Skip to main content

Tokoh Edisi 877 | Tokoh

Page 1

24

What’s Up

Edisi 877/ 30 November - 6 Desember 2015

“Berteman” dengan HIV untuk Melanjutkan Hidup Seorang perempuan energik perpenampilan mungil menghampiri Tokoh. Bunga (bukan nama sebenarnya), demikian ia memperkenal­ kan dirinya dengan senyuman yang terus mengembang. Secara kasat mata, memang tak ada perbedaan yang bisa dilihat antara ODHA dengan orang kebanyakan lainnya. “Saya baru tahu diri saya terinfek­ si HIV tahun 2012. Ini memang kesalahan saya yang suka gonta-ganti pasangan tanpa memakai pengaman (kondom). Dan, saya berani mengakui kesalahan saya,” ujarnya tanpa perasaan malu.

I

a pun mengisahkan pen­ galamannya selama tiga tahun terakhir “berteman” dengan virus di tubuhnya itu. “Entah kapan dan dari siapa saya kena virus ini,” ujar Bunga yang setelah itu, berusaha meng­ hubungi mantan orang-orang yang pernah diajaknya berhubungan intim, mantan suami dan mantan pacar, bukan untuk menyalahkan, namun mengingatkan mereka agar bisa menyelamatkan hidupnya. Setelah mengalami sakit berkepanjangan sejak Agustus 2012, diikuti dengan kondisi tubuh­ nya drop dan berat badan yang menurun drastis, serta menjalani berbagai pemeriksaan, seperti tes hipertiroid (negatif), konsul ke dokter paru yang hasilnya positif bronchitis pneumonia, dan men­ jalani terapi selama 2 minggu, na­ mun tak jua membuahkan kesem­ buhan, dokter interna yang me­ nangani Bunga di sebuah RS negeri ini, ­akhirnya menyerah. “Dokter ­bilang, jika penyakit sampai muncul secara bersamaan, seperti saya waktu itu fungsi hati terganggu,

penurunan berat badan, anemia, bronchitis, ada jamur di mulut, itu katanya ada masalah di kekebalan tubuh. Dokter menyarankan untuk dites, dan saya setuju karena saya sudah jenuh dengan sakit sekian lama,” tuturnya. Di bulan Oktober itu, Bunga baru di-VCT dan dikonseling, dan hasil­ nya ia positif HIV. Ia sempat syok menda­ pati kenyataan itu, dan lebih syok lagi karena dia mengkha­ watirkan kemungkinan anaknya juga bisa ter­ tular. Sepulangnya dari RS, Bunga mampir belanja ke sebuah supermarket dan memborong kebutuhan rumah tangga untuk menjaga-jaga ke­ mungkinan terburuk menimpanya. “Adik saya sampai bertanya kenapa belanja sebanyak itu. Saya hanya menjawab, takutnya nanti mati dan kita tidak bisa makan. Adik saya kaget saja mendengar perkataan saya,” kisahnya. Keesokan harinya, Bunga lang­

sung mengajak anaknya tes (VCT), syukur hasilnya negatif. Keadaan anaknya baik-baik saja. Ditambah hasil tes mantan suaminya juga negatif, yang artinya ia tidak meng­ hancurkan masa depan mereka. Apalagi, putrinya yang saat itu masih berusia belasan tahun bisa menerima bahwa dirinya sakit. “Ibu sakit, didapat karena ibu melakukan kesalahan orang dewa­ sa. Nanti setelah dewasa ibu cerita­ kan lagi. Sekarang ibu sakit, tolong dibantu bagaimana agar ibu bisa tetap hidup. Jika

seks yang berisiko. Saya menutup diri. Akhirnya saya membuka sta­ tus saya dengan adik dan tementeman, justru mereka mendukung tak seperti apa yang ada di benak saya,” kenangnya. Realitanya, Bun­ ga yang menjadi konselor HIV AIDS sejak Desember 2013 hingga saat ini di RS negeri tersebut mendapati kebanyakan ODHA menstigma dirinya, menutup diri, dan takut dibilang ini-itu. “Mereka paling ngomonginnya sebentar setelah itu sudah. Jangan menstigma di­

V nis AR

atu je alah s

S

Dengan penerimaannya seperti itu, Bunga justru lebih termotivasi. “Dari sinilah saya termotivasi untuk tetap melanjutkan hidup. Saya menjalani terapi, mau berjuang. Ini kenyataan yang harus saya hadapi dan harus move on,” ujarnya ber­ semangat. Sebelumnya Bunga sempat menutup diri akan kenyataan ini. “HIV adalah penyakit yang memalukan, didapatkan dari peri­laku

tidak mau bantu, ibu tidak akan hidup. Karena motivasi ibu hidup adalah kamu,” demikian Bunga memberikan pen­ jelasan kepada putrinya. Syukur putrinya itu mengerti, bahkan ia sangat antusias bercerita kepada Bunga ketika di sekolahnya akan ada penyuluhan tentang HIV AIDS. “Apa Ibu yang kesana memberikan penyuluhan?” ujarnya bersemangat pada Bunga, pada saat itu.

rimu sebelum kamu distigma. Saya sudah membuktikan sendiri, dan teman-teman justru mendukung,” imbuhnya lagi. Setelah membuka diri dan mene­rima status dirinya ODHA, virus ada dalam tubuhnya, Bunga merasa lebih ringan melanjut­ kan hidupnya. Ia kini makin me­ lek ­dengan urusan kesehatan. Ia mengikuti terapi seumur hidup, yang mengharuskannya meminum dua macam obat, diminum dua kali sehari tiap pukul 9 pagi dan pukul 9 malam. Karena ia menyadari dirinya agak teledor, Bunga mendisiplinkan diri dengan se­ lalu memasang alarm sebagai pengingat, dan memberi nama-nama hari pada kotak obat mungil yang dibawanya kemanamana tersebut. Waktu saya sakit, Bunga berkomitmen jika pulih tidak akan menyia-nyiakan siakan kesempat­ an hidup yang diberikan Tuhan kepadanya untuk hidup lagi. Bunga ingin membantu mereka yang senasib dengannya untuk bangkit dan melanjutkan hidupnya lagi. “HIV bukan akhir dari segalanya. Untuk bisa melanjutkan hidup, harus bisa menerima status se­ bagai ODHA, bertemanlah dengan virus itu, dan lanjutkan hidupmu,” ujarnya Bunga penuh semangat dan mengaku kini hidupnya terasa lebih berarti lagi. –Inten Indrawati

redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id

mingguantokoh

@mingguantokoh

mingguantokoh

www.tokoh.co.id


2

Edisi 877/ 30 November - 6 Desember 2015

GORO-GORO “Konon, p i h a k Tu r k i sudah mewantiwanti pemerintah Prancis terhadap okPutu Wijaya num berbahaya yang terlibat dalam tragedi, Paris,” kata Amat menceritakan hasil ngupingnya, pada istrinya, “tapi pemerintak Prancis, khususnya kota Paris tidak serius menanggapi.” “Kenapa?” “Ya, mungkin mereka percaya, Paris, kota dunia yang terbuka bagi keragaman budaya itu, aman. Tidak akan ada yang mengusik kedamaiannya.” “Ternyata itu salah persepsi!” “Padahal, belum lama juga Paris sudah dihebohkan oleh penembakan liar yang membunuh beberapa wartawan di kantornya!” “Nah, itu. Kenapa mereka sampai lengah begitu, Pak? Prancis kan negara kuasa?” Amat mengangguk. “Itu, mungkin karena mereka terkecoh, sebab sebelumnya ISIS sudah mengancam akan menyerang London. London meskipun tidak terlalu jauh dari Paris, tetap saja bukan Paris. Jadi Paris tidak merasa perlu bersiaga. Padahal ancaman ke London itu, hanya untuk mengalihkan perhatian. Begitu Paris terbuka, langsung dihajar. Itu kan taktik yang biasa dilakukan gerilya kita dulu lawan kolonial!” Bu Amat nampak cemas. Ia teringat pada peristiwa Bom Bali. “Coba, apa yang bisa kita pelajari dari peristiwa itu, Bu?” “Kita tidak boleh lengah. Lebih baik waspada meskipun capek, daripada kecolongan!” “Betul sekali! Itu gunanya membaca koran dan nonton tv. Berita tidak hanya dinikmati tapi jadi bahan pemikiran! Kita tidak boleh lupa itu. Dalam wayang, ada contoh, lengah, menyebabkan Arjuna berhasil membunuh Niwatakawaca

ISIS

yang ampuh itu! Kita harus siap!” “Kita? Maksud Bapak? Apa mungkin kita juga bisa diserang ISIS?” Amat manggut-manggut. “Akibat tragedi Paris, Singapura yang akan menyelenggarakan konser kelompok musik metal Def Leppard sudah memperkuat keamanannya. Malaysia tempat KTT ASEAN sudah diancam akan dapat kiriman 18 bom. Pasti mereka juga waspada. Lha kita, sibuk berkutat ngurus pilkada, korupsi dan yang lagi panas, kasus Freeport, nampaknya baru hanya jadi penonton tragedi Paris.” “Maksud Bapak kita kurang waspada?” Amat tak menjawab. Ia memang tak tahu apa pemerintah waspada atau lalai. Esoknya, ketilka lewat di depan warung Ktut, Amat disapa banyak orang. “Pak Amat, sini, cerita dong! Apa betul ISIS akan menyerang kita?” Amat terkejut. Ia tak pernah bilang begitu. Pasti ada kesalahpahaman. Langsung ia membantah. “Begini, kalau kita yakin tidak mungkin, pasti kita akan lengah alias tidak akan berjaga-jaga. Di situ kita akan jadi sasaran empuk. Sebaliknya kalau kita berjaga-jaga walau tak ada tanda-tanda akan ada serangan, tidak berarti itu mubasir, karena itulah sebabnya kita

dijamin tidak akan diserang.” Amat kemudian cepat pulang. Ia batalkan niatnya ke rumah Ami. Tapi dilalah di rumah ia sudah ditunggu oleh seorang intel, bekas muridnya. “Maaf Pak Amat. Kami dengar Bapak punya informasi tentang ISIS. Boleh kami tahu, kira-kira daerah mana yang menjadi targetnya? Kapan dan apa bentuk terornya? Bom bunuh diri atau penembakan acak?” Amat terkejut. Ketika ia menjawab tidak tahu, pertanyaan terus mengucur sehingga ia pusing, Lalu ia coba memutuskan wawancara yang sudah nyaris jadi “interogasi” itu, dengan menjawab: “Itu semua kan tugas kalian untuk menjawabnya. Sumber saya hanya koran dan televisi. Kalau karena informasi itu saya dicurigai sebagai agen ISIS, koran dan semua tv itu juga agen ISIS!” Hampir 2 jam, baru intel itu pergi. Amat baru menarik nafas panjang sambil misuh-misuh kesal. “Siapa sih yang sudah iseng bilang, aku punya informasi ISIS akan menyerang kita?! Terlalu!” Bu Amat menyahut dari dapur. “Saya, Pak.” Amat terkejut. Lalu nyamperin istrinya. “Ibu? Kenapa?” “Lha, kata Bapak, kan lebih baik waspada daripada nanti kecolongan!”

Ekspresso bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

Pemimpin Umum/Penanggung Jawab Gde Palgunadi Redaktur Pelaksana Ngurah Budi Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti, Sagung Inten Jakarta Diana Runtu NTB Naniek Dwi Surahmi Desain Grafis IDN Alit Budi­artha, I Made Ary Supratman Sirkulasi Kadek Sepi Purnama Se­kretariat Ayu ­Agustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono Alamat Redaksi/Iklan Denpasar Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 416676–Faksimile (0361) 425373 Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta Jalan ­Pal­merah ­Barat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603-Faksimile (021) 5357605 NTB Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257 Jawa Timur Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­ ­Faksi­mile (031) 5675240 Surat Elektronik redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id Website www.tokoh.co.id Bank BRI Cabang ­G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6

Suasana pakelem di pantai Segara Rupek, Kamis, (26/11).

Salah Masuk tapi Amplop Selamat Lima tahun lalu, saya diundang teman untuk menghadiri pesta pernikahannya.Lokasinya di daerah Kali Unda, Klungkung.Saya memang belum tahu persis letak rumahnya. Waktu itu saya lupa membawa kartu undangannya jadi lupa alamat denah tempat berlangsungnya upacara.Saya hanya ingat gangnya saja. Waktu saya masuk gang beberapa meter saya melihat sebuah rumah yang dihias dan memang ada pernikahan di sana.Saya berpikir pasti di rumah itu tempat upacara pernikahannya. Tanpa bertanya dulu langsung masuk ke rumah itu dan sudah ramai sekali. Saya dipersilakan duduk dan disuguhkan kopi serta jajan bali. Tetapi, saya merasa asing. Kok tidak ada yang kenal. Satu pun tidak ada teman yang saya kenal. Dengan

gelisah saya celingak celinguk. Saat pengantinya terlihat keluar ternyata bukan teman saya. Saya salah masuk. Iseng saya menengok keluar gang terlihat ada rombongan lain yang lewat sepertinya juga menengok orang nikah. Benar, juga disana saya lihat beberapa teman yang saya kenal. Pelan-pelan saya keluar rumah itu langsung kabur. Saya coba ke arah timur ternyata rumahnya di belokan gang paling ujung. Langsung saya

masuk,sudah ramai teman teman datang. Mereka bertanya kenapa baru datang. Saat saya ceritakan kejadiannya, semua tertawa menyoraki. Kejadian konyol saya menjadi topik sampai akhir acara. Jadinya dapat dua kali kopi beruntung belum makan dan yang paling penting amplopnya selamat karena belum dimasukkan di tempat yang salah masuk tadi. Wayan Tojan, Klungkung

Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca ­lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. ­Panjang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan nomor kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373

Percetakan BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar

Dalam Tokoh edisi 876 rubrik Life Story ada berita berjudul “Berburu “Pria Gunung” demi Suami”. Saya mohon bantuan Tokoh untuk menginformasikan alamat Bu Sumiati. Saya sangat membutuhkannya untuk menolong teman yang sedang sakit parah. Terima kasih. Bu Budi, Kuta (081558729xxx) Alamat Bu Sumiati: BTN Kopajali no 11 Mapak, ­Mataram (Rumah Seledri), No hp 081805706830

Sudut Pandang

Sadar setelah Pernikahan Ketiga

Kisah Susi (bukan nama sebenarnya), seorang penderita HIV, mungkin bisa dibilang menakjubkan. Bertahun-tahun menjadi penderita HIV, berkali-kali nyawanya terancam hilang lantaran over dosis, namun wanita ini tetap survive hingga sekarang. Padahal, ‘angkatannya’ sesama pengguna narkoba, satu demi satu telah meninggal dunia akibat over dosis maupun HIV.

“T

eman-teman dalam kelompok kami, yang dulunya sama-sama pakai narkoba jarum suntik, hampir semua telah meninggal. Kalaupun ada beberapa yang masih hidup, itu karena dia tidak menggunakan jarum suntik. Ia hanya nyabu atau menenggak ekstasi. Jadi bisa dibilang di antara kelompok kami, pemakai jarum suntik yang masih bertahan, hanya saya,” kata perempuan berusia 38 tahun ini. Wanita ini menolak nama aslinya dipublikasikan karena selain telah menikah, juga karena kini telah memiliki anak dari pernikahannya. “Saya sudah menikah dan kini punya anak perempuan usia 1 tahun,” ucapnya. Ia mengaku tertular HIV karena penggunaan jarum suntik yang saling bergantian di dalam kelompoknya. Ia sendiri mulai mengenal narkoba sejak usianya belasan tahun.“Awalnya karena pergaulan. Sejak kecil kami sering ditinggal orangtua. Papa saya seorang kapten kapal yang kerap berlayar ke luar negeri, sedang mama ikut mendampingi papa. Itu berlangsung sampai kami besar. Di rumah hanya ada tante yang menjaga kami. Jadi saya hidup bebas. Materi tidak masalah karena segala sesuatunya dicukupi, termasuk soal uang jajan yang pada masa itu cukup besar untuk remaja seumuran saya,” papar wanita yang kini cukup aktif memberi penyuluhan HIV/AIDS khususnya ke kalangan remaja. Rasa kesepian tanpa pengarahan orangtua yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya, ditambah dengan pergaulan yang tidak baik, kata Susi, adalah penyebab dirinya terjebak dalam lembah narkoba. Bukan itu saja, karena pergaulan bebas, ia pun hamil dan akhirnya menikah muda. Usia saya ketika menikah 17 tahun. Tapi pernikahan itu tak bertahan lama. “Saat menikah saya sempat tidak mengonsumsi narkoba. Saya memiliki dua anak, tapi kemudian pernikahan berantakan. Suami pergi membawa satu anak dan tak pernah kembali. Ini membuat saya makin stress dan akhirnya kembali lagi ke narkoba,” tambahnya. Dulu ketika usianya masih belasan ia hanya menjajal pil ekstasi dan sabu. Itupun dilakukan di diskotik yang hampir tiap

malam di kunjungi. Namun ketika kembali ke dunia narkoba, seseorang memperkenalkannya pada putaw. “Ketika itu menjelang akhir 1999, saat saya mulai menggunakan putaw. Kebetulan rumah teman saya, orangtuanya kerap tidak ada di rumah, jadi kami menggunakan rumahnya untuk pesta narkoba. Mulai dari ekstasi, sabu hingga putaw ada. Kebanyakan teman, termasuk saya, menggunakan putaw dengan jarum suntik. Kelompok kami bubar ketika salah satu dari teman meninggal karena OD (over dosis) setahun setelah menggunakan barang itu,” tuturnya. Meskipun kelompoknya bubar, tapi ternyata Susi dan temantemannya tetap mengonsumsi putaw di tempat lain. Bahkan setelah beberapa orang teman akhirnya meninggal, Susi dan anggota yang tersisa tetap menggunakan barang haram itu. Tak terhitung berapa kali ia dibawa ke rumah sakit gara-gara over dosis dan sebab-sebab lain yang menyangkut narkoba. Meski sempat sekarat, namun ia tetap bertahan. Keluarganya sendiri, meski tergolong cukup berada, mengancam tak mau membiayai hidupnya termasuk pengobatan jika tetap memakai narkoba. “Pada masa itu biaya pengobatan untuk pecandu cukup mahal. Yang pasti saya telah sering menjalani terapi, namun kambuh terus. Saya beberapa kali ‘OD’ dan kritis di rumah sakit. Bahkan dokter sempat menyatakan sulit tertolong, tapi akhirnya pulih lagi. Dokter sampai heran. Namun ketika kembali sehat, saya kembali menggunakannya. Tidak tahu kenapa, padahal saya ingin sekali berhenti tapi sulit sekali. ‘Suggest’-nya sangat kuat, saya tak kuasa,” kata anak bungsu dari tiga bersaudara ini. Orangtua, lanjutnya, sempat berpikir mungkin kalau dirinya menikah lagi, kehidupan bisa lebih stabil dan perlahan bisa melepaskan diri dari barang haram itu. “Saya dijodohkan dengan seseorang yang punya pekerjaan sangat mapan, dan saya terima. Dari pernikahan itu lahir seorang anak perempuan, namun hanya bertahan beberapa bulan akhirnya meninggal. “Seperti yang pertama,

pernikahan kedua juga tidak bahagia. Kami selalu cekcok, karena suami marah saya masih menggunakan narkoba. Akhirnya bercerai. Entah bagaimana, setelah perceraian, saya dengar hidupnya jadi berantakan dan dia pun akhirnya juga menggunakan narkoba dan meninggal karena OD,” ucapnya. Di dasar hati yang terdalam Susi mengaku sangat menyesal, tapi semuanya seperti sudah ter-

Edisi 877/ 30 November - 6 Desember 2015

lanjur. Rasa frustasinya semakin dalam karena ia ‘divonis’ terinfeksi HIV beberapa tahun lalu. “Saya shock tapi itu memang risikonya,” katanya. Karena tahu penyakit ini tak tersembuhkan, ia pun menjadi seperti ‘menggila’. “Saya pikir, toh, akan mati juga. Ya sudah sekalian saja,” katanya. JADI PENGEDAR DAN MASUK PENJARA Orangtuanya yang tahu ia masih menjadi pencandu, lantas menghentikan pasokan uang saku. Walhasil, tidak ada dana untuk membeli barang haram itu. Tapi karena sudah kelewat kecanduan, kebetulan dia memiliki pergaulan yang luas di kalangan pengguna, dirinya dimanfaatkan bandar narkoba untuk menjadi pengedar. Menjadi pengedar narkoba memang merupakan cara instan mendapat uang banyak dalam tempo cepat, itulah yang dikerjakan wanita ini. Hanya saja, selain menjadi pengedar, dia juga tak menghentikan aktivitasnya memakai narkoba. Ia kembali ‘OD’ dan kembali orangtuanya harus menguras simpanan keluarga untuk membiayai pengobatannya di rumah sakit. Keluar dari rumah sakit, petugas

23

polisi sudah menanti atas sangkaan sebagai pengedar. Maka jadilah wanita ini mendekam di Rutan Pondok Bambu selama hampir 5 tahun. Yang luar biasa, selama di Rutan, ia sempat dua kali OD bahkan kritis. Nyawanya nyaris tak tertolong, tapi Tuhan pasti punya maksud lain, Susi kembali pulih. “Kehidupan di dalam penjara memang luar biasa. Kalau bisa, saya jangan lagi masuk penjara, kapok,” kata Susi yang untuk mendapatkan uang jajan terpaksa harus berjualan makanan ringan. Ia keluar penjara akhir 2012, dan mengaku, sudah hampir tiga tahun sudah tidak menggunakan narkoba lagi. “Saya menjalani terapi dan minum obat secara teratur sampai sekarang,” katanya. Kini, motivasinya untuk bertahan hidup sangat kuat, karena telah menikah dengan seorang pria yang mau menerima dirinya apa adanya. Dari pernikahan itu telah lahir seorang putri yang kini berusia satu tahun. “Saya melahirkan dengan cara caesar karena saya adalah penderita HIV. Harapannya, dengan caesar anak saya tidak tertular. Dari beberapa kali pemeriksaan, kata dokter, anak saya tidak tertular HIV. Puji Tuhan,” kata Susi. –Diana Runtu

Obat ini “Pasangan Hidup” Meski dikatakan belum ada bertugas untuk melawan inobat untuk menyembuhkan feksi. Jumlah CD 4 normal pada infeksi HIV, namun penyakit orang sehat berkisar antara 400 HIV AIDS tak lagi mematikan sampai 1.200. Setelah kita terinselama penderita memahami feksi HIV, jumlah ini bisa hingga dengan baik bagaimana cara dibawah 300. Jadi jumlah ini penanganannya. Penderitanya mencerminkan kesehatan sistem bisa hidup normal dan tidak kekebalan tubuh seseorang, perlu merasa minder dengan semakin rendah, semakin rusak keadaan yang ia alami. sistem kekebalannya. Hal ini diungkapkan dr. Ni Bicara kendala dalam melakuKetut Lestari di Yayasan Kerti kan terapi , dikatakannya dianPraja. Dalam dunia kedokteran, taranya karena semua pengobatan ARV (Anti Retroviral ) masih untuk HIV memiliki efek samping, menjadi obat satu-satunya unhingga bisa juga mempengaruhi tuk menekan virus HIV dari suasana hati. Ketika berobat, tubuh penderita. “Karena sistem pasien merasa tambah sakit dan kekebalan tubuh yang diserang, malas melanjutkan terapi. Banyak penderita HIV rentan sekali terjadi juga pada saat CD4-nya terkena penyakit seperti TBC, masih bagus, meski ada virus, jamur dan lainnya. pasien HIV merasakan dirinya Terapi atau pengobatan yang sehat dan baik-baik saja sehingga bisa memperlambat perkemtidak mau menjalani terapi ARV. bangan penyakit adalah men“Ada juga yang mengaku sudah gonsumsi i ARV secara disiplin, mengonsumsi dengan teratur dr. Ni Ketut Lestari teratur dan konsisten selama padahal tidak, karena bosan dan hidupnya. Dengan demikian pasien HIV tetap putus asa. Jika kasusnya seperi ini biasanya kami bisa menjalani hidup sehat dan bisa beraktivitas. akan konsultasikan dengan Prof. Tuti,” katanya. Jika melewatkan satu dosis saja, efeknya virus Selain itu, dr. Lestari pun dalam proses meakan kembali berkembang dan meningkatkan nangani pasien di lini pertama ini ia juga belajar risiko kegagalan. dari seniornya dr. Satriani untuk bisa mengeduKetika seseorang yang sudah dites dan hasilkasi, bahwa terapi yang dilakukan adalah seumur nya positif atau reaktif, ini berarti ia terinfeksi hidup. Setiap hari meminumnya tepat waktu. HIV. Berikutnya dilakukan pemeriksaa lebih awal Semua efek sampingnya juga disampikan terlebih mulai dari rontgen, tes darah, fungsi ginjal juga dahulu, juga tentang obat untuk menghilangkanfungsi hati. Berdasar hasil tes itulah dokter akan nya. “Bahkan dr. Satriani mengedukasi dengan memberitahukan jenis terapinya. mengatakan inilah pasangan hidupmu yang noPenderita HIV , bisa saja diberikan dua atau mor satu, lebih dari istri maupun pacarmu. Inilah lebih jenis ARV untuk mencegah terjadinya renafasmu maka jika kemana-mana harus dibawa sistensi terhadap virus ini. Kombinasi obat ARV tanpa ini kondisimu bisa tambah drop,” katanya yang diberikan berbeda-beda pada tiap-tiap mengutip ucapan seniornya itu. orang. Terapi pengobatan ini bersifat pribadi “Kami juga bekerjasama dengan pendampatau khusus sesuai hasil pemeriksaan. ingnya, sebab setiap pasien ada Pengobatan dilakukan setelah virus mulai pendampingnya. Bentuk terapi lainnya yang melemahkan sistem kekebalan tubuh manusia. diluar obat adalah bersedia ngobrol sambil mendIni bisa ditentukan dengan mengukur tingkat engarkan keluhan mereka, yang bukan hanya soal sel CD4 dalam darah. Sel CD4 adalah sel yang fisik tapi juga psikisnya ,“ ujarnya. – Sri Ardhini


22

Sosialita

Edisi 877/ 30 November - 6 Desember 2015

Takut Minta Suami Pakai Kondom

Meski tinggal di Jakarta, pengetahuan remaja-remaja Jakarta tentang HIV/AIDS boleh dibilang masih minim. Kegiatan sosialisasi memang gencar dilakukan, namun agaknya para remaja ini masih mengganggap hal itu tidaklah penting. Mereka tidak tertarik untuk mengikuti. Data Dinas Kesehatan DKI Jakarta menyebutkan, hanya sekitar 22 persen remaja/pemuda yang paham tentang bahaya HIV/AIDS.

K

ondisi yang memprihatinkan ini tentunya tak dapat dibiarkan karena jumlah remaja/ generasi muda yang terpapar HIV/AIDS terus meningkat. Penyuluhan harus semakin diintensifkan, di antaranya melalui sekolah-sekolah.Di sisi lain, banyak remaja/generasi muda terkesan tidak peduli pada informasi yang diberikan. Ini juga terjadi pada masyarakat secara umum. “Jakarta memang lebih maju dibanding daerah lain, teknologi informasi dan komunikasi berkembang pesat di sini. Namun, kondisi ini tidak serta-merta membuat remaja juga generasi muda, juga masyarakatnya secara umum paham akan informasi HIV/AIDS,” ungkap seorang aktivis HIV/AIDS. Ketidakpahaman ini juga yang membuat penularan HIV/AIDS di kalangan generasi muda lewat jarum suntik maupun seks bebas, terus meningkat. Hal senada juga disampaikan Baby Jim Aditya, aktivis HIV/AIDS. Menurutnya, untuk pencegahan seharusnya pengetahuan tentang HIV/AIDS harus diberikan sejak kecil dengan bahasa yang sederhana-sehingga mereka

Generasi muda ikut kampanye hiv/aids

Baby Jim Aditya

menjadi benar-benar mengerti tentang bagaimana menjaga keselamatan dirinya juga orang lain. “Di situlah letak kesenjangan informasi. Karena banyak informasi yang diperoleh anak kecil/remaja tetapi terlalu sedikit informasi yang benar yang diperoleh. Saya turun ke SMP-SMP karena adanya kasus video mesum. Dari

Baby sedang penyuluhan di penjara

kegiatan ini banyak temuan yang saya peroleh. Ternyata sejak SMP mereka mendapat pengetahuan tentang seksualitas dengan cara yang salah. Akhirnya mereka berprilaku yang salah ketika remaja dan dewasa,” papar Baby yang juga peneliti masalah prilaku seksual. Prilaku yang salah tentang seksual ini menjadi penyebab semakin meningkatnya jumlah penderita HIV/AIDS. Data Kemenkes menyebutkan, heteroseksual berada di urutan pertama penyebaran HIV/AIDS, sementara penggunaan jarum suntik narkoba berada di urutan ketiga setelah kelompok lain-lain. “Remaja dengan mudah mendapat informasi tentang pornografi lewat internet, dll. Sebagian lagi punya informasi tapi tidak tahu kemana harus mengonfrmasi informasi yang didapatnya. Di sisi lain, orangtua masih belum bisa berkomunikasi dengan nyaman tentang seksualitas. Bahkan tak jarang orangtua menjadi pihak yang paling terakhir tahu bahwa anaknya bermasalah. Ini menurut saya ada inkonsistensi cara berpikir dan bersikap,” tegasnya. Orangtua, tambahnya, harusnya sangat berperan dalam memperkenalkan masalah itu pada anak-anaknya, dan menjadi teman diskusi mereka. Orangtua juga harusnya mengawasi anakanaknya dalam menggunakan internet,

karena berbagai situs porno begitu mudah diakses melalui internet. “Belajar tentang seksualitas dan alat reproduksi yang paling baik adalah dengan melibatkan orangtua. Untuk itu para orangtua harus membuka diri, ‘melek’ informasi tentang perkembangan zaman yang berpotensi mempengaruhi tingkat pola anaknya,” paparnya. FENOMENA GUNUNG ES Data Kementerian Kesehatan 2014, Jakarta menjadi provinsi tertinggi jumlah penderita HIV/AIDS, dengan rincian HIV 37.302 dan HIV 8019. Jumlah penderita HIV ini meningkat cukup tajam dibanding 2014 lalu yang berjumlah 32.782. Secara umum, kata Baby, mereka yang berada pada usia produktif paling tinggi persentasenya. Data Kemenkes tahun 2014, mereka yang berusia 20-29 tahun paling banyak terpapar HIV (32%), usia 30-39 tahun (28,5%) dan usia 40-49 tahun (10,7). Yang memprihatinkan, dari data keseluruhan jumlah remaja yang terpapar HIV/AIDS bertambah. Bahkan pada tahun 2014 lalu, mereka yang berusia 15-19 tahun sudah mencapai 3,1%. Bukan itu saja, kata mantan penyiar Radio Prambors Jakarta ini, jumlah ibu rumah tangga yang terpapar HIV/AIDS pun meningkat cukup tajam. “Mereka ini bukan PSK tapi sung-

guh-sungguh ibu rumah tangga yang tertular HIV/AIDS dari suaminya yang doyan ‘jajan’. Ibu-ibu ini tidak bisa melindungi dirinya karena ‘posisi tawarnya’ terhadap suami sangat rendah. Mereka takut meminta suami memakai kondom saat berhubungan seks,” papar wanita yang sedang mengambil program doktor di UI ini. Ia menambahkan, berdasarkan data Kemenkes jumlah para ibu rumah tangga yang tertular HIV/ AIDS sudah mencapai 5.000 orang lebih dan ini kemungkinan masih akan terus bertambah. “Jumlahnya bisa jadi lebih banyak dari data ini”. Kasus HIV/AIDS di Indonesia, tambahnya, seperti fenomena gunung es. Jumlah penderita yang tercatat hanya sedikit namun yang tertular pasti jauh lebih banyak. Hal senada juga disampaikan Pengelola Program Monitoring dan Evaluasi Komisi Penanggulangan AIDS. “Hanya sedikit yang terdata. Mereka yang tidak terdata ini, sebagian masih menularkan penyakitnya itu kepada orang lain,” katanya. Stigma masyarat terhadap penderita HIV/AIDS, masih belum banyak berubah. Itu juga sebabnya, tidak banyak penderita HIV/AIDS yang berani melaporkan kasusnya. “Mereka malu, takut, untuk melaporkan kasusnya karena stigma yang masih kuat ,” tambah Baby. –Diana Runtu

Edisi 877/ 30 November - 6 Desember 2015

3

Spirit Perempuan Iringi Langkah Pasti BPR Bali Dananiaga Perempuan tak selalu jadi pelengkap. Kini, sudah banyak perempuan yang diberi kepercayaan untuk memimpin. Salah satunya, sebagai pimpinan bank. BPR Bali Dananiaga mempercayakan kepada tiga perempuan tangguh untuk menahkodai bank yang sudah berdiri sejak tahun 1992. Seperti apa kiat mereka dalam memajukan BPR Bali Dananiaga?

P

T.BPR Bali Dananiaga (BDN) adalah perusahaan yang bergerak dibidang per­ bankan dengan Akta Pen­ dirian Nomor: 78 Tanggal 8 Desember 1992 di Notaris I Putu Chandra,S.H. Denpasar. PT.Bank Perkreditan Rakyat “BALI DANANIAGA” yang sebelumnya bernama “Kertiawan Dananiaga” awalnya berkantor pusat di Ubud. Tahun 2000 kantor pusat dipindahkan ke Denpasar tepatnya di Jalan Teuku Umar Nomor 8 kawasan niaga B 11 Denpasar. Ijin disahkan melalui Pengesahan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam Surat Keputusannya tertanggal 21 Desember 1992 No.C2 - 10378 HT.01.01.TH.92. dan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No.KEP-043/ KM.17/1993 Tanggal 6 Maret 1993. Pemegang saham Bank BDN yang juga pebisnis poltry shop (Bali Sari Group) yang terdiri dari I Ketut Deger Setiasa, I Wayan Catra Sanjaya, I Made Asa, I Made Jedeg Sariana, I Made Rai Oka Rimbawa,SE.MM. Jajaran Dewan Komisaris terdiri dari ­I Nyoman Sutrisno, SE.MM. sebagai komisaris dan I Made Rai Oka Rimbawa, SE.MM. sebagai komisaris utama. Saat ini Bank BDN mempunyai 3 kantor operasional yaitu Kantor Pusat yang dipimpin 2 orang Direksi yaitu I Made Arta, SE.MM. (Direktur Utama) dan Desak Wayan Satya Pusparini, S.E. (Direktur) yang beralamat Kantor Pusat yaitu di Jalan Teuku Umar Nomor 8 Kawasan Niaga B 11 Denpasar, Telp. 0361 240167, 240367, fax, 0361 229805 Email : dananiaga_bank@yahoo.com Facebook: PT BPR Bali Dananiaga, Website www. bprbalidananiaga.co.id. Kantor Cabang Ubud dipimpin I Gusti Ayu Mirah Kumala Dewi, SE.MM., beralamat di Jalan Agung Mandera Br.Teges Kangin Peliatan Ubud, Gianyar telepon: 0361 973044, 972561, 972560. Kantor ini merupakan kantor pertama tempat berdirinya Bank BDN. Kantor Cabang Jimbaran dipimpin oleh Ani Suryaningsih, SE. beralamat kantor di Jalan By Pas Ngurah Rai No 98 B Jimbaran Kuta Badung telepon: 0361 4725520, 7849292. Desak Wayan Satya Pusparini, S.E. adalah eksekutif perbankan yang sudah berpengalaman selama 22 tahun, bisa dikatakan sebagai salah satu nahkoda yang mengikuti perkembangan Bank BDN. I Gusti Ayu Mirah Kumala Dewi, SE.MM. mempunyai latar belakang berkarier di bidang perbankan selama lebihkurang 15 tahun sehingga sangat memahami kebutuhan transaksional nasabah dan cara memenangkan persaingan dan Ani Suryaningsih, SE., selaku pimpinan cabang Jimbaran yang juga telah berpengalaman di bidang perbankan selama lebih kurang 15 tahun. Menurut Desak Wayan Satya Pusparini, BPR Bali Dananiaga yang lebih

dikenal dengan Bank BDN mempunyai Visi Menjadi Bank Perkreditan Rakyat yang tumbuh sehat dan berkembang secara wajar. “Kami juga mempunya Misi meningkatkan kompetensi SDM di bidang keuangan Perbankan melalui pendidikan dan pelatihan, memberikan layanan prima dan solusi yang bernilai tambah kepada seluruh nasabah, dan selaku mitra pillihan utama (the bank choice),” ujarnya. Selain itu, misi lainnya, meningkatkan nilai investasi yang unggul kepada para pemegang saham, dan menciptakan kondisi rasa aman dan nyaman kepada para karyawan sebagai tempat kebanggaan untuk berkarya dan berprestasi. Meningkatkan kepedulian dan tanggung jawab terhadap lingkungan social dan menjadi acuan pelaksanaan kepatuhan dan tata kelola perusahaan yang baik. Bank BDN berkomitmen untuk terus meningkatkan kinerjanya. Hal ini ditunjukkan dengan pertumbuhan Aset selama 5 tahun terakhir menjadi sebesar 114,4 milyar, Pertumbuhan funding sebesar kurang lebih Rp. 68,7 milyar dan pertumbuhan kredit menjadi sebesar Rp. 91,3 milyar. Desak Wayan Satya Pusparini mengatakan, dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada nasabah, mereka juga berkomitmen meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia melalui pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan skill masing-masing bagian sehingga diharapkan bisa melampaui harap­ an dari nasabah. “Kami sangat memahami bahwa kepuasan nasabah adalah hal utama untuk kelangsungan hubungan dengan nasabah umumnya dan kelangsungan bisnis perbankan pada umumnya. Kami menawarkan kemudahan-kemudahan dalam proses pembiayaan kebutuhan nasabah baik untuk konsumtif, modal kerja maupun investasi melalui kredit yang tepat guna dengan suku bunga yang bersaing dan proses yang cepat tanpa melupakan prinsip kehati-hatian,” ucapnya. Agus Indra Resmawan, ST. (Kepala Bagian Kredit) menambahkan, Bank BDN diharapkan berperan aktif dalam mengembangkan portofolio kredit dan menekan ratio non performing loan dibawah ketentuan yang berlaku khususnya dalam skala mikro dan menengah sehingga kehadiran Bank BDN banyak memberikan manfaat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pada umumnya dan menunjang bisnis pada khususnya. “Sesuai dengan budaya masyarakat Ubud yang membutuhkan layanan yang mudah, kami memberikan layanan jemput setoran untuk membuat nyaman nasabah sehingga kami bisa tetap bertahan dalam persaingan yang ketat dan menjadi Bank yang dibutuhkan di tengah-tengah masyarakat,” tutur I Gusti Ayu Mirah Kumala Dewi, SE.MM. selaku pimpinan cabang Ubud. Dalam rangka memperluas jaringan bisnis Bank BDN mempercepat gerakan dengan menggandeng sejumlah rekanan

Dewan komisaris

bisnis melalui event-event sponsorship. “Kami mendukung kegiatan acara HUT Tabloid tokoh yang ke-17 tahun. Kami menjadi sponsor acara dan memberikan hadiah berupa “tabungan SINAGA” kepada pemenang lomba. Acara ini sangat bagus untuk lebih mendekatkan Bank BDN kepada masyarakat pada umumnya dan kepada nasabah pada khususnya. Kami berharap bisa menjadi partner yang bisa bekerja sama secara simbiosis mutualisme, win win solution,” kata Ani Suryaningsih, SE., selaku pimpinan cabang Jimbaran. Bank BDN juga akan mengenalkan produk baru berkonsep Arisan yaitu “Si Tenar”. Menurut Ani Suryaningsih, arisan ini sangat menguntungkan nasabah karena ketika menang sudah tidak perlu bayar lagi. Hal ini mengakomodir kebutuhan nasabah yang sudah terbiasa mengikuti arisan di masyarakat. “Adapun model arisan yang kami tawarkan sudah pasti aman karena kami dijamin oleh Lembaga Penjaminan Simpanan dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan. Peserta arisan tidak perlu khawatir kehilangan dana yang sudah disetorkan dalam bentuk tabungan karena meskipun belum menang setelah priode berakhir yaitu pada bulan ke-30 peserta akan mendapatkan dana arisan dan cashback-nya,” jelasnya. Selain itu juga, mendapatkan kesempatan untuk meraih doorprize yang sangat menggiurkan. “Arisan ini kami lakukan secara transparan karena disaksikan oleh perwakilan peserta dan diumumkan melalui SMS Broadcast se­ hingga memudahkan peserta mendapatkan informasi yang diperlukan tentang kegiatan arisan ini,” imbuhnya. Deposito di Bank BDN juga bisa memberikan hadiah langsung untuk program deposito sehingga nasabah tidak perlu lagi nunggu berbulan-bulan jika ingin menikmati hadiahnya. Bunga yang diberikan sangat kompetitif dan tetap dijamin keamanannya. Bank BDN juga sedang gencar-gencar­ nya memberikan service kepada nasabah melalui program BDN VIP Club Card. Yaitu kartu member yang diberikan kepada nasabah VIP yang bisa digunakan untuk mendapatkan previllage di merchantmerchant kerja sama misalnya di SAMANI RESTO yang beralamat di Jalan Trenggana Nomor 37 Penatih Denpasar, PANDAN SARI CAFE di Four Season Jimbaran, begitu juga kerjasama dengan Butik “Suwarni Collection” yang beralamat di Jalan A. Yani Utara No 209 Denpasar yang juga memberikan pelayanan dan memanjakan kaum hawa khususnya di dunia life style kebaya dengan pengerjaan yang profesional dan konsep One Day Service (satu hari langsung jadi). “Samani Resto dan Butik Suwarni Collection adalah rekanan yang menandatangani MOU pertama untuk kerja sama ini. Samani resto dan Butik Suwarni Collection memberikan diskon khusus bagi pemegang BDN VIP Club Card. Dengan memiliki BDN VIP Club Card akan dimanjakan dengan suasana yang nyaman sudah tidak perlu diragukan lagi. Jadi segera datang dan nikmati keistimewaannya,” ujarnya. Ani Suryaningsih mengatakan, menggandeng beberapa perusahaan yang me-

