24
What’s UP
Edisi 874/ 9 - 15 November 2015
Disperindag Kota Denpasar
Gelar Koordinasi Pengembangan Ekspor dengan Instansi Terkait, Asosiasi dan Pengusaha Pentingnya peningkatan informasi serta kemudahan aksesbilitas bagi eksportir menjadi perhatian pemerintah. Untuk mendukung pengembangan ekspor, Dinas Perindustrian dan Perdagangan ( Disperindag) Kota Denpasar menggelar kegiatan Koordinasi Pengembangan Ekspor dengan Instansi Terkait, Asosiasi dan Pengusaha Kota Denpasar di Ruang Pertemuan Disperindag Kota Denpasar, di Gedung Sewaka Dharma Lantai III, Jalan Majapahit, Lumintang, Denpasar, Kamis (5/11).
D
alam kegiatan yang diikuti sekitar 50 orang dari kalangan pengusaha ekspor impor, UKM/IKM produk ekspor Kota Denpasar, Kepala Disperindag Kota Denpasar Drs. I Wayan Gatra, M.Si., didampingi Kabid Perdagangan Disperindag Kota Denpasar Ida Ayu Dewi
Citrawati, S.E., M.Si., dan Kasi Ekspor Impor A.Ag.A. Kartika Dewi, S.E., mengatakan program tersebut dilaksanakan untuk meningkatkan pertumbuhan ekspor dengan meningkatkan daya saing produk melalui Strategi Diversifikasi dan Pengelolaan serta Pengembangan Sumber Daya Lokal. Meski beberapa upaya yang di-
Ida Ayu Dewi Citrawati
A.Ag.A. Kartika Dewi
S e l a n j u t n y a G d e We d a A rjawa, S.E., M.Si. dari A SEPHI Bali,mengatakan bahwa strategi diversifikasi produk merupakan salah satu strategi untuk meningkatkan volume penjualan. Ia menyebutkan ada tiga macam strategi diversifikasi lengkap dengan contoh-contohnya. Seperti seorang produsen kain endek juga memproduksi baju endek. Gde Arjawa juga berbicara tentang merek sebagai atribut produk. Dengan nama, kemudian desain simbol dan pilihan warnanya diharapkan dapat memberikan identitas terhadap sebuiah produk. Penggunaan merek dalam diversifikasi produk, katanya sangat bermanfaat dalam hal pemasaran produk. Namun, menurut Gde Arjawa produsen kerajinan di Bali keban-
yakan masih melakukan diversifikasi konsentris secara sederhana, seperti produk sama namun desain berbeda. Seperti, patung kucing duduk dan kucing berdiri. Atau, bahan baku berbeda tapi desainnya sama, patung kucing kayu dan kucing besi. Untuk para eksportir ia menyebutkan negara yang menjadi tujuan ekspor terbesar kerajinan Bali, yakni Eropa, Amerika, Asia, Australia dan Afrika sembari mengingatkan juga untuk memperhatikan adanya ramburambu diversifikasi, seperti peraturan ekspor tentang barang dibatasi dan dilarang ekspor. Begitu juga normanorma sosial budaya yang ada di wilayah tujuan eskpor. Selanjutnya Arjawa juga mengingatkan bahwa pada 31 Desember 2015 akan berlaku arus Bebas ASEAN 2015, arus bebas barang, jasa, investasi, modal, hingga arus bebas tenaga kerja teram pil. Dan, pada pasar bebas ini juga diberlakukan bebas tarif dan bebas hambatan perdagangan lainnya. Maka, kalau kita tidak menyerang pasti akan diserang. Gde Arjawa juga mengakui masih ada ham-
lakukan Disperindag Kota Denpasar, masih mengalami kendala khususnya dalam hal regenerasi, namun Wayan Gatra berharap akan ada terobosan termasuk soal desain. Salah satunya disarankan untuk memanfatkan keberadaan Denpasar Desain Center (DDC), yang di Bali baru dimiliki oleh Kota Denpasar. Wayan Gatra juga menekankan
I Wayan Gatra
para pelaku usaha ekspor selain terus melakukan terobosan pasar ekspor, juga tetap menjaga pasar
domestik yang memang peluangnya cukup besar. Bahkan negara Eropa dan ASEAN melirik Indonesia sebagai pangsa pasarnya. Untuk bisa bersaing, katanya diperlukan diversifikasi usaha, produk yang memiliki ciri khas dan daya tarik, dengan segala inovasinya. Pemerintah sudah membantu seperti dipangkasnya proses perizinan. “Sekarang kuasai pasar domestik dan setelahnya dikuatkan untuk menuju ekspor, jangan lihat tantanganya tapi peluang yang ada,” tandasnya. Sementara soal kurang adanya regenerasi,diakui Wayan Gatra inilah kelemahan pada bangsa kita termasuk masih sulit menembus langkah ke pendidikan formal. Karenanya, ia berharap para UKM mau mengajak anakanak mereka untuk belajar dilibatkan mengenal dunia usaha sejak dini, atau menerima generasi muda yang ingin magang. –ard
Suasana Koordinasi Program Pengembangan Ekspor dengan instansi terkait
Perlu Diversifikasi Produk
Ni Made Witari
Andika Brahma Loka
batan internal yang terjadi di Bali. Seperti, tidak memiliki legalitas usaha yang lengkap, kurang memahami regulasi & prosedur ekspor, menerima order over capacity serta kurang memahami IT. Untuk ini, sebaiknya peraturan pemerintah mendukung keberadaan Bali sebagai daerah yang mempunyai spesifikasi khusus, sebagian besar kegiatan ekspor dilakukan oleh eksportir non produsen. Untuk saat ini, katanya pemerintah sudah memberikan dukungan dengan menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) No.98 Tahun 2014 (15 Sept 2014) : Perihal izin usaha mikro dan kecil atu IUMK. “Ini tanda legalitas kepada seseorang atau pelaku usaha diterbitkan oleh camat, dan tidak dikenakan biaya,” katanya sambil mengatakan MEA 2015 merupakan kesempatan emas, ‘mata air’ bagi setiap negara yang telah siap, dan ‘air mata’ bagi negara yang kurang siap menghadapi MEA 2015 tersebut. Berikutnya, Budiman Sutrisno, B.Arch.Eng dari Designer Produk Kerajinan Kota Denpasar lebih banyak berbicara dan berbagi informasi bermanfaat tentang pengalamannya dalam pengelolaan dan pengembangan sumber daya lokal. Dikatakannya dalam era pasar bebas nanti bukan hanya barang luar yang akan membanjiri pasar kita dan bersaing bebas dengan produk lokal, tetapi juga pelaku pasarnya. Maka, untuk dapat bertahan bahkan bersaing bebas dengan para pelaku tersebut ada beberapa
Gde Weda Arjawa
hal penting yang perlu diperhatikan, khususnya bagi para pengrajin. Jenis Produk yang akan dikerjakan; Desain produk yang bisa diterima pasar; Kualitas pekerjaan yang menentukan tingkatan harga pasar; Penggunaan jenis material yang bisa menjadi unggulan; Tata kelola usaha, apakah sudah setara dengan sistem kerja usaha mereka; Tata tertib dalam berbisnis sesuai dengan standar international dan tidak melanggar aturan pemerintah sendiri maupun negara lain; Sikap dalam berbisnis; Strategi sistem kerja, pemasaran dan strategi produksi; serta Kekuatan pasar pesaing atau negara lain. Untuk bisa mengetahui selera dan tren pasar saat ini memang tidak mudah. Akan lebih mudah mempelajari dan mengembangkannya jika pengrajin sudah tau men-spesialisasi produknya. Misalnya spesialisasi dalam produkproduk bambu, maka fokuslah mempelajari seluk beluk bambu. Melakukan riset dan pengembangan sehingga bisa menambah nilai produk dari segi kualitas, desain dan olah materialnya. Untuk masukan selera pasar, bisa diperoleh dari bantuan pemerintah, buyers atau
Budiman Sutrisno
melalui media internet. Di samping itu, kualitas pekerjaan juga turut menentukan tingkat harga pasarnya. Semakin tinggi kualitas produk yang dihasilkan akan semakin tinggi pula harga yang bisa ditawarkan. Bagi pengrajin yang telah mengambil spesialisasi kemungkinan mempertinggi kualitas dan desain akan lebih mudah dicapai, sebab semua terfokus pada satu hal. Pada kesemptan tersebut salah seorang peserta, Ni Made Witari setelah bertanya berhasil mendapatkan informasi perihal beberapa perubahan terutana tentang dukungan pemerintah terkait bahan baku kayu yang bisa mendukung usaha suvenir dan home decoration yang dijalaninya untuk mengejar pertumbuhan dan penjulan. Sedangkan peserta lainnya, Ida Bagus Andika Brahma Loka, pemilik usaha fashion lukis “Gayatri Loka” mengatakan materi yang ia terima sangat informatif dan memotivasinya yang saat ini belum pernah melakukan ekspor. Ke depannya ia ingin ikut berkompetisi di pasar global. –ard
Email: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id
mingguantokoh
@mingguantokoh
mingguantokoh
Website: www.tokoh.co.id
2
Edisi 874/ 9 - 15 November 2015
GORO-GORO Amat tibatiba mau merayakan ulang tahunnya. Bu Amat terkejut dan kontan tidak setuju. “ Ka r e n a k a l a u Putu Wijaya dipikir-pikir, ultah itu bukan usia bertambah seperti yang kita mengertikan selama ini. Salah!. Ultah itu justru berarti pengurangan usia. Seperti tabungan. Kalau diambilin terus uangnya, akhirnya tinggal O…jadi terbalik, Bapak sudah salah-kaprah!”. Amat tak perduli. “Sabar, Bu. Ini perayaan ultah proyek” Bu Amat tercengang. Ia tatap mata suaminya, seakan mengumpat, “edhan!” Amat senyum lagi. Tenang, bergeming. Lalu menegaskan: “Pokoknya harus dirayakan!” “Ya, boleh! Berarti kita akan perlu biaya untuk menjamu para tetangga yang akan kita ajak merayakan. Berarti saya harus membersihkan halaman, rumah, memasak dan beli kue tart. Belum lagi beli bunga yang baru satu hari sudah akan layu!” Amat ketawa. “Bu, tenang. Bapak jamin tidak akan keluar biaya sepeser pun. Malah bisa sebaliknya! Untung!” “Maksud Bapak?” “Ya, kita tidak akan merayakan sendirian. Tetangga yang hari ultahnya sama, Bapak ajak ikut merayakan. jadi seperti ngaben bersama, petoyan bersama. Ini ultah gotong-royong. Ibu tak usah repot. Diam saja. Nanti makanan akan dibawa keluarga yang berulang tahun. Kita umumkan, tanpa mengurangi rasa hormat, kita mohon agar tidak memberi kado barang. Bagi yang berkenan berpartisipasi, silakan. Kami sediakan kotak sumbangan di depan pintu. Bagus kan? Semua sudah Bapak ajak berunding dan mereka setuju. Ibu tenang saja. Masih ada 5 tetangga sepantaran Bapak yang belum dinego.” Amat salin pakaian. Terus langsung terjun ke tetangga. Bu Amat, diam-
ultah
diam pergi ke rumah Ami. “Ami, bapakmu edhan lagi, Mi!” “Edhan gimana?” “Masa ujug-ujug mau merayakan ultahnya. Sudah kacau kan?!” “Masak?” “Bener! Ibu jadi kepikiran terus! Bagaimana kalau kamu ajak bapakmu jalan-jalan, lalu belokkan arah ke klinik saraf. Jangan-jangan bapakmu sudah stadium 4, kan repot.” Amat hanya ketawa. Niatnya harus diwujudkan. Demikianlah, pada hari ultah Amat, berjubel tamu datang. Menyambut ultah 5 kakek (6 plus Amat) dan seorang nenek. Koalisi tersebut kelihatan ampuh. Semua memberikan urunan uang dan makanan masakan rumag. Ultah berlangsung seru. Tengah malam baru tamu terakhir pulang. Amat dan Bu Amat tenggelam di kursi, keletihan. Keduanya mengantuk, capai dan sebel melihat rumah berantakan. “Kenapa Ami dan suaminya tidak datang,” tanya Amat sambil menguap, “Padahal kan janjinya mau ikut beresberes. Kenapa, Bu?” Bu Amat tak menjawab karena sudah tidur. Amat terpaksa menjawab sendiri pertanyaanya. “Ya karena Bapak egois. Kenapa dulu ultah ke-17Ami tidak pernah dirayakan? Apa aku harus menunggu sampai tua bangka, 64 tahun, seperti lagu Beatles, baru nanti diperhatikan?” “Sabar, Ami, ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Ultah bapak kamu ini, semacam proyek bisnis. Coba tanya ibumu, berapa duit yang ada dalam kotak sumbangan. Paling sedikit Rp 15 juta, kata Esti yang tadi jaga. Nanti setelah dibagikan satu juta per kepada pada kakek-kakek dan nenek itu, sisanya 9 juta bersih masuk kantong kita. Pintar kan? Cerdik tidak?” Tiba-tiba Bu Amat terbangun. Ia nampak berantakan, karena pikirannya masih nyangkut dalam mimpi. “Sudah dihitung, Bu?” “Hitung apaan!” Amat kesel. “Ya kotak sumbangan itu! Paling sedikit isinya 20 juta. Ya, kan?!” “Apa yang Rp 20 juta?” “Sumbangan dari para tetangga karena kita menolak diberi kado. Sudah dihitung?” “Apa yang dihitung?”
“Sumbangan-sumbangan dari tetangga!” “Sumbangan untuk apa?” Amat tambah sebal. “Ya itu, seperti yang pernah kita rencanakan!” “Rencanakan? Apa?” “Ya proyek bonus ultah itu! Sumbangan dari para tamu. Tapi totalnya kita dapat berapa? Mereka sejuta-sejuta saja, per kepala, cukup! Sisanya buat kita. Idenya kan dari Bapak? Sudah dihitung? Berapa?” Bu Amat, tambah bingung. “Berapa? Cepat dihitung dong!!” Tidak bisa menahan jengkel lagi, Bu Amat berdiri. Lalu bergegas masuk kamar. Amat marah. “Ya sudah, tak hitung sendiri saja. Tapi, lho, lho mana kotak sumbangannya?” Amat bingung, sebab rumah sudah bersih. Tak ada sisa-sisa pesta. Terutama kotak sunbangan itu lenyap. “Apa Ami yang sudah datang beresberes? Amiiii!” Sampai 3 kali Amat memanggil, tapi Ami tidak muncul. Amat mencoba memeriksa ke dapur, tapi di situ sunyi. “Wah kalau begini pasti kakekkakek itu yang sudah mengamankan kota sumbangannya. Rugi deh kita, Bu!” Amat buru-buru mnasuk kamar. “Buuu!” Tapi Bu Amat tak ada dalam kamar. Amat tercengang. Ia bingung lalu mencoba menenangkan pikirannya. Pintu diketuk. Amat bergegas ke depan membuka pintu. Ternyata itu pak Ijo, salah satu kakek yang diajaknya ultah bersama. “Pak Amat, tadi ibu nelpon dari rumah Ami. Minta disampaikan ke Bapak, malam ini Bu Amat tidak bisa pulang, sebab cucu Bapak sakit panas.” Amat terkejut. Kakek itu pun senyum sambil mengedikan mata. “Oh ya, ultah kita kan sama, hari ini, Pak Amat. Selamat ulang tahun. Bagaimana proyeknya? Jadi besok kita rayakan ultah kita, di rumah saya bersama 5 kawan kita yang hari ultahnya sama? Urunan satu juta per kepala, nanti tamu-tamu diminta jangan ngasi kado, silakan partisipasinya masukkan ke kotak. Amplopnya dicatat. Paling sedikit sudah saya hitung, kita bisa dapat Rp 15 juta!”
Ekspresso bacaan wanita dan keluarga
Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998 Pemimpin Umum/Penanggung Jawab Gde Palgunadi Redaktur Pelaksana Ngurah Budi Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti, Sagung Inten Jakarta Diana Runtu NTB Naniek Dwi Surahmi Desain Grafis IDN Alit Budiartha, I Made Ary Supratman Sirkulasi Kadek Sepi Purnama Sekretariat Ayu Agustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono Alamat Redaksi/Iklan Denpasar Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 416676–Faksimile (0361) 425373 Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta Jalan Palmerah Barat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603-Faksimile (021) 5357605 NTB Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–Telepon (0370) 639543– Faksimile (0370) 628257 Jawa Timur Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456– Faksimile (031) 5675240 Surat Elektronik redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id Website www.tokoh.co.id Bank BRI Cabang G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6 Percetakan BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar
Ledakan Pipa Malam itu, sekitar pukul 22.00 saya sudah bersiap untuk tidur. Pintu gerbang sdh terkunci, lampu sudah dimatikan. Baru mau merebahkan diri di kasur, tiba-tiba terdengar ledakan....duarrr.....oh my God... ada apa lagi ini. Saya langsung bangun dan mencari tahu suara ledakan apa itu. Suara ledakan membuat saya agak trauma karena dulu pernah melihat kebakaran yang diawali ledakan. Saya khawatir ada kejadian lagi di dekt rumah. Untuk memastikan ledakan apa yang terdengar, saya keluar rumah.
Ternyata sepi. Hanya ada sebuah truk yang parkir dekat rumah. Saya pun kembali ke rumah sambil penasaran, ledakan apa itu ya. Besok harinya saya bangun pagi.seperti biasa dan mengisi bak. Air yang keluar sangat keruh.
Saya jadi heran, padah tidak ada hujan. Pas keluar rumah, terlihat keramaian di dekat truk yang parkir tadi malam. Ternyata, ada pipa pecah terlindas truk. Jadi tadi malam itu suara ledakan pipa. Wahyudi
Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. Panjang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan nomor kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373
Mohon info nomor kontak yang bisa dihubungi tentang kayu suar yang dimuat Tokoh edisi 873. Kadek Hariana, Denpasar Bapak bisa menghubungi I Nyoman Mendra. Hp: 081337070549.
Sudut Pandang
23
Edisi 874/ 9 - 15 November 2015
Kunci Kesehatan Tubuh di Pikiran
Sebagian orang mengartikan sehat sebagai fisik yang bugar, namun sebagian lagi menyebut bahwa yang disebut sehat bukan hanya berkaitan dengan fisik tapi juga mental. Soraya Haque, peragawati terkenal era 1980-an, pun demikian. Dia mendefinisikan bahwa seseorang disebut sehat jika ada keseimbangan dalam dirinya, baik itu fisik, pikiran, dan perasaan.
“K
alau saya mendefinisikan sehat bukan hanya dari satu elemen. Namun dalam hidup, untuk menjadi sehat maka harus ada keseimbangan antara kebugaran fisik, asupan makanan, pikiran dan rasa atau perasaan. Ketika ada keseimbangan di antara elemen-elemen itu maka seseorang barulah bisa disebut sehat atau akan menjadi sehat. Sehat itu sendiri juga berarti produktif, yang artinya kita bekerja atau berbuat sesuatu yang berguna untuk orang lain. Mungkin sebagian orang berpendapat berbeda dengan saya, tapi bagi saya seperti itu. Sehat itu adalah keseimbangan elemen-elemen dalam kehidupan kita,” ungkap Aya, begitu namanya akrab disapa. Makna dari kesehatan itulah yang coba diterapkan Aya pada keluarganya. “Jadi yang saya lakukan adalah berusaha membuat keseimbangan elemen-elemen itu dalam diri setiap orang yang tinggal di rumah saya. Baik itu terhadap suami (Ekki Soekarno)
Soraya Haque
maupun ketiga anak saya,” tambah peraih Helen Keller Award ini. Tentu saja, asupan makanan termasuk termasuk dalam perhatiannya. Terkait pola makan, dia tidak melakukan pembatasan. Dia memberi kebebasan kepada mereka untuk memakan apa yang diinginkan alias sesuai selera masing-masing. Ada beberapa prinsip yang ditekankan kepada mereka, misalnya, makan tiga kali sehari, banyak minum air putih, makan
sayur dan buah. “Jika tidak sempat makan sayur, ya makan buah. Juga saya ingatkan untuk tidak terlalu banyak mengonsumsi daging. Jika minggu ini banyak mengonsumsi daging, minggu depan daging dikurangi diganti dengan ikan. Jadi saya mengajarkan soal keseimbangan,” tutu ibu tiga anak Valeri Allen Ghazian Soekarno, Nadia Ayesha Mieke Soekarno, dan Belmiro Ali Harnandhitya Soekarno ini. Terkait makanan, wanita kelahiran Februari 1965 ini bercerita bahwa ia termasuk ibu yang beruntung karena ketiga anaknya pandai memasak. ‘Bakat’ ini diturunkan dari sang ayah, Ekki Soekarno yang memang memiliki hobi memasak. “Jadi saya tidak punya masalah soal makanan. Kalau mereka tidak suka dengan makanan yang disediakan di meja makan, mereka biasanya memasak sendiri makanannya. Semua bahan, baik itu ayam, ikan, bumbu-bumbu, dll, ada di dalam kulkas. Mereka tinggal mengolahnya saja. Anak-anak saya
pandai memasak karena sejak SD sudah dikenalkan dengan dapur dan kompor. Ekki yang mengajarkan anak-anak masak. Itulah yang membuat mereka menjadi mandiri,” ungkap Aya sembari menambahkan, bahkan ketika ia ingin bermanja-manja, maka sang anaklah yang memasak untuk dirinya.
“MEMATIKAN PIKIRAN” Sebagai ibu, Aya boleh dibilang termasuk orangtua yang disiplin. Sejak kecil ketiga anaknya diajarkan tentang tanggung jawab dan kemandirian. Mereka diajarkan melakukan hal-hal yang memang mampu dilakukan untuk anak seusianya. Dengan begitu, anakanak akan tumbuh tanpa harus selalu tergantung kepada orangtuanya. Termasuk dalam menjaga kesehatannya. Prinsip-prinsip kesehatan, sejak kecil ditanamkan kepada mereka. Sebut saja tentang hidup bersih. Misalnya, kalau mau makan harus cuci tangan. Jika tangan tidak bersih, jangan makan menggunakan tangan. “Itu memang hal-hal sepele, tapi itu sudah saya tanamkan sejak kecil. Sehingga mereka mengerti. Lebih dari itu, saya mengajarkan bukan hanya lewat kata-kata tapi juga prilaku. Ini berhasil. Mereka tumbuh menjadi anak-anak yang mandiri, tahu apa yang diinginkan, dan bertanggung-jawab,” ucap adik Marissa Haque ini. Aya yang sempat menjadi
Duta Helen Keller Internasional mengaku, dirinya menjaga kesehatan selain dengan berolahraga, yoga, juga menjaga pikirannya agar terus berpikir positif. Dia berusaha menghindari berpikiran negatif karena dia meyakini hal (pikiran negatif) tersebut bisa mengganggu kesehatan diri. “Saya kira kunci dari tubuh sehat adalah pikiran. Kita harus menghindari memikirkan hal-hal negatif, apalagi jika dilakukan secara terus menerus,” kata pemeran sinetron bertajuk ‘Gol’ ini. Terkait pikiran, Aya mengaku juga mempelajarinya lewat sebuah buku ajaran Buddha. Salah satu yang dipelajarinya adalah ketika kita menghadapi suatu persoalan kita harus diam dan ‘mematikan pikiran’. “Pikiran manusia itu ibaratnya seperti monyet yang tidak bisa diam, senang melompatlompat. Masalah yang sebenarnya cuma satu, karena kita pikirkan dengan keras bisa berkembang menjadi 200. Kita pun menjadi stress,” katanya. Belajar ‘mematikan pikiran’ memang tidak mudah tapi itu bisa dipelajari. “Ada banyak caranya, bisa lewat sholat, semedi, meditasi, dll. Intinya adalah menenangkan pikiran, mengendalikan pikiran,” ucap Aya lewat ajaran ‘Monkey Thinking’ itu dia menjadi lebih tenang dalam menghadapi berbagai persoalan. “Ya, tapi kan saya bukan robot, jadi masih ‘on’-‘off’,” kata wanita yang hobi olahraga ini. –Diana Runtu
Wajib Ada Sayur disional Bima yang asli, seperti palmara, sayur-sayuran dan sop serta lainnya yang dimasak tanpa minyak goreng. “Rata-rata masakan tradisional asli Bima, bumbunya tidak digoreng melainkan langsung dicampur ke dalam bahan masakan. Ini mengurangi konsumsi minBumbu pelengkap masakan khas Bima yak,” ujar Hj. Sebelum mengalami perkem- Halimah, salah seorang koki bangan dalam berbagai hal, tradisional di Bima yang kerap kehidupan desa yang sederhana memimpin kegiatan memasak termasuk dalam hal kuliner kini dalam acara-acara yang diselengmenjadi menarik dan dirindukan garakan masyarakat desa khusukembali. Kuliner-kuliner khas nya di Sila, Bima. masyarakat di perdesaan seperti Begitu pula penggunaan santan di Bima sangatlah sederhana, dalam kuliner khas Bima tidak namun terbilang sebagai maka- digunakan secara berlebihan nan yang sehat karena memakai melainkan hanya secukupnya bahan dan bumbu dari apa yang saja, seperti dalam kuliner yang ada di sekitarnya. Begitu pula disebut mange mada. Kuliner ini dengan cara mengolahnya. terbuat dari jantung pisang yang Sangat banyak kuliner tra- direbus lalu dipotong-potong
kemudian diberikan santan kelapa secukupnya. “Tapi santan kelapa tersebut tidak dimasak, melainkan perasan santan menggunakan air matang yang langsung dicampur dengan jantung pisang yang sudah dipotong-potong tadi dan bumbu iris,” katanya. Bumbunya berupa bawang, tomat dan Lombok, hanya diiris kecil-kecil tanpa dimasak. Bumbu pelengkapnya ditaburi dengan kelapa sangrai. Begitu pula dengan palmara yang terbuat dari ikan bandeng. Seluruh bumbu dipotong dan iris saja, tanpa digoreng melainkan langsung dimasukan dalam kuah masakan. Selain tidak menggunakan minyak goreng, menurut Hj. Halimah masakan Bima yang
Bahan dan bumbu palmara dimasak tanpa minyak goreng
asli juga cenderung asam. “Banyak menggunakan asam atau setidaknya terasa asam,” katanya. Sayur asam dari berbagai jenis sayur juga menjadi kekhasan masakan Bima. Sayur menjadi menu utama bagi masyarakat Bima khususnya yang tinggal di perdesaan. Dalam masyarakat Bima yang asli, terutama tempo dulu seperti pengalaman Hj. Halimah dan Hj. Itam, keduanya koki tradisional yang telah puluhan tahun dipercaya masyarakat Desa Rato untuk memimpin kegiatan memasak di Palmara dimasak tanpa minyak goreng desa tersebut, menu
utama orang Bima adalah sayur. Dalam setiap kesempatan makan, sayur wajib ada. Bahkan bisa dikatakan, lebih baik tidak ada ikan dari pada tidak ada sayuran. Jadi sayuran adalah menu utama dalam sajian makanan orang Bima. Sayur dalam bahasa Bima kerap disebut sebagai Uta Mbeca. Arti sebenarnya dari dua kata ini adalah uta berarti ikan dan mbeca berarti basah. Pentingnya sayur dalam sajian masakan orang Bima, sayur pun disebut sebagai ikan. Kekhasan lainnya dalam makanan orang Bima yang tinggal di perdesaan, adalah kebanyakan basah (nasi disiram dengan kuah sayur). -Naniek I. Taufan
22
Sosialita
Edisi 874/ 9 - 15 November 2015
Pinjam Uang dan Bayar Listrik pakai Sampah Wajah Suparmi, warga Kampung Beting, Jakarta Utara, tampak cerah. Tak henti-hentinya dia menebar senyum kepada para tetangga yang ditemuinya. Keceriaan Suparmi bukannya tanpa alasan. Hari itu dia mendapat sejumlah uang yang lumayan dalam kegiatannya mengelola sampah.
Nanang Suwandi
“U
ang ini lumayan besar, bisa untuk bayar listrik juga bantu keperluan rumah tangga,” ungkap Suparmi yang sudah lima tahun bergabung dalam bank sampah di daerahnya. Sejak lama kawasan Kampung Beting, Semper Barat, Jakarta Utara, dikenal dengan keaktifan warganya dalam mengelola sampah. Kawasan padat penduduk di mana banyak memiliki penghasilan terbatas, sejak lama menekuni kegiatan produktif yakni mengelola sampah lingkungan. Hasilnya, tambahan pendapatan yang lumayan itu bisa dipergunakan untuk membantu membayar keperluan rumah tangga. Lebih dari itu, lingkungan Kampung Beting menjadi bersih dari sampah. Adalah Nanang Suwandi, tokoh dibalik berdirinya bank sampah yang berada di Kampung Beting itu. Bank sampah yang diberi nama ‘Karya Peduli’
ini didirikan sejak 2010 dan menjadi pelopor dari keberadaan bank sampah di Jakarta. Pria juga menjabat sebagai Ketua RW ini mengaku dirinya menggagas berdirinya bank sampah lantaran prihatin masalah sampah di daerahnya. “Akhirnya muncul ide mendirikan bank sampah. Merealisasikan bank berdirinya bank sampah pada masa itu bukan hal mudah. Namun, dengan berbagai kendala yang menghadang dan kerja keras dari kami akhirnya bank sampah ini bisa berdiri,” ungkap Nanang Suwandi. Bank sampah ini, bukan sekadar membuat lingkungannya bersih dari sampah namun juga memberi keun-
Tumpukan sampah di Bantar Gebang Bekasi
tungan pada warga anggotanya secara ekonomis. Ada sejumlah program yang dijalankan, di antaranya program pemberdayaan ekonomi dengan memberikan pinjaman tanpa anggunan tanpa bunga yang dibayarkan dengan sampah, alias pinjam uang dibayar sampah. Bank sampah Karya Peduli ini juga melayani pembayaran rekening listrik dengan memotong langsung saldo tabungan sampah nasabah. Saat ini anggota bank sampah Karya Peduli sudah mencapai 1.000 warga. Para anggotanya boleh bangga karena bank sampah Karya Peduli bukan hanya telah meraih berbagai penghargaan serta menjadi percontohan nasional tapi juga dikenal di luar negeri. Sejumlah pers asing pernah meliput kegiatan bank sampah ini, juga para pemerhati lingkungan internasional datang berkunjung di antaranya dari Jepang dan Kosta Rika.
Pesatnya perkembangan lantaran masyarakat merasakan keuntungan langsung dari keberadaan bank sampah. Meski namanya bank sampah namun bukan berarti pengelolaannya dilakukan secara sembarangan. Menurut Nanang, pengelolaan bank sampah ini dilakukan secara rapi. Misalnya, nasabah diberi buku tabungan sehingga penyetoran mereka tercatat rapi. TERBIASA MEMILAH SAMPAH Untuk menyulap sampah menjadi uang tentunya bukan pekerjaan sembarangan. Sampah yang disetorkan, khususnya yang akan didaur ulang menjadi produk tertentu, haruslah rapi. Misalnya, bekas kemasan tersebut sudah dicuci dan dipotong rapi. Nantinya kemasan ini akan dijadikan tas, dompet, tempat tisu, dll. Minimal penyetoran 1 kg.
Nanang berharap keberadaan bank sampah yang dikelola oleh masyarakat mendapat penguatan dari pemerintah, antara lain dengan membuka pasar bagi produk daur ulang sampah sehingga produksi masyarakat ini dapat terserap pasar. Dengan begitu masyarakat menjadi lebih bersemangat menjalankan aktivitasnya. Begitu juga dengan kompos yang berasal dari sampah organik. “Bank sampah merupakan solusi alternatif dalam pengelolaan sampah. Partisipasi perusahaan melalui program CSR dirasa sangat membantu guna memajukan pengelolaan bank sampah,” kata Nanang . Kepala Dinas Kebersihan DKI Isnawa Adji menyebut pihaknya saat ini sedang menggalakkan penanganan sampah non-organik melalui pendirian bank sampah di RT dan RW. “Jika masing-masing RW di Jakarta berdiri satu unit bank sampah itu berarti akan ada 2700 bank sampah. Makin banyaknya bank sampah akan makin mengurangi beban tempat pembuangan sampah di Bantar Gebang,” ujarnya. Saat ini, kata Isnawa, ada 234 titik bank sampah, diharapkan ke depannya jumlah itu akan terus bertambah. Dengan begitu, akan semakin banyak sampah non-organik yang bisa ditangani yang juga berarti akan mengurangi beban TPA. Di sisi lain, warga juga selain lebih peduli pada masalah sampah juga mendapat penghasilan dari kegiatannya memilah sampah. “Melalui bank sampah, warga akan menjadi terbiasa memilah sampah untuk ditabung,” ujarnya. –Diana Runtu
Edisi 874/ 9 - 15 November 2015
Bintang Puspayoga
Tampil Beda
Setahun menjalankan tugasnya sebagai istri Menteri Koperasi dan UKM di era pemerintahan Jokowi – JK pada Kabinet Kerja, ternyata sosok yang satu ini tetap menjadi bintang di berbagai kegiatan. Bahkan yang menarik , sosok perempuan energik ini ketika bertugas dikenal memiliki gaya tersendiri. Lantas, apa sebenarnya yang telah dilakukannya?
ketika di Bali, perempuan multitalenta ini juga istri Wakil Gubernur Bali periode 2008-2013, dan sebelumnya , sebagai istri Wali Kota Denpasar selama dua periode. Selama setahun ini, istri menteri yang satu ini punya ritme atau gaya kerja yang berbeda. Terhadap tugasnya kini, Bintang Puspayoya memilih melakukan kerja riil atau kongkrit. Seperti, ketika bertugas ke daerah, turun dari pesawat, Bintang Puspayoga, lebih sering beda haluan dengan suami. “Bapak menuju acara seremonial atau undangan lainnya, dan saya bersama istri gubernur , atau kepala bidang UKM bersama istri Kadis Koperasi lebih senang langsung meluncur melihat kondisi UKM setempat,” tutur lulusan S2 Kajian Budaya Unud ini. Ketika turun ke daerah, dengan sambutan yang sederhana, dan tanpa jarak menjadikan langkahnya lebih mudah. “Komunikasi yang terbuka juga semakin memudahkan menjawab permasalahan yang ada. Selanjutnya bagi UKM bisa lebih meningkatkan kualitas dan produksinya,” tutur penyuka kopi ini. “Catatan penting kami adalah harus melakukan kegiatan bukan
3
Bintang Puspayoga dan keluarga
tal, yang dapat mengubah pola pikir dan memberdayakan masyarakat agar memiliki modal hidup mandiri, produktif, kreatif, dan berkarakter,” tutur mantan atlet tenis meja tahun 1980-an ini. Selain itu sebagai istri Menteri Koperasi dan UMKM, secara fungsional Bintang mesti juga ber-
kondisi saat ini. Dalam proses kerjanya ia menyatakan mengupayakan bersi nergi dengan kementerian terkait. Meminimalkan tumpang tindihnya program di samping mengefisienkan dana keluar, sebab Dekranas juga organisasi nirlaba yang menggali dana sendiri.
Sampah 6.700 Ton Mau Dibawa Kemana? Akhir-akhir ini Pemda DKI Jakarta sedang berseteru dengan Bekasi terkait masalah tempat pembuangan sampah terpadu di Bantar Gebang, Bekasi, tempat yang menjadi tempat pembuangan akhir (TPA) sampah Jakarta. Persoalan ini cukup membuat Pemda DKI Jakarta ‘kalang kabut’. Sampah Jakarta yang dihuni oleh 9 juta jiwa ini, sekitar 6.700 ton. Sampah sebanyak itu hampir semuanya ‘disetorkan’ ke Bantar Gebang, Bekasi. Akibat kasus ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengalami kerugian sekitar Rp 1,2 triliun. “Angkat sampah ke darat, dia minta tambahan Rp 400 miliar, sewa mobil sampah Rp 400 miliar, dan untuk membuangnya ke Bantar Gebang, ke tanah kami, Rp 400 miliar melayang,” ucap Ahok. Jakarta yang luasnya 661,52 km2, hampir tidak ada
lagi lahan kosong yang bisa untuk pembuangan sampah. Pemda Jakarta bukannya tidak mencari solusi dengan mendekati Pemda lain yang berada di perbatasan Jakarta. Namun tentu saja Pemda lain pun tak mau begitu saja memberi lahannya karena mereka pun mengaku sekarang tengah bergelut dengan masalah sampah di daerahnya. Kota Tangerang misalnya, hanya bisa menyampaikan rasa prihatinnya kepada masalah Pemda DKI Jakarta, namun tidak bisa memberikan lahannya untuk menampung sampah Jakarta lantaran juga tengah kerepotan dengan sampah-sampai Kota Tangerang yang kian hari volumenya kian bertambah. Rumitnya persoalan sampah ini makin bertambah karena adanya sekelompok orang yang penghadangan truk sampah Pemda DKI Jakarta ketika akan membuang sampah di
Bantar Gebang. Karenanya mau tidak mau selain Jakarta harus berupaya mencari lahan baru untuk TPA, juga lebih mempergiat pendirian bank sampah. Kasus Bantar Gebang ini punya potensi untuk membesar bahkan ‘mematikan’. Pemda DKI Jakarta berencana memutus kontrak dengan pengelola swasta yang selama ini mengelola sampah di Bantar Gebang. Pemutusan kontrak ini bisa berujung ke masalah hukum lantaran pengelola swasta tersebut baru berakhir masa kontrak pengelolaannya pada tahun 2023. Jika terjadi pemutusan kontrak ini maka lahan Bantar Gebang yang selama ini menjadi andalan Jakarta kemungkinan akan ditutup karena menjadi objek sengketa. Lalu kemana Jakarta akan membuang 6.700 ton sampahnya per hari? –Diana Runtu
Pembukaan pameran songket di Kota Sawah Lunto
Acara syukuran HUT ke-35 Dekranas
untuk pribadi melainkan yang memang dapat dirasakan masyarakat banyak,” imbuhnya.
Hidup lebih Termotivasi berkat Easy Shopping Raut kegembiraan terpancar dari wajah Plasidius Nuba Atamaran (66 tahun) yang berhasil meraih hadiah kedua Easy Shopping senilai Rp 30 juta. Pria yang berasal dari Flores Timur, NTT ini merupakan pemenang hadiah Easy Shopping pertama yang berasal dari wilayah Indonesia Timur. “Kalau kata pepatah dari Amerika, Easy Shopping makes my day! Hidup saya lebih termotivasi dan bersemangat untuk terus melangkah ke depan berkat Easy Shopping,” ujar Plasidius kepada awak media. Plasidius mengatakan dirinya mengenal Easy Shopping dari koran. Dirinya merasa yakin bahwa promosi Easy Shopping memang benar dan produk-produknya sangat bermanfaat. “Ada beberapa produk yang sangat menguntungkan, yaitu lampu belajar dan radio karena listrik sering mati di daerah kami,” ungkap Plasidius. Kegembiraan yang sama juga dirasakan oleh Welly Winarni (68 tahun) dari Surabaya, JawaTimur yang diundang oleh manajemen Easy Shopping ke Jakarta untuk penyerahan hadiah pertama senilai Rp 100 juta. Ia sangat senang mendapatkan hadiah dari Easy Shopping. “Saya belanja alat rumah tangga, obat-obatan dan vitamin yang terdapat dalam katalog Easy Shopping. Setiap kali catalog datang ke rumah, saya tak pernah lewatkan untuk baca dan sesuaikan dengan kebutuhan belanja saat itu. Pernah cucu saya minta dibelikan jam tangan, ya saya belikan,” ungkapnya. Welly percaya dengan system belanja yang ditawarkan Easy Shopping dan hadiah yang ia dapatkan rencananya akan dibagi-bagi untuk kebutuhan anak maupun cucunya. “Ada yang mau untuk sekolah, keperluan sehari-hari, macam-macamlah, ambil
saja hadiahnya,” ujar Welly. Satu lagi pemenang yang sangat bersyukur mendapatkan hadiah dari Easy Shopping adalah Chaeruman (42 tahun) asal Magetan, JawaTimur. Ia mendapatkan hadiah utama Easy Shopping senilai Rp 399 juta. “Rencananya hadiah ini akan saya pergunakan untuk pendidikan anak dan umroh sekeluarga. Saya sangat loyal menjadi pelanggan Easy Shopping sejak dulu karena sistem belanjanya yang sangat mudah dan praktis. Kita tinggal pesan barang melalui surat, lalu tinggal menunggu barang diterima paling lama 1 minggu lewat pos,” kata Chaeruman. Ketiga pemenang Easy Shopping memiliki harapan sama agar bisnis ini dapat berkembang
lebih pesat, sehingga dapat melayani pelanggan dari seluruh Indonesia dengan kemudahan berbelanja yang ditawarkan. Suasana kegembiraan sangat terlihat selama acara penganugerahan pemenang hadiah promosi Easy Shopping yang berlangsung Jumat (30/10) di rumah makan Seribu Rasa Menteng, Jakarta Pusat. Acara disaksikan oleh tamu undangan yang hadir, antara lain Chintami Atmanagara, BethariaSonata dan Yati Surachman selaku brand ambassador Easy Shopping, Ketua Komite Penghargaan Pelanggan Easy Shopping, serta media partner. Acara yang sudah biasa digelar 3 bulanan ini merupakan bentuk apresiasi atas loyalitas pelanggan yang berbelanja selama periode promosi.
Sebagai perusahaan catalog base mail order pertama di Indonesia, PT. Karisma Bahana Gemilang melalui brand Easy Shopping telah hadir melayani pelanggan dari seluruh wilayah Indonesia selama 2 tahun terakhir dan tumbuh begitu pesat karena menawarkan beberapa keunggulan yang tidak dimiliki oleh bisnis retail lainnya, antara lain berbelanja lebih praktis dan nyaman; varian produknya unik dan menarik, kesempatan mendapatkan hadiah ratusan juta, serta bebas risiko dan ada garansi 100% uang kembali jika pelanggan merasa tidak puas. Sistem penjualan langsung melalui catalog ini dapat menjangkau konsumen yang tersebar di Indonesia hingga pelosok daerah yang masih awam dengan internet, belum mempunyai kartu kredit atau bahkan belum terbiasa bertransaksi menggunakan kartu debit. Easy Shopping berkomitmen untuk senantiasa meningkatkan kualitas pelayanan terhadap pelanggan dengan mendirikan kantor pelayanan pelanggan, website resmi perusahaan dan 2 call center yang sudah beroperasi. Bagi Anda yang belum menjadi pelanggan dan ingin mendapatkan hadiah ratusan juta rupiah pada periode promosi berikutnya, jangan ragu lagi karena kesempatan menang masih terbuka lebar! Cukup daftarkan diri melalui call center atau kirimkan kupon yang tertera pada iklan di media cetak ke PO BOX 6688 Slipi Jakarta Barat 11410. “Untuk informasi lebih lanjut, hubungi: 0804-140-1028. Sekali lagi, selamat kepada para pemenang,” ujar Aero W., Departemen Media Marketing. PT. Karisma Bahana Gemilang.
