Skip to main content

Tokoh Edisi 891 | Tokoh

Page 1

24

Edisi 891/ 7 - 13 MARET 2016

Memahami Kekurangan dan Kelebihan

Dalam hidup ini tak ada yang sempurna. Dari berbagai aktivitas yang kita jalani tak jarang terjadi kekeliruan. Karenanya secara berkala kita perlu melakukan evaluasi. Cukup banyak peristiwa yang membuat kita harus belajar lagi dan membiasakan introspeksi diri atau sering pula disebut dengan kontemplasi pribadi dan refleksi diri.

M

enurut Kenrina A n g g o r o Wu ­ landari pemi­ lik Izatta We­ dding & Decoration untuk mengetahui kekurangan dan kelemahan pribadi, agar da­ pat mengembangkan diri menjadi lebih baik lagi. Introspeksi diri san­ gat diperlukan sebab pengalaman yang sama tidak selalu hasilnya sama. Dengan introspeksi diri kita akan dapat menemukan titik dan

inti dari setiap tujuan yang kita lakoni. Apakah langkah yang telah kita lakoni sebelumnya sudah benar atau belum. Dikatakannya, selama ini harus diakui sering kali kita melihat ke­ salahan orang lain bahkan meng­ kritiknya. Namun, pernahkah kita menyadari kalau kita juga cukup sering berbuat salah. Melalui introspeksi diri sendiri, saya dan kita semua akan bisa memahami kekurangan dan kelebihan yang

kita miliki, katanya. Dengan introspeksi, lanjut Kernina dirinya bisa lebih banyak menanyakan ke dalam diri send­ iri, apakah dia sudah berhasil mencapai apa yang diharapkan­ nya, apa yang ia mau dan apakah mimpinya sudah terlaksana. Tentunya satu pertanyaan besar pada dirinya apakah ia selama ini sudah berada pada track yang benar. Introspeksi diri inilah yang bisa mengetahui apakah diri saya sudah melakukan sesuatu, men­ jalankan perubahan menjadi lebih baik, dan menyadari jika tindakan yang saya lakukan sudah tepat, paparnya. Sebagai manusia, katanya ka­ dang kita masih sering terlena dan berpikir santai aja nanti juga akan beres. Toh saya sudah melaku­ kannya dengan baik. Tanpa kita pernah memikirkan sesungguh­ nya terjadi dalam diri. Dengan in­ trospeksi diri pula Kerina merasa bisa mengevaluasi, ucapan, sikap,

Siapkan Waktu Khusus Bicara introspeksi diri, pasti semua orang pernah melakukan­ nya. Namun, seberapa sering hal itu dilakukan, mungkin setiap orang punya pendapat berbedabeda. Agustin Ramli mengaku berusaha melakukannya sesering mungkin. “Seharian kita banyak melaku­ kan berbagai pekerjaan, berinteraksi dengan orang, dan lain-lain, ketika pulang ke rumah, biasanya sebelum tidur aku me-review kembali apa saja yang terjadi seharian, apa

yang aku lakukan, ya semacam mengevaluasi diri,” ungkap man­ tan Miss Indonesia Tourism ini. Menurutnya, introspeksi diri itu penting dan harus sering di­ lakukan agar kita menjadi pribadi yang lebih baik. Sebagai manusia tak luput dari berbagai kesala­ han. Manusia mustahil menjadi sempurna, namun manusia punya potensi untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Untuk itulah pentingnya melakukan refleksi diri. Dengan begitu kita bisa melakukan hal-hal yang bermanfaat lebih dari sebelumnya. Diakuinya juga kalau kes­ ibukan kerja membuat dirinya tidak bisa memiliki banyak waktu untuk perenun­ gan secara khusus. Aktivitas yang pa­ dat setiap harinya membuat waktu untuk pere­ nungan terasa begitu sempit. “Aku di Jakarta punya banyak pekerjaan, ya sebagai presenter, mengem­ bangkan apo­ tik, aktivitas sosial, dan lainlain. Sehingga tak jarang waktu un­ tuk ‘merenung’ menjadi sempit. Sepertinya sulit untuk menda­ patkan suasana

tenang. Seperti selalu berkejaran dengan waktu. Pekerjaan menum­ puk, stress, lalu lintas macet. Ada banyak tuntutan, banyak kebu­ tuhan dan keinginan, jadi sulit. Bayangin aja, karena rutinitas di Jakarta, maka begitu bangun langsung teringat oh ini peker­ jaan menumpuk, harus segera ke sana, ke sini, meeting.’ Trus mikir, ‘aduh bagaimana kalau terlambat, lalu lintas macet’, dan lain-lain,” papar finalis Putri Indonesia 2006 ini. Yang bisa ia lakukan adalah melakukan perenungan singkat. Misalnya, sebelum tidur dan ban­ gun tidur pagi. Karena disadarinya merefleksi diri adalah penting maka ia pun menyediakan waktu khusus untuk itu. Kita membutuhkan waktu yang tenang untuk diri sendiri, kita harus memberi kesempatan pada diri sendiri untuk melakukan review. Itu hanya bisa dilakukan dalam suasana tenang. Terkait dengan itu pula maka Agustin secara rutin mengagenda­ kan untuk setidaknya dua bulan sekali ia ‘menyepi’ menjauh dari hingar-bingar kesibukan Jakarta. Tempat favorit yang dipilihnya ada­ lah Bali. Seperti yang baru-baru ini dilakukannya. Selain menyelesai­ kan beberapa pekerjaan di Pulau Dewata, dia juga menyempatkan diri berkunjung ke Ubud. “Aku ikut kelas meditasi dan yoga di sana. Hasilnya, terasa lebih segar. Kegiatan seperti ini saya lakukan minimal dua bulan sekali. Aku san­ gat memerlukan ini maka meski sibuk sekalipun aku harus melu­ angkan waktu. Ini semua untuk

Sudut Pandang

tindakan , hingga pemikirannya menuju arah lebih baik dalam hidup ini. Seperti pepatah men­ gatakan apa yang kita, ucapkan, pikirkan, dan kerjakan, itu pula akan kita dapatlan dalam hidup kita. Selanjutnya Kenrina menyata­ kan bagi dirinya sendiri, ia tidak pernah ragu untuk instrospeksi diri, karena setiap orang memang memerlukan hal ini. Introspeksi diri bagaikan kita di depan cer­ min, melihat keadaan diri sendiri. Maka ia pun melakukan intros­ peksi diri dengan jujur, supaya mendapatkan gambaran yang sesungguhnya dari diri sendiri. B eb erap a langkah untuk melakuan introspeksi diantaranya Bahwa introspeksi diri perlu di­ awali dengan sikap rendah hati. Menyadari kalau kita tidak luput dari kesalahan. Tidak akan ada peningkatan kepribadian jika kita hanya bersikap menyalahkan orang lain, situasi atau bahkan diri aku sendiri, untuk kebaikan aku,” lanjut Agustin yang sedang mengembangkan‘apotikpintar. com’. Secara pribadi dia merasakan ada banyak perubahan yang dia dapatkan dengan melakukan refleksi diri secara rutin. Yang pasti dia merasa menjadi pribadi yang lebih baik, semakin me­ mahami orang lain, lebih bisa menerima pendapat orang lain, lebih menghargai perbedaan, dan yang tak kalah penting evaluasi diri membantu menurunkan rasa ego sehingga menjadi lebih pengertian kepada orang lain. UBAH MINDSET Yang juga menarik yang sem­ pat terlontar dari Agustin adalah perenungan-perenungan yang kerap dia lakukan pada akhirnya juga bisa mengubah pandangan­ nya tentang feminisme. Dulu dia termasuk pengikut paham feminisme yang lumayan fanatik. Sebagai wanita yang merasa bisa menggapai semuanya, dulu dia merasa bisa melakukan apa saja. Independen. “Zaman semakin modern, fem­ inisme semakin tinggi. Ada banyak aliran yang bilang ‘wah’ ngapain punya pasangan, perempuan juga bisa bekerja, bisa memiliki peng­ hasilan yang cukup, perempuan bisa melakukan semuanya. Ada banyak wanita yang memiliki karier cemerlang memiliki pan­ dangan semacam itu. Tak per­ lu tergantung kepada laki-laki. Mereka berpandangan tak perlu menikah, cukup have a partner,” ungkap wanita kelahiran Agustus 1983, ini. Namun, ketika ia mulai rajin melakukan perenungan-perenun­

Kenrina Anggoro Wulandari

Tuhan Yang Maha Kuasa. Intro­ speksi diri juga bukan berarti menyalahkan atau pun meng­ hakimi diri, namun bisa dibilang sebuah kebesaran hati untuk mau memperbaiki diri. Justru di sini­ lah terlihat kematangan pribadi seseorang dari keberaniannya membuka diri demi mengevaluasi dirinya sendiri. Sebenarnya introspeksi diri biasa dilakukan untuk mema­ hami kelemahan, serta proses penyadaran terhadap diri sendiri menuju pribadi yang lebih baik. Ini karena kita semua memi­ liki kesalahan, kekeliruan juga kekurangan, baik yang dilakukan dengan sadar maupun tanpa disa­ dari. -Sri Ardhini gan, mulai rajin melakukan intro­ speksi diri, banyak membaca, sharing dengan teman, barulah Agustin menyadari kalau pandan­ gan tersebut tidak sepenuhnya benar. Meskipun wanita sudah mampu mencapai karier seperti pria, termasuk dalam hal finan­ sial, bukan berarti wanita tidak membutuhkan laki-laki. Karena sesungguhnya kondrat wanita adalah menjadi istri, ibu, mela­ hirkan anak, dan suami beta­ papun tetap lah adalah seorang imam dalam keluarga. Sesukses apapun seorang perempuan da­ lam berkarier, tetap saja ia harus mau dibimbing dan diarahkan oleh suaminya. “Mengubah mindset memang tidak mudah, tapi bukan berarti tidak bisa dilakukan. Mindset aku pun akhirnya bisa berubah, meski untuk itu membutuhkan waktu yang lama dan tentu tidak mudah juga. Perubahan itu semua setelah aku kerap melakukan introspeksi diri, juga membaca buku-buku, serta mendengarkan pandanganpandangan orang lain. Jadi aku belajar dari kesalahan-kesalahan yang aku buat, berusaha mema­ haminya dan memperbaiki diri aku agar bisa menjadi wanita yang lebih baik lagi. Jadi sampai seka­ rang masih terus berproses dan aku terus belajar,” katanya. Jadi, ketika kita mau berubah, mau terus belajar dan mau beru­ saha memperbaiki diri terus menerus, Tuhan pasti akan mem­ bantu. “Jadi aku berprinsip, ‘do your best let God do the rest’. Jadi lakukan saja yang terbaik yang dapat kamu perbuat, biar Tuhan yang akan menyelesaikan sisanya,” kata Agustin. -Diana Runtu

redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id

mingguantokoh

@mingguantokoh

mingguantokoh

www.tokoh.co.id


2

Ekspresso

Edisi 891/ 7 - 13 maret 2016

GORO-GORO “Menjelang Nyepi sudah waktunya cuci gudang kepala dan hati kita. Sedikit-demi sedikit sisihkan Putu Wijaya segala yang mengotori batin dan mengganjal diri kita. Melapangkan dada, agar lega, bersih dan terang, sehingga di hari Nyepi nanti, pikiran kita benar-benar bisa fokus, terkonsentrasi merenung dengan hati jernih ke satu titik. Tanpa emosi, tanpa ambisi dan juga tanpa banyak aksi yang bau terasi,” kata Amat mengajak para pemuda mencuci sanubarinya. “Kita sudah diajarkan oleh ilmu kesehatan untuk mandi setiap hari, mencuci tangan sebelum makan dan mencuci kaki sebelum tidur. Itu semua ritual jasmani agar tetap sehat, kuat, tidak gampang kena penyakit dan akan menjamin umur panjang. Tapi kesehatan jasmani tidak sempurna kalau tidak ditopang kesehatan rohani. Itulah kita upayakan dengan introspeksi.” “Besok Minggu, datanglah ke rumah bapak. Kita bersama-sama melakukan introspeksi. Karena

INTROSPEKSI

ini sangat penting untuk generasi muda. Inilah yang hilang dalam pendidikan kita sekarang. Karena pelajaran budi-pekerti dikesampingkan. Karena sesuai dengan cetak biru pendidikan kita, sekolah hanya jadi pabrik manusia pintar dan kompetitif.” Para kawula muda menyambut tawaran Amat dengan bersemangat. Tak kurang dari 50 orang muncul mau ikut cuci gudang otak dan hatinya alias introspeksi. Amat sangat gembira, “Tak menyangka anak-anak muda itu mau diajak introspeksi,” katanya terharu. Sebaliknya, Bu Amat jadi keki dan pusing. Banyak di antara peserta itu anak-anak nakal. Sambil mengunci semua kamar, dia permisi pada Amat, mau menengok cucunya. “Bapakmu itu lagi aneh, Ami,” kata Bu Amat, begitu sampai di rumah Ami. “Masak ngumpulkan anakanak nakal di rumah sampai 100 orang, mau diajak introspeksi. Kayak nggak ada kerjaan saja. Ibu cepatcepat ke mari, nggak mau disuruh ngurusin anak-anak itu! Tolong kritik Bapak, kok jadi ngurus brandalan! Itu kan tugas pemerintah!” Ami tidak menjawab, ia tidak setuju dengan sikap ibunya. Sebab

sebetulnya, semua amal itu berasal dari idenya. Amilah yang menyarankan bapaknya supaya mengarahkan anak-anak muda setempat supaya digarap mentalnya untuk melawan serangan para pengedar narkoba. “Karena kalau menunggu tindakan pemrintah di masa pilkada begini susah” Bu Amat langsung curiga karena Ami diam saja. “Masak anak-anak tanggung diajak bapakmu introspeksi?! Mana mungkin!” “Ya, maksud Bapak mungkin untuk mawas diri supaya mencegah mereka jangan sampai ... .” “Kena narkoba? Mana bisa, mereka sudah kena, kok! Ibu kan kenal mereka semua!” “Apalagi begitu, Bu. Siapa tahu dengan mengajak mereka menilai dirinya sendiri mereka nanti bisa insaf!” “Tidak mungkin! Mereka menilai orang lain saja sudah keliru, bagaimana mungkin bisa menilai dirinya sendiri? Itu si Agus, cucu Bu Alit yang mulai keranjingan narkoba menganggap anak-anak baik yang rajin sekolah itu kuno, tidak gaul. lebai, katanya. Dia sendiri menyebut dirinya apa, generasi X katanya!”

“Makanya mereka perlu introspeksi!” “Ya itu! Kata Bapakmu juga begitu. Yang perlu introspeksi itu bukan mereka, tapi bapakmu! Orang yang sudah kena narkoba tidak bisa sembuh! Ah, mana bisa! Dimasukkan penjara saja, keluar malah lebih parah!” Ami tak menjawab ia tak mau bertengkar. Siang hari dengan alasan mau beli susu Ami pamit ke supermarket. Tapi sebenarnya ia nyelonong menemani bapaknya memimpin anak-anak muda itu melakukan introspeksi. Malam hari, karena cemas anakanak nakal itu merecoki rumah, Bu Amat pulang. Ia masuk rumah dari belakang. Langsung ngecek kunci kamar. Masih beres. Semua barangbarang masih ada di tempatnya. Bahkan pisang ranum di atas meja makan, ketika dihitung jumlahnya masih sama. Tapi sepi sekali. Bu Amat mendadak curiga. Dengan mengendapendap ia mengintip ke ruang depan. Nampak gelap karena jendela

tertutup semua dan lampu belum dinyalakan. Bu Amat lalu menyalakan lampu dan langsung kaget. Ternyata, semua anak-anak muda itu bergeletakan di kursi dan lantai. Hanya tinggal 15 orang. Entah ke mana yang lain. Semuanya nampak tidur pulas. Ada yang ngorok. Ada yang ngiler. Bu Amat bengong. Waktu ia menoleh ke belakang, Amat sudah berdiri dekatnya dan memberi isyarat. “Jangan diganggu. Mereka sedang belajar introspeksi. Tapi dasar tidak biasa konsentrasi, banyak yang salah jalan. Sebagian diam-diam pergi, mungkin lapar, sebagian ketiduran sebab mungkin jarang duduk santai atau merenung, lalu ngantuk. Tapi Bapak berhasil.” Bu Amat tercengang. “Berhasil apa?” “Introspeksi bagus, tapi lain macam orang, lain caranya. Kalau gagal jangan salahkan introspeksinya, tukar caranya. Minggu depan kita introspeksi lagi dengan cara pertandingan!”

Mompreneur Solusi Menambah Uang Dapur

Mompreneur sendiri berasal dari dua kata yaitu “mommy (ibu) dan entrepreneur (wiraswasta). Jadi mompreneur adalah suatu istilah yang ditujukan pada seorang ibu rumah tangga yang memiliki dan mengelola usahanya sendiri. Kita tahu bahwa beberapa tahun belakangan ini, kewirausahaan terus didorong agar masyarakat tidak hanya diam saja, dan segera mengubah pola pikir untuk membuka usaha sendiri. Sebab entrepreneur merupakan salah satu roda penggerak ekonomi suatu negara. Ada beberapa alasan yang membuat seorang ibu rumah tangga banting setir menjadi pengusaha. Salah satunya untuk membantu ekonomi keluarga yang mengharuskannya harus berjuang keras agar dapat bertahan mengarungi kehidupan. Salah satu contohnya adalah bagi ibu yang telah menjadi single fighter karena dicerai, ditinggal pergi suami, suami pengangguran, suami di PHK atau karena sang suami meninggal dunia. Saat ini mompreneur tak selamanya yang hanya berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Melainkan banyak juga yang

bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

3. Susun Jadwal Ketika membangun usaha di rumah, sering Anda akan direpotkan saat mengurus keluarga dan mengerjakan bisnis Anda. Terkadang tanpa disadari, Anda akan mengerjakan kedua hal tersebut secara bersamaan, sehingga urusan rumah tangga dan urusan bisnis menjadi tidak tuntas semuanya. Maka, susunlah jadwal yang tepat dan kelola waktu dengan bijaksana agar satu per satu kepentingan bisnis dan urusan rumah tangga bisa diselesaikan dengan baik.

menjalani bisnis walaupun telah berprofesi sebagai wanita karier. Disinilah dibutuhkan kemampuan untuk membagi waktu antara pekerjaan di kantor, pekerjaan di rumah, bisnis pribadi terlebih jika telah memiliki suami dan anak-anak. Sisi positif yang didapat dengan menjadi mompreneur antara lain menambah pemasukan untuk keluarga, melatih talenta, kreatifitas dan inovasi serta penyalur hobi serta memperluas relasi dan pertemanan. Langkah awal untuk menjadi seorang mompreneur dapat dimulai dengan: 1. Ikuti Passion Anda Kecintaan atau passion akan sesuatu membuat kita termotivasi dan bergairah dalam bekerja. Dengan motivasi kerja yang bagus, maka bisnis Anda pasti menemui keberhasilan. Ada beberapa pilihan bisnis yang bisa Anda kerjakan dari rumah, misalnya bisnis kuliner, bisnis fashion, usaha kerajinan tangan, dsb, maka pilihlah bisnis yang benar-benar Anda sukai dan mampu Anda lakukan. Dengan membangun usaha yang senang Anda kerjakan.

Ayu Dwijayanti SE.MSi.Ak

2. Ciptakan “Home Office” Home Office atau kantor dalam rumah merupakan salah satu cara agar anda bisa fokus terhadap jalannya bisnis anda. Untuk menciptakan “home office”, Anda bisa menggunakan salah satu ruangan rumah Anda sebagai ruang kerja dalam mengerjakan hal-hal yang terkait dengan bisnis Anda. Selain itu, dengan menyiapkan “home office”, barang-barang ataupun dokumen yang merupakan bagian dari bisnis Anda, tidak akan terganggu oleh anggota keluarga.

4. Libatkan Suami dan Anak-anak Selain memperkenalkan usaha kecil kita pada keluarga secara tidak langsung kita mengajarkan pada si kecil untuk berjiwa wirausaha. Peran dan dukungan suami

juga dapat digunakan sebagai masukan untuk kemajuan bisnis di masa yang akan datang. Anda sebagai wanita yang ingin menjadi wirausaha harus benar-benar mempersiapkan diri, karena beberapa kasus ada anakanak yang kadang pendidikan dan kesehatannya terabaikan karena kesibukan sang ibu bahkan keluarga yang menjadi retak akibat kesibukan dalam berbisnis. Menjadi seorang wanita karier dengan pengh asilan tetap, seorang ibu yang sayang keluarga dan punya bisnis sendiri sehingga mandiri dalam sisi keuangan tentu menjadi idaman banyak wanita. Saya sendiri sudah mencoba. Bagaimana dengan Anda?

Sudut Pandang

Nyepi yang merupakan hari raya umat Hindu yang dirayakan setiap Tahun Baru Saka. Hari Nyepi jatuh pada hitungan Tilem Kasanga dalam kalender Bali. Hari Raya Nyepi ini dipercayai merupakan hari penyucian dewa-dewa yang berada di pusat samudra yang membawa intisari amerta air kehidupan. Untuk itu umat Hindu melakukan pemujaan suci terhadap mereka.

“T

ujuan dari hari raya ini yaitu untuk memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi, dalam penyucian Bhuana Alit yakni alam manusia dan Bhuana Agung yakni alam semesta,” ujar I Dewa Ketut Wisnawa, S.Sn., M.Ag. Ia menjelaskan rangkaian Nyepi mulai dari Melasti. Saat Melasti, segala sarana persembahyangan di Pura dibawa ke pantai, laut atau danau, karena merupakan sumber air suci dan dapat membersihkan segala kotoran yang ada di dalam diri beserta di alam semesta. Tujuan dari melasti adalah mengambil sari-sari kehidupan di tengah-tengah samudra. Yang kedua ada tawur atau pecaruan yang merupakan penyucian atau pemarisuda buta kala dan segala leteh. Kegiatan ini diikuti dengan upacara Pengrupukan, yakni penyebaran nasi aur, mengobori rumah dan pekarangan, menyemburi rumah dan sekitar dengan simbuh-simbuhan yang merupakan sesikepan, serta memukul benda-benda apa saja untuk mengusir buta kala dari rumah dan sekitarnya. Saat Pengrupukan, dirangkai-

I Dewa Ketut Wisnawa, S.Sn., M.Ag.

kan dengan pawai ogoh-ogoh. Sebenarnya menurut Dewa Wisnawa, goh-ogoh tidak memiliki hubungan langsung dengan Hari Raya Nyepi. Ogoh-ogoh hanya merupakan kreativtas antar pemuda untuk memeriahkan hari raya dan simbol dari rasa terima kasih kita kepada Ida Sang Hyang Widhi. Bentuk ogoh-ogoh disesuaikan dengan sifat buta kala yaitu besar seram dan menakutkan.

Yang ketiga ada puncak acara Hari Raya Nyepi, di hari tersebut suasana sunyi tanpa ada aktivitas seperti biasa. Umat Hindu melakukan Catur Brata Penyepian yang terdiri dari, amati geni (tiada api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak berpergian), amati lelanguan (tiada hiburan). Yang terakhir ada Ngembak Geni atau Ngembak api, yang dilaksanakan pada pinanggal ping kalih atau esoknya. Di hari tersebut keluarga besar dan tetangga saling mengucap syukur dan memaafkan. “Kalau kondisi saat ini itu kan karena kena pengaruh dari zaman modern, Catur Brata Penyepian yang seharusnya dilaksakan dengar benar sekarang sudah tidak dilaksanakan lagi. Masyarakat yang seharusnya mengendalikan diri dengan cara puasa tetapi saat ini masyarakat malah mempersiapkan makanan sebelum Hari Raya Nyepi itu berlangsung, masyarakat sekarang berbondong-bondong untuk membeli makanan buat persediaan di Hari Raya Nyepi, bahkan ada juga yang berfoya-foya saat Hari Raya Nyepi berlangsung,” ujar dosen IHDN Denpasar ini. -Juniantari

Kesadaran dan Kejujuran

Kata Hati

Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budi­a rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Se­k retariat: Ayu ­A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­m erah ­B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­ ­F aksi­m ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang ­G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

23

Penyucian Bhuana Alit Momen Introspeksi Diri dan Bhuana Agung

Ayu Dwijayanti, S.E.,MSi.Ak PNS

Rubrik ini khusus untuk wanita yang ingin menuangkan ide/pemikiran/ gagasan dalam bentuk tulisan. Tema terkait wanita dan keluarga serta tidak mengandung unsur SARA. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter (1,5 halaman A4; spasi 1,5; times new roman 12). Lampirkan juga foto close up (bukan pasfoto). Cantumkan nama lengkap, profesi, nomor hp, dan alamat email. Naskah dikirim ke redaksi@tokoh.co.id, redaksitokoh@yahoo.com. Tulisan yang dimuat mendapatkan bingkisan dari Telkomsel. Telkomsel sebagai satu-satunya operator paling Indonesia selalu berkomitmen untuk membangun dan memajukan Indonesia. #UntukIndonesia

Edisi 891/ 7 - 13 maret 2016

Mustika

Pada dasarnya segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia adalah untuk mencapai tujuan. Menyadari bahwa manusia tidak ada yang sempurna maka dalam mencapai tujuan tersebut tidak jarang manusia melakukan kesalahan atau kekurangan yang tidak sesuai dengan harapan. Hal ini disampaikan oleh I Kadek Mustika, S.Pd.B.,M.Pd. Untuk mencapai tujuan yang terarah jalan yang harus dilakukan adalah melalui evaluasi atau menilai diri. “Pada intinya merefleksi diri adalah melakukan perenungan secara mendalam untuk menge-

tahui kelemahan dan kekurangan dalam diri yang nantinya bisa disempurnakan,” ujar dosen Jurusan Pendidikan Bahasa Bali Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha ini. Bagi pria yang akrab disapa Dek Mus ini, kunci utama intropeksi diri ada dua hal. Pertama adalah kesadaran. “Kalau manusia sudah tidak sadar maka ia tidak akan bisa melakukan introspeksi diri. Maksudnya sadar kalau manusia tidak sempurna dan memiliki kekurangan,” jelasnya. Kedua, introspeksi diri akan berhasil jika manusia sudah memiliki kejujuran. Banyak orang yang sudah melakukan evaluasi diri tetapi tidak bisa memperbaiki dirinya. “Apa yang salah? Karena dia tidak jujur,” tambah pria kelahiran Datah ini. Artinya seseorang itu masih dilindungi oleh keegoannya dan tidak jujur mengakui kesalahan dirinya. Menyangkut dunia akademis baik di lingkungan sekolah, dosen, guru, mahasiswa dan lain sebagainya introspeksi diri itu sangat penting. Dunia akademis yang menyangkut lingkungannya juga mempunyai ranah untuk mempunyai tujuan tertentu. “Mahasiswa ada di kampus tujuannya untuk belajar dan mendapatkan ijazah. Dosen ada di kampus

untuk melakukan yang namanya Tri Dharma Perguruan Tinggi,” tambah pria yang mempunyai hobi membaca tersebut. Ketika seseorang tidak bisa melakukan introspeksi diri maka ia tidak akan mengetahui sejauh mana capaian yang sudah dilakukan. Menurutnya, Jika mau melakukan introspeksi maka hal ini akan bertujuan untuk memperbaiki kualitas hubungan dan kualitas diri. Dengan begitu jika keduanya sudah diperbaiki tujuan apapun baik itu di dunia akademis maupun sosial pasti akan terwujud. Seorang dosen tentunya diharapkan memberikan contoh yang baik bagi mahasiswanya. Masalah kehadiran salah satunya. Jika perkuliahan dimulai pukul 07.30 maka

Introspeksi diri adalah melihat ke dalam diri sendiri. Pada waktu melihat diri sendiri inilah kita harus benar-benar jujur untuk menghasilkan introspeksi diri yang tepat. Setelah itu, mulai hidup baru untuk memperbaiki kesalahan lalu, berpikir ke depan dengan segala sesuatu yang baik. Demikian diungkapkan AA Sagung Rat Mudiani, Sekretaris Material Grand Hyatt Nusa Dua Bali. Ia sendiri tak punya ritual khusus dalam melakukan intropeksi diri. Biasanya, intropeksi diri sering ia lakukan setiap akhir tahun. Intropeksi diri menyangkut soal karier, dirinya AA Sagung Rat Mudiani pribadi, dan keluarga. Cara melakukan introspeksi diri, memahami kelemahan pribadi. Introspeksi diri diawali dengan sikap rendah hati. Menyadari bahwa kita tidak luput dari kekeliruan atau kesalahan selama satu tahun tersebut. “Jangankah satu tahun, sehari saja mungkin ada kesalahan yang kita perbuat tanpa sengaja,” kata perempuan yang akrab disapa Bu Sagung ini. Menurutnya, pengalaman selalu merupakan guru yang terbaik. Introspeksi diri bukan berarti bersikap menghakimi atau menyalahkan diri sendiri tetapi bentuk kebesaran hati untuk memperbaiki dan mengembangkan diri sendiri. “Introspeksi diri tujuannya, agar ada pertumbuhan pribadi, tidak hanya bersikap menyalahkan orang lain, situasi atau bahkan Tuhan tetapi lebih banyak melihat diri sendiri, apakah yang kita lakukan sudah benar atau perlu diperbaiki,” ucap Bu Sagung. Ia mencontohkan dalam urusan karier, apakah ada beberapa tahapan dalam karier yang belum tercapai. Hal itu perlu dievaluasi agar tahun depan bisa diwujudkan, minimal mendekati harapan. Begitu juga, dengan urusan keluarga. “Untuk urusan keluarga, apakah hubungan dengan anak-anak dan suami sudah lebih baik? Apakah waktu bersama keluarga sudah cukup atau perlu ditambah. Inilah yang harus saya introspeksi,” ujarnya menambahkan. Menurutnya, momen Hari Raya Nyepi juga menjadi sarana introspeksi diri. “Kami mengurangi kegiatan agar lebih banyak waktu bersama keluarga. Memang saya tidak ada ritual khusus saat Nyepi, tapi kebersamaan bersama keluarga menjadi salah satu introspeksi diri agar ke depan, hubungan keluarga makin harmonis,” kata Bu Sagung. Kegiatannya seperti mengobrol dengan santai. Biasanya, tentu dengan kesibukan masing-masing, waktu untuk mengobrol panjang lebar terkendala, namun, saat Nyepi, waktu kebersamaan bisa dimanfaatkan dengan saling bicara dari hati ke hati. –Wirati Astiti

dosen harus hadir tepat waktu. “Namun, ketika ada mahasiswa yang terlambat mengikuti jam perkuliahan, ya memang kita harus introspeksi diri,” tambahnya pria kelahiran 15 April ini. Ketika sudah dengan jujur menyadari bahwa dosen sudah memberikan contoh yang baik tetapi nyatanya mahasiswa masih ada yang terlambat maka dengan cara seperti itu dosen memiliki argumen untuk menasehati mahasiswanya. Hasil yang ditimbulkan dari sebuah proses evaluasi tidak

dapat dilihat secara langsung. Ia juga percaya bahwa jika seseorang mengetahui kekurangan dan kelemahan tidak menjanjikan keberhasilan kalau tidak ada tindak lanjutnya. “Bisa saja seorang menyadari di dalam kelas misalnya kasar dengan mahasiswa tetapi besoknya lagi masih marah-marah,” tambahnya. Meskipun berkali-kali melakukan introspeksi tetapi tidak ada upaya memperbaiki maka dalam meraih tujuannya tentu tidak akan tercapai dengan baik. –Wiwin


22

Sosialita

Edisi 891/ 7 - 13 MARET 2016

Pasukan Oranye Kebanggaan Ahok

Ada yang Kecewa Jakarta tidak Banjir Tahun Ini Tahun ini agaknya warga Jakarta bisa ber­ nafas sedikit lega. Pasalnya banjir tahunan yang biasanya menghantui tahun ini nyaris tidak ter­ jadi. Banyak kawasan yang biasanya menjadi langganan banjir pun kini terlihat lebih kering. Memang, intensitas hujan tahun ini boleh di­ bilang tidak sehebat tahun lalu. Namun biasan­ ya, dengan volume hujan seperti sekarang pun, pasti ada saja daerah yang dilanda banjir.

S

alah satunya adalah kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, atau kawasan sekitar kampus Trisakti, Grogol, Jakarta Barat. Tapi tahun ini, hujan yang turun sehari semalam ternyata tidak membuat air berdiam lama. Kalaupun genangan memang terjadi, namun itu akan surut beberapa jam setelah hujan berhenti. Tidak seperti tahun lalu dimana air genangan bisa berhari-hari. “Tumben, tahun ini Kelapa Gading tidak banjir. Padahal biasanya banjir lumayan tinggi sampai di atas 1 meter. Biasanya kantor aku libur gara gara banjir. Dan itu terjadi hampir setiap tahun belakangan ini. Tapi sekarang, air genangan cepat surut, jadi gak libur deh,” ujar Jaquelin sedikit kecewa karena kantornya tidak libur. Tapi di balik kekecewaannya itu dia juga mengaku senang karena kawasan dimana dia berkantor tidak lagi kena banjir seperti tahun sebelumnya. Apa yang diungkap Jaqueline hampir sama dengan yang terlontar dari kebanyakan warga Jakarta bahwa tahun ini, meskipun hujan turun hampir setiap hari dan dalam tempo yang cukup lama, namun kawasan-kawasan yang biasanya menjadi langganan banjir, kebanyakan tidak mengalaminya. Kalaupun ada genangan, akan lebih cepat surut, tidak seperti tahun lalu yang memakan waktu berhari-hari. Apa yang membuat Jakarta

tahun ini terlihat lebih baik dalam menghadapi musim hujan? Salah satunya adalah berkat kerja keras ‘pasukan oranye’. Disebut ‘pasukan oranye’ karena seragam mereka berwarna oranye menyala dan kerap terlihat bergerombol dalam

DKI Jakarta--- dalam membantu mengurangi banjir yang setiap tahun menyerbu Jakarta. “Pasukan oranye ini bekerja untuk melacak dimana ada hambatan,” kata gubernur yang bernama lengkap Basuki Tjahaja Purnama ini. Tapi, tambahnya, sesungguhnya tugas PPSU ini bukan cuma membantu mengatasi banjir tapi banyak hal yang terkait dengan permasalahan perkotaan, seperti pohon tumbang, dll. “Petugas PPSU ini mengerjakan semua urusan perkotaan. Mereka harus merespon keluhan warga. Jadi warga minta apa, ya mereka kerjakan,” kata Ahok yang mengaku senang dengan hasil kerja mereka. Warga menyambut gembira kehadiran pasukan oranye ini di daerahnya. Setiap pagi setelah apel,

Sampah misterius yang ditemukan dekat Istana Negara Jakarta

bekerja. Mereka ini sebenarnya adalah petugas penanganan prasarana dan sarana umum (PPSU) yang baru Juli tahun lalu dibentuk. Jumlahnya sekitar 18.000 orang yang ditempatkan di semua kelurahan yang ada di Jakarta. Rata-rata di setiap kelurahan ditempat sekitar 40-70 petugas PPSU, cukup lumayan untuk mengatasi permasalahan yang ada. Mereka inilah yang kini menjadi pasukan andalan Ahok-Gubernur

Ahok dan pasukan oranye andalannya

puluhan orang berseragam oranye berkeliling memeriksa lingkungan. Di musim hujan seperti sekarang, mereka justru terlihat makin giat menjaga jangan sampai selokan tersumbat sampah. Tapi adanya mereka membuat warga terlihat agak lebih ‘manja’. Kalau biasanya mereka membersihkan sendiri selokan di depan rumahnya, namun karena adanya petugas, warga bisa memanggilnya untuk membantu membersihkan

KISAH ORANYE DAN BIRU Menurut Ahok, hasil kerja petugas PPSU ini kelihatan hasilnya. Setidaknya, itu bisa dilihat dari daerah-daerah yang biasanya menjadi langganan banjir karena selokan tidak terurus, dll, menjadi lebih baik. “Sekarang sudah lumayan, semua saluran air nyambung. Kalau dulu kita pakai swasta untuk mengerjakannya, tidak dikerjakan dengan baik. Saluran air tidak dibersihkan, saluran tidak nyambung akibatnya banjir. Nah dengan adanya PPSU sudah lumayan. Patokannya, tidak boleh ada genangan. Kalau sampai terjadi berarti ada kesalahan, dan dia harus men­

carinya,” ungkap Ahok. Meski memang bukan kerja PPSU semata yang membuat Jakarta terlihat lebih baik saat ini, khususnya dalam menghadapi musim penghujan. Ada banyak pihak yang ikut bekerja untuk mewujudkan itu. Di antaranya adalah ‘pasukan biru’ yang berasal dari Dinas Tata Air DKI Jakarta. Keberadaan mereka belakangan agak menonjol, itu lantaran adanya penemuan pembungkus kabel yang menutupi gorong-gorong air di kawasan ‘Ring 1’ , seputaran Jalan Merdeka Selatan. Tak tanggung-tanggung banyaknya sampah pembungkus kabel itu telah mencapai 20 truk. Penemuan sampah misterius itu selama berhari-hari menjadi sorotan lantaran jumlahnya yang luar biasa banyak. Semua bertanya-tanya siapa yang memasukkan sampah kabel itu di dalam goronggorong kawasan tersebut. Kasus sampah misterius yang isunya sempat ‘dilarikan’ ke politik dengan dikait-kaitkan dengan adanya upaya sabotase ini, pertama kali ditemukan oleh ‘pasukan biru’ Dinas Tata Air DKI Jakarta. Awalnya adalah karena kawasan ‘Ring 1’ selalu terjadi genangan, padahal sejak saluran dan gorong-gorong rajin dibersikan, genangan diberbagai tempat di Jakarta jauh berkurang. Namun entah kenapa di kawasan dekat Istana Kepresidenan ini, tetap saja muncul genangan. Karena penasaran, akhirnya pasukan biru ini membongkar gorong-gorong. Walhasil ditemukan lah sampah pembungkus kabel tersebut. Ahok pun sempat heran juga marah. Pasalnya, sampah kabel itu jumlahnya sangat banyak. Kini pihak kepolisian sedang menyelidiki kasus timbunan sampah kabel itu, apakah ini semacam sabotase agar Jakarta terlihat buruk karena selalu kebanjiran atau hanya kelalaian pekerja kontraktor dalam memasang kabel. Tapi ada cerita ‘lucu’ terkait hal ini. Dulu pasukan biru ini tidak terlihat menonjol karena seragam mereka yang sama dengan petugas PPSU yakni oranye. Gara-gara seragam yang sama ini, Ahok sempat mengira yang menemukan sampah kabel itu adalah tim PPSU. ‘Prestasi’ yang diklaim milik PPSU itu lantas diprotes oleh petugas tata air karena mereka lah yang sesungguhnya menemukan sampah itu. Maka agar tidak keliru soal prestasi, pasukan tata air DKI Jakarta ini berganti seragam, kini mereka memakai seragam berwarna biru.-Diana Runtu

3

Kadek Aria Prima Dewi PF

Kaya Ilmu untuk Berbagi Mengajar bagi Prima tidak hanya berkon­ tribusi menransfer pengetahuan, namun juga usaha meme­ ngaruhi siswa untuk melakukan hal-hal positif. Siswa memer­ lukan figur itu, sehing­ ga ia mengajar dengan metode humanis na­ mun tetap mengacu pada aturan yang normatif berkaitan de­ngan profesi yang ­ingin digeluti oleh para siswa.

Pasukan oranye perempuan

atau mengangkat lumpur. “ Ya t i d a k a p a - a p a , k a m i melakukannya dengan senang hati karena itu menjadi tugas kami,” ungkap Joko, yang bertugas di wilayah Kelurahan Sungai Bambu, Tg Priok, yang mengaku kerap menerima ‘ucapan terima kasih’ dari warga berupa kue atau makanan. Menurut Joko dia bergabung dengan PPSU sejak Juli lalu dan merasa senang karena selain gaji bulanan ia dan teman-temannya menerima cukup banyak fasilitas. Gaji yang didapat per-bulannya Rp3,1 juta atau sesuai dengan UMR DKI Jakarta, plus fasilitas BPJS Kesehatan, B P J S Ke t e n a gakerjaan, KJP (Kartu Jakarta Pintar) untuk anak sekolah, THR 1 bulan gaji, prioritas rumah susun dan lain lain. Waktu kerjanya pun sesuai dengan UU Ketenagakerjaan yakni 8 jam sehari. Menurut Kadis Kebersihan DKI Jakarta, Isnawa Aji, para lurah lah yang bertindak sebagai manajer para petugas PPSU ini. Meski jumlahnya banyak namun pembagian tugasnya jelas, tidak akan terjadi benturan karena masing-masing sudah dibagi tugas, siapa yang bersih-bersih alias menyapu, bagian angkut, dll. Mereka bekerja 24 jam dibagi dalam tiga shift. “Mereka adalah pelayan masyarakat yang sewaktu-waktu sekalipun saat mereka libur dapat dipanggil bila terjadi sesuatu yang darurat,” tambahnya.

Edisi 891/ 7 - 13 MARET 2016

H

al itulah yang di jalankan Dr. Kadek Aria Prima Dewi PF., S.Ag., M.Pd., ketika sehari-harinya melaksanakan aktivitasnya sebagai seorang pengajar di Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar Jurusan PGSD. Terlebih dunia mengajar bukan hal baru bagi seorang Prima. Sebab, ia dilahirkan oleh ayah dan ibu yang g berprofesi sebagai guru. Sejak di bangku SD, ia sudah terbiasa membantu memeriksa hasil ujian dan saat MP, turut mengisi lapor­an studi siswa. Sehingga passion mengajar tumbuh secara alami di hati istri dari I Wayan Yusswara, SSTP., M.Si. ini. Bicara dunia pendidikan semasa mudanya, Prima dan kedua saudaranya senantiasa diingatkan oleh orangtunya untuk terus belajar. Mereka juga menguntai pesan “Kita boleh miskin harta tapi jangan miskin ilmu. Ayah dan ibu tidak bisa membekali kalian dengan harta benda, namun ayah dan ibu akan membekali kalian dengan pendidik­a n, yang tidak akan habis dimakan waktu,” kata Prima menyitir kata orangtuanya. Namun, Prima mengakui jika sebelumnya ia sempat memiliki mimpi menjadi seorang arkeolog. Ini karena hobinya membaca buku atau cerita legenda/mitologi dan sejenisnya. Ia tergoda ingin tahu dan menggali lebih jauh tentang berbagai peninggalan sejarah.“Karena per­soalan keterbatasan

biaya pendidikan dari orangtua, maka (8) dan I Made Raditya Dhananjaya saya memilih melanjutkan studi pada PT (1) ini, akhirnya berharap dengan yang lebih terjangkau dan meringankan profesinya, kini kualitas dirinya berbeban orangtua,” ujar anak kedua dari tumbuh dan menjadi semakin baik. tiga bersaudara dari pasutri Drs. I Nyo- Selanjutnya untuk sumbangannya di man Ngadeg dengan Dra. Anak Agung dunia pendidikan ia pun menambah Puja Astiti ini. Ada satu pesan dari orangtuanya ketika berusaha menghibur dirinya saat tidak bisa masuk di perguruan tinggi sesuai harapan. Orangtuanya mengatakan “tidak penting kamu harus bersekolah di tempat yang terbaik, tetapi usaha yang terbaik akan menjadi lebih penting, daripada menyesali atas apa yang tidak mungkin kita lakukan, ambil kesempat­ an dan jadilah yang terbaik di tempat studimu”. Akhirnya Prima pun melupakan angannya menjadi arkeolog, dan berusaha ikhlas mengambil pilihan studi jurusan Pendidikan Agama Hindu di STAHN. Meski demikian ia yakin, segala ucapan orangtuanya merupakan doa. Selama proses kuliah di kampus STAHN Denpasar (sekarang IHDN) penuh dengan doa. Jalan pun menjadi Kadek Aria Prima Dewi PF dan suami terbuka untuk menjadi seorang dosen, ketika ia mampu menjadi lulus­ ilmu dengan menyelesaikan studi S3 di an terbaik STAHN Denpasar tahun Universitas Pendidikan Indonesia pada 2004. Januari 2016. Ibu dari I Wayan Gde Danuartha Ia mengaku motivasi utama diberikan

Kadek Aria Prima Dewi PF bersama mertua, orangtua, dan sahabat di Universitas Pendidikan Indonesia

Kadek Aria Prima Dewi PF dan keluarga

oleh keluarga yakni sang suami, orangtua, mertua serta saudara. “Dukungan yang tidak kalah penting datang dari civitas akademika IHDN Denpasar, yang memberikan peluang untuk mengembangkan studinya dengan beasiswa dan ber­bagai kemudahan dalam memperoleh akses pendidikan tersebut,” ujar Prima yang menyelesaikan disertasi berjudul “Model Pendidikan Nilai Berbasis Komunitas untuk Mengembangkan Karakter Peduli Lingkungan Siswa SD”. PEDULI SOSIAL MELALUI PKK Untuk kegiatan di masyarakat, perempuan kelahiran 8 Juni 1981 ini memilih menyemplungkan diri melalui gerakan PKK. Ia sebagai Ketua TP PKK Kelurahan Padangsambian. Salah satu kegiatan yang produktif yang tengah digarap­nya adalah mengembangkan program pembiayaan pendidikan untuk PAUD dari sampah di kelurahan­nya. “Rencananya akan di-launching tahun 2017. Program ini merupakan sebuah upaya memecahkan dua masalah yang terjadi di Kelurahan Padangsambian. Masalah pertama adalah akses pendidikan yang layak bagi warga kurang mampu atau yang tergolong rumah tangga miskin (RTM),” paparnya. Prima mengharapkan melalui partisipasi masyarakat yang bersedia mengumpulkan sampah kemudian disetor ke masing-masing banjar pada kegiatan rapat rutin setiap bulannya. Program ini juga mengundang partisipasi segenap pengusaha yang ada di wilayah Padangsambian. Partisipasi yang diharapkan fokus kepada sumbangan sampah sebagai biaya pendidikan. Masalah kedua adalah sampah sebagai persoalan klasik di wilayah perkotaan seperti Denpasar. Kiranya, melalui pengembangan partisipasi masyarakat untuk membantu biaya pendidikan bagi RTM dengan sampah rumah tangga, akan mampu meningkatkan usaha keluarga, khususnya dalam melakukan pe­ngelolaan sampah. Selanjutnya, akan berpengaruh secara signifikan terhadap berkurangnya jumlah sampah di Kota Denpasar. Sementara perihal segala hal yang dijalaninya kini, Prima jugamengatakan jika sang suami tercinta memiliki andil yang besar, terutama dalam hal hidup

lebih disiplin. Selain itu suaminya juga menjadi tempatnya berbagi bahkan sampai hal kecil sekalipun. “Suami saya selalu berhasil meyakinkan saya dalam menentukan pilihan-pilihan yang harus saya ambil.Termasuk kenekatan saya untuk meninggalkan zona nyaman dan mengambil studi lanjut S3 di Ban­dung,” ujarnya tersenyum. Begitu pula selama studi Ban­dung juga, Prima merasa lebih menyadari tugasnya sebagai seorang ibu dan istri. “Rasanya selama 7 tahun pernikahan, saya belum memberikan pelayanan yang baik bagi suami dan putra tercinta saya. Studi di Bandung telah menjadikan saya lebih manusiawi dan menghargai setiap detik waktu untuk keluarga,” tegasnya. Ketika diminta bicara pengalaman, Prima menyebutkan hal yang membuatnya sedih, saat kehila­ngan/keguguran kandungannya yang memasuki usia 4 bulan. Namun, Tuhan membalasnya dengan menghadirkannya kembali setahun kemudian. Bandung merupakan kota sukacitanya bersama suami, yang menjadikan hubungan mereka semakin dekat. Selain itu, Prima juga mengatakan memiliki catatan membahagiakan. Ketika ia bertemu seorang dosen yang sangat humanis. Pendidik yang senantiasa siap berbagi pengetahuan kapan saja dan di mana saja dan kondisi kelas yang sangat multikultur.“Saya merasa semakin mencintai hidup saya setelah bertemu dengan mereka semua,” katanya sumringah Hingga saat ini Prima mengatakan masih punya mimpi, ingin mengelola sebuah sekolah, dan memasukkan idealisme dalam pegembangan programnya. Makanya, pengembangan sekolah berbiaya sampah merupakan salah satu caranya dalam upaya mengelola pendidikan yang berpihak kepada masalah sosial dan lingkungan. “Barangkali hal ini merupakan usaha melanjutkan mimpi dosen saya di Ban­ dung yang bersesuaian dengan mimpi saya sendiri. Beliau selalu berpesan untuk memperhatikan kebutuhan orang miskin atau mereka yang tidak mampu dan mengembangkan kecakapan hidup bagi mereka. Sebab, hal terpenting dari ilmu pengetahuan adalah implementasi dari ilmu pengetahuan itu sendiri,” tandas Prima menikmati semua proses kehidupan dengan baik. Masalah hasil baginya hanyalah bonus dari proses yang telah dilakukan. -ard


4

Inspirasi

Edisi 891/ 7 - 13 maret 2016

Jro Mangku Dalang I Wayan Nardayana

Kuncinya Kreativitas dan Inovasi

Bagi masyarakat Bali, nama wayang Cenk Blonk sudah tidak asing lagi. Tiap pentas, penonton pasti berjubel. Materi yang disampaikan selalu up to date namun tidak keluar dari pakem pewayangan pada umumnya. Untuk menghasilkan semua itu, perlu proses panjang. Nama Jro Mangku Dalang I Wayan Nardayana, S.Sn., M.Fil.H. tak bisa dipisahkan dari ketenaran wayang Cenk Blonk.