Dari kiri: Desak Wayan Satya Pusparini, I Gusti Ayu Mirah Kumala Dewi, Ani Suryaningsih, dan I Made Arta

menuhi kategori dalam program BDN VIP Club Card yang diawali Samsul Azhari melalui Samani Resto, dan Putu Suwarni selaku owner untuk menjadi rekanan ­merchant mereka dengan program Dana Samani yang memberikan keistimewaan atau previllage kepada VIP Customer Bank BDN. “Terima kasih atas kepercayaannya untuk menjadi partner bisnis Bank BDN. Dan semoga kedepan kerja sama ini bisa memberikan manfaat lebih kepada masingmasing perusahaan mengingat posisi kantor kami terletak di wilayah-wilayah yang sa­ ngat strategis apalagi wilayah Jimbaran adalah pusat berbagai macam bisnis sehingga memudahkan kami memberikan service kepada nasabah.”, kata Ani Suryaningsih. Melalui kerja sama ini pihak Samani Resto yang diwakili Samsul Azhari dan Bank BDN bersama-sama memperluas ­jaringan melalui event-event untuk melakukan joint marketing sehingga diharapkan bisa mempercepat pertumbuhan bisnisnya. “Kami berharap kerja sama ini juga diikuti oleh perusahaan-perusahaan lain yang memenuhi kriteria merchant BDN VIP Club Card. Kami juga bekerja sama dengan merchant-merchant yang termasuk dalam kategori Food & Beverage, Acomodation, Life Style, Health, Vacation,” tambahnya. Untuk kategori Food & Beverage, mereka akan bekerja sama dengan sejumlah resto yang akan memanjakan lidah nasabah VIP melalui wisata kulinernya. Yang termasuk kategori acomodation adalah merchant yang bergerak dibidang usaha hotel dan transportasi. Adapun yang termasuk kategori life style adalah yang bergerak dibidang beauty, clothing, dan lainnya. Sedangkan health adalah merchant yang bergerak dibidang kesehatan seperti klinik kesehatan atau lainnya. Serta vacation yang bergerak dibidang tempat wisata untuk refreshing nasabah. Bank BDN juga membantu mengelola dana nasabah melalui Tabungan Nagata yaitu tabungan berjangka yang cocok untuk nasabah yang mempunyai rencana kebutuhan dana di masa depan sehingga tidak perlu risau lagi tentang kesiapan dananya. Tabungan berjangka ini juga kami lengkapi dengan memberikan hadiah langsung melalui produk Tabungan Nagata Plus dengan berbagai pilihan hadiah sesuai kebutuhan nasabah. “Wujudkan impian anda melalui dana yang terencana dan percayakan ke-

Jajaran pemegang saham

pada kami,” ujar IGA Ayu Ngurah Astuti selaku Kepala Bagian Funding. Desak Wayan Satya Pusparini mengatakan, kedepan masyarakat harus dibiasakan menyimpan uangnya di BPR. BPR harus mampu mengakomodir apa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Dengan adanya produk-produk tabungan atau simpanan yang menarik yang dapat memenuhi keinginan/kebutuhan mereka /life style mereka maka itu akan menjadikan menabung atau menyimpan uang di bank bisa menjadi hal yang menyenangkan untuk masyarakat. “Bank BDN punya keinginan untuk menjadi one stop banking (menjadi bank yang mampu memenuhi segala kebutuhan financial baik yang membutuhkan tambahan dana maupun pengelolaan dana),” ucapnya. I Made Arta, SE.MM., selaku Direktur Utama mengatakan, meskipun situsi ekonomi sedang bergejolak Bank BDN bisa tetap eksis di dunia perbankan dengan mengutamakan prinsip kehati-hatian dan service kepada nasabah disesuaikan dengan tuntutan zaman. “Kami berkomitmen meningkatkan kualitas SDM dan IT untuk memenuhi kebutuhan layanan jasa perbankan sehingga memenuhi kepuasan nasabah. Pada saat perlambatan ekonomi baik secara global maupun regional kami melakukan penataan internal guna melengkapi infrastruktur yang lebih baik sehingga bisa bertahan dalam persaingan dalam kondisi apapun. Selama kepemimpinannya, Bank BDN telah menyabet beberapa penghargaan baik dari Infobank Award dengan kategori Sangat Bagus yang secara berturut-turut, begitu juga penghargaan dari Bali Costumer Statisfaction Award kategori pelayanan prima dan penghargaan The Best Service Exellent serta penghargaan lainnya baik industri maupun secara personal. “Untuk itu semangat dan bukti yang riil yang harus di tunjukkan melalui belajar dan belajar. Jangan sampai dengan telah mendapatkan reward kita terlena karena masih banyak pesaing-pesaing yang tidak menutup kemungkinan akan bisa memberikan pelayanan lebih baik dari kita”, imbuh I Made Arta,SE.MM Semua ini juga tidak terlepas dari dukungan I Nyoman Sutrisno,SE.MM. selaku komisaris anggota yang juga mengimbau jangan henti-hentinya untuk belajar, ikuti budaya kerja dan system yang baik, jujur serta selalu berkomitmen untuk menjadikan BDN yang lebih solid dan berintegritas dikalangan masyarakat. I Made Rai Oka Rimbawa, SE.MM. yang lebih dikenal dengan Bapak Rai selaku Komisaris Utama menilai, situasi dan kondisi ekonomi berubah begitu cepat dan selalu dinamis. Kami mengharapkan manajemen BPR Bali Dananiaga selalu bisa mening­ katkan diri dalam memberikan pelayanan yang maksimal kepada nasabah dengan cara meningkatkan kualitas SDM yang ada. Selalu bisa memahami kondisi di masyarakat sehingga pelayanan BPR Bali Dananiaga selalu bisa menjadi andalan bagi masyarakat. “Kecepatan, ketepatan, dan kenyamanan adalah hal yang mutlak yang harus dimiliki oleh bank dalam memberikan pelayanan yang maksimal bagi masyarakat,” tegas Made Rai Oka Rimbawa, SE.MM.-brt


4

Inspirasi

Edisi 877/ 30 November - 6 Desember 2015

N i Wa y a n E k a w a t i

Suka-duka Bidan Desa Dipanggil Malam-malam “Hidup kita akan sangat berarti, apabila kita hidup memiliki arti bagi kehidupan orang lain”. Demikain filosofi yang tertanam dalam bawah sadar sejak masih belia dari seorang ibu yang bernama Ni Wayan Ekawati, S.S.T yang akhirnya membawa dirinya menggapai berbagai prestasi dan teladan bagi kaumnya. Dia adalah sosok bidan berstatus PNS sejak 25 tahun lalu tepatnya tahun 1990 lalu. Meski Bu Eka, dermikian ia kerap disapa, bertugas di wilayah pedesaan berhawa dingin serambi depan Pura Besakih tepatnya di Pukesmas Rendang, Kabupaten Karangasem, namum motivasi hidupnya tak sedingin wilayahnya. ­Justru sebaliknya terus hangat memacu dan memicu diri meraih mimpi bagi kehidupan orang lain seperti filosofi hidupnya.

T

inggal bersama keluarga di Banjar Batusesa tidak jauh dari tempat tugasnya. Bidan Eka telah menyandang berbagai status wanita berprestasi, berprestise, aspiratif dan inspiratif. Puncak paling bergengsi baginya, menjadi juara II Bidan Teladan se-Bali tahun 2008 lalu, yang sebelumnya pernah menggondol Juara I Bidan Teladan dan Bidan Delima se-Kabupaten Karangasaem. Selain berprestsi bidang kesehatan, perempuan kelahiran Desa Keramas, Gianyar, 11 Nopember 1968, pernah meraih predikat utama tokoh perempuan Karangasem tahun 2011 lalu, dan masuk dalam kategori 1 penjaringan tokoh perempuan Bali. Soal busana bagi Bidan Eka menjadi bagian kesenangannya, sehingga hobinya berbuah manis pernah mendapatkan juara I busana adat Bali se-Kabupaten Karangasem. Bidan Eka aktif diberbagai organisasi sosial kemasyarakatan termasuk ikut kelompok-kelompok kesenian yang menjadi hobinya sejak masih kanak-kanak. Hal itu dilakukannya untuk memperluas jaringan kemitraan berprofesi sebagai pelayanan masyarakat dibidang kesehatan, terrmasuk para dukun bersalin yang ada di wilayah kerjanya diajak bermitra. Karena dianggap senior dan memiliki prestasi oleh teman-teman sejawatnya, kini Eka dipercaya sebagai Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Cabang Kabupaten Karangasem. Semua resep keberhasilannya itu adalah dari sebuah ketulusan membantu orang lain yang membutuhkan untuk mempertahankan hidupnya. Terutama dorongan maksimal dari sang suami I Made Sumerta juga berprofesi sebagai perawat kesehatan di tempat yang sama Puskesmas Rendang. Tolong 6000 Bayi Baru Lahir Hidup di suasana pedesaan yang kesedaran kesehatan masyarakat belum optimal, berbagai cara inovatif telah dilakukan Bidan Eka untuk mendorong kepedulian masyarakat khususnya kesehatan ibu-ibu. Dibidang wirausaha, Bidan Eka mendorong wanita-wanita desa membentuk simpan-pinjam, kelompok ternak babi sekaligus memberikan bantuan berupa bibit dan pakannya. Dibidang organisasi informasi, Bidan Eka ditunjuk menjadi Sekretaris Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) “Mandala Kerta”

Ni Wayan Ekawati

Desa Menanga. Bidan Eka, melalui kegiatan organisasi itu dapat mensosialisasikan tentang kesehatan kepada masyarakat. Bidang kesehatan banyak kegiatan telah dilakoninya khususnya bagi kaum wanita dan anak, diantaranya mendukung program dalam pencapaian MDGs, dalam bal menurunkan AKI dan AKB, meningkatkan penggunaan alat kontrasepsi IUD, dengan memberikan pelayanan KB pasca plasenta, membantu ibu-ibu untuk melakukan deteksi kanker servik dan payudara dengan menyedia-

kan pelayanan IVA secara gratis, pelayanan perawatan vagina dan papsmear. membentuk kelas ibu hamil dalam meningkatkan pengetahuan ibu-ibu tentang kehamilan untuk mendapatkan ibu dan bayi yang sehat, memberikan penyuluhan kesehatan pada ibu-ibu PKK dan Posyandu, membina/melaksanakan Posyandu Balita/Lansia, BKB dan PAUD. Sebagai pengabdi bidan desa sudah 25 tahun sejak 1990 lalu, tercatat sudah sekitar enam ribu bayi terlahir dari bantuannya. Berbagai pengalaman suka-duka pernah dirasakan Bidan Eka. Katanya tidak jarang dirinya dipanggil pasien pada malam hari saat udara dingin menyelimuti Banjar Batusesa. Dia harus bangkit dari tidur nyenyak menemui pasien. Saat itu, menurut pengakuannya, dirinya seperti itu terkadang juga ada rasa enggan untuk bangkit dan melepas selimut dari tempat tidurnya. Namun penuturannya mengenang masa lalu, “Ada manajemen pikiran yang selalu membuat saya bergegas dan saya jadikan motivator untuk selalu semangat, bahwa profesi saya itu adalah pilihan saya pribadi oleh karena itu saya harus bertanggungajwab dan berkomitmen untuk selalu siap kapan dan dimanapun saya dibutuhkan”. Ia berpikir, apa yang mereka lakukan semua adalah sebuah yadnya. Orang lain begitu sulit mencari kesempatan untuk bisa berbuat,

Janger Ikatan Bidan Indonesia Karangasem

tidak mengenakan momennya tetapi harus saya lakukan. Dan saya berusaha menempatkan diri sebagai orang yang membutuhkan pertolongan. Keterbatasan ekonomi masyarakat desa, tak pelak warga membayar hanya dengan hasil kebun miliknya. Bahkan menurut penuturan Bidan Eka, pernah mendapat panggilan membantu pasien perdarahan ibu hamil. Dirinya diantar sang suami menemui pasien, sampai di rumah pasien, suami pasien ditemukan pingsan melihat istrinya perdarahan. Bidan Eka bagi tugas dengan suaminya, dirinya menangani Bidan Eka saat menerima penghargaan Tokoh Perempuan pasien perdarahan, Bali dari Gubernur Bali, Made Mangku Pastika sedangkan suaminya tetapi kenapa saya sia-siakan kes- menangani suami pasien yang empatan ini yang datang tanpa saya pingsan. “Akhirnya semuanya semencarinya. Tuhan menghadirkan lamat,” kenang Bidan Eka tertawa orang yang memanggil saya walau- mengenang pengalaman masa pun dalam kondisi yang sungguh lalunya. - Pasek Antara

Mandalika

Edisi 877/ 30 November - 6 Desember 2015

21

Hapus Kekerasan Berbasis Gender

“Tugas kita adalah memberikan pemahaman kepada saudara-saudara dan anak-anak kita, memberikan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnya membangun kesetaraan dan keharmonisan serta mencegah terjadinya kekerasan terhadap perempuan.”

D

emikian kalimat yang disampaikan Ketua Badan Kerjasama Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Nusa Tenggara Barat, Hj. Syamsiah Muh. Amin saat melakukan sosialisasi tentang Pendewasaan Usia Perkawinan

(PUP), seminar kepemimpinan wanita dan sosialisasi penghapusan pelibatan laki-laki dalam kekerasan berbasis gender di pendopo timur kediaman resmi Gubernur Nusa Tenggara Barat, beberapa waktu lalu. Menurutnya, sosialisasi dan pemberian pemahaman seperti ini harus

Ketua BKOW NTB melibatkan masyarakat untuk mencegah terjadinya kekerasan terhadap perempuan

dilakukan mulai dari lingkungan yang terkecil dalam masyarakat yaitu keluarga, karena inilah lingkungan yang paling dekat dan merupakan sendi negara yang paling penting. Kesetaraan, keadilan dan keharmonisan hubungan antara lakilaki dan perempuan harus diperjuangkan bersama lewat upaya bersama penghapusan kekerasan berbasis gender serta meningkatkan keterbukaan dan saling memahami di antara sesama. Selain itu juga harus mampu mencegah terjadinya pernikahan usia dini yang rawan menjerumuskan, baik bagi laki-laki maupun perempuan

dalam lingkaran kekerasan (circle of violence) akibat kurangnya kedewasaan dalam berumah tangga. “Upaya ini pun harus disosialisasikan dan ditularkan kepada semua orang yang ada di sekitar kita,” katanya dalam kegiatan untuk meningkatkan pemahaman

dan pengetahuan anggota BKOW sebagai modal untuk berjuang memerangi ketidakadilan gender ini. Untuk membebaskan perempuan NTB dari tindak kekerasan dan pernikahan usia dini, Ketua BKOW NTB ini meminta kepada seluruh organisasi wanita yang tergabung dalam BKOW untuk menyatukan langkah dan pandangan dalam memperjuangkan cita-cita tersebut dengan cara dan strategi masing-masing, termasuk juga dengan melibatkan masyarakat dan para tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh lainnya. “Saya memberi kebebasan kepada organisasi-organisasi wanita dalam menjalankan pola dan bentuk komunikasi yang dianggap paling sesuai untuk mensosialisasikan hal tersebut,” katanya. -Naniek I. Taufan

NTB Tuan Rumah PW Nasional VIII 2015

Bidan Eka menyempatkan menemui warga masyarakat mensosialisasikan arti kesehatan keluarga

Bidan Eka (kanan) mengikuti lomba busana adat Bali

Nusa Tenggara Barat menjadi tuan rumah Perkemahan Wirakarya (PW) Nasional VIII 2015 yang berlangsung, 23-30 November 2015. NTB terpilih sebagai tuan rumah perkemahan wikarya ini berdasarkan Munas Kwartir Nasional Gerakan Pramuka tahun 2013 di Kupang lalu. “NTB menjadi daerah yang pantas bagi Pramuka untuk membuktikan diri siap berbakti, berkarya dan menginspirasi untuk negeri,” ujar Wakil Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Bidang Bina Muda dan penanggung jawab kegiatan, Editha Rahaded. Kegiatan yang digelar di Gunungjae Lombok Barat, NTB ini dihadiri oleh sekitar 2500 pramuka yang berasal dari seluruh Indonesia. Dan selama kegiatan berlangsung para peserta tinggal di rumah masyarakat dan melaksanakan kegiatan bakti fisik serta non-fisik seperti pembangunan taman pendidikan Al Qur’an, renovasi rumah tidak layak huni dan penyuluhan ke masyarakat. Peserta PW Nasional VIII ini diterjunkan di lima sub-camp yaitu desa Karang Sidemen Kabupaten Lombok Tengah, Desa Wajegeseng Kabupaten Lombok Tengah, desa Kotaraja Kabupaten Lombok Timur, Desa Sedau Kabupaten Lombok Barat dan Gili Trawangan Kabupaten Lombok Utara. PW Nasional VIII tahun 2015 adalah bentuk inovasi Kwartir Nasional Gerakan Pramuka untuk mewujudkan kegiatan yang bersifat pengabdian dan bakti

kepada masyarakat yang dikemas dalam bentuk perkemahan. Gerakan Pramuka juga diharapkan menjadi garda terdepan dalam pembentukan karakter generasi muda. Revitalisasi Pramuka tahun 2006, Pengesahan UU tahun 2010, tentang Gerakan Pramuka dan masuknya Pramuka dalam kurikulum 2013 sebagai ektrakulikuler wajib yang dilaksanakan mulai Bulan Juli tahun 2014 telah menunjukkan arah kebijakan yang benar dalam mendukung majunya Gerakan Pramuka. “Kita sebagai bangsa harus memberikan ruang yang seluasluasnya pada Gerakan Pramuka untuk terus berkembang dan menjadi suri tauladan bagi kaum muda lain,” kata Dr. TGH. M. Zainul Majdi, Ketua Majelis Pembimbing Daerah Gerakan Pramuka NTB. Menurutnya, Gerakan Pramuka mampu menumbuhkan generasi yang kuat, tangguh serta memiliki disiplin yang tinggi

untuk memikul tanggung jawab membangun Bangsa Indonesia. “Pramuka yang dulu sempat ditinggalkan kini kembali digemari oleh anak-anak muda Indonesia,” kata Majdi yang juga Gubernur NTB. Hal yang sama disampaikan oleh Adhyaksa Dault Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka. Bahwa Gerakan Pramuka diharapkan menjadi satu jawaban nyata terhadap persoalan bangsa. “Gerakan Pramuka terus menunjukkan komitmen yang kuat dalam mewujudkan cita-cita Tri Satya dan Dasa Darma untuk ikut membangun masyarakat dan bangsa,” ujar Adhyaksa. Bangsa Indonesia terus melakukan perbaikan dan pembangunan di semua bidang dan proses ini memerlukan perhatian semua pihak. Gerakan Pramuka, menurut Adhyaksa, berusaha memberikan kontribusi dalam porsi tersendiri demi membangun masyarakat Indonesia. -Naniek I. Taufan

Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka, Adyaksa Dault saat pembukaan Perkemahan Wirakarya ke VIII tahun 2015 di Gunungjae Lombok Barat, NTB

Gubernur NTB, DR. TGH. M. Zainul Majdi bersama para guru berprestasi tingkat Provinsi NTB

NTB Kirim 24 Guru Berprestasi Hari Guru Nasional yang jatuh pada tanggal 25 November 2015 diperingati dengan penuh makna termasuk di Nusa Tenggara Barat. Kegiatan-kegiatan untuk mengapresiasi jasa pahlawan tanpa jasa ini banyak dilakukan di sekolah-sekolah sebagai bentuk penghormatan pada profesi pendidik ini. Demi meningkatkan mutu pendidikan di Nusa Tenggara Barat, peningkatan kualitas guru menjadi salah satu upaya serius yang terus dilakukan daerah ini. Salah satunya dengan mengirim para pendidik yang terdiri untuk mengikuti pemilihan guru, kepala sekolah dan pengawas sekolah berprestasi ke tingkat nasional. Sebanyak 24 orang guru mulai dari jenjang SD, SMP, dan SMA/ SMK yang telah mengikuti pemilihan guru berprestasi dan berdedikasi tingkat Provinsi NTB untuk kemudian mengikuti seleksi tingkat nasional di Jakarta. “24 orang guru tingkat SD, SMP dan SMA/SMK mengikuti pemilihan guru berprestasi di Jakarta pada bulan November ini,” ujar Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Provinsi NTB, Dr. Ir. H. Rosiady Sayuti, M.Sc. Atas prestasi para guru ini di tingkat Provinsi NTB, Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi, menyampaikan apresiasi yang tinggi atas prestasi yang telah diraih oleh para pendidik dan selalu mendukung untuk terus meningkatkan kemampuan agar menjadi pendidik yang lebih baik. “Saya merasa bersyukur bilamana Bapak dan Ibu guru semua adalah para pendidik yang berkualitas, bertanggung jawab, berkomitmen, mempunyai keikhlasan dan semangat pengabdian yang tinggi, di mana pun Bapak dan Ibu bertugas,” ujarnya. Dari prestasi yang telah diperoleh di daerah ini harapannya agar bisa diterapkan dan ditularkan di tempat bertugas demi meningkatkan mutu pendidikan untuk menciptakan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang lebih baik dalam meraih kemajuan NTB ke depannya. “Semua kerja keras kita untuk NTB ini terfokus pada membangun manusianya. Karena sehebat-hebatnya, sebaik-baiknya semua infrastruktur, tidak akan memiliki fungsi yang optimal kecuali dikelola oleh SDM yang berkualitas,” kata Majdi saat melepas para guru ini untuk mengikuti pemilihan guru berprestasi tingkat nasional, beberapa waktu lalu. Dan seorang guru Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Kota Mataram, atas nama Lutfia Ida Fariani sukses meraih juara II tingkat Nasional pada pemilihan guru berprestasi ini. -Naniek I. Taufan


20

Nine

Edisi 877/ 30 November - 6 Desember 2015

Tradisi Masyarakat Desa Sembalun

Tak Perlu Keluar Uang untuk Kebutuhan Dapur

Hari masih pagi, matahari belum lagi tampak dari balik bukit yang berada di sekitar perkampungan nan asri ini. Di Desa Sembalun, Kecamatan Sembalun Kabupaten Lombok Timur Nusa Tenggara Barat, yang terletak tepat di kaki Gunung Rinjani, udara dingin menusuk tulang. Warga desa masih ada berselimut kain. Namun di sepanjang jalan sudah tampak aktivitas warga Sembalun termasuk iring-iringan warga yang menuju ke sebuah rumah yang hari itu tengah bersiap-siap menyelenggarakan hajat pernikahan. Para perempuan Sembalun, juga terlihat berjalan beriringan sembari di kepalanya menjunjung bakul yang berisi beras, gula dan lainnya.

K

egiatan mengantar kebutuhan dapur sekaligus melakukan kunjungan silaturahmi ini, biasanya dilakukan selama seminggu dan puncaknya adalah sehari sebelum kegiatan hajatan digelar. “Ibu-ibu biasanya akan datang membawa kebutuhan dapur bergantian selama seminggu, dan puncaknya hari

ini, sehari sebelum acara digelar besok,” ungkap Inaq Fera yang datang bersama ibu-ibu lainnya di sebuah hajatan hari itu dengan membawa beras untuk yang berhajat. Inilah cara warga Sembalun dalam bergotong royong. Tiap kali ada yang menyelenggarakan hajatan, warga desa ini, khususnya perempuan tidak harus diundang

secara resmi, melainkan begitu mengetahui kabar dari mulut ke mulut saja, mereka sudah bersiap diri dan langsung mendatangi rumah orang yang hajatan untuk menyampaikan sumbangan berupa beras, gula dan kebutuhan dapur lainnya. “Tiap kali hajatan berlangsung, bisa dipastikan yang berhajat tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli beras,

warga yang ikut membantu. “Yang ikut bantu satu kampung, ya yang harus disiapkan makan juga untuk satu kampung,” ungkap Inaq Fera tertawa. Kalimat itu diungkapkannya karena memang hampir seluruh warga di desa ini tidak mau ketinggalan untuk bergotong royong. Para perempuan ini mengambil inisiatif masing-masing tanpa harus dikomandoi. Rasa tanggung jawab dan sudah mengerti apa yang harus dilakukan membuat seluruh kegiatan gotong royong ini berjalan dengan baik dan lancar. Tampak sekali antusiasme warga dalam bergotong royong baik perempuan maupun laki-laki, sehingga sangat meringankan beban pemilik hajatan. “Tidak ada yang susah hidup di kampung ini, semua selesai karena mau bergotong royong,” kata Talmiji, salah seorang warga Sembalun. Lihat saja, di salah satu halaman rumah warga yang

5

Kunjungi Denpasar Book Fair 2015 “Spirit Saraswati Bangga Menjadi Anak Indonesia”

Upaya pemerintah Kota Denpasar untuk mening­ katkan minat baca masyarakat melalui Denpasar Book fair telah berlangsung sejak delapan tahun lalu. Untuk tahun ini serangkaian Peringatan Hari Suci Saraswati, Pemerintah Kota Denpasar menggelar kembali “Denpasar Book Fair 2015”, selama tiga hari, yakni 3 s.d. 5 Desember 2015.

gula, kelapa dan lain-lain kebutuhan dapur, karena seluruh warga khususnya ibu-ibu akan datang membawa sumbangan yang dibutuhkan itu,” ujar Inaq Akbar. Kebutuhan dapur biasanya dibawa oleh para perempuan yang langsung menyiapkan diri untuk membantu memasak di dapur. Usai mengantar bahan kebutuhan dapur selama hajatan berlangsung, para perempuan ini

mengambil inisiatif untuk menyiapkan perapian dan alat-alat memasak. Di sisi lain, para lelaki membantu mengangkat kayu bakar dan menyiapkan tempat untuk daging hewan yang baru dipotong. Juga para lelakilah yang membantu perempuan-perempuan ini memotong-motong sayuran yang jumlahnya sangat banyak untuk persiapan hajatan tersebut. –Naniek I Taufan

Cuci Beras di Mata Air Yang unik adalah ketika prosesi cuci beras berlangsung. Di sepanjang jalan menuju mata air desa ini, akan terlihat deretan perempuan yang membawa bakul berisi beras di pinggang ataupun menjunjungnya di kepala. Masingmasing bakul berisi sekitar 2-3 kilogram beras. Tidak ada ritual khusus dalam proses mencuci beras ini melainkan mencuci beras untuk kebutuhan dimasak saja. Mereka beriringan menuju mata air-mata air yang berada di sekitar desa ini. Beras yang dicuci adalah beras yang akan dimasak baik untuk konsumsi warga yang membantu memasak maupun yang membantu dalam menyiapkan tenda dan urusan lain hajatan tersebut. Kegiatan ibu-ibu memasak dilakukan sejak sehari sebelum acara hajatan digelar hingga hari H tiba. Ini dilakukan karena bahan yang dimasak juga banyak mengingat yang akan makan adalah seluruh

Edisi 877/ 30 November - 6 Desember 2015

A

cara yang mengusung tema “Spirit Saraswati Bangga Menjadi Anak Indonesia” ini masih akan dilangsungkan di kawasan Pedestrian Jalan Kamboja Denpasar. Selanjutnya untuk mewujudkan one stop booktainment, pusat hiburan dan belanja buku dengan diskon menggoda di Kota Denpasar, di sana bakal dihadirkan kegiatan rutin seperti bazar buku murah, kuliner lengkap dengan berbagai lomba yang disertai pula program bedah buku dan jumpa

pengarang. Mengingat buku sebagai pendorong kemajuan, maka “Denpasar Book Fair 2015” sebagai mediasi untuk membantu pemerintah dalam menumbuhkan minat baca di kalangan pelajar dan mahasiswa juga masyarakat umum untuk memperoleh manfaat kesenangan dari buku ini, pembukaannya akan dilaksanakan pada Kamis, 3 Desember 2015 di main stage “Denpasar Book Fair 2015” pukul 17.00 Wita. Pada “Denpasar Book Fair 2015” yang hadir untuk kedelapan kalinya ini, lomba yang digelar berupa festival scrapping book dengan triple dimensi tingkat SD, SMP, SMA/SMK dengan

tema “Air Sumber Kehidupan”, sebagai cerminan siswa-siswi mengekspresikan, bahwa betapa perlunya air untuk kehidupan, kemudian bagaimana cara melestarikannya serta penggunaannya yang efisien.

Selain itu ada kegiatan pelatihan majalah dinding serta acara berjudul “Warna Ceria Anakanak, beberapa lomba mewarnai dan lomba menggambar. Selanjutnya untuk pagelaran “Gempita Ekspresi Remaja”,

dilakukan melalui kerjasama dengan sanggar-sanggar/production. Acara juga bakal dimeriahkan kegiatan Mobile library, School Time Visiting, Lomba Band bersama Forkom Osis se-Kota Denpasar. –ard

Denpasar. Bagaimana mereka menanamkan rasa memiliki, peduli sekitar dan menambah wawasan melalui berbagai lomba dengan tema yang telah ditentukan. Harapannya, penyelenggaraan “Denpasar Book Fair 2015” yang akan datang ini dapat memberi

kontribusi nyata bagi dunia perbukuan nasional dan lokal, serta menjadi momentum tersendiri dalam rangka menumbuhkembangkan budaya baca di tengah masyarakat. “Dapat memunculkan wacana di masyarakat akan pentingnya buku, dunia membaca dan menulis, sehingga muncul kesadaran menggunakan literasi sebagai media pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari,’’ lanjutnya Harapan lainnya, masyrakat yang hadir benar-benar mendapat manfaat untuk menumbuhkan kembali minat baca di kalangan mahasiswa dan masyarakat. Menumbuhkan kembali kecintaan mahasiswa dan masyarakat terhadap buku. Menunjukkan bahwa buku dapat memberikan manfaat dan inspirasi bagi kehidupan kita. Sebagai alternatif dalam memperluas wawasan untuk dapat mengikuti arah perkembangan zaman. Serta, memberikan sumber referensi untuk dapat mengaplikasikan antara teori dan praktik. - ard

DBF Ruang bagi Para Pelajar

berdekatan dengan lokasi acara, warga sudah terus berdatangan dari pagi, memenuhi tempat gotong royong memasak itu. Tidak terlihat seorang pun duduk berpangku tangan, melainkan semua dengan pekerjaan masing-masing. Selain rombongan perempuan yang datang dan pergi dari lokasi memasak ke lokasi mencuci beras

di mata air-mata air yang ada di sekitar perkampungan, ada lagi rombongan perempuan yang menjunjung baskom di kepalanya. Baskom-baskom ini ukurannya lebih besar karena berisi mangkok, piring, sendok, gelas, tempat cuci tangan dan peralatan masak juga peralatan makan lainnya. Ada pula yang membawa panci dan wajan berukuran besar. Para

perempuan ini baru saja datang dari gudang desa untuk mengambil segala peralatan memasak dan peralatan makan ini. “Semua peralatan ini milik desa (milik bersama) dan siapa pun warga yang membutuhkannya untuk acara hajatan dan lainnya sewaktuwaktu dapat meminjam,” ujar Hafizun, warga lainnya. Nilai-nilai kerjasama dan gotong royong masih sangat dijunjung tinggi oleh warga Desa Sembalun. “Kalau kita tidak datang bergotong royong atau tidak ikut menyumbang, maka ketika kita ada hajatan bisa jadi orang lain pun enggan membantu atau menyumbang,” kata Inaq Akbar. Sadar menjadi bagian dari kehidupan sosial yang menjunjung tinggi nilai gotong royong inilah yang membuat warga Desa Sembalun merasa harus selalu ikut terlibat dalam tiap kegiatan kampung yang dilakukan. -Naniek I. Taufan

Kepala Dinas Perindustrian Kota Denpasar, Drs. I Wayan Gatra, M.Si. selaku penyelenggara Denpasar Book Fair menyatakan “Denpasar Book Fair 2015” bertujuan menyukseskan program Denpasar Kota Kreatif berwawasan budaya dalam keseimbangan menuju keharmonisan. “Ikut serta dalam program mencerdaskan kehidupan bangsa melalui gerakan gemar membaca, membantu mengembangkan industri penerbitan di Kota Denpasar. Juga , sebagai media komunikasi antara penerbit, pembaca, pengarang dan masyarakat, memberikan apresiasi dan ekspresi kepada siswa-siswi untuk menampilkam inovasi dan kreativitas dengan hiburan yang sehat,” paparnya. Selanjutnya Kasi Pembina

Usaha Perdagangan, Ida Ayu Dewi Citrawati, S.E., M.Si. menyampaikan bahwa tema yang dipilih kali ini yakni “Spirit Saraswati Bangga Menjadi Anak Indonesia”, diangkat sebagai cerminan refleksi generasi muda terhadap kecintaan dan kebanggaan menjadi anak Indonesia yang masih berkaitan dengan Hari Pahlawan, sehingga generasi muda tidak melupakan jati dirinya sebagai bangsa Indonesia. ‘’Secara umum, tujuan diselenggarakannya DBF adalah untuk memberikan semangat kepada masyarakat, terutama di kalangan anak-anak dan remaja untuk mengeksplorasi manfaat maupun kesenangan yang dapat diperoleh dari buku dan kegiatan membaca,’’ jelasnya. ‘’Berbagai lomba maupun kegiatan di sini da-

pat menjadi sarana untuk melatih jiwa kompetitif, sportivitas dan kerja sama tim yang baik antar sesama teman,” lanjutnya. Kegiatan yang ada di dalam Denpasar BookFair 2015 ini, kata Dayu Citra memang digelar sebagai ruang bagi para pelajar mulai dari TK hingga SLTA, seperti kegiatan lomba scrapping book 3D, ini untuk unjuk kreativitas karya yang bukan saja kreatif tapi juga inovatif dan informatif, yang semuanya memiliki muara untuk bisa mengajak minat siswa lainnya yang masih pasif untuk mau melihat dan tertarik membaca . Acara ini juga merupakan wujud dukungan pemerintah dalam mengembangkan kecintaan pada buku, minat baca dan kreativitas siswa /i SMU/Sederajat di Kota


6

Putu Ayu Utami Dewi

ODHA Berani Suarakan Aspirasi Spirit Paramacitta adalah yayasan yang bergerak di bidang peningkatan kualitas dukungan terhadap orang dengan HIV dan AIDS/ODHA Bali. “Sejak berdiri tahun 2001, Yayasan Spirit Paramacitta yang dulu dikenal sebagai Yayasan Bali Plus memiliki fokus dan konsentrasi terhadap gerakan penanggulangan HIV /AIDS di Bali. Yayasan ini mendukung penuh pemberdayaan ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS ) dan OHIDHA (Orang Hidup Dengan ODHA) agar lebih mandiri dan mampu mendapatkan hak-hak dasar dan melaksanakan kewajibannya sebagai individu maupun sebagai bagian dari komunitas,” ujar Direktur Yayasan Spirit Paramacitta, Putu Ayu Utami Dewi, S.E.

ODHA ini menjadi tidak mandiri. Pada tahun 2001 mulai mengubah pola pikir pada masyarakat bahwa ODHA bukan penderita, bukan pesakitan dan mengubah cara pendang bahwa ODHA juga berperan penting memberikan wajah manusiawi dalam program penanggulangan HIV/AIDS melalui terbentuknya Yayasan Bali Plus yang saat ini bernama Yayasan Spirit Paramacitta.

Y

ADVOKASI PEMBUAT KEBIJAKAN Keterlibatan Putu Utami dalam komunitas ini lebih kepada motivasinya untuk menjadikan komunitas ODHA lebih cerdas, kritis, berdaya dan tidak manja serta tergantung pada orang lain. “Karena yang membuat komunitas ODHA ini menjadi lebih baik dan sehat adalah dirinya sendiri, melalui pikiran dan perilaku positif, kepercayaan diri bahwa mereka mampu mengubah situasi yang termarginalkan menjadi penerimaan positif, peningkatan pengetahuan, kecerdasan, kekritisan akan akses layanan kurang berpihak dan minimnya pengobatan serta berani menyuarakan kebutuhan/advokasi kepada pembuat kebijakan serta keberlanjutan akses pengobatan ARV dari pemerintah,” ucapnya. Selama bekerja dan berkiprah di Yayasan Citra Usadha selama hampir 4 tahun, Putu Utami berkesempatan mengikuti konferensi AIDS internasional di beberapa negara

ayasan ini mendampingi ODHA yang berada di seluruh kabupaten di Bali. Dari tahun 2002 hingga September 2015 jumlah dampingan ODHA dari yayasan ini mencapai 4.000 orang. Program dukungan dan pendampingan terhadap ODHA melalui wadah/Kelompok Pendukungan Sebaya (KDS) di 7 kabupaten di Bali. Kegiatannya antara lain memberikan dukungan psikologis melalui konseling sebaya/sesama; memberikan dukungan layanan kesehatan seperti dukungan informasi tentang infeksi oportunistik dan kepatuhan terapi ARV; memberikan dukungan sosial dan pendidikan bagi anak yang terinfeksi HIV/AIDS (ADHA) maupun anak-anak yang orang tuanya ter­ infeksi HIV/AIDS; pertemuan study club dengan berbagai keterampilan dan pengetahuan; pertemuan ter­ tutup bagi komunitas ODHA yang baru mengetahui status HIVnya.

Putu Utami, demikian sapaan akrab perempuan kelahiran Denpasar 20 Mei 1974 ini menuturkan bagaimana ia terlibat di yayasan ini. Tahun 1997 ia bergabung di Yayasan Citra Usadha Indonesia (YCUI) yang dipimpin Prof. Dr. dr. Tuti Parwati Merati ,SpPD-KPTI (FINASIM) sebagai staf, mendampingi 5 orang klien yang HIV positif. Saat itu, hanya Prof. Tuti yang dipercaya klien untuk mendukung ODHA. “Di tahun tersebut dan ODHA sangat tertutup karena minimnya layanan dokter lain yang menerima status HIVnya serta akses pengobatan infeksi oportunistik serta ARV (Obat Menekan dan mengendalikan virus) belum ada,” ungkapnya. Begitu banyaknya tantangan yang dialami ODHA saat itu. Selain stigma dan diskriminasi, hal lain komunitas ini hanya menjadi objek semata saat dibutuhkan oleh pihak lain dan tidak berdaya karena kualitas pendidik­ an, pengetahuan dan keterampilan yang minim membuat komunitas

Mozaik

Woman on Top

Edisi 877/ 30 november - 6 Desember 2015

yakni Thailand, Malaysia, Australia, Trinidad-Tobago, Singapura, AS, Jepang, dan Timor Leste. Aktivitasnya lainnya, menginisiasi terbentuknya kelompok sebaya ODHA/KDS di 7 kabupaten dan menguatkan kelompok dari manajemen, program dan sistem keua­ ngannya, pelatihan public speaking, kepribadian, pelatihan pengobatan ARV serta konseling VCT. Dari aktivitasnya tersebut, Putu Utami mengungkap beberapa pengala­m an yang menyakitkan. Pernah suatu saat, orangtua murid menyuarakan ke sekolah tidak menerima anak HIV di sekolah mereka. “Solusinya, kami penyuluhan ke sekolah yang dihadiri oleh orangtua murid dan para guru. Akhirnya mereka menerima anak tersebut,” kisahnya. Ada juga kasus teman-teman ODHA menyembunyikan obat ARV mereka di bawah tempat tidur dan tidak diminum. Tetapi setelah sakit baru menyesal tidak patuh terapi ARV. “Bahkan pernah ada juga dokter spesialis bedah tidak mau menangani pasien karena di tubuhnya ada virus HIV. Dengan alasan apapun itu tantangan terberat yang pernah kami alami,” ungkapnya . Di balik hal-hal yang membuatnya kecewa tersebut, tentunya ada rasa senang dan puas Putu Utami ketika bertemu ODHA yang dulunya sakit dan tidak bisa berjalan/tak berdaya, akhirnya sehat dengan terapi ARV bahkan mereka menjadi mentor untuk teman-teman sebayanya/

sesama HIV. Yang lebih membanggakan lagi, ODHA kini mampu serta berani menyuarakan aspirasi melalui anggota dewan, Menteri Kesehatan, pimpinan rumah sakit, Kepala Dinas Kesehatan, dan pembuat kebijakan. Karena itu, ia berharap gene­ rasi muda lebih proaktif dan banyak berperan dalam kegiatan sosial kemanusiaan dan mencari banyak pengalaman positif dari kegiatan sosial yang dilakukan. “Hal yang tak kalah penting, orangtua selaku contoh bagi putra-putri mereka. Berperilaku amanlah dan berperilau positif karena anak cucu akan mencontoh figur orangtuanya yang lebih baik,” tandasnya. –Inten Indrawati

Edisi 877/ 30 november - 6 Desember 2015

Pemanfaatan Gas Bumi belum Maksimal

Sama dengan global economy outlook yang tengah banyak didiskusikan di berbagai forum untuk melihat perkiraan bisnis dan ekonomi ke depan, dalam skala yang lebih kecil, wanita dalam bisnis dan karir menuntut kemampuan dan keterbukaan berpikir lebih baik. Ketika grafik pertumbuhan menunjukkan angka positif, mereka akan memberi apresiasi terhadap penyumbang pertumbuhan yang signifikan. Namun ketika performa mengalami penururan dan grafik menunjukan negative growth, bagaimana mereka manjadi nagivator untuk melewati gelombang ini. A GOOD THINKER Barangkali indikator utama bukan hanya menjadi pendengar yang baik yang bisa mendengar dengan empati yang dalam. Untuk dapat memegang kendali navigasi, mereka menyadari betapa penting menjadi pemikir yang baik–a good thinker. Melaui pesan singkat saya mencoba mendapatkan satu sudut pandang tentang a good thinker dari seorang Senior Vice President perusahaan finansial & investasi asal Eropa. Beliau menekankan bahwa satu hal menarik adalah mereka selalu memposisikan diri di tempat terbaik untuk dapat berpikir. They put themselves

in the right place to think. Apa maksudnya? Mereka melangkah keluar dan berdiri di luar lingkaran agar dapat melihat dari tempat yang berbeda dan mendapat gambaran utuh atas obyek yang membutuhkan solusi. Di pikiran saya terlintas istilah the white spots–titik berwarna putih yang tidak tampak namun ada. Istilah yang mereka percaya ini dapat memberi peluang lebih besar untuk melibatkan hal-hal yang lebih realistis dalam proses berpikir termasuk tingkat toleransi yang dapat mereka aplikasi dalam proses berpikir ini. Penulis David Schwartz, berpendapat; Where success is concerned, people are not measured in inches or pounds or college degrees or family background; they are measured by the size of their thinking. Dalam sudut pandang a good thinker ini, sukses bukan lagi diukur dari latar belakang keluarga atau latar belakang pendidikan, namun dari seberapa besar mereka bisa berpikir. Dalam tahap ini, mereka cenderung melihat visi dengan jelas sebelum orang lain melihatnya dan biasanya mereka memiliki kemampuan untuk melihat lebih banyak data daripada orang lain yang ada di sekitarnya. Mereka mampu membuat sketsa situasi dan membuat peta untuk melihat kemana arah dan jalan yang akan diambil.

bagi saya merupakan elemen fundamental yang memberi dasar untuk seseorang dapat melakukan evolusi terhadap cara berpikirnya – evolve into a realistic thinker. Barangkali pembaca sependapat bahwa perlu waktu untuk belajar dan terlibat lebih dalam pada tahapan proses realistic thinking ini. Satu pernyataan kunci dari kawan baik saya tadi; You can’t ignore the reality, you need to define it instead.

