Skip to main content

Tokoh Edisi 870 | Tokoh

Page 1

24

What’s Up

Edisi 870/ 12 - 18 Oktober 2015

Tjok Istri Tuty Ismayanthi

Wanita Multi Talenta Menjalani hidup harus multitasking dan dibawa rileks saja. Banyak hal telah diatur Tuhan untuk terjadi pada saat yang bersamaan. Jalani keseharian dengan senyum dan tidak usah dibuat ruwet. Demikian falsafah hidup dari Tjok Istri Tuty Ismayanthi, S.E., M.M. atau yang akrab disapa Cokty.

M

enurut perempuan kelahiran Puri Peliat­ an, 26 Juli 1976 ini, jam terbang kita da­ lam mengatasi masalah harus terus dilatih sehingga tidak ada problem yang tidak bisa diatasi. “Asal mau capek, kalau tidak capek bukan hidup namanya,” ujar istri IGP. Satvika Adhi Putra, S.E. ini sembari tersenyum. Direktur Keuangan & Umum Bali Royal Hospital dan Finance & Investment Consultant Hospital and Tourism Industry ini mengatakan, sebagai perempuan, ia harus memilih opsi yang tidak mudah. “Sebagai istri dan ibu dari empat anak, pekerjaan yang menuntut profesionalisme dan menyita waktu. Apalagi, saat ngantor maupun harus dinas ke luar kota bah­ kan tugas ke luar negeri sebagai ben­ tuk tanggungjawab sebagai pimpinan di sebuah rumah sakit,” ujar bungsu dari tiga bersaudara, putri pasangan dr. Tjokorda Gde Subamia dengan AA Alit Suarthi ini. Belum lagi, saat klien dari bisnis finance konsultan mendadak ramai dan padat job. Juga, di saat bersamaan perannya sebagai aktivis dalam komunitas olahraga didaulat sebagi asisten pelatih sekaligus official bagi atlet Pra-PON Shorinji Kempo Bali yang berlaga di Bandung. Cokty tak me­ nampik, membutuhkan stamina

yang kuat, stabilitas emosi yang baik, serta dukungan penuh suami dan keluarga untuk selalu siap berbagi tugas untuk menjaga keharmonisan seluruh perjalanan hidup setiap hari. Prinsipnya adalah komitmen yang persisten, sa­ling menjaga ke­ percayaan dimanapun berada, tetap sadar akan kodrat untuk senantiasa saling menghormati. Tidak arogan merasa diri super. “Superman is dead, yang kita bangun super team, maka bekerjalah se­penuh hati hingga menunjukkan bukti prestasi. Yang pada akhirnya impact-nya adalah menjadi kebanggaan dan panutan bagi anak-anak, keluarga, ­organisasi maupun nama daerah yang tugas­ nya kita emban,” kata ibunda Bayu ­S atvika, Manik Bellinda Satvika, Bagus Putra Satvika, dan Bayuna Dharmaputra Satvika ini. Cokty, tanggal 2 s.d.4 Oktober 2015, dipercaya sebagai asisten pelatih sekalius official bagi atlet Pra-PON Shorinji Kempo Bali dan mengukir tinta emas sejarah Kempo Bali. Sejak Tahun 1972, baru tahun ini Bali akhir­nya menyabet juara umum 3 dari 33 Provinsi yang berlaga di Bandung. Dengan perolehan medali 2 emas, 2 perak dan 1 perunggu. Dari 21 atlet Pra-PON tersebut berhasil menyabet 19 tiket untuk melaju di PON 2016.

Perempuan yang mengedepan­k an pola asuh orangtua, menjadi­ kan anak mandiri dan pan­ tang menyerah ini, memi­ liki segudang prestasi. Juara nasional beladiri Kempo 1989-1999, se­ jak sabuk hijau saat SMP, hingga sabuk hitam saat SMA dan tamat kuliah. Juara I akademik saat SMP dan SMA dan nilai IPK tertinggi tiap semester saat kuliah S-1 dan S-2. Mahasiswa Teladan se-Jawa Bali, NTB, NTT tahun 1998 wakil dari Undiknas. Peraih beasiswa sejak semester I hingga lulus sarjana. Lulusan cum laude di Program Pascasarjana S-2 Magister Manaje­ men Unud. Cokty sejak remaja hobi olahraga kempo. Selain rutin berlatih kempo di

Tjok Istri Tuty Ismayanthi

Dojo PLN Renon, di hari libur juga hobi metirtayatra untuk mengisi ­kegiatan spiritual bersama keluarga. “Itu semua bentuk ­keseimbangan mind, body, and soul dan mem­bentengi

moral keluarga dalam meng­ hadapi dunia yang semakin no limitation agar tetap rendah hati dalam pergaulan seharihari,” kata Cokty. Harapan Cokty ke depan, adik-adik tim Shorinji Kem­ po 19 orang, para pelatih, ­pengurus Perkemi Bali, dan juga mohon doa restu dari segenap lapisan masyarakat Bali agar dapat meningkatkan prestasi ini dalam PON 2016. Ia berharap dukungan juga, melalui penyediaan sarana dan pendanaan yang lebih kuat. latihan yang ­intensif dan tidak kenal lelah, menjaga kekompakan tim dan mencetak stamina dengan komitmen menjadikan Bali juara. Bebera­ pa pesan ­Cokty kepada generasi muda, “Percayalah, hasil tidak akan per­ nah mengkhianati usaha, don’t talk, just prove it, kekuatan tanpa kasih sayang adalah kezaliman, kasih sayang tanpa kekuatan adalah ­kelemahan”. –ast

Juara umum 3 Pra-PON Kempo, Bandung 2-4 Oktober 2015

Email: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id

mingguantokoh

@mingguantokoh

mingguantokoh

Website: www.tokoh.co.id


2

Edisi 870/ 12 - 18 OKTOBER 2015

GORO-GORO TGL 2 OKTOBER 2009, DALAM SIDANG PLENO UNESCO DI ABU DHABI DIPUTUSKAN BAHWA BATIK DITETAPKAN SEBAGAI “THE INTANGIBLE HERITAGE OF HUMANITY”, WARISAN BUDAYA Putu Wijaya TAK BENDA MILIK INDONESIA. S E TE L A H R I B UA N TA H U N NENEK MOYANG KITA MENCIPTAKAN BATIK, SETELAH RATUSAN TAHUN KITA MEMAKAI BATIK, SETELAH PULUHAN TAHUN KITA BANGGA DENGAN BATIK, BARULAH DENGAN SEMANGAT PANTANG MENYERAH MEMBELA HAK MILIK KARYA BUDAYA INDONESIA, TGL 2 OKTOBER 2009, BATIK DIAKUI UNESCO. BEBERAPA HARI SEJAK HARI ITU, PRESIDEN SBY MENERBITKAN KEPPRES TENTANG PENETAPAN TGL 2 OKTOBER SEBAGAI HARI BATIK NASIONAL. SELAMAT HARI BATiK NASIONAl. TERIMA KASIH TUHAN ATAS ANUGRAHMU INI, TERIMA KASIH KEPADA SEMUA YANG TELAH BERPARTISIPASI DAN TURUT BERJUANG UNTUK SUKSESNYA PENGAKUAN BATIK OLEH UNESCO. Amat mengangguk membaca SMS itu, lalu mengembalikan HP kepada Ami. Tapi kemudian, ia terkejut ketika Ami berbisik “SMS itu berasal dari rutan Cipinang!” Amat tercengang. “O, ya?” “Ya! Ditulis oleh mantan Menbudpar 2 periode, Ir. Jero Wacik SE, lalu seseorang teman memforwardnya.” Amat mulai mengerti. “Bapak dari dulu pembela batik kan?” “Betul.” “Bagaimana perasaan Bapak setelah Pak SBY melahirkan Hari Batik Nasional? Bangga?” “ Ya.” “ Apa lagi?” “Apalagi? Ya, kita tidak boleh lupa!” “Tidak boleh lupa, apa?” “Bahwa batik adalah aset bangsa. Salah satu identitas kita. Wajar kalau setiap hari Jumat sekarang para karyawan, swasta maupun PNS di mana-mana sekarang pakai batik.” “Tapi kita, tidak boleh juga lupa, Pak,” potong Ami, “sebelum menjadi keren seperti sekarang, batik memang telah menempuh perjalanan panjang berliku.

BATIK

Kalau tidak diperjuangkan pasti sudah terbengkalai, direbut tetangga atau mubazir, akibat kita terlalu dekat, akibat kita terlalu banyak punya warisan budaya, kita suka lupa, alpa menghargainya sendiri. Mata dan pikiran kita lebih suka lari ke tempat lain. Dulu batik kan hanya diagungkan oleh generasi tua, tapi sekarang, lihat kami generasi muda, tak terkecuali mereka para kawula gaul juga gegap-gempita membanggakan batik! Bukan hanya dipakai kain jarik, tapi gaun, jas dan segalanya itu!” Amat memotong. “Tapi celakanya, akibat jadi identitas nasional ke seluruh lapisan masyarakat, baju batik sekarang jadi mode. Semua demam batik. Akibatnya harga batik mabok! Batik tenar, keren, tapi rakyat tak sanggup lagi beli. Bapak malah satu potong pun tidak punya!” Bu Amat langsung memotong. “Bapak jangan begitu! Bapak kan termasuk generasi tua pemuja batik! Buka almari, segala macam warna batik bapak punya!” “Ya! Tapi batik sutra rancangan perancang Iwan Tirta atau baju batik Danarhadi, Bapak tidak punya!” “Ah, batik itu bukan soal rancangannya, harganya, modelnya, tapi cirinya sebagai jatidiri! Batik murah pun tidak malu kita pakai bersanding dengan orangorang yang memakai busana puluhan bahkan ratusan juta dari butik, tapi tidak punya kepribadian. Karena itu, beruntunglah kita, setelah batik sudah dikukuhkan sebagai identitas nasional, kita percaya diri berhadapan dengan dandanan mewah dari mana pun, walau hanya pakai batik murah. Murah itu mahal, sama, itu Indonesia. Ya, kan Ami?” Ami hanya tersenyum, lalu pulang. “Ami!” Ami terus lempeng, tidak mau berhenti. “Kenapa Ami, Bu?” “Lha, tadi Bapak ngomong apa sama dia?” “Apa ya? Dia mengingatkan tentang hari batik, supaya kita mensyukuri punya warisan batik. Ya kita kan memang pembela batik. Waktu dulu ada kabar hak cipta batik mau diakui negara tetangga kan Bapak ikut menggerakkan para pemuda protes?!” Bu Amat senyum sinis. Amat jadi gelisah. Sore itu juga ia datang ke rumah Ami, minta maaf. “Ami, maaf, Bapak mengerti apa maksudmu, menunjukkan SMS itu. Tetapi sebagai orang Bali pada umumnya, terimakasih kan tidak usah diucapkan, karena itu sudah dengan sendirinya, sebagai bagian dari dharma.” Ami mengangguk, tapi kemudian menjawab lirih: “Dan, maaf juga tidak usah diucapkan dan dijawab, karena itu semua juga sudah dengan sendirinya, sebagai bagian dari dharma.”

Pecah Ban Dua Kali Setelah lulus kuliah di salah satu PTS di Yogyakarta, saya kembali ke kampung halaman. Niat pertama adalah mencari pekerjaan sesuai dengan ilmu yang dipelajari di kampus. Namun, hingga tiga bulan berlalu, tak jua ada panggilan. Saya tak mau berdiam diri. Jurus mabuk pun keluar. Kebetulan ada saudara yang punya usaha laundry. Saya pun melamar. Sebenarnya saudara saya itu tidak enak hati menyuruh saya kerja sebagai pengantar jemput laundry. Tetapi, saya ngotot dengan

alasan mau mencari pengalaman. Daripada diam saja di rumah bisa stress, saya pun diterima sebagai tukang antar jemput di laundry tersebut. Pekerjaan yang saya jalani termasuk ringan. Kalau ada telepon dari pelanggan, saya berangkat untuk mengambil cucian. Kalau sudah selesai, saya antarkan lagi. Motor yang saya pakai Astrea Prima yang menemani sejak kuliah. Setelah sekian lama, saya pun menikmati pekerjaan itu. Suatu sore, ada sahabat yang datang ke rumah. Dia

tinggal di Lampung. Kami sudah akrab sejak kecil. Karena saya harus bekerja untuk mengambil cucian, saya ajak dia. Saya ingin menunjukkan inilah pekerjaan yang saya lakoni. Kami pergi naik motor sambil bercerita tentang masa lalu dan pengalaman kuliah. Apes menimpa kami. Ban motor pecah. Saya pun menuntun motor untuk menambal ban motor. Untungnya tukang tambal ban tidak terlalu jauh. Hampir setengah jam kami menunggu tukang tambal ban menyelesaikan pekerjaannya.

Ekspresso bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998 Pemimpin Umum/Penanggung Jawab Gde Palgunadi Redaktur Pelaksana Ngurah Budi Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti, Sagung Inten Jakarta Diana Runtu NTB Naniek Dwi Surahmi Desain Grafis IDN Alit Budi­artha, I Made Ary Supratman Sirkulasi Kadek Sepi Purnama Se­kretariat Ayu ­Agustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono Alamat Redaksi/Iklan Denpasar Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 416676–Faksimile (0361) 425373 Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta Jalan ­Pal­merah ­Barat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603-Faksimile (021) 5357605 NTB Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257 Jawa Timur Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­ ­Faksi­mile (031) 5675240 Surat Elektronik redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id Website www.tokoh.co.id Bank BRI Cabang ­Gajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6 Percetakan BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar

Kami melanjutnya perjalanan ke rumah pelanggan. Pulangnya, kami apes lagi. Ban motor pecah lagi dan di lokasi yang sama. “Oh my God…mengapa pecah dua kali dan di tempat yang sama,” sungut saya dalam hati. Kondisi makin kacau karena hujan mulai turun. Tukang tambal ban yang tadi sudah tutup. Kami harus berjalan lebih jauh untuk mencari bengkel.

Kali ini saya memutuskan untuk ganti ban saja. Saya minta maaf kepada sahabat yang sudah saya ajak “berpetualang” ini. Dia malah senang saja karena ini merupakan tanda persahabatan dalam suka dan duka. Akhirnya, malam itu, setelah menaruh cucian di laundry, saya membelikan dia bakso. Evan

Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca ­lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. ­Panjang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan nomor kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373

Sudut Pandang

Edisi 870/ 12 - 18 OKTOBER 2015

23

Masyarakat bisa Buat Kantor Pos Sendiri Saat ini pembayaran berbagai tagihan dan angsuran, diantaranya pembayaran listrik (PLN), air minum (PDAM) , angsuran kredit (Finance) dapat dilakukan di Kantor Pos. Tentu dengan layanan yang lebih mudah, aman dan cepat dengan menggunakan sistem online, dan memudahkan transaksi tersebut secara online.

P

rogram pembayaran tagihan dan angsuran “apapun” yang secara online di Kantor Pos, menggunakan salah satu layanan bisnis jasa keuangan di samping wesel instan, yang sering digunakan mereka yang melakukan transaksi bisnis namun tidak memiliki rekening koran. Begitu disampaikan, Sulistijono, S.E., Ak, Kepala Kantor Pos Denpasar, di kantornya di kawasan Jalan Raya Puputan, Renon, Denpasar.

Dikatakannya bahwa pelayanan PT Pos Indonesia terus ditingkatkan termasuk melalui teknologi, seperti pos pay tersebut. Jika pada masa lalu, wesel dan giro dikelola secara konvensional dan dikirim secara fisik, maka dengan pos pay, layanan tersebut dapat dilakukan dengan berbasis IT. Karena pelayanan dan penggunaan teknologi pula, PT Pos Indonesia sukses meraih kepercayaan dalam penyaluran dana pemerintah.

Sulistijono, S.E., Ak

Mengenai pengiriman uang dengan wesel instan, dikatakannya mampu memberikan solusi terhadap kecepatan, ketepatan dan keamanan kiriman uang seseorang, baik domestik maupun

Pilih Jasa Ekspedisi yang Tepat

Perusahaan jasa pengiriman barang menjadi ujung tonggak kesuksesan toko online yang terus menjamur. Hal yang paling utama harus diperhatikan adalah bagaimana menyampaikan pesan berupa barang dengan baik. Tentunya barang yang akan diantar dalam keadaan selamat, aman, dan tepat waktu. Demikian disampaikan pengamat ekonomi Dr. Nyoman Sugawa Korry, pekan lalu. Ia mengatakan, terkadang pelanggan merasa kecewa bahkan dirugikan oleh perusahaan jasa pengiriman barang akibat pelayanan yang diberikan. Kekecewaan yang dialami bisa saja kerusakan dokumen maupun kehilangan barang yang dikirimkan. “Menjalankan bisnis online memerlukan rasa percaya antara pelakunya dengan pelanggan. Memang bisnis online memiliki keuntungan dan juga kerugian,” kata lelaki yang kini menjabat Wakil Ketua DPRD Bali ini. Dalam penilaiannya, keuntungan bisnis online, orang menjadi lebih efisien waktu. Namun, kelemahannya, barang yang diterima bisa jadi tidak sesuai dengan contohnya. “Belanja online juga lebih boros karena saking asyiknya memilih di internet, kita lupa akan batasan budget yang

Dr. Nyoman Sugawa Korry

harus dikeluarkan. Apalagi, yang berbelanja memakai kartu kredit. Jangan sampai, akhir bulan tagihan menumpuk,” ujarnya. Bagi konsumen yang sudah mendapatkan keuntungan dengan belanja online, tentu bercerita kepada orang lain. Hal ini, tentu akan berpengaruh pada kelangsungan toko online tersebut ke depannya. Begitu juga, kalau ada konsumen yang dirugikan, pasti akan bercerita kepada orang lain. Ia sangat berharap, pelaku bisnis online tentu tidak ingin menghancurkan reputasinya sendiri akibat pelayanan buruk yang

dilakukan perusahaan jasa pengiriman barang. “Pelaku bisnis online yang sering mendapat keluhan dari pelanggan mengenai barang yang tidak tepat waktu bahkan sampai rusak, tentu berdampak pada reputasi bisnis online yang dijalankannya ke depan,” katanya. Maka dari itu, menurutnya, sebagai pelaku bisnis perlu mengetahui beberapa hal agar tidak salah dalam memilih perushaan jasa pengiriman barang. Hampir setiap jasa ekspedisi memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Pelaku bisnis harus benar-benar teliti mengenali kelebihan dan kekurangan masing-masing jasa ekspedisi. “Yang paling penting, mengutamakan kepuasan pelanggan. Maka dari itu, pilihlah perusahaan jasa pengiriman jasa ekspedisi yang bonafide dan bertanggungjawab,” kata Sugawa Korry. Untuk kelangsungan bisnis online ke depannya, tentu berpengaruh juga pada jasa pengiriman barang. Ia menilai, prospek ke depan bagi toko online, sangat cerah, namun, harus dibarengi dengan pelayanan yang baik, tepat waktu, dan berkualitas. Karena itu, pelaku bisnis online harus tepat dalam memilih dan memilah perusahaan jasa pengiriman barang agar bisa menunjang kelangsungan bisnisnya ke depan. –Wirati Astiti

Internasional melalui Western Union Money transfer. Sementara pelayanan khusus lokal yakni wesel prima , banyak digunakan sebagai sarana pengiriman uang untuk tujuan diseluruh Indonesia, menjangkau seluruh pelosok sampai kecamatan dengan layanan diantar sampai rumah. Untuk bisnis surat dan paket, masyarakat bisa memilih jasa pengiriman biasa, kilat, kilat khusus dan pos ekspres. Menariknya kalau dahulu untuk kiriman kilat masih menggunakan perangko, tapi sekarang sudah menggunakan barcode. “Sesuai dengan perkembangan teknologi, dengan barcode juga sistem bisa melacak semua proses pengiriman surat tertsebut. “ Ini semua untuk siapa saja yang ingin layanan istimewa dari Pos Indonesia untuk kota tujuan tertentu di Indonesia, demi lebih cepat. Untuk jaminan maksimal sehari sampai dapat memimilih pos ekpres,”papar Sulistijono .

Ia juga mengtakan, meski saat ini semakin banyak usaha jasa pengiriman yang sejenis, namun pelayanan pengiriman surat dan paket yang memang ada sejak awal justru mengalami peningkatan yang sangat signifikan setiap tahunnya. “Seperti surat bisnis dari perbankan yang hingga kini selalu mengirimkan rekening korannya melalui pos,” katanya. Selain itu pelayan pembelian perangko dan materia juga masih berjalan dengan baik. PT Pos, katanya telah merevitalisasi pelayanan berdasarkan berkembangannya kebutuhan masyarakat. Demikian juga dengan teknologinya. Bahkan PT Pos memiliki komitmen untuk selalu ada dimana pun masyarakat berada. Sampai akhirnya saat ini PT Pos sudah membuka diri mengembangkan pola kemitraan dalam bisnis agen pos dengan masyarakat untuk bisa mendirikan kantor pos di rumah sendiri. – Sri Ardhini

Pengiriman Uang Paling Diminati

Jika dulu Kantor Pos sangat dibutuhkan untuk berkomunikasi melalui surat dengan keluarga, kawan, sahabat, relasi dan hubungan lainnya, kini seiring berkembang pesatnya alat komunikasi, korespondensi surat menyurat secara pribadi khususnya tidak lagi banyak dilakukan. Kemudahan yang ditawarkan alat komunikasi yang canggih saat ini, membuat orang perorang tidak lagi membutuhkan cara manual dengan mengirimkan surat, meski tentu masih ada saja yang sesekali melakukannya dengan alasan bernostalgia. Salah satunya, Robi (47), yang datang ke kantor pos yang berada di belakang RSU Mataram untuk mengirimkan surat kepada sahabatnya di Medan. Ia mengaku memang tidak selalu berkirim surat karena lebih gampang berkomunikasi dengan ponsel. Namun, satu dua kali ia masih berkomunikasi lewat surat. “Biasanya sih apa yang tertulis dalam surat hanya obrolan biasa, tidak ada yang terlalu penting,” ujarnya. Kalau hal penting atau mendesak saat ini dikomunikasikan lewat surat dinilai tidak efektif, karena surat baru akan sampai dua hingga tiga hari kemudian. Tidak lagi banyak orang yang secara pribadi mengirim surat lewat pos ini diakui oleh Kadek Sumardhana, Kepala Kantor Pos Mataram. “Pengiriman surat secara pribadi sekarang memang terbilang sudah sangat kurang, namun surat-menyurat corporate masih banyak dan jumlahnya stabil,” ungkapnya. Menurutnya, jasa pos seperti pengiriman paket-paket juga banyak dibutuhkan masyarakat. Ini terlihat dari setiap hari truk-truk dan kendaraan pos maupun yang bekerja sama dengan pos dalam hal pengangkutan paket ini, selalu penuh. “Tiap hari angkutan paket pos selalu penuh dengan aktivitas yang tinggi,” ujarnya. Sejauh ini, menurut Kadek Sumardhana, semua pelayanan yang ada di Kantor Pos Pemeriksa Mataram tetap diminati masyarakat. Namun pelayanan yang paling besar diminati saat ini adalah pengiriman uang luar negeri, khususnya dari para TKI dan TKW asal Lombok. “Kiriman uang luar negeri khususnya dari TKI/TKW asal Lombok paling besar melalui Kantor Pos,” katanya. Sejak sebulan yang lalu, pelayanan terbaru di Kantor Pos Pemeriksa Mataram adalah transfer uang ke seluruh rekening bank yang masuk dalam jaringan ATM bersama. “Ini untuk mendekatkan pelayanan bagi pelanggan pos,” ujarnya. -Naniek I. Taufan


22

Melemahnya per­ ekonomian nasional sa­ ngat memukul para pelaku usaha mikro kecil menengah, khususnya di bidang kerajinan. Hal itu terlihat dari berbagai pameran di Jakarta yang umumnya sepi peng­ unjung. Pameran kerajinan di Jakarta Convetion Center, pekan lalu, misalnya, yang biasanya ramai pengunjung, khususnya menjelang weekend, tergolong sepi.

H

Sosialita

Edisi 870/ 12 - 18 oktober 2015

al ini juga menjadi keluhan sejumlah pemilik usaha yang datang dari berbagai daerah untuk memamerkan karya-karya terbarunya. “Menurunnya daya beli masyarakat sudah terasa sejak beberapa bulan lalu. Para pelanggan yang biasanya memborong banyak, mengurangi pembeliannya. Malah di pameran kali ini saya baru dapat satu pembeli, itu pun pemesanannya tidak banyak. Sedang pembelian secara retail yang biasanya ramai, kali ini sepi. Padahal kami tidak menaikkan harga,” ungkap Riswan, pengusaha kerajinan kayu. Menurut lelaki asal Solo itu, situasi ekonomi yang kurang kondusif saat itu membuat masyarakat agak menahan diri. Sebagai pelaku usaha kecil, Riswan berharap pemerintah memberi perhatian lebih pada para pelaku usaha seperti dirinya. “Daya beli masyarakat jauh melorot saat ini,” tambahnya. Hal senada juga dirasakan Karel Darma Nainggolan yang juga pengusaha

kerajinan kayu. Hanya saja berbeda dengan Riswan yang menyikapi situasi ini dengan ‘was-was’, Karel justru sebaliknya. “Saya tahu situasi ekonomi sedang sulit, yang merasakan bukan UMKM saja tapi di semua sektor. Namun begitu saya tetap optimis usaha saya tetap bertahan. Saya sudah berkali-kali mengalami kejadian seperti ini, dan sampai sekarang bisa tetap eksis. Malah dulu satu dolar AS pernah mencapai Rp 16 ribu, tapi usaha kami bisa melaluinya,” ungkap lelaki asal Sumatera yang kini bermukim di Klaten, Jawa Tengah. Kondisi menurun ini, menurutnya telah dirasakan sejak Juni lalu, omzet penjualan terus menurun. Untungnya, kata Karel, para pelanggannya tetap bertahan sekalipun agak mengurangi pembelian. Di sisi lain, ia juga memiliki sejumlah jurus jitu untuk menyiasati kondisi semacam ini. Di antaranya adalah memperluas networking, rajin pameran, dan banyak menghadirkan produk-produk kreatif dan inovatif. “Sebagai pengusaha yang sudah 15 tahun menekuni bidang ini, tentu saya punya trik-trik khusus. Apalagi kondisi seperti ini, kan, bukan baru pertama kali saya alami. Dulu malah lebih parah dari sekarang, toh, saya tetap bertahan. Tak pernah berpikir untuk menutup usaha ini. Saya yakin, banyak pengusaha seperti saya yang telah lama berkecimpung di bidangnya, memiliki resep masing-masing karena pastinya mereka juga sudah pernah mengalami,” tambahnya. TIDAK MENAIKKAN HARGA Seperti kebanyakan para pengusaha kerajinan, Karel pun tidak menaikkan harga pada barang-barang produknya. Ini lantaran daya beli masyarakat yang

Lebih Baik Kurangi Untung daripada Naikkan Harga

Edisi 870/ 12 - 18 oktober 2015

Atta Beji Deluxeroom Interior

bahan-bahan itu ia pun mulai berkreasi membuat aneka kerajinan kayu khususnya untuk perlengkapan rumah tangga. Ternyata bisnis kecil-kecilannya saat itu mendapat respon bagus. “Saya sering ikut pameran untuk memperkenalkan produk. Hasilnya bagus sekali, meski memang kadang dampak dari pameran tidak dirasakan saat itu juga saat pameran,” kata Karel. Karena itu, lanjut Karel, sepinya pengunjung pameran atau sepinya transaksi pada saat pameran tidak membuatnya berkecil hati. Pengalamannya telah membuktikan itu. “Tidak selalu dalam setiap pameran banyak transaksi terjadi. Bagi saya pameran lebih kepada pengenalan produk, mencari calon

Atta Beji Masterplan

Setelah sukses mengantarkan masyarakat lokal mensejajarkan diri dengan investor asing dan mengembalikan peran orang Bali sebagai pengendali di tanahnya sendiri melalui Villa Mesari, kini pebisnis sukses, guru bisnis, owner yang sekaligus pendiri PT Mesari Land, Made Robert, kembali membuktikan kecintaannya pada tanah dan orang Bali dengan proyek Villatel berikutnya yang diberi nama Atta Labeji Villas.

Atta Beji Pool Villa Exterior Couple

Ni Ketut Any

Investasi Villa di Ubud Bali Aman & Jadi Mesin Uang

U

juga lemah. “Kalau harus menaikkan harga dalam situasi seperti ini, rasanya tidak mungkin. Berat! Karena daya beli masyarakat lemah. Sekarang saja tanpa dinaikkan harga, pembeli berkurang. Bagaimana jika naik, jangan-jangan malah kabur. Yang memungkinkan adalah penyesuaian harga dilakukan untuk produk-produk baru, sedang produk lama, tidak. Saya pikir, lebih baik saya mengurangi besaran keuntungan daripada menaikkan harga,” kata pemilik UD Kelapa Budaya ini. Usaha kerajinan dari kayu ini telah dimulai Karel sejak tahun 2000. Sebelumnya ia adalah pekerja di industri mebel. “Latar belakang pendidikan saya adalah di bidang perkayuan, karena itu

saya berkecimpung di bidang ini. Belasan tahun bekerja di bidang permebelan membuat saya tahu banyak tentang kayu dan kerajinan. Saya juga tahu kalau usaha mebel itu menghasilkan limbah kayu yang cukup banyak, rasanya sayang kalau dibuang atau dibakar. Dari sanalah akhirnya saya putuskan untuk memulai usaha sendiri yakni membuat kerajinan dari kayu limbah mebel,” tuturnya. Bisa dibilang modal nekat, begitu awal Karel memulai bisnisnya. Modal yang dimiliki sangat terbatas. Tapi katanya, tekadnya sudah bulat untuk memiliki usaha sendiri, apalagi saat itu peluang begitu bagus. “Modal saya terbatas sekali. Saya dapat pinjaman dari teman Rp 1 juta, itu yang saya jadikan modal usaha. Sedang bahan bakunya, karena saya banyak teman yang bekerja di perusahaan mebel, saya mendapat limbah kayu dengan harga murah sekali,” ucapnya. Keuntungan memiliki jaringan di usaha permebelan adalah limbah yang didapatnya adalah kayu-kayu berkualitas, seperti kayu jati, mahoni, kelapa, dll. Dari

3

pembeli. Kalau saat itu ternyata juga mendatangkan banyak transaksi, itu adalah rezeki tambahan,” ujarnya. Dari pengalaman Karel, kerap kali calon-calon pembeli yang datang ke stannya tidak bertransaksi, alias hanya melihat-lihat atau bertanya ini-itu, tapi suatu saat mereka datang untuk membeli. Itu karena mereka tetap menyimpan kartu nama Karel. “Itu sering saya alami. Ada yang beberapa bulan setelah pameran atau bahkan pernah beberapa yang mengontak saya setelah setahun pameran. Jadi dengan berbagai pengalaman saya, secara pribadi saya menyikapi keadaan ini (sepi transaksi), biasa saja. Kartu nama yang saya sebarkan dalam pameran suatu saat akan sangat berguna sekali. Saya yakin itu,” ungkapnya. Yang terpenting, sebagai pengusaha ia tetap tekun dan bersikap sabar. “Dengan begitu kita tidak menjadi mudah panik jika ada ‘goncangan’ seperti saat ini,” kata Karel yang juga menjual produknya ke pembeli dari mancanegara. –Diana Runtu

ntuk memperkenalkan lebih dekat villatel tersebut ke masyarakat, 22 Agustus 2015, telah dilaksanakan launching bertempat di Sanur Paradise Plaza Hotel, Denpasar Bali. Yang sungguh membanggakan, minat masyarakat terhadap villa

Presentasi Atta Labeji Villas di Jakarta disambut antusias warga Ibu Kota

tersebut sangat luar biasa. Ini dibuktikan dengan membludaknya peserta yang datang. Dari target 250 peserta, ternyata yang hadir lebih dari 275 orang. Ini juga bisa diartikan bahwa masyarakat Bali sudah melek finansial untuk mempunyai passive income. Saat diberikan kesempatan untuk mendaftar dan membeli lot, hampir 50 % dari yang hadir take action mengambil bagian

untuk menjadi investor. Meja pendaftaran dipenuhi antrean, semangat peserta untuk mendaftar dan membeli lot Atta Labeji Villas begitu tinggi, sehingga total lot yang terjual melampaui target. Hal yang sama juga terjadi ketika Atta Labeji Villas ini dipresentasikan di Menara Peninsula Hotel, Slipi, Jakarta, 8 dan 9 Oktober 2015. Rupanya investasi cerdas dan aman di villatel ini mendapatkan antusias besar masyarakat Ibu kota. “Mereka sangat berminat untuk bergabung di komunitas Atta Labeji, karena itu mereka akhirnya membeli,” ungkap marketing Atta Labeji Villas, Ni Ketut Any. –ten

Mulai Rp 12 Juta Bisa Punya Unit Atta Labeji Villas di Kenderan Ubud

Hanya dengan Rp 12 juta, kini masyarakat Bali sudah bisa menjadi owner Atta Labeji Villas sekaligus punya mesin uang. Masih mengusung konsep yang sama kearifan lokal yaitu mepatung atau dalam istilah yang lebih mendunia disebut C-BOS (Capitalism Based On Society) atau kapitalis berbasis kerakyatan. Tujuannya adalah membangun kekuatan ekononi masyarakat (Bali). Menjadi pengendali dan penguasa di tanah Bali. “Mulai 12 juta masyarakat sudah bisa menjadi investor dan owner villa dengan berbagai macam keuntungan,” tegas Ketut Any. Di antaranya, uang pembelian lot dikembalikan 100 persen dalam beberapa tahun, mendapatkan 1 surat lot yang saat ini nilainya Rp 12 juta dan seiring waktu harganya pasti naik, voucher menginap senilai Rp 12 juta, penghasilan pasif 10% setiap tahun selama 2 tahun dan setiap 6 bulan selama 23 tahun, satu box kartu nama Atta Labeji Villas dengan jabatan owner, kupon undian untuk memenangkan grand prize 2 hektar hutan jabon dengan

hasil milyaran dan lain-lain. “Klausal ini pun akan kami tuangkan dalam perjanjian notaris,” imbuh Ketut Any sembari mengatakan dalam waktu dekat ini akan segera dilakukan ground

breaking (peletakan batu pertama) atas proyek villatel Atta Labeji Villas di Kenderan, Ubud, Bali. Bagi masyarakat yang tidak sempat hadir dan membeli lot Atta Labeji

Villas pada saat launching, bisa datang langsung ke kantor Bos Land, Jalan Tukad Pakerisan 79 Panjer Denpasar, atau bisa menghadiri PRESENTASI GRATIS, Rabu 14 Oktober 2015, pukul

Penandatanganan kontrak kepemilikan unit Atta Labeji Villas di notaris

16.30 wita di Hotel Ibis Style, Jalan Teuku Umar No. 184 Denpasar. Untuk reservasi, telepon sekarang di nomor 0361- 4723260, 082 247 365 888, 087 861 999 658. –ten


4

Inspirasi

Edisi 870/ 12 - 18 OKTOBER 2015

Komang Sukarsana

Sarjana jangan Malu Bertani Keinginan masyarakat, khususnya yang usianya masih produktif untuk terjun ke dunia pertanian makin berkurang. Padahal pemerintah telah melakukan sejumlah upaya agar dunia pertanian itu tetap bisa dimintai. Sejumlah peralatan modern sudah digelontorkan. Namun hal tersebut masih sangat sulit untuk mengubah minat generasi muda sekarang yang lebih banyak bercita-cita sebagai PNS.

