Skip to main content

Tokoh Edisi 887 | Tokoh

Page 1

24

Edisi 887/ 8 - 14 Februari 2016

Harga Bunga Naik 10 Kali Lipat Jelang Galungan, penjualan buah-buahan meningkat. Hal ini diungkapkan Ni Ketut Niarti, seorang pedagang di Pasar Batu Kandik, Denpasar. Dari pengalamannya, penjualan buah melonjak tiga hari sebelum Galungan.

P

asokan buah didapatkan perempuan asal Batu Kandik ini daru berbagai tempat, salah satunya Jawa Timur (Jatim). “Buah naga pasokannya

dari Jatim,” ujar ibu dua anak ini. Namun, cuaca yang tak menentu ini kadang membuat kiriman menjadi terlambat. Sementara itu, Nanik, seorang pedagang bunga di Pasar

Kumbasari menuturkan bunga pacar yang mengalami kenaikan paling tinggi. “Kalau hari biasa itu per kantong plastik seberat 5 kg, harganya cuma Rp 3 ribu, sekarang per kantong plastik yang sama menjadi Rp 30 ribu. Kenaikan bisa 10 kali lipat,” ujarnya. Seperti halnya Niarti, ia juga musim hujan memengaruhi kondisi bunga. Musim hujan membuat bunga pacar cepat busuk. Karena itu, pasokan agak tersendat se-

Sudut Pandang

Ni Ketut Niarti, pedagang buah di Pasar Batu Kandik

dangkan permintaan tinggi. Selain bunga, janur juga mengalami lonjakan permintaan. ”Janur saya datangkan dari Jawa karena ukurannya lebih besar daripada janur Bali. Soal harga, janur Jawa juga lebih murah

dibanding janur Bali,” ungkap Nanik Pada hari biasa, Nanik menjual janur 20 sampai 30 lonjor sedang­kan menjelang hari raya Galung­an ia bisa menjual lebih dari 40 lonjor. -Juni/Suarni

Turunkan Ego, Naikkan Perasaan

I Made Adi Surya Pradnya

Ni Made Budiasih

Hari Raya Galungan adalah hari raya umat Hindu yang dirayakan setiap 6 bulan sekali, pada Buda Kliwon Dungulan. Kata Galungan dalam bahasa jawa Kuno berarti menang. Makna dari perayaan Hari Raya Galungan ini adalah untuk merayakan kemenangan dharma.

Lontar Sundarigama menuliskan ngaran galungan patitis ikang yan yasa samadi galang apadang wehat kene sarwa biya karyaning jagat. Artinya, pada saat Galungan, umat Hindu beryoga. Hasil beryoga untuk membersih­kan diri dari segala cobaan dan godaan. Galungan juga bermakna kemenangan dharma

atas adharma. “Kita memerangi adharma, yang ada dalam diri kita sendiri. Ini dilakukan tiap hari. Puncaknya saat Buda Kliwon Dungulan,” ujar Dr. I Made Adi Surya Pradnya, S.Ag,M.Fil.H, dosen Teologi IHDN Denpasar. Ia menjelaskan rangkaian Galungan dimulai dari Sugian Jawa (Wraspati Wage Sungsang) yang bermakna pembersihan buana agung (alam semesta), selanjutnya Sugian Bali (Sukra Kliwon Sungsang) yang berarti pembersihan dalam diri kita sendiri. Setelah itu Penyekeban (Redite Paing Dungulan), Penyajaan (Soma Pon Dungulan), dan Penampahan Galungan (Anggara Wage Dungulan). Ni Made Budiasih, S.Ag., M.Ag menambahkan pada saat Galungan, bhatara-bhatari turun dari kahyangan memberkati umat manusia. Persembahyangan yang dilakukan di Pura,

Sanggah/Pame­rajan bertujuan mengucapkan terima kasih kepada Hyang Widhi atas anugrah-Nya itu. Ucapan terima kasih ke hadap­an Hyang Widhi karena sudah dianugerahi kecukupan sandang pangan yang disimbolkan dengan menggantungkan beraneka buah-buahan, umbi-umbian, jajan, dan kain putih kuning juga diwujudkan dalam bentuk penjor. Pemasangan penjor biasanya dilakukan saat Penampahan Galungan. Pada sore harinya, segenap keluarga mabeakala, yaitu upacara pensucian diri untuk menyambut hari raya Galungan. Mengenai penjor, Adi Surya dan Budiasih mengakui sekarang banyak penjor kreatif. “Penjor-penjor saat ini sangat kreatif. Hal terpenting dari penjor Galungan itu ada pala bungkak, pala gantung, plawa serta biji-bijian.

Penjor adalah simbol dari diri kita, yang bermakna ego diturunkan dan perasaan dinaikkan,” ujar Adi Surya. Sementara itu, I Ketut Metra, seorang pedagang penjor musiman di Br. Den Yeh, Peguyangan Kaja mengatakan mendapatkan janur dan bambu dari Petang. Ia menghabiskan modal sekitar Rp 7 juta untuk menyiapkan semua perlengkapan. “Selain menjual perlengkapan penjor saya juga sering menerima pesanan penjor yang sudah jadi, tetapi saya hanya menerima pesanan di sekitaran sini saja,” ujarnya. Biasanya empat hari sebelum Penampahan Galungan sudah banyak pembeli yang datang untuk membeli perlengkapan penjor. Kalau bahan tersisa biasanya ia titip di warung saudaranya yang menjual perlengkapan penjor. –Rukanta/Vijay/Pasek

Proses Pengenalan Agama pada Anak Dalam perhitungan kalender Bali, wuku Dungulan adalah saat yang paling dinantikan seluruh umat Hindu di Indonesia pada umumnya, tidak terkecuali keluarga kecil yang satu ini. Galungan mereka maknai selain sebagai hari raya umat Hindu sebagai bentuk perayaan kemenangan Dharma melawan Adharma melainkan juga sebagai sebuah pembelajaran dan pengamalan tradisi, adat dan budaya Hindu Bali dalam keluarga kecilnya. “Berbagai persiapan kami lakukan dalam menyambut hari raya Galungan. Kami mengawali perayaan Galungan pada hari Senin yang merupakan hari Soma Pon Dungulan yang biasa disebut sebagai hari Penyajian Galungan kami sebut sebagai “harinya wanita” yang dalam tradisi keluarga kami merupakan hari untuk mempersiapkan segala kebutuhan untuk menyambut Galungan,” ucap Senja Pratiwi Dananjaya. Kegiatan pada hari Penyajaan Galungan ini, lanjutnya mereka awali dengan membeli buah, dan jajan serta bahan keperluan mejejahitan. Kemudian dilanjutkan dengan membuat jejahitan berupa berbagai jenis sampian yang dilakukan bersama dengan ibu mertua dan putri sulungnya Anindhita Indivara. “Biasanya saat majejaitan anak sulung saya selalu ikut duduk dan menemani kami sambil bertanya tentang berbagai jenis jejahitan yang kami buat. Ada ketertarikan dan keinginannya untuk membantu kami bahkan dia juga suka bertanya

kenapa Galungan dirayakan? Mengapa melakukan persembahyangan dan menghaturkan sesajen di berbagai tempat?” ujarnya dan mengatakan tak lupa dalam kesempatan tersebut, ia manfaatkan dengan baik karena merupakan saat terpenting untuk mendidik, memberi pengenalan dan pembelajaran Agama Hindu di Bali dengan tradisi, adat dan budaya yang terkandung didalamnya. Hari berlanjut menuju Anggara Wage Dungulan atau yang biasa kita sebut sebagai hari Penampahan Galungan. Hari ini dalam keluarganya disebut sebagai “harinya pria” walaupun tidak didominasi karena persiapan Galungan masih terus berlanjut, namun pada saat Penampahan Galungan, suami dan ayah mertuanya sudah mulai melakukan persiapan juga. Membuat penjor adalah kegiatan pertama yang dilakukan, seni tradisi dan budaya terlihat jelas. Antusias anak keduanya, Madhava Devarha membuat persiapan dan perayaan Galungan menjadi lebih berwarna. “Walaupun belum dapat membantu dan terkadang membuat “kericuhan kecil” namun ketertarikannya merupakan pembelajaran sejak dini apa dan bagaimana Galungan itu dirayakan. Setelah selesai membuat penjor, kegiatan Penampahan Galun-

Senja Pratiwi Dananjaya dan keluarga

gan dilanjutkan dengan “ngelawar”. “Walaupun suami dan ayah mertua saya tidak melakukan ritual “nampah” tapi esensi dari Penampahan Galungan tetap terjaga. Diawali dengan pembuatan bumbu-bumbu dan kemudian meraciknya sampai pada tahap “mebat” adalah hal yang tidak terlewatkan,” papar ibu tiga anak ini. KESEIMBANGAN HIDUP Pada Hari raya Galungan, keluarga Senja sudah mulai bersiap-siap dari pukul 04.00, dan mulai melakukan ritual menghaturkan sesajen dan sarana upakara, yang biasa disebut “mebanten”. Setelah mebanten di rumah dilanjut-

kan menuju “Merajan Ageng” yang terletak di rumah kakek dari sang suami. “Walaupun Merajan Ageng ini letaknya tidak lebih 200 meter dari kediaman kami, tapi kami sudah terbiasa menyebutnya dengan istilah “pulang kampung”. Di sana melakukan ritual yang hampir sama dengan di rumah. Yang berbeda adalah Situasinya yang sangat ramai karena dikunjungi saudara dan kerabat, baik untuk melakukan persembahyangan maupun sekedar bersenda gurau. Terasa sekali suasana hari raya Galungan,” terangnya Setelah menyelesaikan segala ritual persembahyangan di Merajan Ageng, tidak lupa kita melakukan “road show” istilah ini memang sangat familiar dalam keluarganya untuk menyatakan sekarang saatnya melakukan persembahyangan keliling ke PuraPura sebagai perwujudan “sembah bhakti lan matur suksma ring Ida Sang Hyang Widhi Wasa”. Pura-Pura itu terletak berdekatan dengan rumah mulai dari Pura Dalem Balun Sesetan, Pura Panti, Pura Banjar dan Pura Kahyangan Tiga. Selain itu Senja dan keluarga masih melanjutkan persembahyangan di Padmasana Pura Unud karena kebetulan ia, suami dan ibu mertuanya merupakan dosen yang mengabdikan diri di Unud.Sebelum sore hari biasanya mereka telah menyelesaikan seluruh

“road show” yang diakhiri dengan persembahyangan di Puri Candi Narmada. “Setelah selesai kami ngelungsur banten bersama-sama. Anak sulung yang paling bersema­ ngat karena dia merasakan bahwa hari raya Galungan adalah hari raya dimana kita bisa melihat betapa Ida Sang Hyang Widi Wasa melimpahkan segala anugerahnya dan kita wajib mensyukuri dengan segala apa yang ada,” ujarnya Perkataan putrinya ini pula yang membuatnya sangat bangga sebagai orang tua karena sedari kecil sudah menyadari apa arti dari keseimbangan hidup yang tidak diukur hanya dengan bersenang senang saja, melainkan dengan menghaturkan yadnya suci sebagai ungkapan rasa syukur atas segala limpahan yang diberikannya. “Hal yang dilakukannya pada saat ngelungsur adalah dengan memisahmisahkan jenis buah maupun kue ketempat yang telah saya pesiapkan, selain sambil menikmati juga sembari menunggu “sekaa” anak anak kecil dari banjar kami untuk melestarikan budaya ngelawang,” katanya. Hiburan ini, lanjut Senja menjadi tontonan yang seru bagi keluarganya, terutama anak –anaknya mengetahui betapa luhurnya budaya yang diwariskan kepada generasi ini. Sebagai penghargaan atas seni yang ditampilkan, layaknya pertunjukan seni keliling, banyak warga lain juga ikut menyaksikan dan memberikan sesari sebagai wujud apresiasi yang luar biasa. – Sri Ardhini

redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id

mingguantokoh

@mingguantokoh

mingguantokoh

www.tokoh.co.id


2

Ekspresso

Edisi 887/ 8 - 14 Februari 2016

GORO-GORO “Akhir tahun lalu hari Maulid Nabi Muhammad SAW dan hari Natal jatuh berdampingan. Koran Putu Wijaya nasional terkemuka langsung pasang kepala berita: Saatnya Rayakan Pluralisme,” kata Ami. “Ya!”sambut Amat semangat. “Kita di Indonesia memang memiliki banyak perbedaan, dari suku bangsa, adat-istiadat, pandangan politik, dan sebagainya, sampai agama. Kita saja di Bali, sama-sama Balinya, di Bali Utara, Kaja itu berarti Selatan, tapi di Bali Selatan, Kaja itu Utara!” “Betul! Banyak sekali perbedaanperbedaan kita di Indonesia. Tetapi itu bukan kekurangan, itu justru kelebihan. Betul, tidak, Pak?” “Memang!” jawab Amat lebih bersemangat lagi. Ia menambahkan, “Bapak jadi ingat, dulu entah tahun 59 atau 60, hari raya Idul Fitri dan hari Nyepi pernah jatuh pada hari yang sama. Pluralisme memang sudah merupakan darahdaging kita, seperti yang diungkapkan dalam: Bhineka Tunggal Ika.” Bu Amat muncul dari dapur, membawa ‘busung’ mau menjahit ‘canang’. “Dan sebentar lagi hari raya Imlek jatuh mepet dengan Galungan,” katanya nimrung. “Nah, itu dia,” sambung Ami.”Kita. dapat banyak bukti bahwa kita sudah lama hidup damai berdampingan dalam perbedaan, tapi kenapa ada orang yang tak bisa menerima ke-

akulturasi

kayaan kita itu sebagai aset nasional kita? Bukannya dibanggakan, tapi perbedaan malah digesek-gesekkan supaya membakar! Padahal bangsa lain, jangankan bhineka dalam banyak hal seperti kita, hanya beda antara dua suku saja, sudah meletuskan perang saudara berdarah-darah yang tak kunjung selesai? Kenapa itu, Pak” Amat tertegun. Ia coba memikirkan, “Mengapa kita yang sudah sejak lama sudah mampu hidup damai dalam perbedaan, kok sekarang seperti baru belajar ABC-nya pluralisme?” “Ya, karena ada yang menentang!” jawab Amat sendiri. “Padahal di dalam kenyataan, yang berbeda itu sendiri saling menghampiri, seakan mengingatkan kita ini sejatinya satu, walau berbeda” Ami yang membantu ibunya membuat canang melirik. “Bapak lagi melamun apa itu?” Amat terkejut. “Bukan melamun, Ami,” tukas Bu Amat. “Bapakmu lagi ngitung-ngitung nanti kalau dapat ‘angpao’ lagi dari Pak Hok Siang, seperti Imlek tahun lalu, mau beliin ibu mobil.” Amat ketawa. “Tidak usah nunggu angpao, kalau memang ibumu pingin punya mobil, tak belikan besok,” jawab Amat. “Tapi punya mobil tak cukup beli mobilnya, harus gaji supirnya, harus beli bensinnya, harus bayar pajaknya, asuransinya, bengkelnya dan mau dipakai ke mana, coba? Pakai arisan ke tetangga, kan cuma beberapa meter, mau parkir di mana?” Ami ketawa.

“Mobil kan tidak hanya untuk dinaiki tapi untuk status sosial. Kalau Bapak punya mobil, gengsi Ami juga akan ikut terangkat.” “Itu, dengar kata Ami, Pak!” “Mobil itu seperti anjing herder, Ami!. Mula-mula dia milik kita, lamalama kita yang dimilikinya. Kita yang diperbudaknya! Kan waktu kamu kecil kita punya mobil. Akhirnya dijual karena lebih banyak merongrong. Berapa kali ibumu terpaksa turun dorong mobil mogok! Untung kamu tidak lahir dalam mobil!” Bu Amat ketawa. Tapi tiba-tiba Ami serius. “Bapak benci mobil. Tapi ibu perlu alat transportasi. Ya, paling tidak lupakan ego masing-masing, lihat positifnya saja. Cari solusi baru! Paling tidak pakailah motor, supaya jangan jalan kaki terus. Malu Ami!” Bu Amat mencolek Ami. “Jangan ngomong begitu Ami, kasihan Bapakmu, uangnya dari mana?” “Pakai motor Ami! Itu ang-pao Ami untuk Bapak dan Ibu, menyambut Galungan ini!” Amat terkejut. Tiba-tiba ia mengerti bagaimana perbedaan dapat disatukan. Damai yang sudah jadi tradisi dalam berbagai perbedaan di Indonesia, tidak terjadi karena slogan, tapi melalui proses panjang. “Kuncinya, asal kita sama-sama rela memberikan urunan untuk sesuatu yang baru,” bisiknya kemudian ketika membonceng istrinya ke rumah Hok-Siang, sahabatnya yang bersiap menyambut Imlek.

Pelatihan Public Speaking kru Tokoh dengan narasumber Sri Sumahardani di Hotel The One Legian, Minggu (31/1)

Foto kiri: Penyerahan kenang-kenangan kepada Sri Sumahardani. Foto kanan: Penyerahan kenang-kenangan kepada Pratiwi, PR The One Legian

Ayo Lestarikan Kuliner Khas Bali Salah satu bisnis yang tak penah sepi adalah kuliner. Namun, saat ini, kuliner khas Bali, belum merajai pasar. Padahal, banyak pelaku wirausaha kuliner Bali. Memang, bagi yang punya lahan atau menyewa lahan, bisa berjualan setiap saat. Namun, bagi yang tak mampu menyewa lahan atau memiliki lahan sendiri, hanya bisa ikut berpartisipasi saat Pesta kKsenian Bali atau HUT kabupaten/kota. Saya berharap pemerintah terus bergerak melestarikan kuliner khas Bali dengan cara mengadakan festival makanan. Saya berharap, ada festival makanan yang digelar pemerintah setiap tiga bulan. Selain untuk memberikan kesempatan pelaku kuliner Bali untuk berjualan, juga, kesempatan untuk mempromosikan makanan khas Bali. Salah satu contoh kegiatan yang saya lihat positif, festival sambal di Bali Safari yang rutin digelar tiap tahun. Saya sendiri ikutserta berpartisipasi karena para anggota puri diundang untuk turut menampilkan aneka sambal.

bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

Made Padma Dewi Bajirani, S.Psi.

Tjok Istri Agung Adnyani

Dengan digelarnya festival makanan khas Bali, akan terdata berapa banyak makanan tradisional yang kita miliki. Selain pameran makanan, juga perlu diadakan lomba makanan. Tujuannya, agar setiap perempuan memiliki keterampilan untuk mengolah makanan yang bisa dijadikan peluang penghasilan.

Selain itu, perlu adanya wadah atau organisasi yang menampung para penekun kuliner agar mereka bisa bersama-sama berkembang. Wadah ini dibina pemerintah dengan membuat pelatihan-pelatihan, misalnya, bagaimana membuat olahan makanan khas Bali yang sehat dan aman (hygeienes dan sanitasi). Selain itu, perlu juga diberi pelatihan, bagaimana mengemas makanan agar terlihat menarik dan punya nilai jual. Saya yakin, kuliner khas Bali sangat luar biasa. Memang banyak warung makan yang masih sederhana belum mengedepankan sanitasi dan higienes. Disinilah, perlu pembekalan dari Dinas Kesehatan, agar kuliner Bali tak kalah dengan makanan Indonesia lain yang sudah terkenal. Sekarang ini penikmat kuliner khas Bali bukan hanya orang Indonesia, turis asing sudah mulai tertarik dengan kuliner Bali seperti sate lilit, betutu, atau babi guling. Hanya, tingkat kepedasan yang perlu disesuaikan dengan lidah orang asing. Saya melihat hotel sudah mulai

melirik makanan tradisional Bali untuk disajikan kepada tamu. Mereka menyajikan makanan khas Bali ini dengan sajian ala makanan Western sehingga berkelas. Sebagai orang Bali kita harus bangga dengan makanan tradisional kita karena itu bentuk rasa cinta kita kepada pulau Bali. Jangan sampai orang Bali sendiri tidak tahu makanannya karena sudah terbiasa makan ala orang bule. Mari kita ajak anak-anak kita mencintai makanan tradisional Bali. Salah satu cara untuk mempelajari kebudayaan suatu bangsa, bisa dilakukan dengan mencicipi makanan khasnya yang biasa dijajakan di pasar dan di pinggir jalanan. Dibalik kelezatan dan cita rasa unik setiap makanan khas tersebut terdapat warisan budaya berupa resep masakan yang terjaga dari dari generasi ke generasi.

Menurut saya, sangat penting menjaga kelestarian makanan tradisional. Para juru masak lokal harus bisa mengusai ciri khas makanan tradisional Bali, sehingga nantinya bisa menaikkan kelas makanan Bali atau Indonesia menjadi makanan dunia yang berkelas, dan memasukan nama Indonesia ke dalam tujuan wisata kuliner dunia. Saya berharap, agar ada forum-forum yang secara khusus membahas mengenai makanan tradisional. Dengan perkembangan teknologi, sekarang media sosial bisa juga turut mempromosikan makanan tradisional Bali dan warung-warung tempat menjualnya. Tjok Istri Agung Adnyani Wirausaha kuliner khas Bali

Kata Hati

Mulai Februari 2016, Tokoh memiliki rubrik khusus untuk wanita yang ingin menuangkan ide/pemikiran/gagasan dalam bentuk tulisan. Tema terkait wanita dan keluarga serta tidak mengandung unsur SARA. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter (1,5 halaman A4; spasi 1,5; times new roman 12). Lampirkan juga foto close up (bukan pasfoto). Cantumkan nama lengkap, profesi, nomor hp, dan alamat email. Naskah dikirim ke redaksi@tokoh.co.id, redaksitokoh@yahoo.com.

Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budi­a rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Se­k retariat: Ayu ­A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­m erah ­B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­ ­F aksi­m ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang ­G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

Edisi 887/ 8 - 14 Februari 2016

23


22

Edisi 887/ 8 - 14 Februari 2016

Sosialita

Edisi 887/ 8 - 14 Februari 2016

3

One Day Service Suwarni Collection Kebaya tak ada matinya. Bahkan, kini kebaya tak hanya harus dipadupadankan dengan kain, namun, dengan rok atau celana juga membuat si pemakai terlihat anggun. Kebaya dapat dibuat aneka modifikasi, mau yang sederhana, atau berkesan mewah. Tergantung keinginan dan kesempatan, apakah untuk acara sembahyang, pernikahan, pergi ­kun­dangan, wisuda, atau yang lainnya.

A

nda ingin model terbaru atau kembali ke model tempo dulu, atau punya gaya sendiri. Silakan didiskusikan dengan Ni Luh Putu Suwarni. Perempuan asal Desa ­Anggungan, Badung, ini, siap melayani Anda dengan one day service. Seperti apa? Tak banyak butik yang melayani one day service. Apalagi, khusus kebaya. Peluang ini yang dilirik istri I Made Arta,S.E., M.M. ini, untuk dikembangkan ketika ia melihat banyak sekali para perempuan yang kebingungan bila mempunyai acara mendadak. “Banyak sekali pelanggan saya datang karena mau kundangan atau mau sembahyang bingung karena baru beli kain kebaya. Pengen cepat-cepat jahit baju,” kata ibu dua putra ini. Bahkan, ada cerita pelanggannya, seringkali tukang jahit menumpuk ­orderan sehingga kebaya yang harusnya selesai seminggu bisa jadi tiga minggu belum selesai, bahkan sampai sebulan. Hal ini tentu saja tidak terjadi di butik Suwarni Collection. Ia berprinsip, selalu ingin memuaskan pelanggan dan pelanggan adalah marketing berjalan. “Banyak yang datang ke sini karena mendengar dari teman atau saudaranya. Saya bersyukur, lama-kelamaan dari mulut ke mulut, pelanggan lumayan ramai.

Suwarni sedang melakukan fitting

Selalu saja ada pelanggan baru, selain konsumen tetap,” tutur perempuan usia 49 tahun ini. Suwarni juga memberi pelayanan prima dengan one day service yakni pelayanan cepat. Hanya dengan waktu tiga jam, kebaya bisa selesai. Namun, ia menjamin, hasilnya tetap berkualitas. Memang, ia mengakui, pelayanan cepat ini, juga dibarengi dengan harga yang sesuai dibandingkan dengan menjahit biasa. “Kalau one day service ­harganya dua kali lipat. Untuk ongkos jahit tergantung dari jenis kainnya. Harga berkisar dari Rp 75 ribu sampai Rp 350 ribu. Kalau one day service harganya dua kali lipat,” kata Suwarni. Saat ini, Suwarni dibantu enam karyawan, yang terdiri dari satu tukang potong dan lima tukang jahit. Satu hari, ia hanya bisa menerima 20 kebaya. Butik Suwarni Collection bisa dicari di Jalan Raya Mambal Latu, Br. Latusari, Kec. Abiansemal, Badung

dan di Jalan Ahmad Yani Utara Nomor 209 ­Denpasar. Anda bisa menghubungi ­nomor telepon 085935255100. ­Jam bukanya mulai pukul 09.00 sampai 18.00. Hari Minggu dan Hari Raya Besar tutup. Butik Suwarni tidak hanya ­menerima jahit kebaya, ia juga menjual baju kebaya siap jadi. Bahan kain kebaya dan kamen juga tersedia. Pelengkap busana seperti sandal dan tas juga ada. Untuk sandal, Suwarni punya tukang khusus. Di butiknya ada beberapa contoh yang bisa langsung dijual. Namun, kalau ­konsumen ingin model lain dan membawa contohnya, ia juga siap melayani.

di tempatnya yang sekarang. Awal berbisnis jahit kebaya, ia belum melayani one day service. Namun, belakangan ia seringkali kedatangan konsumen yang mau menjahit kebaya agar cepat jadi. Mereka tak masalah walaupun bayarnya lebih mahal. Dari satu dan beberapa orang, akhirnya, Suwarni berpikir untuk menerima pelayanan kebaya dengan cepat. Mulailah ia mempromosikan konsep butiknya dengan one day service. Ternyata, sambutan konsumen lumayan bagus. “Saya bersyukur konsumen puas,” kata Suwarni. Pelayanan prima Suwarni bukan

Suwarni bersama karyawannya

Harga sandal berkisar Rp 175 ribu sampai ­Rp 250 ribu. Dari PHK Punya Usaha Suwarni, tak menyangka, setelah puluhan tahun bekerja, akhirnya ia terkena PHK. Saat itu, ia bekerja di salah satu perusahaan swasta yang bergerak dalam bidang buku dan koran berbahasa asing. Setelah setahun beristirahat, ia mengumpulkan para perempuan yang bekerja di garmen yang bisa bekerja di rumahnya di ­Abiansemal. Ia menjadi pengepul untuk pakaian-pakaian turis asing. Bahkan, ia sudah pelanggan tetap dari AS dan Jerman. Namun, lama–kelamaan, Suwarni merasa jenuh dan tidak ada tantangan. Bisnisnya pun terkesan biasa-biasa saja. Melihat perkembangan baju kebaya, Suwarni mulai berpikir untuk beralih ke bisnis jahit baju kebaya. Awalnya, ia mengontrak toko di Desa Penarungan, Badung. Belum habis masa kontrak, ia sudah pindah dan menempati toko baru

hanya sebatas jahit kebaya super cepat. Namun, semua pelanggannya diberi pelayanan terbaik. Setelah kebaya selesai dijahit, ia meminta konsumen untuk langsung mencobanya. “Saya minta konsumen langsung fitting di depan saya. Pakai kain dan long torso,” kata Suwarni.

Saat fitting ia bisa melihat apakah ada kekurangan yang perlu diperbaiki. Kalau ada, ia langsung memperbaiki dalam hitungan menit. Konsumen bisa menunggu sambil duduk santai di butiknya. Suwarni memang tak mau main-main urusan kualitas. “Kadang, walaupun konsumen sudah puas, jika saya melihat masih ada kekurangan, saya sampaikan ke mereka. Saya perbaiki agar pas di badannya,” kata Suwarni. Menurut Suwarni, memakai kebaya harus pas di badan, agar terlihat anggun dan luwes. Karena itu, ia meminta konsumen selalu mencoba kebaya dengan langsung memakai long torso sehingga akan terlihat pas atau tidak. Untuk urusan ­pelayanan Suwarni memang selalu mengedepankan kepuasan pelanggan. Namun, siapa sangka, awalnya, Suwarni justru tak bisa menjahit. Ketika usahanya beralih ke bisnis jahit kebaya. Suwarni langsung belajar menjahit. Dalam waktu tiga minggu, ia kursus cepat dengan ­tantenya yang kebetulan jago menjahit. Ia belajar dari mulai mengukur, membuat pola, dan ­menjahit. “Walaupun awalnya tak bisa menjahit, mungkin karena rasa jengah akhirnya saya bisa,” kata Suwarni. Awalnya, Suwarni menjahit sendiri. Sekarang tugasnya hanya mengukur konsumen. Kini, ia sudah memiliki tukang jahit khusus. Namun, ia merasa, masih kekurangan tukang jahit, apalagi menjelang hari raya Hindu. Banyak

Koleksi butik Suwarni collection

sekali orderan, bahkan, ia sampai menolak karena merasa tak mampu mengerjakan. “Untuk mengembangkan bisnis, saya masih perlu lima tukang jahit lagi untuk membantu usaha saya,” kata Suwarni. Ia punya kriteria untuk tukang jahitnya. “Tukang jahit saya semuanya pengalaman kerja di garmen, jadi saya sudah tahu kualitas jahitannya,” kata Suwarni berpromosi. Walaupun berbisnis, Suwarni tetap menjalankan usahanya dengan sistem kekeluargaan. Itu terlihat dari sikapnya dengan karyawan. Malah, semua karyawannya bersama-sama ia ajak merintis usahanya dari semula. “Ada karyawan mulai bekerja dengan saya, dari gadis sampai sudah menikah dan sekarang punya anak SMP,” kata Suwarni dengan bangga. Sikap kekeluargaan juga ditunjukkan Suwarni kepada semua pelanggannya. Saat Tokoh bertandang ke butiknya, ia mengenal baik konsumennya dan sangat akrab berbincang-bincang. Saat ini, pelanggannya memang sebagian besar dari kabupaten Badung, mulai dari masyarakat biasa, sampai istri pejabat. Konsumen mulai dari anak-anak, remaja putri, dan ibu-ibu. Untuk menjaring konsumen dari Denpasar, ia sudah membuka butik di Jalan Ahmad Yani Denpasar. Anak sulung Suwarni yang mengelola, di sela-sela kesibukannya kuliah. Suwarni mempunyai target, agar bisa membuka butik di Kesiman. Ia tertarik karena wilayah tersebut masih jarang butik jahit kebaya. Sebenarnya, kata Suwarni, ada banyak permintaan dari Ubud, namun, ia belum mampu melayani. Saat ini, ia fokus dulu untuk konsumen Denpasar dan Badung. –Wirati Astiti


4

Inspirasi

Edisi 887/ 8 - 14 Februari 2016

Mandalika

Edisi 887/ 8 - 14 Februari 2016

21

Puncak Peringatan HPN 2016 di NTB akan Dihadiri Presiden Jokowi

Berbagai kegiatan menyambut Hari Pers Nasional tahun 2016 di Lombok Nusa Tenggara Barat telah dimulai sejak 4 Februari 2016 hingga puncak acara yang akan dihadiri oleh Presiden RI, Joko Widodo, tanggal 9 Februari 2016. Dibuka dengan kegiatan donor darah yang diikuti oleh 150 pejabat dan wartawan serta TNI dan Polri di Mataram, pada tanggal 4 Februari 2016.

Budi Wahyuni

Susun Pakta Integritas

Meski sudah ada ‘payung hukum’ yang jelas namun kasus kekerasan terhadap perempuan tetap tinggi bahwa cenderung meningkat setiap tahun. Kasus terbaru dan terbilang cukup menghebohkan adalah kasus penganiayaan Dita Aditya, staf ahli anggota DPR RI, Masinton Pasaribu. Dita yang mata sebelah kirinya lembam melaporkan kepada pihak kepolisian dirinya dipukul Masinton Pasaribu yang tak lain adalah bosnya.

T

erkait kasusnya, Dita selain melaporkan kepada pihak kepolisian, dia juga menyerahkan penanganan perkaranya kepada LBH APIK Jakarta, serta meminta perlindungan kepada Komnas Perempuan. Kasus ini sudah masuk pada proses hukum. Dita sudah lapor ke polisi dan MKD (Mahkamah Kehormatan Dewan) DPR RI. Perkara Dita sudah ditangani LBH APIK Jakarta. Komnas Perempuan

tidak bisa menangani kasus per kasus. Sesuai mandatnya, Komnas memberi dukungan sepenuhnya kepada korban untk memroses secara hukum. “Komnas Perempuan mendukung penuh Dita, karena dalam beberapa pengalaman, perempuan karena relasi power yang kurang, sulit mendapat keadilan. Jadi intinya Komnas Perempuan, tentunya setelah ditelaah kembali, akan memberikan semua dukungan yang diperlukan,” ungkap Wakil Ketua Komnas Perempuan,

Budi Wahyuni

Budi Wahyuni, kepada Tokoh. Salah satu bentuk dukungan yang diberikan antara lain adalah surat yang akan dikirimkan ke Mabes Polri agar memroses perkara tersebut dengan cepat, juga masalah proteksi terhadap korban, dan melindungi hak-hak korban untuk mendapat asas keadilan dan kebenaran. Soal memfasilitasi pertemuan antara korban dan terduga pelaku, menurut Budi, itu tidak dilakukan oleh Komnas Perempuan. “Mempertemukan? Untuk apa? Semalam dalam sebuah siaran ada ajakan dari pihak Masinton untuk musyawarah. Saya pikir, itu tidak bisa. Ini penganiayaan, itu adalah ranah hukum, jadi harus diselesaikan secara hukum. Kalau musyawarah, katakan lah ada ganti rugi, tapi ganti rugi seperti apa yang bisa dihitungkan untuk menggantikan suatu penderitaan perempuan, misalnya segi psikologis maupun lain lain? Kalaupun nanti ada proses perdamaian, menurut saya, harusnya proses hukum tetap ditempuh,” tegas Doktor Public Health Universitas Gadjah Mada, itu. Dalam sejumlah kasus korban yang melawan seorang yang berkuasa terkadang malah dikalahkan, atau bahkan mendapat serangan balik. Mengomentari hal ini, Budi mengatakan, karenanya ia meminta agar korban (Dita) harus mengumpulkan banyak bukti guna menghindari hal-hal seperti itu.

