Skip to main content

Tokoh Edisi 851 | Tokoh

Page 1

24

What’s Up

Edisi 851/ 1 - 7 Juni 2015

Mengantar Matahari Terbenam di Pantai Ampenan Di pinggir Pantai Ampenan, warga Kota Mataram duduk berderet menikmati kopi, teh dan camilan. Anak-anak bermain air laut dan ada pula yang bermain bola di pasir. Para pedagang sibuk dengan aktivitas membakar sate, jagung hingga mengaduk kopi dan teh pesanan para pelanggan. Inilah menjadi sore hari yang asyik di Pantai Ampenan, lokasi wisata dalam kota.

P

enat dengan kesibukan dan rutinitas sehari-hari membuat orang mencari aktivitas hiburan untuk menyegarkan kembali suasana agar tidak terjebak pada kejenuhan. Tempat liburan dan hiburan menjadi pilihan yang pas untuk melepas kesuntukan. Karena itulah, tempat-tempat bersantai, termasuk di Kota Mataram dipenuhi masyarakat khususnya di jam-jam istirahat maupun di waktu-waktu libur. Tempat bersantai yang dekat dari rumah tinggal apalagi murah meriah, pastilah akan kebanjiran kunjungan untuk itu. Salah satu tempat bersantai di Mataram yang

akhir-akhir ini kian ramai dikunjungi masyarakat kota ini, adalah Pantai Ampenan, yang berada di pinggir bagian barat Kota Mataram. Tiap sore tiba, Pantai Ampenan mulai didatangi pengunjung yang kebanyakan warga Kota Mataram. Di pantai ini selain duduk menikmati sore di tepi pantai, berbagai aktivitas lain dilakukan seperti mandi, berenang, main bola hingga menikmati kuliner khas Lombok dan jagung bakar yang banyak di jual di sepanjang areal pantai. Lokasi ini telah ditata demi kenyamanan pengunjung. Para pedagang juga menyajikan berbagai makanan dan minuman yang siap menemani pengunjung dari sore

hingga malam hari. Pantai ini akan lebih ramai lagi, bahkan dari pagi hingga malam hari saat libur atau hari Minggu. “Kalau hari Minggu atau waktu libur, kami berjualan dari pagi hingga malam hari,” kata Ratna, salah seorang pedagang camilan di Pantai Ampenan. Makin sore, makin banyak orang duduk berjejer di tempat yang sengaja dibuat untuk bersantai mengantar matahari terbenam. Posisi pantai yang berada di bagian barat Kota Mataram menjadi tempat yang asyik untuk menikmati matahari tenggelam bersama keluarga. Warga yang datang bersantai ratarata membawa keluarga khususnya anak-anak. Ada pula muda mudi

bahkan pasangan suami istri yang hanya datang berdua saja. Lina dan suaminya misalnya, sore itu mereka hanya datang berdua melepas penat dengan minum kopi dan camilan di tepi pantai. “Biasanya kami membawa anak-anak, tapi hari ini cuma ingin berdua saja,” ungkap Lina warga Seruni yang sangat sering mengunjungi Pantai Ampenan. Menurut Lina, sepulang dari kantor, keduanya sering menghabiskan waktu di pantai ini, baik sore maupun malam hari. “Biasanya sesudah Salat Asar atau sehabis Salat Magrib, kami nongkrong di sini,” katanya. Bagi Lina dan keluarga, Pantai Ampenan menjadi pilihan yang tepat untuk bersantai. Selain karena sangat dekat dari rumahnya, hanya sekitar 10 menit perjalanan, juga berbiaya murah karena gratis,

mereka telah dapat menikmati sore bersama ratusan warga kota lainnya. Hal yang sama juga dilakukan keluarga Mila di Pejeruk dan Titin di Pagesangan. “Dari pada cari yang jauh, di sini saja sudah lengkap. Bisa menikmati pantai dan matahari tenggelam juga kuliner khas Lombok seperti pelecing, sate dan lainnya,” ujar Titin. Harga yang ditawarkan para pedagang juga murah meriah. Di samping kini ramai sebagai tempat wisata nongkrong, Pantai Ampenan juga kerap menjadi tempat penyelenggaraan berbagai kegiatan di panggung sederhana yang ada di tengah lapangan sekitar pantai ini. Hal ini memberikan penghasilan yang cukup bagi para tukang parkir di sana. Demikian pula para pedagang makanan khas dan camilan yang rata-rata warga sekitar Pantai Ampenan. Mereka mendapat penghasilan yang cukup dari aktivitas wisata dalam kota ini. -Naniek I. Taufan

Wisata Belanja di Batam Musim liburan segera tiba. Tak heran kalau belakangan paket-paket liburan dan wisata gencar ditawarkan. Bagi yang ingin berlibur namun cukup hanya di kawasan Indonesia, mungkin mengunjungi Batam bisa menjadi pilihan. Pulau yang berada dalam lingkup Provinsi Kepulauan Riau ini, tengah melakukan pembenahan besar-besaran terkait pariwisata. Salah satu incaran pelaku industri pariwisata Batam adalah mendatangkan wisatawan-wisatawan negeri tetangga seperti, Singapura, Malaysia dan Brunei.