Selain pergi ke perkebunan, ia juga aktif dalam mengikuti kegiatan yang diselenggarakan pemerintah

D

i balik semua itu, ternyata masih ada orang desa usianya muda yang tetap bertahan menjadi petani, meskipun pendidikannya sarjana. Ia adalah ���������� Komang Sukarsana, pria kelahiran Songan, Kintamani,18 Juni 1985. Tidak hanya petani biasa, ia juga mampu membangun sebuah bisnis perkopian. Pria jebolan Program Studi Biologi Undiksha ini menceritakan setelah lulus kuliah tahun 2007 ia sempat menjadi ����������� tenaga honorer di salah satu SMP di Kintamani. Setelah 3 tahun mengabdi, tak ada tanda-tanda akan menjadi seorang PNS. Kondisi ini menyebabkan dirinya pada 2010 terpaksa berhenti menjadi pahlawan tanpa jasa. Dengan tekad agar masa depannya lebih baik, pertengahan 2011 ia pergi ke Ubud untuk memulai belajar dan mencari celah peluang berbisnis di Ubud. Langkah ini juga diimbangi dengan keinginan yang kuat untuk mengubah kesan petani identik dengan kemiskinan. Konsep bisnis yang dikembangkanpun lebih mengarah ke socialpreneur, bagaimana membangun sebuah pola bisnis yang bisa memberikan keuntungan bagi para petani kopi, pembeli dan palnet. Ia mengedepankan konsep fair trade dan community development berdasarkan local genius yang ada. Akhirnya pertengahan 2012 ia mencoba bisnis dengan cara menjadi reseller produk petani. Hasilnya dikumpulkan untuk membeli mesin sangrai (roasting) serta membangun kerjasama dengan salah satu petani yang memiliki komitmen yang sama. Upaya yang dilakukan ini ternyata

membawanya ke arah yang makin baik. Ia mendirikan home industry di Desa Belantih. Berkat kerja keras dan semangat belajarnya yang semakin mengalir, 2013 ia terpilih sebagai salah satu pemenang wirausaha muda pemula berbasis teknologi (teknopreneur) di Kabupaten Bangli yang diselenggarakan oleh Pemda

meyakinkan, ��������������������� berani memberi garansi terhadap produk yang dijual jika kualitasnya kurang bagus. Langkah ini menyebabkan banyak pembeli yang merekomendasikan ke pembeli lain sehingga jadi bagian dari marketing gratis. Tidak hanya itu, usaha yang sebelumnya dipandang sebelah mata oleh sebagian besar masyarakat justru berhasil menggaet pengusaha coffee shop, roaster, eksportir, restoran, hotel dan pencinta kopi. Bisnis tanpa modal pun bisa eksis di tengah persaingan bisnis yang ketat saat ini. Terkait dengan pemasaran, ia memanfaatkan media sosial yang trend saat ini. “Modal usaha tidak seberapa, tapi untungnya bisa berkembang dengan baik. Itu merupakan hasil dari semangat yang saya tanamkan,” ujar Sukarsana. Usahanya yang terbilang sukses, pada 2014 lalu, Sukarsana masuk 4 besar Wirausaha Bank Indonesia katagori produk berskala ekspor. Untuk meningkatkan daya saing ia memutuskan membuat legalitas usaha

Salah satu kegiatan I Komang Sukarsana

Bangli bekerjasama dengan BPPT, Kemenpora dan Bank Indonesia. Saat itu, ia mendapatkan bantuan permodalan Rp 10 juta. Bantuan ini ia gunakan secara terarah dan pada akhirnya ia mampu me�� revitalisasi bisnis dan membuat pengolahan kopi di Kintamani. Hingga kini, usahanya semakin menggeliat dan mampu dijadikan contoh oleh petani lainnya. Tak tanggung-tanggung, untuk tahun ini, omzet usahanya ditargetkan di atas Rp 1 miliar. Dengan semangatnya yang tak perah padam, Sukarsana terus menunjukkan kualitas produknya kepda pembeli. Bahkan, untuk

perorangan (PO) yang bernama “Bali Arabica” . Hasil usahanya pun makin berkembang pesat khususnya sebagai penyedia bahan baku untuk beberapa coffee shop, restoran, hotel, dan di beberapa tempat di Indonesia. Ia juga menjual kopi ke Australia, Eropa, dan Asia Timur. KELOLA POTENSI DAERAH Untuk memperlancar usahanya, awal 2015 ia memutuskan untuk membuat kantor di kawasan wisata Ubud. Ide ini diyakini akan memberikan dampak yang signifikan terhadap penguasaan

Mandalika

Edisi 870/ 12 - 18 OKTOBER 2015

RPJMD Prioritaskan PUP

Isu perempuan dan anak di Nusa Tenggara Barat, khususnya tentang pendewasaan usia perkawinan (PUP) mendapat perhatian sangat penting dari Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat. Oleh karena itu, PUP menjadi salah satu prioritas dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) tahun 2013-2018.

D

alam hal ini, menurut Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi, Pemerintah Provinsi NTB telah memaksimalkan perannya baik pada aspek regulasi, fasilitasi, maupun budget policy. Dalam aspek fasilitasi, misalnya, Pemerintah Provinsi NTB telah

cukup lama bekerja sama dengan stakeholders penggiat perempuan dan anak untuk bersama-sama menyelesaikan masalah yang ada. Namun, diakui bahwa SDM yang ada di NTB masih belum memadai dalam menyelesaikan masalah tersebut. “Oleh karena itu, kami mengajak secara aktif kepada pihak-

Prof. Dr. Yohana Susana Yembise bersama Wakil Gubernur NTB saat berkunjung ke NTB

pihak lain untuk memastikan bahwa perencanaan pembangunan yang ramah gender atau tidak memarginalkan kaum perempuan dan anak-anak,” ungkap gubernur saat menerima kunjungan Menteri

Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Prof. Dr. Yohana Susana Yembise, Dipl. Apling, M.A., di Ruang Rapat Utama Kantor Gubernur NTB beberapa waktu lalu.

PUP Menuju Generasi Emas NTB pasar. Di samping itu, konsolidasi ke tingkat petani terus digalakan untuk meningkatkan kualitas olahan dan melakukan kerjasama dengan beberapa kelompok tani di kawasan Kintamani, Bangli, dan Gitgit, Buleleng. Kerjasama terutama difokuskan untuk menjaga dan meningkatkan kualitas bahan baku terutama pada penanganan pengolahan hasil panen dan pascapanen. Disamping mampu menciptakan pekerjaan baru bagi masyarakat di kawasan Kintamani, hal ini juga sangat penting untuk meningkatkan ekonomi kawasan. Ia berharap, ke depannya kopi Kintamani menjadi kopi primadona dan termahal di Indonesia, di samping ada eksportir yang lahir dari anak petani di Kintamani. Selain bergelut di bisnis kopi, Sukarsana juga menghabiskan waktu di desa menjadi founder sekaligus pengurus kelompok tani

di desa Songan. Ia juga menjadi pengurus Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) di tingkat kecamatan Kintamani, serta aktif di organisasi kepemudaan seperti JCI (Junior Chamber Internasional) Bangli. Semua hal yang dilakukan ini tidak terlepas dari pemikiran yang positif berusaha menjadi spirit penyebar virus enterpreunership, khususnya di kalangan anak petani. Itu dianggap sangat penting untuk membangun kawasan di perdesaan. Anak para petani tidak akan pergi ke kota untuk mencari pekerjaaan. Namun mampu mengembangkan potensi daerah yang belum terkelola secara optimal. Ia berharap, nantinya akan lahir wirausahawan baru yang mampu menjadi salah satu UMKM yang unggul secara SDM, mandiri, berdaya saing dan mampu menggerakan perekonomian masyarakat dan siap dalam menghadapi pasar bebas (MEA). -Sosiawan

21

Dalam memajukan kualitas perempuan dan anak-anak melalui Program Pendewasan Usia Perkawinan, dimana usia pernikahan wanita dan pria 21 tahun, Pemerintah Provinsi NTB bekerja sama dengan TP PKK NTB, BKOW NTB dan Dharma Wanita guna mencegah pernikahan dini di NTB. Menurut Kepala BP3AKAB, Dra. T. Wismaningsih salah satu upaya Pemerintah Provinsi NTB dalam hal ini adalah mengajukan usulan perubahan tentang undang-undang pernikahan Nomor 1 Tahun 1974 sebagaimana yang telah diusulkan oleh TP PKK NTB sebagai hasil lokakarya pertama tentang Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP) menuju generasi emas NTB yang telah dilaksanakan pada bulan Mei tahun 2014 lalu. Inisiatif tersebut datang dari Ketua TP PKK, Hj. Erica Zainul Majdi dan mendapat dukungan di tingkat nasional melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI. “Melalui kegiatan ini kami ingin mengetahui sejauh mana dukungan dari tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan organisasi-organisasi kemasyarakatan, kalangan akademisi, dan kalangan remaja

sehingga upaya-upaya penanganan permasalahan perempuan dan anak dapat menjadi sebuah gerakan masyarakat di provinsi NTB,” kata Wisma. Berkaitan dengan hal ini, Prof. Dr. Yohana Susana Yembise, Dipl. Apling, MA mengatakan bahwa Kementerian PP dan PA akan selalu dan siap mendampingi Provinsi NTB dalam melaksanakan kegiatan yang berhubungan dengan perempuan dan anak. Rencananya, Kementerian PP dan PA akan melakukan pelatihan Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Provinsi NTB, karena masalah trafficking paling banyak terjadi di daerah NTB. “Kami ingin mem-

berikan pelatihan kepada TKW, sehingga tenaga kerja kita memiliki kemampuan yang mumpuni ketika bekerja di luar negeri,” katanya. Dengan adanya pelatihan tenaga kerja ini harapannya dapat menurunkan tingkat perkawinan di usia muda. Menurut Yohana Susana Yembise, isu perempuan dan anak merupakan isu internasional. Oleh karena itu, Indonesia harus mempersiapkan diri untuk berjuang mengangkat hak-hak anak dan perempuan di mata internasional. “Jika kita bisa berkoordinasi dengan baik dengan pemerintah, swasta, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta pihak-pihak lainnya, maka ke depannya kita dapat membawa masa depan perempuan dan anak-anak menjadi lebih baik. Karena anak-anak adalah generasi penerus bangsa yang membawa tongkat estafet demi kemajuan bangsa Indonesia,” katanya.

Tidak kurang dari 400 anak yang terdiri dari Ketua-ketua OSIS SMP dan SMA se-Kota Mataram, Dewan Anak, Forum Anak seKota Mataram, perwakilan dari SD dan TK, anak-anak berkebutuhan khusus, anak-anak yang berhadapan dengan hukum baik saksi, korban maupun pelaku yang datang dari Panti Sosial Paramitha dan lainnya yang mewakili anak se-Kota Mataram.

Tidak hanya itu, dari sisi regulasi pun Pemerintah Provinsi NTB telah mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 7 Tahun 2011 tentang perlindungan perempuan dan anak, namun akan direvisi lagi untuk memasukkan substansi-substansi yang belum tercantum pada Perda lama. Karena pada kenyatannya masalah perempuan dan anak-anak sangat dinamis, semakin lama semakin kompleks dan selalu terkait dengan kejahatan-kejahatan jenis baru. kondisi ini tentu membutuhkan regulasi yang kuat di tingkat pemerintah daerah. Selain itu, NTB juga memiliki Peraturan Gubernur dengan Nomor 8 Tahun 2012, tentang hal-hal yang dianggap penting dalam meminimalisir tingkat kematian ibu dan bayi, mengingat tingkat kematian ibu dan bayi di Provinsi Nusa Tenggara Barat cukup tinggi. –Naniek I. Taufan Beberapa hal yang disampaikan anak-anak ini antara lain adalah harapan agar anak-anak berkebutuhan khusus dapat diterima dan menempuh pendidikan tinggi di NTB, tidak harus kuliah keluar dari NTB mengingat mereka ratarata berasal dari keluarga kurang mampu. Selain itu, dalam dialog ini banyak juga terungkap masalah yang dihadapi oleh anak-anak di Kota Mataram yang direspons baik oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan segera mencarikan jalan keluarnya. -Naniek I. Taufan

DIALOG KHUSUS DENGAN ANAK Dalam kunjungan ini, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak secara khusus sempat berdialog dengan anakanak di Kota Mataram di Pendopo Wali Kota Mataram. Berbagai masalah anak khususnya yang terjadi pada anak di Kota Mataram, disampaikan oleh beberapa anak yang hadir dalam dialog tersebut.

Ketua TP PKK NTB, Hj. Erica Zainul Majdi dan Ketua BKOW NTB, Hj. Syamsiah M. Amin ketika menerima kunjungan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak


20

Nine

Edisi 870/ 12 - 18 OKTOBER 2015

P rof. Dr. Rodliy ah, S.H. M.H.

Sepatu Masuk Dapur

Dengan senyum yang ramah dan hangat, Prof. Dr. Rodliyah, SH. MH., tampak tidak berubah dari pembawaanya sepuluh tahun yang lalu. Cara bicaranya yang kerap dihiasi dengan senyum, menampilkan dosen senior Fakultas Hukum Universitas Mataram ini sebagai sosok yang keibuan. Bahasa tubuhnya relatif terlihat selalu ingin ngemong. Jika pernah mengenal Rodliyah sepuluh tahun yang lalu, maka di hari ini perempuan yang dikukuhkan sebagai professor pada tahun Mei 2014 lalu ini masih seperti yang dulu. Ia tetap ramah, hangat dan keibuan.

N

amun di balik sifat lemah lembut yang dimilikinya, Rodliyah ternyata merupakan sosok yang gigih. Kegigihannya ini terlihat ketika ia menjadi Magister perempuan pertama, tahun 1991, lalu Doktor perempuan pertama tahun 2010. Ia menempuh pendidikan Doktornya di Universitas Brawijaya Malang tepat waktu selama tiga tahun dengan predikat Cum Laude. dan Profesor perempuan pertama tahun 2013, di Fakultas Hukum Universitas Mataram. Perjuangannya untuk dapat dikukuhkan sebagai seorang guru besar ditempuhnya dengan bekerja keras dan tekun. Rodliyah diangkat dalam jabatan Guru Besar bidang Ilmu Hukum Pidana pada Fakultas Hukum Universitas Mataram dengan SK Menteri

Pendidikan dan Kebudayaan RI No: 133556/ A4.3/KP/2013 pada tanggal 1 oktober 2013 dan dikukuhkan tanggal 21 Mei 2014. Di samping kegigihan dan ketekunannya, Rodliyah mengaku bahwa peran suaminya, drh. H. Abdul Muthalib, MM, sangatlah besar dalam menjadikannya hari ini. drh. H. Abdul Muthalib, MM., merupakan mantan Kepala Dinas Peternakan Provinsi Nusa Tenggara Barat. “Almarhum suami saya adalah pendukung dan pendorong utama bagi karir dan kehidupan saya hingga sampai pada hari ini,” ungkapnya dalam. Di matanya, almarhum suaminya adalah sosok laki-laki yang sangat memuliakan dirinya sebagai istri. Karena itulah, ketika kepergian suaminya yang sangat mendadak menghadap Sang

Inspirasi

Kertas Surat pun Dikoleksi

Orang yang memiliki sahabat pena memang jarang ditemukan di zaman teknologi canggih saat ini. Namun dulu, di 1980-an, surat menjadi satu-satunya penghubung jarak jauh. Denpasar-Papua, Denpasar-Jakarta pun terasa dekat lewat surat. Paling tidak, inilah yang dialami Kompyang Widyastuti (37). “Dulu waktu SD saya punya beberapa sahabat pena, tapi yang paling intens ada dua orang, dari Papua dan Jakarta,” ungkapnya.

K

Prof. Dr. Rodliyah, SH. MH., saat dikukuhkan sebagai Guru Besar tahun 2014.

Khalik pada Maret 2015 lalu, Rodliyah sempat mengalami pukulan hebat dalam hidupnya. Namun, dengan usia yang demikian matang, Rodliyah mampu melepas belahan jiwanya itu dengan penuh keikhlasan. Gambaran kehidupan rumah tangganya terbilang harmonis dan ideal. Meski kesibukannya sebagai dosen menyita banyak waktunya, namun ia tidak pernah melupakan tugasnya sebagai seorang istri dan ibu bagi tiga putera mereka, Iwan Kurniawan Hadianto, ST.MT, (35), Dwianto Harry Nugraha, S.Farm., Apt., (29) dan Try Widianto Putra Nugraha (21). Saat anak-anaknya masih kecil dan ia tidak memiliki asisten rumah tangga, pagi ia wajib menyiapkan sarapan untuk anak-anak dan suaminya. Kerepotan paginya ini tidak jarang memaksanya memakai sepatu di dapur. “Kehebohan” paginya dalam mengurus tiga anak laki-laki yang masih kecil saat itu, membuat ia menyebut paginya sebagai pagi yang krodit. Tanggung jawab sebagai ibu ia tempatkan setara dengan tanggung jawabnya sebagai pengajar. Karena itulah sepulang dari kampus, ia kerap langsung masuk dapur untuk menyiapkan makan siang bagi anak-anaknya yang akan pulang sekolah dan juga suami yang pulang kantor. Hebatnya, tidak jarang ia langsung masuk dapur untuk memasak dengan masih mengenakan seragam safari (dulu masih pakai seragam) kampus dan sepatu demi mengejar waktu menyiapkan gizi bagi keluarganya. “Memasak dengan pakaian safari,” ujarnya tertawa. Tidak itu saja, sejak dulu Rodliyah juga aktif dalam berbagai organisasi wanita di NTB. Tampaknya kemampuannya untuk memanagemen waktu dan kesibukan dengan seimbanglah yang membuat suaminya begitu sayang padanya. Sehingga seluruh hal mengenai kemajuannya sebagai seorang perempuan khususnya mendapat back up penuh dari suaminya. Tahapan demi tahapan perjuangannya dalam menjalankan tugasnya baik sebagai dosen maupun birokrat kampus terutama lagi dalam mencapai gelar akademis, diakuinya sepenuhnya adalah dukungan dari Sang Suami tercinta. Inilah yang membuatnya merasa sangat kehilangan ketika Allah SWT memanggil suaminya. Sebagai seorang dosen, Rodliyah yang telah mengajar selama lebih dari separuh usianya ini, mengaku bangga jika ada mahasiswanya yang berhasil lulus dengan nilai A. Namun ia akan lebih bangga lagi jika mahasiswanya “memiliki” ilmu yang telah dibagikannya. Maka pada tiap kali masa perkenalan dengan mahasiswa baru, ia selalu berpesan agar dalam menuntut ilmu mahasiswa tidak semata-mata bertujuan hanya untuk mencapai nilai A namun yang lebih dari itu adalah haruslah memiliki ilmu itu dan menggunakan ilmu itu untuk kebaikan. Ia juga berharap agar ilmu yang didapat itu akan

dibawa sampai ke liang lahat. “Saya bangga mahasiswa saya mendapat nila A, namun saya lebih bangga lagi jika mereka memiliki ilmu tersebut,” ujar perempuan kelahiran, Kendal, 5 Juli 1956. Kecintaannya pada profesi ini membuatnya kerapkali mendadak sembuh dari sakit. Ia tidak pernah merasa bosan mengajar meski ia telah berdiri di depan kelas sejak tahun 1983. Maka ketika sakit ia akan “mengobati” sakitnya itu dengan semangat untuk datang ke kampus dan mengajar. Hari-harinya selama 32 tahun belakangan ini adalah mengajar dan mengajar. Ketua Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Mataram, ini juga termasuk salah seorang yang konsisten memilih jurusan. Dari awal hingga kini ia selalu memilih hukum pidana, Sarjana Hukum jurusan Pidana, Magister Hukum Pidana, Doktor Hukum Pidana dan Guru Besar Hukum Pidana. Sebagai seorang perempuan, Rodliyah yang juga Dekan Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Mataram ini tampaknya memahami benar kebutuhan perempuan terutama pada bidang hukum yang digelutinya. Oleh karena itu, karya-karya buku dan tulisan-tulisannya, tidak pernah lepas dari pengamatan akan kebutuhan perempuan. Ini terlihat dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar beberapa waktu lalu yang dibawakannya dengan judul, “Pelaksanaan Pidana Mati Terhadap Perempuan Hamil Dalam Perspektif Pembaharuan Hukum Pidana”. Dan usulan ini, menurut Rodliyah telah masuk untuk pembaharuan hukum pidana ke depan dalam rancangan KUHP. Empat buku yang telah diterbitkannya juga bicara tentang hak perempuan dalam hukum, yakni, Perlindungan Hukum Bagi Perempuan Pelaku Tindak Pidana, Pemidanaan Terhadap Perempuan Dalam Sistem Peradilan Pidana, Pidana Mati Terhadap Perempuan (Suatu Kajian Perbandingan), dan Pembaharuan Hukum Pidana Tentang Eksekusi Pidana Mati Perempuan Hamil -Pokok-Pokok Pikiran Revisi Undang-Undang Nomor 2/Pnps/1964. Sesuai bidang ilmunya, Rodliyah yang memiliki keahlian dalam Hukum Pidana dan Sistem Peradilan Pidana ini memang sangat konsen terhadap perempuan dan karenanya karya-karyanya ke depan tidak akan jauh dari membahas tentang persoalan perempuan. Ketertarikannya untuk mengkaji tentang hal ini lebih karena menurutnya perempuan sebagai pelaku harus juga mendapat perlindungan. “Dalam proses hukum yang dijalani, perempuan sebagai pelaku juga perlu dilindungi dengan kekhususan yang ada dalam dirinya sebagai seorang perempuan,” ujarnya. Kekhususan yang dimaksud antara lain, kehamilan, melahirkan, menyusui dan lainnya. -Naniek I. Taufan

Edisi 870/ 12 - 18 OKTOBER 2015

ompyang me­ n u ­­t u r k a n , i a m e n ­d a p a t k a n kenalan ini dari Rubrik Sahabat Pena yang ada di Majalah Bobo dan Ananda. “Jadi, tiap Minggu, yang paling saya cari di majalah ya rubrik itu,” ujarnya. Di halaman tersebut, biasanya dimuat foto dan biodata singkat anak-anak se-Nusantara, termasuk dirinya pun pernah dimuat di sana. Dari sekian banyak anak yang dimuat di majalah tersebut, memang tak semua lantas dikiriminya surat. Yang menjadi pertimbangannya adalah, dia anak perempuan dan umur sebaya dengan dirinya. “Ada juga sih cowok, tapi tidak banyak. Paling yang mau mengirimkan foto saja yang benar-benar mau saya balas suratnya,” ujar Kompyang yang mengaku masih menyimpan surat-surat tersebut di rumahnya. Meski mengaku lupa akan nama-nama sahabat penanya itu, namun Kompyang masih ingat betul topik obrolannya dalam surat. “Kami biasanya menanyakan kabar masingmasing, bercerita tentang liburan, dan di bagian akhir tulisan pasti ada semacam kuis, agar berikutnya mau dibalas. Pertanyaannya seputaran pelajaran, misalkan HCL itu apa?” tuturnya. Pokoknya, tiap minggu pasti ada saja surat datang yang ditujukan kepadanya. “Pokoknya seru aja. Tiap surat datang pasti ada reward,” ujarnya. Reward yang dimaksud berupa bonus ekstra kertas surat yang masih kosong untuk dikoleksi. Kompyang mengaku sering tukar-tukaran kertas surat yang kala itu motifnya sangat beragam dan bagus-bagus. Ada gambar macam-macam, bahkan ada kertasnya yang wangi. “Jadi, selain mengoleksi perangko bekas surat, saya juga mengoleksi kertas surat. Sampai sekarang jika mendengar kata ‘Sentani’, saya jadi ingat pernah punya sahabat pena dari Sentani, Papua,” imbuhnya tersenyum. Seiring bergulirnya waktu, Kompyang yang mulai beranjak remaja mulai berganti bacaan. Dari Bobo dan Ananda menjadi majalah Gadis dan Mode. Di bangku SMP, ia pun mulai disibukkan dengan les ini dan itu. Jadi sudah tak sempat lagi

menulis surat untuk sahabatsahabat penanya. “Waktu SMP hobi saya sudah pindah jadi mengoleksi foto-foto artis,

hahaha… dan saya dapat loh foto artisnya,” ujarnya tertawa mengenang. –Inten Indrawati

Koleksi perangko

5


Woman on Top

Edisi 870/ 12 - 18 oktober 2015

I Dewa Ayu Istri Idayati

Dua Aktivitas Saling Mendukung Lurah perempuan, di Kota Denpasar memang bukan hal yang baru lagi. I Dewa Ayu Istri Idayati menjadi salah seorang di antaranya. Ia dipercaya menjabat Lurah Kesiman sejak 2 Januari 2015. Lantas, seperti apa sepak terjangnya?

Lurah Dewa Ayu beserta President JCI Bali saat menyerahkan bantuan kepada korban bencana kebakaran yang didampingin Kaling setempat

D

ewa Ayu, demikian perem­ puan kelahiran Gianyar 31 tahun silam itu akrab disapa adalah lurah termuda di Bali. Meski awalnya ia mengaku khawatir akan beberapa hal, seperti dianggap menggurui karena usianya lebih muda, seiring berjalannya waktu semua bisa diatasi. “Namun yang menjadi beban utama saya saat pertamakali menjabat adalah karena perbedaan beberapa peraturan antara di wilayah kerja saya

dulu (di Gianyar) dan Denpasar. Ada perbedaan PAD dan alokasi ke kelu­ rahan juga berbeda. Saya terbiasa di Gianyar dengan pola A dan di Denpasar dengan pola B,” ujarnya. Sebelumnya, Dewa Ayu yang alumni STPDN ini adalah Sekretaris Lurah di Ubud, Gianyar. Kemudian, tahun 2012 ia menjadi staf BPM Pemdes Denpasar, dan menjabat Lurah Kesiman tahun 2015.Sesuai dengan pendidikan kepamongprajaan yang ditempuhnya,

yang harus siap ditempatkan dimana saja, Dewa Ayu mulai menganalisis kelemahan dan kelebihan (analisis SWOT), serta mempelajari budaya daerah tugasnya. “Yang jelas, tentunya saya berusaha beradaptasi dengan budaya dan pola kerja masyarakat Kesiman,” tegasnya. Istri Ida Bagus Agung Gunarthawa ini sadar betul, ia tak bisa bekerja sen­ diri. Pendekatan dengan kepala lingkun­ gan dan klian lebih diintensifkan untuk mengetahui pola/karakter masyarakat wilayah yang dipimpinnya, sehingga bisa disesuaikan dengan tupoksi. Apalagi kelurahan adalah instansi paling bawah yang merupakan perpanjangan tangan pemerintah untuk berkomunikasi dengan masyarakat. “Para lurah lain juga sangat membantu, saya sering ber­ koordinasi dan berkomunikasi dengan mereka. Karena apapun program yang kami akan jalankan tidak bisa terlepas dari anggaran dan aturan,” jelasnya. Sebagai lurah muda yang energik, Dewa Ayu ingin mengubah pola-pola formal, terutama ketika harus bertemu dengan STT (Seka Teruna-Teruni). Sebelum masuk ke materi/tujuan utama pertemuan, ia kerap menyelipkan ice breaking untuk mencairkan suasana. Rupanya resep ini cukup manjur, karena dengan suasana akrab pesan akan lebih mudah sampai ke masyarakat. Dewa Ayu mengaku banyak belajar dari pengalamannya bergabung dalam organisai Junior Chamber International (JCI) Bali. Local General Legal Council yang bergabung sejak 2007 ini menga­ takan, di organisasi nonprofit ini banyak diikuti kaum perempuan, dan mereka woman on top. Di organisasi inilah ba­ nyak diajarkan pola-pola komunikasi yang baik. “Kami diajarkan bagaimana berkoordinasi dan berkomunikasi yang baik dengan orang lain, sehingga apa yang ingin disampaikan diterima benar oleh penerima dan tepat,” imbuhnya. Di JCI, Dewa Ayu mengambil

Individual Development. Di dalamnya, terselip pelatihan-pelatihan presenter, bisnis, international networking, dsb. Dua aktivitas (sebagai Lurah/PNS dan anggota JCI) inilah yang kini menjadi keseharian ibu dua anak ini. Dan ia mengaku dua aktivitasnya ini saling mendukung dan sangat memungkinkan untuk bersinergi. Sebagai lurah yang notabene men­ jadi pimpinan meski di lingkup wilayah paling kecil, memerlukan wawasan luas. Di JCI inilah Dewa Ayu mengaku banyak mendapat ilmu khususnya komunikasi. Sementara sebagai anggota JCI, ia bisa memanfaatkan link-nya ke pemerin­ tahan. “Memang seharusnya JCI berlink dengan pemerintah setempat. Karena kita negara republik yang tak bisa ber­ jalan sendiri. Apalagi Tujuan organisasi ini melakukan rekonstruksi/peruba­ han positif sebanyak mungkin yang bisa dilakukan. Salah satu contoh kegiatannya untuk UMKM dan wirausaha muda, JCI membuat semi­ nar bekerjasama dengan dinas terkait, men­ datangkan p a k a r­ nya,” tu­ tur

pemilik moto “Create Positive Change” ini. Bahkan belum lama ini, Dewa Ayu berinisiatif menggalang dana dari te­ man-teman di JCI yang memiliki rezeki lebih untuk turut membantu warganya (Kesiman) yang terkena musibah rumah kebakaran. “Selain, kelurahan kesiman juga memiliki anggaran untuk tanggap bencana,” ujarnya. Bantuan tersebut diserahkan langsung President JCI Bali Komang Adi Wisatya, kepada korban Nyoman Purna didampingi Kaling Ban­ jar Cerancam Nyoman Mandra. Meski belum genap 1 tahun sebagai lurah, beberapa perubahan sudah bisa dilihat. Terutamanya pada perwajahan Kantor Lurah Kesiman. “Saya memulai dengan membuat lingkungan kerja yang nyaman, sehingga kinerja staf dalam pelayanan publik menjadi maksimal dan berkualitas,” ucapnya. Selanjutnya, tentu saja masalah kebersihan yang selalu dikoordi­ nasikan dengan kaling dan klian. Dimulai dari penataan telajak­ an di Banjar Ujung, termasuk “memoles” lagi Sungai Bindu yang diakuinya memang sudah bagus. Demikian juga halnya di banjar-banjar lain yang memiliki, permasalahan berbedabeda. Seperti di Banjar Kebonkuri, yang le­ bih memprioritaskan pemantauan kepada penduduk pendatang untuk mengkon­ disikan tak terjadi masalah. –Inten Indrawati

I Dewa Ayu Istri Idayati

The Iron Lady Buku tentang The Iron Lady - MargarethTatcher memberi begitu banyak inspirasi tentang keteguhan hati seorang pemimpin wanita. Saya mengagumi sosok ini. Siapa menyangka putri seorang pemilik toko kelontong ini menjadi tokoh politik wanita berpengaruh di dunia dan menjadi perdana menteri wanita pertama di Inggris, yang kemudian menjabat selama lebih dari satu periode. Perjalanannya ke parlemen tidak mulus. Ia mendapat tantangan kuat dan kritik tajam dalam suatu pidato politik karena dianggap menjalankan pemerintahan semaunya sendiri dan membahayakan masa depan negara. Meski gagal menang mutlak di putaran pertama pada tahun 1989, MargarethTatcher tetap pada keteguhan hatinya untuk maju. Dalam kemenangan pemilihan di putaran kedua ia justru mendapat

challenge luar biasa dengan penurunan dukungan dari anggota kabinetnya sendiri. Encouraging spirits dan fight on spirit yang selalu terobsesi untuk menang melekat dalam dirinya. Hatinya begitu kuat, pendiriannya begitu kokoh sehingga membawa sosok Margareth Tatcher menjadi wani­ ta berpengaruh dunia dalam karier politik sebagai Perdana Menteri Inggris dari tahun 1979 sampai dengan 1990. You Are What You Choose Menjalani hidup sebagai wanita dengan aktivitas bisnis menuntut mereka untuk berpikir lebih realistis. Mau tidak mau, pengetahuan yang akurat dan kemampuan analisa menjadi elemen yang sangat penting. Seperti grafik reve­ nue performance, kemampuan dan kesigapan wanita juga bisa mengalami penurunan. Pada saat saya mengikuti diskusi eksekutif muda beberapa

ikuti pendapat orang lain, tidak berani mengambil keputusan apalagi potensi risiko yang akan ada. Passanger’s behavior melumpuhkan kemampuan analisa seseorang dan ketika kita menilai dengan objektif, mereka cenderung hanya akan menjadi beban bagi orang lain. Bagaimana hubungannya dengan perubahan atau chal­ lenge yang mereka alami? Wanita bisnis meyakini; There is nothing permanent, except change. Berubahlah sebelum keadaan memaksa untuk berubah. Change before you have to. Elemen paling fundamental yang menentukan cara mereka merespons perubahan adalah cara berpikir dan nilai yang diyakini. Wanita bisnis yang lebih skeptical barangkali akan memerlukan waktu yang lebih lama untuk mempertimbangkan sesuatu dengan lebih detil sebelum mengambil keputusan atas perubahan yang ada. Saya teringat dengan salah satu pelanggan dari busi­ ness channel MNC (Multi Na­ tional Company) di Jakarta yang lebih memilih mencari second opini­o n dari orang lain sebelum akhirnya membuat keputusan besar. Orang lain yang dimaksud adalah orang yang sangat ia percaya mampu memberi pendapat dengan terbuka dan objek-

tif. Kepercayaan yang ia yakini bersumber dari dua sisi, yaitu intellectual trust maupun emotional trust. Saya lebih singkat menyebutnya sebagai coach. Bisa sebagai career/business coach atau bisa juga life coach. Coach dapat sangat efektif memberi pendapat dengan lebih realistis dari sudut pandang intelektual dan lebih memb e r i d o ro n ga n s e m a n ga t yang kuat (encouraging) dari sudut pandang emosional. Analisa yang mere­ka lakukan bersama seorang coach akan memberi kekuatan luar biasa untuk mengambil keputusan sehingga mereka lebih meyakini keputusan itu untuk dijalankan dalam jangka panjang. Respons terhadap perubahan ataupun challenge yang mereka alami bisa bermuara pada emotional/irrational de­ cision atau rational decision. Tidak ada yang keliru, asalkan keputusan yang diambil dapat benar-benar menguatkan, memberi semangat baru, memberi kemampuan untuk cepat beradaptasi terhadap challenge yang ada, serta memberi dorongan luar biasa untuk melanjutkan tongkat estafet wanita dalam bisnis. You know where you are, you know exactly where you want to be and you know how to get there.

19

Edisi 870/ 12 - 18 oktober 2015

Modal Besar Untung Besar Dokumentasi foto menjadi salah satu kebutuhan yang dianggap penting bagi sebagian besar masyarakat kita. Mulai dari kebutuhan untuk potret identitas diri, hingga dokumentasi dalam mengabadikan momentum penting, seperti resepsi pernikahan, acara ulang tahun hingga foto untuk Buku Tahunan Sekolah (BTS).

H

al ini yang mengin­ spirasi Dimas AP Wardhana untuk menggeluti dunia fotografi. Pemuda jebolan Universi­ tas Pasundan Bandung ini terbilang nekad membangun bisnis studio foto. Dengan modal ilmu yang

dipelajarinya semasa kuliah dan kamera yang ia miliki, didirikannya Segi4 Creative. Studio foto yang kini khusus mengerjakan pembuatan Buku Tahunan Sekolah. Ia berkisah, awalnya memang tak semulus apa yang diharapkan. Stu­ dio foto yang baru berdiri tersebut

Salah satu contoh buku kenangan

Encouraging Spirits waktu lalu, seorang kawan CEO bertanya kepada saya, “Ketika wanita bisnis berada pada fase yang tidak menentu atau chaos, apa yang mereka lakukan? ”Diskusi ini menggiring topik baru yaitu pro­ fessional behavior. Apakah mereka lebih bisa menangkap peluang-peluang baru dengan menerapkan Driver’s Behav­ ior atau terperangkap dalam ketidaktahuan sempurna dalam Passanger’s Behavior. Mereka yang memilih untuk menerapkan Driver’s Behavior cenderung memegang kendali (drive), mengambil keputusan cepat untuk merubah kondisi diri sendiri dan keadaan di sekitar. Mereka memiliki daya kreativitas yang tinggi, sangat disiplin dan lebih berani melangkah. Meskipun mendapat banyak feedback dari orangorang sekitar, namun keputusan tetap diambil sendiri dengan berani mempertimbangkan potensi risiko yang akan ada. Making own decision and taking own risk. Passanger’s Behavior melahirkan pemikiran yang tidak perlu tahu arah dan tujuan. Mereka dengan mudah meng­

Mozaik

tentu saja masih belum mendapat­ kan pelanggan. Apalagi modal yang ia miliki hanya skill dan kamera seadanya. “Saya mulai menawarkan jasa kepada teman dan kenalan. Apa saja saya kerjakan saat itu. Mulai dari foto untuk dokumentasi ulang tahun hingga dokumentasi pernikahan,” keluhnya. Selang sekitar 1 tahun berdiri, ia terinspirasi oleh salah satu temannya semasa kuliah untuk bergerak di bidang pembuatan BTS. Sejak saat itu ia mulai fokus mempelajari bisnis Buku Tahunan Sekolah atau yang biasa disebut buku kenangan atau album kenangan. Kemudian diputus­ kannya untuk menambah modal dan alat. Ia mendapat pinjaman modal usaha Rp 60 juta dari bank. “Pinjaman itu saya gunakan untuk melengkapi alat-alat fotografi studio. Seperti menambah kamera dan lensa high end hingga lampulampu studio yang mumpuni. Sisanya untuk mengontrak tempat dan uang untuk cetak,” urainya. Selain percetakan, persiapan un­ tuk pengerjaan BTS tersebut adalah dengan membentuk tim. Setidaknya dibutuhkan 4 orang untuk proses awal hingga akhir. Diantaranya yaitu 2 fotografer, 1 desainer/layouter dan 1 marketing. Langkah berikutnya yaitu mulai membuat proposal dan menawar­ kannya ke sekolah-sekolah. Dalam menetapkan harga, ia berpatokan

Bantal dengan Quote Persaingan kerja makin ketat. Hal tersebut sempat dirasakan Adi Wibowo. Setelah lulus kuliah dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa), lelaki ini masih berharap panggilan dari perusahaan yang dilamarnya. Sambil menunggu panggilan, Adi, yang akrab disapa Menk, tak berpangku tangan. Ia pun memutar otak, bagaimana caranya tidak menganggur. Akh­ irnya, diputuskan untuk memban­ gun usaha sendiri. Berangkat dari ilmu typografi yang dipelajarinya sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), Adi Wibowo, mencoba bangkit dengan membuat ban­ tal dengan typografi yang diberi nama brand Art Pillow. Bantal dijual dengan karakter dan kata-kata atau quote yang se­ suai keinginan konsumen. ”Biasan­ ya pembeli memesan bantal se­ bagai hadiah. Dengan melayani keinginan tentang bagaimana bentuk dan isi quote pada bantal, sehing­ ga konsumen puas,” kata Adi Wibowo. Bahan baku yang digunakan kain katun dan satin. Untuk harga, Menk, mematok per bantal yang berbahan katun Rp 55.000-Rp 75.000 bergantung Adi Wibowo

6

banyak hurufnya. Sedangkan yang berbahan satin cukup menambah Rp 5.000. Bantal Art Pillow ini berukuran 40x40 cm. Dalam seminggu, pesanan bisa mencapai sepuluh buah. Pemasaran produk Art Pillow dominan lewat me­ dia sosial. Misalnya, insta­

gram. Alasannya, karena lebih efektif dan ekonomis bila diband­ ingkan dengan cara lain. Dalam menjalankan usahanya, Menk, men­ emukan tingkat kesulitan yang dihadapi. Misalnya, tulisan dalam quote ter­ lalu panjang, serta kesala­

han saat penyablonan. “Hambatan yang saya rasakan saat konsumen menginginkan quote yang pan­ jang sedangkan media menggu­ nakan bantal tidak terlalu besar. Art Pillow masih menggunakan sablon manu­ al dan belum menggunakan mesin cetak. Sehingga menjadi be­ ban ketika pesanan membludak,” ujar pria tampan ini. Ia mengaku ingin mengem­ bangkan keahlian di bidang sablon dan grafisnya hingga besar. Selain bantal, lelaki 22 tahun ini juga menggarap kaos dengan pesanan quote dari pembeli serta kerajinan tangan lain­ nya agar lebih melengkapi usahanya. Membuat bisnis sendiri tak mudah seperti yang kita bayangkan. Jatuh bangun sudah hal biasa. “Terka­ dang konsep sudah di kepala, tetapi realisasinya sulit. Karena itu, ketika usaha tidak berhasil se­ baiknya jangan putus asa dan mencoba usaha baru dengan tetap mengevaluasi kegagalan sebelumnya,” aku lelaki ini

Media kreatif buku tahunan sekolah

pada harga pasaran di wilayah tersebut. Mulai dari Rp 85.000 hingga Rp 240.000 per buku. Ben­ tuk dan spesifikasi buku tersebut ia buat bermacam-macam. Mulai dari ukuran 21x28 cm, 24x24 cm, 24x34 cm spesifikasi bahan art paper, matt paper, ivory 150 gr. Bentuk dan bahan untuk cover pun bermacam-macam. Finishing bisa dengan bending ataupun spi­ ral. “Yang unik, untuk design cover sangat artistik, mulai dari konsep futuristik, vintage, tradisional hingga

komik manga yang notabene sangat jarang diaplikasikan dalam buku untuk tema sekolah,” kata pria 26 tahun ini. Kini Segi4 Creative sudah memi­ liki banyak pelanggan sekolah-seko­ lah di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Bahkan kini ia sudah mendirikan 2 studio foto yang berada di Pono­ rogo dan Yogyakarta. Timnya pun hingga saat ini berjumlah 20 orang yang terbagi di 2 kota tersebut. “Bisnis ini memang membutuhkan modal besar. Namun hasilnya pun juga besar. Rata-rata saya menda­ patkan laba bersih sekitar Rp 150 juta tiap tahun,” pungkasnya. -Dinar P. Perdana

sambil menjelaskan Art Pillow bukan usahanya yang perta­ ma. Sebab, saat masih aktif kuliah di jurusan Desain Grafis, Unesa, ia sempat menekuni bisnis kuliner. -Mega Purwaningrum


18

Kreasi

Edisi 870/ 12 - 18 Oktober 2015

Antonius Kho Bawa “Sweet Memories” ke Shanghai Event “Maritime Silk Road International Art Festival 2015” dilaksanakan di Shanghai, Tiongkok, untuk pertama kalinya, 15-19 Oktober 2015. Event ini diikuti perupa-perupa dari 50 negara, diantaranya tuan rumah Tiongkok, Filipina, Maylasia, Myanmar, Indonesia, Singapura, Thailand, Kenya, dan Tanzania. Tiap negara hanya mengirim 1 perupa.