“Kita berharap agar jangan sampai terjadi korban dijadikan korban lagi. Kita cegah itu. Tapi kita percaya bahwa aparat penegak hukum dapat menyelesaikan perkara ini secara objektif,” tuturnya, sembari juga berharap, agar Masinton sebagai pihak yang dilaporkan bersikap akomodatif dan memberikan informasi yang sebenarnya. Wanita yang menempuh pendidikan beragam ilmu di antaranya ekonomi, manajemen dan medical antropology di Universitas van Amsterdam, Belanda, ini, berharap agar kasus ini bisa menjadi efek jera bagi pejabat publik. Karena menurutnya, pakta integritas itu termasuk di dalamnya adalah integritas untuk menghapuskan segala bentuk kekerasan, khususnya kekerasan terhadap perempuan. “Nah ini tantangan juga bagi partai-partai tertentu yang sudah menyusun seperti itu, apakah kemudian kader-kadernya sudah menandangani pakta integritas itu?” ucap dosen Program Magister Studi Kebijakan Universitas Gadjah Mada dan Staf Peneliti PSKK UGM, dengan nada bertanya. Terkait tindak kekerasan terhadap wanita yang terus terjadi, bahkan meningkat, sekalipun sudah ‘dibentengi’ dengan payung hukum, Budi Wahyuni lebih dulu menjabarkan tentang komponen hukum yang menurutnya ada tiga, yakni; konten, struktur dan kultur. “Kalau sudah ada payung hukum, namun tidak bisa dijalankan, harus kita lihat bagaimana strukturnya, kulturnya. Saya merasa bahwa masalah penghapusan kekerasan terhadap perempuan terkait dengan nilai-nilai yang tidak bisa dipisahkan dengan kultur,” jelas wanita kelahiran 1958, ini. Kultur kita, lanjutnya, masih sangat patriarki, bahkan selalu

menempatkan perempuan sebagai pemicu, perempuan yang harus ditertibkan, perempuan yang harus dididik, perempuan yang salah, dll.”Ini yang harus kita cermati bersama”. SUBJEK HUKUM Ada sebuah diskusi formal juga informal yang dia dengarkan. Dalam diskusi itu--- Budi mengutip omongan dalam diskusi itu ---disebutkan ‘kata polisi yang menerima laporan itu, Dita berbau alkohol’. Ini, jelas Budi, sama dengan sudah men-judge- atau mengadili. “Ini kan sudah menjudge-toh! Apakah kalau orang minum bir mengaku-ngaku, ini kan seolah-olah seperti itu. Kalau orang habis minum bir, trus ngomong, kan bisa juga berbau alkohol. Apakah berbau alkohol itu sama dengan mabuk?” Berdasarkan pembicaraan itu, kata Budi lagi, seolah sudah diberi stigma.”Pulang malam, misalnya dari cafe. Nggak usah jauh-jauh kasus Jessica misalnya, juga yang ditonjolkan cafe-nya. Ada apa dengan cafe? Jadi artinya terstigmakan sekali ya, minum di cafe malam hari bukan perempuan baik-baik. Orang mengatakan, tuh kan, coba kamu jadi perempuan yang baik-baik. “ Nilai-nilai itu, katanya, tidak bisa dilepaskan dalam budaya patriarki. Untuk ‘membongkar’ ini, diperlukan upaya bersama semua pihak. Ini merupakan ‘PR’ besar karena memang harus membongkar isi dari cara pandang masingmasing orang. “Ini membutuhkan komitmen bersama, khususnya negara,” tandasnya. Jadi katanya lagi, perjuangan penghapusan kekerasan terhadap wanita masih panjang. “Ini adalah perjuangan bersama, kalau kita melihat bahwa perempuan adalah subjek bukan objek. Perempuan sebagai warga negara yang perlu ditempatkan sebagai subjek hukum,” katanya. –Diana Runtu

Gubernur NTB dalam kegiatan donor darah dalam rangka Hari Pers Nasional

K

egiatan sosial ini dilakukan sebagai momen untuk berbagi dengan mereka yang membutuhkan. Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi menilai kebersamaan merupakan kunci untuk membangun NTB yang kuat dan kebersamaan tersebut tidak hanya sebatas ucapan, namun harus terwujud dalam upaya nyata. “Salah satu ukuran kebersamaan itu adalah kesediaan kita untuk berbagi. Berbagi sesuatu yang dapat membawa manfaat bagi orang lain. Dan donor darah merupakan bukti nyata untuk mengangkat nilai-nilai kebersamaan dan kemanusiaan

kita,” ungkap Majdi saat berada di lokasi donor darah di Aula RRI Mataram. Dalam kegiatan yang diinisiasi Palang Merah Indonesia (PMI) NTB, Gubernur menyampaikan bahwa donor darah merupakan salah satu betuk amal perbuatan yang akan merawat dan menjaga sisi-sisi kebersamaan seseorang. “Donor darah tidak hanya bermanfaat bagi seseorang yang memanfaatkan darah kita, namun juga bermanfaat bagi kesehatan pendonor,” ujarnya. Karena itulah, ia berharap donor darah dapat terus digalakkan di seluruh wilayah NTB, agar mereka yang mem-

butuhkan tidak kekurangan darah khususnya yang berada pada masa kritis yang sangat membutuhkan darah. Menurut Kepala Biro Humas dan Protokol H. Yusron Hadi, selain kegiatan donor darah ini juga akan dilaksanakan operasi bibir sumbing dan operasi hernia yang dihadiri langsung oleh Presiden RI Joko Widodo pada 9 Februari 2016. Dan pada tanggal 8 Februari 2016 akan diselenggarakan Forum Investasi Bersama yang diikuti oleh 14 duta besar dan 7 perwakilan dari negara-negara sahabat serta 9 wartawan asing. Kepala BPKM-PT Ir. Ridwansyah, MTP., mengatakan bahwa

Donor darah Hari Pers Nasional 2016

Forum Investasi Bersama adalah ajang meningkatkan potensi investasi di Provinsi NTB, terutama dalam bidang pariwisata seperti Mandalika Resort, Global Hub, dan Kawasan Wisata Samota. “Oleh karena itu, kami mengundang secara khusus menteri komunikasi Malaysia,” ungkap Ridwan. Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat selaku tuan rumah HPN 2016, terbilang serius dalam

menyambut tamu-tamu yang akan datang dari seluruh Indonesia. Bahkan antisipasi terhadap segala kemungkinan yang di luar kendali yang dapat menghambat jalannya kegiatan telah dilakukan dengan maksimal, seperti halnya perubahan cuaca khususnya hujan. “Kita harus dapat mengantisipasi adanya perubahan cuaca,” kata Wakil Gubernur NTB, H. Muhammad Amin. -Naniek I. Taufan

NTB Tuan Rumah Perayaan Imlek Bersama Selain sebagai tuan rumah Hari Pers Nasional 2016, tahun ini juga Kota Mataram Nusa Tenggara Barat, akan menjadi tuan rumah perayaan bersama tahun baru Imlek 2016. Pada perayaan Imlek bersama ini, diprediksi Kota Mataram akan kedatangan lebih dari 5.000 orang tamu yang datang dari berbagai daerah dan sejumlah negara. “Kegiatan perayaan bersama Imlek 2016 itu merupakan tahun pertama dan Kota Mataram dipercaya sebagai tuan rumah,” kata Prajadi Agus Winaktu, Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) NTB, ketika bertemu Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi. Menurut Agus yang datang bersama beberapa anggota Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB), dipilihnya Mataram sebagai tuan rumah puncak perayaan

Gubernur NTB bersama Panitia Imlek 2016 dan FKUB NTB

Imlek bersama pada tanggal 20 Februari 2016 ini berdasarkan hasil rapat koordinasi dengan Konjen Tiongkok di Bali pada pertengahan Bulan Januari lalu. Tahun Baru

Imlek 2567 sendiri jatuh pada tanggal 8 Februari 2016. Puncak perayaan bersama Tahun Baru Imlek 2567 akan dipusatkan di sepanjang

Jalan AA Gede Ngurah Cakranegara. Beberapa agenda kegiatan telah disiapkan seperti kegiatan sosial donor darah dan pembagian bantuan kepada masyarakat kurang mampu serta berbagai hiburan yang akan menampilkan berbagai atraksi dan sirkus yang didatangkan langsung dari Tiongkok. Gubernur menyampaikan apresiasinya atas rencana perayaan Imlek di Mataram serta berharap semua rangkaian acara dapat berjalan lancar. Secara khusus Gubernur mengimbau agar keberagaman kegiatan di masyarakat dapat dijadikan kesempatan untuk mengokohkan kekompakan dan persaudaraan. “Kegiatan keagamaan, sosial dan kemasyarakatan harus kita muatkan dengan semangat persaudaran agar lebih mempererat persatuan antar seluruh elemen di masyarakat,” ungkap Majdi. -Naniek I. Taufan


20

Nine

Edisi 887/ 8 - 14 Februari 2016

Mala Sugiharti

Sulap Sampah Plastik jadi Tas Cantik

Dari sebuah rumah sangat sederhana di tengah kampung Mambalan di Desa Mambalan Gunung Sari Lombok Barat, mesin jahit para penjahit kerajinan sampah plastik terus berputar merajut harapan akan baiknya kehidupan ekonomi mereka. Di rumah inilah, Mala bersama ibu rumah tangga lainnya serta gadis remaja tampak tengah asyik melakukan aktivitas menjahit kerajinan yang terbuat dari sampah plastik. Sampah plastik yang biasanya berakhir di tong sampah ini menjadi berbagai koleksi tas cantik, tempat tisu, dompet, tempat botol, keranjang dan koleksi unik lainnya di tangan perempuan Desa Mambalan yang menekuni pekerjaan ini.

kai serta menjahit material dari sampah plastik ini hingga menjadi produk kerajinan bernilai tinggi, telah mengundang satu persatu ibu rumah tangga dan gadis-gadis di sekitar rumahnya yang akhirnya turut tertarik untuk mengerjakan apa yang telah dikerjakannya tersebut. “Sekarang banyak yang ingin belajar menjahit kerajinan sampah ini, karena dari pekerjaan ini saya mendapatkan penghasilan yang lumayan sehingga Produk tas dari sampah plastik yang dijahit secara manual dapat membantu ekonomi ara perempuan penjahit kerajinan keluarga kami,” ujar Mala. dari limbah plastik ini, adalah Menurut Mala, selama setahun terakhir, satu dari beberapa tempat yang tiap hari, ia menyempatkan waktu bekerja dijadikan oleh Bank Sampah (menjahit) kerajinan dari pagi hingga sore hari, NTB Mandiri sebagai sentra untuk menjahit menyelesaikan dua buah tas atau 10 dompet produk-produk dari sampah plastik ini seperti ukuran kecil. Ongkos menjahitnya lumayan di tiga ‘kelompok binaan’ BSNTBM lainnya, tergantung tingkat kerumitannya. Ongkos yaitu di Bintaro (Mataram), Lingsar dan dan untuk menjahit sebuah tas dengan model yang Masbagik Lombok Timur “Ke depan, Mambalan akan menjadi sentra untuk penjahitan kerajinan sampah ini,” ungkap Aisyah Odist, pengelola BSNTBM yang juga aktivis lingkungan yang menggerakkan para ibu rumah tangga dan remaja putri untuk terlibat aktif dalam salah satu proses pembuatan kerajinan ini. Memang, belum banyak perempuan yang terlibat dalam penjahitan kerajinan tersebut. Namun berawal dari Mala Sugiharti (27), penjahit kerajinan sampah yang sejak setahun lalu Bahan sampah plastik yang siap dijahit untuk dijadikan berbagai produk bernilai tinggi mulai mempelajari dan merang-

P

Mala Merintis Menjahit Kerajinan Limbah Plastik

Aktivitas ibu-ibu rumah tangga di Mambalan yang menjahit kerajinan dari sampah plastik

Kini, ia bahkan mulai mengajari para ibu rumah tangga lainnya juga remaja putri yang tinggal di sekitar rumahnya untuk ikut menjahit kerajinan dari sampah plastik ini sehingga mereka nantinya akan memiliki

pekerjaan yang bisa menghasilkan seperti dirinya. Di kampung Mambalan, kalangan ibuibu mulai tertarik untuk mengikuti jejak Mala yang kini bisa memiliki penghasilan sendiri. Beberapa di antaranya yang telah terlibat dalam aktivitas menjahit kerajinan ini adalah, Munaini, Evi Hartini, Baiq Hadijah, dan Baiq Hafazatul Huknin yang sebelumnya bekerja sebagai pembungkus kerupuk terigu. Mala yang menjadi perintis menjahit kerajinan di kampungnya ini, kini tengah asyik berbagi ilmu dan keterampilan menjahit kerajinan sampah kepada rekan-rekannya. Karena ia tahu, menjahit kerajinan dari sampah plastik ini dapat memberikan pendapatannya yang jauh lebih baik dibanding menjadi buruh pembungkus kerupuk. -Naniek I. Taufan

Inspirasi

Edisi 887/ 8 - 14 Februari 2016

Baby Jim Aditya

5

LGBT bukan Pilihan tapi Given

Ribut-ribut masalah LGBT (lesbian, gay, biseks, transgender) yang sampai sekarang masih menjadi salah satu trending topic, Baby Jim Aditya tampil dengan suara berbeda dari kebanyakan tokoh yang menyebut bahwa menjadi LGBT adalah pilihan. Baby dengan tegas menyatakan pendapat itu keliru. LGBT bukan pilihan tetapi given.

Mala Sugiharti (kiri baju hijau), bersama ibu rumah tangga menjahit berbagai kerajinan dari sampah plastik yang memberikan mereka penghasilan yang cukup

relatif rumit mencapai Rp 50 ribu. “Kalau tas bisa dapat menjahit dua buah tas sehari atau bisa 10 dompet sehari. Ongkos membuat dompet Rp 5 ribu,” kata Mala. Mala Sugiharti, termasuk yang beruntung karena memiliki kemauan dan tekun belajar untuk menjahit kerajinan sampah plastik ini meski tidak memiliki kemampuan dasar menjahit yang mumpuni. “Saya hanya bisa menjahit pakaian yang robek, tidak pernah belajar menjahit secara khusus,” katanya. Namun, karena ia terus bekerja keras untuk itu, kini ia memiliki

keterampilan menjahit kerajinan yang bisa memberinya penghasilan yang cukup. Dengan keterampilan ini, ia bisa menyumbang ekonomi keluarga sekitar satu juta rupiah dalam sebulan. Tentulah ini menjadi pegangan yang tidak main-main bagi Mala yang seorang ibu rumah tangga yang tadinya sama sekali tidak memiliki keahlian apa-apa. Hasil kerja Mala menjahit kerajinan ini terbilang rapi dan menjadikan produk tersebut layak dipasarkan bahkan menurut Aisyah Odist hingga Australia dan Jepang. -Naniek I. Taufan

P

enegasan itu perlu disampaikannya karena dia merasa prihatin dengan banyak tokoh berbicara salah tentang masalah orientasi seksual. “Seharusnya pejabat ataupun tokoh memberi statement dengan hati-hati, tidak gegabah, karena bisa terkesan seolah mendiskriminasi kelompok tertentu. Untuk memberi statement tentang orientasi seksual harusnya si pejabat atau tokoh memahami dahulu masalah tersebut sehingga tidak sembarangan mengeluarkan pernyataan,” papar kandidat doktor Universitas Indonesia, ini. Pakar seksologi ini bertutur, orientasi seksual itu pembentukannya dibuat di otak manusia sejak berada dalam rahim. Ketika janin berumur 3-4 bulan, ketertarikan itu sudah terbentuk. Jadi katanya, ketertarikan itu sifatnya given. “Jadi tidak benar kalau menyebut menjadi LGBT itu adalah pilihan orang. Itu adalah padangan yang keliru.” “Karena itu adalah sebuah given maka seorang yang LGBT disuruh menjadi het-

eroseks, tentu tidak bisa. Atau sebaliknya, orang heteroseks disuruh menjadi homoseks, juga tidak bisa. Jadi penjelasannya hanya sesederhana itu, sebenarnya,” kata Baby yang bertahun-tahun melakukan penelitian tentang prilaku seksual manusia. Untuk menjelaskan orientasi seksual, Baby menggunakan istilah dalam statistik yang disebut distribusi normal. Kalau menurut sebaran distribusi normal, katanya, yang banyak adalah heteroseksual (orang yang tertarik pada lawan jenis). Karena yang dalam kurva distribusi normal itu yang terbanyak adalah heteroseksual maka norma-norma yang dibentuk di masyarakat pun mengikuti norma dari kalangan yang jumlahnya terbanyak. Lalu Baby pun memberi sebuah contoh. “Misalnya, kalau di Indonesia orang yang dominan itu menggunakan tangan kanan sebagai tangan dominan. Maka distribusi normalnya adalah norma mengikuti dominan tangan kanan. Lalu, apakah berarti kalau yang dominan menggunakan tangan kiri atau kidal, berarti seorang pendosa? Atau cacat atau abnormal ? Ya bukan dong! Dia hanya tidak masuk dalam sebaran distribusi normal itu. Karena kita tahu, dia dominan tangan kanan atau kiri,kan bukan karena dia yang minta atau yang dia inginkan, tapi dikasih Tuhan. “ “Begitu juga dengan masalah LGBT. Karena soal ketertarikan itu sifatnya given. Mau ditutupi pakai apapun dia adalah seperti itu. Dia hanya bisa menjadi adaktif, mengikuti tuntutan paham sosial,” tambahnya. TOPENG SOSIAL PERNIKAHAN SEMU Baby yang sehari-hari berpraktek di kliniknya menjelaskan bahwa banyak pasien yang datang padanya mengalami hal tersebut. Pasien-pasien yang seumur hidupnya hanya tertarik pada jenisnya, entah itu laki-laki ataupun perempuan,

namun karena tuntutan sosial yang begitu kuat, mereka terpaksa ‘bertopeng’. Tuntutan sosial membuat mereka menjalani pernikahan semu. “Kondisi ini membuat mereka mengalami frustasi yang berkepanjangan karena terpaksa ‘bertopeng’ untuk menjalani kehidupannya.” Ngomong soal ‘topeng sosial’ kata Baby lagi, jangankan orang yang dianggap minoritas seperti homoseks, lesbian dan biseks, mereka yang dari golongan heteroseks pun banyak yang menggunakan ‘topeng sosial’ dalam kehidupannya. “Kalau kamu punya selingkuhan, kan, nggak ngomong-ngomong di acara keluarga, di acara-acara komunitas tempat kamu biasa berkumpul. Jadi kita akan selalu memakai topeng sosial untuk memenuhi tuntutan masyarakat di mana kita berada. Kita menggunakan topeng hetero normatif karena norma-norma ditentukan oleh kelompok-kelompok yang dominan,” jelasnya. Terkait dengan masalah LGBT yang tengah ‘ramai’ ini, menurutnya, media sangat berperan dalam mengedukasi masyarakat , bukannya ikut larut dalam keributan sehingga membuat masalah menjadi semakin keruh. Untuk mengedukasi masyarakat, tentunya dibutuhkan wawasan dan pengetahuan tentang hal ini. “Karena yang dibutuhkan masyarakat adalah edukasi, apa itu orientasi seksual,” ujarnya. Selama ini, ujarnya, kita tidak memiliki pendidikan seks sebagai wadah untuk memahami perbedaan orientasi seksual. Pendidikan seks sejak dini sangat diperlukan. “Pendidikan ini hanya bisa dijelaskan dalam pelajaran tentang seksual bukan pelajaran lainnya. Dalam pendidikan seksualitas, secara bertahap hal ini bisa dijelaskan bahwa orientasi seksi itu lebih dari dua, dan itu bukan biner.” “Biner itu dikotomis, seperti misalnya kiri-kanan, hitam-putih. Yang ingin saya katakan adalah ini bukan biner tapi adalah kontinum, yakni, suatu garis yang terus sepanjang rentang kehidupan. Seksualitas adanya di kontinum bukan

Bab y Jim Adit ya di biner. Dalam pendidikan seks diajarkan bahwa di dalam dunia yang dibentangkan Tuhan, ada banyak perbedaan,” jelasnya panjang lebar. Penjelasan-penjelasan seperti ini, tambah peraih ‘Inspiring Woman Award’ ini, sangat diperlukan agar masyarakat mengerti. “Penjelasan yang penuh diskusi agar mengerti, bukan dogmatis seperti salah-benar. Karena kalau itu yang terjadi maka keributan terus saja terjadi setiap kali masalah ini muncul”. Kita, lanjutnya, tidak bisa selalu ribut sementara ada banyak anak-anak yang lahir dengan orientasi berbeda (di luar heteroseksual). “Lihat saja ada banyak anak-anak SD yang sudah memiliki ketertarikan pada sesama jenis. Tapi pada akhirnya mereka hanya disalahkan dan terlempar dari dunia pendidikan. Ketika besar, dia kan butuh makan, siapa yang mau kasih makan? Dia kan harus cari uang, tapi siapa yang mau mempekerjakan karena hanya sekolah SD?” Karenanya, tambah Baby lagi, memberi edukasi kepada masyarakat itu sangatlah penting. “Inilah tugas media massa, para tokoh juga pejabat. Jangan memberi statement yang salah karena akan membuat banyak orang terpengaruh dengan statement itu. Kalau kita tidak berubah, kita hanya muter-muter di situ, tidak akan kemana-mana. Dan masalah seperti ini (keributan) akan terus berulang,” katanya. -Diana Runtu


Woman on Top Hadapi MEA, Iwapi & HLC Gianyar

6

Edisi 887/ 8 - 14 Februari 2016

Edisi 887/ 8 - 14 Februari 2016

Gelar “Woman Enterpreneur-Local Brand Awareness” Minggu (31/1), Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi) Cabang Gianyar dan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Ladies Cabang Gianyar menggelar acara “Woman Enterpreneur-Local Brand Awareness” di Beach Walk, Kuta Bali. Acara yang banyak menyedot perhatian khalayak umum tersebut dirangkaikan dengan beragam kegiatan, yakni lomba fashion show anak, talk show, dan pameran produk UMKM.

“K

ami sengaja memilih Kuta dan di salah satu mall sebagai ajang memamerkan produk UKM anggota kami, karena pertimbangan kami, Kuta adalah tempat yang universal dan banyak tourist yang tinggal dan berkunjung di tempat ini. Kuta ini adalah tempat yang tak pernah ‘tidur’ jika dibandingkan dengan Ubud dan daerah lainnya. Harapan kami, produk-produk anggota Iwapi dan HLC Gianyar bisa lebih cepat dikenal,” ujar Ketua Iwapi Gianyar Dra. Ni Made Rai Sukmawati, B.Sc., M.Par.

Pameran yang melibatkan memamerkan produk-produk anggota Iwapi ini, dijelaskan Rai Sukmawati bertujuan mengajak pengusaha perempuan untuk bersiap menghadapi MEA. Dengan berpameran, mereka bisa melihat peluang/kesempatan, dan mengetahui selera pasar, di samping kualitas produk yang harus terus ditingkatkan dalam persaingan yang cukup ketat ini. Dalam talk show yang menghadirkan Deputi bidang produksi dan pemasaran Kementerian Koperasi dan UMKM RI I Wayan Dipta, M.Sc., Ketua Hipmi Bali

Penyerahan hadiah kepada pemenang lomba fashion show oleh Kadis Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Gianyar Wayan Suambar dan oleh Ketua Iwapi Gianyar Rai Sukmawati

Talk show “Woman Enterpreneur-Local Brand Awareness”

IGAA Inda Trimafoyudha, dan pebisnis fashion IGA Vera Trilaxmi, dibahas tentang local brand. Bahkan, pihak kementerian menyebut bahwa jumlah perempuan pengusaha masih kecil. Ra i S u k m a w a t i t a k m e nampiknya, namun dari pengamatannya di Bali banyak pelaku usaha kecil dilakoni oleh ibu-ibu rumah tangga, dan mereka sekaligus ikut sebagai tulang punggung keluarga. “Jadi kami berpendapat, perempuan mempunyai peluang besar sukses sebagai pebisnis. Apalagi kita tahu penduduk Indonesia cukup besar sehingga menjadi pasar yang potensial untuk minimal menguasai pasar domestik. Karena itu sebagai pengusaha minoritas harus optimis menatap masa depan dengan memperkuat kualitas produk dan

membuat sesuatu yang khas sehingga kita mempunyai brand dan siap bersaing,” ucapnya. “Dengan mengikuti pameran seperti ini, pelaku usaha juga bisa membuka wawasan tentang

produknya, karena darisini bisa melihat keinginan/selera pasar dan kekuatan pesaing,” imbuh Ketua HLC Gianyar Putu Fitri Ertaningsih. Upaya pengenalan local brand ini diterjemahkan salah satunya lewat lomba fashion show anak yang menekankan local content melalui penggunaan tekstil tradisional Bali yakni endek. Pengenalan tekstil tradisional Bali – endek sejak dini kepada generasi penerus kita adalah cara lainnya untuk merekatkan kecintaan anak-anak terhadap kekayaan budaya Indonesia khususnya Bali. Lomba fashion show anak (usia 4 tahun s.d. 12 tahun) dengan tema pa­ kain pesta dan kasual ini pun salah satu cara menanamkan pengetahuan kepada anak-anak juga orangtua agar tahu bagaimana berpakaian yang benar sesuai dengan umur. Anak tidak mengikuti pola berpakaian seperti orang dewasa, seperti yang diungkapkan oleh Ketua Tim Juri dari ISI Denpasar, Cok Ratna Cora didampingi juri lainnya IGAA Wlmas Hendyani Blanco, dan Komang Kasih. –ten

Para pengurus Iwapi dan HLC Gianyar

“KOPI PAHIT - KOPI MANIS ?” Salam Senyum, Ngopi yuk…. ajakan yang cukup familiar bagi telinga kita baik bagi orang-orang kantoran maupun orang yang kerja di sektor nonformal bahkan di kalangan pebisnis. Atau juga berita terhangat tentang ngopi yang menimbulkan “korban”. Hmmm…berita kopi memang selalu menarik untuk dibahas. Apalagi di kala musim penghujan seperti ini. Suasana dingin di kala hujan atau sesaat setelah hujan turun, membuat ajakan ngopi menjadi magic word yang sulit untuk ditolak kalau kita tidak sedang dalam menyelesaikan suatu pekerjaan/bisnis yang sangat penting atau urgent. Namun, kali ini saya mencoba membuat sebuah metafora kopi dengan proses layanan yang tetap menjadi tema sentral saya. Ya… kopi, serbuk hitam yang berasa pahit ini mampu menjadi mediasi ‘penghangat suasana’. Suasana kaku menjadi rileks. Suasana formal menjadi sedikit lebih informal dan lain sebagainya. Pahit tapi mampu merubah suasana menjadi manis. Masih ingat dengan kejadian beberapa waktu lalu, ketika seorang customer dengan kata-kata yang pahit (sepahit kopi tanpa gula), memberi kritikan terhadap layanan yang diberikan. Sebagai customer service yang tentunya merasa sudah melayani dengan baik, akan merasa down, merasa dipermalukan, bahkan bisa sakit hati (sakitnya tuh di sini kata Cita Citata). Menjadikan sesuatu yang pahit menjadi sesuatu yang manis dalam layanan itu sebenarnya sangat menantang. Malah, pakar layanan menyebutkan bahwa “kegembiraan didapat dari keluhan pelanggan” Waahh…bagaimana mungkin keluhan bisa menjadikan gembira ya..heheheh. Ada beberapa hal yang bisa membuat kegem-

biraan jika kita mendapatkan hal yang “pahit” dari keluhan, kritikan, masukan customer. Coba kita urai satu persatu. Yang pertama..bukankah dengan adanya kritikan kita akan lebih menyoroti hal-hal yang membutuhkan perbaikan. Contoh.. seorang customer mengeluh tentang seorang customer service yang tidak bisa menangani keluhan dengan baik. Atau tidak tuntasnya customer service menangani keluhan dari nasabah. Nah, kalau ada seperti ini, artinya kita diingatkan untuk berlatih, mendalami lagi cara menangani dan menuntaskan masalah jika nasabah mengeluh. Yang kedua, bukankah dengan adanya kritikan kita bisa memperbaiki sistem atau prosedur yang berlaku, karena mungkin sudah tidak relevan lagi diterapkan. Contoh, seorang customer mengeluh karena menunggu terlalu lama untuk dilayani. Melihat keluhan tersebut kita bisa koreksi prosedur dari seorang custumer service yang dapat menghambat kenyamanan dari service.Tentunya tidak mengurangi keakuratan dari hasil layanan tersebut. Yang ketiga, bukankah dengan kritikan dari customer (yang bersifat membandingkan) itu kita akan tahu informasi intelijen yang kompetitif yang memberitahu secara gratis apa yang dilakukan oleh kompetitor kita. Contoh, customer mengeluh hadiah yang diberikan tidak sebagus yang dia dapatkan dari tempat lain. Haaa…ini yang biasanya sering terlupakan. Padahal tanpa harus capek menjadi mistery guest ke tempat lain kita sudah tahu apa yang kompetitor lakukan terhadap customer-nya. Yang keempat, bukankah dengan adanya kritikan customer kita akan dapat mengidentifikasi customer yang mana saja cocok untuk kita undang dalam testcase sebuah peluncuran produk baru. Nah, ini menarik. Biasanya dalam meluncurkan program ataupun produk baru kita bingung dan bertanya-tanya, kira-kira bisa laku atau tidak di pasaran, dan para pengkritik pahit bisa dimanfaatkan dalam hal ini..

So… artinya banyak hal lain lagi yang bisa merubah kepahitan menjadi manis. Tentunya semua tidak terlepas dari kita sendiri. Mau apa tidak kita mempelajari apa yang dikeluhkan customer. Kemudian perubahan apa yang kita lakukan dari kritikan yang pahit itu agar menjadi manis. Dan perlu diingat, kritikan biasanya juga tidak hanya dari customer eksternal saja. Tetapi kritikan juga datang dari internal perusahaan. Baik dari bawahan kita, ataupun orang yang dianggap senior (pegawai dengan masa kerja lama) dalam perusahaan tersebut, dan tentunya tidak memandang hirarki dari sebuah jabatan saja. Dan, ini berat karena membutuhkan kebesaran hati dan menurunkan ego jabatan untuk bisa menerima kritikan. Kembali ke judul di atas, Kopi pahit, kopi manis… Ternyata istilah kopi pahit karena kritikan/keluhan cutomer dapat kita jadikan manis dengan persepsi 1.Customer tersebut punya loyalitas yang tinggi terhadapat perusahaan kita. 2. Mengingatkan kita untuk introspeksi terhadap layanan juga produk kita saat ini 3. Pandangan dari orang lain (pengguna dari layanan/ produk) kita itu lebih netral dari pada menilai diri sendiri 4. Bahwa kita bisa belajar dari apa dan siapa saja. Baik dia sebagai bawahan/atasan, baik yang suka atau tidak suka, perempuan atau laki- laki, dan lain sebagainya. Jadi, mari kita sebagai seorang pelaku service yang excellent selalu menjadikan sesuatu untuk perubahan yang lebih baik.Seperti kata orang bijak bilang, “Hal paling urgent yang dibutuhkan untuk mengubah manusia adalah mengubah pola pikirnya” (abraham maslow)… ayoo..segera lakukan dengan pelayanan yang ramah, kemudian berikan solusi yang benar, dan tentunya jangan lupa, tetaplah tersenyum dari hati dengan tulus. Dengan melakukan hal tersebut saya yakin. Kopi pahit akan menjadi manis. Salam 3SP Salam senyum Sang Penyihir Sri Sumahardani.

19

Josavat Bambang

Koleksi 30 Ponsel Dari ponsel jadul hingga ponsel terbaru dimiliki pria kelahiran Semarang 4 Agustus 1975. Area Manager Setia Utama Distrsindo (SUD) Jatim, Bali, dan Nusra, Josavat Bambang ini memiliki lebih dari 30 unit handphone (hp) dengan berbagai merek dan jenis. Bahkan beberapa ponsel miliknya sudah tidak bisa dipakai karena terlalu lamanya hp tersebut.

“B

anyak sekali, sebenarnya tidak bermaksud untuk koleksi. Awalnya saya merasa kalau jual harga turun. Dari pada merasa rugi, akhirnya saya tidak jual. Saya biarkan saja, sampai beberapa ada yang mati dan tidak bisa dipakai,” kata pria yang memiliki 2 orang anak ini. Ia mencontohkan, ponselponsel lama yang dibeli jutaan ketika dijual harganya sudah jatuh. Namun, jika dipertahankan, maka kita akan ketinggalan teknologi dan style. “Jadi dibiarkan saja menumpuk, ingin beli baru ya ganti tanpa harus jual,” paparnya. Pria yang suka travelling ini mengaku suka sekali teknologi yang ada di handphone. Ia mengaku, paling lama 6 bulan hingga 1 tahun memakai ponsel. Selanjutnya akan ganti untuk produk baru ataupun brand baru yang sesuai dengan kebutuhannya. Ditunjang dengan pekerjaannya yang berkecimpung didunia perponselan. Memuluskan hobinya dalam selalu up-date ponsel. Pada 2008 lalu, Josavat mulai terjun didunia perponselan menjadi Sales Manager, ke-

mudian Branch Manager wilayah Jatim, Bali, Nusra. Pada 2014, ia pun kembali berkecimpung di perponselan pada brand Advan sebagai Regional Manager Jatim, Bali, Nusrah. Dan kini, di SUD sebagai Area Manager Jatim, Bali, Nusra. “Saya harus ikuti perkembangan, kalau dulu. Saya sering bongkar-bongkar ponsel supaya menarik dilihat. Baik casing, diberi hiasan sinyal atau dipermak. Sekarang kan tidak bisa, kalau mau diganti ya ganti ponsel saja,” akunya. Karena itu, ponsel miliknya hingga menumpuk. “Sekarang sebenarnya ketika ingin ganti, ada kecenderungan untuk menolak. Karena harus pindah data dan itu membuat saya malas rasanya untuk berganti,” katanya. Sehingga beberapa ponsel dibawa kemana-mana untuk dipakainya lebih dari satu. Ditanya ponsel apa yang ia suka, tentunya sesuai kebutuhan dan sesuai dengan teknologi terkini. “Karena ponsel sekarang ini menjadi style dan kebutuhan. Tidak seperti dulu awal mula yang hanya dipakai untuk komunikasi telepon dan sms,” kata dia.

Ia mengaku jika ada ponsel baru kudu mencobanya. Supaya tidak ketinggalan perkembangan. Cocok sekali dengan bidang pekerjaannya dibidang perponselan. Tentunya pekerjaannya benar-benar dinikmati karena bidang dan hobinya sesuai. Apalagi hobi travellingnya bisa juga

dilakukan saat tugas luar kota. Lengkap sudah, lalu bagaimana dengan keluarganya. “Keluarga mendukung, meski tidak tinggal disini namun mereka tetap mendukung. Tidak masalah, karena saya setiap bulan juga selalu pulang ke rumah (Semarang),”

Makin banyaknya produk baru smartphone dapat diartikan pasar smartphone akan terus tumbuh. Apalagi beberapa vendor menciptakan terobosan baru dengan berbagai cara untuk menarik minat pembeli. Tak hanya itu, beberapa merek elektronik juga mencoba untuk membuat smartphone sebagai salah satu pelengkap. Hingga 2016 ini diprediksi juga akan terus tumbuh, apalagi dengan perkembangan teknologi yang terus berkembang. Hal yang sama juga harus dilakukan pada distributor handphone. Semua harus bisa membaca dan memprediksi pasar untuk mendapatkan penjualan yang melebihi target. Salah satu distributor handphone Setia Utama Distrisindo (SUD), Area Manager SUD Jatim, Bali, Nusrah, Josavat Bambang, kita harus bisa membaca trend pasar.

jawabnya. Ia berharap, dipekerjaannya yang baru ini bisa menjadi terus berkembang dan “harapan saya untuk SUD bisa diterima dimasyarakat dan dikenal di masyarakat. Karena SUD belum begitu familiar,” pungkasnya. –Diyah

“Untuk saat ini, trend pasar masih didominasi brand, karena gaya hidup masyarakat sekarang lebih ke branded. Selanjutnya yang dilihat adalah spec dan modelnya,” ujar Josavat. Ia menambahkan, untuk tahun ini dan tahun-tahun selanjutnya diperkirakan terus tumbuh. Hal ini dikarenakan makin berkembangnya teknologi yang dibarengi dengan sistem operasi yang terus ter up-date. Sehingga terus bisa diterima pasar. Apalagi sistem android ini menjadi favorit karena cepatnya up-date. Mulai dari Android Alpha, Beta, Cupcake, Donat, Eclair, Froyo, Ginger Bread, Honey Comb, Ice Cream Sandwich hingga Marshmallow. “Jadi selain brand, sistem operasi yang dikembangkan juga berpengaruh terhadap daya beli masyarakat. Mereka memilih sesuatu yang terus berkembang. Selain memilih brand atau branded,” terang pria kelahiran Semarang, 1975. Meski demikian, beberapa brand lokal juga tetap diminati. Meski prosentasenya masih didominasi brand-brand terkenal. Selain itu, sistem operasi lain pun juga masih diminati seperti ponsel feature phone, phone, bar dan lainnya. “Sehingga pertumbuhan smartphone ini secara menyeluruh. Bukan saya pada brand besar dan sistem operasi yang booming saat ini yakni android. Para vendor handphone akan terus membuat gebrakan baru dengan menghadirkanpilihan produk yang sesuai kebutuhan masyarakat,” katanya. Namun, satu yang akan di lakukan yakni nantinya akan menghapus jaringan 2G. Hal tersebut yang santer dibicarakan. Bukan ponselnya, jaringannya. “Karena, ponsel mengikuti perkembangan teknologi. Otomatis jaringan puh harus mengikuti,” pungkasnya. -Diyah


18

Life

Edisi 887/ 8 - 14 Februari 2016

I Gede Marayana

T

radisi unik membawa punjung ke setra merupakan serangkaian perayaan Galungan yang hanya dilakukan di Buleleng. Maknanya adalah mengucapkan rasa syukur kepada leluhur yang telah mening­gal namun rohnya masih ada di setra. Masyarakat yang memiliki keluarga telah meninggal akan munjung ke setra dan akan makan bersama keluarga lainnya di atas gundukan tanah kuburan keluarga­nya. Nunas paridan hanya boleh dilakukan oleh sanak keluarga­nya dan

merupakan pantangan bagi orang lain yang bukan keluarga dari orang yang telah meninggal tersebut. Tradisi ini mulai mengikis dan bukan tidak mungkin lama-lama akan menghilang. “Mereka yang membawa punjung ke setra adalah yang masih memiliki keluarga yang belum diaben atau masih dikubur,” tambah budayawan dan penyusun kalender Bali ini. Hal ini dikarenakan sudah berkembangnya pemahaman mengenai pelaksanaan agama sehingga untuk mengucapkan rasa syukur kepada leluhur bisa dilakukan dengan cara yang berbeda. Hal lain yang membuat tradisi ini mulai menghilang adalah memasyarakatnya pembakaran mayat atau mekingsan di geni untuk menghindari kehabisan tempat di setra atau kuburan. “Secara tatanan upacara orang meninggal dan mayatnya dibakar, stana beliau akan ada di jabaan dalem bukan di pura Dalem,” lanjutnya.

Di Buleleng sendiri saat ini secara periodik sudah banyak digelar ngaben massal sehingga roh orang yang sudah meninggal dianggap memiliki tingkatan yang lebih tinggi. Maka dari itu tradisi munjung mulai jarang dilakukan karena menurut pemahaman agama bahwa roh yang sudah diaben tidak perlu dibawakan punjung lagi melainkan penek yang akan dibawakan ke merajan dan akan berbeda dari jenis banten-nya. Pria kelahiran 7 Maret ini menegaskan, ada tidaknya tradisi munjung itu bergantung dari tatanan cara yang dilalui. Dikubur ataukah dibakar tidak ada ­acuan benar salahnya, semua itu kembali kepada desa-kala-patra sehingga tidak muncul anggapan bahwa Hindu di Bali tidak tertata. Justru dari penataan itulah yang ­se­su­ai dengan tempat, waktu, dan keadaannya. Semua itu harus ada dasarnya yaitu sastra, susila, tata upacara dan budaya. –Wiwin

D o d o l Pe n g l a t a n

Makin sering Dijemur, Makin Enak Nyoman Darmini

Belum lengkap rasanya berkunjung ke Buleleng jika belum mencoba jajanan tradisional khas Buleleng. Rasanya yang manis dan gurih membuat dodol menjadi salah satu makanan yang paling dicari ketika berkunjung ke Bali Utara. Di Desa Penglatan, Kecamatan Buleleng sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai pembuat dodol. Hal ini sangat terlihat jelas ketika memasuki desa, hampir setiap sudut rumah masyarakat menjajakan makanan manis ini. Ada yang unik dari pembuatan dodol Penglatan ini. Meskipun tidak menggunakan bahan pengawet tapi dodol bisa tahan hingga satu bulan. Untuk mengawetkannya masyarakat Penglatan melakukannya dengan metode tradisional yaitu dengan cara dijemur. Dodol ini memang sangat unik semakin sering dijemur rasa yang dihasilkan semakin enak dan gurih. Dodol Penglatan juga memiliki varian rasa, yaitu rasa injin, nangka,

pandan, kacang, dan durian. Yang paling banyak diminati oleh pembeli adalah rasa kacang pembeli karena selain gurih dan manis juga terdapat kacang di dalamnya sehingga membuat rasa dodol menjadi lebih enak. Nyoman Darmini, salah satu pembuatn dodol di Dusun Kelodan, Desa Penglatan mengatakan jelang hari raya produksi dodol sangat meningkat secara signifikan. “Jelang Galungan kami

Proses pembuatan dodol

biasanya buat 150 kg,” ujar wanita yang sudah 5 tahun membuka usaha dodol ini. Pada hari biasa, Darmini hanya memroduksi dodol seminggu sekali dan hanya membuat sekitar 100 kg. Dalam usaha yang dirintisnya sendiri, dia memilih rasa original (injin) sebagai dodol andalannya. Baginya menambahkan perasa pada adonan dodol akan membuat dodol tidak tahan lama atau basi. Untuk pemasaran dodol miliknya

Dodol siap dibungkus

Edisi 887/ 8 - 14 Februari 2016

7

Keluarkan Baju karena Celana Robek

Tradisi “Munjung” Mulai Jarang Jika dilihat secara umum, perayaan hari Galungan di Buleleng nampak sama dengan perayaan di daerahdaerah lain. Serangkai­an hari raya tersebut meliputi hari Penyekeb­an yang jatuh 3 hari sebelum Galungan, Penyajaan yang jatuh 2 hari sebelum Galungan, dan yang terakhir adalah Penampahan yang jatuh sehari sebelum Galung­an. Namun ada yang sedikit berbeda dari perayaan Galungan di Buleleng jika dilihat secara mengkhusus lagi. Hal ini disampaikan oleh I Gede Marayana, Ketua Listibya (Majelis Pertimbangan dan Pembinaan Budaya) Buleleng ini.

