24
What’s Up
Edisi 894/ 28 MARET - 3 April 2016
AA Ayu Ketut Agung
Busana Adat Bali makin Digemari Nama Dr.Anak Agung Ayu Ketut Agung,M.M. memang sudah sangat akrab dengan urusan tata rias dan busana adat Bali. Di tengah era modern ini, kreativitas dan inovasi para perias muda diacunginya jempol. Namun, dalam setiap kesempatan ia selalu mengingatkan agar tata rias dan busana adat Bali tersebut boleh saja dimodifikasi asal tak kebablasan, disesuaikan dengan situasi dan kondisi.
H
al tersebut juga terus disosialisasikannya dalam tiap r o adshow yan g digelar hingga ke pelosok desa
bekerjasama dengan Kelompok Media Bali Post, Viva Cosmetics, organisasi wanita, instansi pemerintah, maupun swasta. Tujuannya, tentu agar tata riasdan
Bu Agung bersama Ny. Bintang Puspayoga, istri Menteri Koperasi dan UKM yang juga Ketua WHDI Bali bersama artis Cynthia Lamusu (kanan) menggunakan busana tengkuluk lelunakan
busana adat Bali masih tetap ajeg dan lestari. Salah satu busana adat Bali yang kini makin popular dikenakan dalam tiap kesempatan adalah tengkuluk lelunakan, seperti untuk menyambut tamu, untuk seka gambel, MC, paduan suara, dan acara lainnya. Pada hakekatnya, pada zaman dulu
Irwandi Wijaya dan keluarga dalam balutan busana adat Bali
Iwabri dalam balutan busana tengkuluk lelunakan serangkain HUT Iwabri ke-16
busana tengkuluk lelunakan ini memang diperuntukkan saat upacara pengabenan/palebon di Denpasar dan Badung. Sekarang, busana tengkuluk lelunakan sudah menjadi salah satu busana adat Bali. Dan, dipakai juga sebagai busana kebesaran saat grand final Pemilihan Teruni Denpasar sejak berdiri sampai sekarang.
Seperti belum lama ini, Bu Agung juga mendapat kepercayaan merias tengkuluk lelunakan dalam upacara palebonan di Puri Satria, Denpasar. Menariknya, anak-anak yang menanganinya adalah anak-anak kejar paket, Bu Agung hanya yang mengawasi. “Pagi mereka belajar di salon, sore mereka sekolah,” ujar Bu Agung. Pada kesempatan yang berbeda pula, busana tengkuluk lelunakan ini juga dikenakan oleh Ikatan Wanita Bank Rakyat Indonesia (Iwabri), serangkaian HUTnya yang ke-16. Ketua Iwabri Denpasar Ny. Irwandi Wijaya mengatakan sangat senang dan kagum dengan kreativitas dan inovasi karya seni yang dipadukan menghias profesional tanpa menghilangkan adat Bali. “Walau berhijab, kami tetap masih bisa memakai busana adat Bali. Memang dengan kombinasi dan kolaborasi yang penuh inovasi, kami sangat bagus memakai busana adat Bali,” ucapnya. Inspektur BRI Denpasar Irwandi Wijaya menambahkan, busana adat Bali merupakan suatu budaya yang jangan sampai kita orang Indonesia tidak mengerti, karena orang luar saja mengerti. “Dan, memang sudah menjadi tugas dan kewajiban kami, BRI untuk turut juga melestarikan budaya Bali. Tak hanya Bali saja, di tempat lain kami juga meminta untuk menggunakan pakaian daerahnya masing-masing,” ucapnya. Rupanya hal ini berlanjut. Pasutri ini merasa sangat excited dengan busana adat Bali. Jumat (25/3), Irwandi Wijaya sekeluarga pun membuat dokumentasi keluarga dengan busana adat Bali. “Rasanya belum lengkap jika ke Bali tak memiliki dokumentasi memakai busana adat Bali,” tandas Ny. Irwandi Wijaya. –Inten
redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id
mingguantokoh
@mingguantokoh
mingguantokoh
www.tokoh.co.id
2
Edisi 894/ 28 maret - 3 April 2016
GORO-GORO A m a t nonton Festival Film Setan, karena putra teman karibnya yang menjadi pemeran utamanya, minta Putu Wijaya masukan. Judulnya: AIR MATA SETAN Gedung penuh. Hanya kursi di samping Amat kosong. Setelah seperempat jam berlalu, baru datang pemiliknya. Ternyata seorang perempuan cantik. Sepanjang film diputar, dia hanya kaku memandang ke layar tidak mengedipkan mata. Tadinya Amat berharap dia akan ketakutan lalu tak sengaja menggapai tangan Amat untuk perlindungan. Pasti Amat tidak akan menolak. Senior kan wajib melindungi generasi muda. Tapi tidak. Justru Amat sendiri yang agak ketakutan dan tak sengaja menyentuh tangan perempuan itu. Tanpa menoleh dia bertanya. “Apa ini kursi Bapak yang aku duduki?” “O bukan, Dik.” “Kalau begitu, memang kursi dia.” “Dia? Dia siapa?” “Itu laki-laki yang aku kepot di kamar kecil.” Amat tertegun. “Anda salah masuk kamar kecil
laki-laki?” “Tidak. Orang itu buru-buru ke kamar kecil, aku tahu dia pemilik kursi ini. Aku kerjain saja dia mencret sampai sekarang di situ.” Amat kaget. Ia perhatikan perempuan cantik itu dan merasa aneh. Lalu tercium aroma harum yang menyeramkan. Amat tidak percaya bau itu keluar dari film yang sedang main, tapi dari perempuan di sebelah itu. Bulu kuduk Amat tiba-tiba berdiri. Sejak itulah, ia tidak tenang lagi. Film selesai, semua orang berdiri. Tapi Amat tidak bisa mengangkat pantat. Rasanya bokongnya sudah disatukan dengan kursi itu. Perempuan cantik itu menoleh. Ya Tuhan, dari depan dia semakin cantik lagi. “Pak Amat suka film ini?” tanyanya. Amat tersirap, namanya disebut “Tidak.” “Lalu kenapa monton.” “Anak teman saya yang jadi setannya, minta tanggapan.” “Ya, bilangin dia, mainnya jelek. Masak setan begitu!. Aku bukan saja tidak suka, tapi tersinggung. Ini film konyol!” “Betul.” “Tidak, kamu tidak paham, Mat! Kamu pasti sok bicara soal-soal teknis. Aku justru bicara masalah esensinya. Teknis itu bisa ditingkatkan, tapi persepsi salah, itu harus
film setan
dihukum karena tidak bisa diperbaiki. Film ini semua bohong. Bullshit! Ini manipulasi. Satu contoh ketidakadilan dan sakit jiwa itu kan kalian semua manusia!” Amat mulai ketakutan. “Semua manusia?” “Ya!” “Maksudnya?” Perempuan itu tersenyum. Lebih cantik lagi dari yang tadi. Tapi sayang salah satu giginya bersinar seperti disepuh emas. “Adik ini siapa?” “Kamu tidak tahu aku, Mat?” “Tidak.” “Lebih baik tidak. Kamu akan menyesal.” “Kenapa?” “Kamu tidak akan percaya.” “Saya percaya.” “Betul?!” “Entahlah.” Perempuan itu ketawa. Belum pernah Amat mendengar ketawa yang begitu indah. Halus tapi menggigit dan sensual. Pikiran nakal ngeres Amat keluar. “Adik siapa?” “Aku setan.” Amat hampir saja pingsan. Tapi setan cantik itu cepat mencekik lehernya. “Jangan lari! Denger! Setan yang sebenarnya tidak sesetan yang ada di film kamu itu! Manusia memang
sudah seenaknya saja ngomong tentang setan. Kamu pikir setan itu bodoh dan jahat semua? Gile! Kamu pikir manusia lebih baik dari setan? Sialan! Lebih baik apa?! Lebih banyak manusia yang bonyok dari setan yang rusak. Coba pikir pakai otak kamu! Kalau setan itu jahat, itu kan memang sudah harus begitu, namanya juga setan. Tapi kalau manusia mengisap darah, menginjak-injak manusia lain, membunuh, makan uang rakyat, melalap harta negara, membunuh TKW, diskriminatif dan melanggar HAM LGBT, memperkosa anak-anak, menindas etnik dan agama lain, meledakkan gedung dan mengorbankan ribuan nyawa, memelintir kekuasaan keadilan dan kebenaran, meracun dengan larutan sianida dan miras oplosan, malah kamu bela itu atas nama politik, idiologi, demokrasi, perjuangan internasional dan segala pukrul bambu lain. Prek! Kalian kan mengakunya beragama? Betul beragama atau beragam A-nya? Kami yang tak beragama saja nggak lebai begitu! Aku jadi terbakar mau bikin film kalau begini! Aku akan bikin film setan yang betul! Tentang setan yang lebih jujur, tidak memihak, tidak diskriminarif dan demokratis. Aku akan buktikan manusia itu lebih setan dari setan! Aku tidak perlu bintang-bintang dengan bayaran ratusan juta. Dalam filmku manusia tidak akan pernah jadi peran utama. Pemegang rolnya setan. Bandit-banditanya, tukang pemerkosanya, pembunuh, penipu, mafia dan peran-peran pembantu ece-ecenya, baru manusia. Kamu boleh ikut. Aku kasih dialog satu baris. Catat: Setan lebih manusia dari manusia, manusia
Ekspresso lebih setan dari setan! Kamu harus nonton filmku nanti. Kalau tidak, aku bikin kau mencret seumur hidup!” Perempuan itu berdiri dan menarik Amat terkelupas dari kursi. “Sebentar, ibu jangan menilai film Indonesia dari satu film,”kata Amat memberanikan diri, ketika mulai bisa ngomong lagi. “Kenapa tidak? Kamu pikir setan tidak mampu menilai?” “Bukan begitu, Bu. Jangan menilai buku dari kulitnya saja. Kalau mau menilai, nonton film yang lain!” “Buat apa?!” “Untuk perbandingan!” “Tidak usah! Aku tidak perlu meniru Wakil-Wakil Rakyat kamu yang doyan studi banding itu!” “Bukan! Untuk mendapatkan hasil maksimal, demi Tuhan, tontonlah film Indonesia yang lain, sebelum Ibu bikin film.” “Aku tidak pernah minta bantuan Tuhan kalau bekerja, memangnya aku ini kamu, apa-apa bawa nama Tuhan. Bunuh orang juga atas nama Tuhan! Membunuh juga pakai nama Tuhan!” “Maaf, tapi jangan begitu, Bu, tolong tonton dulu semuanya sebelum membuat kesimpulan. Maaf, tadi kan Ibu bilang Ibu demokratis! Hormatilah pendapat orang lain!” “Aku hormati dengan perbuatan, bukan dengan kata-kata. Itu cara setan! Kamu kan lain. Kamu hormati orang lain kalau kamu disuap. Demi keuntungan kelompokmu kamu muliakan segala cara. Teriak-teriak bela nasib rakyat. Tapi di balik itu, semuanya hanya untuk kenikmatan kelompokmu sendiri, persetan kelompok lain. Kamu mencak-mencak menuduh orang menganiaya kelompokmu dan pura-pura tidak tahu kelompok kalian sendiri justru meresahkan mayoritas di sekitarmu. Setan yang kamu injak-injak hak asazinya macam film tadi itu tanpa peduli peri kesetanan!”
Peran Keluarga dalam Mendukung Gerakan Keluarga Sadar Obat
Salah satu tujuan Millenium Development Goals yang ditetapkan oleh dunia (MDGs 2015) adalah peningkatan taraf kesehatan dengan mengutamakan peran preventif dan promotif kesehatan. Tindakan preventif kesehatan merupakan tindakan pencegahan terhadap timbulnya suatu penyakit, baik dengan pemeliharaan kesehatan lingkungan, pemeliharaan status gizi dan aktivitas, serta pemeliharaan terhadap kesehatan rohani dan spiritual. Keluarga memegang peranan penting terhadap pemeliharaan kesehatan dasar sehari-hari sejak usia dini. Dalam menjalankan aktivitas, paparan polusi yang berasal dari asap rokok, asap kendaraan bermotor, padatnya aktivitas yang memicu stres fisik, emosional dan kurang tidur, paparan mikroorganisme dan virus menjadi faktor pemicu timbulnya penyakit. Pada umumnya, penyakit dapat ditangani dengan melaksanakan tatalaksana terapi non farmakologi (tanpa obat) dan terapi farmakologi (dengan obat). Pengamanan dan penggunaan sediaan farmasi dan alat kesehatan adalah bagian dari tujuan upaya peningkatan derajat kesehatan sesuai yang tertuang dalam UU RI Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, obat merupakan suatu zat yang dapat menyembuhkan namun juga mengandung zat racun. Berdasarkan efek terapi yang ditimbulkan, terapi obat terdiri atas terapi kausatif yaitu terapi
bacaan wanita dan keluarga
Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998
yang bertujuan untuk menyembuhkan suatu penyakit, dapat melalui membunuh suatu mikoorganisme misal antibiotik. Terapi simptomatis yaitu terapi yang bertujuan untuk menghilangkan atau meredakan suatu gejala penyakit (symptom), misal dekongestan hidung. Berbagai permasalahan tentang obat masih sering dijumpai di masyarakat, seperti penyalahgunaan obat, penggunasalahan obat, efek samping obat, alergi obat, ketidakpatuhan dalam menjalankan terapi obat, maraknya peredaran obat palsu, bahan kimia obat dalam obat tradisional dan lain-lain. Permasalahan tersebut muncul karena kurangnya pengetahuan tentang obat dan kurangnya kesadaran masyarakat akan obat dan alat kesehatan. Gerakan Keluarga Sadar Obat (GKSO) adalah upaya meningkatkan kesadaran masyarakat dan mencerdaskan masyarakat dalam berperilaku sehat, khususnya terkait obat di kalangan keluarga. Gerakan ini mulai diperkenalkan oleh Ikatan Apoteker Indonesia (IAI). Salah satu slogan yang disebarluaskan kepada masyarakat terkait penggunaan obat yang baik dan benar, terutama di kalangan keluarga adalah slogan “DApatkan, GUnakan, SImpan, BUang” (DAGUSIBU) yang mengandung makna, sebagai berikut : DA (Dapatkan): Obat sebaiknya didapatkan dari sumber fasilitas kesehatan yang terpercaya. Dalam hal
Made Ary Sarasmita
ini seorang konsumen bisa mendapatkan obat sesuai dengan kebutuhan penyakitnya, contoh apotek, klinik, puskesmas, rumah sakit, dan toko obat. Keluarga dapat bertanya tentang pengobatan kepada apoteker agar diperoleh obat yang sesuai dengan kebutuhan penyakitnya. GU (Gunakan): Obat sebaiknya digunakan sesuai dengan petunjuk penggunaan baik yang tertera dalam kemasan, maupun petunjuk penggunaan yang disarankan oleh dokter, maupun apoteker. Terdapat beberapa obat yang cara penggunaannya bervariasi, seperti inhalasi, per oral,
injeksi, salep, krim, patch dan lain sebagainya. SI (Simpan): Obat sebaiknya disimpan sesuai dengan petunjuk penyimpanan baik yang tertera dalam kemasan maupun petunjuk penyimpanan obat yang disarankan oleh apoteker. Beberapa obat dapat disimpan pada suhu kamar dalam wadah yang terlindung sinar matahari dan bau menyengat, namun beberapa obat lainnya memerlukan penyimpanan di bawah suhu ruang seperti lemari pendingin. BU (Buang): Obat sebaiknya dibuang apabila sudah tidak digunakan dalam jangka waktu yang lama, mencapai waktu kadaluwarsa obat, serta mengalami perubahan sifat fisika kimia obat, seperti terjadinya perubahan warna, bentuk, maupun bau. Selain itu, apabila sediaan obat tercemar dengan kontaminasi bakteri maupun jamur, maka sebaiknya obat dibuang. Cara pembuangan obat sebaiknya mengikuti petunjuk
yang tertera agar tidak mencemari lingkungan dan tidak disalahgunakan oleh orang lain, antara lain memecahkan botol agar botol tidak digunakan kembali oleh oknum yang menyalahgunakan, merobek sediaan blister dan menghancurkan obat yang berbentuk tablet, kapsul dan pil. Dalam hal keluarga, seorang wanita (ibu) dapat berperan penting dalam meningkatkan kesadaran dan pemahaman keluarganya tentang obat. Wanita dapat memperkenalkan tentang DAGUSIBU kepada suami dan anak-anaknya, serta dapat membagikan pengetahuan tentang obat yang didapatnya kepada lingkungan sekitar, sehingga Gerakan Keluarga Sadar Obat dapat ditingkatkan guna mewujudkan Indonesia Sehat 2020. Made Ary Sarasmita, S.Farm, M.Farm.Klin, Apt Dosen di Jurusan Farmasi Fakultas MIPA Universitas Udayana / Apoteker
Kata Hati Rubrik ini khusus untuk wanita yang ingin menuangkan ide/pemikiran/ gagasan dalam bentuk tulisan. Tema terkait wanita dan keluarga serta tidak mengandung unsur SARA. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter (1,5 halaman A4; spasi 1,5; times new roman 12). Lampirkan juga foto close up (bukan pasfoto). Cantumkan nama lengkap, profesi, nomor hp, dan alamat email. Naskah dikirim ke redaksi@tokoh.co.id, redaksitokoh@yahoo.com. Tulisan yang dimuat mendapatkan bingkisan dari Telkomsel. Telkomsel sebagai satu-satunya operator paling Indonesia selalu berkomitmen untuk membangun dan memajukan Indonesia. #UntukIndonesia
Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budia rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Sek retariat: Ayu A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan Palm erah B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–Telepon (0370) 639543– Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456– F aksim ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.
Sudut Pandang
Edisi 894/ 28 maret - 3 April 2016
23
Film Komedi bikin Stres Hilang Film Indonesia saat ini sudah mulai aktif lagi dengan munculnya banyak film dengan tema yang bervariasi, pemain film baru dan sutradara yang semakin bagus kualitasnya. Hal ini diungkapkan I Dewa Ayu Novia Saraswati, S.H.,
M
enurut karyawati swasta ini, menonton film biasanya dilakukan bersama keluarga dan yang disukai adalah film keluarga seperti film-film produksi Disney yang disukai anak-anaknya. Selain itu, ia juga sering menonton film komedi. “Kadang kalau suami pengen nonton berdua biasanya kami menonton film tema action yang disukai suami,” ujar istri dr. Made Agus Hendrayana ini. Ia menambahkan, menonton film biasanya dilakukan saat liburan anak sekolah atau hari libur hari raya agar tidak menganggu jam belajar anak. “Kami biasanya menonton di bioskop yang ada di mal agar bisa langsung jalan-jalan dan makan atau belanja. Kalau di bioskop di dalam mal biasanya lebih nyaman dan kualitas gambar dan suara sangat bagus,” tutur Novi. Kalau menonton film Indonesia biasanya yang tema cinta atau remaja karena biasanya sedang ngetren dan banyak dibicarakan. “Kami jadi penasaran dan tertarik menontonnya,” kata Novi. Kalau film barat, ia sekeluarga suka nonton film tema keluarga dan komedi karena cocok untuk
semua umur dan menghibur anakanak. “Kalau suami film barat lebih suka tema action hero,” katanya. Ia menilai, film Indonesia yang vulgar sudah bukan zamannya lagi sekarang. Film Indonesia yang vulgar mungkin ngetop di tahun 1980-an, karena zaman itu hal yang berbau vulgar tidak mudah ditemukan untuk dikonsumsi perorangan karena belum ada internet atau media lainnya. ‘Kalau zaman sekarang orang yang mau melihat yang vulgar-vulgar tinggal buka internet. Jadi kalau sekarang mau buat film jadi sukses tidak usah membuat film yang vulgar, justru orang-orang malu untuk menontonnya,” ujarnya. Sekarang ini film Indonesia sudah mulai maju dan makin kreatif. Banyak film Indonesia dibuat dengan sungguh-sungguh tidak hanya mengejar keuntungan tapi sudah menunjukkan kualitas. Ia berpendapat, kalau ingin perfilman di Indonesia tambah maju, sebaiknya para sineas dan produser film membuat film dengan serius dan memperhatikan kualitas, tidak membuat film yang asal jadi asal vulgar dan asal banyak yang nonton. Nanti malah menghasilkan film dengan kualitas kacangan.
I Dewa Ayu Novia Saraswati
Mirah Kristina Agung
Namun, ia melihat, tematema film Indonesia sekarang ini sudah semakin bervariasi temanya. Sayangnya, tema-tema film Indonesia banyak yang latah dan suka ikut-ikutan dengan film yang sukses sebelumnya. “Sebagai contoh dulu awalnya sempat ngetop film bertema horor dengan diawali film “Tusuk Jelangkung karena sukses. yang lain pada ikut-ikutan buat film horor,” ujar perempuan kelahiran Denpasar, 1 November 1980 ini. Demikian juga dengan film dengan tema romantisme remaja, banyak produser membuat film yang sejenis. Yang pernah ngetop juga film dengan tema religius dengan ada kisah cinta di dalamnya, kemudian disusul banyak juga membuat film-film religius.
Ibu dari Putu Prasista Ardyaswari Mahavira dan Made Prabandari Divya Mahacita menilai, tema film Indonesia yang ngetrend saat ini adalah romantisme yang ditambah unsur religius yang mengambil lokasi film di luar negeri, mulai dari Paris, London, Praha, Beijing dan banyak lagi, jadi kelihatan sekali unsur latah atau ikut-ikutan. RAJA DI NEGERI SENDIRI Sementara itu, menurut Mirah Kristina Agung, ST, film Indonesia saat ini sudah makin bagus, kualitas visual effect dan alur ceritanya sudah banyak kemajuan. Penyelesaiannya pun, lebih susah ditebak dan ceritanya menghanyutkan, seperti film barat.
Ia mengatakan, suka menonton film komedi. “Biasanya akhir pekan saya bersama keluarga nonton di XXI Beach Walk sekalian belanja. Komedi Indonesia saya rasa pas banget dengan selera kami karena mengambil ide dari hal-hal lucu yang ada di sekitar kita,” ujar istri dr. IGN Darmaputra, Sp.KK ini. Owner D&I Skin Centre ini, mengatakan, kalau menonton film barat lebih suka action, sebab visual effect-nya luar biasa. “Kami merasa ikut merasakan keseruan dalam film barat,” imbuhnya. Ia bersyukur, saat ini film indonesia yang vulgar sudah tidak terlalu menonjol. “Saya rasa tayangannya kurang mendidik, dan menunjukkan kualitas filmnya masih rendah karena hanya menjual hal yang vulgar biar ditonton, jadi bukan ceritanya yang utama. Ia menyarankan, agar film Indonesia menjadi raja di negeri sendiri, sebaiknya tetap menjadi diri sendiri. “Gali fenomena yang ada di seputar kita, contoh kayak film Comic dengan humor khas Indonesia, atau bahkan seperti kesuksesan AADC yang menggali kisah cinta anak-anak muda dengan alur cerita menarik, bisa membuat anak muda kita mencintai dan bangga menonton film Indonesia,” katanya. Menurutnya, tema yang diperbanyak komedi karena saat ini orang perlu hiburan yang bisa membuat mereka tertawa sekaligus penghilang stres. –Wirati Astiti
Bioskop Mini Pengobat Rindu Pada era tahun 1980-an, di Nusa Tenggara Barat, bioskopbioskop menjamur hingga ke kabupaten bahkan juga ke kecamatan-kecamatan. Di Mataram sendiri, pada era ini terdapat empat bioskop yang selalu ramai dikunjungi masyarakat penontonnya, yakni Bioskop Irama yang berada di jalan Pejanggik, bioskop Gemini dan bioskop Rinjani di Cakranegara serta bioskop Ramayana di Ampenan. Di masanya, bioskop-bioskop ini memiliki penonton dengan jumlah yang cukup besar. Menurut Kongso Sukoco, sutradara teater kawakan di Mataram, bioskop di Mataram pada masa itu bisa dikatakan sebagai satu-satunya hiburan modern yang ada di Mataram. “Dulu masyarakat menonton film, bukan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan hiburan melainkan juga perlu terhadap kisah-kisah dan cerita yang disajikan film tersebut,” ungkap mantan Ketua Dewan Kesenian NTB ini. Film-film action dan kepahlawanan menjadi salah satu film yang paling digemari masa tersebut.
Kongso Sukoco
Namun, era kejayaan bioskop-bioskop tersebut di NTB khususnya di Mataram, berlalu pada sekitar tahun 1990an, ketika home-home teater “menyerang” masuk ke rumah-rumah dengan begitu mudahnya. Film-film yang terformat dalam compact disk (CD) dijual dengan begitu mudah dan murah harganya. Cukup lama home teater melenakan keluargakeluarga di Mataram sehingga, empat bioskop tersebut lambat laun “mati suri” hingga akhirnya benar-benar tutup.
Selanjutnya pada sekitar tahun 2000-an sempat muncul beberapa bioskop mini, namun umurnya sangatlah pendek. “Masa itu biokop mini hadir untuk menjawab kerinduan masyarakat menonton film di layar lebar, tetapi rupanya tidak mampu menjawab bahwa kebutuhan menonton film di Mataram kala itu sudah bukan semata-mata menonton cerita, melainkan sudah mulai mengarah ke gaya hidup,” lanjutnya. Itulah sebabnya bioskop mini usianya pendek, karena dengan gedung yang mini juga layar yang mini, pula dengan teknologi yang biasa saja, sehingga tidak mampu secara tuntas memenuhi kebutuhan gaya hidup tersebut. Memang, bagi sebagian penonton kala itu, hadirnya bioskop mini di pusat perbelanjaan yang jumlahnya sangat terbatas, mampu menjawab kerinduan untuk menonton film di layar lebar. Juga bersifat nostagia bagi pencinta film seperti Prima dan Triana Wulan. Keduanya tinggal di salah satu kecamatan di kabupaten Bima yang masa-masa kecil mereka sangat sering diajak menonton film oleh orangtuanya.
“Hadirnya bioskop mini waktu itu, meski terbatas, sedikit banyak mengobati kerinduan saya pada sajian cerita di layar lebar. Sekalian saya ingin memperkenalkan anak-anak saya pada tontonan yang menggunakan media layar lebar,”ungkap Prima. Ia menyadari, bahwa menonton film di bioskop itu memberikan pengalaman yang berbeda bagi anak-anaknya meskipun tidak “lebih seru” dari masa kecilnya. GAYA HIDUP Maka ketika di akhir tahun 2015 lalu, bioskop yang representatif hadir di Kota Mataram, Prima dan Triana Wulan juga datang ke Mataram mengajak anak-anaknya untuk menonton di bioskop modern yang menawarkan segala jenis fasilitas kenyamanan. Bagi Triana, bioskop representatif yang hadir di Kota Mataram telah mewakili modernitas dan gaya hidup yang menjadi kebutuhan masyarakat masa kini. Menonton bioskop sebagai gaya hidup juga dikatakan Kongso Sukoco. Hadirnya bioskop modern di Kota Mataram, yang kini ramai penonton juga merupakan
bagian dari bahwa bioskop yang mewakili hiburan modern sudah menjadi kebutuhan untuk memenuhi gaya hidup. “Menonton bioskop bagi kebanyakan orang di Mataram masa sekarang hampir tidak banyak alasan untuk melihat cerita, melainkan bagian dari gaya hidup. Yang menonton cerita biasanya para intelektual atau pemerhati film yang memang membutuhkan menonton ceritanya,” ungkap Kongso yang mewakili seniman yang pada tanggal 28-30 Maret 2016 ini tengah ikut dalam diskusi pemikiran alternatif rancangan RUU Kebudayaan yang diselenggarakan Koalisi Seni Indonesia di Jakarta. Dilihat dari penontonnya, bioskop modern yang representatif di Mataram ini kebanyakan anak muda dan remaja serta anakanak. Selain menonton, mereka -remaja biasanya datang bergrup biasanya sembari jalan-jalan di pusat perbelanjaan tempat bioskop tersebut berada. “Jadi bukan cerita yang utama dari menonton bioskop hari ini, melainkan pula media pergaulan dan gaya hidup,” kata Kongso. -Naniek I. Taufan
22
Edisi 894/ 28 MARET - 3 april 2016
“Lampu Hijau” untuk Angkutan Umum Online Peluang Uber dan GrabCar untuk bisa tetap beroperasi agaknya kini terbuka. Pemerintah memutuskan baik Uber maupun GrabCar jika ingin tetap beroperasi harus mematuhan peraturan tentang angkutan umum, sama seperti angkutan umum lainnya. Seperti harus memiliki badan hukum atau bekerja sama dengan operator yang sudah ada, kendaraan harus di-KIR, dll. Disamping itu para sopirnya pun harus memiliki SIM A Umum.
U
ntuk mengurus segala sesuatunya, pemerintah memberi tempo selama dua bulan. Namun sambil menunggu segala persyaratan selesai diurus, baik Uber maupun GrabCar boleh tetap beroperasi tapi dilarang menambah armada. Hanya armadaarmada yang sudah terdaftar saja yang bisa tetap beroperasi. Keputusan yang diambil pemerintah ini mendapat respon positif dari pihak Uber dan GrabCar yang berjanji segera memenuhi semua ketentuan yang disyaratkan oleh undang-undang. Kabar terakhir yang terdengar, keduanya, baik Uber maupun GrabCar telah bergabung dengan koperasi. Mereka juga telah mendaftarkan diri ke Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) DKI Jakarta. Para sopir Uber misalnya telah bergabung dengan Koperasi Jasa Trans Usaha Bersama. Koperasi tersebut telah memiliki akta pendirian koperasi dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah. Begitu juga dengan sopir GrabCar yang telah tergabung dalam sebuah koperasi bernama Persatuan Pengusaha Rental Indonesia (PPRI). Sedang soal KIR, dan lain-lain kini dalam proses pengurusan.
Jika segala sesuatu berjalan dengan baik maka Uber maupun GrabCar legal untuk beroperasi. Namun keduanya bukanlah taksi, Uber dan GrabCar masuk dalam bisnis penyewaan kendaraan. Karena itu, Uber dan GrabCar tidak dapat berkeliaran mencari penumpang. Mereka hanya beroperasi berdasarkan pesanan. Di negara manapun memang terjadi ‘perang’ yang luar biasa antara perusahaan angkutan umum konvensional dengan perusahaan angkutan umum berbasis aplikasi. Tak terkecuali di Indonesia, khususnya Jakarta. Di mulai dari bentrok ojek pangkalan vs ojek online. Aksi sweeping-sweeping sudah bukan hal baru lagi. Dulu, ketika ojek online baru memasuki pasar, umumnya mereka takut dengan ojek pangkalan dan sebisa mungkin menghindar. Tapi seiring dengan semakin membengkaknya ‘pasukan ojek online’ mereka tak khawatir lagi mengangkut penumpang bahkan hingga ke depan rumah. Toh, menurut mereka, tidak ada penumpang yang direbut karena mereka mendapatkan pesanan langsung lewat aplikasi. Keberanian mereka semakin bertambah lantaran soliditas ‘pasukan ojek online’ ini sangat terasa.
Sudah banyak kasus terjadi dimana jika seorang teman mereka diserang maka pasukan ojek online ini dimana pun mereka berada akan berkumpul dan langsung menuju TKP untuk membela temannya. Kekerasan dilawan kekerasan, itu sudah seperti ‘hukum’nya. Namun seiring waktu, sudah jarang terjadi bentrok semacam itu. Ini tentu saja di antaranya adalah upaya pihak kepolisian dan instansi terkait yang berusaha mendamaikan juga memberi penjelasan kepada kedua belah pihak. Ditambah lagi, pemerintah sendiri dalam hal ini Pemda DKI Jakarta tidak mempermasalahkan keberadaan ojek online. Kini yang jadi persoalan bukan lagi ojek online vs ojek pangkalan tapi taksi konvensional dan ‘taksi’ berbasis aplikasi semacam Uber dan Grabcar. Para taksi konvensional merasa semakin terjepit dan semakin terancam ‘periuk nasi’-nya lantaran taksi berbasis aplikasi ini semakin merajalela dan jumlahnya dirasakan semakin banyak. Seperti halnya ketika
ojek online muncul apalagi dengan promo harga murah, maka masyarakat berbondong-bondong menyeberang ke ojek online, begitu pula taksi. Masyarakat merasa taksi berbasis aplikasi bukan hanya menyediakan kenyamanan kendaraan, tapi juga tarif jauh lebih murah ketimbang naik taksi konvensional. Maka para sopirt taksi konvensional seperti blue bird, express taxi, dll, pun menjerit. “Sekarang kondisinya parah banget bu sejak ada uber, pendapatan kami menurun hampir 50 persen. Kalaupun ada lebihan paling tipis-tipis. Berat! Mana ekonomi sedang sulit, jumlah penumpang makin sedikit. Kabarnya mereka yang biasa naik taksi biasa, lari ke uber karena murah. Lalu bagaimana nasib kami? Kami mengikuti peraturan, undangundang, kok kenapa jadi sulit. Lalu taksi online yang tidak mengikuti peraturan tentang angkutan umum kenapa bisa beroperasi seenaknya. “ “Saya sih tidak menyalahkan masyarakat yang tentunya mau lebih murah, tapi ini kan salah pemerintah, harus tegas dong. Mereka murah karena tidak bayar pajak, tidak ngurus izin iniitu, masak didiamkan. Ini negara ada aturannya nggak bisa dong. Aturan angkutan umum kan ada, ya itu dipatuhi,” tegas Udin, sopir taksiemosi. “Karena itu adanya demo besar-besaran yang terus dilancarkan oleh para sopir taksi menuntut sikap tegas pemerintah dalam menegakkan aturan, sangat didukungnya. “Saya juga ikut demo kok, tapi saya nggak anarkis ngerusak-rusak, ya itu kan nggak baik dong. Tapi saya gak menyalahkan rekan-rekan (anarkis) ya maklum dong kita semua lagi susah, jadi
terbawa emosi,” ujarnya. Curhatan Udin tersebut disampaikan sebelum diumumkannya solusi dari pemerintah atas kasus tersebut. Entah apa tanggapannya jika mendengar hasil rakor yang berlangsung di kantor Menkopolhukam Kamis (24/3) itu. Semoga saja bisa agak menenangkan para sopir taksi. Adanya kasus ini sekaligus menyadarkan berbagai pihak bahwa kemajuan teknologi memang tidak dapat dicegah. Peraturan yang dibuat terkait lalu lintas angkutan jalan belum mengantisipasi hal tersebut. Namun bukan berarti tidak ada solusinya. Setidaknya, sambil menunggu revisi undangundang yang tentunya akan berlangsung lama, maka solusi yang baru-baru ini ditawarkan pemerintah agar semuanya bisa berjalan, tidak ada yang dimatikan, mendapat tanggapan positif, setidaknya dari masyarakat. Seperti yang diungkap Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan bahwa teknologi berjalan lebih cepat dari aturan yang ada. “Tak terbayangkan ada taksi online bisa begitu murah,” katanya. Ia menyatakan tak menutup kemungkinan kelak UU LLAJ (Lalu Lintas Angkutan Jalan) direvisi. Namun, katanya, itu bukan hal mudah dan perlu waktu panjang karena harus dipikirkan bagaimana format yang pas. Soal penutupan aplikasi, menurut Luhut, itu belum menjadi pilihan pemerintah. Menurutnya menutup aplikasi tidak akan menyelesaikan masalah. “Kalau ditutup aplikasi, berapa ratus ribu lagi yang bakal ribut. Jadi sama saja, tidak menyelesaikan masalah. Solusinya tidak sesederhana itu. Jadi sabar lah, perlu waktu,” tegasnya. –Diana Runtu
Sosialita
Edisi 894/28 MARET - 3 april 2016
3
Ria Asteria
Berani Bermimpi Besar
Penyerahan kenang-kenangan kepada kedua narasumber Sudikerta dan bintang MirA oleh Ria Asteria
“P
restasi yang me rubah hidup saya dan memutuskan berani bertindak dan berjuang hingga bisa seperti sekarang ini,” ujar Peraih Piala Ibu Negara RI tahun 2012 ini di hadapan sekitar 400 peserta yang menghadir kan narasumber Wakil Gubernur Bali, Ketut Sudikerta (pengusaha) dan desainer senior bintang MirA (Peraih Penghargaan Wonder Woman of The Years M&I Awards 2015, Perempuan Inspiratif Tokoh 2015) yang juga owner & design Bali Batiku. Ria adalah nama panggilannya se jak kecil, tapi publik lebih mengenal putri sulung I Made Lilir Adnyana dan Ketut Budi Hartini ini dengan nama Asteria. Sehingga ia membangun personal branding dengan nama Ria Asteria. Terlahir dari keluarga mis kin tak lantas membuat perjalanan hidupnya hanya meratapi nasib tetapi
“Berani Bermimpi Besar, Anda pasti Bisa”. Semangat inilah yang lan tas membuat perubahan besar pada diri Ni Putu Asteria Yuniarti. Gadis muda kelahiran Lampung, 1 Juni 1992 ini dengan latar belakang perekono mian keluarga yang paspasan, kini telah mampu berdiri tegak sebagai motivator muda dalam Seminar dan Talkshow “Berani Bermimpi Besar”, Minggu (20/3) di The Grand Santhi Hotel.
JUSTRU MENGUBAH NASIB. “Saya anak muda yang sejak kecil sudah biasa dididik keras oleh orangtua untuk bekerja, menghasilkan uang dan hidup mandiri,” ungkapnya. Hingga menjelang umur 24 tahun ini pun, kakak dari Mita Septiani dan Wahyu Dinatha ini masih tekun dan ulet untuk mewujudkan impiannya
Seminar dan Talkshow “Berani Bermimpi Besar” dibuka Wakil Gubernur Sudikerta ditandai dengan pemukulan gong tujuh kali.
satu per satu. Berbeda dengan anak keba nyakan, Ria Asteria merintis karier sejak masih duduk di bangku SMA. Ia pernah menjadi guru les calistung (baca tulis danberhitung) untuk anak TK dan SD, guru les mata pelajaran untuk SD dan SMP, berjualan keripik, jualan canang, pelihara babi, dan kerja serabutan lainnya yang dila koninya sepulang sekolah. Naik sepeda motor, kehujanan, kena petir, jatuh, ban pecah, belum lagi harus buru-buru ada tugas pe nyuluhan atau menjadi MC, menjadi sekelumit cerita di balik apa yang ia raih saat ini. Bahkan, dikejar-kejar pihak bank karena tidak sanggup membayar cicilan/tanggungan bank pun pernah ia alami. “Bagaimana perasaan orangtua saya saat itu. Jangankan bantu bayar hutang, un tuk makan besok pagi saja orangtua saya harus kerja dulu hari ini agar esok kami sekeluarga bisa makan. Sungguh manis saat mengenang masa-masa itu beberapa tahun lalu,”
kisah Ria Asteria, Runner Up 1 Miss Internet Bali tahun 2015 ini. Tapi impiannya tak mati sampai di sana. Dalam kondisi terpuruk seperti itu pun, Ria Asteria tetap bertekad melanjutkan pendidikan
S2 di Surabaya, Jurusan Ilmu Ko munikasi, Pascasarjana Unitomo yang menjelang wisuda tahun ini, dan segera melanjutkan pendidikan S3nya di UNPAD Bandung, Jurusan Komunikasi. –ten
Komunitas Ria Asteria Billionaire Community
Suasana Seminar dan Talkshow “Berani Bermimpi Besar”, Minggu (20/3) di The Grand Santhi Hotel.
Bangun Komunitas untuk Generasi Muda
Ria Asteria (tengah) bersama keluarga
Usaha yang dirintis Ria Asteria saat ini adalah dengan konsep SOCIAL ENTREPRENEUR. Artinya, dengan menggunakan kemam puan entrepreneurship melakukan perubahan sosial (social changes). Ketertarikannya melakukan ini karena menurutnya ini bisa dijadikan solusi alternatif bahwa dalam berwirausaha kita tidak hanya fokus terhadap hasil atau uang saja namun juga dapat bermanfaat bagi orang lain. Karena bagi Ria Asteria, sukses itu adalah ketika kita
bermanfaat bagi banyak orang. Hal ini diwujudkannya, salah satunya dengan membentuk komunitas bernama RIA ASTERIA BILLIONAIRE COMMUNITY. “Komunitas ini adalah komunitas yang saya bangun atas dasar dedikasi dan kepedulian saya ter hadap generasi muda, agar generasi muda memiliki semangat berorganisasi, memiliki kemampuan public speaking yang baik, dan memiliki jiwa sosial,” ucap gadis energik yang mengidolakan Sang Ibunya. Selain itu, ia juga sedang membangun usaha lainnya, seperti Butik dan Salon yang merupakan hobinya. Karena, pekerjaan yang menyenangkan adalah ketika hobi itu juga bisa menghasilkan uang. “Jadi, saya berharap generasi muda saat ini, bukan hanya sekadar mengandalkan ijazah tamatan perguruan tinggi untuk bekerja tapi bagaimana generasi muda dapat mencip takan PELUANG. Karena dengan PELUANG maka UANG itu akan datang. Maka secara otomatis Revolusi Mental, dan tantangan dalam menghadapi MEA akan terjawab sudah. Sehingga, kita tidak hanya pandai mengkritisi namun juga mmberikan action. Itulah generasi perubahan,” papar Ria Asteria yang memiliki segudang aktivitas, di antaranya sebagai pembicara/tenaga pe nyuluh tentang Kespro, NAPZA, HIV/AIDS, pelaku Usaha Network Marketing QNET dan juga Dosen di kampus Sekolah Perhotelan Internasional. “Salah satu impian saya adalah menjadi motivator wanita asal Bali tapi mampu mendunia. Saya ingin seperti Merry Riana yang berkontribusi da lam pengembangan SDM dengan mengajak anak-anak muda ada dalam komunitasnya,” imbuhnya. Untuk itu, Ria Asteria mengajak para generasi muda yang berminat untuk ikut dan bergabung di komunitas ini, disilahkan menghubungi: official_riaas teria@yahoo.co.id atau di nomor official 0812 3670 2009. –ten
4
Inspirasi
Edisi 894/ 28 maret - 3 April 2016
Alumni “The Raid” Go International
Film “The Raid” menjadi pembuka jalan bagi sejumlah aktor Indonesia untuk go international. Iko Uwais, Joe Taslim, Yayan Ruhian juga aktor senior Ray Sahetapy, merasakan ‘buah’ manis film garapan sutradara Inggris, Gareth Evans, tersebut. Betapa tidak, aksi aktor-aktor Indonesia ini membuat kepincut para sutradara Hollywood . Hasilnya, para alumni The Raid pun diminta untuk ikut meramaikan film-film mereka.