Antonius Kho

A

ntonius Kho menjadi wakil Indonesia di ajang ini. “Karya-karya yang saya tampilkan di event ini adalah karya lukisan saya yang terbaru, tahun 2015,” ujar pelukis kelahiran Klaten, Jawa Tengah tahun

1958 ini. Antonius mulai belajar melu kis dibawah asuhan pelukis Barli tahun 1977. Selanjutnya tahun 1981 masuk Akademi Seni di Bandung dan tahun 1985 masuk Akademi Seni di Cologne, Jerman. Tahun 1998 ia meraih 1st Prize “Mask in Venice”, Art Addiction Annual di Venezia. Sebelumnya, tahun 1989 ia juga meraih 1st Prize “Malen auf Liegestuehlen”, Olivandenhof, Cologne, Jerman. Tahun 2004 ia mendirikan Wina

Gallery, Ubud. “Maritime Silk Road International Art Festival 2015” menghadirkan lebih dari 100 karya seni kontemporer. Event ini disertai dengan beberapa kegiatan-kegiatan seni yang lainnya, selain pameran, seperti art performanca, workshop, art fashion show & cultural gourmet. “Ada juga dialog di ruang pameran, di Sinan Mansions Building, La Bibliotheque Du Temps, sebuah landmark budaya dan sejarah Shanghai. Sebagian dari bangunan tersebut adalah warisan budaya negara. 500 tahun seni dan budaya akan berkomunikasi dengan 100 tahun arsitektur,” ujar Antonius. –Ngurah Budi

Kecepatan Wesel = ATM Era teknologi informasi semakin canggih tapi layanan PT Pos Indonesia tetap eksis bahkan terus berkembang. Salah satu yang menjadi unggulan adalah pengiriman surat dan paket yang ternyata tidak mengalami penurunan sekalipun persaingan di bidang ini cukup ketat lantaran banyak bisnis serupa bermunculan. “Kami tetap menggunakan jasa PT Pos untuk pengiriman surat-surat berharga seperti dokumen dan lain. Memang ada jasa kurir lainnya, tapi karena sejak dulu menggunakan layanan PT Pos, ya tetap bertahan sampai sekarang. Apalagi layanannya terus membaik,” ungkap Edward Welly, manajer Mall of Serang. Hal senada juga diungkap Magdalena dalam pengiriman dokumen pensiun. “Saya sudah terbiasa mengirim dokumen lewat kantor pos. Cepat dan tidak pernah bermasalah. Selain dokumen pensiun, saya juga melakukan pengiriman paket lewat jasa pos ke daerah. Sebenarnya di dekat rumah ada kantor layanan kurir yang lain, tapi karena sudah terbiasa, jadi meski agak jauh dari rumah, saya tetap datang ke sini,” kata wanita yang tengah mengurus dokumen pensiun almarhum suaminya, di Kantor Pos Jakarta Utara. Layanan yang juga tetap bertahan dan masih banyak diminati adalah pengiriman uang lewat wesel. Ketika sekarang ini ATM berbagai bank bertebaran di Jakarta, namun sebagian warga di Jakarta ternyata

masih menggunakan layanan wesel dari PT Pos Indonesia untuk mengirimkan uang ke kampung halamannya.Hal ini lantaran PT Pos memiliki jaringan perposan yang luas dan menjangkau hingga ke pelosok daerah di Indonesia. Tika, misalnya, seorang pembantu rumah tangga di kawasan Dewi Sartika Jakarta Timur, masih menggunakan wesel untuk mengirimkan uang ke kampung halamannya di Cianjur, Jawa Barat. Menurutnya, pilihan menggunakan wesel diambil karena itu yang paling memungkinkan untuk digunakan karena kampungnya cukup jauh dari kota. “Dulu, saya sempat ingin membuka rekening di bank di Jakarta tapi ditolak karena KTP saya adalah KTP daerah. Maksud saya, kalau punya rekening bank, kan, bisa punya ATM untuk transfer uang. Lalu saya coba mengurus di daerah saya, tapi ternyata berbelat-belit, ada banyak syaratnya. Saya malas bolak-balik karena kampung saya jauh. Makanya saya tetap menggunakan layanan wesel. Sekarang layanan wesel sudah bagus kok, cepat sampai sama dengan ATM bank. Tidak menunggu berhari-hari, uang yang kita kirim sampai pada hari itu juga. Makanya saya tidak terpikir lagi untuk membuka rekening di bank,” kata Ika, begitu panggilan wanita 30 tahun ini. –Diana Runtu

Life

Story

Edisi 870/ 12 - 18 Oktober 2015

7

“Anak Emas” yang Habiskan Kekayaan Keluarga Rambut dan kumisnya sudah memutih. Brewoknya pun mulai tampak berwarna putih tanda lelaki bernama Turman itu usianya telah menua. Gaya bicaranya tidak pernah berubah sejak ia masih muda hingga saat ini. “Gaya bicaranya cenderung meninggikan diri,” kata Rudi, salah seorang tetangganya yang tinggal tidak jauh dari rumah orang tua Turman.

Lukisan “Sweet Memories” karya Antonius Kho

Garapan AKARI di Ajang NDF

Pentaskan Sajian Tari Inovatif “Patayana”

tkh/edi

Komunitas yang tergabung dalam Asosiasi Karnaval Indonesia (AKARI) Bali turut serta menyemarakan agenda Nusa Dua Fiesta (NDF) 2015, Jumat (9/10) malam. Setelah pembukaan berlangsung, sebuah pementasan seni kolosal berjudul “Patayana” disuguhkan dalam agenda pembukaan NDF 2015. AKARI yang menampilkan para kreator seni di bawah asuhan Kelompok Pancer Langit, didukung iringan musik Baba Suara dan kelompok Musik Palawara dengan koreografer Agung Giri Putra dan Putu Anggradana. Penampilan mereka, sangat memukau penonton di panggung terbuka Peninsula Nusa Dua. Dukungan iringan musik kolaborasi antara musik modern dan gamelan Bali, sukses membawakan sebuah garapan seni inovatif yang tetap dilatarbelakangi tradisi. Pentas ini melibatkan 27 penari, 18 penabuh dan vokal, dengan durasi 50 menit. Menurut art director pementasan Anak Agung Gede Rahma Putra atau

akrab disapa Gung Rahma, garapan ini dipersiapkan khusus untuk agenda NDF 2015. “Kami baru pertama kali ikut terlibat dalam agenda NDF. Kami persembahkan pementasan tari inovatif berjudul Patayana, sebuah ide garapan yang diambil dari cerita Ramayana,” ucap Gung Rahma. Dijelaskannya, konsep pementasan menggunakan kostum besar dengan memadukan unsur fashion, jadi koreografi ini mencoba mengemas konsep dari kostum yang disajikan. Sementara dukungan iringan musik yang mengabungkan Bali dan Barat melibatkan pegiat musik andal Ari Wijaya dari Palawara, ada gamelan, keyboard dan sebagainya. Cerita yang disajikan diambil dari cerita besar Ramayana, tatkala Sri Rama dibuang ke hutan, Rama bersama Laksaman saat pengasingan, hingga Rama melakukan peperangan menghadapi Rahwana, dan dimenangkan oleh Rama. Akhirnya, Rama pun berhasil mendapatkan kembali Dewi Sita. –Wirati Astiti

tkh/edi

R

udi sangat mengenal Turman sejak remaja. Ia tahu benar bahwa keluarganya cukup berada di Lombok Tengah. Karena itulah, di saat orang masih susah untuk bisa bersekolah, Turman malah telah keluar Lombok untuk menempuh pendidikan S1-nya. “Orangtuanya mengirim dia kuliah di universitas ternama di Jakarta,” kata Rudi. Waktu itu, jangankan berpikir sekolah, bisa makan sehari-hari saja orang masih mikir harus mencari ke mana. Tapi tidak dengan Turman. Menurut Rudi, ia menjadi satu dari sedikit anak-anak di masanya yang dapat melenggang dengan mudah untuk bisa bersekolah ke jenjang tinggi seperti itu. Sebagai anak sulung dari tujuh bersaudara, Turman tampaknya menjadi anak emas bagi ayah dan ibunya. Segala kemauannya sejak kecil selalu dituruti. Orangtuanya lebih banyak berkorban untuknya ketimbang saudara-saudaranya yang lain sehingga ada beberapa saudaranya yang tidak “kebagian jatah” sekolah karena harta kekayaan orangtuanya banyak dihabiskan untuk membiayainya sekolah. Padahal pada Turmanlah harapan besar untuk membawa keluarga ini pada meningkatnya status intelektual (kalau perlu yang pertama di desanya) disandarkan. Bertahun-tahun Turman tinggal di ibukota negara itu, kuliahnya tidak rampung-rampung. Tanah dan sawah orangtuanya terus menipis karena habis dijual demi membiayai kuliah Turman. Selalu ada alasan yang disampaikan Turman kepada orangtuanya mengapa kuliahnya belum juga rampung. Sebagai orang desa yang juga tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi, ayah dan ibu Turman manggut-manggut saja tiap kali mendengar penjelasan Turman saat pulang liburan ke Lombok. “Sampai tahun ke tujuh, Turman belum juga membawa gelar sarjana untuk orangtua dan keluarganya,” kata Rudi. Hingga pada suatu hari, setelah delapan tahun berlalu, Turman yang tergolong anak pintar karena ia bisa diterima di universitas negeri ternama itu, pulang ke Lombok dengan sangat mengejutkan. Ia tidak membawa toga dan gelar sarjana melainkan ia pulang membawa seorang anak yang diakuinya anaknya. “Betapa terkejutnya ayah dan ibu Turman dan kejadian itu sempat menggegerkan kampung,” kata Rudi yang usianya 7 tahun lebih tua dari Turman. Dengan menggendong anak usia tiga tahun, Turman akhirnya mengaku kepada orangtuanya bahwa ia telah menikah dan anak tersebut anaknya.

Turman juga mengaku bahwa ia gagal meraih gelar sarjana dan ia telah dikeluarkan dari kampusnya alias DO (drop out). Waktu tempuh kuliahnya telah terlalu panjang dan ia pernah bermasalah di kampus bergengsi itu. “Turman rupanya tidak pernah kuliah sungguh-sungguh,” kata Rudi yang masih memiliki hubungan keluarga dengan Turman ini. TERJERAT NARKOBA Harta warisan yang seharusnya menjadi hak bagi adik-adiknya telah habis untuk membiayai kuliah Turman. Sebidang tanah terakhir pun akhirnya dijual demi Turman menjemput istrinya. Ia memang sengaja tidak langsung membawa istrinya karena terselip juga rasa takut kepada orangtuanya. Namun, melihat orangtuanya menerima dengan anak yang dibawa, ia pun menjemput istrinya. Tinggallah mereka bersama orangtua dan saudara-saudara Turman. Entah apa yang terjadi, meski Turman telah sangat mengecewakan orangtua dan keluarga, tapi ia tetap jadi “bintang” dalam keluarganya. Apapun keinginan Turman masih selalu saja dituruti oleh orangtuanya. Bahkan sisa-sisa tanah dan sawah yang tidak banyak lagi, terus habis terjual demi Turman. Hingga akhirnya Turman bekerja dan diterima pada posisi penting di sebuah perusahaan swasta di Mataram. Turman beroleh penghasilan yang lumayan dan akses yang baik. Dengan gaya hidup yang tinggi Turman cocok dengan pekerjaan ini. Namun sayangnya Turman kembali membuat masalah bagi keluarganya. Ia banyak menghabiskan waktu ke Senggigi untuk berfoya-foya dan berhura-hura. Sampai akhirnya Turman terjerat narkoba. Sejak mengenal barang terlarang ini, hidup Turman mulai hancur-hancuran. Ia dipecat dari pekerjaannya, dan terus terjerat narkoba. “Sampai akhirnya istrinya minta cerai,” kata Rudi. Turman makin jauh masuk dalam jerat narkoba. Sebagai anak emas, orangtuanya berusaha sekuat tenaga mengembalikan Turman hingga ia bisa berhenti dari jerat narkoba. “Meski tidak bisa berhenti total, tapi lumayan Turman akhirnya sadar dan kondisinya membaik,” kata Rudi. Hal itu juga karena Turman tidak lagi memiliki penghasilan dan orangtuanya tidak lagi sekaya dulu. Turman sempat berada dalam kondisi depresi akibat ditinggal istri dan dua anaknya yang kembali ke kampung halamannya di Pulau Jawa. Sejak itu Turman jarang keluar rumah. Kondisinya makin membaik dan ia menjalin hubungan dengan gadis di

kampungnya. Turman yang tampan memang tidak sulit untuk membuat seorang wanita jatuh hati padanya. Hingga akhirnya ia menikah dengan gadis desa ini dan memulai hidup yang baru. Turman mulai terlihat bekerja meskipun kerja serabutan. Ia tampak mulai sadar. “Tapi gaya bicaranya yang tinggi itu saja yang tidak berubah darinya,” kata Rudi. Mereka kini memiliki tiga orang anak yang telah dewasa namun Turman masih saja menyimpan memori “kejayaan” dalam dirinya. Rudi melihat bahwa istrinya yang seorang perempuan penyabar itu

tengah berusaha untuk membuat a g a r Tu rman mampu mengendalikan dirinya untuk tidak selalu menganggap dirinya berjaya dalam situasi kehidupan mereka kini yang penuh tekanan ekonomi. Sebagai keluarga, Rudi juga berharap agar Turman tidak

mengulangi kesalahan-kesalahan di masa lalunya dengan memelihara kehidupan yang baik bersama istri dan anak-anaknya. -Naniek I. Taufan


8

Bunda & Ananda

Edisi 870/ 12 - 18 OKTOBER 2015

Maksimalkan Kecerdasan Kinestetik Anak

Bagi anak-anak yang tidak bisa diam, senang bermain, senang berolahraga, sebaiknya perlu mendapat perhatian orangtua. Keaktifan anakanak itu bisa jadi merupakan potensi mereka yang bisa dikembangkan. Salah satunya menjadi atlet.

“A

nak saya suka main sepak bola. Halaman rumah sudah seperti lapangan sepak bola karena sering dipakai bermain. Tetapi, di satu sisi, dia juga suka menari. Saya ingin dia berkembang di kedua bidang ini, tetapi rasanya sulit,” ungkap Bu Sastra tentang anak bungsunya yang duduk di kelas 3 SD. Ia menuturkan pengalaman anak sulungnya yang bisa masuk SMP negeri favorit karena punya prestasi di bidang seni. Hal yang sama ingin diterapkan di anak bungsunya. “Kalau menjadi atlet, banyak saingan. Kalau menjadi penari, sepertinya peluang lebih besar, apalagi penari cowok itu jarang,” ujarnya. Namun, Bu Sastra tak mau memaksakan kehendaknya. Ia hanya memberi gambaran tentang dampak dari bidang yang ditekuni termasuk berkaitan dengan jenjang sekolah berikutnya. Pengalaman dalam memberikan arahan kepada anak juga dialami Bu Jona yang anaknya suka bermain basket. “Saya berikan anak saya kebebasan untuk memilih ekstra kurikulernya, ternyata dia memilih basket. Karena itu sudah hobinya, kami sebagai orangtua hanya mendukung,” kata ibu dua putra ini. Soal prestasi, menurutnya itu urusan nanti. Yang penting, anaknya memiliki bakat yang tersalurkan.

Made Rai Mariantini

“Kecerdasan kinestetik adalah kecerdasan yang berkaitan dengan olah tubuh atau olah otot dan motorik kasar, misalnya lari, lompat, lempar. Kecerdasan ini bisa berasal dari keturunan (genetik) dan ada juga yang distimulus lingkungan. Porsinya tergantung mana yang lebih besar yang dikembangkan,” ujar Made Rai Mariantini, S.Psi, psikolog dari Biro Konsultas dan Layanan Psikologi Wira Kasih Dharma. Ia mencontohkan, seorang anak yang orangtuanya penari akan lebih mudah untuk diajarkan menari. Namun, kadang perlu latihan intensif agar si anak bisa memaksimalkan gerakannya. Ada juga anak yang bukan dari keturunan penari, tetapi

karena sering memperhatikan orang menari dan ia memiliki ketertarikan untuk menari, kecerdasan kinestetiknya pun berkembang. Untuk mengetahui seberapa besar tingkat kecerdasan ini, bisa diketahui melalui tes persepsi visual motorik. Untuk anak-anak sampai usia 6 tahun tesnya disebut frosting sedangkan untuk dewasa hingga usia 70 tahunan tesnya bender gestal. Hasil tes ini bisa digunakan untuk menentukan bidang apa yang cocok untuk anak. “Anak yang down syndrome bisa memiliki kecerdasan kinestetik yang bagus,” imbuh alumnus S1 dan Profesi Psikologi Universitas Surabaya ini. Rai menambahkan untuk memaksimalkan potensi anak di bidang olahraga maupun seni tidak cukup hanya dengan bakat saja. Perlu asupan gizi yang seimbang juga agar anak yang banyak bergerak mendapatkan energy yang sesuai. Bagi orangtua, berikan stimulus yang baik dan benar kepada anak. Jika sudah mengetahui kemampuan anak kemudian ingin memaksimalkan kemampuan tersebut, bisa ditunjang dengan les atau kursus. Atau, bisa juga mengarahkan anak

Sudah 19 tahun PT. XL Axiata Tbk (XL) melayani dan menemani pelanggan dalam dunia telekomunikasi selular. Dalam 19 tahun ini XL terus berkomitmen untuk memberikan inovasi yang terbaik untuk pelanggan, tidak sekedar layanan yang akan memenuhi kebutuhan pelanggan tetapi juga menjamin kenyamanan dan memberikan pengalaman-pengalaman baru bagi pelanggan dalam dunia telekomunikasi. Perayaan ulang tahun XL ke-19 ini dirayakan bersama Menkominfo Rudiantara dan seluruh karyawan XL East Region di XL Center Pemuda Surabaya, Kamis (8/10). Rudiantara berharap di usia yang ke-19 tahun, XL yang telah meluncurkan secara komersial 4G LTE di 1800 MHz. bisa memberikan kontribusi dan pelayanan yang terbaik untuk pelanggannya. Vice President XL East Region Desy Sari Dewi mengatakan, suatu kehormatan dan kebahagiaan bisa merayakan ulang tahun bersama Menkominfo, Ia juga menjelaskan tentang XL yang kali ini mengusung spirit “Cuma Sama XL”, XL mempersembahkan promo diskon 19% untuk pembelian paket data XL di seluruh XL Center East Region, yang meliputi Jawa Timur, Bali, dan NTB. Saat ini XL telah melayani lebih dari 46 juta pelanggan dan masyarakat Indonesia di 33 propinsi, 498 kabupaten, dan 3.785 kecamatan. Untuk jangkauan layanan, XL saat ini telah mencapai lebih dari 90% populasi nasional, termasuk meliputi wilayah perbatasan dengan negara lain, di antaranya Sabang, Natuna, Simeulue, Entikong, Nunukan, Pulau Sebatik, Biak, dan Merauke. –Ngurah Budi

Anak-anak berolahraga

sekolah di sekolah khusus olahraga maupun sekolah khusus seni. “Bagi atlet, ada sekolah Ragunan di Jakarta. Sekolah ini selain memberikan peluang kepada anak untuk memaksimalkan kemampuannya, di sisi lain juga memberikan pendidikan akademik agar anak tidak ketinggalan,” ujar anggota Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) wilayah Bali ini. Ia juga mencontokan jika anak laki-laki suka bermain sepak bola, bisa diarahkan untuk masuk sekolah sepak bola (SSB). Hal ini akan membuat bakat anak tersalurkan. Tetapi, Rai melihat dari pengalaman para atlet, ternyata tidak semuanya bisa hidup sejahtera

sampai tua. Hal inilah yang mungkin membuat orang untuk berpikir untuk menjadikan olahraga sebagai jalan hidup. Solusinya adalah memiliki kecerdasan lain selain kecerdasan kinestetik. “Guru-guru juga perlu untuk mengetahui kecerdasan kinestetik ini agar bisa membantu mengarahkan siswanya mau ikut ekstra kurikuler apa. Tes yang dilakukan sifatnya perorangan dan tidak perlu menyontek karena masingmasing orang memiliki bakat yang berbeda,” ujar istri I Wayan Wikarmadana dan ibu dari Putu Pradnyanyi Wira Putri serta Made Dharmawa Wira Putra ini. -Ngurah Budi

lomba mendongeng

Made Taro

Keeksotikan Pintu Gebyok Bali

Edisi 870/ 12 - 18 OKTOBER 2015

Pintu gebyok, memang memiliki daya tarik tersendiri. Pintu berukir yang merupakan karya agung warisan nenek moyang ini seolah tak lekang digilas zaman. Bahkan di zaman modern dengan tren minimalis, pintu bergaya klasik ini masih menjadi pilihan sebagian orang.

Mendongeng Lima Menit

“Cuma Sama XL”

Griya

Di kerajaan Kediri ada seorang pendongeng bernama Bulbul. Ia dijuluki Bulbul karena bisa bercerita apa saja, seperti burung bulbul yang bernyanyi sepanjang hari. Bulbul mengakhiri dongengnya kalau pendengar menyatakan berhenti atau

menuduhnya bohong. Ketenaran pendongeng itu lama-kelamaan terdengar oleh Raja. Beliau ingin sekali menyaksikan kemahiran Bulbul bercerita. Maka beliau menantang pelipur lara itu untuk lomba mendongeng di istana. Pemenangnya berhak mendapat hadiah yang diinginkan. “Kalau kau pemenangnya, hadiah apa yang kau inginkan?” tanya Raja kepada Bulbul di depan banyak penonton. Bulbul sangat tertarik kepada pakaian gemerlapan raja beserta mahkotanya. Lalu katanya, “Hamba menginginkan busana Tuanku termasuk mahkotanya. Lalu, kalau Tuanku yang menjadi pemenangnya, hadiah apa yang Tuanku inginkan dari hamba?” “Aku ingin kau menjadi pelayanku di istana.” Kedua pendongeng itu sepakat mengenai peraturan lomba, yakni pendongeng harus menceritakan pengalaman masing-masing. Pendongeng yang kalah adalah pendongeng yang bereaksi ketika mendengarkan dongeng lawan. Berdasarkan undian, Bulbullah yang memulai

mendongeng. “Pada suatu malam …,” katanya, “Aku mendengar suara gaduh di desaku. Orang-orang berteriak ketakutan dan berlari tunggang-langgang. Ternyata seekor harimau masuk desa. Harimau itu adalah musuh bebuyutan desa, karena sudah banyak makan korban. Ketika hewan garang itu menyergapku, aku buka mulutnya lebar-lebar, lalu aku masuk ke dalam perutnya. Dari dalam ruang yang gelap itulah aku berhasil merobek perutnya dengan pisau belati. Harimau itu mengaduh kesakitan, lalu mati. Ketika aku keluar dari perutnya yang robek, kudapati penduduk desa bersorak gemuruh. Mereka menyambut dan memberiku gelar kehormatan sebagai pahlawan penyelamat desa.” Penonton berbisik sambil cengar-cengir, tetapi Raja diam saja. Selanjutnya adalah giliran Raja. “Pada suatu hari …,” demikian Raja memulai dongengnya. “Seorang pelayanku minggat. Pelayan itu mencuri sebuah kalung berlian warisan almarhum ayahku. Siang-malam aku mencarinya ke seluruh kerajaan, namun tak berhasil. Nah, sekarang pelayan yang mencuri itu telah kutangkap. Ia adalah pendongeng terkenal bernama Bulbul.” Bulbul yang tengah asyik mendengarkan cerita Raja tiba-tiba bangkit, lalu berteriak, “Aku bukan pelayan, aku bukan pencuri!” Penonton yang sangat tertarik dengan dongengan sang Raja lalu berteriak, “Bulbul kalah! Bulbul kalah!” “Aku tahu kau bukan pelayan dan bukan pencuri,” kata Raja. “Walaupun kalah, kau tidak akan kujadikan pelayanku. Kembalilah ke desamu, teruslah mendongeng, tetapi jangan mendongengkan riwayat yang bohong.”

R

umah dengan pintu gebyok yang umumnya terbuat dari kayu jati terkesan kokoh dan memiliki prestise tersendiri. Keeksotikan pintu gebyok memang tiada duanya. Pintu gebyok yang umumnya berasal dari Jepara (dengan ukiran Jepara), belakangan hadir dengan ukiran Bali yang dikerjakan seniman ukir Bali. Salah satu pengerajin pintu gebyok Bali dapat kita temui di Jalan Raya Margarana, Belayu, Tabanan. Made Girati (54) yang turut membantu proses pengamplasan finishing pintupintu gebyok dan jenis ukiran

lainnya di UD. Wiran Ukir ini mengatakan usaha yang kini dijalankan putranya itu sudah berlangsung sejak tahun 1984. Karena itu, ia tahu betul proses pengerjaan sebuah pintu ukir Bali dari awal sampai siap jual. “Mulai dari kayu dibuatkan pola, digambar kemudian diukir. Lalu diamplas mesin dan amplas tangan, diimpra, amplas lagi, kemudian dirakit, dan selanjutnya siap dijual,” tuturnya. Pintu gebyok Bali yang ratarata berukuran 2 meter x 2 meter ini dikatakannya dihargai Rp 14 juta. Sementara untuk pintu ukir Bali yang lubang daun pintunya berukuran 60 cm, ditawarkan

Keeksotikan pintu gebyok

Rp 5,5 juta, dan jika mau lengkap dengan jendela kiri-kanannya, RP 6,5 juta. Pada pintu-pintu ukir ini pun ada yang disebut minimalis. “Pintu yang ukirannya sedikit, kami sebut minimalis, harganya sedikit lebih murah dari yang penuh ukiran,” jelasnya. Pilihan motif ukirannya pun bermacam-macam, dari motif pepatran sampai pewayangan, sesuai pesanan konsumen. Khusus untuk pintu gebyok Bali, perempuan asal Batannyuh, Belayu ini mengatakan hanya membuat sesuai pesanan saja. Namun ia mengakui, belakangan ini banyak yang berminat dengan pintu gebyok Bali. –Inten Indrawati

Made Girati

17


16

Edukasi

Edisi 870/ 12 - 18 oktober 2015

SLB/B Negeri Tabanan

Melengkapi Kekurangan dengan Kelebihan Siang itu tampak beberapa anak kelas 6 SD memasuki ruang Speech Therapy. Sejurus kemudian dua orang guru memasuki ruangan tersebut. Sang guru menanyakan salah seorang murid yang tak hadir saat itu. Mereka tampak sibuk berkomunikasi sesama temannya dengan bahasa isyarat.

G

uru itu meminta mereka menyampaikannya dengan berbicara, bukan dengan bahasa isyarat. Meski terlihat agak susah mengeluarkan kata-kata, paling tidak ada ucapan mereka yang keluar dan terdengar, yang sedikit tidaknya bisa ditangkap orang kebanyakan. Di ruang Speech Therapy inilah anak-anak tunarungu diberikan terapi khusus untuk belajar bicara. Tenaga pengajarnya, ada dari keilmuan psikologi. Ruangan ini dilengkapi dengan cermin untuk membaca bibir dan alat pendeksi pendengaran. Seperti itulah kondisi anakanak tunarungu yang menempuh pendidikannya di SLB/B Negeri Tabanan ini. Kepala sekolahnya, I Gede Sukaca, S. Pd. mengatakan, anak-anak tunarungu (bisu-tuli) ini kini lebih banyak diajarkan baca oral dengan membaca bahasa bibir. “Kami sarankan mereka lebih banyak memakai bahasa bibir, karena nantinya mereka akan terjun di masyarakat. Jadi dua bahasa ini dikombinasikan,” jelas alumni Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa (SGPLB), Yogyakarta ini. Seperti sekolah pada umumnya, SLB/B ini juga dilengkapi dengan ruang Perpustakaan. Ketika Tokoh memasuki ruangan ini, tampak se-

Gede Sukaca

orang gadis yang sedang membaca buku. Namun cara membacanya tak lazim, buku yang dipegangnya itu diposisikan sangat dekat dengan matanya. “Anak ini kelas A (tunanetra), tetapi tidak full tidak bisa melihat, ia bisa melihat sedikit saja, makanya ia membaca seperti itu. Kalau yang benar-benar buta, mereka membaca huruf Braille,” jelas Sukaca yang mengaku sangat jarang berada di ruangannya ini karena terus berkeliling memantau aktivitas muridnya bahkan mengajar di kelas. Masih di deretan kedua ruangan tersebut, ada satu ruangan

yang tampaknya masih baru dicat. Ruangan itu tersebut tampak segar karena didominasi warna putih dan ungu. “Salon ini memang baru dibuka, bahkan belum resmi diluncurkan. Tapi salon ini sudah dibuka untuk umum, ada plang salonnya di depan,” ujar Sukaca sembari menunjuk banner yang bertuliskan “Deaf” Beauty Salon di depan ruang tersebut. “Kebetulan saat ini anak-anak salon (dua orang) sedang mengikuti pelatihan salon di SLB Jimbaran. Disana mereka diajar oleh Salong Agung,” imbuhnya. BEKAL SOFT SKILL Pria kelahiran Gianyar yang baru menjabat Kasek SLB/B Tabanan sejak Januari 2014 ini mengatakan, selain mata pelajaran umum, anakanak SLB ini dibekali dengan soft skill yang tentunya bertujuan untuk memberikan kelebihan keterampilan tertentu di tengah kekurangan mereka. “Tamatnya dari sini mereka sudah bisa kerja,” ucapnya. Beberapa keterampilan yang diwadahi di SLB ini di antaranya, membuat batako, membuat telur asin, salon, tata boga, hantaran (seperti merangkai bunga), menjahit, komputer, keramik, tata busana, megambel, dan menari. Bahkan khusus untuk ekstra menari, wajib diikuti oleh anak-anak kelas 1 s.d. 4 SD. SLB/B Negeri Tabanan merupakan sekolah satu atap untuk jenjang SD, SMP, dan SMA. Jumlah muridnya kini mencapai 116 orang, dengan rincian 78 siswa SD, 24 SMP, dan 14 murid SMA. Dulu, SLB/B ini hanya menerima anak tunarungu. Namun sejak 2007, sekolah yang berdiri di lahan seluas 20 are ini juga me-

Aktivitas anak-anak tunarungu di ruang Speech Therapy

Serangkaian HUT ke-17, Tokoh akan mengunjungi SLB/B Negeri Tabanan yang beralamat di Jalan Pulau Batam No. 40, Tabanan pada Selasa 3 November 2015. Sahabat Tokoh yang ingin bergabung ­dalam acara tersebut atau ingin memberi bantuan silakan menghubungi ­Sekretariat Tokoh. Terima kasih

Sudut Pandang

Filateli sebagai Investasi Memiliki hobi mengumpulkan perangko (filateli) sangat mengasyikkan. Selain mendapat pengetahuan dari gambargambar yang tertera, hobi ini bisa menghasilkan uang. Hal inilah yang dialami Gede Ngurah Surya Hadinata, SST. Par, M.Par. Pria yang mengoleksi perangko sejak tahun 1990 ini menjadikan filateli sebagai hobi plus mata pencaharian.

Penataan taman SLB Negeri Tabanan sehingga sekolah ini menjadi nyaman

nampung anak tunanetra (A) dan tunagrahita (C). “Untuk ke depan, kami juga akan menerima anak tunadaksa (cacat), fasilitasnya masih kami lengkapi sedikit-demi sedikit. Jika sudah siap, kami pasti menerimanya,” ucap Sukaca seraya mengatakan ada 23 guru di sekolah ini. Gede Sukaca yang sudah berpuluh-puluh tahun berinteraksi dengan anak disabilitas ini, telah pula berkeliling bertugas. Di Negara, ia bertugas sejak 1968 s.d. 1997, Gianyar (1997 s.d. 2013) dan dipercaya menjabat Kasek di SLB tersebut mulai tahun 2012, dan sejak 2014 ditugaskan di SLB/B Negeri Tabanan. Meski jarak rumah tinggal dengan tempat tugasnya kini lumayan jauh, itu tak menyurutkan niat Sukaca untuk terus memberikan pelayanan terbaik bagi lingkungan kerjanya. Yang pertamakali dilakukannya ketika bertugas disini adalah membenahi manajemen kerja. Semua kegiatan serba terarsip, sehingga ketika ada akreditasi, ia dan seluruh staf tak perlu pusing untuk memenuhi segala persyaratannya. Ia juga sangat memperhatikan ruang terbuka hijau yakni dengan menata taman agar sejuk dan nyaman bagi semua civitas sekolah, baik murid, guru, maupun orangtua murid. Bahkan, taman tersebut dikerjakan oleh orangtua murid, tanaman anggrek disumbangkan oleh para guru. “Pokoknya di sekolah ini rasa kebersamaannya kuat, sehingga anak-anak

juga nyaman belajar dan beraktivitas di sini,” ucapnya. Terkait proses belajar-mengajar, Gede Sukaca mengatakan idealnya 1 guru mengajar 5 anak. “Di sini rata-rata 1 guru mengajar 7 anak. Jika lebih dari itu, susah,” imbuhnya. Mengajar anak disabilitas memang perlu kesabaran ekstra. Dari sisi akademis, anak-anak ini memang lebih lambat, karena itu mereka lebih banyak diberikan soft skill. SLB/B Negeri Tabanan ini juga sarat prestasi, di antaranya Juara III Bulutangkis Putra dalam Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) PKLK Jenjang Dikdas Tingkat Nasional Tahun 2015; Juara I Olimpiade Sains Nasional Provinsi Bali Tahun 2015 Bidang Olimpiade Matematika (SDLB-A); Juara I Festival dan Lomba seni Siswa Nasional Provinsi Bali Tahun 2015 Bidang Desain Grafis dengan Komputer (SMALB-B/D); Juara I Olimpiade Olahraga Siswa Nasional Provinsi Bali Tahun 2015 Bidang Bultangkis Putra (SDLB-B). Selanjutnya, menempuh pendidikan di SLB/B Negeri Tabanan ini dikatakannya serba gratis, mulai dari seragam sekolah, buku-buku dan alat tulis, tas, sepatu, hingga mereka yang masuk asrama pun semua ditanggung APBD. Namun Gede Sukaca menyayangkan, masih banyak orangtua yang enggan dan malu menyekolahkan anak-anak mereka yang berkebutuhan khusus ke SLB. –Inten Indrawati

Edisi 870/ 12 - 18 oktober 2015

“S

aya tertarik mengoleksi perangko ketika SMP kelas I. Waktu itu ada pameran perangko di acara pameran pembangunan di Balai Budaya Klungkung. Keesokan harinya saya ke kantor pos. Saya banyak bertanya tentang perangko. Bahkan dikasi perangko dan buku tentang filateli. Dari sana saya mulai berburu perangko,” ujar pria yang akrab disapa Ngurah ini. Ia ingat koleksi pertamanya adalah

perangko dari Spanyol yang disaat gelap bisa bercahaya. Dari satu perangko, koleksinya terus bertambah. Ia sering pergi ke toko buku atau kantor pos untuk mencari perangko. Ngurah bahkan rela tabungannya habis untuk dipakai membeli perangko. “Dulu ibu saya marah-marah karena uang saya habis untuk beli perangko. Tetapi, setelah tahu perangko itu bisa dijual kembali dan saya bisa mendapatkan uang, ibu saya jadi maklum,” kenangnya.

