Skip to main content

Tokoh Edisi 860 | Tokoh

Page 1

24

What’s Up

Edisi 860/ 3 - 9 Agustus 2015

Menyemarakkan Jakarta dengan Taman Terpadu Ramah Anak Jakarta kekurangan ruang terbuka hijau, itu memang cerita lama.Pembangunan yang tak terkendali serta pe­ ngawasan yang kurang terhadap tanah-tanah pemerintah daerah, menjadi penyebabnya.Tak heran kalau penambahan RTH menjadi sangat lambat.

D

ari luas Jakarta yang 661,52 km2, RTH yang dimiliki baru sekitar 10-11%. Padahal jika mengacu pada Undang Undang No 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, Jakarta harus memiliki minimal 30 % RTH. Itu sebabnya dibawah kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahja Purnama alias Ahok, gencar mengejar kekurangan RTH itu untuk mewujudkan kota besar yang ramah lingkungan.

Dalam program penambahan RTH inilah Dharma Wanita Pemprov DKI Jakarta juga Tim Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TPKK) masuk dengan konsep Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA). Hal ini, kata Ketua Dharma Wanita Persatuan (DPW) Prov. DKI Jakarta, Rusmiati Saefullah, sesuai dengan program organisasinya, yakni, pendidikan, ekonomi dan sosial budaya. Titik perhatian organisasi, ucapnya, diarahkan antara lain untuk mening-

Taman ramah anak

katkan kualitas sumber daya anggota dan keluarganya agar mampu menjawab tantangan masa depan, memiliki wawasan jauh ke depan juga memiliki kemampuan meraih peluang bagi kehidupan yang lebih baik. Namun dalam melaksanakan program selain guna meningkatkan kualitas sumber daya serta ketahanan keluarga juga harus menyesuaikan tatanan organisasi dengan kebijakan pemerintah. “Karenanya upaya Pemprov DKI Jakarta memperluas RTH didukung penuh oleh Dharma Wanita juga PKK. Pembangunan taman-taman terpadu yang terintegrasi sangat baik, dengan begitu anak-anak memiliki taman bermain yang nyaman. Para orangtua juga dapat berkegiatan di sana,” papar Rusmiati yang juga Wakil Ketua II Tim PKK Prov. DKI Jakarta. RPTRA nantinya bukan hanya menjadi tempat anak bermain, tapi di sana para orangtua khususnya para ibu dapat melakukan berbagai kegiatan, seperti pelatihan ketrampilan, kegiatan posyandu,dll. Saat ini, sudah ada sejumlah taman terpadu yang dibangun di lima wilayah Ibukota. “Untuk pembangunan taman ramah anak yang dibangun di tiap-tiap wilayah yang padat penduduk harus nyaman, tanah tidak dalam sengketa dan luasnya minimal 1000 meter persegi,” tambah istri Sekretaris Daerah DKI Jakarta, Saefullah, ini. Hal senada disampaikan Veronica Tan, Ketua Tim PKK Provinsi DKI Jakarta. Kata istri Gubernur DKI ini, dalam dua tahun ke depan akan terwujud sekitar 300-an taman. “Ini rencana hingga dua tahun ke

Veronica saat peresmian pembangunan taman terpadu ramah anak

depan ada 300-an taman akan dibangun. Saat ini Pemda Provinsi DKI Jakarta sedang berkoordinasi untuk mencari lahan-lahan pemerintah untuk pembuatan RPTRA,” ungkap Veronica yang juga Penasihat Dharma Wanita DKI Jakarta ini. Nantinya, tambah ibu tiga anak ini, RPTRA akan ada di tiap kelurahan. Karena karakteristik dan kebutuhan warga setiap daerah berbeda, maka pembangunannya pun akan disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhanwarga. “Jadi sekarang masih mencari-cari lahan, masih social mapping. Nantinya dibangun sesuai kebutuhan warga setempat, masing-masing tempat tentunya memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda, jadi pembangunannya mungkin tidak sama,” tambah Veronica.

Membangun banyak RPTRA memang menjadi impian Veronica juga pengurus lainnya. Karena dengan RPTRA ini seluruh program pemberdayaan keluarga bisa terintegrasi dalam community center. Berbagai aktivitas anak maupun orangtua bisa terpusat di tempat tersebut, dan juga bisa dikembangkan untuk sarana pelatihan ketrampilan bagi ibu-ibu untuk meningkatkan perekonomian. Untuk tahun 2015 ini, direncanakan dibangun 54 RPTRA, empat di antaranya sudah diresmikan, di antaranya di Kelurahan Sungai Bambu, Tanjung Priok Jakarta Utara. Veronica Tan menambahkan akan mengandeng perusahaan-perusahaan lewat program CSR agar rencana pembangunan RPTRA bisa cepat terwujud. –Diana Runtu


2

Ekspresso DAri daPUr Redaksi Edisi 860/ 3 - 9 Agustus 2015

Menang tanpa Ngasorake Pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak akan digelar 9 Desember 2015. KPU mendata ada 705 calon yang mendaftar. Dari jumlah itu, ada 55 calon wanita dan sisanya, 650 orang pria. Di Bali, ada enam kabupaten/ kota yang akan melaksanakan pilkada. Badung, Bangli, Denpasar, Jembrana, Karangasem, dan Tabanan. Dari para kandidat yang akan bertarung, ada tiga wanita. Ni Putu Eka Wiryastuti (Tabanan), IGA Mas Sumatri (Karangasem), dan Ni Made Sumiati (Karangasem). Hadirnya wanita dalam kancah perpolitikan bukanlah hal yang tabu. Wanita memiliki peluang yang sama untuk bersaing dalam sebuah perhelatan politik. Posisi wanita tak lagi hanya sebagai pendamping suami. Wanita punya hak untuk ikut menjadi kandidat. Dari pilkada-pilkada di Indonesia sebelumnya, sudah ada wanita yang berhasil menjadi kepala daerah. Ada yang menjadi gubernur, ada yang menjadi bupa-

ti, dan ada yang menjadi walikota. Mengapa mereka bisa? Tentu banyak faktor yang menentukan, diantaranya peluang, kemampuan, dan “garis tangan”. Peluang dan kemampuan berada di level yang sama. Jika ada peluang tetapi tidak punya kemampuan, tentu sulit untuk merebut simpati masyarakat. Sebaliknya, punya kemampuan tetapi tidak ada peluang, tidak akan ada artinya. Kedua faktor ini harus dikuasai. Begitu ada peluang, manfaatkan peluang dengan segenap kemampuan. Semua ini proses yang harus dipersiapkan sejak lama. Satu hal lagi, yang perlu dingat adalah orang sudah

membawa “garis tangan” masingmasing. Baik-buruk, lurus-berliku, pahit-manis kehidupan harus dilalui. Kalau memang “garis tangan” belum membawa kea rah kesuksesan, jangan menyerah. Semua ini proses. Dibalik kegagalan ada makna yang tersirat. Salah satu contoh, Khofifah Indar Parawansa yang dua kali gagal menjadi Gubernur Jawa Timur. Kini ia menjadi Menteri Sosial di Kabinet Kerja Presiden Jokowi. Kalah bukan berarti semua selesai. Jelang pilkada bersama ini, kepada kandidat wanita, berjuanglah semaksimal mungkin. Tunjukkan kemampuan saat peluang itu ada. Kalah menang itu biasa. Hal terpenting bagaimana menyikapi dengan bijaksana. Ada ungkapan kearifan mengatakan menang tanpa ngasorake. Artinya kira-kira menang tanpa mengalahkan. Ini yang memerlukan kearifan dari sang pemenang. Hal paling dasar yang harus dilakukan adalah tidak perlu menggelar pesta kemenangan besar-besaran. Apalagi dengan tambahan bumbu meremehkan pihak yang dikalahkan. Pesta kemenangan cukup sebagai tanda syukur kepada Yang Maha Kuasa. Tidak lebih dari itu. Salam

Keteganganku Mencapai Klimaks

Akhir bulan Mei 2015, di Karangasem ada lomba bidang Bahasa Indonesia yakni menulis poster, menulis cerpen serta membaca puisi. Seperti biasa jika ada lomba seperti itu pasti tugas itu tertuju padaku. Awalnya ketrampilanku di bidang sastra sangat minim. Karena ada permintaan dari seorang siswa yang tertarik ingin mengikuti lomba. Siswa itu pindahan Surabaya, yang cukup mahir berbahasa Inggris. Ia minta bantuan dibuatkan pidato bahasa Indonesia karana ia ingin ikut lomba pidato Bahasa Inggris. Aku berusaha membuat sebisanya berdasarkan tema yang diberikan serta mencari beberapa referensi sebagai pedoman. Setelah lomba akhirnya ia dapat juara walaupun baru dapat juara harapan satu, namun siswa itu cukup gembira. Sejak itu kemampuanku di bidang sastra sedikit demi sedikit terasah. Dalam hal membina siswa, tidaklah masalah besar buatku. Memang yang namanya lomba kadang bisa menang kadang juga kalah, hal itu adalah sebuah kewajaran yang harus diakui. Namun yang sedikit mengganjal adalah aku tak bisa bertanggung jawab secara totalitas, sebab kendalanya jika aku mendampingi saat lomba aku juga harus diperhitungkan dalam hal transportasi, karena belum berani mengendarai sepeda motor. Seperti

bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

makan buah simala kama, jika tidak ikut mendampingi siswa saat berlomba mungkin dianggap tanggung jawabku masih setengah-setengah. Sehari menjelang lomba ada surat tugas dari Kepala Sekolah agar aku ikut mendampingi lomba tersebut juga tamanku seorang guru olah raga yang mengantar dengan mobil pribadinya. Pada hal sebelumnya aku sudah menolak untuk ikut mendampingi berhubung kondisiku sedang tidak sehat. Demi sebuah tanggung jawah, apalagi sudah dibuatkan surat tugas ya kupaksakan juga untuk mendampingi para siswa yang ikut lomba. Kami sepakat berangkat pagi-pagi. Karena masih pagi jalanan masih cukup lengang, tidak banyak kendaraan yang lewat. Laju kendaraan cukup kencang. Sebenarnya aku merasa pusing karena penyakit vertigoku kumat. Untuk mengusir rasa pusing aku melihat pemandangan ke samping makin kencang laju kendaraan makin kencang terasa pohon-pohon berlari, kepalaku makin terasa tidak nyaman. Ya terpaksa aku menghadap ke de-

pan. Di tikungan Candidasa menuju Samuh, teman yang mengendarai sepeda motor mendadak membelok karena menghindari anjing mungil yang melintas di depannya. Syukurlah temanku cukup sigap menyetir sehingga tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Perjalanan berlanjut dan kepalaku maikin pusing. Siswa yang kuajak juga pusing. Tak dinyana mobil yang kutumpangi mendadak mengerem. Setelah melihat ke depan, Oh my God… pemandangan yang sangat mengerikan, telah terjadi tabrakan. Aku melihat jelas ada sepeda motor ringsek di pinggir jalan, pengendaranya lututnya robek dan yang dibonceng tidak sadarkan diri, segera diangkut keduanya ke mobil pick up. Lengkaplah sudah kekhwatiran dengan kondisi tidak enak sudah mencapai klimaks, jantungku terasa berdebar-debar, sungguh pengalaman perjalanan yang tidak menyenangkan, sehingga penyakit vertigoku kambuh permanen. Wayan Weti, Karangasem

GORO-GORO

akik

Tiba-tiba akik meledak jadi emas. Batubara terkubur. Di mana-mana orang keranjingan Putu Wijaya menggosok batu. Padahal dulu dilecehkan sebagai “mainan” para dukun. Amat tak mau ketinggalan. Ia bongkarl laci mencari akik-akik yang pernah dikoleksinya. Dulu ia percaya akik punya kekuatan rahasia. “Ada akik untuk menolak penyakit, menetralisir bala, melindungi diri dari serangan tenaga gaib, Ada untuk mendongkrak wibawa. Buat hoki, buat dicintai. Ada pula untuk menyerang dan mengalahkan lawan.” “Tapi jangan salah pilih. Ada akik yang keren, tapi tidak cocok dengan kepribadian kita. Akik Itu berbahaya, bisa jadi bumerang.” “Akik tidak boleh diobral. Maksimum kalau dipakai cincin, tabu memakai lebih dari tiga. Kalau dipaksakan , dia akan minta korban.” Bu Amat diam saja tak mau mengganggu keasyikan suaminya. Hanya saja kemudian ia terganggu karena banyak tamu berdatangan untuk konsultasi akik. Kadang tengah malam, kadang subuh. Amat mulai dikenal sebagai “pakar” akik. “Yang mengherankan Ibu, kata Bu Amat curhat pada Ami. “Akik Bapakmu banyak dibeli, tapi koleksinya bukan berkurang, justru bertambah.” “Bagaimana caranya merebut kembali bapakmu yang diculik akik, Apakah Ibu harus ikut bapakmu jadi dukun akik?” “Betul! Melawan dukun harus jadi dukun!!” Bu Amat tertawa. Tapi kemudian ia praktekkan resep Ami. Amat sangat senang. Lalu istrinya diangkat jadi asisten. Tapi karena sudah ada asisten, Amat punya waktu lagi melakukan kebiasaan lamanya. Sport jalan pagi, membaca, menghadiri berbagai pertemuan. kerja sosial, berorganisasi dll. Amat bahkan mengajar pada sebuah bimbingan kerja TKI. Subuh ia bikin sarapan sendiri. Pulang siang atau sore, bahkan nonton TV dan tidur ia sendiri, karena Bu Amat terlalu sibuk ngurus akik Sekitar 2 bulan Amat menikmati kehidupan bebasnya. Ia terkejut ketika menyadari istrinya dikenal sebagai dukun akik. “Dinasehati supaya mengurangi kegiatan perdukunan akiknya, supaya bisa apa, bersosialisasi, seperti nasehatmu dulu, ia malah menjawab ketus,” curhat Amat pada Ami,” Katanya jadi dukun akik juga maknanya bersosialisasi. Bapak jadi mati langkah. Apa yang harus bapak lakukan, Ami? Apakah bapak harus ikut-ikutan jadi dukun? Sebab katamu dulu, untuk melawan dukun harus jadi dukun?” Ami menjawab tegas, “Betul sekali!” Amat tertawa. Tetapi ketika ia siap-siap untuk jadi dukun, istrinuya tiba-tiba menghentikan prakteknya. Amat jadi kecewa. “Lho kok berhenti, Bu? Teruskan dong! Itu kan berguna bagi masyarakat. Daripada mereka dapat nasehat dari para petualang yang hanya mencari duit dari kebodohan nasyarakat, kan lebih baik ibu bantu?! Teruskan saja prakteknya! Itu kan maknanya juga sosialisasi?!” Bu Amat diam saja. Makin didesak ia makin diam. Ketika Amat terus gencar mendesak, akik-akiknya ia buang ke gudang. Amat mengurut dada.

Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca ­lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. ­Panjang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan nomor kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373 Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budi­a rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Se­k retariat: Ayu ­A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­m erah ­B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­ ­F aksi­m ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang ­G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

Mozaik

“Mengeong” Tanda Minta Kawin Kucing Persia atau Anggora termasuk salah satu jenis hewan yang tergolong mahal. Kucing berbulu lebat dan lucu ini bisa menghasilkan jutaan rupiah jika dikembangbiakkan. Para pecinta kucing makin hari makin mempunyai tujuan untuk mengembangbiakkannya. Hal ini disebabkan tiap 6 bulan sekali kebiasaan kucing melakukan perkawinan.

A

dalah Hentri Yudiono, salah seorang pengembang biak atau peternak kucing Anggora di wilayah Ponorogo. Ia menceritakan awal mulanya dirinya terjun di dunia bisnis ternak kucing tersebut. Berawal saat mengantarkan istri bertandang ke rumah temannya, Hentri panggilan akrabnya langsung jatuh cinta melihat kucing Persia peliharaan teman istrinya. ‘’Saya melihat anak kucing jenis Persia terlihat lucu dan menggemaskan, akhirnya saya

putuskan untuk membeli dengan harga Rp 300 ribu dan ternyata langsung diberikan,” kenangnya. Dengan berjalannya waktu, jelang 4 bulan kucing yang ia rawat setiap malam selalu mengeong. Karena dirinya masih awam dengan hal kucing, dirinya tidak mengetahui apa yang diinginkan kucing tersebut. Lantas beberapa kerabat yang sudah lama memelihara kucing jenis Persia mengatakan bahwa kucing tersebut minta dikawinkan. ‘’Kata teman, jika kucing seperti itu tandanya minta dikawinkan. Kebetulan kucing pertama saya ber-

Hentri Yudiono

jenis kelamin betina,’’ tuturnya. Mengetahui hal tersebut, dirinya lantas membeli satu kucing jantan untuk disatukan sekandang dengan kucing pertamanya. Walhasil, setelah 2 bulan, kucing Persia pertamanya beranak 5 ekor.‘’Lima ekor anak kucing saya langsung ditawar sama saudara dan tetangga yang juga suka kucing. Nah melihat peluang tersebut, saya ahirnya menambah koleksi kucing dan berniat untuk mengembangkannya,’’ jelasnya. Menurutnya, untuk perawatan kucing tidaklah sulit. Hanya kebersihan dan makanan yang harus

Edisi 860/ 3 - 9 Agustus 2015

diperhatikan. Untuk memelihara kucing hanya dibutuhkan kandang besi, karpet sebagai alas, bak pasir liter, pasir khusus buat buang kotoran. ‘’Kebersihan adalah kunci wajib memelihara kucing, karena dari kebersihan itu kesehatan dapat terjamin,” paparnya. Hentri menyarankan, jika terdapat kucing yang sakit agar segera dibawa ke dokter hewan.

23

Apabila terdapat penyakit yang serius segera karantina agar tidak menular kepada kucing lainnya. Sekarang di kandang sebelah rumahnya, terdapat 8 ekor indukan yang siap beranak. Hentri membandrol harga untuk setiap anakan kucing dengan harga Rp 400 ribu hingga Rp 600 ribu. Harga indukan mulai dari harga Rp 1,5 juta. -Dinar Perdana

Sukses tak Semudah Balikkan Telapak Tangan Jadi pengusaha sukses, apalagi di usia yang masih muda jelas membutuhkan usaha keras dan semangat pantang menyerah. Kerja keras tidak selalu membuahkan hasil. Namun, tidak harus putus asa. Karena dunia bisnis bagai bak misteri yang harus dipecahkan. Saat beranjak masa remaja, selalu indentik dengan kesenangan dan foya-foya. Apalagi, Roy anak dari seorang yang bergelimang harta. Tak mengherankan kerja keras hanya menjadi nomor sekian. Karena yang utama adalah gengsi sebagai remaja yang tumbuh di kota besar. Dengan kehidupan yang penuh fasilitas ala kota besar, menjadi surga bagi anak muda saat ini yang kehidupannya mapan. Namun, anggapan itu tidak berlaku bagi Roy, pria kelahiran 1977 ini. Bagi Roy, masa remajanya dia habiskan dengan kerja keras untuk membesarkan usahanya. Karena bukan kesenangan yang dia cari, namun bagaimana menjadikan hidup ini memiliki arti. Alhasil, di usianya yang tergolong masih muda ini, dia berhasil memimpin delapan cabang usahanya sekaligus di bidang alat olahraga yang ada di Surabaya. Pria kelahiran Pemantang Siantar yang murah senyum ini, berprinsip untuk bisa meraih sukses, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tidak hanya kerja keras, tapi juga semangat pantang menyerah untuk terus berinovasi membangun strategi bisnis yang mumpuni. Bisnis Garuda Sport yang ia dirikan sejak 1990 dan 1995, kini memiliki delapan cabang di Surabaya. ”Kami juga pernah ketinggalan dan jatuh, tapi bukan berarti ketinggalan dan jatuh selamanya. Yang terpenting kita berikan pelayanan terbaik ke konsumen, harga, kualitas barang itu yang paling penting,” kata Roy. Saat ini, bila mengambil laba banyak itu tidak mungkin. Yang terpenting konsumen senang. Apalagi, Garuda Sport semakin bagus dan maju. Hal itu untuk menjaga kualitas, dari keaslian produk tersebut. Karena banyak toko produknya tercampur dengan produk yang tidak asli. ”Tapi, kalau barang yang ada di Garuda Sport saya berani beri jaminan, bahwa barang yang ada disini ada garansi,” tambahnya. Roy mengaku apa yang ia capai selama ini tidak lepas dari faktor dukungan orangtuanya, yang tanpa kenal menyerah untuk membangun usaha Garuda Sport yang khusus menjual peralatan

olahraga ini. “Dulu usaha ini yang punya dan yang mengelola adalah orang tua,” aku Roy. Produk yang ada di Garuda Sport, kebanyakan mengambil dari Singapura, Jepang, dan Korea. Sistem yang diterapkan di Garuda Sport antara lain menekankan bahwa konsumen berada di rumah bukan di toko. Memberikan penjelasan dan pelayanan yang bagus karena meski konsumen tidak beli minimal dapat memberikan edukasi kepada konsumen. Tentang konsep, Garuda Sport, lebih cenderung kepada multi sport. Jadi semua alat untuk olahraga tersedia dan ada disini. “Berkat doa dan dukungan pelanggan kami bisa tetap eksis dan akan tetap menjaga kualitas barang,” tegas Roy. -Bayu Pangarso

Roy


22

Sosialita

Edisi 860/ 3 - 9 Agustus 2015

Terus Berkarya

Penipuan makin Marak Maraknya kasus penipuan belanja online ternyata tidak membuat pertumbuhan belanja online menurun. Sebaliknya, pertumbuhan transaksi belanja online di Indonesia terus mengalami peningkatan, seolah tak terpengaruh dengan berbagai pemberitaan negatif. Seiring dengan pertumbuhan konsumen, jumlah toko-toko online pun baik yang didirikan oleh perusahaan besar dengan modal yang tentunya besar pula, atau orang per orang dengan modal seadanya, makin banyak pula.

B

erdasarkan data, pertumbuhan belanja online antara lain didukung dengan meningkatkan perkembangan infrastruktur informasi, seperti internet dan telepon pintar. Disebutkan, sampai saat ini jumlah pengguna internet telah mencapai 82 juta orang atau sekitar 30% dari jumlah total penduduk Indonesia. Dari jumlah tersebut, menurut data Mckinsey tahun 2014, sekitar 7% pernah belanja online. Disebutkan juga, kini makin banyak masyarakat di kota-kota kecil di Indonesia yang juga berbelanja online. Itu artinya, konsumen belanja online bukan hanya Jakarta dan kota besar lainnya tapi juga sudah menjangkau ke pelosok. Sayangnya belanja online yang makin ngetren di kalangan masyarakat kerap dinodai oleh maraknya kasus-kasus penipuan. Karenanya, yang penting dilakukan adalah kehati-hatian dalam berbelanja. Salah satu kasus yang sempat menghebohkan di dunia maya adalah penipuan bernilai Rp 31 juta untuk pembelian baju. Caroline, warga Tambora Jakarta Barat, terpaksa kehilangan uangnya Rp 31 juta lebih karena tergiur membeli baju yang dijual melalui media sosial. Karena merasa harganya murah, dia pun membeli dalam jumlah yang cukup banyak. Uang pembelian yang mencapai puluhan juta telah ditransferkan pada si penjual, tapi sayangnya barang yang dipesan tak kunjung datang. Sadar men-

jadi korban penipuan, dia pun melaporkan kasus tersebut ke pihak kepolisian. Kasus semacam Caroline pun banyak terjadi di dunia maya. Menurut Fransisca Indrasari, pengacara yang juga pernah menjadi korban penipuan belanja online,

banyak kasus terjadi namun tidak banyak yang mau melapor. Kebanyakan, merasa enggan. “Dalam grup khusus online shop setidaknya ada 25-30 kasus dengan nilai kerugian bervariasi,” kata Francisca yang sekarang tengah menangani lima kasus penipuan belanja online. Minimal, satu orang tertipu antara Rp 6-7 juta. Ini karena mereka itu tergiur membeli barang-barang branded dengan harga murah. Sebut saja, sepatu branded yang di pasaran harganya mencapai Rp12 juta namun bisa dijual dengan separuh harga.

account dan membuat account baru. “Kami pernah melakukan pelacakan. Ketika dipancing, ternyata dia memberikan nomor rekening yang sama. Pelaku yang sama ternyata telah membuka account baru,” kata Fransisca yang sampai sekarang masih menunggu hasil penyelidikan pihak kepolisian terhadap kasus-kasus yang telah dilaporkannya itu. Di luar kasus-kasus yang ditangani Francisca, ada banyak kasus senada. Banyak yang berani ‘berteriak’ tapi tak kalah banyaknya yang ‘hanya diam membisu’ karena tidak mengerti harus me-

lapor ke mana. “Tadinya, banyak yang tidak mau melapor karena khawatir. Namun ketika saya share pengalaman saya, akhirnya mereka mau. Karena saya pikir, kenapa harus khawatir sekarang kan zamannya penegakkan hukum. Ternyata juga, ada banyak korban yang bukan hanya di Jakarta tapi juga di daerah-daerah,” tambahnya. Yang namanya penipu terkadang tidak melihat siapa yang ditipunya. Tak peduli rakyat jelata atau pejabat, kalau lagi apes pasti terkena juga. Salah satu kasus yang sempat menggegerkan adalah kasus tertipunya Roy Suryo, mantan Menteri Pemuda dan Olah Raga, September 20014 lalu. Pakar telematika ini membeli sepeda seharga Rp 1 juta yang dilihatnya di sebuah toko online besar. Namun yang terjadi uang sudah dikirim, sepeda yang ditunggu tidak pernah tiba. Kasus ini berhasil diungkap pihak kepolisian hanya dalam beberapa hari saja. Ternyata pelakunya masih ABG. Dia ditangkap di rumahnya di Kecamatan Sukra, Indramayu, Jawa Barat. Roy Suryo gembira dengan kabar tertangkapnya pelaku, dan dia pun langsung meluapkan kegembiraannya dengan berkicau di twitter. “Pelaku bisa tertangkap karena polisi menggunakan sistem IT,” kata Roy. KASUS HEBOH BELI HP DAPAT SABUN Nah, yang baru-baru saja terjadi dan cukup menggegerkan dunia maya adalah kasus pembelian iPhone6. Uang jutaan telah ditransfer namun barang yang datang bukannya iPhone6 malah sabun batangan. Untungnya si pembeli segera berkicau di medsos sehingga mendapat tanggapan dari berbagai pihak. Kabar ini pun dengan cepat me-

3

Ny. Ratna Gde Agung

Belanja Online Tumbuh Pesat “Dengan iming-iming diskon, bahkan bisa negosiasi harga pula, akhirnya orang membeli. Tapi setelah uang ditransfer, ternyata yang dikirimkan adalah sepatu KW bukan original sebagaimana yang dipajang di toko online-nya. Ada juga kasus, uang sudah ditransfer tapi barang tak kunjung datang. Ketika dikomplain lewat telepon yang ada, tidak diangkat, di sms tidak menjawab, begitu juga ketika di e-mail. Kemudian si pelaku menutup account-nya,” kata Francisca lagi. Setelah dilakukan pelacakan, kata Francisca, dugaan sementara si penipu, setelah berhasil melakukan aksinya terhadap beberapa orang, dia pun lantas menutup

Edisi 860/ 3 - 9 Agustus 2015

Daniel Tumiwa

nyebar di dunia maya. Syukurlah, akhirnya pihak toko yang telah melakukan investigasi terhadap kasus tersebut, bertanggung jawab dan mengganti barang sesuai pesanan. Baru saja kasus tersebut berakhir damai, muncul lagi kasus mirip, beli HP Asus yang diterima malah dua botol pengharum pakaian Kispray. Kehebohan pun kembali terjadi karena si pembeli komplain lewat dunia maya dan teman-teman sesama netizen pun mendukungnya. Seperti sebelumnya, akhirnya kasus ini berakhir damai dan dia pun mendapat barang yang dipesannya. Daniel Tumiwa, Ketua Asosiasi E-Commerce Indonesia, mengakui, memang kasus penipuan belanja online kerap terjadi. Untuk itu, pembeli haruslah berhati-hati. Salah satu tipsnya adalah, berbelanjalah di penjual atau situs terpercaya yang terdaftar berbadan hukum. Sebelum membeli, konsumen harus memastikan tentang rekam jejak toko tersebut dalam berjualan. “Lihat data lainnya, misalnya, waktu berdirinya situs tersebut, produk apa saja yang dijual. Situs terpercaya akan mencantumkan nomor telepon juga alamat yang bisa dihubungi untuk pelayanan konsumen. No rekening juga atas nama perusahaan bukan atas nama perorangan,” jelasnya. “Ini penting diperhatikan; belanja di mana (toko online atau website), apakah bisa dipercaya atau tidak, bisa dihubungi atau tidak. Kalau ada masalah kemana kita harus pergi, dan lain sebagainya,” tambahnya lagi. Dengan lebih berhati-hati dalam berbelanja maka diharapkan akan terhindar dari tindak penipuan dalam berbelanja di dunia maya.—Diana Runtu

Dibalik kesuksesan seorang pemimpin besar ada seorang perempuan hebat dan kuat di belakangnya. Pepatah itu sepertinya sangat cocok menggambarkan figur Ny. Ratna Gde Agung yang dikenal sebagai istri Bupati Badung AA Gde Agung. Dalam keseharian­ nya baik di lingkungan kerja maupun masyarakat, Ny. Ratna ­Gde Agung, dikenal ­sebagai sosok yang ramah, penuh semangat, dan sangat energik.

D

i usianya yang sudah menginjak 62 tahun, perempuan kelahiran Jakarta, 1 Januari 1953 ini tetap terlihat cantik dan selalu ber­semangat dalam menata hari-hari ke depannya. Sebentar lagi tugasnya ber­alih dari Ketua Tim Penggerak PKK ­Kabupaten Badung menjadi seorang ibu rumahtangga biasa dan seorang nenek. Tinggal menghitung hari, masa kepemimpinan Bupati Badung AA Gde Agung akan berakhir. Sebelum mengakhiri jabatan, ia berpamitan kepada warga masyarakat di 7 kecamatan di Badung, mulai dari Petang, Kuta, Mengwi, Abiansemal, Kuta Utara, dan Kuta Selatan. Ditemui, sebelum berpamitan dengan masyarakat Mengwi di Wantilan Taman Ayun, Ny. Ratna Gde Agung mengobrol santai de­ ngan Tokoh di Puri Ageng Mengwi. Keramahan­nya menyambut Tokoh dan mengajak bersantai di areal Puri, menunjukkan sikapnya yang sangat bersahaja. Sembari menikmati ­hidangan teh dan kudapan, Ny. Ratna Gde Agung, berkisah banyak tentang perjalanannya sebagai ketua TP PKK Kab. Badung. Dalam pandangannya, berpamit­ an kepada masyarakat setelah menjabat, sangat perlu dilakukan. “Kami ingin membudidayakan etika dan belajar santun kepada masyarakat yang sudah mempercayai kepemimpinan Bapak selama kurun waktu 10 tahun,” ujarnya. Ia menambahkan, sebelum menjadi bupati, suaminya medharma sewaka ke masyarakat. “Sekarang, setelah selesai bertugas kami tak lupa berpamitan sekaligus mengucapkan terimakasih atas kepercayaan masyarakat selama ini, dan memohon maaf jika ada yang kurang berkenan atas sikap dan tindakan bapak,” kata Ny. Ratna Agung. Ia menyadari, dalam 10 tahun kepemimpinan suaminya, masih banyak yang belum sesuai dengan harapan masyarakat. Karena ia sadar, sebagai manusia biasa, tak luput dari kekurangan. Setelah suaminya tak lagi menjabat, tentu tugasnya lebih ringan. “Saya bisa lebih bebas menikmati waktu bersama keluarga, sebagai ibu rumahtangga dan nenek dengan 4 cucu,” tuturnya sembari tersenyum. Selain itu, kata ­­Ny. Ratna

Gde Agung, tugas sebagai warga puri, kewajiban adat dan agama, sesuai swadharma puri, tentu harus tetap ia jalankan. Ia mengucapkan syukur, seperti semua sudah diatur Ida Shanghyang Widhi, masa pensiunnya dinilai sangat tepat. “Pensiun bukan berarti berhenti berkarya. Semasih diberi kesempatan, saya akan terus berkarya,” katanya. Ia berharap, siapa­pun nanti yang terpilih sebagai Bupati Badung dan Ketua TP PKK Kab. Badung, akan dapat meningkatkan prestasi Badung ke depannya. Kilas balik perjalanan Ny. Ratna Gde Agung dimulai saat usianya menginjak 52 tahun, suaminya AA Gde Agung dipercaya menjadi Bupati Badung periode 2005-2010. Menjadi istri nomor satu di Badung, dengan usia yang tidak muda lagi, menjadikan ia sebagai ketua atau pimpinan beberapa organisasi tentu sangat menyita waktu dan tenaga. Tanggungjawab yang dulunya hanya untuk keluarga harus dibagi dengan berbagai kesibukan dan rutinitas kegiatan organsiasi. Ia dituntut pandai membagi waktu dan menjaga kesehatan agar tetap fit dalam menjalankan tugas. Menurutnya, ia hanya berprinsip tetap berpikir positif dan selalu enjoy yang mengantarkannya selalu bersemangat dan melakukan berbagai aktivitas. Tak jarang, dalam kegiatan kemasyarakatan untuk mendukung kiprah suami,

menyita banyak waktu bahkan sampai larut malam. “Sedikit pun tak tampak raut wajah letih dan gerak-gerik tubuhnya yang lemah menunjukkan kelelah­ an. Ia selalu tampil bersemangat untuk memotivasi para ­istri SKPD,” ujar salah seorang pengurus di Tim Penggerak PKK Badung kepada Tokoh. Di tengah kesibukkannya berorganisasi, Ny. Ratna Gde Agung, masih tetap menyempatkan diri melayani suami dan mengurus ke l u a r g a . Ke s e d e r ­ hanaan Ny. Ratna Gde Agung juga terlihat dalam penampilannya sehari-hari. Anggapan istri pejabat harus selalu tampil mewah, tak terlihat dalam kesehariannya. Busana yang dikenakan selalu disesuaikan dengan situasi dan kondisi begitu juga dandanan. Ia mengatakan, tak pernah pergi ke salon. Urusan make up ia kerjakan sendiri dan tak pernah memakai perhiasan berlebihan. Menurutnya, istri pejabat harus memberi contoh kepada bawahannya. Kesederhanaan juga terlihat dari sikapnya sehari-hari. Ia tidak suka meninggikan diri. Ia lebih memilih kebersamaaan dan kesetaraan yang indah. Ia sering menolak apabila ada masyarakat yang mengistimewakannya secara berlebihan. Hal itu, dilakukannya bukan untuk meraih simpati, namun, sikap itu mengalir apa adanya. Ketika, suaminya kembali dipercaya memimpin Badung periode kedua 2010-2015, ia ditanya. Bagaimana rasanya menjadi istri bupati? Ny. Ratna Gde Agung menjawab dengan santai. “Biasa saja, di atas langit masih ada langit”. Baginya, jabatan itu amanah dan hanya titipan. Suatu saat akan kembali lagi, karena itu, ia ingin tampil apa adanya. Sikap disiplin dan tangungjawab menjadi modal dasar Ny. Ratna Gde Agung dalam meraih keberhasilan dalam menjalankan tugas mengabdi

ke masyarakat. Sikap tersebut ditunjukkan dalam setiap pelaksanaan acara PKK ataupun organisasi lain yang dipimpinnya. Ia selalu berusaha hadir tepat waktu. Ia juga selalu berusaha menghormati orang lain, melalui sikap tekun dan serius dalam menghadiri berbagai acara. Beberapa pucuk pimpinan organisasi disandangnya, Ketua Tim Penggerak PKK Kab. Badung, Ketua K3S Kab. Badung, Ketua Dekranasda Kab. Badung , Ketua YKI Kab. Badung, Penasihat Dharma Wanita Persatuan Kab. Badung dan Penasihat WHDI Kab. Badung. Beberapa prestasi organisasi yang pernah diraih diantaranya, Juara I Pelaksanaan Terbaik Kesatuan Gerak PKK KB- Kesehatan Tahun 2005 yang diwakili Kelurahan Kapal, Mengwi; Juara II BKB Prov. Bali Tahun 2006 diwakili Ratna Gde Agung sebagai Ketua TP PKK Badung; Juara II Pelaksanaan Terbaik Kesatuan Kesatuan Gerak PKK KB- Kesehatan Tahun 2006 diwakili Desa Getasan, Petang; Juara II 10 Program PKK Tingkat Prov. Bali Tahun 2007 di-

AA Gde Agung dan Ny. Ratna Gde Agung menyaksikan penampilan beberapa remaja putri memainkan musik gender di Wantilan Taman Ayun Mengwi

wakili Desa Angantaka, Abiansemal dan Kelurahan Kerobokan, Kuta Utara; Juara I Kelompok UP2K PKK Tingkat Prov. Bali tahun 2007 diwakili Desa Angantaka, Abiansemal; Juara I Pelaksanaan Terbaik ­Kesatuan Kesatuan Gerak PKK KB- Kesehatan diwakili Kelurahan Tuban, Kuta; Juara III Lingkungan Bersih dan Sehat Tingkat Nasional Tahun 2007, diwakili Desa Getasan, Petang; Juara Prakerti Madya II Pelaksanaan Terbaik Kesatuan Gerak PKK KB – Kesehat­an Tingkat Nasional Tahun 2008 yang diwakili Kelurahan Tuban, Kuta; Juara I Pengelola terbaik BKB Tingkat Prov. Bali Tahun 2008 diwakili Ny Ratna Gde Agung selaku ketua TP PKK Kab. Badung; Penghargaan Manggala Karya Kencana tingkat Nasional Tahun 2009 dari BKBBN yang diwakili Ny Ratna Gde Agung selaku ketua TP PKK Kab. Badung; Penghargaan Manggala Karya Bakti Husada Arutula Tahun 2009 dari Menteri Kesehatan yang diwakili Ny Ratna Gde Agung selaku Ketua TP PKK Kab. Badung; Penghargaan Prakerti Utama I Lomba Lingkungan Bersih dan Sehat Tingkat Nasional Tahun 2009 yang diwakili Desa Pelaga, Petang; Juara I Lomba 10 Program PKK Tingkat Prov. Bali Tahun 2009 diwakili Desa Pecatu, Kuta Selatan. Juara I Lomba Prilaku Hidup Bersih dan Sehat Tingkat Tingkat Prov. Bali Tahun 2010 diwakili Desa Gulingan, Mengwi; Juara I Lomba 10 Program PKK Tingkat Prov. Bali Tahun 2010 diwakili Tanjung Benoa, Kuta Selatan. Juara I Pelaksana Terbaik Prilaku Hidup Bersih dan Sehat Tingkat Tingkat Prov. Bali Tahun 2010 diwakili Desa Gulingan, Mengwi; Juara I Lomba Prilaku Hidup Bersih dan Sehat Tingkat Prov. Bali Tahun 2011, diwakili Desa Baha, Mengwi; Penghargaan Prakerti Utama II Pelaksana Terbaik Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Tingkat Nasional diwakili Desa Baha, Mengwi; Juara II Lomba Desa Terpadu Tingkat Nasional yang diwakili Desa Kutuh, Kuta Selatan. –ast


4

Inspirasi

Edisi 860/ 3 - 9 Agustus 2015

Titi Kamal

Tak Suka Berdiam Diri Siapa tidak kenal Titi Kamal, bintang ‘Mendadak Dangdut’ yang membuat lagu ‘Jablai’ makin ngetop. Kini dia bukan hanya dikenal sebagai artis papan atas tapi juga sebagai artis yang sukses dalam bisnis. Betapa tidak, wanita bernama asli Kurniaty Kamalia bukan saja berhasil mengembangkan bisnis restoran dan cate­ ring miliknya tapi juga sukses dengan bisnis salon kecantikan. Namun tahukah Anda kalau Titi mengawali kiprahnya di dunia bisnis dengan bermodalkan nekat.