T
Pembukaan pameran kriya sulam
anggung jawabnya sebagai pendamping A.A. Gede Ngurah Puspayoga, sebagai pejabat negara bukan hanya mengharuskan Ny. Bintang Puspayoga menetap di Jakarta tapi juga siap dengan tugas barunya.“Ketika bicara sebagai istri menteri, pasti tugasnya mendampingi suami dalam menjalan tugasnya termasuk ketika bertandang ke daerah ,” paparnya
beberapa waktu lalu di rumah jabatan di Jalan Widya Chandra III No 12A, Jakarta Selatan. Bintang Puspayoga sadar, di tahun pertama memikul tugas sebagai istri menteri, langkahnya dimulai dengan membangun fondasi. Menggali peluang dan kendala yang ada, berkaitan dengan tupoksi suaminya. Namun, terbiasa sebagai orang lapangan sejak dulu, menjadikannya lebih mudah beraktivitas. Apalagi,
ORGANISASI DAN KERJA Sebagai istri menteri juga, mengharuskan ibu A.A. Abiyoga ini bergabung di Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Kerja (OASE) KK. OASE-Kabinet Kerja. Sebuah perkumpulan para pendamping menteri dan unsur eksekutif lain, mewadahi rangkaian program yang mendukung tercapainya Nawacita Presiden Jokowi. Mulai dari bidang pendidikan karakter, peningkatan kualitas keluarga hingga sosial budaya. “Untuk kegiatan ,porsi kami sesuai dengan tupoksi tugas pendampingan suami, yakni menangani bidang peningkatan kualitas keluarga,” katanya. “Kami diantaranya menangani program pemberdayaan ekonomi keluarga, ada UKM, mengingkatkan keterampilan ibu-ibu demi penciptaan ekonomi kreatif. Juga ada pelatihan pengelolaan keuangan keluarga dan program kesehatan ibu anak serta program nasional pencegahan dan deteksi dini kanker. Semua sesuai tujuan mendukung gerakan bertemakan revolusi men-
DWP Kementerian Koperasi dan UMKM bersama TNI melakukan khitanan massal
Gerak jalan serangkian HUT Koperasi bersama masyarakat Kupang
gabung di Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas). Menariknya lagi tiga bulan setelah dilantik sebagai salah satu pengurus Dekranas, Bintang juga terpilih sebagai Ketua Panita HUT ke-35 Dekranas, bersamaan dengan Pameran Produk Kerajinan dari berbagai daerah dan Munas. “Dalam Munas kami membahas penyempurnaan AD dan ART, disesuaikan dengan perkembangan
Sebagai Ketua Bidang Manajemen Usaha, kegiatannya lebih banyak menangani bidang pelatihan seperti pelatihan kewirausahaan, pelatihan manajemen, peningkatan SDM. “Sebab, saat ini banyak pengrajin pemula belum bisa mengurus usahanya, belum paham tentang konsep hulu ke hilir, misalnya bahan bakunya berapa, bagaimana tingkat produksinya dan berapa harga jualnya. Hal inilah yang lebih awal kami berikan pelatihannya, agar ke depannya mereka bisa profesional,” paparnya. Selanjutnya untuk posisi penasihat pada Dharma Wanita Persatuan (DWP) di wilayah Kementerian Koperasi dan UKM, Bintang Puspayoga menekankan untuk bergerak sesuai visi-misi, yakni menyejahterakan anggota dan keluarganya. “Prioritas kami adalah keluarga di kementerian yang memiliki anggota cukup banyak. Seperti mendata kondisi para pensiunan dan seterusnya, setelah di intern beres, barulah berlanjut dengan langkah ber ikutnya,” tandasnya. – Sri Ardhini
4
Inspirasi
Edisi 874/ 9 - 15 November 2015
Made Ngurah Bagiana
Eksis dengan Edam Made Ngurah Bagiana tak pernah menyangka kalau dirinya menderita kanker. Karena itu pernyataan dokter yang menyebutnya menderita kanker berstadium lanjut sungguh memukulnya. Pengusaha burger ‘Edam’ ini mengaku sempat down, apalagi kalau memikirkan keluarganya juga nasib dari banyak orang yang menggantungkan kehidupan pada usaha ‘Edam’.
T
api Made tak mau berlama-lama dalam keterpurukan, dan ia berjuang melawan penyakit mematikan itu. Lewat pengobatan kanker yang dijalaninya secara intensif selsama setahun, ditambah semangat hidupnya yang tinggi serta dukungan yang besar dari keluarga, penyakit kanker getah bening itu bisa dikalahkan. “Dokter mengatakan kanker saya sudah bersih. Dan sekarang saya dalam masa pemulihan. Kini saya tinggal menjalani kontrol rutin dan menjaga kesehatan saja,” ungkap Made Ngurah Bagiana yang saat bertemu Tokoh di ‘Edam Cafe’, kawasan Klender, Jakarta Timur, didampingi istri tercinta, Made Arsani Dewi. Beda dengan setahun lalu, maka penampilan Made kali ini jauh lebih segar. Selain tubuhnya agak lebih kurus, tak terlihat tanda-tanda lain kalau dia sempat kritis karena kanker. “Pak Made menjalani pengobatan di Indonesia, ternyata bisa sembuh. Jadi siapa bilang kalau pengobatan di Indonesia tidak semaju di luar negeri. Memang, tadinya kami sempat berpikir untuk berobat ke luar negeri. Namun ketika niatan itu kami sampaikan kepada dokter, beliau mengatakan, pengobatan di Indonesia sudah maju, tidak kalah dengan luar negeri. Dan memang terbukti, hasilnya bagus. Bagi saya, ini juga merupakan inspirasi bagi penderita kanker yang lain bahwa dokter-dokter di Indonesia tidak kalah hebat dari dokter luar,” ungkap Arsani Dewi semangat. Berbicara tentang bisnis burger yang sempat dia tinggalkan selama setahun karena sakit, Made mengaku tidak masalah karena sebelum sakit pun dia telah mulai melepaskan satu demi satu pekerjaan yang dulu ditanganinya. Dia mengaku ingin regenerasi dan memberi kesempatan kepada anak-anaknya juga yang lain untuk mulai mengambil alih bisnis ini. “Selama berpuluh tahun Edam berdiri, saya yang menanganinya langsung semuanya. Sekarang saya mulai
Made Ngurah Bagiana
melepas satu demi satu pekerjaan ini. Anak saya sudah 26 tahun, dan dia mulai mengambil alih, begitu juga orang lain yang terlibat di dalamnya. Saya punya pengalaman melihat banyak pengusaha yang tidak melakukan regenerasi dalam kepemimpinan usahanya, maka ketika dia sudah tidak ada, usahanya pun ikut menghilang. Saya banyak melihat itu di Bali. Saya berpendapat, tidak adanya regenerasi karena tidak adanya kepercayaan, juga tidak mau memberi kesempatan pada yang lain. Saya tidak mau begitu. Itu sebabnya, sejak sebelum sakit bahkan kemudian sakit, saya secara perlahan sudah mulai melepaskan kendali,” ungkap pria kelahiran Singaraja 12 April 1956 ini. Bisnis burger ini sudah 26 tahun ditekuni Made. Awalnya sebagai pria perantau di Ibukota negara, Jakarta, berbagai jenis pekerjaan dia lakoni demi bisa survive. Dari bekerja serabutan sampai pernah sukses berbisnis kontraktor dan angkutan, namun akhirnya semua kandas dan dia pun jatuh miskin. Saat terpuruk, ada orang yang ingin menjual empat gerobak makanan yang dimilikinya, Made pun langsung membeli. “Namun saya hanya membeli dua gerobak, harganya Rp 1,5 juta. Uang pembelian saya pinjam dari teman. Dan mulailah saya berkeliling kampung menjual burger. Ketika itu tahun
90-an. Awalnya banyak orang tidak berani mendekat karena mengira, harga burger mahal. Tapi ternyata tidak, ” cerita Made. Tahun 1998, merk burger pun berganti menjadi ‘Edam’. Menurut Made, nama itu pemberian pengusaha kondang alm Bob Sadino. Bahkan ‘Om Bob’ pula lah yang menciptakan formula khusus untuk daging yang digunakan Made. Entah karena namanya atau karena formula khusus yang dibuat ‘Om Bob’, namun sejak itu usaha burger Edam berkembang pesat. Tentunya ini semua tak lepas dari kerja keras dan ketekunan Made yang didukung istrinya untuk berjuang keras mengembangkan usaha ini. Dan Made yang memulai usahanya dari ‘Nol’ tidak melupakan tentang masa lalunya sebagai ‘wong cilik’ yang berjuang hidup di Jakarta. Karena itu, dia pun menggandeng banyak kalangan tak mampu untuk menjadi wirausaha. Modal tak perlu banyak, asal ada kemauan dan ketekunan, bisnis kuliner ini bisa berjalan. “Dengan modal tidak besar, orang sudah bisa berjualan. Saya siapkan beralatannya, boleh dicicil, bahkan ada juga yang minta untuk mengutangkarena tidak memiliki uang. Bagi saya tidak masalah, asalkan orang itu memang ingin berusaha. Dan nyatanya banyak dari mereka itu berhasil dalam usaha burgernya, dan mengembalikan pinjamannya ke saya. Saya bersyukur karena setidaknya lewat usaha saya, orang lain bisa terbantu,” ungkap Made. EMPAT JURUS JITU DALAM BISNIS Dan kini, 26 tahun telah berlalu sejak ia memulai usaha ini. Made menuturkan ia sangat bersyukur bisa mempertahankan dan mengembangkan usahanya hingga seperti sekarang. Saat ini setidaknya ada ribuan outlet burger ‘Edam’ diseluruh Indonesia dan puluhan distributor yang menyebar, khususnya di kota-kota besar. Persaingan bisnis burger, ungkapnya, sangat ketat pun di level kelas bawah. Karena itu agar bisa bertahan ia harus
Mandalika
21
Edisi 874/ 9 - 15 November 2015
“Lingkungan Sehat, Anak Cerdas”
Dalam melakukan monitoring dan evaluasi yang terkait dengan proses belajar mengajar dan administrasi pendidikan pada PAUD, khususnya di PAUD Kencana Ungu Dusun Kangi di Lombok Tengah, Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi NTB, Hj. Erica Zainul Majdi beserta jajarannya melakukan kunjungan kerja dengan mendatangi langsung PAUD yang berada di Desa Penujak Kecamatan Praya Barat Lombok Tengah tersebut.
A
Made Ngurah Bagiana dan istrinya Made Arsani Dewi dan sejumlah produk burger andalan Edam
menjalankan strategi jitu. Ada empat resep jitu yang selama ini dijalankannya dan terbukti membawa hasil baik, yakni, kemampuan mempertahankan kualitas produk, pelayanan yang baik kepada konsumen, inovasi produk, juga strategi harga. “Keempat resep jitu ini terbukti bisa membuat Edam tetap bertahan selama 26 tahun. Dan tentunya, yang tak boleh dilupakan adakan kemauan untuk bekerja keras dan terus maju,” ujarnya. Ada hal menarik dari Made terkait menjalankan bisnis ini. Yakni, ia mengaku selama puluhan tahun menjalankan bisnis burger, dia tidak pernah memiliki tim marketing khusus. Padahal seperti yang kita tahu, bisnis tanpa marketing nyaris mustahil. Namun pria kelahiran Singaraja ini ternyata punya penjelasannya. Menurut Made, ia memang tidak memiliki tim marketing sebagaimana yang lazim berlaku disebuah perusahaan, namun bukan berarti perkembangan usahanya itu tidak didukung strategi marketing. Asal tahu saja, kata Made, ‘tim marketing’ nya itu adalah para pedagang yang selama ini menjadi konsumen setia dari Edam. Mereka ini yang karena kesuksesan usahanya menyebarkan kepada orang lain tentang bisnis burger Edam. Walhasil ‘marketing getok tular’ pun menyebar dan mendatangkan konsumenkonsumen baru. “Mereka yang sudah merasakan keuntungan bisnis ini kemudian menyebarkannya kepada yang lain, itu sebabnya konsumen Edam terus tumbuh,” katanya. Saat ini, tambahnya, boleh dibilang 90% konsumen ‘Edam’ adalah para pedagang, sedang 10% nya lagi adalah orang biasa alias bukan pedagang. Para pedagang ini, mulai dari para pedagang gerobak burger yang keliling dari kampung ke kampung, outlet di mal-mal hingga perkantoran, juga di restoran. Jadi boleh dibilang, sekalipun dirinya menetapkan segmen Edam adalah masyarakat kalangan bawah, faktanya adalah Edam telah masuk ke segala kalangan.
MISI SOSIAL
Made mengaku bergembira karena bisnisnya bukan hanya berkembang tapi fungsi sosial yang menjadi misinya telah berjalan dengan baik. Pasalnya, lewat bisnis ini sudah banyak orang yang terbantu. Mereka yang tadinya tidak memiliki penghasilan atau kalangan bawah yang terbatas penghasilannya, akhirnya bisa survive lewat bisnis burger. Yang perlu diingat, tegas Made, bisnis kuliner itu tidak akan mati sekalipun situasi ekonomi sedang sulit. Bahkan dalam berbagai pengalaman, sudah terbukti bisnis kuliner bisa survive dibanding bisnis lainnya. Dan yang menarik, katanya, keuntungan binis kuliner itu mencapai 100% bahkan bisa lebih. Semakin baik jika kuantiti yang terjual semakin banyak. “Selama orang hidup pasti membutuhkan makan. Harga burger yang relatif murah membuat orang tetap mengkonsumsinya. Satu hal yang saya tetap pegang teguh adalah tidak mengurangi mutu produk apapun keadaannya. Misalnya seperti sekarang, ketika harga material pembuatan burger mengalami kenaikan sekitar 15%, saya pun tidak menaikkan harga ataupun mengurangi mutu. Kualitas produk tetap sama dan ini yang harus dijaga. Paling yang berkurang hanya keuntungan saya yang menjadi 85%, tapi saya kira keuntungan 85% sudah cukup banyak, kan?” Banyak yang memuji produk Edam bahkan ada juga yang menyarankan untuk menaikkan segmen ke kelas menengah atas. Hal ini dikarenakan burgernya dinilai mampu bersaing dengan produk burger lain. Namun Made menolak karena merasa ada misi sosial yang diembannya dalam bisnis ini. “Saran itu baik, tapi sejak awal saya sudah menetapkan segmen pasar. Dan lebih dari itu bisnis ini bukan sekadar bisnis biasa tapi memiliki misi menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat kalangan bawah. Karena itu saya tetap bertahan di segmen ini. Lagi pula kalau mau ditinjau dari sisi bisnis, justru lahan pasar di segmen bawah lebih terbuka luas dibanding di segmen menengah atas,” ucap Made. -Diana Runtu
Ketua TP PKK NTB, Hj. Erica Zainul Majdi, bersama guru PAUD
presiasi diberikan Hj. Erica terhadap proses belajar mengajar yang diselenggarakan selama ini, meski diakui masih terdapat kekurangan. Untuk meningkatkan kualitas PAUD, diharapkan agar PAUD dapat bekerja sama dengan berbagai pihak terutama stakeholder terkait, seperti Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga, Dinas Kesehatan dan Dinas Peternakan. Dan yang lebih utama menurutnya adalah melibatkan masyarakat sekitar. “Libatkan stakeholder terkait untuk meningkatkan kualitas pendidikan PAUD,” katanya. Dalam proses berjalannya aktivitas PAUD, Hj. Erica meng-
Anak-anak PAUD Kencana Ungu, dalam tarian selamat datang
ingatkan bahwa tidak hanya penyelenggaraan pendidikannya yang penting, melainkan juga harus menjaga lingkungan belajar tersebut. Menurutnya, lingkungan yang bersih dan sehat akan memberikan kenyamanan bagi peserta didik. Di samping itu, anak cerdas dan sehat tercipta dari lingkungan yang sehat. Jika lingkungannya sehat, anak cerdas,” ungkapnya ketika memberi sambutan.
Bunda PAUD NTB juga memberikan motivasi dan dukungan kepada para pendidik yang mengabdi di PAUD tersebut. “Terus bersemangat menjalankan tugas. Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermakna atau bermanfaat buat orang lain,” katanya. Dalam kunjungan kerja tersebut, Hj. Erica diterima oleh Ketua TP. PKK Kabupaten Lombok Tengah, Hj. Baiq Irma Budiani Suhaili FT. -Naniek I. Taufan
Prioritaskan Pembangunan Infrastruktur Sejumlah perwakilan kepala desa, lurah dan camat dari empat Kabupaten se-Pulau Lombok, berkesempatan bertemu dan melakukan dialog langsung dengan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi RI, Marwan Jafar yang didampingi oleh Gubernur Nusa Tenggara Barat, Dr. TGH. M. Zainul Majdi, Sekretaris Daerah Prov. NTB, H. Muhammad Nur, S.H., M.H, serta sejumlah kepala SKPD lingkup Pemerintah Provinsi NTB, beberapa waktu lalu di Ruang Rapat Utama Kantor Gubernur NTB. Sebelumnya untuk dapat melakukan pengelolaan dana desa ini dengan baik dan benar demi berjalan lancarnya pembangunan di desa, Pemerintah Provinsi NTB telah berinisiatif mengumpulkan kepala desa seNTB untuk diberikan pembekalan, guna peningkatan kapasitas kemampuan dalam pengelolaan dana desa. Menurut Gubernur NTB, untuk tahun 2015 ini dana desa di Provinsi NTB sebagian besar dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur di desa. Hal ini mungkin mencerminkan bahwa wilayah tengah Indonesia, termasuk Provinsi Nusa Tenggara Barat, masih punya PR yang banyak untuk penaataan dan pembenahan infrastruktur di tingkat desa dan dusun. Namun di tahun 2016 mendatang, Gubernur berharap alokasi dana desa untuk NTB dapat ditambah, seiring meningkatnya
alokasi dana APBN 2016. Gubernur NTB juga sempat menyampaikan rasa pesimisnya akan maksimalnya realisasi dana desa di NTB, mengingat untuk tahun 2015, kurun waktu yang tersisa sangat sedikit, sehingga agak sulit diharapkan realisasi penyaluran dana ke desa bisa 100%. Namun demikian hal itu dapat dimaklumi, karena tahun ini merupakan tahun pertama dijalankannya amanat Undang-undang No. 6 tahun 2014 tentang desa. “Jadi, pasti ada kendala dan hambatan di lapangan,” ungkap gubernur. Dalam menyukseskan pengelolaan dana desa ini gubernur menjelaskan, walaupun dana desa langsung masuk dari pemerintah pusat ke rekening pemerintah kabupaten/kota, dan dilanjutkan ke rekening desa, namun Pemerintah Provinsi NTB juga tetap berusaha mengambil peran dalam melakukan
supervisi serta memastikan agar perangkat pemerintahan di tingkat desa bisa memiliki kompetensi dan pemahaman yang cukup untuk membantu mengatur dan mengelola dana desa yang semakin lama semakin besar jumlahnya itu. Dalam progress implementasi Undang-undang Nomor 6 tahun 2014, diakui Marwan Jafar, tentu banyak ditemukan kendala di lapangan. Hal ini nantinya yang akan menyebabkan sangat mungkinnya mempercepat revisi undang-undang, terlebih setelah melihat dinamika di lapangan, terutama dalam rangka penyaluran dana desa, dimana ditemui banyak kendala, termasuk kendala birokrasi yang paling banyak jadi penyebabnya. Mengingat realisasi penggunaan dana desa di NTB dalam Tahap I yang sudah mencapai 100 %, tahap II yang rata-rata baru menginjak kisaran 52% dan
Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi RI, Marwan Jafar yang didampingi oleh Gubernur Nusa Tenggara Barat, Dr. TGH. M. Zainul Majdi, bersama perwakilan kepala desa, lurah dan camat dari empat Kabupaten se-Pulau Lombok.
Proses pembangunan infrastruktur
tahap III akan segera diluncurkan (dengan syarat tahap dua sudah maksimal digunakan), menteri mengharapkan peran aktif Gubernur, Bupati dan Walikota se-NTB untuk dapat membantu melancarkan proses pencairan dana. “Tentu saja, jika ada kendala, mari didiskusikan secara bersama-sama,” ujarnya. Namun demikian, di tengah kendala yang timbul pada proses pencairan dana desa, menteri sangat optimis bahwa di tahun 2016 mendatang, alokasi dana desa bisa naik dua kali lipat. “Sudah resmi tertera dari pagu-pagu indikatif, sesuai pidato presiden kepada DPR RI, alokasi akan berkisar kurang lebih 47 triliyun untuk tahun 2016. Ini artinya naik dua kali lipat dibanding tahun 2015,” kata Marwan. Salah satu penggunaan dana desa yang diprioritaskan tahun 2015, menurut Marwan adalah untuk pembangunan infrastruktur. Infrastruktur yang dimaksud dijalankan secara padat karya/ tidak dikontraktorkan. Hal ini dimaksudkan agar ada keterlibatan masyarakat setempat secara maksimal (dari pekerja, hingga bahan baku bisa memanfaatkan yang ada di desa),
sehingga perputaran uang bisa benar-benar mampu untuk meningkatkan kesejahteraan desa. Dana desa dialokasikan untuk 3 kriteria, pertama, pembangunan infrastruktur (titik fokus 2015) untuk membangun jalan desa, irigasi desa, air bersih, jembatan sederhana dan lainnya. Kedua, adalah pengembangan ekonomi desa, seperti untuk membuat badan usaha desa, pelelangan ikan, kios desa juga pengembangan UMKM. Dan yang ketiga adalah untuk sarana pelayanan dasar desa seperti poliklinik, posyandu, PAUD dan lainnya. Demi maksimalnya penggunaan dana desa untuk kepentingan masyarakat dan desa, Gubernur NTB berpesan agar dalam penggunaan dana tersebut, kepala desa diminta selalu berpegang pada standar minimal dari pengawasan dan akuntabilitas. “Ciptakan akuntabilitas di tingkat desa, apalagi sekarang sudah banyak model software dan blangko-blangko untuk laporan pertanggung jawaban, agar ke depannya, pemerintah akan menambah kucuran dana bagi desa untuk pembangunan desa tersebut,” katanya. -Naniek I. Taufan
20
Nine
Edisi 874/ 9 - 15 November 2015
d r g. Fa rida Istia rini, Sp. ort .
Bahagia Melihat Penderita Bibir Sumbing Tersenyum
“Bu dokter, saya sudah menikah. Ternyata ada juga yang lirik saya,” ungkap seorang perempuan berusia sekitar 30-an tahun kepada drg. Farida Istiarini, Sp.ort, pada sebuah pertemuan tak terduga di Mataram. Perempuan itu tersenyum. Farida tertegun melihat perempuan itu, sesaat mengamatinya dan langsung mengenalinya dari tanda samar pada sisa jahitan di bibirnya yang terbelah di bawah hidung. Perempuan itu adalah salah satu dari begitu banyak pasien bibir sumbing yang pernah dioperasinya. Farida sungguh terharu dengan pertemuan tersebut terutama atas kabar bahagia yang didengarnya dari perempuan yang dulunya sempat dikucilkan.
R
drg. Farida Istiarini, Sp.ort bersama pasien bibir sumbing
upanya, selama nyaris 30 tahun perempuan desa ini hidup minder dan harus menanggung beban psikologi karena dibully akibat sumbing yang dideritanya sejak lahir. Ia bahkan hampir tidak berani mencita-citakan masa depan yang baik karena kondisinya itu. Baginya, bisa jadi tak mungkin ada seorang lelaki yang mau berbagi hidup dengan bibir sumbingnya. Hingga akhirnya ia bertemu dengan dokter Farida yang membuat ia “hidup” kembali pada sebuah operasi bakti
sosial yang mengantarkannya ke gerbang kebahagiaan. Lewat tangan kasih dokter gigi lulusan Universitas Trisakti tahun 1999 inilah, perempuan ini berani merenda mimpi membangun rumah tangga dengan seorang lelaki yang akhirnya menikahinya, setahun setelah menjalani operasi bibir sumbingnya. Momen melihat pasiennya tersenyum kembali, adalah momen paling membahagiakan dalam hidup dokter Farida. “Sungguh saya sangat bahagia tiap kali melihat mereka tersenyum,” ujar dokter Farida yang ditemui menjelang praktik di klinik barunya Joli Sourire Dental Care di Lombok Epicentrum
adalah keinginan juga melihat anak-anak NTB penderita bibir sumbing dapat merenda cita-cita dan memiliki masa depan. Menurutnya, angka penderita bibir sumbing di NTB sangat tinggi, terutama anak-anak. Anak-anak yang memiliki peluang menjadi pemimpin dan penerus generasi NTB yang menderita bibir sumbing kebanyakan putus sekolah akibat minder dan kerap dibully. “Jika para penderita bibir sumbing, terutama anak-anak, tidak tertangani dengan baik dan sejak dini, bagaimana masa depan mereka dengan segala beban psikologi dan tekanan yang terus mengikuti selama mereka sumbing. Dan ini menjadi pekerjaan rumah kita bersama,” kata dokter Spesialis Orthodontis lulusan Universitas Gajah Mada tahun 2008 ini. Karena itulah sejak pulang ke Lombok tahun 2009, Farida lalu mendedikasikan sebagian waktunya untuk menjadi volunter dalam menangani penderita bibir sumbing ini. Ia ingat ketika masa awal ia dan beberapa rekan dalam timnya melakukan identifikasi dan menemukan penderita bibir sumbing yang kebanyakan berada di desa-desa di Pulau Lombok, perjuangannya terbilang berat. Banyak rintangan khususnya dari masyarakat sekitar penderita bibir sumbing kala itu, yang bisa dikatakan menentang keinginannya bersama tim untuk melaku-
drg. Farida Istiarini, Sp.ort., kebahagiaannya adalah melihat penderita bibir sumbing tersenyum
“Sungguh saya sangat bahagia tiap kali melihat mereka tersenyum” Mall Mataram. Meski usianya masih relatif muda, dokter Farida tidak melulu menghabiskan waktunya di ruang praktik demi mengumpulkan pundipundi uang yang bisa datang tiap waktu bahkan menit, melainkan
Dokter Farida bersama pasiennya yang telah menjalani perawatan, merapikan, dan meratakan gigi di kliniknya
kan operasi bibir sumbing demi membuat anak-anak penderitanya tersenyum. Farida dan timnya bahkan menjemput penderita bibir sumbing ke desa-desa untuk dibawa guna menjalani operasi. “Tidak mudah bagi kami waktu itu. Kami bahkan pernah diusir dari sebuah desa yang terbilang banyak penderita bibir sumbingnya,” kata putri dari H.M. Rapi’i dan Hj. Kurniah ini. Namun Farida tidak pernah menyerah. Hingga akhirnya, setelah mengoperasi lebih dari 1.000 pasien bibir sumbing di NTB, kegiatan sosialnya ini mendapat tanggapan positif dari masyarakat.
Edisi 874/ 9 - 15 November 2015
I d a Ay u M a d e P u r n a m a n i n g s i h
ia kerap meluangkan waktunya untuk bekerja secara sosial. Bersama timnya, ia turun lapangan demi membuat para penderita bibir sumbing di NTB ini tersenyum bahagia. –Naniek I. Taufan
“Kalau dulu kita yang sampai harus menjemput pasien, sekarang karena sering mendengar ada operasi bibir sumbing, pasien yang tidak sempat terdata, bahkan sudah mulai datang sendiri mendaftar,” ujar Farida yang baru kembali dari Belanda dan Inggris memperdalam keahliannya dalam hal menangani bibir sumbing. Bagi Farida yang setelah lulus dari Universitas Trisakti tahun 1999 sempat menjadi dokter PTT di Puskesmas Tanjung Lombok Utara ini hingga tahun 2003, lalu melanjutkan spesialis sampai tahun 2008 di UGM, ilmu dan keahlian yang dimilikinya selalu
membuatnya ingin berbagi meski di tengah kesibukannya yang sangat padat. Meski tiap hari ia menghabiskan waktu bekerja di RSUD Patut Patuh Patju Lombok Barat sebagai Orthodontis dan sore harinya ia melayani pasien di klinik miliknya, ia tidak pernah lupa menyisihkan waktu untuk membantu para penderita bibir sumbing. Sebagai Orthodontis pertama di NTB ketika ia pulang kampung tahun 2009, keahliannya sebagai spesialis merapikan dan meratakan gigi telah banyak dipercaya oleh ribuan pasien yang telah ditanganinya. Ia ahli dalam hal mengembalikan gigi menjadi normal dan proposional kembali karena berbagai faktor penyebabnya. Menurutnya kebutuhan akan estetika gigi ini di NTB sangat tinggi. Kurang rapinya gigi disebabkan oleh faktor masih kurangnya kesadaran masyarakat dalam merawat dan memeriksa gigi secara berkala, padahal itu sangat penting terutama bagi anak-anak. Mengabaikan perawatan pada masa pertumbuhan gigi anak banyak menyebabkan tumbuhnya gigi yang tidak rapi atau bahkan relatif berantakan. Karena itu, ia menyarankan agar para orangtua secara berkala memeriksakan gigi agar tumbuh dengan rapi dan rata. Dengan begitu senyum Indonesia menjadi lebih indah dengan gigi yang rapi. -Naniek I. Taufan
5
Mencari Ilmu Pengetahuan dalam Organisasi Jika disapa, gadis ini pasti menoleh lalu membalasnya dengan tersenyum. Peduli sesama membuatnya selalu sibuk berurusan dengan organisasi. Baik dalam organisasi akademis ataupun di masyarakat. “Saya mulai mengikuti kegiatan organisasi dari awal kuliah di Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar,” kata alumnus Jurusan Penerangan Agama, Fakultas Dharma Duta IHDN Denpasar ini.
Senyum Indonesia Lebih Indah dengan Gigi Rapi Cita-cita terbesar dokter kelahiran 8 Maret 1975 ini adalah melihat NTB bebas sumbing. Cita-cita ini berangkat dari terenyuhnya ia manakala melihat penderita bibir sumbing hidup menanggung beban psikologi akibat lingkungan yang tidak bisa menerimanya dengan baik. Ia terpanggil menangani bibir sumbing karena ingin merubah hidup para penderita bibir sumbing menjadi bahagia. “Mereka tertekan karena dibully bahkan banyak yang dikucilkan dan dijauhkan dari lingkungan serta tidak sedikit yang mengucilkan diri. Dan yang lebih menyedihkan, terutama saat pertama kami turun ke desa-desa, ada penderita bibir sumbing dewasa yang dipasung karena ia dianggap sebagai aib keluarga,” ujar ibu dua anak, Keysha Nasheeta dan Arvyn Ramadhany ini. Ia tidak bisa membayangkan penderita bibir sumbing ini hidup tertekan hingga puluhan tahun bahkan ada yang sampai kakeknenek. “Ada pasien bibir sumbing yang saya operasi berusia 60-70 tahun. Bayangkan bagaimana tersiksa hidup mereka selama puluhan tahun tersebut, karena cacat tersebut dibawa sejak lahir,” kata dokter spesialis merapikan dan meratakan gigi ini. Lebih dari itu, mengapa ia banyak menyiapkan waktu dan tenaga tanpa dibayar dalam kegiatan-kegiatan sosial seperti ini,
Inspirasi
I
da Ayu Made Purnamaningsih demikian namanya. Gadis kelahiran Denpasar, 27 Februari 1993 ini pertama kali aktif menjadi wakil BEM Fakultas Dharma Duta, kemudian Ketua Umum UKM Darma Gita, Koordinator UKM Penalaran, Bendahara UKM Wirausaha, Anggota KMHDI Bali dan Ketua Peradah (Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia) Bali yang dipilih awal Oktober 2015 lalu. “Ada banyak ilmu dalam organisasi itu,” ucapnya tentang banyaknya organisasi yang
diiikuti. Dayu Purnama – demikian panggilannya tak hanya aktif berorganisasi, tetapi juga kreatif sebagai mahasiswa peneliti IHDN Denpasar. Ia juga rajin menulis artikel ataupun mengikuti lomba. Salah satunya sebagai juara I lomba penulis artikel jurnal ilmiah tingkat nasional (2013). “Saya mengangkat judul “Seksualitas Pelajar Hindu pada Masa Brahmacari di Kota Denpasar,” paparnya. Ide itu lahir, jelas gadis kelahiran Denpasar, 27 Februari 1993 ini, karena semakin
merosotnya nilai-nilai, ajaran agama Hindu di kehidupan pelajar Hindu saat ini. Berbagai fenomena terjadi diakibatkan oleh seksualitas pelajar, seperti kasus pemerkosaan, hamil di luar nikah, seks bebas, pernikahan dini, aborsi dan kematian. “Harus ada yang mencari solusi untuk mengurangi terjadinya kasus-kasus akibat seksualitas pelajar,” ujarnya. Dalam Agama Hindu, lanjut mahasiswa Pascasarjana IHDN Denpasar jurusan Ilmu Komunikasi Agama Hindu ini, sangat jelas dipaparkan kalau
Dayu Purnama
pada masa belajar (brahmacari) merupakan masa belajar secara sungguh-sungguh agar menjadi anak yang suputra. “Kuncinya, kita harus menanamkan dalam diri bahwa masa muda adalah masa menuntut ilmu, sehingga menjadi bekal untuk kehidupan,” jelasnya. Beda lagi tulisan karya ilmiahnya yang berjudul tentang
“Implementasi Tri Hita Karana dalam Menciptakan Bali Clean and Green (Studi Kasus Alih Fungsi Lahan di Kota Denpasar)”. Ia membuat karya tulis ini karena mengikuti lomba penulian karya ilmiah tingkat Provinsi Bali 2015. Hasilnya, ia meraih Juara Harapan I. Dayu Purnama yang mengaku telah memiliki calon pasangan hidup itu memiliki tekad kuat untuk ikut melestariakn seni dan budaya Bali. Karenanya, selain aktif melakukan penelitian, ia juga rajin mengikuti lomba-lomba tradisi Bali, diantaranya sebagai Juara Harapan I lomba Dharma Wacana tingkat nasioanl, juara II lomba Kakawin Putri Se-Kota Denpasar, Juara II Phalawakya Putri Se-Kota Denpasar, dan juara Harapan I lomba merangkai janur se-Kabupaten Badung. “Mudah-mudahan semua ini bisa menginspirasi,” tegasnya. -Darsana
Peluncuran Buku Biografi Ajik Cok
Ilmu “LTK” Mengantarkannya Jadi Pengusaha Sukses Lihat, Tiru, Kembangkan, inilah yang menjadi pegangan hidup Gusti Ngurah Anom, pemilik Krisna Holding Company, yang lebih akrab disapa Ajik Cok. Keberhasilannya dalam mengubah hidupnya bukan sekadar sebuah keberuntungan atau mengandalkan modal besar. Pria kelahiran Seririt, Buleleng 5 Maret 1971 ini merintis semuanya lewat kerja keras dan ketekunan. “Dimana pun saya lihat, saya harus tiru, setelah itu saya kembangkan.Seperti, ilmu ‘LTK’ ini saya kembangkan di Bali utara. Setelah mencoba membuka 4 outlet, astungkara semua berjalan lancar. Saya tidak pernah bermimpi, hanya bekerja dan bekerja,” tutur pemilik Pasar Oleh-oleh Krisna ini. Itulah yang dikatakannya sebagai kunci pertama untuk meraih sukses. “Jika mau bekerja tidak mungkin tidak ada hasil. Yang penting bekerja dulu baru melihat hasil. Jika melihat hasil dulu baru bekerja tidak akan berhasil. Yang paling penting adalah kerja keras, komitmen, kejujuran, emosional dikontrol,” imbuhnya. Buku kedua Ajik Cok yang ditulis A. Bobby Pr. ini melengkapi buku terbitan pertama. Dengan tebal 252 halaman, penulis meng-
lis membuatnya menyanggupi menggarap buku ini, yang diselesaikannya dalam waktu kurang lebih 6 bulan. “Tidak banyak orang yang bisa berhasil sebagai wirausaha karena kendala modal dan pengalaman. Dari tukang cuci mobil bisa seperti sekarang ini, dari emperan membangun ‘empire’. Kisah Ajik Cok ini sungguh inspiratif,” ujar Bobby. Peluncuran Buku Biografi Ajik Cok, Minggu (1/10) di Hotel Aston Denpasar, dipandu Gading Martin, Andy F. Noya, dan dihibur artis Syahrini
orek kisah Ajik Cok dari nol, menulusuri perjalan hisupnya hingga ke pelosok-pelosok, mulai dari pergulatan batin Cok kecil yang kabur dari rumah karena bosan dengan kemiskinan, menumpang truk untuk sampai ke Denpasar, menyusuri pinggiran sungai, hingga akhirnya menumpang berteduh di pos satpam hotel nyambi membantu mencuci mobil para tamu. Bahkan, Ajik Cok mengaku kaget setelah membaca buku kedua ini. “Saya baru sadar kalau saya disusui oleh dua ibu, saya membaca buku ini sampai menangis,” ucapnya haru. Dengan diterbitkannya buku ini, ia berharap bisa menginspirasi anakanak muda. “Mudah-mudahan lagi ada Krisna-Krisna yang lain, meskipun hanya tamat SMP jika
mau bekerja keras saya yakin pasti bisa,” ujarnya menyemangati. Peluncuran Buku Biografi Ajik Cok yang digelar Minggu (1/11) di Hotel Aston Denpasar itu memang cukup fenomenal. Deretan pejabat penting dan artis Ibu Kota turut hadir dan menghibur. Acara yang dipandu MC kondang Gading Martin-Ayu Saraswati dan dihibur artis cantik Princes Syahrini itu, dihadiri pula teman-teman sekolah dan seperjuangan Ajik Cok saat menjadi tukang cuci mobil dan bekerja pada Sidharta Konfeksi yang telah membesarkannya. Dalam Talkshow yang dipandu presenter Kick Andy, Andy F. Noya ini, perjalanan hidup seorang Ajik Cok dikupas habis. Kisah hidup Ajik Cok yang luar biasa inilah yang diakui sang penu-
Dari Emperan Membangun “Empire” Ia mengungkapkan ada 4 hal yang menarik dari Ajik Cok. Pertama, pekerja keras. Kedua, tulus. “Ketika Ajik Cok bekerja di Sidharta Konfeksi, dia tidak memikirkan berapa gajinya, dia bekerja dan terus bekerja, itu yang dituturkan oleh teman-temannya sebagai tukang cuci mobil dan di konfeksi. Bahkan, ketika ada teman yang sakit, Ajik Cok yang mengkoordinir mengumpulkan uang,” ungkap Bobby yang mencari kesasksian ini langsung dari teman-teman seperjuangan Ajik Cok dulu. Ketiga, Bobby menyebut Ajik Cok spekulasinya luar biasa. “Tahun 2004 mulai usaha, tahun 2007 sudah mulai membangun Krisna. Bahkan tahun 2008 berani membangun Krisna disamping toko
oleh-oleh Bali yang cukup besar dengan bisnis serupa. Keempat, point yang paling penting adalah AjikCok mau berbagi dengan banyak orang. “Dia berbagi bukan hanya saat dia seperti sekarang, tapi waktu dulu pun sudah berbagi seperti pengakuan temantemannya,” imbuhnya. Dalam buku ini, Bobby menuturkan tidak menulis biografi mulai dari masa kecil, remaja dan seterusnya. Namun ia memulai dari momen yang paling menarik, ketika Ajik Cok memutuskan kabur dari rumahnya. Ajik Cok adalah berasal dari keluarga yang sangat miskin. Karena, hanya untuk membeli buku pelajaran atau bolpoin saja tidak mampu. Terpaksa ia ambil isi bolpoin temannya, digulung kertas dan dijadikan bolpoin. Begitu juga buku tulis, ia ambil buku teman-temannya bagian tengah, dikumpulkan, dan dijahit menjadi buku. Begitu miskinnya, hingga pada akhirnya ketika sang ayah mengatakan tak sanggup lagi membiayai sekolahnya, Cok kecil memutuskan kabur dari rumah. “Inilah plot pertama yang saya tulis, baru kemudian masuk ke masa kecil dan seterusnya,” tandas Bobbyi yang juga penulis biografi Menteri Susi Pujiastuti ini. –ten
6
Woman on Top
Edisi 874/ 9 - 15 november 2015
Apong Herlina
Perlu Langkah Cepat Kasus-kasus kejahatan seksual terhadap anak makin marak. Hampir tiap hari pemb eritaan k asus-kasus pedofilia mewarnai media massa. Seperti yang terungkap di kawasan Pancoran, J akarta Selatan.
A
pong Herlina, mantan komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengaku prihatin dengan hal ini. Menurutnya kasus kejahatan seks terhadap anak semakin mengkhawatirkan. Undang-Undang Perlindungan Anak telah ada bahkan kemudian direvisi dengan hukuman yang lebih berat yakni maksimal 20 tahun. Namun, kasus-kasus kejahatan seksual terhadap anak-anak ini justru terlihat makin menonjol. Menurut mantan Direktur Lembaga Bantuan Hukum Jakarta ini, ada banyak hal yang menjadi penyebabnya. Di antaranya adalah lemahnya penegakan hukum, juga masalah treatment ter hadap korban dan pelaku yang masih lemah. Padahal treatment ini sangat diperlukan baik untuk korban dan pelaku. “Berdasarkan data, 90% pelaku kasus pedofilia dulunya adalah korban. Ini artinya apa? Salah satu kemungkinannya adalah para korban ini tidak dita ngani atau tidak mendapatkan treatment yang baik, korban dibiarkan begitu saja. Atau kalaupun ada treatment tapi tidak sampai tuntas. Sehingga di kemudian hari
dia pun akhirnya berubah wujud dari korban menjadi pelaku,” ungkap Apong yang kini menjadi konsultan di Bappenas untuk masalah perlindungan anak. Treatment, ungkap wanita kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat, sangat penting bagi para korban. Dia harus mendapat konseling yang terus menerus untuk memulihkan kejiwaannya, juga agar oritentasi seksualnya tidak menyimpang di kemudian hari. Sayangnya, yang terjadi sejak dulu hingga sekarang, adalah kurangnya perhatian terhadap masalah treatment korban pascakejadian. “Ini adalah tanggung jawab pemerintah. Harusnya pada saat putusan pengadilan, hakim dalam putusannya memerintahkan atau mewajibkan pemberian treatment pada pelaku maupun pada korbannya. Di sisi lain, treatment pada pelaku, juga penting agar si pelaku bisa berubah,” kata Apong yang dihubungi disela-sela acara training terpadu untuk para penegak hukum terkait pelaksanaan undang-undang sistem peradilan anak, yang tengah berlangsung di NTB. Apong menegaskan sudah Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A),
yang ada di setiap provinsi. Lembaga inilah seharusnya didorong untuk bisa memberikan layanan treatment. Juga harus didorong agar P2TP2A ini juga didirikan hingga ke semua kabupaten/ kota. Selama ini untuk kabupaten/kota, belum semuanya memiliki P2TP2A. Lembaga ini belum diberdayakan secara maksimal. Tentang kontroversi hukuman kebiri bagi para pedofil yang kini tengah hangat diberitakan media massa, Apong Herlina mempunyai pandangan sendiri tentang hal tersebut. Berbeda dari banyak pihak yang ramai-ramai menyerukan soal hukuman kebiri bagi pelaku, Apong justru meminta agar perlu dilakukan kajian mendalam jika nantinya diputuskan bahwa pedofil akan dikebiri. “Saya bukannya tidak setuju. Tapi harus jelas, hukuman kebiri kan tidak ada dalam sistem hukum kita. Tidak ada dasarnya. Saya setuju bahwa pelaku harus dihukum seberat-beratnya, saya sepakat bahwa kita harus melindungi anak-anak dari kejahatan seks, namun dalam pene rapan hukum juga harus didasari oleh hukum yang berlaku. Adanya hukum kebiri, berarti konsekuensinya adalah harus mengubah undang-undang. Kalau itu dilakukan, tidak apa-apa, namun mengubah undangundang, kan, membutuhkan waktu. Sementara kita membutuh kan langkah cepat dalam melindungi anak,” paparnya.
