24
What’s Up
Edisi 878/ 7 - 13 Desember 2015
Dari Transmigran Jadi Pengusaha Kehidupan masyarakat di Kerajaan Tambora dan Kerajaan Pekat di Kabupaten Bima dan Dompu, yang berdasarkan hasil penemuan Balai Arkeologi Denpasar terhadap benda-benda yang diperkirakan milik warga perkampungan yang tertimbun material gunung Tambora yang meletus tahun 1815, teridentifikasi sebagai masyarakat yang makmur. Tanah subur itu lenyap tak berbekas dihantam aliran piroklastik dari letusan gunung Tambora.
D
ua abad yang lalu, tanda-tanda kehidupan itu mati seketika. Kaki gunung Tambora, khususnya yang berada di bagian barat ini, akhirnya hanya meninggalkan sisa gundukan tumpahan lahar dan material yang menurut Igan S. Sutawijaya, geolog yang pernah meneliti sisa letusan Gunung Tambora, diperkirakan mencapai 150 kilometer
kubik, membuat denyut jantung kota di Kerajaan Tambora yang berjarak sekitar 25 kilometer di arah barat dan Kerajaan Pekat yang berjarak sekitar 30 kilometer dari gunung Tambora bagian barat arah selatan itu melemah. Sejak itulah wilayah kaki Gunung Tambora ini lalu “tertidur” dalam waktu yang sangat lama. Tanda-tanda kehidupan nyaris tidak ada. Menu-
Wisma Darussalam di Kadindi, penginapan milik H. Syahbuddin seorang transmigran yang sukses
rut Sekretaris Daerah Kabupaten Dompu, H. Agus Bukhari, di wilayah Pekat hanya ada beberapa warga yang mendiami wilayah ini di beberapa tempat saja. Mereka tinggal terpencar di lokasi-lokasi yang memungkinkan untuk membuat rumah-rumah, tidak terkonsentrasi di satu tempat. Hingga akhirnya tanda kehidupan yang jelas itu mulai tampak kembali ketika di tahun 1970. Wilayah ini dibuka untuk ditempati melalui program transmigrasi yang dilaksanakan Pemerintah Daerah Nusa Tenggara Barat, tahun 1970. inilah pertama kalinya wilayah kaki Gunung Tambora bagian barat, hutan-hutannya dibuka kembali setelah lebih dari 150 tahun “mati”. Salah satu transmigran yang mengikuti program transmigrasi pertama ke wilayah ini adalah H. Syahabuddin asal Lombok Timur. Kisah perjuangan membuka hutan belantara yang lebat dengan pepohonan yang rindang adalah tantangan tersendiri bagi H. Syahabuddin dan para transmigram asal pulau Lombok yang waktu itu berjumlah 177 orang. Mereka sengaja didatangkan untuk membuka wilayah ini dan menempatinya hingga hari ini. Kesuburan areal kaki gunung Tambora bagian barat ini mengantarkan para petani transmigran ini sukses mendapatkan kehidupan yang layak. Sebagai salah seorang pionir/transmigran yang pertama kali membuka dan menempati wilayah yang kini bernama Kadindi ini berkembang dengan begitu baik sehingga menjadi sebuah kecamatan bernama Pekat. Saat pertama kali menginjakkan kakinya di lokasi ini, ia tercengang
melihat hutan belantara yang begitu lebat, karena di sanalah ia akan tinggal. Ia akan tinggal di antara semak belukar. “Melihat kondisi itu, saya hampir saja ingin lari pulang kembali ke Lombok dan membatalkan niat transmigrasi waktu itu,” ujarnya. Namun nasib membawanya kini menjadi warga Kadindi Dompu. Di tengah segala keterbatasan yang amat sangat, Syahbuddin mulai bekerja keras untuk menjadi petani yang sukses sejak pembagian jatah tanah yang diserahkan kepada masing-masing transmigran seluas dua hektare di tahun 1971, setahun setelah mereka berhasil membuka hutan belantara ini. Atas kesabaran dan kerja kerasnya, Syahbuddin yang akhirnya memboyong istri dan anak-anaknya untuk tinggal di Kadindi ini, bersama-sama bekerja keras menggarap dua hektar lahan tersebut. Meski banyak yang tidak sabar tinggal di sini lalu menjual lahan-lahan jatah mereka, namun Syahbuddin dan keluarganya memilih menetap dan tidak lagi ingin kembali ke Lombok melainkan fokus bekerja menggarap lahan yang diberikan oleh pemerintah itu. “Tanah ini demikian subur sekali, sampai-sampai saya tiap tahun dapat membayar tanah-tanah yang jatah transmigran lain yang dijual,” ujarnya. Tanah-tanah itu pun kembali ia garap dan seluruhnya menghasilkan. Hal inilah yang menjadikan ia sebagai salah seorang transmigran yang sangat sukses. Ia menjadi salah seorang petani yang sukses di Desa Kadindi hingga akhirnya berkembang menjadi pengusaha transportasi, hingga memi-
H. Syahabuddin
liki penginapan. Itu tidak diraihnya dengan mudah melainkan telah melewati kerja keras dan menempuh masa yang cukup panjang. Bahkan bus-bus yang pertamakali menghubungkan Kadindi dengan desa-desa lainnya hingga ke Dompu pernah dimiliki oleh Syahbudin. Ia kini memiliki puluhan hektare lahan yang terus menghasilkan. “Dulu awalnya saya hidup penuh perjuangan, kini saya menikmati hasilnya. Kuncinya adalah sabar dan mau menerima kesulitan apapun yang dihadapi dengan keikhlasan,” katanya. Kini, selain memiliki banyak aset, Syahbuddin juga menjadi salah seorang tokoh Kadindi yang disegani. -Naniek I. Taufan
redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id
mingguantokoh
@mingguantokoh
mingguantokoh
www.tokoh.co.id
2
Edisi 878/ 7 - 13 Desember 2015
GORO-GORO A m i menerima s e b u a h p e rtanyaan di BBnya. “A m i , w a k t u kecil, ketika ibuku Putu Wijaya masih di purinya di Bali, dia bilang, setiap hari Saraswati, hari ilmu pengetahuan, buku-buku pelajaran dikumpulkan, tidak boleh dibaca. Apa betul begitu? Kenapa?” Pertanyaan itu dijawab oleh Sugi, suami Ami dengan curiga. “Kenapa dia menanyakan itu?” “Karena dia mau ngeledek ibunya kenapa mau mengumpulkan bukubuku pelajarannya dan dan tidak membantah ketika dilarang orang tuanya membaca pada hari ilmu pengetahuan itu.” “Jadi dia tidak setuju, kan?!” “Persis! Dan menganggap itu tidak rasional. Hari ilmu kok tidak boleh belajar, katanya. Membaca itu kan memulyIakan pengetahuan, masak
saraswati
hari ilmu malah menolak pengetahuan?” “Terus ibunya sendiri bilang apa?” “Nggak tahu.” “Coba tanya.” Tapi Ami tak mau bertanya pada temannya itu. Ia pulang ke rumah orang tuanya dan bertanya kepada Amat. “Pak, kenapa pada hari Saraswati kita tidak boleh membaca?” Amat menatap Ami. “Kenapa menanyakan itu?” Ami menunjukkan BB temannya. Tapi setelah itu, Amat seperti menantunya, menyuruh Ami menanyakan kepada temannya, bagaimana reaksi ibunya. “Tapi ibuku nggak apa-apa, Mi. Nggak, nggak marah. Dia malah ikut heran, kenapa dulu dia manut saja, tidak bertanya seperti aku, kepada orang tuanya: Kok aneh, tidak boleh membaca di hari ilmu pengetahuan!” Jawaban itu Ami tunjukkan pada
Amat. Amat manggut-manggut. “A d a d u a h a l A m i , k a t a Amat,”Pertama, kita di Bali tidak suka mengusut, kita cenderung menerima apa adanya. ‘Nak mula keto’ kata orang tua. Nah setelah lewat dan kita jauh dari Bali, seperti temanmu itu, baru kita berani bertanya, kenapa? Dan tidak ada lagi orang tua kita yang bisa membantu memberikan jawaban. Karena mereka juga mungkin tidak tahu, hanya melanjutkan tradisi.” “Jadi bapak juga tidak tahu?” “Kalau dibilang tahu, nanti takut salah. Kalau dibilang tidak tahu, bapak malu juga.” Tiba-tiba HP Ami bergetar. Temannya kirim BBM: “Ami, aku sudah ketemu jawabannya. Kata ibuku, seperti ada hari Minggu sesudah enam hari kerja, juga ada jeda dalam belajar. Belajar itu penting sekali. Tapi belajar tok, tidak cukup, kata ibuku. Jeda sehari untuk berpikir, melapalkan dan mengamalkan yang sudah dipelajari mutlak! Itu kearifan lokal yang jenius kan?!”
Ekspresso bacaan wanita dan keluarga
Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998
Pemimpin Umum/Penanggung Jawab Gde Palgunadi Redaktur Pelaksana Ngurah Budi Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti, Sagung Inten
Sudut Pandang
Kuota Transmigran Jakarta hanya 50 KK
Diana Runtu NTB Naniek Dwi Surahmi Desain Grafis IDN Alit Budiartha, I Made Ary Supratman Sirkulasi Kadek Sepi Purnama Sekretariat Ayu Agustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono Alamat Redaksi/Iklan Denpasar
416676–Faksimile (0361) 425373 Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta Jalan Palmerah Barat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603-Faksimile (021) 5357605 NTB Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–Telepon (0370) 639543– Faksimile (0370) 628257 Jawa Timur Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456– Faksimile (031) 5675240 Surat Elektronik redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id Suasana pemotongan tumpeng HUT ke-17 Bali Travel News. Potongan tumpeng diberikan GM Bali Travel News Gde Palgunadi kepada Pemimpin Redaksi Bali Post Nyoman Wirata
Website www.tokoh.co.id Bank
Piknik Jadi Panik
Perjalanan menuju pantai Virgin, Karangasem memang melelahkan. Apalagi kami menggunakan sepeda motor untuk ke sana. Rencananya aku bersama teman sekelas akan mengisi weekend dengan kemah di Bukit Asah, tapi berhubung waktu yang terlalu singkat akhirnya kami memutuskan untuk piknik saja. Awalnya perjalanan akan dilakukan pukul 2 siang, tapi karena persiapan belum lengkap kami baru melakukan perjalanan pukul 3 siang. Dalam perjalanan, awalnya tak ada halangan yang berarti. Semuanya berubah ketika baru memasuki daerah Karangasem. Kami melewati masyarakat yang tengah pergi ke setra bersama dengan mayat yang akan dikuburkan. Kami sudah mulai was-was karena kejadian itu. Selama 2 jam perjalanan, barulah kami tiba di pantai Virgin. Pegal dan rasa takut karena kejadian tadi seketika hilang kala melihat salah satu tempat wisata yang tengah terkenal
di sosmed itu. Jagung bakar, kerupuk, minuman, semua kami habiskan di sana. Tak lupa juga foto-foto untuk kenang-kenangan. Rujak yang kami beli juga sangat lezat. Aku dan temanteman lupa waktu karena terlalu asik dengan aktivitas di pantai Virgin. Pukul setengah tujuh, kami berniat pulang. Di sepanjang pantai, rupanya sudah sangat sepi. Pedagang pun sudah tutup semua. Saat hendak memulai perjalanan, kami melihat beberapa bule yang akan kemah, kami sedikit tenang karena setidaknya ada beberapa orang di pantai ini. Ketika perjalanan belum sampai lima ratus meter, kami kembali melihat
orang-orang. Awalnya semua berpikir bahwa itu adalah teman-teman bule tadi. Ternyata setelah orang-orang tersebut melintas, barulah kami sadar bahwa itu adalah masyarakat yang akan melakukan penguburan. Oh my God.....mayat yang hanya tertutupi kain, benar-benar berada di depan mata, membuat bulu kuduk merinding. Kami semua panik, karena kejadian yang kali ini lebih menyeramkan daripada yang pertama. Semua langsung tancap gas berusaha menjadi yang terdepan. Selama perjalanan pulang, semua masih terbayang-bayang kejadian sore itu. Beberapa hari setelahnya, hal itu menjadi perbincangan hangat di kelas. Awal piknik yang menyenangkan membuat kami panik di akhir. Ni Wayan Anik Wikantari
Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. Panjang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan nomor kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373
BRI Cabang G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6 Percetakan BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar
Ralat - Judul berita Sekitar Kita di Tokoh edisi 877 tertulis “Reading Contest Yayasan Duta Bangsa” dan di bagian awal berita juga tertulis Yayasan Duta Bangsa. Judul yang benar adalah “Reading Contest Yayasan Duta Nusa” dan nama yayasan yang benar adalah Yayasan Duta Nusa. - Berita “Ng” Sebuah Tari Metamorfosis Cermin Kehidupan di Tokoh edisi 877 menampilkan empat foto penunjang. Keempat foto tersebut hasil karya Gus Santi Utama
23
Ada usulan solusi untuk mengatasi kepadatan penduduk di Jakarta, yakni dengan melakukan transmigrasi. Namun, persoalan kependudukan Jakarta agak berbeda dengan daerah lainnya. Jakarta memiliki masalah serius dengan urbanisasi.
Jakarta
Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373,
Edisi 878/ 7 - 13 Desember 2015
S
Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat
etiap tahunnya puluhan ribu ribu warga daerah datang dan menetap di Jakarta. Itu sebabnya jumlah penduduk di Jakarta membengkak dengan cepat, kini sudah mencapai 10 juta jiwa. Sementara program transmigrasi yang selama ini berjalan tidak membawa pengaruh yang signifikan. Jumlah warga Jakarta yang ikut transmigrasi terlampau kecil, tidak sebanding dengan jumlah mereka yang masuk ke Jakarta. Bayangkan saja, tahun ini Jakarta hanya mendapat kuota pengiriman transmigran dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, 50 Kepala Keluarga. Jumlah ini tentu tidak sebanding dengan warga daerah yang masuk ke Jakarta. Data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil DKI Jakarta menyebut, jumlah pendatang baru tahun 2014 mencapai sekitar 68.537 orang, sedang tahun 2015 ini diperkirakan peningkatan sekitar 3% dari tahun sebelumnya. Menurut Wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat, kuota transmigran ditentukan oleh pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. “Tahun ini Jakarta mendapat kuota 50 KK. Mereka ditempatkan di tiga daerah yakni, Bengkulu, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Tahun depan kuotanya akan ditambah menjadi 116 KK,” kata Djarot di Balai Makarti Muktitama, Kalibata, Jakarta Selatan. Sebelum para calon transmigran ini berangkat ke daerahnya yang baru, mereka terlebih dahulu dibekali dengan pengetahuan tentang daerahnya, termasuk kultur budaya setempat juga berbagai ketrampilan. “Jadi mereka benarbenar disiapkan, dilatih, dididik
untuk bekal hidupnya di sana. Mereka mendapat tanah antara satu hingga dua hektare, termasuk rumah. Jadi kalau mereka nggak bisa hidup, keterlaluan, ya,” kata mantan Walikota Blitar ini. Hal senada juga disampaikan oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) DKI Jakarta, Priyono. Menurutnya, sudah dua tahu terakhir kuota Jakarta menurun. Tahun 2014 lalu hanya 60 KK dan tahun ini 50 KK. Dia mengaku tidak tahu persis mengapa kuota diturunkan. “Yang menentukan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. Mungkin turun karena berkaitan dengan kesiapan daerah yang dituju dan kesediaan lahan untuk dikelola transmigrasi,” ungkap Priyono, sembari menambahkan tahun depan kuota Jakarta naik menjadi 116 KK. KURANG SOSIALISASI Tentang kecilnya kuota yang diperoleh DKI Jakarta, bisa jadi tak lepas dari kecilnya minat warga DKI Jakarta untuk bertransmigrasi. Ada banyak sebab kenapa warga kurang antusias dengan program ini, meski diiming-iming rumah juga tanah yang luas. Salah satunya adalah kebanyakan mereka ini dulunya adalah warga pendatang yang mengais kehidupan di Jakarta. Meski mereka tinggal di daerah kumuh berpuluh tahun, namun pandangan bahwa Jakarta lebih mudah mencari uang lebih kuat ketimbang harus berjuang dari ‘nol’ di daerah baru. Di sisi lain, kurangnya sosialisasi dari Pemda DKI Jakarta, juga menjadi sebab warga Jakarta kurang berminat ‘merantau’ ke daerah baru sekalipun mendapat kemudahan dan berbagai fasilitas. Agaknya hal ini juga disadari oleh Wagub Djarot yang memerintahkan Dinas terkait menggen-
carkan sosialisasi program transmigrasi juga memublikasikan para transmigran asal Jakarta yang sukses membangun kehidupannya di daerah baru. Sebenarnya, ada banyak transmigran asal Jakarta yang berhasil dengan mengikuti program ini, hanya saja kurang terekspos sehingga tidak banyak warga DKI Jakarta yang tahu hal itu. “Saya katakan kepada Kepala Dinas agar mengekspos mereka yang sukses berkat transmigrasi. Misalnya saja, saya dengar ada warga Jakarta yang dulunya menjadi pemulung, setelah mengikuti
Rombongan transmigran Jakarta
program transmigrasi ke Sulawesi Tengah, dia berhasil membangun hidupnya dan kini menjadi orang yang sukses. Ini menjadi salah satu contoh dan harus diekspos supaya masyarakat tahu dan tertarik,” katanya. Soal minimnya sosialisasi program transmigrasi di Jakarta juga pernah ‘disentil’ oleh Marwan Djafar, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. Menurutnya, salah satu sebab minimnya minat warga Jakarta untuk bertransmigrasi,
karena kurangnya sosialisasi. Karena itu dia meminta pimpinan Jakarta meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat. Menteri berjanji akan meningkatkan kuota Jakarta jika Pemprov DKI mau berkomitmen untuk meningkatkan jumlah transmigran. “Kalau Pemda DKI Jakarta mau komitmen untuk meningkatkan jumlah transmigran, kami akan meningkatkan kuotanya,” ucap Marwan yang akhir-akhir ini gencar berbicara transmigrasi. –Diana Runtu
22
Sosialita
Edisi 878/ 7 - 13 Desember 2015
Edisi 878/ 7 - 13 Desember 2015
3
Akses Mudah Daya Juang Rendah Kemajuan teknologi informasi yang semakin canggih memberi banyak keuntungan bagi masyarakat, khususnya generasi muda yang menjadi semakin kreatif. Namun, sebanyak keuntungan yang diperoleh, sebanyak itu pula kerugian yang didapat jika tidak mampu mengelolanya secara benar.
“E
ra digital memang membuat anak muda zaman sekarang menjadi lebih pintar, lebih kreatif, karena mereka dapat mengakses dengan mudah semua informasi yang diinginkan. Tapi di balik semua itu ada sebuah kekurangan yang tersimpan, yakni, daya juang yang lebih rendah dibanding zaman dulu,” ungkap Merry Riana, motivator kondang, yang ditemui di selasela Olimpiade Indonesia Cerdas (OIC). Kebetulan, Merry maupun aktor kondang Christian Sugiono, terlibat dalam acara tersebut. Merry Riana sebagai ‘kakak pembimbing’ sedang Christian sebagai host acara. Keduanya diminta pendapat seputar perkembangan teknologi dan kualitas generasi muda yang dihasilkannya. “Kalau zaman dulu, misalnya saya dikasih PR, saya mencarinya (bahan) di perpustakaan. Sejak saya kecil, mama saya sudah mendaftarkan saya menjadi anggota perpustakaan nasional. Kalau sekarang serba instan, maka daya juangnya sedikit lebih berkurang,” ungkap Merry. Hal senada juga kerap kali diungkap pengamat pendidikan di mana kemajuan teknologi –salah satunya--- telah begitu memanjakan generasi muda. Untuk mencari referensi buku maupun informasi, mereka tidak perlu repot-repot ke perpustakaan karena segalanya tersedia lewat internet. Ini juga berdampak pada menurunnya minat baca di kalangan muda, serta rendahnya tingkat kunjungan ke perpustakaan. Hanya tinggal sekali klik, segala informasi yang diperlukan sudah muncul. Mereka tak perlu lagi bersusah-susah datang ke perpustakaan, mencari-cari buku. Lewat internet semua yang dibutuhkan ada. Bahkan jika malas membaca buku, cukup membaca resensinya saja, juga tersedia. KEKUATAN MENTAL Karena hampir segalanya bisa diperoleh secara instan, membuat sebagian generasi muda menjadi manja dan semangatnya untuk mendapatkan sesuatu menjadi berkurang. Padahal kata Merry Riana, untuk menjadi generasi muda yang sukses bukan hanya diperlukan kreativitas dan inovasi, tapi juga kekuatan mental. “Untuk menjadi generasi yang sukses, anak muda harus menjadi generasi yang kuat dalam tiga hal. Pertama, kuat pikiran. Yang dimaksud di sini bukan hanya
cerdas, kreatif atau inovatif, tapi juga harus kuat secara mental. Hal kedua adalah sikap optimis dan tidak mudah menyerah. Harus berbesar hati ketika tidak bisa mendapatkan apa yang diinginkan. Hal ketiga adalah kuat secara iman. Selalu menyertakan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari’,” papar penulis best seller ‘Mimpi Sejuta Dolar’ itu. Menurutnya, jika generasi muda dapat mencapai tiga hal yang disebutkannya tadi, maka hasilnya akan sangat luar biasa. “Bayangkan, ya, jika anak muda sudah pintar, kreatif, dan punya daya juang yang luar biasa, tidak bosanan, pasti banyak hal yang bisa dicapai. Harapan saya, anak muda Indonesia bisa mencapai tiga hal itu,” kata wanita penyuka warna merah itu.
Atta Beji Masterplan
Ni
Merry Riana dan aktor kondang Christian Sugiono
Tentang dampak positif dari kemajuan teknologi bagi anak muda juga diakui oleh aktor Christian Sugiono. Suami Titi Kamal ini mengakui kalau perkembangan
teknologi memang membuat anak zaman sekarang menjadi lebih kritis dan kreatif. “Aku lihat anak muda zaman sekarang beda dengan dulu. Mereka cenderung
menjadi follower dari sebuah tren. Mereka sekarang lebih gampang melihat informasi, referensinya banyak. Jadi lebih monoton secara style,” katanya. -Diana Runtu
Dari “Baby Boomers” hingga Platinum Perbedaan paling mencolok antara generasi generasi Millenium. Generasi ini tumbuh seiring sekarang dan dua atau tiga dekade lalu adalah gaya dengan banyaknya kejadian yang mengubah dunia hidup. Meskipun penggunaan personal komputer di seperti—di antaranya—berkembangnya komunikasi rumah-rumah sudah dimulai di era 1980-an, namun massa serta internet. hal ini belum menjadi bagian dari tren gaya hidup. Kini, Anak-anak yang lahir pada generasi ini merapenggunaan beragam gadget bisa dengan mudah kita sakan tingginya biaya pendidikan dibandingkan temui di cafe, mal, bus, kampus, hingga pinggir-pinggir generasi sebelumnya. Generasi ini cenderung jalan sekalipun. Anak muda yang keranjingan gadget menuntut, tidak sabar, serta buruk dalam berkomuinilah yang biasa disebut generasi platinum, yakni nikasi dengan sesama. Survei yang pernah dilakukan mereka yang lahir pada tahun 2000 ke atas. Mereka menunjukkan bahwa generasi ini memiliki kemamini lebih canggih dari generasi ‘Y’. puan mengeja dan bahasa yang buruk. Generasi ‘Y’ Psikolog Alzena Masykouri, sebagaimana dikutip yang telah bekerja menunjukkan sikap yang cuek dari antaranews, menyebut generasi platinum lahir dan senantiasa bertentangan dengan peraturan kandi masa keterbukaan teknologi, cara berpikir, dan tor. Namun, generasi ini boleh dipuji untuk energi keterbukaan prilaku serta ketersediaan sarana pendan semangat bekerjanya yang luar biasa. Alzena Masykouri didikan yang jauh lebih baik dibandingkan dengan Sementara, generasi Platinum adalah terminologi generasi sebelumnya. Psikolog dari Universitas Paramadina ini pun yang diberikan kepada anak-anak yang lahir di pada tahun 2000 ke lantas menguraikan tentang generasi-generasi anak muda berikut atas atau awal abad ke-21. Menurut Masykouri, jika diamati anak-anak ciri-cirinya. kelahiran tahun 2000 memiliki karakter unik yang lebih ekspresif dan Menurutnya, awalnya adalah generasi ‘baby boomers’ yang merueksploratif selaras dengan arah perkembangan zaman. Bila diamati, pakan kelompok masyarakat yang hidup setelah PD II yaitu 1946kata dia, anak-anak generasi Platinum memiliki kemampuan yang tinggi 1964. Generasi ini disebut ‘baby boomers’ karena pada rentang waktu dalam mengakses dan mengakomodir informasi sehingga mereka generasi itu, terjadi peningkatan jumlah kelahiran di seluruh dunia. memiliki kesempatan lebih banyak dan terbuka untuk mengembangkan dirinya. Anak-anak yang terlahir di generasi ini merupakan golongan masyarakat yang mulai mengenal televisi dengan beragam acara yang Kelak, mereka pun dapat menggunakan potensinya untuk berberbeda-beda, seperti Perang Vietnam, pembunuhan John F Kennedy, tahan hidup. Bahkan juga menjadi manusia yang berkualitas dan Martin Luther King Jr, dan Robert F. Kennedy. Golongan masyarakat produktif. Generasi sebelumnya memang sudah memiliki tingkat ini mengenal musik, sebagian besar adalah Rock n Roll, sebagai cara literasi teknologi yang tinggi, namun mereka hanya sebatas sebagai untuk mengekspresikan identitas generasi mereka. pengguna saja. Generasi Platinum adalah golongan yang memiliki orientasi sekaligus kemampuan berkarya sehingga dapat berperan Selanjutnya adalah generasi ‘X’, lahir antara tahun 1965 hingga sebagai produsen, kreator, ataupun inisiator. 1980. Anak-anak yang lahir pada generasi ini tumbuh dengan video games dan MTV, dan menghabiskan masa remajanya di tahun 1980“Sesungguhnya ini tidak hanya untuk aspek teknologi saja, tetapi an. Anak-anak remaja generasi X memiliki ciri-ciri, kurang optimistis juga dalam setiap aspek kehidupan,” kata dia. Namun, kata Masykouri, terhadap masa depan, sinis, skeptis, tidak lagi menghormati nilai-nilai jika ditelaah anak yang lahir pada abad ke-21 adalah hasil `produksi` dan lembaga tradisional, serta tidak memiliki rasa hormat kepada orangtua (lahir di tahun 70-an), yaitu generasi yang sudah memiliki orang tua mereka. Di awal 1990-an, media menampilkan generasi keinginan untuk mengoptimalkan potensinya. X secara fisik sebagai generasi yang senang memakai kemeja flanOrangtua mereka adalah umumnya orang-orang yang berpennel, suka menyendiri, banyak tindikan di tubuh, dan lebih memilih didikan tinggi. Alhasil, kemunculan generasi yang berbeda tak lepas bekerja di restoran. dari pengaruh orangtuanya yang memiliki pandangan terbuka, dan Generasi ‘Y’, lahir tahun 1981-1995, juga dikenal dengan sebutan lebih mudah menerima perubahan, terutama teknologi. -Diana Runtu
Atta Beji Pool Villa Exterior Couple
Made
Ayu
D e w i
Atta Beji Deluxeroom Interior
S aras wat i
Berinvestasi Menguntungkan di Atta Labeji Villas Dulu, memiliki sebuah villa bagaikan sebuah mimpi. Tapi sekarang, menjadi owner villa di Bali adalah kenyataan. Karena hanya dengan Rp 12 juta, masyarakat Bali sudah bisa menjadi investor dan owner Atta Labeji Villas yang berlokasi di Desa Kenderan, Ubud, Bali.
“H
al ini dikarenakan pengaruh dari sistem investasi yang ada selama ini hanya untuk
orang yang memiliki banyak uang,” ungkap Marketing & Communication of Atta La Beji Villas sekaligus Komisaris Utama BOS Land, Made Ayu Dewi Saraswati. Melihat
fenomena tersebut, akhirnya Direktur Utama BOS Land, Made Robert dan tim merasa tertantang untuk menciptakan suatu sistem investasi dan kepemilikan villa berbasis kerakyatan. Ia mengadopsi kearifan lokal yaitu mepatung, yang dalam istilah yang lebih mendunia disebut CBOS (Capitalism Based On Society) atau kapitalis berbasis kerakyatan. Sehingga, siapa pun, khususnya orang Bali, sangat mungkin untuk bisa menjadi investor maupun pemilik. Setelah sukses meluncurkan Villa Mesari yang berlokasi di daerah wisata eksotik
dan seiring waktu harganya pasti naik, voucher menginap senilai Rp 12 juta, penghasilan pasif 10% setiap tahun selama 2 tahun dan setiap 6 bulan selama 23 tahun, satu box kartu nama Atta Labeji Villas dengan jabatan owner, kupon undian untuk memenangkan grand prize 2 hektare hutan jabon dengan hasil milyaran rupiah, dan lain-lain. “Klausa ini dituangkan dalam perjanjian notaris. Beberapa investor bahkan telah melakukan penandatanganan kontrak kepemilikan unit Atta Labeji Villas di notaris,” ujar Ayu Dewi Saraswati.
Hanya dengan Rp 12 Juta, Sudah bisa Jadi Owner Villa
Ni Made Ayu Dewi Saraswati dan keluarga
Seperti halnya Villa Mesari, kehadiran Atta Labeji Villas pun mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat Bali. Tak hanya itu, hal yang sama juga terjadi ketika Atta Labeji Villas ini dipresentasikan di Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya beberapa waktu lalu. Rupanya
Ubud Bali tahun 2013, kini sang konseptor, Made Robert melalui BOS Land a Subsidiary of MESARI Land menawarkan kembali sebuah proyek villatel yang diberi nama ATTA LABEJI VILLAS. Di proyek villatel kedua yang diluncurkan Agustus lalu ini, Made Robert melakukan terobosan dan inovasi baru sehingga masyarakat Bali yang menjadi investor mendapatkan keuntungan lebih daripada sebelumnya. Di antaranya, uang pembelian lot dikembalikan 100 persen dalam beberapa tahun, mendapatkan 1 surat lot yang saat ini nilainya Rp 12 juta
investasi cerdas dan aman di villatel ini mendapatkan antusias besar masyarakat luar Bali. Mereka yang sudah berinvestasi tersebut akan melakukan kunjungan ke proyek ini. Bahkan beberapa dari investor mengungkapkan sangat memungkinkan jika proyek semacam ini dengan kon-
sep mepatung, juga bisa dilakukan di luar Bali, karena hal ini akan sangat menguntungkan bagi masyarakat setempat. Made Robert yang juga seorang motivator ini menyampaikan, hal ini menandakan masyarakat, khususnya di tanah kelahirannya, Bali, sudah melek financial untuk memiliki passive income. “Perlahan tapi pasti, kesadaran masyarakat Bali sudah mulai tumbuh bahwa merekalah yang layak menjadi tuan rumah di tanahnya sendiri. Mereka layak sejajar dengan investor asing yang berduit,” ujarnya. Ia mengatakan di zaman sekarang ini, masyarakat harus memikirkan untuk memiliki investasi. “Menjadi karyawan di perusahaan orang lain, tak masalah, asal punya investasi. Belilah sesuatu yang bisa yang menghasilkan uang. Berinvestasilah yang cerdas,” sarannya. Seperti, terobosan dan inovasi menguntungkan dan aman yang di-
lakukannya dalam proyek Atta Labeji Villas ini, diyakini akan mampu mengantarkan masyarakat Bali menuju kesejahteraan dan taraf hidup yang lebih baik. Karena dengan menjadi investor, tentu masyarakat Bali akan mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi. “Hanya dengan Rp 12 juta, masyarakat sudah bisa menjadi owner villa. Saat ini senilai hanya Rp 12 juta, dan seiring waktu harganya pasti naik,” imbuh Ayu Dewi Saraswati. Untuk itu, ia mengajak masyarakat yang belum bergabung menjadi investor, menghadiri PRESENTASI GRATIS, Minggu 13 Desember 2015, pukul 16.00 wita di Ibis Style Hotel, Jalan Teuku Umar No. 184 Denpasar. Untuk informasi lanjut, bisa datang langsung ke kantor Bos Land, Jalan Tukad Pakerisan 79 Panjer Denpasar. Untuk reservasi, telepon sekarang di nomor 0361- 4723260, 082 247 365 888, 087 861 999 658. –ten
4
Inspirasi
Edisi 878/ 7 - 13 Desember 2015
Maria Magdalena Endang Sri Lestari
Dirikan Rumah Anak HIV/AIDS Pertama Mengubah mindset masyarakat tentang penyandang HIV/AIDS tidak mudah. Anggapan bahwa HIV/AIDS adalah ‘penyakit kotor’ dan pen deritanya pun orang yang kotor pula telanjur melekat di pikiran. Pada hal tidak semua ODHA/ADHA (orang/anak dengan HIV/AIDS) karena prilaku yang tidak baik. Misalnya saja, anak-anak yang terkena HIV/ AIDS karena tertular orangtuanya, atau ibu rumah tangga yang tertular dari suaminya, atau karena penggunaan jarum suntik yang bergantian (tapi bukan narkoba), dan penyebab lainnya.
T
api sebagian ma syarakat tidak mau peduli apa penye babnya, stigma te lanjur menempel. Tak heran kalau penderita ODHA/ADHA kerap kali mendapat tindakan diskriminatif. Satu kasus memilukan pernah ter jadi dimana tiga orang anak yatim piatu--- kakak-beradik--- diusir dari kampungnya lantaran dua dari tiga anak ini terinfeksi HIV akibat tertular dari orangtuanya yang telah meninggal akibat HIV. Masyarakat yang takut tertular pun lantas mengusir anak-anak itu. Menurut Lena, begitu sapaan akrab wanita bernama panjang Maria Magdalena Endang Sri Les tari, aktivis HIV/AIDS Semarang yang juga pendiri rumah singgah Lentera, menghapus stigma ter hadap ODHA/ADHA bukan hal yang mudah, tapi juga bukan ber arti tidak bisa. Namun memang, akunya, itu memerlukan waktu dan dukungan dari semua pihak yang peduli. “Pemahaman harus terus
.
Lena, pemilik rumah singgah Lentera
sehat-sehat saja,” ungkapnya. Bertutur Lena tentang keter libatannya sebagai pendamping ODHA/ADHA. Awalnya, tutur Lena yang baru-baru ini menda pat penghargaan dari Leprid (Lembaga Prestasi Indonesia),
Peresmian rumah Lentera, Semarang
menerus diberikan kepada masyarakat, baik melalui pe nyuluhan, seminar-seminar, dan aksi-aksi lainnya. Dukungan kelu arga maupun masyarakat, sangat dibutuhkan oleh penderita untuk memulihkan hidupnya,” ujar Lena. Rasa peduli itu, kata Lena, tidak hanya cukup diungkap lewat bi cara tapi juga harus dengan aksi nyata. Dirinya, misalnya. Tidak hanya aktif melakukan penyuluhan tapi juga memelihara anak pend erita HIV di rumahnya. “Saya tidak mau hanya ngomong doang. Saya ingin mem beri contoh. Saya ingin menun jukkan bahwa tidak apa-apa berdekatan dengan pengidap HIV. Buktinya saya dan ketiga anak saya
tempat anak-anak pengidap HIV/ AIDS. Melihat anak-anak ini hati saya sungguh terenyuh. Dari sana juga muncul inspirasi mendirikan Rumah Lentera di Semarang. Saya pikir, merekabisakenapa kota Semarang yang sebesariniti dakbisa Di kota kami tidak ada rumah singgah untuk anak-anak tak mampu penyandang HIV/ AIDS. Itulah kemudian yang mendorong saya dan temanteman untuk mendirikan Rumah Lentera,” kata Lena yang lantas mengumpulkan teman-temannya untuk berbagi ide. “Saya bersyukur karena ternyata banyak teman dari ber bagai kalangan mendukung ren cana ini. Sampai akhirnya Rumah Lentera Semarang terwujud dan diresmikan pada Okrober lalu”. Yang boleh memakai rumah singgah ini, kata Lena, bukan han ya warga Semarang yang terkena HIV/AIDS, tapi juga masyarakat di luar kota semarang yang kebetulan datang berobat ke kota itu. “Yang utamanya adalah untuk anak-anak tidak mampu. Tapi keluargannya pun ketika menunggu anaknya tengah berobat, bisa mengguna kan rumah singgah ini. Dari pada mereka menginap di hotel yang membutuhkan biaya besar, lebih baik mereka menunggu di sini. Itu tidak apa-apa. Tentu saja dengan catatan mereka dari kalangan tidak mampu,” ujarnya. Saat ini, katanya, ada beberapa anak yang dalam pendampingan Rumah Lentera, mereka be rasal dari keluarga tak mampu. “Satu anak tinggal di rumah saya, usianya enam tahun. Dia tertular HIV dari ibunya. Tapi sekarang anak itu dirawat di rumah sakit karena saat diobservasi ternyata dia juga menderita penyakit lain,” ujar ibu tiga anak ini. Merintis pendirian rumah
dia bersama Nita temannya dari PKBI, kerap menggelar eventevent kemasyarakatan seperti pengobatan gratis, jalan sehat, dll. Sampai suatu ketika, katanya, ia bersama Nita menggelar pro gram peduli HIV/AIDS antara lain talk show, penyuluhan gratis dan penggalangan dana. Meski program tersebut telah berakhir, kata Lena, dirinya tetap aktif menggelar kegiatan serupa. “Saya pikir program semacam ini penting untuk masyarakat makanya saya teruskan,” katanya. Tidak itu saja, Lena juga mulai ak tif dalam pendampingan ODHA. “Lalu saya dan Nita berkunjung ke rumah singgah sekaligus panti asuhan ‘Rumah Lentera Solo’,
Lena sedang sosialisasi rumah Lentera dan HIV/AIDS dalam pertemuan rutin dengan ibu-ibu PKK Kecamatan Tembalang, Semarang
singgah di kampungnya, kata Lena, bukan hal yang mudah. Sebelumnya ia melakukan pe nyuluhan terus menerus kepada warga sekitar. Perlu diketahui bahwa rumah singgah LENTERA letaknya persis di depan rumah Lena. “Saya melakukan penyulu han terus menerus pada warga sekitar sampai akhirnya mereka memahami dan menerima, lalu kami pun mendirikan Rumah Lentera di sini,” katanya. BUKAN CUMA OMONG ‘DOANG’ Banyak ODHA/ADHA karena stigma dari masyarakat membuat mereka tidak berani keluar ru mah. Rasa malu, minder, takut, membuat mereka tak berani ber sosialisasi. Inilah yang ingin diubah oleh Lena. Itu sebabnya Lena yang juga karyawati RS Elisabeth Semarang, kerap kali membawa anak asuhnya saat acara-acara yang digelar di kampungnya. “Malah anak itu saya gendong dan tunjukkan ke masyarakat bahwa tidak apa-apa. Di sisi lain, saya sebagai ‘ibunya’ juga harus tampil baik, sehingga masyarakat melihat saya ‘ibunya’ anak ini tetap sehat, cantik dan ceria. Anak-anak saya juga begitu, mer eka tampil bersama ‘adik’nya, tidak ada kecanggungan. Mereka bergaul seperti kakak dan adik,” kata wanita single parent itu. Kegigihan Lena dalam mem perjuangkan ODHA /ADHA memang patut diacungi jempol. Meski dia tahu perjuangannya ini tidak mudah, banyak tan tangan yang dihadapinya, tidak membuatnya mundur. Lalu dari mana Lena dan kawan-kawannya
Lena saat menerima penghargaan dari Leprid
mendapatkan dana untuk mem bantu para penderita HIV/AIDS juga mengoperasikan rumah sing gah Lentera? Menurut Lena, sejauh ini mereka masih menggunakan dana sendiri, belum ada bantuan dari pemerintah. “Saya ini su dah ‘bonek, mbak,’ alias ‘bondo nekat’...hahahaha. Jadi meski tidak ada bantuan dari pemerintah, ru mah ini tetap kami dirikan karena masyarakat memerlukan tempat seperti ini. Kalau panti asuhan, banyak ya, tapi rumah singgah yang juga panti asuhan untuk anak tak mampu penderita HIV/AIDS, masih jarang,” tutur Lena yang mengaku belum mengajukan pro posal kemana pun untuk meminta bantuan dana. Masalah dana operasional, lanjutnya, sejauh ini dapat diatasi lewat event-event pengumpulan dana maupun bantuan dari do natur. “Dana yang ada pada kami masih cukup. Bahkan bisa memberi uang transpor pada para relawan,” katanya. Sekarang ini, katanya, Rumah Lentera masih mengontrak. “Saya bermimpi suatu saat kami bisa mendirikan rumah sendiri lengkap dengan kliniknya,” kata Lena yang juga aktif sebagai instruktur senam. Berbicara tentang keluarg anya, Lena yang juga single parent, mengungkapkan, dirinya tidak kesulitan ketika menyampaikan keinginannya untuk terlibat dalam kegiatan peduli HIV/AIDS. Bahkan ketika memutuskan memelihara seorang ADHA di rumah mereka pun, ketiga anaknya—usia 17 ta hun, 13 tahun dan 9 tahun--- tidak menentang. Untuk ‘memperkenalkan’ HIV/ AIDS pada anak-anaknya, Lena membawa mereka ke rumah sakit, di mana ADHA tengah terbaring sakit. “Di sana, kecuali anak bung su saya yang tidak boleh masuk, kedua anak saya ajak langsung mengunjungi ADHA. Sepulang dari kunjungan tersebut, barulah saya menjelaskan panjang-lebar kepada anak-anak tentang HIV/AIDS, dan hal-hal yang terkait dengan itu,” tutur Lena. “Dengan begitu anak anak saya bisa memahami keingi nan dan langkah ibunya. Tidak itu saja, mereka pun kadang saya ajak ikut dalam kegiatan,” tambahnya. -Diana Runtu
Mandalika
Edisi 878/ 7 - 13 Desember 2015
21
Tragedi Kebakaran di Bajo Pulo Hanguskan 64 Rumah
Sebanyak 102 Kepala Keluarga di Dusun Bajo Tengah, Desa Bajo Pulo Kecamatan Sape Ka bupaten Bima, kehilangan tempat tinggal dalam musibah kebakaran beberapa waktu lalu. Seban yak 64 rumah hangus terbakar dan rata dengan tanah serta terdapat 7 rumah rusak dalam ben cana yang terjadi menjelang Adzan Magrib itu. Kebakaran hebat yang melanda desa yang be rada di sebuah pulau di bagian timur Kabupaten Bima, Rabu, (25/11) ini, menyisakan kesedihan bagi warga yang terkena musibah.