DEFINING THE REALITY Hampir setiap terlibat dalam diskusi yang padat, kita selalu diminta untuk bicara obyektif dan realistis. Seorang kawan baik yang belakangan sering diskusi dan membagi pikirannya bersama saya, melempar satu pertanyaan yang cukup membuat saya berpikir; “How you define the reality? How critical it is?” Saya mencoba untuk melihat dari sudut pandang cara berpikir yang pernah saya terapkan di beberapa situasi. Menerapkan realistic thinking memang tidak mudah sebab realita sangat berbeda dengan keinginan dan harapan. Saya melihat hal ini sebagai sebuah tanggung jawab dalam proses berpikir. Dalam tahap awal saya pun dihadapkan dengan dua sudut yang tidak mudah juga untuk dilihat; Sudut pertama adalah menutup mata terhadap realita, tetap muncul dengan berbagai pertanyaan ‘kenapa’, tetap melanjutkan topik ini dengan hal-hal yang tidak akurat, diskusi panjang yang tidak memberi solusi apapun tetapi justru berpotensi untuk memunculkan masalah-masalah baru. Sudut kedua adalah komitmen untuk mulai membiasakan diri dengan menerima realita, mencoba untuk berpikir dalam realistic circle itu, dihadapkan pada pintu potensi solusi dan memberi kesempatan luar biasa untuk belajar dari kesalahan. Defining the reality

ENDLESS EXCELLENT MOMENTS Sebuah percakapan padat yang saya lalui beberapa waktu lalu, membawa saya untuk kembali memutuskan mengambil tongkat navigasi. Alasannya sederhana, bahwa kondisi di dalam lingkaran kita sendiri dapat diperbaiki menjadi lebih baik dengan konsep possibility thinking. Pada beberapa orang mungkin konsep ini tidak datang secara alami. Mereka perlu benar-benar mengatur energi agar dapat duduk & fokus dalam waktu yang lebih lama. Possibility thinking tidak lain mengarah pada self optimism. Saya menyadari bahwa dalam tahap ini, merefleksikan hal-hal yang sudah dilewati, menuntut keterbukaan hati agar benarbenar dapat mengambil ekstrak refleksi tadi untuk dituangkan ke dalam konsep possibi­ lity thinking. Saya lebih melihat ini sebagai sebuah konsep yang memberi pedoman berpikir bahwa solusi yang diperoleh dari realistic thinking akan selalu membawa mereka pada momentum positif luar biasa. Saya menyebutnya sebagai endless excellent moments. Kita sepakat bahwa tidak ada cara instan untuk menuju endless excellent moments, namun konsep sederhana yang barangkali dapat membantu menjadi tracker pada peta yang kita buat adalah; remove yourself from distractions so you can navigate though the wave!

baru dan terbarukan dengan beberapa riset. Tentunya Pertamina juga mendukung segala macam riset energi baru terbarukan, salah satunya adalah penemuan gatsu drinks dari tenaga surya yang bisa digunakan untuk berjualan keliling. “Untuk pengembangan energi baru dan terbarukan Gebyar Energi Pertamina akan menggambarkan peran Pertamina dalam penyediaan bahan bakar gas untuk transportasi, pengembanjuga dilakukan dengan berbagai gan energi dari biomassa dan bio cara, diantaranya harus ramah gas, mini hydro, surya, dan angin, lingkungan. geothermal untuk listrik yang Gebyar Energi Pertamina ditargetkan bisa mensuplai 1,13 menjadi wujud penegasan Per- GW pada 2019,” katanya. tamina terkait dengan berbagai Selain itu, pengembangan aksi hijau perusahaan. Salah satu- sampah kota untuk LNG, micro nya dengan pengembangan energi algae, green diesel, dan bioavtur untuk bahan bakar transportasi dengan total volume sekitar 1,28 juta KL per tahun pada 2019. “Kami juga akan menghadirkan produk-produk unggulan Pertamina, seperti Bright G a s , Pe l u m a s , mang untuk promosi. Selain ber- Pertamax Series, tani, hampir sebagian besar pen- dan juga Vi-Gas. duduk Desa Gondosuli ini meng- Namun, lebih dari geluti budidaya ikan berkumis ini. itu kami ingin ajak Tak ayal, hampir setiap pekarangan masyarakat untuk rumah pasti terdapat kolam ikan. melihat hal itu. Dari data yang ada, sedikitnya 20,86 Pertamina juga ha lahan yang digunakan untuk bu- mempunyai produk lain didaya ikan lele ini. Masing-masing dan pentpembudidaya memiliki 1000 m2. ing untuk “Saya cuma punya 2 kolam. Tapi diketahui suami maunya tambah lagi,” kisah masyarakat Ny. Hesti. terutama Dengan sajian ikan gratis ini, pelaksanNy. Hesti berharap, setidaknya bisa dijadikan informasi ketok tular bagi masyarakat. Sehingga membawa dampak postif bagi pembudidaya ikan lele yang ada di Desa Gondosuli. Permintaan Wianda naik dan penghasilan pun bertambah. Mengingat hampir seluruh lapisan masyarakat menyukai ikan lele. Karena selain harganya terjangkau juga baik untuk kesehatan. “Mudah-mudahan saja, dengan kegiatan ini ekspansi bisa terus bertambah, “ ujar Ny. Hesti penuh harap. -Khoirul Abadi

Pemanfaatan gas bumi di Indonesia relatif masih sa­ ngat rendah, baru sekitar 5 ­persen. Untuk meningkat­ kan pemanfaatannya, PT Pertamina (Persero) mem­ perkenalkan kiprah perusahaan dalam penyediaan sumber energi dan pemberdayaan masyarakat melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) dan SME PP dalam Gebyar Energi Pertamina.

V

ice President Corporate Communication Pertamina, Wianda Pusponegoro mengatakan, Indonesia berada pada urutan ketiga dalam penyediaan gas di dunia. Tetapi sayangnya, belum maksimal di-

manfaatkan karena baru lima persen yang telah dimanfaatkan karena terhalang berbagai faktor. Walau demikian, Pertamina akan berupaya secara maksimal untuk memanfaatkan angka 5 persen tersebut. Pemanfaatan itu

Pecel Lele Gratis Warga Tulungagung

Navigating Through The Wave Mereka membuat estimasi terhadap angka yang ingin dicapai dan membuat titik-titik yang menghubungkan masa depan dengan masa-masa sebelumnya dimana mere­ka tumbuh, untuk membuat hubungan itu tampak lebih jelas dan berarti, sehingga bisa dijadikan pedoman dalam tahapan pemikiran berikutnya atau code of thinking. Mereka yang mendapat label a good thinker, percaya dengan The magic of thinking big.

19

Ny. Hesti

Tak banyak masyarakat yang tahu Desa Gondosuli, Kecamatan Gondang, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, termasuk penghasil ikan lele terbesar di Jawa Timur. Pada tahun 2009, pembudidaya di Desa Gondosuli ini mampu memproduksi 6.419 ton ikan lele. Tahun 2014, produksi ikan lele meningkat menjadi 9.764,95 ton ikan lele. Kalau di kurs-kan dengan uang , jumlahnya mencapai Rp 121,270 miliar / tahun. Tak heran, jika sebagian orang menyebut Desa Gondosuli ini sebagai kampung lele. Maklum, karena sebagian besar warganya memiliki atau bekerja di kolam ikan lele. Agar desa ini makin dikenal oleh masyarakat luas, sekelompok budidaya ikan lele di Desa ini rela menyajikan 5.180 pecel lele santan. Menu andalan warga sekitar. “Santannya ini yang membedakan dengan pecel lele lainnya,” ujar Ny. Hesti, salah seorang peternak lele. Ribuan pecel lele santan plus nasi ini, disajikan kepada semua

pengguna jalan atau pengunjung yang hadir pada acara tersebut. Diletakkan di atas meja yang panjangnya mencapai 1,3 kilo meter. Masing-masing cobek, berisi 2 ekor iklan lele berukuran sedang. Setiap pengunjung boleh makan sepuasnya. tapi tidak boleh dibawa pulang. Kegiatan ini, tujuannya me-

aan CSR dan SME PP hingga pengembangan EBT,” imbuh Wianda. Sementara itu, Andiyanto Hidayat dari Technology & Pro­ duct Development Pertamina, mengatakan banyak kerjasama yang dilakukan Pertamina dengan sejumlah BUMN lainnya seperti PLN untuk proses bisnis Pertagas. Sedangkan dengan beberapa PTPN 10 untuk biogas dan BUMN lainnya seperti PGN. “Kita memakai nama Envogas, karena BBG tidak jelas,” terangnya. Diharapkan dengan adanya hal tersebut bisa saling sinergi, seperti proyek pembangkit listrik yang dilakukan Pertagas ini sudah 72 persen karena prosesnya cukup rumit. Juga ketika bekerjasama dengan PTPN 10 dalam mengembangkat EBT. -Diyah Khoirunnisa


18

Kreasi

Edisi 877/ 30 november - 6 Desember 2015

IB Putra Adnyana

Katalog sebagai Kenangan Dunia digital telah membuka peluang bagi para fotografer untuk mengembangkan imajinasinya. Fotografi bukan hanya sekadar dokumentasi keindahan namun berkembang ke arah seni visual yang lebih luas. Ini dilakoni IB Putra ­Adnyana dalam ­pameran bersama di Tonyraka Art Gallery, Mas, Gianyar, mengusung konsep “Violent Art Exhibition“

I

beberapa fotografer pemula, katanya ia sering mendapat pertanyaan, kamera apa yang bagus?. “Pada dasarnya produsen telah memproduksi kamera sesuai dengan segmen, dari entry level hingga pro. Tinggal sebagai konsumen harus cerdas, belanja sesuai dengan kebutuhan,” ungkapnya Sesuaikan juga dengan budget dengan tujuan pemotretan. Ada saran dari para fotografer senior, kalau kamera yang terbaik adalah kamera yang dimiliki sekarang. Maka maksimalkan yang ada, pelajari fiturnya , teknik dasar dan lebih sering berlatih. Ayah dari IB N Prima, IA AgungAdriani dan IB AnggaTriadi ini telah menjalin kerjasama dengan sebuah penerbit untuk mempublikasikan foto-foto budaya Bali dalam sebuah buku yang berjudul “Bali – Ancient Rites in Digital Age”, yang ditu-

Story

Edisi 877/ 30 november - 6 Desember 2015

I

foto monochrome penari Baris diolah dengan software foto di komputer setelah dicetak di atas kanvas diwarna lagi dengan cat.

lis oleh Diana Darling . Buku ini rencananya akan di- launching tahun 2016. Suami dari, AANGP Su-

martini ini sebelumnya juga sempat menjadi kontributor untuk beberapa penerbit global.Tahun 2014 sebagai kontributor untuk sebuah buku berjudul “Saraswati” karya Ron Jenkins (ARMA) dan buku tentang pelukis Lempad berjudul “A Balinese Timeless Master” (Pictures Publisher) . “ Ini kesempatan istimewa bagi seorang fotografer daerah, “ ujar Gustra yang lebih dari 20 tahun berkecimpung di dunia fotografi ini. Gustra menambahkan membuat buku memerlukan penanganan khusus. Dari kurasi foto, tulisan pendukung, graphic design, percetakan hingga pemasaran global. Meski kini dalam era e-commerce penjualan, buku bisa melalui on line, tetap teknik pemasaran tradisional masih diperlukan. Teknik pemasaran yangg tepat, tujuan dari pembuatan buku akan tercapai. Seperti yang dikatakan fotografer senior ini, mendokumentasikan aset

budaya Bali, sekaligus mengenalkan ke masyarakat yang lebih luas. Ditengah kegiatan menyiap­ kan buku, Gustra mengumpulkan karya –karyanya yang dibagi dalam tiga katagori foto,yakni; culture ( foto budaya Bali), composite (penggabungan beberapa foto menjadi imaji dengan tema tertentu) dan coloring ( menambah warna, baik waktu diolah di komputer maupun setelah tercetak.), yang semuanya akan ditampilkan pada sebuah pameran yang diharapkan dapat dilaksanakan pada tahun 2016. Gustra mengatakan, dalam pameran ini diperlukan kerjasama dengan berbagai pihak, terutama sponsor. Sebab, untuk mencetak dan membuat katalog memerlukan biaya lumayan besar.“Katalog ini sangat penting dalam sebuah pameran, karena ketika pame­ ran usai, katalog ini yang akan selalu memberi kenangan,” ujar Gustra . –Sri Ardhini

4 foto digabung menjadi satu untuk menunjukan kegiatan para wanita di balik jendela.

7

Hati Tertambat Tukang Batu Menjalani kehidupan hingga ke dunia hitam menjadi bagian dari perjalanan nasib Indah (50), perempuan asal Pulau Sumbawa yang hidup merantau hingga ke Nusa Tenggara Timur. Kisah hidup perempuan hitam manis ini tidak seindah namanya. Kebiasaan hidup bermewah-mewah menjadikannya terpuruk bahkan di tengah tawaran hidup yang sesungguhnya bisa membuatnya baik.

Tamara berpose disamping karya foto IB Putra Adnyana dalam pameran Bali Art Intervention # 1 : Violent Bali di Tonyraka Art Gallery Mas, Gianyar

nspirasinya bersumber dari cerita Ramayana, ketika Dewi Sita terperangkap oleh seekor kijang kencana, dengan merangkai beberapa foto dijadikan satu kesatuan tema. Fotografer bukan saja harus mahir dalam memotret, juga harus terampil menggunakan software pengolah foto.Tentu juga paham konsep tentang keindahan. Tahun 2000 silam, fotografer yang akrab disapa Gustra ini telah merilis fotofoto dalam bentuk CD interaktif. “ Pada era digital, ada yang mendapat peluang juga ada yang kehilangan peluang, “ ujar Gustra yang pernah bekerjasama dengan sebuah perusahaan motor dan radio swasta untuk memberi pelatihan fotografi gratis kepada 60 orang remaja. Dari pertemuan dengan

Life

ndah yang tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya membuat ia sampai harus “menggadaikan” harga diri bahkan pernah menjual dirinya sebagai seorang pelacur. “Saya sedih, ” ujarnya pendek ketika ditemui di Pelabuhan Lembar saat hendak berangkat ke Nusa Tenggara Timur, tempat di mana ia merasa bisa diterima dengan kehidupannya yang tidak umum yang dijalaninya hari ini dengan seorang tukang batu. Usia 21 tahun, Indah telah menikah dengan seorang laki-laki asal Pulau Jawa dan meninggalkannya begitu saja dengan seorang anak perempuan. Pernikahan yang diawali dengan kehamilannya sebelum menikah itu, rupanya tidak berjalan baik. Ia menikah ketika usia kandungannya tiga bulan. Belum lagi anaknya lahir pernikahan itu tinggal mimpi bagi Indah. “Dia pergi meninggalkan saya begitu saja sebulan sebelum saya melahirkan. Saya tidak tahu ke mana dia (suaminya) pergi,” kata Indah yang mengaku sampai hari ini tidak tahu keberadaan suami sirinya itu. Indah lalu membesarkan anaknya seorang diri dalam kemelaratan hidup karena setelah hamil dan menikah siri, keluarganya tidak ada yang mau menerimanya dengan sungguh-sungguh. Indah menjadi malu sendiri dan tidak nyaman berada di tengah keluarganya. Akhirnya, demi membesarkan anaknya ini, Indah memilih dunia hitam pelacuran. “Terpaksa saya lakukan demi menghidupi anak saya,” katanya sedih. Dari kehidupan dunia malam ini, Indah dapat menghidupi dirinya dan anaknya. “Pekerjaan” ini memberinya banyak uang sehingga kebiasaan hidup hura-hura dan bermewah-mewah kembali dijalaninya. Sifatnya yang angkuh pun tidak dapat disembunyikannya lagi. Dari langganannya inilah, ia kemudian berkenalan dengan seorang laki-laki yang cukup mapan. Lelaki itu hidup

sendiri di NTT sedangkan istri dan anakanaknya di Pulau Jawa. “Karyawan salah satu BUMN,” katanya menyebutkan nama BUMN tersebut. Meskipun lelaki tersebut telah sangat berumur dan beberapa tahun lagi menjelang pensiun, tapi Indah tidak peduli. Yang ia pedulikan hanya besarnya penghasilan dan harta yang dimiliki laki-laki yang telah beristri dan beranak empat itu. Ia pun mau menikah siri dengan laki-laki yang bertugas di NTT itu. Beruntung Indah yang berwajah manis ini disayang oleh suami sirinya ini. Ia dilimpahi kemewahan dan hidup bergelimang harta. Inilah yang memicu sifat angkuh Indah kembali terlihat. Indah seperti lepas kendali. www.1001kisahteladan.com Tidak hanya angkuh, ia juga makin banyak membuat masalah di tengah pergaulannya. Bertengkar dengan banyak orang persis cara orang tidak sekolah. Indah mengakui hal ini dengan terus terang. Dari pernikahan sirinya ini, Indah yang tinggal di rumah relatif mewah milik suaminya itu memiliki tiga orang anak. Bersama suaminya ini Indah tinggal bersama tiga orang anak tersebut dan dua anak suaminya serta seorang anak dari hasil pernikahannya terdahulu. Tampaknya Indah tidak bisa adil memperlakukan antara anak kandungnya dengan anak tirinya. Hal ini membuat suaminya tidak nyaman sehingga pertengkaran-pertengkaran terus mewarnai kehidupan pernikahan mereka. JUAL MOBIL Sampai akhirnya diketahui suaminya ternyata berselingkuh dengan perempuan lain. “Dia meninggalkan saya dan pergi

begitu saja,” kata Indah. Kerepotan jelas mewarnai hari-hari Indah tanpa suaminya. Ia harus mengurus enam anak. Sementara suaminya itu seperti tidak peduli lagi padanya. Ia bahkan sudah tidak lagi dikirimi uang oleh suaminya yang sudah berpindah tugas ke kota lain. Hal inilah yang membuat ia memulangkan dua anak suaminya kepada ibu kandungnya dan melanjutkan hidup dengan empat anak kandungnya. “Morat-marit hidup saya. Mobil terpaksa saya jual sedangkan rumah tidak bisa saya jual karena masih atas nama suami saya,” ujarnya. Kembali Indah ke dunia hitam. Apa hendak dikata karena seluruh tabungannya terus habis untuk membiayai hidupnya yang mewah. Anaknya dari suami pertamanya yang sudah remaja terpaksa mencari penghidupan sendiri. Ia mengikuti jejak ibunya. Dalam keadaan yang tidak menguntungkan itu, Indah yang kesepian menjalin hubungan dengan banyak laki-laki, termasuk dengan seorang tukang batu asal Pulau Jawa. Jalinan cinta keduanya berjalan meski di tengah peliknya masalah yang membelit. Istri sang tukang batu itu bahkan jauh-jauh dari Pulau Jawa datang ke NTT untuk memperingatkan Indah. Namun Indah tidak peduli. Entah mengapa, menurut Indah ia merasa jatuh cinta pada sang tukang batu. “Saya belum pernah merasakan jatuh cinta seperti ini seperti saya jatuh cinta padanya (tukang batu itu),” katanya tersenyum. Ia tidak ingin melepaskan tukang batu itu, meski hidup seadanya dan penuh hinaan dari istri laki-laki itu. D a r i hubung­a n ini, Indah kemudian hamil dan memiliki seorang anak l aki-laki bersama tukang batu itu. Indah dan tukang batu

tersebut tidak pernah menikah. Hingga kini, mereka hidup bersama di NTT tanpa ikatan pernikahan. Entah apa sebabnya, mereka tidak pernah mempersoalkan pernikahan. Inilah yang membuat Indah mengatakan bahwa kehidupan mereka di negeri timur adalah tempat yang paling nyaman baginya. Hari itu, setelah ke Lombok untuk menjenguk anak dari pernikahannya yang pertama, dari Pelabuhan Lembar, Indah kembali ke NTT untuk menemui sang tukang batu kekasih hatinya itu. Entah apa yang akan terjadi padanya kelak, Indah telah menyerahkan hidupnya kepada si tukang batu itu. “Saya hanya menunggu garis nasib berikutnya,” ujarnya. -Naniek I. Taufan


8

Bunda & Ananda

Edisi 877/ 30 November - 6 Desember 2015

“Lelang Gemilang” APSAI Denpasar

Dedikasi untuk Anak-anak Denpasar

Suasana di salah satu areal Hotel Aston, di kawasan Jalan Gatot Subroto, Denpasar hari itu sedikit berbeda. Jumat (20/11), sore menjelang malam, selain suasana diisi penampilan akustik dari sekelompok remaja juga ada lagu anak-anak dari The Glittersz. Selanjutnya terdengar cuap –cuap sang MC yang menawarkan beberapa item fashion milik dari para publik figur maupun artis di Kota Denpasar kepada pengunjung.

Lelang

“Ini adalah acara “Lelang Gemilang” perdana, gebrakan awal atau warming up sejak pengurus Asosiasi Pengusaha Sahabat Anak Indonesia (APSAI) Kota Denpasar dikukuhkan Rabu, 5 Agustus 2015,” ujar Ketua Umum APSAI Kota Denpasar Sri Sutari, didampingi Sekretaris APSAI Gung Sri Wiadnyani. Sri Sutari mengatakan jika kegiatan “Lelang Gemilang” tersebut disiapkan hanya dalam 2 hari. “ Mungkin karena tujuan lelang adalah untuk anak-anak yang memerluakan bantuan , khususnya mereka yang ada di Kota Denpasar, maka sambutan para donator pun di luar dugaan. Untuk lelang pertama dan dalam waktu yang tidak terlalu lama, kami berhasil mengumpulkan dana senilai Rp 4 juta,” ujarnya . “Masih banyak koleksi pakaian dan produk lainnya yang siap kami persembahkan pada

Susunan Pengurus Asosiasi Perusahaan Sahabat Anak Indonesia (APSAI) Kota Denpasar PENASEHAT : 1. 2. 3.

Wali Kota Denpasar Kepala Badan Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan Kota Denpasar DR. A.A.A. Ngurah Tini Rusmini Gorda, S.H.,M.M.,M.H.

Ketua Umum Wakil Ketua I Wakil Ketua II

: Ni Wayan Sri Sutari, S.P.,M.P. : Putu Yuliartha, S.S. : Ni Putu Suryani, S.T.

Ketua Bidang 1 Wakil Ketua Bidang 1

: Sayu Ketut Sutrisna dewi, S.E.,M.M.,Ak : Ni Wayan Diesnawati, S.E.,M.Si.,Ak

Ketua Bidang 2 Wakil Ketua Bidang 2

: Tjok Istri Agung Wahyu Trisna : Anak Agung Inten S.E., Ch.,CHT.,MNNLP

Ketua Bidang 3 Wakil Ketua Bidang 3

: Wayan Sukhana : I Made Adhy Suryantha Saputra, S.S.

Ketua Bidang 4 Wakil Ketua Bidang 4

: A.A. Sri Utari, S.E : A.A Istri Mas Prahandari. SE

Ketua Bidang 5 Wakil Ketua Bidang 5

: Dra. A.A. Sagung Mas Ruscitadewi, M.Fil.H : Md. Suksma Prijandhini Devi Salain, S.H.,M.H.,LLM

Sekretaris Umum Wakil Sekretaris

: A.A Istri Sri Wiadnyani, S.T.P.,M.Sc : Ni Wayan Purnami Rusadi,S.P.,M.Agb

Bendahara Wakil Bendahara

: Ni Ketut Seniwati, S.E : Ni Ketut Winarti, S.E

bina hubungan yang kuat secara emosional demi mengemban dan dan memperjuangkan hak anak –anak di Kota Denpasar. “Kami ingin menjadi mitra kerja bagi seluruh pemangku kepentingan dalam rangka pemenuhan hak-hak anak,” tandasnya. Melalui APSAI pula dunia usaha dapat memberikan perhatian sesuai dengan amanat Undangundang Perlindungan Anak, UU No. 35, yang telah memasukkan peran dunia usaha dalam pemenuhan hak dan perlindungan anak. Dunia usaha juga diakui sebagai salah satu bagian dari masyarakat yang memKetua dan sekretaris Apsai Kota Denpasar punyai tugas dan tangprogram lelang kedua nanti,” imbuh gung jawab dalam pendidikan anak. Program yang berkaitan dengan Gung Sri Wiadnyani. Sri Sutari menjelaskan asosiasi Corporate Social Responsibility (CSR) yang dipimpinnya ini mewadahi dimana perusahaan harus membuat keinginan perusahaan swasta di program yang membantu mengatasi Denpasar untuk berkontribusi dalam masalah anak, seperti anak terlantar, pemenuhan hak-hak anak, melalui anak jalanan hingga anak berkebupembangunan Kota Denpasar Kota tuhan khusus. Disamping mengajak Layak Anak (KLA) di tahun 2020. perusahaan untuk tidak mempekerAPSAI juga sebagai wadah utama jakan pekerja anak. komunikasi bagi perusahaan yang AGENDA RUTIN peduli kepada hak-hak Anak Kota Mengenai kegiatan rutinnya, Denpasar untuk bersama-sama bertanggung jawab dengan membi- Gung Sri Wiadnyani menyatakan, carakan dan memecahkan masalah salah satunya dalam bentuk “Lelang Gemilang ‘”yang melibatkan berbagai yang dihadapi. APSAI bertujuan ingin memper- profesi di Kota Denpasar telah mersatukan perusahaan yang memiliki eka laksanakan. “Ketika berbicara visi dan misi sejalan kemudian mem- demi kepentingan anak-anak para

donatur dengan tulus mendonasikan seluruh hasil lelang produk fashionnya untuk mereka melalui APSAI,” ucapnya sembari mengatakan untuk donatur yang lainnya yang ingin ikut berkontribusi bagi anak-anak, siapsiap karena “Lelang Gemilang” seri kedua segera dilaksanakan. Sekretaris APSAI Kota Denpasar ini menyampaikan terima kasih atas kerjasama semua pihak yang luar biasa, hingga acara berjalan lancar. “Terima kasih kepada IB Rai Dharmawijaya Mantra dan IA Selly D. Mantra yang telah mendonasikan sepasang busananya untuk dilelang. Tini Gorda Ketua BKOW Provinsi Bali yangg busananya terlelang pertama dengan harga pembuka yang fantastis . Begitu juga Sri Utari Satria Naradha, Helmi Ginanti, Ketua IWAPI Badung, Eva Listya Ketua FPPI DPC Denpasar, ASBESTS Kota Denpasar, Rhea Cempaka, Mira Minardi, Putu Swandewi, Mang Geg, Ayu Sandat juga Byang Mangku Hipno untuk boneka terapinya serta Begeron Dekti dan Bintang Mira Afriningrum,Sekretaris APSAI Ginyar, dan pihak lainnya yang sudah membantu dan bekerja dari hati, yang tak dapat disebut satu –persatu,” ujar Gung Sri Wiadnyani. “Semoga bersama APSAI Kota Denpasar, semua anak-anak yang ada di Kota Denpasar bisa mendapatkan maanfaat sebesar-besarnya. Tentu saja hal ini dapat dimulai dari orangtuanya yang berprofesi sebagai karyawan atau pemilik perusahaan untuk melakukan hal-hal yang ramah anak,’ lanjutnya sambil menyampaikan jika saat ini, anggota sementara APSAI Kota Denpasar terdaftar sekitar 10 perusahaan. – Sri Ardhini

Edisi 877/ 30 November - 6 Desember 2015

“Ng” Sebuah Tari Metamorfosis Cermin Kehidupan

Anggreng swaran nikang kumbang….. Ng … ng … ng … ng … ng … ng …ng… Dengung itu, dengung itu Ya dengung itu … terdengarkah ? Jauh menjelma dekat, dekat menjelma jauh dalam batin …pada semesta dekatkah? Jauhkah? menjelmalah segala keindahan dalam setiap ciptaan-Nya

Mendongeng Lima Menit

cintaku kepada garam

Sebelum tidur malam, Raja Darmawangsa berbaring sambil berbincang-bincang dengan ketiga putrinya. Perbincangan malam itu adalah mengenai cinta. “Nurul, sebesar Made Taro apa cintamu kepadaku?” tanya Raja kepada putrinya yang sulung. “Cintaku kepada Ayahanda adalah sebesar emas termahal,” jawab Nurul. “Bagus! Aku percaya padamu. Lalu, Ratna, sebesar apa cintamu kepadaku?” tanya Raja kepada putrinya yang menengah. “Cintaku kepada Ayahanda sebesar mutiara yang termahal.” “Bagus! Aku percaya kepadamu. Sekarang kamu, Dewi, putriku yang bungsu, sebesar apa cintamu kepadaku?” “Mungkin kelihatannya tidak berharga, tetapi cintaku kepada Ayahanda tak ternilai harganya.” “Katakanlah, sebesar apa?” “Cintaku kepada Ayahanda sebesar cintaku kepada garam.” “Apa katamu?” Raja Darmawangsa bangkit lalu menuding-nuding si putri bungsu. “Kamu menyamakan ayahmu dengan garam? Sungguh durhaka kamu! Kamu telah menghina Raja dan ayah kandungmu. Enyah kamu dari sini!” Keesokan harinya, pagi-pagi benar, si putri bungsu meninggalkan istana. Di sepanjang jalan ia

mencucurkan air mata. Ia sangat sedih meninggalkan ayah yang sangat dicintainya itu. Namun ia tidak mengerti mengapa ayahnya salah paham. Ia pasrah menjalani nasibnya. Tidak disadarinya, tiba-tiba ia sudah sampai di tengah hutan. Hari demi hari, bulan demi bulan telah berlalu. Pada suatu hari, pagi-pagi benar Raja Darmawangsa pergi berburu dengan pasukannya ke dalam hutan. Hingga matahari condong ke barat, tak seekor hewan pun yang tertangkap. Raja dan pasukannya kehausan dan kelaparan. Untunglah di suatu tempat yang sepi, pemburu-pemburu itu menemukan sebuah pondok. “Paman Patih!” panggil Raja kepada patihnya yang setia. “Mintalah makan dan minum kepada penghuni pondok itu!” Tak lama berselang seorang gadis cantik mengantarkan makanan dan minuman ke hadapan Raja dan pasukan pemburu. Tanpa memperhatikan si pembawa makanan, Sang Raja makan dengan lahapnya. “Anak gadis!” kata Raja setelah puas makan. “Sungguh enak makananmu! Sayang, tak ada garamnya.” “Maaf, Paduka Raja! Hamba tak pernah menggunakan garam, karena sumpah.” Raja Darmawangsa minta kepada anak gadis itu menceritakan hal sumpah itu. Anak gadis itu menceritakan riwayatnya. Akhirnya ia berkata, “Cintaku kepada Ayahanda sebesar cintaku kepada garam.” Raja Darmawangsa menangis. Ia menyadari kesalahpahamannya. Waktu itu pula Raja memboyong putri kesayangannya itu kembali ke istana.

17

K

etika tembang itu mulai dilantunkan, suasana panggung yang gempita secara perlahan terang. Kisah hidup kemudian dipaparkan lewat kata-kata puitis diiringi dentingan music tanpa nada. Para seniman yang masih belia kemudian bergerak mencoba mengenali sudut-sudut keindahan. Dengan irama kidung klasik yang magis, mereka bergerak mengepak dan terkadang menguncup tanpa makna. Itulah garapan tari “Ng” karya Ida Ayu Wayan Arya Satyani yang dipentaskan di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Art Center, belum lama ini. Karya seni inovatif itu didukung oleh para seniman masih belia merupakan Bajra Sandhi Arts Community. Didukung pula Dayu Mang Ana sebagai penembang dan pembaca puisi serta Dayu Gek Prihandari. Sebagai komposesr sekaligus merangkap manajer, Gus Gentorang.

Garapan tari inovatif ini berdurasi sekitar 20 menit mengangkat siklus hidup kupu-kupu yang mengalami metamorfosis sempurna yang dienterpretasi dalam kehidupan manusia. Kupu-kupu yang indah mengalami proses perubahan hidup pada setiap tahapnya. Telor – larva – ulat – kepompong – kupu kupu, suatu proses yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan dan keindahan. Ko r e o g r a f i i n i t a k hanya indah, tetapi juga sarat makna. Sebab, dari serangkaian fase metamorfose bisa dijadikan pelajaran bagi umat manusia yang senantiasa menginginkan kesempurnaan. “Lewat garapan ini, saya ingin mengingatkan bahwa proses itu adalah sistem pembelajaran yang paling kuat. Segala sesuatu itu memang ada prosesnya,” kata Dayu Ani, sapaan akrab Ida Ayu Wayan Arya Satyani. Meski sebagai sajian seni modern, dalam penampilannya garapan “Ng” ini sangat lengkap. Tak hanya menyajikan gerak tari tetapi juga ada music, kidung (vokal), dan rias (gambar). Bahkan, anak-anak yang diberikan kebebasan berekplorasi maka ada suasana yang tercipta. Pendukung yang memiliki dasar tari tradisi yang kuat, bergerak bebas seakan mereka sendiri yang sebagai sutradaranya.

(kepala di bawah) hanya bertumpu pada lilitan kain saja. Adegan lainnya, seorang penari yang menari di atas kaki kawan dengan melengkung, hingga kepala dan kaki saling sentuh. Demikian pula music iringannya tampak sederhana. Hanya memanfaatkan suling, rebab, kendang dan bilah gangsa yang terlepas, paduan music ini mampu memberi suasana dalam setia adegannya. “Musik hanya memberi aksen dan menegaskan suasana dalam setiap adegan,” kata Gus Gentorang. Menurut Dayu Ani, ide garapan itu merupakan lanjutan dari eksprerimen kecil berjudul “I Kekupu” yang telah dipentaskan pada Pagelaran 100 Kebaya, Natya Mandala ISI Denpasar 2015. “Awal lahirnya karya ini bermula dari kekaguman saya terhadap karya Legong KupuKupu, Bedulu dalam sebuah workshop yang diberikan oleh Ibu Bulan Trisna Jelantik,” katanya.

Gerak mereka sangat sederhana, namun setiap sudut yang tercipta selalu indah. Itu karena bukan gerak biasa, melainkan bagian dari gerak yoga asanas yang mampu membawa ketenangan. Olah tubuh mereka tampak sempurna, melengkung, menggelinding, berdiri terbalik (kaki diatas dan tangan dibawah) dan terbang ringan di atas kaki teman. “Saya memang memberi mereka kebebasan bergerak,” ucapnya. Para penari hanya duduk diam. Kedua tangan mereka menempel pada lutut, kemudian mengepak dan menguncup bagai sayap kupu-kupu. Meski duduk diam, mereka terus berekspresi

lewat rasa. Terkadang memutas mata, nyeledet ke samping kanan dan kiri bahkan memutar bola matanya ½ dan 1/3. “Gerakan mata itu juga bagian dari gerak yoga,” tegas Dayu Ani. Walau semua gerak-gerak mereka mendapat aplaus penonton, namun ada dua adegan yang cukup sensasional. Yaitu ketika dua penari bergerak pada kain putuh yang bergantung pada tiang balok. Mereka menari melayang dan terkadang berbalik

Ungkapan Ibu Bulan, jelas Dayu Ani, hidup kupu-kupu seolah bertugas untuk berbagi kebahagiaan dan keindahan dalam hidupnya yang sekejap, setipis sayapnya yang indah dan setelah perjuangan siklus yang harus dilaluinya. “Belajar dari spirit hidup “I Kekupu” itu semoga jatah waktu hidup yang singkat ini dapat bermanfaat bagi lingkungan dan semesta,” pungkas Ibu satu putri ini. -Darsana


16

Edukasi

Edisi 877/ 30 november - 6 Desember 2015

Video Dokumenter Pelajar Denpasar Raih Prestasi di Peru Pada Kongres Internasional The Organization of World Heritage Cities OWHC XIII di Arequipa, Peru (3–6 November 2015) lalu, pelajar dari Kota Denpasar meraih posisi yang cukup membanggakan dalam kompetisi internasional video documenter.

“P

ada tahun 2013, kami diminta oleh IB Rai D. Mantra untuk mengikutsertakan karya pegiat film dokumenter pelajar di Denpasar pada kompetisi internasional video documenter yang diselenggarakan oleh The Organization of World Heritage Cities (OWHC). Organisasi ini beranggotakan 268 kota pusaka di dunia, dimana anggota dari Indonesia baru Denpasar dan Surakarta,” tutur Maria Ekaristi. Perempuan yang akrab disapa Eka ini segera mencari informasi dan menghubungi panitia kompetisi internasional untuk mengetahui proses dan persyaratannya. Akhirnya ia dan rekan-rekannya sukses menggelar rangkaian lomba yang disyaratkan untuk tingkat lokal tersebut di tahun 2014. “Pemenang utama dari masing-masing kategori itulah yang kemudian berhak untuk mengikuti kompetisi tingkat internasional,” jelasnya. Pada kategori usia 14-17 tahun, film “Layang-Layang” yang disutradarai Ni Putu Resha Arundari, yang saat lomba di tingkat lokal masih berstatus pelajar SMPN 3 Denpasar, kini menjadi siswa SMAN 3 Denpasar, menempati posisi 9 dari 18 finalis.Sedangkan pada kategori usia 18-21 tahun, film “Warisan Nak Lingsir” yang disutradarai I Made Arya Wibawa Dwiputra, siswa SMAN 3 Denpasar, menempati posisi 7 dari 10 finalis. Bicara kilas balik aktivitas pembuatan film di Kota Denpasar, Eka memaparkan bermula tahun 2010, ia dan Agung Bawantara mendapat tawaran untuk membuat film dokumenter dari Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. Film tersebut bertema kearifan budaya lokal yang sedianya akan disertakan dalam lomba tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata RI. Mereka menerima tawaran itu, tapi menolak mengerjakannya. Sebab, kata Eka waktu itu Agung tengah getolgetolnya ingin memajukan perfilman di Bali. Ia tengah mengupayakan agar film bisa menjadi mata acara dalam Pesta Kesenian Bali (PKB). Sebagai

alternatifnya mereka mengajukan tawaran kepada Kadis Kebudayaan Provinsi Bali yang saat itu dijabat IB Sedhawa. Tawarannya adalah membuat lomba film dokumenter yang dikaitkan dengan acara PKB. “Pertimbangannya, kalau permintaan membuat film kami terima, maka hasilnya hanya satu film. Tapi kalau menyelenggarakan lomba yang diawali dengan pelatihan, maka kemungkinan mendapat beberapa hasil yang layak disertakan di tingkat nasional,” tuturnya. Begitu disetujui, mereka pun menggelar lomba film dokumenter di PKB. Hasilnya mengagetkan, para juara dalam lomba yang mereka selenggarakan mendominasi lomba di kementerian. Dari 14 karya dari Bali. tiga di antaranya merebut gelar juara yakni juara 1, juara 2 dan juara 4. Melihat itu pihak Disbud Provinsi Bali semakin percaya dan bersemangat membesarkan lomba ini dan menyetujui rancangan untuk menjadikannya sebagai festival film dokumenter bergengsi di Indonesia. Maka lomba itu pun berubah wajah menjadi Festival Film Dokumenter Bali (FFDB). Namun, ketika IB Sedhawa tidak lagi sebagai

Dara

Edisi 877/ 30 november - 6 Desember 2015

I Putu Agus Mahardika Putra

Impian ke Laos, Ketemunya Tembok Berlin

Menjadi juara dunia karate membuat siswa kelas 6 SDN 2 Padangsambian ini makin memantapkan diri untuk menekuni olahraga karate. Ia bahkan tak menyangka latihan rutin dan disiplin ini membuatnya bisa ke Eropa.