Koleksi filateli Ngurah Surya Hadinata

Pria yang juga Ketua Perkumpulan Filatelis Indonesia (PFI) Provinsi Bali ini menuturkan sejak tahun 1991 ia sudah ikut pameran filateli yang saat itu dilaksanakan di Padang, Sumatera Barat. Sejak itu, ia tak pernah absen ikut pameran. Minimal dalam setahun ia ikut pameran. Kalau pameran di Bali, ia bahkan sibuk sebagai panitia. Mengenai jumlah koleksinya, suami Ni Komang Nova Damayanti dan ayah dari Balarama Prasada dan Dipanatha Prasad ini mengaku tak tahu. Koleksinya itu ada yang di simpan di album besar, album kecil, bahkan ada yang belum ditata. Untuk mendapatkan perangko ia menggunakan beberapa cara, diantaranya membeli di kantor pos, toko buku, lelang, atau saat pameran. Kadang ia juga menukar koleksinya dengan sesama filatelis. Dari koleksinya itu, ada perangko yang terbit pertama di dunia. Perangko terbitan 6 Mei 1840 dari Inggris ini dikenal dengan nama The Penny Black. Ada juga perangko yang pertama kali diterbitkan di Indonesia 1 April 1864 (zaman Hindia Belanda). Perangko ini bergambar Raja Willem III. Ngurah mendapatkan perangko-perangko langka ini dari lelang. PERANGKO BUNG KARNO “Menjadi filatelis itu investasi. Perangko punya nilai tinggi karena memiliki unsur seni. Karena itu, selain sebagai sarana pendukung komunikasi, juga bisa menjadi benda koleksi. Makin sedikit jumlahnya, makin banyak peminat. Hukum pasar pun terjadi. Harga perangko bisa melambung. Sampai saat ini, ada perangko

Hobi Sahabat Pena Nyambung dengan Filateli Perangko berasal dari bahasa tuk dan ukuran perangko bermacamLatin “franco” yang artinya tanda macam. Namun, yang lazaim adalah pembayaran untuk melunasi pengiri- persegi panjang mendatar. Filatelis man surat. Artinya, biaya pengiri- bisa mengumpulkan perangko mint man surat tidak dibebankan kepada (perangko baru yang belum terpakai) penerima surat tetapi dilunasi pen- atau perangko used (perangko yang girim surat dengan menggunakan sudah terpakai dan dibubuhi teraan cap tanggal). perangko. Susyani, salah seorang kolektor Perangko yang semula hanya sebagai tanda pelunasan biaya pos mengaku mulai hobinya dari kelas 5 kemudian berkembang menjadi SD. “Waktu itu dikasi bapak beberapa benda koleksi. Kegemaran untuk perangko. Karena belum punya almempelajari dan meneliti perangko bum, jadi ditempel di buku tulis. dan benda pos lainnya dikenal Setelah SMP mulai punya hobi koredengan istilah filateli. Orang yang spondensi. Punya memiliki kegemaran ini disebut filatelis. Bisa juga dikatakan filatelis adalah ahli perangko. Filateli berasal dari bahasa Yunani, philos (teman) dan ateleia (pembebasan). Pembebasan ini artinya bebas dari kewajiban membayar biaya pengiriman surat karena dengan adanya perangko, biaya pengiriman Koleksi perangko Susi surat sudah disahatanggung si pengirim. Benda filateli yang dikumpul- bat pena di manakan antara lain perangko definitif, mana. Kami saling.berhubungan perangko peringatan, perangko dengan surat-menyurat pakai jasa istimewa, dan perangko amal. Ben- pos, dan menggunakan perangko. Jadi

sekalian hobinya nyambung,” ungkap ibu dua putra ini Kebetulan kakak sepupunya memberikan 1 album perangko. Susi pun tambah semangat mengumpulkan perangkonya. Saat SMA ada klub filateli di sekolahnya. Ia pun.gabung di klub itu. “Saya bisa tukaran perangko dengan teman jadi koleksi makin banyak. Tukaran perangko juga kadang dengan sahabat pena yang kebetulan punya hobi sama,” ujar wanita asal Tabanan ini. Dari klub filateli itu ia tahu cara merawat perangko dan menatanya di album. Ini pun menjadi keasyikan tersendiri. “Dari perangko bisa dapat pengetahuan. Setiap saat ada keluaran perangko berseri. Seperti seri pahlawan, cerita rakyat, hari peringatan, flora, fauna, dll. Kalau berseri biasanya kita tertarik untuk ngumpulin semua gambar dalam seri tersebut,” imbuhnya. Namun, sejak kuliah hobi ini mulai jarang dilakukan. Selain sudah jarang kontak dengan teman-teman, penggunaan perangko juga berkurang bahkan tidak pernah lagi karena sudah berkomunikasi di media sosial. “Kalau waktu kosong, saya menata lagi perangko, saya ingin ikut klub filatelis lagi,” ujarnya. –Ngurah Budi

Ngurah dan medali dari hasil lomba dan pameran filateli

9

kategori filateli karena hobi, mendapatkan nilai edukasi dari penjelasan gambar yang tertera di perangko, menjadi bagian pelestari sejarah, dan menjadi bagian dari investasi. Saya bisa menghidupi keluarga dari hobi ini. Misalnya, koleksi perangko yang nilainya tak lebih dari Rp 100 ribu bisa dijual hingga Rp 250 ribu setelah ditata,” ungkapnya. Ia juga memberi tips bagi calon filatelis bagaimana cara melepas perangko dari amplop atau kartu pos. Potong dulu amplop atau kartu pos, sekitar 1 cm dari pinggiran perangko. Setelah itu rendam dalam air. Perangko akan lepas dengan sendirinya. Setelah kering, simpan perangko dalam album. Jika sudah lama berkecimpung di dunia filateli, pasti bisa membedakan mana yang asli yang yang palsu. Sebagai Ketua PFI Provinsi Bali, ia dan pengurus serta anggota rutin mengadakan pertemuan di Kantor Pos Renon. “Kami sering mengadakan pameran yang dipadukan dengan edukasi, penyuluhan, bahkan bursa. Penggemar banyak, tetapi yang ikut gabung di perkumpulan filatelis sedikit,” ujarnya. –Ngurah Budi

yang dijual di luar negeri yang nilainya setara dengan Rp 9 miliar. Kalau di Indonesia, yang paling mahal seri Pos Militer Surakarta. Harganya kurang dari Rp 100 juta,” ujar pemilik Surya Stamps Bali, agen filateli di Bali yang juga guru bahasa Inggris di Nusa Lembongan ini. Ngurah menuturkan perangko merupakan benda spesifik. Benda ini dicetak negara dalam jumlah terbatas. Di Indonesia, dalam setahun hanya ada 10 kali penerbitan. Sekali penerbitan ada 300 ribu keeping. Jumlah yang terbatas inilah yang membuatnya menjadi benda yang layak dikoleksi. Dulu perangko hanya mencetak gambar presiden atau pahlawan. Hal yang dicatat sejarah adalah perangko bergambar Bung Karno dicetak di 21 negara selain Indonesia. Ini artinya kharisma Bung Karno membuat kagum negara lain. “Saya mengoleksi perangko dan benda Koleksi perangko pertama di dunia lain yang masuk dalam milik Ngurah Surya Hadinata


10

Mitos

Edisi 870/ 12 - 18 OKTOBER 2015

Style

Edisi 870/ 12 - 18 OKTOBER 2015

Pilih Pola Vegetarian yang Dimensi Kebaya Modern Tepat untuk Anak Pola konsumsi vegetarian sangat sulit memenuhi kebutuhan mineral seperti kalsium, zat Besi Hal ini terjadi karena pangan nabati mempunyai bioavabilitas yang rendah dibandingkan sumber pangan hewani. Dampaknya adalah orang yang menganut pola konsumsi vegetarian beresiko terhadap kejadian anemia kurang zat besi dan pengeroposan tulang secara dini.

Kelompok usia anak-anak merupakan kelompok yang sedang pesat mengalami pertumbuhan. Untuk mencapai tingkat pertumbuhan yang optimal diperlukan pemenuhan energi dan zat gizi yang seimbang sesuai dengan kebutuhannya.

P

emenuhan kebutuhan energi dan zat gizi dapat diperoleh dari makanan yang dikonsumsi sehari-hari dengan memperhatikan keamanan, berimbang bergizi dan beragam. Keamanan makanan dinyatakan pertama karena keamanan merupakan faktor penting yang perlu diperhatikan. “Makanan yang berimbang, bergizi, dan beragam jika tidak aman justru akan mengakibatkan gangguan kesehatan. Aman tidak hanya merujuk pada terhindarnya makanan dari cemaran mikrobiologi, cemaran kimia dan cemaran fisik tetapi juga aman secara spiritual,” ujar Ni Putu Agustini, SKM.,M.Si. Pada beberapa tahun belakangan ini berkembang berbagai kelompok yang menganut pola makan tertentu yang diyakini dapat meningkatkan kesehatan baik kesehatan fisik maupun kesehatan mental spiritual. Salah satu pola konsumsi tersebut adalah pola konsumsi vegetarian. Pola konsumsi vegetarian diartikan sebagai pola makan yang hanya mengkonsumsi makanan yang berasal dari nabati atau tumbuh-tumbuhan tanpa mengonsumsi produk dari hewani seperti daging dan produk olahannya.

Dosen Jurusan Gizi Poltekkes Denpasar ini menjelaskan pola konsumsi vegetarian dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis yaitu vegan vegetarian, lacto vegetarian, lacto ovo vegetarian, pesca vegetarian, flexitarian, fruitarian, dan raw foodist. Vegan vegetarian yaitu kelompok vegetarian yang hanya mengonsumsi produk nabati tanpa mengonsumsi produk hewani, turunan produk hewani maupun hasil olahannya. Sedangkan lacto vegetarian adalah pola konsumsi vegetarian yang masih boleh mengonsumsi susu, lacto-ovo masih mengonsumsi susu dan telur. Pesca vegetarian disamping mengonsumsi bahan pangan nabati juga masih mengonsumsi ikan dan hasil olahannya di dalam pola konsumsinya. “Pola konsumsi vegetarian ditinjau dari segi kesehatan memang menguntungkan karena pola konsumsi ini mengandung serat tinggi, cenderung rendah lemak terutama lemak jenuh, dan rendah kolesterol. Kandungan serat yang tinggi dalam makanan sangat bermanfaat untuk kesehatan karena dapat memperlancar proses pembuangan air besar sehingga transit racun di dalam usus besar menjadi lebih

Ni Putu Agustini, SKM.,M.Si.

pendek. Hal ini dapat mengurangi risiko terhadap penyakit-penyakit pada usus besar dan kolon seperti penyakit kanker,” ujarnya. Kandungan lemak jenuh dan kolesterol yang rendah di dalam bahan makanan merupakan pola konsumsi yang baik untuk mengurangi resiko terjadinya penyakit yang berhubungan dengan pembuluh darah dan penyakit jantung koroner. Manfaat lain dari pola konsumsi vegetarian adalah dapat menjaga berat badan, serta terhindar dari penyakit-penyakit yang ditularkan melalui makanan terutama produk makanan hewani. Namun, ada beberapa kelemahan pada pola konsumsi vegetarian antara lain pemenuhan asam amino esensial. Asam amino esensial ini di dalam tubuh berperan untuk pembentukan enzim, hormom, antibodi, dan tumbuh kembang sel. Sumbernya dapat diperoleh pada bahan makanan hewani seperti daging, ikan dan produk olahannya.

VEGETARIAN VEGAN TIDAK DIANJURKAN Pada masa anak-anak yang sedang mengalami pertumbuhan sangat perlu diperhatikan kuantitas dan kualitas sumber pangan untuk memenuhi kebutuhan energi, karbohidrat, lemak, vitamin, mineral dan air. Kualitas protein yang dimaksud adalah protein yang dikonsumsi oleh anak dalam masa pertumbuhan diperlukan protein yang banyak mengandung asam amino esensial seperti asam amino lisin, triptopan, valin, fenilalanin. Asam amino esensial adalah kelompok asam amino yang tidak dapat disintesa di dalam tubuh sehingga sumber asam amino ini harus didapatkan dari makanan yang kita konsumsi. Jenis asam amino esensial ini banyak terdapat pada telur, susu, ikan daging, dan produk olahannya. Fungsi protein di dalam tubuh adalah untuk pembentukan enzim, untuk pembentukan antibody, untuk pembentukan hormone, serta untuk pertumbuhan dan perkembangan sel di dalam tubuh, dimana fungsi ini tidak dapat digantikan oleh zat gizi lain seperti karbohidrat dan lemak. Penerapan pola konsumsi vegetarian terutama vegetarian vegan

tidak dianjurkan untuk anak yang sedang mengalami masa pertumbuhan. Karena dalam bahan pangan nabati sulit untuk mencukup kebutuhan asam amino esensial. Dampaknya adalah proses pembentukan protein dalam tubuh akan terganggu, yang selanjutnya akan mempengaruhi proses pembentukan enzim, antibodi serta pertumbuhan dan perkembangan sel. Hal ini akan menyebabkan terjadinya gangguan pertumbuhan dan perkembangan fisik anak. “Pada prinsipnya untuk memenuhi kebutuhan zat gizi terutama kebutuhan asam amino esensial dalam proses pertumbuhan anak tidak dianjurkan menganut pola konsumsi vegetarian. Namun, jika anak atau orangtua menginginkan anaknya menganut pola konsumsi vegetarian sebaiknya memilih jenis vegetarian lacto, lacto ovo atau pesco vegetarian sehingga pemenuhan kebutuhan asam amino esensial masih dapat dipenuhi dari sumber bahan makanan seperti susu, telur atau ikan,” jelas Agustini. Ia pun memberi contoh menu seimbang yang dapat diterapkan pada anak Dengan kebutuhan energi protein, yang memilih pola konsumsi lacto ovo vegetarian adalah pagi makan roti tawar 2 potong, isi rogut sayuran, susu 1 gelas, snack bubur kacang hijau 20 g. Makan siang nasi putih (150 g), stik tempe (50 g), rolade tahu (50 g), cah sayur kangkung (50 g), jus apokat (150 g), snack: pisang goreng keju (75 g). Menu makan malam nasi goreng pelangi (150 g) dan telur mata sapi (50 g). Sebelum tidur diberikan 1 gelas susu. –Ngurah Budi

I Kadek Antara Yasa

Epilepsi hingga Lumpuh Saat bocah seumurannya sudah duduk di bangku Taman Kanak-kanak, I Kadek Antara Yasa, putra kedua pasangan Wayan Dadiana (31) dan Putu Suarmini (27) ini hanya bisa terbaring lemas di bale tempat tidur. Bocah berumur lima tahun delapan bulan ini sejak lahir mengidap penyakit epilepsi hingga menyebabkan ia lumpuh. Ketika ditemui di rumahnya di Banjar Dauh Pangkung Selepa, desa Medewi, Pekutatan, pekan lalu, kondisi Kadek terlihat lemas. Ia baru saja pulang setelah dirawat di RSU Negara. Berat badannya menyusut dan dari mulutnya sering mengeluarkan busa. “Diminta agar dirujuk ke Sanglah, tapi karena tidak ada biaya, kami tunggu dulu. Saya juga tidak bisa bekerja, fokus ngempu anak saya

ini,” ujar Dadiana. Sebelum Kadek sakit, Dadiana bisa leluasa keluar ikut bekerja menjadi buruh bangunan. Dengan, penghasilan Rp 60 ribu per hari, hanya cukup kebutuhan sehari-hari keluarganya. Apalagi kini Dadiana juga mencukupi kebutuhan ibu dan istrinya yang sedang mengandung anak ketiga. Keluarga ini sebelumnya masuk buku merah (keluarga miskin). Tetapi pascamenerima bantuan bedah rumah, keluarga ini sudah dicoret. Tetapi dengan kondisi yang dialami keluarganya ini, Dadiana mengaku tidak bisa berbuat banyak. “Pemerintah daerah sudah cukup banyak membantu, termasuk Pak Perbekel dan banjar disini. Tapi, dengan kondisi anak saya seperti ini, saya tidak bisa mencari nafkah,” ujarnya sedih.

Dari desa, pihaknya sering menerima bantuan beras hingga kursi roda dari pemerintah daerah. Namun yang dibutuhkannya saat ini menurutnya adalah biaya berobat. “Kami sudah pasrah, biaya sudah habis sampai utang untuk berobat, kami malu dengan pemerintah sudah banyak membantu,” tambahnya. Pascadirawat, hampir setiap menjelang tengah malam, anaknya terbangun menangis dan baru tidur saat subuh. Menurutnya, penyakit yang dialami Kadek ini sudah dialami tiga hari setelah lahir lima tahun silam. Kadek sejatinya terlahir normal. Tetapi, baru beberapa hari harus dirawat karena kejang. Sampai saat inipun, anaknya masih kejang-kejang walaupun terlihat diam. “Bola matanya bergerak terus, sampai

I Kadek Antara Yasa terbaring lemas

sekarang tidak bisa jalan ataupun bicara. Hanya nangis,” tambah Suarmini. Perbekel Medewi I Komang Suartika, mengakui kondisi warganya yang kurang mampu itu. Pemerintah daerah dan desa sudah berupaya membantu. “Memang sudah dicoret dari KK miskin setelah mendapat bedah rumah. Tetapi dengan kondisi keluarganya seperti itu, kami membantu se-

mampu kami,” ujarnya didampingi Klian Dauh Pangkung Selepa, Wayan Wintra. Rencananya, Suartika akan membantu mengantar dan mendampingi Kadek ke RSUP Sanglah. Dadiana sendiri mengaku minder ke Sanglah, karena khawatir biaya pengobatan, disamping biaya selama menunggu perawatan anaknya. –Surya Dharma

Salah seorang Perancang dari Kota Denpasar Rhea Cempaka yang identik dengan kebaya, kembali mempersembahkan karyanya pada pagelaran Grand Final Duta Endek Kota Denpasar 2015, pekan lalu, di Convention Centre, Hotel ­Aston Denpasar.

S

Rhea Cempaka

ederetan karyanya membungkus busana yang mencerminkan budaya Indonesia ini dengan gaya urban modern. Inspirasi dari kebaya Bali ini di tangan Rhea berhasil menjadi busana ready to wear. Koleksi kebaya yang khas berbahan endek, dengan aplikasi lace, sentuhan embroidery dan payet menambah dimensi gaya dan daya tariknya. Transfor-

masi yang elegan tanpa meninggalkan unsur tradisional dan keunikan yang dimiliki. Desain dengan pendekatan kebaya modern yang stylish berlabel Cempaka ini, sangat pas untuk sosok perempuan Bali yang aktif dengan etos kerja luar biasa. Mereka akan tampil menawan dalam berbagai kegiatan ketika mengenakan kebaya lengkap dengan aksesori yang sedang ngetren saat ini. –Sri Ardhini

15


14

Setiap orang ingin memiliki rambut yang sehat, yakni rambut yang tidak kusam, tidak rontok, tanpa ketombe dan bercahaya. Apalagi rambut disebut-sebut sebagai mahkota, maka perlu dijaga dan diberikan perawatan terbaik demi kesehatan dan keindahannya.

M

Jelita

Edisi 870/ 12 - 18 oktober 2015

erawat rambut sama pentingnya seperti menjaga bagian lain dari tubuh. Sebab, rambut juga cenderung menjadi sasaran polusi, kotoran dan bahkan unsur kimia. Untuk memperoleh rambut sehat, tidaklah cukup hanya dengan keramas, namun perlu menambahkan perawataan creambath. Begitu disampaikan Dayu Nyoman pemilik Salon Ayu di kawasan Jalan Sedap Malam, Denpasar. Dayu mengatakan kondisi rambut memang tergantung bagaimana sang pemilik merawatnya. Jika keseorang peduli terhadap rambut sendiri, maka rambut pun akan lebat dan sehat, begitu pula sebaliknya. Apapun tekstur rambut yang dimiliki orang, dengan menambahkan creambath akan memberikan keuntungan berupa keindahan rambut. Menurut Dayu, creambath sudah dikenal sejak dulu, sebagai perawatan dasar, dengan mengoleskan daun lidah buaya segar atau krim sesuai kondisi rambut. Creambath denganbahan-bahan alami, katanya salah satu cara perawatan rambut yang banyak dipilih perempuan. Baik untuk menjaga keindahan, maupun mengatasi masalah kerusakan rambut. Selain itu, efek pijatan yang lembut pun bermanfaat menenangkan sekalgus menyegarkan. Saat ini, ada banyak pilihan krim creambath di pasaran, masingmasing diperuntukkan bagi jenis rambut yang berbeda. Namun, semakin sedikit kandungan kimia dalam sebuah produk perawatan rambut maka fungsinya semakin baik. Karean ini pula, tidak heran jika semakin banyak orang memilih creambath tradisional dengan bahan-bahan herbal. Dengan creambath lanjut Dayu dipastikan kulit kepala dan rambut dibersihkan dan disehatkan. Selain itu, dapat mencegah kerontokan, merangsang pertumbuhan rambut , melancarkan peredaran darah dan melemaskan otot di kepala, sambil menormalkan kerja kelenjar kulit. Bagi mereka yang keseharian-

Manfaat Creambath bagi Rambut

nya sering menutup kepala dengan topi maupun yang mengenakan jilbab, creambath juga salah satu menu perawatan yang wajib dilakukan . Dengan rambut yang sehat, seseorang akan lebih nyaman beraktivitas. REMPAH ASLI CREAMBATH TRADISIONAL Dayu juga menyampikan kalau creambath tradisional dengan aromanya yang masih asli kini tetap digemar. Apalagi sekarang kata Dayu semakin banyak bahan-bahan alami seperti bahan daun-daunan dan rempah asli dari alam Indonesia yang telah terbukti berkhasiat dan membantu mengatasi masalah rambut. “Krim tradisional yang terbuat dari bahan alami, serta memiliki kualitas sari tumbuh – tumbuhan ini sangat terasa memberikan sentuhan yang menyegarkan ketika dioleskan pada kulit kepala,” ungkap Yanti seorang karyawati swasta penyuka creambath tradisional ini. Yanti mengaku suka memilih creambath dengan krim alpukat. Karena menurutnya bahan creambath ini bermanfaat membantu kelembaban rambutnya. Selain membantu merawat rambutnya yang kering dan bercabang. “Alpukat memang bermanfaat melembabkan rambut kering dan mampu memberikan nutrisi yang tepat. Bukan hanya itu, krim alpukat juga dapat menutupi lapisan kutikula rambut yang rusak,” ujar Dayu menambahkan. Ada juga pilihan krim tradisional lainnyaseperti rumput laut dan ginseng. Creambath berbahan ginseng, sangat dipercaya mampu memberikan perawatan maksimal bagi rambut

tkh/net

yang mudah patah juga rontok. Selain itu, krim rumput laut dan ginseng dapat pula menstimulasi peredaran darah di kulit kepala yang membuat rambut tetap sehat dan kuat. Kedua krim ini juga diyakini bisa mengaktifkan sel-sel rambut serta menguatkan akarnya dengan baik. Selanjutnya ada krim lidah buaya atau aloe vera , yang dipercaya memiliki banyak manfaat , terutama untuk rambut terlalu tipis dan kurang subur. Dengan mengoleskan krim lidah buaya, dapat membuat rambut lebih subur, tebal dan bersih. Kandungannya juga bermanfaat melembabkan dan menghitamkan rambut. Krim lain yang juga sering dipilih untuk creambath adalah urang- aring . Produk yang satu ini dikenal masyarakat sudah sejak lama, sebab fungsi menghitamkan, melembabkan dan menjadikan rambut mengkilat. “Begitu juga dengan merang, yang juga dikenal sejak dulu berkhasiat sebagai bahan penghitam rambut. Selain itu ada manfaat lainnya yakni menyehatkan rambut, rambut menjadi halus, dan

membuat kulit kepala terbebas dari ketombe,” lanjut Dayu sambil mengatakan masih banyak bahan alami lainnya yang berfungsi merawat rambut. Mengenai prosesnya, kata Dayu seperti biasa diawali keramas. Selanjutnya rambut hingga kulit kepala diolesi krim disertai pemijatan di kulit kepala agar krim meresap. Setelah itu, rambut di-steam dan ditutup dengan handuk hangat, dibiarkan sekitar 10 sampi 15 menit, berlanjut dengan diangin-anginkan sejenak kemudian keramas. Pemijatan dapat membantu meningkatkan peredaran darah pada kepala sehingga zat makanan untuk rambut teresap dengan baik. Jika saat disisir rambut tidak bermasalah, oleh Dayu dikatakan dengan rajin creambath cukup membantu. Apalagi dilakukan dengan teratur akan menjadikan rambut semakin sehat, berkilau, tidak rontok, dan tentu mudah diatur.”Bagi yang memiliki rambut rusak, lakukan perawatan dapat dilakukan bergantian dengan masker rambut,”katanya.

Bugar

11

PAP SMEAR SEBAGAI DETEKSI DINI KANKER MULUT RAHIM Oleh : dr. AAG Adi Parathama Sp.OG lPencegahan sekunder paling efektif adalah ­

melalui pendeteksian dini dengan pemeriksaan Inspeksi Visual dengan asam asetat (tes IVA),Pap Smear dan kolposkopi

Pap Smear: lPap smear adalah suatu pemeriksaan yang aman, murah, untuk mendeteksi kelainan sel-sel di mulut rahim. lMetode tes ini adalah pemeriksaan sel-sel yang diambil dari apusan mulut rahim dan kemudian diperiksa dengan mikroskop untuk melihat perubahan-perubahan yang terjadi dari sel tersebut. lPap Smear terbukti dapat menemukan lesi prakanker

Dayu Nyoman

Selain itu, demi menjaga kesehatan rambut lebih baik tidak terlalu sering menggunakan pengering rambut, sebab bisa menjadikan rambut stres yang mengakibatkannya rapuh.” Makanya,biarkan rambut kering alami. Kalaupun karena satu hah mesti dikeringkan memakai alat, cukup lakukan setengah kering,” imbuhnya. – Sri Ardhini

Edisi 870/ 12 - 18 oktober 2015

dr. AAG Adi Parathama Sp.OG

Kanker leher rahim atau disebut juga kanker serviks adalah sejenis kanker yang 99,7% disebabkan oleh human papilloma virus (HPV). Human papilloma virus (HPV) 16 dan 18 merupakan penyebab utama pada 70% kasus kanker serviks di dunia. Perjalanan dari infeksi HPV hingga menjadi kanker serviks memakan waktu yang cukup lama, yaitu sekitar 10 hingga 20 tahun. Namun proses penginfeksian ini seringkali tidak disadari oleh para penderita, karena proses HPV kemudian menjadi pra-kanker sebagian besar berlangsung tanpa gejala. Karena itu, Vaksinasi Kanker Serviks sangat dianjurkan. Tingginya angka kematian penderita kanker leher rahim ini di Indonesia disebabkan karena terlambatnya penderita datang berobat. Gejala : Kanker leher rahim pada stadium awal tidak menunjukkan gejala yang khas, bahkan bisa tanpa gejala. Pada stadium lanjut sering memberikan gejala : perdarahan post coitus, keputihan abnormal, perdarahan sesudah mati haid (menopause) serta keluar cairan abnormal (kekuning-kuningan, berbau dan bercampur darah). Pencegahan : lPencegahan primer dengan hubungan suami-istri (tanpa ganti pasangan)

Kapan Melakukan Pap Smear: lMinimal setahun sekali pada wanita yang sudah menikah atau yang telah melakukan hubungan seksual. lPap Smear dilakukan juga wanita tidak sedang haid, tidak berhubungan seksual 1 – 3 hari sebelum pemeriksaan dan tidak menggunakan obat – obatan vaginal. Manfaat Pap Smear: lDiagnosis dini keganasan Pap Smear berguna dalam mendeteksi dini kanker mulut rahim, kanker korpus.

Endometrium. lPap Smear berguna sebagai perawatan setelah operasi dan setelah mendapat kemoterapi dan radiasi. lPap Smear berguna untuk menentukan proses peradangan pada berbagai infeksi bakteri dan jamur.

Tehnik Pemeriksaan Pap Smear : Dua hari sebelum pemeriksaan, ibu dilarang untuk melakukan hubungan seksual atau menggunakan obat – obatan yang dimasukan ke dalam vagina. Waktu yang paling baik adalah beberapa hari setelah ibu selesai menstruasi. Ibu dalam posisi litotomi, pasang spekulum vagina tanpa menggunakan pelicin, dan tanpa melakukan periksa dalam sebelumnya. Setelah portio tampak, maka spatula dimasukkan ke dalam kanalis servikalis, lalu spatula diputar 180° searah jarum jam. Spatula dengan ujung pendek diusap 360° pada permukaan serviks. Lendir yang didapat dioleskan pada objek glass berlawanan arah jarum jam. Apusan hendaknya dilakukan sekali saja, lalu difiksasi atau direndam dalam larutan alkohol 96% selama 30 menit. Sediaan dapat dikirim secara basah (tetap direndam dalam alkohol) atau dikirim secara kering dengan mengeringkan sediaan setelah direndam dalam alkohol. Selanjutnya sediaan tadi dikirim ke Ahli Patologi Anatomi untuk diperiksa.


Kuliner

Edisi 870/ 12 - 18 OKTOBER 2015

12

New Urban Cocktail C

Sensasi Makan Malam di

ocktail adalah minuman beralkohol yang dicampur dengan minuman atau bahan lain yang beraroma. Sebelum disajikan dalam gelas khusus, minuman ini diaduk atau diguncang-guncang supaya bahan-bahannya tercampur. Minuman beralkohol yang sering dijadikan coktail adalah wiski, rum,

Rooftop

Malam yang ramai, pesta, dan keceriaan tergambar dari Legian tujuan wisata favorit kalangan muda di Bali. Keseruan ini dapat Anda rasakan di Rooftop The One Legian. Dengan konsep ruangan terbuka area ini menjadi tempat makan yang menarik. Datanglah sore hari menjelang matahari tenggelam. Sensasi makan malam yang sangat berkesan akan Anda rasakan.

Dari kiri: I Gusti Agung Gede Udiana, Dewi Mas Bloem, dan Marcom The One Legian Irma Farida.

G

eneral Manager The One Legian, Dewi Mas ­Bloem mengatakan, tidak semua hotel di Bali memi-

liki rooftop sebagai restoran. “Kami ingin The One Legian menjadi destinasi baru, new urban legian,” ujarnya. Rooftop mampu menampung

250-an orang untuk duduk makan, atau 700 orang untuk standing party. Makanan yang tersaji sangat spesial, semuanya ada, mulai dari lokal, Asia, Wes­ tern, Eropa, pokoknya lengkap international food. Anda jangan kaget, karena di rooftop ada kolam renangnya. Yang paling seru, Anda tak harus menginap di sana, karena rooftop dibuka untuk u m u m . M a u b er en a n g d a n menikmati makan malam yang lezat sembari melihat sunset. Silakan saja, Anda pasti sangat terpesona. Berikut sajian menu persembahan dari The One Legian, kreasi Executive Chef Nyoman Picha. - Wirati Astiti

Sajian udang bakar dapat dikreasikan dengan tusukan

dari batang sereh. Kemudian ditemani salad yang terdiri dari

Urban Rib Eye Steak with Rendang Sauce Steak berikut ini sangat istimewa karena disajikan dengan saus rendang. Ternyata, perpaduan makanan Western dan lokal ini, justru menghasilkan rasa yang tak kalah lezatnya. Apalagi, disajikan bersama ketela ungu semakin lengkap sebagai teman makan malam Anda. Bahan: 200 gr 40 gr 2 buah 10 ml 30 gr 20 ml 30 ml Thyme.

: bahan daging steak : asparagus : tomat ceri : mushroom balsamic : ketela ungu kukus : saus dari rendang : rendang béarnaise.

Bahan: - Five spirit - limoncello - passion fruit puree - lemon segar - coca cola.

Tempe & Tofu Telur Asin Anda tentu mengenal gado-gado. Namun, jika hanya disajikan begitu saja di piring, terlihat sangat biasa. Kreasi berikut ini sangat menarik, sehingga terlihat begitu menggugah selera makan. Bahan: 2 buah 1 buah 1 butir 20 gr 1 buah 30 gr 10 gr 1 buah 2 ml 5 ml 2 buah

Bahan: kombinasi tequila sirup jahe jeruk segar jus nenas jeruk nipis soda.

: tahu : tempe : telur asin : daun bawang : cabai besar : tauge : selada : lontong : kecap manis : saus kacang : tomat ceri

Hati Ampela Cabai Hijau

Lontong Kikil Sarwan Bahan: 750 gr : kikil sapi 3 batang : serai memarkan 5 lbr : daun salam, buang tulangya 1200 ml : air kaldu sapi 3 blok : kaldu sapi 1 sdt : lada bubuk 2 batang : daun bawang prei potong kasar Garam, gula, minyak goreng

kelapa muda labu saus mango salsa tomat ceri coriander dressing tusuk sate dari batang sereh

Bumbu halus: 12 buah : bawang merah 6 siung : bawang putih 3 ruas : jari jahe 3 ruas : kunyit bakar

Chinesse Food

ati Nikm Hanya di...

& Aneka Es Taiwan

Cafe Santai

Beli 10 Mangkok Es

Gratis

1 Mangkok Es Salju

iah Murah Mer & Bersih

Omanthius Strawberry Kiss Bahan: Buah stroberi, omanthius puree, kayumanis batang, jeruk nipis, vodka dan orange liquer

campuran kelapa muda, labu, ada saus mango salsa dan corian­ der dressing. Sajian udang bakar lebih menggoda. : : : : : :

Candied Ginger

13

Morning Spirit

Urban King Prawn Salad Bahan: 30 gr 30 gr 20 gr 10 gr 10 ml 1 buah

terutama vodka. Cocktail zaman sekarang biasanya dibuat dari satu jenis atau lebih minuman beralkohol yang ditambah perasa seperti liqueur, sari buah, madu, air, es, susu, minuman karbonasi, krim susu, rempah-rempah, bitter dll. Berikut sajian cocktail kreasi dari FB Manager The One Legian, I Gusti Agung Gede Udiana. -Wirati Astiti

Edisi 870/ 12 - 18 OKTOBER 2015

Roti Bakar Telor

Berlaku mulai 1 s.d. 31 Oktober 2015

Jln. Raya Sesetan No. 293 Denpasar. Tlp. (0361) 7440658, 7427678

Bahan Sambal: 4 butir : kemiri sangrai 10 buah : cabe rawit rebus 1 sdm : air panas Garam, gula secukupnya. Bahan pelengkap: 6 buah : lontong 3 sdm : bawang putih goreng

Air jeruk nipis secukupnya Cara membuat: - Presto kikil bersama 2 lbr daun salam dan 2 cm jahe dalam 750 ml air sampai matang dan empuk, tiriskan. - Tumis bumbu halus, serai, daun jeruk sampai harum. - Tuang air kaldu sapi dan masukkan kikil, aduk rata, tambahkan kaldu sapi, garam, gula dan lada. Masak sampai matang,

tambahkan daun prei, aduk rata. - Sambal: haluskan kemiri, cabe rawit, garam dan gula sampai halus, tuang air panas, aduk rata. - Letakkan irisan lontong dan kuah dan kikil iris didalam mangkok, taburi dengan bawang putih goreng, sajikan bersama sambal dan air jeruk nipis. - Siap disajikan.

Bahan: 7 pasang : ampela ayam 500 ml : air, digunakan merebus 2 lbr : daun salam 3 lbr : daun jeruk 2 ruas : jari lengkuas, memarkan 1 butir : bawang bombai, cincang kasar 12 buah : cabe besar hijau, cincang kasar 10 buah : cabe rawit hijau, cincang halus 4 siung : bawang putih, cincang halus 10 butir : petai, belah dua 2 sdm : kecap manis 100 ml : air 1 buah : tomat potong dadu Gula, garam,kaldu bubuk rasa ayam dan minyak secukupnya

Cara Membuat: - Rebus hati dan ampela ayam yang sudah dibersihkan, masak sampai matang, tiriskan, potong dadu hati dan ampela, sisihkan. - Panaskan minyak, tumis irisan bawang bombai dan bawang putih sampai harum. Tambahkan cincangan cabe besar hijau dan kecil, daun salam, daun jeruk dan lengkuas, tomat dan petai, kecap manis, garam, gula dan kaldu bubuk. Masukkan irisan ampela dan hati ayam, air, lalu aduk hingga tercampur rata, masak sampai mendidih dan bumbu meresap. - Siap untuk disajikan.