Kondisi Dusun Bajo Tengah
Gubernur NTB, menyerahkan sumbangan untuk warga Dusun Bajo Tengah Desa Bajo Pulo, Kecamatan Sape, Bima yang mengalami bencana kebakaran.
A
pi yang menyebar dengan sangat cepat dalam waktu satu jam menghanguskan rumah-rumah panggung yang no tabene terbuat dari kayu tanpa bisa diselamatkan. Kondisi pulau yang berada terpisah dari dara tan ini membuat tim penyelamat tidak dapat berbuat banyak untuk mempercepat langkah menuju Bajo Pulo. “Api mulai membakar Dusun Bajo Tengah sekitar pukul 6 sore dan baru padam sekitar satu jam kemudian,” ungkap Bambang H. Ahmad, Kepala Desa Bajo Pulo. Menurut Bambang, api diper kirakan berasal dari hubungan arus pendek. Saat kebakaran itu
melanda, warga bahu-membahu memadamkan api secara manual menggunakan ember dan alat-alat seadanya. Namun apa daya, upaya itu tidak membuahkan hasil yang maksimal. “Rumah-rumah yang terbakar langsung rata dengan tanah. Namun kami bersyukur tidak ada korban jiwa meskipun ada beberapa orang yang terkena luka bakar dan bisa diselamatkan,” katanya. Tim penyelamat sendiri telah berupaya semaksimal mungkin untuk bisa sesegera mungkin tiba di lokasi. Menggunakan perahu boat, pukul 7 malam, satu jam setelah kebakaran terjadi, tim Tagana Dinas Sosial Kabupaten Bima, Camat Sape
dan Muspika lainnya, tiba di lokasi untuk membantu evakuasi warga. Tidak mudah memang untuk men capai lokasi ini mengingat harus menyeberang laut. “Kami datang satu jam berselang setelah api berkobar, saat tiba kami mendapati rumah-rumah telah rata dengan ta nah dan kebakaran itu menyisakan bara-bara api,” ungkap Ahmad Rais, salah seorang anggota Tim Tagana dari Dinas Sosial Kabupaten Bima. Bersama dengan tiga orang re kannya sesama anggota Tagana ini, Rais menjadi rombongan pertama yang tiba di lokasi kebakaran Desa Bajo Pulo seluas 8.000 hektare ini. Kemudian baru disusul oleh Tim Tagana lengkap dan relawanrelawan lainnya. Ia menyaksikan ratusan warga mengungsi di bukitbukit sekitar Dusun Bajo Tengah yang hangus terbakar itu. Ada pula yang mengungsi ke Bajo Timur dan ada pula yang menggunakan pera hu-perahu kecil mengungsi keluar pulau menuju daratan Sape. Pada jam 11 malam, tendatenda pengungsi mulai dibangun dan warga mendapat perlindungan mulai malam itu juga. “Sampai hari ini ada 102 tenda darurat yang diperuntukkan bagi pengungsi yang dihuni oleh masing-masing kepala keluarga,” ujar Bambang. Dari 102 Kepala Keluarga dengan 350 jiwa, kini hidup dalam tenda-tenda darurat sembari menanti perbaikan
terhadap rumah-rumah tinggal mereka yang hangus terbakar. Melihat kebakaran hebat yang melanda Bajo Pulo, simpati datang dari berbagai pihak dalam jumlah bermacam bantuan khususnya sem bako yang cukup banyak. “Kami sangat berterima kasih atas bantuan dan simpati dari berbagai pihak yang mengirimkan bantuan bagi warga yang mengalami musibah ini. Jumlahnya pun cukup untuk warga yang menjadi korban,” kata Bambang. Tidak hanya itu, Gubernur Nusa Tenggara Barat, Dr. TGH. M. Zainul Majdi pun turun lang
sung meninjau keadaan warga yang menjadi korban kebaran tersebut. Gubernur menyaksikan rumah-rumah warga yang telah rata dengan tanah akibat kebakaran tersebut. Untuk meringakan beban masyarakat yang terkena musibah tersebut Gubernur NTB menyer ahkan santuan kebencanaan berupa uang tunai senilai Rp 43, 65 juta dan logistik kebencanaan berupa peralatan dapur, peralatan kit dan beras sebanyak 2,5 ton. Sementara dari Dinas Dikpora Provinsi NTB, menyumbangkan buku, tas dan perlatan sekolah lainnya. –Naniek I. Taufan
Gubernur NTB, saat mengunjungi warga Dusun Bajo Tengah Desa Bajo Pulo yang mengalami musibah kebakaran.
Kades Bajo Pulo Harapkan Pemprov NTB Bangun Kembali Rumah Warga
Warga tinggal di tenda-tenda darurat
Selain menyampaikan kepriha tinan atas bencana yang melanda desa tersebut, Gubernur juga men gajak masyarakat untuk bersyukur dan bersabar atas karunia Allah. “Musibah tidak menghalangi kita untuk tetap bersyukur kepada Al lah,” ungkap Gubernur yang juga seorang ulama ini dalam memb esarkan hati warga Bajo Pulo. Berdasarkan rilis dari Biro Humas Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat, Gubernur NTB berjanji akan membangun kembali fasilitas umum yang ada, terutama masjid yang telah hangus terbakar. Untuk peru mahan, Pemerintah Provinsi NTB akan selalu berkoordinasi dengan
Pemerintah Kabupaten Bima untuk membangun kembali rumah warga yang menjadi korban. Hal inilah yang memang san gat diharapkan oleh Kepala Desa Bajo Pulo dan warga yang tertimpa musibah ini. “Kami sangat berharap adanya perbaikan rumah bagi warga yang tertimpa bencana, untuk meng hadapi musim hujan yang akan segera datang. Apalagi lokasi tempat tendatenda darurat yang dibangun yang dipakai oleh 102 Kepala Keluarga ini berada di tebing dimana air hujan yang turun akan langsung menuju lokasi tenda darurat tersebut,” ujarnya. Bagi kepala desa dan warg anya, musibah ini menjadi pengingat
bagi seluruh masyarakat Desa Bajo Pulo agar lebih berhati-hati lagi. Kondisi terakhir korban keba karan, menurut Bambang secara psikologis berangsur-angsur mem baik dan mulai terus berupaya untuk pulih dari trauma. Hanya saja roda ekonomi masih lumpuh. Anak-anak sudah mulai bersekolah kembali dan kini mereka fokus untuk bersama-sama membangun kembali dusun mereka yang porakporanda akibat kebakaran ini. Tim Tagana sendiri, menurut Rais telah meninggalkan lokasi sejak hari Rabu siang, (2/12) setelah membantu warga selama delapan hari sejak saat kejadian itu. -Naniek I. Taufan
20
Nine
Edisi 878/ 7 - 13 Desember 2015
Amalia Dewi Hasnuri & Siti Nurjanah
Dedikasi Dua Kasek Perempuan di Sekolah Islam Terpadu Dibalut busana muslim, dengan lincahnya anak-anak Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Al Azzam Sila, menari Saman dalam berbagai kegiatan yang digelar. Memakai busana adat Mbojo (Bima) yang telah dimodifikasi, Aura Luna Adzkiya, dan kawan-kawannya, dengan penuh percaya diri menari di depan tamu undangan. Meskipun anak-anak ini bukanlah anak-anak yang hidup dan tinggal di kota besar, namun keberanian dan kepercayaan diri mereka patut diapresiasi. Lagi pula mereka tidak berasal dari sekolah yang usianya mapan melainkan mereka berasal dari sebuah sekolah dasar yang baru berumur tiga tahun.
S
DIT Al Azzam memang memacu semangat anak didiknya untuk belajar tampil di muka umum. Selain mengutamakan pendidikan bernuansa Islami, berbagai kegiatan kesenian menjadi salah satu aktivitas yang memompa kebanggaan
bagi bocah-bocah ini. Pendidikan demikian tidak hanya bagi murid SDIT Al Azzam, tetapi begitu pula dengan anak-anak TKIT Al Azzam Sila, yang sekolahnya berada dalam satu kompleks. Tidak berbeda dengan SDIT Al Azzam, anak-anak TK ini juga mendapatkan pendidikan agama dan seni
yang mengikuti perkembangan masanya. Uniknya, dua sekolah ini, TKIT dan SDIT Al Azzam yang bernaungan di bawah Yayasan Pendidikan Bina Ul-Ummah ini, dipimpin oleh dua orang kepala sekolah perempuan. Mereka adalah Amalia Dewi Hasnuri (29)
Cari Murid Door to Door
Grup tari Saman SDIT Al Azzam
Hadirnya sekolah bernuansa Islam yang berdiri di Desa Kananga Sila, Kecamatan Bolo, Bima ini, melewati perjuangan yang tidak mudah. Hanya keteguhan hati dan kesabaran saja yang membuat sekolah ini mampu bertahan bahkan terus berkembang menjadi sangat baik. “Awalnya dari TKI Al Azzam, yang mulai ada di tahun 2009 dengan 10 orang murid yang dicari dari satu rumah ke rumah lainnya,” kata Amalia Dewi Hasnuri mengisahkan perjuangan para perintis sekolah taman kanak-kanak ini. Dengan 10 orang murid TK yang membayar SPP Rp 10.000/ bulan, para perintis ini pantang menyerah meskipun penyelenggaraan sekolah dilakukan di sebuah rumah yang dipinjamkan warga di Desa Kananga. Di rumah pinjaman inilah aktivitas belajar mengajar dimulai. Dan untuk mendapatkan
murid-muridnya, para perintis sekolah ini jalan door to door, mengetuk satu rumah ke rumah lainnya untuk bisa meyakinkan orangtua tentang sekolah dengan konsep Islami ini. Setahun berjalan, di tahun 2010, murid sekolah ini bertambah menjadi dua kelas, dengan jumlah 22 orang. Perkembangannya terus menunjukkan peningkatan yang baik. “Tahun 2011 menjadi tiga kelas dengan jumlah 30 murid,” ungkap Nuri yang menjadi Kepala TKIT Al Azzam sejak tahun 2011. Dan pada tahun 2011 saat memasuki semester dua, TKIT ini mendapatkan pinjaman tempat (tanah) untuk mendirikan ruangan-ruangan kelas sederhana bagi kelangsungan pendidikan anak-anak ini. Sejak itulah mereka tidak lagi belajar di rumah warga. Ada tiga ruangan kecil yang dibangun kala itu, yang diprioritaskan
sebagai ruang belajar mengajar. “Segala urusan administrasi, kantor dan lainnya, kami lakukan di dalam kelas,” ujar Nuri. Sampai dengan hari ini, TKIT telah memiliki 71 murid. Begitu juga dengan SDIT Al Azzam yang kini berusia tiga tahun telah memiliki 38 murid. Sedikit memang jumlah murid untuk ukuran sekolah biasa. Namun sebagai sekolah yang baru dirintis, SDIT Al Azzam mampu memberikan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan murid-muridnya. Bahkan proses belajar mengajar di sekolah ini terbilang sangat efektif dengan 14 orang guru yang siap setiap saat membimbing generasi-generasi muda harapan bangsa ini. Jumlah pengajar di sekolah ini bahkan jauh melebihi ratio perbandingan antara guru dan murid yang rata-rata 1:25. Sedangkan di sekolah ini bisa dibilang hanya 1:3. Tentu hal ini menjadi salah satu faktor efektifnya proses belajar mengajar. “Dengan 14 guru di sekolah ini, masing-masing kelas memiliki dua guru kelas dan guru-guru lain merupakan guru bidang studi,” ungkap Siti Nurjanah. Begitu pula dengan TKIT AL Azzam yang kini memiliki 6 orang guru yang masing-masing dua guru mengawal satu kelas. Inilah salah satu kelebihan TK dan SD Islam ini, yaitu memiliki pengajar yang muda dan militan. Dengan jumlah guru yang tergolong banyak untuk ukuran sekolah baru dengan jumlah murid yang tidak banyak, tentu saja mereka tidak digaji dengan nilai yang tinggi, apalagi mendapatkan tunjangan-tunjangan lainnya. UTAMAKAN KEAGAMAAN Namun guru-guru muda ini demikian bersemangat membimbing dan mendidik murid-muridnya dengan kesabaran dan keikhlasan.
Inspirasi
Edisi 878/ 7 - 13 Desember 2015
Putu Sudiarta
Sederhana namun Andal
Menekuni pilihan tentu memiliki konsekuensi. Jika tekun, keberhasilan akan datang dengan sendirinya. Apalagi di zaman serba canggih ini, perangkat makin canggih dan ini harus dimanfaatkan dengan bijak untuk memudahkan masa depan. “Semua sudah tersedia, tinggal motivasi untuk disiplin berbuat terbaik untuk diri sendiri, keluarga, dan masyarakat,” ungkap Putu Sudiarta, S.Kom., Direktur Bamboomedia.
Siti Nurjanah Kepala SDIT Al Azzam
sebagai kepala sekolah TKIT dan Siti Nurjanah (33) sebagai kepala sekolah SDIT ini. Dedikasi dan keikhlasan dua kepala sekolah muda dan seluruh staf pengajarnya di taman kanak-kanak dan sekolah dasar ini, mampu menarik minat orangtua untuk menyeko-
lahkan anak-anak mereka di sekolah ini. Perhatian para guru yang menempatkan anak-anak sebagai sahabat dan pendidikan karakter yang berlandaskan Agama Islam di sekolah ini, menjadi daya tarik tersendiri dari sekolah Islam terpadu ini. –Naninek I. Taufan
Termasuk pula dua kepala sekolah perempuan yang militan ini, yang merelakan sebagian waktunya untuk memastikan seluruh penyelenggaraan sekolah termasuk proses belajar mengajar berjalan dengan baik agar anak-anak yang bersekolah di sini mendapatkan pendidikan yang layak. Pendidikan agama, pendidikan moral dan pendidikan akhlak serta pendidikan karakter.“Yang menguatkan kami adalah guru-guru tetap menjalani training per triwulan untuk mendapatkan bekal ilmu, semangat dan support agar senantiasa ikhlas dalam menjalankan tugas sebagai guru bagi anak-anak kami di TKIT dan SDIT Al Azzam ini,” kata Nurjanah. Bagi Nuri dan Janah yang biasa dipanggil ustadzah oleh para muridnya ini, melihat anak-anak ini tumbuh dalam pendidikan yang mereka butuhkan khususnya pendidikan Islam adalah
hal yang paling membahagiakan mereka. Karena itulah di sekolah ini pendidikan lebih mengutamakan keagamaan dan berbagai ekstrakurikulernya mewarnai perjalanan pendidikan di sekolah ini. Nuri dan Nurjanah senantiasa membawa sekolah ini mampu berkomunikasi baik dengan para orangtua (wali) murid. Sekolah ini membangun kerjasama yang baik dengan wali murid dalam komunikasi yang intensif. “Kami sangat bangga atas kerjasama yang baik dari para wali murid yang begitu antusias ikut dalam berbagai kegiatan sekolah terutama yang membutuhkan keterlibatan wali murid,” kata Nurjanah. Dan demi menciptakan serta mencetak generasi Islam yang mandiri dan cerdas, Nurjanah dan Nuri mengaku akan terus bekerja keras menyukseskan anak-anak didik mereka. -Naniek I. Taufan
Pawai murid SDIT Al Azzam yang ikut memeriahkan hari besar Islam
Ia pun menuturkan ketertarikannya terhadap dunia IT berawal dari dirinya duduk di bangku SD. “Awalnya dari SD saya sangat suka pelajaran matematika. Saat kuliah coba menjadi bidang matematika terapan modern ya ketemu nya Computer Science. Intinya mencari bidang yang sungguhsungguh kita minati,” ujar pria kelahiran Klungkung, 7 Januari 1975 ini. Setelah kuliah, Sudiarta sempat bekerja di kampus di Surabaya sebagai programmer, divisi internetworking, intranet dan juga pendidik (dosen). Ia juga sempat bekerja part time di Jawa Post Group dan beberapa perusahaan PMA di Jawa Timur. Peluangnya untuk meneruskan studi ke jenjang S2 dan S3 ke RMIT sangat terbuka. Namun, karena tanggung jawab keluarga, ia akhirnya kembali ke Bali dan memulai usaha dari nol di usia 26 tahun. “Berwirausaha ternyata 3-5 kali lebih sulit daripada bekerja. Banyak sekali yang harus dipikirkan dan dikerjakan. Masa start up yang berliku dan melelahkan, namun akhirnya jalan makin kelihatan. IT adalah bidang yang dinamis, jadi menyenangkan tapi sekaligus harus rela pontang panting juga mengikuti perkembangan yang cepat serta selera pasar yang berubah,” kata suami Ida Ayu Putri Widiastuti, S.E., Ak dan ayah dari Putu Diahloka Mahaputri serta Made Bagus Kannartha Mahaputra ini. Sudiarta mulai usahanya dengan ide dan semangat 45. Ia melihat peluang lalu berjuang mewujudkannya. Ia mendirikan perusahaan dengan tujuan untuk berkontribusi pada masyarakat secara lebih.maksimal. Perusahaan adalah sebuah resource atau sumberdaya yang sistematis, yang dapat menyumbangkan perubahan yang signifikan pada masyarakat. Nama perusahaan yang ia pilih berkaitan dengan bambu. “Nama Bamboomedia memang terinspirasi dengan filosofi bambu, sederhana namun andal. Simple, flexible dan high performance,” ujarnya. Awalnya ia mencoba membangun sebuah rencana bisnis dan mengajukannya ke investor melalui internet. Hasil presentasi disimpulkan belum layak secara bisnis. Berbekal keyakinan akhirnya Sudiarta memilih melakukan eksekusi sendiri dengan selffinancial tahun 2003. Sebuah kamar ukuran 3x3 disulap men-
Sudiarta
jadi kantor kecil, dengan koneksi internet dial-up dan komputer lama. Sambil mematangkan strategi, ia menyewa sebuah tempat di Desa Singapadu, Gianyar. Satu setengah tahun kemudian ia pindah ke sebuah Kompleks Perumahan Lotus Garden, Denpasar. Waktu terus berlalu, hingga lima tahun kemudian ia dapat membeli gedung kantor sendiri. Sudiarta memilih bekerja dengan organisasi yang efisien dengan 30 karyawan, dan perusahaan ini termasuk skala menengah dengan pola pikir korporasi. Bamboomedia fokus pada pengembangan software kreatif (eLearning, Games, eBusiness) dan menjadi mitra distribusi serta partner beberapa perusahaan terkemuka. “Kami sudah menjadi salah satu developer mobile apps dan content untuk Google Android Market dan Apple iTunes. Kami juga sudah menembus pasar internasional sejak tahun 2005. Kini sedang bersiap-siap menapak menjadi perusahaan berbasis riset dan inovasi serta menjadi perusahaan berskala global,” ujar penerima banyak penghargaan, diantaranya 1st Winner eLearning Award 2008 (Pustekom Depdiknas), 1st Winner Indonedia ICT Award 2008 (Depkominfo), 1st Winner MICSA Award 2008 (Management Image Customer Satisfaction), Pri-
Sudiarta bersama timnya
maniyarta Award 2011 dari Kementerian Perdagangan RI (Katagori Ekonomi Kreatif), dan Tri Hita Karana Nugraha dari Bali Travel News 2015 ini.
5
ANAK SUMBER INSPIRASI Kini selain mengelola usaha sendiri, Sudiarta juga dipercaya membantu Kementerian Perindustrian mendesain dan menjalankan pusat Inkubasi Bisnis Digital di TohpaTI Center. Ia juga dipercaya merancang kawasan industri Denpasar Technopark dirancang di daerah Tohpati juga. Dari semua kegiatan itu, ia masih punya impian. “Kalau perusahaan, tentunya terus berusaha mengembangkan inovasi perusahaan dalam melayani pasar produk ICT yang dinamis dan terus berkembang. Membantu mewujudkan mimpi pimpinan daerah menjadikan Denpasar menjadi kota digital kreatif (animasi, aplikasi, game) melalui Denpasar Technopark,” tegasnya. Dukungan dalam berkarier juga ia dapatkan dari keluarga. Baginya dukungan keluarga sangat berarti dari awal hingga kini. Ibunya selalu menjadi panutan akan dedikasi dan arti kerja keras pantang menyerah. Anak sebagai sumber inspirasi dan energi semangat. Dan, dibalik laki-laki selalu ada sosok perempuan yang sesungguhnya adalah sumber kekuatannya. Ia pun menyebut istrinya sebagai sumber kekuatan. Terhadap kondisi sekarang ini, Sudiarta melihat anak-anak muda zaman sekarang sulit fokus. Terlalu banyak informasi yang dikonsumsi, ibarat sebuah PC yang drive C nya hampir penuh. Ia pun menyarankan anak-anak untuk menggunakan kekuatan smartphone dengan bijak untuk memudahkan masa depan, bukan sebaliknya. Semua sudah tersedia, tinggal motivasi untuk disiplin berbuat terbaik untuk diri sendiri, keluarga dan masyarakat. “Anakanak harus ditempa untuk bermental tangguh dan memiliki daya juang dalam era persaingan terbuka ini. Tapi inilah uniknya Indonesia kita. Semua akhirnya indah pada waktunya,” tegas pria yang hobi membaca ini. –Ngurah Budi
JMK Pande Wayan Suteja Neka Inspirator Pemuda Dalam Pelestarian Keris Indonesia Jejeneng Mpu keris Pande pegiat keris kamardikan dan Wayan Suteja Neka meraih pembangkit budaya keris anugerah “Joko Supo Award” bersejarah. Kecintaannya kategori ‘Inspirator Pemuda terhadap keris tak hanya dalam Pelestarian Keris Insebatas mengoleksi jumlah donesia’ dari Kementerian bilah tetapi menjadikan keris Pemuda dan Olahraga RI. sebagai penanda zaman. Ini berkat dedikasinya yang “Saya sebagai pendiri Neka tinggi dalam upaya melestariArt Museum melihat sebikan budaya keris Nusantara. lah keris tak sekedar bilah Anugerah itu diserahkan 22 kebanggaan. Keris adalah Oktober 2015 di Jakarta. penanda zaman bahwa kita “Penghargaan yang saya memiliki masa lalu yang kreterima bukanlah tujuan akhir atif,” sebutnya. saya berjuang dalam upaya melestarikan seni dan buPelestari Budaya daya khususnya perkerisan. Keris Sebaliknya dengan anugerah Penghargaan yang diberitersebut, menjadi cemeti unkan oleh Sekretariat Natuk melanjutkan perjuangan. sional Perkerisan Indonesia JMK Pande Wayan Suteja Neka Saya ingin menjadi pendo (SNKI) Jakarta pada 2010 rong semangat pemuda yang mencintai budaya atas jasanya sebagai ‘Pelestari Budaya Keris’ keris,” terang pendiri Neka Art Museum serta puluhan penghargaan lainnya (dari Ubud ini. bupati hingga presiden –red), kelak akan diKecintaannya terhadap keris, tak hanya wariskan pemiliknya JMK Pande Wayan Suteja dibuktikan dengan menambah jumlah koleksi Neka kepada generasi muda sebagai tonggak kerisnya (300-an bilah), tetapi juga membuka sejarah dan bukti keseriusannya melestarikan museumnya untuk tempat penyelenggaraan karya seni dan budaya keris Indonesia. berbagai kegiatan/even seni dan budaya Neka Art Museum, Ubud telah menjadi perkerisan. JMK Pande Wayan Suteja Neka tempat diselenggarakannya Gelar Budaya Ke telah membuktikan kiprahnya sebagai inspira- ris Indonesia dari 3 – 6 Desember 2015. Gelar tor sejati. budaya mengambil tema “Memperkuat Jati “Dulu keris dianggap sebagai kelengkapan Diri Bangsa Melalui Nilai-nilai Luhur Budaya upacara saja. Sekarang keris menjadi warisan Keris Indonesia”, diselenggarakan Yayasan budaya asli Indonesia yang telah diakui dunia Keris Brojobuwono, Surakarta bekerjasama melalui badan UNESCO-PBB sebagai The dengan Neka Art Museum yang didukung Masterpiece of the Oral and Intangible Heri- Kementerian Pemuda dan Olahraga RI. Tujuantage of Humanity pada, 25 November 2005. nya untuk memberikan pemahaman kepada Sebagai warisan budaya dari nenek moyang, generasi muda terhadap warisan kebudayaan keris mempunyai nilai-nilai Intangible yang di nasional khususnya keris Indonesia secara dalamnya sarat makna dan filosofi. Diperlukan utuh dan tidak berdasarkan keyakinan. Acara kecintaan dan sensitivitas untuk dapat mema- diisi dengan pameran budaya keris Indonesia, hami dan memaknai karya seni adiluhung,” workshop (penempaan) keris, seminar keris, jelas peraih puluhan penghargaan ini. upacara umbul mantram dan pagelaran tari JMK Pande Wayan Suteja Neka adalah keris. –ari
6
Mozaik
Edisi 878/ 7 - 13 Desember 2015
Bekal untuk Buka Lapangan Kerja Transmigrasi memiliki tujuan mulia untuk menyejahterakan kehidupan para transmigran. Selain juga untuk pemerataan pembangunan, menciptakan lapangan pekerjaan baru serta pengembangan potensi sumber daya alamnya.
M
enurut Putu Sudari sisi ekonomi atau finansial, jelas akan terlihat dampaknya. andewi, S.E. salah seorang pengusa“Mereka para transmigran ini, di ha wanita di Kota kawasan transmigrasi tentunya Denpasar dilihat dari tujuannya, jelas bakal menciptakan pusat-pusat kalau transmigrasi cocok sebagai kegiatan perdagangan serta jasa salah satu upaya untuk mengatasi yang baru. Selain juga melakukan permasalahan kepadatan penduduk. pembukaan lahan pertanian n “Bagusnya bagi transmigran yang maupun kebun baru, Hal ini yang akan berangkat biasanya diberikan berperan untuk meningkatkan bekal berbagai bentuk keterampilan pendapatan,” ujar pemilik Butik mulai dari kerajinan tangan sampai Anyar ini. pada cara berkebun maupun bertani Ia menambahkan transmigrasi yang benar,” ujarnya. mampu ikut menunjang pertumHal ini kata Dewi lebih lanjut buhan ekonomi wilayah bahkan tentu disertai harapan para transbisa dikatakan secara nasional. Putu Suandewi, S.E. migran memiliki bekal sebelum menMereka juga sukses mengubah inggalkan daerah asalnya menuju wilayah yang daerah tertinggal menjadi kawasan dan mencipbaru, agar nantinya mampu membuka lapangan takan pergerakan ekonomi baru. Selanjutnya di pekerjaan demi kehidupan yang lebih baik. sana, mereka juga akan seperti kami, membentuk jiwa-jiwa wirausaha dan tentunya berlanjut de Selanjutnya dengan koordinasi yang baik antara ngan kegiatan di sektor UMKM ,” tuturnya. daerah asal dan tujuan transmigrasi agar menekan benturan sosial budaya, maka ketika kita bicara - Sri Ardhini
Perbanyak Pelatihan Wirausaha Transmigrasi merupakan satu program pemerintah yang bertujuan memindahkan penduduk dari satu pulau ke pulau yang lain untuk pemerataan. Apakah saat ini program transmigrasi masih perlu dilakukan? Anggota Komisi III DPRD Bali, Drs. I Ketut Kariyasa Adnyana, S.P. menilai, tujuan transmigrasi untuk pemerataan dan penyeimbangan penduduk di seluruh Indonesia. “Ini orang Bali transmigrasi ke luar tapi orang luar Bali malah berbondong-bondong datang ke Bali. Padahal tujuan transmigrasi selain untuk mengurangi jumlah penduduk juga untuk pemerataan pengasilan. Kalau di Bali semua numplek sama saja. Penyeimbangan penduduk juga tak berhasil,” ujarnya. Ia berpandangan, jika tujuannya untuk mengurangi penduduk di daerah padat, justru malah tidak efektif. Menurutnya, seharusnya program yang diutamakan Bali sebagai daerah kecil bagaimana sumber daya manusia dan pengentasan rakyat dari kemiskinan. “Otomatis kalau mereka udah mendapat pekerjaan dan kemiskinan berkurang, ya tidak perlu transmigrasi,” kata Kariyasa. Menurutnya, orang Bali terpaksa bertransmigrasi. Apalagi adat istiadat di Bali mereka takut
Drs. I Ketut Kariyasa Adnyana, S.P.
meninggalkan kawitan/merajan, jadi sangat susah. Namun, bagi beberapa orang yang terpaksa bertransmigrasi mencoba mencari peruntungan di luar Bali. Memang, ia tak menampik banyak orang Bali yang berhasil. Kadang mereka juga waswas. Sebagai kelompok minoritas, sering terjadi hal yang tidak diinginkan seperti kasus di Lampung. Jadi, menurutnya, untuk saat ini, program transmigrasi belum perlu dilakukan di Bali. Justru yang sangat mendesak, perluasan lapangan pekerjaan, dan terbukanya pelatihan-pelatihan keterampilan untuk memberikan peluang masyarakat untuk berwirausaha. –Wirati Astiti
Minggu lalu dalam tulisan Navigating Through The Wave kita banyak membahas tentang a good thinker sebagai navigator dan bagaimana para pemikir hebat ini melepaskan pikiran mereka dari berbagai macam situasi yang berpotensi untuk mengganggu fokus mereka – remove them from distractions. Berhasil lolos sebagai navigator dalam kondisi sulit memberi satu tugas baru yaitu menciptakan kondisi agar pertumbuhan dan perkembangan tetap dapat berjalan ke grafik positif sekaligus menciptakan istilah mesin pertumbuhan dalam sebuah organisasi. Pertumbuhan dan pergerakan bisnis dapat diukur dengan cepat sebab bersifat kuantitatif. Kenaikan angka dapat dengan mudah menjelaskan adanya pertumbuhan. Perkembangan lain yang sesungguhnya menjadi mesin penggerak (growth engine) ini nampaknya tidak mudah diukur sebab bersifat naratif. Hanya dapat dilihat pada saat mereka menghadirkan kreasi dan hasil luar biasa yang hanya dapat dilakukan dengan tekad, semangat, keyakinan dan ketekunan yang kuat; mereka menyebutnya sebagai passion. PASSION THAT TALKS Saya terinspirasi dengan quotes positif dari sebuah buku karya Rene Suhardono & The Impact Factory terbitan Kompas;
Passion without creation is nothing dan performance without passion is meaningless. Membuat kita menekan tombol otomatis untuk mengatakan iya, saya setuju bahwa passion tanpa hasil tidak ada artinya. Demikian juga dengan hasil yang dicapai tanpa passion dalam proses yang dilalui, belum cukup memberi arti. Bagi mereka yang peka akan potensi yang mereka miliki dan keinginan yang begitu kuat untuk berkembang, passion membawa mereka berlari lebih kencang menaiki tangga pertumbuhan yang ingin mereka capai. Mereka yang benar-benar mampu memberi makna terhadap passion, menganggap passion ini sebagai bagian jiwa mereka dalam berproses. Mari kita melirik konsep indo-out. Konsep ini digunakan pada proses analisa sebuah pabrik. Sangat sederhana. Penilaian terhadap kualitas dan kuantitas bahan yang masuk (in), proses produksi yang mencakup produktifitas tenaga kerja & standar hasil produksi (do), distribusi tepat dan pasar yang tepat untuk produk yang dihasilkan (out). Jika kita giring konsep ini dari pabrik ke sisi personal development, maka passion ini ada pada setiap tahapan in-do-out. Konsep in-do-out yang dibumbui dengan passion akan memberi nilai tambah yang signifikan ter hadap hasil atau kreativitas mereka. Passion
PASSION IS AN ENGINE Passion ibarat sebuah mesin penggerak. Passion ibarat biji yang akan bertumbuh menjadi buah. Passion ibarat mentor yang membantu menentukan tujuan yang harus mereka capai. Mereka yang paham terhadap pengelolaan passion (passion management) justru muncul dengan ide menulis passion masterplan. Mereka sangat meyakini bahwa passion juga harus dikelola dengan baik dan ditempatkan pada kantong-kantong prioritas yang mereka buat. Artinya akan ada pembatasan fokus sebagai kontrol terhadap passion yang masuk ke dalam proses yang sedang mereka jalankan pada periode waktu tertentu. Mereka menyebutnya sebagai passion with supervision. Kontrol positif yang mereka terapkan bertujuan agar passion tetap mengarah pada track yang sesuai. Lantas darimana mereka mendapat passion supervision itu? Di masa sekarang kita banyak mendengar dan melihat kemampuan berbicara yang memberi inspirasi, memotivasi, menguatkan, hingga yang dapat menumbuhkan passion. Kapan terakhir kalinya kita melihat seseorang berdiri di depan publik atau di atas panggung untuk meminta feedback atau positive criticism terhadap diri mereka? Atau kapan pertama kalinya? Saya pernah mendapat satu pertanyaan dari coach saya beberapa tahun lalu; Are you willing you stand in the crowd and ask for a development feedback? Karena terlalu fokus dengan pertanyaan, tanpa disadari coach saya rupanya memberi sebuah tantangan untuk mulai melatih sisi lain dari passion yang kita miliki, yaitu berani untuk menerima feedback di depan publik. Coach saya menekankan kembali bahwa ada tang-
gung jawab yang besar di dalam pengelolaan passion dan penerimaan feedback. Dan di dalam mengelola tanggung jawab itu, you will always be the best judge to yourself. Passion sebagai mesin penggerak akan banyak dihadapkan pada lampu kuning dari feedback atau criticism orang-orang sekitar. Mereka yang melihat kondisi ini sebagai pematangan dalam pengelolaan passion, akan memilih lebih menyerap feedback yang didapat untuk dianalisa kembali sehingga mereka dapat beradaptasi dengan cepat. Beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi dan terhadap kemungkinan penolakan yang tersembunyi dalam feedback yang mereka terima. Bagaimanapun juga, menerima feedback atau criticism yang lebih menantang, benar-benar membutuhkan kesiapan mental, kematangan pikiran, dan kemauan menerima dengan terbuka. Mereka yang sampai pada tahap kedewasaan menerima atau acceptance maturity, mengilustrasikan feedback dan criticism ini sebagai sebuah hadiah - a gift. Bagi mereka yang passionate terhadap apa yang mereka kerjakan, the growth engine seolah tidak boleh berhenti. Bila perlu, mesin itu bekerja maksimal sekalipun pada saat mereka tidak menyadari bahwa passion itu sedang tumbuh dan menguat di dalam diri mereka. Bagi mereka, passion adalah hal yang luar biasa besar yang memberi impact luar biasa kuat pada setiap langkah yang mereka ambil. Apakah itu sebuah proses untuk optimalisasi hasil dari opportunity yang mereka dapat ataupun proses mencari solusi atas sebuah masalah yang terjadi, kedua situasi ini menuntut passion sebagai the growth engine dan menuntut passion to absorb more feedback. Pada setiap proses yang dijalani, mereka yakin dan percaya bahwa passionate process always deliver outstanding outcome!
19
Sulap Kayu Bekas Jadi Pohon Hias Awalnya tak pernah terpikirkan ketika melihat kayu bekas yang berserakan di tepi sungai anakan Bengawan Madiun. Kayu bekas itu terbawa arus sungai saat banjir tiba. Saat air mulai surut nampak berserakan limbah kayu sehingga tak sedap dipandang mata.
Keeping The Growth Engine membuat proses yang mereka lalui dapat berbicara lebih kuat dan lebih kencang dari kata-kata mereka. Passion speaks more.
Edisi 878/ 7 - 13 Desember 2015
M
elihat kejadian itu, Sri Handyani (45) seorang ibu rumah tangga warga Desa Cerbak, Kecamatan Slahung, Ponorogo berpikir agar kayu tersebut bisa dijadikan uang. Awalnya ragu, tapi karena bertekad, akhirnya limbah kayu tersebut diubahnya menjadi kerajinan yang bernilai jual. Meski baru satu tahun beroperasi, omzet yang didapat dalam satu bulan mencapai Rp 5 juta sampai Rp 10 juta.
Dengan dibantu suaminya dan tiga karyawannya, Sri membuat pohon hias dari plastik yang berbahan baku limbah kayu. Bermacam jenis pohon hias dibuat ibu satu anak ini, yakni mulai jenis Sakura, Gazania, Bunga Matahari, Kamboja, Anggur hingga replika Pohon Bambu. Saat ditanya, awal
ide membuat pohon hias ini dari keresahannya melihat banyaknya sampah pohon yang terdapat di tepi sungai dekat rumahnya. “Awalnya saya hanya mengumpulkan kayu bekas. Baru setelah melihat di internet muncul sebuah ide untuk membuat pohon plastik berbahan kayu limbah,” katanya. “Saya melihat limbah kayu yang tidak terpakai, alangkah
Ban “Batik” Murah Meriah Ban batik adalah istilah untuk ban bekas yang sudah tidak dipakai oleh pemilik kendaraan karena diganti yang baru. Untuk mendapatkan ban batik tidaklah sulit, cukup datang ke tempat tambal ban atau bengkel. Di situ tinggal memilih dari merek ternama maupun merek lokal, semua harganya sama. Satu ban rata-rata dijual Rp 20.000 plus pasang. Ternyata peminat ban batik cukup banyak. Biasanya mereka membeli ban batik untuk mengganti ban sepeda motor yang sudah tipis. Riyanto, warga Jalan Kota Ponorogo, salah satunya. Ia beralasan membeli ban batik karena untuk menekan pengeluaran.”Jujur saja, dengan gaji saya
yang pas-pasan untuk membeli ban baru seharga Rp 130.000 belum kuat, karena kebutuhan saya masih banyak maka saya lebih baik pilih ban batik yang lebih murah dan harganya terjangkau. Murah meriah,” ujar Riyanto. Ia mengaku ban baru lebih menjamin dari sisi keselamatan bila dibanding ban batik karena kekuatan maupun kualitasnya masih terjaga. Sedangkan ban batik kualitas maupun daya tahannya sudah 60 sampai 75 persen berkurang. Riyanto ternyata sudah berlangganan membeli ban batik lebih kurang 3 tahun. Ia menambahkan, kekuatan ban batik dua sampai tiga bulan, selanjutnya tergantung uang di kantong. “Bila ada uang sisa banyak maka saya beli ban baru, tapi kalau uang pas-pasan terpaksa saya beli ban batikan,” jelasnya. Sakri, salah satu pemilik reparasi sepeda motor di Jalan Gajah Mada Ponorogo menuturkan per hari ia bisa menjual 5 sampai 7 buah ban batik bisa terjual, saya pasang harga Rp 20.000 plus pasang,” jelasnya. Kebanyakan pembeli rata-rata orang lokal. Mereka umumnya mengunakan sepeda motor untuk jarak dekat seperti Ponorogo-Madiun. Sakri mudah mendapatkan ban bekas karena satu minggu sekali sudah ada yang mengirim. Ia membeli ban bekas harganya bervariasi berkisar Rp 8.000 sampai Rp 12.000/ban. Agus seorang bagian pengukir ban biasanya membutuhkan waktu 30 menit untuk sebuah ban. Alat pisau ukuran mini digunakan untuk mengukir ban bekas disulap menjadi ban batikan. Sakri menambahkan, masalah keselamatan yang jelas sudah tahu dan paham, tapi mau gimana lagi nyatanya peminat yang membeli ban batikan cukup lumayan bila dibanding jualan ban baru, perbandingannya 1 : 9.” Ban batik sehari mampu laku 5 sampai 8 ban, sedangkan ban baru dalam satu bulan belum tentu laku,” ungkapnya. -Dinar Perdana
baiknya kalau ini dimanfaatkan untuk kegiatan ibu-ibu di sini untuk menambah pendapatan belanja rumah tangga. Ibu-ibu di sini mayoritas kan petani, sambil menunggu hasil panennya lebih baik diisi dengan kegiatan membuat pohon hias,” imbuhnya. Lebih lanjut dijelaskan ia menunjukkan cara pembuatan pohon hias ini, yang menurutnya tidak sulit, yang terpenting ada kemauan dan tekad untuk bisa mengerjakan. Langkah awal, limbah kayu yang diambil dari sungai dijemur di bawah terik matahari selama satu minggu. Baru ketika kayu telah ker-
ing, kulit pohon dikupas, diberi lubang dan diberi cat pewarna agar kayu terlihat bersih. Setelah terpola dengan puluhan lubang, daun plastik yang ia beli dari Jakarta dimasukkan ke dalam lubang dan diberikan lem agar daun tidak mudah lepas. Sementara di bagian bawah dipasang rumput plastik. Untuk pemasaran, Sri masih mengandalkan penjualan via online maupun pemasaran melalui pameran. Sedangkan untuk harga jual satu buah pohon plastik ia bandrol mulai Rp 300.000 sampai Rp 2 juta tergantung ukuran dan tingkat kesulitan pembuatan. -Dinar Perdana
18
Kreasi
Edisi 878/ 7 - 13 Desember 2015
KOLABORASI SENI BUDAYA BALI-JEPANG
Sekelompok seniman Jepang datang ke Bali, bertemu dengan para penabuh gamelan jegog di Desa Sangkar Agung, Jembrana, pada pertengahan Nopember ini. Para pemain kendang tradisional Negeri Sakura itu bahkan bertandang dari sebuah pulau kecil di belahan utara Jepang, Pulau Sado. Walau tinggal di sebuah desa bernama Kodo, para penggebuk taiko (sebutan alat musik drum Jepang) ini sudah berkeliling dunia. Kedatangan mereka ke Bali untuk berkolaborasi seni musik taiko dengan jegog, gamelan Bali yang terbuat dari bambu. Hasil kerja musik itu, Selasa (24/11) malam lalu disajikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Penonton ter henyak dan terpukau.