“S

aya mulai latihan karate sejak kelas 3. Tujuannya untuk jaga diri,” ujar bocah bernama lengkap I Putu Agus

kepala dinas, berimbas pada pelaksaan konsep pengembangan FFDB yang sudah dirancang sebelumnya. Kepala Dinas yang baru lebih memilih agar acara film di PKB hanya sebagai mata acara sebagaimana mata acara kesenian

lainnya. Tidak perlu diperbesar menjadi festival tersendiri. Karena itu pula, Eka dan Agung memutuskan menyelenggarakan sendiri FFDB . “Setelah kami tawarkan konsep itu ke beberapa pihak, Kadek Suardana

(alm.) dari Arti Foundation bersedia memberi sokongan untuk menjalankan festival tersebut. Setelah berjalan beberapa saat, IB Rai D.Mantra (yang ketika itu wali kota Denpasar) tengah bersemangat memajukan industri kreatif tertarik untuk menjadikan festival itu sebagai salah satu ikon kreatif kota Denpasar,” ujar Eka. Maka berubahlah nama festival tersebut menjadi Denpasar Film Festival (DFF). Festival ini kemudian dikawal oleh berbagai pegiat perfilman seperti Slamet Rahardjo Djarot, Dr. Lawrence Blair, Rio Helmi, Prof I Made Bandem, Wayan Juniartha, Bre Redana, IGP Wiranegara, Gerzon Ron Ayawaila, Sastha Sunu, German S. Mintapraja, Faozan Rizal, AS. Laksana, Tonny Trimarsanto, Panji Wibowo, Putu Kusuma Widjaja, Erick EST, dan banyak lagi. Festival ini eksis hingga kini. Sekarang telah memasuki tahun ketujuh. Bahkan DFF menjadi salah satu festival film dokumenter yang diperhitungkan di Indonesia. –Sri Ardhini

Perempuan “Keras Kepala” Eka adalah perempuan keras” bahkan “keras kepala”. Ia tak menampik dan tak tersinggung dikatakan keras kepala. Sebab, kehidupan yang menem­panya menjadi demikian. Sejak kecil Maria Ekaristi, dibesarkan dalam tempaan yang keras. Sebagai anak tertua, oleh orangtuanya J. Mulyono Ali dan A. Ketut Manik, ia dididik bisa merawat diri sendiri sekaligus memperhatikan adiknya. Karena dekat dengan dunia keras, Eka pun menggemari olah raga bela diri. Sejak SD ia menggeluti beberapa aliran seni bela diri. Ia pernah ikut karate, taekwondo, dan silat. Ibu dua anak ini sempat mengikuti berbagai kejuaraan dan menemukan banyak hal baik sebagai atlet maupun pengurus organisasi. Sebagai pesilat, di situ ia mengenal para pendekar dan senior lainnya yang membimbing dan mengarahkannya tidak hanya dalam olah fisik, juga olah nafas dan jiwa. Oleh mereka kekerasan hatinya diasah dan ditempa agar menjadi lebih terarah. Meski tetap saja keras, perempuan kelahiran 22 Nopember 1967 ini bisa lebih tenang menghadapi berbagai hal. Di luar bela diri, ia juga seorang pecinta alam dan atlet bola basket. Di setiap sekolah yang ia masuki, ia selalu terpilih sebagai anggota inti

Mahardika Putra ini. Ia latihan di Dojo Campuan Asri, SDN 2 Padangsambian dengan pelatih Sensei Agung Astawa dan Sensei Putra Andayana. Jadwal latihan sore mulai pukul 18.00 tidak

tim bola basketnya. Sejak di bangku SMPK Swatiastu Denpasar, SMAN 1 Denpasar, hingga ke FE Unud berbagai kejuaraan pernah dilakoninya. Yang unik, di samping menggeluti hal-hal yang bersifat fisik, Eka juga sangat dekat dengan aktivitas yang menghaluskan jiwa. Semasa kecil di Gemeh, kakeknya mengajarinya mencintai tari Bali kebanggan sang kakek I Nyoman Kaler. Begitu juga pamannya I Made Sukada, mengenalkannya dengan dunia sastra. Semasa kecil ia juga sering ikut bertemu para sastrawan diantaranya Sutan Takdir Alisjahbana, Umbu Landu Paranggi, Putu Wijaya, NH. Dini, IBM Dharma Palguna, dan Windu Sancaya. Eka juga gemar berorganisasi sejak Maria Ekaristi kecil. Di SMA ia menjadi pengurus OSIS di mana salah satu ketuanya saat itu adalah IB Rai Dharmawijaya Mantra. Begitu saat di kampus, Eka juga sempat menjadi Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Unud. Di luar kegiatan organisasi Eka juga sempat berkarier sebagai penyiar di beberapa radio termasuk pernah jadi penyiar di Radio Paradise (RRI Denpasar) dan Radio Suara Janger Polda Bali (saat baru berdiri paska peristiwa bom Bali 1). Bidang pekerjaan lain yang pernah pula dijalaninya adalah sebagai Executive Assistant/Executive Secretary/Personal Assistant, di World Bank, bekerja di Indostone, di Rags Industries. Ia pernah bekerja di lembaga atau perusahaan yang bidang pekerjaannya sangat berbeda antara satu dengan yang lainnya. Tahun 2006, Eka bersua teman lama, saingannya dalam setiap lomba membaca puisi, Agung Bawantara. Mereka bersepakat mendirikan usaha di bidang media content. “Jadi kami menyediakan bahan-bahan bagi media entah dalam bentuk teks, audio, maupun audio-visual,” kata Eka yang gemar memasak – Sri Ardhini

Dika

Reading Contest Yayasan Duta Bangsa

Mrs. Ruby dan Mrs. Joanne didampingi owner Bagus Book Shop Ida Ayu Amanda Sari bersama anak-anak Yayasan Tatwam Asi

Yayasan Duta Bangsa dengan tagline “Live Long, Love of Reading” mengajak anak-anak yayasan Tatwam Asi, Denpasar untuk mengikuti reading contest, Sabtu (21/11). IB Agung Narendra, pimpinan Duta Nusa mengatakan reading contest bertujuan untuk membiasakan anak-anak dengan kegiatan membaca di luar kegiatan sekolah. Selain itu, dengan membaca , kebiasaan anak-anak menonton televisi bisa dikurangi. Reading contest yang didukung Bagus Book Shop ini juga menghadirkan dua pemerhati anak-anak dari Australia, Mrs. Ruby dan Mrs. Joanne. Mereka mengingatkan membaca seperti bermimpi dengan mata terbuka. Hidup ini seperti buku, tiap hari ada halaman baru dengan pelajaran berharga. Reading contest juga menjadi bagian dari kegiatan untuk mendukung hari Membaca Nasional. –Ngurah Budi

menyulitan Dika. Biasanya pulang sekolah, ia belajar dulu dan mengerjakan PR. Sore harinya putra pasangan Nyoman KresnaKadek Wiryastuti ini bisa fokus latihan karate. Setelah setahun berlatih, Dika yang kala itu kelas 4 mulai ikut kejuaraan. Ia pertama kali ikut Kejuaraan Antar Gugus. “Saya turun di nomor kumite -40 kg. Baru pertama kali langsung dapat emas,” ungkap karakteka yang yang kini menyandang sabuk coklat muda ini. Kelas 5, Dika ikut lagi di kejuaraan yang sama. Ia kembali meraih medali emas. Selanjutnya kakak dari Ni Kadek Putri Fariza Wahyuni ini ikut Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) Bali. Ia turun di kumite +35 kg, meraih emas dan nomor kata meraih perak. Menjadi juara di O2SN Bali membuatnya dikirim ke O2SN di Makasar. Lagi-lagi, Dika meraih emas. “Para juara di Makasar kemudian dikirim ke Berlin untuk ikut Bansai Cup Open Karate, 8-13 Oktober 2015. Ini pertama kali saya ke luar negeri. Dulu impian saya ke Laos karena mendengar cerita Sensei. Ternyata saya malah ke Berlin, Jerman,” ujar bocah

yang bercita-cita menjadi tentara ini, Di Bansai Cup, Dika bertarung di kumite kelas -43 kg. Lawan yang dihadapi dari Jerman, Qatar, dan Ukraina. Paling seru ketika ia berhadapan dengan karateka Ukraina di final. “Saya berusaha bermain tenang. Lawan saya hebat. Saya beberapa kena pukul. Untungnya bisa menang,” ujar Dika dengan semangat. Begitu dinyatakan sebagai pemenang, ia langsung dirangkul teman-teman dan ofisial tim Indonesia. Dari hasil kejuaraan ini, Dika meraih hadiah uang, medali, dan piagam. Hadiah uang ia berikan kepada orangtuanya untuk dibelikan mobil. Ia menuturkan ayahnya yang bekerja sebagai petugas security dan ibunya yang bekerja di toko emas sangat mendukung

9

apa yang dilakukan. Mereka bahkan menangis saat Dika berangkat ke Berlin. Pengalaman di Berlin sangat menyenangkan bagi Dika. Ia bisa melihat dari dekat Tembok Berlin yang menjadi saksi sejarah bersatunya Jerman Barat dan Jerman Timur. Musim dingin yang sedang berlangsung di Jerman tak menghalangi Dika dan beberapa temannya untuk jalan-jalan di kota Berlin sembari membeli oleholeh. Dari Bali, selain Dika ada Komang Wira dan Made Yuli yang ikut dalam kejuaraan ini. “Tahun depan saya ingin ikut kejuaraan ini lagi. Saya akan terus berlatih dengan giat,” ujar pengagum karateka Agayev dari Azerbaijan yang hadir saat Bansai Cup ini. Kini Dika harus mengatur waktu antara latihan dan belajar menjelang ujian nasional. Untuk mengejar ketertinggalan pelajaran selama ikut turnamen, ia les di sekolah dan di Wisma Belajar. Penggemar pelajaran bahasa Inggris ini berharap bisa menyeimbangan antara pelajaran di sekolah dan prestasi di karate. Ia pun berharap teman-tremannya untuk terus giat berlatih dan mendengarkan arahan pelatih. –Ngurah Budi


10

Mitos

Edisi 877/ 30 November - 6 Desember 2015

Nyamuk bisa Tularkan HIV AIDS?

Banyak mitos yang berkembang terkait HIV AIDS. Sayangnya, mitos yang dipercaya masyarakat tersebut tak sepenuhnya benar. Padahal masyarakat membutuhkan pemahaman yang baik tentang penyakit ini. Berikut ini, Koordinator Humas dan Pencegahan KPA Provinsi Bali Prof. Dr. dr. I Nyoman Mangku Karmaya, M.Repro, PA (K). akan meluruskannya. Mitos : Anda bisa terinfeksi HIV bila menghabiskan banyak waktu dengan penderita Fakta : Penularan dapat terjadi jika cairan tubuh pengidap HIV berpindah ke tubuh orang sehat. Jalur perpindahan itu bisa melalui darah transfusi, dari darah ibu yang mengandung HIV ke bayi yang dikandungnya, melalui ASI (air susu ibu), suntik narkoba dengan satu alat suntik (spuit) dipakai berbanyak bersama-sam, hubungan seks berisiko berganti-ganti pasangan tanpa pengaman atau kondom. Sepanjang kita tidak melakukan kegiatan-kegiatan itu, terutama suntik narkoba satu spuit bersamasama atau hubungan seks berisiko, transmisi atau perpindahan virus tidak akan terjadi. Bersentuhan, berpelukan salaman, minum makan bersama, aman-aman saja seberapa lama pun kita hidup bersama.

perempuan di Kenya yang barubaru ini dilaporkan, memperkirakan paling sedikit 4% kejadian superinfeksi per tahun, tetapi tidak ada bukti pengembangan penyakit sebagai akibat superinfeksi. Sebuah penelitian terhadap laki-laki gay melaporkan kejadian 5% per tahun. Namun demikian superinfeksi tidak tampak memiliki dampak yang berbahaya secara luas baik terhadap kesehatan maupun hasil pengobatan pada ODHA. Hanya saja ada bukti yang jauh lebih kuat bahwa seks tanpa kondom dengan ODHA lain menjadi berbahaya bagi ODHA menyangkut risiko infeksi menular seksual (IMS) – khususnya sifilis – atau hepatitis C, keduanya kian meningkat di antara laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki. Oleh karena itu sebaiknya selalu memakai kondom.

Mitos : Tidak perlu menggunakan kondom apabila masing-masing pihak telah terinfeksi Fakta : Sudah lama ditenggarai adanya peningkatan kegiatan seks tanpa kondom di antara pasangan sesama ODHA (orang dengan HIV AIDS). Saat ini masih diyakini dan dipakai sebagai pedoman untuk ODHA bahwa seks tanpa kondom berisiko terhadap kejadian superinfeksi, yaitu infeksi dengan jenis HIV baru yang melebihi populasi virus yang ada saat ini akibat ketiadaan kekebalan terhadap virus. Superinfeksi tampak terjadi tidak hanya pada orang yang baru terinfeksi HIV, tetapi juga pada mereka yang sudah lama terinfeksi HIV. Sebuah penelitian terhadap

Mitos : Penyakit HIV AIDS adalah akhir dari segalanya Fakta : Pernyataan ini benar ketika obat ARV belum ditemukan. Tetapi berkat kemajuan iptek kedokteran dan penemuan-penemuan besar di berbagai bidang termasuk hal yang berkaitan dengan HIV, seperti obat-obat anti retro viral (ARV), telah membuat perubahan revolusioner dalam cara pandang HIV. HIV AIDS sekarang dikategorikan sebagai penyakit kronis setara penyakit tekanan darah tinggi atau kencing manis, yang membutuhkan obat terus menerus seumur hidup. Tidak ada kalimat “Penyakit HIV AIDS adalah akhir dari segalanya”, jika konsumsi ARV sesuai dosis dan

Prof. Mangku Karmaya

aturan dilakukan secara persisten dan konsisten. Para ODHA kesehatannya kian membaik, dan menjadi lebih produktif seperti orang kebanyakan lainnya. Mitos : Penderita HIV AIDS akan sehat apabila terus-terusan mengonsumsi obat Fakta : Hal ini bukan lagi mitos, asalkan konsumsi obat ARV dilakukan sesuai dosis dan aturan secara persisten dan konsisten. Tetapi masalahnya tidak semua ODHA memiliki disiplin yang tangguh. Oleh karena itu, para ODHA perlu didampingi. Para PMO (pendamping minum obat) akan memberitahukan setiap jadwal minum obat. Namun banyak diantara mereka berhenti minum obat karena efek sampingnya, malas atau merasa sudah sehat

Fenomena KETUT

dr. Ketut Suryana

Upaya yang dilakukan klinik VCT Merpati RSUD Wangaya untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada pasiennya tidak sia-sia. Hal tersebut terbukti dengan meningkatnya angka kunjungan tiap hari. “Saat ini kunjungan tiap hari mencapai 40 orang,” ujar Ketua Klinik VCT Merpati, Dr. dr. Ketut Suryana, Sp.PD. KAI, FINASIM. Ditanya mengenai kiat-kiat yang telah dilakukan Klinik VCT Merpati, dr. Suryana mengatakan mereka memiliki struktur organisasi dan setiap komponen di struktur itu bekerja sesuai tugasnya dan saling melakukan koordinasi. Selain melibatkan konselor, laboratorium, CST, farmasi dan monev, mereka merangkul semua konsulen yang dimiliki RS ini seperti konsulen anak, obgyn, paru, dll. Selain struktur organisasi, alur pelayanan yang melibatkan komponen dari luar RSUD Wangaya seperti dokter praktek swasta, RS swasta, Puskesmas, dan LSM sangat membantu dalam melakukan pendekatan kepada ODHA sehingga mereka mau datang berobat.

atau menghilang tidak terpantau (lost to follow up). Alpa minum obat bisa menimbulkan resistensi. Harus meminum obat setiap hari. Tidak ada hari libur untuk ARV. Mitos : Jangan mengonsumsi buah kalengan atau memakai tusuk gigi yang tidak tersegel karena ada isu penderita HIV AIDS menularkannya melalui darah yang diteteskan disana Fakta : HIV hanya dapat hidup pada lingkungan tertentu dalam tubuh manusia. Virus ini tidak hidup pada lingkungan di luar tubuh manusia. Ada banyak faktor yang menentukan berapa lama virus itu dapat hidup di luar tubuh. Hal ini bergantung pada kondisi lingkungan tempat virus itu berada. Karena kondisi lingkungan dapat berubahubah, sehingga memungkinkan virus dapat bertahan hidup lebih lama. Itulah sebabnya tidak ada satu ketentuan waktu yang sama dalam hal daya tahan hidup HIV di luar tubuh. Tapi secara umum virus itu hanya dapat hidup selama beberapa menit di luar tubuh. Mitos : Nyamuk membantu penularan HIV AIDS Fakta : Virus HIV hanya bisa hidup dalam sel T, yaitu salah satu kelompok sel darah putih manusia. Tidak ada sel T, virus tidak bisa tumbuh. Saat nyamuk mengisap darah penderita HIV positif, virus akan masuk ke sistem pencernaan nyamuk. Disini tidak ada sel T manusia yang menyebabkan virus tersebut akan mati. Selain itu partikel virus yang dihisap dari penderita HIV positif jumlahnya tidak banyak. Struktur alat hisap nyamuk sangat kompleks dan berbeda dengan struktur jarum suntik, sehingga perkembangan virus HIV tidak memungkinkan. Hal ini dperkuat oleh hasil uji laboratorium yang menunjukkan bahwa virus HIV tidak mampu membiak saat dikultur ke sistem pencernaan nyamuk. Perilaku menggigit nyamuk juga mendukung bahwa kemungkinan

Ia mengatakan, pasien dengan HIV/AIDS membutuhkan perhatian ekstra dibandingkan pasien bukan penderita HIV. Mereka cenderung mengalami fenomena KETUT (Kecewa, Emosi, Tolak, Upayakan, Terima). “Untuk itu kami harus lebih peka dan lebih peduli pada mereka. Mereka harus terus didukung dan didampingi. Untuk pasien yang datang ke Klinik VCT juga kami layani untuk pendaftaran sehingga mereka tidak perlu mengantri di loket pendaftaran,” jelasnya. Menurutnya, layanan untuk HIV/AIDS harus komprehensif. Karena itu, memberdayakan keluarga klien menjadi prioritas utama. Dengan pemberdayaan keluarga pasien ini, infromasi dan edukasi kepada pasien lebih mudah diberikan. Respon psikologis setelah setahun keluarga diberdayakan, pasien menjadi lebih semangat, apalagi masyarakat sudah mulai terbuka, yang menerima untuk berobat makin meningkat. Adanya pemahaman yang baik dan benar tentang HIV dari klien, keluarga, dan masyarakat pada umumnya. “Orang yang kita beri penjelasan HIV mengerti, sehingga dia sadar akan dirinya dan sukarela mau dites. Setelah hasilnya dinyatakan positif mereka bersedia dengan sukarela berobat,” kata dr. Suryana.

transmisi virus HIV tidak memungkinkan. Setelah menggigit orang dan menghisap darah, nyamuk tidak langsung menggigit orang yang dijumpai berikutnya. Setelah menghisap darah, nyamuk akan beristirahat untuk mencerna darah dan virus HIV akan mati pada fase ini. Saat menggigit orang berikutnya, nyamuk tidak menyuntikkan darah yang baru dihisap, tapi menyuntikkan liurnya sebagai pelicin agar proses menghisap menjadi efisien. Hal yang berbeda terjadi pada penularan malaria, dimana parasitnya tersimpan di air liur nyamuk. Riset lain mengungkap bahwa ternyata hanya sedikit darah yang tersisa di alat hisap nyamuk setelah menggigit, sehingga partikel HIV yang ada tidak cukup untuk menyebabkan terjadinya penularan. Mitos : Orang yang setia pada satu pasangan tidak mungkin tertular HIV AIDS Fakta : Jika Anda yakin pasangan Anda tidak mengidap HIV, maka tidak ada risiko terkena, meskipun Anda melakukan seks tanpa pengaman (baik melalui vagina, oral, atau anal). Masalahnya adalah, apakah Anda benar-benar tahu kalau pasangan anda tidak mengidap HIV? Karena mereka yang positif dan yang negatif sulit dibedakan, kecuali dengan tes darah. Oleh karena itu, dianjurkan tetap memakai kondom untuk mencegah terjadinya kehamilan atau penyakit menular seksual lainnya. Mitos : HIV AIDS tidak akan menular melalui seks oral Fakta : Kemungkinan terinfeksi HIV melalui seks oral lebih rendah daripada melalui hubungan seksual tanpa pelindung. Risiko menjadi lebih besar jika mulut si pelaku oral seks mengalami luka-luka seperti sariawan, gusi luka, gigi bolong, bahkan adanya mikrolesi (lecet sangat kecil) pada mukosa (selaput lendir) mulut yang terjadi segera sesudah makan keripik atau sikat gigi. –Inten Indrawati

Layanan Klinik Merpati selain memberi layanan konseling VCT, ada layanan konseling dukungan, layanan CST dewasa dan anak, ada layanan untuk pencegahan penularan dari ibu hamil ke janinnya, dan layanan komprehensif berkesinambungan. Tahun 2014 jumlah kasus sebanyak 7000. Diprediksi sampai akhir tahun 2015 sebanyak 8000 kasus. Dari hasil tes darah klien tiap bulan, diperkirakan 20 s.d. 30 persen klien positif HIV/AIDS. Rentan usia 20 s.d. 40 tahun. Sebagai contoh bulan Januari 82 yang tes, 31 positif HIV. Februari yang tes darah 97 orang, 20 yang positif HIV. Bulan November yang dites 84, yang positif HIV 17 orang. Keberhasilan menekan kematian ODHA, menjadi prestasi bagi Klinik VCT Merpati. Bahkan menarik minat WHO untuk datang langsung memantau Klinik VCT Merpati RSUD Wangaya. Menurut dr. Suryana, perwakilan dari WHO tersebut mengungkapkan, apresiasinya terhadap kinerja Klinik VCT Merpati yang telah berhasil menekan angka kematian ODHA dan mengatakan akan merekomendasikan alur pelayanan yang dimiliki Klinik VCT Merpati untuk digunakan sebagai acuan di Klinik VCT lainnya. –Wirati Astiti

Style

Edisi 877/ 30 November - 6 Desember 2015

Celana

15

Modern Etnik Fashion bukan hanya ditujukan bagi perempuan, tapi juga laki-laki. ­Karenanya koleksi busana pilihan Tokoh kali ini, mengetengahkan warna dan garis rancangan yang cukup variatif.

M

enariknya, endek salah satu produk kebanggaan lokal Bali menjadi bahan utamanya. Terlebih dengan menyuguhkan kekayaan motif tradisional yang unik untuk berbagai model busana siap pakai (ready to wear). Menurut Ari Agung, salah seorang top model Bali yang kini banyak mengamati perkembangan dunia fashion, sangat menggembirakan melihat produk-produk lokal diperhatikan dan diolah para perancang dalam memajukan industri fashion nasional. Maka pecinta mode pun memiliki

lebih banyak pilihan. Beberapa model berikut terlihat lebih banyak mengenakan pants (celana). Mulai dari yang panjang, 7/8 hingga yang pendek. Meski kreasi siluet yang simpel nampak nya mendominasi namun saat dikenakan mampu membawa kesan modern tapi etnik. Kekuatan koleksi pribadi kali ini terletak pada gayanya yang khas anak muda. Keberanian mencampur ragam motif dan teknik potongan justru memperlihatkan selera fashion yang sangat stylish.Sedangkan, bagi para fashionista sejati, koleksi ini bisa menjadi inspirasi. -Sri Ardhini


14

Jelita

Edisi 877/ 30 november - 6 Desember 2015

Tidak Cukup Hanya

Wajah Tirus Iming-iming wajah tirus seringkali ditawarkan untuk memperoleh wajah ideal dan menarik. Tapi, apakah cukup wajah tirus membuat Anda tampil percaya diri? Bentuk wajah V-shape (tirus) saja ternyata tidak cukup. Bagaimana dengan kontur wajah ditinjau dari proyeksi 3 dimensinya? Kontur wajah sempurna harus memiliki kontur ideal dari berbagai sisi sehingga tampil estetis dan proporsional jika dilihat dari tampak depan, samping dan secara keseluruhan. Lalu, bagaimana dengan tampilan kulit Anda? Apakah Anda sudah memiliki kulit yang bersih, sehat terawat dan bebas dari berbagai problem pigmentasi? Hal itu juga harus diperhatikan untuk melengkapi tampilan sempurna Anda. Itulah yang disebut facial harmony. Miracle Aesthetic Clinic memperkenalkan perawatan terbaru dengan mengusung konsep tersebut untuk solusi optimal Anda.

Miracle Double V Shape Miracle Double V Shape adalah ­perawatan terbaru untuk mem­ bentuk kontur wajah yang lebih estetis dan proporsional

Miracle Double V Shape Miracle Double V Shape adalah perawatan terbaru untuk membentuk kontur wajah yang lebih estetis dan proporsional, mengatasi kontur wajah yang

tampak lebar dan datar, serta proporsi wajah yang kurang ideal. Menggunakan kombinasi Miracle Botox for V-Shape dan Dermal Filler dengan bahan yang aman dan telah mendapatkan ijin edar dari Kementrian Kesehatan RI. Injeksi Botox dan Filler diaplikasikan pada area pipi, dagu, maupun hidung untuk membentuk kontur wajah dengan proyeksi 3 dimensi yang ideal dan V-shape ala Korea yang lebih sempurna (3-dimensional contour). Perawatan ini tidak hanya bertujuan memberikan efek tirus pada luar wajah, tetapi juga menghasilkan V line pada bagian sentral wajah. Injeksi Botox for VShape bermanfaat untuk membuat wajah lebih tirus serta membentuk garis rahang yang lebih tegas, sedangkan dermal filler diinjeksikan untuk menambah volume pada area tertentu untuk membentuk wajah dengan kontur yang estetis dan ideal. Karena itu, dibutuhkan double V shape. Apabila dilihat dari tampak depan, samping dan berbagai sisi, wajah terlihat lebih estetis. Contohnya, hidung yang dibuat mancung juga mempertimbangkan proporsi yang harmonis dengan fitur wajah lainnya, seperti bagian pipi dan dagu. It’s more than just a V-shape.

Miracle MD Brighten Laser Miracle MD Brighten Laser adalah perpaduan perawatan berbasis teknologi laser dengan panjang gelombang tertentu, dan pengaplikasian serum khusus dengan kandungan Vitamin C dan bahan

Keunggulan Perawatan Terbaru MIRACLE Tanpa luka dan waktu pemulihan minimal. Proses perawatan aman, relatif singkat, dan nyaman. Hasil segera terlihat dengan sekali perawatan. Menggunakan paduan teknologi laser dan serum khusus untuk mencerahkan wajah. Memberikan kontur wajah dengan proyeksi 3 dimensi yang ideal.

aktif pencerah kulit. Mengatasi problem pigmentasi (flek, melasma), warna kulit tidak merata dan kulit kusam. Sinar laser digunakan untuk mencerahkan warna kulit sekaligus meremajakan kulit. Setelah itu, diaplikasikan serum dengan menggunakan alat khusus untuk membantu penyerapan bahan aktif ke dalam kulit secara optimal. Miracle MD Brighten Laser menjadikan kulit lebih cerah, sehat dan berkilau. Segera kunjungi MIRACLE Aesthetic Clinic terdekat. Jangan ragu mencoba perawatan terbaru Miracle Double V Shape, Miracle MD Brighten Laser dan perawatan lainnya hanya di MIRACLE. Let’s experience the Miracle touch!

Bugar

Edisi 877/ 30 november - 6 Desember 2015

Penyakit Amandel dr. Conchita P. da Silva, Sp.THT-KL

Dokter spesialis Telinga, Hidung, Tenggorokan- Bedah Kepala Leher Siloam Hospitals Bali Seringkali pasien datang terdapat sumbatan jalan ke dokter mengeluh “Tengnafas maka pasien akan bergorokan Saya sakit, mungnafas melalui mulut (mouth kin amandel Saya bengkak” breather), mendengkur, atau “Amandel Saya kambuh bahkan sleep apnea (henti lagi karena tidak jaga manafas saat tidur), lemas dan kan”. Jadi apakah sebenarnya lesu. Hal ini tentunya sangat amandel itu? membahayakan keadaan kesehatan tubuh. Radang amandel atau dalam bahasa kedokteran Tonsilitis akut sembuh dikenal sebagai Tonsilitis, dengan sendirinya dalam adalah proses inflamasi/ 3-4 hari. peradangan tonsil faringeal Apabila gejala tonsilitis yang terletak pada tenggoroakut berulang beberapa kali kan bagian belakang, dadalam setahun maka disebut pat terlihat saat membuka sebagai tonsilitis rekuren. mulut. Inflamasi dapat juga Salah satu komplikasi mengenai kelenjar adenoid tonsilitis yaitu abses peridi nasofaring maupun tonsil tonsilar memberikan gejala lingualis di belakang lidah. seperti sakit tenggorokan Berdasarkan waktu berlanghebat, demam, kesulitan sungnya, tonsilitis terbagi membuka mulut, nafas bau, menjadi akut, rekuren dan drooling (kesulitan menahan kronis. Selain itu ada sebuliur di dalam mulut) dan tan abses peritonsilar yaitu kesulitan bicara atau muffled keadaan yang lebih berat voice atau hot potato voice dimana terjadi penimbunan (bersuara seperti sedang pus (nanah) pada jaringan mengulum kentang panas). dr. Conchita P. da Silva, Sp.THT-KL ikat longgar sekitar tonsil. Infeksi virus atau bakteri maupun faktor imunologis Bagaimana cara mendiagnosa penyakit ini? menjadi penyebab timbulnya tonsilitis ini. Biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan lengkap Telinga Hidung Tenggorokan setelah anamSiapa saja yang dapat terserang tonsilitis? nesa riwayat perjalanan penyakit. Temuan fisik pada Tonsilitis paling sering terjadi pada anak- anak nakasus ini dapat berupa: mun jarang pada anak kurang dari 2 tahun. Tonsilitis lDemam, pembengkakan tonsil, tertutup disebabkan oleh kuman Streptokokus, yang biasanya oleh pus/ nanah. menyerang anak usia 5- 15 tahun. Sedangkan infeksi lJika penyebabnya GABHS, dapat ditemukan oleh virus lebih sering terjadi pada anak usia lebih palatal petechiae (bintik perdarahan sangat muda. Abses peritonsilar sering ditemukan pada usia kecil pada langit- langit mulut) dewasa muda, kadang- kadang pada anak. lMulut terbuka saat bernafas dan kesulitan bicara. Apa penyebab tonsilitis? lLeher kaku, kelenjar getah bening leher Jenis virus influenza, herpes simpleks, virus Epmembengkak (terutama pada tonsilitis akut) stein- Barr, cytomegalovirus, adenovirus dan virus l Tanda- tanda dehidrasi (terlihat melalui measles adalah yang umumnya menyebabkan farpemeriksaan kulit dan mukosa). ingitis akut dan tonsilitis akut. Sedangkan bakteri l Lemas, tidak bertenaga. hanya sebesar 15%- 30% dan kuman tersering adalah lAdanya lapisan abu- abu menutupi tonsil GABHS (Group A Beta Hemolytic Streptococcal). yang dapat dilepas tanpa perdarahan (kasus virus Epstein Barr). Apa saja gejala tonsilitis? lLuka kecil/ ulkus pada permukaan tonsil Seperti demam tinggi, nyeri menelan, sulit meyang merah dan bengkak nelan, nafas bau dan nyeri area kelenjar getah bening leher. Apabila tonsil sangat membengkak sehingga (virus Herpes Simpleks).

11

lAbses

peritonsilar; pembengkakan di atas dan samping tonsil yang terkena, rahang kaku, sulit buka mulut, nyeri bias sampai ke telinga, tergantung derajat keparahannya.

Apa yang harus dilakukan? Yang pertama dilakukan adalah banyak minum air putih, kumur dengan larutan antiseptik dan jika perlu konsumsi obat penahan nyeri. Apabila gejala berlangsung lebih dari 3 hari atau bertambah buruk dari waktu ke waktu maka perlu dikonsultasikan ke dokter. Pemberian antibiotik yang tepat bisa dipertimbangkan. Rawat inap disarankan pada kasus berat dimana terjadi sumbatan jalan nafas sehingga diperlukan tindakan yang lebih agresif. Abses peritonsilar hebat sebaiknya sesegera mungkin dilakukan tindakan drainase untuk mengeluarkan pus sebelum timbul komplikasi. Pada kasus tonsilitis kronis atau berulang (rekuren), tindakan pembedahan/ pengangkatan tonsil (tonsilektomi) seringkali direkomendasikan.


12

Kuliner

Edisi 877/ 30 November - 6 Desember 2015

Sensasi Beda Mi Luber “Dapoer Luber”

“Bali Ristaffel”

Promosikan Kuliner Khas Bali

M

enurut Wakil Ket­ ua ICA Bali, Ketut Swastika, acara kompetisi memasak ini sejalan dengan misi dan visi Kota Den­ pasar untuk membina dan me­ lestarikan warisan leluhur Bali. Kompetisi memasak degan tema “ Balinese Ristaffel”, ini memberi­ kan para peserta untuk berkreasi dalam menyajikan satu paket

hidangan khas Bali mulai dari ma­ kanan pembuka, makanan utama, dan makanan penutup. Sekda Kota Denpasar AAN Rai Iswara menilai, perkemban­ gan industri kreatif seperti me­ masak cukup pesat. Kompetisi memasak ini diharapkan dapat memacu semangat para insan kuliner untuk memgembangkan wawasan di bidang memasak

13

Belakangan ini banyak menjamur café-café yang menjadi tongk­ rongan anak muda. Menu yang ditawarkan pun beragam. Salah satu tempat nongkrong baru yang bisa menjadi pilihan anak muda maupun keluarga adalah “Dapoer Luber” coffee & resto.

Sebanyak 22 peserta beradu kreatif dalam ajang kompetisi memasak yang digelar Pemerintah Kota Denpasar bekerja sama dengan Indonesian Chef Association ( ICA) Bali, Selasa (24/11), di Inna ­Denpasar. Ac­ ara yang digelar untuk ketigakalinya dalam rangka pra-event ­Denpasar Festival ini, diikuti mahasiswa sekolah perhotelan dan chef professional hotel.

Tim dari Hotel TS Suite Seminyak

Edisi 877/ 30 November - 6 Desember 2015

dan tetap melestarikan makanan khas tradisional Bali. “Saat ini kita tidak saja membicarakan masalah wisata budaya, namun harus juga mampu mengembangkan masalah wisata kuliner di Kota Denpasar. Melalui kompetisi me­ masak ini, dapat meningkatkan kecintaan kita kepada kuliner khas Bali. Saya berharap, hotel dan restoran dapat memperke­ nalkan makanan khas Bali ini kepada wisatawan lokal dan mancanegara,” ujarnya. Salah seorang peserta lomba, tim dari Hotel TS Suite Seminyak, Wira Adi Putra mengaku sangat tertarik dengan lomba memasak seperti ini. Ia menilai, dengan ajang ini, dapat mempromosikan masakan Bali kepada masyarakat dan juga turis asing. Satu paket yang ia hidangkan, sup ikan ala Kintamani, lawar ayam, nasi, ayam betutu, jukut serombotan, jaja lempog, dan tiga sambal; bongkot, embe, dan kacang. Penyajiannya sangat autentik Bali dengan unsur kayu dan bambu dengan nuansa sangat Bali. –Wirati Astiti

M

Kreasi makanan peserta

Atraksi juru masak membuat mi

enu unggulan Dapoer Luber yang baru dibu­ ka 15 Novem­ ber 2015 ini adalah mi dan nasi goreng. Ada 3 menu mi dengan

beragam varian ditawarkan di sini, yakni Mie Luber, Mie Tarik, dan Mie Sama. Mie Luber misalnya, dengan pilihan varian mie luber ori, hitam, merah dan mie luber ijo, disajikan dengan

taburan ayam dan bakso rambutan. Untuk level pe­ dasnya bisa dise­ suaikan dengan permintaan. “Atau pembeli bisa men­ campur sendiri se­ suai selera masingmasing, karena kami juga menye­ diakan aneka sam­ bal, yakni sambal terasi, cabe hijau, sambal hitam, sambal merah, sambal mangga muda, dan sambal dadak,” ujar Linda Wahyuni yang tu­ rut mengelola usaha keluarganya tersebut. Ada juga Mie Tarik den­ gan beberapa pilihan seperti, Mie Tarik Kuah Sechuan, Kuah Wonten, Kuah Kare Laksa, Kuah

Mie Luber Ori

Cah Cia, dan Mie Tarik Kuah Urat Sapi. Yang menarik adalah, mi ini dibuat langsung di depan pembeli. Bahkan tak jarang ke­ lihaian juru masak membuat mi dengan tangan (bukan mesin) dan ditarik-tarik tersebut men­ jadi atraksi menarik bagi para pembeli yang bisa menyaksikan­ nya langsung karena dapurnya terletak di depan. “Kami ingin agar pembeli bisa melihat lang­ sung proses memasak kami yang higienis dengan bahan pilihan yang aman, dan pastinya semua fresh from the oven,” ujar Linda. Menu lainnya adalah Nasi Goreng Rainbow dengan pilihan rasa sesuai dengan warnanya. Nasi Goreng Merah, pedas dari Lombok merah; Nasi Goreng Ijo, pedasnya dari Lombok hijau; Nasi Goreng Kuning, rasa kare; Nasi Goreng Hitam, ada cam­

puran cumi, dan Nasi Goreng Ungu, berisi ketela ungu. Selain itu, ada juga paket lalapan ayam dan bebek goreng; aneka dim sum, seperti siomay, ceker tausi, hakau, bakpau ayam, bakpau pasir mas, lumpia ayam goreng, mutiara naga goreng, pangsit goreng, bubur ayam, bubur sapi, bubur seafood; aneka dessert, seperti kentang goreng, pisang goreng, pancake, waffle, dan roti bakar. Jika Anda penasaran, datang saja ke “Dapoer Luber” di Jalan Jempiring (depan Ganesha Op­ eration), Kreneng, Denpasar. Selain bisa nongkrong makan mi sambil Wifi-an gratis dengan suasana yang nyaman, Anda juga bisa mendapatkan promo diskon 30% dan promo khusus untuk pelajar selama Bulan November ini. Jadi tunggu apa lagi? –Inten Indrawati

Rajungan Kecombrang Sarwan Bahan: 4 ekor : rajungan, bersihkan, belah 2, goreng

ti ikma

Chinesse Food

N Hanya di...

& Aneka Es Taiwan

Cafe Santai

free Rujak Gula

setiap pembelanjaan Rp 50.000 Ayam Goreng Kecap

h

Murah Meria & Bersih

Es Campur Mutiara

Berlaku mulai 1 s.d. 31 Desember 2015

Jln. Raya Sesetan No. 293 Denpasar. Tlp. (0361) 7440658, 7427678

Bahan saus: 1 buah : bunga kecombrang, cincang kasar 1 buah : cabe merah, cincang 5 buah : bawang merah, cincang 3 siung : bawang putih, cincang 1 ruas : jari jahe, cincang 1 sdm : saus tomat 1 sdm : saus sambal 1 batang : daun pre, cincang halus, buat taburan 1 sdt : lada bubuk 2 sdm : kecap manis 2 sdm : tepung sagu, campur air dalam gelas Gula, garam, kaldu bubuk, mi­ nyak secukupnya Cara Membuat : - Tumis semua bahan saus (kecuali kecap manis, saus

tomat, saus sambal dan irisan daun pre) hingga harum. - Masukkan rajungan, beri air dan kecap manis, saus tomat dan saus sambal, masak hingga men­

didih dan bumbu meresap. - Kentalkan dengan air sagu, angkat, lalu sajikan di atas piring saji, taburi dengan irisan daun bawang pre.

