menjadi juara kelas. Di kelas VII A Juara Kelas ada M. Alvilayalin, M. Rizki Akbar, Istifirrah Rabiatul Mawaddah, M. Irfan, Muhammad Awalul Rizqi Aritiah dan Karishma Maharani. Kelas VII B ada, Muh. Andriadin,

Wibowo

Edisi 910/ 18 - 24 juli 2016

5

Penyandang Disabel yang Pantang Menyerah

Tidak ada manusia yang ingin cacat anggota tubuhnya, namun ketika hal itu terjadi —entah karena cacat sejak lahir atau sebab kecelakaan atau penyakit— tak ada yang mampu menolak. Takdir! Itulah yang terjadi dalam hidup Wibowo, seorang pelukis tuna daksa yang terkena polio saat ia berusia delapan bulan. “Saya lahir tahun 1959, ketika itu belum ada imunisasi polio. Apalagi saya tinggal di kampung di Winogiri, Jawa Tengah, imunisasi masih sulit,” ungkap Wibowo.

Siswa-siswa perempuan di SMPN 1 Bolo Kabupaten Bima mengoleksi banyak prestasi karena keuletan dan aktif dalam mengikuti pembinaan-pembinaan di sekolah

Nasional pada bulan Juli mendatang, setelah berhasil menyabet Juara I pada ajang O2SN tingkat Provinsi tahun 2016 ini. Nurul Anissa dan Asrin Nuraini, dua siswa perempuan yang mewakili Kabupaten Bima masuk dalam tim volley ball O2SN 2016 tingkat Provinsi NTB. Begitu juga Adelia Jelita yang menjadi Juara II lomba atletik pada ajang O2SN tingkat Provinsi NTB pada tahun 2014. Bidang akademik, masih dirajai oleh para siswa perempuan. Qurratu Ainy menjadi juara ka-

Sederet Siswa Perempuan sebagai Juara Kelas

Tampilnya lebih banyak siswa perempuan di SMPN I Bolo sebagai juara sebenarnya bukan kebetulan. Menurut Suaedin, M.Pd., Kepala Sekolah SMPN 1 Bolo, dibandingkan dengan siswa laki-laki, siswa-siswa perempuan di sekolah ini terlihat lebih ulet dan terbilang sangat rajin mengikuti pembinaan-pembinaan yang dilakukan di sekolah. “Siswa perempuan memang cenderung lebih mudah diatur oleh guru pembinanya,” ungkapnya. Perhatian dan treatmen yang sama diberikan sekolah ini pada siswa perempuan dan laki-laki, untuk dapat berprestasi dan meraih keunggulan-keunggulan tanpa membedakannya. “Semua kami beri perhatian pembinaan yang sama terhadap seluruh siswa baik laki-laki maupun perempuan. Namun keuletan

Inspirasi

Muhamad Guftaf Eko Putra, Muh. Rifki Ainurrahim. Kelas VII C, Ismi Asmawati, Sabrina Alfara Daliza, Nurul Amelia. Dan kelas VII D, Iim Musyarifah, Jumriatun Nai’llah, M. Alimuddin, VII E, Nuril Azzahra, Said Agil Almunawar dan Elva Aprilia. Sedangkan Kelas VII F, ada Nurnafisah, Mutmainah P. Llestari, Meli Anggriani, VII G, Zulfatun Annisa, Nadia Cahya, Dwi Febriayanti, VII H, Putri Wulandari, Diyah Isthi Ayu dan Siti Amalia Putri. Kelas VII I, Nova Izza Salsa, Ifansya dan Tesa Kaunang. Siswa-siswa perempuan yang berprestasi sebagai juara kelas juga tampak pada kelas VIII. Pada kelas VIII Unggulan seluruhnya juara kelas dipegang oleh perempuan yakni, Nur Retno

bupaten dan mewakili Kabupaten Bima dalam Olimpiade Matematika tingkat Nasional tahun 2014 yang diselenggarakan Primasma Matematika Unismu Makassar. Pada OSN Fisika 2014 Tingkat Nasional juga di Pontianak Kalimantan Barat, Yuan Putri Maharani mewakili NTB. OSN IPA Tingkat Provinsi NTB tahun 2014, menempatkan Dwi Atmi H mewakili Kabupaten Bima dan pada OSN IPA 2015 ada Nurul Ilmi juga mewakili Kabupaten Bima. OSN IPS 2016 tingkat Provinsi NTB seko-

lah ini mengirim Nurul Fadillah dan pada mata pelajaran IPA ada Windi Putri Amelia yang mewakili Kabupaten Bima juga Rian Adriadin pada bidang Matematika Sementera itu, Nur Retno Fitriyya menjadi Duta Sanitasi Tingkat Provinsi NTB Tahun 2016. Dalam ajang FL2SN tahun 2016 mendatang, Karishma Maharani yang keluar sebagai Juara I Tingkat Kabupaten Bima akan mewakili Kabupaten Bima dalam bidang Bercerita Dalam Bahasa Inggris. -Naniek I. Taufan

Fitriyyah, Nurlailah Novianti, Windi Putri Amelia. Kelas VIII A, Aisyah Salahudin, Dear Dwi Dainty, Rosa Andriani. Kelas VIII B, juara kelas diraih Dwi Kartika Widyawati, Indana Roudhatul Izza, Rahmawati Mahrani Nur Alam. Kelas VIII C, Fadela Zulfa Salsabila, Mariam Ulfa dan Nurmarsya Damayanti. Di kelas VIII D ada, Ika Wulandari, Kharisma Dwi Rahayu dan Hijriatun Sugiarti. Kelas VIII E, Nurfaidah, Santun Nur Istiqomah dan Mariska Putri Almul. Kelas VIII F, Hanifa Nuri Santi, Asrin Nuraeni dan Farah Sayidina. Kelas VIII G, Mahreiny Rivqa, Safina juga Ratu Irma. Kelas IX Unggulan Juara Kelas juga seluruhnya ada pada siswa perempuan, seperti Dwia atmi Hasriningrum, Qurratu Ainy dan Hanum Azzahra. Kelas IX A, Uswatun Hasanah, Safira Awaliah dan Vega Lavenia. Kelas IX B, Khairu Shulhin, M. Insanul Afif, Muh. Danung Putra Wiya-

dhi, IX C, Hesti Andriyani, Feby Febryanti dan Afrah Amelia. IX D, ada Devi Astiningsih, Aldila Salsa Dini Rosa, Nurafniatun. Sedangkan di Kelas IX E, Khifayatul Khoiriah, Khairunisyah, Nining Apriyani. Dan di Kelas IX F adalah Uswatun Mutmainnah, Mawar dan Ahdian. SMPN I Bolo, terus memacu siswanya untuk berprestasi baik laki-laki maupun perempuan dengan memberikan motivasi dan pembinaan yang sama. Sekolah ini tidak pernah membedakan antara laki-laki dan perempuan karena semua siswa adalah anak didik yang harus menerima hak pembinaan dan pendidikan yang sama. Demi terus mempertahankan prestasi sekolah yang mampu meraih hingga prestasi nasional, sekolah ini terus berbenah untuk meningkatkan prestasi siswanya. Hal inilah yang membuat SMPN I Bolo, mulai tahun ini melakukan pemetaan lebih detil terhadap minat dan bakat masing-masing individu siswa mulai dari siswa baru. “Dalam MOS yang akan berlangsung esok hari, kami akan melakukan pemetaan terhadap minat dan bakat serta kegemaran siswa sehingga tiap siswa diharapkan dapat muncul minat, bakat dan kegemarannya. Dari sanalah kami bisa dengan lebih mudah untuk membinanya ke depan,” ungkapnya. Melahirkan dan mengantar siswasiswa berprestasi, anak-anak yang menjadi generasi penerus bangsa ini, adalah tujuan paling hakiki yang ingin diraih oleh SMPN I Bolo. -Naniek I. Taufan

I

munisasi sendiri baru dimulai di Indonesia sekitar tahun 1956 yakni untuk cacar, sedang polio baru diperkenalkan sekitar tahun 1980. Maka tak heran pada masa itu banyak orang, khususnya yang tinggal di daerah, terkenal virus polio yang memang mudah menular. Kasus tersebut tak berbeda dengan di Amerika pada tahun 50-an dimana polio menjadi momok bagi masyarakat. Sampai akhirnya vaksin polio ditemukan dan mulai digunakan untuk imunisasi tahun 1956 di Amerika. “Orangtua saya tidak dapat berbuat apa-apa, apalagi kami orang kampung. Yang bisa dilakukan oleh orangtua hanya mempersiapkan masa depan saya dengan kemampuan yang disesuaikan dengan kondisi fisik saya,” ujar Wibowo yang bersyukur meski menyandang tunadaksa orangtuanya tetap menyekolahkannya hingga lulus SMA. Wibowo bertutur, sejak menyadari dirinya berbeda dengan yang lain, termasuk ketidakmampuannya bekerja berat, membuat ia memperdalam kemampuannya dalam hal melukis. Ketrampilan melukis jadi pegangan hidup karena disadari, meski lulus SMA namun untuk mendapat pekerjaan kantoran tidak lah mudah untuk seorang penyandang cacat. “Pada saat saya muda, akses penyandang cacat untuk dapat pekerjaan kantoran kecil sekali, meski lulus SMA. Penyandang disabel sejak dulu seolah menjadi ’warga negara kelas dua’ yang sulit mendapat akses kemana-mana seperti halnya orang normal,” tambahnya. Tapi, sejak dulu pula, ia mengaku sudah menerima keadaannya, bahkan merasa bersyukur karena memiliki keahlian tertentu untuk kehidupannya. “Semua saya jalani dengan penuh keikhlasan dan syukur. Dengan begitu kesusahan apapun yang mampir dalam hidup saya tidak akan menjadi terlalu menyusahkan,” tutur Wibowo yang pada Maret lalu bersama tujuh temannya berkesempatan berpameran lukisan di Gedung DPR RI Jakarta. Dari kerja kerasnya melukis, tambahnya, ia mampu menghidupi

anak-istri meski sederhana. Namun ‘ruang’ untuk mengais penghasilan dari melukis kian hari terasa kian sempit, khususnya di daerah yang selain jumlah pelukis makin banyak juga konsumen yang terbatas jumlahnya. Untuk orang seperti dirinya tentu hal tersebut menjadi sangat menyulitkankarena tidak memiliki pekerjaan sampingan lain. “Saya tidak memiliki pekerjaan sampingan selain melukis. Istri saya petani, saya tidak bisa bantu. Saya tidak kuat angkat berat,” tambahnya. Karena itu pula, meski dengan penuh keterbatasan ia merantau ke Jakarta untuk mengadu nasib. “Saya berangkat sendiri, istri dan anak tetap di kampung. Istri tetap bertani,” katanya. Sudah 16 tahun, aku Wibowo, ia merantau, dan kini menetap di Cimanggis, Depok, Jawa Barat. Meski diakuinya hidup di kota Jakarta dan sekitarnya lebih sulit ketimbang di kampung, namun dalam hal mendapatkan rejeki dari melukis terasa lebih mudah. PELUANG DI JAKARTA LEBIH TERBUKA “Biaya hidup memang tinggi tapi untuk mendapatkan rejeki lebih mudah dibanding di daerah. Konsumennya banyak, ajangajang pameran juga banyak. Juga komunitas-komunitas pelukis banyak sehingga akses lebih terbuka,” ungkap Wibowo yang hingga kini masih tinggal di rumah kontrakan. Untuk menyiasati, katanya, selain melukis ia juga membuat karikatur, sketsa juga siluet. Dari kegiatan inilah ia mendapat pemasukan yang lumayan dan bisa membiayai kebutu-

Wib owo

Para penyandang disable turut menyaksikan saat pengesahan UU disabilitas dalam rapat paripurna DPR RI

han hidupnya dirantau. “Saya juga bisa mengumpulkan uang untuk membantu kehidupan keluarga di kampung. Sekarang anak saya sudah menikah, jadi beban tidak terlalu berat,” tambahnya. Banyaknya pameran di Jabodetabek juga komunitas-komunitas, menurutnya, sangat membantu. “Semakin banyak link, peluang semakin terbuka. Saya rajin ikut pameran. Selain menjual lukisan juga menawarkan konsumen yang ingin dibuatkan karikatur, sketsa ataupun siluet. Tapi yang paling laku siluet karena harganya murah hanya Rp50.000 –an. Bagi orang kota seperti Jakarta agaknya uang segitu mudah dikeluarkan. Sedang lukisan, tidak selalu dapat terjual di pameran. Harganya mahal, juta-jutaan, jadi lebih sulit menjualnya,” ungkapnya lagi. Meski penyandang disabel, namun aku Wibowo, ia punya semangat tinggi untuk memperjuangkan kehidupannya. Kondisi yang penuh keterbatasan tidak menyurutkan langkah untuk menjual karyanya. Bahkan kalau perlu, katanya, ia datang door to door ke berbagai tempat untuk menawarkan ketrampilannya. “Upaya door to door tidak selalu berhasil tapi saya tidak patah semangat karena akhirnya ada saja yang mau membeli lukisan saya. Bagi saya penghasilan besar atau kecil, tetap harus disyukuri, jangan mengeluh,” katanya. Untuk beraktivitas, lanjutnya, ia menggunakan angkutan umum, baik itu kereta api ataupun busway. Untungnya, kata Wibowo, sekarang ini pemerintah lebih perhatian pada kaum penyandang cacat sehingga sejumlah fasilitas kini telah diadakan untuk memudahkan akses. Misalnya saja di bus Transjakarta ataupun kereta api, kini ada tempat duduk khusus untuk kaum disabel. “Kalau dulu, saya terpaksa harus berdiri berdesak-desakan dengan yang lain. Kalau beruntung ada yang berbaik hati,

Seorang konsumen sedang dibuatkan siluetnya oleh Wibowo

maka saya bisa duduk. Kalau tidak, ya terpaksa berdiri. Tapi sekarang tidak lagi. Ada tempat duduk ‘Prioritas’ untuk kami,” tambahnya. Tapi kadang kala, yang namanya manusia, ada juga yang punya sifat tidak peduli. Meski kursi itu adalah kursi ‘Prioritas’ namun mereka tetap saja menempati. “Keadaan ini sering saya temui. Entah karena tidak tahu atau pura-pura tidak tahu, mereka yang kondisinya normal duduk di kursi ‘Prioritas’. Ada yang purapura tidur atau asyik main gadget. Begitulah prilaku orang. Kalau saya pas berada di angkutan itu, maka saya tidak langsung menegur, tapi saya minta satpam untuk melakukannya. Saya bilang, saya penyandang disabel dan membutuhkan tempat duduk. Maka satpam pun langsung menegur orang itu,” kata Wibowo. Ia berharap dengan disahkannya UU No 8 tentang Penyandang Disabilitas pada 17 Maret 2016 lalu, segala ketentuan dalam undang-undang itu bisa benarbenar diterapkan. Undang-undang tersebut menjamin hak-hak kaum disabel untuk memperoleh kehidupan yang layak dan sama dengan orang normal lainnya, termasuk dalam hal akses mendapatkan pekerjaan. Mungkin, katanya, di Jakarta dan sejumlah kota besar, pelak-

sanaan undang-undang ini bisa berjalan baik tapi bagaimana dengan yang di daerah. Dirinya sangat berharap mereka yang di daerah juga bisa merasakan dampak positif dari adanya undang-undang ini. “Saya ingin mereka di daerah juga mendapatkan fasilitas dan akses seperti yang kami rasakan di Jakarta,” kata penasihat komunitas pelukis wayang ini. Sebagaimana diketahui, UU Penyandang Disabilitas No 8 Tahun 2016 menegaskan tentang pemenuhan hak-hak kaum disabel mulai dari hak hidup, pendidikan, hingga bebas diskriminasi, penelantaran, penyiksaan dan eksploitasi. Ditegaskan juga soal perlindungan wajib diberikan dan dijamin oleh pemerintah pusat dan daerah. Pemerintah juga wajib memberikan akses setara terhadap penyandang disabel di instansi negara misalnya wajib mempekerjaan penyandang disabel paling sedikit 2% dari jumlah pekerjanya. Perusahaan swasta juga wajib dengan mempekerjakan 1% dari jumlah pegawainya. Begitu juga upah yang diterima,harus sama dengan para pekerja lainnya. Hal penting lainnya, dalam UU itu juga mengamanatkan dibentuknya Komisi Disabilitas Nasional yang bertugas melaksanakan pemantauan, evaluasi dan advokasi pelaksanaan dari undang-undang. -Diana Runtu


6

Woman on Top

Edisi 910/ 18 - 24 juli 2016

Ni Wayan Padmi dan DuaBe Entertainment

Model harus Optimalkan Citra Produk

Suasana ceria dan bahagia mewarnai perayaan HUT ke-16 DuaBe Entertainment Model & Agency, Minggu(10/7) di Warung Pan Yoga, Jimbaran. Dalam acara tersebut, digelar juga beberpa kegiatan mulai dari peragaan busana , lomba foto hingga lomba fashion show anak, remaja dan dewasa dan tidak ketinggalan dilangsungkan Graduation DuaBe Model Angkatan XIII.

A

cara tersebut makin semarak bukan hanya oleh kehadiran para sahabat dan undangan dan peserta lomba fashion show, namun dalam pagelaran juga ditampilkan pula beberapa busana karya desainer kenamaan Bali seperti Yenly Wijaya, Tjok Abi, Weda Githa, Dewi Calista dan Rakaory. Diantara keramaian kala itu, ada sosok yang paling bahagia, terlihat wajahnya selalu sumringah, dia adalah Ni Wayan Padmi, pemilik DuaBe Entertainment Model & Agency. Perempuan ini telah menggeluti dunia modeling sejak masih kuliah di PSSRD Unud dengan bergabung di bawah

bendera Montana Modelling asuhan Ary Agung. Rupanya, berbekal pengalaman sebagai model, Padmi ingin membagikan ilmunya kepada orang-orang yang tertarik di industri ini. Singkat cerita, DuaBe Entertainment Model & Agency pun didirikan pada tahun 2000 . Studio pertamanya kala itu berada di Jalan Kubung Batu ,Taman Griya. Jimbaran. Mereka mengadakan ujian dan graduation angkatan pertamanya di Hotel Diwangkara Sanur. Menurutnya sejak awal dirikannya

DuaBe, Padmi selalu melibatkan teman- teman seprofesinya seperti Ari Agung, Kayan Sukariani, Elis, Made Agus , Tjok Abi dan teman lainnya mendukung saat perayaan HUT agency-nya. Padmi juga mengisahkan kalau nama DuaBe di ambil dari bintang kelahiran kedua anaknya, yang sama-sama berzodiak pisces berlambangkan ikan. “Saat pembentukannya bersama ayahnya anak yang juga banyak mendukung kala itu,” ungkapnya. Dalam perjalananya DuaBe pun berkembang lengkap dengan irama pasang surut seperti bisnis pada umumnya. “Sempat juga stagnan, vakum, berpindah pindah studio hingga akhirnya saya harus kèmbali ke tempat kelahiran ,istilahnya rumah bajang namun dengan tampilan barunya,” tuturnya. Ia menambahkan kini dalam menjalankan kegiatannya ia dibantu kekuatan energi dari kedua anaknya yang makin dewasa. Karena itu pula, saat ini Padmi

“ Untuk tamu VVIP silahkan menuju ruang khusus yang sudah disediakan”.. Naaah .. saya yakin sebagian besar orang yang mendengarkan kalimat tersebut ditujukan kepadanya akan merasa tersanjung. Dan merasa dispesialkan karena sangat dihargai oleh tuan rumah (ins­ tansi) yang mengundang. Bisa dibayangkan, layanan apa yang diper­ oleh oleh seorang VVIP…. Mulai dari orang yang menyambut, ruangan, tempat duduk semua bisa jadi berbeda dengan tamu lainnya. Itu adalah salah satu cara agar membuat orang senang, yaitu dengan menyebutnya sebagai tamu VVIP. Dalam tulisan saya kali ini saya yang sangat concern di dunia service, akan mengajak pembaca setia untuk mengetahui “bagaimana caranya menjadi seorang pelayan yang mempunyai pribadi yang disukai oleh pelanggannya”. Kenapa penting untuk menjadi pribadi yang disukai pelanggan? Tentu saja agar pelanggan kita bisa datang kembali. Istilah VVIP (Very Very Important Person ) dengan contoh di atas berbeda dengan istilah “VViP Plus” di dunia layanan yang saya mak­ sud. Kita akan bahas satu persatu dari istilah VViP Plus tersebut. V yang pertama adalah VOICE. Seorang pelayan disukai jika mem­ punya suara/ audio yang bagus. Dalam sebuah maskapai penerbangan yang saya temui baru-baru ini, seorang pramugari menerangkan bagaimana tata cara orang yang duduk di kursi emergency exit. Karena waktu itu saya kebetulan duduk di depan kursi emergency exit, jadi saya hanya mendengan suara dari sang pramugari yang memberikan penjelasan. Sungguh ironis, voice yang saya dengar sama sekali tidak membuat tertarik, bahkan cenderung memvisualisasi kalau sang pramugari itu tidak cantik. Karena apa…? Saya dengar suaranya datar, kecepatannya melebihi orang berbicara normal ­( saya yakin SOP nya tidak demikian ), dan kesan dari volume suara cempreng juga sedikit judes. Sungguh menggambarkan perempuan yang tidak cantik dan tidak ramah. Padahal ketika saya lihat wajah sang pramugari tersebut…. ternyata…. cantik… Ada juga contoh bagaimana seorang pelayan sering melontarkan kata kata killer word. “ mau apa pak… itu salah bapak… kan sudah saya bilang… ngga tahu… “ dan kata kata killer world yang lain. Kalau sudah seperti ini, pelayan ini pasti tidak

Grup musik yang lahir di Kota Pahlawan ini akrab dikenal dengan panggil­ an ANB atau Atas Nama Bangsa Ensemble. Grup yang terdiri 15 orang ini konsisten memainkan lagu daerah yang mereka aransemen ulang dengan nada-nada yang kadang ter­dengar unik.

T

idak hanya lagu daerah, lagu-lagu nasional pun kerap mereka bawakan. Iringan musik rancak dan komposisi yang menarik dari gitar, jimbe,

mengucapkan rasa syukur dan terima kasih ke hadapan Ida Sanghyang Widi Wasa atas anugrah yang luar biasa dan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang sudah mendukung dan ikut

andil hingga kegiatan perayaan HUT ke-16 DuaBe dan acara Graduation berjalan dengan sukses dan lancar. Bicara model, Padmi mengatakan banyak hal yang harus dikuasai seorang model supaya sukses.Ia juga menambahkan kalau menjadi seorang model itu sebetulnya juga harus bisa menjadi sarana untuk mempromosikan suatu produk. Tiap model juga harus bisa bekerja sama dan mampu mengoptimalkan citra produk yang akan ditampilkan. Karenanya di dalam pelatihan di sekolah modelingnya, selain memberikan materi basic catwalk, catwalk pose, expression, catwalk choreography, foto session juga disertakan materi pengembangan diri hingga public speaking. “Penting juga untuk seorang model untuk bisa disiplin, beretika dan menguasai sopan santun,” katanya. – Sri Ardhini

V V i P Plus Salam Senyum,

Edisi 910/ 18 - 24 juli 2016

disukai oleh para pelanggan di tempat­ nya bekerjanya. Padahal yang seharusnya terlontar dari seorang pelayan adalah kata- kata yang manis dan berkesan magic world. “ silahkan … mo­ hon maaf… bisa kami bantu… bapak luar biasa… “ dan kata- kata pujian lainnya. Untuk Vi selanjutnya adalah VISUAL. Menyenangkan pelang­ gan dapat kita lakukan dengan Visual/penampilan fisik kita. Tanpa mendiskriminatif orang-orang yang berpenampilan kurang/jelek, kesan pertama yang ditangkap seseorang ketika bertemu pertama kali adalah kesan visual. Artinya pertama kali orang menilai dari penampilan secara fisik. Jika kita merasa kurang dalam penampilan (atau terkesan jelek), cobalah untuk tampil lebih gagah, ganteng, atau cantik agar bisa lebih disukai. Hehehe.. ini kenyataan lho… Kalau kita perhatikan di layar kaca, seperti sinetron dan film, pemain utama kebanyakan diambil dari orang yang berwajah ganteng atau cantik. Kenapa? Karena dengan demikian akan menjadi daya tarik sentral para penonton untuk menyukai sinetron/film tersebut. Bayangkan saja kalau tokoh sentralnya kurang menarik… dipastikan kita akan malas untuk menontonnya. Memang penampilan bukan segalanya, tapi kita bisa berbuat lebih banyak dan lebih mudah dengan penampilan yang menarik. Selanjutnya kita membahas P ( dari VViP ). Kita akan ambil dari kata PAIRING yang artinya jodoh, match, kecocokan. Kalau da­ lam layanan seperti apa.? Ketika kita melayani pelanggan dan kita berusaha agar selalu match dengan mereka, tentu yang dirasakan pelanggan adalah kenyamanan. Ini terjadi ketika saya datang seba­ gai pelanggan dari sebuah butik. Dengan memilih beberapa koleksi busana yang ada seorang pelayan mengajak saya untuk bercerita tentang hal yang ringan. Salah satunya dia menggali dengan me­ nanyakan hobi saya. Ketika saya bilang hobi saya adalah membaca dan bernyanyi, dia bercerita kalau anaknya juga menekuni hobi yang sama. Menga­lirlah cerita tentang anaknya yang selain gemar membaca buku juga mengisi hari-harinya dengan menjadi penyanyi di sekolahnya. Waaahhh… saya sebagai pelanggan butik merasa nya­ man dengan pelayanan butik itu. Bagaimana tidak, ceritanya persis dengan hobi yang saya jalani dan sukai. Sesuatu yang menyangkut perasaan akan menjadikan orang itu tersentuh dan sulit melupakan. Seseorang cenderung mencari teman yang memiliki kesamaan dalam hal perasaan. Saat menemu­ kan kesama­an maka hubungan akan lebih mudah terbangun. Maka sebaiknya galilah sebanyak banyaknya kesamaan yang dimiliki oleh

pelanggan. Baik dari hobi, warna kesukaan, asal, bahkan bahasa daerah yang digunakan. Bahasa tubuh pun bisa dipakai untuk mencari kesamaan. Coba perhatikan gaya duduk dari pelanggan dan kita coba menirukannya. Jika kita bisa menyamakan gesture dengan orang diha­ dapan kita maka akan timbul chemistry. Tanpa sadar, mereka akan melakukan hal yang sama dengan menirukan gaya kita. Belum pernah mencoba?... heheheh… boleh dicoba dan buktikan sendiri ya… Naaah.. untuk VViP Plus.. Plus nya apa yaaaa… Plus nya disini adalah BRAIN. Bagaimana kita mempunyai Voice yang bagus, Visual yang menarik, dan Pairing selalu dibangun tetapi isi dari otak kita kosong Waaaahhhh.. jangan sampai ya… isi otak juga sangat berpe­ ngaruh dengan orang menjadi senang dengan kita. Seorang pelayan yang mempunayi wawasan yang luas, ketika diajak bicara nyambung, dan pandai memadukan pembicaraan dengan pelanggan. Itu sangat disukai oleh para pelanggan. Di sebuah salon yang terkenal di Denpasar para pelayan salon tersebut memang dibekali dengan pengetahuan dan wawasan oleh pemiliknya. Jadi ketika pelanggan itu memanjakan diri di salon, sang pelayan dapat mengimbangi cerita pelanggan sehingga enak diajak bicara dan keliatan tidak “katrok” dengan istilah-istilah yang dipakai saat pembicaraan dengan pelanggan. Dimana para pelang­ gannya rata-rata dari kalangan pebisnis. Jadilah mereka pelanggan setia karena para pelanggan sangat nyaman dengan layanan para pegawai salon tersebut. Jadi jelas ya sekarang….. Untuk menjadi seorang yang disukai oleh pelanggan maka kita harus punya layanan “VViP Plus”. Bagai­ mana Voice kita bagus, Visual kita menarik, Pairing kita terjaga dan dibangun terus, dan ditambah dengan Brain yaitu isi otak yang selalu diasah dan perdalam wawasan. Naaahhhh …pembaca setia… Bukan hal yang sulit untuk menciptakan bagaimana pelanggan menyukai kita sebagai pelayan. Dan… kita perlu melakukannya!!!! .. Karena jika pelanggan sudah terpikat, maka seorang pelayan sudah sangat andal untuk memfungsikan dirinya juga sebagai sales /marketing. Tentunya akan membuat keuntungan bagi perusahaan karena pelanggan akan selalu datang kembali. Ayooooo.. kita lakukan layanan VViP Plus…. Dari sekarang ya….. dan buktikan manfaatnya.. Salam 3SP, Salam Senyum Sang Penyihir Sri Sumahardani srisumahardani3sp@gmail.com

Atas Nama Bangsa Ensemble Konsisten Mainkan Lagu Daerah rainstick, maracas, saluang, bass, kahoon, konga juga biola. Kelompok musik yang terdiri dari berbagai latar belakang pendidikan dan pekerjaan ini, mulai berdiri tahun 2014. “Ide ini sendiri sebenarnya terlahir dari genjrengan iseng-iseng, di sebuah ruko kecil di daerah Ngagel, tempat orang-orang yang dipandang madesu ngumpul,” ucap Julian yang akrab dipanggil Saleho ini. Ruko tersebut milik Freddy

Rossi, bassist band rock legendaris Power Metal. Ruko ini boleh dipakai untuk kegiatan yang

Jajanan Khas Betawi yang Laris di Surabaya Kerak telor. Yaaa……, jenis kuliner yang satu ini sudah tak asing lagi bagi arek-arek Suroboyo. Bahan dasar menu kuliner khas Betawi ini berbahan dasar telur. Berbeda dengan kota asalnya Jakarta. Pak Idrus, pedagang kerak telor yang bisa ditemui di sekitar Taman Hiburan Rakyat (THR) ini mencoba menawarkan sesuatu yang berbeda. Rasa khas yang dimiliki jajanan Betawi pada umumnya, kini disulap dengan tambahan rasa yang lebih variasi. Seperti rasa balado, keju, barbeque, pizza, dan rasa spesial. Diantara berbagai rasa yang ditawarkan, para pelanggan lebih menggemari kerak telor rasa barbeque, keju, balado. Taburan bumbu-bumbu berpadu dengan keringnya kerak telor menghasilkan rasa yang begitu pas. Aroma telur khas Betawi bersinergi dengan berbagai rasa pilihan yang disuguhkan, menjadikan keunikan rasa dilidah para penikmatnya. Campuran telur, beras ketan putih dan berbagai macam bumbu begitu unik. Belum lagi parutan kelapa yang disangrai dan butiran kacang yang ditumbuk, dibubukan diatasnya. Membuat rasa kerak telor makin menjadi incaran penikmat kuliner. “Yang lebih unik, yakni rasa spesial tambahan aksesoris wijen, keju bubuk, dan siraman

19

susu kental membuat kerak telor menjadi gurih dan nikmat,” kata Idrus. Dengan harga mulai Rp 11.000 bisa menikmati rasa spesial dan berbagai rasa. Untuk kerak telor satu rasa berkisar Rp 8.000. Ada dua macam dasar telur yang digunakan bahan dasar jajanan ini, telur bebek dan ayam. Bedanya, jika penikmat kuliner memilih telur bebek rasanya lebih gurih. Tetapi, harganya selisih Rp 1.000 lebih mahal. Dalam proses pembuatannya, untuk mendapatkan aroma dan rasa yang lezat, jajanan yang telah ada di kota Pahlawan ini, dimasak dengan tengku sebagai pengganti kompor. “Kalau pakai kompor memang lebih cepat, tapi beda rasa dan aromanya dibanding dengan tengku. Soalnya kita lebih mengutamakan rasa dan aroma kerak telor,” ujar pria beranak satu ini. Pria berusia 34 tahun ini, mulai berdagang pada 2013. Dia mengawali usaha dengan modal awal Rp 500.000. Tak disangka, usaha kerak telor yang ditekuninya kini memiliki omzet Rp 150.000 per hari. Namun, bila sedang sepi pelanggan omzet paling banyak hanya Rp 75.000. Bila penikmat kuliner ingin menikmati kerak telor asli Betawi, tak perlu jauh-jauh datang ke Jakarta. Di Surabaya, pedagang kerak telor juga ada. -Wulandia Widya Sari

“Tidak muluk-muluk, kami ingin lagu daerah dan nasional bisa lebih sering dinyanyikan anakanak ketimbang lagu dewasa de­ ngan lirik yang tidak pantas dinyanyikan anak-anak,”

positif. Siapa sangka ternyata, harapan Freddy Rossi terpenuhi. Dari ‘keisengan’ Julian, Ukki dan Basuki saat itu, lahirlah Atas Nama Bangsa Ensemble yang kemampuan mereka memainkan berbagai alat musik tidak bisa dipandang sebelah mata. Salah satu personil yang pernah ikut bergabung di Atas Nama Bangsa adalah Dodit Mulyanto, Komika yang akrab dengan logat Jawanya itu dulu mengisi posisi biola. Kini posisi itu diisi oleh Aminullah, yang juga seorang guru musik berlatar belakang musik metal. Beberapa personilnya juga berasal dari UKTK Unair. Jadi,

bisa dibayangkan betapa kayanya komposisi musik yang mereka aransemen. “Tidak muluk-muluk, kami ingin lagu daerah dan nasional bisa lebih sering dinyanyikan anak-anak ketimbang lagu dewasa dengan lirik yang tidak pantas dinyanyikan anakanak,” tambah Riza dan Pipit, sang vokalis. Mereka tidak ingin dikenal sebagai band atau sekedar grup musik biasa. “Disini kami berkarya, disini kami menyatukan visi dan misi dalam suasana kekeluargaan, regenerasi itu pasti ada, karena kami ingin misi kami ada yang meneruskan,” tambah Julian. -Dona


18

Life

Edisi 910/ 18 - 24 juli 2016

S

ebagai desa Bali Mula tentu memiliki beberapa keunikan yang dimiliki dibandingkan dengan desa yang lain. Meskipun ada beberapa hal yang memang sudah dipengaruhi oleh keberadaan desa-desa lain. “Beberapa hal yang sifatnya masih prinsip masih kami pertahankan hingga saat ini,” ujarnya. Salah satunya adalah pelaksanaan nyepi adat di luar pelaksanaan nyepi secara umum. Suardarmayasa mengatakan semua warganya turut menghormati pelaksanaan nyepi secara umum dengan jalan melakukan Tapa Brata Penyepian. “Bagi warga yang mau melaksanakan nyepi secara umum disilakan tetapi tidak diwajibkan,” ungkapnya. Ia menambahkan yang

D e s a

T i g a w a s a

Hapus Kesan “Zona Merah” diwajibkan adalah pelaksanaa nyepi secara adat bahkan akan sangat dijaga secara ketat oleh pecalang desa. Tujuan dari nyepi adat tersebut untuk menyeimbangkan antara bhuana agung dan bhuana alit. Keunikan lain adalah manajemen kepemimpianan. Menurut pria yang baru tujuh bulan menjabat sebagai perbekel ini mengatakan satu-satunya desa yang tidak memiliki dualitas kepemimpinan adalah Tigawasa. “Siapapun yang terpilih menjadi perbekel dialah sekaligus menjadi kelian desa pekraman. Sudah turun temurun seperti itu,” katanya. Disamping itu, arsitektur rumah orang Tigawasa juga terbilang sangat unik. Rumah yang disebut saka roras rumah yang terdiri dari satu bangunan dan ruangan. “Tempat tidur, dapur dan ruang lainnya ada

I Made Suardamayasa

Rumah Saka Roras

dalam satu ruangan,” jelasnya. Karena sudah modern rumah saka roras sudah jarang ditemui bahkan yang masih tetap berdiri kokoh sampai saat ini hanya berjumlah 6 unit saja. BAHASA TIGAWASA Selain keunikan dalam adat, Tigawasa juga memiliki bahasa ibu yang dinamakan bahasa Tigawasa. Bahasa tersebut digunakan sebagai bahasa dalam interaksi antar warga lokal saja. Hal ini disebabkan bahasa Tigawasa akan jauh berbeda dengan bahasa Bali pada umumnya. “Digunakan sesama warga lokal saja sebab kalau digunakan dengan warga luar daerah pasti tidak akan dimengerti,” imbuhnya. Pria kelahiran 21 Mei 1969 tersebut

tidak memungkiri jika kemajuan teknologi dan perkembangan zaman yang begitu pesat membuat keberadaan bahasa Tigawasa mengkhawatirkan. Banyak warganya yang memilih hijrah ke kota baik untuk menuntut ilmu ataupun bekerja sehingga penggunaan bahasa pun akan berpindah ke bahasa Indonesia. Meskipun begitu, menurutnya warga yang ketika berada di desa mencoba berkomunikasi menggunakan bahasa selain Tigawasa maka akan dikenakan sanksi moral. “Secara tidak langsung memang tidak pernah melakukan upaya pelestarian bahasa akan tetapi jika ada yang merantau dan pulang menggunakan bahasa Indonesia maka akan dikatakan sudah lupa