G
amelan jegog, bisa jadi tak begitu umum dikenal di tengah masyarakat Bali. Tetapi di belahan Bali Barat, jegog lebih populer dari gong kebyar--ansambel gamelan Bali yang tersebar di setiap banjar dan desa. Sejak tahun 1980-an, gamelan jegog diperkenalkan di Jepang dan berhasil menambat hati penonton setempat. Adalah grup taiko Kodo dari pulau Sado yang pada tahun 1981 menghadirkan gamelan jegog di sana. Para seniman jegog Jembrana yang mengawali debut gamelan jegog di Negeri Matahari Terbit itu adalah grup Suar Agung yang dimotori oleh I Ketut Suwentra. Sejak itu sajian gamelan jegog dari Bali sering mengisi sejumlah festival seni, hampir di seluruh penjuru Jepang. Kini, seniman taiko Kodo Jepang dan penabuh jegog Suar Agung Bali bersua kembali, menyambung sejarah, memadukan rasa rindu merajut seni. Namun terlepas dari aksentuasi asahasih estetik, kolaborasi seni dari dua ekspresi dengan latar kultur yang berbeda adalah sebuah senyum dari hati ke hati di tengah fenomena kekerasan terorisme belakangan ini. Kedamaian yang tak kunjung sejuk di sebagian belahan dunia, diantaranya, karena kurang adanya dialog manusiawi dari hati ke hati. Padahal seni sebagai bahasa universal telah menunjukan “diplomasinya” meneduhkan saling pengertian antar manusia dan bangsa. Oleh karena itu, kolaborasi seperti taiko Jepang dan gamelan jegog Bali adalah sebuah percumbuan budaya yang patut terus digalang. Sikap saling menghargai dan memahami adalah kunci mulusnya kolaborasi seni, baik pada aspek seni yang dijadikan media maupun kultur yang menyangga insan-insan pemiliknya. Taiko sebagai alat musik, bukan sekedar kendang namun dia memancarkan nilai relegi-spiritual, nilai sosial-kultural, dan dan psikofilosofis. Ansambel taiko yang kini menjadi kebanggaan masyarakat
Jepang ini juga telah tersebar ke seluruh penjuru dunia yang dibawa oleh para imigran negeri itu. Begitu pentingnya arti dan makna budaya yang dimiliki taiko, kini ansambel perkusif ini masuk kurikulum sekolah-sekolah di Jepang yang wajib dipelajari para generasi muda. Kodo adalah salah
satu grup taiko Jepang, yang kini tak kalah gengsi tersohornya dengan grup musik modern terkenal Jepang. Zaman global sekarang ini rupanya membuka ruang dan peluang lebar terhadap nilai-nilai budaya lokal. Selain seni taiko Jepang yang berkibar mendunia, gamelan Bali seperti gong kebyar misalnya, juga telah menarik perhatian bangsa-bangsa sejagat. Gamelan jegog pun termasuk mulai naik daun dalam forum seni internasional, kendati di Bali sendiri kurang bergaung. Sejatinya, gamelan jegog sudah dikenal oleh masyarakat Bali Barat sekitar tahun 1912. Pada awal kemunculannya, di masa lalu gamelan jegog berfungsi sebagai media komunikasi, misalnya mengumpulkan orang-orang untuk bergotong royong dalam berbagai kegiatan komunitas-komunitas pertanian di pedesaan. Perkembangannya kemudian, gamelan ini lebih ba nyak digunakan untuk kepenti ngan hiburan, baik sebagai sajian musik instrumental maupun untuk mengiringi atraksi seni ketang kasan pencak silat. Dalam perkembangannya, gamelan jegog beradaptasi flek-
Life
Story
Edisi 878/ 7 - 13 Desember 2015
Kabur Jelang Ijab Kabul
Di salah satu sudut Rumah Sakit Jiwa (RSJ), Selagalas Mataram, Rah mat (40), duduk sambil memainkan buku yang sesekali dibukanya. Ia membaca dengan tenang. Beberapa saat kemudian, matanya menerawang jauh memandang langit. Entah apa yang dipikirkannya. Ia tidak tampak seperti pasien RSJ lainnya yang ter lihat mengalami gangguan jiwa.
sibel menerima pembaharuan. Jegog diklaim oleh komunitas seninya memiliki tiga versi, yaitu versi I Gejor (bersifat instrumental), I Suprig (mengiringi pencak silat dan tari), dan I Nyoman Jayus (iringan drama tari). Secara fisik, dibandingkan dengan gamelan Bali lainnya, jegog tampak megah
dan gagah. Penampilannya yang mendongak dan kemeriahan cat ukirannya, memunculkan kesan berwibawa penuh percaya diri. Batangan-batangan bambu besar yang menjadi media utama sumber bunyinya mencuatkan identitas yang eksotis namun agung. Sementara itu, beberapa orang seniman Bali juga terus menggali berbagai kemungkinan kreatif pada gamelan jegog. Ke n d a t i g a m e l a n j e gog memiliki tangga nada pendek, alunan nadanya menyeberangi lautan. Kini di Jepang telah ada beberapa grup gamelan jegog, diantaranya adalah sekaa gamelan Sekar Sakura. Hebatnya, Sekar Sakura dari Nagoya College of Music yang dibina Ketut Suwentra itu telah berani unjuk kebolehan dalam sebuah adu tanding (mabarung) melawan sekaa gamelan Jegog dari Bali pada
PKB tahun 1998. Kini, tahun 2000-an, gamelan jegog juga menggeliat di Amerika Serikat, salah satunya dimainkan oleh grup gamelan Sekar Jaya, San Francisco, California. Dunia seni telah terbukti begitu fleksibel dijadikan wahana persahabatan dan persaudaraan. Sejarah telah mencatat, seni telah menjadi media komunikasi antar bangsa di jagat ini. Karena itu, kolaborasi antar seni budaya bangsa Jepang dengan Bali (Indonesia), seperti yang dilakukan grup Kodo dengan sekaa gamelan jegog Suar Agung adalah kearifan budaya nan mulia. Simaklah penampilan keduanya dalam satu panggung, secara bergantian dengan identitas seninya masing-masing, lalu di bagian puncak mereka berkolaborasi dalam interaksi mempertemukan dan merajut nilai keindahan serta mereguk keteduhan damainya seni. -Kadek Suartaya
Shri Shri Shri Shivarudra Balayogi (Yogi dari Himalaya) Melihat Orang Suci adalah Berkah, Menyentuh Orang Suci, Mengurangi Dosa, Bercakap dengan Orang Suci, Membebaskan Belenggu Karma, Menjalankan Ajaran Orang Suci, Memberi Moksa
Free
Om Swastiastu Banyak orang telah menyadari pentingnya berkah atau Darshan dari seorang Yogi. Darshan menyimbulkan Shakti (Energi Ketuhanan), Shanti (Kedamaian), dan Vidya (Pengetahuan). Orang suci selalu memberikan Darshan untuk membantu kita berevolusi, keluar dari “kegelapan” sehingga dapat menjalani kehidupan dengan lebih baik, lebih damai, dan lebih sejahtera. Shri Shri Shri Shivarudra Balayogi atau Babaji adalah seorang Yogi dari Himalaya India. Babaji mempunyai misi, mendatangi umat manusia untuk memberi darshan, membangunkan sprititualitas, membimbing, dan menginisiasi dalam dhyana sehingga lepas dari penderitaan badan dan pikiran serta menemukan kedamaian sesungguhnya.
Shri Shri Shri Shivarudra Balayogi akan hadir di Gianyar untuk program sbb: 1. Hari/tanggal: Kamis/ 17 Desember 2015 Tempat: Griya Bhujangga Waisnawa Bhasundari Batur Anyar Desa Belega Kec. Blahbatuh, Gianyar Jam: 15.00 – 17.30 Wita Acara: Penjelasan tentang Meditasi, Inisiasi, Praktek Meditasi dan Darshan 2. Hari/tanggal: Jumat/ 18 Desember 2015 Tempat: Gedung Bale Budaya, Jln Dipta Gianyar Jam: 17.00 – 20.00 Wita Acara: Agni Hotra dan Darshan Pakaian : Adat (non Hindu: sopan, rapi dan menyesuaikan) Hadirlah bersama keluarga/teman/sahabat dalam acara tersebut dan terimalah Darshan dari Yogi ini. Om Santih, Santih, Santih, Om
Kontak: l Gede Wijaya (083119366667)
l
I Gusti Putu Suharta (081999932333)
7
R
ahmat terlihat lebih pendiam dan tenang. Kala itu, ia telah sebulan dirawat di RSJ ini setelah sebelumnya ia mengalami masa-masa sulit melawan gangguan jiwa yang dialaminya. Ada yang bilang, gangguan jiwa yang dialami Rahmat akibat “diguna-guna”. “Sakit yang ‘dibuat’ orang yang sakit hati,” ungkap Rohaya, kakak ipar Rahmat yang mengalami langsung kejadian yang diperkirakan menjadi penyebab Rahmat ‘dikerjai’ orang ‘pintar’. Rohaya sendiri sangat mengerti jika pun adik iparnya itu dikerjai orang seperti ini karena ulahnya sendiri. Rohaya ingat betul peristiwa yang sangat memalukan itu. “Saya dan ayah saya bahkan hampir dibunuh orang akibat peristiwa itu,” ujarnya. Dua belas tahun yang lalu Rahmat yang seorang Pegawai Negeri Sipil ini, tinggal bersama kakaknya (suami Rohaya) di Pulau Sumbawa. Pemuda ini tergolong cerdas dan karirnya pun sangat baik. Ia juga tampan. Pesonanya menjadi lebih bersinar karena ia lebih banyak tersenyum dan tidak banyak bicara. “Cewek-cewek sangat banyak yang menaksir Rahmat,” ungkap Rohaya. Selama bertahun-tahun Rahmat hidup di rumah kakaknya inilah, yang membuat Rohaya sangat mengenal adik ipar yang di matanya sangat baik ini. “Dia orangnya sangat baik dan selama tinggal dengan kami, rasanya ia tidak pernah punya masalah. Salatnya juga rajin,” kata Rohaya. Namun, diakui Rohaya bahwa beberapa kali ada perempuan yang berkelahi untuk merebut
perhatian Rahmat. Rohaya sendiri tidak tahu apakah perempuanperempuan itu berkelahi akibat Rahmat menduakannya ataukah hanya mereka saja yang saling ingin merebut perhatian Rahmat. Sementara itu Rahmat terlihat santai-santai saja. Rohaya juga tidak pernah melihat Rahmat membawa pacarnya ke rumah mereka. Pokoknya di mata Rohaya dan suaminya, Rahmat adalah pemuda yang baik. Hingga akhirnya, suatu hari ada seorang perempuan ditemani ayahnya datang ke rumah Rohaya. Perempuan ini menangis tersedu-sedu sambil mengaku bahwa ia sudah berhubungan badan dengan Rahmat. Intinya ia sudah tidak perawan lagi gara-gara Rahmat. “Saya juga tidak tahu apakah cerita perempuan itu benar atau tidak. Yang pasti Rahmat sempat diam dan mengakui itu pacarnya,” kata Rohaya. Bagi masyarakat di kampung itu, soal keperawanannya menjadi hal yang sakral, karena itu keluarga perempuan ini terlihat sangat marah dan meminta pertanggungjawaban dari Rahmat. Rahmat tak bia mengelak dan akhirnya setuju menikahi perempuan ini. Pernikahan itu pun dilakukan buru-buru dan sesegera mungkin. Hanya seminggu dari kedatangan perempuan itu bersama ayahnya,
“Alangkah marahnya keluarga calon pengantin perempuan. Kami jadi sasaran, bahkan saya dan ayah saya sempat ditodong parang di leher kami karena di anggap kami mempermainkan keluarga mereka,”
pernikahan ini pun berlangsung. Mengingat Rahmat tidak memiliki keluarga di Pulau Sumbawa juga ayahnya telah meninggal dunia, akhirnya yang mengurus pernikahan ini adalah Rohaya dan ayah Rohaya. Kakak Rahmat sendiri (suami Rohaya) kala itu tengah tugas belajar ke Pulau Jawa dan tidak bisa menghadiri apalagi mengurus pernikahan buru-buru adik kandungnya itu. Jadilah yang sibuk adalah Rohaya dan ayahnya. Hari itu, pengantin perempuan telah bersiap dengan kebaya di rumahnya. Sementara Rahmat juga tengah bersiap dan memakai jas serta kopiah. Ditemani Rohaya dan ayahnya serta seorang paman dari Rahmat yang kebetulan bisa menghadiri acara pernikahan itu. Jadilah mereka berempat, Rohaya, ayah Rojaya, paman Rahmat dan Rahmat menuju rumah pengantin
perempuan. Dengan pakaian jas lengkap sepanjang perjalanan, Rahmat dan pamannya terdengar berbincang-bincang dengan pamannya ini. “Agak berbisik memang, saya pikir pamannya tengah menggoda Rahmat yang akan menjadi pengantin baru atau malah sedang menasehati Rahmat tentang hal-hal memasuki kehidupan berumah tangga,” kaya Rohaya. Rupanya dugaan Rohaya meleset.
Setibanya di rumah calon pengantin perempuan yang sudah terlihat duduk di lokasi ijab kabul didampingi orang tua dan keluarganya juga saksi nikah dan penghulu, Rohaya dan rombongannya yang berjumlah empat orang itu menaiki rumah panggung calon pengantin perempuan. Penikahan ini dihelat sangat sederhana hanya ijab kabul saja, tidak direncanakan acara pesta atau sejenisnya. “Pokoknya yang penting hal yang wajib saja, yaitu ijab kabul,” ujar Rohaya. Saat Rohaya dan ayahnya serta pamannya menapaki tangga rumah calon pengantin perempuan itu, Rahmat turun dari mobil belakangan. Ia beralasan ingin menenangkan diri sejenak sebelum pelaksanaan ijab kabul. Tentu saja hal ini dimengerti oleh Rohaya dan keluarganya. Mereka membiarkan Rahmat naik belakangan. Namun, sekitar setengah jam menunggu Rahmat naik ke rumah panggung itu, Rohaya mencari Rahmat di mobil. Namun lelaki itu tidak ada dalam mobil. Semua orang yang hadir berpikir ia mungkin tengah ke toilet. Namun setelah satu jam berlalu, setelah dicari di semua tempat sekitar rumah calon pengantin perempuan, Rahmat tidak ditemukan hingga akhirnya diketahui Rahmat melarikan diri. KABUR KE JAKARTA “Alangkah marahnya keluarga calon pengantin perempuan. Kami jadi sasaran, bahkan saya dan ayah saya sempat ditodong parang di leher kami karena dianggap kami mempermainkan keluarga mereka,” kata Rohaya. Rohaya dan ayahnya tidak dapat berbuat banyak kecuali Tuhan menyelamatkan
mereka karena keluarga calon pengantin perempuan menyadari itu bukan kesalahan Rohaya dan ayahnya. Mereka berdua dinilai justru telah berniat sangat baik sudah sampai mengantar pengantin laki-laki ke tempat pernikahan itu. Alangkah malunya Rohaya dan ayahnya yang kemudian pulang ke rumah dan berusaha mencari Rahmat. Sampai akhirnya Rohaya tahu kejadian sebenarnya. “Sesaat sebelum naik ke tangga rumah calon pengantin perempuan, Rahmat memang ke toilet untuk buang air. Di dalam toilet itulah Rahmat termakan pengaruh pamannya saat bicara bisik-bisik dalam mobil ketika menuju lokasi pernikahan. Pamannya itulah yang meminta ia melarikan diri saja agar tidak jadi menikah,” ungkap Rohaya. Dan, itu dilakukan Rahmat yang akhirnya melarikan diri ke Jakarta. Ia tinggalkan kariernya yang terbilang sangat bagus. Selama di Jakarta rupanya Rahmat mengalami hal-hal aneh seperti orang berhalusinasi dan mengalami sakit yang berkepanjangan. Sudah berobat ke sana kemari namun tak kunjung sembuh. Setelah bertahun-tahun sakit, akhirnya entah apa sebabnya, Rahmat sembuh total dari sakitnya itu. Normal seperti tidak pernah terjadi apa-apa sampai akhirnya ia kembali ke NTB dan menikahi perempuan desa di Pulau Lombok. Usai menikah penyakitnya itu kambuh lagi, semakin parah. “Sampai ia dirujuk di Rumah Sakit Jiwa,” ujar Rohaya. Inilah yang disebut Rohaya kemungkinan ia kena guna-guna. Namun, apapun yang terjadi pada Rahmat, jikapun benar ia kena guna-guna, Rohaya dan keluarganya pasrah dan memaklumi semua yang terjadi akibat dosa dan kesalahan Rahmat. Mereka tetap berharap agar suatu saat nanti Rahmat dapat sehat seperti semula. -Naniek I. Taufan
8
Bunda & Ananda
Edisi 878/ 7 - 13 Desember 2015
Wisata Petik Stroberi di Sembalun
Hari Minggu, pukul 06.00 wita, Tihang, Inu, dan Oca bersiap menuju Sembalun Lombok Timur. Ketiga anak berusia 14 tahun ini sudah tidak sabar ingin memetik langsung buah strawberi dan mendaki Bukit Pergasingan di Sembalun yang merupakan kaki Gunung Rinjani ini. Perjalanan menuju Sembalun yang dingin ditempuh dalam waktu dua setengah jam naik mobil dari Mataram. Perjalanan ini dilakukan untuk mengisi waktu libur mereka.
S
epanjang perjalanan menuju Sembalun, ketiga siswa MTSN 1 dan MTSN 2 Mataram ini, dapat menyaksikan hutan lindung yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani. Lebat dan dingin. Kabut sesekali masih turun meskipun matahari sudah mulai meninggi. Pada puncak Sembalun, tempat yang biasa dipakai oleh para wisatawan untuk beristirahat, ketiganya dapat menikmati dinginnya Sembalun yang menusuk tulang meski sinar matahari menyala. Inilah puncak tertinggi dari Sembalun. Dari sini sepanjang mata memandang dapat terlihat bukit-bukit sekitar Gunung Rinjani nan hijau yang berderet indah. Nun jauh di sana, Desa Sembalun tampak dengan jelas. Rumah-rumah terlihat dari jauh. Sehingga di lokasi inilah wisatawan biasanya berdiri untuk memotret diri berlatar Desa Sembalun di kejauhan. Tihang, Inu, dan Oca pun tidak mau ketinggalan momen ini. Tempat ini menjadi sangat ramai karena dijadikan tempat istirahat bagi wisatawan khususnya yang telah menempuh perjalanan dari Mataram sekitar 2,5 jam lamanya. “Lelah perjalanan langsung hilang ketika menyaksikan pemandangan Sembalun nan elok ini,” ungkap Juna, salah seorang pengunjung
yang membawa kamera. Di hampir setiap sudut areal yang tidak luas ini, para pengunjung sibuk dengan kamera yang kebanyakan memakai kamera HP untuk berfoto. “Rasanya tidak ada orang yang mampir ke sini yang tidak mengabadikan pemandangan cantik ini. Jika tidak rasanya rugi sekali,” ujar Ranti, pengunjung lain yang rupanya datang dari Jawa Timur hendak berlibur ke Sembalun. Lain Ranti dan Juna lain pula ketika remaja Tihang, Inu, dan Oca. Mereka bertiga sibuk menapaki bukit-bukit pendek ini dengan riang, sembari sesekali berfoto di tebing-tebingnya. Angin terus berembus menerpa, matahari tertutup awan dan dingin semakin menjadi. Banyak pengunjung yang buru-buru masuk mobil untuk melanjutkan perjalanan, termasuk ketiga remaja ini. Hanya sekitar 15 menit perjalanan dari puncak Sembalun tersebut, mereka tiba di kebun stroberi. Di sepanjang jalan desa saat memasuki Sembalun, banyak warga yang menawarkan untuk wisata petik buah stroberi. Tarifnya sekali masuk Rp 10.000/orang. Seluruh stroberi yang dipetik akan ditimbang ketika keluar dari kebun ini. “Jika masuk dan petik sambil makan stroberi bayarnya Rp 15.000/orang,” kata salah seorang pengelola kebun stroberi. Tarif ini
Indosat Ooredoo Hadirkan Layanan 4GPlus INDOSAT Ooredoo meluncurkan layanan 4GPlus serentak secara nasional, termasuk di Bali, Senin (30/11). Menurut Head of Indosat Area Bali Nusra, Heny Tri Purnaningsih, layanan yang dihadirkan Indosat Ooredoo merupakan yang terkuat karena bisa melayani 40 juta pengguna seluruh Indonesia. Bahkan tahun depan, ditargetkan ada penambahan sekitar 5 juta pengguna per bulannya. Ia optimis, layanan 4GPlus milik Indosat Ooredoo akan diterima masyarakat Bali. Layanan ini memiliki kecepatan yang luar biasa dan akan membuat pengguna nyaman dalam menggunakan layanan data. Division Head Operations & System Capabilities Indosat Ooredoo, Hita Supranjaya menambahkan selama dua tahun terakhir ini, Indosat Ooredoo telah berhasil dalam investasinya memodernisasi jaringan. Modernisasi ini mampu membawa Indosat Ooredoo menggandakan kecepatan jaringan data dan menghadirkan layanan internet tercepat. Kekuatan jaringan ini lah, kata dia, yang dipakai modal Indosat Ooredoo dalam melayani pelanggan, baik personal maupun bisnis. Pelanggan akan bisa menikmati kecepatan download hingga 185 Mbps. --rls
Suasana wisata strawberi
berlaku sampai pengunjung siap untuk keluar. Artinya tidak ditentukan waktunya melainkan harus membayar seluruh buah stroberi yang dipetiknya. Tihang, Inu, dan Oca pun dibekali keranjang saat memasuki kebun strawberi. Pengalaman petik langsung buah stroberi menjadi pengalaman yang mengasikkan bagi ketiga remaja ini. Mereka menikmati dinginnya Sembalun di antara buah stroberi yang memerah. Dengan antusiasnya ketiganya memetik buah segar ini. Hingga beberapa saat, karena harus melanjutkan perjalanan ke Bukit Pergasingan yang tidak jauh dari kebun-kebun strawberi ini, mereka pun keluar dengan membawa stroberi yang cukup banyak. Lalu hasil panen mereka ditimbang hingga mencapai lima kg.
“Kalau hari Minggu dan hari libur lainnya, harga buah stroberi Rp 80.000 jika hari biasa harganya Rp 60.000,” begitu penjelasan sang pemilik kebun. Artinya, ketiga anak ini harus membayar tiket masuk Rp 30.000 dan ditambah dengan harga
stroberi Rp 400.000. Lumayan mahal untuk ketiga bocah yang tidak mengerti trik berwisata ini. Lalu seorang pengunjung memberi mereka tips agar lebih murah berwisata petik buah stroberi ini. “Lebih baik masuk dengan tiket petik dan makan stroberi, petiknya hanya secukupnya saja sehingga bisa lebih murah,” kata Fatimah yang juga tengah mengantar anak-anaknya berwisata ke kebun stroberi ini. Tips wisata yang sangat bermanfaat bagi anak-anak ini. Namun, semahal apapun yang telah dibayarkan oleh Tihang, Inu, dan Oca, tidak ada yang lebih mahal lagi dari kekayaan pengalaman yang mereka dapatkan dalam mengenal alam dan mengagumi keindahan kaki Gunung Rinjani ini. Dengan cerianya, mereka pun melanjutkan perjalanan menuju Bukit Pergasingan dimana di sana mereka dapat menyaksikan tubuh Gunung Rinjani secara utuh. -Naniek I. Taufan
Pesta tak Lengkap
Tihang, Inu, dan Oca
Pendongeng yang belum boleh pulang
“Kanda bohong! Dongeng yang Kanda ceritakan adalah dongeng-dongeng yang sudah dikenal dewadewa!” katanya dengan suara keras. “Kau tahu dari mana?” tanya Dewa Pencipta heran. “Seorang istri menyeritakan dongeng itu kepadaku. Katanya ia dapatkan dongeng itu dari suaminya.” Dewa Pencipta penasaran. Seketika itu pula beliau memanggil suami dari istri peñata rambut itu. “Dari siapa kamu mendapatkan dongeng tentang langit, bumi, dan lain-lainnya itu?” tanya Dewa Pencipta kepada Dewa yang suka menguping. Dewa Penguping itu pun menjelaskan hal-ihwal dari mana ia mendapatkan dongeng-dongeng itu. Bahkan ia mengusulkan agar dongeng itu diceritakan kepada dewa-dewa dan manusia agar berakal-budi. Mula-mula Dewa Pencipta dan istrinya marah mendengar perilaku dewa yang suka menguping itu. “Tidak tahu sopan santun!” katanya. Namun mendengar usul yang terakhir itu, Dewa Pencipta lalu berkata, “Hai, Dewa yang suka mendengan dongeng! Mulai saat ini kau dan istrimu kuperintahkan untuk turun ke bumi. Tugasmu adalah menyeritakan semua dongeng itu kepada manusia. Buatlah manusia agar berakal-budi! Sebelum semua dongeng itu kamu ceritakan kepada semua manusia, kamu tidak boleh pulang ke kayangan.” Dewa Penguping itu pun turun ke bumi dan melaksanakan perintah Dewa Pencipta. Ternyata dongeng-dongeng itu tak pernah habis. Masih banyak manusia yang belum mendapat giliran mendengarkan dongeng itu. Kasihan pendongeng itu! Sampai sekarang ia belum boleh pulang ke kayangan.
17
Edisi 878/ 7 - 13 Desember 2015
tanpa Photo Booth
Bali kuno
Japanesse pink love
Mendongeng Lima Menit Dewa Pencipta yang tinggal di kayangan, setiap malam mendongeng untuk istrinya. “Kamu siap mendengarkan dongeng?” Made Taro tanyanya. “Siap!” jawab istrinya. “Tetapi dongeng itu harus baru dan belum dikenal oleh dewa-dewa lainnya.” Dewa ahli dongeng itu pun memulai ceritanya. Sang istri sangat senang, mata dan telinganya tak pernah lengah. Kebetulan malam itu seorang dewa lewat di depan pintu kamarnya. Mendengar cerita Sang Pencipta, dewa itu pun tertarik dan bersungguh-sungguh mendengarkan dari luar pintu. Hal itu dilakukannya setiap malam. Ia banyak tahu dongeng-dongeng tentang langit, bumi, manusia, burung, ikan-ikan, dan lain-lainnya. Dewa Pencipta dan istrinya sama sekali tidak menyadari bahwa di luar situ, seorang dewa sedang menguping. Setiba di rumah, Dewa Penguping itu mengisahkan dongeng-dongeng yang baru didengarnya itu kepada istrinya. “Dongeng itu sangat menarik dan amat berguna untuk mengasah akal-budi,” demikian kesan istrinya. Beberapa hari kemudian, istri Dewa Penguping itu dipanggil oleh istri Dewa Pencipta ke istana. Ia ditugasi menata rambut sang istri Dewa Pencipta. Di tengah kesibukan itu, ia juga diminta mendongeng. Sedang asyik menyeritakan dongeng yang terakhir, tiba-tiba istri Dewa Pencipta bangkit dan secepatnya menemui suaminya.
Griya
Dalam sebuah pesta pernikahan, yang menjadi perhatian bukan hanya soal pakaian dan keperluan sang pengantin, namun kepuasan tamu undangan juga jadi salah satu alasan kenapa calon pengantin dan keluarga rela menghabiskan banyak dana. Yang tengah menjadi tren dan daya tarim tersendiri saat ini adalah memanjakan para tamu dengan membuat stand photo booth.
M
enurut Kenrina Anggoro Wulandari,S.E., pemilik Bali Izatta Wedding & Floris Decorator, usaha jasanya adalah pihak ketiga yang banyak diajak bicara untuk merumuskan pesta pernikahan maupun perayaan lainnya yang
berbeda dari yang lainnya. Salah satunya adalah menghadirkan satu area untuk para tamu dapat mengekspresikan diri, sehingga pemilik acara dan undangan sama-sama merasakan bahagia. Stand photo booth, diakuinya sejak 2014 memang menjadi salah
Momen on Frame
Heritage white chic
satu fokus di acara pernikahan dan dijadikan suvenir bagi para tamu undangan, dengan menyiapkan forografer dan foto langsung dicetak di lokasi untuk diberikan pada tamu dan dibawa pulang. Sementara soal biaya atau budget, dikatakannya semua menyesuaikan dengan tema dan jenis properti yang diperlukan. Namun, untuk sebuah photo booth modern yang simpel atau minimalis, Kenrina menyebut angka mulai dua juta-aan. Namun, katanya sejak awal 2015 tren bergeser sesuai dengan perkembangan teknologi dan hobi selfi dimasyrakat. Stand photo booth bukan hanya hadir di acara pernikahan tapi juga diberbagai perhelatan lainnya, diantaranya acara pertunangan, pesta ulang tahun, anniversary,wisuda, reuni,peresmian kantor, dan pameran. Tamu undangan pun tinggal memanfaatkan area ini menggunakan kamera ponselnya
Simple Retro
yang kini canggih-canggih Untuk wilayah Bali, Kenrina mengakui jika Bali Izatta Wedding cukup ramai menangani atau menyiapkan stand photo booth yang konsepnya unik - unik dengan tema dan konsep pemilik acara. Mulai dari tema Balinese seperti heritage tradisional vintage, heritage royal hingga aneka konsep modern lainnya. Ditanya soal kendala ketika menggarap sebuah tema, Kenrina, yang mendirikan Bali Izatta Wedding, di atas komitmen demi sang buah hati tercinta hingga ia memilih berhenti bekerja di dunia perhotelan ini, menyatakan meski terkadang harus keliling pelosok Bali untuk mendapatkan properti sesuai tema, ia dan tim kerjanya mengaku mengerjakannya dengan senang hati bahkan selalu tertantang. “Apalagi setelah selesai kemudian klien tersenyum dan mengucapkan terima kasih, maka semua lelah dan penat bisa menguap,” katanya saat ngobrol dengan Tokoh di kantornya di kawasan Jalan Ciung Wanara, Renon. Bicara tren, untuk stand photo booth saat ini, katanya selalu menjadikan suasana yang ber-
Kenrina
beda, pusat perhatian dan dipastikan ramai. Untuk konsepnya hingga kini lebih banyak memilih kembali kealam dibandingkan material pabric. “Misalnya karpet diganti tikar, begitu juga dengan pilihan bunga-bunganya,” kata perempuan energik klien WOnya 70 % mancanegara dan 30 %persen lokal yakni dari Medan, Surabaya dan Jakarta. – Sri Ardhini
“...meski terkadang harus keliling pelosok Bali untuk mendapatkan properti sesuai tema, ia dan tim kerjanya mengaku mengerjakannya dengan senang hati bahkan selalu tertantang...”
Modern sweet
16
Persembahan pesona keindahan laut dengan menghadirkan keindahan terumbu karang kini menjadi kebanggan masyarakat Pemuteran, Buleleng. Apa yang dihadirkan saat ini tak seindah kondisi di masa lampau. Keadaan Pemuteran di tahun 1980-an, dengan teluknya Nyegara Gunung ini dulunya hanyalah lahan tandus yang jauh dari gemerlap pariwisata Bali.
K
Pelesir
Edisi 878/ 7 - 13 Desember 2015
ebiasaan masyarakatnya yang menangkap ikan dengan cara menggunakan bahan peledak yang justru turut merusak pertumbuhan terumbu karang di dasar laut. Dibalik kerusakan ini rupanya dipandang serius oleh I Gusti Agung Prana. Pria yang berusia 68 tahun ini memandang kawasan Pemuteran menyimpan potensi yang yang tersembunyi untuk dijadikan sebagai destinasi wisata. “Pada waktu itu tempat ini saya temukan dalam aura spiritual ketika melakukan perjalanan spiritual, “ ujarnya. Agung Prana begitu dia disapa dalam intuisinya menangkap pentingnya dilakukan rehabilitasi dengan mengajak peran serta masyarakat. Masyarakat yang memiliki kebiasaan merusak biota laut untuk kemudian dijualnya sebagai kebutuhan ekonomi berusaha untuk mengubah pola pikir yang sudah menjadi kebiasaan. Sehingga hal ini menjadikan tantangan terberat baginya untuk menyadarkan masyarakat. Dengan komitmen yang kuat akhirnya masyarakat memahami apa yang diharapkan Agung Prana kendati sebelumnya ditolak se-
Bio Rock cara mentah- mentah. “ Pada saat mulai menyampaikan niat kepada masyarakat, diujilah goodwill kami oleh Yang Maha Kuasa. Kami sempat ditolak masyarakat setempat. Mereka bilang, kami sudah gak makan. Makan sekali dari hasil laut, sekarang bapak stop kami, memang kami mau makan apa?, “ imbuhnya. Apa yang kemudian dilakukan Agung Prana menjadikan Pemuteran perlahan tumbuh. Melalui program rehabilitasi karang agar masyarakat beralih ke sektor pariwisata. Sebuah cottage pun saat saat itu didirikannya dengan mulai memberdayakan masyarakat lokal. Agung Prana melalui Yayasan Karang Lestari melakukan program rehabilitasi terumbu karang teknik baru bekerjasama dengan dua orang ahli terumbu yakni Thomas J Goreau asal Amerika Serikat dan Wolf Hibertz asal Jerman. Mereka memulai melakukan rehabilitasi terumbu karang dengan teknik baru yakni dengan mengalirkan listrik bertegangan rendah pada kerangka rumpon di bawah dasar laut, atau biasa disebut Biorock. Rumpon-rumpon itu kemudian ditenggelamkan di dasar laut sedalam sekitar 12 meter. Ribuan bibit terumbu karang juga diikat dengan kawat pada rumpon tersebut, lalu dialiri listrik berkekuatan rendah sekitar 12-20 volt. “ Aliran listrik ini memberi dampak pada semakin cepatnya perkembangan terumbu karang, “ kata Prana yang juga pemilik dari Home Stay Taman Sari di Pemuteran. Upaya mereka ini akhirnya mam-
Bio Rock
Edukasi
Keindahan Terumbu Karang di Pemuteran
Pantai Pemuteran
pu mengembalikan keindahan terumbu karang di Teluk Pemuteran yang eksotis. Dengan mengedepankan pentingnya Community Based Development dalam membangun sebuah usaha pelestarian terbukti sudah banyak mendatangkan wisatawan utamanya dari Eropa seperti wisatawan Jerman, Belanda, Perancis, bahkan wisatawan Amerika Serikat dan Australia juga mengundang ketertarikannya sebagai esensi pariwisata spiritual karena berlokasi di kawasan yang sepi dan tenang. “ Pariwisata disini memiliki esensi spiritual, energi spiritual akan muncul apabila lingkungan terjaga. Kalau tidak terjaga hilanglah spiritualnya, “ kata Prana. Lebih lanjut dikatakannya, di tempat ini wisatawan juga bisa melakukan aktivitas seperti menikmati karang dengan Snorkeling atau melihat lewat Glass Bottom Boat. Ada juga Night Dive melihat kecantikan terumbu karang di malam hari yang aman dilakukan pada kedalaman 20 – 25 meter yang ditemani oleh pemandu di sekeliling karang. Begitu juga bagi anak- anak yang tertirik mempelajari kehidupan laut. Lewat Marine Tourism para pelajar bisa mendapatkan edukasi tentang pentingnya aspek kehidupan di alam di laut.
Apa yang ditampilkan oleh Desa Pemuteran saat ini mengundang apresiasi dari Kementerian Pariwisata. Keunggulan Desa Pemuteran akan diusulkan ke Madrid sebagai destinasi pariwisata berbasis konservasi alam, khususnya coral laut di ajang kompetisi yang dilakukan oleh United Nation World Tourism Organization (UNWTO) pada bulan Januari 2016 nanti. “ Pertimbangannya, disini terbukti bahwa pariwisata sudah mampu mengubah paradigma masyarakat
dari merusak karang menjadi menjaga karang. Ini menunjukan bahwa kalau ada kritik pariwisata itu merusak lingkungan justru pariwisata menjadi wahana yang sangat baik untuk pelestarian lingkungan, “ kata Prof. I Gde Pitana, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara saat memberikan Bimbingan Teknis mengenai Promosi Pariwisata Mancanegara kepada wartawan di Pemuteran, Kecamatan Gerokak, Kabupaten Buleleng.
dengan menggunakan tools/software yang tepat untuk usia tersebut,” ujarnya seraya menyebut pivot animator sebagai salah satu tools untuk animasi. Dari 150 karya anak-anak SD ini, dipilih 100 karya untuk dipamerkan kemudian 10 terbaik diberi kesempatan presentasi. Hasilnya, terpilih sebagai juara 1 I Made Ananda Diva Adhinata (SD Kristen Harapan), juara II Putu Satria Yoga Abimanyu (SD Saraswati 4), dan juara III I Putu7 Aryana Kusuma Putra (SD Saraswati 2). “Saya tidak menyangka Abi bisa meraih juara II. Awalnya saya sempat melarang dia ikut karena takut matanya rusak kalau terus di depan komputer. Komputer yang dipakai pun pinjam dari uwaknya. Akhirnya saya biarkan saja, malah dapat juara II,” ungkap Niswatul Mukaromah, ibunda Abi. Ia juga menuturkan Abi memang senang bermain komputer. Saat teman lain belum bisa, Abi sudah bisa duluan. Untuk keperluan lomba, Abi sering meminjam
9
“Banting Tulang” demi Anak-Cucu Pengalaman transmigrasi kerap menjadi hal yang tak terduga. Namun, berkat kerja keras para transmigran Bali yang berada di Poso sejak tahun 1981, kini mereka tinggal memetik hasilnya. “Sekarang yang ada adalah generasi kedua. Bagaimana awal mulanya hingga berada di daerah transmigrasi, banyak dituturkan orangtua kami,” ungkap Ketut Putra Ariawan, salah seorang warga Bali yang menjadi transmigran.