Iko Uwais
T
ak tanggung-tanggung para alumni The Raid ini ditawari ambil bagian dalam film-film box office seperti “Star Wars: The Force Awakens” yang tayang perdananya Desember 2015 lalu. Mereka adalah Iko Uwais, Yayan Ruhian dan Cecep Arif Rahman. Sebelumnya, Joe Taslim yang juga alumni “The Raid” kebagian film box office “The Fast and the Furios 6”. Ray Sahetapy yang dalam film “The Raid” tampil sebagai Tama, bos bisnis narkoba, kebagian film “Captain America: Civil War” , yang rencana penayangannya Mei 2016 mendatang. Di luar dari para alumni The Raid
tersebut, masih ada sejumlah artis Indonesia yang juga berkesempatan tampil dalam film asing, di antaranya adalah Cinta Laura (“The Philosopher: After The Dark”) dan Christine Hakim (“Eat, Pray, Love”). Para aktor Indonesia ini mengaku bukan hanya bangga bisa tampil dalam produk film kelas box office tapi juga menimba banyak pengalaman. Iko bercerita, ia dan teman-temannya yang terlibat dalam “Star Wars” harus menahan diri untuk tidak berbicara tentang film tersebut selama dua tahun, sampai film itu di-launching. “Di sana ketat sekali. Kami bikin perjanjian untuk tidak buka
mulut soal film ini kepada siapa pun. Tapi gua ngomong sama istri (penyanyi Audy Item) dan orangtua. Soalnya ini kan syuting jauh dan lama, jadi mereka harus tahu. Kepada orangtua gua anggap penting karena minta ridho mereka. Tapi gua wanti-wanti banget untuk tidak ngomong ke orang lain. Kalau sampai bocor, karier gua di film internasional habis. Karena itu kepercayaan harus dijaga,” ungkap Iko yang sempat pusing karena selama dua tahun diberondong berbagai macam pertanyaan soal keterlibatan dia dan teman-temannya di film yang disutradarai JJ Abrams itu. Rasa penasaran tidak bisa dibendung, mereka pun mencecar lewat medsos. “Ya gua nggak bisa jawab lah,” kata Iko yang akhirnya terpaksa untuk sementara menghapus akunnya di medsos lantaran kebanjiran pertanyaan. Banyak pelajaran ditarik Iko dari pengalamannya bermain dalam film Hollywood. Salah satu di antaranya yang paling dirasakannya adalah soal kedisiplinan dan profesionalitas semua orang yang terlibat dalam produksi. “Semuanya tepat waktu dan terkoordinir dengan baik,”
ucap Iko yang baru-baru ini tampil di Kelapa Gading Mal, Jakarta, sebagai brand ambassador sebuah perlengkapan olah raga terkemuka asal Amerika. Lebih dari itu, aktor laga 33 tahun ini juga menjumpai suasana kerja yang berbeda. Awalnya, kata Iko, suasana terasa kaku karena masing-masing sangat berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Iko dan teman-temannya yang terbiasa menyapa, justru mendatangi tim kerjanya dan mengajak salaman. “Kita kan disini (Indonesia) biasa ya saling sapa. Nah waktu kita sampai sana, terasa kaku. Masing-masing konsentrasi pada pekerjaannya. Tidak ada ngobrol, apalagi bercanda. Pas kita datang, gua yang udah bisa nyapa, ya langsung datangi mereka dan ngajak salaman. Hahah...mereka sempat kaget. Tapi dari sana suasana jadi lebih enak, bisa ngobrol tanyatanya,” kata pria asal Betawi itu. “Bekerja di sana semuanya serba pasti. Semuanya ada hitungannya (bayaran). Kita bekerja 12 jam, jika lebih ada hitungannya. Jadi semua serba teratur dan terkoordinir juga cepat. Nggak ada yang
namanya berleha-leha. Tadinya gua pikir bakal ribet, ternyata enggak. Penyiapan next shoot cepet banget,” mantan atlet pencak silat nasional itu. Ketatnya disana juga dirasakan Iko soal script yang hanya bisa dibaca di sana, setelah syuting harus dikembalikan. Itu pun bukan script keseluruhan cerita namun hanya bagian yang diperankan dia. “Kita hanya memegang script kita saja, itu pun harus dikembalikan seusai syuting, nggak boleh dibawa pulang. Jadi kita nggak tahu keseluruhan cerita. Pakai ponsel boleh, tapi kamera dilakban,” ujar Iko yang memulai kiprahnya di dunia perfilman nasional lewat film ‘Merantau’ tahun 2009. Penampilannya memang singkat dalam film tersebut, namun Iko merasa bersyukur mendapat kesempatan itu. Hanya saja ada sedikit kekecewaan dalam hatinya, karena ada beberapa adegan fight yang tidak ditayangnya. Tapi ia maklum karena film yang dibintanginya itu untuk segala umur. “Ya ini film untuk segala umur. Sutradara sudah bilang. Jadi ya maklum,” ujarnya. Sejak mulai berakting sampai film “Star Wars”, Iko memang selalu ditangani oleh sutradara bule. Film Merantau yang menjadi film pertamanya adalah hasil besutan Gareth Evans, sutradara Inggris, begitu pula “The Raid” yang juga ditangani oleh Evans. Sedang “Star Wars” disutradarai oleh JJ Abrams. Karena itu, film “Headshot” yang bakal tayang perdana Juli 2016 adalah film pertama Iko yang ditangani sutradara Indonesia, Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel. –Diana Runtu
Gung Wah dapat Kontrak 26 Judul FTV
Berbekal modal sebagai seorang model catwalk dan foto plus rasa excited menjajal dunia baru yang menambah warna hidupnya, akhirnya aksinya berakting pertama di depan kamera lancar. Begitu disampaikan Anak Agung Ngurah Bagus Semara, perihal pengalaman pertamanya bermain FTV. Dikatakannya setiap kali syuting para pemain diberikan skrip . Dalam melakukan dan dialognya, mereka biasanya melakukan improvisasi sendiri. “Ini adalah salah satu tantangan di seni peran ini,” ujar Gung Wah begitu ia biasa disapa. Meski sudah terbiasa terjun di dunia entertainment sejak SMA , khususnya modelling, foto shoot serta iklan, ia mengaku dunia akting termasuk baru dijamahnya setahun terakhir. “Saya dicemplungkan teman ke dalam dunia seni peran ini,” kata juara pertama Teruna Denpasar 2010 dan Runner Up II Bagus Bali ini . Rupanya, seorang temannya yang lebih dahulu berkecimpung di dunia peran, diam-diam memberikan no HP kepada sebuah manajemen artis Bali-Jakarta. Hingga
suatu saat, Gung Wah pun ditelepon dan ditawari untuk bermain FTV. “Sempat kaget juga, tapi saya bersedia. Sebab saya pikir ini pengalaman baru. Ketika saya bertanya apa ada casting, saya diminta datang langsung ke lokasi tempat mereka syuting di Bali,” ujar sulung dari pasutri AA Putu Sukadana, S.Pt dan AA Ayu Alit Sri Wardani ini. Singkat cerita ia pun berhasil terpilih dari beberara kandidat yang mengikuti casting. “Saya ingat saat itu buku skenarionya setebal kripsi. Tanpa persiapan saya pun berupaya yang terbaik. Tak dinyana dari hasil video yang dikirim ke Jakarta saat itu pula saya ternyata lolos. Surprise sekali rasanya,” tutur Gung Wah sumringah. Lebih surprise lagi katanya pada hari itu juga ia diminta ikut bermain di FTV yang tengah digarap , judulnya “Cinta Tanpa Pelangkah” Jadilah Gung Wah berakting tanpa persiapan. Beruntung pemain utamanya Dion Wiyoko sangat terbuka dan sangat membantu termasuk belajar mengenal istilah dalam aktivitas syuting. Masih ada surprise lainnya yang dirasakan salah satu model papan
atas Bali ini langsung mendapatkan porsi cukup penting, yakni peran pembantu pemeran utama. “Surprise yang bertubi-tubi,” cetusnya. Selanjutnya Gung Wah juga mengatakan meski belum lama berkecimpung di dunia layar kaca, namun ia juga pernah terpilih menjadi pemeran utama dalam FTV “Berburu Calon Pengantin” Menurut Gung Wah, ketika mendapatkan kesempatan tersebut, ia sempat tidak percaya, mengingat dirinya masih tergolong pendatang baru. Terpilih sebagai pemeran pendamping pemain utama saja, baginya sudah cukup beruntung karena tidak melalui proses yang panjang. Bahkan, begitu ia berhasil menuntaskan syuting judul FTV yang pertama. tak tanggung –tanggung Gung Wah langsung dikontrak oleh Secreenplay Production untuk 26 judul FTV. Hingga saat ini ia baru menuntaskan 10 judul dengan berbagai karakter peran. Masih bicara soal pengalaman, selanjutnya Gung Wah mengisahkan kalau kerepotan muncul saat berganti pakaian. Sangat berbeda
Gung Wah
dengan proses ganti pakaian ketika menjadi model catwalk. “Sebab kalau di syuting FTV ini, ada yang namanya kontiniti yang mesti ditaati. Semuanya untuk memudahkan proses editing nantinya,” ucapnya sambil menambahkan selain itu sebagai aktor FTV Gung Wah juga diminta selalu menjaga kebersihan wajah agar tidak berjerawat, kulitnya tidak hitam dan kumis yang klimis demi penampilan di kamera. Hal menarik dari seorang Gung Wah, adalah ia anak muda yang tergolong disiplin. Maka, setiap akan
syuting ia sudah mencatat jadwal untuk dirinya , berapa scene. “Ini penting untuk mendisiplinkan diri sebab kalau urusan syuting problemnya adalah “menunggu dan bosan” mencatat jadwal dengan jelas langkah untuk menghindarinya,” kata mahasiswa Ekonomi dan Bisnis Unud yang tengah menyelesaikan skripsinya ini. Gung Wah juga sadar berada di era MEA. Untuk ini ia juga merasa bangga memiliki kepedulian dengan lebih banyak menggunakan local brand untuk kepentingannya syuting. – Sri Ardhini
Mandalika
Edisi 894/ 28 maret - 3 April 2016
21
Melongok Desa TKI di Lombok
Minat masyarakat di Pulau Lombok untuk menjadi Tenaga Kerja Indonesia ke luar negeri sangat tinggi. Kesulitan ekonomi menjadi salah satu faktor bagi masyarakat di Pulau Lombok untuk memilih bekerja ke luar negeri, termasuk salah satunya warga dari Desa Jenggik Utara Kecamatan Montong Gading, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Kisah-kisah sedih menjalani proses pra menjadi TKI/TKW, saat bekerja di negeri orang hingga pasca menjadi TKI/TKW ketika kembali ke kampung halaman, kerap terdengar.
Jenggik Utara Desa TKI di Lombok Timur
Menteri Tenaga Kerja RI, Hanif Dakhiri saat berkunjung ke Desa Jenggik Lombok Timur
P
erjalanan para TKI dan TKW asal desa yang memiliki 5.420 jiwa ini sering terjadi berulang. Warga desa ini telah berangkat menjadi TKI/TKW secara turun temurun sejak tahun 1980an. Ada yang menjadi TKI satu keluarga, ada yang menjadi TKI/TKI berulang-ulang sehingga menjadi TKI/TKW adalah salah satu pilihan hidup bagi warga di sini. “Bahkan sejak saya kecil saya sudah melihat orang-orang di kampung ini berangkat jadi TKI/TKW,” ungkap Hariadi, Kepala Desa Jenggik Utara. Jumlah warga Desa Jenggik Utara yang kini menjadi TKI dan TKW adalah sekitar 20% dari jumlah penduduk. Ketika minat menjadi TKI/TKW terus meningkat, Desa Jenggik Utara menjadi salah satu kantong TKI/TKW di Pulau Lombok. Di sinilah banyak masalah bermula. Mulai dari sebelum berangkat menjadi TKI/TKI, warga di sini kerap menjadi target empuk rentenir yang meminjamkan uang untuk biaya keberangkatan. Lebih dari itu, mereka juga menjadi target penipuan dari para calo yang berkeliaran. Mulai dari menipu mereka dengan janji akan diberangkatkan setelah mereka membayar biaya keberangkatan hingga lepas tangan ketika terjadi masalah yang menimpa TKI/TKW. “Keberingasan” para calo tidak pandang belas kasih, memalsukan dokumen agar mereka orangorang desa yang tergiur dengan pekerjaan ini dapat berangkat untuk menjadi TKI/TKW. Lebih parah lagi, banyak warga Desa Jenggik Utara menjadi TKI/TKW ilegal. Pemalsuan dokumen dan berangkat secara ilegal menjadi masalah yang tidak jarang sangat memilukan bagi para TKI/TKW ini. Banyaknya orang yang memilih menjadi TKI/TKW dengan berbagai permasalahannya inilah yang membuat Pemerintah Desa Jenggik Utara memberi perhatian khusus kepada warganya yang memutuskan menjadi TKI/TKW ke luar negeri. Karena itulah Pemerintah Desa Jenggik Utara mengeluarkan Peraturan Desa (Perdes) Nomor 3 Tahun 2010, Tentang Perlindungan dan Pembinaan Tenaga Kerja Asal
Desa Jenggik Utara. Segala hal menyangkut kebutuhan dan kepentingan menjadi TKI/TKW yang benar dan perlindungan dari calo dan lainnya diatur dalam Perdes ini. “Kami prihatin dengan kehidupan masyarakat di sini yang 80% adalah buruh tani dan buruh harian
yang membutuhkan lapangan kerja sehingga banyak yang memilih menjadi TKI/TKW namun mengalami banyak masalah. Untuk melarang mereka mencari penghidupan di luar negeri, tentu tidak bisa kami lakukan mengingat ketiadaan lapangan kerja di sini. Karena itulah kami merasa perlu melindungi warga Jenggik Utara ketika mereka memutuskan untuk menjadi TKI/TKW,” kata Hariadi. –Naniek I. Taufan
Pertemuan para TKI di Desa Jenggik Utara dengan aparat desa
Kaur TKI dan LSD, Perlindungan bagi TKI Melihat banyaknya TKI/TKW asal desa ini yang menemui masalah, membuat pemerintah Desa Jenggik Utara merasa memiliki kewajiban untuk memberikan perlindungan bagi TKI/ TKW asal Jenggik Utara. Karena itulah, dalam struktur organisasi Pemerintahan Desa Jenggik Utara kemudian memiliki Kepala Urusan TKI. Selain itu dibentuk pula Lembaga Sosial Desa (LSD) di mana di dalamnya terdapat paralegal, parafinance, konselor dan parainfo. Paralegal bertugas mengurus kasus dan masalah yang dialami TKI/ TKW asal Desa Jenggik Utara, termasuk persoalan legal dan tidak legalnya status menjadi TKI/TKW. Parafinance bertugas untuk mengontrol remiten dan memberikan advokasi kepada keluarga TKI/ TKW yang ditinggal di kampung halamannya ini. Demikian pula dengan konselor yang bertugas memberi pendampingan pada TKI/ TKW ataupun keluarganya yang mengalami broken home. Konselor bekerja sama dengan Ruang Perlindungan Trauma Center di Selong Lombok Timur. Begitu pula dengan adanya parainfo yang bertugas memberikan informasi yang mendalam tentang proses menjadi TKI/ TKW yang benar. Peran Kaur TKI ini menjadi sangat penting untuk mengarahkan warganya untuk menjadi TKI/TKW yang dimulai dari perekrutan dan dokumen-dokumen yang benar. Dan desa ini benar-benar memberikan perlindungan bagi warga sehingga tidak pernah akan terjadi pemalsuan dokumen oleh para calo. Karena sebelum berangkat, desa akan memastikan terlebih dahulu bahwa calon TKI/TKW mendapat izin dari keluarganya dan wajib hukumnya
Kantor Desa Jenggik Utara yang ‘melahirkan’ Kaur TKI
pemberi izin dan yang meminta izin untuk datang menghadap kepada Kepala Desa Jenggik Utara. Desa tidak sesekali memberi izin menjadi TKW pada wanita hamil, dalam masa iddah, ibu menyusui ASI eksklusif dan sebagainya. Semua tercantum dengan tegas dalam Perdes Nomor 3 tahun 2010 itu. “Tidak itu saja, kami membantu para calon TKI/TKW mulai dari rencana migrasi, dari mana modal awal diperoleh, apa tujuannya bekerja ke luar negeri hingga mengarahkan agar bagaimana mewujudkan tujuan itu dan membantu keluarga yang ditinggalkannya,” kata Suparni, Kaur TKI Desa Jenggik Utara. Problem yang dihadapi TKI/TKW di sini bukan hanya saat berangkat melainkan juga pada keluarga yang ditinggalkan. Banyak keluarga yang tidak bisa mengelola uang kiriman hasil kerja TKI/TKW sehingga menguap habis begitu saja, sehingga ketika sang TKI/TKW pulang uang
hasil kerjanya habis tak tersisa. Ini kerap menimbulkan masalah sosial baru di desa ini. Karena itulah desa melalui Kaur TKI ini kemudian membantu mengarahkan dengan tepat penghasilan TKI/TKW dengan membukakan dua rekening TKI/TKW tersebut, satu atas nama TKI/TKW yang bersangkutan untuk tabungan masa depan dan satu lagi rekening atas nama keluarga yang biasanya dipakai untuk biaya anak dan sekolahnya serta kebutuhan lain-lain. Di samping itu, desa ini memberdayakan para perempuan yang ditinggal para suaminya menjadi TKI, dengan memanfaatkan kiriman gaji dari suaminya sebagai modal membuat berbagai kerajinan dari bambu. Ada kelompok usaha TKI seperti kelompok sembako dan ada pula kelompok usaha pembuatan anyaman bambu. “Salah satu contoh di Dusun Cerek Lau’ hampir tak ada perempuan yang menganggur, mereka bekerja membuat kerajinan keranjang untuk buah dan sayur-sayuran juga anyaman bambu yang terbuat dari bambu,” kata Suparni. Bagi mereka yang telah kembali dari rantauan dan memilih tinggal di kampungnya, pemerintah desa bekerja sama dengan berbagai lembaga untuk dapat memberikan pelatihan keterampilan dan kewirausahaan bagi purna TKI/TKW ini sehingga terbuka lapangan kerja bagi mereka. Demikianlah besarnya perhatian desa terhadap warganya juga dengan memberikan edukasi-edukasi yang sangat berarti bagi para TKI/TKW maupun keluarganya. Dan atas perhatian terhadap warganya yang menjadi TKI/ TKW, desa ini pun mendapat julukan sebagai Desa TKI. -Naniek I. Taufan
20
Nine
Edisi 894/ 28 maret - 3 April 2016
Ir. Hj. Ririn Yuniarti
Inspirasi
5
Edisi 894/ 28 maret - 3 April 2016
H a r j u n i R o c h a j a ti
Ajari Pasien Kanker Merajut Rangsang Minat Baca dengan Lomba Sesuai namanya ‘RajutKejut’ maka komunitas pencinta rajutan ini kerap kali membuat warga Jakarta heboh dengan aksinya. Tapi kehebohan yang satu ini menyenangkan hati, pasalnya mereka selalu menyanjikan karyakarya cantik lewat hasil rajutan para anggotanya. “Setiap tahun setidaknya kami menggelar tiga atau empat event. Tahun ini, event pertama kami adalah 8 Februari lalu dalam rangka Hari Kanker Internasional. Kami menjadi pengajar rajut bagi pasien yang sedang menjalankan kemoterapi di Sumah Sakit Siloam Semanggi, Jakarta Selatan,” ungkap Harjuni Rochajati, penggagas Komunitas RajutKejut.
Minat baca yang terbilang kurang terutama di kalangan remaja dan anak-anak di Kota Mataram membuat Ir. Hj. Ririn Yuniarti, menerapkan target-target untuk mendongkrak minat baca tersebut saat ia pertama kali ditugaskan sebagai Kepala Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Mataram.
Ir. Hj. Ririn Yiniarti
U
ntuk merangsang minat baca bagi warga Kota Mataram, berbagai kegiatan dilakukan bukan hanya untuk anak-anak dan remaja melainkan hingga ibu-ibu rumah tangga. “Khusus untuk ibu rumah tangga, kami melaksanakan lomba bercerita bagi ibu-ibu,” kata Ririn. Lomba bagi para ibu ini dianggap penting mengingat tugas ibu dalam rumah tangga selalu berkaitan erat dengan tumbuh kembang anak. Ibu-ibu peserta lomba adalah yang murni sebagai ibu rumah tangga, bukan PNS ataupun pegawai. Diharapkan dengan lomba ini selain untuk mengisi waktu dan meningkatkan wawasan
serta pengetahuan, ibu-ibu dapat menghidupkan kembali budaya mendongeng atau bercerita buat anak-anak mereka. Budaya mendongeng yang sudah lama hilang akibat banyaknya tontonan yang disajikan dengan teknologiteknologi visual saat ini. Begitu juga di kalangan anak-anak dengan membuat berbagai kegiatan untuk peningkatan minat baca sejak usia dini. Salah satunya Ririn memprogramkan lomba mewarnai juga lomba bercerita bagi anak-anak. Tidak hanya itu, melainkan juga stimulasi diberikan dengan lomba mengarang bagi anak-anak usia 10-15 tahun. Bahkan demi membumikan budaya gemar baca bagi warga Kota Mataram, selain membuka taman-taman baca masyarakat hingga ke pinggiran Kota Mataram, ia juga memprogramkan lomba-lomba pada taman-taman bacaan tersebut. “Lomba-lomba untuk merangsang minat baca, kami selenggarakan mulai dari tingkat PAUD hingga ibu rumah tangga,” ungkapnya. Taman-taman bacaan yang ada di Kota Mataram bahkan yang berada di pinggir-pinggir pantai, kerap ramai dengan berbagai lomba. “Selain itu taman bacaan masyarakat yang ada di Kota Mataram pun kami lombakan. Dengan tertib dan teraturnya pengelolaan taman bacaan masyarakat, saya mengharapkan
Ibu rumah tangga juara lomba bercerita
Salah satu kegiatan lomba bercerita bagi anak-anak di Perpustakaan dan Arsip Daerah Mataram
dapat melayani masyarakat dengan baik sehingga memberikan kontribusi langsung dalam meningkatkan minat baca warga kota,” ujar Ririn. Roda mobil perpustakaan keliling Kota Mataram tiada henti berputar mendatangi sekolahsekolah terutama prioritas yang berada pinggiran kota untuk mendekatkan pelayanan baca bagi anak-anak sekolah. Pelayan-
an dilakukan mulai jam 08.00 hingga jam waktu sekolah selesai, bergantian dari satu sekolah ke sekolah lainnya. “Kami tingkatkan usaha jemput bola agar anak-anak tidak kehilangan kesempatan un-
tuk membaca buku,” lanjutnya. Demikian pula dengan 30 Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Kota Mataram aktif dalam mendukung upaya membudayakan gemar baca. --Naniek I. Taufan
“Kami tingkatkan usaha jemput bola agar anak-anak tidak kehilangan kesempatan untuk membaca buku”
Jangan Pandang Arsip Sebelah Mata
Ririn termasuk salah seorang yang peduli dengan masalah kearsipan. Karena itu, sejak menjadi Kepala Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Mataram, ia juga memberi perhatian dalam hal kearsipan dengan menyelenggarakan lomba tertib arsip di berbagai instansi yang ada di Kota Mataram. Hal inilah yang pertama kali disosialisasikannya ketika ditunjuk sebagai Kepala Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Mataram. “Untuk menata pengelolaan arsip di sekolah-sekolah menengah pertama dan atas (SLTP, SMA), kelurahan juga SKPD se-Kota Mataram, saya buat lomba pengelolaan arsip,” ujarnya. Menurutnya ini penting karena arti penting sebuah arsip selama ini banyak diabaikan. Dengan lomba tersebut, ia berharap muncul kesadaran untuk mencintai arsip sebagai sebuah dokumen yang penting bagi perjalanan sebuah sejarah. “Agar masyarakat tidak memandang arsip sebelah mata seperti yang terjadi selama
ini,” ungkapnya. Jika ada yang menganggap bahwa bekerja di bagian arsip dan perpustakaan adalah “masuk kotak”, maka tidak bagi Ririn. “Karena tidak menggali pentingnya arsip makanya ada yang menganggap demikian. Padahal jika kita mau menggalinya pekerjaan ini mengasyikan. Banyak ilmu dan wawasan yang bisa kita
dapatkan bahkan melebihi dari yang diperoleh orang lain,” katanya. Kini, Ririn asyik mengelola hampir 50 ribu jumlah koleksi buku yang ada di Kota Mataram. Targetnya sejak menjadi kepala kantor ini adalah meningkatkan minat baca bagi seluruh warga Kota Mataram dan tertib arsip di seluruh instansi yang ada di Kota Mataram. -Naniek I. Taufan
K
omunitas RajutKejut, ungkap Ati, begitu Harjuni Rochajati akrab disapa, berdiri tahun 2014 lalu. Mereka memperkenalkannya lewat FanPage Facebook. “Awalnya kami adalah kelompok kecil yang gemar merajut. Ada yang memproduksi rajutan untuk dijual tapi ada yang merajut karena hobi saja. Kadang kita bikin rajutan untuk dipakai sendiri atau untuk kado. Jadi hanya sekadar hobi,” tutur Ati. Suatu ketika, lanjutnya, seorang temannya Vidhyasuri Utami menggagas karya rajutan di ruang publik. Di luar negeri ada istilah yarn bombing yang menggunakan benang membentuk sebuah karya seni di ruang publik. “Ya semacam street art tapi dengan benang. Nah kami ingin juga membuat seperti itu di sini,” kata
penggemar berbagai craft ini. Nah untuk mewujudkan gagasan itu, tentu dibutuhkan hasil rajutan yang banyak. “Kami pun sepakat untuk mengajak orang lain yang senang merajut, untuk berpartisipasi. Kami pikircara yang paling ‘seru’ adalah melalui fanpage FB karena kami tahu bahwa di FB banyak crafter, banyak perajut. Agar kita bisa membuat karya dengan melibatkan banyak orang. Melalui FB itulah kami mengajak para perajut dimana pun berada untuk ikut mendukung rencana ini. “ “Di situ kita sampaikan rencana membungkus beberapa kursi taman di depan museum nasional dengan rajutan. Kita juga sampaikan rajutan yang dibutuhkan, ukurannya, dll. Jadi semua komunikasi dilakukan lewat FB,” kata Ati tentang ‘gebrakan’ awal Komunitas RajutKejut di
area publik. Hasilnya, menyambut Proklamasi Kemerdekaan RI ke-69, bangku taman di depan Museum Nasional berhias cantik dengan warna-warni rajutan. “Kita menerima hasil rajutan dari manamana untuk kebutuhan event tersebut. Nah hasil rajutan kiriman itu kita satukan. Kita rame-rame menjahitnya, kemudian ditempel di badan kursi. Jadi itu adalah karya banyak orang. Di salah satu bagian ada tertulis “Persatuan bukan Cuma urusan satu orang”. Itu message yang ingin kita sampaikan,” ungkap ibu dua anak itu. Sebulan kemudian, tepatnya 14 September, komunitas ini beraksi lagi dengan menghias bangku taman di depan bundaran Hotel Indonesia, Jakarta. “Pada 19 Oktober 2014 kami juga ngebom(begitu istilah komunitas jika akan beraksi di ruang publik) dengan membungkus pohon di depan Istana Negara untuk menyambut Presiden RI yang baru terpilih,” tambah wanita berambut pendek ini. Tapi tambahnya dari semua aksi yang paling rumit adalah membuat ‘baju pada bemo’. Sebagaimana kita tahu bemo yang juga salah satu angkutan umum paling tua di Jakarta, memiliki banyak lekukan, jadi tidak mudah untuk mengaplikasikan rajutan. “Menghias bemo dengan rajutan adalah karya yang paling repot karena waktu untuk menghias hanya sehari semalam sedangkan ukuran bemo cukup besar dan memiliki bentuk yang banyak lekukan sehingga agak sulit mengaplikasikan rajutan-rajutannya , walau persiapannya cukup lama yaitu dua bulan.
Bemo yang menghebohkan karya Komunitas Rajutkejut
Namun begitu akhirnya semua bisa selesai,” kata alumniAntropologi FISIP Universitas Indonesia, ini. Karya yang dibuat untuk memperingati Kemerdekaan RI 18 Agustus 2015 ini, tambah Ati, juga sebagai wujud kepedulian terhadap bemo sebagai angkutan perkotaan yang nyaris punah. “Kita umumkan rencana ini di FB, ternyata banyak yang mau ikut. Prosesnya dua bulan untuk mengumpulkan rajutan. Sedang bemonya kita dapat pinjaman dari seorang kenalan. Nah bemo berbalut rajutan ini muncul di acara car free day,” katanya. Bicara mengumpulkan relawan untuk mewujudkan sebuah event, menurut Ati, susah-susah gampang. Namun hal tersebut tidak menjadi masalah karena, katanya, selalu saja ada volunteer yang militan yang rela menyelesaikan proyek RajutKejut sampai tuntas. “Kami biasanya mengadakan kopdar (kopi darat atau pertemuan anggota ) jika merencanakan sebuah aksi dan saat menyelesaikan rajutan menjelang aksi. Namun ke depannya terpikirkan untuk mengadakan kopdar secara rutin agar bisa lebih aktif berkarya,” kata ibu dua anak ini. Bagi Ati keberhasilan RajutKejut dalam mewujudkan aksinya memberi arti tersendiri tentang keber-
peningkatan minat baca di kalangan anak-anak dan remaja menjadi salah satu target Perpustakaan dan Arsip Kota Mataram
Aksi Komunitas Rajutkejut di car free day Jakarta
Harjuni Rochjati di antara teman-temannya Komunitas Rajutkejut
Harjuni Rochjati
samaan dan persatuan. Bayangkan saja, aksi ini bisa menggerakan orang-orang untuk menyumbang (rajutan). Penyumbang ini bukan hanya tanpa bayaran tapi juga telah menyempatkan waktunya untuk bekerja membuat rajutan. “Ini sungguh menarik,” katanya. Meski anggota Komunitas RajutKejut semakin banyak, katanya, namun sejauh ini belum berpikir untuk mengembangkan lebih jauh terkait kegiatan komunitas. “Banyak voulunteer RajutKejut yang membuat karyanya untuk dijual, namun ada juga yang hanya sekadar hobi. Ada juga yang menyelenggarakan kursus. Jadi saya kira kalau komunitas lebih baik mengkhususkan kegiatan pada aksi yarn bombing atau berkarya rajutan di ruang publik saja,” kata Ati sambil menambahkan mereka yang menjadi voulunteer RajutKejut berusia 10-80 tahun. Ati sendiri mengaku menyukai membuat aneka kerajinan, merajut adalah salah satunya. Baginya merajut bukan sekadar membuat produk tapi merupakan kesempatannya untuk mengekspresikan diri melalui bentuk dan warna yang terwujud pada hasil rajutan itu sendiri. “Lebih dari itu, merajut juga sebagai sarana melatih kesabaran,” kata Ati. -Diana Runtu
6
Woman on Top
Edisi 894/ 28 MARET - 3 april 2016
P
erjalanan yang dilalui hingga sampai pada puncak kesuksesan tentu terjal dan berkrikil. Mencoba mengirimkan cerpen pertama yang berjudul “Tetek” ke sebuah media namun tidak dimuat. Cerpen ini berkisah tentang seorang perempuan yang gelisah dengan payudaranya sendiri dan memutuskan mengirisnya. Menurut redaksi cerpen tersebut tidak memenuhi kaidah cerita yang layak di konsumsi umum. Pengalaman tersebut adalah kali pertama Sonia menulis dan bukan pengalaman pertama ditolak. Semua diterimanya dengan lapang hingga ia terus menulis. Sejak 2002, Sonia sudah menulis beberapa judul cerpen yang notabene mengisahkan kedudukan perempuan yang selalu dimarginalkan atau dipinggirkan oleh kedudukan laki-laki. Karyanya menjadi penegasan atas anggapan bahwa perempuan adalah mahkluk yang dikurung dengan tumpukan nestapa yang tidak kunjung usai. Senin 21 Maret 2016 bertempat di rumah jabatan bupati, Sonia sapaan akrab-
nya meluncurkan buku bersama dua orang rekannya sesama penulis. Hadirman dengan bukunya yang berjudul Ekplo(ra)si Tubuh, Satria Kusuma dengan bukunya Cupak Tanah, dan Sonia sendiri meluncurkan buku berupa kumpulan cerpen yang berjudul Perempuan Tanpa Nama. Ketiga buku tersebut juga dibedah secara isi oleh tiga orang yaitu Dr. Luh Putu Sendratari, M.Hum., Dr. I Gede Artawan, M.Pd., dan Dr. I Wayan Artika, M. Hum., yang merupakan penulis juga. Tujuan dari peluncuran dan bedah buku ini adalah untuk menyosialisasikan karya sastra masyarakat luas serta mendekatkan kepada pemerintahan. “Kami buat acara ini agar sastra itu bisa diterima di mana saja,” ungkap wanita kelahiran 4 Maret 1984 ini. Menurutnya, budaya tidak bisa lepas dari masyarakat. Sastra merupakan produk dari budaya, sehingga kewajibannya untuk menyebarkan produk-produk kebudayaan kepada masyarakat luas. Masyarakat yang disasar antara lain, bidang akademisi, dinas-dinas terkait,
aktivis perempuan, dan komunitas seni budaya. “Sebagai produk budaya sastra harus diterima disemua lapisan masyarakat,” jelas istri dari Made Adnyana tersebut. Sonia juga berharap, nantinya masyarakat menyadari bahwa sastra dan budaya adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan darinya. Selain suka menulis, ibunda dari Putu Putik Padi dan Kadek Kayu Hujan ini juga hobi menonton film. Menurutnya film merupakan salah satu produk budaya. “Saat ini film sedang nge-trend dan film merupakan bentuk pencapaian tertinggi dari karya seni,” tambahnya. Dosen di jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Undiksha ini mengatakan bahwa film yang baik adalah yang mampu memotivasi dan menggugah masyarakat yang menonton. Banyaknya film yang diproduksi di Indonesia tidak disangkal oleh Sonia bahwa beberapa sudah masuk kategori baik dan beberapa juga belum. Namun, ia yakin semua pihak akan bekerja lebih keras untuk lebih baik. Terkait dengan tujuan film yang mempengaruhi dan memotivasi penonton, Sonia juga menyarankan agar masyarakat lebih cerdas memilih tontonan. Jika masyarakat meniru adegan-adegan dalam film yang kurang baik maka itu tidak tepat. “Sasarannya kan masyarakat luas, jadi masyarakatlah yang harus memilih tontonan yang lebih pantas,” tegasnya. -Wiwin
Raja Durian dari Blitar Festival durian digelar setahun sekali di Kabupaten Blitar. Tepatnya di Desa Sumber Asri, Kecamatan Nglegok, Blitar Utara menuju Kabupaten Kediri. Festival buah berduri ini, diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai daerah yang ada di Jawa Timur. Mulai dari Trenggalek, Tulungagung, Kediri, Banyuwangi, Jember, dan Blitar.
D
alam festival ini, tidak kurang dari 20 ribu biji buah durian dari berbagai varietas ditampilkan. Masing-masing daerah, menonjolkan produk unggulannya. Mu-
Salam Senyum, Tergelitik dengan nuansa demonstrasi yang dilakukan oleh para pelaku moda transportasi darat (taksi dan ojek) di negeri tercinta ini beberapa hari terakhir, yang melibatkan ratusan orang bahkan mungkin lebih, di beberapa media yang sempat saya baca tentang aksi demo tersebut, ada yang melihatnya dari sudut pandang Aplikasi. Ada juga yang melihat dari sudut pandang Perizinan, dan ada juga yang melihat dari sudut pandang Regulasi.Tentunya saya tidak akan membahas masalah demo tersebut dengan segala permasalahannya. Tapi saya mencoba mengaitkan dengan layanan yang selalu menjadi “concern” saya. Sudut pandang Aplikasi lebih tepat untuk saya kaitkan dengan layanan. Aplikasi dalam kasus ini kebanyakan orang lebih familiar dengan istilah “On Line”. Ojek On Line, Taksi On Line atau lebih luas kepada penjualan, yaitu Jualan secara On Line. Kedengarannya renyah sekali, seakan-akan sebagian permasalahan kita bisa selesai dengan “On Line” ini.Contoh kecil bagi kita yang tinggal di Denpasar yang saat ini dengan cuaca sangat panas, kita tidak harus keluar rumah atau kantor hanya untuk mendapatkan makan siang. Tetapi dengan memainkan aplikasi terkait, maka beberapa saat makanan sudah akan tersedia sesuai keinginan kita. Selesai !. Ya…begitu memberi kemudahan, menyenangkan dan memberi kepuasan tertentu bagi pelanggan. Layanan on line sebenarnya hanya merupakan bagian kecil dari keseluruhan aspek layanan pada proses penyediaan produk dan jasa. On line bisa juga kita istilahkan dengan Connect. Dalam tulisan saya kali ini saya mencoba menggambarkan betapa kondisi “on line /connect” dari para pelaku layanan pada proses penyediaan produk dan jasa akan menciptakan kepuasan kepada pelanggan. Dan ini tidak ada kaitannya dengan aplikasi, hehehe…. Salah satu permasalahan untuk bisa memberikan layanan terbaik adalah TIDAK terciptanya situasi dan
lai dari varian bajol, petruk, montong, merah, balqis, badugol, sitokong, dan masih banyak varietas lainnnya. Dari sekian banyak varietas durian, yang paling disuka pengunjung waktu itu adalah jenis Badugol, asal Blitar.
Durian Badugol
Durian ini, hasil okulasi yang dilakukan oleh Supriyanto, warga Dusun Gogolatar, Kelurahan Kaweron, Kecamatan Talun, Blitar. Pada tahun 2010, dirian Badugol ini dinobatkan sebagai Rajanya durian yang ada di Jawa Timur. Bahkan, pada 8 April 2011 keluar Keputusan Menteri Pertanian Nomor 1841/Kpts/SR.120/4/2011 tentang Pelepasan Durian Badugol sebagai varietas unggul. Menurut Kartika, salah satu pengunjung festival, durian Badugol ini memiliki kelebihan dibanding varian lainnya. Dagingnya tebal, rasanya manis, dan aromanya wangi. Selain itu, punggingnya (isi durian) kecil dan tipis. “Nggak gampang eneg. Habis dua, tiga saja saya tetap tahan,” ujar pengunjung asal kota tahu, Kediri ini. Tiap kali digelar festival, wanita penggemar durian tak mau ketinggalan. Ia selalu hadir bersama keluarga dan teman-temanya. Selain makan di lokasi pameran, Kartika selalu membawa 10-15 durian badugol untuk dibawa pulang. “Bukan berarti durian lainnya nggak enak, bukan. Tapi saya lebih cocok durian asal Blitar ini,” ujarnya sambil menunjukkan durian yang sudah dibeli. Pengakuan serupa juga dilontarkan Agus, salah satu pengunjung asal
Dr. Agustinus L. Kesuma, M.B.A. Kadek Sonia Piscayanti
“Service (yang) On Line?” kondisi yang “on line/connect”. Dalam hal ini banyak hal kita bisa jadikan contoh, yaitu : 1. Tidak connectnya antara customer service (frontliner), middle manager dan top manager (atasan dan bawahan) dalam memberikan layanan.Yang ke-2,tidak connectnya antar bagian di penyedia layanan. Selanjutnya yang ke-3, tidak connectnya antara aturan/ ketentuan dengan kondisi riil. Sedangkan ke-4, tidak connectnya antara people (customer service) dan product. Yang ke-5 tidak connectnya antara customer service dan customer/pelanggan, dan masih banyak lagi lainnya. Hmmmm..ini salah satu contoh cerita. Dalam perjalanan menuju Kintamani, saya bersama keluarga mampir di sebuah rumah makan yang tampak dari luar sangat menarik untuk kami singgahi. Ya….kami berangkat pagi-pagi sekali dari rumah sehingga tidak sempat sarapan. Dalam perjalanan semua merasa sangat lapar, sehingga kami memutuskan untuk sarapan sebentar sebelum melanjutkan perjalanan .Singkat cerita di saat kami sudah duduk di rumah makan, tampak beberapa pegawai rumah makan masih membersihkan dan merapikan meja, kursi dan beberapa peralatan yang ada di dalam rumah makan tersebut. Waaaah..ternyata rumah makan ini baru saja buka. Seorang pramusaji mendatangi kami dengan membawa buku menu. Hemmm… membaca menunya membuat rasa lapar semakin menjadi-jadi. Pesanan kami (makanan dan minuman) sudah dicatat oleh pramusaji, tentunya menu kesukaan masing-masing dari kami dong,… Sudah terbayang lezatnya makanan yang akan kami santap (yang ini kayaknya gak perlu ditulis deh... hehehe).Setelah pramusaji mengkonfirmasi pesanan, seperti biasa kami menambah satu menu yaitu menu “tidak pake lama” hehehe. Selang beberapan menit, pramusaji tersebut datang, “Maaf Pak-Ibu… menu yang Bapak pesan belum tersedia, minuman yang ibu pesan juga belum tersedia !” ….. byarrrr…. Buyar sudah lamunan enaknya sarapan kali ini. Kami berpikir, seberapa jauh sih antara ruang makan dengan dapur? Sehingga antara pramusaji dan juru masak tidak “on line”. Seberapa banyak pegawainya ya,…sehingga antar pegawai tidak on line? Hmmmm… sebagai pelanggan tentu kami kecewa karena tidak on
19
Badugol
Cerdas Memilih Tontonan Kadek Sonia Piscayanti adalah seorang penulis cerpen, prosa dan puisi, naskah drama dan essai yang sangat aktif di bidangnya. Menyukai dunia menulis sejak duduk di bangku sekolah dasar namun baru benar-benar berani mengirimkan hasil karyanya ke sejumlah koran saat menjadi mahasiswa. Karya-karyanya lahir dari perjalanan yang panjang, tiga belas tahun.
Edisi 894/28 MARET - 3 april 2016
linenya “data menu yang tersedia”, antara pramusaji dengan juru masak. Seandainya saja mereka ( para pegawai ) connect antar bagian, tentu tidak akan ada pelanggan yang dikecewakan. Cerita di atas adalah contoh dari permasalahan yang nomer 2 . Lain lagi dengan cerita berikut. Di sebuah perusahan jasa, meluncurkan produk dengan program terbaru yang sangat gencar promosinya. Dimana- mana, baik di media cetak, elektronik, sosmed, dan sebagainya sudah dilakukan tersentral dari Kantor Pusat perusahaan jasa tersebut. Sebagai orang yang sangat menyukai promo, bergegas saya ingin ikut program terbaru yang ditawarkan. Namun apa yang terjadi, setelah saya datang ke perusahaan jasa tersebut, sungguh di luar dugaan. Customer service menjawab bahwa produk promo tersebut tidak tersedia di sini dan hanya dilayani di kota-kota besar lainnya.Setelah saya tanyakan kembali ke Supervisor, ternyata layanan promo tersebut dilayani di seluruh outlet, sedangkan yang belum tersedia adalah pencetakan blanko pengisian data untuk program promo tersebut. Hmmmm.. silahkan ditebak, hal tersebut termasuk tidak connect yang nomer berapa…? Bahkan mungkin kombinasi dari ketidak connectkan seperti tulisan permasalahan di atas (Nomer 1 – 5 ). Sebagai akhir dari tulisan ini tentunya dengan adanya istilah “on line” / connect dalam layanan berharap semua yang bergerak di bidang layanan akan mejadi pemenang. Tentu yang dimaksud pemenang dalam layanan /service winner adalah 1.Mereka yang mempunyai attitude positive dan pandangan yang menyenangkan. 2. Mereka secara bersungguh-sungguh menikmati bekerja dengan dan untuk orang lain. 3. Mereka yang memiliki kemampuan untuk menempatkan pelanggan pada “titik sentral”. 4. Mereka yang melihat pekerjannya secara primer sebagai profesi yang BERHUBUNGAN DENGAN MANUSIA. Naaaahhh…. Mari kita mulai meng ‘On line’ kan layanan agar menjadi pemenang (service winner). Ingat..mulainya dari sekarang ya… Dan bagaimanakah kelanjutan dari “Service Winner” tersebut ? ikuti tulisan saya pada edisi berikutnya Salam 3SP Salam Senyum Sang Penyihir Sri Sumahardani.