Story

Motifora Jengah lewat Musik Sepintas Motifora terlihat sama dengan band-band lain asal bali yaitu sama-sama ingin melestarikan lagu Bali. Lebih dari itu yang ingin ditonjolkan adalah segi lirik yang berkesan romantis dan musiknya yg sederhana tapi tetap mudah didengar oleh penikmat musik. Sebuah grup band dari Buleleng tepatnya di Desa Munduk, Kecamatan Banjar didirik­an atas dasar kecintaan setiap personilnya terhadap musik. Ketika meluncurkan album pertamanya yang bertajuk “Hitam Putih” Motifora ingin menaturalkan musik yang mereka bawakan. “Pada awalnya bahasa lagu kita itu pakai bahasa Bali dan Indonesia campuran kamu aku lah tetapi karena sudah banyak band pakai bahasa seperti itu jadi kami berpikir kenapa tidak natural saja,” ujar Tunick, sang vokalis. Melalui album yang terdiri dari 4 lagu berbahasa Bali dan 4 lagu berbahasa Indonesia ini Motifora juga menyampaikan pesan moral seputar percintaan dan baik buruknya kehidupan. “Makna dari setiap lagu itu sih diharapkan bisa dimengerti, contoh saja lagu “Ngalahin Gumi”, dari lagu itu mudah-mudahan kita bisa ambil maknanya kalau hidup di dunia ini tidak abadi,” lanjut sang vokalis yang dulu bandnya bernama Motiforline ini. Motifora itu sendiri memiliki arti kata yaitu Motif yang artinya corak, alur, rencana; for yang artinya untuk; dan a artinya awalan atau kata yang untuk mengungkapkan sesuatu. Jadi Motifora adalah rencana atau alur untuk sesuatu. tidak perlu bersusah payah karena selama ini sudah banyak pemesanan baik di daerah maupun di luar daerah. “Biasanya dibawa ke pasar Banyuasri

Dodol siap dipasarkan

Sesuatunya itu adalah berkarya sehingga mampu memberikan corak untuk para pendengar musik Motifora. Band ini memiliki visi mengajegkan Bali melalui seni musik membuat band yang terbentuk sejak 17 April 2009 itu semakin diperhitungkan meski masingmasing personil memiliki berbagai latar belakang dan basic yang berbeda. Selain memiliki visi, band yang beraliran musik jenis pop rock alternatif inipun ingin bermain musik untuk memuaskan semua publik dan ingin ikut serta membuat masyarakat Buleleng jengah melalui seni musik. Hal ini terbukti dari penggarapan video klip yang selalu berlatar daerah wisata di Buleleng dan selalu menggunakan dialek Buleleng ketika manggung di kota lain. “Yang bisa kami lakukan hanya berkarya dan menunjukkan band Buleleng juga bisa berkarya,” lanjut Tunick. Sebagai band asal Buleleng band yang digawangi oleh 4 personil diantaranya Tunick (vocal, guitar), Rheno (lead guitar), Eri (bass), dan Anna (drum), Motifora sangat berharap bisa menghibur masyarakat Bali khususnya Buleleng. Selain itu masyarakat Buleleng juga diharapkan mendukung band-band yang berasal dari Buleleng. Begitu juga sesama musisi Buleleng juga harus saling mendukung tidak saling menjatuhkan. Band yang pernah menjadi 10 besar di Festival Gong 2010 di Surabaya ini juga berharap pemerintahan Buleleng men­dukung band-band Singaraja dengan cara melibatkan di setiap acara yang ada di Singaraja. -Wiwin dan ke Denpasar pakai oleh-oleh juga bisa,” lanjutnya saat ditemui di tengah kesibukan menyiapkan pesanan dodol. Harga yang ditawarkan sangat terjangkau. Dodol Penglatan dijual Rp 27.000/ kg. Biasanya konsumen membeli dodol secara kiloan atau eceran tergantung permintaan konsumen. Pembuat dodol ini juga melayani pemesanan dodol dalam jumlah yang banyak atau grosir. Menjelang hari raya dia mempekerjakan dua orang pembuat dodol dan enam orang pembungkus dodol. Hal ini akan membawa rezeki tersendiri bagi masyarakat sekitarnya. Membangun lapangan kerja sendiri dan menyerap tenaga kerja untuk menambah pendapatan warga setempat. Usaha ini patut diacungi jempol karena bisa membangun masyarakat yang mandiri. -Wiwin

Dua tahun lalu, ketika ditunjuk menjadi Kepala Sekolah SMPN 3 Narmada, Akhmad Nurpail, M.Pd., langsung melakukan pendekatan kepada lingkungan sekitarnya. Dimulai dari melakukan kegiatan safari Jumat keliling di empat desa asal siswa-siswa SMPN 3 Narmada yakni, Desa Golong, Desa Keru, Desa Sedau dan Desa Lembah Sempage dan pendekatan kepada orangtua siswa hingga bersama para wakil kepala sekolah (urusan) dan para guru, melakukan pendekatan emosional kepada para siswa.

A

khmad Nurpail tidak hanya menjadikan hubungan guru dan siswa sebatas kegiatan belajar mengajar saja, melainkan juga mendekatkan guru dan murid secara emosional. Sosoknya yang humoris, juga menerapkan pendekatan kekeluargaan antara pimpinan dengan yang dipimpinnya (para guru dan staf). Kedekatan emosional antar guru dan murid serta dirinya sebagai kepala

sekolah dan para guru juga stafnya inilah yang kemudian mengungkap kisah-kisah kemanusiaan yang dialami oleh beberapa siswanya di sekolah ini. Meski di luar jam kerja, tiap hari Sabtu secara bergiliran para guru di sekolah ini berkunjung ke rumah untuk memantau siswa kelas 3 yang belajar kelompok. Beginilah salah satu usaha sekolah ini untuk meningkatkan prestasi akademik siswanya yaitu dengan memberi perhatian lebih dan melakukan pendekatan secara emosional

untuk memotivasi para siswa untuk belajar sekalian melihat langsung kondisi para siswanya. Sungguh tidak terduga, banyak hal tentang keadaan siswa yang akhirnya bisa diketahui dari perjalanan para guru saat mendatangi langsung rumah siswa dimana kelompok belajar-kelompok belajar yang terdiri dari 5-7 siswa ini diselenggarakan secara bergantian. “Kami menjadi tahu bahwa beberapa siswa yang bermasalah di sekolah, rupanya memiliki persoalan yang sangat menyentuh,” ungkapnya. Kisah sedih beberapa anak korban perceraian, ada pula anak para TKI/TKW serta masalah lainnya, menjadikannya dan para guru di sekolah ini memberikan perhatian lebih kepada mereka. Anak-anak yang kurang beruntung ini bahkan kerap tidak masuk sekolah karena alasan yang sangat mendasar. Suatu hari, ceritanya, ada siswa yang sering tidak masuk karena alasan tidak pernah bisa sarapan karena tak memiliki makanan di waktu pagi. Hal ini menarik

Salah satu kegiatan ekstrakurikuler di SMPN 3 Narmada. Akhmad Nurpail menekankan pendidikan siswa juga untuk peka terhadap sekitarnya

Rajin Silaturahmi Dalam memimpin SMPN 3 Narmada, Akhmad Nurpail yang dibantu guru-guru yang menurutnya relatif memiliki idealisme dalam mengajar dan mendidik siswa, tidak semata-mata mengejar prestasi akademik bagi siswa dan sekolahnya melainkan juga mendidik siswanya untuk siap bermasyarakat dan memiliki kepekaan yang tinggi terhadap kehidupan sosial di sekitarnya. “Orang yang berhasil itu tidak sematamata dilihat dari prestasi akademiknya, melainkan juga banyak faktor non akademis yang mendorongnya untuk sukses. Saya memberikan apresiasi yang tinggi juga untuk para guru di sekolah ini yang memiliki semangat yang sama dalam mendidik dan mengajarkan anak-anak kami (siswa) untuk berusaha keras meraih prestasi akademik maupun nonakademik,” katanya. Akhmad Nurpail beserta para guru di sekolah yang berada di Desa Sedau Kecamatan Narmada Lombok Barat Nusa Tenggara Barat ini, bertekad meraih target secara akademik rata-rata kualifikasi UN bernilai baik karena selama ini sekolah ini masih dengan nilai cukup. Ia juga ingin agar para siswa yang ada di sekolah yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan ini dapat diterima sekolah menengah favorit di Mataram maupun di Lombok Barat. Itulah sebabnya, khusus bagi siswa kelas tiga diberikan pelajaran tambahan dan belajar berkelompok yang secara rutin dikunjungi oleh para guru secara bergantian. Dalam ruang nonakademik, sekolah ini menargetkan prestasi dalam bidang ekstrakurikuler. Meski sekolah ini berada di perdesaan, tampaknya tidak dapat disepelekan. Bagaimana tidak, dalam dua tahun terakhir tidak kurang dari 12 prestasi telah diraihnya dalam berbagai lomba yang diadakan di Tingkat Kabupaten Lombok Barat maupun Tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat. Bahkan tidak jarang para siswa merebut juara pertama misalnya dalam Lomba Narmada Scout Camp Competition, putra dan putrid di tahun 2014 lalu serta Juara I pada ajang Universal Taekwondo Indonesia (UTI) Pro tingkat SMP se-NTB pada tahun 2015 lalu. Demikian pula dengan prestasi lainnya. Untuk menyikapi perkembangan global terhadap pengaruhnya dalam pergaulan remaja, Akhmad Nurpail menyibukkan siswanya dengan mengikuti berbagai ekstrakurikuler. Ia dan para guru juga rajin bersilaturahmi dengan para orangtua siswa bahkan dengan Kepala Dusun ataupun Kepala Desa untuk berkomunikasi tentang perkembangan sekolah dan para siswa, khususnya tiap kali ada kebijakan baru sekolah yang memerlukan dukungan orang tua. Untuk mengantisipasi masalah kenakalan remaja/pelajar, sekolah ini melakukan pendekatan ke empat desa asal siswa untuk mensosialisaikan peraturan sekolah menyangkut hal ini. Sekolah ini berusaha semaksimal mungkin meningkatkan komunikasi dengan para orangtua dan kepala desa atau kepala dusun dalam menjaga prilaku siswa saat berada di rumah dan di lingkungannya. “Kami sama-sama menjaga siswa, di sekolah, di rumah dan di lingkungannya,” ujarnya. -Naniek I. Taufan

Kepala Sekolah SMPN 3 Narmada, Akhmad Nurpail, M.Pd., menerima piala persembahan prestasi siswa bagi SMPN 3 Narmada dalam bidang kepramukaan

simpati sekolah untuk mengecek keadaan siswa tersebut. Begitu pihak sekolah mendatangi rumah siswa tersebut, sungguh miris keadaannya, hidup dalam kekurangan tanpa orangtua. Ia tinggal bersama kakeknya yang juga telah renta sehingga tiada berdaya untuk mencari nafkah secara layak. Masih banyak lainnya dengan kisah keprihatinan yang berbeda-beda masalah yang membuat ia dan para guru pikir berkali-kali untuk tegas apalagi sampai marah untuk masalah kedisiplinan bagi mereka ini. Belum lagi ada siswa yang selalu mengeluarkan baju dari celananya padahal aturan kerapian baju harus masuk ke dalam. Setelah diusut rupanya celananya ada yang robek atau masalah lainnya. “Yang ada kami justru terenyuh. Kami tidak tega menegur apalagi memarahi siswa yang bersangkutan karena kami melihat langsung kondisinya yang memprihatinkan itu. Dari sini kami juga memahami bahwa tidak semua anak yang melanggar disiplin itu karena kemauannya

sendiri melainkan lebih karena keadaannya,” ungkapnya. Hal ini tidak hanya terjadi pada satu orang melainkan lumayan banyak anak-anak yang bermasalah dengan kekurangan, sehingga alumni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP Jurusan Bahasa Inggris Universitas Mataram ini mencetuskan ide menyumbang bagi yang tidak mampu (yang membutuhkan). Kegiatan sosial mengumpulkan sumbangan sukarela dari guru, staf sekolah sekolah murid yang mampu ini ia beri nama Coin for The Sick (koin untuk yang membutuhkan). Aksi sosial ini telah berjalan hampir setahun sejak banyak ditemukan siswa yang kurang mampu yang dimulai dari para guru dan staf sekolah sampai akhirnya para murid juga turut menyumbang. “Kami sekalian ingin mengajarkan siswa untuk peka dan memiliki kepedulian pada lingkungan sekitarnya yang kurang mampu serta belajar untuk berbagi,” katanya. –Naniek I Taufan.


8

Bunda & Ananda

Edisi 887/ 8 - 14 Februari 2016

Kenali Program TPA

Bagi orangtua yang sibuk berkarier, pengasuhan anak kadang dilimpahkan ke keluarga. Namun, kini banyak pilihan, salah satunya dengan membawa anak ke tempat penitipan anak (TPA). Sebelum memilih TPA, kenali dan cari informasi sebanyak-banyaknya tentang TPA itu.

P

agi hari, sebelum ke kantor, Nana mampir ke TPA yang dekat dengan kantornya. Ia menitipkan anak keduanya. “Anak pertama sekolah diantar ayahnya. Nanti pulangnya, ayahnya juga yang jemput. Anak kedua, karena masih kecil dan di rumah tidak ada yang jaga, saya ajak ke TPA. Pulang kantor saya jemput,” ujarnya. Rutinitas ini hanya dilakukan Senin sampai Jumat atau selama hari kantor. Hari Sabtu dan Minggu, mereka tidak ke TPA. “Kami pilih paket bulanan. Dulu awalawalnya kami pilih paket harian. Setelah cocok, kami beralih ke paket bulanan, lebih murah,” ungkap perempuan yang berprofesi sebagai dosen ini. Pengalaman Desti lain lagi. Ia hanya menitipkan anak kalau jadwal kerjanya bersamaan dengan suami. Biasanya, sang suami kerja malam, jadi pagi sampe sore bisa menjaga anak. Namun, kalau dapat tugas pagi, mereka tak punya pilihan selain menitipkan anak ke TPA. “Dulu kami pernah mengajak PRT, tetapi saya merasa tidak nyaman,” ujarnya. Kegalauan ibu-ibu urusan menitipkan anak ini menjadi perhatian dr. Ni Made Sumiartini, Sp.A. Ia sering mendapat pasien yang mengalami masalah dengan tumbuh kembang sehingga rentan menderita sakit. “Saya sering mendengar cerita dari orangtua yang anaknya dititip di tetangga, ada yang dititip di rumah

neneknya. Saya pun terinspirasi untuk membuat TPA,” kata pemilik d’Care Day Care, sebuah TPA di Denpasar ini. Ia menuturkan perubahan zaman menyebabkan perubahan tatanan keluarga dalam masyarakat. Makin banyak orangtua yang memutuskan untuk bekerja sehingga menyebabkan permasalahan baru, kepada siapa ananda akan dipercayakan untuk diasuh. Tingkat kepercayaan sebagai orangtua terhadap rasa aman, stimulasi dan edukasi dalam menitipkan anak kepada pengasuh kadang menimbulkan keraguan. Di samping itu, mencari pengasuh yang dapat diandalkan dan dapat dipercaya juga susah. “Dari banyak pengalaman itu, kami berusaha mengatasinya dengan menyediakan jasa penitipan anak dan bayi yang dikelola tenaga terlatih dan saya awasi langsung. Saat ini ada 21 anak dengan 7 pengasuh,” ujar perempuan yang akrab disapa dr. Sumi ini. Penitipan anak ini dilakukan pukul 07.00-17.00. Jika melebihi pukul 17.00 dikenakan biaya tambahan per jam. Paket yang disediakan mulai dari harian, mingguan, hingga bulanan. Anakanak dipisahkan sesuai umur, 0-6 bulan, 6 bulan-1 tahun, diatas 1 tahun. Nutrisi anak yang dititip di TPA ini juga disesuaikan dengan umur. Seminggu sekali, mereka mendapatkan pijat relaksasi/ stimulasi gratis. Komunikasi antara orangtua dengan pengasuh serta pemilik

TPA harus terjalin dengan baik. Hal ini, menurut dr. Sumi untuk menghindari hal-hal yang tidak diharapkan. Misalnya, ada anak yang sakit saat berada di TPA, ia akan dipisahkan dengan temantemannya untuk mendapat perawatan. Bahkan, orangtua akan diminta untuk menjemput. Hal ini dilakukan agar anak-anak yang lain tidak tertular. Selama di TPA, program untuk anak-anak diantaranya bermain dan belajar bersama dengan alat permainan edukatif. Mereka juga diberikan cerita sebelum tidur. Dari beberapa referensi mengatakan anak di TPA memiliki kesempatan untuk bermain karena fase anak-anak adalah fase bermain. “Saya selalu kontak dengan pengasuh, demikian juga mereka. Kalau ada yang sakit, saya langsung datang untuk memeriksa. Kalau harus diberi obat, orangtua akan diberi resep. Setelah sehat, barulah diperkenankan datang lagi ke TPA,” ujar ibu empat anak ini. Ia mengaku lebih mementingkan kualitas dari pada kuantitas. Menurutnya jumlah anak yang tidak terlalu banyak akan lebih memudahkan pengawasan. –Ngurah Budi

Alena Wu

T

Anak-anak di TPA

Kasuari Sang Preman

keberanian dan kekuatan terbang. Burung yang terpilih mewakili semua burung adalah Merpati Jambul. Tantangan itu diterima dengan bangga oleh Kasuari. Bukankah di hutan belantara itu, Kasuari terkenal karena keberanian dan kekuatannya? Demikianlah, pada hari yang ditentukan, lomba pun dimulai. “Sebelum lomba terbang dimulai, Kasuari dan Merpati Jambul harus menunjukkan keberanian, yakni mematahkan sayap lawan,” kata burung hantu yang ditunjuk menjadi wasit. “Giliran pertama adalah Kasuari!” Kasuari maju dengan bangga sambil tersenyum-senyum. Ia memegang sayap Merpati Jambul. “Braak…!” Burung kekar itu dengan mudah berhasil mematahkan sayap lawannya. Burung kecil itu mengaduh kesakitan. Di sana-sini terdengar sorak-sorai burung-burung. Kemudian tiba giliran Merpati Jambul mematahkan sayap Kasuari. “Braaak…!” Burung raksasa itu pura-pura tidak merasa sakit. Sorak-sorai bergemuruh. Setelah wasit memberi komando untuk terbang, Merpati Jambul mengepakkan sayapnya, lalu melesat membubung tinggi. Tiba-tiba menukik, kemudian meliuk-liuk mengitari hutan lebat. Sedangkan si burung preman tampak melompat-lompat di tempat, namun tak pernah berhasil terbang naik. Burung yang sayapnya patah itu kepayahan akhirnya jatuh lunglai. “Horeee…!” Demikian gegap-gempita sorak-sorai semua burung. Mereka bergembira- ria merayakan kemenangan. Ternyata akal-akalan mereka berhasil dengan gemilang. Burung kasuari yang bodoh itu tidak mengetahui, bahwa sayap merpati jambul yang dipatahkan itu adalah tangkai bambu yang dipasang sebelum bertanding. Nah, semenjak peristiwa itu, burung kasuari yang besar dan kekar itu tidak dapat terbang sampai sekarang.

17

Kenalkan Tradisi sejak Kecil Imlek memiliki makna mendalam bagi sebagian besar keturunan Tionghoa yang masih menjalani tradisi itu. Satu hal yang melekat adalah momen berkumpulnya seluruh anggota keluarga untuk merayakan Tahun Baru bersama-sama. Biasanya mereka yang berada di manapun (tinggal jauh dari keluarga), entah karena bekarja maupun sekolah, pasti menyempatkan diri untuk kembali ke rumah (pulang ke kampung halaman) pada saat Imlek.

Mendongeng Lima Menit Di sebuah hutan yang lebat burungburung besar-kecil bergembira ria. Mereka bebas beterbangan, mencari makan dan bernyanyi-nyanyi. Namun setelah kehadiran burung kasuari, kegembiraan mereka berubah menjadi ketaMade Taro kutan. Burung baru itu amat besar dan kekar. Perawakannya indah dan bulunya lebat, namun sifatnya sangat buruk. Burung itu sering merampas makanan. Kalau tidak direlakan, burung-burung yang sedang menikmati makanan itu dibunuh. Burung besar seperti candrawasih pun tidak luput dari ancaman. Kalau melawan, maka anak-anak burung besar itu diculik atau telur-telurnya dihancurkan. Burung kekar itu juga amat angkuh. Ia sering memamerkan kecepatan dan kekuatannya terbang mengitari hutan. Tentu tak seekor burung pun yang berani menandinginya. Rupa-rupanya kebencian burung-burung itu dirasakan pula oleh burung hantu. Pada suatu malam, burung yang bijaksana itu mengundang semua burung mengadakan pertemuan rahasia. Pertemuan itu dilakukan pada saat Kasuari tertidur nyenyak. “Kawan-kawan!” kata burung hantu membuka pertemuan. “Semenjak kehadiran burung preman itu, kita semua menjadi korban. Oleh karena itu aku mengajak teman-teman bersepakat dan bersatu mengusir burung itu.” Semua burung sepakat bekerjasama dan menjaga rahasia akal-akalan yang akan dilakukan. Pada hari yang ditentukan, mereka menantang Kasuari untuk unjuk

Edisi 887/ 8 - 14 Februari 2016

kapanlagi.com

Alena Wu

ak terkecuali A l e n a Wu , penyanyi spesialis lagu-lagu Mandarin. Berkumpul bersama keluarga, sudah pasti, namun sebelum itu dia masih menyempatkan diri untuk manggung. Manggung di malam Imlek memang sudah menjadi kebiasaan Alena sejak berkarir di dunia menyanyi. “Dari sebelum menikah sampai telah menikah dan sekarang, memang selalu begitu. Saya tetap bekerja sampai malam Tahun Baru. Orangtua mengizinkan saya menyanyi di malam Tahun Baru,” ungkap pemenang Asia Bagus Malaysia tahun 2000. Tahun ini, seperti tahun sebelumnya, menjelang Imlek bahkan sampai sebulan setelahnya, ia kebanjiran order

manggung. Jadwalnya padat, namun katanya, ia tetap berkumpul bersama keluarga pada Tahun Baru. Rencananya, kata Alena, setelah menyanyi di malam Imlek di Makasar, keesokan harinya atau bertepatan dengan Imlek, dia terbang ke Malang, tempat keluarga besarnya berkumpul. Alena Wu sedang kinclong kariernya di dunia tarik suara, khususnya untuk lagu-lagu Mandarin. Spesialisasi lagu Mandarin memang dipilihnya selain karena melihat potensinya untuk berkembang, bahkan merambah ke luar negeri, sangat bagus. Di Indonesia sendiri, pasar untuk lagu-lagu Mandarin sangat menjanjikan, permintaan tinggi sementara jumlah penyanyi yang ada tidaklah banyak. Selain dunia tarik suara, Alena yang bersama Elfa’s Choir meraih gold medal pada Olimpiade Paduan Suara di Austria tahun 2000, juga merambah ke bidang lain seperti modeling, presenter juga akting.

Untuk akting, setidaknya wanita kelahiran Malang ini telah tampil di film ‘Crazy Love‘ dan sebuah film produksi Hong Kong, ‘Silent Heroes’. Tapi dari semua itu, dia lebih suka pada dunia menyanyi dan ingin fokus pada bidang itu. POHON ANGPAU WAJIB ADA Kembali ke soal Imlek. Menurutnya, meski dirinya sibuk, namun persiapan Imlek tetap dilakukannya bahkan itu dilakukan sejak jauh-jauh hari. Mulai dari pernak-pernik hiasan rumah hingga makanan khas Imlek. Tapi, katanya, ada beberapa yang memang dipersiapkannya secara khusus dan harus ada setiap kali perayaan, di antaranya adalah; kue keranjang yang sudah pasti ada, jeruk dan manisan. Untuk dekorasi yang wajib ada adalah pohon angpau. “Harapannya keluarga harmonis dan banyak rezeki,” kata wanita bernama lengkap Caroline Gunawan.

Bagi Angpau saat Imlek Tahun Baru Imlek merupakan tradisi warga Tionghoa. Perayaan tahun baru Imlek dimulai di hari pertama bulan pertama di penanggalan Tionghoa dan berakhir dengan Cap Go Meh di tanggal kelima belas (pada saat bulan purnama). Tahun baru Imlek dirayakan hampir di seluruh dunia dengan kemeriahan dan pernak-pernik merah dan kuning keemasan. Perayaan Imlek juga disambut sukacita warga Tionghoa di Bali. Salah satunya, Wisilawati, anggota Pembina Forum Ibu-ibu Buddhis Bali. Menurut Pemilik New Melati Salon ini, di negara asalnya Tiongkok, peraya­a n Imlek merupakan pergantian tahun menuju musim semi. Para petani bergembira menyambut musim semi yang diharapkan membawa kebahagiaan dan keberkahan bagi mereka. Perempuan usia 65 tahun ini menuturkan, biasanya, keturunan Tionghoa sudah jauhjauh hari mempersiapkan pernak-pernik perayaan Imlek. “Saya sudah awal bulan Februari menghias tempat persembahyangan dengan bunga-bunga. Selain itu, saya juga mempersiapkan lampion, dan yang paling penting menukar uang untuk angpau,” tuturnya. Tradisi ngejot juga tetap dipertahankan keluarga Wisilawati. Menurutnya, tujuan ngejot adalah untuk saling berbagi kebahagiaan. Ia membawa antaran yang berisi kue-kue dan buah sebagai simbol berbagi kepada sesama. Ngejot sudah dilakukan seminggu Imlek. Saat Imlek pernak-pernik banyak menggunakan wana merah dan kuning keemasan.

Wisilawati

Maknanya, sesuai makna warna merah dan kuning keemasan, semoga di tahun baru kehidupan menjadi lebih bersemangat. Untuk bahan persembahyangan imlek lebih banyak menggunakan kue-kue dan buah-buah­an. Kue yang terkenal dan selalu ada adalah kue keranjang, kue mangkok, tebu, dan pohon jeruk. Kue keranjang rasa­nya manis dan terbuat dari ketan yang sangat lengket. Kue keranjang diartikan sebagai pengikat keakraban persaudaraan dan keluarga agar makin kompak. Tebu rasanya manis. Semakin diperas semakin manis. Tebu bisa tumbuh di semua musim. Penggunaan tebu dimaknai agar manusia bisa bersikap seperti tebu, di-

mana pun bisa tetap hidup, dan mampu mengarungi tantangan dalam kehidupan, dan berharap di tahun baru kehidupan menjadi lebih manis dan lebih baik. Manusia diharapkan selalu berbuat baik dan menjaga kekompakan dan persatuan. Pohon jeruk sebagai simbul keberuntungan dan kebahagiaan. Saat imlek, ada satu bunga yang sangat terkenal yang disebut bunga mei hua. Bunga ini memiiki daun yang kecil-kecil berwarna merah muda de­ ngan kombinasi putih, saat Imlek tiba, pohon mei hua ini suka ditambahkan pernak-pernik aksesoris, seperti angpao-angpao kecil dan lampion-lampion kecil dari kertas warna untuk dijadikan pelengkap dekorasi ruangan. “Sebenarnya, pohon ini tak hanya sekadar pelengkap dekorasi ruangan saat Imlek. Pohon mei hua juga dianggap sebagai lambang harapan, keuletan, kebahagiaan, dan kesejahteraan,” kata Wisilawati. Dengan kemajuan teknologi, sekarang sudah banyak bunga mei hua dari plastik sehingga lebih praktis. Pemasangan lampion diibaratkan sebagai cahaya untuk menerangi kehidupan agar menjadi lebih baik. Agar lebih meriah, peraya­an diisi dengan penyalaan mercon dan pertunjukkan barong sai. Tujuan dari tradisi ini, adalah untuk menolak bala atau

Soal hidangan jeruk, misalnya, itu memang selalu ada setiap Imlek. Misalnya saja jeruk yang berarti hoki, kue keranjang peningkatan dalam kemakmuran dalam segala hal. “Sedang kuaci bermakna banyak anak. Manisan bermakna semoga bertambah manis kehidupannya. Oh ya, nanti juga ada ikan, itu kesukaan Popo (Popo Fauza-suami) yang menjadi simbol mendatangkan rezeki berlebih,” papar Alena yang pekan lalu baru saja meluncurkan album Mandarin terbarunya bertajuk ‘Xing Fu’ atau Blessed. Bicara Imlek, Alena merasa bersyukur kalau orangtuanya mengenalkan tradisi itu sejak ia masih kecil dan itu tetap dijalankannya hingga kini. Seperti ketika ia kecil dulu, maka pengetahuan soal Imlek pun sudah mulai dia ajarkan kepada si kecil, anaknya semata wayang, Neo Kolla Fauza. “Pelan-pelan mulai diajarkan, dikenalkan. Dia juga suka bertanya,” kata pemilik nama Wu Hui-li ini. Kenangan Imlek masa kecil begitu kuat melekat dalam benaknya, bahkan hingga sekarang. Bagaimana keceriaan menyambut Imlek, bagaimana ramainya ia bermain bersama saudara-saudaranya. “Suasana masa itu aku masih inget banget, sepupu-sepupu aku, enaknya masakan Mak Engkong, semuanya,” ungkap Duta Batik Puring 2009 ini. –Diana Runtu

kekuatan jahat dan semoga di tahun baru dijauhkan dari hal negatif dan selalu diberi keselamatan dan rezeki berlimpah. Saat Imlek, keluarga Wisilawati akan melakukan persembahyangan di rumah untuk memuja leluhur dan para dewa. Setelah sembahyang dilanjutkan de­ngan makan bersama dan bagi angpau. Uniknya, uang yang dimasukkan ke dalam angpau adalah uang baru. Maknanya, agar keberkahan terus diraih di tahun baru. Tujuan pembagian angpau adalah untuk saling berbagi rezeki. “Pembagian angpau menjadi hal yang sangat dinanti. Biasanya para tetua yang membagikan kepada anak-anak. Intinya, bersilaturah­mi.berbagai kebahagiaan. Karena ibu saya masih ada, kalau tidak sempat di hari itu, besoknya saya ke rumah ibu untuk bersilaturahmi,” katanya. Wisilawati beberapa tahun belakang­an ini sering melakukan open house saat imlek. “ Selain keluarga besar suami dan saya, temanteman anak saya, termasuk rekan kerja dan karyawan bersama keluarganya, saya undang ke rumah untuk berbagi kebahagiaan,” kata Wisilawati. Menurutnya, selain disibukkan dengan menyiapkan perlengkapan sembahyang, ia berharap, dalam perayaan Imlek, warga Tionghoa juga mengerti makna dari perayaan tersebut dan mengimplementasikan dalam kehidupannya sehari-hari. “Saat ini saya sedang belajar untuk menyeimbangkan antara ritual dan memahami makna dalam kehidup­ an. Karena untuk mencapai kesehatan fisik dan batin, urusan ritual dan pengedalian diri secara emosional dan spiritual juga perlu seimbang. Seperti yang rutin dilakukan ibuibu Budhhis, dengan belajar bermeditasi,” kata istri Candikiat­mono Santoso ini. Perayaan imlek ditutup pada saat peraya­ an Cap Go Meh. Perayaan menjadi istimewa karena seluruh warga Tionghoa menikmati lontong cap go meh. –Wirati Astiti


16

Edukasi

Edisi 887/ 8 - 14 Februari 2016

Renungan

HPN

2016

Wartawan jangan Abaikan Dokumentasi

Dalam tiga bulan terakhir ini penggemar media sosial facebook dapat membaca tulisan Widminarko yang diung­ gah tiap Minggu. Judulnya, “Nostalgia & Inspirasi”. Pem­ baca bukan hanya diajak menumpahkan kerinduannya dan mengenali kejadian masa lalu, tetapi tulisan berseri itu juga bisa dijadikan sumber inspirasi bagi generasi seka­ rang. Tulisan sarat fakta dan foto itu menunjukkan pe­ nulisnya kaya dokumentasi.

dan tertata. Syukurlah jika tiap wartawan mampu mengelola perpustakaan di rumah­ nya. Jika tidak, minimal penerbit tempatnya bekerja harus mengelola perpustakaan lebih tertata,” sarannya. Atas pertanyaan tentang tahap perjalan­ an karier seorang wartawan, Widminarko mengungkapkan pengalamannya selama 51 tahun ini. Pertama-tama ia menulis berita, dari ragam langsung, ringan, hingga ragam kisah. Tahap berikutnya menulis berita mendalam (reportase) dan artikel. Setelah itu menulis tajuk rencana. Setelah melewati tahap-tahap itu, katanya, sekarang ini ia lebih banyak menulis buku dan menulis di media sosial, selain sebagai narasumber mereka yang mencari data dan informasi masa lalu. “Me­ nyajikan tulisan berseri di face­ book yang saya lakukan sejak Desember itu tidak mungkin lancar tanpa

ditunjang dokumentasi yang akurat, aktual, dan tertata, yang saya miliki,” tambahnya. Ditanya komentarnya terhadap ­w artawan era sekarang, Widminarko mengharapkan hendaknya tiap wartawan selalu berambisi untuk tampil berkualitas, dan meningkatkan kualitasnya dari waktu ke waktu, baik dalam proses penggalian dan pengolahan fakta maupun penulisan produk karya jurnalistik. Salah satu cara­ nya, gemar menyerap informasi dari beragam sumber, gemar mencatatnya, mendokumentasikan, mendikusikannya, dan selalu peduli terhadap masalah yang terjadi di lingkungannya dan masalah yang dihadapi bangsanya. Jangan sampai terjadi bertahun-tahun menjadi war­ tawan, hanya bisa menulis ragam berita langsung. “Saya harapkan lewat karyanya wartawan turut berkontribusi mence­ gah terjadinya ­k esenjangan informasi antargenerasi. Saya sangat merindukan tampilnya wartawan yang karya jurnalis­ tiknya mendapat penghargaan di tingkat nasional sebagaimana yang selalu dikejar para pendahulunya,” ujar wartawan yang tiga karya jurnalistiknya meraih penghar­ gaan tingkat nasional, tahun 1979, 1980 dan 1981 itu. –Inten Indrawati

Seminar Nasional UNR

Widminarko (kiri) di depan rak perpustakaan di rumahnya di Green Kori Sading bersama Prof. I Nyoman Darma Putra

“D

okumentasi pen­ ting dan diperlukan wartawan. Tanpa ditunjang dokumen­ tasi akurat dan aktual, karya jurnalistik wartawan akan kering dan hambar,” ujar ‘wartawan tiga zaman’ itu kepada war­ tawan Mingguan Tokoh yang mewawan­ carai dalam rangkaian Hari Pers Nasional 9 Februari ini. Widminarko yang kini berusia 74 ta­ hun, menggeluti profesi wartawan sejak tahun 1965 hingga sekarang, tanpa putus. Ia menuturkan, bukan hanya wartawan, dokumentasi juga diperlukan banyak kalangan, termasuk pakar beragam ilmu, pengamat, pejabat pemerintah, politisi, penggerak LSM, dan aktivis lainnya. Tanpa ditunjang dokumentasi, pandangan pakar dan pengamat, serta aktivitas para aktivis, cenderung kurang komprehensif, terkesan tidak mengandung hal-hal baru, mengulangulang pemikiran yang sebenarnya sudah pernah diwacanakan dalam kurun waktu sebelumnya. Ketua PWI Cabang Bali dua periode, 1983 – 1991 itu, memberi contoh fenom­ ena kesenjangan informasi antargenerasi sekarang ini. Salah satu biang keladinya adalah miskinnya dokumentasi dan tiadanya niat generasi muda untuk memanfaatkan dokumentasi yang ada. Akibatnya generasi muda pada suatu era, tidak selalu tahu apa yang pernah dikerjakan generasi pada eraera sebelumnya. Tidak paham pemikiranpemikiran para pendahulunya. Tidak semua wakil rakyat tahu dan pernah mem­ baca peraturan daerah dan undang-undang produk para pendahulunya. Penyebab­ nya, menurut Widminarko, selain niat membaca­nya tidak ada, dokumentasi yang

tersedia tidak lengkap atau kurang tertata. Dampak negatifnya, terjadilah kesenjangan informasi antargenerasi. Kesinambungan serjarah pun terpenggal-penggal. Siapa yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan dokumentasi yang lengkap dan akurat itu? Widminarko menyatakan kita semua bertanggung jawab. Penulis buku, misalnya, dan para dokumentator lain perlu diberi peluang agar lebih bergairah untuk berkontribusi memperkaya khazanah do­ kumentasi pada tiap generasi. Lembaga dan instansi yang menangani bidang perpusta­ kaan, kehumasan, dan penerbitan pers pun memiliki tanggung jawab sama. “Dalam era sekarang, dalam rangka menjalankan prinsip-prinsip kerja public relations modern, lembaga humas seyogia­ nya meningkatkan pengelolaan bidang dokumentasi, kuantitatif maupun kualitatif, dengan jalan menyiapkan beragam sarana yang diperlukan, sehingga mampu berperan sebagai narasumber yang tiap saat siap bisa melayani kebutuhan data dan informasi dari beragam kalangan,” ujar mantan pengajar dan instruktur Public Relations itu. Widminarko menjelaskan, publik pem­ baca sekarang ini tidak puas membaca, mendengar dan menonton karya jurnalistik yang hanya menyajikan fakta primer. Selain fakta telanjang yang bisa ditangkap panca indera itu, wartawan harus berupaya mem­ perkaya karya jurnalistiknya dengan fakta sekunder, yang sering disebut fakta di balik fakta. Juga, dalam hal-hal tertentu perlu dilengkapi fakta tersier yakni fakta lama tetapi diaktualkan kembali sebagai ­referensi demi menjadikan karya jurnalistiknya lebih komprehensif sesuai dengan tuntutan ­publik masa kini. “Semua itu terpenuhi jika tersedia dokumentasi yang lengkap, aktual,

Tata kelola Pemerintahan Desa Menuju Good Governance

tema yang sedang ramai dibicarakan mengenai UU Desa. Ia menilai, aturan baru ini menimbulkan kebingungan di kalangan masyarakat, terutama di pe­ merintahan desa. Mengi­ngat peraturan tersebut masih baru, sehingga jika men­ gacu pada peraturan itu sendiri, sangat berat. Sedangkan, aparat desa sendiri belum siap dari sisi SDM. Ia berharap, agar tidak terjadi penaftiran-penafsiran yang berbeda, yang akan menyebabkan terjadinya kesalahan dalam mengelola keuangan Dari kiri: I Dewa Made Rai Adnyana, I Gede Wiratha dan akhirnya terjadi korupsi. “Aturan (moderator), Prof. Abdul Hamid, dan I Wayan Sudarsana yang ada, baru saja diberlakukan, sudah diganti aturan baru. Di tingkat pemerintahan desa Kebijakan pemerintah pusat memberikan terjadi kebingungan, satu belum selesai sudah pengelola­an dana yang cukup besar kepada desa, aturan baru sehingga kami dari akademisi prihatin merupakan jawaban pemerintah terhadap tuntutan dengan kondisi ini,” kata Wiratha. rakyat yang menginginkan kemajuan di desa lebih cepat terlaksana. Dengan diberikannya desa atau Wiratha menambahkan, tujuan seminar, kelurahan, dana yang cukup untuk membiayai pro­ adalah menyamakan persepsi bagi pemangku gram mereka maka kemajuan di desa akan cepat kepentingan dan menambah pengetahuan bagi terlaksana. mahasiswa, dosen Fisip UNR, dan peserta seminar, dan memperoleh berbagai alternatif solusi untuk Kebijakan ini merupakan kebijakan yang cukup terwujudnya perubahan ke arah yang lebih baik. berani dilakukan pemerintah pusat. Kebijakan terse­ Selain itu, untuk mengidentifikasi berbagai kesalah­ but menjadi dilema sejumlah kepala desa terkait an atas pelanggaran yang dapat terjadi dalam tata pertanggung­jawaban pengelolaan dana yang cukup kelola pemerintahan desa sehingga diharapkan besar. Hal ini diakibatkan kesiapan dalam implementasi mendapatkan masukan dan alternatif solusi untuk kebijakan tersebut belum terpenuhi, seperti belum mengatasinya. tersedianya infrastruktur dan SDM yang siap melak­ sanakan dengan baik di setiap desa/kelurahan. Pembicara pada seminar yang diikuti kepala desa/lurah se-Kota Denpasar dan mahasiswa dari Berdasarkan permasalahan tersebut, maka Fakul­ universitas lain ini, Prof. Dr. Abdul Hamid, M.S., tas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik ( Fisip) Universitas akademisi dari Universitas Islam Negeri Jakarta, Ngurah Rai (UNR) bekerja sama dengan Indonesian membahas tentang Kebijakan Pemerint­ah tentang Association of Public Adminsitration (IAPA) Wilayah Tata Kelola Pemerintahan Desa. Drs. I Wayan Su­ Jawa Timur, Bali, NTB, NTT mengelar seminar na­ darsana MAP, Kepala Inspektorat Daerah Kabupaten sional “Membangun Tata Kelola Pemerintahan Desa Karangasem, dengan makalah “Tata Kelola Keuangan Menuju Good Governance dalam Perspektif UU No Desa dalam Perspektif Pemendagri No 113, Tahun 16 Tahun 2014”. 2014”. I Dewa Made Rai Adnyana ( Perbekel Desa Dekan Fisip UNR, I Gede Wiratha, S.Sos, M.A.P. Taman Bali Bangli) dengan makalah “Manajemen mengatakan, seminar ini sudah diselenggarakan ke­ Pemerintahan Desa”. –ast sekian kalinya. Namun, kali ini pihaknya mengusung

Edisi 887/ 8 - 14 Februari 2016

9

Barongsai dan Liong di Air Perayaan Imlek 2567 di Jakarta berlangsung meriah. Pusat-pusat perbelanjaan yang sejak jauh-jauh hari berdandan cantik dengan dominasi ornamen Imlek berwarna merah, pohon-pohon angpau menjulang, dll. Sejumlah mal sejak jauhjauh hari ‘woro-woro’ akan menggelar acara spesial. Grand Indonesia, misalnya, secara khusus mendatangkan atraksi dari Tiongkok untuk memeriahkan Tahun Baru.