S

ejak lama Batam dikenal sebagai destinasi wisata belanja. Ini lantaran banyak barang-barang bermerek yang didatangkan dari luar negeri dijual di Batam dengan harga relatif murah. Bahkan konon lebih murah 1/3 dari Singapura

juga Malaysia. Itu sebabnya banyak penduduk negeri tetangga belanja barang tertentu ke Batam ketimbang beli di negerinya sendiri. Apalagi, untuk mencapai Batam tidak terlalu menyulitkan. Penduduk Singapura misalnya, jika tidak ingin naik pesawat terbang, cukup datang ke HarbourFront untuk menyeberang menggunakan ferry ke Pelabuhan Batam Centre. Hanya dibutuhkan sekitar 1 jam mereka pun bisa menjejak-

kan kaki di Batam. Begitu juga Malaysia yakni lewat Pelabuhan Stulang Laut dan Pasir Gudang di Johor Baru. Pesatnya perkembangan wisata belanja Pulau Batam juga membuat makin suburnya pertumbuhan pusat-pusat perbelanjaan. Lalu, kenapa harga barang di Batam bisa lebih murah dibanding daerah lain, atau bahkan negeri tetangga. Salah satunya, kemungkinan, karena diberlakukannya Free Trade Zone atau zona

Belanja murah meriah di Batam

perdagangan bebas dimana adanya fasilitas khusus berupa keringanan pajak terhadap barang tertentu. Fasilitas itu kemudian membuat harga barang pun ikut turun. Salah satu kawasan belanja yang dikenal murah adalah Nagoya yang menjual aneka produk seperti tas, sepatu, pakaian hingga gadget dan komputer. Yang juga dikenal tempat belanja murah adalah Lucky Plaza dan Batam City Square. Hanya saja, meski harga murah, pembeli harus tetap hati-hati, jangan kalap. Karena ada saja pedagang nakal. Jadi yang pasti, sebelum membeli produk sebaiknya kenali dulu produknya, periksa baik-baik, termasuk mengecek garansinya. Karena asal tahu saja, di sana banyak barang ‘black market’ yang beredar. Yang juga tak kalah pentingnya adalah cek harga untuk perbandingan. Selain wisata belanja yang sudah dikenal sejak lama, saat ini Batam juga mengembangkan wisata bahari juga wisata olahraga. Untuk wisata bahari, saat ini yang tengah dikembangkan adalah kawasan wisata terpadu

Funtasy Island di gugusan Pulau Manis, Kota Batam. Salah satu yang menarik di sini, wisatawan bisa langsung membeli ikan segar tangkapan nelayan yang dijajakan di sekitar resort. Untuk mencapai Pulau Manis, tak usah khawatir, karena ada kapal khusus rute Pulau BatamPulau Manis dengan jarak tempuh sekitar 20 menit.Jika wisatawan ingin berwisata olahraga, Batam juga menyiapkan sejumlah paket wisata olahraga seperti bersepeda, selam dan golf. Malah untuk bersepeda, Batam menggelar event khusus berkelas internasional. Salah satunya adalah Tour de Barelang. Pembenahan pariwisata terus dilakukan oleh pemda setempat. Kelak Batam akan makin tertata dengan adanya pengembangan wisata tiga zona. Yakni, Kota Batam yang mendukung industri MICE, Bulang dan Belakangpadang untuk wisata budaya dan kuliner dan Galang dan Galang Baru untuk mendukung agrowisata, wisata bahari dan wisata minat khusus seperti tracking dan sepeda. –Diana Runtu


2

Edisi 851/ 1 - 7 JUNI 2015

DAri daPUr Redaksi

Rokok Tiap tanggal 31 Mei diperingati sebagai Hari tanpa Tembakau Sedunia. Peringatan ini tidak hanya ditujukan bagi para perokok agar berhenti atau meminimalkan konsumsi rokok tetapi kepada semua masyarakat. Dampak rokok tidak hanya menimpa yang merokok tetapi bisa berdampak ke orang yang tidak merokok tetapi berada di lingkungan perokok (perokok pasif). Berbagai cara dilakukan untuk menurunkan jumlah perokok di Indonesia, mulai dari peraturan menempatkan gambar-gambar seram pada bungkus rokok hingga larangan merokok di sejumlah tempat. Bahkan sekarang larangan merokok sudah makin meluas, bukan hanya di mal dan kendaraan umum, tapi juga ruang-ruang publik lainnnya. Sayangnya berbagai aturan yang dibuat belum sepenuhnya membuahkan hasil yang diharapkan. Salah satu sebabnya