Kuliner

Edisi 870/ 12 - 18 OKTOBER 2015

12

New Urban Cocktail C

Sensasi Makan Malam di

ocktail adalah minuman beralkohol yang dicampur dengan minuman atau bahan lain yang beraroma. Sebelum disajikan dalam gelas khusus, minuman ini diaduk atau diguncang-guncang supaya bahan-bahannya tercampur. Minuman beralkohol yang sering dijadikan coktail adalah wiski, rum,

Rooftop

Malam yang ramai, pesta, dan keceriaan tergambar dari Legian tujuan wisata favorit kalangan muda di Bali. Keseruan ini dapat Anda rasakan di Rooftop The One Legian. Dengan konsep ruangan terbuka area ini menjadi tempat makan yang menarik. Datanglah sore hari menjelang matahari tenggelam. Sensasi makan malam yang sangat berkesan akan Anda rasakan.

Dari kiri: I Gusti Agung Gede Udiana, Dewi Mas Bloem, dan Marcom The One Legian Irma Farida.

G

eneral Manager The One Legian, Dewi Mas ­Bloem mengatakan, tidak semua hotel di Bali memi-

liki rooftop sebagai restoran. “Kami ingin The One Legian menjadi destinasi baru, new urban legian,” ujarnya. Rooftop mampu menampung

250-an orang untuk duduk makan, atau 700 orang untuk standing party. Makanan yang tersaji sangat spesial, semuanya ada, mulai dari lokal, Asia, Wes­ tern, Eropa, pokoknya lengkap international food. Anda jangan kaget, karena di rooftop ada kolam renangnya. Yang paling seru, Anda tak harus menginap di sana, karena rooftop dibuka untuk u m u m . M a u b er en a n g d a n menikmati makan malam yang lezat sembari melihat sunset. Silakan saja, Anda pasti sangat terpesona. Berikut sajian menu persembahan dari The One Legian, kreasi Executive Chef Nyoman Picha. - Wirati Astiti

Sajian udang bakar dapat dikreasikan dengan tusukan

dari batang sereh. Kemudian ditemani salad yang terdiri dari

Urban Rib Eye Steak with Rendang Sauce Steak berikut ini sangat istimewa karena disajikan dengan saus rendang. Ternyata, perpaduan makanan Western dan lokal ini, justru menghasilkan rasa yang tak kalah lezatnya. Apalagi, disajikan bersama ketela ungu semakin lengkap sebagai teman makan malam Anda. Bahan: 200 gr 40 gr 2 buah 10 ml 30 gr 20 ml 30 ml Thyme.

: bahan daging steak : asparagus : tomat ceri : mushroom balsamic : ketela ungu kukus : saus dari rendang : rendang béarnaise.

Bahan: - Five spirit - limoncello - passion fruit puree - lemon segar - coca cola.

Tempe & Tofu Telur Asin Anda tentu mengenal gado-gado. Namun, jika hanya disajikan begitu saja di piring, terlihat sangat biasa. Kreasi berikut ini sangat menarik, sehingga terlihat begitu menggugah selera makan. Bahan: 2 buah 1 buah 1 butir 20 gr 1 buah 30 gr 10 gr 1 buah 2 ml 5 ml 2 buah

Bahan: kombinasi tequila sirup jahe jeruk segar jus nenas jeruk nipis soda.

: tahu : tempe : telur asin : daun bawang : cabai besar : tauge : selada : lontong : kecap manis : saus kacang : tomat ceri

Hati Ampela Cabai Hijau

Lontong Kikil Sarwan Bahan: 750 gr : kikil sapi 3 batang : serai memarkan 5 lbr : daun salam, buang tulangya 1200 ml : air kaldu sapi 3 blok : kaldu sapi 1 sdt : lada bubuk 2 batang : daun bawang prei potong kasar Garam, gula, minyak goreng

kelapa muda labu saus mango salsa tomat ceri coriander dressing tusuk sate dari batang sereh

Bumbu halus: 12 buah : bawang merah 6 siung : bawang putih 3 ruas : jari jahe 3 ruas : kunyit bakar

Chinesse Food

ati Nikm Hanya di...

& Aneka Es Taiwan

Cafe Santai

Beli 10 Mangkok Es

Gratis

1 Mangkok Es Salju

iah Murah Mer & Bersih

Omanthius Strawberry Kiss Bahan: Buah stroberi, omanthius puree, kayumanis batang, jeruk nipis, vodka dan orange liquer

campuran kelapa muda, labu, ada saus mango salsa dan corian­ der dressing. Sajian udang bakar lebih menggoda. : : : : : :

Candied Ginger

13

Morning Spirit

Urban King Prawn Salad Bahan: 30 gr 30 gr 20 gr 10 gr 10 ml 1 buah

terutama vodka. Cocktail zaman sekarang biasanya dibuat dari satu jenis atau lebih minuman beralkohol yang ditambah perasa seperti liqueur, sari buah, madu, air, es, susu, minuman karbonasi, krim susu, rempah-rempah, bitter dll. Berikut sajian cocktail kreasi dari FB Manager The One Legian, I Gusti Agung Gede Udiana. -Wirati Astiti

Edisi 870/ 12 - 18 OKTOBER 2015

Roti Bakar Telor

Berlaku mulai 1 s.d. 31 Oktober 2015

Jln. Raya Sesetan No. 293 Denpasar. Tlp. (0361) 7440658, 7427678

Bahan Sambal: 4 butir : kemiri sangrai 10 buah : cabe rawit rebus 1 sdm : air panas Garam, gula secukupnya. Bahan pelengkap: 6 buah : lontong 3 sdm : bawang putih goreng

Air jeruk nipis secukupnya Cara membuat: - Presto kikil bersama 2 lbr daun salam dan 2 cm jahe dalam 750 ml air sampai matang dan empuk, tiriskan. - Tumis bumbu halus, serai, daun jeruk sampai harum. - Tuang air kaldu sapi dan masukkan kikil, aduk rata, tambahkan kaldu sapi, garam, gula dan lada. Masak sampai matang,

tambahkan daun prei, aduk rata. - Sambal: haluskan kemiri, cabe rawit, garam dan gula sampai halus, tuang air panas, aduk rata. - Letakkan irisan lontong dan kuah dan kikil iris didalam mangkok, taburi dengan bawang putih goreng, sajikan bersama sambal dan air jeruk nipis. - Siap disajikan.

Bahan: 7 pasang : ampela ayam 500 ml : air, digunakan merebus 2 lbr : daun salam 3 lbr : daun jeruk 2 ruas : jari lengkuas, memarkan 1 butir : bawang bombai, cincang kasar 12 buah : cabe besar hijau, cincang kasar 10 buah : cabe rawit hijau, cincang halus 4 siung : bawang putih, cincang halus 10 butir : petai, belah dua 2 sdm : kecap manis 100 ml : air 1 buah : tomat potong dadu Gula, garam,kaldu bubuk rasa ayam dan minyak secukupnya

Cara Membuat: - Rebus hati dan ampela ayam yang sudah dibersihkan, masak sampai matang, tiriskan, potong dadu hati dan ampela, sisihkan. - Panaskan minyak, tumis irisan bawang bombai dan bawang putih sampai harum. Tambahkan cincangan cabe besar hijau dan kecil, daun salam, daun jeruk dan lengkuas, tomat dan petai, kecap manis, garam, gula dan kaldu bubuk. Masukkan irisan ampela dan hati ayam, air, lalu aduk hingga tercampur rata, masak sampai mendidih dan bumbu meresap. - Siap untuk disajikan.


14

Setiap orang ingin memiliki rambut yang sehat, yakni rambut yang tidak kusam, tidak rontok, tanpa ketombe dan bercahaya. Apalagi rambut disebut-sebut sebagai mahkota, maka perlu dijaga dan diberikan perawatan terbaik demi kesehatan dan keindahannya.

M

Jelita

Edisi 870/ 12 - 18 oktober 2015

erawat rambut sama pentingnya seperti menjaga bagian lain dari tubuh. Sebab, rambut juga cenderung menjadi sasaran polusi, kotoran dan bahkan unsur kimia. Untuk memperoleh rambut sehat, tidaklah cukup hanya dengan keramas, namun perlu menambahkan perawataan creambath. Begitu disampaikan Dayu Nyoman pemilik Salon Ayu di kawasan Jalan Sedap Malam, Denpasar. Dayu mengatakan kondisi rambut memang tergantung bagaimana sang pemilik merawatnya. Jika keseorang peduli terhadap rambut sendiri, maka rambut pun akan lebat dan sehat, begitu pula sebaliknya. Apapun tekstur rambut yang dimiliki orang, dengan menambahkan creambath akan memberikan keuntungan berupa keindahan rambut. Menurut Dayu, creambath sudah dikenal sejak dulu, sebagai perawatan dasar, dengan mengoleskan daun lidah buaya segar atau krim sesuai kondisi rambut. Creambath denganbahan-bahan alami, katanya salah satu cara perawatan rambut yang banyak dipilih perempuan. Baik untuk menjaga keindahan, maupun mengatasi masalah kerusakan rambut. Selain itu, efek pijatan yang lembut pun bermanfaat menenangkan sekalgus menyegarkan. Saat ini, ada banyak pilihan krim creambath di pasaran, masingmasing diperuntukkan bagi jenis rambut yang berbeda. Namun, semakin sedikit kandungan kimia dalam sebuah produk perawatan rambut maka fungsinya semakin baik. Karean ini pula, tidak heran jika semakin banyak orang memilih creambath tradisional dengan bahan-bahan herbal. Dengan creambath lanjut Dayu dipastikan kulit kepala dan rambut dibersihkan dan disehatkan. Selain itu, dapat mencegah kerontokan, merangsang pertumbuhan rambut , melancarkan peredaran darah dan melemaskan otot di kepala, sambil menormalkan kerja kelenjar kulit. Bagi mereka yang keseharian-

Manfaat Creambath bagi Rambut

nya sering menutup kepala dengan topi maupun yang mengenakan jilbab, creambath juga salah satu menu perawatan yang wajib dilakukan . Dengan rambut yang sehat, seseorang akan lebih nyaman beraktivitas. REMPAH ASLI CREAMBATH TRADISIONAL Dayu juga menyampikan kalau creambath tradisional dengan aromanya yang masih asli kini tetap digemar. Apalagi sekarang kata Dayu semakin banyak bahan-bahan alami seperti bahan daun-daunan dan rempah asli dari alam Indonesia yang telah terbukti berkhasiat dan membantu mengatasi masalah rambut. “Krim tradisional yang terbuat dari bahan alami, serta memiliki kualitas sari tumbuh – tumbuhan ini sangat terasa memberikan sentuhan yang menyegarkan ketika dioleskan pada kulit kepala,” ungkap Yanti seorang karyawati swasta penyuka creambath tradisional ini. Yanti mengaku suka memilih creambath dengan krim alpukat. Karena menurutnya bahan creambath ini bermanfaat membantu kelembaban rambutnya. Selain membantu merawat rambutnya yang kering dan bercabang. “Alpukat memang bermanfaat melembabkan rambut kering dan mampu memberikan nutrisi yang tepat. Bukan hanya itu, krim alpukat juga dapat menutupi lapisan kutikula rambut yang rusak,” ujar Dayu menambahkan. Ada juga pilihan krim tradisional lainnyaseperti rumput laut dan ginseng. Creambath berbahan ginseng, sangat dipercaya mampu memberikan perawatan maksimal bagi rambut

tkh/net

yang mudah patah juga rontok. Selain itu, krim rumput laut dan ginseng dapat pula menstimulasi peredaran darah di kulit kepala yang membuat rambut tetap sehat dan kuat. Kedua krim ini juga diyakini bisa mengaktifkan sel-sel rambut serta menguatkan akarnya dengan baik. Selanjutnya ada krim lidah buaya atau aloe vera , yang dipercaya memiliki banyak manfaat , terutama untuk rambut terlalu tipis dan kurang subur. Dengan mengoleskan krim lidah buaya, dapat membuat rambut lebih subur, tebal dan bersih. Kandungannya juga bermanfaat melembabkan dan menghitamkan rambut. Krim lain yang juga sering dipilih untuk creambath adalah urang- aring . Produk yang satu ini dikenal masyarakat sudah sejak lama, sebab fungsi menghitamkan, melembabkan dan menjadikan rambut mengkilat. “Begitu juga dengan merang, yang juga dikenal sejak dulu berkhasiat sebagai bahan penghitam rambut. Selain itu ada manfaat lainnya yakni menyehatkan rambut, rambut menjadi halus, dan

membuat kulit kepala terbebas dari ketombe,” lanjut Dayu sambil mengatakan masih banyak bahan alami lainnya yang berfungsi merawat rambut. Mengenai prosesnya, kata Dayu seperti biasa diawali keramas. Selanjutnya rambut hingga kulit kepala diolesi krim disertai pemijatan di kulit kepala agar krim meresap. Setelah itu, rambut di-steam dan ditutup dengan handuk hangat, dibiarkan sekitar 10 sampi 15 menit, berlanjut dengan diangin-anginkan sejenak kemudian keramas. Pemijatan dapat membantu meningkatkan peredaran darah pada kepala sehingga zat makanan untuk rambut teresap dengan baik. Jika saat disisir rambut tidak bermasalah, oleh Dayu dikatakan dengan rajin creambath cukup membantu. Apalagi dilakukan dengan teratur akan menjadikan rambut semakin sehat, berkilau, tidak rontok, dan tentu mudah diatur.”Bagi yang memiliki rambut rusak, lakukan perawatan dapat dilakukan bergantian dengan masker rambut,”katanya.

Bugar

11

PAP SMEAR SEBAGAI DETEKSI DINI KANKER MULUT RAHIM Oleh : dr. AAG Adi Parathama Sp.OG lPencegahan sekunder paling efektif adalah ­

melalui pendeteksian dini dengan pemeriksaan Inspeksi Visual dengan asam asetat (tes IVA),Pap Smear dan kolposkopi

Pap Smear: lPap smear adalah suatu pemeriksaan yang aman, murah, untuk mendeteksi kelainan sel-sel di mulut rahim. lMetode tes ini adalah pemeriksaan sel-sel yang diambil dari apusan mulut rahim dan kemudian diperiksa dengan mikroskop untuk melihat perubahan-perubahan yang terjadi dari sel tersebut. lPap Smear terbukti dapat menemukan lesi prakanker

Dayu Nyoman

Selain itu, demi menjaga kesehatan rambut lebih baik tidak terlalu sering menggunakan pengering rambut, sebab bisa menjadikan rambut stres yang mengakibatkannya rapuh.” Makanya,biarkan rambut kering alami. Kalaupun karena satu hah mesti dikeringkan memakai alat, cukup lakukan setengah kering,” imbuhnya. – Sri Ardhini

Edisi 870/ 12 - 18 oktober 2015

dr. AAG Adi Parathama Sp.OG

Kanker leher rahim atau disebut juga kanker serviks adalah sejenis kanker yang 99,7% disebabkan oleh human papilloma virus (HPV). Human papilloma virus (HPV) 16 dan 18 merupakan penyebab utama pada 70% kasus kanker serviks di dunia. Perjalanan dari infeksi HPV hingga menjadi kanker serviks memakan waktu yang cukup lama, yaitu sekitar 10 hingga 20 tahun. Namun proses penginfeksian ini seringkali tidak disadari oleh para penderita, karena proses HPV kemudian menjadi pra-kanker sebagian besar berlangsung tanpa gejala. Karena itu, Vaksinasi Kanker Serviks sangat dianjurkan. Tingginya angka kematian penderita kanker leher rahim ini di Indonesia disebabkan karena terlambatnya penderita datang berobat. Gejala : Kanker leher rahim pada stadium awal tidak menunjukkan gejala yang khas, bahkan bisa tanpa gejala. Pada stadium lanjut sering memberikan gejala : perdarahan post coitus, keputihan abnormal, perdarahan sesudah mati haid (menopause) serta keluar cairan abnormal (kekuning-kuningan, berbau dan bercampur darah). Pencegahan : lPencegahan primer dengan hubungan suami-istri (tanpa ganti pasangan)

Kapan Melakukan Pap Smear: lMinimal setahun sekali pada wanita yang sudah menikah atau yang telah melakukan hubungan seksual. lPap Smear dilakukan juga wanita tidak sedang haid, tidak berhubungan seksual 1 – 3 hari sebelum pemeriksaan dan tidak menggunakan obat – obatan vaginal. Manfaat Pap Smear: lDiagnosis dini keganasan Pap Smear berguna dalam mendeteksi dini kanker mulut rahim, kanker korpus.

Endometrium. lPap Smear berguna sebagai perawatan setelah operasi dan setelah mendapat kemoterapi dan radiasi. lPap Smear berguna untuk menentukan proses peradangan pada berbagai infeksi bakteri dan jamur.

Tehnik Pemeriksaan Pap Smear : Dua hari sebelum pemeriksaan, ibu dilarang untuk melakukan hubungan seksual atau menggunakan obat – obatan yang dimasukan ke dalam vagina. Waktu yang paling baik adalah beberapa hari setelah ibu selesai menstruasi. Ibu dalam posisi litotomi, pasang spekulum vagina tanpa menggunakan pelicin, dan tanpa melakukan periksa dalam sebelumnya. Setelah portio tampak, maka spatula dimasukkan ke dalam kanalis servikalis, lalu spatula diputar 180° searah jarum jam. Spatula dengan ujung pendek diusap 360° pada permukaan serviks. Lendir yang didapat dioleskan pada objek glass berlawanan arah jarum jam. Apusan hendaknya dilakukan sekali saja, lalu difiksasi atau direndam dalam larutan alkohol 96% selama 30 menit. Sediaan dapat dikirim secara basah (tetap direndam dalam alkohol) atau dikirim secara kering dengan mengeringkan sediaan setelah direndam dalam alkohol. Selanjutnya sediaan tadi dikirim ke Ahli Patologi Anatomi untuk diperiksa.


10

Mitos

Edisi 870/ 12 - 18 OKTOBER 2015

Style

Edisi 870/ 12 - 18 OKTOBER 2015

Pilih Pola Vegetarian yang Dimensi Kebaya Modern Tepat untuk Anak Pola konsumsi vegetarian sangat sulit memenuhi kebutuhan mineral seperti kalsium, zat Besi Hal ini terjadi karena pangan nabati mempunyai bioavabilitas yang rendah dibandingkan sumber pangan hewani. Dampaknya adalah orang yang menganut pola konsumsi vegetarian beresiko terhadap kejadian anemia kurang zat besi dan pengeroposan tulang secara dini.

Kelompok usia anak-anak merupakan kelompok yang sedang pesat mengalami pertumbuhan. Untuk mencapai tingkat pertumbuhan yang optimal diperlukan pemenuhan energi dan zat gizi yang seimbang sesuai dengan kebutuhannya.

P

emenuhan kebutuhan energi dan zat gizi dapat diperoleh dari makanan yang dikonsumsi sehari-hari dengan memperhatikan keamanan, berimbang bergizi dan beragam. Keamanan makanan dinyatakan pertama karena keamanan merupakan faktor penting yang perlu diperhatikan. “Makanan yang berimbang, bergizi, dan beragam jika tidak aman justru akan mengakibatkan gangguan kesehatan. Aman tidak hanya merujuk pada terhindarnya makanan dari cemaran mikrobiologi, cemaran kimia dan cemaran fisik tetapi juga aman secara spiritual,” ujar Ni Putu Agustini, SKM.,M.Si. Pada beberapa tahun belakangan ini berkembang berbagai kelompok yang menganut pola makan tertentu yang diyakini dapat meningkatkan kesehatan baik kesehatan fisik maupun kesehatan mental spiritual. Salah satu pola konsumsi tersebut adalah pola konsumsi vegetarian. Pola konsumsi vegetarian diartikan sebagai pola makan yang hanya mengkonsumsi makanan yang berasal dari nabati atau tumbuh-tumbuhan tanpa mengonsumsi produk dari hewani seperti daging dan produk olahannya.

Dosen Jurusan Gizi Poltekkes Denpasar ini menjelaskan pola konsumsi vegetarian dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis yaitu vegan vegetarian, lacto vegetarian, lacto ovo vegetarian, pesca vegetarian, flexitarian, fruitarian, dan raw foodist. Vegan vegetarian yaitu kelompok vegetarian yang hanya mengonsumsi produk nabati tanpa mengonsumsi produk hewani, turunan produk hewani maupun hasil olahannya. Sedangkan lacto vegetarian adalah pola konsumsi vegetarian yang masih boleh mengonsumsi susu, lacto-ovo masih mengonsumsi susu dan telur. Pesca vegetarian disamping mengonsumsi bahan pangan nabati juga masih mengonsumsi ikan dan hasil olahannya di dalam pola konsumsinya. “Pola konsumsi vegetarian ditinjau dari segi kesehatan memang menguntungkan karena pola konsumsi ini mengandung serat tinggi, cenderung rendah lemak terutama lemak jenuh, dan rendah kolesterol. Kandungan serat yang tinggi dalam makanan sangat bermanfaat untuk kesehatan karena dapat memperlancar proses pembuangan air besar sehingga transit racun di dalam usus besar menjadi lebih

Ni Putu Agustini, SKM.,M.Si.

pendek. Hal ini dapat mengurangi risiko terhadap penyakit-penyakit pada usus besar dan kolon seperti penyakit kanker,” ujarnya. Kandungan lemak jenuh dan kolesterol yang rendah di dalam bahan makanan merupakan pola konsumsi yang baik untuk mengurangi resiko terjadinya penyakit yang berhubungan dengan pembuluh darah dan penyakit jantung koroner. Manfaat lain dari pola konsumsi vegetarian adalah dapat menjaga berat badan, serta terhindar dari penyakit-penyakit yang ditularkan melalui makanan terutama produk makanan hewani. Namun, ada beberapa kelemahan pada pola konsumsi vegetarian antara lain pemenuhan asam amino esensial. Asam amino esensial ini di dalam tubuh berperan untuk pembentukan enzim, hormom, antibodi, dan tumbuh kembang sel. Sumbernya dapat diperoleh pada bahan makanan hewani seperti daging, ikan dan produk olahannya.

VEGETARIAN VEGAN TIDAK DIANJURKAN Pada masa anak-anak yang sedang mengalami pertumbuhan sangat perlu diperhatikan kuantitas dan kualitas sumber pangan untuk memenuhi kebutuhan energi, karbohidrat, lemak, vitamin, mineral dan air. Kualitas protein yang dimaksud adalah protein yang dikonsumsi oleh anak dalam masa pertumbuhan diperlukan protein yang banyak mengandung asam amino esensial seperti asam amino lisin, triptopan, valin, fenilalanin. Asam amino esensial adalah kelompok asam amino yang tidak dapat disintesa di dalam tubuh sehingga sumber asam amino ini harus didapatkan dari makanan yang kita konsumsi. Jenis asam amino esensial ini banyak terdapat pada telur, susu, ikan daging, dan produk olahannya. Fungsi protein di dalam tubuh adalah untuk pembentukan enzim, untuk pembentukan antibody, untuk pembentukan hormone, serta untuk pertumbuhan dan perkembangan sel di dalam tubuh, dimana fungsi ini tidak dapat digantikan oleh zat gizi lain seperti karbohidrat dan lemak. Penerapan pola konsumsi vegetarian terutama vegetarian vegan

tidak dianjurkan untuk anak yang sedang mengalami masa pertumbuhan. Karena dalam bahan pangan nabati sulit untuk mencukup kebutuhan asam amino esensial. Dampaknya adalah proses pembentukan protein dalam tubuh akan terganggu, yang selanjutnya akan mempengaruhi proses pembentukan enzim, antibodi serta pertumbuhan dan perkembangan sel. Hal ini akan menyebabkan terjadinya gangguan pertumbuhan dan perkembangan fisik anak. “Pada prinsipnya untuk memenuhi kebutuhan zat gizi terutama kebutuhan asam amino esensial dalam proses pertumbuhan anak tidak dianjurkan menganut pola konsumsi vegetarian. Namun, jika anak atau orangtua menginginkan anaknya menganut pola konsumsi vegetarian sebaiknya memilih jenis vegetarian lacto, lacto ovo atau pesco vegetarian sehingga pemenuhan kebutuhan asam amino esensial masih dapat dipenuhi dari sumber bahan makanan seperti susu, telur atau ikan,” jelas Agustini. Ia pun memberi contoh menu seimbang yang dapat diterapkan pada anak Dengan kebutuhan energi protein, yang memilih pola konsumsi lacto ovo vegetarian adalah pagi makan roti tawar 2 potong, isi rogut sayuran, susu 1 gelas, snack bubur kacang hijau 20 g. Makan siang nasi putih (150 g), stik tempe (50 g), rolade tahu (50 g), cah sayur kangkung (50 g), jus apokat (150 g), snack: pisang goreng keju (75 g). Menu makan malam nasi goreng pelangi (150 g) dan telur mata sapi (50 g). Sebelum tidur diberikan 1 gelas susu. –Ngurah Budi

I Kadek Antara Yasa

Epilepsi hingga Lumpuh Saat bocah seumurannya sudah duduk di bangku Taman Kanak-kanak, I Kadek Antara Yasa, putra kedua pasangan Wayan Dadiana (31) dan Putu Suarmini (27) ini hanya bisa terbaring lemas di bale tempat tidur. Bocah berumur lima tahun delapan bulan ini sejak lahir mengidap penyakit epilepsi hingga menyebabkan ia lumpuh. Ketika ditemui di rumahnya di Banjar Dauh Pangkung Selepa, desa Medewi, Pekutatan, pekan lalu, kondisi Kadek terlihat lemas. Ia baru saja pulang setelah dirawat di RSU Negara. Berat badannya menyusut dan dari mulutnya sering mengeluarkan busa. “Diminta agar dirujuk ke Sanglah, tapi karena tidak ada biaya, kami tunggu dulu. Saya juga tidak bisa bekerja, fokus ngempu anak saya

ini,” ujar Dadiana. Sebelum Kadek sakit, Dadiana bisa leluasa keluar ikut bekerja menjadi buruh bangunan. Dengan, penghasilan Rp 60 ribu per hari, hanya cukup kebutuhan sehari-hari keluarganya. Apalagi kini Dadiana juga mencukupi kebutuhan ibu dan istrinya yang sedang mengandung anak ketiga. Keluarga ini sebelumnya masuk buku merah (keluarga miskin). Tetapi pascamenerima bantuan bedah rumah, keluarga ini sudah dicoret. Tetapi dengan kondisi yang dialami keluarganya ini, Dadiana mengaku tidak bisa berbuat banyak. “Pemerintah daerah sudah cukup banyak membantu, termasuk Pak Perbekel dan banjar disini. Tapi, dengan kondisi anak saya seperti ini, saya tidak bisa mencari nafkah,” ujarnya sedih.

Dari desa, pihaknya sering menerima bantuan beras hingga kursi roda dari pemerintah daerah. Namun yang dibutuhkannya saat ini menurutnya adalah biaya berobat. “Kami sudah pasrah, biaya sudah habis sampai utang untuk berobat, kami malu dengan pemerintah sudah banyak membantu,” tambahnya. Pascadirawat, hampir setiap menjelang tengah malam, anaknya terbangun menangis dan baru tidur saat subuh. Menurutnya, penyakit yang dialami Kadek ini sudah dialami tiga hari setelah lahir lima tahun silam. Kadek sejatinya terlahir normal. Tetapi, baru beberapa hari harus dirawat karena kejang. Sampai saat inipun, anaknya masih kejang-kejang walaupun terlihat diam. “Bola matanya bergerak terus, sampai

I Kadek Antara Yasa terbaring lemas

sekarang tidak bisa jalan ataupun bicara. Hanya nangis,” tambah Suarmini. Perbekel Medewi I Komang Suartika, mengakui kondisi warganya yang kurang mampu itu. Pemerintah daerah dan desa sudah berupaya membantu. “Memang sudah dicoret dari KK miskin setelah mendapat bedah rumah. Tetapi dengan kondisi keluarganya seperti itu, kami membantu se-

mampu kami,” ujarnya didampingi Klian Dauh Pangkung Selepa, Wayan Wintra. Rencananya, Suartika akan membantu mengantar dan mendampingi Kadek ke RSUP Sanglah. Dadiana sendiri mengaku minder ke Sanglah, karena khawatir biaya pengobatan, disamping biaya selama menunggu perawatan anaknya. –Surya Dharma

Salah seorang Perancang dari Kota Denpasar Rhea Cempaka yang identik dengan kebaya, kembali mempersembahkan karyanya pada pagelaran Grand Final Duta Endek Kota Denpasar 2015, pekan lalu, di Convention Centre, Hotel ­Aston Denpasar.

S

Rhea Cempaka

ederetan karyanya membungkus busana yang mencerminkan budaya Indonesia ini dengan gaya urban modern. Inspirasi dari kebaya Bali ini di tangan Rhea berhasil menjadi busana ready to wear. Koleksi kebaya yang khas berbahan endek, dengan aplikasi lace, sentuhan embroidery dan payet menambah dimensi gaya dan daya tariknya. Transfor-

masi yang elegan tanpa meninggalkan unsur tradisional dan keunikan yang dimiliki. Desain dengan pendekatan kebaya modern yang stylish berlabel Cempaka ini, sangat pas untuk sosok perempuan Bali yang aktif dengan etos kerja luar biasa. Mereka akan tampil menawan dalam berbagai kegiatan ketika mengenakan kebaya lengkap dengan aksesori yang sedang ngetren saat ini. –Sri Ardhini

15


16

Edukasi

Edisi 870/ 12 - 18 oktober 2015

SLB/B Negeri Tabanan

Melengkapi Kekurangan dengan Kelebihan Siang itu tampak beberapa anak kelas 6 SD memasuki ruang Speech Therapy. Sejurus kemudian dua orang guru memasuki ruangan tersebut. Sang guru menanyakan salah seorang murid yang tak hadir saat itu. Mereka tampak sibuk berkomunikasi sesama temannya dengan bahasa isyarat.

G

uru itu meminta mereka menyampaikannya dengan berbicara, bukan dengan bahasa isyarat. Meski terlihat agak susah mengeluarkan kata-kata, paling tidak ada ucapan mereka yang keluar dan terdengar, yang sedikit tidaknya bisa ditangkap orang kebanyakan. Di ruang Speech Therapy inilah anak-anak tunarungu diberikan terapi khusus untuk belajar bicara. Tenaga pengajarnya, ada dari keilmuan psikologi. Ruangan ini dilengkapi dengan cermin untuk membaca bibir dan alat pendeksi pendengaran. Seperti itulah kondisi anakanak tunarungu yang menempuh pendidikannya di SLB/B Negeri Tabanan ini. Kepala sekolahnya, I Gede Sukaca, S. Pd. mengatakan, anak-anak tunarungu (bisu-tuli) ini kini lebih banyak diajarkan baca oral dengan membaca bahasa bibir. “Kami sarankan mereka lebih banyak memakai bahasa bibir, karena nantinya mereka akan terjun di masyarakat. Jadi dua bahasa ini dikombinasikan,” jelas alumni Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa (SGPLB), Yogyakarta ini. Seperti sekolah pada umumnya, SLB/B ini juga dilengkapi dengan ruang Perpustakaan. Ketika Tokoh memasuki ruangan ini, tampak se-

Gede Sukaca

orang gadis yang sedang membaca buku. Namun cara membacanya tak lazim, buku yang dipegangnya itu diposisikan sangat dekat dengan matanya. “Anak ini kelas A (tunanetra), tetapi tidak full tidak bisa melihat, ia bisa melihat sedikit saja, makanya ia membaca seperti itu. Kalau yang benar-benar buta, mereka membaca huruf Braille,” jelas Sukaca yang mengaku sangat jarang berada di ruangannya ini karena terus berkeliling memantau aktivitas muridnya bahkan mengajar di kelas. Masih di deretan kedua ruangan tersebut, ada satu ruangan

yang tampaknya masih baru dicat. Ruangan itu tersebut tampak segar karena didominasi warna putih dan ungu. “Salon ini memang baru dibuka, bahkan belum resmi diluncurkan. Tapi salon ini sudah dibuka untuk umum, ada plang salonnya di depan,” ujar Sukaca sembari menunjuk banner yang bertuliskan “Deaf” Beauty Salon di depan ruang tersebut. “Kebetulan saat ini anak-anak salon (dua orang) sedang mengikuti pelatihan salon di SLB Jimbaran. Disana mereka diajar oleh Salong Agung,” imbuhnya. BEKAL SOFT SKILL Pria kelahiran Gianyar yang baru menjabat Kasek SLB/B Tabanan sejak Januari 2014 ini mengatakan, selain mata pelajaran umum, anakanak SLB ini dibekali dengan soft skill yang tentunya bertujuan untuk memberikan kelebihan keterampilan tertentu di tengah kekurangan mereka. “Tamatnya dari sini mereka sudah bisa kerja,” ucapnya. Beberapa keterampilan yang diwadahi di SLB ini di antaranya, membuat batako, membuat telur asin, salon, tata boga, hantaran (seperti merangkai bunga), menjahit, komputer, keramik, tata busana, megambel, dan menari. Bahkan khusus untuk ekstra menari, wajib diikuti oleh anak-anak kelas 1 s.d. 4 SD. SLB/B Negeri Tabanan merupakan sekolah satu atap untuk jenjang SD, SMP, dan SMA. Jumlah muridnya kini mencapai 116 orang, dengan rincian 78 siswa SD, 24 SMP, dan 14 murid SMA. Dulu, SLB/B ini hanya menerima anak tunarungu. Namun sejak 2007, sekolah yang berdiri di lahan seluas 20 are ini juga me-

Aktivitas anak-anak tunarungu di ruang Speech Therapy

Serangkaian HUT ke-17, Tokoh akan mengunjungi SLB/B Negeri Tabanan yang beralamat di Jalan Pulau Batam No. 40, Tabanan pada Selasa 3 November 2015. Sahabat Tokoh yang ingin bergabung ­dalam acara tersebut atau ingin memberi bantuan silakan menghubungi ­Sekretariat Tokoh. Terima kasih

Sudut Pandang

Filateli sebagai Investasi Memiliki hobi mengumpulkan perangko (filateli) sangat mengasyikkan. Selain mendapat pengetahuan dari gambargambar yang tertera, hobi ini bisa menghasilkan uang. Hal inilah yang dialami Gede Ngurah Surya Hadinata, SST. Par, M.Par. Pria yang mengoleksi perangko sejak tahun 1990 ini menjadikan filateli sebagai hobi plus mata pencaharian.

Penataan taman SLB Negeri Tabanan sehingga sekolah ini menjadi nyaman

nampung anak tunanetra (A) dan tunagrahita (C). “Untuk ke depan, kami juga akan menerima anak tunadaksa (cacat), fasilitasnya masih kami lengkapi sedikit-demi sedikit. Jika sudah siap, kami pasti menerimanya,” ucap Sukaca seraya mengatakan ada 23 guru di sekolah ini. Gede Sukaca yang sudah berpuluh-puluh tahun berinteraksi dengan anak disabilitas ini, telah pula berkeliling bertugas. Di Negara, ia bertugas sejak 1968 s.d. 1997, Gianyar (1997 s.d. 2013) dan dipercaya menjabat Kasek di SLB tersebut mulai tahun 2012, dan sejak 2014 ditugaskan di SLB/B Negeri Tabanan. Meski jarak rumah tinggal dengan tempat tugasnya kini lumayan jauh, itu tak menyurutkan niat Sukaca untuk terus memberikan pelayanan terbaik bagi lingkungan kerjanya. Yang pertamakali dilakukannya ketika bertugas disini adalah membenahi manajemen kerja. Semua kegiatan serba terarsip, sehingga ketika ada akreditasi, ia dan seluruh staf tak perlu pusing untuk memenuhi segala persyaratannya. Ia juga sangat memperhatikan ruang terbuka hijau yakni dengan menata taman agar sejuk dan nyaman bagi semua civitas sekolah, baik murid, guru, maupun orangtua murid. Bahkan, taman tersebut dikerjakan oleh orangtua murid, tanaman anggrek disumbangkan oleh para guru. “Pokoknya di sekolah ini rasa kebersamaannya kuat, sehingga anak-anak

juga nyaman belajar dan beraktivitas di sini,” ucapnya. Terkait proses belajar-mengajar, Gede Sukaca mengatakan idealnya 1 guru mengajar 5 anak. “Di sini rata-rata 1 guru mengajar 7 anak. Jika lebih dari itu, susah,” imbuhnya. Mengajar anak disabilitas memang perlu kesabaran ekstra. Dari sisi akademis, anak-anak ini memang lebih lambat, karena itu mereka lebih banyak diberikan soft skill. SLB/B Negeri Tabanan ini juga sarat prestasi, di antaranya Juara III Bulutangkis Putra dalam Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) PKLK Jenjang Dikdas Tingkat Nasional Tahun 2015; Juara I Olimpiade Sains Nasional Provinsi Bali Tahun 2015 Bidang Olimpiade Matematika (SDLB-A); Juara I Festival dan Lomba seni Siswa Nasional Provinsi Bali Tahun 2015 Bidang Desain Grafis dengan Komputer (SMALB-B/D); Juara I Olimpiade Olahraga Siswa Nasional Provinsi Bali Tahun 2015 Bidang Bultangkis Putra (SDLB-B). Selanjutnya, menempuh pendidikan di SLB/B Negeri Tabanan ini dikatakannya serba gratis, mulai dari seragam sekolah, buku-buku dan alat tulis, tas, sepatu, hingga mereka yang masuk asrama pun semua ditanggung APBD. Namun Gede Sukaca menyayangkan, masih banyak orangtua yang enggan dan malu menyekolahkan anak-anak mereka yang berkebutuhan khusus ke SLB. –Inten Indrawati

Edisi 870/ 12 - 18 oktober 2015

“S

aya tertarik mengoleksi perangko ketika SMP kelas I. Waktu itu ada pameran perangko di acara pameran pembangunan di Balai Budaya Klungkung. Keesokan harinya saya ke kantor pos. Saya banyak bertanya tentang perangko. Bahkan dikasi perangko dan buku tentang filateli. Dari sana saya mulai berburu perangko,” ujar pria yang akrab disapa Ngurah ini. Ia ingat koleksi pertamanya adalah

perangko dari Spanyol yang disaat gelap bisa bercahaya. Dari satu perangko, koleksinya terus bertambah. Ia sering pergi ke toko buku atau kantor pos untuk mencari perangko. Ngurah bahkan rela tabungannya habis untuk dipakai membeli perangko. “Dulu ibu saya marah-marah karena uang saya habis untuk beli perangko. Tetapi, setelah tahu perangko itu bisa dijual kembali dan saya bisa mendapatkan uang, ibu saya jadi maklum,” kenangnya.