Sembuh setelah Ngayah Tidak dapat dimungkiri, kemajuan dan perkembangan zaman sangat berpengaruh besar terhadap pola pikir dan aktivitas masyarakat yang ada di dalamnya. Di tengah gempuran teknologi, membuat permainan tradisional mulai ditinggalkan bahkan dilupakan. Sifatnya yang tradisional membuat anak-anak enggan memainkan sebab takut dianggap kuno atau ketinggalan zaman. Anak lebih memilih permainan yang lebih modern dan kekinian, game online salah satunya. Keberadaan permainan tradisional yang dirasa mulai terpinggirkan tidak lantas membuat Gede Candra Gupta Nugraha ikut melupakan, justru ia sangat menyukainya. Sejak berusia 5 tahun, anak yang akrab disapa Candra ini memang sudah menaruh ketertarikan terhadap permainan tradisional. Salah satu permainan yang sering dimainkan adalah medolanan. Menurutnya, medolanan merupakan salah satu jenis permaianan yang memiliki banyak manfaat. “Mainnya beregu, jadi punya banyak teman,” ungkapnya. Namun, yang membuat unik selain bermain dalam medolanan juga sangat diasah kecerdasan otak kiri si anak. “Iya memang kesulitan dalam menghafal naskah, selain itu juga harus menghafal gerak

atau tarian,” paparnya. Bocah kelahiran 11 Desember 2004 tersebut juga mengungkapkan beberapa tahun terakhir ia memang sering tampil di Pesta Kesenian Bali (PKB) mewakili Buleleng. “Kalau tahun ini memang difokuskan mengenai Megoak-goak, beberapa cerita yang pernah diangkat seperti Naga Balon, dan Mesiap-siapan,”imbuhnya. Terbilang sukses memainkan perannya dalam permainan medolanan, membuatnya selalu bersemangat jika diminta untuk pentas di berbagai kegiatan. Dalam event PKB lalu, ia bahkan membutuhkan waktu selama tiga bulan untuk latihan. Agar tidak menganggu sekolah, ia selalu menggunakan waktu di sore hari untuk latihan. Siswa kelas VI SD Negeri 3 Banjar Jawa tersebut sangat menyayangkan jika di sekolahnya tidak ada permainan medolanan tersebut. “Di sekolah paling cuma buat lawak, pengen kalau medolanan juga dimainkan di sekolah,” ujar anak yang berkeinginan menjadi penari bondres ini. Anak dari pasangan Nyoman Suardika dan Luh Ariani ini memang terlahir dari keluarga yang memiliki jiwa seni. Sang kakek merupakan seorang penari yang cukup tenar di Buleleng. Begitu juga den-

gan sang ayah yang merupakan perintis sanggar Nong Nong Kling. Jadi tidak heran jiwa seni memang melekat pada diri Candra dan kecintaan terhadap kesenian daerah. Ia mengaku dari berbagi jenis permainan yang pernah dipentaskan, ia jatuh cinta dengan kesenian bondres. Meskipun sulit dalam mementaskan bondres sebab harus mempelajari materi namun Candra selalu mendapat dukungan dari sang ayah. “Ayah yang selalu mengajarkan baik menabuh, menari bondres maupun menari janger,” imbuhnya. Sang ayah juga bercerita sewaktu berusia lima tahun, dalam keadaan sakit Candra memaksakan kehendak untuk ikut ngayah di Pura Desa. “Sebelumnya sakit, tapi memaksa harus ikut. Akan tetapi sehabis ngayah tanpa diberi obat langsung sembuh. Entah apa yang menyebabkan,” jelas sang ayah. -Wiwin

dengan bahasa ibu bahkan dikatakan sombong,” paparnya. Desa yang sebagian penduduknya sebagai petani dan perajin ini sedang ditata kembali oleh masyarakatnya. “Perhatian pemerintah sangat luar biasa, secara tidak langsung desa kami memang sudah diakui sebagai salah satu desa Bali Aga,” ujarnya. Suardarmayasa juga mengatakan akan berusaha menghapus citra masyarakat berwatak keras, menyeramkan dan brutal terhadap masyarakatnya. “Dengan kerja nyata kami akan tunjukkan bahwa masyarakat kami tidak seperti itu,” jelasnya. Ia tidak menyangkal jika dulu masyarakatnya memang terkenal dengan kebrutalan dan peperangan akan tetapi saat ini ia menjamin tidak ada lagi hal tersebut. “Lihat saja desa kami dikelilingi hutan dan letaknya di gunung. Dulu masyarakat tidak ada yang mengenyam pendidikan, itulah yang menyebabkan masyarakat menjadi keras,” lanjutnya. Menurutnya keterbatasan informasi sangat berpengaruh terhadap pola pikir masyarakat. “Siapa pun baru masuk desa ini pasti ngeri. Bahkan saat ini dari pihak kepolisian selalu menjadikan desa ini sebagai “zona merah” ketika pilkada tiba padahal hal tersebut tidak perlu dilakukan,” tambahnya. Maka dari itu pihaknya selalu mencari terobosan agar anak-anak di desa tersebut dapat mengenyam pendidikan dan mendapat bantuan bagi yang kurang mampu. -Wiwin

Gede Candra Gupta Nugraha

Tigawasa merupakan salah satu desa yang masuk ke dalam desa Bali Mula atau Bali Aga di Kabupaten Buleleng. Asal-usul desa Tigawasa memang belum dapat diketahui secara pasti, tetapi yang nyata ditemukan benda-benda peninggalan purbakala di tiga tempat yaitu di Dusun Sanda, Dusun Pangus, dan Dusun Gunung Sar. Menurut Perbekel Desa Tigawasa I Made Suardamayasa, ada dua versi dari tetua yang mengungkapkan sejarah terbentuknya Desa Tigawasa. Pertama, secara arti kata, tiga berarti tiga, dan wasa berarti tempat. Maka desa Tigawasa adalah gabungan dari masyarakat dari tiga tempat. Selain itu, versi kedua mengatakan bahwa Tigawasa merupakan masyarakat yang melakukan perpindahan tempat sebanyak tiga kali dan akhir­nya menetap di Tigawasa.

Story

Minah (48) adalah sosok perempuan yang sabar dan tidak banyak bicara. Bahkan dalam situasi hati­nya tercabikcabik akibat perselingkuhan suaminya, Minah tidak pernah memperlihatkan bahwa rumah tangganya tengah dilanda prahara. “Sehari-hari kami tetangganya tidak melihat sikap Minah sebagai orang yang memiliki masalah. Dia tetap ramah dan tersenyum tiap bertemu,” ungkap Friska, salah seorang tetangga Minah di Pulau Lombok.

P

ara tetangga bahkan tahu prahara rumah tangganya tersebut sudah dalam keadaan yang sangat parah. Itu pun hanya satu dua tetangga yang tahu sampai akhirnya Minah mendatangi suaminya yang tengah bermesraan dengan perempuan lain. Kisah Minah berawal ketika menikah dengan Bagas (49), 20 tahun silam. Bagas menikahi Minah tanpa pekerjaan apa-apa. Kehidupan mereka sepenuhnya dibiayai oleh Minah yang telah menjadi pegawai negeri sipil sejak masih gadis. Sebenarnya sangat beruntung bagi Bagas mendapatkan Minah dengan penghasilan yang lumayan. Bagas seperti menikmati kemudahan dan kemurahan hati istrinya dengan tidak memilih bekerja tetap. Namun ia sangat fokus bergaya dengan fasilitas-fasilitas yang diberikan oleh istrinya termasuk mobil baru yang dibeli istrinya dengan cara kredit. Bagas kerap tebar pesona. Ia pernah beberapa kali bekerja namun tampak tidak sungguh-sungguh karena selalu membuat masalah di tem-

Edisi 910/ 18 - 24 juli 2016

Akhirnya Beban Itu Lepas

patnya bekerja. Sekali ia bekerja di perusahaan finance namun ia dipecat akibat menilep uang perusahaan yang dipercayakan kepadanya. Nilainya lumayan besar. Setelah itu ia kembali bekerja sebagai penjaga di sebuah kantor bank di Lombok Barat. Lagi-lagi ia membuat masalah dengan melarikan uang yang dititipkan untuk dijaga olehnya. Masalahnya itu saja, selalu soal uang. Hal yang sama juga terjadi ketika ia bekerja sebagai satpam di sebuah dealer mobil. Itulah sebabnya ia tidak lagi diterima bekerja di mana-mana. Sekian banyak uang yang dibawanya secara ilegal dari beberapa kantor tempatnya bekerja, terpaksa harus diganti oleh istrinya. “Istrinya tidak tahu kemana uang tersebut dibawanya karena Minah mengaku tidak pernah menerima uang dari Bagas selama suaminya itu bekerja,” kata Friska. Dari sinilah rupanya Minah mulai mencium ketidakberesan pada suaminya. Ia akhirnya tahu bahwa suaminya memiliki wanita idaman lain. “Parahnya, wanita idaman lain itu bukanlah perempuan baik-baik,” kata Friska yang mengenal perempuan itu sebagai penyanyi organ tunggal keliling di daerah asalnya di Pulau Jawa. Pekerjaan itu dibawa hingga sekarang dan ia menjadi perempuan penghibur yang dikenal banyak lelaki. Selama ini suaminya itu rupanya selalu hadir mengikuti ke mana pun artis kampung berupa wanita penghibur itu menyanyi. Hatinya rupanya terpaut dengan suara merdu sang biduan. Gayung bersambut karena sang biduan pun rupanya

tergila-gila pada Bagas. Perempuan itu memang akhirnya mengejar-ngejar Bagas yang sesungguhnya “tidak lari” ke mana-mana karena juga menginginkannya dengan sadar. Sampai akhirnya mereka menikah diam-diam dan Minah tidak mengetahuinya. Dalam pernikahan itulah Bagas berkali-kali membawa lari uang kantor yang kemudian digantikan oleh Minah sebagai pertanggung jawaban agar Bagar tidak dipenjara. Bukan itu saja, rupanya Bagas sempat membawa uang tabungan mereka yang seharusnya untuk biaya pendidikan empat anak perempuan mereka. “Minah memberi uang tersebut dengan sukarela kepada Bagas karena menurut Bagas ia pinjam sementara untuk ikut tender proyek kecil-kecilan,” ujar Friska. Namun rupanya semua itu bohong. Uang tersebut juga dipakainya untuk membeli tanah dan membangunkan rumah yang lumayan besar bagi perempuan penghibur yang sudah dinikahinya itu. MINTA CERAI Semua itu diketahui Minah setelah nasi telah menjadi bubur. Suaminya telah menikah dan memiliki seorang anak. Bagas mengaku menikah lagi karena menginginkan anak laki-laki. Sungguh alasan yang dibuat-buat dan tidak bisa diterima akal sehat. “Minah pun minta cerai. Namun Bagas menangis tersedusedu memohon-mohon agar Minah mengurungkan niatnya. Minah juga akhirnya luluh namun meminta agar Bagas menceraikan wanita penghibur itu,” kata Friska. Bagas memang menerima syarat

Ida Ayu Putu Puniadhi

Rendahnya Pendidikan Sumber Awal Masalah Anak Permasalahan anak tak pernah ada habisnya dan sangat kompleks. Namun menurut pemerhati anak, Ida Ayu Putu Puniadhi, permasalahan terbesar yang paling mendasar yang harus segera tertangani adalah anak putus sekolah. “Jangan lihat di Denpasar saja. Coba lihat ke perdesaan seperti di daerah Karangasem, Bangli, dan Buleleng, angka anak putus sekolah masih tinggi. Rendahnya pendidikan ini, side effectsnya luas sekali,” ungkap pengurus Lentera Anak Bali (LAB) pada divisi Pendidikan ini.

H

al ini berdasarkan pengalamannya bersama tim LAB yang pernah terjun langsung ke daerah perdesaan, salah satunya Desa Pedahan, Tianyar, Kubu, Karangasem. Selain terbentur fasilitas pendidikan seperti jarak tempuh yang jauh, kondisi ini diperparah lagi dengan rendahnya kesadaran orangtua untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Para orangtua beranggapan pendidikan tidak penting, yang paling penting adalah bekerja untuk mendapatkan uang guna memenuhi kebutuhan keluarga. “Selain itu, mereka juga memiliki banyak anak. Mereka mempekerjakan anak-anaknya diperkuat lagi dengan alasan orangtua mengasuh anaknya yang lain yang masih kecil, sehingga tak bisa bekerja, dan anaknyalah yang bekerja, sekolah

7

Ida Ayu Putu Puniadhi

distop,” tutur Bu Dayu geram. Inilah hal mendasar yang ditegaskan Bu Dayu yang harus segera ditangani pemerintah. “Ini sumber awalnya, anak tak mendapatkan pendidikan yang layak, sehingga anak tak punya keterampilan. Orangtua dengan latar pendidikan rendah dan miskin membuat pertahanannya rapuh sehingga sangat mudah diiming-imingi untuk mendapatkan sesuatu dengan instan. Tanpa disadari orangtua (kita) sudah membentuk premanisasi anak sejak kecil. Mental dan moral sepeti ini sangat

susah untuk dibenahi,” ucapnya miris. Dengan rendahnya pendidikan orangtua, meraka tak bisa mengarahkan anak. Ditambah lagi ketidakpedulian masyarakat. Untuk mendapatkan hasil banyak dan instan, mereka migrasi ke kota tanpa bekal ketrampilan, yang akhirnya menjadi gepeng. Yang lebih disayangkan lagi, mereka yang diiming-imingi mendapatkan gaji besar ini menjadi korban empuk dari perdagangan orang (trafficking). Dalam hal ini, orangtua kurang waspada dan terlalu longgar untuk mengizinkan anaknya diajak pergi. Mereka terjebak dengan janji-janji palsu untuk kepentingan diri dijual, dimanfaatkan kaum pedofilia. “Dalam kasus ini, sebenarnya secara tak langsung orangtua yang menjual anak pada pedofil karena ketidakmengertian mereka. “Semua itu bersumber dari pendidikan yang rendah dan kemiskinan,” tegasnya lagi. Kondisi ini mengusik hati Bu Dayu, yang kemudian membuat dirinya getol “berbuat” di bawah payung LAB. Keberadaan LAB ini, salah satunya menyentuh segi pendidikan dengan memberikan keterampilan baca tulis hitung, yang dikatakannya hal itu hanya sebagian kecil dari aspek anak. “Kami LAB berupaya mencarikan solusi untuk anak-anak putus sekolah di desanya. Pembelajaran dipusatkan di lantai 3 Pasar Badung (lokasi baru) untuk anakanak tukang suun yang banyak berasal dari daerah perdesaan di Karangasem,” ujarnya. Ketika sudah mendapatkan pen­

dari Minah dan mengaku akan segera mengurus perceraiannya. Sementara itu ada perasaan lega dalam hati Minah meski luka yang disayat suaminya akibat perselingkuhan itu tentu saja tidak dapat diobati. Ia akan menjadi luka yang tetap menganga dan membekas rasa sakit yang tiada berujung. Bagas makin sering berada di rumah sehingga tumbuh kepercayaan dari Minah bahwa ia memang telah menceraikan wanita penghibur itu. Tetapi, ia masih mendengar selentingan kabar yang datang dari jauh, bahwa suaminya itu rupanya masih menjalin hubungan dengan wanita tersebut. Sampai akhirnya di hari ketiga lebaran lalu, menjelang tengah malam, Minah mengendarai sepeda motor seorang diri mendatangi alamat yang diberikan orang yang bersimpati padanya. Setelah memastikan rumah sesuai alamat tersebut, Minah yakin di dalam rumah tersebut ada suaminya karena mobil yang dibelikannya itu terparkir di samping rumah. Tiba di teras rumah yang pintunya terbuka tersebut, betapa hancur hati Minah manakala melihat suaminya tengah tidur di samping wanita tersebut yang tengah menyusui bayi mereka. Dada Minah yang penyabar itu seketika terasa panas dan meledak membuncahkan rasa sakit yang teramat sangat. Tanpa sadar Minar berteriak sehingga mengundang perhatian tetangga yang akhirnya berdatangan. Minah hanya berdiri dan akhirnya terduduk lemas di teras tersebut. Ia tidak sampai mengobrak-abrik rumah apalagi mengamuk layaknya

perempuan lain. Hal inilah yang mengundang rasa simpati dari para tetangga wanita tersebut yang nyaris seluruhnya membantu Minah. Lucunya, begitu melihat Minah, bahkan sebelum Minah berteriak memanggil namanya, Bagas berpura-pura kesakitan untuk menarik perhatian Minah. Dia membuat dirinya seolaholah pingsan. Panas dan sakit hati Minah membuatnya sempat nyaris membakar rumah dan mobil Bagas. “Minah akhirnya tahu kalau uang pendidikan anak-anak yang dipinjam suaminya itu untuk membangun rumah bagi wanita penghibur itu,” kata Friska. Karena itulah ia sempat berniat membakarnya dalam keadaan sakit hati yang tak terkira. Beruntung para tetangga yang memang tidak menyukai Bagas dan wanita penghibur itu, meminta Minah untuk bersabar. Mereka juga yang kemudian mengantar Minah pulang ke rumahnya. Aparat desa yang juga datang pada ‘keributan’ malam itu, akhirnya membantunya memulangkan mobil Bagas kepada Minah karena STNK dan BPKB mobil tersebut atas nama Minah. Kini Minah tengah serius mengurus perceraiannya dengan Bagas. Ia tidak lagi memberi kesempatan kedua bagi suaminya itu. Minah bertekad untuk mengurus empat buah putrinya yang saat ini membutuhkan perhatian dan biaya yang tidak sedikit. Setidaknya hilang satu beban tanggung jawab Minah, yaitu Bagas yang tidak punya arti apaapa sebagai suami dan ayah kecuali selama ini hanya membawa masalah saja. -Naniek I. Taufan

Sudut Pandang didikan, hambatan lain pun datang dari diri mereka, yakni hak sipilnya tidak jelas. Mereka yang ditampung di LAB yang merupakan migrasi dari kabupaten lain yakni Bangli, Karangasem, Buleleng ini tak punya akte, keterangan domisili. Karena di Denpasar, semua syarat administratif itu harus ada dan jelas. Mereka (orangtua) belum paham fungsi KTP, akte, dsb. dan ini menjadi salah satu penghambat juga dalam penyaluran bantuan. Bu Dayu yang bersentuhan langsung dengan anakanak tukang suun ini juga mengungkapkan, aktivitas mereka sebagai tukang suun sebenarnya modus Bu Dayu dari LAB saat memberikan Sosialisasi tentang hak anak terutama dalam pendidikan di salah satu mengemis (mengemis sekolah di Denpasar terselubung) yang terpusat di Denpasar dan Badung. Kare­ dari pemerintah daerah. Seharusnya na tak sedikit dari mereka yang juga pengangkatan guru di pedalaman menjual gelang, pisau secara paksa. diprioritaskan,” ucapnya. Kemiskinan dan faktor banyak Sehingga dari kecil mental anak adalah uang, uang, dan uang. Kondisi ini rentan anak (umumnya lebih dari 5 anak), sekali diiming-imingi yang bermuara dicermatinya juga karena fasilitas pada anak sebagai korban. Karena itu, puskesmas untuk mereka ikut KB menurutnya orangtuanya yang harus jauh. Jadi yang mendasar sekali, Bu Dayu berharap adanya pemerataan disadarkan. Ia berharap, pemerintah harus peka terhadap fasilitas pendidikan, wajar 12 dan tanggap, banyak kasus anak yang tahun harus kembali digalakkan. Denharus dicermati. Harus melihat fasilitas gan wajib belajar (wajar), banyak hal pendidikan di perdesaan. Belum lagi, yang akan didapat anak. Berikutnya, kurangnya perhatian terhadap guru- fasilitas kesehatan untuk pelaksanaan guru yang mengabdi di perdesaan, program KB. Juga, hak sipil anak bahkan ada yang mengabdi puluhan terkait pencatatan kependudukan. –Inten Indrawati tahun belum diangkat. “Tak ada award


8

Bunda & Ananda

Edisi 910/ 18 - 24 juli 2016

Perhatikan Kesiapan Mental Anak Tahun ajaran baru sudah mulai, anak-anak sudah mulai masuk sekolah. Orangtua tak kalah sibuknya untuk mengurus anak-anak. Persiapan masuk sekolah ternyata memberi banyak pengalaman. Seberapa besar peran orangtua dalam memilihkan sekolah untuk anaknya?

Sagung Ratna

B

u Indra tersenyum saat melihat putri bungsunya masuk kelas. Ia memilih menemani putrinya yang baru masuk sekolah dasar. Sembari memperhatikan putrinya dari luar kelas, ia menuturkan pengalamannya mencari sekolah. “Saya memilih sekolah negeri yang dekat dengan rumah. Kebetulan ada teman kantor yang

anaknya pernah sekolah di sini. Saya banyak bertanya tentang kualitas sekolah. Ternyata apa yang disampaikan teman cocok dengan keinginan saya dan putri saya,” ungkapnya. Ia pun memantapkan diri untuk mendaftarkan putrinya. Dari hasil tes, sang putri dinyatakan lolos. Bu Indra pun senang karena sekolah anaknya tak jauh dari rumah. Urusan antar-jemput pun bisa diatur. Pengalaman Bu Sari beda lagi. Ia ingin putri sulungnya masuk sekolah negeri tempat keponakannya bersekolah. Alasannya, sekolah tersebut kualitasnya bagus dan gampang urusan antar-jemput. Saat mendaftar, ia berusaha datang sepagi mungkin. Namun, sang putri tak diterima. Alasannya, sekolah memprioritaskan warga lokal. “Saya dan suami bingung karena waktu pendaftaran sudah

Amel

Main Catur dengan “Tablet”

Lahir dari keluarga yang hobi bermain catur, Fatimah Azzahra (13) mahir memainkan bidak-bidak catur sejak usianya masih sangat kecil. Amel, panggilan akrabnya, telah menjadi bintang catur bahkan sejak kelas dua SD di Kecamatan Bolo Kabupaten Bima. Prestasi yang diraih siswa yang baru saja naik kelas dua di SMPN 1 Bolo ini, terus cemerlang hingga ia menjadi juara catur di tingkat Kabupaten Bima, lalu tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat dan juga tingkat nasional. Prestasi Amel diraih dengan cara yang unik. Ia tidak pernah berlatih khusus untuk mengawali prestasinya itu bahkan orangtuanya tidak pernah mengajarkannya secara khusus bermain catur. Amel kecil mulai bermain catur sejak usianya masih sangat kecil. Awalnya dia sering ikut duduk di dekat ayahnya yang bermain catur dengan para penghobi catur di Desa Rato. “Kami pikir dia hanya duduk menonton saja, tetapi ternyata dia melihat dan mengamati permainan catur yang dilakukan orang dewasa itu,” kata Sukartiningsih, ibundanya. Amel rupanya memiliki bakat yang sangat besar yang menurun dari kakek neneknya (dari ayahnya) dan juga bakat dari ayahnya. Kakek dan nenek serta ayahnya juga pernah menjuarai ajang catur di NTB. Bakat besar yang ada dalam dirinya hampir luput dari perhatian orang tuanya Sukartiningsih (37) dan Muslim (37). Dari sering melihat dan mengamati orang bermain catur, Amel memulai bermain catur sebagai hobi. Sampai akhirnya saat usianya tujuh tahun dan ia duduk di kelas satu SD Amel telah mahir bermain catur dan mulai mengikuti lomba-lomba catur di tingkat kecamatan. Tampil perdana dalam lomba ini, Amel gagal. Kelas dua SD Amel kembali ikut ajang lomba catur dan langsung berhasil meraih Juara I tingkat Kecamatan Bolo. Tahun berikutnya ia meraih juara I dalam ajang O2SN SD tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat. “Saat itu Amel mewakili Provinsi NTB dalam O2SN tingkat Nasional dan keluar sebagai juara IV,” ujar Ningsih. Prestasi Amel dalam bidang catur terus cemerlang. Tahun 2016 ini, saat duduk di bangku kelas 1 SMP lalu, ia kembali menjuarai catur dalam ajang O2SN Provinsi NTB sebagai Juara I. Karena itu Amel kembali mewakili Provinsi NTB bertarung di papan catur pada O2SN tingkat Nasional di Jakarta yang akan digelar mulai tanggal 24 Juli 2016 mendatang. Jika kali ini ia berhasil meraih Juara I Nasional, maka ia berhak mengaikuti lomba catur internasional yang akan digelar di Rio De Jeneiro, Brazil pada bulan November 2016 mendatang. Amel kini tidak lagi berlatih catur secara manual melainkan ia berlatih bermain catur secara on line. “Sehari-hari saya sering melihatnya banyak di kamar, ia bermain catur dengan “tablet”,” ungkap Ningsih. Prestasi Amel dalam bidang catur rupanya berbanding lurus dengan prestasinya di sekolah. Sejauh ini, menurut Ningsih, Amel selalu masuk dalam tiga besar juara kelas. -Naniek I. Taufan

selesai. Saya akhirnya mencari sekolah swasta. Ada saudara yang anaknya sekolah di sekoalh swasta. Saya tanya-tanya. Setelah merasa cocok, saya langsung daftar. Syukurnya bisa diterima. Walaupun agak jauh dari rumah, tetapi demi anak, tidak masalah,” ujar ibu dua putri ini. Menurut Sagung Ratna Ari Dian Pramita Sari, S.Psi,, orangtua sangat berperan dalam menentukan dan memilih sekolah untuk putraputrinya. “Masing-masing orangtua pasti ingin putra-putrinya mendapatkan sekolah yang berkualitas baik. Memilih sekolah untuk anak adalah hal penting untuk mempersiapkan masa depan anak, namun peranan tersebut bukan berarti harus memaksakan keinginan terhadap anak,” ujar psikolog lulusan Universitas Persada Indonesia Y.A.I. ini. Gung Ratna menjelaskan memaksakan kehendak atau keinginan orangtua dalam menentukan sekolah untuk anak dapat berdampak negatif bagi diri anak. Sekalipun orangtua memilih sekolah yang dirasa berkualitas baik oleh orang tua namun tidak bagi anak maka anak akan merasa tertekan dan malas belajar karena anak memiliki

pandangan lain terhadap sekolah pilihan orang tua maka dengan rasa tertekan itu anak tidak dapat menunjukkan prestasi belajarnya. “Sering kali orangtua merasa bahwa sekolah yang memiliki kualitas baik adalah sekolah yang mahal, namun di era global seperti saat ini sekolah–sekolah sudah mulai bersaing dalam meningkatkan mutu dan kualitasnya baik dari segi pengajar, metode pengajaran yang tidak terlepas dari kurikulum yang ada,” ujar perempuan kelahiran Tabanan, 29 Januari 1988 ini. Dalam hal ini orangtua dapat mempertimbangkan beberapa hal dalam memilih sekolah untuk anak. Pertama, membiarkan anak untuk ikut terlibat dalam pemilihan sekolah dan mencari informasi tentang sekolah yang dipilih. Maka dengan demikian anak akan tahu apa kelebihan dan kekurangan dari sekolah pilihannya. Kedua, situasi dan lingkungan sekolah. Biarkan anak terlibat dalam melakukan observasi terhadap sekolah pilihannya. melihat secara langsung bagaimana lingkungan dan situasi di sekolah tersebut. Dimana lingkungan sekitar juga memiliki pengaruh pada pembentukan karakter diri anak nantinya. Ketiga, perbandingan jumlah guru dan siswa di kelas. Pelajaran yang disampaikan oleh guru akan lebih mudah diterima oleh siswa yang jumlah satu kelasnya tidak melebihi kuota yang sewajarnya sehingga kegiatan belajar mengajar menjadi efektif. Keempat, izin sekolah. Seringkali orangtua melewatkan momen ini, saat ini

banyak sekolah yang tutup diakibatkan karena tidak memiliki izin yang jelas. Kelima, kematangan sosial anak. Kesiapan mental dan kematangan sosial sangat berperan penting dimana jika anak sudah matang dalam kehidupan sosialnya maka anak sudah siap untuk masuk dalam dunia baru yaitu lingkungan sekolah dimana anak akan bertemu teman-teman baru, pengajar serta orang-orang baru yang ada di sekelilingnya. Kematangan social yang dikemukakan oleh Doll (1965) mencakup beberapa aspek, diantaranya menolong diri sendiri (self-help), mengarahkan pada diri sendiri (self-direction), adanya aktifitas gerak (locomotion), pekerjaan (occupation), sosialisasi (socialization), dan komunikasi (communication). “Peran orangtua dalam memilih sekolah untuk anak sangatlah penting. Sekolah mahal dan sekolah yang biaya pendidikannya tidak mahal memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Satu hal yang harus kita perhatikan sebagai orangtua bahwa sekolah adalah sarana penunjang pendidikan untuk anak meraih keberhasilannya dimasa mendatang namun yang terpenting disini adalah bagaimana peranan orangtua dalam memberikan pelajaran moral dan kedisiplinan sehingga terbentuk suatu karakter dan kepribadian yang baik pada diri anak,” tegas HR & GA Coordinator PT.Karya Cipta Balindo (Bali Beach Golf Course & Sector Restaurant) ini. –Ngurah Budi

Mendongeng Lima Menit

KULKUL BULUS I BELATUK

Pada suatu hari hewan-hewan di hutan ketakutan. Ada yang bersembunyi, ada yang lari tak tentu arah. Sebabnya tak lain, I Belatuk, seekor burung pelatuk memukul kulkul bulus di baMade Taro tang kelapa. Tong, tong, tong…! Tong, tong, tong…! I Lutung, seekor kera kepercayaan raja hutan, berlari tergopoh-gopoh menuju istana. “Tuanku Prabu Singa! Sungguh gawat kerajaan kita! Semua penghuni ketakutan.” “Apa yang terjadi, Lutung?” tanya Prabu Singa. “I Belatuk memukul kulkul bulus, Tuanku.” “Kalau demikian cari sebab-musababnya. Warga yang bersalah akan dihukum berat.” I Lutung mendatangi I Belatuk. “Belatuk, mengapa kamu memukul kulkul bulus?” “Gawat, Lutung! I Siput lari terbirit-birit mengangkut rumahnya.” I Lutung langsung menemui I Siput. “Hai, Siput! Mengapa kamu lari terbirit-birit mengangkut rumah?” “Aku takut rumahku terbakar, sebab I Kunangkunang mondar-mondir membawa api.” “Hai, Kunang-kunang! Mengapa kamu membawa api?” “Aku khawatir banyak warga yang terperosok

masuk lubang, sebab kumbang tanah yang bernama I Beduda membuat lubang-lubang menganga.” “Hai, Beduda! Mengapa kamu membuat lubang menganga?” “Lihat itu, I Sampi berak di sembarang tempat. Kotoran itu aku timbun dalam tanah, sehingga lingkungan kita bersih dan sehat.” “Hai, Sampi! Jorok benar kau! Mengapa kau membuang kotoran di sembarang tempat? Kotoranmu menyebabkan Beduda membuat lubang, lubang itu menyebabkan kunang-kunang membawa api penerangan, api itu menakutkan I Siput sehingga ia mengangkut rumahnya ke mana-mana, dan keadaan yang mencurigakan itu membuat I Belatuk memukul kulkul bulus. Kaulah sebab-musababnya! Sekarang, datanglah ke istana untuk mempertanggung-jawabkan perbutanmu!” Setiba di istana, I Sampi dibentak oleh Prabu Singa. “Hai, Sampi! Sikapmu tidak juga berubah. Kamu masih saja membenci aku yang menjadi raja di hutan ini.” kata Prabu Singa setelah mendengar penjelasan I Lutung. I Sampi tenang saja. Sedikit pun tidak merasa gentar berhadapan dengan Singa. Ia menatap Prabu Singa sambil mengunyah makanan, dan melirik I Lutung sambil tersenyum. Prabu Singa marah, lalu menyepak mulut I Sampi. Gigi sapi bagian atas terlepas. Itulah sebabnya sampai sekarang sapi-sapi tidak pernah memperlihatkan rahang atasnya. (Bali) bulus = bunyi bertalu-talu

Griya

Edisi 910/ 18 - 24 juli 2016

17

Batu Sikat Pemanis Taman Berkreasi dengan material batu alam memang tak ada habisnya, selalu menarik dan selalu ada hal yang baru. Banyaknya varian batu alam membuat kita lebih leluasa berkreasi untuk memberikan suasana rumah berbeda, menjadikannya asri dan dan selalu nyaman untuk dinikmati. Salah satu penggunaan batu alam yang banyak diaplikasikan pada outdoor adalah batu sikat.

Ahmad Puspito

S

ejatinya, ada beberapa jenis batu yang dipakai, seperti batu koral dengan beragam ukuran, bentuk dan warna. Dan, karena proses finishingnya seringkali disikat untuk menghilangkan sisa semen, maka batu ini umum disebut dengan batu sikat. Ahmad Puspito, salah seorang karyawan Site On yang berlokasi di Jalan Krobokan, Denpasar mengatakan ada dua pilihan pengerjaan batu sikat, yakni pemasangan di tempat dan stepping stone. Stepping stone merupakan batu pijakan untuk taman yang dibuat (cetakan) dari campuran s e -

men, pasir dan batu alam– biasanya koral sikat sebagai pelapis permukaannya. Ia mengatakan, konsumen lebih banyak mencari stepping stone karena dari segi harga jauh lebih murah dan praktis. Kelemahannya, ketika diaplikasikan pada lahan, sambungan keliatan. “Karena itu, stepping lebih pas jika diaplikasikan sebagai jalan

setapak,” ujarnya. Batu cetakan yang biasa disebut batu sikat stepping ini tersedia dengan berbagai ukuran standar, yakni 20x20 cm, 40x40cm, 60x60cm, 1x1m. “Jika ingin ukuran di luar itu, biasanya konsumen memesan dulu. Begitu juga jika menginginkan motif khusus, yang tentunya harga lebih mahal karena harus membuat

yang didominasi konsumen lokal ini lebih memilih pemasangan di tempat. Harganya memang

lebih mahal, hitungan per meter persegi. Harga mulai Rp 180 ribu belum termasuk penghabisan semen dan pasir. Selain itu, harga disesuaikan dengan jenis batu yang dipilih, motif, serta kondisi lahan yang akan dipasangi batu sikat. Pemasangan batu sikat di tempat ini banyak diaplikasikan sebagai cover lahan, seperti pada carport atau di taman.

des a i n baru lagi,” jelasnya. Batu sikat stepping banyak digunakan sebagai jalan setapak/batu pijakan pemanis taman. Batu sikat stepping ini pun tersedia dengan beragam jenis batu dan motif. Ada batu hijau atau sering disebut gravel, telur puyuh, onix, marber hitam random (acak), marbel stik, marbel merah, mix hijau, bahkan ada stepping refleksi, jenis batunya lebih besar dan sengaja dipasang berdiri untuk mendapatkan sensasi pijatan (refleksi) pada kaki. Sementara untuk mendapatkan hasil yang lebih bagus dan rapi, konsumen batu sikat

Beragam jenis dan motif batu sikat

–Inten Indrawati


16

Tahun ajaran baru, bagi siswa yang baru masuk ke jenjang yang lebih tinggi diwajibkan untuk mengikuti masa orientasi sekolah (MOS). MOS lazim dijumpai di setiap sekolah mulai dari tingkat SMP, SMA, dan perguruan tinggi. Hampir semua sekolah baik negeri maupun swasta menggunakan cara tersebut untuk mengenalkan almamater kepada calon peserta didik baru. MOS juga dipakai sebagai sarana pengena­ lan siswa terhadap lingkungan sekolah yang baru. Akan tetapi, orientasi yang bertujuan untuk melatih ketahanan mental, disiplin, dan mempererat tali persaudaraan kerap kali menjadi ajang perpeloncoan atau ajang balas dendam.