I

Titi Kamal

a mengaku awalnya tidak tahu sama sekali selukbeluk bisnis restoran dan catering namun nekat terjun di bidang itu. Untungnya kenekatannya itu tidak sia-sia, karena kini bisnis restoran dan ca­ teringnya bukan hanya berkembang baik, bahkan dia juga merambah ke bisnis lain, di antaranya salon kencantikan. Kuncinya, mau belajar, tekun dan bekerja keras. “Sejak dulu saya memang suka mencoba hal-hal baru. Mungkin itu karena didikan orangtua yang memberi saya kebebasan yang bertanggung jawab. Ketika memulai usaha, saya juga nekat saja begitu. Meski nggak paham dengan bisnisnya, saya tetap terjun ke sana. Begitu juga waktu bikin usaha salon. Saya pikir semua bisa dipelajari, dalam perjalanan juga dapat banyak masukan dari manamana,” ungkap Titi yang meraih banyak penghargaan dari kiprahnya belasan tahun di dunia entertainmen. Menariknya, meski sibuk mengurusi bisnis, Titi juga tetap eksis di dunia hiburan. Memang, ia tidak lagi sep­ roduktif dulu, namun tetap saja ia masih tampil di sejumlah sinetron di antaranya bertajuk ‘Lara’ dan ‘Emak Ijah Pengen ke Mekah’. Tentu saja ia memilih tawaran akting itu secara selektif lantaran tidak memiliki waktu yang banyak. Tak hanya itu, wajahnya juga kerap wara-wiri di layar kaca dalam berbagai iklan. Walhasil, masyarakat tetap mengingatnya meski karyanya di bidang sinetron dan film tidak lagi banyak. Nampaknya, selain memang hobi berakting, ia juga sadar betul eksistensinya di dunia hiburan merupakan benefit tersendiri bagi perkembangan bisnisnya. Beruntung, ia mendapat suami yang juga sesama artis, Christian Sugiono (Tian) yang juga memiliki minat yang sama pada dunia bisnis. Walhasil, pasangan pengusaha ini menjadi pasangan kompak yang saling mendukung. Seperti halnya Tian, suaminya, Titi juga memulai bisnis saat belum menikah. Ia mulai terjun ke bisnis tahun 2005 dengan membuka restoran Sunda, Riung Sari. Dari sana, ia merambah ke resto lain, seperti Warung Tekko Kemang, juga menjadi investor di beberapa resto lainnya seperti Sushi Miya8i yang digagas suaminya, Tian. Namun kebanyakan di resto-resto itu ia hanya menjadi investor pasif. “Sedang usaha catering saya mulai tahun 2010 dengan nama ‘Titisari Catering’. Usaha ini merupa­ kan usaha patungan bersama teman saya, Sarah Puspita Sari,” ujar ibu satu anak yang mengaku memang hobi kuliner sejak dulu. Empat tahun berjalan, bisnis cateringnya berkembang bagus. Malah kata Titi, pelanggannya bertambah, dan mereka secara tetap memesan makanan darinya. Diakui Titi, menekuni bisnis kuliner tidak lah mudah. Ada ban­ yak tantangan yang dihadapi, apalagi persaingan di dunia kuliner pun tidak sedikit. “Tantangannya banyak. Di antaranya soal ketepatan waktu dalam pengiriman, sementara kondisi lalu lintas di Jakarta tahu sendiri kan, macet misalnya. Belum lagi kalau ada masalah lainnya. Jadi kita harus siap mengan­ tisipasi,” jelas pemeran film ‘Eifel I’m In Love’ dan ‘Ada Apa dengan Cinta’, ini. Tantangan lainnya adalah soal harga kebutuhan pokok yang naik. Ini, ujar Titi, harus disiasati agar makanan

tetap enak dan kualitas tetap terjaga. “Harga-harga naik, merupakan tantangan tersendiri. Bagaimana agar kualitas produk tetap terjaga,” katanya. Alhamdulilah, katanya, sejauh ini semua bisa berjalan baik. Ia mengaku terjun langsung mengurusi bisnisnya, mulai dari urusan logistik hingga pengelolaan keuangan. “Saya langsung mengontrol sendiri barang-barang agar semua ber­ jalan baik, sistemnya harus baik, kata wanita kelahiran Desember 1981, ini. Soal promosi, kata Titi, dia tidak memiliki masalah. Selain memiliki background pendidikan marketing, posisinya sebagai artis, diakuinya, cukup membantu dalam mengembangkan bisnisnya.. Dulu, katanya, dia mengawalinya dengan promosi dari mulut ke mulut yang menurutnya ternyata sangat manjur. “Saya kuliah di marketing. Jadi sedikit-banyak tahu tentang hal itu. Namun saya juga banyak belajar untuk bekal diri, baik lewat buku-buku, seminar, dll,” kata sarjana marketing London School lulusan 2004, ini. RAMBAH BISNIS SALON Sukses dengan bisnis di bidang kuliner, Titi pun merambah ke bisnis salon kecantikan yang dibukannya Juni tahun lalu. Menurut Titi, pemilihan jenis bisnis, tidak jauh-jauh dari hobinya. Ia hobi kuliner, juga gemar

perawatan tubuh dan kecantikan. Sebagai publik figur, ia sangat menjaga penampilannya, itu sebabnya ia gemar ke salon untuk melakukan berbagai jenis perawatan. Pengalamannya sebagai curstomer di berbagai salon dijadikan sebagai salah satu bekalnya dalam menjalankan usaha. Agar lebih mantap, ia pun mengandeng teman yang memahami bisnis salon untuk sama-sama menekuni usaha salon yang diberi nama ‘Kinclong Hair & Spa’itu. Soal namanya yang unik, Titi berujar, nama itu sengaja dipilih agar mudah teringat. “Toh, dalam perjalanan, ada banyak masukan yang didapat untuk kemajuan salon,” tambahnya. Diakui Titi, dia memang sangat tidak suka berdiam diri. Ia sangat suka bekerja. Itu sebabnya ia melakukan banyak aktivitas. Buktinya, meski sangat sibuk dengan bisnisnya, ia tetap bisa tampil di sejumlah acara hiburan, bahkan main sinetron, dll. Yang penting, katanya, pintar-pintar membagi waktu untuk semua kegiatan itu. Di luar masalah itu, tentu saja keluarga adalah prioritas utamanya. Dia selalu memiliki waktu untuk suami, khususnya anaknya, Arjuna Zayan Sugiono yang baru berusia 2 tahun. “Tian nggak masalah saya sibuk mengurusi bisnis, namun dia mengin­ gatkan agar tidak terlalu capek juga menjaga kesehatan dengan baik,” kata Titi yang menikah pada 2009 di Perth, Australia. –Diana Runtu

Mandalika

Edisi 860/ 3 - 9 Agustus 2015

21

NTB Tuan Rumah “International Conference On Tropycal Tourism Outlook”

Provinsi Nusa Tenggara Barat kembali menjadi tuan rumah penyelenggaraan kegiatan pariwisata. Kali ini “International Conference On Tropycal Tour­ ism Outlook” yang berlangsung beberapa waktu lalu di salah satu hotel di Mataram. Diikuti 15 negara dengan 130 peserta, konferensi ini mengusung tema Balancing and Suistainability in Tourism Destination, diprakarsai oleh Fakultas Ekonomi dan Bisinis Universitas Mataram yang bekerjasama dengan lima univesitas luar negeri, seperti Northern Arizona University, University Teknologi Mara, James Cook University-Australia dan James Cook University dari Singapore.

D

engan melibatkan 92 presenter dari 15 negara tersebut, keg­ iatan yang bertujuan selain memasarkan juga merumuskan konsep dan platform untuk mengem­ bangkan pemahaman mengenai sek­ tor pariwisata khususnya Pariwisata Syari’ah juga untuk memetakan serta menganalisis posisi pembangunan kepariwisataan Indonesia di Industri Pariwisata Dunia, ini secara resmi oleh

Wakil Gubernur NTB, H. Muh. Amin, S.H., M.Si. Yang tidak kalah pentingnya konferensi ini untuk merancang pola destinasi pariwisata berkelanjutan. “Pariwisata merupakan industri yang paling cepat pertumbuhannya di dunia sehingga dapat menunjang pertumbuhan ekonomi masyarakat Nusa Tenggara Barat. Target tahun 2016 adalah NTB menerima kunjun­ gan dua juta wisatawan,” ujar Muh. Amin. Hal ini beralasan, karena NTB

memiliki potensi destinasi wisata yang terkenal, seperti Gunung Rinjani, Gunung Tambora, Gili Trawangan, Gili Menu dan Gili Air. Selain itu, terdapat keindahan alam dan budaya unik yang dapat memikat wisatawan ke Lombok. “Diharapkan konferensi ini memberikan kontribusi positif bagi pertumbuhan pariwisata NTB,” lanjut Wagub NTB. Salah seorang presenter dari Northern Arizona University, Alan

Gunung Rinjani Jadi Ikon Utama Taman Nasional di Indonesia

Gubernur NTB bersama tim audiensi persiapan Rinjani menuju salah satu ikon Negara Indonesia

Dua kaldera terbesar di Indonesia ada di tanah Nusa Tenggara Barat yakni, kaldera hasil letusan Gunung Rinjani di Pulau Lombok dan kaldera letusan Gunung Tambora di Pu­ lau Sumbawa. Dua gunung yang sama-sama fenomenal ini, Tambora dengan kedahsyatan letusannya dan Rinjani dengan pesona alamnya yang menggiurkan, berdiri kokoh bagai pasak bagi Bumi Gora. Setelah sukses menggelar peringatan dua abad letusan Gunung Tambora pada April 2015 lalu dan menetapkan Gunung Tambora yang berada di Pulau Sumbawa sebagai Taman Nasional, kini Gunung Rinjani yang berada di Pulau Lombok akan kembali menjadi sorotan terkait akan dijadikannya Taman Nasional Rinjani sebagai salah satu ikon Negara Indonesia. Terpilihnya Gunung Rinjani menjadi ikon utama taman nasional di Indonesia didasari atas struktur kelembagaan yang memelihara dan mengelolanya. Hal ini disampaikan dalam audiensi Asisten Deputi Tata Kelola Destinasi dan Pengembangan Masyarakat Kementerian Pariwisata, dan Direk­ tur Lingkungan Hidup dan Hutan Kementerian Kehutanan yang didampingi oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Kepala BAPPEDA dan Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani bersama Gubernur NTB beberapa waktu lalu. Karena itu Taman Nasional Gunung Rinjani akan segera diperiksa oleh UNESCO sebagai destinasi pariwisata terbaik di Indonesia bersa­ ma dengan Danau Toba. “Rinjani dipilih karena memiliki keunikan hasil letusan dan struktur kelembagaan yang baik,” ungkap Oneng Setia Harini, Asisten Deputi Kementerian Pari­ wisata. Beberapa guru besar Geologi Institut

Teknologi Bandung kini tengah meneliti di kaki Gunung Rinjani mengenai hasil-hasil letusan gunung tertinggi ke-3 di Indonesia ini. Kekayaan yang dilahirkan oleh alam Nusa Tenggara Barat kini seringkali di biarkan begitu saja, sama halnya dengan sebuah lapisan hasil Letusan Gunung Rinjani di desa Pancor Dau yang kini mulai dijadikan kawasan pertanian oleh masyarakat setempat. Hal ini sangat dis­ ayangkan oleh para ahli, karena bukti letusan ini tidak didapat diperbaharui dan apabila kegiatan ini diteruskan dapat menghilangkan jejak-jejak letusan Gunung Rinjani. Di tempat lain, di daerah Sembalun Lombok Timur, hutan Negara yang dikelola oleh Balai Taman Nasional Gunung Rinjani juga telah banyak ditebangi dan dimanfaatkan oleh masyarakat untuk tempat berladang. Gubernur mengungkapkan kekecewaan­ nya atas perilaku-perilaku masyarakat yang dapat merugikan NTB ini. “Tolong segera inventarisir tanah-tanah yang harus diamankan, siapkan narasi tanah-tanah tersebut dan berikan pengertian jika perlu tindak tegas masyarakat yang merusak hutan” ujar Dr. TGH. M. Zainul Majdi. Ia juga berharap agar masyarakat tidak hanya melihat nilai ekonomi terhadap alam namun juga memelihara diharapkan dapat “warisan” ilmu pengetahuan seperti jejak-jejak letusan (purba) yang bisa menjadi objek pene­ litian bagi para ahli. Pemerintah daerah berjanji untuk selalu memasilitasi dan memudahkan masyarakat dalam hal ini asal tidak merusak ekologi alam, “Pemerintah hadir untuk me­ masilitasi dan memudahkan, serta siap menin­ dak tegas bagi siapa saja yang merusak alam,” kata Majdi. -Naniek I. Taufan

Wakil Gubernur NTB, M. Amin saat kegiatan “International Conference On Tropycal Tourism Outlook” 1

A.Lew, PhD, AICP mengungkapkan kekagumannya terhadap Pulau Lom­ bok, baik keindahan alam, keunikan budaya maupun keramahan warga NTB dalam menyambut tamu atau wisatawan yang berkunjung. “Pulau Lombok sangat terkenal di dunia

dan banyak orang ingin berkunjung ke sini. Kami siap memasarkan keindahan dan keunikan ini di dunia internasional”, ungkap Profesor of Geography and Public Planning tersebut. -Naniek I. Taufan

Badan Anggaran DPRD Prov NTB Apresiasi Prestasi Pemprov NTB Perkembangan pembangunan NTB dinilai terus membaik. Kondisi ini terlihat dari porsi pembelanjaan pemerintah daerah yang terus mementingkan kebutuhan masyarakat banyak dalam berbagai pelayanan publik di antara belanja anggaran untuk fungsi kesehatan dan pendudukan publik NTB. Hal ini terungkap dalam pidato Gubernur NTB, Dr. TGH. M Zainul Majdi di Rapat Dengar pengantar nota keuangan Perubahan anggaran pendapatan dan belanja daerah Tahun anggaran 2015 dengan DPRD Provinsi NTB di Gedung DPRD Provinsi NTB, beberapa waktu lalu. “Dalam rancangan APBD Perubahan tahun anggaran 2015 ini, pemerintah daerah tetap konsisten menganggarkan 20 % untuk fungsi pendidikan dan 11 % lebih anggaran untuk fungsi kesehatan, serta komposisi belanja aparatur masih ditekan pada posisi 20 %, sedangkan belanja publik masih dipertah­ ankan pada posisi 79,67 %. Dengan struktur seperti ini keberpihakan APBD kita dalam mewujudkan alokasi untuk kepentingan dan kesejahteraan masyarakat tetap menjadi pri­ oritas utama,” ujar Majdi. Kemudian perbaikan kondisi NTB secara keseluruhan juga terlihat dari maraknya keg­ iatan nasional yang akan digelar pada tahun 2015 dan 2016 mendatang. Pada tahun 2015 dan 2016, NTB tengah mempersiapkan diri menjadi tuan rumah terhadap beberapa agenda kegiatan nasional. Di antaranya, pekan

hortikultura nasional, perkemahan wirakarya nasional, muktamar keenam ikatan cendeki­ awan muslim se-indonesia, hari pers nasional dan persiapan sebagai tuan rumah musabaqah tilawatil qur’an ke-26 tahun 2016. Pidato Gubernur pun ditanggapi dengan baik oleh Badan Anggaran DPRD Provinsi NTB yang mengawali tanggapannya dengan mengapresiasi prestasi Pemerintah Provinsi NTB yang telah ke-empat kalinya menorehkan perolehan opini WTP (Wajar Tanpa Pengec­ ualian) dari BPK-RI. Juru Bicara Banggar DPRD NTB, Yek Agil kemudian menyampaikan beberapa masukan di antaranya mengharapkan pemerintah provinsi NTB untuk tetap konsisten terhadap rencana pembelanjaan yang telah ditetapkan, melibatkan DPRD Provinsi NTB dalam pro­ gram-program strategis pemerintah provinsi NTB, menjaga komitmen pembangunan, sungguh-sungguh mengakomodir program pembangunan dan lebih kreatif dalam men­ ingkatkan pendapatan asli daerah. “Agar eksekutif secara sungguh-sungguh memperhatikan dan mengevaluasi kinerja seluruh BUMD dan dana penyertaan modal serta mengambil langkah-langkah strategis untuk menjamin tercapainya tujuan pem­ bentukan BUMD dan penyertaan modal, jika dipandang perlu agar meninjau kembali keberadaan BUMD yang memiliki kinerja ren­ dah,” ujar Yek Agil. -Naniek I. Taufan

Gubernur NTB saat menyampaikan pengantar nota keuangan APBD Perubahan tahun 2015


20

Nine

Edisi 860/ 3 - 9 Agustus 2015

AKP Cita Karunia Sari, S.H.

Dari Manja Jadi Mandiri

“Jabatan itu amanah. Tentu saja tidak lepas dari campur tangan Tuhan. Tuhan pasti menganggap bahwa setiap orang itu mampu menjalankannya,” ungkap Ajun Komisaris Polisi Cita Karunia Sari, S.H., Kasat Narkoba Polres Lombok Tengah.

R

amah, supel dan optimis. Itulah kesan pertama saat bertemu dengan sosok polisi wanita kelahiran Kudus, 15 Mei 1986 ini. Terlihat gesit dalam menjalankan tugastugasnya bahkan tidak kalah dari polisi laki-laki, terutama sekali dalam bidang satuan yang penuh risiko, yakni menangani kejahatan narkoba. Lulusan Akpol tahun 2010 ini menjalani kariernya di dunia kepolisian dengan senang hati. Berurusan dengan mafia narkoba, jelas menjadi bagian dari tugasnya. Ini berarti memberikan sinyal risiko yang tidak biasa, apalagi ia seorang perempuan. Namun, bagi Cita, tidak ada yang mustahil untuk dilakukannya dalam menjalani tugas dan tanggung jawab yang dipercayakan padanya karena ia telah berserah diri pada Yang Maha Kuasa. “Berusaha semaksimal mungkin dalam menjalankan tugas, soal risiko saya pikir, di mana pun dan apa pun pekerjaan pasti memiliki risiko masing-masing,

Himawati, jika jabatan itu diminta maka kalau ada kesulitan yang dihadapi dalam bertugas maka tidak akan ada yang menolong. Tetapi jika jabatan itu diberikan atas kepercayaan, akan datang pertolongan dari segala arah saat ia menemui kesulitan. “Yang terbayang pertama kali adalah akan berurusan dengan mafia/sindikat narkoba,” ujarnya. Itu memang terjadi. Maka kini, Cita sudah terbiasa alias kebal dengan teror telepon dan pesan pendek yang berusaha menjatuhkan dirinya. Dalam memimpin lebih dari 10 laki-laki di satuannya ini, Cita merasa beruntung sebelumnya sudah terbiasa bergaul dengan laki-laki. Terhadap anak buahnya, ia memposisikan dirinya sebagai teman bagi mereka. “Asyiknya, mereka semua lebih fair, tidak banyak alasan, ini yang mempermudah dan memperlancar tugas-tugas khususnya tugas lapangan,” kata Cita yang tidak pernah mengenal waktu kala menangani (khususnya dalam pengintaian dan penggerebekan) kasus narkoba. Kemampuan Cita

dalam memimpin satuannya ini bahkan mendapat apresiasi dari pimpinannya, salah satunya Kapolres Lombok Tengah, AKBP Nuroddin, S.IK., yang mengungkapkan kebanggaannya pada Cita. “Dia memiliki kemampuan yang tidak kalah dengan laki-laki. Pekerja keras dan tidak kenal waktu jika harus menjalankan tugasnya,” ujar Nuroddin. Kisah anak tunggal dari pasangan Indradjaya dan Himawati saat menjadi seorang polisi rupanya terbilang unik. Cita bahkan ingin menggagalkan kelulusan Akpolnya karena berubah niat tidak jadi memilih profesi sebagai polisi. Setelah di tahun 2007 lulus dari Fakultas Hukum Universitas Diponegoro (Undip) dan menyandang gelar Sarjana Hukum, tahun 2008, Cita ikut tes Akpol di Polda Jawa Tengah. Kala itu

Edisi 860/ 3 - 9 Agustus 2015

Master Bayu Gendeng

5

Dulu Klenik Sekarang Life Style Maraknya bursa batu permata memberi nilai plus bagi penggemar dan pedagang. Nilai batu permata makin terangkat. Kini orang tak hanya melihat batu permata dari sisi spiritual semata.

Cita bersama dua rekannya semasa di AKPOL

ia bahkan tidak tahu bedanya antara perwira dan bintara. Ia hanya tahu kalau polisi itu, lekat dengan semboyan akuntabel, humanis, transparan dan lainnya. Ia ingin menyelami hal tersebut. Yang penting ikut tes polisi karena yang ia tahu menjadi polisi itu tantangannya menggiurkan. “Saya memang cari pekerjaan yang banyak tantangannya,” ujar istri dari Fandy Aryawan ini.

Cita dalam Rakernis tentang Perkara Narkoba

yang penting tetap selalu ingat untuk senantiasa waspada. Saya percaya hidup manusia sudah diatur oleh Tuhan,” ujar Cita. Tidak pernah terpikirkan oleh Cita yang lama berurusan dengan kasus-kasus terkait perempuan dan anak ini akan mendapatkan tugas yang akhirnya membuat ia bisa belajar “bersentuhan” dengan tindak pidana tertentu ini. Meski sempat kaget saat mendapat amanah ini, ia mengaku tidak berniat menolaknya karena ia harus menunaikan janjinya pada Polri bahwa tugas dengan risiko apapun akan ia jalani atas nama bangsa dan negara. Apalagi ia tidak pernah meminta jabatan ini melainkan ia dipilih untuk menjalani tugas ini. Itu artinya pimpinannya percaya akan kemampuannya. Cita ingat pesan ibundanya

Inspirasi

KHAWATIR TAK BERTEMU IBU Ibunda Cita yang awalnya lebih menginginkannya masuk IPDN (Institut Pemerintahan Dalam Negeri) merasa kepedean bahwa Cita tidak akan diterima di Akpol karena di mata ibundanya, Cita adalah pribadi yang pecicilan dan selengean. Apalagi Cita sendiri mengaku biasa-biasa saja saat mengikuti tes ini dengan keyakinan bagaimana pun jalan hidupnya kelak, Tuhan telah mengaturnya dengan sangat rapi. Namun, selama proses tes berlangsung, Cita memperhatikan semua peserta menggebu-gebu. “Akhirnya saya juga ikut menggebu-gebu,” katanya tertawa. Pada pengumuman kelulusan, ia dinyatakan lulus dan mengikuti tahapan tes selanjutnya bersama peserta dari seluruh

Indonesia. Di sinilah ia berpikir kemungkinan besar ia akan gagal. Namun Cita santai saja. Begitu sekali lagi ia dinyatakan lulus dan resmi diterima di Akpol, Cita menangis. Apakah itu tangis bahagia karena diterima di Akpol? Rupanya tidak “Saya menangis karena dua tahun saya tidak akan ketemu dengan ibu,” ujar Cita yang tidak tahu kalau saat pendidikan itu ada yang disebut dengan pesiar setiap waktu yang telah ditentukan. Yang ada dalam kepalanya adalah tidak bisa ketemu ibundanya selama pendidikan berlangsung. Ia telah melangkah tentu saja tidak bisa lagi mengundurkan diri, meski itu sempat terbersit dalam pikiran. Dari sinilah Cita semakin menyadari bahwa apa yang sudah ditentukan oleh Tuhan tidak akan bisa diubah oleh manusia. Ia seperti disadarkan bahwa dirinya sebagai manusia tidak bisa melawan ketentuan Tuhan. Ini menjadi titik balik bagi seorang Cita yang anak tunggal dengan segala kemanjaannya

pada orang tua. Selama di Akpol, Cita ditempa menjadi pribadi yang kuat, tidak cengeng apalagi manja. Inilah momen penting dalam hidupnya, beradaptasi dari anak yang manja menjadi seorang yang mandiri. Beruntungnya ia adalah pribadi yang bekerja keras dan mau dididik sehingga lebih mudah menyesuaikan diri. Keluar dari rumah yang penuh dengan kasih sayang dan kehangatan orang tua, Cita berpindah menjalani proses pendidikannya dengan kasih sayang dan kehangatan dalam bentuk yang lain. Bentuk yang benar-benar berbeda dari situasi di rumahnya. Karena itulah, ia menghargai seluruh waktunya selama pendidikan itu karena ia percaya lembaga pendidikan profesinya itu akan mengantarkannya menjadi sosok Cita yang berbeda dan tangguh. Sejak itulah, kecintaannya pada tugas negara yang diembannya, mengisi hari-harinya dengan berbagai suka cita yang memberinya banyak pelajaran hidup.

pria yang akrab disapa Master BG ini. Sambil show, ia kerap membawa permata untuk ikut d ipa merka n. Ke s e m p a t a n ini juga dipakai untuk menambah koleksi bebatuan. Lokasi yang disambangi mulai dari Sumatera, Sulawesi hingga Kalimantan. Tahun 2009, kontrak The Master di RCTI habis, Master BG pun memiMaster BG saat tampil di acara The Master lih balik ke alah satu kolektor Bali. “Saya sudah membawa batu permata di nama Bali ke kancah nasional Bali adalah Mas- melalui jalur magician. Kini ter Bayu Gendeng. saatnya saya memilih jalur Pria asal Klungkung ini Runner lain. Pilihannya batu permata. up The Master tahun 2009, Bali punya potensi dan saya ajang adu piawai para ma- bisa tetap di Bali agar dekat gician yang digagas Deddy dengan keluarga,” kata ayah Corbuzier. dua anak ini. “Saya mengoleksi batu perMaster BG pun banyak mata sejak tahun 2000. Waktu menguraikan tentang batu orang masih memandang batu permata. Batu permata dapat permata bersentuhan dengan dibedakan berdasarkan kekdunia spiritual. Penggemarnya erasan yang diukur dengan pun masih sedikit,” kenang skala Mohz. Alat ukurnya pun

Master BG memperoleh juara I dalam kompetisi “Batu Unik & Antik”

ia batu permata. “Sejarah menunjukkan batu permata sudah dikenal sejak zaman kerajaan di Indonesia. Ban-

S

-Naniek I. Taufan

Cita berada di tengah barang bukti minuman keras dan senjata tajam yang siap dimusnahkan

khusus. Batu yang kekerasannya antara 1-5 skala Mohz belum dapat dikategorikan batu permata. Contohnya kalsit dan batu apung. Antara 5-7 skala Mohz disebut permata semimulia, contohnya akik dan kecubung. Antar 7-10 skala Mohz disebut batu mulia. Contohnya saf i r, r u b i , d a n b e r l i a n . Hingga kini masih ada jenis batu mulia yang belum dikenali. Hal ini.salah satunya yang membuat putra kedua pasangan Ketut Gianjar (alm) dan RR Th. Trisiwi (almh) untuk berkecimpung di dun-

Batu akik lingga yoni

Koleksi batu akik Master BG

yak peninggalan batu permata yang berhasil ditemukan. Kini batu permata makin dihargai oleh masyarakat berkat peran media massa juga,” ujar pria kelahiran 12 April ini tanpa mau menyebut tahunnya. Media massa yang mengekspos pejabat yang menjadi kolektor batu permata pun ikut menaikkan kelas batu permata. Dulu mereka diam tetapi sekarang sangat terbuka. “Dulu kesannya klenik dan spiritual, tetapi sekarang sudah menjadi life style. Hal ini sangat wajar. Batu permata merupakan bagian dari c i p t a a n Tu h a n y a n g memiliki keindahan. Bagi yang meyakini, ada energi tersembunyi

dalam batu yang kadang sulit diterima akal sehat. Batu bisa memberi tuah kewibawaan, jaga diri, bahkan vitalitas,” jelasnya. KOLEKSI LINGGA YONI Di sisi lain, Master BG melihat masih minimnya pemahaman masyarakat tentang batu permata. Masyarakat yang ingin mempelajari batu permata harus bisa membedakan mana yang asli dan palsu, mana yang berkualitas rendah dan tinggi, termasuk apa fungsi batu permata tersebut. Selain bursa, penggemar batu permata juga sering disuguhkan kontes. Jenisnya pun bermacam-macam. Makin sering menang tentu memberi nilai tambah bagi batu yang dimiliki. Master BG pun termasuk berpengalaman dalam urusan kontes. Ia pernah ikut kontes di Kalimantan dan Bekasi. Prestasinya, juara 1 kontes permata antik se-Indonesia dan juara 2 kontes Chalcedony se-Indonesia 2015. Prestasi terbarunya menjadi juara I lomba batu akik langka dan unik di Tabanan. Koleksi akik bergambar lingga yoni miliknya berhasil menjadi juara I. “Ada kisah unik tentang akik lingga yoni ini. Saya mendapat bongkahan batu tahun 2005. Batu itu sempat saya buang dua kali, tetapi kembali ke saya lagi. Mungkin ini jodoh saya. Akhirnya saya potong dan diasah, ternyata muncul bentuk lingga yoni. Setelah menjadi juara karena langka dan unik, ada yang menawar jutaan rupiah. Saya tidak berani melepasnya,” ujar pria yang pernah menjadi pemain debus ini.- Ngurah Budi


6

Edisi 860/ 3 - 9 Agustus 2015

Women on Top

Metamorfosis Putri Suastini Kolaborasi yang apik, itulah terlukis dari penampilan Ni Putu Putri Suastini, bersama seniman Ketut Lanus dari Sanggar Cahya Arts, dalam pagelaran “Gita Pranakata” di Ajang Bali Mandara Mahalango, Taman Budaya, Denpasar, Selasa (28/7). Putri Suastini memberi sentuhan puisi dari komposisi musik yang digarap Ketut Lanus, pimpinan Cahya Arts ini. Dalam empat komposisi musik yang diciptakan Lanus, dua pagelaran berkolaborasi dengan Putri Suastini.

S

ebagai pem­ buka, Lanus menampil­ kan musik “Liuk”, yang terinpirasi dari gerakan pohon yang diterpa angin. Putri Suastini memberikan sentuhan narasi yang berjudul “Dari Dinginnya Mis­ terimu, Lahir Hangat Asaku”. Putri Suastini mam­ pu memberikan kli­ maks dalam pagelaran pamungkas, garapan musik Lanus yang

berjudul “Legam”. Berkisah tentang carut marut kon­ disi negeri, karak­ ter masyarakat, dan percaturan politik dimana orang sudah melegalkan segala cara untuk menca­ pai tujuan. Garapan ini juga menampil­ kan olah visualisasi tari untuk mem­ pertegas suasana dan makna. Setelah musik pembuka, Putri

Suastini muncul dengan teriakannya sembari membacakan puisi karya Nyoman Rida yang berjudul “Gumi Sinur”. Dengan make up yang menon­ jolkan karakter angker, hasil ria­ san istri Ketut Lanus, Dewa Ayu Wedanaasih, Putri Suastini benarbenar mampu menghidupkan sua­ sana di Taman Budaya, malam itu. Ditemui usai pentas, Putri Suastini mengaku puas dapat memberikan pe­ nampilan yang maksimal kepada penonton. Apalagi, usai pentas, pe­ nonton serentak bertepuk tangan, dan memberikan ucapan selamat kepadanya, termasuk beberapa teman lamanya di teater yang kangen melihat penampilannya. Putri Suastini memang dikenal sebagai pemain teater. Ketika ia me­ mutuskan tidak bermain drama lagi, justru undangan membaca puisi da­ tang padanya. Ia menjadi “bergairah” untuk serius menekuni seni baca puisi ini. “Metamorfosis Putri Suastini,” ujar

Utamakan Keselamatan saat Metik Cengkeh Bekerja secara kelompok. Itulah pemandangan sejumlah orang tengah memetik bunga cengkeh di pucuk pohon kawasan lembah lereng Gunung Wilis. Lereng ini masuk Desa Segulung, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun.

M

ereka berangkat dari rumahnya masing-masing pada pagi buta atau sekitar pukul 05.30 untuk memulai aktiviats. Setiap orang pemetik bunga cengkeh membawa andang atau tangga dari

bambu dengan ukuran panjang. “Karena rata-rata ketinggian pohon cengkeh mencapai antara 7 hingga 9 meteran. Selain itu, juga membawa tali tambang untuk mengikat bagian ujung tangga bambu samping kiri-kanan ke pohon lainnya. Tujuannya agar tangga bambu pada saat dinaiki, tidak akan roboh karena kelalaian atau diterpa angin kencang,” kata Suwarno (48), seorang buruh petik bunga cengkeh asal Desa Segulung. Menurutnya aktivitas memanjat untuk memetik bunga cengkeh dari pagi hari hingga pukul 16.30, sudah terbiasa dilakukan bersama ke-6 orang temannya. Satu pohon cengkeh bisa memakan waktu antara 1 hingga 1,5 jam. Tapi, jika bunga cengkeh itu banyak maka akan memakan waktu sekitar 2 jam. Naik turun pohon cengkeh, merupakan pekerjaan yang sudah 25 tahun digeluti. Jika musim kemarau tiba, memang banyak pemilik pohon cengkeh yang menggunakan jasanya. Pekerjaan petik bunga cengkeh,

DWP Harus Jadi Inspirasi Pembaharuan Dharma Wanita Persatuan (DWP) adalah organisasi istri pegawai negeri sipil (PNS) kini memiliki paradigma baru yakni inpenden mandiri. Tidak terikat partai politik manapun dan demokratis, dengan visi, menjadi organisasi istri PNS yang kukuh, bersatu, dan mandiri serta misi, mensejahterakan anggota melalui bidang pendidikan, bidang ekonomi dan bidang sosial budaya

istri Ketua PDI Perjuangan Provinsi Bali, Wayan Koster ini, sembari ter­ tawa. Ia menilai, kolaborasi dengan garapan musik Ketut Lanus sangat menarik karena menggabungkan tiga ide; seni tari, musik, dan puisi. Menurut Lanus, ia melihat sosok Putri

Suastini mempunyai kekhasan dari pembaca puisi yang lain. “Mbak Putri punya energi yang berbeda. Unsur teaternya sangat kental. Kami sudah tahu karakter masing-masing sehingga memudahkan berkolaborasi,” kata Lanus. -Wirati

Kolaborasi musik Legam dan olah visualisasi tari dengan puisi yang dibacakan Putri Suastini yang berjudul “Gumi Sinur”

Kolaborasi musik Liuk dengan narasi dari Putri Suastini

juga dilakukan bersama temantemannya yang memang tidak punya pekerjaan tetap. Karena jika tidak musim bunga cengkeh, ia bersama teman-temannya ikut buruh di ladang untuk mengolah tanah. “Dalam sehari bisa 6-8 pohon cengkeh yang saya panjat. Setiap

19

Edisi 860/ 3 - 9 Agustus 2015

pohon, bisa menghasilkan antara 2-3 karung bunga cengkeh basah. Upah yang saya terima bersama teman-teman yang lain sama yaitu Rp 70.000 per hari. Ada yang setiap hari upahnya diterima, ada juga yang nunggu petik bunga cengkeh selesai semua,” jelasnya. Hal sama juga dituturkan oleh Sandi (30), warga asal Desa Sewulan, Kecamatan Dagangan. Ia bersama teman-teman berbekal makanan dan minuman dari rumah, juga sabuk untuk mengamankan diri pada saat di ujung pohon cengkeh. Sabuk pengaman itu, dikaitkan antara pinggang dengan pohon cengkeh agar pada saat datang

angin kencang dalam posisi tidak munting. “Ya meski kami naik turun tanpa batas waktu. Tapi, kami juga memperhitungkan keselamatan diri saat melaksanakan aktivitas petik bunga cengkeh diatas pohon,” jelasnya. Menurut Sandi, bunga cengkeh hasil petikan dikumpulkan di tempat penampungan untuk dibersihkan bagian batangnya. Setelah bersih semua, baru dikirim ke pemilik pohon cengkeh untuk proses penjemuran hingga kering. “Untuk harga bunga cengkeh basah di wilayah sini Rp 30.000/ kg, sedang cengkeh kering mencapai Rp 90.000-Rp 105.000/kg,” ungkapnya. -Ajun Ally

Seorang pemetik bunga cengkeh terlihat dari dataran tinggi lereng

S

edangkan yang menjadi tujuan dibentuknya organisasi para istri PNS ini adalah untuk mewujudkan kesejahteraan anggota dan keluarganya melalui peningkatan kualitas sumber daya anggota demi mendukung tercapainya tujuan nasional. Melihat dari visi-misi serta tujuan DWP tersebut, Ketua BKOW Provinsi Bali, Dr. AAA Ngr.Tini Rusmini Gorda, S.H., M.M., M.H., mengatakan posisi dari organisasi ini sangat strategis karena terdiri dari kumpulan istri PNS yang mendamping suami sebagai abdi negara dan abdi masyarakat, yang berarti

pula harus memiliki peran lebih, selain peran sebagai istri di rumah dan ibu bagi anak-anak. DWP juga harus mampu menunjukkan eksistensinya dengan kualitas yang lebih dalam mendampingi suami. Terutama, saat suami bertugas sebagai PNS dengan cara, sebagai istri senantiasa mendorong dan mendukung suami dalam menjalankan tugastugas pemerintahan, pembangunan dan sosial kemasyarakatan. DWP adalah mitra kerja dari pemerintah. Jika saja DWP ini berjalan dengan maksimal sesuai dengan visi dan misinya, menurut Tini Gorda sudah dipastikan semua program pemerintah pencapainanya dapat lebih cepat,

karena telah mempunyai mitra kerja yang andal yaitu DWP. Namun, yang terjadi selama ini DWP baru sebatas wadah berkumpulnya istri PNS yang memiliki program kerja dan cara mengimplementasikannya belum terintegrasi dengan program pemerin­t ah secara maksimal, sehingga capaian dari programprogramnya pun belum bisa ditun-

Pererat Tali Persaudaraan

Ada yang tidak biasa dilakukan oleh Ketua Tim Penggerak PKK dan Ketua BKOW Provinsi Nusa Tenggara Barat, Hj. Erica Zainul Majdi dan Hj. Syamsiah Muh. Amin, yaitu bersilaturrahmi mengunjungi istri mantanmantan Gubernur dan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat. Kunjungan PKK dan BKOW yang dipimpin Erica dan Syamsiah beberapa waktu lalu itu, sebagai wujud penghormatan atas jasa para mantan Ketua TP PKK dan BKOW NTB sekaligus mempererat tali persaudaraan. Kunjungan dalam pertemuan yang hangat dan akrab tersebut dimulai dari rumah mantan Hj. Baiq Adnin Serinata, istri mantan Gubernur NTB, HL.

Serinata, lalu menuju ke rumah mantan Wakil Gubernur NTB, H. Lalu Srigede, berlanjut ke rumah mantan Gubernur, H. Gatot Suherman kemudian kunjungan diakhiri di rumah mantan Wakil Gubernur, H. Lalu Azhar. Dari kunjungan ini, Erica dan Syamsiah dapat melihat langsung aktivitas positif yang dilakukan oleh mantan pendahulunya ini, seperti yang dilakukan Hj. Baiq Adnin Serinata yang mengelola sebuah sekolah Taman Kanak-kanak yang tidak jauh dari rumahnya. Di Taman Kanak-Kanak ini Erica dan Syamsiah menyapa anak-anak yang sedang bermain sekaligus belajar bersama para guru. ”Kita harus rajin membaca, membaca apa saja, karena suatu saat pasti akan

Bersama ibu Gatot Suherman

berguna bagi kita di masa depan,” kata Erica kepada anak-anak didik di TK ini. Di rumah H. Lalu Azhar, Ketua PKK dan BKOW ini menemukan minuman jus lokal yang dikembangkan di Lombok Tengah oleh mantan Wakil Gubernur NTB ini. “Produk lokal ini harus kita kembangkan karena dapat memberikan stimulus positif bagi perkembangan ekonomi daerah,” kata Erica mengapresiasi aktivitas H. Lalu Azhar beserta istrinya. Kepedulian Ketua TP PKK kepada para pendahulunya ini menjadi perekat hubungan antar satu sama lainnya. “Kita mendoakan agar Ibu dan Bapak tetap sehat dan silaturrahmi ini ke depan tetap terjaga,” kata Erica. -Naniek I. Taufan

jukkan secara maksimal. “Secara kualitatif mungkin bisa dikatakan berjalan dengan baik, karena DWP masih bertahan dalam kondisi apapun.Namun, capaian secara kualitas belum bisa dikuantitatifkan seperti yang diharapkan dari program pemerintah. Ke depan harus ada sinkronisasi dan terintegrasinya program pemerintah dengan program DWP agar capaiannya bisa terukur,” ujarnya ibu dua anak yang juga dosen Fakultas Hukum Undiknas ini.. Dikatakannya pula, akan merupakan kebanggaan sebagai oraganisasi istri PNS, jika mampu mendampingi dan berperan aktif serta ikut terlibat secara maksimal dalam pencapaian program kerja secara kuantitaf. Selanjutnya kualitas selaku pendamping harus terus ditingkatkan agar menjadi inspirasi pembaharuan dalam berorganisasi. Walaupun DWP ini adalah organisasi istri PNS

yang bisa dikatakan organisasi yang paling beruntung dibandingkan organi­sasi wanita lainnya, sebab sangat diyakini masalah program, dana, dan anggota tidak menjadi kendala yang signifikan dalam melaksanakan program kerja. Namun, agar pencapaiannya dapat dikuantitatifkan, perlu dilakukan peningkatan parstisipasi semua anggota. DWP, katanya harus mampu berkolaborasi dan bersinergi dengan berbagai pihak secara harmonis serta berkesinambungan. Untuk ini pula diperlukan kerja cerdas, kerja ikhlas dan kerja tuntas agar semua program pemerintah yang telah dicanang­kan dalam DWP dapat dilaksanakan dengan capaian yang terukur. DWP harus menjadi mitra kerja domestik dan publik bagi PNS dengan proporsional agar mampu mendukung program pemerin­tah dengan maksimal. -Sri Ardhini

Tak Hanya Arisan Selama ini, Dharma Wanita diidentikkan dengan arisan-arisan. Namun, menurut Putu Lastiawati, selain arisan, masih banyak kegiatan positif yang dilakukan. Ia mengatakan, tugas pokok Dharma Wanita membina anggota dan memperkokoh rasa persatuan dan kesatuan, meningkatkan kemampuan dan pengetahuan, menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, serta meningkatkan kepedulian social. Melakukan pembinaan mental dan spiritual anggota agar menjadi manusia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkepribadian serta berbudi pekerti luhur. “Kami rutin mengadakan acara bakti sosial atau kerja bakti, dan ngayah ke pura-pura. Selain itu, dalam beberapa kegiatan suami di kantor, Dharma Wanita selalu dilibatkan,” ujar Ketua Dharma Wanita Persatuan Dinas Kominfo Kab. Karangasem. Istri Ir. Gde Ngurah Yudiantara, MM. menyebutkan, saat arisan, banyak diisi dengan pemberian keterampilan kepada anggota. Misalnya, pengetahuan kepribadian diri. Biasanya, materinya lebih mengarah, bagaimana bersikap dan bersosialisasi sebagai istri PNS. Ia menilai, sebagai istri PNS, mereka harus menyadari tugas suami. Apalagi, yang suaminya dipercaya menjabat. Materi kepribadian lain, pengetahuan tentang cara duduk dan cara menerima tamu. Selain urusan kepribadian, ada juga pelatihan kecakapan wanita lainnya. Tujuan dari pelatihan ini, kata Lastiawati, untuk meningkatkan kualitas SDM para istri PNS. Memang ia mengakui, sebagai wanita yang bekerja tentu perlu membagi waktu agar semua bisa dilaksanakan dengan

Putu Lastiawati

baik. Saat ia masih menjabat Ketua KPU Kab. Karangasem periode 2008-2013, ia selalu usahakan datang saat acara pertemuan Dharma Wanita. Urusan rumahtangga ia kerjakan terlebih dahulu, dan membuatkan jadwal agar urusan lain tidak terbentur. “Yang penting saya buatkan prioritas, agar semua tugas bisa dijalankan dengan baik,” ucap Lastiawati. Namun, ketika berada di luar daerah, dengan sangat terpaksa ia tak hadir. Namun, ia selalu mengupdate kegiatan apa yang sudah dilaksanakan. Kini, setelah ia tak menjabat di KPU, waktunya memang lebih luang. Walaupun, selain organisasi Dharma Wanita, ia masih mengurus beberapa organisasi lain, diantaranya, gabungan pengelola Taman Kanak-kanak. Kebetul­an ia dipercaya menjadi ketua yayasan. Biasanya, tiap tahun, ada monitoring, evaluasi, yang kadang melibatkan juga Dharma Wanita. Kegiatan ini sering bersinergi dengan Dharma Wanita. –Wirati Astiti


18

Kreasi

Edisi 860/ 3 - 9 agustus 2015

Nabil Gholi Azumi

Tuna Netra bukan

Halangan Jadi Sastrawan

Bagi banyak orang kekurangan fisik seringkali dianggap sebagai kekurangan. Namun, itu tidak bagi berlaku untuk Nabil Gholi Azumi. Bocah kelahiran 15 tahun yang lalu itu menganggap kebutaannya sejak lahir adalah sebuah anugerah yang dari sang Pencipta. Tidak hanya tetap bersyukur atas apa yang dia dapat­ kan, bocah tersebut juga jago dalam bikin puisi.