Jro Dalang Nardayana

J

ro Dalang Nardayana mengawali kiprahnya di dunia pewayangan tahun 1992. Ia menyebut nama wayangnya Gita Loka, Belayu. Nama inilah yang ditulis di kelir bagian atas. Tokoh yang dimainkan seperti Merdah, Tualen, Sangut, Delem, serta dua tokoh sentral Nang Klenceng dan Nang Eblong. Suatu ketika, ia pentas di Jempayah, Mengwi. “Ada yang bertanya, apa nama wayang yang akan tampil. Lalu ada yang menjawab Ceng Blong. Saya kaget, ternyata nama Ceng Blong lebih diingat masyarakat daripada Gita Loka. Saya pun mengusung nama Cenk Blonk pada pentas-pentas

berikutnya. Pakai huruf k di belakang biar terlihat keren,” ungkapnya sembari tersenyum mengenang momen tahun 2005 itu. Perjalanan wayang Cenk Blonk dimulai. Pentasnya pun tak hanya di wilayah Tabanan dan Badung tetapi hampir di seluruh Bali. Suka-duka dialami Jro Dalang bersama rombongannya. Satu hal yang selalu diingat adalah wayang kental dengan nilai tradisional sedangkan sekarang zaman sudah canggih. Perlu ada terobosan agar wayang bisa diterima masyarakat modern. Karena itu, unsur teknologi dimasukkan sebagai pendukung. “Sebagai dalang, saya berpedoman pada Dharma Pewayangan. Hal ini berkaitan dengan unsur niskala dan metafisik. Ada norma-norma yang harus dipatuhi. Kalau dilanggar, tentu ada dampaknya. Saya sangat meyakini hal itu dan sudah pernah mengalaminya. Misalnya posisi dalang menghadap Utara atau Timur, tetapi situasi di lokasi, saya menghadap ke Barat, pertunjukan menjadi tidak maksimal. Saya secara pribadi merasa tidak puas. Kasus lain, kepala pusing setelah mendalang karena ada yang tidak sesuai. Tetapi, kalau semua sudah sesuai pakemnya, penonton puas, pulang mendalang saya bisa nyanyi-nyanyi,” ujar pria kelahiran 5 Juli 1966 ini. Di sisi lain, Jro Dalang Nar-

Mandalika

Edisi 891/ 7 - 13 maret 2016

Gunung Rinjani

Aset Sejarah Vulkanologi dan Geologi yang tak Ternilai Harganya

S

Jro Dalang Nardayana

dayana mengatakan teknologi maupun situasi terkini tidak bisa diabaikan. Salah satu contoh, alumnus ISI dan IHDN Denpasar ini selalu mengikuti perkembangan terkini. Apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan dari kehidupan masyarakat selalu masuk menjadi referensinya. Jika dinilai cocok, akan dijadikan bahan untuk materi pentas Cenk Blonk. Dalam bahasa sederhananya, ia mengatakan sebagai dalang harus peka karena banyak bahan yang bisa didapatkan di kehidupan seharihari untuk disajikan kepada penikmat wayang. Kadang ada juga yang memesan tema untuk disisipkan dalam pentas. “Ini juga alasan mengapa saya kuliah S1 di Jurusan Pedalangan ISI lalu S2 di IHDN. Saya ingin menambah wawasan dengan bergaul di kalangan akademisi sehingga saya juga mendapat banyak ilmu. Bahkan Cenk Blonk sudah diteliti untuk

Jro Dalang Nardayana saat menerima penghargaan K. Nadha Nugraha 2016

menjadi skripsi dan tesis. Ini merupakan dokumentasi yang bisa dipakai generasi yang akan datang. Saya tidak boleh jumawa. Saat ini memang eranya Cenk Blonk, tetapi suatu saat nanti belum tentu, bisa jadi akan ada yang lain,” tegasnya seraya mengatakan terus belajar dari pengalaman. Satu hal yang menjadi nilai lebih dari Cenk Blonk adalah image lucu. Orang siap untuk tertawa menyaksikan pentas wayang Cenk Blonk. Nilai lebih ini sekaligus tantangan bagi Jro Dalang Nardayana. “Saya sering membawa kertas dan pulpen. Kalau ada inspirasi langsung saya catat. Saya jadikan materi untuk pentas. Intinya kepekaan terhadap situasi yang sedang terjadi. Saya pun belajar agar apa yang saya sampaikan bisa runut. Dalang itu menampilkan bayangan.

Bagaimana caranya bayangan itu berbicara dan bergerak sehingga dinikmati penonton, itu juga tantangan,” jelasnya. Satu hal yang ia tegaskan adalah wayang harus tetap dilestarikan, jangan dikerdilkan. Sebagai seniman, ia juga memahami bahwa kesenian merupakan bagian dari budaya. Tentu banyak hal yang berubah seiring zaman, termasuk adanya budaya luar. Sepanjang budaya luar itu menambah khasanah tanpa merusak budaya asli dan tidak menghilangkan ciri khas budaya asli, penerima K. Nadha Nugraha tahun 2016 ini bisa memakluminya. Karena itu, kreativitas dan inovasi menjadi bagian penting yang harus dimiliki. Kapan berhenti kerkreativitas dan berinovasi, saat itulah ia akan ditingggalkan. – Ngurah Budi

Bahan Sama Gaya Beda Setelah melalui perjalanan panjang di dunia pewayangan, Jro Dalang Nardayana makin memahami seni itu sebuah proses. Tidak ada yang dadakan. Semua harus dipersiapkan dengan matang. Ibarat dagang capcay yang menggunakan bahan yang sama tetapi rasa yang dihasilkan bisa berbeda. Seniman pun demikian. Masing-masing punya gaya yang berbeda dan tidak bisa disamakan satu dengan yang lainnya. Ada juga taksu yang harus dimiliki. Pemilihan tokoh Nang Kleceng dan Nang Eblong pun perlu proses. Dari berbagai karakter yang ia ketahui, Nang Klenceng dan Nang Eblong mewakili kehidupan masyarakat yang memiliki dinamika hidup. Selalu ada pro dan kontra yang mereka temukan. Kekocakan dua tokoh inilah yang melambungkan namanya di dunia pewayangan. Kekocakan yang dibumbui debat pro dan kontra menjadi bagian yang paling digemari penonton/ “Mengapa ada pro dan kontra, itulah seninya. Saya selalu menyajikan pro dan kontra. Hal ini realita di masyarakat. Selanjutnya saya berikan penjelasan sesuai dengan sastra. Ending-nya adalah masyarakat paham. Tujuannya tentu mewujudkan keseimbangan dan selanjutnya kita semua introspeksi diri,” ujanya. Mengenai tarif, Jro Dalang Nardayana memang mematok harga mulai Rp 18 juta. Makin jauh tempat pentas, biaya makin tinggi karena ada biaya transportasi untuk 45 kru. Namun, sebagai seniman, ia juga memiliki kewajiban untuk ngayah. “Saya tidak saklek, ada hal-hal yang bisa dinegosiasikan tanpa mengurangi makna,” tegas ayah dua anak ini. –Ngurah Budi

21

elain dikenal karena pesona alam yang indah, letusan Gunung Rinjani yang berada di Pulau Lombok juga menjadi perhatian para peneliti dunia. Letusan Gunung Rinjani Purba atau yang kini popular dengan nama Gunung Samalas yang terjadi pada perkiraan tahun 1257 M, berdasarkan hasil sebaran sulfur yang telah diteliti para ahli ternyata lebih dahsyat dari letusan Gunung Tambora di Pulau Sumbawa yang pernah menggemparkan dunia di tahun 1815. Hal ini terungkap pada pertemuan Gubernur NTB, TGH. M. Zainul Majdi dengan peneliti gunung berapi ternama dari Universitas Paris 1 Pantheon Sorbone Prancis, Prof. Dr. Frank Lavigne bersama Ketua Badan Arkeologi Nasional, I Made Gria beserta para peneliti dari Universitas Gajah Mada, Heryadi Rahmat dari Pusat Vulkanologi Bandung yang juga telah lama meneliti Gunung Rinjani, beberapa waktu lalu. Para peneliti ini datang ke NTB untuk menyampaikan rencana pe-

Saluran Irigasi Perpipaan Wujud Gotong Royong Masyarakat Wanasaba

Para peneliti yang akan merekonstruksi pra dan pasca letusan Gunung Rinjani Purba saat bertemu Gubernur NTB

nelitian rekonstruksi pra dan pasca meletusnya Gunung Rinjani Purba. Tentu saja, kegiatan yang akan dilakukan para peneliti akan catatan sejarah geologi dan vulkanologi ini kelak memperkaya ragam daya tarik wisata NTB yang saat ini tengah mengembangkan obyek wisata alam dan budaya. Terungkap kisah letusan Samalas dalam rekonstruksi pra dan pasca letusan yang dilakukan oleh para peneliti ini akan membuat Gunung Rinjani menjadi aset sejarah vulkanologi dan geologi

yang tidak ternilai harganya. “Penelitian yang akan dilakukan oleh Tim Arkeologi Nasional, para Geologis dari Kementerian ESDM, Universitas Gajah Mada dan Universitas Mataram ini juga sangat penting karena dapat membuka cakrawala baru tentang Gunung Rinjani. Gubernur sangat berharap ini bisa menjadi bahan promosi tambahan juga bagi wisatawan yang berkunjung ke NTB, ungkap Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Prov. NTB H. Yusron Hadi. –Naniek I. Taufan

Tanam, Olah, dan Panen serentak “Saudaraku, sahabatku petani se-NTB, tolong turun ke sawah, tanam serentak, olah serentak, panen serentak, sehingga tidak membiarkan lahan tidur, petani tidur, traktor tidur dan dana tidur. Salam hormat kepada Bapak Gubernur yang luar biasa,” ungkap Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman, lewat sambungan telepon saat Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi menyampaikan sambutannya pada Gerakan Panen Padi Serentak, di Desa Batu Kumbung, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat. Menteri Pertanian menyampaikan akan terus memberikan bantuan kepada para petani sebagai bentuk dukungan kepada mereka untuk meningkatkan hasil pertanian. Semangat yang diberikan Menteri Pertanian lewat telefon tersebut disambut tepuk tangan para petani yang hadir dalam kegiatan tersebut. Nusa Tenggara Barat menjadi satu dari tujuh provinsi di Indonesia yang menjadi sentra pangan nasional selain Jawa Timur, Su-

matera Utara, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan. Gerakan Panen Padi Serentak, dengan tema Panen Serentak Stok terjamin merupakan program pusat yang dicanangkan Menteri Pertanian, khusus di 7 Provinsi sentra pangan nasional, termasuk Nusa Tenggara Barat. Menteri Pertanian Republik Indonesia, melalui Direktur Serelia Kementerian Pertanian RI, Drs. Ir. Nanda Simunda, M.P., memuji peningkatan produksi pertanian Provinsi NTB saat ini, baik dari segi peningkatan hasil pertanian maupun luas lahan pertanian yang terus mengalami peningkatan. “Saat kami melakukan rapat pimpinan pada hari Senin lalu, saya bersyukur kepada Allah SWT, bekerja dengan orang-orang baik di NTB. NTB mendapat pujian yang tinggi dari menteri terkait realisasi kebijakan. Target yang ditetapkan bagi NTB melampaui kurang lebih 103 persen, ada kelebihan 3 persen. Prestasi ini sangat dibanggakan,”

Gubernur NTB saat melakukan panen serentak di Desa Batu Kumbung, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, NTB.

ujar Nanda Simunda. Peningkatan produksi beras, menurutnya menjadi salah satu kunci ketahanan pangan nasional, karena produksi pertanian yang terintegrasi dari hulu ke hilir ikut menentukan keberhasilan distribusi pangan di Indonesia. Menurutnya, tahun ini Kementerian Pertanian menargetkan produksi gabah kering, sebanyak 76,23 juta ton. Di akhir Februari produksi beras ditargetkan 5 juta ton. Sedangkan Panen Raya untuk keseluruhan wilayah di Indonesia diperkirakan terjadi pada maret dan April ditargetkan 14,52 juta ton. Dan untuk mencapai target tersebut, harus dilakukan dengan memperbaiki infrastuktur pertanian, pemberian benih gratis, subsidi pupuk, serta memberikan alat mesin kepada petani berupa mesin tanam, mesin panen, traktor dan pompa air. Dalam kesempatan ini Gubernur NTB juga menyampaikan bahwa panen raya tersebut menunjukkan bahwa iktiar petani di seluruh wilayah NTB telah berhasil dengan baik. “Insya Allah kalau dari segi ikhtiar, petani kita tidak perlu dipertanyakan lagi. Tidak perlu dipertanyakan bagaimana rajinnya mereka, tidak perlu dipertanyakan bagaimana gigihnya mereka. Tapi yang perlu menjadi perhatian adalah bagaiman kita sebagai perangkat pemerintahan ini bisa menfasilitasi semangat, ikhtiar, kegigihan dan kesungguhan dari petani kita”, ungkap Majdi. Menurutnya, ada sekitar seratus ribu ton yang merupkan surplus hasil pertanian di NTB. Karena itu tidak ada alasan untuk menggantungkan konsumsi beras pada provinsi di luar NTB. “Masyarakat NTB bisa memenuhi kebutuhannya dengan apa yang diproduksi di dalam daerah. Untuk dapat memastikan

Wujud nyata dari kehidupan yang rukun dan gotong royong yang terbangun adalah tercapainya cita-cita bersama seperti halnya yang terjadi di Wanasaba Lombok Timur. Hal ini terlihat dari warga Wanasaba yang berjumlah 2.273 jiwa, 727 KK dengan empat dusun yang karena bergotong royong selama ini akhirnya berhasil membangun saluran irigasi perpipaan yang akan mengairi persawahan hingga ratusan hektar luasnya. Kepala Desa Wanasaba Daye, H. Kandelan menyampaikan inilah wujud dari cita-cita dan kerja keras warganya selama empat tahun terakhir berjuang membuat saluran pipa irigasi tersebut. “Hari ini terbukti berkat kerjasama dan keinginan kuat serta kebersamaan warga untuk bisa maju dalam pertanian juga demi kemakmuran warga bersama, pembuatan saluran pipa irigasi ini akhirnya terwujud,” ungkap Kandelan. Wakil Bupati Lombok Timur H. Khairul Warisin mengatakan keberhasilan ini tentunya akan berdampak pada prioritas tanaman padi yang dapat ditanam setiap tahunnya di Lombok Timur, karena selama ini hanya bergantung pada sawah tadah hujan. “Mulai saat ini sawah-sawah di Wanasaba dan sekitarnya yang jumlahnya ratusaan hektar akan dapat ditanami padi setiap tahunnya berkat aliran saluran irigasi perpipaan ini,” kata Khairul Warisin. Secara swadaya, warga Desa Wanasaba membuat saluran irigasi perpipaan yang dimulai dari Kali Krasikan ke Subak Montong Teki Desa Wanasaba Daye Kecamatan Wanasaba Kabupaten Lombok Timur sepanjang 2.234 meter dengan total anggaran 2,2 Miliar rupiah dengan dana murni dari swadaya masyarakat Wanasaba selama empat tahun pembuatan saluran tersebut. Atas inisiatif dan kepedulian warga tersebut Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi yang turun langsung meresmikan saluran pipa irigasi hasil swadaya masyarakat tersebut, menyampaikan rasa bangganya sehingga dan spontan memberikan acungan jempol serta bantuan sejumlah Rp 25 juta yang diterima Kepala Desa Wanasaba Daye. Gubernur NTB juga memberikan penghargaan kepada desa tersebut sebagai desa berprestasi. “Hari ini kita semua bersyukur kehadirat Allah SWT dan saya memberikan penghargaan kepada Desa Wanasaba ini sebagai Desa Berprestasi,” kata Majdi sembari mengacungkan jempol. Gubernur juga berjanji akan bersama-sama dengan pemerintah kabupaten untuk membangun embung sebagai dukungan pertanian di Lombok Timur. Tetap menjaga kebersamaan dan gotong-royong serta selalu memupuk rasa persaudaraan dalam menjalankan amanah bagi kemaslahatan sesuai tuntunan agama Islam, menjadi harapan gubernur yang juga seorang ulama ini. “Islam tidak hanya mengajarkan salat dan zakat saja namun mengajarkan juga amanah untuk bisa menjaga, mengolah dan membangun bumi ini”, ungkapnya. Pada kesempatan ini juga diikuti dengan deklarasi dari warga Wanasaba untuk tidak buang air besar sembarangan yang diwakili para Kepala Dusun dan Kepala Lingkungan dari masing-masing wilayah. -Naniek I. Taufan

Gubernur NTB meresmikan saluran irigasi perpipaan

ketersediaan sepanjang tahun perlu ada manajemen stok yang baik,” ujarnya. Sehingga, untuk menciptakan manajemen stok yang baik berpaku pada dua hal, yaitu kompetensi dan niat baik. Kompetensi, bisa saja ada yang terkait kompetensi teknis yang dapat mengukur dan menghitung angka dan secara faktual dapat dievaluasi. Namun itu belum cukup, melainkan harus dilengkapi dengan niat baik. “Mari kita semua berniat baiklah untuk kesejahteraan petani kita. Cukup-cukuplah kita meletakkan petani dan pertanian pada sektor

yang marginal,” harapnya. Beberapa kendala yang dihadapi petani di lapangan, seperti harga gabah yang murah, adanya keinginan pemerintah pusat yang akan mengimpor beras dari luar, serta fasilitas alat mesin yang masih terbatas juga soal penyaluran pupuk, menjadi topik dalam dialog dengan para petani yang hadir. Atas semua masalah yang dialami petani tersebut, Gubernur NTB berkoordinasi dengan semua pihak, termasuk pemerintah pusat untuk mencari solusi serta menyelesaikan kendala yang dihadapi para petani di NTB. -Naniek I. Taufan


20

Nine

Edisi 891/ 7 - 13 maret 2016

Hj. Putu Selly Andayani

Kembali Pulang untuk Cium Tangan Memiliki pribadi yang hangat dan akrab menjadi sesuatu yang khas dalam diri Hj. Putu Selly Andayani, Kepala Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Provinsi Nusa Tenggara Barat. Caranya menyapa dan berkomunikasi memperlihatkan keramahan dan keterbukaan. Bagi mereka yang mengenalnya, perempuan kelahiran, Mataram, 15 September 1961 dengan sikap keibuan ini adalah sosok yang menyenangkan.

Putu Selly Andayani

I

a sangat menyukai anakanak. Karena itulah, wajahnya terlihat terpukul, manakala menyaksikan heboh di media sosial tentang anak-anak di bawah umur yang memposting foto-foto dirinya yang berbau tindakan asusila. “Miris saya melihat ini,” ungkapnya sedih. Baginya, anak semestinya menjadi cerminan masa depan dunia. Orangtua

dan keluarga bertanggung jawab mengantar mereka untuk meraih cita-cita dan menjadikan dunia ini berarti bagi kehidupan mereka selanjutnya. Menjadi nenek dari 9 cucu merupakan hal yang paling membahagiakan. Bagaimana tidak, keceriaan dan kemanjaan anak-anak baginya adalah sumber inspirasi yang mampu memberikannya makna akan kebahagiaan itu sendiri. “Tanpa anak-anak, dunia ini serasa kosong,” ungkap istri dari politisi kawakan, Rahmad Hidayat (65) ini. Kedekatannya dengan anakanak dan para cucunya sangatlah hangat. Selly menyiapkan waktu khusus untuk memanjakan terutama para cucunya. Meski di tengah kesibukannya yang terbilang padat, ia tidak pernah melupakan hari-hari spesial yang berkualitas bersama seluruh keluarganya. Selly sangat menantikan hari Sabtu dan Minggu. Dua hari itu, ia selalu membuatnya sumringah. Karena di waktu itulah ia akan kedatangan bocah-bocah yang

sangat dinantikan, berkumpul di rumahnya menghabiskan waktu dengan keluarga besarnya. Keluarga besar yang bahagia menjadi idaman baginya. “Saya kalau lihat menantu hamil, rasanya senang luar biasa. Kalau bisa anak-anak dan menantu saya punya anak minimal empat, biar ramai dan seru,” katanya tertawa. Celoteh para cucu yang datang berkumpul di rumahnya, menjadi momen spesial baginya untuk mencurahkan kasih sayangnya pada keluarga. Kalau sudah begini, para cucu ramai-ramai minta dimasakkan olehnya. Karena itu, ia tidak segan turun tangan untuk memasak makanan permintaan tersebut, salah satunya nasi goreng ala eyang. “Biasanya kalau cucu di rumah, ibu-ibu mereka jalan-jalan, Eyangnya yang ngurus cucu,” katanya. Selly menikmati sekali kebersamaannya dengan para cucu. Sepanjang menghabiskan waktu dengan cucu-cucunya, tidak lupa Selly menyelipkan didikan-didikan positif bagi generasi penerusnya ini. Ia menjadi nenek

Bedakan Urusan di Luar Rumah dan di Dalam Rumah Menjadi istri dari politisi gaek NTB yang disegani, rupanya adalah hal biasa bagi Selly. Ia tidak pernah khawatir atau pun ikut campur dalam urusan tersebut. Selly mengaku percaya dan yakin penuh pada insting dan kemampuan seni berpolitik dari suaminya. Selama 35 tahun Rahmat Hidayat wara-wiri di dunia politik, telah cukup bagi Selly memahami bahwa naluri menghadapi berbagai situasi politik suaminya itu luar biasa. Uniknya, Rahmat Hidayat yang terkadang terlihat ‘garang’ dalam kancah politik, namun bagi Selly, di rumah ia adalah suami dan ayah yang sangat penyayang. “Sekali pun di luar rumah, khususnya urusan politik yang kadang menimbulkan tekanantekanan, di rumah Bapak selalu pulang dengan santai,” ujarnya. Ia sangat bangga memiliki Rahmat Hidayat sebagai suami karena baginya ia adalah sosok yang sangat mengerti dirinya dan keluarganya. “Sepanjang berumah tangga, kami tidak pernah bertengkar,” ujarnya. Sekuat apa pun tekanan atau situasi politik yang dihadapi

Kadispenda NTB saat menerima kunjungan Wagub NTB

Rahmat Hidayat, ia selalu pulang dalam keadaan yang baik bagi keluarganya. Karena itulah Selly sangat mengagumi diri suaminya itu. Dan sebagai seorang istri, Selly mengimbangi hal itu dengan tidak ikut campur dalam setiap urusan politik suaminya, meski ia tahu dari surat kabar-surat kabar yang dibacanya. “Paling-paling saya hanya bertanya sekadarnya atau berdiskusi secukupnya saja,” ujarnya. Hal itu dilakukan sebagai bentuk perhatiannya pada aktivitas suaminya.

Ketika Selly menjadi Penjabat Walikota Mataram beberapa waktu lalu, suaminya itu berpesan agar ia berhati-hati. “Hati-hati dalam mengambil keputusan,” pesan suaminya kala itu. Ia sangat menyukai perhatiannya itu. Karenanya, ia selalu merasa ada yang kurang jika suaminya itu bertugas keluar Mataram. “Saya adalah orang yang paling bahagia bersuamikannya. Rupanya saja yang sangar, tapi sangat peyayang dalam keluarga,” katanya. Selly belajar banyak dari sang suami, setidaknya belajar membe-

Introspeksi Setiap Hari

Hari raya Nyepi yang tahun ini jatuh 9 Maret, umumnya dimaknai masyarakat Hindu Bali sebagai waktu untuk introspeksi diri dan menjalankan catur brata penyepian. Namun di mata I Nyoman Ardika, M.Pdh., introspeksi diri tersebut hendaknya dilakukan setiap hari. Apalagi dengan profesi yang ia jalani sebagai penari bondres.

P

Hj. Putu Selly Andayani bersama suami tercinta

yang melengkapi pendidikan keluarga bagi para cucunya. Cucucucunya tidak saja mendapat didikan dari orang tuanya tetapi juga mendapat ilmu tambahan dari kakek dan neneknya. “Saya ingin cucu-cucu saya mendapat pendidikan yang lengkap. Apa yang tidak diperoleh dari orangtua mereka, bisa mereka dapatkan dari kami,” ungkapnya. Salah satu yang menjadi konsentrasi Selly dalam pendidikan keluarganya adalah soal mencium tangan sebagai tanda penghormatan pada yang tua. Jika bagi sebagian orang, cium tangan dalam keseharian adalah hal yang biasa, namun bagi Selly dan keluarganya, cium tangan adalah hal sederhana yang luar biasa maknanya bagi keluarga besar mereka. Kedeka-

tan, kehangatan, penghormatan dan saling menjaga kebersamaan, melekatkan cinta dan kesetiaan, ada pada ritual cium tangan penuh makna ini. dan itu dilakukan seluruh keluarga besarnya. Saking sakralnya cium tangan, meskipun sudah cukup jauh meninggalkan rumah, Selly bisa kembali pulang ke rumah untuk mencium tangan suaminya jika ia lupa melakukannya saat keluar dari rumah. “Bapak juga begitu, kalau saya lupa cium tangan saat melepasnya, beliau bisa kembali ke rumah meski sudah jalan keluar rumah. Atau setidaknya, beliau menelepon untuk memastikan apakah saya sudah cium tangan sebelum beliau meninggalkan rumah tadi,” kata Selly.

dakan mana urusan di luar rumah dan mana urusan dalam rumah. Keduanya harus berjalan beriringan tanpa saling mengganggu. Inilah kunci kebahagiaan hidup keluarga mereka. Dan ini pula yang menjadi pedoman baginya dalam memimpin Dispenda NTB. Sebagai pimpinan institusi ini sejak 23 Januari 2015, Selly berupaya keras untuk mendekatkan dan memudahkan pelayanan bagi masyarakat melalui inovasiinovasi yang mendukung hal tersebut. Namun menurutnya, tidak semua hal harus inovatif. “Inovasi dalam pelayanan publik, itu wajib hukumnya. Tetapi inovasi dalam pengelolaan keuangan tidak boleh dilakukan karena semua sudah terformat sesuai dengan regulasi. Dan saya patuhi hal itu,”

ungkapnya. Kini Dispenda NTB telah memiliki 40 drive thru pelayanan di seluruh NTB, 3 mobil Samsat keliling serta aplikasi pembayaran pajak melalui telepon genggam. Dan aplikasi pembayaran pajak melalui telepon genggam yang bekerja sama dengan provider XL adalah yang pertama di Indonesia. “Ke depan kami sedang menyiapkan ATM Samsat untuk lebih memudahkan wajib pajak dalam membayar pajak agar tidak terkena denda,” katanya. Apa yang dilakukannya ini merupakan ikhtiar untuk meningkatkan pendapatan daerah dan mendekatkan serta memudahkan pelayanan bagi masyarakat sehingga wajib pajak tidak perlu kena denda karena keterlambatan. -Naniek I. Taufan

ria humoris yang mengelak dirinya disebut seniman, melainkan penikmat seni ini, mengatakan respons penonton menjadi salah satu masukan yang membuatnya harus melakukan perubahan, baik terkait materi yang disajikan termasuk penampilan. Nyoman Ardika yang di atas panggung dikenal dengan tokoh “Sengap” ini pun mengaku tak pernah tersinggung jika ada yang mengatakan penampilan atau materi lawakannya tidak bagus. “Malah saya berterimakasih, jadi saya bisa memperbaiki diri. Terlepas apakah kritikan itu memang benar-benar sebagai masukan atau malah ingin mendown-kan saya,” ucapnya. Selain itu, dari respons penonton ini pula ia mendapatkan penguatan bahwa materi yang ia

sampaikan, yang juga diselipkan nilai-nilai edukasi, bisa diterima dan dapat menghibur penonton. Sebagai orang yang pernah mendalami ilmu agama, dosen Stikes Advaita Tabanan ini sangat mempercayai hukum karma. Karena itu pula, sekarang ini Nyoman Ardika mengaku lebih bisa menjalani hidup apa adanya, tanpa mengharapkan yang berlebih. Ia meyakini kehidupan di dunia ini harus balance horizontal dan vertikal, seimbang antara mengejar materi keduniawian dan ke-Tuhanan. Ia menyebut inilah ilmu alam. “Pengalaman pribadi saya, ketika dulu saya terus mengejar target materi dengan sedikit mengabaikan ‘ke atas’, memang banyak ada pamasukan tapi pengeluaran justru lebih banyak. Darisana, saya instrospeksi diri bahwa keduanya harus seimbang, rezeki sudah

Kunjungan Wagub NTB, H. Muh. Amin ke Dispenda NTB

Kepala Bakorluh NTB Ir. Husnanidyati Nurdin (tengah) saat turun lapangan. Instropeksi intern dilakukan dalam wujud evaluasi mingguan

Introspeksi diri merupakan hal yang penting untuk mengetahui sekaligus menyadari kekurangankekurangan dan kelebihan-kelebihan yang kemudian dijadikan patokan langkah agar menjadi lebih baik lagi pada perjalanan selanjutnya. Introspeksi diri tidak hanya dilakukan pada hal yang bersifat pribadi melainkan juga secara institusional. Pun dalam birokrasi hal ini tentu penting dilakukan untuk menciptakan birokrasi yang sehat dan bersih. Melihat lebih detil apa saja yang telah dikerjakan dalam sebuah

institusi dilakukan oleh Ir. Husnanidyati Nurdin, Kepala Badan Koordinasi Penyuluhan Provinsi Nusa Tenggara Barat, secara berkala dalam bentuk evaluasi intern secara rutin seminggu sekali. “Setiap hari Senin, kami melakukan evaluasi seluruh hal yang telah dilakukan selama seminggu sebelumnya,” ujar Husnanidyati. Beginilah bentuk introspeksi yang dilakukan badan daerah yang mengkoordinir para penyuluh NTB dari berbagai bidang ini. Dalam introspeksi yang diwujudkan melalui evaluasi rutin ini

kecil dan keluarga besarnya. Kebersamaan dengan istri, Ni Nyoman Sri Kusminiwati dan kedua putranya, I Gede Andika Jaya Wardhana dan I Gede Nyoman Pasek Kusuma Wardhana adalah menjadi yang utama. Karena dikatakannya waktu “seniman” berbeda dengan dengan waktu pegawai (seperti istrinya), yang pasti masuk jam 08.00 pulang jam 16.00. “Kalau kami pekerja seni, misalnya diminta ngayah jam 9 malam, bisa jadi jam 11 baru mulai nari. Jadi waktu bersama keluarga sangat tidak tentu,” kisahnya. Karena itu pun, kerapkali ia

5

mengajak istri dan anak-anaknya ikut ke acara pementasannya. Apalagi misalnya si pemilik hajatan sudah akrab dengan keluarganya. “Pokoknya, sebisanya saya pasti ngajak mereka,” ucapnya. Seperti siang itu ketika Tokoh membuat janji temu di sebuah rumah makan di Renon-Denpasar, Nyoman Ardika pun memboyong istri dan anak-anaknya. “Hari ini saya cuti untuk menemani anak tes masuk sekolah, sekalian diajak kesini, setelah ini lanjut ke Kuta untuk urusan pekerjaan suami,” tandas sang istri Nyoman Sri. –Inten Indrawati

I Nyoman Ardika alias Sengap

diatur Tuhan,” ucapnya. Karena itu pula, sekarang ini ia tak segan-segan menolak job, walaupun nilainya besar, jika waktunya berbenturan dengan upacara piodalan di kawitannya, bertepatan dengan hari raya, seperti Galungan, Kuningan, Ngerupuk, ataupun Tahun Baru. “Apalagi Hari Nyepi, sudah jelasjelas saya tolak,” ujarnya membanyol. Baginya, hanya pada harihari tersebutlah ia berkesempatan bisa berkumpul bersama keluarga

Temukan Titik Kekurangan

–Naniek I. Taufan

Edisi 891/ 7 - 13 maret 2016

selalu disertakan dengan catatan-catatan dan persiapan dan persiapan-persiapan yang akan dikerjakan kemudian di minggu berikutnya. Sebagai kepala badan, sekalipun Husnanidyati memiliki catatan-catatan tersendiri mengenai apa yang akan dikerjakan untuk meningkatkan kinerja instansi yang dipimpinnya dalam uraian kegiatan harian, ia juga meminta kepala-kepala bidangnya untuk kritis menyampaikan kekurangan-kekurangan dari kegiatan mingguan tersebut. “Introspeksi yang kami lakukan selama ini yang berwujud evaluasi rutin, sangat membantu kami dalam menemukan titik-titik kekurangan sehingga kami menyadari bagian-bagian mana yang harus diperbaiki untuk meningkatkan kinerja seluruh perangkat Bakorluh,” katanya. Hasil introspeksi yang berupa catatancatatan tentang segala hal yang harus diperbaiki dan dikerjakan menjadi memudahkannya untuk mengidentifikasi masalah yang sudah, sedang dan akan terjadi sehingga dapat cepat melakukan antisipasi khususnya untuk tugas-tugas yang ada di depan. Begitu pula dengan I Gede Putu Aryadi, S.Sos.,M.H., Kabag Kesekretariatan dan PDE Biro Umum / Kepala Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Provinsi NTB, yang melakukan introspeksi diri ketika menghadapi masalahmasalah birokrasi dan tugas-tugas yang memerlukan pengambilan

Sengap dan keluarga

keputusan yang tepat dan bijaksana. Terlebih lagi keputusan saat melakukan pembinaan disiplin kepada stafnya. Evaluasi kinerja juga dilakukan untuk menemukan titiktitik lemah yang kemudian dapat dijadikan kekuatan untuk menemukan solusi dari permasalahan, kendala dan tantangan selanjutnya.

Husnanidyati Nurdin dan I GP Aryadi, dua birokrat yang senantiasa melakukan introspeksi untuk ‘membaca’ kekurangan dan kelebihan demi meningkatkan kinerja, baik secara pribadi sebagai pimpinan maupun dalam memimpin institusinya. -Naniek I. Taufan

PELESIR

Kapal Pesiar Ramai Singgahi Pelabuhan Benoa

Sejak tahun 2014 dan 2015 kedatangan kapal pesiar di pelabuhan Benoa tercatat mengalami peningkatan yang baik. Pada tahun 2014 tercatat 49 unit kapal pesiar sedangkan tahun 2015 sebanyak 58 kapal pesiar. Pada tahun 2016 rencana kedatangan kapal sebanyak 56 unit kapal. Akhir Februari hingga awal Maret 2016, sebanyak 5 unit kapal pesiar berturut-turut singgah hingga sempat membuat manajemen PT Pelindo III (Persero) Cabang Benoa agak kewalahan untuk mempersiapkan tambatan dan pembagian personil untuk memberikan pelayanan terminal. Demikian diungkapkan General Manager Pelindo III Benoa, Ali Sodikin. Ia mengatakan, tahun 2016 adalah awal tahun yang cukup padat untuk jadwal kedatangan kapal pesiar di Pelabuhan Benoa. “Hingga hari ini (01/03) sebanyak 13 kapal pesiar sudah mengunjungi Pelabuhan Benoa. Dari 13 unit kapal pesiar yang datang, 13 unit sandar dan sisanya berlabuh karena panjang kapal yang melebihi panjang dermaga ataupun karena penuhnya tambatan di dermaga sehingga tidak dapat sandar,” ucapnya. Lebih lanjut Ali menjelaskan, hingga saat ini, kapal pesiar yang paling lama bersandar di Pelabuhan Benoa adalah MV Crystal Serenity selama 5 hari. Total jumlah lama masa berkunjung kapal di Pelabuhan Benoa dengan 13 unit kapal pesiar adalah 26 hari dengan total penumpang sekitar 15.132 orang penumpang. “Semakin lama kapal berkunjung di suatu tempat maka semakin besar pula dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Karena menurut data yang dihimpun Kementerian Pariwisata pada tahun 2015, wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia dalam sehari dapat membelanjakan minimal $100 – $150. Jadi efek domino bagi masyarakat sekitar cukup besar,” kata Ali Sodikin. –Wirati Astiti


6

Woman on Top

Edisi 891/ 7 - 13 MARET 2016

Dr. Solita Sarwono, M.P.H.

M

enurut perem­ puan yang per­ nah mengajar di Leiden Univer­ sity Belanda ini, aktivis seharus­ nya adalah seorang yang mampu menjadi pelopor dan membuat orang lain tertarik untuk mene­rima gagasan mereka. Ia sangat setuju, kalau para aktivis bisa berperan se­ bagai anggota parlemen. Namun, ironisnya, hanya sedikit perem­ puan yang bisa tampil. Alasannya sangat klise karena suami tidak mendukung, bahkan, perempuan sendiri tak mau untuk tampil, walaupun sudah didorong maju. Ia menilai memang perlu ada­ nya edukasi yang terus menerus. “Saya sangat setuju dengan revo­ lusi mental. Edukasi yang bisa mengubah mindset. Edukasi ini dimulai dari ke­luarga. Belajar tidak membedakan perempuan dan lakilaki. Pendidikan perempuan dan laki-laki harus sama. Perempuan juga bisa sekolah tinggi. Sehingga tak lagi ada, perempuan yang berpikir, tidak enak dengan suami. Ataukah, apakah saya pantas. Ah, masa sih perempuan harus maju. Karena para perempuan dan lakilaki sudah dididik sejak kecil, agar mere­ka bisa menerima kesetaraan gender,” ujarnya lebih jauh. Ia menegaskan, kampanye ini harus disuarakan perempuan sendiri. Namun, perempuan ber­ saing dengan perempuan. “Ada satu contoh yang bisa dilakukan sebagai pemberdayaan perem­ puan dengan cara membuat satu role model. Perempuan yang maju diberi penghargaan dan diekpos di media,” kata Solita. Menurutnya di Indonesia lebih banyak mementing­ kan angka, atau kuantitas, dibandingkan mereka me­ lihat kualitas. Misalnya, perempuan yang maju ke politik, asal comot bukan kader yang mumpuni se­ hingga setelah duduk di par­lemen, tidak punya ide, tidak tahu cara berkomu­ nikasi, mere­ka hanya menjadi follower. “Para perempuan parle­ men, justru harusnya menjadi seorang aktivis, artinya, mereka

Gedung Mewah Atasi Keluhan

Meski sering disuarakan, kesetaraan gender di ­Indonesia masih belum sesuai dengan yang diharapkan. Banyak ­faktor yang menjadi penyebabnya. Tantangan bagi perempuan ­sangat banyak, terutama bagi aktivis. Pakar gender dan psikolog Dr. Solita Sarwono, M.P.H., yang menetap di Belanda, mencoba berbagi informasi kepada pembaca, dalam acara ­diskusi yang digelar LSM Bali Sruti, pekan lalu.

bisa menjadi pelopor dan mem­ beri suatu perubahan di tempat mereka berada,” kata Solita. Dalam pandangannya, ia setuju dengan masukan para perempuan yang maju ke politik harus udah berusia matang dan dalam kon­ disi mapan, sehingga bisa fokus, walaupun itu tidak menjaminkan kualitasnya. Anny Pratiwi dari Widyaiswara Badan Diklat Provinsi Bali me­ ngatakan, ia sering memberikan pelatihan dengan bermacammacam metode, namun, sam­ pai sekarang sangat sulit untuk mengubah mindset para perem­ puan. Mungkin perlu advokasi dan penelitian, metode apa yang

harus diberikan agar perempuan mau berubah. Kuncinya, kata dia, pendidikan. Utami Dwi Suryadi, anggota DPRD Provinsi Bali, memberi contoh atas dirinya. Memang sulit berkiprah di parlemen, kalau suara perempuan sedikit. Namun, untuk perempuan bisa duduk di parlemen, tentu tak mudah. Selain otak, dan otot atau keberanian, juga perlu ongkos. Ia juga tak me­ nampik, memang mencari kader itu sulit. “Banyak aktivis perempuan yang maju ke politik, tapi justru gagal alias tidak terpilih. Karena mereka tak punya ongkos yang kuat,” kata Riniti, Ketua LSM Bali

Sruti menambahkan. Menurut Utami, perempuan maju ke poli­ tik juga karena dipaksa. “Kalau tidak dipaksa, tidak ada yang mau. Menurut saya, perem­ puan sendiri yang harus berubah,” kata anggota Fraksi Demokrat ini. Diah Yuniti menam­ bahkan pembelajaran di bidang kepramuka­an bisa menjadi satu alternatif mengajarkan anak-anak sejak dini mengenal du­nia kepemimpinan dan bela­ jar kesetara­an gender. -Wirati Astiti

Banyaknya orang kaya yang membutuhkan perawat­a n kesehatan di rumah sakit, mendorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo membangun gedung rawat inap baru yang mewah. Gedung tiga lantai dibangun di bagian utara kompleks RSUD Sidoarjo, diberi nama Graha Delta Husada (GDH).