KAJIAN KESEHATAN Penjatuhan hukuman, lanjut Apon lagi, jangan terburu-buru ataupun hanya responsif semata. “Menurut saya wacana hukum kebiri, hanya responsif dan emosional sifatnya. Kita harus berpikir jauh ke depan, bahwa membuat undang-undang itu diperuntukkan untuk 10 sampai 20 tahun ke depan. Nah, hukum kebiri sasarannya adalah untuk pelaku laki-laki. Kan tidak tertutup kemungkinan, di kemudian hari muncul kasus dimana seorang pedofil adalah wanita dewasa. Lalu ini bagaimana? Kita jangan menutup mata untuk hal ini. Di luar negeri ada banyak kasus dimana pelakunya adalah wanita. Lalu, kalau sampai terjadi bagaimana, treatmentnya seperti apa? Jadi maksud saya, jangan lah terlalu emosional.Masalah ini harus dibuat kajian yang mendalam, harus dipikirkan lebih jauh” ujarnya lagi. Di sisi lain, selama ini hanya memikirkan keadilan dari sisi korban, lalu bagaimana dengan keadilan bagi pelaku. Kita harus juga memperhatikan apakah penegak hukum sudah fair atau tidak. Karena dalam banyak kasus, terjadi permasalahan terkait pembuktian. Kasus pedofil ini adalah kasus kekerasan seksual yang terkait dengan anak-anak, dimana korbannya tidak bisa memberi keterangan dengan sempurna.
“Kebanyakan kasus, saksinya cuma korban sendiri. Mereka pun diperiksa secara terpisah dan tidak boleh disumpah. Di sisi lain, ilmu pengetahuan dan alat-alat yang kita miliki belum memadai untuk itu. Nah, bagaimana kalau suatu saat ternyata keputusan yang telah dijatuhkan adalah salah, sementara tersangka pelaku sudah dieksekusi. Bagaimana memperbaiki ini, bagaimana cara mengembalikannya?” ujarnya. Jadi, tandas Apong lagi, dirinya bukan tidak setuju dengan usulan hukuman kebiri itu, namun hendaknya dipikirkan secara mendalam melalui berbagai kajian. Harus juga dipikirkan sejauh mana hal itu (hukuman kebiri) berdampak pada diri si pelaku. “Ini ha rus ada kajian kesehatan, psikologi juga mental. Bukan tidak mungkin nantinya dia malah berubah menjadi psikopat, dll. Jadi jangan sampai kita menyelesaikan masalah ini, namun memunculkan masalah baru,” tegasnya. –Diana Runtu
Flying Solo Ada alasan tertentu kenapa banyak orang lebih memilih untuk berbisnis sendiri, menjadi soloist meskipun harus memulai usaha dari bawah. My Life, My Decision. Frase ini begitu melekat dalam komunitas soloist ini. Mereka sangat meyakini kebebasan mengambil keputusan (freedom in making decision) akan memberi kesempatan untuk mereka mengalami lebih dari apa yang mereka bayangkan, dan keputusan itu suatu saat dapat diterapkan dalam ruang gerak yang lebih besar. Setiap suara kecil yang kita dengar selalu memberi inspirasi dalam pikiran kita atau lebih jauh lagi menjadi pengaruh dalam mengambil keputusan. WHO IS KNOCKING ON YOUR DOOR Saya ingin berbagi satu quote yang menarik tentang flying solo; “Those who fly solo have the strongest wings”. Begitu memberi inspirasi dan sangat menguatkan. Menjalankan bisnis sendiri dari awal, seorang soloist tentu disodorkan dengan banyak tantangan. Tantangan bisa muncul dari dua sisi yaitu rasional dan emosional. Mana porsi yang lebih berat? Jawabannya berbeda pada
setiap soloist tergantung dari kebiasaan mereka melihat dan menilai keadaan; apakah mereka lebih menilai dari sisi rasional atau lebih memilih untuk memainkan perasaan atau emosional. Saya teringat dengan sebuah cerita yang memotivasi “Saat kita mengetuk pintu rumah seseorang dan pintu tidak terbuka sebab orang itu sedang tidur. Tetapi semakin kuat kita mengetuk pintu, maka orang itu akan bangun dan membukakan pintu untuk kita”. Tantangan yang semakin berat justru memberi power yang semakin besar bagi mereka. Selain tantangan rasional dan emosional tadi, beberapa dari mereka justru menambah satu spot tantangan yang memotivasi yaitu dari siapa tantangan itu berasal. Tantangan dari orang terdekat justru akan memberi impact luar biasa yang bisa menjadikan sayap soloist semakin kuat. Jadi barangkali bukan lagi apa tantangan itu, tetapi dari siapa tantangan itu datang – who is knocking your door. DO AS I VOTE Sering mendengar ‘me too (saya juga)?’. Dalam situasi yang ringan sekalipun terkadang tidak mudah membuat sebuah keputus
an. Kita menganggap situasi ini sulit, sementara orang lain melihat ini sebagai sebuah hal sederhana yang dapat diselesaikan saat itu juga. Saya rasa Mirroring atau mencari sebuah cermin sosial diperlukan dalam situasi seperti ini. Bagaimana mendapatkan pemikiran dari orang lain terhadap situasi bisnis yang kita jalani. Oleh orang-orang dalam behavior profile Dominance, Mirror (cermin) biasanya akan digunakan sebagai pelengkap analisa sebelum akhirnya ia mengambil keputusan sendiri atas apa yang ia yakini. Suara yang dijalankan hanya akan berdasarkan pemahaman serta arah yang diyakini sendiri. Ia akan cenderung hanya melakukan apa yang ia putuskan. Dalam diskusi saya dengan teman-teman pengusaha perempuan beberapa waktu lalu, kami menemukan bahwa seni membuat pilihan (vote) yang dilakukan ternyata tidak hanya diaplikasikan pada situasi bisnis. Do as I vote juga dilakukan pada social connections. Tanpa disadari mereka cenderung memilih karakter atau profile mana saja yang dapat mereka masukkan ke dalam daftar teman pada social connections dalam jangka panjang. Jangan lupa bahwa mirroring selalu terjadi dan tanpa disadari, social connections dalam jangka waktu tertentu dapat mengubah cara berpikir atau respons kita terhadap pertanyaan, situasi, terhadap orang-orang di sekitar kita, terhadap pengambilan keputus an dan terhadap bagaimana kita melihat business outlook ke depan. Mereka yang memiliki strong drive atas keputusannya, tidak mau mengadopsi ide orang lain dengan konsep ‘me too’. Rupanya nilai yang mereka yakini; do as I vote and get ahead.
STICKINESS Pembahasan tentang stickiness atau loyalty tidak jauh dari pembahasan tentang komitmen. Masih dalam diskusi yang sama, seorang kawan bertanya, berapa keputusan yang rata-rata kita buat setiap hari? Berapa keputusan yang benar-benar dijalankan dengan komitmen? Kami tidak memberi jawaban seketika sebab pikiran langsung berlari mundur dan tertuju pada keputusan yang akhirnya tidak mendapat komitmen kuat untuk dijalankan. Beberapa orang akan lebih memilih untuk memikirkan kembali (rethink) apa yang telah diputuskan. Soloist akan cenderung lebih bebas untuk melakukan explorasi pikiran sebelum akhirnya kembali membuat keputusan baru atas permasalahan yang sama. Dengan index stickiness/loyalty/commitment seseorang yang rendah, respons terhadap satu situasi yang sama, tentu akan jauh lebih bervariasi dan lebih merefleksikan tindakan yang berbeda dari waktu ke waktu. Stickiness sangat tergantung dari proses seseorang mengambil keputusan. Keputusan yang diyakini penuh, akan memberi dorongan loyalty dan komitmen dari dalam tanpa perlu bantuan untuk mengukur dan mengingatkan kembali (loyalty tracker). Observasi pribadi saya meyakini bahwa kebiasaan berpikir seseorang (the habit of mind) sangat kuat merefleksikan nilai-nilai yang mereka yakini dan berpengaruh besar dalam proses bagaimana seseorang akhirnya mencapai keputusan itu. Mengakhiri tulisan minggu ini, mari kita angkat satu pendapat soloist terhadap kebebasan mereka dalam berpikir, berinovasi dan berkreatifitas; “..and if I am flying solo, at least I am flying free”.
Mozaik
Edisi 874/ 9 - 15 november 2015
Wisata Larung Sesaji Dongkrak PAD Ponorogo
19
Ponorogo memang sejuta pesona budaya dan pariwisata. Pada momen-momen tertentu seperti agenda Grebeg Suro kota Reyog ini mengadakan berbagai kegiatan seni dan budaya. Ritual larung sesaji yang digelar masyarakat adat di Telaga Ngebel, dan agenda lain selama perayaan Grebeg Suro.
P
otensi budaya dan pariwisata ini berdampak dan bisa memacu pertumbuhan wisatawan ke daerah itu sehingga berimbas pada capaian
pendapatan asli daerah (PAD) hingga 20 persen dari target oleh pemerintah daerah. “PAD yang berhasil diserap selama sehari pelaksanaan tradisi ‘larungan’ saja diperkirakan me
nyumbang 20 persen dari total target PAD 2015 yang diproyeksikan sebesar Rp 475 juta,” ungkap Sapto Jatmiko, Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Ponorogo.
Industri Camilan tak pernah Mati Makanan ringan atau yang biasa disebut camilan merupakan suatu jenis makanan yang tergolong kedalam makanan sam pingan. Camilan bukan merupakan makanan pokok melainkan hanya sebagai makanan selingan. Namun terkadang meskipun camilan sering diartikan sebagai makanan sampingan, malah camilan tidak jarang lebih sering dikonsumsi dibandingkan dengan makanan pokok. Kemudahan dalam mengonsumsi camilan inilah yang melatarbelakangi banyaknya penggemar makanan ringan ini. Kemudahan yang didapat salah satunya adalah bisa dikonsumsi dimana saja tanpa terfokus pada satu tempat. Tidak seperti ketika kita ingin makan nasi maka kita harus berada pada warung penjual nasi itu. Jika ingin mengonsumsi camilan maka hanya perlu membeli lalu membawanya kemanapun dan ketika ingin memakannya maka kita tinggal memakannya tanpa perlu melihat tempat. Melihat dari banyaknya penggemar camilan ringan ini, Desy Norma, pengusaha muda asal Kelurahan Nologaten Ponorogo mencoba mengadu nasib dengan memulai bisnis camilan. Dengan melihat target pasar menjadikan camilan ringan ini sebagai sebuah peluang bisnis yang sangat menjanjikan.
Desy ingin menunjukkan bahwa camilan juga merupakan jenis makanan. Nah, sudah diketahui dan bahkan wajib diketahui makanan merupakan kebutuhan primer bagi manusia. “Jadi alasan inilah maka saya berpendapat yang namanya industri kuliner termasuk camilan dipastikan tidak akan pernah mati,” katanya.. Sangat banyak sekali jenis camilan yang sangat berpotensi di pasaran. Namun, untuk mempermudah dalam memilih jenis camilan yang akan dijadikan bisnis maka harus jeli dalam memilih beberapa camilan. Pertama ia mencoba untuk membuat berbagai macam keripik mulai dari keripik pedas berbahan baku singkong/ken-
tang. Ternyata jenis keripik ketela buatannya kini makin populer dan lagi laris-larisnya di pasaran. “Percobaan saya membuat keripik ternyata berhasil, dan saya akan membuat varian lain, untuk mengembangkan usaha saya,” imbuhnya. Meski dengan modal yang tidak sedikit karena harus membeli berbagai peralatan dan memperkerjakan banyak orang, seimbang dengan hasil yang dirinya dapatkan, meski perlu ekstra keras dalam mengembangkannya. “Saya sempat mengalami kesulitan, namun saya tidak akan berhenti untuk terus mengembangkan usaha caliman ini,” ungkapnya. -Dinar Perdana
Jumlah itu, lanjut dia, dihitung berdasarkan volume kunjungan wisatawan yang terpantau dari pembelian retribusi masuk objek wisata Telaga Ngebel. Volume kunjungan wisatawan lokal, domestik maupun sebagian mancanegara pada ritual larung sesaji hasil bumi yang juga dikenal sebagai puncak acara “Garebeg Suro” mencapai sekitar 7.000 orang. Dengan nilai retribusi untuk setiap wisatawan sebesar Rp 10 ribu, ditambah retribusi kendaraan roda dua, roda empat serta persewaan aset pesanggrahan, perahu wisata maupun lainnya, PAD yang terkumpul dalam satu hari kegiatan larung sesaji ditaksir lebih dari Rp 100 juta. Nilai itu belum termasuk peredaran uang di sekitar Telaga Ngebel, baik dari sektor penjualan aneka makanan dan minuman, persewaan perahu wisata dan speed boat, hingga persewaan hotel ataupun jenis penginapan lainnya. “Saat ini PAD wisata Telaga Ngebel saja sudah mencapai 120
persen dari target. Jumlah itu masih akan terus meningkat dan diharapkan hingga akhir tahun ini bisa tembus 130 persen atau lebih,” ujarnya. Wisata Telaga Ngebel dikenal sebagai salah satu ikon Kabupaten Ponorogo, setelah kesenian Reyog. Terletak di lereng Gunung Wilis, dan berada di perbatasan antara Ponorogo, Madiun dan Jombang, danau alami yang diperkirakan berusia ribuan tahun tersebut menjadi primadona wisatawan karena objek wisata ini menyuguhkan pemandangan telaga dengan panorama hutan lindung yang masih alami. Daya tarik Telaga Ngebel semakin terdongkrak semenjak masyarakat adat di delapan desa sekitar danau ini, pada 1993 bersepakat untuk menggabungkan ritual bersih desa setiap pergantian tahun baru Islam (sama dengan pergantian tahun dalam penanggalan Jawa) digabungkan menjadi satu dalam acara ritual larungan di telaga tersebut. -Dinar Perdana
18
Kreasi
Edisi 874/ 9 - 15 november 2015
Oratorium Kebo Iwa
K
isahnya berawal dari kecemasan hati Ratu Kerajaan Majapahit Diah Tribhuana Tunggadewi, yang murka terhadap Kerajaan Bali karena tidak mau tunduk di bawah kekuasaan Majapahit. Sang Prabhu Bali Pulina Sri Bedahulu yang didampingi patih sakti Ki Kebo Iwa terlampau kuat untuk dihadapi. Namun, dengan upaya cerdik Mahapatih Gajah Mada, Patih Ki Kebo Iwa dapat diperdaya dan Kerajaan Bali pun menjadi mudah untuk ditaklukkan. Patih Ki Kebo Iwa gugur bukan karena kalah, namun merelakan dirinya gugur demi cita-cita luhur, bersatunya Nusantara. Oratorium Kebo Iwa hasil produksi Sanggar Sasiwimba Denpasar yang didukung 25 orang penari dan 30 penabuh yang lebih ba
nyak seniman akademis, mahasiswa jurusan sendratasik Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar. Tampil sebagai penata tari IBG. Surya Peradantha, S.Sn., M.Sn, penata iringan I Wayan Darya, S.Sn. dan I Ketut Budiyana, S.Sn. serta dalang Sang Ketut Pesan Sandiyasa. Meski kisah ini digarap berulang kali dengan gaya dan jenis garapan seni yang berbeda-beda, namun kisa Kebo Iwa selalu menarik untuk disimak. Nilai-nilai luhur yang disampaikan dapat dijadikan panutan dalam menjalani kehidup an. “Yang namanya pertunjukan seni, mesti menyajikan garapan yang menarik baik dari segi koreo, kostum ataupun iringan. Yang terpenting pesan moral menjadi inti dari pertunjukannya ini,” kata Surya Peradantha. Ketika gamelan mulai ditabuh,
penonton langsung memadati lapangan Peninsula Nusa Dua tempat ajang itu digelar. Tak hanya masyarakat lokal, wisatawan mancanegara juga ikut menonton. Meski kebanyakan dari masyarakat yang sudah tahu kisah bahkan pernah menyaksikan sendratari Kebo Iwa, namun masyarakat tetap antosias menyaksikan sajian seni yang di dukung penari-penari muda ini. Oratoriaum Kebo Iwa yang sudah menjadi tari Maskot Nusa Dua itu memang ditata dengan apik. Unsur dramatik lebih menonjol hingga pendramaan yang kuat. Ekspresi gerak tari tetap mencerminkan seni tradisi bahkan klasiknya. Walau ada beberapa gerak yang dikreasikan, namun karena dibawakan oleh penari-penari yang memiliki dasar tari Bali yang kuat, tetap saja mencerminkan tradisi. Hal itu dapat dilihat dari pakem yang ada seperti agem, tandang dan tangkep. Garapan kelompok yang kompak menjadi dominan dimainkan oleh para dayang-dayang dan prajurit yang diwujudkan dalam bentuk tari baris. Dalam menggambarkan suasana, para penari (pasukan Gajah Mada) bahkan masuk ke barisan penonton saat menuju tanah Jawi, sehingga suasana menjadi lebih akrab. Meski dalam bentuk sajian seni tradisi, namun ada unsurunsurnya yang dikreasikan hingga menjadikan garapan ini bernuansa baru.
Story
Sentot dan Keliaran Imajinasi
Ilalang panjang dan bunga, merumput debu, kau pesan batu nyaring melengking, di pucuk bambu. Asing. Serupa sepatu bayi hanyut, riak airnya berdoa, selebihnya tersangkut bulan, patah sebelum senja. Sendiri memahami rintik hujan, bukan berarti matahari peranakan embun, saat malam pucat tak habis-habis. Entah kapan kau tangkap bisu, entah kapan kau tangkap basah. Merajut tabah jejak akar pohon. Bunga itu debu dikabarkannya aku. Merajuk takdir sajak-sajak Bapa, elakan sepi tak berkata, sedang baid-baid itu musim basah, juga gelisah. Bagaimana kau berkilah dari cahaya, benang basah serupa itukah, kau tegakkan kisah.
Sajian Seni Inovatif Utamakan Pesan Hanya membaca kisah Kebo Iwa, pasti monoton dan kurang menarik. Tetapi, jika disajikan dalam bentuk pentas seni, pasti lebih menarik. Hal ini terlihat saat pementasan Oratorium Kebo Iwa yang disajikan dalam ajang Nusa Dua Fiesta (NDF) 2015, beberapa waktu lalu. Sejarah kebanggaan rakyat Bali dikemas dalam bentuk seni kreatif dan disajikan dengan inovatif. Dalam penyajiannya tak hanya mengedapankan koreografi, penataan kostum dan iringinan, tetapi sarat dengan pesan moral.
Life
Dalam penggambaran suasana dalam setiap adegan, garapan seni berdurasi 45 menit itu sangat didukung dengan iringannya yang memakai gamelan Semarandana. Jenis gamelan dengan nada saih pitu itu memberikan kesan menarik, baik saat mengisahkan para prajurit di Jawi ataupun di Bali. Dengan olahan rasa tanpa meninggalkan teknik pukulan, gamelan itu juga sangat manis saat menyajikan suasana desa yang damai. “Kami lebih menekankan pada permainan nada dalam mendukung suasana,” imbuh Budiyana..
Yang lebih penting dari sajian seni itu adalah pesan moral yang disampaikan kepada penonton. Dari cerita rakyat dari Bali ini menyampaikan jadilah orang yang mampu diandalkan dan mampu berkorban untuk kepentingan orang banyak. Di samping itu, juga sebagai media pendidikan khususnya tentang sejarah adanya Nusa Dua. “Dalam garapan ini kami sengaja menyelipkan nilainilai pendidikan, sehingga garap an menjadi lebih berisi,” ungkap Surya Peradantha. -Darsana
dok.pribadi. WS. Irawan
Sentot saat menggelar konser
L
irik ini adalah salah satu dari lagu karya Wing Sentot Irawan, berjudul Bunga itu Debu, yang pernah dinyanyikan dalam konser Bunga itu Debu beberapa waktu lalu, di Warung Jack pojok Taman Budaya Mataram. Konser ini satu dari banyak konser yang pernah dihelat Sentot di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Tercatat beberapa konser yang pernah digelar Sentot di Mataram sejak tahun 2000 adalah, Balon Emas, Nyanyian Angsa, Chonburi, Cu-chi, Pipi Merah Tomat, Nyanyian Bapa, Bulan Emas, Bola Langitan, Titik Nol, Telur Setengah Matang, Nyanyian Prenjak, Pentas Dhewek, Serupa Lipatan Kertas, Titip Rindu Buat Emak. Kini ia menyiapkan konser bertajuk Kapak Batu yang akan digelar di Mataram,
Wing Sentot Irawan
17 November 2015. Sentot juga menyanyikan lagulagu karyanya dalam konser atau pagelaran di berbagai kota di tanah air. Dalam dunia musik di NTB, Sentot memang bukan musisi biasa. Berangkat dari dunia musik sejak masa SMA dan pernah menjadi idola di panggungpanggung musik di Mataram, mantan guru ini
tidak pernah lepas dari dunia musik. Lebih dari separuh usianya, pria kelahiran 8 Agustus 1965 ini mendedikasikan dirinya untuk melahirkan karya-karya yang bersumber dari perenungan yang mengendap cukup lama dalam ruang kreatifnya. Ia lalu menuangkan karya-karya dalam perjalanan luar biasanya bersepeda keliling Indonesia bahkan hingga negara-negara ASEAN. Karena itulah, lirik lagunya yang bertema lingkungan, kehidupan, masalah sosial dan lainnya tidaklah sederhana. Pemaknaan dalam tiap kata yang dipilihnya kadang sulit dimengerti begitu saja. Lirik lagu yang tidak biasa yang dilahirkannya hanya mampu “dibaca” dengan “terjemahan” lain dari sekadar arti denotatifnya. Itulah Sentot yang memiliki keliaran imajinasi yang tidak semua orang mampu memahaminya. Namun, karena karyanya adalah seni musik, maka penonton enjoy saja menikmati dentingan gitar yang mengiringi syair-syair karyanya. Mendengarkannya menyanyi dan menikmati karyanya dari sepuluh tahun yang lalu dengan hari ini, menurut para seniman di Mataram, seperti Kongso Sukoco dan Winsa Prayitno, Sentot jauh lebih matang baik dari sisi musikalitas maupun kesabarannya dalam “melakonkan” pergelaranpergelarannya. Tentu saja perjalanan Sentor hingga sampai pada hari ini bukanlah perjalanan biasa. Selain soal karya, ia melengkapi perjalanan hidupnya dengan menempuh ratusan ribu kilometer untuk mengendapkan seluruh ide dalam perjalanannya mengelilingi Indonesia dan negara-negara ASEAN dengan bersepeda. Pada perjalanan pertama beberapa tahun lalu, Sentot berangkat dari Lombok dengan mengayuh sepeda hingga ke Aceh tahun 2006, lalu kembali ke Lombok dan melanjutkan perjalananya hingga ke Papua tahun 2008. “Sekitar satu tahun saya menghabis-
7
Edisi 874/ 9 - 15 november 2015
dok.pribadi. WS. Irawan
Untuk membiayai perjalanannya mengayuh sepeda, Sentot menjual CD berisi karyanya
kan waktu untuk keliling hingga Aceh sampai Papua,” ujarnya. Kecintaannya pada sepeda hari ini, sama seperti ia mencintai musik. Karena setelah sukses dengan perjalanan itu, Sentot kembali bersepeda ke negara-negara ASEAN dalam perjalanan bertajuk The Journey of Silent atau perjalanan hening, selama tiga bulan pada akhir pada 2011 hingga awal 2012. JUAL CD Perjalanan bersepeda pada jarak yang sangat jauh seperti ini, bukanlah perjalanan yang mudah. Namun, tidak ada yang sulit bagi seorang Sentot dalam menaklukkan tiap kesulitan medan tempuh sepedanya. Jiwanya yang terbuka dan selalu jujur menerima dirinya apa adanya, menjadikan perjalanan ini seperti yang dikatakannya tak ada yang sulit. “Tidak ada yang sulit, semua biasa saja. Semua menyenangkan,” ungkapnya polos. Hal-hal baru yang ditemuinya dalam perjalanan itulah yang mampu menjaga daya juangnya selama mengayuh sepeda. Ia tak pernah membawa beban dalam perjalanannya ini karena ia sangat percaya semua bisa teratasi. “Terutama karena saya bisa mampir di banyak komunitas yang tiap saat bisa membantu perjalanan saya,” ungkapnya. Selama perjalanan keliling Indonesia, Sentot memang tidak pernah memikirkan soal tidur di mana, makan di mana dan menggelar karya di mana. Karena selama perjalannya dari satu kota ke kota lainnya ini ia membuat jejaring dengan berbagai komunitas yang selalu terhubung dengan dirinya. Baik itu komunitas seniman, budayawan, aktivis lingkungan hingga komunitas gerakan dan lainnya. Untuk biaya perjalanannya, Sentot menjual CD yang berisi karya-karyanya. “Harganya tergantung pembeli,” katanya tertawa. Selain dari menjual CD banyak kawan yang juga peduli padanya. Bagi Sentot, inilah indahnya memiliki banyak kawan. Perjalanan mengayuh sepeda keliling Indonesia ternyata tidak
dok.pribadi. WS. Irawan
sama ketika sepedanya terkayuh hingga berkeliling ke beberapa negara ASEAN. Saat keliling Indonesia ia bisa tidur di mana saja, seperti mushalla, sekretariat-sekretariat komunitas dan SPBU serta lainnya, tetapi di luar negeri ia tidak bisa sembarang menginap. “Saya menginap di guess house yang berharga murah karena biaya perjalanan di luar negeri ini jauh lebih besar dibandingkan di negeri sendiri,” ujarnya. Ia mulai perjalanannya ke beberapa negara ASEAN itu dari Batam Kepulauan Riau. Dari sini ia menyeberang ke Singapura lalu menuju Johor kemudian melanjutkannya ke Kuala Lumpur. Dari sini ia menuju perbatasan Malaysia menuju Thailand, Bangkok, Kamboja, Ho Chi Min Vietnam. Lalu pulang dari Vietnam terus kembali menelusuri negara-negara tersebut hingga Johor. “Dari Johor saya ke Batam lanjut Surabaya hingga Kupang dan kembali ke Lombok,” ujarnya santai. Selama berada di luar negeri, barulah Sentot merasakan kendala dalam perjalanannya ini, terutama dalam hal mata uang dan bahasa. Bahasa Inggrisnya yang pas-pasan tidak membuatnya surut langkah, melainkan nekat menerobos rintangan itu. “Ya… Bahasa Inggris seadanya dan seperlunya saja, kalau belanja di toko atau bertanya tempat menginap,” katanya. yang lebih merepotkan dari itu, rupanya soal mata uang. Sentot sangat kebingungan menghadapi persoalan mata uang ini. “Kalau sudah belanja harganya berapa, kembaliannya berapa, saya bingung menghitungnya. Ini yang sempat menguras pikiran dan energi,” katanya. Akhirnya karena ia tidak ingin repot, maka tiap belanja ia serahkan sepenuhnya pada penjual. Mau dikembalikan berapapun uangnya ia pasrah. Dalam perjalanannya yang makan banyak biaya ini, ia mendapatkan sumbangan dana yang cukup, selain dari tiap konsulat Indonesia di berbagai negara yang disinggahinya, Sentot juga ada membawa bekal dari sumbangan kawan-kawannya di Indonesia. Tak banyak yang diharapkan Sentot dari perjalanannya bersepeda ke mana-mana ini, melainkan ia ingin tahu banyak hal dari sekedar hanya berada di NTB. “Ternyata setelah saya melakukan perjalanan, Indonesia ini begitu luas dan kaya. Negara itu bukan hanya Indonesia saja. Alam Indonesia yang elok menunggu dipelihara. Alam tidak meminta apa-apa dan juga tidak pernah protes atas perlakuan manusia. Maka kitalah yang harus menjaganya,” ujar Sentot yang melakukan perjalanan bersepeda ini juga sekaligus untuk kampanye soal lingkungan. Itulah sebabnya, ia sangat ingin melihat orang tidak lagi tergantung pada mesin (kendaraan) yang dapat mencederai kemurnian alam. Juga ia berharap bahwa orang harus bergerak agar tubuhnya bisa sehat. -Naniek I. Taufan
8
Bunda & Ananda
Edisi 874/ 9 - 15 November 2015
Anak Stres Picu Perut Sakit
Anak Anda pernah mengeluh sakit perut? Ja ngan sepelekan hal tersebut karena sakit perut memerlukan penanganan sesegera mungkin. Periksakan kondisi perut anak. Barangkali ada hal yang memerlukan penanganan hingga di lakukan pemedahan. Semua hal ini dibahas dalam seminar “Update Laparoskopi Anak– Diagnosa, Tatalaksana & Asuhan Keperawa tan Pre dan Post Tindakan Bedah Anak” yang dilaksanakan RSIA Puri Bunda, Denpasar.
N
arasumber per tama dr. I Putu Gede Karyana, Sp.A(K) yang merupakan dokter konsultan gastro hepatologi menyampaikan materi dengan judul “Sakit Perut pada Anak”. Ia menjelaskan sakit perut merupakan keluhan yang paling sering dialami anak. “Sakit perut itu sendiri ada yang men garah ke tindakan bedah dan ada yang nonbedah,” ujarnya. Ia menyebut ada dua tipe sakit perut yang diderita anak. Pertama organik, artinya me mang ada kelainan di saluran cerna. Kedua fungsional, artinya tidak ditemukan adanya kelainan tetapi ada sakit. Ini biasanya dia lami anak usia 5-18 tahun dengan puncaknya di usia 10-12. Ini juga dikaitkan dengan psikis anak. “Ada fenomena yang menga takan saluran cerna merupakan otak kedua manusia karena ban yak komponen yang dihasilkan di saluran cerna mirip dengan yang dihasilkan otak,” ujar Ketua Perhimpunan GastroenteroHepatologi dan Nutrisi Anak Indonesia (PGHNAI) ini. Se bagai contoh, anak yang stres karena pelajaran terlalu berat atau diberi target oleh orangtua, asam lambungnya meningkat. Ini memunculkan keluhan di ulu hati yang disebut gastrisis atau orang awam menyebutnya maag. Kalau otak bermasalah, saluran cerna juga ikut bermasalah. Misalnya, kalau kuman jahat lebih domi nan di saluran cerna akan me nyebabkan perut kembang dan ini memicu mual. Ia juga mengatakan nyeri di perut ada yang akut dan berulang. Akut itu tandanya mendadak dan cenderung organik. Misalnya usus buntu. Nyeri berulang termasuk fungsional dan kadang sakit, lalu hilang, berikutnya sakit lagi. Narasumber kedua, dr I Made Darmajaya, Sp.B(K),BA,MARS melanjutkan pemaparan dengan menjelaskan apabila anak me
merlukan tindakan bedah maka ada ada alternatif tindakan den gan bedah invasive yaitu Pediatric Laparoscopy. “Pediatric Laparoscopy adalah hasil dari perpaduan teknologi modern dan inovasi pembedahan untuk mencapai tujuan pembedahan dengan nyeri dan trauma psikologi yang mini mal. Tindakan ini menggunakan kamera atau alat yang dimasuk kan ke dalam perut atau dada dan ahli bedah melihat lapan gan operasi melalui layar TV/ monitor. Dengan teknik bedah ini maka penyembuhan lebih cepat, lama perawatan di RS akan lebih singkat, kosmetik yang lebih baik serta risiko perdarahan dan infeksi lebih sedikit,” urainya LAPAROSKOPI ANAK Ia menjelaskan perbedaan prinsip laparoskopi dan open surgery bagi dokter bedah dan rumah sakit. Bagi ahli bedah, objek ke lihatan lebih besar dari pada op erasi terbuka, perubahan respons taktis, dua dimensi, waktu operasi lebih lama, dan perlu pengem bangan teknik operasi yang sama sekali berbeda. Bagi rumah sakit, perlu biaya modal alat yang mahal, biaya yang mahal bisa dikonversi dengan hari rawat yang lebih singkat, misalnya cholesistektomy dari 5 hari menjadi 1 hari, tran sanal anal 7 hari menjadi 3 hari, dan appendiktomy anak dari 4 hari menjadi 2 hari. Perbedaan lainnya adalah open surgery bisa berlangsung ce pat, tangan sebagai mata, presisi deseksi, dan ergonomis optional. Namun dengan laparoskopi, op erasi lambat, “ steady”, berhenti ketika tidak bisa melihat, presisi hemostasis, ergonomis vital. “Laparoskopi anak berkem bang paling terakhir. Makin banyak tindakan yang dapat dikerjakan dengan laparoskopi, tetapi terbentur alat dan SDM, biaya, dan hanya rumah sakit tertentu yang sudah siap,” tegas nya. Persyaratan yang diperlukan
“Untuk mencapai potensi penuh sebagai orang dewasa maka perlu kekhususan dalam meningkatkan kesadaran bahwa problem kesehatan anak berbeda dengan orang dewasa sehingga perawat dalam memberikan asuhan keperawatan anak harus mempertimbangkan perawatan berfokus pada keluarga (Family Centered Care) serta tidak menimbulkan trauma pada anak (Atraumatic Care)”
Seminar “Update Laparoskopi Anak–Diagnosa, Tatalaksana & Asuhan Keperawatan Pre dan Post Tindakan Bedah Anak”
antara lain dokter bedah punya kompetensi, dokter anastesi anak, perawat instrumen khusus laparoskopi, dan alat memenuhi standar. Narasumber ketiga, N.L.K Sulisnadewi, M.Kep.,Ns.Sp.Kep. An memaparkan tentang asuhan keperawatan pada anak dengan pembedahan. Ia menjelaskan anak bukanlah miniatur orang dewasa tapi merupakan individu yang unik. “Untuk mencapai potensi penuh sebagai orang dewasa maka perlu kekhususan dalam meningkatkan kesadaran
bahwa problem kesehatan anak berbeda dengan orang dewasa sehingga perawat dalam mem berikan asuhan keperawatan anak harus mempertimbangkan pera watan berfokus pada keluarga (Family Centered Care) serta tidak menimbulkan trauma pada anak (Atraumatic Care),” urainya dalam seminar yang dipandu dr. Made Suyasa Jaya, Sp.OG(K) ini. Direktur RSIA Puri Bunda dr. Nyoman Cahyana, M.M. mengatakan rumah sakit memi liki kewajiban memberikan pemahaman tentang perkem
bangan ilmu kesehatan kepada masyarakat. “Saat ini kami telah dapat melakukan tindakan bedah anak dengan laparoscopy. Keung gulan kami pada perawatan bayi di ruang intensif membuat kami yakin untuk mengembangkan tindakan- tindakan bedah anak,” ungkapnya. Ia menambahkan, untuk memberikan kemudahan bagi pasien yang akan berkonsultasi tentang gangguan/penyakit yang membutuhkan tindakan pembe dahan, pihaknya menghadirkan poli bedah anak. –Ngurah Budi
Mendongeng Lima Menit permata tuhan
Sudah sekian hari lamanya, Tu h a n b i n g u n g mengenai ko tak permatanya yang selalu hilang. Kotak itu berisi berpuluh-puluh permata warnaMade Taro warni. Suatu malam Tuhan melihat seorang pencuri yang mengambil kotak permatanya. Pencuri itu tak lain adalah manusia. Tuhan tersenyum saja. Ia tidak mau menghukumnya, karena manusia itu makhluk ciptaannya yang paling disayangi. Makhluk berjalan tegak dengan dua kaki itu sangat cerdas. Tuhan hanya bertindak, mengambil kembali kotak permata itu, lalu menyembunyikannya di tempat yang sangat rahasia. “Sebaiknya disimpan di dasar laut. Manusia tidak mungkin bisa mencapainya,” demikian saran dewa-dewa kepada Tuhan. Dasar manusia berotak encer! Ia tahu tempat kotak permata itu. Manusia lalu menciptakan sebuah kapal selam. Da lam waktu singkat kotak permata itu berpindah tempat ke rumah manusia. Kemudian Tuhan mengambilnya kembali, lalu menggantung kotak itu di langit. Ya, dasar manusia cerdas! Ia menciptakan pe sawat luar angkasa. Dalam waktu singkat
kotak itu sudah berada dalam genggaman manusia. “Tahukah Paduka Tuhan, apa sebab manu sia selalu ingin memiliki kotak permata itu?” tanya para dewa dalam sebuah pertemuan. “Ya, aku tahu! Manusia ingin memiliki sifat Tuhan. Dalam permata itu terdapat sifat-sifat Tuhan, seperti sifat marah dalam permata merah, sifat damai dalam permata hijau, sifat bijaksana dalam permata kuning, dan lain-lainnya.” Setelah para dewa mempertimbangkan keterangan Tuhan, lalu Tuhan dan dewadewa itu menemukan kata sepakat, yakni melakukan suatu tindakan yang sangat ra hasia. Malam itu juga tiga orang dewa berang kat ke rumah manusia. Didapatinya manusia pencuri permata itu tidur lelap. Seorang dewa mengeluarkan pisau, lalu membedah perut manusia itu. Dewa yang kedua kemudian menempelkan sebuah permata di dinding bagian dalam dari perut itu. Selanjutnya per mata itu diikat dengan tali halus oleh dewa yang ketiga. Ujung tali itu dicantelkan pada dinding hati. Nah, sejak peristiwa itu tak pernah ter dengar Tuhan kehilangan kotak permata. Ma nusia pun tidak lagi terdorong untuk mencuri permata Tuhan. Ia sangat puas. Manusia sama sekali tidak tahu bahwa Tuhan masih memiliki permata yang tidak dimiliki manusia.
Edisi 874/ 9 - 15 November 2015
17
16
Edukasi
Edisi 874/ 9 - 15 november 2015
9
Edisi 874/ 9 - 15 november 2015
Tato Berakar dari Budaya Primitif Dalam tradisi budaya Indonesia, memang ada suku-suku yang sudah sejak zaman dulu memberikan simbol-simbol pada tubuhnya, seperti suku Papua. Bahkan, tidak hanya di badan. “Dulu, simbol-simbol yang dibuat ini memiliki ‘makna’, semacam kekuatan sakti yang kaitannya dengan penolakan pada magis. Sehingga wajah itu seringkali ditoreh. Di sukusuku Papua itu sudah berlangsung sejak lama,” ungkap Ketua PS Magister Kajian Budaya Program Pascasarjana Unud Dr. I Gusti Ketut Gde Arsana, M.Si.
P
ada zaman dulu, hal tersebut dijelaskan Arsana juga tak terlepas dari adat inisiasi (menyakiti tubuh) dengan jalan menggoreskan, melubangi, memotong/mengiris bagian tubuh tertentu untuk menangkal kekuatan-kekuatan magis (perlindungan diri). Hal ini sekaligus juga sebagai penanda unutk menunjukkan rumpun/suku tertentu. Adat untuk menyakiti tubuh (inisiasi) ini, seperti dengan melubangi tubuh terutama di bagian telinga atau hidung, berkaitan dengan penanda, selain menunjukkan siklus kehidupan manusia. Lambat laun, ini mulai berkembang dan mengarah pada simbolik-simbolik tertentu. Besarnya lubang daun telinga yang dipasangi sesuatu menunjukkan status ekonominya. Karena disitu sering dipasang benda-benda berharga. “Kalau dulu waktu kecil baru sebatas tindik,
semakin tua dan makin mampu secara ekonomi, seseorang akan menunjukkan kemampuannya lewat simbol-simbol materi/ perhiasan, sehingga ada yang namanya subeng, memerlukan lubang yang besar (subeng yang tradisional),” jelasnya. Di sisi lain, bentuk inisiasi (menyakiti tubuh) dengan penggoresan, dalam perkembangannya sekarang disebut tato. Pada zaman dulu (primitif) mulai dari goresan wajah, lama-kelamaan goresan-goresan di wajah itu berubah ke bagian-bagian tubuh yang lebih lebar, yang selanjutnya berkembang mengarah ke estetika/seni. Dalam konteks kebudayaan, tato itu adalah transformasi. Proses perkembangan yang sesungguhnya berangkat dari “makna” untuk menangkal magis, berkembang menjadi adat-adat inisiasi (menyakiti tubuh). Ada dengan cara menoreh bagian tu-
buh, memotong, melubangi bagian tubuh. Macam-macam cara inisiasi dilakukan tergantung kebudayaan masyarakat tertentu. Kemudian dalam fase yang kita liat sekarang ini, tato sudah mengarah kepada tren/mode yang selalu terkait dengan estetika/seni. Dari sinilah makin marak berkembang tato secara meluas, tidak hanya sebatas penanda identitas kebudayaan, tapi juga menjadi mode. Tato identik den-
gan preman? Terkait pernyataan ini, Arsana menjelaskan memang dalam transformasi yang kita lihat, sebagai penanda identitas selalu dikaitkan dengan adanya tanda-tanda semacam kejantanan. Karena teknik tato pada awalnya menyakitkan secara fisik, meskipun perkembangannya sekarang konon ada teknik tato yang tak sampai menyakiti bahkan bisa dihapus. Tato menunjukkan simbol kejantanan, karena orang yang mentato badannya apalagi banyak, yang pada umumnya adalah lakilaki, kekuatan fisik dan rasa tahan terhadap sakit. Begitu melihat
badan orang bertato, sudah mengasosiasikan si pemakai tato orang kuat, menunjukkan bahwa orang lain akan takut kepadanya, sehingga sempat juga orang-orang bertato ini digolongkan kepada perilaku kriminal yang dikaitkan dengan kejahatan. “Inilah yang melahirkan pandangan/stigma bahwa orang bertato adalah orang-orang yang distigma sebagi preman,” ucapnya. Tren yang berkembang terakhir, dengan teknik tato yang berkembang sekarang tanpa menyakiti tubuh yang kemungkinan lebih banyak dengan teknik gambar, bahkan perempuan pun ikut, mengarah kepada budaya kontemporer. Bahkan, ini menjadi ladang bisnis bagi perupa-perupa tato. “Inilah transformasi yang sebenarnya berakar dari kebudayaan primitif, yang sebetulnya tak hanya sekadar menggores tapi ada juga teknik-teknik lain,” tandasnya. –Inten Indrawati
Dr. I Gusti Ketut Gde Arsana, M.Si.
Mengenang Jejak para Pahlawan Kru Tokoh dan Sahabat berfoto bersama Kepala Sekolah dan para guru, serta anak-anak SLB/B Negeri Tabanan
Tokoh dan Sahabat Berbagi di SLB/B Negeri Tabanan Acara kunjungan ke SLB/B Negeri Tabanan, serangkaian peringatan HUT ke-17 Tokoh, Selasa (3/11) berjalan lancar. Partisipasi dan bantuan yang masuk dari Sahabat Tokoh, berupa sembako, snack, peralatan sekolah, dan dana tunai, telah disalurkan. Serah terima bantuan secara simbolis dilakukan Redaktur Pelaksana Tabloid Tokoh Ngurah Budi, didampingi Ny. Satria Naradha, perwakilan Sahabat Tokoh, Byang Mangku Hipno dan Indraningsih NLP, kepada Kepala SLB/B Negeri Tabanan I Gede Sukaca, S. Pd.