K

edua tangan Nabil Gholi Azumi tidak pernah diam saat dihadapkan dengan sebuah perangkat komputer di de­ pannya. Jemari bocah itu nampak cekatan seperti layaknya orang

normal lainnya. Satu paragraf dise­ lesaikannya hanya dalam waktu beberapa menit saja. Catatan waktu itu cukup praktis mengingat kedua matanya yang sudah tidak dapat melihat sejak lahir. “Saya suka menulis sejak kecil,”

kata remaja yang kini duduk di kelas VIII SMP LB Aisyah Kelurahan ­Kertosari Kecamatan Babadan Po­ norogo itu. Dengan dibantu program suara pada tiap tombol keyboard yang ditekannya dirinya hapal betul letak dan fungsi tombol-tombol tersebut. Bahkan, dirinya tidak kalah dengan anak normal lainnya dalam hal kom­ puter. Dia juga aktif bersosial media layaknya anak muda zaman sekarang. Dia mengaku memiliki 17 akun facebook yang aktif digunakannya setiap hari. Tidak hanya membuat status, dirinya juga mengungkapkan

isi hatinya melalui puisi dalam akun tersebut. “Pengen jadi penulis,” ung­ kap remaja kelahiran Bojonegoro, 14 Desember 1999 itu. Dari kesenangannya menulis tersebut, dirinya dipercaya mewak­ ili SMP LB tempatnya belajar untuk mengikuti lomba cipta karya puisi Maret lalu. Dalam lomba yang diikuti pelajar penyandang tuna netra seJawa Timur tersebut bahkan berhasil menyabet juara dua. Dirinya berhasil menarik perhatian dewan juri dengan puisinya yang berjudul ‘Indahnya Negeriku’ itu. Tidak hanya sekadar membuat puisi, Nabil juga menyi­ sipkan kritikan kepada pemerintah. Dalam puisinya dirinya mengkritik banyaknya kekayaan negeri Indonesia yang diambil oleh negara lain. “Saya mengetahui itu dari bukabuka internet,” katanya sembari menjelaskan ide puisi yang dibuat­ nya itu. Anak pertama dari empat ber­ saudara pasangan Muhammad Ali Ridho dan Siti Muslimah itu juga piawai dalam hal bernyanyi. Tidak hanya bernyanyi lagu-lagu sekarang, Nabil juga suka bernyanyi lagu Jawa atau nembang. Penyuka ayam goreng kremes tersebut pernah menjuarai

lomba nembang saat HUT Kabupaten Ponorogo beberapa tahun lalu. Selain pandai melucu, penyuka novel karya Habiburrahman El Shi­ razy itu ternyata juga seorang anak yang suka usil. Untuk mengatasi masalah itu, dia mengaku lebih memi­ lih menuangkannya ke dalam sebuah tulisan. Nabil mulai gemar mencatat isi hatinya dalam sebuah buku diary. Jauh dari orangtua membuat tak banyak orang yang bisa dijadikannya teman curhat. Dengan menuangkan keluh kesahnya dalam tulisan terse­ but setidaknya membuat perasaan­ nya lega. Selain menulis diary, kakak yang memiliki tiga adik dengan dua dian­ taranya juga mengalami kebutaan itu juga menulis cerpen. Dia juga mengirim cerpen hasil karyanya ke salah satu majalah nasional. Bahkan, dari beberapa kirimannya tersebut, pernah dua kali diterbitkan majalah tersebut. Meski begitu dirinya tidak membuat dirinya berpuas diri. Dia mengaku ingin melahirkan karyakarya yang lebih besar lagi. Dia ingin membuat buku seperti para penulis terkenal lainnya. “Mungkin kelebihan saya memang dalam hal menulis,” katanya. –Dinar Perdana

Pembeli Membludak

Bukti Makna Gelang Tridatu makin Dihayati Masyarakat Hindu Bali sudah biasa memakai benang tridatu sebagai gelang. Sebagai aksesoris, ia kelihatan unik, namun lebih jauh dari itu benang ini memiliki nilai filosofis yang mendalam dan bahkan banyak meyakini kekuatan magisnya.

T

ri artinya tiga dan datu berarti elemen atau warna. Jadi tridatu adalah tiga warna terdiri dari merah, hitam dan putih sebagai lambang Brahma, Wisnu dan Iswara (Siwa). Tiga warna ini biasanya digoreskan pada tiangtiang bangunan rumah, pura dan sebagainya pada saat upacara pemlaspasan bertujuan menyucikan dan peresmian bangunan. Maksudnya, untuk menjaga penghuni supaya memperoleh kerahayuan dan segala bhutakala yang hendak mengganggu diredam. Kutipan sebuah buku mengatakan,”Bila ngurip maupun

melindungi bangunan baru atau bangunan suci dari vibrasi negatif, maka warna sakral dioleskan di bangunan, sedangkan pada manusia digunakan gelang benang tridatu.” Benang diikatkan pada lengan, maksudnya, mengikat atau melindungi urip atau hidup seseorang karena benang tiga warna ini bermakna kemanunggalan Brahma, Wisnu dan Iswara, juga bermakna manunggalnya bayu, sabda dan idep, yang artinya jangkepnya sang mahurip. Dari sisi kekuatan, ketiga warna ini mewakili aksara Ang, Ung, Mang yang manunggal menjadi aksara Om. Gelang tridatu juga dikisahkan

dalam sejarah masa pemerintahan Dalem Waturenggong (abad ke 14-15) di Gelgel, dimana Patih Jelantik diutus untuk menundukkan Dalem Bungkut. Dalem Bungkut setuju untuk menyerahkan kekuasaannya dengan syarat bahwa masyarakat Bali harus selalu taat dan bhakti kepada Hyang Widhi dan leluhur, ditandai pemakai­ an gelang tridatu. “Gelang tridatu sakral motif sisik naga yang paling diminati,” ungkap Made Oka, seorang pengrajin gelang tridatu di areal PKB di Art Centre. Gelang tridatu yang dijual di PKB ada yang sebagai aksesori dengan ujungujung berhiaskan perak atau logam lain, namun masih saja gelang tridatu sakral yang paling laris terjual, terutama motif tridatu sisik naga yang ujungujung gelangnya diikat biasa. Diantara semua motif, motif tridatu sisik naga paling mahal yaitu Rp 80 ribu hingga bahkan naik mencapai Rp 300 ribu saat menjelang hari raya, purnama, tilem atau kajeng kliwon, sedangkan gelang tridatu aksesoris bia­sanya mulai dari harga Rp 15 ribu. “PKB merupakan berkah bagi kami setiap tahun. Kami juga harus siap melayani pembeli sepanjang tahun,

maka kami siapkan penjualan online,” ujar Ketut, salah sorang pengrajin gelang tridatu. Meski PKB sudah tutup, para pengrajin gelang tridatu tidak putus semangat dan siap beralih ke toko online demi melayani peminat kerajinan gelang tridatu lewat telpon 0361-943926. Pesanan membludak karena makin pahamnya umat Hindu yang bisa merasakan pemakaian gelang tridatu membawa vibrasi baik bagi pikiran pemakai benang tersebut. Sering dilihat tridatu digunakan sebagai tetebus saat upacara Manusa Yadnya serta pada upcara abhayakala (biakawon) pada hari raya Galungan. Benang dililit di tangan, kaki dan telinga sebagai simbol menenangkan pikiran. Dikejar tentang asal-usul motif

sisik naga, seorang pengrajin lainnya akhirnya berani buka rahasia, “Gelang tridatu sisik naga ini kami kenal pertama dari Dauh Pala Tabanan namun pengrajinnya sudah juga tersebar di Gianyar, Sanur dan Badung,” ungkap pengrajin yang mengaku bahwa menjelang Galungan dan Kuningan ini daftar pesanan tridatu sisik naga sudah “inden” puluhan order. Banyak pembeli yang mengatakan gelangnya akan dipasupati saat hari baik tersebut. Berapa lamakah tuah gelang tridatu ini bekerja? Menurut banyak tokoh, powernya akan terus bekerja selama benang ini masih melekat di badan dan fungsinya akan selesai bilamana benang itu lepas secara alamiah.

Life

Story

Edisi 860/ 3 - 9 agustus 2015

Lima belas tahun yang lalu, masih lekat dalam kenangan Arika (47), hari itu hari Sabtu, keluarga kekasihnya berbondongbondong datang, membawa beragam buah tangan yang dikemas dengan rapi dan manis. Arika tersenyum pada pria dengan pakaian rapi bernama Yudi. Dialah kekasih Arika. Yudi datang bersama orangtua dan keluarga besarnya untuk melamar Arika. Sungguh manis pertemuan lamaran yang berjalan lancar dalam suasana akrab dan hangat antar keluarga Arika dan Yudi.

B “D

i hari lamaran itulah kesepaka­ tan tentang penentuan tang­ gal pernikahan Arika dan Yudi didapat, persis dua bulan set­ elah lamaran itu,” kata Dinda, adik ipar Arika yang menikah lebih dulu dengan adik laki-laki Arika. Setelah mengantar para tamu dari keluarga Yudi, kelu­ arga besar Arika pun kembali menggelar pertemuan khusus termasuk Dinda juga mengikuti rapat ini. Kebahagiaan jelas ter­ pancar dari keluar­ ga Arika karena akhirnya meskipun terlam­ bat, Arika mendap­ atkan jodohnya juga. Menurut Dinda, esok harinya, mulai terli­ hat berbagai kegia­ tan. Seluruh keluarga mendapat tugas mas­ ing-masing. “Saya dan suami kebagian menguruskan lebih dari seribu undan­ gan,” kata Dinda. Kater­ ing telah dipesan, gedung telah oke dan intinya se­ luruh persiapan rampung dalam satu bulan, tinggal menunggu dekatnya waktu pernikahan. Dua minggu menjelang pernikahan itu, undangan telah dicetak dan DP katering telah diberi­ kan. “Undangan warna merah marun sudah ada di rumah saya. Begitu juga uang muka katering sudah disetor­ kan 50% oleh kakak ipar saya. Jadi tinggal menanti hari H dan

ersyukur

ini bukan masalah kecil, karena telah melibatkan dua keluarga. Betapa kecewanya keluarga mereka kala itu. Yudi dan ke­ luarganya juga tidak ada yang datang kepada keluarga Arika sekedar untuk mengatakan bahwa pernikahan tersebut batal dan dengan alasan apa. Semua seperti sepi. Tiada kabar dan berita. “Nyaris saja terjadi pertikai­ an karena keluarga kami men­ ganggap keluarga Yudi tidak bertanggung jawab karena per­ gi begitu saja tanpa kabar,” kata Dinda yang bekerja di sebuah perusahaan swasta di Mataram. Keluarga Arika berada pada situasi serba salah, karena baik Arika dan Yudi tidak ada yang mau bicara tentang penyebab batalnya pernikahan itu. “Mau berdiskusi apalagi melabrak

Pernikahan Batal

persiapan-persiapan kecil,” ujar Dinda. Dua minggu menjelang pernikahan itu, Dinda mem­ perhatikan wajah Arika yang biasanya cerah memperlihat­ kan kebahagiaan, belakangan terlihat murung. Tiap kali diajak berdiskusi tentang persiapan pernikahannya, Arika hanya menjawab secukupnya saja alias sekedar saja. Awalnya

memeluk Dinda yang kaget dan tidak mengerti akan apa yang terjadi. “Tiba-tiba Arika men­ datangi saya di kamar tidur saat saya sendirian dan langsung memeluk saya sambil menan­ gis,” kata Dinda. Di sanalah Arika mencerita­ kan semuanya. Bahwa pernika­ han yang persiapannya telah rampung 90% itu dibatalkan atas kesepakatan berdua antara

tidak ada seorang pun dari anggota keluarga yang menangkap kemurungan Arika. Hingga akhirnya sem­ inggu menjelang pernikahan, Arika tiba-tiba menangis sambil

Arika dan Yudi. Betapa kagetnya Dinda dan keluarga besar mereka atas pembatalan tersebut. “Arika tidak ingin mengatakan apa yang terjadi sesungguhnya, dan selama beberapa hari dia tidak mau keluar kamar sama sekali,” kata Dinda. Pastilah masalah

Yudi dan keluarganya, takutnya muncul persoalan yang lebih besar karena duduk persoalan­ nya saja kami tidak tahu. Mau didiamkan juga terasa keterlalu­ an sekali karena mereka datang baik-baik harusnya menyele­ saikan pula dengan cara yang baik,” ujar Dinda kesal. HAMIL LIMA BULAN Yang pasti semua batal. Undangan sia-sia, uang muka katering dan gedung serta penata rias pengantin hanya bisa kembali sekedarnya. Arika masih belum mau bicara sampai sebulan kemudian ia menceritakan hal sesungguhnya pda keluarganya. Dinda merasa perlu untuk tidak menceritakan kisah ini kepada keluarganya saat suasana hati yang panas karena takut tidak bisa men­ gendalikan keluarga. Awalnya Arika menceritakan semua ini kepada Dinda yang kebetu­ lan sangat dekat dengannya. Sebelum menjadi ipar Arika, Dinda dan Arika memang telah bersahabat cukup lama. “Seminggu sebelum hari H pernikahan itu, seorang perempuan yang tengah hamil lima bulan menemui Arika dan mengatakan bahwa anak yang dikandungnya adalah hasil hubungannya dengan Yudi,” kata Dinda. Dunia Arika seperti menjadi gelap hari itu. Arika sempat pingsan sambil

7

terduduk di bangku tempat ia makan untuk bertemu berdua dengan kekasih gelap Yudi tersebut. Setelah beberapa lama Arika sadar dan dengan kepala dingin Arika menye­ lesaikan persoalan itu, meski hatinya pedih bagai tersayat sembilu. Ia menelepon Yudi dan me­ mintanya untuk datang ke tem­ pat itu. Mereka ketemu bertiga guna meluruskan masalah ini. Yudi mengakui bahwa bayi yang dikandung perempuan beram­ but ikal yang duduk persis di depan Arika itu adalah anaknya. “Di sanalah mereka menyele­ saikan semuanya. Arika mem­ batalkan rencana pernikahan­ nya dan langsung disetujui Yudi yang berniat menikahi kekasih gelapnya yang telah mengand­ ung itu,” kata Dinda. Betapa patah hati Arika. Karena Yudi juga memilih tanggal pernikahan mereka yang sedianya diselenggara­ kan seminggu lagi itu, menjadi tanggal pernikahannya dengan kekasih gelapnya itu. “Saya sempat melihat Arika menangis hingga matanya sembab pada hari di mana Arika menyampai­ kan niatnya telah membatalkan pernikahan itu tanpa menyebut alasannya kala itu,” ujar Dinda. Arika sengaja tidak menyampai­ kan masalah sebenarnya pada keluarga mengapa ia sampai membatalkan pernikahan itu. Ia tidak mau keluarganya me­ maksa Yudi untuk menikahinya dengan alasan malu. “Karena sesungguhnya Arika merasa bersyukur tidak jadi menikah dengan Yudi. Arika takut di­ paksa menikah dengan laki-laki penipu itu,” ujar Dinda kesal. Rupanya, patah hati Arika tak mampu membuatnya sang­ gup mengenal laki-laki lagi. Praktis selama 15 tahun tera­ khir, Arika tidak terlihat memi­ liki kekasih. Dari 15 tahun yang telah dilaluinya itu, Arika lebih suka bersyukur karena tidak jadi menikah dengan Yudi ketim­ bang harus mencari pendamp­ ing hidup. Entah apa yang akan terjadi kelak pada Arika, Dinda berharap ia bisa segera mene­ mukan jodohnya karena usianya terus bertambah. “Tapi mung­ kin dengan hidup sendiri Arika merasa bahagia,” kata Dinda. Di usianya yang menjelang seten­ gah abad, kini Arika menyibuk­ kan diri dengan pekerjaannya sebagai seorang pendidik dan juga mengurus keponakankeponakannya. -Naniek I. Taufan


8

Bunda & Ananda

Edisi 860/ 3 - 9 Agustus 2015

Manfaatkan MOS

untuk Kenali Lingkungan Sekolah Peserta didik baru yang memasuki jenjang SMP dan SMA disambut dengan kegiatan Masa Orientasi Sekolah (MOS). Ajang ini kerap menjadi pelampiasan dendam masa lalu kakak kelas terhadap adik kelas. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.Anies Baswedan sudah mewantiwanti agar MOS jangan dijadikan kegiatan yang “aneh-aneh”. Masih perlukah MOS ini?

“H

-1 MOS saya begadang sampai pukul 23.30 untuk membantu anak menyiapkan perlengkapan. Macam-macam yang harus disiapkan. Ada name tag, tas, dan topi yang harus sesuai pedoman. Anak yang MOS, orangtua ikut sibuk,” ungkap Bu Yani kepada temannya di kantor. Pukul 04.30 ia sudah harus bangun untuk menyiapkan sarapan lalu mengantar anaknya ke sekolah. Sorenya sudah sibuk lagi untuk menyiapkan bahan yang harus dibawa keesokan harinya. Pengalaman Bu Ana ternyata tak begitu ribet ketika anaknya menjalani MOS di sebuah SMP favorit di Denpasar. “Anak saya cuma disuruh bawa name tag sesuai kelompok. Tidak ada perpeloncoan. Adanya dengar ceramah dan latihan baris-berbaris,” ujar ibu dua putra ini. MOS seringkali menjadi momok yang menegangkan bagi para siswa

termasuk orangtuanya. Cerita yang didengar dari orang lain membuat mereka khawatir tentang MOS. Apalagi jika ada kasus siswa yang sampai kehilangan nyawa saat MOS. “MOS sepanjang dilakukan sesuai aturan dan benar-benar dijadikan ajang penyesuaian lingkungan sekolah akan sangat bermanfaat. Namanya saja orientasi. Artinya pengenalan atau adaptasi di lingkungan baru. Yang harus dikenalkan mulai dari kepala sekolah, guru, ruang kelas, kurikulum, bahkan penjaga sekolah. Kegiatan yang dilakukan tentu berkaitan dengan akademis, psikologis, dan disiplin menghadapi lingkungan baru ini,” ujar Sad Yuli Prihartati, S.Psi., Psikolog. Berkaca dari MOS-MOS sebelumnya, Yuli melihat ada yang salah dalam pelaksanannya. Misal, saat memberikan hukuman terlalu berat. Hukuman diberi dalam batasan wajar.dan mengacu pada prinsip disiplin. Kalau salah memang harus

Kompetisi Dokter Kecil Warmadewa

BEM Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Warmadewa membuka kesempatan bagi Sekolah Dasar (SD) se-Denpasar untuk berkompetisi dalam Kompetisi Dokter Kecil Warmadewa 2015. Peserta adalah siswa kelas 4,5,6 SD dalam format kelompok yang terdiri atas 3 orang dari sekolah yang sama. Lomba dilaksanakan Sabtu (8/8) di FKIK Universitas Warmadewa. Lomba terdiri dari babak penyisihan, babak penyuluhan (presentasi mengenai sikat gigi dan mencuci tangan yang baik), babak P3K (melakukan tindakan mengenai pertolongan pertama terhadap kecelakaan), dan babak cerdas cermat. Untuk info lebih lanjut, hubungi Deary (081916789556), Ryan (08113893250), atau Lidya (085737288823)-rls

Workshop Opening Cakra for Healing

Guru Made Sumantra dan Bunda dari Pasraman Markandeya Yoga mengadakan workshop Opening Cakra for Healing, pada Minggu (16/8) di Pasraman Markandeya Yoga. Donasi Rp 100 ribu, peserta mendapatkan CD Opening Cakra, pendulum, dan makan siang. Untuk pendaftaran, hubungi 082145142424, 087861187825 -rls

Yuli

dihukum merupakan bagian dari penanaman sikap disiplin. Dalam urusan “bawaan”, ia mengatakan boleh saja membawa barang tetapi harus yang memiliki manfaat atau barang tersebut merupakan olah kreasi. Jangan sampai membawa barang pesanan sponsor yang hanya mementingkan unsur ekonomis tanpa melihat sisi kreativitas. MOS juga harus menjadi kegiatan yang menyenangkan bagi siswa. Ada kegiatan dalam ruangan dan ada di luar ruangan. Jangan malah merepotkan orangtua. Saking khawatirnya, ada orangtua yang melarang anaknya ikut MOS. Orangtua itu mengirim surat sakit ke sekolah. Bagi Yuli, hal ini terlalu berlebihan. Saat MOS merupakan kesempatan siswa untuk menge-

nal lingkungannya. Kalau dilarang, mereka akan terlambat untuk mengenal lingkungan sekolahnya. Namun, diingatkan agar kegiatan harus berkesan dan bermanfaat bagi siswa baru. SEKOLAH PUNYA OTORITAS Ketua APSI (Asosiasi Psikolog Sekolah Indonesia) Wilayah Bali ini mencontohkan siswa harus membuat laporan tentang berita yang ditonton. Berita itu dituliskan kembali sesuai kemampuan siswa. Ini akan mengasah kemampuan mendengar dan menulis siswa. Atau, usai mendapat ceramah dari narasumber saat MOS, siswa wajib membuat laporan. Ini juga akan membiasakan siswa untuk membuat laporan. Tetapi,diingatkan untuk tidak mencontek tugas temannya. Lebih baik lagi kalau dibedakan sesuai tema sehingga masing-masing siswa sudah punya gambaran apa yang harus dibuat. Mengenai MOS sebagai ajang balas dendam, Yuli mengakui dulu hal itu sering terjadi karena siswa berada dalam fase imitasi. Apa yang mereka alami dulu diperlakukan sama sekarang. Misalnya dulu ketika menjadi junior, mengalami perlakuan yang tidak menyenangkan. Ini masih terngiang di memorinya. Ketika ada hal serupa, memori ini terbuka dan dilampiaskan kepada junior baru.

Untuk mencegah terjadinya balas dendam ini, sekolah harus punya aturan yang jelas dan tegas. Apapun yang terjadi selama MOS merupakan tanggung jawab sekolah. Guru harus mendampingi siswa senior saat melakukan MOS untuk menghindari adanya tindakan yang diluar aturan. “Sekolah punya otoritas untuk membuat aturan. Jangan sampai kredibilitas sekolah tercoreng karena ada tindakan yang tidak aneh-aneh. Barang bawaan juga jangan aneh-aneh,” tegas Koordinator Pengabdian Masyarakat Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Bali ini. Sebelum MOS mulai, panitia MOS juga harus dibekali dengan pemahaman makna dan tujuan MOS. Ajang ini juga menjadi pembelajaran untuk berorganisasi. Ingatkan juga momen kebersamaan itu akan bermanfaat untuk pengembangan diri maupun sekolah. MOS yang dilaksanakan tiga hari harus mampu dimanfaatkan untuk mengenali lingkungan sekolah. Di akhir MOS, perlu diadakan evaluasi. Menurut Yuli, hal ini yang jarang dilakukan. “Kalau ada evaluasi tentu bisa menjadi gambaran untuk pelaksanaan MOS tahun berikutnya. Apa yang bermanfaat bisa dipakai, yang tidak bermanfaat ya jangan dipakai. Suara para siswa baru pun wajib didengar “ kata Yuli. –Ngurah Budi

Suasana MOS di suatu sekolah

dok.balipost

Mendongeng Lima Menit

Membagi Harta Karun

Sejak beberapa hari Ayah Kodok jatuh sakit. Ia terbaring lesu di sebuah pematang sawah. Anaknya, si Kendul selalu mendampinginya, memberi makan, memijat dan membuatkan obat ramuan. Si Kendil, adik si Kendul tidak pernah Made Taro mengurus ayahnya. Ia acapkali meninggalkan rumah, pergi bermain-main dengan kodok-kodok lainnya. Pada suatu siang yang terik, Ayah Kodok memanggil kedua anaknya. “Anak-anakku!” katanya dengan napas terengah-engah. “Rukun-rukunlah bersaudara! Ayah punya sedikit harta karun yang tersimpan di dalam gua. Bagilah berdua!” Sesaat kemudian sang Ayah mengembuskan napas terakhir. Si Kendul sangat sedih, tetapi si Kendil tenang saja. Dalam benak si Kendil selalu terbayang tumpukan harta karun peninggalan ayahnya. “Ayolah kita cari harta karun itu!” kata si Kendil pada suatu hari. “Harta itu pasti disimpan dalam gua di pinggir sungai, sebab ayah sering ke sana,” katanya. “Tidak! Tak mungkin menyimpan harta karun di tempat yang gampang. Harta itu pasti disimpan di tempat yang sulit, yakni di lereng gunung,” bantah si Kendul.

Kedua kodok bersaudara itu bertengkar. Masingmasing mempertahankan pendirian. Pertengkaran itu makin panas, akhirnya berlanjut dengan pergumulan. “Kwek, kwek, kwek…, kwek, kwek, kwek…!” Sambil mukul-memukul, mereka membusungkan tenggorokan dan perut. Akhirnya si Kendul berkata. “Kalau bergumul terus, apa yang kita dapatkan? Sebaiknya kita bertaruh. Barang siapa yang terlebih dahulu menemukan harta karun itu, mendapatkan dua pertiga, yang kalah sepertiga.” Tidak jelas, apakah si Kendil menyetujui perjanjian tersebut. Ia secepatnya melompat menuju sungai, mencari-cari gua tempat harta karun itu. Melihat adiknya pergi, si Kendul pun secepatnya menuju lereng gunung. Tentu, perjalanan itu sangat melelahkan. Mendaki dan mendaki. Akhirnya sampai juga ia di sebuah gua yang terlindung. Ia segera masuk ke gua itu. Amboi! Betapa terkejutnya ia menemukan onggokan emas, perak, dan berlian! Tak kuasa menahan gembira, si Kendul secepatnya menemui adiknya di sungai. Ia ingin si Kendil melihat langsung harta karun itu, lalu membaginya berdua sesuai dengan perjanjian. Setiba di pinggir sungai, ia memanggil-manggil adiknya. “Kendiiil…, Kendiiil...!” Tak ada jawaban. Ketika menemukan sebuah gua, ia langsung masuk ke dalam gua itu sambil berteriak memanggil adiknya. “Kendiiil...!” Ia terkejut dan takut. Dari dekat dilihatnya seekor ular besar sedang memangsa seekor kodok. Kodok itu tak lain adalah si Kendil, adiknya sendiri.

Griya

Edisi 860/ 3 - 9 Agustus 2015

17

Beragam Pilihan Genteng

Saat ini atap tak sekadar sebagai pelindung, tetapi kehadirannya juga turut memberikan nuansa estetika pada sebuah hunian. Selain itu, atap pun bisa menjadi pembeda antara rumah satu dengan lainnya. Karena itu, desain atap menjadi hal penting untuk diperhatikan.

A

da beragam pilihan atap yang kini ba­ nyak berkembang, di antaranya atap/ genteng press, genteng beton, dan genteng keramik. Masingmasing genteng ini tentunya memiliki keunggulan dan kelemahan. Salah seorang karyawan Bali Surya Abadi Genteng yang berlokasi di Jalan By Pass Ngurah Rai Sanur, Hendrik mengatakan, di Denpasar khususnya konsumen (masyarakat umum) lebih banyak memilih genteng press. Selain harga lebih terjangkau, keta­ hanannya pun cukup kuat. Genteng press sendiri memiliki beberapa model, yang paling umum adalah model flat (rata) dan model kodok. “Dua model ini yang paling laku. Ini masalah se­lera saja. Model flat bisanya untuk rumah-rumah minimalis,” ujarnya. Proses pengerjaan genteng pres ini pun ada dua, yakni melalui pembakaran biasa (memakai tungku) dan memakai

Genteng keramik

oven. Genteng dengan pembakaran oven memiliki kelebihan, seperti lebih ringan karena lebih kering, matangnya lebih merata sehingga rembesannya lebih sedikit. Model kedua, genteng beton. Genteng ini terbuat dari campuran pasir dan semen. Kekuatan genteng ini dipengaruhi oleh kebersihan dan ukuran butiran pasir yang dipergunakan. Kelebihannya adalah genteng beton lebih kuat, di samping harga juga relatif terjangkau. Ukuran genteng beton dua kali lebih besar dibandingkan genteng press yang terbuat dari tanah liat. Kelemahannya, bobotnya lebih berat sehingga membebani struktur. Model ketiga, genteng kera-

mik. Genteng ini memiliki be­ ragam warna dan tampil mengkilap, sehingga mampu membuat tampilan keseluruhan rumah semakin indah. Warnanya pun tidak mudah pudar karena biasanya dilapisi cat khusus sehingga tetap awet meskipun diterpa cuaca seperti panas terik ataupun hujan. Genteng keramik lebih antibocor dan tak mudah terlepas. Itu karena genteng tersebut menggunakan sistem interlocking dalam pemasangan, bahkan merek tertentu memakai sistem double interlocking. “Semua terserah pada konsumen untuk memilih genteng yang mana. Se­suaikan dengan budget dan bentuk rumah,” tandas Hendrik. –Inten Indrawati

Genteng beton

Genteng press model flat

Genteng press model kodok


16

Edukasi

Edisi 860/ 3 - 9 agustus 2015

Dara

AA Ayu Ketut Agung

Bekali Keterampilan pada Peserta Magang

P

endidikan merupakan investasi terbesar untuk bekal anak menjalani kehidupannya ke depan. Hanya dengan pendidikanlah, kita bisa meningkatkan perekonomian menjadi lebih baik. Lalu, bagaimana halnya dengan anak-anak kurang mampu dan putus sekolah, yang belum menuntaskan pendidikannya di lembaga ­pendidikan formal ?

Jawabannya adalah Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). PKBM merangkul anak-anak putus sekolah untuk menuntaskan pendidikannya dengan program kejar paket A, B, dan C, yang setara SD, SMP, dan SMA. Salah satu PKBM yang masih aktif di Denpasar Bali adalah PKBM Agung yang dikelola Anak Agung Ayu Ketut Agung. PKBM Agung dan LKP Agung ini berada di bawah naungan Yayasan Kecantikan Agung. Kegiatan pembelajaran di PKBM Agung dilaksanakan tiap Senin, Rabu, dan Jumat. “Di PKBM Agung, selain mendapatkan pendidikan formal, anak-anak kejar paket juga kami berikan tambahan keterampilan tata rias. Bahkan dari keterampilan ini, tak sedikit dari mereka sukses di bidangnya

Melakukan tirtayatra dan berwisata, itulah yang saya rasakan ketika mengunjungi Pulau Menjangan, Kecamatan Gerogak, Kabupaten Buleleng. Dari Kota Singaraja berjarak sekitar 90 km atau dapat ditempuh dengan perjalanan 1,5 jam. Dari Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana berjarak 60 km atau dapat ditempuh sekitar 45 menit. Lokasi Pulau Menjangan di sekitar area Taman Nasional Bali Barat.

S

ehari sebelum mengunjungi Pulau Menjangan, saya melakukan tirtayatra ke beberapa Pura di Kabupaten Buleleng, Pura Melanting, Pura Pulaki, dan Pura Jayaprana Teluk Terima. Kare­na waktu sudah sore, dan penyeberangan sudah tutup, saya putuskan untuk menginap di daerah Banyuwedang, sekitar 5 kilometer dari pelabuhan Lalang tempat menyeberang ke Pulau Menjangan. Sebenarnya,

Patung Ganesha setinggi 15 meter

masing-masing. Ada yang kini menjadi pramugari Garuda, pemilik salon, dan perias freelance yang mampu merogoh kocek hingga jutaan rupiah per bulannya,” papar Bu Agung yang sekaligus pemilik Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP/Salon) Agung ini, bangga. Dua kakak beradik asal Buleleng, Kadek Metriyani dan Ni Komang Sri Martini yang kini sama-sama berprofesi sebagai perias memberikan kesaksian. Kadek Metriyani yang setelah lulus kejar paket C di PKBM agung, meneruskan kuliah S-1 di Fikom salah satu universitas di Denpasar. “Saya ingin jadi dosen, tapi untuk menuju kesana saya mau melanjutkan S-2 yang linier. Sayang sementara ini belum ada di Bali,” ujar Metri yang sudah berhasil membeli mobil Yaris terbaru dari hasil kerja kerasnya selama ini. “Semua orang bisa,

yang penting semangat, ada usaha dan kemauan,” ujarnya. Adiknya, Komang juga memiliki semangat yang sama. Dari keterampilan merias yang didapat di Salon Agung itu, ia mengaku berpenghasilan hingga belasan juta rupiah. “Akhirnya saya bisa sekolah sampai kuliah. Yang penting semangat dan percaya diri,” ucapnya. Peran PKBM menjadi begitu penting, khususnya yang belum bisa terjangkau oleh pendidikan formal, seperti buta aksara dan putus sekolah. Karena itu, Wali Kota Denpasar Ida Bagus Rai D. Mantra dalam suatu kesempatan mengatakan, PKBM inilah yang merupakan ujung tombak untuk membantu meningkatkan pendidikan. “Pendidikan harus menjadi prioritas agar masyarakat bisa lebih mandiri,” ujarnya kala itu yang sangat mengapresiasi apa yang dilakukan Bu Agung, pemilik Yayasan Kecantikan Agung ini. Yayasan Kecantikan Agung ini diberikan kepercayaan untuk memagangkan 20 tutor keterampilan PKBM di Bali. Sala satu peserta magang adalah tutor bahasa Inggris dan keterampilan kejar paket C di PKBM Putera Jaya, Tanggerang, Verial Berlyani. Selama dua minggu magang sekaligus menginap di

Totalitas dalam Berkesenian Bu Agung (kanan) bersama peserta magang Berly, dan Bu Made Artha Widiani dari Disdikpora Denpasar

PKBM Agung, ia banyak belajar tentang keterampilan tata rias, seperti tata kecantikan kulit, pusung tagel (sanggul Bali), tengkuluk lelunakan, dan busana adat Bali. “Saya kagum dan senang bisa mengenal budaya Bali yang cukup banyak dan beragam,” ujarnya. Dan pada hari terakhirnya magang di PKBM Agung, Berly juga berkesempatan bertemu dengan Kasi Pendidikan Luar Sekolah Disdikpora Kota Denpasar, Made Artha Widiani. DISKON 50% KURSUS TATA RIAS Sebagai bentuk apresiasi yang besar terhadap pelestarian budaya Bali serta untuk lebih menyosialisasikan dan membangkitkan minat masyarakat dalam tata rias dan busana adat Bali, LKP Agung

memberikan diskon 50% kursus regular. Materi yang diajarkan mencakup 3 paket yakni Tata Kecantikan Kulit, Tata Kecantikan Rambut, dan Tata Rias Pengantin (payas nista, payas madya, payas agung, modifikasi, dan tengkuluk lelunakan). Disediakan juga beasiswa kursus gratis bagi mereka yang kurang mampu dan putus sekolah, yang benar-benar berminat di bidang tata kecantikan. Syarat dan ketentuan berlaku. Silakan menghubungi Sekretariat LKP Agung, Jalan Anggrek No. 12 Kreneng, Denpasar. Telepon 0361 233850, 081 1393602, faks. 0361 247153. Cabang Tohpati, Jalan WR. Supratman No. 303 A, Tohpati, Denpasar. Email:lkp_agung@ yahoo.com. website:www.salonagung.com. –inten

Keempat, Pendopo Ida Bhetara Lingsir Dalem Gajah Mada/Hyang Wisnu Murti. Melihat pendopo ini, saya merasakan kental nuansa Jawa, dari bentuk atap sampai dengan ukiran pintu kayu/joglo di depan pelinggih. Di area pendopo terdapat sebuah patung Kuda Jingkrak. Di dalam pelinggih terdapat sebuah patung Maha Patih Gajah Mada, berikatkan merah putih di kepala, payung dan kain merah putih ada juga di dalam pelinggih tersebut. Kami dianugerahi benang tridatu (benang berwarna merah hitam dan putih) lambang warna Tri Murti. Kelima, Pura Sang Hyang Siwa Pasupati. Bahan dasar pelinggih di sini berwarna putih, mungkin sejenis batu kapur, batu lokal di Pulau Menjangan yang mendominasi disana. Kami bersembahyang seperti biasa, tetap dipimpin seorang Jro Mangku. Keenam, Pelinggih Ida Bhetara Lingsir Watu Renggong. Di dalam saya melihat pelinggih berwarna putih dengan tulisan Ida Bhetara Lingsir Air Langga. Disini sembahyang seperti biasa, bedanya kami

dianugerahi bija berwarna kuning. Ketujuh, Pelinggih Sang Hyang Ganesha. Sebuah patung Ganesha dengan tinggi sekitar 15 meter menyambut kami. Beda halnya dengan persembahyangan sebelumnya, kami sembahyang dalam posisi di belakang Ganesha menghadap ke laut. Menurut keyakinan, Sang Hyang Ganesha menjaga Bali dari Pantai Utara. Banten kami haturkan di depan patung, dan kami kembali ke belakang untuk sembahyang. Di sini sembahyang mengikuti beberapa mantram yang dipimpin seorang Jro Mangku. Setelah melakukan persembahyangan, seperti biasa dianugerahi tirta dan bija. Sete­ l­ah itu itu kami dipersilahkan menuju ke depan patung Ganesha untuk sujud bakti mencium kaki Ganesha. Persembahyangan terakhir menuju Pura Segara Giri Gili Menjangan. Letak pura ini sekitar 500 meter dari Pura Taman atau bisa juga mengikuti jalan setapak dari Pura Ganesha. Saat sembahyang disini, kami baru melihat hewan menjangan sedang mencari makan di depan pura. Disini sembahyang seperti biasa dan mendapatkan tirta dan bija. Tidak ada orang yang tinggal di Pulau Menjangan. Pulau ini hanya dihuni hewan menjangan. Karena itu, jangan lupa bawa perbekalan terutama air minum, untuk menahan lapar dan haus. Perjalanan yang lumayan panjang dan cuaca yang sangat panas akan membuat pemendek sedikit letih. Namun, keindahan laut Pulau Menjangan mampu mengobati perjalanan yang melelahkan ini. Bahkan, saat menyeberang, kita akan menyaksikan Gunung Raung dari kejauhan. Usai sembahyang, kami bergegas kembali karena tukang perahu sudah menunggu untuk mengantar kami kembali ke Pelabuhan Lalang. –Wirati Astiti

Wisata Spiritual ke Pulau Menjangan

ada dua tempat penyebrangan ke Pulau Menjangan, Pelabuhan Banyuwedang dan Lalang. Namun, saya pilih Lalang karena lebih ramai dan harga sewa perahu lebih murah. Keesokan harinya, pukul 07.00 saya sudah stanby di pelabuhan untuk membeli tiket menyeberang. Tiket yang dikenakan bukan untuk satu orang, tapi biaya untuk sewa satu perahu kayu yakni Rp 465 ribu PP. Kalau di Banyuwedang sewa perahu Rp 500 ribu PP dan lebih sepi. Kebetulan saya satu perahu dengan rombongan dari Bangli. Tepat pukul 08.00, saya menyeberang. Syukur, perahu yang mengantar saya ke Pulau Menjangan merupakan perahu pertama yang berangkat. Perjalanan menuju Menjangan sekitar 20 menit. Tukang perahu memberikan kami waktu 3 jam untuk kembali ke perahu setelah bersembahyang ke areal Pura Agung Pingit Klenting Sari. Saat turun dari perahu, kami sudah disambut satu Pura kecil. Setelah memohon keselamatan agar persembahyang­an di Pulau Menjangan lancar, kami segera bergegas. Pemedek tidak perlu khawatir karena sudah ada papan yang memasang urutan pura yang harus dilewati. Pertama, Pura Taman/Beji. Satu hal berbeda dari tempat persembahyangan biasanya, tirta di Pura ini terasa asin. Kedua, Pasraman Agung Brahma Ireng/Ratu Patih Lingsir Kebo Iwa. Tempatnya tidak jauh dari Pura Taman tinggal mengikuti jalan setapak. Kebo Iwa merupakan seorang Mahapatih sakti di kerajaan Bedahulu yang menjaga Kerajaan Bali menjadi aman pada saat itu. Pada pelinggih ada dua buah patung di pinggir pintu masuk pelinggih, di dalamnya terlihat seperti sebuah gedong pelinggih bercat emas, ada tulisan Brahma, dan dibawahnya terdapat seperti sebuah gentong

besar diselimuti kain warna merah. Setelah bersembahyang kami tidak dianugrahi bija atau beras seperti biasa sembahyang, tapi berupa abu berwarna hitam yang diusapkan di dahi. Ketiga, Pagoda Agung Dewi Kwan Im/Dewi Kemakmuran. Bentuk tempat persembahyangan Dewi Kwan Im berbentuk pagoda, tapi tingkatannya hanya terdiri dari 3 undag. Ketika akan masuk, di atas pintu masuk terdapat sebuah tulisan, seperti Sabda dari Dewi Kwan Im. Di dalam pagoda, terdapat patung Dewi Kwan Im dan juga patung Buddha. Sekeliling Pagoda di lingkari kain merah putih, dan ada beberapa tulisan-tulisan mantram, dan di dalam meja persembahan terdapat lilin-lilin berwarna merah dan bunga-bunga. Ada seorang Bhiksu yang menuntun bersembahyang. Kami cukup bersembahyang dengan menggunakan dupa bisa 1, 3, 5, pokoknya ganjil. Kami pun dituntun mengikuti mantra. Setelah sembhyang kami dianugrahi tirta.

i r a s a Lar

Pesta Kesenian Bali (PKB) 2015 yang sudah berlalu memunculkan bintang-bintang panggung. Salah satunya adalah Sri Ayu Pradnya Larasari yang akrab disapa Laras. Dara kelahiran 16 Desember 1997 ini menampilkan kepiawaiannya sebagai penari. Lulusan SMA Negeri 3 Denpasar ini tampak unjuk kebolehan dalam tiga genre tari. Penerima Anugrah Kebudayaan dan Penghargaan Maestro Seni Tradisi 2014 dari pemerintah RI ini, menerjang tangkas menyajikan tari kebyar Tarunajaya, menggeliat lentur dalam tari Legong Keraton, serta menganyam tembang dan tari dalam opera Bali, arja.