Yakin Kekuatan Mobil India Arsitek Jerman Pengalaman merupakan soko guru yang tak ternilai harganya. Apalagi, bekerja selama puluhan tahun di Astra Motor sejak 1976 hingga 2.000, membentuk kepribadian Dr Agustinus L. Kesuma, M.B.A yang kini menjabat Managing Director PT Hanata Auto Surabaya. “Saya tak punya pengetahuan lain, kecuali pengetahuan di bidang otomotif ini,” kata Agustinus. Karena pengetahuan dan keterampilan hanya di bidang otomotif, maka setelah berhenti dari Astra Motor, arek Surabaya ini ingin merintis usaha di bidang bisnis otomotif juga. Namun, kalau mau bergerak di bidang bisnis otomotif asal Jepang pasti sulit, karena Astra Motor sudah sangat besar dan terkenal di seluruh dunia. Sementara dirinya baru mau memulai merintis usaha bisnis tersebut. Karena itu, pasti sulit bersaing dengan mobil asal Jepang. Alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini berpikir untuk mencari alternatif lain. Awalnya dia mulai tertarik pada otomotif buatan Tiongkok dan India. Tetapi, persaingannya sangat ketat. Ia mulai melirik otomotif produksi India karena masih asing di Indonesia. Pria yang belajar S-2 di University of Western Australia ini, mulai membangun komunikasi dan mencari informasi ke India. Hasil pemantauan dan komunikasinya, pria murah senyum ini berhasil mengetahui sebuah perusahaan yang bernama Tata. Tata adalah sebuah perusahaan terbesar dan tertua di India dan usianya sudah mencapai 500 ta-
Dr. Agustinus L. Kesuma, M.B.A.
hun. Perusahaan ini memiliki banyak cabang dan produk seperti produksi baja dan berbagai jenis mesin, bergerak di bidang keuangan dan berbagai usaha lainnya. Sejak 50 tahun silam, perusahaan ini mulai melirik dan memproduksi mobil dengan merek Tata. Mobil ini diarsiteki tenaga ahli dari Mercedez Jerman. “Saya berpikir kalau mobil Tata ini ditangani ahli Mercedez dari Jerman pasti hebat. Karena mobil Mercedez adalah salah satu mobil mewah asal Eropa dan sudah terkenal di seluruh dunia,” ujarnya. Dengan berbagai cara, pria yang lulus doktor dari University of Washington in Seattle, Amerika Serikat ini, mulai membangun komunikasi dengan perusahaan tersebut. Bak gayung bersambut, niatnya ternyata direspons positif pihak Tata. Komunikasi intensif pun dilakukan dan akhirnya berhasil disepakati untuk
menjalin kerjasama dengan Tata dan menjadi dealer untuk menjual mobil Tata di Surabaya. Setelah selesai mengurus segala persyaratan administrasi yang terkait dengan kerjasama itu, akhirnya Agus berhasil menjadi dealer Tata di Surabaya melalui PT Hanata Auto Surabaya yang berkantor di Jalan Arief Rahman Hakim 173 Surabaya. Kantor ini sengaja dibuka di Surabaya karena dirinya adalah orang Surabaya dan berdomisili di Kota Pahlawan ini. Agus, sapaan akrab Agustinus menjelaskan kantor dealer ini dibuka resmi pada 2014 lalu dan diresmikan Direktur PT Tata Motors Indonesia Bismadev Sengupta. Walau baru berusia dua tahun, namun prospek penjualan mobil Tata di Jawa Timur (Jatim) khusus di Surabaya, ternyata sangat luar biasa. “Sebulan bisa menjual sekitar 30 unit dan ini pasar yang luar biasa,” ujarnya bangga. Sejak 2014 hingga 2015, pihaknya telah berhasil menjual sekitar 700 unit atau sekitar 350 unit per tahun dari berbagai tipe yang ditawarkan. Keberhasilan itu, mendorong pria berkacamata ini, untuk terus mendongkrak pasar Tata di Jatim khususnya Surabaya. “Pada 2016 ini, ditargetkan kami bisa menjual sekitar 500 unit mobil Tata,” ujarnya sangat optimis. Sikap optimis tersebut didasarkan respons masyarakat Jatim yang begitu tinggi terhadap mobil buatan India tersebut. Karena mobil ini dinilai sangat kuat dan ulet dalam pengoperasiannya di lapangan terutama di medan yang sangat berat dan menantang. -Yosef Sintar
Kartika
Tulungagung. Ia rela jauh-jauh datang ke Blitar hanya untuk merasakan nikmatnya durian badugol. Bagi Agus, rugi jika pada saat musim durian tidak menikmati durian badugol. Karena nikmat dan kelezatan durian badugol ini, sangat luar biasa enaknya. “Rugi banget kalau saya sampai nggak menikmati durian badugol ini,” ujar lelaki penyuka buah durian ini. Meski menjadi primadona, durian ini tidak pernah diperdagangkan secara umum di pedagang, apalagi di swalayan. Supriyanto, 59, pemilik pohon durian ini tidak pernah menjual hasil panenannya kepada pedagang. Selama ini, penjualan dilakukan langsung ke konsumen yang berasal dari berbagai kota, antara lain Kediri, Tulungagung, Malang, dan Blitar sendiri. “Selama ini tidak ada kios yang menjual, promosi lebih pada getok tular dari mulut ke mulut sesama penggemar durian,” kata pria yang dikaruniai satu anak ini. Lebih lanjut pria berkacamata ini menuturkan, awal bergelut dengan durian, sejak 1986 silam. Awalnya dia menanam bibit durian sebanyak 40 pohon. Namun dalam beberapa bulan kemudian hanya tinggal satu batang pohon yang bertahan. Bibit asal Lampung, Sumatera, itu tak kuat dengan pupuk kandang yang diberikan saat itu. Selain durian saat itu Supriyanto, juga menanam jeruk. Nah, dengan gagal tanam itulah pria ini memutar otak karena keterbatasan biaya yang dimilikinya saat itu. “Saya cari pongge (isi, Red) untuk disemaikan dari jenis lokal,” ujarnya. Setelah itu, Supriyanto mencari mata tunas yang bagus mulai dari wilayah Gandusari hingga Srengat, untuk proses okulasi penempelan mata tunas dengan tanaman hasil penyemaiannya sendiri. Kala itu, sekitar Januari
1987 dia mendapatkan sebanyak delapan jenis dan dilakukan okulasi untuk mencari hasil yang terbaik. Karena belum ada pengalaman, saat itu asal ada info bagus dia langsung mengambil dan ditanamnya. Akhirnya delapan pohon itu terus tumbuh bersama jeruk hingga lima tahun kemudian atau tahun 1992 mulai berbuah untuk yang pertama kalinya. Nah, untuk memperkenalkan hasil buah tanamannya, dia memperkenalkan terlebih dahulu jenis okulasi dari wilayah Bajang dan responnya sangat baik. Namun dagingnya kurang tebal karena kalah usia, dengan pohon aslinya dari Kelurahan Bajang, yang telah berusia ratusan tahun. Hingga akhirnya dari proses pengenalan itu diketahui durian hasil okulasi dari Desa Wonorejo, Kecamatan Srengat yang dinilai paling bagus kualitasnya, dengan pongge cemet dan kulitnya tipis, sehingga bagian yang bisa dimakan lebih banyak. Setelah memperkenalkan duriannya, sekitar tahun 1995, penggemar durian mulai berdatangan. Hingga tahun 2000 penggemar mulai ramai dari luar kota. Selanjutnya tahun 2008 ada perhatian Dinas Pertanian, walaupun sebenarnya tahun 1997 dinas terkait sudah mengetahuinya. Menurut Supriyanto, saat ini ada 30 pohon di lahan miliknya yang terdiri dari delapan varietas. Dengan usia pohon sekitar 25 tahun ini, saat ini ada sebanyak 10 pohon jenis Badugol. Setiap kali musim panen, rata-rata setiap pohon menghasilkan buah antara 75 – 150 buah. Dengan hasil buah seperti itu, dalam satu kali musim panen, 10 pohon itu bisa menghasilkan seribuan buah. Dengan kondisi itu, sebanyak 95 persen penggemar durian langsung datang sendiri ke kebun Supriyanto. “Bahkan ada yang terpaksa inden,” jelasnya. -Khoirul Abadi
18
Life
Edisi 894/ 28 MARET - 3 april 2016
Bank Sampah Bermodal Nekat
Menangani sampah khususnya nonorganik memang menjadi masalah bagi masayarakat maupun orang-orang yang peduli lingkungan. Mengurangi sampah plastik adalah salah satu cara untuk menjaga lingkungan agar terhindar dari pencemaran dan tetap bersih. Hal tersebut dilakukan oleh kelompok masyarakat desa Panji dusun Kelod Kauh yang sadar akan lingkungan.
B
ermula dengan mengikuti sosialisasi dari PPLB (Pemuda Peduli Lingkungan Bali) ke desa-desa maka terbentuklah kelompok masyarakat peduli lingkungan. Tergabung dalam kelompok Bank Sampah Galang Panji, mereka menyamakan persepsi warga untuk menjaga lingkungan sekitar dengan memi-
lah sampah rumah tangga yang dihasilkan. Warga dusun Kelod Kauh diajak untuk memanfaatkan sampah di rumah kemudian dijual kepada Bank Sampah Galang Panji. Sampah yang dijual berupa sampah kresek, botol-botol, besi dan kertas sehingga tidak terbuang percuma. Keempat jenis sampah tersebut sudah dipilah dari rumah masing-masing. Hanya
saja untuk sampah organik, bank sampah belum mampu untuk mengelola. Direktur utama Bank Sampah Galang Panji, Nyoman Marsajaya mengungkapkan bahwa modal awal dari terbentuknya bank sampah ini adalah nekat. “Kami tidak punya modal, jadi kami berikan buku tabungan dulu,” ujarnya. Hasil penjualan sampah tersebut akan diberikan dalam bentuk tabungan di antaranya tabungan yang bersifat reguler, tabungan yang bisa diambil kapan saja, dan tabungan hari raya. Keempat jenis sampah itu dihargai Rp 1.200 per kilo untuk sampah plastik meliputi botolbotol minuman, Rp 500 untuk sampah kresek, Rp 800 untuk sampah kertas, dan Rp 1.200 untuk sampah berupa besi. “Kalau masalah harga sifatnya naik
Anggota bank sampah
Boombeda
Andalkan “Kota Kecil” Sejak terbentuk sekitar tiga tahun yang lalu, nama Boombeda mulai dikenal oleh masyarakat pecinta musik indie di Singaraja. Memutuskan berkecimpung dalam dunia musik tentu para personilnya memiliki alasan yang sama yaitu sama-sama menyukai musik. Jika sebuah band memiliki aliran musik sebagai ciri khas dalam berlagu, namun lain halnya dengan Boombeda. Untuk aliran musik mereka menyesuaikan dengan lagu yang dibawakan, jika liriknya sedih musiknya pelan dan begitu sebaliknya. Begitu juga untuk konsep yang tidak pernah tertata sehingga aliran
Pasek (kiri) dan Dedi
band akan mengikuti makna yang ingin disampaikan. Awal terbentuknya pun sangat
unik. Sempat bergonta-ganti personil karena alasan perbedaan persepsi. Akhirnya Pasek, sang vokalis mengajak teman satu kos untuk bergabung dengan bandnya karena saling mengetahui kesamaan yaitu suka bermusik. Banyak latihan dan terus mencoba hingga mereka berkeinginan membuat karya sendiri. Nama Boombeda itu sendiri mempunyai arti yang terbilang unik. Kalau pada umumnya boom yang meledak akan menghancurkan atau bahkan dapat membunuh maka boom dari Boombeda dapat
Story
Edisi 894/28 MARET - 3 april 2016
7
Kades yang Dibenci Calo Pengumpulan sampah dari masyarakat
turun,” ungkap Marsa, sapaan akrabnya. Bank sampah sendiri bekerja sama dengan pengepul sampah daur ulang dan DKP kabupaten Buleleng. Selain sampah kresek kami jual ke pengepul, kalau sampah kresek kami jual ke DKP, imbuhnya Namun, tidak dapat dimungkiri bahwa kesadaran masyarakat terhadap lingkungan masih sangat kurang. Dari total KK (Kepala Keluarga) 431, hanya 125 KK yang menjadi anggota bank sampah. “Ini menjadi hambatan kami karena respons masyarakat yang masih kurang,” tambah pria kelahiran 13 Desember tersebut. Memang jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, jumlah tersebut sudah mengalami peningkatan. Marsa dan rekanrekannya melakukan beberapa kegiatan untuk membangkitkan kesadaran masyarakat. Salah satunya safari kesehatan yaitu sehat bersama sampah. Setiap masyarakat yang datang ke balai banjar dan membawa sampah akan mendapat pelayanan kesehatan. Pengumpulan sampah oleh bank sampah biasanya dilakukan setiap hari Minggu di balai
banjar setempat. Jika kembali ke konsep bank sampah menurut Gede Ganesha selaku Direktur Keuangan Bank Sampah Galang Panji, masyarakat yang datang sendiri ke suatu tempat yang sudah disepakati untuk membawa sampahnya. “Ada masyarakat yang ingin sampahnya diambil ke rumah-rumah, namun di sini kami terkendala tenaga yang sedikit,” ujar Ganesha yang juga ketua PPLB tersebut. Rumah masyarakat yang cukup jauh dari lokasi pengumpulan sampah mengurangi antusiasmenya. Sifatnya yang ngaturang ayah membuat bank sampah sedikit memiliki anggota. “Karena kesibukan masing-masing kami tidak bisa memaksakan orang untuk ngaturang ayah,” imbuh pria kelahiran 11 November tersebut. Menimbulkan semangat anakanak muda untuk ngayah memang diakui cukup sulit karena mereka belum sadar bahwa dengan bank sampah ini bisa menambah penghasilan. Ke depan pengelola bank sampah sangat berharap bisa menjadi badan usaha milik desa sehingga ada anggaran yang diberikan sebagai intensif bagi yang ngayah. -Wiwin
menghidupkan yang telah mati. Hal inilah yang membuat boom itu berbeda sehingga menjadi Boombeda. Sejauh ini band yang terdiri dari Pasek di vokal sekaligus gitar dan Dedi di Drumm masih kekurangan satu orang personil untuk posisi bassis. Awalnya band yang terdiri dari tiga orang ini berdiri secara utuh namun karena urusan personal sehingga bassisnya terpaksa hengkang dari Boombeda. Hal tersebut bukanlah halangan untuk terus berkarier, ini terbukti Boombeda tetap manggung di acara-acara yang ada di kota Singaraja. Memiliki beberapa single yang diterima sangat baik oleh masyarakat dengan satu single andalan yaitu “Kota Kecil”. Lagu ini bercerita tentang kota Singaraja yang menyimpan segudang kenangan dan cerita baik suka maupun duka. Baru-baru ini mereka juga sudah merampung klip perdana dari single yang berjudul “Coming to My Heart”. “Ini klip perdana dan lokasi penggarapannya ada di kota Singaraja,” ungkap Pasek. Penggarapan klip lagu “Kota Kecil”, Boombeda
mengundang teman-teman di Singaraja untuk menunjukkan tempat yang memiliki kenangan dan juga bagus lewat video yang berdurasi 5 sampai 10 detik. Video yang terpilih akan dilibatkan dalam penggarapan klip kedua. Saat ini band asli kota Singaraja ini, sudah menyiapkan lagu terbaru masih bertemakan cinta. Lagu dengan judul “Berjuang” mengajak pendengar untuk memperjuangkan siapa yang dicintai. “Lagu cinta kan gak harus sama pasangan, bisa sahabat ataupun keluarga,” jelas Pasek. Memahami konsep dan mencari ide dalam menciptakan sebuah lagu merupakan hal yang sulit dilakukan. Boombeda sendiri mengaku bahwa semua lagu-lagu yang dibawakan adalah ciptaan sendiri. “Kami menciptakan lagu dari keadaan sekitar, tidak terbatas tempat dan waktu,” ujar Dedi. Menurutnya lagu yang bagus adalah lagu yang memiliki arti dan lirik yang kuat nada dan aransemen. Akan lebih bagus ketika lagu itu diciptakan sedini mungkin. -Wiwin
“Saya paling takut jika dikatakan sukses sebagai Kepala Desa.” Demikianlah ungkapan yang keluar dari bibir Hariadi, Kepala Desa Jenggik Utara, Kecamatan Montong Gading, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, yang berada di ujung aspal Montong Gading. Desa ini kerap pula disebut sebagai Desa TKI karena keberhasilannya melindungi warganya yang menjadi tenaga kerja di luar negeri.
N
amun, Hariadi rendah hati dengan mengatakan masih banyak yang harus ia lakukan untuk desa dan warga Desa Jenggik Utara. Ia tidak bekerja sendiri, kalau pun berhasil, ia mengaku itu adalah keberhasilan aparat desa dan warganya yang mau bahu membahu saling mendukung satu sama lainnya, termasuk kebijakan yang dikeluarkannya salah satunya soal Perdes yang menyangkut TKI. Sebuah Peraturan Desa (Perdes) bernomor 3 Tahun 2010, Tentang Perlindungan dan Pembinaan Tenaga Kerja Indonesia asal Desa Jenggik Utara, dikeluarkan Hariadi atas dasar banyaknya TKI/ TKW dengan segala permasalahannya yang berasal dari desa yang dipimpinnya ini. Perlindungan terhadap TKI asal Desa Jenggik Utara tidak hanya pra penempatan melainkan saat penempatan hingga paska penempatannya. Bahkan demi melindungi warganya, Hariadi pun menambah satu jabatan dalam struktur organisasi Desa Jenggik Utara, yakni Kepala Urusan TKI di desa yang dijuluki sebagai Desa TKI ini. Kaur TKI sangatlah langka, bahkan kemungkinan ini adalah satu-satunya yang masuk dalam struktur organisasi desa secara resmi. Banyak suara sumbang yang meributkan keberaniannya ini, namun ia santai saja. Ia juga sempat dikatakan tidak mengerti hukum dan aturan. “Saya pernah sampai dibilang
gila karena menambah Kaur TKI ini,” ujar kades yang tidak pernah berhenti memperjuangkan adanya Kaur TKI dalam struktur organisasi desa, meski mendapat banyak rintangan. Bagi Hariadi, ia tidak harus memedulikan apa kata orang tentang kebijakan yang diambilnya ini karena ia yang paling tahu akan kebutuhan desanya dengan tetap berpegang pada dasar hukum yang membolehkan seorang kepala desa menambah personil dan jabatan dalam struktur organisasi desa sesuai dengan kebutuhan desanya. “Di sini banyak TKI dengan segala permasalahannya, saya tidak mau warga Jenggik Utara kehilangan hak-haknya. Itulah sebabnya saya rasa perlu mengangkat kaur yang khusus mengurus soal TKI karena ini yang paling dibutuhkan warga,” ungkap Hariadi tentang alasannya mengangkat Kaur TKI untuk mengurus para TKI di desa ini. Dengan adanya Perdes dan Kaur TKI ini, ia berharap warganya yang menjadi TKI untuk mencegah terjadinya penipuan, perekrutan anak di bawah umur, perekrutan oleh calo yang tidak bertanggung jawab, menjamin hak ekonomi, hukum, sosial budaya dan kemanusiaan serta keamanan. Selain itu untuk menjamin keberangkatan para TKI sesuai dengan prosedur yang benar. Dengan adanya Kaur TKI ini, proses keberangkatan TKI juga bisa lebih detil. Calon TKI diwajibkan untuk melapor kepada pemerintah desa ketika
hendak berangkat dan saat pulang serta saat mendapat masalah saat masa perekrutan. Juga mewajibkan calon TKI mengurus sendiri dokumen-dokumen yang dibutuhkan di kantor desa. “Perdes ini juga mengharuskan petugas lapangan perekrut TKI untuk mendaftarkan diri kepada Pemerintah Desa Jenggik Utara dengan identitas diri yang resmi,” ujarnya. Hal inilah yang membuat kini, tidak banyak lagi masalah yang timbul bagi para calon TKI maupun mereka yang sudah mendapat penempatan. KADES MANTAN TKI Besarnya perhatian Hariadi terhadap TKI asal Jenggik Utara yang kebanyakan bekerja di Malaysia ini tidak lepas dari dirinya yang pernah menjadi TKI sebelum akhirnya menjadi Kepala Desa di kampung halamannya ini. “Saya pernah menjadi TKI, jadi saya tahu pahit getirnya menjadi TKI. Saya tidak ingin hal itu dialami oleh warga saya,” katanya. Kompaknya aparat desa ini juga tidak semata-semata karena Kadesnya mantan TKI, melainkan juga personil Kantor Desa Jenggik Utara ini rata-rata pernah menjadi TKI. Dari delapan personil enam di antaranya mantan TKI dan dari delapan Kepala Dusun yang ada di Jenggik Utara, enam di antaranya juga merupakan mantan TKI. Mereka merasakan masalah yang dialami oleh TKI begitu berat, sehingga mereka bahu membahu agar warga Jenggik Utara tidak akan ada lagi yang mengalami hal menyedihkan. Tidak bosan-bosannya Hariadi yang ditokohkan di desanya ini bersama dengan aparat desa khususnya urusan TKI memberi edukasi -bahkan dengan menjemput bolakepada warga tentang menjadi
Hariadi (tiga dari kiri) Kepala Desa Jenggik Utara, bersama staf desanya
Anak-anak Desa Jenggik Utara, khususnya anak para TKI kini rata-rata telah bersekolah minimal tingkat SMA
TKI yang benar dan terhindar dari sasaran perekrutan yang tidak baik alias illegal. Di bawah pimpinan sosok yang dikenal sederhana dan dekat dengan warganya, desa ini menjadi sangat protektif terhadap calon TKI dan waspada terhadap calo perekrut liar TKI. Jika ada informasi yang mau merekrut TKI secara ilegal, maka aparat desanya segera bertindak. “Kami akan mencari dan menindak tegas. Bahkan sempat nyaris kecolongan, ada TKI yang sudah terlanjur membayar namun tidak diberangkatkan, kami pun menyelesaikan masalah ini dengan calo yang merekrut hingga akhirnya uang dan paspor calon TKI dikembalikan,” kata Suparni, Kaur TKI yang diangkat oleh Hariadi. Hal ini membuat Hariadi dan aparatnya sempat dibenci oleh para calo. Namun ia tidak ambil pusing.
Hariadi pun mengajarkan warganya untuk membeli yang dibutuhkan bukan yang diinginkan. Juga mengarahkan uangnya kepada hal-hal yang dibutuhkan tepat juga mendorong mereka untuk menabung. Tampaknya karena selama bekerja di luar negeri, mereka mendapat fasilitas yang menyejukkan seperti kulkas sehingga ketika pulang ke kampung halamannya hal itu juga menjadi yang diinginkan, tanpa melihat fungsi dan ketersediaan infrastruktur listrik. Masih banyak lainnya hal yang bersifat konsumtif dari TKI yang kini berhasil diubah dengan pendekatan kekeluargaan. Keberhasilan para TKI mengelola hasil kerja mereka yang dibarengi dengan perubahan pola pikir masyarakat, tampaknya berpengaruh pada peningkatan kesejahteraan. Di tahun 2015, Desa Jenggik Utara mendapatkan piagam perhargaan dari BRI LomKULKAS UNTUK bok Timur sebagai TKI pengirim SIMPAN PAKAIAN Yang ia pikirkan bagaimana agar remiten terbesar se-Lombok bisa melindungi warganya karena Timur. “Jika di tahun 2003, warga keterbatasan lapangan kerja tentu yang memiliki rumah permanen saja ia tidak bisa melarang wargan- bisa dihitung dengan jari. Tetapi ya untuk mencari rezeki ke negeri kini rumah-rumah warga rata-rata orang. Beruntungnya, ia didukung telah menjadi rumah permanen penuh oleh aparat desa dan selu- dan sebagian besarnya adalah ruh masyarakatnya. Sehingga kini, rumah TKI,” ungkap Hariadi yang walaupun masih ada saja satu atau telah menjadi Kepala Desa dua dua kasus calo, secara umum periode 2005-2011 dan 2011Desa Jenggik Utara bisa dika- 2017, ini. Anak-anak yang bersekolah takan relatif bebas dari masalah TKI khususnya soal perekrutan juga kini telah banyak yang lulus ilegal. Sebelum TKI asal desa ini hingga tingkat SMA. Sebelumnya berangkat, seluruh dokumen di- karena faktor ekonomi, di tahun minta untuk di foto kopi sebagai 2003 Desa Jenggik Utara hanya berkas yang disimpan keluarga dan memiliki dua lulusan S1 dan empat pihak desa agar jika terjadi sesuatu orang lulusan SMA. Lainnya putus dapat dengan mudah dibantu. sekolah dan tidak bersekolah. NaTidak itu saja, ia bahkan turut mun seiring dengan meningkatnya memikirkan perubahan pola hidup ekonomi masyarakat, kini anakkonsumtif dari warganya yang te- anak khususnya anak TKI rata-rata lah berhasil menjadi TKI. “Kejadian menyelesaikan pendidikan hingga lucu yang benar-benar terjadi ada- tingkat SMA bahkan S1 dan ada lah ketika para TKI yang berhasil pula yang menjadi bidan. Selama ini membeli kulkas padahal di desa 10 tahun memimpin, Hariadi telah ini belum ada listrik kala itu sekitar membawa desa yang ketika persebelum tahun 2007. Alhasil kulkas tama kali ia menjadi Kepala Desa akhirnya dipakai untuk menyimpan di tahun 2005 masih dalam konpakaian layaknya lemari,” kata disi relatif terisolir karena susahnya Hariadi. Desa Jenggik Utara yang komunikasi dan sulitnya informasi berada di ujung aspal Montong ini, kini menjadi sebuah desa yang Gading ini baru dialiri listrik pada patut dicontoh dan penting untuk diperhitungkan. -Naniek I. Taufan tahun 2007.
8
Bunda & Ananda
Edisi 894/ 28 maret - 3 April 2016
Banyak Teman karena Sering Pindah
Bagi orangtua yang bekerja dan berpindah tempat, tentu punya pengalaman bagaimana mengurus kepindahan. Banyak hal yang harus dilakukan, mulai dari mencari informasi sekolah sampai mencari tempat wisata keluarga.
Ayu Nusa
B
u Triyanti menuturkan pengalamannya ketika suaminya pindah dari Medan ke Surabaya. “Awalnya suami dulu yang pindah untuk mencari tempat tinggal. Setelah itu, kami mengumpulkan informasi mengenai sekolah terdekat. Kami berusaha mencari sekolah terdekat dengan kualitas yang baik,” ujarnya. Ternyata sekolah yang dituju tidak serta merta menerima siswa pindahan. Ada tes bagi siswa pindahan. “Untungnya anak-anak bisa melewati tes dan diterima di sekolah barunya. Pindahnya mulai tahun ajaran baru, “ ujar ibu tiga putra ini. Hal serupa diungkapkan Iksan ketika dirinya mendapat penugasan ke Denpasar. “Saya langsung mencari sekolah terdekat. Saya datang ke beberapa sekolah untuk mencari informasi,” ujar pria yang sebelumnya bertugas di Medan ini. Ia mengaku pindah tugas ke tempat baru harus didampingi keluarga. Kalau beda tempat tinggal, ia mengaku kerepotan karena harus memikirkan keluarga yang terpisah. Ditambah lagi pengeluaran untuk transportasi ketika ingin berkumpul dengan keluarga. Dari pengamatan Ni Luh Ayu Nusantini, S.Psi, M. Par., Psikolog, pindah-pindah itu mengasyikan karena menambah wawasan dan pergaulan. “Saya mengalami sendiri karena dari kecil pindah-pindah rumah. Bapak saya Camat. Saya lahir di Nusa Penida tahun 1972 karena bapak saya Camat pertama di Nusa Penida. Umur 1 tahun 3 bulan, kami pindah ke
Sawan, Buleleng karena bapak jadi Camat Sawan berikutnya pindah lagi ke Tejakula,” ujar perempuan asal Samirenteng, Tejakula ini. Perjalanan tugas orangtuanya berlanjut sebagai Camat di Klungkung dan Camat di Denpasar Barat. Karena sering pindah-pindah, Ayu tiga kali pindah sekolah. Kelas 1 dan 2 SD di Buleleng, kelas 3 dan 4 di Klungkung, kelas 5 dan 6 di Denpasar. Ia pun mengaku menjadi banyak teman. Bahkan saking banyaknya sering bingung teman yang ditemuinya itu pernah bersamanya di sekolah yang mana. “Sering pindah-pindah tidak membuat perkembangan anak terganggu. Yang paling dirasakan adalah banyak teman, wawasan luas, dan mudah bergaul. Yang penting ortu selalu mendampingi anak. Jangan sampai ortu pindah kerja, anak malah dititip. Ini malah akan mengurangi kelekatan orangtua dan anak. Anak dan orangtua itu ibaratnya satu gerbong atau satu tim. Orangtua wajib bertanggung jawab terhadap anaknya. Kalau pindah ya pindah sama-sama,” ujar psikolog yang juga Bendahara Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Wilayah Bali ini. Nilai lebih anak-anak yang sering pindah adalah anak-anak tidak monoton dalam kondisi yang sama terus menerus. Anak akan memiliki metode pertahanan diri, kreativitas, dan sosialisasi plus adaptasi yang lebih baik dibanding anak yang selalu dalam zone nyaman. Perempuan yang akrab disapa Ayu Nusa ini menambahkan orangtua harus berbicara dengan anak sebelum pindah. Jelaskan dalam bahasa sederhana bahwa mereka akan pindah ke kota lain dalam rangka tugas. Biasanya pindah tugas itu berkaitan dengan promosi jabatan. Hal ini menjadi motivasi dan kebanggaan bagi anak agar bisa berpretasi seperti orangtuanya. “Dari pengalaman saya, pindah dari tempat lama ke tempat baru itu mengasyikkan. Jangan pernah berpikir pindah ini menakutkan atau mengkhawatirkan. Perasaan ini muncul karena kita belum melihat dan merasakan sendiri tetapi sudah memberi penilaian. Apa yang menajdi rutinitas sebelumnya
di tempat baru silakan dilanjutkan. Misalnya mendongeng sebelum tidur yang dilakukan di rumah lama, harus diteruskan di rumah baru seakan anak tidak berada di lingkungan baru yang berbeda dengan lingkungan sebelumnya,” ujar ibu dua anak ini. Ketika pindah rumah yang berlanjut dengan pindah sekolah itu terjadi, orangtua wajib mendampingi anak, minimal di minggu pertama. Ayu Nusa pun menyarankan pindah sekolah sebaiknya dilakukan jelang
akhir pekan, misalnya hari Jumat atau Sabtu. Alasannya, setelah merasakan suasana sekolah yang baru, anak punya kesempatan untuk kembali ke situasi normal di rumahnya. Lalu ketika mulai hari yang baru di hari Senin, anak sudah siap. Mengenai kekhawatiran tentang anak menjadi korban bullying, Ayu Nusa mengatakan semua bisa diatasi dengan pendampingan orangtua. Karena itu di bulan-bulan awal masuk sekolah baru, lihat perkembangan anak. Apakah anak menjadi
ceria ataukah malah gelisah dan cenderung tertutup atau tidak mau menceritakan pengalaman di sekolah. “Kekhawatiran lain adakah bisa atau tidaknya anak beradaptasi. Ini sudah bisa diatasi dari awal dengan melibatkan anak untuk memilih sekolah yang mereka inginkan. Tentu saja ini berlaku untuk anak sekolah jenjang SMP dan SMA. Kalau anaknya masih SD, orangtua yang banyak berperan dalam memilih sekolah,” tegas psikolog yang juga PNS di Pemprov. Bali ini. Ayu Nusa menegaskan anak yang sering pindah-pindah sekolah cenderung lebih mandiri , memilik lebih banyak teman dan wawasan berpikirnya lebih luas karena bergaul dengan berbagai karakter orang. Ini nantinya menjadi “modal” saaat dewasa dan mencari pekerjaan.
Griya
Warna-Warni
Kehadiran tanaman di pekarangan rumah, tentu memberikan nuansa hijau yang menyejukkan. Apalagi dihiasi dengan tanaman bunga berwarna-warni, yang tentunya makin memberikan suasana dinamis. Salah satu jenis tanaman bunga hias yang sampai saat ini masih banyak diminati adalah kembang kertas atau popular dengan nama bougenville. Bougenville di Indonesia disebut tanaman bunga kertas lantaran bentuk seludang bunganya yang tidak tebal serta memiliki cirri-ciri seperti kertas. Pada saat berbunga, tanaman ini memiliki rutinitas merontokkan sebagian daunnya.
–Ngurah Budi
Ilustrasi anak-anak bermain
elain cantik, tanaman ini sangat mudah dalam perawatannya.Tak membutuhkan waktu yang lama lantaran spesies tumbuhan ini sangat cocok ditanam di lokasi beriklim tropis serta khatulistiwa seperti negara Indonesia, serta dapat tumbuh sampai
Mendongeng Lima Menit
meja kecil untuk orang tua
hidangan di atas meja yang bersih. Kebiasaan itu berlangsung cukup lama. Hingga pada suatu pagi, istri dari suami yang pendiam dan penurut itu melihat anak laki-lakinya yang masih kecil, sibuk mengumpulkan potongan-potongan kayu dan tripleks. “Main apa kamu, Gus?” tanya perempuan yang menjadi ibu dari anaknya yang bernama Agus. “Bukan bermain, tetapi latihan kerja,” jawab Agus. Jawaban kanak-kanak itu membuat sang ibu tersenyum. “Latihan kerja apa?” tanya ibunya lagi. “Nanti setelah aku dewasa, aku akan membuat dua buah meja kecil. Aku, istri dan anak-anakku akan makan di atas meja, sedangkan ayah dan ibu yang sudah tua, harus makan di sudut dapur. Agar ayah dan ibu tidak memecahkan piring dan tidak menumpahkan makanan, maka kubuat meja kecil dan rendah. Aman ‘kan?” Mendengar jawaban anak kecil yang suka bermain itu, mata sang ibu berkaca-kaca. Pasangan suami-istri itu saling bertatapan, tak mampu mengucapkan sepatah katapun. Pada acara makan berikutnya, istri sang suami dan ibu dari anak kecil itu, memapah mertuanya dan mendudukkannya di kursi meja makan. Mereka makan masing-masing di atas piring yang sama dan di atas meja yang sama pula. Sungguh nikmat makanan hari itu!
17
Bougenville Variegata
S
Istri dari lakilaki itu cukup repot mengurus mertua yang sudah lanjut usia. Orang tua yang keriput itu sangat lemah dan tidak mampu berjalan sendiri. Ditambah lagi pendengarannya Made Taro tidak jelas dan penglihatannya kabur. Ketika makan bersama di atas meja, mertua yang guyul itu tidak pernah sempurna memasukkan makanan ke mulutnya. “Menjijikkan!” keluh perempuan itu setelah melihat bibir sang mertua berlepotan dan melihat sisa makanan yang berceceran di atas meja. Suatu hari ketika makan siang, orang tua yang guyul itu salah mengambil makanan dengan senduk yang dipegangnya. Ia menyenggol piring makanan itu. Praaang! Piring itu jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping. Perempuan itu sangat marah. Ia menyuruh suaminya memapah orang tua itu ke sudut dapur. Di situ, di atas lantai, sang menantu menyuruh mertuanya duduk makan sendirian. Makanan tidak lagi dihidangkan di atas piring, tetapi dalam mangkuk yang terbuat dari batok kelapa. Selanjutnya tidak akan terdengar piring pecah dan keluarga itu dengan aman dan nyaman dapat menikmati
Edisi 894/ 28 maret - 3 April 2016
I Wayan Tinggen
setinggi 10 meter. Batang tanaman bunga ini agak keras, memiliki duri yang tajam serta bercabang-cabang. Perkembang biakannya juga cuma membutuhkan keratan batang yang disemai di dalam bungkus plastik maupun pot lewat cara gampang. Diluar itu, tanaman ini dapat memiliki sulur yang rapat, daun yang lebar serta berupa bujur tirus yang dapat membuat rimbunan pokok di lokasi halaman rumah atau sebagai tumbuhan pagar di lokasi yang menarik. Bougenville memiliki beberapa spesies dengan beragam warna yang cantik, salah satunya adalah bougenville variegata. “Spesies ini memiliki daun yang cantik, yakni terdapat garis putih pada sisi tepi daunnya,” ujar I Wayan Tinggen, pemilik Stan Bunga Puspa Tan Alum di Halan Hayam Wuruk, Denpasar. Menurutnya, jenis bougenville variegate ini lebih rajin berbunga dibandingkan dengan jenis lainnya. “Varigata bisa berbunga
sebulan sekali, jenis lain atau yang lokal umumnya berbunga dua bulan sekali,” jelasnya. Tanaman bougenville variegate memiliki warna ungu, putih, dan merah tua. Jenis ini pun bisa disambungkan (diokulasi) dengan jenis lain, sehingga memiliki warna bunga yang lebih beragam. Caranya pun cukup mudah. Saat akan melakukan okulasi, perhatikan cuaca, tidak saat musim hujan. Tanaman yang akan diokulasi, pilih yang batangnya besar. Lakukan pemangkasan terlebih dahulu pada daun dan ranting-ranting kecilnya. Jenis bougenville lain yang akan disambung, pilih tunas muda dari tanaman yang induknya bagus. Kemudia okulasi pada mata tunasnya. Tutup dengan plastik dan diletakkan di tempat teduh selama lebih kurang 10 hari, ketika tunas-tunasnya kelihatan hidup, baru dibuka plastiknya. “Ciri tunasnya hidup, tumbuhnya tegak dan tidak layu,” ungkap pria asal Karangasem yang sudah 26 tahun menggeluti dunia tanaman ini. Dari proses okulasi ini membutuhkan waktu sekitar tiga bulan untuk menunggu waktu berbunga. Bougenville variegate ini diakuinya dipasok dari Kediri. Harga dari tanaman ini tergantung besar kecilnya. Usia varigata 3
Bougenville Variegata
bulan dengan tinggi sekitar 60 cm dihargai Rp 25 ribu. “Tapi varigata yang sudah jadi dengan 4 warna, tinggi sekitar 1,25 meter, berkisar di angka Rp 400 ribu,” ucapnya. Perawatannya dengan media sekam, pupuk kandang, dan tanah subur. Cukup disiram sekali sehari di peagi hari, namun jangan sampai terlalu basah. Di cuaca panas, varigata akan lebih banyak berbunga. Lakukan pemangkasan ranting dan daunnya,
2 bulan sekali dan pemupukan sebulan sekali. “Jika mencari bentuk bagus, lebih baik tanam di pot, pemangkasan juga bisa lebih jarang. Namun jika perawatannya kurang bagus/teratur, tanaman jadi kurus,” ujarnya. Sementara jika ditanaman langsung di tanah, pertumbuhan lebih cepat. Lebih mudah mengurusnya karena sudah mendapatkan zat makanan langsung dari tanah, tanaman juga lebih cepat besar. –Inten Indrawati
16
Edukasi
Edisi 894/ 28 MARET - 3 april 2016
Air Terjun Jembong
Sediakan Kolam Selfie Bali Utara sangat dikenal dengan wisata alamnya. Salah satu wisata alam yang menarik untuk dikunjungi adalah waterfall. Salah satu air terjun yang ada di kecamatan Sukasada adalah Jembong.
A
ir terjun yang berlokasi di dusun Jembong, desa Ambengan ini memang masih asing ditelinga masyarakat. Keberadaannya
baru diketahui oleh masyarakat luar sejak tahun 2015 setelah dilakukan upaya penataan. Kelompok sadar wisata (Pokdarwis) desa Jembong mulai mengelola dan mengembang-
Kolam Selfie
kan air terjun tersebut. Berjarak sekitar 15 km dari kawasan wisata Bedugul, air terjun Jembong menawarkan hal yang berbeda dimata pengunjung. Berada di antara perkebunan coklat milik warga yang rimbun dan asri, perjalanan menuju air terjun Jembong sangat mudah diakses. Butuh sedikit usaha untuk mencapai puncak perjalanan dengan menapaki anak tangga berbatu. Sesampai di ujung perjalanan keindahan terasa sempurna dengan air sebening kristal sehingga membuat siapa saja tergoda untuk mencoba kesegarannya. Jika pada umumnya air terjun berada di tebing tinggi dan tegak maka air terjun Jembong berada di dataran rendah dengan kemiringan lebih dari 75 derajat. Hal inilah yang membuat air yang jatuh tidak menimbulkan suara yang gemuruh sehingga pengunjung akan merasa tenang dan damai. Terdapat juga kolam yang tingginya sekitar satu meter untuk tempat mandi dan bermain bagi pengunjung. Ada larangan bagi wanita yang sedang haid dan mandi tanpa menggunakan busana. Ada yang unik di air terjun Jembong. Penataan sedemikian rupa membuat pengunjung semakin nyaman untuk datang ke tempat ini. Disediakan juga kolam selfie bagi wisatawan yang hobi berfoto. Kolam dangkal berbentuk hati ini memang pas untuk mengabadikan momen saat ke air terjun ini. Di desa Ambengan sendiri, menawarkan pemandangan persawahan yang kental dengan nuansa perdesaan. Untuk masyarakat yang ingin menikmati pemandangan tersebut tidak perlu merogoh kocek dalam. Salah satu penjaga loket air terjun Jembong, Komang Sudirpa mengata-
Kesulitan Mencari Subjek Film
J
Air Terjun Jembong
kan pengunjung yang ingin menikmati air terjun hanya membayar iuran sukarela. “Cuma sumbangan sukarela saja,” ujarnya. Setelah dilakukan penataan oleh Pokdarwis, tingkat kunjungan wisatawan juga bertambah. Tidak hanya wisatawan dari daerah Buleleng tetapi luar Buleleng bahkan turis mancanegara. Yang unik tidak ada pembeda wisatawan lokal maupun mancanegara semua hanya dikena-
kan sumbangan sukarela. Dari hasil kunjungan wisatawan tersebut akan digunakan untuk membayar upah penjaga 40%, digunakan untuk kas Pokdarwis 30% dan masuk kas desa Ambengan 30%. Sudirpa mengungkapkan kunjungan wisatawan setiap harinya memang selalu ada namun jauh lebih banyak dibandingkan dengan hari raya dan hari libur. “Tergantung hari, tapi paling banyak pas hari raya,” ujarnya. -Wiwin
Peluang Usaha Menarik di Bidang Pendidikan chise dengan sejarah yang panjang sejak tahun 1950 dan sampai dengan saat ini sudah tersebar di 47 negara di seluruh dunia. Pemilik franchise KUMON (pembimbing kumon) adalah orang-orang yang mau belajar dari siswa dan terjun langsung membimbing anak-anak di kelas. Pembimbing KUMON berkomitmen mendorong anak-anak memiliki life skill yang memungkinkan mereka menjalani hidup dengan senang dan mengembangkannya sampai maksimal, memiliki impian dan tujuan serta bersemangat mencoba hal-hal baru. Program belajar KUMON terdiri dari program Matematika dan Bahasa Inggris. Tujuan Metode KUMON adalah siswa mampu belajar di atas tingkatan kelas secara mandiri. Lembar kerja KUMON telah didesain sedemikian rupa sehingga memungkinkan siswa memahami sendiri bagaimana menyelesaikan soalnya. Ketika memasuki topik baru diberikan contoh dan penjelasan yang mendorong
auh sebelum dirinya bermain film, Putu sudah memiliki cita-cita menjadi seorang pembuat film. Keinginannya kuliah di jurusan film harus kandas ketika sang kakak menghendaki dirinya menjadi seorang dokter, ekonomi atau yang lain pada umumnya. Berkesempatan memproduksi film dengan cara yang murah karena perkembangan kamera membuat Putu berkeinginan membuat film. Sebelumnya aktif mengisi acara di TVRI Bali, menulis naskah drama dan sinetron membuat ia memiliki banyak pengalaman. Melihat proses pembuatan film, menekuni dunia penulisan dan sebagai sutradara merupakan modal baginya untuk membuat sebuah film. Dari sanalah awal mula perjalanan pria kelahiran 28 Maret ini membuat film dokumenter. “Wawasan saya tentang film dokumenter masih dicekoki oleh film dokumenter televisi,” ungkapnya. Harus dibedakan antara film dokumenter televisi dan film dokumenter yang sifatnya lebih kreatif. Dokumenter televisi sudah dipatok oleh karakter TV sehingga tidak boleh memiliki pandangan lain dengan garis pemerintah. Akan tetapi film dokumenter kreatif lebih bebas tanpa harus dibatasi pakem dan akan memakan waktu yang sangat lama dalam pembuatan. “Dokumenter televisi itu cukup sorot orangnya lalu tampilkan hal-hal yang mendukung cerita tetapi dokumenter
pada Masyarakat Bali untuk dapat memiliki Kelas KUMON sekaligus menjadi Pembimbing KUMON. Persyaratan utama adalah Wanita usia maksimal 45 tahun dengan
pendidikan minimal D3 semua jurusan. Informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi (0361) 232121; 0815-1314-5367 atau 0878-6099-5895.