K
edatangan kru dan Sahabat Tokoh ini disambut dengan penampilan tari Puspanjali dari Ni Putu Ari Kusuma Dewi, Ni Gusti
Agung Inten Putri Lestari, Ni Made Ayu Lely Cahyani, Ni Made Ana Sari Putri, dan Ni Kadek Vinayanti. Meski kelima gadis ini tunarungu (tuli-bisu), mereka
cukup lincah menari yang dipandu pelatihnya I Made Widyantara, S.Sn. “Mereka latihan memakai video, dan cara mengajarnya dengan kode-kode tertentu,” jelas Sukaca. Siswa tunarungu lainnya, I Gede Adi WIjaya dan Komang I Komang Sdsiartana, masing–masing menampilkan pantomin “berkebun” dan “berburu”. Mereka dilatih I Made Yoga Astawa, S.Pd. Usai penyambutan dan penyera-
Penyerahan bantuan secara simbolis
han bantuan, kru dan Sahabat Tokoh dan Desak Gede Agung Ayu Pratiaksa. pun berkesempatan meninjau Salon “Jumat dan Sabtu mereka tidak belajar. “Deaf” yang dibuka untuk umum. Ada Mereka diarahkan untuk mendalami lima siswi yang memilih keterampilan skill sesuai dengan pemitannya, seperti salon yang dilatih oleh Ni Putu Hernita keterampilan salon, menjahit, membuat Mahartini, S.Pd. ini, yakni Ni Luh Yuli batako, dll. Ini penting, agar setelah Andewi, Ni Nyoman Tri Wahyuni, tamat di sini mereka sudah mampu Ni Made Yuni Astari, Ni Kadek Dwi bekerja,” tandasnya. –Inten Indrawati Jayanti, dan Desak Gede Agung Ayu Pratiaksa. Untuk keterampilan menjahit yang dilatih Ni Putu Ariani, juga diikuti 5 siswi, yakni Ni Putu Sri Agustini, Ni Luh Putu Mia Astrika Dewi, Ni Wayan Widyaningsih, Ni Peninjauan ke kelas menjahit Kadek Vinayanti,
Bulan November merupakan bulan perjuangan bangsa Indonesia. Hari Pahlawan diperingati tiap tanggal 10 November. Hari Puputan Margarana diperingati tiap tanggal 20 November. Karena itulah Taman Pujaan Bangsa Margarana tak pernah sepi kegiatan di bulan November. Tokoh dan Kelompok Media Bali Post pun punya agenda rutin melakukan tabur bunga menjelang perayaan ulang tahun. Pengunjung yang datang ke Taman Pujaan Bangsa biasanya memulai dengan
Jas yang dipakai Ngurah Rai masih disimpan di museum
Ucapan terima kasih ditujukan kepada: Pementasan anak-anak SLB
Byang Mangku Hipno, Indraningsih NLP, dr. Masyeni, Heny Santy, Cahya Atsyuka, Bintang Mira, Prida Dewi, Jro Nik, Dewa Adhis & Dewa Divo, Aryati Swadarmini, Budi Suryati.
Museum Taman Pujaan Bangsa Margarana
sembahyang di monumen utama yang berbentuk segi lima. Setelah sembahyang dilakukan tabur bunga dengan arah putar berlawanan jarum jam. “Kalau berjalan sesuai jarum jam, pengunjung akan bingung membaca surat yang tertera di prasasti. Karena itu, berjalannya berlawanan dengan jarum jam. Ada surat yang ditulis I Gusti Ngurah Rai
kepada pemimpin Belanda di Bali. Intinya, Bali siap bertempur jika Belanda tidak pergi dari Bali,” ujar I Gede Putu Abdiyasa, petugas Museum Sejarah Taman Pujaan Bangsa Margarana. Ia juga menjelaskan lokasi Taman Pujaan Bangsa ini merupakan medan pertempuran antara pasukan Ciung Wanara yang berjumlah 96 orang dipimpin I Gusti Ngurah Rai. Ketika itu 20 November 1946, semua anggota pasukan termasuk orang Jepang yang membela Indonesia tewas dalam pertempuran. Nisan mereka dikumpulkan menjadi satu. Beberapa lama kemudian ada usulan agar lokasi pertempuran dijadikan tempat mengenang para pahlawan yang gugur di Bali. Akhirnya dikumpulkanlah semua nama pahlawan kemudian dibuatkan nisan. Total ada 1372 nisan. Itu sudah termasuk pahlawan yang tidak diketahui namanya. “Dari semua pertempuran yang terjadi di Bali, hanya pertempuran di Tanah Aron pada 7 Juli 1946 yang tidak ada korban jiwa dari pihak Indonesia,” ujar Abdi. Setelah tabur bunga di 1372 nisan, pengunjung bisa melihat museum Taman Pujaan Bangsa. Dalam museum terdapat kronologis pertempuran yang
Tabur bunga di Margarana
pernah terjadi di Bali, beberapa perlengkapan komunikasi yang dipakai saat perang. Jas yang dipakai Ngurah Rai pun masih tersimpan rapi di museum ini. Bagi yang ingin mengetahui lebih detail tentang pertempuran di Bali
ada beberapa buku yang bisa dibaca atau dibeli. Senjata yang dipakai pertempuran juga masih ada di simpan. Bahkan maket Taman Pujaan Bangsa Margarana juga dipajang di museum ini. –Ngurah Budi
Peralatan komunikasi di museum Taman Pujaan Bangsa Margarana
10
Mitos
Edisi 874/ 9 - 15 November 2015
Tangani Jerawat dengan
Pasta Gigi?
Jerawat adalah salah satu permasalahan pada kulit muka. Kerapkali, pasta gigi menjadi jalan pintas untuk menangani jerawat. Apakah benar pasta gigi bisa mengeringkan jerawat? Berikut penjelasan dr. A.A.Sg.Ratih K.S., M.Biomed (AAM), pemilik sekaligus dokter penanggungjawab VZ Skin Care Bali. Mitos : Pasta gigi dapat men geringkan jerawat Fakta : Salah. Walaupun pasta gigi mengandung triclosan yang berfungsi sebagai antibakteri yang efektif, perlu diingat bahwa tidak semua tipe jerawat dapat disem buhkan dengan triclosan. Terlebih jika triclosan yang ada pada pasta gigi tersebut memiliki konsentrasi tinggi, dimana tidak hanya mem bunuh bakteri tetapi juga merusak sel kulit yang sehat. Apalagi jika Anda menggunakan pasta gigi yang mengandung whitening yang hanya akan memperparah jerawat Anda. Untuk mendapatkan obat jerawat yang paling cocok untuk tipe jerawat Anda, sebaiknya per gi ke dokter-dokter berkompeten menyembuhkan permasalahan kulit Anda. Mitos : Ada pembersih wajah yang bisa mengecilkan pori-pori Fakta : Benar. Pembersih wajah yang mengandung retinol mampu membuat ukuran pori tampak lebih kecil, tetapi tidak dapat dihilangkan sama sekali kecuali dengan bantuan tindakan oleh dokter yang berkompeten, seperti peeling ataupun laser. Se bagai saran, jangan sembarangan memilih produk yang mengand ung retinol tanpa berkonsultasi dengan dokter, karena dalam do sis tinggi justru akan menyebab kan iritasi. Mitos : Berjemur dibawah sinar matahari bisa membuat
maka akan semakin berminyak sehingga dapat menyebabkan timbulnya komedo dan jerawat. Konsultasikan dulu tipe kulit Anda karena bisa saja Anda memiliki jenis kulit kombinasi sehingga perlu memakai dua pembersih yang berbeda.
dr. AA Sg. Ratih K.S., M.Biomed (AAM)
badan sehat Fakta : Benar, karena paparan sinar matahari yang mengandung ultraviolet B dapat membantu tubuh memproduksi vitamin D dalam jumlah banyak. Asalkan dimulai dari pukul 7-8 pagi saja. Hal ini dikarenakan negara Indo nesia berada pada garis khatulis tiwa, yang mana sinar mataharinya lebih sedikit mengenai atmosfir sehingga lebih banyak yang sam pai. Jangan terpapar sinar ma tahari berlebihan karena dapat menyebabkan kanker kulit. Mitos : Minyak zaitun dapat digunakan sebagai pembersih. Fakta : Benar, tetapi hanya cocok bagi kulit normal ataupun kering. Jika orang dengan jenis kulit berminyak menggunakannya
Mitos : Minum banyak air membuat kulit sehat Fakta : Benar, karena tubuh kita terdiri dari 60% air. Untuk menjaga keseimbangan jumlah tersebut maka kita harus mi num, entah air putih, jus, teh, ataupun kopi asalkan jangan minuman beralkohol, untuk memenuhi kebutuhan tubuh tersebut. Selain itu, air juga dapat membantu mengontrol kalori, meningkatkan kerja otot, menyehatkan kulit, meningkat kan fungsi ginjal, juga menjaga kesehatan saluran kencing dan buang air besar. Mitos : Rutin mencuci muka setiap jam dapat membantu menghilangkan jerawat F a k t a : Salah. Mencuci muka adalah salah satu cara untuk menghilangkan minyak berlebih penyebab bakteri jerawat dan juga membersih kan debu dan polusi dari kulit kita. Tetapi, cukup dilakukan 3 kali sehari yaitu, bangun tidur, pulang sekolah/kerja, dan sebe lum tidur malam. Sabun wajah yang dipakai pun harus sesuai dengan jenis kulit kita, apakah
Nge-Rap untuk HIV/AIDS Remaja Bali terancam penyakit HIV/AIDS, narkoba dan pernika han dini, sehingga memerlukan perhatian lebih besar dari ke luarga dan masyarakat pemangku kepentingan di Bali. Sedikitnya 12 ribu masyarakat Bali, yang sebagian besar remaja saat ini ter papar penyakit HIV/AIDS. Jumlah tersebut perkembangannya sangat progresif, bagaikan deret ukur. Hal itu diungkapkan Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Bali Made Suprapta, ketika membuka Lomba Rap GenRe (Gen erasi Berencana) yang dilaksanakan Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Bali di Mall Bali Galeria, pertengahan Oktober 2015. Dari jumlah kasus penderita HIV/AIDS tersebut sebagaian besar
usia yang terdampak adalah usia 15 hingga 40 tahun. Perkembangan kasus HIV/AIDS yang sangat cepat dan berlipat-lipat tersebut, perlu ditekan dengan berbagai cara. Salah satu upaya menekan angka kasus HIV/AIDS tersebut adalah dengan memberi pemahaman kepada rem aja tentang ancaman penyakit yang mematikan tersebut. Lomba Rap GenRe dinilai am puh, karena bukan saja akan dapat menekan bertambahnya kasus penyakit HIV/AIDS dan penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang, tetapi juga memberikan pemahaman kepada remaja tentang pentingnya meren canakan keluarga dengan menunda usia perkawinan pertama. KPA Bali memberikan apresiasi kepada BKKBN untuk melakukan sosial isasi, secara terpadu untuk mem
berikan perlindungan kepada remaja agar mereka lebih peduli terhadap dirinya. Suprapta menambahkan rem aja juga diincar pengedar narko
Style
Gaya Unik
Bebatuan www.esquire.co.id
normal, kering, berminyak, atau kombinasi. Salah memilih jenis pembersih dapat menambah masalah terutama pembersih untuk kulit berminyak. Jika di gunakan lebih dari 5 kali sehari bisa terjadi iritasi. Mitos : Memencet jerawat diperbolehkan jika hanya seben tar Fakta : Salah. Memencet jer awat harus dilakukan oleh tenaga profesional dengan teknik khusus dan alat yang steril sehingga pemencetannya benar-benar bersih. Karena, jika dilakukan sebentar maka ditakutkan masih ada sisa nanah yang dapat mem buat jerawat kembali muncul bahkan bisa lebih besar lagi. Jika tidak tahan dengan pemencetan, maka dapat dilakukan penyun tikan jerawat, peeling, ataupun laser. Mitos : Berbagi make up sangat aman Fakta : Salah. Alat make-up seperti spon bedak, foundation, kuas blush-on, eyeshadow, dll. dapat menjadi perantara penye baran kuman terutama jerawat. Sehingga tidak jarang pasien datang dengan keluhan “brun tusan” ( bahasa awam) setelah menghadiri wisuda, pernikahan, dll. Jadi sebaiknya siapkan alat make up sendiri saat datang ke salon atau memanggil make-up artist ke rumah. Tetapi jika be nar-benar tidak bisa menyiapkan alat-alat tersebut sendiri, maka pastikan Anda tidak tertidur le ba. Berdasarkan data, sekitar 6 ribu masyarakat tercatat sebagai pengguna narkoba. Jumlah peng guna narkoba tersebut, dikatakan kini mulai berubah pola dengan meninggalkan penggunaan jarum suntik dan beralih menjadi pemi num, sehingga tetap saja berba haya bagi penggunanya.
Lomba Rap Genre Tingkat Provinsi Tahun 2015
lap dengan make-up yang masih menempel di wajah Anda sampai pagi. Langsung bersihkan saat Anda tiba di rumah. Mitos : Begadang membuat langsing Fakta : Salah. Justru begadang bisa membuat berat badan Anda naik karena waktu dimana tubuh seharusnya beristirahat digunakan untuk beraktivitas seperti nonton televisi, bermain gadget, dll. Se hingga, tubuh membakar kalori dan kita menjadi lapar, akibatnya kita ngemil sepanjang malam. Jika kita memiliki genetik tubuh kurus yang tidak mudah gemuk walau banyak makan, hati-hati pada kolesterol Anda. Mitos : Ponsel dapat sebab kan jerawat Fakta : Benar. Ponsel adalah sarang penyakit yang bisa lebih buruk dibandingkan toilet umum. Dimana pun dan kapan pun, tidak peduli apakah sudah mencuci tangan atau belum, kita selalu berkutat dengan ponsel kita. Apalagi jika kita memiliki hobi ngobrol via ponsel maka radiasi yang ada dapat merusak kulit pipi, pori semakin besar, dan bak teri pada ponsel dapat berpindah pada kulit kita. “Oleh karena itu pakailah headset jika mengobrol via ponsel, dan bersihkan ponsel 3 hari sekali dengan cairan steril tangan diusapkan dengan kapas pada seluruh permukan ponsel,” tandas Ketua Yayasan RS Budi Agung-Palu, ini. –Inten Indrawati
Dari hasil lomba rap ini, dua remaja asal SMKN 3 Singaraja Putu Kresna Wardana dan Dimas Swan dana terpilih sebagai Juara I Lomba Rap Tingkat Provinsi Bali. Mereka merasa prihatin dengan banyaknya kasus narkoba dan HIV/AIDS yang melanda remaja saat ini. Hal ini disebabkan karena mereka kurang mendapatkan perhatian keluarga dengan baik. Melalui lomba Rap GenRe, remaja semakin terbuka wawasan nya, pentingnya menjaga diri dan keluarga. Wakil Bali yang akan berlaga di tingkat nasional ini, kini sedang mempersiapkan diri, baik dalam lomba maupun merencana kan keluarga dengan menunda usia perkawinan. Duta SMKN 3 Singaraja ini berhak mewakili Bali ke tingkat nasional, dalam lomba yang sama pada 22 Nopember mendatang di Yogyakarta. Juara kedua diraih SMAN 1 Jembrana dan juara ke tiga SMAN 1 Gianyar.
Aksesoris adalah salah satu item fashion pelengkap penampilan. Apalagi bagi perempuan, jika mampu mengaplikasikannya dengan busana yang pas, dapat men jadikan gayanya semakin menarik.
S
aat ini, asesoris den gan bahan bebatuan ,masih sangat di gemari. Beberapa pilihan favorit seperti , batu turquoise, red coral, agate, batu lumut, jasper, batu unakite hingga kristal. Menurut Asri pemilik aksesori merek “Neluwung Art” selain pesona keindahan
nya beberapa batu dipercaya memiliki pengaruh tertentu. Batu turquoise misalnya, dikatakan bisa membawa kedamaian dan keba hagiaan.Turquoise juga dianggap simbol persahabatan dan cinta. Sementara batu unakite dise but –sebut memiliki energi yang baik untuk meredakan stres, juga dapat memberi rasa damai dan tenang. Sedangkan jika memi lih jasper akan
menciptakan harmoni rasa, kreativitas serta pikiran positif. Begitu juga dengan red coral, batu lumut, dan agate, masingmasing memiliki fungsi, mulai dari membantu kreativitas, mem beri kedamaian dan ketenangan, menghilangkan mood buruk serta membangkitkan pikiran dan tindakan positif. Se lanjutnya batu kristal, lebih banyak digunakan untuk tujuan penyembuhan dan menyeimbangkan cakra Tiap batu, lanjut Asri gunanya berbeda. Untuk lebih cantik dan nyaman mengenakannya bebatuan ini pun dibentuk sebagai ak sesoris. Dirangkai sedemikian rupa sehingga menjadi kalung dan gelang yang menawan, sangat cocok untuk meleng kapi penampilan busana kasual maupun formal. – Sri Ardhini
Edisi 874/ 9 - 15 November 2015
15
14
Jelita
Edisi 874/ 9 - 15 november 2015
Miliki Kuku Cantik dan Indah Perempuan umumnya berupaya menyisihkan waktu untuk menjaga kesehatan dan kecantikan tubuhnya. Banyak diantaranya n memanjakan diri dengan berbagai perawatan tubuh. Salah satu yang tidak boleh dilupakan adalah hand and foot spa, memanjakan kuku dengan manicure dan pedicure
Hana
K
uku adalah bagian tubuh yang sering bersentuhan dengan wajah dan organ tubuh lainnya. Karenanya, kebersihannya harus tetap terjaga. Namun faktanya, masih ada orang yang mengabaikan perawatan kukunya. Mereka merasa cukup hanya dengan menggunting dan merapikan kuku, tanpa peduli terhadap kesehatannya. Padahal menurut Hana, salah seorang terapis dari Naturline Salon & Spa di Denpasar, kuku penting diperhatikan agar tidak mudah rapuh dan berjamur. Perawatan yang dapat dilakukan adalah manicure dan pedicure. “Manfaatnya sangat banyak, tidak sekadar mempercantik penampilan kuku jari, namun membuat bersih, mengembalikan kesehatan terutama kutikula kuku jari, sekaligus menjaga kelembaban kulit tangan dan kaki dan terbebas dari jamur,� ujarnya Dikatakannya saat ini, salon & spa atau klinik kecantikan umumnya memiliki tenaga dan alat untuk manicure dan pedicure. Tapi
, belum tentu semua memiliki pelayanan yang baik untuk merawat kuku tangan dan kaki. Kuku merupakan bagian yang sensitif, makanya perlu seseorang yang ahli untuk membantu perawatannya disamping memperhatikan sterilnya alat-alat manicure dan pedicure yang akan digunakan. Jika ingin memotong kuku tangan sendiri, katanya yang terbaik melakukannya setelah mandi atau setelah mencuci tangan dan merendamnya dalam air beberapa saat.�Sebab, setelah direndam kuku tangan maupun kaki menjadi lebih lentur dan mudah untuk dipotong tanpa retak. Ketika selesai memotong kuku, biasakan memberikan dorongan lembut pada kutikula menggunakan tongkat kutikula. “Tidak perlu khawatir akan terluka. Jika kutikula kebetulan retak, langkah ini dapat dilewatkan.Cukup masukkan setetes minyak kutikula pada kuku setelah mandi untuk penyembuhan yang cepat,� tuturnya. Selanjutnya Hana mengatakan kalau kuku juga dapat mengalami kekeringan atau dehidrasi seperti kulit. Terlebih jika kita sering menggunakan remover cat kuku.�Karenanya, ketika kita memakai pelembab di wajah atau kulit tidak ada salahnya , oleskan sedikit untuk kuku juga,� lanjutnya. Hana juga menjelaskan jika pada saat manicure , tidak hanya dilakukan untuk bagian kuku, tetapi termasuk pemijatan untuk bagian lengan. Ketika melakukan manicure , saat tan-
“Manfaatnya sangat banyak, tidak sekadar mempercantik penampilan kuku jari, namun membuat bersih, mengembalikan kesehatÂan terutama kutikula kuku jari, sekaligus menjaga kelembaban kulit tangan dan kaki dan terbebas dari jamur,â€?
gan di rendam dengan air hangat akan diberikan pijatan lembut dengan lotion khusus. Tindakan ini akan membantu membersihkan dan merileksasi otot tangan. Begitu juga dengan pedicure, pada perawatan untuk memperbaiki penampilan kuku kaki ini, selain bagian kuku, sel-sel kulit mati pada bagian tumit dan jari-jari juga akan dibersihkan. Selanjutnya dilakukan pemijatan lembut pada kaki agar peredaran darah yang mengalir ke kuku selalu lancar. Apalagi, untuk kegiatan pemotretan, kata Hana, sekarang selain tata rias wajah, rambut dan busana yang sempurna, kuku juga sudah mendapat porsi perhatian yang setara. Sebab, kuku juga memiliki peran untuk melengkapi sebuah penampilan. Biasanya di setiap kegiatan pemotretan cover atau halaman fashion, ternyata ada tim manicure dan pedicurenya. Kata mereka itu untuk memperoleh total look si model. Ini berarti selain urusan estetika juga diperlukan kuku yang sehat dan hal ini akan tercermin dari kesehatan pemiliknya. RAWAT DULU BARU HIAS Pentingnya kesehatan dan kecantikan kuku juga diamini oleh Chani owner Cutex Nail yang ada
di kawasan Sunset Road, Kuta ini “Merawat kuku itu sebenarnya sangat tepat , sebab tidak hanya untuk kecantikan, tapi juga untuk kesehatan,� katanya menekankan kembali. Begitu pula sebelum menghias kuku kliennya, apakah untuk art atau extension, biasanya ia akan memberikan treatment terlebih dahulu agar kuku menjadi sehat, sesudahnya barulah kuku dihias sesuai dengan selera. Menurut Chani , beberapa masalah yang menimpa kuku adalah akibat alpa merawatsehingga kuku berjamur, kuku menipis, kuku kuning, kuku rapuh, dan kuku menebal. Jamur kuku biasanya menyerang kuku
kaki karena kaki lebih sering lembab karena memakai sepatu. Disarankannya untuk mencegah kuku rusak, manicure dilakukan dua minggu sekali, sedangkan untuk pedicure dilakukan 2-3 minggu sekali, secara teratur. Untuk pedicure dilakukan pula penghilangan kapalan dan perendaman dengan garam spa untuk meretas bau kaki. Bagi yang masih kesulitan mengatur waktunya, mungkin bisa menjadwalkan manicure dan pedicure sebulan sekali. agar kuku tetap sehat dan tidak mudah rapuh terutama dengan bertambahnya usia seseorang. – Sri Ardhini
tkh.net
Bugar
Edisi 874/ 9 - 15 november 2015
11
Olah Raga Dapat Menurunkan Kadar Gula Darah Penderita Diabetes dr. Sisca Susantio, Sp.KFR Departemen Rehabilitasi Medik RS Siloam Bali
Diabetes adalah suatu kelainan metabolisme glukosa yang mempunyai karakÂteristik tingginya kadar gula dalam darah yang terjadi akibat kelainan produksi atau kerja insulin atau keduaduanya. Insulin adalah hormon yang dihasilkan pankreas yang berfungsi memasukkan gula dari darah ke dalam sel tubuh. Ada beberapa tipe diabetes mellitus. Tipe 1 terjadi karena kerusakan sel beta sebagai penghasil insulin sehingga terjadi kekurangan insulin secara mutlak. Pada diabetes mellitus tipe 2, terjadi dr. Sisca Susantio, Sp.KFR resistensi insulin sehingga meski jumlah insulin normal, namun tidak dapat bekerja memasukkan gula ke dalam sel tubuh. Pada kondisi yang lebih lanjut, produksi insulin juga dapat terganggu. Diabetes yang terjadi pada masa kehamilan disebut diabetes gestasional. Untuk mendiagnosa diabetes mellitus diperlukan pemeriksaan kadar gula darah. Pemeriksaan gula darah yang dianjurkan adalah pemeriksaan gula darah yang diambil dari pembuluh darah vena. Untuk pemantauan kadar gula darah dapat digunakan pemeriksaan dengan glucometer yang menggunakan darah dari pembuluh darah kapiler diujung jari. Kecurigaan adanya diabetes pada seseorang perlu dipikirkan jika terdapat gejala klasik seperti poliuri (banyak kencing), polidipsi (sering cepat merasa haus), polifagi (sering cepat merasa lapar), dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelasakan penyebabnya. Gejala lain yang dapat terjadi adalah badan terasa lemas, kesemutan, gatal, mata kabur, disfungsi ereksi pada pria dan rasa gatal pada kemaluan wanita. Tujuan jangka pendek penatalaksanaan diabetes mellitus adalah hilangnya keluhan dan tanda diabetes tersebut diatas, rasa nyaman pada penderita, dan tercapainya target pengendalian glukosa darah. Untuk jangka panjang diharapkan komplikasi diabetes dapat dicegah atau dihambat. Secara keseluruhan diharapkan tercapainya kualitas hidup seorang penderita diabetes. Komplikasi diabetes dapat terjadi pada pembuluh darah jantung, pembuluh darah otak, pembuluh darah tepi, saraf tepi, gangguan ginjal, gangguan penglihatan. Selain itu juga dapat terjadi hipoglikemia yaitu rendahnya kadar gula darah <60 mg/dl yang menyebabkan penurunan kesadaran sampai koma. Untuk menghindari komplikasi ini sangat penting untuk mengontrol gula darah penderita diabetes. Untuk mengontrol kardar gula darah penderita diabetes, ada empat pilar yang harus kita perhatikan. Yang pertama adalah edukasi. Penderita diabetes harus mengerti bahwa penyakit diabetes tidak dapat disembuhkan namun dapat dikontrol. Penderita diabetes juga harus mengerti mengenai perjalanan penyakit diabetes, pentingnya pengendalian kadar gula darah, penyulit yang mungkin timbul, pola hidup yang sehat dan keseimbangan antara asupan nutrisi dan aktivitas fisik, dan bagaimana mengatasi keadaan gawat darurat yang mungkin terjadi. Pilar kedua adalah terapi gizi medik. Penderita diabetes harus mendapat terapi gizi sesuai kebutuhannya. Prinsip pengaturan makan pada penderita diabetes adalah makan yang seimbang dan sesuai dengan kebutuhan kalori dan zat gizi masing-masing individu. Pada penyandang diabetes, perlu ditekankan pentingnya keteraturan makan dalam hal jadwal makan, jenis dan jumlah makanan, terutama pada mereka yang menggunakan obat atau insulin. Pilar berikutnya adalah obatobatan. Intervensi dengan obat-obatan ditambahkan jika sasaran glukosa darah belum tercapai dengan pengaturan makan dan latihan jasmani. Pilar terakhir dan yang akan dibahas lebih dalam adalah latihan jasmani atau aktivitas fisik. Istilah aktivitas fisik sejatinya berbeda dengan istilah latihan jasmani atau olah raga. Aktivitas fisik adalah semua gerakan tu-
buh yang disebabkan karena kontraksi otot yang meningkatkan kebutuhan energi. Sementara latihan jasmani atau olah raga adalah salah satu bentuk aktivitas fisik yang dilakukan dalam dosis tertentu untuk mencapai kebugaran tubuh (kebugaran jantung paru, kekuatan otot, maupun fleksibilitas/kelenturan tubuh). Berkebun, menyapu, mengepel, mencuci, menyetrika adalah contoh aktivitas fisik. Sementara berlari, berjalan, bersepeda, latihan aerobic, latihan beban, yoga, dan sebagainya jika dilakukan dalam dosis tertentu disebut olah raga. Pada penderita diabetes, latihan jasmani ternyata mempunyai berbagai macam manfaat. Latihan dapat membantu mengontrol gula darah, memperbaiki sensitivitas insulin, menurunkan kebutuhan akan obat, mengurangi lemak tubuh, menurunkan risiko penyakit kardiovaskular, mengurangi stress dan mencegah diabetes tipe 2. Meskipun kadar pada diabetes mellitus tipe 2 terjadi resistensi insulin, latihan dapat membantu memasukkan gula darah ke dalam sel tubuh lewat mekanisme lain yang tidak tergantung insulin. Oleh karena itu, latihan harus menjadi bagian dari penganan diabetes tipe 2 untuk memperbaiki kontrol gula darah. Meskipun latihan tidak secara signifikan mengontrol gula darah pada diabetes tipe 1, namun penderita akan mendapat manfaat lain dari latihan seperti yang telah disebutkan diatas. Meskipun latihan adalah salah satu bagian yang penting, namun faktanya sebagian besar penderita diabetes tipe 2 ternyata tidak aktif. Ada berbagai jenis latihan jasmani yang dapat memberikan manfaat bagi penderita diabetes. Yang pertama adalah latihan aerobik. Latihan ini dicirikan dengan gerakan yang ritmis berulang menggunakan otot-otot besar tubuh. Latihan ini bertujuan meningkatkan kebugaran jantung dan paru. Contoh latihan bersifat aerobik adalah jalan, lari, sepeda, renang, cross trainer/elliptical. Latihan aerobik yang dianjurkan bagi penderita diabetes adalah selama minimal 150 menit/minggu dengan intensitas sedang sampai berat. Latihan dapat dibagi menjadi 3-5 kali sesi perminggunya jadi satu sesi berlangsung selama 30-50 menit. Menurut penelitian, efek latihan aerobik terhadap perbaikan kerja insulin dapat berlangsung 2-48 jam setelah latihan. Untuk mempertahankan efek itu, dianjurkan melakukan latihan setiap dua hari sekali. Jenis latihan kedua adalah latihan penguatan atau latihan beban. Latihan ini sesuai dengan namanya menggunakan beban seperti barbell dan alat beban lain. Tujuannya adalah menguatkan otot-otot tertentu dan membentuk otot tersebut. Misalnya latihan beban pada otot lengan, otot paha bagian depan, paha bagian belakang, dan otot perut atau punggung. Latihan ini dianjurkan dilakukan 2-3x/minggu. Setiap jenis latihan penguatan dapat dilakukan sebanyak 2-4 set. Satu set terdiri dari 8-10 kali pengulangan dengan jeda istirahat diantara setiap set nya. Jenis latihan lain adalah latihan peregangan (stretching) yang berfungsi meningkatkan fleksibilitas atau kelenturan. Latihan ini biasanya dilakukan sebelum dan sesudah melakukan latihan inti. Dari peneliti an, didapatkan bahwa kombinasi latihan aerobik dan latihan beban memberikan efek mengontrol gula darah paling optimal ketimbang memilih salah satu jenis latihan saja. Sebelum memulai latihan jasmani, sebaiknya penderita diabetes berkonsultasi dengan dokter. Dokter mungkin akan menganjurkan beberapa pemeriksaan untuk menilai apakah kondisi penderita diabetes memungkinkan untuk memulai latihan. Pasien yang mengalami perdarahan retina atau baru saja mendapat terapi untuk retinopati tidak diperbolehkan menjalani latihan jasmani yang berat. Penderita diabetes yang sedang mengalami infeksi juga diharapkan menunda latihan karena pada saat mengalami penyakit infeksi, kadar gula darah dapat menjadi tidak stabil. Penderita diabetes dengan kadar gula darah antara > 250-300 mg/dl dan terdapat keton dalam pemeriksaan urin atau sebaliknya kadar gula darah yang rendah antara 80-100 mg/dl juga diharapkan tidak melakukan latihan. Dokter juga mungkin akan melakukan pemeriksaan stress test dengan EKG untuk menentukan dosis latihan dan kemampuan jantung dalam melakukan aktivitas. Karena latihan dapat menurunkan kadar gula darah, dokter mungkin perlu menyesuaikan dosis obat maupun insulin yang sebelumnya diberikan. Dokter rehabilitasi medik berperan menentukan dosis latihan
jasmani yang disesuaikan untuk masing-masing individu. Dosis tersebut meliputi frekuensi, intensitas, durasi dan jenis latihan. Jenis latihan harus disesuaikan dengan kondisi penderita diabetes. Misalnya penderita diabetes dengan berat badan yang berlebih dan gangguan sendi lutut sebaiknya tidak melakukan olah raga jalan atau lari yang dapat memperberat kondisinya, melainkan memilih olah raga renang atau sepeda statis sehingga tidak membebani lutut. Intensitas latihan biasanya diukur dengan menghitung target denyut nadi yang didapatkan dari hasil stress test yang telah dilakukan sebelumnya. Meskipun konsultasi ke dokter penting dilakukan terutama bagi penderita diabetes yang ingin mengikuti program latihan yang lebih berat, namun penderita diabetes dapat segera memulai kebiasaan berolah raga seperti berjalan santai selama penderita dalam kondisi yang baik. Beberapa hal dapat terjadi pada saat melakukan latihan jasmani. Yang pertama adalah hipoglikemi. Hipoglikemi atau rendahnya kadar gula darah dapat terjadi selama latihan bahkan sampai 4-6 jam pasca latihan. Hipoglikemi ini terutama dapat terjadi pada penderita diabetes yang menggunakan insulin. Tanda-tanda hipoglikemi dapat merupa pusing, bingung/tidak fokus, keringat dingin, gemetar, rasa lapar bahkan sampai penurunan kesadaran. Hal kedua adalah hiperglikemia atau tingginya kadar gula darah. Hal ini dapat terjadi terutama saat penderita diabetes melakukan latihan yang sangat berat. Untuk mengatasi hal-hal tersebut diatas hendaknya diperhatikan beberapa hal dibawah ini: 1.Monitor kadar gula darah secara berkala sebelum, selama dan sesudah latihan. Buatlah catatan untuk dapat melihat respon gula darah kita terhadap latihan. 2.Perhatikan dosis insulin atau obat hipoglikemik lainnya yang kita konsumsi. Dosisnya mungkin akan diturunkan oleh dokter. Jika menggunakan insulin, suntiklah di area yang relatif kurang bergerak (seperti perut) dan hindari melakukan latihan pada puncak masa kerja insulin. 3.Selalu sedia karbohidrat yang cepat dicerna seperti permen, air gula, atau jus selama latihan. Konsumsi snack karbohidrat selama latihan yang panjang (secara umum diperlukan 15 g karbohidrat setiap satu jam latihan). 4.Pahami tanda-tanda hipoglikemi atau hiperglikemia 5.Waspada bahwa beta bloker dan obat-obatan lain dapat mempengaruhi kemampuan penderita untuk mengenali tanda-tanda hipoglikemia dan atau angina 6.Cukup cairan sebelum, selama dan sesudah latihan 7.Latihan pada suhu ekstrim dapat menyebabkan masalah pada pasien diabetes dengan komplikasi gangguan saraf (neuropati) 8.Pakailah pakaian dan sepatu olah raga yang sesuai. Cek kaki secara berkala untuk mengetahui apakah ada luka di kaki. 9.Berlatihlah dengan teman atau bawalah identifikasi medis. Selain latihan jasmani, aktivitas fisik kita sehari-hari juga perlu ditingkatkan dengan mengurangi waktu menonton TV atau duduk di depan komputer, dan meningkatkan aktivitas fisik seperti berkebun, membawa binatang peliharaan jalan-jalan dan sebagainya. Latihan dan aktivitas fisik menjadi salah satu bagian yang penting dalam tatalaksana diabetes. Tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai suatu kebiasaan yang baik. Jadikan olah raga sebagai bagian dari hidup kita dan rasakan manfaatnya.
Contoh latihan aerobik
Contoh latihan beban
Kuliner
Edisi 874/ 9 - 15 November 2015
12
Kemeriahan Ulang Tahun Pertama
SAMANI RESTO Denpasar SAMANI RESTO berada di lokasi yang sangat strategis di jalan utama area Denpasar timur, tepatnya di Jalan Trenggana Nomor 37 Penatih. Di jalan yang menghubungkan pusat kota Denpasar dengan area Ubud tersebut, SAMANI RESTO berdiri setahun yang lalu, tepatnya 2 November 2014.
M
emperingati ulang tahun yang pertama, atas permintaan para tamu dan mengejar moment family day (hari keluarga), maka perayaan dilakukan pada hari Minggu, 1 November 2015, satu hari lebih awal. Awalnya, SAMANI RESTO Denpasar bernama JAMBUL RESTO, yang merupakan resto kedua. Resto pertama berada di area Bukit Jambul, Karangasem. Resto ini sangat populer yang dikenal dengan nama JAMBUL RESTO. Melihat potensi yang sedemikian bagus, tanggal 2 November 2014 lahirlah JAMBUL RESTO di Denpasar. Mulai tang-
gal 1 September 2015, JAMBUL RESTO berubah nama menjadi SAMANI RESTO. SAMANI RESTO menyajikan halal food untuk menu masakan Indonesia, Western (internasional), dan menu makanan Bali. Menu diolah dari resep yang sangat berkualitas, melalui pengolahan yang cermat, namun tampil dengan harga yang sangat terjangkau, baik untuk masyarakat lokal, apalagi wisatawan mancanegara. Beberapa hidangan menu Indonesia favorit para tamu antara lain gurami terbang SAMANI, bebek SAMANI, dan ayam goreng SAMANI dengan banyak pilihan sambal tradisional. Sedangkan untuk menu western adalah burger SAMANI dan SAMANI spring roll. Tersedia pula aneka pilihan minuman segar baik panas maupun dingin. Seluruh menu dapat dinikmati secara ala carte maupun buffet. Dengan konsep interior kolam pemancingan, para tamu daKemeriahan ulang tahun pertama SAMANI RESTO
Suasana asri untuk makan dan memancing
pat pula menyalurkan bakat memancing. Yang lebih asyik lagi, ikan yang diperoleh dapat langsung digoreng atau dibakar sesuai permintaan tamu. Di tepi kolam tersedia gazebo-gazebo yang sangat ideal untuk makan dan bersenda-gurau bersama keluarga atau teman terdekat. Untuk keperluan acara farewell party, ulang tahun, wedding, gathering, arisan, reuni, launching produk, maupun social event lainnya, SAMANI mampu menampung hingga 500 orang untuk standing party. Selain free panggung, electone dan singer, SAMANI RESTO juga dilengkapi dengan berbagai sarana meeting (in focus, sound system, dll), termasuk juga sarana parkir yang sangat luas dan nyaman, sehingga bisa menampung hingga 5 bus ukuran 60 seat. Pada ulang tahun yang pertama di SAMANI, bersamaan dengan acara serah- terima jabatan, salah satu bank pemerintah yang dihadiri lebih dari 250 orang. Pada saat yang sama pula, ditandangani kesepakatan PROGRAM DANA
SAMANI, yakni program kerjasama antara PT BPR DANA NIAGA yang berkantor di Teuku Umar Denpasar, Jimbaran, dan Ubud dengan SAMANI Resto. Program tersebut memberikan previledge kepada nasabah BPR DANA NIAGA maupun para tamu SAMANI RESTO itu sendiri. Pihak SAMANI RESTO diwakili oleh
Samsul Azhari selaku General Manager. Dan pihak BPR DANA NIAGA diwakili I Made Arta selaku Direktur Utama, Desak Satya Pusparini selaku Direktur, dan Ani Suryaningsih selaku Kepala Cabang Jimbaran. Bahkan BPR DANA NIAGA menjadi sponsor utama acara ulang tahun pertama tersebut. -brt
Chinesse Food & Aneka Es Taiwan
Cafe Santai iah Murah Mer & Bersih
Aloha Ice Cream
Dapatkan free ximilu setiap pembelanjaan Rp 50.000 ke atas
Cumi Asam Manis
Berlaku mulai 1 s.d. 30 November 2015
Jln. Raya Sesetan No. 293 Denpasar. Tlp. (0361) 7440658, 7427678
13
“Citadines Journalist Jajanan Pasar Murah Meriah Cooking Competition”. Kukus Ketan Manis
Wartawan yang biasanya wawancara bersifat fun cooking competition tapi serius dan mengetik naskah untuk dijadikan juga. Tujuan kami mengadakan acara ini berita diberi tantangan. Tantangannya adalah ingin lebih mendekatkan Citadines memasak. Inilah yang dilakukan Citadines dengan kawan-kawan media. Sekaligus Kuta Beach Bali, Sabtu (31/10) dalam mengenalkan Citadines kepada publik acara “Fun Media Gathering” yang salah melalui kawan-kawan media,” ujar Bersatu acaranya “Citadines Journalist Cook- nard Siew, Residence Manager Citadines ing Competition”. Kuta Beach Bali yang didampingi Chef Ada 10 tim wartawan yang mengikuti Basuki. –Ngurah Budi lomba memasak ini. Tiap tim terdiri dari dua orang dan dibagi dalam dua sesi lomba. Bahan utama sajian diundi terlebih dahulu. Setelah mendapatkan bahan utama, mereka mengambil bahan pelengkap untuk hidangan masing-masing. Lomba masak ini pun dikemas ala Master Chef dengan challenge yang tak diduga. Dalam waktu 30 menit, tiap tim akan memasak kreasi masingmasing berdasarkan bahan yang sudah diperoleh. Salah satu anggota tim akan memasak terlebih dahulu, dan ketika terdengar bunyi peluit yang menandakan 15 menit pertama telah berakhir, anggota tim lain akan bergantian memasak. “Penilaian kami pada kekompakan tim, kebersihan, rasa dan presenSuasana “Citadines Journalist Cooking Competition” tasi. Meskipun ini acara
Sarwan
ati Nikm Hanya di...
Samsul Azhari beserta staf SAMANI sedang berfoto bersama Desak Satya Pusparini dan Ani Suryaningsih
Edisi 874/ 9 - 15 November 2015
ketan putih gula pasir garam kelapa
Cara membuat: - Kukus ketan setengah masak, kemudian diaru. - Setelah matang, angkat ketan. Tambahkan gula dan garam. - Pulung-pulung ketan, gulingkan di kelapa parut.
Sumping Talas Nangka Bahan:a 300 gr : keladi (talas) 100 gr : kelapa parut 50 gr : gula pasir 1 sdt : garam 100 gr : nangka 50 gr : kelapa parut Daun pisang secukupnya
Cara membuat: - Cuci bersih talas, kemudian diparut. Nangka dipotong dadu. - Campurkan talas dengan kelapa parut, garam, gula pasir, dan nangka. - Bungkus adonan dengan daun pisang, kemudian kukus sampai matang. -Wirati Astiti
Udang Goreng Crispy Tumis Kambing Daun Ketumbar
Bahan: 750 gr : kambing yang bagus, potong dadu 2 sdm : kecap ikan 4 sdm : saus tiram 2 sdm : kecap manis 4 siung : bawang putih, cincang halus 1 buah : bawang bombai sedang, cincang halus 3 ruas : jari jahe, memarkan 2 buah : cabe merah besar, iris serong 1 sdm : kecap inggris 2 sdm : minyak goreng 40 gr : daun ketumbar, cincang kasar 2 sdm : bawang putih goreng Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya. Cara Membuat: - Campur daging kambing dengan kecap ikan, saus tiram, kecap inggris, diamkan selama 15 menit, masukkan ke dalam lemari es. - Panaskan minyak, tumis irisan bawang putih, bawang
Bahan: ½ kg : ¼ kg : ½ sdt : ½ butir :
bombai, jahe dan jinten sampai harum. Lalu masukkan campuran kambing, aduk sampai rata dan matang, masukkan irisan cabe merah dan daun ketumbar, aduk-aduk hingga bumbu meresap, siap disajikan dengan taburan bawang putih goreng.
Bahan: 750 : udang segar, kupas kulitnya, sisakan ekornya, belah punggungya 1 butir : telur buat celupan 2sdm : tepung maizena. 300 : tepung panir Minyak goreng secukupnya. Bahan Rendaman: 1 sdm : saus raja rasa 1 sdm : kecap ikan 1 sdm : bawang putih halus 1sdt : lada bubuk Cara Membuat: - Campur semua b a h a n c el u p a n jadi satu, lalu rendam udang selama 3menit. Lalu bolak balik dalam tepung maizena. - Celupkan ke dalam telur yang sudah diadukaduk. - Celup dan bolakbalik ke tepung
panir sampai rata tapi jangan kena ekor udang. - Panaskan minyak sampai panas, lalu goreng udang sampai matang kecoklatan, tiriskan. - Udang crispy disajikan dengan kecap ikan kalau mau pedas irisin dengan cabe rawit.