Koleksi filateli Ngurah Surya Hadinata

Pria yang juga Ketua Perkumpulan Filatelis Indonesia (PFI) Provinsi Bali ini menuturkan sejak tahun 1991 ia sudah ikut pameran filateli yang saat itu dilaksanakan di Padang, Sumatera Barat. Sejak itu, ia tak pernah absen ikut pameran. Minimal dalam setahun ia ikut pameran. Kalau pameran di Bali, ia bahkan sibuk sebagai panitia. Mengenai jumlah koleksinya, suami Ni Komang Nova Damayanti dan ayah dari Balarama Prasada dan Dipanatha Prasad ini mengaku tak tahu. Koleksinya itu ada yang di simpan di album besar, album kecil, bahkan ada yang belum ditata. Untuk mendapatkan perangko ia menggunakan beberapa cara, diantaranya membeli di kantor pos, toko buku, lelang, atau saat pameran. Kadang ia juga menukar koleksinya dengan sesama filatelis. Dari koleksinya itu, ada perangko yang terbit pertama di dunia. Perangko terbitan 6 Mei 1840 dari Inggris ini dikenal dengan nama The Penny Black. Ada juga perangko yang pertama kali diterbitkan di Indonesia 1 April 1864 (zaman Hindia Belanda). Perangko ini bergambar Raja Willem III. Ngurah mendapatkan perangko-perangko langka ini dari lelang. PERANGKO BUNG KARNO “Menjadi filatelis itu investasi. Perangko punya nilai tinggi karena memiliki unsur seni. Karena itu, selain sebagai sarana pendukung komunikasi, juga bisa menjadi benda koleksi. Makin sedikit jumlahnya, makin banyak peminat. Hukum pasar pun terjadi. Harga perangko bisa melambung. Sampai saat ini, ada perangko

Hobi Sahabat Pena Nyambung dengan Filateli Perangko berasal dari bahasa tuk dan ukuran perangko bermacamLatin “franco” yang artinya tanda macam. Namun, yang lazaim adalah pembayaran untuk melunasi pengiri- persegi panjang mendatar. Filatelis man surat. Artinya, biaya pengiri- bisa mengumpulkan perangko mint man surat tidak dibebankan kepada (perangko baru yang belum terpakai) penerima surat tetapi dilunasi pen- atau perangko used (perangko yang girim surat dengan menggunakan sudah terpakai dan dibubuhi teraan cap tanggal). perangko. Susyani, salah seorang kolektor Perangko yang semula hanya sebagai tanda pelunasan biaya pos mengaku mulai hobinya dari kelas 5 kemudian berkembang menjadi SD. “Waktu itu dikasi bapak beberapa benda koleksi. Kegemaran untuk perangko. Karena belum punya almempelajari dan meneliti perangko bum, jadi ditempel di buku tulis. dan benda pos lainnya dikenal Setelah SMP mulai punya hobi koredengan istilah filateli. Orang yang spondensi. Punya memiliki kegemaran ini disebut filatelis. Bisa juga dikatakan filatelis adalah ahli perangko. Filateli berasal dari bahasa Yunani, philos (teman) dan ateleia (pembebasan). Pembebasan ini artinya bebas dari kewajiban membayar biaya pengiriman surat karena dengan adanya perangko, biaya pengiriman Koleksi perangko Susi surat sudah disahatanggung si pengirim. Benda filateli yang dikumpul- bat pena di manakan antara lain perangko definitif, mana. Kami saling.berhubungan perangko peringatan, perangko dengan surat-menyurat pakai jasa istimewa, dan perangko amal. Ben- pos, dan menggunakan perangko. Jadi

sekalian hobinya nyambung,” ungkap ibu dua putra ini Kebetulan kakak sepupunya memberikan 1 album perangko. Susi pun tambah semangat mengumpulkan perangkonya. Saat SMA ada klub filateli di sekolahnya. Ia pun.gabung di klub itu. “Saya bisa tukaran perangko dengan teman jadi koleksi makin banyak. Tukaran perangko juga kadang dengan sahabat pena yang kebetulan punya hobi sama,” ujar wanita asal Tabanan ini. Dari klub filateli itu ia tahu cara merawat perangko dan menatanya di album. Ini pun menjadi keasyikan tersendiri. “Dari perangko bisa dapat pengetahuan. Setiap saat ada keluaran perangko berseri. Seperti seri pahlawan, cerita rakyat, hari peringatan, flora, fauna, dll. Kalau berseri biasanya kita tertarik untuk ngumpulin semua gambar dalam seri tersebut,” imbuhnya. Namun, sejak kuliah hobi ini mulai jarang dilakukan. Selain sudah jarang kontak dengan teman-teman, penggunaan perangko juga berkurang bahkan tidak pernah lagi karena sudah berkomunikasi di media sosial. “Kalau waktu kosong, saya menata lagi perangko, saya ingin ikut klub filatelis lagi,” ujarnya. –Ngurah Budi

Ngurah dan medali dari hasil lomba dan pameran filateli

9

kategori filateli karena hobi, mendapatkan nilai edukasi dari penjelasan gambar yang tertera di perangko, menjadi bagian pelestari sejarah, dan menjadi bagian dari investasi. Saya bisa menghidupi keluarga dari hobi ini. Misalnya, koleksi perangko yang nilainya tak lebih dari Rp 100 ribu bisa dijual hingga Rp 250 ribu setelah ditata,” ungkapnya. Ia juga memberi tips bagi calon filatelis bagaimana cara melepas perangko dari amplop atau kartu pos. Potong dulu amplop atau kartu pos, sekitar 1 cm dari pinggiran perangko. Setelah itu rendam dalam air. Perangko akan lepas dengan sendirinya. Setelah kering, simpan perangko dalam album. Jika sudah lama berkecimpung di dunia filateli, pasti bisa membedakan mana yang asli yang yang palsu. Sebagai Ketua PFI Provinsi Bali, ia dan pengurus serta anggota rutin mengadakan pertemuan di Kantor Pos Renon. “Kami sering mengadakan pameran yang dipadukan dengan edukasi, penyuluhan, bahkan bursa. Penggemar banyak, tetapi yang ikut gabung di perkumpulan filatelis sedikit,” ujarnya. –Ngurah Budi

yang dijual di luar negeri yang nilainya setara dengan Rp 9 miliar. Kalau di Indonesia, yang paling mahal seri Pos Militer Surakarta. Harganya kurang dari Rp 100 juta,” ujar pemilik Surya Stamps Bali, agen filateli di Bali yang juga guru bahasa Inggris di Nusa Lembongan ini. Ngurah menuturkan perangko merupakan benda spesifik. Benda ini dicetak negara dalam jumlah terbatas. Di Indonesia, dalam setahun hanya ada 10 kali penerbitan. Sekali penerbitan ada 300 ribu keeping. Jumlah yang terbatas inilah yang membuatnya menjadi benda yang layak dikoleksi. Dulu perangko hanya mencetak gambar presiden atau pahlawan. Hal yang dicatat sejarah adalah perangko bergambar Bung Karno dicetak di 21 negara selain Indonesia. Ini artinya kharisma Bung Karno membuat kagum negara lain. “Saya mengoleksi perangko dan benda Koleksi perangko pertama di dunia lain yang masuk dalam milik Ngurah Surya Hadinata


8

Bunda & Ananda

Edisi 870/ 12 - 18 OKTOBER 2015

Maksimalkan Kecerdasan Kinestetik Anak

Bagi anak-anak yang tidak bisa diam, senang bermain, senang berolahraga, sebaiknya perlu mendapat perhatian orangtua. Keaktifan anakanak itu bisa jadi merupakan potensi mereka yang bisa dikembangkan. Salah satunya menjadi atlet.

“A

nak saya suka main sepak bola. Halaman rumah sudah seperti lapangan sepak bola karena sering dipakai bermain. Tetapi, di satu sisi, dia juga suka menari. Saya ingin dia berkembang di kedua bidang ini, tetapi rasanya sulit,” ungkap Bu Sastra tentang anak bungsunya yang duduk di kelas 3 SD. Ia menuturkan pengalaman anak sulungnya yang bisa masuk SMP negeri favorit karena punya prestasi di bidang seni. Hal yang sama ingin diterapkan di anak bungsunya. “Kalau menjadi atlet, banyak saingan. Kalau menjadi penari, sepertinya peluang lebih besar, apalagi penari cowok itu jarang,” ujarnya. Namun, Bu Sastra tak mau memaksakan kehendaknya. Ia hanya memberi gambaran tentang dampak dari bidang yang ditekuni termasuk berkaitan dengan jenjang sekolah berikutnya. Pengalaman dalam memberikan arahan kepada anak juga dialami Bu Jona yang anaknya suka bermain basket. “Saya berikan anak saya kebebasan untuk memilih ekstra kurikulernya, ternyata dia memilih basket. Karena itu sudah hobinya, kami sebagai orangtua hanya mendukung,” kata ibu dua putra ini. Soal prestasi, menurutnya itu urusan nanti. Yang penting, anaknya memiliki bakat yang tersalurkan.

Made Rai Mariantini

“Kecerdasan kinestetik adalah kecerdasan yang berkaitan dengan olah tubuh atau olah otot dan motorik kasar, misalnya lari, lompat, lempar. Kecerdasan ini bisa berasal dari keturunan (genetik) dan ada juga yang distimulus lingkungan. Porsinya tergantung mana yang lebih besar yang dikembangkan,” ujar Made Rai Mariantini, S.Psi, psikolog dari Biro Konsultas dan Layanan Psikologi Wira Kasih Dharma. Ia mencontohkan, seorang anak yang orangtuanya penari akan lebih mudah untuk diajarkan menari. Namun, kadang perlu latihan intensif agar si anak bisa memaksimalkan gerakannya. Ada juga anak yang bukan dari keturunan penari, tetapi

karena sering memperhatikan orang menari dan ia memiliki ketertarikan untuk menari, kecerdasan kinestetiknya pun berkembang. Untuk mengetahui seberapa besar tingkat kecerdasan ini, bisa diketahui melalui tes persepsi visual motorik. Untuk anak-anak sampai usia 6 tahun tesnya disebut frosting sedangkan untuk dewasa hingga usia 70 tahunan tesnya bender gestal. Hasil tes ini bisa digunakan untuk menentukan bidang apa yang cocok untuk anak. “Anak yang down syndrome bisa memiliki kecerdasan kinestetik yang bagus,” imbuh alumnus S1 dan Profesi Psikologi Universitas Surabaya ini. Rai menambahkan untuk memaksimalkan potensi anak di bidang olahraga maupun seni tidak cukup hanya dengan bakat saja. Perlu asupan gizi yang seimbang juga agar anak yang banyak bergerak mendapatkan energy yang sesuai. Bagi orangtua, berikan stimulus yang baik dan benar kepada anak. Jika sudah mengetahui kemampuan anak kemudian ingin memaksimalkan kemampuan tersebut, bisa ditunjang dengan les atau kursus. Atau, bisa juga mengarahkan anak

Sudah 19 tahun PT. XL Axiata Tbk (XL) melayani dan menemani pelanggan dalam dunia telekomunikasi selular. Dalam 19 tahun ini XL terus berkomitmen untuk memberikan inovasi yang terbaik untuk pelanggan, tidak sekedar layanan yang akan memenuhi kebutuhan pelanggan tetapi juga menjamin kenyamanan dan memberikan pengalaman-pengalaman baru bagi pelanggan dalam dunia telekomunikasi. Perayaan ulang tahun XL ke-19 ini dirayakan bersama Menkominfo Rudiantara dan seluruh karyawan XL East Region di XL Center Pemuda Surabaya, Kamis (8/10). Rudiantara berharap di usia yang ke-19 tahun, XL yang telah meluncurkan secara komersial 4G LTE di 1800 MHz. bisa memberikan kontribusi dan pelayanan yang terbaik untuk pelanggannya. Vice President XL East Region Desy Sari Dewi mengatakan, suatu kehormatan dan kebahagiaan bisa merayakan ulang tahun bersama Menkominfo, Ia juga menjelaskan tentang XL yang kali ini mengusung spirit “Cuma Sama XL”, XL mempersembahkan promo diskon 19% untuk pembelian paket data XL di seluruh XL Center East Region, yang meliputi Jawa Timur, Bali, dan NTB. Saat ini XL telah melayani lebih dari 46 juta pelanggan dan masyarakat Indonesia di 33 propinsi, 498 kabupaten, dan 3.785 kecamatan. Untuk jangkauan layanan, XL saat ini telah mencapai lebih dari 90% populasi nasional, termasuk meliputi wilayah perbatasan dengan negara lain, di antaranya Sabang, Natuna, Simeulue, Entikong, Nunukan, Pulau Sebatik, Biak, dan Merauke. –Ngurah Budi

Anak-anak berolahraga

sekolah di sekolah khusus olahraga maupun sekolah khusus seni. “Bagi atlet, ada sekolah Ragunan di Jakarta. Sekolah ini selain memberikan peluang kepada anak untuk memaksimalkan kemampuannya, di sisi lain juga memberikan pendidikan akademik agar anak tidak ketinggalan,” ujar anggota Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) wilayah Bali ini. Ia juga mencontokan jika anak laki-laki suka bermain sepak bola, bisa diarahkan untuk masuk sekolah sepak bola (SSB). Hal ini akan membuat bakat anak tersalurkan. Tetapi, Rai melihat dari pengalaman para atlet, ternyata tidak semuanya bisa hidup sejahtera

sampai tua. Hal inilah yang mungkin membuat orang untuk berpikir untuk menjadikan olahraga sebagai jalan hidup. Solusinya adalah memiliki kecerdasan lain selain kecerdasan kinestetik. “Guru-guru juga perlu untuk mengetahui kecerdasan kinestetik ini agar bisa membantu mengarahkan siswanya mau ikut ekstra kurikuler apa. Tes yang dilakukan sifatnya perorangan dan tidak perlu menyontek karena masingmasing orang memiliki bakat yang berbeda,” ujar istri I Wayan Wikarmadana dan ibu dari Putu Pradnyanyi Wira Putri serta Made Dharmawa Wira Putra ini. -Ngurah Budi

lomba mendongeng

Made Taro

Keeksotikan Pintu Gebyok Bali

Edisi 870/ 12 - 18 OKTOBER 2015

Pintu gebyok, memang memiliki daya tarik tersendiri. Pintu berukir yang merupakan karya agung warisan nenek moyang ini seolah tak lekang digilas zaman. Bahkan di zaman modern dengan tren minimalis, pintu bergaya klasik ini masih menjadi pilihan sebagian orang.

Mendongeng Lima Menit

“Cuma Sama XL”

Griya

Di kerajaan Kediri ada seorang pendongeng bernama Bulbul. Ia dijuluki Bulbul karena bisa bercerita apa saja, seperti burung bulbul yang bernyanyi sepanjang hari. Bulbul mengakhiri dongengnya kalau pendengar menyatakan berhenti atau

menuduhnya bohong. Ketenaran pendongeng itu lama-kelamaan terdengar oleh Raja. Beliau ingin sekali menyaksikan kemahiran Bulbul bercerita. Maka beliau menantang pelipur lara itu untuk lomba mendongeng di istana. Pemenangnya berhak mendapat hadiah yang diinginkan. “Kalau kau pemenangnya, hadiah apa yang kau inginkan?” tanya Raja kepada Bulbul di depan banyak penonton. Bulbul sangat tertarik kepada pakaian gemerlapan raja beserta mahkotanya. Lalu katanya, “Hamba menginginkan busana Tuanku termasuk mahkotanya. Lalu, kalau Tuanku yang menjadi pemenangnya, hadiah apa yang Tuanku inginkan dari hamba?” “Aku ingin kau menjadi pelayanku di istana.” Kedua pendongeng itu sepakat mengenai peraturan lomba, yakni pendongeng harus menceritakan pengalaman masing-masing. Pendongeng yang kalah adalah pendongeng yang bereaksi ketika mendengarkan dongeng lawan. Berdasarkan undian, Bulbullah yang memulai

mendongeng. “Pada suatu malam …,” katanya, “Aku mendengar suara gaduh di desaku. Orang-orang berteriak ketakutan dan berlari tunggang-langgang. Ternyata seekor harimau masuk desa. Harimau itu adalah musuh bebuyutan desa, karena sudah banyak makan korban. Ketika hewan garang itu menyergapku, aku buka mulutnya lebar-lebar, lalu aku masuk ke dalam perutnya. Dari dalam ruang yang gelap itulah aku berhasil merobek perutnya dengan pisau belati. Harimau itu mengaduh kesakitan, lalu mati. Ketika aku keluar dari perutnya yang robek, kudapati penduduk desa bersorak gemuruh. Mereka menyambut dan memberiku gelar kehormatan sebagai pahlawan penyelamat desa.” Penonton berbisik sambil cengar-cengir, tetapi Raja diam saja. Selanjutnya adalah giliran Raja. “Pada suatu hari …,” demikian Raja memulai dongengnya. “Seorang pelayanku minggat. Pelayan itu mencuri sebuah kalung berlian warisan almarhum ayahku. Siang-malam aku mencarinya ke seluruh kerajaan, namun tak berhasil. Nah, sekarang pelayan yang mencuri itu telah kutangkap. Ia adalah pendongeng terkenal bernama Bulbul.” Bulbul yang tengah asyik mendengarkan cerita Raja tiba-tiba bangkit, lalu berteriak, “Aku bukan pelayan, aku bukan pencuri!” Penonton yang sangat tertarik dengan dongengan sang Raja lalu berteriak, “Bulbul kalah! Bulbul kalah!” “Aku tahu kau bukan pelayan dan bukan pencuri,” kata Raja. “Walaupun kalah, kau tidak akan kujadikan pelayanku. Kembalilah ke desamu, teruslah mendongeng, tetapi jangan mendongengkan riwayat yang bohong.”

R

umah dengan pintu gebyok yang umumnya terbuat dari kayu jati terkesan kokoh dan memiliki prestise tersendiri. Keeksotikan pintu gebyok memang tiada duanya. Pintu gebyok yang umumnya berasal dari Jepara (dengan ukiran Jepara), belakangan hadir dengan ukiran Bali yang dikerjakan seniman ukir Bali. Salah satu pengerajin pintu gebyok Bali dapat kita temui di Jalan Raya Margarana, Belayu, Tabanan. Made Girati (54) yang turut membantu proses pengamplasan finishing pintupintu gebyok dan jenis ukiran

lainnya di UD. Wiran Ukir ini mengatakan usaha yang kini dijalankan putranya itu sudah berlangsung sejak tahun 1984. Karena itu, ia tahu betul proses pengerjaan sebuah pintu ukir Bali dari awal sampai siap jual. “Mulai dari kayu dibuatkan pola, digambar kemudian diukir. Lalu diamplas mesin dan amplas tangan, diimpra, amplas lagi, kemudian dirakit, dan selanjutnya siap dijual,” tuturnya. Pintu gebyok Bali yang ratarata berukuran 2 meter x 2 meter ini dikatakannya dihargai Rp 14 juta. Sementara untuk pintu ukir Bali yang lubang daun pintunya berukuran 60 cm, ditawarkan

Keeksotikan pintu gebyok

Rp 5,5 juta, dan jika mau lengkap dengan jendela kiri-kanannya, RP 6,5 juta. Pada pintu-pintu ukir ini pun ada yang disebut minimalis. “Pintu yang ukirannya sedikit, kami sebut minimalis, harganya sedikit lebih murah dari yang penuh ukiran,” jelasnya. Pilihan motif ukirannya pun bermacam-macam, dari motif pepatran sampai pewayangan, sesuai pesanan konsumen. Khusus untuk pintu gebyok Bali, perempuan asal Batannyuh, Belayu ini mengatakan hanya membuat sesuai pesanan saja. Namun ia mengakui, belakangan ini banyak yang berminat dengan pintu gebyok Bali. –Inten Indrawati

Made Girati

17


18

Kreasi

Edisi 870/ 12 - 18 Oktober 2015

Antonius Kho Bawa “Sweet Memories” ke Shanghai Event “Maritime Silk Road International Art Festival 2015” dilaksanakan di Shanghai, Tiongkok, untuk pertama kalinya, 15-19 Oktober 2015. Event ini diikuti perupa-perupa dari 50 negara, diantaranya tuan rumah Tiongkok, Filipina, Maylasia, Myanmar, Indonesia, Singapura, Thailand, Kenya, dan Tanzania. Tiap negara hanya mengirim 1 perupa.

Antonius Kho

A

ntonius Kho menjadi wakil Indonesia di ajang ini. “Karya-karya yang saya tampilkan di event ini adalah karya lukisan saya yang terbaru, tahun 2015,” ujar pelukis kelahiran Klaten, Jawa Tengah tahun

1958 ini. Antonius mulai belajar melu kis dibawah asuhan pelukis Barli tahun 1977. Selanjutnya tahun 1981 masuk Akademi Seni di Bandung dan tahun 1985 masuk Akademi Seni di Cologne, Jerman. Tahun 1998 ia meraih 1st Prize “Mask in Venice”, Art Addiction Annual di Venezia. Sebelumnya, tahun 1989 ia juga meraih 1st Prize “Malen auf Liegestuehlen”, Olivandenhof, Cologne, Jerman. Tahun 2004 ia mendirikan Wina

Gallery, Ubud. “Maritime Silk Road International Art Festival 2015” menghadirkan lebih dari 100 karya seni kontemporer. Event ini disertai dengan beberapa kegiatan-kegiatan seni yang lainnya, selain pameran, seperti art performanca, workshop, art fashion show & cultural gourmet. “Ada juga dialog di ruang pameran, di Sinan Mansions Building, La Bibliotheque Du Temps, sebuah landmark budaya dan sejarah Shanghai. Sebagian dari bangunan tersebut adalah warisan budaya negara. 500 tahun seni dan budaya akan berkomunikasi dengan 100 tahun arsitektur,” ujar Antonius. –Ngurah Budi

Kecepatan Wesel = ATM Era teknologi informasi semakin canggih tapi layanan PT Pos Indonesia tetap eksis bahkan terus berkembang. Salah satu yang menjadi unggulan adalah pengiriman surat dan paket yang ternyata tidak mengalami penurunan sekalipun persaingan di bidang ini cukup ketat lantaran banyak bisnis serupa bermunculan. “Kami tetap menggunakan jasa PT Pos untuk pengiriman surat-surat berharga seperti dokumen dan lain. Memang ada jasa kurir lainnya, tapi karena sejak dulu menggunakan layanan PT Pos, ya tetap bertahan sampai sekarang. Apalagi layanannya terus membaik,” ungkap Edward Welly, manajer Mall of Serang. Hal senada juga diungkap Magdalena dalam pengiriman dokumen pensiun. “Saya sudah terbiasa mengirim dokumen lewat kantor pos. Cepat dan tidak pernah bermasalah. Selain dokumen pensiun, saya juga melakukan pengiriman paket lewat jasa pos ke daerah. Sebenarnya di dekat rumah ada kantor layanan kurir yang lain, tapi karena sudah terbiasa, jadi meski agak jauh dari rumah, saya tetap datang ke sini,” kata wanita yang tengah mengurus dokumen pensiun almarhum suaminya, di Kantor Pos Jakarta Utara. Layanan yang juga tetap bertahan dan masih banyak diminati adalah pengiriman uang lewat wesel. Ketika sekarang ini ATM berbagai bank bertebaran di Jakarta, namun sebagian warga di Jakarta ternyata

masih menggunakan layanan wesel dari PT Pos Indonesia untuk mengirimkan uang ke kampung halamannya.Hal ini lantaran PT Pos memiliki jaringan perposan yang luas dan menjangkau hingga ke pelosok daerah di Indonesia. Tika, misalnya, seorang pembantu rumah tangga di kawasan Dewi Sartika Jakarta Timur, masih menggunakan wesel untuk mengirimkan uang ke kampung halamannya di Cianjur, Jawa Barat. Menurutnya, pilihan menggunakan wesel diambil karena itu yang paling memungkinkan untuk digunakan karena kampungnya cukup jauh dari kota. “Dulu, saya sempat ingin membuka rekening di bank di Jakarta tapi ditolak karena KTP saya adalah KTP daerah. Maksud saya, kalau punya rekening bank, kan, bisa punya ATM untuk transfer uang. Lalu saya coba mengurus di daerah saya, tapi ternyata berbelat-belit, ada banyak syaratnya. Saya malas bolak-balik karena kampung saya jauh. Makanya saya tetap menggunakan layanan wesel. Sekarang layanan wesel sudah bagus kok, cepat sampai sama dengan ATM bank. Tidak menunggu berhari-hari, uang yang kita kirim sampai pada hari itu juga. Makanya saya tidak terpikir lagi untuk membuka rekening di bank,” kata Ika, begitu panggilan wanita 30 tahun ini. –Diana Runtu

Life

Story

Edisi 870/ 12 - 18 Oktober 2015

7

“Anak Emas” yang Habiskan Kekayaan Keluarga Rambut dan kumisnya sudah memutih. Brewoknya pun mulai tampak berwarna putih tanda lelaki bernama Turman itu usianya telah menua. Gaya bicaranya tidak pernah berubah sejak ia masih muda hingga saat ini. “Gaya bicaranya cenderung meninggikan diri,” kata Rudi, salah seorang tetangganya yang tinggal tidak jauh dari rumah orang tua Turman.

Lukisan “Sweet Memories” karya Antonius Kho

Garapan AKARI di Ajang NDF

Pentaskan Sajian Tari Inovatif “Patayana”

tkh/edi

Komunitas yang tergabung dalam Asosiasi Karnaval Indonesia (AKARI) Bali turut serta menyemarakan agenda Nusa Dua Fiesta (NDF) 2015, Jumat (9/10) malam. Setelah pembukaan berlangsung, sebuah pementasan seni kolosal berjudul “Patayana” disuguhkan dalam agenda pembukaan NDF 2015. AKARI yang menampilkan para kreator seni di bawah asuhan Kelompok Pancer Langit, didukung iringan musik Baba Suara dan kelompok Musik Palawara dengan koreografer Agung Giri Putra dan Putu Anggradana. Penampilan mereka, sangat memukau penonton di panggung terbuka Peninsula Nusa Dua. Dukungan iringan musik kolaborasi antara musik modern dan gamelan Bali, sukses membawakan sebuah garapan seni inovatif yang tetap dilatarbelakangi tradisi. Pentas ini melibatkan 27 penari, 18 penabuh dan vokal, dengan durasi 50 menit. Menurut art director pementasan Anak Agung Gede Rahma Putra atau

akrab disapa Gung Rahma, garapan ini dipersiapkan khusus untuk agenda NDF 2015. “Kami baru pertama kali ikut terlibat dalam agenda NDF. Kami persembahkan pementasan tari inovatif berjudul Patayana, sebuah ide garapan yang diambil dari cerita Ramayana,” ucap Gung Rahma. Dijelaskannya, konsep pementasan menggunakan kostum besar dengan memadukan unsur fashion, jadi koreografi ini mencoba mengemas konsep dari kostum yang disajikan. Sementara dukungan iringan musik yang mengabungkan Bali dan Barat melibatkan pegiat musik andal Ari Wijaya dari Palawara, ada gamelan, keyboard dan sebagainya. Cerita yang disajikan diambil dari cerita besar Ramayana, tatkala Sri Rama dibuang ke hutan, Rama bersama Laksaman saat pengasingan, hingga Rama melakukan peperangan menghadapi Rahwana, dan dimenangkan oleh Rama. Akhirnya, Rama pun berhasil mendapatkan kembali Dewi Sita. –Wirati Astiti

tkh/edi

R

udi sangat mengenal Turman sejak remaja. Ia tahu benar bahwa keluarganya cukup berada di Lombok Tengah. Karena itulah, di saat orang masih susah untuk bisa bersekolah, Turman malah telah keluar Lombok untuk menempuh pendidikan S1-nya. “Orangtuanya mengirim dia kuliah di universitas ternama di Jakarta,” kata Rudi. Waktu itu, jangankan berpikir sekolah, bisa makan sehari-hari saja orang masih mikir harus mencari ke mana. Tapi tidak dengan Turman. Menurut Rudi, ia menjadi satu dari sedikit anak-anak di masanya yang dapat melenggang dengan mudah untuk bisa bersekolah ke jenjang tinggi seperti itu. Sebagai anak sulung dari tujuh bersaudara, Turman tampaknya menjadi anak emas bagi ayah dan ibunya. Segala kemauannya sejak kecil selalu dituruti. Orangtuanya lebih banyak berkorban untuknya ketimbang saudara-saudaranya yang lain sehingga ada beberapa saudaranya yang tidak “kebagian jatah” sekolah karena harta kekayaan orangtuanya banyak dihabiskan untuk membiayainya sekolah. Padahal pada Turmanlah harapan besar untuk membawa keluarga ini pada meningkatnya status intelektual (kalau perlu yang pertama di desanya) disandarkan. Bertahun-tahun Turman tinggal di ibukota negara itu, kuliahnya tidak rampung-rampung. Tanah dan sawah orangtuanya terus menipis karena habis dijual demi membiayai kuliah Turman. Selalu ada alasan yang disampaikan Turman kepada orangtuanya mengapa kuliahnya belum juga rampung. Sebagai orang desa yang juga tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi, ayah dan ibu Turman manggut-manggut saja tiap kali mendengar penjelasan Turman saat pulang liburan ke Lombok. “Sampai tahun ke tujuh, Turman belum juga membawa gelar sarjana untuk orangtua dan keluarganya,” kata Rudi. Hingga pada suatu hari, setelah delapan tahun berlalu, Turman yang tergolong anak pintar karena ia bisa diterima di universitas negeri ternama itu, pulang ke Lombok dengan sangat mengejutkan. Ia tidak membawa toga dan gelar sarjana melainkan ia pulang membawa seorang anak yang diakuinya anaknya. “Betapa terkejutnya ayah dan ibu Turman dan kejadian itu sempat menggegerkan kampung,” kata Rudi yang usianya 7 tahun lebih tua dari Turman. Dengan menggendong anak usia tiga tahun, Turman akhirnya mengaku kepada orangtuanya bahwa ia telah menikah dan anak tersebut anaknya.

Turman juga mengaku bahwa ia gagal meraih gelar sarjana dan ia telah dikeluarkan dari kampusnya alias DO (drop out). Waktu tempuh kuliahnya telah terlalu panjang dan ia pernah bermasalah di kampus bergengsi itu. “Turman rupanya tidak pernah kuliah sungguh-sungguh,” kata Rudi yang masih memiliki hubungan keluarga dengan Turman ini. TERJERAT NARKOBA Harta warisan yang seharusnya menjadi hak bagi adik-adiknya telah habis untuk membiayai kuliah Turman. Sebidang tanah terakhir pun akhirnya dijual demi Turman menjemput istrinya. Ia memang sengaja tidak langsung membawa istrinya karena terselip juga rasa takut kepada orangtuanya. Namun, melihat orangtuanya menerima dengan anak yang dibawa, ia pun menjemput istrinya. Tinggallah mereka bersama orangtua dan saudara-saudara Turman. Entah apa yang terjadi, meski Turman telah sangat mengecewakan orangtua dan keluarga, tapi ia tetap jadi “bintang” dalam keluarganya. Apapun keinginan Turman masih selalu saja dituruti oleh orangtuanya. Bahkan sisa-sisa tanah dan sawah yang tidak banyak lagi, terus habis terjual demi Turman. Hingga akhirnya Turman bekerja dan diterima pada posisi penting di sebuah perusahaan swasta di Mataram. Turman beroleh penghasilan yang lumayan dan akses yang baik. Dengan gaya hidup yang tinggi Turman cocok dengan pekerjaan ini. Namun sayangnya Turman kembali membuat masalah bagi keluarganya. Ia banyak menghabiskan waktu ke Senggigi untuk berfoya-foya dan berhura-hura. Sampai akhirnya Turman terjerat narkoba. Sejak mengenal barang terlarang ini, hidup Turman mulai hancur-hancuran. Ia dipecat dari pekerjaannya, dan terus terjerat narkoba. “Sampai akhirnya istrinya minta cerai,” kata Rudi. Turman makin jauh masuk dalam jerat narkoba. Sebagai anak emas, orangtuanya berusaha sekuat tenaga mengembalikan Turman hingga ia bisa berhenti dari jerat narkoba. “Meski tidak bisa berhenti total, tapi lumayan Turman akhirnya sadar dan kondisinya membaik,” kata Rudi. Hal itu juga karena Turman tidak lagi memiliki penghasilan dan orangtuanya tidak lagi sekaya dulu. Turman sempat berada dalam kondisi depresi akibat ditinggal istri dan dua anaknya yang kembali ke kampung halamannya di Pulau Jawa. Sejak itu Turman jarang keluar rumah. Kondisinya makin membaik dan ia menjalin hubungan dengan gadis di

kampungnya. Turman yang tampan memang tidak sulit untuk membuat seorang wanita jatuh hati padanya. Hingga akhirnya ia menikah dengan gadis desa ini dan memulai hidup yang baru. Turman mulai terlihat bekerja meskipun kerja serabutan. Ia tampak mulai sadar. “Tapi gaya bicaranya yang tinggi itu saja yang tidak berubah darinya,” kata Rudi. Mereka kini memiliki tiga orang anak yang telah dewasa namun Turman masih saja menyimpan memori “kejayaan” dalam dirinya. Rudi melihat bahwa istrinya yang seorang perempuan penyabar itu

tengah berusaha untuk membuat a g a r Tu rman mampu mengendalikan dirinya untuk tidak selalu menganggap dirinya berjaya dalam situasi kehidupan mereka kini yang penuh tekanan ekonomi. Sebagai keluarga, Rudi juga berharap agar Turman tidak

mengulangi kesalahan-kesalahan di masa lalunya dengan memelihara kehidupan yang baik bersama istri dan anak-anaknya. -Naniek I. Taufan


Woman on Top

Edisi 870/ 12 - 18 oktober 2015

I Dewa Ayu Istri Idayati

Dua Aktivitas Saling Mendukung Lurah perempuan, di Kota Denpasar memang bukan hal yang baru lagi. I Dewa Ayu Istri Idayati menjadi salah seorang di antaranya. Ia dipercaya menjabat Lurah Kesiman sejak 2 Januari 2015. Lantas, seperti apa sepak terjangnya?