M

Edukasi

Edisi 910/ 18 - 24 juli 2016

enurut Kepala SMA 1 Singaraja I Putu Eka Wilantara, Masa Orientasi Peserta Didik Baru (MOPDB) tahun ini memang dilaksanakan lebih humanis melalui Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). “Dulunya MOS sekarang namanya MPLS,” ujarnya. Bergantinya MOS menjadi MPLS bertujuan untuk mengubah paradigma MOS sebagai ajang perploncoan. “Tahun lalu memang sudah tidak ada yang namanya perploncoan, tetapi dengan adanya MPLS ini kami sangat berusaha menciptakan situasi yang menyenangkan,” paparnya. Wilantara juga mengungkapkan bahwa dalam pengenalan lingkungan sekolah pihaknya menciptakan kegiatan-kegiatan yang bersifat edukatif, menyenangkan,

Senangkan Siswa dengan Orientasi Humanis tiga tahun menjabat tersebut. Jika MPLS dilakukan lebih humanis bukan berarti tidak dapat membentuk ketahanan mental siswa hanya saja cara dalam penyampaiannya yang berbeda. “Sebenarnya tujuannya sama dan pada akhirnya akan bermuara ditempat yang sama,” tandasnya. Jika dalam MOS siswa diberi tugas yang ‘tidak masuk akal’ maka dalam MPLS tugas yang diberikan lebih mendidik. “Dalam MPLS siswa misalnya diberikan tugas 5 buah, jika tidak dapat dikerjakan semua tidak akan dihukum justru yang mengerjakan terbaik akan

diberikan hadiah,” jelasnya. Memang secara pelaksanaan antara MOS dan MPLS sangat berbeda. Seluruh kegiatan dalam MPLS dirancang oleh guru sedangkan siswa hanya sebagai pendamping. Siswa atau OSIS dilibatkan apabila tenaga guru dirasa tidak mencukupi untuk melaksanakan kegiatan tersebut. “Membawa aksesoris yang berlebihan juga tidak dianjurkan atau mencari produk-produk yang dapat membingungkan siswa,” ujarnya. Dalam pelaksanaan MPLS yang dirasa sangat humanis, Wilantara juga menyisipkan kegiatan KSPAN (Kelompok Siswa

Peduli Aids dan Narkoba) yang merupakan program dari kabupaten. Hal ini untuk menekankan kepada siswa tentang bahaya narkoba dan AIDS tersebut. “Di sekolah kami memiliki ekstra itu dan kami juga ada SCC (Smansa Conseling Club) yang berguna untuk membimbing anak dalam pencegahan terhadap hal-hal negatif,” jelasnya. Ia juga sangat berharap jika MPLS tersebut dapat menyamakan visi dan misi peserta didik baru yang berasal dari latar belakang berbeda sehingga memiliki pemikiran yang searah agar bersiap mengikuti pembelajaran selanjutnya. –Wiwin

I Putu Eka Wilantara

dan kreatif. Pihaknya juga berusaha menciptakan kegiatan yang dapat menggali potensi diri siswa, mengenal sarana dan prasarana sekolah, dan komunikasi antar siswa. “Intinya siswa baru tersebut senang memasuki lingkungan sekolah,” tambahnya. Kegiatan MPLS yang berlangsung selama tiga hari berupa kegiatan untuk membentuk kedisiplinan, penyampaian informasi mengenai program sekolah yang disampaikan oleh kepala sekolah, wakil kepala sekolah, maupun kepala tata usaha, dan pengembangan potensi. “Disela-sela juga kami sisipkan kegiatan KSPAN,” imbuhnya Wilantara yang sudah

Dara

d n a B k n a Niw

Bermusik bukanlah hal yang mudah, apalagi jika dalam berkarya tidak memiliki visi dan misi yang sama. Sebuah band akan terasa lengkap jika memiliki personil yang utuh. Keutuhan yang dimaksud bukanlah perkara kuantitas melainkan kualitas baik individu maupun musik itu sendiri. Hal itulah membuat band yang terbentuk 28 Oktober 2007 ini mengalami beberapa kali pergantian personil.

Cinta tak Pernah Habis

N

iwank band merupakan band beraliran rock alternative yang berasal dari Buleleng. “Niwank dibentuk oleh senior kami dan sempat beberapa kali mengalami beberapa kali pergantian personil, astungkara tahun ini personil tetap,” ujan Apriana, sang vokalis. Band yang memiliki formasi Apriana (vocal), Dek’an (gitar), Agus (bass), dan Permadi (drum) ini mengaku jika dalam lagu-lagunya yang diciptakan menggunakan bahasa Bali dan lagu bahasa Indonesia. Memilih kedua bahasa tersebut dalam menciptakan lagu dikarenakan

Perwakilan siswa dengan Wakil Bupati, Ketua DPRD, dan Ketua Dewan Pendidikan

Foto Di Atas Jurang Bali memiliki pesona alam yang luar biasa. Pemandangan bukan hanya di pantai dan tebing, kini banyak tempat wisata yang mengeksplorasi kebun kopi dan jurang. Salah satunya di Bali Pulina di daerah Tegallalang, Gia­ nyar. “ S a y a lihat di internet ada spot foto di atas jurang. Ini pilihan baru untuk berwisata di Bali. Pas liburan ke

Bali, langsung saya ajak keluarga untuk meng­u njungi tempat ini,” ujar Niko, warga Surabaya. Ia pun menuju lokasi dengan pan­duan aplikasi penunjuk arah. Dengan harga tiket Rp 100 ribu untuk dewasa dan gratis untuk anak-anak, ia pun memanfaatkan kesempatan mengenal kebun kopi plus belajar cara pengolahan kopi. Niko dan keluarganya juga mendapat penjelasan bagaimana kopi luwak diproduksi. Proses pengolahan sederhana di dapur pun menjadi bagian dari pengalaman pengunjung. Mereka bisa melihat penjemuran kopi yang sudah dipisahkan sesuai ukuran, kemudian menyangrai, hingga menumbuk kopi. Semua ini bisa difoto untuk dijadikan kenangan. Pe n g u n j u n g juga diberi contoh delapan minuman. Selanjutnya dipersilakan memilih

Edisi 910/ 18 - 24 juli 2016

S

kecintaannya terhadapa bahasa Bali dan bahasa Indonesia. “Kami kan orang Bali, selain itu kami juga sering manggung di festival band dan nyanyi lagu bahasa Indonesia akhirnya kami coba buat dengan bahasa Indonesia,” ungkap Apriana. Ia juga menambahkan jika lagu-lagu berbahasa Indonesia yang diciptakan memang sangat diniminati oleh pendengarnya. Tema-tema yang diangkat pun masih seputaran cinta yang tentunya masih sangat dekat dengan masyarakat pendengarnya. “Single andalan di album pertama berjudul Rindu Mantan,” imbuh Permadi. Menurutnya tema cinta

E

X DU

yang diambil memang tidak pernah ada habisnya dan selalu ada hal yang menarik untuk dibahas. Ditambahkan oleh Dek’an sang gitaris, nama Niwank sendiri secara harfiah tidak memiliki arti. Akan tetapi nama Niwank terinspirasi dari nama sebuah band legendaris Nirvana. “Di buat oleh senior (Gusti Crefuck) yang ingin sebuah nama yang menyerupai nama Nirvana hingga akhirnya tercetuslah nama Niwank,” ujar Dek’an. Para personilnya pun memadankan nama Niwank dengan ngefly yang diartikan terbang membumbung tinggi tanpa batas.

Memiliki pengalaman berganti-ganti personil membuat para personil Niwank tetap menjaga komunikasi. Bagi mereka komunikasi dalam sebuah band adalah hal yang paling utama karena kesibukan masing-masing personil. Menurut sang vokalis, memang sangat susah menentukan waktu latihan tanpa menganggu aktivitas yang lain, akan tetapi karena semua personil sudah menggunakan media sosial maka ketika disepakati latihan akan dilakukan. “Kami tidak ada jadwal latihan yang pasti, kami fleksibel aja kalau ada waktu ya langsung info yang lain dan latihan,” tambahnya.

9

“Kami kan orang Bali, selain itu kami juga sering manggung di festival band dan nyanyi lagu bahasa Indonesia akhirnya kami coba buat dengan bahasa Indonesia,” Band yang akan launching album kedua di awal Agustus ini juga mengatakan bahwa hal yang tersulit dilalui dalam bermusik adalah menyatukan inspirasi. Hal ini dikarenakan masing-masing pesonil memiliki pendapat, ide maupun inspirasi yang berbeda sehingga jika tidak dicari jalan tengahnya akan menimbulkan perdebatan yang berujung perpecahan. “Biasanya kami akan mengeluarkan pendapat masingmasing, mana yang baik akan kami saring dan yang tidak akan kami buang,” jelas Apriana. Sembilan tahun malang melintang di blantika musik membuat Niwank band sangat paham dengan kondisi pemusik-pemusik yang bermunculan khususnya di Buleleng. Menurut mereka banyaknya musisi-musisi yang bermunculan tidak menyurutkan semangat dalam bermusik melainkan sangat memotivasi untuk menciptakan karya-karya yang lebih baik lagi. -Wiwin

Kirim surat Anda ke Redaksi ­Tokoh dan cantumkan “Sex Edu” di amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh.co.id. Rubrik ini ­diasuh ­Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI) ­Denpasar.

dr. Oka Negara, FIAS

MERAWAT RAMBUT KELAMIN

satu untuk dipesan dilengkapi dengan kudapan berupa pisang goreng. Mau menambah kudapan lain, juga bisa tetapi dikenakan biaya tambahan. Setelah puas menikmati kopi dan kudapan, bisa turun ke spot foto. Background pemandangan jurang di seberang menjadi sangat indah. Pengambilan foto lebih baik dilakukan dari atas agar pemandangan terlihat jelas. Warna langit biru berpadu dengan hijaunya tanaman, lantai kayu berwarna coklat. Tak cukup hanya di spot foto itu, pengunjung bisa turun ke bawah. Ada “jembatan goyang” dan kolam berair jernih. Turun ke jurang kemudian naik lagi cukup menguras energi. Namun, semua sepadan dengan pengalaman berwisata di alam terbuka. –Ngurah Budi

“Dok, saya ingin bertanya tentang rambut kelamin. Baiknya dibiarkan atau malah dicukur habis? Soalnya suami bilang lebih bergairah kalau rambut kelamin saya lebih lebat, lebih seksi katanya. Tetapi banyak teman yang meminta saya buat menggundulinya, katanya itu yang lebih menarik, dan menyarankan saya mencabut rambut pubis atau menghabiskannya dengan cara di”waxing”. Menurut dokter, itu bagaimana? Saat ini sih saya cukup potong rapi saja, biar tidak terlalu lebat. Terima kasih” (Nita, 25 thn) Vagina harus dijaga kebersihannya. Selalu menjaga kebersihan vagina tidak hanya akan menguntungkan perempuan, tetapi juga pasangannya. Pada kenyataannya, banyak perempuan yang kurang memperhatikan kebersihan vagina dan sekitarnya dan ini dapat memicu risiko kesehatan yang cukup serius. Termasuk salah satunya adalah tidak memperhatikan bagaimana merawat rambut kelamin. Ketika sudah mulai puber atau menuju dewasa, setiap orang akan mengalami

perubahan pada fisiknya, salah satunya adalah tumbuhnya rambut-rambut, termasuk rambut di kelamin, yang disebut dengan rambut pubis. Apa yang dilakukan sebenarnya sudah cukup tepat, karena walaupun ternyata rambut pubis bisa menjadi daya tarik seksual juga bagi sebagian laki-laki, tetapi sudah seharusnya memang rambut pubis jangan dibiarkan tidak teratur dan terlalu lebat, karena jika terlalu lebat akan juga membuat area vagina dan sekitarnya menjadi lebih lembab sehingga mempermudah tumbuhnya jamur. Keringat dan rambut pubis dapat menyatu sehingga menimbulkan bau tak sedap, seperti halnya bau menyengat pada ketiak. Jadi memang harus dibersihkan sesering mungkin untuk mencegah akumulasi keringat, terutama karena bagian tersebut hampir selalu tertutup oleh pakaian. Area antara vagina dan anus pun harus selalu bersih dan bebas dari bau berlebih. Tentang mencabut rambut pubis, sebenarnya tidak akan menimbulkan akibat buruk apapun, selama dilakukan

dengan hati-hati dan tidak menggunakan alat bantu yang kotor, misalnya menggunakan pinset yang kotor tentu saja bisa mengakibatkan iritasi atau bahkan infeksi. Demikian juga bila ingin mencabut keseluruhan rambut dengan menggunakan pencabutan menggunakan perekat khusus dengan cara “waxing”, selama alat dan bahan yang digunakan tidaklah kotor, akan sedikit akibat buruknya. Tetapi tentu saja proses pencabutan seperti ini akan menimbulkan rasa sakit. Yang kemudian perlu diingat adalah, jika seluruh atau sebagian besar rambut pubis dihilangkan sampai bersih, atau terlihat gundul, walau memang akan lebih mudah dibersihkan tetapi ada kemungkinan resiko lebih mudah mengalami perlecetan saat mengalami gesekan, baik itu saat berhubungan seksual atau gesekan dengan pakaian dalam. Dalam keadaan ini, rambut kelamin sesungguhnya bermanfaat untuk mencegah gesekan tersebut sekaligus menjaga kelembaban area sekitar vagina. Akan lebih baik pilihan bisa dilakukan dengan menggunting atau mencukur rapi

saja rambut pubis, dengan menyisakan sebagian rambut, jadi tidak dihabiskan semua. Dengan dicukur atau digunting rapi, tentu saja tidak akan terasa sakit, lebih praktis dan rambut pubis bisa menjalankan fungsinya untuk melindungi gesekan termasuk menjaga kelembaban seputar vagina. Dengan dipotong pendek dan rapi sekaligus juga bisa mencegah kejadian rambut pubis yang panjang yang bisa tertarik masuk saat berhubungan seksual, yang bisa memunculkan rasa nyeri juga saat itu. Satu lagi, jangan lupa buat selalu menjaga kebersihan pakaian dalam. Seringlah mengganti pakaian dalam, minimal sehari dua kali setelah mandi, untuk menghindari jamur dan bakteri yang berasal dari pakaian dalam melekat juga pada rambut pubis atau langsung pada vagina jika rambut pubis dihabiskan. Sesungguhnya, upaya-upaya ini semua masuk ke dalam konsep merawat dan membersihkan kelamin yang perlu dilakukan dalam kaitan dengan hubungan seksual dan kebersihan organ seksual.


10

Edisi 910/ 18 - 24 juli 2016

Kreasi

Genjek

Style

Edisi 910/ 18 - 24 juli 2016

Kasual Endek Tonjolkan Spontanitas Anak-anak dan Improvisasi A

ksi dan lenggak lenggok mereka tak kalah dengan para model dewasa. Penonton pun bertepuk tangan meriah melihat penampilan anak-anak di atas cat walk saat mengikuti “Lomba Fashion Show Casual Endek untuk Anak-anak” yang diselenggarakan Duabe Model di Warung Pan Yoga, Jimbaran belum lama ini. Dalam lomba ini, para model cilik ini mampu mempertontonkan keahliannya berlenggang dan melakukan

Sekitar tahun 1990-an, kaum muda pria Bali tampak gandrung ber-genjek ria, “hiburan baru” yang merupakan perpaduan antara seni vokal dan gerak. Euforia genjek saat itu bisa hadir dalam suasana suka dan duka. Ia bisa marak dalam acara perkawinan. Ia bisa menjadi pelipur atau teman begadang saat ada hajatan kematian. Demikian pula di pojok bale banjar, pos siskampling, warung kopi, di bawah rindang pohon atau di pantai dengan mudah dapat dipergoki orang magenjekan. Saat musim kampanye pada pemilu ketika itu, genjek didaulat menjadi corong sejumlah organisasi sosial politik tertentu.

O

leh popularitasnya itu, menyebabkan Pesta Kesenian Bali (PKB) XIX tahun 1999 tak lupa menampilkannya. Dalam pesta seni yang khusus menggelar berbagai kesenian rakyat tersebut, genjek dilombakan. Setiap kabupaten di Bali dengan penuh gairah mempertontonkan aksi genjek-nya. Sambutan penonton luar biasa. Panggung tempat pentas genjek ini dimainkan selalu sesak. Etimologi genjek tak jelas. “Secara etimologi, arti kata genjek belum ditemukan dalam bahasa Bali. Dalam buku yang berjudul Tata Bahasa Bali Ringkes oleh I Nengah Tinggen, memprediksi kata genjek berasal dari gonjak yang artinya bersenda gurau. Memang kata gonjak yang dalam bentuk kata kerjanya menjadi megonjakan memiliki sifat yang sama dengan seni genjek, yaitu bersenda gurau untuk menghibur diri yang sering diselingi nyanyian. Kemungkinan lainnya adalah kata genjek merupakan peniruan bunyi

atau onomatopea dari pendengaran sepintas paduan berbagai jenis suara tersebut yaitu gen-jek, gen-jek…, dan seterusnya,” papar Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha. S.SKar., M.Hum dalam orasi ilmiahnya bertajuk “Genjek sebuah Seni Vokal Bali: Pembentukan dan Perkembangannya”, saat dikukuhkan sebagai guru besar di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, 30 Juni 2016. Sebenarnya seni vokal dan tari sejenis genjek dapat dise­ jajarkan dengan cak di Bali Selatan, cakepung di Bali Timur dan rengganis di Bali Utara. Namun genjek lebih fleksibel. Ia dapat dibawakan dimana dan kapan saja. Tak terikat dengan jumlah pemain. Tiga orang bisa. Dalam jumlah yang lebih banyak tentu akan lebih seru. Lagu-lagu yang didendangkan pun bebas bahkan dapat dikarang saat permainan sedang berlangsung. Unsur spontanitas dan improvisasi begitu menonjol. Genjek dimainkan secara duduk. Seseorang biasanya bertindak sebagai pimpinan. Tugasnya memberi komando dalam hal memulai atau mengakhiri lagu, selain juga mengendalikan irama lagu dan gerak-gerak tari para peserta. Menari dalam genjek tidak harus berdiri. Cukup duduk dengan menggerak-gerakkan ba-

dan, tangan dan kepala. Tariannya pun tak harus bersumber dari perbendaharaan tari Bali namun bebas, spontan dan alami. Setiap lagu didendangkan menjadi dua tahap. Tahap pertama dinyanyikan secara bersama-sama isi lengkap lagunya. Baru pada tahap kedua diberi ornamentasi. Seseorang bertugas mengumandangkan melodinya dan para peserta lainnya mengisinya dengan menirukan bunyi berbagai instrumen dalam gamelan Bali seperti kendang, cengceng, gong dan sebagainya. Pada bagian inilah seluruh peserta menari sembari menyanyi riang. Kegembiraan adalah menjadi ciri seni genjek. Keceriaan ini muncul dari lagu-lagu yang dimainkan. Umumnya bertutur tentang suka dan manisnya dunia anak muda. Kalaupun berkisah tentang duka dan getirnya kehidupan mereka, seperti kemiskinan dan sulitnya mencari pekerjaan misalnya, biasanya dilontarkan dengan lagu dan lirik yang bernuansa humoristik. Akan tetapi kekocakan dan kegembiraan genjek tampak agak terpasung ketika ia diangkat ke

atas pentas seni. Dalam lombalomba genjek, seperti dalam arena PKB, entah diharuskan atau tidak, hampir seluruh grup genjek latah menyampaikan pesan-pesan pembangunan. Bukan tak perlu. Tapi terasa amat dipaksakan selain porsinya agak berlebihan, yang, menggiring penampilan genjek menjadi semu dan kikuk. Genjek menjadi “kesenian” selain didorong oleh potensi seninya juga citra miring yang menyertai keriuhannya. Ada yang mengkonotasikan genjek identik dengan mabuk-mabukan. Tudingan itu sebenarnya tidak salah sama sekali. Sejarah menguaknya genjek memang dirangsang oleh minuman keras. Tuak misalnya, bisa jadi memberikan keberanian kepada seseorang untuk menyanyi dan menari saat begadang. “Genjek memang berawal dari kegiatan metuakan hingga mabuk, dan dalam keadaan mabuk menyebabkan orang menyanyi secara spontan. Apabila si pemabuk memiliki pengalaman estetis tentang gegendingan Bali, maka dalam kondisi mabuk diekspresikan dengan cara menyanyi dan menggerak-gerakkan tubuh-

nya mengikuti irama nyanyian,” ungkap Prof. Arya Sugiartha. Belakangan, tanpa ada unsur tuak dan teler, genjek sudah dieksplorasi ke dalam seni pentas wayang kulit, janger, dan drama gong. Menurut Arya Sugiartha, perkembangan genjek didorong oleh faktor eksternal dari masyarakat Bali yang menerima genjek sebagai aktivitas kesenian. “Sementara itu, pelaku-pelaku genjek tradisional yang sama sekali tidak merasa keberatan dengan tawaran mengolahan tata garap artistik, menjadi faktor internal terjadinya perkembangan genjek lebih semarak dan bertransformasi menjadi seni pertunjukan,” kata guru besar yang juga Rektor ISI Denpasar ini. Melengkapi orasi ilmiahnya yang disimak tekun oleh para undangan, sebuah kecipak genjek disuguhkan yang dibawakan oleh 20 orang dosen dan mahasiswa ISI. Disajikan secara apik dengan bingkai lakon kontekstual tentang bahaya narkoba, sajian Genjek yang dibintangi oleh I Gusti Lanang Ardika, Ni Wayan Suratni, dan I Kadek Widnyana tampil kocak menghibur. -Kadek Suartaya

pose di panggung. Kelincahan, ditingkahi warna –warnai busana yang dikenakan dan senyum yang lepas begitu mempesona. Lomba peragaan busana untuk anak ini juga berhasil menunjukkan rasa percaya diri selain mengajarkan mereka untuk mencintai produk lokal sejak dini, khususnya endek. Berikut beberapa gaya anak-anak dan model busana saat berlomba, hasil jepretan Tokoh untuk pecinta halaman Style Tokoh. –Sri Ardhini

15


14

Perawatan gigi dan mulut tidak hanya untuk menjaga kesehatan dan kebersihan tetapi juga menjaga agar penampilan cantik dan indah tetap terjaga. Oleh karena itu, sudah selayaknya merawat gigi secara teratur de­ ngan cara yang benar.

drg. Ni Nyoman Gemini Sari, M.Biomed

D

Jelita

Edisi 910/ 18 - 24 Juli 2016

engan gigi yang putih dan bersih, seseorang akan lebih percaya diri mengumbar tawa. Gigi putih bersih juga menjadikannya terlihat lebih muda. Sebenarnya tidaklah sulit untuk memperoleh gigi putih bersih dan berkilau. Jangan pernah lupa menggosok gigi secara teratur dengan cara yang benar, paling tidak dua kali sehari setelah makan pagi dan sebelum tidur untuk menghilangkan sisa makanan yang melekat. Demikian disampaikan oleh drg. Ni Nyoman Gemini Sari, M.Biomed, ditemui di tempat praktiknya di Apotik Ayura Padma di kawasan Jalan Merdeka, Renon, Denpasar. Dikatakannya bahwa setiap kali menyikat gigi dapat dilakukan minimal dua menit. Gunakan pasta gigi yang mengandung

Cantik dengan Gigi Putih Cemerlang fluoride. Bersihkan juga lidah dengan cara disikat perlahan setelah selesai gosok gigi agar nafas segar lebih lama. Gantilah sikat gigi jika bulu sikat telah rusak dan mekar. Pakailah dental floss ketika membersihkan celah gigi yang tidak mudah dijangkau agar sisa makanan tidak membentuk bakteri yang merusak gigi maupun gusi. Sebaiknya dilakukan setiap selesai menggosok gigi. Atau, paling tidak satu kali sehari, sebelum tidur malam, sebab pada saat kita tidur, produksi air liur berkurang, sehingga gigi dan gusi menjadi sarang bakteri. Hindari penggunaan tusuk gigi karena dapat melukai gusi. Kemudian, periksakan gigi secara periodik minimal enam bulan sekali untuk check up dan membersihkan karangnya. Jangan Sembarangan Gunakan Pemutih Dokter Gemini Sari juga mengatakan konsumsilah makanan yang mengandung kalsium dan vitamin C untuk menguatkan tulang,gigi dan gusi. Begitu pula buah-buahan yang sarat air dan serat sangat baik untuk membersihkan gigi dari sisa makanan. Kurangi makanan manis, lengket dan asam atau segeralah berkumur setelah makan makanan tersebut. Sedangkan untuk membersihkan gigi yang berwarna kuning karena karang gigi, kunjungilah dokter gigi. Selanjutnya, bagi mereka yang ingin memutihkan gigi yang berwarna kuning karena genetik, pengaruh rokok, obat atau penyebab laimya dapat

dilakukan bleaching atau veneer untuk mengembalikan warna gigi yang kurang baik menjadi putih dan indah. Diingatkannya pula untuk tidak sembarangan menggunakan pemutih gigi tanpa pengawasan atau rekomendasi seorang dokter gigi. Jika terdapat lubang sekecil apapun, katanya hendaknya segera dilakukan penambalan pada dokter gigi. “Jangan menunggu sampai besar dan sakit, bahan tambalan sekarang ini sudah sangat baik, sehingga bisa mengembalikan estetika dan fungsi kunyah gigi seperti semula,” terang dokter kelahiran Lampung 19 Juni 1980 ini. “Untuk gigi yang susunannya berantakan atau maju dapat dilakukan pemasangan kawat gigi untuk merapikan dan meratakan gigi. Pilihan kawat gigi antara lain metal, ceramic, damon dan invisalign system. Begitu pula, lakukan gum reshaping kalau

terdapat gummy smile. Gum reshaping merupakan pembentukan ulang garis batas gusi. Tujuan utama dari perawatan ini adalah menciptakan senyum yang lebih rapi (tidak didominasi oleh gusi) dan lebih berseri,”katanya lebih lanjut. Ketika ada gigi tanggal atau terpaksa dicabut karena kerusakan yang parah, dokter Gemini Sari mengatakan gunakankalah gigi tiruan. Jangan membiarkan gigi ompong, sebab bisa merusak struktur wajah, jadi memendek, dan keriput di seputar mulut sehingga orang tampak jauh lebih tua. Gigi tiruan dapat dibuat yang lepasan ataupun yang permanen.

Dengan melakukan perawatan seperti yang sudah disampaikannya, maka gigi kita akan terpelihara dengan baik. Dengan begitu, senyum yang cantik menawan dengan gigi yang putih, indah dan sehat akan menjadi milik kita.

Bugar

Edisi 910/ 18 - 24 juli 2016

11

l a n e g Men t Tauge Khasia

– Sri Ardhini

Tauge merupakan salah satu jenis sayur yang banyak dikon­ sumsi masyarakat ­Indonesia. Tahukah Anda banyak sekali manfaat tauge. Be­ narkah tauge dise­but sebagai bahan maka­ nan penambah ke­ suburan?

tkh/net

M

enurut ahli gizi Ida Ayu Eka Padmiari, M.Kes, umumnya di kawasan Asia, termasuk Indonesia, tauge dibuat dari kacang hijau. Meski ada pula tauge yang terbuat dari kacang kedelai. Umumnya, proses kacang menjadi tauge diperlukan waktu sekitar satu minggu. “Tauge segar sangat kaya akan vitamin E, dan merupakan menu yang sangat dianjurkan untuk dikonsumsi. Dengan mengonsumsi tauge, tubuh akan terobati dan mencegah kekurangan vitamin E,” kata dosen Poltekkes Denpasar dan Stikes Denpasar ini. Ia mengatakan, banyak sekali manfaat yang diperoleh dari tumbuhan yang sangat kecil ini, salah satunya mencegah kanker. Proses menjadi tauge telah menguraikan 90 persen rantai olisakarida menjadi karbohidrat sederhana, sehingga senyawa tersebut mudah sekali diserap tubuh, tanpa menghasilkan gas. Karena mengandung banyak serat dan air, tauge membantu pengurasan kotoran dalam usus besar. Hal ini menjadi kekuatan ganda tauge dalam memerangi kanker. Dengan mendorong kotoran segera meninggalkan usus besar, sehingga tidak ada lagi zat-zat racun dalam kotoran yang dapat diserap tubuh. Hal ini akan men­ cegah menumpuknya zat racun yang dapat merangsang berseminya benih kanker. “Para penyandang risiko stroke dan serangan jantung karena kadar lemak darah melambung, dianjurkan untuk lebih banyak makan tauge,” kata Dayu Padmiari. Hal ini disebabkan, saponin dalam tauge akan menghancurkan lemak jahat LDL tanpa mengganggu kandungan lemak yang baik HDL. Saponin yang besar dapat diperoleh dalam tauge alfafa ketika proses biji-bijian menjadi tauge, yang secara umum kadar saponinnya naik 450%. Selain itu, estrogen alami yang terdapat dalam tauge dapat berfungsi sama dengan estrogen sintetis, tetapi keunggulannya estrogen alami tak memiliki efek samping. Sehingga estrogen dalam tauge secara nyata

Ida Ayu Eka Padmiari, M.Kes

dapat meningkatkan kepadatan tulang, susunan tulang dan mencegah keroposnya tulang. Saponin tauge juga dapat membangkitkan sistem kekebalan tubuh, tauge kaya akan zat antioksidan yang membentengi tubuh dari radikal bebas perusak sel DNA. “Karena bersifat alkali (basa), maka tauge sangat baik untuk menjaga keasaman lambung dan memperlancar pencernaan. Bahkan, tauge juga baik untuk kecantikan, yaitu membantu meremajakan dan menghaluskan kulit, menghilangkan flek-flek hitam pada wajah, menyembuhkan jerawat, menyuburkan rambut dan juga melangsingkan tubuh,” ucapnya. Tauge banyak mengandung Vitamin E, sehingga juga dapat membantu meningkatkan kesuburan. “Bagi wanita yang rajin makan tauge, akan mem­b antu terhindar dari kanker payudara, gangguan menjelang menstruasi, pramenopause dan gangguan akibat menopause. Bahkan, tauge dapat merangsang hormone testosteron agar lebih efektif. Asal, dikonsumsi secara rutin dengan benar,” katanya. Namun, ia menegaskan, tidak ada penelitian yang mengatakan makan banyak tauge akan mempercepat kehamilan karena kehamilan sese­orang dipengaruhi oleh banyak faktor. HINDARI MAKAN TAUGE MENTAH Dayu Padmiari me­ nyarankan, sebaiknya tauge

disajikan setelah dimasak. Tauge yang dijual di pasaran, kemungkinan mengandung bakteri salmonella. Bakteri ini dapat menimbulkan gejala sakit perut, diare, sakit kepala, pusing, muntah, dan demam. Selain itu, ada pula risiko tauge terkena bakteri eschericia coli yang juga dapat menyebabkan infeksi. “Kemungkinan hal itu disebabkan pemilihan biji yang kurang higienis, sanitasi yang kurang baik, ataupun terkontaminasi saat proses sprouting. Selain itu, kondisi hangat dan lembap selama proses perubahan kacang menjadi tauge juga dapat membantu bakteri tetap hidup,” katanya.

Untuk mengonsumsi tauge secara aman, lakukan hal sebagai berikut: lCium bau tauge yang akan Anda beli. Jika tauge masih segar, seharusnya tidak berbau. Hindari jika timbul bau tak sedap dari tauge. lSegera masukkan tauge ke kulkas atau lemari pendingin. Namun, simpan terpisah tauge mentah dari sayur lain, untuk menghindari kontaminasi. lCuci bersih tauge serta sayur dan buah-buahan lain, hal ini untuk menghilangkan bakteri yang berbahaya. lHindari konsumsi tauge mentah. Masak tauge hingga benar-benar

matang dengan air mendidih. l Tauge dari jenis kacang apa­ pun, baik kacang hijau, kedelai, alfalfa maupun jenis kacang-kacangan lainnya mengandung banyak sekali zat nutrisi yang berkhasiat. Berikut adalah kandungan gizi pada tauge per 100 gram, antara lain: energi 50,00 kal, protein 5,70 gram, lemak 0,10 gram, karbohidrat 10 gram, kalsium 32 mg, potasium 235 mg, seng 960 mg, asam folat 160 mg, fosfor 96 mg, kalium 125 mg, zat besi 1,10 mg, vitamin A 13.00 RE, vitamin B 10.13 mg, vitamin B 20,15 mg, vitamin C 20,00 mg, niacin 1,00 mg, serat 0,70 gram. -Wirati Astiti


Kuliner

Edisi 910/ 18 - 24 juli 2016

12

Dori Fish and Chips with Sambal Mayo Peserta Cooking Class sedang mendengarkan penjelasan dari chef

Kreasi Basa Genep

M

emasak ternyata menjadi ke­ gemaran banyak orang, baik itu tua dan muda, bahkan anak-anak yang masih SD. Ini terlihat dari animo siswa-siswi di Kota Denpasar yang meng­ ikuti cooking class bersama para chef hotel, pekan lalu, di areal gedung Wali Kota Denpasar. Masakan yang dibuat juga sangat unik. Perpaduan makanan Asia, Barat, dan bumbu khas Bali basa genep. Bagi siswa-siswi yang tidak sempat hadir dalam acara cooking class, dan ingin mencoba masakan tersebut, berikut resepnya. Selamat mencoba.

Bahan: 200 gr 200 gr 30 gr 5 gr 10 gr 300 ml

: : : : : :

ikan dori tepung terigu tepung jagung garam soda kue air

- -

Bahan mayonnaise: 1 butir : kuning telur 1 sdt : air jeruk nipis 300 ml : minyak sayur Garam Merica

-

Cara membuat: - Ikan diberi perasan air jeruk ni-

-

pis, garam, merica, dan tepung. Iris dengan ketebalan 2 cm, potong memanjang. Tepung diaduk jadi satu. Tambahkan soda kue, garam, dan air. Masukkan ikan ke dalam tepung lumuri sampai rata, dan goreng sampai kuning kecokelatan. Buat saus mayonnaise: masukkan kuning telur dan bahan lain ke mangkok. Lalu pelan-pelan masukkan minyak sayur, aduk rata. Sajikan ikan bersama saus mayonnaise dan kentang goreng.

–Wirati Astiti

Balinese Chicken Quisadilla Bahan: 100 gr 10 gr 5 gr 5 gr 20 gr 30 gr 10 gr 30 gr 40 gr

: daging ayam bagian dada : basa genep : garam : merica : bawang bombay dipotong memanjang : jamur potong dadu : bumbu kari : keju cheddar diparut : keju mozzarella diparut

30 gr : sour cream Kulit tortilla (bisa dibeli di super­ market) Bahan 50 gr 10 gr 5 gr 10 ml

saus guacamole: : alpokat : mayonnaise : garam dan merica : air jeruk lemon

Bahan tomat salsa: 50 gr : tomat 10 gr : daun ketumbar

10 gr : olive oil 5 gr : garam dan merica 30 gr : mangga matang Cara membuat: - Potong daging ayam berbentuk dadu, lalu bumbu garam dan merica. - Tumis bawang bombay dan jamur, masukkan ayam. Tambahkan bumbu, aduk rata sampai masak. - Siapkan teplon, panggang 1 menit tortilla. Kemudian diberi adonan isi ayam tadi. Beri taburan keju di atasnya, kemudian lipat. Masak sampai berwarna kecokelatan. - Siapkan guacamole, alpokat dihancurkan. Tambahkan mayonnaise, garam, merica, dan air jeruk nipis. Siap digunakan. - Tomato salsa: mangga dan tomat dipotong dadu kecilkecil. Campur bersama bahan lain, siap digunakan. - Sajikan quesadilla bersama guacamole, tomato salsa dan sour cream.

Balinese Coconut Beef Kebab Bahan: 125 gr : daging sapi bagian has dalam Bumbu: 60 gr 40 gr 10 gr 5 gr 5 gr

: : : : :

basa genep kelapa parut gula merah daun jeruk garam dan merica

Bahan lain: Tusukan sate 50 gr : bawang bombay 30 gr : paprika merah dan hijau 100 gr : saus kacang Acar Cara membuat: - Semua bumbu dicampur jadi

satu. - Potong daging has dalam bentuk kubus 4 cm lalu bumbui dengan bumbu tadi. Aduk rata, biarkan 20 menit. - Paprika dan bawang bombay dipotong bentuk kubus juga.

- Ambil tusukan sate panjang, tusuk daging selang-seling dengan bawang bombay dan paprika. - Panggang kebab sampai matang. - Sajikan kebab dengan saus kacang dan acar.

ti ikma

Aneka Mie & Spaghetti

N Hanya di...

Edisi 910/ 18 - 24 juli 2016

Isi Liburan dengan Cooking Class

Dari kiri: Chef Juliada, Chef Sukarma Jaya, Chef Perean, Chef Komang Adi, Chef Ari, Chef Hendra, dan Chef Bagiana

Memasak tak selalu identik dengan perempuan. Buktinya, banyak chef laki-laki. Demikian celoteh, I Gusti Ngurah Illa, siswi SMPN 8 Denpasar, saat ditanya mengapa ikut cooking class yang digelar Pemkot Denpasar, dalam mengisi liburan sekolah, pekan lalu. Selain Illa, Putu Gede Arya Suadnyana, juga punya pendapat lain. Siswa SDN 17 Dangin Puri ini mengatakan, sudah terbiasa membantu ibunya di dapur. “Saya sudah bisa menghidupkan kompor, kalau ibu buat sate, saya bertugas membakar, kadang membantu memotong bumbu juga,” ujar bocah laki-laki yang ditemani sang adik, Berliana dan ibunya itu. Malah, sang adik berkata, sudah bisa membuat perkedel dan nasi

goreng, walaupun baru kelas 5 SD. Antusias siswa di Denpasar mengikuti cooking class juga dituturkan

Cintya. Siswi SMPN 12 Denpasar ini mengaku, sudah bisa membuat tumis kangkung dan mi goreng di rumah. “Acara cooking class ini sangat menarik untuk mengisi liburan, daripada cuma bengong di rumah,” ujarnya. Lain lagi penuturan Made Isma Yuliana Dewi. Siswi SMKN 4 Denpasar ini, terlihat sangat piawai memainkan pisau untuk memotong bahan. Baginya, acara cooking class ini sangat menambah wawasannya, di luar materi yang didapatkannya di sekolah. Apalagi, yang mengajar, para chef hotel. Sementara, Putri Kusuma Wardhani, di rumahnya, sudah biasa membantu orangtuanya memasak saat upacara Galungan. “Saya bisa kok membuat basa genep,” kata mahasiswa Akutansi Universitas Mahasaraswati ini. Sementara, Wira, yang menekuni Akutansi Perhotelan, juga tertarik

Peserta Cooking Class sedang belajar mengiris daging

Ciri Khas Taiwan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1437 Hijriyah

DISKON 10%

Kepiting Bumbu Kare Pedas

Untuk pembelanjaan 100 ribu ke atas.