Kuliner
Edisi 874/ 9 - 15 November 2015
12
Kemeriahan Ulang Tahun Pertama
SAMANI RESTO Denpasar SAMANI RESTO berada di lokasi yang sangat strategis di jalan utama area Denpasar timur, tepatnya di Jalan Trenggana Nomor 37 Penatih. Di jalan yang menghubungkan pusat kota Denpasar dengan area Ubud tersebut, SAMANI RESTO berdiri setahun yang lalu, tepatnya 2 November 2014.
M
emperingati ulang tahun yang pertama, atas permintaan para tamu dan mengejar moment family day (hari keluarga), maka perayaan dilakukan pada hari Minggu, 1 November 2015, satu hari lebih awal. Awalnya, SAMANI RESTO Denpasar bernama JAMBUL RESTO, yang merupakan resto kedua. Resto pertama berada di area Bukit Jambul, Karangasem. Resto ini sangat populer yang dikenal dengan nama JAMBUL RESTO. Melihat potensi yang sedemikian bagus, tanggal 2 November 2014 lahirlah JAMBUL RESTO di Denpasar. Mulai tang-
gal 1 September 2015, JAMBUL RESTO berubah nama menjadi SAMANI RESTO. SAMANI RESTO menyajikan halal food untuk menu masakan Indonesia, Western (internasional), dan menu makanan Bali. Menu diolah dari resep yang sangat berkualitas, melalui pengolahan yang cermat, namun tampil dengan harga yang sangat terjangkau, baik untuk masyarakat lokal, apalagi wisatawan mancanegara. Beberapa hidangan menu Indonesia favorit para tamu antara lain gurami terbang SAMANI, bebek SAMANI, dan ayam goreng SAMANI dengan banyak pilihan sambal tradisional. Sedangkan untuk menu western adalah burger SAMANI dan SAMANI spring roll. Tersedia pula aneka pilihan minuman segar baik panas maupun dingin. Seluruh menu dapat dinikmati secara ala carte maupun buffet. Dengan konsep interior kolam pemancingan, para tamu daKemeriahan ulang tahun pertama SAMANI RESTO
Suasana asri untuk makan dan memancing
pat pula menyalurkan bakat memancing. Yang lebih asyik lagi, ikan yang diperoleh dapat langsung digoreng atau dibakar sesuai permintaan tamu. Di tepi kolam tersedia gazebo-gazebo yang sangat ideal untuk makan dan bersenda-gurau bersama keluarga atau teman terdekat. Untuk keperluan acara farewell party, ulang tahun, wedding, gathering, arisan, reuni, launching produk, maupun social event lainnya, SAMANI mampu menampung hingga 500 orang untuk standing party. Selain free panggung, electone dan singer, SAMANI RESTO juga dilengkapi dengan berbagai sarana meeting (in focus, sound system, dll), termasuk juga sarana parkir yang sangat luas dan nyaman, sehingga bisa menampung hingga 5 bus ukuran 60 seat. Pada ulang tahun yang pertama di SAMANI, bersamaan dengan acara serah- terima jabatan, salah satu bank pemerintah yang dihadiri lebih dari 250 orang. Pada saat yang sama pula, ditandangani kesepakatan PROGRAM DANA
SAMANI, yakni program kerjasama antara PT BPR DANA NIAGA yang berkantor di Teuku Umar Denpasar, Jimbaran, dan Ubud dengan SAMANI Resto. Program tersebut memberikan previledge kepada nasabah BPR DANA NIAGA maupun para tamu SAMANI RESTO itu sendiri. Pihak SAMANI RESTO diwakili oleh
Samsul Azhari selaku General Manager. Dan pihak BPR DANA NIAGA diwakili I Made Arta selaku Direktur Utama, Desak Satya Pusparini selaku Direktur, dan Ani Suryaningsih selaku Kepala Cabang Jimbaran. Bahkan BPR DANA NIAGA menjadi sponsor utama acara ulang tahun pertama tersebut. -brt
Chinesse Food & Aneka Es Taiwan
Cafe Santai iah Murah Mer & Bersih
Aloha Ice Cream
Dapatkan free ximilu setiap pembelanjaan Rp 50.000 ke atas
Cumi Asam Manis
Berlaku mulai 1 s.d. 30 November 2015
Jln. Raya Sesetan No. 293 Denpasar. Tlp. (0361) 7440658, 7427678
13
“Citadines Journalist Jajanan Pasar Murah Meriah Cooking Competition”. Kukus Ketan Manis
Wartawan yang biasanya wawancara bersifat fun cooking competition tapi serius dan mengetik naskah untuk dijadikan juga. Tujuan kami mengadakan acara ini berita diberi tantangan. Tantangannya adalah ingin lebih mendekatkan Citadines memasak. Inilah yang dilakukan Citadines dengan kawan-kawan media. Sekaligus Kuta Beach Bali, Sabtu (31/10) dalam mengenalkan Citadines kepada publik acara “Fun Media Gathering” yang salah melalui kawan-kawan media,” ujar Bersatu acaranya “Citadines Journalist Cook- nard Siew, Residence Manager Citadines ing Competition”. Kuta Beach Bali yang didampingi Chef Ada 10 tim wartawan yang mengikuti Basuki. –Ngurah Budi lomba memasak ini. Tiap tim terdiri dari dua orang dan dibagi dalam dua sesi lomba. Bahan utama sajian diundi terlebih dahulu. Setelah mendapatkan bahan utama, mereka mengambil bahan pelengkap untuk hidangan masing-masing. Lomba masak ini pun dikemas ala Master Chef dengan challenge yang tak diduga. Dalam waktu 30 menit, tiap tim akan memasak kreasi masingmasing berdasarkan bahan yang sudah diperoleh. Salah satu anggota tim akan memasak terlebih dahulu, dan ketika terdengar bunyi peluit yang menandakan 15 menit pertama telah berakhir, anggota tim lain akan bergantian memasak. “Penilaian kami pada kekompakan tim, kebersihan, rasa dan presenSuasana “Citadines Journalist Cooking Competition” tasi. Meskipun ini acara
Sarwan
ati Nikm Hanya di...
Samsul Azhari beserta staf SAMANI sedang berfoto bersama Desak Satya Pusparini dan Ani Suryaningsih
Edisi 874/ 9 - 15 November 2015
ketan putih gula pasir garam kelapa
Cara membuat: - Kukus ketan setengah masak, kemudian diaru. - Setelah matang, angkat ketan. Tambahkan gula dan garam. - Pulung-pulung ketan, gulingkan di kelapa parut.
Sumping Talas Nangka Bahan:a 300 gr : keladi (talas) 100 gr : kelapa parut 50 gr : gula pasir 1 sdt : garam 100 gr : nangka 50 gr : kelapa parut Daun pisang secukupnya
Cara membuat: - Cuci bersih talas, kemudian diparut. Nangka dipotong dadu. - Campurkan talas dengan kelapa parut, garam, gula pasir, dan nangka. - Bungkus adonan dengan daun pisang, kemudian kukus sampai matang. -Wirati Astiti
Udang Goreng Crispy Tumis Kambing Daun Ketumbar
Bahan: 750 gr : kambing yang bagus, potong dadu 2 sdm : kecap ikan 4 sdm : saus tiram 2 sdm : kecap manis 4 siung : bawang putih, cincang halus 1 buah : bawang bombai sedang, cincang halus 3 ruas : jari jahe, memarkan 2 buah : cabe merah besar, iris serong 1 sdm : kecap inggris 2 sdm : minyak goreng 40 gr : daun ketumbar, cincang kasar 2 sdm : bawang putih goreng Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya. Cara Membuat: - Campur daging kambing dengan kecap ikan, saus tiram, kecap inggris, diamkan selama 15 menit, masukkan ke dalam lemari es. - Panaskan minyak, tumis irisan bawang putih, bawang
Bahan: ½ kg : ¼ kg : ½ sdt : ½ butir :
bombai, jahe dan jinten sampai harum. Lalu masukkan campuran kambing, aduk sampai rata dan matang, masukkan irisan cabe merah dan daun ketumbar, aduk-aduk hingga bumbu meresap, siap disajikan dengan taburan bawang putih goreng.
Bahan: 750 : udang segar, kupas kulitnya, sisakan ekornya, belah punggungya 1 butir : telur buat celupan 2sdm : tepung maizena. 300 : tepung panir Minyak goreng secukupnya. Bahan Rendaman: 1 sdm : saus raja rasa 1 sdm : kecap ikan 1 sdm : bawang putih halus 1sdt : lada bubuk Cara Membuat: - Campur semua b a h a n c el u p a n jadi satu, lalu rendam udang selama 3menit. Lalu bolak balik dalam tepung maizena. - Celupkan ke dalam telur yang sudah diadukaduk. - Celup dan bolakbalik ke tepung
panir sampai rata tapi jangan kena ekor udang. - Panaskan minyak sampai panas, lalu goreng udang sampai matang kecoklatan, tiriskan. - Udang crispy disajikan dengan kecap ikan kalau mau pedas irisin dengan cabe rawit.
14
Jelita
Edisi 874/ 9 - 15 november 2015
Miliki Kuku Cantik dan Indah Perempuan umumnya berupaya menyisihkan waktu untuk menjaga kesehatan dan kecantikan tubuhnya. Banyak diantaranya n memanjakan diri dengan berbagai perawatan tubuh. Salah satu yang tidak boleh dilupakan adalah hand and foot spa, memanjakan kuku dengan manicure dan pedicure
Hana
K
uku adalah bagian tubuh yang sering bersentuhan dengan wajah dan organ tubuh lainnya. Karenanya, kebersihannya harus tetap terjaga. Namun faktanya, masih ada orang yang mengabaikan perawatan kukunya. Mereka merasa cukup hanya dengan menggunting dan merapikan kuku, tanpa peduli terhadap kesehatannya. Padahal menurut Hana, salah seorang terapis dari Naturline Salon & Spa di Denpasar, kuku penting diperhatikan agar tidak mudah rapuh dan berjamur. Perawatan yang dapat dilakukan adalah manicure dan pedicure. “Manfaatnya sangat banyak, tidak sekadar mempercantik penampilan kuku jari, namun membuat bersih, mengembalikan kesehatan terutama kutikula kuku jari, sekaligus menjaga kelembaban kulit tangan dan kaki dan terbebas dari jamur,� ujarnya Dikatakannya saat ini, salon & spa atau klinik kecantikan umumnya memiliki tenaga dan alat untuk manicure dan pedicure. Tapi
, belum tentu semua memiliki pelayanan yang baik untuk merawat kuku tangan dan kaki. Kuku merupakan bagian yang sensitif, makanya perlu seseorang yang ahli untuk membantu perawatannya disamping memperhatikan sterilnya alat-alat manicure dan pedicure yang akan digunakan. Jika ingin memotong kuku tangan sendiri, katanya yang terbaik melakukannya setelah mandi atau setelah mencuci tangan dan merendamnya dalam air beberapa saat.�Sebab, setelah direndam kuku tangan maupun kaki menjadi lebih lentur dan mudah untuk dipotong tanpa retak. Ketika selesai memotong kuku, biasakan memberikan dorongan lembut pada kutikula menggunakan tongkat kutikula. “Tidak perlu khawatir akan terluka. Jika kutikula kebetulan retak, langkah ini dapat dilewatkan.Cukup masukkan setetes minyak kutikula pada kuku setelah mandi untuk penyembuhan yang cepat,� tuturnya. Selanjutnya Hana mengatakan kalau kuku juga dapat mengalami kekeringan atau dehidrasi seperti kulit. Terlebih jika kita sering menggunakan remover cat kuku.�Karenanya, ketika kita memakai pelembab di wajah atau kulit tidak ada salahnya , oleskan sedikit untuk kuku juga,� lanjutnya. Hana juga menjelaskan jika pada saat manicure , tidak hanya dilakukan untuk bagian kuku, tetapi termasuk pemijatan untuk bagian lengan. Ketika melakukan manicure , saat tan-
“Manfaatnya sangat banyak, tidak sekadar mempercantik penampilan kuku jari, namun membuat bersih, mengembalikan kesehatÂan terutama kutikula kuku jari, sekaligus menjaga kelembaban kulit tangan dan kaki dan terbebas dari jamur,â€?
gan di rendam dengan air hangat akan diberikan pijatan lembut dengan lotion khusus. Tindakan ini akan membantu membersihkan dan merileksasi otot tangan. Begitu juga dengan pedicure, pada perawatan untuk memperbaiki penampilan kuku kaki ini, selain bagian kuku, sel-sel kulit mati pada bagian tumit dan jari-jari juga akan dibersihkan. Selanjutnya dilakukan pemijatan lembut pada kaki agar peredaran darah yang mengalir ke kuku selalu lancar. Apalagi, untuk kegiatan pemotretan, kata Hana, sekarang selain tata rias wajah, rambut dan busana yang sempurna, kuku juga sudah mendapat porsi perhatian yang setara. Sebab, kuku juga memiliki peran untuk melengkapi sebuah penampilan. Biasanya di setiap kegiatan pemotretan cover atau halaman fashion, ternyata ada tim manicure dan pedicurenya. Kata mereka itu untuk memperoleh total look si model. Ini berarti selain urusan estetika juga diperlukan kuku yang sehat dan hal ini akan tercermin dari kesehatan pemiliknya. RAWAT DULU BARU HIAS Pentingnya kesehatan dan kecantikan kuku juga diamini oleh Chani owner Cutex Nail yang ada
di kawasan Sunset Road, Kuta ini “Merawat kuku itu sebenarnya sangat tepat , sebab tidak hanya untuk kecantikan, tapi juga untuk kesehatan,� katanya menekankan kembali. Begitu pula sebelum menghias kuku kliennya, apakah untuk art atau extension, biasanya ia akan memberikan treatment terlebih dahulu agar kuku menjadi sehat, sesudahnya barulah kuku dihias sesuai dengan selera. Menurut Chani , beberapa masalah yang menimpa kuku adalah akibat alpa merawatsehingga kuku berjamur, kuku menipis, kuku kuning, kuku rapuh, dan kuku menebal. Jamur kuku biasanya menyerang kuku
kaki karena kaki lebih sering lembab karena memakai sepatu. Disarankannya untuk mencegah kuku rusak, manicure dilakukan dua minggu sekali, sedangkan untuk pedicure dilakukan 2-3 minggu sekali, secara teratur. Untuk pedicure dilakukan pula penghilangan kapalan dan perendaman dengan garam spa untuk meretas bau kaki. Bagi yang masih kesulitan mengatur waktunya, mungkin bisa menjadwalkan manicure dan pedicure sebulan sekali. agar kuku tetap sehat dan tidak mudah rapuh terutama dengan bertambahnya usia seseorang. – Sri Ardhini
tkh.net
Bugar
Edisi 874/ 9 - 15 november 2015
11
Olah Raga Dapat Menurunkan Kadar Gula Darah Penderita Diabetes dr. Sisca Susantio, Sp.KFR Departemen Rehabilitasi Medik RS Siloam Bali
Diabetes adalah suatu kelainan metabolisme glukosa yang mempunyai karakÂteristik tingginya kadar gula dalam darah yang terjadi akibat kelainan produksi atau kerja insulin atau keduaduanya. Insulin adalah hormon yang dihasilkan pankreas yang berfungsi memasukkan gula dari darah ke dalam sel tubuh. Ada beberapa tipe diabetes mellitus. Tipe 1 terjadi karena kerusakan sel beta sebagai penghasil insulin sehingga terjadi kekurangan insulin secara mutlak. Pada diabetes mellitus tipe 2, terjadi dr. Sisca Susantio, Sp.KFR resistensi insulin sehingga meski jumlah insulin normal, namun tidak dapat bekerja memasukkan gula ke dalam sel tubuh. Pada kondisi yang lebih lanjut, produksi insulin juga dapat terganggu. Diabetes yang terjadi pada masa kehamilan disebut diabetes gestasional. Untuk mendiagnosa diabetes mellitus diperlukan pemeriksaan kadar gula darah. Pemeriksaan gula darah yang dianjurkan adalah pemeriksaan gula darah yang diambil dari pembuluh darah vena. Untuk pemantauan kadar gula darah dapat digunakan pemeriksaan dengan glucometer yang menggunakan darah dari pembuluh darah kapiler diujung jari. Kecurigaan adanya diabetes pada seseorang perlu dipikirkan jika terdapat gejala klasik seperti poliuri (banyak kencing), polidipsi (sering cepat merasa haus), polifagi (sering cepat merasa lapar), dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelasakan penyebabnya. Gejala lain yang dapat terjadi adalah badan terasa lemas, kesemutan, gatal, mata kabur, disfungsi ereksi pada pria dan rasa gatal pada kemaluan wanita. Tujuan jangka pendek penatalaksanaan diabetes mellitus adalah hilangnya keluhan dan tanda diabetes tersebut diatas, rasa nyaman pada penderita, dan tercapainya target pengendalian glukosa darah. Untuk jangka panjang diharapkan komplikasi diabetes dapat dicegah atau dihambat. Secara keseluruhan diharapkan tercapainya kualitas hidup seorang penderita diabetes. Komplikasi diabetes dapat terjadi pada pembuluh darah jantung, pembuluh darah otak, pembuluh darah tepi, saraf tepi, gangguan ginjal, gangguan penglihatan. Selain itu juga dapat terjadi hipoglikemia yaitu rendahnya kadar gula darah <60 mg/dl yang menyebabkan penurunan kesadaran sampai koma. Untuk menghindari komplikasi ini sangat penting untuk mengontrol gula darah penderita diabetes. Untuk mengontrol kardar gula darah penderita diabetes, ada empat pilar yang harus kita perhatikan. Yang pertama adalah edukasi. Penderita diabetes harus mengerti bahwa penyakit diabetes tidak dapat disembuhkan namun dapat dikontrol. Penderita diabetes juga harus mengerti mengenai perjalanan penyakit diabetes, pentingnya pengendalian kadar gula darah, penyulit yang mungkin timbul, pola hidup yang sehat dan keseimbangan antara asupan nutrisi dan aktivitas fisik, dan bagaimana mengatasi keadaan gawat darurat yang mungkin terjadi. Pilar kedua adalah terapi gizi medik. Penderita diabetes harus mendapat terapi gizi sesuai kebutuhannya. Prinsip pengaturan makan pada penderita diabetes adalah makan yang seimbang dan sesuai dengan kebutuhan kalori dan zat gizi masing-masing individu. Pada penyandang diabetes, perlu ditekankan pentingnya keteraturan makan dalam hal jadwal makan, jenis dan jumlah makanan, terutama pada mereka yang menggunakan obat atau insulin. Pilar berikutnya adalah obatobatan. Intervensi dengan obat-obatan ditambahkan jika sasaran glukosa darah belum tercapai dengan pengaturan makan dan latihan jasmani. Pilar terakhir dan yang akan dibahas lebih dalam adalah latihan jasmani atau aktivitas fisik. Istilah aktivitas fisik sejatinya berbeda dengan istilah latihan jasmani atau olah raga. Aktivitas fisik adalah semua gerakan tu-
buh yang disebabkan karena kontraksi otot yang meningkatkan kebutuhan energi. Sementara latihan jasmani atau olah raga adalah salah satu bentuk aktivitas fisik yang dilakukan dalam dosis tertentu untuk mencapai kebugaran tubuh (kebugaran jantung paru, kekuatan otot, maupun fleksibilitas/kelenturan tubuh). Berkebun, menyapu, mengepel, mencuci, menyetrika adalah contoh aktivitas fisik. Sementara berlari, berjalan, bersepeda, latihan aerobic, latihan beban, yoga, dan sebagainya jika dilakukan dalam dosis tertentu disebut olah raga. Pada penderita diabetes, latihan jasmani ternyata mempunyai berbagai macam manfaat. Latihan dapat membantu mengontrol gula darah, memperbaiki sensitivitas insulin, menurunkan kebutuhan akan obat, mengurangi lemak tubuh, menurunkan risiko penyakit kardiovaskular, mengurangi stress dan mencegah diabetes tipe 2. Meskipun kadar pada diabetes mellitus tipe 2 terjadi resistensi insulin, latihan dapat membantu memasukkan gula darah ke dalam sel tubuh lewat mekanisme lain yang tidak tergantung insulin. Oleh karena itu, latihan harus menjadi bagian dari penganan diabetes tipe 2 untuk memperbaiki kontrol gula darah. Meskipun latihan tidak secara signifikan mengontrol gula darah pada diabetes tipe 1, namun penderita akan mendapat manfaat lain dari latihan seperti yang telah disebutkan diatas. Meskipun latihan adalah salah satu bagian yang penting, namun faktanya sebagian besar penderita diabetes tipe 2 ternyata tidak aktif. Ada berbagai jenis latihan jasmani yang dapat memberikan manfaat bagi penderita diabetes. Yang pertama adalah latihan aerobik. Latihan ini dicirikan dengan gerakan yang ritmis berulang menggunakan otot-otot besar tubuh. Latihan ini bertujuan meningkatkan kebugaran jantung dan paru. Contoh latihan bersifat aerobik adalah jalan, lari, sepeda, renang, cross trainer/elliptical. Latihan aerobik yang dianjurkan bagi penderita diabetes adalah selama minimal 150 menit/minggu dengan intensitas sedang sampai berat. Latihan dapat dibagi menjadi 3-5 kali sesi perminggunya jadi satu sesi berlangsung selama 30-50 menit. Menurut penelitian, efek latihan aerobik terhadap perbaikan kerja insulin dapat berlangsung 2-48 jam setelah latihan. Untuk mempertahankan efek itu, dianjurkan melakukan latihan setiap dua hari sekali. Jenis latihan kedua adalah latihan penguatan atau latihan beban. Latihan ini sesuai dengan namanya menggunakan beban seperti barbell dan alat beban lain. Tujuannya adalah menguatkan otot-otot tertentu dan membentuk otot tersebut. Misalnya latihan beban pada otot lengan, otot paha bagian depan, paha bagian belakang, dan otot perut atau punggung. Latihan ini dianjurkan dilakukan 2-3x/minggu. Setiap jenis latihan penguatan dapat dilakukan sebanyak 2-4 set. Satu set terdiri dari 8-10 kali pengulangan dengan jeda istirahat diantara setiap set nya. Jenis latihan lain adalah latihan peregangan (stretching) yang berfungsi meningkatkan fleksibilitas atau kelenturan. Latihan ini biasanya dilakukan sebelum dan sesudah melakukan latihan inti. Dari peneliti an, didapatkan bahwa kombinasi latihan aerobik dan latihan beban memberikan efek mengontrol gula darah paling optimal ketimbang memilih salah satu jenis latihan saja. Sebelum memulai latihan jasmani, sebaiknya penderita diabetes berkonsultasi dengan dokter. Dokter mungkin akan menganjurkan beberapa pemeriksaan untuk menilai apakah kondisi penderita diabetes memungkinkan untuk memulai latihan. Pasien yang mengalami perdarahan retina atau baru saja mendapat terapi untuk retinopati tidak diperbolehkan menjalani latihan jasmani yang berat. Penderita diabetes yang sedang mengalami infeksi juga diharapkan menunda latihan karena pada saat mengalami penyakit infeksi, kadar gula darah dapat menjadi tidak stabil. Penderita diabetes dengan kadar gula darah antara > 250-300 mg/dl dan terdapat keton dalam pemeriksaan urin atau sebaliknya kadar gula darah yang rendah antara 80-100 mg/dl juga diharapkan tidak melakukan latihan. Dokter juga mungkin akan melakukan pemeriksaan stress test dengan EKG untuk menentukan dosis latihan dan kemampuan jantung dalam melakukan aktivitas. Karena latihan dapat menurunkan kadar gula darah, dokter mungkin perlu menyesuaikan dosis obat maupun insulin yang sebelumnya diberikan. Dokter rehabilitasi medik berperan menentukan dosis latihan
jasmani yang disesuaikan untuk masing-masing individu. Dosis tersebut meliputi frekuensi, intensitas, durasi dan jenis latihan. Jenis latihan harus disesuaikan dengan kondisi penderita diabetes. Misalnya penderita diabetes dengan berat badan yang berlebih dan gangguan sendi lutut sebaiknya tidak melakukan olah raga jalan atau lari yang dapat memperberat kondisinya, melainkan memilih olah raga renang atau sepeda statis sehingga tidak membebani lutut. Intensitas latihan biasanya diukur dengan menghitung target denyut nadi yang didapatkan dari hasil stress test yang telah dilakukan sebelumnya. Meskipun konsultasi ke dokter penting dilakukan terutama bagi penderita diabetes yang ingin mengikuti program latihan yang lebih berat, namun penderita diabetes dapat segera memulai kebiasaan berolah raga seperti berjalan santai selama penderita dalam kondisi yang baik. Beberapa hal dapat terjadi pada saat melakukan latihan jasmani. Yang pertama adalah hipoglikemi. Hipoglikemi atau rendahnya kadar gula darah dapat terjadi selama latihan bahkan sampai 4-6 jam pasca latihan. Hipoglikemi ini terutama dapat terjadi pada penderita diabetes yang menggunakan insulin. Tanda-tanda hipoglikemi dapat merupa pusing, bingung/tidak fokus, keringat dingin, gemetar, rasa lapar bahkan sampai penurunan kesadaran. Hal kedua adalah hiperglikemia atau tingginya kadar gula darah. Hal ini dapat terjadi terutama saat penderita diabetes melakukan latihan yang sangat berat. Untuk mengatasi hal-hal tersebut diatas hendaknya diperhatikan beberapa hal dibawah ini: 1.Monitor kadar gula darah secara berkala sebelum, selama dan sesudah latihan. Buatlah catatan untuk dapat melihat respon gula darah kita terhadap latihan. 2.Perhatikan dosis insulin atau obat hipoglikemik lainnya yang kita konsumsi. Dosisnya mungkin akan diturunkan oleh dokter. Jika menggunakan insulin, suntiklah di area yang relatif kurang bergerak (seperti perut) dan hindari melakukan latihan pada puncak masa kerja insulin. 3.Selalu sedia karbohidrat yang cepat dicerna seperti permen, air gula, atau jus selama latihan. Konsumsi snack karbohidrat selama latihan yang panjang (secara umum diperlukan 15 g karbohidrat setiap satu jam latihan). 4.Pahami tanda-tanda hipoglikemi atau hiperglikemia 5.Waspada bahwa beta bloker dan obat-obatan lain dapat mempengaruhi kemampuan penderita untuk mengenali tanda-tanda hipoglikemia dan atau angina 6.Cukup cairan sebelum, selama dan sesudah latihan 7.Latihan pada suhu ekstrim dapat menyebabkan masalah pada pasien diabetes dengan komplikasi gangguan saraf (neuropati) 8.Pakailah pakaian dan sepatu olah raga yang sesuai. Cek kaki secara berkala untuk mengetahui apakah ada luka di kaki. 9.Berlatihlah dengan teman atau bawalah identifikasi medis. Selain latihan jasmani, aktivitas fisik kita sehari-hari juga perlu ditingkatkan dengan mengurangi waktu menonton TV atau duduk di depan komputer, dan meningkatkan aktivitas fisik seperti berkebun, membawa binatang peliharaan jalan-jalan dan sebagainya. Latihan dan aktivitas fisik menjadi salah satu bagian yang penting dalam tatalaksana diabetes. Tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai suatu kebiasaan yang baik. Jadikan olah raga sebagai bagian dari hidup kita dan rasakan manfaatnya.
Contoh latihan aerobik
Contoh latihan beban
10
Mitos
Edisi 874/ 9 - 15 November 2015
Tangani Jerawat dengan
Pasta Gigi?
Jerawat adalah salah satu permasalahan pada kulit muka. Kerapkali, pasta gigi menjadi jalan pintas untuk menangani jerawat. Apakah benar pasta gigi bisa mengeringkan jerawat? Berikut penjelasan dr. A.A.Sg.Ratih K.S., M.Biomed (AAM), pemilik sekaligus dokter penanggungjawab VZ Skin Care Bali. Mitos : Pasta gigi dapat men geringkan jerawat Fakta : Salah. Walaupun pasta gigi mengandung triclosan yang berfungsi sebagai antibakteri yang efektif, perlu diingat bahwa tidak semua tipe jerawat dapat disem buhkan dengan triclosan. Terlebih jika triclosan yang ada pada pasta gigi tersebut memiliki konsentrasi tinggi, dimana tidak hanya mem bunuh bakteri tetapi juga merusak sel kulit yang sehat. Apalagi jika Anda menggunakan pasta gigi yang mengandung whitening yang hanya akan memperparah jerawat Anda. Untuk mendapatkan obat jerawat yang paling cocok untuk tipe jerawat Anda, sebaiknya per gi ke dokter-dokter berkompeten menyembuhkan permasalahan kulit Anda. Mitos : Ada pembersih wajah yang bisa mengecilkan pori-pori Fakta : Benar. Pembersih wajah yang mengandung retinol mampu membuat ukuran pori tampak lebih kecil, tetapi tidak dapat dihilangkan sama sekali kecuali dengan bantuan tindakan oleh dokter yang berkompeten, seperti peeling ataupun laser. Se bagai saran, jangan sembarangan memilih produk yang mengand ung retinol tanpa berkonsultasi dengan dokter, karena dalam do sis tinggi justru akan menyebab kan iritasi. Mitos : Berjemur dibawah sinar matahari bisa membuat
maka akan semakin berminyak sehingga dapat menyebabkan timbulnya komedo dan jerawat. Konsultasikan dulu tipe kulit Anda karena bisa saja Anda memiliki jenis kulit kombinasi sehingga perlu memakai dua pembersih yang berbeda.
dr. AA Sg. Ratih K.S., M.Biomed (AAM)
badan sehat Fakta : Benar, karena paparan sinar matahari yang mengandung ultraviolet B dapat membantu tubuh memproduksi vitamin D dalam jumlah banyak. Asalkan dimulai dari pukul 7-8 pagi saja. Hal ini dikarenakan negara Indo nesia berada pada garis khatulis tiwa, yang mana sinar mataharinya lebih sedikit mengenai atmosfir sehingga lebih banyak yang sam pai. Jangan terpapar sinar ma tahari berlebihan karena dapat menyebabkan kanker kulit. Mitos : Minyak zaitun dapat digunakan sebagai pembersih. Fakta : Benar, tetapi hanya cocok bagi kulit normal ataupun kering. Jika orang dengan jenis kulit berminyak menggunakannya
Mitos : Minum banyak air membuat kulit sehat Fakta : Benar, karena tubuh kita terdiri dari 60% air. Untuk menjaga keseimbangan jumlah tersebut maka kita harus mi num, entah air putih, jus, teh, ataupun kopi asalkan jangan minuman beralkohol, untuk memenuhi kebutuhan tubuh tersebut. Selain itu, air juga dapat membantu mengontrol kalori, meningkatkan kerja otot, menyehatkan kulit, meningkat kan fungsi ginjal, juga menjaga kesehatan saluran kencing dan buang air besar. Mitos : Rutin mencuci muka setiap jam dapat membantu menghilangkan jerawat F a k t a : Salah. Mencuci muka adalah salah satu cara untuk menghilangkan minyak berlebih penyebab bakteri jerawat dan juga membersih kan debu dan polusi dari kulit kita. Tetapi, cukup dilakukan 3 kali sehari yaitu, bangun tidur, pulang sekolah/kerja, dan sebe lum tidur malam. Sabun wajah yang dipakai pun harus sesuai dengan jenis kulit kita, apakah
Nge-Rap untuk HIV/AIDS Remaja Bali terancam penyakit HIV/AIDS, narkoba dan pernika han dini, sehingga memerlukan perhatian lebih besar dari ke luarga dan masyarakat pemangku kepentingan di Bali. Sedikitnya 12 ribu masyarakat Bali, yang sebagian besar remaja saat ini ter papar penyakit HIV/AIDS. Jumlah tersebut perkembangannya sangat progresif, bagaikan deret ukur. Hal itu diungkapkan Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Bali Made Suprapta, ketika membuka Lomba Rap GenRe (Gen erasi Berencana) yang dilaksanakan Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Bali di Mall Bali Galeria, pertengahan Oktober 2015. Dari jumlah kasus penderita HIV/AIDS tersebut sebagaian besar
usia yang terdampak adalah usia 15 hingga 40 tahun. Perkembangan kasus HIV/AIDS yang sangat cepat dan berlipat-lipat tersebut, perlu ditekan dengan berbagai cara. Salah satu upaya menekan angka kasus HIV/AIDS tersebut adalah dengan memberi pemahaman kepada rem aja tentang ancaman penyakit yang mematikan tersebut. Lomba Rap GenRe dinilai am puh, karena bukan saja akan dapat menekan bertambahnya kasus penyakit HIV/AIDS dan penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang, tetapi juga memberikan pemahaman kepada remaja tentang pentingnya meren canakan keluarga dengan menunda usia perkawinan pertama. KPA Bali memberikan apresiasi kepada BKKBN untuk melakukan sosial isasi, secara terpadu untuk mem
berikan perlindungan kepada remaja agar mereka lebih peduli terhadap dirinya. Suprapta menambahkan rem aja juga diincar pengedar narko
Style
Gaya Unik
Bebatuan www.esquire.co.id
normal, kering, berminyak, atau kombinasi. Salah memilih jenis pembersih dapat menambah masalah terutama pembersih untuk kulit berminyak. Jika di gunakan lebih dari 5 kali sehari bisa terjadi iritasi. Mitos : Memencet jerawat diperbolehkan jika hanya seben tar Fakta : Salah. Memencet jer awat harus dilakukan oleh tenaga profesional dengan teknik khusus dan alat yang steril sehingga pemencetannya benar-benar bersih. Karena, jika dilakukan sebentar maka ditakutkan masih ada sisa nanah yang dapat mem buat jerawat kembali muncul bahkan bisa lebih besar lagi. Jika tidak tahan dengan pemencetan, maka dapat dilakukan penyun tikan jerawat, peeling, ataupun laser. Mitos : Berbagi make up sangat aman Fakta : Salah. Alat make-up seperti spon bedak, foundation, kuas blush-on, eyeshadow, dll. dapat menjadi perantara penye baran kuman terutama jerawat. Sehingga tidak jarang pasien datang dengan keluhan “brun tusan” ( bahasa awam) setelah menghadiri wisuda, pernikahan, dll. Jadi sebaiknya siapkan alat make up sendiri saat datang ke salon atau memanggil make-up artist ke rumah. Tetapi jika be nar-benar tidak bisa menyiapkan alat-alat tersebut sendiri, maka pastikan Anda tidak tertidur le ba. Berdasarkan data, sekitar 6 ribu masyarakat tercatat sebagai pengguna narkoba. Jumlah peng guna narkoba tersebut, dikatakan kini mulai berubah pola dengan meninggalkan penggunaan jarum suntik dan beralih menjadi pemi num, sehingga tetap saja berba haya bagi penggunanya.
Lomba Rap Genre Tingkat Provinsi Tahun 2015
lap dengan make-up yang masih menempel di wajah Anda sampai pagi. Langsung bersihkan saat Anda tiba di rumah. Mitos : Begadang membuat langsing Fakta : Salah. Justru begadang bisa membuat berat badan Anda naik karena waktu dimana tubuh seharusnya beristirahat digunakan untuk beraktivitas seperti nonton televisi, bermain gadget, dll. Se hingga, tubuh membakar kalori dan kita menjadi lapar, akibatnya kita ngemil sepanjang malam. Jika kita memiliki genetik tubuh kurus yang tidak mudah gemuk walau banyak makan, hati-hati pada kolesterol Anda. Mitos : Ponsel dapat sebab kan jerawat Fakta : Benar. Ponsel adalah sarang penyakit yang bisa lebih buruk dibandingkan toilet umum. Dimana pun dan kapan pun, tidak peduli apakah sudah mencuci tangan atau belum, kita selalu berkutat dengan ponsel kita. Apalagi jika kita memiliki hobi ngobrol via ponsel maka radiasi yang ada dapat merusak kulit pipi, pori semakin besar, dan bak teri pada ponsel dapat berpindah pada kulit kita. “Oleh karena itu pakailah headset jika mengobrol via ponsel, dan bersihkan ponsel 3 hari sekali dengan cairan steril tangan diusapkan dengan kapas pada seluruh permukan ponsel,” tandas Ketua Yayasan RS Budi Agung-Palu, ini. –Inten Indrawati
Dari hasil lomba rap ini, dua remaja asal SMKN 3 Singaraja Putu Kresna Wardana dan Dimas Swan dana terpilih sebagai Juara I Lomba Rap Tingkat Provinsi Bali. Mereka merasa prihatin dengan banyaknya kasus narkoba dan HIV/AIDS yang melanda remaja saat ini. Hal ini disebabkan karena mereka kurang mendapatkan perhatian keluarga dengan baik. Melalui lomba Rap GenRe, remaja semakin terbuka wawasan nya, pentingnya menjaga diri dan keluarga. Wakil Bali yang akan berlaga di tingkat nasional ini, kini sedang mempersiapkan diri, baik dalam lomba maupun merencana kan keluarga dengan menunda usia perkawinan. Duta SMKN 3 Singaraja ini berhak mewakili Bali ke tingkat nasional, dalam lomba yang sama pada 22 Nopember mendatang di Yogyakarta. Juara kedua diraih SMAN 1 Jembrana dan juara ke tiga SMAN 1 Gianyar.
Aksesoris adalah salah satu item fashion pelengkap penampilan. Apalagi bagi perempuan, jika mampu mengaplikasikannya dengan busana yang pas, dapat men jadikan gayanya semakin menarik.
S
aat ini, asesoris den gan bahan bebatuan ,masih sangat di gemari. Beberapa pilihan favorit seperti , batu turquoise, red coral, agate, batu lumut, jasper, batu unakite hingga kristal. Menurut Asri pemilik aksesori merek “Neluwung Art” selain pesona keindahan
nya beberapa batu dipercaya memiliki pengaruh tertentu. Batu turquoise misalnya, dikatakan bisa membawa kedamaian dan keba hagiaan.Turquoise juga dianggap simbol persahabatan dan cinta. Sementara batu unakite dise but –sebut memiliki energi yang baik untuk meredakan stres, juga dapat memberi rasa damai dan tenang. Sedangkan jika memi lih jasper akan
menciptakan harmoni rasa, kreativitas serta pikiran positif. Begitu juga dengan red coral, batu lumut, dan agate, masingmasing memiliki fungsi, mulai dari membantu kreativitas, mem beri kedamaian dan ketenangan, menghilangkan mood buruk serta membangkitkan pikiran dan tindakan positif. Se lanjutnya batu kristal, lebih banyak digunakan untuk tujuan penyembuhan dan menyeimbangkan cakra Tiap batu, lanjut Asri gunanya berbeda. Untuk lebih cantik dan nyaman mengenakannya bebatuan ini pun dibentuk sebagai ak sesoris. Dirangkai sedemikian rupa sehingga menjadi kalung dan gelang yang menawan, sangat cocok untuk meleng kapi penampilan busana kasual maupun formal. – Sri Ardhini
Edisi 874/ 9 - 15 November 2015
15
16
Edukasi
Edisi 874/ 9 - 15 november 2015
9
Edisi 874/ 9 - 15 november 2015
Tato Berakar dari Budaya Primitif Dalam tradisi budaya Indonesia, memang ada suku-suku yang sudah sejak zaman dulu memberikan simbol-simbol pada tubuhnya, seperti suku Papua. Bahkan, tidak hanya di badan. “Dulu, simbol-simbol yang dibuat ini memiliki ‘makna’, semacam kekuatan sakti yang kaitannya dengan penolakan pada magis. Sehingga wajah itu seringkali ditoreh. Di sukusuku Papua itu sudah berlangsung sejak lama,” ungkap Ketua PS Magister Kajian Budaya Program Pascasarjana Unud Dr. I Gusti Ketut Gde Arsana, M.Si.
P
ada zaman dulu, hal tersebut dijelaskan Arsana juga tak terlepas dari adat inisiasi (menyakiti tubuh) dengan jalan menggoreskan, melubangi, memotong/mengiris bagian tubuh tertentu untuk menangkal kekuatan-kekuatan magis (perlindungan diri). Hal ini sekaligus juga sebagai penanda unutk menunjukkan rumpun/suku tertentu. Adat untuk menyakiti tubuh (inisiasi) ini, seperti dengan melubangi tubuh terutama di bagian telinga atau hidung, berkaitan dengan penanda, selain menunjukkan siklus kehidupan manusia. Lambat laun, ini mulai berkembang dan mengarah pada simbolik-simbolik tertentu. Besarnya lubang daun telinga yang dipasangi sesuatu menunjukkan status ekonominya. Karena disitu sering dipasang benda-benda berharga. “Kalau dulu waktu kecil baru sebatas tindik,
semakin tua dan makin mampu secara ekonomi, seseorang akan menunjukkan kemampuannya lewat simbol-simbol materi/ perhiasan, sehingga ada yang namanya subeng, memerlukan lubang yang besar (subeng yang tradisional),” jelasnya. Di sisi lain, bentuk inisiasi (menyakiti tubuh) dengan penggoresan, dalam perkembangannya sekarang disebut tato. Pada zaman dulu (primitif) mulai dari goresan wajah, lama-kelamaan goresan-goresan di wajah itu berubah ke bagian-bagian tubuh yang lebih lebar, yang selanjutnya berkembang mengarah ke estetika/seni. Dalam konteks kebudayaan, tato itu adalah transformasi. Proses perkembangan yang sesungguhnya berangkat dari “makna” untuk menangkal magis, berkembang menjadi adat-adat inisiasi (menyakiti tubuh). Ada dengan cara menoreh bagian tu-
buh, memotong, melubangi bagian tubuh. Macam-macam cara inisiasi dilakukan tergantung kebudayaan masyarakat tertentu. Kemudian dalam fase yang kita liat sekarang ini, tato sudah mengarah kepada tren/mode yang selalu terkait dengan estetika/seni. Dari sinilah makin marak berkembang tato secara meluas, tidak hanya sebatas penanda identitas kebudayaan, tapi juga menjadi mode. Tato identik den-
gan preman? Terkait pernyataan ini, Arsana menjelaskan memang dalam transformasi yang kita lihat, sebagai penanda identitas selalu dikaitkan dengan adanya tanda-tanda semacam kejantanan. Karena teknik tato pada awalnya menyakitkan secara fisik, meskipun perkembangannya sekarang konon ada teknik tato yang tak sampai menyakiti bahkan bisa dihapus. Tato menunjukkan simbol kejantanan, karena orang yang mentato badannya apalagi banyak, yang pada umumnya adalah lakilaki, kekuatan fisik dan rasa tahan terhadap sakit. Begitu melihat
badan orang bertato, sudah mengasosiasikan si pemakai tato orang kuat, menunjukkan bahwa orang lain akan takut kepadanya, sehingga sempat juga orang-orang bertato ini digolongkan kepada perilaku kriminal yang dikaitkan dengan kejahatan. “Inilah yang melahirkan pandangan/stigma bahwa orang bertato adalah orang-orang yang distigma sebagi preman,” ucapnya. Tren yang berkembang terakhir, dengan teknik tato yang berkembang sekarang tanpa menyakiti tubuh yang kemungkinan lebih banyak dengan teknik gambar, bahkan perempuan pun ikut, mengarah kepada budaya kontemporer. Bahkan, ini menjadi ladang bisnis bagi perupa-perupa tato. “Inilah transformasi yang sebenarnya berakar dari kebudayaan primitif, yang sebetulnya tak hanya sekadar menggores tapi ada juga teknik-teknik lain,” tandasnya. –Inten Indrawati
Dr. I Gusti Ketut Gde Arsana, M.Si.