B

upati Syaiful Ilah, men­ gatakan rumah sakit ini sengaja dibangun agak mewah karena banyak warga Sidoarjo membutuhkan perawatan kesehatan dengan fasilitas yang bagus dan baik. “Fasilitas yang terdapat di Graha Delta Husada ini sangat bagus, ada ru­ angan VIP, ruangan VVIP dan berbagai peralatan canggih yang akan dipasangan di gedung baru ini,” ujarnya sambil me­ nebarkan senyum kebanggaan. Ditanya berapa tarif un­ tuk ruangan VIP dan VVIP sema­ lam, Abah Syaiful, panggilan akrab Syaiful Ilah, mengatakan hingga sekarang belum ditentukan. Karena masih dalam

proses perhitungan secara detil agar jan­ gan keliru dalam menentukan tarif. “Sekarang pihak direktur dan staf­ nya masih menghitung detil tarif yang akan ditarik dari rawat inap di ruangan mewah tersebut,” kata Syaiful. Ia me­ negaskan alasan pembangunan gedung mewah dengan ruangan rawat nginap tersebut, dikarenakan selama ini banyak masyarakat Sidoarjo yang mengeluh kar­ ena ruangan yang ada di RSUD Sidoarjo ini terbatas sehingga banyak pasien yang harus menunggu beberapa waktu untuk bisa mendapatkan ruangan perawatan. Dengan dibangunnya gedung yang baru dan mewah ini, maka ke de­ pan diharapkan tidak ada lagi keluhan

Surabaya North Quay Dipadati Pengunjung Utami Dwi Suryadi

Keluarga sebagai Contoh

Solita tertarik soal gender t an pa di sa ­ darinya. Saat mem­ buat skripsi tahun 1975 di Psikologi UI,belum banyak yang bicara gender. Ia sendiri mem­

buat skripsi teori dan pe­ nelitiannya, sudah tentang perempuan. “Waktu itu saya tidak mikir, saya malah tidak tahu ten­ tang gender. Barang­ kali alasannya karena di keluarga saya su­ dah terbiasa diterap­ kan kese­taraan gender tanpa saya sadari,” tutur adik Prof. Sarlito Wirawan Sarwono ini. Mulai dari nenek sampai ibunya adalah seorang tokoh ­p erempuan. ­“ Eyang pu­ tri saya ikut dalam k o n g ­r e s

perempuan cikal bakal yang ditetapkan sebagai Hari Ibu 22 Desember. Waktu itu ibu saya masih usia 6 tahun, sering diajak eyang putri dalam setiap kegiatan­nya,” kata Solita. Ibunya, Sofie Sarwono ke­ mudian disekolahkan di sekolah Belanda yang mengajarkannya kesetaraan gender sejak kecil, bahwa laki-laki dan perempuan adalah sama. Sofie Sawono pernah men­ jabat sebagai anggota DPRD, dan saat Pemilu pertama ta­ hun 1955, ia mendirikan Partai ­S arinah. “Saat ini, ibu saya berusia 94 tahun dan masih aktif menjadi pembicara soal politik dan gender. Ibu saya menguasai 4 bahasa, Inggris, Perancis, Belanda, dan Jerman,” kata Solita. Sofie Sarwono juga dikenal sebagai pelopor di PKBI pusat dan pernah menjadi Ketua PKBI. Beberapa minggu lalu, Solita bersama ibunya, Sofie Sarwono diundang ke satu acara, pem­ bukaan perpustakaan di Tegal, di daerah kelahirannya. “Ibu saya diminta bicara dan memberi semangat ibu-ibu bagaimana memberdayakan diri mereka,” kata Solita.

19

Graha Delta Husada (GDH)

Jangan hanya Jadi Follower Dr. Solita Sarwono, M.P.H.

Edisi 891/ 7 - 13 MARET 2016

Solita mengatakan, ia tu­ juh bersaudara, tapi ibunya tetap mampu membesarkan anak-anak dengan baik dan tetap mampu berkiprah dalam bidang politik dan sosial, dan selalu menjadi pelopor bagi sekitarnya. Selain ibunya, Solita juga melihat role model lainnya, yakni ibu mertuanya, Siti ­S oendari, yang merupakan adik bungsu dr. Soetomo. Siti Soendari merupakan perem­ puan Indonesia kedua yang men­dapat gelar sarjana hukum sete­lah Maria Ulfa Santoso. Dari beberapa role model dan kondisi yang dialami da­ lam keluarganya, membuat Solita tanpa sengaja tertarik dan bergerak di bidang gender. Saat ini, ia dipercaya menjadi konsultan internasional di be­ berapa negara untuk urusan kesehatan dan gender. Untuk urusan pendidikan, Solita se­ring mendapatkan beasiswa ke luar negeri, disamping kefasihan­ nya berbahasa asing. Saat ini, ia menetap di Belanda karena mengikuti suami yang memang sudah tinggal di Nege­ri Kincir Angin tersebut sejak muda. -Wirati Astiti

Kapal pesiar MS Rotterdam

Objek wisata di Surabaya ber­ tambah satu dengan hadirnya wisata bahari North Quay di Pelabuhan Tanjung Perak. Selama tiga hari (2729/2) wisata baru mulai dikenalkan masyarakat umum dan sambutannya luar biasa. Sekitar 10.000 pengunjung memadati Surabaya North Quay. “Puncak kunjungan terjadi pada hari terakhir saat ada kapal pesiar internasional, MS Rotterdam, yang sandar di dermaga,” kata Prasetyo, Dirut Pelindo Properti Indonesia, lini bisnis Pelindo III di bidang properti dan pariwisata. Prasetyo menceritakan, keban­ yakan pengunjung datang berkelom­ pok, bersama keluarga dan sahabat. Mereka tampak sibuk berfoto menga­ badikan diri bersama latar belakang cruise yang singgah sebelum berlayar ke Singapura itu. Di ruangan lantai 2 dan 3, pengunjung menikmati aneka kuliner dan berbelanja beragam produk kerajinan kreatif. Sejumlah penampilan band dengan lagu-lagu popular dan atraksi musik patrol yang dimainkan anak-anak Kampung Maspati, kampung wisata binaan Pelindo III. Pelindo III juga memfasilitasi mitra binaan dari Usaha Kecil, dan Menengah (UKM) baju, aksesoris, dan sepatu lukis untuk turut menawarkan produknya. Tidak hanya kepada ribuan warga Surabaya yang hadir,

tetapi juga kepada para turis cruise yang membaur di keramaian untuk berbelanja. Para kru kapal yang berser­ agam pelaut sibuk melayani permintaan pengunjung untuk foto bersama. Selain mitra binaannya, banyak UKM lain yang diundang untuk membuka stand, salah satunya ialah perajin sepatu dari ekslokalisasi Dolly. “Ramainya pengunjung menun­ jukkan adanya kebutuhan masyarakat Surabaya akan adanya lokasi kongkow dan meeting point baru. Terbukti karena ramainya pengunjung yang datang dari berbagai kalangan. Sembari menikmati suasana tepi laut, mereka berbelanja aneka produk kerajinan dan jajan kuliner,” ungkap Presetyo. Apa yang disampaikan Prasetyo tampak dari banyaknya stand kuliner yang sudah kehabisan stok meski acara belum usai. “Kebutuhan berwisata warga Surabaya sejalan dengan kemampuan beli mereka,” tambahnya lagi. Direktur Utama Pelindo III, Djarwo Surjanto, yang datang ke Surabaya North Quay bersama jajaran direksi lainnya, mengungkapkan, tidak mengira animo pengunjung yang begitu besar. “Niat Pelindo III dengan adanya kegia­ tan ini ialah untuk memasyarakatkan (potensi) PelabuhanTanjung Perak. Adanya Surabaya North Quay menjadi langkah Pelindo III dalam mengopti­ malkan infrastruktur BUMN untuk kepentingan publik. Jadi tidak hanya

masyarakat tentang keterbatasan ru­ angan di rumah sakit ini. Apalagi mulai tahun ini akan dibangun juga gedung untuk rawat nginap kelas tiga dengan 60 tempat tidur. “Jadi, dengan selesai dibangunnya dua gedung ini diharapkan orang yang mampu dan rakyat Sidoarjo sudah tidak mengeluh lagi karena pasti akan ditam­ pung dan dirawat di ruangan yang baru tersebut,” tegasnya. Bupati menegaskan pengoperasian­ nya akan menerapkan sesuai sistem badan penyelenggara jaminan sosial (BPJS ) kesehatan. “Karena itu, saya minta ke­ pada rakyat Sidoarjo untuk melengkapi dirinya dengan kartu BPJS sehingga mer­ eka bisa dirawat di sini dan tidak perlu harus mengeluarkan uang banyak untuk perawatan kesehatan,” pintanya. TIGA BULAN LAGI RSUD Sidoarjo yang masuk kategori kelas B dan menjadi rumah sakit pendidi­

untuk pelayanan jasa logistik, tetapi juga wisata bahari,” ujarnya. Kegiatan yang juga merupakan edukasi kemaritiman yang diseleng­ garakan oleh Pelindo III kepada masyarakat berhasil mendapatkan perhatian dan apresiasi dari banyak pihak. Sabar Swastono, salah satu to­ koh Kampung Maspati mengapresiasi acara Surabaya North Quay, karena acara tersebut membuka wawasan terhadap kinerja dan apa yang telah dilakukan Pelindo III dalam memod­ ernisasi Terminal Penumpang Gapura Surya Nusantara (tempat Surabaya North Quay), Pelabuhan Tanjung Perak. “Dahulu tempatnya kumuh kini disulap menjadi menjadi bersih dan modern tidak kalah dengan fasilitas di bandara,” ujarnya. Dia berharap dalam penyelenggaraan ke depan terus melibatkan UKM agar dapat member­ dayakan UKM masyarakat seperti dari Putat Jaya (Dolly), Kampung Lawas Maspati, dan UKM lainnya. Ke depannya, akan dilakukan evaluasi pada gelaran di Surabaya North Quay. “Evaluasi utama ialah dari sisi keamanan dan kenyamanan. Karena ternyata pengunjungnya cukup banyak,” tegas Djarwo Surjanto. Lebih detil ia menjelaskan, beberapa sudut bangunan Terminal Gapura Surya Nusantara akan dimodifikasi. Salah satunya dengan memperbaiki peng­ aturan lahan parkir dan memperlebar akses keluar-masuk pengunjung di dalam gedung. “Agar pengunjung tidak mengantre terlalu panjang, sehingga lebih nyaman,” katanya. Pihaknya juga akan menambah ketersediaan keranjang sampah, agar juga men­ ingkatkan kesadaran pengunjung atas kebersihan. Untuk mengakomodir permintaan masyarakat yang tinggi, pengelolaan wahana Surabaya North Quay sebagai wahana wisata bahari akan diseleng­ garakan lagi ke depannya. Terutama saat ada kapal pesiar internasional sandar di Pelabuhan Tanjung Perak. “Paskaevaluasi, akan dikembangkan lagi konsep wisatanya. Agar lebih memberikan manfaat ekonomi bagi promosi produk UKM dan pariwisata Kota Surabaya dan sekitarnya. Selain itu tentunya untuk memberikan fa­ silitas wisata bahari yang representa­ tif bagi warga Surabaya,” pungkas Djarwo Surjanto. -Bambang Wili

Gedung Graha Delta Husada

kan ini, merupakan rumah sakit rujukan bagi pasien dari kabupaten Jombang, Mojokerto, dan Pasuruan. Sebagai rumah sakit pendidikan, tambah Syaiful Ilah, rumah sakit ini juga menjadi tempat praktek bagi para dokter yang sedang mengambil spesialis dari RSUD Dr Soetomo Surabaya dan prak­ tek mahasiswa kedokteran dari Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma, Surabaya. Direktur Utama RSUD Sidoarjo, dr. Atok Irawan Sp.P., ditemui di selasela peninjauan gedung baru tersebut me­ngatakan di gedung baru ini terdiri dari 41 ruangan VIP dan enam ruangan VVIP. Ruangan VIP dibangun cukup mewah. Ukurannya 6 x 6 meter. Ada kamar mandi dalam air panas dan dingin, ada televisi, tempat tidur mewah dan berbagai fasilitas lain yang memadai. Selain ruang rawat nginap, tam­ bahnya, di gedung baru ini juga terdapat ruangan operasi dengan peralatan canggih sesuai standar dan perkembangan teknologi kesehatan saat ini. Dijelaskannya, gedung ini dibangun dengan menghabiskan dana sebesar Rp 30,9 miliar. Dana tersebut berasal RSUD sendiri dan bantuan dari APBD

kabupaten dan provinsi. Gedung baru ini belum dilengkapi dengan peralatan cang­ gih karena sekarang masih dalam proses pembelian, baik dari dalam maupun luar negeri khususnya dari Jerman. “Seluruh peralatan canggih yang akan dipasang di sini akan menelan biaya sekitar Rp 30,9 miliar. Hampir sama dengan biaya pembangunan gedung ini,” ujar dr. Atok. Menyinggung infrastruktur yang akan dipasang di gedung baru ini, menurut Atok Irawan sekarang masih dalam proses pemasangannya. Seperti genset dan berbagai peralatan lainnya. Total biaya untuk infrastruktur ini diper­ kirakan akan menelan biaya sekitar Rp 16 miliar. Walaupun gedung mewah ini sudah diresmikan sekarang namun operasional belum bisa segera dilakukan karena masih menunggu pemasangan infrastruk­ tur dan semua peralatan kesehat­an cang­ gih. “Pengoperasian penuh di gedung baru ini diperkirakan akan dilaksanakan tiga bulan lagi,” ujarnya. Ditanya tentang kualitas perawatan medis yang dilakukan di rumah sakit Sidoarjo, menurut Atok Irawan tidak perlu diragukan lagi. Selain rumah sakit yang dipimpinnya itu adalah rumah sakit pendidikan, kualitas perawatannya sa­ ngat bagus. -Yosef Sintar

Direktur RSUD Sidoarjo, dr. Atok Irawan Sp.P., duduk di tempat tidur VVIP didampingi stafnya


18

Life

Edisi 891/ 7 - 13 MARET 2016

Megoak-goakan merupakan permainan asli tradisional dari Bali Utara. Permainan ini konon sangat digemari oleh Ki Barak Panji Sakti, Raja Buleleng yang dikenal sebagai seorang ksatria yang gagah perkasa. Megoak-goakan merupakan pementasan ulang dari sejarah kepahlawanan Ki Barak Panji Sakti yang dikenal sebagai Pahlawan Buleleng ketika menaklukan Kerajaan Blambangan di Jawa Timur.

K

ata megoak-goakan diambil dari kata goak yang berarti burung gagak. Burung gagak sebagai burung yang tidak akan melepaskan mangsanya. Megoak-goakan adalah salah satu bukti kekayaan budaya dan tradisi di Bali yang masih dipertahankan kelestariannya sampai saat ini. Permainan tradisional rakyat khas Desa Panji ini biasanya dipentaskan menjelang Hari Raya Nyepi tiba. Secara turun-temurun megoak-goakan konsisten terus dilaksanakan dan dijaga kelestariannya sampai kini. Filosofi dari permainan ini sebagai wujud purusa dan pradana (laki-laki dan perempuan). Permainan ini biasanya diperankan oleh sebelas orang dari purusa dan sebelas orang dari pradana. “Dahulu megoak-goakan sebagai strategi yang digunakan dalam peperangan,” ujar Marsa-

Nyoman Marsajaya, S.Pd.

jaya, Kelian Banjar Dusun Kelod Kauh, Desa Panji. Kemenangan dalam permainan jika berhasil menangkap ekor (orang terbelakang) dari kelompok lawan. Seiring perkembangan zaman untuk tetap melestarikan tradisi megoak-goakan, Marsa mengungkapkan rutin melakukan tradisi tersebut sehari setelah hari raya Nyepi. Jika dahulu

tradisi ini dilakukan oleh kelom­ pok pecalang maka sekarang dilakukan oleh muda-mudi desa Panji. “Kadang-kadang anak-anak takut kotor, megoak-goakan itu pakai lumpur,” ujar Marsa yang merupakan satu-satunya kelian banjar yang belum berkeluarga. Desa Panji sebenarnya memiliki lapangan cukup luas untuk dijadikan tempat megoak-goakan yang letaknya di Dusun Kelod Kauh. “Kami pilih jalan tengah, kami tidak mau pemuda pemudi di sini terkotak-kotak yang nantinya menimbulkan perpecahan,” imbuhnya. Megoak-goakan itu sendiri dilakukan di tanah kosong atau areal persawahan yang dipin­ jamkan oleh warga. PAKAIAN SEADANYA Selain tetap melakukan tradisi megoak-goakan setiap tahun, upaya yang dilakukan oleh warga desa Panji adalah melakukan pementasan. Dalam acara-acara yang diselenggarakan di Buleleng megoak-goakan bisa dipentaskan sampai tiga kali dalam setahun. Untuk melakukan regenerasi para pemain maka masing-masing banjar akan diwakili oleh muda-mudi. Melalui sanggar Panji Masuryak, pria kelahiran13 Desember ini mengungkapkan ingin mewadahi kreativitas anak-anak Desa Panji. Setiap akan dilakukan pementasan maka anggota sanggar melakukan latihan secara rutin. Tidak hanya mementaskan megoak-goakan namun anggota sanggar Panji Mesuryak ini juga memiliki berbagai macam kegiatan, diantaranya seni lukis, baleganjur, drama teater, dan angklung. Namun, masih ada ken­dala dalam setiap pementasan yaitu masalah pakaian. “Jujur saja kami masih bingung

Anggota Sanggar Panji Masuryak sebelum pentas

Edisi 891/ 7 - 13 MARET 2016

Warung Sableng Bermodal 4T

Megoak-goakan

Menang jika Tangkap Ekor Lawan

Story

Megoak-goakan sebagai tradisi asli Desa Panji

dengan pakaian yang digunakan, kami tampil dengan pakaian seadanya,” lanjut Marsa. Padahal jika pakaian yang digunakan menarik maka hal itu juga akan men-

jadi daya tarik untuk menonton. Ke depannya ia sangat berharap ada bantuan dari desa untuk tetap melestarikan tradisi megoakgoakan. -Wiwin

Pura Bukit Batu Kursi

Tempat Mohon Jabatan

Mei dan teman-temannya

di lokasi sangat bagus jika digunakan sebagai latar atau background foto. “Kalau pas musim hujan rumput kelihatan hijau jadi keren pake foto,” tambah Mei. Akses jalan menuju Pura ini pun juga sudah sangat baik. Jika saat memasuki area menemukan jalan tanah dan berbatu maka jangan khawatir karena saat menuju ke bukit sudah disediakan ratusan anak tangga untuk mempermudah perjalanan sampai ke puncak. “Pas naik capek tetapi sampai di atas puas banget,” ucap Mei dengan ber­semangat. -Wiwin

Pura Bukit Batu Kursi merupakan pura yang terletak di Barat Daya Pura Pemuteran, Kecamatan Gerokgak, Buleleng. Pura ini merupakan salah satu Pura yang letaknya dekat dengan Pura Pulaki. Banyak yang menafsirkan bernama Pura Bukit Batu Kursi karena terdapat batu yang berbentuk kursi. Letaknya di puncak bukit membawa daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Bahkan beberapa warga yakin jika berdoa di Pura ini untuk memohon petunjuk agar mendapat jabatan atau kedudukan. Tidak hanya warga yang ingin melakukan persembahyangan tetapi banyak fotografer yang datang untuk sekadar mengabadikan momen di tempat ini. Dari sudut ini pe­ Pemandangan di sekitar pura ngunjung dapat melihat keindahan hamparan bukit nan hijau dari sang pencipta. Maka tidak jarang masyarakat rela jauh-jauh datang karena ingin mengobati rasa penasarannya. Salah satu pengunjung adalah Putu Mei Anjas Sari, warga Desa Banyualit yang datang ke tempat ini untuk menikmati liburan akhir semester. Berawal dari rasa penasaran ia pun mencari tahu lokasi pura tersebut. “Pertama lihat foto di media sosial, lalu tanya-tanya di mana tempatnya,” ujarnya. Menyuguhkan view yang sangat memesona tentu tidak akan ada yang menolak datang ke tempat ini. Dikatakan pula bahwa Jalan berupa anak tangga

Sangat banyak warung kaki lima di Mataran yang menyiapkan berbagai menu lalapan. Namun, yang memiliki ciri khas dengan cita rasa dan keunikan namanya, tampaknya menjadi keunggulan dari usaha kuliner yang dirintis Ahmad Syafaat dengan nama Warung Lalapan Sableng (Warlap Sableng). Berangkat dari modal pas-pasan dan kemauan yang keras serta tekad yang kuat membuat Syafaat berhasil melewati masa-masa sulit perintisan usahanya ini dengan baik. selama dua hari dua malam menuju Pulau Lombok. “Hanya Allah yang tahu perjalanan kami, pokoknya hari itu kami jalan saja menuju Pulau Lombok,” ujarnya. Hanya berbekal satu tas pakaian, pasangan suami istri ini menapakkan kakinya di Lombok untuk pertama kalinya di tahun 2010 dengan tekad ingin berjualan tahu tek. Tiba di Mataram, Syafaat hanya mengenal saudaranya yang telah lebih dahulu bekerja di sini. Selebihnya ia tak mengenal siapa-siapa. Memulai usaha kuliner, di tempat yang Ahmad Syafaat asing dan tidak pernah memiliki ika mau membuka usaha pengalaman usaha di bidang ini kuliner, mengapa ia harus sebelumnya, Syafaat hanya mejauh-jauh ke Lombok yang jelas megang keyakinan yang teguh asing baginya? Ditambah lagi ia bahwa ia datang dan istrinya sama-sama tidak k e M a t a r a m pernah memiliki keahlian secara untuk mencari khusus untuk memasak. Tentulah penghidupan. ini menjadi tantangan yang berat Belum apa-apa, bagi keduanya. Namun, Syafaat di hari pertama memilih keluar dari zona nya- berjualan tahu man dalam memulai usahanya tek, ia diusir ini dengan bekerja keras. dari teras ruko Bermodalkan prinsip 4 T akibat adanya (telaten, teliti, temenan dan s a l a h p a h a m tinemu) serta uang Rp 1 juta, antara orang Ahmad Syafaat (40) bersama yang memberistrinya Maratusoliha (39) nekat i n ya k o n t r amengarungi laut menyeberangi kan teras ruko pulau untuk sampai di Mataram, dengan pemilik Nusa Tenggara Barat. Dari tanah ruko tersebut. kelahirannya di Surabaya, tak Dengan sedih, usaha kecil kenal lelah, seperti dituntun kuliner sangat sederhana miSyafaat membonceng istrinya liknya harus berpindah lokasi menggunakan sepeda motor, berjualan di Pagesangan. Namun melakukan perjalanan panjang begitu, Syafaat dan istrinya tetap

J

bersemangat berjualan. “Kalau kami tidak berjualan maka modal akan habis dan kami tak bisa mengandalkan siapasiapa,” ungkap Syafaat. Karena itu, ia demikian gigih berjuang. Beruntungnya, bisa dikatakan Syafaat menjadi salah seorang penjual tahu tek yang pertama di Mataram sehingga dagangannya sangat laku. “Tiap malam tahu tek kami laku,” ujarnya. Untuk menyiapkan dagangannya, Syafaat memulainya sejak dinihari dan berjualan malam hari. Itu dilakukannya setiap hari dengan tekun. Buah dari ketekunan dan kegigihannya, enam bulan kemudian, Syafaat menambah menu warung kaki limanya itu dengan lalapan. Uniknya, warung lalapan ini diberinya nama Warung Lalapan Sableng atau kerap disingkat Warlap Sableng. Kata sableng berarti sambelnya nyebleng (pedesnya penuh). “Sebenarnya selain berarti sambelnya nyebleng, kata sableng juga inspirasinya dari kebiasaan karyawan saya yang suka bercanda bahkan hingga tengah malam,” ujarnya tertawa. BAGI ILMU Rupanya, Syafaat yang dekat dengan anak buahnya ini kerapkali bercanda sehingga untuk

Syafaat bersama istri merintis usaha kuliner

Pelanggan warung lalapan sangat ramai. Tentu saja bukan sematamata karena nama unik warungnya, melainkan juga racikan bumbu dan sambel lalapannya yang cocok di lidah pelanggannya. Minat masyarakat Mataram terhadap lalapan menurutnya

Salah satu cabang Warlap Sableng milik Syafaat

menambah keakraban, suasana ini disebutnya sebagai ‘sableng’. “Jadilah warung lalapan ini bernama Warlap Sableng,” katanya. Nama ini cukup hoki baginya.

Warung Lalapan Sableng selalu ramai oleh pelanggan

7

cukup tinggi. Ini membuat ayah tiga anak, Fatra Alamsyah (16), Syayid Atina Fajriyah (13) dan Fandy Pradana (3) ini semakin bersemangat membuka cabangcabang. Ditambah dengan keberanian berspekulasi, tiga bulan kemudian, Syafaat telah berani membuka cabang Warlap Sablengnya. Begitu seterusnya. Dengan spekulasi yang penuh pertimbangan matang, akhirnya dalam waktu lima tahun terakhir ini, Warlap Sableng telah memiliki lima cabang dan cukup banyak rekanan. Lima lokasi Warlap Sableng yang berada di Jalan Majapahit, lingkungan Karang Pule, Sandik, Panjitilar dan Gunung Sari, tiap malam selalu ramai dikunjungi pelanggan. Puluhan kilogram ayam dan bebek selalu habis setiap malam. Dalam menjalankan usaha ini, Syafaat juga membagi ilmu kepada anak buahnya. Ia mendidik mereka untuk juga dapat memi-

liki keahlian meracik bumbu dan sambel seperti Warlap Sableng. Karena itulah beberapa dari anak buahnya yang berpengalaman sudah ada yang membuka sendiri usaha kuliner lalapan ini. “Rezeki itu sudah diatur oleh Allah,” ujar Syafaat yang tidak merasa tersaingi oleh mantan anak buahnya. Apa yang dicapai Syafaat hari ini, meski masih banyak orang yang lebih sukses dari dirinya, bukanlah hal yang mudah. Dari ke daerah yang asing, tak kenal siapasiapa kecuali seorang saudara, dengan modal yang seadanya namun tekad yang kuat, membuatnya dapat menikmati pencapaian yang lebih dalam waktu yang tidak terlalu lama. Ramah dan supel serta menjaga kerukunan dalam bergaul menjadi salah satu kunci keberhasilannya hari ini. “Jauh-jauh saya datang dari Jawa, saya ingin mencari saudara,” kata Syafaat yang juga seorang penyuka musik ini. Lahir dan besar di lingkungan yang banyak pemusiknya serta ibu yang seorang vokalis, membuat Syafaat kerap bermain musik di masa remajanya. Kerinduan akan musik yang sudah 19 tahun ditinggalkannya karena sibuk bekerja mencari nafkah, kini mulai kembali digelutinya. Baru-baru ini, ia bahkan bersilaturahmi dengan para pemusik di Mataram menggelar pentas sederhana di Warung Jek Taman Budaya Mataram bertajuk, Musik Rakyat. “Semua jenis musik tampil bersama pada panggung sederhana malam itu,” ujarnya. Silaturahmi musik seperti ini, kini menjadi bagian dari cara Syafaat dalam menambah kawan. -Naniek I. Taufan


8

Bunda & Ananda

Edisi 891/ 7 - 13 maret 2016

Maksimalkan Pujian Minimalkan Hukuman Sering kali kita mendengar pertanyaan diantara orangtua mengenai pujian ataupun hukuman. Entah bagaimana bentuknya atau kapan keduanya bisa diberikan. Hal ini karena pujian dan hukuman masuk dalam proses mengasuh anak-anak.

“A

nak saya berhasil menjadi juara lomba fotogenik. Ternyata dia bisa menunjukkan potensinya. Sebagai orangtua, saya memberi pujian dan memotivasinya untuk sering ikut lomba untuk menambah pengalaman. Berikutnya, dia sering menang lomba,” ungkap Bu Yus. Pengalaman lain diungkapkan Bu Eka. Ia pernah menjewer anaknya karena tak mau mencuci piring. “Disuruh cuci piring tidak mau. Dia sibuk nonton televisi. Akhirnya saya jewer sebagai hukuman,” kenangnya Menurut Made Padma Dewi Bajirani, S.Psi., pujian dan hukuman sudah cukup lama menjadi bahasan dalam kajian psikologi. “Pujian adalah salah satu bentuk apresiasi terhadap usaha maupun hasil kerja orang lain yang biasanya disampaikan dalam bentuk verbal. Secara lebih luas, pujian dapat dimasukkan ke dalam reward umumnya kita kenal sebagai penghargaan atau hadiah. Penghargaan adalah sesuatu yang menyenangkan yang diberikan kepada seseorang (dalam hal ini anak) karena telah mencapai tujuan yang sudah dikehendaki. Kita mengenal hadiah sebagai sesuatu yang “wah…” dan hanya diberikan pada momen-momen istimewa. Tetapi ternyata, bentuk hadiah bisa kita mulai dari sesuatu sederhana,” ujarnya. Bentuk penghargaan yang paling sederhana adalah senyuman. Seorang anak secara natural akan merasakan kesan yang positif salah satunya yaitu perasaan semangat ketika melihat senyuman dari orangtua mereka. Kedua, dalam bentuk sentuhan dan verbal yang biasanya tersirat dalam bentuk pujian. Hadiah layaknya sentuhan dan pujian bisa dilakukan misalnya dengan pelukan, tepuk tangan, toss, mengucapkan “terima kasih”, “Ayah bangga!”, “Wah, anak ibu sudah berusaha ya”. Ketiga, bentuk hadiah dalam bentuk material, seperti membelikan barang-barang kesukaan anak, liburan, makan bersama, bahkan sampai perayaan. Ayah dan Bunda perlu berhati-hati dengan setiap bentuk reward yang diberikan. Apapun bentuk hadiah atau penghargaan yang Ayah dan Bunda berikan kepada buah hati tercinta, ingatlah bahwa bukan besar-kecilnya

Made Padma Dewi Bajirani, S.Psi.

atau murah-mahalnya bentuk penghargaan tersebut yang dikenang oleh anak. Melainkan pemaknaan anak terhadap penghargaan yang diterimanya. “Ketika memberikan penghargaan atau hadiah pada anak dalam bentuk apapun, hal yang perlu kita tekankan adalah penghargaan atas bagaimana proses anak mencapai keberhasilannya. Lakukan secara konsisten, jelas, dan adil. Hindari pemberian hadiah atas hasil yang dicapai anak. Penelitian menunjukkan jika seorang anak terbiasa dengan imbalan untuk mencapai suatu hasil, maka akan ada kecenderungan seorang anak untuk bosan melakukan aktivitas tersebut. Bahkan, terdapat peningkatan harapan dari anak untuk mendapatkan bentuk penghargaan yang ‘lebih’ dari sebelumnya,” ujar pengurus Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Bali ini. TUMBUHKAN RASA TANGGUNG JAWAB Pada umumnya, orangtua akan memberikan hadiah atau penghargaan ketika anak berhasil mencapai suatu tujuan yang diharapkan. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, ‘harapan siapa’? Harapan orangtua, guru, atau memang harapan dari anak itu sendiri. Ketika harapan tersebut adalah harapan yang bermakna positif bagi orangtua dan anak serta menyenangkan untuk dijalani oleh seorang anak, tidaklah menjadi sesuatu yang buruk. Tetapi saat harapan orangtua berubah menjadi sebuah tuntutan sebenarnya inilah ‘bibit-bibit’ hukuman. “Menghukum menjadi

suatu jalan yang bisa dilakukan untuk memberikan ganjaran bagi anak karena telah melanggar aturan atau melakukan kesalahan. Umumnya, hukuman mengacu pada pemberian ‘hal yang tidak menyenangkan’ atau berkesan negatif dengan tujuan mengurangi perilaku yang tidak diharapkan. Serupa dengan penghargaan, hukuman juga bersifat verbal dan nonverbal. Bentuk verbal yang biasanya dilakukan adalah menegur, membentak, marah dan lainnya, sedangkan bentuk nonverbal adalah melakukan tindakan secara fisik seperti mencubit, memukul, bahkan hingga kekerasan fisik pada anak,” ujar perempuan yang akrab disapa Padma ini. Menurutnya hukuman dapat dilakukan untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab pada anak akan apa yang telah dilakukannya. Secara tidak langsung, fungsi ini bisa membentuk kedisiplinan pada

anak. Karena hukuman adalah sesuatu yang tidak menyenangkan, maka anak akan berusaha untuk tidak mendapatkannya dengan cara mengurangi perilaku yang tidak disukai. Selain itu, memang pada dasarnya efek jera akan sangat mudah ditimbulkan. “Berdasarkan teori operant conditioning B.F. Skinner, penghargaan dan hukuman biasanya disisipkan dalam proses untuk mengubah perilaku. Adanya hadiah maupun hukuman, setiap anak akan makin termotivasi untuk mencapai perubahan perilaku yang lebih baik. Keduanya samasama memiliki kelebihan dan kelemahan. Hukuman maupun hadiah pada umumnya dikatakan bisa memotivasi anak. Tetapi, kedua bentuk ini adalah motivasi eksternal atau motivasi yang berasal dari luar diri anak,” jelas alumnus Program Studi Psikologi Universitas Udayana yang kini menempuh pendidikan Magister Psikologi Profesi di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini. Jika ditanya tentang apa yang menjadi tolak ukur kapan orangtua boleh menghukum atau memberi penghargaan. Jawabannya adalah memberikan sesuatu yang ‘pas’ sesuai dengan perilaku anak. Ayah dan Bunda bisa memulainya dengan sesuatu yang sederhana. Bahkan sebaliknya, tidak serta merta memberikan sesuatu yang terlalu ‘wah’ setiap kali anak berprestasi. Ingatlah ‘maknanya’. Begitu pula dengan hukuman. Bukan berarti ketika anak melakukan hal kecil yang tidak sesuai lantas hukuman bisa diberikan.

Misalnya, anak tidak mau mencuci piring setelah makan, lantas kita memukulnya. Sangat tidak disarankan. Karenanya, berhati-hatilah hukuman dapat membekas dalam ingatan seseorang. Apa yang orangtua bisa lakukan untuk memaksimalkan pujian meminimalkan hukuman? Pertama adalah mengubah semua tuntutan Ayah dan Bunda menjadi suatu permintaan sehingga anak tidak akan merasa terbebani dan ‘senang’ untuk melaksanakannya. Kedua, Ayah dan Bunda bisa mengajak anak untuk membuat kesepakatan bersama akan konsekuensi dari setiap perilaku anak. Mengajarkan akan apa hak dan kewajibannya, sehingga terjadi ‘negosiasi’ terbuka antara orangtua dan anak. Jika memang Ayah dan Bunda ingin mengajarkan kedisiplinan dan tanggung jawab pada anak, tanamkan pada benak Ayah dan Bunda jika kekerasan bukanlah jalan yang tepat. Marah mungkin menjadi suatu yang wajar saat anak mulai malas-malasan, lupa kewajibannya, melanggar aturan keluarga. Lihatlah kembali usia berapa anak Ayah dan Bunda saat ini? Apakah Ayah dan Bunda sudah menjadi role model (alias panutan) bagi anak? Hukuman tepat dijadikan alat untuk memupuk disiplin dan tanggung jawab, bukan karena anak gagal memenuhi tuntutan. Ketiga, hadiah dan hukuman sebaiknya diberikan pada ‘porsi yang pas’. Keempat, jadilah panutan yang sepantasnya bagi anak. –Ngurah Budi

Mendongeng Lima Menit teropong ajaib

Orang-orang desa menjuluki anak laki-laki itu si Pembohong. Mendapat julukan demikian karena sehari-hari anak itu suka berbohong. Dengan kepandaiannya memainkan lidah, ia berbicara seolahMade Taro olah ceritanya benar terjadi. Orang tuanya sangat malu melihat perangai anak itu. Pada suatu hari si Pembohong berlari-lari mendekati orang tuanya yang sedang sibuk bekerja. “Kebakaran! Kebakaran!” teriaknya. Kedua orang tuanya mengambil air secepatnya. Mereka mencaricari tempat kebakaran itu. Tetapi tak ada asap yang mengepul. Ketika mendapati anak itu bersembunyi, kedua orang tua itu marah. “Tak henti-hentinya kamu berbohong! Pergi kamu!” katanya. Anak laki-laki itu pergi entah ke mana. Ia tidak berani pulang. Ia hanya berputar-putar di sekeliling desa. Di tempat yang sepi ia memungut sepotong bambu buluh. Ia bermain seolah-olah bambu itu bisa digunakan teropong. Di pinggir hutan tiba-tiba ia melihat seekor sapi tertambat di batang pohon nangka. Ia tidak perduli dan tidak akan menceritakan hal itu kepada orang lain. Ia tinggalkan tempat itu lalu menuju pantai. Tiba-tiba ia mendapati sebuah jukung penuh dengan barang-barang. Ia tidak perduli dan tidak akan menceritakan hal itu kepada orang lain. Ketika balik ke pemukiman, ia mendapati orang-orang desa beramai-ramai berkumpul di rumah Kepala Desa. Ia mencoba menguping. “Sapi kesayangan saya hilang, Bapak Kepala Desa,” kata seorang petani.

“Barang-barang jualan saya hilang, Bapak Kepala Desa,” kata saudagar Cina. Kepala Desa berpikir keras mendengar berita kehilangan itu. Ia mengajak semua warga berkeliling mencari hewan dan barang-barang itu, sekalian dengan menangkap pencurinya. “Tenang, Bapak-bapak!” tiba-tiba anak pembohong itu berkata. Mendengar suara anak kecil itu, warga desa ribut-ribut. Mereka menuduh anak itu akan membohonginya. “Kali ini saya tidak berbohong. Saya hanya ingin membantu warga yang kehilangan. Saya dapat melihat hewan dan barang-barang itu melalui bambu buluh ini.” Warga desa kembali ribut. Mereka mengajak semua orang untuk tidak memercayai omongan anak kecil itu. Tetapi Kepala Desa mengajak warganya untuk mendengarkan keterangan anak itu. “Sapi itu ditambatkan di pohon nangka di pinggir hutan. Barang-barang itu ada dalam jukung,” kata anak itu sambil meneropong lewat bambu buluhnya. “Pencuri itu segera akan mengangkut hewan dan barang-barang itu.” Sebagian orang terpengaruh akan ucapan anak kecil itu. Mereka lalu menuju tempat yang dimaksud. Ajaib! Orang-orang desa itu kembali ke rumah Kepala Desa sambil membawa sapi dan barang-barang yang hilang itu. Keesokan harinya, orang-orang desa berkehendak untuk mengetahui, siapakah pencuri itu. Mereka mendatangi anak kecil peneropong itu. Namun anak yang suka berbohong itu menjawab, “Sayang sekali, Bapak-bapak terlambat. Bambu teropong itu sudah saya kembalikan kepada dewa pemiliknya.” Anak kecil itu tersenyum. Hati kecilnya berkata, “Ini kebohonganku yang terakhir.”

Edisi 891/ 7 - 13 maret 2016

17

Semarak 10 Tahun Tut De Wedding

Gekar UJK dan Lomba Make Up Modern & Inovasi Kemeriahan terlihat jelas hari itu. Suasana semakin meriah ketika para model dari peserta Uji Kompetensi payas Agung gaya badung melenggang di panggung. Kilatan blitz kamera pun memenuhi ruangan. Penonton tak kalah seru dengan tepuk tangannya yang meriah. Begitulah gambaran yang terekam dalam acara Perayaan “10 Tahun Tut De Wedding” di Grand Santhi Hotel, Denpasar pada Minggu (28/2).

nya dapat meningkatkan kemampuan atau skill seorang penata rias. Apalagi semua peserta ujian telah mendapatkan pelatihan dengan baik di Sanggar Tut De sekitar dua bulan. “Kami hanya m e m b a n t u mereka denga n m e m b a n gunkan seluruh potensi ya n g a d a d a n memaksimalkannya. Ujian inilah pembuktiannya. Di sini juga kami sekaligus mempromosikan kemPuncak HUT ke 10 Tut De Wedding bali Tata Rias ada hari yang Pengantin Bali Agung Gaya m e m b a h a g i a - Badung,” ujarnya. kan bagi keluSelain ujian, juga diarga besar Tut laksanakan Lomba Make De Wedding ini, acara dim- Up Bali Modern Inovasi, ulai dengan kegiatan ujian yang diikuti oleh peserta lokal (pemantapan) bagi 22 dari seluruh kabupaten/ orang anak didik Sanggar kota se-Bali. Menarik lagi, Tut De. Sebelumnya pada selain antusiasme peserta Minggu (14/2) sudah pula yang mencapai jumlah 70 dilangsungkan ujian untuk orang, peserta lomba juga mereka di Pop Haris, Den- datang dari luar Bali yakni pasar. dari Lombok, Jawa Timur Menurut Ketut Suarna dan DKI Jakarta. yang lebih dikenal dengan Masih di acara 10 Tahun panggilan Tut De, selaku Tut De Wedding, tak ketingo w n e r Tu t D e We d d i n g , galan penonton disuguhi Ujian Kompetensi yang dii- demo make up yang spekkuti oleh ke 22 orang anak takuler dari Jacky Timurdidiknya ini, diharapkan- tius, seorang penata rias

P

Pemenang 1 Sanggar Tut De

10 Tahun Tut De Wedding

senior dari Jakarta, yang berkolaborasi dengan balu t a n b u s a n a p e n ga n t i n sentuhan tangan seorang Tut De. Selanjutnya tak ketinggalan parade koleksi pengantin dengan gaya Modern Inovasi dari Tut De Wedd i n g ya n g b e r h a s i l m e mukau semua yang hadir. Sebelum acara berakhir beberapa teman, sahabat dan klien Tut De sembari mengucapkan selamat mereka juga menyampaikan rasa puasnya ketika ditangani oleh Tut De , yang memang d i ke n a l b e ke r j a d e n g a n p ro fe s s i o n a l d a n p e n u h tanggung jawab. Di tengah kesibukannya menerima ucapan selamat, Tut De, dengan bendera Tut De Wedding-nya yang semakin berkibar di Bali bahkan tingkat nasional ini, kembali menekankan kepada para penata rias di Bali, khususnya untuk anak didiknya agar menjadi seorang penata rias yang baik dan benar, dalam mengeksplor kebisaannya merias hendaknya men a m p i l ka n ya n g te rb a i k tanpa meninggalkan unsurunsur Bali-nya.

Bu Agung dan Para pemenang kategori berbakat Sanggar Tu De

Pemenang 1, 2 dan 3 Sanggar Tut De

Para Model mengenakan payas Agung Badung

Para Pemenang Lomba Pemenang Lomba peserta pelatihan anggota Sanggar Tut De Wedding : Pemenang ke 1 Ni Made Ima Andini ; Pemenang ke 2, Ni Ketut Neny Indriyani dan Pememang ke 3 diraih oleh Ni Luh Yurinawati Pemenang Lomba Make Up Bali Moderen Inovasi : - Pemenang ke 1direbut oleh Davien Fill dari DKI Jakarta; Pemenang ke 2 adalah Surya dari Mataram, Lombok; dan Pemenang ke 3 diraih Kadek Juliawati, Badung Bali. - Selanjutnya Pemenang Harapan 1, Ocha dari Banyuwangi, Jawa Timur; Pemenang Harapan 2 Ryan dari Negara, Bali; dan Pemenang Harapan 3, Dian dari Gianyar, Bali. - Selain pemenang utama di atas pada kesempatan tersebut juga diberikan penghargaan ke pada 11 orang Pemenang Kategori Berbakat , yang dipilih satu dari setiap Kabupaten/Kota asal peserta. -ard


16

Edukasi

Edisi 891/ 7 - 13 MARET 2016

IKIP PGRI Bali Raih yang Terbaik Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) PGRI Bali, Senin (29/2) mewisuda 113 wisudawan dari 9 program studi dan 1 konsentrasi. Wisuda XXXVI ini terasa istimewa karena IKIP PGRI Bali meraih beberapa prestasi. “Prestasi yang diraih ini merupakan bentuk penguatan lembaga,” ujar Rektor IKIP PGRI Bali Dr. I Made Suarta, S.H., M.Hum.