Sayur Pepaya Muda

Bahan: 300 gr : pepaya muda, iris korek api 200 gr : tetelan sapi rebus 500 ml : santan encer 3 lbr : daun salam 3 lbr : daun jeruk purut, buang tangkainya 2 ruas : lengkuas jari, memarkan 2 batang : serai, memarkan 1 sdt : lada bubuk 200 ml : santan kental Gula, garam, kaldu bubuk rasa sapi secukupnya dan minyak secukupnya Bumbu Halus: 9 buah : bawang merah 4 siung : bawang putih

4 2 3 7

butir ruas buah buah

: : : :

kemiri sangrai jari kunyit sangrai cabe merah besar cabe rawit

Cara membuat: - Tumis bumbu halus, masukkan lengkuas, daun jeruk, daun salam dan serai hingga harum. Masukkan tetelan daging dan irisan pepaya muda, masukkan santan encer, gula, garam dan kaldu bubuk hingga mendi­ dih. - Masukkan santan kental, masak dengan api sedang, aduk-aduk hingga matang dan mendidih. - Siap untuk disajikan dengan taburan bawang putih goreng


12

Kuliner

Edisi 877/ 30 November - 6 Desember 2015

Sensasi Beda Mi Luber “Dapoer Luber”

“Bali Ristaffel”

Promosikan Kuliner Khas Bali

M

enurut Wakil Ket­ ua ICA Bali, Ketut Swastika, acara kompetisi memasak ini sejalan dengan misi dan visi Kota Den­ pasar untuk membina dan me­ lestarikan warisan leluhur Bali. Kompetisi memasak degan tema “ Balinese Ristaffel”, ini memberi­ kan para peserta untuk berkreasi dalam menyajikan satu paket

hidangan khas Bali mulai dari ma­ kanan pembuka, makanan utama, dan makanan penutup. Sekda Kota Denpasar AAN Rai Iswara menilai, perkemban­ gan industri kreatif seperti me­ masak cukup pesat. Kompetisi memasak ini diharapkan dapat memacu semangat para insan kuliner untuk memgembangkan wawasan di bidang memasak

13

Belakangan ini banyak menjamur café-café yang menjadi tongk­ rongan anak muda. Menu yang ditawarkan pun beragam. Salah satu tempat nongkrong baru yang bisa menjadi pilihan anak muda maupun keluarga adalah “Dapoer Luber” coffee & resto.

Sebanyak 22 peserta beradu kreatif dalam ajang kompetisi memasak yang digelar Pemerintah Kota Denpasar bekerja sama dengan Indonesian Chef Association ( ICA) Bali, Selasa (24/11), di Inna ­Denpasar. Ac­ ara yang digelar untuk ketigakalinya dalam rangka pra-event ­Denpasar Festival ini, diikuti mahasiswa sekolah perhotelan dan chef professional hotel.

Tim dari Hotel TS Suite Seminyak

Edisi 877/ 30 November - 6 Desember 2015

dan tetap melestarikan makanan khas tradisional Bali. “Saat ini kita tidak saja membicarakan masalah wisata budaya, namun harus juga mampu mengembangkan masalah wisata kuliner di Kota Denpasar. Melalui kompetisi me­ masak ini, dapat meningkatkan kecintaan kita kepada kuliner khas Bali. Saya berharap, hotel dan restoran dapat memperke­ nalkan makanan khas Bali ini kepada wisatawan lokal dan mancanegara,” ujarnya. Salah seorang peserta lomba, tim dari Hotel TS Suite Seminyak, Wira Adi Putra mengaku sangat tertarik dengan lomba memasak seperti ini. Ia menilai, dengan ajang ini, dapat mempromosikan masakan Bali kepada masyarakat dan juga turis asing. Satu paket yang ia hidangkan, sup ikan ala Kintamani, lawar ayam, nasi, ayam betutu, jukut serombotan, jaja lempog, dan tiga sambal; bongkot, embe, dan kacang. Penyajiannya sangat autentik Bali dengan unsur kayu dan bambu dengan nuansa sangat Bali. –Wirati Astiti

M

Kreasi makanan peserta

Atraksi juru masak membuat mi

enu unggulan Dapoer Luber yang baru dibu­ ka 15 Novem­ ber 2015 ini adalah mi dan nasi goreng. Ada 3 menu mi dengan

beragam varian ditawarkan di sini, yakni Mie Luber, Mie Tarik, dan Mie Sama. Mie Luber misalnya, dengan pilihan varian mie luber ori, hitam, merah dan mie luber ijo, disajikan dengan

taburan ayam dan bakso rambutan. Untuk level pe­ dasnya bisa dise­ suaikan dengan permintaan. “Atau pembeli bisa men­ campur sendiri se­ suai selera masingmasing, karena kami juga menye­ diakan aneka sam­ bal, yakni sambal terasi, cabe hijau, sambal hitam, sambal merah, sambal mangga muda, dan sambal dadak,” ujar Linda Wahyuni yang tu­ rut mengelola usaha keluarganya tersebut. Ada juga Mie Tarik den­ gan beberapa pilihan seperti, Mie Tarik Kuah Sechuan, Kuah Wonten, Kuah Kare Laksa, Kuah

Mie Luber Ori

Cah Cia, dan Mie Tarik Kuah Urat Sapi. Yang menarik adalah, mi ini dibuat langsung di depan pembeli. Bahkan tak jarang ke­ lihaian juru masak membuat mi dengan tangan (bukan mesin) dan ditarik-tarik tersebut men­ jadi atraksi menarik bagi para pembeli yang bisa menyaksikan­ nya langsung karena dapurnya terletak di depan. “Kami ingin agar pembeli bisa melihat lang­ sung proses memasak kami yang higienis dengan bahan pilihan yang aman, dan pastinya semua fresh from the oven,” ujar Linda. Menu lainnya adalah Nasi Goreng Rainbow dengan pilihan rasa sesuai dengan warnanya. Nasi Goreng Merah, pedas dari Lombok merah; Nasi Goreng Ijo, pedasnya dari Lombok hijau; Nasi Goreng Kuning, rasa kare; Nasi Goreng Hitam, ada cam­

puran cumi, dan Nasi Goreng Ungu, berisi ketela ungu. Selain itu, ada juga paket lalapan ayam dan bebek goreng; aneka dim sum, seperti siomay, ceker tausi, hakau, bakpau ayam, bakpau pasir mas, lumpia ayam goreng, mutiara naga goreng, pangsit goreng, bubur ayam, bubur sapi, bubur seafood; aneka dessert, seperti kentang goreng, pisang goreng, pancake, waffle, dan roti bakar. Jika Anda penasaran, datang saja ke “Dapoer Luber” di Jalan Jempiring (depan Ganesha Op­ eration), Kreneng, Denpasar. Selain bisa nongkrong makan mi sambil Wifi-an gratis dengan suasana yang nyaman, Anda juga bisa mendapatkan promo diskon 30% dan promo khusus untuk pelajar selama Bulan November ini. Jadi tunggu apa lagi? –Inten Indrawati

Rajungan Kecombrang Sarwan Bahan: 4 ekor : rajungan, bersihkan, belah 2, goreng

ti ikma

Chinesse Food

N Hanya di...

& Aneka Es Taiwan

Cafe Santai

free Rujak Gula

setiap pembelanjaan Rp 50.000 Ayam Goreng Kecap

h

Murah Meria & Bersih

Es Campur Mutiara

Berlaku mulai 1 s.d. 31 Desember 2015

Jln. Raya Sesetan No. 293 Denpasar. Tlp. (0361) 7440658, 7427678

Bahan saus: 1 buah : bunga kecombrang, cincang kasar 1 buah : cabe merah, cincang 5 buah : bawang merah, cincang 3 siung : bawang putih, cincang 1 ruas : jari jahe, cincang 1 sdm : saus tomat 1 sdm : saus sambal 1 batang : daun pre, cincang halus, buat taburan 1 sdt : lada bubuk 2 sdm : kecap manis 2 sdm : tepung sagu, campur air dalam gelas Gula, garam, kaldu bubuk, mi­ nyak secukupnya Cara Membuat : - Tumis semua bahan saus (kecuali kecap manis, saus

tomat, saus sambal dan irisan daun pre) hingga harum. - Masukkan rajungan, beri air dan kecap manis, saus tomat dan saus sambal, masak hingga men­

didih dan bumbu meresap. - Kentalkan dengan air sagu, angkat, lalu sajikan di atas piring saji, taburi dengan irisan daun bawang pre.

Sayur Pepaya Muda

Bahan: 300 gr : pepaya muda, iris korek api 200 gr : tetelan sapi rebus 500 ml : santan encer 3 lbr : daun salam 3 lbr : daun jeruk purut, buang tangkainya 2 ruas : lengkuas jari, memarkan 2 batang : serai, memarkan 1 sdt : lada bubuk 200 ml : santan kental Gula, garam, kaldu bubuk rasa sapi secukupnya dan minyak secukupnya Bumbu Halus: 9 buah : bawang merah 4 siung : bawang putih

4 2 3 7

butir ruas buah buah

: : : :

kemiri sangrai jari kunyit sangrai cabe merah besar cabe rawit

Cara membuat: - Tumis bumbu halus, masukkan lengkuas, daun jeruk, daun salam dan serai hingga harum. Masukkan tetelan daging dan irisan pepaya muda, masukkan santan encer, gula, garam dan kaldu bubuk hingga mendi­ dih. - Masukkan santan kental, masak dengan api sedang, aduk-aduk hingga matang dan mendidih. - Siap untuk disajikan dengan taburan bawang putih goreng


14

Jelita

Edisi 877/ 30 november - 6 Desember 2015

Tidak Cukup Hanya

Wajah Tirus Iming-iming wajah tirus seringkali ditawarkan untuk memperoleh wajah ideal dan menarik. Tapi, apakah cukup wajah tirus membuat Anda tampil percaya diri? Bentuk wajah V-shape (tirus) saja ternyata tidak cukup. Bagaimana dengan kontur wajah ditinjau dari proyeksi 3 dimensinya? Kontur wajah sempurna harus memiliki kontur ideal dari berbagai sisi sehingga tampil estetis dan proporsional jika dilihat dari tampak depan, samping dan secara keseluruhan. Lalu, bagaimana dengan tampilan kulit Anda? Apakah Anda sudah memiliki kulit yang bersih, sehat terawat dan bebas dari berbagai problem pigmentasi? Hal itu juga harus diperhatikan untuk melengkapi tampilan sempurna Anda. Itulah yang disebut facial harmony. Miracle Aesthetic Clinic memperkenalkan perawatan terbaru dengan mengusung konsep tersebut untuk solusi optimal Anda.

Miracle Double V Shape Miracle Double V Shape adalah ­perawatan terbaru untuk mem­ bentuk kontur wajah yang lebih estetis dan proporsional

Miracle Double V Shape Miracle Double V Shape adalah perawatan terbaru untuk membentuk kontur wajah yang lebih estetis dan proporsional, mengatasi kontur wajah yang

tampak lebar dan datar, serta proporsi wajah yang kurang ideal. Menggunakan kombinasi Miracle Botox for V-Shape dan Dermal Filler dengan bahan yang aman dan telah mendapatkan ijin edar dari Kementrian Kesehatan RI. Injeksi Botox dan Filler diaplikasikan pada area pipi, dagu, maupun hidung untuk membentuk kontur wajah dengan proyeksi 3 dimensi yang ideal dan V-shape ala Korea yang lebih sempurna (3-dimensional contour). Perawatan ini tidak hanya bertujuan memberikan efek tirus pada luar wajah, tetapi juga menghasilkan V line pada bagian sentral wajah. Injeksi Botox for VShape bermanfaat untuk membuat wajah lebih tirus serta membentuk garis rahang yang lebih tegas, sedangkan dermal filler diinjeksikan untuk menambah volume pada area tertentu untuk membentuk wajah dengan kontur yang estetis dan ideal. Karena itu, dibutuhkan double V shape. Apabila dilihat dari tampak depan, samping dan berbagai sisi, wajah terlihat lebih estetis. Contohnya, hidung yang dibuat mancung juga mempertimbangkan proporsi yang harmonis dengan fitur wajah lainnya, seperti bagian pipi dan dagu. It’s more than just a V-shape.

Miracle MD Brighten Laser Miracle MD Brighten Laser adalah perpaduan perawatan berbasis teknologi laser dengan panjang gelombang tertentu, dan pengaplikasian serum khusus dengan kandungan Vitamin C dan bahan

Keunggulan Perawatan Terbaru MIRACLE Tanpa luka dan waktu pemulihan minimal. Proses perawatan aman, relatif singkat, dan nyaman. Hasil segera terlihat dengan sekali perawatan. Menggunakan paduan teknologi laser dan serum khusus untuk mencerahkan wajah. Memberikan kontur wajah dengan proyeksi 3 dimensi yang ideal.

aktif pencerah kulit. Mengatasi problem pigmentasi (flek, melasma), warna kulit tidak merata dan kulit kusam. Sinar laser digunakan untuk mencerahkan warna kulit sekaligus meremajakan kulit. Setelah itu, diaplikasikan serum dengan menggunakan alat khusus untuk membantu penyerapan bahan aktif ke dalam kulit secara optimal. Miracle MD Brighten Laser menjadikan kulit lebih cerah, sehat dan berkilau. Segera kunjungi MIRACLE Aesthetic Clinic terdekat. Jangan ragu mencoba perawatan terbaru Miracle Double V Shape, Miracle MD Brighten Laser dan perawatan lainnya hanya di MIRACLE. Let’s experience the Miracle touch!

Bugar

Edisi 877/ 30 november - 6 Desember 2015

Penyakit Amandel dr. Conchita P. da Silva, Sp.THT-KL

Dokter spesialis Telinga, Hidung, Tenggorokan- Bedah Kepala Leher Siloam Hospitals Bali Seringkali pasien datang terdapat sumbatan jalan ke dokter mengeluh “Tengnafas maka pasien akan bergorokan Saya sakit, mungnafas melalui mulut (mouth kin amandel Saya bengkak” breather), mendengkur, atau “Amandel Saya kambuh bahkan sleep apnea (henti lagi karena tidak jaga manafas saat tidur), lemas dan kan”. Jadi apakah sebenarnya lesu. Hal ini tentunya sangat amandel itu? membahayakan keadaan kesehatan tubuh. Radang amandel atau dalam bahasa kedokteran Tonsilitis akut sembuh dikenal sebagai Tonsilitis, dengan sendirinya dalam adalah proses inflamasi/ 3-4 hari. peradangan tonsil faringeal Apabila gejala tonsilitis yang terletak pada tenggoroakut berulang beberapa kali kan bagian belakang, dadalam setahun maka disebut pat terlihat saat membuka sebagai tonsilitis rekuren. mulut. Inflamasi dapat juga Salah satu komplikasi mengenai kelenjar adenoid tonsilitis yaitu abses peridi nasofaring maupun tonsil tonsilar memberikan gejala lingualis di belakang lidah. seperti sakit tenggorokan Berdasarkan waktu berlanghebat, demam, kesulitan sungnya, tonsilitis terbagi membuka mulut, nafas bau, menjadi akut, rekuren dan drooling (kesulitan menahan kronis. Selain itu ada sebuliur di dalam mulut) dan tan abses peritonsilar yaitu kesulitan bicara atau muffled keadaan yang lebih berat voice atau hot potato voice dimana terjadi penimbunan (bersuara seperti sedang pus (nanah) pada jaringan mengulum kentang panas). dr. Conchita P. da Silva, Sp.THT-KL ikat longgar sekitar tonsil. Infeksi virus atau bakteri maupun faktor imunologis Bagaimana cara mendiagnosa penyakit ini? menjadi penyebab timbulnya tonsilitis ini. Biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan lengkap Telinga Hidung Tenggorokan setelah anamSiapa saja yang dapat terserang tonsilitis? nesa riwayat perjalanan penyakit. Temuan fisik pada Tonsilitis paling sering terjadi pada anak- anak nakasus ini dapat berupa: mun jarang pada anak kurang dari 2 tahun. Tonsilitis lDemam, pembengkakan tonsil, tertutup disebabkan oleh kuman Streptokokus, yang biasanya oleh pus/ nanah. menyerang anak usia 5- 15 tahun. Sedangkan infeksi lJika penyebabnya GABHS, dapat ditemukan oleh virus lebih sering terjadi pada anak usia lebih palatal petechiae (bintik perdarahan sangat muda. Abses peritonsilar sering ditemukan pada usia kecil pada langit- langit mulut) dewasa muda, kadang- kadang pada anak. lMulut terbuka saat bernafas dan kesulitan bicara. Apa penyebab tonsilitis? lLeher kaku, kelenjar getah bening leher Jenis virus influenza, herpes simpleks, virus Epmembengkak (terutama pada tonsilitis akut) stein- Barr, cytomegalovirus, adenovirus dan virus l Tanda- tanda dehidrasi (terlihat melalui measles adalah yang umumnya menyebabkan farpemeriksaan kulit dan mukosa). ingitis akut dan tonsilitis akut. Sedangkan bakteri l Lemas, tidak bertenaga. hanya sebesar 15%- 30% dan kuman tersering adalah lAdanya lapisan abu- abu menutupi tonsil GABHS (Group A Beta Hemolytic Streptococcal). yang dapat dilepas tanpa perdarahan (kasus virus Epstein Barr). Apa saja gejala tonsilitis? lLuka kecil/ ulkus pada permukaan tonsil Seperti demam tinggi, nyeri menelan, sulit meyang merah dan bengkak nelan, nafas bau dan nyeri area kelenjar getah bening leher. Apabila tonsil sangat membengkak sehingga (virus Herpes Simpleks).

11

lAbses

peritonsilar; pembengkakan di atas dan samping tonsil yang terkena, rahang kaku, sulit buka mulut, nyeri bias sampai ke telinga, tergantung derajat keparahannya.

Apa yang harus dilakukan? Yang pertama dilakukan adalah banyak minum air putih, kumur dengan larutan antiseptik dan jika perlu konsumsi obat penahan nyeri. Apabila gejala berlangsung lebih dari 3 hari atau bertambah buruk dari waktu ke waktu maka perlu dikonsultasikan ke dokter. Pemberian antibiotik yang tepat bisa dipertimbangkan. Rawat inap disarankan pada kasus berat dimana terjadi sumbatan jalan nafas sehingga diperlukan tindakan yang lebih agresif. Abses peritonsilar hebat sebaiknya sesegera mungkin dilakukan tindakan drainase untuk mengeluarkan pus sebelum timbul komplikasi. Pada kasus tonsilitis kronis atau berulang (rekuren), tindakan pembedahan/ pengangkatan tonsil (tonsilektomi) seringkali direkomendasikan.


10

Mitos

Edisi 877/ 30 November - 6 Desember 2015

Nyamuk bisa Tularkan HIV AIDS?

Banyak mitos yang berkembang terkait HIV AIDS. Sayangnya, mitos yang dipercaya masyarakat tersebut tak sepenuhnya benar. Padahal masyarakat membutuhkan pemahaman yang baik tentang penyakit ini. Berikut ini, Koordinator Humas dan Pencegahan KPA Provinsi Bali Prof. Dr. dr. I Nyoman Mangku Karmaya, M.Repro, PA (K). akan meluruskannya. Mitos : Anda bisa terinfeksi HIV bila menghabiskan banyak waktu dengan penderita Fakta : Penularan dapat terjadi jika cairan tubuh pengidap HIV berpindah ke tubuh orang sehat. Jalur perpindahan itu bisa melalui darah transfusi, dari darah ibu yang mengandung HIV ke bayi yang dikandungnya, melalui ASI (air susu ibu), suntik narkoba dengan satu alat suntik (spuit) dipakai berbanyak bersama-sam, hubungan seks berisiko berganti-ganti pasangan tanpa pengaman atau kondom. Sepanjang kita tidak melakukan kegiatan-kegiatan itu, terutama suntik narkoba satu spuit bersamasama atau hubungan seks berisiko, transmisi atau perpindahan virus tidak akan terjadi. Bersentuhan, berpelukan salaman, minum makan bersama, aman-aman saja seberapa lama pun kita hidup bersama.

perempuan di Kenya yang barubaru ini dilaporkan, memperkirakan paling sedikit 4% kejadian superinfeksi per tahun, tetapi tidak ada bukti pengembangan penyakit sebagai akibat superinfeksi. Sebuah penelitian terhadap laki-laki gay melaporkan kejadian 5% per tahun. Namun demikian superinfeksi tidak tampak memiliki dampak yang berbahaya secara luas baik terhadap kesehatan maupun hasil pengobatan pada ODHA. Hanya saja ada bukti yang jauh lebih kuat bahwa seks tanpa kondom dengan ODHA lain menjadi berbahaya bagi ODHA menyangkut risiko infeksi menular seksual (IMS) – khususnya sifilis – atau hepatitis C, keduanya kian meningkat di antara laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki. Oleh karena itu sebaiknya selalu memakai kondom.

Mitos : Tidak perlu menggunakan kondom apabila masing-masing pihak telah terinfeksi Fakta : Sudah lama ditenggarai adanya peningkatan kegiatan seks tanpa kondom di antara pasangan sesama ODHA (orang dengan HIV AIDS). Saat ini masih diyakini dan dipakai sebagai pedoman untuk ODHA bahwa seks tanpa kondom berisiko terhadap kejadian superinfeksi, yaitu infeksi dengan jenis HIV baru yang melebihi populasi virus yang ada saat ini akibat ketiadaan kekebalan terhadap virus. Superinfeksi tampak terjadi tidak hanya pada orang yang baru terinfeksi HIV, tetapi juga pada mereka yang sudah lama terinfeksi HIV. Sebuah penelitian terhadap

Mitos : Penyakit HIV AIDS adalah akhir dari segalanya Fakta : Pernyataan ini benar ketika obat ARV belum ditemukan. Tetapi berkat kemajuan iptek kedokteran dan penemuan-penemuan besar di berbagai bidang termasuk hal yang berkaitan dengan HIV, seperti obat-obat anti retro viral (ARV), telah membuat perubahan revolusioner dalam cara pandang HIV. HIV AIDS sekarang dikategorikan sebagai penyakit kronis setara penyakit tekanan darah tinggi atau kencing manis, yang membutuhkan obat terus menerus seumur hidup. Tidak ada kalimat “Penyakit HIV AIDS adalah akhir dari segalanya”, jika konsumsi ARV sesuai dosis dan

Prof. Mangku Karmaya

aturan dilakukan secara persisten dan konsisten. Para ODHA kesehatannya kian membaik, dan menjadi lebih produktif seperti orang kebanyakan lainnya. Mitos : Penderita HIV AIDS akan sehat apabila terus-terusan mengonsumsi obat Fakta : Hal ini bukan lagi mitos, asalkan konsumsi obat ARV dilakukan sesuai dosis dan aturan secara persisten dan konsisten. Tetapi masalahnya tidak semua ODHA memiliki disiplin yang tangguh. Oleh karena itu, para ODHA perlu didampingi. Para PMO (pendamping minum obat) akan memberitahukan setiap jadwal minum obat. Namun banyak diantara mereka berhenti minum obat karena efek sampingnya, malas atau merasa sudah sehat

Fenomena KETUT

dr. Ketut Suryana

Upaya yang dilakukan klinik VCT Merpati RSUD Wangaya untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada pasiennya tidak sia-sia. Hal tersebut terbukti dengan meningkatnya angka kunjungan tiap hari. “Saat ini kunjungan tiap hari mencapai 40 orang,” ujar Ketua Klinik VCT Merpati, Dr. dr. Ketut Suryana, Sp.PD. KAI, FINASIM. Ditanya mengenai kiat-kiat yang telah dilakukan Klinik VCT Merpati, dr. Suryana mengatakan mereka memiliki struktur organisasi dan setiap komponen di struktur itu bekerja sesuai tugasnya dan saling melakukan koordinasi. Selain melibatkan konselor, laboratorium, CST, farmasi dan monev, mereka merangkul semua konsulen yang dimiliki RS ini seperti konsulen anak, obgyn, paru, dll. Selain struktur organisasi, alur pelayanan yang melibatkan komponen dari luar RSUD Wangaya seperti dokter praktek swasta, RS swasta, Puskesmas, dan LSM sangat membantu dalam melakukan pendekatan kepada ODHA sehingga mereka mau datang berobat.

atau menghilang tidak terpantau (lost to follow up). Alpa minum obat bisa menimbulkan resistensi. Harus meminum obat setiap hari. Tidak ada hari libur untuk ARV. Mitos : Jangan mengonsumsi buah kalengan atau memakai tusuk gigi yang tidak tersegel karena ada isu penderita HIV AIDS menularkannya melalui darah yang diteteskan disana Fakta : HIV hanya dapat hidup pada lingkungan tertentu dalam tubuh manusia. Virus ini tidak hidup pada lingkungan di luar tubuh manusia. Ada banyak faktor yang menentukan berapa lama virus itu dapat hidup di luar tubuh. Hal ini bergantung pada kondisi lingkungan tempat virus itu berada. Karena kondisi lingkungan dapat berubahubah, sehingga memungkinkan virus dapat bertahan hidup lebih lama. Itulah sebabnya tidak ada satu ketentuan waktu yang sama dalam hal daya tahan hidup HIV di luar tubuh. Tapi secara umum virus itu hanya dapat hidup selama beberapa menit di luar tubuh. Mitos : Nyamuk membantu penularan HIV AIDS Fakta : Virus HIV hanya bisa hidup dalam sel T, yaitu salah satu kelompok sel darah putih manusia. Tidak ada sel T, virus tidak bisa tumbuh. Saat nyamuk mengisap darah penderita HIV positif, virus akan masuk ke sistem pencernaan nyamuk. Disini tidak ada sel T manusia yang menyebabkan virus tersebut akan mati. Selain itu partikel virus yang dihisap dari penderita HIV positif jumlahnya tidak banyak. Struktur alat hisap nyamuk sangat kompleks dan berbeda dengan struktur jarum suntik, sehingga perkembangan virus HIV tidak memungkinkan. Hal ini dperkuat oleh hasil uji laboratorium yang menunjukkan bahwa virus HIV tidak mampu membiak saat dikultur ke sistem pencernaan nyamuk. Perilaku menggigit nyamuk juga mendukung bahwa kemungkinan

Ia mengatakan, pasien dengan HIV/AIDS membutuhkan perhatian ekstra dibandingkan pasien bukan penderita HIV. Mereka cenderung mengalami fenomena KETUT (Kecewa, Emosi, Tolak, Upayakan, Terima). “Untuk itu kami harus lebih peka dan lebih peduli pada mereka. Mereka harus terus didukung dan didampingi. Untuk pasien yang datang ke Klinik VCT juga kami layani untuk pendaftaran sehingga mereka tidak perlu mengantri di loket pendaftaran,” jelasnya. Menurutnya, layanan untuk HIV/AIDS harus komprehensif. Karena itu, memberdayakan keluarga klien menjadi prioritas utama. Dengan pemberdayaan keluarga pasien ini, infromasi dan edukasi kepada pasien lebih mudah diberikan. Respon psikologis setelah setahun keluarga diberdayakan, pasien menjadi lebih semangat, apalagi masyarakat sudah mulai terbuka, yang menerima untuk berobat makin meningkat. Adanya pemahaman yang baik dan benar tentang HIV dari klien, keluarga, dan masyarakat pada umumnya. “Orang yang kita beri penjelasan HIV mengerti, sehingga dia sadar akan dirinya dan sukarela mau dites. Setelah hasilnya dinyatakan positif mereka bersedia dengan sukarela berobat,” kata dr. Suryana.

transmisi virus HIV tidak memungkinkan. Setelah menggigit orang dan menghisap darah, nyamuk tidak langsung menggigit orang yang dijumpai berikutnya. Setelah menghisap darah, nyamuk akan beristirahat untuk mencerna darah dan virus HIV akan mati pada fase ini. Saat menggigit orang berikutnya, nyamuk tidak menyuntikkan darah yang baru dihisap, tapi menyuntikkan liurnya sebagai pelicin agar proses menghisap menjadi efisien. Hal yang berbeda terjadi pada penularan malaria, dimana parasitnya tersimpan di air liur nyamuk. Riset lain mengungkap bahwa ternyata hanya sedikit darah yang tersisa di alat hisap nyamuk setelah menggigit, sehingga partikel HIV yang ada tidak cukup untuk menyebabkan terjadinya penularan. Mitos : Orang yang setia pada satu pasangan tidak mungkin tertular HIV AIDS Fakta : Jika Anda yakin pasangan Anda tidak mengidap HIV, maka tidak ada risiko terkena, meskipun Anda melakukan seks tanpa pengaman (baik melalui vagina, oral, atau anal). Masalahnya adalah, apakah Anda benar-benar tahu kalau pasangan anda tidak mengidap HIV? Karena mereka yang positif dan yang negatif sulit dibedakan, kecuali dengan tes darah. Oleh karena itu, dianjurkan tetap memakai kondom untuk mencegah terjadinya kehamilan atau penyakit menular seksual lainnya. Mitos : HIV AIDS tidak akan menular melalui seks oral Fakta : Kemungkinan terinfeksi HIV melalui seks oral lebih rendah daripada melalui hubungan seksual tanpa pelindung. Risiko menjadi lebih besar jika mulut si pelaku oral seks mengalami luka-luka seperti sariawan, gusi luka, gigi bolong, bahkan adanya mikrolesi (lecet sangat kecil) pada mukosa (selaput lendir) mulut yang terjadi segera sesudah makan keripik atau sikat gigi. –Inten Indrawati

Layanan Klinik Merpati selain memberi layanan konseling VCT, ada layanan konseling dukungan, layanan CST dewasa dan anak, ada layanan untuk pencegahan penularan dari ibu hamil ke janinnya, dan layanan komprehensif berkesinambungan. Tahun 2014 jumlah kasus sebanyak 7000. Diprediksi sampai akhir tahun 2015 sebanyak 8000 kasus. Dari hasil tes darah klien tiap bulan, diperkirakan 20 s.d. 30 persen klien positif HIV/AIDS. Rentan usia 20 s.d. 40 tahun. Sebagai contoh bulan Januari 82 yang tes, 31 positif HIV. Februari yang tes darah 97 orang, 20 yang positif HIV. Bulan November yang dites 84, yang positif HIV 17 orang. Keberhasilan menekan kematian ODHA, menjadi prestasi bagi Klinik VCT Merpati. Bahkan menarik minat WHO untuk datang langsung memantau Klinik VCT Merpati RSUD Wangaya. Menurut dr. Suryana, perwakilan dari WHO tersebut mengungkapkan, apresiasinya terhadap kinerja Klinik VCT Merpati yang telah berhasil menekan angka kematian ODHA dan mengatakan akan merekomendasikan alur pelayanan yang dimiliki Klinik VCT Merpati untuk digunakan sebagai acuan di Klinik VCT lainnya. –Wirati Astiti

Style

Edisi 877/ 30 November - 6 Desember 2015

Celana

15

Modern Etnik Fashion bukan hanya ditujukan bagi perempuan, tapi juga laki-laki. ­Karenanya koleksi busana pilihan Tokoh kali ini, mengetengahkan warna dan garis rancangan yang cukup variatif.

M

enariknya, endek salah satu produk kebanggaan lokal Bali menjadi bahan utamanya. Terlebih dengan menyuguhkan kekayaan motif tradisional yang unik untuk berbagai model busana siap pakai (ready to wear). Menurut Ari Agung, salah seorang top model Bali yang kini banyak mengamati perkembangan dunia fashion, sangat menggembirakan melihat produk-produk lokal diperhatikan dan diolah para perancang dalam memajukan industri fashion nasional. Maka pecinta mode pun memiliki

lebih banyak pilihan. Beberapa model berikut terlihat lebih banyak mengenakan pants (celana). Mulai dari yang panjang, 7/8 hingga yang pendek. Meski kreasi siluet yang simpel nampak nya mendominasi namun saat dikenakan mampu membawa kesan modern tapi etnik. Kekuatan koleksi pribadi kali ini terletak pada gayanya yang khas anak muda. Keberanian mencampur ragam motif dan teknik potongan justru memperlihatkan selera fashion yang sangat stylish.Sedangkan, bagi para fashionista sejati, koleksi ini bisa menjadi inspirasi. -Sri Ardhini


16

Edukasi

Edisi 877/ 30 november - 6 Desember 2015

Video Dokumenter Pelajar Denpasar Raih Prestasi di Peru Pada Kongres Internasional The Organization of World Heritage Cities OWHC XIII di Arequipa, Peru (3–6 November 2015) lalu, pelajar dari Kota Denpasar meraih posisi yang cukup membanggakan dalam kompetisi internasional video documenter.

“P

ada tahun 2013, kami diminta oleh IB Rai D. Mantra untuk mengikutsertakan karya pegiat film dokumenter pelajar di Denpasar pada kompetisi internasional video documenter yang diselenggarakan oleh The Organization of World Heritage Cities (OWHC). Organisasi ini beranggotakan 268 kota pusaka di dunia, dimana anggota dari Indonesia baru Denpasar dan Surakarta,” tutur Maria Ekaristi. Perempuan yang akrab disapa Eka ini segera mencari informasi dan menghubungi panitia kompetisi internasional untuk mengetahui proses dan persyaratannya. Akhirnya ia dan rekan-rekannya sukses menggelar rangkaian lomba yang disyaratkan untuk tingkat lokal tersebut di tahun 2014. “Pemenang utama dari masing-masing kategori itulah yang kemudian berhak untuk mengikuti kompetisi tingkat internasional,” jelasnya. Pada kategori usia 14-17 tahun, film “Layang-Layang” yang disutradarai Ni Putu Resha Arundari, yang saat lomba di tingkat lokal masih berstatus pelajar SMPN 3 Denpasar, kini menjadi siswa SMAN 3 Denpasar, menempati posisi 9 dari 18 finalis.Sedangkan pada kategori usia 18-21 tahun, film “Warisan Nak Lingsir” yang disutradarai I Made Arya Wibawa Dwiputra, siswa SMAN 3 Denpasar, menempati posisi 7 dari 10 finalis. Bicara kilas balik aktivitas pembuatan film di Kota Denpasar, Eka memaparkan bermula tahun 2010, ia dan Agung Bawantara mendapat tawaran untuk membuat film dokumenter dari Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. Film tersebut bertema kearifan budaya lokal yang sedianya akan disertakan dalam lomba tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata RI. Mereka menerima tawaran itu, tapi menolak mengerjakannya. Sebab, kata Eka waktu itu Agung tengah getolgetolnya ingin memajukan perfilman di Bali. Ia tengah mengupayakan agar film bisa menjadi mata acara dalam Pesta Kesenian Bali (PKB). Sebagai

alternatifnya mereka mengajukan tawaran kepada Kadis Kebudayaan Provinsi Bali yang saat itu dijabat IB Sedhawa. Tawarannya adalah membuat lomba film dokumenter yang dikaitkan dengan acara PKB. “Pertimbangannya, kalau permintaan membuat film kami terima, maka hasilnya hanya satu film. Tapi kalau menyelenggarakan lomba yang diawali dengan pelatihan, maka kemungkinan mendapat beberapa hasil yang layak disertakan di tingkat nasional,” tuturnya. Begitu disetujui, mereka pun menggelar lomba film dokumenter di PKB. Hasilnya mengagetkan, para juara dalam lomba yang mereka selenggarakan mendominasi lomba di kementerian. Dari 14 karya dari Bali. tiga di antaranya merebut gelar juara yakni juara 1, juara 2 dan juara 4. Melihat itu pihak Disbud Provinsi Bali semakin percaya dan bersemangat membesarkan lomba ini dan menyetujui rancangan untuk menjadikannya sebagai festival film dokumenter bergengsi di Indonesia. Maka lomba itu pun berubah wajah menjadi Festival Film Dokumenter Bali (FFDB). Namun, ketika IB Sedhawa tidak lagi sebagai

Dara

Edisi 877/ 30 november - 6 Desember 2015

I Putu Agus Mahardika Putra

Impian ke Laos, Ketemunya Tembok Berlin

Menjadi juara dunia karate membuat siswa kelas 6 SDN 2 Padangsambian ini makin memantapkan diri untuk menekuni olahraga karate. Ia bahkan tak menyangka latihan rutin dan disiplin ini membuatnya bisa ke Eropa.

“S

aya mulai latihan karate sejak kelas 3. Tujuannya untuk jaga diri,” ujar bocah bernama lengkap I Putu Agus

kepala dinas, berimbas pada pelaksaan konsep pengembangan FFDB yang sudah dirancang sebelumnya. Kepala Dinas yang baru lebih memilih agar acara film di PKB hanya sebagai mata acara sebagaimana mata acara kesenian

lainnya. Tidak perlu diperbesar menjadi festival tersendiri. Karena itu pula, Eka dan Agung memutuskan menyelenggarakan sendiri FFDB . “Setelah kami tawarkan konsep itu ke beberapa pihak, Kadek Suardana

(alm.) dari Arti Foundation bersedia memberi sokongan untuk menjalankan festival tersebut. Setelah berjalan beberapa saat, IB Rai D.Mantra (yang ketika itu wali kota Denpasar) tengah bersemangat memajukan industri kreatif tertarik untuk menjadikan festival itu sebagai salah satu ikon kreatif kota Denpasar,” ujar Eka. Maka berubahlah nama festival tersebut menjadi Denpasar Film Festival (DFF). Festival ini kemudian dikawal oleh berbagai pegiat perfilman seperti Slamet Rahardjo Djarot, Dr. Lawrence Blair, Rio Helmi, Prof I Made Bandem, Wayan Juniartha, Bre Redana, IGP Wiranegara, Gerzon Ron Ayawaila, Sastha Sunu, German S. Mintapraja, Faozan Rizal, AS. Laksana, Tonny Trimarsanto, Panji Wibowo, Putu Kusuma Widjaja, Erick EST, dan banyak lagi. Festival ini eksis hingga kini. Sekarang telah memasuki tahun ketujuh. Bahkan DFF menjadi salah satu festival film dokumenter yang diperhitungkan di Indonesia. –Sri Ardhini

Perempuan “Keras Kepala” Eka adalah perempuan keras” bahkan “keras kepala”. Ia tak menampik dan tak tersinggung dikatakan keras kepala. Sebab, kehidupan yang menem­panya menjadi demikian. Sejak kecil Maria Ekaristi, dibesarkan dalam tempaan yang keras. Sebagai anak tertua, oleh orangtuanya J. Mulyono Ali dan A. Ketut Manik, ia dididik bisa merawat diri sendiri sekaligus memperhatikan adiknya. Karena dekat dengan dunia keras, Eka pun menggemari olah raga bela diri. Sejak SD ia menggeluti beberapa aliran seni bela diri. Ia pernah ikut karate, taekwondo, dan silat. Ibu dua anak ini sempat mengikuti berbagai kejuaraan dan menemukan banyak hal baik sebagai atlet maupun pengurus organisasi. Sebagai pesilat, di situ ia mengenal para pendekar dan senior lainnya yang membimbing dan mengarahkannya tidak hanya dalam olah fisik, juga olah nafas dan jiwa. Oleh mereka kekerasan hatinya diasah dan ditempa agar menjadi lebih terarah. Meski tetap saja keras, perempuan kelahiran 22 Nopember 1967 ini bisa lebih tenang menghadapi berbagai hal. Di luar bela diri, ia juga seorang pecinta alam dan atlet bola basket. Di setiap sekolah yang ia masuki, ia selalu terpilih sebagai anggota inti

Mahardika Putra ini. Ia latihan di Dojo Campuan Asri, SDN 2 Padangsambian dengan pelatih Sensei Agung Astawa dan Sensei Putra Andayana. Jadwal latihan sore mulai pukul 18.00 tidak

tim bola basketnya. Sejak di bangku SMPK Swatiastu Denpasar, SMAN 1 Denpasar, hingga ke FE Unud berbagai kejuaraan pernah dilakoninya. Yang unik, di samping menggeluti hal-hal yang bersifat fisik, Eka juga sangat dekat dengan aktivitas yang menghaluskan jiwa. Semasa kecil di Gemeh, kakeknya mengajarinya mencintai tari Bali kebanggan sang kakek I Nyoman Kaler. Begitu juga pamannya I Made Sukada, mengenalkannya dengan dunia sastra. Semasa kecil ia juga sering ikut bertemu para sastrawan diantaranya Sutan Takdir Alisjahbana, Umbu Landu Paranggi, Putu Wijaya, NH. Dini, IBM Dharma Palguna, dan Windu Sancaya. Eka juga gemar berorganisasi sejak Maria Ekaristi kecil. Di SMA ia menjadi pengurus OSIS di mana salah satu ketuanya saat itu adalah IB Rai Dharmawijaya Mantra. Begitu saat di kampus, Eka juga sempat menjadi Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Unud. Di luar kegiatan organisasi Eka juga sempat berkarier sebagai penyiar di beberapa radio termasuk pernah jadi penyiar di Radio Paradise (RRI Denpasar) dan Radio Suara Janger Polda Bali (saat baru berdiri paska peristiwa bom Bali 1). Bidang pekerjaan lain yang pernah pula dijalaninya adalah sebagai Executive Assistant/Executive Secretary/Personal Assistant, di World Bank, bekerja di Indostone, di Rags Industries. Ia pernah bekerja di lembaga atau perusahaan yang bidang pekerjaannya sangat berbeda antara satu dengan yang lainnya. Tahun 2006, Eka bersua teman lama, saingannya dalam setiap lomba membaca puisi, Agung Bawantara. Mereka bersepakat mendirikan usaha di bidang media content. “Jadi kami menyediakan bahan-bahan bagi media entah dalam bentuk teks, audio, maupun audio-visual,” kata Eka yang gemar memasak – Sri Ardhini

Dika

Reading Contest Yayasan Duta Bangsa

Mrs. Ruby dan Mrs. Joanne didampingi owner Bagus Book Shop Ida Ayu Amanda Sari bersama anak-anak Yayasan Tatwam Asi

Yayasan Duta Bangsa dengan tagline “Live Long, Love of Reading” mengajak anak-anak yayasan Tatwam Asi, Denpasar untuk mengikuti reading contest, Sabtu (21/11). IB Agung Narendra, pimpinan Duta Nusa mengatakan reading contest bertujuan untuk membiasakan anak-anak dengan kegiatan membaca di luar kegiatan sekolah. Selain itu, dengan membaca , kebiasaan anak-anak menonton televisi bisa dikurangi. Reading contest yang didukung Bagus Book Shop ini juga menghadirkan dua pemerhati anak-anak dari Australia, Mrs. Ruby dan Mrs. Joanne. Mereka mengingatkan membaca seperti bermimpi dengan mata terbuka. Hidup ini seperti buku, tiap hari ada halaman baru dengan pelajaran berharga. Reading contest juga menjadi bagian dari kegiatan untuk mendukung hari Membaca Nasional. –Ngurah Budi

menyulitan Dika. Biasanya pulang sekolah, ia belajar dulu dan mengerjakan PR. Sore harinya putra pasangan Nyoman KresnaKadek Wiryastuti ini bisa fokus latihan karate. Setelah setahun berlatih, Dika yang kala itu kelas 4 mulai ikut kejuaraan. Ia pertama kali ikut Kejuaraan Antar Gugus. “Saya turun di nomor kumite -40 kg. Baru pertama kali langsung dapat emas,” ungkap karakteka yang yang kini menyandang sabuk coklat muda ini. Kelas 5, Dika ikut lagi di kejuaraan yang sama. Ia kembali meraih medali emas. Selanjutnya kakak dari Ni Kadek Putri Fariza Wahyuni ini ikut Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) Bali. Ia turun di kumite +35 kg, meraih emas dan nomor kata meraih perak. Menjadi juara di O2SN Bali membuatnya dikirim ke O2SN di Makasar. Lagi-lagi, Dika meraih emas. “Para juara di Makasar kemudian dikirim ke Berlin untuk ikut Bansai Cup Open Karate, 8-13 Oktober 2015. Ini pertama kali saya ke luar negeri. Dulu impian saya ke Laos karena mendengar cerita Sensei. Ternyata saya malah ke Berlin, Jerman,” ujar bocah

yang bercita-cita menjadi tentara ini, Di Bansai Cup, Dika bertarung di kumite kelas -43 kg. Lawan yang dihadapi dari Jerman, Qatar, dan Ukraina. Paling seru ketika ia berhadapan dengan karateka Ukraina di final. “Saya berusaha bermain tenang. Lawan saya hebat. Saya beberapa kena pukul. Untungnya bisa menang,” ujar Dika dengan semangat. Begitu dinyatakan sebagai pemenang, ia langsung dirangkul teman-teman dan ofisial tim Indonesia. Dari hasil kejuaraan ini, Dika meraih hadiah uang, medali, dan piagam. Hadiah uang ia berikan kepada orangtuanya untuk dibelikan mobil. Ia menuturkan ayahnya yang bekerja sebagai petugas security dan ibunya yang bekerja di toko emas sangat mendukung

9

apa yang dilakukan. Mereka bahkan menangis saat Dika berangkat ke Berlin. Pengalaman di Berlin sangat menyenangkan bagi Dika. Ia bisa melihat dari dekat Tembok Berlin yang menjadi saksi sejarah bersatunya Jerman Barat dan Jerman Timur. Musim dingin yang sedang berlangsung di Jerman tak menghalangi Dika dan beberapa temannya untuk jalan-jalan di kota Berlin sembari membeli oleholeh. Dari Bali, selain Dika ada Komang Wira dan Made Yuli yang ikut dalam kejuaraan ini. “Tahun depan saya ingin ikut kejuaraan ini lagi. Saya akan terus berlatih dengan giat,” ujar pengagum karateka Agayev dari Azerbaijan yang hadir saat Bansai Cup ini. Kini Dika harus mengatur waktu antara latihan dan belajar menjelang ujian nasional. Untuk mengejar ketertinggalan pelajaran selama ikut turnamen, ia les di sekolah dan di Wisma Belajar. Penggemar pelajaran bahasa Inggris ini berharap bisa menyeimbangan antara pelajaran di sekolah dan prestasi di karate. Ia pun berharap teman-tremannya untuk terus giat berlatih dan mendengarkan arahan pelatih. –Ngurah Budi


8

Bunda & Ananda

Edisi 877/ 30 November - 6 Desember 2015

“Lelang Gemilang” APSAI Denpasar

Dedikasi untuk Anak-anak Denpasar

Suasana di salah satu areal Hotel Aston, di kawasan Jalan Gatot Subroto, Denpasar hari itu sedikit berbeda. Jumat (20/11), sore menjelang malam, selain suasana diisi penampilan akustik dari sekelompok remaja juga ada lagu anak-anak dari The Glittersz. Selanjutnya terdengar cuap –cuap sang MC yang menawarkan beberapa item fashion milik dari para publik figur maupun artis di Kota Denpasar kepada pengunjung.