D
ari kisah orangtuanya yang menetap di Desa Mayasari Kecamatan Pamona Selatan, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng), Putra menuturkan mereka sempat terombang ambing di tengah lautan menumpangi kapal motor sederhana menuju Pulau Sulawesi. Hujan deras, gelombang laut tinggi, membuat kapal dipenuhi air. Dengan peralatan seadanya, mereka menguras air untuk menghindari kapal tenggelam. Tantangan yang dihadapi di lokasi transmigrasi selain hutan belantara adalah jalan-jalan yang menghubungkan rumah satu dengan lainnya, hanya berupa jalan tikus. Anak-anak para transmigran kerap menangis histeris karena tak
menemui jalan pulang sekembali dari mengambil jatah. “Dulu satu tahun pertama, transmigran memang mendapat jatah dari pemerintah. Per bulannya, 50 kilogram beras, 5 kilogram gula, ikan teri dan minyak goreng,” ujar Putra yang kini menetap di Makasar. Karena transmigran belum mampu menghasilkan sendiri (kebun dan sawah), bantuan diperpanjang lagi selama enam bulan. Setelah itu, menghasilkan atau tidak, bantuan dihentikan. Transmigran harus bisa menghidupi dirinya sendiri dari lahan yang sudah diberikan pemerintah yakni 25 are pekarangan rumah dan 1 hektare sawah. Di Desa Mayasari (Unit I), ada dua lokasi transmigrasi, Bali I yang mayoritas
-Eka Juni Artawan
Suasana jalan di Desa Mayasari
Di sela-sela kesibukan bekerja di sawah dan kebun, ngobrol dengan sesama merupakan salah satu cara warga transmigran menghilangkan penat. Dari obrolan ringan hingga obrolan berat berupa ide dan kreativitas bisa muncul di sini.
warga Gianyar dan Bali II asal Tabanan dan beberapa kabupaten lain di Bali, seperti Buleleng dan Klungkung. Di sekitarnya ada juga transmigran asal Bali lain yang menempati Unit II dan Unit IV. Transmigran asal Bali ini, juga berdampingan dengan transmigran asal Jawa. Rata-rata, setiap lokasi transmigrasi ditempat 75 KK. Suami-isteri bahu-membahu mencari penghasilan untuk bertahan hidup dengan bertanam padi dan palawija untuk kebutuhan sehari-hari. Dalam kondisi yang masih sulit, kesehatan warga seperti terabaikan. Penyakit malaria dan penyakit kulit banyak menyerang warga saat itu, terutama anak-anak. Pendidikan anak-anak juga kurang memadai. Sebagian besar hanya tamatan sekolah dasar (SD), kemudian terjun menjadi petani. Sebagian lainnya SMP. Hanya sebagian kecil yang bisa melanjutkan hingga ke jenjang SMA, apalagi yang melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi, bisa dihitung dengan jari. Namun, dengan tekad harus bisa lebih
baik, bekerja keras adalah keharusan buat mereka. Setelah tahun 2000-an, mulai banyak transmigran yang mampu melanjutkan pendidikan anak-anaknya hingga jenjang perguruan tinggi. Gangguan keamanan di wilayah Poso juga berimbas terhadap transmigran. Mobilitas penjualan hasil bumi tersendat. Membuat sebagian besar warga pindah ke daerah lain yang dianggap lebih aman. Bahkan, Unit IV betul-betul kosong dari transmigran asal Bali, Sedangkan unit II hanya tersisa dua KK. Sementara di Unit I, saat ini masih sekitar 50 KK di Bali I (Itupun setelah ada penambahan KK baru dari generasi kedua transmigran) dan sekitar 20-an KK di Bali II. Di samping, kepindahan mereka juga dipengaruhi kondisi tanah yang kurang subur dan harga jual yang rendah paskapanen. Saat ini, perekonomian warga transmigran mulai menggeliat. Terutama setelah menanam dan panen kakao. Kini, rata-rata warga menggarap satu hektare lahan untuk tanaman padi dan
satu hektare kebun kakao. Penghasilan mereka antara Rp 6 – 10 juta per panen (enam bulan). Namun, mereka mampu membangun rumah, membangun sanggah dan keperluan lain, semuanya dari hasil tanam padi dan kakao. Untuk memudahkan biaya membangun, mereka mengadakan arisan yang diundi setiap panen. Ada yang membuat kelompok arisan bahanbahan bangunan, arisan sanggah (tempat ibadah di rumah), arisan pademen (tempat menjemur padi/kakao) dan lainnya. Sehingga, meski penghasilan dibawah Rp 10 juta tiap panen, mereka bisa membangun rumah yang lebih permanen. Selain padi dan kakao, ternak (sapi dan babi) juga sangat membantu perekonomian warga. Selain dari bangunan rumah yang rata-rata berupa bangunan permanen, indikasi bahwa perekonomian transmigran sudah meningkat, terlihat dari isi rumah. Barang-barang elektronik seperti televisi, rice cooker, tape bahkan kulkas yang dulu merupakan barang mewah, kini sudah masuk ke beberapa rumah. Apalagi sejak setahun terakhir, instalasi listrik sudah menyala 24 jam (sebelumnya warga lebih banyak menggunakan genzet), walaupun masih sering byar pet. Juga sepeda motor dari keluaran lama hingga terbaru, hampir ada di tiap rumah. Malah ada yang lebih dari satu. Selain polisi, rata-rata anak-anak Desa Mayasari yang tamat SMA, saat ini melanjutkan pendidikan di Universitas Tadulako, Palu, ada juga di Sekolah Tinggi Agama Hindu (STAH) Palu, Sulawesi Tengah. Para transmigran mengaku tak masalah masih harus bekerja “banting tulang” untuk bisa membekali anak-cucu mereka dengan pendidikan yang lebih baik. –Ngurah Budi
“Whimsical Christmas” di Beachwalk Salah cottage di Pemuteran
Raih Prestasi berkat Komputer Pinjaman
Animasi bagi anak-anak sangat mengasyikan. Kebanyakan anak-anak hanya menjadi penikmat. Namun, ketika diadakan Kids Animation Festival yang digagas Bamboomedia, antusiasme anak-anak luar biasa. “Kami menargetkan 100 peserta karena ini program perdana. Ternyata yang mendaftar sampai 150 peserta. Anak-anak, orangtua, dan gurunya ternyata sangat antusias,” ujar I Putu Sudiarta, S.Kom, Direktur Bamboomedia. Ia menjelaskan kegiatan ini berkaitan dengan pencanangan Denpasar sebagai Kota Animasi disamping kota Kreatif Berwawasan Budaya. Animasi adalah perpaduan antara ide, seni dan teknologi. Perpaduan ini sangat memerlukan pengembangan ekosistem pendukung baik dari pemerintah, akademisi maupun dunia usaha. “Untuk mempercepat kesadaran publik kota Denpasar terkait hal ini, penting kiranya memperkenalkan dunia animasi sejak usia dini (setidaknya SD dan SMP). Tentunya
Edisi 878/ 7 - 13 Desember 2015
Suasana Kids Animation Festival menghadirkan figur berpakaian stickman
laptop gurunya. Menjelang penutupan lomba, barulah ia menggunakan komputer uwaknya agar bisa mengerjakan di rumah.
Selain gemar bermain komputer, Abi juga ikut klub judo dan sering menjadi juara. –Ngurah Budi
Dalam rangka perayaan akhir tahun 2015, Beachwalk akan membawakan tema “Whimsical Christmas” yang bertepatan dengan Natal, ulang tahun ke-3 Beachwalk dan sekaligus perayaan Tahun Baru 2016. “Pada ulang tahun ke-3 Beachwalk akan diselenggarakan Corporate Social Responsibility (CSR) berupa donor darah. Kegiatan ini diselenggarakan 7 Desember 2015 bekerjasama dengan PMI Bali. Target donor darah sebanyak 73 kantong. 7 artinya tanggal 7 Desember dan 3 artinya tahun ke-3 ulang tahun Beachwalk. Donor darah ini melibatkan karyawan, tenant dan pengunjung Beachwalk,” ujar Syama Sara Jini Devi Dasi, Marketing Communications Beachwalk Shopping Center. Beachwalk juga membuat Christmas Chocolate House bekerja sama dengan 71 Decoration Bali, Rosado Doll House & Bali Luna 4 Desember 2015 – 4 January 2016. Christmas Chocolate House adalah rumah Natal di Fountain Stage level 1, Beachwalk. Tidak hanya Christmas Chocolate House, ada berbagai acara lainnya seperti pameran, demo memasak oleh koki ternama, standup comedy, kompetisi foto dan aktivitas untuk anak-anak. Selain itu akan disuguhkan pertunjukan musik oleh artis-artis ternama Indonesia seperti Dirly dari Indonesian Idol. Tentu saja kegiatan yang diadakan selama satu bulan ini tidak boleh dilewatkan oleh pengunjung Beachwalk. Para pecinta LEGO dapat menikmati
area bermain yang bertemakan LEGO Tropical Holiday Party 4 Desember 2015 – 3 Januari 2016. Area bermain tersebut berada di Garden Pod, Beachwalk Level 2. Selain area bermain, di LEGO Tropical Holiday Party juga terdapat kompetisi seperti single building competition, kompetisi orang tua dan anak, kontes “Dear Santa” dan masih banyak lagi. Syama menambahkan untuk memeriahkan perayaan Natal akan terdapat Christmas Carols dan Christmas Marching Band di Beachwalk. Berbagai grup musik akan membawakan lagu-lagu Natal setiap minggu menjelang Natal
untuk memberikan suasana gembira dan semangat liburan di Beachwalk. Selain itu terdapat juga Christmas Dog Show selama weekend Desember yang tentunya tidak dapat dilewatkan bagi para pecinta anjing. Pada bulan Desember Beachwalk mengadakan program Lucky Seven Reward bagi para pengunjung ber-KTP Bali. Setiap kali pengunjung ber-KTP Bali berbelanja minimal Rp 100.000 dalam sehari dapat mengunjungi Customer Service di level 1 dan menukarkan nota belanja, akan mendapat stempel dan hadiah langsung berupa voucher Bebek
Tepi Sawah Rp 20,000, voucher Kafe Betawi Rp 20,000 atau parkir gratis selama 2 jam pertama di Beachwalk. Bila sudah mengumpulkan stempel sebanyak empat kali hari kerja dan 3 kali hari libur atau weekend dalam sebulan akan mendapatkan voucher LEGO Rp 250,000 dan paket The Body Shop. Pe n g u n j u n g B e a c hwa l k juga berkesempatan untuk me nerima berbagai macam SHOP & WIN November yang ditunggutunggu. Mereka berkesempat an untuk menerima berbagai macam hadiah atau voucher menarik dari Beachwalk. Para pengunjung dapat mengunjungi Customers Service di level 1 dan langsung menukarkan nota belanja mereka senilai minimal Rp 500.000 (1 nota belanja) dengan mendapatkan voucher belanja, voucher makan, voucher gratis parking dari Beachwalk. Para pengunjung yang berbelanja minimal Rp 2.000.000 dengan memperlihatkan nota belanja (maksimal 2 nota belanja) akan berkesempatan untuk mendapatkan hadiah undian paket liburan ke Lombok untuk 2 orang, paket liburan ke Bandung untuk 2 orang, dan tiket pesawat pulang pergi Denpasar-Jakarta. Beachwalk Shopping Center selalu menghadirkan pengalaman berbeda dan menarik bagi turis dan pengunjung Beachwalk. Hadirnya berbagai program ini memberikan daya tarik lebih bagi Kuta dan mengukuhkan tag line Beachwalk Shopping Center, “Bali Starts Here”.
10
Mitos
Edisi 878/ 7 - 13 Desember 2015
Diare Sebabkan
Kematian? Musim penghujan sudah datang dan bahkan sudah menimbulkan Âbanjir di beberapa wilayah di Indonesia. Berbagai penyakit mulai Âmuncul mengancam kesehatan masyarakat, salah satunya adalah penyakit diare. “Penyakit diare sendiri masih merupakan masalah kesehatan di negara berkembang termasuk Indonesia karena angka kesakitan dan angka kematiannya masih tinggi,â€? ungkap Kepala Puskesmas I ÂDenpasar Selatan, dr. A.A. Ngr. Gd. Dharmayuda, M. Kes.
dr. A.A. Ngr. Gd. Dharmayuda, M.Kes
D
iare menjadi penyebab kematian tertinggi diantara penyakit yang sering menyerang anak usia kurang dari 5 tahun, sekitar 31,4% pada bayi dan 25,2% pada anak balita. Diare menurut WHO didefinisikan sebagai bertambahnya defekasi (buang air besar) lebih dari biasanya/lebih dari tiga kali sehari dan disertai dengan perubahan konsisten tinja (menjadi cair) dengan atau tanpa darah. Wakil Sekretaris IDI Cabang Denpasar ini memaparkan, berdasarkan lamanya, diare dibagi menjadi dua yaitu diare akut dan diare kronis/persisten. Diare akut diberi batasan sebagai meningkatnya kekerapan, bertambah cairan, atau bertambah banyaknya tinja yang dikeluarkan, akan tetapi hal itu sangat relatif terhadap kebiasaan yang ada pada penderita dan berlangsung tidak lebih dari satu minggu. Apabila diare berlangsung antara satu sampai dua minggu maka dikatakan diare yang berkepanjangan (persisten). Secara epidemiologi penyakit diare disebabkan oleh beberapa faktor yaitu infeksi, penurunan daya tahan tubuh, faktor lingkungan dan perilaku. Pemahaman masyarakat terkait penyakit diare masih beragam yang akhirnya menimbulkan berbagai mitos terkait penyakit diare tersebut. Mitos : BRAT (banana, rice, apple-
sauce, and toast) bisa mengatasi diare ? Fakta : Diet BRAT merupakan sebuah pedoman diet tambahan selama diare pernah direkomendasi oleh American Academy of Pediatrics. Diet BRAT terdiri dari pisang, nasi, apel, dan roti panggang polos (tanpa selai atau mentega). Makanan dalam diet BRAT termasuk makanan yang hambar jadi tidak akan mengganggu perut anak yang sedang diare. Keempat makanan ini mudah dicerna, sehingga dianggap tidak menyebabkan iritasi lebih lanjut pada sistem pencernaan. Pisang pun memiliki kandungan potasium yang berguna bagi penderita diare. Kandungan potasium ini dapat menggantikan elektrolit yang hilang selama diare terjadi. Namun, diet BRAT ini bukanlah pengganti semua makanan selama diare. Seorang anak yang menderita diare harus tetap mengonsumsi makanan sesuai umurnya. Air beras, air kelapa dan makanan kaya serat dianggap lebih efektif dalam mengatasi diare. Apabila diare sangat parah apalagi disertai lendir dan darah, pemeriksaan lanjutan dan pengobatan oleh dokter justru sangat diperlukan. Mitos : Makanan pedas dan bersantan dapat menimbulkan diare ? Fakta : Makanan pedas dan jenis makanan bersantan memang bisa menimbulkan diare. Kedua jenis makanan tersebut bisa menimbulkan gangguan penyerapan di usus yang berakibat munculnya diare. Namun, tidak semua orang yang mengonsumsi jenis makanan tersebut mengalami diare. Hal ini juga tergantung dari kuantitas makanan yang dikonsumsi serta kondisi tubuh saat itu. Karena setiap orang memiliki daya tahan tubuh yang berbeda. Mitos: Diare dapat menular? Fakta: Penyakit diare memang menular dan bahkan sampai menimbulkan wabah namun risiko penularan sangat tergantung dari penyebab diare tersebut. Artinya tidak semua kasus diare menular. Penularannya terjadi akibat tangan terkontaminasi virus atau bakteri yang berasal dari kotoran atau muntah penderita. Mencuci tangan adalah cara efektif untuk mencegah penularan diare. Diare merupakan penyakit yang berbasis lingkungan dimana faktor utama dari kontaminasi air atau tinja berakumulasi dengan perilaku manusia yang tidak sehat. Diare bisa disebabkan oleh infeksi (bakteri, virus dan parasit), alergi, malabsorbsi, imunodefisiensi dan oleh sebab lain.
dengan beberapa cara : • Memberikan ASI pada balita lebih sering dan lebih lama dari biasanya • Memberikan cairan rumah tangga seÂperti kuah sayur, air tajin atau kuah sup • Oralit diberikan sampai diare berhenti • Segera membawa penderita diare ke sarana kesehatan
Mitos: Diare bisa menyebabkan kematian? Fakta : Benar sekali. Diare yang sangat serius disertai dengan kehilangan cairan tubuh yang sangat banyak (dehidrasi berat) sangat mengancam nyawa penderita dan bisa menimbulkan kematian. Oleh karena itu, kecepatan dan ketepatan penanganan diare dengan mengganti cairan tubuh yang hilang selama diare adalah mutlak dilakukan untuk mencegah terjadinya dehidrasi.
2. Pemberian Zinc selama 10 hari Pemberian Zinc sebagi obat pada diare akan memberikan dampak sampai 25% terhadap lamanya diare dan menurunkan risiko diare berikutnya dalam kurun waktu 2-3 bulan berikutnya. Pemberian selama 10 hari akan membantu dalam penurunan kejadian diare sampai 25% serta akan menurunkan pemakaian antibiotika secara irrasional.
Bagaimana mencegah diare ? Kematian akibat diare disebabkan karena terjadinya dehidrasi. Oleh karena itu mencegah terjadinya dehidrasi merupakan hal terpenting yang harus dilakukan
Warna-warni Kebaya Modern Pesona busana khas Indonesia semakin hari semakin mendapat tempat sebagian perempuan, khususnya di Bali. Apalagi kebaya dengan nilai estetis tersendiri kini bukan hanya dikenakan saat upacara agama, namun juga di berbagai perayaan lainnya.
Mitos : Kunyit dapat mengatasi diare? Fakta : Kunyit merupakan salah satu jenis tanaman obat yang sangat banyak memiliki manfaat. Masyarakat juga banyak yang memanfaatkan ramuan kunyit pada kasus diare. Namun satu hal yang harus diingat adalah bahwa mengonsumsi ramuan tanaman obat lebih tepat dipergunakan untuk fase pencegahan penyakit. Karena pada kasus diare yang penyebabnya sangat banyak tentunya pengobatan harus disesuaikan juga. Hal terpenting adalah dengan menjaga cairan tubuh agar tidak dehidrasi. Pada kasus karena bakteri maka pemberian antibiotik sangat direkomendasikan. Kandungan zat antidiare pada rimpang kunyit adalah dihi-droksidicinnamoil-metana dan parehidroksicinnamoil-feru-loil-metana. Pada penelitian dengan mencit menemukan efek kandungan tanin dari rimpang kunyit dalam mengatasi diare dengan cara kerja menciutkan selaput lendir usus. Penelitian lebih lanjut terkait pemakaian kunyit sebagai antidiare masih diperlukan.
Mitos: Oralit bisa obati diare Fakta : Oralit merupakan cairan yang mengandung elektrolit seperti natrium klorida (NaCL), kalium klorida (KCl), trisodium sitrat hidrat dan glukosa anhidrat. Oralit diberikan untuk mengganti cairan dan elektrolit dalam tubuh yang terbuang saat terjadinya diare. Pada penyakit diare, ancaman terbesar adalah terjadinya kehilangan cairan dalam tubuh yang dikenal dengan nama dehidrasi. Dehidrasi dapat dicegah dengan menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh, namun keseimbangan tersebut tidak cukup diperoleh dari air minum saja. Elektrolit memiliki peranan sangat penting dalam mencegah dan mengatasi kejadian dehidrasi pada penderita diare. Campuran glukosa dan garam yang terkandung dalam oralit dapat diserap dengan baik oleh usus penderita diare.
Style
Bagaimana penanganan diare? Pemerintah sejak tahun 2008 sesuai rekomendasi WHO telah menerapkan langkah tatalaksana diare dengan istilah LINTAS DIARE yaitu Lima Langkah Tuntaskan Diare. Lima langkah tersebut adalah : 1. Pemberian oralit Sejak tahun 2004 WHO telah merekomendasikan oralit dengan osmolaritas rendah untuk mengatasi diare karena dapat mengurangi volume tinja hingga 25%, mengurangi mual muntah hingga 30% dan mengurangi secara bermakna pemberian cairan melalui intravena sampai 33%.
3. Pemberian ASI dan makanan sesuai umur Pemberian asupan makanan yang baik selama diare akan membantu penderita tetap kuat dan mencegah terjadinya penurunan berat badan. Pada balita dan anak-anak pemberian asupan makanan ini akan mencegah terjadinya kurang gizi yang merupakan faktor penyebab terjadinya diare. 4. Pemberian antibiotika secara selektif Hampir 80% kasus diare diobati dengan antibiotika padahal seharusnya pemberian antibiotika pada diare tidak lebih dari 20% karena penyebab diare dominan bukan oleh bakteri. Karena itu, pemberian antibiotika haruslah rasional dan selektif sesuai indikasi/ penyebab dari diare tersebut. 5. Beri Nasihat Memberikan nasihat khususnya bagi penggunaan Zinc untuk penderita diare akan dapat mengurangi lama dan keparahan diare, mengurangi frekuensi diare dan volume buang air besar, serta mencegah kekambuhan diare sampai 3 bulan berikutnya.
Seperti beberapa koleksi dari Minardi Boutique yang berlokasi di kawasan Jalan Nusa Indah berikut ini.Warna-warninya sangat menggoda. Variasi bahan dengan tile yang berkualitas menggam-
barkan, kebahagiaan , keindahan, megah lengkap dengan sentuhan siluet yang mengesankan seksi dan glamor. Selanjutnya dipadukan dengan aneka kain pilihan mampu melengkapi citra modern.
Ingin tampil manis, feminin, cantik, anggun seksi maupun kesan lainnya, menurut Mira sang pemilik semua tinggal menyesuaikan model kebayanya dengan aksen atau detil lainnya. Misalnya dengan lilitan obi atau selendang di pinggang. Variasi model lainnya bisa pada belahan dada, lengan, kerah hingga aplikasi bordir Deretan koleksi dari Minardi Boutique ini sangat cocok untuk kalangan remaja dan para ibu muda. Bisa dikenakan untuk menguatkan karakter pemakainya di berbagai kesempatan untuk selalu tampil stylis dan trendy. -Sri Ardhini
Edisi 878/ 7 - 13 Desember 2015
15
14
Jelita
Edisi 878/ 7 - 13 Desember 2015
Natural Jadi Tren Make up Tahun 2016 Tahun baru akan segera datang. Ber bagai tren terkait penampilan perem puan pun akan berganti. Mulai dari tren di dunia fashion hingga make up. Untuk tahun 2016, riasan wajah yang terlihat natural akan semakin digemari dan dipilih oleh para perempuan.
T
idak dapat dipungkiri penggunaan m ak e u p u n t u k berbagai aktivitas harian selama ini menjadi salah satu hal penting bagi pertempuan. Karena itu pula, urusan tata rias wajah juga menjadi salah satu tren yang dinantikan setiap tahunnya. Menurut Sandra Puspa Dewi, S.E., salah seorang make up artis (MUA) Bali, akhir-akhir ini tren make-up di Indonesia lebih menyasar gaya negeri Ginseng, Korea Selatan. Namun, untuk tren tahun depan dunia make-up akan lebih didominasi tren no makeup. Artinya, penerapan riasan wajah yang dipakai, sesuatu yang natural, alias tidak berlebihan. Di sini akan muncul kecendrungan perempuan tampil de ngan kecantikan lebih natural atau banyak juga yang menyebutnya dengan ‘no make up’. Apalagi, riasan wajah yang menampilkan kulit alami dan lebih sehat akan bertahan cukup lama,” ujar Sandra yang belajar profesional make up pada Martha Tilaar Jakarta ini. Dikatakannya, meskipun riasan natural akan memperlihatkan wajah seperti tidak menggunakan make up, tetapi tetap saja ada produk make up yang dipakai agar wajah terlihat lebih sempurna. Tren ini pun dikenal dengan ‘no make up’ make up look. Rahasia memperoleh wajah ‘no make up’ make up look adalah dengan lebih mengenali kekura ngan pada wajah,selanjutnya menutupinya tanpa terlihat me ngenakan make up. Jika kita ingin
Sandra Puspa Dewi, S.E.
memperoleh hasil yang terlihat lebih sempurna, kita mesti bisa memilih produk yang berkualitas sehingga dapat membaur sempurna dan menjadikan warna kulit terlihat halus dan alami. Jika kebetulan memiliki pori-pori besar, noda hitam, atau noda bekas jerawat. Dapat disanarkan de ngan menggunakan basic make up, seperti foundation, bedak, yang akan membuat wajah menjadi bersinar dan akan ter lihat sempurna namun tetap dengan kesan natural. “Aplikasikan primer sebagai base make up. Cukup ba nyak merek yang bagus bisa dipilih untuk
Kalau alis masih dibentuk, tapi tidak terlalu tebal karena mengalami tone down. Nan ti, jadinya akan mengikuti bentuk alias asli
menyamarkan pori-pori wajah dan membuat kulit wajah terlihat lebih halus dan make up lebih tahan lama,”terang Sandra. Untuk menghasilkan tata rias yang natural, katanya kita tinggal memilih dari berbagai produk yang da di Indonesia. Sebab, sebagain besar pada tahun 2016 akan mengeluarkan koleksi warna naturasl, seperti nuansa nude, soft peach dan soft coral. Jika kita mengikuti no-make up make up look umumnya akan lebih tahan lama. Jenis tata rias ini cocok dan aman untuk perempuan Indonesia yang bukan hanya memiliki kultur berbeda, tapi juga warna kulit, juga bentuk wajah. GUNAKAN YANG COCOK Ketika bicara make up, katanya soal kecocokan juga banyak berpengaruh pada sertiap orang. Biasanya orang kalau sudah cocok dengan produk, gaya tertentu, termasuk MUA yang mananganinya sangat sulit untuk berpindah-pindah,. Selain penampilan riasan yang natural, Heny Agustin juga MUA Bali mengatakan ada juga prediksi tren lainnya yang tidak jauh berbeda, yakni make up matte dengan sentuhan shimmer. “Se-
Heny
lain itu tone kulit dipulas dengan shimmer. Jadi kulitnya dibikin matte dulu, misalnya dengan bb cream, baru diberi shimmer,” lanjutnya. Heny juga menyampaikan, untuk sentuhan shimmer dapat dipu las melalui bedak tabur maupun bedak padat yang mengandung shimmer.Sedangkan untuk warna lipstik, semua warna masih tetap bermunculan dan mempertahan kan eksistensinya dan dikenakan sesuai dengan keperluan dan selera masing-masing perempuan Hanya saja,akan lebih banyak dipilih adalah yang bertekstur matte. Jika ditanya soal fokus riasan di tahun ini akan kembali pada bagian mata dan lipstik.Hanya saja, katanya riasan mata tidak
akan seheboh tahun ini. Kalaupun ingin bermain -orang lebih banyak bermain di warna bibir. Meski tidak seperti tahun lalu yang banyak memakai warna gelap seperti marsala, tahun mendatang diperkirakan lipstik warna natural semakin populer. Sedangkan,untuk bentuk alis, Heny memprediksi tidak setebal saat ini, karena tren akan ber alih menjadi sedikit lebih turun warnanya. “Kalau alis masih dibentuk, tapi tidak terlalu tebal karena mengalami tone down. Nanti, jadinya akan mengikuti bentuk alias asli. Bagian alis yang semula agak tebal dan mengubah bentuk wajah, juga akan dibuat lebih natural mengikuti bentuk asli alis. Sedangkan bagian mata dibuat lebih ‘bicara’ dengan teknik smokey dengan proporsi yang seimbang. Meskipun tren smokey eyes muncul lagi, namun berbeda dibanding tahun sebelumnya yang warnanya hitam. Tahun depan warnanya muncul lebih terang tapi natural, menghadirkan dan menonjolkan wajah yang lebih segar. “Kalaupun masih ada warna make up yang tebal itu le bih untuk kebutuhan fashion atau kegiatan pementasan,”katanya. - Sri Ardhini
Bugar
Edisi 878/ 7 - 13 Desember 2015
11
DIABETES/KENCING MANIS: Kenali Gejalanya, Hindari Komplikasinya Dr. Raymond Sebastian, Sp.PD dokter Spesialis Penyakit dalam di BIMC Siloam Hospitals Group Bali Diabetes mellitus atau yang biasa dikenal sebagai penyakit DM / kencing manis. Hal ini sering menyerang masyarakat kita. Faktor lingkungan dan gaya hidup perkotaan yang tidak sehat, seperti makan yang berlebihan, makanan mengandung berlemak, kurang aktivitas fisik, dan stres memainkan peran utama memicu penyakit ini. Hasil studi epidemiologi di Jakarta beberapa waktu lalu untuk membuktikan keberadaan peningkatan prevalensi diabetes mellitus dari 1,7% pada tahun 1982 menjadi 5,7% pada tahun 1993, yang diikuti pada tahun 2001 di Depok (daerah sub-urban Jakarta) menjadi 14,7%. Sehingga WHO memperkirakan bahwa Indonesia akan peringkat ke-4 sebagian besar kasus diabetes di dunia pada 2030. Sedangkan hasil cross–sectional study (tahun 2011) yang dilakukan oleh FK Udayana/Sanglah, RS Harapan Kita, bekerjasama dengan salah satu universitas Jepang (Kobe Women University) terhadap 1840 subyek, pria dan wanita, umur 13-100 tahun di 7 desa yang berbeda di provinsi Bali, menunjukkan prevalensi gangguan gula puasa (Impaired Fasting Glucosa) dan DM adalah 13.1 % dan 5.3 %. Angka yang cukup tinggi untuk Impaired Fasting Glucosa /pre-diabetes, sehingga wajib diwaspadai, karena bila tidak dikendalikan, dapat menjadi penderita DM di masa mendatang. Penyakit DM ini perlu diwaspadai/ dihindari karena sering menyebabkan komplikasi. Komplikasi umum adalah penyakit jantung koroner, penyakit ginjal, stroke, infeksi, kaki diabetes (diabetes foot), retinopati (penyakit pada mata), diabetes neuropati Untuk memahami penyakit ini, telah memperkenalkan beberapa istilah: Glukosa darah: Gula darah yang diperoleh dari makanan, dan kemudian menjadi sumber energi bagi organ-organ tubuh Insulin: Enzim yang dikeluarkan oleh pankreas untuk mengikat gula darah sebelum digunakan oleh organ-organ tubuh Secara umum diabetes terjadi karena ketidakseimbangan antara tingkat insulin dan kadar gula darah, sering disebut resistensi insulin. Klasifikasi DM menurut American Diabetes Association (ADA) 2009 1. DM tipe 1: di mana pankreas tidak dapat/ gagal memproduksi insulin 2. DM tipe 2: tingkat jumlah / insulin kurang / tidak mampu mengimbangi kadar gula darah. 3. Jenis lain dari DM/hyperglycemic : biasanya karena kelainan genetik, proses infeksi 4. Gestational diabetes: diabetes mellitus yang timbul pada kehamilan
Kenali gejala khas penyakit DM: polyphagia (terlalu banyak makan), polidipsia (banyak minum), polyruria (banyak kencing), disertai penurunan berat badan yang cepat tanpa alasan yang jelas. Namun seringkali hanya muncul dari gejala yang timbul merupakan gejala tidak spesifik seperti kelema-
han, kesemutan, luka yang tidak kunjung sembuh, mata kabur, disfungsi seksual (pria), gatal pada alat kelamin (perempuan) Diagnosa pasti DM: gejala yang khas dengan hasil tes darah : 1. Puasa gula darah > 126 mg / dL Ini berarti bahwa sampel darah yang diambil setelah puasa, yang tidak makan selama minimal 8 jam, minum air tanpa gula diizinkan. 2. Glukosa darah random/ acak > 200mg / dL Artinya sampel darah yang diambil terlepas dari kapan / waktu makan terakhir. 3. Glukosa darah 2 jam post prandial > 200 mg / dL Artinya sampel darah yang diambil 2 jam setelah diberikan larutan gula (oral glucose tolerance test). 4. HbA1c > 6.5 % HbA1c adalah kadar rata2 gula darah seseorang selama 3 bukan terakhir.
Orang-orang yang perlu didorong untuk melakukan skrining adalah semua orang dewasa dengan indeks massa tubuh / BMI > 25 kg / m2 (obesitas/kegemukan), dengan faktor risiko lain sebagai berikut: (1) Tidak aktif/ jarang melakukan kegiatan fisik, (2) Riwayat keluarga diabetes (terutama orang tua kandung) , (3) Wanita dengan riwayat diabetes mellitus selama kehamilan / melahirkan bayi > 4 kg, (4) Hipertensi (> 140/90), (5) Kadar lemak tubuh : HDL <35 mg / dL atau trigliserida> 250 mg / dL, (6) Memiliki penyakit kardiovaskular (penyakit jantung dan penyakit pembuluh darah), (7) Riwayat gangguan toleransi glukosa, gula darah puasa terganggu, (8) Penyakit dengan resistensi insulin (Obesitas, acanthosis nigrikans ), (9) Kelompok Etnis tertentu seperti etnis asli Amerika, Afrika Amerika, Asia Amerika, Kepulauan Pasifik, Latin, (10) Wanita dengan sindrom ovarium polisitik (Polycysytic Ovary syndrome).
Skrining DM pada orang tanpa faktor resiko harus dilakukan pada setiap orang yang berusia > 45 tahun, bila hasil normal dapat diulang minimal setiap 3 tahun sekali, kecuali ditemukan gejal klinis baru. Sedangkan untuk kelompok risiko tinggi, walaupun tidak ada gejala yang khas dan hasil negatif, maka pemeriksaan selanjutnya dapat dilakukan setahun sekali.
Dr. Raymond Sebastian, Sp.PD
Akan tetapi pada pasien dengan resiko tinggi dengan gejala yang khas, tetapi hasilnya negatif, maka tetap disarankan untuk melakukan konfirmasi ulang pada hari lain. Mencegah lebih baik daripada mengobati. Faktor keturunan tidak dapat dicegah, tapi gaya hidup bisa diubah. Tips pencegahan berikut: 1. Membiasakan diri hidup sehat. 2. Biasakan diri untuk berolahraga secara teratur. 3. Tidur yang teratur 4. Jangan makan permen, cokelat, atau makanan dengan kandungan garam yang tinggi. Hindari makanan siap saji mengandung tingkat tinggi karbohidrat dan lemak. 5. Banyak konsumsi sayuran dan buah-buahan. Buah-buahan yang manis tidak meningkatkan kadar glukosa darah. 6. Skrining pada orang berisiko tinggi dan orang yang berusia 45 tahun ke atas.
Sumber: 1. ADA, Standards of Medical Care in Diabetes 2014, Diabetes Care Volume 37, Supplement 1, January 2014 2. Ketut Suastika , et al Prevalence of Obesity, Metabolic Syndrome, Impaired Fasting Glycemia, and Diabetes in Selected Villages of Bali, Indonesia, Journal of the ASEAN Federation of Endocrine Society , 2011 3. Alvin Powers, Diabetes Mellitus, 18th Harrison ‘s Principles of Internal Medicine
Kuliner
Edisi 878/ 7 - 13 Desember 2015
12
Segarnya Es
Rujak
Merah Saga Roof Top untuk Wedding Party
Mengkudu
B
ahannya, 2 kg buah mengkudu yang masak, 2 kg gula pasir, air dua galon, 1 kotak terasi bakar, 7 biji cabai rawit, garam secukupnya, dan cuka 75 ml. Cara membuatnya, buah mengkudu dicuci sampai bersih, kemudian dikupas kulitnya. Setelah bersih, isinya dihancurkan. Sisihkan. Semua bumbu dicam-
pur kemudian tambahkan buah mengkudu yang sudah dihancurkan tadi. Tambahkan air, aduk rata. Masukkan es batu kemudian siap disajikan. Menurut Darmiasih atau yang akrab disapa Biyang Merry, es rujak mengkudu ini enaknya disajikan siang hari. Apalagi, saat udara panas. “Biasanya, kalau ada acara adat saat metolongan disajikan rujak ini,” ujarnya.
Dari areal Roof Top, tamu bisa menyaksikan pemandangan wilayah Seminyak dan sekitarnya. Di pagi hari, tamu bisa menyaksikan matahari yang terbit di ufuk timur sedangkan di senja hari bisa menyaksikan matahari tenggelam di ufuk barat.
Es Rujak Mengkudu
Sehari-hari, ia menjual es rujak mengkudu ini satu bungkus seharga Rp 2000. Ia menitip es rujaknya di beberapa warung dekat rumahnya. Saat cuaca panas, es rujaknya langsung ludes diserbu pembeli. Untuk bahan baku mengkudu, kebetulan ia menanam di rumahnya. Ia pun tak perlu repot untuk memetik buah mengkudu yang matang. Biasanya, kata dia, buah yang sudah matang, akan jatuh sendiri. Otomatis, dia hanya memungut buah yang sudah berjatuhan tersebut dan menyimpannya di dalam lemari es sebelum siap diolah. “Biasanya, tiga hari sudah cukup mendapatkan bahan utama tibah untuk diolah menjadi rujak,” tuturnya. Menurut Biyang Merry, untuk tambahan cuka di bumbu rujak, tujuannya, untuk menghilangkan bau mengkudu yang kurang sedap, dan rasa rujak yang lebih enak. -Wirati Astiti
Sarwan Bahan: 500 gr : cecek, bersihkan, rebus hingga lunak, potong dadu 50 ml : santan kental 300 ml : air 2 lembar : daun salam 2 lembar : daun jeruk 2 ruas : jari lengkuas, memarkan 1 batang : serai, memarkan
Chinesse Food & Aneka Es Taiwan
Cafe Santai
free Rujak Gula
Puding labu
Nyoman Sudani
Simpan puding di lemari es agar cepat mengeras. Sudani menuturkan, sangat senang berkreasi mengolah makanan. Sebagai umat Hindu, ia mengatakan, banyak ada acara adat yang membutuhkan kuekue sebagai sarana upakara. Ia sering membuat kue untuk acara-acara tersebut. Salah satunya, puding labu kuning untuk kegiatan adat manyama braya. -Wirati Astiti
2 sdm : kecap manis 1 sdm : air asam jawa Gula, garam, kaldu bubuk, margarine, bawang putih goreng dan tusuk sate secukupnya. Bumbu Halus: 7 buah : bawang merah 3 siung : bawang putih 4 buah : cabe merah besar 2 ruas : jari kunyit 1 sdt : ketumbar 1 sdt : jinten
Sayur Terong Bulat
ati Nikm Hanya di...
Cara membuatnya, labu kuning dikupas, kemudian dipotongpotong kecil, dikukus. Setelah matang, labu kuning dihaluskan. Masak air, agar-agar, dan gula pasir sampai mendidih. Tuang ke dalam labu kuning yang sudah dihaluskan. Setelah aduk rata, masak kembali adonan tadi sampai tercampur rata dan matang. Beri sedikit vanili. Siapkan cetakan puding. Tuang sedikit demi sedikit ke dalam cetakan.
“Kehadiran Merah Saga memang menjadi keistimewaan kami. Roof top ini bukan hanya untuk tempat makan tetapi bisa untuk beraneka kegiatan, misalnya acara talkshow, ulang tahun, arisan, wedding party, bahkan candle light dinner,” ungkap Kd. Dwi Yanni, Sales Manager
setiap pembelanjaan Rp 50.000
Coffee Ice Cream
Murah Meriah & Bersih
Hotel Santika Seminyak yang didampingi I Gusti Ngurah Rai, Assistant FB Manager. Dwi Yanni yang akrab disapa Angel ini menambahkan ruangan bertema classic colonial ini juga memiliki kolam renang yang bisa menambah suasana makin istimewa. Selama soft opening
Roof top untuk wedding party
ini konsumen juga bisa mendapatkan diskon 10%. Roof top ini berkapasitas 140-150 tempat
duduk dan bisa menampung lebih banyak lagi jika standing party. --Ngurah Budi
Sate Cecek Kulit Sapi
Mengkudu
Si Manis Puding Labu Kuning Salah satu makanan penutup, adalah puding. Aneka puding dapat dibuat dari kreasi buah-buahan, salah satunya labu kuning. Salah seorang ibu PKK dari Sanur, Nyoman Sudani berbagi resep puding labu kuning. Bahannya, agar-agar 8 bungkus, ½ kg gula pasir, air 1 liter, labu kuning 1½ kg, sedikit vanili.
13
Ingin melangsungkan pesta pernikahan (wedding party) dengan suasana berbeda? Ada pilihan yang bisa Anda coba. Lokasinya di Hotel Santika Seminyak, tepatnya di Merah Saga Roof Top (bukan Saga Merah seperti yang tertulis di Tokoh edisi 876).
Buah mengkudu dikenal banyak orang sebagai bahan ramuan untuk kesehatan. Di Bali, buah mengkudu disebut tibah. Rasanya memang agak asam dan berbau kurang sedap. Namun, tahukah Anda buah mengkudu juga bisa dibuat es rujak yang enak. Caranya sangat mudah. Ketut Darmiasih, salah seorang ibu PKK warga Desa Penarungan, Badung mencoba berbagi resep.
Biyang Merry (baju kuning)
Edisi 878/ 7 - 13 Desember 2015
Tipat Cantok
Berlaku mulai 1 s.d. 31 Desember 2015
Jln. Raya Sesetan No. 293 Denpasar. Tlp. (0361) 7440658, 7427678
Bahan: 7 buah : 500 ml : 300 ml : 50 gr : 100 gr : 1 papan : 4 buah :
terong hijau bulat, potong dadu air santan kacang panjang, potong-potong tempe, potong dadu, goreng setengah matang, tiriskan petai, belah-belah petainya cabe hijau besar,
iris serong 3 lembar : daun salam 3 lembar : daun jeruk 2 ruas : jari lengkuas, memarkan 1 sdt : terasi matang Gula merah, garam, kaldu bubuk secukupnya.
Cara Membuat: - Rebus semua bahan sampai mendidih lalu masukkan santan, aduk-aduk hingga
Cara Membuat: - Tumis bumbu halus bersama daun salam, serai, lengkuas hingga harum lalu masukkan gula, garam, kaldu bubuk, air dan kecap manis. - Masukkan cecek dan santan kental, masak hingga matang dan bumbu meresap. Angkat, dinginkan, tusuk kikil dengan tusuk sate. - Panaskan pan grill, beri margarin, panggang sate cecek sambil diolesi dengan sisa bumbu hingga matang dan siap disajikan. tercampur merata, masak dengan api sedang, biarkan sampai mendidih dan bumbu meresap, angkat. - Siap untuk disajikan, taburi dengan bawang putih goreng.
Beef Teriyaki
Bahan: 500 gr : daging sapi yang bagus, iris tipis 7 sdm : saus teriyaki siap pakai 2 sdm : kecap manis 1 buah : bawang Bombay, iris korek api 3 siung : bawang putih, cincang halus ½ sdm : air jahe 1 buah : paprika merah, iris dadu 1 sdt : lada bubuk 200 ml : air Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya.
Cara Membuat: - Rendam daging dalam campuran saus teriyaki, kecap manis dan gula, aduk-aduk hingga kaku, angkat, sisihkan. - Tumis bawang bombay dan irisan bawang putih, lalu masuk irisan paprika, bumbu-bumbu lainya dan air, lalu masukkan daging, masak hingga daging empuk dan bumbu meresap. - Siap disajikan.