Hot Latte

Indonesian Chicken Curry Rice

Jln. Raya Sesetan No. 188 Pesanggaran. Tlp: (0361) 725544 Buka pukul 08.00 s.d 22.00 Wita

ti

a Nikm

Chinese Food

Hanya di...

& Aneka Es Taiwan

Cafe Santai Selamat Hari Raya Idul Fitri 1437 Hijriyah

DISKON 10%

Untuk pembelanjaan 100 ribu ke atas.

Berlaku s.d. 1 - 9 Juli 2016

Murah Meriah & Bersih Tampin Special

Es Campur Mutiara

Jln. Raya Sesetan No. 293 Denpasar. Tlp. (0361) 8950526, 0811399214, 0811388698

Chef Hendra sedang berkenalan dengan peserta Cooking Class

cooking class. “Saya sih iseng saja ikut, daripada di rumah. Kebetulan saudara ada yang ikut, saya diajak, “ ujar lelaki yang mengambil Diploma IV Akutansi Perhotelan di salah satu kampus di Dalung ini. Ternyata, baginya, menu yang dimasak sangat mudah. Ena yang mengaku di rumahnya tak pernah bisa memasak, tertarik juga ikut cooking class. Saat disodori resep, ia sudah membayangkan membuat menu tersebut sangat sulit. Namun, setelah melihat langsung dan ikut praktik, ternyata tak sesulit yang ia bayangkan. “Nama makanannya pakai bahasa Inggris, terlihat susah. Ternyata gampang juga membuatnya dan cepat,” kata perempuan yang berprofesi sebagai guru SD di Binoh Ubung ini. Ia menyarankan, ke depan, sebaiknya acara cooking class dilaksanakan berkesinambungan. Pesertanya juga sebaiknya masyarakat umum, jangan dibatasi hanya siswa. Sebagai pembuka, Ketua Indo-

nesia Chef Association (ICA) Bali chef Komang Adi Arsana membagi kelompok menjadi lima. Masingmasing kelompok, anggotanya diacak sehingga ada yang siswa SD, SMP, SMA/SMK, dan mahasiswa. Sebagai pendamping masing-masing kelompok, chef Hendra, chef Juliada, chef Bagiana, chef Perean, chef Sukarmajaya, dan chef Ari. Masing-masing kelompok memilih ketua untuk mengkoordinir alat dan bahan. Ketua juga membagi anggotanya agar semua mendapatkan tugas. Menurut salah seorang penonton, Rathi, dari pengamatannya, tak semua anak begitu mudah menyerap apa yang diajarkan. Namun, terlihat ada yang memang sudah berbakat, walaupun baru mengenal menu yang akan diajarkan. “Ada yang terlihat sigap dan cekatan mendengar instruksi dari para chef. Apalagi, beberapa item, para chef menjelaskan bahan-bahan dengan bahasa Inggris,” ujarnya. –Wirati Astiti

Pepes Ayam Jamur Kancing

Cafe Mie Santai

Berlaku mulai 1 s.d. 31 Juli 2016

13

Sarwan Bahan: 1 kg : kepiting, bersihkan, rebus sampai matang, sisakan 3 lembar : daun jeruk purut 4 lembar : daun salam 2 batang : serai, memarkan 250 ml : santan kental Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya Bumbu yang dihaluskan: 9 buah : bawang merah 4 siung : bawang putih

4 butir : kemiri sangria 2 ruas : kunyit bakar 3 ruas : jari jahe 20 buah : cabe rawit 3 buah : cabe besar merah 1 sdt : jinten 1 sdm : ketumbar Cara membuat : - Belah kepiting, rebus jadi dua bagian, sisihkan. Tumis bumbu halus, serai, daun salam dan daun jeruk, aduk hingga harum lalu masukkan kepiting, aduk rata, masukkan santan. Aduk-aduk hingga mendidih dan masukkan gula, ga-

ram, kaldu bubuk. Aduk-aduk hingga tercampur rata, masak hingga santan mengering atau mengental. Siap disajikan.

Bahan: 500 gr : ayam fille, potong dadu 4 pasang : hati dan ampela, potong dadu 100 gr : jamur kancing, iris tipis-tipis 6 buah : cabe hijau, iris serong 5 buah : cabe merah besar, iris serong 2 buah : tomat hijau, iris-iris 1 butir : telor kocok lepas 1 ikat : kemangi, ambil daunnya, daun pisang secukupnya, lidi secukupnya untuk penyemat bungkusan pepes Bumbu yang dihaluskan: 9 buah : bawang merah 3 siung : bawang putih 4 butir : kemiri sangrai 3 ruas : jari kunyit 2 ruas : jari jahe 7 buah : cabe rawit Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya Cara membuat : - Rebus daging ayam dan

ampela secara terpisah, jika sudah matang maka angkat, sisihkan. Campur rebusan ayam, ati ampela bersama irisan bahan-bahan lainnya dan halusan bumbu, adukaduk hingga tercampur rata lalu bagi adonan menjadi 8 bagian. Ambil daun pisang lalu bungkus tiap-tiap adonan, semat dengan lidi. Kukus selama 30 menit atau sampai pepes matang dan angkat. Siap disajikan.


Kuliner

Edisi 910/ 18 - 24 juli 2016

12

Dori Fish and Chips with Sambal Mayo Peserta Cooking Class sedang mendengarkan penjelasan dari chef

Kreasi Basa Genep

M

emasak ternyata menjadi ke­ gemaran banyak orang, baik itu tua dan muda, bahkan anak-anak yang masih SD. Ini terlihat dari animo siswa-siswi di Kota Denpasar yang meng­ ikuti cooking class bersama para chef hotel, pekan lalu, di areal gedung Wali Kota Denpasar. Masakan yang dibuat juga sangat unik. Perpaduan makanan Asia, Barat, dan bumbu khas Bali basa genep. Bagi siswa-siswi yang tidak sempat hadir dalam acara cooking class, dan ingin mencoba masakan tersebut, berikut resepnya. Selamat mencoba.

Bahan: 200 gr 200 gr 30 gr 5 gr 10 gr 300 ml

: : : : : :

ikan dori tepung terigu tepung jagung garam soda kue air

- -

Bahan mayonnaise: 1 butir : kuning telur 1 sdt : air jeruk nipis 300 ml : minyak sayur Garam Merica

-

Cara membuat: - Ikan diberi perasan air jeruk ni-

-

pis, garam, merica, dan tepung. Iris dengan ketebalan 2 cm, potong memanjang. Tepung diaduk jadi satu. Tambahkan soda kue, garam, dan air. Masukkan ikan ke dalam tepung lumuri sampai rata, dan goreng sampai kuning kecokelatan. Buat saus mayonnaise: masukkan kuning telur dan bahan lain ke mangkok. Lalu pelan-pelan masukkan minyak sayur, aduk rata. Sajikan ikan bersama saus mayonnaise dan kentang goreng.

–Wirati Astiti

Balinese Chicken Quisadilla Bahan: 100 gr 10 gr 5 gr 5 gr 20 gr 30 gr 10 gr 30 gr 40 gr

: daging ayam bagian dada : basa genep : garam : merica : bawang bombay dipotong memanjang : jamur potong dadu : bumbu kari : keju cheddar diparut : keju mozzarella diparut

30 gr : sour cream Kulit tortilla (bisa dibeli di super­ market) Bahan 50 gr 10 gr 5 gr 10 ml

saus guacamole: : alpokat : mayonnaise : garam dan merica : air jeruk lemon

Bahan tomat salsa: 50 gr : tomat 10 gr : daun ketumbar

10 gr : olive oil 5 gr : garam dan merica 30 gr : mangga matang Cara membuat: - Potong daging ayam berbentuk dadu, lalu bumbu garam dan merica. - Tumis bawang bombay dan jamur, masukkan ayam. Tambahkan bumbu, aduk rata sampai masak. - Siapkan teplon, panggang 1 menit tortilla. Kemudian diberi adonan isi ayam tadi. Beri taburan keju di atasnya, kemudian lipat. Masak sampai berwarna kecokelatan. - Siapkan guacamole, alpokat dihancurkan. Tambahkan mayonnaise, garam, merica, dan air jeruk nipis. Siap digunakan. - Tomato salsa: mangga dan tomat dipotong dadu kecilkecil. Campur bersama bahan lain, siap digunakan. - Sajikan quesadilla bersama guacamole, tomato salsa dan sour cream.

Balinese Coconut Beef Kebab Bahan: 125 gr : daging sapi bagian has dalam Bumbu: 60 gr 40 gr 10 gr 5 gr 5 gr

: : : : :

basa genep kelapa parut gula merah daun jeruk garam dan merica

Bahan lain: Tusukan sate 50 gr : bawang bombay 30 gr : paprika merah dan hijau 100 gr : saus kacang Acar Cara membuat: - Semua bumbu dicampur jadi

satu. - Potong daging has dalam bentuk kubus 4 cm lalu bumbui dengan bumbu tadi. Aduk rata, biarkan 20 menit. - Paprika dan bawang bombay dipotong bentuk kubus juga.

- Ambil tusukan sate panjang, tusuk daging selang-seling dengan bawang bombay dan paprika. - Panggang kebab sampai matang. - Sajikan kebab dengan saus kacang dan acar.

ti ikma

Aneka Mie & Spaghetti

N Hanya di...

Edisi 910/ 18 - 24 juli 2016

Isi Liburan dengan Cooking Class

Dari kiri: Chef Juliada, Chef Sukarma Jaya, Chef Perean, Chef Komang Adi, Chef Ari, Chef Hendra, dan Chef Bagiana

Memasak tak selalu identik dengan perempuan. Buktinya, banyak chef laki-laki. Demikian celoteh, I Gusti Ngurah Illa, siswi SMPN 8 Denpasar, saat ditanya mengapa ikut cooking class yang digelar Pemkot Denpasar, dalam mengisi liburan sekolah, pekan lalu. Selain Illa, Putu Gede Arya Suadnyana, juga punya pendapat lain. Siswa SDN 17 Dangin Puri ini mengatakan, sudah terbiasa membantu ibunya di dapur. “Saya sudah bisa menghidupkan kompor, kalau ibu buat sate, saya bertugas membakar, kadang membantu memotong bumbu juga,” ujar bocah laki-laki yang ditemani sang adik, Berliana dan ibunya itu. Malah, sang adik berkata, sudah bisa membuat perkedel dan nasi

goreng, walaupun baru kelas 5 SD. Antusias siswa di Denpasar mengikuti cooking class juga dituturkan

Cintya. Siswi SMPN 12 Denpasar ini mengaku, sudah bisa membuat tumis kangkung dan mi goreng di rumah. “Acara cooking class ini sangat menarik untuk mengisi liburan, daripada cuma bengong di rumah,” ujarnya. Lain lagi penuturan Made Isma Yuliana Dewi. Siswi SMKN 4 Denpasar ini, terlihat sangat piawai memainkan pisau untuk memotong bahan. Baginya, acara cooking class ini sangat menambah wawasannya, di luar materi yang didapatkannya di sekolah. Apalagi, yang mengajar, para chef hotel. Sementara, Putri Kusuma Wardhani, di rumahnya, sudah biasa membantu orangtuanya memasak saat upacara Galungan. “Saya bisa kok membuat basa genep,” kata mahasiswa Akutansi Universitas Mahasaraswati ini. Sementara, Wira, yang menekuni Akutansi Perhotelan, juga tertarik

Peserta Cooking Class sedang belajar mengiris daging

Ciri Khas Taiwan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1437 Hijriyah

DISKON 10%

Kepiting Bumbu Kare Pedas

Untuk pembelanjaan 100 ribu ke atas.

Hot Latte

Indonesian Chicken Curry Rice

Jln. Raya Sesetan No. 188 Pesanggaran. Tlp: (0361) 725544 Buka pukul 08.00 s.d 22.00 Wita

ti

a Nikm

Chinese Food

Hanya di...

& Aneka Es Taiwan

Cafe Santai Selamat Hari Raya Idul Fitri 1437 Hijriyah

DISKON 10%

Untuk pembelanjaan 100 ribu ke atas.

Berlaku s.d. 1 - 9 Juli 2016

Murah Meriah & Bersih Tampin Special

Es Campur Mutiara

Jln. Raya Sesetan No. 293 Denpasar. Tlp. (0361) 8950526, 0811399214, 0811388698

Chef Hendra sedang berkenalan dengan peserta Cooking Class

cooking class. “Saya sih iseng saja ikut, daripada di rumah. Kebetulan saudara ada yang ikut, saya diajak, “ ujar lelaki yang mengambil Diploma IV Akutansi Perhotelan di salah satu kampus di Dalung ini. Ternyata, baginya, menu yang dimasak sangat mudah. Ena yang mengaku di rumahnya tak pernah bisa memasak, tertarik juga ikut cooking class. Saat disodori resep, ia sudah membayangkan membuat menu tersebut sangat sulit. Namun, setelah melihat langsung dan ikut praktik, ternyata tak sesulit yang ia bayangkan. “Nama makanannya pakai bahasa Inggris, terlihat susah. Ternyata gampang juga membuatnya dan cepat,” kata perempuan yang berprofesi sebagai guru SD di Binoh Ubung ini. Ia menyarankan, ke depan, sebaiknya acara cooking class dilaksanakan berkesinambungan. Pesertanya juga sebaiknya masyarakat umum, jangan dibatasi hanya siswa. Sebagai pembuka, Ketua Indo-

nesia Chef Association (ICA) Bali chef Komang Adi Arsana membagi kelompok menjadi lima. Masingmasing kelompok, anggotanya diacak sehingga ada yang siswa SD, SMP, SMA/SMK, dan mahasiswa. Sebagai pendamping masing-masing kelompok, chef Hendra, chef Juliada, chef Bagiana, chef Perean, chef Sukarmajaya, dan chef Ari. Masing-masing kelompok memilih ketua untuk mengkoordinir alat dan bahan. Ketua juga membagi anggotanya agar semua mendapatkan tugas. Menurut salah seorang penonton, Rathi, dari pengamatannya, tak semua anak begitu mudah menyerap apa yang diajarkan. Namun, terlihat ada yang memang sudah berbakat, walaupun baru mengenal menu yang akan diajarkan. “Ada yang terlihat sigap dan cekatan mendengar instruksi dari para chef. Apalagi, beberapa item, para chef menjelaskan bahan-bahan dengan bahasa Inggris,” ujarnya. –Wirati Astiti

Pepes Ayam Jamur Kancing

Cafe Mie Santai

Berlaku mulai 1 s.d. 31 Juli 2016

13

Sarwan Bahan: 1 kg : kepiting, bersihkan, rebus sampai matang, sisakan 3 lembar : daun jeruk purut 4 lembar : daun salam 2 batang : serai, memarkan 250 ml : santan kental Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya Bumbu yang dihaluskan: 9 buah : bawang merah 4 siung : bawang putih

4 butir : kemiri sangria 2 ruas : kunyit bakar 3 ruas : jari jahe 20 buah : cabe rawit 3 buah : cabe besar merah 1 sdt : jinten 1 sdm : ketumbar Cara membuat : - Belah kepiting, rebus jadi dua bagian, sisihkan. Tumis bumbu halus, serai, daun salam dan daun jeruk, aduk hingga harum lalu masukkan kepiting, aduk rata, masukkan santan. Aduk-aduk hingga mendidih dan masukkan gula, ga-

ram, kaldu bubuk. Aduk-aduk hingga tercampur rata, masak hingga santan mengering atau mengental. Siap disajikan.

Bahan: 500 gr : ayam fille, potong dadu 4 pasang : hati dan ampela, potong dadu 100 gr : jamur kancing, iris tipis-tipis 6 buah : cabe hijau, iris serong 5 buah : cabe merah besar, iris serong 2 buah : tomat hijau, iris-iris 1 butir : telor kocok lepas 1 ikat : kemangi, ambil daunnya, daun pisang secukupnya, lidi secukupnya untuk penyemat bungkusan pepes Bumbu yang dihaluskan: 9 buah : bawang merah 3 siung : bawang putih 4 butir : kemiri sangrai 3 ruas : jari kunyit 2 ruas : jari jahe 7 buah : cabe rawit Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya Cara membuat : - Rebus daging ayam dan

ampela secara terpisah, jika sudah matang maka angkat, sisihkan. Campur rebusan ayam, ati ampela bersama irisan bahan-bahan lainnya dan halusan bumbu, adukaduk hingga tercampur rata lalu bagi adonan menjadi 8 bagian. Ambil daun pisang lalu bungkus tiap-tiap adonan, semat dengan lidi. Kukus selama 30 menit atau sampai pepes matang dan angkat. Siap disajikan.


14

Perawatan gigi dan mulut tidak hanya untuk menjaga kesehatan dan kebersihan tetapi juga menjaga agar penampilan cantik dan indah tetap terjaga. Oleh karena itu, sudah selayaknya merawat gigi secara teratur de­ ngan cara yang benar.

drg. Ni Nyoman Gemini Sari, M.Biomed

D

Jelita

Edisi 910/ 18 - 24 Juli 2016

engan gigi yang putih dan bersih, seseorang akan lebih percaya diri mengumbar tawa. Gigi putih bersih juga menjadikannya terlihat lebih muda. Sebenarnya tidaklah sulit untuk memperoleh gigi putih bersih dan berkilau. Jangan pernah lupa menggosok gigi secara teratur dengan cara yang benar, paling tidak dua kali sehari setelah makan pagi dan sebelum tidur untuk menghilangkan sisa makanan yang melekat. Demikian disampaikan oleh drg. Ni Nyoman Gemini Sari, M.Biomed, ditemui di tempat praktiknya di Apotik Ayura Padma di kawasan Jalan Merdeka, Renon, Denpasar. Dikatakannya bahwa setiap kali menyikat gigi dapat dilakukan minimal dua menit. Gunakan pasta gigi yang mengandung

Cantik dengan Gigi Putih Cemerlang fluoride. Bersihkan juga lidah dengan cara disikat perlahan setelah selesai gosok gigi agar nafas segar lebih lama. Gantilah sikat gigi jika bulu sikat telah rusak dan mekar. Pakailah dental floss ketika membersihkan celah gigi yang tidak mudah dijangkau agar sisa makanan tidak membentuk bakteri yang merusak gigi maupun gusi. Sebaiknya dilakukan setiap selesai menggosok gigi. Atau, paling tidak satu kali sehari, sebelum tidur malam, sebab pada saat kita tidur, produksi air liur berkurang, sehingga gigi dan gusi menjadi sarang bakteri. Hindari penggunaan tusuk gigi karena dapat melukai gusi. Kemudian, periksakan gigi secara periodik minimal enam bulan sekali untuk check up dan membersihkan karangnya. Jangan Sembarangan Gunakan Pemutih Dokter Gemini Sari juga mengatakan konsumsilah makanan yang mengandung kalsium dan vitamin C untuk menguatkan tulang,gigi dan gusi. Begitu pula buah-buahan yang sarat air dan serat sangat baik untuk membersihkan gigi dari sisa makanan. Kurangi makanan manis, lengket dan asam atau segeralah berkumur setelah makan makanan tersebut. Sedangkan untuk membersihkan gigi yang berwarna kuning karena karang gigi, kunjungilah dokter gigi. Selanjutnya, bagi mereka yang ingin memutihkan gigi yang berwarna kuning karena genetik, pengaruh rokok, obat atau penyebab laimya dapat

dilakukan bleaching atau veneer untuk mengembalikan warna gigi yang kurang baik menjadi putih dan indah. Diingatkannya pula untuk tidak sembarangan menggunakan pemutih gigi tanpa pengawasan atau rekomendasi seorang dokter gigi. Jika terdapat lubang sekecil apapun, katanya hendaknya segera dilakukan penambalan pada dokter gigi. “Jangan menunggu sampai besar dan sakit, bahan tambalan sekarang ini sudah sangat baik, sehingga bisa mengembalikan estetika dan fungsi kunyah gigi seperti semula,” terang dokter kelahiran Lampung 19 Juni 1980 ini. “Untuk gigi yang susunannya berantakan atau maju dapat dilakukan pemasangan kawat gigi untuk merapikan dan meratakan gigi. Pilihan kawat gigi antara lain metal, ceramic, damon dan invisalign system. Begitu pula, lakukan gum reshaping kalau

terdapat gummy smile. Gum reshaping merupakan pembentukan ulang garis batas gusi. Tujuan utama dari perawatan ini adalah menciptakan senyum yang lebih rapi (tidak didominasi oleh gusi) dan lebih berseri,”katanya lebih lanjut. Ketika ada gigi tanggal atau terpaksa dicabut karena kerusakan yang parah, dokter Gemini Sari mengatakan gunakankalah gigi tiruan. Jangan membiarkan gigi ompong, sebab bisa merusak struktur wajah, jadi memendek, dan keriput di seputar mulut sehingga orang tampak jauh lebih tua. Gigi tiruan dapat dibuat yang lepasan ataupun yang permanen.

Dengan melakukan perawatan seperti yang sudah disampaikannya, maka gigi kita akan terpelihara dengan baik. Dengan begitu, senyum yang cantik menawan dengan gigi yang putih, indah dan sehat akan menjadi milik kita.

Bugar

Edisi 910/ 18 - 24 juli 2016

11

l a n e g Men t Tauge Khasia

– Sri Ardhini

Tauge merupakan salah satu jenis sayur yang banyak dikon­ sumsi masyarakat ­Indonesia. Tahukah Anda banyak sekali manfaat tauge. Be­ narkah tauge dise­but sebagai bahan maka­ nan penambah ke­ suburan?

tkh/net

M

enurut ahli gizi Ida Ayu Eka Padmiari, M.Kes, umumnya di kawasan Asia, termasuk Indonesia, tauge dibuat dari kacang hijau. Meski ada pula tauge yang terbuat dari kacang kedelai. Umumnya, proses kacang menjadi tauge diperlukan waktu sekitar satu minggu. “Tauge segar sangat kaya akan vitamin E, dan merupakan menu yang sangat dianjurkan untuk dikonsumsi. Dengan mengonsumsi tauge, tubuh akan terobati dan mencegah kekurangan vitamin E,” kata dosen Poltekkes Denpasar dan Stikes Denpasar ini. Ia mengatakan, banyak sekali manfaat yang diperoleh dari tumbuhan yang sangat kecil ini, salah satunya mencegah kanker. Proses menjadi tauge telah menguraikan 90 persen rantai olisakarida menjadi karbohidrat sederhana, sehingga senyawa tersebut mudah sekali diserap tubuh, tanpa menghasilkan gas. Karena mengandung banyak serat dan air, tauge membantu pengurasan kotoran dalam usus besar. Hal ini menjadi kekuatan ganda tauge dalam memerangi kanker. Dengan mendorong kotoran segera meninggalkan usus besar, sehingga tidak ada lagi zat-zat racun dalam kotoran yang dapat diserap tubuh. Hal ini akan men­ cegah menumpuknya zat racun yang dapat merangsang berseminya benih kanker. “Para penyandang risiko stroke dan serangan jantung karena kadar lemak darah melambung, dianjurkan untuk lebih banyak makan tauge,” kata Dayu Padmiari. Hal ini disebabkan, saponin dalam tauge akan menghancurkan lemak jahat LDL tanpa mengganggu kandungan lemak yang baik HDL. Saponin yang besar dapat diperoleh dalam tauge alfafa ketika proses biji-bijian menjadi tauge, yang secara umum kadar saponinnya naik 450%. Selain itu, estrogen alami yang terdapat dalam tauge dapat berfungsi sama dengan estrogen sintetis, tetapi keunggulannya estrogen alami tak memiliki efek samping. Sehingga estrogen dalam tauge secara nyata

Ida Ayu Eka Padmiari, M.Kes

dapat meningkatkan kepadatan tulang, susunan tulang dan mencegah keroposnya tulang. Saponin tauge juga dapat membangkitkan sistem kekebalan tubuh, tauge kaya akan zat antioksidan yang membentengi tubuh dari radikal bebas perusak sel DNA. “Karena bersifat alkali (basa), maka tauge sangat baik untuk menjaga keasaman lambung dan memperlancar pencernaan. Bahkan, tauge juga baik untuk kecantikan, yaitu membantu meremajakan dan menghaluskan kulit, menghilangkan flek-flek hitam pada wajah, menyembuhkan jerawat, menyuburkan rambut dan juga melangsingkan tubuh,” ucapnya. Tauge banyak mengandung Vitamin E, sehingga juga dapat membantu meningkatkan kesuburan. “Bagi wanita yang rajin makan tauge, akan mem­b antu terhindar dari kanker payudara, gangguan menjelang menstruasi, pramenopause dan gangguan akibat menopause. Bahkan, tauge dapat merangsang hormone testosteron agar lebih efektif. Asal, dikonsumsi secara rutin dengan benar,” katanya. Namun, ia menegaskan, tidak ada penelitian yang mengatakan makan banyak tauge akan mempercepat kehamilan karena kehamilan sese­orang dipengaruhi oleh banyak faktor. HINDARI MAKAN TAUGE MENTAH Dayu Padmiari me­ nyarankan, sebaiknya tauge

disajikan setelah dimasak. Tauge yang dijual di pasaran, kemungkinan mengandung bakteri salmonella. Bakteri ini dapat menimbulkan gejala sakit perut, diare, sakit kepala, pusing, muntah, dan demam. Selain itu, ada pula risiko tauge terkena bakteri eschericia coli yang juga dapat menyebabkan infeksi. “Kemungkinan hal itu disebabkan pemilihan biji yang kurang higienis, sanitasi yang kurang baik, ataupun terkontaminasi saat proses sprouting. Selain itu, kondisi hangat dan lembap selama proses perubahan kacang menjadi tauge juga dapat membantu bakteri tetap hidup,” katanya.

Untuk mengonsumsi tauge secara aman, lakukan hal sebagai berikut: lCium bau tauge yang akan Anda beli. Jika tauge masih segar, seharusnya tidak berbau. Hindari jika timbul bau tak sedap dari tauge. lSegera masukkan tauge ke kulkas atau lemari pendingin. Namun, simpan terpisah tauge mentah dari sayur lain, untuk menghindari kontaminasi. lCuci bersih tauge serta sayur dan buah-buahan lain, hal ini untuk menghilangkan bakteri yang berbahaya. lHindari konsumsi tauge mentah. Masak tauge hingga benar-benar

matang dengan air mendidih. l Tauge dari jenis kacang apa­ pun, baik kacang hijau, kedelai, alfalfa maupun jenis kacang-kacangan lainnya mengandung banyak sekali zat nutrisi yang berkhasiat. Berikut adalah kandungan gizi pada tauge per 100 gram, antara lain: energi 50,00 kal, protein 5,70 gram, lemak 0,10 gram, karbohidrat 10 gram, kalsium 32 mg, potasium 235 mg, seng 960 mg, asam folat 160 mg, fosfor 96 mg, kalium 125 mg, zat besi 1,10 mg, vitamin A 13.00 RE, vitamin B 10.13 mg, vitamin B 20,15 mg, vitamin C 20,00 mg, niacin 1,00 mg, serat 0,70 gram. -Wirati Astiti


10

Edisi 910/ 18 - 24 juli 2016

Kreasi

Genjek

Style

Edisi 910/ 18 - 24 juli 2016

Kasual Endek Tonjolkan Spontanitas Anak-anak dan Improvisasi A

ksi dan lenggak lenggok mereka tak kalah dengan para model dewasa. Penonton pun bertepuk tangan meriah melihat penampilan anak-anak di atas cat walk saat mengikuti “Lomba Fashion Show Casual Endek untuk Anak-anak” yang diselenggarakan Duabe Model di Warung Pan Yoga, Jimbaran belum lama ini. Dalam lomba ini, para model cilik ini mampu mempertontonkan keahliannya berlenggang dan melakukan

Sekitar tahun 1990-an, kaum muda pria Bali tampak gandrung ber-genjek ria, “hiburan baru” yang merupakan perpaduan antara seni vokal dan gerak. Euforia genjek saat itu bisa hadir dalam suasana suka dan duka. Ia bisa marak dalam acara perkawinan. Ia bisa menjadi pelipur atau teman begadang saat ada hajatan kematian. Demikian pula di pojok bale banjar, pos siskampling, warung kopi, di bawah rindang pohon atau di pantai dengan mudah dapat dipergoki orang magenjekan. Saat musim kampanye pada pemilu ketika itu, genjek didaulat menjadi corong sejumlah organisasi sosial politik tertentu.

O

leh popularitasnya itu, menyebabkan Pesta Kesenian Bali (PKB) XIX tahun 1999 tak lupa menampilkannya. Dalam pesta seni yang khusus menggelar berbagai kesenian rakyat tersebut, genjek dilombakan. Setiap kabupaten di Bali dengan penuh gairah mempertontonkan aksi genjek-nya. Sambutan penonton luar biasa. Panggung tempat pentas genjek ini dimainkan selalu sesak. Etimologi genjek tak jelas. “Secara etimologi, arti kata genjek belum ditemukan dalam bahasa Bali. Dalam buku yang berjudul Tata Bahasa Bali Ringkes oleh I Nengah Tinggen, memprediksi kata genjek berasal dari gonjak yang artinya bersenda gurau. Memang kata gonjak yang dalam bentuk kata kerjanya menjadi megonjakan memiliki sifat yang sama dengan seni genjek, yaitu bersenda gurau untuk menghibur diri yang sering diselingi nyanyian. Kemungkinan lainnya adalah kata genjek merupakan peniruan bunyi

atau onomatopea dari pendengaran sepintas paduan berbagai jenis suara tersebut yaitu gen-jek, gen-jek…, dan seterusnya,” papar Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha. S.SKar., M.Hum dalam orasi ilmiahnya bertajuk “Genjek sebuah Seni Vokal Bali: Pembentukan dan Perkembangannya”, saat dikukuhkan sebagai guru besar di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, 30 Juni 2016. Sebenarnya seni vokal dan tari sejenis genjek dapat dise­ jajarkan dengan cak di Bali Selatan, cakepung di Bali Timur dan rengganis di Bali Utara. Namun genjek lebih fleksibel. Ia dapat dibawakan dimana dan kapan saja. Tak terikat dengan jumlah pemain. Tiga orang bisa. Dalam jumlah yang lebih banyak tentu akan lebih seru. Lagu-lagu yang didendangkan pun bebas bahkan dapat dikarang saat permainan sedang berlangsung. Unsur spontanitas dan improvisasi begitu menonjol. Genjek dimainkan secara duduk. Seseorang biasanya bertindak sebagai pimpinan. Tugasnya memberi komando dalam hal memulai atau mengakhiri lagu, selain juga mengendalikan irama lagu dan gerak-gerak tari para peserta. Menari dalam genjek tidak harus berdiri. Cukup duduk dengan menggerak-gerakkan ba-

dan, tangan dan kepala. Tariannya pun tak harus bersumber dari perbendaharaan tari Bali namun bebas, spontan dan alami. Setiap lagu didendangkan menjadi dua tahap. Tahap pertama dinyanyikan secara bersama-sama isi lengkap lagunya. Baru pada tahap kedua diberi ornamentasi. Seseorang bertugas mengumandangkan melodinya dan para peserta lainnya mengisinya dengan menirukan bunyi berbagai instrumen dalam gamelan Bali seperti kendang, cengceng, gong dan sebagainya. Pada bagian inilah seluruh peserta menari sembari menyanyi riang. Kegembiraan adalah menjadi ciri seni genjek. Keceriaan ini muncul dari lagu-lagu yang dimainkan. Umumnya bertutur tentang suka dan manisnya dunia anak muda. Kalaupun berkisah tentang duka dan getirnya kehidupan mereka, seperti kemiskinan dan sulitnya mencari pekerjaan misalnya, biasanya dilontarkan dengan lagu dan lirik yang bernuansa humoristik. Akan tetapi kekocakan dan kegembiraan genjek tampak agak terpasung ketika ia diangkat ke

atas pentas seni. Dalam lombalomba genjek, seperti dalam arena PKB, entah diharuskan atau tidak, hampir seluruh grup genjek latah menyampaikan pesan-pesan pembangunan. Bukan tak perlu. Tapi terasa amat dipaksakan selain porsinya agak berlebihan, yang, menggiring penampilan genjek menjadi semu dan kikuk. Genjek menjadi “kesenian” selain didorong oleh potensi seninya juga citra miring yang menyertai keriuhannya. Ada yang mengkonotasikan genjek identik dengan mabuk-mabukan. Tudingan itu sebenarnya tidak salah sama sekali. Sejarah menguaknya genjek memang dirangsang oleh minuman keras. Tuak misalnya, bisa jadi memberikan keberanian kepada seseorang untuk menyanyi dan menari saat begadang. “Genjek memang berawal dari kegiatan metuakan hingga mabuk, dan dalam keadaan mabuk menyebabkan orang menyanyi secara spontan. Apabila si pemabuk memiliki pengalaman estetis tentang gegendingan Bali, maka dalam kondisi mabuk diekspresikan dengan cara menyanyi dan menggerak-gerakkan tubuh-

nya mengikuti irama nyanyian,” ungkap Prof. Arya Sugiartha. Belakangan, tanpa ada unsur tuak dan teler, genjek sudah dieksplorasi ke dalam seni pentas wayang kulit, janger, dan drama gong. Menurut Arya Sugiartha, perkembangan genjek didorong oleh faktor eksternal dari masyarakat Bali yang menerima genjek sebagai aktivitas kesenian. “Sementara itu, pelaku-pelaku genjek tradisional yang sama sekali tidak merasa keberatan dengan tawaran mengolahan tata garap artistik, menjadi faktor internal terjadinya perkembangan genjek lebih semarak dan bertransformasi menjadi seni pertunjukan,” kata guru besar yang juga Rektor ISI Denpasar ini. Melengkapi orasi ilmiahnya yang disimak tekun oleh para undangan, sebuah kecipak genjek disuguhkan yang dibawakan oleh 20 orang dosen dan mahasiswa ISI. Disajikan secara apik dengan bingkai lakon kontekstual tentang bahaya narkoba, sajian Genjek yang dibintangi oleh I Gusti Lanang Ardika, Ni Wayan Suratni, dan I Kadek Widnyana tampil kocak menghibur. -Kadek Suartaya

pose di panggung. Kelincahan, ditingkahi warna –warnai busana yang dikenakan dan senyum yang lepas begitu mempesona. Lomba peragaan busana untuk anak ini juga berhasil menunjukkan rasa percaya diri selain mengajarkan mereka untuk mencintai produk lokal sejak dini, khususnya endek. Berikut beberapa gaya anak-anak dan model busana saat berlomba, hasil jepretan Tokoh untuk pecinta halaman Style Tokoh. –Sri Ardhini

15


16

Tahun ajaran baru, bagi siswa yang baru masuk ke jenjang yang lebih tinggi diwajibkan untuk mengikuti masa orientasi sekolah (MOS). MOS lazim dijumpai di setiap sekolah mulai dari tingkat SMP, SMA, dan perguruan tinggi. Hampir semua sekolah baik negeri maupun swasta menggunakan cara tersebut untuk mengenalkan almamater kepada calon peserta didik baru. MOS juga dipakai sebagai sarana pengena­ lan siswa terhadap lingkungan sekolah yang baru. Akan tetapi, orientasi yang bertujuan untuk melatih ketahanan mental, disiplin, dan mempererat tali persaudaraan kerap kali menjadi ajang perpeloncoan atau ajang balas dendam.