Lelang

“Ini adalah acara “Lelang Gemilang” perdana, gebrakan awal atau warming up sejak pengurus Asosiasi Pengusaha Sahabat Anak Indonesia (APSAI) Kota Denpasar dikukuhkan Rabu, 5 Agustus 2015,” ujar Ketua Umum APSAI Kota Denpasar Sri Sutari, didampingi Sekretaris APSAI Gung Sri Wiadnyani. Sri Sutari mengatakan jika kegiatan “Lelang Gemilang” tersebut disiapkan hanya dalam 2 hari. “ Mungkin karena tujuan lelang adalah untuk anak-anak yang memerluakan bantuan , khususnya mereka yang ada di Kota Denpasar, maka sambutan para donator pun di luar dugaan. Untuk lelang pertama dan dalam waktu yang tidak terlalu lama, kami berhasil mengumpulkan dana senilai Rp 4 juta,” ujarnya . “Masih banyak koleksi pakaian dan produk lainnya yang siap kami persembahkan pada

Susunan Pengurus Asosiasi Perusahaan Sahabat Anak Indonesia (APSAI) Kota Denpasar PENASEHAT : 1. 2. 3.

Wali Kota Denpasar Kepala Badan Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan Kota Denpasar DR. A.A.A. Ngurah Tini Rusmini Gorda, S.H.,M.M.,M.H.

Ketua Umum Wakil Ketua I Wakil Ketua II

: Ni Wayan Sri Sutari, S.P.,M.P. : Putu Yuliartha, S.S. : Ni Putu Suryani, S.T.

Ketua Bidang 1 Wakil Ketua Bidang 1

: Sayu Ketut Sutrisna dewi, S.E.,M.M.,Ak : Ni Wayan Diesnawati, S.E.,M.Si.,Ak

Ketua Bidang 2 Wakil Ketua Bidang 2

: Tjok Istri Agung Wahyu Trisna : Anak Agung Inten S.E., Ch.,CHT.,MNNLP

Ketua Bidang 3 Wakil Ketua Bidang 3

: Wayan Sukhana : I Made Adhy Suryantha Saputra, S.S.

Ketua Bidang 4 Wakil Ketua Bidang 4

: A.A. Sri Utari, S.E : A.A Istri Mas Prahandari. SE

Ketua Bidang 5 Wakil Ketua Bidang 5

: Dra. A.A. Sagung Mas Ruscitadewi, M.Fil.H : Md. Suksma Prijandhini Devi Salain, S.H.,M.H.,LLM

Sekretaris Umum Wakil Sekretaris

: A.A Istri Sri Wiadnyani, S.T.P.,M.Sc : Ni Wayan Purnami Rusadi,S.P.,M.Agb

Bendahara Wakil Bendahara

: Ni Ketut Seniwati, S.E : Ni Ketut Winarti, S.E

bina hubungan yang kuat secara emosional demi mengemban dan dan memperjuangkan hak anak –anak di Kota Denpasar. “Kami ingin menjadi mitra kerja bagi seluruh pemangku kepentingan dalam rangka pemenuhan hak-hak anak,” tandasnya. Melalui APSAI pula dunia usaha dapat memberikan perhatian sesuai dengan amanat Undangundang Perlindungan Anak, UU No. 35, yang telah memasukkan peran dunia usaha dalam pemenuhan hak dan perlindungan anak. Dunia usaha juga diakui sebagai salah satu bagian dari masyarakat yang memKetua dan sekretaris Apsai Kota Denpasar punyai tugas dan tangprogram lelang kedua nanti,” imbuh gung jawab dalam pendidikan anak. Program yang berkaitan dengan Gung Sri Wiadnyani. Sri Sutari menjelaskan asosiasi Corporate Social Responsibility (CSR) yang dipimpinnya ini mewadahi dimana perusahaan harus membuat keinginan perusahaan swasta di program yang membantu mengatasi Denpasar untuk berkontribusi dalam masalah anak, seperti anak terlantar, pemenuhan hak-hak anak, melalui anak jalanan hingga anak berkebupembangunan Kota Denpasar Kota tuhan khusus. Disamping mengajak Layak Anak (KLA) di tahun 2020. perusahaan untuk tidak mempekerAPSAI juga sebagai wadah utama jakan pekerja anak. komunikasi bagi perusahaan yang AGENDA RUTIN peduli kepada hak-hak Anak Kota Mengenai kegiatan rutinnya, Denpasar untuk bersama-sama bertanggung jawab dengan membi- Gung Sri Wiadnyani menyatakan, carakan dan memecahkan masalah salah satunya dalam bentuk “Lelang Gemilang ‘”yang melibatkan berbagai yang dihadapi. APSAI bertujuan ingin memper- profesi di Kota Denpasar telah mersatukan perusahaan yang memiliki eka laksanakan. “Ketika berbicara visi dan misi sejalan kemudian mem- demi kepentingan anak-anak para

donatur dengan tulus mendonasikan seluruh hasil lelang produk fashionnya untuk mereka melalui APSAI,” ucapnya sembari mengatakan untuk donatur yang lainnya yang ingin ikut berkontribusi bagi anak-anak, siapsiap karena “Lelang Gemilang” seri kedua segera dilaksanakan. Sekretaris APSAI Kota Denpasar ini menyampaikan terima kasih atas kerjasama semua pihak yang luar biasa, hingga acara berjalan lancar. “Terima kasih kepada IB Rai Dharmawijaya Mantra dan IA Selly D. Mantra yang telah mendonasikan sepasang busananya untuk dilelang. Tini Gorda Ketua BKOW Provinsi Bali yangg busananya terlelang pertama dengan harga pembuka yang fantastis . Begitu juga Sri Utari Satria Naradha, Helmi Ginanti, Ketua IWAPI Badung, Eva Listya Ketua FPPI DPC Denpasar, ASBESTS Kota Denpasar, Rhea Cempaka, Mira Minardi, Putu Swandewi, Mang Geg, Ayu Sandat juga Byang Mangku Hipno untuk boneka terapinya serta Begeron Dekti dan Bintang Mira Afriningrum,Sekretaris APSAI Ginyar, dan pihak lainnya yang sudah membantu dan bekerja dari hati, yang tak dapat disebut satu –persatu,” ujar Gung Sri Wiadnyani. “Semoga bersama APSAI Kota Denpasar, semua anak-anak yang ada di Kota Denpasar bisa mendapatkan maanfaat sebesar-besarnya. Tentu saja hal ini dapat dimulai dari orangtuanya yang berprofesi sebagai karyawan atau pemilik perusahaan untuk melakukan hal-hal yang ramah anak,’ lanjutnya sambil menyampaikan jika saat ini, anggota sementara APSAI Kota Denpasar terdaftar sekitar 10 perusahaan. – Sri Ardhini

Edisi 877/ 30 November - 6 Desember 2015

“Ng” Sebuah Tari Metamorfosis Cermin Kehidupan

Anggreng swaran nikang kumbang….. Ng … ng … ng … ng … ng … ng …ng… Dengung itu, dengung itu Ya dengung itu … terdengarkah ? Jauh menjelma dekat, dekat menjelma jauh dalam batin …pada semesta dekatkah? Jauhkah? menjelmalah segala keindahan dalam setiap ciptaan-Nya

Mendongeng Lima Menit

cintaku kepada garam

Sebelum tidur malam, Raja Darmawangsa berbaring sambil berbincang-bincang dengan ketiga putrinya. Perbincangan malam itu adalah mengenai cinta. “Nurul, sebesar Made Taro apa cintamu kepadaku?” tanya Raja kepada putrinya yang sulung. “Cintaku kepada Ayahanda adalah sebesar emas termahal,” jawab Nurul. “Bagus! Aku percaya padamu. Lalu, Ratna, sebesar apa cintamu kepadaku?” tanya Raja kepada putrinya yang menengah. “Cintaku kepada Ayahanda sebesar mutiara yang termahal.” “Bagus! Aku percaya kepadamu. Sekarang kamu, Dewi, putriku yang bungsu, sebesar apa cintamu kepadaku?” “Mungkin kelihatannya tidak berharga, tetapi cintaku kepada Ayahanda tak ternilai harganya.” “Katakanlah, sebesar apa?” “Cintaku kepada Ayahanda sebesar cintaku kepada garam.” “Apa katamu?” Raja Darmawangsa bangkit lalu menuding-nuding si putri bungsu. “Kamu menyamakan ayahmu dengan garam? Sungguh durhaka kamu! Kamu telah menghina Raja dan ayah kandungmu. Enyah kamu dari sini!” Keesokan harinya, pagi-pagi benar, si putri bungsu meninggalkan istana. Di sepanjang jalan ia

mencucurkan air mata. Ia sangat sedih meninggalkan ayah yang sangat dicintainya itu. Namun ia tidak mengerti mengapa ayahnya salah paham. Ia pasrah menjalani nasibnya. Tidak disadarinya, tiba-tiba ia sudah sampai di tengah hutan. Hari demi hari, bulan demi bulan telah berlalu. Pada suatu hari, pagi-pagi benar Raja Darmawangsa pergi berburu dengan pasukannya ke dalam hutan. Hingga matahari condong ke barat, tak seekor hewan pun yang tertangkap. Raja dan pasukannya kehausan dan kelaparan. Untunglah di suatu tempat yang sepi, pemburu-pemburu itu menemukan sebuah pondok. “Paman Patih!” panggil Raja kepada patihnya yang setia. “Mintalah makan dan minum kepada penghuni pondok itu!” Tak lama berselang seorang gadis cantik mengantarkan makanan dan minuman ke hadapan Raja dan pasukan pemburu. Tanpa memperhatikan si pembawa makanan, Sang Raja makan dengan lahapnya. “Anak gadis!” kata Raja setelah puas makan. “Sungguh enak makananmu! Sayang, tak ada garamnya.” “Maaf, Paduka Raja! Hamba tak pernah menggunakan garam, karena sumpah.” Raja Darmawangsa minta kepada anak gadis itu menceritakan hal sumpah itu. Anak gadis itu menceritakan riwayatnya. Akhirnya ia berkata, “Cintaku kepada Ayahanda sebesar cintaku kepada garam.” Raja Darmawangsa menangis. Ia menyadari kesalahpahamannya. Waktu itu pula Raja memboyong putri kesayangannya itu kembali ke istana.

17

K

etika tembang itu mulai dilantunkan, suasana panggung yang gempita secara perlahan terang. Kisah hidup kemudian dipaparkan lewat kata-kata puitis diiringi dentingan music tanpa nada. Para seniman yang masih belia kemudian bergerak mencoba mengenali sudut-sudut keindahan. Dengan irama kidung klasik yang magis, mereka bergerak mengepak dan terkadang menguncup tanpa makna. Itulah garapan tari “Ng” karya Ida Ayu Wayan Arya Satyani yang dipentaskan di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Art Center, belum lama ini. Karya seni inovatif itu didukung oleh para seniman masih belia merupakan Bajra Sandhi Arts Community. Didukung pula Dayu Mang Ana sebagai penembang dan pembaca puisi serta Dayu Gek Prihandari. Sebagai komposesr sekaligus merangkap manajer, Gus Gentorang.

Garapan tari inovatif ini berdurasi sekitar 20 menit mengangkat siklus hidup kupu-kupu yang mengalami metamorfosis sempurna yang dienterpretasi dalam kehidupan manusia. Kupu-kupu yang indah mengalami proses perubahan hidup pada setiap tahapnya. Telor – larva – ulat – kepompong – kupu kupu, suatu proses yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan dan keindahan. Ko r e o g r a f i i n i t a k hanya indah, tetapi juga sarat makna. Sebab, dari serangkaian fase metamorfose bisa dijadikan pelajaran bagi umat manusia yang senantiasa menginginkan kesempurnaan. “Lewat garapan ini, saya ingin mengingatkan bahwa proses itu adalah sistem pembelajaran yang paling kuat. Segala sesuatu itu memang ada prosesnya,” kata Dayu Ani, sapaan akrab Ida Ayu Wayan Arya Satyani. Meski sebagai sajian seni modern, dalam penampilannya garapan “Ng” ini sangat lengkap. Tak hanya menyajikan gerak tari tetapi juga ada music, kidung (vokal), dan rias (gambar). Bahkan, anak-anak yang diberikan kebebasan berekplorasi maka ada suasana yang tercipta. Pendukung yang memiliki dasar tari tradisi yang kuat, bergerak bebas seakan mereka sendiri yang sebagai sutradaranya.

(kepala di bawah) hanya bertumpu pada lilitan kain saja. Adegan lainnya, seorang penari yang menari di atas kaki kawan dengan melengkung, hingga kepala dan kaki saling sentuh. Demikian pula music iringannya tampak sederhana. Hanya memanfaatkan suling, rebab, kendang dan bilah gangsa yang terlepas, paduan music ini mampu memberi suasana dalam setia adegannya. “Musik hanya memberi aksen dan menegaskan suasana dalam setiap adegan,” kata Gus Gentorang. Menurut Dayu Ani, ide garapan itu merupakan lanjutan dari eksprerimen kecil berjudul “I Kekupu” yang telah dipentaskan pada Pagelaran 100 Kebaya, Natya Mandala ISI Denpasar 2015. “Awal lahirnya karya ini bermula dari kekaguman saya terhadap karya Legong KupuKupu, Bedulu dalam sebuah workshop yang diberikan oleh Ibu Bulan Trisna Jelantik,” katanya.

Gerak mereka sangat sederhana, namun setiap sudut yang tercipta selalu indah. Itu karena bukan gerak biasa, melainkan bagian dari gerak yoga asanas yang mampu membawa ketenangan. Olah tubuh mereka tampak sempurna, melengkung, menggelinding, berdiri terbalik (kaki diatas dan tangan dibawah) dan terbang ringan di atas kaki teman. “Saya memang memberi mereka kebebasan bergerak,” ucapnya. Para penari hanya duduk diam. Kedua tangan mereka menempel pada lutut, kemudian mengepak dan menguncup bagai sayap kupu-kupu. Meski duduk diam, mereka terus berekspresi

lewat rasa. Terkadang memutas mata, nyeledet ke samping kanan dan kiri bahkan memutar bola matanya ½ dan 1/3. “Gerakan mata itu juga bagian dari gerak yoga,” tegas Dayu Ani. Walau semua gerak-gerak mereka mendapat aplaus penonton, namun ada dua adegan yang cukup sensasional. Yaitu ketika dua penari bergerak pada kain putuh yang bergantung pada tiang balok. Mereka menari melayang dan terkadang berbalik

Ungkapan Ibu Bulan, jelas Dayu Ani, hidup kupu-kupu seolah bertugas untuk berbagi kebahagiaan dan keindahan dalam hidupnya yang sekejap, setipis sayapnya yang indah dan setelah perjuangan siklus yang harus dilaluinya. “Belajar dari spirit hidup “I Kekupu” itu semoga jatah waktu hidup yang singkat ini dapat bermanfaat bagi lingkungan dan semesta,” pungkas Ibu satu putri ini. -Darsana


18

Kreasi

Edisi 877/ 30 november - 6 Desember 2015

IB Putra Adnyana

Katalog sebagai Kenangan Dunia digital telah membuka peluang bagi para fotografer untuk mengembangkan imajinasinya. Fotografi bukan hanya sekadar dokumentasi keindahan namun berkembang ke arah seni visual yang lebih luas. Ini dilakoni IB Putra ­Adnyana dalam ­pameran bersama di Tonyraka Art Gallery, Mas, Gianyar, mengusung konsep “Violent Art Exhibition“

I

beberapa fotografer pemula, katanya ia sering mendapat pertanyaan, kamera apa yang bagus?. “Pada dasarnya produsen telah memproduksi kamera sesuai dengan segmen, dari entry level hingga pro. Tinggal sebagai konsumen harus cerdas, belanja sesuai dengan kebutuhan,” ungkapnya Sesuaikan juga dengan budget dengan tujuan pemotretan. Ada saran dari para fotografer senior, kalau kamera yang terbaik adalah kamera yang dimiliki sekarang. Maka maksimalkan yang ada, pelajari fiturnya , teknik dasar dan lebih sering berlatih. Ayah dari IB N Prima, IA AgungAdriani dan IB AnggaTriadi ini telah menjalin kerjasama dengan sebuah penerbit untuk mempublikasikan foto-foto budaya Bali dalam sebuah buku yang berjudul “Bali – Ancient Rites in Digital Age”, yang ditu-

Story

Edisi 877/ 30 november - 6 Desember 2015

I

foto monochrome penari Baris diolah dengan software foto di komputer setelah dicetak di atas kanvas diwarna lagi dengan cat.

lis oleh Diana Darling . Buku ini rencananya akan di- launching tahun 2016. Suami dari, AANGP Su-

martini ini sebelumnya juga sempat menjadi kontributor untuk beberapa penerbit global.Tahun 2014 sebagai kontributor untuk sebuah buku berjudul “Saraswati” karya Ron Jenkins (ARMA) dan buku tentang pelukis Lempad berjudul “A Balinese Timeless Master” (Pictures Publisher) . “ Ini kesempatan istimewa bagi seorang fotografer daerah, “ ujar Gustra yang lebih dari 20 tahun berkecimpung di dunia fotografi ini. Gustra menambahkan membuat buku memerlukan penanganan khusus. Dari kurasi foto, tulisan pendukung, graphic design, percetakan hingga pemasaran global. Meski kini dalam era e-commerce penjualan, buku bisa melalui on line, tetap teknik pemasaran tradisional masih diperlukan. Teknik pemasaran yangg tepat, tujuan dari pembuatan buku akan tercapai. Seperti yang dikatakan fotografer senior ini, mendokumentasikan aset

budaya Bali, sekaligus mengenalkan ke masyarakat yang lebih luas. Ditengah kegiatan menyiap­ kan buku, Gustra mengumpulkan karya –karyanya yang dibagi dalam tiga katagori foto,yakni; culture ( foto budaya Bali), composite (penggabungan beberapa foto menjadi imaji dengan tema tertentu) dan coloring ( menambah warna, baik waktu diolah di komputer maupun setelah tercetak.), yang semuanya akan ditampilkan pada sebuah pameran yang diharapkan dapat dilaksanakan pada tahun 2016. Gustra mengatakan, dalam pameran ini diperlukan kerjasama dengan berbagai pihak, terutama sponsor. Sebab, untuk mencetak dan membuat katalog memerlukan biaya lumayan besar.“Katalog ini sangat penting dalam sebuah pameran, karena ketika pame­ ran usai, katalog ini yang akan selalu memberi kenangan,” ujar Gustra . –Sri Ardhini

4 foto digabung menjadi satu untuk menunjukan kegiatan para wanita di balik jendela.

7

Hati Tertambat Tukang Batu Menjalani kehidupan hingga ke dunia hitam menjadi bagian dari perjalanan nasib Indah (50), perempuan asal Pulau Sumbawa yang hidup merantau hingga ke Nusa Tenggara Timur. Kisah hidup perempuan hitam manis ini tidak seindah namanya. Kebiasaan hidup bermewah-mewah menjadikannya terpuruk bahkan di tengah tawaran hidup yang sesungguhnya bisa membuatnya baik.

Tamara berpose disamping karya foto IB Putra Adnyana dalam pameran Bali Art Intervention # 1 : Violent Bali di Tonyraka Art Gallery Mas, Gianyar

nspirasinya bersumber dari cerita Ramayana, ketika Dewi Sita terperangkap oleh seekor kijang kencana, dengan merangkai beberapa foto dijadikan satu kesatuan tema. Fotografer bukan saja harus mahir dalam memotret, juga harus terampil menggunakan software pengolah foto.Tentu juga paham konsep tentang keindahan. Tahun 2000 silam, fotografer yang akrab disapa Gustra ini telah merilis fotofoto dalam bentuk CD interaktif. “ Pada era digital, ada yang mendapat peluang juga ada yang kehilangan peluang, “ ujar Gustra yang pernah bekerjasama dengan sebuah perusahaan motor dan radio swasta untuk memberi pelatihan fotografi gratis kepada 60 orang remaja. Dari pertemuan dengan

Life

ndah yang tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya membuat ia sampai harus “menggadaikan” harga diri bahkan pernah menjual dirinya sebagai seorang pelacur. “Saya sedih, ” ujarnya pendek ketika ditemui di Pelabuhan Lembar saat hendak berangkat ke Nusa Tenggara Timur, tempat di mana ia merasa bisa diterima dengan kehidupannya yang tidak umum yang dijalaninya hari ini dengan seorang tukang batu. Usia 21 tahun, Indah telah menikah dengan seorang laki-laki asal Pulau Jawa dan meninggalkannya begitu saja dengan seorang anak perempuan. Pernikahan yang diawali dengan kehamilannya sebelum menikah itu, rupanya tidak berjalan baik. Ia menikah ketika usia kandungannya tiga bulan. Belum lagi anaknya lahir pernikahan itu tinggal mimpi bagi Indah. “Dia pergi meninggalkan saya begitu saja sebulan sebelum saya melahirkan. Saya tidak tahu ke mana dia (suaminya) pergi,” kata Indah yang mengaku sampai hari ini tidak tahu keberadaan suami sirinya itu. Indah lalu membesarkan anaknya seorang diri dalam kemelaratan hidup karena setelah hamil dan menikah siri, keluarganya tidak ada yang mau menerimanya dengan sungguh-sungguh. Indah menjadi malu sendiri dan tidak nyaman berada di tengah keluarganya. Akhirnya, demi membesarkan anaknya ini, Indah memilih dunia hitam pelacuran. “Terpaksa saya lakukan demi menghidupi anak saya,” katanya sedih. Dari kehidupan dunia malam ini, Indah dapat menghidupi dirinya dan anaknya. “Pekerjaan” ini memberinya banyak uang sehingga kebiasaan hidup hura-hura dan bermewah-mewah kembali dijalaninya. Sifatnya yang angkuh pun tidak dapat disembunyikannya lagi. Dari langganannya inilah, ia kemudian berkenalan dengan seorang laki-laki yang cukup mapan. Lelaki itu hidup

sendiri di NTT sedangkan istri dan anakanaknya di Pulau Jawa. “Karyawan salah satu BUMN,” katanya menyebutkan nama BUMN tersebut. Meskipun lelaki tersebut telah sangat berumur dan beberapa tahun lagi menjelang pensiun, tapi Indah tidak peduli. Yang ia pedulikan hanya besarnya penghasilan dan harta yang dimiliki laki-laki yang telah beristri dan beranak empat itu. Ia pun mau menikah siri dengan laki-laki yang bertugas di NTT itu. Beruntung Indah yang berwajah manis ini disayang oleh suami sirinya ini. Ia dilimpahi kemewahan dan hidup bergelimang harta. Inilah yang memicu sifat angkuh Indah kembali terlihat. Indah seperti lepas kendali. www.1001kisahteladan.com Tidak hanya angkuh, ia juga makin banyak membuat masalah di tengah pergaulannya. Bertengkar dengan banyak orang persis cara orang tidak sekolah. Indah mengakui hal ini dengan terus terang. Dari pernikahan sirinya ini, Indah yang tinggal di rumah relatif mewah milik suaminya itu memiliki tiga orang anak. Bersama suaminya ini Indah tinggal bersama tiga orang anak tersebut dan dua anak suaminya serta seorang anak dari hasil pernikahannya terdahulu. Tampaknya Indah tidak bisa adil memperlakukan antara anak kandungnya dengan anak tirinya. Hal ini membuat suaminya tidak nyaman sehingga pertengkaran-pertengkaran terus mewarnai kehidupan pernikahan mereka. JUAL MOBIL Sampai akhirnya diketahui suaminya ternyata berselingkuh dengan perempuan lain. “Dia meninggalkan saya dan pergi

begitu saja,” kata Indah. Kerepotan jelas mewarnai hari-hari Indah tanpa suaminya. Ia harus mengurus enam anak. Sementara suaminya itu seperti tidak peduli lagi padanya. Ia bahkan sudah tidak lagi dikirimi uang oleh suaminya yang sudah berpindah tugas ke kota lain. Hal inilah yang membuat ia memulangkan dua anak suaminya kepada ibu kandungnya dan melanjutkan hidup dengan empat anak kandungnya. “Morat-marit hidup saya. Mobil terpaksa saya jual sedangkan rumah tidak bisa saya jual karena masih atas nama suami saya,” ujarnya. Kembali Indah ke dunia hitam. Apa hendak dikata karena seluruh tabungannya terus habis untuk membiayai hidupnya yang mewah. Anaknya dari suami pertamanya yang sudah remaja terpaksa mencari penghidupan sendiri. Ia mengikuti jejak ibunya. Dalam keadaan yang tidak menguntungkan itu, Indah yang kesepian menjalin hubungan dengan banyak laki-laki, termasuk dengan seorang tukang batu asal Pulau Jawa. Jalinan cinta keduanya berjalan meski di tengah peliknya masalah yang membelit. Istri sang tukang batu itu bahkan jauh-jauh dari Pulau Jawa datang ke NTT untuk memperingatkan Indah. Namun Indah tidak peduli. Entah mengapa, menurut Indah ia merasa jatuh cinta pada sang tukang batu. “Saya belum pernah merasakan jatuh cinta seperti ini seperti saya jatuh cinta padanya (tukang batu itu),” katanya tersenyum. Ia tidak ingin melepaskan tukang batu itu, meski hidup seadanya dan penuh hinaan dari istri laki-laki itu. D a r i hubung­a n ini, Indah kemudian hamil dan memiliki seorang anak l aki-laki bersama tukang batu itu. Indah dan tukang batu

tersebut tidak pernah menikah. Hingga kini, mereka hidup bersama di NTT tanpa ikatan pernikahan. Entah apa sebabnya, mereka tidak pernah mempersoalkan pernikahan. Inilah yang membuat Indah mengatakan bahwa kehidupan mereka di negeri timur adalah tempat yang paling nyaman baginya. Hari itu, setelah ke Lombok untuk menjenguk anak dari pernikahannya yang pertama, dari Pelabuhan Lembar, Indah kembali ke NTT untuk menemui sang tukang batu kekasih hatinya itu. Entah apa yang akan terjadi padanya kelak, Indah telah menyerahkan hidupnya kepada si tukang batu itu. “Saya hanya menunggu garis nasib berikutnya,” ujarnya. -Naniek I. Taufan


6

Putu Ayu Utami Dewi

ODHA Berani Suarakan Aspirasi Spirit Paramacitta adalah yayasan yang bergerak di bidang peningkatan kualitas dukungan terhadap orang dengan HIV dan AIDS/ODHA Bali. “Sejak berdiri tahun 2001, Yayasan Spirit Paramacitta yang dulu dikenal sebagai Yayasan Bali Plus memiliki fokus dan konsentrasi terhadap gerakan penanggulangan HIV /AIDS di Bali. Yayasan ini mendukung penuh pemberdayaan ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS ) dan OHIDHA (Orang Hidup Dengan ODHA) agar lebih mandiri dan mampu mendapatkan hak-hak dasar dan melaksanakan kewajibannya sebagai individu maupun sebagai bagian dari komunitas,” ujar Direktur Yayasan Spirit Paramacitta, Putu Ayu Utami Dewi, S.E.

ODHA ini menjadi tidak mandiri. Pada tahun 2001 mulai mengubah pola pikir pada masyarakat bahwa ODHA bukan penderita, bukan pesakitan dan mengubah cara pendang bahwa ODHA juga berperan penting memberikan wajah manusiawi dalam program penanggulangan HIV/AIDS melalui terbentuknya Yayasan Bali Plus yang saat ini bernama Yayasan Spirit Paramacitta.

Y

ADVOKASI PEMBUAT KEBIJAKAN Keterlibatan Putu Utami dalam komunitas ini lebih kepada motivasinya untuk menjadikan komunitas ODHA lebih cerdas, kritis, berdaya dan tidak manja serta tergantung pada orang lain. “Karena yang membuat komunitas ODHA ini menjadi lebih baik dan sehat adalah dirinya sendiri, melalui pikiran dan perilaku positif, kepercayaan diri bahwa mereka mampu mengubah situasi yang termarginalkan menjadi penerimaan positif, peningkatan pengetahuan, kecerdasan, kekritisan akan akses layanan kurang berpihak dan minimnya pengobatan serta berani menyuarakan kebutuhan/advokasi kepada pembuat kebijakan serta keberlanjutan akses pengobatan ARV dari pemerintah,” ucapnya. Selama bekerja dan berkiprah di Yayasan Citra Usadha selama hampir 4 tahun, Putu Utami berkesempatan mengikuti konferensi AIDS internasional di beberapa negara

ayasan ini mendampingi ODHA yang berada di seluruh kabupaten di Bali. Dari tahun 2002 hingga September 2015 jumlah dampingan ODHA dari yayasan ini mencapai 4.000 orang. Program dukungan dan pendampingan terhadap ODHA melalui wadah/Kelompok Pendukungan Sebaya (KDS) di 7 kabupaten di Bali. Kegiatannya antara lain memberikan dukungan psikologis melalui konseling sebaya/sesama; memberikan dukungan layanan kesehatan seperti dukungan informasi tentang infeksi oportunistik dan kepatuhan terapi ARV; memberikan dukungan sosial dan pendidikan bagi anak yang terinfeksi HIV/AIDS (ADHA) maupun anak-anak yang orang tuanya ter­ infeksi HIV/AIDS; pertemuan study club dengan berbagai keterampilan dan pengetahuan; pertemuan ter­ tutup bagi komunitas ODHA yang baru mengetahui status HIVnya.

Putu Utami, demikian sapaan akrab perempuan kelahiran Denpasar 20 Mei 1974 ini menuturkan bagaimana ia terlibat di yayasan ini. Tahun 1997 ia bergabung di Yayasan Citra Usadha Indonesia (YCUI) yang dipimpin Prof. Dr. dr. Tuti Parwati Merati ,SpPD-KPTI (FINASIM) sebagai staf, mendampingi 5 orang klien yang HIV positif. Saat itu, hanya Prof. Tuti yang dipercaya klien untuk mendukung ODHA. “Di tahun tersebut dan ODHA sangat tertutup karena minimnya layanan dokter lain yang menerima status HIVnya serta akses pengobatan infeksi oportunistik serta ARV (Obat Menekan dan mengendalikan virus) belum ada,” ungkapnya. Begitu banyaknya tantangan yang dialami ODHA saat itu. Selain stigma dan diskriminasi, hal lain komunitas ini hanya menjadi objek semata saat dibutuhkan oleh pihak lain dan tidak berdaya karena kualitas pendidik­ an, pengetahuan dan keterampilan yang minim membuat komunitas

Mozaik

Woman on Top

Edisi 877/ 30 november - 6 Desember 2015

yakni Thailand, Malaysia, Australia, Trinidad-Tobago, Singapura, AS, Jepang, dan Timor Leste. Aktivitasnya lainnya, menginisiasi terbentuknya kelompok sebaya ODHA/KDS di 7 kabupaten dan menguatkan kelompok dari manajemen, program dan sistem keua­ ngannya, pelatihan public speaking, kepribadian, pelatihan pengobatan ARV serta konseling VCT. Dari aktivitasnya tersebut, Putu Utami mengungkap beberapa pengala­m an yang menyakitkan. Pernah suatu saat, orangtua murid menyuarakan ke sekolah tidak menerima anak HIV di sekolah mereka. “Solusinya, kami penyuluhan ke sekolah yang dihadiri oleh orangtua murid dan para guru. Akhirnya mereka menerima anak tersebut,” kisahnya. Ada juga kasus teman-teman ODHA menyembunyikan obat ARV mereka di bawah tempat tidur dan tidak diminum. Tetapi setelah sakit baru menyesal tidak patuh terapi ARV. “Bahkan pernah ada juga dokter spesialis bedah tidak mau menangani pasien karena di tubuhnya ada virus HIV. Dengan alasan apapun itu tantangan terberat yang pernah kami alami,” ungkapnya . Di balik hal-hal yang membuatnya kecewa tersebut, tentunya ada rasa senang dan puas Putu Utami ketika bertemu ODHA yang dulunya sakit dan tidak bisa berjalan/tak berdaya, akhirnya sehat dengan terapi ARV bahkan mereka menjadi mentor untuk teman-teman sebayanya/

sesama HIV. Yang lebih membanggakan lagi, ODHA kini mampu serta berani menyuarakan aspirasi melalui anggota dewan, Menteri Kesehatan, pimpinan rumah sakit, Kepala Dinas Kesehatan, dan pembuat kebijakan. Karena itu, ia berharap gene­ rasi muda lebih proaktif dan banyak berperan dalam kegiatan sosial kemanusiaan dan mencari banyak pengalaman positif dari kegiatan sosial yang dilakukan. “Hal yang tak kalah penting, orangtua selaku contoh bagi putra-putri mereka. Berperilaku amanlah dan berperilau positif karena anak cucu akan mencontoh figur orangtuanya yang lebih baik,” tandasnya. –Inten Indrawati

Edisi 877/ 30 november - 6 Desember 2015

Pemanfaatan Gas Bumi belum Maksimal

Sama dengan global economy outlook yang tengah banyak didiskusikan di berbagai forum untuk melihat perkiraan bisnis dan ekonomi ke depan, dalam skala yang lebih kecil, wanita dalam bisnis dan karir menuntut kemampuan dan keterbukaan berpikir lebih baik. Ketika grafik pertumbuhan menunjukkan angka positif, mereka akan memberi apresiasi terhadap penyumbang pertumbuhan yang signifikan. Namun ketika performa mengalami penururan dan grafik menunjukan negative growth, bagaimana mereka manjadi nagivator untuk melewati gelombang ini. A GOOD THINKER Barangkali indikator utama bukan hanya menjadi pendengar yang baik yang bisa mendengar dengan empati yang dalam. Untuk dapat memegang kendali navigasi, mereka menyadari betapa penting menjadi pemikir yang baik–a good thinker. Melaui pesan singkat saya mencoba mendapatkan satu sudut pandang tentang a good thinker dari seorang Senior Vice President perusahaan finansial & investasi asal Eropa. Beliau menekankan bahwa satu hal menarik adalah mereka selalu memposisikan diri di tempat terbaik untuk dapat berpikir. They put themselves

in the right place to think. Apa maksudnya? Mereka melangkah keluar dan berdiri di luar lingkaran agar dapat melihat dari tempat yang berbeda dan mendapat gambaran utuh atas obyek yang membutuhkan solusi. Di pikiran saya terlintas istilah the white spots–titik berwarna putih yang tidak tampak namun ada. Istilah yang mereka percaya ini dapat memberi peluang lebih besar untuk melibatkan hal-hal yang lebih realistis dalam proses berpikir termasuk tingkat toleransi yang dapat mereka aplikasi dalam proses berpikir ini. Penulis David Schwartz, berpendapat; Where success is concerned, people are not measured in inches or pounds or college degrees or family background; they are measured by the size of their thinking. Dalam sudut pandang a good thinker ini, sukses bukan lagi diukur dari latar belakang keluarga atau latar belakang pendidikan, namun dari seberapa besar mereka bisa berpikir. Dalam tahap ini, mereka cenderung melihat visi dengan jelas sebelum orang lain melihatnya dan biasanya mereka memiliki kemampuan untuk melihat lebih banyak data daripada orang lain yang ada di sekitarnya. Mereka mampu membuat sketsa situasi dan membuat peta untuk melihat kemana arah dan jalan yang akan diambil.

bagi saya merupakan elemen fundamental yang memberi dasar untuk seseorang dapat melakukan evolusi terhadap cara berpikirnya – evolve into a realistic thinker. Barangkali pembaca sependapat bahwa perlu waktu untuk belajar dan terlibat lebih dalam pada tahapan proses realistic thinking ini. Satu pernyataan kunci dari kawan baik saya tadi; You can’t ignore the reality, you need to define it instead.