Kuliner
Edisi 878/ 7 - 13 Desember 2015
12
Segarnya Es
Rujak
Merah Saga Roof Top untuk Wedding Party
Mengkudu
B
ahannya, 2 kg buah mengkudu yang masak, 2 kg gula pasir, air dua galon, 1 kotak terasi bakar, 7 biji cabai rawit, garam secukupnya, dan cuka 75 ml. Cara membuatnya, buah mengkudu dicuci sampai bersih, kemudian dikupas kulitnya. Setelah bersih, isinya dihancurkan. Sisihkan. Semua bumbu dicam-
pur kemudian tambahkan buah mengkudu yang sudah dihancurkan tadi. Tambahkan air, aduk rata. Masukkan es batu kemudian siap disajikan. Menurut Darmiasih atau yang akrab disapa Biyang Merry, es rujak mengkudu ini enaknya disajikan siang hari. Apalagi, saat udara panas. “Biasanya, kalau ada acara adat saat metolongan disajikan rujak ini,” ujarnya.
Dari areal Roof Top, tamu bisa menyaksikan pemandangan wilayah Seminyak dan sekitarnya. Di pagi hari, tamu bisa menyaksikan matahari yang terbit di ufuk timur sedangkan di senja hari bisa menyaksikan matahari tenggelam di ufuk barat.
Es Rujak Mengkudu
Sehari-hari, ia menjual es rujak mengkudu ini satu bungkus seharga Rp 2000. Ia menitip es rujaknya di beberapa warung dekat rumahnya. Saat cuaca panas, es rujaknya langsung ludes diserbu pembeli. Untuk bahan baku mengkudu, kebetulan ia menanam di rumahnya. Ia pun tak perlu repot untuk memetik buah mengkudu yang matang. Biasanya, kata dia, buah yang sudah matang, akan jatuh sendiri. Otomatis, dia hanya memungut buah yang sudah berjatuhan tersebut dan menyimpannya di dalam lemari es sebelum siap diolah. “Biasanya, tiga hari sudah cukup mendapatkan bahan utama tibah untuk diolah menjadi rujak,” tuturnya. Menurut Biyang Merry, untuk tambahan cuka di bumbu rujak, tujuannya, untuk menghilangkan bau mengkudu yang kurang sedap, dan rasa rujak yang lebih enak. -Wirati Astiti
Sarwan Bahan: 500 gr : cecek, bersihkan, rebus hingga lunak, potong dadu 50 ml : santan kental 300 ml : air 2 lembar : daun salam 2 lembar : daun jeruk 2 ruas : jari lengkuas, memarkan 1 batang : serai, memarkan
Chinesse Food & Aneka Es Taiwan
Cafe Santai
free Rujak Gula
Puding labu
Nyoman Sudani
Simpan puding di lemari es agar cepat mengeras. Sudani menuturkan, sangat senang berkreasi mengolah makanan. Sebagai umat Hindu, ia mengatakan, banyak ada acara adat yang membutuhkan kuekue sebagai sarana upakara. Ia sering membuat kue untuk acara-acara tersebut. Salah satunya, puding labu kuning untuk kegiatan adat manyama braya. -Wirati Astiti
2 sdm : kecap manis 1 sdm : air asam jawa Gula, garam, kaldu bubuk, margarine, bawang putih goreng dan tusuk sate secukupnya. Bumbu Halus: 7 buah : bawang merah 3 siung : bawang putih 4 buah : cabe merah besar 2 ruas : jari kunyit 1 sdt : ketumbar 1 sdt : jinten
Sayur Terong Bulat
ati Nikm Hanya di...
Cara membuatnya, labu kuning dikupas, kemudian dipotongpotong kecil, dikukus. Setelah matang, labu kuning dihaluskan. Masak air, agar-agar, dan gula pasir sampai mendidih. Tuang ke dalam labu kuning yang sudah dihaluskan. Setelah aduk rata, masak kembali adonan tadi sampai tercampur rata dan matang. Beri sedikit vanili. Siapkan cetakan puding. Tuang sedikit demi sedikit ke dalam cetakan.
“Kehadiran Merah Saga memang menjadi keistimewaan kami. Roof top ini bukan hanya untuk tempat makan tetapi bisa untuk beraneka kegiatan, misalnya acara talkshow, ulang tahun, arisan, wedding party, bahkan candle light dinner,” ungkap Kd. Dwi Yanni, Sales Manager
setiap pembelanjaan Rp 50.000
Coffee Ice Cream
Murah Meriah & Bersih
Hotel Santika Seminyak yang didampingi I Gusti Ngurah Rai, Assistant FB Manager. Dwi Yanni yang akrab disapa Angel ini menambahkan ruangan bertema classic colonial ini juga memiliki kolam renang yang bisa menambah suasana makin istimewa. Selama soft opening
Roof top untuk wedding party
ini konsumen juga bisa mendapatkan diskon 10%. Roof top ini berkapasitas 140-150 tempat
duduk dan bisa menampung lebih banyak lagi jika standing party. --Ngurah Budi
Sate Cecek Kulit Sapi
Mengkudu
Si Manis Puding Labu Kuning Salah satu makanan penutup, adalah puding. Aneka puding dapat dibuat dari kreasi buah-buahan, salah satunya labu kuning. Salah seorang ibu PKK dari Sanur, Nyoman Sudani berbagi resep puding labu kuning. Bahannya, agar-agar 8 bungkus, ½ kg gula pasir, air 1 liter, labu kuning 1½ kg, sedikit vanili.
13
Ingin melangsungkan pesta pernikahan (wedding party) dengan suasana berbeda? Ada pilihan yang bisa Anda coba. Lokasinya di Hotel Santika Seminyak, tepatnya di Merah Saga Roof Top (bukan Saga Merah seperti yang tertulis di Tokoh edisi 876).
Buah mengkudu dikenal banyak orang sebagai bahan ramuan untuk kesehatan. Di Bali, buah mengkudu disebut tibah. Rasanya memang agak asam dan berbau kurang sedap. Namun, tahukah Anda buah mengkudu juga bisa dibuat es rujak yang enak. Caranya sangat mudah. Ketut Darmiasih, salah seorang ibu PKK warga Desa Penarungan, Badung mencoba berbagi resep.
Biyang Merry (baju kuning)
Edisi 878/ 7 - 13 Desember 2015
Tipat Cantok
Berlaku mulai 1 s.d. 31 Desember 2015
Jln. Raya Sesetan No. 293 Denpasar. Tlp. (0361) 7440658, 7427678
Bahan: 7 buah : 500 ml : 300 ml : 50 gr : 100 gr : 1 papan : 4 buah :
terong hijau bulat, potong dadu air santan kacang panjang, potong-potong tempe, potong dadu, goreng setengah matang, tiriskan petai, belah-belah petainya cabe hijau besar,
iris serong 3 lembar : daun salam 3 lembar : daun jeruk 2 ruas : jari lengkuas, memarkan 1 sdt : terasi matang Gula merah, garam, kaldu bubuk secukupnya.
Cara Membuat: - Rebus semua bahan sampai mendidih lalu masukkan santan, aduk-aduk hingga
Cara Membuat: - Tumis bumbu halus bersama daun salam, serai, lengkuas hingga harum lalu masukkan gula, garam, kaldu bubuk, air dan kecap manis. - Masukkan cecek dan santan kental, masak hingga matang dan bumbu meresap. Angkat, dinginkan, tusuk kikil dengan tusuk sate. - Panaskan pan grill, beri margarin, panggang sate cecek sambil diolesi dengan sisa bumbu hingga matang dan siap disajikan. tercampur merata, masak dengan api sedang, biarkan sampai mendidih dan bumbu meresap, angkat. - Siap untuk disajikan, taburi dengan bawang putih goreng.
Beef Teriyaki
Bahan: 500 gr : daging sapi yang bagus, iris tipis 7 sdm : saus teriyaki siap pakai 2 sdm : kecap manis 1 buah : bawang Bombay, iris korek api 3 siung : bawang putih, cincang halus ½ sdm : air jahe 1 buah : paprika merah, iris dadu 1 sdt : lada bubuk 200 ml : air Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya.
Cara Membuat: - Rendam daging dalam campuran saus teriyaki, kecap manis dan gula, aduk-aduk hingga kaku, angkat, sisihkan. - Tumis bawang bombay dan irisan bawang putih, lalu masuk irisan paprika, bumbu-bumbu lainya dan air, lalu masukkan daging, masak hingga daging empuk dan bumbu meresap. - Siap disajikan.
14
Jelita
Edisi 878/ 7 - 13 Desember 2015
Natural Jadi Tren Make up Tahun 2016 Tahun baru akan segera datang. Ber bagai tren terkait penampilan perem puan pun akan berganti. Mulai dari tren di dunia fashion hingga make up. Untuk tahun 2016, riasan wajah yang terlihat natural akan semakin digemari dan dipilih oleh para perempuan.
T
idak dapat dipungkiri penggunaan m ak e u p u n t u k berbagai aktivitas harian selama ini menjadi salah satu hal penting bagi pertempuan. Karena itu pula, urusan tata rias wajah juga menjadi salah satu tren yang dinantikan setiap tahunnya. Menurut Sandra Puspa Dewi, S.E., salah seorang make up artis (MUA) Bali, akhir-akhir ini tren make-up di Indonesia lebih menyasar gaya negeri Ginseng, Korea Selatan. Namun, untuk tren tahun depan dunia make-up akan lebih didominasi tren no makeup. Artinya, penerapan riasan wajah yang dipakai, sesuatu yang natural, alias tidak berlebihan. Di sini akan muncul kecendrungan perempuan tampil de ngan kecantikan lebih natural atau banyak juga yang menyebutnya dengan ‘no make up’. Apalagi, riasan wajah yang menampilkan kulit alami dan lebih sehat akan bertahan cukup lama,” ujar Sandra yang belajar profesional make up pada Martha Tilaar Jakarta ini. Dikatakannya, meskipun riasan natural akan memperlihatkan wajah seperti tidak menggunakan make up, tetapi tetap saja ada produk make up yang dipakai agar wajah terlihat lebih sempurna. Tren ini pun dikenal dengan ‘no make up’ make up look. Rahasia memperoleh wajah ‘no make up’ make up look adalah dengan lebih mengenali kekura ngan pada wajah,selanjutnya menutupinya tanpa terlihat me ngenakan make up. Jika kita ingin
Sandra Puspa Dewi, S.E.
memperoleh hasil yang terlihat lebih sempurna, kita mesti bisa memilih produk yang berkualitas sehingga dapat membaur sempurna dan menjadikan warna kulit terlihat halus dan alami. Jika kebetulan memiliki pori-pori besar, noda hitam, atau noda bekas jerawat. Dapat disanarkan de ngan menggunakan basic make up, seperti foundation, bedak, yang akan membuat wajah menjadi bersinar dan akan ter lihat sempurna namun tetap dengan kesan natural. “Aplikasikan primer sebagai base make up. Cukup ba nyak merek yang bagus bisa dipilih untuk
Kalau alis masih dibentuk, tapi tidak terlalu tebal karena mengalami tone down. Nan ti, jadinya akan mengikuti bentuk alias asli
menyamarkan pori-pori wajah dan membuat kulit wajah terlihat lebih halus dan make up lebih tahan lama,”terang Sandra. Untuk menghasilkan tata rias yang natural, katanya kita tinggal memilih dari berbagai produk yang da di Indonesia. Sebab, sebagain besar pada tahun 2016 akan mengeluarkan koleksi warna naturasl, seperti nuansa nude, soft peach dan soft coral. Jika kita mengikuti no-make up make up look umumnya akan lebih tahan lama. Jenis tata rias ini cocok dan aman untuk perempuan Indonesia yang bukan hanya memiliki kultur berbeda, tapi juga warna kulit, juga bentuk wajah. GUNAKAN YANG COCOK Ketika bicara make up, katanya soal kecocokan juga banyak berpengaruh pada sertiap orang. Biasanya orang kalau sudah cocok dengan produk, gaya tertentu, termasuk MUA yang mananganinya sangat sulit untuk berpindah-pindah,. Selain penampilan riasan yang natural, Heny Agustin juga MUA Bali mengatakan ada juga prediksi tren lainnya yang tidak jauh berbeda, yakni make up matte dengan sentuhan shimmer. “Se-
Heny
lain itu tone kulit dipulas dengan shimmer. Jadi kulitnya dibikin matte dulu, misalnya dengan bb cream, baru diberi shimmer,” lanjutnya. Heny juga menyampaikan, untuk sentuhan shimmer dapat dipu las melalui bedak tabur maupun bedak padat yang mengandung shimmer.Sedangkan untuk warna lipstik, semua warna masih tetap bermunculan dan mempertahan kan eksistensinya dan dikenakan sesuai dengan keperluan dan selera masing-masing perempuan Hanya saja,akan lebih banyak dipilih adalah yang bertekstur matte. Jika ditanya soal fokus riasan di tahun ini akan kembali pada bagian mata dan lipstik.Hanya saja, katanya riasan mata tidak
akan seheboh tahun ini. Kalaupun ingin bermain -orang lebih banyak bermain di warna bibir. Meski tidak seperti tahun lalu yang banyak memakai warna gelap seperti marsala, tahun mendatang diperkirakan lipstik warna natural semakin populer. Sedangkan,untuk bentuk alis, Heny memprediksi tidak setebal saat ini, karena tren akan ber alih menjadi sedikit lebih turun warnanya. “Kalau alis masih dibentuk, tapi tidak terlalu tebal karena mengalami tone down. Nanti, jadinya akan mengikuti bentuk alias asli. Bagian alis yang semula agak tebal dan mengubah bentuk wajah, juga akan dibuat lebih natural mengikuti bentuk asli alis. Sedangkan bagian mata dibuat lebih ‘bicara’ dengan teknik smokey dengan proporsi yang seimbang. Meskipun tren smokey eyes muncul lagi, namun berbeda dibanding tahun sebelumnya yang warnanya hitam. Tahun depan warnanya muncul lebih terang tapi natural, menghadirkan dan menonjolkan wajah yang lebih segar. “Kalaupun masih ada warna make up yang tebal itu le bih untuk kebutuhan fashion atau kegiatan pementasan,”katanya. - Sri Ardhini
Bugar
Edisi 878/ 7 - 13 Desember 2015
11
DIABETES/KENCING MANIS: Kenali Gejalanya, Hindari Komplikasinya Dr. Raymond Sebastian, Sp.PD dokter Spesialis Penyakit dalam di BIMC Siloam Hospitals Group Bali Diabetes mellitus atau yang biasa dikenal sebagai penyakit DM / kencing manis. Hal ini sering menyerang masyarakat kita. Faktor lingkungan dan gaya hidup perkotaan yang tidak sehat, seperti makan yang berlebihan, makanan mengandung berlemak, kurang aktivitas fisik, dan stres memainkan peran utama memicu penyakit ini. Hasil studi epidemiologi di Jakarta beberapa waktu lalu untuk membuktikan keberadaan peningkatan prevalensi diabetes mellitus dari 1,7% pada tahun 1982 menjadi 5,7% pada tahun 1993, yang diikuti pada tahun 2001 di Depok (daerah sub-urban Jakarta) menjadi 14,7%. Sehingga WHO memperkirakan bahwa Indonesia akan peringkat ke-4 sebagian besar kasus diabetes di dunia pada 2030. Sedangkan hasil cross–sectional study (tahun 2011) yang dilakukan oleh FK Udayana/Sanglah, RS Harapan Kita, bekerjasama dengan salah satu universitas Jepang (Kobe Women University) terhadap 1840 subyek, pria dan wanita, umur 13-100 tahun di 7 desa yang berbeda di provinsi Bali, menunjukkan prevalensi gangguan gula puasa (Impaired Fasting Glucosa) dan DM adalah 13.1 % dan 5.3 %. Angka yang cukup tinggi untuk Impaired Fasting Glucosa /pre-diabetes, sehingga wajib diwaspadai, karena bila tidak dikendalikan, dapat menjadi penderita DM di masa mendatang. Penyakit DM ini perlu diwaspadai/ dihindari karena sering menyebabkan komplikasi. Komplikasi umum adalah penyakit jantung koroner, penyakit ginjal, stroke, infeksi, kaki diabetes (diabetes foot), retinopati (penyakit pada mata), diabetes neuropati Untuk memahami penyakit ini, telah memperkenalkan beberapa istilah: Glukosa darah: Gula darah yang diperoleh dari makanan, dan kemudian menjadi sumber energi bagi organ-organ tubuh Insulin: Enzim yang dikeluarkan oleh pankreas untuk mengikat gula darah sebelum digunakan oleh organ-organ tubuh Secara umum diabetes terjadi karena ketidakseimbangan antara tingkat insulin dan kadar gula darah, sering disebut resistensi insulin. Klasifikasi DM menurut American Diabetes Association (ADA) 2009 1. DM tipe 1: di mana pankreas tidak dapat/ gagal memproduksi insulin 2. DM tipe 2: tingkat jumlah / insulin kurang / tidak mampu mengimbangi kadar gula darah. 3. Jenis lain dari DM/hyperglycemic : biasanya karena kelainan genetik, proses infeksi 4. Gestational diabetes: diabetes mellitus yang timbul pada kehamilan
Kenali gejala khas penyakit DM: polyphagia (terlalu banyak makan), polidipsia (banyak minum), polyruria (banyak kencing), disertai penurunan berat badan yang cepat tanpa alasan yang jelas. Namun seringkali hanya muncul dari gejala yang timbul merupakan gejala tidak spesifik seperti kelema-
han, kesemutan, luka yang tidak kunjung sembuh, mata kabur, disfungsi seksual (pria), gatal pada alat kelamin (perempuan) Diagnosa pasti DM: gejala yang khas dengan hasil tes darah : 1. Puasa gula darah > 126 mg / dL Ini berarti bahwa sampel darah yang diambil setelah puasa, yang tidak makan selama minimal 8 jam, minum air tanpa gula diizinkan. 2. Glukosa darah random/ acak > 200mg / dL Artinya sampel darah yang diambil terlepas dari kapan / waktu makan terakhir. 3. Glukosa darah 2 jam post prandial > 200 mg / dL Artinya sampel darah yang diambil 2 jam setelah diberikan larutan gula (oral glucose tolerance test). 4. HbA1c > 6.5 % HbA1c adalah kadar rata2 gula darah seseorang selama 3 bukan terakhir.
Orang-orang yang perlu didorong untuk melakukan skrining adalah semua orang dewasa dengan indeks massa tubuh / BMI > 25 kg / m2 (obesitas/kegemukan), dengan faktor risiko lain sebagai berikut: (1) Tidak aktif/ jarang melakukan kegiatan fisik, (2) Riwayat keluarga diabetes (terutama orang tua kandung) , (3) Wanita dengan riwayat diabetes mellitus selama kehamilan / melahirkan bayi > 4 kg, (4) Hipertensi (> 140/90), (5) Kadar lemak tubuh : HDL <35 mg / dL atau trigliserida> 250 mg / dL, (6) Memiliki penyakit kardiovaskular (penyakit jantung dan penyakit pembuluh darah), (7) Riwayat gangguan toleransi glukosa, gula darah puasa terganggu, (8) Penyakit dengan resistensi insulin (Obesitas, acanthosis nigrikans ), (9) Kelompok Etnis tertentu seperti etnis asli Amerika, Afrika Amerika, Asia Amerika, Kepulauan Pasifik, Latin, (10) Wanita dengan sindrom ovarium polisitik (Polycysytic Ovary syndrome).
Skrining DM pada orang tanpa faktor resiko harus dilakukan pada setiap orang yang berusia > 45 tahun, bila hasil normal dapat diulang minimal setiap 3 tahun sekali, kecuali ditemukan gejal klinis baru. Sedangkan untuk kelompok risiko tinggi, walaupun tidak ada gejala yang khas dan hasil negatif, maka pemeriksaan selanjutnya dapat dilakukan setahun sekali.
Dr. Raymond Sebastian, Sp.PD
Akan tetapi pada pasien dengan resiko tinggi dengan gejala yang khas, tetapi hasilnya negatif, maka tetap disarankan untuk melakukan konfirmasi ulang pada hari lain. Mencegah lebih baik daripada mengobati. Faktor keturunan tidak dapat dicegah, tapi gaya hidup bisa diubah. Tips pencegahan berikut: 1. Membiasakan diri hidup sehat. 2. Biasakan diri untuk berolahraga secara teratur. 3. Tidur yang teratur 4. Jangan makan permen, cokelat, atau makanan dengan kandungan garam yang tinggi. Hindari makanan siap saji mengandung tingkat tinggi karbohidrat dan lemak. 5. Banyak konsumsi sayuran dan buah-buahan. Buah-buahan yang manis tidak meningkatkan kadar glukosa darah. 6. Skrining pada orang berisiko tinggi dan orang yang berusia 45 tahun ke atas.
Sumber: 1. ADA, Standards of Medical Care in Diabetes 2014, Diabetes Care Volume 37, Supplement 1, January 2014 2. Ketut Suastika , et al Prevalence of Obesity, Metabolic Syndrome, Impaired Fasting Glycemia, and Diabetes in Selected Villages of Bali, Indonesia, Journal of the ASEAN Federation of Endocrine Society , 2011 3. Alvin Powers, Diabetes Mellitus, 18th Harrison ‘s Principles of Internal Medicine
10
Mitos
Edisi 878/ 7 - 13 Desember 2015
Diare Sebabkan
Kematian? Musim penghujan sudah datang dan bahkan sudah menimbulkan Âbanjir di beberapa wilayah di Indonesia. Berbagai penyakit mulai Âmuncul mengancam kesehatan masyarakat, salah satunya adalah penyakit diare. “Penyakit diare sendiri masih merupakan masalah kesehatan di negara berkembang termasuk Indonesia karena angka kesakitan dan angka kematiannya masih tinggi,â€? ungkap Kepala Puskesmas I ÂDenpasar Selatan, dr. A.A. Ngr. Gd. Dharmayuda, M. Kes.
dr. A.A. Ngr. Gd. Dharmayuda, M.Kes
D
iare menjadi penyebab kematian tertinggi diantara penyakit yang sering menyerang anak usia kurang dari 5 tahun, sekitar 31,4% pada bayi dan 25,2% pada anak balita. Diare menurut WHO didefinisikan sebagai bertambahnya defekasi (buang air besar) lebih dari biasanya/lebih dari tiga kali sehari dan disertai dengan perubahan konsisten tinja (menjadi cair) dengan atau tanpa darah. Wakil Sekretaris IDI Cabang Denpasar ini memaparkan, berdasarkan lamanya, diare dibagi menjadi dua yaitu diare akut dan diare kronis/persisten. Diare akut diberi batasan sebagai meningkatnya kekerapan, bertambah cairan, atau bertambah banyaknya tinja yang dikeluarkan, akan tetapi hal itu sangat relatif terhadap kebiasaan yang ada pada penderita dan berlangsung tidak lebih dari satu minggu. Apabila diare berlangsung antara satu sampai dua minggu maka dikatakan diare yang berkepanjangan (persisten). Secara epidemiologi penyakit diare disebabkan oleh beberapa faktor yaitu infeksi, penurunan daya tahan tubuh, faktor lingkungan dan perilaku. Pemahaman masyarakat terkait penyakit diare masih beragam yang akhirnya menimbulkan berbagai mitos terkait penyakit diare tersebut. Mitos : BRAT (banana, rice, apple-
sauce, and toast) bisa mengatasi diare ? Fakta : Diet BRAT merupakan sebuah pedoman diet tambahan selama diare pernah direkomendasi oleh American Academy of Pediatrics. Diet BRAT terdiri dari pisang, nasi, apel, dan roti panggang polos (tanpa selai atau mentega). Makanan dalam diet BRAT termasuk makanan yang hambar jadi tidak akan mengganggu perut anak yang sedang diare. Keempat makanan ini mudah dicerna, sehingga dianggap tidak menyebabkan iritasi lebih lanjut pada sistem pencernaan. Pisang pun memiliki kandungan potasium yang berguna bagi penderita diare. Kandungan potasium ini dapat menggantikan elektrolit yang hilang selama diare terjadi. Namun, diet BRAT ini bukanlah pengganti semua makanan selama diare. Seorang anak yang menderita diare harus tetap mengonsumsi makanan sesuai umurnya. Air beras, air kelapa dan makanan kaya serat dianggap lebih efektif dalam mengatasi diare. Apabila diare sangat parah apalagi disertai lendir dan darah, pemeriksaan lanjutan dan pengobatan oleh dokter justru sangat diperlukan. Mitos : Makanan pedas dan bersantan dapat menimbulkan diare ? Fakta : Makanan pedas dan jenis makanan bersantan memang bisa menimbulkan diare. Kedua jenis makanan tersebut bisa menimbulkan gangguan penyerapan di usus yang berakibat munculnya diare. Namun, tidak semua orang yang mengonsumsi jenis makanan tersebut mengalami diare. Hal ini juga tergantung dari kuantitas makanan yang dikonsumsi serta kondisi tubuh saat itu. Karena setiap orang memiliki daya tahan tubuh yang berbeda. Mitos: Diare dapat menular? Fakta: Penyakit diare memang menular dan bahkan sampai menimbulkan wabah namun risiko penularan sangat tergantung dari penyebab diare tersebut. Artinya tidak semua kasus diare menular. Penularannya terjadi akibat tangan terkontaminasi virus atau bakteri yang berasal dari kotoran atau muntah penderita. Mencuci tangan adalah cara efektif untuk mencegah penularan diare. Diare merupakan penyakit yang berbasis lingkungan dimana faktor utama dari kontaminasi air atau tinja berakumulasi dengan perilaku manusia yang tidak sehat. Diare bisa disebabkan oleh infeksi (bakteri, virus dan parasit), alergi, malabsorbsi, imunodefisiensi dan oleh sebab lain.
dengan beberapa cara : • Memberikan ASI pada balita lebih sering dan lebih lama dari biasanya • Memberikan cairan rumah tangga seÂperti kuah sayur, air tajin atau kuah sup • Oralit diberikan sampai diare berhenti • Segera membawa penderita diare ke sarana kesehatan
Mitos: Diare bisa menyebabkan kematian? Fakta : Benar sekali. Diare yang sangat serius disertai dengan kehilangan cairan tubuh yang sangat banyak (dehidrasi berat) sangat mengancam nyawa penderita dan bisa menimbulkan kematian. Oleh karena itu, kecepatan dan ketepatan penanganan diare dengan mengganti cairan tubuh yang hilang selama diare adalah mutlak dilakukan untuk mencegah terjadinya dehidrasi.
2. Pemberian Zinc selama 10 hari Pemberian Zinc sebagi obat pada diare akan memberikan dampak sampai 25% terhadap lamanya diare dan menurunkan risiko diare berikutnya dalam kurun waktu 2-3 bulan berikutnya. Pemberian selama 10 hari akan membantu dalam penurunan kejadian diare sampai 25% serta akan menurunkan pemakaian antibiotika secara irrasional.
Bagaimana mencegah diare ? Kematian akibat diare disebabkan karena terjadinya dehidrasi. Oleh karena itu mencegah terjadinya dehidrasi merupakan hal terpenting yang harus dilakukan
Warna-warni Kebaya Modern Pesona busana khas Indonesia semakin hari semakin mendapat tempat sebagian perempuan, khususnya di Bali. Apalagi kebaya dengan nilai estetis tersendiri kini bukan hanya dikenakan saat upacara agama, namun juga di berbagai perayaan lainnya.
Mitos : Kunyit dapat mengatasi diare? Fakta : Kunyit merupakan salah satu jenis tanaman obat yang sangat banyak memiliki manfaat. Masyarakat juga banyak yang memanfaatkan ramuan kunyit pada kasus diare. Namun satu hal yang harus diingat adalah bahwa mengonsumsi ramuan tanaman obat lebih tepat dipergunakan untuk fase pencegahan penyakit. Karena pada kasus diare yang penyebabnya sangat banyak tentunya pengobatan harus disesuaikan juga. Hal terpenting adalah dengan menjaga cairan tubuh agar tidak dehidrasi. Pada kasus karena bakteri maka pemberian antibiotik sangat direkomendasikan. Kandungan zat antidiare pada rimpang kunyit adalah dihi-droksidicinnamoil-metana dan parehidroksicinnamoil-feru-loil-metana. Pada penelitian dengan mencit menemukan efek kandungan tanin dari rimpang kunyit dalam mengatasi diare dengan cara kerja menciutkan selaput lendir usus. Penelitian lebih lanjut terkait pemakaian kunyit sebagai antidiare masih diperlukan.
Mitos: Oralit bisa obati diare Fakta : Oralit merupakan cairan yang mengandung elektrolit seperti natrium klorida (NaCL), kalium klorida (KCl), trisodium sitrat hidrat dan glukosa anhidrat. Oralit diberikan untuk mengganti cairan dan elektrolit dalam tubuh yang terbuang saat terjadinya diare. Pada penyakit diare, ancaman terbesar adalah terjadinya kehilangan cairan dalam tubuh yang dikenal dengan nama dehidrasi. Dehidrasi dapat dicegah dengan menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh, namun keseimbangan tersebut tidak cukup diperoleh dari air minum saja. Elektrolit memiliki peranan sangat penting dalam mencegah dan mengatasi kejadian dehidrasi pada penderita diare. Campuran glukosa dan garam yang terkandung dalam oralit dapat diserap dengan baik oleh usus penderita diare.
Style
Bagaimana penanganan diare? Pemerintah sejak tahun 2008 sesuai rekomendasi WHO telah menerapkan langkah tatalaksana diare dengan istilah LINTAS DIARE yaitu Lima Langkah Tuntaskan Diare. Lima langkah tersebut adalah : 1. Pemberian oralit Sejak tahun 2004 WHO telah merekomendasikan oralit dengan osmolaritas rendah untuk mengatasi diare karena dapat mengurangi volume tinja hingga 25%, mengurangi mual muntah hingga 30% dan mengurangi secara bermakna pemberian cairan melalui intravena sampai 33%.
3. Pemberian ASI dan makanan sesuai umur Pemberian asupan makanan yang baik selama diare akan membantu penderita tetap kuat dan mencegah terjadinya penurunan berat badan. Pada balita dan anak-anak pemberian asupan makanan ini akan mencegah terjadinya kurang gizi yang merupakan faktor penyebab terjadinya diare. 4. Pemberian antibiotika secara selektif Hampir 80% kasus diare diobati dengan antibiotika padahal seharusnya pemberian antibiotika pada diare tidak lebih dari 20% karena penyebab diare dominan bukan oleh bakteri. Karena itu, pemberian antibiotika haruslah rasional dan selektif sesuai indikasi/ penyebab dari diare tersebut. 5. Beri Nasihat Memberikan nasihat khususnya bagi penggunaan Zinc untuk penderita diare akan dapat mengurangi lama dan keparahan diare, mengurangi frekuensi diare dan volume buang air besar, serta mencegah kekambuhan diare sampai 3 bulan berikutnya.
Seperti beberapa koleksi dari Minardi Boutique yang berlokasi di kawasan Jalan Nusa Indah berikut ini.Warna-warninya sangat menggoda. Variasi bahan dengan tile yang berkualitas menggam-
barkan, kebahagiaan , keindahan, megah lengkap dengan sentuhan siluet yang mengesankan seksi dan glamor. Selanjutnya dipadukan dengan aneka kain pilihan mampu melengkapi citra modern.
Ingin tampil manis, feminin, cantik, anggun seksi maupun kesan lainnya, menurut Mira sang pemilik semua tinggal menyesuaikan model kebayanya dengan aksen atau detil lainnya. Misalnya dengan lilitan obi atau selendang di pinggang. Variasi model lainnya bisa pada belahan dada, lengan, kerah hingga aplikasi bordir Deretan koleksi dari Minardi Boutique ini sangat cocok untuk kalangan remaja dan para ibu muda. Bisa dikenakan untuk menguatkan karakter pemakainya di berbagai kesempatan untuk selalu tampil stylis dan trendy. -Sri Ardhini
Edisi 878/ 7 - 13 Desember 2015
15
16
Persembahan pesona keindahan laut dengan menghadirkan keindahan terumbu karang kini menjadi kebanggan masyarakat Pemuteran, Buleleng. Apa yang dihadirkan saat ini tak seindah kondisi di masa lampau. Keadaan Pemuteran di tahun 1980-an, dengan teluknya Nyegara Gunung ini dulunya hanyalah lahan tandus yang jauh dari gemerlap pariwisata Bali.
K
Pelesir
Edisi 878/ 7 - 13 Desember 2015
ebiasaan masyarakatnya yang menangkap ikan dengan cara menggunakan bahan peledak yang justru turut merusak pertumbuhan terumbu karang di dasar laut. Dibalik kerusakan ini rupanya dipandang serius oleh I Gusti Agung Prana. Pria yang berusia 68 tahun ini memandang kawasan Pemuteran menyimpan potensi yang yang tersembunyi untuk dijadikan sebagai destinasi wisata. “Pada waktu itu tempat ini saya temukan dalam aura spiritual ketika melakukan perjalanan spiritual, “ ujarnya. Agung Prana begitu dia disapa dalam intuisinya menangkap pentingnya dilakukan rehabilitasi dengan mengajak peran serta masyarakat. Masyarakat yang memiliki kebiasaan merusak biota laut untuk kemudian dijualnya sebagai kebutuhan ekonomi berusaha untuk mengubah pola pikir yang sudah menjadi kebiasaan. Sehingga hal ini menjadikan tantangan terberat baginya untuk menyadarkan masyarakat. Dengan komitmen yang kuat akhirnya masyarakat memahami apa yang diharapkan Agung Prana kendati sebelumnya ditolak se-
Bio Rock cara mentah- mentah. “ Pada saat mulai menyampaikan niat kepada masyarakat, diujilah goodwill kami oleh Yang Maha Kuasa. Kami sempat ditolak masyarakat setempat. Mereka bilang, kami sudah gak makan. Makan sekali dari hasil laut, sekarang bapak stop kami, memang kami mau makan apa?, “ imbuhnya. Apa yang kemudian dilakukan Agung Prana menjadikan Pemuteran perlahan tumbuh. Melalui program rehabilitasi karang agar masyarakat beralih ke sektor pariwisata. Sebuah cottage pun saat saat itu didirikannya dengan mulai memberdayakan masyarakat lokal. Agung Prana melalui Yayasan Karang Lestari melakukan program rehabilitasi terumbu karang teknik baru bekerjasama dengan dua orang ahli terumbu yakni Thomas J Goreau asal Amerika Serikat dan Wolf Hibertz asal Jerman. Mereka memulai melakukan rehabilitasi terumbu karang dengan teknik baru yakni dengan mengalirkan listrik bertegangan rendah pada kerangka rumpon di bawah dasar laut, atau biasa disebut Biorock. Rumpon-rumpon itu kemudian ditenggelamkan di dasar laut sedalam sekitar 12 meter. Ribuan bibit terumbu karang juga diikat dengan kawat pada rumpon tersebut, lalu dialiri listrik berkekuatan rendah sekitar 12-20 volt. “ Aliran listrik ini memberi dampak pada semakin cepatnya perkembangan terumbu karang, “ kata Prana yang juga pemilik dari Home Stay Taman Sari di Pemuteran. Upaya mereka ini akhirnya mam-
Bio Rock
Edukasi
Keindahan Terumbu Karang di Pemuteran
Pantai Pemuteran
pu mengembalikan keindahan terumbu karang di Teluk Pemuteran yang eksotis. Dengan mengedepankan pentingnya Community Based Development dalam membangun sebuah usaha pelestarian terbukti sudah banyak mendatangkan wisatawan utamanya dari Eropa seperti wisatawan Jerman, Belanda, Perancis, bahkan wisatawan Amerika Serikat dan Australia juga mengundang ketertarikannya sebagai esensi pariwisata spiritual karena berlokasi di kawasan yang sepi dan tenang. “ Pariwisata disini memiliki esensi spiritual, energi spiritual akan muncul apabila lingkungan terjaga. Kalau tidak terjaga hilanglah spiritualnya, “ kata Prana. Lebih lanjut dikatakannya, di tempat ini wisatawan juga bisa melakukan aktivitas seperti menikmati karang dengan Snorkeling atau melihat lewat Glass Bottom Boat. Ada juga Night Dive melihat kecantikan terumbu karang di malam hari yang aman dilakukan pada kedalaman 20 – 25 meter yang ditemani oleh pemandu di sekeliling karang. Begitu juga bagi anak- anak yang tertirik mempelajari kehidupan laut. Lewat Marine Tourism para pelajar bisa mendapatkan edukasi tentang pentingnya aspek kehidupan di alam di laut.
Apa yang ditampilkan oleh Desa Pemuteran saat ini mengundang apresiasi dari Kementerian Pariwisata. Keunggulan Desa Pemuteran akan diusulkan ke Madrid sebagai destinasi pariwisata berbasis konservasi alam, khususnya coral laut di ajang kompetisi yang dilakukan oleh United Nation World Tourism Organization (UNWTO) pada bulan Januari 2016 nanti. “ Pertimbangannya, disini terbukti bahwa pariwisata sudah mampu mengubah paradigma masyarakat
dari merusak karang menjadi menjaga karang. Ini menunjukan bahwa kalau ada kritik pariwisata itu merusak lingkungan justru pariwisata menjadi wahana yang sangat baik untuk pelestarian lingkungan, “ kata Prof. I Gde Pitana, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara saat memberikan Bimbingan Teknis mengenai Promosi Pariwisata Mancanegara kepada wartawan di Pemuteran, Kecamatan Gerokak, Kabupaten Buleleng.
dengan menggunakan tools/software yang tepat untuk usia tersebut,” ujarnya seraya menyebut pivot animator sebagai salah satu tools untuk animasi. Dari 150 karya anak-anak SD ini, dipilih 100 karya untuk dipamerkan kemudian 10 terbaik diberi kesempatan presentasi. Hasilnya, terpilih sebagai juara 1 I Made Ananda Diva Adhinata (SD Kristen Harapan), juara II Putu Satria Yoga Abimanyu (SD Saraswati 4), dan juara III I Putu7 Aryana Kusuma Putra (SD Saraswati 2). “Saya tidak menyangka Abi bisa meraih juara II. Awalnya saya sempat melarang dia ikut karena takut matanya rusak kalau terus di depan komputer. Komputer yang dipakai pun pinjam dari uwaknya. Akhirnya saya biarkan saja, malah dapat juara II,” ungkap Niswatul Mukaromah, ibunda Abi. Ia juga menuturkan Abi memang senang bermain komputer. Saat teman lain belum bisa, Abi sudah bisa duluan. Untuk keperluan lomba, Abi sering meminjam
9
“Banting Tulang” demi Anak-Cucu Pengalaman transmigrasi kerap menjadi hal yang tak terduga. Namun, berkat kerja keras para transmigran Bali yang berada di Poso sejak tahun 1981, kini mereka tinggal memetik hasilnya. “Sekarang yang ada adalah generasi kedua. Bagaimana awal mulanya hingga berada di daerah transmigrasi, banyak dituturkan orangtua kami,” ungkap Ketut Putra Ariawan, salah seorang warga Bali yang menjadi transmigran.