Rektor IKIP PGRI Bali Dr. I Made Suarta, S.H., M.Hum. mewisuda 113 wisudawan, Senin (29/2) di Hotel Ina Grand Bali Beach, Sanur, Bali

A

tas kerja keras segenap akademika kampus, akhirnya semua prodi di IKIP PGRi Bali terakreditasi dengan nilai B yang dikuatkan dengan Surat Keputusan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Dan untuk AIPT IKIP PGRI Bali sudah divisitasi oleh asesor BANPT tanggal 9-11 Desember 2015. Terkait dengan SK Menristek dikti No. 492.a/M/KP/ VIII/15 tentang klasifikasi dan peningkatan perguruan tinggi di Indonesia, IKIP PGRI Bali berada pada peringkat 100 besar dari 3.320 PT se-Indonesia. Sekopertis wilayah VIII ada di peringkat 3, sedangkan khusus antar PT PGRI se-Indonesia, IKIP PGRI Bali menjadi yang terbaik atau peringkat pertama. Rektor Suarta mengatakan, setelah dilantik menjadi sarjana, beban seseorang akan makin berat sehingga pola pikir, ucapan dan sikap harus diting-

katkan agar bisa diterima masyarakat. Seorang sarjana juga dituntut memiliki kecerdasan spiritual dan emosional. Seseorang disebut hebat bukan di-

lihat dari harta benda yang dipunyai. Melainkan dari kematangan sikapnya yang diperlihatkan dalam kehidupan sehari-hari. Made Suarta menegaskan, seseorang hendaknya menampilkan sisi kebaikan, meski ketika melakukannya ada saja kejahatan yang mengiringi. Padahal ketika berbuat jahat, tidak ada kebaikan yang mengikuti. “Ibarat bertanam padi. Kalau menanam bibit padi, pasti ada rumput yang ikut tumbuh. Namun kalau kita menanam rumput, tidak ada tanaman padi yang turut hidup di dekatnya. Walau demikian, teruslah berbuat baik, meski kejahatan selalu akan menyertai,” ujarnya. Sikap kebaikan, juga hendaknya diikuti dengan karakter pantang menyerah dalam memperjuangkan cita-cita, mengingat perjalanan hidup seorang sarjana masih panjang. Berbekal sikap pantang menyerah, seseorang bisa memperbaiki masa depannya. Dia melanjutkan, sikap pantang menyerah, menjadikan beberapa mahasiswa IKIP PGRI Bali beberapa waktu lalu mendapatkan perhargaan atas beberapa kompetisi. Pada bidang olahraga, mahasiswa Sinta Kartika Sari

Penyerahan penghargaan kepada lulusan terbaik atas nama Ni Komang Yuliani

Romy Dencarik

Tak Ingin Numpang Lewat Mengawali karier dari hobi merupakan pekerjaan yang menyenangkan dan tentu dapat membawa kesuksesan. Hal inilah yang dilakukan oleh penyanyi asli Buleleng, Romy Dencarik. Kesenangannya pada seni tarik suara membuat alumni SMA Negeri 1 Seririt ini masuk dapur rekaman. Bernyanyi di beberapa acara yang diadakan di desanya merupakan awal perjalanan karier dari Romy. “Waktu masih sekolah itu pertama kali tahu yang namanya lomba nyanyi,” ujar pria yang bernama asli Putu Swandana ini. Ia menjadi juara II dalam lomba nyanyi peringatan HUT Kota Singaraja yang dilakukan di Unipas. Ini membuatnya bertemu dengan seorang produser. “Langsung ketemu dengan Ary Kencana yang punya Kencana

Romy Dencarik

Production,” lanjut anak pertama dari pasangan Putu Grantika dan Made Srinadi ini. Mendapat tawaran dari produser ternama tentu membuat

pria yang pernah menjadi harapan II dalam lomba nyanyi HUT Radio Genta ini senang. Bergabung dalam album kompilasi Kencana Pro 2, Romy juga sudah meluncur satu judul untuk lagunya. “Single pertama judulnya “Rejuna Kolok” ciptaan Guz Nox dan arranger Bli Dek Arta,” tambah pria kelahiran 10 November ini. Lagu “Rejuna Kolok” merupakan lagu yang dipilihkan langsung oleh sang produser untuk dirinya. “Secara tidak langsung ada kemiripan kisah,” imbuhnya dengan nada bercanda. Lagu tersebut bercerita tentang seorang pria yang berparas tampan dan kaya namun tidak memiliki keberanian untuk menyatakan cinta pada pujaan hatinya. Sebelum bergabung dalam Kencana Pro, pria yang mengidolakan Ary Kencana dan Widi Widiana ini juga sudah pernah

Dara

Edisi 891/ 7 - 13 MARET 2016

Melebur Kekotoran

9

tkh/eka

Penyerahan akreditasi BAN PT oleh Koordinator Kopertis Wilayah VII Prof. Dasi kepada Rektor IKIP Dr. Made Suarta. Semua Prodi dan institut terakreditasi B

pernah mendapatkan Juara I Catur Cepat tahun lalu di Singaraja, Gusti Ayu Yuni Astari memperoleh perunggu perak pada Pekan Olah Raga Nasional dan sejumlah mahasiswa berprestasi lainnya. Kegiatan positif lain yang berhasil ditorehkan mahasiswa IKIP PGRI Bali adalah melestarikan kesenian tradisional Arja dan secara berkala tampil di Taman Budaya, Denpasar. Seka Arja mahasiswa ini juga sering tampil ngayah di berbagai pura di wilayah Bali. “Sebagai wujud pengabdian masyarakat, kami sering juga mengadakan bakti sosial di berbagai daerah. Akhir tahun lalu kami melakukan bakti sosial di wilayah Sangeh dengan melibatkan mahasiswa Jurusan Bahasa dan Seni,” katanya. Dikatakannya, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) IKIP PGRI Baru dan

dosen baru-baru ini juga mengadakan kegiatan serupa di Batur, Kabupaten Bangli. Ketika mengadakan kegiatan bakti sosial itu, ternyata ditemukan beberapa anak yang mengalami gangguan dan dibelit problematika yang pelik. BEM pun akhirnya memutuskan untuk menangani kasus anak bermasalah ini agar mendapatkan solusi terbaik. Dalam pidatonya, Koordinator Kopertis Wilayah VIII Prof. Dasi Astawa juga menegaskan bahwa di era kekinian, setiap insane manusia termasuk wisudawan dituntut kerja keras, kerja keras, dan kerja ikhlas agar tetap eksis, mampu bersaing dan menjadi pemenang. Pada Wisuda Sarjana XXXVIII IKIP PGRI Bali tersebut, tampil sebagai lulusan terbaik, mahasiswi dari Prodi Pendidikan Bahasa dan Satra Indonesia dengan IPK 3,64, atas nama Ni Komang Yuliani. –ten

membuat lagu hanya saja dalam penggarapannya belum maksimal. “Tiwas nanging Satya” dan “Segara Penimbangan” adalah lagu yang pernah dipromosikan lewat media radio. Tidak sampai di sana, pria yang pernah gagal dalam audisi BRTV ini tetap bangkit dan berkarya hingga bisa meraih mimpi yang tertunda. Setelah selesai menggarap klip video untuk lagu “Rejuna Kolok”, kakak dari Made Dwi Wardana ini mengaku akan segera launching untuk single-nya. “Sudah diserahkan ke management untuk promosi ke stasiun televisi itu sudah wewenang dari Kencana Pro,” imbuhnya. Sebagai penyanyi Bali asal Desa Dencarik, Romy mengaku sangat bangga dengan perkembangan musik di Bali khususnya

di Buleleng. “Sangat bagus, musisi sudah banyak dan anak muda sudah tidak malu lagi megending Bali,” ucapnya. Dia juga berharap perkembangan musik didukung pula dengan fasilitas yang memadai. “Pengen sih ada studio rekaman di Singaraja agar tidak jauh-jauh ke Denpasar. Untuk yang punya keterbatasan jarak dan waktu kan masih bisa tetap jalan,” imbuhnya. Menyadari eksistensi di dunia entertain tidak selamanya baik, maka dia pun selalu ingin berkarya. “Rencana penggarapan single selanjutnya pasti ada biar tetap eksis, biar tidak sekadar numpang lewat saja,” tambah penyanyi yang selalu menyanyikan lagu-lagu melankolis agar memiliki ciri khas di telinga pendengar. -Wiwin

Melasti merupakan rangkaian dari Hari Raya Nyepi. Upacara Melasti ini dilakukan antara empat atau tiga hari sebelum Nyepi. “Melasti adalah upacara yadnya yang bermakna untuk menghilangkan kekotoran diri, meningkatkan keheningan pikiran, dan juga dilaksanakan untuk kesucian jagat raya. Ini yang disimbolisasikan dengan labuhan sesaji atau upacara yadnya ke laut serta menyucikan seluruh arca, pratima, nyasa, pralingga sebagai wujud atau sthana Ida Sang Hyang Widi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa dengan segala manifestasi-Nya,” ujar Jero Mangku Anom Dirgayusa.

M

elasti dalam Babad Bali, disebutkan merupakan rangkaian dari hari raya Nyepi. Melasti juga disebut melis atau mekiyis. Bertujuan untuk melebur segala macam kekotoran pikiran, perkataan dan perbuatan, serta memperoleh air suci (angemet

tirta amerta) untuk kehidupan yang pelaksanaannya dapat dilakukan di laut, danau, dan pada sumber / mata air yang disucikan. Bagi Pura yang memiliki pratima atau pralingga seyogyanya mengusungnya ke tempat patirtan tersebut di atas. Pelaksanaan secara ini dapat dilakukan beberapa hari sebe-

lum tawur. Dalam lontar Sang Hyang Aji Swamandala disebutkan Melasti ngarania ngiring prewatek Dewata, anganyutaken laraningjagat, papa kiesa, letuhing bhuwana . Maksudnya, melasti meningkatkan bakti kepada para dewata manifestasi Tuhan, agar diberi kekuatan untuk menghanyutkan penderitaan masyarakat, menghilangkan papa klesa atau kekotoran diri dan kekotoran alam semesta.

Melasti berasal dari kata lasti. yang artinya menuju air. Dalam konteks prosesi melasti, umat bisa mendatangi segara (laut), danau dan campuan (pertemuan dua buah sungai). Tujuannya, nunas (mohon) tirta amertha dan menghanyutkan kekotoran dunia. “Agama Hindu sangat fleksibel tidak harus kita melaksanakan melasti ke pantai. Bisa juga dilaksanakan di mata air yang dianggap mereka suci. Misalkan saja umat Hindu yang ada di daerah pegunungan kan tidak mungkin mereka harus jauh-jauh datang ke pantai sedangkan disana ada danau, nah di danau itulah mereka melaksanakan melasti/mekiyis. Danau pun juga sebagai sumber mata air yang disucikan oleh umat Hindu,” ujar warga Br. Mawang, Lodtunduh, Ubud ini. -Rukanta

Jero Mangku Anom Dirgayusa

Toleransi Menjaga Kekompakan HUT Ke-47 Perdiknas Denpasar Pacu Kualitas SDM

Dalam rangkaian perayaan HUT ke-47 Perdiknas Denpasar, telah dilaksanakan berbagai kegiatan, berupa lomba dan pemberian penghargaan. Peringatan HUT kali ini mengusung tema yang menitikberatkan pada peningkatan kualitas seluruh SDM yang ada di lingkungan Perdiknas, “Melalui HUT Perdiknas Kita Cerdaskan SDM dalam Menghadapi MEA”. Tampak suasana usai pemotongan tumpeng HUT ke-47 Perdiknas Denpasar, yang dihadiri oleh ketua Perdiknas dan jajaran Pengurus lainnya serta yang istimewa hadirnya salah seorang pendirinya yakni pasangan Bapak Sambreg dan Ibu Nyoman Kundri. –Sri Ardhini

Segera Pagelaran 100 Kebaya

Indonesia Fashion Chamber (IFC) Denpasar kembali menggandeng Jurusan Desain Mode ISI Denpasar untuk menyelenggarakan Pagelaran 100 Kebaya. Kali ini teman yang diangkat adalah “Pesona Nusantra”. Persembahan yang kedua kalinya ini akan berlangsung pada 29-30 April 2015, di Gedung Natya Mandala Aphitheater, ISI Denpasar. Bagi para desainer kebaya yang ingin menunjukkan karyanya untuk Bali dan Indonesia umumnya, kesempatan masih terbuka. Begitu juga dengan para pecinta dan penggemar kebaya yang ingin melihat aneka kebaya dari seantero wilayah Nusantara ini, mulai dari kebaya tradisional hingga model kebaya modern hasil inovasi para perancang, jangan lewatkan kesempatan ini. Selain pagelaran kebaya, di lokasi yang sama juga akan dilaksanakan Seminar Fashion serta Exhibition Art Instalation. Untuk informasi lebih lanjut silakan menghubungi : Monika Weber 081 734 9929 ; Yenli Wijaya 0813 3875 5959 dan Dewi Suarjani 0812 4664 723 – Sri Ardhini

Perayaan hari raya Nyepi tentu memiliki kesan tersendiri bagi masing-masing orang. Persiapan untuk menyambut perayaan yang datang setahun sekali ini pun akan berbeda setiap orang. Hal ini juga dirasakan oleh Kadek Dodi Krisnawan. Siswa kelas XI di SMK Negeri 3 Singaraja ini mengaku menjelang Nyepi kegiatan yang dia lakukan cukup sibuk. Sebagai warga masyarakat yang menginjak remaja maka Dodi, sapaan akrabnya sudah masuk Seka Teruna di desanya. Meskipun sibuk sekolah ia mengaku selalu meluangkan waktu jika memang ada kegiatan yang melibatkan ST. “Sekarang kan lagi sibuk membuat ogoh-ogoh, ya saya ikut berpartisipasi,” ujar pria kelahiran 7 Mei ini. Adanya kegiatan membuat ogohogoh ini dirasa sangat bagus untuk menumbuhkan kreativitas di kalangan anak muda. “Pembuatan ogohogoh ini menjadi ajang kreativitas muda-mudi di banjar dan berkreasi semaksimal mungkin,” ujar anak dari pasangan Kadek Cakra Negara dan Kadek Ariani ini. Selain berkreasi dalam pembuatan mereka juga dapat berkreasi dalam bidang tari dan baleganjur untuk pelengkap atraksi ogoh-ogoh. Pria yang meraih peringkat pertama di kelasnya ini juga tidak

Kadek Dodi Krisnawan

menampik jika persiapan menyambut hari raya melalui pembuatan ogoh-ogoh ini cukup menyita waktu. “Kebutulan pembuatannya tahun ini di banjar Anyar desa Anturan,” imbuhnya. Di malam pengrupukan ogoh-ogoh akan diarak keliling desa. Biasanya di desa Anturan selalu menampilkan pementasan lewat cerita fragmen dari ogoh-ogoh yang dibuat. “Ada pementasan fragmen jadi kami harus latihan juga, biasanya dua minggu sebelum ditampilkan,” ujar anak kedua dari empat bersaudara ini. Ia

dan teman-temannya harus bekerja lebih ekstra karena selain membuat, mereka juga harus mementaskan sebuah pertunjukan untuk menghibur masyarakat sekitar. Proses latihan fragmen biasanyan dilakukan secara rutin menjelang pementasan. Latihan dilakukan pada waktu malam hari agar semua yang ikut baik siswa maupun yang sudah bekerja bisa datang mengikuti latihan. Untuk siswa yang mempunyai tugas sekolah disarankan untuk mengatur waktu agar bisa hadir saat latihan. “Kalau punya tugas sekolah sebaiknya dikerjakan dulu sepulang sekolah,” imbuhnya. Sebagai seorang siswa Dodi juga tidak melupakan kewajibannya untuk sekolah. Oleh sebab itu, mengatur waktu adalah kunci utamanya. “Saya dan muda-mudi di banjar saling bergantian, kalau masih sekolah bisa membantu selepas pulang sekolah,” tambahnya. Adanya rasa toleransi dan tanggung jawab merupakan hal yang sangat penting untuk menjaga kekompakan satu dengan yang lainnya. “Kami selalu melakukan rapat atau pertemuan untuk membahas dan menyampaikan pendapat,” ujar pria kelahiran Singaraja ini. Selain itu, hal tersebut juga dimaksudkan untuk mempererat hubungan persaudaraan muda-mudi di banjar. -Wiwin


10

Edisi 891/ 7 - 13 maret 2016

Pasar Badung Terbakar

Mozaik

Utang Pedagang Direstrukturisasi

Pasar Badung yang terletak di Jalan Gajah Mada, Denpasar terbakar Senin (29/2). Kebakaran hebat ini menghanguskan sebagian besar isi pasar berlantai empat ini.

M

a d e We s t r a , Dirut PD Pasar mengatakan di Pasar Badung terdapat sekitar 1.600 kios yang terletak di lantai 1 hingga lantai 3, sementara di lantai 4 sebagai kantor. “Kebakaran yang terjadi ini merupakan yang terbesar. Kami menunggu pemeriksaan kepolisian mengenai penyebab kebakaran. Kami juga sedang koordinasi untuk relokasi pedagang yang menjadi korban,” ujarnya. Ia menuturkan, kebakaran diketahui sekitar pukul 17.30 wita. Api baru bisa dipadamkan pukul 04.00 keesokan harinya. Tidak ada korban jiwa dalam

peristiwa ini namun kerugiannya mencapai miliaran rupiah. Setelah kebakaran, beberapa pedagang sayur, buah, dan daging memilih berjualan di areal parkir sembari menunggu relokasi. Ni Wayan Kerti, salah seorang pedagang menuturkan ketika kebakaran terjadi, ia sedang melayani pembeli. Ada ibu-ibu yang keluar mengatakan ada kebakaran dari atas. “Awalnya saya kurang menghiraukan, karena saya sibuk melayani pembeli. Ternyata orang-orang yang keluar lebih banyak lagi. Saya baru percaya dan saya langsung buruburu berlari bersama anak saya

untuk menjauh dari sana,” ujar pedagang canang, bunga, dan janur ini. Perempuan asal Panjer ini sempat panik karena mengajak anaknya. Ia khawatir anaknya diinjak-injak orang-orang yang berhamburan keluar.

Setelah kebakaran, ia masih berjualan. “Kalau tidak jualan bagaimana saya bisa mencukupi untuk keperluan keluarga. Tetapi, pembeli lebih sepi. Saya berharap semoga kebakaran tidak terjadi lagi. Semoga pe-

merintah agar segera memperbaiki bangunan pasar yang terbakar agar perekonomian berjalan lancar seperti biasanya,” ujarnya. Peristiwa terbakarnya Pasar Badung mendapat perhatian Menteri Koperasi dan UKM Drs. AAN Puspayoga. Menteri yang juga mantan Wali Kota Denpasar ini datang ke lokasi Selasa, (1/3). Puspayoga meminta perbankan dan lembaga keuangan lain merestrukturisasi utang para pedagang Pasar Badung, Bali yang terbakar. “Restrukturisasi utang sebagai solusi bagi pedagang yang telah mengakses KUR. Bisa dilakukan penjadwalan ulang agar ada perpanjangan waktu untuk pinjam kreditnya,” ujar Puspayoga usai pertemuan dengan Wali Kota Denpasar, perbankan, dan lembaga keuangan (BRI, BNI, Mandiri, BPD Bali, PNM, dan OJK). –Juniartini/Vijay/Rukanta/Suarni/Pasek

Konsul Jendral Australia dan Pengusaha Perempuan Bali Jalin Kerjasaam Pemberdayaan Perempuan Indonesia adalah salah satu dari hubungan paling penting bagi Australia. Selain itu juga Australia mempunyai kemitraan yang sangat produktif dan beragam dengan Indonesia, meliputi bisnis, politik, pertahanan, keamanan, kebudayaan dan pendidikan. Hal ini juga diakui Konsul Jendral Australia untuk Bali, Dr. Helena Studdert dalam perayaan “Hari Perempuan Internasional” yang dihadiri Hipmi Bali, Iwapi Bali, dan kalangan pengusaha dan tokoh perempuan lainnya di Bali, di Restoran Biku, kawasan Jalan Petitenget,Kerobokan, Kuta pada Jumat (4/3). Dikatakan Konsul Jendral sebelumnya yakni Majell Hind, pada Hari Perempuan Internasional yang ditandai setiap tahun untuk merayakan prestasi ekonomi, politik dan sosial perempuan dan tema tahun ini adalah “Ikrar Untuk Kesetaraan” Helena Studdert, selanjutnya menyampaikan, kini Hari Perempuan Internasional tumbuh menjadi sebuah gerakan perempuan internasional. Meski telah lebih dari 100 tahun, berbagai hambatan tetap ada. Kenyataanya , masih banyak perempuan dan anak belum memiliki akses ke pendidikan, pelayanan kesehatan. Juga banyak yang tidak memiliki akses ke air bersih atau persediaan makan yang cukup dan terpaksa meninggalkan rumah karena konflik atau bencana alam. Namun, ia senang ketika generasi perempuan saling membantu mengatasi berbagai hambatan. Dan, di Indonesia, seperti pada abad ke 19, RA Kartini berusaha meningkatkan status perempuan. Karena itu pula agenda pembanguna yang diangkat oleh

PBB adalah satu tujuan bagi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan serta target khusus mengakhiri kekerasan terhadap perempuan. Australia pun, katanya m emiliki komitmen kuat dan berkelanjutan, untuk berada di garis depan dalam upaya mempromosikan pemberdayaan perempuan dan anak, terutama di Indo-Pasifik. Malah, sejalan dengan hal ini Senin (29/2) , menteri luar Negeri Julie Bishop meluncurka program baru Pemerintah Australia untuk Strategi Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan. Sebab, kita tidak bisa mengubah dunia kita kecuali tempat perempuan di dalamnya juga berubah. Khusus untuk pertemuan kali ini, Helena mengaku senang dan merasa surprise dengan begitu cepatnya para pengusaha perempuan yang hadir mendapatkan partnernya dan terjadi jalinan kerjasama. Selanjutnya dikatakan untuk terus menguatakan ekonomi para pengusaha perempuan, masih banyak yang bisa dilakukan, terutama untuk usaha kecil menengah, yang menjadi tulang punggung perekonomian. “Maka kami

akan mengadakan pertemuanpertemuan selanjutnya dengan para pengusaha wanita di Bali, sebab mereka perlu perhatian serius untuk bisa mendapatkan akses yang lebih baik salah satunya pendanaan,”pungkasnya. Bukan hanya Sebuah Simbol Dalam kesemptan tersebut Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Bali, Inda Trimafo Yudha juga menyatakan, kini telah melihat lebih banyak perubahan bagi perempuan dalamkesempatan berkarier dan juga terlibat pekerjaan yang dahulu hanya dilakukan oleh laki-laki. Istri dari Toby Garrit , warga Australia ini, juga mengemukakan bahwa perempuan terutama di Bali hendaknya kuat, pekerja keras , dan multi tasking, terutama ketika ia beekrja atau berkarier dan harus tetap berkomitemen untuk keluarga. Perempuan Bali, katanya masih harus menyeimbangkan dengan tanggung jawab domestik dan budaya. Inda Trimafo juga mengakui Australia memainkan peranan penting dalam cara hidup orang

Bali modern. Secara geografis Bali lebih dekat dengan Australia dari banyak provinsi dan pulau di Indonesia.Karenanya, pertumbuhan ekonomi Bali secara langsung maupun tidak langsung terutama disektor pariwisata sangat dipenagruhi. Inda juga berharap pertemuan antara para perempuan pengusaha Australia dan Bali, kedepannya memiliki agenda yang akan membawa dampak positif bagi masyarakat umumnya dna perempuan khususnya. Sementara Happy Salma yang juga banyak bersuara tentang perempuan dan politik melalui seni ini, pada saat yang sama menyatakan bahwa pertemuan yang digagas Konsul Jendral Australia untuk Bali ini adalah langkah komunikasi yang cerdas. Sebab jika tak kenal maka tak sayang . Australia dan Indonesia bukan hanya memiliki kedekatan geografi semata namun ada juga kedekatan emosional. Sebaiknya pula acara pertemuan perempuan pengusahaBali Bali dan Australia ini bagus untuk dilanjutkan sehingga tidak ada miss komunikasi. “Dengan lebih dekat saling menegnal perempuan Indonesia lebih dihargai kemampuannya dan kemandiriannya,” katanya.“Salah satunya karena komunikasi yang baik pula, saat kami pentas untuk Panti Asihan Sayap Ibu di Jakarta, Konsul Australia juga datang. Mereka bisa melihat pernan ibu dna perempuan Indonesia itu

begitu kuat,” lanjutnya. Happy Salma mengatakan, dengan cara ramah tamah ini bukan hanya bertemunya perempuan Bali dan Australia, tapi dirnya juga bisa bersilaturahmi dengan perempuan Bali lainnya. “Selain juga di sini berbagai anggota organisasi perempuan juga bisa saling bertukar pikiran. Di hari Perempuan Sedunia ini juga harapan saya bukan hanya sebuah simbol,tapi pertemuan yang dapat memperkuat identitas perempuan Bali melangkah dalam kesetaraan, dan terjadi kerjasama yang ke depannya, baik dari sisi ekonomi, sosial dan budaya,” kata istri Tjok Bagus, pemilik Resoran Biku ini tersenyum . – Sri Ardhini

Style

Edisi 891/ 7 - 13 maret 2016

Gaun Malam Elegan Brand Unyx by Angeliqa Wu FDC mengeluarkan koleksi terbarunya dengan tema “Spring Fairies”, dengan pilihan warna netral putih, abu, hitam dan coklat tua.

D

esain busana pesta ini menonjolkan beberapa detil seperti ruffles,

pleats atau lipit dan beading white, black and silver Brand Unyx digawangi oleh 7 orang desainer yakni : Jacinda Lie,

Ari Veji, Niti Swari, Natasya K Dharani, Devi Asrini, Eunike Asih dan Angeliqa Wu yang merupakan guru, alumni dan siswa dari Angeliqa Wu Fashion Design Course. Koleksi rancangan Unyx kali ini adalah evening gown dan bridal. Menariknya

rangkaian koleksi yang elegan ini dapat di mix & match sehingga bisa membuat sebuah look yang berbeda. Brand Unyx by Angeliqa Wu FDC selain sebagai busana yang mudah dipadupadankan juga tak mengenal batas usia pemakainya. Sebab, koleksinya mulai dari busana pesta anakanak hingga desain untuk lanjut usia. Semoga dengan hadirnya brand Unyx ini, selanjutnya akan muncul sosok desainer Indonesia yang kreatif dan inovatif. – Sri Ardhini

15


14

Jelita

Edisi 891/ 7 - 13 MARET 2016

Cantik tanpa Menghilangkan Jati Diri

Semakin hari teknologi perawatan kecanti­ kan terus berkembang dan semakin canggih. Bicara teknologi kecantikan, yang perlu di­ ketahui pertama adalah keamanannya, se­ telah itu barulah ­bicara hasil. Demikian disam­ paikan President ­Director Miracle Aesthetic Clinic Group, dr. Lanny Juniarti, dalam acara Pelun­ curan Perawat­an Kecantik­an dengan Teknologi Eropa, Sabtu, ( 27/2) di Ballroom, Maya Sanur Resort & Spa, Sanur, Denpasar.

D

alam acara talk show yang diselenggrakan oleh Miracle Aesthetic Clinic Denpasar dan menghadirkan bintang tamu Happy Salma ini, dokter Lanny juga mengatakan seiring dengan perkembangan tren dan gaya hidup, mayoritas atau kebanyakan orang menginginkan perawatan estetika bukan hanya yang cepat, tapi juga aman, tanpa luka, dengan waktu pemulihan singkat, efektif serta hasil yang nyata. Dikatakannya, salah satu perawatan estetika yang mampu memenuhi keinginan tersebut adalah teknologi laser. Saat ini laser menjadi salah satu cara utuk perawatan pada program terbaru di Miracle , bernama Miracle Power 4D Rejuve dengan keunikan desain teknologi yang inovatif sehingga hasilnya aman dan terkontrol. “Merawat kecantikan jangan menunggu umur. Lebih dini melakukan perawatan akan lebih baik, untuk selalu menjaga kesehatan kulit, sehingga lebih memunculkan kecantikan seseorang, ”katanya. Apalagi kini sudah ada teknik perawatan Miracle Power 4D Rejuve dengan laser asal Eropa yang menggunakan dua

panjang gelombang laser dan empat mode perawatan pada lapisan kulit yang berbeda. Empat fitur laser 4 D Rejuve yang saling bersinergi tersebut adalah SmoothLiftin, FRAC3, PIANO, dan SupErficial. Fungsinya, lanjut dokter Lanny untuk mengencangkan kulit dari luar dan dalam (skin tightening) dengan stimulasi optimal dari setiap lapisan kulit. Juga, memberikan efek pencerahan (light peel) dan meremajakan kulit (skin rejuvenation), sehingga efektif untuk mengatasi tanda- tanda penuaan. Menariknya tahapan laser ini, tidak hanya diaplikasikan pada kulit wajah di luar, tapi juga pada permukaan mukosa di dalam mulut (intraoral tightening),agar menjangkau hingga ke lapisan dalam kulit. “Hal ini bermanfaat untuk menghaluskan dan melembutkan kulit sehingga tampak lebih segar dan sehat bercahaya, serta mengatasi garis kerut halus dengan hasil yang alami. “Proses pengerjaan singkat, aman, nyaman dengan waktu pemulihan minimal sebagaimana harapan masyarakat terkini,cantik tanpa menghilangkan jati diri, ” ujarnya menjelaskan.. Selanjutnya, perawatan tersebut katanya menggunakan dua panjang gelombang laser dan empat mode perawatan pada lapisan kulit yang berbeda. Perawatan ini bekerja pada lapisan terdalam kulit, lapisan tengah, dan permukaan kulit. Dengan model proses yang singkat namun hasil nyata dari Miracle Power 4D Rejuve ini, lebih disarankan untuk kondisi kulit wajah maupun leher yang mengalami keken­d uran, volume wajah yang berkurang akibat penua­an, kontur wajah, dan leher yang bergelombang serta munculnya kusam maupun keriput halus. Tampilkan Percaya Diri Menurut Manager Miracle Aesthetic Clinic, Renon, Denpasar Upik Rustia , ketika

Bugar

Edisi 891/ 7 - 13 MARET 2016

Kenali Penyebab Nyeri Dada Boy berusia 40 tahun sering ­mengeluh me­ngalami nyeri dada. Nyeri dada biasanya timbul saat dia ­beraktivitas. Namun, bila dia ber­ istirahat keluhan nyeri dada akan meng­hilang dengan sendirinya. Boy pernah membaca­­artikel me­ngenai penyakit jantung koroner, dan disebut­kan, gejalanya adalah nyeri dada. Apakah kemungkinannya, Boy men­derita p ­ enyakit jantung koroner?

bicara tentang kecantikan memang tidak pernah ada habisnya. Kemajuan teknologi berhasil menciptakan berbagai jenis perawatan dengan hasil terbaik sudah semestinya alatnya juga yang terbaik. Seperti Miracle Power 4D Rejive, yang sudah memperoleh izin edar alat kesehatan dari Dirjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI. “Sesuai dengan filosofi “The art behind the science of aesthetic “, makanya Miracle mernggabungkan seni dan ilmu estetika dalam menciptakan kecantikan dan keindahan wajah secara holistik yang terpancar dari dalam ke luar, dengan metode inovatif dari sudut pandang estetika yang professional,” tuturnya sambil menambahkan jika di Miracle dapat juga dinikmati serawatan lainnya seperti facial, botox, filler, peeling, threadlift, laser & light, RF, ultherapy, hair removal,dan berbagai produk krim yang terpercaya. Sementara ­Happy Salma, dengan senyum­ nya yang khas menyampaikan bahwa penampilan luar memang bukan segalanya , namun bagi perempuan tidak ada salahnya jika tetap mejaga penampilan dan mempercantik diri. Merawat kulit wajah dan tubuh agar tetap sehat dan segar. Menurut Happy Salma sebenarnya penampilan adalah filter pertama untuk menjadi pusat perhatian. Baginya ditengah kesibukan dan aktvitas yang cukup padat dengan menggunakan make up hampir setiap hari, ia mengkhawatirkan

kesehatan kulitnya. “Saya tidak ingin cantik hanya diukur ketika seseorang sedang ber make up yang tentu wajahnya terlihat cantik dan halus. Namun dalam segala kondisi kulit wajah mamapu memancarkan kecantikan alami dan kesegaran,” katanya. Happy Salma juga mengaku dirinya ingin meningkatkan percaya diri ketika tanpa make up dimana kulit wajahnya benar-benar sehat dan terlihat cantik. Ia mengingatkan bahwa kecantikan itu tidak turun dari langit. Karenanya, ia merasa perlu melakukan perawatan dan memercayakannya pada Miracle. “Hari gini meski kita ibu-ibu sibuk dengan segala aktivitas termasuk ngayah di Bali tapi tetap mesti tampil kece. Dan mengingat wajah tidak bisa di cetak, maka sepatutrnya kita memilih tempat merawat diri yang terpercaya,” ujarnya mengingatkan. – Sri Ardhini

11

dr. AA Ayu Dwi Adelia Yasmin

M

e n u r u t d r. AA Ayu Dwi Adelia Yasmin, M.Biomed, Sp.JP, FIHA, terdapat banyak kemungkinan diagnosis pada pasien yang menderita keluhan nyeri dada. “Nyeri dada dapat disebabkan karena masalah pada organ tubuh yang terdapat di rongga dada (jantung, paruparu, kerongkongan), masalah pada komponen di dinding dada (kulit, otot, atau tulang), bahkan masalah pada organ tubuh yang terletak dekat dengan rongga dada (kandung empedu dan lambung),” kata dokter RS Manuaba ini. Penelusuran lebih lanjut mengenai karakteristik nyeri dada sangat penting dilakukan untuk membantu mengetahui penyebab timbulnya keluhan tersebut. Pasien dengan keluhan nyeri dada biasanya akan sangat khawatir memikirkan, apakah nyeri dada yang ia derita disebabkan masalah jantung. “Nyeri dada akibat penyakit jantung koroner disebabkan kurangnya oksigen yang menuju jantung akibat adanya penyumbatan/penyempitan pada pembuluh darah jantung, yang disebut juga de­ngan pembuluh darah koroner,” jelasnya. Karakteristik nyeri dada

akibat penyakit jantung koroner antara lain, nyeri dada biasanya berlokasi di dada bagian tengah atau kiri, namun bisa dirasakan menjalar atau menyebar ke leher, lengan, bahu, rahang, atau punggung. Nyeri dada dapat dirasakan seper­ti rasa tidak nyaman atau rasa tertekan atau rasa berat seperti diperas atau rasa panas dan rasa penuh di dada. “Nyeri dada biasanya diperberat dengan aktivitas dan biasanya, keluhan berkurang dengan istirahat. Namun, pada kasus yang berat, nyeri dada tetap dirasakan atau tidak berkurang walaupun pasien sudah beristirahat,” tegasnya. Ia juga menyebutkan, nyeri dada juga dapat dicetuskan beberapa situasi, contohnya stres emosional, udara dingin, dan makanan. Terdapat pula, gejala lain yang dapat menyertai gejala nyeri dada akibat penyakit jantung koroner, diantaranya sesak napas, mual, muntah, berkeringat dingin, berdebar, rasa lelah, atau pingsan. Bila menderita nye­r i dada dengan karakteristik seperti yang dipaparkan, sebaiknya segera menghubungi dokter untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. “Walaupun Anda menderita nyeri dada yang tidak memenuhi karakteristik tadi, bila

Anda termasuk dalam pasien berisiko tinggi, tetap disarankan untuk menghubungi fasilitas pelayanan kesehatan untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut,” kata dr. Dwi Adelia. Pasien berisiko tinggi termasuk berusia tua, menderita diabetes/kencing manis, menderita hipertensi/tekanan darah tinggi, menderita kolesterol tinggi, terdapat riwayat keluarga menderita penyakit jantung koroner, terdapat riwayat menderita serangan jantung/stroke/penyumbatan pembuluh darah perifer se­ belumnya. Ia mengatakan, pasien memerlukan tindakan tambahan untuk dapat membantu menegak­k an diagnosis, contohnya tindakan elektro kardiografi (rekam jantung), pemeriksaan darah, pemeriksa­ an rontgen dada, pemeriksaan ultrasonografi (USG) jantung, uji latih jantung dengan meng-

tkh/net

gunakan treadmill/obat-obatan, atau kateterisasi jantung. Bila hasil pemeriksaan menunjukkan kemungkinan terjadi serangan jantung, pasien membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit hingga kondisi stabil. “Penting untuk diingat, pada kon-

disi serangan jantung, semakin cepat Anda menghubungi fasilitas pelayanan kesehatan, maka Anda akan semakin cepat menerima pertolongan dan pengobatan, karena setiap menit akan sangat berarti pada kondisi tersebut,” sarannya. –Wirati Astiti


Kuliner Cokelat Indonesia Mendunia

Edisi 891/ 7 - 13 maret 2016

12

Tren Makanan 2016

Aneka makanan dan minuman tersaji dalam ajang pameran “Food, Hotel, and Tourism” ( FHT) Bali, di Bali Nusa Dua Convention Centre (BNDCC), 3 s.d. 5 Maret. Acara yang rutin digelar tiap tahun ini merupakan penyelenggaraan ke-10, yang menghadirkan 772 perusahaan dari 34 negara.

M

enurut sele­ brity chef, Vindex Tangker, FHT yang rutin digelar tiap tahun ini, penyelenggaraannya bergantian di Bali dan Jakarta. Ia menilai, acara FHT sangat bagus, karena tiap tahun selalu ada hotel, restoran atau sekolah kuliner yang baru.

Dalam ajang pameran ini, diperkenalkan mulai dari bahan makanan, peralatan masak, termasuk alat saji makanan, dan berbagai minuman. “Ajang ini selain untuk memperkenalkan produk Indonesia juga saling bertukar informasi dengan produk luar negeri. Segala bentuk pengembangan makanan

Bola-bola Takoyaki

Chef Vindex Tangker

dan minuman ada di sini, atau tren dalam bidang makanan secara umum,” ujar juri “Master Chef Indonesia” ini.

Kreasi Ubi Jalar Krispi Camilan kentang goreng atau fried potatoes sudah sangat terkenal. Camilan ini disukai tua dan muda, bahkan menjadi favorit anak-anak. Sekarang ini, ada fried sweet potatoes, ubi jalar goreng krispi. Menu ini dipamerkan PT Deli Food. Dari Bras Pro, ada beberapa bahan organik yang dipamerkan dan dikreasikan menjadi aneka camilan, berbahan utama talas, singkong, ubi jalar, dan jagung.

Kompetisi Masak Terbesar di Bali Lebih dari 500 peserta dari Indonesia dan Malaysia dan 50 juri masak kelas dunia dari 14 negara meramaikan acara lomba kuliner terbesar di Bali, “The 9 th Bali Salon Culinaire” yang digelar di BNDCC, 3 s.d. 5 Maret. Ketua Komite Culinaire Salon, Stefan Mueller mengatakan, acara ini tidak hanya sekadar kompetisi kuliner biasa, namun, dapat menjadi menjadi sumber inspirasi kita. Ia mengatakan, Bali Culinary Profesionals (BCP) telah dipercaya PT Pamerindo Buana Trade sebagai panitia penyelenggara Bali Salon Culinaire. “Sebagai anggota asosiasi chef dunia, World Asso­ ciation of Chef Societies (WACS), BCP telah membantu dan meningkatkan standar keahlian kuliner di Indonesia,” ujarnya. Menurutnya, pengalaman dan pengetahuan dalam acara ini membangkitkan peserta menyajikan menu terbaik mereka melalui gairah dan antusiasme persiangan yang sehat. “Dipandu dan didasari peraturan penjurian lomba masak oleh WACS, semua peserta belajar tidak hanya untuk memahami potensi mereka tetapi juga untuk memahami masa depan kompetensi profesional me­ reka yang berskala internasional,” tambahnya. Bali Salon Culinaire dise-

M

Dari stan PT Nippn Foods Indonesia, menyajikan makanan tradisional Jepang. Ada karinto manju, kue yang terbuat dari bahan tepung Jepang dengan isian kacang merah. Ada juga, takoyaki, berbentuk bolabola kecil dengan diameter 3-5 cm yang dibuat dari adonan tepung terigu dan potongan gurita di dalamnya. Takoyaki biasanya di Jepang dijual sebagai jajanan di pinggir jalan dan enak dinikmati sebagai camilan. Takoyaki di Indonesia berkembang baru-baru ini, sehingga belum semua orang tahu apa itu takoyaki. Namanya yang unik didengar dan rasanya yang nikmat dan lembut, membuat camilan ini disebut akan menjadi tren di kalangan anak muda.

Kinoa, Pendatang Baru yang makin Memikat Kinoa atau quinoa, merupakan serealia semu yang menjadi makanan pokok bagi masyarakat Indian di pegunungan Andes, Amerika Selatan. Biji-bijian yang pertamakali ditemukan di Peru ini, dianggap dapat menjadi solusi untuk masalah kelaparan dan malnutrisi, sangat baik bagi penderita diabetes. Kinoa sangat ideal sebagai sumber gizi karena mengandung karbohidrat dan protein asam amino esensial yang lebih tinggi, juga sejumlah kalsium, fosfor, dan besi. Kinoa juga tidak mengandung gluten.Tiga negara saat ini menjadi produsen utama kinoa, Peru, Ekuador, dan Bolivia. Untuk menarik minat pengunjung FHT di stan Kinoa, seorang mahasiswi asal Peru, Rocio Zuniga, memakai pakaian khas Peru, membagi-bagikan brosur.

akanan dan minuman yang dihasilkan dari buah kakao telah lama menjadi primadona tidak hanya di Indonesia, namun, juga di dunia. Tak heran kakao telah menjadi bahan yang sangat penting dalam industri berbagai makanan berbahan dasar cokelat. Indonesia sebagai penghasil biji kakao terbesar di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana, mampu menghasilkan biji cokelat kelas dunia. “Untuk mengolah biji kakao menjadi cokelat diperlukan ­pen­­­g­alaman yang memadai agar hasilnya berkualitas dan memiliki nilai jual untuk dipasarkan menjadi produk premium berskala internasional,” kata Iman Setia, Creative & Corporate Communications Manager, PT. Gandum Mas Kencana. Iman menambahkan, kualitas cokelat yang dihasilkan Indonesia justru memiliki keunggulan tersendiri dikarenakan penyebaran biji kakao di Nusantara memiliki ciri khas masing-masing. “Buah kakao original Indonesia merupakan asal muasal terbentuknya berbagai macam olahan cokelat berkualitas, salah satunya collata couverture dark series,” ujar Iman. Ia menyebutkan, bahan baku collata couverture series berasal dari beberapa wilayah di Indonesia dan menghasilkan ciri khas rasa masingmasing. “Dengan karakter yang unik ini, collata couverture series

Sarwan Bahan: 1 ekor : ayam kampung, potong jadi 4 bagian 500 ml : santan 3 lembar : daun salam 3 ruas : jari jahe, memarkan 1 sdm : gula merah iris-iris Gula, garam, gula, kaldu bubuk secukupnya

lenggarakan bersamaan dengan pa­m eran FHT 2016, menjadi ajang pameran kuliner dan hotel terbesar di Bali. Sementara, pada bagian Bali Salon Culinaire, diadakan kegiatan memasak langsung di tempat, real time, dan kompetisi yang kaya dengan ide-ide baru, gagasan, dan kreativitas tinggi dari para peserta lomba. Ada enam kategori lomba di Bali Salon Culianry 2016. Kelompok 1: pastry display dan live, termasuk menghias kue pengantin, display kue dan cokelat. Kelompok 2: artistic display dan pratical, termasuk mengukir buah, es, dan creative table set up. Kelompok 3: plated food display, termasuk 4-set main course, 3 jenis Indonesian modern dan sushi. Kelompok 4:

live termasuk masakan Indonesia dari laut, daging sapi, dan roti. Kelompok 5: young chef basic competition, menantang para profesional muda untuk membuat 4 set makanan pembuka, pasta, dan salad. Kelompok 6: beverages competition. Salah satu lomba utama yang diselenggarakan pada Bali Salon Culinaire tahun ini bekerja sama dengan Indonesia Sommelier Association Cabang Bali. Program ini dinamakan “Dewata Gastronomic Challenge”, yang merupakan kompetisi bergengsi yang melibatkan unsur makanan dan minuman, ditinjau dari segi seni dan ilmu pengetahuan yang akan digunakan dalam industri makanan. -Wirati Astiti

N

Chinesse Food & Aneka Es Taiwan

Hanya di...

Cafe Santai

Gratis Tampin Spesial

Berlaku Mulai 1 s.d. 31 Maret 2016

Coffee Ice Cream

Murah Meriah & Bersih

Bumbu yang Dihaluskan: 12 buah : bawang merah 5 siung : bawang putih 5 butir : kemiri sangria Cara Membuat: - Cuci bersih ayam, sisihkan.

Setiap pembelanjaan di atas Rp 100 ribu

Ayam Goreng Kecap

Jln. Raya Sesetan No. 293 Denpasar. Tlp. (0361) 7440658, 7427678

menjadi cokelat yang memiliki good value. Collata couverture series juga didesain khusus utuk dapat bersaing bukan hanya di pasar Indonesia, melainkan juga di pasar internasional, sebagai cokelat Indonesia yang berkualitas,” tambah Iman. Menurut Iman, dengan cakupan ekspor yang berbagai negara di Asia, Afrika, hingga Eropa, PT ­Gandum Mas Kencana selaku produsen cokelat collata mampu secara konsisten memproduksi berbagai jenis cokelat berkualitas. “Collata couverture dark series menghadirkan cokelat premium dengan rasa pekat. Memiliki karakter rasa yang

13

Aneka kue berbahan cokelat chef dari Sunway University ­College, School of Hospitaly, Tourism, and Leisure Management dan chef Buddy President of Pastry Alliance of Philip­ pines. Berbagai aplikasi dari kedua chef internasional ini menggunakan collata couverture series, dan diprediksi akan menjadi tren sepan­ jang tahun 2016. Salah satunya sea salf caramel truffle yang terbuat dari collate couverture Rinjani 56% berpadu dengan caramel dan sea

Kreasi kue cokelat

saft. Ada juga trio of chocolate ver­ rines, kombinasi tiga jenis makanan penutup dalam satu aplikasi yang menggunakan collata couverture Kintamani 60% dan espresso ver­ rines, yang terinspirasi dari kopi ekspreso yang berpadu dengan collata couverture Sentani 70%. “Ketiga jenis couverture dark series dari colatta ini mampu memberikan citarasa cokelat kelas dunia,” ujarnya. –Wirati Astiti

Cokelat

Ayam Panggang Klaten

Selain bahan makanan dan minuman, di FHT juga dipamerkan aneka peralatan untuk penyajian makanan yang menjadi tren. –Wirati Astiti

ti ikma

Chef Patrick Siau

unik, cokelat yang dibuat dari biji pilihan ini kombinasi biji cokelat yang berasal dari beberapa wilayah di Indonesia,” ucapnya. Nama yang dipilih merupakan representasi dari tempat asal biji cokelat yang digunakan yakni Rinjani (dark 65%), rasa manis dan pahit cokelat yang seimbang dengan jejak rasa fruity. Kintamani (dark 60%) rasa cokelat yang lebih dinamis dengan kombinasi rasa pahit, fruity, dan creamy yang pas. Sentani (dark 70%), memiliki rasa cokelat paling kuat di antaranya varian lainnya, dengan rasa smoky, yang semakin meningkatkan rasa cokelatnya. Hasil olahan cokelat colatta juga sangat diandalkan para choco­ latier atau ahli cokelat dunia. Salah satunya, aplikasi yang dikreasikan Patrick Siau, award winning pastry

Edisi 891/ 7 - 13 maret 2016

- Didihkan santan bersama daun salam, lengkuas, gula merah, garam dan kaldu bubuk dan bumbu yang dihaluskan, lalu masukkan ayam, masak sampai ayam matang

dan empuk serta bumbu meresap, angkat. - Bakar ayam, olesi dengan sisa bumbu, bolak-balik ayam hingga kecokelatan dan matang. - Siap untuk disajikan.

Ayam Panggang Kentang

Bahan: 300 gr : ayam, potong-potong kecil 1 sdt : lada 150 gr : tepung terigu 150 gr : kentang, kupas, potong-potong, rebus sebentar ½ buah : bawang bombai, iris melintang Saus 110 ml : mayones 1 sdm : mustard ½ sdt : lada bubuk 1 sdm : keju parut 1 sdt : peterseli cincang ½ sdt : garam Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya

Cara Membuat: - Campur potongan ayam dengan merica, kaldu bubuk dan garam, lalu aduk rata. - Lumuri potongan ayam dengan tepung terigu, lalu panaskan minyak, goreng ayam sampai matang, angkat dan tiriskan. Cara membuat Saus: - Campur semua bahan saus, aduk rata, lalu letakkan ayam kentang dan bawang bombay dalam mangkuk tahan panas, siram ayam dengan saus lalu panggang dalam oven panas selama 15 menit, angkat dan siap untuk disajikan.