Putu Satria Kusuma
kreatif harus mengadakan riset yang mendalam,” ujar suami dari Dewi Wahyuni tersebut. Jika di awal pembuatan film dokumenternya seperti di televisi maka saat ini ayah dari Cahaya Semesta dan Panji Sujaya ini membuat dokumenter kreatif. Sangat mencintai dunia film sehingga Putu tidak pernah merasa ada duka yang ia alami sebagai pembuat film. Namun, sebagai seorang manusia biasa ia mengaku sering mengalami stres dan letih akan tetapi ia mengaku masih dalam posisi yang gembira. Biaya juga adalah kendala dalam pembuatan filmnya. “Saya merasa tidak enak jika tidak memberikan apa-apa kepada narasumber,” ujarnya. PNS Dinas Kominfo Buleleng itu juga mengungkapkan harus sabar menunggu momen yang pas untuk membuat film. “Misal nya ingin mendokumenterkan
upacar a Eka Dasa Ludra, kan tidak mungkin saya buat upacara itu selain dengan cara menunggu 10 tahun lagi,” sambungnya. Pria yang aktif dalam sastra dan teater tersebut juga mengaku kendala lain dalam pembuatan film dokumenter adalah sulitnya mencari subjek film. “Kendalanya mencari subjek yang mau dijadikan tokoh untuk mengangkat peristiwa yang ingin saya jadikan film,” tambahnya. Peristiwa yang pernah terjadi di Buleleng salah satunya kerusuhan PKI, jika tidak kreatif bisa saja ditampilkan foto-foto tentang kejadian tersebut. Namun, dokumenter kreatif akan mencari salah satu tokoh yang mengalami atau tokoh yang mengambil keuntungan dari kerusuhan itu. Pria yang pernah menjadi juri film dokumenter se-Bali ini juga mengatakan bahwa waktu adalah kendala lain dalam pembuatan film dokumenter. “Jika film pendek saya bisa buat skenario hanya dalam seminggu dan tinggal cari pemain tetapi film dokumenter bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun,” ujar pria yang pernah membuat dokumenter Janger Kolok tersebut. Masih Dianaktirikan Disisi lain Putu Kusuma Wijaya seorang pembuat film dokumenter lulusan Belanda mengungkapkan bahwa membuat film dokumenter tidak ada sukanya. “Jika hidup sudah baikbaik saja dipenuhi berkah, tidak ada tantangan dan kegelisahan maka tidak perlu membuat film,” ujarnya. Kegelisahan tersebutlah yang selalu mendorongnya untuk membuat sebuah karya baik itu film atau dalam bentuk tulisan yang ingin diungkapkan. Sukanya adalah berhasil melarikan diri
Sambil Menyelam Minum Air Menonton film merupakan hobi Fernandes Azis. Sejak SMA ia sering menonton film. Film yang ia tonton antara lain Ada Apa dengan Cinta, Eiffel I’m in Love, Herry Potter, The Matrix, Lord of The Ring, hingga Deadpool. Pria kelahiran 10 Februari 1987 ini mengaku selain nonton film, ia juga gemar bermain tenis lapangan dan jalan-jalan. “Ada keseruan saat berkumpul dan membahas film. Jika film itu komedi kami bisa ketawa bersama.
siswa untuk mempelajarinya sendiri dan maju dengan kemampuannya sendiri. Saat ini PT KIE Indonesia memberikan kesempatan ke-
Edisi 894/28 MARET - 3 april 2016
Berawal dari keikutsertaannya dalam sebuah sanggar, membuat Putu Satria Kusuma aktif sebagai pemain dalam berbagai film. Tergabung ke dalam sanggar Putih membuatnya sibuk, namun di tengah kesibukannya ia masih punya waktu luang untuk bermain di berbagai jenis film salah satunya adalah film kolosal. Meskipun bukan menjadi peran utama, baginya hal tersebut sangat penting karena Putu sapaan akrabnya bisa mengamati dan berproses di dalamnya.
Franchise Kumon
Pendidikan merupakan modal penting bagi perkembangan setiap bangsa. Hal ini karena bangsa yang memperhatikan kualitas pendidikan adalah bangsa yang maju di segala bidang. Melihat begitu pentingnya pendidikan serta masih belum meratanya sarana yang ada di Indonesia, maka usaha bidang pendidikan merupakan peluang yang bisa diambil bagi mereka yang memiliki keahlian dalam bidang tersebut. Anda yang berminat membuka usaha di bidang pendidikan tetapi belum memiliki sistem yang mendukung usaha tersebut dapat memilih sistem franchise (waralaba). Kelebihan utama sistem franchise adalah tidak perlu mengenalkan brand dari awal karena brand tersebut sudah dikenal konsumen sebelumnya. Kelebihan lain adalah adanya program pelatihan yang dibutuhkan agar pemilik franchise memiliki bekal untuk mengelola usaha secara mandiri. KUMON adalah sistem fran-
Dara
Fernandes
Tetapi, jika film itu horror, kadang ada rasa takut saat membahasnya. Pulangnya jadi takut. Yang penting dengan menonton film bisa menambah wawasan dan imajinasi. Misalnya, jika kita menonton film yang menceritakan tentang ilmu pengetahuan seperti tata surya dan belajar bahasa asing. Jadi sambil menyelam minum air,” ujarnya. Fernandes me-
nambahkan dirinya menontom film di bioskop Denpasar. Genre film. Ia pilih yang ia sukai. Kadang ia menonton bersama teman-temannya, kadang juga bersama keluarga. Waktunya pun bisa dua minggu sekali atau kalau ada film baru rilis. “Saya tidak tahu apakah di Singaraja ada komunitas film atau tidak. Kalau saya dan teman-teman biasanya sete lah menonton film, langsung membahasanya,” ungkap Fernandes yang kadang menonton film melalui tv kabel atau mengunduh dari internet. Ia berharap di Singraja ada bioskop sehingga tidak perlu ke Denpasar untuk menonton. Minimal ada mini home theater atau bioskop kecil yang menampilkan film-film terbaru. –Vijay
sejenak dari kegelisahan, tambah pemiliki rumah film Sang Karsa tersebut. Sebagai pembuat film, ia mengaku harus berduka dalam artian ada hal yang menjadi pertanyaan dalam diri sehingga terlahir karya yang baik. Pembuat film juga harus sering menonton film. “Kalau tidak pernah nonton film wajar saja jika film yang dibuat jelek,”tambah anak dari tokoh olahragawan di Singaraja, Agus Sadikin Bakti. Baginya film dokumenter saat ini sudah berkembang dan memiliki cakupan yang lebih luas. Film dokumenter bukan lagi disaksikan sebagai sebuah film penyuluhan tetapi film yang dapat membuat menangis dan menusuk hati. Namun kenyataanya film dokumenter itu dianaktirikan. “Tidak ada satu pun bioskop di Indonesia ini yang mau memutar film dokumenter,” lanjut pria kelahiran 16 Desember ini. Maka dari itu ia berinisiatif untuk membuat rumah film yang beralamat di jalan Singaraja-Seririt km 13,5 sebagai tempat pemutaran film dokumenter. “Kami putar film dari orang yang berasal dari manapun dan kami apresiasi di
9
sini,” tambah kurator festival film di Denpasar tersebut. Pria yang saat ini bekerja sebagai assisten produksi televisi atau pembuat film yang akan syuting di Indonesia ini mengaku lebih memilih film dokumenter karena di Bali banyak hal yang bisa di dokumenterkan dan juga tidak membutuhkan orang banyak yang harus diajarkan berakting. Salah satu film dokumenternya yang di putar di festival Belanda adalah yang berjudul “Kaung”. -Wiwin
Putu Kusuma Wijaya
Indonetwork Targetkan 10 Juta Pengunjung Indonetwork.co.id, perusahaan e-commerce market place dan direktori bisnis terbesar dan terlengkap di Indonesia telah memiliki satu juta member pelaku bisnis, industri dan pengusaha usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang tergabung dalam komunitas Indonetwork. “Indonetwork.co.id selalu berkomitmen meningkatkan performa produk maupun informasi layanan para member dalam upaya memenangkan persaingan bisnis di Indonesia,” kata Ryn Hermawan Co-Founder Indonetwork.co.id. Selain memiliki satu juta member pelaku bisnis, industri dan pengusaha UMKM, pengunjung yang masuk ke website Indonetwork mencapai empat juta pengunjung per bulan. Dengan melihat trend positif di industri e-commerce saat ini, Indonetwork menargetkan memperoleh 10 juta pengunjung per bulannya pada akhir tahun 2016 ini. Dengan persaingan antar pelaku usaha e-commerce yang semakin ketat, Indonetwork yang berdiri sejak 2001 lalu, akan terus menambahkan berbagai fitur yang dibutuhkan pelaku usaha. Seperti fitur escrow account, jasa financing sampai jasa logistik yang terintegrasi, selain itu akan terus fokus memberdayakan para pelaku bisnis, industri dan pengusaha UMKM secara agresif. –Ngurah Budi
“The NextDev Pulang Kampung” Setelah tahun lalu mendapatkan 20 finalis dengan aplikasi digital yang dapat memberikan kontribusi positif untuk masyarakat, program NextDev tahun ini kembali melanjutkan rangkaian programnya dengan tajuk “NextDev Pulang Kampung”. Pada rangkaian acara ini, 20 finalis NextDev kembali ke 10 kota asal mereka masing-masing. Dari Denpasar, yang masuk finalis adalah ERZ4P. Vice President Corporate Communications Telkomsel, Adita Irawati mengatakan, NextDev Pulang Kampung merupakan upaya Telkomsel untuk membangun ekosistem digital yang berkelanjutan di Indonesia, di mana salah satunya melalui pengenalan digipreneurship atau kewirausahaan di bidang digital. “Kegiatan ini diharapkan dapat menginspirasi para calon developer muda Indonesia di berbagai daerah, serta menjembatani kolaborasi antara duta NextDev dengan pemerintah kota setempat dalam mencari solusi yang tepat untuk kota tersebut,” ujarnya. Bersamaan dengan program “NextDev Pulang Kampung” ini Telkomsel juga menggelar “Launching Apps ERZ4P” yaitu sebuah aplikasi yang berdiri di atas pemrograman Ruby On Rails yang ditujukan untuk para pelaku bisnis dari semua kalangan. Aplikasi ini mempermudah proses pencatatan data, laporan, promosi via email, dan proses remote transaksi dari jarak jauh. –Ngurah Budi
10
Style
Edisi 894/ 28 maret - 3 April 2016
Duta Endek Kota Denpasar
Usung Local Genius di HUT Kota Denpasar
Duta Endek Kota Denpasar turut meriahkan HUT ke-228 Kota Denpasar. Di tengah kemegahan Panggung Utama Taman Lumintang Denpasar, belum lama ini para Duta Endek menyuguhkan aksinya melalui “Save Our Heritage” .
D
ipilihnya tema “Save Our Heritage” adalah cerminan generasi muda dalammelestarikan kain endek sebagai wujud sebuah kebanggaan terhadap local genius di era global terutama di tengah berjalannya era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) saat ini. Sebanyak 24 orang Duta Endek Kota Denpasar berhasil memperagakan busana dari Belong Bali, Riris Indah Collection, milik dari Luh Riris Indah Rahma Putri, yang juga tercatat
sebagai juara pertama Duta Endek Tahun 2015. Penampilan para model ini ditunjang pula dengan polesan make up dan hair do oleh Jegeg Bali Salon. Di panggung utama juga sempat dipersembahkan Band Irama Praja binaan Pemerintah Kota Denpasar, yang dikoordinir oleh Sekda Kota Denpasar AA Rai Iswara yang melaksanakan ide dari Wali Kota Denpasar IB Rai Mantra untuk membangkitkannya kembali. Selain Band Irama Praja dengan tembang oldiesnya juga menampilkan Band
Pemkot Denpasar, yakni Audy & The Backstage di mana personilnya terdiri dari PNS Kota Denpasar yang ikut menghibur masyarakat. Masih di perayaan HUT ke-
228 Kota Denpasar, Duta Endek Kota Denpasar juga hadir di pameran publik, stan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Denpasar. Di sana mereka menampilkan beragam
pada bulan April. Proses seleksi bulan Agustus, sedangkan pembekalan yang akan berlangsung selama sebulan dilakukan mulai Agustus sampai September . “Selanjutnya, ada proses karantina
hasil karyanya di antaranya koleksi busana kasual, busana resmi dan dilengkapi catatan aktivitas Duta Endek Kota Denpasar sejak Tahun 2012 hingga Tahun 2015. Selain itu masih di stan Disperindag Kota Denpasar, juga dipamerkan kegiatan Sekolah Pasar dan Revitalisasi Pasar. Pada acara pameran tersebut, Wali Kota Denpasar dan Menteri Koperasi dan UKM, AA Puspayoga ketika berkunjung ke stan Disperindag, berkesempatan memberikan motivasi kepada para Duta Endek untuk tetap bersemangat, mandiri dan penuh kreativitas, menjadi sosok wirausaha muda yang sukses di arena MEA tanpa meninggalkan ciri khas sebagai generasi muda Indonesia. –ard
menuju Grand Final Duta Endek pada akhir September hingga awal Oktober,” lanjut Ketua Duta Endek 2015 yang juga Juara 1 Duta Endek Tahun 2015, IG Adi Brata Mahendra. -ard
Informasi Awal Persyaratan Pemilihan Duta Endek 2015
yang terdekat adalah bersiap mengikuti parade untuk Pesta Kesenian Bali. “Mereka, para Duta Endek akan hadir dalam balutan busana endek dengan tema “Cinta Tanah Air”. Seperti
Batik Bali Indonesia Fashion Week (IFW) kembali di gelar tahun ini di Jakarta Convention (JCC), Jakarta. Bintang Mira pemilik Bali Batikku, salah satu local brand dari Gianyar, Bali yang ikut menggelar fashion show.
Anak Muda Persiapkan Diri Menjadi Duta Endek Menurut Kepala Disperindag Kota Denpasar, Drs. I Wayan Gatra, M.Si., Duta Endek selama ini dibina langsung oleh Ketua Dekranasda Kota Denpasar, Ny. IA Selly D. Mantra. Istri Wali Kota Denpasar ini, selalu penuh semangat ketika mengajak para generasi muda Kota Denpasar untuk menjadi smart & beauty dengan bergabung bersama para Duta Endek Kota Denpasar. Tentunya dengan ikut berpartisipasi dalam “Pemilihan Duta Endek Kota Denpasar 2016” yang diselenggarakan setiap 2 Oktober 2016, melalui Disperindag. Sementara Kabid Perdagangan IA Dewi Citrawati, S.E., M. Si., didampingi Kasi Bina Usaha IGA Laxmy Saraswaty, S.S., M.Hum., mengatakan memang aktivitas Duta Endek setiap tahunnya selalu padat. Program
Pesona
apa implementasinya, mari kita lihat di parade PKB nanti,” ucapnya. Untuk sosialisasi ke sekolahsekolah dan perguruan tinggi, kegiatannya akan dilaksanakan
- WNI berusia 16-24 Tahun (belum menikah) - Berdomisili di Kota Denpasar - Mempunyai tinggi minimal 165 cm (Putri) dan 170 cm (Putra) - Memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik - Memahami pengetahuan tentang endek dan berwawasan luas, menguasai Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris dengan baik - Pendaftaran segera dibuka - Mengisi formulir pendaftaran dan melampirkan foto copy KTP atau Kartu Pelajar - Melampirkan foto original (4 R) sebanyak 2 buah - Close-up, tampak depan dan full body tampak depan, menggunakan pakaian endek bebas dan sopan - Formulir beserta lampiran dimasukan kedalam map. Untuk putra menggunakan map merah dan putri menggunakan map kuning. Ayo Bergabung Bersama Duta Endek Kota Denpasar (Smart and Beauty) SEKRETARIAT Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Denpasar Graha Sewaka Dharma Lantai III Lumintang Jalan Majapahit No 1 Denpasar Telepon : 0361 84957111Fax : 0361 8495712 perindag@denpasarkota.go.id www.balidenpasar trading.com
D
eretan karyanya tetap mengangkat dan mencerminkan keindahan budaya Bali Mengusung tema “The Metamorphosis of Batik Bali”, anggota APPMI Bali ini mengangkat tenun cita rasa Nusantara dalam desain yang wearable. Dengan konsep modern. Bintang Mira berhasil menghadirkan kesan dinamisnya wanita. Style yang disuguhkann juga bukan hanya modern tapi sangat modern dengan tambahan warna merah dan kuning menyala serta bordir sebagai variasi agar tidak bosan. Dengan menggunakan batik khas Bali, motif poleng dan patra, ia memodernisasi kain tradisional menjadi lebih cantik. Gaya yang terinspirasi dari motif patra swastika dan patra mesir yang sering dijumpai di ukiran Bali atau pinggiran kain prada. Pilihan warnanya adalah hitam, putih atau krem dan merah atau coklat sogan. Warna inilah yang dipegang Bintang Mira untuk identitas Batik
Bali. Selain itu desainer ini ingin pula menunjukkan bahwa Bali mempunyai batik sendiri dan sangat menarik walau motifnya sederhana. Maka tak dipungkiri jika koleksi busana rancangan Bintang Mira tak henti mendapat perhatian dari para fashionista yang datang di acara IFW. Bagaimana dengan Anda? -Sri Ardhini
Bintang Mira
Edisi 894/ 28 maret - 3 April 2016
15
14
Jelita
Edisi 894/ 28 MARET - 3 april 2016
Bugar
Edisi 894/ 28 MARET - 3 april 2016
Tingkatkan Stamina dengan Jahe Merah jahe merah. Sedangkan, jahe biasa unt u k m e n g o b a t i v e r t i g o , b e r sin-bersin, masuk angin, dan flu. Tiap hari, ia memproduksi 12 kilogram jamu. Semua proses ia lakukan dengan manual. Ia hanya mengerjakan berdua bersama suaminya, Tjok A dnyana yang pensiun dari PMI Badung. Proses pembuatan jamunya, dimulai dari mencuci rempah Adnyani sangat antusias. Ia mengata- sampai bersih. Setelah itu, rempah kan, dari 20 orang yang ikut pelatihan, dibersihkan dengan cara di-kerik hanya dia sendiri yang mampu eksis dengan pisau. Tujuannya, agar tidak dan mengembangkan jamu ini. kulit luar bersih tapi kulit dalam tidak Ada 4 jamu yang diproduksinya. terkelupas. Setelah bersih, semua baJahe, jahe merah, temulawak, dan han ditumbuk. Setelah halus, angkat, kunyit putih. Keempat bahan ini diremas-remas dengan tangan agar dipilihnya karena sangat berkhasiat airnya keluar dan disaring. “Untuk bagi kesehatan tubuh. “Temulawak 4 kilogram rempah setelah diperas memiliki 30 khasiat, kunyit 22 kha- biasanya keluar air saripati menjadi siat , jahe merah 8 khasiat, dan jahe 4 liter,” katanya. Saripati ditambah biasa hanya memiliki 4 khasiat,” kata dengan gula, dan dimasak dengan api perempuan yang menyabet penghar- kecil sekitar dua jam. gaan Runner Up I Ibu Teladan Bali, Menurut Tjok Adnyani, proses tahun 2005 ini. pengadukkan ini yang paling sulit Tjok Adnyani menyebutkan, be- karena biasanya kegagalan ada di berapa khasiat masing-masing rempah proses ini. “Teman-teman yang ikut tersebut. Temulawak berkhasiat un- pelatihan banyak yang gagal dalam tuk mencegah keropos tulang, sakit proses ini. Kalau salah dalam penempedu, mengobati gagal ginjal, saraf, gadukkan bukan tepung saripati yang stroke, dan kolesterol. didapat, tapi malah menjadi encer,” Kunyit dapat mencegah kan kata Tjok Adnyani. Karena itu, ker, mengencangkan kulit, men- perlu kesabaran dan ketekunan saat gobati maag, keropos tulang, mengaduk. Kuncinya, harus terus sangat baik untuk ibu menyusui, diaduk dengan sabar dan konsisten mengobati pendarahan dan kista. gerakannya, dan nyala kompor harus Jahe pada dasarnya sifat membantu kecil. menghangatkan atau menJ a m u ingkatkan suhu pada produksinya tubuh. Wedang ini tanpa jahe saat babahan pengus dimigawet, num saat berada di cuaca dingin
11
Penggunaaan bahan alam sebagai obat cenderung meningkat. Terlebih dengan adanya wacana “back to nature” dan krisis berkepanjangan yang mengakibatkan turunnya daya beli masyarakat. Tanaman obat banyak digunakan masyarakat dalam upaya preventif, promotif, dan rehabilitatif. Malah, banyak orang beranggapan, tanaman obat relatif lebih aman dibandingkan obat kimia.
Langkah-langkah membuat sanggul Bali (pusung tagel) dengan rambut sendiri
Membuat Pusung Tagel dengan Rambut Sendiri Ketika berbicara kecantikan, sangatlah kompleks. Karena kecantikan tak hanya meliputi wajah, namun juga tatanan rambut, cara berbusana, dan lainnya. Kecantikan perempuan Bali khususnya yang selalu lekat dengan kegiatan adat dan budaya, tak lepas dari penggunaan sanggul. Baik itu untuk ke Pura ataupun menghadiri acara adat.
S
anggul Bali yang umum digunakan perempuan Bali adalah pusung gonjer dan pusung tagel. “Pusung gonjer diterapkan pada remaja perempuan atau yang belum menstruasi. Sedangkan, pusung tagel diaplikasikan pada perempuan dewasa dalam arti luas, yakni mereka yang sudah menstruasi atau yang AA Ayu Ketut Agung sudah menikah,” ujar pakar tata rias dan busana adat Bali Dr. Anak Agung Ayu Ketut Agung, M.M. Mungkin masih banyak perempuan Bali yang berpikir bahwa membuat dan memasang pusung tagel itu susah dan ribet. Namun menurut Bu Agung, semua itu tak sesulit yang dibayangkan. Pusung tagel bisa diaplikasikan pada perempuan yang memiliki rambut panjang maupun pendek, dengan bantuan cemara/antol, hairpiece, atau dengan rambut sendiri (jika rambutnya panjang). Memasang sanggul biasanya dilakukan setelah selesai merias muka. Memasang sanggul adalah seni, karena itu harus dikerjakan dengan penuh perasaan demi keindahan. Berikut ini, Bu Agung membagikan tips membuat sanggul Bali (pusung tagel) dengan rambut sendiri (rambut panjang). 1.Siapkan alat yang diperlukan, yaitu sisir, jepit hitam kecil, jepit bebebk, hairnet tipis, dan hairspray. 2.Rambut dibagi dua, bagian depan dan belakang. Ambil rambut id depan sebatas telinga, kemudian ikat di bagian belakang. Ikat rambut bagian belakang setinggi lebih kurang 5 jari dari perbatasan pertum-
buhan rambut belakang. 3.Rapikan rambut depan, dengan disasak atau tanpa disasak. Jika disasak, mulai dari bagian tengah kemudian samping kiri dan kanan. Haluskan permukaan bagian rambut yang sudah disasak, bawa ke bagian belakang dan jepit. 4.Dengan bantuan sisir dan jari telunjuk, bentuklah sunggar. Sempurnakan bentuk sunggar dengan jalan memasukkan ibu jari. Agar bentuknya tetap, gunakan bantuan jepit. 5.Sisir rambut yang diikat tadi. Buat batun pusungan/ pusung gonjer, kemudian ditekuk/ditagel ke bagian dalam, sejajar dagu tanpa menyentuh pundak. Lalu, bungkus pusung tagel yang sudah terbentuk dengan hairnet.Rapikan dengan menyemprotkan hairspray. –Inten Indrawati
Tjok Adnyana
T
anaman obat yang dibuat jamu sudah biasa digunakan nenek mo yang untuk pencegahan dan pengobatan penyakit. Mulai dari tanaman rempah jahe, jahe merah, kunyit putih, dan temulawak sangat berkhasiat untuk menyehatkan dan menyegarkan badan. Salah satu ibu rumahtangga produktif yang kini sedang mencoba berbagi ke masyarakat Bali, Tjok Istri Agung Adnyani. Perempuan usia 67 tahun ini, memang sudah lansia. Namun, di usia senjanya ia tetap berkreasi dan berinovasi untuk mengembangkan dirinya. Bahkan, dari jamu racikannya, ia sudah membuktikan sendiri khasiatnya. Ia dan suaminya Tjok Agung Adnyana tetap sehat dan bugar di usia senja. “Saya rutin mengonsumsi jamu buatan saya sendiri ini, sebelum berbagi kepada orang lain, saya sendiri harus mencobanya. Memang badan terasa sehat, segar, penuh vitalitas, dan tetap awet muda,” ujar perempuan yang berulangtahun di Hari Kartini ini sembari tertawa. Tjok Adnyani memulai usaha jamunya sejak dua tahun lalu. Itu pun karena suatu kebetulan. Walaupun, ia sudah terbiasa mengonsumsi jamu dari tanaman herbal, namun, proses pembuatan jamunya masih sangat sederhana, karena hanya untuk konsumsi sendiri. Ketika, sang anak menawarkan ikut pelatihan tanaman obat, Tjok
atau daerah pengunungan. Jahe merah juga memiliki antitoksin atau antivirus untuk mengobati masuk angin dan batuk. Jahe merah berkhasiat untuk tenaga loyo, dan mengandung libido sehingga baik bagi laki-laki untuk meningkatkan stamina. Namun, bagi yang punya penyakit maag sebaiknya tidak mengonsumsi
alias murni sehingga sangat tahan disimpan dalam waktu yang lama. “Asal disimpan di tempat yang ke ring, jamu ini bisa bertahan sampai setahun,” kata Tjok Adnyani. Jamu buatannya ia sebut herbal drink. Menurut Tjok Adyani, ia ingin sekali mengajak masyarakat Bali untuk menjaga kesehatan dengan alami dan
Proses pembuatan jamu
Tjok Istri Agung Adnyani
terbiasa mengonsumsi jamu. “Tidak ada waktu khusus untuk minum jamu ini. Kapan pun bisa, karena itu saya sebut herbal drink. Apalagi, saat capek atau dahaga, atau setelah melakukan aktivitas, segera minum jamu ini. Jangan minum softdrink. Memang paling bagus, saat bangun pagi, minum segelas jamu ini,” kata Tjok Adnyani. Saat ini, ia memasarkan jamunya hanya dari mulut ke mulut dan ia aktif promosi di media sosial. Harga jamunya juga sangat terjangkau, satu kotak Rp 35 ribu, dan khusus jahe merah harganya Rp 40 ribu. Cara meminum jamu ini, ambil satu sendok serbuk tambahkan air hangat 150 ml atau satu cangkir, aduk-aduk dan segera minum. Bagi yang suka dingin, bisa ditambahkan air es agar lebih menyegarkan. Saat ini, ia sedang mencoba membuat dalam bentuk sachet sehingga memudahkan untuk menyeduhnya. Rencananya, satu sachet ia jual Rp 5000. Cerita menarik dituturkan Tjok Adnyani. Seorang lelaki paruh baya sedang menderita stroke. Ia mencoba mengonsumsi jamu temulawak buatan Tjok Adnyani. Hanya dalam waktu 3 bulan, ia sudah bisa berjalan kembali. “Awalnya, bapak itu hanya pakai tongkat dan tidak bisa berjalan. Sekarang sudah bisa jalan normal,” kata perempuan yang juga memproduksi sambal botolan ini. Begitu juga, salah seorang perempuan pemilik rumah makan yang menderita stroke hanya bisa duduk di kursi tak bisa berjalan. Saat dikenalkan jamu temulawak dan jahe merah ia sangat tertarik. “Baru dua minggu mengonsumsi, tiba-tiba ia menelepon saya sudah bisa jalan ke dapur untuk memasak. Karena tak percaya, saya
langsung menengok ke rumahnya. Ternyata benar,” kata Tjok Adnyani. Memang, kata dia, butuh kesabaran dan ketekunan dalam mengonsumsi jamu ini. Harus rutin dilakukan tiap hari, tanpa jeda. Kisah lain dituturkan cucunya yang sedang kuliah di Surabaya. Setiap ke kampus, ia selalu membawa minuman ini. Saat haus dia langsung mengonsumsinya. Ternyata, seorang dosen tertarik dengan minuman tersebut. Sekali mencoba, akhirnya sang dosen ketagihan. Sejak itu, herbal drink menjadi dikenal di kampus dan mulai banyak pembeli. Tjok Adnyani memang tak mau main-main soal produk jamu kesehat an buatannya. Ia mengatakan, membuat jamu tak hanya asal, namun, ia menyertakan spirit dan semangatnya ke dalam jamu tersebut sehingga dalam doanya ia berharap, siapapun yang meminum agar bermanfaat bagi kesehatan mereka, baik untuk pencegahan dan pengobatan. Jadi, ia tak melulu hanya bisnis. Bahkan, ia tak mau disebut pebisnis. “Saya lebih suka disebut produktif karena selalu berkreasi dan berinovasi dalam berbagai hal,” katanya dengan semangat. Dalam benaknya, memang ia selalu tergiang, apa lagi yang bisa ia lakukan untuk membantu masyarakat. Selain berbagi, ia bisa juga mendapatkan rezeki untuk kehidupannya sehari-hari. Bagi Tjok Adnyani, usia bukanlah penghalang untuk berbuat sesuatu. Namun, dalam prinsipnya, tekad dan semangat harus selalu ada selama kita masih hidup untuk bisa berbagi kepada orang lain. –Wirati Astiti
Kuliner Blayag pakai Beras Terlarang
Edisi 894/ 28 maret - 3 April 2016
12
Menu Unik yang Menggoda Selera Spesial untuk merayakan Easter Day, chef Sonny dari Happy Chappy Bar and Restaurant berbagi menu spesial dengan tokoh.
Chef Sonny
M
akanan yang disajikan dengan piring sudah biasa. Kini, ada inovasi baru dari Happy Chappy Bar & Restaurant. Namanya, seafood basket. Sebagai alat penyajian, ada satu kreasi bentuk keranjang bulat yang dibuat dari jalinan kentang krispi. Menurut chef Sonny, bentuk keranjang ini sangat unik dan tentu saja dalam pembuatannya, membutuhkan kreativitas tinggi. “Kentang awalnya dicetak dengan alat pemotong agar menyerupai utas tali yang kemudian bisa dijalin sehingga menyerupai keranjang,” ujar lelaki yang sudah dua tahun bekerja di restoran yang berlokasi di Jalan Braban 62, Br. Taman, Kerobokan Kelod, ini. Kentang ini kemudian dilekatkan di mangkuk agar menempel. Setelah itu, digoreng dengan minyak banyak sampai benar-benar terendam. Kemudian, pelan-pelan, lepaskan kentang dari mangkuk dan goreng sampai kuning kecokelatan. Chef Sonny mengatakan, dalam bereksperimen membuat keranjang dari kentang krispi tentu tantangannya lebih berat. “Kalau memakai mi itu sudah biasa, kurang gregetnya. Ini kami buat yang lebih spesial. Memang tingkat kesulitannya lebih besar, tapi itu membuat kami tertantang untuk
menciptakan kreasi kentang krispi dengan bentuk keranjang ini. Menggorengnya juga ada tekniknya agar jalinan kentang tidak lepas,” ucap lelaki asal Ambon ini. Setelah kentang digoreng kemudian ditiriskan agar minyaknya tak menetes lagi dan kentang menjadi krispi. Keranjang kentang krispi ditata di piring. Kemudian, tuang makanan yang terdiri dari campuran brokoli, cumi-cumi, udang, dan ikan yang ditambahkan saus XO. “Tampilannya yang cantik sangat menggoda untuk menyantapnya. Anda juga bisa sekaligus langsung menyantap keranjang yang terbuat dari kentang krispi yang dijadikan alas makanan. Sangat cocok padu-padan makanan ini karena ada rasa krispi dan lembut. Menu ini jadi best seller di restoran ini,” ujarnya. Menu unik yang kedua, adalah Crab Clo. Makanan ini terlihat seperti kroket, tapi isinya cangkang kepiting yang dibungkus dengan ham udang. “Menu ini terbuat dari udang yang sudah dihancurkan kemudian diberi bumbu dan saus. Adonan inilah yang membungkus cangkang, kemudian diberi tepung roti dan siap digoreng. “Saat awal digigit, crab clo terasa krispi, kemudian mulai terasa lembutnya daging kepiting yang bercampur udang. Crab clo dimakan bersama saus sehingga lebih afdol rasanya,” kata chef Sonny. Menu yang paling membuat tak jub adalah xiaolongpao. Makanan
S
ebagian besar ma syarakat Buleleng sudah pernah mencicipi makanan tradisional khas desa Penglatan, yaitu Blayag. Dibuat dari tipat (ketupat) yang merupakan gulungan janur, membuat Blayag memiliki citarasa tinggi. Pada umumnya Blayag dibuat dengan bahan dasar beras putih, disajikan dengan sayur urab, ayam suir, keripik ayam, sambal, dan
ini berwarna merah merona, seolah terlihat seperti kue ku. Namun, jangan terkecoh, menu ini adalah steamboat atau makanan kukus yang berbahan dasar daging yakni kepiting. Menurut chef Sonny, warna merah merona sengaja ditampilkan sebagai sesuatu yang lain daripada yang lain. Xialongpao terbuat dari satu adonan kulit dan satu adonan isi. Untuk pembuatan kulit terbuat dari tepung xiaolongpao yang diimpor langsung dari Tiongkok. Sedangkan isinya, terbuat dari daging kepiting dan ada sausnya. Cara memakannya juga sangat unik. Anda harus menusuk sedikit kulitnya, kemudian akan keluar cairan yang berupa sausnya, segera disedot. Setelah itu, baru dimakan seperti biasa. Tujuan menyantap seperti ini, agar saat dimakan langsung sausnya tidak tumpah. Menu steamboat yang unik lagi adalah bakpao kelinci. Namanya bakpao kelinci bukan berarti dalamnya isi daging kelinci. Bakpao kelinci hanya sebutan karena bakpao ini dibentuk
Xialongpao menyerupai kelinci. Namun, isinya menu Western, ada pilihan wok charred seperti pastel. beef tenderloin with black paper sauce. Menurut chef Sonny, beberapa Sebenarnya menu ini seperti steak menu ini merupakan kreasi dan pada umumnya, namun yang spesial inovasi dari Happy Chappy Bar and adalah rasanya yang lebih gurih dan Restaurant untuk menarik minat agak pedas karena ada saus yang terkonsumen datang. Walaupun terli- buat dari merica hitam, dan potongan hat sangat unik, untuk harga sangat kentang yang besar-besar yang didaterjangkau. tangkan dari Malang, Jawa Timur. Sementara, bagi yang tertarik –Wirati Astiti
yang paling khas adalah kuah yang mungkin tidak ditemui di daerah lain. Rasanya yang enak dan tingginya minat masyarakat untuk menikmati membuat blayag tidak hanya dijumpai di Desa Penglatan saja. Sudah banyak penjual Blayag yang ada baik di pedesaan maupun di kota Singaraja dengan rasa yang tidak kalah sedap dari daerah asalnya. Menjamurnya penjual makanan tradisional ini membuat Luh Suas-
Blayag
Edisi 894/ 28 maret - 3 April 2016
titi pemiliki warung Rumah Makan Sehat (RMS) di Jalan Gajahmada berinovasi dalam cara pengolahannya. Jika pada umumnya Blayag dibuat dari beras putih, maka Blayagnya dibuat dari beras hitam. beras hitam atau yang disebut beras terlarang merupakan beras di masa lalu yang konon hanya boleh dikonsumsi oleh keluarga raja dan terlarang bagi masyarakat jelata. Dipilihnya beras hitam sebagai bahan pembuat Blayag karena mengandung antioksidan yang paling tinggi dibandingkan beras putih dan beras merah. Selain itu, beras hitam juga lebih banyak mengandung serat dan vitamin E namun lebih sedikit mengandung gula. Banyaknya kandungan baik yang ada dalam beras hitam juga sangat dipercaya dapat mencegah berbagai macam jenis penyakit, di antaranya mencegah kanker, diabetes, penyakit jantung, obat anemia, diet, dan anti penuaan. Selain unik, rasa dari Blayag yang terbuat dari beras hitam pun sangat enak. Maka bukan hal yang mustahil warung yang buka dari jam 07 pagi hingga 10 malam itu selalu ramai dikunjungi pembeli. Bukan hanya Blayag, tetapi di warung ini juga menyediakan beberapa menu yang tentunya berbahan dasar beras hitam seperti lalapan dengan nasi beras hitam, bubur, nasi campur, dan nasi goreng. Akan lebih nikmat jika dinikmati dengan jus tape dari beras hitam yang dapat menyegarkan tenggorokan. –Wiwin
Mocktail Segar Tak semua orang suka minuman beralkohol. Namun, mereka juga, ingin mencicipi minuman yang mirip dengan cocktail sehingga terciptakan mocktail. Mocktail ala Happy Chappy Bar and Restaurant ini menyajikan dua minuman segar. Minum an pertama, red dragon yang terbuat dari es teh yang diberi campuran sirup, dan potongan buah naga dan rasberi. Minuman kedua, jungle tea, es teh ditambah jus jeruk dan jus mangga ditambah daun mint, dan potongan jeruk sunkist. Chef Sonny mengatakan, minuman ini tak mengandung alkohol sehingga dapat menjadi
Bakpao kelinci
ti
a Nikm
Chinesse Food
Hanya di...
& Aneka Es Taiwan
Cafe Santai
Gratis Mix Blanded
Setiap pembelanjaan Rp 100 ribu Es Kasih Sayang
pilihan bagi yang ingin menik mati cocktail tanpa alkohol atau mocktail. –Wirati Astiti
Murah Meriah & Bersih
Sapo Tahu
Berlaku Mulai 1 s.d. 30 April 2016
Jln. Raya Sesetan No. 293 Denpasar. Tlp. (0361) 7440658, 7427678
Kompetisi Bartender Kompetisi pertama Mixology Hotel paling bergengsi diselenggarakan, 17 Maret, di De Basilico Kitchen and Bar, The ONE Legian. Kompetisi ini menampilkan 30 bartender terbaik Indonesia, dengan juri Bar Manager Stadium Café Kuta Bali Samuel Morabito, Asosiasi Bartender Indonesia Mr. Ngurah Udayana, dan Head Mixologist Woo Bar, W Hotel Seminyak Gusti Ari Naryana. General Manager The ONE Legian Dewi Mas Bloem mengatakan lomba ini bagian dari program terintegrasi dari The ONE Legian yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas, pengetahuan, dan pengalaman para bartender. Bartender adalah orang yang meracik dan menyajikan minuman beralkohol atau non alcohol untuk tamu di konter bar. Karena itu, diperlukan suatu keterampilan dalam mencampur minuman agar dapat menyajikan minuman yang berkualitas kepada tamu. Agung Yoga, The Vice President of Asian Bartender Association dan juga The Assistant Food and Beverage Manager of The ONE Legian mengatakan, setiap tahun partisipan yang ikut lomba makin meningkat, dan itu menunjukkan semakin banyak generasi muda yang tertarik menjadi bartender. Ia mengatakan siap menyambut kompetisi bartender terbesar yang bertajuk the Stars War competition as World Class Bartender Flair Competition yang akan diadakan di Bali dan The One Legian sebagai tuan rumah. Juri menetapkan tiga pemenang dalam ajang kontes bartender tersebut ykani, Ketut Alit Darmawan dari Fantasy Bar, I Made Agus Borty Jessika dari W Hotel Seminyak , dan Kenny Soetomo dari Bar Academy. –Wirati Astiti
Kangkung Hot Plate
Gulai Daun Singkong Sarwan
Seafood basket
13
Bahan: 300 gr : daun singkong muda 200 ml : santan encer 200 ml : santan kental 3 ruas : jari lengkuas memarkan 3 lembar : daun salam 3 sdm : teri medan goreng kering Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya Bumubu yang Dihaluskan : 5 buah : cabe besar merah 7 buah : cabe rawit 9 buah : bawang merah 4 siung : bawang putih 3 butir : kemiri sangrai 2 ruas : jari jahe
Cara Membuat : - Rebus daun singkong sampai lunak dan matang lalu tiriskan, peras, potong-potong. - Tumis bumbu halus sampai harum, masukkan lengkuas dan daun salam, lalu masukkan santan encer, biarkan sampai mendidih. - Masukkan daun singkong, aduk-
aduk hingga tercampur, lalu masukkan gula, garam dan kaldu bubuk, diamkan sampai mendidih dan kecilkan api. Masukkan santan kental, aduk-aduk agar santan tidak pecah, masak sampai mendidih, angkat. - Siap disajikan bersama gorengan teri dan taburan bawang putih goreng di atasnya.
Bahan : 300 gr 10 butir 1 buah 250 gr 1 buah 2 buah 6 buah 2 ruas 2 ruas 2 sdm
: kangkung akar, siangi : telur puyuh, rebus, kupas kulitnya : paprika merah potong dadu : daging sapi tanpa lemak, rebus sampai lunak, potong dadu : bawang bombai cincang halus : cabe merah besar iris menurut selera : cabe rawit, cincang halus : lengkuas memarkan : jari jahe memarkan : margarine
4 sdm : saus tiram 3 sdm : kecap manis 3 sdm : saus tomat 2 sdm : saus sambal Air, gula, garam, kaldu bubuk secukupnya. Cara Membuat : - Tumis irisan bawang bombai dan bawang putih bersama margarin, lalu masukkan lengkuas, jahe, tumis hingga matang dan harum. Masukkan semuan bahan dan kangkung juga, lalu aduk-aduk hingga tercampur rata dan bumbu meresap dan matang, siap untuk disajikan.