D
ari kisah orangtuanya yang menetap di Desa Mayasari Kecamatan Pamona Selatan, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng), Putra menuturkan mereka sempat terombang ambing di tengah lautan menumpangi kapal motor sederhana menuju Pulau Sulawesi. Hujan deras, gelombang laut tinggi, membuat kapal dipenuhi air. Dengan peralatan seadanya, mereka menguras air untuk menghindari kapal tenggelam. Tantangan yang dihadapi di lokasi transmigrasi selain hutan belantara adalah jalan-jalan yang menghubungkan rumah satu dengan lainnya, hanya berupa jalan tikus. Anak-anak para transmigran kerap menangis histeris karena tak
menemui jalan pulang sekembali dari mengambil jatah. “Dulu satu tahun pertama, transmigran memang mendapat jatah dari pemerintah. Per bulannya, 50 kilogram beras, 5 kilogram gula, ikan teri dan minyak goreng,” ujar Putra yang kini menetap di Makasar. Karena transmigran belum mampu menghasilkan sendiri (kebun dan sawah), bantuan diperpanjang lagi selama enam bulan. Setelah itu, menghasilkan atau tidak, bantuan dihentikan. Transmigran harus bisa menghidupi dirinya sendiri dari lahan yang sudah diberikan pemerintah yakni 25 are pekarangan rumah dan 1 hektare sawah. Di Desa Mayasari (Unit I), ada dua lokasi transmigrasi, Bali I yang mayoritas
-Eka Juni Artawan
Suasana jalan di Desa Mayasari
Di sela-sela kesibukan bekerja di sawah dan kebun, ngobrol dengan sesama merupakan salah satu cara warga transmigran menghilangkan penat. Dari obrolan ringan hingga obrolan berat berupa ide dan kreativitas bisa muncul di sini.
warga Gianyar dan Bali II asal Tabanan dan beberapa kabupaten lain di Bali, seperti Buleleng dan Klungkung. Di sekitarnya ada juga transmigran asal Bali lain yang menempati Unit II dan Unit IV. Transmigran asal Bali ini, juga berdampingan dengan transmigran asal Jawa. Rata-rata, setiap lokasi transmigrasi ditempat 75 KK. Suami-isteri bahu-membahu mencari penghasilan untuk bertahan hidup dengan bertanam padi dan palawija untuk kebutuhan sehari-hari. Dalam kondisi yang masih sulit, kesehatan warga seperti terabaikan. Penyakit malaria dan penyakit kulit banyak menyerang warga saat itu, terutama anak-anak. Pendidikan anak-anak juga kurang memadai. Sebagian besar hanya tamatan sekolah dasar (SD), kemudian terjun menjadi petani. Sebagian lainnya SMP. Hanya sebagian kecil yang bisa melanjutkan hingga ke jenjang SMA, apalagi yang melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi, bisa dihitung dengan jari. Namun, dengan tekad harus bisa lebih
baik, bekerja keras adalah keharusan buat mereka. Setelah tahun 2000-an, mulai banyak transmigran yang mampu melanjutkan pendidikan anak-anaknya hingga jenjang perguruan tinggi. Gangguan keamanan di wilayah Poso juga berimbas terhadap transmigran. Mobilitas penjualan hasil bumi tersendat. Membuat sebagian besar warga pindah ke daerah lain yang dianggap lebih aman. Bahkan, Unit IV betul-betul kosong dari transmigran asal Bali, Sedangkan unit II hanya tersisa dua KK. Sementara di Unit I, saat ini masih sekitar 50 KK di Bali I (Itupun setelah ada penambahan KK baru dari generasi kedua transmigran) dan sekitar 20-an KK di Bali II. Di samping, kepindahan mereka juga dipengaruhi kondisi tanah yang kurang subur dan harga jual yang rendah paskapanen. Saat ini, perekonomian warga transmigran mulai menggeliat. Terutama setelah menanam dan panen kakao. Kini, rata-rata warga menggarap satu hektare lahan untuk tanaman padi dan
satu hektare kebun kakao. Penghasilan mereka antara Rp 6 – 10 juta per panen (enam bulan). Namun, mereka mampu membangun rumah, membangun sanggah dan keperluan lain, semuanya dari hasil tanam padi dan kakao. Untuk memudahkan biaya membangun, mereka mengadakan arisan yang diundi setiap panen. Ada yang membuat kelompok arisan bahanbahan bangunan, arisan sanggah (tempat ibadah di rumah), arisan pademen (tempat menjemur padi/kakao) dan lainnya. Sehingga, meski penghasilan dibawah Rp 10 juta tiap panen, mereka bisa membangun rumah yang lebih permanen. Selain padi dan kakao, ternak (sapi dan babi) juga sangat membantu perekonomian warga. Selain dari bangunan rumah yang rata-rata berupa bangunan permanen, indikasi bahwa perekonomian transmigran sudah meningkat, terlihat dari isi rumah. Barang-barang elektronik seperti televisi, rice cooker, tape bahkan kulkas yang dulu merupakan barang mewah, kini sudah masuk ke beberapa rumah. Apalagi sejak setahun terakhir, instalasi listrik sudah menyala 24 jam (sebelumnya warga lebih banyak menggunakan genzet), walaupun masih sering byar pet. Juga sepeda motor dari keluaran lama hingga terbaru, hampir ada di tiap rumah. Malah ada yang lebih dari satu. Selain polisi, rata-rata anak-anak Desa Mayasari yang tamat SMA, saat ini melanjutkan pendidikan di Universitas Tadulako, Palu, ada juga di Sekolah Tinggi Agama Hindu (STAH) Palu, Sulawesi Tengah. Para transmigran mengaku tak masalah masih harus bekerja “banting tulang” untuk bisa membekali anak-cucu mereka dengan pendidikan yang lebih baik. –Ngurah Budi
“Whimsical Christmas” di Beachwalk Salah cottage di Pemuteran
Raih Prestasi berkat Komputer Pinjaman
Animasi bagi anak-anak sangat mengasyikan. Kebanyakan anak-anak hanya menjadi penikmat. Namun, ketika diadakan Kids Animation Festival yang digagas Bamboomedia, antusiasme anak-anak luar biasa. “Kami menargetkan 100 peserta karena ini program perdana. Ternyata yang mendaftar sampai 150 peserta. Anak-anak, orangtua, dan gurunya ternyata sangat antusias,” ujar I Putu Sudiarta, S.Kom, Direktur Bamboomedia. Ia menjelaskan kegiatan ini berkaitan dengan pencanangan Denpasar sebagai Kota Animasi disamping kota Kreatif Berwawasan Budaya. Animasi adalah perpaduan antara ide, seni dan teknologi. Perpaduan ini sangat memerlukan pengembangan ekosistem pendukung baik dari pemerintah, akademisi maupun dunia usaha. “Untuk mempercepat kesadaran publik kota Denpasar terkait hal ini, penting kiranya memperkenalkan dunia animasi sejak usia dini (setidaknya SD dan SMP). Tentunya
Edisi 878/ 7 - 13 Desember 2015
Suasana Kids Animation Festival menghadirkan figur berpakaian stickman
laptop gurunya. Menjelang penutupan lomba, barulah ia menggunakan komputer uwaknya agar bisa mengerjakan di rumah.
Selain gemar bermain komputer, Abi juga ikut klub judo dan sering menjadi juara. –Ngurah Budi
Dalam rangka perayaan akhir tahun 2015, Beachwalk akan membawakan tema “Whimsical Christmas” yang bertepatan dengan Natal, ulang tahun ke-3 Beachwalk dan sekaligus perayaan Tahun Baru 2016. “Pada ulang tahun ke-3 Beachwalk akan diselenggarakan Corporate Social Responsibility (CSR) berupa donor darah. Kegiatan ini diselenggarakan 7 Desember 2015 bekerjasama dengan PMI Bali. Target donor darah sebanyak 73 kantong. 7 artinya tanggal 7 Desember dan 3 artinya tahun ke-3 ulang tahun Beachwalk. Donor darah ini melibatkan karyawan, tenant dan pengunjung Beachwalk,” ujar Syama Sara Jini Devi Dasi, Marketing Communications Beachwalk Shopping Center. Beachwalk juga membuat Christmas Chocolate House bekerja sama dengan 71 Decoration Bali, Rosado Doll House & Bali Luna 4 Desember 2015 – 4 January 2016. Christmas Chocolate House adalah rumah Natal di Fountain Stage level 1, Beachwalk. Tidak hanya Christmas Chocolate House, ada berbagai acara lainnya seperti pameran, demo memasak oleh koki ternama, standup comedy, kompetisi foto dan aktivitas untuk anak-anak. Selain itu akan disuguhkan pertunjukan musik oleh artis-artis ternama Indonesia seperti Dirly dari Indonesian Idol. Tentu saja kegiatan yang diadakan selama satu bulan ini tidak boleh dilewatkan oleh pengunjung Beachwalk. Para pecinta LEGO dapat menikmati
area bermain yang bertemakan LEGO Tropical Holiday Party 4 Desember 2015 – 3 Januari 2016. Area bermain tersebut berada di Garden Pod, Beachwalk Level 2. Selain area bermain, di LEGO Tropical Holiday Party juga terdapat kompetisi seperti single building competition, kompetisi orang tua dan anak, kontes “Dear Santa” dan masih banyak lagi. Syama menambahkan untuk memeriahkan perayaan Natal akan terdapat Christmas Carols dan Christmas Marching Band di Beachwalk. Berbagai grup musik akan membawakan lagu-lagu Natal setiap minggu menjelang Natal
untuk memberikan suasana gembira dan semangat liburan di Beachwalk. Selain itu terdapat juga Christmas Dog Show selama weekend Desember yang tentunya tidak dapat dilewatkan bagi para pecinta anjing. Pada bulan Desember Beachwalk mengadakan program Lucky Seven Reward bagi para pengunjung ber-KTP Bali. Setiap kali pengunjung ber-KTP Bali berbelanja minimal Rp 100.000 dalam sehari dapat mengunjungi Customer Service di level 1 dan menukarkan nota belanja, akan mendapat stempel dan hadiah langsung berupa voucher Bebek
Tepi Sawah Rp 20,000, voucher Kafe Betawi Rp 20,000 atau parkir gratis selama 2 jam pertama di Beachwalk. Bila sudah mengumpulkan stempel sebanyak empat kali hari kerja dan 3 kali hari libur atau weekend dalam sebulan akan mendapatkan voucher LEGO Rp 250,000 dan paket The Body Shop. Pe n g u n j u n g B e a c hwa l k juga berkesempatan untuk me nerima berbagai macam SHOP & WIN November yang ditunggutunggu. Mereka berkesempat an untuk menerima berbagai macam hadiah atau voucher menarik dari Beachwalk. Para pengunjung dapat mengunjungi Customers Service di level 1 dan langsung menukarkan nota belanja mereka senilai minimal Rp 500.000 (1 nota belanja) dengan mendapatkan voucher belanja, voucher makan, voucher gratis parking dari Beachwalk. Para pengunjung yang berbelanja minimal Rp 2.000.000 dengan memperlihatkan nota belanja (maksimal 2 nota belanja) akan berkesempatan untuk mendapatkan hadiah undian paket liburan ke Lombok untuk 2 orang, paket liburan ke Bandung untuk 2 orang, dan tiket pesawat pulang pergi Denpasar-Jakarta. Beachwalk Shopping Center selalu menghadirkan pengalaman berbeda dan menarik bagi turis dan pengunjung Beachwalk. Hadirnya berbagai program ini memberikan daya tarik lebih bagi Kuta dan mengukuhkan tag line Beachwalk Shopping Center, “Bali Starts Here”.
8
Bunda & Ananda
Edisi 878/ 7 - 13 Desember 2015
Wisata Petik Stroberi di Sembalun
Hari Minggu, pukul 06.00 wita, Tihang, Inu, dan Oca bersiap menuju Sembalun Lombok Timur. Ketiga anak berusia 14 tahun ini sudah tidak sabar ingin memetik langsung buah strawberi dan mendaki Bukit Pergasingan di Sembalun yang merupakan kaki Gunung Rinjani ini. Perjalanan menuju Sembalun yang dingin ditempuh dalam waktu dua setengah jam naik mobil dari Mataram. Perjalanan ini dilakukan untuk mengisi waktu libur mereka.
S
epanjang perjalanan menuju Sembalun, ketiga siswa MTSN 1 dan MTSN 2 Mataram ini, dapat menyaksikan hutan lindung yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani. Lebat dan dingin. Kabut sesekali masih turun meskipun matahari sudah mulai meninggi. Pada puncak Sembalun, tempat yang biasa dipakai oleh para wisatawan untuk beristirahat, ketiganya dapat menikmati dinginnya Sembalun yang menusuk tulang meski sinar matahari menyala. Inilah puncak tertinggi dari Sembalun. Dari sini sepanjang mata memandang dapat terlihat bukit-bukit sekitar Gunung Rinjani nan hijau yang berderet indah. Nun jauh di sana, Desa Sembalun tampak dengan jelas. Rumah-rumah terlihat dari jauh. Sehingga di lokasi inilah wisatawan biasanya berdiri untuk memotret diri berlatar Desa Sembalun di kejauhan. Tihang, Inu, dan Oca pun tidak mau ketinggalan momen ini. Tempat ini menjadi sangat ramai karena dijadikan tempat istirahat bagi wisatawan khususnya yang telah menempuh perjalanan dari Mataram sekitar 2,5 jam lamanya. “Lelah perjalanan langsung hilang ketika menyaksikan pemandangan Sembalun nan elok ini,” ungkap Juna, salah seorang pengunjung
yang membawa kamera. Di hampir setiap sudut areal yang tidak luas ini, para pengunjung sibuk dengan kamera yang kebanyakan memakai kamera HP untuk berfoto. “Rasanya tidak ada orang yang mampir ke sini yang tidak mengabadikan pemandangan cantik ini. Jika tidak rasanya rugi sekali,” ujar Ranti, pengunjung lain yang rupanya datang dari Jawa Timur hendak berlibur ke Sembalun. Lain Ranti dan Juna lain pula ketika remaja Tihang, Inu, dan Oca. Mereka bertiga sibuk menapaki bukit-bukit pendek ini dengan riang, sembari sesekali berfoto di tebing-tebingnya. Angin terus berembus menerpa, matahari tertutup awan dan dingin semakin menjadi. Banyak pengunjung yang buru-buru masuk mobil untuk melanjutkan perjalanan, termasuk ketiga remaja ini. Hanya sekitar 15 menit perjalanan dari puncak Sembalun tersebut, mereka tiba di kebun stroberi. Di sepanjang jalan desa saat memasuki Sembalun, banyak warga yang menawarkan untuk wisata petik buah stroberi. Tarifnya sekali masuk Rp 10.000/orang. Seluruh stroberi yang dipetik akan ditimbang ketika keluar dari kebun ini. “Jika masuk dan petik sambil makan stroberi bayarnya Rp 15.000/orang,” kata salah seorang pengelola kebun stroberi. Tarif ini
Indosat Ooredoo Hadirkan Layanan 4GPlus INDOSAT Ooredoo meluncurkan layanan 4GPlus serentak secara nasional, termasuk di Bali, Senin (30/11). Menurut Head of Indosat Area Bali Nusra, Heny Tri Purnaningsih, layanan yang dihadirkan Indosat Ooredoo merupakan yang terkuat karena bisa melayani 40 juta pengguna seluruh Indonesia. Bahkan tahun depan, ditargetkan ada penambahan sekitar 5 juta pengguna per bulannya. Ia optimis, layanan 4GPlus milik Indosat Ooredoo akan diterima masyarakat Bali. Layanan ini memiliki kecepatan yang luar biasa dan akan membuat pengguna nyaman dalam menggunakan layanan data. Division Head Operations & System Capabilities Indosat Ooredoo, Hita Supranjaya menambahkan selama dua tahun terakhir ini, Indosat Ooredoo telah berhasil dalam investasinya memodernisasi jaringan. Modernisasi ini mampu membawa Indosat Ooredoo menggandakan kecepatan jaringan data dan menghadirkan layanan internet tercepat. Kekuatan jaringan ini lah, kata dia, yang dipakai modal Indosat Ooredoo dalam melayani pelanggan, baik personal maupun bisnis. Pelanggan akan bisa menikmati kecepatan download hingga 185 Mbps. --rls
Suasana wisata strawberi
berlaku sampai pengunjung siap untuk keluar. Artinya tidak ditentukan waktunya melainkan harus membayar seluruh buah stroberi yang dipetiknya. Tihang, Inu, dan Oca pun dibekali keranjang saat memasuki kebun strawberi. Pengalaman petik langsung buah stroberi menjadi pengalaman yang mengasikkan bagi ketiga remaja ini. Mereka menikmati dinginnya Sembalun di antara buah stroberi yang memerah. Dengan antusiasnya ketiganya memetik buah segar ini. Hingga beberapa saat, karena harus melanjutkan perjalanan ke Bukit Pergasingan yang tidak jauh dari kebun-kebun strawberi ini, mereka pun keluar dengan membawa stroberi yang cukup banyak. Lalu hasil panen mereka ditimbang hingga mencapai lima kg.
“Kalau hari Minggu dan hari libur lainnya, harga buah stroberi Rp 80.000 jika hari biasa harganya Rp 60.000,” begitu penjelasan sang pemilik kebun. Artinya, ketiga anak ini harus membayar tiket masuk Rp 30.000 dan ditambah dengan harga
stroberi Rp 400.000. Lumayan mahal untuk ketiga bocah yang tidak mengerti trik berwisata ini. Lalu seorang pengunjung memberi mereka tips agar lebih murah berwisata petik buah stroberi ini. “Lebih baik masuk dengan tiket petik dan makan stroberi, petiknya hanya secukupnya saja sehingga bisa lebih murah,” kata Fatimah yang juga tengah mengantar anak-anaknya berwisata ke kebun stroberi ini. Tips wisata yang sangat bermanfaat bagi anak-anak ini. Namun, semahal apapun yang telah dibayarkan oleh Tihang, Inu, dan Oca, tidak ada yang lebih mahal lagi dari kekayaan pengalaman yang mereka dapatkan dalam mengenal alam dan mengagumi keindahan kaki Gunung Rinjani ini. Dengan cerianya, mereka pun melanjutkan perjalanan menuju Bukit Pergasingan dimana di sana mereka dapat menyaksikan tubuh Gunung Rinjani secara utuh. -Naniek I. Taufan
Pesta tak Lengkap
Tihang, Inu, dan Oca
Pendongeng yang belum boleh pulang
“Kanda bohong! Dongeng yang Kanda ceritakan adalah dongeng-dongeng yang sudah dikenal dewadewa!” katanya dengan suara keras. “Kau tahu dari mana?” tanya Dewa Pencipta heran. “Seorang istri menyeritakan dongeng itu kepadaku. Katanya ia dapatkan dongeng itu dari suaminya.” Dewa Pencipta penasaran. Seketika itu pula beliau memanggil suami dari istri peñata rambut itu. “Dari siapa kamu mendapatkan dongeng tentang langit, bumi, dan lain-lainnya itu?” tanya Dewa Pencipta kepada Dewa yang suka menguping. Dewa Penguping itu pun menjelaskan hal-ihwal dari mana ia mendapatkan dongeng-dongeng itu. Bahkan ia mengusulkan agar dongeng itu diceritakan kepada dewa-dewa dan manusia agar berakal-budi. Mula-mula Dewa Pencipta dan istrinya marah mendengar perilaku dewa yang suka menguping itu. “Tidak tahu sopan santun!” katanya. Namun mendengar usul yang terakhir itu, Dewa Pencipta lalu berkata, “Hai, Dewa yang suka mendengan dongeng! Mulai saat ini kau dan istrimu kuperintahkan untuk turun ke bumi. Tugasmu adalah menyeritakan semua dongeng itu kepada manusia. Buatlah manusia agar berakal-budi! Sebelum semua dongeng itu kamu ceritakan kepada semua manusia, kamu tidak boleh pulang ke kayangan.” Dewa Penguping itu pun turun ke bumi dan melaksanakan perintah Dewa Pencipta. Ternyata dongeng-dongeng itu tak pernah habis. Masih banyak manusia yang belum mendapat giliran mendengarkan dongeng itu. Kasihan pendongeng itu! Sampai sekarang ia belum boleh pulang ke kayangan.
17
Edisi 878/ 7 - 13 Desember 2015
tanpa Photo Booth
Bali kuno
Japanesse pink love
Mendongeng Lima Menit Dewa Pencipta yang tinggal di kayangan, setiap malam mendongeng untuk istrinya. “Kamu siap mendengarkan dongeng?” Made Taro tanyanya. “Siap!” jawab istrinya. “Tetapi dongeng itu harus baru dan belum dikenal oleh dewa-dewa lainnya.” Dewa ahli dongeng itu pun memulai ceritanya. Sang istri sangat senang, mata dan telinganya tak pernah lengah. Kebetulan malam itu seorang dewa lewat di depan pintu kamarnya. Mendengar cerita Sang Pencipta, dewa itu pun tertarik dan bersungguh-sungguh mendengarkan dari luar pintu. Hal itu dilakukannya setiap malam. Ia banyak tahu dongeng-dongeng tentang langit, bumi, manusia, burung, ikan-ikan, dan lain-lainnya. Dewa Pencipta dan istrinya sama sekali tidak menyadari bahwa di luar situ, seorang dewa sedang menguping. Setiba di rumah, Dewa Penguping itu mengisahkan dongeng-dongeng yang baru didengarnya itu kepada istrinya. “Dongeng itu sangat menarik dan amat berguna untuk mengasah akal-budi,” demikian kesan istrinya. Beberapa hari kemudian, istri Dewa Penguping itu dipanggil oleh istri Dewa Pencipta ke istana. Ia ditugasi menata rambut sang istri Dewa Pencipta. Di tengah kesibukan itu, ia juga diminta mendongeng. Sedang asyik menyeritakan dongeng yang terakhir, tiba-tiba istri Dewa Pencipta bangkit dan secepatnya menemui suaminya.
Griya
Dalam sebuah pesta pernikahan, yang menjadi perhatian bukan hanya soal pakaian dan keperluan sang pengantin, namun kepuasan tamu undangan juga jadi salah satu alasan kenapa calon pengantin dan keluarga rela menghabiskan banyak dana. Yang tengah menjadi tren dan daya tarim tersendiri saat ini adalah memanjakan para tamu dengan membuat stand photo booth.
M
enurut Kenrina Anggoro Wulandari,S.E., pemilik Bali Izatta Wedding & Floris Decorator, usaha jasanya adalah pihak ketiga yang banyak diajak bicara untuk merumuskan pesta pernikahan maupun perayaan lainnya yang
berbeda dari yang lainnya. Salah satunya adalah menghadirkan satu area untuk para tamu dapat mengekspresikan diri, sehingga pemilik acara dan undangan sama-sama merasakan bahagia. Stand photo booth, diakuinya sejak 2014 memang menjadi salah
Momen on Frame
Heritage white chic
satu fokus di acara pernikahan dan dijadikan suvenir bagi para tamu undangan, dengan menyiapkan forografer dan foto langsung dicetak di lokasi untuk diberikan pada tamu dan dibawa pulang. Sementara soal biaya atau budget, dikatakannya semua menyesuaikan dengan tema dan jenis properti yang diperlukan. Namun, untuk sebuah photo booth modern yang simpel atau minimalis, Kenrina menyebut angka mulai dua juta-aan. Namun, katanya sejak awal 2015 tren bergeser sesuai dengan perkembangan teknologi dan hobi selfi dimasyrakat. Stand photo booth bukan hanya hadir di acara pernikahan tapi juga diberbagai perhelatan lainnya, diantaranya acara pertunangan, pesta ulang tahun, anniversary,wisuda, reuni,peresmian kantor, dan pameran. Tamu undangan pun tinggal memanfaatkan area ini menggunakan kamera ponselnya
Simple Retro
yang kini canggih-canggih Untuk wilayah Bali, Kenrina mengakui jika Bali Izatta Wedding cukup ramai menangani atau menyiapkan stand photo booth yang konsepnya unik - unik dengan tema dan konsep pemilik acara. Mulai dari tema Balinese seperti heritage tradisional vintage, heritage royal hingga aneka konsep modern lainnya. Ditanya soal kendala ketika menggarap sebuah tema, Kenrina, yang mendirikan Bali Izatta Wedding, di atas komitmen demi sang buah hati tercinta hingga ia memilih berhenti bekerja di dunia perhotelan ini, menyatakan meski terkadang harus keliling pelosok Bali untuk mendapatkan properti sesuai tema, ia dan tim kerjanya mengaku mengerjakannya dengan senang hati bahkan selalu tertantang. “Apalagi setelah selesai kemudian klien tersenyum dan mengucapkan terima kasih, maka semua lelah dan penat bisa menguap,” katanya saat ngobrol dengan Tokoh di kantornya di kawasan Jalan Ciung Wanara, Renon. Bicara tren, untuk stand photo booth saat ini, katanya selalu menjadikan suasana yang ber-
Kenrina
beda, pusat perhatian dan dipastikan ramai. Untuk konsepnya hingga kini lebih banyak memilih kembali kealam dibandingkan material pabric. “Misalnya karpet diganti tikar, begitu juga dengan pilihan bunga-bunganya,” kata perempuan energik klien WOnya 70 % mancanegara dan 30 %persen lokal yakni dari Medan, Surabaya dan Jakarta. – Sri Ardhini
“...meski terkadang harus keliling pelosok Bali untuk mendapatkan properti sesuai tema, ia dan tim kerjanya mengaku mengerjakannya dengan senang hati bahkan selalu tertantang...”
Modern sweet
18
Kreasi
Edisi 878/ 7 - 13 Desember 2015
KOLABORASI SENI BUDAYA BALI-JEPANG
Sekelompok seniman Jepang datang ke Bali, bertemu dengan para penabuh gamelan jegog di Desa Sangkar Agung, Jembrana, pada pertengahan Nopember ini. Para pemain kendang tradisional Negeri Sakura itu bahkan bertandang dari sebuah pulau kecil di belahan utara Jepang, Pulau Sado. Walau tinggal di sebuah desa bernama Kodo, para penggebuk taiko (sebutan alat musik drum Jepang) ini sudah berkeliling dunia. Kedatangan mereka ke Bali untuk berkolaborasi seni musik taiko dengan jegog, gamelan Bali yang terbuat dari bambu. Hasil kerja musik itu, Selasa (24/11) malam lalu disajikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Penonton ter henyak dan terpukau.
G
amelan jegog, bisa jadi tak begitu umum dikenal di tengah masyarakat Bali. Tetapi di belahan Bali Barat, jegog lebih populer dari gong kebyar--ansambel gamelan Bali yang tersebar di setiap banjar dan desa. Sejak tahun 1980-an, gamelan jegog diperkenalkan di Jepang dan berhasil menambat hati penonton setempat. Adalah grup taiko Kodo dari pulau Sado yang pada tahun 1981 menghadirkan gamelan jegog di sana. Para seniman jegog Jembrana yang mengawali debut gamelan jegog di Negeri Matahari Terbit itu adalah grup Suar Agung yang dimotori oleh I Ketut Suwentra. Sejak itu sajian gamelan jegog dari Bali sering mengisi sejumlah festival seni, hampir di seluruh penjuru Jepang. Kini, seniman taiko Kodo Jepang dan penabuh jegog Suar Agung Bali bersua kembali, menyambung sejarah, memadukan rasa rindu merajut seni. Namun terlepas dari aksentuasi asahasih estetik, kolaborasi seni dari dua ekspresi dengan latar kultur yang berbeda adalah sebuah senyum dari hati ke hati di tengah fenomena kekerasan terorisme belakangan ini. Kedamaian yang tak kunjung sejuk di sebagian belahan dunia, diantaranya, karena kurang adanya dialog manusiawi dari hati ke hati. Padahal seni sebagai bahasa universal telah menunjukan “diplomasinya” meneduhkan saling pengertian antar manusia dan bangsa. Oleh karena itu, kolaborasi seperti taiko Jepang dan gamelan jegog Bali adalah sebuah percumbuan budaya yang patut terus digalang. Sikap saling menghargai dan memahami adalah kunci mulusnya kolaborasi seni, baik pada aspek seni yang dijadikan media maupun kultur yang menyangga insan-insan pemiliknya. Taiko sebagai alat musik, bukan sekedar kendang namun dia memancarkan nilai relegi-spiritual, nilai sosial-kultural, dan dan psikofilosofis. Ansambel taiko yang kini menjadi kebanggaan masyarakat
Jepang ini juga telah tersebar ke seluruh penjuru dunia yang dibawa oleh para imigran negeri itu. Begitu pentingnya arti dan makna budaya yang dimiliki taiko, kini ansambel perkusif ini masuk kurikulum sekolah-sekolah di Jepang yang wajib dipelajari para generasi muda. Kodo adalah salah
satu grup taiko Jepang, yang kini tak kalah gengsi tersohornya dengan grup musik modern terkenal Jepang. Zaman global sekarang ini rupanya membuka ruang dan peluang lebar terhadap nilai-nilai budaya lokal. Selain seni taiko Jepang yang berkibar mendunia, gamelan Bali seperti gong kebyar misalnya, juga telah menarik perhatian bangsa-bangsa sejagat. Gamelan jegog pun termasuk mulai naik daun dalam forum seni internasional, kendati di Bali sendiri kurang bergaung. Sejatinya, gamelan jegog sudah dikenal oleh masyarakat Bali Barat sekitar tahun 1912. Pada awal kemunculannya, di masa lalu gamelan jegog berfungsi sebagai media komunikasi, misalnya mengumpulkan orang-orang untuk bergotong royong dalam berbagai kegiatan komunitas-komunitas pertanian di pedesaan. Perkembangannya kemudian, gamelan ini lebih ba nyak digunakan untuk kepenti ngan hiburan, baik sebagai sajian musik instrumental maupun untuk mengiringi atraksi seni ketang kasan pencak silat. Dalam perkembangannya, gamelan jegog beradaptasi flek-
Life
Story
Edisi 878/ 7 - 13 Desember 2015
Kabur Jelang Ijab Kabul
Di salah satu sudut Rumah Sakit Jiwa (RSJ), Selagalas Mataram, Rah mat (40), duduk sambil memainkan buku yang sesekali dibukanya. Ia membaca dengan tenang. Beberapa saat kemudian, matanya menerawang jauh memandang langit. Entah apa yang dipikirkannya. Ia tidak tampak seperti pasien RSJ lainnya yang ter lihat mengalami gangguan jiwa.
sibel menerima pembaharuan. Jegog diklaim oleh komunitas seninya memiliki tiga versi, yaitu versi I Gejor (bersifat instrumental), I Suprig (mengiringi pencak silat dan tari), dan I Nyoman Jayus (iringan drama tari). Secara fisik, dibandingkan dengan gamelan Bali lainnya, jegog tampak megah
dan gagah. Penampilannya yang mendongak dan kemeriahan cat ukirannya, memunculkan kesan berwibawa penuh percaya diri. Batangan-batangan bambu besar yang menjadi media utama sumber bunyinya mencuatkan identitas yang eksotis namun agung. Sementara itu, beberapa orang seniman Bali juga terus menggali berbagai kemungkinan kreatif pada gamelan jegog. Ke n d a t i g a m e l a n j e gog memiliki tangga nada pendek, alunan nadanya menyeberangi lautan. Kini di Jepang telah ada beberapa grup gamelan jegog, diantaranya adalah sekaa gamelan Sekar Sakura. Hebatnya, Sekar Sakura dari Nagoya College of Music yang dibina Ketut Suwentra itu telah berani unjuk kebolehan dalam sebuah adu tanding (mabarung) melawan sekaa gamelan Jegog dari Bali pada
PKB tahun 1998. Kini, tahun 2000-an, gamelan jegog juga menggeliat di Amerika Serikat, salah satunya dimainkan oleh grup gamelan Sekar Jaya, San Francisco, California. Dunia seni telah terbukti begitu fleksibel dijadikan wahana persahabatan dan persaudaraan. Sejarah telah mencatat, seni telah menjadi media komunikasi antar bangsa di jagat ini. Karena itu, kolaborasi antar seni budaya bangsa Jepang dengan Bali (Indonesia), seperti yang dilakukan grup Kodo dengan sekaa gamelan jegog Suar Agung adalah kearifan budaya nan mulia. Simaklah penampilan keduanya dalam satu panggung, secara bergantian dengan identitas seninya masing-masing, lalu di bagian puncak mereka berkolaborasi dalam interaksi mempertemukan dan merajut nilai keindahan serta mereguk keteduhan damainya seni. -Kadek Suartaya
Shri Shri Shri Shivarudra Balayogi (Yogi dari Himalaya) Melihat Orang Suci adalah Berkah, Menyentuh Orang Suci, Mengurangi Dosa, Bercakap dengan Orang Suci, Membebaskan Belenggu Karma, Menjalankan Ajaran Orang Suci, Memberi Moksa
Free
Om Swastiastu Banyak orang telah menyadari pentingnya berkah atau Darshan dari seorang Yogi. Darshan menyimbulkan Shakti (Energi Ketuhanan), Shanti (Kedamaian), dan Vidya (Pengetahuan). Orang suci selalu memberikan Darshan untuk membantu kita berevolusi, keluar dari “kegelapan” sehingga dapat menjalani kehidupan dengan lebih baik, lebih damai, dan lebih sejahtera. Shri Shri Shri Shivarudra Balayogi atau Babaji adalah seorang Yogi dari Himalaya India. Babaji mempunyai misi, mendatangi umat manusia untuk memberi darshan, membangunkan sprititualitas, membimbing, dan menginisiasi dalam dhyana sehingga lepas dari penderitaan badan dan pikiran serta menemukan kedamaian sesungguhnya.
Shri Shri Shri Shivarudra Balayogi akan hadir di Gianyar untuk program sbb: 1. Hari/tanggal: Kamis/ 17 Desember 2015 Tempat: Griya Bhujangga Waisnawa Bhasundari Batur Anyar Desa Belega Kec. Blahbatuh, Gianyar Jam: 15.00 – 17.30 Wita Acara: Penjelasan tentang Meditasi, Inisiasi, Praktek Meditasi dan Darshan 2. Hari/tanggal: Jumat/ 18 Desember 2015 Tempat: Gedung Bale Budaya, Jln Dipta Gianyar Jam: 17.00 – 20.00 Wita Acara: Agni Hotra dan Darshan Pakaian : Adat (non Hindu: sopan, rapi dan menyesuaikan) Hadirlah bersama keluarga/teman/sahabat dalam acara tersebut dan terimalah Darshan dari Yogi ini. Om Santih, Santih, Santih, Om
Kontak: l Gede Wijaya (083119366667)
l
I Gusti Putu Suharta (081999932333)
7
R
ahmat terlihat lebih pendiam dan tenang. Kala itu, ia telah sebulan dirawat di RSJ ini setelah sebelumnya ia mengalami masa-masa sulit melawan gangguan jiwa yang dialaminya. Ada yang bilang, gangguan jiwa yang dialami Rahmat akibat “diguna-guna”. “Sakit yang ‘dibuat’ orang yang sakit hati,” ungkap Rohaya, kakak ipar Rahmat yang mengalami langsung kejadian yang diperkirakan menjadi penyebab Rahmat ‘dikerjai’ orang ‘pintar’. Rohaya sendiri sangat mengerti jika pun adik iparnya itu dikerjai orang seperti ini karena ulahnya sendiri. Rohaya ingat betul peristiwa yang sangat memalukan itu. “Saya dan ayah saya bahkan hampir dibunuh orang akibat peristiwa itu,” ujarnya. Dua belas tahun yang lalu Rahmat yang seorang Pegawai Negeri Sipil ini, tinggal bersama kakaknya (suami Rohaya) di Pulau Sumbawa. Pemuda ini tergolong cerdas dan karirnya pun sangat baik. Ia juga tampan. Pesonanya menjadi lebih bersinar karena ia lebih banyak tersenyum dan tidak banyak bicara. “Cewek-cewek sangat banyak yang menaksir Rahmat,” ungkap Rohaya. Selama bertahun-tahun Rahmat hidup di rumah kakaknya inilah, yang membuat Rohaya sangat mengenal adik ipar yang di matanya sangat baik ini. “Dia orangnya sangat baik dan selama tinggal dengan kami, rasanya ia tidak pernah punya masalah. Salatnya juga rajin,” kata Rohaya. Namun, diakui Rohaya bahwa beberapa kali ada perempuan yang berkelahi untuk merebut
perhatian Rahmat. Rohaya sendiri tidak tahu apakah perempuanperempuan itu berkelahi akibat Rahmat menduakannya ataukah hanya mereka saja yang saling ingin merebut perhatian Rahmat. Sementara itu Rahmat terlihat santai-santai saja. Rohaya juga tidak pernah melihat Rahmat membawa pacarnya ke rumah mereka. Pokoknya di mata Rohaya dan suaminya, Rahmat adalah pemuda yang baik. Hingga akhirnya, suatu hari ada seorang perempuan ditemani ayahnya datang ke rumah Rohaya. Perempuan ini menangis tersedu-sedu sambil mengaku bahwa ia sudah berhubungan badan dengan Rahmat. Intinya ia sudah tidak perawan lagi gara-gara Rahmat. “Saya juga tidak tahu apakah cerita perempuan itu benar atau tidak. Yang pasti Rahmat sempat diam dan mengakui itu pacarnya,” kata Rohaya. Bagi masyarakat di kampung itu, soal keperawanannya menjadi hal yang sakral, karena itu keluarga perempuan ini terlihat sangat marah dan meminta pertanggungjawaban dari Rahmat. Rahmat tak bia mengelak dan akhirnya setuju menikahi perempuan ini. Pernikahan itu pun dilakukan buru-buru dan sesegera mungkin. Hanya seminggu dari kedatangan perempuan itu bersama ayahnya,
“Alangkah marahnya keluarga calon pengantin perempuan. Kami jadi sasaran, bahkan saya dan ayah saya sempat ditodong parang di leher kami karena di anggap kami mempermainkan keluarga mereka,”
pernikahan ini pun berlangsung. Mengingat Rahmat tidak memiliki keluarga di Pulau Sumbawa juga ayahnya telah meninggal dunia, akhirnya yang mengurus pernikahan ini adalah Rohaya dan ayah Rohaya. Kakak Rahmat sendiri (suami Rohaya) kala itu tengah tugas belajar ke Pulau Jawa dan tidak bisa menghadiri apalagi mengurus pernikahan buru-buru adik kandungnya itu. Jadilah yang sibuk adalah Rohaya dan ayahnya. Hari itu, pengantin perempuan telah bersiap dengan kebaya di rumahnya. Sementara Rahmat juga tengah bersiap dan memakai jas serta kopiah. Ditemani Rohaya dan ayahnya serta seorang paman dari Rahmat yang kebetulan bisa menghadiri acara pernikahan itu. Jadilah mereka berempat, Rohaya, ayah Rojaya, paman Rahmat dan Rahmat menuju rumah pengantin
perempuan. Dengan pakaian jas lengkap sepanjang perjalanan, Rahmat dan pamannya terdengar berbincang-bincang dengan pamannya ini. “Agak berbisik memang, saya pikir pamannya tengah menggoda Rahmat yang akan menjadi pengantin baru atau malah sedang menasehati Rahmat tentang hal-hal memasuki kehidupan berumah tangga,” kaya Rohaya. Rupanya dugaan Rohaya meleset.
Setibanya di rumah calon pengantin perempuan yang sudah terlihat duduk di lokasi ijab kabul didampingi orang tua dan keluarganya juga saksi nikah dan penghulu, Rohaya dan rombongannya yang berjumlah empat orang itu menaiki rumah panggung calon pengantin perempuan. Penikahan ini dihelat sangat sederhana hanya ijab kabul saja, tidak direncanakan acara pesta atau sejenisnya. “Pokoknya yang penting hal yang wajib saja, yaitu ijab kabul,” ujar Rohaya. Saat Rohaya dan ayahnya serta pamannya menapaki tangga rumah calon pengantin perempuan itu, Rahmat turun dari mobil belakangan. Ia beralasan ingin menenangkan diri sejenak sebelum pelaksanaan ijab kabul. Tentu saja hal ini dimengerti oleh Rohaya dan keluarganya. Mereka membiarkan Rahmat naik belakangan. Namun, sekitar setengah jam menunggu Rahmat naik ke rumah panggung itu, Rohaya mencari Rahmat di mobil. Namun lelaki itu tidak ada dalam mobil. Semua orang yang hadir berpikir ia mungkin tengah ke toilet. Namun setelah satu jam berlalu, setelah dicari di semua tempat sekitar rumah calon pengantin perempuan, Rahmat tidak ditemukan hingga akhirnya diketahui Rahmat melarikan diri. KABUR KE JAKARTA “Alangkah marahnya keluarga calon pengantin perempuan. Kami jadi sasaran, bahkan saya dan ayah saya sempat ditodong parang di leher kami karena dianggap kami mempermainkan keluarga mereka,” kata Rohaya. Rohaya dan ayahnya tidak dapat berbuat banyak kecuali Tuhan menyelamatkan
mereka karena keluarga calon pengantin perempuan menyadari itu bukan kesalahan Rohaya dan ayahnya. Mereka berdua dinilai justru telah berniat sangat baik sudah sampai mengantar pengantin laki-laki ke tempat pernikahan itu. Alangkah malunya Rohaya dan ayahnya yang kemudian pulang ke rumah dan berusaha mencari Rahmat. Sampai akhirnya Rohaya tahu kejadian sebenarnya. “Sesaat sebelum naik ke tangga rumah calon pengantin perempuan, Rahmat memang ke toilet untuk buang air. Di dalam toilet itulah Rahmat termakan pengaruh pamannya saat bicara bisik-bisik dalam mobil ketika menuju lokasi pernikahan. Pamannya itulah yang meminta ia melarikan diri saja agar tidak jadi menikah,” ungkap Rohaya. Dan, itu dilakukan Rahmat yang akhirnya melarikan diri ke Jakarta. Ia tinggalkan kariernya yang terbilang sangat bagus. Selama di Jakarta rupanya Rahmat mengalami hal-hal aneh seperti orang berhalusinasi dan mengalami sakit yang berkepanjangan. Sudah berobat ke sana kemari namun tak kunjung sembuh. Setelah bertahun-tahun sakit, akhirnya entah apa sebabnya, Rahmat sembuh total dari sakitnya itu. Normal seperti tidak pernah terjadi apa-apa sampai akhirnya ia kembali ke NTB dan menikahi perempuan desa di Pulau Lombok. Usai menikah penyakitnya itu kambuh lagi, semakin parah. “Sampai ia dirujuk di Rumah Sakit Jiwa,” ujar Rohaya. Inilah yang disebut Rohaya kemungkinan ia kena guna-guna. Namun, apapun yang terjadi pada Rahmat, jikapun benar ia kena guna-guna, Rohaya dan keluarganya pasrah dan memaklumi semua yang terjadi akibat dosa dan kesalahan Rahmat. Mereka tetap berharap agar suatu saat nanti Rahmat dapat sehat seperti semula. -Naniek I. Taufan
6
Mozaik
Edisi 878/ 7 - 13 Desember 2015
Bekal untuk Buka Lapangan Kerja Transmigrasi memiliki tujuan mulia untuk menyejahterakan kehidupan para transmigran. Selain juga untuk pemerataan pembangunan, menciptakan lapangan pekerjaan baru serta pengembangan potensi sumber daya alamnya.