M

Edukasi

Edisi 910/ 18 - 24 juli 2016

enurut Kepala SMA 1 Singaraja I Putu Eka Wilantara, Masa Orientasi Peserta Didik Baru (MOPDB) tahun ini memang dilaksanakan lebih humanis melalui Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). “Dulunya MOS sekarang namanya MPLS,” ujarnya. Bergantinya MOS menjadi MPLS bertujuan untuk mengubah paradigma MOS sebagai ajang perploncoan. “Tahun lalu memang sudah tidak ada yang namanya perploncoan, tetapi dengan adanya MPLS ini kami sangat berusaha menciptakan situasi yang menyenangkan,” paparnya. Wilantara juga mengungkapkan bahwa dalam pengenalan lingkungan sekolah pihaknya menciptakan kegiatan-kegiatan yang bersifat edukatif, menyenangkan,

Senangkan Siswa dengan Orientasi Humanis tiga tahun menjabat tersebut. Jika MPLS dilakukan lebih humanis bukan berarti tidak dapat membentuk ketahanan mental siswa hanya saja cara dalam penyampaiannya yang berbeda. “Sebenarnya tujuannya sama dan pada akhirnya akan bermuara ditempat yang sama,” tandasnya. Jika dalam MOS siswa diberi tugas yang ‘tidak masuk akal’ maka dalam MPLS tugas yang diberikan lebih mendidik. “Dalam MPLS siswa misalnya diberikan tugas 5 buah, jika tidak dapat dikerjakan semua tidak akan dihukum justru yang mengerjakan terbaik akan

diberikan hadiah,” jelasnya. Memang secara pelaksanaan antara MOS dan MPLS sangat berbeda. Seluruh kegiatan dalam MPLS dirancang oleh guru sedangkan siswa hanya sebagai pendamping. Siswa atau OSIS dilibatkan apabila tenaga guru dirasa tidak mencukupi untuk melaksanakan kegiatan tersebut. “Membawa aksesoris yang berlebihan juga tidak dianjurkan atau mencari produk-produk yang dapat membingungkan siswa,” ujarnya. Dalam pelaksanaan MPLS yang dirasa sangat humanis, Wilantara juga menyisipkan kegiatan KSPAN (Kelompok Siswa

Peduli Aids dan Narkoba) yang merupakan program dari kabupaten. Hal ini untuk menekankan kepada siswa tentang bahaya narkoba dan AIDS tersebut. “Di sekolah kami memiliki ekstra itu dan kami juga ada SCC (Smansa Conseling Club) yang berguna untuk membimbing anak dalam pencegahan terhadap hal-hal negatif,” jelasnya. Ia juga sangat berharap jika MPLS tersebut dapat menyamakan visi dan misi peserta didik baru yang berasal dari latar belakang berbeda sehingga memiliki pemikiran yang searah agar bersiap mengikuti pembelajaran selanjutnya. –Wiwin

I Putu Eka Wilantara

dan kreatif. Pihaknya juga berusaha menciptakan kegiatan yang dapat menggali potensi diri siswa, mengenal sarana dan prasarana sekolah, dan komunikasi antar siswa. “Intinya siswa baru tersebut senang memasuki lingkungan sekolah,” tambahnya. Kegiatan MPLS yang berlangsung selama tiga hari berupa kegiatan untuk membentuk kedisiplinan, penyampaian informasi mengenai program sekolah yang disampaikan oleh kepala sekolah, wakil kepala sekolah, maupun kepala tata usaha, dan pengembangan potensi. “Disela-sela juga kami sisipkan kegiatan KSPAN,” imbuhnya Wilantara yang sudah

Dara

d n a B k n a Niw

Bermusik bukanlah hal yang mudah, apalagi jika dalam berkarya tidak memiliki visi dan misi yang sama. Sebuah band akan terasa lengkap jika memiliki personil yang utuh. Keutuhan yang dimaksud bukanlah perkara kuantitas melainkan kualitas baik individu maupun musik itu sendiri. Hal itulah membuat band yang terbentuk 28 Oktober 2007 ini mengalami beberapa kali pergantian personil.

Cinta tak Pernah Habis

N

iwank band merupakan band beraliran rock alternative yang berasal dari Buleleng. “Niwank dibentuk oleh senior kami dan sempat beberapa kali mengalami beberapa kali pergantian personil, astungkara tahun ini personil tetap,” ujan Apriana, sang vokalis. Band yang memiliki formasi Apriana (vocal), Dek’an (gitar), Agus (bass), dan Permadi (drum) ini mengaku jika dalam lagu-lagunya yang diciptakan menggunakan bahasa Bali dan lagu bahasa Indonesia. Memilih kedua bahasa tersebut dalam menciptakan lagu dikarenakan

Perwakilan siswa dengan Wakil Bupati, Ketua DPRD, dan Ketua Dewan Pendidikan

Foto Di Atas Jurang Bali memiliki pesona alam yang luar biasa. Pemandangan bukan hanya di pantai dan tebing, kini banyak tempat wisata yang mengeksplorasi kebun kopi dan jurang. Salah satunya di Bali Pulina di daerah Tegallalang, Gia­ nyar. “ S a y a lihat di internet ada spot foto di atas jurang. Ini pilihan baru untuk berwisata di Bali. Pas liburan ke

Bali, langsung saya ajak keluarga untuk meng­u njungi tempat ini,” ujar Niko, warga Surabaya. Ia pun menuju lokasi dengan pan­duan aplikasi penunjuk arah. Dengan harga tiket Rp 100 ribu untuk dewasa dan gratis untuk anak-anak, ia pun memanfaatkan kesempatan mengenal kebun kopi plus belajar cara pengolahan kopi. Niko dan keluarganya juga mendapat penjelasan bagaimana kopi luwak diproduksi. Proses pengolahan sederhana di dapur pun menjadi bagian dari pengalaman pengunjung. Mereka bisa melihat penjemuran kopi yang sudah dipisahkan sesuai ukuran, kemudian menyangrai, hingga menumbuk kopi. Semua ini bisa difoto untuk dijadikan kenangan. Pe n g u n j u n g juga diberi contoh delapan minuman. Selanjutnya dipersilakan memilih

Edisi 910/ 18 - 24 juli 2016

S

kecintaannya terhadapa bahasa Bali dan bahasa Indonesia. “Kami kan orang Bali, selain itu kami juga sering manggung di festival band dan nyanyi lagu bahasa Indonesia akhirnya kami coba buat dengan bahasa Indonesia,” ungkap Apriana. Ia juga menambahkan jika lagu-lagu berbahasa Indonesia yang diciptakan memang sangat diniminati oleh pendengarnya. Tema-tema yang diangkat pun masih seputaran cinta yang tentunya masih sangat dekat dengan masyarakat pendengarnya. “Single andalan di album pertama berjudul Rindu Mantan,” imbuh Permadi. Menurutnya tema cinta

E

X DU

yang diambil memang tidak pernah ada habisnya dan selalu ada hal yang menarik untuk dibahas. Ditambahkan oleh Dek’an sang gitaris, nama Niwank sendiri secara harfiah tidak memiliki arti. Akan tetapi nama Niwank terinspirasi dari nama sebuah band legendaris Nirvana. “Di buat oleh senior (Gusti Crefuck) yang ingin sebuah nama yang menyerupai nama Nirvana hingga akhirnya tercetuslah nama Niwank,” ujar Dek’an. Para personilnya pun memadankan nama Niwank dengan ngefly yang diartikan terbang membumbung tinggi tanpa batas.

Memiliki pengalaman berganti-ganti personil membuat para personil Niwank tetap menjaga komunikasi. Bagi mereka komunikasi dalam sebuah band adalah hal yang paling utama karena kesibukan masing-masing personil. Menurut sang vokalis, memang sangat susah menentukan waktu latihan tanpa menganggu aktivitas yang lain, akan tetapi karena semua personil sudah menggunakan media sosial maka ketika disepakati latihan akan dilakukan. “Kami tidak ada jadwal latihan yang pasti, kami fleksibel aja kalau ada waktu ya langsung info yang lain dan latihan,” tambahnya.

9

“Kami kan orang Bali, selain itu kami juga sering manggung di festival band dan nyanyi lagu bahasa Indonesia akhirnya kami coba buat dengan bahasa Indonesia,” Band yang akan launching album kedua di awal Agustus ini juga mengatakan bahwa hal yang tersulit dilalui dalam bermusik adalah menyatukan inspirasi. Hal ini dikarenakan masing-masing pesonil memiliki pendapat, ide maupun inspirasi yang berbeda sehingga jika tidak dicari jalan tengahnya akan menimbulkan perdebatan yang berujung perpecahan. “Biasanya kami akan mengeluarkan pendapat masingmasing, mana yang baik akan kami saring dan yang tidak akan kami buang,” jelas Apriana. Sembilan tahun malang melintang di blantika musik membuat Niwank band sangat paham dengan kondisi pemusik-pemusik yang bermunculan khususnya di Buleleng. Menurut mereka banyaknya musisi-musisi yang bermunculan tidak menyurutkan semangat dalam bermusik melainkan sangat memotivasi untuk menciptakan karya-karya yang lebih baik lagi. -Wiwin

Kirim surat Anda ke Redaksi ­Tokoh dan cantumkan “Sex Edu” di amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh.co.id. Rubrik ini ­diasuh ­Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI) ­Denpasar.

dr. Oka Negara, FIAS

MERAWAT RAMBUT KELAMIN

satu untuk dipesan dilengkapi dengan kudapan berupa pisang goreng. Mau menambah kudapan lain, juga bisa tetapi dikenakan biaya tambahan. Setelah puas menikmati kopi dan kudapan, bisa turun ke spot foto. Background pemandangan jurang di seberang menjadi sangat indah. Pengambilan foto lebih baik dilakukan dari atas agar pemandangan terlihat jelas. Warna langit biru berpadu dengan hijaunya tanaman, lantai kayu berwarna coklat. Tak cukup hanya di spot foto itu, pengunjung bisa turun ke bawah. Ada “jembatan goyang” dan kolam berair jernih. Turun ke jurang kemudian naik lagi cukup menguras energi. Namun, semua sepadan dengan pengalaman berwisata di alam terbuka. –Ngurah Budi

“Dok, saya ingin bertanya tentang rambut kelamin. Baiknya dibiarkan atau malah dicukur habis? Soalnya suami bilang lebih bergairah kalau rambut kelamin saya lebih lebat, lebih seksi katanya. Tetapi banyak teman yang meminta saya buat menggundulinya, katanya itu yang lebih menarik, dan menyarankan saya mencabut rambut pubis atau menghabiskannya dengan cara di”waxing”. Menurut dokter, itu bagaimana? Saat ini sih saya cukup potong rapi saja, biar tidak terlalu lebat. Terima kasih” (Nita, 25 thn) Vagina harus dijaga kebersihannya. Selalu menjaga kebersihan vagina tidak hanya akan menguntungkan perempuan, tetapi juga pasangannya. Pada kenyataannya, banyak perempuan yang kurang memperhatikan kebersihan vagina dan sekitarnya dan ini dapat memicu risiko kesehatan yang cukup serius. Termasuk salah satunya adalah tidak memperhatikan bagaimana merawat rambut kelamin. Ketika sudah mulai puber atau menuju dewasa, setiap orang akan mengalami

perubahan pada fisiknya, salah satunya adalah tumbuhnya rambut-rambut, termasuk rambut di kelamin, yang disebut dengan rambut pubis. Apa yang dilakukan sebenarnya sudah cukup tepat, karena walaupun ternyata rambut pubis bisa menjadi daya tarik seksual juga bagi sebagian laki-laki, tetapi sudah seharusnya memang rambut pubis jangan dibiarkan tidak teratur dan terlalu lebat, karena jika terlalu lebat akan juga membuat area vagina dan sekitarnya menjadi lebih lembab sehingga mempermudah tumbuhnya jamur. Keringat dan rambut pubis dapat menyatu sehingga menimbulkan bau tak sedap, seperti halnya bau menyengat pada ketiak. Jadi memang harus dibersihkan sesering mungkin untuk mencegah akumulasi keringat, terutama karena bagian tersebut hampir selalu tertutup oleh pakaian. Area antara vagina dan anus pun harus selalu bersih dan bebas dari bau berlebih. Tentang mencabut rambut pubis, sebenarnya tidak akan menimbulkan akibat buruk apapun, selama dilakukan

dengan hati-hati dan tidak menggunakan alat bantu yang kotor, misalnya menggunakan pinset yang kotor tentu saja bisa mengakibatkan iritasi atau bahkan infeksi. Demikian juga bila ingin mencabut keseluruhan rambut dengan menggunakan pencabutan menggunakan perekat khusus dengan cara “waxing”, selama alat dan bahan yang digunakan tidaklah kotor, akan sedikit akibat buruknya. Tetapi tentu saja proses pencabutan seperti ini akan menimbulkan rasa sakit. Yang kemudian perlu diingat adalah, jika seluruh atau sebagian besar rambut pubis dihilangkan sampai bersih, atau terlihat gundul, walau memang akan lebih mudah dibersihkan tetapi ada kemungkinan resiko lebih mudah mengalami perlecetan saat mengalami gesekan, baik itu saat berhubungan seksual atau gesekan dengan pakaian dalam. Dalam keadaan ini, rambut kelamin sesungguhnya bermanfaat untuk mencegah gesekan tersebut sekaligus menjaga kelembaban area sekitar vagina. Akan lebih baik pilihan bisa dilakukan dengan menggunting atau mencukur rapi

saja rambut pubis, dengan menyisakan sebagian rambut, jadi tidak dihabiskan semua. Dengan dicukur atau digunting rapi, tentu saja tidak akan terasa sakit, lebih praktis dan rambut pubis bisa menjalankan fungsinya untuk melindungi gesekan termasuk menjaga kelembaban seputar vagina. Dengan dipotong pendek dan rapi sekaligus juga bisa mencegah kejadian rambut pubis yang panjang yang bisa tertarik masuk saat berhubungan seksual, yang bisa memunculkan rasa nyeri juga saat itu. Satu lagi, jangan lupa buat selalu menjaga kebersihan pakaian dalam. Seringlah mengganti pakaian dalam, minimal sehari dua kali setelah mandi, untuk menghindari jamur dan bakteri yang berasal dari pakaian dalam melekat juga pada rambut pubis atau langsung pada vagina jika rambut pubis dihabiskan. Sesungguhnya, upaya-upaya ini semua masuk ke dalam konsep merawat dan membersihkan kelamin yang perlu dilakukan dalam kaitan dengan hubungan seksual dan kebersihan organ seksual.


8

Bunda & Ananda

Edisi 910/ 18 - 24 juli 2016

Perhatikan Kesiapan Mental Anak Tahun ajaran baru sudah mulai, anak-anak sudah mulai masuk sekolah. Orangtua tak kalah sibuknya untuk mengurus anak-anak. Persiapan masuk sekolah ternyata memberi banyak pengalaman. Seberapa besar peran orangtua dalam memilihkan sekolah untuk anaknya?

Sagung Ratna

B

u Indra tersenyum saat melihat putri bungsunya masuk kelas. Ia memilih menemani putrinya yang baru masuk sekolah dasar. Sembari memperhatikan putrinya dari luar kelas, ia menuturkan pengalamannya mencari sekolah. “Saya memilih sekolah negeri yang dekat dengan rumah. Kebetulan ada teman kantor yang

anaknya pernah sekolah di sini. Saya banyak bertanya tentang kualitas sekolah. Ternyata apa yang disampaikan teman cocok dengan keinginan saya dan putri saya,” ungkapnya. Ia pun memantapkan diri untuk mendaftarkan putrinya. Dari hasil tes, sang putri dinyatakan lolos. Bu Indra pun senang karena sekolah anaknya tak jauh dari rumah. Urusan antar-jemput pun bisa diatur. Pengalaman Bu Sari beda lagi. Ia ingin putri sulungnya masuk sekolah negeri tempat keponakannya bersekolah. Alasannya, sekolah tersebut kualitasnya bagus dan gampang urusan antar-jemput. Saat mendaftar, ia berusaha datang sepagi mungkin. Namun, sang putri tak diterima. Alasannya, sekolah memprioritaskan warga lokal. “Saya dan suami bingung karena waktu pendaftaran sudah

Amel

Main Catur dengan “Tablet”

Lahir dari keluarga yang hobi bermain catur, Fatimah Azzahra (13) mahir memainkan bidak-bidak catur sejak usianya masih sangat kecil. Amel, panggilan akrabnya, telah menjadi bintang catur bahkan sejak kelas dua SD di Kecamatan Bolo Kabupaten Bima. Prestasi yang diraih siswa yang baru saja naik kelas dua di SMPN 1 Bolo ini, terus cemerlang hingga ia menjadi juara catur di tingkat Kabupaten Bima, lalu tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat dan juga tingkat nasional. Prestasi Amel diraih dengan cara yang unik. Ia tidak pernah berlatih khusus untuk mengawali prestasinya itu bahkan orangtuanya tidak pernah mengajarkannya secara khusus bermain catur. Amel kecil mulai bermain catur sejak usianya masih sangat kecil. Awalnya dia sering ikut duduk di dekat ayahnya yang bermain catur dengan para penghobi catur di Desa Rato. “Kami pikir dia hanya duduk menonton saja, tetapi ternyata dia melihat dan mengamati permainan catur yang dilakukan orang dewasa itu,” kata Sukartiningsih, ibundanya. Amel rupanya memiliki bakat yang sangat besar yang menurun dari kakek neneknya (dari ayahnya) dan juga bakat dari ayahnya. Kakek dan nenek serta ayahnya juga pernah menjuarai ajang catur di NTB. Bakat besar yang ada dalam dirinya hampir luput dari perhatian orang tuanya Sukartiningsih (37) dan Muslim (37). Dari sering melihat dan mengamati orang bermain catur, Amel memulai bermain catur sebagai hobi. Sampai akhirnya saat usianya tujuh tahun dan ia duduk di kelas satu SD Amel telah mahir bermain catur dan mulai mengikuti lomba-lomba catur di tingkat kecamatan. Tampil perdana dalam lomba ini, Amel gagal. Kelas dua SD Amel kembali ikut ajang lomba catur dan langsung berhasil meraih Juara I tingkat Kecamatan Bolo. Tahun berikutnya ia meraih juara I dalam ajang O2SN SD tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat. “Saat itu Amel mewakili Provinsi NTB dalam O2SN tingkat Nasional dan keluar sebagai juara IV,” ujar Ningsih. Prestasi Amel dalam bidang catur terus cemerlang. Tahun 2016 ini, saat duduk di bangku kelas 1 SMP lalu, ia kembali menjuarai catur dalam ajang O2SN Provinsi NTB sebagai Juara I. Karena itu Amel kembali mewakili Provinsi NTB bertarung di papan catur pada O2SN tingkat Nasional di Jakarta yang akan digelar mulai tanggal 24 Juli 2016 mendatang. Jika kali ini ia berhasil meraih Juara I Nasional, maka ia berhak mengaikuti lomba catur internasional yang akan digelar di Rio De Jeneiro, Brazil pada bulan November 2016 mendatang. Amel kini tidak lagi berlatih catur secara manual melainkan ia berlatih bermain catur secara on line. “Sehari-hari saya sering melihatnya banyak di kamar, ia bermain catur dengan “tablet”,” ungkap Ningsih. Prestasi Amel dalam bidang catur rupanya berbanding lurus dengan prestasinya di sekolah. Sejauh ini, menurut Ningsih, Amel selalu masuk dalam tiga besar juara kelas. -Naniek I. Taufan

selesai. Saya akhirnya mencari sekolah swasta. Ada saudara yang anaknya sekolah di sekoalh swasta. Saya tanya-tanya. Setelah merasa cocok, saya langsung daftar. Syukurnya bisa diterima. Walaupun agak jauh dari rumah, tetapi demi anak, tidak masalah,” ujar ibu dua putri ini. Menurut Sagung Ratna Ari Dian Pramita Sari, S.Psi,, orangtua sangat berperan dalam menentukan dan memilih sekolah untuk putraputrinya. “Masing-masing orangtua pasti ingin putra-putrinya mendapatkan sekolah yang berkualitas baik. Memilih sekolah untuk anak adalah hal penting untuk mempersiapkan masa depan anak, namun peranan tersebut bukan berarti harus memaksakan keinginan terhadap anak,” ujar psikolog lulusan Universitas Persada Indonesia Y.A.I. ini. Gung Ratna menjelaskan memaksakan kehendak atau keinginan orangtua dalam menentukan sekolah untuk anak dapat berdampak negatif bagi diri anak. Sekalipun orangtua memilih sekolah yang dirasa berkualitas baik oleh orang tua namun tidak bagi anak maka anak akan merasa tertekan dan malas belajar karena anak memiliki

pandangan lain terhadap sekolah pilihan orang tua maka dengan rasa tertekan itu anak tidak dapat menunjukkan prestasi belajarnya. “Sering kali orangtua merasa bahwa sekolah yang memiliki kualitas baik adalah sekolah yang mahal, namun di era global seperti saat ini sekolah–sekolah sudah mulai bersaing dalam meningkatkan mutu dan kualitasnya baik dari segi pengajar, metode pengajaran yang tidak terlepas dari kurikulum yang ada,” ujar perempuan kelahiran Tabanan, 29 Januari 1988 ini. Dalam hal ini orangtua dapat mempertimbangkan beberapa hal dalam memilih sekolah untuk anak. Pertama, membiarkan anak untuk ikut terlibat dalam pemilihan sekolah dan mencari informasi tentang sekolah yang dipilih. Maka dengan demikian anak akan tahu apa kelebihan dan kekurangan dari sekolah pilihannya. Kedua, situasi dan lingkungan sekolah. Biarkan anak terlibat dalam melakukan observasi terhadap sekolah pilihannya. melihat secara langsung bagaimana lingkungan dan situasi di sekolah tersebut. Dimana lingkungan sekitar juga memiliki pengaruh pada pembentukan karakter diri anak nantinya. Ketiga, perbandingan jumlah guru dan siswa di kelas. Pelajaran yang disampaikan oleh guru akan lebih mudah diterima oleh siswa yang jumlah satu kelasnya tidak melebihi kuota yang sewajarnya sehingga kegiatan belajar mengajar menjadi efektif. Keempat, izin sekolah. Seringkali orangtua melewatkan momen ini, saat ini

banyak sekolah yang tutup diakibatkan karena tidak memiliki izin yang jelas. Kelima, kematangan sosial anak. Kesiapan mental dan kematangan sosial sangat berperan penting dimana jika anak sudah matang dalam kehidupan sosialnya maka anak sudah siap untuk masuk dalam dunia baru yaitu lingkungan sekolah dimana anak akan bertemu teman-teman baru, pengajar serta orang-orang baru yang ada di sekelilingnya. Kematangan social yang dikemukakan oleh Doll (1965) mencakup beberapa aspek, diantaranya menolong diri sendiri (self-help), mengarahkan pada diri sendiri (self-direction), adanya aktifitas gerak (locomotion), pekerjaan (occupation), sosialisasi (socialization), dan komunikasi (communication). “Peran orangtua dalam memilih sekolah untuk anak sangatlah penting. Sekolah mahal dan sekolah yang biaya pendidikannya tidak mahal memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Satu hal yang harus kita perhatikan sebagai orangtua bahwa sekolah adalah sarana penunjang pendidikan untuk anak meraih keberhasilannya dimasa mendatang namun yang terpenting disini adalah bagaimana peranan orangtua dalam memberikan pelajaran moral dan kedisiplinan sehingga terbentuk suatu karakter dan kepribadian yang baik pada diri anak,” tegas HR & GA Coordinator PT.Karya Cipta Balindo (Bali Beach Golf Course & Sector Restaurant) ini. –Ngurah Budi

Mendongeng Lima Menit

KULKUL BULUS I BELATUK

Pada suatu hari hewan-hewan di hutan ketakutan. Ada yang bersembunyi, ada yang lari tak tentu arah. Sebabnya tak lain, I Belatuk, seekor burung pelatuk memukul kulkul bulus di baMade Taro tang kelapa. Tong, tong, tong…! Tong, tong, tong…! I Lutung, seekor kera kepercayaan raja hutan, berlari tergopoh-gopoh menuju istana. “Tuanku Prabu Singa! Sungguh gawat kerajaan kita! Semua penghuni ketakutan.” “Apa yang terjadi, Lutung?” tanya Prabu Singa. “I Belatuk memukul kulkul bulus, Tuanku.” “Kalau demikian cari sebab-musababnya. Warga yang bersalah akan dihukum berat.” I Lutung mendatangi I Belatuk. “Belatuk, mengapa kamu memukul kulkul bulus?” “Gawat, Lutung! I Siput lari terbirit-birit mengangkut rumahnya.” I Lutung langsung menemui I Siput. “Hai, Siput! Mengapa kamu lari terbirit-birit mengangkut rumah?” “Aku takut rumahku terbakar, sebab I Kunangkunang mondar-mondir membawa api.” “Hai, Kunang-kunang! Mengapa kamu membawa api?” “Aku khawatir banyak warga yang terperosok

masuk lubang, sebab kumbang tanah yang bernama I Beduda membuat lubang-lubang menganga.” “Hai, Beduda! Mengapa kamu membuat lubang menganga?” “Lihat itu, I Sampi berak di sembarang tempat. Kotoran itu aku timbun dalam tanah, sehingga lingkungan kita bersih dan sehat.” “Hai, Sampi! Jorok benar kau! Mengapa kau membuang kotoran di sembarang tempat? Kotoranmu menyebabkan Beduda membuat lubang, lubang itu menyebabkan kunang-kunang membawa api penerangan, api itu menakutkan I Siput sehingga ia mengangkut rumahnya ke mana-mana, dan keadaan yang mencurigakan itu membuat I Belatuk memukul kulkul bulus. Kaulah sebab-musababnya! Sekarang, datanglah ke istana untuk mempertanggung-jawabkan perbutanmu!” Setiba di istana, I Sampi dibentak oleh Prabu Singa. “Hai, Sampi! Sikapmu tidak juga berubah. Kamu masih saja membenci aku yang menjadi raja di hutan ini.” kata Prabu Singa setelah mendengar penjelasan I Lutung. I Sampi tenang saja. Sedikit pun tidak merasa gentar berhadapan dengan Singa. Ia menatap Prabu Singa sambil mengunyah makanan, dan melirik I Lutung sambil tersenyum. Prabu Singa marah, lalu menyepak mulut I Sampi. Gigi sapi bagian atas terlepas. Itulah sebabnya sampai sekarang sapi-sapi tidak pernah memperlihatkan rahang atasnya. (Bali) bulus = bunyi bertalu-talu

Griya

Edisi 910/ 18 - 24 juli 2016

17

Batu Sikat Pemanis Taman Berkreasi dengan material batu alam memang tak ada habisnya, selalu menarik dan selalu ada hal yang baru. Banyaknya varian batu alam membuat kita lebih leluasa berkreasi untuk memberikan suasana rumah berbeda, menjadikannya asri dan dan selalu nyaman untuk dinikmati. Salah satu penggunaan batu alam yang banyak diaplikasikan pada outdoor adalah batu sikat.

Ahmad Puspito

S

ejatinya, ada beberapa jenis batu yang dipakai, seperti batu koral dengan beragam ukuran, bentuk dan warna. Dan, karena proses finishingnya seringkali disikat untuk menghilangkan sisa semen, maka batu ini umum disebut dengan batu sikat. Ahmad Puspito, salah seorang karyawan Site On yang berlokasi di Jalan Krobokan, Denpasar mengatakan ada dua pilihan pengerjaan batu sikat, yakni pemasangan di tempat dan stepping stone. Stepping stone merupakan batu pijakan untuk taman yang dibuat (cetakan) dari campuran s e -

men, pasir dan batu alam– biasanya koral sikat sebagai pelapis permukaannya. Ia mengatakan, konsumen lebih banyak mencari stepping stone karena dari segi harga jauh lebih murah dan praktis. Kelemahannya, ketika diaplikasikan pada lahan, sambungan keliatan. “Karena itu, stepping lebih pas jika diaplikasikan sebagai jalan

setapak,” ujarnya. Batu cetakan yang biasa disebut batu sikat stepping ini tersedia dengan berbagai ukuran standar, yakni 20x20 cm, 40x40cm, 60x60cm, 1x1m. “Jika ingin ukuran di luar itu, biasanya konsumen memesan dulu. Begitu juga jika menginginkan motif khusus, yang tentunya harga lebih mahal karena harus membuat

yang didominasi konsumen lokal ini lebih memilih pemasangan di tempat. Harganya memang

lebih mahal, hitungan per meter persegi. Harga mulai Rp 180 ribu belum termasuk penghabisan semen dan pasir. Selain itu, harga disesuaikan dengan jenis batu yang dipilih, motif, serta kondisi lahan yang akan dipasangi batu sikat. Pemasangan batu sikat di tempat ini banyak diaplikasikan sebagai cover lahan, seperti pada carport atau di taman.

des a i n baru lagi,” jelasnya. Batu sikat stepping banyak digunakan sebagai jalan setapak/batu pijakan pemanis taman. Batu sikat stepping ini pun tersedia dengan beragam jenis batu dan motif. Ada batu hijau atau sering disebut gravel, telur puyuh, onix, marber hitam random (acak), marbel stik, marbel merah, mix hijau, bahkan ada stepping refleksi, jenis batunya lebih besar dan sengaja dipasang berdiri untuk mendapatkan sensasi pijatan (refleksi) pada kaki. Sementara untuk mendapatkan hasil yang lebih bagus dan rapi, konsumen batu sikat

Beragam jenis dan motif batu sikat

–Inten Indrawati


18

Life

Edisi 910/ 18 - 24 juli 2016

S

ebagai desa Bali Mula tentu memiliki beberapa keunikan yang dimiliki dibandingkan dengan desa yang lain. Meskipun ada beberapa hal yang memang sudah dipengaruhi oleh keberadaan desa-desa lain. “Beberapa hal yang sifatnya masih prinsip masih kami pertahankan hingga saat ini,” ujarnya. Salah satunya adalah pelaksanaan nyepi adat di luar pelaksanaan nyepi secara umum. Suardarmayasa mengatakan semua warganya turut menghormati pelaksanaan nyepi secara umum dengan jalan melakukan Tapa Brata Penyepian. “Bagi warga yang mau melaksanakan nyepi secara umum disilakan tetapi tidak diwajibkan,” ungkapnya. Ia menambahkan yang

D e s a

T i g a w a s a

Hapus Kesan “Zona Merah” diwajibkan adalah pelaksanaa nyepi secara adat bahkan akan sangat dijaga secara ketat oleh pecalang desa. Tujuan dari nyepi adat tersebut untuk menyeimbangkan antara bhuana agung dan bhuana alit. Keunikan lain adalah manajemen kepemimpianan. Menurut pria yang baru tujuh bulan menjabat sebagai perbekel ini mengatakan satu-satunya desa yang tidak memiliki dualitas kepemimpinan adalah Tigawasa. “Siapapun yang terpilih menjadi perbekel dialah sekaligus menjadi kelian desa pekraman. Sudah turun temurun seperti itu,” katanya. Disamping itu, arsitektur rumah orang Tigawasa juga terbilang sangat unik. Rumah yang disebut saka roras rumah yang terdiri dari satu bangunan dan ruangan. “Tempat tidur, dapur dan ruang lainnya ada

I Made Suardamayasa

Rumah Saka Roras

dalam satu ruangan,” jelasnya. Karena sudah modern rumah saka roras sudah jarang ditemui bahkan yang masih tetap berdiri kokoh sampai saat ini hanya berjumlah 6 unit saja. BAHASA TIGAWASA Selain keunikan dalam adat, Tigawasa juga memiliki bahasa ibu yang dinamakan bahasa Tigawasa. Bahasa tersebut digunakan sebagai bahasa dalam interaksi antar warga lokal saja. Hal ini disebabkan bahasa Tigawasa akan jauh berbeda dengan bahasa Bali pada umumnya. “Digunakan sesama warga lokal saja sebab kalau digunakan dengan warga luar daerah pasti tidak akan dimengerti,” imbuhnya. Pria kelahiran 21 Mei 1969 tersebut

tidak memungkiri jika kemajuan teknologi dan perkembangan zaman yang begitu pesat membuat keberadaan bahasa Tigawasa mengkhawatirkan. Banyak warganya yang memilih hijrah ke kota baik untuk menuntut ilmu ataupun bekerja sehingga penggunaan bahasa pun akan berpindah ke bahasa Indonesia. Meskipun begitu, menurutnya warga yang ketika berada di desa mencoba berkomunikasi menggunakan bahasa selain Tigawasa maka akan dikenakan sanksi moral. “Secara tidak langsung memang tidak pernah melakukan upaya pelestarian bahasa akan tetapi jika ada yang merantau dan pulang menggunakan bahasa Indonesia maka akan dikatakan sudah lupa

Sembuh setelah Ngayah Tidak dapat dimungkiri, kemajuan dan perkembangan zaman sangat berpengaruh besar terhadap pola pikir dan aktivitas masyarakat yang ada di dalamnya. Di tengah gempuran teknologi, membuat permainan tradisional mulai ditinggalkan bahkan dilupakan. Sifatnya yang tradisional membuat anak-anak enggan memainkan sebab takut dianggap kuno atau ketinggalan zaman. Anak lebih memilih permainan yang lebih modern dan kekinian, game online salah satunya. Keberadaan permainan tradisional yang dirasa mulai terpinggirkan tidak lantas membuat Gede Candra Gupta Nugraha ikut melupakan, justru ia sangat menyukainya. Sejak berusia 5 tahun, anak yang akrab disapa Candra ini memang sudah menaruh ketertarikan terhadap permainan tradisional. Salah satu permainan yang sering dimainkan adalah medolanan. Menurutnya, medolanan merupakan salah satu jenis permaianan yang memiliki banyak manfaat. “Mainnya beregu, jadi punya banyak teman,” ungkapnya. Namun, yang membuat unik selain bermain dalam medolanan juga sangat diasah kecerdasan otak kiri si anak. “Iya memang kesulitan dalam menghafal naskah, selain itu juga harus menghafal gerak

atau tarian,” paparnya. Bocah kelahiran 11 Desember 2004 tersebut juga mengungkapkan beberapa tahun terakhir ia memang sering tampil di Pesta Kesenian Bali (PKB) mewakili Buleleng. “Kalau tahun ini memang difokuskan mengenai Megoak-goak, beberapa cerita yang pernah diangkat seperti Naga Balon, dan Mesiap-siapan,”imbuhnya. Terbilang sukses memainkan perannya dalam permainan medolanan, membuatnya selalu bersemangat jika diminta untuk pentas di berbagai kegiatan. Dalam event PKB lalu, ia bahkan membutuhkan waktu selama tiga bulan untuk latihan. Agar tidak menganggu sekolah, ia selalu menggunakan waktu di sore hari untuk latihan. Siswa kelas VI SD Negeri 3 Banjar Jawa tersebut sangat menyayangkan jika di sekolahnya tidak ada permainan medolanan tersebut. “Di sekolah paling cuma buat lawak, pengen kalau medolanan juga dimainkan di sekolah,” ujar anak yang berkeinginan menjadi penari bondres ini. Anak dari pasangan Nyoman Suardika dan Luh Ariani ini memang terlahir dari keluarga yang memiliki jiwa seni. Sang kakek merupakan seorang penari yang cukup tenar di Buleleng. Begitu juga den-

gan sang ayah yang merupakan perintis sanggar Nong Nong Kling. Jadi tidak heran jiwa seni memang melekat pada diri Candra dan kecintaan terhadap kesenian daerah. Ia mengaku dari berbagi jenis permainan yang pernah dipentaskan, ia jatuh cinta dengan kesenian bondres. Meskipun sulit dalam mementaskan bondres sebab harus mempelajari materi namun Candra selalu mendapat dukungan dari sang ayah. “Ayah yang selalu mengajarkan baik menabuh, menari bondres maupun menari janger,” imbuhnya. Sang ayah juga bercerita sewaktu berusia lima tahun, dalam keadaan sakit Candra memaksakan kehendak untuk ikut ngayah di Pura Desa. “Sebelumnya sakit, tapi memaksa harus ikut. Akan tetapi sehabis ngayah tanpa diberi obat langsung sembuh. Entah apa yang menyebabkan,” jelas sang ayah. -Wiwin

dengan bahasa ibu bahkan dikatakan sombong,” paparnya. Desa yang sebagian penduduknya sebagai petani dan perajin ini sedang ditata kembali oleh masyarakatnya. “Perhatian pemerintah sangat luar biasa, secara tidak langsung desa kami memang sudah diakui sebagai salah satu desa Bali Aga,” ujarnya. Suardarmayasa juga mengatakan akan berusaha menghapus citra masyarakat berwatak keras, menyeramkan dan brutal terhadap masyarakatnya. “Dengan kerja nyata kami akan tunjukkan bahwa masyarakat kami tidak seperti itu,” jelasnya. Ia tidak menyangkal jika dulu masyarakatnya memang terkenal dengan kebrutalan dan peperangan akan tetapi saat ini ia menjamin tidak ada lagi hal tersebut. “Lihat saja desa kami dikelilingi hutan dan letaknya di gunung. Dulu masyarakat tidak ada yang mengenyam pendidikan, itulah yang menyebabkan masyarakat menjadi keras,” lanjutnya. Menurutnya keterbatasan informasi sangat berpengaruh terhadap pola pikir masyarakat. “Siapa pun baru masuk desa ini pasti ngeri. Bahkan saat ini dari pihak kepolisian selalu menjadikan desa ini sebagai “zona merah” ketika pilkada tiba padahal hal tersebut tidak perlu dilakukan,” tambahnya. Maka dari itu pihaknya selalu mencari terobosan agar anak-anak di desa tersebut dapat mengenyam pendidikan dan mendapat bantuan bagi yang kurang mampu. -Wiwin

Gede Candra Gupta Nugraha

Tigawasa merupakan salah satu desa yang masuk ke dalam desa Bali Mula atau Bali Aga di Kabupaten Buleleng. Asal-usul desa Tigawasa memang belum dapat diketahui secara pasti, tetapi yang nyata ditemukan benda-benda peninggalan purbakala di tiga tempat yaitu di Dusun Sanda, Dusun Pangus, dan Dusun Gunung Sar. Menurut Perbekel Desa Tigawasa I Made Suardamayasa, ada dua versi dari tetua yang mengungkapkan sejarah terbentuknya Desa Tigawasa. Pertama, secara arti kata, tiga berarti tiga, dan wasa berarti tempat. Maka desa Tigawasa adalah gabungan dari masyarakat dari tiga tempat. Selain itu, versi kedua mengatakan bahwa Tigawasa merupakan masyarakat yang melakukan perpindahan tempat sebanyak tiga kali dan akhir­nya menetap di Tigawasa.