L

ahir dalam keluarga dan lingkungan yang kental dengan riak-riak kehidupan berkesenian, Desa Sukawati, Gianyar, menyemai Laras menjelajahi beragam seni. Kakeknya, I Wayan Nartha (72 tahun), seorang dalang sepuh Bali, menempanya dalam kemampuan berkisah atau mendongeng dan olah vokal tembang. Bakatnya sebagai pengkisah telah teruji dalam lomba-lomba mendongeng dari tingkat desa hingga propinsi. Sejak SD hingga SMA ia merengkuh juara I kompetisi masatua se-Bali. Demikian pula dalam lomba mengalunkan palawakia, sloka, dan sekar alit, gadis berambut panjang ini pernah menyabet gelar sang juara, seperti Lomba Sloka Tingkat SMA/ SMK Se-Bali 2014 yang diselenggarakan IHDN Denpasar Julukan multitalenta memang pantas disematkan pada Larasari. Selain kini dikenal sebagai penari andal, ia juga memiliki reputasi dalam bidang pidato dan berpuisi, baik dalam bahasa Bali maupun Indonesia. Predikat orator muda juara I se-Bali juga berkali-kali diraihnya seperti dalam Lomba Pidato Se-Bali 2012 yang digelar Universitas Pendidikan Ganesha dan Lomba Pidato Basa Bali Tingkat SMA/SMK Se-Bali 2013 yang digelar Kota Denpasar. Penghargaan sebagai juara I dari Gubernur Bali juga sempat diperolehnya dalam arena Cipta dan Baca Puisi Tingkat SMA/SMK se-Bali 2013 yang digelar Badan Perpustakaan dan Arsip Propinsi Bali. Menari adalah bidang seni yang telah digeluti Laras sejak masih bocah. Pada usia 3,5 tahun ia telah nyelonong sebagai penari Rejang Dewa tanpa berlatih dalam sebuah ritual keagamaan.

Bakatnya sebagai penari terasah maju melalui pelatihan di sanggar-sanggar seni. Sejak SD kelas 1 ia belajar beragam tari-tarian kreasi di Sanggar Tari Lokananta Singapadu. Setelah remaja, Laras juga berlatih jenis tari klasik di Sanggar Kakul Mas Batuan. Belakangan ia menyuntuki asyiknya menarinyanyi-drama arja di Sanggar Siwa Ratri Keramas. “Semuanya saya lakoni dengan suka hati,” ujar Laras yang juga berbakat jadi MC. Ia pernah menjajal kemampuannya sebagai MC dalam perhelatan nasional di Hotel Grand Bali Beach, Sanur, 9 April lalu, yang dihadiri oleh Presiden Joko Widodo. Rona senang hati tampak selalu berbinar pada Laras yang senantiasa tampil dengan totalitas penuh dalam berkesenian. Bagaimana ia mempersiapkan diri dan tampil menari di arena PKB. Menjelang tampil di Taman Budaya Bali, Laras yang tahun 2014 lalu tampil dalam Festival Dongeng Se-Asia di Kota Incheon, Korea Selatan, tersebut harus mondar-mandir berlatih di tempat atau sanggar yang berbeda-beda. Di tengah kesibukan menuju tempat latihan, ia sempat mengalami kecelakaan lalu lintas yang membuat kaki kirinya luka bengkak yang membuatnya sulit berjalan. Namun, luka itu tak menghalangi semangatnya. SUKA MANTRI BUDUH Menari telah menjadi salah satu motivasi hidup seorang Laras. Begitulah, karakter penuh semangat dari tari kebyar Tarunajaya, ia tampilkan dengan trengginas di panggung terbuka Ardha Candra di hadapan ribuan penonton penggemar Parade Gong Kebyar Dewasa. Diiringi oleh Sanggar Saba Sari Desa Saba Blahbatuh, Gianyar, Laras

tampil secara tunggal di bawah tatapan ribuan penonton. Tari energik ciptaan I Gde Manik pada tahun 1950 yang membutuhkan dukungan tenaga besar ini, dihadirkan Laras dengan penuh daya pukau. Penonton terpesona dengan sambutan tepuk tangan bergemuruh. Pesona, walau tak bergemuruh, melainkan kekaguman juga berhasil dipetiknya, ketika bersama Sanggar Siwa Ratri Keramas, Laras tampil dalam dramatari arja. Dalam grup arja remaja tersebut, ia membawakan peran tokoh Mantri Buduh, karakter antagonis yang penampilannya dalam pertunjukan arja ditunggu-tunggu penonton. Lewat keterasahannya menari dan alunan tembangnya yang empuk, ia

Edisi 860/ 3 - 9 agustus 2015

9

tampil mantap dan mampu memukau penonton. “Saya suka memerankan Mantri Buduh,” ujar Laras. Daya pukau Laras kian memancar di harihari terakhir PKB. D i panggung terbuk a Ksiarnawa, ia bersam a lima penari Sanggar Semara Yowana Bedulu, Gianyar, menampilkan Legong Raja Cina, bertutur tentang legenda Raja Jayapangus yang memiliki istri wanita Cina, Kang Cing Wie. Laras yang pernah keluar sebagai Juara I tari legong se-Bali pada tahun 2007, mampu mengundang decak kagum penonton. Selanjutnya, decak penonton begitu membuncah ketika hari penutupan PKB, Laras kembali menyajikan tari Tarunajaya versi lengkap, diiringi Sanggar Adunk Tabanan di panggung Ayodia. Sajian tarinya yang lugas dan tangkas dielu-elukan penonton. “Saya terharu dengan apresiasi penonton”, ujar Laras yang kini kembali mempersiapkan diri memerankan tokoh Siwanataraja. Bersama 300 komunitas seni Sukawati, ia akan tampil dalam forum internasional di Jawa Barat yaitu Festival Seni Budaya Dunia yang diikuti 15 negara, akhir Agustus nanti. Kemudian, pertengahan September, Laras akan memerankan tokoh Larung dalam dramatari calonarang serangkaian odalan di Pura Dalem Gede Sukawati. –Kadek Suartaya


10

Bugar

Edisi 860/ 3 - 9 Agustus 2015

SKRINING PAYUDARA DENGAN MAMMOGRAFI UNTUK DETEKSI DINI KANKER PAYUDARA dr. Lorentia Harisusanti, Sp.Rad

Kanker payudara merupakan tipe kanker yang paling banyak ditemukan pada wanita. Di AS kemungkinan wanita untuk terjadinya kanker payudara invasif selama kehidupannya sekitar 12% (1 dari 8), dan ini merupakan salah satu penyebab mortalitas kanker pada wanita. Faktor-faktor risiko untuk terjadinya kanker payudara antara lain: Peningkatan usia Faktor-faktor yang meningkatkan terjadinya ekspose estrogen seperti menarche dini, menopause yang lambat, nulliparity Riwayat keluarga dengan kanker payudara Mutasi genetik Insiden kanker payudara meningkat dengan peningatan usia, 95% kasus baru terjadi pada wanita 40 tahun atau lebih. Rata-rata usia wanita untuk terjadinya kanker payudara adalah 61 tahun. Resiko terjadinya kanker payudara 4 kali lebih tinggi bila ada ibu atau saudara perempuan yang terkena kanker payudara. Riwayat keluarga dengan kanker ovarium terutama yang terjadi kurang dari usia 50 tahun juga meningkatkan resiko terjadinya kanker payudara dua kali lebih tinggi. Kanker payudara dini bisa tidak bergejala, nyeri dan rasa tidak nyaman juga tidak ada. Bila ada benjolan yang teraba, hal-hal berikut ini bisa didindikasikan adanya kanker payudara : Perubahan ukuran dan bentuk payudara Perubahan pada kulit Abnormalitas pada puting payudara Adanya discharge, terutama bila berwarna seperti darah Benjolan pada ketiak Dengan deteksi dini, intervensi, dan pengobatan postoperative yang baik, maka mortalitas kanker payudara menurun. Mammografi merupakan alat pemeriksaan skrining yang terpilih untuk kanker payudara.Mammografi menunjukkan manfaat untuk wanita usia 40-74 tahun. Beberapa studi bahkan menunjukkan manfaat khusus untuk pasien usia 80 tahun atau lebih.

Tas Gaya Bagi seorang perempuan tas termasuk salah satu ­aksesori wajib. Sebab, selain digunakan sebagai wadah peralatan yang dibawa, tas juga merupakan bagian dari fashion.

Spesialis Radiology di Siloam Hospitals Bali Tanda awal dari kanker payudara bisa terdeteksi sebagai abnormalitas yang terlihat pada mammografi sebelum bisa diraba oleh pasien. Bila kanker payudara berkembang pada poin dimana tanda dan gejala terlihat, dan pasien merasakan adanya benjolan pada payudara (biasanya tidak nyeri), skrining mammografi memberikan kontribusi pada deteksi dini dan menurunkan mortalitas kanker payudara. Pada pasien usia berapapun dengan peningkatan densitas payudara yang dapat mengaburkan deteksi tumor yang kecil pada hasil pemeriksaan mammografinya maka perlu pemeriksaan tambahan seperti ultrasonografi. Skrining mammografi merupakan tes untuk mendeteksi kanker payudara dengan menggunakan sinar X. Skrining ini digunakan untuk mendiagnosis kanker payudara yang belum memiliki gejala, benjolan atau keluhan apapun. Tujuan dari pemeriksaan ini adalah untuk mengetahui lebih awal sebelum ada gejala klinis. Diagnosa mammografi Mammografi adalah pemeriksaan pada payudara dengan menggunakan sinar X/roentgen jadi ada expose radiasi. Pemeriksaan ini bisa digunakan bagi wanita yang tidak memiliki tanda dan gejala kanker payudara, juga dapat dilakukan pada pasien yang memiliki keluhan benjolan ataupun tanda-tanda kanker payudara. Mammografi juga bisa direkomendasikan pada wanita yang lebih muda yang memiliki gejala kanker payudara atau yang memiliki risiko tinggi untuk terjadinya penyakit ini. Diagnosa mammografi juga dilakukan pada wanita yang memiliki keluhan seperti rasa sakit pada payudara, perubahan permukaan kulit, penebalan pada puting susu atau perubahan bentuk puting susu. Juga digunakan untuk evaluasi dari temuan di skrining mammografi sebelumnya. Pemeriksaan mammografi sebaiknya dilakukan pada saat payudara dalam kondisi lembut/lunak. Waktu ideal adalah seminggu setelah menstruasi. Biasanya payudara menjadi keras seminggu sebelum dan pada saat haid. Mammografi dilakukan dengan cara berdiri didepan mesin X-ray khusus untuk mammografi. Radiografer akan membantu memposisikan payudara di antara 2 plate. Plate tersebut akan menekan payudara sehingga manjadi datar. Prosedur ini terasa tidak nyaman, tetapi akan membantu memperjelas gambar yang dihasilkan. Pasien dengan gambaran payudara yang dense (dense breast) pada mammografinya bisa menutupi tumor yang kecil. Pada keadaan ini, berapapun usianya maka diperlukan lagi pemeriksaan lain seperti ultrasonografi atau MRI. Ultrasonografi bisa membantu mendeteksi adanya tumor pada payudara dengan kondisi dense breast dan dapat membedakan tumor kistik atau tumor solid / padat. Ultrasonografi juga digunakan untuk evaluasi pada tumor yang teraba yang pada mammografi tidak terdeteksi, dan juga untuk evaluasi pada wanita usia kurang dari 30 tahun yang dicurigai tumor payudara.

Style

J

aya Sugita, seorang desainer muda di Denpasar, yang selama ini lebih banyak menuangkan idenya untuk mendesain kerajinan sepatu dan sandal, beberapa waktu berikutnya menambah karyanya dengan produk tas dan cluct bag. Budaya kreatif dan artistik yang ada di Bali, rupanya berhasil membangkitkan banyak inspirasi bagi Jaya Sugita. Ia memastikan setiap tas rancangannya terbuat dari bahan berkualitas dan terjaga mutunya. Di sini, ia menawarkan koleksi tas berbahan kulit dan bahan lokal seperti endek, rangrang dan songket dengan

Mammografi menunjukkan tumor jinak dengan batas yang tegas

Ultrasonografi menunjukkan tumor jinak dengan batas yang tegas

Ultrasonografi menunjukkan tumor ganas

beberapa pilihan warna yang khas. Sedangkan model-model tasnya dibuat cukup simpel dan dilengkapi aksen unik hingga mudah disesuaikan dengan aneka penampilan dan maupun kegiatan. –Sri Ardhini

Edisi 860/ 3 - 9 Agustus 2015

15


14

Edisi 860/ 3 - 9 agustus 2015

Toner Jaga Kelembaban Alami Kulit Bukan rahasia lagi jika perempuan tergolong sibuk untuk urusan kecantikan. Bukan hanya perempuan ingin tampil cantik, namun laki-laki pun senang melihat pasangan­nya terlihat cantik dan segar.

U

ntuk bagian wajah saja, tersedia serangkaian produk kecantikan yang biasa digunakan. Mulai dari milk cleanser, astringent, scrub, facial wash, toner dan pelembab. Juga ada serum, krim pagi, krim malam hingga krim mata. Dari sedemikian banyaknya produk perawatan untuk wajah, toner adalah produk yang penggunaannya sering dilewatkan . Selain karena malas , ada juga yang sengaja tidak memakainya , karena mereka berpikir sudah dibersihkan dengan cleanser. Hal tersebut diakui juga oleh Rai Sariani pemilik Gaya Warna Spa. Menurutnya, masih banyak orang berpikir toner hanya sebatas penyegar wajah, sehingga tidak merasa wajib menggunakannya. “Toner, umumnya diaplikasikan setelah kita membersihkan wajah. Mengapa penggunaan toner justru berada pada tahapan akhir? Hal ini, untuk memberikan kesegaran pada wajah setelah proses pembersihan. Toner selain bermanfaat untuk mendinginkan kulit, juga dapat mengangkat sisa-sisa residu milk cleanser atau make -up . Se-

bab, meski sudah menggunakan cleansing milk , masih ada kemungkinan sisa make up di kulit, sekalipun sudah dibilas dengan air,” papar Rai. Dikatakannya, masih ada lagi fungsi toner lainnya, yakni untuk meringkas pori-pori wajah. Biasanya ketika kita mencuci wajah, pori-pori terbuka, dan toner akan bertugas menutupnya kembali, sehingga tidak ada kotoran atau debu, yang dapat menimbulkan jerawat maupun komedo. “Begitu juga setelah menggunakan milk cleanser, kemudian saat mandi juga menggunakan sabun pencuci muka dan sudah dibilas dengan air, untuk hasil lebih bersih toner tetap diperlukan,” tegasnya. Diingatkannya pula setiap kali usai mencuci muka, toner penting untuk membantu melembabkan kulit. Seperti diketahui, air bisa membuat kulit wajah menjadi lebih kering karena punya kadar keasaman atau potential of hydrogen (pH) yang berbeda dengan kulit. “Meski toner berbahan dasar air, tapi kandungan di dalamnya menjadikan memilikin pH yang hampir sama dengan kulit wajah, sehingga bisa terhidrasi dengan baik. palagi

Jelita

Rai Sariani

menggunakan toner juga hanya hitungan detik,” ujarnya.

cream ketika kita ingin mengoles ulang,”katanya

Kenali Fungsi Krim Dalam proses pembersihan wajah, kata Rai lebih lanjut jika ingin memperoleh hasil yang maksimal, tentu saja semua proses pembersihan harus dilakukan dengan benar, apalagi setiap produk memiliki fungsi masing-masing . Ini agar kulit benar benar siap baik untuk menerima polesan krim berikutnya ataupun jika ingin melakukan treatment. Pertama, katanya milk cleanser mesti digunakan untuk membersihkan kotoran diantaranya sisa- sisa make up. Bagi seseorang yang mengenakan make up agak tebal, tentu memerlukan make up remover. Selain itu milk cleanser juga dapat membantu mengatasi kulit yang kering sehingga mutlak digunakan terutama pada usia dewasa atau tua.Sedangkan sabun wajah diperlukan untuk membersihkan kotoran yang larut dalam lemak, yang kurang optimal dibersihkan dengan milk cleanser. Kemudian toner akan sangat bermanfaat untuk membersihkan sisa- sisa kotoran yang belum terangkat plus membersihkan sisa -sisa sabun yang masih menempel pada kulit. Sisa sabun yang tertinggal pada kulit seringkali membuat kulit menjadi kering. “Selain itu toner dapat dibawa -bawa ke mana pun kita pergi untuk membantu membersihkan sisa day

Langkah pembersihan yang harus dilakukan sampai memakai toner adalah : - Milk cleanser diusapkan secara merata di seluruh wajah dengan menghindari area mata dan bibir. Dilakukan dengan sedikit pemijatan agar membantu memperlancar peredaran darah (kecuali kulit berjerawat tidak perlu) dan bersihkan dengan kapas. - Setelah itu cuci wajah dengan air bersih dan oleskan facial wash merata di wajah, dengan tepukan ringan, kemudian dibilas kembali dengan air bersih dan keringkan dengan tisu wajah. - Selanjutnya usapkan toner ke wajah, lakukan dengan halus. Setelah kering dapat dilanjutkan dengan krim lainnya. Berikutnya Rai Sariani merincikan kembali apa saja manfaat yang bisa didapatkan dari toner . - Toner menjadi langkah berikutnya setelah membersihkan kulit dengan milk cleanser sehingga membantu mendinginkan dan menutup pori-pori. Juga perlahan dapat menghilangkan flek hitam, wajah bebas komedo, dan jerawat. - Ketika wajah kusam sehabis bermandikan debu dengan segala bakterinya di jalanan, memoleskan toner adalah lang-

kah kecil yang sangat bermanfaat untuk membersihkannya. - Toner juga turut menjaga kelembaban alami kulit. -Toner yang sesuai dengan jenis kulit manfaatnya akan maksimal. Bagi pemilik kulit berminyak, pilihlah toner dengan kandungan citrus, lemon atau mentimun karena akan sangat membantu mengurangi kadar minyak pada kulit muka. Mereka yang berkulit normal, lebih mudah memilih kandungan apa saja atau bisa pilih toner yang ada kandungan bunga mawar dan milk/susu. Sedangkan untuk pemilik kulit kering, pilihlah toner yang ada kandungan wortel atau green tea, ini akan membantu melembabkan kulit muka yang kering. Sebuah catatan juga diberikannya oleh pengusaha produk spa ini, bahwa produk yang instan tidak akan menghasilkan apapun yang alami. Begitu pula sebaliknya, produk alami tidak bakal menghadirkan hasil yang instan. Namun, sesungguhnya lanjut Rai, cantik itu tidak hanya sekadar secara fisik tetapi juga secara rohani. Kecantikan yang ada di dalam hati lebih utama dan pastinya akan terpancar secara fisik. Meskipun begitu, kecantikan secara fisikpun tetap harus dijaga dan dirawat dengan baik, salah satunya rajin membersihkan wajah dan tidak lupa mengaplikasikan toner. – Sri Ardhini

Mitos

Edisi 860/ 3 - 9 agustus 2015

11

Jika Sakit harus Kemana? Seorang perempuan paruh baya mendatangi sebuah praktik fisioterapi. Ia mengeluhkan pergelangan tangannya tiba-tiba sakit jika digerakkan. Padahal tangannya tak ada terbentur atau melakukan gerakan yang bersifat mendadak atau mengangkat beban berat.

“I

ni gangguan tendon otot. Penyebabnya bisa secara langsung atau tak langsung. Penyebab langsung bisa karena trauma benturan, yang tak langsung bisa karena aktivitas yang terlalu lama dan monoton,” ujar fisioterapis I Made Niko Winaya, S.St., FT., SKM., M.Fis. sembari memijat tangan pasiennya setelah sebelumnya dipanaskan dengan infra merah. Ada kemungkinan saat melakukan aktivitas kerja, belum merasakan sakit, itu tergantung kepada psikologis pasien. Karena itu banyak penyakit karena pikiran. Contohnya saja ketika seseorang duduk lama sambil main games, karena menyenangkan sakit pinggang tak terasa. Namun ketika

duduk lama dengan aktivitas tak menyenengkan seperti rapat, bisa langsung terasa sakit punggangnya. Apa sebenarnya fisioterapi ini? Niko Winaya menjelaskan fisioterapi adalah suatu ilmu yang didapat melalui proses pendidikan. Suatu ilmu yang memberikan pelayanan kesehatan berupa gangguan fungsi gerak, baik yang ditujukan kepada individu maupun kelompok, dengan menggunakan modalitas elektro fisika seperti infra red, electrikal simulation, dll. dan manual terapi berupa massage, stretching (penguluran), terapi latihan, manipulasi, serta komunikasi efektif. “Jadi, semua kondisi atau gangguan yang terkait dengan fungsi gerak, fisioterapi

Kirim surat Anda ke Redaksi T ­ okoh dan cantumkan “Sex Edu” di ­amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh.co.id. Rubrik ini diasuh Asosiasi ­Seksologi Indonesia (ASI) Denpasar.

QUICKIE

“Dok, suami saya belakangan beberapa kali mengajak untuk melakukan hubungan seksual sembunyi-sembunyi di toilet kantor, malah pernah sekali di fitting room sebuah mall. Jadinya kan melakukannya cepat-cepat. Saya menikmatinya, tetapi bikin deg degan, soalnya takut ketahuan. Ini bahaya nggak, dok?” (Rosa, 26 thn) Apa yang dilakukan ini dikenal dengan istilah populer Quickie. Quickie atau seks kilat sesungguh­nya merupakan salah satu gaya bercinta yang bisa menjadi pilihan jika tidak cukup punya waktu apalagi jika memang benar-benar dorongan seksual muncul secara tiba-tiba dan tidak bisa lagi dibendung di saatnya datang. Untuk mendapatkan kepuas­an seksual dengan pasangan sesungguhnya tidak harus melakukannya di kamar tidur atau melalui tahapan ideal, mulai dari foreplay, coitus hingga afterplay. Asalkan sama-sama bergairah, diinginkan, kepuasan

seksual juga bisa tercapai walaupun dalam waktu singkat. Sering kali justru Quickie dapat berlangsung dengan lebih panas, nakal, menggebugebu dan liar. Ini merupakan salah satu solusi bagi pasangan sibuk dan selingan dari seks rutin yang mulai membosankan. Pada dasarnya orang melakukan quickie dengan tujuan aktivitas seks bersama pasangan tidak berlangsung monoton dan membosankan se­hingga aktivitas ini bisa dijadikan variasi seks juga. Quickie malah akan menjadi sangat mendebarkan karena terjadi secara spontan, kilat dan tanpa harus

yang menangani,” ujarnya. Apa bedanya dengan terapi lain? Di Indonesia banyak jenis pengobatan, di antaranya pengobatan medis, alternatif, dan spiritual. Yang dikatakan pengobatan medis, pengobatan berdasarkan suatu ilmu yang harus didapatkan melalui proses pendidikan, legalitasnya ada. Pengobatan medis berhak memproses suatu sakit menjadi sehat yang digodok dengan ilmu. Pengobatan alternatif, tidak bisa memproses sakit menuju sehat. Dia hanya bisa memproses sehat menjadi bugar, karena tidak berdasarkan ilmu. Contohnya, ada orang sakit leher, ketika diperiksa dia tidak mengalami gangguan gerak tetapi hanya merasakan ketidaknyamanan. Itu berarti tidak sakit, hanya merasakan kelelahan. Ini adalah suatu kondisi lelah menuju bugar, dan itu bisa dilakukan di pengobatan alternatif, seperti terapi giok, ceragem, akupunktur, refleksi, spa, dll. “Fisioterapi lebih spesifik ke gangguan fungsi gerak,” tegasnya. Pengobatan spiritual berkaitan dengan masalah rasa. “Ketika seorang pasien merasa diri sakit, namun ketika dicek lab atau dirongten hasilnya negatif, boleh ke pengobatan spiritual. Itu beda, diluar dengan keilmuan. Di Indonesia ketiga pengobatan ini saling dibutuhkan. Namun yang perlu diketahui, kemanakah pasien dibawa ketika sakit?” ucapnya. Jika sakit, tentu larinya ke pengobatan medis, dan diproses dengan ilmu sehingga keluarannya sehat. Lalu, apa yang bisa ditangani di fisioterapi? Sekali lagi Niko Winaya menegaskan, fisioterapi menangani tentang gangguan fungsi gerak. Seperti gangguan pada muka/belpasi/sempengot (ba-

hasa Bali), yang penyebabnya bisa karena tulang, saraf, otot, pembuluh darah. Namun yang perlu diingat, medis tak bisa menangani pasien secara perorangan, harus kerja tim. Dalam artian, terkait dengan keluhan pasien. Jika terkait saraf, fisioterapi kolaborasi dengan spesialis saraf untuk obatnya. Demikian halnya dengan tulang, atau penyakit dalam. “Jika bicara pengobatan medis, kemampuan kami hanya berdasarkan satu kompetensi keilmuan kami saja. Tidak bisa menguasai berbagai ilmu, seperti dalam pengobatan alternatif,” paparnya. Niko Winaya mengatakan, saat ini kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan sudah semakin bagus. Di Indonesia sudah mulai tertanam mencegah lebih baik daripada mengobati. Makanya sering sekali orang melakukan cek lab sebelum melakukan apa yang harus dia lakukan. Dari data itu kemungkinan bisa ketahui dampak apa yang akan muncul nantinya. Dan, tim kesehatan bisa memberikan informasi pencegahannya. Demikian halnya dengan fisioterapi, bisa melakukan proses asuhan fisioterapi yang dimulai dari

anamnesa, tanya jawab tentang riwayat penyakit dulu, penyakit keluarga, dan penyakit sekarang. Setelah itu dilakukan inspeksi (pemeriksaan dengan cara melihat), palpasi (meraba), perkusi (mengetuk), insulasi (mendengarkan normal), dan dilanjutkan dengan pemeriksaan fungsi gerak dasar serta pemeriksaan spesifik. Proses fisioterapi ada beberapa tahap, yakni amnanesa, mendiagnosa, memplaningkan, intervensi, memberikan pengobatan, dan reevaluasi. Namun selama ini lebih banyak. yang datang sudah dengan keluhan. Malahan seringkali datang dengan keluhan berat namun ingin cepat sembuh. Proses fisioterapi tergantung berat ringannya penyakit, umur, dan lokasi sakitnya. Agar tak sampai terjadi gangguan fungsi gerak secara umum, Niko Winaya menyarankan dalam beraktivitas harus hati-hati. “Yang paling penting adalah posisi dan gerakan. Posisi jangan monoton, baik duduk, tidur, berdiri, dan berjalan. Jangan bergerak yang bersifat terburu-buru/ tiba-tiba. Jika mau bangun tidur, tekniknya sebaiknya miring dulu, kemudian melalukan peregangan,” tandasnya. –Inten Indrawati

menaggalkan semua pakaian. Rasa berdebar tadi yang muncul karena takut ketahuan orang justru memiliki nilai lebih, dapat membangkitkan gairah seks yang lain dari biasanya. Tempatnya pun bisa di mana saja seperti di toilet, dalam mobil, bios­ kop, lift, di belakang atau lorong klub malam hingga tangga darurat. Kantor adalah tempat paling favorit. Setelah jam kerja usai, suasana kantor sudah sepi, Anda dapat beraksi liar di lokasi ini. Carilah tempat yang aman agar tak dilihat orang. Anda bisa bercinta di ruangan Anda, di belakang meja, di samping file cabinet, di sofa, atau di tempat lain yang sudah Anda ketahui benar keamanannya. Sering beredar persepsi di kalang­ an beberapa laki-laki bahwa quickie adalah salah satu pilihan gaya bercinta seorang laki-laki sejati. Laki-laki merasa perlu sesekali menikmati seks kilat karena menganggap memang perlu memenuhi pelampiasan seksualnya dengan cepat. Tapi faktanya, seks kilat tidak hanya diminati oleh laki-laki, tetapi perempuan pun mulai menyukai gaya bercinta tipe ini. Walaupun kebanyakan perempuan lebih menginginkan hubungan seks yang lembut dan romantis yang dilakukan secara bertahap, tetapi sebagai variasi tentu saja perempuan membutuhkan sensasi kenikmatan seks yang berbeda. Bagi yang sudah sering melakukannya, jika hal itu dilakukan di jam-jam kerja bukan di

rumah atau ketika jam makan siang tiba, justru memiliki efek yang luar biasa. Beberapa menyebutkan, usai melakukan quickie sex, malah mampu berpikir dan menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Jika memang Anda berminat dan ingin menikmati gaya bercinta quickie ini, ada beberapa tips yang perlu disimak: Foreplay secukupnya saja. Jika tidak sempat dilakukan saat bertemu langsung, lakukan foreplay sebelum bertemu. Rangsang dan munculkan dorongan seksual pasangan de­ ngan memuji keindahan tubuhnya, memuji wanginya, melalui telepon ketika berdua masih di tempat kerja masing-masing. Sedikit ucapan “nakal” dijamin bisa membuatnya tak sabar untuk bertemu dan melepaskan gairah bersama. Nikmati tiap waktu, detik demi detik. Walaupun kilat, harusnya bisa dinikmati bersama. Jadi bukan berarti terburu-buru untuk mencapai orgasme secara kilat. Begitu Anda dan pasangan bersedia melakukannya, nikmati tiap detiknya. Anda dan pasangan bisa saling membantu bila ada pihak yang belum terangsang secara cepat. Setelah usai, sisakan waktu beberapa saat untuk dinikmati bersama pula. Berikan kejutan. Seringkali kenikmatan quickie justru karena tidak sempatnya foreplay yang maksimal sehingga bagian bagian sensitif dan

peka rangsangan harusnya bisa menjadi fokus perhatian yang paling intens. Misalnya bila pasangan Anda sedang membaca atau menelepon temannya, Anda bisa langsung menyentuh bagian sensitif tubuhnya untuk dilanjutkan ke aktivitas seks kilat tersebut. Sama-sama menginginkan. Walau seringkali dinikmati laki-laki, tetapi perempuan juga bisa menikmatinya secara optimal. Perempuan tetap bisa mencapai orgasme meski kualitasnya tidak sebaik seperti hubungan seks yang foreplay-nya cukup. Quickie sex tak akan berhasil bila ada pemaksaan dari salah satu pihak yang biasanya didominasi oleh laki-laki. Karena dengan adanya kesadaran dan keinginan melakukan seks kilat, masing-masing pihak baik laki-laki maupun perempuan akan berusaha mencapai orgasme dengan caranya sendiri-sendiri. Paling tidak, dorongan seksual yang membara bisa menjadi modal kuat untuk mencapai orgasme. Meski pada kenyataannya Anda siap dan bisa mencapai orgasme lewat seks kilat, namun disarankan untuk tidak melakukannya terlalu sering. Gaya bercinta yang romantis dengan foreplay yang cukup dan tanpa tergesa-gesa tetaplah harus menjadi menu utama hubungan seks Anda dan pasangan. Jadikan quickie hanya se­bagai selingan yang membuat kehidupan cinta Anda dan pasangan jadi lebih berwarna dan menggairahkan.

I Made Niko Winaya, S.St., FT., SKM., M.Fis.


12

Kuliner

Edisi 860/ 3 - 9 Agustus 2015

Dari Gathering ICA Bali di Patra Jasa

Chef Juna Favoritkan Babi Guling Gathering Indonesian Chef Association (ICA) Bali bulan Juli sangat istimewa dan meriah. Selain dihadiri para chef, pemerhati kuliner, dan supplier, ada juga tamu dari ICA Belanda Agus Hermawan, Selebrity Chef Juna, juara Top Chef Desyanto.

S

elain banyak tamu, makanan yang di­ sajikan juga sangat istimewa. Mulai dari makanan khas Bali lawar dan babi guling, ada juga steak empuk hasil teknologi yang

dikembangkan chef Dedie Soekartin dari Jawa Barat, makanan Jepang kreasi chef Ida Bagus Ketut Arimbawa, aneka makanan western, makanan Italia, dessert yang mewah, tak ketinggalan wine dan cocktail

Chef Ida Bagus Ketut Arimbawa (kiri) dengan kreasi makanannya

yang dihidangkan spesial dari para sponsor acara. Agus Santos, EAM Ma­ nager Patra Jasa Bali Resort & Villas menyambut baik diselenggarakannya pertemuan para pelaku kuliner ini. Ia percaya, dari tangan para chef tercipta aneka kre­a si makanan, dan dalam pertemuan ini mereka saling sharing ilmu. Ia menilai, lima

tahun belakangan ini, posisi chef menjadi dambaan anak muda. Apalagi, banyak acara di televisi yang menampilkan para chef sehingga sudah mensejajarkan chef dengan artis. “Sebagai tuan rumah, kami menyambut baik acara gathering ICA ini dan sangat mendukung. Apalagi, Presiden ICA Alexie Henry Bloem be­ kerja di hotel ini. Tentu manajemen sangat men-support,” kata Agus santos. Ia yakin, pertemuan ini juga merupakan ajang promosi bagi hotel Patra Jasa sendiri. Ketua ICA Bali, Komang Adi Arsana dalam pengantar­ nya meminta dukungan para chef untuk bersama-sama menyukseskan berbagai event yang akan segera digelar se­ perti Bali Interfood, dan Nusa Dua Fiesta yang banyak melibatkan live cooking dari mahasiswa sekolah perhotelan. Chef Juna sangat menikmati makanan malam itu. Ia mem­ favoritkan babi guling dan lawar. – Wirati Astiti

Edisi 860/ 3 - 9 Agustus 2015

Lebih Empuk dengan Teknologi Aging

Kualitas daging sapi lokal yang ada di Indonesia memang masih belum memenuhi standardisasi. Hal ini diakibatkan karena makanan ternak berbeda-beda. Kondisi ini sangat berbanding terbalik dengan daging sapi impor. Para importir enggan untuk beralih pada sapi lokal. Banyak restoran steak menggunakan daging sapi impor dibandingkan daging sapi lokal, yang mendongkrak harga menjadi lebih mahal.

N

amun, kini, ada satu sistem yang disebut techno­ logy aging system yang bisa mengempukkan da­

ging lokal tak kalah dengan daging impor. Teknologi ini diperkenalkan Dedie Soekar­ tin, yang khusus diundang dalam gathering Indonesian Chef

Dedie Soekartin presentasi teknologi aging

Agus Santos bersama Chef Alexie Henry Bloem

Dry aging menyusutkan 27% dan wet aging 16%. Penelitian ini sudah ia lakukan sejak tahun 2000. Peng­ usaha Restoran Sate Maranggi Purwakarta ini mengatakan, sangat sulit menentukan sebuah standar pada suhu. “Untuk suhu yang terbaik berkisar minus 5 sampai 5 derajat,” kata Asesor Sertifikasi Kompetensi Kafe & Restoran ini. Selain itu, ia menyarankan, untuk terus memantau kondisi suhu setiap

Steak

Asso­ciation (ICA) Bali, di Patra Jasa Bali Resort & Villas, Rabu (29/7). Dewan Penasihat BPP ICA dan BPD ICA Jawa Barat ini mengatakan, keunggulan ­aging system ini, selain daging lebih empuk, tekstur daging juga tidak berubah, aroma citarasa spesial, kualitas impor, bisa dipotong dengan pisau plastik. Menurut lelaki kelahiran Ban­ dung, 19 September 1948 ini, teknik ini sebenarnya sudah dikenal zaman nenek mo­yang­dengan cara memendam. Teknik ini biasanya dilakukan pada buahbuahan agar cepat menjadi masak. “Teknologi aging system memiliki cara yang sama, hanya,

Orang Belanda Favoritkan Makanan Indonesia

Agus Hermawan

Chef Agus Hermawan dari ICA Belanda sangat menyambut baik gathering ICA Bali. Ia kebetulan sedang liburan di Indonesia selama 3 minggu, menyempatkan diri hadir di gathering ICA. Saat ini, kata dia, angota ICA Belanda berjumlah 6 orang yang terbentuk sejak tahun 2010. Agus Hermawan sudah menetap di Belanda selama 20 tahun. Ia bertemu istrinya orang Belanda di Jakarta dan memutuskan hijrah ke Belanda,

Daging sapi empuk

kita harus tahu bagaimana mengendalikan suhu untuk mengurai enzim dalam daging tersebut,” ujarnya. Ada dua sistem dalam teknologi aging ini, dry aging dan wet aging.

hari, apakah suhu naik atau turun. Rentang waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan daging yang empuk berkisar seminggu sampai tiga minggu. -Wirati Astiti

Udang Crispy Saus Mentega

Chef Juna bersama Ketua ICA Bali Chef Komang Adi Arsana

ketika dihadapkan pilihan, istrinya tak bisa tinggal di Indonesia. Ia sempat bekerja di beberapa hotel dan restoran di Belanda. Kini, ia dipercaya sebagai executive chef di Restoran Blauw di Belanda. Agus Hermawan mengatakan, banyak belajar dari kesalahan orang untuk dapat memasak dengan baik. Selama ini ada salah kaprah di Belanda. Bumbu Bali disebut berwarna merah. Padahal, setelah ia bertanya kepada President ICA Alexie Henry Bloem, bumbu Bali harusnya berwana kuning. Ia mengatakan, makanan Indonesia sangat terkenal di Belanda. Bahkan, kalau ada acara penting mengundang pejabat, makanan yang dihidangkan adalah makanan Indonesia. Dalam suatu acara festival makanan di Amsterdam, Agus Hermawan menyajikan ikan pesmol yang mendapatkan apresiasi sebagai “The Best Dishes”. Ada kreasi lain yang diciptakannya, lumpia pepes ikan dan sate lilit berbahan kepiting dan udang dengan tiga saus dan tambahan selada Bangka dan Jakarta. Saat ini, kata dia, makanan Indonesia mulai naik daun di Eropa. Banyak chef orang Belanda tertarik belajar masakan Indonesia. “Ada pasar yang besar untuk makanan Indonesia di Swedia dan Denmark. Tapi tak ada yang berani masuk,” kata Agus Hermawan. Untuk bumbu, menurutnya, tak sulit menemukan di Belanda. “Yang sulit dicari asam kandis, jeruk lemo, dan bumbu Bali basa wangen,” ucapnya. Agus Hermawan mengajarkan warga Belanda yang tertarik belajar masak masakan Indonesia. Ia memberikan tipsnya, memasak makanan Indonesia tidak sulit yang penting pengenalan bahan dan bumbu. Selain itu, kita bermain feeling untuk membuat makanan itu enak. –Wirati Astiti

13

Sarwan

Chinesse Food

ati Nikm Hanya di...

& Aneka Es Taiwan

Cafe Santai Gratis makan & minum

bagi pelanggan yang mengajak 5 orang teman/ kerabat.

Nasi Goreng Bali

eriah Murah Msih & Ber

Berlaku mulai tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2015

Jln. Raya Sesetan No. 293 Denpasar. Tlp. (0361) 7440658, 7427678

Bahan: 100 gr 150 gr 1 sdm 6 sdm 4 sdm 200 ml

: cincau hitam, potong dadu kecil : kelapa muda keruk : selasih, rendam dengan air panas hingga lunak, tiriskan : sirup merah : air jeruk manis : air

Es Cincau Jeruk es serut secukupnya Cara membuat: - Campur cincau, selasih, kelapa muda dan air dalam satu wadah. Lalu masukkan ke dalam gelas saji, tambahkan serutan es, siram dengan sirup merah, siap disajikan.

Gulai Daun Singkong Bahan: 500 gr : daun singkong muda 70 gr : teri medan goreng 2 lembar : daun salam 2 ruas : jari lengkuas, memarkan 10 biji : cabe rawit, buang tangkainya, biarkan utuh 2 buah : cabe merah, iris korek api 400 ml : santan kental 2 biji : kaldu blok 700 ml : air Gula, garam, dan margarin secukupnya. Bumbu yang dihaluskan: 7 buah bawang merah

Bahan: 500 gr : udang ukuran sedang, kupas kulitnya, buang kepalanya dan sisakan ekornya 150 gr : tepung bumbu 2 sdm : tepung beras 1 sdm : tepung protein sedang 1 butir : telur kocok lepas 1 sdm : air jeruk nipis 2 buah : bawang putih, cincang halus 1 ruas : jari jahe, cincang halus 50 gr : mentega 2 sdm : kecap inggris 1 sdt : lada bubuk 1 kaldu : blok 100 ml : air Gula, garam, minyak goreng secukupnya

3 3 3 1 2

siung bawang putih biji bawang merah butir kemiri sangrai ruas jari kunyit bakar ruas jari jahe

Cara membuat: - Rebus daun singkong hingga matang, angkat, peras hingga airnya habis, lalu iris tipis tipis, sisihkan. - Tumis bumbu halus bersama daun salam dan lengkuas hingga harum, tuang santan, aduk merata, tambahkan cabe rawit merah dan irisan cabe besar

merah, lalu masukkan irisan daun singkong, aduk-aduk agar merata, masak hingga mendidih dan matang, lalu masukkan teri medan, garam, gula, dan kaldu bubuk, aduk-aduk hingga tercampur merata dan matang, siap disajikan.

Cara membuat: - Campur udang dengan air jeruk nipis dan garam, diamkan selama 5 menit,

- Buatlah adonan tepung bumbu, tepung beras dan tepung terigu, aduk merata. - Celupkan udang kedalam kocokan telur lalu guling gulingkan dalam adonan hingga rata, lalu celupkan lagi kedalam kocokan telor, guling-gulingkan dalam campuran tepung hingga rata sampai udang habis, lalu diamkan dalam kulkas selama 5 menit. - Goreng hingga matang dan kecoklatan, tiriskan. - Tuangkan mentega dalam teflon, tumis irisan bawang putih dan jahe hingga harum lalu masukkan kecap inggris, lada air, gula, garam dan kaldu blok, masak hingga mendidih dan menggental, masukkan udang goreng krispy, adukaduk hingga rata, angkat, siap disajikan.