Kuliner Cokelat Indonesia Mendunia

Edisi 891/ 7 - 13 maret 2016

12

Tren Makanan 2016

Aneka makanan dan minuman tersaji dalam ajang pameran “Food, Hotel, and Tourism” ( FHT) Bali, di Bali Nusa Dua Convention Centre (BNDCC), 3 s.d. 5 Maret. Acara yang rutin digelar tiap tahun ini merupakan penyelenggaraan ke-10, yang menghadirkan 772 perusahaan dari 34 negara.

M

enurut sele­ brity chef, Vindex Tangker, FHT yang rutin digelar tiap tahun ini, penyelenggaraannya bergantian di Bali dan Jakarta. Ia menilai, acara FHT sangat bagus, karena tiap tahun selalu ada hotel, restoran atau sekolah kuliner yang baru.

Dalam ajang pameran ini, diperkenalkan mulai dari bahan makanan, peralatan masak, termasuk alat saji makanan, dan berbagai minuman. “Ajang ini selain untuk memperkenalkan produk Indonesia juga saling bertukar informasi dengan produk luar negeri. Segala bentuk pengembangan makanan

Bola-bola Takoyaki

Chef Vindex Tangker

dan minuman ada di sini, atau tren dalam bidang makanan secara umum,” ujar juri “Master Chef Indonesia” ini.

Kreasi Ubi Jalar Krispi Camilan kentang goreng atau fried potatoes sudah sangat terkenal. Camilan ini disukai tua dan muda, bahkan menjadi favorit anak-anak. Sekarang ini, ada fried sweet potatoes, ubi jalar goreng krispi. Menu ini dipamerkan PT Deli Food. Dari Bras Pro, ada beberapa bahan organik yang dipamerkan dan dikreasikan menjadi aneka camilan, berbahan utama talas, singkong, ubi jalar, dan jagung.

Kompetisi Masak Terbesar di Bali Lebih dari 500 peserta dari Indonesia dan Malaysia dan 50 juri masak kelas dunia dari 14 negara meramaikan acara lomba kuliner terbesar di Bali, “The 9 th Bali Salon Culinaire” yang digelar di BNDCC, 3 s.d. 5 Maret. Ketua Komite Culinaire Salon, Stefan Mueller mengatakan, acara ini tidak hanya sekadar kompetisi kuliner biasa, namun, dapat menjadi menjadi sumber inspirasi kita. Ia mengatakan, Bali Culinary Profesionals (BCP) telah dipercaya PT Pamerindo Buana Trade sebagai panitia penyelenggara Bali Salon Culinaire. “Sebagai anggota asosiasi chef dunia, World Asso­ ciation of Chef Societies (WACS), BCP telah membantu dan meningkatkan standar keahlian kuliner di Indonesia,” ujarnya. Menurutnya, pengalaman dan pengetahuan dalam acara ini membangkitkan peserta menyajikan menu terbaik mereka melalui gairah dan antusiasme persiangan yang sehat. “Dipandu dan didasari peraturan penjurian lomba masak oleh WACS, semua peserta belajar tidak hanya untuk memahami potensi mereka tetapi juga untuk memahami masa depan kompetensi profesional me­ reka yang berskala internasional,” tambahnya. Bali Salon Culinaire dise-

M

Dari stan PT Nippn Foods Indonesia, menyajikan makanan tradisional Jepang. Ada karinto manju, kue yang terbuat dari bahan tepung Jepang dengan isian kacang merah. Ada juga, takoyaki, berbentuk bolabola kecil dengan diameter 3-5 cm yang dibuat dari adonan tepung terigu dan potongan gurita di dalamnya. Takoyaki biasanya di Jepang dijual sebagai jajanan di pinggir jalan dan enak dinikmati sebagai camilan. Takoyaki di Indonesia berkembang baru-baru ini, sehingga belum semua orang tahu apa itu takoyaki. Namanya yang unik didengar dan rasanya yang nikmat dan lembut, membuat camilan ini disebut akan menjadi tren di kalangan anak muda.

Kinoa, Pendatang Baru yang makin Memikat Kinoa atau quinoa, merupakan serealia semu yang menjadi makanan pokok bagi masyarakat Indian di pegunungan Andes, Amerika Selatan. Biji-bijian yang pertamakali ditemukan di Peru ini, dianggap dapat menjadi solusi untuk masalah kelaparan dan malnutrisi, sangat baik bagi penderita diabetes. Kinoa sangat ideal sebagai sumber gizi karena mengandung karbohidrat dan protein asam amino esensial yang lebih tinggi, juga sejumlah kalsium, fosfor, dan besi. Kinoa juga tidak mengandung gluten.Tiga negara saat ini menjadi produsen utama kinoa, Peru, Ekuador, dan Bolivia. Untuk menarik minat pengunjung FHT di stan Kinoa, seorang mahasiswi asal Peru, Rocio Zuniga, memakai pakaian khas Peru, membagi-bagikan brosur.

akanan dan minuman yang dihasilkan dari buah kakao telah lama menjadi primadona tidak hanya di Indonesia, namun, juga di dunia. Tak heran kakao telah menjadi bahan yang sangat penting dalam industri berbagai makanan berbahan dasar cokelat. Indonesia sebagai penghasil biji kakao terbesar di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana, mampu menghasilkan biji cokelat kelas dunia. “Untuk mengolah biji kakao menjadi cokelat diperlukan ­pen­­­g­alaman yang memadai agar hasilnya berkualitas dan memiliki nilai jual untuk dipasarkan menjadi produk premium berskala internasional,” kata Iman Setia, Creative & Corporate Communications Manager, PT. Gandum Mas Kencana. Iman menambahkan, kualitas cokelat yang dihasilkan Indonesia justru memiliki keunggulan tersendiri dikarenakan penyebaran biji kakao di Nusantara memiliki ciri khas masing-masing. “Buah kakao original Indonesia merupakan asal muasal terbentuknya berbagai macam olahan cokelat berkualitas, salah satunya collata couverture dark series,” ujar Iman. Ia menyebutkan, bahan baku collata couverture series berasal dari beberapa wilayah di Indonesia dan menghasilkan ciri khas rasa masingmasing. “Dengan karakter yang unik ini, collata couverture series

Sarwan Bahan: 1 ekor : ayam kampung, potong jadi 4 bagian 500 ml : santan 3 lembar : daun salam 3 ruas : jari jahe, memarkan 1 sdm : gula merah iris-iris Gula, garam, gula, kaldu bubuk secukupnya

lenggarakan bersamaan dengan pa­m eran FHT 2016, menjadi ajang pameran kuliner dan hotel terbesar di Bali. Sementara, pada bagian Bali Salon Culinaire, diadakan kegiatan memasak langsung di tempat, real time, dan kompetisi yang kaya dengan ide-ide baru, gagasan, dan kreativitas tinggi dari para peserta lomba. Ada enam kategori lomba di Bali Salon Culianry 2016. Kelompok 1: pastry display dan live, termasuk menghias kue pengantin, display kue dan cokelat. Kelompok 2: artistic display dan pratical, termasuk mengukir buah, es, dan creative table set up. Kelompok 3: plated food display, termasuk 4-set main course, 3 jenis Indonesian modern dan sushi. Kelompok 4:

live termasuk masakan Indonesia dari laut, daging sapi, dan roti. Kelompok 5: young chef basic competition, menantang para profesional muda untuk membuat 4 set makanan pembuka, pasta, dan salad. Kelompok 6: beverages competition. Salah satu lomba utama yang diselenggarakan pada Bali Salon Culinaire tahun ini bekerja sama dengan Indonesia Sommelier Association Cabang Bali. Program ini dinamakan “Dewata Gastronomic Challenge”, yang merupakan kompetisi bergengsi yang melibatkan unsur makanan dan minuman, ditinjau dari segi seni dan ilmu pengetahuan yang akan digunakan dalam industri makanan. -Wirati Astiti

N

Chinesse Food & Aneka Es Taiwan

Hanya di...

Cafe Santai

Gratis Tampin Spesial

Berlaku Mulai 1 s.d. 31 Maret 2016

Coffee Ice Cream

Murah Meriah & Bersih

Bumbu yang Dihaluskan: 12 buah : bawang merah 5 siung : bawang putih 5 butir : kemiri sangria Cara Membuat: - Cuci bersih ayam, sisihkan.

Setiap pembelanjaan di atas Rp 100 ribu

Ayam Goreng Kecap

Jln. Raya Sesetan No. 293 Denpasar. Tlp. (0361) 7440658, 7427678

menjadi cokelat yang memiliki good value. Collata couverture series juga didesain khusus utuk dapat bersaing bukan hanya di pasar Indonesia, melainkan juga di pasar internasional, sebagai cokelat Indonesia yang berkualitas,” tambah Iman. Menurut Iman, dengan cakupan ekspor yang berbagai negara di Asia, Afrika, hingga Eropa, PT ­Gandum Mas Kencana selaku produsen cokelat collata mampu secara konsisten memproduksi berbagai jenis cokelat berkualitas. “Collata couverture dark series menghadirkan cokelat premium dengan rasa pekat. Memiliki karakter rasa yang

13

Aneka kue berbahan cokelat chef dari Sunway University ­College, School of Hospitaly, Tourism, and Leisure Management dan chef Buddy President of Pastry Alliance of Philip­ pines. Berbagai aplikasi dari kedua chef internasional ini menggunakan collata couverture series, dan diprediksi akan menjadi tren sepan­ jang tahun 2016. Salah satunya sea salf caramel truffle yang terbuat dari collate couverture Rinjani 56% berpadu dengan caramel dan sea

Kreasi kue cokelat

saft. Ada juga trio of chocolate ver­ rines, kombinasi tiga jenis makanan penutup dalam satu aplikasi yang menggunakan collata couverture Kintamani 60% dan espresso ver­ rines, yang terinspirasi dari kopi ekspreso yang berpadu dengan collata couverture Sentani 70%. “Ketiga jenis couverture dark series dari colatta ini mampu memberikan citarasa cokelat kelas dunia,” ujarnya. –Wirati Astiti

Cokelat

Ayam Panggang Klaten

Selain bahan makanan dan minuman, di FHT juga dipamerkan aneka peralatan untuk penyajian makanan yang menjadi tren. –Wirati Astiti

ti ikma

Chef Patrick Siau

unik, cokelat yang dibuat dari biji pilihan ini kombinasi biji cokelat yang berasal dari beberapa wilayah di Indonesia,” ucapnya. Nama yang dipilih merupakan representasi dari tempat asal biji cokelat yang digunakan yakni Rinjani (dark 65%), rasa manis dan pahit cokelat yang seimbang dengan jejak rasa fruity. Kintamani (dark 60%) rasa cokelat yang lebih dinamis dengan kombinasi rasa pahit, fruity, dan creamy yang pas. Sentani (dark 70%), memiliki rasa cokelat paling kuat di antaranya varian lainnya, dengan rasa smoky, yang semakin meningkatkan rasa cokelatnya. Hasil olahan cokelat colatta juga sangat diandalkan para choco­ latier atau ahli cokelat dunia. Salah satunya, aplikasi yang dikreasikan Patrick Siau, award winning pastry

Edisi 891/ 7 - 13 maret 2016

- Didihkan santan bersama daun salam, lengkuas, gula merah, garam dan kaldu bubuk dan bumbu yang dihaluskan, lalu masukkan ayam, masak sampai ayam matang

dan empuk serta bumbu meresap, angkat. - Bakar ayam, olesi dengan sisa bumbu, bolak-balik ayam hingga kecokelatan dan matang. - Siap untuk disajikan.

Ayam Panggang Kentang

Bahan: 300 gr : ayam, potong-potong kecil 1 sdt : lada 150 gr : tepung terigu 150 gr : kentang, kupas, potong-potong, rebus sebentar ½ buah : bawang bombai, iris melintang Saus 110 ml : mayones 1 sdm : mustard ½ sdt : lada bubuk 1 sdm : keju parut 1 sdt : peterseli cincang ½ sdt : garam Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya

Cara Membuat: - Campur potongan ayam dengan merica, kaldu bubuk dan garam, lalu aduk rata. - Lumuri potongan ayam dengan tepung terigu, lalu panaskan minyak, goreng ayam sampai matang, angkat dan tiriskan. Cara membuat Saus: - Campur semua bahan saus, aduk rata, lalu letakkan ayam kentang dan bawang bombay dalam mangkuk tahan panas, siram ayam dengan saus lalu panggang dalam oven panas selama 15 menit, angkat dan siap untuk disajikan.


14

Jelita

Edisi 891/ 7 - 13 MARET 2016

Cantik tanpa Menghilangkan Jati Diri

Semakin hari teknologi perawatan kecanti­ kan terus berkembang dan semakin canggih. Bicara teknologi kecantikan, yang perlu di­ ketahui pertama adalah keamanannya, se­ telah itu barulah ­bicara hasil. Demikian disam­ paikan President ­Director Miracle Aesthetic Clinic Group, dr. Lanny Juniarti, dalam acara Pelun­ curan Perawat­an Kecantik­an dengan Teknologi Eropa, Sabtu, ( 27/2) di Ballroom, Maya Sanur Resort & Spa, Sanur, Denpasar.

D

alam acara talk show yang diselenggrakan oleh Miracle Aesthetic Clinic Denpasar dan menghadirkan bintang tamu Happy Salma ini, dokter Lanny juga mengatakan seiring dengan perkembangan tren dan gaya hidup, mayoritas atau kebanyakan orang menginginkan perawatan estetika bukan hanya yang cepat, tapi juga aman, tanpa luka, dengan waktu pemulihan singkat, efektif serta hasil yang nyata. Dikatakannya, salah satu perawatan estetika yang mampu memenuhi keinginan tersebut adalah teknologi laser. Saat ini laser menjadi salah satu cara utuk perawatan pada program terbaru di Miracle , bernama Miracle Power 4D Rejuve dengan keunikan desain teknologi yang inovatif sehingga hasilnya aman dan terkontrol. “Merawat kecantikan jangan menunggu umur. Lebih dini melakukan perawatan akan lebih baik, untuk selalu menjaga kesehatan kulit, sehingga lebih memunculkan kecantikan seseorang, ”katanya. Apalagi kini sudah ada teknik perawatan Miracle Power 4D Rejuve dengan laser asal Eropa yang menggunakan dua

panjang gelombang laser dan empat mode perawatan pada lapisan kulit yang berbeda. Empat fitur laser 4 D Rejuve yang saling bersinergi tersebut adalah SmoothLiftin, FRAC3, PIANO, dan SupErficial. Fungsinya, lanjut dokter Lanny untuk mengencangkan kulit dari luar dan dalam (skin tightening) dengan stimulasi optimal dari setiap lapisan kulit. Juga, memberikan efek pencerahan (light peel) dan meremajakan kulit (skin rejuvenation), sehingga efektif untuk mengatasi tanda- tanda penuaan. Menariknya tahapan laser ini, tidak hanya diaplikasikan pada kulit wajah di luar, tapi juga pada permukaan mukosa di dalam mulut (intraoral tightening),agar menjangkau hingga ke lapisan dalam kulit. “Hal ini bermanfaat untuk menghaluskan dan melembutkan kulit sehingga tampak lebih segar dan sehat bercahaya, serta mengatasi garis kerut halus dengan hasil yang alami. “Proses pengerjaan singkat, aman, nyaman dengan waktu pemulihan minimal sebagaimana harapan masyarakat terkini,cantik tanpa menghilangkan jati diri, ” ujarnya menjelaskan.. Selanjutnya, perawatan tersebut katanya menggunakan dua panjang gelombang laser dan empat mode perawatan pada lapisan kulit yang berbeda. Perawatan ini bekerja pada lapisan terdalam kulit, lapisan tengah, dan permukaan kulit. Dengan model proses yang singkat namun hasil nyata dari Miracle Power 4D Rejuve ini, lebih disarankan untuk kondisi kulit wajah maupun leher yang mengalami keken­d uran, volume wajah yang berkurang akibat penua­an, kontur wajah, dan leher yang bergelombang serta munculnya kusam maupun keriput halus. Tampilkan Percaya Diri Menurut Manager Miracle Aesthetic Clinic, Renon, Denpasar Upik Rustia , ketika

Bugar

Edisi 891/ 7 - 13 MARET 2016

Kenali Penyebab Nyeri Dada Boy berusia 40 tahun sering ­mengeluh me­ngalami nyeri dada. Nyeri dada biasanya timbul saat dia ­beraktivitas. Namun, bila dia ber­ istirahat keluhan nyeri dada akan meng­hilang dengan sendirinya. Boy pernah membaca­­artikel me­ngenai penyakit jantung koroner, dan disebut­kan, gejalanya adalah nyeri dada. Apakah kemungkinannya, Boy men­derita p ­ enyakit jantung koroner?

bicara tentang kecantikan memang tidak pernah ada habisnya. Kemajuan teknologi berhasil menciptakan berbagai jenis perawatan dengan hasil terbaik sudah semestinya alatnya juga yang terbaik. Seperti Miracle Power 4D Rejive, yang sudah memperoleh izin edar alat kesehatan dari Dirjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI. “Sesuai dengan filosofi “The art behind the science of aesthetic “, makanya Miracle mernggabungkan seni dan ilmu estetika dalam menciptakan kecantikan dan keindahan wajah secara holistik yang terpancar dari dalam ke luar, dengan metode inovatif dari sudut pandang estetika yang professional,” tuturnya sambil menambahkan jika di Miracle dapat juga dinikmati serawatan lainnya seperti facial, botox, filler, peeling, threadlift, laser & light, RF, ultherapy, hair removal,dan berbagai produk krim yang terpercaya. Sementara ­Happy Salma, dengan senyum­ nya yang khas menyampaikan bahwa penampilan luar memang bukan segalanya , namun bagi perempuan tidak ada salahnya jika tetap mejaga penampilan dan mempercantik diri. Merawat kulit wajah dan tubuh agar tetap sehat dan segar. Menurut Happy Salma sebenarnya penampilan adalah filter pertama untuk menjadi pusat perhatian. Baginya ditengah kesibukan dan aktvitas yang cukup padat dengan menggunakan make up hampir setiap hari, ia mengkhawatirkan

kesehatan kulitnya. “Saya tidak ingin cantik hanya diukur ketika seseorang sedang ber make up yang tentu wajahnya terlihat cantik dan halus. Namun dalam segala kondisi kulit wajah mamapu memancarkan kecantikan alami dan kesegaran,” katanya. Happy Salma juga mengaku dirinya ingin meningkatkan percaya diri ketika tanpa make up dimana kulit wajahnya benar-benar sehat dan terlihat cantik. Ia mengingatkan bahwa kecantikan itu tidak turun dari langit. Karenanya, ia merasa perlu melakukan perawatan dan memercayakannya pada Miracle. “Hari gini meski kita ibu-ibu sibuk dengan segala aktivitas termasuk ngayah di Bali tapi tetap mesti tampil kece. Dan mengingat wajah tidak bisa di cetak, maka sepatutrnya kita memilih tempat merawat diri yang terpercaya,” ujarnya mengingatkan. – Sri Ardhini

11

dr. AA Ayu Dwi Adelia Yasmin

M

e n u r u t d r. AA Ayu Dwi Adelia Yasmin, M.Biomed, Sp.JP, FIHA, terdapat banyak kemungkinan diagnosis pada pasien yang menderita keluhan nyeri dada. “Nyeri dada dapat disebabkan karena masalah pada organ tubuh yang terdapat di rongga dada (jantung, paruparu, kerongkongan), masalah pada komponen di dinding dada (kulit, otot, atau tulang), bahkan masalah pada organ tubuh yang terletak dekat dengan rongga dada (kandung empedu dan lambung),” kata dokter RS Manuaba ini. Penelusuran lebih lanjut mengenai karakteristik nyeri dada sangat penting dilakukan untuk membantu mengetahui penyebab timbulnya keluhan tersebut. Pasien dengan keluhan nyeri dada biasanya akan sangat khawatir memikirkan, apakah nyeri dada yang ia derita disebabkan masalah jantung. “Nyeri dada akibat penyakit jantung koroner disebabkan kurangnya oksigen yang menuju jantung akibat adanya penyumbatan/penyempitan pada pembuluh darah jantung, yang disebut juga de­ngan pembuluh darah koroner,” jelasnya. Karakteristik nyeri dada

akibat penyakit jantung koroner antara lain, nyeri dada biasanya berlokasi di dada bagian tengah atau kiri, namun bisa dirasakan menjalar atau menyebar ke leher, lengan, bahu, rahang, atau punggung. Nyeri dada dapat dirasakan seper­ti rasa tidak nyaman atau rasa tertekan atau rasa berat seperti diperas atau rasa panas dan rasa penuh di dada. “Nyeri dada biasanya diperberat dengan aktivitas dan biasanya, keluhan berkurang dengan istirahat. Namun, pada kasus yang berat, nyeri dada tetap dirasakan atau tidak berkurang walaupun pasien sudah beristirahat,” tegasnya. Ia juga menyebutkan, nyeri dada juga dapat dicetuskan beberapa situasi, contohnya stres emosional, udara dingin, dan makanan. Terdapat pula, gejala lain yang dapat menyertai gejala nyeri dada akibat penyakit jantung koroner, diantaranya sesak napas, mual, muntah, berkeringat dingin, berdebar, rasa lelah, atau pingsan. Bila menderita nye­r i dada dengan karakteristik seperti yang dipaparkan, sebaiknya segera menghubungi dokter untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. “Walaupun Anda menderita nyeri dada yang tidak memenuhi karakteristik tadi, bila

Anda termasuk dalam pasien berisiko tinggi, tetap disarankan untuk menghubungi fasilitas pelayanan kesehatan untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut,” kata dr. Dwi Adelia. Pasien berisiko tinggi termasuk berusia tua, menderita diabetes/kencing manis, menderita hipertensi/tekanan darah tinggi, menderita kolesterol tinggi, terdapat riwayat keluarga menderita penyakit jantung koroner, terdapat riwayat menderita serangan jantung/stroke/penyumbatan pembuluh darah perifer se­ belumnya. Ia mengatakan, pasien memerlukan tindakan tambahan untuk dapat membantu menegak­k an diagnosis, contohnya tindakan elektro kardiografi (rekam jantung), pemeriksaan darah, pemeriksa­ an rontgen dada, pemeriksaan ultrasonografi (USG) jantung, uji latih jantung dengan meng-

tkh/net

gunakan treadmill/obat-obatan, atau kateterisasi jantung. Bila hasil pemeriksaan menunjukkan kemungkinan terjadi serangan jantung, pasien membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit hingga kondisi stabil. “Penting untuk diingat, pada kon-

disi serangan jantung, semakin cepat Anda menghubungi fasilitas pelayanan kesehatan, maka Anda akan semakin cepat menerima pertolongan dan pengobatan, karena setiap menit akan sangat berarti pada kondisi tersebut,” sarannya. –Wirati Astiti


10

Edisi 891/ 7 - 13 maret 2016

Pasar Badung Terbakar

Mozaik

Utang Pedagang Direstrukturisasi

Pasar Badung yang terletak di Jalan Gajah Mada, Denpasar terbakar Senin (29/2). Kebakaran hebat ini menghanguskan sebagian besar isi pasar berlantai empat ini.

M

a d e We s t r a , Dirut PD Pasar mengatakan di Pasar Badung terdapat sekitar 1.600 kios yang terletak di lantai 1 hingga lantai 3, sementara di lantai 4 sebagai kantor. “Kebakaran yang terjadi ini merupakan yang terbesar. Kami menunggu pemeriksaan kepolisian mengenai penyebab kebakaran. Kami juga sedang koordinasi untuk relokasi pedagang yang menjadi korban,” ujarnya. Ia menuturkan, kebakaran diketahui sekitar pukul 17.30 wita. Api baru bisa dipadamkan pukul 04.00 keesokan harinya. Tidak ada korban jiwa dalam

peristiwa ini namun kerugiannya mencapai miliaran rupiah. Setelah kebakaran, beberapa pedagang sayur, buah, dan daging memilih berjualan di areal parkir sembari menunggu relokasi. Ni Wayan Kerti, salah seorang pedagang menuturkan ketika kebakaran terjadi, ia sedang melayani pembeli. Ada ibu-ibu yang keluar mengatakan ada kebakaran dari atas. “Awalnya saya kurang menghiraukan, karena saya sibuk melayani pembeli. Ternyata orang-orang yang keluar lebih banyak lagi. Saya baru percaya dan saya langsung buruburu berlari bersama anak saya

untuk menjauh dari sana,” ujar pedagang canang, bunga, dan janur ini. Perempuan asal Panjer ini sempat panik karena mengajak anaknya. Ia khawatir anaknya diinjak-injak orang-orang yang berhamburan keluar.

Setelah kebakaran, ia masih berjualan. “Kalau tidak jualan bagaimana saya bisa mencukupi untuk keperluan keluarga. Tetapi, pembeli lebih sepi. Saya berharap semoga kebakaran tidak terjadi lagi. Semoga pe-

merintah agar segera memperbaiki bangunan pasar yang terbakar agar perekonomian berjalan lancar seperti biasanya,” ujarnya. Peristiwa terbakarnya Pasar Badung mendapat perhatian Menteri Koperasi dan UKM Drs. AAN Puspayoga. Menteri yang juga mantan Wali Kota Denpasar ini datang ke lokasi Selasa, (1/3). Puspayoga meminta perbankan dan lembaga keuangan lain merestrukturisasi utang para pedagang Pasar Badung, Bali yang terbakar. “Restrukturisasi utang sebagai solusi bagi pedagang yang telah mengakses KUR. Bisa dilakukan penjadwalan ulang agar ada perpanjangan waktu untuk pinjam kreditnya,” ujar Puspayoga usai pertemuan dengan Wali Kota Denpasar, perbankan, dan lembaga keuangan (BRI, BNI, Mandiri, BPD Bali, PNM, dan OJK). –Juniartini/Vijay/Rukanta/Suarni/Pasek

Konsul Jendral Australia dan Pengusaha Perempuan Bali Jalin Kerjasaam Pemberdayaan Perempuan Indonesia adalah salah satu dari hubungan paling penting bagi Australia. Selain itu juga Australia mempunyai kemitraan yang sangat produktif dan beragam dengan Indonesia, meliputi bisnis, politik, pertahanan, keamanan, kebudayaan dan pendidikan. Hal ini juga diakui Konsul Jendral Australia untuk Bali, Dr. Helena Studdert dalam perayaan “Hari Perempuan Internasional” yang dihadiri Hipmi Bali, Iwapi Bali, dan kalangan pengusaha dan tokoh perempuan lainnya di Bali, di Restoran Biku, kawasan Jalan Petitenget,Kerobokan, Kuta pada Jumat (4/3). Dikatakan Konsul Jendral sebelumnya yakni Majell Hind, pada Hari Perempuan Internasional yang ditandai setiap tahun untuk merayakan prestasi ekonomi, politik dan sosial perempuan dan tema tahun ini adalah “Ikrar Untuk Kesetaraan” Helena Studdert, selanjutnya menyampaikan, kini Hari Perempuan Internasional tumbuh menjadi sebuah gerakan perempuan internasional. Meski telah lebih dari 100 tahun, berbagai hambatan tetap ada. Kenyataanya , masih banyak perempuan dan anak belum memiliki akses ke pendidikan, pelayanan kesehatan. Juga banyak yang tidak memiliki akses ke air bersih atau persediaan makan yang cukup dan terpaksa meninggalkan rumah karena konflik atau bencana alam. Namun, ia senang ketika generasi perempuan saling membantu mengatasi berbagai hambatan. Dan, di Indonesia, seperti pada abad ke 19, RA Kartini berusaha meningkatkan status perempuan. Karena itu pula agenda pembanguna yang diangkat oleh

PBB adalah satu tujuan bagi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan serta target khusus mengakhiri kekerasan terhadap perempuan. Australia pun, katanya m emiliki komitmen kuat dan berkelanjutan, untuk berada di garis depan dalam upaya mempromosikan pemberdayaan perempuan dan anak, terutama di Indo-Pasifik. Malah, sejalan dengan hal ini Senin (29/2) , menteri luar Negeri Julie Bishop meluncurka program baru Pemerintah Australia untuk Strategi Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan. Sebab, kita tidak bisa mengubah dunia kita kecuali tempat perempuan di dalamnya juga berubah. Khusus untuk pertemuan kali ini, Helena mengaku senang dan merasa surprise dengan begitu cepatnya para pengusaha perempuan yang hadir mendapatkan partnernya dan terjadi jalinan kerjasama. Selanjutnya dikatakan untuk terus menguatakan ekonomi para pengusaha perempuan, masih banyak yang bisa dilakukan, terutama untuk usaha kecil menengah, yang menjadi tulang punggung perekonomian. “Maka kami

akan mengadakan pertemuanpertemuan selanjutnya dengan para pengusaha wanita di Bali, sebab mereka perlu perhatian serius untuk bisa mendapatkan akses yang lebih baik salah satunya pendanaan,”pungkasnya. Bukan hanya Sebuah Simbol Dalam kesemptan tersebut Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Bali, Inda Trimafo Yudha juga menyatakan, kini telah melihat lebih banyak perubahan bagi perempuan dalamkesempatan berkarier dan juga terlibat pekerjaan yang dahulu hanya dilakukan oleh laki-laki. Istri dari Toby Garrit , warga Australia ini, juga mengemukakan bahwa perempuan terutama di Bali hendaknya kuat, pekerja keras , dan multi tasking, terutama ketika ia beekrja atau berkarier dan harus tetap berkomitemen untuk keluarga. Perempuan Bali, katanya masih harus menyeimbangkan dengan tanggung jawab domestik dan budaya. Inda Trimafo juga mengakui Australia memainkan peranan penting dalam cara hidup orang

Bali modern. Secara geografis Bali lebih dekat dengan Australia dari banyak provinsi dan pulau di Indonesia.Karenanya, pertumbuhan ekonomi Bali secara langsung maupun tidak langsung terutama disektor pariwisata sangat dipenagruhi. Inda juga berharap pertemuan antara para perempuan pengusaha Australia dan Bali, kedepannya memiliki agenda yang akan membawa dampak positif bagi masyarakat umumnya dna perempuan khususnya. Sementara Happy Salma yang juga banyak bersuara tentang perempuan dan politik melalui seni ini, pada saat yang sama menyatakan bahwa pertemuan yang digagas Konsul Jendral Australia untuk Bali ini adalah langkah komunikasi yang cerdas. Sebab jika tak kenal maka tak sayang . Australia dan Indonesia bukan hanya memiliki kedekatan geografi semata namun ada juga kedekatan emosional. Sebaiknya pula acara pertemuan perempuan pengusahaBali Bali dan Australia ini bagus untuk dilanjutkan sehingga tidak ada miss komunikasi. “Dengan lebih dekat saling menegnal perempuan Indonesia lebih dihargai kemampuannya dan kemandiriannya,” katanya.“Salah satunya karena komunikasi yang baik pula, saat kami pentas untuk Panti Asihan Sayap Ibu di Jakarta, Konsul Australia juga datang. Mereka bisa melihat pernan ibu dna perempuan Indonesia itu

begitu kuat,” lanjutnya. Happy Salma mengatakan, dengan cara ramah tamah ini bukan hanya bertemunya perempuan Bali dan Australia, tapi dirnya juga bisa bersilaturahmi dengan perempuan Bali lainnya. “Selain juga di sini berbagai anggota organisasi perempuan juga bisa saling bertukar pikiran. Di hari Perempuan Sedunia ini juga harapan saya bukan hanya sebuah simbol,tapi pertemuan yang dapat memperkuat identitas perempuan Bali melangkah dalam kesetaraan, dan terjadi kerjasama yang ke depannya, baik dari sisi ekonomi, sosial dan budaya,” kata istri Tjok Bagus, pemilik Resoran Biku ini tersenyum . – Sri Ardhini

Style

Edisi 891/ 7 - 13 maret 2016

Gaun Malam Elegan Brand Unyx by Angeliqa Wu FDC mengeluarkan koleksi terbarunya dengan tema “Spring Fairies”, dengan pilihan warna netral putih, abu, hitam dan coklat tua.

D

esain busana pesta ini menonjolkan beberapa detil seperti ruffles,

pleats atau lipit dan beading white, black and silver Brand Unyx digawangi oleh 7 orang desainer yakni : Jacinda Lie,

Ari Veji, Niti Swari, Natasya K Dharani, Devi Asrini, Eunike Asih dan Angeliqa Wu yang merupakan guru, alumni dan siswa dari Angeliqa Wu Fashion Design Course. Koleksi rancangan Unyx kali ini adalah evening gown dan bridal. Menariknya

rangkaian koleksi yang elegan ini dapat di mix & match sehingga bisa membuat sebuah look yang berbeda. Brand Unyx by Angeliqa Wu FDC selain sebagai busana yang mudah dipadupadankan juga tak mengenal batas usia pemakainya. Sebab, koleksinya mulai dari busana pesta anakanak hingga desain untuk lanjut usia. Semoga dengan hadirnya brand Unyx ini, selanjutnya akan muncul sosok desainer Indonesia yang kreatif dan inovatif. – Sri Ardhini

15


16

Edukasi

Edisi 891/ 7 - 13 MARET 2016

IKIP PGRI Bali Raih yang Terbaik Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) PGRI Bali, Senin (29/2) mewisuda 113 wisudawan dari 9 program studi dan 1 konsentrasi. Wisuda XXXVI ini terasa istimewa karena IKIP PGRI Bali meraih beberapa prestasi. “Prestasi yang diraih ini merupakan bentuk penguatan lembaga,” ujar Rektor IKIP PGRI Bali Dr. I Made Suarta, S.H., M.Hum.

Rektor IKIP PGRI Bali Dr. I Made Suarta, S.H., M.Hum. mewisuda 113 wisudawan, Senin (29/2) di Hotel Ina Grand Bali Beach, Sanur, Bali

A

tas kerja keras segenap akademika kampus, akhirnya semua prodi di IKIP PGRi Bali terakreditasi dengan nilai B yang dikuatkan dengan Surat Keputusan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Dan untuk AIPT IKIP PGRI Bali sudah divisitasi oleh asesor BANPT tanggal 9-11 Desember 2015. Terkait dengan SK Menristek dikti No. 492.a/M/KP/ VIII/15 tentang klasifikasi dan peningkatan perguruan tinggi di Indonesia, IKIP PGRI Bali berada pada peringkat 100 besar dari 3.320 PT se-Indonesia. Sekopertis wilayah VIII ada di peringkat 3, sedangkan khusus antar PT PGRI se-Indonesia, IKIP PGRI Bali menjadi yang terbaik atau peringkat pertama. Rektor Suarta mengatakan, setelah dilantik menjadi sarjana, beban seseorang akan makin berat sehingga pola pikir, ucapan dan sikap harus diting-

katkan agar bisa diterima masyarakat. Seorang sarjana juga dituntut memiliki kecerdasan spiritual dan emosional. Seseorang disebut hebat bukan di-

lihat dari harta benda yang dipunyai. Melainkan dari kematangan sikapnya yang diperlihatkan dalam kehidupan sehari-hari. Made Suarta menegaskan, seseorang hendaknya menampilkan sisi kebaikan, meski ketika melakukannya ada saja kejahatan yang mengiringi. Padahal ketika berbuat jahat, tidak ada kebaikan yang mengikuti. “Ibarat bertanam padi. Kalau menanam bibit padi, pasti ada rumput yang ikut tumbuh. Namun kalau kita menanam rumput, tidak ada tanaman padi yang turut hidup di dekatnya. Walau demikian, teruslah berbuat baik, meski kejahatan selalu akan menyertai,” ujarnya. Sikap kebaikan, juga hendaknya diikuti dengan karakter pantang menyerah dalam memperjuangkan cita-cita, mengingat perjalanan hidup seorang sarjana masih panjang. Berbekal sikap pantang menyerah, seseorang bisa memperbaiki masa depannya. Dia melanjutkan, sikap pantang menyerah, menjadikan beberapa mahasiswa IKIP PGRI Bali beberapa waktu lalu mendapatkan perhargaan atas beberapa kompetisi. Pada bidang olahraga, mahasiswa Sinta Kartika Sari

Penyerahan penghargaan kepada lulusan terbaik atas nama Ni Komang Yuliani

Romy Dencarik

Tak Ingin Numpang Lewat Mengawali karier dari hobi merupakan pekerjaan yang menyenangkan dan tentu dapat membawa kesuksesan. Hal inilah yang dilakukan oleh penyanyi asli Buleleng, Romy Dencarik. Kesenangannya pada seni tarik suara membuat alumni SMA Negeri 1 Seririt ini masuk dapur rekaman. Bernyanyi di beberapa acara yang diadakan di desanya merupakan awal perjalanan karier dari Romy. “Waktu masih sekolah itu pertama kali tahu yang namanya lomba nyanyi,” ujar pria yang bernama asli Putu Swandana ini. Ia menjadi juara II dalam lomba nyanyi peringatan HUT Kota Singaraja yang dilakukan di Unipas. Ini membuatnya bertemu dengan seorang produser. “Langsung ketemu dengan Ary Kencana yang punya Kencana

Romy Dencarik

Production,” lanjut anak pertama dari pasangan Putu Grantika dan Made Srinadi ini. Mendapat tawaran dari produser ternama tentu membuat

pria yang pernah menjadi harapan II dalam lomba nyanyi HUT Radio Genta ini senang. Bergabung dalam album kompilasi Kencana Pro 2, Romy juga sudah meluncur satu judul untuk lagunya. “Single pertama judulnya “Rejuna Kolok” ciptaan Guz Nox dan arranger Bli Dek Arta,” tambah pria kelahiran 10 November ini. Lagu “Rejuna Kolok” merupakan lagu yang dipilihkan langsung oleh sang produser untuk dirinya. “Secara tidak langsung ada kemiripan kisah,” imbuhnya dengan nada bercanda. Lagu tersebut bercerita tentang seorang pria yang berparas tampan dan kaya namun tidak memiliki keberanian untuk menyatakan cinta pada pujaan hatinya. Sebelum bergabung dalam Kencana Pro, pria yang mengidolakan Ary Kencana dan Widi Widiana ini juga sudah pernah

Dara

Edisi 891/ 7 - 13 MARET 2016

Melebur Kekotoran

9

tkh/eka

Penyerahan akreditasi BAN PT oleh Koordinator Kopertis Wilayah VII Prof. Dasi kepada Rektor IKIP Dr. Made Suarta. Semua Prodi dan institut terakreditasi B

pernah mendapatkan Juara I Catur Cepat tahun lalu di Singaraja, Gusti Ayu Yuni Astari memperoleh perunggu perak pada Pekan Olah Raga Nasional dan sejumlah mahasiswa berprestasi lainnya. Kegiatan positif lain yang berhasil ditorehkan mahasiswa IKIP PGRI Bali adalah melestarikan kesenian tradisional Arja dan secara berkala tampil di Taman Budaya, Denpasar. Seka Arja mahasiswa ini juga sering tampil ngayah di berbagai pura di wilayah Bali. “Sebagai wujud pengabdian masyarakat, kami sering juga mengadakan bakti sosial di berbagai daerah. Akhir tahun lalu kami melakukan bakti sosial di wilayah Sangeh dengan melibatkan mahasiswa Jurusan Bahasa dan Seni,” katanya. Dikatakannya, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) IKIP PGRI Baru dan

dosen baru-baru ini juga mengadakan kegiatan serupa di Batur, Kabupaten Bangli. Ketika mengadakan kegiatan bakti sosial itu, ternyata ditemukan beberapa anak yang mengalami gangguan dan dibelit problematika yang pelik. BEM pun akhirnya memutuskan untuk menangani kasus anak bermasalah ini agar mendapatkan solusi terbaik. Dalam pidatonya, Koordinator Kopertis Wilayah VIII Prof. Dasi Astawa juga menegaskan bahwa di era kekinian, setiap insane manusia termasuk wisudawan dituntut kerja keras, kerja keras, dan kerja ikhlas agar tetap eksis, mampu bersaing dan menjadi pemenang. Pada Wisuda Sarjana XXXVIII IKIP PGRI Bali tersebut, tampil sebagai lulusan terbaik, mahasiswi dari Prodi Pendidikan Bahasa dan Satra Indonesia dengan IPK 3,64, atas nama Ni Komang Yuliani. –ten

membuat lagu hanya saja dalam penggarapannya belum maksimal. “Tiwas nanging Satya” dan “Segara Penimbangan” adalah lagu yang pernah dipromosikan lewat media radio. Tidak sampai di sana, pria yang pernah gagal dalam audisi BRTV ini tetap bangkit dan berkarya hingga bisa meraih mimpi yang tertunda. Setelah selesai menggarap klip video untuk lagu “Rejuna Kolok”, kakak dari Made Dwi Wardana ini mengaku akan segera launching untuk single-nya. “Sudah diserahkan ke management untuk promosi ke stasiun televisi itu sudah wewenang dari Kencana Pro,” imbuhnya. Sebagai penyanyi Bali asal Desa Dencarik, Romy mengaku sangat bangga dengan perkembangan musik di Bali khususnya

di Buleleng. “Sangat bagus, musisi sudah banyak dan anak muda sudah tidak malu lagi megending Bali,” ucapnya. Dia juga berharap perkembangan musik didukung pula dengan fasilitas yang memadai. “Pengen sih ada studio rekaman di Singaraja agar tidak jauh-jauh ke Denpasar. Untuk yang punya keterbatasan jarak dan waktu kan masih bisa tetap jalan,” imbuhnya. Menyadari eksistensi di dunia entertain tidak selamanya baik, maka dia pun selalu ingin berkarya. “Rencana penggarapan single selanjutnya pasti ada biar tetap eksis, biar tidak sekadar numpang lewat saja,” tambah penyanyi yang selalu menyanyikan lagu-lagu melankolis agar memiliki ciri khas di telinga pendengar. -Wiwin

Melasti merupakan rangkaian dari Hari Raya Nyepi. Upacara Melasti ini dilakukan antara empat atau tiga hari sebelum Nyepi. “Melasti adalah upacara yadnya yang bermakna untuk menghilangkan kekotoran diri, meningkatkan keheningan pikiran, dan juga dilaksanakan untuk kesucian jagat raya. Ini yang disimbolisasikan dengan labuhan sesaji atau upacara yadnya ke laut serta menyucikan seluruh arca, pratima, nyasa, pralingga sebagai wujud atau sthana Ida Sang Hyang Widi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa dengan segala manifestasi-Nya,” ujar Jero Mangku Anom Dirgayusa.

M

elasti dalam Babad Bali, disebutkan merupakan rangkaian dari hari raya Nyepi. Melasti juga disebut melis atau mekiyis. Bertujuan untuk melebur segala macam kekotoran pikiran, perkataan dan perbuatan, serta memperoleh air suci (angemet

tirta amerta) untuk kehidupan yang pelaksanaannya dapat dilakukan di laut, danau, dan pada sumber / mata air yang disucikan. Bagi Pura yang memiliki pratima atau pralingga seyogyanya mengusungnya ke tempat patirtan tersebut di atas. Pelaksanaan secara ini dapat dilakukan beberapa hari sebe-

lum tawur. Dalam lontar Sang Hyang Aji Swamandala disebutkan Melasti ngarania ngiring prewatek Dewata, anganyutaken laraningjagat, papa kiesa, letuhing bhuwana . Maksudnya, melasti meningkatkan bakti kepada para dewata manifestasi Tuhan, agar diberi kekuatan untuk menghanyutkan penderitaan masyarakat, menghilangkan papa klesa atau kekotoran diri dan kekotoran alam semesta.