Kuliner Blayag pakai Beras Terlarang
Edisi 894/ 28 maret - 3 April 2016
12
Menu Unik yang Menggoda Selera Spesial untuk merayakan Easter Day, chef Sonny dari Happy Chappy Bar and Restaurant berbagi menu spesial dengan tokoh.
Chef Sonny
M
akanan yang disajikan dengan piring sudah biasa. Kini, ada inovasi baru dari Happy Chappy Bar & Restaurant. Namanya, seafood basket. Sebagai alat penyajian, ada satu kreasi bentuk keranjang bulat yang dibuat dari jalinan kentang krispi. Menurut chef Sonny, bentuk keranjang ini sangat unik dan tentu saja dalam pembuatannya, membutuhkan kreativitas tinggi. “Kentang awalnya dicetak dengan alat pemotong agar menyerupai utas tali yang kemudian bisa dijalin sehingga menyerupai keranjang,” ujar lelaki yang sudah dua tahun bekerja di restoran yang berlokasi di Jalan Braban 62, Br. Taman, Kerobokan Kelod, ini. Kentang ini kemudian dilekatkan di mangkuk agar menempel. Setelah itu, digoreng dengan minyak banyak sampai benar-benar terendam. Kemudian, pelan-pelan, lepaskan kentang dari mangkuk dan goreng sampai kuning kecokelatan. Chef Sonny mengatakan, dalam bereksperimen membuat keranjang dari kentang krispi tentu tantangannya lebih berat. “Kalau memakai mi itu sudah biasa, kurang gregetnya. Ini kami buat yang lebih spesial. Memang tingkat kesulitannya lebih besar, tapi itu membuat kami tertantang untuk
menciptakan kreasi kentang krispi dengan bentuk keranjang ini. Menggorengnya juga ada tekniknya agar jalinan kentang tidak lepas,” ucap lelaki asal Ambon ini. Setelah kentang digoreng kemudian ditiriskan agar minyaknya tak menetes lagi dan kentang menjadi krispi. Keranjang kentang krispi ditata di piring. Kemudian, tuang makanan yang terdiri dari campuran brokoli, cumi-cumi, udang, dan ikan yang ditambahkan saus XO. “Tampilannya yang cantik sangat menggoda untuk menyantapnya. Anda juga bisa sekaligus langsung menyantap keranjang yang terbuat dari kentang krispi yang dijadikan alas makanan. Sangat cocok padu-padan makanan ini karena ada rasa krispi dan lembut. Menu ini jadi best seller di restoran ini,” ujarnya. Menu unik yang kedua, adalah Crab Clo. Makanan ini terlihat seperti kroket, tapi isinya cangkang kepiting yang dibungkus dengan ham udang. “Menu ini terbuat dari udang yang sudah dihancurkan kemudian diberi bumbu dan saus. Adonan inilah yang membungkus cangkang, kemudian diberi tepung roti dan siap digoreng. “Saat awal digigit, crab clo terasa krispi, kemudian mulai terasa lembutnya daging kepiting yang bercampur udang. Crab clo dimakan bersama saus sehingga lebih afdol rasanya,” kata chef Sonny. Menu yang paling membuat tak jub adalah xiaolongpao. Makanan
S
ebagian besar ma syarakat Buleleng sudah pernah mencicipi makanan tradisional khas desa Penglatan, yaitu Blayag. Dibuat dari tipat (ketupat) yang merupakan gulungan janur, membuat Blayag memiliki citarasa tinggi. Pada umumnya Blayag dibuat dengan bahan dasar beras putih, disajikan dengan sayur urab, ayam suir, keripik ayam, sambal, dan
ini berwarna merah merona, seolah terlihat seperti kue ku. Namun, jangan terkecoh, menu ini adalah steamboat atau makanan kukus yang berbahan dasar daging yakni kepiting. Menurut chef Sonny, warna merah merona sengaja ditampilkan sebagai sesuatu yang lain daripada yang lain. Xialongpao terbuat dari satu adonan kulit dan satu adonan isi. Untuk pembuatan kulit terbuat dari tepung xiaolongpao yang diimpor langsung dari Tiongkok. Sedangkan isinya, terbuat dari daging kepiting dan ada sausnya. Cara memakannya juga sangat unik. Anda harus menusuk sedikit kulitnya, kemudian akan keluar cairan yang berupa sausnya, segera disedot. Setelah itu, baru dimakan seperti biasa. Tujuan menyantap seperti ini, agar saat dimakan langsung sausnya tidak tumpah. Menu steamboat yang unik lagi adalah bakpao kelinci. Namanya bakpao kelinci bukan berarti dalamnya isi daging kelinci. Bakpao kelinci hanya sebutan karena bakpao ini dibentuk
Xialongpao menyerupai kelinci. Namun, isinya menu Western, ada pilihan wok charred seperti pastel. beef tenderloin with black paper sauce. Menurut chef Sonny, beberapa Sebenarnya menu ini seperti steak menu ini merupakan kreasi dan pada umumnya, namun yang spesial inovasi dari Happy Chappy Bar and adalah rasanya yang lebih gurih dan Restaurant untuk menarik minat agak pedas karena ada saus yang terkonsumen datang. Walaupun terli- buat dari merica hitam, dan potongan hat sangat unik, untuk harga sangat kentang yang besar-besar yang didaterjangkau. tangkan dari Malang, Jawa Timur. Sementara, bagi yang tertarik –Wirati Astiti
yang paling khas adalah kuah yang mungkin tidak ditemui di daerah lain. Rasanya yang enak dan tingginya minat masyarakat untuk menikmati membuat blayag tidak hanya dijumpai di Desa Penglatan saja. Sudah banyak penjual Blayag yang ada baik di pedesaan maupun di kota Singaraja dengan rasa yang tidak kalah sedap dari daerah asalnya. Menjamurnya penjual makanan tradisional ini membuat Luh Suas-
Blayag
Edisi 894/ 28 maret - 3 April 2016
titi pemiliki warung Rumah Makan Sehat (RMS) di Jalan Gajahmada berinovasi dalam cara pengolahannya. Jika pada umumnya Blayag dibuat dari beras putih, maka Blayagnya dibuat dari beras hitam. beras hitam atau yang disebut beras terlarang merupakan beras di masa lalu yang konon hanya boleh dikonsumsi oleh keluarga raja dan terlarang bagi masyarakat jelata. Dipilihnya beras hitam sebagai bahan pembuat Blayag karena mengandung antioksidan yang paling tinggi dibandingkan beras putih dan beras merah. Selain itu, beras hitam juga lebih banyak mengandung serat dan vitamin E namun lebih sedikit mengandung gula. Banyaknya kandungan baik yang ada dalam beras hitam juga sangat dipercaya dapat mencegah berbagai macam jenis penyakit, di antaranya mencegah kanker, diabetes, penyakit jantung, obat anemia, diet, dan anti penuaan. Selain unik, rasa dari Blayag yang terbuat dari beras hitam pun sangat enak. Maka bukan hal yang mustahil warung yang buka dari jam 07 pagi hingga 10 malam itu selalu ramai dikunjungi pembeli. Bukan hanya Blayag, tetapi di warung ini juga menyediakan beberapa menu yang tentunya berbahan dasar beras hitam seperti lalapan dengan nasi beras hitam, bubur, nasi campur, dan nasi goreng. Akan lebih nikmat jika dinikmati dengan jus tape dari beras hitam yang dapat menyegarkan tenggorokan. –Wiwin
Mocktail Segar Tak semua orang suka minuman beralkohol. Namun, mereka juga, ingin mencicipi minuman yang mirip dengan cocktail sehingga terciptakan mocktail. Mocktail ala Happy Chappy Bar and Restaurant ini menyajikan dua minuman segar. Minum an pertama, red dragon yang terbuat dari es teh yang diberi campuran sirup, dan potongan buah naga dan rasberi. Minuman kedua, jungle tea, es teh ditambah jus jeruk dan jus mangga ditambah daun mint, dan potongan jeruk sunkist. Chef Sonny mengatakan, minuman ini tak mengandung alkohol sehingga dapat menjadi
Bakpao kelinci
ti
a Nikm
Chinesse Food
Hanya di...
& Aneka Es Taiwan
Cafe Santai
Gratis Mix Blanded
Setiap pembelanjaan Rp 100 ribu Es Kasih Sayang
pilihan bagi yang ingin menik mati cocktail tanpa alkohol atau mocktail. –Wirati Astiti
Murah Meriah & Bersih
Sapo Tahu
Berlaku Mulai 1 s.d. 30 April 2016
Jln. Raya Sesetan No. 293 Denpasar. Tlp. (0361) 7440658, 7427678
Kompetisi Bartender Kompetisi pertama Mixology Hotel paling bergengsi diselenggarakan, 17 Maret, di De Basilico Kitchen and Bar, The ONE Legian. Kompetisi ini menampilkan 30 bartender terbaik Indonesia, dengan juri Bar Manager Stadium Café Kuta Bali Samuel Morabito, Asosiasi Bartender Indonesia Mr. Ngurah Udayana, dan Head Mixologist Woo Bar, W Hotel Seminyak Gusti Ari Naryana. General Manager The ONE Legian Dewi Mas Bloem mengatakan lomba ini bagian dari program terintegrasi dari The ONE Legian yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas, pengetahuan, dan pengalaman para bartender. Bartender adalah orang yang meracik dan menyajikan minuman beralkohol atau non alcohol untuk tamu di konter bar. Karena itu, diperlukan suatu keterampilan dalam mencampur minuman agar dapat menyajikan minuman yang berkualitas kepada tamu. Agung Yoga, The Vice President of Asian Bartender Association dan juga The Assistant Food and Beverage Manager of The ONE Legian mengatakan, setiap tahun partisipan yang ikut lomba makin meningkat, dan itu menunjukkan semakin banyak generasi muda yang tertarik menjadi bartender. Ia mengatakan siap menyambut kompetisi bartender terbesar yang bertajuk the Stars War competition as World Class Bartender Flair Competition yang akan diadakan di Bali dan The One Legian sebagai tuan rumah. Juri menetapkan tiga pemenang dalam ajang kontes bartender tersebut ykani, Ketut Alit Darmawan dari Fantasy Bar, I Made Agus Borty Jessika dari W Hotel Seminyak , dan Kenny Soetomo dari Bar Academy. –Wirati Astiti
Kangkung Hot Plate
Gulai Daun Singkong Sarwan
Seafood basket
13
Bahan: 300 gr : daun singkong muda 200 ml : santan encer 200 ml : santan kental 3 ruas : jari lengkuas memarkan 3 lembar : daun salam 3 sdm : teri medan goreng kering Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya Bumubu yang Dihaluskan : 5 buah : cabe besar merah 7 buah : cabe rawit 9 buah : bawang merah 4 siung : bawang putih 3 butir : kemiri sangrai 2 ruas : jari jahe
Cara Membuat : - Rebus daun singkong sampai lunak dan matang lalu tiriskan, peras, potong-potong. - Tumis bumbu halus sampai harum, masukkan lengkuas dan daun salam, lalu masukkan santan encer, biarkan sampai mendidih. - Masukkan daun singkong, aduk-
aduk hingga tercampur, lalu masukkan gula, garam dan kaldu bubuk, diamkan sampai mendidih dan kecilkan api. Masukkan santan kental, aduk-aduk agar santan tidak pecah, masak sampai mendidih, angkat. - Siap disajikan bersama gorengan teri dan taburan bawang putih goreng di atasnya.
Bahan : 300 gr 10 butir 1 buah 250 gr 1 buah 2 buah 6 buah 2 ruas 2 ruas 2 sdm
: kangkung akar, siangi : telur puyuh, rebus, kupas kulitnya : paprika merah potong dadu : daging sapi tanpa lemak, rebus sampai lunak, potong dadu : bawang bombai cincang halus : cabe merah besar iris menurut selera : cabe rawit, cincang halus : lengkuas memarkan : jari jahe memarkan : margarine
4 sdm : saus tiram 3 sdm : kecap manis 3 sdm : saus tomat 2 sdm : saus sambal Air, gula, garam, kaldu bubuk secukupnya. Cara Membuat : - Tumis irisan bawang bombai dan bawang putih bersama margarin, lalu masukkan lengkuas, jahe, tumis hingga matang dan harum. Masukkan semuan bahan dan kangkung juga, lalu aduk-aduk hingga tercampur rata dan bumbu meresap dan matang, siap untuk disajikan.
14
Jelita
Edisi 894/ 28 MARET - 3 april 2016
Bugar
Edisi 894/ 28 MARET - 3 april 2016
Tingkatkan Stamina dengan Jahe Merah jahe merah. Sedangkan, jahe biasa unt u k m e n g o b a t i v e r t i g o , b e r sin-bersin, masuk angin, dan flu. Tiap hari, ia memproduksi 12 kilogram jamu. Semua proses ia lakukan dengan manual. Ia hanya mengerjakan berdua bersama suaminya, Tjok A dnyana yang pensiun dari PMI Badung. Proses pembuatan jamunya, dimulai dari mencuci rempah Adnyani sangat antusias. Ia mengata- sampai bersih. Setelah itu, rempah kan, dari 20 orang yang ikut pelatihan, dibersihkan dengan cara di-kerik hanya dia sendiri yang mampu eksis dengan pisau. Tujuannya, agar tidak dan mengembangkan jamu ini. kulit luar bersih tapi kulit dalam tidak Ada 4 jamu yang diproduksinya. terkelupas. Setelah bersih, semua baJahe, jahe merah, temulawak, dan han ditumbuk. Setelah halus, angkat, kunyit putih. Keempat bahan ini diremas-remas dengan tangan agar dipilihnya karena sangat berkhasiat airnya keluar dan disaring. “Untuk bagi kesehatan tubuh. “Temulawak 4 kilogram rempah setelah diperas memiliki 30 khasiat, kunyit 22 kha- biasanya keluar air saripati menjadi siat , jahe merah 8 khasiat, dan jahe 4 liter,” katanya. Saripati ditambah biasa hanya memiliki 4 khasiat,” kata dengan gula, dan dimasak dengan api perempuan yang menyabet penghar- kecil sekitar dua jam. gaan Runner Up I Ibu Teladan Bali, Menurut Tjok Adnyani, proses tahun 2005 ini. pengadukkan ini yang paling sulit Tjok Adnyani menyebutkan, be- karena biasanya kegagalan ada di berapa khasiat masing-masing rempah proses ini. “Teman-teman yang ikut tersebut. Temulawak berkhasiat un- pelatihan banyak yang gagal dalam tuk mencegah keropos tulang, sakit proses ini. Kalau salah dalam penempedu, mengobati gagal ginjal, saraf, gadukkan bukan tepung saripati yang stroke, dan kolesterol. didapat, tapi malah menjadi encer,” Kunyit dapat mencegah kan kata Tjok Adnyani. Karena itu, ker, mengencangkan kulit, men- perlu kesabaran dan ketekunan saat gobati maag, keropos tulang, mengaduk. Kuncinya, harus terus sangat baik untuk ibu menyusui, diaduk dengan sabar dan konsisten mengobati pendarahan dan kista. gerakannya, dan nyala kompor harus Jahe pada dasarnya sifat membantu kecil. menghangatkan atau menJ a m u ingkatkan suhu pada produksinya tubuh. Wedang ini tanpa jahe saat babahan pengus dimigawet, num saat berada di cuaca dingin
11
Penggunaaan bahan alam sebagai obat cenderung meningkat. Terlebih dengan adanya wacana “back to nature” dan krisis berkepanjangan yang mengakibatkan turunnya daya beli masyarakat. Tanaman obat banyak digunakan masyarakat dalam upaya preventif, promotif, dan rehabilitatif. Malah, banyak orang beranggapan, tanaman obat relatif lebih aman dibandingkan obat kimia.
Langkah-langkah membuat sanggul Bali (pusung tagel) dengan rambut sendiri
Membuat Pusung Tagel dengan Rambut Sendiri Ketika berbicara kecantikan, sangatlah kompleks. Karena kecantikan tak hanya meliputi wajah, namun juga tatanan rambut, cara berbusana, dan lainnya. Kecantikan perempuan Bali khususnya yang selalu lekat dengan kegiatan adat dan budaya, tak lepas dari penggunaan sanggul. Baik itu untuk ke Pura ataupun menghadiri acara adat.
S
anggul Bali yang umum digunakan perempuan Bali adalah pusung gonjer dan pusung tagel. “Pusung gonjer diterapkan pada remaja perempuan atau yang belum menstruasi. Sedangkan, pusung tagel diaplikasikan pada perempuan dewasa dalam arti luas, yakni mereka yang sudah menstruasi atau yang AA Ayu Ketut Agung sudah menikah,” ujar pakar tata rias dan busana adat Bali Dr. Anak Agung Ayu Ketut Agung, M.M. Mungkin masih banyak perempuan Bali yang berpikir bahwa membuat dan memasang pusung tagel itu susah dan ribet. Namun menurut Bu Agung, semua itu tak sesulit yang dibayangkan. Pusung tagel bisa diaplikasikan pada perempuan yang memiliki rambut panjang maupun pendek, dengan bantuan cemara/antol, hairpiece, atau dengan rambut sendiri (jika rambutnya panjang). Memasang sanggul biasanya dilakukan setelah selesai merias muka. Memasang sanggul adalah seni, karena itu harus dikerjakan dengan penuh perasaan demi keindahan. Berikut ini, Bu Agung membagikan tips membuat sanggul Bali (pusung tagel) dengan rambut sendiri (rambut panjang). 1.Siapkan alat yang diperlukan, yaitu sisir, jepit hitam kecil, jepit bebebk, hairnet tipis, dan hairspray. 2.Rambut dibagi dua, bagian depan dan belakang. Ambil rambut id depan sebatas telinga, kemudian ikat di bagian belakang. Ikat rambut bagian belakang setinggi lebih kurang 5 jari dari perbatasan pertum-
buhan rambut belakang. 3.Rapikan rambut depan, dengan disasak atau tanpa disasak. Jika disasak, mulai dari bagian tengah kemudian samping kiri dan kanan. Haluskan permukaan bagian rambut yang sudah disasak, bawa ke bagian belakang dan jepit. 4.Dengan bantuan sisir dan jari telunjuk, bentuklah sunggar. Sempurnakan bentuk sunggar dengan jalan memasukkan ibu jari. Agar bentuknya tetap, gunakan bantuan jepit. 5.Sisir rambut yang diikat tadi. Buat batun pusungan/ pusung gonjer, kemudian ditekuk/ditagel ke bagian dalam, sejajar dagu tanpa menyentuh pundak. Lalu, bungkus pusung tagel yang sudah terbentuk dengan hairnet.Rapikan dengan menyemprotkan hairspray. –Inten Indrawati
Tjok Adnyana
T
anaman obat yang dibuat jamu sudah biasa digunakan nenek mo yang untuk pencegahan dan pengobatan penyakit. Mulai dari tanaman rempah jahe, jahe merah, kunyit putih, dan temulawak sangat berkhasiat untuk menyehatkan dan menyegarkan badan. Salah satu ibu rumahtangga produktif yang kini sedang mencoba berbagi ke masyarakat Bali, Tjok Istri Agung Adnyani. Perempuan usia 67 tahun ini, memang sudah lansia. Namun, di usia senjanya ia tetap berkreasi dan berinovasi untuk mengembangkan dirinya. Bahkan, dari jamu racikannya, ia sudah membuktikan sendiri khasiatnya. Ia dan suaminya Tjok Agung Adnyana tetap sehat dan bugar di usia senja. “Saya rutin mengonsumsi jamu buatan saya sendiri ini, sebelum berbagi kepada orang lain, saya sendiri harus mencobanya. Memang badan terasa sehat, segar, penuh vitalitas, dan tetap awet muda,” ujar perempuan yang berulangtahun di Hari Kartini ini sembari tertawa. Tjok Adnyani memulai usaha jamunya sejak dua tahun lalu. Itu pun karena suatu kebetulan. Walaupun, ia sudah terbiasa mengonsumsi jamu dari tanaman herbal, namun, proses pembuatan jamunya masih sangat sederhana, karena hanya untuk konsumsi sendiri. Ketika, sang anak menawarkan ikut pelatihan tanaman obat, Tjok
atau daerah pengunungan. Jahe merah juga memiliki antitoksin atau antivirus untuk mengobati masuk angin dan batuk. Jahe merah berkhasiat untuk tenaga loyo, dan mengandung libido sehingga baik bagi laki-laki untuk meningkatkan stamina. Namun, bagi yang punya penyakit maag sebaiknya tidak mengonsumsi
alias murni sehingga sangat tahan disimpan dalam waktu yang lama. “Asal disimpan di tempat yang ke ring, jamu ini bisa bertahan sampai setahun,” kata Tjok Adnyani. Jamu buatannya ia sebut herbal drink. Menurut Tjok Adyani, ia ingin sekali mengajak masyarakat Bali untuk menjaga kesehatan dengan alami dan
Proses pembuatan jamu
Tjok Istri Agung Adnyani
terbiasa mengonsumsi jamu. “Tidak ada waktu khusus untuk minum jamu ini. Kapan pun bisa, karena itu saya sebut herbal drink. Apalagi, saat capek atau dahaga, atau setelah melakukan aktivitas, segera minum jamu ini. Jangan minum softdrink. Memang paling bagus, saat bangun pagi, minum segelas jamu ini,” kata Tjok Adnyani. Saat ini, ia memasarkan jamunya hanya dari mulut ke mulut dan ia aktif promosi di media sosial. Harga jamunya juga sangat terjangkau, satu kotak Rp 35 ribu, dan khusus jahe merah harganya Rp 40 ribu. Cara meminum jamu ini, ambil satu sendok serbuk tambahkan air hangat 150 ml atau satu cangkir, aduk-aduk dan segera minum. Bagi yang suka dingin, bisa ditambahkan air es agar lebih menyegarkan. Saat ini, ia sedang mencoba membuat dalam bentuk sachet sehingga memudahkan untuk menyeduhnya. Rencananya, satu sachet ia jual Rp 5000. Cerita menarik dituturkan Tjok Adnyani. Seorang lelaki paruh baya sedang menderita stroke. Ia mencoba mengonsumsi jamu temulawak buatan Tjok Adnyani. Hanya dalam waktu 3 bulan, ia sudah bisa berjalan kembali. “Awalnya, bapak itu hanya pakai tongkat dan tidak bisa berjalan. Sekarang sudah bisa jalan normal,” kata perempuan yang juga memproduksi sambal botolan ini. Begitu juga, salah seorang perempuan pemilik rumah makan yang menderita stroke hanya bisa duduk di kursi tak bisa berjalan. Saat dikenalkan jamu temulawak dan jahe merah ia sangat tertarik. “Baru dua minggu mengonsumsi, tiba-tiba ia menelepon saya sudah bisa jalan ke dapur untuk memasak. Karena tak percaya, saya
langsung menengok ke rumahnya. Ternyata benar,” kata Tjok Adnyani. Memang, kata dia, butuh kesabaran dan ketekunan dalam mengonsumsi jamu ini. Harus rutin dilakukan tiap hari, tanpa jeda. Kisah lain dituturkan cucunya yang sedang kuliah di Surabaya. Setiap ke kampus, ia selalu membawa minuman ini. Saat haus dia langsung mengonsumsinya. Ternyata, seorang dosen tertarik dengan minuman tersebut. Sekali mencoba, akhirnya sang dosen ketagihan. Sejak itu, herbal drink menjadi dikenal di kampus dan mulai banyak pembeli. Tjok Adnyani memang tak mau main-main soal produk jamu kesehat an buatannya. Ia mengatakan, membuat jamu tak hanya asal, namun, ia menyertakan spirit dan semangatnya ke dalam jamu tersebut sehingga dalam doanya ia berharap, siapapun yang meminum agar bermanfaat bagi kesehatan mereka, baik untuk pencegahan dan pengobatan. Jadi, ia tak melulu hanya bisnis. Bahkan, ia tak mau disebut pebisnis. “Saya lebih suka disebut produktif karena selalu berkreasi dan berinovasi dalam berbagai hal,” katanya dengan semangat. Dalam benaknya, memang ia selalu tergiang, apa lagi yang bisa ia lakukan untuk membantu masyarakat. Selain berbagi, ia bisa juga mendapatkan rezeki untuk kehidupannya sehari-hari. Bagi Tjok Adnyani, usia bukanlah penghalang untuk berbuat sesuatu. Namun, dalam prinsipnya, tekad dan semangat harus selalu ada selama kita masih hidup untuk bisa berbagi kepada orang lain. –Wirati Astiti
10
Style
Edisi 894/ 28 maret - 3 April 2016
Duta Endek Kota Denpasar
Usung Local Genius di HUT Kota Denpasar
Duta Endek Kota Denpasar turut meriahkan HUT ke-228 Kota Denpasar. Di tengah kemegahan Panggung Utama Taman Lumintang Denpasar, belum lama ini para Duta Endek menyuguhkan aksinya melalui “Save Our Heritage” .
D
ipilihnya tema “Save Our Heritage” adalah cerminan generasi muda dalammelestarikan kain endek sebagai wujud sebuah kebanggaan terhadap local genius di era global terutama di tengah berjalannya era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) saat ini. Sebanyak 24 orang Duta Endek Kota Denpasar berhasil memperagakan busana dari Belong Bali, Riris Indah Collection, milik dari Luh Riris Indah Rahma Putri, yang juga tercatat
sebagai juara pertama Duta Endek Tahun 2015. Penampilan para model ini ditunjang pula dengan polesan make up dan hair do oleh Jegeg Bali Salon. Di panggung utama juga sempat dipersembahkan Band Irama Praja binaan Pemerintah Kota Denpasar, yang dikoordinir oleh Sekda Kota Denpasar AA Rai Iswara yang melaksanakan ide dari Wali Kota Denpasar IB Rai Mantra untuk membangkitkannya kembali. Selain Band Irama Praja dengan tembang oldiesnya juga menampilkan Band
Pemkot Denpasar, yakni Audy & The Backstage di mana personilnya terdiri dari PNS Kota Denpasar yang ikut menghibur masyarakat. Masih di perayaan HUT ke-
228 Kota Denpasar, Duta Endek Kota Denpasar juga hadir di pameran publik, stan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Denpasar. Di sana mereka menampilkan beragam
pada bulan April. Proses seleksi bulan Agustus, sedangkan pembekalan yang akan berlangsung selama sebulan dilakukan mulai Agustus sampai September . “Selanjutnya, ada proses karantina
hasil karyanya di antaranya koleksi busana kasual, busana resmi dan dilengkapi catatan aktivitas Duta Endek Kota Denpasar sejak Tahun 2012 hingga Tahun 2015. Selain itu masih di stan Disperindag Kota Denpasar, juga dipamerkan kegiatan Sekolah Pasar dan Revitalisasi Pasar. Pada acara pameran tersebut, Wali Kota Denpasar dan Menteri Koperasi dan UKM, AA Puspayoga ketika berkunjung ke stan Disperindag, berkesempatan memberikan motivasi kepada para Duta Endek untuk tetap bersemangat, mandiri dan penuh kreativitas, menjadi sosok wirausaha muda yang sukses di arena MEA tanpa meninggalkan ciri khas sebagai generasi muda Indonesia. –ard
menuju Grand Final Duta Endek pada akhir September hingga awal Oktober,” lanjut Ketua Duta Endek 2015 yang juga Juara 1 Duta Endek Tahun 2015, IG Adi Brata Mahendra. -ard
Informasi Awal Persyaratan Pemilihan Duta Endek 2015
yang terdekat adalah bersiap mengikuti parade untuk Pesta Kesenian Bali. “Mereka, para Duta Endek akan hadir dalam balutan busana endek dengan tema “Cinta Tanah Air”. Seperti
Batik Bali Indonesia Fashion Week (IFW) kembali di gelar tahun ini di Jakarta Convention (JCC), Jakarta. Bintang Mira pemilik Bali Batikku, salah satu local brand dari Gianyar, Bali yang ikut menggelar fashion show.
Anak Muda Persiapkan Diri Menjadi Duta Endek Menurut Kepala Disperindag Kota Denpasar, Drs. I Wayan Gatra, M.Si., Duta Endek selama ini dibina langsung oleh Ketua Dekranasda Kota Denpasar, Ny. IA Selly D. Mantra. Istri Wali Kota Denpasar ini, selalu penuh semangat ketika mengajak para generasi muda Kota Denpasar untuk menjadi smart & beauty dengan bergabung bersama para Duta Endek Kota Denpasar. Tentunya dengan ikut berpartisipasi dalam “Pemilihan Duta Endek Kota Denpasar 2016” yang diselenggarakan setiap 2 Oktober 2016, melalui Disperindag. Sementara Kabid Perdagangan IA Dewi Citrawati, S.E., M. Si., didampingi Kasi Bina Usaha IGA Laxmy Saraswaty, S.S., M.Hum., mengatakan memang aktivitas Duta Endek setiap tahunnya selalu padat. Program
Pesona
apa implementasinya, mari kita lihat di parade PKB nanti,” ucapnya. Untuk sosialisasi ke sekolahsekolah dan perguruan tinggi, kegiatannya akan dilaksanakan
- WNI berusia 16-24 Tahun (belum menikah) - Berdomisili di Kota Denpasar - Mempunyai tinggi minimal 165 cm (Putri) dan 170 cm (Putra) - Memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik - Memahami pengetahuan tentang endek dan berwawasan luas, menguasai Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris dengan baik - Pendaftaran segera dibuka - Mengisi formulir pendaftaran dan melampirkan foto copy KTP atau Kartu Pelajar - Melampirkan foto original (4 R) sebanyak 2 buah - Close-up, tampak depan dan full body tampak depan, menggunakan pakaian endek bebas dan sopan - Formulir beserta lampiran dimasukan kedalam map. Untuk putra menggunakan map merah dan putri menggunakan map kuning. Ayo Bergabung Bersama Duta Endek Kota Denpasar (Smart and Beauty) SEKRETARIAT Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Denpasar Graha Sewaka Dharma Lantai III Lumintang Jalan Majapahit No 1 Denpasar Telepon : 0361 84957111Fax : 0361 8495712 perindag@denpasarkota.go.id www.balidenpasar trading.com
D
eretan karyanya tetap mengangkat dan mencerminkan keindahan budaya Bali Mengusung tema “The Metamorphosis of Batik Bali”, anggota APPMI Bali ini mengangkat tenun cita rasa Nusantara dalam desain yang wearable. Dengan konsep modern. Bintang Mira berhasil menghadirkan kesan dinamisnya wanita. Style yang disuguhkann juga bukan hanya modern tapi sangat modern dengan tambahan warna merah dan kuning menyala serta bordir sebagai variasi agar tidak bosan. Dengan menggunakan batik khas Bali, motif poleng dan patra, ia memodernisasi kain tradisional menjadi lebih cantik. Gaya yang terinspirasi dari motif patra swastika dan patra mesir yang sering dijumpai di ukiran Bali atau pinggiran kain prada. Pilihan warnanya adalah hitam, putih atau krem dan merah atau coklat sogan. Warna inilah yang dipegang Bintang Mira untuk identitas Batik
Bali. Selain itu desainer ini ingin pula menunjukkan bahwa Bali mempunyai batik sendiri dan sangat menarik walau motifnya sederhana. Maka tak dipungkiri jika koleksi busana rancangan Bintang Mira tak henti mendapat perhatian dari para fashionista yang datang di acara IFW. Bagaimana dengan Anda? -Sri Ardhini
Bintang Mira
Edisi 894/ 28 maret - 3 April 2016
15
16
Edukasi
Edisi 894/ 28 MARET - 3 april 2016
Air Terjun Jembong
Sediakan Kolam Selfie Bali Utara sangat dikenal dengan wisata alamnya. Salah satu wisata alam yang menarik untuk dikunjungi adalah waterfall. Salah satu air terjun yang ada di kecamatan Sukasada adalah Jembong.
A
ir terjun yang berlokasi di dusun Jembong, desa Ambengan ini memang masih asing ditelinga masyarakat. Keberadaannya
baru diketahui oleh masyarakat luar sejak tahun 2015 setelah dilakukan upaya penataan. Kelompok sadar wisata (Pokdarwis) desa Jembong mulai mengelola dan mengembang-
Kolam Selfie
kan air terjun tersebut. Berjarak sekitar 15 km dari kawasan wisata Bedugul, air terjun Jembong menawarkan hal yang berbeda dimata pengunjung. Berada di antara perkebunan coklat milik warga yang rimbun dan asri, perjalanan menuju air terjun Jembong sangat mudah diakses. Butuh sedikit usaha untuk mencapai puncak perjalanan dengan menapaki anak tangga berbatu. Sesampai di ujung perjalanan keindahan terasa sempurna dengan air sebening kristal sehingga membuat siapa saja tergoda untuk mencoba kesegarannya. Jika pada umumnya air terjun berada di tebing tinggi dan tegak maka air terjun Jembong berada di dataran rendah dengan kemiringan lebih dari 75 derajat. Hal inilah yang membuat air yang jatuh tidak menimbulkan suara yang gemuruh sehingga pengunjung akan merasa tenang dan damai. Terdapat juga kolam yang tingginya sekitar satu meter untuk tempat mandi dan bermain bagi pengunjung. Ada larangan bagi wanita yang sedang haid dan mandi tanpa menggunakan busana. Ada yang unik di air terjun Jembong. Penataan sedemikian rupa membuat pengunjung semakin nyaman untuk datang ke tempat ini. Disediakan juga kolam selfie bagi wisatawan yang hobi berfoto. Kolam dangkal berbentuk hati ini memang pas untuk mengabadikan momen saat ke air terjun ini. Di desa Ambengan sendiri, menawarkan pemandangan persawahan yang kental dengan nuansa perdesaan. Untuk masyarakat yang ingin menikmati pemandangan tersebut tidak perlu merogoh kocek dalam. Salah satu penjaga loket air terjun Jembong, Komang Sudirpa mengata-
Kesulitan Mencari Subjek Film
J
Air Terjun Jembong
kan pengunjung yang ingin menikmati air terjun hanya membayar iuran sukarela. “Cuma sumbangan sukarela saja,” ujarnya. Setelah dilakukan penataan oleh Pokdarwis, tingkat kunjungan wisatawan juga bertambah. Tidak hanya wisatawan dari daerah Buleleng tetapi luar Buleleng bahkan turis mancanegara. Yang unik tidak ada pembeda wisatawan lokal maupun mancanegara semua hanya dikena-
kan sumbangan sukarela. Dari hasil kunjungan wisatawan tersebut akan digunakan untuk membayar upah penjaga 40%, digunakan untuk kas Pokdarwis 30% dan masuk kas desa Ambengan 30%. Sudirpa mengungkapkan kunjungan wisatawan setiap harinya memang selalu ada namun jauh lebih banyak dibandingkan dengan hari raya dan hari libur. “Tergantung hari, tapi paling banyak pas hari raya,” ujarnya. -Wiwin
Peluang Usaha Menarik di Bidang Pendidikan chise dengan sejarah yang panjang sejak tahun 1950 dan sampai dengan saat ini sudah tersebar di 47 negara di seluruh dunia. Pemilik franchise KUMON (pembimbing kumon) adalah orang-orang yang mau belajar dari siswa dan terjun langsung membimbing anak-anak di kelas. Pembimbing KUMON berkomitmen mendorong anak-anak memiliki life skill yang memungkinkan mereka menjalani hidup dengan senang dan mengembangkannya sampai maksimal, memiliki impian dan tujuan serta bersemangat mencoba hal-hal baru. Program belajar KUMON terdiri dari program Matematika dan Bahasa Inggris. Tujuan Metode KUMON adalah siswa mampu belajar di atas tingkatan kelas secara mandiri. Lembar kerja KUMON telah didesain sedemikian rupa sehingga memungkinkan siswa memahami sendiri bagaimana menyelesaikan soalnya. Ketika memasuki topik baru diberikan contoh dan penjelasan yang mendorong
auh sebelum dirinya bermain film, Putu sudah memiliki cita-cita menjadi seorang pembuat film. Keinginannya kuliah di jurusan film harus kandas ketika sang kakak menghendaki dirinya menjadi seorang dokter, ekonomi atau yang lain pada umumnya. Berkesempatan memproduksi film dengan cara yang murah karena perkembangan kamera membuat Putu berkeinginan membuat film. Sebelumnya aktif mengisi acara di TVRI Bali, menulis naskah drama dan sinetron membuat ia memiliki banyak pengalaman. Melihat proses pembuatan film, menekuni dunia penulisan dan sebagai sutradara merupakan modal baginya untuk membuat sebuah film. Dari sanalah awal mula perjalanan pria kelahiran 28 Maret ini membuat film dokumenter. “Wawasan saya tentang film dokumenter masih dicekoki oleh film dokumenter televisi,” ungkapnya. Harus dibedakan antara film dokumenter televisi dan film dokumenter yang sifatnya lebih kreatif. Dokumenter televisi sudah dipatok oleh karakter TV sehingga tidak boleh memiliki pandangan lain dengan garis pemerintah. Akan tetapi film dokumenter kreatif lebih bebas tanpa harus dibatasi pakem dan akan memakan waktu yang sangat lama dalam pembuatan. “Dokumenter televisi itu cukup sorot orangnya lalu tampilkan hal-hal yang mendukung cerita tetapi dokumenter
pada Masyarakat Bali untuk dapat memiliki Kelas KUMON sekaligus menjadi Pembimbing KUMON. Persyaratan utama adalah Wanita usia maksimal 45 tahun dengan
pendidikan minimal D3 semua jurusan. Informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi (0361) 232121; 0815-1314-5367 atau 0878-6099-5895.
Putu Satria Kusuma
kreatif harus mengadakan riset yang mendalam,” ujar suami dari Dewi Wahyuni tersebut. Jika di awal pembuatan film dokumenternya seperti di televisi maka saat ini ayah dari Cahaya Semesta dan Panji Sujaya ini membuat dokumenter kreatif. Sangat mencintai dunia film sehingga Putu tidak pernah merasa ada duka yang ia alami sebagai pembuat film. Namun, sebagai seorang manusia biasa ia mengaku sering mengalami stres dan letih akan tetapi ia mengaku masih dalam posisi yang gembira. Biaya juga adalah kendala dalam pembuatan filmnya. “Saya merasa tidak enak jika tidak memberikan apa-apa kepada narasumber,” ujarnya. PNS Dinas Kominfo Buleleng itu juga mengungkapkan harus sabar menunggu momen yang pas untuk membuat film. “Misal nya ingin mendokumenterkan
upacar a Eka Dasa Ludra, kan tidak mungkin saya buat upacara itu selain dengan cara menunggu 10 tahun lagi,” sambungnya. Pria yang aktif dalam sastra dan teater tersebut juga mengaku kendala lain dalam pembuatan film dokumenter adalah sulitnya mencari subjek film. “Kendalanya mencari subjek yang mau dijadikan tokoh untuk mengangkat peristiwa yang ingin saya jadikan film,” tambahnya. Peristiwa yang pernah terjadi di Buleleng salah satunya kerusuhan PKI, jika tidak kreatif bisa saja ditampilkan foto-foto tentang kejadian tersebut. Namun, dokumenter kreatif akan mencari salah satu tokoh yang mengalami atau tokoh yang mengambil keuntungan dari kerusuhan itu. Pria yang pernah menjadi juri film dokumenter se-Bali ini juga mengatakan bahwa waktu adalah kendala lain dalam pembuatan film dokumenter. “Jika film pendek saya bisa buat skenario hanya dalam seminggu dan tinggal cari pemain tetapi film dokumenter bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun,” ujar pria yang pernah membuat dokumenter Janger Kolok tersebut. Masih Dianaktirikan Disisi lain Putu Kusuma Wijaya seorang pembuat film dokumenter lulusan Belanda mengungkapkan bahwa membuat film dokumenter tidak ada sukanya. “Jika hidup sudah baikbaik saja dipenuhi berkah, tidak ada tantangan dan kegelisahan maka tidak perlu membuat film,” ujarnya. Kegelisahan tersebutlah yang selalu mendorongnya untuk membuat sebuah karya baik itu film atau dalam bentuk tulisan yang ingin diungkapkan. Sukanya adalah berhasil melarikan diri
Sambil Menyelam Minum Air Menonton film merupakan hobi Fernandes Azis. Sejak SMA ia sering menonton film. Film yang ia tonton antara lain Ada Apa dengan Cinta, Eiffel I’m in Love, Herry Potter, The Matrix, Lord of The Ring, hingga Deadpool. Pria kelahiran 10 Februari 1987 ini mengaku selain nonton film, ia juga gemar bermain tenis lapangan dan jalan-jalan. “Ada keseruan saat berkumpul dan membahas film. Jika film itu komedi kami bisa ketawa bersama.
siswa untuk mempelajarinya sendiri dan maju dengan kemampuannya sendiri. Saat ini PT KIE Indonesia memberikan kesempatan ke-
Edisi 894/28 MARET - 3 april 2016
Berawal dari keikutsertaannya dalam sebuah sanggar, membuat Putu Satria Kusuma aktif sebagai pemain dalam berbagai film. Tergabung ke dalam sanggar Putih membuatnya sibuk, namun di tengah kesibukannya ia masih punya waktu luang untuk bermain di berbagai jenis film salah satunya adalah film kolosal. Meskipun bukan menjadi peran utama, baginya hal tersebut sangat penting karena Putu sapaan akrabnya bisa mengamati dan berproses di dalamnya.