Story

Minah (48) adalah sosok perempuan yang sabar dan tidak banyak bicara. Bahkan dalam situasi hati­nya tercabikcabik akibat perselingkuhan suaminya, Minah tidak pernah memperlihatkan bahwa rumah tangganya tengah dilanda prahara. “Sehari-hari kami tetangganya tidak melihat sikap Minah sebagai orang yang memiliki masalah. Dia tetap ramah dan tersenyum tiap bertemu,” ungkap Friska, salah seorang tetangga Minah di Pulau Lombok.

P

ara tetangga bahkan tahu prahara rumah tangganya tersebut sudah dalam keadaan yang sangat parah. Itu pun hanya satu dua tetangga yang tahu sampai akhirnya Minah mendatangi suaminya yang tengah bermesraan dengan perempuan lain. Kisah Minah berawal ketika menikah dengan Bagas (49), 20 tahun silam. Bagas menikahi Minah tanpa pekerjaan apa-apa. Kehidupan mereka sepenuhnya dibiayai oleh Minah yang telah menjadi pegawai negeri sipil sejak masih gadis. Sebenarnya sangat beruntung bagi Bagas mendapatkan Minah dengan penghasilan yang lumayan. Bagas seperti menikmati kemudahan dan kemurahan hati istrinya dengan tidak memilih bekerja tetap. Namun ia sangat fokus bergaya dengan fasilitas-fasilitas yang diberikan oleh istrinya termasuk mobil baru yang dibeli istrinya dengan cara kredit. Bagas kerap tebar pesona. Ia pernah beberapa kali bekerja namun tampak tidak sungguh-sungguh karena selalu membuat masalah di tem-

Edisi 910/ 18 - 24 juli 2016

Akhirnya Beban Itu Lepas

patnya bekerja. Sekali ia bekerja di perusahaan finance namun ia dipecat akibat menilep uang perusahaan yang dipercayakan kepadanya. Nilainya lumayan besar. Setelah itu ia kembali bekerja sebagai penjaga di sebuah kantor bank di Lombok Barat. Lagi-lagi ia membuat masalah dengan melarikan uang yang dititipkan untuk dijaga olehnya. Masalahnya itu saja, selalu soal uang. Hal yang sama juga terjadi ketika ia bekerja sebagai satpam di sebuah dealer mobil. Itulah sebabnya ia tidak lagi diterima bekerja di mana-mana. Sekian banyak uang yang dibawanya secara ilegal dari beberapa kantor tempatnya bekerja, terpaksa harus diganti oleh istrinya. “Istrinya tidak tahu kemana uang tersebut dibawanya karena Minah mengaku tidak pernah menerima uang dari Bagas selama suaminya itu bekerja,” kata Friska. Dari sinilah rupanya Minah mulai mencium ketidakberesan pada suaminya. Ia akhirnya tahu bahwa suaminya memiliki wanita idaman lain. “Parahnya, wanita idaman lain itu bukanlah perempuan baik-baik,” kata Friska yang mengenal perempuan itu sebagai penyanyi organ tunggal keliling di daerah asalnya di Pulau Jawa. Pekerjaan itu dibawa hingga sekarang dan ia menjadi perempuan penghibur yang dikenal banyak lelaki. Selama ini suaminya itu rupanya selalu hadir mengikuti ke mana pun artis kampung berupa wanita penghibur itu menyanyi. Hatinya rupanya terpaut dengan suara merdu sang biduan. Gayung bersambut karena sang biduan pun rupanya

tergila-gila pada Bagas. Perempuan itu memang akhirnya mengejar-ngejar Bagas yang sesungguhnya “tidak lari” ke mana-mana karena juga menginginkannya dengan sadar. Sampai akhirnya mereka menikah diam-diam dan Minah tidak mengetahuinya. Dalam pernikahan itulah Bagas berkali-kali membawa lari uang kantor yang kemudian digantikan oleh Minah sebagai pertanggung jawaban agar Bagar tidak dipenjara. Bukan itu saja, rupanya Bagas sempat membawa uang tabungan mereka yang seharusnya untuk biaya pendidikan empat anak perempuan mereka. “Minah memberi uang tersebut dengan sukarela kepada Bagas karena menurut Bagas ia pinjam sementara untuk ikut tender proyek kecil-kecilan,” ujar Friska. Namun rupanya semua itu bohong. Uang tersebut juga dipakainya untuk membeli tanah dan membangunkan rumah yang lumayan besar bagi perempuan penghibur yang sudah dinikahinya itu. MINTA CERAI Semua itu diketahui Minah setelah nasi telah menjadi bubur. Suaminya telah menikah dan memiliki seorang anak. Bagas mengaku menikah lagi karena menginginkan anak laki-laki. Sungguh alasan yang dibuat-buat dan tidak bisa diterima akal sehat. “Minah pun minta cerai. Namun Bagas menangis tersedusedu memohon-mohon agar Minah mengurungkan niatnya. Minah juga akhirnya luluh namun meminta agar Bagas menceraikan wanita penghibur itu,” kata Friska. Bagas memang menerima syarat

Ida Ayu Putu Puniadhi

Rendahnya Pendidikan Sumber Awal Masalah Anak Permasalahan anak tak pernah ada habisnya dan sangat kompleks. Namun menurut pemerhati anak, Ida Ayu Putu Puniadhi, permasalahan terbesar yang paling mendasar yang harus segera tertangani adalah anak putus sekolah. “Jangan lihat di Denpasar saja. Coba lihat ke perdesaan seperti di daerah Karangasem, Bangli, dan Buleleng, angka anak putus sekolah masih tinggi. Rendahnya pendidikan ini, side effectsnya luas sekali,” ungkap pengurus Lentera Anak Bali (LAB) pada divisi Pendidikan ini.

H

al ini berdasarkan pengalamannya bersama tim LAB yang pernah terjun langsung ke daerah perdesaan, salah satunya Desa Pedahan, Tianyar, Kubu, Karangasem. Selain terbentur fasilitas pendidikan seperti jarak tempuh yang jauh, kondisi ini diperparah lagi dengan rendahnya kesadaran orangtua untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Para orangtua beranggapan pendidikan tidak penting, yang paling penting adalah bekerja untuk mendapatkan uang guna memenuhi kebutuhan keluarga. “Selain itu, mereka juga memiliki banyak anak. Mereka mempekerjakan anak-anaknya diperkuat lagi dengan alasan orangtua mengasuh anaknya yang lain yang masih kecil, sehingga tak bisa bekerja, dan anaknyalah yang bekerja, sekolah

7

Ida Ayu Putu Puniadhi

distop,” tutur Bu Dayu geram. Inilah hal mendasar yang ditegaskan Bu Dayu yang harus segera ditangani pemerintah. “Ini sumber awalnya, anak tak mendapatkan pendidikan yang layak, sehingga anak tak punya keterampilan. Orangtua dengan latar pendidikan rendah dan miskin membuat pertahanannya rapuh sehingga sangat mudah diiming-imingi untuk mendapatkan sesuatu dengan instan. Tanpa disadari orangtua (kita) sudah membentuk premanisasi anak sejak kecil. Mental dan moral sepeti ini sangat

susah untuk dibenahi,” ucapnya miris. Dengan rendahnya pendidikan orangtua, meraka tak bisa mengarahkan anak. Ditambah lagi ketidakpedulian masyarakat. Untuk mendapatkan hasil banyak dan instan, mereka migrasi ke kota tanpa bekal ketrampilan, yang akhirnya menjadi gepeng. Yang lebih disayangkan lagi, mereka yang diiming-imingi mendapatkan gaji besar ini menjadi korban empuk dari perdagangan orang (trafficking). Dalam hal ini, orangtua kurang waspada dan terlalu longgar untuk mengizinkan anaknya diajak pergi. Mereka terjebak dengan janji-janji palsu untuk kepentingan diri dijual, dimanfaatkan kaum pedofilia. “Dalam kasus ini, sebenarnya secara tak langsung orangtua yang menjual anak pada pedofil karena ketidakmengertian mereka. “Semua itu bersumber dari pendidikan yang rendah dan kemiskinan,” tegasnya lagi. Kondisi ini mengusik hati Bu Dayu, yang kemudian membuat dirinya getol “berbuat” di bawah payung LAB. Keberadaan LAB ini, salah satunya menyentuh segi pendidikan dengan memberikan keterampilan baca tulis hitung, yang dikatakannya hal itu hanya sebagian kecil dari aspek anak. “Kami LAB berupaya mencarikan solusi untuk anak-anak putus sekolah di desanya. Pembelajaran dipusatkan di lantai 3 Pasar Badung (lokasi baru) untuk anakanak tukang suun yang banyak berasal dari daerah perdesaan di Karangasem,” ujarnya. Ketika sudah mendapatkan pen­

dari Minah dan mengaku akan segera mengurus perceraiannya. Sementara itu ada perasaan lega dalam hati Minah meski luka yang disayat suaminya akibat perselingkuhan itu tentu saja tidak dapat diobati. Ia akan menjadi luka yang tetap menganga dan membekas rasa sakit yang tiada berujung. Bagas makin sering berada di rumah sehingga tumbuh kepercayaan dari Minah bahwa ia memang telah menceraikan wanita penghibur itu. Tetapi, ia masih mendengar selentingan kabar yang datang dari jauh, bahwa suaminya itu rupanya masih menjalin hubungan dengan wanita tersebut. Sampai akhirnya di hari ketiga lebaran lalu, menjelang tengah malam, Minah mengendarai sepeda motor seorang diri mendatangi alamat yang diberikan orang yang bersimpati padanya. Setelah memastikan rumah sesuai alamat tersebut, Minah yakin di dalam rumah tersebut ada suaminya karena mobil yang dibelikannya itu terparkir di samping rumah. Tiba di teras rumah yang pintunya terbuka tersebut, betapa hancur hati Minah manakala melihat suaminya tengah tidur di samping wanita tersebut yang tengah menyusui bayi mereka. Dada Minah yang penyabar itu seketika terasa panas dan meledak membuncahkan rasa sakit yang teramat sangat. Tanpa sadar Minar berteriak sehingga mengundang perhatian tetangga yang akhirnya berdatangan. Minah hanya berdiri dan akhirnya terduduk lemas di teras tersebut. Ia tidak sampai mengobrak-abrik rumah apalagi mengamuk layaknya

perempuan lain. Hal inilah yang mengundang rasa simpati dari para tetangga wanita tersebut yang nyaris seluruhnya membantu Minah. Lucunya, begitu melihat Minah, bahkan sebelum Minah berteriak memanggil namanya, Bagas berpura-pura kesakitan untuk menarik perhatian Minah. Dia membuat dirinya seolaholah pingsan. Panas dan sakit hati Minah membuatnya sempat nyaris membakar rumah dan mobil Bagas. “Minah akhirnya tahu kalau uang pendidikan anak-anak yang dipinjam suaminya itu untuk membangun rumah bagi wanita penghibur itu,” kata Friska. Karena itulah ia sempat berniat membakarnya dalam keadaan sakit hati yang tak terkira. Beruntung para tetangga yang memang tidak menyukai Bagas dan wanita penghibur itu, meminta Minah untuk bersabar. Mereka juga yang kemudian mengantar Minah pulang ke rumahnya. Aparat desa yang juga datang pada ‘keributan’ malam itu, akhirnya membantunya memulangkan mobil Bagas kepada Minah karena STNK dan BPKB mobil tersebut atas nama Minah. Kini Minah tengah serius mengurus perceraiannya dengan Bagas. Ia tidak lagi memberi kesempatan kedua bagi suaminya itu. Minah bertekad untuk mengurus empat buah putrinya yang saat ini membutuhkan perhatian dan biaya yang tidak sedikit. Setidaknya hilang satu beban tanggung jawab Minah, yaitu Bagas yang tidak punya arti apaapa sebagai suami dan ayah kecuali selama ini hanya membawa masalah saja. -Naniek I. Taufan

Sudut Pandang didikan, hambatan lain pun datang dari diri mereka, yakni hak sipilnya tidak jelas. Mereka yang ditampung di LAB yang merupakan migrasi dari kabupaten lain yakni Bangli, Karangasem, Buleleng ini tak punya akte, keterangan domisili. Karena di Denpasar, semua syarat administratif itu harus ada dan jelas. Mereka (orangtua) belum paham fungsi KTP, akte, dsb. dan ini menjadi salah satu penghambat juga dalam penyaluran bantuan. Bu Dayu yang bersentuhan langsung dengan anakanak tukang suun ini juga mengungkapkan, aktivitas mereka sebagai tukang suun sebenarnya modus Bu Dayu dari LAB saat memberikan Sosialisasi tentang hak anak terutama dalam pendidikan di salah satu mengemis (mengemis sekolah di Denpasar terselubung) yang terpusat di Denpasar dan Badung. Kare­ dari pemerintah daerah. Seharusnya na tak sedikit dari mereka yang juga pengangkatan guru di pedalaman menjual gelang, pisau secara paksa. diprioritaskan,” ucapnya. Kemiskinan dan faktor banyak Sehingga dari kecil mental anak adalah uang, uang, dan uang. Kondisi ini rentan anak (umumnya lebih dari 5 anak), sekali diiming-imingi yang bermuara dicermatinya juga karena fasilitas pada anak sebagai korban. Karena itu, puskesmas untuk mereka ikut KB menurutnya orangtuanya yang harus jauh. Jadi yang mendasar sekali, Bu Dayu berharap adanya pemerataan disadarkan. Ia berharap, pemerintah harus peka terhadap fasilitas pendidikan, wajar 12 dan tanggap, banyak kasus anak yang tahun harus kembali digalakkan. Denharus dicermati. Harus melihat fasilitas gan wajib belajar (wajar), banyak hal pendidikan di perdesaan. Belum lagi, yang akan didapat anak. Berikutnya, kurangnya perhatian terhadap guru- fasilitas kesehatan untuk pelaksanaan guru yang mengabdi di perdesaan, program KB. Juga, hak sipil anak bahkan ada yang mengabdi puluhan terkait pencatatan kependudukan. –Inten Indrawati tahun belum diangkat. “Tak ada award


6

Woman on Top

Edisi 910/ 18 - 24 juli 2016

Ni Wayan Padmi dan DuaBe Entertainment

Model harus Optimalkan Citra Produk

Suasana ceria dan bahagia mewarnai perayaan HUT ke-16 DuaBe Entertainment Model & Agency, Minggu(10/7) di Warung Pan Yoga, Jimbaran. Dalam acara tersebut, digelar juga beberpa kegiatan mulai dari peragaan busana , lomba foto hingga lomba fashion show anak, remaja dan dewasa dan tidak ketinggalan dilangsungkan Graduation DuaBe Model Angkatan XIII.

A

cara tersebut makin semarak bukan hanya oleh kehadiran para sahabat dan undangan dan peserta lomba fashion show, namun dalam pagelaran juga ditampilkan pula beberapa busana karya desainer kenamaan Bali seperti Yenly Wijaya, Tjok Abi, Weda Githa, Dewi Calista dan Rakaory. Diantara keramaian kala itu, ada sosok yang paling bahagia, terlihat wajahnya selalu sumringah, dia adalah Ni Wayan Padmi, pemilik DuaBe Entertainment Model & Agency. Perempuan ini telah menggeluti dunia modeling sejak masih kuliah di PSSRD Unud dengan bergabung di bawah

bendera Montana Modelling asuhan Ary Agung. Rupanya, berbekal pengalaman sebagai model, Padmi ingin membagikan ilmunya kepada orang-orang yang tertarik di industri ini. Singkat cerita, DuaBe Entertainment Model & Agency pun didirikan pada tahun 2000 . Studio pertamanya kala itu berada di Jalan Kubung Batu ,Taman Griya. Jimbaran. Mereka mengadakan ujian dan graduation angkatan pertamanya di Hotel Diwangkara Sanur. Menurutnya sejak awal dirikannya

DuaBe, Padmi selalu melibatkan teman- teman seprofesinya seperti Ari Agung, Kayan Sukariani, Elis, Made Agus , Tjok Abi dan teman lainnya mendukung saat perayaan HUT agency-nya. Padmi juga mengisahkan kalau nama DuaBe di ambil dari bintang kelahiran kedua anaknya, yang sama-sama berzodiak pisces berlambangkan ikan. “Saat pembentukannya bersama ayahnya anak yang juga banyak mendukung kala itu,” ungkapnya. Dalam perjalananya DuaBe pun berkembang lengkap dengan irama pasang surut seperti bisnis pada umumnya. “Sempat juga stagnan, vakum, berpindah pindah studio hingga akhirnya saya harus kèmbali ke tempat kelahiran ,istilahnya rumah bajang namun dengan tampilan barunya,” tuturnya. Ia menambahkan kini dalam menjalankan kegiatannya ia dibantu kekuatan energi dari kedua anaknya yang makin dewasa. Karena itu pula, saat ini Padmi

“ Untuk tamu VVIP silahkan menuju ruang khusus yang sudah disediakan”.. Naaah .. saya yakin sebagian besar orang yang mendengarkan kalimat tersebut ditujukan kepadanya akan merasa tersanjung. Dan merasa dispesialkan karena sangat dihargai oleh tuan rumah (ins­ tansi) yang mengundang. Bisa dibayangkan, layanan apa yang diper­ oleh oleh seorang VVIP…. Mulai dari orang yang menyambut, ruangan, tempat duduk semua bisa jadi berbeda dengan tamu lainnya. Itu adalah salah satu cara agar membuat orang senang, yaitu dengan menyebutnya sebagai tamu VVIP. Dalam tulisan saya kali ini saya yang sangat concern di dunia service, akan mengajak pembaca setia untuk mengetahui “bagaimana caranya menjadi seorang pelayan yang mempunyai pribadi yang disukai oleh pelanggannya”. Kenapa penting untuk menjadi pribadi yang disukai pelanggan? Tentu saja agar pelanggan kita bisa datang kembali. Istilah VVIP (Very Very Important Person ) dengan contoh di atas berbeda dengan istilah “VViP Plus” di dunia layanan yang saya mak­ sud. Kita akan bahas satu persatu dari istilah VViP Plus tersebut. V yang pertama adalah VOICE. Seorang pelayan disukai jika mem­ punya suara/ audio yang bagus. Dalam sebuah maskapai penerbangan yang saya temui baru-baru ini, seorang pramugari menerangkan bagaimana tata cara orang yang duduk di kursi emergency exit. Karena waktu itu saya kebetulan duduk di depan kursi emergency exit, jadi saya hanya mendengan suara dari sang pramugari yang memberikan penjelasan. Sungguh ironis, voice yang saya dengar sama sekali tidak membuat tertarik, bahkan cenderung memvisualisasi kalau sang pramugari itu tidak cantik. Karena apa…? Saya dengar suaranya datar, kecepatannya melebihi orang berbicara normal ­( saya yakin SOP nya tidak demikian ), dan kesan dari volume suara cempreng juga sedikit judes. Sungguh menggambarkan perempuan yang tidak cantik dan tidak ramah. Padahal ketika saya lihat wajah sang pramugari tersebut…. ternyata…. cantik… Ada juga contoh bagaimana seorang pelayan sering melontarkan kata kata killer word. “ mau apa pak… itu salah bapak… kan sudah saya bilang… ngga tahu… “ dan kata kata killer world yang lain. Kalau sudah seperti ini, pelayan ini pasti tidak

Grup musik yang lahir di Kota Pahlawan ini akrab dikenal dengan panggil­ an ANB atau Atas Nama Bangsa Ensemble. Grup yang terdiri 15 orang ini konsisten memainkan lagu daerah yang mereka aransemen ulang dengan nada-nada yang kadang ter­dengar unik.

T

idak hanya lagu daerah, lagu-lagu nasional pun kerap mereka bawakan. Iringan musik rancak dan komposisi yang menarik dari gitar, jimbe,

mengucapkan rasa syukur dan terima kasih ke hadapan Ida Sanghyang Widi Wasa atas anugrah yang luar biasa dan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang sudah mendukung dan ikut

andil hingga kegiatan perayaan HUT ke-16 DuaBe dan acara Graduation berjalan dengan sukses dan lancar. Bicara model, Padmi mengatakan banyak hal yang harus dikuasai seorang model supaya sukses.Ia juga menambahkan kalau menjadi seorang model itu sebetulnya juga harus bisa menjadi sarana untuk mempromosikan suatu produk. Tiap model juga harus bisa bekerja sama dan mampu mengoptimalkan citra produk yang akan ditampilkan. Karenanya di dalam pelatihan di sekolah modelingnya, selain memberikan materi basic catwalk, catwalk pose, expression, catwalk choreography, foto session juga disertakan materi pengembangan diri hingga public speaking. “Penting juga untuk seorang model untuk bisa disiplin, beretika dan menguasai sopan santun,” katanya. – Sri Ardhini

V V i P Plus Salam Senyum,

Edisi 910/ 18 - 24 juli 2016

disukai oleh para pelanggan di tempat­ nya bekerjanya. Padahal yang seharusnya terlontar dari seorang pelayan adalah kata- kata yang manis dan berkesan magic world. “ silahkan … mo­ hon maaf… bisa kami bantu… bapak luar biasa… “ dan kata- kata pujian lainnya. Untuk Vi selanjutnya adalah VISUAL. Menyenangkan pelang­ gan dapat kita lakukan dengan Visual/penampilan fisik kita. Tanpa mendiskriminatif orang-orang yang berpenampilan kurang/jelek, kesan pertama yang ditangkap seseorang ketika bertemu pertama kali adalah kesan visual. Artinya pertama kali orang menilai dari penampilan secara fisik. Jika kita merasa kurang dalam penampilan (atau terkesan jelek), cobalah untuk tampil lebih gagah, ganteng, atau cantik agar bisa lebih disukai. Hehehe.. ini kenyataan lho… Kalau kita perhatikan di layar kaca, seperti sinetron dan film, pemain utama kebanyakan diambil dari orang yang berwajah ganteng atau cantik. Kenapa? Karena dengan demikian akan menjadi daya tarik sentral para penonton untuk menyukai sinetron/film tersebut. Bayangkan saja kalau tokoh sentralnya kurang menarik… dipastikan kita akan malas untuk menontonnya. Memang penampilan bukan segalanya, tapi kita bisa berbuat lebih banyak dan lebih mudah dengan penampilan yang menarik. Selanjutnya kita membahas P ( dari VViP ). Kita akan ambil dari kata PAIRING yang artinya jodoh, match, kecocokan. Kalau da­ lam layanan seperti apa.? Ketika kita melayani pelanggan dan kita berusaha agar selalu match dengan mereka, tentu yang dirasakan pelanggan adalah kenyamanan. Ini terjadi ketika saya datang seba­ gai pelanggan dari sebuah butik. Dengan memilih beberapa koleksi busana yang ada seorang pelayan mengajak saya untuk bercerita tentang hal yang ringan. Salah satunya dia menggali dengan me­ nanyakan hobi saya. Ketika saya bilang hobi saya adalah membaca dan bernyanyi, dia bercerita kalau anaknya juga menekuni hobi yang sama. Menga­lirlah cerita tentang anaknya yang selain gemar membaca buku juga mengisi hari-harinya dengan menjadi penyanyi di sekolahnya. Waaahhh… saya sebagai pelanggan butik merasa nya­ man dengan pelayanan butik itu. Bagaimana tidak, ceritanya persis dengan hobi yang saya jalani dan sukai. Sesuatu yang menyangkut perasaan akan menjadikan orang itu tersentuh dan sulit melupakan. Seseorang cenderung mencari teman yang memiliki kesamaan dalam hal perasaan. Saat menemu­ kan kesama­an maka hubungan akan lebih mudah terbangun. Maka sebaiknya galilah sebanyak banyaknya kesamaan yang dimiliki oleh

pelanggan. Baik dari hobi, warna kesukaan, asal, bahkan bahasa daerah yang digunakan. Bahasa tubuh pun bisa dipakai untuk mencari kesamaan. Coba perhatikan gaya duduk dari pelanggan dan kita coba menirukannya. Jika kita bisa menyamakan gesture dengan orang diha­ dapan kita maka akan timbul chemistry. Tanpa sadar, mereka akan melakukan hal yang sama dengan menirukan gaya kita. Belum pernah mencoba?... heheheh… boleh dicoba dan buktikan sendiri ya… Naaah.. untuk VViP Plus.. Plus nya apa yaaaa… Plus nya disini adalah BRAIN. Bagaimana kita mempunyai Voice yang bagus, Visual yang menarik, dan Pairing selalu dibangun tetapi isi dari otak kita kosong Waaaahhhh.. jangan sampai ya… isi otak juga sangat berpe­ ngaruh dengan orang menjadi senang dengan kita. Seorang pelayan yang mempunayi wawasan yang luas, ketika diajak bicara nyambung, dan pandai memadukan pembicaraan dengan pelanggan. Itu sangat disukai oleh para pelanggan. Di sebuah salon yang terkenal di Denpasar para pelayan salon tersebut memang dibekali dengan pengetahuan dan wawasan oleh pemiliknya. Jadi ketika pelanggan itu memanjakan diri di salon, sang pelayan dapat mengimbangi cerita pelanggan sehingga enak diajak bicara dan keliatan tidak “katrok” dengan istilah-istilah yang dipakai saat pembicaraan dengan pelanggan. Dimana para pelang­ gannya rata-rata dari kalangan pebisnis. Jadilah mereka pelanggan setia karena para pelanggan sangat nyaman dengan layanan para pegawai salon tersebut. Jadi jelas ya sekarang….. Untuk menjadi seorang yang disukai oleh pelanggan maka kita harus punya layanan “VViP Plus”. Bagai­ mana Voice kita bagus, Visual kita menarik, Pairing kita terjaga dan dibangun terus, dan ditambah dengan Brain yaitu isi otak yang selalu diasah dan perdalam wawasan. Naaahhhh …pembaca setia… Bukan hal yang sulit untuk menciptakan bagaimana pelanggan menyukai kita sebagai pelayan. Dan… kita perlu melakukannya!!!! .. Karena jika pelanggan sudah terpikat, maka seorang pelayan sudah sangat andal untuk memfungsikan dirinya juga sebagai sales /marketing. Tentunya akan membuat keuntungan bagi perusahaan karena pelanggan akan selalu datang kembali. Ayooooo.. kita lakukan layanan VViP Plus…. Dari sekarang ya….. dan buktikan manfaatnya.. Salam 3SP, Salam Senyum Sang Penyihir Sri Sumahardani srisumahardani3sp@gmail.com

Atas Nama Bangsa Ensemble Konsisten Mainkan Lagu Daerah rainstick, maracas, saluang, bass, kahoon, konga juga biola. Kelompok musik yang terdiri dari berbagai latar belakang pendidikan dan pekerjaan ini, mulai berdiri tahun 2014. “Ide ini sendiri sebenarnya terlahir dari genjrengan iseng-iseng, di sebuah ruko kecil di daerah Ngagel, tempat orang-orang yang dipandang madesu ngumpul,” ucap Julian yang akrab dipanggil Saleho ini. Ruko tersebut milik Freddy

Rossi, bassist band rock legendaris Power Metal. Ruko ini boleh dipakai untuk kegiatan yang

Jajanan Khas Betawi yang Laris di Surabaya Kerak telor. Yaaa……, jenis kuliner yang satu ini sudah tak asing lagi bagi arek-arek Suroboyo. Bahan dasar menu kuliner khas Betawi ini berbahan dasar telur. Berbeda dengan kota asalnya Jakarta. Pak Idrus, pedagang kerak telor yang bisa ditemui di sekitar Taman Hiburan Rakyat (THR) ini mencoba menawarkan sesuatu yang berbeda. Rasa khas yang dimiliki jajanan Betawi pada umumnya, kini disulap dengan tambahan rasa yang lebih variasi. Seperti rasa balado, keju, barbeque, pizza, dan rasa spesial. Diantara berbagai rasa yang ditawarkan, para pelanggan lebih menggemari kerak telor rasa barbeque, keju, balado. Taburan bumbu-bumbu berpadu dengan keringnya kerak telor menghasilkan rasa yang begitu pas. Aroma telur khas Betawi bersinergi dengan berbagai rasa pilihan yang disuguhkan, menjadikan keunikan rasa dilidah para penikmatnya. Campuran telur, beras ketan putih dan berbagai macam bumbu begitu unik. Belum lagi parutan kelapa yang disangrai dan butiran kacang yang ditumbuk, dibubukan diatasnya. Membuat rasa kerak telor makin menjadi incaran penikmat kuliner. “Yang lebih unik, yakni rasa spesial tambahan aksesoris wijen, keju bubuk, dan siraman

19

susu kental membuat kerak telor menjadi gurih dan nikmat,” kata Idrus. Dengan harga mulai Rp 11.000 bisa menikmati rasa spesial dan berbagai rasa. Untuk kerak telor satu rasa berkisar Rp 8.000. Ada dua macam dasar telur yang digunakan bahan dasar jajanan ini, telur bebek dan ayam. Bedanya, jika penikmat kuliner memilih telur bebek rasanya lebih gurih. Tetapi, harganya selisih Rp 1.000 lebih mahal. Dalam proses pembuatannya, untuk mendapatkan aroma dan rasa yang lezat, jajanan yang telah ada di kota Pahlawan ini, dimasak dengan tengku sebagai pengganti kompor. “Kalau pakai kompor memang lebih cepat, tapi beda rasa dan aromanya dibanding dengan tengku. Soalnya kita lebih mengutamakan rasa dan aroma kerak telor,” ujar pria beranak satu ini. Pria berusia 34 tahun ini, mulai berdagang pada 2013. Dia mengawali usaha dengan modal awal Rp 500.000. Tak disangka, usaha kerak telor yang ditekuninya kini memiliki omzet Rp 150.000 per hari. Namun, bila sedang sepi pelanggan omzet paling banyak hanya Rp 75.000. Bila penikmat kuliner ingin menikmati kerak telor asli Betawi, tak perlu jauh-jauh datang ke Jakarta. Di Surabaya, pedagang kerak telor juga ada. -Wulandia Widya Sari

“Tidak muluk-muluk, kami ingin lagu daerah dan nasional bisa lebih sering dinyanyikan anakanak ketimbang lagu dewasa de­ ngan lirik yang tidak pantas dinyanyikan anak-anak,”

positif. Siapa sangka ternyata, harapan Freddy Rossi terpenuhi. Dari ‘keisengan’ Julian, Ukki dan Basuki saat itu, lahirlah Atas Nama Bangsa Ensemble yang kemampuan mereka memainkan berbagai alat musik tidak bisa dipandang sebelah mata. Salah satu personil yang pernah ikut bergabung di Atas Nama Bangsa adalah Dodit Mulyanto, Komika yang akrab dengan logat Jawanya itu dulu mengisi posisi biola. Kini posisi itu diisi oleh Aminullah, yang juga seorang guru musik berlatar belakang musik metal. Beberapa personilnya juga berasal dari UKTK Unair. Jadi,

bisa dibayangkan betapa kayanya komposisi musik yang mereka aransemen. “Tidak muluk-muluk, kami ingin lagu daerah dan nasional bisa lebih sering dinyanyikan anak-anak ketimbang lagu dewasa dengan lirik yang tidak pantas dinyanyikan anakanak,” tambah Riza dan Pipit, sang vokalis. Mereka tidak ingin dikenal sebagai band atau sekedar grup musik biasa. “Disini kami berkarya, disini kami menyatukan visi dan misi dalam suasana kekeluargaan, regenerasi itu pasti ada, karena kami ingin misi kami ada yang meneruskan,” tambah Julian. -Dona


20

Nine

Edisi 910/ 18 - 24 juli 2016

Perempuan Rajai Berbagai Lomba

Rajin dan tekun. Tampaknya hal inilah yang membuat lebih banyak siswa perempuan di SMPN 1 Bolo Kabupaten Bima, meraih prestasi baik di sekolah maupun dalam ajang-ajang lomba. Anak-anak perempuan di sekolah ini bisa dibilang ‘menguasai’ arena prestasi mulai dari kelas VII hingga kelas IX. Demikian pula prestasi di luar sekolah yang ikut mengharumkan nama sekolah yang berdiri sejak tahun 1958 ini.

M

eski berada di sebuah kecamatan yang notabene jauh dari Ibu Kota Provinsi Nusa Tenggara Barat, SMPN 1 Bolo yang berdiri di Desa Rato ini merupakan salah satu sekolah yang sangat serius melakukan pembinaan terhadap para siswanya termasuk peningkatan prestasi-prestasinya. Karena itulah, tidak heran jika di tahun 2014 saja, Sekolah Standar Nasional (SSN) ini berhasil keluar sebagai juara 1 dan 2 dalam Lomba Cerdas Cermat Matematika se-Pulau Sumbawa yang diselenggarakan oleh STKIP Taman Siswa Bima. Atas prestasi ini siswa SMPN 1 Bolo pernah mewakili Kabupaten Bima dalam Lomba Cerdas Cermat Matematika yang diselenggarakan oleh IKIP

Makassar di Makassar. Tiap tahun siswa-siswa dari sekolah ini selalu mencatatkan prestasi dalam berbagai lomba, seperti ajang OSN Matematika, Fisika, IPS dan Biologi yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dan tiap tahun sejak 2014, 2015 dan 2016 selalu saja ada siswa dari SMPN I Bolo tampil mewakili Kabupaten Bima ke tingkat Provinsi NTB bahkan tingkat Nasional, khususnya di tahun 2015 dan 2016 ini. Di bidang olahraga bulutangkis, Siti Mardinah yang duduk di kelas III lalu, berhasil meraih Juara 1 Bulutangkis dalam O2SN 2014 dan mewakili NTB pada tingkat Nasional. Begitu juga dengan Fatimatuzzahra yang duduk di kelas VII sukses mewakili Provinsi NTB ke ajang O2SN tingkat

dan antusiasme siswa perempuan cenderung lebih meningkat karena mereka lebih antusias dan aktif dalam mengikuti pembinaan,” ujarnya. Dari catatan Kepala Sekolah SMPN I Bolo ini, dalam dua tahun terakhir inilah, prestasi siswa perempuan di sekolah ini melejit dibandingkan dengan siswa laki-laki. Selain prestasi di luar sekolah, prestasi akademik siswa-siswa perempuan juga lebih banyak. “Hampir 90 persen juara kelas adalah siswa perempuan,” ungkap Suaedin. Prestasi ini terlihat juga dalam deretan perempuan yang menjadi juara kelas. Di kelas VII A Juara Kelas ada M. Alvilayalin, M. Rizki Akbar, Istifirrah Rabiatul Mawaddah, M. Irfan, Muhammad Awalul Rizqi Aritiah dan Karishma Maharani. Kelas VII B ada, Muh. Andriadin,

Wibowo

Edisi 910/ 18 - 24 juli 2016

5

Penyandang Disabel yang Pantang Menyerah

Tidak ada manusia yang ingin cacat anggota tubuhnya, namun ketika hal itu terjadi —entah karena cacat sejak lahir atau sebab kecelakaan atau penyakit— tak ada yang mampu menolak. Takdir! Itulah yang terjadi dalam hidup Wibowo, seorang pelukis tuna daksa yang terkena polio saat ia berusia delapan bulan. “Saya lahir tahun 1959, ketika itu belum ada imunisasi polio. Apalagi saya tinggal di kampung di Winogiri, Jawa Tengah, imunisasi masih sulit,” ungkap Wibowo.