M
enurut Putu Sudari sisi ekonomi atau finansial, jelas akan terlihat dampaknya. andewi, S.E. salah seorang pengusa“Mereka para transmigran ini, di ha wanita di Kota kawasan transmigrasi tentunya Denpasar dilihat dari tujuannya, jelas bakal menciptakan pusat-pusat kalau transmigrasi cocok sebagai kegiatan perdagangan serta jasa salah satu upaya untuk mengatasi yang baru. Selain juga melakukan permasalahan kepadatan penduduk. pembukaan lahan pertanian n “Bagusnya bagi transmigran yang maupun kebun baru, Hal ini yang akan berangkat biasanya diberikan berperan untuk meningkatkan bekal berbagai bentuk keterampilan pendapatan,” ujar pemilik Butik mulai dari kerajinan tangan sampai Anyar ini. pada cara berkebun maupun bertani Ia menambahkan transmigrasi yang benar,” ujarnya. mampu ikut menunjang pertumHal ini kata Dewi lebih lanjut buhan ekonomi wilayah bahkan tentu disertai harapan para transbisa dikatakan secara nasional. Putu Suandewi, S.E. migran memiliki bekal sebelum menMereka juga sukses mengubah inggalkan daerah asalnya menuju wilayah yang daerah tertinggal menjadi kawasan dan mencipbaru, agar nantinya mampu membuka lapangan takan pergerakan ekonomi baru. Selanjutnya di pekerjaan demi kehidupan yang lebih baik. sana, mereka juga akan seperti kami, membentuk jiwa-jiwa wirausaha dan tentunya berlanjut de Selanjutnya dengan koordinasi yang baik antara ngan kegiatan di sektor UMKM ,” tuturnya. daerah asal dan tujuan transmigrasi agar menekan benturan sosial budaya, maka ketika kita bicara - Sri Ardhini
Perbanyak Pelatihan Wirausaha Transmigrasi merupakan satu program pemerintah yang bertujuan memindahkan penduduk dari satu pulau ke pulau yang lain untuk pemerataan. Apakah saat ini program transmigrasi masih perlu dilakukan? Anggota Komisi III DPRD Bali, Drs. I Ketut Kariyasa Adnyana, S.P. menilai, tujuan transmigrasi untuk pemerataan dan penyeimbangan penduduk di seluruh Indonesia. “Ini orang Bali transmigrasi ke luar tapi orang luar Bali malah berbondong-bondong datang ke Bali. Padahal tujuan transmigrasi selain untuk mengurangi jumlah penduduk juga untuk pemerataan pengasilan. Kalau di Bali semua numplek sama saja. Penyeimbangan penduduk juga tak berhasil,” ujarnya. Ia berpandangan, jika tujuannya untuk mengurangi penduduk di daerah padat, justru malah tidak efektif. Menurutnya, seharusnya program yang diutamakan Bali sebagai daerah kecil bagaimana sumber daya manusia dan pengentasan rakyat dari kemiskinan. “Otomatis kalau mereka udah mendapat pekerjaan dan kemiskinan berkurang, ya tidak perlu transmigrasi,” kata Kariyasa. Menurutnya, orang Bali terpaksa bertransmigrasi. Apalagi adat istiadat di Bali mereka takut
Drs. I Ketut Kariyasa Adnyana, S.P.
meninggalkan kawitan/merajan, jadi sangat susah. Namun, bagi beberapa orang yang terpaksa bertransmigrasi mencoba mencari peruntungan di luar Bali. Memang, ia tak menampik banyak orang Bali yang berhasil. Kadang mereka juga waswas. Sebagai kelompok minoritas, sering terjadi hal yang tidak diinginkan seperti kasus di Lampung. Jadi, menurutnya, untuk saat ini, program transmigrasi belum perlu dilakukan di Bali. Justru yang sangat mendesak, perluasan lapangan pekerjaan, dan terbukanya pelatihan-pelatihan keterampilan untuk memberikan peluang masyarakat untuk berwirausaha. –Wirati Astiti
Minggu lalu dalam tulisan Navigating Through The Wave kita banyak membahas tentang a good thinker sebagai navigator dan bagaimana para pemikir hebat ini melepaskan pikiran mereka dari berbagai macam situasi yang berpotensi untuk mengganggu fokus mereka – remove them from distractions. Berhasil lolos sebagai navigator dalam kondisi sulit memberi satu tugas baru yaitu menciptakan kondisi agar pertumbuhan dan perkembangan tetap dapat berjalan ke grafik positif sekaligus menciptakan istilah mesin pertumbuhan dalam sebuah organisasi. Pertumbuhan dan pergerakan bisnis dapat diukur dengan cepat sebab bersifat kuantitatif. Kenaikan angka dapat dengan mudah menjelaskan adanya pertumbuhan. Perkembangan lain yang sesungguhnya menjadi mesin penggerak (growth engine) ini nampaknya tidak mudah diukur sebab bersifat naratif. Hanya dapat dilihat pada saat mereka menghadirkan kreasi dan hasil luar biasa yang hanya dapat dilakukan dengan tekad, semangat, keyakinan dan ketekunan yang kuat; mereka menyebutnya sebagai passion. PASSION THAT TALKS Saya terinspirasi dengan quotes positif dari sebuah buku karya Rene Suhardono & The Impact Factory terbitan Kompas;
Passion without creation is nothing dan performance without passion is meaningless. Membuat kita menekan tombol otomatis untuk mengatakan iya, saya setuju bahwa passion tanpa hasil tidak ada artinya. Demikian juga dengan hasil yang dicapai tanpa passion dalam proses yang dilalui, belum cukup memberi arti. Bagi mereka yang peka akan potensi yang mereka miliki dan keinginan yang begitu kuat untuk berkembang, passion membawa mereka berlari lebih kencang menaiki tangga pertumbuhan yang ingin mereka capai. Mereka yang benar-benar mampu memberi makna terhadap passion, menganggap passion ini sebagai bagian jiwa mereka dalam berproses. Mari kita melirik konsep indo-out. Konsep ini digunakan pada proses analisa sebuah pabrik. Sangat sederhana. Penilaian terhadap kualitas dan kuantitas bahan yang masuk (in), proses produksi yang mencakup produktifitas tenaga kerja & standar hasil produksi (do), distribusi tepat dan pasar yang tepat untuk produk yang dihasilkan (out). Jika kita giring konsep ini dari pabrik ke sisi personal development, maka passion ini ada pada setiap tahapan in-do-out. Konsep in-do-out yang dibumbui dengan passion akan memberi nilai tambah yang signifikan ter hadap hasil atau kreativitas mereka. Passion
PASSION IS AN ENGINE Passion ibarat sebuah mesin penggerak. Passion ibarat biji yang akan bertumbuh menjadi buah. Passion ibarat mentor yang membantu menentukan tujuan yang harus mereka capai. Mereka yang paham terhadap pengelolaan passion (passion management) justru muncul dengan ide menulis passion masterplan. Mereka sangat meyakini bahwa passion juga harus dikelola dengan baik dan ditempatkan pada kantong-kantong prioritas yang mereka buat. Artinya akan ada pembatasan fokus sebagai kontrol terhadap passion yang masuk ke dalam proses yang sedang mereka jalankan pada periode waktu tertentu. Mereka menyebutnya sebagai passion with supervision. Kontrol positif yang mereka terapkan bertujuan agar passion tetap mengarah pada track yang sesuai. Lantas darimana mereka mendapat passion supervision itu? Di masa sekarang kita banyak mendengar dan melihat kemampuan berbicara yang memberi inspirasi, memotivasi, menguatkan, hingga yang dapat menumbuhkan passion. Kapan terakhir kalinya kita melihat seseorang berdiri di depan publik atau di atas panggung untuk meminta feedback atau positive criticism terhadap diri mereka? Atau kapan pertama kalinya? Saya pernah mendapat satu pertanyaan dari coach saya beberapa tahun lalu; Are you willing you stand in the crowd and ask for a development feedback? Karena terlalu fokus dengan pertanyaan, tanpa disadari coach saya rupanya memberi sebuah tantangan untuk mulai melatih sisi lain dari passion yang kita miliki, yaitu berani untuk menerima feedback di depan publik. Coach saya menekankan kembali bahwa ada tang-
gung jawab yang besar di dalam pengelolaan passion dan penerimaan feedback. Dan di dalam mengelola tanggung jawab itu, you will always be the best judge to yourself. Passion sebagai mesin penggerak akan banyak dihadapkan pada lampu kuning dari feedback atau criticism orang-orang sekitar. Mereka yang melihat kondisi ini sebagai pematangan dalam pengelolaan passion, akan memilih lebih menyerap feedback yang didapat untuk dianalisa kembali sehingga mereka dapat beradaptasi dengan cepat. Beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi dan terhadap kemungkinan penolakan yang tersembunyi dalam feedback yang mereka terima. Bagaimanapun juga, menerima feedback atau criticism yang lebih menantang, benar-benar membutuhkan kesiapan mental, kematangan pikiran, dan kemauan menerima dengan terbuka. Mereka yang sampai pada tahap kedewasaan menerima atau acceptance maturity, mengilustrasikan feedback dan criticism ini sebagai sebuah hadiah - a gift. Bagi mereka yang passionate terhadap apa yang mereka kerjakan, the growth engine seolah tidak boleh berhenti. Bila perlu, mesin itu bekerja maksimal sekalipun pada saat mereka tidak menyadari bahwa passion itu sedang tumbuh dan menguat di dalam diri mereka. Bagi mereka, passion adalah hal yang luar biasa besar yang memberi impact luar biasa kuat pada setiap langkah yang mereka ambil. Apakah itu sebuah proses untuk optimalisasi hasil dari opportunity yang mereka dapat ataupun proses mencari solusi atas sebuah masalah yang terjadi, kedua situasi ini menuntut passion sebagai the growth engine dan menuntut passion to absorb more feedback. Pada setiap proses yang dijalani, mereka yakin dan percaya bahwa passionate process always deliver outstanding outcome!
19
Sulap Kayu Bekas Jadi Pohon Hias Awalnya tak pernah terpikirkan ketika melihat kayu bekas yang berserakan di tepi sungai anakan Bengawan Madiun. Kayu bekas itu terbawa arus sungai saat banjir tiba. Saat air mulai surut nampak berserakan limbah kayu sehingga tak sedap dipandang mata.
Keeping The Growth Engine membuat proses yang mereka lalui dapat berbicara lebih kuat dan lebih kencang dari kata-kata mereka. Passion speaks more.
Edisi 878/ 7 - 13 Desember 2015
M
elihat kejadian itu, Sri Handyani (45) seorang ibu rumah tangga warga Desa Cerbak, Kecamatan Slahung, Ponorogo berpikir agar kayu tersebut bisa dijadikan uang. Awalnya ragu, tapi karena bertekad, akhirnya limbah kayu tersebut diubahnya menjadi kerajinan yang bernilai jual. Meski baru satu tahun beroperasi, omzet yang didapat dalam satu bulan mencapai Rp 5 juta sampai Rp 10 juta.
Dengan dibantu suaminya dan tiga karyawannya, Sri membuat pohon hias dari plastik yang berbahan baku limbah kayu. Bermacam jenis pohon hias dibuat ibu satu anak ini, yakni mulai jenis Sakura, Gazania, Bunga Matahari, Kamboja, Anggur hingga replika Pohon Bambu. Saat ditanya, awal
ide membuat pohon hias ini dari keresahannya melihat banyaknya sampah pohon yang terdapat di tepi sungai dekat rumahnya. “Awalnya saya hanya mengumpulkan kayu bekas. Baru setelah melihat di internet muncul sebuah ide untuk membuat pohon plastik berbahan kayu limbah,” katanya. “Saya melihat limbah kayu yang tidak terpakai, alangkah
Ban “Batik” Murah Meriah Ban batik adalah istilah untuk ban bekas yang sudah tidak dipakai oleh pemilik kendaraan karena diganti yang baru. Untuk mendapatkan ban batik tidaklah sulit, cukup datang ke tempat tambal ban atau bengkel. Di situ tinggal memilih dari merek ternama maupun merek lokal, semua harganya sama. Satu ban rata-rata dijual Rp 20.000 plus pasang. Ternyata peminat ban batik cukup banyak. Biasanya mereka membeli ban batik untuk mengganti ban sepeda motor yang sudah tipis. Riyanto, warga Jalan Kota Ponorogo, salah satunya. Ia beralasan membeli ban batik karena untuk menekan pengeluaran.”Jujur saja, dengan gaji saya
yang pas-pasan untuk membeli ban baru seharga Rp 130.000 belum kuat, karena kebutuhan saya masih banyak maka saya lebih baik pilih ban batik yang lebih murah dan harganya terjangkau. Murah meriah,” ujar Riyanto. Ia mengaku ban baru lebih menjamin dari sisi keselamatan bila dibanding ban batik karena kekuatan maupun kualitasnya masih terjaga. Sedangkan ban batik kualitas maupun daya tahannya sudah 60 sampai 75 persen berkurang. Riyanto ternyata sudah berlangganan membeli ban batik lebih kurang 3 tahun. Ia menambahkan, kekuatan ban batik dua sampai tiga bulan, selanjutnya tergantung uang di kantong. “Bila ada uang sisa banyak maka saya beli ban baru, tapi kalau uang pas-pasan terpaksa saya beli ban batikan,” jelasnya. Sakri, salah satu pemilik reparasi sepeda motor di Jalan Gajah Mada Ponorogo menuturkan per hari ia bisa menjual 5 sampai 7 buah ban batik bisa terjual, saya pasang harga Rp 20.000 plus pasang,” jelasnya. Kebanyakan pembeli rata-rata orang lokal. Mereka umumnya mengunakan sepeda motor untuk jarak dekat seperti Ponorogo-Madiun. Sakri mudah mendapatkan ban bekas karena satu minggu sekali sudah ada yang mengirim. Ia membeli ban bekas harganya bervariasi berkisar Rp 8.000 sampai Rp 12.000/ban. Agus seorang bagian pengukir ban biasanya membutuhkan waktu 30 menit untuk sebuah ban. Alat pisau ukuran mini digunakan untuk mengukir ban bekas disulap menjadi ban batikan. Sakri menambahkan, masalah keselamatan yang jelas sudah tahu dan paham, tapi mau gimana lagi nyatanya peminat yang membeli ban batikan cukup lumayan bila dibanding jualan ban baru, perbandingannya 1 : 9.” Ban batik sehari mampu laku 5 sampai 8 ban, sedangkan ban baru dalam satu bulan belum tentu laku,” ungkapnya. -Dinar Perdana
baiknya kalau ini dimanfaatkan untuk kegiatan ibu-ibu di sini untuk menambah pendapatan belanja rumah tangga. Ibu-ibu di sini mayoritas kan petani, sambil menunggu hasil panennya lebih baik diisi dengan kegiatan membuat pohon hias,” imbuhnya. Lebih lanjut dijelaskan ia menunjukkan cara pembuatan pohon hias ini, yang menurutnya tidak sulit, yang terpenting ada kemauan dan tekad untuk bisa mengerjakan. Langkah awal, limbah kayu yang diambil dari sungai dijemur di bawah terik matahari selama satu minggu. Baru ketika kayu telah ker-
ing, kulit pohon dikupas, diberi lubang dan diberi cat pewarna agar kayu terlihat bersih. Setelah terpola dengan puluhan lubang, daun plastik yang ia beli dari Jakarta dimasukkan ke dalam lubang dan diberikan lem agar daun tidak mudah lepas. Sementara di bagian bawah dipasang rumput plastik. Untuk pemasaran, Sri masih mengandalkan penjualan via online maupun pemasaran melalui pameran. Sedangkan untuk harga jual satu buah pohon plastik ia bandrol mulai Rp 300.000 sampai Rp 2 juta tergantung ukuran dan tingkat kesulitan pembuatan. -Dinar Perdana
20
Nine
Edisi 878/ 7 - 13 Desember 2015
Amalia Dewi Hasnuri & Siti Nurjanah
Dedikasi Dua Kasek Perempuan di Sekolah Islam Terpadu Dibalut busana muslim, dengan lincahnya anak-anak Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Al Azzam Sila, menari Saman dalam berbagai kegiatan yang digelar. Memakai busana adat Mbojo (Bima) yang telah dimodifikasi, Aura Luna Adzkiya, dan kawan-kawannya, dengan penuh percaya diri menari di depan tamu undangan. Meskipun anak-anak ini bukanlah anak-anak yang hidup dan tinggal di kota besar, namun keberanian dan kepercayaan diri mereka patut diapresiasi. Lagi pula mereka tidak berasal dari sekolah yang usianya mapan melainkan mereka berasal dari sebuah sekolah dasar yang baru berumur tiga tahun.
S
DIT Al Azzam memang memacu semangat anak didiknya untuk belajar tampil di muka umum. Selain mengutamakan pendidikan bernuansa Islami, berbagai kegiatan kesenian menjadi salah satu aktivitas yang memompa kebanggaan
bagi bocah-bocah ini. Pendidikan demikian tidak hanya bagi murid SDIT Al Azzam, tetapi begitu pula dengan anak-anak TKIT Al Azzam Sila, yang sekolahnya berada dalam satu kompleks. Tidak berbeda dengan SDIT Al Azzam, anak-anak TK ini juga mendapatkan pendidikan agama dan seni
yang mengikuti perkembangan masanya. Uniknya, dua sekolah ini, TKIT dan SDIT Al Azzam yang bernaungan di bawah Yayasan Pendidikan Bina Ul-Ummah ini, dipimpin oleh dua orang kepala sekolah perempuan. Mereka adalah Amalia Dewi Hasnuri (29)
Cari Murid Door to Door
Grup tari Saman SDIT Al Azzam
Hadirnya sekolah bernuansa Islam yang berdiri di Desa Kananga Sila, Kecamatan Bolo, Bima ini, melewati perjuangan yang tidak mudah. Hanya keteguhan hati dan kesabaran saja yang membuat sekolah ini mampu bertahan bahkan terus berkembang menjadi sangat baik. “Awalnya dari TKI Al Azzam, yang mulai ada di tahun 2009 dengan 10 orang murid yang dicari dari satu rumah ke rumah lainnya,” kata Amalia Dewi Hasnuri mengisahkan perjuangan para perintis sekolah taman kanak-kanak ini. Dengan 10 orang murid TK yang membayar SPP Rp 10.000/ bulan, para perintis ini pantang menyerah meskipun penyelenggaraan sekolah dilakukan di sebuah rumah yang dipinjamkan warga di Desa Kananga. Di rumah pinjaman inilah aktivitas belajar mengajar dimulai. Dan untuk mendapatkan
murid-muridnya, para perintis sekolah ini jalan door to door, mengetuk satu rumah ke rumah lainnya untuk bisa meyakinkan orangtua tentang sekolah dengan konsep Islami ini. Setahun berjalan, di tahun 2010, murid sekolah ini bertambah menjadi dua kelas, dengan jumlah 22 orang. Perkembangannya terus menunjukkan peningkatan yang baik. “Tahun 2011 menjadi tiga kelas dengan jumlah 30 murid,” ungkap Nuri yang menjadi Kepala TKIT Al Azzam sejak tahun 2011. Dan pada tahun 2011 saat memasuki semester dua, TKIT ini mendapatkan pinjaman tempat (tanah) untuk mendirikan ruangan-ruangan kelas sederhana bagi kelangsungan pendidikan anak-anak ini. Sejak itulah mereka tidak lagi belajar di rumah warga. Ada tiga ruangan kecil yang dibangun kala itu, yang diprioritaskan
sebagai ruang belajar mengajar. “Segala urusan administrasi, kantor dan lainnya, kami lakukan di dalam kelas,” ujar Nuri. Sampai dengan hari ini, TKIT telah memiliki 71 murid. Begitu juga dengan SDIT Al Azzam yang kini berusia tiga tahun telah memiliki 38 murid. Sedikit memang jumlah murid untuk ukuran sekolah biasa. Namun sebagai sekolah yang baru dirintis, SDIT Al Azzam mampu memberikan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan murid-muridnya. Bahkan proses belajar mengajar di sekolah ini terbilang sangat efektif dengan 14 orang guru yang siap setiap saat membimbing generasi-generasi muda harapan bangsa ini. Jumlah pengajar di sekolah ini bahkan jauh melebihi ratio perbandingan antara guru dan murid yang rata-rata 1:25. Sedangkan di sekolah ini bisa dibilang hanya 1:3. Tentu hal ini menjadi salah satu faktor efektifnya proses belajar mengajar. “Dengan 14 guru di sekolah ini, masing-masing kelas memiliki dua guru kelas dan guru-guru lain merupakan guru bidang studi,” ungkap Siti Nurjanah. Begitu pula dengan TKIT AL Azzam yang kini memiliki 6 orang guru yang masing-masing dua guru mengawal satu kelas. Inilah salah satu kelebihan TK dan SD Islam ini, yaitu memiliki pengajar yang muda dan militan. Dengan jumlah guru yang tergolong banyak untuk ukuran sekolah baru dengan jumlah murid yang tidak banyak, tentu saja mereka tidak digaji dengan nilai yang tinggi, apalagi mendapatkan tunjangan-tunjangan lainnya. UTAMAKAN KEAGAMAAN Namun guru-guru muda ini demikian bersemangat membimbing dan mendidik murid-muridnya dengan kesabaran dan keikhlasan.
Inspirasi
Edisi 878/ 7 - 13 Desember 2015
Putu Sudiarta
Sederhana namun Andal
Menekuni pilihan tentu memiliki konsekuensi. Jika tekun, keberhasilan akan datang dengan sendirinya. Apalagi di zaman serba canggih ini, perangkat makin canggih dan ini harus dimanfaatkan dengan bijak untuk memudahkan masa depan. “Semua sudah tersedia, tinggal motivasi untuk disiplin berbuat terbaik untuk diri sendiri, keluarga, dan masyarakat,” ungkap Putu Sudiarta, S.Kom., Direktur Bamboomedia.
Siti Nurjanah Kepala SDIT Al Azzam
sebagai kepala sekolah TKIT dan Siti Nurjanah (33) sebagai kepala sekolah SDIT ini. Dedikasi dan keikhlasan dua kepala sekolah muda dan seluruh staf pengajarnya di taman kanak-kanak dan sekolah dasar ini, mampu menarik minat orangtua untuk menyeko-
lahkan anak-anak mereka di sekolah ini. Perhatian para guru yang menempatkan anak-anak sebagai sahabat dan pendidikan karakter yang berlandaskan Agama Islam di sekolah ini, menjadi daya tarik tersendiri dari sekolah Islam terpadu ini. –Naninek I. Taufan
Termasuk pula dua kepala sekolah perempuan yang militan ini, yang merelakan sebagian waktunya untuk memastikan seluruh penyelenggaraan sekolah termasuk proses belajar mengajar berjalan dengan baik agar anak-anak yang bersekolah di sini mendapatkan pendidikan yang layak. Pendidikan agama, pendidikan moral dan pendidikan akhlak serta pendidikan karakter.“Yang menguatkan kami adalah guru-guru tetap menjalani training per triwulan untuk mendapatkan bekal ilmu, semangat dan support agar senantiasa ikhlas dalam menjalankan tugas sebagai guru bagi anak-anak kami di TKIT dan SDIT Al Azzam ini,” kata Nurjanah. Bagi Nuri dan Janah yang biasa dipanggil ustadzah oleh para muridnya ini, melihat anak-anak ini tumbuh dalam pendidikan yang mereka butuhkan khususnya pendidikan Islam adalah
hal yang paling membahagiakan mereka. Karena itulah di sekolah ini pendidikan lebih mengutamakan keagamaan dan berbagai ekstrakurikulernya mewarnai perjalanan pendidikan di sekolah ini. Nuri dan Nurjanah senantiasa membawa sekolah ini mampu berkomunikasi baik dengan para orangtua (wali) murid. Sekolah ini membangun kerjasama yang baik dengan wali murid dalam komunikasi yang intensif. “Kami sangat bangga atas kerjasama yang baik dari para wali murid yang begitu antusias ikut dalam berbagai kegiatan sekolah terutama yang membutuhkan keterlibatan wali murid,” kata Nurjanah. Dan demi menciptakan serta mencetak generasi Islam yang mandiri dan cerdas, Nurjanah dan Nuri mengaku akan terus bekerja keras menyukseskan anak-anak didik mereka. -Naniek I. Taufan
Pawai murid SDIT Al Azzam yang ikut memeriahkan hari besar Islam
Ia pun menuturkan ketertarikannya terhadap dunia IT berawal dari dirinya duduk di bangku SD. “Awalnya dari SD saya sangat suka pelajaran matematika. Saat kuliah coba menjadi bidang matematika terapan modern ya ketemu nya Computer Science. Intinya mencari bidang yang sungguhsungguh kita minati,” ujar pria kelahiran Klungkung, 7 Januari 1975 ini. Setelah kuliah, Sudiarta sempat bekerja di kampus di Surabaya sebagai programmer, divisi internetworking, intranet dan juga pendidik (dosen). Ia juga sempat bekerja part time di Jawa Post Group dan beberapa perusahaan PMA di Jawa Timur. Peluangnya untuk meneruskan studi ke jenjang S2 dan S3 ke RMIT sangat terbuka. Namun, karena tanggung jawab keluarga, ia akhirnya kembali ke Bali dan memulai usaha dari nol di usia 26 tahun. “Berwirausaha ternyata 3-5 kali lebih sulit daripada bekerja. Banyak sekali yang harus dipikirkan dan dikerjakan. Masa start up yang berliku dan melelahkan, namun akhirnya jalan makin kelihatan. IT adalah bidang yang dinamis, jadi menyenangkan tapi sekaligus harus rela pontang panting juga mengikuti perkembangan yang cepat serta selera pasar yang berubah,” kata suami Ida Ayu Putri Widiastuti, S.E., Ak dan ayah dari Putu Diahloka Mahaputri serta Made Bagus Kannartha Mahaputra ini. Sudiarta mulai usahanya dengan ide dan semangat 45. Ia melihat peluang lalu berjuang mewujudkannya. Ia mendirikan perusahaan dengan tujuan untuk berkontribusi pada masyarakat secara lebih.maksimal. Perusahaan adalah sebuah resource atau sumberdaya yang sistematis, yang dapat menyumbangkan perubahan yang signifikan pada masyarakat. Nama perusahaan yang ia pilih berkaitan dengan bambu. “Nama Bamboomedia memang terinspirasi dengan filosofi bambu, sederhana namun andal. Simple, flexible dan high performance,” ujarnya. Awalnya ia mencoba membangun sebuah rencana bisnis dan mengajukannya ke investor melalui internet. Hasil presentasi disimpulkan belum layak secara bisnis. Berbekal keyakinan akhirnya Sudiarta memilih melakukan eksekusi sendiri dengan selffinancial tahun 2003. Sebuah kamar ukuran 3x3 disulap men-
Sudiarta
jadi kantor kecil, dengan koneksi internet dial-up dan komputer lama. Sambil mematangkan strategi, ia menyewa sebuah tempat di Desa Singapadu, Gianyar. Satu setengah tahun kemudian ia pindah ke sebuah Kompleks Perumahan Lotus Garden, Denpasar. Waktu terus berlalu, hingga lima tahun kemudian ia dapat membeli gedung kantor sendiri. Sudiarta memilih bekerja dengan organisasi yang efisien dengan 30 karyawan, dan perusahaan ini termasuk skala menengah dengan pola pikir korporasi. Bamboomedia fokus pada pengembangan software kreatif (eLearning, Games, eBusiness) dan menjadi mitra distribusi serta partner beberapa perusahaan terkemuka. “Kami sudah menjadi salah satu developer mobile apps dan content untuk Google Android Market dan Apple iTunes. Kami juga sudah menembus pasar internasional sejak tahun 2005. Kini sedang bersiap-siap menapak menjadi perusahaan berbasis riset dan inovasi serta menjadi perusahaan berskala global,” ujar penerima banyak penghargaan, diantaranya 1st Winner eLearning Award 2008 (Pustekom Depdiknas), 1st Winner Indonedia ICT Award 2008 (Depkominfo), 1st Winner MICSA Award 2008 (Management Image Customer Satisfaction), Pri-
Sudiarta bersama timnya
maniyarta Award 2011 dari Kementerian Perdagangan RI (Katagori Ekonomi Kreatif), dan Tri Hita Karana Nugraha dari Bali Travel News 2015 ini.
5
ANAK SUMBER INSPIRASI Kini selain mengelola usaha sendiri, Sudiarta juga dipercaya membantu Kementerian Perindustrian mendesain dan menjalankan pusat Inkubasi Bisnis Digital di TohpaTI Center. Ia juga dipercaya merancang kawasan industri Denpasar Technopark dirancang di daerah Tohpati juga. Dari semua kegiatan itu, ia masih punya impian. “Kalau perusahaan, tentunya terus berusaha mengembangkan inovasi perusahaan dalam melayani pasar produk ICT yang dinamis dan terus berkembang. Membantu mewujudkan mimpi pimpinan daerah menjadikan Denpasar menjadi kota digital kreatif (animasi, aplikasi, game) melalui Denpasar Technopark,” tegasnya. Dukungan dalam berkarier juga ia dapatkan dari keluarga. Baginya dukungan keluarga sangat berarti dari awal hingga kini. Ibunya selalu menjadi panutan akan dedikasi dan arti kerja keras pantang menyerah. Anak sebagai sumber inspirasi dan energi semangat. Dan, dibalik laki-laki selalu ada sosok perempuan yang sesungguhnya adalah sumber kekuatannya. Ia pun menyebut istrinya sebagai sumber kekuatan. Terhadap kondisi sekarang ini, Sudiarta melihat anak-anak muda zaman sekarang sulit fokus. Terlalu banyak informasi yang dikonsumsi, ibarat sebuah PC yang drive C nya hampir penuh. Ia pun menyarankan anak-anak untuk menggunakan kekuatan smartphone dengan bijak untuk memudahkan masa depan, bukan sebaliknya. Semua sudah tersedia, tinggal motivasi untuk disiplin berbuat terbaik untuk diri sendiri, keluarga dan masyarakat. “Anakanak harus ditempa untuk bermental tangguh dan memiliki daya juang dalam era persaingan terbuka ini. Tapi inilah uniknya Indonesia kita. Semua akhirnya indah pada waktunya,” tegas pria yang hobi membaca ini. –Ngurah Budi
JMK Pande Wayan Suteja Neka Inspirator Pemuda Dalam Pelestarian Keris Indonesia Jejeneng Mpu keris Pande pegiat keris kamardikan dan Wayan Suteja Neka meraih pembangkit budaya keris anugerah “Joko Supo Award” bersejarah. Kecintaannya kategori ‘Inspirator Pemuda terhadap keris tak hanya dalam Pelestarian Keris Insebatas mengoleksi jumlah donesia’ dari Kementerian bilah tetapi menjadikan keris Pemuda dan Olahraga RI. sebagai penanda zaman. Ini berkat dedikasinya yang “Saya sebagai pendiri Neka tinggi dalam upaya melestariArt Museum melihat sebikan budaya keris Nusantara. lah keris tak sekedar bilah Anugerah itu diserahkan 22 kebanggaan. Keris adalah Oktober 2015 di Jakarta. penanda zaman bahwa kita “Penghargaan yang saya memiliki masa lalu yang kreterima bukanlah tujuan akhir atif,” sebutnya. saya berjuang dalam upaya melestarikan seni dan buPelestari Budaya daya khususnya perkerisan. Keris Sebaliknya dengan anugerah Penghargaan yang diberitersebut, menjadi cemeti unkan oleh Sekretariat Natuk melanjutkan perjuangan. sional Perkerisan Indonesia JMK Pande Wayan Suteja Neka Saya ingin menjadi pendo (SNKI) Jakarta pada 2010 rong semangat pemuda yang mencintai budaya atas jasanya sebagai ‘Pelestari Budaya Keris’ keris,” terang pendiri Neka Art Museum serta puluhan penghargaan lainnya (dari Ubud ini. bupati hingga presiden –red), kelak akan diKecintaannya terhadap keris, tak hanya wariskan pemiliknya JMK Pande Wayan Suteja dibuktikan dengan menambah jumlah koleksi Neka kepada generasi muda sebagai tonggak kerisnya (300-an bilah), tetapi juga membuka sejarah dan bukti keseriusannya melestarikan museumnya untuk tempat penyelenggaraan karya seni dan budaya keris Indonesia. berbagai kegiatan/even seni dan budaya Neka Art Museum, Ubud telah menjadi perkerisan. JMK Pande Wayan Suteja Neka tempat diselenggarakannya Gelar Budaya Ke telah membuktikan kiprahnya sebagai inspira- ris Indonesia dari 3 – 6 Desember 2015. Gelar tor sejati. budaya mengambil tema “Memperkuat Jati “Dulu keris dianggap sebagai kelengkapan Diri Bangsa Melalui Nilai-nilai Luhur Budaya upacara saja. Sekarang keris menjadi warisan Keris Indonesia”, diselenggarakan Yayasan budaya asli Indonesia yang telah diakui dunia Keris Brojobuwono, Surakarta bekerjasama melalui badan UNESCO-PBB sebagai The dengan Neka Art Museum yang didukung Masterpiece of the Oral and Intangible Heri- Kementerian Pemuda dan Olahraga RI. Tujuantage of Humanity pada, 25 November 2005. nya untuk memberikan pemahaman kepada Sebagai warisan budaya dari nenek moyang, generasi muda terhadap warisan kebudayaan keris mempunyai nilai-nilai Intangible yang di nasional khususnya keris Indonesia secara dalamnya sarat makna dan filosofi. Diperlukan utuh dan tidak berdasarkan keyakinan. Acara kecintaan dan sensitivitas untuk dapat mema- diisi dengan pameran budaya keris Indonesia, hami dan memaknai karya seni adiluhung,” workshop (penempaan) keris, seminar keris, jelas peraih puluhan penghargaan ini. upacara umbul mantram dan pagelaran tari JMK Pande Wayan Suteja Neka adalah keris. –ari
4
Inspirasi
Edisi 878/ 7 - 13 Desember 2015
Maria Magdalena Endang Sri Lestari
Dirikan Rumah Anak HIV/AIDS Pertama Mengubah mindset masyarakat tentang penyandang HIV/AIDS tidak mudah. Anggapan bahwa HIV/AIDS adalah ‘penyakit kotor’ dan pen deritanya pun orang yang kotor pula telanjur melekat di pikiran. Pada hal tidak semua ODHA/ADHA (orang/anak dengan HIV/AIDS) karena prilaku yang tidak baik. Misalnya saja, anak-anak yang terkena HIV/ AIDS karena tertular orangtuanya, atau ibu rumah tangga yang tertular dari suaminya, atau karena penggunaan jarum suntik yang bergantian (tapi bukan narkoba), dan penyebab lainnya.
T
api sebagian ma syarakat tidak mau peduli apa penye babnya, stigma te lanjur menempel. Tak heran kalau penderita ODHA/ADHA kerap kali mendapat tindakan diskriminatif. Satu kasus memilukan pernah ter jadi dimana tiga orang anak yatim piatu--- kakak-beradik--- diusir dari kampungnya lantaran dua dari tiga anak ini terinfeksi HIV akibat tertular dari orangtuanya yang telah meninggal akibat HIV. Masyarakat yang takut tertular pun lantas mengusir anak-anak itu. Menurut Lena, begitu sapaan akrab wanita bernama panjang Maria Magdalena Endang Sri Les tari, aktivis HIV/AIDS Semarang yang juga pendiri rumah singgah Lentera, menghapus stigma ter hadap ODHA/ADHA bukan hal yang mudah, tapi juga bukan ber arti tidak bisa. Namun memang, akunya, itu memerlukan waktu dan dukungan dari semua pihak yang peduli. “Pemahaman harus terus
.
Lena, pemilik rumah singgah Lentera
sehat-sehat saja,” ungkapnya. Bertutur Lena tentang keter libatannya sebagai pendamping ODHA/ADHA. Awalnya, tutur Lena yang baru-baru ini menda pat penghargaan dari Leprid (Lembaga Prestasi Indonesia),
Peresmian rumah Lentera, Semarang
menerus diberikan kepada masyarakat, baik melalui pe nyuluhan, seminar-seminar, dan aksi-aksi lainnya. Dukungan kelu arga maupun masyarakat, sangat dibutuhkan oleh penderita untuk memulihkan hidupnya,” ujar Lena. Rasa peduli itu, kata Lena, tidak hanya cukup diungkap lewat bi cara tapi juga harus dengan aksi nyata. Dirinya, misalnya. Tidak hanya aktif melakukan penyuluhan tapi juga memelihara anak pend erita HIV di rumahnya. “Saya tidak mau hanya ngomong doang. Saya ingin mem beri contoh. Saya ingin menun jukkan bahwa tidak apa-apa berdekatan dengan pengidap HIV. Buktinya saya dan ketiga anak saya
tempat anak-anak pengidap HIV/ AIDS. Melihat anak-anak ini hati saya sungguh terenyuh. Dari sana juga muncul inspirasi mendirikan Rumah Lentera di Semarang. Saya pikir, merekabisakenapa kota Semarang yang sebesariniti dakbisa Di kota kami tidak ada rumah singgah untuk anak-anak tak mampu penyandang HIV/ AIDS. Itulah kemudian yang mendorong saya dan temanteman untuk mendirikan Rumah Lentera,” kata Lena yang lantas mengumpulkan teman-temannya untuk berbagi ide. “Saya bersyukur karena ternyata banyak teman dari ber bagai kalangan mendukung ren cana ini. Sampai akhirnya Rumah Lentera Semarang terwujud dan diresmikan pada Okrober lalu”. Yang boleh memakai rumah singgah ini, kata Lena, bukan han ya warga Semarang yang terkena HIV/AIDS, tapi juga masyarakat di luar kota semarang yang kebetulan datang berobat ke kota itu. “Yang utamanya adalah untuk anak-anak tidak mampu. Tapi keluargannya pun ketika menunggu anaknya tengah berobat, bisa mengguna kan rumah singgah ini. Dari pada mereka menginap di hotel yang membutuhkan biaya besar, lebih baik mereka menunggu di sini. Itu tidak apa-apa. Tentu saja dengan catatan mereka dari kalangan tidak mampu,” ujarnya. Saat ini, katanya, ada beberapa anak yang dalam pendampingan Rumah Lentera, mereka be rasal dari keluarga tak mampu. “Satu anak tinggal di rumah saya, usianya enam tahun. Dia tertular HIV dari ibunya. Tapi sekarang anak itu dirawat di rumah sakit karena saat diobservasi ternyata dia juga menderita penyakit lain,” ujar ibu tiga anak ini. Merintis pendirian rumah
dia bersama Nita temannya dari PKBI, kerap menggelar eventevent kemasyarakatan seperti pengobatan gratis, jalan sehat, dll. Sampai suatu ketika, katanya, ia bersama Nita menggelar pro gram peduli HIV/AIDS antara lain talk show, penyuluhan gratis dan penggalangan dana. Meski program tersebut telah berakhir, kata Lena, dirinya tetap aktif menggelar kegiatan serupa. “Saya pikir program semacam ini penting untuk masyarakat makanya saya teruskan,” katanya. Tidak itu saja, Lena juga mulai ak tif dalam pendampingan ODHA. “Lalu saya dan Nita berkunjung ke rumah singgah sekaligus panti asuhan ‘Rumah Lentera Solo’,
Lena sedang sosialisasi rumah Lentera dan HIV/AIDS dalam pertemuan rutin dengan ibu-ibu PKK Kecamatan Tembalang, Semarang
singgah di kampungnya, kata Lena, bukan hal yang mudah. Sebelumnya ia melakukan pe nyuluhan terus menerus kepada warga sekitar. Perlu diketahui bahwa rumah singgah LENTERA letaknya persis di depan rumah Lena. “Saya melakukan penyulu han terus menerus pada warga sekitar sampai akhirnya mereka memahami dan menerima, lalu kami pun mendirikan Rumah Lentera di sini,” katanya. BUKAN CUMA OMONG ‘DOANG’ Banyak ODHA/ADHA karena stigma dari masyarakat membuat mereka tidak berani keluar ru mah. Rasa malu, minder, takut, membuat mereka tak berani ber sosialisasi. Inilah yang ingin diubah oleh Lena. Itu sebabnya Lena yang juga karyawati RS Elisabeth Semarang, kerap kali membawa anak asuhnya saat acara-acara yang digelar di kampungnya. “Malah anak itu saya gendong dan tunjukkan ke masyarakat bahwa tidak apa-apa. Di sisi lain, saya sebagai ‘ibunya’ juga harus tampil baik, sehingga masyarakat melihat saya ‘ibunya’ anak ini tetap sehat, cantik dan ceria. Anak-anak saya juga begitu, mer eka tampil bersama ‘adik’nya, tidak ada kecanggungan. Mereka bergaul seperti kakak dan adik,” kata wanita single parent itu. Kegigihan Lena dalam mem perjuangkan ODHA /ADHA memang patut diacungi jempol. Meski dia tahu perjuangannya ini tidak mudah, banyak tan tangan yang dihadapinya, tidak membuatnya mundur. Lalu dari mana Lena dan kawan-kawannya
Lena saat menerima penghargaan dari Leprid
mendapatkan dana untuk mem bantu para penderita HIV/AIDS juga mengoperasikan rumah sing gah Lentera? Menurut Lena, sejauh ini mereka masih menggunakan dana sendiri, belum ada bantuan dari pemerintah. “Saya ini su dah ‘bonek, mbak,’ alias ‘bondo nekat’...hahahaha. Jadi meski tidak ada bantuan dari pemerintah, ru mah ini tetap kami dirikan karena masyarakat memerlukan tempat seperti ini. Kalau panti asuhan, banyak ya, tapi rumah singgah yang juga panti asuhan untuk anak tak mampu penderita HIV/AIDS, masih jarang,” tutur Lena yang mengaku belum mengajukan pro posal kemana pun untuk meminta bantuan dana. Masalah dana operasional, lanjutnya, sejauh ini dapat diatasi lewat event-event pengumpulan dana maupun bantuan dari do natur. “Dana yang ada pada kami masih cukup. Bahkan bisa memberi uang transpor pada para relawan,” katanya. Sekarang ini, katanya, Rumah Lentera masih mengontrak. “Saya bermimpi suatu saat kami bisa mendirikan rumah sendiri lengkap dengan kliniknya,” kata Lena yang juga aktif sebagai instruktur senam. Berbicara tentang keluarg anya, Lena yang juga single parent, mengungkapkan, dirinya tidak kesulitan ketika menyampaikan keinginannya untuk terlibat dalam kegiatan peduli HIV/AIDS. Bahkan ketika memutuskan memelihara seorang ADHA di rumah mereka pun, ketiga anaknya—usia 17 ta hun, 13 tahun dan 9 tahun--- tidak menentang. Untuk ‘memperkenalkan’ HIV/ AIDS pada anak-anaknya, Lena membawa mereka ke rumah sakit, di mana ADHA tengah terbaring sakit. “Di sana, kecuali anak bung su saya yang tidak boleh masuk, kedua anak saya ajak langsung mengunjungi ADHA. Sepulang dari kunjungan tersebut, barulah saya menjelaskan panjang-lebar kepada anak-anak tentang HIV/AIDS, dan hal-hal yang terkait dengan itu,” tutur Lena. “Dengan begitu anak anak saya bisa memahami keingi nan dan langkah ibunya. Tidak itu saja, mereka pun kadang saya ajak ikut dalam kegiatan,” tambahnya. -Diana Runtu
Mandalika
Edisi 878/ 7 - 13 Desember 2015
21
Tragedi Kebakaran di Bajo Pulo Hanguskan 64 Rumah
Sebanyak 102 Kepala Keluarga di Dusun Bajo Tengah, Desa Bajo Pulo Kecamatan Sape Ka bupaten Bima, kehilangan tempat tinggal dalam musibah kebakaran beberapa waktu lalu. Seban yak 64 rumah hangus terbakar dan rata dengan tanah serta terdapat 7 rumah rusak dalam ben cana yang terjadi menjelang Adzan Magrib itu. Kebakaran hebat yang melanda desa yang be rada di sebuah pulau di bagian timur Kabupaten Bima, Rabu, (25/11) ini, menyisakan kesedihan bagi warga yang terkena musibah.