DEFINING THE REALITY Hampir setiap terlibat dalam diskusi yang padat, kita selalu diminta untuk bicara obyektif dan realistis. Seorang kawan baik yang belakangan sering diskusi dan membagi pikirannya bersama saya, melempar satu pertanyaan yang cukup membuat saya berpikir; “How you define the reality? How critical it is?” Saya mencoba untuk melihat dari sudut pandang cara berpikir yang pernah saya terapkan di beberapa situasi. Menerapkan realistic thinking memang tidak mudah sebab realita sangat berbeda dengan keinginan dan harapan. Saya melihat hal ini sebagai sebuah tanggung jawab dalam proses berpikir. Dalam tahap awal saya pun dihadapkan dengan dua sudut yang tidak mudah juga untuk dilihat; Sudut pertama adalah menutup mata terhadap realita, tetap muncul dengan berbagai pertanyaan ‘kenapa’, tetap melanjutkan topik ini dengan hal-hal yang tidak akurat, diskusi panjang yang tidak memberi solusi apapun tetapi justru berpotensi untuk memunculkan masalah-masalah baru. Sudut kedua adalah komitmen untuk mulai membiasakan diri dengan menerima realita, mencoba untuk berpikir dalam realistic circle itu, dihadapkan pada pintu potensi solusi dan memberi kesempatan luar biasa untuk belajar dari kesalahan. Defining the reality

ENDLESS EXCELLENT MOMENTS Sebuah percakapan padat yang saya lalui beberapa waktu lalu, membawa saya untuk kembali memutuskan mengambil tongkat navigasi. Alasannya sederhana, bahwa kondisi di dalam lingkaran kita sendiri dapat diperbaiki menjadi lebih baik dengan konsep possibility thinking. Pada beberapa orang mungkin konsep ini tidak datang secara alami. Mereka perlu benar-benar mengatur energi agar dapat duduk & fokus dalam waktu yang lebih lama. Possibility thinking tidak lain mengarah pada self optimism. Saya menyadari bahwa dalam tahap ini, merefleksikan hal-hal yang sudah dilewati, menuntut keterbukaan hati agar benarbenar dapat mengambil ekstrak refleksi tadi untuk dituangkan ke dalam konsep possibi­ lity thinking. Saya lebih melihat ini sebagai sebuah konsep yang memberi pedoman berpikir bahwa solusi yang diperoleh dari realistic thinking akan selalu membawa mereka pada momentum positif luar biasa. Saya menyebutnya sebagai endless excellent moments. Kita sepakat bahwa tidak ada cara instan untuk menuju endless excellent moments, namun konsep sederhana yang barangkali dapat membantu menjadi tracker pada peta yang kita buat adalah; remove yourself from distractions so you can navigate though the wave!

baru dan terbarukan dengan beberapa riset. Tentunya Pertamina juga mendukung segala macam riset energi baru terbarukan, salah satunya adalah penemuan gatsu drinks dari tenaga surya yang bisa digunakan untuk berjualan keliling. “Untuk pengembangan energi baru dan terbarukan Gebyar Energi Pertamina akan menggambarkan peran Pertamina dalam penyediaan bahan bakar gas untuk transportasi, pengembanjuga dilakukan dengan berbagai gan energi dari biomassa dan bio cara, diantaranya harus ramah gas, mini hydro, surya, dan angin, lingkungan. geothermal untuk listrik yang Gebyar Energi Pertamina ditargetkan bisa mensuplai 1,13 menjadi wujud penegasan Per- GW pada 2019,” katanya. tamina terkait dengan berbagai Selain itu, pengembangan aksi hijau perusahaan. Salah satu- sampah kota untuk LNG, micro nya dengan pengembangan energi algae, green diesel, dan bioavtur untuk bahan bakar transportasi dengan total volume sekitar 1,28 juta KL per tahun pada 2019. “Kami juga akan menghadirkan produk-produk unggulan Pertamina, seperti Bright G a s , Pe l u m a s , mang untuk promosi. Selain ber- Pertamax Series, tani, hampir sebagian besar pen- dan juga Vi-Gas. duduk Desa Gondosuli ini meng- Namun, lebih dari geluti budidaya ikan berkumis ini. itu kami ingin ajak Tak ayal, hampir setiap pekarangan masyarakat untuk rumah pasti terdapat kolam ikan. melihat hal itu. Dari data yang ada, sedikitnya 20,86 Pertamina juga ha lahan yang digunakan untuk bu- mempunyai produk lain didaya ikan lele ini. Masing-masing dan pentpembudidaya memiliki 1000 m2. ing untuk “Saya cuma punya 2 kolam. Tapi diketahui suami maunya tambah lagi,” kisah masyarakat Ny. Hesti. terutama Dengan sajian ikan gratis ini, pelaksanNy. Hesti berharap, setidaknya bisa dijadikan informasi ketok tular bagi masyarakat. Sehingga membawa dampak postif bagi pembudidaya ikan lele yang ada di Desa Gondosuli. Permintaan Wianda naik dan penghasilan pun bertambah. Mengingat hampir seluruh lapisan masyarakat menyukai ikan lele. Karena selain harganya terjangkau juga baik untuk kesehatan. “Mudah-mudahan saja, dengan kegiatan ini ekspansi bisa terus bertambah, “ ujar Ny. Hesti penuh harap. -Khoirul Abadi

Pemanfaatan gas bumi di Indonesia relatif masih sa­ ngat rendah, baru sekitar 5 ­persen. Untuk meningkat­ kan pemanfaatannya, PT Pertamina (Persero) mem­ perkenalkan kiprah perusahaan dalam penyediaan sumber energi dan pemberdayaan masyarakat melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) dan SME PP dalam Gebyar Energi Pertamina.

V

ice President Corporate Communication Pertamina, Wianda Pusponegoro mengatakan, Indonesia berada pada urutan ketiga dalam penyediaan gas di dunia. Tetapi sayangnya, belum maksimal di-

manfaatkan karena baru lima persen yang telah dimanfaatkan karena terhalang berbagai faktor. Walau demikian, Pertamina akan berupaya secara maksimal untuk memanfaatkan angka 5 persen tersebut. Pemanfaatan itu

Pecel Lele Gratis Warga Tulungagung

Navigating Through The Wave Mereka membuat estimasi terhadap angka yang ingin dicapai dan membuat titik-titik yang menghubungkan masa depan dengan masa-masa sebelumnya dimana mere­ka tumbuh, untuk membuat hubungan itu tampak lebih jelas dan berarti, sehingga bisa dijadikan pedoman dalam tahapan pemikiran berikutnya atau code of thinking. Mereka yang mendapat label a good thinker, percaya dengan The magic of thinking big.

19

Ny. Hesti

Tak banyak masyarakat yang tahu Desa Gondosuli, Kecamatan Gondang, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, termasuk penghasil ikan lele terbesar di Jawa Timur. Pada tahun 2009, pembudidaya di Desa Gondosuli ini mampu memproduksi 6.419 ton ikan lele. Tahun 2014, produksi ikan lele meningkat menjadi 9.764,95 ton ikan lele. Kalau di kurs-kan dengan uang , jumlahnya mencapai Rp 121,270 miliar / tahun. Tak heran, jika sebagian orang menyebut Desa Gondosuli ini sebagai kampung lele. Maklum, karena sebagian besar warganya memiliki atau bekerja di kolam ikan lele. Agar desa ini makin dikenal oleh masyarakat luas, sekelompok budidaya ikan lele di Desa ini rela menyajikan 5.180 pecel lele santan. Menu andalan warga sekitar. “Santannya ini yang membedakan dengan pecel lele lainnya,” ujar Ny. Hesti, salah seorang peternak lele. Ribuan pecel lele santan plus nasi ini, disajikan kepada semua

pengguna jalan atau pengunjung yang hadir pada acara tersebut. Diletakkan di atas meja yang panjangnya mencapai 1,3 kilo meter. Masing-masing cobek, berisi 2 ekor iklan lele berukuran sedang. Setiap pengunjung boleh makan sepuasnya. tapi tidak boleh dibawa pulang. Kegiatan ini, tujuannya me-

aan CSR dan SME PP hingga pengembangan EBT,” imbuh Wianda. Sementara itu, Andiyanto Hidayat dari Technology & Pro­ duct Development Pertamina, mengatakan banyak kerjasama yang dilakukan Pertamina dengan sejumlah BUMN lainnya seperti PLN untuk proses bisnis Pertagas. Sedangkan dengan beberapa PTPN 10 untuk biogas dan BUMN lainnya seperti PGN. “Kita memakai nama Envogas, karena BBG tidak jelas,” terangnya. Diharapkan dengan adanya hal tersebut bisa saling sinergi, seperti proyek pembangkit listrik yang dilakukan Pertagas ini sudah 72 persen karena prosesnya cukup rumit. Juga ketika bekerjasama dengan PTPN 10 dalam mengembangkat EBT. -Diyah Khoirunnisa


20

Nine

Edisi 877/ 30 November - 6 Desember 2015

Tradisi Masyarakat Desa Sembalun

Tak Perlu Keluar Uang untuk Kebutuhan Dapur

Hari masih pagi, matahari belum lagi tampak dari balik bukit yang berada di sekitar perkampungan nan asri ini. Di Desa Sembalun, Kecamatan Sembalun Kabupaten Lombok Timur Nusa Tenggara Barat, yang terletak tepat di kaki Gunung Rinjani, udara dingin menusuk tulang. Warga desa masih ada berselimut kain. Namun di sepanjang jalan sudah tampak aktivitas warga Sembalun termasuk iring-iringan warga yang menuju ke sebuah rumah yang hari itu tengah bersiap-siap menyelenggarakan hajat pernikahan. Para perempuan Sembalun, juga terlihat berjalan beriringan sembari di kepalanya menjunjung bakul yang berisi beras, gula dan lainnya.

K

egiatan mengantar kebutuhan dapur sekaligus melakukan kunjungan silaturahmi ini, biasanya dilakukan selama seminggu dan puncaknya adalah sehari sebelum kegiatan hajatan digelar. “Ibu-ibu biasanya akan datang membawa kebutuhan dapur bergantian selama seminggu, dan puncaknya hari

ini, sehari sebelum acara digelar besok,” ungkap Inaq Fera yang datang bersama ibu-ibu lainnya di sebuah hajatan hari itu dengan membawa beras untuk yang berhajat. Inilah cara warga Sembalun dalam bergotong royong. Tiap kali ada yang menyelenggarakan hajatan, warga desa ini, khususnya perempuan tidak harus diundang

secara resmi, melainkan begitu mengetahui kabar dari mulut ke mulut saja, mereka sudah bersiap diri dan langsung mendatangi rumah orang yang hajatan untuk menyampaikan sumbangan berupa beras, gula dan kebutuhan dapur lainnya. “Tiap kali hajatan berlangsung, bisa dipastikan yang berhajat tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli beras,

warga yang ikut membantu. “Yang ikut bantu satu kampung, ya yang harus disiapkan makan juga untuk satu kampung,” ungkap Inaq Fera tertawa. Kalimat itu diungkapkannya karena memang hampir seluruh warga di desa ini tidak mau ketinggalan untuk bergotong royong. Para perempuan ini mengambil inisiatif masing-masing tanpa harus dikomandoi. Rasa tanggung jawab dan sudah mengerti apa yang harus dilakukan membuat seluruh kegiatan gotong royong ini berjalan dengan baik dan lancar. Tampak sekali antusiasme warga dalam bergotong royong baik perempuan maupun laki-laki, sehingga sangat meringankan beban pemilik hajatan. “Tidak ada yang susah hidup di kampung ini, semua selesai karena mau bergotong royong,” kata Talmiji, salah seorang warga Sembalun. Lihat saja, di salah satu halaman rumah warga yang

5

Kunjungi Denpasar Book Fair 2015 “Spirit Saraswati Bangga Menjadi Anak Indonesia”

Upaya pemerintah Kota Denpasar untuk mening­ katkan minat baca masyarakat melalui Denpasar Book fair telah berlangsung sejak delapan tahun lalu. Untuk tahun ini serangkaian Peringatan Hari Suci Saraswati, Pemerintah Kota Denpasar menggelar kembali “Denpasar Book Fair 2015”, selama tiga hari, yakni 3 s.d. 5 Desember 2015.

gula, kelapa dan lain-lain kebutuhan dapur, karena seluruh warga khususnya ibu-ibu akan datang membawa sumbangan yang dibutuhkan itu,” ujar Inaq Akbar. Kebutuhan dapur biasanya dibawa oleh para perempuan yang langsung menyiapkan diri untuk membantu memasak di dapur. Usai mengantar bahan kebutuhan dapur selama hajatan berlangsung, para perempuan ini

mengambil inisiatif untuk menyiapkan perapian dan alat-alat memasak. Di sisi lain, para lelaki membantu mengangkat kayu bakar dan menyiapkan tempat untuk daging hewan yang baru dipotong. Juga para lelakilah yang membantu perempuan-perempuan ini memotong-motong sayuran yang jumlahnya sangat banyak untuk persiapan hajatan tersebut. –Naniek I Taufan

Cuci Beras di Mata Air Yang unik adalah ketika prosesi cuci beras berlangsung. Di sepanjang jalan menuju mata air desa ini, akan terlihat deretan perempuan yang membawa bakul berisi beras di pinggang ataupun menjunjungnya di kepala. Masingmasing bakul berisi sekitar 2-3 kilogram beras. Tidak ada ritual khusus dalam proses mencuci beras ini melainkan mencuci beras untuk kebutuhan dimasak saja. Mereka beriringan menuju mata air-mata air yang berada di sekitar desa ini. Beras yang dicuci adalah beras yang akan dimasak baik untuk konsumsi warga yang membantu memasak maupun yang membantu dalam menyiapkan tenda dan urusan lain hajatan tersebut. Kegiatan ibu-ibu memasak dilakukan sejak sehari sebelum acara hajatan digelar hingga hari H tiba. Ini dilakukan karena bahan yang dimasak juga banyak mengingat yang akan makan adalah seluruh

Edisi 877/ 30 November - 6 Desember 2015

A

cara yang mengusung tema “Spirit Saraswati Bangga Menjadi Anak Indonesia” ini masih akan dilangsungkan di kawasan Pedestrian Jalan Kamboja Denpasar. Selanjutnya untuk mewujudkan one stop booktainment, pusat hiburan dan belanja buku dengan diskon menggoda di Kota Denpasar, di sana bakal dihadirkan kegiatan rutin seperti bazar buku murah, kuliner lengkap dengan berbagai lomba yang disertai pula program bedah buku dan jumpa

pengarang. Mengingat buku sebagai pendorong kemajuan, maka “Denpasar Book Fair 2015” sebagai mediasi untuk membantu pemerintah dalam menumbuhkan minat baca di kalangan pelajar dan mahasiswa juga masyarakat umum untuk memperoleh manfaat kesenangan dari buku ini, pembukaannya akan dilaksanakan pada Kamis, 3 Desember 2015 di main stage “Denpasar Book Fair 2015” pukul 17.00 Wita. Pada “Denpasar Book Fair 2015” yang hadir untuk kedelapan kalinya ini, lomba yang digelar berupa festival scrapping book dengan triple dimensi tingkat SD, SMP, SMA/SMK dengan

tema “Air Sumber Kehidupan”, sebagai cerminan siswa-siswi mengekspresikan, bahwa betapa perlunya air untuk kehidupan, kemudian bagaimana cara melestarikannya serta penggunaannya yang efisien.

Selain itu ada kegiatan pelatihan majalah dinding serta acara berjudul “Warna Ceria Anakanak, beberapa lomba mewarnai dan lomba menggambar. Selanjutnya untuk pagelaran “Gempita Ekspresi Remaja”,

dilakukan melalui kerjasama dengan sanggar-sanggar/production. Acara juga bakal dimeriahkan kegiatan Mobile library, School Time Visiting, Lomba Band bersama Forkom Osis se-Kota Denpasar. –ard

Denpasar. Bagaimana mereka menanamkan rasa memiliki, peduli sekitar dan menambah wawasan melalui berbagai lomba dengan tema yang telah ditentukan. Harapannya, penyelenggaraan “Denpasar Book Fair 2015” yang akan datang ini dapat memberi

kontribusi nyata bagi dunia perbukuan nasional dan lokal, serta menjadi momentum tersendiri dalam rangka menumbuhkembangkan budaya baca di tengah masyarakat. “Dapat memunculkan wacana di masyarakat akan pentingnya buku, dunia membaca dan menulis, sehingga muncul kesadaran menggunakan literasi sebagai media pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari,’’ lanjutnya Harapan lainnya, masyrakat yang hadir benar-benar mendapat manfaat untuk menumbuhkan kembali minat baca di kalangan mahasiswa dan masyarakat. Menumbuhkan kembali kecintaan mahasiswa dan masyarakat terhadap buku. Menunjukkan bahwa buku dapat memberikan manfaat dan inspirasi bagi kehidupan kita. Sebagai alternatif dalam memperluas wawasan untuk dapat mengikuti arah perkembangan zaman. Serta, memberikan sumber referensi untuk dapat mengaplikasikan antara teori dan praktik. - ard

DBF Ruang bagi Para Pelajar

berdekatan dengan lokasi acara, warga sudah terus berdatangan dari pagi, memenuhi tempat gotong royong memasak itu. Tidak terlihat seorang pun duduk berpangku tangan, melainkan semua dengan pekerjaan masing-masing. Selain rombongan perempuan yang datang dan pergi dari lokasi memasak ke lokasi mencuci beras

di mata air-mata air yang ada di sekitar perkampungan, ada lagi rombongan perempuan yang menjunjung baskom di kepalanya. Baskom-baskom ini ukurannya lebih besar karena berisi mangkok, piring, sendok, gelas, tempat cuci tangan dan peralatan masak juga peralatan makan lainnya. Ada pula yang membawa panci dan wajan berukuran besar. Para

perempuan ini baru saja datang dari gudang desa untuk mengambil segala peralatan memasak dan peralatan makan ini. “Semua peralatan ini milik desa (milik bersama) dan siapa pun warga yang membutuhkannya untuk acara hajatan dan lainnya sewaktuwaktu dapat meminjam,” ujar Hafizun, warga lainnya. Nilai-nilai kerjasama dan gotong royong masih sangat dijunjung tinggi oleh warga Desa Sembalun. “Kalau kita tidak datang bergotong royong atau tidak ikut menyumbang, maka ketika kita ada hajatan bisa jadi orang lain pun enggan membantu atau menyumbang,” kata Inaq Akbar. Sadar menjadi bagian dari kehidupan sosial yang menjunjung tinggi nilai gotong royong inilah yang membuat warga Desa Sembalun merasa harus selalu ikut terlibat dalam tiap kegiatan kampung yang dilakukan. -Naniek I. Taufan

Kepala Dinas Perindustrian Kota Denpasar, Drs. I Wayan Gatra, M.Si. selaku penyelenggara Denpasar Book Fair menyatakan “Denpasar Book Fair 2015” bertujuan menyukseskan program Denpasar Kota Kreatif berwawasan budaya dalam keseimbangan menuju keharmonisan. “Ikut serta dalam program mencerdaskan kehidupan bangsa melalui gerakan gemar membaca, membantu mengembangkan industri penerbitan di Kota Denpasar. Juga , sebagai media komunikasi antara penerbit, pembaca, pengarang dan masyarakat, memberikan apresiasi dan ekspresi kepada siswa-siswi untuk menampilkam inovasi dan kreativitas dengan hiburan yang sehat,” paparnya. Selanjutnya Kasi Pembina

Usaha Perdagangan, Ida Ayu Dewi Citrawati, S.E., M.Si. menyampaikan bahwa tema yang dipilih kali ini yakni “Spirit Saraswati Bangga Menjadi Anak Indonesia”, diangkat sebagai cerminan refleksi generasi muda terhadap kecintaan dan kebanggaan menjadi anak Indonesia yang masih berkaitan dengan Hari Pahlawan, sehingga generasi muda tidak melupakan jati dirinya sebagai bangsa Indonesia. ‘’Secara umum, tujuan diselenggarakannya DBF adalah untuk memberikan semangat kepada masyarakat, terutama di kalangan anak-anak dan remaja untuk mengeksplorasi manfaat maupun kesenangan yang dapat diperoleh dari buku dan kegiatan membaca,’’ jelasnya. ‘’Berbagai lomba maupun kegiatan di sini da-

pat menjadi sarana untuk melatih jiwa kompetitif, sportivitas dan kerja sama tim yang baik antar sesama teman,” lanjutnya. Kegiatan yang ada di dalam Denpasar BookFair 2015 ini, kata Dayu Citra memang digelar sebagai ruang bagi para pelajar mulai dari TK hingga SLTA, seperti kegiatan lomba scrapping book 3D, ini untuk unjuk kreativitas karya yang bukan saja kreatif tapi juga inovatif dan informatif, yang semuanya memiliki muara untuk bisa mengajak minat siswa lainnya yang masih pasif untuk mau melihat dan tertarik membaca . Acara ini juga merupakan wujud dukungan pemerintah dalam mengembangkan kecintaan pada buku, minat baca dan kreativitas siswa /i SMU/Sederajat di Kota


4

Inspirasi

Edisi 877/ 30 November - 6 Desember 2015

N i Wa y a n E k a w a t i

Suka-duka Bidan Desa Dipanggil Malam-malam “Hidup kita akan sangat berarti, apabila kita hidup memiliki arti bagi kehidupan orang lain”. Demikain filosofi yang tertanam dalam bawah sadar sejak masih belia dari seorang ibu yang bernama Ni Wayan Ekawati, S.S.T yang akhirnya membawa dirinya menggapai berbagai prestasi dan teladan bagi kaumnya. Dia adalah sosok bidan berstatus PNS sejak 25 tahun lalu tepatnya tahun 1990 lalu. Meski Bu Eka, dermikian ia kerap disapa, bertugas di wilayah pedesaan berhawa dingin serambi depan Pura Besakih tepatnya di Pukesmas Rendang, Kabupaten Karangasem, namum motivasi hidupnya tak sedingin wilayahnya. ­Justru sebaliknya terus hangat memacu dan memicu diri meraih mimpi bagi kehidupan orang lain seperti filosofi hidupnya.

T

inggal bersama keluarga di Banjar Batusesa tidak jauh dari tempat tugasnya. Bidan Eka telah menyandang berbagai status wanita berprestasi, berprestise, aspiratif dan inspiratif. Puncak paling bergengsi baginya, menjadi juara II Bidan Teladan se-Bali tahun 2008 lalu, yang sebelumnya pernah menggondol Juara I Bidan Teladan dan Bidan Delima se-Kabupaten Karangasaem. Selain berprestsi bidang kesehatan, perempuan kelahiran Desa Keramas, Gianyar, 11 Nopember 1968, pernah meraih predikat utama tokoh perempuan Karangasem tahun 2011 lalu, dan masuk dalam kategori 1 penjaringan tokoh perempuan Bali. Soal busana bagi Bidan Eka menjadi bagian kesenangannya, sehingga hobinya berbuah manis pernah mendapatkan juara I busana adat Bali se-Kabupaten Karangasem. Bidan Eka aktif diberbagai organisasi sosial kemasyarakatan termasuk ikut kelompok-kelompok kesenian yang menjadi hobinya sejak masih kanak-kanak. Hal itu dilakukannya untuk memperluas jaringan kemitraan berprofesi sebagai pelayanan masyarakat dibidang kesehatan, terrmasuk para dukun bersalin yang ada di wilayah kerjanya diajak bermitra. Karena dianggap senior dan memiliki prestasi oleh teman-teman sejawatnya, kini Eka dipercaya sebagai Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Cabang Kabupaten Karangasem. Semua resep keberhasilannya itu adalah dari sebuah ketulusan membantu orang lain yang membutuhkan untuk mempertahankan hidupnya. Terutama dorongan maksimal dari sang suami I Made Sumerta juga berprofesi sebagai perawat kesehatan di tempat yang sama Puskesmas Rendang. Tolong 6000 Bayi Baru Lahir Hidup di suasana pedesaan yang kesedaran kesehatan masyarakat belum optimal, berbagai cara inovatif telah dilakukan Bidan Eka untuk mendorong kepedulian masyarakat khususnya kesehatan ibu-ibu. Dibidang wirausaha, Bidan Eka mendorong wanita-wanita desa membentuk simpan-pinjam, kelompok ternak babi sekaligus memberikan bantuan berupa bibit dan pakannya. Dibidang organisasi informasi, Bidan Eka ditunjuk menjadi Sekretaris Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) “Mandala Kerta”

Ni Wayan Ekawati

Desa Menanga. Bidan Eka, melalui kegiatan organisasi itu dapat mensosialisasikan tentang kesehatan kepada masyarakat. Bidang kesehatan banyak kegiatan telah dilakoninya khususnya bagi kaum wanita dan anak, diantaranya mendukung program dalam pencapaian MDGs, dalam bal menurunkan AKI dan AKB, meningkatkan penggunaan alat kontrasepsi IUD, dengan memberikan pelayanan KB pasca plasenta, membantu ibu-ibu untuk melakukan deteksi kanker servik dan payudara dengan menyedia-

kan pelayanan IVA secara gratis, pelayanan perawatan vagina dan papsmear. membentuk kelas ibu hamil dalam meningkatkan pengetahuan ibu-ibu tentang kehamilan untuk mendapatkan ibu dan bayi yang sehat, memberikan penyuluhan kesehatan pada ibu-ibu PKK dan Posyandu, membina/melaksanakan Posyandu Balita/Lansia, BKB dan PAUD. Sebagai pengabdi bidan desa sudah 25 tahun sejak 1990 lalu, tercatat sudah sekitar enam ribu bayi terlahir dari bantuannya. Berbagai pengalaman suka-duka pernah dirasakan Bidan Eka. Katanya tidak jarang dirinya dipanggil pasien pada malam hari saat udara dingin menyelimuti Banjar Batusesa. Dia harus bangkit dari tidur nyenyak menemui pasien. Saat itu, menurut pengakuannya, dirinya seperti itu terkadang juga ada rasa enggan untuk bangkit dan melepas selimut dari tempat tidurnya. Namun penuturannya mengenang masa lalu, “Ada manajemen pikiran yang selalu membuat saya bergegas dan saya jadikan motivator untuk selalu semangat, bahwa profesi saya itu adalah pilihan saya pribadi oleh karena itu saya harus bertanggungajwab dan berkomitmen untuk selalu siap kapan dan dimanapun saya dibutuhkan”. Ia berpikir, apa yang mereka lakukan semua adalah sebuah yadnya. Orang lain begitu sulit mencari kesempatan untuk bisa berbuat,

Janger Ikatan Bidan Indonesia Karangasem

tidak mengenakan momennya tetapi harus saya lakukan. Dan saya berusaha menempatkan diri sebagai orang yang membutuhkan pertolongan. Keterbatasan ekonomi masyarakat desa, tak pelak warga membayar hanya dengan hasil kebun miliknya. Bahkan menurut penuturan Bidan Eka, pernah mendapat panggilan membantu pasien perdarahan ibu hamil. Dirinya diantar sang suami menemui pasien, sampai di rumah pasien, suami pasien ditemukan pingsan melihat istrinya perdarahan. Bidan Eka bagi tugas dengan suaminya, dirinya menangani Bidan Eka saat menerima penghargaan Tokoh Perempuan pasien perdarahan, Bali dari Gubernur Bali, Made Mangku Pastika sedangkan suaminya tetapi kenapa saya sia-siakan kes- menangani suami pasien yang empatan ini yang datang tanpa saya pingsan. “Akhirnya semuanya semencarinya. Tuhan menghadirkan lamat,” kenang Bidan Eka tertawa orang yang memanggil saya walau- mengenang pengalaman masa pun dalam kondisi yang sungguh lalunya. - Pasek Antara

Mandalika

Edisi 877/ 30 November - 6 Desember 2015

21

Hapus Kekerasan Berbasis Gender

“Tugas kita adalah memberikan pemahaman kepada saudara-saudara dan anak-anak kita, memberikan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnya membangun kesetaraan dan keharmonisan serta mencegah terjadinya kekerasan terhadap perempuan.”

D

emikian kalimat yang disampaikan Ketua Badan Kerjasama Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Nusa Tenggara Barat, Hj. Syamsiah Muh. Amin saat melakukan sosialisasi tentang Pendewasaan Usia Perkawinan

(PUP), seminar kepemimpinan wanita dan sosialisasi penghapusan pelibatan laki-laki dalam kekerasan berbasis gender di pendopo timur kediaman resmi Gubernur Nusa Tenggara Barat, beberapa waktu lalu. Menurutnya, sosialisasi dan pemberian pemahaman seperti ini harus

Ketua BKOW NTB melibatkan masyarakat untuk mencegah terjadinya kekerasan terhadap perempuan

dilakukan mulai dari lingkungan yang terkecil dalam masyarakat yaitu keluarga, karena inilah lingkungan yang paling dekat dan merupakan sendi negara yang paling penting. Kesetaraan, keadilan dan keharmonisan hubungan antara lakilaki dan perempuan harus diperjuangkan bersama lewat upaya bersama penghapusan kekerasan berbasis gender serta meningkatkan keterbukaan dan saling memahami di antara sesama. Selain itu juga harus mampu mencegah terjadinya pernikahan usia dini yang rawan menjerumuskan, baik bagi laki-laki maupun perempuan

dalam lingkaran kekerasan (circle of violence) akibat kurangnya kedewasaan dalam berumah tangga. “Upaya ini pun harus disosialisasikan dan ditularkan kepada semua orang yang ada di sekitar kita,” katanya dalam kegiatan untuk meningkatkan pemahaman

dan pengetahuan anggota BKOW sebagai modal untuk berjuang memerangi ketidakadilan gender ini. Untuk membebaskan perempuan NTB dari tindak kekerasan dan pernikahan usia dini, Ketua BKOW NTB ini meminta kepada seluruh organisasi wanita yang tergabung dalam BKOW untuk menyatukan langkah dan pandangan dalam memperjuangkan cita-cita tersebut dengan cara dan strategi masing-masing, termasuk juga dengan melibatkan masyarakat dan para tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh lainnya. “Saya memberi kebebasan kepada organisasi-organisasi wanita dalam menjalankan pola dan bentuk komunikasi yang dianggap paling sesuai untuk mensosialisasikan hal tersebut,” katanya. -Naniek I. Taufan

NTB Tuan Rumah PW Nasional VIII 2015

Bidan Eka menyempatkan menemui warga masyarakat mensosialisasikan arti kesehatan keluarga

Bidan Eka (kanan) mengikuti lomba busana adat Bali

Nusa Tenggara Barat menjadi tuan rumah Perkemahan Wirakarya (PW) Nasional VIII 2015 yang berlangsung, 23-30 November 2015. NTB terpilih sebagai tuan rumah perkemahan wikarya ini berdasarkan Munas Kwartir Nasional Gerakan Pramuka tahun 2013 di Kupang lalu. “NTB menjadi daerah yang pantas bagi Pramuka untuk membuktikan diri siap berbakti, berkarya dan menginspirasi untuk negeri,” ujar Wakil Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Bidang Bina Muda dan penanggung jawab kegiatan, Editha Rahaded. Kegiatan yang digelar di Gunungjae Lombok Barat, NTB ini dihadiri oleh sekitar 2500 pramuka yang berasal dari seluruh Indonesia. Dan selama kegiatan berlangsung para peserta tinggal di rumah masyarakat dan melaksanakan kegiatan bakti fisik serta non-fisik seperti pembangunan taman pendidikan Al Qur’an, renovasi rumah tidak layak huni dan penyuluhan ke masyarakat. Peserta PW Nasional VIII ini diterjunkan di lima sub-camp yaitu desa Karang Sidemen Kabupaten Lombok Tengah, Desa Wajegeseng Kabupaten Lombok Tengah, desa Kotaraja Kabupaten Lombok Timur, Desa Sedau Kabupaten Lombok Barat dan Gili Trawangan Kabupaten Lombok Utara. PW Nasional VIII tahun 2015 adalah bentuk inovasi Kwartir Nasional Gerakan Pramuka untuk mewujudkan kegiatan yang bersifat pengabdian dan bakti

kepada masyarakat yang dikemas dalam bentuk perkemahan. Gerakan Pramuka juga diharapkan menjadi garda terdepan dalam pembentukan karakter generasi muda. Revitalisasi Pramuka tahun 2006, Pengesahan UU tahun 2010, tentang Gerakan Pramuka dan masuknya Pramuka dalam kurikulum 2013 sebagai ektrakulikuler wajib yang dilaksanakan mulai Bulan Juli tahun 2014 telah menunjukkan arah kebijakan yang benar dalam mendukung majunya Gerakan Pramuka. “Kita sebagai bangsa harus memberikan ruang yang seluasluasnya pada Gerakan Pramuka untuk terus berkembang dan menjadi suri tauladan bagi kaum muda lain,” kata Dr. TGH. M. Zainul Majdi, Ketua Majelis Pembimbing Daerah Gerakan Pramuka NTB. Menurutnya, Gerakan Pramuka mampu menumbuhkan generasi yang kuat, tangguh serta memiliki disiplin yang tinggi

untuk memikul tanggung jawab membangun Bangsa Indonesia. “Pramuka yang dulu sempat ditinggalkan kini kembali digemari oleh anak-anak muda Indonesia,” kata Majdi yang juga Gubernur NTB. Hal yang sama disampaikan oleh Adhyaksa Dault Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka. Bahwa Gerakan Pramuka diharapkan menjadi satu jawaban nyata terhadap persoalan bangsa. “Gerakan Pramuka terus menunjukkan komitmen yang kuat dalam mewujudkan cita-cita Tri Satya dan Dasa Darma untuk ikut membangun masyarakat dan bangsa,” ujar Adhyaksa. Bangsa Indonesia terus melakukan perbaikan dan pembangunan di semua bidang dan proses ini memerlukan perhatian semua pihak. Gerakan Pramuka, menurut Adhyaksa, berusaha memberikan kontribusi dalam porsi tersendiri demi membangun masyarakat Indonesia. -Naniek I. Taufan

Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka, Adyaksa Dault saat pembukaan Perkemahan Wirakarya ke VIII tahun 2015 di Gunungjae Lombok Barat, NTB

Gubernur NTB, DR. TGH. M. Zainul Majdi bersama para guru berprestasi tingkat Provinsi NTB

NTB Kirim 24 Guru Berprestasi Hari Guru Nasional yang jatuh pada tanggal 25 November 2015 diperingati dengan penuh makna termasuk di Nusa Tenggara Barat. Kegiatan-kegiatan untuk mengapresiasi jasa pahlawan tanpa jasa ini banyak dilakukan di sekolah-sekolah sebagai bentuk penghormatan pada profesi pendidik ini. Demi meningkatkan mutu pendidikan di Nusa Tenggara Barat, peningkatan kualitas guru menjadi salah satu upaya serius yang terus dilakukan daerah ini. Salah satunya dengan mengirim para pendidik yang terdiri untuk mengikuti pemilihan guru, kepala sekolah dan pengawas sekolah berprestasi ke tingkat nasional. Sebanyak 24 orang guru mulai dari jenjang SD, SMP, dan SMA/ SMK yang telah mengikuti pemilihan guru berprestasi dan berdedikasi tingkat Provinsi NTB untuk kemudian mengikuti seleksi tingkat nasional di Jakarta. “24 orang guru tingkat SD, SMP dan SMA/SMK mengikuti pemilihan guru berprestasi di Jakarta pada bulan November ini,” ujar Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Provinsi NTB, Dr. Ir. H. Rosiady Sayuti, M.Sc. Atas prestasi para guru ini di tingkat Provinsi NTB, Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi, menyampaikan apresiasi yang tinggi atas prestasi yang telah diraih oleh para pendidik dan selalu mendukung untuk terus meningkatkan kemampuan agar menjadi pendidik yang lebih baik. “Saya merasa bersyukur bilamana Bapak dan Ibu guru semua adalah para pendidik yang berkualitas, bertanggung jawab, berkomitmen, mempunyai keikhlasan dan semangat pengabdian yang tinggi, di mana pun Bapak dan Ibu bertugas,” ujarnya. Dari prestasi yang telah diperoleh di daerah ini harapannya agar bisa diterapkan dan ditularkan di tempat bertugas demi meningkatkan mutu pendidikan untuk menciptakan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang lebih baik dalam meraih kemajuan NTB ke depannya. “Semua kerja keras kita untuk NTB ini terfokus pada membangun manusianya. Karena sehebat-hebatnya, sebaik-baiknya semua infrastruktur, tidak akan memiliki fungsi yang optimal kecuali dikelola oleh SDM yang berkualitas,” kata Majdi saat melepas para guru ini untuk mengikuti pemilihan guru berprestasi tingkat nasional, beberapa waktu lalu. Dan seorang guru Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Kota Mataram, atas nama Lutfia Ida Fariani sukses meraih juara II tingkat Nasional pada pemilihan guru berprestasi ini. -Naniek I. Taufan


22

Sosialita

Edisi 877/ 30 November - 6 Desember 2015

Takut Minta Suami Pakai Kondom

Meski tinggal di Jakarta, pengetahuan remaja-remaja Jakarta tentang HIV/AIDS boleh dibilang masih minim. Kegiatan sosialisasi memang gencar dilakukan, namun agaknya para remaja ini masih mengganggap hal itu tidaklah penting. Mereka tidak tertarik untuk mengikuti. Data Dinas Kesehatan DKI Jakarta menyebutkan, hanya sekitar 22 persen remaja/pemuda yang paham tentang bahaya HIV/AIDS.

K

ondisi yang memprihatinkan ini tentunya tak dapat dibiarkan karena jumlah remaja/ generasi muda yang terpapar HIV/AIDS terus meningkat. Penyuluhan harus semakin diintensifkan, di antaranya melalui sekolah-sekolah.Di sisi lain, banyak remaja/generasi muda terkesan tidak peduli pada informasi yang diberikan. Ini juga terjadi pada masyarakat secara umum. “Jakarta memang lebih maju dibanding daerah lain, teknologi informasi dan komunikasi berkembang pesat di sini. Namun, kondisi ini tidak serta-merta membuat remaja juga generasi muda, juga masyarakatnya secara umum paham akan informasi HIV/AIDS,” ungkap seorang aktivis HIV/AIDS. Ketidakpahaman ini juga yang membuat penularan HIV/AIDS di kalangan generasi muda lewat jarum suntik maupun seks bebas, terus meningkat. Hal senada juga disampaikan Baby Jim Aditya, aktivis HIV/AIDS. Menurutnya, untuk pencegahan seharusnya pengetahuan tentang HIV/AIDS harus diberikan sejak kecil dengan bahasa yang sederhana-sehingga mereka

Generasi muda ikut kampanye hiv/aids

Baby Jim Aditya

menjadi benar-benar mengerti tentang bagaimana menjaga keselamatan dirinya juga orang lain. “Di situlah letak kesenjangan informasi. Karena banyak informasi yang diperoleh anak kecil/remaja tetapi terlalu sedikit informasi yang benar yang diperoleh. Saya turun ke SMP-SMP karena adanya kasus video mesum. Dari

Baby sedang penyuluhan di penjara

kegiatan ini banyak temuan yang saya peroleh. Ternyata sejak SMP mereka mendapat pengetahuan tentang seksualitas dengan cara yang salah. Akhirnya mereka berprilaku yang salah ketika remaja dan dewasa,” papar Baby yang juga peneliti masalah prilaku seksual. Prilaku yang salah tentang seksual ini menjadi penyebab semakin meningkatnya jumlah penderita HIV/AIDS. Data Kemenkes menyebutkan, heteroseksual berada di urutan pertama penyebaran HIV/AIDS, sementara penggunaan jarum suntik narkoba berada di urutan ketiga setelah kelompok lain-lain. “Remaja dengan mudah mendapat informasi tentang pornografi lewat internet, dll. Sebagian lagi punya informasi tapi tidak tahu kemana harus mengonfrmasi informasi yang didapatnya. Di sisi lain, orangtua masih belum bisa berkomunikasi dengan nyaman tentang seksualitas. Bahkan tak jarang orangtua menjadi pihak yang paling terakhir tahu bahwa anaknya bermasalah. Ini menurut saya ada inkonsistensi cara berpikir dan bersikap,” tegasnya. Orangtua, tambahnya, harusnya sangat berperan dalam memperkenalkan masalah itu pada anak-anaknya, dan menjadi teman diskusi mereka. Orangtua juga harusnya mengawasi anakanaknya dalam menggunakan internet,

karena berbagai situs porno begitu mudah diakses melalui internet. “Belajar tentang seksualitas dan alat reproduksi yang paling baik adalah dengan melibatkan orangtua. Untuk itu para orangtua harus membuka diri, ‘melek’ informasi tentang perkembangan zaman yang berpotensi mempengaruhi tingkat pola anaknya,” paparnya. FENOMENA GUNUNG ES Data Kementerian Kesehatan 2014, Jakarta menjadi provinsi tertinggi jumlah penderita HIV/AIDS, dengan rincian HIV 37.302 dan HIV 8019. Jumlah penderita HIV ini meningkat cukup tajam dibanding 2014 lalu yang berjumlah 32.782. Secara umum, kata Baby, mereka yang berada pada usia produktif paling tinggi persentasenya. Data Kemenkes tahun 2014, mereka yang berusia 20-29 tahun paling banyak terpapar HIV (32%), usia 30-39 tahun (28,5%) dan usia 40-49 tahun (10,7). Yang memprihatinkan, dari data keseluruhan jumlah remaja yang terpapar HIV/AIDS bertambah. Bahkan pada tahun 2014 lalu, mereka yang berusia 15-19 tahun sudah mencapai 3,1%. Bukan itu saja, kata mantan penyiar Radio Prambors Jakarta ini, jumlah ibu rumah tangga yang terpapar HIV/AIDS pun meningkat cukup tajam. “Mereka ini bukan PSK tapi sung-

guh-sungguh ibu rumah tangga yang tertular HIV/AIDS dari suaminya yang doyan ‘jajan’. Ibu-ibu ini tidak bisa melindungi dirinya karena ‘posisi tawarnya’ terhadap suami sangat rendah. Mereka takut meminta suami memakai kondom saat berhubungan seks,” papar wanita yang sedang mengambil program doktor di UI ini. Ia menambahkan, berdasarkan data Kemenkes jumlah para ibu rumah tangga yang tertular HIV/ AIDS sudah mencapai 5.000 orang lebih dan ini kemungkinan masih akan terus bertambah. “Jumlahnya bisa jadi lebih banyak dari data ini”. Kasus HIV/AIDS di Indonesia, tambahnya, seperti fenomena gunung es. Jumlah penderita yang tercatat hanya sedikit namun yang tertular pasti jauh lebih banyak. Hal senada juga disampaikan Pengelola Program Monitoring dan Evaluasi Komisi Penanggulangan AIDS. “Hanya sedikit yang terdata. Mereka yang tidak terdata ini, sebagian masih menularkan penyakitnya itu kepada orang lain,” katanya. Stigma masyarat terhadap penderita HIV/AIDS, masih belum banyak berubah. Itu juga sebabnya, tidak banyak penderita HIV/AIDS yang berani melaporkan kasusnya. “Mereka malu, takut, untuk melaporkan kasusnya karena stigma yang masih kuat ,” tambah Baby. –Diana Runtu

Edisi 877/ 30 November - 6 Desember 2015

3

Spirit Perempuan Iringi Langkah Pasti BPR Bali Dananiaga Perempuan tak selalu jadi pelengkap. Kini, sudah banyak perempuan yang diberi kepercayaan untuk memimpin. Salah satunya, sebagai pimpinan bank. BPR Bali Dananiaga mempercayakan kepada tiga perempuan tangguh untuk menahkodai bank yang sudah berdiri sejak tahun 1992. Seperti apa kiat mereka dalam memajukan BPR Bali Dananiaga?