Melasti berasal dari kata lasti. yang artinya menuju air. Dalam konteks prosesi melasti, umat bisa mendatangi segara (laut), danau dan campuan (pertemuan dua buah sungai). Tujuannya, nunas (mohon) tirta amertha dan menghanyutkan kekotoran dunia. “Agama Hindu sangat fleksibel tidak harus kita melaksanakan melasti ke pantai. Bisa juga dilaksanakan di mata air yang dianggap mereka suci. Misalkan saja umat Hindu yang ada di daerah pegunungan kan tidak mungkin mereka harus jauh-jauh datang ke pantai sedangkan disana ada danau, nah di danau itulah mereka melaksanakan melasti/mekiyis. Danau pun juga sebagai sumber mata air yang disucikan oleh umat Hindu,” ujar warga Br. Mawang, Lodtunduh, Ubud ini. -Rukanta

Jero Mangku Anom Dirgayusa

Toleransi Menjaga Kekompakan HUT Ke-47 Perdiknas Denpasar Pacu Kualitas SDM

Dalam rangkaian perayaan HUT ke-47 Perdiknas Denpasar, telah dilaksanakan berbagai kegiatan, berupa lomba dan pemberian penghargaan. Peringatan HUT kali ini mengusung tema yang menitikberatkan pada peningkatan kualitas seluruh SDM yang ada di lingkungan Perdiknas, “Melalui HUT Perdiknas Kita Cerdaskan SDM dalam Menghadapi MEA”. Tampak suasana usai pemotongan tumpeng HUT ke-47 Perdiknas Denpasar, yang dihadiri oleh ketua Perdiknas dan jajaran Pengurus lainnya serta yang istimewa hadirnya salah seorang pendirinya yakni pasangan Bapak Sambreg dan Ibu Nyoman Kundri. –Sri Ardhini

Segera Pagelaran 100 Kebaya

Indonesia Fashion Chamber (IFC) Denpasar kembali menggandeng Jurusan Desain Mode ISI Denpasar untuk menyelenggarakan Pagelaran 100 Kebaya. Kali ini teman yang diangkat adalah “Pesona Nusantra”. Persembahan yang kedua kalinya ini akan berlangsung pada 29-30 April 2015, di Gedung Natya Mandala Aphitheater, ISI Denpasar. Bagi para desainer kebaya yang ingin menunjukkan karyanya untuk Bali dan Indonesia umumnya, kesempatan masih terbuka. Begitu juga dengan para pecinta dan penggemar kebaya yang ingin melihat aneka kebaya dari seantero wilayah Nusantara ini, mulai dari kebaya tradisional hingga model kebaya modern hasil inovasi para perancang, jangan lewatkan kesempatan ini. Selain pagelaran kebaya, di lokasi yang sama juga akan dilaksanakan Seminar Fashion serta Exhibition Art Instalation. Untuk informasi lebih lanjut silakan menghubungi : Monika Weber 081 734 9929 ; Yenli Wijaya 0813 3875 5959 dan Dewi Suarjani 0812 4664 723 – Sri Ardhini

Perayaan hari raya Nyepi tentu memiliki kesan tersendiri bagi masing-masing orang. Persiapan untuk menyambut perayaan yang datang setahun sekali ini pun akan berbeda setiap orang. Hal ini juga dirasakan oleh Kadek Dodi Krisnawan. Siswa kelas XI di SMK Negeri 3 Singaraja ini mengaku menjelang Nyepi kegiatan yang dia lakukan cukup sibuk. Sebagai warga masyarakat yang menginjak remaja maka Dodi, sapaan akrabnya sudah masuk Seka Teruna di desanya. Meskipun sibuk sekolah ia mengaku selalu meluangkan waktu jika memang ada kegiatan yang melibatkan ST. “Sekarang kan lagi sibuk membuat ogoh-ogoh, ya saya ikut berpartisipasi,” ujar pria kelahiran 7 Mei ini. Adanya kegiatan membuat ogohogoh ini dirasa sangat bagus untuk menumbuhkan kreativitas di kalangan anak muda. “Pembuatan ogohogoh ini menjadi ajang kreativitas muda-mudi di banjar dan berkreasi semaksimal mungkin,” ujar anak dari pasangan Kadek Cakra Negara dan Kadek Ariani ini. Selain berkreasi dalam pembuatan mereka juga dapat berkreasi dalam bidang tari dan baleganjur untuk pelengkap atraksi ogoh-ogoh. Pria yang meraih peringkat pertama di kelasnya ini juga tidak

Kadek Dodi Krisnawan

menampik jika persiapan menyambut hari raya melalui pembuatan ogoh-ogoh ini cukup menyita waktu. “Kebutulan pembuatannya tahun ini di banjar Anyar desa Anturan,” imbuhnya. Di malam pengrupukan ogoh-ogoh akan diarak keliling desa. Biasanya di desa Anturan selalu menampilkan pementasan lewat cerita fragmen dari ogoh-ogoh yang dibuat. “Ada pementasan fragmen jadi kami harus latihan juga, biasanya dua minggu sebelum ditampilkan,” ujar anak kedua dari empat bersaudara ini. Ia

dan teman-temannya harus bekerja lebih ekstra karena selain membuat, mereka juga harus mementaskan sebuah pertunjukan untuk menghibur masyarakat sekitar. Proses latihan fragmen biasanyan dilakukan secara rutin menjelang pementasan. Latihan dilakukan pada waktu malam hari agar semua yang ikut baik siswa maupun yang sudah bekerja bisa datang mengikuti latihan. Untuk siswa yang mempunyai tugas sekolah disarankan untuk mengatur waktu agar bisa hadir saat latihan. “Kalau punya tugas sekolah sebaiknya dikerjakan dulu sepulang sekolah,” imbuhnya. Sebagai seorang siswa Dodi juga tidak melupakan kewajibannya untuk sekolah. Oleh sebab itu, mengatur waktu adalah kunci utamanya. “Saya dan muda-mudi di banjar saling bergantian, kalau masih sekolah bisa membantu selepas pulang sekolah,” tambahnya. Adanya rasa toleransi dan tanggung jawab merupakan hal yang sangat penting untuk menjaga kekompakan satu dengan yang lainnya. “Kami selalu melakukan rapat atau pertemuan untuk membahas dan menyampaikan pendapat,” ujar pria kelahiran Singaraja ini. Selain itu, hal tersebut juga dimaksudkan untuk mempererat hubungan persaudaraan muda-mudi di banjar. -Wiwin


8

Bunda & Ananda

Edisi 891/ 7 - 13 maret 2016

Maksimalkan Pujian Minimalkan Hukuman Sering kali kita mendengar pertanyaan diantara orangtua mengenai pujian ataupun hukuman. Entah bagaimana bentuknya atau kapan keduanya bisa diberikan. Hal ini karena pujian dan hukuman masuk dalam proses mengasuh anak-anak.

“A

nak saya berhasil menjadi juara lomba fotogenik. Ternyata dia bisa menunjukkan potensinya. Sebagai orangtua, saya memberi pujian dan memotivasinya untuk sering ikut lomba untuk menambah pengalaman. Berikutnya, dia sering menang lomba,” ungkap Bu Yus. Pengalaman lain diungkapkan Bu Eka. Ia pernah menjewer anaknya karena tak mau mencuci piring. “Disuruh cuci piring tidak mau. Dia sibuk nonton televisi. Akhirnya saya jewer sebagai hukuman,” kenangnya Menurut Made Padma Dewi Bajirani, S.Psi., pujian dan hukuman sudah cukup lama menjadi bahasan dalam kajian psikologi. “Pujian adalah salah satu bentuk apresiasi terhadap usaha maupun hasil kerja orang lain yang biasanya disampaikan dalam bentuk verbal. Secara lebih luas, pujian dapat dimasukkan ke dalam reward umumnya kita kenal sebagai penghargaan atau hadiah. Penghargaan adalah sesuatu yang menyenangkan yang diberikan kepada seseorang (dalam hal ini anak) karena telah mencapai tujuan yang sudah dikehendaki. Kita mengenal hadiah sebagai sesuatu yang “wah…” dan hanya diberikan pada momen-momen istimewa. Tetapi ternyata, bentuk hadiah bisa kita mulai dari sesuatu sederhana,” ujarnya. Bentuk penghargaan yang paling sederhana adalah senyuman. Seorang anak secara natural akan merasakan kesan yang positif salah satunya yaitu perasaan semangat ketika melihat senyuman dari orangtua mereka. Kedua, dalam bentuk sentuhan dan verbal yang biasanya tersirat dalam bentuk pujian. Hadiah layaknya sentuhan dan pujian bisa dilakukan misalnya dengan pelukan, tepuk tangan, toss, mengucapkan “terima kasih”, “Ayah bangga!”, “Wah, anak ibu sudah berusaha ya”. Ketiga, bentuk hadiah dalam bentuk material, seperti membelikan barang-barang kesukaan anak, liburan, makan bersama, bahkan sampai perayaan. Ayah dan Bunda perlu berhati-hati dengan setiap bentuk reward yang diberikan. Apapun bentuk hadiah atau penghargaan yang Ayah dan Bunda berikan kepada buah hati tercinta, ingatlah bahwa bukan besar-kecilnya

Made Padma Dewi Bajirani, S.Psi.

atau murah-mahalnya bentuk penghargaan tersebut yang dikenang oleh anak. Melainkan pemaknaan anak terhadap penghargaan yang diterimanya. “Ketika memberikan penghargaan atau hadiah pada anak dalam bentuk apapun, hal yang perlu kita tekankan adalah penghargaan atas bagaimana proses anak mencapai keberhasilannya. Lakukan secara konsisten, jelas, dan adil. Hindari pemberian hadiah atas hasil yang dicapai anak. Penelitian menunjukkan jika seorang anak terbiasa dengan imbalan untuk mencapai suatu hasil, maka akan ada kecenderungan seorang anak untuk bosan melakukan aktivitas tersebut. Bahkan, terdapat peningkatan harapan dari anak untuk mendapatkan bentuk penghargaan yang ‘lebih’ dari sebelumnya,” ujar pengurus Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Bali ini. TUMBUHKAN RASA TANGGUNG JAWAB Pada umumnya, orangtua akan memberikan hadiah atau penghargaan ketika anak berhasil mencapai suatu tujuan yang diharapkan. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, ‘harapan siapa’? Harapan orangtua, guru, atau memang harapan dari anak itu sendiri. Ketika harapan tersebut adalah harapan yang bermakna positif bagi orangtua dan anak serta menyenangkan untuk dijalani oleh seorang anak, tidaklah menjadi sesuatu yang buruk. Tetapi saat harapan orangtua berubah menjadi sebuah tuntutan sebenarnya inilah ‘bibit-bibit’ hukuman. “Menghukum menjadi

suatu jalan yang bisa dilakukan untuk memberikan ganjaran bagi anak karena telah melanggar aturan atau melakukan kesalahan. Umumnya, hukuman mengacu pada pemberian ‘hal yang tidak menyenangkan’ atau berkesan negatif dengan tujuan mengurangi perilaku yang tidak diharapkan. Serupa dengan penghargaan, hukuman juga bersifat verbal dan nonverbal. Bentuk verbal yang biasanya dilakukan adalah menegur, membentak, marah dan lainnya, sedangkan bentuk nonverbal adalah melakukan tindakan secara fisik seperti mencubit, memukul, bahkan hingga kekerasan fisik pada anak,” ujar perempuan yang akrab disapa Padma ini. Menurutnya hukuman dapat dilakukan untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab pada anak akan apa yang telah dilakukannya. Secara tidak langsung, fungsi ini bisa membentuk kedisiplinan pada

anak. Karena hukuman adalah sesuatu yang tidak menyenangkan, maka anak akan berusaha untuk tidak mendapatkannya dengan cara mengurangi perilaku yang tidak disukai. Selain itu, memang pada dasarnya efek jera akan sangat mudah ditimbulkan. “Berdasarkan teori operant conditioning B.F. Skinner, penghargaan dan hukuman biasanya disisipkan dalam proses untuk mengubah perilaku. Adanya hadiah maupun hukuman, setiap anak akan makin termotivasi untuk mencapai perubahan perilaku yang lebih baik. Keduanya samasama memiliki kelebihan dan kelemahan. Hukuman maupun hadiah pada umumnya dikatakan bisa memotivasi anak. Tetapi, kedua bentuk ini adalah motivasi eksternal atau motivasi yang berasal dari luar diri anak,” jelas alumnus Program Studi Psikologi Universitas Udayana yang kini menempuh pendidikan Magister Psikologi Profesi di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini. Jika ditanya tentang apa yang menjadi tolak ukur kapan orangtua boleh menghukum atau memberi penghargaan. Jawabannya adalah memberikan sesuatu yang ‘pas’ sesuai dengan perilaku anak. Ayah dan Bunda bisa memulainya dengan sesuatu yang sederhana. Bahkan sebaliknya, tidak serta merta memberikan sesuatu yang terlalu ‘wah’ setiap kali anak berprestasi. Ingatlah ‘maknanya’. Begitu pula dengan hukuman. Bukan berarti ketika anak melakukan hal kecil yang tidak sesuai lantas hukuman bisa diberikan.

Misalnya, anak tidak mau mencuci piring setelah makan, lantas kita memukulnya. Sangat tidak disarankan. Karenanya, berhati-hatilah hukuman dapat membekas dalam ingatan seseorang. Apa yang orangtua bisa lakukan untuk memaksimalkan pujian meminimalkan hukuman? Pertama adalah mengubah semua tuntutan Ayah dan Bunda menjadi suatu permintaan sehingga anak tidak akan merasa terbebani dan ‘senang’ untuk melaksanakannya. Kedua, Ayah dan Bunda bisa mengajak anak untuk membuat kesepakatan bersama akan konsekuensi dari setiap perilaku anak. Mengajarkan akan apa hak dan kewajibannya, sehingga terjadi ‘negosiasi’ terbuka antara orangtua dan anak. Jika memang Ayah dan Bunda ingin mengajarkan kedisiplinan dan tanggung jawab pada anak, tanamkan pada benak Ayah dan Bunda jika kekerasan bukanlah jalan yang tepat. Marah mungkin menjadi suatu yang wajar saat anak mulai malas-malasan, lupa kewajibannya, melanggar aturan keluarga. Lihatlah kembali usia berapa anak Ayah dan Bunda saat ini? Apakah Ayah dan Bunda sudah menjadi role model (alias panutan) bagi anak? Hukuman tepat dijadikan alat untuk memupuk disiplin dan tanggung jawab, bukan karena anak gagal memenuhi tuntutan. Ketiga, hadiah dan hukuman sebaiknya diberikan pada ‘porsi yang pas’. Keempat, jadilah panutan yang sepantasnya bagi anak. –Ngurah Budi

Mendongeng Lima Menit teropong ajaib

Orang-orang desa menjuluki anak laki-laki itu si Pembohong. Mendapat julukan demikian karena sehari-hari anak itu suka berbohong. Dengan kepandaiannya memainkan lidah, ia berbicara seolahMade Taro olah ceritanya benar terjadi. Orang tuanya sangat malu melihat perangai anak itu. Pada suatu hari si Pembohong berlari-lari mendekati orang tuanya yang sedang sibuk bekerja. “Kebakaran! Kebakaran!” teriaknya. Kedua orang tuanya mengambil air secepatnya. Mereka mencaricari tempat kebakaran itu. Tetapi tak ada asap yang mengepul. Ketika mendapati anak itu bersembunyi, kedua orang tua itu marah. “Tak henti-hentinya kamu berbohong! Pergi kamu!” katanya. Anak laki-laki itu pergi entah ke mana. Ia tidak berani pulang. Ia hanya berputar-putar di sekeliling desa. Di tempat yang sepi ia memungut sepotong bambu buluh. Ia bermain seolah-olah bambu itu bisa digunakan teropong. Di pinggir hutan tiba-tiba ia melihat seekor sapi tertambat di batang pohon nangka. Ia tidak perduli dan tidak akan menceritakan hal itu kepada orang lain. Ia tinggalkan tempat itu lalu menuju pantai. Tiba-tiba ia mendapati sebuah jukung penuh dengan barang-barang. Ia tidak perduli dan tidak akan menceritakan hal itu kepada orang lain. Ketika balik ke pemukiman, ia mendapati orang-orang desa beramai-ramai berkumpul di rumah Kepala Desa. Ia mencoba menguping. “Sapi kesayangan saya hilang, Bapak Kepala Desa,” kata seorang petani.

“Barang-barang jualan saya hilang, Bapak Kepala Desa,” kata saudagar Cina. Kepala Desa berpikir keras mendengar berita kehilangan itu. Ia mengajak semua warga berkeliling mencari hewan dan barang-barang itu, sekalian dengan menangkap pencurinya. “Tenang, Bapak-bapak!” tiba-tiba anak pembohong itu berkata. Mendengar suara anak kecil itu, warga desa ribut-ribut. Mereka menuduh anak itu akan membohonginya. “Kali ini saya tidak berbohong. Saya hanya ingin membantu warga yang kehilangan. Saya dapat melihat hewan dan barang-barang itu melalui bambu buluh ini.” Warga desa kembali ribut. Mereka mengajak semua orang untuk tidak memercayai omongan anak kecil itu. Tetapi Kepala Desa mengajak warganya untuk mendengarkan keterangan anak itu. “Sapi itu ditambatkan di pohon nangka di pinggir hutan. Barang-barang itu ada dalam jukung,” kata anak itu sambil meneropong lewat bambu buluhnya. “Pencuri itu segera akan mengangkut hewan dan barang-barang itu.” Sebagian orang terpengaruh akan ucapan anak kecil itu. Mereka lalu menuju tempat yang dimaksud. Ajaib! Orang-orang desa itu kembali ke rumah Kepala Desa sambil membawa sapi dan barang-barang yang hilang itu. Keesokan harinya, orang-orang desa berkehendak untuk mengetahui, siapakah pencuri itu. Mereka mendatangi anak kecil peneropong itu. Namun anak yang suka berbohong itu menjawab, “Sayang sekali, Bapak-bapak terlambat. Bambu teropong itu sudah saya kembalikan kepada dewa pemiliknya.” Anak kecil itu tersenyum. Hati kecilnya berkata, “Ini kebohonganku yang terakhir.”

Edisi 891/ 7 - 13 maret 2016

17

Semarak 10 Tahun Tut De Wedding

Gekar UJK dan Lomba Make Up Modern & Inovasi Kemeriahan terlihat jelas hari itu. Suasana semakin meriah ketika para model dari peserta Uji Kompetensi payas Agung gaya badung melenggang di panggung. Kilatan blitz kamera pun memenuhi ruangan. Penonton tak kalah seru dengan tepuk tangannya yang meriah. Begitulah gambaran yang terekam dalam acara Perayaan “10 Tahun Tut De Wedding” di Grand Santhi Hotel, Denpasar pada Minggu (28/2).

nya dapat meningkatkan kemampuan atau skill seorang penata rias. Apalagi semua peserta ujian telah mendapatkan pelatihan dengan baik di Sanggar Tut De sekitar dua bulan. “Kami hanya m e m b a n t u mereka denga n m e m b a n gunkan seluruh potensi ya n g a d a d a n memaksimalkannya. Ujian inilah pembuktiannya. Di sini juga kami sekaligus mempromosikan kemPuncak HUT ke 10 Tut De Wedding bali Tata Rias ada hari yang Pengantin Bali Agung Gaya m e m b a h a g i a - Badung,” ujarnya. kan bagi keluSelain ujian, juga diarga besar Tut laksanakan Lomba Make De Wedding ini, acara dim- Up Bali Modern Inovasi, ulai dengan kegiatan ujian yang diikuti oleh peserta lokal (pemantapan) bagi 22 dari seluruh kabupaten/ orang anak didik Sanggar kota se-Bali. Menarik lagi, Tut De. Sebelumnya pada selain antusiasme peserta Minggu (14/2) sudah pula yang mencapai jumlah 70 dilangsungkan ujian untuk orang, peserta lomba juga mereka di Pop Haris, Den- datang dari luar Bali yakni pasar. dari Lombok, Jawa Timur Menurut Ketut Suarna dan DKI Jakarta. yang lebih dikenal dengan Masih di acara 10 Tahun panggilan Tut De, selaku Tut De Wedding, tak ketingo w n e r Tu t D e We d d i n g , galan penonton disuguhi Ujian Kompetensi yang dii- demo make up yang spekkuti oleh ke 22 orang anak takuler dari Jacky Timurdidiknya ini, diharapkan- tius, seorang penata rias

P

Pemenang 1 Sanggar Tut De

10 Tahun Tut De Wedding

senior dari Jakarta, yang berkolaborasi dengan balu t a n b u s a n a p e n ga n t i n sentuhan tangan seorang Tut De. Selanjutnya tak ketinggalan parade koleksi pengantin dengan gaya Modern Inovasi dari Tut De Wedd i n g ya n g b e r h a s i l m e mukau semua yang hadir. Sebelum acara berakhir beberapa teman, sahabat dan klien Tut De sembari mengucapkan selamat mereka juga menyampaikan rasa puasnya ketika ditangani oleh Tut De , yang memang d i ke n a l b e ke r j a d e n g a n p ro fe s s i o n a l d a n p e n u h tanggung jawab. Di tengah kesibukannya menerima ucapan selamat, Tut De, dengan bendera Tut De Wedding-nya yang semakin berkibar di Bali bahkan tingkat nasional ini, kembali menekankan kepada para penata rias di Bali, khususnya untuk anak didiknya agar menjadi seorang penata rias yang baik dan benar, dalam mengeksplor kebisaannya merias hendaknya men a m p i l ka n ya n g te rb a i k tanpa meninggalkan unsurunsur Bali-nya.

Bu Agung dan Para pemenang kategori berbakat Sanggar Tu De

Pemenang 1, 2 dan 3 Sanggar Tut De

Para Model mengenakan payas Agung Badung

Para Pemenang Lomba Pemenang Lomba peserta pelatihan anggota Sanggar Tut De Wedding : Pemenang ke 1 Ni Made Ima Andini ; Pemenang ke 2, Ni Ketut Neny Indriyani dan Pememang ke 3 diraih oleh Ni Luh Yurinawati Pemenang Lomba Make Up Bali Moderen Inovasi : - Pemenang ke 1direbut oleh Davien Fill dari DKI Jakarta; Pemenang ke 2 adalah Surya dari Mataram, Lombok; dan Pemenang ke 3 diraih Kadek Juliawati, Badung Bali. - Selanjutnya Pemenang Harapan 1, Ocha dari Banyuwangi, Jawa Timur; Pemenang Harapan 2 Ryan dari Negara, Bali; dan Pemenang Harapan 3, Dian dari Gianyar, Bali. - Selain pemenang utama di atas pada kesempatan tersebut juga diberikan penghargaan ke pada 11 orang Pemenang Kategori Berbakat , yang dipilih satu dari setiap Kabupaten/Kota asal peserta. -ard


18

Life

Edisi 891/ 7 - 13 MARET 2016

Megoak-goakan merupakan permainan asli tradisional dari Bali Utara. Permainan ini konon sangat digemari oleh Ki Barak Panji Sakti, Raja Buleleng yang dikenal sebagai seorang ksatria yang gagah perkasa. Megoak-goakan merupakan pementasan ulang dari sejarah kepahlawanan Ki Barak Panji Sakti yang dikenal sebagai Pahlawan Buleleng ketika menaklukan Kerajaan Blambangan di Jawa Timur.

K

ata megoak-goakan diambil dari kata goak yang berarti burung gagak. Burung gagak sebagai burung yang tidak akan melepaskan mangsanya. Megoak-goakan adalah salah satu bukti kekayaan budaya dan tradisi di Bali yang masih dipertahankan kelestariannya sampai saat ini. Permainan tradisional rakyat khas Desa Panji ini biasanya dipentaskan menjelang Hari Raya Nyepi tiba. Secara turun-temurun megoak-goakan konsisten terus dilaksanakan dan dijaga kelestariannya sampai kini. Filosofi dari permainan ini sebagai wujud purusa dan pradana (laki-laki dan perempuan). Permainan ini biasanya diperankan oleh sebelas orang dari purusa dan sebelas orang dari pradana. “Dahulu megoak-goakan sebagai strategi yang digunakan dalam peperangan,” ujar Marsa-

Nyoman Marsajaya, S.Pd.

jaya, Kelian Banjar Dusun Kelod Kauh, Desa Panji. Kemenangan dalam permainan jika berhasil menangkap ekor (orang terbelakang) dari kelompok lawan. Seiring perkembangan zaman untuk tetap melestarikan tradisi megoak-goakan, Marsa mengungkapkan rutin melakukan tradisi tersebut sehari setelah hari raya Nyepi. Jika dahulu

tradisi ini dilakukan oleh kelom­ pok pecalang maka sekarang dilakukan oleh muda-mudi desa Panji. “Kadang-kadang anak-anak takut kotor, megoak-goakan itu pakai lumpur,” ujar Marsa yang merupakan satu-satunya kelian banjar yang belum berkeluarga. Desa Panji sebenarnya memiliki lapangan cukup luas untuk dijadikan tempat megoak-goakan yang letaknya di Dusun Kelod Kauh. “Kami pilih jalan tengah, kami tidak mau pemuda pemudi di sini terkotak-kotak yang nantinya menimbulkan perpecahan,” imbuhnya. Megoak-goakan itu sendiri dilakukan di tanah kosong atau areal persawahan yang dipin­ jamkan oleh warga. PAKAIAN SEADANYA Selain tetap melakukan tradisi megoak-goakan setiap tahun, upaya yang dilakukan oleh warga desa Panji adalah melakukan pementasan. Dalam acara-acara yang diselenggarakan di Buleleng megoak-goakan bisa dipentaskan sampai tiga kali dalam setahun. Untuk melakukan regenerasi para pemain maka masing-masing banjar akan diwakili oleh muda-mudi. Melalui sanggar Panji Masuryak, pria kelahiran13 Desember ini mengungkapkan ingin mewadahi kreativitas anak-anak Desa Panji. Setiap akan dilakukan pementasan maka anggota sanggar melakukan latihan secara rutin. Tidak hanya mementaskan megoak-goakan namun anggota sanggar Panji Mesuryak ini juga memiliki berbagai macam kegiatan, diantaranya seni lukis, baleganjur, drama teater, dan angklung. Namun, masih ada ken­dala dalam setiap pementasan yaitu masalah pakaian. “Jujur saja kami masih bingung

Anggota Sanggar Panji Masuryak sebelum pentas

Edisi 891/ 7 - 13 MARET 2016

Warung Sableng Bermodal 4T

Megoak-goakan

Menang jika Tangkap Ekor Lawan

Story

Megoak-goakan sebagai tradisi asli Desa Panji

dengan pakaian yang digunakan, kami tampil dengan pakaian seadanya,” lanjut Marsa. Padahal jika pakaian yang digunakan menarik maka hal itu juga akan men-

jadi daya tarik untuk menonton. Ke depannya ia sangat berharap ada bantuan dari desa untuk tetap melestarikan tradisi megoakgoakan. -Wiwin

Pura Bukit Batu Kursi

Tempat Mohon Jabatan

Mei dan teman-temannya

di lokasi sangat bagus jika digunakan sebagai latar atau background foto. “Kalau pas musim hujan rumput kelihatan hijau jadi keren pake foto,” tambah Mei. Akses jalan menuju Pura ini pun juga sudah sangat baik. Jika saat memasuki area menemukan jalan tanah dan berbatu maka jangan khawatir karena saat menuju ke bukit sudah disediakan ratusan anak tangga untuk mempermudah perjalanan sampai ke puncak. “Pas naik capek tetapi sampai di atas puas banget,” ucap Mei dengan ber­semangat. -Wiwin

Pura Bukit Batu Kursi merupakan pura yang terletak di Barat Daya Pura Pemuteran, Kecamatan Gerokgak, Buleleng. Pura ini merupakan salah satu Pura yang letaknya dekat dengan Pura Pulaki. Banyak yang menafsirkan bernama Pura Bukit Batu Kursi karena terdapat batu yang berbentuk kursi. Letaknya di puncak bukit membawa daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Bahkan beberapa warga yakin jika berdoa di Pura ini untuk memohon petunjuk agar mendapat jabatan atau kedudukan. Tidak hanya warga yang ingin melakukan persembahyangan tetapi banyak fotografer yang datang untuk sekadar mengabadikan momen di tempat ini. Dari sudut ini pe­ Pemandangan di sekitar pura ngunjung dapat melihat keindahan hamparan bukit nan hijau dari sang pencipta. Maka tidak jarang masyarakat rela jauh-jauh datang karena ingin mengobati rasa penasarannya. Salah satu pengunjung adalah Putu Mei Anjas Sari, warga Desa Banyualit yang datang ke tempat ini untuk menikmati liburan akhir semester. Berawal dari rasa penasaran ia pun mencari tahu lokasi pura tersebut. “Pertama lihat foto di media sosial, lalu tanya-tanya di mana tempatnya,” ujarnya. Menyuguhkan view yang sangat memesona tentu tidak akan ada yang menolak datang ke tempat ini. Dikatakan pula bahwa Jalan berupa anak tangga

Sangat banyak warung kaki lima di Mataran yang menyiapkan berbagai menu lalapan. Namun, yang memiliki ciri khas dengan cita rasa dan keunikan namanya, tampaknya menjadi keunggulan dari usaha kuliner yang dirintis Ahmad Syafaat dengan nama Warung Lalapan Sableng (Warlap Sableng). Berangkat dari modal pas-pasan dan kemauan yang keras serta tekad yang kuat membuat Syafaat berhasil melewati masa-masa sulit perintisan usahanya ini dengan baik. selama dua hari dua malam menuju Pulau Lombok. “Hanya Allah yang tahu perjalanan kami, pokoknya hari itu kami jalan saja menuju Pulau Lombok,” ujarnya. Hanya berbekal satu tas pakaian, pasangan suami istri ini menapakkan kakinya di Lombok untuk pertama kalinya di tahun 2010 dengan tekad ingin berjualan tahu tek. Tiba di Mataram, Syafaat hanya mengenal saudaranya yang telah lebih dahulu bekerja di sini. Selebihnya ia tak mengenal siapa-siapa. Memulai usaha kuliner, di tempat yang Ahmad Syafaat asing dan tidak pernah memiliki ika mau membuka usaha pengalaman usaha di bidang ini kuliner, mengapa ia harus sebelumnya, Syafaat hanya mejauh-jauh ke Lombok yang jelas megang keyakinan yang teguh asing baginya? Ditambah lagi ia bahwa ia datang dan istrinya sama-sama tidak k e M a t a r a m pernah memiliki keahlian secara untuk mencari khusus untuk memasak. Tentulah penghidupan. ini menjadi tantangan yang berat Belum apa-apa, bagi keduanya. Namun, Syafaat di hari pertama memilih keluar dari zona nya- berjualan tahu man dalam memulai usahanya tek, ia diusir ini dengan bekerja keras. dari teras ruko Bermodalkan prinsip 4 T akibat adanya (telaten, teliti, temenan dan s a l a h p a h a m tinemu) serta uang Rp 1 juta, antara orang Ahmad Syafaat (40) bersama yang memberistrinya Maratusoliha (39) nekat i n ya k o n t r amengarungi laut menyeberangi kan teras ruko pulau untuk sampai di Mataram, dengan pemilik Nusa Tenggara Barat. Dari tanah ruko tersebut. kelahirannya di Surabaya, tak Dengan sedih, usaha kecil kenal lelah, seperti dituntun kuliner sangat sederhana miSyafaat membonceng istrinya liknya harus berpindah lokasi menggunakan sepeda motor, berjualan di Pagesangan. Namun melakukan perjalanan panjang begitu, Syafaat dan istrinya tetap

J

bersemangat berjualan. “Kalau kami tidak berjualan maka modal akan habis dan kami tak bisa mengandalkan siapasiapa,” ungkap Syafaat. Karena itu, ia demikian gigih berjuang. Beruntungnya, bisa dikatakan Syafaat menjadi salah seorang penjual tahu tek yang pertama di Mataram sehingga dagangannya sangat laku. “Tiap malam tahu tek kami laku,” ujarnya. Untuk menyiapkan dagangannya, Syafaat memulainya sejak dinihari dan berjualan malam hari. Itu dilakukannya setiap hari dengan tekun. Buah dari ketekunan dan kegigihannya, enam bulan kemudian, Syafaat menambah menu warung kaki limanya itu dengan lalapan. Uniknya, warung lalapan ini diberinya nama Warung Lalapan Sableng atau kerap disingkat Warlap Sableng. Kata sableng berarti sambelnya nyebleng (pedesnya penuh). “Sebenarnya selain berarti sambelnya nyebleng, kata sableng juga inspirasinya dari kebiasaan karyawan saya yang suka bercanda bahkan hingga tengah malam,” ujarnya tertawa. BAGI ILMU Rupanya, Syafaat yang dekat dengan anak buahnya ini kerapkali bercanda sehingga untuk

Syafaat bersama istri merintis usaha kuliner

Pelanggan warung lalapan sangat ramai. Tentu saja bukan sematamata karena nama unik warungnya, melainkan juga racikan bumbu dan sambel lalapannya yang cocok di lidah pelanggannya. Minat masyarakat Mataram terhadap lalapan menurutnya

Salah satu cabang Warlap Sableng milik Syafaat

menambah keakraban, suasana ini disebutnya sebagai ‘sableng’. “Jadilah warung lalapan ini bernama Warlap Sableng,” katanya. Nama ini cukup hoki baginya.

Warung Lalapan Sableng selalu ramai oleh pelanggan

7

cukup tinggi. Ini membuat ayah tiga anak, Fatra Alamsyah (16), Syayid Atina Fajriyah (13) dan Fandy Pradana (3) ini semakin bersemangat membuka cabangcabang. Ditambah dengan keberanian berspekulasi, tiga bulan kemudian, Syafaat telah berani membuka cabang Warlap Sablengnya. Begitu seterusnya. Dengan spekulasi yang penuh pertimbangan matang, akhirnya dalam waktu lima tahun terakhir ini, Warlap Sableng telah memiliki lima cabang dan cukup banyak rekanan. Lima lokasi Warlap Sableng yang berada di Jalan Majapahit, lingkungan Karang Pule, Sandik, Panjitilar dan Gunung Sari, tiap malam selalu ramai dikunjungi pelanggan. Puluhan kilogram ayam dan bebek selalu habis setiap malam. Dalam menjalankan usaha ini, Syafaat juga membagi ilmu kepada anak buahnya. Ia mendidik mereka untuk juga dapat memi-

liki keahlian meracik bumbu dan sambel seperti Warlap Sableng. Karena itulah beberapa dari anak buahnya yang berpengalaman sudah ada yang membuka sendiri usaha kuliner lalapan ini. “Rezeki itu sudah diatur oleh Allah,” ujar Syafaat yang tidak merasa tersaingi oleh mantan anak buahnya. Apa yang dicapai Syafaat hari ini, meski masih banyak orang yang lebih sukses dari dirinya, bukanlah hal yang mudah. Dari ke daerah yang asing, tak kenal siapasiapa kecuali seorang saudara, dengan modal yang seadanya namun tekad yang kuat, membuatnya dapat menikmati pencapaian yang lebih dalam waktu yang tidak terlalu lama. Ramah dan supel serta menjaga kerukunan dalam bergaul menjadi salah satu kunci keberhasilannya hari ini. “Jauh-jauh saya datang dari Jawa, saya ingin mencari saudara,” kata Syafaat yang juga seorang penyuka musik ini. Lahir dan besar di lingkungan yang banyak pemusiknya serta ibu yang seorang vokalis, membuat Syafaat kerap bermain musik di masa remajanya. Kerinduan akan musik yang sudah 19 tahun ditinggalkannya karena sibuk bekerja mencari nafkah, kini mulai kembali digelutinya. Baru-baru ini, ia bahkan bersilaturahmi dengan para pemusik di Mataram menggelar pentas sederhana di Warung Jek Taman Budaya Mataram bertajuk, Musik Rakyat. “Semua jenis musik tampil bersama pada panggung sederhana malam itu,” ujarnya. Silaturahmi musik seperti ini, kini menjadi bagian dari cara Syafaat dalam menambah kawan. -Naniek I. Taufan


6

Woman on Top

Edisi 891/ 7 - 13 MARET 2016

Dr. Solita Sarwono, M.P.H.

M

enurut perem­ puan yang per­ nah mengajar di Leiden Univer­ sity Belanda ini, aktivis seharus­ nya adalah seorang yang mampu menjadi pelopor dan membuat orang lain tertarik untuk mene­rima gagasan mereka. Ia sangat setuju, kalau para aktivis bisa berperan se­ bagai anggota parlemen. Namun, ironisnya, hanya sedikit perem­ puan yang bisa tampil. Alasannya sangat klise karena suami tidak mendukung, bahkan, perempuan sendiri tak mau untuk tampil, walaupun sudah didorong maju. Ia menilai memang perlu ada­ nya edukasi yang terus menerus. “Saya sangat setuju dengan revo­ lusi mental. Edukasi yang bisa mengubah mindset. Edukasi ini dimulai dari ke­luarga. Belajar tidak membedakan perempuan dan lakilaki. Pendidikan perempuan dan laki-laki harus sama. Perempuan juga bisa sekolah tinggi. Sehingga tak lagi ada, perempuan yang berpikir, tidak enak dengan suami. Ataukah, apakah saya pantas. Ah, masa sih perempuan harus maju. Karena para perempuan dan lakilaki sudah dididik sejak kecil, agar mere­ka bisa menerima kesetaraan gender,” ujarnya lebih jauh. Ia menegaskan, kampanye ini harus disuarakan perempuan sendiri. Namun, perempuan ber­ saing dengan perempuan. “Ada satu contoh yang bisa dilakukan sebagai pemberdayaan perem­ puan dengan cara membuat satu role model. Perempuan yang maju diberi penghargaan dan diekpos di media,” kata Solita. Menurutnya di Indonesia lebih banyak mementing­ kan angka, atau kuantitas, dibandingkan mereka me­ lihat kualitas. Misalnya, perempuan yang maju ke politik, asal comot bukan kader yang mumpuni se­ hingga setelah duduk di par­lemen, tidak punya ide, tidak tahu cara berkomu­ nikasi, mere­ka hanya menjadi follower. “Para perempuan parle­ men, justru harusnya menjadi seorang aktivis, artinya, mereka

Gedung Mewah Atasi Keluhan

Meski sering disuarakan, kesetaraan gender di ­Indonesia masih belum sesuai dengan yang diharapkan. Banyak ­faktor yang menjadi penyebabnya. Tantangan bagi perempuan ­sangat banyak, terutama bagi aktivis. Pakar gender dan psikolog Dr. Solita Sarwono, M.P.H., yang menetap di Belanda, mencoba berbagi informasi kepada pembaca, dalam acara ­diskusi yang digelar LSM Bali Sruti, pekan lalu.

bisa menjadi pelopor dan mem­ beri suatu perubahan di tempat mereka berada,” kata Solita. Dalam pandangannya, ia setuju dengan masukan para perempuan yang maju ke politik harus udah berusia matang dan dalam kon­ disi mapan, sehingga bisa fokus, walaupun itu tidak menjaminkan kualitasnya. Anny Pratiwi dari Widyaiswara Badan Diklat Provinsi Bali me­ ngatakan, ia sering memberikan pelatihan dengan bermacammacam metode, namun, sam­ pai sekarang sangat sulit untuk mengubah mindset para perem­ puan. Mungkin perlu advokasi dan penelitian, metode apa yang

harus diberikan agar perempuan mau berubah. Kuncinya, kata dia, pendidikan. Utami Dwi Suryadi, anggota DPRD Provinsi Bali, memberi contoh atas dirinya. Memang sulit berkiprah di parlemen, kalau suara perempuan sedikit. Namun, untuk perempuan bisa duduk di parlemen, tentu tak mudah. Selain otak, dan otot atau keberanian, juga perlu ongkos. Ia juga tak me­ nampik, memang mencari kader itu sulit. “Banyak aktivis perempuan yang maju ke politik, tapi justru gagal alias tidak terpilih. Karena mereka tak punya ongkos yang kuat,” kata Riniti, Ketua LSM Bali

Sruti menambahkan. Menurut Utami, perempuan maju ke poli­ tik juga karena dipaksa. “Kalau tidak dipaksa, tidak ada yang mau. Menurut saya, perem­ puan sendiri yang harus berubah,” kata anggota Fraksi Demokrat ini. Diah Yuniti menam­ bahkan pembelajaran di bidang kepramuka­an bisa menjadi satu alternatif mengajarkan anak-anak sejak dini mengenal du­nia kepemimpinan dan bela­ jar kesetara­an gender. -Wirati Astiti

Banyaknya orang kaya yang membutuhkan perawat­a n kesehatan di rumah sakit, mendorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo membangun gedung rawat inap baru yang mewah. Gedung tiga lantai dibangun di bagian utara kompleks RSUD Sidoarjo, diberi nama Graha Delta Husada (GDH).

B

upati Syaiful Ilah, men­ gatakan rumah sakit ini sengaja dibangun agak mewah karena banyak warga Sidoarjo membutuhkan perawatan kesehatan dengan fasilitas yang bagus dan baik. “Fasilitas yang terdapat di Graha Delta Husada ini sangat bagus, ada ru­ angan VIP, ruangan VVIP dan berbagai peralatan canggih yang akan dipasangan di gedung baru ini,” ujarnya sambil me­ nebarkan senyum kebanggaan. Ditanya berapa tarif un­ tuk ruangan VIP dan VVIP sema­ lam, Abah Syaiful, panggilan akrab Syaiful Ilah, mengatakan hingga sekarang belum ditentukan. Karena masih dalam

proses perhitungan secara detil agar jan­ gan keliru dalam menentukan tarif. “Sekarang pihak direktur dan staf­ nya masih menghitung detil tarif yang akan ditarik dari rawat inap di ruangan mewah tersebut,” kata Syaiful. Ia me­ negaskan alasan pembangunan gedung mewah dengan ruangan rawat nginap tersebut, dikarenakan selama ini banyak masyarakat Sidoarjo yang mengeluh kar­ ena ruangan yang ada di RSUD Sidoarjo ini terbatas sehingga banyak pasien yang harus menunggu beberapa waktu untuk bisa mendapatkan ruangan perawatan. Dengan dibangunnya gedung yang baru dan mewah ini, maka ke de­ pan diharapkan tidak ada lagi keluhan

Surabaya North Quay Dipadati Pengunjung Utami Dwi Suryadi

Keluarga sebagai Contoh

Solita tertarik soal gender t an pa di sa ­ darinya. Saat mem­ buat skripsi tahun 1975 di Psikologi UI,belum banyak yang bicara gender. Ia sendiri mem­

buat skripsi teori dan pe­ nelitiannya, sudah tentang perempuan. “Waktu itu saya tidak mikir, saya malah tidak tahu ten­ tang gender. Barang­ kali alasannya karena di keluarga saya su­ dah terbiasa diterap­ kan kese­taraan gender tanpa saya sadari,” tutur adik Prof. Sarlito Wirawan Sarwono ini. Mulai dari nenek sampai ibunya adalah seorang tokoh ­p erempuan. ­“ Eyang pu­ tri saya ikut dalam k o n g ­r e s

perempuan cikal bakal yang ditetapkan sebagai Hari Ibu 22 Desember. Waktu itu ibu saya masih usia 6 tahun, sering diajak eyang putri dalam setiap kegiatan­nya,” kata Solita. Ibunya, Sofie Sarwono ke­ mudian disekolahkan di sekolah Belanda yang mengajarkannya kesetaraan gender sejak kecil, bahwa laki-laki dan perempuan adalah sama. Sofie Sawono pernah men­ jabat sebagai anggota DPRD, dan saat Pemilu pertama ta­ hun 1955, ia mendirikan Partai ­S arinah. “Saat ini, ibu saya berusia 94 tahun dan masih aktif menjadi pembicara soal politik dan gender. Ibu saya menguasai 4 bahasa, Inggris, Perancis, Belanda, dan Jerman,” kata Solita. Sofie Sarwono juga dikenal sebagai pelopor di PKBI pusat dan pernah menjadi Ketua PKBI. Beberapa minggu lalu, Solita bersama ibunya, Sofie Sarwono diundang ke satu acara, pem­ bukaan perpustakaan di Tegal, di daerah kelahirannya. “Ibu saya diminta bicara dan memberi semangat ibu-ibu bagaimana memberdayakan diri mereka,” kata Solita.

19

Graha Delta Husada (GDH)

Jangan hanya Jadi Follower Dr. Solita Sarwono, M.P.H.