adalah kurangnya law enforcement (penegakan hukum) juga ketidakdisiplinan masyarakat. Penempatan gambar-gambar seram (picture health warning atau PHW) pada bungkus rokok sebagaimana Peraturan Pemerintah No 109 Tahun 2012, ternyata belum sepenuhnya dipatuhi oleh industri rokok. Masih ada rokok yang bungkusnya tanpa gambar seram. Pemerintah sendiri berjanji akan melakukan penindakan tegas pada produsen yang bandel. Berdasarkan peraturan, pencantuman PHW mulai diberlakukan per 24 Juni 2014. Ada lima gambar yang wajib dicantumkan yakni; kanker mulut, kanker tenggorokan, kanker paru, pria merokok dan pria merokok bersama anak. Aturan PHW ini sebenarnya bukan hanya diadopsi oleh pemerintah negeri ini. Tapi juga negara lain, Indonesia adalah negara ke-77 yang memberlakukan aturan PHW. Lalu bagaimana hasilnya, apakah PHW ini efektif menurunkan konsumsi rokok?

Ekspresso Hasilnya di sejumlah negara berbeda-beda. Di Indonesia sendiri belum ada penelitian tentang adanya PHW menurunkan konsumsi rokok. Para perokok mengaku hanya takut sebentar saja melihat gambar seram. Tapi karena belakangan ini banyak dijual kotak rokok, mereka menjadi tidak takut lagi. Mereka membeli kotak rokok sendiri, lalu rokok yang dibeli dipindahkan ke kotak itu. Sedang bungkus rokok yang ada gambar PHW–nya dibuang. Dari sisi medis, Menurut dr. Ayu Swandewi, M.P.H. dari Bali Tobacco Control Inisiatif, semua bahan yang terkandung dalam rokok menyebabkan perubahan sel dalam tubuh yang disebut karsinogen yakni bahan penyebab penyakit kanker. Kandungan nikotin dalam rokok juga menyebabkan ketergantungan. Bahan kimia tarr, karnium, arsenic, karena sifatnya yang dihisap akan masuk ke peredaran darah dan merusak komponen di dalam tubuh. Masyarakat sebenarnya sudah paham akan bahaya rokok. Namun, walaupun berbahaya, tapi susah untuk berhenti. Merokok dapat menyebabkan kanker paru, kanker paring, kanker servik, impoten, predator penyakit kadriovaskuler seperti jantung dan stroke, dan penyakit kencing manis. Mau sakit atau mau sehat? Pilihan ada di tangan Anda.

“Guide” Dunia Maya Kejadian jatuhnya seorang mahasiswa ke kawah Gunung Merapi beberapa waktu yang lalu, mengingatkan saya akan pengalaman mendaki gunung. Pada tahun 1977 ketika saya baru menjadi pelajar di SLUA Saraswati. Sebagaimana tradisi di Perguruan Rakyat Saraswati, setiap siswa baru dianjurkan untuk ikut dalam pendakian sesuai tingkatan pendidikan. Siswa SMP ditantang untuk ikut mendaki, dengan pilihan Gunung Abang atau Gunung Batur. Sedangkan siswa SMA diarahkan ke Gunung Agung. Rombongan sekolah pun berangkat menuju tujuan yakni Desa Sebudi, Kecamatan Selat, Karangasem dengan menggunakan truk. Oleh Guru Pembina kami diberikan pengarahan yang berisi “peraturan atau tata tertib” pendakian. Dalam suasana alam yang masih asri sembari mengobrol kami terus berjalan menelusuri jejak-jejak pendakian yang telah diinfokan dan ternyata kode alam jejak pendaki sebelumnya adalah petunjuk yang sangat membantu. Tidak terasa “gerombolan” saya yang tadinya terdiri dari 25-30 orang mulai menyusut, sampai tersisa 10 orang saja, yang lain masih tercecer dibelakang, ada yang duduk sambil minum ada juga yang berjalan sambil tertatih tatih, karena sinar surya mulai menyengat. Tepat jam 12.00, kami pun tiba di Pos 1 dan disana sudah ada koordinator pendaki yang menunggu. Mereka menyarankan kami untuk beristirahat sejenak. Sesuai kesepakatan awal bahwa kami harus kembali sebelum suasana gelap

bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

walaupun belum mencapai puncak. Tepat jam 19.00 kami pun memutuskan untuk tidak melanjutkan sampai ke puncak tertinggi, karena kami tinggal bertiga dan suasana gelap mulai menyelimuti. Dalam perjalanan turun rombongan kami bertemu dengan seseorang, dan kami mengira “orang itu” adalah bagian dari rombongan PR Saraswati. kami pun melanjutkan perjalanan. “Orang itu” menjadi “guide” bagi kami untuk turun. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam “guide” menawarkan makanan dan minuman, tentu saja saya sambut dengan gembira dan sukacita. Saya sempatkan melirik wajahnya, dengan rambut gondrong sebahu, berkumis serta bercambang nampak berwibawa di hadapan saya. Sambil ngobrol dia pun bercerita terpisah dari rombongan, walau sudah malam tidak nampak kelesuan di wajahnya, Kurang lebih pukul 24.00, kami pun tiba kembali di Desa Sebudi. Kami diajak istirahat di sebuah pasar malam dengan lampu yang terang benderang layak pasar malam di kota, sembari memesan soto ayam dan teh hangat, kami pun makan malam bersama. Setelah selesai makan, kamipun bergegas istirahat di SD terdekat yang memang disiapkan untuk kami. Paginya saya bangun. OMG