12

Kuliner

Edisi 860/ 3 - 9 Agustus 2015

Dari Gathering ICA Bali di Patra Jasa

Chef Juna Favoritkan Babi Guling Gathering Indonesian Chef Association (ICA) Bali bulan Juli sangat istimewa dan meriah. Selain dihadiri para chef, pemerhati kuliner, dan supplier, ada juga tamu dari ICA Belanda Agus Hermawan, Selebrity Chef Juna, juara Top Chef Desyanto.

S

elain banyak tamu, makanan yang di­ sajikan juga sangat istimewa. Mulai dari makanan khas Bali lawar dan babi guling, ada juga steak empuk hasil teknologi yang

dikembangkan chef Dedie Soekartin dari Jawa Barat, makanan Jepang kreasi chef Ida Bagus Ketut Arimbawa, aneka makanan western, makanan Italia, dessert yang mewah, tak ketinggalan wine dan cocktail

Chef Ida Bagus Ketut Arimbawa (kiri) dengan kreasi makanannya

yang dihidangkan spesial dari para sponsor acara. Agus Santos, EAM Ma­ nager Patra Jasa Bali Resort & Villas menyambut baik diselenggarakannya pertemuan para pelaku kuliner ini. Ia percaya, dari tangan para chef tercipta aneka kre­a si makanan, dan dalam pertemuan ini mereka saling sharing ilmu. Ia menilai, lima

tahun belakangan ini, posisi chef menjadi dambaan anak muda. Apalagi, banyak acara di televisi yang menampilkan para chef sehingga sudah mensejajarkan chef dengan artis. “Sebagai tuan rumah, kami menyambut baik acara gathering ICA ini dan sangat mendukung. Apalagi, Presiden ICA Alexie Henry Bloem be­ kerja di hotel ini. Tentu manajemen sangat men-support,” kata Agus santos. Ia yakin, pertemuan ini juga merupakan ajang promosi bagi hotel Patra Jasa sendiri. Ketua ICA Bali, Komang Adi Arsana dalam pengantar­ nya meminta dukungan para chef untuk bersama-sama menyukseskan berbagai event yang akan segera digelar se­ perti Bali Interfood, dan Nusa Dua Fiesta yang banyak melibatkan live cooking dari mahasiswa sekolah perhotelan. Chef Juna sangat menikmati makanan malam itu. Ia mem­ favoritkan babi guling dan lawar. – Wirati Astiti

Edisi 860/ 3 - 9 Agustus 2015

Lebih Empuk dengan Teknologi Aging

Kualitas daging sapi lokal yang ada di Indonesia memang masih belum memenuhi standardisasi. Hal ini diakibatkan karena makanan ternak berbeda-beda. Kondisi ini sangat berbanding terbalik dengan daging sapi impor. Para importir enggan untuk beralih pada sapi lokal. Banyak restoran steak menggunakan daging sapi impor dibandingkan daging sapi lokal, yang mendongkrak harga menjadi lebih mahal.

N

amun, kini, ada satu sistem yang disebut techno­ logy aging system yang bisa mengempukkan da­

ging lokal tak kalah dengan daging impor. Teknologi ini diperkenalkan Dedie Soekar­ tin, yang khusus diundang dalam gathering Indonesian Chef

Dedie Soekartin presentasi teknologi aging

Agus Santos bersama Chef Alexie Henry Bloem

Dry aging menyusutkan 27% dan wet aging 16%. Penelitian ini sudah ia lakukan sejak tahun 2000. Peng­ usaha Restoran Sate Maranggi Purwakarta ini mengatakan, sangat sulit menentukan sebuah standar pada suhu. “Untuk suhu yang terbaik berkisar minus 5 sampai 5 derajat,” kata Asesor Sertifikasi Kompetensi Kafe & Restoran ini. Selain itu, ia menyarankan, untuk terus memantau kondisi suhu setiap

Steak

Asso­ciation (ICA) Bali, di Patra Jasa Bali Resort & Villas, Rabu (29/7). Dewan Penasihat BPP ICA dan BPD ICA Jawa Barat ini mengatakan, keunggulan ­aging system ini, selain daging lebih empuk, tekstur daging juga tidak berubah, aroma citarasa spesial, kualitas impor, bisa dipotong dengan pisau plastik. Menurut lelaki kelahiran Ban­ dung, 19 September 1948 ini, teknik ini sebenarnya sudah dikenal zaman nenek mo­yang­dengan cara memendam. Teknik ini biasanya dilakukan pada buahbuahan agar cepat menjadi masak. “Teknologi aging system memiliki cara yang sama, hanya,

Orang Belanda Favoritkan Makanan Indonesia

Agus Hermawan

Chef Agus Hermawan dari ICA Belanda sangat menyambut baik gathering ICA Bali. Ia kebetulan sedang liburan di Indonesia selama 3 minggu, menyempatkan diri hadir di gathering ICA. Saat ini, kata dia, angota ICA Belanda berjumlah 6 orang yang terbentuk sejak tahun 2010. Agus Hermawan sudah menetap di Belanda selama 20 tahun. Ia bertemu istrinya orang Belanda di Jakarta dan memutuskan hijrah ke Belanda,

Daging sapi empuk

kita harus tahu bagaimana mengendalikan suhu untuk mengurai enzim dalam daging tersebut,” ujarnya. Ada dua sistem dalam teknologi aging ini, dry aging dan wet aging.

hari, apakah suhu naik atau turun. Rentang waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan daging yang empuk berkisar seminggu sampai tiga minggu. -Wirati Astiti

Udang Crispy Saus Mentega

Chef Juna bersama Ketua ICA Bali Chef Komang Adi Arsana

ketika dihadapkan pilihan, istrinya tak bisa tinggal di Indonesia. Ia sempat bekerja di beberapa hotel dan restoran di Belanda. Kini, ia dipercaya sebagai executive chef di Restoran Blauw di Belanda. Agus Hermawan mengatakan, banyak belajar dari kesalahan orang untuk dapat memasak dengan baik. Selama ini ada salah kaprah di Belanda. Bumbu Bali disebut berwarna merah. Padahal, setelah ia bertanya kepada President ICA Alexie Henry Bloem, bumbu Bali harusnya berwana kuning. Ia mengatakan, makanan Indonesia sangat terkenal di Belanda. Bahkan, kalau ada acara penting mengundang pejabat, makanan yang dihidangkan adalah makanan Indonesia. Dalam suatu acara festival makanan di Amsterdam, Agus Hermawan menyajikan ikan pesmol yang mendapatkan apresiasi sebagai “The Best Dishes”. Ada kreasi lain yang diciptakannya, lumpia pepes ikan dan sate lilit berbahan kepiting dan udang dengan tiga saus dan tambahan selada Bangka dan Jakarta. Saat ini, kata dia, makanan Indonesia mulai naik daun di Eropa. Banyak chef orang Belanda tertarik belajar masakan Indonesia. “Ada pasar yang besar untuk makanan Indonesia di Swedia dan Denmark. Tapi tak ada yang berani masuk,” kata Agus Hermawan. Untuk bumbu, menurutnya, tak sulit menemukan di Belanda. “Yang sulit dicari asam kandis, jeruk lemo, dan bumbu Bali basa wangen,” ucapnya. Agus Hermawan mengajarkan warga Belanda yang tertarik belajar masak masakan Indonesia. Ia memberikan tipsnya, memasak makanan Indonesia tidak sulit yang penting pengenalan bahan dan bumbu. Selain itu, kita bermain feeling untuk membuat makanan itu enak. –Wirati Astiti

13

Sarwan

Chinesse Food

ati Nikm Hanya di...

& Aneka Es Taiwan

Cafe Santai Gratis makan & minum

bagi pelanggan yang mengajak 5 orang teman/ kerabat.

Nasi Goreng Bali

eriah Murah Msih & Ber

Berlaku mulai tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2015

Jln. Raya Sesetan No. 293 Denpasar. Tlp. (0361) 7440658, 7427678

Bahan: 100 gr 150 gr 1 sdm 6 sdm 4 sdm 200 ml

: cincau hitam, potong dadu kecil : kelapa muda keruk : selasih, rendam dengan air panas hingga lunak, tiriskan : sirup merah : air jeruk manis : air

Es Cincau Jeruk es serut secukupnya Cara membuat: - Campur cincau, selasih, kelapa muda dan air dalam satu wadah. Lalu masukkan ke dalam gelas saji, tambahkan serutan es, siram dengan sirup merah, siap disajikan.

Gulai Daun Singkong Bahan: 500 gr : daun singkong muda 70 gr : teri medan goreng 2 lembar : daun salam 2 ruas : jari lengkuas, memarkan 10 biji : cabe rawit, buang tangkainya, biarkan utuh 2 buah : cabe merah, iris korek api 400 ml : santan kental 2 biji : kaldu blok 700 ml : air Gula, garam, dan margarin secukupnya. Bumbu yang dihaluskan: 7 buah bawang merah

Bahan: 500 gr : udang ukuran sedang, kupas kulitnya, buang kepalanya dan sisakan ekornya 150 gr : tepung bumbu 2 sdm : tepung beras 1 sdm : tepung protein sedang 1 butir : telur kocok lepas 1 sdm : air jeruk nipis 2 buah : bawang putih, cincang halus 1 ruas : jari jahe, cincang halus 50 gr : mentega 2 sdm : kecap inggris 1 sdt : lada bubuk 1 kaldu : blok 100 ml : air Gula, garam, minyak goreng secukupnya

3 3 3 1 2

siung bawang putih biji bawang merah butir kemiri sangrai ruas jari kunyit bakar ruas jari jahe

Cara membuat: - Rebus daun singkong hingga matang, angkat, peras hingga airnya habis, lalu iris tipis tipis, sisihkan. - Tumis bumbu halus bersama daun salam dan lengkuas hingga harum, tuang santan, aduk merata, tambahkan cabe rawit merah dan irisan cabe besar

merah, lalu masukkan irisan daun singkong, aduk-aduk agar merata, masak hingga mendidih dan matang, lalu masukkan teri medan, garam, gula, dan kaldu bubuk, aduk-aduk hingga tercampur merata dan matang, siap disajikan.

Cara membuat: - Campur udang dengan air jeruk nipis dan garam, diamkan selama 5 menit,

- Buatlah adonan tepung bumbu, tepung beras dan tepung terigu, aduk merata. - Celupkan udang kedalam kocokan telur lalu guling gulingkan dalam adonan hingga rata, lalu celupkan lagi kedalam kocokan telor, guling-gulingkan dalam campuran tepung hingga rata sampai udang habis, lalu diamkan dalam kulkas selama 5 menit. - Goreng hingga matang dan kecoklatan, tiriskan. - Tuangkan mentega dalam teflon, tumis irisan bawang putih dan jahe hingga harum lalu masukkan kecap inggris, lada air, gula, garam dan kaldu blok, masak hingga mendidih dan menggental, masukkan udang goreng krispy, adukaduk hingga rata, angkat, siap disajikan.


14

Edisi 860/ 3 - 9 agustus 2015

Toner Jaga Kelembaban Alami Kulit Bukan rahasia lagi jika perempuan tergolong sibuk untuk urusan kecantikan. Bukan hanya perempuan ingin tampil cantik, namun laki-laki pun senang melihat pasangan­nya terlihat cantik dan segar.

U

ntuk bagian wajah saja, tersedia serangkaian produk kecantikan yang biasa digunakan. Mulai dari milk cleanser, astringent, scrub, facial wash, toner dan pelembab. Juga ada serum, krim pagi, krim malam hingga krim mata. Dari sedemikian banyaknya produk perawatan untuk wajah, toner adalah produk yang penggunaannya sering dilewatkan . Selain karena malas , ada juga yang sengaja tidak memakainya , karena mereka berpikir sudah dibersihkan dengan cleanser. Hal tersebut diakui juga oleh Rai Sariani pemilik Gaya Warna Spa. Menurutnya, masih banyak orang berpikir toner hanya sebatas penyegar wajah, sehingga tidak merasa wajib menggunakannya. “Toner, umumnya diaplikasikan setelah kita membersihkan wajah. Mengapa penggunaan toner justru berada pada tahapan akhir? Hal ini, untuk memberikan kesegaran pada wajah setelah proses pembersihan. Toner selain bermanfaat untuk mendinginkan kulit, juga dapat mengangkat sisa-sisa residu milk cleanser atau make -up . Se-

bab, meski sudah menggunakan cleansing milk , masih ada kemungkinan sisa make up di kulit, sekalipun sudah dibilas dengan air,” papar Rai. Dikatakannya, masih ada lagi fungsi toner lainnya, yakni untuk meringkas pori-pori wajah. Biasanya ketika kita mencuci wajah, pori-pori terbuka, dan toner akan bertugas menutupnya kembali, sehingga tidak ada kotoran atau debu, yang dapat menimbulkan jerawat maupun komedo. “Begitu juga setelah menggunakan milk cleanser, kemudian saat mandi juga menggunakan sabun pencuci muka dan sudah dibilas dengan air, untuk hasil lebih bersih toner tetap diperlukan,” tegasnya. Diingatkannya pula setiap kali usai mencuci muka, toner penting untuk membantu melembabkan kulit. Seperti diketahui, air bisa membuat kulit wajah menjadi lebih kering karena punya kadar keasaman atau potential of hydrogen (pH) yang berbeda dengan kulit. “Meski toner berbahan dasar air, tapi kandungan di dalamnya menjadikan memilikin pH yang hampir sama dengan kulit wajah, sehingga bisa terhidrasi dengan baik. palagi

Jelita

Rai Sariani

menggunakan toner juga hanya hitungan detik,” ujarnya.

cream ketika kita ingin mengoles ulang,”katanya

Kenali Fungsi Krim Dalam proses pembersihan wajah, kata Rai lebih lanjut jika ingin memperoleh hasil yang maksimal, tentu saja semua proses pembersihan harus dilakukan dengan benar, apalagi setiap produk memiliki fungsi masing-masing . Ini agar kulit benar benar siap baik untuk menerima polesan krim berikutnya ataupun jika ingin melakukan treatment. Pertama, katanya milk cleanser mesti digunakan untuk membersihkan kotoran diantaranya sisa- sisa make up. Bagi seseorang yang mengenakan make up agak tebal, tentu memerlukan make up remover. Selain itu milk cleanser juga dapat membantu mengatasi kulit yang kering sehingga mutlak digunakan terutama pada usia dewasa atau tua.Sedangkan sabun wajah diperlukan untuk membersihkan kotoran yang larut dalam lemak, yang kurang optimal dibersihkan dengan milk cleanser. Kemudian toner akan sangat bermanfaat untuk membersihkan sisa- sisa kotoran yang belum terangkat plus membersihkan sisa -sisa sabun yang masih menempel pada kulit. Sisa sabun yang tertinggal pada kulit seringkali membuat kulit menjadi kering. “Selain itu toner dapat dibawa -bawa ke mana pun kita pergi untuk membantu membersihkan sisa day

Langkah pembersihan yang harus dilakukan sampai memakai toner adalah : - Milk cleanser diusapkan secara merata di seluruh wajah dengan menghindari area mata dan bibir. Dilakukan dengan sedikit pemijatan agar membantu memperlancar peredaran darah (kecuali kulit berjerawat tidak perlu) dan bersihkan dengan kapas. - Setelah itu cuci wajah dengan air bersih dan oleskan facial wash merata di wajah, dengan tepukan ringan, kemudian dibilas kembali dengan air bersih dan keringkan dengan tisu wajah. - Selanjutnya usapkan toner ke wajah, lakukan dengan halus. Setelah kering dapat dilanjutkan dengan krim lainnya. Berikutnya Rai Sariani merincikan kembali apa saja manfaat yang bisa didapatkan dari toner . - Toner menjadi langkah berikutnya setelah membersihkan kulit dengan milk cleanser sehingga membantu mendinginkan dan menutup pori-pori. Juga perlahan dapat menghilangkan flek hitam, wajah bebas komedo, dan jerawat. - Ketika wajah kusam sehabis bermandikan debu dengan segala bakterinya di jalanan, memoleskan toner adalah lang-

kah kecil yang sangat bermanfaat untuk membersihkannya. - Toner juga turut menjaga kelembaban alami kulit. -Toner yang sesuai dengan jenis kulit manfaatnya akan maksimal. Bagi pemilik kulit berminyak, pilihlah toner dengan kandungan citrus, lemon atau mentimun karena akan sangat membantu mengurangi kadar minyak pada kulit muka. Mereka yang berkulit normal, lebih mudah memilih kandungan apa saja atau bisa pilih toner yang ada kandungan bunga mawar dan milk/susu. Sedangkan untuk pemilik kulit kering, pilihlah toner yang ada kandungan wortel atau green tea, ini akan membantu melembabkan kulit muka yang kering. Sebuah catatan juga diberikannya oleh pengusaha produk spa ini, bahwa produk yang instan tidak akan menghasilkan apapun yang alami. Begitu pula sebaliknya, produk alami tidak bakal menghadirkan hasil yang instan. Namun, sesungguhnya lanjut Rai, cantik itu tidak hanya sekadar secara fisik tetapi juga secara rohani. Kecantikan yang ada di dalam hati lebih utama dan pastinya akan terpancar secara fisik. Meskipun begitu, kecantikan secara fisikpun tetap harus dijaga dan dirawat dengan baik, salah satunya rajin membersihkan wajah dan tidak lupa mengaplikasikan toner. – Sri Ardhini

Mitos

Edisi 860/ 3 - 9 agustus 2015

11

Jika Sakit harus Kemana? Seorang perempuan paruh baya mendatangi sebuah praktik fisioterapi. Ia mengeluhkan pergelangan tangannya tiba-tiba sakit jika digerakkan. Padahal tangannya tak ada terbentur atau melakukan gerakan yang bersifat mendadak atau mengangkat beban berat.

“I

ni gangguan tendon otot. Penyebabnya bisa secara langsung atau tak langsung. Penyebab langsung bisa karena trauma benturan, yang tak langsung bisa karena aktivitas yang terlalu lama dan monoton,” ujar fisioterapis I Made Niko Winaya, S.St., FT., SKM., M.Fis. sembari memijat tangan pasiennya setelah sebelumnya dipanaskan dengan infra merah. Ada kemungkinan saat melakukan aktivitas kerja, belum merasakan sakit, itu tergantung kepada psikologis pasien. Karena itu banyak penyakit karena pikiran. Contohnya saja ketika seseorang duduk lama sambil main games, karena menyenangkan sakit pinggang tak terasa. Namun ketika

duduk lama dengan aktivitas tak menyenengkan seperti rapat, bisa langsung terasa sakit punggangnya. Apa sebenarnya fisioterapi ini? Niko Winaya menjelaskan fisioterapi adalah suatu ilmu yang didapat melalui proses pendidikan. Suatu ilmu yang memberikan pelayanan kesehatan berupa gangguan fungsi gerak, baik yang ditujukan kepada individu maupun kelompok, dengan menggunakan modalitas elektro fisika seperti infra red, electrikal simulation, dll. dan manual terapi berupa massage, stretching (penguluran), terapi latihan, manipulasi, serta komunikasi efektif. “Jadi, semua kondisi atau gangguan yang terkait dengan fungsi gerak, fisioterapi

Kirim surat Anda ke Redaksi T ­ okoh dan cantumkan “Sex Edu” di ­amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh.co.id. Rubrik ini diasuh Asosiasi ­Seksologi Indonesia (ASI) Denpasar.

QUICKIE

“Dok, suami saya belakangan beberapa kali mengajak untuk melakukan hubungan seksual sembunyi-sembunyi di toilet kantor, malah pernah sekali di fitting room sebuah mall. Jadinya kan melakukannya cepat-cepat. Saya menikmatinya, tetapi bikin deg degan, soalnya takut ketahuan. Ini bahaya nggak, dok?” (Rosa, 26 thn) Apa yang dilakukan ini dikenal dengan istilah populer Quickie. Quickie atau seks kilat sesungguh­nya merupakan salah satu gaya bercinta yang bisa menjadi pilihan jika tidak cukup punya waktu apalagi jika memang benar-benar dorongan seksual muncul secara tiba-tiba dan tidak bisa lagi dibendung di saatnya datang. Untuk mendapatkan kepuas­an seksual dengan pasangan sesungguhnya tidak harus melakukannya di kamar tidur atau melalui tahapan ideal, mulai dari foreplay, coitus hingga afterplay. Asalkan sama-sama bergairah, diinginkan, kepuasan

seksual juga bisa tercapai walaupun dalam waktu singkat. Sering kali justru Quickie dapat berlangsung dengan lebih panas, nakal, menggebugebu dan liar. Ini merupakan salah satu solusi bagi pasangan sibuk dan selingan dari seks rutin yang mulai membosankan. Pada dasarnya orang melakukan quickie dengan tujuan aktivitas seks bersama pasangan tidak berlangsung monoton dan membosankan se­hingga aktivitas ini bisa dijadikan variasi seks juga. Quickie malah akan menjadi sangat mendebarkan karena terjadi secara spontan, kilat dan tanpa harus

yang menangani,” ujarnya. Apa bedanya dengan terapi lain? Di Indonesia banyak jenis pengobatan, di antaranya pengobatan medis, alternatif, dan spiritual. Yang dikatakan pengobatan medis, pengobatan berdasarkan suatu ilmu yang harus didapatkan melalui proses pendidikan, legalitasnya ada. Pengobatan medis berhak memproses suatu sakit menjadi sehat yang digodok dengan ilmu. Pengobatan alternatif, tidak bisa memproses sakit menuju sehat. Dia hanya bisa memproses sehat menjadi bugar, karena tidak berdasarkan ilmu. Contohnya, ada orang sakit leher, ketika diperiksa dia tidak mengalami gangguan gerak tetapi hanya merasakan ketidaknyamanan. Itu berarti tidak sakit, hanya merasakan kelelahan. Ini adalah suatu kondisi lelah menuju bugar, dan itu bisa dilakukan di pengobatan alternatif, seperti terapi giok, ceragem, akupunktur, refleksi, spa, dll. “Fisioterapi lebih spesifik ke gangguan fungsi gerak,” tegasnya. Pengobatan spiritual berkaitan dengan masalah rasa. “Ketika seorang pasien merasa diri sakit, namun ketika dicek lab atau dirongten hasilnya negatif, boleh ke pengobatan spiritual. Itu beda, diluar dengan keilmuan. Di Indonesia ketiga pengobatan ini saling dibutuhkan. Namun yang perlu diketahui, kemanakah pasien dibawa ketika sakit?” ucapnya. Jika sakit, tentu larinya ke pengobatan medis, dan diproses dengan ilmu sehingga keluarannya sehat. Lalu, apa yang bisa ditangani di fisioterapi? Sekali lagi Niko Winaya menegaskan, fisioterapi menangani tentang gangguan fungsi gerak. Seperti gangguan pada muka/belpasi/sempengot (ba-

hasa Bali), yang penyebabnya bisa karena tulang, saraf, otot, pembuluh darah. Namun yang perlu diingat, medis tak bisa menangani pasien secara perorangan, harus kerja tim. Dalam artian, terkait dengan keluhan pasien. Jika terkait saraf, fisioterapi kolaborasi dengan spesialis saraf untuk obatnya. Demikian halnya dengan tulang, atau penyakit dalam. “Jika bicara pengobatan medis, kemampuan kami hanya berdasarkan satu kompetensi keilmuan kami saja. Tidak bisa menguasai berbagai ilmu, seperti dalam pengobatan alternatif,” paparnya. Niko Winaya mengatakan, saat ini kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan sudah semakin bagus. Di Indonesia sudah mulai tertanam mencegah lebih baik daripada mengobati. Makanya sering sekali orang melakukan cek lab sebelum melakukan apa yang harus dia lakukan. Dari data itu kemungkinan bisa ketahui dampak apa yang akan muncul nantinya. Dan, tim kesehatan bisa memberikan informasi pencegahannya. Demikian halnya dengan fisioterapi, bisa melakukan proses asuhan fisioterapi yang dimulai dari

anamnesa, tanya jawab tentang riwayat penyakit dulu, penyakit keluarga, dan penyakit sekarang. Setelah itu dilakukan inspeksi (pemeriksaan dengan cara melihat), palpasi (meraba), perkusi (mengetuk), insulasi (mendengarkan normal), dan dilanjutkan dengan pemeriksaan fungsi gerak dasar serta pemeriksaan spesifik. Proses fisioterapi ada beberapa tahap, yakni amnanesa, mendiagnosa, memplaningkan, intervensi, memberikan pengobatan, dan reevaluasi. Namun selama ini lebih banyak. yang datang sudah dengan keluhan. Malahan seringkali datang dengan keluhan berat namun ingin cepat sembuh. Proses fisioterapi tergantung berat ringannya penyakit, umur, dan lokasi sakitnya. Agar tak sampai terjadi gangguan fungsi gerak secara umum, Niko Winaya menyarankan dalam beraktivitas harus hati-hati. “Yang paling penting adalah posisi dan gerakan. Posisi jangan monoton, baik duduk, tidur, berdiri, dan berjalan. Jangan bergerak yang bersifat terburu-buru/ tiba-tiba. Jika mau bangun tidur, tekniknya sebaiknya miring dulu, kemudian melalukan peregangan,” tandasnya. –Inten Indrawati

menaggalkan semua pakaian. Rasa berdebar tadi yang muncul karena takut ketahuan orang justru memiliki nilai lebih, dapat membangkitkan gairah seks yang lain dari biasanya. Tempatnya pun bisa di mana saja seperti di toilet, dalam mobil, bios­ kop, lift, di belakang atau lorong klub malam hingga tangga darurat. Kantor adalah tempat paling favorit. Setelah jam kerja usai, suasana kantor sudah sepi, Anda dapat beraksi liar di lokasi ini. Carilah tempat yang aman agar tak dilihat orang. Anda bisa bercinta di ruangan Anda, di belakang meja, di samping file cabinet, di sofa, atau di tempat lain yang sudah Anda ketahui benar keamanannya. Sering beredar persepsi di kalang­ an beberapa laki-laki bahwa quickie adalah salah satu pilihan gaya bercinta seorang laki-laki sejati. Laki-laki merasa perlu sesekali menikmati seks kilat karena menganggap memang perlu memenuhi pelampiasan seksualnya dengan cepat. Tapi faktanya, seks kilat tidak hanya diminati oleh laki-laki, tetapi perempuan pun mulai menyukai gaya bercinta tipe ini. Walaupun kebanyakan perempuan lebih menginginkan hubungan seks yang lembut dan romantis yang dilakukan secara bertahap, tetapi sebagai variasi tentu saja perempuan membutuhkan sensasi kenikmatan seks yang berbeda. Bagi yang sudah sering melakukannya, jika hal itu dilakukan di jam-jam kerja bukan di

rumah atau ketika jam makan siang tiba, justru memiliki efek yang luar biasa. Beberapa menyebutkan, usai melakukan quickie sex, malah mampu berpikir dan menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Jika memang Anda berminat dan ingin menikmati gaya bercinta quickie ini, ada beberapa tips yang perlu disimak: Foreplay secukupnya saja. Jika tidak sempat dilakukan saat bertemu langsung, lakukan foreplay sebelum bertemu. Rangsang dan munculkan dorongan seksual pasangan de­ ngan memuji keindahan tubuhnya, memuji wanginya, melalui telepon ketika berdua masih di tempat kerja masing-masing. Sedikit ucapan “nakal” dijamin bisa membuatnya tak sabar untuk bertemu dan melepaskan gairah bersama. Nikmati tiap waktu, detik demi detik. Walaupun kilat, harusnya bisa dinikmati bersama. Jadi bukan berarti terburu-buru untuk mencapai orgasme secara kilat. Begitu Anda dan pasangan bersedia melakukannya, nikmati tiap detiknya. Anda dan pasangan bisa saling membantu bila ada pihak yang belum terangsang secara cepat. Setelah usai, sisakan waktu beberapa saat untuk dinikmati bersama pula. Berikan kejutan. Seringkali kenikmatan quickie justru karena tidak sempatnya foreplay yang maksimal sehingga bagian bagian sensitif dan

peka rangsangan harusnya bisa menjadi fokus perhatian yang paling intens. Misalnya bila pasangan Anda sedang membaca atau menelepon temannya, Anda bisa langsung menyentuh bagian sensitif tubuhnya untuk dilanjutkan ke aktivitas seks kilat tersebut. Sama-sama menginginkan. Walau seringkali dinikmati laki-laki, tetapi perempuan juga bisa menikmatinya secara optimal. Perempuan tetap bisa mencapai orgasme meski kualitasnya tidak sebaik seperti hubungan seks yang foreplay-nya cukup. Quickie sex tak akan berhasil bila ada pemaksaan dari salah satu pihak yang biasanya didominasi oleh laki-laki. Karena dengan adanya kesadaran dan keinginan melakukan seks kilat, masing-masing pihak baik laki-laki maupun perempuan akan berusaha mencapai orgasme dengan caranya sendiri-sendiri. Paling tidak, dorongan seksual yang membara bisa menjadi modal kuat untuk mencapai orgasme. Meski pada kenyataannya Anda siap dan bisa mencapai orgasme lewat seks kilat, namun disarankan untuk tidak melakukannya terlalu sering. Gaya bercinta yang romantis dengan foreplay yang cukup dan tanpa tergesa-gesa tetaplah harus menjadi menu utama hubungan seks Anda dan pasangan. Jadikan quickie hanya se­bagai selingan yang membuat kehidupan cinta Anda dan pasangan jadi lebih berwarna dan menggairahkan.

I Made Niko Winaya, S.St., FT., SKM., M.Fis.


10

Bugar

Edisi 860/ 3 - 9 Agustus 2015

SKRINING PAYUDARA DENGAN MAMMOGRAFI UNTUK DETEKSI DINI KANKER PAYUDARA dr. Lorentia Harisusanti, Sp.Rad

Kanker payudara merupakan tipe kanker yang paling banyak ditemukan pada wanita. Di AS kemungkinan wanita untuk terjadinya kanker payudara invasif selama kehidupannya sekitar 12% (1 dari 8), dan ini merupakan salah satu penyebab mortalitas kanker pada wanita. Faktor-faktor risiko untuk terjadinya kanker payudara antara lain: Peningkatan usia Faktor-faktor yang meningkatkan terjadinya ekspose estrogen seperti menarche dini, menopause yang lambat, nulliparity Riwayat keluarga dengan kanker payudara Mutasi genetik Insiden kanker payudara meningkat dengan peningatan usia, 95% kasus baru terjadi pada wanita 40 tahun atau lebih. Rata-rata usia wanita untuk terjadinya kanker payudara adalah 61 tahun. Resiko terjadinya kanker payudara 4 kali lebih tinggi bila ada ibu atau saudara perempuan yang terkena kanker payudara. Riwayat keluarga dengan kanker ovarium terutama yang terjadi kurang dari usia 50 tahun juga meningkatkan resiko terjadinya kanker payudara dua kali lebih tinggi. Kanker payudara dini bisa tidak bergejala, nyeri dan rasa tidak nyaman juga tidak ada. Bila ada benjolan yang teraba, hal-hal berikut ini bisa didindikasikan adanya kanker payudara : Perubahan ukuran dan bentuk payudara Perubahan pada kulit Abnormalitas pada puting payudara Adanya discharge, terutama bila berwarna seperti darah Benjolan pada ketiak Dengan deteksi dini, intervensi, dan pengobatan postoperative yang baik, maka mortalitas kanker payudara menurun. Mammografi merupakan alat pemeriksaan skrining yang terpilih untuk kanker payudara.Mammografi menunjukkan manfaat untuk wanita usia 40-74 tahun. Beberapa studi bahkan menunjukkan manfaat khusus untuk pasien usia 80 tahun atau lebih.

Tas Gaya Bagi seorang perempuan tas termasuk salah satu ­aksesori wajib. Sebab, selain digunakan sebagai wadah peralatan yang dibawa, tas juga merupakan bagian dari fashion.

Spesialis Radiology di Siloam Hospitals Bali Tanda awal dari kanker payudara bisa terdeteksi sebagai abnormalitas yang terlihat pada mammografi sebelum bisa diraba oleh pasien. Bila kanker payudara berkembang pada poin dimana tanda dan gejala terlihat, dan pasien merasakan adanya benjolan pada payudara (biasanya tidak nyeri), skrining mammografi memberikan kontribusi pada deteksi dini dan menurunkan mortalitas kanker payudara. Pada pasien usia berapapun dengan peningkatan densitas payudara yang dapat mengaburkan deteksi tumor yang kecil pada hasil pemeriksaan mammografinya maka perlu pemeriksaan tambahan seperti ultrasonografi. Skrining mammografi merupakan tes untuk mendeteksi kanker payudara dengan menggunakan sinar X. Skrining ini digunakan untuk mendiagnosis kanker payudara yang belum memiliki gejala, benjolan atau keluhan apapun. Tujuan dari pemeriksaan ini adalah untuk mengetahui lebih awal sebelum ada gejala klinis. Diagnosa mammografi Mammografi adalah pemeriksaan pada payudara dengan menggunakan sinar X/roentgen jadi ada expose radiasi. Pemeriksaan ini bisa digunakan bagi wanita yang tidak memiliki tanda dan gejala kanker payudara, juga dapat dilakukan pada pasien yang memiliki keluhan benjolan ataupun tanda-tanda kanker payudara. Mammografi juga bisa direkomendasikan pada wanita yang lebih muda yang memiliki gejala kanker payudara atau yang memiliki risiko tinggi untuk terjadinya penyakit ini. Diagnosa mammografi juga dilakukan pada wanita yang memiliki keluhan seperti rasa sakit pada payudara, perubahan permukaan kulit, penebalan pada puting susu atau perubahan bentuk puting susu. Juga digunakan untuk evaluasi dari temuan di skrining mammografi sebelumnya. Pemeriksaan mammografi sebaiknya dilakukan pada saat payudara dalam kondisi lembut/lunak. Waktu ideal adalah seminggu setelah menstruasi. Biasanya payudara menjadi keras seminggu sebelum dan pada saat haid. Mammografi dilakukan dengan cara berdiri didepan mesin X-ray khusus untuk mammografi. Radiografer akan membantu memposisikan payudara di antara 2 plate. Plate tersebut akan menekan payudara sehingga manjadi datar. Prosedur ini terasa tidak nyaman, tetapi akan membantu memperjelas gambar yang dihasilkan. Pasien dengan gambaran payudara yang dense (dense breast) pada mammografinya bisa menutupi tumor yang kecil. Pada keadaan ini, berapapun usianya maka diperlukan lagi pemeriksaan lain seperti ultrasonografi atau MRI. Ultrasonografi bisa membantu mendeteksi adanya tumor pada payudara dengan kondisi dense breast dan dapat membedakan tumor kistik atau tumor solid / padat. Ultrasonografi juga digunakan untuk evaluasi pada tumor yang teraba yang pada mammografi tidak terdeteksi, dan juga untuk evaluasi pada wanita usia kurang dari 30 tahun yang dicurigai tumor payudara.

Style

J

aya Sugita, seorang desainer muda di Denpasar, yang selama ini lebih banyak menuangkan idenya untuk mendesain kerajinan sepatu dan sandal, beberapa waktu berikutnya menambah karyanya dengan produk tas dan cluct bag. Budaya kreatif dan artistik yang ada di Bali, rupanya berhasil membangkitkan banyak inspirasi bagi Jaya Sugita. Ia memastikan setiap tas rancangannya terbuat dari bahan berkualitas dan terjaga mutunya. Di sini, ia menawarkan koleksi tas berbahan kulit dan bahan lokal seperti endek, rangrang dan songket dengan

Mammografi menunjukkan tumor jinak dengan batas yang tegas

Ultrasonografi menunjukkan tumor jinak dengan batas yang tegas

Ultrasonografi menunjukkan tumor ganas

beberapa pilihan warna yang khas. Sedangkan model-model tasnya dibuat cukup simpel dan dilengkapi aksen unik hingga mudah disesuaikan dengan aneka penampilan dan maupun kegiatan. –Sri Ardhini

Edisi 860/ 3 - 9 Agustus 2015

15


16

Edukasi

Edisi 860/ 3 - 9 agustus 2015

Dara

AA Ayu Ketut Agung

Bekali Keterampilan pada Peserta Magang

P

endidikan merupakan investasi terbesar untuk bekal anak menjalani kehidupannya ke depan. Hanya dengan pendidikanlah, kita bisa meningkatkan perekonomian menjadi lebih baik. Lalu, bagaimana halnya dengan anak-anak kurang mampu dan putus sekolah, yang belum menuntaskan pendidikannya di lembaga ­pendidikan formal ?

Jawabannya adalah Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). PKBM merangkul anak-anak putus sekolah untuk menuntaskan pendidikannya dengan program kejar paket A, B, dan C, yang setara SD, SMP, dan SMA. Salah satu PKBM yang masih aktif di Denpasar Bali adalah PKBM Agung yang dikelola Anak Agung Ayu Ketut Agung. PKBM Agung dan LKP Agung ini berada di bawah naungan Yayasan Kecantikan Agung. Kegiatan pembelajaran di PKBM Agung dilaksanakan tiap Senin, Rabu, dan Jumat. “Di PKBM Agung, selain mendapatkan pendidikan formal, anak-anak kejar paket juga kami berikan tambahan keterampilan tata rias. Bahkan dari keterampilan ini, tak sedikit dari mereka sukses di bidangnya

Melakukan tirtayatra dan berwisata, itulah yang saya rasakan ketika mengunjungi Pulau Menjangan, Kecamatan Gerogak, Kabupaten Buleleng. Dari Kota Singaraja berjarak sekitar 90 km atau dapat ditempuh dengan perjalanan 1,5 jam. Dari Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana berjarak 60 km atau dapat ditempuh sekitar 45 menit. Lokasi Pulau Menjangan di sekitar area Taman Nasional Bali Barat.