Kondisi Dusun Bajo Tengah
Gubernur NTB, menyerahkan sumbangan untuk warga Dusun Bajo Tengah Desa Bajo Pulo, Kecamatan Sape, Bima yang mengalami bencana kebakaran.
A
pi yang menyebar dengan sangat cepat dalam waktu satu jam menghanguskan rumah-rumah panggung yang no tabene terbuat dari kayu tanpa bisa diselamatkan. Kondisi pulau yang berada terpisah dari dara tan ini membuat tim penyelamat tidak dapat berbuat banyak untuk mempercepat langkah menuju Bajo Pulo. “Api mulai membakar Dusun Bajo Tengah sekitar pukul 6 sore dan baru padam sekitar satu jam kemudian,” ungkap Bambang H. Ahmad, Kepala Desa Bajo Pulo. Menurut Bambang, api diper kirakan berasal dari hubungan arus pendek. Saat kebakaran itu
melanda, warga bahu-membahu memadamkan api secara manual menggunakan ember dan alat-alat seadanya. Namun apa daya, upaya itu tidak membuahkan hasil yang maksimal. “Rumah-rumah yang terbakar langsung rata dengan tanah. Namun kami bersyukur tidak ada korban jiwa meskipun ada beberapa orang yang terkena luka bakar dan bisa diselamatkan,” katanya. Tim penyelamat sendiri telah berupaya semaksimal mungkin untuk bisa sesegera mungkin tiba di lokasi. Menggunakan perahu boat, pukul 7 malam, satu jam setelah kebakaran terjadi, tim Tagana Dinas Sosial Kabupaten Bima, Camat Sape
dan Muspika lainnya, tiba di lokasi untuk membantu evakuasi warga. Tidak mudah memang untuk men capai lokasi ini mengingat harus menyeberang laut. “Kami datang satu jam berselang setelah api berkobar, saat tiba kami mendapati rumah-rumah telah rata dengan ta nah dan kebakaran itu menyisakan bara-bara api,” ungkap Ahmad Rais, salah seorang anggota Tim Tagana dari Dinas Sosial Kabupaten Bima. Bersama dengan tiga orang re kannya sesama anggota Tagana ini, Rais menjadi rombongan pertama yang tiba di lokasi kebakaran Desa Bajo Pulo seluas 8.000 hektare ini. Kemudian baru disusul oleh Tim Tagana lengkap dan relawanrelawan lainnya. Ia menyaksikan ratusan warga mengungsi di bukitbukit sekitar Dusun Bajo Tengah yang hangus terbakar itu. Ada pula yang mengungsi ke Bajo Timur dan ada pula yang menggunakan pera hu-perahu kecil mengungsi keluar pulau menuju daratan Sape. Pada jam 11 malam, tendatenda pengungsi mulai dibangun dan warga mendapat perlindungan mulai malam itu juga. “Sampai hari ini ada 102 tenda darurat yang diperuntukkan bagi pengungsi yang dihuni oleh masing-masing kepala keluarga,” ujar Bambang. Dari 102 Kepala Keluarga dengan 350 jiwa, kini hidup dalam tenda-tenda darurat sembari menanti perbaikan
terhadap rumah-rumah tinggal mereka yang hangus terbakar. Melihat kebakaran hebat yang melanda Bajo Pulo, simpati datang dari berbagai pihak dalam jumlah bermacam bantuan khususnya sem bako yang cukup banyak. “Kami sangat berterima kasih atas bantuan dan simpati dari berbagai pihak yang mengirimkan bantuan bagi warga yang mengalami musibah ini. Jumlahnya pun cukup untuk warga yang menjadi korban,” kata Bambang. Tidak hanya itu, Gubernur Nusa Tenggara Barat, Dr. TGH. M. Zainul Majdi pun turun lang
sung meninjau keadaan warga yang menjadi korban kebaran tersebut. Gubernur menyaksikan rumah-rumah warga yang telah rata dengan tanah akibat kebakaran tersebut. Untuk meringakan beban masyarakat yang terkena musibah tersebut Gubernur NTB menyer ahkan santuan kebencanaan berupa uang tunai senilai Rp 43, 65 juta dan logistik kebencanaan berupa peralatan dapur, peralatan kit dan beras sebanyak 2,5 ton. Sementara dari Dinas Dikpora Provinsi NTB, menyumbangkan buku, tas dan perlatan sekolah lainnya. –Naniek I. Taufan
Gubernur NTB, saat mengunjungi warga Dusun Bajo Tengah Desa Bajo Pulo yang mengalami musibah kebakaran.
Kades Bajo Pulo Harapkan Pemprov NTB Bangun Kembali Rumah Warga
Warga tinggal di tenda-tenda darurat
Selain menyampaikan kepriha tinan atas bencana yang melanda desa tersebut, Gubernur juga men gajak masyarakat untuk bersyukur dan bersabar atas karunia Allah. “Musibah tidak menghalangi kita untuk tetap bersyukur kepada Al lah,” ungkap Gubernur yang juga seorang ulama ini dalam memb esarkan hati warga Bajo Pulo. Berdasarkan rilis dari Biro Humas Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat, Gubernur NTB berjanji akan membangun kembali fasilitas umum yang ada, terutama masjid yang telah hangus terbakar. Untuk peru mahan, Pemerintah Provinsi NTB akan selalu berkoordinasi dengan
Pemerintah Kabupaten Bima untuk membangun kembali rumah warga yang menjadi korban. Hal inilah yang memang san gat diharapkan oleh Kepala Desa Bajo Pulo dan warga yang tertimpa musibah ini. “Kami sangat berharap adanya perbaikan rumah bagi warga yang tertimpa bencana, untuk meng hadapi musim hujan yang akan segera datang. Apalagi lokasi tempat tendatenda darurat yang dibangun yang dipakai oleh 102 Kepala Keluarga ini berada di tebing dimana air hujan yang turun akan langsung menuju lokasi tenda darurat tersebut,” ujarnya. Bagi kepala desa dan warg anya, musibah ini menjadi pengingat
bagi seluruh masyarakat Desa Bajo Pulo agar lebih berhati-hati lagi. Kondisi terakhir korban keba karan, menurut Bambang secara psikologis berangsur-angsur mem baik dan mulai terus berupaya untuk pulih dari trauma. Hanya saja roda ekonomi masih lumpuh. Anak-anak sudah mulai bersekolah kembali dan kini mereka fokus untuk bersama-sama membangun kembali dusun mereka yang porakporanda akibat kebakaran ini. Tim Tagana sendiri, menurut Rais telah meninggalkan lokasi sejak hari Rabu siang, (2/12) setelah membantu warga selama delapan hari sejak saat kejadian itu. -Naniek I. Taufan
22
Sosialita
Edisi 878/ 7 - 13 Desember 2015
Edisi 878/ 7 - 13 Desember 2015
3
Akses Mudah Daya Juang Rendah Kemajuan teknologi informasi yang semakin canggih memberi banyak keuntungan bagi masyarakat, khususnya generasi muda yang menjadi semakin kreatif. Namun, sebanyak keuntungan yang diperoleh, sebanyak itu pula kerugian yang didapat jika tidak mampu mengelolanya secara benar.
“E
ra digital memang membuat anak muda zaman sekarang menjadi lebih pintar, lebih kreatif, karena mereka dapat mengakses dengan mudah semua informasi yang diinginkan. Tapi di balik semua itu ada sebuah kekurangan yang tersimpan, yakni, daya juang yang lebih rendah dibanding zaman dulu,” ungkap Merry Riana, motivator kondang, yang ditemui di selasela Olimpiade Indonesia Cerdas (OIC). Kebetulan, Merry maupun aktor kondang Christian Sugiono, terlibat dalam acara tersebut. Merry Riana sebagai ‘kakak pembimbing’ sedang Christian sebagai host acara. Keduanya diminta pendapat seputar perkembangan teknologi dan kualitas generasi muda yang dihasilkannya. “Kalau zaman dulu, misalnya saya dikasih PR, saya mencarinya (bahan) di perpustakaan. Sejak saya kecil, mama saya sudah mendaftarkan saya menjadi anggota perpustakaan nasional. Kalau sekarang serba instan, maka daya juangnya sedikit lebih berkurang,” ungkap Merry. Hal senada juga kerap kali diungkap pengamat pendidikan di mana kemajuan teknologi –salah satunya--- telah begitu memanjakan generasi muda. Untuk mencari referensi buku maupun informasi, mereka tidak perlu repot-repot ke perpustakaan karena segalanya tersedia lewat internet. Ini juga berdampak pada menurunnya minat baca di kalangan muda, serta rendahnya tingkat kunjungan ke perpustakaan. Hanya tinggal sekali klik, segala informasi yang diperlukan sudah muncul. Mereka tak perlu lagi bersusah-susah datang ke perpustakaan, mencari-cari buku. Lewat internet semua yang dibutuhkan ada. Bahkan jika malas membaca buku, cukup membaca resensinya saja, juga tersedia. KEKUATAN MENTAL Karena hampir segalanya bisa diperoleh secara instan, membuat sebagian generasi muda menjadi manja dan semangatnya untuk mendapatkan sesuatu menjadi berkurang. Padahal kata Merry Riana, untuk menjadi generasi muda yang sukses bukan hanya diperlukan kreativitas dan inovasi, tapi juga kekuatan mental. “Untuk menjadi generasi yang sukses, anak muda harus menjadi generasi yang kuat dalam tiga hal. Pertama, kuat pikiran. Yang dimaksud di sini bukan hanya
cerdas, kreatif atau inovatif, tapi juga harus kuat secara mental. Hal kedua adalah sikap optimis dan tidak mudah menyerah. Harus berbesar hati ketika tidak bisa mendapatkan apa yang diinginkan. Hal ketiga adalah kuat secara iman. Selalu menyertakan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari’,” papar penulis best seller ‘Mimpi Sejuta Dolar’ itu. Menurutnya, jika generasi muda dapat mencapai tiga hal yang disebutkannya tadi, maka hasilnya akan sangat luar biasa. “Bayangkan, ya, jika anak muda sudah pintar, kreatif, dan punya daya juang yang luar biasa, tidak bosanan, pasti banyak hal yang bisa dicapai. Harapan saya, anak muda Indonesia bisa mencapai tiga hal itu,” kata wanita penyuka warna merah itu.
Atta Beji Masterplan
Ni
Merry Riana dan aktor kondang Christian Sugiono
Tentang dampak positif dari kemajuan teknologi bagi anak muda juga diakui oleh aktor Christian Sugiono. Suami Titi Kamal ini mengakui kalau perkembangan
teknologi memang membuat anak zaman sekarang menjadi lebih kritis dan kreatif. “Aku lihat anak muda zaman sekarang beda dengan dulu. Mereka cenderung
menjadi follower dari sebuah tren. Mereka sekarang lebih gampang melihat informasi, referensinya banyak. Jadi lebih monoton secara style,” katanya. -Diana Runtu
Dari “Baby Boomers” hingga Platinum Perbedaan paling mencolok antara generasi generasi Millenium. Generasi ini tumbuh seiring sekarang dan dua atau tiga dekade lalu adalah gaya dengan banyaknya kejadian yang mengubah dunia hidup. Meskipun penggunaan personal komputer di seperti—di antaranya—berkembangnya komunikasi rumah-rumah sudah dimulai di era 1980-an, namun massa serta internet. hal ini belum menjadi bagian dari tren gaya hidup. Kini, Anak-anak yang lahir pada generasi ini merapenggunaan beragam gadget bisa dengan mudah kita sakan tingginya biaya pendidikan dibandingkan temui di cafe, mal, bus, kampus, hingga pinggir-pinggir generasi sebelumnya. Generasi ini cenderung jalan sekalipun. Anak muda yang keranjingan gadget menuntut, tidak sabar, serta buruk dalam berkomuinilah yang biasa disebut generasi platinum, yakni nikasi dengan sesama. Survei yang pernah dilakukan mereka yang lahir pada tahun 2000 ke atas. Mereka menunjukkan bahwa generasi ini memiliki kemamini lebih canggih dari generasi ‘Y’. puan mengeja dan bahasa yang buruk. Generasi ‘Y’ Psikolog Alzena Masykouri, sebagaimana dikutip yang telah bekerja menunjukkan sikap yang cuek dari antaranews, menyebut generasi platinum lahir dan senantiasa bertentangan dengan peraturan kandi masa keterbukaan teknologi, cara berpikir, dan tor. Namun, generasi ini boleh dipuji untuk energi keterbukaan prilaku serta ketersediaan sarana pendan semangat bekerjanya yang luar biasa. Alzena Masykouri didikan yang jauh lebih baik dibandingkan dengan Sementara, generasi Platinum adalah terminologi generasi sebelumnya. Psikolog dari Universitas Paramadina ini pun yang diberikan kepada anak-anak yang lahir di pada tahun 2000 ke lantas menguraikan tentang generasi-generasi anak muda berikut atas atau awal abad ke-21. Menurut Masykouri, jika diamati anak-anak ciri-cirinya. kelahiran tahun 2000 memiliki karakter unik yang lebih ekspresif dan Menurutnya, awalnya adalah generasi ‘baby boomers’ yang merueksploratif selaras dengan arah perkembangan zaman. Bila diamati, pakan kelompok masyarakat yang hidup setelah PD II yaitu 1946kata dia, anak-anak generasi Platinum memiliki kemampuan yang tinggi 1964. Generasi ini disebut ‘baby boomers’ karena pada rentang waktu dalam mengakses dan mengakomodir informasi sehingga mereka generasi itu, terjadi peningkatan jumlah kelahiran di seluruh dunia. memiliki kesempatan lebih banyak dan terbuka untuk mengembangkan dirinya. Anak-anak yang terlahir di generasi ini merupakan golongan masyarakat yang mulai mengenal televisi dengan beragam acara yang Kelak, mereka pun dapat menggunakan potensinya untuk berberbeda-beda, seperti Perang Vietnam, pembunuhan John F Kennedy, tahan hidup. Bahkan juga menjadi manusia yang berkualitas dan Martin Luther King Jr, dan Robert F. Kennedy. Golongan masyarakat produktif. Generasi sebelumnya memang sudah memiliki tingkat ini mengenal musik, sebagian besar adalah Rock n Roll, sebagai cara literasi teknologi yang tinggi, namun mereka hanya sebatas sebagai untuk mengekspresikan identitas generasi mereka. pengguna saja. Generasi Platinum adalah golongan yang memiliki orientasi sekaligus kemampuan berkarya sehingga dapat berperan Selanjutnya adalah generasi ‘X’, lahir antara tahun 1965 hingga sebagai produsen, kreator, ataupun inisiator. 1980. Anak-anak yang lahir pada generasi ini tumbuh dengan video games dan MTV, dan menghabiskan masa remajanya di tahun 1980“Sesungguhnya ini tidak hanya untuk aspek teknologi saja, tetapi an. Anak-anak remaja generasi X memiliki ciri-ciri, kurang optimistis juga dalam setiap aspek kehidupan,” kata dia. Namun, kata Masykouri, terhadap masa depan, sinis, skeptis, tidak lagi menghormati nilai-nilai jika ditelaah anak yang lahir pada abad ke-21 adalah hasil `produksi` dan lembaga tradisional, serta tidak memiliki rasa hormat kepada orangtua (lahir di tahun 70-an), yaitu generasi yang sudah memiliki orang tua mereka. Di awal 1990-an, media menampilkan generasi keinginan untuk mengoptimalkan potensinya. X secara fisik sebagai generasi yang senang memakai kemeja flanOrangtua mereka adalah umumnya orang-orang yang berpennel, suka menyendiri, banyak tindikan di tubuh, dan lebih memilih didikan tinggi. Alhasil, kemunculan generasi yang berbeda tak lepas bekerja di restoran. dari pengaruh orangtuanya yang memiliki pandangan terbuka, dan Generasi ‘Y’, lahir tahun 1981-1995, juga dikenal dengan sebutan lebih mudah menerima perubahan, terutama teknologi. -Diana Runtu
Atta Beji Pool Villa Exterior Couple
Made
Ayu
D e w i
Atta Beji Deluxeroom Interior
S aras wat i
Berinvestasi Menguntungkan di Atta Labeji Villas Dulu, memiliki sebuah villa bagaikan sebuah mimpi. Tapi sekarang, menjadi owner villa di Bali adalah kenyataan. Karena hanya dengan Rp 12 juta, masyarakat Bali sudah bisa menjadi investor dan owner Atta Labeji Villas yang berlokasi di Desa Kenderan, Ubud, Bali.
“H
al ini dikarenakan pengaruh dari sistem investasi yang ada selama ini hanya untuk
orang yang memiliki banyak uang,” ungkap Marketing & Communication of Atta La Beji Villas sekaligus Komisaris Utama BOS Land, Made Ayu Dewi Saraswati. Melihat
fenomena tersebut, akhirnya Direktur Utama BOS Land, Made Robert dan tim merasa tertantang untuk menciptakan suatu sistem investasi dan kepemilikan villa berbasis kerakyatan. Ia mengadopsi kearifan lokal yaitu mepatung, yang dalam istilah yang lebih mendunia disebut CBOS (Capitalism Based On Society) atau kapitalis berbasis kerakyatan. Sehingga, siapa pun, khususnya orang Bali, sangat mungkin untuk bisa menjadi investor maupun pemilik. Setelah sukses meluncurkan Villa Mesari yang berlokasi di daerah wisata eksotik
dan seiring waktu harganya pasti naik, voucher menginap senilai Rp 12 juta, penghasilan pasif 10% setiap tahun selama 2 tahun dan setiap 6 bulan selama 23 tahun, satu box kartu nama Atta Labeji Villas dengan jabatan owner, kupon undian untuk memenangkan grand prize 2 hektare hutan jabon dengan hasil milyaran rupiah, dan lain-lain. “Klausa ini dituangkan dalam perjanjian notaris. Beberapa investor bahkan telah melakukan penandatanganan kontrak kepemilikan unit Atta Labeji Villas di notaris,” ujar Ayu Dewi Saraswati.
Hanya dengan Rp 12 Juta, Sudah bisa Jadi Owner Villa
Ni Made Ayu Dewi Saraswati dan keluarga
Seperti halnya Villa Mesari, kehadiran Atta Labeji Villas pun mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat Bali. Tak hanya itu, hal yang sama juga terjadi ketika Atta Labeji Villas ini dipresentasikan di Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya beberapa waktu lalu. Rupanya
Ubud Bali tahun 2013, kini sang konseptor, Made Robert melalui BOS Land a Subsidiary of MESARI Land menawarkan kembali sebuah proyek villatel yang diberi nama ATTA LABEJI VILLAS. Di proyek villatel kedua yang diluncurkan Agustus lalu ini, Made Robert melakukan terobosan dan inovasi baru sehingga masyarakat Bali yang menjadi investor mendapatkan keuntungan lebih daripada sebelumnya. Di antaranya, uang pembelian lot dikembalikan 100 persen dalam beberapa tahun, mendapatkan 1 surat lot yang saat ini nilainya Rp 12 juta
investasi cerdas dan aman di villatel ini mendapatkan antusias besar masyarakat luar Bali. Mereka yang sudah berinvestasi tersebut akan melakukan kunjungan ke proyek ini. Bahkan beberapa dari investor mengungkapkan sangat memungkinkan jika proyek semacam ini dengan kon-
sep mepatung, juga bisa dilakukan di luar Bali, karena hal ini akan sangat menguntungkan bagi masyarakat setempat. Made Robert yang juga seorang motivator ini menyampaikan, hal ini menandakan masyarakat, khususnya di tanah kelahirannya, Bali, sudah melek financial untuk memiliki passive income. “Perlahan tapi pasti, kesadaran masyarakat Bali sudah mulai tumbuh bahwa merekalah yang layak menjadi tuan rumah di tanahnya sendiri. Mereka layak sejajar dengan investor asing yang berduit,” ujarnya. Ia mengatakan di zaman sekarang ini, masyarakat harus memikirkan untuk memiliki investasi. “Menjadi karyawan di perusahaan orang lain, tak masalah, asal punya investasi. Belilah sesuatu yang bisa yang menghasilkan uang. Berinvestasilah yang cerdas,” sarannya. Seperti, terobosan dan inovasi menguntungkan dan aman yang di-
lakukannya dalam proyek Atta Labeji Villas ini, diyakini akan mampu mengantarkan masyarakat Bali menuju kesejahteraan dan taraf hidup yang lebih baik. Karena dengan menjadi investor, tentu masyarakat Bali akan mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi. “Hanya dengan Rp 12 juta, masyarakat sudah bisa menjadi owner villa. Saat ini senilai hanya Rp 12 juta, dan seiring waktu harganya pasti naik,” imbuh Ayu Dewi Saraswati. Untuk itu, ia mengajak masyarakat yang belum bergabung menjadi investor, menghadiri PRESENTASI GRATIS, Minggu 13 Desember 2015, pukul 16.00 wita di Ibis Style Hotel, Jalan Teuku Umar No. 184 Denpasar. Untuk informasi lanjut, bisa datang langsung ke kantor Bos Land, Jalan Tukad Pakerisan 79 Panjer Denpasar. Untuk reservasi, telepon sekarang di nomor 0361- 4723260, 082 247 365 888, 087 861 999 658. –ten
2
Edisi 878/ 7 - 13 Desember 2015
GORO-GORO A m i menerima s e b u a h p e rtanyaan di BBnya. “A m i , w a k t u kecil, ketika ibuku Putu Wijaya masih di purinya di Bali, dia bilang, setiap hari Saraswati, hari ilmu pengetahuan, buku-buku pelajaran dikumpulkan, tidak boleh dibaca. Apa betul begitu? Kenapa?” Pertanyaan itu dijawab oleh Sugi, suami Ami dengan curiga. “Kenapa dia menanyakan itu?” “Karena dia mau ngeledek ibunya kenapa mau mengumpulkan bukubuku pelajarannya dan dan tidak membantah ketika dilarang orang tuanya membaca pada hari ilmu pengetahuan itu.” “Jadi dia tidak setuju, kan?!” “Persis! Dan menganggap itu tidak rasional. Hari ilmu kok tidak boleh belajar, katanya. Membaca itu kan memulyIakan pengetahuan, masak
saraswati
hari ilmu malah menolak pengetahuan?” “Terus ibunya sendiri bilang apa?” “Nggak tahu.” “Coba tanya.” Tapi Ami tak mau bertanya pada temannya itu. Ia pulang ke rumah orang tuanya dan bertanya kepada Amat. “Pak, kenapa pada hari Saraswati kita tidak boleh membaca?” Amat menatap Ami. “Kenapa menanyakan itu?” Ami menunjukkan BB temannya. Tapi setelah itu, Amat seperti menantunya, menyuruh Ami menanyakan kepada temannya, bagaimana reaksi ibunya. “Tapi ibuku nggak apa-apa, Mi. Nggak, nggak marah. Dia malah ikut heran, kenapa dulu dia manut saja, tidak bertanya seperti aku, kepada orang tuanya: Kok aneh, tidak boleh membaca di hari ilmu pengetahuan!” Jawaban itu Ami tunjukkan pada
Amat. Amat manggut-manggut. “A d a d u a h a l A m i , k a t a Amat,”Pertama, kita di Bali tidak suka mengusut, kita cenderung menerima apa adanya. ‘Nak mula keto’ kata orang tua. Nah setelah lewat dan kita jauh dari Bali, seperti temanmu itu, baru kita berani bertanya, kenapa? Dan tidak ada lagi orang tua kita yang bisa membantu memberikan jawaban. Karena mereka juga mungkin tidak tahu, hanya melanjutkan tradisi.” “Jadi bapak juga tidak tahu?” “Kalau dibilang tahu, nanti takut salah. Kalau dibilang tidak tahu, bapak malu juga.” Tiba-tiba HP Ami bergetar. Temannya kirim BBM: “Ami, aku sudah ketemu jawabannya. Kata ibuku, seperti ada hari Minggu sesudah enam hari kerja, juga ada jeda dalam belajar. Belajar itu penting sekali. Tapi belajar tok, tidak cukup, kata ibuku. Jeda sehari untuk berpikir, melapalkan dan mengamalkan yang sudah dipelajari mutlak! Itu kearifan lokal yang jenius kan?!”
Ekspresso bacaan wanita dan keluarga
Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998
Pemimpin Umum/Penanggung Jawab Gde Palgunadi Redaktur Pelaksana Ngurah Budi Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti, Sagung Inten
Sudut Pandang
Kuota Transmigran Jakarta hanya 50 KK
Diana Runtu NTB Naniek Dwi Surahmi Desain Grafis IDN Alit Budiartha, I Made Ary Supratman Sirkulasi Kadek Sepi Purnama Sekretariat Ayu Agustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono Alamat Redaksi/Iklan Denpasar
416676–Faksimile (0361) 425373 Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta Jalan Palmerah Barat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603-Faksimile (021) 5357605 NTB Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–Telepon (0370) 639543– Faksimile (0370) 628257 Jawa Timur Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456– Faksimile (031) 5675240 Surat Elektronik redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id Suasana pemotongan tumpeng HUT ke-17 Bali Travel News. Potongan tumpeng diberikan GM Bali Travel News Gde Palgunadi kepada Pemimpin Redaksi Bali Post Nyoman Wirata
Website www.tokoh.co.id Bank
Piknik Jadi Panik
Perjalanan menuju pantai Virgin, Karangasem memang melelahkan. Apalagi kami menggunakan sepeda motor untuk ke sana. Rencananya aku bersama teman sekelas akan mengisi weekend dengan kemah di Bukit Asah, tapi berhubung waktu yang terlalu singkat akhirnya kami memutuskan untuk piknik saja. Awalnya perjalanan akan dilakukan pukul 2 siang, tapi karena persiapan belum lengkap kami baru melakukan perjalanan pukul 3 siang. Dalam perjalanan, awalnya tak ada halangan yang berarti. Semuanya berubah ketika baru memasuki daerah Karangasem. Kami melewati masyarakat yang tengah pergi ke setra bersama dengan mayat yang akan dikuburkan. Kami sudah mulai was-was karena kejadian itu. Selama 2 jam perjalanan, barulah kami tiba di pantai Virgin. Pegal dan rasa takut karena kejadian tadi seketika hilang kala melihat salah satu tempat wisata yang tengah terkenal
di sosmed itu. Jagung bakar, kerupuk, minuman, semua kami habiskan di sana. Tak lupa juga foto-foto untuk kenang-kenangan. Rujak yang kami beli juga sangat lezat. Aku dan temanteman lupa waktu karena terlalu asik dengan aktivitas di pantai Virgin. Pukul setengah tujuh, kami berniat pulang. Di sepanjang pantai, rupanya sudah sangat sepi. Pedagang pun sudah tutup semua. Saat hendak memulai perjalanan, kami melihat beberapa bule yang akan kemah, kami sedikit tenang karena setidaknya ada beberapa orang di pantai ini. Ketika perjalanan belum sampai lima ratus meter, kami kembali melihat
orang-orang. Awalnya semua berpikir bahwa itu adalah teman-teman bule tadi. Ternyata setelah orang-orang tersebut melintas, barulah kami sadar bahwa itu adalah masyarakat yang akan melakukan penguburan. Oh my God.....mayat yang hanya tertutupi kain, benar-benar berada di depan mata, membuat bulu kuduk merinding. Kami semua panik, karena kejadian yang kali ini lebih menyeramkan daripada yang pertama. Semua langsung tancap gas berusaha menjadi yang terdepan. Selama perjalanan pulang, semua masih terbayang-bayang kejadian sore itu. Beberapa hari setelahnya, hal itu menjadi perbincangan hangat di kelas. Awal piknik yang menyenangkan membuat kami panik di akhir. Ni Wayan Anik Wikantari
Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. Panjang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan nomor kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373
BRI Cabang G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6 Percetakan BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar
Ralat - Judul berita Sekitar Kita di Tokoh edisi 877 tertulis “Reading Contest Yayasan Duta Bangsa” dan di bagian awal berita juga tertulis Yayasan Duta Bangsa. Judul yang benar adalah “Reading Contest Yayasan Duta Nusa” dan nama yayasan yang benar adalah Yayasan Duta Nusa. - Berita “Ng” Sebuah Tari Metamorfosis Cermin Kehidupan di Tokoh edisi 877 menampilkan empat foto penunjang. Keempat foto tersebut hasil karya Gus Santi Utama
23
Ada usulan solusi untuk mengatasi kepadatan penduduk di Jakarta, yakni dengan melakukan transmigrasi. Namun, persoalan kependudukan Jakarta agak berbeda dengan daerah lainnya. Jakarta memiliki masalah serius dengan urbanisasi.
Jakarta
Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373,
Edisi 878/ 7 - 13 Desember 2015
S
Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat
etiap tahunnya puluhan ribu ribu warga daerah datang dan menetap di Jakarta. Itu sebabnya jumlah penduduk di Jakarta membengkak dengan cepat, kini sudah mencapai 10 juta jiwa. Sementara program transmigrasi yang selama ini berjalan tidak membawa pengaruh yang signifikan. Jumlah warga Jakarta yang ikut transmigrasi terlampau kecil, tidak sebanding dengan jumlah mereka yang masuk ke Jakarta. Bayangkan saja, tahun ini Jakarta hanya mendapat kuota pengiriman transmigran dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, 50 Kepala Keluarga. Jumlah ini tentu tidak sebanding dengan warga daerah yang masuk ke Jakarta. Data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil DKI Jakarta menyebut, jumlah pendatang baru tahun 2014 mencapai sekitar 68.537 orang, sedang tahun 2015 ini diperkirakan peningkatan sekitar 3% dari tahun sebelumnya. Menurut Wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat, kuota transmigran ditentukan oleh pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. “Tahun ini Jakarta mendapat kuota 50 KK. Mereka ditempatkan di tiga daerah yakni, Bengkulu, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Tahun depan kuotanya akan ditambah menjadi 116 KK,” kata Djarot di Balai Makarti Muktitama, Kalibata, Jakarta Selatan. Sebelum para calon transmigran ini berangkat ke daerahnya yang baru, mereka terlebih dahulu dibekali dengan pengetahuan tentang daerahnya, termasuk kultur budaya setempat juga berbagai ketrampilan. “Jadi mereka benarbenar disiapkan, dilatih, dididik
untuk bekal hidupnya di sana. Mereka mendapat tanah antara satu hingga dua hektare, termasuk rumah. Jadi kalau mereka nggak bisa hidup, keterlaluan, ya,” kata mantan Walikota Blitar ini. Hal senada juga disampaikan oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) DKI Jakarta, Priyono. Menurutnya, sudah dua tahu terakhir kuota Jakarta menurun. Tahun 2014 lalu hanya 60 KK dan tahun ini 50 KK. Dia mengaku tidak tahu persis mengapa kuota diturunkan. “Yang menentukan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. Mungkin turun karena berkaitan dengan kesiapan daerah yang dituju dan kesediaan lahan untuk dikelola transmigrasi,” ungkap Priyono, sembari menambahkan tahun depan kuota Jakarta naik menjadi 116 KK. KURANG SOSIALISASI Tentang kecilnya kuota yang diperoleh DKI Jakarta, bisa jadi tak lepas dari kecilnya minat warga DKI Jakarta untuk bertransmigrasi. Ada banyak sebab kenapa warga kurang antusias dengan program ini, meski diiming-iming rumah juga tanah yang luas. Salah satunya adalah kebanyakan mereka ini dulunya adalah warga pendatang yang mengais kehidupan di Jakarta. Meski mereka tinggal di daerah kumuh berpuluh tahun, namun pandangan bahwa Jakarta lebih mudah mencari uang lebih kuat ketimbang harus berjuang dari ‘nol’ di daerah baru. Di sisi lain, kurangnya sosialisasi dari Pemda DKI Jakarta, juga menjadi sebab warga Jakarta kurang berminat ‘merantau’ ke daerah baru sekalipun mendapat kemudahan dan berbagai fasilitas. Agaknya hal ini juga disadari oleh Wagub Djarot yang memerintahkan Dinas terkait menggen-
carkan sosialisasi program transmigrasi juga memublikasikan para transmigran asal Jakarta yang sukses membangun kehidupannya di daerah baru. Sebenarnya, ada banyak transmigran asal Jakarta yang berhasil dengan mengikuti program ini, hanya saja kurang terekspos sehingga tidak banyak warga DKI Jakarta yang tahu hal itu. “Saya katakan kepada Kepala Dinas agar mengekspos mereka yang sukses berkat transmigrasi. Misalnya saja, saya dengar ada warga Jakarta yang dulunya menjadi pemulung, setelah mengikuti
Rombongan transmigran Jakarta
program transmigrasi ke Sulawesi Tengah, dia berhasil membangun hidupnya dan kini menjadi orang yang sukses. Ini menjadi salah satu contoh dan harus diekspos supaya masyarakat tahu dan tertarik,” katanya. Soal minimnya sosialisasi program transmigrasi di Jakarta juga pernah ‘disentil’ oleh Marwan Djafar, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. Menurutnya, salah satu sebab minimnya minat warga Jakarta untuk bertransmigrasi,
karena kurangnya sosialisasi. Karena itu dia meminta pimpinan Jakarta meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat. Menteri berjanji akan meningkatkan kuota Jakarta jika Pemprov DKI mau berkomitmen untuk meningkatkan jumlah transmigran. “Kalau Pemda DKI Jakarta mau komitmen untuk meningkatkan jumlah transmigran, kami akan meningkatkan kuotanya,” ucap Marwan yang akhir-akhir ini gencar berbicara transmigrasi. –Diana Runtu
24
What’s Up
Edisi 878/ 7 - 13 Desember 2015
Dari Transmigran Jadi Pengusaha Kehidupan masyarakat di Kerajaan Tambora dan Kerajaan Pekat di Kabupaten Bima dan Dompu, yang berdasarkan hasil penemuan Balai Arkeologi Denpasar terhadap benda-benda yang diperkirakan milik warga perkampungan yang tertimbun material gunung Tambora yang meletus tahun 1815, teridentifikasi sebagai masyarakat yang makmur. Tanah subur itu lenyap tak berbekas dihantam aliran piroklastik dari letusan gunung Tambora.
D
ua abad yang lalu, tanda-tanda kehidupan itu mati seketika. Kaki gunung Tambora, khususnya yang berada di bagian barat ini, akhirnya hanya meninggalkan sisa gundukan tumpahan lahar dan material yang menurut Igan S. Sutawijaya, geolog yang pernah meneliti sisa letusan Gunung Tambora, diperkirakan mencapai 150 kilometer
kubik, membuat denyut jantung kota di Kerajaan Tambora yang berjarak sekitar 25 kilometer di arah barat dan Kerajaan Pekat yang berjarak sekitar 30 kilometer dari gunung Tambora bagian barat arah selatan itu melemah. Sejak itulah wilayah kaki Gunung Tambora ini lalu “tertidur” dalam waktu yang sangat lama. Tanda-tanda kehidupan nyaris tidak ada. Menu-
Wisma Darussalam di Kadindi, penginapan milik H. Syahbuddin seorang transmigran yang sukses
rut Sekretaris Daerah Kabupaten Dompu, H. Agus Bukhari, di wilayah Pekat hanya ada beberapa warga yang mendiami wilayah ini di beberapa tempat saja. Mereka tinggal terpencar di lokasi-lokasi yang memungkinkan untuk membuat rumah-rumah, tidak terkonsentrasi di satu tempat. Hingga akhirnya tanda kehidupan yang jelas itu mulai tampak kembali ketika di tahun 1970. Wilayah ini dibuka untuk ditempati melalui program transmigrasi yang dilaksanakan Pemerintah Daerah Nusa Tenggara Barat, tahun 1970. inilah pertama kalinya wilayah kaki Gunung Tambora bagian barat, hutan-hutannya dibuka kembali setelah lebih dari 150 tahun “mati”. Salah satu transmigran yang mengikuti program transmigrasi pertama ke wilayah ini adalah H. Syahabuddin asal Lombok Timur. Kisah perjuangan membuka hutan belantara yang lebat dengan pepohonan yang rindang adalah tantangan tersendiri bagi H. Syahabuddin dan para transmigram asal pulau Lombok yang waktu itu berjumlah 177 orang. Mereka sengaja didatangkan untuk membuka wilayah ini dan menempatinya hingga hari ini. Kesuburan areal kaki gunung Tambora bagian barat ini mengantarkan para petani transmigran ini sukses mendapatkan kehidupan yang layak. Sebagai salah seorang pionir/transmigran yang pertama kali membuka dan menempati wilayah yang kini bernama Kadindi ini berkembang dengan begitu baik sehingga menjadi sebuah kecamatan bernama Pekat. Saat pertama kali menginjakkan kakinya di lokasi ini, ia tercengang
melihat hutan belantara yang begitu lebat, karena di sanalah ia akan tinggal. Ia akan tinggal di antara semak belukar. “Melihat kondisi itu, saya hampir saja ingin lari pulang kembali ke Lombok dan membatalkan niat transmigrasi waktu itu,” ujarnya. Namun nasib membawanya kini menjadi warga Kadindi Dompu. Di tengah segala keterbatasan yang amat sangat, Syahbuddin mulai bekerja keras untuk menjadi petani yang sukses sejak pembagian jatah tanah yang diserahkan kepada masing-masing transmigran seluas dua hektare di tahun 1971, setahun setelah mereka berhasil membuka hutan belantara ini. Atas kesabaran dan kerja kerasnya, Syahbuddin yang akhirnya memboyong istri dan anak-anaknya untuk tinggal di Kadindi ini, bersama-sama bekerja keras menggarap dua hektar lahan tersebut. Meski banyak yang tidak sabar tinggal di sini lalu menjual lahan-lahan jatah mereka, namun Syahbuddin dan keluarganya memilih menetap dan tidak lagi ingin kembali ke Lombok melainkan fokus bekerja menggarap lahan yang diberikan oleh pemerintah itu. “Tanah ini demikian subur sekali, sampai-sampai saya tiap tahun dapat membayar tanah-tanah yang jatah transmigran lain yang dijual,” ujarnya. Tanah-tanah itu pun kembali ia garap dan seluruhnya menghasilkan. Hal inilah yang menjadikan ia sebagai salah seorang transmigran yang sangat sukses. Ia menjadi salah seorang petani yang sukses di Desa Kadindi hingga akhirnya berkembang menjadi pengusaha transportasi, hingga memi-
H. Syahabuddin
liki penginapan. Itu tidak diraihnya dengan mudah melainkan telah melewati kerja keras dan menempuh masa yang cukup panjang. Bahkan bus-bus yang pertamakali menghubungkan Kadindi dengan desa-desa lainnya hingga ke Dompu pernah dimiliki oleh Syahbudin. Ia kini memiliki puluhan hektare lahan yang terus menghasilkan. “Dulu awalnya saya hidup penuh perjuangan, kini saya menikmati hasilnya. Kuncinya adalah sabar dan mau menerima kesulitan apapun yang dihadapi dengan keikhlasan,” katanya. Kini, selain memiliki banyak aset, Syahbuddin juga menjadi salah seorang tokoh Kadindi yang disegani. -Naniek I. Taufan
redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id
mingguantokoh
@mingguantokoh
mingguantokoh
www.tokoh.co.id