ternyata saya tidur dengan pulas di emperan depan sekolah atau persis di bawah cucuran air yang turun dari genteng dengan beralaskan kerikil yang berserakan. Ternyata dua teman saya tidak melihat “guide” yang memandu kami untuk turun gunung. Menurut teman-teman, saya ngoceh sendiri “kangin kauh (ngalor ngidul)” sambil berpuisi. Sampai menyelesaikan pendidikan di SMA saya mencari tahu keberadaan “beliau” ternyata memang tidak pernah ketemu. Beberapa tahun kemudian rasa penasaran saya baru sedikit terjawab, ketika saya ceritakan pengalaman ini pada tetangga baru yang secara tidak sengaja bercerita tentang masa-masa SMA dan bertutur juga masalah hobby dan kegemaran masing-masing. Ditengah obrolan tersebut “sang tetangga” memaparkan kisahnya tentang pendakian. Sayapun menimpali tentang pengalaman mendaki di Gunung Agung dan OMG pengalamannya serupa tapi tak sama. Bedanya sang teman diajak bersantap di warung langganan beliau yang katanya sudah ada sejak dulu. Sedangkan tidurnya di sebuah pondok, dan ternyata itu kandang sapi yang sudah ditinggal oleh pemiliknya. Sukanata, Denpasar

Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca ­lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. ­Panjang naskah maksimal 2.000 karakter. Sertakan juga nama dan nomor kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373

GORO-GORO Putu Wijaya

tong

Masih terlalu pagi, ketika seorang tetangga bertamu. Dengan bercucuran air mata, ia menceritakan ulah suaminya.yang kasar. “Saya dimaki-maki oleh suami saya sendiri, di depan anak-anak saya! Siapa yang sudah melindungi bapaknya di masa penumpasan? Bapak saya! Siapa yang membiayai sekolahnya? Bapak saya!” “Mentang-mentang mau ngambil hati bini mudanya, saya selalu dijadikan korban! Tapi kalau saya minta cerai, tidak boleh. Dia takut nanti saya bawa semua warisan bapak saya. Rumah, mobil, perhiasan yang dipakai bini mudanya sekarang itu, semuanya punya saya. Dia sendiri, tidak punya apa-apa! Orangnya pemalas! Pengangguran! Modalnya hanya (disensor) itunya saja! Dia itu benalu, tidak tahu malu! Tidak punya keahlian apa pun! Kecuali merokok dan nonton tv! Kalau perlu rokok saya yang belikan! Semua uang yang dipakai ngurus bini mudanya itu juga dari saya!” “Heran saya! Perempuan gembrot, kayak ulat itu juga tidak tahu diri! Saya bingung, kenapa suami saya bisa tergila-gila sama raksasa begitu?! Padahal bau keleknya dari jarak 100 meter juga sudah bikin muntah! Iiih, jijik aku! Mukanya seperti Surpakanaka. Perut dan pantatnya melending seperti Tualen (Semar) tapi suami saya kok tergiia-gila? Pasti sudah diguna-guna!” Tiba-tiba muncul lagi. Seorang ibu tetangga yang lain. Ia membawa kopor. Langsung menyembunyikan kopornya di balik almari dapur. “Tolong Bu Amat, tolong saya! Jangan katakan kopor itu milik saya. Isinya hanya perhiasan. Rumah saya digeledah penagih hutang. Mereka mengancam akan mengambil barang-barang berharga dari rumah saya, kalau hari ini belum melunasi hutang saya. Sebetulnya hanya Rp 3 juta, tapi karena bunganya jadi Rp 10 juta. Itu kesalahan saya, karena tidak pernah bilang-bilang pinjam uang kepada suami saya. Soalnya adik saya bangkrut, jadi saya harus menolong. Tapi suami saya bilang, bagaimana bisa menolong kalau kita sendiri perlu pertolongan. Jadi ....” Ibu itu tak bisa melanjutkan, karena tangisnya meledak. Bu Amat bengong. Amat muncul. Ia kaget melihat 2 ibu tetangganya menangis. Bu Amat mendekat mau memberi keterangan. Tapi sebelum sempat menjelaskan, Amat berbisik: “Ibu Ktut ada di depan. Minta waktu.untuk bicara.” “Soal apa?” Amat melirihkan suaranya: “Guru kelas anaknya, kirim surat, ngajak kawin lari.” Bu Amat terkejut. “Terus bagaimana?” “Dia minta saran, sebab kalau ditolak, takut jadi dendam. Kalau setuju, bisa malu besar. Lagian Bu Ktut ingin anaknya melanjutkan jadi dokter. Ayo temui sebentar!” Bu Amat bingung. Kepalanya pusing tujuh keliling. Lalu ia masuk kamar. Amat membuntuti. “Bagaimana, Bu? Kasihan, temuilah dia sebentar saja. Nggak enak dia kan tetangga dekat.” “ Kepala saya pusing, Pak. Kenapa kita jadi tong sampah. Katakan kepada mereka, saya sakit!” Bu Amat berbaring sambil menutup mukanya dengan bantal. Suara Amat ditolaknya. Amat sangat kecewa. Sore hari, setelah merasa aman, baru Bu Amat keluar. Ia terkejut melihat Amat sedang asyik bicara serius dengan ibu-ibu tetangga yang bermasalah itu. “Sekarang Bapak sudah jadi dukun ya!” damprat Bu Amat setelah ibu-ibu itu pulang. Amat mengangguk sabar dan bijak. “Bu, di negara maju, ada konsultan rumah-tangga. Di kita, kebutuhannya sudah mendesak, tetapi konsultan rumah-tangga belum menjadi pekerjaan. Kasihan. Jadi kita sebagai tetangga, harus menolong mereka! Itu sesuai dengan kepribadian kita: gotongroyong!” Bu Amat kesal sekali, tapi tidak menjawab. Esoknya, masih terlalu pagi, Amat menggedor bangun istrinya. Ia memaksa Bu Amat mengintip keluar rumah. “Ya ampun! Tadi baru 3, sekarang sudah 6 orang ibu tetangga menunggu mau curhat!”

Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budi­a rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Se­k retariat: Ayu ­A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­m erah ­B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­ ­F aksi­m ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang ­G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

Mozaik

Edisi 851/ 1 - 7 JUNI 2015

Dyah Wahyu Utami

23

Menikmati Pekerjaan Menjadi wanita karier di usia muda tidaklah mudah, seperti yang dialami Dyah Wahyu Utami sudah 2 tahun menjadi Public Relation Manager. Wanita kelahiran 28 Agustus 1987 ini tak menurunkan semangatnya untuk terus belajar dan ingin menjadi dosen.

D

yah yang bekerja di hotel Java Paragon ini juga memiliki banyak pengalaman di usia yang tergolong cukup muda. Ia pernah menjadi salah satu finalis Cak Neng Surabaya tahun 2009 lalu menjadi finalis Putri Indonesia Provinsi Jawa Jimur tahun 2012. “Tiap pekerjaan itu harus dinikmati dan harus dicintai karena membuat kita menjadi lebih nyaman dengan pekerjaan kita” ujarnya. Pekerjaan yang ia dapatkan sekarang tidak membebankan dia. Walau sering pulang di atas jam kerja, baginya itu sudah biasa. “Justru karena disini saya dapat memiliki banyak teman dan kenalan baru,” wanita yang suka belajar dan membaca ini. Buku favoritnya berjudul Pride and Prejudice. Membaca membuatnya menjadi tenang, karena ia menyukai ketenangan.

Dyah Wahyu Utami

Dyah juga punya impian menjadi dosen. “Kalau disuruh pilih maunya jadi dosen Sastra Inggris tapi lihat saja nanti karena aku punya 2 jurusan. S1 Sastra Inggris dan S2 Ekonomi. Karena itu mau ndak

mau aku ambil S2 Sastra Inggris atau S1 Ekonomi,” ungkapnya. Ketika ditanya mengapa sekarang menyukai dunia perhotelan, ia mengaku karena banyak mendapat pengalaman. Wanita ini juga suka bergaul menjalin relasi dengan orang-orang di sekitarnya. Selain itu kesempatan yang ada padanya ia manfaatkan dengan sebaiknya. “Menjadi Public Relation tidaklah susah asalkan niat dan menjalani semuanya dengan tekun. Semuanya akan bisa dilakukan dengan baik,” tegasnya. Kesibukannya di hotel tak menurunkan semangatnya untuk mencari pekerjaan sambilan. Anak tunggal ini juga memiliki bisnis online shop. Munculnya bisnis tersebut berawal dari barang kesukaan ada juga karena sering menggunakan barang-barang tersebut dan rekannya tertarik itu pula yang menyebabkan dia ingin membuat online shop. -Priska Andini

Novita Operaningtyas

Harus Jaga Image Novita Operaningtyas

Berkomunikasi dan menciptakan hal baru merupakan hal yang digemari Novita Ope­ raningtyas. Dia sudah 7 bulan menjabat Public Relation (PR) Manager di Garden Palace Hotel. Wanita berusia 36 tahun ini sangat gemar berbicara dengan banyak orang, sehingga menun-