Franchise Kumon
Pendidikan merupakan modal penting bagi perkembangan setiap bangsa. Hal ini karena bangsa yang memperhatikan kualitas pendidikan adalah bangsa yang maju di segala bidang. Melihat begitu pentingnya pendidikan serta masih belum meratanya sarana yang ada di Indonesia, maka usaha bidang pendidikan merupakan peluang yang bisa diambil bagi mereka yang memiliki keahlian dalam bidang tersebut. Anda yang berminat membuka usaha di bidang pendidikan tetapi belum memiliki sistem yang mendukung usaha tersebut dapat memilih sistem franchise (waralaba). Kelebihan utama sistem franchise adalah tidak perlu mengenalkan brand dari awal karena brand tersebut sudah dikenal konsumen sebelumnya. Kelebihan lain adalah adanya program pelatihan yang dibutuhkan agar pemilik franchise memiliki bekal untuk mengelola usaha secara mandiri. KUMON adalah sistem fran-
Dara
Fernandes
Tetapi, jika film itu horror, kadang ada rasa takut saat membahasnya. Pulangnya jadi takut. Yang penting dengan menonton film bisa menambah wawasan dan imajinasi. Misalnya, jika kita menonton film yang menceritakan tentang ilmu pengetahuan seperti tata surya dan belajar bahasa asing. Jadi sambil menyelam minum air,” ujarnya. Fernandes me-
nambahkan dirinya menontom film di bioskop Denpasar. Genre film. Ia pilih yang ia sukai. Kadang ia menonton bersama teman-temannya, kadang juga bersama keluarga. Waktunya pun bisa dua minggu sekali atau kalau ada film baru rilis. “Saya tidak tahu apakah di Singaraja ada komunitas film atau tidak. Kalau saya dan teman-teman biasanya sete lah menonton film, langsung membahasanya,” ungkap Fernandes yang kadang menonton film melalui tv kabel atau mengunduh dari internet. Ia berharap di Singraja ada bioskop sehingga tidak perlu ke Denpasar untuk menonton. Minimal ada mini home theater atau bioskop kecil yang menampilkan film-film terbaru. –Vijay
sejenak dari kegelisahan, tambah pemiliki rumah film Sang Karsa tersebut. Sebagai pembuat film, ia mengaku harus berduka dalam artian ada hal yang menjadi pertanyaan dalam diri sehingga terlahir karya yang baik. Pembuat film juga harus sering menonton film. “Kalau tidak pernah nonton film wajar saja jika film yang dibuat jelek,”tambah anak dari tokoh olahragawan di Singaraja, Agus Sadikin Bakti. Baginya film dokumenter saat ini sudah berkembang dan memiliki cakupan yang lebih luas. Film dokumenter bukan lagi disaksikan sebagai sebuah film penyuluhan tetapi film yang dapat membuat menangis dan menusuk hati. Namun kenyataanya film dokumenter itu dianaktirikan. “Tidak ada satu pun bioskop di Indonesia ini yang mau memutar film dokumenter,” lanjut pria kelahiran 16 Desember ini. Maka dari itu ia berinisiatif untuk membuat rumah film yang beralamat di jalan Singaraja-Seririt km 13,5 sebagai tempat pemutaran film dokumenter. “Kami putar film dari orang yang berasal dari manapun dan kami apresiasi di
9
sini,” tambah kurator festival film di Denpasar tersebut. Pria yang saat ini bekerja sebagai assisten produksi televisi atau pembuat film yang akan syuting di Indonesia ini mengaku lebih memilih film dokumenter karena di Bali banyak hal yang bisa di dokumenterkan dan juga tidak membutuhkan orang banyak yang harus diajarkan berakting. Salah satu film dokumenternya yang di putar di festival Belanda adalah yang berjudul “Kaung”. -Wiwin
Putu Kusuma Wijaya
Indonetwork Targetkan 10 Juta Pengunjung Indonetwork.co.id, perusahaan e-commerce market place dan direktori bisnis terbesar dan terlengkap di Indonesia telah memiliki satu juta member pelaku bisnis, industri dan pengusaha usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang tergabung dalam komunitas Indonetwork. “Indonetwork.co.id selalu berkomitmen meningkatkan performa produk maupun informasi layanan para member dalam upaya memenangkan persaingan bisnis di Indonesia,” kata Ryn Hermawan Co-Founder Indonetwork.co.id. Selain memiliki satu juta member pelaku bisnis, industri dan pengusaha UMKM, pengunjung yang masuk ke website Indonetwork mencapai empat juta pengunjung per bulan. Dengan melihat trend positif di industri e-commerce saat ini, Indonetwork menargetkan memperoleh 10 juta pengunjung per bulannya pada akhir tahun 2016 ini. Dengan persaingan antar pelaku usaha e-commerce yang semakin ketat, Indonetwork yang berdiri sejak 2001 lalu, akan terus menambahkan berbagai fitur yang dibutuhkan pelaku usaha. Seperti fitur escrow account, jasa financing sampai jasa logistik yang terintegrasi, selain itu akan terus fokus memberdayakan para pelaku bisnis, industri dan pengusaha UMKM secara agresif. –Ngurah Budi
“The NextDev Pulang Kampung” Setelah tahun lalu mendapatkan 20 finalis dengan aplikasi digital yang dapat memberikan kontribusi positif untuk masyarakat, program NextDev tahun ini kembali melanjutkan rangkaian programnya dengan tajuk “NextDev Pulang Kampung”. Pada rangkaian acara ini, 20 finalis NextDev kembali ke 10 kota asal mereka masing-masing. Dari Denpasar, yang masuk finalis adalah ERZ4P. Vice President Corporate Communications Telkomsel, Adita Irawati mengatakan, NextDev Pulang Kampung merupakan upaya Telkomsel untuk membangun ekosistem digital yang berkelanjutan di Indonesia, di mana salah satunya melalui pengenalan digipreneurship atau kewirausahaan di bidang digital. “Kegiatan ini diharapkan dapat menginspirasi para calon developer muda Indonesia di berbagai daerah, serta menjembatani kolaborasi antara duta NextDev dengan pemerintah kota setempat dalam mencari solusi yang tepat untuk kota tersebut,” ujarnya. Bersamaan dengan program “NextDev Pulang Kampung” ini Telkomsel juga menggelar “Launching Apps ERZ4P” yaitu sebuah aplikasi yang berdiri di atas pemrograman Ruby On Rails yang ditujukan untuk para pelaku bisnis dari semua kalangan. Aplikasi ini mempermudah proses pencatatan data, laporan, promosi via email, dan proses remote transaksi dari jarak jauh. –Ngurah Budi
8
Bunda & Ananda
Edisi 894/ 28 maret - 3 April 2016
Banyak Teman karena Sering Pindah
Bagi orangtua yang bekerja dan berpindah tempat, tentu punya pengalaman bagaimana mengurus kepindahan. Banyak hal yang harus dilakukan, mulai dari mencari informasi sekolah sampai mencari tempat wisata keluarga.
Ayu Nusa
B
u Triyanti menuturkan pengalamannya ketika suaminya pindah dari Medan ke Surabaya. “Awalnya suami dulu yang pindah untuk mencari tempat tinggal. Setelah itu, kami mengumpulkan informasi mengenai sekolah terdekat. Kami berusaha mencari sekolah terdekat dengan kualitas yang baik,” ujarnya. Ternyata sekolah yang dituju tidak serta merta menerima siswa pindahan. Ada tes bagi siswa pindahan. “Untungnya anak-anak bisa melewati tes dan diterima di sekolah barunya. Pindahnya mulai tahun ajaran baru, “ ujar ibu tiga putra ini. Hal serupa diungkapkan Iksan ketika dirinya mendapat penugasan ke Denpasar. “Saya langsung mencari sekolah terdekat. Saya datang ke beberapa sekolah untuk mencari informasi,” ujar pria yang sebelumnya bertugas di Medan ini. Ia mengaku pindah tugas ke tempat baru harus didampingi keluarga. Kalau beda tempat tinggal, ia mengaku kerepotan karena harus memikirkan keluarga yang terpisah. Ditambah lagi pengeluaran untuk transportasi ketika ingin berkumpul dengan keluarga. Dari pengamatan Ni Luh Ayu Nusantini, S.Psi, M. Par., Psikolog, pindah-pindah itu mengasyikan karena menambah wawasan dan pergaulan. “Saya mengalami sendiri karena dari kecil pindah-pindah rumah. Bapak saya Camat. Saya lahir di Nusa Penida tahun 1972 karena bapak saya Camat pertama di Nusa Penida. Umur 1 tahun 3 bulan, kami pindah ke
Sawan, Buleleng karena bapak jadi Camat Sawan berikutnya pindah lagi ke Tejakula,” ujar perempuan asal Samirenteng, Tejakula ini. Perjalanan tugas orangtuanya berlanjut sebagai Camat di Klungkung dan Camat di Denpasar Barat. Karena sering pindah-pindah, Ayu tiga kali pindah sekolah. Kelas 1 dan 2 SD di Buleleng, kelas 3 dan 4 di Klungkung, kelas 5 dan 6 di Denpasar. Ia pun mengaku menjadi banyak teman. Bahkan saking banyaknya sering bingung teman yang ditemuinya itu pernah bersamanya di sekolah yang mana. “Sering pindah-pindah tidak membuat perkembangan anak terganggu. Yang paling dirasakan adalah banyak teman, wawasan luas, dan mudah bergaul. Yang penting ortu selalu mendampingi anak. Jangan sampai ortu pindah kerja, anak malah dititip. Ini malah akan mengurangi kelekatan orangtua dan anak. Anak dan orangtua itu ibaratnya satu gerbong atau satu tim. Orangtua wajib bertanggung jawab terhadap anaknya. Kalau pindah ya pindah sama-sama,” ujar psikolog yang juga Bendahara Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Wilayah Bali ini. Nilai lebih anak-anak yang sering pindah adalah anak-anak tidak monoton dalam kondisi yang sama terus menerus. Anak akan memiliki metode pertahanan diri, kreativitas, dan sosialisasi plus adaptasi yang lebih baik dibanding anak yang selalu dalam zone nyaman. Perempuan yang akrab disapa Ayu Nusa ini menambahkan orangtua harus berbicara dengan anak sebelum pindah. Jelaskan dalam bahasa sederhana bahwa mereka akan pindah ke kota lain dalam rangka tugas. Biasanya pindah tugas itu berkaitan dengan promosi jabatan. Hal ini menjadi motivasi dan kebanggaan bagi anak agar bisa berpretasi seperti orangtuanya. “Dari pengalaman saya, pindah dari tempat lama ke tempat baru itu mengasyikkan. Jangan pernah berpikir pindah ini menakutkan atau mengkhawatirkan. Perasaan ini muncul karena kita belum melihat dan merasakan sendiri tetapi sudah memberi penilaian. Apa yang menajdi rutinitas sebelumnya
di tempat baru silakan dilanjutkan. Misalnya mendongeng sebelum tidur yang dilakukan di rumah lama, harus diteruskan di rumah baru seakan anak tidak berada di lingkungan baru yang berbeda dengan lingkungan sebelumnya,” ujar ibu dua anak ini. Ketika pindah rumah yang berlanjut dengan pindah sekolah itu terjadi, orangtua wajib mendampingi anak, minimal di minggu pertama. Ayu Nusa pun menyarankan pindah sekolah sebaiknya dilakukan jelang
akhir pekan, misalnya hari Jumat atau Sabtu. Alasannya, setelah merasakan suasana sekolah yang baru, anak punya kesempatan untuk kembali ke situasi normal di rumahnya. Lalu ketika mulai hari yang baru di hari Senin, anak sudah siap. Mengenai kekhawatiran tentang anak menjadi korban bullying, Ayu Nusa mengatakan semua bisa diatasi dengan pendampingan orangtua. Karena itu di bulan-bulan awal masuk sekolah baru, lihat perkembangan anak. Apakah anak menjadi
ceria ataukah malah gelisah dan cenderung tertutup atau tidak mau menceritakan pengalaman di sekolah. “Kekhawatiran lain adakah bisa atau tidaknya anak beradaptasi. Ini sudah bisa diatasi dari awal dengan melibatkan anak untuk memilih sekolah yang mereka inginkan. Tentu saja ini berlaku untuk anak sekolah jenjang SMP dan SMA. Kalau anaknya masih SD, orangtua yang banyak berperan dalam memilih sekolah,” tegas psikolog yang juga PNS di Pemprov. Bali ini. Ayu Nusa menegaskan anak yang sering pindah-pindah sekolah cenderung lebih mandiri , memilik lebih banyak teman dan wawasan berpikirnya lebih luas karena bergaul dengan berbagai karakter orang. Ini nantinya menjadi “modal” saaat dewasa dan mencari pekerjaan.
Griya
Warna-Warni
Kehadiran tanaman di pekarangan rumah, tentu memberikan nuansa hijau yang menyejukkan. Apalagi dihiasi dengan tanaman bunga berwarna-warni, yang tentunya makin memberikan suasana dinamis. Salah satu jenis tanaman bunga hias yang sampai saat ini masih banyak diminati adalah kembang kertas atau popular dengan nama bougenville. Bougenville di Indonesia disebut tanaman bunga kertas lantaran bentuk seludang bunganya yang tidak tebal serta memiliki cirri-ciri seperti kertas. Pada saat berbunga, tanaman ini memiliki rutinitas merontokkan sebagian daunnya.
–Ngurah Budi
Ilustrasi anak-anak bermain
elain cantik, tanaman ini sangat mudah dalam perawatannya.Tak membutuhkan waktu yang lama lantaran spesies tumbuhan ini sangat cocok ditanam di lokasi beriklim tropis serta khatulistiwa seperti negara Indonesia, serta dapat tumbuh sampai
Mendongeng Lima Menit
meja kecil untuk orang tua
hidangan di atas meja yang bersih. Kebiasaan itu berlangsung cukup lama. Hingga pada suatu pagi, istri dari suami yang pendiam dan penurut itu melihat anak laki-lakinya yang masih kecil, sibuk mengumpulkan potongan-potongan kayu dan tripleks. “Main apa kamu, Gus?” tanya perempuan yang menjadi ibu dari anaknya yang bernama Agus. “Bukan bermain, tetapi latihan kerja,” jawab Agus. Jawaban kanak-kanak itu membuat sang ibu tersenyum. “Latihan kerja apa?” tanya ibunya lagi. “Nanti setelah aku dewasa, aku akan membuat dua buah meja kecil. Aku, istri dan anak-anakku akan makan di atas meja, sedangkan ayah dan ibu yang sudah tua, harus makan di sudut dapur. Agar ayah dan ibu tidak memecahkan piring dan tidak menumpahkan makanan, maka kubuat meja kecil dan rendah. Aman ‘kan?” Mendengar jawaban anak kecil yang suka bermain itu, mata sang ibu berkaca-kaca. Pasangan suami-istri itu saling bertatapan, tak mampu mengucapkan sepatah katapun. Pada acara makan berikutnya, istri sang suami dan ibu dari anak kecil itu, memapah mertuanya dan mendudukkannya di kursi meja makan. Mereka makan masing-masing di atas piring yang sama dan di atas meja yang sama pula. Sungguh nikmat makanan hari itu!
17
Bougenville Variegata
S
Istri dari lakilaki itu cukup repot mengurus mertua yang sudah lanjut usia. Orang tua yang keriput itu sangat lemah dan tidak mampu berjalan sendiri. Ditambah lagi pendengarannya Made Taro tidak jelas dan penglihatannya kabur. Ketika makan bersama di atas meja, mertua yang guyul itu tidak pernah sempurna memasukkan makanan ke mulutnya. “Menjijikkan!” keluh perempuan itu setelah melihat bibir sang mertua berlepotan dan melihat sisa makanan yang berceceran di atas meja. Suatu hari ketika makan siang, orang tua yang guyul itu salah mengambil makanan dengan senduk yang dipegangnya. Ia menyenggol piring makanan itu. Praaang! Piring itu jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping. Perempuan itu sangat marah. Ia menyuruh suaminya memapah orang tua itu ke sudut dapur. Di situ, di atas lantai, sang menantu menyuruh mertuanya duduk makan sendirian. Makanan tidak lagi dihidangkan di atas piring, tetapi dalam mangkuk yang terbuat dari batok kelapa. Selanjutnya tidak akan terdengar piring pecah dan keluarga itu dengan aman dan nyaman dapat menikmati
Edisi 894/ 28 maret - 3 April 2016
I Wayan Tinggen
setinggi 10 meter. Batang tanaman bunga ini agak keras, memiliki duri yang tajam serta bercabang-cabang. Perkembang biakannya juga cuma membutuhkan keratan batang yang disemai di dalam bungkus plastik maupun pot lewat cara gampang. Diluar itu, tanaman ini dapat memiliki sulur yang rapat, daun yang lebar serta berupa bujur tirus yang dapat membuat rimbunan pokok di lokasi halaman rumah atau sebagai tumbuhan pagar di lokasi yang menarik. Bougenville memiliki beberapa spesies dengan beragam warna yang cantik, salah satunya adalah bougenville variegata. “Spesies ini memiliki daun yang cantik, yakni terdapat garis putih pada sisi tepi daunnya,” ujar I Wayan Tinggen, pemilik Stan Bunga Puspa Tan Alum di Halan Hayam Wuruk, Denpasar. Menurutnya, jenis bougenville variegate ini lebih rajin berbunga dibandingkan dengan jenis lainnya. “Varigata bisa berbunga
sebulan sekali, jenis lain atau yang lokal umumnya berbunga dua bulan sekali,” jelasnya. Tanaman bougenville variegate memiliki warna ungu, putih, dan merah tua. Jenis ini pun bisa disambungkan (diokulasi) dengan jenis lain, sehingga memiliki warna bunga yang lebih beragam. Caranya pun cukup mudah. Saat akan melakukan okulasi, perhatikan cuaca, tidak saat musim hujan. Tanaman yang akan diokulasi, pilih yang batangnya besar. Lakukan pemangkasan terlebih dahulu pada daun dan ranting-ranting kecilnya. Jenis bougenville lain yang akan disambung, pilih tunas muda dari tanaman yang induknya bagus. Kemudia okulasi pada mata tunasnya. Tutup dengan plastik dan diletakkan di tempat teduh selama lebih kurang 10 hari, ketika tunas-tunasnya kelihatan hidup, baru dibuka plastiknya. “Ciri tunasnya hidup, tumbuhnya tegak dan tidak layu,” ungkap pria asal Karangasem yang sudah 26 tahun menggeluti dunia tanaman ini. Dari proses okulasi ini membutuhkan waktu sekitar tiga bulan untuk menunggu waktu berbunga. Bougenville variegate ini diakuinya dipasok dari Kediri. Harga dari tanaman ini tergantung besar kecilnya. Usia varigata 3
Bougenville Variegata
bulan dengan tinggi sekitar 60 cm dihargai Rp 25 ribu. “Tapi varigata yang sudah jadi dengan 4 warna, tinggi sekitar 1,25 meter, berkisar di angka Rp 400 ribu,” ucapnya. Perawatannya dengan media sekam, pupuk kandang, dan tanah subur. Cukup disiram sekali sehari di peagi hari, namun jangan sampai terlalu basah. Di cuaca panas, varigata akan lebih banyak berbunga. Lakukan pemangkasan ranting dan daunnya,
2 bulan sekali dan pemupukan sebulan sekali. “Jika mencari bentuk bagus, lebih baik tanam di pot, pemangkasan juga bisa lebih jarang. Namun jika perawatannya kurang bagus/teratur, tanaman jadi kurus,” ujarnya. Sementara jika ditanaman langsung di tanah, pertumbuhan lebih cepat. Lebih mudah mengurusnya karena sudah mendapatkan zat makanan langsung dari tanah, tanaman juga lebih cepat besar. –Inten Indrawati
18
Life
Edisi 894/ 28 MARET - 3 april 2016
Bank Sampah Bermodal Nekat
Menangani sampah khususnya nonorganik memang menjadi masalah bagi masayarakat maupun orang-orang yang peduli lingkungan. Mengurangi sampah plastik adalah salah satu cara untuk menjaga lingkungan agar terhindar dari pencemaran dan tetap bersih. Hal tersebut dilakukan oleh kelompok masyarakat desa Panji dusun Kelod Kauh yang sadar akan lingkungan.
B
ermula dengan mengikuti sosialisasi dari PPLB (Pemuda Peduli Lingkungan Bali) ke desa-desa maka terbentuklah kelompok masyarakat peduli lingkungan. Tergabung dalam kelompok Bank Sampah Galang Panji, mereka menyamakan persepsi warga untuk menjaga lingkungan sekitar dengan memi-
lah sampah rumah tangga yang dihasilkan. Warga dusun Kelod Kauh diajak untuk memanfaatkan sampah di rumah kemudian dijual kepada Bank Sampah Galang Panji. Sampah yang dijual berupa sampah kresek, botol-botol, besi dan kertas sehingga tidak terbuang percuma. Keempat jenis sampah tersebut sudah dipilah dari rumah masing-masing. Hanya
saja untuk sampah organik, bank sampah belum mampu untuk mengelola. Direktur utama Bank Sampah Galang Panji, Nyoman Marsajaya mengungkapkan bahwa modal awal dari terbentuknya bank sampah ini adalah nekat. “Kami tidak punya modal, jadi kami berikan buku tabungan dulu,” ujarnya. Hasil penjualan sampah tersebut akan diberikan dalam bentuk tabungan di antaranya tabungan yang bersifat reguler, tabungan yang bisa diambil kapan saja, dan tabungan hari raya. Keempat jenis sampah itu dihargai Rp 1.200 per kilo untuk sampah plastik meliputi botolbotol minuman, Rp 500 untuk sampah kresek, Rp 800 untuk sampah kertas, dan Rp 1.200 untuk sampah berupa besi. “Kalau masalah harga sifatnya naik
Anggota bank sampah
Boombeda
Andalkan “Kota Kecil” Sejak terbentuk sekitar tiga tahun yang lalu, nama Boombeda mulai dikenal oleh masyarakat pecinta musik indie di Singaraja. Memutuskan berkecimpung dalam dunia musik tentu para personilnya memiliki alasan yang sama yaitu sama-sama menyukai musik. Jika sebuah band memiliki aliran musik sebagai ciri khas dalam berlagu, namun lain halnya dengan Boombeda. Untuk aliran musik mereka menyesuaikan dengan lagu yang dibawakan, jika liriknya sedih musiknya pelan dan begitu sebaliknya. Begitu juga untuk konsep yang tidak pernah tertata sehingga aliran
Pasek (kiri) dan Dedi
band akan mengikuti makna yang ingin disampaikan. Awal terbentuknya pun sangat
unik. Sempat bergonta-ganti personil karena alasan perbedaan persepsi. Akhirnya Pasek, sang vokalis mengajak teman satu kos untuk bergabung dengan bandnya karena saling mengetahui kesamaan yaitu suka bermusik. Banyak latihan dan terus mencoba hingga mereka berkeinginan membuat karya sendiri. Nama Boombeda itu sendiri mempunyai arti yang terbilang unik. Kalau pada umumnya boom yang meledak akan menghancurkan atau bahkan dapat membunuh maka boom dari Boombeda dapat
Story
Edisi 894/28 MARET - 3 april 2016
7
Kades yang Dibenci Calo Pengumpulan sampah dari masyarakat
turun,” ungkap Marsa, sapaan akrabnya. Bank sampah sendiri bekerja sama dengan pengepul sampah daur ulang dan DKP kabupaten Buleleng. Selain sampah kresek kami jual ke pengepul, kalau sampah kresek kami jual ke DKP, imbuhnya Namun, tidak dapat dimungkiri bahwa kesadaran masyarakat terhadap lingkungan masih sangat kurang. Dari total KK (Kepala Keluarga) 431, hanya 125 KK yang menjadi anggota bank sampah. “Ini menjadi hambatan kami karena respons masyarakat yang masih kurang,” tambah pria kelahiran 13 Desember tersebut. Memang jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, jumlah tersebut sudah mengalami peningkatan. Marsa dan rekanrekannya melakukan beberapa kegiatan untuk membangkitkan kesadaran masyarakat. Salah satunya safari kesehatan yaitu sehat bersama sampah. Setiap masyarakat yang datang ke balai banjar dan membawa sampah akan mendapat pelayanan kesehatan. Pengumpulan sampah oleh bank sampah biasanya dilakukan setiap hari Minggu di balai
banjar setempat. Jika kembali ke konsep bank sampah menurut Gede Ganesha selaku Direktur Keuangan Bank Sampah Galang Panji, masyarakat yang datang sendiri ke suatu tempat yang sudah disepakati untuk membawa sampahnya. “Ada masyarakat yang ingin sampahnya diambil ke rumah-rumah, namun di sini kami terkendala tenaga yang sedikit,” ujar Ganesha yang juga ketua PPLB tersebut. Rumah masyarakat yang cukup jauh dari lokasi pengumpulan sampah mengurangi antusiasmenya. Sifatnya yang ngaturang ayah membuat bank sampah sedikit memiliki anggota. “Karena kesibukan masing-masing kami tidak bisa memaksakan orang untuk ngaturang ayah,” imbuh pria kelahiran 11 November tersebut. Menimbulkan semangat anakanak muda untuk ngayah memang diakui cukup sulit karena mereka belum sadar bahwa dengan bank sampah ini bisa menambah penghasilan. Ke depan pengelola bank sampah sangat berharap bisa menjadi badan usaha milik desa sehingga ada anggaran yang diberikan sebagai intensif bagi yang ngayah. -Wiwin
menghidupkan yang telah mati. Hal inilah yang membuat boom itu berbeda sehingga menjadi Boombeda. Sejauh ini band yang terdiri dari Pasek di vokal sekaligus gitar dan Dedi di Drumm masih kekurangan satu orang personil untuk posisi bassis. Awalnya band yang terdiri dari tiga orang ini berdiri secara utuh namun karena urusan personal sehingga bassisnya terpaksa hengkang dari Boombeda. Hal tersebut bukanlah halangan untuk terus berkarier, ini terbukti Boombeda tetap manggung di acara-acara yang ada di kota Singaraja. Memiliki beberapa single yang diterima sangat baik oleh masyarakat dengan satu single andalan yaitu “Kota Kecil”. Lagu ini bercerita tentang kota Singaraja yang menyimpan segudang kenangan dan cerita baik suka maupun duka. Baru-baru ini mereka juga sudah merampung klip perdana dari single yang berjudul “Coming to My Heart”. “Ini klip perdana dan lokasi penggarapannya ada di kota Singaraja,” ungkap Pasek. Penggarapan klip lagu “Kota Kecil”, Boombeda
mengundang teman-teman di Singaraja untuk menunjukkan tempat yang memiliki kenangan dan juga bagus lewat video yang berdurasi 5 sampai 10 detik. Video yang terpilih akan dilibatkan dalam penggarapan klip kedua. Saat ini band asli kota Singaraja ini, sudah menyiapkan lagu terbaru masih bertemakan cinta. Lagu dengan judul “Berjuang” mengajak pendengar untuk memperjuangkan siapa yang dicintai. “Lagu cinta kan gak harus sama pasangan, bisa sahabat ataupun keluarga,” jelas Pasek. Memahami konsep dan mencari ide dalam menciptakan sebuah lagu merupakan hal yang sulit dilakukan. Boombeda sendiri mengaku bahwa semua lagu-lagu yang dibawakan adalah ciptaan sendiri. “Kami menciptakan lagu dari keadaan sekitar, tidak terbatas tempat dan waktu,” ujar Dedi. Menurutnya lagu yang bagus adalah lagu yang memiliki arti dan lirik yang kuat nada dan aransemen. Akan lebih bagus ketika lagu itu diciptakan sedini mungkin. -Wiwin
“Saya paling takut jika dikatakan sukses sebagai Kepala Desa.” Demikianlah ungkapan yang keluar dari bibir Hariadi, Kepala Desa Jenggik Utara, Kecamatan Montong Gading, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, yang berada di ujung aspal Montong Gading. Desa ini kerap pula disebut sebagai Desa TKI karena keberhasilannya melindungi warganya yang menjadi tenaga kerja di luar negeri.
N
amun, Hariadi rendah hati dengan mengatakan masih banyak yang harus ia lakukan untuk desa dan warga Desa Jenggik Utara. Ia tidak bekerja sendiri, kalau pun berhasil, ia mengaku itu adalah keberhasilan aparat desa dan warganya yang mau bahu membahu saling mendukung satu sama lainnya, termasuk kebijakan yang dikeluarkannya salah satunya soal Perdes yang menyangkut TKI. Sebuah Peraturan Desa (Perdes) bernomor 3 Tahun 2010, Tentang Perlindungan dan Pembinaan Tenaga Kerja Indonesia asal Desa Jenggik Utara, dikeluarkan Hariadi atas dasar banyaknya TKI/ TKW dengan segala permasalahannya yang berasal dari desa yang dipimpinnya ini. Perlindungan terhadap TKI asal Desa Jenggik Utara tidak hanya pra penempatan melainkan saat penempatan hingga paska penempatannya. Bahkan demi melindungi warganya, Hariadi pun menambah satu jabatan dalam struktur organisasi Desa Jenggik Utara, yakni Kepala Urusan TKI di desa yang dijuluki sebagai Desa TKI ini. Kaur TKI sangatlah langka, bahkan kemungkinan ini adalah satu-satunya yang masuk dalam struktur organisasi desa secara resmi. Banyak suara sumbang yang meributkan keberaniannya ini, namun ia santai saja. Ia juga sempat dikatakan tidak mengerti hukum dan aturan. “Saya pernah sampai dibilang
gila karena menambah Kaur TKI ini,” ujar kades yang tidak pernah berhenti memperjuangkan adanya Kaur TKI dalam struktur organisasi desa, meski mendapat banyak rintangan. Bagi Hariadi, ia tidak harus memedulikan apa kata orang tentang kebijakan yang diambilnya ini karena ia yang paling tahu akan kebutuhan desanya dengan tetap berpegang pada dasar hukum yang membolehkan seorang kepala desa menambah personil dan jabatan dalam struktur organisasi desa sesuai dengan kebutuhan desanya. “Di sini banyak TKI dengan segala permasalahannya, saya tidak mau warga Jenggik Utara kehilangan hak-haknya. Itulah sebabnya saya rasa perlu mengangkat kaur yang khusus mengurus soal TKI karena ini yang paling dibutuhkan warga,” ungkap Hariadi tentang alasannya mengangkat Kaur TKI untuk mengurus para TKI di desa ini. Dengan adanya Perdes dan Kaur TKI ini, ia berharap warganya yang menjadi TKI untuk mencegah terjadinya penipuan, perekrutan anak di bawah umur, perekrutan oleh calo yang tidak bertanggung jawab, menjamin hak ekonomi, hukum, sosial budaya dan kemanusiaan serta keamanan. Selain itu untuk menjamin keberangkatan para TKI sesuai dengan prosedur yang benar. Dengan adanya Kaur TKI ini, proses keberangkatan TKI juga bisa lebih detil. Calon TKI diwajibkan untuk melapor kepada pemerintah desa ketika
hendak berangkat dan saat pulang serta saat mendapat masalah saat masa perekrutan. Juga mewajibkan calon TKI mengurus sendiri dokumen-dokumen yang dibutuhkan di kantor desa. “Perdes ini juga mengharuskan petugas lapangan perekrut TKI untuk mendaftarkan diri kepada Pemerintah Desa Jenggik Utara dengan identitas diri yang resmi,” ujarnya. Hal inilah yang membuat kini, tidak banyak lagi masalah yang timbul bagi para calon TKI maupun mereka yang sudah mendapat penempatan. KADES MANTAN TKI Besarnya perhatian Hariadi terhadap TKI asal Jenggik Utara yang kebanyakan bekerja di Malaysia ini tidak lepas dari dirinya yang pernah menjadi TKI sebelum akhirnya menjadi Kepala Desa di kampung halamannya ini. “Saya pernah menjadi TKI, jadi saya tahu pahit getirnya menjadi TKI. Saya tidak ingin hal itu dialami oleh warga saya,” katanya. Kompaknya aparat desa ini juga tidak semata-semata karena Kadesnya mantan TKI, melainkan juga personil Kantor Desa Jenggik Utara ini rata-rata pernah menjadi TKI. Dari delapan personil enam di antaranya mantan TKI dan dari delapan Kepala Dusun yang ada di Jenggik Utara, enam di antaranya juga merupakan mantan TKI. Mereka merasakan masalah yang dialami oleh TKI begitu berat, sehingga mereka bahu membahu agar warga Jenggik Utara tidak akan ada lagi yang mengalami hal menyedihkan. Tidak bosan-bosannya Hariadi yang ditokohkan di desanya ini bersama dengan aparat desa khususnya urusan TKI memberi edukasi -bahkan dengan menjemput bolakepada warga tentang menjadi
Hariadi (tiga dari kiri) Kepala Desa Jenggik Utara, bersama staf desanya
Anak-anak Desa Jenggik Utara, khususnya anak para TKI kini rata-rata telah bersekolah minimal tingkat SMA
TKI yang benar dan terhindar dari sasaran perekrutan yang tidak baik alias illegal. Di bawah pimpinan sosok yang dikenal sederhana dan dekat dengan warganya, desa ini menjadi sangat protektif terhadap calon TKI dan waspada terhadap calo perekrut liar TKI. Jika ada informasi yang mau merekrut TKI secara ilegal, maka aparat desanya segera bertindak. “Kami akan mencari dan menindak tegas. Bahkan sempat nyaris kecolongan, ada TKI yang sudah terlanjur membayar namun tidak diberangkatkan, kami pun menyelesaikan masalah ini dengan calo yang merekrut hingga akhirnya uang dan paspor calon TKI dikembalikan,” kata Suparni, Kaur TKI yang diangkat oleh Hariadi. Hal ini membuat Hariadi dan aparatnya sempat dibenci oleh para calo. Namun ia tidak ambil pusing.
Hariadi pun mengajarkan warganya untuk membeli yang dibutuhkan bukan yang diinginkan. Juga mengarahkan uangnya kepada hal-hal yang dibutuhkan tepat juga mendorong mereka untuk menabung. Tampaknya karena selama bekerja di luar negeri, mereka mendapat fasilitas yang menyejukkan seperti kulkas sehingga ketika pulang ke kampung halamannya hal itu juga menjadi yang diinginkan, tanpa melihat fungsi dan ketersediaan infrastruktur listrik. Masih banyak lainnya hal yang bersifat konsumtif dari TKI yang kini berhasil diubah dengan pendekatan kekeluargaan. Keberhasilan para TKI mengelola hasil kerja mereka yang dibarengi dengan perubahan pola pikir masyarakat, tampaknya berpengaruh pada peningkatan kesejahteraan. Di tahun 2015, Desa Jenggik Utara mendapatkan piagam perhargaan dari BRI LomKULKAS UNTUK bok Timur sebagai TKI pengirim SIMPAN PAKAIAN Yang ia pikirkan bagaimana agar remiten terbesar se-Lombok bisa melindungi warganya karena Timur. “Jika di tahun 2003, warga keterbatasan lapangan kerja tentu yang memiliki rumah permanen saja ia tidak bisa melarang wargan- bisa dihitung dengan jari. Tetapi ya untuk mencari rezeki ke negeri kini rumah-rumah warga rata-rata orang. Beruntungnya, ia didukung telah menjadi rumah permanen penuh oleh aparat desa dan selu- dan sebagian besarnya adalah ruh masyarakatnya. Sehingga kini, rumah TKI,” ungkap Hariadi yang walaupun masih ada saja satu atau telah menjadi Kepala Desa dua dua kasus calo, secara umum periode 2005-2011 dan 2011Desa Jenggik Utara bisa dika- 2017, ini. Anak-anak yang bersekolah takan relatif bebas dari masalah TKI khususnya soal perekrutan juga kini telah banyak yang lulus ilegal. Sebelum TKI asal desa ini hingga tingkat SMA. Sebelumnya berangkat, seluruh dokumen di- karena faktor ekonomi, di tahun minta untuk di foto kopi sebagai 2003 Desa Jenggik Utara hanya berkas yang disimpan keluarga dan memiliki dua lulusan S1 dan empat pihak desa agar jika terjadi sesuatu orang lulusan SMA. Lainnya putus dapat dengan mudah dibantu. sekolah dan tidak bersekolah. NaTidak itu saja, ia bahkan turut mun seiring dengan meningkatnya memikirkan perubahan pola hidup ekonomi masyarakat, kini anakkonsumtif dari warganya yang te- anak khususnya anak TKI rata-rata lah berhasil menjadi TKI. “Kejadian menyelesaikan pendidikan hingga lucu yang benar-benar terjadi ada- tingkat SMA bahkan S1 dan ada lah ketika para TKI yang berhasil pula yang menjadi bidan. Selama ini membeli kulkas padahal di desa 10 tahun memimpin, Hariadi telah ini belum ada listrik kala itu sekitar membawa desa yang ketika persebelum tahun 2007. Alhasil kulkas tama kali ia menjadi Kepala Desa akhirnya dipakai untuk menyimpan di tahun 2005 masih dalam konpakaian layaknya lemari,” kata disi relatif terisolir karena susahnya Hariadi. Desa Jenggik Utara yang komunikasi dan sulitnya informasi berada di ujung aspal Montong ini, kini menjadi sebuah desa yang Gading ini baru dialiri listrik pada patut dicontoh dan penting untuk diperhitungkan. -Naniek I. Taufan tahun 2007.
6
Woman on Top
Edisi 894/ 28 MARET - 3 april 2016
P
erjalanan yang dilalui hingga sampai pada puncak kesuksesan tentu terjal dan berkrikil. Mencoba mengirimkan cerpen pertama yang berjudul “Tetek” ke sebuah media namun tidak dimuat. Cerpen ini berkisah tentang seorang perempuan yang gelisah dengan payudaranya sendiri dan memutuskan mengirisnya. Menurut redaksi cerpen tersebut tidak memenuhi kaidah cerita yang layak di konsumsi umum. Pengalaman tersebut adalah kali pertama Sonia menulis dan bukan pengalaman pertama ditolak. Semua diterimanya dengan lapang hingga ia terus menulis. Sejak 2002, Sonia sudah menulis beberapa judul cerpen yang notabene mengisahkan kedudukan perempuan yang selalu dimarginalkan atau dipinggirkan oleh kedudukan laki-laki. Karyanya menjadi penegasan atas anggapan bahwa perempuan adalah mahkluk yang dikurung dengan tumpukan nestapa yang tidak kunjung usai. Senin 21 Maret 2016 bertempat di rumah jabatan bupati, Sonia sapaan akrab-
nya meluncurkan buku bersama dua orang rekannya sesama penulis. Hadirman dengan bukunya yang berjudul Ekplo(ra)si Tubuh, Satria Kusuma dengan bukunya Cupak Tanah, dan Sonia sendiri meluncurkan buku berupa kumpulan cerpen yang berjudul Perempuan Tanpa Nama. Ketiga buku tersebut juga dibedah secara isi oleh tiga orang yaitu Dr. Luh Putu Sendratari, M.Hum., Dr. I Gede Artawan, M.Pd., dan Dr. I Wayan Artika, M. Hum., yang merupakan penulis juga. Tujuan dari peluncuran dan bedah buku ini adalah untuk menyosialisasikan karya sastra masyarakat luas serta mendekatkan kepada pemerintahan. “Kami buat acara ini agar sastra itu bisa diterima di mana saja,” ungkap wanita kelahiran 4 Maret 1984 ini. Menurutnya, budaya tidak bisa lepas dari masyarakat. Sastra merupakan produk dari budaya, sehingga kewajibannya untuk menyebarkan produk-produk kebudayaan kepada masyarakat luas. Masyarakat yang disasar antara lain, bidang akademisi, dinas-dinas terkait,
aktivis perempuan, dan komunitas seni budaya. “Sebagai produk budaya sastra harus diterima disemua lapisan masyarakat,” jelas istri dari Made Adnyana tersebut. Sonia juga berharap, nantinya masyarakat menyadari bahwa sastra dan budaya adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan darinya. Selain suka menulis, ibunda dari Putu Putik Padi dan Kadek Kayu Hujan ini juga hobi menonton film. Menurutnya film merupakan salah satu produk budaya. “Saat ini film sedang nge-trend dan film merupakan bentuk pencapaian tertinggi dari karya seni,” tambahnya. Dosen di jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Undiksha ini mengatakan bahwa film yang baik adalah yang mampu memotivasi dan menggugah masyarakat yang menonton. Banyaknya film yang diproduksi di Indonesia tidak disangkal oleh Sonia bahwa beberapa sudah masuk kategori baik dan beberapa juga belum. Namun, ia yakin semua pihak akan bekerja lebih keras untuk lebih baik. Terkait dengan tujuan film yang mempengaruhi dan memotivasi penonton, Sonia juga menyarankan agar masyarakat lebih cerdas memilih tontonan. Jika masyarakat meniru adegan-adegan dalam film yang kurang baik maka itu tidak tepat. “Sasarannya kan masyarakat luas, jadi masyarakatlah yang harus memilih tontonan yang lebih pantas,” tegasnya. -Wiwin
Raja Durian dari Blitar Festival durian digelar setahun sekali di Kabupaten Blitar. Tepatnya di Desa Sumber Asri, Kecamatan Nglegok, Blitar Utara menuju Kabupaten Kediri. Festival buah berduri ini, diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai daerah yang ada di Jawa Timur. Mulai dari Trenggalek, Tulungagung, Kediri, Banyuwangi, Jember, dan Blitar.
D
alam festival ini, tidak kurang dari 20 ribu biji buah durian dari berbagai varietas ditampilkan. Masing-masing daerah, menonjolkan produk unggulannya. Mu-
Salam Senyum, Tergelitik dengan nuansa demonstrasi yang dilakukan oleh para pelaku moda transportasi darat (taksi dan ojek) di negeri tercinta ini beberapa hari terakhir, yang melibatkan ratusan orang bahkan mungkin lebih, di beberapa media yang sempat saya baca tentang aksi demo tersebut, ada yang melihatnya dari sudut pandang Aplikasi. Ada juga yang melihat dari sudut pandang Perizinan, dan ada juga yang melihat dari sudut pandang Regulasi.Tentunya saya tidak akan membahas masalah demo tersebut dengan segala permasalahannya. Tapi saya mencoba mengaitkan dengan layanan yang selalu menjadi “concern” saya. Sudut pandang Aplikasi lebih tepat untuk saya kaitkan dengan layanan. Aplikasi dalam kasus ini kebanyakan orang lebih familiar dengan istilah “On Line”. Ojek On Line, Taksi On Line atau lebih luas kepada penjualan, yaitu Jualan secara On Line. Kedengarannya renyah sekali, seakan-akan sebagian permasalahan kita bisa selesai dengan “On Line” ini.Contoh kecil bagi kita yang tinggal di Denpasar yang saat ini dengan cuaca sangat panas, kita tidak harus keluar rumah atau kantor hanya untuk mendapatkan makan siang. Tetapi dengan memainkan aplikasi terkait, maka beberapa saat makanan sudah akan tersedia sesuai keinginan kita. Selesai !. Ya…begitu memberi kemudahan, menyenangkan dan memberi kepuasan tertentu bagi pelanggan. Layanan on line sebenarnya hanya merupakan bagian kecil dari keseluruhan aspek layanan pada proses penyediaan produk dan jasa. On line bisa juga kita istilahkan dengan Connect. Dalam tulisan saya kali ini saya mencoba menggambarkan betapa kondisi “on line /connect” dari para pelaku layanan pada proses penyediaan produk dan jasa akan menciptakan kepuasan kepada pelanggan. Dan ini tidak ada kaitannya dengan aplikasi, hehehe…. Salah satu permasalahan untuk bisa memberikan layanan terbaik adalah TIDAK terciptanya situasi dan
lai dari varian bajol, petruk, montong, merah, balqis, badugol, sitokong, dan masih banyak varietas lainnnya. Dari sekian banyak varietas durian, yang paling disuka pengunjung waktu itu adalah jenis Badugol, asal Blitar.