Mengenang Jejak para Pahlawan Kru Tokoh dan Sahabat berfoto bersama Kepala Sekolah dan para guru, serta anak-anak SLB/B Negeri Tabanan
Tokoh dan Sahabat Berbagi di SLB/B Negeri Tabanan Acara kunjungan ke SLB/B Negeri Tabanan, serangkaian peringatan HUT ke-17 Tokoh, Selasa (3/11) berjalan lancar. Partisipasi dan bantuan yang masuk dari Sahabat Tokoh, berupa sembako, snack, peralatan sekolah, dan dana tunai, telah disalurkan. Serah terima bantuan secara simbolis dilakukan Redaktur Pelaksana Tabloid Tokoh Ngurah Budi, didampingi Ny. Satria Naradha, perwakilan Sahabat Tokoh, Byang Mangku Hipno dan Indraningsih NLP, kepada Kepala SLB/B Negeri Tabanan I Gede Sukaca, S. Pd.
K
edatangan kru dan Sahabat Tokoh ini disambut dengan penampilan tari Puspanjali dari Ni Putu Ari Kusuma Dewi, Ni Gusti
Agung Inten Putri Lestari, Ni Made Ayu Lely Cahyani, Ni Made Ana Sari Putri, dan Ni Kadek Vinayanti. Meski kelima gadis ini tunarungu (tuli-bisu), mereka
cukup lincah menari yang dipandu pelatihnya I Made Widyantara, S.Sn. “Mereka latihan memakai video, dan cara mengajarnya dengan kode-kode tertentu,” jelas Sukaca. Siswa tunarungu lainnya, I Gede Adi WIjaya dan Komang I Komang Sdsiartana, masing–masing menampilkan pantomin “berkebun” dan “berburu”. Mereka dilatih I Made Yoga Astawa, S.Pd. Usai penyambutan dan penyera-
Penyerahan bantuan secara simbolis
han bantuan, kru dan Sahabat Tokoh dan Desak Gede Agung Ayu Pratiaksa. pun berkesempatan meninjau Salon “Jumat dan Sabtu mereka tidak belajar. “Deaf” yang dibuka untuk umum. Ada Mereka diarahkan untuk mendalami lima siswi yang memilih keterampilan skill sesuai dengan pemitannya, seperti salon yang dilatih oleh Ni Putu Hernita keterampilan salon, menjahit, membuat Mahartini, S.Pd. ini, yakni Ni Luh Yuli batako, dll. Ini penting, agar setelah Andewi, Ni Nyoman Tri Wahyuni, tamat di sini mereka sudah mampu Ni Made Yuni Astari, Ni Kadek Dwi bekerja,” tandasnya. –Inten Indrawati Jayanti, dan Desak Gede Agung Ayu Pratiaksa. Untuk keterampilan menjahit yang dilatih Ni Putu Ariani, juga diikuti 5 siswi, yakni Ni Putu Sri Agustini, Ni Luh Putu Mia Astrika Dewi, Ni Wayan Widyaningsih, Ni Peninjauan ke kelas menjahit Kadek Vinayanti,
Bulan November merupakan bulan perjuangan bangsa Indonesia. Hari Pahlawan diperingati tiap tanggal 10 November. Hari Puputan Margarana diperingati tiap tanggal 20 November. Karena itulah Taman Pujaan Bangsa Margarana tak pernah sepi kegiatan di bulan November. Tokoh dan Kelompok Media Bali Post pun punya agenda rutin melakukan tabur bunga menjelang perayaan ulang tahun. Pengunjung yang datang ke Taman Pujaan Bangsa biasanya memulai dengan
Jas yang dipakai Ngurah Rai masih disimpan di museum
Ucapan terima kasih ditujukan kepada: Pementasan anak-anak SLB
Byang Mangku Hipno, Indraningsih NLP, dr. Masyeni, Heny Santy, Cahya Atsyuka, Bintang Mira, Prida Dewi, Jro Nik, Dewa Adhis & Dewa Divo, Aryati Swadarmini, Budi Suryati.
Museum Taman Pujaan Bangsa Margarana
sembahyang di monumen utama yang berbentuk segi lima. Setelah sembahyang dilakukan tabur bunga dengan arah putar berlawanan jarum jam. “Kalau berjalan sesuai jarum jam, pengunjung akan bingung membaca surat yang tertera di prasasti. Karena itu, berjalannya berlawanan dengan jarum jam. Ada surat yang ditulis I Gusti Ngurah Rai
kepada pemimpin Belanda di Bali. Intinya, Bali siap bertempur jika Belanda tidak pergi dari Bali,” ujar I Gede Putu Abdiyasa, petugas Museum Sejarah Taman Pujaan Bangsa Margarana. Ia juga menjelaskan lokasi Taman Pujaan Bangsa ini merupakan medan pertempuran antara pasukan Ciung Wanara yang berjumlah 96 orang dipimpin I Gusti Ngurah Rai. Ketika itu 20 November 1946, semua anggota pasukan termasuk orang Jepang yang membela Indonesia tewas dalam pertempuran. Nisan mereka dikumpulkan menjadi satu. Beberapa lama kemudian ada usulan agar lokasi pertempuran dijadikan tempat mengenang para pahlawan yang gugur di Bali. Akhirnya dikumpulkanlah semua nama pahlawan kemudian dibuatkan nisan. Total ada 1372 nisan. Itu sudah termasuk pahlawan yang tidak diketahui namanya. “Dari semua pertempuran yang terjadi di Bali, hanya pertempuran di Tanah Aron pada 7 Juli 1946 yang tidak ada korban jiwa dari pihak Indonesia,” ujar Abdi. Setelah tabur bunga di 1372 nisan, pengunjung bisa melihat museum Taman Pujaan Bangsa. Dalam museum terdapat kronologis pertempuran yang
Tabur bunga di Margarana
pernah terjadi di Bali, beberapa perlengkapan komunikasi yang dipakai saat perang. Jas yang dipakai Ngurah Rai pun masih tersimpan rapi di museum ini. Bagi yang ingin mengetahui lebih detail tentang pertempuran di Bali
ada beberapa buku yang bisa dibaca atau dibeli. Senjata yang dipakai pertempuran juga masih ada di simpan. Bahkan maket Taman Pujaan Bangsa Margarana juga dipajang di museum ini. –Ngurah Budi
Peralatan komunikasi di museum Taman Pujaan Bangsa Margarana
8
Bunda & Ananda
Edisi 874/ 9 - 15 November 2015
Anak Stres Picu Perut Sakit
Anak Anda pernah mengeluh sakit perut? Ja ngan sepelekan hal tersebut karena sakit perut memerlukan penanganan sesegera mungkin. Periksakan kondisi perut anak. Barangkali ada hal yang memerlukan penanganan hingga di lakukan pemedahan. Semua hal ini dibahas dalam seminar “Update Laparoskopi Anak– Diagnosa, Tatalaksana & Asuhan Keperawa tan Pre dan Post Tindakan Bedah Anak” yang dilaksanakan RSIA Puri Bunda, Denpasar.
N
arasumber per tama dr. I Putu Gede Karyana, Sp.A(K) yang merupakan dokter konsultan gastro hepatologi menyampaikan materi dengan judul “Sakit Perut pada Anak”. Ia menjelaskan sakit perut merupakan keluhan yang paling sering dialami anak. “Sakit perut itu sendiri ada yang men garah ke tindakan bedah dan ada yang nonbedah,” ujarnya. Ia menyebut ada dua tipe sakit perut yang diderita anak. Pertama organik, artinya me mang ada kelainan di saluran cerna. Kedua fungsional, artinya tidak ditemukan adanya kelainan tetapi ada sakit. Ini biasanya dia lami anak usia 5-18 tahun dengan puncaknya di usia 10-12. Ini juga dikaitkan dengan psikis anak. “Ada fenomena yang menga takan saluran cerna merupakan otak kedua manusia karena ban yak komponen yang dihasilkan di saluran cerna mirip dengan yang dihasilkan otak,” ujar Ketua Perhimpunan GastroenteroHepatologi dan Nutrisi Anak Indonesia (PGHNAI) ini. Se bagai contoh, anak yang stres karena pelajaran terlalu berat atau diberi target oleh orangtua, asam lambungnya meningkat. Ini memunculkan keluhan di ulu hati yang disebut gastrisis atau orang awam menyebutnya maag. Kalau otak bermasalah, saluran cerna juga ikut bermasalah. Misalnya, kalau kuman jahat lebih domi nan di saluran cerna akan me nyebabkan perut kembang dan ini memicu mual. Ia juga mengatakan nyeri di perut ada yang akut dan berulang. Akut itu tandanya mendadak dan cenderung organik. Misalnya usus buntu. Nyeri berulang termasuk fungsional dan kadang sakit, lalu hilang, berikutnya sakit lagi. Narasumber kedua, dr I Made Darmajaya, Sp.B(K),BA,MARS melanjutkan pemaparan dengan menjelaskan apabila anak me
merlukan tindakan bedah maka ada ada alternatif tindakan den gan bedah invasive yaitu Pediatric Laparoscopy. “Pediatric Laparoscopy adalah hasil dari perpaduan teknologi modern dan inovasi pembedahan untuk mencapai tujuan pembedahan dengan nyeri dan trauma psikologi yang mini mal. Tindakan ini menggunakan kamera atau alat yang dimasuk kan ke dalam perut atau dada dan ahli bedah melihat lapan gan operasi melalui layar TV/ monitor. Dengan teknik bedah ini maka penyembuhan lebih cepat, lama perawatan di RS akan lebih singkat, kosmetik yang lebih baik serta risiko perdarahan dan infeksi lebih sedikit,” urainya LAPAROSKOPI ANAK Ia menjelaskan perbedaan prinsip laparoskopi dan open surgery bagi dokter bedah dan rumah sakit. Bagi ahli bedah, objek ke lihatan lebih besar dari pada op erasi terbuka, perubahan respons taktis, dua dimensi, waktu operasi lebih lama, dan perlu pengem bangan teknik operasi yang sama sekali berbeda. Bagi rumah sakit, perlu biaya modal alat yang mahal, biaya yang mahal bisa dikonversi dengan hari rawat yang lebih singkat, misalnya cholesistektomy dari 5 hari menjadi 1 hari, tran sanal anal 7 hari menjadi 3 hari, dan appendiktomy anak dari 4 hari menjadi 2 hari. Perbedaan lainnya adalah open surgery bisa berlangsung ce pat, tangan sebagai mata, presisi deseksi, dan ergonomis optional. Namun dengan laparoskopi, op erasi lambat, “ steady”, berhenti ketika tidak bisa melihat, presisi hemostasis, ergonomis vital. “Laparoskopi anak berkem bang paling terakhir. Makin banyak tindakan yang dapat dikerjakan dengan laparoskopi, tetapi terbentur alat dan SDM, biaya, dan hanya rumah sakit tertentu yang sudah siap,” tegas nya. Persyaratan yang diperlukan
“Untuk mencapai potensi penuh sebagai orang dewasa maka perlu kekhususan dalam meningkatkan kesadaran bahwa problem kesehatan anak berbeda dengan orang dewasa sehingga perawat dalam memberikan asuhan keperawatan anak harus mempertimbangkan perawatan berfokus pada keluarga (Family Centered Care) serta tidak menimbulkan trauma pada anak (Atraumatic Care)”
Seminar “Update Laparoskopi Anak–Diagnosa, Tatalaksana & Asuhan Keperawatan Pre dan Post Tindakan Bedah Anak”
antara lain dokter bedah punya kompetensi, dokter anastesi anak, perawat instrumen khusus laparoskopi, dan alat memenuhi standar. Narasumber ketiga, N.L.K Sulisnadewi, M.Kep.,Ns.Sp.Kep. An memaparkan tentang asuhan keperawatan pada anak dengan pembedahan. Ia menjelaskan anak bukanlah miniatur orang dewasa tapi merupakan individu yang unik. “Untuk mencapai potensi penuh sebagai orang dewasa maka perlu kekhususan dalam meningkatkan kesadaran
bahwa problem kesehatan anak berbeda dengan orang dewasa sehingga perawat dalam mem berikan asuhan keperawatan anak harus mempertimbangkan pera watan berfokus pada keluarga (Family Centered Care) serta tidak menimbulkan trauma pada anak (Atraumatic Care),” urainya dalam seminar yang dipandu dr. Made Suyasa Jaya, Sp.OG(K) ini. Direktur RSIA Puri Bunda dr. Nyoman Cahyana, M.M. mengatakan rumah sakit memi liki kewajiban memberikan pemahaman tentang perkem
bangan ilmu kesehatan kepada masyarakat. “Saat ini kami telah dapat melakukan tindakan bedah anak dengan laparoscopy. Keung gulan kami pada perawatan bayi di ruang intensif membuat kami yakin untuk mengembangkan tindakan- tindakan bedah anak,” ungkapnya. Ia menambahkan, untuk memberikan kemudahan bagi pasien yang akan berkonsultasi tentang gangguan/penyakit yang membutuhkan tindakan pembe dahan, pihaknya menghadirkan poli bedah anak. –Ngurah Budi
Mendongeng Lima Menit permata tuhan
Sudah sekian hari lamanya, Tu h a n b i n g u n g mengenai ko tak permatanya yang selalu hilang. Kotak itu berisi berpuluh-puluh permata warnaMade Taro warni. Suatu malam Tuhan melihat seorang pencuri yang mengambil kotak permatanya. Pencuri itu tak lain adalah manusia. Tuhan tersenyum saja. Ia tidak mau menghukumnya, karena manusia itu makhluk ciptaannya yang paling disayangi. Makhluk berjalan tegak dengan dua kaki itu sangat cerdas. Tuhan hanya bertindak, mengambil kembali kotak permata itu, lalu menyembunyikannya di tempat yang sangat rahasia. “Sebaiknya disimpan di dasar laut. Manusia tidak mungkin bisa mencapainya,” demikian saran dewa-dewa kepada Tuhan. Dasar manusia berotak encer! Ia tahu tempat kotak permata itu. Manusia lalu menciptakan sebuah kapal selam. Da lam waktu singkat kotak permata itu berpindah tempat ke rumah manusia. Kemudian Tuhan mengambilnya kembali, lalu menggantung kotak itu di langit. Ya, dasar manusia cerdas! Ia menciptakan pe sawat luar angkasa. Dalam waktu singkat
kotak itu sudah berada dalam genggaman manusia. “Tahukah Paduka Tuhan, apa sebab manu sia selalu ingin memiliki kotak permata itu?” tanya para dewa dalam sebuah pertemuan. “Ya, aku tahu! Manusia ingin memiliki sifat Tuhan. Dalam permata itu terdapat sifat-sifat Tuhan, seperti sifat marah dalam permata merah, sifat damai dalam permata hijau, sifat bijaksana dalam permata kuning, dan lain-lainnya.” Setelah para dewa mempertimbangkan keterangan Tuhan, lalu Tuhan dan dewadewa itu menemukan kata sepakat, yakni melakukan suatu tindakan yang sangat ra hasia. Malam itu juga tiga orang dewa berang kat ke rumah manusia. Didapatinya manusia pencuri permata itu tidur lelap. Seorang dewa mengeluarkan pisau, lalu membedah perut manusia itu. Dewa yang kedua kemudian menempelkan sebuah permata di dinding bagian dalam dari perut itu. Selanjutnya per mata itu diikat dengan tali halus oleh dewa yang ketiga. Ujung tali itu dicantelkan pada dinding hati. Nah, sejak peristiwa itu tak pernah ter dengar Tuhan kehilangan kotak permata. Ma nusia pun tidak lagi terdorong untuk mencuri permata Tuhan. Ia sangat puas. Manusia sama sekali tidak tahu bahwa Tuhan masih memiliki permata yang tidak dimiliki manusia.
Edisi 874/ 9 - 15 November 2015
17
18
Kreasi
Edisi 874/ 9 - 15 november 2015
Oratorium Kebo Iwa
K
isahnya berawal dari kecemasan hati Ratu Kerajaan Majapahit Diah Tribhuana Tunggadewi, yang murka terhadap Kerajaan Bali karena tidak mau tunduk di bawah kekuasaan Majapahit. Sang Prabhu Bali Pulina Sri Bedahulu yang didampingi patih sakti Ki Kebo Iwa terlampau kuat untuk dihadapi. Namun, dengan upaya cerdik Mahapatih Gajah Mada, Patih Ki Kebo Iwa dapat diperdaya dan Kerajaan Bali pun menjadi mudah untuk ditaklukkan. Patih Ki Kebo Iwa gugur bukan karena kalah, namun merelakan dirinya gugur demi cita-cita luhur, bersatunya Nusantara. Oratorium Kebo Iwa hasil produksi Sanggar Sasiwimba Denpasar yang didukung 25 orang penari dan 30 penabuh yang lebih ba
nyak seniman akademis, mahasiswa jurusan sendratasik Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar. Tampil sebagai penata tari IBG. Surya Peradantha, S.Sn., M.Sn, penata iringan I Wayan Darya, S.Sn. dan I Ketut Budiyana, S.Sn. serta dalang Sang Ketut Pesan Sandiyasa. Meski kisah ini digarap berulang kali dengan gaya dan jenis garapan seni yang berbeda-beda, namun kisa Kebo Iwa selalu menarik untuk disimak. Nilai-nilai luhur yang disampaikan dapat dijadikan panutan dalam menjalani kehidup an. “Yang namanya pertunjukan seni, mesti menyajikan garapan yang menarik baik dari segi koreo, kostum ataupun iringan. Yang terpenting pesan moral menjadi inti dari pertunjukannya ini,” kata Surya Peradantha. Ketika gamelan mulai ditabuh,
penonton langsung memadati lapangan Peninsula Nusa Dua tempat ajang itu digelar. Tak hanya masyarakat lokal, wisatawan mancanegara juga ikut menonton. Meski kebanyakan dari masyarakat yang sudah tahu kisah bahkan pernah menyaksikan sendratari Kebo Iwa, namun masyarakat tetap antosias menyaksikan sajian seni yang di dukung penari-penari muda ini. Oratoriaum Kebo Iwa yang sudah menjadi tari Maskot Nusa Dua itu memang ditata dengan apik. Unsur dramatik lebih menonjol hingga pendramaan yang kuat. Ekspresi gerak tari tetap mencerminkan seni tradisi bahkan klasiknya. Walau ada beberapa gerak yang dikreasikan, namun karena dibawakan oleh penari-penari yang memiliki dasar tari Bali yang kuat, tetap saja mencerminkan tradisi. Hal itu dapat dilihat dari pakem yang ada seperti agem, tandang dan tangkep. Garapan kelompok yang kompak menjadi dominan dimainkan oleh para dayang-dayang dan prajurit yang diwujudkan dalam bentuk tari baris. Dalam menggambarkan suasana, para penari (pasukan Gajah Mada) bahkan masuk ke barisan penonton saat menuju tanah Jawi, sehingga suasana menjadi lebih akrab. Meski dalam bentuk sajian seni tradisi, namun ada unsurunsurnya yang dikreasikan hingga menjadikan garapan ini bernuansa baru.
Story
Sentot dan Keliaran Imajinasi
Ilalang panjang dan bunga, merumput debu, kau pesan batu nyaring melengking, di pucuk bambu. Asing. Serupa sepatu bayi hanyut, riak airnya berdoa, selebihnya tersangkut bulan, patah sebelum senja. Sendiri memahami rintik hujan, bukan berarti matahari peranakan embun, saat malam pucat tak habis-habis. Entah kapan kau tangkap bisu, entah kapan kau tangkap basah. Merajut tabah jejak akar pohon. Bunga itu debu dikabarkannya aku. Merajuk takdir sajak-sajak Bapa, elakan sepi tak berkata, sedang baid-baid itu musim basah, juga gelisah. Bagaimana kau berkilah dari cahaya, benang basah serupa itukah, kau tegakkan kisah.
Sajian Seni Inovatif Utamakan Pesan Hanya membaca kisah Kebo Iwa, pasti monoton dan kurang menarik. Tetapi, jika disajikan dalam bentuk pentas seni, pasti lebih menarik. Hal ini terlihat saat pementasan Oratorium Kebo Iwa yang disajikan dalam ajang Nusa Dua Fiesta (NDF) 2015, beberapa waktu lalu. Sejarah kebanggaan rakyat Bali dikemas dalam bentuk seni kreatif dan disajikan dengan inovatif. Dalam penyajiannya tak hanya mengedapankan koreografi, penataan kostum dan iringinan, tetapi sarat dengan pesan moral.
Life
Dalam penggambaran suasana dalam setiap adegan, garapan seni berdurasi 45 menit itu sangat didukung dengan iringannya yang memakai gamelan Semarandana. Jenis gamelan dengan nada saih pitu itu memberikan kesan menarik, baik saat mengisahkan para prajurit di Jawi ataupun di Bali. Dengan olahan rasa tanpa meninggalkan teknik pukulan, gamelan itu juga sangat manis saat menyajikan suasana desa yang damai. “Kami lebih menekankan pada permainan nada dalam mendukung suasana,” imbuh Budiyana..
Yang lebih penting dari sajian seni itu adalah pesan moral yang disampaikan kepada penonton. Dari cerita rakyat dari Bali ini menyampaikan jadilah orang yang mampu diandalkan dan mampu berkorban untuk kepentingan orang banyak. Di samping itu, juga sebagai media pendidikan khususnya tentang sejarah adanya Nusa Dua. “Dalam garapan ini kami sengaja menyelipkan nilainilai pendidikan, sehingga garap an menjadi lebih berisi,” ungkap Surya Peradantha. -Darsana
dok.pribadi. WS. Irawan
Sentot saat menggelar konser
L
irik ini adalah salah satu dari lagu karya Wing Sentot Irawan, berjudul Bunga itu Debu, yang pernah dinyanyikan dalam konser Bunga itu Debu beberapa waktu lalu, di Warung Jack pojok Taman Budaya Mataram. Konser ini satu dari banyak konser yang pernah dihelat Sentot di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Tercatat beberapa konser yang pernah digelar Sentot di Mataram sejak tahun 2000 adalah, Balon Emas, Nyanyian Angsa, Chonburi, Cu-chi, Pipi Merah Tomat, Nyanyian Bapa, Bulan Emas, Bola Langitan, Titik Nol, Telur Setengah Matang, Nyanyian Prenjak, Pentas Dhewek, Serupa Lipatan Kertas, Titip Rindu Buat Emak. Kini ia menyiapkan konser bertajuk Kapak Batu yang akan digelar di Mataram,
Wing Sentot Irawan
17 November 2015. Sentot juga menyanyikan lagulagu karyanya dalam konser atau pagelaran di berbagai kota di tanah air. Dalam dunia musik di NTB, Sentot memang bukan musisi biasa. Berangkat dari dunia musik sejak masa SMA dan pernah menjadi idola di panggungpanggung musik di Mataram, mantan guru ini
tidak pernah lepas dari dunia musik. Lebih dari separuh usianya, pria kelahiran 8 Agustus 1965 ini mendedikasikan dirinya untuk melahirkan karya-karya yang bersumber dari perenungan yang mengendap cukup lama dalam ruang kreatifnya. Ia lalu menuangkan karya-karya dalam perjalanan luar biasanya bersepeda keliling Indonesia bahkan hingga negara-negara ASEAN. Karena itulah, lirik lagunya yang bertema lingkungan, kehidupan, masalah sosial dan lainnya tidaklah sederhana. Pemaknaan dalam tiap kata yang dipilihnya kadang sulit dimengerti begitu saja. Lirik lagu yang tidak biasa yang dilahirkannya hanya mampu “dibaca” dengan “terjemahan” lain dari sekadar arti denotatifnya. Itulah Sentot yang memiliki keliaran imajinasi yang tidak semua orang mampu memahaminya. Namun, karena karyanya adalah seni musik, maka penonton enjoy saja menikmati dentingan gitar yang mengiringi syair-syair karyanya. Mendengarkannya menyanyi dan menikmati karyanya dari sepuluh tahun yang lalu dengan hari ini, menurut para seniman di Mataram, seperti Kongso Sukoco dan Winsa Prayitno, Sentot jauh lebih matang baik dari sisi musikalitas maupun kesabarannya dalam “melakonkan” pergelaranpergelarannya. Tentu saja perjalanan Sentor hingga sampai pada hari ini bukanlah perjalanan biasa. Selain soal karya, ia melengkapi perjalanan hidupnya dengan menempuh ratusan ribu kilometer untuk mengendapkan seluruh ide dalam perjalanannya mengelilingi Indonesia dan negara-negara ASEAN dengan bersepeda. Pada perjalanan pertama beberapa tahun lalu, Sentot berangkat dari Lombok dengan mengayuh sepeda hingga ke Aceh tahun 2006, lalu kembali ke Lombok dan melanjutkan perjalananya hingga ke Papua tahun 2008. “Sekitar satu tahun saya menghabis-
7
Edisi 874/ 9 - 15 november 2015
dok.pribadi. WS. Irawan
Untuk membiayai perjalanannya mengayuh sepeda, Sentot menjual CD berisi karyanya
kan waktu untuk keliling hingga Aceh sampai Papua,” ujarnya. Kecintaannya pada sepeda hari ini, sama seperti ia mencintai musik. Karena setelah sukses dengan perjalanan itu, Sentot kembali bersepeda ke negara-negara ASEAN dalam perjalanan bertajuk The Journey of Silent atau perjalanan hening, selama tiga bulan pada akhir pada 2011 hingga awal 2012. JUAL CD Perjalanan bersepeda pada jarak yang sangat jauh seperti ini, bukanlah perjalanan yang mudah. Namun, tidak ada yang sulit bagi seorang Sentot dalam menaklukkan tiap kesulitan medan tempuh sepedanya. Jiwanya yang terbuka dan selalu jujur menerima dirinya apa adanya, menjadikan perjalanan ini seperti yang dikatakannya tak ada yang sulit. “Tidak ada yang sulit, semua biasa saja. Semua menyenangkan,” ungkapnya polos. Hal-hal baru yang ditemuinya dalam perjalanan itulah yang mampu menjaga daya juangnya selama mengayuh sepeda. Ia tak pernah membawa beban dalam perjalanannya ini karena ia sangat percaya semua bisa teratasi. “Terutama karena saya bisa mampir di banyak komunitas yang tiap saat bisa membantu perjalanan saya,” ungkapnya. Selama perjalanan keliling Indonesia, Sentot memang tidak pernah memikirkan soal tidur di mana, makan di mana dan menggelar karya di mana. Karena selama perjalannya dari satu kota ke kota lainnya ini ia membuat jejaring dengan berbagai komunitas yang selalu terhubung dengan dirinya. Baik itu komunitas seniman, budayawan, aktivis lingkungan hingga komunitas gerakan dan lainnya. Untuk biaya perjalanannya, Sentot menjual CD yang berisi karya-karyanya. “Harganya tergantung pembeli,” katanya tertawa. Selain dari menjual CD banyak kawan yang juga peduli padanya. Bagi Sentot, inilah indahnya memiliki banyak kawan. Perjalanan mengayuh sepeda keliling Indonesia ternyata tidak
dok.pribadi. WS. Irawan
sama ketika sepedanya terkayuh hingga berkeliling ke beberapa negara ASEAN. Saat keliling Indonesia ia bisa tidur di mana saja, seperti mushalla, sekretariat-sekretariat komunitas dan SPBU serta lainnya, tetapi di luar negeri ia tidak bisa sembarang menginap. “Saya menginap di guess house yang berharga murah karena biaya perjalanan di luar negeri ini jauh lebih besar dibandingkan di negeri sendiri,” ujarnya. Ia mulai perjalanannya ke beberapa negara ASEAN itu dari Batam Kepulauan Riau. Dari sini ia menyeberang ke Singapura lalu menuju Johor kemudian melanjutkannya ke Kuala Lumpur. Dari sini ia menuju perbatasan Malaysia menuju Thailand, Bangkok, Kamboja, Ho Chi Min Vietnam. Lalu pulang dari Vietnam terus kembali menelusuri negara-negara tersebut hingga Johor. “Dari Johor saya ke Batam lanjut Surabaya hingga Kupang dan kembali ke Lombok,” ujarnya santai. Selama berada di luar negeri, barulah Sentot merasakan kendala dalam perjalanannya ini, terutama dalam hal mata uang dan bahasa. Bahasa Inggrisnya yang pas-pasan tidak membuatnya surut langkah, melainkan nekat menerobos rintangan itu. “Ya… Bahasa Inggris seadanya dan seperlunya saja, kalau belanja di toko atau bertanya tempat menginap,” katanya. yang lebih merepotkan dari itu, rupanya soal mata uang. Sentot sangat kebingungan menghadapi persoalan mata uang ini. “Kalau sudah belanja harganya berapa, kembaliannya berapa, saya bingung menghitungnya. Ini yang sempat menguras pikiran dan energi,” katanya. Akhirnya karena ia tidak ingin repot, maka tiap belanja ia serahkan sepenuhnya pada penjual. Mau dikembalikan berapapun uangnya ia pasrah. Dalam perjalanannya yang makan banyak biaya ini, ia mendapatkan sumbangan dana yang cukup, selain dari tiap konsulat Indonesia di berbagai negara yang disinggahinya, Sentot juga ada membawa bekal dari sumbangan kawan-kawannya di Indonesia. Tak banyak yang diharapkan Sentot dari perjalanannya bersepeda ke mana-mana ini, melainkan ia ingin tahu banyak hal dari sekedar hanya berada di NTB. “Ternyata setelah saya melakukan perjalanan, Indonesia ini begitu luas dan kaya. Negara itu bukan hanya Indonesia saja. Alam Indonesia yang elok menunggu dipelihara. Alam tidak meminta apa-apa dan juga tidak pernah protes atas perlakuan manusia. Maka kitalah yang harus menjaganya,” ujar Sentot yang melakukan perjalanan bersepeda ini juga sekaligus untuk kampanye soal lingkungan. Itulah sebabnya, ia sangat ingin melihat orang tidak lagi tergantung pada mesin (kendaraan) yang dapat mencederai kemurnian alam. Juga ia berharap bahwa orang harus bergerak agar tubuhnya bisa sehat. -Naniek I. Taufan
6
Woman on Top
Edisi 874/ 9 - 15 november 2015
Apong Herlina
Perlu Langkah Cepat Kasus-kasus kejahatan seksual terhadap anak makin marak. Hampir tiap hari pemb eritaan k asus-kasus pedofilia mewarnai media massa. Seperti yang terungkap di kawasan Pancoran, J akarta Selatan.
A
pong Herlina, mantan komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengaku prihatin dengan hal ini. Menurutnya kasus kejahatan seks terhadap anak semakin mengkhawatirkan. Undang-Undang Perlindungan Anak telah ada bahkan kemudian direvisi dengan hukuman yang lebih berat yakni maksimal 20 tahun. Namun, kasus-kasus kejahatan seksual terhadap anak-anak ini justru terlihat makin menonjol. Menurut mantan Direktur Lembaga Bantuan Hukum Jakarta ini, ada banyak hal yang menjadi penyebabnya. Di antaranya adalah lemahnya penegakan hukum, juga masalah treatment ter hadap korban dan pelaku yang masih lemah. Padahal treatment ini sangat diperlukan baik untuk korban dan pelaku. “Berdasarkan data, 90% pelaku kasus pedofilia dulunya adalah korban. Ini artinya apa? Salah satu kemungkinannya adalah para korban ini tidak dita ngani atau tidak mendapatkan treatment yang baik, korban dibiarkan begitu saja. Atau kalaupun ada treatment tapi tidak sampai tuntas. Sehingga di kemudian hari
dia pun akhirnya berubah wujud dari korban menjadi pelaku,” ungkap Apong yang kini menjadi konsultan di Bappenas untuk masalah perlindungan anak. Treatment, ungkap wanita kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat, sangat penting bagi para korban. Dia harus mendapat konseling yang terus menerus untuk memulihkan kejiwaannya, juga agar oritentasi seksualnya tidak menyimpang di kemudian hari. Sayangnya, yang terjadi sejak dulu hingga sekarang, adalah kurangnya perhatian terhadap masalah treatment korban pascakejadian. “Ini adalah tanggung jawab pemerintah. Harusnya pada saat putusan pengadilan, hakim dalam putusannya memerintahkan atau mewajibkan pemberian treatment pada pelaku maupun pada korbannya. Di sisi lain, treatment pada pelaku, juga penting agar si pelaku bisa berubah,” kata Apong yang dihubungi disela-sela acara training terpadu untuk para penegak hukum terkait pelaksanaan undang-undang sistem peradilan anak, yang tengah berlangsung di NTB. Apong menegaskan sudah Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A),
yang ada di setiap provinsi. Lembaga inilah seharusnya didorong untuk bisa memberikan layanan treatment. Juga harus didorong agar P2TP2A ini juga didirikan hingga ke semua kabupaten/ kota. Selama ini untuk kabupaten/kota, belum semuanya memiliki P2TP2A. Lembaga ini belum diberdayakan secara maksimal. Tentang kontroversi hukuman kebiri bagi para pedofil yang kini tengah hangat diberitakan media massa, Apong Herlina mempunyai pandangan sendiri tentang hal tersebut. Berbeda dari banyak pihak yang ramai-ramai menyerukan soal hukuman kebiri bagi pelaku, Apong justru meminta agar perlu dilakukan kajian mendalam jika nantinya diputuskan bahwa pedofil akan dikebiri. “Saya bukannya tidak setuju. Tapi harus jelas, hukuman kebiri kan tidak ada dalam sistem hukum kita. Tidak ada dasarnya. Saya setuju bahwa pelaku harus dihukum seberat-beratnya, saya sepakat bahwa kita harus melindungi anak-anak dari kejahatan seks, namun dalam pene rapan hukum juga harus didasari oleh hukum yang berlaku. Adanya hukum kebiri, berarti konsekuensinya adalah harus mengubah undang-undang. Kalau itu dilakukan, tidak apa-apa, namun mengubah undangundang, kan, membutuhkan waktu. Sementara kita membutuh kan langkah cepat dalam melindungi anak,” paparnya.
KAJIAN KESEHATAN Penjatuhan hukuman, lanjut Apon lagi, jangan terburu-buru ataupun hanya responsif semata. “Menurut saya wacana hukum kebiri, hanya responsif dan emosional sifatnya. Kita harus berpikir jauh ke depan, bahwa membuat undang-undang itu diperuntukkan untuk 10 sampai 20 tahun ke depan. Nah, hukum kebiri sasarannya adalah untuk pelaku laki-laki. Kan tidak tertutup kemungkinan, di kemudian hari muncul kasus dimana seorang pedofil adalah wanita dewasa. Lalu ini bagaimana? Kita jangan menutup mata untuk hal ini. Di luar negeri ada banyak kasus dimana pelakunya adalah wanita. Lalu, kalau sampai terjadi bagaimana, treatmentnya seperti apa? Jadi maksud saya, jangan lah terlalu emosional.Masalah ini harus dibuat kajian yang mendalam, harus dipikirkan lebih jauh” ujarnya lagi. Di sisi lain, selama ini hanya memikirkan keadilan dari sisi korban, lalu bagaimana dengan keadilan bagi pelaku. Kita harus juga memperhatikan apakah penegak hukum sudah fair atau tidak. Karena dalam banyak kasus, terjadi permasalahan terkait pembuktian. Kasus pedofil ini adalah kasus kekerasan seksual yang terkait dengan anak-anak, dimana korbannya tidak bisa memberi keterangan dengan sempurna.
“Kebanyakan kasus, saksinya cuma korban sendiri. Mereka pun diperiksa secara terpisah dan tidak boleh disumpah. Di sisi lain, ilmu pengetahuan dan alat-alat yang kita miliki belum memadai untuk itu. Nah, bagaimana kalau suatu saat ternyata keputusan yang telah dijatuhkan adalah salah, sementara tersangka pelaku sudah dieksekusi. Bagaimana memperbaiki ini, bagaimana cara mengembalikannya?” ujarnya. Jadi, tandas Apong lagi, dirinya bukan tidak setuju dengan usulan hukuman kebiri itu, namun hendaknya dipikirkan secara mendalam melalui berbagai kajian. Harus juga dipikirkan sejauh mana hal itu (hukuman kebiri) berdampak pada diri si pelaku. “Ini ha rus ada kajian kesehatan, psikologi juga mental. Bukan tidak mungkin nantinya dia malah berubah menjadi psikopat, dll. Jadi jangan sampai kita menyelesaikan masalah ini, namun memunculkan masalah baru,” tegasnya. –Diana Runtu
Flying Solo Ada alasan tertentu kenapa banyak orang lebih memilih untuk berbisnis sendiri, menjadi soloist meskipun harus memulai usaha dari bawah. My Life, My Decision. Frase ini begitu melekat dalam komunitas soloist ini. Mereka sangat meyakini kebebasan mengambil keputusan (freedom in making decision) akan memberi kesempatan untuk mereka mengalami lebih dari apa yang mereka bayangkan, dan keputusan itu suatu saat dapat diterapkan dalam ruang gerak yang lebih besar. Setiap suara kecil yang kita dengar selalu memberi inspirasi dalam pikiran kita atau lebih jauh lagi menjadi pengaruh dalam mengambil keputusan. WHO IS KNOCKING ON YOUR DOOR Saya ingin berbagi satu quote yang menarik tentang flying solo; “Those who fly solo have the strongest wings”. Begitu memberi inspirasi dan sangat menguatkan. Menjalankan bisnis sendiri dari awal, seorang soloist tentu disodorkan dengan banyak tantangan. Tantangan bisa muncul dari dua sisi yaitu rasional dan emosional. Mana porsi yang lebih berat? Jawabannya berbeda pada
setiap soloist tergantung dari kebiasaan mereka melihat dan menilai keadaan; apakah mereka lebih menilai dari sisi rasional atau lebih memilih untuk memainkan perasaan atau emosional. Saya teringat dengan sebuah cerita yang memotivasi “Saat kita mengetuk pintu rumah seseorang dan pintu tidak terbuka sebab orang itu sedang tidur. Tetapi semakin kuat kita mengetuk pintu, maka orang itu akan bangun dan membukakan pintu untuk kita”. Tantangan yang semakin berat justru memberi power yang semakin besar bagi mereka. Selain tantangan rasional dan emosional tadi, beberapa dari mereka justru menambah satu spot tantangan yang memotivasi yaitu dari siapa tantangan itu berasal. Tantangan dari orang terdekat justru akan memberi impact luar biasa yang bisa menjadikan sayap soloist semakin kuat. Jadi barangkali bukan lagi apa tantangan itu, tetapi dari siapa tantangan itu datang – who is knocking your door. DO AS I VOTE Sering mendengar ‘me too (saya juga)?’. Dalam situasi yang ringan sekalipun terkadang tidak mudah membuat sebuah keputus
an. Kita menganggap situasi ini sulit, sementara orang lain melihat ini sebagai sebuah hal sederhana yang dapat diselesaikan saat itu juga. Saya rasa Mirroring atau mencari sebuah cermin sosial diperlukan dalam situasi seperti ini. Bagaimana mendapatkan pemikiran dari orang lain terhadap situasi bisnis yang kita jalani. Oleh orang-orang dalam behavior profile Dominance, Mirror (cermin) biasanya akan digunakan sebagai pelengkap analisa sebelum akhirnya ia mengambil keputusan sendiri atas apa yang ia yakini. Suara yang dijalankan hanya akan berdasarkan pemahaman serta arah yang diyakini sendiri. Ia akan cenderung hanya melakukan apa yang ia putuskan. Dalam diskusi saya dengan teman-teman pengusaha perempuan beberapa waktu lalu, kami menemukan bahwa seni membuat pilihan (vote) yang dilakukan ternyata tidak hanya diaplikasikan pada situasi bisnis. Do as I vote juga dilakukan pada social connections. Tanpa disadari mereka cenderung memilih karakter atau profile mana saja yang dapat mereka masukkan ke dalam daftar teman pada social connections dalam jangka panjang. Jangan lupa bahwa mirroring selalu terjadi dan tanpa disadari, social connections dalam jangka waktu tertentu dapat mengubah cara berpikir atau respons kita terhadap pertanyaan, situasi, terhadap orang-orang di sekitar kita, terhadap pengambilan keputus an dan terhadap bagaimana kita melihat business outlook ke depan. Mereka yang memiliki strong drive atas keputusannya, tidak mau mengadopsi ide orang lain dengan konsep ‘me too’. Rupanya nilai yang mereka yakini; do as I vote and get ahead.
STICKINESS Pembahasan tentang stickiness atau loyalty tidak jauh dari pembahasan tentang komitmen. Masih dalam diskusi yang sama, seorang kawan bertanya, berapa keputusan yang rata-rata kita buat setiap hari? Berapa keputusan yang benar-benar dijalankan dengan komitmen? Kami tidak memberi jawaban seketika sebab pikiran langsung berlari mundur dan tertuju pada keputusan yang akhirnya tidak mendapat komitmen kuat untuk dijalankan. Beberapa orang akan lebih memilih untuk memikirkan kembali (rethink) apa yang telah diputuskan. Soloist akan cenderung lebih bebas untuk melakukan explorasi pikiran sebelum akhirnya kembali membuat keputusan baru atas permasalahan yang sama. Dengan index stickiness/loyalty/commitment seseorang yang rendah, respons terhadap satu situasi yang sama, tentu akan jauh lebih bervariasi dan lebih merefleksikan tindakan yang berbeda dari waktu ke waktu. Stickiness sangat tergantung dari proses seseorang mengambil keputusan. Keputusan yang diyakini penuh, akan memberi dorongan loyalty dan komitmen dari dalam tanpa perlu bantuan untuk mengukur dan mengingatkan kembali (loyalty tracker). Observasi pribadi saya meyakini bahwa kebiasaan berpikir seseorang (the habit of mind) sangat kuat merefleksikan nilai-nilai yang mereka yakini dan berpengaruh besar dalam proses bagaimana seseorang akhirnya mencapai keputusan itu. Mengakhiri tulisan minggu ini, mari kita angkat satu pendapat soloist terhadap kebebasan mereka dalam berpikir, berinovasi dan berkreatifitas; “..and if I am flying solo, at least I am flying free”.
Mozaik
Edisi 874/ 9 - 15 november 2015
Wisata Larung Sesaji Dongkrak PAD Ponorogo
19
Ponorogo memang sejuta pesona budaya dan pariwisata. Pada momen-momen tertentu seperti agenda Grebeg Suro kota Reyog ini mengadakan berbagai kegiatan seni dan budaya. Ritual larung sesaji yang digelar masyarakat adat di Telaga Ngebel, dan agenda lain selama perayaan Grebeg Suro.
P
otensi budaya dan pariwisata ini berdampak dan bisa memacu pertumbuhan wisatawan ke daerah itu sehingga berimbas pada capaian
pendapatan asli daerah (PAD) hingga 20 persen dari target oleh pemerintah daerah. “PAD yang berhasil diserap selama sehari pelaksanaan tradisi ‘larungan’ saja diperkirakan me
nyumbang 20 persen dari total target PAD 2015 yang diproyeksikan sebesar Rp 475 juta,” ungkap Sapto Jatmiko, Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Ponorogo.