jang kariernya sebagai manajer public relation. “Menjadi PR harus kreatif dan inovatif dalam mengangkat branding, hotel. Juru bicara dituntut mengadakan event charity dan program mengangkat branding agar tamu makin tertarik,” kata Novita Operaningtyas, di Surabaya, pekan lalu. Public Relation juga menangani komplain jika ada pengunjung yang kurang berkenan, lalu menindak lanjuti hal tersebut hingga tuntas. “Di awal tahun, kami sudah mempersiapkan rencana event yang akan diadakan setiap bulannya. Contohnya, akhir Mei lalu ada event Kampung Taman Festival, kemudian Juni diusung tema acara yang bertema Ramadan, Juli diadakan Japan Food Festival, selama dua minggu,” tambahnya. Sebelum bekerja di hotel, ia pernah menjadi Public Relation Manager di Hitech Mall, sekitar 7 tahun. Dia sudah jenuh dengan pekerjaan terkait dengan mall, karena harus bersaing ketat dan mencetuskan ide atau acara dadakan agar dapat

mengimbangi mall lainnya. Awalnya, Novita bercita-cita ingin menggeluti bidang jasa atau bekerja di rumah sakit. Tetapi malah menjadi public relation manager. Wanita yang sudah memiliki

dua anak ini mengaku hobi nonton film, terutama drama Korea. Apalagi, ia juga sering travelling ke luar negeri. Sejak kerja jadi PR di hotel, wanita berusia 36 tahun ini makin sibuk, dan jarang ke luar negeri. Solusinya, ia dan keluarga liburan di luar kota. “Kebetulan suami dan anakanak sangat mendukung karier saya. Mereka tidak mempermasalahkan jika pulang terlalu larut,” katanya. Ia sangat pandai membagi waktu untuk keluarga dan pekerjaan. Bangun pagi setiap hari, kemudian menyiapkan sarapan dan perlengkapan sekolah anak-anaknya. Saat di kantorpun ia menyempatkan untuk menelepon anak-anaknya, dan mengingatkan les, dan lainnya. Hari Minggu, dipergunakan untuk keluarga. Sehingga Novita selalu tinggal di rumah atau pergi bersama keluarga. Selama ini, saat weekend tidak ada urusan pekerjaan di hotel yang menyita waktu dengan keluarga. Apapun yang terjadi, akan dibicarakan dengan suaminya, yang akan memberi saran bagaimana solusinya. Tentang suka-duka selama bekerja menjadi di hotel tersebut dia menyatakan, dulu ke kantor jarang mengenakan rok dan stocking. Tetapi sekarang dituntut untuk tampil cantik, menarik, dan juga harus menjaga image. Dukanya, ia susah mencari stocking yang bisa tahan lama. -Maynada


22

Sosialita

Edisi 851/ 1 - 7 Juni 2015

Jika Anda pemburu diskon belanja, jika Anda penggemar otomotif atau jika Anda penggemar produk-produk kerajinan, maka kini saatnya Anda berburu di Jakarta Fair yang berlangsung di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat. Acara pameran terbesar dan terlengkap dengan penawaran diskon besar-besaran ini, baru saja dibuka oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla bersama Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama, Jumat (29/5).

Pertunjukan kesenian Betawi di stan Pemda DKI Jakarta

B

agi yang tinggal di luar Jakarta atau masih sibuk, tidak perlu khawatir event ini bakal terlewatkan, karena penyelenggaraan Jakarta Fair tahun ini lebih lama dari biasanya. Kalau sebelumnya hanya berlangsung selama 30 hari maka tahun ini penyelenggaraan dimajukan mulai akhir Mei selama 38 hari ke depan atau akan berakhir pada 5 Juli 2015 mendatang. Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam pidato pembukaannya sempat menyinggung tentang sejarah Jakarta Fair yang pertama kali digelar tahun 1967. Menurut Kalla, ketika itu situasi perekonomian Indonesia sedang kurang baik karena inflasi. “Saat itu ekonomi kita sedang turun akibat inflasi dan krisis ekonomi,” ucapnya. Dalam kondisi demikian dicari cara bagaimana agar produktivitas dan konsumsi masyarakat meningkat sehingga lapangan pekerjaan bisa terbuka. Akhirnya digelarlah pameran ini, Jakarta Fair,” ujarnya. Menurut Kalla, konsep Jakarta Fair tergolong unik karena meng-

gabungkan bisnis dan hiburan rakyat. “Upaya ini sudah berjalan selama hampir setengah abad yang dimulai oleh Gubernur Jakarta Ali Sadikin, gubernur yang legendaris,” ujar Kalla seraya berharap agar event pameran terbesar di Asia Tenggara ini dapat berjalan dengan baik. Menurut penyelenggara, ada 2700 perusahaan dengan 1500 stan memeriahkan perhelatan

Jakarta Fair tahun ini. Jumlah pengunjung ditargetkan mencapai 5 juta orang dengan target transaksi mencapai Rp 5 triliun. Target pengunjung ini optimis bakal dicapai karena seperti biasanya, event Jakarta Fair digelar bertepatan dengan musim liburan sekolah juga kampus. Harga tiket, Senin Rp 20.000, Selasa-Kamis Rp 25.000 per orang sedang JumatMinggu Rp 30.000.