Ilustrasi atraksi barongsai di bawah air di Ocean Dream Taman Impian Jaya Ancol

T

empat-tempat hiburan pun tak mau kalah den­ gan aneka hiburan spesial Imlek. Di Taman Impian Jaya Ancol misalnya, memusat­ kan kegiatan Imlek di tiga wa­ hana yakni Sea World, Ocean Dream dan Atlantis. Di ketiga wahana itu nantinya akan digelar aneka atraksi salah satunya yang bakal menyedot perhatian adalah atraksi barongsai dan liong di dalam air. “Kami memperkirakan pen­ gunjung yang datang dalam pekan Imlek tahun ini meningkat dari tahun sebelumnya. Kalau tahun lalu sekitar 70 ribu pengunjung maka tahun ini sekitar 80 ribuan,”

ungkap Rika Lestari, humas PT Pembangunan Jaya Ancol dalam jumpa pers baru-baru ini. Seperti Taman Impian Jaya Ancol, Kebon Binatang Ragunan pun bersiap-siap mengantisipasi membludaknya pengunjung pada masa liburan Imlek. Karena sep­ erti pada masa libur panjang, Kebon Binatang Ragunan menjadi tempat favorit bagi warga Jakarta, khususnya, untuk berwisata. “Siap-siap bukan karena Imleknya ya, tapi ini kan libur panjang dan biasanya pengun­ jung membludak,” kata seorang petugas kebun binatang Ragunan sembari berharap, semoga cua­ ca cerah sehingga pengunjung ramai dan merasa nyaman dalam

berwisata. Sebagian penyuka wisata se­ jarah berpendapat jika ingin merasakan suasana Imlek yang sesungguhnya harus dapat ke pusat komunitasnya. Di Jakarta sudah barang tentu pusatnya ada di kawasan kota tua, Jakarta Ba­ rat. Salah satu yang terkenal dan terbesar di Jakarta adalah Pecinan Glodok. Berdasarkan sejarah, sejak kasus pembantaian etnis Tion­ ghoa tahun 1740, masyarakat Tionghoa yang tadinya bermukim di Batavia, dipindahkan ke luar kota, di antaranya di Glodok. Tak heran kalau sampai sekarang etnis Tionghoa masih menjadi mayoritas penghuni kawasan itu. Maka ketika Imlek tiba, kawasan itulah yang paling meriah. RENOVASI BELUM RAMPUNG Sejak menjelang Januari sua­ sana menyambut Imlek sudah terasa di kawasan itu. Pemukiman

Ornamen imlek di Petak Sembilan Jakarta

yang tergolong padat penduduk pun terlihat bersolek memasang ornamen-ornamen Imlek, begitu juga tempat-tempat ibadah sep­ erti klenteng Kim Tek Ie (Yin de Yuan) atau kini dikenal dengan nama Dharma Bakti. Namun sayangnya penampilan kuil berusia tiga ratusan tahun lebih itu, tidak secantik tahun lalu lantaran masih dalam kondisi renovasi akibat kebakaran yang terjadi Maret 2015 lalu. Keba­ karan yang terjadi pada dini hari itu, bukan hanya menghanguskan sebagian besar bagunan utama tapi juga sebagian perlengka­ pan klenteng termasuk patungpatungnya. Menjelang Imlek tahun ini, sepertinya renovasi belum akan rampung. Masih banyak yang harus diperbaiki. Meski begitu, ibadah Imlek tetap akan dilak­

sanakan di sana meski dalam suasana sederhana. Persiapan sudah dilakukan, termasuk lilin yang berjejer-jejer. “Renovasi belum selesai tapi sudah bisa di­ pakai untuk beribadah, dirapikan seadanya saja,” ujar pengurus yayasan Dharma Bakti. Dibanding klenteng lain di kawasan itu, boleh dibilang umat yang datang untuk sembahyang Imlek di Dharma Bakti tergolong paling banyak. Setiap tahunnya rata-rata lebih dari 5. 000 umat datang, baik dari Jakarta maupun luar kota. Maka tak heran kalau saat menjelang Imlek hingga da­ tangnya Tahun Baru, kawasan itu menjadi amat sangat ramai. Apalagi yang datang ke sana bukan hanya umat yang akan beribadah, tapi juga wisatawan yang ingin melihat dari dekat kemeriahan Imlek di Petak Sembilan. –Diana Runtu

Suasana sembahyang di klenteng

“Magnet” bagi Pengemis Membanjirnya umat yang datang ternyata juga menjadi ‘magnet’ bagi para pengemis yang sejak jauh-jauh hari berdatangan ke klenteng itu. Mereka mangkal di depan klenteng mengharap belas kasihan umat yang datang. Menurut warga setempat, fenomena membludaknya pengemis menjelang Imlek sudah terjadi sejak lama. Sebenarnya penertiban telah dilakukan berkali-kali, namun sepertinya tidak jera. Mereka tetap datang bahkan dengan jumlah yang banyak. Beberapa malah terlihat menginap di emperan. “Mereka itu sudah mulai berdatangan sejak pertengahan Januari kemarin, dan tiap hari semakin banyak bahkan bisa sampai ratusan kalau pas Imlek. Mereka itu kebanyakan dari luar kota, ada koordinatornya kok,” ujar seorang warga Petak Sembilan. “Hari ini ditertibkan, besok mereka datang lagi dengan jumlah yang banyak. Mungkin petugas kewalahan juga ya,” katanya. –Diana Runtu


10

Kreasi

Edisi 887/ 8 - 14 Februari 2016

Aplikasi Pengingat Tri Sandya di Ponsel *Luangkan Waktu Dua Menit untuk Hening

“A

coding mobile app, konsep dan rancangan dari Sudiarta, database dan API dikerjakan Satya Darmawan. Dalam waktu dua minggu, aplikasi Tri Sandya ini selesai dan dipublish melalui Playstore. Respons masyarakat luar biasa. Dalam tujuh hari ada 3.120 yang mengunduh aplikasi ini. “Komentar yang disampaikan juga positif. Aplikasi ini bisa membantu orangorang yang tidak bisa lepas dari ponsel untuk tetap ingat berdoa. Heningkan waktu dua menit saja di sela-sela kesibukan. Saya sudah menerapkan di kantor. Jika kami rapat siang, waktu Tri Sandya, kami hening sejenak. Setelah itu rapat dilanjutkan,” ungkap peraih THK Nugraha 2015 dari Bali Travel News (Kelompok Media Bali Post) ini. Aplikasi Pengingat Tri Sandya pertama di Playstore ini bisa jadi menjadi aplikasi Tri Sandya pertama di dunia yang akan terus dikembangkan. Konten aplikasi berisi Informasi dan Pengaturan. Peng-

Aplikasi Pengingat Tri Sandya

ibuk apapun, luangkan waktu untuk aplikasi pengingat Tri Sandya ini hening dan memuja Tuhan karena persembahan Bamboomedia Founsemua yang ada di dunia ini berasal dation. –Ngurah Budi dari Tuhan. Selain berisi lantuan doa Tri Sandya, aplikasi ini juga berisi informasi mengenai hari-hari raya umat Hindu. Informasi itu berisi waktu dan makna dari hari-hari tersebut. Tak hanya informasi, tetapi berisi foto sehingga tampilan menjadi menarik. Dalam penjelasan aplikasi Seorang pengguna aplikasi Pengingat Tri Sandya juga disebutkan menunjukkan ponselnya

Mimi Alawiyah

Rasakan Nikmat Alami Kopi

Mimi usai mengikuti Q Grader Class

Salah seorang perempuan yang menjadi barista adalah Mimi Alawiyah. Ia mengaku pertama kali terjun ke industri kopi tahun 2007. “Awalnya saya bukan penikmat kopi karena memang saya tidak suka dengan kopi,” ungkapnya. Agustus 2007, ia mulai mengenal kopi. Espresso merupakan kopi pertama yang ia coba, tetapi hanya rasa pahit yang bisa dirasakan. Karena ingin menjadi seorang barista, dari situ Mimi mulai belajar tentang kopi dan mencari tahu rasa espresso. Setelah proses belajar, ia mulai bisa merasakan kopi yang menurutnya enak dan tidak enak. Ternyata di dunia kopi bukan hanya sekadar enak atau tidak tetapi banyak

pelajaran dalam kehidupan yang ia alami mulai dari kopi, industri, bisnis dan pengalaman di berbagai lomba kopi. “Saya mengikuti lomba barista pertama kali tahun 2009. Saat itu ketentuan lomba tersebut barista harus membuat 12 minuman dalam waktu 15 menit. Itu perlombaan pertama yang saya ikuti dan hasilnya saya gagal. Kegagalan tersebut semakin memotivasi saya untuk belajar lebih dalam tentang kopi karena ternyata masih banyak hal yang bisa saya pelajari,” ujar perempuan kelahiran Jakarta, 12 April 1985 ini. Kecintaan Mimi berlanjut dan kemudian mengikuti perlombaan barista di tahun 2010. Hasilnya cukup memuaskan untuk diri

Pesona Sang Kebaya S

aturan bisa dilakukan otomatis dan akan melantunkan Tri Sandya pada pukul 06.00, 12.00, dan 18.00. Satu menit sebelum Tri Sandya ada nada pengingat seperti pengingat pesan masuk. Tim Bamboomedia sempat membuat pengingat lima menit sebelumnya, tetapi dianggap terlalu lama dan bisa dilupakan. Waktu satu menit sebelumnya itulah yang dianggap paling sesuai. “Bali tidak kekurangan bahan untuk dijadikan sumber aplikasi. Tinggal bagaimana kita mengemas menjadikan sesuatu yang menarik. Kemasan juga menentukan produk yang kita tawarkan ke pasar,” tegas pria asal Klungkung ini. Ia pun mengaku aplikasi ini merupakan persembahan untuk umat Hindu agar selalu ingat dengan Tuhan. Ses-

sendiri, ia berhasil mendapat juara 2 regional Jakarta. Di luar kesenangan pasti ada dukanya menjadi seorang barista. “ Saya pernah merasakan sakit gigi yang sangat parah. Itu karena terlalu banyak minum kopi. Kejadiannya di awal-awal karier saya sebagai seorang barista,” ungkapnya. Sukanya, di dunia kopi, ilmu kopi tidak ada habis – habisnya. Ada saja setiap waktu yang di dapat dari cerita/ ilmu kopi. Ini yang menyebabkan Mimi tidak bosan di dunia kopi, semakin banyak yang harus ia gali dan pelajari. “Harapan saya terhadap dunia kopi Indonesia, semoga kopi In-

donesia bisa diakui kualitasnya di dunia dan petani kopi Indonesia bisamendapatkan hasil yang layak dari apa yang petani hasilkan,” tegasnya. Mimi juga melihat banyak perempuan yang suka kopi. Ia menyarankan untuk merasakan pahitnya kopi tanpa gula dan susu, karena di situlah nikmat alami rasa kopi tanpa gula dan susu. Ia juga mengaku founder Anomali Coffee, AgamAbgari dan Irvan Helmi sebagai orang-orang yang menginspirasinya. “Mereka yang mengajarkan saya dari saya tidak mengerti apa-apa tentang kopi sampai saya mengerti dunia kopi dan tentunya sampai saya

Mimi dan teman-temannya

Edisi 887/ 8 - 14 Februari 2016

Mengususng keindahan sepotong kebaya, itulah yang dilakukan perancang papan atas Bali, Tjok Abi. Deretan kebaya koleksinya semakin memesona dengan sentuhan aksesori khas Bali.

Bagi pengguna ponsel, membawa ponsel sudah menjadi rutinitas. Ketinggalan ponsel bisa membuat kelimpungan. Banyak hal yang “tersimpan” di ponsel dan dianggap penting. Kini doa pun bisa disimpan dalam ponsel. Bagaimana caranya? wal tahun 2015 saya bertemu seorang teman yang termasuk tokoh muda Hindu. Kami banyak berdiskusi dan salah satunya ide untuk memanfaatkan teknologi dalam hal agama,” ujar I Putu Sudiarta, Direktur Bamboomedia sekaligus penggagas aplikasi Tri Sandya di sistem Android. Sebelumnya, Bamboomedia sudah meluncurkan aplikasi doa yang bisa diunduh di ponsel. Doa-doa ini merupakan kumpulan doa sehari-hari. Setahun berlalu, Sudiarta belum menemukan orang yang tepat untuk mengerjakan “proyek” ini. Sambil menunggu, ia mencari di Google apakah sudah ada aplikasi Tri Sandya interaktif. Ternyata tidak ada. Hal ini makin menguatkan tekadnya untuk merealisasikan aplikasi ini. Akhirnya awal tahun 2016, ada mahasiswa Unud yang magang di Bamboomedia. Namanya Ida Bagus Wira Negara. Wiralah yang kemudian diserahkan untuk mengerjakan

Style

menjadi seperti sekarang seorang Q-grader dan trainer di Indonesia Coffee Academy,” ungkap Mimi. Agam dan Irvan tidak segan– segan membagi ilmunya kepada saya maupun orang lain. Dari mereka, Mimi belajar untuk tidak pelit dalam berbagi ilmu kepada siapa pun. Sekarang Mimi menjadi salah satu instruktur di Indonesia Coffee Academy (ICA) yang didirikan oleh Anomali Coffee. ICA sendiri mempunyai curriculum yang bisa dipelajari orang-orang baik dalam kalangan pemula maupun orangorang yang sudah andal di dunia kopi. ICA mempunyai 5 curriculum yang bisa dipelajari, yaitu : Basic, Latte Art, Manual Brewing, Cupping , Advance. Di ICA akan ada curriculum baru yaitu roasting dan manajemen bisnis. Ko n s e p d a r i I C A d i s i n i mengedukasi serta mendidik para pemula maupun yang sudah jadi untuk tetap bisa menggali ilmu tentang kopi. ICA di sini juga ingin memajukan para petani supaya petani bisa lebih sejahtera dengan memberikan edukasi kepada petani kopi. ICA disini selalu mendukung kopi lokal. Jadi menggunakan kopi Indonesia untuk tetap mendukung petani kopi. –Ngurah Budi

ecara umum gaya kebaya garapan Tjok Abi ini, tetap tidak jauh dari pakem kebaya Bali khususnya dan kebaya nasional pada umumnya. Namun, perubahan lebih kepada bentuk tangan, garis leher, termasuk panjang pendeknya lengan. Begitu juga dengan variasi tinggi

rendahnya garis leher dan panjang pendeknya badan kebaya Menurut Tjok Abi , meski kebaya dengan segala sentuhannya kini semakin digemari ketika akan dikenakan untuk ke Pura ada catatan tersendiri. Kebaya untuk melakukan persembahyangan, lanjutnya yang mesti diperhatikan adalah pemilihan bahannya. Akan lebih baik jika kita memilih katun, linen atau bisa juga brokat tapi yang rapat dan agak tebal. Tidak mencolok namun tetap manis dipandang atau dilihat. Sedangkan, untuk kesempatan

lain seperti menghadiri pernikahan atau beragam kegiatan di luar acara persembahyangan, lebih bebas memilih material yang diinginkan. Apakah itu chifon dan organdi yang menerawang, hingga brokat yang tipis dan bermotif dan tidak terlalu rapat dan jarang Berikut beberapa desain kebaya dalam gaya modern yang dapat digunakan sebagai referensi.Terlihat betapa kebayakebaya ini mampu menjadikan siapapun pemakainya tampil semakin elegan, berkesan dan modis. – Sri Ardhini

15


14

Jelita

Edisi 887/ 8 - 14 Februari 2016

Tips Make Up Natural Kini, make up adalah salah satu kebutuhan yang wajib dikenakan perempuan setiap hari. Selain dapat mempercantik diri dan wajah, make up juga dapat membuat seseorang lebih percaya diri dalam hal penampilan.

S

emuanya tergantung bagaimana cara kita mengaplikasikan make up terse­ but dengan benar dan pas. Adapun cara mengaplikasikan make up terdiri dari beberapa cara, seperti make up natural, mini­ malis, glamour hingga gotic , Semuanya menurut Tatik pemilik Tatik Skin Care, cara tersebut tergantung dengan situasi dan keadaan di mana kita bakal mengaplikasikannya. Jika hanya untuk jalan-jalan , acara santai ataupun kegiatan persembahyangan , kita cukup mengaplikasikan make up natural. Selain mudah juga menjadikan kita terlihat cantik yang alami. Begitu juga dikatakan oleh beberapa make up artis (MUA) di Bali, menjaga penampilan cantik, rapi dan bersih terutama pada saat melakukan persembahyangan, tujuannya agar perasaan kita menjadi nyaman, sehingga persembahyangan pun dapat dijalankan dengan baik. Untuk bisa tampil cantik saat bersembahyang, menurut Dhamayanthi, remaja yang sudah biasa dandan sendiri karena sering bertugas sebagai LO (liaison officer) berpakaian adat Bali ini, tentu mesti harus memakai kebaya, make-up dan ak­ sesori serba mahal. Semua, katanya lebih baik disesuaikan dengan situasi dan acaranya, tanpa harus terkesan berlebihan. Mulai dari pakaian atau kebaya, dipilih yang

Tatik

tepat agar sesuai dengan aktivitas persembahyan­ gan. Berdandan atau make-up dan rambut di tata sewajarnya, demikian juga pemakaian aksesori. Kita, khususnya perempuan , hendaknya bisa menyesuaikan dandanan untuk ke Pura. Untuk make-up, lanjutnya gunakan seperlunya saja, sesuaikan dengan acara. Begitu juga dengan paka­ ian dan aksesori. Biasanya kebaya atau pakaian yang digunakan ke pura dominan putih sehingga warna makeup yang digunakan pun lebih tepat dengan warna-warna natural. Masih bicara penampilan dan dandanan ke tempat persembahyangan tidak perlu berlomba mengenakan paka­ ian dan aksesori baru.Yang utama adalah dandanan rapi, bersih dan sesuai dengan situasi. Sebab, dalam melak­ sankan aktivitas sembahyang diperlukan ketenangan serta ketulusan hati. SIMPEL ALAMI Menggunakan make up natural cukup mudah, hanya menyesuaikan den­ gan keadaan dan tempatan. Hendaknya juga diingat, kata Tatik bahwa salah satu tujuan dari ber make up adalah untuk menutupi atau mengoreksi kekurangan beberapa bagian dari wa­ jah. Sehingga, penampilan kita terlihat lebih menarik. Namun, jika make up yang dikenakan berlebihan, jus­ tru membuat penampilan kita menjadi tidak menarik dan dapat berakibat pusat perhatian. Make up natural sangat mudah untuk digunakan dalam kehidupan seharihari, acara santai dan acara persembahyangan.Sebab, selain tidak ribet dan cara memakainya juga sangat mudah, tidak memerlukan waktu lama untuk mengap­ likasikannya ke wajah. Make up natural juga dapat men­

jadikan kita terlihat cantik alami dan menawan. Dikatakan oleh Tatik untuk tampil cantik , segar dan alami saat persembahyangan ada beberapa langkah simpel yang dapat dilakukan. Diawali dengan mengetahui bentuk wajah dan memahami jenis kulit yang dimiliki. Selanjutnya g gunakan pelembab yang cocok dengan jenis kulit. Berlanjut pakailah foundation yang sesuai dengan warna kulit. Kita juga bisa mencoba dengan mencampurkan 2 atau 3 warna demi menyamakan dengan warna kulit asli telihat lebih natural dan alami. Berikutnya sesuaikan pula warna bedak yang akan digunakan, baik itu bedak tabur ataupun bedak padat. Pakailah kuas untuk memoleskan bedak padat atau bedak tabur, agar bedak dapat menutup wajah dengan sempurna dan tetap terlihat ringan. Sedangkan pada perempuan yang memiliki bentuk alis tipis sebaiknya menggunakan pensil alis warna gelap untuk meng­ hilangkan kesan terlalu tipis. Sedang untuk pemilik alis tebal dapat menggunakan kuas pan­ jang khusus alis agar warna alis terlihat alami. Hindarilah menggunakan eye shadow dengan warna gelap. Kita dapat menggunakan warna pink dan coklat muda. Bagi yang memiliki kulit putih lebih baik menggunakan warna terang, agar kulit terlihat merona dan tidak pucat ataupun kusam. Sedangkan kulit yang berwarna kuning lang­ sat dapat menggunakan warna coklat ataupun warna emas. Berbeda lagi dengan kulit sawo matang lebih baik menggunakan warna gelap, agar kulit terlihat

lebih bercahaya dan segar. Jepitlah bulu mata terlebih dahulu sebelum memakai maskara. Setelah itu aplikasikan maskara dengan satu sapuan saja agar terkesan natural, kemudian sisir bulu mata anda agar tidak terlihat tebal dan mengumpal. Gunakan lipstik untuk memoles bibir agar terlihat alami dan pilih warna yang sesuai dengan warna bibir anda atau memilih warna yang lembut seperti warna merah muda agar bibir tidak ter­ lihat pucat sehingga wajah tampak terlihat alami dan tidak kusam di pandang oleh orang sekitar kita. Tambahkan lips glos agar lebih glossy dan fresh. – Sri Ardhini

Nyatakan Cinta dengan Cokelat Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengekspresikan rasa cinta dan kasih sayang kepada kekasih, teman, sahabat, orangtua, atau orang-orang terdekat lainnya. Hari Valentine umumnya dipakai momentum untuk berbagi kasih sayang. Selain bunga dan kado, cokelat banyak menjadi pilihan remaja khususnya untuk diberikan kepada sang pujaan hati.

M

omen spesial ini ditangkap Gek Ratih dan Gek Manik. Sejak empat tahun silam, dua bersaudara ini menjadi pedagang cokelat musiman. “Kami khusus membuat cokelat untuk Hari Valentine saja,” ujar Gek Ratih. Be­ ragam bentuk dan warna cokelat ia tawarkan. Mulai dari cokelat lolipop

yang hanya dijual seharga Rp 3 ribu, cokelat sekat dengan isian 2, 3, 4, cokelat I Love You, cokelat love mini, cokelat puzzle, hingga cokelat peti yang dijual Rp 50 ribu. “Ada juga cokelat parcel boneka, mulai ukuran kecil hanya Rp 10 ribu sampai ukuran besar,” imbuh Gek Manik. Kelebihan kreasi cokelat Gek Ratih-Gek Manik dibandingkan cokelat

Edisi 887/ 8 - 14 Februari 2016

lain yang dijual di tokotoko, tentunya si pembeli bisa request menuliskan namanya pada cokelat yang dipesan. Bahkan, warnanya pun bisa dipe­ san sesuai selera. Cokelat kreasi mer­ eka ini memakai cokelat rasa buah sesuai dengan warnanya. “Warna pink rasa stroberi, kuning lem­ on, ungu blueberry, biru mint, hijau apel, bukan memakai cokelat warna Gek Ratih & Gek Manik kompak suntikan dari pewarna,” membuat kreasi cokelat bersama ibunya jelas Gek Ratih. Seminggu menjelang Valentine, su­ promosikan kreasi cokelat Gek Ratih dah ada beberapa pesanan masuk. Ada ini ke beberapa temannya. Karena yang dari Tuban, Gianyar, Karangasem, bentuknya unik, beberapa temannya dan sebagian besar dari Denpasar dan itu akhirnya juga ikut memesan banyak sekitarnya. Sebagian besar dari mereka untuk diberikan kepada guru sekolah adalah pelanggan-pelanggan lama yang anak-anaknya. sudah tahu kualitas rasa colelat kreasi Gek Ratih dan Gek Manik ini. EKSTRA SABAR Salah satunya Gek Bintang. Ia Jika dipikir-pikir, pembuatan mengaku biasanya tak suka makan cokelat ini cukup rumit. Tak semua cokelat karena sering eneg dan gig­ orang suka mengerjakan hal-hal kecil inya ngilu. “Tetapi cokelat ini rasanya yang detail. Namun tak demikian hal­ beda, tidak bikin eneg dan gigi ngilu,” nya dengan Gek Ratih dan Gek Manik. akunya. Karena itu, ia selalu memesan Meski mengaku runit dan ribet, Gek dengan jumlah yang cukup banyak Ratih enjoy melakoninya. “Ya..seru untuk teman-teman kantornya, teman aja kita berkreasi dengan cokelat,” mainnya, dan tentunya untuk keluarga ucapnya. “Saya bagian memasarkan tercinta. Bahkan, ia juga ikut mem­ saja,” celetuk Gek Manik, sang adik

Beragam kreasi cokelat valentine

11

yang mengaku tak se-enjoy kakaknya untuk urusan packaging cokelat. Proses pembuatan cokelat ini dijelaskan Gek Ratih harus dilakukan dengan sabar. Proses awal, cokelatcokelat batangan yang di­ belinya itu dilelehkan dulu, baru kemudian dicetak sesuai pesanan. Setelah jadi didin­ ginkan dengan ditempatkan dalam kulkas. Pembuatan satu bentuk cokelat yang terdiri dari beberapa warna dikatakannya agak rumit, kar­ ena harus menunggu cokelat dengan warna pertama dingin dulu, baru kemudian bisa dituangkan cokelat dengan warna kedua dan berikutnya. Karena itu, jauh hari sebelumnya Gek Ratih sudah mulai mencicil mem­ buat cokelat-cokelat kecil berbentuk jantung dengan beragam warna, di­ bungkus rapi, dimasukkan kotak dan disimpan di lemari pendingin. “Jadi nanti jika ada pesanan, kami tinggal packaging saja,” ucapnya didampingi sang ibu, Sagung Alit yang terus memberikan support baik dari materi hingga moril. “Biasanya, Ibu yang nganter-nganterin beli cokelat dan kotaknya. Kalau Gek Manik, urusan mengirim pesanan,” ucap Gek Ratih tentang pembagian tugas tak tertulis mereka. Selain pesanan, hasil-hasil kreasi cokelat valentine-nya ini pun akan mulai digelar H-3 di depan rumah mereka di Jalan Drupadi No. 10 Denpasar. “Kami sudah siapkan satu meja dan satu payung besar untuk berjualan,” ujar Sagung Alit. Untuk memperluas pe­ masaran, sejak akhir Januari, Gek Manik dan Gek Ratih sudah memasang status di facebook dan BBM-nya, “Valentine sudah dekat, yang mau order cokelat valentine, bisa langsung chat atau invite pin BB 548E1BB0, FB: Geg Ratih,” ujar Gek Manik berpromosi. –Inten Indrawati

Pelayanan Prima RSU Manuaba RSU Manuaba terus ber­ benah. Untuk mengurangi kemace­t­­an di areal rumah sakit di Jalan Cokroaminoto, Den­ pasar kini sudah ada areal parkir baru di Jalan Maruti No. 12 Denpasar. Parkir baru ini juga merupakan jalan masuk menuju gedung Wing Timur yang baru sebulan ini dibuka. Direktur RSU Manuaba, dr. I Made Surya Agung, mengata­ kan, RSU Manuaba merupakan rumah sakit swasta pertama di Bali. Pada awalnya dibuka dengan nama Klinik Manuaba, pada 4 Juni 1974, di Jl. Cok­ roaminoto, Denpasar. Berdirinya RSU swasta pertama di Bali ini “dibidani” Prof.dr. I.B.G. Manu­ aba, SpOG (K), sekaligus sebagai pemiliknya.

Pendirian RSU Manuaba ini dilatari pemikiran, agar setelah pensiun nanti, pengabdiannya pada masyarakat dalam bidang pembangunan kesehatan tidak terputus begitu saja karena sesung­guhnya pada masa tersebut seseorang masih produktif. Ber­ kat tangan dingin Prof.dr. I.B.G. Manuaba, Sp.OG (K),dan dibantu oleh dokter-dokter koleganya, RSU Manuaba kian berkembang, sehingga pada tahun 1978 status Klinik Manuaba berubah men­ jadi RSU Manuaba dilengkapi 50 tempat tidur, 3 kamar operasi, 1 tempat bersalin dan ruang khusus untuk bayi, unit radiologi (X-ray), Ultrasonografi (USG), Elektro Kardiogram (EKG), laboratorium lengkap, poliklinik 24 jam dan UGD. Dengan moto ‘Perawatan

RSU Manuaba dari Jalan Cokroaminoto 28 Denpasar

Kami Serasa di Rumah Sendiri’, RSU Manuaba berusaha mem­ berikan pelayanan kesehatan terpadu, sehingga menimbul­ kan kesan serasa dirawat di ru­ mah sendiri. Bergulirnya waktu sekaligus diiringi perkembangan teknologi dan pengetahuan di bidang kedokteran RSU. Manuaba tetap berupaya melakukan pem­ benahan dengan meningkatkan sarana dan prasarana yang ada. Untuk dapat memberikan layanan kesehatan yang lebih leng­ kap dan nyaman RSU Manuaba telah membangun/merenovasi tampil­an gedung UGD dan po­ liklinik pada wing sebelah kanan dari gedung lama. Pada gedung baru ini terdapat Ruang UGD dan poliklinik umum 24 jam, ruang praktek dokter spesialis yang

dr. I Made Surya Agung bersama Prof. dr. I.B.G. Manuaba, Sp.OG ( K)

membuka praktek pagi dan sore dengan spesialisasi yang lengkap. Semua ruangan dalam gedung ini ditata sedemikian rupa untuk kenyamanan pasien dan penung­ gunya. RSU Manuaba terus melaku­

RSU Manuaba dari Jalan Maruti 12 Denpasar

kan renovasi dan pembangunan gedung utama rumah sakit. Alur dan desain rumah sakit dibuat dengan mengutamakan keselamatan dan kenyamanan pasien sesuai dengan moto RSU. Manuaba. Begitu pula dengan keberadaan dokter spesialis dan peralatan medis secara kontinyu berusaha untuk selalu dilengkapi dan di-upgrade agar dapat me­ layani pasien dengan nyaman dan paripurna. Pada tahun ini RSU ­Manuaba menargetkan sudah bisa me­ layani laparoscopy, operasi de­ ngan C-ARM, haemodialisa ­(cuci darah), dan ct-scan. Poliklinik spesialis yang ada di RSU Manuaba, obgyn, anak, bedah umum, bedah ortopedi, bedah urologi, interna, THT, jantung, paru, mata, saraf, gizi klinik, rehabilitasi medik, gigi, dan segera menyusul bedah plastik dan kulit.-brt


Kuliner

Edisi 887/ 8 - 14 Februari 2016

12

Dari Makanan Cerita Indonesia Pernahkah terpikir oleh Anda, banyak tanaman khas Indonesia yang bisa diolah menjadi makanan. Bahkan, yang dalam benak kita hanya sebagai tanaman hias atau tanaman liar. Nah, konsep ini sedang digagas Warung Pulau Kelapa, di Jalan Sanggingan Ubud. Tak banyak yang tahu, keunikan Warung Pulau Kelapa. Selain menampilkan tempat makan yang nyaman, Anda juga bisa belajar mengenal aneka tanaman yang mungkin sudah langka ditanam.

D

Sinom

engan luas satu hektar, Warung Pulau Kelapa yang satu lokasi dengan Café Kamasan, memberi kesempatan para tamu yang datang berjalan-jalan menikmati suasana kebun original. Menu yang disajikan, sangat spesial karena organik, tanpa pengawet, dan tanpa pewarna. “Makanan di sini, organik tidak pakai pestisida. Kami memiliki seorang insinyur dari Yogyakarta yang membuat pupuk sendiri,” kata chef Randy Soetanto. Saat tokoh berjalan menyusuri kebun, chef Randy menunjukkan ada satu tanaman yang memang diperuntukkan untuk pemanis makanan, namanya stevia. Ia pun langsung memetik daunnya dan mengunyahnya. “Rasanya memang manis,” kata lelaki asal Surabaya ini. Ia mengatakan, sebagian besar bahan baku sayuran dan minuman tradisional yang disajikan diambil dari kebun. “Konsep kami ke depan, konsumen dapat memetik langsung dan dapat menikmatinya. Kami mulai melestarikan tanaman

Bir Pletok

Indonesia yang jarang ditemui,” ujar Randy. Menurutnya, misi warung Pulau Kelapa ingin melestarikan makanan Indonesia yang autentik. Ia menilai, saat ini banyak sekali makanan Indonesiaa dibuat fusion. Menurutnya, sah-sah saja orang membuat Indonesian fusion. “Warung Pulau Kelapa mencoba menampilkan makanan Indonesia yang asli atau autentik, makanan tradisional dari nenek moyang, seperti tidak pakai vetsin, masak pakai kayu bakar . Itu yang diaplikasikan di sini,” kata Randy. Untuk lebih mengenal makanan tradisional, Randy pun tak tanggung-tanggung terjun belajar langsung ke penjual aslinya. Baginya, belajar kepada penekun kuliner makanan khas nenek moyang sangat perlu. Tujuannya, agar mengenal masakan Indonesia yang asli atau yang belum dimodifikasi. Menu yang unik, aneka sayur urap dengan bumbu jawa. Urapan terdiri dari daun kopi, daun kencur, kejongot, dan daun bulunbau. Sedangkan, untuk daun karika yang mirip dengan daun pepaya dimasak hanya dengan ditumis.

Menurut chef Randy, untuk menghilangkan rasa pahit dari daun-daunan tersebut, tipsnya, daun-daunan tersebut diberi garam dan diremas-remas. Kemudian air remasan dibuang dan dicuci dengan air bersih. Kemudian direbus sesuai keperluan. Selain urap-urapan yang spesial dari Warung Pulau kelapa, minuman khas Indonesia, sinom dan bir pletok. Sinom merupakan minuman kunir asam. Minuman ini enak sekali disajikan dengan es batu. Selain menyehatkan juga sangat menyegarkan. Sementara, bir pletok merupakan minuman khas Jakarta yang terbuat dari rebusan rempahrempah. Rasanya agak menyengat dan hangat di tenggorokan. Minuman ini disajikan dalam dua versi, bisa dingin atau panas, tergantung permintaan. Sinom merupakan minuman yang paling favorit di Warung Pulau Kelapa. Walaupun warung ini menyajikan makanan Indonesia dengan rasa autentik, konsumen yang banyak berkunjung justru turis asing. Selain tempatnya di kampung turis (Ubud), kebun yang asri membuat suasana semakin nyaman. Sebagai menu pembuka, Anda bisa mencoba Asinan Bogor. Asinan ini sebagai penetralisir dan mampu membangkitkan selera makan. Asinan ini terbuat dari wortel, mentimun, kecombrang, ebi, kacang tanah, dan sedikit gula pasir. Bagi yang suka rujak, asinan ini rasanya mirip dengan rujak. Bagi penikmat es krim, nikmati aneka rasa buah-buahan asli, mulai

Warung Pulau Kelapa

dari alpukat, stroberi, kelapa, apel, nenas, jeruk, dll. Es krim ini ada dua versi, yang asli buah-buahan tanpa susu dan ada tambahan susu. Jika Anda mencari suasana alam

yang berbeda, datanglah ke Warung Pulau Kelapa. Anda bisa liburan, sekalian jalan-jalan, dan juga menikmati aneka makanan Indonesia. Selamat mencoba. –Wirati Astiti

Makan terasa kurang afdol tanpa sambal. Walaupun tanpa lauk, makan jadi lahap kare­ na sambal yang pedas. Konsep ini yang sedang dipromosikan warung d’Sambal. Ada 38 aneka sambal pedas yang disajikan warung yang berlokasi di Jalan Toya Ning Kedonganan, Kuta ini. Nama sambal pun unik-unik, ada sambal setan, sambal mercon, sambal puting beliung, sambal gaspol, sambal kepo, sambal mafia, sambal jabably, sambal cape deh, sambal granat, dan sambal putus cinta.

Cicipi Aneka Sambal Pedas K

epedasan pun ada levelnya. Mulai dari jumlah cabai 6 biji sampai 15 biji. Namun, kalau ingin menambah kepedasan, siap juga dilayani. Menurut Made Sariada, pemilik warung, konsep sambal pedas ini awalnya hanya coba-coba. Namun, ternyata sambutan konsumen sangat bagus. Menu sambalnya juga sangat istimewa karena baru dibuat saat dipesan. “Sambal di sini dalam

kondisi fresh,” kata lelaki yang menekuni bisnis online ini. Saat ini, Made memiliki dua warung yang berlokasi di Jimbaran dan Kedonganan. Rencana ke depan, ia ingin mengembangkan warung sambalnya di Kuta dan Denpasar. Untuk harga, sangat terjangkau. Harga sambal mulai dari Rp 2.000 sampai Rp 8.500. Menurut Made, walaupun tanpa lauk, sambalnya su-

13

Aneka sambal d’Sambal

dah enak karena beberapa sambal juga dicampur dengan seafood dan ikan sehingga enak dijadikan teman makan nasi. Made mengatakan, racikan sambal langsung dari tangan kreatif istrinya. Made sering mencari-cari resep sambal di internet kemudian dipraktikkan sang istri. Made sendiri yang langsung mencoba pada awalnya, sebelum dijual ke konsumen. Menurut Made, yang paling banyak diminati konsumen, sambal udang pedas, sambal cumi pedas, dan sambal matah. –Wirati Astiti

Made Sariada

Patin Asam Pedas Riau Sarwan

Urapan Karika

Tumis daun kopi

ati

Nikm

Chinesse Food

Hanya di...

Cafe Santai

& Aneka Es Taiwan

Selamat Hari Raya

Galungan & Kuningan. Tahun Baru Imlek 2567.

Dapatkan Diskon Es Campur Santai

Murah Meriah & Bersih

10%

selama Bulan Februari 2016

*

Chef Randy menunjukkan tanaman karika

Edisi 887/ 8 - 14 Februari 2016

Special Valentine (14 & 15 Februari) dapatkan bunga dan cokelat untuk Nasi Goreng Setan pembelian tertentu

Jln. Raya Sesetan No. 293 Denpasar. Tlp. (0361) 7440658, 7427678

Bahan: 750 gr : ikan patin 400 ml : air 10 : bawang merah, dihaluskan 5 siung : bawang putih, dihaluskan 3 ruas : jari lengkuas, memarkan 3 ruas : jari jahe, memarkan 3 lembar : daun salam 3 lembar : daun jeruk, buang tangkainya Gula, garam, kaldu bubuk se­ cukupnya Minyak untuk menumis secu­ kupnya Cara Membuat: - Potong ikan patin melintang dengan lebar 3cm, cuci, bersihkan, sisihkan. Lalu, semua bahan bumbu (kecuali ga-

ram, gula) hingga harum dan matang, lalu masukkan air, aduk-aduk hingga mendidih. Masukkan irisan ikan patin, gula, garam, kaldu bubuk dan

asam gandis. Masak dengan api kecil hingga ikan matang dan bumbu meresap. Angkat. - Siap disajikan dengan taburan bawang putih goreng.

Pencak Gurami ala chef sarwan 750 gr : gurami 2 sdm : air jeruk 50 ml : santan kental 100 ml santan encer Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya. Bumbu yang Dihaluskan. 10 buah : cabe merah besar 10 buah : cabe rawit merah 9 buah : bawang merah 4 siung : bawang putih 2 ruas : kunyit bakar 2 ruas : jari jahe 2 ruas : jari lengkuas 2 buah : tomat Cara Membuat: - Bersihkan ikan, lumuri dengan

garam dan air jeruk nipis, diamkan sebentar agar meresap. - Rebus santan encer bersama bumbu halus hingga mendidih dan bumbu harum. Lalu masukkan santan, aduk-aduk hingga mendidih, masukkan gula, kaldu bubuk dan garam, aduk merata, matikan api, angkat. - Lumuri ikan dengan santan berbumbu, panggang, sambil sesekali dibalik. bila ikan hampir matang, olesi ikan dengam santan kental. Lakukan berulang sampai ikan matang dan harum, angkat. - Siap disajikan.