Lurah Dewa Ayu beserta President JCI Bali saat menyerahkan bantuan kepada korban bencana kebakaran yang didampingin Kaling setempat

D

ewa Ayu, demikian perem­ puan kelahiran Gianyar 31 tahun silam itu akrab disapa adalah lurah termuda di Bali. Meski awalnya ia mengaku khawatir akan beberapa hal, seperti dianggap menggurui karena usianya lebih muda, seiring berjalannya waktu semua bisa diatasi. “Namun yang menjadi beban utama saya saat pertamakali menjabat adalah karena perbedaan beberapa peraturan antara di wilayah kerja saya

dulu (di Gianyar) dan Denpasar. Ada perbedaan PAD dan alokasi ke kelu­ rahan juga berbeda. Saya terbiasa di Gianyar dengan pola A dan di Denpasar dengan pola B,” ujarnya. Sebelumnya, Dewa Ayu yang alumni STPDN ini adalah Sekretaris Lurah di Ubud, Gianyar. Kemudian, tahun 2012 ia menjadi staf BPM Pemdes Denpasar, dan menjabat Lurah Kesiman tahun 2015.Sesuai dengan pendidikan kepamongprajaan yang ditempuhnya,

yang harus siap ditempatkan dimana saja, Dewa Ayu mulai menganalisis kelemahan dan kelebihan (analisis SWOT), serta mempelajari budaya daerah tugasnya. “Yang jelas, tentunya saya berusaha beradaptasi dengan budaya dan pola kerja masyarakat Kesiman,” tegasnya. Istri Ida Bagus Agung Gunarthawa ini sadar betul, ia tak bisa bekerja sen­ diri. Pendekatan dengan kepala lingkun­ gan dan klian lebih diintensifkan untuk mengetahui pola/karakter masyarakat wilayah yang dipimpinnya, sehingga bisa disesuaikan dengan tupoksi. Apalagi kelurahan adalah instansi paling bawah yang merupakan perpanjangan tangan pemerintah untuk berkomunikasi dengan masyarakat. “Para lurah lain juga sangat membantu, saya sering ber­ koordinasi dan berkomunikasi dengan mereka. Karena apapun program yang kami akan jalankan tidak bisa terlepas dari anggaran dan aturan,” jelasnya. Sebagai lurah muda yang energik, Dewa Ayu ingin mengubah pola-pola formal, terutama ketika harus bertemu dengan STT (Seka Teruna-Teruni). Sebelum masuk ke materi/tujuan utama pertemuan, ia kerap menyelipkan ice breaking untuk mencairkan suasana. Rupanya resep ini cukup manjur, karena dengan suasana akrab pesan akan lebih mudah sampai ke masyarakat. Dewa Ayu mengaku banyak belajar dari pengalamannya bergabung dalam organisai Junior Chamber International (JCI) Bali. Local General Legal Council yang bergabung sejak 2007 ini menga­ takan, di organisasi nonprofit ini banyak diikuti kaum perempuan, dan mereka woman on top. Di organisasi inilah ba­ nyak diajarkan pola-pola komunikasi yang baik. “Kami diajarkan bagaimana berkoordinasi dan berkomunikasi yang baik dengan orang lain, sehingga apa yang ingin disampaikan diterima benar oleh penerima dan tepat,” imbuhnya. Di JCI, Dewa Ayu mengambil

Individual Development. Di dalamnya, terselip pelatihan-pelatihan presenter, bisnis, international networking, dsb. Dua aktivitas (sebagai Lurah/PNS dan anggota JCI) inilah yang kini menjadi keseharian ibu dua anak ini. Dan ia mengaku dua aktivitasnya ini saling mendukung dan sangat memungkinkan untuk bersinergi. Sebagai lurah yang notabene men­ jadi pimpinan meski di lingkup wilayah paling kecil, memerlukan wawasan luas. Di JCI inilah Dewa Ayu mengaku banyak mendapat ilmu khususnya komunikasi. Sementara sebagai anggota JCI, ia bisa memanfaatkan link-nya ke pemerin­ tahan. “Memang seharusnya JCI berlink dengan pemerintah setempat. Karena kita negara republik yang tak bisa ber­ jalan sendiri. Apalagi Tujuan organisasi ini melakukan rekonstruksi/peruba­ han positif sebanyak mungkin yang bisa dilakukan. Salah satu contoh kegiatannya untuk UMKM dan wirausaha muda, JCI membuat semi­ nar bekerjasama dengan dinas terkait, men­ datangkan p a k a r­ nya,” tu­ tur

pemilik moto “Create Positive Change” ini. Bahkan belum lama ini, Dewa Ayu berinisiatif menggalang dana dari te­ man-teman di JCI yang memiliki rezeki lebih untuk turut membantu warganya (Kesiman) yang terkena musibah rumah kebakaran. “Selain, kelurahan kesiman juga memiliki anggaran untuk tanggap bencana,” ujarnya. Bantuan tersebut diserahkan langsung President JCI Bali Komang Adi Wisatya, kepada korban Nyoman Purna didampingi Kaling Ban­ jar Cerancam Nyoman Mandra. Meski belum genap 1 tahun sebagai lurah, beberapa perubahan sudah bisa dilihat. Terutamanya pada perwajahan Kantor Lurah Kesiman. “Saya memulai dengan membuat lingkungan kerja yang nyaman, sehingga kinerja staf dalam pelayanan publik menjadi maksimal dan berkualitas,” ucapnya. Selanjutnya, tentu saja masalah kebersihan yang selalu dikoordi­ nasikan dengan kaling dan klian. Dimulai dari penataan telajak­ an di Banjar Ujung, termasuk “memoles” lagi Sungai Bindu yang diakuinya memang sudah bagus. Demikian juga halnya di banjar-banjar lain yang memiliki, permasalahan berbedabeda. Seperti di Banjar Kebonkuri, yang le­ bih memprioritaskan pemantauan kepada penduduk pendatang untuk mengkon­ disikan tak terjadi masalah. –Inten Indrawati

I Dewa Ayu Istri Idayati

The Iron Lady Buku tentang The Iron Lady - MargarethTatcher memberi begitu banyak inspirasi tentang keteguhan hati seorang pemimpin wanita. Saya mengagumi sosok ini. Siapa menyangka putri seorang pemilik toko kelontong ini menjadi tokoh politik wanita berpengaruh di dunia dan menjadi perdana menteri wanita pertama di Inggris, yang kemudian menjabat selama lebih dari satu periode. Perjalanannya ke parlemen tidak mulus. Ia mendapat tantangan kuat dan kritik tajam dalam suatu pidato politik karena dianggap menjalankan pemerintahan semaunya sendiri dan membahayakan masa depan negara. Meski gagal menang mutlak di putaran pertama pada tahun 1989, MargarethTatcher tetap pada keteguhan hatinya untuk maju. Dalam kemenangan pemilihan di putaran kedua ia justru mendapat

challenge luar biasa dengan penurunan dukungan dari anggota kabinetnya sendiri. Encouraging spirits dan fight on spirit yang selalu terobsesi untuk menang melekat dalam dirinya. Hatinya begitu kuat, pendiriannya begitu kokoh sehingga membawa sosok Margareth Tatcher menjadi wani­ ta berpengaruh dunia dalam karier politik sebagai Perdana Menteri Inggris dari tahun 1979 sampai dengan 1990. You Are What You Choose Menjalani hidup sebagai wanita dengan aktivitas bisnis menuntut mereka untuk berpikir lebih realistis. Mau tidak mau, pengetahuan yang akurat dan kemampuan analisa menjadi elemen yang sangat penting. Seperti grafik reve­ nue performance, kemampuan dan kesigapan wanita juga bisa mengalami penurunan. Pada saat saya mengikuti diskusi eksekutif muda beberapa

ikuti pendapat orang lain, tidak berani mengambil keputusan apalagi potensi risiko yang akan ada. Passanger’s behavior melumpuhkan kemampuan analisa seseorang dan ketika kita menilai dengan objektif, mereka cenderung hanya akan menjadi beban bagi orang lain. Bagaimana hubungannya dengan perubahan atau chal­ lenge yang mereka alami? Wanita bisnis meyakini; There is nothing permanent, except change. Berubahlah sebelum keadaan memaksa untuk berubah. Change before you have to. Elemen paling fundamental yang menentukan cara mereka merespons perubahan adalah cara berpikir dan nilai yang diyakini. Wanita bisnis yang lebih skeptical barangkali akan memerlukan waktu yang lebih lama untuk mempertimbangkan sesuatu dengan lebih detil sebelum mengambil keputusan atas perubahan yang ada. Saya teringat dengan salah satu pelanggan dari busi­ ness channel MNC (Multi Na­ tional Company) di Jakarta yang lebih memilih mencari second opini­o n dari orang lain sebelum akhirnya membuat keputusan besar. Orang lain yang dimaksud adalah orang yang sangat ia percaya mampu memberi pendapat dengan terbuka dan objek-

tif. Kepercayaan yang ia yakini bersumber dari dua sisi, yaitu intellectual trust maupun emotional trust. Saya lebih singkat menyebutnya sebagai coach. Bisa sebagai career/business coach atau bisa juga life coach. Coach dapat sangat efektif memberi pendapat dengan lebih realistis dari sudut pandang intelektual dan lebih memb e r i d o ro n ga n s e m a n ga t yang kuat (encouraging) dari sudut pandang emosional. Analisa yang mere­ka lakukan bersama seorang coach akan memberi kekuatan luar biasa untuk mengambil keputusan sehingga mereka lebih meyakini keputusan itu untuk dijalankan dalam jangka panjang. Respons terhadap perubahan ataupun challenge yang mereka alami bisa bermuara pada emotional/irrational de­ cision atau rational decision. Tidak ada yang keliru, asalkan keputusan yang diambil dapat benar-benar menguatkan, memberi semangat baru, memberi kemampuan untuk cepat beradaptasi terhadap challenge yang ada, serta memberi dorongan luar biasa untuk melanjutkan tongkat estafet wanita dalam bisnis. You know where you are, you know exactly where you want to be and you know how to get there.

19

Edisi 870/ 12 - 18 oktober 2015

Modal Besar Untung Besar Dokumentasi foto menjadi salah satu kebutuhan yang dianggap penting bagi sebagian besar masyarakat kita. Mulai dari kebutuhan untuk potret identitas diri, hingga dokumentasi dalam mengabadikan momentum penting, seperti resepsi pernikahan, acara ulang tahun hingga foto untuk Buku Tahunan Sekolah (BTS).

H

al ini yang mengin­ spirasi Dimas AP Wardhana untuk menggeluti dunia fotografi. Pemuda jebolan Universi­ tas Pasundan Bandung ini terbilang nekad membangun bisnis studio foto. Dengan modal ilmu yang

dipelajarinya semasa kuliah dan kamera yang ia miliki, didirikannya Segi4 Creative. Studio foto yang kini khusus mengerjakan pembuatan Buku Tahunan Sekolah. Ia berkisah, awalnya memang tak semulus apa yang diharapkan. Stu­ dio foto yang baru berdiri tersebut

Salah satu contoh buku kenangan

Encouraging Spirits waktu lalu, seorang kawan CEO bertanya kepada saya, “Ketika wanita bisnis berada pada fase yang tidak menentu atau chaos, apa yang mereka lakukan? ”Diskusi ini menggiring topik baru yaitu pro­ fessional behavior. Apakah mereka lebih bisa menangkap peluang-peluang baru dengan menerapkan Driver’s Behav­ ior atau terperangkap dalam ketidaktahuan sempurna dalam Passanger’s Behavior. Mereka yang memilih untuk menerapkan Driver’s Behavior cenderung memegang kendali (drive), mengambil keputusan cepat untuk merubah kondisi diri sendiri dan keadaan di sekitar. Mereka memiliki daya kreativitas yang tinggi, sangat disiplin dan lebih berani melangkah. Meskipun mendapat banyak feedback dari orangorang sekitar, namun keputusan tetap diambil sendiri dengan berani mempertimbangkan potensi risiko yang akan ada. Making own decision and taking own risk. Passanger’s Behavior melahirkan pemikiran yang tidak perlu tahu arah dan tujuan. Mereka dengan mudah meng­

Mozaik

tentu saja masih belum mendapat­ kan pelanggan. Apalagi modal yang ia miliki hanya skill dan kamera seadanya. “Saya mulai menawarkan jasa kepada teman dan kenalan. Apa saja saya kerjakan saat itu. Mulai dari foto untuk dokumentasi ulang tahun hingga dokumentasi pernikahan,” keluhnya. Selang sekitar 1 tahun berdiri, ia terinspirasi oleh salah satu temannya semasa kuliah untuk bergerak di bidang pembuatan BTS. Sejak saat itu ia mulai fokus mempelajari bisnis Buku Tahunan Sekolah atau yang biasa disebut buku kenangan atau album kenangan. Kemudian diputus­ kannya untuk menambah modal dan alat. Ia mendapat pinjaman modal usaha Rp 60 juta dari bank. “Pinjaman itu saya gunakan untuk melengkapi alat-alat fotografi studio. Seperti menambah kamera dan lensa high end hingga lampulampu studio yang mumpuni. Sisanya untuk mengontrak tempat dan uang untuk cetak,” urainya. Selain percetakan, persiapan un­ tuk pengerjaan BTS tersebut adalah dengan membentuk tim. Setidaknya dibutuhkan 4 orang untuk proses awal hingga akhir. Diantaranya yaitu 2 fotografer, 1 desainer/layouter dan 1 marketing. Langkah berikutnya yaitu mulai membuat proposal dan menawar­ kannya ke sekolah-sekolah. Dalam menetapkan harga, ia berpatokan

Bantal dengan Quote Persaingan kerja makin ketat. Hal tersebut sempat dirasakan Adi Wibowo. Setelah lulus kuliah dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa), lelaki ini masih berharap panggilan dari perusahaan yang dilamarnya. Sambil menunggu panggilan, Adi, yang akrab disapa Menk, tak berpangku tangan. Ia pun memutar otak, bagaimana caranya tidak menganggur. Akh­ irnya, diputuskan untuk memban­ gun usaha sendiri. Berangkat dari ilmu typografi yang dipelajarinya sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), Adi Wibowo, mencoba bangkit dengan membuat ban­ tal dengan typografi yang diberi nama brand Art Pillow. Bantal dijual dengan karakter dan kata-kata atau quote yang se­ suai keinginan konsumen. ”Biasan­ ya pembeli memesan bantal se­ bagai hadiah. Dengan melayani keinginan tentang bagaimana bentuk dan isi quote pada bantal, sehing­ ga konsumen puas,” kata Adi Wibowo. Bahan baku yang digunakan kain katun dan satin. Untuk harga, Menk, mematok per bantal yang berbahan katun Rp 55.000-Rp 75.000 bergantung Adi Wibowo

6

banyak hurufnya. Sedangkan yang berbahan satin cukup menambah Rp 5.000. Bantal Art Pillow ini berukuran 40x40 cm. Dalam seminggu, pesanan bisa mencapai sepuluh buah. Pemasaran produk Art Pillow dominan lewat me­ dia sosial. Misalnya, insta­

gram. Alasannya, karena lebih efektif dan ekonomis bila diband­ ingkan dengan cara lain. Dalam menjalankan usahanya, Menk, men­ emukan tingkat kesulitan yang dihadapi. Misalnya, tulisan dalam quote ter­ lalu panjang, serta kesala­

han saat penyablonan. “Hambatan yang saya rasakan saat konsumen menginginkan quote yang pan­ jang sedangkan media menggu­ nakan bantal tidak terlalu besar. Art Pillow masih menggunakan sablon manu­ al dan belum menggunakan mesin cetak. Sehingga menjadi be­ ban ketika pesanan membludak,” ujar pria tampan ini. Ia mengaku ingin mengem­ bangkan keahlian di bidang sablon dan grafisnya hingga besar. Selain bantal, lelaki 22 tahun ini juga menggarap kaos dengan pesanan quote dari pembeli serta kerajinan tangan lain­ nya agar lebih melengkapi usahanya. Membuat bisnis sendiri tak mudah seperti yang kita bayangkan. Jatuh bangun sudah hal biasa. “Terka­ dang konsep sudah di kepala, tetapi realisasinya sulit. Karena itu, ketika usaha tidak berhasil se­ baiknya jangan putus asa dan mencoba usaha baru dengan tetap mengevaluasi kegagalan sebelumnya,” aku lelaki ini

Media kreatif buku tahunan sekolah

pada harga pasaran di wilayah tersebut. Mulai dari Rp 85.000 hingga Rp 240.000 per buku. Ben­ tuk dan spesifikasi buku tersebut ia buat bermacam-macam. Mulai dari ukuran 21x28 cm, 24x24 cm, 24x34 cm spesifikasi bahan art paper, matt paper, ivory 150 gr. Bentuk dan bahan untuk cover pun bermacam-macam. Finishing bisa dengan bending ataupun spi­ ral. “Yang unik, untuk design cover sangat artistik, mulai dari konsep futuristik, vintage, tradisional hingga

komik manga yang notabene sangat jarang diaplikasikan dalam buku untuk tema sekolah,” kata pria 26 tahun ini. Kini Segi4 Creative sudah memi­ liki banyak pelanggan sekolah-seko­ lah di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Bahkan kini ia sudah mendirikan 2 studio foto yang berada di Pono­ rogo dan Yogyakarta. Timnya pun hingga saat ini berjumlah 20 orang yang terbagi di 2 kota tersebut. “Bisnis ini memang membutuhkan modal besar. Namun hasilnya pun juga besar. Rata-rata saya menda­ patkan laba bersih sekitar Rp 150 juta tiap tahun,” pungkasnya. -Dinar P. Perdana

sambil menjelaskan Art Pillow bukan usahanya yang perta­ ma. Sebab, saat masih aktif kuliah di jurusan Desain Grafis, Unesa, ia sempat menekuni bisnis kuliner. -Mega Purwaningrum


20

Nine

Edisi 870/ 12 - 18 OKTOBER 2015

P rof. Dr. Rodliy ah, S.H. M.H.

Sepatu Masuk Dapur

Dengan senyum yang ramah dan hangat, Prof. Dr. Rodliyah, SH. MH., tampak tidak berubah dari pembawaanya sepuluh tahun yang lalu. Cara bicaranya yang kerap dihiasi dengan senyum, menampilkan dosen senior Fakultas Hukum Universitas Mataram ini sebagai sosok yang keibuan. Bahasa tubuhnya relatif terlihat selalu ingin ngemong. Jika pernah mengenal Rodliyah sepuluh tahun yang lalu, maka di hari ini perempuan yang dikukuhkan sebagai professor pada tahun Mei 2014 lalu ini masih seperti yang dulu. Ia tetap ramah, hangat dan keibuan.

N

amun di balik sifat lemah lembut yang dimilikinya, Rodliyah ternyata merupakan sosok yang gigih. Kegigihannya ini terlihat ketika ia menjadi Magister perempuan pertama, tahun 1991, lalu Doktor perempuan pertama tahun 2010. Ia menempuh pendidikan Doktornya di Universitas Brawijaya Malang tepat waktu selama tiga tahun dengan predikat Cum Laude. dan Profesor perempuan pertama tahun 2013, di Fakultas Hukum Universitas Mataram. Perjuangannya untuk dapat dikukuhkan sebagai seorang guru besar ditempuhnya dengan bekerja keras dan tekun. Rodliyah diangkat dalam jabatan Guru Besar bidang Ilmu Hukum Pidana pada Fakultas Hukum Universitas Mataram dengan SK Menteri

Pendidikan dan Kebudayaan RI No: 133556/ A4.3/KP/2013 pada tanggal 1 oktober 2013 dan dikukuhkan tanggal 21 Mei 2014. Di samping kegigihan dan ketekunannya, Rodliyah mengaku bahwa peran suaminya, drh. H. Abdul Muthalib, MM, sangatlah besar dalam menjadikannya hari ini. drh. H. Abdul Muthalib, MM., merupakan mantan Kepala Dinas Peternakan Provinsi Nusa Tenggara Barat. “Almarhum suami saya adalah pendukung dan pendorong utama bagi karir dan kehidupan saya hingga sampai pada hari ini,” ungkapnya dalam. Di matanya, almarhum suaminya adalah sosok laki-laki yang sangat memuliakan dirinya sebagai istri. Karena itulah, ketika kepergian suaminya yang sangat mendadak menghadap Sang

Inspirasi

Kertas Surat pun Dikoleksi

Orang yang memiliki sahabat pena memang jarang ditemukan di zaman teknologi canggih saat ini. Namun dulu, di 1980-an, surat menjadi satu-satunya penghubung jarak jauh. Denpasar-Papua, Denpasar-Jakarta pun terasa dekat lewat surat. Paling tidak, inilah yang dialami Kompyang Widyastuti (37). “Dulu waktu SD saya punya beberapa sahabat pena, tapi yang paling intens ada dua orang, dari Papua dan Jakarta,” ungkapnya.

K

Prof. Dr. Rodliyah, SH. MH., saat dikukuhkan sebagai Guru Besar tahun 2014.

Khalik pada Maret 2015 lalu, Rodliyah sempat mengalami pukulan hebat dalam hidupnya. Namun, dengan usia yang demikian matang, Rodliyah mampu melepas belahan jiwanya itu dengan penuh keikhlasan. Gambaran kehidupan rumah tangganya terbilang harmonis dan ideal. Meski kesibukannya sebagai dosen menyita banyak waktunya, namun ia tidak pernah melupakan tugasnya sebagai seorang istri dan ibu bagi tiga putera mereka, Iwan Kurniawan Hadianto, ST.MT, (35), Dwianto Harry Nugraha, S.Farm., Apt., (29) dan Try Widianto Putra Nugraha (21). Saat anak-anaknya masih kecil dan ia tidak memiliki asisten rumah tangga, pagi ia wajib menyiapkan sarapan untuk anak-anak dan suaminya. Kerepotan paginya ini tidak jarang memaksanya memakai sepatu di dapur. “Kehebohan” paginya dalam mengurus tiga anak laki-laki yang masih kecil saat itu, membuat ia menyebut paginya sebagai pagi yang krodit. Tanggung jawab sebagai ibu ia tempatkan setara dengan tanggung jawabnya sebagai pengajar. Karena itulah sepulang dari kampus, ia kerap langsung masuk dapur untuk menyiapkan makan siang bagi anak-anaknya yang akan pulang sekolah dan juga suami yang pulang kantor. Hebatnya, tidak jarang ia langsung masuk dapur untuk memasak dengan masih mengenakan seragam safari (dulu masih pakai seragam) kampus dan sepatu demi mengejar waktu menyiapkan gizi bagi keluarganya. “Memasak dengan pakaian safari,” ujarnya tertawa. Tidak itu saja, sejak dulu Rodliyah juga aktif dalam berbagai organisasi wanita di NTB. Tampaknya kemampuannya untuk memanagemen waktu dan kesibukan dengan seimbanglah yang membuat suaminya begitu sayang padanya. Sehingga seluruh hal mengenai kemajuannya sebagai seorang perempuan khususnya mendapat back up penuh dari suaminya. Tahapan demi tahapan perjuangannya dalam menjalankan tugasnya baik sebagai dosen maupun birokrat kampus terutama lagi dalam mencapai gelar akademis, diakuinya sepenuhnya adalah dukungan dari Sang Suami tercinta. Inilah yang membuatnya merasa sangat kehilangan ketika Allah SWT memanggil suaminya. Sebagai seorang dosen, Rodliyah yang telah mengajar selama lebih dari separuh usianya ini, mengaku bangga jika ada mahasiswanya yang berhasil lulus dengan nilai A. Namun ia akan lebih bangga lagi jika mahasiswanya “memiliki” ilmu yang telah dibagikannya. Maka pada tiap kali masa perkenalan dengan mahasiswa baru, ia selalu berpesan agar dalam menuntut ilmu mahasiswa tidak semata-mata bertujuan hanya untuk mencapai nilai A namun yang lebih dari itu adalah haruslah memiliki ilmu itu dan menggunakan ilmu itu untuk kebaikan. Ia juga berharap agar ilmu yang didapat itu akan

dibawa sampai ke liang lahat. “Saya bangga mahasiswa saya mendapat nila A, namun saya lebih bangga lagi jika mereka memiliki ilmu tersebut,” ujar perempuan kelahiran, Kendal, 5 Juli 1956. Kecintaannya pada profesi ini membuatnya kerapkali mendadak sembuh dari sakit. Ia tidak pernah merasa bosan mengajar meski ia telah berdiri di depan kelas sejak tahun 1983. Maka ketika sakit ia akan “mengobati” sakitnya itu dengan semangat untuk datang ke kampus dan mengajar. Hari-harinya selama 32 tahun belakangan ini adalah mengajar dan mengajar. Ketua Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Mataram, ini juga termasuk salah seorang yang konsisten memilih jurusan. Dari awal hingga kini ia selalu memilih hukum pidana, Sarjana Hukum jurusan Pidana, Magister Hukum Pidana, Doktor Hukum Pidana dan Guru Besar Hukum Pidana. Sebagai seorang perempuan, Rodliyah yang juga Dekan Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Mataram ini tampaknya memahami benar kebutuhan perempuan terutama pada bidang hukum yang digelutinya. Oleh karena itu, karya-karya buku dan tulisan-tulisannya, tidak pernah lepas dari pengamatan akan kebutuhan perempuan. Ini terlihat dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar beberapa waktu lalu yang dibawakannya dengan judul, “Pelaksanaan Pidana Mati Terhadap Perempuan Hamil Dalam Perspektif Pembaharuan Hukum Pidana”. Dan usulan ini, menurut Rodliyah telah masuk untuk pembaharuan hukum pidana ke depan dalam rancangan KUHP. Empat buku yang telah diterbitkannya juga bicara tentang hak perempuan dalam hukum, yakni, Perlindungan Hukum Bagi Perempuan Pelaku Tindak Pidana, Pemidanaan Terhadap Perempuan Dalam Sistem Peradilan Pidana, Pidana Mati Terhadap Perempuan (Suatu Kajian Perbandingan), dan Pembaharuan Hukum Pidana Tentang Eksekusi Pidana Mati Perempuan Hamil -Pokok-Pokok Pikiran Revisi Undang-Undang Nomor 2/Pnps/1964. Sesuai bidang ilmunya, Rodliyah yang memiliki keahlian dalam Hukum Pidana dan Sistem Peradilan Pidana ini memang sangat konsen terhadap perempuan dan karenanya karya-karyanya ke depan tidak akan jauh dari membahas tentang persoalan perempuan. Ketertarikannya untuk mengkaji tentang hal ini lebih karena menurutnya perempuan sebagai pelaku harus juga mendapat perlindungan. “Dalam proses hukum yang dijalani, perempuan sebagai pelaku juga perlu dilindungi dengan kekhususan yang ada dalam dirinya sebagai seorang perempuan,” ujarnya. Kekhususan yang dimaksud antara lain, kehamilan, melahirkan, menyusui dan lainnya. -Naniek I. Taufan

Edisi 870/ 12 - 18 OKTOBER 2015

ompyang me­ n u ­­t u r k a n , i a m e n ­d a p a t k a n kenalan ini dari Rubrik Sahabat Pena yang ada di Majalah Bobo dan Ananda. “Jadi, tiap Minggu, yang paling saya cari di majalah ya rubrik itu,” ujarnya. Di halaman tersebut, biasanya dimuat foto dan biodata singkat anak-anak se-Nusantara, termasuk dirinya pun pernah dimuat di sana. Dari sekian banyak anak yang dimuat di majalah tersebut, memang tak semua lantas dikiriminya surat. Yang menjadi pertimbangannya adalah, dia anak perempuan dan umur sebaya dengan dirinya. “Ada juga sih cowok, tapi tidak banyak. Paling yang mau mengirimkan foto saja yang benar-benar mau saya balas suratnya,” ujar Kompyang yang mengaku masih menyimpan surat-surat tersebut di rumahnya. Meski mengaku lupa akan nama-nama sahabat penanya itu, namun Kompyang masih ingat betul topik obrolannya dalam surat. “Kami biasanya menanyakan kabar masingmasing, bercerita tentang liburan, dan di bagian akhir tulisan pasti ada semacam kuis, agar berikutnya mau dibalas. Pertanyaannya seputaran pelajaran, misalkan HCL itu apa?” tuturnya. Pokoknya, tiap minggu pasti ada saja surat datang yang ditujukan kepadanya. “Pokoknya seru aja. Tiap surat datang pasti ada reward,” ujarnya. Reward yang dimaksud berupa bonus ekstra kertas surat yang masih kosong untuk dikoleksi. Kompyang mengaku sering tukar-tukaran kertas surat yang kala itu motifnya sangat beragam dan bagus-bagus. Ada gambar macam-macam, bahkan ada kertasnya yang wangi. “Jadi, selain mengoleksi perangko bekas surat, saya juga mengoleksi kertas surat. Sampai sekarang jika mendengar kata ‘Sentani’, saya jadi ingat pernah punya sahabat pena dari Sentani, Papua,” imbuhnya tersenyum. Seiring bergulirnya waktu, Kompyang yang mulai beranjak remaja mulai berganti bacaan. Dari Bobo dan Ananda menjadi majalah Gadis dan Mode. Di bangku SMP, ia pun mulai disibukkan dengan les ini dan itu. Jadi sudah tak sempat lagi

menulis surat untuk sahabatsahabat penanya. “Waktu SMP hobi saya sudah pindah jadi mengoleksi foto-foto artis,

hahaha… dan saya dapat loh foto artisnya,” ujarnya tertawa mengenang. –Inten Indrawati

Koleksi perangko

5


4

Inspirasi

Edisi 870/ 12 - 18 OKTOBER 2015

Komang Sukarsana

Sarjana jangan Malu Bertani Keinginan masyarakat, khususnya yang usianya masih produktif untuk terjun ke dunia pertanian makin berkurang. Padahal pemerintah telah melakukan sejumlah upaya agar dunia pertanian itu tetap bisa dimintai. Sejumlah peralatan modern sudah digelontorkan. Namun hal tersebut masih sangat sulit untuk mengubah minat generasi muda sekarang yang lebih banyak bercita-cita sebagai PNS.

Selain pergi ke perkebunan, ia juga aktif dalam mengikuti kegiatan yang diselenggarakan pemerintah

D

i balik semua itu, ternyata masih ada orang desa usianya muda yang tetap bertahan menjadi petani, meskipun pendidikannya sarjana. Ia adalah ���������� Komang Sukarsana, pria kelahiran Songan, Kintamani,18 Juni 1985. Tidak hanya petani biasa, ia juga mampu membangun sebuah bisnis perkopian. Pria jebolan Program Studi Biologi Undiksha ini menceritakan setelah lulus kuliah tahun 2007 ia sempat menjadi ����������� tenaga honorer di salah satu SMP di Kintamani. Setelah 3 tahun mengabdi, tak ada tanda-tanda akan menjadi seorang PNS. Kondisi ini menyebabkan dirinya pada 2010 terpaksa berhenti menjadi pahlawan tanpa jasa. Dengan tekad agar masa depannya lebih baik, pertengahan 2011 ia pergi ke Ubud untuk memulai belajar dan mencari celah peluang berbisnis di Ubud. Langkah ini juga diimbangi dengan keinginan yang kuat untuk mengubah kesan petani identik dengan kemiskinan. Konsep bisnis yang dikembangkanpun lebih mengarah ke socialpreneur, bagaimana membangun sebuah pola bisnis yang bisa memberikan keuntungan bagi para petani kopi, pembeli dan palnet. Ia mengedepankan konsep fair trade dan community development berdasarkan local genius yang ada. Akhirnya pertengahan 2012 ia mencoba bisnis dengan cara menjadi reseller produk petani. Hasilnya dikumpulkan untuk membeli mesin sangrai (roasting) serta membangun kerjasama dengan salah satu petani yang memiliki komitmen yang sama. Upaya yang dilakukan ini ternyata

membawanya ke arah yang makin baik. Ia mendirikan home industry di Desa Belantih. Berkat kerja keras dan semangat belajarnya yang semakin mengalir, 2013 ia terpilih sebagai salah satu pemenang wirausaha muda pemula berbasis teknologi (teknopreneur) di Kabupaten Bangli yang diselenggarakan oleh Pemda

meyakinkan, ��������������������� berani memberi garansi terhadap produk yang dijual jika kualitasnya kurang bagus. Langkah ini menyebabkan banyak pembeli yang merekomendasikan ke pembeli lain sehingga jadi bagian dari marketing gratis. Tidak hanya itu, usaha yang sebelumnya dipandang sebelah mata oleh sebagian besar masyarakat justru berhasil menggaet pengusaha coffee shop, roaster, eksportir, restoran, hotel dan pencinta kopi. Bisnis tanpa modal pun bisa eksis di tengah persaingan bisnis yang ketat saat ini. Terkait dengan pemasaran, ia memanfaatkan media sosial yang trend saat ini. “Modal usaha tidak seberapa, tapi untungnya bisa berkembang dengan baik. Itu merupakan hasil dari semangat yang saya tanamkan,” ujar Sukarsana. Usahanya yang terbilang sukses, pada 2014 lalu, Sukarsana masuk 4 besar Wirausaha Bank Indonesia katagori produk berskala ekspor. Untuk meningkatkan daya saing ia memutuskan membuat legalitas usaha

Salah satu kegiatan I Komang Sukarsana

Bangli bekerjasama dengan BPPT, Kemenpora dan Bank Indonesia. Saat itu, ia mendapatkan bantuan permodalan Rp 10 juta. Bantuan ini ia gunakan secara terarah dan pada akhirnya ia mampu me�� revitalisasi bisnis dan membuat pengolahan kopi di Kintamani. Hingga kini, usahanya semakin menggeliat dan mampu dijadikan contoh oleh petani lainnya. Tak tanggung-tanggung, untuk tahun ini, omzet usahanya ditargetkan di atas Rp 1 miliar. Dengan semangatnya yang tak perah padam, Sukarsana terus menunjukkan kualitas produknya kepda pembeli. Bahkan, untuk

perorangan (PO) yang bernama “Bali Arabica” . Hasil usahanya pun makin berkembang pesat khususnya sebagai penyedia bahan baku untuk beberapa coffee shop, restoran, hotel, dan di beberapa tempat di Indonesia. Ia juga menjual kopi ke Australia, Eropa, dan Asia Timur. KELOLA POTENSI DAERAH Untuk memperlancar usahanya, awal 2015 ia memutuskan untuk membuat kantor di kawasan wisata Ubud. Ide ini diyakini akan memberikan dampak yang signifikan terhadap penguasaan

Mandalika

Edisi 870/ 12 - 18 OKTOBER 2015

RPJMD Prioritaskan PUP

Isu perempuan dan anak di Nusa Tenggara Barat, khususnya tentang pendewasaan usia perkawinan (PUP) mendapat perhatian sangat penting dari Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat. Oleh karena itu, PUP menjadi salah satu prioritas dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) tahun 2013-2018.

D

alam hal ini, menurut Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi, Pemerintah Provinsi NTB telah memaksimalkan perannya baik pada aspek regulasi, fasilitasi, maupun budget policy. Dalam aspek fasilitasi, misalnya, Pemerintah Provinsi NTB telah

cukup lama bekerja sama dengan stakeholders penggiat perempuan dan anak untuk bersama-sama menyelesaikan masalah yang ada. Namun, diakui bahwa SDM yang ada di NTB masih belum memadai dalam menyelesaikan masalah tersebut. “Oleh karena itu, kami mengajak secara aktif kepada pihak-

Prof. Dr. Yohana Susana Yembise bersama Wakil Gubernur NTB saat berkunjung ke NTB

pihak lain untuk memastikan bahwa perencanaan pembangunan yang ramah gender atau tidak memarginalkan kaum perempuan dan anak-anak,” ungkap gubernur saat menerima kunjungan Menteri

Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Prof. Dr. Yohana Susana Yembise, Dipl. Apling, M.A., di Ruang Rapat Utama Kantor Gubernur NTB beberapa waktu lalu.

PUP Menuju Generasi Emas NTB pasar. Di samping itu, konsolidasi ke tingkat petani terus digalakan untuk meningkatkan kualitas olahan dan melakukan kerjasama dengan beberapa kelompok tani di kawasan Kintamani, Bangli, dan Gitgit, Buleleng. Kerjasama terutama difokuskan untuk menjaga dan meningkatkan kualitas bahan baku terutama pada penanganan pengolahan hasil panen dan pascapanen. Disamping mampu menciptakan pekerjaan baru bagi masyarakat di kawasan Kintamani, hal ini juga sangat penting untuk meningkatkan ekonomi kawasan. Ia berharap, ke depannya kopi Kintamani menjadi kopi primadona dan termahal di Indonesia, di samping ada eksportir yang lahir dari anak petani di Kintamani. Selain bergelut di bisnis kopi, Sukarsana juga menghabiskan waktu di desa menjadi founder sekaligus pengurus kelompok tani

di desa Songan. Ia juga menjadi pengurus Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) di tingkat kecamatan Kintamani, serta aktif di organisasi kepemudaan seperti JCI (Junior Chamber Internasional) Bangli. Semua hal yang dilakukan ini tidak terlepas dari pemikiran yang positif berusaha menjadi spirit penyebar virus enterpreunership, khususnya di kalangan anak petani. Itu dianggap sangat penting untuk membangun kawasan di perdesaan. Anak para petani tidak akan pergi ke kota untuk mencari pekerjaaan. Namun mampu mengembangkan potensi daerah yang belum terkelola secara optimal. Ia berharap, nantinya akan lahir wirausahawan baru yang mampu menjadi salah satu UMKM yang unggul secara SDM, mandiri, berdaya saing dan mampu menggerakan perekonomian masyarakat dan siap dalam menghadapi pasar bebas (MEA). -Sosiawan

21

Dalam memajukan kualitas perempuan dan anak-anak melalui Program Pendewasan Usia Perkawinan, dimana usia pernikahan wanita dan pria 21 tahun, Pemerintah Provinsi NTB bekerja sama dengan TP PKK NTB, BKOW NTB dan Dharma Wanita guna mencegah pernikahan dini di NTB. Menurut Kepala BP3AKAB, Dra. T. Wismaningsih salah satu upaya Pemerintah Provinsi NTB dalam hal ini adalah mengajukan usulan perubahan tentang undang-undang pernikahan Nomor 1 Tahun 1974 sebagaimana yang telah diusulkan oleh TP PKK NTB sebagai hasil lokakarya pertama tentang Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP) menuju generasi emas NTB yang telah dilaksanakan pada bulan Mei tahun 2014 lalu. Inisiatif tersebut datang dari Ketua TP PKK, Hj. Erica Zainul Majdi dan mendapat dukungan di tingkat nasional melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI. “Melalui kegiatan ini kami ingin mengetahui sejauh mana dukungan dari tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan organisasi-organisasi kemasyarakatan, kalangan akademisi, dan kalangan remaja

sehingga upaya-upaya penanganan permasalahan perempuan dan anak dapat menjadi sebuah gerakan masyarakat di provinsi NTB,” kata Wisma. Berkaitan dengan hal ini, Prof. Dr. Yohana Susana Yembise, Dipl. Apling, MA mengatakan bahwa Kementerian PP dan PA akan selalu dan siap mendampingi Provinsi NTB dalam melaksanakan kegiatan yang berhubungan dengan perempuan dan anak. Rencananya, Kementerian PP dan PA akan melakukan pelatihan Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Provinsi NTB, karena masalah trafficking paling banyak terjadi di daerah NTB. “Kami ingin mem-

berikan pelatihan kepada TKW, sehingga tenaga kerja kita memiliki kemampuan yang mumpuni ketika bekerja di luar negeri,” katanya. Dengan adanya pelatihan tenaga kerja ini harapannya dapat menurunkan tingkat perkawinan di usia muda. Menurut Yohana Susana Yembise, isu perempuan dan anak merupakan isu internasional. Oleh karena itu, Indonesia harus mempersiapkan diri untuk berjuang mengangkat hak-hak anak dan perempuan di mata internasional. “Jika kita bisa berkoordinasi dengan baik dengan pemerintah, swasta, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta pihak-pihak lainnya, maka ke depannya kita dapat membawa masa depan perempuan dan anak-anak menjadi lebih baik. Karena anak-anak adalah generasi penerus bangsa yang membawa tongkat estafet demi kemajuan bangsa Indonesia,” katanya.