P

T.BPR Bali Dananiaga (BDN) adalah perusahaan yang bergerak dibidang per­ bankan dengan Akta Pen­ dirian Nomor: 78 Tanggal 8 Desember 1992 di Notaris I Putu Chandra,S.H. Denpasar. PT.Bank Perkreditan Rakyat “BALI DANANIAGA” yang sebelumnya bernama “Kertiawan Dananiaga” awalnya berkantor pusat di Ubud. Tahun 2000 kantor pusat dipindahkan ke Denpasar tepatnya di Jalan Teuku Umar Nomor 8 kawasan niaga B 11 Denpasar. Ijin disahkan melalui Pengesahan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam Surat Keputusannya tertanggal 21 Desember 1992 No.C2 - 10378 HT.01.01.TH.92. dan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No.KEP-043/ KM.17/1993 Tanggal 6 Maret 1993. Pemegang saham Bank BDN yang juga pebisnis poltry shop (Bali Sari Group) yang terdiri dari I Ketut Deger Setiasa, I Wayan Catra Sanjaya, I Made Asa, I Made Jedeg Sariana, I Made Rai Oka Rimbawa,SE.MM. Jajaran Dewan Komisaris terdiri dari ­I Nyoman Sutrisno, SE.MM. sebagai komisaris dan I Made Rai Oka Rimbawa, SE.MM. sebagai komisaris utama. Saat ini Bank BDN mempunyai 3 kantor operasional yaitu Kantor Pusat yang dipimpin 2 orang Direksi yaitu I Made Arta, SE.MM. (Direktur Utama) dan Desak Wayan Satya Pusparini, S.E. (Direktur) yang beralamat Kantor Pusat yaitu di Jalan Teuku Umar Nomor 8 Kawasan Niaga B 11 Denpasar, Telp. 0361 240167, 240367, fax, 0361 229805 Email : dananiaga_bank@yahoo.com Facebook: PT BPR Bali Dananiaga, Website www. bprbalidananiaga.co.id. Kantor Cabang Ubud dipimpin I Gusti Ayu Mirah Kumala Dewi, SE.MM., beralamat di Jalan Agung Mandera Br.Teges Kangin Peliatan Ubud, Gianyar telepon: 0361 973044, 972561, 972560. Kantor ini merupakan kantor pertama tempat berdirinya Bank BDN. Kantor Cabang Jimbaran dipimpin oleh Ani Suryaningsih, SE. beralamat kantor di Jalan By Pas Ngurah Rai No 98 B Jimbaran Kuta Badung telepon: 0361 4725520, 7849292. Desak Wayan Satya Pusparini, S.E. adalah eksekutif perbankan yang sudah berpengalaman selama 22 tahun, bisa dikatakan sebagai salah satu nahkoda yang mengikuti perkembangan Bank BDN. I Gusti Ayu Mirah Kumala Dewi, SE.MM. mempunyai latar belakang berkarier di bidang perbankan selama lebihkurang 15 tahun sehingga sangat memahami kebutuhan transaksional nasabah dan cara memenangkan persaingan dan Ani Suryaningsih, SE., selaku pimpinan cabang Jimbaran yang juga telah berpengalaman di bidang perbankan selama lebih kurang 15 tahun. Menurut Desak Wayan Satya Pusparini, BPR Bali Dananiaga yang lebih

dikenal dengan Bank BDN mempunyai Visi Menjadi Bank Perkreditan Rakyat yang tumbuh sehat dan berkembang secara wajar. “Kami juga mempunya Misi meningkatkan kompetensi SDM di bidang keuangan Perbankan melalui pendidikan dan pelatihan, memberikan layanan prima dan solusi yang bernilai tambah kepada seluruh nasabah, dan selaku mitra pillihan utama (the bank choice),” ujarnya. Selain itu, misi lainnya, meningkatkan nilai investasi yang unggul kepada para pemegang saham, dan menciptakan kondisi rasa aman dan nyaman kepada para karyawan sebagai tempat kebanggaan untuk berkarya dan berprestasi. Meningkatkan kepedulian dan tanggung jawab terhadap lingkungan social dan menjadi acuan pelaksanaan kepatuhan dan tata kelola perusahaan yang baik. Bank BDN berkomitmen untuk terus meningkatkan kinerjanya. Hal ini ditunjukkan dengan pertumbuhan Aset selama 5 tahun terakhir menjadi sebesar 114,4 milyar, Pertumbuhan funding sebesar kurang lebih Rp. 68,7 milyar dan pertumbuhan kredit menjadi sebesar Rp. 91,3 milyar. Desak Wayan Satya Pusparini mengatakan, dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada nasabah, mereka juga berkomitmen meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia melalui pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan skill masing-masing bagian sehingga diharapkan bisa melampaui harap­ an dari nasabah. “Kami sangat memahami bahwa kepuasan nasabah adalah hal utama untuk kelangsungan hubungan dengan nasabah umumnya dan kelangsungan bisnis perbankan pada umumnya. Kami menawarkan kemudahan-kemudahan dalam proses pembiayaan kebutuhan nasabah baik untuk konsumtif, modal kerja maupun investasi melalui kredit yang tepat guna dengan suku bunga yang bersaing dan proses yang cepat tanpa melupakan prinsip kehati-hatian,” ucapnya. Agus Indra Resmawan, ST. (Kepala Bagian Kredit) menambahkan, Bank BDN diharapkan berperan aktif dalam mengembangkan portofolio kredit dan menekan ratio non performing loan dibawah ketentuan yang berlaku khususnya dalam skala mikro dan menengah sehingga kehadiran Bank BDN banyak memberikan manfaat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pada umumnya dan menunjang bisnis pada khususnya. “Sesuai dengan budaya masyarakat Ubud yang membutuhkan layanan yang mudah, kami memberikan layanan jemput setoran untuk membuat nyaman nasabah sehingga kami bisa tetap bertahan dalam persaingan yang ketat dan menjadi Bank yang dibutuhkan di tengah-tengah masyarakat,” tutur I Gusti Ayu Mirah Kumala Dewi, SE.MM. selaku pimpinan cabang Ubud. Dalam rangka memperluas jaringan bisnis Bank BDN mempercepat gerakan dengan menggandeng sejumlah rekanan

Dewan komisaris

bisnis melalui event-event sponsorship. “Kami mendukung kegiatan acara HUT Tabloid tokoh yang ke-17 tahun. Kami menjadi sponsor acara dan memberikan hadiah berupa “tabungan SINAGA” kepada pemenang lomba. Acara ini sangat bagus untuk lebih mendekatkan Bank BDN kepada masyarakat pada umumnya dan kepada nasabah pada khususnya. Kami berharap bisa menjadi partner yang bisa bekerja sama secara simbiosis mutualisme, win win solution,” kata Ani Suryaningsih, SE., selaku pimpinan cabang Jimbaran. Bank BDN juga akan mengenalkan produk baru berkonsep Arisan yaitu “Si Tenar”. Menurut Ani Suryaningsih, arisan ini sangat menguntungkan nasabah karena ketika menang sudah tidak perlu bayar lagi. Hal ini mengakomodir kebutuhan nasabah yang sudah terbiasa mengikuti arisan di masyarakat. “Adapun model arisan yang kami tawarkan sudah pasti aman karena kami dijamin oleh Lembaga Penjaminan Simpanan dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan. Peserta arisan tidak perlu khawatir kehilangan dana yang sudah disetorkan dalam bentuk tabungan karena meskipun belum menang setelah priode berakhir yaitu pada bulan ke-30 peserta akan mendapatkan dana arisan dan cashback-nya,” jelasnya. Selain itu juga, mendapatkan kesempatan untuk meraih doorprize yang sangat menggiurkan. “Arisan ini kami lakukan secara transparan karena disaksikan oleh perwakilan peserta dan diumumkan melalui SMS Broadcast se­ hingga memudahkan peserta mendapatkan informasi yang diperlukan tentang kegiatan arisan ini,” imbuhnya. Deposito di Bank BDN juga bisa memberikan hadiah langsung untuk program deposito sehingga nasabah tidak perlu lagi nunggu berbulan-bulan jika ingin menikmati hadiahnya. Bunga yang diberikan sangat kompetitif dan tetap dijamin keamanannya. Bank BDN juga sedang gencar-gencar­ nya memberikan service kepada nasabah melalui program BDN VIP Club Card. Yaitu kartu member yang diberikan kepada nasabah VIP yang bisa digunakan untuk mendapatkan previllage di merchantmerchant kerja sama misalnya di SAMANI RESTO yang beralamat di Jalan Trenggana Nomor 37 Penatih Denpasar, PANDAN SARI CAFE di Four Season Jimbaran, begitu juga kerjasama dengan Butik “Suwarni Collection” yang beralamat di Jalan A. Yani Utara No 209 Denpasar yang juga memberikan pelayanan dan memanjakan kaum hawa khususnya di dunia life style kebaya dengan pengerjaan yang profesional dan konsep One Day Service (satu hari langsung jadi). “Samani Resto dan Butik Suwarni Collection adalah rekanan yang menandatangani MOU pertama untuk kerja sama ini. Samani resto dan Butik Suwarni Collection memberikan diskon khusus bagi pemegang BDN VIP Club Card. Dengan memiliki BDN VIP Club Card akan dimanjakan dengan suasana yang nyaman sudah tidak perlu diragukan lagi. Jadi segera datang dan nikmati keistimewaannya,” ujarnya. Ani Suryaningsih mengatakan, menggandeng beberapa perusahaan yang me-

Dari kiri: Desak Wayan Satya Pusparini, I Gusti Ayu Mirah Kumala Dewi, Ani Suryaningsih, dan I Made Arta

menuhi kategori dalam program BDN VIP Club Card yang diawali Samsul Azhari melalui Samani Resto, dan Putu Suwarni selaku owner untuk menjadi rekanan ­merchant mereka dengan program Dana Samani yang memberikan keistimewaan atau previllage kepada VIP Customer Bank BDN. “Terima kasih atas kepercayaannya untuk menjadi partner bisnis Bank BDN. Dan semoga kedepan kerja sama ini bisa memberikan manfaat lebih kepada masingmasing perusahaan mengingat posisi kantor kami terletak di wilayah-wilayah yang sa­ ngat strategis apalagi wilayah Jimbaran adalah pusat berbagai macam bisnis sehingga memudahkan kami memberikan service kepada nasabah.”, kata Ani Suryaningsih. Melalui kerja sama ini pihak Samani Resto yang diwakili Samsul Azhari dan Bank BDN bersama-sama memperluas ­jaringan melalui event-event untuk melakukan joint marketing sehingga diharapkan bisa mempercepat pertumbuhan bisnisnya. “Kami berharap kerja sama ini juga diikuti oleh perusahaan-perusahaan lain yang memenuhi kriteria merchant BDN VIP Club Card. Kami juga bekerja sama dengan merchant-merchant yang termasuk dalam kategori Food & Beverage, Acomodation, Life Style, Health, Vacation,” tambahnya. Untuk kategori Food & Beverage, mereka akan bekerja sama dengan sejumlah resto yang akan memanjakan lidah nasabah VIP melalui wisata kulinernya. Yang termasuk kategori acomodation adalah merchant yang bergerak dibidang usaha hotel dan transportasi. Adapun yang termasuk kategori life style adalah yang bergerak dibidang beauty, clothing, dan lainnya. Sedangkan health adalah merchant yang bergerak dibidang kesehatan seperti klinik kesehatan atau lainnya. Serta vacation yang bergerak dibidang tempat wisata untuk refreshing nasabah. Bank BDN juga membantu mengelola dana nasabah melalui Tabungan Nagata yaitu tabungan berjangka yang cocok untuk nasabah yang mempunyai rencana kebutuhan dana di masa depan sehingga tidak perlu risau lagi tentang kesiapan dananya. Tabungan berjangka ini juga kami lengkapi dengan memberikan hadiah langsung melalui produk Tabungan Nagata Plus dengan berbagai pilihan hadiah sesuai kebutuhan nasabah. “Wujudkan impian anda melalui dana yang terencana dan percayakan ke-

Jajaran pemegang saham

pada kami,” ujar IGA Ayu Ngurah Astuti selaku Kepala Bagian Funding. Desak Wayan Satya Pusparini mengatakan, kedepan masyarakat harus dibiasakan menyimpan uangnya di BPR. BPR harus mampu mengakomodir apa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Dengan adanya produk-produk tabungan atau simpanan yang menarik yang dapat memenuhi keinginan/kebutuhan mereka /life style mereka maka itu akan menjadikan menabung atau menyimpan uang di bank bisa menjadi hal yang menyenangkan untuk masyarakat. “Bank BDN punya keinginan untuk menjadi one stop banking (menjadi bank yang mampu memenuhi segala kebutuhan financial baik yang membutuhkan tambahan dana maupun pengelolaan dana),” ucapnya. I Made Arta, SE.MM., selaku Direktur Utama mengatakan, meskipun situsi ekonomi sedang bergejolak Bank BDN bisa tetap eksis di dunia perbankan dengan mengutamakan prinsip kehati-hatian dan service kepada nasabah disesuaikan dengan tuntutan zaman. “Kami berkomitmen meningkatkan kualitas SDM dan IT untuk memenuhi kebutuhan layanan jasa perbankan sehingga memenuhi kepuasan nasabah. Pada saat perlambatan ekonomi baik secara global maupun regional kami melakukan penataan internal guna melengkapi infrastruktur yang lebih baik sehingga bisa bertahan dalam persaingan dalam kondisi apapun. Selama kepemimpinannya, Bank BDN telah menyabet beberapa penghargaan baik dari Infobank Award dengan kategori Sangat Bagus yang secara berturut-turut, begitu juga penghargaan dari Bali Costumer Statisfaction Award kategori pelayanan prima dan penghargaan The Best Service Exellent serta penghargaan lainnya baik industri maupun secara personal. “Untuk itu semangat dan bukti yang riil yang harus di tunjukkan melalui belajar dan belajar. Jangan sampai dengan telah mendapatkan reward kita terlena karena masih banyak pesaing-pesaing yang tidak menutup kemungkinan akan bisa memberikan pelayanan lebih baik dari kita”, imbuh I Made Arta,SE.MM Semua ini juga tidak terlepas dari dukungan I Nyoman Sutrisno,SE.MM. selaku komisaris anggota yang juga mengimbau jangan henti-hentinya untuk belajar, ikuti budaya kerja dan system yang baik, jujur serta selalu berkomitmen untuk menjadikan BDN yang lebih solid dan berintegritas dikalangan masyarakat. I Made Rai Oka Rimbawa, SE.MM. yang lebih dikenal dengan Bapak Rai selaku Komisaris Utama menilai, situasi dan kondisi ekonomi berubah begitu cepat dan selalu dinamis. Kami mengharapkan manajemen BPR Bali Dananiaga selalu bisa mening­ katkan diri dalam memberikan pelayanan yang maksimal kepada nasabah dengan cara meningkatkan kualitas SDM yang ada. Selalu bisa memahami kondisi di masyarakat sehingga pelayanan BPR Bali Dananiaga selalu bisa menjadi andalan bagi masyarakat. “Kecepatan, ketepatan, dan kenyamanan adalah hal yang mutlak yang harus dimiliki oleh bank dalam memberikan pelayanan yang maksimal bagi masyarakat,” tegas Made Rai Oka Rimbawa, SE.MM.-brt


2

Edisi 877/ 30 November - 6 Desember 2015

GORO-GORO “Konon, p i h a k Tu r k i sudah mewantiwanti pemerintah Prancis terhadap okPutu Wijaya num berbahaya yang terlibat dalam tragedi, Paris,” kata Amat menceritakan hasil ngupingnya, pada istrinya, “tapi pemerintak Prancis, khususnya kota Paris tidak serius menanggapi.” “Kenapa?” “Ya, mungkin mereka percaya, Paris, kota dunia yang terbuka bagi keragaman budaya itu, aman. Tidak akan ada yang mengusik kedamaiannya.” “Ternyata itu salah persepsi!” “Padahal, belum lama juga Paris sudah dihebohkan oleh penembakan liar yang membunuh beberapa wartawan di kantornya!” “Nah, itu. Kenapa mereka sampai lengah begitu, Pak? Prancis kan negara kuasa?” Amat mengangguk. “Itu, mungkin karena mereka terkecoh, sebab sebelumnya ISIS sudah mengancam akan menyerang London. London meskipun tidak terlalu jauh dari Paris, tetap saja bukan Paris. Jadi Paris tidak merasa perlu bersiaga. Padahal ancaman ke London itu, hanya untuk mengalihkan perhatian. Begitu Paris terbuka, langsung dihajar. Itu kan taktik yang biasa dilakukan gerilya kita dulu lawan kolonial!” Bu Amat nampak cemas. Ia teringat pada peristiwa Bom Bali. “Coba, apa yang bisa kita pelajari dari peristiwa itu, Bu?” “Kita tidak boleh lengah. Lebih baik waspada meskipun capek, daripada kecolongan!” “Betul sekali! Itu gunanya membaca koran dan nonton tv. Berita tidak hanya dinikmati tapi jadi bahan pemikiran! Kita tidak boleh lupa itu. Dalam wayang, ada contoh, lengah, menyebabkan Arjuna berhasil membunuh Niwatakawaca

ISIS

yang ampuh itu! Kita harus siap!” “Kita? Maksud Bapak? Apa mungkin kita juga bisa diserang ISIS?” Amat manggut-manggut. “Akibat tragedi Paris, Singapura yang akan menyelenggarakan konser kelompok musik metal Def Leppard sudah memperkuat keamanannya. Malaysia tempat KTT ASEAN sudah diancam akan dapat kiriman 18 bom. Pasti mereka juga waspada. Lha kita, sibuk berkutat ngurus pilkada, korupsi dan yang lagi panas, kasus Freeport, nampaknya baru hanya jadi penonton tragedi Paris.” “Maksud Bapak kita kurang waspada?” Amat tak menjawab. Ia memang tak tahu apa pemerintah waspada atau lalai. Esoknya, ketilka lewat di depan warung Ktut, Amat disapa banyak orang. “Pak Amat, sini, cerita dong! Apa betul ISIS akan menyerang kita?” Amat terkejut. Ia tak pernah bilang begitu. Pasti ada kesalahpahaman. Langsung ia membantah. “Begini, kalau kita yakin tidak mungkin, pasti kita akan lengah alias tidak akan berjaga-jaga. Di situ kita akan jadi sasaran empuk. Sebaliknya kalau kita berjaga-jaga walau tak ada tanda-tanda akan ada serangan, tidak berarti itu mubasir, karena itulah sebabnya kita

dijamin tidak akan diserang.” Amat kemudian cepat pulang. Ia batalkan niatnya ke rumah Ami. Tapi dilalah di rumah ia sudah ditunggu oleh seorang intel, bekas muridnya. “Maaf Pak Amat. Kami dengar Bapak punya informasi tentang ISIS. Boleh kami tahu, kira-kira daerah mana yang menjadi targetnya? Kapan dan apa bentuk terornya? Bom bunuh diri atau penembakan acak?” Amat terkejut. Ketika ia menjawab tidak tahu, pertanyaan terus mengucur sehingga ia pusing, Lalu ia coba memutuskan wawancara yang sudah nyaris jadi “interogasi” itu, dengan menjawab: “Itu semua kan tugas kalian untuk menjawabnya. Sumber saya hanya koran dan televisi. Kalau karena informasi itu saya dicurigai sebagai agen ISIS, koran dan semua tv itu juga agen ISIS!” Hampir 2 jam, baru intel itu pergi. Amat baru menarik nafas panjang sambil misuh-misuh kesal. “Siapa sih yang sudah iseng bilang, aku punya informasi ISIS akan menyerang kita?! Terlalu!” Bu Amat menyahut dari dapur. “Saya, Pak.” Amat terkejut. Lalu nyamperin istrinya. “Ibu? Kenapa?” “Lha, kata Bapak, kan lebih baik waspada daripada nanti kecolongan!”

Ekspresso bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

Pemimpin Umum/Penanggung Jawab Gde Palgunadi Redaktur Pelaksana Ngurah Budi Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti, Sagung Inten Jakarta Diana Runtu NTB Naniek Dwi Surahmi Desain Grafis IDN Alit Budi­artha, I Made Ary Supratman Sirkulasi Kadek Sepi Purnama Se­kretariat Ayu ­Agustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono Alamat Redaksi/Iklan Denpasar Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 416676–Faksimile (0361) 425373 Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta Jalan ­Pal­merah ­Barat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603-Faksimile (021) 5357605 NTB Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257 Jawa Timur Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­ ­Faksi­mile (031) 5675240 Surat Elektronik redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id Website www.tokoh.co.id Bank BRI Cabang ­G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6

Suasana pakelem di pantai Segara Rupek, Kamis, (26/11).

Salah Masuk tapi Amplop Selamat Lima tahun lalu, saya diundang teman untuk menghadiri pesta pernikahannya.Lokasinya di daerah Kali Unda, Klungkung.Saya memang belum tahu persis letak rumahnya. Waktu itu saya lupa membawa kartu undangannya jadi lupa alamat denah tempat berlangsungnya upacara.Saya hanya ingat gangnya saja. Waktu saya masuk gang beberapa meter saya melihat sebuah rumah yang dihias dan memang ada pernikahan di sana.Saya berpikir pasti di rumah itu tempat upacara pernikahannya. Tanpa bertanya dulu langsung masuk ke rumah itu dan sudah ramai sekali. Saya dipersilakan duduk dan disuguhkan kopi serta jajan bali. Tetapi, saya merasa asing. Kok tidak ada yang kenal. Satu pun tidak ada teman yang saya kenal. Dengan

gelisah saya celingak celinguk. Saat pengantinya terlihat keluar ternyata bukan teman saya. Saya salah masuk. Iseng saya menengok keluar gang terlihat ada rombongan lain yang lewat sepertinya juga menengok orang nikah. Benar, juga disana saya lihat beberapa teman yang saya kenal. Pelan-pelan saya keluar rumah itu langsung kabur. Saya coba ke arah timur ternyata rumahnya di belokan gang paling ujung. Langsung saya

masuk,sudah ramai teman teman datang. Mereka bertanya kenapa baru datang. Saat saya ceritakan kejadiannya, semua tertawa menyoraki. Kejadian konyol saya menjadi topik sampai akhir acara. Jadinya dapat dua kali kopi beruntung belum makan dan yang paling penting amplopnya selamat karena belum dimasukkan di tempat yang salah masuk tadi. Wayan Tojan, Klungkung

Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca ­lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. ­Panjang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan nomor kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373

Percetakan BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar

Dalam Tokoh edisi 876 rubrik Life Story ada berita berjudul “Berburu “Pria Gunung” demi Suami”. Saya mohon bantuan Tokoh untuk menginformasikan alamat Bu Sumiati. Saya sangat membutuhkannya untuk menolong teman yang sedang sakit parah. Terima kasih. Bu Budi, Kuta (081558729xxx) Alamat Bu Sumiati: BTN Kopajali no 11 Mapak, ­Mataram (Rumah Seledri), No hp 081805706830

Sudut Pandang

Sadar setelah Pernikahan Ketiga

Kisah Susi (bukan nama sebenarnya), seorang penderita HIV, mungkin bisa dibilang menakjubkan. Bertahun-tahun menjadi penderita HIV, berkali-kali nyawanya terancam hilang lantaran over dosis, namun wanita ini tetap survive hingga sekarang. Padahal, ‘angkatannya’ sesama pengguna narkoba, satu demi satu telah meninggal dunia akibat over dosis maupun HIV.

“T

eman-teman dalam kelompok kami, yang dulunya sama-sama pakai narkoba jarum suntik, hampir semua telah meninggal. Kalaupun ada beberapa yang masih hidup, itu karena dia tidak menggunakan jarum suntik. Ia hanya nyabu atau menenggak ekstasi. Jadi bisa dibilang di antara kelompok kami, pemakai jarum suntik yang masih bertahan, hanya saya,” kata perempuan berusia 38 tahun ini. Wanita ini menolak nama aslinya dipublikasikan karena selain telah menikah, juga karena kini telah memiliki anak dari pernikahannya. “Saya sudah menikah dan kini punya anak perempuan usia 1 tahun,” ucapnya. Ia mengaku tertular HIV karena penggunaan jarum suntik yang saling bergantian di dalam kelompoknya. Ia sendiri mulai mengenal narkoba sejak usianya belasan tahun.“Awalnya karena pergaulan. Sejak kecil kami sering ditinggal orangtua. Papa saya seorang kapten kapal yang kerap berlayar ke luar negeri, sedang mama ikut mendampingi papa. Itu berlangsung sampai kami besar. Di rumah hanya ada tante yang menjaga kami. Jadi saya hidup bebas. Materi tidak masalah karena segala sesuatunya dicukupi, termasuk soal uang jajan yang pada masa itu cukup besar untuk remaja seumuran saya,” papar wanita yang kini cukup aktif memberi penyuluhan HIV/AIDS khususnya ke kalangan remaja. Rasa kesepian tanpa pengarahan orangtua yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya, ditambah dengan pergaulan yang tidak baik, kata Susi, adalah penyebab dirinya terjebak dalam lembah narkoba. Bukan itu saja, karena pergaulan bebas, ia pun hamil dan akhirnya menikah muda. Usia saya ketika menikah 17 tahun. Tapi pernikahan itu tak bertahan lama. “Saat menikah saya sempat tidak mengonsumsi narkoba. Saya memiliki dua anak, tapi kemudian pernikahan berantakan. Suami pergi membawa satu anak dan tak pernah kembali. Ini membuat saya makin stress dan akhirnya kembali lagi ke narkoba,” tambahnya. Dulu ketika usianya masih belasan ia hanya menjajal pil ekstasi dan sabu. Itupun dilakukan di diskotik yang hampir tiap

malam di kunjungi. Namun ketika kembali ke dunia narkoba, seseorang memperkenalkannya pada putaw. “Ketika itu menjelang akhir 1999, saat saya mulai menggunakan putaw. Kebetulan rumah teman saya, orangtuanya kerap tidak ada di rumah, jadi kami menggunakan rumahnya untuk pesta narkoba. Mulai dari ekstasi, sabu hingga putaw ada. Kebanyakan teman, termasuk saya, menggunakan putaw dengan jarum suntik. Kelompok kami bubar ketika salah satu dari teman meninggal karena OD (over dosis) setahun setelah menggunakan barang itu,” tuturnya. Meskipun kelompoknya bubar, tapi ternyata Susi dan temantemannya tetap mengonsumsi putaw di tempat lain. Bahkan setelah beberapa orang teman akhirnya meninggal, Susi dan anggota yang tersisa tetap menggunakan barang haram itu. Tak terhitung berapa kali ia dibawa ke rumah sakit gara-gara over dosis dan sebab-sebab lain yang menyangkut narkoba. Meski sempat sekarat, namun ia tetap bertahan. Keluarganya sendiri, meski tergolong cukup berada, mengancam tak mau membiayai hidupnya termasuk pengobatan jika tetap memakai narkoba. “Pada masa itu biaya pengobatan untuk pecandu cukup mahal. Yang pasti saya telah sering menjalani terapi, namun kambuh terus. Saya beberapa kali ‘OD’ dan kritis di rumah sakit. Bahkan dokter sempat menyatakan sulit tertolong, tapi akhirnya pulih lagi. Dokter sampai heran. Namun ketika kembali sehat, saya kembali menggunakannya. Tidak tahu kenapa, padahal saya ingin sekali berhenti tapi sulit sekali. ‘Suggest’-nya sangat kuat, saya tak kuasa,” kata anak bungsu dari tiga bersaudara ini. Orangtua, lanjutnya, sempat berpikir mungkin kalau dirinya menikah lagi, kehidupan bisa lebih stabil dan perlahan bisa melepaskan diri dari barang haram itu. “Saya dijodohkan dengan seseorang yang punya pekerjaan sangat mapan, dan saya terima. Dari pernikahan itu lahir seorang anak perempuan, namun hanya bertahan beberapa bulan akhirnya meninggal. “Seperti yang pertama,

pernikahan kedua juga tidak bahagia. Kami selalu cekcok, karena suami marah saya masih menggunakan narkoba. Akhirnya bercerai. Entah bagaimana, setelah perceraian, saya dengar hidupnya jadi berantakan dan dia pun akhirnya juga menggunakan narkoba dan meninggal karena OD,” ucapnya. Di dasar hati yang terdalam Susi mengaku sangat menyesal, tapi semuanya seperti sudah ter-

Edisi 877/ 30 November - 6 Desember 2015

lanjur. Rasa frustasinya semakin dalam karena ia ‘divonis’ terinfeksi HIV beberapa tahun lalu. “Saya shock tapi itu memang risikonya,” katanya. Karena tahu penyakit ini tak tersembuhkan, ia pun menjadi seperti ‘menggila’. “Saya pikir, toh, akan mati juga. Ya sudah sekalian saja,” katanya. JADI PENGEDAR DAN MASUK PENJARA Orangtuanya yang tahu ia masih menjadi pencandu, lantas menghentikan pasokan uang saku. Walhasil, tidak ada dana untuk membeli barang haram itu. Tapi karena sudah kelewat kecanduan, kebetulan dia memiliki pergaulan yang luas di kalangan pengguna, dirinya dimanfaatkan bandar narkoba untuk menjadi pengedar. Menjadi pengedar narkoba memang merupakan cara instan mendapat uang banyak dalam tempo cepat, itulah yang dikerjakan wanita ini. Hanya saja, selain menjadi pengedar, dia juga tak menghentikan aktivitasnya memakai narkoba. Ia kembali ‘OD’ dan kembali orangtuanya harus menguras simpanan keluarga untuk membiayai pengobatannya di rumah sakit. Keluar dari rumah sakit, petugas

23

polisi sudah menanti atas sangkaan sebagai pengedar. Maka jadilah wanita ini mendekam di Rutan Pondok Bambu selama hampir 5 tahun. Yang luar biasa, selama di Rutan, ia sempat dua kali OD bahkan kritis. Nyawanya nyaris tak tertolong, tapi Tuhan pasti punya maksud lain, Susi kembali pulih. “Kehidupan di dalam penjara memang luar biasa. Kalau bisa, saya jangan lagi masuk penjara, kapok,” kata Susi yang untuk mendapatkan uang jajan terpaksa harus berjualan makanan ringan. Ia keluar penjara akhir 2012, dan mengaku, sudah hampir tiga tahun sudah tidak menggunakan narkoba lagi. “Saya menjalani terapi dan minum obat secara teratur sampai sekarang,” katanya. Kini, motivasinya untuk bertahan hidup sangat kuat, karena telah menikah dengan seorang pria yang mau menerima dirinya apa adanya. Dari pernikahan itu telah lahir seorang putri yang kini berusia satu tahun. “Saya melahirkan dengan cara caesar karena saya adalah penderita HIV. Harapannya, dengan caesar anak saya tidak tertular. Dari beberapa kali pemeriksaan, kata dokter, anak saya tidak tertular HIV. Puji Tuhan,” kata Susi. –Diana Runtu

Obat ini “Pasangan Hidup” Meski dikatakan belum ada bertugas untuk melawan inobat untuk menyembuhkan feksi. Jumlah CD 4 normal pada infeksi HIV, namun penyakit orang sehat berkisar antara 400 HIV AIDS tak lagi mematikan sampai 1.200. Setelah kita terinselama penderita memahami feksi HIV, jumlah ini bisa hingga dengan baik bagaimana cara dibawah 300. Jadi jumlah ini penanganannya. Penderitanya mencerminkan kesehatan sistem bisa hidup normal dan tidak kekebalan tubuh seseorang, perlu merasa minder dengan semakin rendah, semakin rusak keadaan yang ia alami. sistem kekebalannya. Hal ini diungkapkan dr. Ni Bicara kendala dalam melakuKetut Lestari di Yayasan Kerti kan terapi , dikatakannya dianPraja. Dalam dunia kedokteran, taranya karena semua pengobatan ARV (Anti Retroviral ) masih untuk HIV memiliki efek samping, menjadi obat satu-satunya unhingga bisa juga mempengaruhi tuk menekan virus HIV dari suasana hati. Ketika berobat, tubuh penderita. “Karena sistem pasien merasa tambah sakit dan kekebalan tubuh yang diserang, malas melanjutkan terapi. Banyak penderita HIV rentan sekali terjadi juga pada saat CD4-nya terkena penyakit seperti TBC, masih bagus, meski ada virus, jamur dan lainnya. pasien HIV merasakan dirinya Terapi atau pengobatan yang sehat dan baik-baik saja sehingga bisa memperlambat perkemtidak mau menjalani terapi ARV. bangan penyakit adalah men“Ada juga yang mengaku sudah gonsumsi i ARV secara disiplin, mengonsumsi dengan teratur dr. Ni Ketut Lestari teratur dan konsisten selama padahal tidak, karena bosan dan hidupnya. Dengan demikian pasien HIV tetap putus asa. Jika kasusnya seperi ini biasanya kami bisa menjalani hidup sehat dan bisa beraktivitas. akan konsultasikan dengan Prof. Tuti,” katanya. Jika melewatkan satu dosis saja, efeknya virus Selain itu, dr. Lestari pun dalam proses meakan kembali berkembang dan meningkatkan nangani pasien di lini pertama ini ia juga belajar risiko kegagalan. dari seniornya dr. Satriani untuk bisa mengeduKetika seseorang yang sudah dites dan hasilkasi, bahwa terapi yang dilakukan adalah seumur nya positif atau reaktif, ini berarti ia terinfeksi hidup. Setiap hari meminumnya tepat waktu. HIV. Berikutnya dilakukan pemeriksaa lebih awal Semua efek sampingnya juga disampikan terlebih mulai dari rontgen, tes darah, fungsi ginjal juga dahulu, juga tentang obat untuk menghilangkanfungsi hati. Berdasar hasil tes itulah dokter akan nya. “Bahkan dr. Satriani mengedukasi dengan memberitahukan jenis terapinya. mengatakan inilah pasangan hidupmu yang noPenderita HIV , bisa saja diberikan dua atau mor satu, lebih dari istri maupun pacarmu. Inilah lebih jenis ARV untuk mencegah terjadinya renafasmu maka jika kemana-mana harus dibawa sistensi terhadap virus ini. Kombinasi obat ARV tanpa ini kondisimu bisa tambah drop,” katanya yang diberikan berbeda-beda pada tiap-tiap mengutip ucapan seniornya itu. orang. Terapi pengobatan ini bersifat pribadi “Kami juga bekerjasama dengan pendampatau khusus sesuai hasil pemeriksaan. ingnya, sebab setiap pasien ada Pengobatan dilakukan setelah virus mulai pendampingnya. Bentuk terapi lainnya yang melemahkan sistem kekebalan tubuh manusia. diluar obat adalah bersedia ngobrol sambil mendIni bisa ditentukan dengan mengukur tingkat engarkan keluhan mereka, yang bukan hanya soal sel CD4 dalam darah. Sel CD4 adalah sel yang fisik tapi juga psikisnya ,“ ujarnya. – Sri Ardhini


24

What’s Up

Edisi 877/ 30 November - 6 Desember 2015

“Berteman” dengan HIV untuk Melanjutkan Hidup Seorang perempuan energik perpenampilan mungil menghampiri Tokoh. Bunga (bukan nama sebenarnya), demikian ia memperkenal­ kan dirinya dengan senyuman yang terus mengembang. Secara kasat mata, memang tak ada perbedaan yang bisa dilihat antara ODHA dengan orang kebanyakan lainnya. “Saya baru tahu diri saya terinfek­ si HIV tahun 2012. Ini memang kesalahan saya yang suka gonta-ganti pasangan tanpa memakai pengaman (kondom). Dan, saya berani mengakui kesalahan saya,” ujarnya tanpa perasaan malu.

I

a pun mengisahkan pen­ galamannya selama tiga tahun terakhir “berteman” dengan virus di tubuhnya itu. “Entah kapan dan dari siapa saya kena virus ini,” ujar Bunga yang setelah itu, berusaha meng­ hubungi mantan orang-orang yang pernah diajaknya berhubungan intim, mantan suami dan mantan pacar, bukan untuk menyalahkan, namun mengingatkan mereka agar bisa menyelamatkan hidupnya. Setelah mengalami sakit berkepanjangan sejak Agustus 2012, diikuti dengan kondisi tubuh­ nya drop dan berat badan yang menurun drastis, serta menjalani berbagai pemeriksaan, seperti tes hipertiroid (negatif), konsul ke dokter paru yang hasilnya positif bronchitis pneumonia, dan men­ jalani terapi selama 2 minggu, na­ mun tak jua membuahkan kesem­ buhan, dokter interna yang me­ nangani Bunga di sebuah RS negeri ini, ­akhirnya menyerah. “Dokter ­bilang, jika penyakit sampai muncul secara bersamaan, seperti saya waktu itu fungsi hati terganggu,

penurunan berat badan, anemia, bronchitis, ada jamur di mulut, itu katanya ada masalah di kekebalan tubuh. Dokter menyarankan untuk dites, dan saya setuju karena saya sudah jenuh dengan sakit sekian lama,” tuturnya. Di bulan Oktober itu, Bunga baru di-VCT dan dikonseling, dan hasil­ nya ia positif HIV. Ia sempat syok menda­ pati kenyataan itu, dan lebih syok lagi karena dia mengkha­ watirkan kemungkinan anaknya juga bisa ter­ tular. Sepulangnya dari RS, Bunga mampir belanja ke sebuah supermarket dan memborong kebutuhan rumah tangga untuk menjaga-jaga ke­ mungkinan terburuk menimpanya. “Adik saya sampai bertanya kenapa belanja sebanyak itu. Saya hanya menjawab, takutnya nanti mati dan kita tidak bisa makan. Adik saya kaget saja mendengar perkataan saya,” kisahnya. Keesokan harinya, Bunga lang­

sung mengajak anaknya tes (VCT), syukur hasilnya negatif. Keadaan anaknya baik-baik saja. Ditambah hasil tes mantan suaminya juga negatif, yang artinya ia tidak meng­ hancurkan masa depan mereka. Apalagi, putrinya yang saat itu masih berusia belasan tahun bisa menerima bahwa dirinya sakit. “Ibu sakit, didapat karena ibu melakukan kesalahan orang dewa­ sa. Nanti setelah dewasa ibu cerita­ kan lagi. Sekarang ibu sakit, tolong dibantu bagaimana agar ibu bisa tetap hidup. Jika

seks yang berisiko. Saya menutup diri. Akhirnya saya membuka sta­ tus saya dengan adik dan tementeman, justru mereka mendukung tak seperti apa yang ada di benak saya,” kenangnya. Realitanya, Bun­ ga yang menjadi konselor HIV AIDS sejak Desember 2013 hingga saat ini di RS negeri tersebut mendapati kebanyakan ODHA menstigma dirinya, menutup diri, dan takut dibilang ini-itu. “Mereka paling ngomonginnya sebentar setelah itu sudah. Jangan menstigma di­

V nis AR

atu je alah s

S

Dengan penerimaannya seperti itu, Bunga justru lebih termotivasi. “Dari sinilah saya termotivasi untuk tetap melanjutkan hidup. Saya menjalani terapi, mau berjuang. Ini kenyataan yang harus saya hadapi dan harus move on,” ujarnya ber­ semangat. Sebelumnya Bunga sempat menutup diri akan kenyataan ini. “HIV adalah penyakit yang memalukan, didapatkan dari peri­laku

tidak mau bantu, ibu tidak akan hidup. Karena motivasi ibu hidup adalah kamu,” demikian Bunga memberikan pen­ jelasan kepada putrinya. Syukur putrinya itu mengerti, bahkan ia sangat antusias bercerita kepada Bunga ketika di sekolahnya akan ada penyuluhan tentang HIV AIDS. “Apa Ibu yang kesana memberikan penyuluhan?” ujarnya bersemangat pada Bunga, pada saat itu.

rimu sebelum kamu distigma. Saya sudah membuktikan sendiri, dan teman-teman justru mendukung,” imbuhnya lagi. Setelah membuka diri dan mene­rima status dirinya ODHA, virus ada dalam tubuhnya, Bunga merasa lebih ringan melanjut­ kan hidupnya. Ia kini makin me­ lek ­dengan urusan kesehatan. Ia mengikuti terapi seumur hidup, yang mengharuskannya meminum dua macam obat, diminum dua kali sehari tiap pukul 9 pagi dan pukul 9 malam. Karena ia menyadari dirinya agak teledor, Bunga mendisiplinkan diri dengan se­ lalu memasang alarm sebagai pengingat, dan memberi nama-nama hari pada kotak obat mungil yang dibawanya kemanamana tersebut. Waktu saya sakit, Bunga berkomitmen jika pulih tidak akan menyia-nyiakan siakan kesempat­ an hidup yang diberikan Tuhan kepadanya untuk hidup lagi. Bunga ingin membantu mereka yang senasib dengannya untuk bangkit dan melanjutkan hidupnya lagi. “HIV bukan akhir dari segalanya. Untuk bisa melanjutkan hidup, harus bisa menerima status se­ bagai ODHA, bertemanlah dengan virus itu, dan lanjutkan hidupmu,” ujarnya Bunga penuh semangat dan mengaku kini hidupnya terasa lebih berarti lagi. –Inten Indrawati

redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id

mingguantokoh

@mingguantokoh

mingguantokoh

www.tokoh.co.id


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Tokoh Edisi 877 | Tokoh by e-Paper KMB - Issuu