S

ehari sebelum mengunjungi Pulau Menjangan, saya melakukan tirtayatra ke beberapa Pura di Kabupaten Buleleng, Pura Melanting, Pura Pulaki, dan Pura Jayaprana Teluk Terima. Kare­na waktu sudah sore, dan penyeberangan sudah tutup, saya putuskan untuk menginap di daerah Banyuwedang, sekitar 5 kilometer dari pelabuhan Lalang tempat menyeberang ke Pulau Menjangan. Sebenarnya,

Patung Ganesha setinggi 15 meter

masing-masing. Ada yang kini menjadi pramugari Garuda, pemilik salon, dan perias freelance yang mampu merogoh kocek hingga jutaan rupiah per bulannya,” papar Bu Agung yang sekaligus pemilik Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP/Salon) Agung ini, bangga. Dua kakak beradik asal Buleleng, Kadek Metriyani dan Ni Komang Sri Martini yang kini sama-sama berprofesi sebagai perias memberikan kesaksian. Kadek Metriyani yang setelah lulus kejar paket C di PKBM agung, meneruskan kuliah S-1 di Fikom salah satu universitas di Denpasar. “Saya ingin jadi dosen, tapi untuk menuju kesana saya mau melanjutkan S-2 yang linier. Sayang sementara ini belum ada di Bali,” ujar Metri yang sudah berhasil membeli mobil Yaris terbaru dari hasil kerja kerasnya selama ini. “Semua orang bisa,

yang penting semangat, ada usaha dan kemauan,” ujarnya. Adiknya, Komang juga memiliki semangat yang sama. Dari keterampilan merias yang didapat di Salon Agung itu, ia mengaku berpenghasilan hingga belasan juta rupiah. “Akhirnya saya bisa sekolah sampai kuliah. Yang penting semangat dan percaya diri,” ucapnya. Peran PKBM menjadi begitu penting, khususnya yang belum bisa terjangkau oleh pendidikan formal, seperti buta aksara dan putus sekolah. Karena itu, Wali Kota Denpasar Ida Bagus Rai D. Mantra dalam suatu kesempatan mengatakan, PKBM inilah yang merupakan ujung tombak untuk membantu meningkatkan pendidikan. “Pendidikan harus menjadi prioritas agar masyarakat bisa lebih mandiri,” ujarnya kala itu yang sangat mengapresiasi apa yang dilakukan Bu Agung, pemilik Yayasan Kecantikan Agung ini. Yayasan Kecantikan Agung ini diberikan kepercayaan untuk memagangkan 20 tutor keterampilan PKBM di Bali. Sala satu peserta magang adalah tutor bahasa Inggris dan keterampilan kejar paket C di PKBM Putera Jaya, Tanggerang, Verial Berlyani. Selama dua minggu magang sekaligus menginap di

Totalitas dalam Berkesenian Bu Agung (kanan) bersama peserta magang Berly, dan Bu Made Artha Widiani dari Disdikpora Denpasar

PKBM Agung, ia banyak belajar tentang keterampilan tata rias, seperti tata kecantikan kulit, pusung tagel (sanggul Bali), tengkuluk lelunakan, dan busana adat Bali. “Saya kagum dan senang bisa mengenal budaya Bali yang cukup banyak dan beragam,” ujarnya. Dan pada hari terakhirnya magang di PKBM Agung, Berly juga berkesempatan bertemu dengan Kasi Pendidikan Luar Sekolah Disdikpora Kota Denpasar, Made Artha Widiani. DISKON 50% KURSUS TATA RIAS Sebagai bentuk apresiasi yang besar terhadap pelestarian budaya Bali serta untuk lebih menyosialisasikan dan membangkitkan minat masyarakat dalam tata rias dan busana adat Bali, LKP Agung

memberikan diskon 50% kursus regular. Materi yang diajarkan mencakup 3 paket yakni Tata Kecantikan Kulit, Tata Kecantikan Rambut, dan Tata Rias Pengantin (payas nista, payas madya, payas agung, modifikasi, dan tengkuluk lelunakan). Disediakan juga beasiswa kursus gratis bagi mereka yang kurang mampu dan putus sekolah, yang benar-benar berminat di bidang tata kecantikan. Syarat dan ketentuan berlaku. Silakan menghubungi Sekretariat LKP Agung, Jalan Anggrek No. 12 Kreneng, Denpasar. Telepon 0361 233850, 081 1393602, faks. 0361 247153. Cabang Tohpati, Jalan WR. Supratman No. 303 A, Tohpati, Denpasar. Email:lkp_agung@ yahoo.com. website:www.salonagung.com. –inten

Keempat, Pendopo Ida Bhetara Lingsir Dalem Gajah Mada/Hyang Wisnu Murti. Melihat pendopo ini, saya merasakan kental nuansa Jawa, dari bentuk atap sampai dengan ukiran pintu kayu/joglo di depan pelinggih. Di area pendopo terdapat sebuah patung Kuda Jingkrak. Di dalam pelinggih terdapat sebuah patung Maha Patih Gajah Mada, berikatkan merah putih di kepala, payung dan kain merah putih ada juga di dalam pelinggih tersebut. Kami dianugerahi benang tridatu (benang berwarna merah hitam dan putih) lambang warna Tri Murti. Kelima, Pura Sang Hyang Siwa Pasupati. Bahan dasar pelinggih di sini berwarna putih, mungkin sejenis batu kapur, batu lokal di Pulau Menjangan yang mendominasi disana. Kami bersembahyang seperti biasa, tetap dipimpin seorang Jro Mangku. Keenam, Pelinggih Ida Bhetara Lingsir Watu Renggong. Di dalam saya melihat pelinggih berwarna putih dengan tulisan Ida Bhetara Lingsir Air Langga. Disini sembahyang seperti biasa, bedanya kami

dianugerahi bija berwarna kuning. Ketujuh, Pelinggih Sang Hyang Ganesha. Sebuah patung Ganesha dengan tinggi sekitar 15 meter menyambut kami. Beda halnya dengan persembahyangan sebelumnya, kami sembahyang dalam posisi di belakang Ganesha menghadap ke laut. Menurut keyakinan, Sang Hyang Ganesha menjaga Bali dari Pantai Utara. Banten kami haturkan di depan patung, dan kami kembali ke belakang untuk sembahyang. Di sini sembahyang mengikuti beberapa mantram yang dipimpin seorang Jro Mangku. Setelah melakukan persembahyangan, seperti biasa dianugerahi tirta dan bija. Sete­ l­ah itu itu kami dipersilahkan menuju ke depan patung Ganesha untuk sujud bakti mencium kaki Ganesha. Persembahyangan terakhir menuju Pura Segara Giri Gili Menjangan. Letak pura ini sekitar 500 meter dari Pura Taman atau bisa juga mengikuti jalan setapak dari Pura Ganesha. Saat sembahyang disini, kami baru melihat hewan menjangan sedang mencari makan di depan pura. Disini sembahyang seperti biasa dan mendapatkan tirta dan bija. Tidak ada orang yang tinggal di Pulau Menjangan. Pulau ini hanya dihuni hewan menjangan. Karena itu, jangan lupa bawa perbekalan terutama air minum, untuk menahan lapar dan haus. Perjalanan yang lumayan panjang dan cuaca yang sangat panas akan membuat pemendek sedikit letih. Namun, keindahan laut Pulau Menjangan mampu mengobati perjalanan yang melelahkan ini. Bahkan, saat menyeberang, kita akan menyaksikan Gunung Raung dari kejauhan. Usai sembahyang, kami bergegas kembali karena tukang perahu sudah menunggu untuk mengantar kami kembali ke Pelabuhan Lalang. –Wirati Astiti

Wisata Spiritual ke Pulau Menjangan

ada dua tempat penyebrangan ke Pulau Menjangan, Pelabuhan Banyuwedang dan Lalang. Namun, saya pilih Lalang karena lebih ramai dan harga sewa perahu lebih murah. Keesokan harinya, pukul 07.00 saya sudah stanby di pelabuhan untuk membeli tiket menyeberang. Tiket yang dikenakan bukan untuk satu orang, tapi biaya untuk sewa satu perahu kayu yakni Rp 465 ribu PP. Kalau di Banyuwedang sewa perahu Rp 500 ribu PP dan lebih sepi. Kebetulan saya satu perahu dengan rombongan dari Bangli. Tepat pukul 08.00, saya menyeberang. Syukur, perahu yang mengantar saya ke Pulau Menjangan merupakan perahu pertama yang berangkat. Perjalanan menuju Menjangan sekitar 20 menit. Tukang perahu memberikan kami waktu 3 jam untuk kembali ke perahu setelah bersembahyang ke areal Pura Agung Pingit Klenting Sari. Saat turun dari perahu, kami sudah disambut satu Pura kecil. Setelah memohon keselamatan agar persembahyang­an di Pulau Menjangan lancar, kami segera bergegas. Pemedek tidak perlu khawatir karena sudah ada papan yang memasang urutan pura yang harus dilewati. Pertama, Pura Taman/Beji. Satu hal berbeda dari tempat persembahyangan biasanya, tirta di Pura ini terasa asin. Kedua, Pasraman Agung Brahma Ireng/Ratu Patih Lingsir Kebo Iwa. Tempatnya tidak jauh dari Pura Taman tinggal mengikuti jalan setapak. Kebo Iwa merupakan seorang Mahapatih sakti di kerajaan Bedahulu yang menjaga Kerajaan Bali menjadi aman pada saat itu. Pada pelinggih ada dua buah patung di pinggir pintu masuk pelinggih, di dalamnya terlihat seperti sebuah gedong pelinggih bercat emas, ada tulisan Brahma, dan dibawahnya terdapat seperti sebuah gentong

besar diselimuti kain warna merah. Setelah bersembahyang kami tidak dianugrahi bija atau beras seperti biasa sembahyang, tapi berupa abu berwarna hitam yang diusapkan di dahi. Ketiga, Pagoda Agung Dewi Kwan Im/Dewi Kemakmuran. Bentuk tempat persembahyangan Dewi Kwan Im berbentuk pagoda, tapi tingkatannya hanya terdiri dari 3 undag. Ketika akan masuk, di atas pintu masuk terdapat sebuah tulisan, seperti Sabda dari Dewi Kwan Im. Di dalam pagoda, terdapat patung Dewi Kwan Im dan juga patung Buddha. Sekeliling Pagoda di lingkari kain merah putih, dan ada beberapa tulisan-tulisan mantram, dan di dalam meja persembahan terdapat lilin-lilin berwarna merah dan bunga-bunga. Ada seorang Bhiksu yang menuntun bersembahyang. Kami cukup bersembahyang dengan menggunakan dupa bisa 1, 3, 5, pokoknya ganjil. Kami pun dituntun mengikuti mantra. Setelah sembhyang kami dianugrahi tirta.

i r a s a Lar

Pesta Kesenian Bali (PKB) 2015 yang sudah berlalu memunculkan bintang-bintang panggung. Salah satunya adalah Sri Ayu Pradnya Larasari yang akrab disapa Laras. Dara kelahiran 16 Desember 1997 ini menampilkan kepiawaiannya sebagai penari. Lulusan SMA Negeri 3 Denpasar ini tampak unjuk kebolehan dalam tiga genre tari. Penerima Anugrah Kebudayaan dan Penghargaan Maestro Seni Tradisi 2014 dari pemerintah RI ini, menerjang tangkas menyajikan tari kebyar Tarunajaya, menggeliat lentur dalam tari Legong Keraton, serta menganyam tembang dan tari dalam opera Bali, arja.

L

ahir dalam keluarga dan lingkungan yang kental dengan riak-riak kehidupan berkesenian, Desa Sukawati, Gianyar, menyemai Laras menjelajahi beragam seni. Kakeknya, I Wayan Nartha (72 tahun), seorang dalang sepuh Bali, menempanya dalam kemampuan berkisah atau mendongeng dan olah vokal tembang. Bakatnya sebagai pengkisah telah teruji dalam lomba-lomba mendongeng dari tingkat desa hingga propinsi. Sejak SD hingga SMA ia merengkuh juara I kompetisi masatua se-Bali. Demikian pula dalam lomba mengalunkan palawakia, sloka, dan sekar alit, gadis berambut panjang ini pernah menyabet gelar sang juara, seperti Lomba Sloka Tingkat SMA/ SMK Se-Bali 2014 yang diselenggarakan IHDN Denpasar Julukan multitalenta memang pantas disematkan pada Larasari. Selain kini dikenal sebagai penari andal, ia juga memiliki reputasi dalam bidang pidato dan berpuisi, baik dalam bahasa Bali maupun Indonesia. Predikat orator muda juara I se-Bali juga berkali-kali diraihnya seperti dalam Lomba Pidato Se-Bali 2012 yang digelar Universitas Pendidikan Ganesha dan Lomba Pidato Basa Bali Tingkat SMA/SMK Se-Bali 2013 yang digelar Kota Denpasar. Penghargaan sebagai juara I dari Gubernur Bali juga sempat diperolehnya dalam arena Cipta dan Baca Puisi Tingkat SMA/SMK se-Bali 2013 yang digelar Badan Perpustakaan dan Arsip Propinsi Bali. Menari adalah bidang seni yang telah digeluti Laras sejak masih bocah. Pada usia 3,5 tahun ia telah nyelonong sebagai penari Rejang Dewa tanpa berlatih dalam sebuah ritual keagamaan.

Bakatnya sebagai penari terasah maju melalui pelatihan di sanggar-sanggar seni. Sejak SD kelas 1 ia belajar beragam tari-tarian kreasi di Sanggar Tari Lokananta Singapadu. Setelah remaja, Laras juga berlatih jenis tari klasik di Sanggar Kakul Mas Batuan. Belakangan ia menyuntuki asyiknya menarinyanyi-drama arja di Sanggar Siwa Ratri Keramas. “Semuanya saya lakoni dengan suka hati,” ujar Laras yang juga berbakat jadi MC. Ia pernah menjajal kemampuannya sebagai MC dalam perhelatan nasional di Hotel Grand Bali Beach, Sanur, 9 April lalu, yang dihadiri oleh Presiden Joko Widodo. Rona senang hati tampak selalu berbinar pada Laras yang senantiasa tampil dengan totalitas penuh dalam berkesenian. Bagaimana ia mempersiapkan diri dan tampil menari di arena PKB. Menjelang tampil di Taman Budaya Bali, Laras yang tahun 2014 lalu tampil dalam Festival Dongeng Se-Asia di Kota Incheon, Korea Selatan, tersebut harus mondar-mandir berlatih di tempat atau sanggar yang berbeda-beda. Di tengah kesibukan menuju tempat latihan, ia sempat mengalami kecelakaan lalu lintas yang membuat kaki kirinya luka bengkak yang membuatnya sulit berjalan. Namun, luka itu tak menghalangi semangatnya. SUKA MANTRI BUDUH Menari telah menjadi salah satu motivasi hidup seorang Laras. Begitulah, karakter penuh semangat dari tari kebyar Tarunajaya, ia tampilkan dengan trengginas di panggung terbuka Ardha Candra di hadapan ribuan penonton penggemar Parade Gong Kebyar Dewasa. Diiringi oleh Sanggar Saba Sari Desa Saba Blahbatuh, Gianyar, Laras

tampil secara tunggal di bawah tatapan ribuan penonton. Tari energik ciptaan I Gde Manik pada tahun 1950 yang membutuhkan dukungan tenaga besar ini, dihadirkan Laras dengan penuh daya pukau. Penonton terpesona dengan sambutan tepuk tangan bergemuruh. Pesona, walau tak bergemuruh, melainkan kekaguman juga berhasil dipetiknya, ketika bersama Sanggar Siwa Ratri Keramas, Laras tampil dalam dramatari arja. Dalam grup arja remaja tersebut, ia membawakan peran tokoh Mantri Buduh, karakter antagonis yang penampilannya dalam pertunjukan arja ditunggu-tunggu penonton. Lewat keterasahannya menari dan alunan tembangnya yang empuk, ia

Edisi 860/ 3 - 9 agustus 2015

9

tampil mantap dan mampu memukau penonton. “Saya suka memerankan Mantri Buduh,” ujar Laras. Daya pukau Laras kian memancar di harihari terakhir PKB. D i panggung terbuk a Ksiarnawa, ia bersam a lima penari Sanggar Semara Yowana Bedulu, Gianyar, menampilkan Legong Raja Cina, bertutur tentang legenda Raja Jayapangus yang memiliki istri wanita Cina, Kang Cing Wie. Laras yang pernah keluar sebagai Juara I tari legong se-Bali pada tahun 2007, mampu mengundang decak kagum penonton. Selanjutnya, decak penonton begitu membuncah ketika hari penutupan PKB, Laras kembali menyajikan tari Tarunajaya versi lengkap, diiringi Sanggar Adunk Tabanan di panggung Ayodia. Sajian tarinya yang lugas dan tangkas dielu-elukan penonton. “Saya terharu dengan apresiasi penonton”, ujar Laras yang kini kembali mempersiapkan diri memerankan tokoh Siwanataraja. Bersama 300 komunitas seni Sukawati, ia akan tampil dalam forum internasional di Jawa Barat yaitu Festival Seni Budaya Dunia yang diikuti 15 negara, akhir Agustus nanti. Kemudian, pertengahan September, Laras akan memerankan tokoh Larung dalam dramatari calonarang serangkaian odalan di Pura Dalem Gede Sukawati. –Kadek Suartaya


8

Bunda & Ananda

Edisi 860/ 3 - 9 Agustus 2015

Manfaatkan MOS

untuk Kenali Lingkungan Sekolah Peserta didik baru yang memasuki jenjang SMP dan SMA disambut dengan kegiatan Masa Orientasi Sekolah (MOS). Ajang ini kerap menjadi pelampiasan dendam masa lalu kakak kelas terhadap adik kelas. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.Anies Baswedan sudah mewantiwanti agar MOS jangan dijadikan kegiatan yang “aneh-aneh”. Masih perlukah MOS ini?

“H

-1 MOS saya begadang sampai pukul 23.30 untuk membantu anak menyiapkan perlengkapan. Macam-macam yang harus disiapkan. Ada name tag, tas, dan topi yang harus sesuai pedoman. Anak yang MOS, orangtua ikut sibuk,” ungkap Bu Yani kepada temannya di kantor. Pukul 04.30 ia sudah harus bangun untuk menyiapkan sarapan lalu mengantar anaknya ke sekolah. Sorenya sudah sibuk lagi untuk menyiapkan bahan yang harus dibawa keesokan harinya. Pengalaman Bu Ana ternyata tak begitu ribet ketika anaknya menjalani MOS di sebuah SMP favorit di Denpasar. “Anak saya cuma disuruh bawa name tag sesuai kelompok. Tidak ada perpeloncoan. Adanya dengar ceramah dan latihan baris-berbaris,” ujar ibu dua putra ini. MOS seringkali menjadi momok yang menegangkan bagi para siswa

termasuk orangtuanya. Cerita yang didengar dari orang lain membuat mereka khawatir tentang MOS. Apalagi jika ada kasus siswa yang sampai kehilangan nyawa saat MOS. “MOS sepanjang dilakukan sesuai aturan dan benar-benar dijadikan ajang penyesuaian lingkungan sekolah akan sangat bermanfaat. Namanya saja orientasi. Artinya pengenalan atau adaptasi di lingkungan baru. Yang harus dikenalkan mulai dari kepala sekolah, guru, ruang kelas, kurikulum, bahkan penjaga sekolah. Kegiatan yang dilakukan tentu berkaitan dengan akademis, psikologis, dan disiplin menghadapi lingkungan baru ini,” ujar Sad Yuli Prihartati, S.Psi., Psikolog. Berkaca dari MOS-MOS sebelumnya, Yuli melihat ada yang salah dalam pelaksanannya. Misal, saat memberikan hukuman terlalu berat. Hukuman diberi dalam batasan wajar.dan mengacu pada prinsip disiplin. Kalau salah memang harus

Kompetisi Dokter Kecil Warmadewa

BEM Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Warmadewa membuka kesempatan bagi Sekolah Dasar (SD) se-Denpasar untuk berkompetisi dalam Kompetisi Dokter Kecil Warmadewa 2015. Peserta adalah siswa kelas 4,5,6 SD dalam format kelompok yang terdiri atas 3 orang dari sekolah yang sama. Lomba dilaksanakan Sabtu (8/8) di FKIK Universitas Warmadewa. Lomba terdiri dari babak penyisihan, babak penyuluhan (presentasi mengenai sikat gigi dan mencuci tangan yang baik), babak P3K (melakukan tindakan mengenai pertolongan pertama terhadap kecelakaan), dan babak cerdas cermat. Untuk info lebih lanjut, hubungi Deary (081916789556), Ryan (08113893250), atau Lidya (085737288823)-rls

Workshop Opening Cakra for Healing

Guru Made Sumantra dan Bunda dari Pasraman Markandeya Yoga mengadakan workshop Opening Cakra for Healing, pada Minggu (16/8) di Pasraman Markandeya Yoga. Donasi Rp 100 ribu, peserta mendapatkan CD Opening Cakra, pendulum, dan makan siang. Untuk pendaftaran, hubungi 082145142424, 087861187825 -rls

Yuli

dihukum merupakan bagian dari penanaman sikap disiplin. Dalam urusan “bawaan”, ia mengatakan boleh saja membawa barang tetapi harus yang memiliki manfaat atau barang tersebut merupakan olah kreasi. Jangan sampai membawa barang pesanan sponsor yang hanya mementingkan unsur ekonomis tanpa melihat sisi kreativitas. MOS juga harus menjadi kegiatan yang menyenangkan bagi siswa. Ada kegiatan dalam ruangan dan ada di luar ruangan. Jangan malah merepotkan orangtua. Saking khawatirnya, ada orangtua yang melarang anaknya ikut MOS. Orangtua itu mengirim surat sakit ke sekolah. Bagi Yuli, hal ini terlalu berlebihan. Saat MOS merupakan kesempatan siswa untuk menge-

nal lingkungannya. Kalau dilarang, mereka akan terlambat untuk mengenal lingkungan sekolahnya. Namun, diingatkan agar kegiatan harus berkesan dan bermanfaat bagi siswa baru. SEKOLAH PUNYA OTORITAS Ketua APSI (Asosiasi Psikolog Sekolah Indonesia) Wilayah Bali ini mencontohkan siswa harus membuat laporan tentang berita yang ditonton. Berita itu dituliskan kembali sesuai kemampuan siswa. Ini akan mengasah kemampuan mendengar dan menulis siswa. Atau, usai mendapat ceramah dari narasumber saat MOS, siswa wajib membuat laporan. Ini juga akan membiasakan siswa untuk membuat laporan. Tetapi,diingatkan untuk tidak mencontek tugas temannya. Lebih baik lagi kalau dibedakan sesuai tema sehingga masing-masing siswa sudah punya gambaran apa yang harus dibuat. Mengenai MOS sebagai ajang balas dendam, Yuli mengakui dulu hal itu sering terjadi karena siswa berada dalam fase imitasi. Apa yang mereka alami dulu diperlakukan sama sekarang. Misalnya dulu ketika menjadi junior, mengalami perlakuan yang tidak menyenangkan. Ini masih terngiang di memorinya. Ketika ada hal serupa, memori ini terbuka dan dilampiaskan kepada junior baru.

Untuk mencegah terjadinya balas dendam ini, sekolah harus punya aturan yang jelas dan tegas. Apapun yang terjadi selama MOS merupakan tanggung jawab sekolah. Guru harus mendampingi siswa senior saat melakukan MOS untuk menghindari adanya tindakan yang diluar aturan. “Sekolah punya otoritas untuk membuat aturan. Jangan sampai kredibilitas sekolah tercoreng karena ada tindakan yang tidak aneh-aneh. Barang bawaan juga jangan aneh-aneh,” tegas Koordinator Pengabdian Masyarakat Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Bali ini. Sebelum MOS mulai, panitia MOS juga harus dibekali dengan pemahaman makna dan tujuan MOS. Ajang ini juga menjadi pembelajaran untuk berorganisasi. Ingatkan juga momen kebersamaan itu akan bermanfaat untuk pengembangan diri maupun sekolah. MOS yang dilaksanakan tiga hari harus mampu dimanfaatkan untuk mengenali lingkungan sekolah. Di akhir MOS, perlu diadakan evaluasi. Menurut Yuli, hal ini yang jarang dilakukan. “Kalau ada evaluasi tentu bisa menjadi gambaran untuk pelaksanaan MOS tahun berikutnya. Apa yang bermanfaat bisa dipakai, yang tidak bermanfaat ya jangan dipakai. Suara para siswa baru pun wajib didengar “ kata Yuli. –Ngurah Budi

Suasana MOS di suatu sekolah

dok.balipost

Mendongeng Lima Menit

Membagi Harta Karun

Sejak beberapa hari Ayah Kodok jatuh sakit. Ia terbaring lesu di sebuah pematang sawah. Anaknya, si Kendul selalu mendampinginya, memberi makan, memijat dan membuatkan obat ramuan. Si Kendil, adik si Kendul tidak pernah Made Taro mengurus ayahnya. Ia acapkali meninggalkan rumah, pergi bermain-main dengan kodok-kodok lainnya. Pada suatu siang yang terik, Ayah Kodok memanggil kedua anaknya. “Anak-anakku!” katanya dengan napas terengah-engah. “Rukun-rukunlah bersaudara! Ayah punya sedikit harta karun yang tersimpan di dalam gua. Bagilah berdua!” Sesaat kemudian sang Ayah mengembuskan napas terakhir. Si Kendul sangat sedih, tetapi si Kendil tenang saja. Dalam benak si Kendil selalu terbayang tumpukan harta karun peninggalan ayahnya. “Ayolah kita cari harta karun itu!” kata si Kendil pada suatu hari. “Harta itu pasti disimpan dalam gua di pinggir sungai, sebab ayah sering ke sana,” katanya. “Tidak! Tak mungkin menyimpan harta karun di tempat yang gampang. Harta itu pasti disimpan di tempat yang sulit, yakni di lereng gunung,” bantah si Kendul.

Kedua kodok bersaudara itu bertengkar. Masingmasing mempertahankan pendirian. Pertengkaran itu makin panas, akhirnya berlanjut dengan pergumulan. “Kwek, kwek, kwek…, kwek, kwek, kwek…!” Sambil mukul-memukul, mereka membusungkan tenggorokan dan perut. Akhirnya si Kendul berkata. “Kalau bergumul terus, apa yang kita dapatkan? Sebaiknya kita bertaruh. Barang siapa yang terlebih dahulu menemukan harta karun itu, mendapatkan dua pertiga, yang kalah sepertiga.” Tidak jelas, apakah si Kendil menyetujui perjanjian tersebut. Ia secepatnya melompat menuju sungai, mencari-cari gua tempat harta karun itu. Melihat adiknya pergi, si Kendul pun secepatnya menuju lereng gunung. Tentu, perjalanan itu sangat melelahkan. Mendaki dan mendaki. Akhirnya sampai juga ia di sebuah gua yang terlindung. Ia segera masuk ke gua itu. Amboi! Betapa terkejutnya ia menemukan onggokan emas, perak, dan berlian! Tak kuasa menahan gembira, si Kendul secepatnya menemui adiknya di sungai. Ia ingin si Kendil melihat langsung harta karun itu, lalu membaginya berdua sesuai dengan perjanjian. Setiba di pinggir sungai, ia memanggil-manggil adiknya. “Kendiiil…, Kendiiil...!” Tak ada jawaban. Ketika menemukan sebuah gua, ia langsung masuk ke dalam gua itu sambil berteriak memanggil adiknya. “Kendiiil...!” Ia terkejut dan takut. Dari dekat dilihatnya seekor ular besar sedang memangsa seekor kodok. Kodok itu tak lain adalah si Kendil, adiknya sendiri.

Griya

Edisi 860/ 3 - 9 Agustus 2015

17

Beragam Pilihan Genteng

Saat ini atap tak sekadar sebagai pelindung, tetapi kehadirannya juga turut memberikan nuansa estetika pada sebuah hunian. Selain itu, atap pun bisa menjadi pembeda antara rumah satu dengan lainnya. Karena itu, desain atap menjadi hal penting untuk diperhatikan.

A

da beragam pilihan atap yang kini ba­ nyak berkembang, di antaranya atap/ genteng press, genteng beton, dan genteng keramik. Masingmasing genteng ini tentunya memiliki keunggulan dan kelemahan. Salah seorang karyawan Bali Surya Abadi Genteng yang berlokasi di Jalan By Pass Ngurah Rai Sanur, Hendrik mengatakan, di Denpasar khususnya konsumen (masyarakat umum) lebih banyak memilih genteng press. Selain harga lebih terjangkau, keta­ hanannya pun cukup kuat. Genteng press sendiri memiliki beberapa model, yang paling umum adalah model flat (rata) dan model kodok. “Dua model ini yang paling laku. Ini masalah se­lera saja. Model flat bisanya untuk rumah-rumah minimalis,” ujarnya. Proses pengerjaan genteng pres ini pun ada dua, yakni melalui pembakaran biasa (memakai tungku) dan memakai

Genteng keramik

oven. Genteng dengan pembakaran oven memiliki kelebihan, seperti lebih ringan karena lebih kering, matangnya lebih merata sehingga rembesannya lebih sedikit. Model kedua, genteng beton. Genteng ini terbuat dari campuran pasir dan semen. Kekuatan genteng ini dipengaruhi oleh kebersihan dan ukuran butiran pasir yang dipergunakan. Kelebihannya adalah genteng beton lebih kuat, di samping harga juga relatif terjangkau. Ukuran genteng beton dua kali lebih besar dibandingkan genteng press yang terbuat dari tanah liat. Kelemahannya, bobotnya lebih berat sehingga membebani struktur. Model ketiga, genteng kera-

mik. Genteng ini memiliki be­ ragam warna dan tampil mengkilap, sehingga mampu membuat tampilan keseluruhan rumah semakin indah. Warnanya pun tidak mudah pudar karena biasanya dilapisi cat khusus sehingga tetap awet meskipun diterpa cuaca seperti panas terik ataupun hujan. Genteng keramik lebih antibocor dan tak mudah terlepas. Itu karena genteng tersebut menggunakan sistem interlocking dalam pemasangan, bahkan merek tertentu memakai sistem double interlocking. “Semua terserah pada konsumen untuk memilih genteng yang mana. Se­suaikan dengan budget dan bentuk rumah,” tandas Hendrik. –Inten Indrawati

Genteng beton

Genteng press model flat

Genteng press model kodok


18

Kreasi

Edisi 860/ 3 - 9 agustus 2015

Nabil Gholi Azumi

Tuna Netra bukan

Halangan Jadi Sastrawan

Bagi banyak orang kekurangan fisik seringkali dianggap sebagai kekurangan. Namun, itu tidak bagi berlaku untuk Nabil Gholi Azumi. Bocah kelahiran 15 tahun yang lalu itu menganggap kebutaannya sejak lahir adalah sebuah anugerah yang dari sang Pencipta. Tidak hanya tetap bersyukur atas apa yang dia dapat­ kan, bocah tersebut juga jago dalam bikin puisi.

K

edua tangan Nabil Gholi Azumi tidak pernah diam saat dihadapkan dengan sebuah perangkat komputer di de­ pannya. Jemari bocah itu nampak cekatan seperti layaknya orang

normal lainnya. Satu paragraf dise­ lesaikannya hanya dalam waktu beberapa menit saja. Catatan waktu itu cukup praktis mengingat kedua matanya yang sudah tidak dapat melihat sejak lahir. “Saya suka menulis sejak kecil,”

kata remaja yang kini duduk di kelas VIII SMP LB Aisyah Kelurahan ­Kertosari Kecamatan Babadan Po­ norogo itu. Dengan dibantu program suara pada tiap tombol keyboard yang ditekannya dirinya hapal betul letak dan fungsi tombol-tombol tersebut. Bahkan, dirinya tidak kalah dengan anak normal lainnya dalam hal kom­ puter. Dia juga aktif bersosial media layaknya anak muda zaman sekarang. Dia mengaku memiliki 17 akun facebook yang aktif digunakannya setiap hari. Tidak hanya membuat status, dirinya juga mengungkapkan

isi hatinya melalui puisi dalam akun tersebut. “Pengen jadi penulis,” ung­ kap remaja kelahiran Bojonegoro, 14 Desember 1999 itu. Dari kesenangannya menulis tersebut, dirinya dipercaya mewak­ ili SMP LB tempatnya belajar untuk mengikuti lomba cipta karya puisi Maret lalu. Dalam lomba yang diikuti pelajar penyandang tuna netra seJawa Timur tersebut bahkan berhasil menyabet juara dua. Dirinya berhasil menarik perhatian dewan juri dengan puisinya yang berjudul ‘Indahnya Negeriku’ itu. Tidak hanya sekadar membuat puisi, Nabil juga menyi­ sipkan kritikan kepada pemerintah. Dalam puisinya dirinya mengkritik banyaknya kekayaan negeri Indonesia yang diambil oleh negara lain. “Saya mengetahui itu dari bukabuka internet,” katanya sembari menjelaskan ide puisi yang dibuat­ nya itu. Anak pertama dari empat ber­ saudara pasangan Muhammad Ali Ridho dan Siti Muslimah itu juga piawai dalam hal bernyanyi. Tidak hanya bernyanyi lagu-lagu sekarang, Nabil juga suka bernyanyi lagu Jawa atau nembang. Penyuka ayam goreng kremes tersebut pernah menjuarai

lomba nembang saat HUT Kabupaten Ponorogo beberapa tahun lalu. Selain pandai melucu, penyuka novel karya Habiburrahman El Shi­ razy itu ternyata juga seorang anak yang suka usil. Untuk mengatasi masalah itu, dia mengaku lebih memi­ lih menuangkannya ke dalam sebuah tulisan. Nabil mulai gemar mencatat isi hatinya dalam sebuah buku diary. Jauh dari orangtua membuat tak banyak orang yang bisa dijadikannya teman curhat. Dengan menuangkan keluh kesahnya dalam tulisan terse­ but setidaknya membuat perasaan­ nya lega. Selain menulis diary, kakak yang memiliki tiga adik dengan dua dian­ taranya juga mengalami kebutaan itu juga menulis cerpen. Dia juga mengirim cerpen hasil karyanya ke salah satu majalah nasional. Bahkan, dari beberapa kirimannya tersebut, pernah dua kali diterbitkan majalah tersebut. Meski begitu dirinya tidak membuat dirinya berpuas diri. Dia mengaku ingin melahirkan karyakarya yang lebih besar lagi. Dia ingin membuat buku seperti para penulis terkenal lainnya. “Mungkin kelebihan saya memang dalam hal menulis,” katanya. –Dinar Perdana

Pembeli Membludak

Bukti Makna Gelang Tridatu makin Dihayati Masyarakat Hindu Bali sudah biasa memakai benang tridatu sebagai gelang. Sebagai aksesoris, ia kelihatan unik, namun lebih jauh dari itu benang ini memiliki nilai filosofis yang mendalam dan bahkan banyak meyakini kekuatan magisnya.

T

ri artinya tiga dan datu berarti elemen atau warna. Jadi tridatu adalah tiga warna terdiri dari merah, hitam dan putih sebagai lambang Brahma, Wisnu dan Iswara (Siwa). Tiga warna ini biasanya digoreskan pada tiangtiang bangunan rumah, pura dan sebagainya pada saat upacara pemlaspasan bertujuan menyucikan dan peresmian bangunan. Maksudnya, untuk menjaga penghuni supaya memperoleh kerahayuan dan segala bhutakala yang hendak mengganggu diredam. Kutipan sebuah buku mengatakan,”Bila ngurip maupun

melindungi bangunan baru atau bangunan suci dari vibrasi negatif, maka warna sakral dioleskan di bangunan, sedangkan pada manusia digunakan gelang benang tridatu.” Benang diikatkan pada lengan, maksudnya, mengikat atau melindungi urip atau hidup seseorang karena benang tiga warna ini bermakna kemanunggalan Brahma, Wisnu dan Iswara, juga bermakna manunggalnya bayu, sabda dan idep, yang artinya jangkepnya sang mahurip. Dari sisi kekuatan, ketiga warna ini mewakili aksara Ang, Ung, Mang yang manunggal menjadi aksara Om. Gelang tridatu juga dikisahkan

dalam sejarah masa pemerintahan Dalem Waturenggong (abad ke 14-15) di Gelgel, dimana Patih Jelantik diutus untuk menundukkan Dalem Bungkut. Dalem Bungkut setuju untuk menyerahkan kekuasaannya dengan syarat bahwa masyarakat Bali harus selalu taat dan bhakti kepada Hyang Widhi dan leluhur, ditandai pemakai­ an gelang tridatu. “Gelang tridatu sakral motif sisik naga yang paling diminati,” ungkap Made Oka, seorang pengrajin gelang tridatu di areal PKB di Art Centre. Gelang tridatu yang dijual di PKB ada yang sebagai aksesori dengan ujungujung berhiaskan perak atau logam lain, namun masih saja gelang tridatu sakral yang paling laris terjual, terutama motif tridatu sisik naga yang ujungujung gelangnya diikat biasa. Diantara semua motif, motif tridatu sisik naga paling mahal yaitu Rp 80 ribu hingga bahkan naik mencapai Rp 300 ribu saat menjelang hari raya, purnama, tilem atau kajeng kliwon, sedangkan gelang tridatu aksesoris bia­sanya mulai dari harga Rp 15 ribu. “PKB merupakan berkah bagi kami setiap tahun. Kami juga harus siap melayani pembeli sepanjang tahun,

maka kami siapkan penjualan online,” ujar Ketut, salah sorang pengrajin gelang tridatu. Meski PKB sudah tutup, para pengrajin gelang tridatu tidak putus semangat dan siap beralih ke toko online demi melayani peminat kerajinan gelang tridatu lewat telpon 0361-943926. Pesanan membludak karena makin pahamnya umat Hindu yang bisa merasakan pemakaian gelang tridatu membawa vibrasi baik bagi pikiran pemakai benang tersebut. Sering dilihat tridatu digunakan sebagai tetebus saat upacara Manusa Yadnya serta pada upcara abhayakala (biakawon) pada hari raya Galungan. Benang dililit di tangan, kaki dan telinga sebagai simbol menenangkan pikiran. Dikejar tentang asal-usul motif

sisik naga, seorang pengrajin lainnya akhirnya berani buka rahasia, “Gelang tridatu sisik naga ini kami kenal pertama dari Dauh Pala Tabanan namun pengrajinnya sudah juga tersebar di Gianyar, Sanur dan Badung,” ungkap pengrajin yang mengaku bahwa menjelang Galungan dan Kuningan ini daftar pesanan tridatu sisik naga sudah “inden” puluhan order. Banyak pembeli yang mengatakan gelangnya akan dipasupati saat hari baik tersebut. Berapa lamakah tuah gelang tridatu ini bekerja? Menurut banyak tokoh, powernya akan terus bekerja selama benang ini masih melekat di badan dan fungsinya akan selesai bilamana benang itu lepas secara alamiah.

Life

Story

Edisi 860/ 3 - 9 agustus 2015

Lima belas tahun yang lalu, masih lekat dalam kenangan Arika (47), hari itu hari Sabtu, keluarga kekasihnya berbondongbondong datang, membawa beragam buah tangan yang dikemas dengan rapi dan manis. Arika tersenyum pada pria dengan pakaian rapi bernama Yudi. Dialah kekasih Arika. Yudi datang bersama orangtua dan keluarga besarnya untuk melamar Arika. Sungguh manis pertemuan lamaran yang berjalan lancar dalam suasana akrab dan hangat antar keluarga Arika dan Yudi.

B “D

i hari lamaran itulah kesepaka­ tan tentang penentuan tang­ gal pernikahan Arika dan Yudi didapat, persis dua bulan set­ elah lamaran itu,” kata Dinda, adik ipar Arika yang menikah lebih dulu dengan adik laki-laki Arika. Setelah mengantar para tamu dari keluarga Yudi, kelu­ arga besar Arika pun kembali menggelar pertemuan khusus termasuk Dinda juga mengikuti rapat ini. Kebahagiaan jelas ter­ pancar dari keluar­ ga Arika karena akhirnya meskipun terlam­ bat, Arika mendap­ atkan jodohnya juga. Menurut Dinda, esok harinya, mulai terli­ hat berbagai kegia­ tan. Seluruh keluarga mendapat tugas mas­ ing-masing. “Saya dan suami kebagian menguruskan lebih dari seribu undan­ gan,” kata Dinda. Kater­ ing telah dipesan, gedung telah oke dan intinya se­ luruh persiapan rampung dalam satu bulan, tinggal menunggu dekatnya waktu pernikahan. Dua minggu menjelang pernikahan itu, undangan telah dicetak dan DP katering telah diberi­ kan. “Undangan warna merah marun sudah ada di rumah saya. Begitu juga uang muka katering sudah disetor­ kan 50% oleh kakak ipar saya. Jadi tinggal menanti hari H dan

ersyukur

ini bukan masalah kecil, karena telah melibatkan dua keluarga. Betapa kecewanya keluarga mereka kala itu. Yudi dan ke­ luarganya juga tidak ada yang datang kepada keluarga Arika sekedar untuk mengatakan bahwa pernikahan tersebut batal dan dengan alasan apa. Semua seperti sepi. Tiada kabar dan berita. “Nyaris saja terjadi pertikai­ an karena keluarga kami men­ ganggap keluarga Yudi tidak bertanggung jawab karena per­ gi begitu saja tanpa kabar,” kata Dinda yang bekerja di sebuah perusahaan swasta di Mataram. Keluarga Arika berada pada situasi serba salah, karena baik Arika dan Yudi tidak ada yang mau bicara tentang penyebab batalnya pernikahan itu. “Mau berdiskusi apalagi melabrak

Pernikahan Batal

persiapan-persiapan kecil,” ujar Dinda. Dua minggu menjelang pernikahan itu, Dinda mem­ perhatikan wajah Arika yang biasanya cerah memperlihat­ kan kebahagiaan, belakangan terlihat murung. Tiap kali diajak berdiskusi tentang persiapan pernikahannya, Arika hanya menjawab secukupnya saja alias sekedar saja. Awalnya

memeluk Dinda yang kaget dan tidak mengerti akan apa yang terjadi. “Tiba-tiba Arika men­ datangi saya di kamar tidur saat saya sendirian dan langsung memeluk saya sambil menan­ gis,” kata Dinda. Di sanalah Arika mencerita­ kan semuanya. Bahwa pernika­ han yang persiapannya telah rampung 90% itu dibatalkan atas kesepakatan berdua antara

tidak ada seorang pun dari anggota keluarga yang menangkap kemurungan Arika. Hingga akhirnya sem­ inggu menjelang pernikahan, Arika tiba-tiba menangis sambil

Arika dan Yudi. Betapa kagetnya Dinda dan keluarga besar mereka atas pembatalan tersebut. “Arika tidak ingin mengatakan apa yang terjadi sesungguhnya, dan selama beberapa hari dia tidak mau keluar kamar sama sekali,” kata Dinda. Pastilah masalah

Yudi dan keluarganya, takutnya muncul persoalan yang lebih besar karena duduk persoalan­ nya saja kami tidak tahu. Mau didiamkan juga terasa keterlalu­ an sekali karena mereka datang baik-baik harusnya menyele­ saikan pula dengan cara yang baik,” ujar Dinda kesal. HAMIL LIMA BULAN Yang pasti semua batal. Undangan sia-sia, uang muka katering dan gedung serta penata rias pengantin hanya bisa kembali sekedarnya. Arika masih belum mau bicara sampai sebulan kemudian ia menceritakan hal sesungguhnya pda keluarganya. Dinda merasa perlu untuk tidak menceritakan kisah ini kepada keluarganya saat suasana hati yang panas karena takut tidak bisa men­ gendalikan keluarga. Awalnya Arika menceritakan semua ini kepada Dinda yang kebetu­ lan sangat dekat dengannya. Sebelum menjadi ipar Arika, Dinda dan Arika memang telah bersahabat cukup lama. “Seminggu sebelum hari H pernikahan itu, seorang perempuan yang tengah hamil lima bulan menemui Arika dan mengatakan bahwa anak yang dikandungnya adalah hasil hubungannya dengan Yudi,” kata Dinda. Dunia Arika seperti menjadi gelap hari itu. Arika sempat pingsan sambil

7

terduduk di bangku tempat ia makan untuk bertemu berdua dengan kekasih gelap Yudi tersebut. Setelah beberapa lama Arika sadar dan dengan kepala dingin Arika menye­ lesaikan persoalan itu, meski hatinya pedih bagai tersayat sembilu. Ia menelepon Yudi dan me­ mintanya untuk datang ke tem­ pat itu. Mereka ketemu bertiga guna meluruskan masalah ini. Yudi mengakui bahwa bayi yang dikandung perempuan beram­ but ikal yang duduk persis di depan Arika itu adalah anaknya. “Di sanalah mereka menyele­ saikan semuanya. Arika mem­ batalkan rencana pernikahan­ nya dan langsung disetujui Yudi yang berniat menikahi kekasih gelapnya yang telah mengand­ ung itu,” kata Dinda. Betapa patah hati Arika. Karena Yudi juga memilih tanggal pernikahan mereka yang sedianya diselenggara­ kan seminggu lagi itu, menjadi tanggal pernikahannya dengan kekasih gelapnya itu. “Saya sempat melihat Arika menangis hingga matanya sembab pada hari di mana Arika menyampai­ kan niatnya telah membatalkan pernikahan itu tanpa menyebut alasannya kala itu,” ujar Dinda. Arika sengaja tidak menyampai­ kan masalah sebenarnya pada keluarga mengapa ia sampai membatalkan pernikahan itu. Ia tidak mau keluarganya me­ maksa Yudi untuk menikahinya dengan alasan malu. “Karena sesungguhnya Arika merasa bersyukur tidak jadi menikah dengan Yudi. Arika takut di­ paksa menikah dengan laki-laki penipu itu,” ujar Dinda kesal. Rupanya, patah hati Arika tak mampu membuatnya sang­ gup mengenal laki-laki lagi. Praktis selama 15 tahun tera­ khir, Arika tidak terlihat memi­ liki kekasih. Dari 15 tahun yang telah dilaluinya itu, Arika lebih suka bersyukur karena tidak jadi menikah dengan Yudi ketim­ bang harus mencari pendamp­ ing hidup. Entah apa yang akan terjadi kelak pada Arika, Dinda berharap ia bisa segera mene­ mukan jodohnya karena usianya terus bertambah. “Tapi mung­ kin dengan hidup sendiri Arika merasa bahagia,” kata Dinda. Di usianya yang menjelang seten­ gah abad, kini Arika menyibuk­ kan diri dengan pekerjaannya sebagai seorang pendidik dan juga mengurus keponakankeponakannya. -Naniek I. Taufan


6

Edisi 860/ 3 - 9 Agustus 2015

Women on Top

Metamorfosis Putri Suastini Kolaborasi yang apik, itulah terlukis dari penampilan Ni Putu Putri Suastini, bersama seniman Ketut Lanus dari Sanggar Cahya Arts, dalam pagelaran “Gita Pranakata” di Ajang Bali Mandara Mahalango, Taman Budaya, Denpasar, Selasa (28/7). Putri Suastini memberi sentuhan puisi dari komposisi musik yang digarap Ketut Lanus, pimpinan Cahya Arts ini. Dalam empat komposisi musik yang diciptakan Lanus, dua pagelaran berkolaborasi dengan Putri Suastini.