Makanan khas Betawi yang selalu memeriahkan event Jakarta Fair

3

Ida Ayu Oka Purnama Wati

Jakarta Fair 2015

Kombinasi Bisnis dan Hiburan 38 Hari

Edisi 851/ 1 - 7 juni 2015

Kado Istimewa Berbagai pertunjukkan menarik siap menghibur para pengunjung selama 38 hari penyelenggaraan, di antaranya; musik, sajian budaya nusantara, demo masak, cosplay, fashion show, cabaret show, pertunjukan berbagai kamunitas seperti dancer, hip hop, reggae, ska, beatbox, serta beragam acara lainnya. Selain itu, deretan musisi papan atas juga akan dihadirkan, termasuk Agnez Mo, Ari Lasso, Slank, Iwan Fals, Godbless, PAS Band, Tulus, Sheila On 7, Geisha, Raisa, Tipe-X, JKT48, Naif, Kotak, Ayu Ting Ting, Cita Citata, Afgan, Nidji, RAN, Ello, Changcuters, Armada, dll. KELUHKAN HARGA TIKET Dulu selalu yang banyak dikeluhkan adalah masalah perparkiran, khususnya mereka yang tidak mendapat lahan parkir di areal yang disediakan. Karena untuk parkir di luar areal, bisa dikenakan biaya parkir yang tak jelas alias pemalak yang mengaku penjaga parkir. Namun itu tak perlu dikhawatirkan lagi karena pihak menyelenggara telah mengaturnya. Sementara bagi yang tidak memiliki kendaraan, tidak perlu khawatir karena selain angkutan umum biasa yang disediakan untuk para pengunjung pameran, juga busway Transjakarta siap beroperasi di sana sampai tengah malam. Transjakarta untuk Jakarta Fair memang khusus, dan baru tahun ini disediakan. Pembangunan haltenya pun belum lama selesai. Soal tiket, memang selalu mejadi keluhan masyarakat. Harga tiket dirasakan memberatkan oleh sebagian masyarakat. Meski hari Senin tiket termurah yakni Rp20.000 per orang, tetap saja masih dirasakan mahal. Maklum

selain situasi ekonomi memang sedang lesu juga mereka umumnya berkunjung tidak hanya sendiri melainkan bersama keluarga ataupun pasangan. Jadi, jika minimal satu keluarga adalah tiga orang maka harus merogoh kocek sekitar Rp 60.000 jika berkunjung hari Senin, atau Rp 75.000 pada Selasa-Kamis. Sedang jika datang pada Jumat hingga Minggu maka harus merogoh kocek lebih dalam yakni Rp 90.000 untuk tiga orang. Sepintas harga tiket ini sama dengan tahun lalu, padahal tidak demikian. Kalau tahun lalu, dari Senin-Kamis Rp 20.000, sedang Jumat barulah harganya Rp 25.000 sedang Sabtu-Minggu Rp 30.000. Tahun ini Rp 20.000 hanya pada Senin. Ada yang berbeda tahun ini. Tidak seperti sebelumnya, mulai tahun ini Pemda DKI Jakarta mendapat lahan pameran gratis dari penyelenggara. Di lahan seluas 2000 M2 ini Pemda DKI memamerkan berbagai hal, mulai dari perkembangan Jakarta, kebudayaan, pelayanan kesehatan dari Dinas Kesehatan, Pertamanan, transportasi hingga UKM yang meluputi kerajinan dan kuliner. Yang juga menarik adalah adanya stan “Smart City” yang diresmikan oleh Ahok. “Smart City” merupakan sebuah aplikasi yang dicanangkan Pemda DKI Jakarta sejak Desember 2014 lalu, bisa menampung aspirasi, laporan maupun keluhan warga yang bakal direspons oleh Pemda secara cepat. Lewat aplikasi ini orang juga bisa tahu apa yang telah dilakukan pemerintah. “Kami harapkan orang bisa tahu lebih banyak tentang Jakarta dan apa yang kami lakukan,” ujar Ahok di Jakarta Fair.—Diana Runtu

Stand-stand otomotif selalu ramai pengunjung

Rumah Sakit Singapura dan Malaysia sudah lama menikmati pasar Indonesia. Pasien yang berobat menilai pelayanan kesehatan di Indonesia sangat inferior. Pola konsumerisme berobat sekaligus ber­belanja menjadi tren di masyarakat. Celakanya, Indonesia hanya menjadi pasar. Padahal Bali se­bagai de­stinasi wisata dunia, seharusnya melihat ini se­bagai peluang untuk mengembangkan medical tourism.