Kuliner

Edisi 887/ 8 - 14 Februari 2016

12

Dari Makanan Cerita Indonesia Pernahkah terpikir oleh Anda, banyak tanaman khas Indonesia yang bisa diolah menjadi makanan. Bahkan, yang dalam benak kita hanya sebagai tanaman hias atau tanaman liar. Nah, konsep ini sedang digagas Warung Pulau Kelapa, di Jalan Sanggingan Ubud. Tak banyak yang tahu, keunikan Warung Pulau Kelapa. Selain menampilkan tempat makan yang nyaman, Anda juga bisa belajar mengenal aneka tanaman yang mungkin sudah langka ditanam.

D

Sinom

engan luas satu hektar, Warung Pulau Kelapa yang satu lokasi dengan Café Kamasan, memberi kesempatan para tamu yang datang berjalan-jalan menikmati suasana kebun original. Menu yang disajikan, sangat spesial karena organik, tanpa pengawet, dan tanpa pewarna. “Makanan di sini, organik tidak pakai pestisida. Kami memiliki seorang insinyur dari Yogyakarta yang membuat pupuk sendiri,” kata chef Randy Soetanto. Saat tokoh berjalan menyusuri kebun, chef Randy menunjukkan ada satu tanaman yang memang diperuntukkan untuk pemanis makanan, namanya stevia. Ia pun langsung memetik daunnya dan mengunyahnya. “Rasanya memang manis,” kata lelaki asal Surabaya ini. Ia mengatakan, sebagian besar bahan baku sayuran dan minuman tradisional yang disajikan diambil dari kebun. “Konsep kami ke depan, konsumen dapat memetik langsung dan dapat menikmatinya. Kami mulai melestarikan tanaman

Bir Pletok

Indonesia yang jarang ditemui,” ujar Randy. Menurutnya, misi warung Pulau Kelapa ingin melestarikan makanan Indonesia yang autentik. Ia menilai, saat ini banyak sekali makanan Indonesiaa dibuat fusion. Menurutnya, sah-sah saja orang membuat Indonesian fusion. “Warung Pulau Kelapa mencoba menampilkan makanan Indonesia yang asli atau autentik, makanan tradisional dari nenek moyang, seperti tidak pakai vetsin, masak pakai kayu bakar . Itu yang diaplikasikan di sini,” kata Randy. Untuk lebih mengenal makanan tradisional, Randy pun tak tanggung-tanggung terjun belajar langsung ke penjual aslinya. Baginya, belajar kepada penekun kuliner makanan khas nenek moyang sangat perlu. Tujuannya, agar mengenal masakan Indonesia yang asli atau yang belum dimodifikasi. Menu yang unik, aneka sayur urap dengan bumbu jawa. Urapan terdiri dari daun kopi, daun kencur, kejongot, dan daun bulunbau. Sedangkan, untuk daun karika yang mirip dengan daun pepaya dimasak hanya dengan ditumis.

Menurut chef Randy, untuk menghilangkan rasa pahit dari daun-daunan tersebut, tipsnya, daun-daunan tersebut diberi garam dan diremas-remas. Kemudian air remasan dibuang dan dicuci dengan air bersih. Kemudian direbus sesuai keperluan. Selain urap-urapan yang spesial dari Warung Pulau kelapa, minuman khas Indonesia, sinom dan bir pletok. Sinom merupakan minuman kunir asam. Minuman ini enak sekali disajikan dengan es batu. Selain menyehatkan juga sangat menyegarkan. Sementara, bir pletok merupakan minuman khas Jakarta yang terbuat dari rebusan rempahrempah. Rasanya agak menyengat dan hangat di tenggorokan. Minuman ini disajikan dalam dua versi, bisa dingin atau panas, tergantung permintaan. Sinom merupakan minuman yang paling favorit di Warung Pulau Kelapa. Walaupun warung ini menyajikan makanan Indonesia dengan rasa autentik, konsumen yang banyak berkunjung justru turis asing. Selain tempatnya di kampung turis (Ubud), kebun yang asri membuat suasana semakin nyaman. Sebagai menu pembuka, Anda bisa mencoba Asinan Bogor. Asinan ini sebagai penetralisir dan mampu membangkitkan selera makan. Asinan ini terbuat dari wortel, mentimun, kecombrang, ebi, kacang tanah, dan sedikit gula pasir. Bagi yang suka rujak, asinan ini rasanya mirip dengan rujak. Bagi penikmat es krim, nikmati aneka rasa buah-buahan asli, mulai

Warung Pulau Kelapa

dari alpukat, stroberi, kelapa, apel, nenas, jeruk, dll. Es krim ini ada dua versi, yang asli buah-buahan tanpa susu dan ada tambahan susu. Jika Anda mencari suasana alam

yang berbeda, datanglah ke Warung Pulau Kelapa. Anda bisa liburan, sekalian jalan-jalan, dan juga menikmati aneka makanan Indonesia. Selamat mencoba. –Wirati Astiti

Makan terasa kurang afdol tanpa sambal. Walaupun tanpa lauk, makan jadi lahap kare­ na sambal yang pedas. Konsep ini yang sedang dipromosikan warung d’Sambal. Ada 38 aneka sambal pedas yang disajikan warung yang berlokasi di Jalan Toya Ning Kedonganan, Kuta ini. Nama sambal pun unik-unik, ada sambal setan, sambal mercon, sambal puting beliung, sambal gaspol, sambal kepo, sambal mafia, sambal jabably, sambal cape deh, sambal granat, dan sambal putus cinta.

Cicipi Aneka Sambal Pedas K

epedasan pun ada levelnya. Mulai dari jumlah cabai 6 biji sampai 15 biji. Namun, kalau ingin menambah kepedasan, siap juga dilayani. Menurut Made Sariada, pemilik warung, konsep sambal pedas ini awalnya hanya coba-coba. Namun, ternyata sambutan konsumen sangat bagus. Menu sambalnya juga sangat istimewa karena baru dibuat saat dipesan. “Sambal di sini dalam

kondisi fresh,” kata lelaki yang menekuni bisnis online ini. Saat ini, Made memiliki dua warung yang berlokasi di Jimbaran dan Kedonganan. Rencana ke depan, ia ingin mengembangkan warung sambalnya di Kuta dan Denpasar. Untuk harga, sangat terjangkau. Harga sambal mulai dari Rp 2.000 sampai Rp 8.500. Menurut Made, walaupun tanpa lauk, sambalnya su-

13

Aneka sambal d’Sambal

dah enak karena beberapa sambal juga dicampur dengan seafood dan ikan sehingga enak dijadikan teman makan nasi. Made mengatakan, racikan sambal langsung dari tangan kreatif istrinya. Made sering mencari-cari resep sambal di internet kemudian dipraktikkan sang istri. Made sendiri yang langsung mencoba pada awalnya, sebelum dijual ke konsumen. Menurut Made, yang paling banyak diminati konsumen, sambal udang pedas, sambal cumi pedas, dan sambal matah. –Wirati Astiti

Made Sariada

Patin Asam Pedas Riau Sarwan

Urapan Karika

Tumis daun kopi

ati

Nikm

Chinesse Food

Hanya di...

Cafe Santai

& Aneka Es Taiwan

Selamat Hari Raya

Galungan & Kuningan. Tahun Baru Imlek 2567.

Dapatkan Diskon Es Campur Santai

Murah Meriah & Bersih

10%

selama Bulan Februari 2016

*

Chef Randy menunjukkan tanaman karika

Edisi 887/ 8 - 14 Februari 2016

Special Valentine (14 & 15 Februari) dapatkan bunga dan cokelat untuk Nasi Goreng Setan pembelian tertentu

Jln. Raya Sesetan No. 293 Denpasar. Tlp. (0361) 7440658, 7427678

Bahan: 750 gr : ikan patin 400 ml : air 10 : bawang merah, dihaluskan 5 siung : bawang putih, dihaluskan 3 ruas : jari lengkuas, memarkan 3 ruas : jari jahe, memarkan 3 lembar : daun salam 3 lembar : daun jeruk, buang tangkainya Gula, garam, kaldu bubuk se­ cukupnya Minyak untuk menumis secu­ kupnya Cara Membuat: - Potong ikan patin melintang dengan lebar 3cm, cuci, bersihkan, sisihkan. Lalu, semua bahan bumbu (kecuali ga-

ram, gula) hingga harum dan matang, lalu masukkan air, aduk-aduk hingga mendidih. Masukkan irisan ikan patin, gula, garam, kaldu bubuk dan

asam gandis. Masak dengan api kecil hingga ikan matang dan bumbu meresap. Angkat. - Siap disajikan dengan taburan bawang putih goreng.

Pencak Gurami ala chef sarwan 750 gr : gurami 2 sdm : air jeruk 50 ml : santan kental 100 ml santan encer Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya. Bumbu yang Dihaluskan. 10 buah : cabe merah besar 10 buah : cabe rawit merah 9 buah : bawang merah 4 siung : bawang putih 2 ruas : kunyit bakar 2 ruas : jari jahe 2 ruas : jari lengkuas 2 buah : tomat Cara Membuat: - Bersihkan ikan, lumuri dengan

garam dan air jeruk nipis, diamkan sebentar agar meresap. - Rebus santan encer bersama bumbu halus hingga mendidih dan bumbu harum. Lalu masukkan santan, aduk-aduk hingga mendidih, masukkan gula, kaldu bubuk dan garam, aduk merata, matikan api, angkat. - Lumuri ikan dengan santan berbumbu, panggang, sambil sesekali dibalik. bila ikan hampir matang, olesi ikan dengam santan kental. Lakukan berulang sampai ikan matang dan harum, angkat. - Siap disajikan.


14

Jelita

Edisi 887/ 8 - 14 Februari 2016

Tips Make Up Natural Kini, make up adalah salah satu kebutuhan yang wajib dikenakan perempuan setiap hari. Selain dapat mempercantik diri dan wajah, make up juga dapat membuat seseorang lebih percaya diri dalam hal penampilan.

S

emuanya tergantung bagaimana cara kita mengaplikasikan make up terse­ but dengan benar dan pas. Adapun cara mengaplikasikan make up terdiri dari beberapa cara, seperti make up natural, mini­ malis, glamour hingga gotic , Semuanya menurut Tatik pemilik Tatik Skin Care, cara tersebut tergantung dengan situasi dan keadaan di mana kita bakal mengaplikasikannya. Jika hanya untuk jalan-jalan , acara santai ataupun kegiatan persembahyangan , kita cukup mengaplikasikan make up natural. Selain mudah juga menjadikan kita terlihat cantik yang alami. Begitu juga dikatakan oleh beberapa make up artis (MUA) di Bali, menjaga penampilan cantik, rapi dan bersih terutama pada saat melakukan persembahyangan, tujuannya agar perasaan kita menjadi nyaman, sehingga persembahyangan pun dapat dijalankan dengan baik. Untuk bisa tampil cantik saat bersembahyang, menurut Dhamayanthi, remaja yang sudah biasa dandan sendiri karena sering bertugas sebagai LO (liaison officer) berpakaian adat Bali ini, tentu mesti harus memakai kebaya, make-up dan ak­ sesori serba mahal. Semua, katanya lebih baik disesuaikan dengan situasi dan acaranya, tanpa harus terkesan berlebihan. Mulai dari pakaian atau kebaya, dipilih yang

Tatik

tepat agar sesuai dengan aktivitas persembahyan­ gan. Berdandan atau make-up dan rambut di tata sewajarnya, demikian juga pemakaian aksesori. Kita, khususnya perempuan , hendaknya bisa menyesuaikan dandanan untuk ke Pura. Untuk make-up, lanjutnya gunakan seperlunya saja, sesuaikan dengan acara. Begitu juga dengan paka­ ian dan aksesori. Biasanya kebaya atau pakaian yang digunakan ke pura dominan putih sehingga warna makeup yang digunakan pun lebih tepat dengan warna-warna natural. Masih bicara penampilan dan dandanan ke tempat persembahyangan tidak perlu berlomba mengenakan paka­ ian dan aksesori baru.Yang utama adalah dandanan rapi, bersih dan sesuai dengan situasi. Sebab, dalam melak­ sankan aktivitas sembahyang diperlukan ketenangan serta ketulusan hati. SIMPEL ALAMI Menggunakan make up natural cukup mudah, hanya menyesuaikan den­ gan keadaan dan tempatan. Hendaknya juga diingat, kata Tatik bahwa salah satu tujuan dari ber make up adalah untuk menutupi atau mengoreksi kekurangan beberapa bagian dari wa­ jah. Sehingga, penampilan kita terlihat lebih menarik. Namun, jika make up yang dikenakan berlebihan, jus­ tru membuat penampilan kita menjadi tidak menarik dan dapat berakibat pusat perhatian. Make up natural sangat mudah untuk digunakan dalam kehidupan seharihari, acara santai dan acara persembahyangan.Sebab, selain tidak ribet dan cara memakainya juga sangat mudah, tidak memerlukan waktu lama untuk mengap­ likasikannya ke wajah. Make up natural juga dapat men­

jadikan kita terlihat cantik alami dan menawan. Dikatakan oleh Tatik untuk tampil cantik , segar dan alami saat persembahyangan ada beberapa langkah simpel yang dapat dilakukan. Diawali dengan mengetahui bentuk wajah dan memahami jenis kulit yang dimiliki. Selanjutnya g gunakan pelembab yang cocok dengan jenis kulit. Berlanjut pakailah foundation yang sesuai dengan warna kulit. Kita juga bisa mencoba dengan mencampurkan 2 atau 3 warna demi menyamakan dengan warna kulit asli telihat lebih natural dan alami. Berikutnya sesuaikan pula warna bedak yang akan digunakan, baik itu bedak tabur ataupun bedak padat. Pakailah kuas untuk memoleskan bedak padat atau bedak tabur, agar bedak dapat menutup wajah dengan sempurna dan tetap terlihat ringan. Sedangkan pada perempuan yang memiliki bentuk alis tipis sebaiknya menggunakan pensil alis warna gelap untuk meng­ hilangkan kesan terlalu tipis. Sedang untuk pemilik alis tebal dapat menggunakan kuas pan­ jang khusus alis agar warna alis terlihat alami. Hindarilah menggunakan eye shadow dengan warna gelap. Kita dapat menggunakan warna pink dan coklat muda. Bagi yang memiliki kulit putih lebih baik menggunakan warna terang, agar kulit terlihat merona dan tidak pucat ataupun kusam. Sedangkan kulit yang berwarna kuning lang­ sat dapat menggunakan warna coklat ataupun warna emas. Berbeda lagi dengan kulit sawo matang lebih baik menggunakan warna gelap, agar kulit terlihat

lebih bercahaya dan segar. Jepitlah bulu mata terlebih dahulu sebelum memakai maskara. Setelah itu aplikasikan maskara dengan satu sapuan saja agar terkesan natural, kemudian sisir bulu mata anda agar tidak terlihat tebal dan mengumpal. Gunakan lipstik untuk memoles bibir agar terlihat alami dan pilih warna yang sesuai dengan warna bibir anda atau memilih warna yang lembut seperti warna merah muda agar bibir tidak ter­ lihat pucat sehingga wajah tampak terlihat alami dan tidak kusam di pandang oleh orang sekitar kita. Tambahkan lips glos agar lebih glossy dan fresh. – Sri Ardhini

Nyatakan Cinta dengan Cokelat Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengekspresikan rasa cinta dan kasih sayang kepada kekasih, teman, sahabat, orangtua, atau orang-orang terdekat lainnya. Hari Valentine umumnya dipakai momentum untuk berbagi kasih sayang. Selain bunga dan kado, cokelat banyak menjadi pilihan remaja khususnya untuk diberikan kepada sang pujaan hati.

M

omen spesial ini ditangkap Gek Ratih dan Gek Manik. Sejak empat tahun silam, dua bersaudara ini menjadi pedagang cokelat musiman. “Kami khusus membuat cokelat untuk Hari Valentine saja,” ujar Gek Ratih. Be­ ragam bentuk dan warna cokelat ia tawarkan. Mulai dari cokelat lolipop

yang hanya dijual seharga Rp 3 ribu, cokelat sekat dengan isian 2, 3, 4, cokelat I Love You, cokelat love mini, cokelat puzzle, hingga cokelat peti yang dijual Rp 50 ribu. “Ada juga cokelat parcel boneka, mulai ukuran kecil hanya Rp 10 ribu sampai ukuran besar,” imbuh Gek Manik. Kelebihan kreasi cokelat Gek Ratih-Gek Manik dibandingkan cokelat

Edisi 887/ 8 - 14 Februari 2016

lain yang dijual di tokotoko, tentunya si pembeli bisa request menuliskan namanya pada cokelat yang dipesan. Bahkan, warnanya pun bisa dipe­ san sesuai selera. Cokelat kreasi mer­ eka ini memakai cokelat rasa buah sesuai dengan warnanya. “Warna pink rasa stroberi, kuning lem­ on, ungu blueberry, biru mint, hijau apel, bukan memakai cokelat warna Gek Ratih & Gek Manik kompak suntikan dari pewarna,” membuat kreasi cokelat bersama ibunya jelas Gek Ratih. Seminggu menjelang Valentine, su­ promosikan kreasi cokelat Gek Ratih dah ada beberapa pesanan masuk. Ada ini ke beberapa temannya. Karena yang dari Tuban, Gianyar, Karangasem, bentuknya unik, beberapa temannya dan sebagian besar dari Denpasar dan itu akhirnya juga ikut memesan banyak sekitarnya. Sebagian besar dari mereka untuk diberikan kepada guru sekolah adalah pelanggan-pelanggan lama yang anak-anaknya. sudah tahu kualitas rasa colelat kreasi Gek Ratih dan Gek Manik ini. EKSTRA SABAR Salah satunya Gek Bintang. Ia Jika dipikir-pikir, pembuatan mengaku biasanya tak suka makan cokelat ini cukup rumit. Tak semua cokelat karena sering eneg dan gig­ orang suka mengerjakan hal-hal kecil inya ngilu. “Tetapi cokelat ini rasanya yang detail. Namun tak demikian hal­ beda, tidak bikin eneg dan gigi ngilu,” nya dengan Gek Ratih dan Gek Manik. akunya. Karena itu, ia selalu memesan Meski mengaku runit dan ribet, Gek dengan jumlah yang cukup banyak Ratih enjoy melakoninya. “Ya..seru untuk teman-teman kantornya, teman aja kita berkreasi dengan cokelat,” mainnya, dan tentunya untuk keluarga ucapnya. “Saya bagian memasarkan tercinta. Bahkan, ia juga ikut mem­ saja,” celetuk Gek Manik, sang adik

Beragam kreasi cokelat valentine

11

yang mengaku tak se-enjoy kakaknya untuk urusan packaging cokelat. Proses pembuatan cokelat ini dijelaskan Gek Ratih harus dilakukan dengan sabar. Proses awal, cokelatcokelat batangan yang di­ belinya itu dilelehkan dulu, baru kemudian dicetak sesuai pesanan. Setelah jadi didin­ ginkan dengan ditempatkan dalam kulkas. Pembuatan satu bentuk cokelat yang terdiri dari beberapa warna dikatakannya agak rumit, kar­ ena harus menunggu cokelat dengan warna pertama dingin dulu, baru kemudian bisa dituangkan cokelat dengan warna kedua dan berikutnya. Karena itu, jauh hari sebelumnya Gek Ratih sudah mulai mencicil mem­ buat cokelat-cokelat kecil berbentuk jantung dengan beragam warna, di­ bungkus rapi, dimasukkan kotak dan disimpan di lemari pendingin. “Jadi nanti jika ada pesanan, kami tinggal packaging saja,” ucapnya didampingi sang ibu, Sagung Alit yang terus memberikan support baik dari materi hingga moril. “Biasanya, Ibu yang nganter-nganterin beli cokelat dan kotaknya. Kalau Gek Manik, urusan mengirim pesanan,” ucap Gek Ratih tentang pembagian tugas tak tertulis mereka. Selain pesanan, hasil-hasil kreasi cokelat valentine-nya ini pun akan mulai digelar H-3 di depan rumah mereka di Jalan Drupadi No. 10 Denpasar. “Kami sudah siapkan satu meja dan satu payung besar untuk berjualan,” ujar Sagung Alit. Untuk memperluas pe­ masaran, sejak akhir Januari, Gek Manik dan Gek Ratih sudah memasang status di facebook dan BBM-nya, “Valentine sudah dekat, yang mau order cokelat valentine, bisa langsung chat atau invite pin BB 548E1BB0, FB: Geg Ratih,” ujar Gek Manik berpromosi. –Inten Indrawati

Pelayanan Prima RSU Manuaba RSU Manuaba terus ber­ benah. Untuk mengurangi kemace­t­­an di areal rumah sakit di Jalan Cokroaminoto, Den­ pasar kini sudah ada areal parkir baru di Jalan Maruti No. 12 Denpasar. Parkir baru ini juga merupakan jalan masuk menuju gedung Wing Timur yang baru sebulan ini dibuka. Direktur RSU Manuaba, dr. I Made Surya Agung, mengata­ kan, RSU Manuaba merupakan rumah sakit swasta pertama di Bali. Pada awalnya dibuka dengan nama Klinik Manuaba, pada 4 Juni 1974, di Jl. Cok­ roaminoto, Denpasar. Berdirinya RSU swasta pertama di Bali ini “dibidani” Prof.dr. I.B.G. Manu­ aba, SpOG (K), sekaligus sebagai pemiliknya.

Pendirian RSU Manuaba ini dilatari pemikiran, agar setelah pensiun nanti, pengabdiannya pada masyarakat dalam bidang pembangunan kesehatan tidak terputus begitu saja karena sesung­guhnya pada masa tersebut seseorang masih produktif. Ber­ kat tangan dingin Prof.dr. I.B.G. Manuaba, Sp.OG (K),dan dibantu oleh dokter-dokter koleganya, RSU Manuaba kian berkembang, sehingga pada tahun 1978 status Klinik Manuaba berubah men­ jadi RSU Manuaba dilengkapi 50 tempat tidur, 3 kamar operasi, 1 tempat bersalin dan ruang khusus untuk bayi, unit radiologi (X-ray), Ultrasonografi (USG), Elektro Kardiogram (EKG), laboratorium lengkap, poliklinik 24 jam dan UGD. Dengan moto ‘Perawatan

RSU Manuaba dari Jalan Cokroaminoto 28 Denpasar

Kami Serasa di Rumah Sendiri’, RSU Manuaba berusaha mem­ berikan pelayanan kesehatan terpadu, sehingga menimbul­ kan kesan serasa dirawat di ru­ mah sendiri. Bergulirnya waktu sekaligus diiringi perkembangan teknologi dan pengetahuan di bidang kedokteran RSU. Manuaba tetap berupaya melakukan pem­ benahan dengan meningkatkan sarana dan prasarana yang ada. Untuk dapat memberikan layanan kesehatan yang lebih leng­ kap dan nyaman RSU Manuaba telah membangun/merenovasi tampil­an gedung UGD dan po­ liklinik pada wing sebelah kanan dari gedung lama. Pada gedung baru ini terdapat Ruang UGD dan poliklinik umum 24 jam, ruang praktek dokter spesialis yang

dr. I Made Surya Agung bersama Prof. dr. I.B.G. Manuaba, Sp.OG ( K)

membuka praktek pagi dan sore dengan spesialisasi yang lengkap. Semua ruangan dalam gedung ini ditata sedemikian rupa untuk kenyamanan pasien dan penung­ gunya. RSU Manuaba terus melaku­

RSU Manuaba dari Jalan Maruti 12 Denpasar

kan renovasi dan pembangunan gedung utama rumah sakit. Alur dan desain rumah sakit dibuat dengan mengutamakan keselamatan dan kenyamanan pasien sesuai dengan moto RSU. Manuaba. Begitu pula dengan keberadaan dokter spesialis dan peralatan medis secara kontinyu berusaha untuk selalu dilengkapi dan di-upgrade agar dapat me­ layani pasien dengan nyaman dan paripurna. Pada tahun ini RSU ­Manuaba menargetkan sudah bisa me­ layani laparoscopy, operasi de­ ngan C-ARM, haemodialisa ­(cuci darah), dan ct-scan. Poliklinik spesialis yang ada di RSU Manuaba, obgyn, anak, bedah umum, bedah ortopedi, bedah urologi, interna, THT, jantung, paru, mata, saraf, gizi klinik, rehabilitasi medik, gigi, dan segera menyusul bedah plastik dan kulit.-brt


10

Kreasi

Edisi 887/ 8 - 14 Februari 2016

Aplikasi Pengingat Tri Sandya di Ponsel *Luangkan Waktu Dua Menit untuk Hening

“A

coding mobile app, konsep dan rancangan dari Sudiarta, database dan API dikerjakan Satya Darmawan. Dalam waktu dua minggu, aplikasi Tri Sandya ini selesai dan dipublish melalui Playstore. Respons masyarakat luar biasa. Dalam tujuh hari ada 3.120 yang mengunduh aplikasi ini. “Komentar yang disampaikan juga positif. Aplikasi ini bisa membantu orangorang yang tidak bisa lepas dari ponsel untuk tetap ingat berdoa. Heningkan waktu dua menit saja di sela-sela kesibukan. Saya sudah menerapkan di kantor. Jika kami rapat siang, waktu Tri Sandya, kami hening sejenak. Setelah itu rapat dilanjutkan,” ungkap peraih THK Nugraha 2015 dari Bali Travel News (Kelompok Media Bali Post) ini. Aplikasi Pengingat Tri Sandya pertama di Playstore ini bisa jadi menjadi aplikasi Tri Sandya pertama di dunia yang akan terus dikembangkan. Konten aplikasi berisi Informasi dan Pengaturan. Peng-

Aplikasi Pengingat Tri Sandya

ibuk apapun, luangkan waktu untuk aplikasi pengingat Tri Sandya ini hening dan memuja Tuhan karena persembahan Bamboomedia Founsemua yang ada di dunia ini berasal dation. –Ngurah Budi dari Tuhan. Selain berisi lantuan doa Tri Sandya, aplikasi ini juga berisi informasi mengenai hari-hari raya umat Hindu. Informasi itu berisi waktu dan makna dari hari-hari tersebut. Tak hanya informasi, tetapi berisi foto sehingga tampilan menjadi menarik. Dalam penjelasan aplikasi Seorang pengguna aplikasi Pengingat Tri Sandya juga disebutkan menunjukkan ponselnya

Mimi Alawiyah

Rasakan Nikmat Alami Kopi

Mimi usai mengikuti Q Grader Class

Salah seorang perempuan yang menjadi barista adalah Mimi Alawiyah. Ia mengaku pertama kali terjun ke industri kopi tahun 2007. “Awalnya saya bukan penikmat kopi karena memang saya tidak suka dengan kopi,” ungkapnya. Agustus 2007, ia mulai mengenal kopi. Espresso merupakan kopi pertama yang ia coba, tetapi hanya rasa pahit yang bisa dirasakan. Karena ingin menjadi seorang barista, dari situ Mimi mulai belajar tentang kopi dan mencari tahu rasa espresso. Setelah proses belajar, ia mulai bisa merasakan kopi yang menurutnya enak dan tidak enak. Ternyata di dunia kopi bukan hanya sekadar enak atau tidak tetapi banyak

pelajaran dalam kehidupan yang ia alami mulai dari kopi, industri, bisnis dan pengalaman di berbagai lomba kopi. “Saya mengikuti lomba barista pertama kali tahun 2009. Saat itu ketentuan lomba tersebut barista harus membuat 12 minuman dalam waktu 15 menit. Itu perlombaan pertama yang saya ikuti dan hasilnya saya gagal. Kegagalan tersebut semakin memotivasi saya untuk belajar lebih dalam tentang kopi karena ternyata masih banyak hal yang bisa saya pelajari,” ujar perempuan kelahiran Jakarta, 12 April 1985 ini. Kecintaan Mimi berlanjut dan kemudian mengikuti perlombaan barista di tahun 2010. Hasilnya cukup memuaskan untuk diri

Pesona Sang Kebaya S

aturan bisa dilakukan otomatis dan akan melantunkan Tri Sandya pada pukul 06.00, 12.00, dan 18.00. Satu menit sebelum Tri Sandya ada nada pengingat seperti pengingat pesan masuk. Tim Bamboomedia sempat membuat pengingat lima menit sebelumnya, tetapi dianggap terlalu lama dan bisa dilupakan. Waktu satu menit sebelumnya itulah yang dianggap paling sesuai. “Bali tidak kekurangan bahan untuk dijadikan sumber aplikasi. Tinggal bagaimana kita mengemas menjadikan sesuatu yang menarik. Kemasan juga menentukan produk yang kita tawarkan ke pasar,” tegas pria asal Klungkung ini. Ia pun mengaku aplikasi ini merupakan persembahan untuk umat Hindu agar selalu ingat dengan Tuhan. Ses-

sendiri, ia berhasil mendapat juara 2 regional Jakarta. Di luar kesenangan pasti ada dukanya menjadi seorang barista. “ Saya pernah merasakan sakit gigi yang sangat parah. Itu karena terlalu banyak minum kopi. Kejadiannya di awal-awal karier saya sebagai seorang barista,” ungkapnya. Sukanya, di dunia kopi, ilmu kopi tidak ada habis – habisnya. Ada saja setiap waktu yang di dapat dari cerita/ ilmu kopi. Ini yang menyebabkan Mimi tidak bosan di dunia kopi, semakin banyak yang harus ia gali dan pelajari. “Harapan saya terhadap dunia kopi Indonesia, semoga kopi In-

donesia bisa diakui kualitasnya di dunia dan petani kopi Indonesia bisamendapatkan hasil yang layak dari apa yang petani hasilkan,” tegasnya. Mimi juga melihat banyak perempuan yang suka kopi. Ia menyarankan untuk merasakan pahitnya kopi tanpa gula dan susu, karena di situlah nikmat alami rasa kopi tanpa gula dan susu. Ia juga mengaku founder Anomali Coffee, AgamAbgari dan Irvan Helmi sebagai orang-orang yang menginspirasinya. “Mereka yang mengajarkan saya dari saya tidak mengerti apa-apa tentang kopi sampai saya mengerti dunia kopi dan tentunya sampai saya

Mimi dan teman-temannya

Edisi 887/ 8 - 14 Februari 2016

Mengususng keindahan sepotong kebaya, itulah yang dilakukan perancang papan atas Bali, Tjok Abi. Deretan kebaya koleksinya semakin memesona dengan sentuhan aksesori khas Bali.

Bagi pengguna ponsel, membawa ponsel sudah menjadi rutinitas. Ketinggalan ponsel bisa membuat kelimpungan. Banyak hal yang “tersimpan” di ponsel dan dianggap penting. Kini doa pun bisa disimpan dalam ponsel. Bagaimana caranya? wal tahun 2015 saya bertemu seorang teman yang termasuk tokoh muda Hindu. Kami banyak berdiskusi dan salah satunya ide untuk memanfaatkan teknologi dalam hal agama,” ujar I Putu Sudiarta, Direktur Bamboomedia sekaligus penggagas aplikasi Tri Sandya di sistem Android. Sebelumnya, Bamboomedia sudah meluncurkan aplikasi doa yang bisa diunduh di ponsel. Doa-doa ini merupakan kumpulan doa sehari-hari. Setahun berlalu, Sudiarta belum menemukan orang yang tepat untuk mengerjakan “proyek” ini. Sambil menunggu, ia mencari di Google apakah sudah ada aplikasi Tri Sandya interaktif. Ternyata tidak ada. Hal ini makin menguatkan tekadnya untuk merealisasikan aplikasi ini. Akhirnya awal tahun 2016, ada mahasiswa Unud yang magang di Bamboomedia. Namanya Ida Bagus Wira Negara. Wiralah yang kemudian diserahkan untuk mengerjakan

Style

menjadi seperti sekarang seorang Q-grader dan trainer di Indonesia Coffee Academy,” ungkap Mimi. Agam dan Irvan tidak segan– segan membagi ilmunya kepada saya maupun orang lain. Dari mereka, Mimi belajar untuk tidak pelit dalam berbagi ilmu kepada siapa pun. Sekarang Mimi menjadi salah satu instruktur di Indonesia Coffee Academy (ICA) yang didirikan oleh Anomali Coffee. ICA sendiri mempunyai curriculum yang bisa dipelajari orang-orang baik dalam kalangan pemula maupun orangorang yang sudah andal di dunia kopi. ICA mempunyai 5 curriculum yang bisa dipelajari, yaitu : Basic, Latte Art, Manual Brewing, Cupping , Advance. Di ICA akan ada curriculum baru yaitu roasting dan manajemen bisnis. Ko n s e p d a r i I C A d i s i n i mengedukasi serta mendidik para pemula maupun yang sudah jadi untuk tetap bisa menggali ilmu tentang kopi. ICA di sini juga ingin memajukan para petani supaya petani bisa lebih sejahtera dengan memberikan edukasi kepada petani kopi. ICA disini selalu mendukung kopi lokal. Jadi menggunakan kopi Indonesia untuk tetap mendukung petani kopi. –Ngurah Budi

ecara umum gaya kebaya garapan Tjok Abi ini, tetap tidak jauh dari pakem kebaya Bali khususnya dan kebaya nasional pada umumnya. Namun, perubahan lebih kepada bentuk tangan, garis leher, termasuk panjang pendeknya lengan. Begitu juga dengan variasi tinggi

rendahnya garis leher dan panjang pendeknya badan kebaya Menurut Tjok Abi , meski kebaya dengan segala sentuhannya kini semakin digemari ketika akan dikenakan untuk ke Pura ada catatan tersendiri. Kebaya untuk melakukan persembahyangan, lanjutnya yang mesti diperhatikan adalah pemilihan bahannya. Akan lebih baik jika kita memilih katun, linen atau bisa juga brokat tapi yang rapat dan agak tebal. Tidak mencolok namun tetap manis dipandang atau dilihat. Sedangkan, untuk kesempatan

lain seperti menghadiri pernikahan atau beragam kegiatan di luar acara persembahyangan, lebih bebas memilih material yang diinginkan. Apakah itu chifon dan organdi yang menerawang, hingga brokat yang tipis dan bermotif dan tidak terlalu rapat dan jarang Berikut beberapa desain kebaya dalam gaya modern yang dapat digunakan sebagai referensi.Terlihat betapa kebayakebaya ini mampu menjadikan siapapun pemakainya tampil semakin elegan, berkesan dan modis. – Sri Ardhini

15


16

Edukasi

Edisi 887/ 8 - 14 Februari 2016

Renungan

HPN

2016

Wartawan jangan Abaikan Dokumentasi

Dalam tiga bulan terakhir ini penggemar media sosial facebook dapat membaca tulisan Widminarko yang diung­ gah tiap Minggu. Judulnya, “Nostalgia & Inspirasi”. Pem­ baca bukan hanya diajak menumpahkan kerinduannya dan mengenali kejadian masa lalu, tetapi tulisan berseri itu juga bisa dijadikan sumber inspirasi bagi generasi seka­ rang. Tulisan sarat fakta dan foto itu menunjukkan pe­ nulisnya kaya dokumentasi.

dan tertata. Syukurlah jika tiap wartawan mampu mengelola perpustakaan di rumah­ nya. Jika tidak, minimal penerbit tempatnya bekerja harus mengelola perpustakaan lebih tertata,” sarannya. Atas pertanyaan tentang tahap perjalan­ an karier seorang wartawan, Widminarko mengungkapkan pengalamannya selama 51 tahun ini. Pertama-tama ia menulis berita, dari ragam langsung, ringan, hingga ragam kisah. Tahap berikutnya menulis berita mendalam (reportase) dan artikel. Setelah itu menulis tajuk rencana. Setelah melewati tahap-tahap itu, katanya, sekarang ini ia lebih banyak menulis buku dan menulis di media sosial, selain sebagai narasumber mereka yang mencari data dan informasi masa lalu. “Me­ nyajikan tulisan berseri di face­ book yang saya lakukan sejak Desember itu tidak mungkin lancar tanpa

ditunjang dokumentasi yang akurat, aktual, dan tertata, yang saya miliki,” tambahnya. Ditanya komentarnya terhadap ­w artawan era sekarang, Widminarko mengharapkan hendaknya tiap wartawan selalu berambisi untuk tampil berkualitas, dan meningkatkan kualitasnya dari waktu ke waktu, baik dalam proses penggalian dan pengolahan fakta maupun penulisan produk karya jurnalistik. Salah satu cara­ nya, gemar menyerap informasi dari beragam sumber, gemar mencatatnya, mendokumentasikan, mendikusikannya, dan selalu peduli terhadap masalah yang terjadi di lingkungannya dan masalah yang dihadapi bangsanya. Jangan sampai terjadi bertahun-tahun menjadi war­ tawan, hanya bisa menulis ragam berita langsung. “Saya harapkan lewat karyanya wartawan turut berkontribusi mence­ gah terjadinya ­k esenjangan informasi antargenerasi. Saya sangat merindukan tampilnya wartawan yang karya jurnalis­ tiknya mendapat penghargaan di tingkat nasional sebagaimana yang selalu dikejar para pendahulunya,” ujar wartawan yang tiga karya jurnalistiknya meraih penghar­ gaan tingkat nasional, tahun 1979, 1980 dan 1981 itu. –Inten Indrawati

Seminar Nasional UNR

Widminarko (kiri) di depan rak perpustakaan di rumahnya di Green Kori Sading bersama Prof. I Nyoman Darma Putra

“D

okumentasi pen­ ting dan diperlukan wartawan. Tanpa ditunjang dokumen­ tasi akurat dan aktual, karya jurnalistik wartawan akan kering dan hambar,” ujar ‘wartawan tiga zaman’ itu kepada war­ tawan Mingguan Tokoh yang mewawan­ carai dalam rangkaian Hari Pers Nasional 9 Februari ini. Widminarko yang kini berusia 74 ta­ hun, menggeluti profesi wartawan sejak tahun 1965 hingga sekarang, tanpa putus. Ia menuturkan, bukan hanya wartawan, dokumentasi juga diperlukan banyak kalangan, termasuk pakar beragam ilmu, pengamat, pejabat pemerintah, politisi, penggerak LSM, dan aktivis lainnya. Tanpa ditunjang dokumentasi, pandangan pakar dan pengamat, serta aktivitas para aktivis, cenderung kurang komprehensif, terkesan tidak mengandung hal-hal baru, mengulangulang pemikiran yang sebenarnya sudah pernah diwacanakan dalam kurun waktu sebelumnya. Ketua PWI Cabang Bali dua periode, 1983 – 1991 itu, memberi contoh fenom­ ena kesenjangan informasi antargenerasi sekarang ini. Salah satu biang keladinya adalah miskinnya dokumentasi dan tiadanya niat generasi muda untuk memanfaatkan dokumentasi yang ada. Akibatnya generasi muda pada suatu era, tidak selalu tahu apa yang pernah dikerjakan generasi pada eraera sebelumnya. Tidak paham pemikiranpemikiran para pendahulunya. Tidak semua wakil rakyat tahu dan pernah mem­ baca peraturan daerah dan undang-undang produk para pendahulunya. Penyebab­ nya, menurut Widminarko, selain niat membaca­nya tidak ada, dokumentasi yang

tersedia tidak lengkap atau kurang tertata. Dampak negatifnya, terjadilah kesenjangan informasi antargenerasi. Kesinambungan serjarah pun terpenggal-penggal. Siapa yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan dokumentasi yang lengkap dan akurat itu? Widminarko menyatakan kita semua bertanggung jawab. Penulis buku, misalnya, dan para dokumentator lain perlu diberi peluang agar lebih bergairah untuk berkontribusi memperkaya khazanah do­ kumentasi pada tiap generasi. Lembaga dan instansi yang menangani bidang perpusta­ kaan, kehumasan, dan penerbitan pers pun memiliki tanggung jawab sama. “Dalam era sekarang, dalam rangka menjalankan prinsip-prinsip kerja public relations modern, lembaga humas seyogia­ nya meningkatkan pengelolaan bidang dokumentasi, kuantitatif maupun kualitatif, dengan jalan menyiapkan beragam sarana yang diperlukan, sehingga mampu berperan sebagai narasumber yang tiap saat siap bisa melayani kebutuhan data dan informasi dari beragam kalangan,” ujar mantan pengajar dan instruktur Public Relations itu. Widminarko menjelaskan, publik pem­ baca sekarang ini tidak puas membaca, mendengar dan menonton karya jurnalistik yang hanya menyajikan fakta primer. Selain fakta telanjang yang bisa ditangkap panca indera itu, wartawan harus berupaya mem­ perkaya karya jurnalistiknya dengan fakta sekunder, yang sering disebut fakta di balik fakta. Juga, dalam hal-hal tertentu perlu dilengkapi fakta tersier yakni fakta lama tetapi diaktualkan kembali sebagai ­referensi demi menjadikan karya jurnalistiknya lebih komprehensif sesuai dengan tuntutan ­publik masa kini. “Semua itu terpenuhi jika tersedia dokumentasi yang lengkap, aktual,

Tata kelola Pemerintahan Desa Menuju Good Governance

tema yang sedang ramai dibicarakan mengenai UU Desa. Ia menilai, aturan baru ini menimbulkan kebingungan di kalangan masyarakat, terutama di pe­ merintahan desa. Mengi­ngat peraturan tersebut masih baru, sehingga jika men­ gacu pada peraturan itu sendiri, sangat berat. Sedangkan, aparat desa sendiri belum siap dari sisi SDM. Ia berharap, agar tidak terjadi penaftiran-penafsiran yang berbeda, yang akan menyebabkan terjadinya kesalahan dalam mengelola keuangan Dari kiri: I Dewa Made Rai Adnyana, I Gede Wiratha dan akhirnya terjadi korupsi. “Aturan (moderator), Prof. Abdul Hamid, dan I Wayan Sudarsana yang ada, baru saja diberlakukan, sudah diganti aturan baru. Di tingkat pemerintahan desa Kebijakan pemerintah pusat memberikan terjadi kebingungan, satu belum selesai sudah pengelola­an dana yang cukup besar kepada desa, aturan baru sehingga kami dari akademisi prihatin merupakan jawaban pemerintah terhadap tuntutan dengan kondisi ini,” kata Wiratha. rakyat yang menginginkan kemajuan di desa lebih cepat terlaksana. Dengan diberikannya desa atau Wiratha menambahkan, tujuan seminar, kelurahan, dana yang cukup untuk membiayai pro­ adalah menyamakan persepsi bagi pemangku gram mereka maka kemajuan di desa akan cepat kepentingan dan menambah pengetahuan bagi terlaksana. mahasiswa, dosen Fisip UNR, dan peserta seminar, dan memperoleh berbagai alternatif solusi untuk Kebijakan ini merupakan kebijakan yang cukup terwujudnya perubahan ke arah yang lebih baik. berani dilakukan pemerintah pusat. Kebijakan terse­ Selain itu, untuk mengidentifikasi berbagai kesalah­ but menjadi dilema sejumlah kepala desa terkait an atas pelanggaran yang dapat terjadi dalam tata pertanggung­jawaban pengelolaan dana yang cukup kelola pemerintahan desa sehingga diharapkan besar. Hal ini diakibatkan kesiapan dalam implementasi mendapatkan masukan dan alternatif solusi untuk kebijakan tersebut belum terpenuhi, seperti belum mengatasinya. tersedianya infrastruktur dan SDM yang siap melak­ sanakan dengan baik di setiap desa/kelurahan. Pembicara pada seminar yang diikuti kepala desa/lurah se-Kota Denpasar dan mahasiswa dari Berdasarkan permasalahan tersebut, maka Fakul­ universitas lain ini, Prof. Dr. Abdul Hamid, M.S., tas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik ( Fisip) Universitas akademisi dari Universitas Islam Negeri Jakarta, Ngurah Rai (UNR) bekerja sama dengan Indonesian membahas tentang Kebijakan Pemerint­ah tentang Association of Public Adminsitration (IAPA) Wilayah Tata Kelola Pemerintahan Desa. Drs. I Wayan Su­ Jawa Timur, Bali, NTB, NTT mengelar seminar na­ darsana MAP, Kepala Inspektorat Daerah Kabupaten sional “Membangun Tata Kelola Pemerintahan Desa Karangasem, dengan makalah “Tata Kelola Keuangan Menuju Good Governance dalam Perspektif UU No Desa dalam Perspektif Pemendagri No 113, Tahun 16 Tahun 2014”. 2014”. I Dewa Made Rai Adnyana ( Perbekel Desa Dekan Fisip UNR, I Gede Wiratha, S.Sos, M.A.P. Taman Bali Bangli) dengan makalah “Manajemen mengatakan, seminar ini sudah diselenggarakan ke­ Pemerintahan Desa”. –ast sekian kalinya. Namun, kali ini pihaknya mengusung

Edisi 887/ 8 - 14 Februari 2016

9

Barongsai dan Liong di Air Perayaan Imlek 2567 di Jakarta berlangsung meriah. Pusat-pusat perbelanjaan yang sejak jauh-jauh hari berdandan cantik dengan dominasi ornamen Imlek berwarna merah, pohon-pohon angpau menjulang, dll. Sejumlah mal sejak jauhjauh hari ‘woro-woro’ akan menggelar acara spesial. Grand Indonesia, misalnya, secara khusus mendatangkan atraksi dari Tiongkok untuk memeriahkan Tahun Baru.