S

ebagai pem­ buka, Lanus menampil­ kan musik “Liuk”, yang terinpirasi dari gerakan pohon yang diterpa angin. Putri Suastini memberikan sentuhan narasi yang berjudul “Dari Dinginnya Mis­ terimu, Lahir Hangat Asaku”. Putri Suastini mam­ pu memberikan kli­ maks dalam pagelaran pamungkas, garapan musik Lanus yang

berjudul “Legam”. Berkisah tentang carut marut kon­ disi negeri, karak­ ter masyarakat, dan percaturan politik dimana orang sudah melegalkan segala cara untuk menca­ pai tujuan. Garapan ini juga menampil­ kan olah visualisasi tari untuk mem­ pertegas suasana dan makna. Setelah musik pembuka, Putri

Suastini muncul dengan teriakannya sembari membacakan puisi karya Nyoman Rida yang berjudul “Gumi Sinur”. Dengan make up yang menon­ jolkan karakter angker, hasil ria­ san istri Ketut Lanus, Dewa Ayu Wedanaasih, Putri Suastini benarbenar mampu menghidupkan sua­ sana di Taman Budaya, malam itu. Ditemui usai pentas, Putri Suastini mengaku puas dapat memberikan pe­ nampilan yang maksimal kepada penonton. Apalagi, usai pentas, pe­ nonton serentak bertepuk tangan, dan memberikan ucapan selamat kepadanya, termasuk beberapa teman lamanya di teater yang kangen melihat penampilannya. Putri Suastini memang dikenal sebagai pemain teater. Ketika ia me­ mutuskan tidak bermain drama lagi, justru undangan membaca puisi da­ tang padanya. Ia menjadi “bergairah” untuk serius menekuni seni baca puisi ini. “Metamorfosis Putri Suastini,” ujar

Utamakan Keselamatan saat Metik Cengkeh Bekerja secara kelompok. Itulah pemandangan sejumlah orang tengah memetik bunga cengkeh di pucuk pohon kawasan lembah lereng Gunung Wilis. Lereng ini masuk Desa Segulung, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun.

M

ereka berangkat dari rumahnya masing-masing pada pagi buta atau sekitar pukul 05.30 untuk memulai aktiviats. Setiap orang pemetik bunga cengkeh membawa andang atau tangga dari

bambu dengan ukuran panjang. “Karena rata-rata ketinggian pohon cengkeh mencapai antara 7 hingga 9 meteran. Selain itu, juga membawa tali tambang untuk mengikat bagian ujung tangga bambu samping kiri-kanan ke pohon lainnya. Tujuannya agar tangga bambu pada saat dinaiki, tidak akan roboh karena kelalaian atau diterpa angin kencang,” kata Suwarno (48), seorang buruh petik bunga cengkeh asal Desa Segulung. Menurutnya aktivitas memanjat untuk memetik bunga cengkeh dari pagi hari hingga pukul 16.30, sudah terbiasa dilakukan bersama ke-6 orang temannya. Satu pohon cengkeh bisa memakan waktu antara 1 hingga 1,5 jam. Tapi, jika bunga cengkeh itu banyak maka akan memakan waktu sekitar 2 jam. Naik turun pohon cengkeh, merupakan pekerjaan yang sudah 25 tahun digeluti. Jika musim kemarau tiba, memang banyak pemilik pohon cengkeh yang menggunakan jasanya. Pekerjaan petik bunga cengkeh,

DWP Harus Jadi Inspirasi Pembaharuan Dharma Wanita Persatuan (DWP) adalah organisasi istri pegawai negeri sipil (PNS) kini memiliki paradigma baru yakni inpenden mandiri. Tidak terikat partai politik manapun dan demokratis, dengan visi, menjadi organisasi istri PNS yang kukuh, bersatu, dan mandiri serta misi, mensejahterakan anggota melalui bidang pendidikan, bidang ekonomi dan bidang sosial budaya

istri Ketua PDI Perjuangan Provinsi Bali, Wayan Koster ini, sembari ter­ tawa. Ia menilai, kolaborasi dengan garapan musik Ketut Lanus sangat menarik karena menggabungkan tiga ide; seni tari, musik, dan puisi. Menurut Lanus, ia melihat sosok Putri

Suastini mempunyai kekhasan dari pembaca puisi yang lain. “Mbak Putri punya energi yang berbeda. Unsur teaternya sangat kental. Kami sudah tahu karakter masing-masing sehingga memudahkan berkolaborasi,” kata Lanus. -Wirati

Kolaborasi musik Legam dan olah visualisasi tari dengan puisi yang dibacakan Putri Suastini yang berjudul “Gumi Sinur”

Kolaborasi musik Liuk dengan narasi dari Putri Suastini

juga dilakukan bersama temantemannya yang memang tidak punya pekerjaan tetap. Karena jika tidak musim bunga cengkeh, ia bersama teman-temannya ikut buruh di ladang untuk mengolah tanah. “Dalam sehari bisa 6-8 pohon cengkeh yang saya panjat. Setiap

19

Edisi 860/ 3 - 9 Agustus 2015

pohon, bisa menghasilkan antara 2-3 karung bunga cengkeh basah. Upah yang saya terima bersama teman-teman yang lain sama yaitu Rp 70.000 per hari. Ada yang setiap hari upahnya diterima, ada juga yang nunggu petik bunga cengkeh selesai semua,” jelasnya. Hal sama juga dituturkan oleh Sandi (30), warga asal Desa Sewulan, Kecamatan Dagangan. Ia bersama teman-teman berbekal makanan dan minuman dari rumah, juga sabuk untuk mengamankan diri pada saat di ujung pohon cengkeh. Sabuk pengaman itu, dikaitkan antara pinggang dengan pohon cengkeh agar pada saat datang

angin kencang dalam posisi tidak munting. “Ya meski kami naik turun tanpa batas waktu. Tapi, kami juga memperhitungkan keselamatan diri saat melaksanakan aktivitas petik bunga cengkeh diatas pohon,” jelasnya. Menurut Sandi, bunga cengkeh hasil petikan dikumpulkan di tempat penampungan untuk dibersihkan bagian batangnya. Setelah bersih semua, baru dikirim ke pemilik pohon cengkeh untuk proses penjemuran hingga kering. “Untuk harga bunga cengkeh basah di wilayah sini Rp 30.000/ kg, sedang cengkeh kering mencapai Rp 90.000-Rp 105.000/kg,” ungkapnya. -Ajun Ally

Seorang pemetik bunga cengkeh terlihat dari dataran tinggi lereng

S

edangkan yang menjadi tujuan dibentuknya organisasi para istri PNS ini adalah untuk mewujudkan kesejahteraan anggota dan keluarganya melalui peningkatan kualitas sumber daya anggota demi mendukung tercapainya tujuan nasional. Melihat dari visi-misi serta tujuan DWP tersebut, Ketua BKOW Provinsi Bali, Dr. AAA Ngr.Tini Rusmini Gorda, S.H., M.M., M.H., mengatakan posisi dari organisasi ini sangat strategis karena terdiri dari kumpulan istri PNS yang mendamping suami sebagai abdi negara dan abdi masyarakat, yang berarti

pula harus memiliki peran lebih, selain peran sebagai istri di rumah dan ibu bagi anak-anak. DWP juga harus mampu menunjukkan eksistensinya dengan kualitas yang lebih dalam mendampingi suami. Terutama, saat suami bertugas sebagai PNS dengan cara, sebagai istri senantiasa mendorong dan mendukung suami dalam menjalankan tugastugas pemerintahan, pembangunan dan sosial kemasyarakatan. DWP adalah mitra kerja dari pemerintah. Jika saja DWP ini berjalan dengan maksimal sesuai dengan visi dan misinya, menurut Tini Gorda sudah dipastikan semua program pemerintah pencapainanya dapat lebih cepat,

karena telah mempunyai mitra kerja yang andal yaitu DWP. Namun, yang terjadi selama ini DWP baru sebatas wadah berkumpulnya istri PNS yang memiliki program kerja dan cara mengimplementasikannya belum terintegrasi dengan program pemerin­t ah secara maksimal, sehingga capaian dari programprogramnya pun belum bisa ditun-

Pererat Tali Persaudaraan

Ada yang tidak biasa dilakukan oleh Ketua Tim Penggerak PKK dan Ketua BKOW Provinsi Nusa Tenggara Barat, Hj. Erica Zainul Majdi dan Hj. Syamsiah Muh. Amin, yaitu bersilaturrahmi mengunjungi istri mantanmantan Gubernur dan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat. Kunjungan PKK dan BKOW yang dipimpin Erica dan Syamsiah beberapa waktu lalu itu, sebagai wujud penghormatan atas jasa para mantan Ketua TP PKK dan BKOW NTB sekaligus mempererat tali persaudaraan. Kunjungan dalam pertemuan yang hangat dan akrab tersebut dimulai dari rumah mantan Hj. Baiq Adnin Serinata, istri mantan Gubernur NTB, HL.

Serinata, lalu menuju ke rumah mantan Wakil Gubernur NTB, H. Lalu Srigede, berlanjut ke rumah mantan Gubernur, H. Gatot Suherman kemudian kunjungan diakhiri di rumah mantan Wakil Gubernur, H. Lalu Azhar. Dari kunjungan ini, Erica dan Syamsiah dapat melihat langsung aktivitas positif yang dilakukan oleh mantan pendahulunya ini, seperti yang dilakukan Hj. Baiq Adnin Serinata yang mengelola sebuah sekolah Taman Kanak-kanak yang tidak jauh dari rumahnya. Di Taman Kanak-Kanak ini Erica dan Syamsiah menyapa anak-anak yang sedang bermain sekaligus belajar bersama para guru. ”Kita harus rajin membaca, membaca apa saja, karena suatu saat pasti akan

Bersama ibu Gatot Suherman

berguna bagi kita di masa depan,” kata Erica kepada anak-anak didik di TK ini. Di rumah H. Lalu Azhar, Ketua PKK dan BKOW ini menemukan minuman jus lokal yang dikembangkan di Lombok Tengah oleh mantan Wakil Gubernur NTB ini. “Produk lokal ini harus kita kembangkan karena dapat memberikan stimulus positif bagi perkembangan ekonomi daerah,” kata Erica mengapresiasi aktivitas H. Lalu Azhar beserta istrinya. Kepedulian Ketua TP PKK kepada para pendahulunya ini menjadi perekat hubungan antar satu sama lainnya. “Kita mendoakan agar Ibu dan Bapak tetap sehat dan silaturrahmi ini ke depan tetap terjaga,” kata Erica. -Naniek I. Taufan

jukkan secara maksimal. “Secara kualitatif mungkin bisa dikatakan berjalan dengan baik, karena DWP masih bertahan dalam kondisi apapun.Namun, capaian secara kualitas belum bisa dikuantitatifkan seperti yang diharapkan dari program pemerintah. Ke depan harus ada sinkronisasi dan terintegrasinya program pemerintah dengan program DWP agar capaiannya bisa terukur,” ujarnya ibu dua anak yang juga dosen Fakultas Hukum Undiknas ini.. Dikatakannya pula, akan merupakan kebanggaan sebagai oraganisasi istri PNS, jika mampu mendampingi dan berperan aktif serta ikut terlibat secara maksimal dalam pencapaian program kerja secara kuantitaf. Selanjutnya kualitas selaku pendamping harus terus ditingkatkan agar menjadi inspirasi pembaharuan dalam berorganisasi. Walaupun DWP ini adalah organisasi istri PNS

yang bisa dikatakan organisasi yang paling beruntung dibandingkan organi­sasi wanita lainnya, sebab sangat diyakini masalah program, dana, dan anggota tidak menjadi kendala yang signifikan dalam melaksanakan program kerja. Namun, agar pencapaiannya dapat dikuantitatifkan, perlu dilakukan peningkatan parstisipasi semua anggota. DWP, katanya harus mampu berkolaborasi dan bersinergi dengan berbagai pihak secara harmonis serta berkesinambungan. Untuk ini pula diperlukan kerja cerdas, kerja ikhlas dan kerja tuntas agar semua program pemerintah yang telah dicanang­kan dalam DWP dapat dilaksanakan dengan capaian yang terukur. DWP harus menjadi mitra kerja domestik dan publik bagi PNS dengan proporsional agar mampu mendukung program pemerin­tah dengan maksimal. -Sri Ardhini

Tak Hanya Arisan Selama ini, Dharma Wanita diidentikkan dengan arisan-arisan. Namun, menurut Putu Lastiawati, selain arisan, masih banyak kegiatan positif yang dilakukan. Ia mengatakan, tugas pokok Dharma Wanita membina anggota dan memperkokoh rasa persatuan dan kesatuan, meningkatkan kemampuan dan pengetahuan, menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, serta meningkatkan kepedulian social. Melakukan pembinaan mental dan spiritual anggota agar menjadi manusia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkepribadian serta berbudi pekerti luhur. “Kami rutin mengadakan acara bakti sosial atau kerja bakti, dan ngayah ke pura-pura. Selain itu, dalam beberapa kegiatan suami di kantor, Dharma Wanita selalu dilibatkan,” ujar Ketua Dharma Wanita Persatuan Dinas Kominfo Kab. Karangasem. Istri Ir. Gde Ngurah Yudiantara, MM. menyebutkan, saat arisan, banyak diisi dengan pemberian keterampilan kepada anggota. Misalnya, pengetahuan kepribadian diri. Biasanya, materinya lebih mengarah, bagaimana bersikap dan bersosialisasi sebagai istri PNS. Ia menilai, sebagai istri PNS, mereka harus menyadari tugas suami. Apalagi, yang suaminya dipercaya menjabat. Materi kepribadian lain, pengetahuan tentang cara duduk dan cara menerima tamu. Selain urusan kepribadian, ada juga pelatihan kecakapan wanita lainnya. Tujuan dari pelatihan ini, kata Lastiawati, untuk meningkatkan kualitas SDM para istri PNS. Memang ia mengakui, sebagai wanita yang bekerja tentu perlu membagi waktu agar semua bisa dilaksanakan dengan

Putu Lastiawati

baik. Saat ia masih menjabat Ketua KPU Kab. Karangasem periode 2008-2013, ia selalu usahakan datang saat acara pertemuan Dharma Wanita. Urusan rumahtangga ia kerjakan terlebih dahulu, dan membuatkan jadwal agar urusan lain tidak terbentur. “Yang penting saya buatkan prioritas, agar semua tugas bisa dijalankan dengan baik,” ucap Lastiawati. Namun, ketika berada di luar daerah, dengan sangat terpaksa ia tak hadir. Namun, ia selalu mengupdate kegiatan apa yang sudah dilaksanakan. Kini, setelah ia tak menjabat di KPU, waktunya memang lebih luang. Walaupun, selain organisasi Dharma Wanita, ia masih mengurus beberapa organisasi lain, diantaranya, gabungan pengelola Taman Kanak-kanak. Kebetul­an ia dipercaya menjadi ketua yayasan. Biasanya, tiap tahun, ada monitoring, evaluasi, yang kadang melibatkan juga Dharma Wanita. Kegiatan ini sering bersinergi dengan Dharma Wanita. –Wirati Astiti


20

Nine

Edisi 860/ 3 - 9 Agustus 2015

AKP Cita Karunia Sari, S.H.

Dari Manja Jadi Mandiri

“Jabatan itu amanah. Tentu saja tidak lepas dari campur tangan Tuhan. Tuhan pasti menganggap bahwa setiap orang itu mampu menjalankannya,” ungkap Ajun Komisaris Polisi Cita Karunia Sari, S.H., Kasat Narkoba Polres Lombok Tengah.

R

amah, supel dan optimis. Itulah kesan pertama saat bertemu dengan sosok polisi wanita kelahiran Kudus, 15 Mei 1986 ini. Terlihat gesit dalam menjalankan tugastugasnya bahkan tidak kalah dari polisi laki-laki, terutama sekali dalam bidang satuan yang penuh risiko, yakni menangani kejahatan narkoba. Lulusan Akpol tahun 2010 ini menjalani kariernya di dunia kepolisian dengan senang hati. Berurusan dengan mafia narkoba, jelas menjadi bagian dari tugasnya. Ini berarti memberikan sinyal risiko yang tidak biasa, apalagi ia seorang perempuan. Namun, bagi Cita, tidak ada yang mustahil untuk dilakukannya dalam menjalani tugas dan tanggung jawab yang dipercayakan padanya karena ia telah berserah diri pada Yang Maha Kuasa. “Berusaha semaksimal mungkin dalam menjalankan tugas, soal risiko saya pikir, di mana pun dan apa pun pekerjaan pasti memiliki risiko masing-masing,

Himawati, jika jabatan itu diminta maka kalau ada kesulitan yang dihadapi dalam bertugas maka tidak akan ada yang menolong. Tetapi jika jabatan itu diberikan atas kepercayaan, akan datang pertolongan dari segala arah saat ia menemui kesulitan. “Yang terbayang pertama kali adalah akan berurusan dengan mafia/sindikat narkoba,” ujarnya. Itu memang terjadi. Maka kini, Cita sudah terbiasa alias kebal dengan teror telepon dan pesan pendek yang berusaha menjatuhkan dirinya. Dalam memimpin lebih dari 10 laki-laki di satuannya ini, Cita merasa beruntung sebelumnya sudah terbiasa bergaul dengan laki-laki. Terhadap anak buahnya, ia memposisikan dirinya sebagai teman bagi mereka. “Asyiknya, mereka semua lebih fair, tidak banyak alasan, ini yang mempermudah dan memperlancar tugas-tugas khususnya tugas lapangan,” kata Cita yang tidak pernah mengenal waktu kala menangani (khususnya dalam pengintaian dan penggerebekan) kasus narkoba. Kemampuan Cita

dalam memimpin satuannya ini bahkan mendapat apresiasi dari pimpinannya, salah satunya Kapolres Lombok Tengah, AKBP Nuroddin, S.IK., yang mengungkapkan kebanggaannya pada Cita. “Dia memiliki kemampuan yang tidak kalah dengan laki-laki. Pekerja keras dan tidak kenal waktu jika harus menjalankan tugasnya,” ujar Nuroddin. Kisah anak tunggal dari pasangan Indradjaya dan Himawati saat menjadi seorang polisi rupanya terbilang unik. Cita bahkan ingin menggagalkan kelulusan Akpolnya karena berubah niat tidak jadi memilih profesi sebagai polisi. Setelah di tahun 2007 lulus dari Fakultas Hukum Universitas Diponegoro (Undip) dan menyandang gelar Sarjana Hukum, tahun 2008, Cita ikut tes Akpol di Polda Jawa Tengah. Kala itu

Edisi 860/ 3 - 9 Agustus 2015

Master Bayu Gendeng

5

Dulu Klenik Sekarang Life Style Maraknya bursa batu permata memberi nilai plus bagi penggemar dan pedagang. Nilai batu permata makin terangkat. Kini orang tak hanya melihat batu permata dari sisi spiritual semata.

Cita bersama dua rekannya semasa di AKPOL

ia bahkan tidak tahu bedanya antara perwira dan bintara. Ia hanya tahu kalau polisi itu, lekat dengan semboyan akuntabel, humanis, transparan dan lainnya. Ia ingin menyelami hal tersebut. Yang penting ikut tes polisi karena yang ia tahu menjadi polisi itu tantangannya menggiurkan. “Saya memang cari pekerjaan yang banyak tantangannya,” ujar istri dari Fandy Aryawan ini.

Cita dalam Rakernis tentang Perkara Narkoba

yang penting tetap selalu ingat untuk senantiasa waspada. Saya percaya hidup manusia sudah diatur oleh Tuhan,” ujar Cita. Tidak pernah terpikirkan oleh Cita yang lama berurusan dengan kasus-kasus terkait perempuan dan anak ini akan mendapatkan tugas yang akhirnya membuat ia bisa belajar “bersentuhan” dengan tindak pidana tertentu ini. Meski sempat kaget saat mendapat amanah ini, ia mengaku tidak berniat menolaknya karena ia harus menunaikan janjinya pada Polri bahwa tugas dengan risiko apapun akan ia jalani atas nama bangsa dan negara. Apalagi ia tidak pernah meminta jabatan ini melainkan ia dipilih untuk menjalani tugas ini. Itu artinya pimpinannya percaya akan kemampuannya. Cita ingat pesan ibundanya

Inspirasi

KHAWATIR TAK BERTEMU IBU Ibunda Cita yang awalnya lebih menginginkannya masuk IPDN (Institut Pemerintahan Dalam Negeri) merasa kepedean bahwa Cita tidak akan diterima di Akpol karena di mata ibundanya, Cita adalah pribadi yang pecicilan dan selengean. Apalagi Cita sendiri mengaku biasa-biasa saja saat mengikuti tes ini dengan keyakinan bagaimana pun jalan hidupnya kelak, Tuhan telah mengaturnya dengan sangat rapi. Namun, selama proses tes berlangsung, Cita memperhatikan semua peserta menggebu-gebu. “Akhirnya saya juga ikut menggebu-gebu,” katanya tertawa. Pada pengumuman kelulusan, ia dinyatakan lulus dan mengikuti tahapan tes selanjutnya bersama peserta dari seluruh

Indonesia. Di sinilah ia berpikir kemungkinan besar ia akan gagal. Namun Cita santai saja. Begitu sekali lagi ia dinyatakan lulus dan resmi diterima di Akpol, Cita menangis. Apakah itu tangis bahagia karena diterima di Akpol? Rupanya tidak “Saya menangis karena dua tahun saya tidak akan ketemu dengan ibu,” ujar Cita yang tidak tahu kalau saat pendidikan itu ada yang disebut dengan pesiar setiap waktu yang telah ditentukan. Yang ada dalam kepalanya adalah tidak bisa ketemu ibundanya selama pendidikan berlangsung. Ia telah melangkah tentu saja tidak bisa lagi mengundurkan diri, meski itu sempat terbersit dalam pikiran. Dari sinilah Cita semakin menyadari bahwa apa yang sudah ditentukan oleh Tuhan tidak akan bisa diubah oleh manusia. Ia seperti disadarkan bahwa dirinya sebagai manusia tidak bisa melawan ketentuan Tuhan. Ini menjadi titik balik bagi seorang Cita yang anak tunggal dengan segala kemanjaannya

pada orang tua. Selama di Akpol, Cita ditempa menjadi pribadi yang kuat, tidak cengeng apalagi manja. Inilah momen penting dalam hidupnya, beradaptasi dari anak yang manja menjadi seorang yang mandiri. Beruntungnya ia adalah pribadi yang bekerja keras dan mau dididik sehingga lebih mudah menyesuaikan diri. Keluar dari rumah yang penuh dengan kasih sayang dan kehangatan orang tua, Cita berpindah menjalani proses pendidikannya dengan kasih sayang dan kehangatan dalam bentuk yang lain. Bentuk yang benar-benar berbeda dari situasi di rumahnya. Karena itulah, ia menghargai seluruh waktunya selama pendidikan itu karena ia percaya lembaga pendidikan profesinya itu akan mengantarkannya menjadi sosok Cita yang berbeda dan tangguh. Sejak itulah, kecintaannya pada tugas negara yang diembannya, mengisi hari-harinya dengan berbagai suka cita yang memberinya banyak pelajaran hidup.

pria yang akrab disapa Master BG ini. Sambil show, ia kerap membawa permata untuk ikut d ipa merka n. Ke s e m p a t a n ini juga dipakai untuk menambah koleksi bebatuan. Lokasi yang disambangi mulai dari Sumatera, Sulawesi hingga Kalimantan. Tahun 2009, kontrak The Master di RCTI habis, Master BG pun memiMaster BG saat tampil di acara The Master lih balik ke alah satu kolektor Bali. “Saya sudah membawa batu permata di nama Bali ke kancah nasional Bali adalah Mas- melalui jalur magician. Kini ter Bayu Gendeng. saatnya saya memilih jalur Pria asal Klungkung ini Runner lain. Pilihannya batu permata. up The Master tahun 2009, Bali punya potensi dan saya ajang adu piawai para ma- bisa tetap di Bali agar dekat gician yang digagas Deddy dengan keluarga,” kata ayah Corbuzier. dua anak ini. “Saya mengoleksi batu perMaster BG pun banyak mata sejak tahun 2000. Waktu menguraikan tentang batu orang masih memandang batu permata. Batu permata dapat permata bersentuhan dengan dibedakan berdasarkan kekdunia spiritual. Penggemarnya erasan yang diukur dengan pun masih sedikit,” kenang skala Mohz. Alat ukurnya pun

Master BG memperoleh juara I dalam kompetisi “Batu Unik & Antik”

ia batu permata. “Sejarah menunjukkan batu permata sudah dikenal sejak zaman kerajaan di Indonesia. Ban-

S

-Naniek I. Taufan

Cita berada di tengah barang bukti minuman keras dan senjata tajam yang siap dimusnahkan

khusus. Batu yang kekerasannya antara 1-5 skala Mohz belum dapat dikategorikan batu permata. Contohnya kalsit dan batu apung. Antara 5-7 skala Mohz disebut permata semimulia, contohnya akik dan kecubung. Antar 7-10 skala Mohz disebut batu mulia. Contohnya saf i r, r u b i , d a n b e r l i a n . Hingga kini masih ada jenis batu mulia yang belum dikenali. Hal ini.salah satunya yang membuat putra kedua pasangan Ketut Gianjar (alm) dan RR Th. Trisiwi (almh) untuk berkecimpung di dun-

Batu akik lingga yoni

Koleksi batu akik Master BG

yak peninggalan batu permata yang berhasil ditemukan. Kini batu permata makin dihargai oleh masyarakat berkat peran media massa juga,” ujar pria kelahiran 12 April ini tanpa mau menyebut tahunnya. Media massa yang mengekspos pejabat yang menjadi kolektor batu permata pun ikut menaikkan kelas batu permata. Dulu mereka diam tetapi sekarang sangat terbuka. “Dulu kesannya klenik dan spiritual, tetapi sekarang sudah menjadi life style. Hal ini sangat wajar. Batu permata merupakan bagian dari c i p t a a n Tu h a n y a n g memiliki keindahan. Bagi yang meyakini, ada energi tersembunyi

dalam batu yang kadang sulit diterima akal sehat. Batu bisa memberi tuah kewibawaan, jaga diri, bahkan vitalitas,” jelasnya. KOLEKSI LINGGA YONI Di sisi lain, Master BG melihat masih minimnya pemahaman masyarakat tentang batu permata. Masyarakat yang ingin mempelajari batu permata harus bisa membedakan mana yang asli dan palsu, mana yang berkualitas rendah dan tinggi, termasuk apa fungsi batu permata tersebut. Selain bursa, penggemar batu permata juga sering disuguhkan kontes. Jenisnya pun bermacam-macam. Makin sering menang tentu memberi nilai tambah bagi batu yang dimiliki. Master BG pun termasuk berpengalaman dalam urusan kontes. Ia pernah ikut kontes di Kalimantan dan Bekasi. Prestasinya, juara 1 kontes permata antik se-Indonesia dan juara 2 kontes Chalcedony se-Indonesia 2015. Prestasi terbarunya menjadi juara I lomba batu akik langka dan unik di Tabanan. Koleksi akik bergambar lingga yoni miliknya berhasil menjadi juara I. “Ada kisah unik tentang akik lingga yoni ini. Saya mendapat bongkahan batu tahun 2005. Batu itu sempat saya buang dua kali, tetapi kembali ke saya lagi. Mungkin ini jodoh saya. Akhirnya saya potong dan diasah, ternyata muncul bentuk lingga yoni. Setelah menjadi juara karena langka dan unik, ada yang menawar jutaan rupiah. Saya tidak berani melepasnya,” ujar pria yang pernah menjadi pemain debus ini.- Ngurah Budi


4

Inspirasi

Edisi 860/ 3 - 9 Agustus 2015

Titi Kamal

Tak Suka Berdiam Diri Siapa tidak kenal Titi Kamal, bintang ‘Mendadak Dangdut’ yang membuat lagu ‘Jablai’ makin ngetop. Kini dia bukan hanya dikenal sebagai artis papan atas tapi juga sebagai artis yang sukses dalam bisnis. Betapa tidak, wanita bernama asli Kurniaty Kamalia bukan saja berhasil mengembangkan bisnis restoran dan cate­ ring miliknya tapi juga sukses dengan bisnis salon kecantikan. Namun tahukah Anda kalau Titi mengawali kiprahnya di dunia bisnis dengan bermodalkan nekat.

I

Titi Kamal

a mengaku awalnya tidak tahu sama sekali selukbeluk bisnis restoran dan catering namun nekat terjun di bidang itu. Untungnya kenekatannya itu tidak sia-sia, karena kini bisnis restoran dan ca­ teringnya bukan hanya berkembang baik, bahkan dia juga merambah ke bisnis lain, di antaranya salon kencantikan. Kuncinya, mau belajar, tekun dan bekerja keras. “Sejak dulu saya memang suka mencoba hal-hal baru. Mungkin itu karena didikan orangtua yang memberi saya kebebasan yang bertanggung jawab. Ketika memulai usaha, saya juga nekat saja begitu. Meski nggak paham dengan bisnisnya, saya tetap terjun ke sana. Begitu juga waktu bikin usaha salon. Saya pikir semua bisa dipelajari, dalam perjalanan juga dapat banyak masukan dari manamana,” ungkap Titi yang meraih banyak penghargaan dari kiprahnya belasan tahun di dunia entertainmen. Menariknya, meski sibuk mengurusi bisnis, Titi juga tetap eksis di dunia hiburan. Memang, ia tidak lagi sep­ roduktif dulu, namun tetap saja ia masih tampil di sejumlah sinetron di antaranya bertajuk ‘Lara’ dan ‘Emak Ijah Pengen ke Mekah’. Tentu saja ia memilih tawaran akting itu secara selektif lantaran tidak memiliki waktu yang banyak. Tak hanya itu, wajahnya juga kerap wara-wiri di layar kaca dalam berbagai iklan. Walhasil, masyarakat tetap mengingatnya meski karyanya di bidang sinetron dan film tidak lagi banyak. Nampaknya, selain memang hobi berakting, ia juga sadar betul eksistensinya di dunia hiburan merupakan benefit tersendiri bagi perkembangan bisnisnya. Beruntung, ia mendapat suami yang juga sesama artis, Christian Sugiono (Tian) yang juga memiliki minat yang sama pada dunia bisnis. Walhasil, pasangan pengusaha ini menjadi pasangan kompak yang saling mendukung. Seperti halnya Tian, suaminya, Titi juga memulai bisnis saat belum menikah. Ia mulai terjun ke bisnis tahun 2005 dengan membuka restoran Sunda, Riung Sari. Dari sana, ia merambah ke resto lain, seperti Warung Tekko Kemang, juga menjadi investor di beberapa resto lainnya seperti Sushi Miya8i yang digagas suaminya, Tian. Namun kebanyakan di resto-resto itu ia hanya menjadi investor pasif. “Sedang usaha catering saya mulai tahun 2010 dengan nama ‘Titisari Catering’. Usaha ini merupa­ kan usaha patungan bersama teman saya, Sarah Puspita Sari,” ujar ibu satu anak yang mengaku memang hobi kuliner sejak dulu. Empat tahun berjalan, bisnis cateringnya berkembang bagus. Malah kata Titi, pelanggannya bertambah, dan mereka secara tetap memesan makanan darinya. Diakui Titi, menekuni bisnis kuliner tidak lah mudah. Ada ban­ yak tantangan yang dihadapi, apalagi persaingan di dunia kuliner pun tidak sedikit. “Tantangannya banyak. Di antaranya soal ketepatan waktu dalam pengiriman, sementara kondisi lalu lintas di Jakarta tahu sendiri kan, macet misalnya. Belum lagi kalau ada masalah lainnya. Jadi kita harus siap mengan­ tisipasi,” jelas pemeran film ‘Eifel I’m In Love’ dan ‘Ada Apa dengan Cinta’, ini. Tantangan lainnya adalah soal harga kebutuhan pokok yang naik. Ini, ujar Titi, harus disiasati agar makanan

tetap enak dan kualitas tetap terjaga. “Harga-harga naik, merupakan tantangan tersendiri. Bagaimana agar kualitas produk tetap terjaga,” katanya. Alhamdulilah, katanya, sejauh ini semua bisa berjalan baik. Ia mengaku terjun langsung mengurusi bisnisnya, mulai dari urusan logistik hingga pengelolaan keuangan. “Saya langsung mengontrol sendiri barang-barang agar semua ber­ jalan baik, sistemnya harus baik, kata wanita kelahiran Desember 1981, ini. Soal promosi, kata Titi, dia tidak memiliki masalah. Selain memiliki background pendidikan marketing, posisinya sebagai artis, diakuinya, cukup membantu dalam mengembangkan bisnisnya.. Dulu, katanya, dia mengawalinya dengan promosi dari mulut ke mulut yang menurutnya ternyata sangat manjur. “Saya kuliah di marketing. Jadi sedikit-banyak tahu tentang hal itu. Namun saya juga banyak belajar untuk bekal diri, baik lewat buku-buku, seminar, dll,” kata sarjana marketing London School lulusan 2004, ini. RAMBAH BISNIS SALON Sukses dengan bisnis di bidang kuliner, Titi pun merambah ke bisnis salon kecantikan yang dibukannya Juni tahun lalu. Menurut Titi, pemilihan jenis bisnis, tidak jauh-jauh dari hobinya. Ia hobi kuliner, juga gemar

perawatan tubuh dan kecantikan. Sebagai publik figur, ia sangat menjaga penampilannya, itu sebabnya ia gemar ke salon untuk melakukan berbagai jenis perawatan. Pengalamannya sebagai curstomer di berbagai salon dijadikan sebagai salah satu bekalnya dalam menjalankan usaha. Agar lebih mantap, ia pun mengandeng teman yang memahami bisnis salon untuk sama-sama menekuni usaha salon yang diberi nama ‘Kinclong Hair & Spa’itu. Soal namanya yang unik, Titi berujar, nama itu sengaja dipilih agar mudah teringat. “Toh, dalam perjalanan, ada banyak masukan yang didapat untuk kemajuan salon,” tambahnya. Diakui Titi, dia memang sangat tidak suka berdiam diri. Ia sangat suka bekerja. Itu sebabnya ia melakukan banyak aktivitas. Buktinya, meski sangat sibuk dengan bisnisnya, ia tetap bisa tampil di sejumlah acara hiburan, bahkan main sinetron, dll. Yang penting, katanya, pintar-pintar membagi waktu untuk semua kegiatan itu. Di luar masalah itu, tentu saja keluarga adalah prioritas utamanya. Dia selalu memiliki waktu untuk suami, khususnya anaknya, Arjuna Zayan Sugiono yang baru berusia 2 tahun. “Tian nggak masalah saya sibuk mengurusi bisnis, namun dia mengin­ gatkan agar tidak terlalu capek juga menjaga kesehatan dengan baik,” kata Titi yang menikah pada 2009 di Perth, Australia. –Diana Runtu

Mandalika

Edisi 860/ 3 - 9 Agustus 2015

21

NTB Tuan Rumah “International Conference On Tropycal Tourism Outlook”

Provinsi Nusa Tenggara Barat kembali menjadi tuan rumah penyelenggaraan kegiatan pariwisata. Kali ini “International Conference On Tropycal Tour­ ism Outlook” yang berlangsung beberapa waktu lalu di salah satu hotel di Mataram. Diikuti 15 negara dengan 130 peserta, konferensi ini mengusung tema Balancing and Suistainability in Tourism Destination, diprakarsai oleh Fakultas Ekonomi dan Bisinis Universitas Mataram yang bekerjasama dengan lima univesitas luar negeri, seperti Northern Arizona University, University Teknologi Mara, James Cook University-Australia dan James Cook University dari Singapore.

D

engan melibatkan 92 presenter dari 15 negara tersebut, keg­ iatan yang bertujuan selain memasarkan juga merumuskan konsep dan platform untuk mengem­ bangkan pemahaman mengenai sek­ tor pariwisata khususnya Pariwisata Syari’ah juga untuk memetakan serta menganalisis posisi pembangunan kepariwisataan Indonesia di Industri Pariwisata Dunia, ini secara resmi oleh

Wakil Gubernur NTB, H. Muh. Amin, S.H., M.Si. Yang tidak kalah pentingnya konferensi ini untuk merancang pola destinasi pariwisata berkelanjutan. “Pariwisata merupakan industri yang paling cepat pertumbuhannya di dunia sehingga dapat menunjang pertumbuhan ekonomi masyarakat Nusa Tenggara Barat. Target tahun 2016 adalah NTB menerima kunjun­ gan dua juta wisatawan,” ujar Muh. Amin. Hal ini beralasan, karena NTB

memiliki potensi destinasi wisata yang terkenal, seperti Gunung Rinjani, Gunung Tambora, Gili Trawangan, Gili Menu dan Gili Air. Selain itu, terdapat keindahan alam dan budaya unik yang dapat memikat wisatawan ke Lombok. “Diharapkan konferensi ini memberikan kontribusi positif bagi pertumbuhan pariwisata NTB,” lanjut Wagub NTB. Salah seorang presenter dari Northern Arizona University, Alan

Gunung Rinjani Jadi Ikon Utama Taman Nasional di Indonesia

Gubernur NTB bersama tim audiensi persiapan Rinjani menuju salah satu ikon Negara Indonesia

Dua kaldera terbesar di Indonesia ada di tanah Nusa Tenggara Barat yakni, kaldera hasil letusan Gunung Rinjani di Pulau Lombok dan kaldera letusan Gunung Tambora di Pu­ lau Sumbawa. Dua gunung yang sama-sama fenomenal ini, Tambora dengan kedahsyatan letusannya dan Rinjani dengan pesona alamnya yang menggiurkan, berdiri kokoh bagai pasak bagi Bumi Gora. Setelah sukses menggelar peringatan dua abad letusan Gunung Tambora pada April 2015 lalu dan menetapkan Gunung Tambora yang berada di Pulau Sumbawa sebagai Taman Nasional, kini Gunung Rinjani yang berada di Pulau Lombok akan kembali menjadi sorotan terkait akan dijadikannya Taman Nasional Rinjani sebagai salah satu ikon Negara Indonesia. Terpilihnya Gunung Rinjani menjadi ikon utama taman nasional di Indonesia didasari atas struktur kelembagaan yang memelihara dan mengelolanya. Hal ini disampaikan dalam audiensi Asisten Deputi Tata Kelola Destinasi dan Pengembangan Masyarakat Kementerian Pariwisata, dan Direk­ tur Lingkungan Hidup dan Hutan Kementerian Kehutanan yang didampingi oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Kepala BAPPEDA dan Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani bersama Gubernur NTB beberapa waktu lalu. Karena itu Taman Nasional Gunung Rinjani akan segera diperiksa oleh UNESCO sebagai destinasi pariwisata terbaik di Indonesia bersa­ ma dengan Danau Toba. “Rinjani dipilih karena memiliki keunikan hasil letusan dan struktur kelembagaan yang baik,” ungkap Oneng Setia Harini, Asisten Deputi Kementerian Pari­ wisata. Beberapa guru besar Geologi Institut

Teknologi Bandung kini tengah meneliti di kaki Gunung Rinjani mengenai hasil-hasil letusan gunung tertinggi ke-3 di Indonesia ini. Kekayaan yang dilahirkan oleh alam Nusa Tenggara Barat kini seringkali di biarkan begitu saja, sama halnya dengan sebuah lapisan hasil Letusan Gunung Rinjani di desa Pancor Dau yang kini mulai dijadikan kawasan pertanian oleh masyarakat setempat. Hal ini sangat dis­ ayangkan oleh para ahli, karena bukti letusan ini tidak didapat diperbaharui dan apabila kegiatan ini diteruskan dapat menghilangkan jejak-jejak letusan Gunung Rinjani. Di tempat lain, di daerah Sembalun Lombok Timur, hutan Negara yang dikelola oleh Balai Taman Nasional Gunung Rinjani juga telah banyak ditebangi dan dimanfaatkan oleh masyarakat untuk tempat berladang. Gubernur mengungkapkan kekecewaan­ nya atas perilaku-perilaku masyarakat yang dapat merugikan NTB ini. “Tolong segera inventarisir tanah-tanah yang harus diamankan, siapkan narasi tanah-tanah tersebut dan berikan pengertian jika perlu tindak tegas masyarakat yang merusak hutan” ujar Dr. TGH. M. Zainul Majdi. Ia juga berharap agar masyarakat tidak hanya melihat nilai ekonomi terhadap alam namun juga memelihara diharapkan dapat “warisan” ilmu pengetahuan seperti jejak-jejak letusan (purba) yang bisa menjadi objek pene­ litian bagi para ahli. Pemerintah daerah berjanji untuk selalu memasilitasi dan memudahkan masyarakat dalam hal ini asal tidak merusak ekologi alam, “Pemerintah hadir untuk me­ masilitasi dan memudahkan, serta siap menin­ dak tegas bagi siapa saja yang merusak alam,” kata Majdi. -Naniek I. Taufan

Wakil Gubernur NTB, M. Amin saat kegiatan “International Conference On Tropycal Tourism Outlook” 1

A.Lew, PhD, AICP mengungkapkan kekagumannya terhadap Pulau Lom­ bok, baik keindahan alam, keunikan budaya maupun keramahan warga NTB dalam menyambut tamu atau wisatawan yang berkunjung. “Pulau Lombok sangat terkenal di dunia

dan banyak orang ingin berkunjung ke sini. Kami siap memasarkan keindahan dan keunikan ini di dunia internasional”, ungkap Profesor of Geography and Public Planning tersebut. -Naniek I. Taufan

Badan Anggaran DPRD Prov NTB Apresiasi Prestasi Pemprov NTB Perkembangan pembangunan NTB dinilai terus membaik. Kondisi ini terlihat dari porsi pembelanjaan pemerintah daerah yang terus mementingkan kebutuhan masyarakat banyak dalam berbagai pelayanan publik di antara belanja anggaran untuk fungsi kesehatan dan pendudukan publik NTB. Hal ini terungkap dalam pidato Gubernur NTB, Dr. TGH. M Zainul Majdi di Rapat Dengar pengantar nota keuangan Perubahan anggaran pendapatan dan belanja daerah Tahun anggaran 2015 dengan DPRD Provinsi NTB di Gedung DPRD Provinsi NTB, beberapa waktu lalu. “Dalam rancangan APBD Perubahan tahun anggaran 2015 ini, pemerintah daerah tetap konsisten menganggarkan 20 % untuk fungsi pendidikan dan 11 % lebih anggaran untuk fungsi kesehatan, serta komposisi belanja aparatur masih ditekan pada posisi 20 %, sedangkan belanja publik masih dipertah­ ankan pada posisi 79,67 %. Dengan struktur seperti ini keberpihakan APBD kita dalam mewujudkan alokasi untuk kepentingan dan kesejahteraan masyarakat tetap menjadi pri­ oritas utama,” ujar Majdi. Kemudian perbaikan kondisi NTB secara keseluruhan juga terlihat dari maraknya keg­ iatan nasional yang akan digelar pada tahun 2015 dan 2016 mendatang. Pada tahun 2015 dan 2016, NTB tengah mempersiapkan diri menjadi tuan rumah terhadap beberapa agenda kegiatan nasional. Di antaranya, pekan

hortikultura nasional, perkemahan wirakarya nasional, muktamar keenam ikatan cendeki­ awan muslim se-indonesia, hari pers nasional dan persiapan sebagai tuan rumah musabaqah tilawatil qur’an ke-26 tahun 2016. Pidato Gubernur pun ditanggapi dengan baik oleh Badan Anggaran DPRD Provinsi NTB yang mengawali tanggapannya dengan mengapresiasi prestasi Pemerintah Provinsi NTB yang telah ke-empat kalinya menorehkan perolehan opini WTP (Wajar Tanpa Pengec­ ualian) dari BPK-RI. Juru Bicara Banggar DPRD NTB, Yek Agil kemudian menyampaikan beberapa masukan di antaranya mengharapkan pemerintah provinsi NTB untuk tetap konsisten terhadap rencana pembelanjaan yang telah ditetapkan, melibatkan DPRD Provinsi NTB dalam pro­ gram-program strategis pemerintah provinsi NTB, menjaga komitmen pembangunan, sungguh-sungguh mengakomodir program pembangunan dan lebih kreatif dalam men­ ingkatkan pendapatan asli daerah. “Agar eksekutif secara sungguh-sungguh memperhatikan dan mengevaluasi kinerja seluruh BUMD dan dana penyertaan modal serta mengambil langkah-langkah strategis untuk menjamin tercapainya tujuan pem­ bentukan BUMD dan penyertaan modal, jika dipandang perlu agar meninjau kembali keberadaan BUMD yang memiliki kinerja ren­ dah,” ujar Yek Agil. -Naniek I. Taufan

Gubernur NTB saat menyampaikan pengantar nota keuangan APBD Perubahan tahun 2015


22

Sosialita

Edisi 860/ 3 - 9 Agustus 2015

Terus Berkarya

Penipuan makin Marak Maraknya kasus penipuan belanja online ternyata tidak membuat pertumbuhan belanja online menurun. Sebaliknya, pertumbuhan transaksi belanja online di Indonesia terus mengalami peningkatan, seolah tak terpengaruh dengan berbagai pemberitaan negatif. Seiring dengan pertumbuhan konsumen, jumlah toko-toko online pun baik yang didirikan oleh perusahaan besar dengan modal yang tentunya besar pula, atau orang per orang dengan modal seadanya, makin banyak pula.