Durian Badugol
Durian ini, hasil okulasi yang dilakukan oleh Supriyanto, warga Dusun Gogolatar, Kelurahan Kaweron, Kecamatan Talun, Blitar. Pada tahun 2010, dirian Badugol ini dinobatkan sebagai Rajanya durian yang ada di Jawa Timur. Bahkan, pada 8 April 2011 keluar Keputusan Menteri Pertanian Nomor 1841/Kpts/SR.120/4/2011 tentang Pelepasan Durian Badugol sebagai varietas unggul. Menurut Kartika, salah satu pengunjung festival, durian Badugol ini memiliki kelebihan dibanding varian lainnya. Dagingnya tebal, rasanya manis, dan aromanya wangi. Selain itu, punggingnya (isi durian) kecil dan tipis. “Nggak gampang eneg. Habis dua, tiga saja saya tetap tahan,” ujar pengunjung asal kota tahu, Kediri ini. Tiap kali digelar festival, wanita penggemar durian tak mau ketinggalan. Ia selalu hadir bersama keluarga dan teman-temanya. Selain makan di lokasi pameran, Kartika selalu membawa 10-15 durian badugol untuk dibawa pulang. “Bukan berarti durian lainnya nggak enak, bukan. Tapi saya lebih cocok durian asal Blitar ini,” ujarnya sambil menunjukkan durian yang sudah dibeli. Pengakuan serupa juga dilontarkan Agus, salah satu pengunjung asal
Dr. Agustinus L. Kesuma, M.B.A. Kadek Sonia Piscayanti
“Service (yang) On Line?” kondisi yang “on line/connect”. Dalam hal ini banyak hal kita bisa jadikan contoh, yaitu : 1. Tidak connectnya antara customer service (frontliner), middle manager dan top manager (atasan dan bawahan) dalam memberikan layanan.Yang ke-2,tidak connectnya antar bagian di penyedia layanan. Selanjutnya yang ke-3, tidak connectnya antara aturan/ ketentuan dengan kondisi riil. Sedangkan ke-4, tidak connectnya antara people (customer service) dan product. Yang ke-5 tidak connectnya antara customer service dan customer/pelanggan, dan masih banyak lagi lainnya. Hmmmm..ini salah satu contoh cerita. Dalam perjalanan menuju Kintamani, saya bersama keluarga mampir di sebuah rumah makan yang tampak dari luar sangat menarik untuk kami singgahi. Ya….kami berangkat pagi-pagi sekali dari rumah sehingga tidak sempat sarapan. Dalam perjalanan semua merasa sangat lapar, sehingga kami memutuskan untuk sarapan sebentar sebelum melanjutkan perjalanan .Singkat cerita di saat kami sudah duduk di rumah makan, tampak beberapa pegawai rumah makan masih membersihkan dan merapikan meja, kursi dan beberapa peralatan yang ada di dalam rumah makan tersebut. Waaaah..ternyata rumah makan ini baru saja buka. Seorang pramusaji mendatangi kami dengan membawa buku menu. Hemmm… membaca menunya membuat rasa lapar semakin menjadi-jadi. Pesanan kami (makanan dan minuman) sudah dicatat oleh pramusaji, tentunya menu kesukaan masing-masing dari kami dong,… Sudah terbayang lezatnya makanan yang akan kami santap (yang ini kayaknya gak perlu ditulis deh... hehehe).Setelah pramusaji mengkonfirmasi pesanan, seperti biasa kami menambah satu menu yaitu menu “tidak pake lama” hehehe. Selang beberapan menit, pramusaji tersebut datang, “Maaf Pak-Ibu… menu yang Bapak pesan belum tersedia, minuman yang ibu pesan juga belum tersedia !” ….. byarrrr…. Buyar sudah lamunan enaknya sarapan kali ini. Kami berpikir, seberapa jauh sih antara ruang makan dengan dapur? Sehingga antara pramusaji dan juru masak tidak “on line”. Seberapa banyak pegawainya ya,…sehingga antar pegawai tidak on line? Hmmmm… sebagai pelanggan tentu kami kecewa karena tidak on
19
Badugol
Cerdas Memilih Tontonan Kadek Sonia Piscayanti adalah seorang penulis cerpen, prosa dan puisi, naskah drama dan essai yang sangat aktif di bidangnya. Menyukai dunia menulis sejak duduk di bangku sekolah dasar namun baru benar-benar berani mengirimkan hasil karyanya ke sejumlah koran saat menjadi mahasiswa. Karya-karyanya lahir dari perjalanan yang panjang, tiga belas tahun.
Edisi 894/28 MARET - 3 april 2016
linenya “data menu yang tersedia”, antara pramusaji dengan juru masak. Seandainya saja mereka ( para pegawai ) connect antar bagian, tentu tidak akan ada pelanggan yang dikecewakan. Cerita di atas adalah contoh dari permasalahan yang nomer 2 . Lain lagi dengan cerita berikut. Di sebuah perusahan jasa, meluncurkan produk dengan program terbaru yang sangat gencar promosinya. Dimana- mana, baik di media cetak, elektronik, sosmed, dan sebagainya sudah dilakukan tersentral dari Kantor Pusat perusahaan jasa tersebut. Sebagai orang yang sangat menyukai promo, bergegas saya ingin ikut program terbaru yang ditawarkan. Namun apa yang terjadi, setelah saya datang ke perusahaan jasa tersebut, sungguh di luar dugaan. Customer service menjawab bahwa produk promo tersebut tidak tersedia di sini dan hanya dilayani di kota-kota besar lainnya.Setelah saya tanyakan kembali ke Supervisor, ternyata layanan promo tersebut dilayani di seluruh outlet, sedangkan yang belum tersedia adalah pencetakan blanko pengisian data untuk program promo tersebut. Hmmmm.. silahkan ditebak, hal tersebut termasuk tidak connect yang nomer berapa…? Bahkan mungkin kombinasi dari ketidak connectkan seperti tulisan permasalahan di atas (Nomer 1 – 5 ). Sebagai akhir dari tulisan ini tentunya dengan adanya istilah “on line” / connect dalam layanan berharap semua yang bergerak di bidang layanan akan mejadi pemenang. Tentu yang dimaksud pemenang dalam layanan /service winner adalah 1.Mereka yang mempunyai attitude positive dan pandangan yang menyenangkan. 2. Mereka secara bersungguh-sungguh menikmati bekerja dengan dan untuk orang lain. 3. Mereka yang memiliki kemampuan untuk menempatkan pelanggan pada “titik sentral”. 4. Mereka yang melihat pekerjannya secara primer sebagai profesi yang BERHUBUNGAN DENGAN MANUSIA. Naaaahhh…. Mari kita mulai meng ‘On line’ kan layanan agar menjadi pemenang (service winner). Ingat..mulainya dari sekarang ya… Dan bagaimanakah kelanjutan dari “Service Winner” tersebut ? ikuti tulisan saya pada edisi berikutnya Salam 3SP Salam Senyum Sang Penyihir Sri Sumahardani.
Yakin Kekuatan Mobil India Arsitek Jerman Pengalaman merupakan soko guru yang tak ternilai harganya. Apalagi, bekerja selama puluhan tahun di Astra Motor sejak 1976 hingga 2.000, membentuk kepribadian Dr Agustinus L. Kesuma, M.B.A yang kini menjabat Managing Director PT Hanata Auto Surabaya. “Saya tak punya pengetahuan lain, kecuali pengetahuan di bidang otomotif ini,” kata Agustinus. Karena pengetahuan dan keterampilan hanya di bidang otomotif, maka setelah berhenti dari Astra Motor, arek Surabaya ini ingin merintis usaha di bidang bisnis otomotif juga. Namun, kalau mau bergerak di bidang bisnis otomotif asal Jepang pasti sulit, karena Astra Motor sudah sangat besar dan terkenal di seluruh dunia. Sementara dirinya baru mau memulai merintis usaha bisnis tersebut. Karena itu, pasti sulit bersaing dengan mobil asal Jepang. Alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini berpikir untuk mencari alternatif lain. Awalnya dia mulai tertarik pada otomotif buatan Tiongkok dan India. Tetapi, persaingannya sangat ketat. Ia mulai melirik otomotif produksi India karena masih asing di Indonesia. Pria yang belajar S-2 di University of Western Australia ini, mulai membangun komunikasi dan mencari informasi ke India. Hasil pemantauan dan komunikasinya, pria murah senyum ini berhasil mengetahui sebuah perusahaan yang bernama Tata. Tata adalah sebuah perusahaan terbesar dan tertua di India dan usianya sudah mencapai 500 ta-
Dr. Agustinus L. Kesuma, M.B.A.
hun. Perusahaan ini memiliki banyak cabang dan produk seperti produksi baja dan berbagai jenis mesin, bergerak di bidang keuangan dan berbagai usaha lainnya. Sejak 50 tahun silam, perusahaan ini mulai melirik dan memproduksi mobil dengan merek Tata. Mobil ini diarsiteki tenaga ahli dari Mercedez Jerman. “Saya berpikir kalau mobil Tata ini ditangani ahli Mercedez dari Jerman pasti hebat. Karena mobil Mercedez adalah salah satu mobil mewah asal Eropa dan sudah terkenal di seluruh dunia,” ujarnya. Dengan berbagai cara, pria yang lulus doktor dari University of Washington in Seattle, Amerika Serikat ini, mulai membangun komunikasi dengan perusahaan tersebut. Bak gayung bersambut, niatnya ternyata direspons positif pihak Tata. Komunikasi intensif pun dilakukan dan akhirnya berhasil disepakati untuk
menjalin kerjasama dengan Tata dan menjadi dealer untuk menjual mobil Tata di Surabaya. Setelah selesai mengurus segala persyaratan administrasi yang terkait dengan kerjasama itu, akhirnya Agus berhasil menjadi dealer Tata di Surabaya melalui PT Hanata Auto Surabaya yang berkantor di Jalan Arief Rahman Hakim 173 Surabaya. Kantor ini sengaja dibuka di Surabaya karena dirinya adalah orang Surabaya dan berdomisili di Kota Pahlawan ini. Agus, sapaan akrab Agustinus menjelaskan kantor dealer ini dibuka resmi pada 2014 lalu dan diresmikan Direktur PT Tata Motors Indonesia Bismadev Sengupta. Walau baru berusia dua tahun, namun prospek penjualan mobil Tata di Jawa Timur (Jatim) khusus di Surabaya, ternyata sangat luar biasa. “Sebulan bisa menjual sekitar 30 unit dan ini pasar yang luar biasa,” ujarnya bangga. Sejak 2014 hingga 2015, pihaknya telah berhasil menjual sekitar 700 unit atau sekitar 350 unit per tahun dari berbagai tipe yang ditawarkan. Keberhasilan itu, mendorong pria berkacamata ini, untuk terus mendongkrak pasar Tata di Jatim khususnya Surabaya. “Pada 2016 ini, ditargetkan kami bisa menjual sekitar 500 unit mobil Tata,” ujarnya sangat optimis. Sikap optimis tersebut didasarkan respons masyarakat Jatim yang begitu tinggi terhadap mobil buatan India tersebut. Karena mobil ini dinilai sangat kuat dan ulet dalam pengoperasiannya di lapangan terutama di medan yang sangat berat dan menantang. -Yosef Sintar
Kartika
Tulungagung. Ia rela jauh-jauh datang ke Blitar hanya untuk merasakan nikmatnya durian badugol. Bagi Agus, rugi jika pada saat musim durian tidak menikmati durian badugol. Karena nikmat dan kelezatan durian badugol ini, sangat luar biasa enaknya. “Rugi banget kalau saya sampai nggak menikmati durian badugol ini,” ujar lelaki penyuka buah durian ini. Meski menjadi primadona, durian ini tidak pernah diperdagangkan secara umum di pedagang, apalagi di swalayan. Supriyanto, 59, pemilik pohon durian ini tidak pernah menjual hasil panenannya kepada pedagang. Selama ini, penjualan dilakukan langsung ke konsumen yang berasal dari berbagai kota, antara lain Kediri, Tulungagung, Malang, dan Blitar sendiri. “Selama ini tidak ada kios yang menjual, promosi lebih pada getok tular dari mulut ke mulut sesama penggemar durian,” kata pria yang dikaruniai satu anak ini. Lebih lanjut pria berkacamata ini menuturkan, awal bergelut dengan durian, sejak 1986 silam. Awalnya dia menanam bibit durian sebanyak 40 pohon. Namun dalam beberapa bulan kemudian hanya tinggal satu batang pohon yang bertahan. Bibit asal Lampung, Sumatera, itu tak kuat dengan pupuk kandang yang diberikan saat itu. Selain durian saat itu Supriyanto, juga menanam jeruk. Nah, dengan gagal tanam itulah pria ini memutar otak karena keterbatasan biaya yang dimilikinya saat itu. “Saya cari pongge (isi, Red) untuk disemaikan dari jenis lokal,” ujarnya. Setelah itu, Supriyanto mencari mata tunas yang bagus mulai dari wilayah Gandusari hingga Srengat, untuk proses okulasi penempelan mata tunas dengan tanaman hasil penyemaiannya sendiri. Kala itu, sekitar Januari
1987 dia mendapatkan sebanyak delapan jenis dan dilakukan okulasi untuk mencari hasil yang terbaik. Karena belum ada pengalaman, saat itu asal ada info bagus dia langsung mengambil dan ditanamnya. Akhirnya delapan pohon itu terus tumbuh bersama jeruk hingga lima tahun kemudian atau tahun 1992 mulai berbuah untuk yang pertama kalinya. Nah, untuk memperkenalkan hasil buah tanamannya, dia memperkenalkan terlebih dahulu jenis okulasi dari wilayah Bajang dan responnya sangat baik. Namun dagingnya kurang tebal karena kalah usia, dengan pohon aslinya dari Kelurahan Bajang, yang telah berusia ratusan tahun. Hingga akhirnya dari proses pengenalan itu diketahui durian hasil okulasi dari Desa Wonorejo, Kecamatan Srengat yang dinilai paling bagus kualitasnya, dengan pongge cemet dan kulitnya tipis, sehingga bagian yang bisa dimakan lebih banyak. Setelah memperkenalkan duriannya, sekitar tahun 1995, penggemar durian mulai berdatangan. Hingga tahun 2000 penggemar mulai ramai dari luar kota. Selanjutnya tahun 2008 ada perhatian Dinas Pertanian, walaupun sebenarnya tahun 1997 dinas terkait sudah mengetahuinya. Menurut Supriyanto, saat ini ada 30 pohon di lahan miliknya yang terdiri dari delapan varietas. Dengan usia pohon sekitar 25 tahun ini, saat ini ada sebanyak 10 pohon jenis Badugol. Setiap kali musim panen, rata-rata setiap pohon menghasilkan buah antara 75 – 150 buah. Dengan hasil buah seperti itu, dalam satu kali musim panen, 10 pohon itu bisa menghasilkan seribuan buah. Dengan kondisi itu, sebanyak 95 persen penggemar durian langsung datang sendiri ke kebun Supriyanto. “Bahkan ada yang terpaksa inden,” jelasnya. -Khoirul Abadi
20
Nine
Edisi 894/ 28 maret - 3 April 2016
Ir. Hj. Ririn Yuniarti
Inspirasi
5
Edisi 894/ 28 maret - 3 April 2016
H a r j u n i R o c h a j a ti
Ajari Pasien Kanker Merajut Rangsang Minat Baca dengan Lomba Sesuai namanya ‘RajutKejut’ maka komunitas pencinta rajutan ini kerap kali membuat warga Jakarta heboh dengan aksinya. Tapi kehebohan yang satu ini menyenangkan hati, pasalnya mereka selalu menyanjikan karyakarya cantik lewat hasil rajutan para anggotanya. “Setiap tahun setidaknya kami menggelar tiga atau empat event. Tahun ini, event pertama kami adalah 8 Februari lalu dalam rangka Hari Kanker Internasional. Kami menjadi pengajar rajut bagi pasien yang sedang menjalankan kemoterapi di Sumah Sakit Siloam Semanggi, Jakarta Selatan,” ungkap Harjuni Rochajati, penggagas Komunitas RajutKejut.
Minat baca yang terbilang kurang terutama di kalangan remaja dan anak-anak di Kota Mataram membuat Ir. Hj. Ririn Yuniarti, menerapkan target-target untuk mendongkrak minat baca tersebut saat ia pertama kali ditugaskan sebagai Kepala Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Mataram.
Ir. Hj. Ririn Yiniarti
U
ntuk merangsang minat baca bagi warga Kota Mataram, berbagai kegiatan dilakukan bukan hanya untuk anak-anak dan remaja melainkan hingga ibu-ibu rumah tangga. “Khusus untuk ibu rumah tangga, kami melaksanakan lomba bercerita bagi ibu-ibu,” kata Ririn. Lomba bagi para ibu ini dianggap penting mengingat tugas ibu dalam rumah tangga selalu berkaitan erat dengan tumbuh kembang anak. Ibu-ibu peserta lomba adalah yang murni sebagai ibu rumah tangga, bukan PNS ataupun pegawai. Diharapkan dengan lomba ini selain untuk mengisi waktu dan meningkatkan wawasan
serta pengetahuan, ibu-ibu dapat menghidupkan kembali budaya mendongeng atau bercerita buat anak-anak mereka. Budaya mendongeng yang sudah lama hilang akibat banyaknya tontonan yang disajikan dengan teknologiteknologi visual saat ini. Begitu juga di kalangan anak-anak dengan membuat berbagai kegiatan untuk peningkatan minat baca sejak usia dini. Salah satunya Ririn memprogramkan lomba mewarnai juga lomba bercerita bagi anak-anak. Tidak hanya itu, melainkan juga stimulasi diberikan dengan lomba mengarang bagi anak-anak usia 10-15 tahun. Bahkan demi membumikan budaya gemar baca bagi warga Kota Mataram, selain membuka taman-taman baca masyarakat hingga ke pinggiran Kota Mataram, ia juga memprogramkan lomba-lomba pada taman-taman bacaan tersebut. “Lomba-lomba untuk merangsang minat baca, kami selenggarakan mulai dari tingkat PAUD hingga ibu rumah tangga,” ungkapnya. Taman-taman bacaan yang ada di Kota Mataram bahkan yang berada di pinggir-pinggir pantai, kerap ramai dengan berbagai lomba. “Selain itu taman bacaan masyarakat yang ada di Kota Mataram pun kami lombakan. Dengan tertib dan teraturnya pengelolaan taman bacaan masyarakat, saya mengharapkan
Ibu rumah tangga juara lomba bercerita
Salah satu kegiatan lomba bercerita bagi anak-anak di Perpustakaan dan Arsip Daerah Mataram
dapat melayani masyarakat dengan baik sehingga memberikan kontribusi langsung dalam meningkatkan minat baca warga kota,” ujar Ririn. Roda mobil perpustakaan keliling Kota Mataram tiada henti berputar mendatangi sekolahsekolah terutama prioritas yang berada pinggiran kota untuk mendekatkan pelayanan baca bagi anak-anak sekolah. Pelayan-
an dilakukan mulai jam 08.00 hingga jam waktu sekolah selesai, bergantian dari satu sekolah ke sekolah lainnya. “Kami tingkatkan usaha jemput bola agar anak-anak tidak kehilangan kesempatan un-
tuk membaca buku,” lanjutnya. Demikian pula dengan 30 Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Kota Mataram aktif dalam mendukung upaya membudayakan gemar baca. --Naniek I. Taufan
“Kami tingkatkan usaha jemput bola agar anak-anak tidak kehilangan kesempatan untuk membaca buku”
Jangan Pandang Arsip Sebelah Mata
Ririn termasuk salah seorang yang peduli dengan masalah kearsipan. Karena itu, sejak menjadi Kepala Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Mataram, ia juga memberi perhatian dalam hal kearsipan dengan menyelenggarakan lomba tertib arsip di berbagai instansi yang ada di Kota Mataram. Hal inilah yang pertama kali disosialisasikannya ketika ditunjuk sebagai Kepala Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Mataram. “Untuk menata pengelolaan arsip di sekolah-sekolah menengah pertama dan atas (SLTP, SMA), kelurahan juga SKPD se-Kota Mataram, saya buat lomba pengelolaan arsip,” ujarnya. Menurutnya ini penting karena arti penting sebuah arsip selama ini banyak diabaikan. Dengan lomba tersebut, ia berharap muncul kesadaran untuk mencintai arsip sebagai sebuah dokumen yang penting bagi perjalanan sebuah sejarah. “Agar masyarakat tidak memandang arsip sebelah mata seperti yang terjadi selama
ini,” ungkapnya. Jika ada yang menganggap bahwa bekerja di bagian arsip dan perpustakaan adalah “masuk kotak”, maka tidak bagi Ririn. “Karena tidak menggali pentingnya arsip makanya ada yang menganggap demikian. Padahal jika kita mau menggalinya pekerjaan ini mengasyikan. Banyak ilmu dan wawasan yang bisa kita
dapatkan bahkan melebihi dari yang diperoleh orang lain,” katanya. Kini, Ririn asyik mengelola hampir 50 ribu jumlah koleksi buku yang ada di Kota Mataram. Targetnya sejak menjadi kepala kantor ini adalah meningkatkan minat baca bagi seluruh warga Kota Mataram dan tertib arsip di seluruh instansi yang ada di Kota Mataram. -Naniek I. Taufan
K
omunitas RajutKejut, ungkap Ati, begitu Harjuni Rochajati akrab disapa, berdiri tahun 2014 lalu. Mereka memperkenalkannya lewat FanPage Facebook. “Awalnya kami adalah kelompok kecil yang gemar merajut. Ada yang memproduksi rajutan untuk dijual tapi ada yang merajut karena hobi saja. Kadang kita bikin rajutan untuk dipakai sendiri atau untuk kado. Jadi hanya sekadar hobi,” tutur Ati. Suatu ketika, lanjutnya, seorang temannya Vidhyasuri Utami menggagas karya rajutan di ruang publik. Di luar negeri ada istilah yarn bombing yang menggunakan benang membentuk sebuah karya seni di ruang publik. “Ya semacam street art tapi dengan benang. Nah kami ingin juga membuat seperti itu di sini,” kata
penggemar berbagai craft ini. Nah untuk mewujudkan gagasan itu, tentu dibutuhkan hasil rajutan yang banyak. “Kami pun sepakat untuk mengajak orang lain yang senang merajut, untuk berpartisipasi. Kami pikircara yang paling ‘seru’ adalah melalui fanpage FB karena kami tahu bahwa di FB banyak crafter, banyak perajut. Agar kita bisa membuat karya dengan melibatkan banyak orang. Melalui FB itulah kami mengajak para perajut dimana pun berada untuk ikut mendukung rencana ini. “ “Di situ kita sampaikan rencana membungkus beberapa kursi taman di depan museum nasional dengan rajutan. Kita juga sampaikan rajutan yang dibutuhkan, ukurannya, dll. Jadi semua komunikasi dilakukan lewat FB,” kata Ati tentang ‘gebrakan’ awal Komunitas RajutKejut di
area publik. Hasilnya, menyambut Proklamasi Kemerdekaan RI ke-69, bangku taman di depan Museum Nasional berhias cantik dengan warna-warni rajutan. “Kita menerima hasil rajutan dari manamana untuk kebutuhan event tersebut. Nah hasil rajutan kiriman itu kita satukan. Kita rame-rame menjahitnya, kemudian ditempel di badan kursi. Jadi itu adalah karya banyak orang. Di salah satu bagian ada tertulis “Persatuan bukan Cuma urusan satu orang”. Itu message yang ingin kita sampaikan,” ungkap ibu dua anak itu. Sebulan kemudian, tepatnya 14 September, komunitas ini beraksi lagi dengan menghias bangku taman di depan bundaran Hotel Indonesia, Jakarta. “Pada 19 Oktober 2014 kami juga ngebom(begitu istilah komunitas jika akan beraksi di ruang publik) dengan membungkus pohon di depan Istana Negara untuk menyambut Presiden RI yang baru terpilih,” tambah wanita berambut pendek ini. Tapi tambahnya dari semua aksi yang paling rumit adalah membuat ‘baju pada bemo’. Sebagaimana kita tahu bemo yang juga salah satu angkutan umum paling tua di Jakarta, memiliki banyak lekukan, jadi tidak mudah untuk mengaplikasikan rajutan. “Menghias bemo dengan rajutan adalah karya yang paling repot karena waktu untuk menghias hanya sehari semalam sedangkan ukuran bemo cukup besar dan memiliki bentuk yang banyak lekukan sehingga agak sulit mengaplikasikan rajutan-rajutannya , walau persiapannya cukup lama yaitu dua bulan.
Bemo yang menghebohkan karya Komunitas Rajutkejut
Namun begitu akhirnya semua bisa selesai,” kata alumniAntropologi FISIP Universitas Indonesia, ini. Karya yang dibuat untuk memperingati Kemerdekaan RI 18 Agustus 2015 ini, tambah Ati, juga sebagai wujud kepedulian terhadap bemo sebagai angkutan perkotaan yang nyaris punah. “Kita umumkan rencana ini di FB, ternyata banyak yang mau ikut. Prosesnya dua bulan untuk mengumpulkan rajutan. Sedang bemonya kita dapat pinjaman dari seorang kenalan. Nah bemo berbalut rajutan ini muncul di acara car free day,” katanya. Bicara mengumpulkan relawan untuk mewujudkan sebuah event, menurut Ati, susah-susah gampang. Namun hal tersebut tidak menjadi masalah karena, katanya, selalu saja ada volunteer yang militan yang rela menyelesaikan proyek RajutKejut sampai tuntas. “Kami biasanya mengadakan kopdar (kopi darat atau pertemuan anggota ) jika merencanakan sebuah aksi dan saat menyelesaikan rajutan menjelang aksi. Namun ke depannya terpikirkan untuk mengadakan kopdar secara rutin agar bisa lebih aktif berkarya,” kata ibu dua anak ini. Bagi Ati keberhasilan RajutKejut dalam mewujudkan aksinya memberi arti tersendiri tentang keber-
peningkatan minat baca di kalangan anak-anak dan remaja menjadi salah satu target Perpustakaan dan Arsip Kota Mataram
Aksi Komunitas Rajutkejut di car free day Jakarta
Harjuni Rochjati di antara teman-temannya Komunitas Rajutkejut
Harjuni Rochjati
samaan dan persatuan. Bayangkan saja, aksi ini bisa menggerakan orang-orang untuk menyumbang (rajutan). Penyumbang ini bukan hanya tanpa bayaran tapi juga telah menyempatkan waktunya untuk bekerja membuat rajutan. “Ini sungguh menarik,” katanya. Meski anggota Komunitas RajutKejut semakin banyak, katanya, namun sejauh ini belum berpikir untuk mengembangkan lebih jauh terkait kegiatan komunitas. “Banyak voulunteer RajutKejut yang membuat karyanya untuk dijual, namun ada juga yang hanya sekadar hobi. Ada juga yang menyelenggarakan kursus. Jadi saya kira kalau komunitas lebih baik mengkhususkan kegiatan pada aksi yarn bombing atau berkarya rajutan di ruang publik saja,” kata Ati sambil menambahkan mereka yang menjadi voulunteer RajutKejut berusia 10-80 tahun. Ati sendiri mengaku menyukai membuat aneka kerajinan, merajut adalah salah satunya. Baginya merajut bukan sekadar membuat produk tapi merupakan kesempatannya untuk mengekspresikan diri melalui bentuk dan warna yang terwujud pada hasil rajutan itu sendiri. “Lebih dari itu, merajut juga sebagai sarana melatih kesabaran,” kata Ati. -Diana Runtu
4
Inspirasi
Edisi 894/ 28 maret - 3 April 2016
Alumni “The Raid” Go International
Film “The Raid” menjadi pembuka jalan bagi sejumlah aktor Indonesia untuk go international. Iko Uwais, Joe Taslim, Yayan Ruhian juga aktor senior Ray Sahetapy, merasakan ‘buah’ manis film garapan sutradara Inggris, Gareth Evans, tersebut. Betapa tidak, aksi aktor-aktor Indonesia ini membuat kepincut para sutradara Hollywood . Hasilnya, para alumni The Raid pun diminta untuk ikut meramaikan film-film mereka.
Iko Uwais
T
ak tanggung-tanggung para alumni The Raid ini ditawari ambil bagian dalam film-film box office seperti “Star Wars: The Force Awakens” yang tayang perdananya Desember 2015 lalu. Mereka adalah Iko Uwais, Yayan Ruhian dan Cecep Arif Rahman. Sebelumnya, Joe Taslim yang juga alumni “The Raid” kebagian film box office “The Fast and the Furios 6”. Ray Sahetapy yang dalam film “The Raid” tampil sebagai Tama, bos bisnis narkoba, kebagian film “Captain America: Civil War” , yang rencana penayangannya Mei 2016 mendatang. Di luar dari para alumni The Raid
tersebut, masih ada sejumlah artis Indonesia yang juga berkesempatan tampil dalam film asing, di antaranya adalah Cinta Laura (“The Philosopher: After The Dark”) dan Christine Hakim (“Eat, Pray, Love”). Para aktor Indonesia ini mengaku bukan hanya bangga bisa tampil dalam produk film kelas box office tapi juga menimba banyak pengalaman. Iko bercerita, ia dan teman-temannya yang terlibat dalam “Star Wars” harus menahan diri untuk tidak berbicara tentang film tersebut selama dua tahun, sampai film itu di-launching. “Di sana ketat sekali. Kami bikin perjanjian untuk tidak buka
mulut soal film ini kepada siapa pun. Tapi gua ngomong sama istri (penyanyi Audy Item) dan orangtua. Soalnya ini kan syuting jauh dan lama, jadi mereka harus tahu. Kepada orangtua gua anggap penting karena minta ridho mereka. Tapi gua wanti-wanti banget untuk tidak ngomong ke orang lain. Kalau sampai bocor, karier gua di film internasional habis. Karena itu kepercayaan harus dijaga,” ungkap Iko yang sempat pusing karena selama dua tahun diberondong berbagai macam pertanyaan soal keterlibatan dia dan teman-temannya di film yang disutradarai JJ Abrams itu. Rasa penasaran tidak bisa dibendung, mereka pun mencecar lewat medsos. “Ya gua nggak bisa jawab lah,” kata Iko yang akhirnya terpaksa untuk sementara menghapus akunnya di medsos lantaran kebanjiran pertanyaan. Banyak pelajaran ditarik Iko dari pengalamannya bermain dalam film Hollywood. Salah satu di antaranya yang paling dirasakannya adalah soal kedisiplinan dan profesionalitas semua orang yang terlibat dalam produksi. “Semuanya tepat waktu dan terkoordinir dengan baik,”
ucap Iko yang baru-baru ini tampil di Kelapa Gading Mal, Jakarta, sebagai brand ambassador sebuah perlengkapan olah raga terkemuka asal Amerika. Lebih dari itu, aktor laga 33 tahun ini juga menjumpai suasana kerja yang berbeda. Awalnya, kata Iko, suasana terasa kaku karena masing-masing sangat berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Iko dan teman-temannya yang terbiasa menyapa, justru mendatangi tim kerjanya dan mengajak salaman. “Kita kan disini (Indonesia) biasa ya saling sapa. Nah waktu kita sampai sana, terasa kaku. Masing-masing konsentrasi pada pekerjaannya. Tidak ada ngobrol, apalagi bercanda. Pas kita datang, gua yang udah bisa nyapa, ya langsung datangi mereka dan ngajak salaman. Hahah...mereka sempat kaget. Tapi dari sana suasana jadi lebih enak, bisa ngobrol tanyatanya,” kata pria asal Betawi itu. “Bekerja di sana semuanya serba pasti. Semuanya ada hitungannya (bayaran). Kita bekerja 12 jam, jika lebih ada hitungannya. Jadi semua serba teratur dan terkoordinir juga cepat. Nggak ada yang
namanya berleha-leha. Tadinya gua pikir bakal ribet, ternyata enggak. Penyiapan next shoot cepet banget,” mantan atlet pencak silat nasional itu. Ketatnya disana juga dirasakan Iko soal script yang hanya bisa dibaca di sana, setelah syuting harus dikembalikan. Itu pun bukan script keseluruhan cerita namun hanya bagian yang diperankan dia. “Kita hanya memegang script kita saja, itu pun harus dikembalikan seusai syuting, nggak boleh dibawa pulang. Jadi kita nggak tahu keseluruhan cerita. Pakai ponsel boleh, tapi kamera dilakban,” ujar Iko yang memulai kiprahnya di dunia perfilman nasional lewat film ‘Merantau’ tahun 2009. Penampilannya memang singkat dalam film tersebut, namun Iko merasa bersyukur mendapat kesempatan itu. Hanya saja ada sedikit kekecewaan dalam hatinya, karena ada beberapa adegan fight yang tidak ditayangnya. Tapi ia maklum karena film yang dibintanginya itu untuk segala umur. “Ya ini film untuk segala umur. Sutradara sudah bilang. Jadi ya maklum,” ujarnya. Sejak mulai berakting sampai film “Star Wars”, Iko memang selalu ditangani oleh sutradara bule. Film Merantau yang menjadi film pertamanya adalah hasil besutan Gareth Evans, sutradara Inggris, begitu pula “The Raid” yang juga ditangani oleh Evans. Sedang “Star Wars” disutradarai oleh JJ Abrams. Karena itu, film “Headshot” yang bakal tayang perdana Juli 2016 adalah film pertama Iko yang ditangani sutradara Indonesia, Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel. –Diana Runtu
Gung Wah dapat Kontrak 26 Judul FTV
Berbekal modal sebagai seorang model catwalk dan foto plus rasa excited menjajal dunia baru yang menambah warna hidupnya, akhirnya aksinya berakting pertama di depan kamera lancar. Begitu disampaikan Anak Agung Ngurah Bagus Semara, perihal pengalaman pertamanya bermain FTV. Dikatakannya setiap kali syuting para pemain diberikan skrip . Dalam melakukan dan dialognya, mereka biasanya melakukan improvisasi sendiri. “Ini adalah salah satu tantangan di seni peran ini,” ujar Gung Wah begitu ia biasa disapa. Meski sudah terbiasa terjun di dunia entertainment sejak SMA , khususnya modelling, foto shoot serta iklan, ia mengaku dunia akting termasuk baru dijamahnya setahun terakhir. “Saya dicemplungkan teman ke dalam dunia seni peran ini,” kata juara pertama Teruna Denpasar 2010 dan Runner Up II Bagus Bali ini . Rupanya, seorang temannya yang lebih dahulu berkecimpung di dunia peran, diam-diam memberikan no HP kepada sebuah manajemen artis Bali-Jakarta. Hingga
suatu saat, Gung Wah pun ditelepon dan ditawari untuk bermain FTV. “Sempat kaget juga, tapi saya bersedia. Sebab saya pikir ini pengalaman baru. Ketika saya bertanya apa ada casting, saya diminta datang langsung ke lokasi tempat mereka syuting di Bali,” ujar sulung dari pasutri AA Putu Sukadana, S.Pt dan AA Ayu Alit Sri Wardani ini. Singkat cerita ia pun berhasil terpilih dari beberara kandidat yang mengikuti casting. “Saya ingat saat itu buku skenarionya setebal kripsi. Tanpa persiapan saya pun berupaya yang terbaik. Tak dinyana dari hasil video yang dikirim ke Jakarta saat itu pula saya ternyata lolos. Surprise sekali rasanya,” tutur Gung Wah sumringah. Lebih surprise lagi katanya pada hari itu juga ia diminta ikut bermain di FTV yang tengah digarap , judulnya “Cinta Tanpa Pelangkah” Jadilah Gung Wah berakting tanpa persiapan. Beruntung pemain utamanya Dion Wiyoko sangat terbuka dan sangat membantu termasuk belajar mengenal istilah dalam aktivitas syuting. Masih ada surprise lainnya yang dirasakan salah satu model papan
atas Bali ini langsung mendapatkan porsi cukup penting, yakni peran pembantu pemeran utama. “Surprise yang bertubi-tubi,” cetusnya. Selanjutnya Gung Wah juga mengatakan meski belum lama berkecimpung di dunia layar kaca, namun ia juga pernah terpilih menjadi pemeran utama dalam FTV “Berburu Calon Pengantin” Menurut Gung Wah, ketika mendapatkan kesempatan tersebut, ia sempat tidak percaya, mengingat dirinya masih tergolong pendatang baru. Terpilih sebagai pemeran pendamping pemain utama saja, baginya sudah cukup beruntung karena tidak melalui proses yang panjang. Bahkan, begitu ia berhasil menuntaskan syuting judul FTV yang pertama. tak tanggung –tanggung Gung Wah langsung dikontrak oleh Secreenplay Production untuk 26 judul FTV. Hingga saat ini ia baru menuntaskan 10 judul dengan berbagai karakter peran. Masih bicara soal pengalaman, selanjutnya Gung Wah mengisahkan kalau kerepotan muncul saat berganti pakaian. Sangat berbeda
Gung Wah
dengan proses ganti pakaian ketika menjadi model catwalk. “Sebab kalau di syuting FTV ini, ada yang namanya kontiniti yang mesti ditaati. Semuanya untuk memudahkan proses editing nantinya,” ucapnya sambil menambahkan selain itu sebagai aktor FTV Gung Wah juga diminta selalu menjaga kebersihan wajah agar tidak berjerawat, kulitnya tidak hitam dan kumis yang klimis demi penampilan di kamera. Hal menarik dari seorang Gung Wah, adalah ia anak muda yang tergolong disiplin. Maka, setiap akan
syuting ia sudah mencatat jadwal untuk dirinya , berapa scene. “Ini penting untuk mendisiplinkan diri sebab kalau urusan syuting problemnya adalah “menunggu dan bosan” mencatat jadwal dengan jelas langkah untuk menghindarinya,” kata mahasiswa Ekonomi dan Bisnis Unud yang tengah menyelesaikan skripsinya ini. Gung Wah juga sadar berada di era MEA. Untuk ini ia juga merasa bangga memiliki kepedulian dengan lebih banyak menggunakan local brand untuk kepentingannya syuting. – Sri Ardhini
Mandalika
Edisi 894/ 28 maret - 3 April 2016
21
Melongok Desa TKI di Lombok
Minat masyarakat di Pulau Lombok untuk menjadi Tenaga Kerja Indonesia ke luar negeri sangat tinggi. Kesulitan ekonomi menjadi salah satu faktor bagi masyarakat di Pulau Lombok untuk memilih bekerja ke luar negeri, termasuk salah satunya warga dari Desa Jenggik Utara Kecamatan Montong Gading, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Kisah-kisah sedih menjalani proses pra menjadi TKI/TKW, saat bekerja di negeri orang hingga pasca menjadi TKI/TKW ketika kembali ke kampung halaman, kerap terdengar.
Jenggik Utara Desa TKI di Lombok Timur
Menteri Tenaga Kerja RI, Hanif Dakhiri saat berkunjung ke Desa Jenggik Lombok Timur
P
erjalanan para TKI dan TKW asal desa yang memiliki 5.420 jiwa ini sering terjadi berulang. Warga desa ini telah berangkat menjadi TKI/TKW secara turun temurun sejak tahun 1980an. Ada yang menjadi TKI satu keluarga, ada yang menjadi TKI/TKI berulang-ulang sehingga menjadi TKI/TKW adalah salah satu pilihan hidup bagi warga di sini. “Bahkan sejak saya kecil saya sudah melihat orang-orang di kampung ini berangkat jadi TKI/TKW,” ungkap Hariadi, Kepala Desa Jenggik Utara. Jumlah warga Desa Jenggik Utara yang kini menjadi TKI dan TKW adalah sekitar 20% dari jumlah penduduk. Ketika minat menjadi TKI/TKW terus meningkat, Desa Jenggik Utara menjadi salah satu kantong TKI/TKW di Pulau Lombok. Di sinilah banyak masalah bermula. Mulai dari sebelum berangkat menjadi TKI/TKI, warga di sini kerap menjadi target empuk rentenir yang meminjamkan uang untuk biaya keberangkatan. Lebih dari itu, mereka juga menjadi target penipuan dari para calo yang berkeliaran. Mulai dari menipu mereka dengan janji akan diberangkatkan setelah mereka membayar biaya keberangkatan hingga lepas tangan ketika terjadi masalah yang menimpa TKI/TKW. “Keberingasan” para calo tidak pandang belas kasih, memalsukan dokumen agar mereka orangorang desa yang tergiur dengan pekerjaan ini dapat berangkat untuk menjadi TKI/TKW. Lebih parah lagi, banyak warga Desa Jenggik Utara menjadi TKI/TKW ilegal. Pemalsuan dokumen dan berangkat secara ilegal menjadi masalah yang tidak jarang sangat memilukan bagi para TKI/TKW ini. Banyaknya orang yang memilih menjadi TKI/TKW dengan berbagai permasalahannya inilah yang membuat Pemerintah Desa Jenggik Utara memberi perhatian khusus kepada warganya yang memutuskan menjadi TKI/TKW ke luar negeri. Karena itulah Pemerintah Desa Jenggik Utara mengeluarkan Peraturan Desa (Perdes) Nomor 3 Tahun 2010, Tentang Perlindungan dan Pembinaan Tenaga Kerja Asal
Desa Jenggik Utara. Segala hal menyangkut kebutuhan dan kepentingan menjadi TKI/TKW yang benar dan perlindungan dari calo dan lainnya diatur dalam Perdes ini. “Kami prihatin dengan kehidupan masyarakat di sini yang 80% adalah buruh tani dan buruh harian
yang membutuhkan lapangan kerja sehingga banyak yang memilih menjadi TKI/TKW namun mengalami banyak masalah. Untuk melarang mereka mencari penghidupan di luar negeri, tentu tidak bisa kami lakukan mengingat ketiadaan lapangan kerja di sini. Karena itulah kami merasa perlu melindungi warga Jenggik Utara ketika mereka memutuskan untuk menjadi TKI/TKW,” kata Hariadi. –Naniek I. Taufan
Pertemuan para TKI di Desa Jenggik Utara dengan aparat desa
Kaur TKI dan LSD, Perlindungan bagi TKI Melihat banyaknya TKI/TKW asal desa ini yang menemui masalah, membuat pemerintah Desa Jenggik Utara merasa memiliki kewajiban untuk memberikan perlindungan bagi TKI/ TKW asal Jenggik Utara. Karena itulah, dalam struktur organisasi Pemerintahan Desa Jenggik Utara kemudian memiliki Kepala Urusan TKI. Selain itu dibentuk pula Lembaga Sosial Desa (LSD) di mana di dalamnya terdapat paralegal, parafinance, konselor dan parainfo. Paralegal bertugas mengurus kasus dan masalah yang dialami TKI/ TKW asal Desa Jenggik Utara, termasuk persoalan legal dan tidak legalnya status menjadi TKI/TKW. Parafinance bertugas untuk mengontrol remiten dan memberikan advokasi kepada keluarga TKI/ TKW yang ditinggal di kampung halamannya ini. Demikian pula dengan konselor yang bertugas memberi pendampingan pada TKI/ TKW ataupun keluarganya yang mengalami broken home. Konselor bekerja sama dengan Ruang Perlindungan Trauma Center di Selong Lombok Timur. Begitu pula dengan adanya parainfo yang bertugas memberikan informasi yang mendalam tentang proses menjadi TKI/ TKW yang benar. Peran Kaur TKI ini menjadi sangat penting untuk mengarahkan warganya untuk menjadi TKI/TKW yang dimulai dari perekrutan dan dokumen-dokumen yang benar. Dan desa ini benar-benar memberikan perlindungan bagi warga sehingga tidak pernah akan terjadi pemalsuan dokumen oleh para calo. Karena sebelum berangkat, desa akan memastikan terlebih dahulu bahwa calon TKI/TKW mendapat izin dari keluarganya dan wajib hukumnya
Kantor Desa Jenggik Utara yang ‘melahirkan’ Kaur TKI
pemberi izin dan yang meminta izin untuk datang menghadap kepada Kepala Desa Jenggik Utara. Desa tidak sesekali memberi izin menjadi TKW pada wanita hamil, dalam masa iddah, ibu menyusui ASI eksklusif dan sebagainya. Semua tercantum dengan tegas dalam Perdes Nomor 3 tahun 2010 itu. “Tidak itu saja, kami membantu para calon TKI/TKW mulai dari rencana migrasi, dari mana modal awal diperoleh, apa tujuannya bekerja ke luar negeri hingga mengarahkan agar bagaimana mewujudkan tujuan itu dan membantu keluarga yang ditinggalkannya,” kata Suparni, Kaur TKI Desa Jenggik Utara. Problem yang dihadapi TKI/TKW di sini bukan hanya saat berangkat melainkan juga pada keluarga yang ditinggalkan. Banyak keluarga yang tidak bisa mengelola uang kiriman hasil kerja TKI/TKW sehingga menguap habis begitu saja, sehingga ketika sang TKI/TKW pulang uang
hasil kerjanya habis tak tersisa. Ini kerap menimbulkan masalah sosial baru di desa ini. Karena itulah desa melalui Kaur TKI ini kemudian membantu mengarahkan dengan tepat penghasilan TKI/TKW dengan membukakan dua rekening TKI/TKW tersebut, satu atas nama TKI/TKW yang bersangkutan untuk tabungan masa depan dan satu lagi rekening atas nama keluarga yang biasanya dipakai untuk biaya anak dan sekolahnya serta kebutuhan lain-lain. Di samping itu, desa ini memberdayakan para perempuan yang ditinggal para suaminya menjadi TKI, dengan memanfaatkan kiriman gaji dari suaminya sebagai modal membuat berbagai kerajinan dari bambu. Ada kelompok usaha TKI seperti kelompok sembako dan ada pula kelompok usaha pembuatan anyaman bambu. “Salah satu contoh di Dusun Cerek Lau’ hampir tak ada perempuan yang menganggur, mereka bekerja membuat kerajinan keranjang untuk buah dan sayur-sayuran juga anyaman bambu yang terbuat dari bambu,” kata Suparni. Bagi mereka yang telah kembali dari rantauan dan memilih tinggal di kampungnya, pemerintah desa bekerja sama dengan berbagai lembaga untuk dapat memberikan pelatihan keterampilan dan kewirausahaan bagi purna TKI/TKW ini sehingga terbuka lapangan kerja bagi mereka. Demikianlah besarnya perhatian desa terhadap warganya juga dengan memberikan edukasi-edukasi yang sangat berarti bagi para TKI/TKW maupun keluarganya. Dan atas perhatian terhadap warganya yang menjadi TKI/ TKW, desa ini pun mendapat julukan sebagai Desa TKI. -Naniek I. Taufan
22
Edisi 894/ 28 MARET - 3 april 2016
“Lampu Hijau” untuk Angkutan Umum Online Peluang Uber dan GrabCar untuk bisa tetap beroperasi agaknya kini terbuka. Pemerintah memutuskan baik Uber maupun GrabCar jika ingin tetap beroperasi harus mematuhan peraturan tentang angkutan umum, sama seperti angkutan umum lainnya. Seperti harus memiliki badan hukum atau bekerja sama dengan operator yang sudah ada, kendaraan harus di-KIR, dll. Disamping itu para sopirnya pun harus memiliki SIM A Umum.