Edisi 891/ 7 - 13 MARET 2016

Solita mengatakan, ia tu­ juh bersaudara, tapi ibunya tetap mampu membesarkan anak-anak dengan baik dan tetap mampu berkiprah dalam bidang politik dan sosial, dan selalu menjadi pelopor bagi sekitarnya. Selain ibunya, Solita juga melihat role model lainnya, yakni ibu mertuanya, Siti ­S oendari, yang merupakan adik bungsu dr. Soetomo. Siti Soendari merupakan perem­ puan Indonesia kedua yang men­dapat gelar sarjana hukum sete­lah Maria Ulfa Santoso. Dari beberapa role model dan kondisi yang dialami da­ lam keluarganya, membuat Solita tanpa sengaja tertarik dan bergerak di bidang gender. Saat ini, ia dipercaya menjadi konsultan internasional di be­ berapa negara untuk urusan kesehatan dan gender. Untuk urusan pendidikan, Solita se­ring mendapatkan beasiswa ke luar negeri, disamping kefasihan­ nya berbahasa asing. Saat ini, ia menetap di Belanda karena mengikuti suami yang memang sudah tinggal di Nege­ri Kincir Angin tersebut sejak muda. -Wirati Astiti

Kapal pesiar MS Rotterdam

Objek wisata di Surabaya ber­ tambah satu dengan hadirnya wisata bahari North Quay di Pelabuhan Tanjung Perak. Selama tiga hari (2729/2) wisata baru mulai dikenalkan masyarakat umum dan sambutannya luar biasa. Sekitar 10.000 pengunjung memadati Surabaya North Quay. “Puncak kunjungan terjadi pada hari terakhir saat ada kapal pesiar internasional, MS Rotterdam, yang sandar di dermaga,” kata Prasetyo, Dirut Pelindo Properti Indonesia, lini bisnis Pelindo III di bidang properti dan pariwisata. Prasetyo menceritakan, keban­ yakan pengunjung datang berkelom­ pok, bersama keluarga dan sahabat. Mereka tampak sibuk berfoto menga­ badikan diri bersama latar belakang cruise yang singgah sebelum berlayar ke Singapura itu. Di ruangan lantai 2 dan 3, pengunjung menikmati aneka kuliner dan berbelanja beragam produk kerajinan kreatif. Sejumlah penampilan band dengan lagu-lagu popular dan atraksi musik patrol yang dimainkan anak-anak Kampung Maspati, kampung wisata binaan Pelindo III. Pelindo III juga memfasilitasi mitra binaan dari Usaha Kecil, dan Menengah (UKM) baju, aksesoris, dan sepatu lukis untuk turut menawarkan produknya. Tidak hanya kepada ribuan warga Surabaya yang hadir,

tetapi juga kepada para turis cruise yang membaur di keramaian untuk berbelanja. Para kru kapal yang berser­ agam pelaut sibuk melayani permintaan pengunjung untuk foto bersama. Selain mitra binaannya, banyak UKM lain yang diundang untuk membuka stand, salah satunya ialah perajin sepatu dari ekslokalisasi Dolly. “Ramainya pengunjung menun­ jukkan adanya kebutuhan masyarakat Surabaya akan adanya lokasi kongkow dan meeting point baru. Terbukti karena ramainya pengunjung yang datang dari berbagai kalangan. Sembari menikmati suasana tepi laut, mereka berbelanja aneka produk kerajinan dan jajan kuliner,” ungkap Presetyo. Apa yang disampaikan Prasetyo tampak dari banyaknya stand kuliner yang sudah kehabisan stok meski acara belum usai. “Kebutuhan berwisata warga Surabaya sejalan dengan kemampuan beli mereka,” tambahnya lagi. Direktur Utama Pelindo III, Djarwo Surjanto, yang datang ke Surabaya North Quay bersama jajaran direksi lainnya, mengungkapkan, tidak mengira animo pengunjung yang begitu besar. “Niat Pelindo III dengan adanya kegia­ tan ini ialah untuk memasyarakatkan (potensi) PelabuhanTanjung Perak. Adanya Surabaya North Quay menjadi langkah Pelindo III dalam mengopti­ malkan infrastruktur BUMN untuk kepentingan publik. Jadi tidak hanya

masyarakat tentang keterbatasan ru­ angan di rumah sakit ini. Apalagi mulai tahun ini akan dibangun juga gedung untuk rawat nginap kelas tiga dengan 60 tempat tidur. “Jadi, dengan selesai dibangunnya dua gedung ini diharapkan orang yang mampu dan rakyat Sidoarjo sudah tidak mengeluh lagi karena pasti akan ditam­ pung dan dirawat di ruangan yang baru tersebut,” tegasnya. Bupati menegaskan pengoperasian­ nya akan menerapkan sesuai sistem badan penyelenggara jaminan sosial (BPJS ) kesehatan. “Karena itu, saya minta ke­ pada rakyat Sidoarjo untuk melengkapi dirinya dengan kartu BPJS sehingga mer­ eka bisa dirawat di sini dan tidak perlu harus mengeluarkan uang banyak untuk perawatan kesehatan,” pintanya. TIGA BULAN LAGI RSUD Sidoarjo yang masuk kategori kelas B dan menjadi rumah sakit pendidi­

untuk pelayanan jasa logistik, tetapi juga wisata bahari,” ujarnya. Kegiatan yang juga merupakan edukasi kemaritiman yang diseleng­ garakan oleh Pelindo III kepada masyarakat berhasil mendapatkan perhatian dan apresiasi dari banyak pihak. Sabar Swastono, salah satu to­ koh Kampung Maspati mengapresiasi acara Surabaya North Quay, karena acara tersebut membuka wawasan terhadap kinerja dan apa yang telah dilakukan Pelindo III dalam memod­ ernisasi Terminal Penumpang Gapura Surya Nusantara (tempat Surabaya North Quay), Pelabuhan Tanjung Perak. “Dahulu tempatnya kumuh kini disulap menjadi menjadi bersih dan modern tidak kalah dengan fasilitas di bandara,” ujarnya. Dia berharap dalam penyelenggaraan ke depan terus melibatkan UKM agar dapat member­ dayakan UKM masyarakat seperti dari Putat Jaya (Dolly), Kampung Lawas Maspati, dan UKM lainnya. Ke depannya, akan dilakukan evaluasi pada gelaran di Surabaya North Quay. “Evaluasi utama ialah dari sisi keamanan dan kenyamanan. Karena ternyata pengunjungnya cukup banyak,” tegas Djarwo Surjanto. Lebih detil ia menjelaskan, beberapa sudut bangunan Terminal Gapura Surya Nusantara akan dimodifikasi. Salah satunya dengan memperbaiki peng­ aturan lahan parkir dan memperlebar akses keluar-masuk pengunjung di dalam gedung. “Agar pengunjung tidak mengantre terlalu panjang, sehingga lebih nyaman,” katanya. Pihaknya juga akan menambah ketersediaan keranjang sampah, agar juga men­ ingkatkan kesadaran pengunjung atas kebersihan. Untuk mengakomodir permintaan masyarakat yang tinggi, pengelolaan wahana Surabaya North Quay sebagai wahana wisata bahari akan diseleng­ garakan lagi ke depannya. Terutama saat ada kapal pesiar internasional sandar di Pelabuhan Tanjung Perak. “Paskaevaluasi, akan dikembangkan lagi konsep wisatanya. Agar lebih memberikan manfaat ekonomi bagi promosi produk UKM dan pariwisata Kota Surabaya dan sekitarnya. Selain itu tentunya untuk memberikan fa­ silitas wisata bahari yang representa­ tif bagi warga Surabaya,” pungkas Djarwo Surjanto. -Bambang Wili

Gedung Graha Delta Husada

kan ini, merupakan rumah sakit rujukan bagi pasien dari kabupaten Jombang, Mojokerto, dan Pasuruan. Sebagai rumah sakit pendidikan, tambah Syaiful Ilah, rumah sakit ini juga menjadi tempat praktek bagi para dokter yang sedang mengambil spesialis dari RSUD Dr Soetomo Surabaya dan prak­ tek mahasiswa kedokteran dari Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma, Surabaya. Direktur Utama RSUD Sidoarjo, dr. Atok Irawan Sp.P., ditemui di selasela peninjauan gedung baru tersebut me­ngatakan di gedung baru ini terdiri dari 41 ruangan VIP dan enam ruangan VVIP. Ruangan VIP dibangun cukup mewah. Ukurannya 6 x 6 meter. Ada kamar mandi dalam air panas dan dingin, ada televisi, tempat tidur mewah dan berbagai fasilitas lain yang memadai. Selain ruang rawat nginap, tam­ bahnya, di gedung baru ini juga terdapat ruangan operasi dengan peralatan canggih sesuai standar dan perkembangan teknologi kesehatan saat ini. Dijelaskannya, gedung ini dibangun dengan menghabiskan dana sebesar Rp 30,9 miliar. Dana tersebut berasal RSUD sendiri dan bantuan dari APBD

kabupaten dan provinsi. Gedung baru ini belum dilengkapi dengan peralatan cang­ gih karena sekarang masih dalam proses pembelian, baik dari dalam maupun luar negeri khususnya dari Jerman. “Seluruh peralatan canggih yang akan dipasang di sini akan menelan biaya sekitar Rp 30,9 miliar. Hampir sama dengan biaya pembangunan gedung ini,” ujar dr. Atok. Menyinggung infrastruktur yang akan dipasang di gedung baru ini, menurut Atok Irawan sekarang masih dalam proses pemasangannya. Seperti genset dan berbagai peralatan lainnya. Total biaya untuk infrastruktur ini diper­ kirakan akan menelan biaya sekitar Rp 16 miliar. Walaupun gedung mewah ini sudah diresmikan sekarang namun operasional belum bisa segera dilakukan karena masih menunggu pemasangan infrastruk­ tur dan semua peralatan kesehat­an cang­ gih. “Pengoperasian penuh di gedung baru ini diperkirakan akan dilaksanakan tiga bulan lagi,” ujarnya. Ditanya tentang kualitas perawatan medis yang dilakukan di rumah sakit Sidoarjo, menurut Atok Irawan tidak perlu diragukan lagi. Selain rumah sakit yang dipimpinnya itu adalah rumah sakit pendidikan, kualitas perawatannya sa­ ngat bagus. -Yosef Sintar

Direktur RSUD Sidoarjo, dr. Atok Irawan Sp.P., duduk di tempat tidur VVIP didampingi stafnya


20

Nine

Edisi 891/ 7 - 13 maret 2016

Hj. Putu Selly Andayani

Kembali Pulang untuk Cium Tangan Memiliki pribadi yang hangat dan akrab menjadi sesuatu yang khas dalam diri Hj. Putu Selly Andayani, Kepala Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Provinsi Nusa Tenggara Barat. Caranya menyapa dan berkomunikasi memperlihatkan keramahan dan keterbukaan. Bagi mereka yang mengenalnya, perempuan kelahiran, Mataram, 15 September 1961 dengan sikap keibuan ini adalah sosok yang menyenangkan.

Putu Selly Andayani

I

a sangat menyukai anakanak. Karena itulah, wajahnya terlihat terpukul, manakala menyaksikan heboh di media sosial tentang anak-anak di bawah umur yang memposting foto-foto dirinya yang berbau tindakan asusila. “Miris saya melihat ini,” ungkapnya sedih. Baginya, anak semestinya menjadi cerminan masa depan dunia. Orangtua

dan keluarga bertanggung jawab mengantar mereka untuk meraih cita-cita dan menjadikan dunia ini berarti bagi kehidupan mereka selanjutnya. Menjadi nenek dari 9 cucu merupakan hal yang paling membahagiakan. Bagaimana tidak, keceriaan dan kemanjaan anak-anak baginya adalah sumber inspirasi yang mampu memberikannya makna akan kebahagiaan itu sendiri. “Tanpa anak-anak, dunia ini serasa kosong,” ungkap istri dari politisi kawakan, Rahmad Hidayat (65) ini. Kedekatannya dengan anakanak dan para cucunya sangatlah hangat. Selly menyiapkan waktu khusus untuk memanjakan terutama para cucunya. Meski di tengah kesibukannya yang terbilang padat, ia tidak pernah melupakan hari-hari spesial yang berkualitas bersama seluruh keluarganya. Selly sangat menantikan hari Sabtu dan Minggu. Dua hari itu, ia selalu membuatnya sumringah. Karena di waktu itulah ia akan kedatangan bocah-bocah yang

sangat dinantikan, berkumpul di rumahnya menghabiskan waktu dengan keluarga besarnya. Keluarga besar yang bahagia menjadi idaman baginya. “Saya kalau lihat menantu hamil, rasanya senang luar biasa. Kalau bisa anak-anak dan menantu saya punya anak minimal empat, biar ramai dan seru,” katanya tertawa. Celoteh para cucu yang datang berkumpul di rumahnya, menjadi momen spesial baginya untuk mencurahkan kasih sayangnya pada keluarga. Kalau sudah begini, para cucu ramai-ramai minta dimasakkan olehnya. Karena itu, ia tidak segan turun tangan untuk memasak makanan permintaan tersebut, salah satunya nasi goreng ala eyang. “Biasanya kalau cucu di rumah, ibu-ibu mereka jalan-jalan, Eyangnya yang ngurus cucu,” katanya. Selly menikmati sekali kebersamaannya dengan para cucu. Sepanjang menghabiskan waktu dengan cucu-cucunya, tidak lupa Selly menyelipkan didikan-didikan positif bagi generasi penerusnya ini. Ia menjadi nenek

Bedakan Urusan di Luar Rumah dan di Dalam Rumah Menjadi istri dari politisi gaek NTB yang disegani, rupanya adalah hal biasa bagi Selly. Ia tidak pernah khawatir atau pun ikut campur dalam urusan tersebut. Selly mengaku percaya dan yakin penuh pada insting dan kemampuan seni berpolitik dari suaminya. Selama 35 tahun Rahmat Hidayat wara-wiri di dunia politik, telah cukup bagi Selly memahami bahwa naluri menghadapi berbagai situasi politik suaminya itu luar biasa. Uniknya, Rahmat Hidayat yang terkadang terlihat ‘garang’ dalam kancah politik, namun bagi Selly, di rumah ia adalah suami dan ayah yang sangat penyayang. “Sekali pun di luar rumah, khususnya urusan politik yang kadang menimbulkan tekanantekanan, di rumah Bapak selalu pulang dengan santai,” ujarnya. Ia sangat bangga memiliki Rahmat Hidayat sebagai suami karena baginya ia adalah sosok yang sangat mengerti dirinya dan keluarganya. “Sepanjang berumah tangga, kami tidak pernah bertengkar,” ujarnya. Sekuat apa pun tekanan atau situasi politik yang dihadapi

Kadispenda NTB saat menerima kunjungan Wagub NTB

Rahmat Hidayat, ia selalu pulang dalam keadaan yang baik bagi keluarganya. Karena itulah Selly sangat mengagumi diri suaminya itu. Dan sebagai seorang istri, Selly mengimbangi hal itu dengan tidak ikut campur dalam setiap urusan politik suaminya, meski ia tahu dari surat kabar-surat kabar yang dibacanya. “Paling-paling saya hanya bertanya sekadarnya atau berdiskusi secukupnya saja,” ujarnya. Hal itu dilakukan sebagai bentuk perhatiannya pada aktivitas suaminya.

Ketika Selly menjadi Penjabat Walikota Mataram beberapa waktu lalu, suaminya itu berpesan agar ia berhati-hati. “Hati-hati dalam mengambil keputusan,” pesan suaminya kala itu. Ia sangat menyukai perhatiannya itu. Karenanya, ia selalu merasa ada yang kurang jika suaminya itu bertugas keluar Mataram. “Saya adalah orang yang paling bahagia bersuamikannya. Rupanya saja yang sangar, tapi sangat peyayang dalam keluarga,” katanya. Selly belajar banyak dari sang suami, setidaknya belajar membe-

Introspeksi Setiap Hari

Hari raya Nyepi yang tahun ini jatuh 9 Maret, umumnya dimaknai masyarakat Hindu Bali sebagai waktu untuk introspeksi diri dan menjalankan catur brata penyepian. Namun di mata I Nyoman Ardika, M.Pdh., introspeksi diri tersebut hendaknya dilakukan setiap hari. Apalagi dengan profesi yang ia jalani sebagai penari bondres.

P

Hj. Putu Selly Andayani bersama suami tercinta

yang melengkapi pendidikan keluarga bagi para cucunya. Cucucucunya tidak saja mendapat didikan dari orang tuanya tetapi juga mendapat ilmu tambahan dari kakek dan neneknya. “Saya ingin cucu-cucu saya mendapat pendidikan yang lengkap. Apa yang tidak diperoleh dari orangtua mereka, bisa mereka dapatkan dari kami,” ungkapnya. Salah satu yang menjadi konsentrasi Selly dalam pendidikan keluarganya adalah soal mencium tangan sebagai tanda penghormatan pada yang tua. Jika bagi sebagian orang, cium tangan dalam keseharian adalah hal yang biasa, namun bagi Selly dan keluarganya, cium tangan adalah hal sederhana yang luar biasa maknanya bagi keluarga besar mereka. Kedeka-

tan, kehangatan, penghormatan dan saling menjaga kebersamaan, melekatkan cinta dan kesetiaan, ada pada ritual cium tangan penuh makna ini. dan itu dilakukan seluruh keluarga besarnya. Saking sakralnya cium tangan, meskipun sudah cukup jauh meninggalkan rumah, Selly bisa kembali pulang ke rumah untuk mencium tangan suaminya jika ia lupa melakukannya saat keluar dari rumah. “Bapak juga begitu, kalau saya lupa cium tangan saat melepasnya, beliau bisa kembali ke rumah meski sudah jalan keluar rumah. Atau setidaknya, beliau menelepon untuk memastikan apakah saya sudah cium tangan sebelum beliau meninggalkan rumah tadi,” kata Selly.

dakan mana urusan di luar rumah dan mana urusan dalam rumah. Keduanya harus berjalan beriringan tanpa saling mengganggu. Inilah kunci kebahagiaan hidup keluarga mereka. Dan ini pula yang menjadi pedoman baginya dalam memimpin Dispenda NTB. Sebagai pimpinan institusi ini sejak 23 Januari 2015, Selly berupaya keras untuk mendekatkan dan memudahkan pelayanan bagi masyarakat melalui inovasiinovasi yang mendukung hal tersebut. Namun menurutnya, tidak semua hal harus inovatif. “Inovasi dalam pelayanan publik, itu wajib hukumnya. Tetapi inovasi dalam pengelolaan keuangan tidak boleh dilakukan karena semua sudah terformat sesuai dengan regulasi. Dan saya patuhi hal itu,”

ungkapnya. Kini Dispenda NTB telah memiliki 40 drive thru pelayanan di seluruh NTB, 3 mobil Samsat keliling serta aplikasi pembayaran pajak melalui telepon genggam. Dan aplikasi pembayaran pajak melalui telepon genggam yang bekerja sama dengan provider XL adalah yang pertama di Indonesia. “Ke depan kami sedang menyiapkan ATM Samsat untuk lebih memudahkan wajib pajak dalam membayar pajak agar tidak terkena denda,” katanya. Apa yang dilakukannya ini merupakan ikhtiar untuk meningkatkan pendapatan daerah dan mendekatkan serta memudahkan pelayanan bagi masyarakat sehingga wajib pajak tidak perlu kena denda karena keterlambatan. -Naniek I. Taufan

ria humoris yang mengelak dirinya disebut seniman, melainkan penikmat seni ini, mengatakan respons penonton menjadi salah satu masukan yang membuatnya harus melakukan perubahan, baik terkait materi yang disajikan termasuk penampilan. Nyoman Ardika yang di atas panggung dikenal dengan tokoh “Sengap” ini pun mengaku tak pernah tersinggung jika ada yang mengatakan penampilan atau materi lawakannya tidak bagus. “Malah saya berterimakasih, jadi saya bisa memperbaiki diri. Terlepas apakah kritikan itu memang benar-benar sebagai masukan atau malah ingin mendown-kan saya,” ucapnya. Selain itu, dari respons penonton ini pula ia mendapatkan penguatan bahwa materi yang ia

sampaikan, yang juga diselipkan nilai-nilai edukasi, bisa diterima dan dapat menghibur penonton. Sebagai orang yang pernah mendalami ilmu agama, dosen Stikes Advaita Tabanan ini sangat mempercayai hukum karma. Karena itu pula, sekarang ini Nyoman Ardika mengaku lebih bisa menjalani hidup apa adanya, tanpa mengharapkan yang berlebih. Ia meyakini kehidupan di dunia ini harus balance horizontal dan vertikal, seimbang antara mengejar materi keduniawian dan ke-Tuhanan. Ia menyebut inilah ilmu alam. “Pengalaman pribadi saya, ketika dulu saya terus mengejar target materi dengan sedikit mengabaikan ‘ke atas’, memang banyak ada pamasukan tapi pengeluaran justru lebih banyak. Darisana, saya instrospeksi diri bahwa keduanya harus seimbang, rezeki sudah

Kunjungan Wagub NTB, H. Muh. Amin ke Dispenda NTB

Kepala Bakorluh NTB Ir. Husnanidyati Nurdin (tengah) saat turun lapangan. Instropeksi intern dilakukan dalam wujud evaluasi mingguan

Introspeksi diri merupakan hal yang penting untuk mengetahui sekaligus menyadari kekurangankekurangan dan kelebihan-kelebihan yang kemudian dijadikan patokan langkah agar menjadi lebih baik lagi pada perjalanan selanjutnya. Introspeksi diri tidak hanya dilakukan pada hal yang bersifat pribadi melainkan juga secara institusional. Pun dalam birokrasi hal ini tentu penting dilakukan untuk menciptakan birokrasi yang sehat dan bersih. Melihat lebih detil apa saja yang telah dikerjakan dalam sebuah

institusi dilakukan oleh Ir. Husnanidyati Nurdin, Kepala Badan Koordinasi Penyuluhan Provinsi Nusa Tenggara Barat, secara berkala dalam bentuk evaluasi intern secara rutin seminggu sekali. “Setiap hari Senin, kami melakukan evaluasi seluruh hal yang telah dilakukan selama seminggu sebelumnya,” ujar Husnanidyati. Beginilah bentuk introspeksi yang dilakukan badan daerah yang mengkoordinir para penyuluh NTB dari berbagai bidang ini. Dalam introspeksi yang diwujudkan melalui evaluasi rutin ini

kecil dan keluarga besarnya. Kebersamaan dengan istri, Ni Nyoman Sri Kusminiwati dan kedua putranya, I Gede Andika Jaya Wardhana dan I Gede Nyoman Pasek Kusuma Wardhana adalah menjadi yang utama. Karena dikatakannya waktu “seniman” berbeda dengan dengan waktu pegawai (seperti istrinya), yang pasti masuk jam 08.00 pulang jam 16.00. “Kalau kami pekerja seni, misalnya diminta ngayah jam 9 malam, bisa jadi jam 11 baru mulai nari. Jadi waktu bersama keluarga sangat tidak tentu,” kisahnya. Karena itu pun, kerapkali ia

5

mengajak istri dan anak-anaknya ikut ke acara pementasannya. Apalagi misalnya si pemilik hajatan sudah akrab dengan keluarganya. “Pokoknya, sebisanya saya pasti ngajak mereka,” ucapnya. Seperti siang itu ketika Tokoh membuat janji temu di sebuah rumah makan di Renon-Denpasar, Nyoman Ardika pun memboyong istri dan anak-anaknya. “Hari ini saya cuti untuk menemani anak tes masuk sekolah, sekalian diajak kesini, setelah ini lanjut ke Kuta untuk urusan pekerjaan suami,” tandas sang istri Nyoman Sri. –Inten Indrawati

I Nyoman Ardika alias Sengap

diatur Tuhan,” ucapnya. Karena itu pula, sekarang ini ia tak segan-segan menolak job, walaupun nilainya besar, jika waktunya berbenturan dengan upacara piodalan di kawitannya, bertepatan dengan hari raya, seperti Galungan, Kuningan, Ngerupuk, ataupun Tahun Baru. “Apalagi Hari Nyepi, sudah jelasjelas saya tolak,” ujarnya membanyol. Baginya, hanya pada harihari tersebutlah ia berkesempatan bisa berkumpul bersama keluarga

Temukan Titik Kekurangan

–Naniek I. Taufan

Edisi 891/ 7 - 13 maret 2016

selalu disertakan dengan catatan-catatan dan persiapan dan persiapan-persiapan yang akan dikerjakan kemudian di minggu berikutnya. Sebagai kepala badan, sekalipun Husnanidyati memiliki catatan-catatan tersendiri mengenai apa yang akan dikerjakan untuk meningkatkan kinerja instansi yang dipimpinnya dalam uraian kegiatan harian, ia juga meminta kepala-kepala bidangnya untuk kritis menyampaikan kekurangan-kekurangan dari kegiatan mingguan tersebut. “Introspeksi yang kami lakukan selama ini yang berwujud evaluasi rutin, sangat membantu kami dalam menemukan titik-titik kekurangan sehingga kami menyadari bagian-bagian mana yang harus diperbaiki untuk meningkatkan kinerja seluruh perangkat Bakorluh,” katanya. Hasil introspeksi yang berupa catatancatatan tentang segala hal yang harus diperbaiki dan dikerjakan menjadi memudahkannya untuk mengidentifikasi masalah yang sudah, sedang dan akan terjadi sehingga dapat cepat melakukan antisipasi khususnya untuk tugas-tugas yang ada di depan. Begitu pula dengan I Gede Putu Aryadi, S.Sos.,M.H., Kabag Kesekretariatan dan PDE Biro Umum / Kepala Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Provinsi NTB, yang melakukan introspeksi diri ketika menghadapi masalahmasalah birokrasi dan tugas-tugas yang memerlukan pengambilan

Sengap dan keluarga

keputusan yang tepat dan bijaksana. Terlebih lagi keputusan saat melakukan pembinaan disiplin kepada stafnya. Evaluasi kinerja juga dilakukan untuk menemukan titiktitik lemah yang kemudian dapat dijadikan kekuatan untuk menemukan solusi dari permasalahan, kendala dan tantangan selanjutnya.

Husnanidyati Nurdin dan I GP Aryadi, dua birokrat yang senantiasa melakukan introspeksi untuk ‘membaca’ kekurangan dan kelebihan demi meningkatkan kinerja, baik secara pribadi sebagai pimpinan maupun dalam memimpin institusinya. -Naniek I. Taufan

PELESIR

Kapal Pesiar Ramai Singgahi Pelabuhan Benoa

Sejak tahun 2014 dan 2015 kedatangan kapal pesiar di pelabuhan Benoa tercatat mengalami peningkatan yang baik. Pada tahun 2014 tercatat 49 unit kapal pesiar sedangkan tahun 2015 sebanyak 58 kapal pesiar. Pada tahun 2016 rencana kedatangan kapal sebanyak 56 unit kapal. Akhir Februari hingga awal Maret 2016, sebanyak 5 unit kapal pesiar berturut-turut singgah hingga sempat membuat manajemen PT Pelindo III (Persero) Cabang Benoa agak kewalahan untuk mempersiapkan tambatan dan pembagian personil untuk memberikan pelayanan terminal. Demikian diungkapkan General Manager Pelindo III Benoa, Ali Sodikin. Ia mengatakan, tahun 2016 adalah awal tahun yang cukup padat untuk jadwal kedatangan kapal pesiar di Pelabuhan Benoa. “Hingga hari ini (01/03) sebanyak 13 kapal pesiar sudah mengunjungi Pelabuhan Benoa. Dari 13 unit kapal pesiar yang datang, 13 unit sandar dan sisanya berlabuh karena panjang kapal yang melebihi panjang dermaga ataupun karena penuhnya tambatan di dermaga sehingga tidak dapat sandar,” ucapnya. Lebih lanjut Ali menjelaskan, hingga saat ini, kapal pesiar yang paling lama bersandar di Pelabuhan Benoa adalah MV Crystal Serenity selama 5 hari. Total jumlah lama masa berkunjung kapal di Pelabuhan Benoa dengan 13 unit kapal pesiar adalah 26 hari dengan total penumpang sekitar 15.132 orang penumpang. “Semakin lama kapal berkunjung di suatu tempat maka semakin besar pula dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Karena menurut data yang dihimpun Kementerian Pariwisata pada tahun 2015, wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia dalam sehari dapat membelanjakan minimal $100 – $150. Jadi efek domino bagi masyarakat sekitar cukup besar,” kata Ali Sodikin. –Wirati Astiti


4

Inspirasi

Edisi 891/ 7 - 13 maret 2016

Jro Mangku Dalang I Wayan Nardayana

Kuncinya Kreativitas dan Inovasi

Bagi masyarakat Bali, nama wayang Cenk Blonk sudah tidak asing lagi. Tiap pentas, penonton pasti berjubel. Materi yang disampaikan selalu up to date namun tidak keluar dari pakem pewayangan pada umumnya. Untuk menghasilkan semua itu, perlu proses panjang. Nama Jro Mangku Dalang I Wayan Nardayana, S.Sn., M.Fil.H. tak bisa dipisahkan dari ketenaran wayang Cenk Blonk.

Jro Dalang Nardayana

J

ro Dalang Nardayana mengawali kiprahnya di dunia pewayangan tahun 1992. Ia menyebut nama wayangnya Gita Loka, Belayu. Nama inilah yang ditulis di kelir bagian atas. Tokoh yang dimainkan seperti Merdah, Tualen, Sangut, Delem, serta dua tokoh sentral Nang Klenceng dan Nang Eblong. Suatu ketika, ia pentas di Jempayah, Mengwi. “Ada yang bertanya, apa nama wayang yang akan tampil. Lalu ada yang menjawab Ceng Blong. Saya kaget, ternyata nama Ceng Blong lebih diingat masyarakat daripada Gita Loka. Saya pun mengusung nama Cenk Blonk pada pentas-pentas

berikutnya. Pakai huruf k di belakang biar terlihat keren,” ungkapnya sembari tersenyum mengenang momen tahun 2005 itu. Perjalanan wayang Cenk Blonk dimulai. Pentasnya pun tak hanya di wilayah Tabanan dan Badung tetapi hampir di seluruh Bali. Suka-duka dialami Jro Dalang bersama rombongannya. Satu hal yang selalu diingat adalah wayang kental dengan nilai tradisional sedangkan sekarang zaman sudah canggih. Perlu ada terobosan agar wayang bisa diterima masyarakat modern. Karena itu, unsur teknologi dimasukkan sebagai pendukung. “Sebagai dalang, saya berpedoman pada Dharma Pewayangan. Hal ini berkaitan dengan unsur niskala dan metafisik. Ada norma-norma yang harus dipatuhi. Kalau dilanggar, tentu ada dampaknya. Saya sangat meyakini hal itu dan sudah pernah mengalaminya. Misalnya posisi dalang menghadap Utara atau Timur, tetapi situasi di lokasi, saya menghadap ke Barat, pertunjukan menjadi tidak maksimal. Saya secara pribadi merasa tidak puas. Kasus lain, kepala pusing setelah mendalang karena ada yang tidak sesuai. Tetapi, kalau semua sudah sesuai pakemnya, penonton puas, pulang mendalang saya bisa nyanyi-nyanyi,” ujar pria kelahiran 5 Juli 1966 ini. Di sisi lain, Jro Dalang Nar-

Mandalika

Edisi 891/ 7 - 13 maret 2016

Gunung Rinjani

Aset Sejarah Vulkanologi dan Geologi yang tak Ternilai Harganya

S

Jro Dalang Nardayana

dayana mengatakan teknologi maupun situasi terkini tidak bisa diabaikan. Salah satu contoh, alumnus ISI dan IHDN Denpasar ini selalu mengikuti perkembangan terkini. Apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan dari kehidupan masyarakat selalu masuk menjadi referensinya. Jika dinilai cocok, akan dijadikan bahan untuk materi pentas Cenk Blonk. Dalam bahasa sederhananya, ia mengatakan sebagai dalang harus peka karena banyak bahan yang bisa didapatkan di kehidupan seharihari untuk disajikan kepada penikmat wayang. Kadang ada juga yang memesan tema untuk disisipkan dalam pentas. “Ini juga alasan mengapa saya kuliah S1 di Jurusan Pedalangan ISI lalu S2 di IHDN. Saya ingin menambah wawasan dengan bergaul di kalangan akademisi sehingga saya juga mendapat banyak ilmu. Bahkan Cenk Blonk sudah diteliti untuk

Jro Dalang Nardayana saat menerima penghargaan K. Nadha Nugraha 2016

menjadi skripsi dan tesis. Ini merupakan dokumentasi yang bisa dipakai generasi yang akan datang. Saya tidak boleh jumawa. Saat ini memang eranya Cenk Blonk, tetapi suatu saat nanti belum tentu, bisa jadi akan ada yang lain,” tegasnya seraya mengatakan terus belajar dari pengalaman. Satu hal yang menjadi nilai lebih dari Cenk Blonk adalah image lucu. Orang siap untuk tertawa menyaksikan pentas wayang Cenk Blonk. Nilai lebih ini sekaligus tantangan bagi Jro Dalang Nardayana. “Saya sering membawa kertas dan pulpen. Kalau ada inspirasi langsung saya catat. Saya jadikan materi untuk pentas. Intinya kepekaan terhadap situasi yang sedang terjadi. Saya pun belajar agar apa yang saya sampaikan bisa runut. Dalang itu menampilkan bayangan.

Bagaimana caranya bayangan itu berbicara dan bergerak sehingga dinikmati penonton, itu juga tantangan,” jelasnya. Satu hal yang ia tegaskan adalah wayang harus tetap dilestarikan, jangan dikerdilkan. Sebagai seniman, ia juga memahami bahwa kesenian merupakan bagian dari budaya. Tentu banyak hal yang berubah seiring zaman, termasuk adanya budaya luar. Sepanjang budaya luar itu menambah khasanah tanpa merusak budaya asli dan tidak menghilangkan ciri khas budaya asli, penerima K. Nadha Nugraha tahun 2016 ini bisa memakluminya. Karena itu, kreativitas dan inovasi menjadi bagian penting yang harus dimiliki. Kapan berhenti kerkreativitas dan berinovasi, saat itulah ia akan ditingggalkan. – Ngurah Budi

Bahan Sama Gaya Beda Setelah melalui perjalanan panjang di dunia pewayangan, Jro Dalang Nardayana makin memahami seni itu sebuah proses. Tidak ada yang dadakan. Semua harus dipersiapkan dengan matang. Ibarat dagang capcay yang menggunakan bahan yang sama tetapi rasa yang dihasilkan bisa berbeda. Seniman pun demikian. Masing-masing punya gaya yang berbeda dan tidak bisa disamakan satu dengan yang lainnya. Ada juga taksu yang harus dimiliki. Pemilihan tokoh Nang Kleceng dan Nang Eblong pun perlu proses. Dari berbagai karakter yang ia ketahui, Nang Klenceng dan Nang Eblong mewakili kehidupan masyarakat yang memiliki dinamika hidup. Selalu ada pro dan kontra yang mereka temukan. Kekocakan dua tokoh inilah yang melambungkan namanya di dunia pewayangan. Kekocakan yang dibumbui debat pro dan kontra menjadi bagian yang paling digemari penonton/ “Mengapa ada pro dan kontra, itulah seninya. Saya selalu menyajikan pro dan kontra. Hal ini realita di masyarakat. Selanjutnya saya berikan penjelasan sesuai dengan sastra. Ending-nya adalah masyarakat paham. Tujuannya tentu mewujudkan keseimbangan dan selanjutnya kita semua introspeksi diri,” ujanya. Mengenai tarif, Jro Dalang Nardayana memang mematok harga mulai Rp 18 juta. Makin jauh tempat pentas, biaya makin tinggi karena ada biaya transportasi untuk 45 kru. Namun, sebagai seniman, ia juga memiliki kewajiban untuk ngayah. “Saya tidak saklek, ada hal-hal yang bisa dinegosiasikan tanpa mengurangi makna,” tegas ayah dua anak ini. –Ngurah Budi

21

elain dikenal karena pesona alam yang indah, letusan Gunung Rinjani yang berada di Pulau Lombok juga menjadi perhatian para peneliti dunia. Letusan Gunung Rinjani Purba atau yang kini popular dengan nama Gunung Samalas yang terjadi pada perkiraan tahun 1257 M, berdasarkan hasil sebaran sulfur yang telah diteliti para ahli ternyata lebih dahsyat dari letusan Gunung Tambora di Pulau Sumbawa yang pernah menggemparkan dunia di tahun 1815. Hal ini terungkap pada pertemuan Gubernur NTB, TGH. M. Zainul Majdi dengan peneliti gunung berapi ternama dari Universitas Paris 1 Pantheon Sorbone Prancis, Prof. Dr. Frank Lavigne bersama Ketua Badan Arkeologi Nasional, I Made Gria beserta para peneliti dari Universitas Gajah Mada, Heryadi Rahmat dari Pusat Vulkanologi Bandung yang juga telah lama meneliti Gunung Rinjani, beberapa waktu lalu. Para peneliti ini datang ke NTB untuk menyampaikan rencana pe-

Saluran Irigasi Perpipaan Wujud Gotong Royong Masyarakat Wanasaba

Para peneliti yang akan merekonstruksi pra dan pasca letusan Gunung Rinjani Purba saat bertemu Gubernur NTB

nelitian rekonstruksi pra dan pasca meletusnya Gunung Rinjani Purba. Tentu saja, kegiatan yang akan dilakukan para peneliti akan catatan sejarah geologi dan vulkanologi ini kelak memperkaya ragam daya tarik wisata NTB yang saat ini tengah mengembangkan obyek wisata alam dan budaya. Terungkap kisah letusan Samalas dalam rekonstruksi pra dan pasca letusan yang dilakukan oleh para peneliti ini akan membuat Gunung Rinjani menjadi aset sejarah vulkanologi dan geologi

yang tidak ternilai harganya. “Penelitian yang akan dilakukan oleh Tim Arkeologi Nasional, para Geologis dari Kementerian ESDM, Universitas Gajah Mada dan Universitas Mataram ini juga sangat penting karena dapat membuka cakrawala baru tentang Gunung Rinjani. Gubernur sangat berharap ini bisa menjadi bahan promosi tambahan juga bagi wisatawan yang berkunjung ke NTB, ungkap Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Prov. NTB H. Yusron Hadi. –Naniek I. Taufan

Tanam, Olah, dan Panen serentak “Saudaraku, sahabatku petani se-NTB, tolong turun ke sawah, tanam serentak, olah serentak, panen serentak, sehingga tidak membiarkan lahan tidur, petani tidur, traktor tidur dan dana tidur. Salam hormat kepada Bapak Gubernur yang luar biasa,” ungkap Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman, lewat sambungan telepon saat Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi menyampaikan sambutannya pada Gerakan Panen Padi Serentak, di Desa Batu Kumbung, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat. Menteri Pertanian menyampaikan akan terus memberikan bantuan kepada para petani sebagai bentuk dukungan kepada mereka untuk meningkatkan hasil pertanian. Semangat yang diberikan Menteri Pertanian lewat telefon tersebut disambut tepuk tangan para petani yang hadir dalam kegiatan tersebut. Nusa Tenggara Barat menjadi satu dari tujuh provinsi di Indonesia yang menjadi sentra pangan nasional selain Jawa Timur, Su-

matera Utara, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan. Gerakan Panen Padi Serentak, dengan tema Panen Serentak Stok terjamin merupakan program pusat yang dicanangkan Menteri Pertanian, khusus di 7 Provinsi sentra pangan nasional, termasuk Nusa Tenggara Barat. Menteri Pertanian Republik Indonesia, melalui Direktur Serelia Kementerian Pertanian RI, Drs. Ir. Nanda Simunda, M.P., memuji peningkatan produksi pertanian Provinsi NTB saat ini, baik dari segi peningkatan hasil pertanian maupun luas lahan pertanian yang terus mengalami peningkatan. “Saat kami melakukan rapat pimpinan pada hari Senin lalu, saya bersyukur kepada Allah SWT, bekerja dengan orang-orang baik di NTB. NTB mendapat pujian yang tinggi dari menteri terkait realisasi kebijakan. Target yang ditetapkan bagi NTB melampaui kurang lebih 103 persen, ada kelebihan 3 persen. Prestasi ini sangat dibanggakan,”

Gubernur NTB saat melakukan panen serentak di Desa Batu Kumbung, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, NTB.

ujar Nanda Simunda. Peningkatan produksi beras, menurutnya menjadi salah satu kunci ketahanan pangan nasional, karena produksi pertanian yang terintegrasi dari hulu ke hilir ikut menentukan keberhasilan distribusi pangan di Indonesia. Menurutnya, tahun ini Kementerian Pertanian menargetkan produksi gabah kering, sebanyak 76,23 juta ton. Di akhir Februari produksi beras ditargetkan 5 juta ton. Sedangkan Panen Raya untuk keseluruhan wilayah di Indonesia diperkirakan terjadi pada maret dan April ditargetkan 14,52 juta ton. Dan untuk mencapai target tersebut, harus dilakukan dengan memperbaiki infrastuktur pertanian, pemberian benih gratis, subsidi pupuk, serta memberikan alat mesin kepada petani berupa mesin tanam, mesin panen, traktor dan pompa air. Dalam kesempatan ini Gubernur NTB juga menyampaikan bahwa panen raya tersebut menunjukkan bahwa iktiar petani di seluruh wilayah NTB telah berhasil dengan baik. “Insya Allah kalau dari segi ikhtiar, petani kita tidak perlu dipertanyakan lagi. Tidak perlu dipertanyakan bagaimana rajinnya mereka, tidak perlu dipertanyakan bagaimana gigihnya mereka. Tapi yang perlu menjadi perhatian adalah bagaiman kita sebagai perangkat pemerintahan ini bisa menfasilitasi semangat, ikhtiar, kegigihan dan kesungguhan dari petani kita”, ungkap Majdi. Menurutnya, ada sekitar seratus ribu ton yang merupkan surplus hasil pertanian di NTB. Karena itu tidak ada alasan untuk menggantungkan konsumsi beras pada provinsi di luar NTB. “Masyarakat NTB bisa memenuhi kebutuhannya dengan apa yang diproduksi di dalam daerah. Untuk dapat memastikan

Wujud nyata dari kehidupan yang rukun dan gotong royong yang terbangun adalah tercapainya cita-cita bersama seperti halnya yang terjadi di Wanasaba Lombok Timur. Hal ini terlihat dari warga Wanasaba yang berjumlah 2.273 jiwa, 727 KK dengan empat dusun yang karena bergotong royong selama ini akhirnya berhasil membangun saluran irigasi perpipaan yang akan mengairi persawahan hingga ratusan hektar luasnya. Kepala Desa Wanasaba Daye, H. Kandelan menyampaikan inilah wujud dari cita-cita dan kerja keras warganya selama empat tahun terakhir berjuang membuat saluran pipa irigasi tersebut. “Hari ini terbukti berkat kerjasama dan keinginan kuat serta kebersamaan warga untuk bisa maju dalam pertanian juga demi kemakmuran warga bersama, pembuatan saluran pipa irigasi ini akhirnya terwujud,” ungkap Kandelan. Wakil Bupati Lombok Timur H. Khairul Warisin mengatakan keberhasilan ini tentunya akan berdampak pada prioritas tanaman padi yang dapat ditanam setiap tahunnya di Lombok Timur, karena selama ini hanya bergantung pada sawah tadah hujan. “Mulai saat ini sawah-sawah di Wanasaba dan sekitarnya yang jumlahnya ratusaan hektar akan dapat ditanami padi setiap tahunnya berkat aliran saluran irigasi perpipaan ini,” kata Khairul Warisin. Secara swadaya, warga Desa Wanasaba membuat saluran irigasi perpipaan yang dimulai dari Kali Krasikan ke Subak Montong Teki Desa Wanasaba Daye Kecamatan Wanasaba Kabupaten Lombok Timur sepanjang 2.234 meter dengan total anggaran 2,2 Miliar rupiah dengan dana murni dari swadaya masyarakat Wanasaba selama empat tahun pembuatan saluran tersebut. Atas inisiatif dan kepedulian warga tersebut Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi yang turun langsung meresmikan saluran pipa irigasi hasil swadaya masyarakat tersebut, menyampaikan rasa bangganya sehingga dan spontan memberikan acungan jempol serta bantuan sejumlah Rp 25 juta yang diterima Kepala Desa Wanasaba Daye. Gubernur NTB juga memberikan penghargaan kepada desa tersebut sebagai desa berprestasi. “Hari ini kita semua bersyukur kehadirat Allah SWT dan saya memberikan penghargaan kepada Desa Wanasaba ini sebagai Desa Berprestasi,” kata Majdi sembari mengacungkan jempol. Gubernur juga berjanji akan bersama-sama dengan pemerintah kabupaten untuk membangun embung sebagai dukungan pertanian di Lombok Timur. Tetap menjaga kebersamaan dan gotong-royong serta selalu memupuk rasa persaudaraan dalam menjalankan amanah bagi kemaslahatan sesuai tuntunan agama Islam, menjadi harapan gubernur yang juga seorang ulama ini. “Islam tidak hanya mengajarkan salat dan zakat saja namun mengajarkan juga amanah untuk bisa menjaga, mengolah dan membangun bumi ini”, ungkapnya. Pada kesempatan ini juga diikuti dengan deklarasi dari warga Wanasaba untuk tidak buang air besar sembarangan yang diwakili para Kepala Dusun dan Kepala Lingkungan dari masing-masing wilayah. -Naniek I. Taufan

Gubernur NTB meresmikan saluran irigasi perpipaan

ketersediaan sepanjang tahun perlu ada manajemen stok yang baik,” ujarnya. Sehingga, untuk menciptakan manajemen stok yang baik berpaku pada dua hal, yaitu kompetensi dan niat baik. Kompetensi, bisa saja ada yang terkait kompetensi teknis yang dapat mengukur dan menghitung angka dan secara faktual dapat dievaluasi. Namun itu belum cukup, melainkan harus dilengkapi dengan niat baik. “Mari kita semua berniat baiklah untuk kesejahteraan petani kita. Cukup-cukuplah kita meletakkan petani dan pertanian pada sektor

yang marginal,” harapnya. Beberapa kendala yang dihadapi petani di lapangan, seperti harga gabah yang murah, adanya keinginan pemerintah pusat yang akan mengimpor beras dari luar, serta fasilitas alat mesin yang masih terbatas juga soal penyaluran pupuk, menjadi topik dalam dialog dengan para petani yang hadir. Atas semua masalah yang dialami petani tersebut, Gubernur NTB berkoordinasi dengan semua pihak, termasuk pemerintah pusat untuk mencari solusi serta menyelesaikan kendala yang dihadapi para petani di NTB. -Naniek I. Taufan


22

Sosialita

Edisi 891/ 7 - 13 MARET 2016

Pasukan Oranye Kebanggaan Ahok

Ada yang Kecewa Jakarta tidak Banjir Tahun Ini Tahun ini agaknya warga Jakarta bisa ber­ nafas sedikit lega. Pasalnya banjir tahunan yang biasanya menghantui tahun ini nyaris tidak ter­ jadi. Banyak kawasan yang biasanya menjadi langganan banjir pun kini terlihat lebih kering. Memang, intensitas hujan tahun ini boleh di­ bilang tidak sehebat tahun lalu. Namun biasan­ ya, dengan volume hujan seperti sekarang pun, pasti ada saja daerah yang dilanda banjir.