B

erdasarkan data, pertumbuhan belanja online antara lain didukung dengan meningkatkan perkembangan infrastruktur informasi, seperti internet dan telepon pintar. Disebutkan, sampai saat ini jumlah pengguna internet telah mencapai 82 juta orang atau sekitar 30% dari jumlah total penduduk Indonesia. Dari jumlah tersebut, menurut data Mckinsey tahun 2014, sekitar 7% pernah belanja online. Disebutkan juga, kini makin banyak masyarakat di kota-kota kecil di Indonesia yang juga berbelanja online. Itu artinya, konsumen belanja online bukan hanya Jakarta dan kota besar lainnya tapi juga sudah menjangkau ke pelosok. Sayangnya belanja online yang makin ngetren di kalangan masyarakat kerap dinodai oleh maraknya kasus-kasus penipuan. Karenanya, yang penting dilakukan adalah kehati-hatian dalam berbelanja. Salah satu kasus yang sempat menghebohkan di dunia maya adalah penipuan bernilai Rp 31 juta untuk pembelian baju. Caroline, warga Tambora Jakarta Barat, terpaksa kehilangan uangnya Rp 31 juta lebih karena tergiur membeli baju yang dijual melalui media sosial. Karena merasa harganya murah, dia pun membeli dalam jumlah yang cukup banyak. Uang pembelian yang mencapai puluhan juta telah ditransferkan pada si penjual, tapi sayangnya barang yang dipesan tak kunjung datang. Sadar men-

jadi korban penipuan, dia pun melaporkan kasus tersebut ke pihak kepolisian. Kasus semacam Caroline pun banyak terjadi di dunia maya. Menurut Fransisca Indrasari, pengacara yang juga pernah menjadi korban penipuan belanja online,

banyak kasus terjadi namun tidak banyak yang mau melapor. Kebanyakan, merasa enggan. “Dalam grup khusus online shop setidaknya ada 25-30 kasus dengan nilai kerugian bervariasi,” kata Francisca yang sekarang tengah menangani lima kasus penipuan belanja online. Minimal, satu orang tertipu antara Rp 6-7 juta. Ini karena mereka itu tergiur membeli barang-barang branded dengan harga murah. Sebut saja, sepatu branded yang di pasaran harganya mencapai Rp12 juta namun bisa dijual dengan separuh harga.

account dan membuat account baru. “Kami pernah melakukan pelacakan. Ketika dipancing, ternyata dia memberikan nomor rekening yang sama. Pelaku yang sama ternyata telah membuka account baru,” kata Fransisca yang sampai sekarang masih menunggu hasil penyelidikan pihak kepolisian terhadap kasus-kasus yang telah dilaporkannya itu. Di luar kasus-kasus yang ditangani Francisca, ada banyak kasus senada. Banyak yang berani ‘berteriak’ tapi tak kalah banyaknya yang ‘hanya diam membisu’ karena tidak mengerti harus me-

lapor ke mana. “Tadinya, banyak yang tidak mau melapor karena khawatir. Namun ketika saya share pengalaman saya, akhirnya mereka mau. Karena saya pikir, kenapa harus khawatir sekarang kan zamannya penegakkan hukum. Ternyata juga, ada banyak korban yang bukan hanya di Jakarta tapi juga di daerah-daerah,” tambahnya. Yang namanya penipu terkadang tidak melihat siapa yang ditipunya. Tak peduli rakyat jelata atau pejabat, kalau lagi apes pasti terkena juga. Salah satu kasus yang sempat menggegerkan adalah kasus tertipunya Roy Suryo, mantan Menteri Pemuda dan Olah Raga, September 20014 lalu. Pakar telematika ini membeli sepeda seharga Rp 1 juta yang dilihatnya di sebuah toko online besar. Namun yang terjadi uang sudah dikirim, sepeda yang ditunggu tidak pernah tiba. Kasus ini berhasil diungkap pihak kepolisian hanya dalam beberapa hari saja. Ternyata pelakunya masih ABG. Dia ditangkap di rumahnya di Kecamatan Sukra, Indramayu, Jawa Barat. Roy Suryo gembira dengan kabar tertangkapnya pelaku, dan dia pun langsung meluapkan kegembiraannya dengan berkicau di twitter. “Pelaku bisa tertangkap karena polisi menggunakan sistem IT,” kata Roy. KASUS HEBOH BELI HP DAPAT SABUN Nah, yang baru-baru saja terjadi dan cukup menggegerkan dunia maya adalah kasus pembelian iPhone6. Uang jutaan telah ditransfer namun barang yang datang bukannya iPhone6 malah sabun batangan. Untungnya si pembeli segera berkicau di medsos sehingga mendapat tanggapan dari berbagai pihak. Kabar ini pun dengan cepat me-

3

Ny. Ratna Gde Agung

Belanja Online Tumbuh Pesat “Dengan iming-iming diskon, bahkan bisa negosiasi harga pula, akhirnya orang membeli. Tapi setelah uang ditransfer, ternyata yang dikirimkan adalah sepatu KW bukan original sebagaimana yang dipajang di toko online-nya. Ada juga kasus, uang sudah ditransfer tapi barang tak kunjung datang. Ketika dikomplain lewat telepon yang ada, tidak diangkat, di sms tidak menjawab, begitu juga ketika di e-mail. Kemudian si pelaku menutup account-nya,” kata Francisca lagi. Setelah dilakukan pelacakan, kata Francisca, dugaan sementara si penipu, setelah berhasil melakukan aksinya terhadap beberapa orang, dia pun lantas menutup

Edisi 860/ 3 - 9 Agustus 2015

Daniel Tumiwa

nyebar di dunia maya. Syukurlah, akhirnya pihak toko yang telah melakukan investigasi terhadap kasus tersebut, bertanggung jawab dan mengganti barang sesuai pesanan. Baru saja kasus tersebut berakhir damai, muncul lagi kasus mirip, beli HP Asus yang diterima malah dua botol pengharum pakaian Kispray. Kehebohan pun kembali terjadi karena si pembeli komplain lewat dunia maya dan teman-teman sesama netizen pun mendukungnya. Seperti sebelumnya, akhirnya kasus ini berakhir damai dan dia pun mendapat barang yang dipesannya. Daniel Tumiwa, Ketua Asosiasi E-Commerce Indonesia, mengakui, memang kasus penipuan belanja online kerap terjadi. Untuk itu, pembeli haruslah berhati-hati. Salah satu tipsnya adalah, berbelanjalah di penjual atau situs terpercaya yang terdaftar berbadan hukum. Sebelum membeli, konsumen harus memastikan tentang rekam jejak toko tersebut dalam berjualan. “Lihat data lainnya, misalnya, waktu berdirinya situs tersebut, produk apa saja yang dijual. Situs terpercaya akan mencantumkan nomor telepon juga alamat yang bisa dihubungi untuk pelayanan konsumen. No rekening juga atas nama perusahaan bukan atas nama perorangan,” jelasnya. “Ini penting diperhatikan; belanja di mana (toko online atau website), apakah bisa dipercaya atau tidak, bisa dihubungi atau tidak. Kalau ada masalah kemana kita harus pergi, dan lain sebagainya,” tambahnya lagi. Dengan lebih berhati-hati dalam berbelanja maka diharapkan akan terhindar dari tindak penipuan dalam berbelanja di dunia maya.—Diana Runtu

Dibalik kesuksesan seorang pemimpin besar ada seorang perempuan hebat dan kuat di belakangnya. Pepatah itu sepertinya sangat cocok menggambarkan figur Ny. Ratna Gde Agung yang dikenal sebagai istri Bupati Badung AA Gde Agung. Dalam keseharian­ nya baik di lingkungan kerja maupun masyarakat, Ny. Ratna ­Gde Agung, dikenal ­sebagai sosok yang ramah, penuh semangat, dan sangat energik.

D

i usianya yang sudah menginjak 62 tahun, perempuan kelahiran Jakarta, 1 Januari 1953 ini tetap terlihat cantik dan selalu ber­semangat dalam menata hari-hari ke depannya. Sebentar lagi tugasnya ber­alih dari Ketua Tim Penggerak PKK ­Kabupaten Badung menjadi seorang ibu rumahtangga biasa dan seorang nenek. Tinggal menghitung hari, masa kepemimpinan Bupati Badung AA Gde Agung akan berakhir. Sebelum mengakhiri jabatan, ia berpamitan kepada warga masyarakat di 7 kecamatan di Badung, mulai dari Petang, Kuta, Mengwi, Abiansemal, Kuta Utara, dan Kuta Selatan. Ditemui, sebelum berpamitan dengan masyarakat Mengwi di Wantilan Taman Ayun, Ny. Ratna Gde Agung mengobrol santai de­ ngan Tokoh di Puri Ageng Mengwi. Keramahan­nya menyambut Tokoh dan mengajak bersantai di areal Puri, menunjukkan sikapnya yang sangat bersahaja. Sembari menikmati ­hidangan teh dan kudapan, Ny. Ratna Gde Agung, berkisah banyak tentang perjalanannya sebagai ketua TP PKK Kab. Badung. Dalam pandangannya, berpamit­ an kepada masyarakat setelah menjabat, sangat perlu dilakukan. “Kami ingin membudidayakan etika dan belajar santun kepada masyarakat yang sudah mempercayai kepemimpinan Bapak selama kurun waktu 10 tahun,” ujarnya. Ia menambahkan, sebelum menjadi bupati, suaminya medharma sewaka ke masyarakat. “Sekarang, setelah selesai bertugas kami tak lupa berpamitan sekaligus mengucapkan terimakasih atas kepercayaan masyarakat selama ini, dan memohon maaf jika ada yang kurang berkenan atas sikap dan tindakan bapak,” kata Ny. Ratna Agung. Ia menyadari, dalam 10 tahun kepemimpinan suaminya, masih banyak yang belum sesuai dengan harapan masyarakat. Karena ia sadar, sebagai manusia biasa, tak luput dari kekurangan. Setelah suaminya tak lagi menjabat, tentu tugasnya lebih ringan. “Saya bisa lebih bebas menikmati waktu bersama keluarga, sebagai ibu rumahtangga dan nenek dengan 4 cucu,” tuturnya sembari tersenyum. Selain itu, kata ­­Ny. Ratna

Gde Agung, tugas sebagai warga puri, kewajiban adat dan agama, sesuai swadharma puri, tentu harus tetap ia jalankan. Ia mengucapkan syukur, seperti semua sudah diatur Ida Shanghyang Widhi, masa pensiunnya dinilai sangat tepat. “Pensiun bukan berarti berhenti berkarya. Semasih diberi kesempatan, saya akan terus berkarya,” katanya. Ia berharap, siapa­pun nanti yang terpilih sebagai Bupati Badung dan Ketua TP PKK Kab. Badung, akan dapat meningkatkan prestasi Badung ke depannya. Kilas balik perjalanan Ny. Ratna Gde Agung dimulai saat usianya menginjak 52 tahun, suaminya AA Gde Agung dipercaya menjadi Bupati Badung periode 2005-2010. Menjadi istri nomor satu di Badung, dengan usia yang tidak muda lagi, menjadikan ia sebagai ketua atau pimpinan beberapa organisasi tentu sangat menyita waktu dan tenaga. Tanggungjawab yang dulunya hanya untuk keluarga harus dibagi dengan berbagai kesibukan dan rutinitas kegiatan organsiasi. Ia dituntut pandai membagi waktu dan menjaga kesehatan agar tetap fit dalam menjalankan tugas. Menurutnya, ia hanya berprinsip tetap berpikir positif dan selalu enjoy yang mengantarkannya selalu bersemangat dan melakukan berbagai aktivitas. Tak jarang, dalam kegiatan kemasyarakatan untuk mendukung kiprah suami,

menyita banyak waktu bahkan sampai larut malam. “Sedikit pun tak tampak raut wajah letih dan gerak-gerik tubuhnya yang lemah menunjukkan kelelah­ an. Ia selalu tampil bersemangat untuk memotivasi para ­istri SKPD,” ujar salah seorang pengurus di Tim Penggerak PKK Badung kepada Tokoh. Di tengah kesibukkannya berorganisasi, Ny. Ratna Gde Agung, masih tetap menyempatkan diri melayani suami dan mengurus ke l u a r g a . Ke s e d e r ­ hanaan Ny. Ratna Gde Agung juga terlihat dalam penampilannya sehari-hari. Anggapan istri pejabat harus selalu tampil mewah, tak terlihat dalam kesehariannya. Busana yang dikenakan selalu disesuaikan dengan situasi dan kondisi begitu juga dandanan. Ia mengatakan, tak pernah pergi ke salon. Urusan make up ia kerjakan sendiri dan tak pernah memakai perhiasan berlebihan. Menurutnya, istri pejabat harus memberi contoh kepada bawahannya. Kesederhanaan juga terlihat dari sikapnya sehari-hari. Ia tidak suka meninggikan diri. Ia lebih memilih kebersamaaan dan kesetaraan yang indah. Ia sering menolak apabila ada masyarakat yang mengistimewakannya secara berlebihan. Hal itu, dilakukannya bukan untuk meraih simpati, namun, sikap itu mengalir apa adanya. Ketika, suaminya kembali dipercaya memimpin Badung periode kedua 2010-2015, ia ditanya. Bagaimana rasanya menjadi istri bupati? Ny. Ratna Gde Agung menjawab dengan santai. “Biasa saja, di atas langit masih ada langit”. Baginya, jabatan itu amanah dan hanya titipan. Suatu saat akan kembali lagi, karena itu, ia ingin tampil apa adanya. Sikap disiplin dan tangungjawab menjadi modal dasar Ny. Ratna Gde Agung dalam meraih keberhasilan dalam menjalankan tugas mengabdi

ke masyarakat. Sikap tersebut ditunjukkan dalam setiap pelaksanaan acara PKK ataupun organisasi lain yang dipimpinnya. Ia selalu berusaha hadir tepat waktu. Ia juga selalu berusaha menghormati orang lain, melalui sikap tekun dan serius dalam menghadiri berbagai acara. Beberapa pucuk pimpinan organisasi disandangnya, Ketua Tim Penggerak PKK Kab. Badung, Ketua K3S Kab. Badung, Ketua Dekranasda Kab. Badung , Ketua YKI Kab. Badung, Penasihat Dharma Wanita Persatuan Kab. Badung dan Penasihat WHDI Kab. Badung. Beberapa prestasi organisasi yang pernah diraih diantaranya, Juara I Pelaksanaan Terbaik Kesatuan Gerak PKK KB- Kesehatan Tahun 2005 yang diwakili Kelurahan Kapal, Mengwi; Juara II BKB Prov. Bali Tahun 2006 diwakili Ratna Gde Agung sebagai Ketua TP PKK Badung; Juara II Pelaksanaan Terbaik Kesatuan Kesatuan Gerak PKK KB- Kesehatan Tahun 2006 diwakili Desa Getasan, Petang; Juara II 10 Program PKK Tingkat Prov. Bali Tahun 2007 di-

AA Gde Agung dan Ny. Ratna Gde Agung menyaksikan penampilan beberapa remaja putri memainkan musik gender di Wantilan Taman Ayun Mengwi

wakili Desa Angantaka, Abiansemal dan Kelurahan Kerobokan, Kuta Utara; Juara I Kelompok UP2K PKK Tingkat Prov. Bali tahun 2007 diwakili Desa Angantaka, Abiansemal; Juara I Pelaksanaan Terbaik ­Kesatuan Kesatuan Gerak PKK KB- Kesehatan diwakili Kelurahan Tuban, Kuta; Juara III Lingkungan Bersih dan Sehat Tingkat Nasional Tahun 2007, diwakili Desa Getasan, Petang; Juara Prakerti Madya II Pelaksanaan Terbaik Kesatuan Gerak PKK KB – Kesehat­an Tingkat Nasional Tahun 2008 yang diwakili Kelurahan Tuban, Kuta; Juara I Pengelola terbaik BKB Tingkat Prov. Bali Tahun 2008 diwakili Ny Ratna Gde Agung selaku ketua TP PKK Kab. Badung; Penghargaan Manggala Karya Kencana tingkat Nasional Tahun 2009 dari BKBBN yang diwakili Ny Ratna Gde Agung selaku ketua TP PKK Kab. Badung; Penghargaan Manggala Karya Bakti Husada Arutula Tahun 2009 dari Menteri Kesehatan yang diwakili Ny Ratna Gde Agung selaku Ketua TP PKK Kab. Badung; Penghargaan Prakerti Utama I Lomba Lingkungan Bersih dan Sehat Tingkat Nasional Tahun 2009 yang diwakili Desa Pelaga, Petang; Juara I Lomba 10 Program PKK Tingkat Prov. Bali Tahun 2009 diwakili Desa Pecatu, Kuta Selatan. Juara I Lomba Prilaku Hidup Bersih dan Sehat Tingkat Tingkat Prov. Bali Tahun 2010 diwakili Desa Gulingan, Mengwi; Juara I Lomba 10 Program PKK Tingkat Prov. Bali Tahun 2010 diwakili Tanjung Benoa, Kuta Selatan. Juara I Pelaksana Terbaik Prilaku Hidup Bersih dan Sehat Tingkat Tingkat Prov. Bali Tahun 2010 diwakili Desa Gulingan, Mengwi; Juara I Lomba Prilaku Hidup Bersih dan Sehat Tingkat Prov. Bali Tahun 2011, diwakili Desa Baha, Mengwi; Penghargaan Prakerti Utama II Pelaksana Terbaik Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Tingkat Nasional diwakili Desa Baha, Mengwi; Juara II Lomba Desa Terpadu Tingkat Nasional yang diwakili Desa Kutuh, Kuta Selatan. –ast


2

Ekspresso DAri daPUr Redaksi Edisi 860/ 3 - 9 Agustus 2015

Menang tanpa Ngasorake Pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak akan digelar 9 Desember 2015. KPU mendata ada 705 calon yang mendaftar. Dari jumlah itu, ada 55 calon wanita dan sisanya, 650 orang pria. Di Bali, ada enam kabupaten/ kota yang akan melaksanakan pilkada. Badung, Bangli, Denpasar, Jembrana, Karangasem, dan Tabanan. Dari para kandidat yang akan bertarung, ada tiga wanita. Ni Putu Eka Wiryastuti (Tabanan), IGA Mas Sumatri (Karangasem), dan Ni Made Sumiati (Karangasem). Hadirnya wanita dalam kancah perpolitikan bukanlah hal yang tabu. Wanita memiliki peluang yang sama untuk bersaing dalam sebuah perhelatan politik. Posisi wanita tak lagi hanya sebagai pendamping suami. Wanita punya hak untuk ikut menjadi kandidat. Dari pilkada-pilkada di Indonesia sebelumnya, sudah ada wanita yang berhasil menjadi kepala daerah. Ada yang menjadi gubernur, ada yang menjadi bupa-

ti, dan ada yang menjadi walikota. Mengapa mereka bisa? Tentu banyak faktor yang menentukan, diantaranya peluang, kemampuan, dan “garis tangan”. Peluang dan kemampuan berada di level yang sama. Jika ada peluang tetapi tidak punya kemampuan, tentu sulit untuk merebut simpati masyarakat. Sebaliknya, punya kemampuan tetapi tidak ada peluang, tidak akan ada artinya. Kedua faktor ini harus dikuasai. Begitu ada peluang, manfaatkan peluang dengan segenap kemampuan. Semua ini proses yang harus dipersiapkan sejak lama. Satu hal lagi, yang perlu dingat adalah orang sudah

membawa “garis tangan” masingmasing. Baik-buruk, lurus-berliku, pahit-manis kehidupan harus dilalui. Kalau memang “garis tangan” belum membawa kea rah kesuksesan, jangan menyerah. Semua ini proses. Dibalik kegagalan ada makna yang tersirat. Salah satu contoh, Khofifah Indar Parawansa yang dua kali gagal menjadi Gubernur Jawa Timur. Kini ia menjadi Menteri Sosial di Kabinet Kerja Presiden Jokowi. Kalah bukan berarti semua selesai. Jelang pilkada bersama ini, kepada kandidat wanita, berjuanglah semaksimal mungkin. Tunjukkan kemampuan saat peluang itu ada. Kalah menang itu biasa. Hal terpenting bagaimana menyikapi dengan bijaksana. Ada ungkapan kearifan mengatakan menang tanpa ngasorake. Artinya kira-kira menang tanpa mengalahkan. Ini yang memerlukan kearifan dari sang pemenang. Hal paling dasar yang harus dilakukan adalah tidak perlu menggelar pesta kemenangan besar-besaran. Apalagi dengan tambahan bumbu meremehkan pihak yang dikalahkan. Pesta kemenangan cukup sebagai tanda syukur kepada Yang Maha Kuasa. Tidak lebih dari itu. Salam

Keteganganku Mencapai Klimaks

Akhir bulan Mei 2015, di Karangasem ada lomba bidang Bahasa Indonesia yakni menulis poster, menulis cerpen serta membaca puisi. Seperti biasa jika ada lomba seperti itu pasti tugas itu tertuju padaku. Awalnya ketrampilanku di bidang sastra sangat minim. Karena ada permintaan dari seorang siswa yang tertarik ingin mengikuti lomba. Siswa itu pindahan Surabaya, yang cukup mahir berbahasa Inggris. Ia minta bantuan dibuatkan pidato bahasa Indonesia karana ia ingin ikut lomba pidato Bahasa Inggris. Aku berusaha membuat sebisanya berdasarkan tema yang diberikan serta mencari beberapa referensi sebagai pedoman. Setelah lomba akhirnya ia dapat juara walaupun baru dapat juara harapan satu, namun siswa itu cukup gembira. Sejak itu kemampuanku di bidang sastra sedikit demi sedikit terasah. Dalam hal membina siswa, tidaklah masalah besar buatku. Memang yang namanya lomba kadang bisa menang kadang juga kalah, hal itu adalah sebuah kewajaran yang harus diakui. Namun yang sedikit mengganjal adalah aku tak bisa bertanggung jawab secara totalitas, sebab kendalanya jika aku mendampingi saat lomba aku juga harus diperhitungkan dalam hal transportasi, karena belum berani mengendarai sepeda motor. Seperti

bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

makan buah simala kama, jika tidak ikut mendampingi siswa saat berlomba mungkin dianggap tanggung jawabku masih setengah-setengah. Sehari menjelang lomba ada surat tugas dari Kepala Sekolah agar aku ikut mendampingi lomba tersebut juga tamanku seorang guru olah raga yang mengantar dengan mobil pribadinya. Pada hal sebelumnya aku sudah menolak untuk ikut mendampingi berhubung kondisiku sedang tidak sehat. Demi sebuah tanggung jawah, apalagi sudah dibuatkan surat tugas ya kupaksakan juga untuk mendampingi para siswa yang ikut lomba. Kami sepakat berangkat pagi-pagi. Karena masih pagi jalanan masih cukup lengang, tidak banyak kendaraan yang lewat. Laju kendaraan cukup kencang. Sebenarnya aku merasa pusing karena penyakit vertigoku kumat. Untuk mengusir rasa pusing aku melihat pemandangan ke samping makin kencang laju kendaraan makin kencang terasa pohon-pohon berlari, kepalaku makin terasa tidak nyaman. Ya terpaksa aku menghadap ke de-

pan. Di tikungan Candidasa menuju Samuh, teman yang mengendarai sepeda motor mendadak membelok karena menghindari anjing mungil yang melintas di depannya. Syukurlah temanku cukup sigap menyetir sehingga tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Perjalanan berlanjut dan kepalaku maikin pusing. Siswa yang kuajak juga pusing. Tak dinyana mobil yang kutumpangi mendadak mengerem. Setelah melihat ke depan, Oh my God… pemandangan yang sangat mengerikan, telah terjadi tabrakan. Aku melihat jelas ada sepeda motor ringsek di pinggir jalan, pengendaranya lututnya robek dan yang dibonceng tidak sadarkan diri, segera diangkut keduanya ke mobil pick up. Lengkaplah sudah kekhwatiran dengan kondisi tidak enak sudah mencapai klimaks, jantungku terasa berdebar-debar, sungguh pengalaman perjalanan yang tidak menyenangkan, sehingga penyakit vertigoku kambuh permanen. Wayan Weti, Karangasem

GORO-GORO

akik

Tiba-tiba akik meledak jadi emas. Batubara terkubur. Di mana-mana orang keranjingan Putu Wijaya menggosok batu. Padahal dulu dilecehkan sebagai “mainan” para dukun. Amat tak mau ketinggalan. Ia bongkarl laci mencari akik-akik yang pernah dikoleksinya. Dulu ia percaya akik punya kekuatan rahasia. “Ada akik untuk menolak penyakit, menetralisir bala, melindungi diri dari serangan tenaga gaib, Ada untuk mendongkrak wibawa. Buat hoki, buat dicintai. Ada pula untuk menyerang dan mengalahkan lawan.” “Tapi jangan salah pilih. Ada akik yang keren, tapi tidak cocok dengan kepribadian kita. Akik Itu berbahaya, bisa jadi bumerang.” “Akik tidak boleh diobral. Maksimum kalau dipakai cincin, tabu memakai lebih dari tiga. Kalau dipaksakan , dia akan minta korban.” Bu Amat diam saja tak mau mengganggu keasyikan suaminya. Hanya saja kemudian ia terganggu karena banyak tamu berdatangan untuk konsultasi akik. Kadang tengah malam, kadang subuh. Amat mulai dikenal sebagai “pakar” akik. “Yang mengherankan Ibu, kata Bu Amat curhat pada Ami. “Akik Bapakmu banyak dibeli, tapi koleksinya bukan berkurang, justru bertambah.” “Bagaimana caranya merebut kembali bapakmu yang diculik akik, Apakah Ibu harus ikut bapakmu jadi dukun akik?” “Betul! Melawan dukun harus jadi dukun!!” Bu Amat tertawa. Tapi kemudian ia praktekkan resep Ami. Amat sangat senang. Lalu istrinya diangkat jadi asisten. Tapi karena sudah ada asisten, Amat punya waktu lagi melakukan kebiasaan lamanya. Sport jalan pagi, membaca, menghadiri berbagai pertemuan. kerja sosial, berorganisasi dll. Amat bahkan mengajar pada sebuah bimbingan kerja TKI. Subuh ia bikin sarapan sendiri. Pulang siang atau sore, bahkan nonton TV dan tidur ia sendiri, karena Bu Amat terlalu sibuk ngurus akik Sekitar 2 bulan Amat menikmati kehidupan bebasnya. Ia terkejut ketika menyadari istrinya dikenal sebagai dukun akik. “Dinasehati supaya mengurangi kegiatan perdukunan akiknya, supaya bisa apa, bersosialisasi, seperti nasehatmu dulu, ia malah menjawab ketus,” curhat Amat pada Ami,” Katanya jadi dukun akik juga maknanya bersosialisasi. Bapak jadi mati langkah. Apa yang harus bapak lakukan, Ami? Apakah bapak harus ikut-ikutan jadi dukun? Sebab katamu dulu, untuk melawan dukun harus jadi dukun?” Ami menjawab tegas, “Betul sekali!” Amat tertawa. Tetapi ketika ia siap-siap untuk jadi dukun, istrinuya tiba-tiba menghentikan prakteknya. Amat jadi kecewa. “Lho kok berhenti, Bu? Teruskan dong! Itu kan berguna bagi masyarakat. Daripada mereka dapat nasehat dari para petualang yang hanya mencari duit dari kebodohan nasyarakat, kan lebih baik ibu bantu?! Teruskan saja prakteknya! Itu kan maknanya juga sosialisasi?!” Bu Amat diam saja. Makin didesak ia makin diam. Ketika Amat terus gencar mendesak, akik-akiknya ia buang ke gudang. Amat mengurut dada.

Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca ­lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. ­Panjang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan nomor kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373 Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budi­a rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Se­k retariat: Ayu ­A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­m erah ­B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­ ­F aksi­m ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang ­G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

Mozaik

“Mengeong” Tanda Minta Kawin Kucing Persia atau Anggora termasuk salah satu jenis hewan yang tergolong mahal. Kucing berbulu lebat dan lucu ini bisa menghasilkan jutaan rupiah jika dikembangbiakkan. Para pecinta kucing makin hari makin mempunyai tujuan untuk mengembangbiakkannya. Hal ini disebabkan tiap 6 bulan sekali kebiasaan kucing melakukan perkawinan.

A

dalah Hentri Yudiono, salah seorang pengembang biak atau peternak kucing Anggora di wilayah Ponorogo. Ia menceritakan awal mulanya dirinya terjun di dunia bisnis ternak kucing tersebut. Berawal saat mengantarkan istri bertandang ke rumah temannya, Hentri panggilan akrabnya langsung jatuh cinta melihat kucing Persia peliharaan teman istrinya. ‘’Saya melihat anak kucing jenis Persia terlihat lucu dan menggemaskan, akhirnya saya

putuskan untuk membeli dengan harga Rp 300 ribu dan ternyata langsung diberikan,” kenangnya. Dengan berjalannya waktu, jelang 4 bulan kucing yang ia rawat setiap malam selalu mengeong. Karena dirinya masih awam dengan hal kucing, dirinya tidak mengetahui apa yang diinginkan kucing tersebut. Lantas beberapa kerabat yang sudah lama memelihara kucing jenis Persia mengatakan bahwa kucing tersebut minta dikawinkan. ‘’Kata teman, jika kucing seperti itu tandanya minta dikawinkan. Kebetulan kucing pertama saya ber-

Hentri Yudiono

jenis kelamin betina,’’ tuturnya. Mengetahui hal tersebut, dirinya lantas membeli satu kucing jantan untuk disatukan sekandang dengan kucing pertamanya. Walhasil, setelah 2 bulan, kucing Persia pertamanya beranak 5 ekor.‘’Lima ekor anak kucing saya langsung ditawar sama saudara dan tetangga yang juga suka kucing. Nah melihat peluang tersebut, saya ahirnya menambah koleksi kucing dan berniat untuk mengembangkannya,’’ jelasnya. Menurutnya, untuk perawatan kucing tidaklah sulit. Hanya kebersihan dan makanan yang harus

Edisi 860/ 3 - 9 Agustus 2015

diperhatikan. Untuk memelihara kucing hanya dibutuhkan kandang besi, karpet sebagai alas, bak pasir liter, pasir khusus buat buang kotoran. ‘’Kebersihan adalah kunci wajib memelihara kucing, karena dari kebersihan itu kesehatan dapat terjamin,” paparnya. Hentri menyarankan, jika terdapat kucing yang sakit agar segera dibawa ke dokter hewan.

23

Apabila terdapat penyakit yang serius segera karantina agar tidak menular kepada kucing lainnya. Sekarang di kandang sebelah rumahnya, terdapat 8 ekor indukan yang siap beranak. Hentri membandrol harga untuk setiap anakan kucing dengan harga Rp 400 ribu hingga Rp 600 ribu. Harga indukan mulai dari harga Rp 1,5 juta. -Dinar Perdana

Sukses tak Semudah Balikkan Telapak Tangan Jadi pengusaha sukses, apalagi di usia yang masih muda jelas membutuhkan usaha keras dan semangat pantang menyerah. Kerja keras tidak selalu membuahkan hasil. Namun, tidak harus putus asa. Karena dunia bisnis bagai bak misteri yang harus dipecahkan. Saat beranjak masa remaja, selalu indentik dengan kesenangan dan foya-foya. Apalagi, Roy anak dari seorang yang bergelimang harta. Tak mengherankan kerja keras hanya menjadi nomor sekian. Karena yang utama adalah gengsi sebagai remaja yang tumbuh di kota besar. Dengan kehidupan yang penuh fasilitas ala kota besar, menjadi surga bagi anak muda saat ini yang kehidupannya mapan. Namun, anggapan itu tidak berlaku bagi Roy, pria kelahiran 1977 ini. Bagi Roy, masa remajanya dia habiskan dengan kerja keras untuk membesarkan usahanya. Karena bukan kesenangan yang dia cari, namun bagaimana menjadikan hidup ini memiliki arti. Alhasil, di usianya yang tergolong masih muda ini, dia berhasil memimpin delapan cabang usahanya sekaligus di bidang alat olahraga yang ada di Surabaya. Pria kelahiran Pemantang Siantar yang murah senyum ini, berprinsip untuk bisa meraih sukses, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tidak hanya kerja keras, tapi juga semangat pantang menyerah untuk terus berinovasi membangun strategi bisnis yang mumpuni. Bisnis Garuda Sport yang ia dirikan sejak 1990 dan 1995, kini memiliki delapan cabang di Surabaya. ”Kami juga pernah ketinggalan dan jatuh, tapi bukan berarti ketinggalan dan jatuh selamanya. Yang terpenting kita berikan pelayanan terbaik ke konsumen, harga, kualitas barang itu yang paling penting,” kata Roy. Saat ini, bila mengambil laba banyak itu tidak mungkin. Yang terpenting konsumen senang. Apalagi, Garuda Sport semakin bagus dan maju. Hal itu untuk menjaga kualitas, dari keaslian produk tersebut. Karena banyak toko produknya tercampur dengan produk yang tidak asli. ”Tapi, kalau barang yang ada di Garuda Sport saya berani beri jaminan, bahwa barang yang ada disini ada garansi,” tambahnya. Roy mengaku apa yang ia capai selama ini tidak lepas dari faktor dukungan orangtuanya, yang tanpa kenal menyerah untuk membangun usaha Garuda Sport yang khusus menjual peralatan

olahraga ini. “Dulu usaha ini yang punya dan yang mengelola adalah orang tua,” aku Roy. Produk yang ada di Garuda Sport, kebanyakan mengambil dari Singapura, Jepang, dan Korea. Sistem yang diterapkan di Garuda Sport antara lain menekankan bahwa konsumen berada di rumah bukan di toko. Memberikan penjelasan dan pelayanan yang bagus karena meski konsumen tidak beli minimal dapat memberikan edukasi kepada konsumen. Tentang konsep, Garuda Sport, lebih cenderung kepada multi sport. Jadi semua alat untuk olahraga tersedia dan ada disini. “Berkat doa dan dukungan pelanggan kami bisa tetap eksis dan akan tetap menjaga kualitas barang,” tegas Roy. -Bayu Pangarso

Roy


24

What’s Up

Edisi 860/ 3 - 9 Agustus 2015

Menyemarakkan Jakarta dengan Taman Terpadu Ramah Anak Jakarta kekurangan ruang terbuka hijau, itu memang cerita lama.Pembangunan yang tak terkendali serta pe­ ngawasan yang kurang terhadap tanah-tanah pemerintah daerah, menjadi penyebabnya.Tak heran kalau penambahan RTH menjadi sangat lambat.

D

ari luas Jakarta yang 661,52 km2, RTH yang dimiliki baru sekitar 10-11%. Padahal jika mengacu pada Undang Undang No 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, Jakarta harus memiliki minimal 30 % RTH. Itu sebabnya dibawah kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahja Purnama alias Ahok, gencar mengejar kekurangan RTH itu untuk mewujudkan kota besar yang ramah lingkungan.

Dalam program penambahan RTH inilah Dharma Wanita Pemprov DKI Jakarta juga Tim Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TPKK) masuk dengan konsep Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA). Hal ini, kata Ketua Dharma Wanita Persatuan (DPW) Prov. DKI Jakarta, Rusmiati Saefullah, sesuai dengan program organisasinya, yakni, pendidikan, ekonomi dan sosial budaya. Titik perhatian organisasi, ucapnya, diarahkan antara lain untuk mening-

Taman ramah anak

katkan kualitas sumber daya anggota dan keluarganya agar mampu menjawab tantangan masa depan, memiliki wawasan jauh ke depan juga memiliki kemampuan meraih peluang bagi kehidupan yang lebih baik. Namun dalam melaksanakan program selain guna meningkatkan kualitas sumber daya serta ketahanan keluarga juga harus menyesuaikan tatanan organisasi dengan kebijakan pemerintah. “Karenanya upaya Pemprov DKI Jakarta memperluas RTH didukung penuh oleh Dharma Wanita juga PKK. Pembangunan taman-taman terpadu yang terintegrasi sangat baik, dengan begitu anak-anak memiliki taman bermain yang nyaman. Para orangtua juga dapat berkegiatan di sana,” papar Rusmiati yang juga Wakil Ketua II Tim PKK Prov. DKI Jakarta. RPTRA nantinya bukan hanya menjadi tempat anak bermain, tapi di sana para orangtua khususnya para ibu dapat melakukan berbagai kegiatan, seperti pelatihan ketrampilan, kegiatan posyandu,dll. Saat ini, sudah ada sejumlah taman terpadu yang dibangun di lima wilayah Ibukota. “Untuk pembangunan taman ramah anak yang dibangun di tiap-tiap wilayah yang padat penduduk harus nyaman, tanah tidak dalam sengketa dan luasnya minimal 1000 meter persegi,” tambah istri Sekretaris Daerah DKI Jakarta, Saefullah, ini. Hal senada disampaikan Veronica Tan, Ketua Tim PKK Provinsi DKI Jakarta. Kata istri Gubernur DKI ini, dalam dua tahun ke depan akan terwujud sekitar 300-an taman. “Ini rencana hingga dua tahun ke

Veronica saat peresmian pembangunan taman terpadu ramah anak

depan ada 300-an taman akan dibangun. Saat ini Pemda Provinsi DKI Jakarta sedang berkoordinasi untuk mencari lahan-lahan pemerintah untuk pembuatan RPTRA,” ungkap Veronica yang juga Penasihat Dharma Wanita DKI Jakarta ini. Nantinya, tambah ibu tiga anak ini, RPTRA akan ada di tiap kelurahan. Karena karakteristik dan kebutuhan warga setiap daerah berbeda, maka pembangunannya pun akan disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhanwarga. “Jadi sekarang masih mencari-cari lahan, masih social mapping. Nantinya dibangun sesuai kebutuhan warga setempat, masing-masing tempat tentunya memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda, jadi pembangunannya mungkin tidak sama,” tambah Veronica.

Membangun banyak RPTRA memang menjadi impian Veronica juga pengurus lainnya. Karena dengan RPTRA ini seluruh program pemberdayaan keluarga bisa terintegrasi dalam community center. Berbagai aktivitas anak maupun orangtua bisa terpusat di tempat tersebut, dan juga bisa dikembangkan untuk sarana pelatihan ketrampilan bagi ibu-ibu untuk meningkatkan perekonomian. Untuk tahun 2015 ini, direncanakan dibangun 54 RPTRA, empat di antaranya sudah diresmikan, di antaranya di Kelurahan Sungai Bambu, Tanjung Priok Jakarta Utara. Veronica Tan menambahkan akan mengandeng perusahaan-perusahaan lewat program CSR agar rencana pembangunan RPTRA bisa cepat terwujud. –Diana Runtu


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Tokoh Edisi 860 | Tokoh by e-Paper KMB - Issuu