U
ntuk mengurus segala sesuatunya, pemerintah memberi tempo selama dua bulan. Namun sambil menunggu segala persyaratan selesai diurus, baik Uber maupun GrabCar boleh tetap beroperasi tapi dilarang menambah armada. Hanya armadaarmada yang sudah terdaftar saja yang bisa tetap beroperasi. Keputusan yang diambil pemerintah ini mendapat respon positif dari pihak Uber dan GrabCar yang berjanji segera memenuhi semua ketentuan yang disyaratkan oleh undang-undang. Kabar terakhir yang terdengar, keduanya, baik Uber maupun GrabCar telah bergabung dengan koperasi. Mereka juga telah mendaftarkan diri ke Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) DKI Jakarta. Para sopir Uber misalnya telah bergabung dengan Koperasi Jasa Trans Usaha Bersama. Koperasi tersebut telah memiliki akta pendirian koperasi dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah. Begitu juga dengan sopir GrabCar yang telah tergabung dalam sebuah koperasi bernama Persatuan Pengusaha Rental Indonesia (PPRI). Sedang soal KIR, dan lain-lain kini dalam proses pengurusan.
Jika segala sesuatu berjalan dengan baik maka Uber maupun GrabCar legal untuk beroperasi. Namun keduanya bukanlah taksi, Uber dan GrabCar masuk dalam bisnis penyewaan kendaraan. Karena itu, Uber dan GrabCar tidak dapat berkeliaran mencari penumpang. Mereka hanya beroperasi berdasarkan pesanan. Di negara manapun memang terjadi ‘perang’ yang luar biasa antara perusahaan angkutan umum konvensional dengan perusahaan angkutan umum berbasis aplikasi. Tak terkecuali di Indonesia, khususnya Jakarta. Di mulai dari bentrok ojek pangkalan vs ojek online. Aksi sweeping-sweeping sudah bukan hal baru lagi. Dulu, ketika ojek online baru memasuki pasar, umumnya mereka takut dengan ojek pangkalan dan sebisa mungkin menghindar. Tapi seiring dengan semakin membengkaknya ‘pasukan ojek online’ mereka tak khawatir lagi mengangkut penumpang bahkan hingga ke depan rumah. Toh, menurut mereka, tidak ada penumpang yang direbut karena mereka mendapatkan pesanan langsung lewat aplikasi. Keberanian mereka semakin bertambah lantaran soliditas ‘pasukan ojek online’ ini sangat terasa.
Sudah banyak kasus terjadi dimana jika seorang teman mereka diserang maka pasukan ojek online ini dimana pun mereka berada akan berkumpul dan langsung menuju TKP untuk membela temannya. Kekerasan dilawan kekerasan, itu sudah seperti ‘hukum’nya. Namun seiring waktu, sudah jarang terjadi bentrok semacam itu. Ini tentu saja di antaranya adalah upaya pihak kepolisian dan instansi terkait yang berusaha mendamaikan juga memberi penjelasan kepada kedua belah pihak. Ditambah lagi, pemerintah sendiri dalam hal ini Pemda DKI Jakarta tidak mempermasalahkan keberadaan ojek online. Kini yang jadi persoalan bukan lagi ojek online vs ojek pangkalan tapi taksi konvensional dan ‘taksi’ berbasis aplikasi semacam Uber dan Grabcar. Para taksi konvensional merasa semakin terjepit dan semakin terancam ‘periuk nasi’-nya lantaran taksi berbasis aplikasi ini semakin merajalela dan jumlahnya dirasakan semakin banyak. Seperti halnya ketika
ojek online muncul apalagi dengan promo harga murah, maka masyarakat berbondong-bondong menyeberang ke ojek online, begitu pula taksi. Masyarakat merasa taksi berbasis aplikasi bukan hanya menyediakan kenyamanan kendaraan, tapi juga tarif jauh lebih murah ketimbang naik taksi konvensional. Maka para sopirt taksi konvensional seperti blue bird, express taxi, dll, pun menjerit. “Sekarang kondisinya parah banget bu sejak ada uber, pendapatan kami menurun hampir 50 persen. Kalaupun ada lebihan paling tipis-tipis. Berat! Mana ekonomi sedang sulit, jumlah penumpang makin sedikit. Kabarnya mereka yang biasa naik taksi biasa, lari ke uber karena murah. Lalu bagaimana nasib kami? Kami mengikuti peraturan, undangundang, kok kenapa jadi sulit. Lalu taksi online yang tidak mengikuti peraturan tentang angkutan umum kenapa bisa beroperasi seenaknya. “ “Saya sih tidak menyalahkan masyarakat yang tentunya mau lebih murah, tapi ini kan salah pemerintah, harus tegas dong. Mereka murah karena tidak bayar pajak, tidak ngurus izin iniitu, masak didiamkan. Ini negara ada aturannya nggak bisa dong. Aturan angkutan umum kan ada, ya itu dipatuhi,” tegas Udin, sopir taksiemosi. “Karena itu adanya demo besar-besaran yang terus dilancarkan oleh para sopir taksi menuntut sikap tegas pemerintah dalam menegakkan aturan, sangat didukungnya. “Saya juga ikut demo kok, tapi saya nggak anarkis ngerusak-rusak, ya itu kan nggak baik dong. Tapi saya gak menyalahkan rekan-rekan (anarkis) ya maklum dong kita semua lagi susah, jadi
terbawa emosi,” ujarnya. Curhatan Udin tersebut disampaikan sebelum diumumkannya solusi dari pemerintah atas kasus tersebut. Entah apa tanggapannya jika mendengar hasil rakor yang berlangsung di kantor Menkopolhukam Kamis (24/3) itu. Semoga saja bisa agak menenangkan para sopir taksi. Adanya kasus ini sekaligus menyadarkan berbagai pihak bahwa kemajuan teknologi memang tidak dapat dicegah. Peraturan yang dibuat terkait lalu lintas angkutan jalan belum mengantisipasi hal tersebut. Namun bukan berarti tidak ada solusinya. Setidaknya, sambil menunggu revisi undangundang yang tentunya akan berlangsung lama, maka solusi yang baru-baru ini ditawarkan pemerintah agar semuanya bisa berjalan, tidak ada yang dimatikan, mendapat tanggapan positif, setidaknya dari masyarakat. Seperti yang diungkap Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan bahwa teknologi berjalan lebih cepat dari aturan yang ada. “Tak terbayangkan ada taksi online bisa begitu murah,” katanya. Ia menyatakan tak menutup kemungkinan kelak UU LLAJ (Lalu Lintas Angkutan Jalan) direvisi. Namun, katanya, itu bukan hal mudah dan perlu waktu panjang karena harus dipikirkan bagaimana format yang pas. Soal penutupan aplikasi, menurut Luhut, itu belum menjadi pilihan pemerintah. Menurutnya menutup aplikasi tidak akan menyelesaikan masalah. “Kalau ditutup aplikasi, berapa ratus ribu lagi yang bakal ribut. Jadi sama saja, tidak menyelesaikan masalah. Solusinya tidak sesederhana itu. Jadi sabar lah, perlu waktu,” tegasnya. –Diana Runtu
Sosialita
Edisi 894/28 MARET - 3 april 2016
3
Ria Asteria
Berani Bermimpi Besar
Penyerahan kenang-kenangan kepada kedua narasumber Sudikerta dan bintang MirA oleh Ria Asteria
“P
restasi yang me rubah hidup saya dan memutuskan berani bertindak dan berjuang hingga bisa seperti sekarang ini,” ujar Peraih Piala Ibu Negara RI tahun 2012 ini di hadapan sekitar 400 peserta yang menghadir kan narasumber Wakil Gubernur Bali, Ketut Sudikerta (pengusaha) dan desainer senior bintang MirA (Peraih Penghargaan Wonder Woman of The Years M&I Awards 2015, Perempuan Inspiratif Tokoh 2015) yang juga owner & design Bali Batiku. Ria adalah nama panggilannya se jak kecil, tapi publik lebih mengenal putri sulung I Made Lilir Adnyana dan Ketut Budi Hartini ini dengan nama Asteria. Sehingga ia membangun personal branding dengan nama Ria Asteria. Terlahir dari keluarga mis kin tak lantas membuat perjalanan hidupnya hanya meratapi nasib tetapi
“Berani Bermimpi Besar, Anda pasti Bisa”. Semangat inilah yang lan tas membuat perubahan besar pada diri Ni Putu Asteria Yuniarti. Gadis muda kelahiran Lampung, 1 Juni 1992 ini dengan latar belakang perekono mian keluarga yang paspasan, kini telah mampu berdiri tegak sebagai motivator muda dalam Seminar dan Talkshow “Berani Bermimpi Besar”, Minggu (20/3) di The Grand Santhi Hotel.
JUSTRU MENGUBAH NASIB. “Saya anak muda yang sejak kecil sudah biasa dididik keras oleh orangtua untuk bekerja, menghasilkan uang dan hidup mandiri,” ungkapnya. Hingga menjelang umur 24 tahun ini pun, kakak dari Mita Septiani dan Wahyu Dinatha ini masih tekun dan ulet untuk mewujudkan impiannya
Seminar dan Talkshow “Berani Bermimpi Besar” dibuka Wakil Gubernur Sudikerta ditandai dengan pemukulan gong tujuh kali.
satu per satu. Berbeda dengan anak keba nyakan, Ria Asteria merintis karier sejak masih duduk di bangku SMA. Ia pernah menjadi guru les calistung (baca tulis danberhitung) untuk anak TK dan SD, guru les mata pelajaran untuk SD dan SMP, berjualan keripik, jualan canang, pelihara babi, dan kerja serabutan lainnya yang dila koninya sepulang sekolah. Naik sepeda motor, kehujanan, kena petir, jatuh, ban pecah, belum lagi harus buru-buru ada tugas pe nyuluhan atau menjadi MC, menjadi sekelumit cerita di balik apa yang ia raih saat ini. Bahkan, dikejar-kejar pihak bank karena tidak sanggup membayar cicilan/tanggungan bank pun pernah ia alami. “Bagaimana perasaan orangtua saya saat itu. Jangankan bantu bayar hutang, un tuk makan besok pagi saja orangtua saya harus kerja dulu hari ini agar esok kami sekeluarga bisa makan. Sungguh manis saat mengenang masa-masa itu beberapa tahun lalu,”
kisah Ria Asteria, Runner Up 1 Miss Internet Bali tahun 2015 ini. Tapi impiannya tak mati sampai di sana. Dalam kondisi terpuruk seperti itu pun, Ria Asteria tetap bertekad melanjutkan pendidikan
S2 di Surabaya, Jurusan Ilmu Ko munikasi, Pascasarjana Unitomo yang menjelang wisuda tahun ini, dan segera melanjutkan pendidikan S3nya di UNPAD Bandung, Jurusan Komunikasi. –ten
Komunitas Ria Asteria Billionaire Community
Suasana Seminar dan Talkshow “Berani Bermimpi Besar”, Minggu (20/3) di The Grand Santhi Hotel.
Bangun Komunitas untuk Generasi Muda
Ria Asteria (tengah) bersama keluarga
Usaha yang dirintis Ria Asteria saat ini adalah dengan konsep SOCIAL ENTREPRENEUR. Artinya, dengan menggunakan kemam puan entrepreneurship melakukan perubahan sosial (social changes). Ketertarikannya melakukan ini karena menurutnya ini bisa dijadikan solusi alternatif bahwa dalam berwirausaha kita tidak hanya fokus terhadap hasil atau uang saja namun juga dapat bermanfaat bagi orang lain. Karena bagi Ria Asteria, sukses itu adalah ketika kita
bermanfaat bagi banyak orang. Hal ini diwujudkannya, salah satunya dengan membentuk komunitas bernama RIA ASTERIA BILLIONAIRE COMMUNITY. “Komunitas ini adalah komunitas yang saya bangun atas dasar dedikasi dan kepedulian saya ter hadap generasi muda, agar generasi muda memiliki semangat berorganisasi, memiliki kemampuan public speaking yang baik, dan memiliki jiwa sosial,” ucap gadis energik yang mengidolakan Sang Ibunya. Selain itu, ia juga sedang membangun usaha lainnya, seperti Butik dan Salon yang merupakan hobinya. Karena, pekerjaan yang menyenangkan adalah ketika hobi itu juga bisa menghasilkan uang. “Jadi, saya berharap generasi muda saat ini, bukan hanya sekadar mengandalkan ijazah tamatan perguruan tinggi untuk bekerja tapi bagaimana generasi muda dapat mencip takan PELUANG. Karena dengan PELUANG maka UANG itu akan datang. Maka secara otomatis Revolusi Mental, dan tantangan dalam menghadapi MEA akan terjawab sudah. Sehingga, kita tidak hanya pandai mengkritisi namun juga mmberikan action. Itulah generasi perubahan,” papar Ria Asteria yang memiliki segudang aktivitas, di antaranya sebagai pembicara/tenaga pe nyuluh tentang Kespro, NAPZA, HIV/AIDS, pelaku Usaha Network Marketing QNET dan juga Dosen di kampus Sekolah Perhotelan Internasional. “Salah satu impian saya adalah menjadi motivator wanita asal Bali tapi mampu mendunia. Saya ingin seperti Merry Riana yang berkontribusi da lam pengembangan SDM dengan mengajak anak-anak muda ada dalam komunitasnya,” imbuhnya. Untuk itu, Ria Asteria mengajak para generasi muda yang berminat untuk ikut dan bergabung di komunitas ini, disilahkan menghubungi: official_riaas teria@yahoo.co.id atau di nomor official 0812 3670 2009. –ten
2
Edisi 894/ 28 maret - 3 April 2016
GORO-GORO A m a t nonton Festival Film Setan, karena putra teman karibnya yang menjadi pemeran utamanya, minta Putu Wijaya masukan. Judulnya: AIR MATA SETAN Gedung penuh. Hanya kursi di samping Amat kosong. Setelah seperempat jam berlalu, baru datang pemiliknya. Ternyata seorang perempuan cantik. Sepanjang film diputar, dia hanya kaku memandang ke layar tidak mengedipkan mata. Tadinya Amat berharap dia akan ketakutan lalu tak sengaja menggapai tangan Amat untuk perlindungan. Pasti Amat tidak akan menolak. Senior kan wajib melindungi generasi muda. Tapi tidak. Justru Amat sendiri yang agak ketakutan dan tak sengaja menyentuh tangan perempuan itu. Tanpa menoleh dia bertanya. “Apa ini kursi Bapak yang aku duduki?” “O bukan, Dik.” “Kalau begitu, memang kursi dia.” “Dia? Dia siapa?” “Itu laki-laki yang aku kepot di kamar kecil.” Amat tertegun. “Anda salah masuk kamar kecil
laki-laki?” “Tidak. Orang itu buru-buru ke kamar kecil, aku tahu dia pemilik kursi ini. Aku kerjain saja dia mencret sampai sekarang di situ.” Amat kaget. Ia perhatikan perempuan cantik itu dan merasa aneh. Lalu tercium aroma harum yang menyeramkan. Amat tidak percaya bau itu keluar dari film yang sedang main, tapi dari perempuan di sebelah itu. Bulu kuduk Amat tiba-tiba berdiri. Sejak itulah, ia tidak tenang lagi. Film selesai, semua orang berdiri. Tapi Amat tidak bisa mengangkat pantat. Rasanya bokongnya sudah disatukan dengan kursi itu. Perempuan cantik itu menoleh. Ya Tuhan, dari depan dia semakin cantik lagi. “Pak Amat suka film ini?” tanyanya. Amat tersirap, namanya disebut “Tidak.” “Lalu kenapa monton.” “Anak teman saya yang jadi setannya, minta tanggapan.” “Ya, bilangin dia, mainnya jelek. Masak setan begitu!. Aku bukan saja tidak suka, tapi tersinggung. Ini film konyol!” “Betul.” “Tidak, kamu tidak paham, Mat! Kamu pasti sok bicara soal-soal teknis. Aku justru bicara masalah esensinya. Teknis itu bisa ditingkatkan, tapi persepsi salah, itu harus
film setan
dihukum karena tidak bisa diperbaiki. Film ini semua bohong. Bullshit! Ini manipulasi. Satu contoh ketidakadilan dan sakit jiwa itu kan kalian semua manusia!” Amat mulai ketakutan. “Semua manusia?” “Ya!” “Maksudnya?” Perempuan itu tersenyum. Lebih cantik lagi dari yang tadi. Tapi sayang salah satu giginya bersinar seperti disepuh emas. “Adik ini siapa?” “Kamu tidak tahu aku, Mat?” “Tidak.” “Lebih baik tidak. Kamu akan menyesal.” “Kenapa?” “Kamu tidak akan percaya.” “Saya percaya.” “Betul?!” “Entahlah.” Perempuan itu ketawa. Belum pernah Amat mendengar ketawa yang begitu indah. Halus tapi menggigit dan sensual. Pikiran nakal ngeres Amat keluar. “Adik siapa?” “Aku setan.” Amat hampir saja pingsan. Tapi setan cantik itu cepat mencekik lehernya. “Jangan lari! Denger! Setan yang sebenarnya tidak sesetan yang ada di film kamu itu! Manusia memang
sudah seenaknya saja ngomong tentang setan. Kamu pikir setan itu bodoh dan jahat semua? Gile! Kamu pikir manusia lebih baik dari setan? Sialan! Lebih baik apa?! Lebih banyak manusia yang bonyok dari setan yang rusak. Coba pikir pakai otak kamu! Kalau setan itu jahat, itu kan memang sudah harus begitu, namanya juga setan. Tapi kalau manusia mengisap darah, menginjak-injak manusia lain, membunuh, makan uang rakyat, melalap harta negara, membunuh TKW, diskriminatif dan melanggar HAM LGBT, memperkosa anak-anak, menindas etnik dan agama lain, meledakkan gedung dan mengorbankan ribuan nyawa, memelintir kekuasaan keadilan dan kebenaran, meracun dengan larutan sianida dan miras oplosan, malah kamu bela itu atas nama politik, idiologi, demokrasi, perjuangan internasional dan segala pukrul bambu lain. Prek! Kalian kan mengakunya beragama? Betul beragama atau beragam A-nya? Kami yang tak beragama saja nggak lebai begitu! Aku jadi terbakar mau bikin film kalau begini! Aku akan bikin film setan yang betul! Tentang setan yang lebih jujur, tidak memihak, tidak diskriminarif dan demokratis. Aku akan buktikan manusia itu lebih setan dari setan! Aku tidak perlu bintang-bintang dengan bayaran ratusan juta. Dalam filmku manusia tidak akan pernah jadi peran utama. Pemegang rolnya setan. Bandit-banditanya, tukang pemerkosanya, pembunuh, penipu, mafia dan peran-peran pembantu ece-ecenya, baru manusia. Kamu boleh ikut. Aku kasih dialog satu baris. Catat: Setan lebih manusia dari manusia, manusia
Ekspresso lebih setan dari setan! Kamu harus nonton filmku nanti. Kalau tidak, aku bikin kau mencret seumur hidup!” Perempuan itu berdiri dan menarik Amat terkelupas dari kursi. “Sebentar, ibu jangan menilai film Indonesia dari satu film,”kata Amat memberanikan diri, ketika mulai bisa ngomong lagi. “Kenapa tidak? Kamu pikir setan tidak mampu menilai?” “Bukan begitu, Bu. Jangan menilai buku dari kulitnya saja. Kalau mau menilai, nonton film yang lain!” “Buat apa?!” “Untuk perbandingan!” “Tidak usah! Aku tidak perlu meniru Wakil-Wakil Rakyat kamu yang doyan studi banding itu!” “Bukan! Untuk mendapatkan hasil maksimal, demi Tuhan, tontonlah film Indonesia yang lain, sebelum Ibu bikin film.” “Aku tidak pernah minta bantuan Tuhan kalau bekerja, memangnya aku ini kamu, apa-apa bawa nama Tuhan. Bunuh orang juga atas nama Tuhan! Membunuh juga pakai nama Tuhan!” “Maaf, tapi jangan begitu, Bu, tolong tonton dulu semuanya sebelum membuat kesimpulan. Maaf, tadi kan Ibu bilang Ibu demokratis! Hormatilah pendapat orang lain!” “Aku hormati dengan perbuatan, bukan dengan kata-kata. Itu cara setan! Kamu kan lain. Kamu hormati orang lain kalau kamu disuap. Demi keuntungan kelompokmu kamu muliakan segala cara. Teriak-teriak bela nasib rakyat. Tapi di balik itu, semuanya hanya untuk kenikmatan kelompokmu sendiri, persetan kelompok lain. Kamu mencak-mencak menuduh orang menganiaya kelompokmu dan pura-pura tidak tahu kelompok kalian sendiri justru meresahkan mayoritas di sekitarmu. Setan yang kamu injak-injak hak asazinya macam film tadi itu tanpa peduli peri kesetanan!”
Peran Keluarga dalam Mendukung Gerakan Keluarga Sadar Obat
Salah satu tujuan Millenium Development Goals yang ditetapkan oleh dunia (MDGs 2015) adalah peningkatan taraf kesehatan dengan mengutamakan peran preventif dan promotif kesehatan. Tindakan preventif kesehatan merupakan tindakan pencegahan terhadap timbulnya suatu penyakit, baik dengan pemeliharaan kesehatan lingkungan, pemeliharaan status gizi dan aktivitas, serta pemeliharaan terhadap kesehatan rohani dan spiritual. Keluarga memegang peranan penting terhadap pemeliharaan kesehatan dasar sehari-hari sejak usia dini. Dalam menjalankan aktivitas, paparan polusi yang berasal dari asap rokok, asap kendaraan bermotor, padatnya aktivitas yang memicu stres fisik, emosional dan kurang tidur, paparan mikroorganisme dan virus menjadi faktor pemicu timbulnya penyakit. Pada umumnya, penyakit dapat ditangani dengan melaksanakan tatalaksana terapi non farmakologi (tanpa obat) dan terapi farmakologi (dengan obat). Pengamanan dan penggunaan sediaan farmasi dan alat kesehatan adalah bagian dari tujuan upaya peningkatan derajat kesehatan sesuai yang tertuang dalam UU RI Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, obat merupakan suatu zat yang dapat menyembuhkan namun juga mengandung zat racun. Berdasarkan efek terapi yang ditimbulkan, terapi obat terdiri atas terapi kausatif yaitu terapi
bacaan wanita dan keluarga
Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998
yang bertujuan untuk menyembuhkan suatu penyakit, dapat melalui membunuh suatu mikoorganisme misal antibiotik. Terapi simptomatis yaitu terapi yang bertujuan untuk menghilangkan atau meredakan suatu gejala penyakit (symptom), misal dekongestan hidung. Berbagai permasalahan tentang obat masih sering dijumpai di masyarakat, seperti penyalahgunaan obat, penggunasalahan obat, efek samping obat, alergi obat, ketidakpatuhan dalam menjalankan terapi obat, maraknya peredaran obat palsu, bahan kimia obat dalam obat tradisional dan lain-lain. Permasalahan tersebut muncul karena kurangnya pengetahuan tentang obat dan kurangnya kesadaran masyarakat akan obat dan alat kesehatan. Gerakan Keluarga Sadar Obat (GKSO) adalah upaya meningkatkan kesadaran masyarakat dan mencerdaskan masyarakat dalam berperilaku sehat, khususnya terkait obat di kalangan keluarga. Gerakan ini mulai diperkenalkan oleh Ikatan Apoteker Indonesia (IAI). Salah satu slogan yang disebarluaskan kepada masyarakat terkait penggunaan obat yang baik dan benar, terutama di kalangan keluarga adalah slogan “DApatkan, GUnakan, SImpan, BUang” (DAGUSIBU) yang mengandung makna, sebagai berikut : DA (Dapatkan): Obat sebaiknya didapatkan dari sumber fasilitas kesehatan yang terpercaya. Dalam hal
Made Ary Sarasmita
ini seorang konsumen bisa mendapatkan obat sesuai dengan kebutuhan penyakitnya, contoh apotek, klinik, puskesmas, rumah sakit, dan toko obat. Keluarga dapat bertanya tentang pengobatan kepada apoteker agar diperoleh obat yang sesuai dengan kebutuhan penyakitnya. GU (Gunakan): Obat sebaiknya digunakan sesuai dengan petunjuk penggunaan baik yang tertera dalam kemasan, maupun petunjuk penggunaan yang disarankan oleh dokter, maupun apoteker. Terdapat beberapa obat yang cara penggunaannya bervariasi, seperti inhalasi, per oral,
injeksi, salep, krim, patch dan lain sebagainya. SI (Simpan): Obat sebaiknya disimpan sesuai dengan petunjuk penyimpanan baik yang tertera dalam kemasan maupun petunjuk penyimpanan obat yang disarankan oleh apoteker. Beberapa obat dapat disimpan pada suhu kamar dalam wadah yang terlindung sinar matahari dan bau menyengat, namun beberapa obat lainnya memerlukan penyimpanan di bawah suhu ruang seperti lemari pendingin. BU (Buang): Obat sebaiknya dibuang apabila sudah tidak digunakan dalam jangka waktu yang lama, mencapai waktu kadaluwarsa obat, serta mengalami perubahan sifat fisika kimia obat, seperti terjadinya perubahan warna, bentuk, maupun bau. Selain itu, apabila sediaan obat tercemar dengan kontaminasi bakteri maupun jamur, maka sebaiknya obat dibuang. Cara pembuangan obat sebaiknya mengikuti petunjuk
yang tertera agar tidak mencemari lingkungan dan tidak disalahgunakan oleh orang lain, antara lain memecahkan botol agar botol tidak digunakan kembali oleh oknum yang menyalahgunakan, merobek sediaan blister dan menghancurkan obat yang berbentuk tablet, kapsul dan pil. Dalam hal keluarga, seorang wanita (ibu) dapat berperan penting dalam meningkatkan kesadaran dan pemahaman keluarganya tentang obat. Wanita dapat memperkenalkan tentang DAGUSIBU kepada suami dan anak-anaknya, serta dapat membagikan pengetahuan tentang obat yang didapatnya kepada lingkungan sekitar, sehingga Gerakan Keluarga Sadar Obat dapat ditingkatkan guna mewujudkan Indonesia Sehat 2020. Made Ary Sarasmita, S.Farm, M.Farm.Klin, Apt Dosen di Jurusan Farmasi Fakultas MIPA Universitas Udayana / Apoteker
Kata Hati Rubrik ini khusus untuk wanita yang ingin menuangkan ide/pemikiran/ gagasan dalam bentuk tulisan. Tema terkait wanita dan keluarga serta tidak mengandung unsur SARA. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter (1,5 halaman A4; spasi 1,5; times new roman 12). Lampirkan juga foto close up (bukan pasfoto). Cantumkan nama lengkap, profesi, nomor hp, dan alamat email. Naskah dikirim ke redaksi@tokoh.co.id, redaksitokoh@yahoo.com. Tulisan yang dimuat mendapatkan bingkisan dari Telkomsel. Telkomsel sebagai satu-satunya operator paling Indonesia selalu berkomitmen untuk membangun dan memajukan Indonesia. #UntukIndonesia
Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budia rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Sek retariat: Ayu A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan Palm erah B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–Telepon (0370) 639543– Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456– F aksim ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.
Sudut Pandang
Edisi 894/ 28 maret - 3 April 2016
23
Film Komedi bikin Stres Hilang Film Indonesia saat ini sudah mulai aktif lagi dengan munculnya banyak film dengan tema yang bervariasi, pemain film baru dan sutradara yang semakin bagus kualitasnya. Hal ini diungkapkan I Dewa Ayu Novia Saraswati, S.H.,
M
enurut karyawati swasta ini, menonton film biasanya dilakukan bersama keluarga dan yang disukai adalah film keluarga seperti film-film produksi Disney yang disukai anak-anaknya. Selain itu, ia juga sering menonton film komedi. “Kadang kalau suami pengen nonton berdua biasanya kami menonton film tema action yang disukai suami,” ujar istri dr. Made Agus Hendrayana ini. Ia menambahkan, menonton film biasanya dilakukan saat liburan anak sekolah atau hari libur hari raya agar tidak menganggu jam belajar anak. “Kami biasanya menonton di bioskop yang ada di mal agar bisa langsung jalan-jalan dan makan atau belanja. Kalau di bioskop di dalam mal biasanya lebih nyaman dan kualitas gambar dan suara sangat bagus,” tutur Novi. Kalau menonton film Indonesia biasanya yang tema cinta atau remaja karena biasanya sedang ngetren dan banyak dibicarakan. “Kami jadi penasaran dan tertarik menontonnya,” kata Novi. Kalau film barat, ia sekeluarga suka nonton film tema keluarga dan komedi karena cocok untuk
semua umur dan menghibur anakanak. “Kalau suami film barat lebih suka tema action hero,” katanya. Ia menilai, film Indonesia yang vulgar sudah bukan zamannya lagi sekarang. Film Indonesia yang vulgar mungkin ngetop di tahun 1980-an, karena zaman itu hal yang berbau vulgar tidak mudah ditemukan untuk dikonsumsi perorangan karena belum ada internet atau media lainnya. ‘Kalau zaman sekarang orang yang mau melihat yang vulgar-vulgar tinggal buka internet. Jadi kalau sekarang mau buat film jadi sukses tidak usah membuat film yang vulgar, justru orang-orang malu untuk menontonnya,” ujarnya. Sekarang ini film Indonesia sudah mulai maju dan makin kreatif. Banyak film Indonesia dibuat dengan sungguh-sungguh tidak hanya mengejar keuntungan tapi sudah menunjukkan kualitas. Ia berpendapat, kalau ingin perfilman di Indonesia tambah maju, sebaiknya para sineas dan produser film membuat film dengan serius dan memperhatikan kualitas, tidak membuat film yang asal jadi asal vulgar dan asal banyak yang nonton. Nanti malah menghasilkan film dengan kualitas kacangan.
I Dewa Ayu Novia Saraswati
Mirah Kristina Agung
Namun, ia melihat, tematema film Indonesia sekarang ini sudah semakin bervariasi temanya. Sayangnya, tema-tema film Indonesia banyak yang latah dan suka ikut-ikutan dengan film yang sukses sebelumnya. “Sebagai contoh dulu awalnya sempat ngetop film bertema horor dengan diawali film “Tusuk Jelangkung karena sukses. yang lain pada ikut-ikutan buat film horor,” ujar perempuan kelahiran Denpasar, 1 November 1980 ini. Demikian juga dengan film dengan tema romantisme remaja, banyak produser membuat film yang sejenis. Yang pernah ngetop juga film dengan tema religius dengan ada kisah cinta di dalamnya, kemudian disusul banyak juga membuat film-film religius.
Ibu dari Putu Prasista Ardyaswari Mahavira dan Made Prabandari Divya Mahacita menilai, tema film Indonesia yang ngetrend saat ini adalah romantisme yang ditambah unsur religius yang mengambil lokasi film di luar negeri, mulai dari Paris, London, Praha, Beijing dan banyak lagi, jadi kelihatan sekali unsur latah atau ikut-ikutan. RAJA DI NEGERI SENDIRI Sementara itu, menurut Mirah Kristina Agung, ST, film Indonesia saat ini sudah makin bagus, kualitas visual effect dan alur ceritanya sudah banyak kemajuan. Penyelesaiannya pun, lebih susah ditebak dan ceritanya menghanyutkan, seperti film barat.
Ia mengatakan, suka menonton film komedi. “Biasanya akhir pekan saya bersama keluarga nonton di XXI Beach Walk sekalian belanja. Komedi Indonesia saya rasa pas banget dengan selera kami karena mengambil ide dari hal-hal lucu yang ada di sekitar kita,” ujar istri dr. IGN Darmaputra, Sp.KK ini. Owner D&I Skin Centre ini, mengatakan, kalau menonton film barat lebih suka action, sebab visual effect-nya luar biasa. “Kami merasa ikut merasakan keseruan dalam film barat,” imbuhnya. Ia bersyukur, saat ini film indonesia yang vulgar sudah tidak terlalu menonjol. “Saya rasa tayangannya kurang mendidik, dan menunjukkan kualitas filmnya masih rendah karena hanya menjual hal yang vulgar biar ditonton, jadi bukan ceritanya yang utama. Ia menyarankan, agar film Indonesia menjadi raja di negeri sendiri, sebaiknya tetap menjadi diri sendiri. “Gali fenomena yang ada di seputar kita, contoh kayak film Comic dengan humor khas Indonesia, atau bahkan seperti kesuksesan AADC yang menggali kisah cinta anak-anak muda dengan alur cerita menarik, bisa membuat anak muda kita mencintai dan bangga menonton film Indonesia,” katanya. Menurutnya, tema yang diperbanyak komedi karena saat ini orang perlu hiburan yang bisa membuat mereka tertawa sekaligus penghilang stres. –Wirati Astiti
Bioskop Mini Pengobat Rindu Pada era tahun 1980-an, di Nusa Tenggara Barat, bioskopbioskop menjamur hingga ke kabupaten bahkan juga ke kecamatan-kecamatan. Di Mataram sendiri, pada era ini terdapat empat bioskop yang selalu ramai dikunjungi masyarakat penontonnya, yakni Bioskop Irama yang berada di jalan Pejanggik, bioskop Gemini dan bioskop Rinjani di Cakranegara serta bioskop Ramayana di Ampenan. Di masanya, bioskop-bioskop ini memiliki penonton dengan jumlah yang cukup besar. Menurut Kongso Sukoco, sutradara teater kawakan di Mataram, bioskop di Mataram pada masa itu bisa dikatakan sebagai satu-satunya hiburan modern yang ada di Mataram. “Dulu masyarakat menonton film, bukan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan hiburan melainkan juga perlu terhadap kisah-kisah dan cerita yang disajikan film tersebut,” ungkap mantan Ketua Dewan Kesenian NTB ini. Film-film action dan kepahlawanan menjadi salah satu film yang paling digemari masa tersebut.
Kongso Sukoco
Namun, era kejayaan bioskop-bioskop tersebut di NTB khususnya di Mataram, berlalu pada sekitar tahun 1990an, ketika home-home teater “menyerang” masuk ke rumah-rumah dengan begitu mudahnya. Film-film yang terformat dalam compact disk (CD) dijual dengan begitu mudah dan murah harganya. Cukup lama home teater melenakan keluargakeluarga di Mataram sehingga, empat bioskop tersebut lambat laun “mati suri” hingga akhirnya benar-benar tutup.
Selanjutnya pada sekitar tahun 2000-an sempat muncul beberapa bioskop mini, namun umurnya sangatlah pendek. “Masa itu biokop mini hadir untuk menjawab kerinduan masyarakat menonton film di layar lebar, tetapi rupanya tidak mampu menjawab bahwa kebutuhan menonton film di Mataram kala itu sudah bukan semata-mata menonton cerita, melainkan sudah mulai mengarah ke gaya hidup,” lanjutnya. Itulah sebabnya bioskop mini usianya pendek, karena dengan gedung yang mini juga layar yang mini, pula dengan teknologi yang biasa saja, sehingga tidak mampu secara tuntas memenuhi kebutuhan gaya hidup tersebut. Memang, bagi sebagian penonton kala itu, hadirnya bioskop mini di pusat perbelanjaan yang jumlahnya sangat terbatas, mampu menjawab kerinduan untuk menonton film di layar lebar. Juga bersifat nostagia bagi pencinta film seperti Prima dan Triana Wulan. Keduanya tinggal di salah satu kecamatan di kabupaten Bima yang masa-masa kecil mereka sangat sering diajak menonton film oleh orangtuanya.
“Hadirnya bioskop mini waktu itu, meski terbatas, sedikit banyak mengobati kerinduan saya pada sajian cerita di layar lebar. Sekalian saya ingin memperkenalkan anak-anak saya pada tontonan yang menggunakan media layar lebar,”ungkap Prima. Ia menyadari, bahwa menonton film di bioskop itu memberikan pengalaman yang berbeda bagi anak-anaknya meskipun tidak “lebih seru” dari masa kecilnya. GAYA HIDUP Maka ketika di akhir tahun 2015 lalu, bioskop yang representatif hadir di Kota Mataram, Prima dan Triana Wulan juga datang ke Mataram mengajak anak-anaknya untuk menonton di bioskop modern yang menawarkan segala jenis fasilitas kenyamanan. Bagi Triana, bioskop representatif yang hadir di Kota Mataram telah mewakili modernitas dan gaya hidup yang menjadi kebutuhan masyarakat masa kini. Menonton bioskop sebagai gaya hidup juga dikatakan Kongso Sukoco. Hadirnya bioskop modern di Kota Mataram, yang kini ramai penonton juga merupakan
bagian dari bahwa bioskop yang mewakili hiburan modern sudah menjadi kebutuhan untuk memenuhi gaya hidup. “Menonton bioskop bagi kebanyakan orang di Mataram masa sekarang hampir tidak banyak alasan untuk melihat cerita, melainkan bagian dari gaya hidup. Yang menonton cerita biasanya para intelektual atau pemerhati film yang memang membutuhkan menonton ceritanya,” ungkap Kongso yang mewakili seniman yang pada tanggal 28-30 Maret 2016 ini tengah ikut dalam diskusi pemikiran alternatif rancangan RUU Kebudayaan yang diselenggarakan Koalisi Seni Indonesia di Jakarta. Dilihat dari penontonnya, bioskop modern yang representatif di Mataram ini kebanyakan anak muda dan remaja serta anakanak. Selain menonton, mereka -remaja biasanya datang bergrup biasanya sembari jalan-jalan di pusat perbelanjaan tempat bioskop tersebut berada. “Jadi bukan cerita yang utama dari menonton bioskop hari ini, melainkan pula media pergaulan dan gaya hidup,” kata Kongso. -Naniek I. Taufan
24
What’s Up
Edisi 894/ 28 MARET - 3 April 2016
AA Ayu Ketut Agung
Busana Adat Bali makin Digemari Nama Dr.Anak Agung Ayu Ketut Agung,M.M. memang sudah sangat akrab dengan urusan tata rias dan busana adat Bali. Di tengah era modern ini, kreativitas dan inovasi para perias muda diacunginya jempol. Namun, dalam setiap kesempatan ia selalu mengingatkan agar tata rias dan busana adat Bali tersebut boleh saja dimodifikasi asal tak kebablasan, disesuaikan dengan situasi dan kondisi.
H
al tersebut juga terus disosialisasikannya dalam tiap r o adshow yan g digelar hingga ke pelosok desa
bekerjasama dengan Kelompok Media Bali Post, Viva Cosmetics, organisasi wanita, instansi pemerintah, maupun swasta. Tujuannya, tentu agar tata riasdan
Bu Agung bersama Ny. Bintang Puspayoga, istri Menteri Koperasi dan UKM yang juga Ketua WHDI Bali bersama artis Cynthia Lamusu (kanan) menggunakan busana tengkuluk lelunakan
busana adat Bali masih tetap ajeg dan lestari. Salah satu busana adat Bali yang kini makin popular dikenakan dalam tiap kesempatan adalah tengkuluk lelunakan, seperti untuk menyambut tamu, untuk seka gambel, MC, paduan suara, dan acara lainnya. Pada hakekatnya, pada zaman dulu
Irwandi Wijaya dan keluarga dalam balutan busana adat Bali
Iwabri dalam balutan busana tengkuluk lelunakan serangkain HUT Iwabri ke-16
busana tengkuluk lelunakan ini memang diperuntukkan saat upacara pengabenan/palebon di Denpasar dan Badung. Sekarang, busana tengkuluk lelunakan sudah menjadi salah satu busana adat Bali. Dan, dipakai juga sebagai busana kebesaran saat grand final Pemilihan Teruni Denpasar sejak berdiri sampai sekarang.
Seperti belum lama ini, Bu Agung juga mendapat kepercayaan merias tengkuluk lelunakan dalam upacara palebonan di Puri Satria, Denpasar. Menariknya, anak-anak yang menanganinya adalah anak-anak kejar paket, Bu Agung hanya yang mengawasi. “Pagi mereka belajar di salon, sore mereka sekolah,” ujar Bu Agung. Pada kesempatan yang berbeda pula, busana tengkuluk lelunakan ini juga dikenakan oleh Ikatan Wanita Bank Rakyat Indonesia (Iwabri), serangkaian HUTnya yang ke-16. Ketua Iwabri Denpasar Ny. Irwandi Wijaya mengatakan sangat senang dan kagum dengan kreativitas dan inovasi karya seni yang dipadukan menghias profesional tanpa menghilangkan adat Bali. “Walau berhijab, kami tetap masih bisa memakai busana adat Bali. Memang dengan kombinasi dan kolaborasi yang penuh inovasi, kami sangat bagus memakai busana adat Bali,” ucapnya. Inspektur BRI Denpasar Irwandi Wijaya menambahkan, busana adat Bali merupakan suatu budaya yang jangan sampai kita orang Indonesia tidak mengerti, karena orang luar saja mengerti. “Dan, memang sudah menjadi tugas dan kewajiban kami, BRI untuk turut juga melestarikan budaya Bali. Tak hanya Bali saja, di tempat lain kami juga meminta untuk menggunakan pakaian daerahnya masing-masing,” ucapnya. Rupanya hal ini berlanjut. Pasutri ini merasa sangat excited dengan busana adat Bali. Jumat (25/3), Irwandi Wijaya sekeluarga pun membuat dokumentasi keluarga dengan busana adat Bali. “Rasanya belum lengkap jika ke Bali tak memiliki dokumentasi memakai busana adat Bali,” tandas Ny. Irwandi Wijaya. –Inten
redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id
mingguantokoh
@mingguantokoh
mingguantokoh
www.tokoh.co.id