S

alah satunya adalah kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, atau kawasan sekitar kampus Trisakti, Grogol, Jakarta Barat. Tapi tahun ini, hujan yang turun sehari semalam ternyata tidak membuat air berdiam lama. Kalaupun genangan memang terjadi, namun itu akan surut beberapa jam setelah hujan berhenti. Tidak seperti tahun lalu dimana air genangan bisa berhari-hari. “Tumben, tahun ini Kelapa Gading tidak banjir. Padahal biasanya banjir lumayan tinggi sampai di atas 1 meter. Biasanya kantor aku libur gara gara banjir. Dan itu terjadi hampir setiap tahun belakangan ini. Tapi sekarang, air genangan cepat surut, jadi gak libur deh,” ujar Jaquelin sedikit kecewa karena kantornya tidak libur. Tapi di balik kekecewaannya itu dia juga mengaku senang karena kawasan dimana dia berkantor tidak lagi kena banjir seperti tahun sebelumnya. Apa yang diungkap Jaqueline hampir sama dengan yang terlontar dari kebanyakan warga Jakarta bahwa tahun ini, meskipun hujan turun hampir setiap hari dan dalam tempo yang cukup lama, namun kawasan-kawasan yang biasanya menjadi langganan banjir, kebanyakan tidak mengalaminya. Kalaupun ada genangan, akan lebih cepat surut, tidak seperti tahun lalu yang memakan waktu berhari-hari. Apa yang membuat Jakarta

tahun ini terlihat lebih baik dalam menghadapi musim hujan? Salah satunya adalah berkat kerja keras ‘pasukan oranye’. Disebut ‘pasukan oranye’ karena seragam mereka berwarna oranye menyala dan kerap terlihat bergerombol dalam

DKI Jakarta--- dalam membantu mengurangi banjir yang setiap tahun menyerbu Jakarta. “Pasukan oranye ini bekerja untuk melacak dimana ada hambatan,” kata gubernur yang bernama lengkap Basuki Tjahaja Purnama ini. Tapi, tambahnya, sesungguhnya tugas PPSU ini bukan cuma membantu mengatasi banjir tapi banyak hal yang terkait dengan permasalahan perkotaan, seperti pohon tumbang, dll. “Petugas PPSU ini mengerjakan semua urusan perkotaan. Mereka harus merespon keluhan warga. Jadi warga minta apa, ya mereka kerjakan,” kata Ahok yang mengaku senang dengan hasil kerja mereka. Warga menyambut gembira kehadiran pasukan oranye ini di daerahnya. Setiap pagi setelah apel,

Sampah misterius yang ditemukan dekat Istana Negara Jakarta

bekerja. Mereka ini sebenarnya adalah petugas penanganan prasarana dan sarana umum (PPSU) yang baru Juli tahun lalu dibentuk. Jumlahnya sekitar 18.000 orang yang ditempatkan di semua kelurahan yang ada di Jakarta. Rata-rata di setiap kelurahan ditempat sekitar 40-70 petugas PPSU, cukup lumayan untuk mengatasi permasalahan yang ada. Mereka inilah yang kini menjadi pasukan andalan Ahok-Gubernur

Ahok dan pasukan oranye andalannya

puluhan orang berseragam oranye berkeliling memeriksa lingkungan. Di musim hujan seperti sekarang, mereka justru terlihat makin giat menjaga jangan sampai selokan tersumbat sampah. Tapi adanya mereka membuat warga terlihat agak lebih ‘manja’. Kalau biasanya mereka membersihkan sendiri selokan di depan rumahnya, namun karena adanya petugas, warga bisa memanggilnya untuk membantu membersihkan

KISAH ORANYE DAN BIRU Menurut Ahok, hasil kerja petugas PPSU ini kelihatan hasilnya. Setidaknya, itu bisa dilihat dari daerah-daerah yang biasanya menjadi langganan banjir karena selokan tidak terurus, dll, menjadi lebih baik. “Sekarang sudah lumayan, semua saluran air nyambung. Kalau dulu kita pakai swasta untuk mengerjakannya, tidak dikerjakan dengan baik. Saluran air tidak dibersihkan, saluran tidak nyambung akibatnya banjir. Nah dengan adanya PPSU sudah lumayan. Patokannya, tidak boleh ada genangan. Kalau sampai terjadi berarti ada kesalahan, dan dia harus men­

carinya,” ungkap Ahok. Meski memang bukan kerja PPSU semata yang membuat Jakarta terlihat lebih baik saat ini, khususnya dalam menghadapi musim penghujan. Ada banyak pihak yang ikut bekerja untuk mewujudkan itu. Di antaranya adalah ‘pasukan biru’ yang berasal dari Dinas Tata Air DKI Jakarta. Keberadaan mereka belakangan agak menonjol, itu lantaran adanya penemuan pembungkus kabel yang menutupi gorong-gorong air di kawasan ‘Ring 1’ , seputaran Jalan Merdeka Selatan. Tak tanggung-tanggung banyaknya sampah pembungkus kabel itu telah mencapai 20 truk. Penemuan sampah misterius itu selama berhari-hari menjadi sorotan lantaran jumlahnya yang luar biasa banyak. Semua bertanya-tanya siapa yang memasukkan sampah kabel itu di dalam goronggorong kawasan tersebut. Kasus sampah misterius yang isunya sempat ‘dilarikan’ ke politik dengan dikait-kaitkan dengan adanya upaya sabotase ini, pertama kali ditemukan oleh ‘pasukan biru’ Dinas Tata Air DKI Jakarta. Awalnya adalah karena kawasan ‘Ring 1’ selalu terjadi genangan, padahal sejak saluran dan gorong-gorong rajin dibersikan, genangan diberbagai tempat di Jakarta jauh berkurang. Namun entah kenapa di kawasan dekat Istana Kepresidenan ini, tetap saja muncul genangan. Karena penasaran, akhirnya pasukan biru ini membongkar gorong-gorong. Walhasil ditemukan lah sampah pembungkus kabel tersebut. Ahok pun sempat heran juga marah. Pasalnya, sampah kabel itu jumlahnya sangat banyak. Kini pihak kepolisian sedang menyelidiki kasus timbunan sampah kabel itu, apakah ini semacam sabotase agar Jakarta terlihat buruk karena selalu kebanjiran atau hanya kelalaian pekerja kontraktor dalam memasang kabel. Tapi ada cerita ‘lucu’ terkait hal ini. Dulu pasukan biru ini tidak terlihat menonjol karena seragam mereka yang sama dengan petugas PPSU yakni oranye. Gara-gara seragam yang sama ini, Ahok sempat mengira yang menemukan sampah kabel itu adalah tim PPSU. ‘Prestasi’ yang diklaim milik PPSU itu lantas diprotes oleh petugas tata air karena mereka lah yang sesungguhnya menemukan sampah itu. Maka agar tidak keliru soal prestasi, pasukan tata air DKI Jakarta ini berganti seragam, kini mereka memakai seragam berwarna biru.-Diana Runtu

3

Kadek Aria Prima Dewi PF

Kaya Ilmu untuk Berbagi Mengajar bagi Prima tidak hanya berkon­ tribusi menransfer pengetahuan, namun juga usaha meme­ ngaruhi siswa untuk melakukan hal-hal positif. Siswa memer­ lukan figur itu, sehing­ ga ia mengajar dengan metode humanis na­ mun tetap mengacu pada aturan yang normatif berkaitan de­ngan profesi yang ­ingin digeluti oleh para siswa.

Pasukan oranye perempuan

atau mengangkat lumpur. “ Ya t i d a k a p a - a p a , k a m i melakukannya dengan senang hati karena itu menjadi tugas kami,” ungkap Joko, yang bertugas di wilayah Kelurahan Sungai Bambu, Tg Priok, yang mengaku kerap menerima ‘ucapan terima kasih’ dari warga berupa kue atau makanan. Menurut Joko dia bergabung dengan PPSU sejak Juli lalu dan merasa senang karena selain gaji bulanan ia dan teman-temannya menerima cukup banyak fasilitas. Gaji yang didapat per-bulannya Rp3,1 juta atau sesuai dengan UMR DKI Jakarta, plus fasilitas BPJS Kesehatan, B P J S Ke t e n a gakerjaan, KJP (Kartu Jakarta Pintar) untuk anak sekolah, THR 1 bulan gaji, prioritas rumah susun dan lain lain. Waktu kerjanya pun sesuai dengan UU Ketenagakerjaan yakni 8 jam sehari. Menurut Kadis Kebersihan DKI Jakarta, Isnawa Aji, para lurah lah yang bertindak sebagai manajer para petugas PPSU ini. Meski jumlahnya banyak namun pembagian tugasnya jelas, tidak akan terjadi benturan karena masing-masing sudah dibagi tugas, siapa yang bersih-bersih alias menyapu, bagian angkut, dll. Mereka bekerja 24 jam dibagi dalam tiga shift. “Mereka adalah pelayan masyarakat yang sewaktu-waktu sekalipun saat mereka libur dapat dipanggil bila terjadi sesuatu yang darurat,” tambahnya.

Edisi 891/ 7 - 13 MARET 2016

H

al itulah yang di jalankan Dr. Kadek Aria Prima Dewi PF., S.Ag., M.Pd., ketika sehari-harinya melaksanakan aktivitasnya sebagai seorang pengajar di Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar Jurusan PGSD. Terlebih dunia mengajar bukan hal baru bagi seorang Prima. Sebab, ia dilahirkan oleh ayah dan ibu yang g berprofesi sebagai guru. Sejak di bangku SD, ia sudah terbiasa membantu memeriksa hasil ujian dan saat MP, turut mengisi lapor­an studi siswa. Sehingga passion mengajar tumbuh secara alami di hati istri dari I Wayan Yusswara, SSTP., M.Si. ini. Bicara dunia pendidikan semasa mudanya, Prima dan kedua saudaranya senantiasa diingatkan oleh orangtunya untuk terus belajar. Mereka juga menguntai pesan “Kita boleh miskin harta tapi jangan miskin ilmu. Ayah dan ibu tidak bisa membekali kalian dengan harta benda, namun ayah dan ibu akan membekali kalian dengan pendidik­a n, yang tidak akan habis dimakan waktu,” kata Prima menyitir kata orangtuanya. Namun, Prima mengakui jika sebelumnya ia sempat memiliki mimpi menjadi seorang arkeolog. Ini karena hobinya membaca buku atau cerita legenda/mitologi dan sejenisnya. Ia tergoda ingin tahu dan menggali lebih jauh tentang berbagai peninggalan sejarah.“Karena per­soalan keterbatasan

biaya pendidikan dari orangtua, maka (8) dan I Made Raditya Dhananjaya saya memilih melanjutkan studi pada PT (1) ini, akhirnya berharap dengan yang lebih terjangkau dan meringankan profesinya, kini kualitas dirinya berbeban orangtua,” ujar anak kedua dari tumbuh dan menjadi semakin baik. tiga bersaudara dari pasutri Drs. I Nyo- Selanjutnya untuk sumbangannya di man Ngadeg dengan Dra. Anak Agung dunia pendidikan ia pun menambah Puja Astiti ini. Ada satu pesan dari orangtuanya ketika berusaha menghibur dirinya saat tidak bisa masuk di perguruan tinggi sesuai harapan. Orangtuanya mengatakan “tidak penting kamu harus bersekolah di tempat yang terbaik, tetapi usaha yang terbaik akan menjadi lebih penting, daripada menyesali atas apa yang tidak mungkin kita lakukan, ambil kesempat­ an dan jadilah yang terbaik di tempat studimu”. Akhirnya Prima pun melupakan angannya menjadi arkeolog, dan berusaha ikhlas mengambil pilihan studi jurusan Pendidikan Agama Hindu di STAHN. Meski demikian ia yakin, segala ucapan orangtuanya merupakan doa. Selama proses kuliah di kampus STAHN Denpasar (sekarang IHDN) penuh dengan doa. Jalan pun menjadi Kadek Aria Prima Dewi PF dan suami terbuka untuk menjadi seorang dosen, ketika ia mampu menjadi lulus­ ilmu dengan menyelesaikan studi S3 di an terbaik STAHN Denpasar tahun Universitas Pendidikan Indonesia pada 2004. Januari 2016. Ibu dari I Wayan Gde Danuartha Ia mengaku motivasi utama diberikan

Kadek Aria Prima Dewi PF bersama mertua, orangtua, dan sahabat di Universitas Pendidikan Indonesia

Kadek Aria Prima Dewi PF dan keluarga

oleh keluarga yakni sang suami, orangtua, mertua serta saudara. “Dukungan yang tidak kalah penting datang dari civitas akademika IHDN Denpasar, yang memberikan peluang untuk mengembangkan studinya dengan beasiswa dan ber­bagai kemudahan dalam memperoleh akses pendidikan tersebut,” ujar Prima yang menyelesaikan disertasi berjudul “Model Pendidikan Nilai Berbasis Komunitas untuk Mengembangkan Karakter Peduli Lingkungan Siswa SD”. PEDULI SOSIAL MELALUI PKK Untuk kegiatan di masyarakat, perempuan kelahiran 8 Juni 1981 ini memilih menyemplungkan diri melalui gerakan PKK. Ia sebagai Ketua TP PKK Kelurahan Padangsambian. Salah satu kegiatan yang produktif yang tengah digarap­nya adalah mengembangkan program pembiayaan pendidikan untuk PAUD dari sampah di kelurahan­nya. “Rencananya akan di-launching tahun 2017. Program ini merupakan sebuah upaya memecahkan dua masalah yang terjadi di Kelurahan Padangsambian. Masalah pertama adalah akses pendidikan yang layak bagi warga kurang mampu atau yang tergolong rumah tangga miskin (RTM),” paparnya. Prima mengharapkan melalui partisipasi masyarakat yang bersedia mengumpulkan sampah kemudian disetor ke masing-masing banjar pada kegiatan rapat rutin setiap bulannya. Program ini juga mengundang partisipasi segenap pengusaha yang ada di wilayah Padangsambian. Partisipasi yang diharapkan fokus kepada sumbangan sampah sebagai biaya pendidikan. Masalah kedua adalah sampah sebagai persoalan klasik di wilayah perkotaan seperti Denpasar. Kiranya, melalui pengembangan partisipasi masyarakat untuk membantu biaya pendidikan bagi RTM dengan sampah rumah tangga, akan mampu meningkatkan usaha keluarga, khususnya dalam melakukan pe­ngelolaan sampah. Selanjutnya, akan berpengaruh secara signifikan terhadap berkurangnya jumlah sampah di Kota Denpasar. Sementara perihal segala hal yang dijalaninya kini, Prima jugamengatakan jika sang suami tercinta memiliki andil yang besar, terutama dalam hal hidup

lebih disiplin. Selain itu suaminya juga menjadi tempatnya berbagi bahkan sampai hal kecil sekalipun. “Suami saya selalu berhasil meyakinkan saya dalam menentukan pilihan-pilihan yang harus saya ambil.Termasuk kenekatan saya untuk meninggalkan zona nyaman dan mengambil studi lanjut S3 di Ban­dung,” ujarnya tersenyum. Begitu pula selama studi Ban­dung juga, Prima merasa lebih menyadari tugasnya sebagai seorang ibu dan istri. “Rasanya selama 7 tahun pernikahan, saya belum memberikan pelayanan yang baik bagi suami dan putra tercinta saya. Studi di Bandung telah menjadikan saya lebih manusiawi dan menghargai setiap detik waktu untuk keluarga,” tegasnya. Ketika diminta bicara pengalaman, Prima menyebutkan hal yang membuatnya sedih, saat kehila­ngan/keguguran kandungannya yang memasuki usia 4 bulan. Namun, Tuhan membalasnya dengan menghadirkannya kembali setahun kemudian. Bandung merupakan kota sukacitanya bersama suami, yang menjadikan hubungan mereka semakin dekat. Selain itu, Prima juga mengatakan memiliki catatan membahagiakan. Ketika ia bertemu seorang dosen yang sangat humanis. Pendidik yang senantiasa siap berbagi pengetahuan kapan saja dan di mana saja dan kondisi kelas yang sangat multikultur.“Saya merasa semakin mencintai hidup saya setelah bertemu dengan mereka semua,” katanya sumringah Hingga saat ini Prima mengatakan masih punya mimpi, ingin mengelola sebuah sekolah, dan memasukkan idealisme dalam pegembangan programnya. Makanya, pengembangan sekolah berbiaya sampah merupakan salah satu caranya dalam upaya mengelola pendidikan yang berpihak kepada masalah sosial dan lingkungan. “Barangkali hal ini merupakan usaha melanjutkan mimpi dosen saya di Ban­ dung yang bersesuaian dengan mimpi saya sendiri. Beliau selalu berpesan untuk memperhatikan kebutuhan orang miskin atau mereka yang tidak mampu dan mengembangkan kecakapan hidup bagi mereka. Sebab, hal terpenting dari ilmu pengetahuan adalah implementasi dari ilmu pengetahuan itu sendiri,” tandas Prima menikmati semua proses kehidupan dengan baik. Masalah hasil baginya hanyalah bonus dari proses yang telah dilakukan. -ard


2

Ekspresso

Edisi 891/ 7 - 13 maret 2016

GORO-GORO “Menjelang Nyepi sudah waktunya cuci gudang kepala dan hati kita. Sedikit-demi sedikit sisihkan Putu Wijaya segala yang mengotori batin dan mengganjal diri kita. Melapangkan dada, agar lega, bersih dan terang, sehingga di hari Nyepi nanti, pikiran kita benar-benar bisa fokus, terkonsentrasi merenung dengan hati jernih ke satu titik. Tanpa emosi, tanpa ambisi dan juga tanpa banyak aksi yang bau terasi,” kata Amat mengajak para pemuda mencuci sanubarinya. “Kita sudah diajarkan oleh ilmu kesehatan untuk mandi setiap hari, mencuci tangan sebelum makan dan mencuci kaki sebelum tidur. Itu semua ritual jasmani agar tetap sehat, kuat, tidak gampang kena penyakit dan akan menjamin umur panjang. Tapi kesehatan jasmani tidak sempurna kalau tidak ditopang kesehatan rohani. Itulah kita upayakan dengan introspeksi.” “Besok Minggu, datanglah ke rumah bapak. Kita bersama-sama melakukan introspeksi. Karena

INTROSPEKSI

ini sangat penting untuk generasi muda. Inilah yang hilang dalam pendidikan kita sekarang. Karena pelajaran budi-pekerti dikesampingkan. Karena sesuai dengan cetak biru pendidikan kita, sekolah hanya jadi pabrik manusia pintar dan kompetitif.” Para kawula muda menyambut tawaran Amat dengan bersemangat. Tak kurang dari 50 orang muncul mau ikut cuci gudang otak dan hatinya alias introspeksi. Amat sangat gembira, “Tak menyangka anak-anak muda itu mau diajak introspeksi,” katanya terharu. Sebaliknya, Bu Amat jadi keki dan pusing. Banyak di antara peserta itu anak-anak nakal. Sambil mengunci semua kamar, dia permisi pada Amat, mau menengok cucunya. “Bapakmu itu lagi aneh, Ami,” kata Bu Amat, begitu sampai di rumah Ami. “Masak ngumpulkan anakanak nakal di rumah sampai 100 orang, mau diajak introspeksi. Kayak nggak ada kerjaan saja. Ibu cepatcepat ke mari, nggak mau disuruh ngurusin anak-anak itu! Tolong kritik Bapak, kok jadi ngurus brandalan! Itu kan tugas pemerintah!” Ami tidak menjawab, ia tidak setuju dengan sikap ibunya. Sebab

sebetulnya, semua amal itu berasal dari idenya. Amilah yang menyarankan bapaknya supaya mengarahkan anak-anak muda setempat supaya digarap mentalnya untuk melawan serangan para pengedar narkoba. “Karena kalau menunggu tindakan pemrintah di masa pilkada begini susah” Bu Amat langsung curiga karena Ami diam saja. “Masak anak-anak tanggung diajak bapakmu introspeksi?! Mana mungkin!” “Ya, maksud Bapak mungkin untuk mawas diri supaya mencegah mereka jangan sampai ... .” “Kena narkoba? Mana bisa, mereka sudah kena, kok! Ibu kan kenal mereka semua!” “Apalagi begitu, Bu. Siapa tahu dengan mengajak mereka menilai dirinya sendiri mereka nanti bisa insaf!” “Tidak mungkin! Mereka menilai orang lain saja sudah keliru, bagaimana mungkin bisa menilai dirinya sendiri? Itu si Agus, cucu Bu Alit yang mulai keranjingan narkoba menganggap anak-anak baik yang rajin sekolah itu kuno, tidak gaul. lebai, katanya. Dia sendiri menyebut dirinya apa, generasi X katanya!”

“Makanya mereka perlu introspeksi!” “Ya itu! Kata Bapakmu juga begitu. Yang perlu introspeksi itu bukan mereka, tapi bapakmu! Orang yang sudah kena narkoba tidak bisa sembuh! Ah, mana bisa! Dimasukkan penjara saja, keluar malah lebih parah!” Ami tak menjawab ia tak mau bertengkar. Siang hari dengan alasan mau beli susu Ami pamit ke supermarket. Tapi sebenarnya ia nyelonong menemani bapaknya memimpin anak-anak muda itu melakukan introspeksi. Malam hari, karena cemas anakanak nakal itu merecoki rumah, Bu Amat pulang. Ia masuk rumah dari belakang. Langsung ngecek kunci kamar. Masih beres. Semua barangbarang masih ada di tempatnya. Bahkan pisang ranum di atas meja makan, ketika dihitung jumlahnya masih sama. Tapi sepi sekali. Bu Amat mendadak curiga. Dengan mengendapendap ia mengintip ke ruang depan. Nampak gelap karena jendela

tertutup semua dan lampu belum dinyalakan. Bu Amat lalu menyalakan lampu dan langsung kaget. Ternyata, semua anak-anak muda itu bergeletakan di kursi dan lantai. Hanya tinggal 15 orang. Entah ke mana yang lain. Semuanya nampak tidur pulas. Ada yang ngorok. Ada yang ngiler. Bu Amat bengong. Waktu ia menoleh ke belakang, Amat sudah berdiri dekatnya dan memberi isyarat. “Jangan diganggu. Mereka sedang belajar introspeksi. Tapi dasar tidak biasa konsentrasi, banyak yang salah jalan. Sebagian diam-diam pergi, mungkin lapar, sebagian ketiduran sebab mungkin jarang duduk santai atau merenung, lalu ngantuk. Tapi Bapak berhasil.” Bu Amat tercengang. “Berhasil apa?” “Introspeksi bagus, tapi lain macam orang, lain caranya. Kalau gagal jangan salahkan introspeksinya, tukar caranya. Minggu depan kita introspeksi lagi dengan cara pertandingan!”

Mompreneur Solusi Menambah Uang Dapur

Mompreneur sendiri berasal dari dua kata yaitu “mommy (ibu) dan entrepreneur (wiraswasta). Jadi mompreneur adalah suatu istilah yang ditujukan pada seorang ibu rumah tangga yang memiliki dan mengelola usahanya sendiri. Kita tahu bahwa beberapa tahun belakangan ini, kewirausahaan terus didorong agar masyarakat tidak hanya diam saja, dan segera mengubah pola pikir untuk membuka usaha sendiri. Sebab entrepreneur merupakan salah satu roda penggerak ekonomi suatu negara. Ada beberapa alasan yang membuat seorang ibu rumah tangga banting setir menjadi pengusaha. Salah satunya untuk membantu ekonomi keluarga yang mengharuskannya harus berjuang keras agar dapat bertahan mengarungi kehidupan. Salah satu contohnya adalah bagi ibu yang telah menjadi single fighter karena dicerai, ditinggal pergi suami, suami pengangguran, suami di PHK atau karena sang suami meninggal dunia. Saat ini mompreneur tak selamanya yang hanya berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Melainkan banyak juga yang

bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

3. Susun Jadwal Ketika membangun usaha di rumah, sering Anda akan direpotkan saat mengurus keluarga dan mengerjakan bisnis Anda. Terkadang tanpa disadari, Anda akan mengerjakan kedua hal tersebut secara bersamaan, sehingga urusan rumah tangga dan urusan bisnis menjadi tidak tuntas semuanya. Maka, susunlah jadwal yang tepat dan kelola waktu dengan bijaksana agar satu per satu kepentingan bisnis dan urusan rumah tangga bisa diselesaikan dengan baik.

menjalani bisnis walaupun telah berprofesi sebagai wanita karier. Disinilah dibutuhkan kemampuan untuk membagi waktu antara pekerjaan di kantor, pekerjaan di rumah, bisnis pribadi terlebih jika telah memiliki suami dan anak-anak. Sisi positif yang didapat dengan menjadi mompreneur antara lain menambah pemasukan untuk keluarga, melatih talenta, kreatifitas dan inovasi serta penyalur hobi serta memperluas relasi dan pertemanan. Langkah awal untuk menjadi seorang mompreneur dapat dimulai dengan: 1. Ikuti Passion Anda Kecintaan atau passion akan sesuatu membuat kita termotivasi dan bergairah dalam bekerja. Dengan motivasi kerja yang bagus, maka bisnis Anda pasti menemui keberhasilan. Ada beberapa pilihan bisnis yang bisa Anda kerjakan dari rumah, misalnya bisnis kuliner, bisnis fashion, usaha kerajinan tangan, dsb, maka pilihlah bisnis yang benar-benar Anda sukai dan mampu Anda lakukan. Dengan membangun usaha yang senang Anda kerjakan.

Ayu Dwijayanti SE.MSi.Ak

2. Ciptakan “Home Office” Home Office atau kantor dalam rumah merupakan salah satu cara agar anda bisa fokus terhadap jalannya bisnis anda. Untuk menciptakan “home office”, Anda bisa menggunakan salah satu ruangan rumah Anda sebagai ruang kerja dalam mengerjakan hal-hal yang terkait dengan bisnis Anda. Selain itu, dengan menyiapkan “home office”, barang-barang ataupun dokumen yang merupakan bagian dari bisnis Anda, tidak akan terganggu oleh anggota keluarga.

4. Libatkan Suami dan Anak-anak Selain memperkenalkan usaha kecil kita pada keluarga secara tidak langsung kita mengajarkan pada si kecil untuk berjiwa wirausaha. Peran dan dukungan suami

juga dapat digunakan sebagai masukan untuk kemajuan bisnis di masa yang akan datang. Anda sebagai wanita yang ingin menjadi wirausaha harus benar-benar mempersiapkan diri, karena beberapa kasus ada anakanak yang kadang pendidikan dan kesehatannya terabaikan karena kesibukan sang ibu bahkan keluarga yang menjadi retak akibat kesibukan dalam berbisnis. Menjadi seorang wanita karier dengan pengh asilan tetap, seorang ibu yang sayang keluarga dan punya bisnis sendiri sehingga mandiri dalam sisi keuangan tentu menjadi idaman banyak wanita. Saya sendiri sudah mencoba. Bagaimana dengan Anda?

Sudut Pandang

Nyepi yang merupakan hari raya umat Hindu yang dirayakan setiap Tahun Baru Saka. Hari Nyepi jatuh pada hitungan Tilem Kasanga dalam kalender Bali. Hari Raya Nyepi ini dipercayai merupakan hari penyucian dewa-dewa yang berada di pusat samudra yang membawa intisari amerta air kehidupan. Untuk itu umat Hindu melakukan pemujaan suci terhadap mereka.

“T

ujuan dari hari raya ini yaitu untuk memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi, dalam penyucian Bhuana Alit yakni alam manusia dan Bhuana Agung yakni alam semesta,” ujar I Dewa Ketut Wisnawa, S.Sn., M.Ag. Ia menjelaskan rangkaian Nyepi mulai dari Melasti. Saat Melasti, segala sarana persembahyangan di Pura dibawa ke pantai, laut atau danau, karena merupakan sumber air suci dan dapat membersihkan segala kotoran yang ada di dalam diri beserta di alam semesta. Tujuan dari melasti adalah mengambil sari-sari kehidupan di tengah-tengah samudra. Yang kedua ada tawur atau pecaruan yang merupakan penyucian atau pemarisuda buta kala dan segala leteh. Kegiatan ini diikuti dengan upacara Pengrupukan, yakni penyebaran nasi aur, mengobori rumah dan pekarangan, menyemburi rumah dan sekitar dengan simbuh-simbuhan yang merupakan sesikepan, serta memukul benda-benda apa saja untuk mengusir buta kala dari rumah dan sekitarnya. Saat Pengrupukan, dirangkai-

I Dewa Ketut Wisnawa, S.Sn., M.Ag.

kan dengan pawai ogoh-ogoh. Sebenarnya menurut Dewa Wisnawa, goh-ogoh tidak memiliki hubungan langsung dengan Hari Raya Nyepi. Ogoh-ogoh hanya merupakan kreativtas antar pemuda untuk memeriahkan hari raya dan simbol dari rasa terima kasih kita kepada Ida Sang Hyang Widhi. Bentuk ogoh-ogoh disesuaikan dengan sifat buta kala yaitu besar seram dan menakutkan.

Yang ketiga ada puncak acara Hari Raya Nyepi, di hari tersebut suasana sunyi tanpa ada aktivitas seperti biasa. Umat Hindu melakukan Catur Brata Penyepian yang terdiri dari, amati geni (tiada api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak berpergian), amati lelanguan (tiada hiburan). Yang terakhir ada Ngembak Geni atau Ngembak api, yang dilaksanakan pada pinanggal ping kalih atau esoknya. Di hari tersebut keluarga besar dan tetangga saling mengucap syukur dan memaafkan. “Kalau kondisi saat ini itu kan karena kena pengaruh dari zaman modern, Catur Brata Penyepian yang seharusnya dilaksakan dengar benar sekarang sudah tidak dilaksanakan lagi. Masyarakat yang seharusnya mengendalikan diri dengan cara puasa tetapi saat ini masyarakat malah mempersiapkan makanan sebelum Hari Raya Nyepi itu berlangsung, masyarakat sekarang berbondong-bondong untuk membeli makanan buat persediaan di Hari Raya Nyepi, bahkan ada juga yang berfoya-foya saat Hari Raya Nyepi berlangsung,” ujar dosen IHDN Denpasar ini. -Juniantari

Kesadaran dan Kejujuran

Kata Hati

Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budi­a rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Se­k retariat: Ayu ­A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­m erah ­B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­ ­F aksi­m ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang ­G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

23

Penyucian Bhuana Alit Momen Introspeksi Diri dan Bhuana Agung

Ayu Dwijayanti, S.E.,MSi.Ak PNS

Rubrik ini khusus untuk wanita yang ingin menuangkan ide/pemikiran/ gagasan dalam bentuk tulisan. Tema terkait wanita dan keluarga serta tidak mengandung unsur SARA. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter (1,5 halaman A4; spasi 1,5; times new roman 12). Lampirkan juga foto close up (bukan pasfoto). Cantumkan nama lengkap, profesi, nomor hp, dan alamat email. Naskah dikirim ke redaksi@tokoh.co.id, redaksitokoh@yahoo.com. Tulisan yang dimuat mendapatkan bingkisan dari Telkomsel. Telkomsel sebagai satu-satunya operator paling Indonesia selalu berkomitmen untuk membangun dan memajukan Indonesia. #UntukIndonesia

Edisi 891/ 7 - 13 maret 2016

Mustika

Pada dasarnya segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia adalah untuk mencapai tujuan. Menyadari bahwa manusia tidak ada yang sempurna maka dalam mencapai tujuan tersebut tidak jarang manusia melakukan kesalahan atau kekurangan yang tidak sesuai dengan harapan. Hal ini disampaikan oleh I Kadek Mustika, S.Pd.B.,M.Pd. Untuk mencapai tujuan yang terarah jalan yang harus dilakukan adalah melalui evaluasi atau menilai diri. “Pada intinya merefleksi diri adalah melakukan perenungan secara mendalam untuk menge-

tahui kelemahan dan kekurangan dalam diri yang nantinya bisa disempurnakan,” ujar dosen Jurusan Pendidikan Bahasa Bali Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha ini. Bagi pria yang akrab disapa Dek Mus ini, kunci utama intropeksi diri ada dua hal. Pertama adalah kesadaran. “Kalau manusia sudah tidak sadar maka ia tidak akan bisa melakukan introspeksi diri. Maksudnya sadar kalau manusia tidak sempurna dan memiliki kekurangan,” jelasnya. Kedua, introspeksi diri akan berhasil jika manusia sudah memiliki kejujuran. Banyak orang yang sudah melakukan evaluasi diri tetapi tidak bisa memperbaiki dirinya. “Apa yang salah? Karena dia tidak jujur,” tambah pria kelahiran Datah ini. Artinya seseorang itu masih dilindungi oleh keegoannya dan tidak jujur mengakui kesalahan dirinya. Menyangkut dunia akademis baik di lingkungan sekolah, dosen, guru, mahasiswa dan lain sebagainya introspeksi diri itu sangat penting. Dunia akademis yang menyangkut lingkungannya juga mempunyai ranah untuk mempunyai tujuan tertentu. “Mahasiswa ada di kampus tujuannya untuk belajar dan mendapatkan ijazah. Dosen ada di kampus

untuk melakukan yang namanya Tri Dharma Perguruan Tinggi,” tambah pria yang mempunyai hobi membaca tersebut. Ketika seseorang tidak bisa melakukan introspeksi diri maka ia tidak akan mengetahui sejauh mana capaian yang sudah dilakukan. Menurutnya, Jika mau melakukan introspeksi maka hal ini akan bertujuan untuk memperbaiki kualitas hubungan dan kualitas diri. Dengan begitu jika keduanya sudah diperbaiki tujuan apapun baik itu di dunia akademis maupun sosial pasti akan terwujud. Seorang dosen tentunya diharapkan memberikan contoh yang baik bagi mahasiswanya. Masalah kehadiran salah satunya. Jika perkuliahan dimulai pukul 07.30 maka

Introspeksi diri adalah melihat ke dalam diri sendiri. Pada waktu melihat diri sendiri inilah kita harus benar-benar jujur untuk menghasilkan introspeksi diri yang tepat. Setelah itu, mulai hidup baru untuk memperbaiki kesalahan lalu, berpikir ke depan dengan segala sesuatu yang baik. Demikian diungkapkan AA Sagung Rat Mudiani, Sekretaris Material Grand Hyatt Nusa Dua Bali. Ia sendiri tak punya ritual khusus dalam melakukan intropeksi diri. Biasanya, intropeksi diri sering ia lakukan setiap akhir tahun. Intropeksi diri menyangkut soal karier, dirinya AA Sagung Rat Mudiani pribadi, dan keluarga. Cara melakukan introspeksi diri, memahami kelemahan pribadi. Introspeksi diri diawali dengan sikap rendah hati. Menyadari bahwa kita tidak luput dari kekeliruan atau kesalahan selama satu tahun tersebut. “Jangankah satu tahun, sehari saja mungkin ada kesalahan yang kita perbuat tanpa sengaja,” kata perempuan yang akrab disapa Bu Sagung ini. Menurutnya, pengalaman selalu merupakan guru yang terbaik. Introspeksi diri bukan berarti bersikap menghakimi atau menyalahkan diri sendiri tetapi bentuk kebesaran hati untuk memperbaiki dan mengembangkan diri sendiri. “Introspeksi diri tujuannya, agar ada pertumbuhan pribadi, tidak hanya bersikap menyalahkan orang lain, situasi atau bahkan Tuhan tetapi lebih banyak melihat diri sendiri, apakah yang kita lakukan sudah benar atau perlu diperbaiki,” ucap Bu Sagung. Ia mencontohkan dalam urusan karier, apakah ada beberapa tahapan dalam karier yang belum tercapai. Hal itu perlu dievaluasi agar tahun depan bisa diwujudkan, minimal mendekati harapan. Begitu juga, dengan urusan keluarga. “Untuk urusan keluarga, apakah hubungan dengan anak-anak dan suami sudah lebih baik? Apakah waktu bersama keluarga sudah cukup atau perlu ditambah. Inilah yang harus saya introspeksi,” ujarnya menambahkan. Menurutnya, momen Hari Raya Nyepi juga menjadi sarana introspeksi diri. “Kami mengurangi kegiatan agar lebih banyak waktu bersama keluarga. Memang saya tidak ada ritual khusus saat Nyepi, tapi kebersamaan bersama keluarga menjadi salah satu introspeksi diri agar ke depan, hubungan keluarga makin harmonis,” kata Bu Sagung. Kegiatannya seperti mengobrol dengan santai. Biasanya, tentu dengan kesibukan masing-masing, waktu untuk mengobrol panjang lebar terkendala, namun, saat Nyepi, waktu kebersamaan bisa dimanfaatkan dengan saling bicara dari hati ke hati. –Wirati Astiti

dosen harus hadir tepat waktu. “Namun, ketika ada mahasiswa yang terlambat mengikuti jam perkuliahan, ya memang kita harus introspeksi diri,” tambahnya pria kelahiran 15 April ini. Ketika sudah dengan jujur menyadari bahwa dosen sudah memberikan contoh yang baik tetapi nyatanya mahasiswa masih ada yang terlambat maka dengan cara seperti itu dosen memiliki argumen untuk menasehati mahasiswanya. Hasil yang ditimbulkan dari sebuah proses evaluasi tidak

dapat dilihat secara langsung. Ia juga percaya bahwa jika seseorang mengetahui kekurangan dan kelemahan tidak menjanjikan keberhasilan kalau tidak ada tindak lanjutnya. “Bisa saja seorang menyadari di dalam kelas misalnya kasar dengan mahasiswa tetapi besoknya lagi masih marah-marah,” tambahnya. Meskipun berkali-kali melakukan introspeksi tetapi tidak ada upaya memperbaiki maka dalam meraih tujuannya tentu tidak akan tercapai dengan baik. –Wiwin


24

Edisi 891/ 7 - 13 MARET 2016

Memahami Kekurangan dan Kelebihan

Dalam hidup ini tak ada yang sempurna. Dari berbagai aktivitas yang kita jalani tak jarang terjadi kekeliruan. Karenanya secara berkala kita perlu melakukan evaluasi. Cukup banyak peristiwa yang membuat kita harus belajar lagi dan membiasakan introspeksi diri atau sering pula disebut dengan kontemplasi pribadi dan refleksi diri.

M

enurut Kenrina A n g g o r o Wu ­ landari pemi­ lik Izatta We­ dding & Decoration untuk mengetahui kekurangan dan kelemahan pribadi, agar da­ pat mengembangkan diri menjadi lebih baik lagi. Introspeksi diri san­ gat diperlukan sebab pengalaman yang sama tidak selalu hasilnya sama. Dengan introspeksi diri kita akan dapat menemukan titik dan

inti dari setiap tujuan yang kita lakoni. Apakah langkah yang telah kita lakoni sebelumnya sudah benar atau belum. Dikatakannya, selama ini harus diakui sering kali kita melihat ke­ salahan orang lain bahkan meng­ kritiknya. Namun, pernahkah kita menyadari kalau kita juga cukup sering berbuat salah. Melalui introspeksi diri sendiri, saya dan kita semua akan bisa memahami kekurangan dan kelebihan yang

kita miliki, katanya. Dengan introspeksi, lanjut Kernina dirinya bisa lebih banyak menanyakan ke dalam diri send­ iri, apakah dia sudah berhasil mencapai apa yang diharapkan­ nya, apa yang ia mau dan apakah mimpinya sudah terlaksana. Tentunya satu pertanyaan besar pada dirinya apakah ia selama ini sudah berada pada track yang benar. Introspeksi diri inilah yang bisa mengetahui apakah diri saya sudah melakukan sesuatu, men­ jalankan perubahan menjadi lebih baik, dan menyadari jika tindakan yang saya lakukan sudah tepat, paparnya. Sebagai manusia, katanya ka­ dang kita masih sering terlena dan berpikir santai aja nanti juga akan beres. Toh saya sudah melaku­ kannya dengan baik. Tanpa kita pernah memikirkan sesungguh­ nya terjadi dalam diri. Dengan in­ trospeksi diri pula Kerina merasa bisa mengevaluasi, ucapan, sikap,

Siapkan Waktu Khusus Bicara introspeksi diri, pasti semua orang pernah melakukan­ nya. Namun, seberapa sering hal itu dilakukan, mungkin setiap orang punya pendapat berbedabeda. Agustin Ramli mengaku berusaha melakukannya sesering mungkin. “Seharian kita banyak melaku­ kan berbagai pekerjaan, berinteraksi dengan orang, dan lain-lain, ketika pulang ke rumah, biasanya sebelum tidur aku me-review kembali apa saja yang terjadi seharian, apa

yang aku lakukan, ya semacam mengevaluasi diri,” ungkap man­ tan Miss Indonesia Tourism ini. Menurutnya, introspeksi diri itu penting dan harus sering di­ lakukan agar kita menjadi pribadi yang lebih baik. Sebagai manusia tak luput dari berbagai kesala­ han. Manusia mustahil menjadi sempurna, namun manusia punya potensi untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Untuk itulah pentingnya melakukan refleksi diri. Dengan begitu kita bisa melakukan hal-hal yang bermanfaat lebih dari sebelumnya. Diakuinya juga kalau kes­ ibukan kerja membuat dirinya tidak bisa memiliki banyak waktu untuk perenun­ gan secara khusus. Aktivitas yang pa­ dat setiap harinya membuat waktu untuk pere­ nungan terasa begitu sempit. “Aku di Jakarta punya banyak pekerjaan, ya sebagai presenter, mengem­ bangkan apo­ tik, aktivitas sosial, dan lainlain. Sehingga tak jarang waktu un­ tuk ‘merenung’ menjadi sempit. Sepertinya sulit untuk menda­ patkan suasana

tenang. Seperti selalu berkejaran dengan waktu. Pekerjaan menum­ puk, stress, lalu lintas macet. Ada banyak tuntutan, banyak kebu­ tuhan dan keinginan, jadi sulit. Bayangin aja, karena rutinitas di Jakarta, maka begitu bangun langsung teringat oh ini peker­ jaan menumpuk, harus segera ke sana, ke sini, meeting.’ Trus mikir, ‘aduh bagaimana kalau terlambat, lalu lintas macet’, dan lain-lain,” papar finalis Putri Indonesia 2006 ini. Yang bisa ia lakukan adalah melakukan perenungan singkat. Misalnya, sebelum tidur dan ban­ gun tidur pagi. Karena disadarinya merefleksi diri adalah penting maka ia pun menyediakan waktu khusus untuk itu. Kita membutuhkan waktu yang tenang untuk diri sendiri, kita harus memberi kesempatan pada diri sendiri untuk melakukan review. Itu hanya bisa dilakukan dalam suasana tenang. Terkait dengan itu pula maka Agustin secara rutin mengagenda­ kan untuk setidaknya dua bulan sekali ia ‘menyepi’ menjauh dari hingar-bingar kesibukan Jakarta. Tempat favorit yang dipilihnya ada­ lah Bali. Seperti yang baru-baru ini dilakukannya. Selain menyelesai­ kan beberapa pekerjaan di Pulau Dewata, dia juga menyempatkan diri berkunjung ke Ubud. “Aku ikut kelas meditasi dan yoga di sana. Hasilnya, terasa lebih segar. Kegiatan seperti ini saya lakukan minimal dua bulan sekali. Aku san­ gat memerlukan ini maka meski sibuk sekalipun aku harus melu­ angkan waktu. Ini semua untuk

Sudut Pandang

tindakan , hingga pemikirannya menuju arah lebih baik dalam hidup ini. Seperti pepatah men­ gatakan apa yang kita, ucapkan, pikirkan, dan kerjakan, itu pula akan kita dapatlan dalam hidup kita. Selanjutnya Kenrina menyata­ kan bagi dirinya sendiri, ia tidak pernah ragu untuk instrospeksi diri, karena setiap orang memang memerlukan hal ini. Introspeksi diri bagaikan kita di depan cer­ min, melihat keadaan diri sendiri. Maka ia pun melakukan intros­ peksi diri dengan jujur, supaya mendapatkan gambaran yang sesungguhnya dari diri sendiri. B eb erap a langkah untuk melakuan introspeksi diantaranya Bahwa introspeksi diri perlu di­ awali dengan sikap rendah hati. Menyadari kalau kita tidak luput dari kesalahan. Tidak akan ada peningkatan kepribadian jika kita hanya bersikap menyalahkan orang lain, situasi atau bahkan diri aku sendiri, untuk kebaikan aku,” lanjut Agustin yang sedang mengembangkan‘apotikpintar. com’. Secara pribadi dia merasakan ada banyak perubahan yang dia dapatkan dengan melakukan refleksi diri secara rutin. Yang pasti dia merasa menjadi pribadi yang lebih baik, semakin me­ mahami orang lain, lebih bisa menerima pendapat orang lain, lebih menghargai perbedaan, dan yang tak kalah penting evaluasi diri membantu menurunkan rasa ego sehingga menjadi lebih pengertian kepada orang lain. UBAH MINDSET Yang juga menarik yang sem­ pat terlontar dari Agustin adalah perenungan-perenungan yang kerap dia lakukan pada akhirnya juga bisa mengubah pandangan­ nya tentang feminisme. Dulu dia termasuk pengikut paham feminisme yang lumayan fanatik. Sebagai wanita yang merasa bisa menggapai semuanya, dulu dia merasa bisa melakukan apa saja. Independen. “Zaman semakin modern, fem­ inisme semakin tinggi. Ada banyak aliran yang bilang ‘wah’ ngapain punya pasangan, perempuan juga bisa bekerja, bisa memiliki peng­ hasilan yang cukup, perempuan bisa melakukan semuanya. Ada banyak wanita yang memiliki karier cemerlang memiliki pan­ dangan semacam itu. Tak per­ lu tergantung kepada laki-laki. Mereka berpandangan tak perlu menikah, cukup have a partner,” ungkap wanita kelahiran Agustus 1983, ini. Namun, ketika ia mulai rajin melakukan perenungan-perenun­

Kenrina Anggoro Wulandari

Tuhan Yang Maha Kuasa. Intro­ speksi diri juga bukan berarti menyalahkan atau pun meng­ hakimi diri, namun bisa dibilang sebuah kebesaran hati untuk mau memperbaiki diri. Justru di sini­ lah terlihat kematangan pribadi seseorang dari keberaniannya membuka diri demi mengevaluasi dirinya sendiri. Sebenarnya introspeksi diri biasa dilakukan untuk mema­ hami kelemahan, serta proses penyadaran terhadap diri sendiri menuju pribadi yang lebih baik. Ini karena kita semua memi­ liki kesalahan, kekeliruan juga kekurangan, baik yang dilakukan dengan sadar maupun tanpa disa­ dari. -Sri Ardhini gan, mulai rajin melakukan intro­ speksi diri, banyak membaca, sharing dengan teman, barulah Agustin menyadari kalau pandan­ gan tersebut tidak sepenuhnya benar. Meskipun wanita sudah mampu mencapai karier seperti pria, termasuk dalam hal finan­ sial, bukan berarti wanita tidak membutuhkan laki-laki. Karena sesungguhnya kondrat wanita adalah menjadi istri, ibu, mela­ hirkan anak, dan suami beta­ papun tetap lah adalah seorang imam dalam keluarga. Sesukses apapun seorang perempuan da­ lam berkarier, tetap saja ia harus mau dibimbing dan diarahkan oleh suaminya. “Mengubah mindset memang tidak mudah, tapi bukan berarti tidak bisa dilakukan. Mindset aku pun akhirnya bisa berubah, meski untuk itu membutuhkan waktu yang lama dan tentu tidak mudah juga. Perubahan itu semua setelah aku kerap melakukan introspeksi diri, juga membaca buku-buku, serta mendengarkan pandanganpandangan orang lain. Jadi aku belajar dari kesalahan-kesalahan yang aku buat, berusaha mema­ haminya dan memperbaiki diri aku agar bisa menjadi wanita yang lebih baik lagi. Jadi sampai seka­ rang masih terus berproses dan aku terus belajar,” katanya. Jadi, ketika kita mau berubah, mau terus belajar dan mau beru­ saha memperbaiki diri terus menerus, Tuhan pasti akan mem­ bantu. “Jadi aku berprinsip, ‘do your best let God do the rest’. Jadi lakukan saja yang terbaik yang dapat kamu perbuat, biar Tuhan yang akan menyelesaikan sisanya,” kata Agustin. -Diana Runtu

redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id

mingguantokoh

@mingguantokoh

mingguantokoh

www.tokoh.co.id


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Tokoh Edisi 891 | Tokoh by e-Paper KMB - Issuu