Siswa-siswa perempuan di SMPN 1 Bolo Kabupaten Bima mengoleksi banyak prestasi karena keuletan dan aktif dalam mengikuti pembinaan-pembinaan di sekolah

Nasional pada bulan Juli mendatang, setelah berhasil menyabet Juara I pada ajang O2SN tingkat Provinsi tahun 2016 ini. Nurul Anissa dan Asrin Nuraini, dua siswa perempuan yang mewakili Kabupaten Bima masuk dalam tim volley ball O2SN 2016 tingkat Provinsi NTB. Begitu juga Adelia Jelita yang menjadi Juara II lomba atletik pada ajang O2SN tingkat Provinsi NTB pada tahun 2014. Bidang akademik, masih dirajai oleh para siswa perempuan. Qurratu Ainy menjadi juara ka-

Sederet Siswa Perempuan sebagai Juara Kelas

Tampilnya lebih banyak siswa perempuan di SMPN I Bolo sebagai juara sebenarnya bukan kebetulan. Menurut Suaedin, M.Pd., Kepala Sekolah SMPN 1 Bolo, dibandingkan dengan siswa laki-laki, siswa-siswa perempuan di sekolah ini terlihat lebih ulet dan terbilang sangat rajin mengikuti pembinaan-pembinaan yang dilakukan di sekolah. “Siswa perempuan memang cenderung lebih mudah diatur oleh guru pembinanya,” ungkapnya. Perhatian dan treatmen yang sama diberikan sekolah ini pada siswa perempuan dan laki-laki, untuk dapat berprestasi dan meraih keunggulan-keunggulan tanpa membedakannya. “Semua kami beri perhatian pembinaan yang sama terhadap seluruh siswa baik laki-laki maupun perempuan. Namun keuletan

Inspirasi

Muhamad Guftaf Eko Putra, Muh. Rifki Ainurrahim. Kelas VII C, Ismi Asmawati, Sabrina Alfara Daliza, Nurul Amelia. Dan kelas VII D, Iim Musyarifah, Jumriatun Nai’llah, M. Alimuddin, VII E, Nuril Azzahra, Said Agil Almunawar dan Elva Aprilia. Sedangkan Kelas VII F, ada Nurnafisah, Mutmainah P. Llestari, Meli Anggriani, VII G, Zulfatun Annisa, Nadia Cahya, Dwi Febriayanti, VII H, Putri Wulandari, Diyah Isthi Ayu dan Siti Amalia Putri. Kelas VII I, Nova Izza Salsa, Ifansya dan Tesa Kaunang. Siswa-siswa perempuan yang berprestasi sebagai juara kelas juga tampak pada kelas VIII. Pada kelas VIII Unggulan seluruhnya juara kelas dipegang oleh perempuan yakni, Nur Retno

bupaten dan mewakili Kabupaten Bima dalam Olimpiade Matematika tingkat Nasional tahun 2014 yang diselenggarakan Primasma Matematika Unismu Makassar. Pada OSN Fisika 2014 Tingkat Nasional juga di Pontianak Kalimantan Barat, Yuan Putri Maharani mewakili NTB. OSN IPA Tingkat Provinsi NTB tahun 2014, menempatkan Dwi Atmi H mewakili Kabupaten Bima dan pada OSN IPA 2015 ada Nurul Ilmi juga mewakili Kabupaten Bima. OSN IPS 2016 tingkat Provinsi NTB seko-

lah ini mengirim Nurul Fadillah dan pada mata pelajaran IPA ada Windi Putri Amelia yang mewakili Kabupaten Bima juga Rian Adriadin pada bidang Matematika Sementera itu, Nur Retno Fitriyya menjadi Duta Sanitasi Tingkat Provinsi NTB Tahun 2016. Dalam ajang FL2SN tahun 2016 mendatang, Karishma Maharani yang keluar sebagai Juara I Tingkat Kabupaten Bima akan mewakili Kabupaten Bima dalam bidang Bercerita Dalam Bahasa Inggris. -Naniek I. Taufan

Fitriyyah, Nurlailah Novianti, Windi Putri Amelia. Kelas VIII A, Aisyah Salahudin, Dear Dwi Dainty, Rosa Andriani. Kelas VIII B, juara kelas diraih Dwi Kartika Widyawati, Indana Roudhatul Izza, Rahmawati Mahrani Nur Alam. Kelas VIII C, Fadela Zulfa Salsabila, Mariam Ulfa dan Nurmarsya Damayanti. Di kelas VIII D ada, Ika Wulandari, Kharisma Dwi Rahayu dan Hijriatun Sugiarti. Kelas VIII E, Nurfaidah, Santun Nur Istiqomah dan Mariska Putri Almul. Kelas VIII F, Hanifa Nuri Santi, Asrin Nuraeni dan Farah Sayidina. Kelas VIII G, Mahreiny Rivqa, Safina juga Ratu Irma. Kelas IX Unggulan Juara Kelas juga seluruhnya ada pada siswa perempuan, seperti Dwia atmi Hasriningrum, Qurratu Ainy dan Hanum Azzahra. Kelas IX A, Uswatun Hasanah, Safira Awaliah dan Vega Lavenia. Kelas IX B, Khairu Shulhin, M. Insanul Afif, Muh. Danung Putra Wiya-

dhi, IX C, Hesti Andriyani, Feby Febryanti dan Afrah Amelia. IX D, ada Devi Astiningsih, Aldila Salsa Dini Rosa, Nurafniatun. Sedangkan di Kelas IX E, Khifayatul Khoiriah, Khairunisyah, Nining Apriyani. Dan di Kelas IX F adalah Uswatun Mutmainnah, Mawar dan Ahdian. SMPN I Bolo, terus memacu siswanya untuk berprestasi baik laki-laki maupun perempuan dengan memberikan motivasi dan pembinaan yang sama. Sekolah ini tidak pernah membedakan antara laki-laki dan perempuan karena semua siswa adalah anak didik yang harus menerima hak pembinaan dan pendidikan yang sama. Demi terus mempertahankan prestasi sekolah yang mampu meraih hingga prestasi nasional, sekolah ini terus berbenah untuk meningkatkan prestasi siswanya. Hal inilah yang membuat SMPN I Bolo, mulai tahun ini melakukan pemetaan lebih detil terhadap minat dan bakat masing-masing individu siswa mulai dari siswa baru. “Dalam MOS yang akan berlangsung esok hari, kami akan melakukan pemetaan terhadap minat dan bakat serta kegemaran siswa sehingga tiap siswa diharapkan dapat muncul minat, bakat dan kegemarannya. Dari sanalah kami bisa dengan lebih mudah untuk membinanya ke depan,” ungkapnya. Melahirkan dan mengantar siswasiswa berprestasi, anak-anak yang menjadi generasi penerus bangsa ini, adalah tujuan paling hakiki yang ingin diraih oleh SMPN I Bolo. -Naniek I. Taufan

I

munisasi sendiri baru dimulai di Indonesia sekitar tahun 1956 yakni untuk cacar, sedang polio baru diperkenalkan sekitar tahun 1980. Maka tak heran pada masa itu banyak orang, khususnya yang tinggal di daerah, terkenal virus polio yang memang mudah menular. Kasus tersebut tak berbeda dengan di Amerika pada tahun 50-an dimana polio menjadi momok bagi masyarakat. Sampai akhirnya vaksin polio ditemukan dan mulai digunakan untuk imunisasi tahun 1956 di Amerika. “Orangtua saya tidak dapat berbuat apa-apa, apalagi kami orang kampung. Yang bisa dilakukan oleh orangtua hanya mempersiapkan masa depan saya dengan kemampuan yang disesuaikan dengan kondisi fisik saya,” ujar Wibowo yang bersyukur meski menyandang tunadaksa orangtuanya tetap menyekolahkannya hingga lulus SMA. Wibowo bertutur, sejak menyadari dirinya berbeda dengan yang lain, termasuk ketidakmampuannya bekerja berat, membuat ia memperdalam kemampuannya dalam hal melukis. Ketrampilan melukis jadi pegangan hidup karena disadari, meski lulus SMA namun untuk mendapat pekerjaan kantoran tidak lah mudah untuk seorang penyandang cacat. “Pada saat saya muda, akses penyandang cacat untuk dapat pekerjaan kantoran kecil sekali, meski lulus SMA. Penyandang disabel sejak dulu seolah menjadi ’warga negara kelas dua’ yang sulit mendapat akses kemana-mana seperti halnya orang normal,” tambahnya. Tapi, sejak dulu pula, ia mengaku sudah menerima keadaannya, bahkan merasa bersyukur karena memiliki keahlian tertentu untuk kehidupannya. “Semua saya jalani dengan penuh keikhlasan dan syukur. Dengan begitu kesusahan apapun yang mampir dalam hidup saya tidak akan menjadi terlalu menyusahkan,” tutur Wibowo yang pada Maret lalu bersama tujuh temannya berkesempatan berpameran lukisan di Gedung DPR RI Jakarta. Dari kerja kerasnya melukis, tambahnya, ia mampu menghidupi

anak-istri meski sederhana. Namun ‘ruang’ untuk mengais penghasilan dari melukis kian hari terasa kian sempit, khususnya di daerah yang selain jumlah pelukis makin banyak juga konsumen yang terbatas jumlahnya. Untuk orang seperti dirinya tentu hal tersebut menjadi sangat menyulitkankarena tidak memiliki pekerjaan sampingan lain. “Saya tidak memiliki pekerjaan sampingan selain melukis. Istri saya petani, saya tidak bisa bantu. Saya tidak kuat angkat berat,” tambahnya. Karena itu pula, meski dengan penuh keterbatasan ia merantau ke Jakarta untuk mengadu nasib. “Saya berangkat sendiri, istri dan anak tetap di kampung. Istri tetap bertani,” katanya. Sudah 16 tahun, aku Wibowo, ia merantau, dan kini menetap di Cimanggis, Depok, Jawa Barat. Meski diakuinya hidup di kota Jakarta dan sekitarnya lebih sulit ketimbang di kampung, namun dalam hal mendapatkan rejeki dari melukis terasa lebih mudah. PELUANG DI JAKARTA LEBIH TERBUKA “Biaya hidup memang tinggi tapi untuk mendapatkan rejeki lebih mudah dibanding di daerah. Konsumennya banyak, ajangajang pameran juga banyak. Juga komunitas-komunitas pelukis banyak sehingga akses lebih terbuka,” ungkap Wibowo yang hingga kini masih tinggal di rumah kontrakan. Untuk menyiasati, katanya, selain melukis ia juga membuat karikatur, sketsa juga siluet. Dari kegiatan inilah ia mendapat pemasukan yang lumayan dan bisa membiayai kebutu-

Wib owo

Para penyandang disable turut menyaksikan saat pengesahan UU disabilitas dalam rapat paripurna DPR RI

han hidupnya dirantau. “Saya juga bisa mengumpulkan uang untuk membantu kehidupan keluarga di kampung. Sekarang anak saya sudah menikah, jadi beban tidak terlalu berat,” tambahnya. Banyaknya pameran di Jabodetabek juga komunitas-komunitas, menurutnya, sangat membantu. “Semakin banyak link, peluang semakin terbuka. Saya rajin ikut pameran. Selain menjual lukisan juga menawarkan konsumen yang ingin dibuatkan karikatur, sketsa ataupun siluet. Tapi yang paling laku siluet karena harganya murah hanya Rp50.000 –an. Bagi orang kota seperti Jakarta agaknya uang segitu mudah dikeluarkan. Sedang lukisan, tidak selalu dapat terjual di pameran. Harganya mahal, juta-jutaan, jadi lebih sulit menjualnya,” ungkapnya lagi. Meski penyandang disabel, namun aku Wibowo, ia punya semangat tinggi untuk memperjuangkan kehidupannya. Kondisi yang penuh keterbatasan tidak menyurutkan langkah untuk menjual karyanya. Bahkan kalau perlu, katanya, ia datang door to door ke berbagai tempat untuk menawarkan ketrampilannya. “Upaya door to door tidak selalu berhasil tapi saya tidak patah semangat karena akhirnya ada saja yang mau membeli lukisan saya. Bagi saya penghasilan besar atau kecil, tetap harus disyukuri, jangan mengeluh,” katanya. Untuk beraktivitas, lanjutnya, ia menggunakan angkutan umum, baik itu kereta api ataupun busway. Untungnya, kata Wibowo, sekarang ini pemerintah lebih perhatian pada kaum penyandang cacat sehingga sejumlah fasilitas kini telah diadakan untuk memudahkan akses. Misalnya saja di bus Transjakarta ataupun kereta api, kini ada tempat duduk khusus untuk kaum disabel. “Kalau dulu, saya terpaksa harus berdiri berdesak-desakan dengan yang lain. Kalau beruntung ada yang berbaik hati,

Seorang konsumen sedang dibuatkan siluetnya oleh Wibowo

maka saya bisa duduk. Kalau tidak, ya terpaksa berdiri. Tapi sekarang tidak lagi. Ada tempat duduk ‘Prioritas’ untuk kami,” tambahnya. Tapi kadang kala, yang namanya manusia, ada juga yang punya sifat tidak peduli. Meski kursi itu adalah kursi ‘Prioritas’ namun mereka tetap saja menempati. “Keadaan ini sering saya temui. Entah karena tidak tahu atau pura-pura tidak tahu, mereka yang kondisinya normal duduk di kursi ‘Prioritas’. Ada yang purapura tidur atau asyik main gadget. Begitulah prilaku orang. Kalau saya pas berada di angkutan itu, maka saya tidak langsung menegur, tapi saya minta satpam untuk melakukannya. Saya bilang, saya penyandang disabel dan membutuhkan tempat duduk. Maka satpam pun langsung menegur orang itu,” kata Wibowo. Ia berharap dengan disahkannya UU No 8 tentang Penyandang Disabilitas pada 17 Maret 2016 lalu, segala ketentuan dalam undang-undang itu bisa benarbenar diterapkan. Undang-undang tersebut menjamin hak-hak kaum disabel untuk memperoleh kehidupan yang layak dan sama dengan orang normal lainnya, termasuk dalam hal akses mendapatkan pekerjaan. Mungkin, katanya, di Jakarta dan sejumlah kota besar, pelak-

sanaan undang-undang ini bisa berjalan baik tapi bagaimana dengan yang di daerah. Dirinya sangat berharap mereka yang di daerah juga bisa merasakan dampak positif dari adanya undang-undang ini. “Saya ingin mereka di daerah juga mendapatkan fasilitas dan akses seperti yang kami rasakan di Jakarta,” kata penasihat komunitas pelukis wayang ini. Sebagaimana diketahui, UU Penyandang Disabilitas No 8 Tahun 2016 menegaskan tentang pemenuhan hak-hak kaum disabel mulai dari hak hidup, pendidikan, hingga bebas diskriminasi, penelantaran, penyiksaan dan eksploitasi. Ditegaskan juga soal perlindungan wajib diberikan dan dijamin oleh pemerintah pusat dan daerah. Pemerintah juga wajib memberikan akses setara terhadap penyandang disabel di instansi negara misalnya wajib mempekerjaan penyandang disabel paling sedikit 2% dari jumlah pekerjanya. Perusahaan swasta juga wajib dengan mempekerjakan 1% dari jumlah pegawainya. Begitu juga upah yang diterima,harus sama dengan para pekerja lainnya. Hal penting lainnya, dalam UU itu juga mengamanatkan dibentuknya Komisi Disabilitas Nasional yang bertugas melaksanakan pemantauan, evaluasi dan advokasi pelaksanaan dari undang-undang. -Diana Runtu


4

Inspirasi

Edisi 910/ 18 - 24 juli 2016

Ketahui Potensi Diri Mita

B

erawal dari daerah dan membanggakan tempat kelahiran merupakan salah satu acuan untuk menuai prestasi. Hal ini dilakoni Ni Made Mita Anggraeyani atau akrab disapa Mita, mahasiswi semester akhir Undiksha. Mita berkeyakinan bahwa perempuan muda Bali dapat membanggakan daerahnya dan mampu mengukir prestasi yang cemerlang. Ajang Jegeg Bagus Jembrana 2016 adalah wadah bagi Mita mengasah kemampuan dan mendulang prestasi. Keterlibatannya untuk mengikuti Jegeg Bagus Jembrana juga didorong oleh keyakinan untuk membangun Jembarana lebih baik lagi di bidang pariwisata. “Bagi saya, Jembrana memiliki potensi pariwisata yang bagus. Saya bersama pemerintah Jembrana bekerja sama untuk meningkatkan destinasi wisata Jembrana,” tutur Juara Favorit Jegeg Bagus Jembrana 2016 ini. Jembrana memiliki destinasi wisata seperti Teluk Gilimanuk, Patung Siwa di Gilimanuk, dan Sungai Gelar. Tempat wisata tersebut sangat mampu menarik perhatian pengunjung baik domestik maupun internasional. Bagi Mita, kesadaran untuk mempromosikan daerahnya harus diwujudkan dengan berbagai cara. Salah satunya dengan mengikuti Jegeg Bagus Jembrana. Setelah sebulan melaksanakan karantina, pada 7 Mei 2016, merupakan waktu bagi para

finalis unjuk kebolehan. Mita pun mengutarakan visi misi untuk Jembarana. Berkat pemikirannya dan motivasi dari pendukungnya, Mita pun dipercaya menyandang gelar Jegeg Favorit Jembrana 2016. Bagi dara kelahiran Delod Brawah, 24 Mei 1995 tersebut Jembaran tidak saja tempat pulang. Jembarana adalah ka-

PRIBADI YANG OPTIMIS Tentu kesadaran putri pasangan I Putu Pande Budiasa dan Ni Komang Suartini mengikuti ajang tersebut tidak main-main. Ia mempunyai beberapa latar belakang yang memengaruhi. “Alasan mengikuti Jegeg Bagus Jembarana pertama, membantu pemerintah dalam mempromosikan pariwisata di Jembarana karena Jembrana merupakan kabupaten yang memiliki potensi destinasi wisata. Kedua, memperbanyak kegiatan positif. Terakhir, ingin mengukur kemampuan,” tukas Juara 1 Make Up Competition se-Buleleng 2014 itu. Motivasi utama lahir dari dukungan dan doa dari keluarga juga kekasih. Mereka adalah orang-orang yang menyakini bahwa Mita akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Berkat dukungan orang terdekat, kepercayaan diri Mita pun bertambah. Tentu restu tersebut mengantarkannya mantap menoreh prestasi “Mereka menaruh kepercayaan kepada saya. Yakin, bahwa saya selalu bisa,” ujar saudari dari Ni Putu Eka Puspita Dewi, I Komang Riski Amanda Diputra, dan Ni Ketut Eriska Arinta Putri ini. Menurut pembawa acara wisuda Undiksha dan pembawa acara Dies Natalis Undiksha tersebut, perempuan muda Bali harus mampu mengetahui potensi diri. Mengetahui ke-

Edisi 910/ 18 - 24 juli 2016

Ombak Lakey Digilai Peselancar

Pagi baru saja mengantar matahari bersinar. Cahayanya menyeruak dari balik perbukitan di bagian timur Pantai Lakey yang berada di di Kecamatan Hu’u Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat. Cuaca pagi yang cerah. Para peselancar yang rata-rata adalah bule sudah mulai turun ke laut menenteng papan selancar menuju titik ombak tertinggi yang berada cukup jauh dari bibir pantai. Ditambah lagi anak-anak kecil lokal (anak-anak yang tinggal di Lakey dan juga sekitarnya), turut menenteng papan-papan selancar berukuran kecil, berenang-renang di sekitar bibir pantai menanti sisa-sisa riak ombak yang menepi. Mereka pun rupanya turut berlatih selancar di pantai yang menawarkan surga bagi peselancar itu.

Perempuan muda Bali tidak boleh dipandang sebelah mata. Terbukti banyak perempuan muda Bali yang menoreh prestasi di daerah sampai internasional. Berawal dari kearifan lokal, perempuan muda Bali tentu memiliki karakternya masing-masing. Mengasah keterampilan diri yang berpegang pada kearifan lokal adalah modal utama menghadapi era digital saat ini.

bupaten yang mempunyai banyak destinasi wisata. Mita banyak mempelajari pariwisata tentu dalam ajang Jegeg Bagus Jembrana. Ia merasakan sungguh wawasannya mengenai Jembrana terus bertambah. “Yang paling penting dalam ajang ini adalah kesempatan untuk bersosialisasi. Menjadi bagian dari Semoton Jegeg Bagus Jembrana adalah harapan yang menjadi kenyataan. Di organisasi ini saya bertemu orang-orang hebat dengan karakter dan kemampuan berpikir yang berbedabeda hingga saya terpupuk oleh pengalaman dan pengetahuan,” tutur wakil Jembrana dalam Lomba Oleg Tamulilingan IHDN Denpasar 2011 tersebut.

Mandalika

L

mampuan diri akan memperkuat citra dan karakter perempuan Bali. “Saat ini, perempuan Bali sangat terpengaruh dengan budaya luar, misalnya saja tata cara berpakaian. Untuk itu kita sebagai perempuan Bali hendaknya melandasi diri dengan kearifan lokal,” tuturnya. Mita pun mempunyai keyakinan bahwa kecantikan perempuan tidak saja diukur melalui fisik. “Bagi saya perempuan adalah bentuk dari kecantikan. Perempuan yang cantik, perem-

puan yang memiliki 3B (Brain, Beauty, Behavior),” tutur anggota KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia) tersebut. Motto yang membuat Mita selalu berkreasi dan mengukir prestasi yakni mampu mengetahui kemampuan diri, menghayati kearifan lokal, dan mampu optimis. “Menempatkan diri sebagai pribadi yang optimis adalah hal yang penting. Dengan hal itu, kita mampu menambah wawasan dan pengalaman,” ujarnya. -Wulan

akey, dengan gemuruh ombaknya yang berdentum dan menari-nari dikenal dunia karena kedahsyatan ombaknya yang digilai oleh peselancar-peselancar dunia. Tidak hanya itu, pasir putih dan beningnya sepanjang garis pantai Lakey juga menjadi surga tersendiri untuk berlibur bersama keluarga. Di musim libur lebaran lalu, Pantai Lakey menjadi salah satu tujuan wisata yang sangat ramai dikunjungi, khususnya wisatawan lokal Bima dan Dompu. Mereka biasanya datang menghabiskan waktu berlibur bersama keluarga satu hari. Sangat unik suasananya. Di sana sini tampak warga datang dengan rombongan masing-masing,

membawa perbekalan makanan dan minuman dari rumah. Di setiap sudut Pantai Lakey, asap-asap mengepul dari pembakaran yang sengaja dibuat untuk membakar ayam dan ikan yang juga dibawa dari rumah masingmasing. Suasana kekeluargaan tampak dari cara para wisatawan lokal ini berkumpul. Begitu tiba di Pantai Lakey, para orangtua menyiapkan berbagai makanan yang dibawa dari rumah dan anak-anak langsung terjun ke laut menikmati beningnya Pantai Lakey. Setelah itu mereka makan bersama dengan segarnya ikan dan ayam bakar yang baru saja matang membuat aroma sepanjang pantai itu begitu menggoda selera. Para wisatawan lokal yang datang ke Lakey memilih mem-

Anak-anak sedang bermain pasir di Pantai Lakey

bawa sendiri makanan dari rumah karena di Lakey terbilang jarang yang berjualan makanan yang lengkap sesuai kebutuhan. “Agar puas menikmati dengan keluarga, kami sengaja bawa makanan dari rumah. Asyik bisa bakar ayam dan ikan segar,” ungkap Raodah yang datang bersama keluarganya dari Bima. Mereka selalu berlibur ke Lakey tiap musim libur Lebaran tiba. Selain wisatawan lokal yang datang di siang hingga sore hari, ada pula keluarga-keluarga yang memilih menghabiskan waktu liburannya dengan keluarga besarnya. Beberapa hotel di Lakey telah tersedia untuk menginap dengan nyaman. Harga hotel berkisar antara Rp 250.000 sampai di atas satu juta rupiah.

Keluarga Prima memilih untuk mengajak anak-anak mereka menikmati pantai cantik Lakey yang membuat siapa saja tergoda untuk berenang. Bersama sembilan anggota keluarganya yang lain, ia memilih menginap demi menikmati waktu sore hingga pagi di Lakey. “Karena ombaknya yang diburu peselancar, Pantai Lakey sudah mendunia. Kami ingin anak-anak kami mengetahui dan langsung datang ke mari untuk melihat langsung aktivitas tersebut sehingga tidak hanya tahu dari televisi saja,” ungkap Prima. Karena itulah, pagi-pagi sekali anak-anak dari keluarga ini telah turun ke pantai untuk berenang dan menikmati indahnya Lakey di waktu pagi. Mereka semua

Lakey Cetak Peselancar Cilik Anak-anak Lakey tiap hari juga giat berlatih selancar. Ombak menggulung mereka yang dengan gembira dan cekatan mengendalikan papan selancar mengikuti arus ombak yang keras. Keceriaan tampak benar di wajah anak-anak pantai ini. Dari pinggir pantai, para peselancar yang baru belajar ini, sesekali mengamati ombak yang datang untuk kemudian menerobos tempat yang paling deras ombaknya. Dan tubuh mereka pun meluncur dan berdiri tegak di atas papan-papan selancarnya.

Dengan usia belianya, mereka rupanya telah mampu membaca arah ombak yang paling baik. Naluri mereka sudah secara otomatis mengikuti arah ombak. Karena di ombak yang paling deraslah, mereka dapat menemukan kepuasan berselancar. Lakey yang terkenal dengan enam jenis ombak –beberapa di antaranya tidak terdapat di tempat lain, seperti Lakey Peak yang ombaknya bisa dimanfaatkan oleh dua orang dalam waktu bersamaan- Lakey menjadi surga bagi para penghobi selancar. Kete-

Warga yang berwisata ke Pantai Lakey

21

naran Ombak Lakey telah mendunia. Maka tidak mengherankan, nyaris sepanjang tahun –terutama bulan-bulan ombak istimewa seperti Juni, Juli dan Agustus, Lakey dikunjungi banyak peselancar dari berbagai Negara di dunia. Pagi itu, Rijal kecil asal Rasabou Hu’u, desa sekitar Lakey, asik dengan papan selancar kecilnya berenang ke sana kemari memanfaatkan sisa-sisa ombak yang menepi ke pantai. Anak kelas 2 SD ini telah mulai berlatih selancar bersama kakaknya. Rijal baru enam bulan terakhir

ini belajar merasakan ombak dan papan selancar. “Belum berani ke ombak yang besar di tengah itu,” ujarnya sambil matanya menatap ombak tinggi yang bergemuruh di tengah laut. Namun seperti halnya anak-anak Lakey lain yang bahkan ada yang telah berprestasi internasional dalam ajang selancar dunia itu, Rijal menaruh harapan dan cita-cita untuk menjadi peselancar kelak. Lakey telah mencetak peselancar-peselancar cilik yang prestasinya mendunia. Setidaknya hal ini pernah disampaikan Ilyas, Pembina Selancar Lakey beberapa waktu lalu sebelumnya. Ombak Lakey telah secara langsung mencetak bakat-bakat alami anak-anak pantai ini. Memilih hobi menjadi peselancar, bukanlah hal yang mudah, terutama bagi anak-anak. Karena di samping membutuhkan keberanian dan nyali yang besar untuk menghadang serta menaklukan ombak yang “menggila”, juga dibutuhkan perlengkapan surfing (selancar) yang tidak murah. Tapi, bagi mereka yang menggilai olah raga ini, semakin dahsyat ombaknya, maka akan semakin memberikan kepuasan yang membahagiakan. “Setidaknya puluhan orang anak dan peselancar remaja telah mengasah potensi yang mereka miliki. Mereka yang berusia antara

pun tergoda untuk ikut berenang bersama anak-anak. Tidak itu saja, menikmati Lakey juga bisa dilakukan dengan bermain pasir putih yang menambah keriangan anak-anak. Dengan biaya hotel dan fasilitas yang masih terjangkau, Lakey cocok untuk tempat liburan yang menyenangkan. Jaraknya dari Kabupaten Dompu sekitar 45 menit hingga satu jam, dengan akses jalan yang baik membuat Pantai Lakey kini kian ramai dijadikan sebagai tujuan wisata khususnya lokal. Berenang, berselancar dan berfoto dengan latar ombak yang tinggi serta beningnya pantai, adalah tiga hal yang nyaris tidak bisa dilupakan oleh para wisatawan dengan masing-masing pilihannya. –Naniek I. Taufan

10 hingga 16 tahun ini, pertama kali bakatnya dilihat pada tahun 1996,” kata Ilyas, pembina anakanak ini. Dan pada tahun itu pula, anak-anak Lakey pertama kali mengenal dan ikut even lomba surfing di Kuta Bali. Namun sayang, sebagai surga bagi para peselancar dan wisatawan ini, Lakey masih belum memberikan kenyamanan karena sampah belum sepenuhnya tertangani dengan baik. Orangorang yang tinggal di sekitar bibir Pantai Lakey sesungguhnya telah berupaya keras untuk membersihkan pantai ini dari sampah yang berserakan yang berasal dari pengunjung. Namun, kesadaran para pengunjung Lakey yang masih sangat rendah dalam hal membuang sampah pada tempatnya. Hal inilah yang sempat membuat seorang ibu yang tinggal di sekitar Lakey “mengomel” panjang pada pengujung yang membuang sampah sembarangan. “Kami ingin ada kesadaran dari pengunjung lokal untuk bijaksana dalam menyikapi sampah yang mereka hasilkan, setidaknya membuangnya di tempat sampah yang sudah tersedia,” ungkap salah seorang penjaga pantai. Karena orang-orang Lakey sendiri menginginkan nama besar Lakey juga diimbangi dengan kebersihan pantainya. Lakey pantai bening berpasir putih dan berombak dahsyat adalah karya alam yang harus dirawat bersama. -Naniek I. Taufan


22

Sosialita

Edisi 910/ 18 - 24 juli 2016

Ketika sejumlah tokoh dan para politisi blingsatan gara-gara game ‘Pokemon Go’ , Pemda DKI Jakarta justru berusaha mengambil untung dengan keberadaan game yang kini tengah digilai masyarakat. Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama juga telah mengizinkan instansi di lingkungan DKI Jakarta, khususnya bidang pariwisata, yang ingin memanfaatkan momen demam Pokemon Go demi perkembangan Jakarta. Bahkan Ahok pun mengizinkan para gamer yang ingin berburu Pokemon di lingkungan kantornya, Balaikota.

“Di belakang laki-laki yang sukses ada perempuan yang hebat”. Sepertinya ungkapan ini tepat ditujukan pada BPR Sukawati Pancakanti. Keberadaannya k i n i ya n g m e m a s u k i usia ke-27 Tahun, BPRKanti (Sukawati Pancakanti) kian berkibar. Keempat Srikandi behind BPRKanti ini adalah Ni Made RestuWidiasih,S.E.(istri pemegang saham BPRKanti yang berprofesi dan menjabat sebagai wakil Pimpinan Cabang Bank BUMN Terbesar Indonesia di Bali), Ni Wayan Tantri, S.E. (Direktur Bisnis BPRKanti), Ni Made Sumartini, S.E. (Komisaris Utama BPRKanti), KadekAry Pramayanty,S.H (istri Direktur Utama BPRKanti yang berprofesi sebagai Pengacara-Advokat PERADI Bali).

RENCANA KERJA SAMA DENGAN GOOGLE Terkait dengan ‘Pokemon Go’ itu pula saat ini Pemda DKI Jakarta tengah

Demam “Pokemon Go”

Museum Nasional Diserbu

membahasnya untuk bisa bekerja sama karena nanti akan ada pengecakan dan dengan Google dalam membangun verifikasi laporan. Nah, user dengan aplikasi ‘Pokemon Go’ di kawasan jumlah total like atau support yang Balaikota dan lokasi-lokasi wisata lain- tertinggi dari laporan tersebut akan nya di Jakarta. Ketua UPT Jakarta Smart mendapat hadiah dari Qlue,” ucap City, Setiaji mengatakan, pihaknya Elita Yunanda, Head of Communicaakan bekerja sama dengan Google tion Qlue. untuk menambah monster Pokemon Sebagaimana diketahui aplikasi di Balaikota. “Supaya orang bisa lebih Qlue milik Pemda DKI Jakarta merusering datang,” ucap Setiaji. pakan aplikasi untuk peTidak hanya itu, Pemda laporan permasalahan DKI juga menawarkan para lingkungan yang tergamer memanfaatkan layanjadi di Ibukota. Laporan an Qlue. Jadi sambil berburu tersebut bisa diberikan pokemon juga memotret oleh siapa saja karkeluhan lingkungan. Dengan enanya aplikasi tersebegitu, Pemda mendapat but bisa di-download keuntungan, para gamer juga oleh umum. Nantinya ikut membantu pengawasan akan ditindaklanjuti karena para gamer dalam oleh petugas terkait. berburu Pokemon melakuLampu hijau yang kan perjalanan keliling Jadiberikan Pemda DKI karta. Maka ada baiknya juga Jakarta ini membuat ikut memotret lingkungan para gamer Ibukota yang dilewatinya. Yang pasti, yang kebanyakan adaatas upaya para gamer ini, lah para remaja dan ada hadiah menarik yang Basuki Tjahaja Purnama mahasiswa semakin disediakan. bersemangat mengunjungi tempat“Harus diingat, ya, laporan tempat wisata. Kebetulan juga saat harus kredibel dan benar-benar ini masih liburan sekolah maka tak terjadi. Bukan foto re- usah heran kalau kini di jalan-jalan kayasa tampak kalangan muda berkelompokkelompok sembari menatapi ponselnya. Sebut saja di kawasan Kota Tua, Monas, museum, juga sejumlah pusat perbelanjaan hingga ke Gelora Bung Karno, dll. –Diana Runtu

Berburu Pokemon di Museum Nasional Indonesia

3

Srikandi Behind BPRKanti

dangkan sejumlah radio. Maka tak heran beberapa hari terakhir ini Museum Nasional terlihat ‘lebih meriah’ dari biasanya karena banyak anak-anak muda yang datang.

“A

salkan hati-hati dalam berburu. Jangan menyetir sendiri kendaraan baik itu mobil ataupun motor saat berburu Pokemon. Lebih baik jalan kaki. Jangan juga terlalu keasyikan, tapi lihat juga sekelilingnya,” pesan Ahok sembari tertawa. Tapi yang sudah jelas telah memanfaatkan demam ‘Pokemon Go’ adalah Museum Nasional Indonesia, yang terletak di Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta. Sejak demam ‘Pokemon Go’ mewabah pekan lalu, pengelola Museum Nasional langsung sigap men-twit undangan agar para gamer datang ke Museum Nasional karena di sana ba­ nyak Pokemon yang siap ditangkap. Beginilah bunyi undangan itu: “Apa kamu seorang pokemon master/ trainer? Yuk berburu pokemon di Museum Nasional. Menambah wawasan dg cara fun!” Twitt ini langsung mendapat tanggapan beragam dari para follower, di antaranya adalah mempertanyakan soal keamanan barang koleksi museum. “Apakah tidak ada-apa berburu Pokemon di museum karena di sana ada banyak benda bersejarah yang usianya ratusan tahun, bagaimana kalau rusak gara-gara para gamer keasyikan berburu lupa melihat situasi?” Begitu antara lain pertanyaan para follower MNI. “Nggak apa-apa, kok. Karena di setiap ruangan ada penjaganya, tetap diawasi. Pun di koleksi yang rapuh disimpan dalam lemari/vitrin yang cukup kuat, jadi nggak masalah. Yuk mampir ke museum,” jawab staf pengelola museum. Sebagai informasi, saat ini Museum Nasional memiliki 140.000 lebih koleksi, namun hanya sepertiganya yang dipamerkan kepada umum. Pihak museum berharap dengan datangnya para gamer, mereka bukan hanya berburu Pokemon, tapi juga menambah wawasan sejarah dengan melihat-lihat koleksi museum. Ajakan berkunjung ke museum sembari berburu Pokemon pun ikut dikuman-

Edisi 910/ 18 - 24 juli 2016

P

enghargaan bergengsi berturut-turut disabet BPRKanti yang berkantor pusat di Jalan Batuyang 67B, Batubulan Gianyar ini. Di antaranya; Enterprise 50 dariAccenture International yang berkedudukan di Singapura bekerjasama dengan Majalah Swa Sembada dan HIPMI, Annual Refort Award (ARA) tahun 2009, InfoBank Award ,2010,2011, 2012, 2013, 2014

(Golden Award) dan 2015 dengan kinerja keuangan SANGAT BAGUS, Economic Review 2013, 2014, 2015, Penghargaan dari Kompas TV, Peringkat I Marketing PT denganAset Rp 100 Miliar s.d. Rp 250 Miliar, Peringkat II Corporate Social Responsibility BPR dengan Aset Rp 100 Miliar s.d. Rp 250 Miliar, Peringkat II BPR Swasta- Terbaik Indonesia, Peringkat III Human Capital BPR denganAset Rp 100 Miliar s.d. Rp 250 Miliar. Berikutnya, Direktur Utama BPRKanti juga menyabet The Best Leadership CEO-BPR Indonesia 2015 yang diraih oleh CEO BPRKanti Made AryaAmitaba, S.E,M.M., Peringkat II BPR Swasta-Terbaik Indonesia 2015 bidang IT, The Best Performing Micro Finance Company of The Year dalam ajang Indonesian Creativity And Best Leader Award 2016, International Outstanding Business Award 2015, International Microfinance Exposure Bangladesh, dll. ​A ryaAmit a b a menga t a ka n, prestasi-prestasi yang diraih BPRKanti tak terlepas dari kerjasama keluarga besar Kanti, dan tetap menjaga keseimbangan antara bisnis dan yadnya, juga masyarakat dan lingkungan. Seperti, Minggu (3/4), dalam rangka acara piodalan di Pura SamuanTiga, Gianyar, BPRKanti melaksanakan acara bakti sosial yaitu ngayah. Acara ini dihadiri para Alumni SMAN 1 Gianyar angkatan 91 bersamaWakil

Dialog Seminar dengan tema “Penguatan Lembaga Adat dan Budaya Bali di era Masyarakat EkonomiAsean (MEA) yang menghadirkan 4 narasumber, Made Arya Amitaba, M.M., Wakil Bupati Gianyar Made Agus Mahayastra, ­ Prof. Dr. I Wayan P. Windia, S.H., dan I Gde Pasek Suardika,S.H.