Industri Camilan tak pernah Mati Makanan ringan atau yang biasa disebut camilan merupakan suatu jenis makanan yang tergolong kedalam makanan sam pingan. Camilan bukan merupakan makanan pokok melainkan hanya sebagai makanan selingan. Namun terkadang meskipun camilan sering diartikan sebagai makanan sampingan, malah camilan tidak jarang lebih sering dikonsumsi dibandingkan dengan makanan pokok. Kemudahan dalam mengonsumsi camilan inilah yang melatarbelakangi banyaknya penggemar makanan ringan ini. Kemudahan yang didapat salah satunya adalah bisa dikonsumsi dimana saja tanpa terfokus pada satu tempat. Tidak seperti ketika kita ingin makan nasi maka kita harus berada pada warung penjual nasi itu. Jika ingin mengonsumsi camilan maka hanya perlu membeli lalu membawanya kemanapun dan ketika ingin memakannya maka kita tinggal memakannya tanpa perlu melihat tempat. Melihat dari banyaknya penggemar camilan ringan ini, Desy Norma, pengusaha muda asal Kelurahan Nologaten Ponorogo mencoba mengadu nasib dengan memulai bisnis camilan. Dengan melihat target pasar menjadikan camilan ringan ini sebagai sebuah peluang bisnis yang sangat menjanjikan.
Desy ingin menunjukkan bahwa camilan juga merupakan jenis makanan. Nah, sudah diketahui dan bahkan wajib diketahui makanan merupakan kebutuhan primer bagi manusia. “Jadi alasan inilah maka saya berpendapat yang namanya industri kuliner termasuk camilan dipastikan tidak akan pernah mati,” katanya.. Sangat banyak sekali jenis camilan yang sangat berpotensi di pasaran. Namun, untuk mempermudah dalam memilih jenis camilan yang akan dijadikan bisnis maka harus jeli dalam memilih beberapa camilan. Pertama ia mencoba untuk membuat berbagai macam keripik mulai dari keripik pedas berbahan baku singkong/ken-
tang. Ternyata jenis keripik ketela buatannya kini makin populer dan lagi laris-larisnya di pasaran. “Percobaan saya membuat keripik ternyata berhasil, dan saya akan membuat varian lain, untuk mengembangkan usaha saya,” imbuhnya. Meski dengan modal yang tidak sedikit karena harus membeli berbagai peralatan dan memperkerjakan banyak orang, seimbang dengan hasil yang dirinya dapatkan, meski perlu ekstra keras dalam mengembangkannya. “Saya sempat mengalami kesulitan, namun saya tidak akan berhenti untuk terus mengembangkan usaha caliman ini,” ungkapnya. -Dinar Perdana
Jumlah itu, lanjut dia, dihitung berdasarkan volume kunjungan wisatawan yang terpantau dari pembelian retribusi masuk objek wisata Telaga Ngebel. Volume kunjungan wisatawan lokal, domestik maupun sebagian mancanegara pada ritual larung sesaji hasil bumi yang juga dikenal sebagai puncak acara “Garebeg Suro” mencapai sekitar 7.000 orang. Dengan nilai retribusi untuk setiap wisatawan sebesar Rp 10 ribu, ditambah retribusi kendaraan roda dua, roda empat serta persewaan aset pesanggrahan, perahu wisata maupun lainnya, PAD yang terkumpul dalam satu hari kegiatan larung sesaji ditaksir lebih dari Rp 100 juta. Nilai itu belum termasuk peredaran uang di sekitar Telaga Ngebel, baik dari sektor penjualan aneka makanan dan minuman, persewaan perahu wisata dan speed boat, hingga persewaan hotel ataupun jenis penginapan lainnya. “Saat ini PAD wisata Telaga Ngebel saja sudah mencapai 120
persen dari target. Jumlah itu masih akan terus meningkat dan diharapkan hingga akhir tahun ini bisa tembus 130 persen atau lebih,” ujarnya. Wisata Telaga Ngebel dikenal sebagai salah satu ikon Kabupaten Ponorogo, setelah kesenian Reyog. Terletak di lereng Gunung Wilis, dan berada di perbatasan antara Ponorogo, Madiun dan Jombang, danau alami yang diperkirakan berusia ribuan tahun tersebut menjadi primadona wisatawan karena objek wisata ini menyuguhkan pemandangan telaga dengan panorama hutan lindung yang masih alami. Daya tarik Telaga Ngebel semakin terdongkrak semenjak masyarakat adat di delapan desa sekitar danau ini, pada 1993 bersepakat untuk menggabungkan ritual bersih desa setiap pergantian tahun baru Islam (sama dengan pergantian tahun dalam penanggalan Jawa) digabungkan menjadi satu dalam acara ritual larungan di telaga tersebut. -Dinar Perdana
20
Nine
Edisi 874/ 9 - 15 November 2015
d r g. Fa rida Istia rini, Sp. ort .
Bahagia Melihat Penderita Bibir Sumbing Tersenyum
“Bu dokter, saya sudah menikah. Ternyata ada juga yang lirik saya,” ungkap seorang perempuan berusia sekitar 30-an tahun kepada drg. Farida Istiarini, Sp.ort, pada sebuah pertemuan tak terduga di Mataram. Perempuan itu tersenyum. Farida tertegun melihat perempuan itu, sesaat mengamatinya dan langsung mengenalinya dari tanda samar pada sisa jahitan di bibirnya yang terbelah di bawah hidung. Perempuan itu adalah salah satu dari begitu banyak pasien bibir sumbing yang pernah dioperasinya. Farida sungguh terharu dengan pertemuan tersebut terutama atas kabar bahagia yang didengarnya dari perempuan yang dulunya sempat dikucilkan.
R
drg. Farida Istiarini, Sp.ort bersama pasien bibir sumbing
upanya, selama nyaris 30 tahun perempuan desa ini hidup minder dan harus menanggung beban psikologi karena dibully akibat sumbing yang dideritanya sejak lahir. Ia bahkan hampir tidak berani mencita-citakan masa depan yang baik karena kondisinya itu. Baginya, bisa jadi tak mungkin ada seorang lelaki yang mau berbagi hidup dengan bibir sumbingnya. Hingga akhirnya ia bertemu dengan dokter Farida yang membuat ia “hidup” kembali pada sebuah operasi bakti
sosial yang mengantarkannya ke gerbang kebahagiaan. Lewat tangan kasih dokter gigi lulusan Universitas Trisakti tahun 1999 inilah, perempuan ini berani merenda mimpi membangun rumah tangga dengan seorang lelaki yang akhirnya menikahinya, setahun setelah menjalani operasi bibir sumbingnya. Momen melihat pasiennya tersenyum kembali, adalah momen paling membahagiakan dalam hidup dokter Farida. “Sungguh saya sangat bahagia tiap kali melihat mereka tersenyum,” ujar dokter Farida yang ditemui menjelang praktik di klinik barunya Joli Sourire Dental Care di Lombok Epicentrum
adalah keinginan juga melihat anak-anak NTB penderita bibir sumbing dapat merenda cita-cita dan memiliki masa depan. Menurutnya, angka penderita bibir sumbing di NTB sangat tinggi, terutama anak-anak. Anak-anak yang memiliki peluang menjadi pemimpin dan penerus generasi NTB yang menderita bibir sumbing kebanyakan putus sekolah akibat minder dan kerap dibully. “Jika para penderita bibir sumbing, terutama anak-anak, tidak tertangani dengan baik dan sejak dini, bagaimana masa depan mereka dengan segala beban psikologi dan tekanan yang terus mengikuti selama mereka sumbing. Dan ini menjadi pekerjaan rumah kita bersama,” kata dokter Spesialis Orthodontis lulusan Universitas Gajah Mada tahun 2008 ini. Karena itulah sejak pulang ke Lombok tahun 2009, Farida lalu mendedikasikan sebagian waktunya untuk menjadi volunter dalam menangani penderita bibir sumbing ini. Ia ingat ketika masa awal ia dan beberapa rekan dalam timnya melakukan identifikasi dan menemukan penderita bibir sumbing yang kebanyakan berada di desa-desa di Pulau Lombok, perjuangannya terbilang berat. Banyak rintangan khususnya dari masyarakat sekitar penderita bibir sumbing kala itu, yang bisa dikatakan menentang keinginannya bersama tim untuk melaku-
drg. Farida Istiarini, Sp.ort., kebahagiaannya adalah melihat penderita bibir sumbing tersenyum
“Sungguh saya sangat bahagia tiap kali melihat mereka tersenyum” Mall Mataram. Meski usianya masih relatif muda, dokter Farida tidak melulu menghabiskan waktunya di ruang praktik demi mengumpulkan pundipundi uang yang bisa datang tiap waktu bahkan menit, melainkan
Dokter Farida bersama pasiennya yang telah menjalani perawatan, merapikan, dan meratakan gigi di kliniknya
kan operasi bibir sumbing demi membuat anak-anak penderitanya tersenyum. Farida dan timnya bahkan menjemput penderita bibir sumbing ke desa-desa untuk dibawa guna menjalani operasi. “Tidak mudah bagi kami waktu itu. Kami bahkan pernah diusir dari sebuah desa yang terbilang banyak penderita bibir sumbingnya,” kata putri dari H.M. Rapi’i dan Hj. Kurniah ini. Namun Farida tidak pernah menyerah. Hingga akhirnya, setelah mengoperasi lebih dari 1.000 pasien bibir sumbing di NTB, kegiatan sosialnya ini mendapat tanggapan positif dari masyarakat.
Edisi 874/ 9 - 15 November 2015
I d a Ay u M a d e P u r n a m a n i n g s i h
ia kerap meluangkan waktunya untuk bekerja secara sosial. Bersama timnya, ia turun lapangan demi membuat para penderita bibir sumbing di NTB ini tersenyum bahagia. –Naniek I. Taufan
“Kalau dulu kita yang sampai harus menjemput pasien, sekarang karena sering mendengar ada operasi bibir sumbing, pasien yang tidak sempat terdata, bahkan sudah mulai datang sendiri mendaftar,” ujar Farida yang baru kembali dari Belanda dan Inggris memperdalam keahliannya dalam hal menangani bibir sumbing. Bagi Farida yang setelah lulus dari Universitas Trisakti tahun 1999 sempat menjadi dokter PTT di Puskesmas Tanjung Lombok Utara ini hingga tahun 2003, lalu melanjutkan spesialis sampai tahun 2008 di UGM, ilmu dan keahlian yang dimilikinya selalu
membuatnya ingin berbagi meski di tengah kesibukannya yang sangat padat. Meski tiap hari ia menghabiskan waktu bekerja di RSUD Patut Patuh Patju Lombok Barat sebagai Orthodontis dan sore harinya ia melayani pasien di klinik miliknya, ia tidak pernah lupa menyisihkan waktu untuk membantu para penderita bibir sumbing. Sebagai Orthodontis pertama di NTB ketika ia pulang kampung tahun 2009, keahliannya sebagai spesialis merapikan dan meratakan gigi telah banyak dipercaya oleh ribuan pasien yang telah ditanganinya. Ia ahli dalam hal mengembalikan gigi menjadi normal dan proposional kembali karena berbagai faktor penyebabnya. Menurutnya kebutuhan akan estetika gigi ini di NTB sangat tinggi. Kurang rapinya gigi disebabkan oleh faktor masih kurangnya kesadaran masyarakat dalam merawat dan memeriksa gigi secara berkala, padahal itu sangat penting terutama bagi anak-anak. Mengabaikan perawatan pada masa pertumbuhan gigi anak banyak menyebabkan tumbuhnya gigi yang tidak rapi atau bahkan relatif berantakan. Karena itu, ia menyarankan agar para orangtua secara berkala memeriksakan gigi agar tumbuh dengan rapi dan rata. Dengan begitu senyum Indonesia menjadi lebih indah dengan gigi yang rapi. -Naniek I. Taufan
5
Mencari Ilmu Pengetahuan dalam Organisasi Jika disapa, gadis ini pasti menoleh lalu membalasnya dengan tersenyum. Peduli sesama membuatnya selalu sibuk berurusan dengan organisasi. Baik dalam organisasi akademis ataupun di masyarakat. “Saya mulai mengikuti kegiatan organisasi dari awal kuliah di Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar,” kata alumnus Jurusan Penerangan Agama, Fakultas Dharma Duta IHDN Denpasar ini.
Senyum Indonesia Lebih Indah dengan Gigi Rapi Cita-cita terbesar dokter kelahiran 8 Maret 1975 ini adalah melihat NTB bebas sumbing. Cita-cita ini berangkat dari terenyuhnya ia manakala melihat penderita bibir sumbing hidup menanggung beban psikologi akibat lingkungan yang tidak bisa menerimanya dengan baik. Ia terpanggil menangani bibir sumbing karena ingin merubah hidup para penderita bibir sumbing menjadi bahagia. “Mereka tertekan karena dibully bahkan banyak yang dikucilkan dan dijauhkan dari lingkungan serta tidak sedikit yang mengucilkan diri. Dan yang lebih menyedihkan, terutama saat pertama kami turun ke desa-desa, ada penderita bibir sumbing dewasa yang dipasung karena ia dianggap sebagai aib keluarga,” ujar ibu dua anak, Keysha Nasheeta dan Arvyn Ramadhany ini. Ia tidak bisa membayangkan penderita bibir sumbing ini hidup tertekan hingga puluhan tahun bahkan ada yang sampai kakeknenek. “Ada pasien bibir sumbing yang saya operasi berusia 60-70 tahun. Bayangkan bagaimana tersiksa hidup mereka selama puluhan tahun tersebut, karena cacat tersebut dibawa sejak lahir,” kata dokter spesialis merapikan dan meratakan gigi ini. Lebih dari itu, mengapa ia banyak menyiapkan waktu dan tenaga tanpa dibayar dalam kegiatan-kegiatan sosial seperti ini,
Inspirasi
I
da Ayu Made Purnamaningsih demikian namanya. Gadis kelahiran Denpasar, 27 Februari 1993 ini pertama kali aktif menjadi wakil BEM Fakultas Dharma Duta, kemudian Ketua Umum UKM Darma Gita, Koordinator UKM Penalaran, Bendahara UKM Wirausaha, Anggota KMHDI Bali dan Ketua Peradah (Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia) Bali yang dipilih awal Oktober 2015 lalu. “Ada banyak ilmu dalam organisasi itu,” ucapnya tentang banyaknya organisasi yang
diiikuti. Dayu Purnama – demikian panggilannya tak hanya aktif berorganisasi, tetapi juga kreatif sebagai mahasiswa peneliti IHDN Denpasar. Ia juga rajin menulis artikel ataupun mengikuti lomba. Salah satunya sebagai juara I lomba penulis artikel jurnal ilmiah tingkat nasional (2013). “Saya mengangkat judul “Seksualitas Pelajar Hindu pada Masa Brahmacari di Kota Denpasar,” paparnya. Ide itu lahir, jelas gadis kelahiran Denpasar, 27 Februari 1993 ini, karena semakin
merosotnya nilai-nilai, ajaran agama Hindu di kehidupan pelajar Hindu saat ini. Berbagai fenomena terjadi diakibatkan oleh seksualitas pelajar, seperti kasus pemerkosaan, hamil di luar nikah, seks bebas, pernikahan dini, aborsi dan kematian. “Harus ada yang mencari solusi untuk mengurangi terjadinya kasus-kasus akibat seksualitas pelajar,” ujarnya. Dalam Agama Hindu, lanjut mahasiswa Pascasarjana IHDN Denpasar jurusan Ilmu Komunikasi Agama Hindu ini, sangat jelas dipaparkan kalau
Dayu Purnama
pada masa belajar (brahmacari) merupakan masa belajar secara sungguh-sungguh agar menjadi anak yang suputra. “Kuncinya, kita harus menanamkan dalam diri bahwa masa muda adalah masa menuntut ilmu, sehingga menjadi bekal untuk kehidupan,” jelasnya. Beda lagi tulisan karya ilmiahnya yang berjudul tentang
“Implementasi Tri Hita Karana dalam Menciptakan Bali Clean and Green (Studi Kasus Alih Fungsi Lahan di Kota Denpasar)”. Ia membuat karya tulis ini karena mengikuti lomba penulian karya ilmiah tingkat Provinsi Bali 2015. Hasilnya, ia meraih Juara Harapan I. Dayu Purnama yang mengaku telah memiliki calon pasangan hidup itu memiliki tekad kuat untuk ikut melestariakn seni dan budaya Bali. Karenanya, selain aktif melakukan penelitian, ia juga rajin mengikuti lomba-lomba tradisi Bali, diantaranya sebagai Juara Harapan I lomba Dharma Wacana tingkat nasioanl, juara II lomba Kakawin Putri Se-Kota Denpasar, Juara II Phalawakya Putri Se-Kota Denpasar, dan juara Harapan I lomba merangkai janur se-Kabupaten Badung. “Mudah-mudahan semua ini bisa menginspirasi,” tegasnya. -Darsana
Peluncuran Buku Biografi Ajik Cok
Ilmu “LTK” Mengantarkannya Jadi Pengusaha Sukses Lihat, Tiru, Kembangkan, inilah yang menjadi pegangan hidup Gusti Ngurah Anom, pemilik Krisna Holding Company, yang lebih akrab disapa Ajik Cok. Keberhasilannya dalam mengubah hidupnya bukan sekadar sebuah keberuntungan atau mengandalkan modal besar. Pria kelahiran Seririt, Buleleng 5 Maret 1971 ini merintis semuanya lewat kerja keras dan ketekunan. “Dimana pun saya lihat, saya harus tiru, setelah itu saya kembangkan.Seperti, ilmu ‘LTK’ ini saya kembangkan di Bali utara. Setelah mencoba membuka 4 outlet, astungkara semua berjalan lancar. Saya tidak pernah bermimpi, hanya bekerja dan bekerja,” tutur pemilik Pasar Oleh-oleh Krisna ini. Itulah yang dikatakannya sebagai kunci pertama untuk meraih sukses. “Jika mau bekerja tidak mungkin tidak ada hasil. Yang penting bekerja dulu baru melihat hasil. Jika melihat hasil dulu baru bekerja tidak akan berhasil. Yang paling penting adalah kerja keras, komitmen, kejujuran, emosional dikontrol,” imbuhnya. Buku kedua Ajik Cok yang ditulis A. Bobby Pr. ini melengkapi buku terbitan pertama. Dengan tebal 252 halaman, penulis meng-
lis membuatnya menyanggupi menggarap buku ini, yang diselesaikannya dalam waktu kurang lebih 6 bulan. “Tidak banyak orang yang bisa berhasil sebagai wirausaha karena kendala modal dan pengalaman. Dari tukang cuci mobil bisa seperti sekarang ini, dari emperan membangun ‘empire’. Kisah Ajik Cok ini sungguh inspiratif,” ujar Bobby. Peluncuran Buku Biografi Ajik Cok, Minggu (1/10) di Hotel Aston Denpasar, dipandu Gading Martin, Andy F. Noya, dan dihibur artis Syahrini
orek kisah Ajik Cok dari nol, menulusuri perjalan hisupnya hingga ke pelosok-pelosok, mulai dari pergulatan batin Cok kecil yang kabur dari rumah karena bosan dengan kemiskinan, menumpang truk untuk sampai ke Denpasar, menyusuri pinggiran sungai, hingga akhirnya menumpang berteduh di pos satpam hotel nyambi membantu mencuci mobil para tamu. Bahkan, Ajik Cok mengaku kaget setelah membaca buku kedua ini. “Saya baru sadar kalau saya disusui oleh dua ibu, saya membaca buku ini sampai menangis,” ucapnya haru. Dengan diterbitkannya buku ini, ia berharap bisa menginspirasi anakanak muda. “Mudah-mudahan lagi ada Krisna-Krisna yang lain, meskipun hanya tamat SMP jika
mau bekerja keras saya yakin pasti bisa,” ujarnya menyemangati. Peluncuran Buku Biografi Ajik Cok yang digelar Minggu (1/11) di Hotel Aston Denpasar itu memang cukup fenomenal. Deretan pejabat penting dan artis Ibu Kota turut hadir dan menghibur. Acara yang dipandu MC kondang Gading Martin-Ayu Saraswati dan dihibur artis cantik Princes Syahrini itu, dihadiri pula teman-teman sekolah dan seperjuangan Ajik Cok saat menjadi tukang cuci mobil dan bekerja pada Sidharta Konfeksi yang telah membesarkannya. Dalam Talkshow yang dipandu presenter Kick Andy, Andy F. Noya ini, perjalanan hidup seorang Ajik Cok dikupas habis. Kisah hidup Ajik Cok yang luar biasa inilah yang diakui sang penu-
Dari Emperan Membangun “Empire” Ia mengungkapkan ada 4 hal yang menarik dari Ajik Cok. Pertama, pekerja keras. Kedua, tulus. “Ketika Ajik Cok bekerja di Sidharta Konfeksi, dia tidak memikirkan berapa gajinya, dia bekerja dan terus bekerja, itu yang dituturkan oleh teman-temannya sebagai tukang cuci mobil dan di konfeksi. Bahkan, ketika ada teman yang sakit, Ajik Cok yang mengkoordinir mengumpulkan uang,” ungkap Bobby yang mencari kesasksian ini langsung dari teman-teman seperjuangan Ajik Cok dulu. Ketiga, Bobby menyebut Ajik Cok spekulasinya luar biasa. “Tahun 2004 mulai usaha, tahun 2007 sudah mulai membangun Krisna. Bahkan tahun 2008 berani membangun Krisna disamping toko
oleh-oleh Bali yang cukup besar dengan bisnis serupa. Keempat, point yang paling penting adalah AjikCok mau berbagi dengan banyak orang. “Dia berbagi bukan hanya saat dia seperti sekarang, tapi waktu dulu pun sudah berbagi seperti pengakuan temantemannya,” imbuhnya. Dalam buku ini, Bobby menuturkan tidak menulis biografi mulai dari masa kecil, remaja dan seterusnya. Namun ia memulai dari momen yang paling menarik, ketika Ajik Cok memutuskan kabur dari rumahnya. Ajik Cok adalah berasal dari keluarga yang sangat miskin. Karena, hanya untuk membeli buku pelajaran atau bolpoin saja tidak mampu. Terpaksa ia ambil isi bolpoin temannya, digulung kertas dan dijadikan bolpoin. Begitu juga buku tulis, ia ambil buku teman-temannya bagian tengah, dikumpulkan, dan dijahit menjadi buku. Begitu miskinnya, hingga pada akhirnya ketika sang ayah mengatakan tak sanggup lagi membiayai sekolahnya, Cok kecil memutuskan kabur dari rumah. “Inilah plot pertama yang saya tulis, baru kemudian masuk ke masa kecil dan seterusnya,” tandas Bobbyi yang juga penulis biografi Menteri Susi Pujiastuti ini. –ten
4
Inspirasi
Edisi 874/ 9 - 15 November 2015
Made Ngurah Bagiana
Eksis dengan Edam Made Ngurah Bagiana tak pernah menyangka kalau dirinya menderita kanker. Karena itu pernyataan dokter yang menyebutnya menderita kanker berstadium lanjut sungguh memukulnya. Pengusaha burger ‘Edam’ ini mengaku sempat down, apalagi kalau memikirkan keluarganya juga nasib dari banyak orang yang menggantungkan kehidupan pada usaha ‘Edam’.
T
api Made tak mau berlama-lama dalam keterpurukan, dan ia berjuang melawan penyakit mematikan itu. Lewat pengobatan kanker yang dijalaninya secara intensif selsama setahun, ditambah semangat hidupnya yang tinggi serta dukungan yang besar dari keluarga, penyakit kanker getah bening itu bisa dikalahkan. “Dokter mengatakan kanker saya sudah bersih. Dan sekarang saya dalam masa pemulihan. Kini saya tinggal menjalani kontrol rutin dan menjaga kesehatan saja,” ungkap Made Ngurah Bagiana yang saat bertemu Tokoh di ‘Edam Cafe’, kawasan Klender, Jakarta Timur, didampingi istri tercinta, Made Arsani Dewi. Beda dengan setahun lalu, maka penampilan Made kali ini jauh lebih segar. Selain tubuhnya agak lebih kurus, tak terlihat tanda-tanda lain kalau dia sempat kritis karena kanker. “Pak Made menjalani pengobatan di Indonesia, ternyata bisa sembuh. Jadi siapa bilang kalau pengobatan di Indonesia tidak semaju di luar negeri. Memang, tadinya kami sempat berpikir untuk berobat ke luar negeri. Namun ketika niatan itu kami sampaikan kepada dokter, beliau mengatakan, pengobatan di Indonesia sudah maju, tidak kalah dengan luar negeri. Dan memang terbukti, hasilnya bagus. Bagi saya, ini juga merupakan inspirasi bagi penderita kanker yang lain bahwa dokter-dokter di Indonesia tidak kalah hebat dari dokter luar,” ungkap Arsani Dewi semangat. Berbicara tentang bisnis burger yang sempat dia tinggalkan selama setahun karena sakit, Made mengaku tidak masalah karena sebelum sakit pun dia telah mulai melepaskan satu demi satu pekerjaan yang dulu ditanganinya. Dia mengaku ingin regenerasi dan memberi kesempatan kepada anak-anaknya juga yang lain untuk mulai mengambil alih bisnis ini. “Selama berpuluh tahun Edam berdiri, saya yang menanganinya langsung semuanya. Sekarang saya mulai
Made Ngurah Bagiana
melepas satu demi satu pekerjaan ini. Anak saya sudah 26 tahun, dan dia mulai mengambil alih, begitu juga orang lain yang terlibat di dalamnya. Saya punya pengalaman melihat banyak pengusaha yang tidak melakukan regenerasi dalam kepemimpinan usahanya, maka ketika dia sudah tidak ada, usahanya pun ikut menghilang. Saya banyak melihat itu di Bali. Saya berpendapat, tidak adanya regenerasi karena tidak adanya kepercayaan, juga tidak mau memberi kesempatan pada yang lain. Saya tidak mau begitu. Itu sebabnya, sejak sebelum sakit bahkan kemudian sakit, saya secara perlahan sudah mulai melepaskan kendali,” ungkap pria kelahiran Singaraja 12 April 1956 ini. Bisnis burger ini sudah 26 tahun ditekuni Made. Awalnya sebagai pria perantau di Ibukota negara, Jakarta, berbagai jenis pekerjaan dia lakoni demi bisa survive. Dari bekerja serabutan sampai pernah sukses berbisnis kontraktor dan angkutan, namun akhirnya semua kandas dan dia pun jatuh miskin. Saat terpuruk, ada orang yang ingin menjual empat gerobak makanan yang dimilikinya, Made pun langsung membeli. “Namun saya hanya membeli dua gerobak, harganya Rp 1,5 juta. Uang pembelian saya pinjam dari teman. Dan mulailah saya berkeliling kampung menjual burger. Ketika itu tahun
90-an. Awalnya banyak orang tidak berani mendekat karena mengira, harga burger mahal. Tapi ternyata tidak, ” cerita Made. Tahun 1998, merk burger pun berganti menjadi ‘Edam’. Menurut Made, nama itu pemberian pengusaha kondang alm Bob Sadino. Bahkan ‘Om Bob’ pula lah yang menciptakan formula khusus untuk daging yang digunakan Made. Entah karena namanya atau karena formula khusus yang dibuat ‘Om Bob’, namun sejak itu usaha burger Edam berkembang pesat. Tentunya ini semua tak lepas dari kerja keras dan ketekunan Made yang didukung istrinya untuk berjuang keras mengembangkan usaha ini. Dan Made yang memulai usahanya dari ‘Nol’ tidak melupakan tentang masa lalunya sebagai ‘wong cilik’ yang berjuang hidup di Jakarta. Karena itu, dia pun menggandeng banyak kalangan tak mampu untuk menjadi wirausaha. Modal tak perlu banyak, asal ada kemauan dan ketekunan, bisnis kuliner ini bisa berjalan. “Dengan modal tidak besar, orang sudah bisa berjualan. Saya siapkan beralatannya, boleh dicicil, bahkan ada juga yang minta untuk mengutangkarena tidak memiliki uang. Bagi saya tidak masalah, asalkan orang itu memang ingin berusaha. Dan nyatanya banyak dari mereka itu berhasil dalam usaha burgernya, dan mengembalikan pinjamannya ke saya. Saya bersyukur karena setidaknya lewat usaha saya, orang lain bisa terbantu,” ungkap Made. EMPAT JURUS JITU DALAM BISNIS Dan kini, 26 tahun telah berlalu sejak ia memulai usaha ini. Made menuturkan ia sangat bersyukur bisa mempertahankan dan mengembangkan usahanya hingga seperti sekarang. Saat ini setidaknya ada ribuan outlet burger ‘Edam’ diseluruh Indonesia dan puluhan distributor yang menyebar, khususnya di kota-kota besar. Persaingan bisnis burger, ungkapnya, sangat ketat pun di level kelas bawah. Karena itu agar bisa bertahan ia harus
Mandalika
21
Edisi 874/ 9 - 15 November 2015
“Lingkungan Sehat, Anak Cerdas”
Dalam melakukan monitoring dan evaluasi yang terkait dengan proses belajar mengajar dan administrasi pendidikan pada PAUD, khususnya di PAUD Kencana Ungu Dusun Kangi di Lombok Tengah, Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi NTB, Hj. Erica Zainul Majdi beserta jajarannya melakukan kunjungan kerja dengan mendatangi langsung PAUD yang berada di Desa Penujak Kecamatan Praya Barat Lombok Tengah tersebut.
A
Made Ngurah Bagiana dan istrinya Made Arsani Dewi dan sejumlah produk burger andalan Edam
menjalankan strategi jitu. Ada empat resep jitu yang selama ini dijalankannya dan terbukti membawa hasil baik, yakni, kemampuan mempertahankan kualitas produk, pelayanan yang baik kepada konsumen, inovasi produk, juga strategi harga. “Keempat resep jitu ini terbukti bisa membuat Edam tetap bertahan selama 26 tahun. Dan tentunya, yang tak boleh dilupakan adakan kemauan untuk bekerja keras dan terus maju,” ujarnya. Ada hal menarik dari Made terkait menjalankan bisnis ini. Yakni, ia mengaku selama puluhan tahun menjalankan bisnis burger, dia tidak pernah memiliki tim marketing khusus. Padahal seperti yang kita tahu, bisnis tanpa marketing nyaris mustahil. Namun pria kelahiran Singaraja ini ternyata punya penjelasannya. Menurut Made, ia memang tidak memiliki tim marketing sebagaimana yang lazim berlaku disebuah perusahaan, namun bukan berarti perkembangan usahanya itu tidak didukung strategi marketing. Asal tahu saja, kata Made, ‘tim marketing’ nya itu adalah para pedagang yang selama ini menjadi konsumen setia dari Edam. Mereka ini yang karena kesuksesan usahanya menyebarkan kepada orang lain tentang bisnis burger Edam. Walhasil ‘marketing getok tular’ pun menyebar dan mendatangkan konsumenkonsumen baru. “Mereka yang sudah merasakan keuntungan bisnis ini kemudian menyebarkannya kepada yang lain, itu sebabnya konsumen Edam terus tumbuh,” katanya. Saat ini, tambahnya, boleh dibilang 90% konsumen ‘Edam’ adalah para pedagang, sedang 10% nya lagi adalah orang biasa alias bukan pedagang. Para pedagang ini, mulai dari para pedagang gerobak burger yang keliling dari kampung ke kampung, outlet di mal-mal hingga perkantoran, juga di restoran. Jadi boleh dibilang, sekalipun dirinya menetapkan segmen Edam adalah masyarakat kalangan bawah, faktanya adalah Edam telah masuk ke segala kalangan.
MISI SOSIAL
Made mengaku bergembira karena bisnisnya bukan hanya berkembang tapi fungsi sosial yang menjadi misinya telah berjalan dengan baik. Pasalnya, lewat bisnis ini sudah banyak orang yang terbantu. Mereka yang tadinya tidak memiliki penghasilan atau kalangan bawah yang terbatas penghasilannya, akhirnya bisa survive lewat bisnis burger. Yang perlu diingat, tegas Made, bisnis kuliner itu tidak akan mati sekalipun situasi ekonomi sedang sulit. Bahkan dalam berbagai pengalaman, sudah terbukti bisnis kuliner bisa survive dibanding bisnis lainnya. Dan yang menarik, katanya, keuntungan binis kuliner itu mencapai 100% bahkan bisa lebih. Semakin baik jika kuantiti yang terjual semakin banyak. “Selama orang hidup pasti membutuhkan makan. Harga burger yang relatif murah membuat orang tetap mengkonsumsinya. Satu hal yang saya tetap pegang teguh adalah tidak mengurangi mutu produk apapun keadaannya. Misalnya seperti sekarang, ketika harga material pembuatan burger mengalami kenaikan sekitar 15%, saya pun tidak menaikkan harga ataupun mengurangi mutu. Kualitas produk tetap sama dan ini yang harus dijaga. Paling yang berkurang hanya keuntungan saya yang menjadi 85%, tapi saya kira keuntungan 85% sudah cukup banyak, kan?” Banyak yang memuji produk Edam bahkan ada juga yang menyarankan untuk menaikkan segmen ke kelas menengah atas. Hal ini dikarenakan burgernya dinilai mampu bersaing dengan produk burger lain. Namun Made menolak karena merasa ada misi sosial yang diembannya dalam bisnis ini. “Saran itu baik, tapi sejak awal saya sudah menetapkan segmen pasar. Dan lebih dari itu bisnis ini bukan sekadar bisnis biasa tapi memiliki misi menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat kalangan bawah. Karena itu saya tetap bertahan di segmen ini. Lagi pula kalau mau ditinjau dari sisi bisnis, justru lahan pasar di segmen bawah lebih terbuka luas dibanding di segmen menengah atas,” ucap Made. -Diana Runtu
Ketua TP PKK NTB, Hj. Erica Zainul Majdi, bersama guru PAUD
presiasi diberikan Hj. Erica terhadap proses belajar mengajar yang diselenggarakan selama ini, meski diakui masih terdapat kekurangan. Untuk meningkatkan kualitas PAUD, diharapkan agar PAUD dapat bekerja sama dengan berbagai pihak terutama stakeholder terkait, seperti Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga, Dinas Kesehatan dan Dinas Peternakan. Dan yang lebih utama menurutnya adalah melibatkan masyarakat sekitar. “Libatkan stakeholder terkait untuk meningkatkan kualitas pendidikan PAUD,” katanya. Dalam proses berjalannya aktivitas PAUD, Hj. Erica meng-
Anak-anak PAUD Kencana Ungu, dalam tarian selamat datang
ingatkan bahwa tidak hanya penyelenggaraan pendidikannya yang penting, melainkan juga harus menjaga lingkungan belajar tersebut. Menurutnya, lingkungan yang bersih dan sehat akan memberikan kenyamanan bagi peserta didik. Di samping itu, anak cerdas dan sehat tercipta dari lingkungan yang sehat. Jika lingkungannya sehat, anak cerdas,” ungkapnya ketika memberi sambutan.
Bunda PAUD NTB juga memberikan motivasi dan dukungan kepada para pendidik yang mengabdi di PAUD tersebut. “Terus bersemangat menjalankan tugas. Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermakna atau bermanfaat buat orang lain,” katanya. Dalam kunjungan kerja tersebut, Hj. Erica diterima oleh Ketua TP. PKK Kabupaten Lombok Tengah, Hj. Baiq Irma Budiani Suhaili FT. -Naniek I. Taufan
Prioritaskan Pembangunan Infrastruktur Sejumlah perwakilan kepala desa, lurah dan camat dari empat Kabupaten se-Pulau Lombok, berkesempatan bertemu dan melakukan dialog langsung dengan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi RI, Marwan Jafar yang didampingi oleh Gubernur Nusa Tenggara Barat, Dr. TGH. M. Zainul Majdi, Sekretaris Daerah Prov. NTB, H. Muhammad Nur, S.H., M.H, serta sejumlah kepala SKPD lingkup Pemerintah Provinsi NTB, beberapa waktu lalu di Ruang Rapat Utama Kantor Gubernur NTB. Sebelumnya untuk dapat melakukan pengelolaan dana desa ini dengan baik dan benar demi berjalan lancarnya pembangunan di desa, Pemerintah Provinsi NTB telah berinisiatif mengumpulkan kepala desa seNTB untuk diberikan pembekalan, guna peningkatan kapasitas kemampuan dalam pengelolaan dana desa. Menurut Gubernur NTB, untuk tahun 2015 ini dana desa di Provinsi NTB sebagian besar dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur di desa. Hal ini mungkin mencerminkan bahwa wilayah tengah Indonesia, termasuk Provinsi Nusa Tenggara Barat, masih punya PR yang banyak untuk penaataan dan pembenahan infrastruktur di tingkat desa dan dusun. Namun di tahun 2016 mendatang, Gubernur berharap alokasi dana desa untuk NTB dapat ditambah, seiring meningkatnya
alokasi dana APBN 2016. Gubernur NTB juga sempat menyampaikan rasa pesimisnya akan maksimalnya realisasi dana desa di NTB, mengingat untuk tahun 2015, kurun waktu yang tersisa sangat sedikit, sehingga agak sulit diharapkan realisasi penyaluran dana ke desa bisa 100%. Namun demikian hal itu dapat dimaklumi, karena tahun ini merupakan tahun pertama dijalankannya amanat Undang-undang No. 6 tahun 2014 tentang desa. “Jadi, pasti ada kendala dan hambatan di lapangan,” ungkap gubernur. Dalam menyukseskan pengelolaan dana desa ini gubernur menjelaskan, walaupun dana desa langsung masuk dari pemerintah pusat ke rekening pemerintah kabupaten/kota, dan dilanjutkan ke rekening desa, namun Pemerintah Provinsi NTB juga tetap berusaha mengambil peran dalam melakukan
supervisi serta memastikan agar perangkat pemerintahan di tingkat desa bisa memiliki kompetensi dan pemahaman yang cukup untuk membantu mengatur dan mengelola dana desa yang semakin lama semakin besar jumlahnya itu. Dalam progress implementasi Undang-undang Nomor 6 tahun 2014, diakui Marwan Jafar, tentu banyak ditemukan kendala di lapangan. Hal ini nantinya yang akan menyebabkan sangat mungkinnya mempercepat revisi undang-undang, terlebih setelah melihat dinamika di lapangan, terutama dalam rangka penyaluran dana desa, dimana ditemui banyak kendala, termasuk kendala birokrasi yang paling banyak jadi penyebabnya. Mengingat realisasi penggunaan dana desa di NTB dalam Tahap I yang sudah mencapai 100 %, tahap II yang rata-rata baru menginjak kisaran 52% dan
Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi RI, Marwan Jafar yang didampingi oleh Gubernur Nusa Tenggara Barat, Dr. TGH. M. Zainul Majdi, bersama perwakilan kepala desa, lurah dan camat dari empat Kabupaten se-Pulau Lombok.
Proses pembangunan infrastruktur
tahap III akan segera diluncurkan (dengan syarat tahap dua sudah maksimal digunakan), menteri mengharapkan peran aktif Gubernur, Bupati dan Walikota se-NTB untuk dapat membantu melancarkan proses pencairan dana. “Tentu saja, jika ada kendala, mari didiskusikan secara bersama-sama,” ujarnya. Namun demikian, di tengah kendala yang timbul pada proses pencairan dana desa, menteri sangat optimis bahwa di tahun 2016 mendatang, alokasi dana desa bisa naik dua kali lipat. “Sudah resmi tertera dari pagu-pagu indikatif, sesuai pidato presiden kepada DPR RI, alokasi akan berkisar kurang lebih 47 triliyun untuk tahun 2016. Ini artinya naik dua kali lipat dibanding tahun 2015,” kata Marwan. Salah satu penggunaan dana desa yang diprioritaskan tahun 2015, menurut Marwan adalah untuk pembangunan infrastruktur. Infrastruktur yang dimaksud dijalankan secara padat karya/ tidak dikontraktorkan. Hal ini dimaksudkan agar ada keterlibatan masyarakat setempat secara maksimal (dari pekerja, hingga bahan baku bisa memanfaatkan yang ada di desa),
sehingga perputaran uang bisa benar-benar mampu untuk meningkatkan kesejahteraan desa. Dana desa dialokasikan untuk 3 kriteria, pertama, pembangunan infrastruktur (titik fokus 2015) untuk membangun jalan desa, irigasi desa, air bersih, jembatan sederhana dan lainnya. Kedua, adalah pengembangan ekonomi desa, seperti untuk membuat badan usaha desa, pelelangan ikan, kios desa juga pengembangan UMKM. Dan yang ketiga adalah untuk sarana pelayanan dasar desa seperti poliklinik, posyandu, PAUD dan lainnya. Demi maksimalnya penggunaan dana desa untuk kepentingan masyarakat dan desa, Gubernur NTB berpesan agar dalam penggunaan dana tersebut, kepala desa diminta selalu berpegang pada standar minimal dari pengawasan dan akuntabilitas. “Ciptakan akuntabilitas di tingkat desa, apalagi sekarang sudah banyak model software dan blangko-blangko untuk laporan pertanggung jawaban, agar ke depannya, pemerintah akan menambah kucuran dana bagi desa untuk pembangunan desa tersebut,” katanya. -Naniek I. Taufan
22
Sosialita
Edisi 874/ 9 - 15 November 2015
Pinjam Uang dan Bayar Listrik pakai Sampah Wajah Suparmi, warga Kampung Beting, Jakarta Utara, tampak cerah. Tak henti-hentinya dia menebar senyum kepada para tetangga yang ditemuinya. Keceriaan Suparmi bukannya tanpa alasan. Hari itu dia mendapat sejumlah uang yang lumayan dalam kegiatannya mengelola sampah.
Nanang Suwandi
“U
ang ini lumayan besar, bisa untuk bayar listrik juga bantu keperluan rumah tangga,” ungkap Suparmi yang sudah lima tahun bergabung dalam bank sampah di daerahnya. Sejak lama kawasan Kampung Beting, Semper Barat, Jakarta Utara, dikenal dengan keaktifan warganya dalam mengelola sampah. Kawasan padat penduduk di mana banyak memiliki penghasilan terbatas, sejak lama menekuni kegiatan produktif yakni mengelola sampah lingkungan. Hasilnya, tambahan pendapatan yang lumayan itu bisa dipergunakan untuk membantu membayar keperluan rumah tangga. Lebih dari itu, lingkungan Kampung Beting menjadi bersih dari sampah. Adalah Nanang Suwandi, tokoh dibalik berdirinya bank sampah yang berada di Kampung Beting itu. Bank sampah yang diberi nama ‘Karya Peduli’
ini didirikan sejak 2010 dan menjadi pelopor dari keberadaan bank sampah di Jakarta. Pria juga menjabat sebagai Ketua RW ini mengaku dirinya menggagas berdirinya bank sampah lantaran prihatin masalah sampah di daerahnya. “Akhirnya muncul ide mendirikan bank sampah. Merealisasikan bank berdirinya bank sampah pada masa itu bukan hal mudah. Namun, dengan berbagai kendala yang menghadang dan kerja keras dari kami akhirnya bank sampah ini bisa berdiri,” ungkap Nanang Suwandi. Bank sampah ini, bukan sekadar membuat lingkungannya bersih dari sampah namun juga memberi keun-
Tumpukan sampah di Bantar Gebang Bekasi
tungan pada warga anggotanya secara ekonomis. Ada sejumlah program yang dijalankan, di antaranya program pemberdayaan ekonomi dengan memberikan pinjaman tanpa anggunan tanpa bunga yang dibayarkan dengan sampah, alias pinjam uang dibayar sampah. Bank sampah Karya Peduli ini juga melayani pembayaran rekening listrik dengan memotong langsung saldo tabungan sampah nasabah. Saat ini anggota bank sampah Karya Peduli sudah mencapai 1.000 warga. Para anggotanya boleh bangga karena bank sampah Karya Peduli bukan hanya telah meraih berbagai penghargaan serta menjadi percontohan nasional tapi juga dikenal di luar negeri. Sejumlah pers asing pernah meliput kegiatan bank sampah ini, juga para pemerhati lingkungan internasional datang berkunjung di antaranya dari Jepang dan Kosta Rika.