Ilustrasi atraksi barongsai di bawah air di Ocean Dream Taman Impian Jaya Ancol

T

empat-tempat hiburan pun tak mau kalah den­ gan aneka hiburan spesial Imlek. Di Taman Impian Jaya Ancol misalnya, memusat­ kan kegiatan Imlek di tiga wa­ hana yakni Sea World, Ocean Dream dan Atlantis. Di ketiga wahana itu nantinya akan digelar aneka atraksi salah satunya yang bakal menyedot perhatian adalah atraksi barongsai dan liong di dalam air. “Kami memperkirakan pen­ gunjung yang datang dalam pekan Imlek tahun ini meningkat dari tahun sebelumnya. Kalau tahun lalu sekitar 70 ribu pengunjung maka tahun ini sekitar 80 ribuan,”

ungkap Rika Lestari, humas PT Pembangunan Jaya Ancol dalam jumpa pers baru-baru ini. Seperti Taman Impian Jaya Ancol, Kebon Binatang Ragunan pun bersiap-siap mengantisipasi membludaknya pengunjung pada masa liburan Imlek. Karena sep­ erti pada masa libur panjang, Kebon Binatang Ragunan menjadi tempat favorit bagi warga Jakarta, khususnya, untuk berwisata. “Siap-siap bukan karena Imleknya ya, tapi ini kan libur panjang dan biasanya pengun­ jung membludak,” kata seorang petugas kebun binatang Ragunan sembari berharap, semoga cua­ ca cerah sehingga pengunjung ramai dan merasa nyaman dalam

berwisata. Sebagian penyuka wisata se­ jarah berpendapat jika ingin merasakan suasana Imlek yang sesungguhnya harus dapat ke pusat komunitasnya. Di Jakarta sudah barang tentu pusatnya ada di kawasan kota tua, Jakarta Ba­ rat. Salah satu yang terkenal dan terbesar di Jakarta adalah Pecinan Glodok. Berdasarkan sejarah, sejak kasus pembantaian etnis Tion­ ghoa tahun 1740, masyarakat Tionghoa yang tadinya bermukim di Batavia, dipindahkan ke luar kota, di antaranya di Glodok. Tak heran kalau sampai sekarang etnis Tionghoa masih menjadi mayoritas penghuni kawasan itu. Maka ketika Imlek tiba, kawasan itulah yang paling meriah. RENOVASI BELUM RAMPUNG Sejak menjelang Januari sua­ sana menyambut Imlek sudah terasa di kawasan itu. Pemukiman

Ornamen imlek di Petak Sembilan Jakarta

yang tergolong padat penduduk pun terlihat bersolek memasang ornamen-ornamen Imlek, begitu juga tempat-tempat ibadah sep­ erti klenteng Kim Tek Ie (Yin de Yuan) atau kini dikenal dengan nama Dharma Bakti. Namun sayangnya penampilan kuil berusia tiga ratusan tahun lebih itu, tidak secantik tahun lalu lantaran masih dalam kondisi renovasi akibat kebakaran yang terjadi Maret 2015 lalu. Keba­ karan yang terjadi pada dini hari itu, bukan hanya menghanguskan sebagian besar bagunan utama tapi juga sebagian perlengka­ pan klenteng termasuk patungpatungnya. Menjelang Imlek tahun ini, sepertinya renovasi belum akan rampung. Masih banyak yang harus diperbaiki. Meski begitu, ibadah Imlek tetap akan dilak­

sanakan di sana meski dalam suasana sederhana. Persiapan sudah dilakukan, termasuk lilin yang berjejer-jejer. “Renovasi belum selesai tapi sudah bisa di­ pakai untuk beribadah, dirapikan seadanya saja,” ujar pengurus yayasan Dharma Bakti. Dibanding klenteng lain di kawasan itu, boleh dibilang umat yang datang untuk sembahyang Imlek di Dharma Bakti tergolong paling banyak. Setiap tahunnya rata-rata lebih dari 5. 000 umat datang, baik dari Jakarta maupun luar kota. Maka tak heran kalau saat menjelang Imlek hingga da­ tangnya Tahun Baru, kawasan itu menjadi amat sangat ramai. Apalagi yang datang ke sana bukan hanya umat yang akan beribadah, tapi juga wisatawan yang ingin melihat dari dekat kemeriahan Imlek di Petak Sembilan. –Diana Runtu

Suasana sembahyang di klenteng

“Magnet” bagi Pengemis Membanjirnya umat yang datang ternyata juga menjadi ‘magnet’ bagi para pengemis yang sejak jauh-jauh hari berdatangan ke klenteng itu. Mereka mangkal di depan klenteng mengharap belas kasihan umat yang datang. Menurut warga setempat, fenomena membludaknya pengemis menjelang Imlek sudah terjadi sejak lama. Sebenarnya penertiban telah dilakukan berkali-kali, namun sepertinya tidak jera. Mereka tetap datang bahkan dengan jumlah yang banyak. Beberapa malah terlihat menginap di emperan. “Mereka itu sudah mulai berdatangan sejak pertengahan Januari kemarin, dan tiap hari semakin banyak bahkan bisa sampai ratusan kalau pas Imlek. Mereka itu kebanyakan dari luar kota, ada koordinatornya kok,” ujar seorang warga Petak Sembilan. “Hari ini ditertibkan, besok mereka datang lagi dengan jumlah yang banyak. Mungkin petugas kewalahan juga ya,” katanya. –Diana Runtu


8

Bunda & Ananda

Edisi 887/ 8 - 14 Februari 2016

Kenali Program TPA

Bagi orangtua yang sibuk berkarier, pengasuhan anak kadang dilimpahkan ke keluarga. Namun, kini banyak pilihan, salah satunya dengan membawa anak ke tempat penitipan anak (TPA). Sebelum memilih TPA, kenali dan cari informasi sebanyak-banyaknya tentang TPA itu.

P

agi hari, sebelum ke kantor, Nana mampir ke TPA yang dekat dengan kantornya. Ia menitipkan anak keduanya. “Anak pertama sekolah diantar ayahnya. Nanti pulangnya, ayahnya juga yang jemput. Anak kedua, karena masih kecil dan di rumah tidak ada yang jaga, saya ajak ke TPA. Pulang kantor saya jemput,” ujarnya. Rutinitas ini hanya dilakukan Senin sampai Jumat atau selama hari kantor. Hari Sabtu dan Minggu, mereka tidak ke TPA. “Kami pilih paket bulanan. Dulu awalawalnya kami pilih paket harian. Setelah cocok, kami beralih ke paket bulanan, lebih murah,” ungkap perempuan yang berprofesi sebagai dosen ini. Pengalaman Desti lain lagi. Ia hanya menitipkan anak kalau jadwal kerjanya bersamaan dengan suami. Biasanya, sang suami kerja malam, jadi pagi sampe sore bisa menjaga anak. Namun, kalau dapat tugas pagi, mereka tak punya pilihan selain menitipkan anak ke TPA. “Dulu kami pernah mengajak PRT, tetapi saya merasa tidak nyaman,” ujarnya. Kegalauan ibu-ibu urusan menitipkan anak ini menjadi perhatian dr. Ni Made Sumiartini, Sp.A. Ia sering mendapat pasien yang mengalami masalah dengan tumbuh kembang sehingga rentan menderita sakit. “Saya sering mendengar cerita dari orangtua yang anaknya dititip di tetangga, ada yang dititip di rumah

neneknya. Saya pun terinspirasi untuk membuat TPA,” kata pemilik d’Care Day Care, sebuah TPA di Denpasar ini. Ia menuturkan perubahan zaman menyebabkan perubahan tatanan keluarga dalam masyarakat. Makin banyak orangtua yang memutuskan untuk bekerja sehingga menyebabkan permasalahan baru, kepada siapa ananda akan dipercayakan untuk diasuh. Tingkat kepercayaan sebagai orangtua terhadap rasa aman, stimulasi dan edukasi dalam menitipkan anak kepada pengasuh kadang menimbulkan keraguan. Di samping itu, mencari pengasuh yang dapat diandalkan dan dapat dipercaya juga susah. “Dari banyak pengalaman itu, kami berusaha mengatasinya dengan menyediakan jasa penitipan anak dan bayi yang dikelola tenaga terlatih dan saya awasi langsung. Saat ini ada 21 anak dengan 7 pengasuh,” ujar perempuan yang akrab disapa dr. Sumi ini. Penitipan anak ini dilakukan pukul 07.00-17.00. Jika melebihi pukul 17.00 dikenakan biaya tambahan per jam. Paket yang disediakan mulai dari harian, mingguan, hingga bulanan. Anakanak dipisahkan sesuai umur, 0-6 bulan, 6 bulan-1 tahun, diatas 1 tahun. Nutrisi anak yang dititip di TPA ini juga disesuaikan dengan umur. Seminggu sekali, mereka mendapatkan pijat relaksasi/ stimulasi gratis. Komunikasi antara orangtua dengan pengasuh serta pemilik

TPA harus terjalin dengan baik. Hal ini, menurut dr. Sumi untuk menghindari hal-hal yang tidak diharapkan. Misalnya, ada anak yang sakit saat berada di TPA, ia akan dipisahkan dengan temantemannya untuk mendapat perawatan. Bahkan, orangtua akan diminta untuk menjemput. Hal ini dilakukan agar anak-anak yang lain tidak tertular. Selama di TPA, program untuk anak-anak diantaranya bermain dan belajar bersama dengan alat permainan edukatif. Mereka juga diberikan cerita sebelum tidur. Dari beberapa referensi mengatakan anak di TPA memiliki kesempatan untuk bermain karena fase anak-anak adalah fase bermain. “Saya selalu kontak dengan pengasuh, demikian juga mereka. Kalau ada yang sakit, saya langsung datang untuk memeriksa. Kalau harus diberi obat, orangtua akan diberi resep. Setelah sehat, barulah diperkenankan datang lagi ke TPA,” ujar ibu empat anak ini. Ia mengaku lebih mementingkan kualitas dari pada kuantitas. Menurutnya jumlah anak yang tidak terlalu banyak akan lebih memudahkan pengawasan. –Ngurah Budi

Alena Wu

T

Anak-anak di TPA

Kasuari Sang Preman

keberanian dan kekuatan terbang. Burung yang terpilih mewakili semua burung adalah Merpati Jambul. Tantangan itu diterima dengan bangga oleh Kasuari. Bukankah di hutan belantara itu, Kasuari terkenal karena keberanian dan kekuatannya? Demikianlah, pada hari yang ditentukan, lomba pun dimulai. “Sebelum lomba terbang dimulai, Kasuari dan Merpati Jambul harus menunjukkan keberanian, yakni mematahkan sayap lawan,” kata burung hantu yang ditunjuk menjadi wasit. “Giliran pertama adalah Kasuari!” Kasuari maju dengan bangga sambil tersenyum-senyum. Ia memegang sayap Merpati Jambul. “Braak…!” Burung kekar itu dengan mudah berhasil mematahkan sayap lawannya. Burung kecil itu mengaduh kesakitan. Di sana-sini terdengar sorak-sorai burung-burung. Kemudian tiba giliran Merpati Jambul mematahkan sayap Kasuari. “Braaak…!” Burung raksasa itu pura-pura tidak merasa sakit. Sorak-sorai bergemuruh. Setelah wasit memberi komando untuk terbang, Merpati Jambul mengepakkan sayapnya, lalu melesat membubung tinggi. Tiba-tiba menukik, kemudian meliuk-liuk mengitari hutan lebat. Sedangkan si burung preman tampak melompat-lompat di tempat, namun tak pernah berhasil terbang naik. Burung yang sayapnya patah itu kepayahan akhirnya jatuh lunglai. “Horeee…!” Demikian gegap-gempita sorak-sorai semua burung. Mereka bergembira- ria merayakan kemenangan. Ternyata akal-akalan mereka berhasil dengan gemilang. Burung kasuari yang bodoh itu tidak mengetahui, bahwa sayap merpati jambul yang dipatahkan itu adalah tangkai bambu yang dipasang sebelum bertanding. Nah, semenjak peristiwa itu, burung kasuari yang besar dan kekar itu tidak dapat terbang sampai sekarang.

17

Kenalkan Tradisi sejak Kecil Imlek memiliki makna mendalam bagi sebagian besar keturunan Tionghoa yang masih menjalani tradisi itu. Satu hal yang melekat adalah momen berkumpulnya seluruh anggota keluarga untuk merayakan Tahun Baru bersama-sama. Biasanya mereka yang berada di manapun (tinggal jauh dari keluarga), entah karena bekarja maupun sekolah, pasti menyempatkan diri untuk kembali ke rumah (pulang ke kampung halaman) pada saat Imlek.

Mendongeng Lima Menit Di sebuah hutan yang lebat burungburung besar-kecil bergembira ria. Mereka bebas beterbangan, mencari makan dan bernyanyi-nyanyi. Namun setelah kehadiran burung kasuari, kegembiraan mereka berubah menjadi ketaMade Taro kutan. Burung baru itu amat besar dan kekar. Perawakannya indah dan bulunya lebat, namun sifatnya sangat buruk. Burung itu sering merampas makanan. Kalau tidak direlakan, burung-burung yang sedang menikmati makanan itu dibunuh. Burung besar seperti candrawasih pun tidak luput dari ancaman. Kalau melawan, maka anak-anak burung besar itu diculik atau telur-telurnya dihancurkan. Burung kekar itu juga amat angkuh. Ia sering memamerkan kecepatan dan kekuatannya terbang mengitari hutan. Tentu tak seekor burung pun yang berani menandinginya. Rupa-rupanya kebencian burung-burung itu dirasakan pula oleh burung hantu. Pada suatu malam, burung yang bijaksana itu mengundang semua burung mengadakan pertemuan rahasia. Pertemuan itu dilakukan pada saat Kasuari tertidur nyenyak. “Kawan-kawan!” kata burung hantu membuka pertemuan. “Semenjak kehadiran burung preman itu, kita semua menjadi korban. Oleh karena itu aku mengajak teman-teman bersepakat dan bersatu mengusir burung itu.” Semua burung sepakat bekerjasama dan menjaga rahasia akal-akalan yang akan dilakukan. Pada hari yang ditentukan, mereka menantang Kasuari untuk unjuk

Edisi 887/ 8 - 14 Februari 2016

kapanlagi.com

Alena Wu

ak terkecuali A l e n a Wu , penyanyi spesialis lagu-lagu Mandarin. Berkumpul bersama keluarga, sudah pasti, namun sebelum itu dia masih menyempatkan diri untuk manggung. Manggung di malam Imlek memang sudah menjadi kebiasaan Alena sejak berkarir di dunia menyanyi. “Dari sebelum menikah sampai telah menikah dan sekarang, memang selalu begitu. Saya tetap bekerja sampai malam Tahun Baru. Orangtua mengizinkan saya menyanyi di malam Tahun Baru,” ungkap pemenang Asia Bagus Malaysia tahun 2000. Tahun ini, seperti tahun sebelumnya, menjelang Imlek bahkan sampai sebulan setelahnya, ia kebanjiran order

manggung. Jadwalnya padat, namun katanya, ia tetap berkumpul bersama keluarga pada Tahun Baru. Rencananya, kata Alena, setelah menyanyi di malam Imlek di Makasar, keesokan harinya atau bertepatan dengan Imlek, dia terbang ke Malang, tempat keluarga besarnya berkumpul. Alena Wu sedang kinclong kariernya di dunia tarik suara, khususnya untuk lagu-lagu Mandarin. Spesialisasi lagu Mandarin memang dipilihnya selain karena melihat potensinya untuk berkembang, bahkan merambah ke luar negeri, sangat bagus. Di Indonesia sendiri, pasar untuk lagu-lagu Mandarin sangat menjanjikan, permintaan tinggi sementara jumlah penyanyi yang ada tidaklah banyak. Selain dunia tarik suara, Alena yang bersama Elfa’s Choir meraih gold medal pada Olimpiade Paduan Suara di Austria tahun 2000, juga merambah ke bidang lain seperti modeling, presenter juga akting.

Untuk akting, setidaknya wanita kelahiran Malang ini telah tampil di film ‘Crazy Love‘ dan sebuah film produksi Hong Kong, ‘Silent Heroes’. Tapi dari semua itu, dia lebih suka pada dunia menyanyi dan ingin fokus pada bidang itu. POHON ANGPAU WAJIB ADA Kembali ke soal Imlek. Menurutnya, meski dirinya sibuk, namun persiapan Imlek tetap dilakukannya bahkan itu dilakukan sejak jauh-jauh hari. Mulai dari pernak-pernik hiasan rumah hingga makanan khas Imlek. Tapi, katanya, ada beberapa yang memang dipersiapkannya secara khusus dan harus ada setiap kali perayaan, di antaranya adalah; kue keranjang yang sudah pasti ada, jeruk dan manisan. Untuk dekorasi yang wajib ada adalah pohon angpau. “Harapannya keluarga harmonis dan banyak rezeki,” kata wanita bernama lengkap Caroline Gunawan.

Bagi Angpau saat Imlek Tahun Baru Imlek merupakan tradisi warga Tionghoa. Perayaan tahun baru Imlek dimulai di hari pertama bulan pertama di penanggalan Tionghoa dan berakhir dengan Cap Go Meh di tanggal kelima belas (pada saat bulan purnama). Tahun baru Imlek dirayakan hampir di seluruh dunia dengan kemeriahan dan pernak-pernik merah dan kuning keemasan. Perayaan Imlek juga disambut sukacita warga Tionghoa di Bali. Salah satunya, Wisilawati, anggota Pembina Forum Ibu-ibu Buddhis Bali. Menurut Pemilik New Melati Salon ini, di negara asalnya Tiongkok, peraya­a n Imlek merupakan pergantian tahun menuju musim semi. Para petani bergembira menyambut musim semi yang diharapkan membawa kebahagiaan dan keberkahan bagi mereka. Perempuan usia 65 tahun ini menuturkan, biasanya, keturunan Tionghoa sudah jauhjauh hari mempersiapkan pernak-pernik perayaan Imlek. “Saya sudah awal bulan Februari menghias tempat persembahyangan dengan bunga-bunga. Selain itu, saya juga mempersiapkan lampion, dan yang paling penting menukar uang untuk angpau,” tuturnya. Tradisi ngejot juga tetap dipertahankan keluarga Wisilawati. Menurutnya, tujuan ngejot adalah untuk saling berbagi kebahagiaan. Ia membawa antaran yang berisi kue-kue dan buah sebagai simbol berbagi kepada sesama. Ngejot sudah dilakukan seminggu Imlek. Saat Imlek pernak-pernik banyak menggunakan wana merah dan kuning keemasan.

Wisilawati

Maknanya, sesuai makna warna merah dan kuning keemasan, semoga di tahun baru kehidupan menjadi lebih bersemangat. Untuk bahan persembahyangan imlek lebih banyak menggunakan kue-kue dan buah-buah­an. Kue yang terkenal dan selalu ada adalah kue keranjang, kue mangkok, tebu, dan pohon jeruk. Kue keranjang rasa­nya manis dan terbuat dari ketan yang sangat lengket. Kue keranjang diartikan sebagai pengikat keakraban persaudaraan dan keluarga agar makin kompak. Tebu rasanya manis. Semakin diperas semakin manis. Tebu bisa tumbuh di semua musim. Penggunaan tebu dimaknai agar manusia bisa bersikap seperti tebu, di-

mana pun bisa tetap hidup, dan mampu mengarungi tantangan dalam kehidupan, dan berharap di tahun baru kehidupan menjadi lebih manis dan lebih baik. Manusia diharapkan selalu berbuat baik dan menjaga kekompakan dan persatuan. Pohon jeruk sebagai simbul keberuntungan dan kebahagiaan. Saat imlek, ada satu bunga yang sangat terkenal yang disebut bunga mei hua. Bunga ini memiiki daun yang kecil-kecil berwarna merah muda de­ ngan kombinasi putih, saat Imlek tiba, pohon mei hua ini suka ditambahkan pernak-pernik aksesoris, seperti angpao-angpao kecil dan lampion-lampion kecil dari kertas warna untuk dijadikan pelengkap dekorasi ruangan. “Sebenarnya, pohon ini tak hanya sekadar pelengkap dekorasi ruangan saat Imlek. Pohon mei hua juga dianggap sebagai lambang harapan, keuletan, kebahagiaan, dan kesejahteraan,” kata Wisilawati. Dengan kemajuan teknologi, sekarang sudah banyak bunga mei hua dari plastik sehingga lebih praktis. Pemasangan lampion diibaratkan sebagai cahaya untuk menerangi kehidupan agar menjadi lebih baik. Agar lebih meriah, peraya­an diisi dengan penyalaan mercon dan pertunjukkan barong sai. Tujuan dari tradisi ini, adalah untuk menolak bala atau

Soal hidangan jeruk, misalnya, itu memang selalu ada setiap Imlek. Misalnya saja jeruk yang berarti hoki, kue keranjang peningkatan dalam kemakmuran dalam segala hal. “Sedang kuaci bermakna banyak anak. Manisan bermakna semoga bertambah manis kehidupannya. Oh ya, nanti juga ada ikan, itu kesukaan Popo (Popo Fauza-suami) yang menjadi simbol mendatangkan rezeki berlebih,” papar Alena yang pekan lalu baru saja meluncurkan album Mandarin terbarunya bertajuk ‘Xing Fu’ atau Blessed. Bicara Imlek, Alena merasa bersyukur kalau orangtuanya mengenalkan tradisi itu sejak ia masih kecil dan itu tetap dijalankannya hingga kini. Seperti ketika ia kecil dulu, maka pengetahuan soal Imlek pun sudah mulai dia ajarkan kepada si kecil, anaknya semata wayang, Neo Kolla Fauza. “Pelan-pelan mulai diajarkan, dikenalkan. Dia juga suka bertanya,” kata pemilik nama Wu Hui-li ini. Kenangan Imlek masa kecil begitu kuat melekat dalam benaknya, bahkan hingga sekarang. Bagaimana keceriaan menyambut Imlek, bagaimana ramainya ia bermain bersama saudara-saudaranya. “Suasana masa itu aku masih inget banget, sepupu-sepupu aku, enaknya masakan Mak Engkong, semuanya,” ungkap Duta Batik Puring 2009 ini. –Diana Runtu

kekuatan jahat dan semoga di tahun baru dijauhkan dari hal negatif dan selalu diberi keselamatan dan rezeki berlimpah. Saat Imlek, keluarga Wisilawati akan melakukan persembahyangan di rumah untuk memuja leluhur dan para dewa. Setelah sembahyang dilanjutkan de­ngan makan bersama dan bagi angpau. Uniknya, uang yang dimasukkan ke dalam angpau adalah uang baru. Maknanya, agar keberkahan terus diraih di tahun baru. Tujuan pembagian angpau adalah untuk saling berbagi rezeki. “Pembagian angpau menjadi hal yang sangat dinanti. Biasanya para tetua yang membagikan kepada anak-anak. Intinya, bersilaturah­mi.berbagai kebahagiaan. Karena ibu saya masih ada, kalau tidak sempat di hari itu, besoknya saya ke rumah ibu untuk bersilaturahmi,” katanya. Wisilawati beberapa tahun belakang­an ini sering melakukan open house saat imlek. “ Selain keluarga besar suami dan saya, temanteman anak saya, termasuk rekan kerja dan karyawan bersama keluarganya, saya undang ke rumah untuk berbagi kebahagiaan,” kata Wisilawati. Menurutnya, selain disibukkan dengan menyiapkan perlengkapan sembahyang, ia berharap, dalam perayaan Imlek, warga Tionghoa juga mengerti makna dari perayaan tersebut dan mengimplementasikan dalam kehidupannya sehari-hari. “Saat ini saya sedang belajar untuk menyeimbangkan antara ritual dan memahami makna dalam kehidup­ an. Karena untuk mencapai kesehatan fisik dan batin, urusan ritual dan pengedalian diri secara emosional dan spiritual juga perlu seimbang. Seperti yang rutin dilakukan ibuibu Budhhis, dengan belajar bermeditasi,” kata istri Candikiat­mono Santoso ini. Perayaan imlek ditutup pada saat peraya­ an Cap Go Meh. Perayaan menjadi istimewa karena seluruh warga Tionghoa menikmati lontong cap go meh. –Wirati Astiti


18

Life

Edisi 887/ 8 - 14 Februari 2016

I Gede Marayana

T

radisi unik membawa punjung ke setra merupakan serangkaian perayaan Galungan yang hanya dilakukan di Buleleng. Maknanya adalah mengucapkan rasa syukur kepada leluhur yang telah mening­gal namun rohnya masih ada di setra. Masyarakat yang memiliki keluarga telah meninggal akan munjung ke setra dan akan makan bersama keluarga lainnya di atas gundukan tanah kuburan keluarga­nya. Nunas paridan hanya boleh dilakukan oleh sanak keluarga­nya dan

merupakan pantangan bagi orang lain yang bukan keluarga dari orang yang telah meninggal tersebut. Tradisi ini mulai mengikis dan bukan tidak mungkin lama-lama akan menghilang. “Mereka yang membawa punjung ke setra adalah yang masih memiliki keluarga yang belum diaben atau masih dikubur,” tambah budayawan dan penyusun kalender Bali ini. Hal ini dikarenakan sudah berkembangnya pemahaman mengenai pelaksanaan agama sehingga untuk mengucapkan rasa syukur kepada leluhur bisa dilakukan dengan cara yang berbeda. Hal lain yang membuat tradisi ini mulai menghilang adalah memasyarakatnya pembakaran mayat atau mekingsan di geni untuk menghindari kehabisan tempat di setra atau kuburan. “Secara tatanan upacara orang meninggal dan mayatnya dibakar, stana beliau akan ada di jabaan dalem bukan di pura Dalem,” lanjutnya.

Di Buleleng sendiri saat ini secara periodik sudah banyak digelar ngaben massal sehingga roh orang yang sudah meninggal dianggap memiliki tingkatan yang lebih tinggi. Maka dari itu tradisi munjung mulai jarang dilakukan karena menurut pemahaman agama bahwa roh yang sudah diaben tidak perlu dibawakan punjung lagi melainkan penek yang akan dibawakan ke merajan dan akan berbeda dari jenis banten-nya. Pria kelahiran 7 Maret ini menegaskan, ada tidaknya tradisi munjung itu bergantung dari tatanan cara yang dilalui. Dikubur ataukah dibakar tidak ada ­acuan benar salahnya, semua itu kembali kepada desa-kala-patra sehingga tidak muncul anggapan bahwa Hindu di Bali tidak tertata. Justru dari penataan itulah yang ­se­su­ai dengan tempat, waktu, dan keadaannya. Semua itu harus ada dasarnya yaitu sastra, susila, tata upacara dan budaya. –Wiwin

D o d o l Pe n g l a t a n

Makin sering Dijemur, Makin Enak Nyoman Darmini

Belum lengkap rasanya berkunjung ke Buleleng jika belum mencoba jajanan tradisional khas Buleleng. Rasanya yang manis dan gurih membuat dodol menjadi salah satu makanan yang paling dicari ketika berkunjung ke Bali Utara. Di Desa Penglatan, Kecamatan Buleleng sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai pembuat dodol. Hal ini sangat terlihat jelas ketika memasuki desa, hampir setiap sudut rumah masyarakat menjajakan makanan manis ini. Ada yang unik dari pembuatan dodol Penglatan ini. Meskipun tidak menggunakan bahan pengawet tapi dodol bisa tahan hingga satu bulan. Untuk mengawetkannya masyarakat Penglatan melakukannya dengan metode tradisional yaitu dengan cara dijemur. Dodol ini memang sangat unik semakin sering dijemur rasa yang dihasilkan semakin enak dan gurih. Dodol Penglatan juga memiliki varian rasa, yaitu rasa injin, nangka,

pandan, kacang, dan durian. Yang paling banyak diminati oleh pembeli adalah rasa kacang pembeli karena selain gurih dan manis juga terdapat kacang di dalamnya sehingga membuat rasa dodol menjadi lebih enak. Nyoman Darmini, salah satu pembuatn dodol di Dusun Kelodan, Desa Penglatan mengatakan jelang hari raya produksi dodol sangat meningkat secara signifikan. “Jelang Galungan kami

Proses pembuatan dodol

biasanya buat 150 kg,” ujar wanita yang sudah 5 tahun membuka usaha dodol ini. Pada hari biasa, Darmini hanya memroduksi dodol seminggu sekali dan hanya membuat sekitar 100 kg. Dalam usaha yang dirintisnya sendiri, dia memilih rasa original (injin) sebagai dodol andalannya. Baginya menambahkan perasa pada adonan dodol akan membuat dodol tidak tahan lama atau basi. Untuk pemasaran dodol miliknya

Dodol siap dibungkus

Edisi 887/ 8 - 14 Februari 2016

7

Keluarkan Baju karena Celana Robek

Tradisi “Munjung” Mulai Jarang Jika dilihat secara umum, perayaan hari Galungan di Buleleng nampak sama dengan perayaan di daerahdaerah lain. Serangkai­an hari raya tersebut meliputi hari Penyekeb­an yang jatuh 3 hari sebelum Galungan, Penyajaan yang jatuh 2 hari sebelum Galungan, dan yang terakhir adalah Penampahan yang jatuh sehari sebelum Galung­an. Namun ada yang sedikit berbeda dari perayaan Galungan di Buleleng jika dilihat secara mengkhusus lagi. Hal ini disampaikan oleh I Gede Marayana, Ketua Listibya (Majelis Pertimbangan dan Pembinaan Budaya) Buleleng ini.

Story

Motifora Jengah lewat Musik Sepintas Motifora terlihat sama dengan band-band lain asal bali yaitu sama-sama ingin melestarikan lagu Bali. Lebih dari itu yang ingin ditonjolkan adalah segi lirik yang berkesan romantis dan musiknya yg sederhana tapi tetap mudah didengar oleh penikmat musik. Sebuah grup band dari Buleleng tepatnya di Desa Munduk, Kecamatan Banjar didirik­an atas dasar kecintaan setiap personilnya terhadap musik. Ketika meluncurkan album pertamanya yang bertajuk “Hitam Putih” Motifora ingin menaturalkan musik yang mereka bawakan. “Pada awalnya bahasa lagu kita itu pakai bahasa Bali dan Indonesia campuran kamu aku lah tetapi karena sudah banyak band pakai bahasa seperti itu jadi kami berpikir kenapa tidak natural saja,” ujar Tunick, sang vokalis. Melalui album yang terdiri dari 4 lagu berbahasa Bali dan 4 lagu berbahasa Indonesia ini Motifora juga menyampaikan pesan moral seputar percintaan dan baik buruknya kehidupan. “Makna dari setiap lagu itu sih diharapkan bisa dimengerti, contoh saja lagu “Ngalahin Gumi”, dari lagu itu mudah-mudahan kita bisa ambil maknanya kalau hidup di dunia ini tidak abadi,” lanjut sang vokalis yang dulu bandnya bernama Motiforline ini. Motifora itu sendiri memiliki arti kata yaitu Motif yang artinya corak, alur, rencana; for yang artinya untuk; dan a artinya awalan atau kata yang untuk mengungkapkan sesuatu. Jadi Motifora adalah rencana atau alur untuk sesuatu. tidak perlu bersusah payah karena selama ini sudah banyak pemesanan baik di daerah maupun di luar daerah. “Biasanya dibawa ke pasar Banyuasri

Dodol siap dipasarkan

Sesuatunya itu adalah berkarya sehingga mampu memberikan corak untuk para pendengar musik Motifora. Band ini memiliki visi mengajegkan Bali melalui seni musik membuat band yang terbentuk sejak 17 April 2009 itu semakin diperhitungkan meski masingmasing personil memiliki berbagai latar belakang dan basic yang berbeda. Selain memiliki visi, band yang beraliran musik jenis pop rock alternatif inipun ingin bermain musik untuk memuaskan semua publik dan ingin ikut serta membuat masyarakat Buleleng jengah melalui seni musik. Hal ini terbukti dari penggarapan video klip yang selalu berlatar daerah wisata di Buleleng dan selalu menggunakan dialek Buleleng ketika manggung di kota lain. “Yang bisa kami lakukan hanya berkarya dan menunjukkan band Buleleng juga bisa berkarya,” lanjut Tunick. Sebagai band asal Buleleng band yang digawangi oleh 4 personil diantaranya Tunick (vocal, guitar), Rheno (lead guitar), Eri (bass), dan Anna (drum), Motifora sangat berharap bisa menghibur masyarakat Bali khususnya Buleleng. Selain itu masyarakat Buleleng juga diharapkan mendukung band-band yang berasal dari Buleleng. Begitu juga sesama musisi Buleleng juga harus saling mendukung tidak saling menjatuhkan. Band yang pernah menjadi 10 besar di Festival Gong 2010 di Surabaya ini juga berharap pemerintahan Buleleng men­dukung band-band Singaraja dengan cara melibatkan di setiap acara yang ada di Singaraja. -Wiwin dan ke Denpasar pakai oleh-oleh juga bisa,” lanjutnya saat ditemui di tengah kesibukan menyiapkan pesanan dodol. Harga yang ditawarkan sangat terjangkau. Dodol Penglatan dijual Rp 27.000/ kg. Biasanya konsumen membeli dodol secara kiloan atau eceran tergantung permintaan konsumen. Pembuat dodol ini juga melayani pemesanan dodol dalam jumlah yang banyak atau grosir. Menjelang hari raya dia mempekerjakan dua orang pembuat dodol dan enam orang pembungkus dodol. Hal ini akan membawa rezeki tersendiri bagi masyarakat sekitarnya. Membangun lapangan kerja sendiri dan menyerap tenaga kerja untuk menambah pendapatan warga setempat. Usaha ini patut diacungi jempol karena bisa membangun masyarakat yang mandiri. -Wiwin

Dua tahun lalu, ketika ditunjuk menjadi Kepala Sekolah SMPN 3 Narmada, Akhmad Nurpail, M.Pd., langsung melakukan pendekatan kepada lingkungan sekitarnya. Dimulai dari melakukan kegiatan safari Jumat keliling di empat desa asal siswa-siswa SMPN 3 Narmada yakni, Desa Golong, Desa Keru, Desa Sedau dan Desa Lembah Sempage dan pendekatan kepada orangtua siswa hingga bersama para wakil kepala sekolah (urusan) dan para guru, melakukan pendekatan emosional kepada para siswa.