Bupati Gianyar Made Agus Mahayastra, yang dilanjutkan dengan pe­ nyerahan dana punia tempat sampah dari BPR Kanti disaksikan Wakil Bupati di Pura Samu­anTiga. Pe­nyerahan

Asyik berburu Pokemon

DRIVER OJEK KETIBAN REZEKI

Ternyata yang ikut meraup untung dengan ‘kegilaan’ masyarakat pada ‘Pokemon Go’ adalah para pengojek online. Awalnya para pengojek online tidak paham adanya demam Pokemon yang melanda, sampai mereka merasakan sendiri bagaimana ribetnya mengantar seorang berburu Pokemon keliling Jakarta. “Gilaaa..tadinya gua nggak ngerti ini anak mau ngapain minta diantar ke Jakarta Barat ngajak keliling-keliling. Dia asyik melototin hapenya, gua tinggal nunggu komando aja,” kata Aris, driver ojek yang mengaku sempat kebingungan pada awalnya karena ketidakjelasan order layanan. Tapi akhirnya dia bisa tertawa lebar karena hasil kerjanya menemani si remaja berburu membuahkan hasil Rp 150 ribu. “Hahah iya lumayan, dilebihin ama tuh anak,” kata Aris. Hal yang sama juga dialami oleh driver ojek online dari Uber yang mengaku dipesan seorang anak remaja, ternyata memintanya mengantar berburu Pokemon. Dengan gembira ia pun melayani permintaan si anak karena dia pun sudah mendengar demam Pokemon yang melanda. “Iya lagi pada keranjingan Pokemon. Banyak ojek kecipratan rezeki Pokemon nih hahaha,” kata Umar yang mendapat Rp 75.000 dari mengantar anak berburu Pokemon. Pihak Go-Jek sendiri pun sudah mengumumkan ikut meramaikan perburuan Pokemon lewat layanan aplikasinya. “Mau cari Pokemon?#Gojekinaja” begitu bunyi undangan Gojek yang siap mengantar kemanapun para gamer inginkan untuk berburu. Tapi ternyata tidak semua senang menyambut demam Pokemon. Sejumlah anggota DPR RI di Senayan justru merasa khawatir dengan fenomena ini. Bukan apa-apa, mereka khawatir kalau para gamer menjadi terlalu asyik dengan permainan ini sehingga tidak memperhatikan sekelilingnya, walhasil bakal membahayakan dirinya. Terbukti sejumlah gamer di beberapa negara menjadi korban (kecelakaan) karena tidak hati-hati. Anggota DPR Tantowi Yahya juga memiliki khawatiran yang sama kare­ na biasanya para gamer terlalu asyik bermain sehingga abai dengan situasi sekelilingnya. Ditambah lagi, permainan itu dimainkan ditempat-teman umum yang terbuka. “Dampak negatifnya mulai terasa. Ke depannya mungkin akan kita bahas dengan Menkominfo bagaimana sebaiknya,” ujar politisi Partai Golkar itu. Namun, diakuinya juga bahwa ada dampak positif dari permainan ini, khususnya bagi pariwisata. Karena para pemain harus mengunjungi tempattempat umum seperti lokasi-lokasi wisata. –Diana Runtu

Foto Bersama dalam acara kegiatan Edukasi & Literasi Keuangan, Seminar Regional

Tabungan Simpanan Pelajar (SIMPEL) kepada seluruh siswa kelas X dan XI sebanyak 676 orang di SMA Negeri 1 Gianyar Bali. Sabtu (18/6), di Hotel Nikki Denpasar, BPRKanti juga menyelenggarakan program Bhakti Masyarakat sebagai perwujudan pelaksanaan CSR. BPRKanti melaksanakan kegiatan Edukasi & Literasi Keuangan, Seminar Regional dan Grand Launching Produk yaitu: Tabungan ArisanKU berhadiah utama Mobil Toyota Agya, hanya dengan menabung setahun dan hadiah lainnya berupa 15 LED TV; Tabungan SimpananPelajar (Simpel), tabungan khusus bagi pelajar PAUD, SD, SMP, dan SMA; danTabungan Wisata, yang dapat dimanfaatkan untuk mewujudkan impian untuk mengunjungi tempat wisata seperti Beijing, India, Singapura, Malaysia, Bangkok, Lombok, Bandung, Yogja, dll. Seminar Bhakti Masyarakat tersebut dihadiri Direktur Pengawas Jasa Keuangan OJK Wilayah VIII Bali-Nusra, Nasirwan Ilyas, para nasabah, para tokoh adat di Kabupaten Gianyar, Badung dan

Denpasar, PERBARINDO, Forum PSP BPR BALI,tokoh-tokoh LPD & Koperasi, akademisi universitas di Bali, pendiri dan pemegang saham BPRKanti, pengurus dan direksi serta keluarga besar karyawan BPRKanti untuk berdiskusi terkait tema “Penguatan Lembaga Adat dan Budaya Bali di Era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)”. Menghadirkan empat narasumber, DirekturUtama BPR Kanti, Made AryaAmitaba, M.M. yang mengangkat tema “Peran BPR sebagai “Community Bank” dalam Memperkokoh Perekonomian Desa”, Wakil Bupati Gianyar Made Agus Mahayastra yang membahas tentang “Kebijakan Pemerintah Kabupaten Gianyar Mengenai DesaAdat, Desa Dinas dan Budaya Bali”, Pakar Hukum Adat Bali Prof. Dr. I Wayan P. Windia, S.H., yang mengupas tentang “Padum Raksa dan Padum Pada dalam Pewarisan Menurut Hukum Adat Bali”, serta Senator DPD RI Daerah Pemilihan Bali, I Gde Pasek Suardika,S.H., yang berdiskusi tentang “Politik Hukum NKRI Terkait dengan Masyarakat Hukum Adat dan Kebudayaan Daerah”. –ten

Beasiswa untuk Anak Karyawan Belum lama ini, Kamis (7/7), BPRKanti juga melaksanakan Family Gathering yang berlokasi di Taman Nusa-Indonesian Cultural Park, Desa Sidan, Gianyar, Bali. Diikuti sekitar 300 orang, yakni para karyawan BPRKanti beserta keluarga, serta pendiri dan pemegang saham. Acara dimulai dengan sambutanTari Kuda Lumping dan Tari Pendet oleh pihak Taman Nusa. Peserta kemudian mendaftarkan diri untuk mengikuti beberapa lomba, mulai dari lomba lari bakiak, lari kelereng, lomba makan krupuk, yang diikuti karyawan, keluarga, dan anak-anak. Di pengujung acara, yang paling ditunggu anak-anak ialah Penyerahan Beasiswa untuk Anak mulai dari PAUD, TK, SD, SMP, SMA, dan yang sudah duduk di bangku kuliah.–ten

Foto bersama peserta, karyawan, dan keluarga setelah penyerahan beasiswa kepada anak-anak karyawan mengakhiri acara BPRKanti Family Gathering

Perlombaan lari bakiak yang diikuti para karyawan dan segenap direksi beserta keluarga dalam BPR Kanti Family Gathering, Kamis (7/7) di Taman Nusa-Indonesian Cultural Park, Desa Sidan, Gianyar, Bali

Penyerahan Beasiswa​kepada anak-anak​ karyawan, Mulai dari PAUD, TK, SD, SMP, SMA, dan yang sudah duduk di bangku kuliah ​ dalam BPRKanti Family Gathering, Kamis (7/7) di Taman Nusa-Indonesian Cultural Park, Desa Sidan, Gianyar, Bali

Perlombaan makan krupuk yang diikuti anak-anak karya­ wan dalam BPRKanti Family Gathering, Kamis (7/7) di Taman Nusa-Indonesian Cultural Park, Desa Sidan, Gianyar, Bali

Foto bersama peserta, karyawan, dan keluarga sebelum dimulainya acara BPRKanti Family Gathering


2

Edisi 910/ 18 - 24 juli 2016

GORO-GORO B i l a gelombang mudik padat, arus baliknya pun akan lebih dahsyat. Bagai Putu Wijaya dilanda tsunami, manusia dan kendaraan yang surut dari ibukota, akan melabrak balik dengan boncengan para pengadu untung baru, yang percaya, Jakarta adalah masa depannya. Tetapi Jakarta tak mungkin dimasadepankan oleh semua orang. Paling banter hanya untuk segelintir yang beruntung saja. Sisanya akan jadi pecundang. “Betul sekali!” seru Amat mendukung obrolan kosong di tetangga. “Karena cara melihat ibukota seperti itu, masa depan kota nomor satu kita itu, akan terus tambah kumuh! Bayangkan!” Amat lalu menirukan pengakuan seorang “pendatang haram” ke Jakarta di masa arus

balik, sebagaimana yang didengarnya di warung: “Tak apa jadi kecoak di kota metropolitan. Kalau dalam setahun, mudik lebaran bisa naik motor cicilan, padahal hanya ngemis di perempatan bawah jalan layang. Daripada hangus terbakar di sawah kampung, tetapi buntutnya panen busuk ditelan banjir, akhirnya harta warisan lenyap gagal ditebus dari lintah darat. Buat apa!” Amat tak lupa menceritakan bahwa banyak pengemis, di ibukota, penghasilannya lebih besar dari gaji pegawai negeri. Habis “jam kerja” nukar duit di tukang es, pesan sate dan ngebul-ngebul rokok. “Mengemis yang di sini kita anggap ulah pemalas yang hina dan memalukan, kalau dilakukan oleh anak muda yang sehat, di situ malah jadi profesi basah. Berarti tata-nilai kita sudah kacau balau! Sama saja dengan korupsi yang dulu dianggap aib, sekarang

arus balik

malah dianggap kiat, kelihaian memelintir kesempatan. Bahkan dibanggakan oleh pelakunya, karena dia merasa ngetop jadi selebriti di TV! Zaman serba salah kaprah! Arus balik harus disaring.” Pulang dari tetangga Amat disambut Bu Amat dengan dampratan. “Saya dengar apa yang Bapak katakan di situ tadi!” “ O, ya? Yang mana? Bagaimana? Betul kan?!” “Soal penumpang haram itu, Bapak keliru!” Amat terkejut. “Keliru bagaimana?” “Arus mudik itu tidak akan diboncengi pendatang haram, kalau orang Jakartanya sendiri tidak mudik sambil membawa pesanan juragan-juragan ibukota yang perlu pembantu, sopir, tukang kebun, buruh bangunan dan sebagainya. Lha Bapak sendiri dulu bilang pernah membawa calon pembantu yang

“Tolong -Terima Kasih” Singkat tapi Bermanfaat “Eh… eh… ambilin gelas itu, duuhh cepetin mbak!”, kata seorang anak pada asisten rumah tangga dan berlalu kemudian. “Mbak sini, sepatu ini ditaruh di depan, bajunya dicuci, kalau sudah bantu angkat kardus ini ya… ”, pinta remaja perempuan. Coba kita tirukan kata- kata bercetak miring di dalam tanda kutip tersebut, apa yang Anda rasakan?. Adakah yang janggal atau kurang?. Ini bukan masalah budaya Barat atau Timur atau anak zaman kini berbeda dengan zaman dulu tetapi lebih kepada apa yang orangtua kenalkan pada anak di rumah. Ya, kata ‘tolong’ dan ‘terima kasih’ mulai digaungkan kembali karena semakin jarang kita dengar saat kita akan meminta bantuan dan dibantu. Kata-kata ini terdengar sepele tetapi memulai sesuatu yang baik tidak mengenal besar atau kecilnya. Kata tolong adalah kata yang dirancang dan dikenal secara umum untuk meminta sesuatu dan terima kasih ketika keinginannya telah terpenuhi. Kata-kata ini

bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

Made Padma Dewi Bajirani, S.Psi.

sangatlah singkat dan terkesan biasa saja sekalipun kita tidak mengucapkannya. Tetapi tahukah Anda jika kata-kata ini memilliki makna yang luar biasa bagi yang mendengarkannya? Saat kita menyampaikan ‘tolong’ atau ‘terima kasih’ secara tidak langsung kita mengajak anak untuk membentuk perilaku menghargai orang lain. Ucapan

‘terima kasih’ dapat dijadikan sebagai bentuk penghargaan pada seseorang atas jasa yang telah dilakukan. Dimana kata ‘tolong’ dan ‘terima kasih’ dapat digunakan sebagai media reward atau apresiasi paling dasar yang dapat menguatkan perilaku yang diharapkan. Sekalipun Anda memintanya pada anak Anda, cobalah untuk membiasakan mengucapkan ini saat Anda membutuhkan bantuan dan dibantu olehnya. Ketika anak merasa dihargai, maka anak lebih mampu mencontoh hal tersebut dan mengaplikasikannya pada orang lain. Mengenalkan anak tentang kata terima kasih akan menanamkan tentang kebersyukuran anak terhadap segala hal yang diterimanya. Dalam kajian psikologi, kata tolong dan terima kasih dapat memberikan makna yang positif bagi yang mengucapkan dan mendengarnya. Ketika anak mampu mengucapkan terima kasih atau tolong maka anak dapat menguatkan emosi positif. Seperti fungsi dasarnya, kata ‘tolong’ dan ‘terima kasih’ dapat menjadi indikator pengenalan

dipesan oleh orang Jakarta, ingat tidak?” “Tapi itu kan karena diminta Bos waktu itu, nganterin tukang buat putranya!” “Tapi sesudah itu, Bapak bilang dapat pesanan dari tetangganya, cari pembantu, ya kan?!” “Tapi itu kan baik. Daripada di sini jadi pengangguran, ya kan?!” “Nah jangan salahkan arus balik! Bukan arus balik yang membuat ibukota kebanjiran orang, tapi... !” “Tapi apa?” “Orang Jakarta yang hidup dengan mental desa itu! Baru punya uang sedikit, malas masak, malas ngurus rumah, punya mobil tapi tidak mau nyupir. Lihat di

nilai-nilai kesopanan pada anak. Sehingga ketika anak telah mampu menggunakan kata ‘tolong’ atau ‘terima kasih’ sesuai dengan konteksnya, anak juga melatih dan meningkatkan kemampuan komunikasi dan sosialisasinya. Saat semua anggota bisa melakukannya secara timbal balik, maka komunikasi positif ini dapat meningkatkan keharmonisan dalam keluarga. Sudah menerapkannya, tetapi… Kedua kata ini memiliki makna yang positif saat disampaikan pada orang lain. Tentunya ketika kita berkomunikasi tidak hanya penyampaian secara verbal yang nampak, namun juga nonverbal. Salah satu bentuk komunikasi nonverbal yang dapat menyertai adalah ekspresi wajah yang seseuai. Anda bisa membayangkan jika Anda mengucapkan ‘tolong’ dan ‘terima kasih’ dengan wajah yang cemberut atau marah? Ya, anak juga merasakan hal tersebut.

Ekspresso TV, bule-bule itu sudah kayanya seperti itu, nggak ada yang punya pembantu!” Amat tercengang. Ia menatap istrinya tak percaya. “Jangan bengong begitu!” lanjut Bu Amat sambil ketawa, “yang ngajarin bilang begitu kan Bapak sendiri juga, makanya sampai sekarang kita tak punya pembantu!” Amat manggut-manggut merasa kebakaran jenggot. Esoknya, ketika para tetangga ngerumpi lagi, ia sudah siap-siap mau bilang, “Bukan arus balik itu yang membuat penduduk Jakarta terus membengkak, tapi mental penduduknya sendiri.” “Sayangnya bukan arus balik lagi yang digunjingkan,”kata Amat kemudian laporan sama istrinya, “tapi soal I Putu Sudiarsana yang tertangkap basah oleh KPK hingga kondite kita, orang Bali, anjlog!”

Karena pada dasarnya anak juga memiliki kepekaan terhadap ketidak sejalanan kata-kata dan ekspresi wajah Anda. Pada intinya kata-kata ini akan bermakna positif saat orang lain menyampaikannya dengan intonasi dan ekspresi yang tepat seperti tersenyum. Mulai tanamkan sejak dini. Kita bisa membiasakannya pada hal-hal kecil di sekitar kita tanpa mengenal usia anak misalnya “tolong ambilkan gelas” setelahnya ucapkanlah “terima kasih”. Ketika hal ini sudah ditanamkan sejak dini di rumah, anak akan memiliki pola tersebut dan mampu menerapkannya di lingkungan sekolah dan masyarakat. Karena “anak tidak mudah melakukan apa yang kita perintahkan, tetapi apa yang sudah kita lakukan”. Made Padma Dewi Bajirani, S.Psi.

Mahasiswi

Kata Hati Rubrik ini khusus untuk wanita yang ingin menuangkan ide/pemikiran/ gagasan dalam bentuk tulisan. Tema terkait wanita dan keluarga serta tidak mengandung unsur SARA. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter (1,5 halaman A4; spasi 1,5; times new roman 12). Lampirkan juga foto close up (bukan pasfoto). Cantumkan nama lengkap, profesi, nomor hp, dan alamat email. Naskah dikirim ke redaksi@tokoh.co.id, redaksitokoh@yahoo.com. Tulisan yang dimuat mendapatkan bingkisan dari Telkomsel. Telkomsel sebagai satu-satunya operator paling Indonesia selalu berkomitmen untuk membangun dan memajukan Indonesia. #UntukIndonesia

Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti, Sagung Inten. Buleleng: Wiwin Meliana. Jakarta: Diana Runtu. NTB: Naniek Dwi Surahmi. Desain Grafis: IDN Alit ­Budi­artha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama, Ayu Wika Yuliani. Se­k retariat: Ayu ­A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­m erah ­B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­ ­F aksi­m ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang ­G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

Sudut Pandang

Edisi 910/ 18 - 24 juli 2016

23

Laporkan Kekerasan yang Dialami Kekerasan terhadap perempuan dan anak masih saja terjadi. Berbagai upaya dilakukan untuk mengatasinya. Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (BP3A) Provinsi Bali Ni Luh Putu Praharsini mengatakan, saat ini, lembaganya sedang fokus pada program sosialisasi ke sekolah-sekolah untuk siswa SD dan SMP. “Kami sedang fokus untuk sosialisasi bagaimana mengenali kekerasan terhadap anak, dan bagaimana agar anak mau melaporkan kekerasan yang dialaminya, baik kepada guru atau temannya,” ujarnya.

I

a menilai, banyak sekali kekerasan yang dialami anak, tapi mereka takut melaporkannya. Karena itu, kata dia, saat ini, fokus kampanye ke sekolah-sekolah, agar bagaimana anak menjadi berani untuk menyuarakan kekerasan yang mereka alami. Program ini

diberikan masing-masing sekali ke tiap-tiap SD dan SMP kabupaten/ kota. Selain itu, Forum Anak Daerah juga sudah terbentuk yang bertujuan sama, agar anak-anak berani menyuarakan hak mereka, dan mengajak teman-teman mereka yang mengalami kekerasan

Ni Luh Putu Praharsini

untuk berani melapor. BP3A Provinsi Bali juga fokus pada program dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yakni program

Maksimalkan Peran Orangtua Tindak kriminal yang dilakukan oleh anak beberapa akhir belakangan di Buleleng memang meningkat. Anak yang masih dibawah umur harus bersentuhan langsung dengan hukum karena berbagai jenis tindak kriminalitas yang dilakukan. Tindakan kriminal yang dilakukan oleh anak disebabkan oleh beberapa faktor di antaranya faktor pengawasan orangtua, lingkungan, dan ekonomi. Hal tersebut yang disampaikan oleh Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Satuan Reserse Polres Buleleng Putu Edi Sukariawan, S.H. Beberapa kasus kriminal yang pernah ditangani adalah kasus pencurian. “Kasus yang sedang kami tangani saat ini adalah kasus curanmor yang dilakukan oleh anak dibawah umur,” ungkapnya. Untuk mencegah aksi kejahatan tersebut pihaknya menerangkan sudah melakukan sinergi dengan pihak-pihak terkait untuk melakukan sosialisasi. “Kami gencar melakukan penyuluhan ke masing-masing kecamatan melalui unit PPA di masing-masing Polsek kepada masyarakat khususnya anak-anak,” paparnya. Sukariawan juga mengungkapkan bahwa dalam penanganan kasus yang dilakukan oleh anak-anak akan diselesaikan secara khusus. Menurut peraturan yang mengatur tentang perlindungan anak, anak-anak yang bersentuhan dengan hukum akan dilakukan diversi.

Edi Sukariawan

“Untuk kasus yang sedang kami tangani saat ini sudah merupakan pengulangan tindak pidana sehingga dengan sangat terpaksa harus kami proses sesuai dengan hukum yang berlaku,” jelasnya. Meskipun diproses secara hukum namun proses hukum yang dijalani tidak dapat disamakan dengan orang dewasa. “Khususnya ini berarti penanganannya harus cepat, dan penahanannya pun tidak bisa digabungkan dengan orang dewasa,” tambahnya.

3 Ends yakni Akhiri kekerasan pada perempuan dan anak, Akhiri perdagangan manusia, dan Akhiri ketidakadilan akses ekonomi untuk perempuan. “Sudah ada terpilih 50 partisipasi publik untuk kesejahteraan perempuan dan anak tingkat nasional, dan 4 orang wakil dari Bali. Mereka ini adalah orang-orang dari masyarakat umum yang secara swadaya melakukan pemberdayaan dan pembinaan kepada perempuan dan anak, bersinergi membantu program pemerintah,” ujarnya. Pada tanggal 21 Juli, dalam peringatan hari Anak di Bali, akan digelar juga pemberian apresiasi penghargaan kepada mereka yang sudah peduli kepada perempuan dan anak sekabupaten/kota di Bali. “Tanggal 20 Juli mereka akan melakukan persentasi tentang kegiatan apa yang sudah mereka laku-

kan. Bagaimana kiprah mereka memberikan pembinaan dan pemberdayaan kepada perempuan dan anak, dan membuat orang lain ikut melakukan hal yang sama. Untuk pemberian penghargaan akan dilakukan 21 Juli,” ucapnya. Partisipasi dari masyarakat umum ini bisa dari media, LSM, ibu rumahtangga, pengusaha, dll. Ia berpandangan, upaya untuk mewujudkan program 3 Ends ini tidak bisa diwujudkan sendiri, tapi perlu partisipasi masyarakat umum, bila perlu bersinergi dengan pemerintah. Target dari BP3A, jelas untuk menekan kekerasan terhadap perempuan dan anak ke depannya. Memang, ia mengakui, program ini tak bisa instan, semua perlu proses yang berkesinambungan dan dilakukan terusmenerus. –Wirati Astiti

Selain aksi pencurian, pria kelahiran 5 Desember 1976 ini juga mengatakan kejahatan yang sedang marak di kalangan remaja adalah penggunaan narkoba. Pihaknya juga selalu gencar melakukan sosialisasi mengenai bahaya narkoba ke sekolah-sekolah yang ada di Buleleng. “Tanpa diminta oleh sekolah pun kami akan melakukan penyuluhan karena narkoba merupakan kejahatan luar biasa,” lanjutnya. Ia menerangkan bahwa selain dijerumuskan untuk menggunakan, anak-anak dimanfaatkan sebagai kurir. “Ini yang menjadi kelemahan sebab anak-anak itu dilindungi oleh Undang-undang sehingga tidak bisa dituntut secara hukum,” ujarnya. Sukariawan sangat berharap pengawasan terhadap anak

oleh orangtua juga dimaksimalkan. Selain narkoba, rokok juga dapat menimbulkan hal negatif terhadap anak. “Sama-sama menimbulkan kecanduan tetapi kami tidak bisa melarang sepenuhnya agar anak tidak merokok,” tandasnya. Maka dari itu peran serta orangtua, lingkungan, dan pergaulan sangat berperan penting agar anak terhindar dari bahaya rokok. Ia juga sangat berharap kepada anak-anak yang merupakan aset bangsa dapat memikirkan dampak dari hukuman pidana tersebut. Selain itu, keharmonisan antara instansi terkait juga sangat dibutuhkan untuk bersamasama melakukan antisipasi kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh anak. –Wiwin

Emosi Keceriaan Anak

Permainan anak-anak yang tradisional mulai jarang dimainkan. Anak-anak sekarang lebih sering bermain dengan gadget. Namun, fotografer Gede Lila Kantiana membuat terobosan dengan mendokumentasikan permainan anak-anak melalui akun IG: traditional_childrens_ games. “Permainan anak-anak terutama yang tradisional makin terlupakan dan tergantikan oleh permainan modern (gadget). Terkadang nilai atau manfaat dari permainan tradisional tidak didapat di permainan modern. Memotret permainan yang melibatkan anak-anak juga memberikan rasa kesenangan yang berbeda, ada emosi ceria, bahagia, semangat kebersamaan di sana,” ujarnya memberi alasan memilih fotografi permainan anak. Untuk mencari referensi, Lila mengaku di zaman modern ini

segala informasi dengan mudah didapatkan. “Walau dunia internet memiliki pengaruh sehingga permainan tradisional hampir dilupakan namun internet berdampak positif. Kita dengan mudah mengetahui segala jenis permainan yang ada di nusantara, walau permainan sama tapi terkadang nama dari masing-masing daerah berbeda-beda,” ujar fotografer asal Apuan, Baturiti, Tabanan ini. Lila berharap dokumentasi permainan tradisional sangat bermanfaat untuk anak-anak. Ia melihat ada nilai-nilai kebersamaan, bagaimana cara bersahabat, bersaing untuk menang tapi dalam susasana yang penuh kebahagiaan, ada rasa saling percaya dengan temanteman, misal lomba balap

bakiak (kebersamaan dan saling percaya). “Banyak manfaat positif yang bisa kita dapatkan untuk pendidikan anak-anak. Saya sangat berharap permainan tradisional

ini tidak punah dan selalu bisa dimainkan oleh anak-anak. Adakan selalu perlombaan permainan tradisional di sekolah atau setiap perayaan hari-hari besar kenegaraan,” usulnya. –Ngurah Budi

Permainan tradisional

Foto: Gede Lila Kantiana


24

Edisi 910/ 18 - 24 Juli 2016

Pemerhati tayangan entertainment tentu tak asing dengan tampang salah satu mantan personil Coboy Junior, Bastian Bintang Simbolon. Bocah imut dengan rambutnya yang kribo. Babas, begitu ia menyebut dirinya, kini tumbuh remaja dan tetap eksis di jagat tariksuara sekalipun dia memilih jalur ‘solo karier’. Bukan itu saja, bahkan pelantun tembang ‘Juara di Hati’ kini mulai me­ napaki dunia akting.

S

Ba sti a n Bi nt a n g Si m bolon

etidaknya ada sejumlah film dan sinteron yang telah dimainkannya. Yang teranyar adalah penampilannya di film ‘Rudy Habibie (Habibie&Ainun 2)’ yang kini tengah tayang di bioskopbioskop tanah air. Dalam film ini, remaja kelahiran Bandung, 21 September 1999 itu, memerankan sosok Habibie kecil. “Aku bangga dapat kesempatan memerankan tokoh Habibie kecil meski sulit,” ungkap Babas yang mengaku sempat merasa tertekan. Ya maklum saja, sebagai pemula dengan pengalaman minim langsung dipercaya oleh sutradara Hanung Bramantyo memerankan seorang Habibie, salah satu tokoh besar Indonesia yang juga mantan Presiden. Tak heran hati Babas sempat gentar, apalagi film Habibie dan Ainun 1 yang diputar tahun 2012 adalah sebuah film yang sukses di pasaran. Pem-

Mulai dari Nol erannya, Reza Rahadian yang berperan sebagai Habibie mampu memainkan dengan baik karakter sang tokoh. “Sulit! Karena memerankan karakter orang, berbeda kalau kita memerankan karakter yang dibuat sendiri. Kita bisa bebas berimprovisasi. Kita bisa buat sendiri. Nah yang ini kan karakternya Pak Habibie, itu yang harus diperankan. Tapi kan Reza (tokoh Habibie dewasa) berhasil sekali memerankannya. Jadi Babas yang jadi Habibie kecil pun tertantang untuk juga bisa berhasil,” ujar Babas di sela-sela acara promosi film ‘Rudy Habibie’, di Plaza Slipi, Jakarta. “Jangan sampai Babas hanya berhasil mendapat pengalaman yang luar biasa namun gagal berakting baik. Tapi syukurlah hasilnya baik. Teman-teman Babas bilang bagus. Tapi terus terang waktu itu Babas merasa deg-deg-an banget,” kata Babas yang pernah menjuarai lomba breakdance se-Bandung, Jawa Barat. Babas mengaku, seperti halnya menyanyi, dia pun merasa sangat menyukai dunia akting yang baru dimasukinya. Orangtuanya, Jamian Simbolon dan Monalisa Sitorus juga sangat mendukung kari-

ernya. “Orangtua sangat mendukung karier Babas. Cuma mama berpendapat menyanyi itu lebih enak. Papa yang menekuni dunia menyanyi justru lebih senang Babas berkiprah di film. Hahaha...tapi prinsipnya orangtua Babas mendukung,” paparnya. Karena dia menyukai kedua bidang itu, ia berharap agar keduanya dapat seiring sejalan. “Babas harap menyanyi maupun akting bisa sama-sama berjalan,” kata remaja yang berniat akan tampil beda pada HUT-nya ke 17 September mendatang. SEJUTA MIMPI BABAS Babas yang memiliki banyak kebisaan ini, ternyata menyimpan banyak impian untuk kehidupannya kelak. Salah satunya adalah menjadi artis yang diakuinya sebagai mimpinya sejak masih kecil. Ia mengaku telah mendoakannya dan meminta pada Tuhan agar citacitanya itu bisa terwujud. Ternyata doanya cepat terjawab. Berawal dari penampilannya di ajang Idola Cilik 2, Babas yang ketika itu berusia 10 tahun tampil menggemaskan dengan ram-

Sudut Pandang

butnya yang kribo. Meski langkahnya di Idola Cilik terhenti di tengah jalan, namun bocah yang memiliki banyak penggemar karena penampilannya yang imut, diminta bergabung di Coboy Junior (CJ), yakni kumpulan bocah yang terlibat dalam ‘Musikal Laskar Pelangi’. Sejak itu penampakan Babas pun makin sering di layar kaca seiring makin tenarnya Coboy Junior. Tahun 2014 lalu muncul berita mengejutkan, Babas keluar dari CJ yang membesarkan namanya. Entah apa sebab. Dia memilih bersolo karier. Babas mengaku, ternyata, tidak semudah yang terlihat, apalagi dia harus memulainya dari bawah. “Ternyata susah memulai karier dari nol lagi. Babas pernah merasakan di puncak popularitas tapi kemudian mulai dari bawah lagi. Jadi merasa canggung, apalagi jika membayangkan ekspektasi masyarakat. Tapi meski sulit akhirnya semua berjalan baik-baik saja. Babas bersyukur banget,” kata Babas yang tahun lalu meraih penghargaan Mom&Kids untuk kategori Penyanyi Pria Kesayangan. Ia berhasil mengungguli nominator lainnya seperti Afgan,

Tulus, Vidi Aldiano dan Al Ghazali. Saat ini kata Babas, ia tengah mempersiapkan single keduanya yang akan diluncurkan tahun ini. Ia juga sekarang tengah belajar menulis lagu sendiri. Remaja multitalenta ini berharap apa yang dicita-citakan dan ditargetkannya bisa berjalan baik. Harapan tinggi juga disimpan Babas untuk kariernya di dunia perfilman. Dia mengaku sejak kecil sudah mencintai film lantaran sering diajak nonton film oleh ayahnya. “Pokoknya Babas suka film apa saja. Kalau ada waktu luang, misalnya libur syuting atau menyanyi, Babas nonton di bioskop. Suka banget. Mungkin karena dulu sering banget diajak papa nonton bioskop,” katanya. Maka ketika ia menjejakkan kaki di industri perfilman dia pun memiliki sejuta mimpi. Kalau sekarang sekalipun ia telah tempil di sejumlah film maupun sinetron, namun belum sempat mendapat peran utama. “Babas pengen main film yang ceritanya oke, juga jadi pemeran utama,” kata Babas yang ternyata diam-diam memiliki keinginan menjadi sutradara kelak. Sejak kecil, aku Babas, dia sudah hobi bikin video sendiri dan mengeditnya. “Dulu, kan, belajarnya pakai handphone. Makanya nanti Babas mau kuliah ambil jurusan perfilman,” tambahnya.—Diana Runtu

Anak sebagai Subjek dan Objek Forum Anak Daerah (FAD) Bali telah mengajarkannya banyak hal dan mengenalkannya dengan banyak orang hebat yang berperan dalam perlindungan anak, salah satunya Ni Nyoman Masni yang merupakan Pembina FAD Bali, juga anak muda yang sarat prestasi seperti Kadek Ridoi Rahayu, Wahyu Adi Raditya dan masih banyak lagi yang lain. Hal tersebut disampaikan oleh Luh Vida Sasmitha, yang bergabung di FAD Bali sejak tahun 2011, setelah menjadi peserta Mimbar Anak Bali V/2011, dan masih aktif sampai saat ini sebagai Ketua FAD. Bagi gadis kelahiran Gianyar, 17 Juni 1995, yang saat ini sedang kuliah di Jurusan Farmasi FMIPA Universitas Udayana, semester 7 ini, FAD Bali dibentuk pada 26 Desember 2006 oleh Kadek Ridoi Rahayu. Saat ini FAD Bali sudah berada di tahun ke 10 dan tetap aktif dalam melakukan kegiatan yang berkaitan tentang pemenuhan hak anak dan perlindungan anak. FAD Bali saat ini masih berada di bawah binaan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Provinsi Bali sejak pertama terbentuk. Organisasi ini berbeda dengan organisasi yang lain, karena di FAD Bali bukan hanya tentang kepedulian tapi juga tanggung jawab dan pengorbanan. Bergabung di FAD Bali, bagi merupakan kebanggaan terbesar bagiVida. Kesempatan menjadi duta anak Bali di tahun 2011 dan mewakili Bali ke KongresAnak Indonesia di Bandung. Hal ini baginya merupakan hadiah yang tidak pernah saya duga sebelumnya. “Tapi hadiah terbesar yang saya dapat sejak bergabung di FAD Bali adalah mengenal banyaak anak Bali yang mau peduli dengan anak Bali lainnya di sekitar mereka dan berani mengambil langkah bersama untuk membangun FAD Bali dan mewujudkan mimpi mereka,”paparnya. Selama hampi 5 tahun ada di organisasi ini, sudah banyak hal yang ia lewati, suka duka, kecewa marah dan bahagia merupakan hal yang selalu terjadi ketika mereka melakukan kegiatan. FAD Bali adalah organisasi yang mengumpulkan seluruh anak-anak Bali yang mau dan mampu menjadi pilar dan penghubung dalam mencegah kejahatan dan kekerasan kepada anak. Kegiatan yang banyak mereka lakukan adalah kegiatan berupa penggalangan dana bantuan, kunjungan ke Lapas Anak, lomba-lomba yang berkaitan dengan kreativitas anak serta kegiatan terbesar yang mereka lakukan setiap tahun adalah Mimbar Anak Bali (MAB).

JANGAN BERHENTI BERMIMPI Vida menjelaskan MAB adalah sebuah kegiatan yang mengumpulkan perwakilan anak Bali di setiap kabupatennya dan merumuskan aspirasi mereka yang diberi nama Suara Anak Bali.Selama mengikuti MAB, baik sebagai peserta maupun panitia, sangat menyenangkan. Sebab, dengan kegiatan tersebut ia bukan hanya menambah teman tetapi juga belajar tentang bagaimana menjadi pemimpin, berpendapat dan menjadi apa yang diinginkan. “Seluruh kegiatan yang kami lakukan di FAD Bali dipertanggungjawabkan oleh anak-anak. Sehingga, dalam kegiatan, anak-anak bukan hanya berperan sebagai objek tetapi juga sebagai subjek, karena peranan yang diambil sangat banyak. Dimulai dari persiapan tema, tempat dan teknis pelaksanaan, tidak banyak campur tangan orang dewasa baik Pembina FAD Bali sendiri,” ujarnya. Terpilih menjadi Ketua FAD Bali bagi Vida juga merupakan hadiah dan kebanggaan karena dapat berperan lebih di FAD Bali.Tapi tentu saja tanggung jawab yang saya miliki juga besar, dan menjadi pemimpin di organisasi satu ini juga tidak mudah, banyak yang harus dipertimbangkan dalam mengambil keputusan, karena yang dihadapi bukan dengan orang berumur sama tetapi dengan anak-anak yang relatif masih cukup labil dan memiliki kesibukan yang berbeda-beda karena dari kabupaten berbeda pula. “Namun selama 2 tahun ini saya sangat bangga dengan anak-anak yang bergabung di FAD Bali, karena dengan peran aktif mereka saat ini sangat Luh Vida Sasmitha membantu saya dalam melaksanakan tanggungjawab menjadi seorang Ketua,” tegasnya. Ditanya soal harapannya untuk anak-anak Bali, Vida ingin mereka tetap menjadi anak-anak sesuai dengan umurnya. Belajar yang baik, menjadi anak baik dan jadilah apa yang diinginkan dan jangan berhenti bermimpi. Anak-anak, lanjutnya punya hak untuk berpendapat, berpartisipasi dan membela diri tapi bukan berarti bisa melawan orangtua, karena menghormati orangtua adalah kewajiban sebagai anak, jadi seimbangkan hak dan kewajiban. “Kalau ingin tahu seperti apa FAD Bali bisa follow kami di IG : @fadbali, twitter: @fadbali, fb : Forum Anak Daerah Bali atau kunjungi blog kami di fad-bali.blogspot.com,” tandasnya. – Sri Ardhini

redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id

mingguantokoh

@mingguantokoh

mingguantokoh

www.tokoh.co.id


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Tokoh Edisi 910 | Tokoh by e-Paper KMB - Issuu