Pesatnya perkembangan lantaran masyarakat merasakan keuntungan langsung dari keberadaan bank sampah. Meski namanya bank sampah namun bukan berarti pengelolaannya dilakukan secara sembarangan. Menurut Nanang, pengelolaan bank sampah ini dilakukan secara rapi. Misalnya, nasabah diberi buku tabungan sehingga penyetoran mereka tercatat rapi. TERBIASA MEMILAH SAMPAH Untuk menyulap sampah menjadi uang tentunya bukan pekerjaan sembarangan. Sampah yang disetorkan, khususnya yang akan didaur ulang menjadi produk tertentu, haruslah rapi. Misalnya, bekas kemasan tersebut sudah dicuci dan dipotong rapi. Nantinya kemasan ini akan dijadikan tas, dompet, tempat tisu, dll. Minimal penyetoran 1 kg.
Nanang berharap keberadaan bank sampah yang dikelola oleh masyarakat mendapat penguatan dari pemerintah, antara lain dengan membuka pasar bagi produk daur ulang sampah sehingga produksi masyarakat ini dapat terserap pasar. Dengan begitu masyarakat menjadi lebih bersemangat menjalankan aktivitasnya. Begitu juga dengan kompos yang berasal dari sampah organik. “Bank sampah merupakan solusi alternatif dalam pengelolaan sampah. Partisipasi perusahaan melalui program CSR dirasa sangat membantu guna memajukan pengelolaan bank sampah,” kata Nanang . Kepala Dinas Kebersihan DKI Isnawa Adji menyebut pihaknya saat ini sedang menggalakkan penanganan sampah non-organik melalui pendirian bank sampah di RT dan RW. “Jika masing-masing RW di Jakarta berdiri satu unit bank sampah itu berarti akan ada 2700 bank sampah. Makin banyaknya bank sampah akan makin mengurangi beban tempat pembuangan sampah di Bantar Gebang,” ujarnya. Saat ini, kata Isnawa, ada 234 titik bank sampah, diharapkan ke depannya jumlah itu akan terus bertambah. Dengan begitu, akan semakin banyak sampah non-organik yang bisa ditangani yang juga berarti akan mengurangi beban TPA. Di sisi lain, warga juga selain lebih peduli pada masalah sampah juga mendapat penghasilan dari kegiatannya memilah sampah. “Melalui bank sampah, warga akan menjadi terbiasa memilah sampah untuk ditabung,” ujarnya. –Diana Runtu
Edisi 874/ 9 - 15 November 2015
Bintang Puspayoga
Tampil Beda
Setahun menjalankan tugasnya sebagai istri Menteri Koperasi dan UKM di era pemerintahan Jokowi – JK pada Kabinet Kerja, ternyata sosok yang satu ini tetap menjadi bintang di berbagai kegiatan. Bahkan yang menarik , sosok perempuan energik ini ketika bertugas dikenal memiliki gaya tersendiri. Lantas, apa sebenarnya yang telah dilakukannya?
ketika di Bali, perempuan multitalenta ini juga istri Wakil Gubernur Bali periode 2008-2013, dan sebelumnya , sebagai istri Wali Kota Denpasar selama dua periode. Selama setahun ini, istri menteri yang satu ini punya ritme atau gaya kerja yang berbeda. Terhadap tugasnya kini, Bintang Puspayoya memilih melakukan kerja riil atau kongkrit. Seperti, ketika bertugas ke daerah, turun dari pesawat, Bintang Puspayoga, lebih sering beda haluan dengan suami. “Bapak menuju acara seremonial atau undangan lainnya, dan saya bersama istri gubernur , atau kepala bidang UKM bersama istri Kadis Koperasi lebih senang langsung meluncur melihat kondisi UKM setempat,” tutur lulusan S2 Kajian Budaya Unud ini. Ketika turun ke daerah, dengan sambutan yang sederhana, dan tanpa jarak menjadikan langkahnya lebih mudah. “Komunikasi yang terbuka juga semakin memudahkan menjawab permasalahan yang ada. Selanjutnya bagi UKM bisa lebih meningkatkan kualitas dan produksinya,” tutur penyuka kopi ini. “Catatan penting kami adalah harus melakukan kegiatan bukan
3
Bintang Puspayoga dan keluarga
tal, yang dapat mengubah pola pikir dan memberdayakan masyarakat agar memiliki modal hidup mandiri, produktif, kreatif, dan berkarakter,” tutur mantan atlet tenis meja tahun 1980-an ini. Selain itu sebagai istri Menteri Koperasi dan UMKM, secara fungsional Bintang mesti juga ber-
kondisi saat ini. Dalam proses kerjanya ia menyatakan mengupayakan bersi nergi dengan kementerian terkait. Meminimalkan tumpang tindihnya program di samping mengefisienkan dana keluar, sebab Dekranas juga organisasi nirlaba yang menggali dana sendiri.
Sampah 6.700 Ton Mau Dibawa Kemana? Akhir-akhir ini Pemda DKI Jakarta sedang berseteru dengan Bekasi terkait masalah tempat pembuangan sampah terpadu di Bantar Gebang, Bekasi, tempat yang menjadi tempat pembuangan akhir (TPA) sampah Jakarta. Persoalan ini cukup membuat Pemda DKI Jakarta ‘kalang kabut’. Sampah Jakarta yang dihuni oleh 9 juta jiwa ini, sekitar 6.700 ton. Sampah sebanyak itu hampir semuanya ‘disetorkan’ ke Bantar Gebang, Bekasi. Akibat kasus ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengalami kerugian sekitar Rp 1,2 triliun. “Angkat sampah ke darat, dia minta tambahan Rp 400 miliar, sewa mobil sampah Rp 400 miliar, dan untuk membuangnya ke Bantar Gebang, ke tanah kami, Rp 400 miliar melayang,” ucap Ahok. Jakarta yang luasnya 661,52 km2, hampir tidak ada
lagi lahan kosong yang bisa untuk pembuangan sampah. Pemda Jakarta bukannya tidak mencari solusi dengan mendekati Pemda lain yang berada di perbatasan Jakarta. Namun tentu saja Pemda lain pun tak mau begitu saja memberi lahannya karena mereka pun mengaku sekarang tengah bergelut dengan masalah sampah di daerahnya. Kota Tangerang misalnya, hanya bisa menyampaikan rasa prihatinnya kepada masalah Pemda DKI Jakarta, namun tidak bisa memberikan lahannya untuk menampung sampah Jakarta lantaran juga tengah kerepotan dengan sampah-sampai Kota Tangerang yang kian hari volumenya kian bertambah. Rumitnya persoalan sampah ini makin bertambah karena adanya sekelompok orang yang penghadangan truk sampah Pemda DKI Jakarta ketika akan membuang sampah di
Bantar Gebang. Karenanya mau tidak mau selain Jakarta harus berupaya mencari lahan baru untuk TPA, juga lebih mempergiat pendirian bank sampah. Kasus Bantar Gebang ini punya potensi untuk membesar bahkan ‘mematikan’. Pemda DKI Jakarta berencana memutus kontrak dengan pengelola swasta yang selama ini mengelola sampah di Bantar Gebang. Pemutusan kontrak ini bisa berujung ke masalah hukum lantaran pengelola swasta tersebut baru berakhir masa kontrak pengelolaannya pada tahun 2023. Jika terjadi pemutusan kontrak ini maka lahan Bantar Gebang yang selama ini menjadi andalan Jakarta kemungkinan akan ditutup karena menjadi objek sengketa. Lalu kemana Jakarta akan membuang 6.700 ton sampahnya per hari? –Diana Runtu
Pembukaan pameran songket di Kota Sawah Lunto
Acara syukuran HUT ke-35 Dekranas
untuk pribadi melainkan yang memang dapat dirasakan masyarakat banyak,” imbuhnya.
Hidup lebih Termotivasi berkat Easy Shopping Raut kegembiraan terpancar dari wajah Plasidius Nuba Atamaran (66 tahun) yang berhasil meraih hadiah kedua Easy Shopping senilai Rp 30 juta. Pria yang berasal dari Flores Timur, NTT ini merupakan pemenang hadiah Easy Shopping pertama yang berasal dari wilayah Indonesia Timur. “Kalau kata pepatah dari Amerika, Easy Shopping makes my day! Hidup saya lebih termotivasi dan bersemangat untuk terus melangkah ke depan berkat Easy Shopping,” ujar Plasidius kepada awak media. Plasidius mengatakan dirinya mengenal Easy Shopping dari koran. Dirinya merasa yakin bahwa promosi Easy Shopping memang benar dan produk-produknya sangat bermanfaat. “Ada beberapa produk yang sangat menguntungkan, yaitu lampu belajar dan radio karena listrik sering mati di daerah kami,” ungkap Plasidius. Kegembiraan yang sama juga dirasakan oleh Welly Winarni (68 tahun) dari Surabaya, JawaTimur yang diundang oleh manajemen Easy Shopping ke Jakarta untuk penyerahan hadiah pertama senilai Rp 100 juta. Ia sangat senang mendapatkan hadiah dari Easy Shopping. “Saya belanja alat rumah tangga, obat-obatan dan vitamin yang terdapat dalam katalog Easy Shopping. Setiap kali catalog datang ke rumah, saya tak pernah lewatkan untuk baca dan sesuaikan dengan kebutuhan belanja saat itu. Pernah cucu saya minta dibelikan jam tangan, ya saya belikan,” ungkapnya. Welly percaya dengan system belanja yang ditawarkan Easy Shopping dan hadiah yang ia dapatkan rencananya akan dibagi-bagi untuk kebutuhan anak maupun cucunya. “Ada yang mau untuk sekolah, keperluan sehari-hari, macam-macamlah, ambil
saja hadiahnya,” ujar Welly. Satu lagi pemenang yang sangat bersyukur mendapatkan hadiah dari Easy Shopping adalah Chaeruman (42 tahun) asal Magetan, JawaTimur. Ia mendapatkan hadiah utama Easy Shopping senilai Rp 399 juta. “Rencananya hadiah ini akan saya pergunakan untuk pendidikan anak dan umroh sekeluarga. Saya sangat loyal menjadi pelanggan Easy Shopping sejak dulu karena sistem belanjanya yang sangat mudah dan praktis. Kita tinggal pesan barang melalui surat, lalu tinggal menunggu barang diterima paling lama 1 minggu lewat pos,” kata Chaeruman. Ketiga pemenang Easy Shopping memiliki harapan sama agar bisnis ini dapat berkembang
lebih pesat, sehingga dapat melayani pelanggan dari seluruh Indonesia dengan kemudahan berbelanja yang ditawarkan. Suasana kegembiraan sangat terlihat selama acara penganugerahan pemenang hadiah promosi Easy Shopping yang berlangsung Jumat (30/10) di rumah makan Seribu Rasa Menteng, Jakarta Pusat. Acara disaksikan oleh tamu undangan yang hadir, antara lain Chintami Atmanagara, BethariaSonata dan Yati Surachman selaku brand ambassador Easy Shopping, Ketua Komite Penghargaan Pelanggan Easy Shopping, serta media partner. Acara yang sudah biasa digelar 3 bulanan ini merupakan bentuk apresiasi atas loyalitas pelanggan yang berbelanja selama periode promosi.
Sebagai perusahaan catalog base mail order pertama di Indonesia, PT. Karisma Bahana Gemilang melalui brand Easy Shopping telah hadir melayani pelanggan dari seluruh wilayah Indonesia selama 2 tahun terakhir dan tumbuh begitu pesat karena menawarkan beberapa keunggulan yang tidak dimiliki oleh bisnis retail lainnya, antara lain berbelanja lebih praktis dan nyaman; varian produknya unik dan menarik, kesempatan mendapatkan hadiah ratusan juta, serta bebas risiko dan ada garansi 100% uang kembali jika pelanggan merasa tidak puas. Sistem penjualan langsung melalui catalog ini dapat menjangkau konsumen yang tersebar di Indonesia hingga pelosok daerah yang masih awam dengan internet, belum mempunyai kartu kredit atau bahkan belum terbiasa bertransaksi menggunakan kartu debit. Easy Shopping berkomitmen untuk senantiasa meningkatkan kualitas pelayanan terhadap pelanggan dengan mendirikan kantor pelayanan pelanggan, website resmi perusahaan dan 2 call center yang sudah beroperasi. Bagi Anda yang belum menjadi pelanggan dan ingin mendapatkan hadiah ratusan juta rupiah pada periode promosi berikutnya, jangan ragu lagi karena kesempatan menang masih terbuka lebar! Cukup daftarkan diri melalui call center atau kirimkan kupon yang tertera pada iklan di media cetak ke PO BOX 6688 Slipi Jakarta Barat 11410. “Untuk informasi lebih lanjut, hubungi: 0804-140-1028. Sekali lagi, selamat kepada para pemenang,” ujar Aero W., Departemen Media Marketing. PT. Karisma Bahana Gemilang.
T
Pembukaan pameran kriya sulam
anggung jawabnya sebagai pendamping A.A. Gede Ngurah Puspayoga, sebagai pejabat negara bukan hanya mengharuskan Ny. Bintang Puspayoga menetap di Jakarta tapi juga siap dengan tugas barunya.“Ketika bicara sebagai istri menteri, pasti tugasnya mendampingi suami dalam menjalan tugasnya termasuk ketika bertandang ke daerah ,” paparnya
beberapa waktu lalu di rumah jabatan di Jalan Widya Chandra III No 12A, Jakarta Selatan. Bintang Puspayoga sadar, di tahun pertama memikul tugas sebagai istri menteri, langkahnya dimulai dengan membangun fondasi. Menggali peluang dan kendala yang ada, berkaitan dengan tupoksi suaminya. Namun, terbiasa sebagai orang lapangan sejak dulu, menjadikannya lebih mudah beraktivitas. Apalagi,
ORGANISASI DAN KERJA Sebagai istri menteri juga, mengharuskan ibu A.A. Abiyoga ini bergabung di Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Kerja (OASE) KK. OASE-Kabinet Kerja. Sebuah perkumpulan para pendamping menteri dan unsur eksekutif lain, mewadahi rangkaian program yang mendukung tercapainya Nawacita Presiden Jokowi. Mulai dari bidang pendidikan karakter, peningkatan kualitas keluarga hingga sosial budaya. “Untuk kegiatan ,porsi kami sesuai dengan tupoksi tugas pendampingan suami, yakni menangani bidang peningkatan kualitas keluarga,” katanya. “Kami diantaranya menangani program pemberdayaan ekonomi keluarga, ada UKM, mengingkatkan keterampilan ibu-ibu demi penciptaan ekonomi kreatif. Juga ada pelatihan pengelolaan keuangan keluarga dan program kesehatan ibu anak serta program nasional pencegahan dan deteksi dini kanker. Semua sesuai tujuan mendukung gerakan bertemakan revolusi men-
DWP Kementerian Koperasi dan UMKM bersama TNI melakukan khitanan massal
Gerak jalan serangkian HUT Koperasi bersama masyarakat Kupang
gabung di Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas). Menariknya lagi tiga bulan setelah dilantik sebagai salah satu pengurus Dekranas, Bintang juga terpilih sebagai Ketua Panita HUT ke-35 Dekranas, bersamaan dengan Pameran Produk Kerajinan dari berbagai daerah dan Munas. “Dalam Munas kami membahas penyempurnaan AD dan ART, disesuaikan dengan perkembangan
Sebagai Ketua Bidang Manajemen Usaha, kegiatannya lebih banyak menangani bidang pelatihan seperti pelatihan kewirausahaan, pelatihan manajemen, peningkatan SDM. “Sebab, saat ini banyak pengrajin pemula belum bisa mengurus usahanya, belum paham tentang konsep hulu ke hilir, misalnya bahan bakunya berapa, bagaimana tingkat produksinya dan berapa harga jualnya. Hal inilah yang lebih awal kami berikan pelatihannya, agar ke depannya mereka bisa profesional,” paparnya. Selanjutnya untuk posisi penasihat pada Dharma Wanita Persatuan (DWP) di wilayah Kementerian Koperasi dan UKM, Bintang Puspayoga menekankan untuk bergerak sesuai visi-misi, yakni menyejahterakan anggota dan keluarganya. “Prioritas kami adalah keluarga di kementerian yang memiliki anggota cukup banyak. Seperti mendata kondisi para pensiunan dan seterusnya, setelah di intern beres, barulah berlanjut dengan langkah ber ikutnya,” tandasnya. – Sri Ardhini
2
Edisi 874/ 9 - 15 November 2015
GORO-GORO Amat tibatiba mau merayakan ulang tahunnya. Bu Amat terkejut dan kontan tidak setuju. “ Ka r e n a k a l a u Putu Wijaya dipikir-pikir, ultah itu bukan usia bertambah seperti yang kita mengertikan selama ini. Salah!. Ultah itu justru berarti pengurangan usia. Seperti tabungan. Kalau diambilin terus uangnya, akhirnya tinggal O…jadi terbalik, Bapak sudah salah-kaprah!”. Amat tak perduli. “Sabar, Bu. Ini perayaan ultah proyek” Bu Amat tercengang. Ia tatap mata suaminya, seakan mengumpat, “edhan!” Amat senyum lagi. Tenang, bergeming. Lalu menegaskan: “Pokoknya harus dirayakan!” “Ya, boleh! Berarti kita akan perlu biaya untuk menjamu para tetangga yang akan kita ajak merayakan. Berarti saya harus membersihkan halaman, rumah, memasak dan beli kue tart. Belum lagi beli bunga yang baru satu hari sudah akan layu!” Amat ketawa. “Bu, tenang. Bapak jamin tidak akan keluar biaya sepeser pun. Malah bisa sebaliknya! Untung!” “Maksud Bapak?” “Ya, kita tidak akan merayakan sendirian. Tetangga yang hari ultahnya sama, Bapak ajak ikut merayakan. jadi seperti ngaben bersama, petoyan bersama. Ini ultah gotong-royong. Ibu tak usah repot. Diam saja. Nanti makanan akan dibawa keluarga yang berulang tahun. Kita umumkan, tanpa mengurangi rasa hormat, kita mohon agar tidak memberi kado barang. Bagi yang berkenan berpartisipasi, silakan. Kami sediakan kotak sumbangan di depan pintu. Bagus kan? Semua sudah Bapak ajak berunding dan mereka setuju. Ibu tenang saja. Masih ada 5 tetangga sepantaran Bapak yang belum dinego.” Amat salin pakaian. Terus langsung terjun ke tetangga. Bu Amat, diam-
ultah
diam pergi ke rumah Ami. “Ami, bapakmu edhan lagi, Mi!” “Edhan gimana?” “Masa ujug-ujug mau merayakan ultahnya. Sudah kacau kan?!” “Masak?” “Bener! Ibu jadi kepikiran terus! Bagaimana kalau kamu ajak bapakmu jalan-jalan, lalu belokkan arah ke klinik saraf. Jangan-jangan bapakmu sudah stadium 4, kan repot.” Amat hanya ketawa. Niatnya harus diwujudkan. Demikianlah, pada hari ultah Amat, berjubel tamu datang. Menyambut ultah 5 kakek (6 plus Amat) dan seorang nenek. Koalisi tersebut kelihatan ampuh. Semua memberikan urunan uang dan makanan masakan rumag. Ultah berlangsung seru. Tengah malam baru tamu terakhir pulang. Amat dan Bu Amat tenggelam di kursi, keletihan. Keduanya mengantuk, capai dan sebel melihat rumah berantakan. “Kenapa Ami dan suaminya tidak datang,” tanya Amat sambil menguap, “Padahal kan janjinya mau ikut beresberes. Kenapa, Bu?” Bu Amat tak menjawab karena sudah tidur. Amat terpaksa menjawab sendiri pertanyaanya. “Ya karena Bapak egois. Kenapa dulu ultah ke-17Ami tidak pernah dirayakan? Apa aku harus menunggu sampai tua bangka, 64 tahun, seperti lagu Beatles, baru nanti diperhatikan?” “Sabar, Ami, ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Ultah bapak kamu ini, semacam proyek bisnis. Coba tanya ibumu, berapa duit yang ada dalam kotak sumbangan. Paling sedikit Rp 15 juta, kata Esti yang tadi jaga. Nanti setelah dibagikan satu juta per kepada pada kakek-kakek dan nenek itu, sisanya 9 juta bersih masuk kantong kita. Pintar kan? Cerdik tidak?” Tiba-tiba Bu Amat terbangun. Ia nampak berantakan, karena pikirannya masih nyangkut dalam mimpi. “Sudah dihitung, Bu?” “Hitung apaan!” Amat kesel. “Ya kotak sumbangan itu! Paling sedikit isinya 20 juta. Ya, kan?!” “Apa yang Rp 20 juta?” “Sumbangan dari para tetangga karena kita menolak diberi kado. Sudah dihitung?” “Apa yang dihitung?”
“Sumbangan-sumbangan dari tetangga!” “Sumbangan untuk apa?” Amat tambah sebal. “Ya itu, seperti yang pernah kita rencanakan!” “Rencanakan? Apa?” “Ya proyek bonus ultah itu! Sumbangan dari para tamu. Tapi totalnya kita dapat berapa? Mereka sejuta-sejuta saja, per kepala, cukup! Sisanya buat kita. Idenya kan dari Bapak? Sudah dihitung? Berapa?” Bu Amat, tambah bingung. “Berapa? Cepat dihitung dong!!” Tidak bisa menahan jengkel lagi, Bu Amat berdiri. Lalu bergegas masuk kamar. Amat marah. “Ya sudah, tak hitung sendiri saja. Tapi, lho, lho mana kotak sumbangannya?” Amat bingung, sebab rumah sudah bersih. Tak ada sisa-sisa pesta. Terutama kotak sunbangan itu lenyap. “Apa Ami yang sudah datang beresberes? Amiiii!” Sampai 3 kali Amat memanggil, tapi Ami tidak muncul. Amat mencoba memeriksa ke dapur, tapi di situ sunyi. “Wah kalau begini pasti kakekkakek itu yang sudah mengamankan kota sumbangannya. Rugi deh kita, Bu!” Amat buru-buru mnasuk kamar. “Buuu!” Tapi Bu Amat tak ada dalam kamar. Amat tercengang. Ia bingung lalu mencoba menenangkan pikirannya. Pintu diketuk. Amat bergegas ke depan membuka pintu. Ternyata itu pak Ijo, salah satu kakek yang diajaknya ultah bersama. “Pak Amat, tadi ibu nelpon dari rumah Ami. Minta disampaikan ke Bapak, malam ini Bu Amat tidak bisa pulang, sebab cucu Bapak sakit panas.” Amat terkejut. Kakek itu pun senyum sambil mengedikan mata. “Oh ya, ultah kita kan sama, hari ini, Pak Amat. Selamat ulang tahun. Bagaimana proyeknya? Jadi besok kita rayakan ultah kita, di rumah saya bersama 5 kawan kita yang hari ultahnya sama? Urunan satu juta per kepala, nanti tamu-tamu diminta jangan ngasi kado, silakan partisipasinya masukkan ke kotak. Amplopnya dicatat. Paling sedikit sudah saya hitung, kita bisa dapat Rp 15 juta!”
Ekspresso bacaan wanita dan keluarga
Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998 Pemimpin Umum/Penanggung Jawab Gde Palgunadi Redaktur Pelaksana Ngurah Budi Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti, Sagung Inten Jakarta Diana Runtu NTB Naniek Dwi Surahmi Desain Grafis IDN Alit Budiartha, I Made Ary Supratman Sirkulasi Kadek Sepi Purnama Sekretariat Ayu Agustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono Alamat Redaksi/Iklan Denpasar Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 416676–Faksimile (0361) 425373 Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta Jalan Palmerah Barat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603-Faksimile (021) 5357605 NTB Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–Telepon (0370) 639543– Faksimile (0370) 628257 Jawa Timur Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456– Faksimile (031) 5675240 Surat Elektronik redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id Website www.tokoh.co.id Bank BRI Cabang G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6 Percetakan BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar
Ledakan Pipa Malam itu, sekitar pukul 22.00 saya sudah bersiap untuk tidur. Pintu gerbang sdh terkunci, lampu sudah dimatikan. Baru mau merebahkan diri di kasur, tiba-tiba terdengar ledakan....duarrr.....oh my God... ada apa lagi ini. Saya langsung bangun dan mencari tahu suara ledakan apa itu. Suara ledakan membuat saya agak trauma karena dulu pernah melihat kebakaran yang diawali ledakan. Saya khawatir ada kejadian lagi di dekt rumah. Untuk memastikan ledakan apa yang terdengar, saya keluar rumah.
Ternyata sepi. Hanya ada sebuah truk yang parkir dekat rumah. Saya pun kembali ke rumah sambil penasaran, ledakan apa itu ya. Besok harinya saya bangun pagi.seperti biasa dan mengisi bak. Air yang keluar sangat keruh.
Saya jadi heran, padah tidak ada hujan. Pas keluar rumah, terlihat keramaian di dekat truk yang parkir tadi malam. Ternyata, ada pipa pecah terlindas truk. Jadi tadi malam itu suara ledakan pipa. Wahyudi
Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. Panjang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan nomor kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373
Mohon info nomor kontak yang bisa dihubungi tentang kayu suar yang dimuat Tokoh edisi 873. Kadek Hariana, Denpasar Bapak bisa menghubungi I Nyoman Mendra. Hp: 081337070549.
Sudut Pandang
23
Edisi 874/ 9 - 15 November 2015
Kunci Kesehatan Tubuh di Pikiran
Sebagian orang mengartikan sehat sebagai fisik yang bugar, namun sebagian lagi menyebut bahwa yang disebut sehat bukan hanya berkaitan dengan fisik tapi juga mental. Soraya Haque, peragawati terkenal era 1980-an, pun demikian. Dia mendefinisikan bahwa seseorang disebut sehat jika ada keseimbangan dalam dirinya, baik itu fisik, pikiran, dan perasaan.
“K
alau saya mendefinisikan sehat bukan hanya dari satu elemen. Namun dalam hidup, untuk menjadi sehat maka harus ada keseimbangan antara kebugaran fisik, asupan makanan, pikiran dan rasa atau perasaan. Ketika ada keseimbangan di antara elemen-elemen itu maka seseorang barulah bisa disebut sehat atau akan menjadi sehat. Sehat itu sendiri juga berarti produktif, yang artinya kita bekerja atau berbuat sesuatu yang berguna untuk orang lain. Mungkin sebagian orang berpendapat berbeda dengan saya, tapi bagi saya seperti itu. Sehat itu adalah keseimbangan elemen-elemen dalam kehidupan kita,” ungkap Aya, begitu namanya akrab disapa. Makna dari kesehatan itulah yang coba diterapkan Aya pada keluarganya. “Jadi yang saya lakukan adalah berusaha membuat keseimbangan elemen-elemen itu dalam diri setiap orang yang tinggal di rumah saya. Baik itu terhadap suami (Ekki Soekarno)
Soraya Haque
maupun ketiga anak saya,” tambah peraih Helen Keller Award ini. Tentu saja, asupan makanan termasuk termasuk dalam perhatiannya. Terkait pola makan, dia tidak melakukan pembatasan. Dia memberi kebebasan kepada mereka untuk memakan apa yang diinginkan alias sesuai selera masing-masing. Ada beberapa prinsip yang ditekankan kepada mereka, misalnya, makan tiga kali sehari, banyak minum air putih, makan
sayur dan buah. “Jika tidak sempat makan sayur, ya makan buah. Juga saya ingatkan untuk tidak terlalu banyak mengonsumsi daging. Jika minggu ini banyak mengonsumsi daging, minggu depan daging dikurangi diganti dengan ikan. Jadi saya mengajarkan soal keseimbangan,” tutu ibu tiga anak Valeri Allen Ghazian Soekarno, Nadia Ayesha Mieke Soekarno, dan Belmiro Ali Harnandhitya Soekarno ini. Terkait makanan, wanita kelahiran Februari 1965 ini bercerita bahwa ia termasuk ibu yang beruntung karena ketiga anaknya pandai memasak. ‘Bakat’ ini diturunkan dari sang ayah, Ekki Soekarno yang memang memiliki hobi memasak. “Jadi saya tidak punya masalah soal makanan. Kalau mereka tidak suka dengan makanan yang disediakan di meja makan, mereka biasanya memasak sendiri makanannya. Semua bahan, baik itu ayam, ikan, bumbu-bumbu, dll, ada di dalam kulkas. Mereka tinggal mengolahnya saja. Anak-anak saya
pandai memasak karena sejak SD sudah dikenalkan dengan dapur dan kompor. Ekki yang mengajarkan anak-anak masak. Itulah yang membuat mereka menjadi mandiri,” ungkap Aya sembari menambahkan, bahkan ketika ia ingin bermanja-manja, maka sang anaklah yang memasak untuk dirinya.
“MEMATIKAN PIKIRAN” Sebagai ibu, Aya boleh dibilang termasuk orangtua yang disiplin. Sejak kecil ketiga anaknya diajarkan tentang tanggung jawab dan kemandirian. Mereka diajarkan melakukan hal-hal yang memang mampu dilakukan untuk anak seusianya. Dengan begitu, anakanak akan tumbuh tanpa harus selalu tergantung kepada orangtuanya. Termasuk dalam menjaga kesehatannya. Prinsip-prinsip kesehatan, sejak kecil ditanamkan kepada mereka. Sebut saja tentang hidup bersih. Misalnya, kalau mau makan harus cuci tangan. Jika tangan tidak bersih, jangan makan menggunakan tangan. “Itu memang hal-hal sepele, tapi itu sudah saya tanamkan sejak kecil. Sehingga mereka mengerti. Lebih dari itu, saya mengajarkan bukan hanya lewat kata-kata tapi juga prilaku. Ini berhasil. Mereka tumbuh menjadi anak-anak yang mandiri, tahu apa yang diinginkan, dan bertanggung-jawab,” ucap adik Marissa Haque ini. Aya yang sempat menjadi
Duta Helen Keller Internasional mengaku, dirinya menjaga kesehatan selain dengan berolahraga, yoga, juga menjaga pikirannya agar terus berpikir positif. Dia berusaha menghindari berpikiran negatif karena dia meyakini hal (pikiran negatif) tersebut bisa mengganggu kesehatan diri. “Saya kira kunci dari tubuh sehat adalah pikiran. Kita harus menghindari memikirkan hal-hal negatif, apalagi jika dilakukan secara terus menerus,” kata pemeran sinetron bertajuk ‘Gol’ ini. Terkait pikiran, Aya mengaku juga mempelajarinya lewat sebuah buku ajaran Buddha. Salah satu yang dipelajarinya adalah ketika kita menghadapi suatu persoalan kita harus diam dan ‘mematikan pikiran’. “Pikiran manusia itu ibaratnya seperti monyet yang tidak bisa diam, senang melompatlompat. Masalah yang sebenarnya cuma satu, karena kita pikirkan dengan keras bisa berkembang menjadi 200. Kita pun menjadi stress,” katanya. Belajar ‘mematikan pikiran’ memang tidak mudah tapi itu bisa dipelajari. “Ada banyak caranya, bisa lewat sholat, semedi, meditasi, dll. Intinya adalah menenangkan pikiran, mengendalikan pikiran,” ucap Aya lewat ajaran ‘Monkey Thinking’ itu dia menjadi lebih tenang dalam menghadapi berbagai persoalan. “Ya, tapi kan saya bukan robot, jadi masih ‘on’-‘off’,” kata wanita yang hobi olahraga ini. –Diana Runtu
Wajib Ada Sayur disional Bima yang asli, seperti palmara, sayur-sayuran dan sop serta lainnya yang dimasak tanpa minyak goreng. “Rata-rata masakan tradisional asli Bima, bumbunya tidak digoreng melainkan langsung dicampur ke dalam bahan masakan. Ini mengurangi konsumsi minBumbu pelengkap masakan khas Bima yak,” ujar Hj. Sebelum mengalami perkem- Halimah, salah seorang koki bangan dalam berbagai hal, tradisional di Bima yang kerap kehidupan desa yang sederhana memimpin kegiatan memasak termasuk dalam hal kuliner kini dalam acara-acara yang diselengmenjadi menarik dan dirindukan garakan masyarakat desa khusukembali. Kuliner-kuliner khas nya di Sila, Bima. masyarakat di perdesaan seperti Begitu pula penggunaan santan di Bima sangatlah sederhana, dalam kuliner khas Bima tidak namun terbilang sebagai maka- digunakan secara berlebihan nan yang sehat karena memakai melainkan hanya secukupnya bahan dan bumbu dari apa yang saja, seperti dalam kuliner yang ada di sekitarnya. Begitu pula disebut mange mada. Kuliner ini dengan cara mengolahnya. terbuat dari jantung pisang yang Sangat banyak kuliner tra- direbus lalu dipotong-potong
kemudian diberikan santan kelapa secukupnya. “Tapi santan kelapa tersebut tidak dimasak, melainkan perasan santan menggunakan air matang yang langsung dicampur dengan jantung pisang yang sudah dipotong-potong tadi dan bumbu iris,” katanya. Bumbunya berupa bawang, tomat dan Lombok, hanya diiris kecil-kecil tanpa dimasak. Bumbu pelengkapnya ditaburi dengan kelapa sangrai. Begitu pula dengan palmara yang terbuat dari ikan bandeng. Seluruh bumbu dipotong dan iris saja, tanpa digoreng melainkan langsung dimasukan dalam kuah masakan. Selain tidak menggunakan minyak goreng, menurut Hj. Halimah masakan Bima yang
Bahan dan bumbu palmara dimasak tanpa minyak goreng
asli juga cenderung asam. “Banyak menggunakan asam atau setidaknya terasa asam,” katanya. Sayur asam dari berbagai jenis sayur juga menjadi kekhasan masakan Bima. Sayur menjadi menu utama bagi masyarakat Bima khususnya yang tinggal di perdesaan. Dalam masyarakat Bima yang asli, terutama tempo dulu seperti pengalaman Hj. Halimah dan Hj. Itam, keduanya koki tradisional yang telah puluhan tahun dipercaya masyarakat Desa Rato untuk memimpin kegiatan memasak di Palmara dimasak tanpa minyak goreng desa tersebut, menu
utama orang Bima adalah sayur. Dalam setiap kesempatan makan, sayur wajib ada. Bahkan bisa dikatakan, lebih baik tidak ada ikan dari pada tidak ada sayuran. Jadi sayuran adalah menu utama dalam sajian makanan orang Bima. Sayur dalam bahasa Bima kerap disebut sebagai Uta Mbeca. Arti sebenarnya dari dua kata ini adalah uta berarti ikan dan mbeca berarti basah. Pentingnya sayur dalam sajian masakan orang Bima, sayur pun disebut sebagai ikan. Kekhasan lainnya dalam makanan orang Bima yang tinggal di perdesaan, adalah kebanyakan basah (nasi disiram dengan kuah sayur). -Naniek I. Taufan
24
What’s UP
Edisi 874/ 9 - 15 November 2015
Disperindag Kota Denpasar
Gelar Koordinasi Pengembangan Ekspor dengan Instansi Terkait, Asosiasi dan Pengusaha Pentingnya peningkatan informasi serta kemudahan aksesbilitas bagi eksportir menjadi perhatian pemerintah. Untuk mendukung pengembangan ekspor, Dinas Perindustrian dan Perdagangan ( Disperindag) Kota Denpasar menggelar kegiatan Koordinasi Pengembangan Ekspor dengan Instansi Terkait, Asosiasi dan Pengusaha Kota Denpasar di Ruang Pertemuan Disperindag Kota Denpasar, di Gedung Sewaka Dharma Lantai III, Jalan Majapahit, Lumintang, Denpasar, Kamis (5/11).
D
alam kegiatan yang diikuti sekitar 50 orang dari kalangan pengusaha ekspor impor, UKM/IKM produk ekspor Kota Denpasar, Kepala Disperindag Kota Denpasar Drs. I Wayan Gatra, M.Si., didampingi Kabid Perdagangan Disperindag Kota Denpasar Ida Ayu Dewi
Citrawati, S.E., M.Si., dan Kasi Ekspor Impor A.Ag.A. Kartika Dewi, S.E., mengatakan program tersebut dilaksanakan untuk meningkatkan pertumbuhan ekspor dengan meningkatkan daya saing produk melalui Strategi Diversifikasi dan Pengelolaan serta Pengembangan Sumber Daya Lokal. Meski beberapa upaya yang di-
Ida Ayu Dewi Citrawati
A.Ag.A. Kartika Dewi
S e l a n j u t n y a G d e We d a A rjawa, S.E., M.Si. dari A SEPHI Bali,mengatakan bahwa strategi diversifikasi produk merupakan salah satu strategi untuk meningkatkan volume penjualan. Ia menyebutkan ada tiga macam strategi diversifikasi lengkap dengan contoh-contohnya. Seperti seorang produsen kain endek juga memproduksi baju endek. Gde Arjawa juga berbicara tentang merek sebagai atribut produk. Dengan nama, kemudian desain simbol dan pilihan warnanya diharapkan dapat memberikan identitas terhadap sebuiah produk. Penggunaan merek dalam diversifikasi produk, katanya sangat bermanfaat dalam hal pemasaran produk. Namun, menurut Gde Arjawa produsen kerajinan di Bali keban-
yakan masih melakukan diversifikasi konsentris secara sederhana, seperti produk sama namun desain berbeda. Seperti, patung kucing duduk dan kucing berdiri. Atau, bahan baku berbeda tapi desainnya sama, patung kucing kayu dan kucing besi. Untuk para eksportir ia menyebutkan negara yang menjadi tujuan ekspor terbesar kerajinan Bali, yakni Eropa, Amerika, Asia, Australia dan Afrika sembari mengingatkan juga untuk memperhatikan adanya ramburambu diversifikasi, seperti peraturan ekspor tentang barang dibatasi dan dilarang ekspor. Begitu juga normanorma sosial budaya yang ada di wilayah tujuan eskpor. Selanjutnya Arjawa juga mengingatkan bahwa pada 31 Desember 2015 akan berlaku arus Bebas ASEAN 2015, arus bebas barang, jasa, investasi, modal, hingga arus bebas tenaga kerja teram pil. Dan, pada pasar bebas ini juga diberlakukan bebas tarif dan bebas hambatan perdagangan lainnya. Maka, kalau kita tidak menyerang pasti akan diserang. Gde Arjawa juga mengakui masih ada ham-
lakukan Disperindag Kota Denpasar, masih mengalami kendala khususnya dalam hal regenerasi, namun Wayan Gatra berharap akan ada terobosan termasuk soal desain. Salah satunya disarankan untuk memanfatkan keberadaan Denpasar Desain Center (DDC), yang di Bali baru dimiliki oleh Kota Denpasar. Wayan Gatra juga menekankan
I Wayan Gatra
para pelaku usaha ekspor selain terus melakukan terobosan pasar ekspor, juga tetap menjaga pasar
domestik yang memang peluangnya cukup besar. Bahkan negara Eropa dan ASEAN melirik Indonesia sebagai pangsa pasarnya. Untuk bisa bersaing, katanya diperlukan diversifikasi usaha, produk yang memiliki ciri khas dan daya tarik, dengan segala inovasinya. Pemerintah sudah membantu seperti dipangkasnya proses perizinan. “Sekarang kuasai pasar domestik dan setelahnya dikuatkan untuk menuju ekspor, jangan lihat tantanganya tapi peluang yang ada,” tandasnya. Sementara soal kurang adanya regenerasi,diakui Wayan Gatra inilah kelemahan pada bangsa kita termasuk masih sulit menembus langkah ke pendidikan formal. Karenanya, ia berharap para UKM mau mengajak anakanak mereka untuk belajar dilibatkan mengenal dunia usaha sejak dini, atau menerima generasi muda yang ingin magang. –ard
Suasana Koordinasi Program Pengembangan Ekspor dengan instansi terkait
Perlu Diversifikasi Produk
Ni Made Witari
Andika Brahma Loka
batan internal yang terjadi di Bali. Seperti, tidak memiliki legalitas usaha yang lengkap, kurang memahami regulasi & prosedur ekspor, menerima order over capacity serta kurang memahami IT. Untuk ini, sebaiknya peraturan pemerintah mendukung keberadaan Bali sebagai daerah yang mempunyai spesifikasi khusus, sebagian besar kegiatan ekspor dilakukan oleh eksportir non produsen. Untuk saat ini, katanya pemerintah sudah memberikan dukungan dengan menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) No.98 Tahun 2014 (15 Sept 2014) : Perihal izin usaha mikro dan kecil atu IUMK. “Ini tanda legalitas kepada seseorang atau pelaku usaha diterbitkan oleh camat, dan tidak dikenakan biaya,” katanya sambil mengatakan MEA 2015 merupakan kesempatan emas, ‘mata air’ bagi setiap negara yang telah siap, dan ‘air mata’ bagi negara yang kurang siap menghadapi MEA 2015 tersebut. Berikutnya, Budiman Sutrisno, B.Arch.Eng dari Designer Produk Kerajinan Kota Denpasar lebih banyak berbicara dan berbagi informasi bermanfaat tentang pengalamannya dalam pengelolaan dan pengembangan sumber daya lokal. Dikatakannya dalam era pasar bebas nanti bukan hanya barang luar yang akan membanjiri pasar kita dan bersaing bebas dengan produk lokal, tetapi juga pelaku pasarnya. Maka, untuk dapat bertahan bahkan bersaing bebas dengan para pelaku tersebut ada beberapa
Gde Weda Arjawa
hal penting yang perlu diperhatikan, khususnya bagi para pengrajin. Jenis Produk yang akan dikerjakan; Desain produk yang bisa diterima pasar; Kualitas pekerjaan yang menentukan tingkatan harga pasar; Penggunaan jenis material yang bisa menjadi unggulan; Tata kelola usaha, apakah sudah setara dengan sistem kerja usaha mereka; Tata tertib dalam berbisnis sesuai dengan standar international dan tidak melanggar aturan pemerintah sendiri maupun negara lain; Sikap dalam berbisnis; Strategi sistem kerja, pemasaran dan strategi produksi; serta Kekuatan pasar pesaing atau negara lain. Untuk bisa mengetahui selera dan tren pasar saat ini memang tidak mudah. Akan lebih mudah mempelajari dan mengembangkannya jika pengrajin sudah tau men-spesialisasi produknya. Misalnya spesialisasi dalam produkproduk bambu, maka fokuslah mempelajari seluk beluk bambu. Melakukan riset dan pengembangan sehingga bisa menambah nilai produk dari segi kualitas, desain dan olah materialnya. Untuk masukan selera pasar, bisa diperoleh dari bantuan pemerintah, buyers atau
Budiman Sutrisno
melalui media internet. Di samping itu, kualitas pekerjaan juga turut menentukan tingkat harga pasarnya. Semakin tinggi kualitas produk yang dihasilkan akan semakin tinggi pula harga yang bisa ditawarkan. Bagi pengrajin yang telah mengambil spesialisasi kemungkinan mempertinggi kualitas dan desain akan lebih mudah dicapai, sebab semua terfokus pada satu hal. Pada kesemptan tersebut salah seorang peserta, Ni Made Witari setelah bertanya berhasil mendapatkan informasi perihal beberapa perubahan terutana tentang dukungan pemerintah terkait bahan baku kayu yang bisa mendukung usaha suvenir dan home decoration yang dijalaninya untuk mengejar pertumbuhan dan penjulan. Sedangkan peserta lainnya, Ida Bagus Andika Brahma Loka, pemilik usaha fashion lukis “Gayatri Loka” mengatakan materi yang ia terima sangat informatif dan memotivasinya yang saat ini belum pernah melakukan ekspor. Ke depannya ia ingin ikut berkompetisi di pasar global. –ard
Email: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id
mingguantokoh
@mingguantokoh
mingguantokoh
Website: www.tokoh.co.id