A

khmad Nurpail tidak hanya menjadikan hubungan guru dan siswa sebatas kegiatan belajar mengajar saja, melainkan juga mendekatkan guru dan murid secara emosional. Sosoknya yang humoris, juga menerapkan pendekatan kekeluargaan antara pimpinan dengan yang dipimpinnya (para guru dan staf). Kedekatan emosional antar guru dan murid serta dirinya sebagai kepala

sekolah dan para guru juga stafnya inilah yang kemudian mengungkap kisah-kisah kemanusiaan yang dialami oleh beberapa siswanya di sekolah ini. Meski di luar jam kerja, tiap hari Sabtu secara bergiliran para guru di sekolah ini berkunjung ke rumah untuk memantau siswa kelas 3 yang belajar kelompok. Beginilah salah satu usaha sekolah ini untuk meningkatkan prestasi akademik siswanya yaitu dengan memberi perhatian lebih dan melakukan pendekatan secara emosional

untuk memotivasi para siswa untuk belajar sekalian melihat langsung kondisi para siswanya. Sungguh tidak terduga, banyak hal tentang keadaan siswa yang akhirnya bisa diketahui dari perjalanan para guru saat mendatangi langsung rumah siswa dimana kelompok belajar-kelompok belajar yang terdiri dari 5-7 siswa ini diselenggarakan secara bergantian. “Kami menjadi tahu bahwa beberapa siswa yang bermasalah di sekolah, rupanya memiliki persoalan yang sangat menyentuh,” ungkapnya. Kisah sedih beberapa anak korban perceraian, ada pula anak para TKI/TKW serta masalah lainnya, menjadikannya dan para guru di sekolah ini memberikan perhatian lebih kepada mereka. Anak-anak yang kurang beruntung ini bahkan kerap tidak masuk sekolah karena alasan yang sangat mendasar. Suatu hari, ceritanya, ada siswa yang sering tidak masuk karena alasan tidak pernah bisa sarapan karena tak memiliki makanan di waktu pagi. Hal ini menarik

Salah satu kegiatan ekstrakurikuler di SMPN 3 Narmada. Akhmad Nurpail menekankan pendidikan siswa juga untuk peka terhadap sekitarnya

Rajin Silaturahmi Dalam memimpin SMPN 3 Narmada, Akhmad Nurpail yang dibantu guru-guru yang menurutnya relatif memiliki idealisme dalam mengajar dan mendidik siswa, tidak semata-mata mengejar prestasi akademik bagi siswa dan sekolahnya melainkan juga mendidik siswanya untuk siap bermasyarakat dan memiliki kepekaan yang tinggi terhadap kehidupan sosial di sekitarnya. “Orang yang berhasil itu tidak sematamata dilihat dari prestasi akademiknya, melainkan juga banyak faktor non akademis yang mendorongnya untuk sukses. Saya memberikan apresiasi yang tinggi juga untuk para guru di sekolah ini yang memiliki semangat yang sama dalam mendidik dan mengajarkan anak-anak kami (siswa) untuk berusaha keras meraih prestasi akademik maupun nonakademik,” katanya. Akhmad Nurpail beserta para guru di sekolah yang berada di Desa Sedau Kecamatan Narmada Lombok Barat Nusa Tenggara Barat ini, bertekad meraih target secara akademik rata-rata kualifikasi UN bernilai baik karena selama ini sekolah ini masih dengan nilai cukup. Ia juga ingin agar para siswa yang ada di sekolah yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan ini dapat diterima sekolah menengah favorit di Mataram maupun di Lombok Barat. Itulah sebabnya, khusus bagi siswa kelas tiga diberikan pelajaran tambahan dan belajar berkelompok yang secara rutin dikunjungi oleh para guru secara bergantian. Dalam ruang nonakademik, sekolah ini menargetkan prestasi dalam bidang ekstrakurikuler. Meski sekolah ini berada di perdesaan, tampaknya tidak dapat disepelekan. Bagaimana tidak, dalam dua tahun terakhir tidak kurang dari 12 prestasi telah diraihnya dalam berbagai lomba yang diadakan di Tingkat Kabupaten Lombok Barat maupun Tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat. Bahkan tidak jarang para siswa merebut juara pertama misalnya dalam Lomba Narmada Scout Camp Competition, putra dan putrid di tahun 2014 lalu serta Juara I pada ajang Universal Taekwondo Indonesia (UTI) Pro tingkat SMP se-NTB pada tahun 2015 lalu. Demikian pula dengan prestasi lainnya. Untuk menyikapi perkembangan global terhadap pengaruhnya dalam pergaulan remaja, Akhmad Nurpail menyibukkan siswanya dengan mengikuti berbagai ekstrakurikuler. Ia dan para guru juga rajin bersilaturahmi dengan para orangtua siswa bahkan dengan Kepala Dusun ataupun Kepala Desa untuk berkomunikasi tentang perkembangan sekolah dan para siswa, khususnya tiap kali ada kebijakan baru sekolah yang memerlukan dukungan orang tua. Untuk mengantisipasi masalah kenakalan remaja/pelajar, sekolah ini melakukan pendekatan ke empat desa asal siswa untuk mensosialisaikan peraturan sekolah menyangkut hal ini. Sekolah ini berusaha semaksimal mungkin meningkatkan komunikasi dengan para orangtua dan kepala desa atau kepala dusun dalam menjaga prilaku siswa saat berada di rumah dan di lingkungannya. “Kami sama-sama menjaga siswa, di sekolah, di rumah dan di lingkungannya,” ujarnya. -Naniek I. Taufan

Kepala Sekolah SMPN 3 Narmada, Akhmad Nurpail, M.Pd., menerima piala persembahan prestasi siswa bagi SMPN 3 Narmada dalam bidang kepramukaan

simpati sekolah untuk mengecek keadaan siswa tersebut. Begitu pihak sekolah mendatangi rumah siswa tersebut, sungguh miris keadaannya, hidup dalam kekurangan tanpa orangtua. Ia tinggal bersama kakeknya yang juga telah renta sehingga tiada berdaya untuk mencari nafkah secara layak. Masih banyak lainnya dengan kisah keprihatinan yang berbeda-beda masalah yang membuat ia dan para guru pikir berkali-kali untuk tegas apalagi sampai marah untuk masalah kedisiplinan bagi mereka ini. Belum lagi ada siswa yang selalu mengeluarkan baju dari celananya padahal aturan kerapian baju harus masuk ke dalam. Setelah diusut rupanya celananya ada yang robek atau masalah lainnya. “Yang ada kami justru terenyuh. Kami tidak tega menegur apalagi memarahi siswa yang bersangkutan karena kami melihat langsung kondisinya yang memprihatinkan itu. Dari sini kami juga memahami bahwa tidak semua anak yang melanggar disiplin itu karena kemauannya

sendiri melainkan lebih karena keadaannya,” ungkapnya. Hal ini tidak hanya terjadi pada satu orang melainkan lumayan banyak anak-anak yang bermasalah dengan kekurangan, sehingga alumni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP Jurusan Bahasa Inggris Universitas Mataram ini mencetuskan ide menyumbang bagi yang tidak mampu (yang membutuhkan). Kegiatan sosial mengumpulkan sumbangan sukarela dari guru, staf sekolah sekolah murid yang mampu ini ia beri nama Coin for The Sick (koin untuk yang membutuhkan). Aksi sosial ini telah berjalan hampir setahun sejak banyak ditemukan siswa yang kurang mampu yang dimulai dari para guru dan staf sekolah sampai akhirnya para murid juga turut menyumbang. “Kami sekalian ingin mengajarkan siswa untuk peka dan memiliki kepedulian pada lingkungan sekitarnya yang kurang mampu serta belajar untuk berbagi,” katanya. –Naniek I Taufan.


Woman on Top Hadapi MEA, Iwapi & HLC Gianyar

6

Edisi 887/ 8 - 14 Februari 2016

Edisi 887/ 8 - 14 Februari 2016

Gelar “Woman Enterpreneur-Local Brand Awareness” Minggu (31/1), Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi) Cabang Gianyar dan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Ladies Cabang Gianyar menggelar acara “Woman Enterpreneur-Local Brand Awareness” di Beach Walk, Kuta Bali. Acara yang banyak menyedot perhatian khalayak umum tersebut dirangkaikan dengan beragam kegiatan, yakni lomba fashion show anak, talk show, dan pameran produk UMKM.

“K

ami sengaja memilih Kuta dan di salah satu mall sebagai ajang memamerkan produk UKM anggota kami, karena pertimbangan kami, Kuta adalah tempat yang universal dan banyak tourist yang tinggal dan berkunjung di tempat ini. Kuta ini adalah tempat yang tak pernah ‘tidur’ jika dibandingkan dengan Ubud dan daerah lainnya. Harapan kami, produk-produk anggota Iwapi dan HLC Gianyar bisa lebih cepat dikenal,” ujar Ketua Iwapi Gianyar Dra. Ni Made Rai Sukmawati, B.Sc., M.Par.

Pameran yang melibatkan memamerkan produk-produk anggota Iwapi ini, dijelaskan Rai Sukmawati bertujuan mengajak pengusaha perempuan untuk bersiap menghadapi MEA. Dengan berpameran, mereka bisa melihat peluang/kesempatan, dan mengetahui selera pasar, di samping kualitas produk yang harus terus ditingkatkan dalam persaingan yang cukup ketat ini. Dalam talk show yang menghadirkan Deputi bidang produksi dan pemasaran Kementerian Koperasi dan UMKM RI I Wayan Dipta, M.Sc., Ketua Hipmi Bali

Penyerahan hadiah kepada pemenang lomba fashion show oleh Kadis Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Gianyar Wayan Suambar dan oleh Ketua Iwapi Gianyar Rai Sukmawati

Talk show “Woman Enterpreneur-Local Brand Awareness”

IGAA Inda Trimafoyudha, dan pebisnis fashion IGA Vera Trilaxmi, dibahas tentang local brand. Bahkan, pihak kementerian menyebut bahwa jumlah perempuan pengusaha masih kecil. Ra i S u k m a w a t i t a k m e nampiknya, namun dari pengamatannya di Bali banyak pelaku usaha kecil dilakoni oleh ibu-ibu rumah tangga, dan mereka sekaligus ikut sebagai tulang punggung keluarga. “Jadi kami berpendapat, perempuan mempunyai peluang besar sukses sebagai pebisnis. Apalagi kita tahu penduduk Indonesia cukup besar sehingga menjadi pasar yang potensial untuk minimal menguasai pasar domestik. Karena itu sebagai pengusaha minoritas harus optimis menatap masa depan dengan memperkuat kualitas produk dan

membuat sesuatu yang khas sehingga kita mempunyai brand dan siap bersaing,” ucapnya. “Dengan mengikuti pameran seperti ini, pelaku usaha juga bisa membuka wawasan tentang

produknya, karena darisini bisa melihat keinginan/selera pasar dan kekuatan pesaing,” imbuh Ketua HLC Gianyar Putu Fitri Ertaningsih. Upaya pengenalan local brand ini diterjemahkan salah satunya lewat lomba fashion show anak yang menekankan local content melalui penggunaan tekstil tradisional Bali yakni endek. Pengenalan tekstil tradisional Bali – endek sejak dini kepada generasi penerus kita adalah cara lainnya untuk merekatkan kecintaan anak-anak terhadap kekayaan budaya Indonesia khususnya Bali. Lomba fashion show anak (usia 4 tahun s.d. 12 tahun) dengan tema pa­ kain pesta dan kasual ini pun salah satu cara menanamkan pengetahuan kepada anak-anak juga orangtua agar tahu bagaimana berpakaian yang benar sesuai dengan umur. Anak tidak mengikuti pola berpakaian seperti orang dewasa, seperti yang diungkapkan oleh Ketua Tim Juri dari ISI Denpasar, Cok Ratna Cora didampingi juri lainnya IGAA Wlmas Hendyani Blanco, dan Komang Kasih. –ten

Para pengurus Iwapi dan HLC Gianyar

“KOPI PAHIT - KOPI MANIS ?” Salam Senyum, Ngopi yuk…. ajakan yang cukup familiar bagi telinga kita baik bagi orang-orang kantoran maupun orang yang kerja di sektor nonformal bahkan di kalangan pebisnis. Atau juga berita terhangat tentang ngopi yang menimbulkan “korban”. Hmmm…berita kopi memang selalu menarik untuk dibahas. Apalagi di kala musim penghujan seperti ini. Suasana dingin di kala hujan atau sesaat setelah hujan turun, membuat ajakan ngopi menjadi magic word yang sulit untuk ditolak kalau kita tidak sedang dalam menyelesaikan suatu pekerjaan/bisnis yang sangat penting atau urgent. Namun, kali ini saya mencoba membuat sebuah metafora kopi dengan proses layanan yang tetap menjadi tema sentral saya. Ya… kopi, serbuk hitam yang berasa pahit ini mampu menjadi mediasi ‘penghangat suasana’. Suasana kaku menjadi rileks. Suasana formal menjadi sedikit lebih informal dan lain sebagainya. Pahit tapi mampu merubah suasana menjadi manis. Masih ingat dengan kejadian beberapa waktu lalu, ketika seorang customer dengan kata-kata yang pahit (sepahit kopi tanpa gula), memberi kritikan terhadap layanan yang diberikan. Sebagai customer service yang tentunya merasa sudah melayani dengan baik, akan merasa down, merasa dipermalukan, bahkan bisa sakit hati (sakitnya tuh di sini kata Cita Citata). Menjadikan sesuatu yang pahit menjadi sesuatu yang manis dalam layanan itu sebenarnya sangat menantang. Malah, pakar layanan menyebutkan bahwa “kegembiraan didapat dari keluhan pelanggan” Waahh…bagaimana mungkin keluhan bisa menjadikan gembira ya..heheheh. Ada beberapa hal yang bisa membuat kegem-

biraan jika kita mendapatkan hal yang “pahit” dari keluhan, kritikan, masukan customer. Coba kita urai satu persatu. Yang pertama..bukankah dengan adanya kritikan kita akan lebih menyoroti hal-hal yang membutuhkan perbaikan. Contoh.. seorang customer mengeluh tentang seorang customer service yang tidak bisa menangani keluhan dengan baik. Atau tidak tuntasnya customer service menangani keluhan dari nasabah. Nah, kalau ada seperti ini, artinya kita diingatkan untuk berlatih, mendalami lagi cara menangani dan menuntaskan masalah jika nasabah mengeluh. Yang kedua, bukankah dengan adanya kritikan kita bisa memperbaiki sistem atau prosedur yang berlaku, karena mungkin sudah tidak relevan lagi diterapkan. Contoh, seorang customer mengeluh karena menunggu terlalu lama untuk dilayani. Melihat keluhan tersebut kita bisa koreksi prosedur dari seorang custumer service yang dapat menghambat kenyamanan dari service.Tentunya tidak mengurangi keakuratan dari hasil layanan tersebut. Yang ketiga, bukankah dengan kritikan dari customer (yang bersifat membandingkan) itu kita akan tahu informasi intelijen yang kompetitif yang memberitahu secara gratis apa yang dilakukan oleh kompetitor kita. Contoh, customer mengeluh hadiah yang diberikan tidak sebagus yang dia dapatkan dari tempat lain. Haaa…ini yang biasanya sering terlupakan. Padahal tanpa harus capek menjadi mistery guest ke tempat lain kita sudah tahu apa yang kompetitor lakukan terhadap customer-nya. Yang keempat, bukankah dengan adanya kritikan customer kita akan dapat mengidentifikasi customer yang mana saja cocok untuk kita undang dalam testcase sebuah peluncuran produk baru. Nah, ini menarik. Biasanya dalam meluncurkan program ataupun produk baru kita bingung dan bertanya-tanya, kira-kira bisa laku atau tidak di pasaran, dan para pengkritik pahit bisa dimanfaatkan dalam hal ini..

So… artinya banyak hal lain lagi yang bisa merubah kepahitan menjadi manis. Tentunya semua tidak terlepas dari kita sendiri. Mau apa tidak kita mempelajari apa yang dikeluhkan customer. Kemudian perubahan apa yang kita lakukan dari kritikan yang pahit itu agar menjadi manis. Dan perlu diingat, kritikan biasanya juga tidak hanya dari customer eksternal saja. Tetapi kritikan juga datang dari internal perusahaan. Baik dari bawahan kita, ataupun orang yang dianggap senior (pegawai dengan masa kerja lama) dalam perusahaan tersebut, dan tentunya tidak memandang hirarki dari sebuah jabatan saja. Dan, ini berat karena membutuhkan kebesaran hati dan menurunkan ego jabatan untuk bisa menerima kritikan. Kembali ke judul di atas, Kopi pahit, kopi manis… Ternyata istilah kopi pahit karena kritikan/keluhan cutomer dapat kita jadikan manis dengan persepsi 1.Customer tersebut punya loyalitas yang tinggi terhadapat perusahaan kita. 2. Mengingatkan kita untuk introspeksi terhadap layanan juga produk kita saat ini 3. Pandangan dari orang lain (pengguna dari layanan/ produk) kita itu lebih netral dari pada menilai diri sendiri 4. Bahwa kita bisa belajar dari apa dan siapa saja. Baik dia sebagai bawahan/atasan, baik yang suka atau tidak suka, perempuan atau laki- laki, dan lain sebagainya. Jadi, mari kita sebagai seorang pelaku service yang excellent selalu menjadikan sesuatu untuk perubahan yang lebih baik.Seperti kata orang bijak bilang, “Hal paling urgent yang dibutuhkan untuk mengubah manusia adalah mengubah pola pikirnya” (abraham maslow)… ayoo..segera lakukan dengan pelayanan yang ramah, kemudian berikan solusi yang benar, dan tentunya jangan lupa, tetaplah tersenyum dari hati dengan tulus. Dengan melakukan hal tersebut saya yakin. Kopi pahit akan menjadi manis. Salam 3SP Salam senyum Sang Penyihir Sri Sumahardani.

19

Josavat Bambang

Koleksi 30 Ponsel Dari ponsel jadul hingga ponsel terbaru dimiliki pria kelahiran Semarang 4 Agustus 1975. Area Manager Setia Utama Distrsindo (SUD) Jatim, Bali, dan Nusra, Josavat Bambang ini memiliki lebih dari 30 unit handphone (hp) dengan berbagai merek dan jenis. Bahkan beberapa ponsel miliknya sudah tidak bisa dipakai karena terlalu lamanya hp tersebut.

“B

anyak sekali, sebenarnya tidak bermaksud untuk koleksi. Awalnya saya merasa kalau jual harga turun. Dari pada merasa rugi, akhirnya saya tidak jual. Saya biarkan saja, sampai beberapa ada yang mati dan tidak bisa dipakai,” kata pria yang memiliki 2 orang anak ini. Ia mencontohkan, ponselponsel lama yang dibeli jutaan ketika dijual harganya sudah jatuh. Namun, jika dipertahankan, maka kita akan ketinggalan teknologi dan style. “Jadi dibiarkan saja menumpuk, ingin beli baru ya ganti tanpa harus jual,” paparnya. Pria yang suka travelling ini mengaku suka sekali teknologi yang ada di handphone. Ia mengaku, paling lama 6 bulan hingga 1 tahun memakai ponsel. Selanjutnya akan ganti untuk produk baru ataupun brand baru yang sesuai dengan kebutuhannya. Ditunjang dengan pekerjaannya yang berkecimpung didunia perponselan. Memuluskan hobinya dalam selalu up-date ponsel. Pada 2008 lalu, Josavat mulai terjun didunia perponselan menjadi Sales Manager, ke-

mudian Branch Manager wilayah Jatim, Bali, Nusra. Pada 2014, ia pun kembali berkecimpung di perponselan pada brand Advan sebagai Regional Manager Jatim, Bali, Nusrah. Dan kini, di SUD sebagai Area Manager Jatim, Bali, Nusra. “Saya harus ikuti perkembangan, kalau dulu. Saya sering bongkar-bongkar ponsel supaya menarik dilihat. Baik casing, diberi hiasan sinyal atau dipermak. Sekarang kan tidak bisa, kalau mau diganti ya ganti ponsel saja,” akunya. Karena itu, ponsel miliknya hingga menumpuk. “Sekarang sebenarnya ketika ingin ganti, ada kecenderungan untuk menolak. Karena harus pindah data dan itu membuat saya malas rasanya untuk berganti,” katanya. Sehingga beberapa ponsel dibawa kemana-mana untuk dipakainya lebih dari satu. Ditanya ponsel apa yang ia suka, tentunya sesuai kebutuhan dan sesuai dengan teknologi terkini. “Karena ponsel sekarang ini menjadi style dan kebutuhan. Tidak seperti dulu awal mula yang hanya dipakai untuk komunikasi telepon dan sms,” kata dia.

Ia mengaku jika ada ponsel baru kudu mencobanya. Supaya tidak ketinggalan perkembangan. Cocok sekali dengan bidang pekerjaannya dibidang perponselan. Tentunya pekerjaannya benar-benar dinikmati karena bidang dan hobinya sesuai. Apalagi hobi travellingnya bisa juga

dilakukan saat tugas luar kota. Lengkap sudah, lalu bagaimana dengan keluarganya. “Keluarga mendukung, meski tidak tinggal disini namun mereka tetap mendukung. Tidak masalah, karena saya setiap bulan juga selalu pulang ke rumah (Semarang),”

Makin banyaknya produk baru smartphone dapat diartikan pasar smartphone akan terus tumbuh. Apalagi beberapa vendor menciptakan terobosan baru dengan berbagai cara untuk menarik minat pembeli. Tak hanya itu, beberapa merek elektronik juga mencoba untuk membuat smartphone sebagai salah satu pelengkap. Hingga 2016 ini diprediksi juga akan terus tumbuh, apalagi dengan perkembangan teknologi yang terus berkembang. Hal yang sama juga harus dilakukan pada distributor handphone. Semua harus bisa membaca dan memprediksi pasar untuk mendapatkan penjualan yang melebihi target. Salah satu distributor handphone Setia Utama Distrisindo (SUD), Area Manager SUD Jatim, Bali, Nusrah, Josavat Bambang, kita harus bisa membaca trend pasar.

jawabnya. Ia berharap, dipekerjaannya yang baru ini bisa menjadi terus berkembang dan “harapan saya untuk SUD bisa diterima dimasyarakat dan dikenal di masyarakat. Karena SUD belum begitu familiar,” pungkasnya. –Diyah

“Untuk saat ini, trend pasar masih didominasi brand, karena gaya hidup masyarakat sekarang lebih ke branded. Selanjutnya yang dilihat adalah spec dan modelnya,” ujar Josavat. Ia menambahkan, untuk tahun ini dan tahun-tahun selanjutnya diperkirakan terus tumbuh. Hal ini dikarenakan makin berkembangnya teknologi yang dibarengi dengan sistem operasi yang terus ter up-date. Sehingga terus bisa diterima pasar. Apalagi sistem android ini menjadi favorit karena cepatnya up-date. Mulai dari Android Alpha, Beta, Cupcake, Donat, Eclair, Froyo, Ginger Bread, Honey Comb, Ice Cream Sandwich hingga Marshmallow. “Jadi selain brand, sistem operasi yang dikembangkan juga berpengaruh terhadap daya beli masyarakat. Mereka memilih sesuatu yang terus berkembang. Selain memilih brand atau branded,” terang pria kelahiran Semarang, 1975. Meski demikian, beberapa brand lokal juga tetap diminati. Meski prosentasenya masih didominasi brand-brand terkenal. Selain itu, sistem operasi lain pun juga masih diminati seperti ponsel feature phone, phone, bar dan lainnya. “Sehingga pertumbuhan smartphone ini secara menyeluruh. Bukan saya pada brand besar dan sistem operasi yang booming saat ini yakni android. Para vendor handphone akan terus membuat gebrakan baru dengan menghadirkanpilihan produk yang sesuai kebutuhan masyarakat,” katanya. Namun, satu yang akan di lakukan yakni nantinya akan menghapus jaringan 2G. Hal tersebut yang santer dibicarakan. Bukan ponselnya, jaringannya. “Karena, ponsel mengikuti perkembangan teknologi. Otomatis jaringan puh harus mengikuti,” pungkasnya. -Diyah


20

Nine

Edisi 887/ 8 - 14 Februari 2016

Mala Sugiharti

Sulap Sampah Plastik jadi Tas Cantik

Dari sebuah rumah sangat sederhana di tengah kampung Mambalan di Desa Mambalan Gunung Sari Lombok Barat, mesin jahit para penjahit kerajinan sampah plastik terus berputar merajut harapan akan baiknya kehidupan ekonomi mereka. Di rumah inilah, Mala bersama ibu rumah tangga lainnya serta gadis remaja tampak tengah asyik melakukan aktivitas menjahit kerajinan yang terbuat dari sampah plastik. Sampah plastik yang biasanya berakhir di tong sampah ini menjadi berbagai koleksi tas cantik, tempat tisu, dompet, tempat botol, keranjang dan koleksi unik lainnya di tangan perempuan Desa Mambalan yang menekuni pekerjaan ini.

kai serta menjahit material dari sampah plastik ini hingga menjadi produk kerajinan bernilai tinggi, telah mengundang satu persatu ibu rumah tangga dan gadis-gadis di sekitar rumahnya yang akhirnya turut tertarik untuk mengerjakan apa yang telah dikerjakannya tersebut. “Sekarang banyak yang ingin belajar menjahit kerajinan sampah ini, karena dari pekerjaan ini saya mendapatkan penghasilan yang lumayan sehingga Produk tas dari sampah plastik yang dijahit secara manual dapat membantu ekonomi ara perempuan penjahit kerajinan keluarga kami,” ujar Mala. dari limbah plastik ini, adalah Menurut Mala, selama setahun terakhir, satu dari beberapa tempat yang tiap hari, ia menyempatkan waktu bekerja dijadikan oleh Bank Sampah (menjahit) kerajinan dari pagi hingga sore hari, NTB Mandiri sebagai sentra untuk menjahit menyelesaikan dua buah tas atau 10 dompet produk-produk dari sampah plastik ini seperti ukuran kecil. Ongkos menjahitnya lumayan di tiga ‘kelompok binaan’ BSNTBM lainnya, tergantung tingkat kerumitannya. Ongkos yaitu di Bintaro (Mataram), Lingsar dan dan untuk menjahit sebuah tas dengan model yang Masbagik Lombok Timur “Ke depan, Mambalan akan menjadi sentra untuk penjahitan kerajinan sampah ini,” ungkap Aisyah Odist, pengelola BSNTBM yang juga aktivis lingkungan yang menggerakkan para ibu rumah tangga dan remaja putri untuk terlibat aktif dalam salah satu proses pembuatan kerajinan ini. Memang, belum banyak perempuan yang terlibat dalam penjahitan kerajinan tersebut. Namun berawal dari Mala Sugiharti (27), penjahit kerajinan sampah yang sejak setahun lalu Bahan sampah plastik yang siap dijahit untuk dijadikan berbagai produk bernilai tinggi mulai mempelajari dan merang-

P

Mala Merintis Menjahit Kerajinan Limbah Plastik

Aktivitas ibu-ibu rumah tangga di Mambalan yang menjahit kerajinan dari sampah plastik

Kini, ia bahkan mulai mengajari para ibu rumah tangga lainnya juga remaja putri yang tinggal di sekitar rumahnya untuk ikut menjahit kerajinan dari sampah plastik ini sehingga mereka nantinya akan memiliki

pekerjaan yang bisa menghasilkan seperti dirinya. Di kampung Mambalan, kalangan ibuibu mulai tertarik untuk mengikuti jejak Mala yang kini bisa memiliki penghasilan sendiri. Beberapa di antaranya yang telah terlibat dalam aktivitas menjahit kerajinan ini adalah, Munaini, Evi Hartini, Baiq Hadijah, dan Baiq Hafazatul Huknin yang sebelumnya bekerja sebagai pembungkus kerupuk terigu. Mala yang menjadi perintis menjahit kerajinan di kampungnya ini, kini tengah asyik berbagi ilmu dan keterampilan menjahit kerajinan sampah kepada rekan-rekannya. Karena ia tahu, menjahit kerajinan dari sampah plastik ini dapat memberikan pendapatannya yang jauh lebih baik dibanding menjadi buruh pembungkus kerupuk. -Naniek I. Taufan

Inspirasi

Edisi 887/ 8 - 14 Februari 2016

Baby Jim Aditya

5

LGBT bukan Pilihan tapi Given

Ribut-ribut masalah LGBT (lesbian, gay, biseks, transgender) yang sampai sekarang masih menjadi salah satu trending topic, Baby Jim Aditya tampil dengan suara berbeda dari kebanyakan tokoh yang menyebut bahwa menjadi LGBT adalah pilihan. Baby dengan tegas menyatakan pendapat itu keliru. LGBT bukan pilihan tetapi given.

Mala Sugiharti (kiri baju hijau), bersama ibu rumah tangga menjahit berbagai kerajinan dari sampah plastik yang memberikan mereka penghasilan yang cukup

relatif rumit mencapai Rp 50 ribu. “Kalau tas bisa dapat menjahit dua buah tas sehari atau bisa 10 dompet sehari. Ongkos membuat dompet Rp 5 ribu,” kata Mala. Mala Sugiharti, termasuk yang beruntung karena memiliki kemauan dan tekun belajar untuk menjahit kerajinan sampah plastik ini meski tidak memiliki kemampuan dasar menjahit yang mumpuni. “Saya hanya bisa menjahit pakaian yang robek, tidak pernah belajar menjahit secara khusus,” katanya. Namun, karena ia terus bekerja keras untuk itu, kini ia memiliki

keterampilan menjahit kerajinan yang bisa memberinya penghasilan yang cukup. Dengan keterampilan ini, ia bisa menyumbang ekonomi keluarga sekitar satu juta rupiah dalam sebulan. Tentulah ini menjadi pegangan yang tidak main-main bagi Mala yang seorang ibu rumah tangga yang tadinya sama sekali tidak memiliki keahlian apa-apa. Hasil kerja Mala menjahit kerajinan ini terbilang rapi dan menjadikan produk tersebut layak dipasarkan bahkan menurut Aisyah Odist hingga Australia dan Jepang. -Naniek I. Taufan

P

enegasan itu perlu disampaikannya karena dia merasa prihatin dengan banyak tokoh berbicara salah tentang masalah orientasi seksual. “Seharusnya pejabat ataupun tokoh memberi statement dengan hati-hati, tidak gegabah, karena bisa terkesan seolah mendiskriminasi kelompok tertentu. Untuk memberi statement tentang orientasi seksual harusnya si pejabat atau tokoh memahami dahulu masalah tersebut sehingga tidak sembarangan mengeluarkan pernyataan,” papar kandidat doktor Universitas Indonesia, ini. Pakar seksologi ini bertutur, orientasi seksual itu pembentukannya dibuat di otak manusia sejak berada dalam rahim. Ketika janin berumur 3-4 bulan, ketertarikan itu sudah terbentuk. Jadi katanya, ketertarikan itu sifatnya given. “Jadi tidak benar kalau menyebut menjadi LGBT itu adalah pilihan orang. Itu adalah padangan yang keliru.” “Karena itu adalah sebuah given maka seorang yang LGBT disuruh menjadi het-

eroseks, tentu tidak bisa. Atau sebaliknya, orang heteroseks disuruh menjadi homoseks, juga tidak bisa. Jadi penjelasannya hanya sesederhana itu, sebenarnya,” kata Baby yang bertahun-tahun melakukan penelitian tentang prilaku seksual manusia. Untuk menjelaskan orientasi seksual, Baby menggunakan istilah dalam statistik yang disebut distribusi normal. Kalau menurut sebaran distribusi normal, katanya, yang banyak adalah heteroseksual (orang yang tertarik pada lawan jenis). Karena yang dalam kurva distribusi normal itu yang terbanyak adalah heteroseksual maka norma-norma yang dibentuk di masyarakat pun mengikuti norma dari kalangan yang jumlahnya terbanyak. Lalu Baby pun memberi sebuah contoh. “Misalnya, kalau di Indonesia orang yang dominan itu menggunakan tangan kanan sebagai tangan dominan. Maka distribusi normalnya adalah norma mengikuti dominan tangan kanan. Lalu, apakah berarti kalau yang dominan menggunakan tangan kiri atau kidal, berarti seorang pendosa? Atau cacat atau abnormal ? Ya bukan dong! Dia hanya tidak masuk dalam sebaran distribusi normal itu. Karena kita tahu, dia dominan tangan kanan atau kiri,kan bukan karena dia yang minta atau yang dia inginkan, tapi dikasih Tuhan. “ “Begitu juga dengan masalah LGBT. Karena soal ketertarikan itu sifatnya given. Mau ditutupi pakai apapun dia adalah seperti itu. Dia hanya bisa menjadi adaktif, mengikuti tuntutan paham sosial,” tambahnya. TOPENG SOSIAL PERNIKAHAN SEMU Baby yang sehari-hari berpraktek di kliniknya menjelaskan bahwa banyak pasien yang datang padanya mengalami hal tersebut. Pasien-pasien yang seumur hidupnya hanya tertarik pada jenisnya, entah itu laki-laki ataupun perempuan,

namun karena tuntutan sosial yang begitu kuat, mereka terpaksa ‘bertopeng’. Tuntutan sosial membuat mereka menjalani pernikahan semu. “Kondisi ini membuat mereka mengalami frustasi yang berkepanjangan karena terpaksa ‘bertopeng’ untuk menjalani kehidupannya.” Ngomong soal ‘topeng sosial’ kata Baby lagi, jangankan orang yang dianggap minoritas seperti homoseks, lesbian dan biseks, mereka yang dari golongan heteroseks pun banyak yang menggunakan ‘topeng sosial’ dalam kehidupannya. “Kalau kamu punya selingkuhan, kan, nggak ngomong-ngomong di acara keluarga, di acara-acara komunitas tempat kamu biasa berkumpul. Jadi kita akan selalu memakai topeng sosial untuk memenuhi tuntutan masyarakat di mana kita berada. Kita menggunakan topeng hetero normatif karena norma-norma ditentukan oleh kelompok-kelompok yang dominan,” jelasnya. Terkait dengan masalah LGBT yang tengah ‘ramai’ ini, menurutnya, media sangat berperan dalam mengedukasi masyarakat , bukannya ikut larut dalam keributan sehingga membuat masalah menjadi semakin keruh. Untuk mengedukasi masyarakat, tentunya dibutuhkan wawasan dan pengetahuan tentang hal ini. “Karena yang dibutuhkan masyarakat adalah edukasi, apa itu orientasi seksual,” ujarnya. Selama ini, ujarnya, kita tidak memiliki pendidikan seks sebagai wadah untuk memahami perbedaan orientasi seksual. Pendidikan seks sejak dini sangat diperlukan. “Pendidikan ini hanya bisa dijelaskan dalam pelajaran tentang seksual bukan pelajaran lainnya. Dalam pendidikan seksualitas, secara bertahap hal ini bisa dijelaskan bahwa orientasi seksi itu lebih dari dua, dan itu bukan biner.” “Biner itu dikotomis, seperti misalnya kiri-kanan, hitam-putih. Yang ingin saya katakan adalah ini bukan biner tapi adalah kontinum, yakni, suatu garis yang terus sepanjang rentang kehidupan. Seksualitas adanya di kontinum bukan

Bab y Jim Adit ya di biner. Dalam pendidikan seks diajarkan bahwa di dalam dunia yang dibentangkan Tuhan, ada banyak perbedaan,” jelasnya panjang lebar. Penjelasan-penjelasan seperti ini, tambah peraih ‘Inspiring Woman Award’ ini, sangat diperlukan agar masyarakat mengerti. “Penjelasan yang penuh diskusi agar mengerti, bukan dogmatis seperti salah-benar. Karena kalau itu yang terjadi maka keributan terus saja terjadi setiap kali masalah ini muncul”. Kita, lanjutnya, tidak bisa selalu ribut sementara ada banyak anak-anak yang lahir dengan orientasi berbeda (di luar heteroseksual). “Lihat saja ada banyak anak-anak SD yang sudah memiliki ketertarikan pada sesama jenis. Tapi pada akhirnya mereka hanya disalahkan dan terlempar dari dunia pendidikan. Ketika besar, dia kan butuh makan, siapa yang mau kasih makan? Dia kan harus cari uang, tapi siapa yang mau mempekerjakan karena hanya sekolah SD?” Karenanya, tambah Baby lagi, memberi edukasi kepada masyarakat itu sangatlah penting. “Inilah tugas media massa, para tokoh juga pejabat. Jangan memberi statement yang salah karena akan membuat banyak orang terpengaruh dengan statement itu. Kalau kita tidak berubah, kita hanya muter-muter di situ, tidak akan kemana-mana. Dan masalah seperti ini (keributan) akan terus berulang,” katanya. -Diana Runtu


4

Inspirasi

Edisi 887/ 8 - 14 Februari 2016

Mandalika

Edisi 887/ 8 - 14 Februari 2016

21

Puncak Peringatan HPN 2016 di NTB akan Dihadiri Presiden Jokowi

Berbagai kegiatan menyambut Hari Pers Nasional tahun 2016 di Lombok Nusa Tenggara Barat telah dimulai sejak 4 Februari 2016 hingga puncak acara yang akan dihadiri oleh Presiden RI, Joko Widodo, tanggal 9 Februari 2016. Dibuka dengan kegiatan donor darah yang diikuti oleh 150 pejabat dan wartawan serta TNI dan Polri di Mataram, pada tanggal 4 Februari 2016.

Budi Wahyuni

Susun Pakta Integritas

Meski sudah ada ‘payung hukum’ yang jelas namun kasus kekerasan terhadap perempuan tetap tinggi bahwa cenderung meningkat setiap tahun. Kasus terbaru dan terbilang cukup menghebohkan adalah kasus penganiayaan Dita Aditya, staf ahli anggota DPR RI, Masinton Pasaribu. Dita yang mata sebelah kirinya lembam melaporkan kepada pihak kepolisian dirinya dipukul Masinton Pasaribu yang tak lain adalah bosnya.

T

erkait kasusnya, Dita selain melaporkan kepada pihak kepolisian, dia juga menyerahkan penanganan perkaranya kepada LBH APIK Jakarta, serta meminta perlindungan kepada Komnas Perempuan. Kasus ini sudah masuk pada proses hukum. Dita sudah lapor ke polisi dan MKD (Mahkamah Kehormatan Dewan) DPR RI. Perkara Dita sudah ditangani LBH APIK Jakarta. Komnas Perempuan

tidak bisa menangani kasus per kasus. Sesuai mandatnya, Komnas memberi dukungan sepenuhnya kepada korban untk memroses secara hukum. “Komnas Perempuan mendukung penuh Dita, karena dalam beberapa pengalaman, perempuan karena relasi power yang kurang, sulit mendapat keadilan. Jadi intinya Komnas Perempuan, tentunya setelah ditelaah kembali, akan memberikan semua dukungan yang diperlukan,” ungkap Wakil Ketua Komnas Perempuan,

Budi Wahyuni

Budi Wahyuni, kepada Tokoh. Salah satu bentuk dukungan yang diberikan antara lain adalah surat yang akan dikirimkan ke Mabes Polri agar memroses perkara tersebut dengan cepat, juga masalah proteksi terhadap korban, dan melindungi hak-hak korban untuk mendapat asas keadilan dan kebenaran. Soal memfasilitasi pertemuan antara korban dan terduga pelaku, menurut Budi, itu tidak dilakukan oleh Komnas Perempuan. “Mempertemukan? Untuk apa? Semalam dalam sebuah siaran ada ajakan dari pihak Masinton untuk musyawarah. Saya pikir, itu tidak bisa. Ini penganiayaan, itu adalah ranah hukum, jadi harus diselesaikan secara hukum. Kalau musyawarah, katakan lah ada ganti rugi, tapi ganti rugi seperti apa yang bisa dihitungkan untuk menggantikan suatu penderitaan perempuan, misalnya segi psikologis maupun lain lain? Kalaupun nanti ada proses perdamaian, menurut saya, harusnya proses hukum tetap ditempuh,” tegas Doktor Public Health Universitas Gadjah Mada, itu. Dalam sejumlah kasus korban yang melawan seorang yang berkuasa terkadang malah dikalahkan, atau bahkan mendapat serangan balik. Mengomentari hal ini, Budi mengatakan, karenanya ia meminta agar korban (Dita) harus mengumpulkan banyak bukti guna menghindari hal-hal seperti itu.