Tidak kurang dari 400 anak yang terdiri dari Ketua-ketua OSIS SMP dan SMA se-Kota Mataram, Dewan Anak, Forum Anak seKota Mataram, perwakilan dari SD dan TK, anak-anak berkebutuhan khusus, anak-anak yang berhadapan dengan hukum baik saksi, korban maupun pelaku yang datang dari Panti Sosial Paramitha dan lainnya yang mewakili anak se-Kota Mataram.

Tidak hanya itu, dari sisi regulasi pun Pemerintah Provinsi NTB telah mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 7 Tahun 2011 tentang perlindungan perempuan dan anak, namun akan direvisi lagi untuk memasukkan substansi-substansi yang belum tercantum pada Perda lama. Karena pada kenyatannya masalah perempuan dan anak-anak sangat dinamis, semakin lama semakin kompleks dan selalu terkait dengan kejahatan-kejahatan jenis baru. kondisi ini tentu membutuhkan regulasi yang kuat di tingkat pemerintah daerah. Selain itu, NTB juga memiliki Peraturan Gubernur dengan Nomor 8 Tahun 2012, tentang hal-hal yang dianggap penting dalam meminimalisir tingkat kematian ibu dan bayi, mengingat tingkat kematian ibu dan bayi di Provinsi Nusa Tenggara Barat cukup tinggi. –Naniek I. Taufan Beberapa hal yang disampaikan anak-anak ini antara lain adalah harapan agar anak-anak berkebutuhan khusus dapat diterima dan menempuh pendidikan tinggi di NTB, tidak harus kuliah keluar dari NTB mengingat mereka ratarata berasal dari keluarga kurang mampu. Selain itu, dalam dialog ini banyak juga terungkap masalah yang dihadapi oleh anak-anak di Kota Mataram yang direspons baik oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan segera mencarikan jalan keluarnya. -Naniek I. Taufan

DIALOG KHUSUS DENGAN ANAK Dalam kunjungan ini, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak secara khusus sempat berdialog dengan anakanak di Kota Mataram di Pendopo Wali Kota Mataram. Berbagai masalah anak khususnya yang terjadi pada anak di Kota Mataram, disampaikan oleh beberapa anak yang hadir dalam dialog tersebut.

Ketua TP PKK NTB, Hj. Erica Zainul Majdi dan Ketua BKOW NTB, Hj. Syamsiah M. Amin ketika menerima kunjungan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak


22

Melemahnya per­ ekonomian nasional sa­ ngat memukul para pelaku usaha mikro kecil menengah, khususnya di bidang kerajinan. Hal itu terlihat dari berbagai pameran di Jakarta yang umumnya sepi peng­ unjung. Pameran kerajinan di Jakarta Convetion Center, pekan lalu, misalnya, yang biasanya ramai pengunjung, khususnya menjelang weekend, tergolong sepi.

H

Sosialita

Edisi 870/ 12 - 18 oktober 2015

al ini juga menjadi keluhan sejumlah pemilik usaha yang datang dari berbagai daerah untuk memamerkan karya-karya terbarunya. “Menurunnya daya beli masyarakat sudah terasa sejak beberapa bulan lalu. Para pelanggan yang biasanya memborong banyak, mengurangi pembeliannya. Malah di pameran kali ini saya baru dapat satu pembeli, itu pun pemesanannya tidak banyak. Sedang pembelian secara retail yang biasanya ramai, kali ini sepi. Padahal kami tidak menaikkan harga,” ungkap Riswan, pengusaha kerajinan kayu. Menurut lelaki asal Solo itu, situasi ekonomi yang kurang kondusif saat itu membuat masyarakat agak menahan diri. Sebagai pelaku usaha kecil, Riswan berharap pemerintah memberi perhatian lebih pada para pelaku usaha seperti dirinya. “Daya beli masyarakat jauh melorot saat ini,” tambahnya. Hal senada juga dirasakan Karel Darma Nainggolan yang juga pengusaha

kerajinan kayu. Hanya saja berbeda dengan Riswan yang menyikapi situasi ini dengan ‘was-was’, Karel justru sebaliknya. “Saya tahu situasi ekonomi sedang sulit, yang merasakan bukan UMKM saja tapi di semua sektor. Namun begitu saya tetap optimis usaha saya tetap bertahan. Saya sudah berkali-kali mengalami kejadian seperti ini, dan sampai sekarang bisa tetap eksis. Malah dulu satu dolar AS pernah mencapai Rp 16 ribu, tapi usaha kami bisa melaluinya,” ungkap lelaki asal Sumatera yang kini bermukim di Klaten, Jawa Tengah. Kondisi menurun ini, menurutnya telah dirasakan sejak Juni lalu, omzet penjualan terus menurun. Untungnya, kata Karel, para pelanggannya tetap bertahan sekalipun agak mengurangi pembelian. Di sisi lain, ia juga memiliki sejumlah jurus jitu untuk menyiasati kondisi semacam ini. Di antaranya adalah memperluas networking, rajin pameran, dan banyak menghadirkan produk-produk kreatif dan inovatif. “Sebagai pengusaha yang sudah 15 tahun menekuni bidang ini, tentu saya punya trik-trik khusus. Apalagi kondisi seperti ini, kan, bukan baru pertama kali saya alami. Dulu malah lebih parah dari sekarang, toh, saya tetap bertahan. Tak pernah berpikir untuk menutup usaha ini. Saya yakin, banyak pengusaha seperti saya yang telah lama berkecimpung di bidangnya, memiliki resep masing-masing karena pastinya mereka juga sudah pernah mengalami,” tambahnya. TIDAK MENAIKKAN HARGA Seperti kebanyakan para pengusaha kerajinan, Karel pun tidak menaikkan harga pada barang-barang produknya. Ini lantaran daya beli masyarakat yang

Lebih Baik Kurangi Untung daripada Naikkan Harga

Edisi 870/ 12 - 18 oktober 2015

Atta Beji Deluxeroom Interior

bahan-bahan itu ia pun mulai berkreasi membuat aneka kerajinan kayu khususnya untuk perlengkapan rumah tangga. Ternyata bisnis kecil-kecilannya saat itu mendapat respon bagus. “Saya sering ikut pameran untuk memperkenalkan produk. Hasilnya bagus sekali, meski memang kadang dampak dari pameran tidak dirasakan saat itu juga saat pameran,” kata Karel. Karena itu, lanjut Karel, sepinya pengunjung pameran atau sepinya transaksi pada saat pameran tidak membuatnya berkecil hati. Pengalamannya telah membuktikan itu. “Tidak selalu dalam setiap pameran banyak transaksi terjadi. Bagi saya pameran lebih kepada pengenalan produk, mencari calon

Atta Beji Masterplan

Setelah sukses mengantarkan masyarakat lokal mensejajarkan diri dengan investor asing dan mengembalikan peran orang Bali sebagai pengendali di tanahnya sendiri melalui Villa Mesari, kini pebisnis sukses, guru bisnis, owner yang sekaligus pendiri PT Mesari Land, Made Robert, kembali membuktikan kecintaannya pada tanah dan orang Bali dengan proyek Villatel berikutnya yang diberi nama Atta Labeji Villas.

Atta Beji Pool Villa Exterior Couple

Ni Ketut Any

Investasi Villa di Ubud Bali Aman & Jadi Mesin Uang

U

juga lemah. “Kalau harus menaikkan harga dalam situasi seperti ini, rasanya tidak mungkin. Berat! Karena daya beli masyarakat lemah. Sekarang saja tanpa dinaikkan harga, pembeli berkurang. Bagaimana jika naik, jangan-jangan malah kabur. Yang memungkinkan adalah penyesuaian harga dilakukan untuk produk-produk baru, sedang produk lama, tidak. Saya pikir, lebih baik saya mengurangi besaran keuntungan daripada menaikkan harga,” kata pemilik UD Kelapa Budaya ini. Usaha kerajinan dari kayu ini telah dimulai Karel sejak tahun 2000. Sebelumnya ia adalah pekerja di industri mebel. “Latar belakang pendidikan saya adalah di bidang perkayuan, karena itu

saya berkecimpung di bidang ini. Belasan tahun bekerja di bidang permebelan membuat saya tahu banyak tentang kayu dan kerajinan. Saya juga tahu kalau usaha mebel itu menghasilkan limbah kayu yang cukup banyak, rasanya sayang kalau dibuang atau dibakar. Dari sanalah akhirnya saya putuskan untuk memulai usaha sendiri yakni membuat kerajinan dari kayu limbah mebel,” tuturnya. Bisa dibilang modal nekat, begitu awal Karel memulai bisnisnya. Modal yang dimiliki sangat terbatas. Tapi katanya, tekadnya sudah bulat untuk memiliki usaha sendiri, apalagi saat itu peluang begitu bagus. “Modal saya terbatas sekali. Saya dapat pinjaman dari teman Rp 1 juta, itu yang saya jadikan modal usaha. Sedang bahan bakunya, karena saya banyak teman yang bekerja di perusahaan mebel, saya mendapat limbah kayu dengan harga murah sekali,” ucapnya. Keuntungan memiliki jaringan di usaha permebelan adalah limbah yang didapatnya adalah kayu-kayu berkualitas, seperti kayu jati, mahoni, kelapa, dll. Dari

3

pembeli. Kalau saat itu ternyata juga mendatangkan banyak transaksi, itu adalah rezeki tambahan,” ujarnya. Dari pengalaman Karel, kerap kali calon-calon pembeli yang datang ke stannya tidak bertransaksi, alias hanya melihat-lihat atau bertanya ini-itu, tapi suatu saat mereka datang untuk membeli. Itu karena mereka tetap menyimpan kartu nama Karel. “Itu sering saya alami. Ada yang beberapa bulan setelah pameran atau bahkan pernah beberapa yang mengontak saya setelah setahun pameran. Jadi dengan berbagai pengalaman saya, secara pribadi saya menyikapi keadaan ini (sepi transaksi), biasa saja. Kartu nama yang saya sebarkan dalam pameran suatu saat akan sangat berguna sekali. Saya yakin itu,” ungkapnya. Yang terpenting, sebagai pengusaha ia tetap tekun dan bersikap sabar. “Dengan begitu kita tidak menjadi mudah panik jika ada ‘goncangan’ seperti saat ini,” kata Karel yang juga menjual produknya ke pembeli dari mancanegara. –Diana Runtu

ntuk memperkenalkan lebih dekat villatel tersebut ke masyarakat, 22 Agustus 2015, telah dilaksanakan launching bertempat di Sanur Paradise Plaza Hotel, Denpasar Bali. Yang sungguh membanggakan, minat masyarakat terhadap villa

Presentasi Atta Labeji Villas di Jakarta disambut antusias warga Ibu Kota

tersebut sangat luar biasa. Ini dibuktikan dengan membludaknya peserta yang datang. Dari target 250 peserta, ternyata yang hadir lebih dari 275 orang. Ini juga bisa diartikan bahwa masyarakat Bali sudah melek finansial untuk mempunyai passive income. Saat diberikan kesempatan untuk mendaftar dan membeli lot, hampir 50 % dari yang hadir take action mengambil bagian

untuk menjadi investor. Meja pendaftaran dipenuhi antrean, semangat peserta untuk mendaftar dan membeli lot Atta Labeji Villas begitu tinggi, sehingga total lot yang terjual melampaui target. Hal yang sama juga terjadi ketika Atta Labeji Villas ini dipresentasikan di Menara Peninsula Hotel, Slipi, Jakarta, 8 dan 9 Oktober 2015. Rupanya investasi cerdas dan aman di villatel ini mendapatkan antusias besar masyarakat Ibu kota. “Mereka sangat berminat untuk bergabung di komunitas Atta Labeji, karena itu mereka akhirnya membeli,” ungkap marketing Atta Labeji Villas, Ni Ketut Any. –ten

Mulai Rp 12 Juta Bisa Punya Unit Atta Labeji Villas di Kenderan Ubud

Hanya dengan Rp 12 juta, kini masyarakat Bali sudah bisa menjadi owner Atta Labeji Villas sekaligus punya mesin uang. Masih mengusung konsep yang sama kearifan lokal yaitu mepatung atau dalam istilah yang lebih mendunia disebut C-BOS (Capitalism Based On Society) atau kapitalis berbasis kerakyatan. Tujuannya adalah membangun kekuatan ekononi masyarakat (Bali). Menjadi pengendali dan penguasa di tanah Bali. “Mulai 12 juta masyarakat sudah bisa menjadi investor dan owner villa dengan berbagai macam keuntungan,” tegas Ketut Any. Di antaranya, uang pembelian lot dikembalikan 100 persen dalam beberapa tahun, mendapatkan 1 surat lot yang saat ini nilainya Rp 12 juta dan seiring waktu harganya pasti naik, voucher menginap senilai Rp 12 juta, penghasilan pasif 10% setiap tahun selama 2 tahun dan setiap 6 bulan selama 23 tahun, satu box kartu nama Atta Labeji Villas dengan jabatan owner, kupon undian untuk memenangkan grand prize 2 hektar hutan jabon dengan

hasil milyaran dan lain-lain. “Klausal ini pun akan kami tuangkan dalam perjanjian notaris,” imbuh Ketut Any sembari mengatakan dalam waktu dekat ini akan segera dilakukan ground

breaking (peletakan batu pertama) atas proyek villatel Atta Labeji Villas di Kenderan, Ubud, Bali. Bagi masyarakat yang tidak sempat hadir dan membeli lot Atta Labeji

Villas pada saat launching, bisa datang langsung ke kantor Bos Land, Jalan Tukad Pakerisan 79 Panjer Denpasar, atau bisa menghadiri PRESENTASI GRATIS, Rabu 14 Oktober 2015, pukul

Penandatanganan kontrak kepemilikan unit Atta Labeji Villas di notaris

16.30 wita di Hotel Ibis Style, Jalan Teuku Umar No. 184 Denpasar. Untuk reservasi, telepon sekarang di nomor 0361- 4723260, 082 247 365 888, 087 861 999 658. –ten


2

Edisi 870/ 12 - 18 OKTOBER 2015

GORO-GORO TGL 2 OKTOBER 2009, DALAM SIDANG PLENO UNESCO DI ABU DHABI DIPUTUSKAN BAHWA BATIK DITETAPKAN SEBAGAI “THE INTANGIBLE HERITAGE OF HUMANITY”, WARISAN BUDAYA Putu Wijaya TAK BENDA MILIK INDONESIA. S E TE L A H R I B UA N TA H U N NENEK MOYANG KITA MENCIPTAKAN BATIK, SETELAH RATUSAN TAHUN KITA MEMAKAI BATIK, SETELAH PULUHAN TAHUN KITA BANGGA DENGAN BATIK, BARULAH DENGAN SEMANGAT PANTANG MENYERAH MEMBELA HAK MILIK KARYA BUDAYA INDONESIA, TGL 2 OKTOBER 2009, BATIK DIAKUI UNESCO. BEBERAPA HARI SEJAK HARI ITU, PRESIDEN SBY MENERBITKAN KEPPRES TENTANG PENETAPAN TGL 2 OKTOBER SEBAGAI HARI BATIK NASIONAL. SELAMAT HARI BATiK NASIONAl. TERIMA KASIH TUHAN ATAS ANUGRAHMU INI, TERIMA KASIH KEPADA SEMUA YANG TELAH BERPARTISIPASI DAN TURUT BERJUANG UNTUK SUKSESNYA PENGAKUAN BATIK OLEH UNESCO. Amat mengangguk membaca SMS itu, lalu mengembalikan HP kepada Ami. Tapi kemudian, ia terkejut ketika Ami berbisik “SMS itu berasal dari rutan Cipinang!” Amat tercengang. “O, ya?” “Ya! Ditulis oleh mantan Menbudpar 2 periode, Ir. Jero Wacik SE, lalu seseorang teman memforwardnya.” Amat mulai mengerti. “Bapak dari dulu pembela batik kan?” “Betul.” “Bagaimana perasaan Bapak setelah Pak SBY melahirkan Hari Batik Nasional? Bangga?” “ Ya.” “ Apa lagi?” “Apalagi? Ya, kita tidak boleh lupa!” “Tidak boleh lupa, apa?” “Bahwa batik adalah aset bangsa. Salah satu identitas kita. Wajar kalau setiap hari Jumat sekarang para karyawan, swasta maupun PNS di mana-mana sekarang pakai batik.” “Tapi kita, tidak boleh juga lupa, Pak,” potong Ami, “sebelum menjadi keren seperti sekarang, batik memang telah menempuh perjalanan panjang berliku.

BATIK

Kalau tidak diperjuangkan pasti sudah terbengkalai, direbut tetangga atau mubazir, akibat kita terlalu dekat, akibat kita terlalu banyak punya warisan budaya, kita suka lupa, alpa menghargainya sendiri. Mata dan pikiran kita lebih suka lari ke tempat lain. Dulu batik kan hanya diagungkan oleh generasi tua, tapi sekarang, lihat kami generasi muda, tak terkecuali mereka para kawula gaul juga gegap-gempita membanggakan batik! Bukan hanya dipakai kain jarik, tapi gaun, jas dan segalanya itu!” Amat memotong. “Tapi celakanya, akibat jadi identitas nasional ke seluruh lapisan masyarakat, baju batik sekarang jadi mode. Semua demam batik. Akibatnya harga batik mabok! Batik tenar, keren, tapi rakyat tak sanggup lagi beli. Bapak malah satu potong pun tidak punya!” Bu Amat langsung memotong. “Bapak jangan begitu! Bapak kan termasuk generasi tua pemuja batik! Buka almari, segala macam warna batik bapak punya!” “Ya! Tapi batik sutra rancangan perancang Iwan Tirta atau baju batik Danarhadi, Bapak tidak punya!” “Ah, batik itu bukan soal rancangannya, harganya, modelnya, tapi cirinya sebagai jatidiri! Batik murah pun tidak malu kita pakai bersanding dengan orangorang yang memakai busana puluhan bahkan ratusan juta dari butik, tapi tidak punya kepribadian. Karena itu, beruntunglah kita, setelah batik sudah dikukuhkan sebagai identitas nasional, kita percaya diri berhadapan dengan dandanan mewah dari mana pun, walau hanya pakai batik murah. Murah itu mahal, sama, itu Indonesia. Ya, kan Ami?” Ami hanya tersenyum, lalu pulang. “Ami!” Ami terus lempeng, tidak mau berhenti. “Kenapa Ami, Bu?” “Lha, tadi Bapak ngomong apa sama dia?” “Apa ya? Dia mengingatkan tentang hari batik, supaya kita mensyukuri punya warisan batik. Ya kita kan memang pembela batik. Waktu dulu ada kabar hak cipta batik mau diakui negara tetangga kan Bapak ikut menggerakkan para pemuda protes?!” Bu Amat senyum sinis. Amat jadi gelisah. Sore itu juga ia datang ke rumah Ami, minta maaf. “Ami, maaf, Bapak mengerti apa maksudmu, menunjukkan SMS itu. Tetapi sebagai orang Bali pada umumnya, terimakasih kan tidak usah diucapkan, karena itu sudah dengan sendirinya, sebagai bagian dari dharma.” Ami mengangguk, tapi kemudian menjawab lirih: “Dan, maaf juga tidak usah diucapkan dan dijawab, karena itu semua juga sudah dengan sendirinya, sebagai bagian dari dharma.”

Pecah Ban Dua Kali Setelah lulus kuliah di salah satu PTS di Yogyakarta, saya kembali ke kampung halaman. Niat pertama adalah mencari pekerjaan sesuai dengan ilmu yang dipelajari di kampus. Namun, hingga tiga bulan berlalu, tak jua ada panggilan. Saya tak mau berdiam diri. Jurus mabuk pun keluar. Kebetulan ada saudara yang punya usaha laundry. Saya pun melamar. Sebenarnya saudara saya itu tidak enak hati menyuruh saya kerja sebagai pengantar jemput laundry. Tetapi, saya ngotot dengan

alasan mau mencari pengalaman. Daripada diam saja di rumah bisa stress, saya pun diterima sebagai tukang antar jemput di laundry tersebut. Pekerjaan yang saya jalani termasuk ringan. Kalau ada telepon dari pelanggan, saya berangkat untuk mengambil cucian. Kalau sudah selesai, saya antarkan lagi. Motor yang saya pakai Astrea Prima yang menemani sejak kuliah. Setelah sekian lama, saya pun menikmati pekerjaan itu. Suatu sore, ada sahabat yang datang ke rumah. Dia

tinggal di Lampung. Kami sudah akrab sejak kecil. Karena saya harus bekerja untuk mengambil cucian, saya ajak dia. Saya ingin menunjukkan inilah pekerjaan yang saya lakoni. Kami pergi naik motor sambil bercerita tentang masa lalu dan pengalaman kuliah. Apes menimpa kami. Ban motor pecah. Saya pun menuntun motor untuk menambal ban motor. Untungnya tukang tambal ban tidak terlalu jauh. Hampir setengah jam kami menunggu tukang tambal ban menyelesaikan pekerjaannya.

Ekspresso bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998 Pemimpin Umum/Penanggung Jawab Gde Palgunadi Redaktur Pelaksana Ngurah Budi Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti, Sagung Inten Jakarta Diana Runtu NTB Naniek Dwi Surahmi Desain Grafis IDN Alit Budi­artha, I Made Ary Supratman Sirkulasi Kadek Sepi Purnama Se­kretariat Ayu ­Agustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono Alamat Redaksi/Iklan Denpasar Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 416676–Faksimile (0361) 425373 Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta Jalan ­Pal­merah ­Barat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603-Faksimile (021) 5357605 NTB Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257 Jawa Timur Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­ ­Faksi­mile (031) 5675240 Surat Elektronik redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id Website www.tokoh.co.id Bank BRI Cabang ­Gajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6 Percetakan BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar

Kami melanjutnya perjalanan ke rumah pelanggan. Pulangnya, kami apes lagi. Ban motor pecah lagi dan di lokasi yang sama. “Oh my God…mengapa pecah dua kali dan di tempat yang sama,” sungut saya dalam hati. Kondisi makin kacau karena hujan mulai turun. Tukang tambal ban yang tadi sudah tutup. Kami harus berjalan lebih jauh untuk mencari bengkel.

Kali ini saya memutuskan untuk ganti ban saja. Saya minta maaf kepada sahabat yang sudah saya ajak “berpetualang” ini. Dia malah senang saja karena ini merupakan tanda persahabatan dalam suka dan duka. Akhirnya, malam itu, setelah menaruh cucian di laundry, saya membelikan dia bakso. Evan

Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca ­lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. ­Panjang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan nomor kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373

Sudut Pandang

Edisi 870/ 12 - 18 OKTOBER 2015

23

Masyarakat bisa Buat Kantor Pos Sendiri Saat ini pembayaran berbagai tagihan dan angsuran, diantaranya pembayaran listrik (PLN), air minum (PDAM) , angsuran kredit (Finance) dapat dilakukan di Kantor Pos. Tentu dengan layanan yang lebih mudah, aman dan cepat dengan menggunakan sistem online, dan memudahkan transaksi tersebut secara online.

P

rogram pembayaran tagihan dan angsuran “apapun” yang secara online di Kantor Pos, menggunakan salah satu layanan bisnis jasa keuangan di samping wesel instan, yang sering digunakan mereka yang melakukan transaksi bisnis namun tidak memiliki rekening koran. Begitu disampaikan, Sulistijono, S.E., Ak, Kepala Kantor Pos Denpasar, di kantornya di kawasan Jalan Raya Puputan, Renon, Denpasar.

Dikatakannya bahwa pelayanan PT Pos Indonesia terus ditingkatkan termasuk melalui teknologi, seperti pos pay tersebut. Jika pada masa lalu, wesel dan giro dikelola secara konvensional dan dikirim secara fisik, maka dengan pos pay, layanan tersebut dapat dilakukan dengan berbasis IT. Karena pelayanan dan penggunaan teknologi pula, PT Pos Indonesia sukses meraih kepercayaan dalam penyaluran dana pemerintah.

Sulistijono, S.E., Ak

Mengenai pengiriman uang dengan wesel instan, dikatakannya mampu memberikan solusi terhadap kecepatan, ketepatan dan keamanan kiriman uang seseorang, baik domestik maupun

Pilih Jasa Ekspedisi yang Tepat

Perusahaan jasa pengiriman barang menjadi ujung tonggak kesuksesan toko online yang terus menjamur. Hal yang paling utama harus diperhatikan adalah bagaimana menyampaikan pesan berupa barang dengan baik. Tentunya barang yang akan diantar dalam keadaan selamat, aman, dan tepat waktu. Demikian disampaikan pengamat ekonomi Dr. Nyoman Sugawa Korry, pekan lalu. Ia mengatakan, terkadang pelanggan merasa kecewa bahkan dirugikan oleh perusahaan jasa pengiriman barang akibat pelayanan yang diberikan. Kekecewaan yang dialami bisa saja kerusakan dokumen maupun kehilangan barang yang dikirimkan. “Menjalankan bisnis online memerlukan rasa percaya antara pelakunya dengan pelanggan. Memang bisnis online memiliki keuntungan dan juga kerugian,” kata lelaki yang kini menjabat Wakil Ketua DPRD Bali ini. Dalam penilaiannya, keuntungan bisnis online, orang menjadi lebih efisien waktu. Namun, kelemahannya, barang yang diterima bisa jadi tidak sesuai dengan contohnya. “Belanja online juga lebih boros karena saking asyiknya memilih di internet, kita lupa akan batasan budget yang

Dr. Nyoman Sugawa Korry

harus dikeluarkan. Apalagi, yang berbelanja memakai kartu kredit. Jangan sampai, akhir bulan tagihan menumpuk,” ujarnya. Bagi konsumen yang sudah mendapatkan keuntungan dengan belanja online, tentu bercerita kepada orang lain. Hal ini, tentu akan berpengaruh pada kelangsungan toko online tersebut ke depannya. Begitu juga, kalau ada konsumen yang dirugikan, pasti akan bercerita kepada orang lain. Ia sangat berharap, pelaku bisnis online tentu tidak ingin menghancurkan reputasinya sendiri akibat pelayanan buruk yang

dilakukan perusahaan jasa pengiriman barang. “Pelaku bisnis online yang sering mendapat keluhan dari pelanggan mengenai barang yang tidak tepat waktu bahkan sampai rusak, tentu berdampak pada reputasi bisnis online yang dijalankannya ke depan,” katanya. Maka dari itu, menurutnya, sebagai pelaku bisnis perlu mengetahui beberapa hal agar tidak salah dalam memilih perushaan jasa pengiriman barang. Hampir setiap jasa ekspedisi memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Pelaku bisnis harus benar-benar teliti mengenali kelebihan dan kekurangan masing-masing jasa ekspedisi. “Yang paling penting, mengutamakan kepuasan pelanggan. Maka dari itu, pilihlah perusahaan jasa pengiriman jasa ekspedisi yang bonafide dan bertanggungjawab,” kata Sugawa Korry. Untuk kelangsungan bisnis online ke depannya, tentu berpengaruh juga pada jasa pengiriman barang. Ia menilai, prospek ke depan bagi toko online, sangat cerah, namun, harus dibarengi dengan pelayanan yang baik, tepat waktu, dan berkualitas. Karena itu, pelaku bisnis online harus tepat dalam memilih dan memilah perusahaan jasa pengiriman barang agar bisa menunjang kelangsungan bisnisnya ke depan. –Wirati Astiti

Internasional melalui Western Union Money transfer. Sementara pelayanan khusus lokal yakni wesel prima , banyak digunakan sebagai sarana pengiriman uang untuk tujuan diseluruh Indonesia, menjangkau seluruh pelosok sampai kecamatan dengan layanan diantar sampai rumah. Untuk bisnis surat dan paket, masyarakat bisa memilih jasa pengiriman biasa, kilat, kilat khusus dan pos ekspres. Menariknya kalau dahulu untuk kiriman kilat masih menggunakan perangko, tapi sekarang sudah menggunakan barcode. “Sesuai dengan perkembangan teknologi, dengan barcode juga sistem bisa melacak semua proses pengiriman surat tertsebut. “ Ini semua untuk siapa saja yang ingin layanan istimewa dari Pos Indonesia untuk kota tujuan tertentu di Indonesia, demi lebih cepat. Untuk jaminan maksimal sehari sampai dapat memimilih pos ekpres,”papar Sulistijono .

Ia juga mengtakan, meski saat ini semakin banyak usaha jasa pengiriman yang sejenis, namun pelayanan pengiriman surat dan paket yang memang ada sejak awal justru mengalami peningkatan yang sangat signifikan setiap tahunnya. “Seperti surat bisnis dari perbankan yang hingga kini selalu mengirimkan rekening korannya melalui pos,” katanya. Selain itu pelayan pembelian perangko dan materia juga masih berjalan dengan baik. PT Pos, katanya telah merevitalisasi pelayanan berdasarkan berkembangannya kebutuhan masyarakat. Demikian juga dengan teknologinya. Bahkan PT Pos memiliki komitmen untuk selalu ada dimana pun masyarakat berada. Sampai akhirnya saat ini PT Pos sudah membuka diri mengembangkan pola kemitraan dalam bisnis agen pos dengan masyarakat untuk bisa mendirikan kantor pos di rumah sendiri. – Sri Ardhini

Pengiriman Uang Paling Diminati

Jika dulu Kantor Pos sangat dibutuhkan untuk berkomunikasi melalui surat dengan keluarga, kawan, sahabat, relasi dan hubungan lainnya, kini seiring berkembang pesatnya alat komunikasi, korespondensi surat menyurat secara pribadi khususnya tidak lagi banyak dilakukan. Kemudahan yang ditawarkan alat komunikasi yang canggih saat ini, membuat orang perorang tidak lagi membutuhkan cara manual dengan mengirimkan surat, meski tentu masih ada saja yang sesekali melakukannya dengan alasan bernostalgia. Salah satunya, Robi (47), yang datang ke kantor pos yang berada di belakang RSU Mataram untuk mengirimkan surat kepada sahabatnya di Medan. Ia mengaku memang tidak selalu berkirim surat karena lebih gampang berkomunikasi dengan ponsel. Namun, satu dua kali ia masih berkomunikasi lewat surat. “Biasanya sih apa yang tertulis dalam surat hanya obrolan biasa, tidak ada yang terlalu penting,” ujarnya. Kalau hal penting atau mendesak saat ini dikomunikasikan lewat surat dinilai tidak efektif, karena surat baru akan sampai dua hingga tiga hari kemudian. Tidak lagi banyak orang yang secara pribadi mengirim surat lewat pos ini diakui oleh Kadek Sumardhana, Kepala Kantor Pos Mataram. “Pengiriman surat secara pribadi sekarang memang terbilang sudah sangat kurang, namun surat-menyurat corporate masih banyak dan jumlahnya stabil,” ungkapnya. Menurutnya, jasa pos seperti pengiriman paket-paket juga banyak dibutuhkan masyarakat. Ini terlihat dari setiap hari truk-truk dan kendaraan pos maupun yang bekerja sama dengan pos dalam hal pengangkutan paket ini, selalu penuh. “Tiap hari angkutan paket pos selalu penuh dengan aktivitas yang tinggi,” ujarnya. Sejauh ini, menurut Kadek Sumardhana, semua pelayanan yang ada di Kantor Pos Pemeriksa Mataram tetap diminati masyarakat. Namun pelayanan yang paling besar diminati saat ini adalah pengiriman uang luar negeri, khususnya dari para TKI dan TKW asal Lombok. “Kiriman uang luar negeri khususnya dari TKI/TKW asal Lombok paling besar melalui Kantor Pos,” katanya. Sejak sebulan yang lalu, pelayanan terbaru di Kantor Pos Pemeriksa Mataram adalah transfer uang ke seluruh rekening bank yang masuk dalam jaringan ATM bersama. “Ini untuk mendekatkan pelayanan bagi pelanggan pos,” ujarnya. -Naniek I. Taufan


24

What’s Up

Edisi 870/ 12 - 18 Oktober 2015

Tjok Istri Tuty Ismayanthi

Wanita Multi Talenta Menjalani hidup harus multitasking dan dibawa rileks saja. Banyak hal telah diatur Tuhan untuk terjadi pada saat yang bersamaan. Jalani keseharian dengan senyum dan tidak usah dibuat ruwet. Demikian falsafah hidup dari Tjok Istri Tuty Ismayanthi, S.E., M.M. atau yang akrab disapa Cokty.

M

enurut perempuan kelahiran Puri Peliat­ an, 26 Juli 1976 ini, jam terbang kita da­ lam mengatasi masalah harus terus dilatih sehingga tidak ada problem yang tidak bisa diatasi. “Asal mau capek, kalau tidak capek bukan hidup namanya,” ujar istri IGP. Satvika Adhi Putra, S.E. ini sembari tersenyum. Direktur Keuangan & Umum Bali Royal Hospital dan Finance & Investment Consultant Hospital and Tourism Industry ini mengatakan, sebagai perempuan, ia harus memilih opsi yang tidak mudah. “Sebagai istri dan ibu dari empat anak, pekerjaan yang menuntut profesionalisme dan menyita waktu. Apalagi, saat ngantor maupun harus dinas ke luar kota bah­ kan tugas ke luar negeri sebagai ben­ tuk tanggungjawab sebagai pimpinan di sebuah rumah sakit,” ujar bungsu dari tiga bersaudara, putri pasangan dr. Tjokorda Gde Subamia dengan AA Alit Suarthi ini. Belum lagi, saat klien dari bisnis finance konsultan mendadak ramai dan padat job. Juga, di saat bersamaan perannya sebagai aktivis dalam komunitas olahraga didaulat sebagi asisten pelatih sekaligus official bagi atlet Pra-PON Shorinji Kempo Bali yang berlaga di Bandung. Cokty tak me­ nampik, membutuhkan stamina

yang kuat, stabilitas emosi yang baik, serta dukungan penuh suami dan keluarga untuk selalu siap berbagi tugas untuk menjaga keharmonisan seluruh perjalanan hidup setiap hari. Prinsipnya adalah komitmen yang persisten, sa­ling menjaga ke­ percayaan dimanapun berada, tetap sadar akan kodrat untuk senantiasa saling menghormati. Tidak arogan merasa diri super. “Superman is dead, yang kita bangun super team, maka bekerjalah se­penuh hati hingga menunjukkan bukti prestasi. Yang pada akhirnya impact-nya adalah menjadi kebanggaan dan panutan bagi anak-anak, keluarga, ­organisasi maupun nama daerah yang tugas­ nya kita emban,” kata ibunda Bayu ­S atvika, Manik Bellinda Satvika, Bagus Putra Satvika, dan Bayuna Dharmaputra Satvika ini. Cokty, tanggal 2 s.d.4 Oktober 2015, dipercaya sebagai asisten pelatih sekalius official bagi atlet Pra-PON Shorinji Kempo Bali dan mengukir tinta emas sejarah Kempo Bali. Sejak Tahun 1972, baru tahun ini Bali akhir­nya menyabet juara umum 3 dari 33 Provinsi yang berlaga di Bandung. Dengan perolehan medali 2 emas, 2 perak dan 1 perunggu. Dari 21 atlet Pra-PON tersebut berhasil menyabet 19 tiket untuk melaju di PON 2016.

Perempuan yang mengedepan­k an pola asuh orangtua, menjadi­ kan anak mandiri dan pan­ tang menyerah ini, memi­ liki segudang prestasi. Juara nasional beladiri Kempo 1989-1999, se­ jak sabuk hijau saat SMP, hingga sabuk hitam saat SMA dan tamat kuliah. Juara I akademik saat SMP dan SMA dan nilai IPK tertinggi tiap semester saat kuliah S-1 dan S-2. Mahasiswa Teladan se-Jawa Bali, NTB, NTT tahun 1998 wakil dari Undiknas. Peraih beasiswa sejak semester I hingga lulus sarjana. Lulusan cum laude di Program Pascasarjana S-2 Magister Manaje­ men Unud. Cokty sejak remaja hobi olahraga kempo. Selain rutin berlatih kempo di

Tjok Istri Tuty Ismayanthi

Dojo PLN Renon, di hari libur juga hobi metirtayatra untuk mengisi ­kegiatan spiritual bersama keluarga. “Itu semua bentuk ­keseimbangan mind, body, and soul dan mem­bentengi

moral keluarga dalam meng­ hadapi dunia yang semakin no limitation agar tetap rendah hati dalam pergaulan seharihari,” kata Cokty. Harapan Cokty ke depan, adik-adik tim Shorinji Kem­ po 19 orang, para pelatih, ­pengurus Perkemi Bali, dan juga mohon doa restu dari segenap lapisan masyarakat Bali agar dapat meningkatkan prestasi ini dalam PON 2016. Ia berharap dukungan juga, melalui penyediaan sarana dan pendanaan yang lebih kuat. latihan yang ­intensif dan tidak kenal lelah, menjaga kekompakan tim dan mencetak stamina dengan komitmen menjadikan Bali juara. Bebera­ pa pesan ­Cokty kepada generasi muda, “Percayalah, hasil tidak akan per­ nah mengkhianati usaha, don’t talk, just prove it, kekuatan tanpa kasih sayang adalah kezaliman, kasih sayang tanpa kekuatan adalah ­kelemahan”. –ast

Juara umum 3 Pra-PON Kempo, Bandung 2-4 Oktober 2015

Email: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id

mingguantokoh

@mingguantokoh

mingguantokoh

Website: www.tokoh.co.id


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Tokoh Edisi 870 | Tokoh by e-Paper KMB - Issuu