“Kita berharap agar jangan sampai terjadi korban dijadikan korban lagi. Kita cegah itu. Tapi kita percaya bahwa aparat penegak hukum dapat menyelesaikan perkara ini secara objektif,” tuturnya, sembari juga berharap, agar Masinton sebagai pihak yang dilaporkan bersikap akomodatif dan memberikan informasi yang sebenarnya. Wanita yang menempuh pendidikan beragam ilmu di antaranya ekonomi, manajemen dan medical antropology di Universitas van Amsterdam, Belanda, ini, berharap agar kasus ini bisa menjadi efek jera bagi pejabat publik. Karena menurutnya, pakta integritas itu termasuk di dalamnya adalah integritas untuk menghapuskan segala bentuk kekerasan, khususnya kekerasan terhadap perempuan. “Nah ini tantangan juga bagi partai-partai tertentu yang sudah menyusun seperti itu, apakah kemudian kader-kadernya sudah menandangani pakta integritas itu?” ucap dosen Program Magister Studi Kebijakan Universitas Gadjah Mada dan Staf Peneliti PSKK UGM, dengan nada bertanya. Terkait tindak kekerasan terhadap wanita yang terus terjadi, bahkan meningkat, sekalipun sudah ‘dibentengi’ dengan payung hukum, Budi Wahyuni lebih dulu menjabarkan tentang komponen hukum yang menurutnya ada tiga, yakni; konten, struktur dan kultur. “Kalau sudah ada payung hukum, namun tidak bisa dijalankan, harus kita lihat bagaimana strukturnya, kulturnya. Saya merasa bahwa masalah penghapusan kekerasan terhadap perempuan terkait dengan nilai-nilai yang tidak bisa dipisahkan dengan kultur,” jelas wanita kelahiran 1958, ini. Kultur kita, lanjutnya, masih sangat patriarki, bahkan selalu

menempatkan perempuan sebagai pemicu, perempuan yang harus ditertibkan, perempuan yang harus dididik, perempuan yang salah, dll.”Ini yang harus kita cermati bersama”. SUBJEK HUKUM Ada sebuah diskusi formal juga informal yang dia dengarkan. Dalam diskusi itu--- Budi mengutip omongan dalam diskusi itu ---disebutkan ‘kata polisi yang menerima laporan itu, Dita berbau alkohol’. Ini, jelas Budi, sama dengan sudah men-judge- atau mengadili. “Ini kan sudah menjudge-toh! Apakah kalau orang minum bir mengaku-ngaku, ini kan seolah-olah seperti itu. Kalau orang habis minum bir, trus ngomong, kan bisa juga berbau alkohol. Apakah berbau alkohol itu sama dengan mabuk?” Berdasarkan pembicaraan itu, kata Budi lagi, seolah sudah diberi stigma.”Pulang malam, misalnya dari cafe. Nggak usah jauh-jauh kasus Jessica misalnya, juga yang ditonjolkan cafe-nya. Ada apa dengan cafe? Jadi artinya terstigmakan sekali ya, minum di cafe malam hari bukan perempuan baik-baik. Orang mengatakan, tuh kan, coba kamu jadi perempuan yang baik-baik. “ Nilai-nilai itu, katanya, tidak bisa dilepaskan dalam budaya patriarki. Untuk ‘membongkar’ ini, diperlukan upaya bersama semua pihak. Ini merupakan ‘PR’ besar karena memang harus membongkar isi dari cara pandang masingmasing orang. “Ini membutuhkan komitmen bersama, khususnya negara,” tandasnya. Jadi katanya lagi, perjuangan penghapusan kekerasan terhadap wanita masih panjang. “Ini adalah perjuangan bersama, kalau kita melihat bahwa perempuan adalah subjek bukan objek. Perempuan sebagai warga negara yang perlu ditempatkan sebagai subjek hukum,” katanya. –Diana Runtu

Gubernur NTB dalam kegiatan donor darah dalam rangka Hari Pers Nasional

K

egiatan sosial ini dilakukan sebagai momen untuk berbagi dengan mereka yang membutuhkan. Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi menilai kebersamaan merupakan kunci untuk membangun NTB yang kuat dan kebersamaan tersebut tidak hanya sebatas ucapan, namun harus terwujud dalam upaya nyata. “Salah satu ukuran kebersamaan itu adalah kesediaan kita untuk berbagi. Berbagi sesuatu yang dapat membawa manfaat bagi orang lain. Dan donor darah merupakan bukti nyata untuk mengangkat nilai-nilai kebersamaan dan kemanusiaan

kita,” ungkap Majdi saat berada di lokasi donor darah di Aula RRI Mataram. Dalam kegiatan yang diinisiasi Palang Merah Indonesia (PMI) NTB, Gubernur menyampaikan bahwa donor darah merupakan salah satu betuk amal perbuatan yang akan merawat dan menjaga sisi-sisi kebersamaan seseorang. “Donor darah tidak hanya bermanfaat bagi seseorang yang memanfaatkan darah kita, namun juga bermanfaat bagi kesehatan pendonor,” ujarnya. Karena itulah, ia berharap donor darah dapat terus digalakkan di seluruh wilayah NTB, agar mereka yang mem-

butuhkan tidak kekurangan darah khususnya yang berada pada masa kritis yang sangat membutuhkan darah. Menurut Kepala Biro Humas dan Protokol H. Yusron Hadi, selain kegiatan donor darah ini juga akan dilaksanakan operasi bibir sumbing dan operasi hernia yang dihadiri langsung oleh Presiden RI Joko Widodo pada 9 Februari 2016. Dan pada tanggal 8 Februari 2016 akan diselenggarakan Forum Investasi Bersama yang diikuti oleh 14 duta besar dan 7 perwakilan dari negara-negara sahabat serta 9 wartawan asing. Kepala BPKM-PT Ir. Ridwansyah, MTP., mengatakan bahwa

Donor darah Hari Pers Nasional 2016

Forum Investasi Bersama adalah ajang meningkatkan potensi investasi di Provinsi NTB, terutama dalam bidang pariwisata seperti Mandalika Resort, Global Hub, dan Kawasan Wisata Samota. “Oleh karena itu, kami mengundang secara khusus menteri komunikasi Malaysia,” ungkap Ridwan. Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat selaku tuan rumah HPN 2016, terbilang serius dalam

menyambut tamu-tamu yang akan datang dari seluruh Indonesia. Bahkan antisipasi terhadap segala kemungkinan yang di luar kendali yang dapat menghambat jalannya kegiatan telah dilakukan dengan maksimal, seperti halnya perubahan cuaca khususnya hujan. “Kita harus dapat mengantisipasi adanya perubahan cuaca,” kata Wakil Gubernur NTB, H. Muhammad Amin. -Naniek I. Taufan

NTB Tuan Rumah Perayaan Imlek Bersama Selain sebagai tuan rumah Hari Pers Nasional 2016, tahun ini juga Kota Mataram Nusa Tenggara Barat, akan menjadi tuan rumah perayaan bersama tahun baru Imlek 2016. Pada perayaan Imlek bersama ini, diprediksi Kota Mataram akan kedatangan lebih dari 5.000 orang tamu yang datang dari berbagai daerah dan sejumlah negara. “Kegiatan perayaan bersama Imlek 2016 itu merupakan tahun pertama dan Kota Mataram dipercaya sebagai tuan rumah,” kata Prajadi Agus Winaktu, Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) NTB, ketika bertemu Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi. Menurut Agus yang datang bersama beberapa anggota Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB), dipilihnya Mataram sebagai tuan rumah puncak perayaan

Gubernur NTB bersama Panitia Imlek 2016 dan FKUB NTB

Imlek bersama pada tanggal 20 Februari 2016 ini berdasarkan hasil rapat koordinasi dengan Konjen Tiongkok di Bali pada pertengahan Bulan Januari lalu. Tahun Baru

Imlek 2567 sendiri jatuh pada tanggal 8 Februari 2016. Puncak perayaan bersama Tahun Baru Imlek 2567 akan dipusatkan di sepanjang

Jalan AA Gede Ngurah Cakranegara. Beberapa agenda kegiatan telah disiapkan seperti kegiatan sosial donor darah dan pembagian bantuan kepada masyarakat kurang mampu serta berbagai hiburan yang akan menampilkan berbagai atraksi dan sirkus yang didatangkan langsung dari Tiongkok. Gubernur menyampaikan apresiasinya atas rencana perayaan Imlek di Mataram serta berharap semua rangkaian acara dapat berjalan lancar. Secara khusus Gubernur mengimbau agar keberagaman kegiatan di masyarakat dapat dijadikan kesempatan untuk mengokohkan kekompakan dan persaudaraan. “Kegiatan keagamaan, sosial dan kemasyarakatan harus kita muatkan dengan semangat persaudaran agar lebih mempererat persatuan antar seluruh elemen di masyarakat,” ungkap Majdi. -Naniek I. Taufan


22

Edisi 887/ 8 - 14 Februari 2016

Sosialita

Edisi 887/ 8 - 14 Februari 2016

3

One Day Service Suwarni Collection Kebaya tak ada matinya. Bahkan, kini kebaya tak hanya harus dipadupadankan dengan kain, namun, dengan rok atau celana juga membuat si pemakai terlihat anggun. Kebaya dapat dibuat aneka modifikasi, mau yang sederhana, atau berkesan mewah. Tergantung keinginan dan kesempatan, apakah untuk acara sembahyang, pernikahan, pergi ­kun­dangan, wisuda, atau yang lainnya.

A

nda ingin model terbaru atau kembali ke model tempo dulu, atau punya gaya sendiri. Silakan didiskusikan dengan Ni Luh Putu Suwarni. Perempuan asal Desa ­Anggungan, Badung, ini, siap melayani Anda dengan one day service. Seperti apa? Tak banyak butik yang melayani one day service. Apalagi, khusus kebaya. Peluang ini yang dilirik istri I Made Arta,S.E., M.M. ini, untuk dikembangkan ketika ia melihat banyak sekali para perempuan yang kebingungan bila mempunyai acara mendadak. “Banyak sekali pelanggan saya datang karena mau kundangan atau mau sembahyang bingung karena baru beli kain kebaya. Pengen cepat-cepat jahit baju,” kata ibu dua putra ini. Bahkan, ada cerita pelanggannya, seringkali tukang jahit menumpuk ­orderan sehingga kebaya yang harusnya selesai seminggu bisa jadi tiga minggu belum selesai, bahkan sampai sebulan. Hal ini tentu saja tidak terjadi di butik Suwarni Collection. Ia berprinsip, selalu ingin memuaskan pelanggan dan pelanggan adalah marketing berjalan. “Banyak yang datang ke sini karena mendengar dari teman atau saudaranya. Saya bersyukur, lama-kelamaan dari mulut ke mulut, pelanggan lumayan ramai.

Suwarni sedang melakukan fitting

Selalu saja ada pelanggan baru, selain konsumen tetap,” tutur perempuan usia 49 tahun ini. Suwarni juga memberi pelayanan prima dengan one day service yakni pelayanan cepat. Hanya dengan waktu tiga jam, kebaya bisa selesai. Namun, ia menjamin, hasilnya tetap berkualitas. Memang, ia mengakui, pelayanan cepat ini, juga dibarengi dengan harga yang sesuai dibandingkan dengan menjahit biasa. “Kalau one day service ­harganya dua kali lipat. Untuk ongkos jahit tergantung dari jenis kainnya. Harga berkisar dari Rp 75 ribu sampai Rp 350 ribu. Kalau one day service harganya dua kali lipat,” kata Suwarni. Saat ini, Suwarni dibantu enam karyawan, yang terdiri dari satu tukang potong dan lima tukang jahit. Satu hari, ia hanya bisa menerima 20 kebaya. Butik Suwarni Collection bisa dicari di Jalan Raya Mambal Latu, Br. Latusari, Kec. Abiansemal, Badung

dan di Jalan Ahmad Yani Utara Nomor 209 ­Denpasar. Anda bisa menghubungi ­nomor telepon 085935255100. ­Jam bukanya mulai pukul 09.00 sampai 18.00. Hari Minggu dan Hari Raya Besar tutup. Butik Suwarni tidak hanya ­menerima jahit kebaya, ia juga menjual baju kebaya siap jadi. Bahan kain kebaya dan kamen juga tersedia. Pelengkap busana seperti sandal dan tas juga ada. Untuk sandal, Suwarni punya tukang khusus. Di butiknya ada beberapa contoh yang bisa langsung dijual. Namun, kalau ­konsumen ingin model lain dan membawa contohnya, ia juga siap melayani.

di tempatnya yang sekarang. Awal berbisnis jahit kebaya, ia belum melayani one day service. Namun, belakangan ia seringkali kedatangan konsumen yang mau menjahit kebaya agar cepat jadi. Mereka tak masalah walaupun bayarnya lebih mahal. Dari satu dan beberapa orang, akhirnya, Suwarni berpikir untuk menerima pelayanan kebaya dengan cepat. Mulailah ia mempromosikan konsep butiknya dengan one day service. Ternyata, sambutan konsumen lumayan bagus. “Saya bersyukur konsumen puas,” kata Suwarni. Pelayanan prima Suwarni bukan

Suwarni bersama karyawannya

Harga sandal berkisar Rp 175 ribu sampai ­Rp 250 ribu. Dari PHK Punya Usaha Suwarni, tak menyangka, setelah puluhan tahun bekerja, akhirnya ia terkena PHK. Saat itu, ia bekerja di salah satu perusahaan swasta yang bergerak dalam bidang buku dan koran berbahasa asing. Setelah setahun beristirahat, ia mengumpulkan para perempuan yang bekerja di garmen yang bisa bekerja di rumahnya di ­Abiansemal. Ia menjadi pengepul untuk pakaian-pakaian turis asing. Bahkan, ia sudah pelanggan tetap dari AS dan Jerman. Namun, lama–kelamaan, Suwarni merasa jenuh dan tidak ada tantangan. Bisnisnya pun terkesan biasa-biasa saja. Melihat perkembangan baju kebaya, Suwarni mulai berpikir untuk beralih ke bisnis jahit baju kebaya. Awalnya, ia mengontrak toko di Desa Penarungan, Badung. Belum habis masa kontrak, ia sudah pindah dan menempati toko baru

hanya sebatas jahit kebaya super cepat. Namun, semua pelanggannya diberi pelayanan terbaik. Setelah kebaya selesai dijahit, ia meminta konsumen untuk langsung mencobanya. “Saya minta konsumen langsung fitting di depan saya. Pakai kain dan long torso,” kata Suwarni.

Saat fitting ia bisa melihat apakah ada kekurangan yang perlu diperbaiki. Kalau ada, ia langsung memperbaiki dalam hitungan menit. Konsumen bisa menunggu sambil duduk santai di butiknya. Suwarni memang tak mau main-main urusan kualitas. “Kadang, walaupun konsumen sudah puas, jika saya melihat masih ada kekurangan, saya sampaikan ke mereka. Saya perbaiki agar pas di badannya,” kata Suwarni. Menurut Suwarni, memakai kebaya harus pas di badan, agar terlihat anggun dan luwes. Karena itu, ia meminta konsumen selalu mencoba kebaya dengan langsung memakai long torso sehingga akan terlihat pas atau tidak. Untuk urusan ­pelayanan Suwarni memang selalu mengedepankan kepuasan pelanggan. Namun, siapa sangka, awalnya, Suwarni justru tak bisa menjahit. Ketika usahanya beralih ke bisnis jahit kebaya. Suwarni langsung belajar menjahit. Dalam waktu tiga minggu, ia kursus cepat dengan ­tantenya yang kebetulan jago menjahit. Ia belajar dari mulai mengukur, membuat pola, dan ­menjahit. “Walaupun awalnya tak bisa menjahit, mungkin karena rasa jengah akhirnya saya bisa,” kata Suwarni. Awalnya, Suwarni menjahit sendiri. Sekarang tugasnya hanya mengukur konsumen. Kini, ia sudah memiliki tukang jahit khusus. Namun, ia merasa, masih kekurangan tukang jahit, apalagi menjelang hari raya Hindu. Banyak

Koleksi butik Suwarni collection

sekali orderan, bahkan, ia sampai menolak karena merasa tak mampu mengerjakan. “Untuk mengembangkan bisnis, saya masih perlu lima tukang jahit lagi untuk membantu usaha saya,” kata Suwarni. Ia punya kriteria untuk tukang jahitnya. “Tukang jahit saya semuanya pengalaman kerja di garmen, jadi saya sudah tahu kualitas jahitannya,” kata Suwarni berpromosi. Walaupun berbisnis, Suwarni tetap menjalankan usahanya dengan sistem kekeluargaan. Itu terlihat dari sikapnya dengan karyawan. Malah, semua karyawannya bersama-sama ia ajak merintis usahanya dari semula. “Ada karyawan mulai bekerja dengan saya, dari gadis sampai sudah menikah dan sekarang punya anak SMP,” kata Suwarni dengan bangga. Sikap kekeluargaan juga ditunjukkan Suwarni kepada semua pelanggannya. Saat Tokoh bertandang ke butiknya, ia mengenal baik konsumennya dan sangat akrab berbincang-bincang. Saat ini, pelanggannya memang sebagian besar dari kabupaten Badung, mulai dari masyarakat biasa, sampai istri pejabat. Konsumen mulai dari anak-anak, remaja putri, dan ibu-ibu. Untuk menjaring konsumen dari Denpasar, ia sudah membuka butik di Jalan Ahmad Yani Denpasar. Anak sulung Suwarni yang mengelola, di sela-sela kesibukannya kuliah. Suwarni mempunyai target, agar bisa membuka butik di Kesiman. Ia tertarik karena wilayah tersebut masih jarang butik jahit kebaya. Sebenarnya, kata Suwarni, ada banyak permintaan dari Ubud, namun, ia belum mampu melayani. Saat ini, ia fokus dulu untuk konsumen Denpasar dan Badung. –Wirati Astiti


2

Ekspresso

Edisi 887/ 8 - 14 Februari 2016

GORO-GORO “Akhir tahun lalu hari Maulid Nabi Muhammad SAW dan hari Natal jatuh berdampingan. Koran Putu Wijaya nasional terkemuka langsung pasang kepala berita: Saatnya Rayakan Pluralisme,” kata Ami. “Ya!”sambut Amat semangat. “Kita di Indonesia memang memiliki banyak perbedaan, dari suku bangsa, adat-istiadat, pandangan politik, dan sebagainya, sampai agama. Kita saja di Bali, sama-sama Balinya, di Bali Utara, Kaja itu berarti Selatan, tapi di Bali Selatan, Kaja itu Utara!” “Betul! Banyak sekali perbedaanperbedaan kita di Indonesia. Tetapi itu bukan kekurangan, itu justru kelebihan. Betul, tidak, Pak?” “Memang!” jawab Amat lebih bersemangat lagi. Ia menambahkan, “Bapak jadi ingat, dulu entah tahun 59 atau 60, hari raya Idul Fitri dan hari Nyepi pernah jatuh pada hari yang sama. Pluralisme memang sudah merupakan darahdaging kita, seperti yang diungkapkan dalam: Bhineka Tunggal Ika.” Bu Amat muncul dari dapur, membawa ‘busung’ mau menjahit ‘canang’. “Dan sebentar lagi hari raya Imlek jatuh mepet dengan Galungan,” katanya nimrung. “Nah, itu dia,” sambung Ami.”Kita. dapat banyak bukti bahwa kita sudah lama hidup damai berdampingan dalam perbedaan, tapi kenapa ada orang yang tak bisa menerima ke-

akulturasi

kayaan kita itu sebagai aset nasional kita? Bukannya dibanggakan, tapi perbedaan malah digesek-gesekkan supaya membakar! Padahal bangsa lain, jangankan bhineka dalam banyak hal seperti kita, hanya beda antara dua suku saja, sudah meletuskan perang saudara berdarah-darah yang tak kunjung selesai? Kenapa itu, Pak” Amat tertegun. Ia coba memikirkan, “Mengapa kita yang sudah sejak lama sudah mampu hidup damai dalam perbedaan, kok sekarang seperti baru belajar ABC-nya pluralisme?” “Ya, karena ada yang menentang!” jawab Amat sendiri. “Padahal di dalam kenyataan, yang berbeda itu sendiri saling menghampiri, seakan mengingatkan kita ini sejatinya satu, walau berbeda” Ami yang membantu ibunya membuat canang melirik. “Bapak lagi melamun apa itu?” Amat terkejut. “Bukan melamun, Ami,” tukas Bu Amat. “Bapakmu lagi ngitung-ngitung nanti kalau dapat ‘angpao’ lagi dari Pak Hok Siang, seperti Imlek tahun lalu, mau beliin ibu mobil.” Amat ketawa. “Tidak usah nunggu angpao, kalau memang ibumu pingin punya mobil, tak belikan besok,” jawab Amat. “Tapi punya mobil tak cukup beli mobilnya, harus gaji supirnya, harus beli bensinnya, harus bayar pajaknya, asuransinya, bengkelnya dan mau dipakai ke mana, coba? Pakai arisan ke tetangga, kan cuma beberapa meter, mau parkir di mana?” Ami ketawa.

“Mobil kan tidak hanya untuk dinaiki tapi untuk status sosial. Kalau Bapak punya mobil, gengsi Ami juga akan ikut terangkat.” “Itu, dengar kata Ami, Pak!” “Mobil itu seperti anjing herder, Ami!. Mula-mula dia milik kita, lamalama kita yang dimilikinya. Kita yang diperbudaknya! Kan waktu kamu kecil kita punya mobil. Akhirnya dijual karena lebih banyak merongrong. Berapa kali ibumu terpaksa turun dorong mobil mogok! Untung kamu tidak lahir dalam mobil!” Bu Amat ketawa. Tapi tiba-tiba Ami serius. “Bapak benci mobil. Tapi ibu perlu alat transportasi. Ya, paling tidak lupakan ego masing-masing, lihat positifnya saja. Cari solusi baru! Paling tidak pakailah motor, supaya jangan jalan kaki terus. Malu Ami!” Bu Amat mencolek Ami. “Jangan ngomong begitu Ami, kasihan Bapakmu, uangnya dari mana?” “Pakai motor Ami! Itu ang-pao Ami untuk Bapak dan Ibu, menyambut Galungan ini!” Amat terkejut. Tiba-tiba ia mengerti bagaimana perbedaan dapat disatukan. Damai yang sudah jadi tradisi dalam berbagai perbedaan di Indonesia, tidak terjadi karena slogan, tapi melalui proses panjang. “Kuncinya, asal kita sama-sama rela memberikan urunan untuk sesuatu yang baru,” bisiknya kemudian ketika membonceng istrinya ke rumah Hok-Siang, sahabatnya yang bersiap menyambut Imlek.

Pelatihan Public Speaking kru Tokoh dengan narasumber Sri Sumahardani di Hotel The One Legian, Minggu (31/1)

Foto kiri: Penyerahan kenang-kenangan kepada Sri Sumahardani. Foto kanan: Penyerahan kenang-kenangan kepada Pratiwi, PR The One Legian

Ayo Lestarikan Kuliner Khas Bali Salah satu bisnis yang tak penah sepi adalah kuliner. Namun, saat ini, kuliner khas Bali, belum merajai pasar. Padahal, banyak pelaku wirausaha kuliner Bali. Memang, bagi yang punya lahan atau menyewa lahan, bisa berjualan setiap saat. Namun, bagi yang tak mampu menyewa lahan atau memiliki lahan sendiri, hanya bisa ikut berpartisipasi saat Pesta kKsenian Bali atau HUT kabupaten/kota. Saya berharap pemerintah terus bergerak melestarikan kuliner khas Bali dengan cara mengadakan festival makanan. Saya berharap, ada festival makanan yang digelar pemerintah setiap tiga bulan. Selain untuk memberikan kesempatan pelaku kuliner Bali untuk berjualan, juga, kesempatan untuk mempromosikan makanan khas Bali. Salah satu contoh kegiatan yang saya lihat positif, festival sambal di Bali Safari yang rutin digelar tiap tahun. Saya sendiri ikutserta berpartisipasi karena para anggota puri diundang untuk turut menampilkan aneka sambal.

bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

Made Padma Dewi Bajirani, S.Psi.

Tjok Istri Agung Adnyani

Dengan digelarnya festival makanan khas Bali, akan terdata berapa banyak makanan tradisional yang kita miliki. Selain pameran makanan, juga perlu diadakan lomba makanan. Tujuannya, agar setiap perempuan memiliki keterampilan untuk mengolah makanan yang bisa dijadikan peluang penghasilan.

Selain itu, perlu adanya wadah atau organisasi yang menampung para penekun kuliner agar mereka bisa bersama-sama berkembang. Wadah ini dibina pemerintah dengan membuat pelatihan-pelatihan, misalnya, bagaimana membuat olahan makanan khas Bali yang sehat dan aman (hygeienes dan sanitasi). Selain itu, perlu juga diberi pelatihan, bagaimana mengemas makanan agar terlihat menarik dan punya nilai jual. Saya yakin, kuliner khas Bali sangat luar biasa. Memang banyak warung makan yang masih sederhana belum mengedepankan sanitasi dan higienes. Disinilah, perlu pembekalan dari Dinas Kesehatan, agar kuliner Bali tak kalah dengan makanan Indonesia lain yang sudah terkenal. Sekarang ini penikmat kuliner khas Bali bukan hanya orang Indonesia, turis asing sudah mulai tertarik dengan kuliner Bali seperti sate lilit, betutu, atau babi guling. Hanya, tingkat kepedasan yang perlu disesuaikan dengan lidah orang asing. Saya melihat hotel sudah mulai

melirik makanan tradisional Bali untuk disajikan kepada tamu. Mereka menyajikan makanan khas Bali ini dengan sajian ala makanan Western sehingga berkelas. Sebagai orang Bali kita harus bangga dengan makanan tradisional kita karena itu bentuk rasa cinta kita kepada pulau Bali. Jangan sampai orang Bali sendiri tidak tahu makanannya karena sudah terbiasa makan ala orang bule. Mari kita ajak anak-anak kita mencintai makanan tradisional Bali. Salah satu cara untuk mempelajari kebudayaan suatu bangsa, bisa dilakukan dengan mencicipi makanan khasnya yang biasa dijajakan di pasar dan di pinggir jalanan. Dibalik kelezatan dan cita rasa unik setiap makanan khas tersebut terdapat warisan budaya berupa resep masakan yang terjaga dari dari generasi ke generasi.

Menurut saya, sangat penting menjaga kelestarian makanan tradisional. Para juru masak lokal harus bisa mengusai ciri khas makanan tradisional Bali, sehingga nantinya bisa menaikkan kelas makanan Bali atau Indonesia menjadi makanan dunia yang berkelas, dan memasukan nama Indonesia ke dalam tujuan wisata kuliner dunia. Saya berharap, agar ada forum-forum yang secara khusus membahas mengenai makanan tradisional. Dengan perkembangan teknologi, sekarang media sosial bisa juga turut mempromosikan makanan tradisional Bali dan warung-warung tempat menjualnya. Tjok Istri Agung Adnyani Wirausaha kuliner khas Bali

Kata Hati

Mulai Februari 2016, Tokoh memiliki rubrik khusus untuk wanita yang ingin menuangkan ide/pemikiran/gagasan dalam bentuk tulisan. Tema terkait wanita dan keluarga serta tidak mengandung unsur SARA. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter (1,5 halaman A4; spasi 1,5; times new roman 12). Lampirkan juga foto close up (bukan pasfoto). Cantumkan nama lengkap, profesi, nomor hp, dan alamat email. Naskah dikirim ke redaksi@tokoh.co.id, redaksitokoh@yahoo.com.

Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budi­a rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Se­k retariat: Ayu ­A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­m erah ­B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­ ­F aksi­m ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang ­G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

Edisi 887/ 8 - 14 Februari 2016

23


24

Edisi 887/ 8 - 14 Februari 2016

Harga Bunga Naik 10 Kali Lipat Jelang Galungan, penjualan buah-buahan meningkat. Hal ini diungkapkan Ni Ketut Niarti, seorang pedagang di Pasar Batu Kandik, Denpasar. Dari pengalamannya, penjualan buah melonjak tiga hari sebelum Galungan.

P

asokan buah didapatkan perempuan asal Batu Kandik ini daru berbagai tempat, salah satunya Jawa Timur (Jatim). “Buah naga pasokannya

dari Jatim,” ujar ibu dua anak ini. Namun, cuaca yang tak menentu ini kadang membuat kiriman menjadi terlambat. Sementara itu, Nanik, seorang pedagang bunga di Pasar

Kumbasari menuturkan bunga pacar yang mengalami kenaikan paling tinggi. “Kalau hari biasa itu per kantong plastik seberat 5 kg, harganya cuma Rp 3 ribu, sekarang per kantong plastik yang sama menjadi Rp 30 ribu. Kenaikan bisa 10 kali lipat,” ujarnya. Seperti halnya Niarti, ia juga musim hujan memengaruhi kondisi bunga. Musim hujan membuat bunga pacar cepat busuk. Karena itu, pasokan agak tersendat se-

Sudut Pandang

Ni Ketut Niarti, pedagang buah di Pasar Batu Kandik

dangkan permintaan tinggi. Selain bunga, janur juga mengalami lonjakan permintaan. ”Janur saya datangkan dari Jawa karena ukurannya lebih besar daripada janur Bali. Soal harga, janur Jawa juga lebih murah

dibanding janur Bali,” ungkap Nanik Pada hari biasa, Nanik menjual janur 20 sampai 30 lonjor sedang­kan menjelang hari raya Galung­an ia bisa menjual lebih dari 40 lonjor. -Juni/Suarni

Turunkan Ego, Naikkan Perasaan

I Made Adi Surya Pradnya

Ni Made Budiasih

Hari Raya Galungan adalah hari raya umat Hindu yang dirayakan setiap 6 bulan sekali, pada Buda Kliwon Dungulan. Kata Galungan dalam bahasa jawa Kuno berarti menang. Makna dari perayaan Hari Raya Galungan ini adalah untuk merayakan kemenangan dharma.

Lontar Sundarigama menuliskan ngaran galungan patitis ikang yan yasa samadi galang apadang wehat kene sarwa biya karyaning jagat. Artinya, pada saat Galungan, umat Hindu beryoga. Hasil beryoga untuk membersih­kan diri dari segala cobaan dan godaan. Galungan juga bermakna kemenangan dharma

atas adharma. “Kita memerangi adharma, yang ada dalam diri kita sendiri. Ini dilakukan tiap hari. Puncaknya saat Buda Kliwon Dungulan,” ujar Dr. I Made Adi Surya Pradnya, S.Ag,M.Fil.H, dosen Teologi IHDN Denpasar. Ia menjelaskan rangkaian Galungan dimulai dari Sugian Jawa (Wraspati Wage Sungsang) yang bermakna pembersihan buana agung (alam semesta), selanjutnya Sugian Bali (Sukra Kliwon Sungsang) yang berarti pembersihan dalam diri kita sendiri. Setelah itu Penyekeban (Redite Paing Dungulan), Penyajaan (Soma Pon Dungulan), dan Penampahan Galungan (Anggara Wage Dungulan). Ni Made Budiasih, S.Ag., M.Ag menambahkan pada saat Galungan, bhatara-bhatari turun dari kahyangan memberkati umat manusia. Persembahyangan yang dilakukan di Pura,

Sanggah/Pame­rajan bertujuan mengucapkan terima kasih kepada Hyang Widhi atas anugrah-Nya itu. Ucapan terima kasih ke hadap­an Hyang Widhi karena sudah dianugerahi kecukupan sandang pangan yang disimbolkan dengan menggantungkan beraneka buah-buahan, umbi-umbian, jajan, dan kain putih kuning juga diwujudkan dalam bentuk penjor. Pemasangan penjor biasanya dilakukan saat Penampahan Galungan. Pada sore harinya, segenap keluarga mabeakala, yaitu upacara pensucian diri untuk menyambut hari raya Galungan. Mengenai penjor, Adi Surya dan Budiasih mengakui sekarang banyak penjor kreatif. “Penjor-penjor saat ini sangat kreatif. Hal terpenting dari penjor Galungan itu ada pala bungkak, pala gantung, plawa serta biji-bijian.

Penjor adalah simbol dari diri kita, yang bermakna ego diturunkan dan perasaan dinaikkan,” ujar Adi Surya. Sementara itu, I Ketut Metra, seorang pedagang penjor musiman di Br. Den Yeh, Peguyangan Kaja mengatakan mendapatkan janur dan bambu dari Petang. Ia menghabiskan modal sekitar Rp 7 juta untuk menyiapkan semua perlengkapan. “Selain menjual perlengkapan penjor saya juga sering menerima pesanan penjor yang sudah jadi, tetapi saya hanya menerima pesanan di sekitaran sini saja,” ujarnya. Biasanya empat hari sebelum Penampahan Galungan sudah banyak pembeli yang datang untuk membeli perlengkapan penjor. Kalau bahan tersisa biasanya ia titip di warung saudaranya yang menjual perlengkapan penjor. –Rukanta/Vijay/Pasek

Proses Pengenalan Agama pada Anak Dalam perhitungan kalender Bali, wuku Dungulan adalah saat yang paling dinantikan seluruh umat Hindu di Indonesia pada umumnya, tidak terkecuali keluarga kecil yang satu ini. Galungan mereka maknai selain sebagai hari raya umat Hindu sebagai bentuk perayaan kemenangan Dharma melawan Adharma melainkan juga sebagai sebuah pembelajaran dan pengamalan tradisi, adat dan budaya Hindu Bali dalam keluarga kecilnya. “Berbagai persiapan kami lakukan dalam menyambut hari raya Galungan. Kami mengawali perayaan Galungan pada hari Senin yang merupakan hari Soma Pon Dungulan yang biasa disebut sebagai hari Penyajian Galungan kami sebut sebagai “harinya wanita” yang dalam tradisi keluarga kami merupakan hari untuk mempersiapkan segala kebutuhan untuk menyambut Galungan,” ucap Senja Pratiwi Dananjaya. Kegiatan pada hari Penyajaan Galungan ini, lanjutnya mereka awali dengan membeli buah, dan jajan serta bahan keperluan mejejahitan. Kemudian dilanjutkan dengan membuat jejahitan berupa berbagai jenis sampian yang dilakukan bersama dengan ibu mertua dan putri sulungnya Anindhita Indivara. “Biasanya saat majejaitan anak sulung saya selalu ikut duduk dan menemani kami sambil bertanya tentang berbagai jenis jejahitan yang kami buat. Ada ketertarikan dan keinginannya untuk membantu kami bahkan dia juga suka bertanya

kenapa Galungan dirayakan? Mengapa melakukan persembahyangan dan menghaturkan sesajen di berbagai tempat?” ujarnya dan mengatakan tak lupa dalam kesempatan tersebut, ia manfaatkan dengan baik karena merupakan saat terpenting untuk mendidik, memberi pengenalan dan pembelajaran Agama Hindu di Bali dengan tradisi, adat dan budaya yang terkandung didalamnya. Hari berlanjut menuju Anggara Wage Dungulan atau yang biasa kita sebut sebagai hari Penampahan Galungan. Hari ini dalam keluarganya disebut sebagai “harinya pria” walaupun tidak didominasi karena persiapan Galungan masih terus berlanjut, namun pada saat Penampahan Galungan, suami dan ayah mertuanya sudah mulai melakukan persiapan juga. Membuat penjor adalah kegiatan pertama yang dilakukan, seni tradisi dan budaya terlihat jelas. Antusias anak keduanya, Madhava Devarha membuat persiapan dan perayaan Galungan menjadi lebih berwarna. “Walaupun belum dapat membantu dan terkadang membuat “kericuhan kecil” namun ketertarikannya merupakan pembelajaran sejak dini apa dan bagaimana Galungan itu dirayakan. Setelah selesai membuat penjor, kegiatan Penampahan Galun-

Senja Pratiwi Dananjaya dan keluarga

gan dilanjutkan dengan “ngelawar”. “Walaupun suami dan ayah mertua saya tidak melakukan ritual “nampah” tapi esensi dari Penampahan Galungan tetap terjaga. Diawali dengan pembuatan bumbu-bumbu dan kemudian meraciknya sampai pada tahap “mebat” adalah hal yang tidak terlewatkan,” papar ibu tiga anak ini. KESEIMBANGAN HIDUP Pada Hari raya Galungan, keluarga Senja sudah mulai bersiap-siap dari pukul 04.00, dan mulai melakukan ritual menghaturkan sesajen dan sarana upakara, yang biasa disebut “mebanten”. Setelah mebanten di rumah dilanjut-

kan menuju “Merajan Ageng” yang terletak di rumah kakek dari sang suami. “Walaupun Merajan Ageng ini letaknya tidak lebih 200 meter dari kediaman kami, tapi kami sudah terbiasa menyebutnya dengan istilah “pulang kampung”. Di sana melakukan ritual yang hampir sama dengan di rumah. Yang berbeda adalah Situasinya yang sangat ramai karena dikunjungi saudara dan kerabat, baik untuk melakukan persembahyangan maupun sekedar bersenda gurau. Terasa sekali suasana hari raya Galungan,” terangnya Setelah menyelesaikan segala ritual persembahyangan di Merajan Ageng, tidak lupa kita melakukan “road show” istilah ini memang sangat familiar dalam keluarganya untuk menyatakan sekarang saatnya melakukan persembahyangan keliling ke PuraPura sebagai perwujudan “sembah bhakti lan matur suksma ring Ida Sang Hyang Widhi Wasa”. Pura-Pura itu terletak berdekatan dengan rumah mulai dari Pura Dalem Balun Sesetan, Pura Panti, Pura Banjar dan Pura Kahyangan Tiga. Selain itu Senja dan keluarga masih melanjutkan persembahyangan di Padmasana Pura Unud karena kebetulan ia, suami dan ibu mertuanya merupakan dosen yang mengabdikan diri di Unud.Sebelum sore hari biasanya mereka telah menyelesaikan seluruh

“road show” yang diakhiri dengan persembahyangan di Puri Candi Narmada. “Setelah selesai kami ngelungsur banten bersama-sama. Anak sulung yang paling bersema­ ngat karena dia merasakan bahwa hari raya Galungan adalah hari raya dimana kita bisa melihat betapa Ida Sang Hyang Widi Wasa melimpahkan segala anugerahnya dan kita wajib mensyukuri dengan segala apa yang ada,” ujarnya Perkataan putrinya ini pula yang membuatnya sangat bangga sebagai orang tua karena sedari kecil sudah menyadari apa arti dari keseimbangan hidup yang tidak diukur hanya dengan bersenang senang saja, melainkan dengan menghaturkan yadnya suci sebagai ungkapan rasa syukur atas segala limpahan yang diberikannya. “Hal yang dilakukannya pada saat ngelungsur adalah dengan memisahmisahkan jenis buah maupun kue ketempat yang telah saya pesiapkan, selain sambil menikmati juga sembari menunggu “sekaa” anak anak kecil dari banjar kami untuk melestarikan budaya ngelawang,” katanya. Hiburan ini, lanjut Senja menjadi tontonan yang seru bagi keluarganya, terutama anak –anaknya mengetahui betapa luhurnya budaya yang diwariskan kepada generasi ini. Sebagai penghargaan atas seni yang ditampilkan, layaknya pertunjukan seni keliling, banyak warga lain juga ikut menyaksikan dan memberikan sesari sebagai wujud apresiasi yang luar biasa. – Sri Ardhini

redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id

mingguantokoh

@mingguantokoh

mingguantokoh

www.tokoh.co.id


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Tokoh Edisi 887 | Tokoh by e-Paper KMB - Issuu