H

Dayu Oka bersama suami

al ini yang di­lirik oleh founder Bali Roya l H o s p i t a l ( B RO S ) u n t u k mengembangkan medical tourism di Bali. Satu penghargaan bergengsi baru saja diterima, 15 April lalu. BROS menerima penghargaan ‘Highly Commended’ untuk kategori “International Infertility Clinic” (bayi tabung) sebagai klinik bayi tabung yang paling direkomendasikan dari International Travel Medical Journal ( IMTJ) di London, Inggris. Menurut Direktur Marketing dan Pengembangan Bisnis BROS, Ida Ayu Oka Purnama Wati, S.S., M.M., penghargaan bergengsi ini diraih karena BROS telah memenuhi 5 kriteria penilaian yakni jenis layanan yang mampu dilakukan, kualitas layanan, jumlah pasien, kepuasan pasien, dan tingkat keberhasilan. Khusus mengenai tingkat keberhasilan bayi tabung di BROS untuk pasien lokal sebesar 32% dan pasien ­internasional 36%. Penghargaan ini tentu menjadi kebanggaan bagi segenap manajemen BROS karena sebagai ­kelanjut­a n prestasi yang telah diraih tahun lalu. “Tanggal 2 Juli 2014, BROS berhasil meraih “Best Regional Hospital” dari Europe

Business Assembly (EBA) di Milan Italia. Menjadi satu kebanggaan juga bagi kami, karena BROS satusatunya rumah sakit di Indonesia yang terdaftar dalam treatment abroad (medical website) yang berbasis di London, Inggris,” kata Dayu Oka, yang juga Direktur Utama Merdeka Medical Centre (MMC) di Denpasar ini. Untuk memberi pengetahuan dan informasi terbaru dalam ­bidang kesehatan, BROS rutin memperbaharui informasi tersebut, yang didukung, “up to date”, satu jaring­ an portal kesehatan yang memuat tentang informasi tentang ­penyakit, terapi, farmasi, dan penanganan kesehatan terbaru. Ia menilai, Bali sebagai destinasi wisata dunia, seharusnya mampu mengembangkan ­medical tourism. Namun, konsep ter­sebut terganjal beberapa kendala, ­seperti belum ada rumah sakit di Bali yang telah memperoleh International Accreditation on Medical Tourism (akreditasi khusus untuk Medical Tourism). “Memang selain faktor biaya yang tinggi, persyaratan untuk bisa lolos akreditasi ini cukup berat. Ada banyak standar yang harus dipenuhi,” tambahnya. ­Selain itu, sumber daya manusianya juga masih terbatas. Tantangan lain, dalam medical tourism adalah

kemampuan komunikasi verbal dan tulisan terutama untuk staf medis masih kurang. “Selain menguasai bahasa asing dengan fasih, kemampuan berkomunikasi yang baik sangat diperlukan. Menghadapi pasien asing berbeda dengan pasien lokal. Mereka lebih kritis, banyak bertanya dan mereka bisa komplain tentang hal-hal kecil yang kadang tidak substansial,” kata Dayu Oka. Ia menambahkan, tanta­ngan lain adalah insurance ­coverage, ­jarang ada asuransi yang mau me­nangani/ menanggung biaya ­kesehatan untuk medical ­tourism. ­Disamping itu, dukungan ­p emerintah ter­ hadap ­p engemba­n gan medical tourism juga dirasa kurang, terutama dalam hal perpajakan. “Belum adanya ­i nsentif pajak ini sangat ber­pengaruh pada harga yang kita tawarkan pada pasien asing. Harga kami menjadi tidak kompetitif, ­k arena lebih tinggi 20-25% dibandingkan dengan negara ­tetangga di Asia. Peralatan medis dan implan bahkan dianggap sebagai luxurious goods sehingga pajaknya tinggi,” ujarnya. Belum lagi terbatasnya pabrik obat-obatan di Indonesia, ­menyebabkan sebagian besar obat masih harus diimpor, sehingga menambah tingginya harga tindakan medis yang kita tawarkan. Ia mencontohkan rumah sakit di Malaysia dan Thailand yang sangat didukung pemerintahnya dengan memberikan insentif pajak hingga nol persen untuk pembelian peralatan medis, implan dan obat-obatan. Bahkan, ada satu contoh yang ia utarakan, saat mengajukan harga untuk satu tindakan penanganan penyakit di BROS, RS Malaysia berani memberikan harga yang jauh lebih murah. “Mengapa harga kami tidak bisa ditekan, ya karena hampir semua obat-obatan yang digunakan masih impor, pajaknya tinggi, begitu juga dengan implan yang digunakan,” imbuhnya. Di BROS sendiri, guna mendukung medical tourism, sejak tahun 2012 sudah memiliki Unit RIPAC (Royal International Patient Asistance Centre), satu unit khusus untuk menangani pasien asing. Unit ini tidak hanya berfungsi menangani pasien asing dalam kasus darurat, tapi juga untuk pasien medical tourism. Untuk pelayanan pasien medical tourism, pelayanan dibantu mulai dari pengurusan dokumen (asuransi, visa, imigrasi) sampai evakuasi. BROS juga menyediakan penerjemah bagi warga asing. “Untuk bahasa Belanda, Italia, dan Jerman, ada perawat BROS yang menguasai keterampilan bahasa tersebut. Sementara, Rusia, Mandarin, Perancis, dll. biasanya kami menyewa sesuai keperluan,” ujarnya. Menurut Dayu Oka, semua prestasi yang diraih BROS, tentu dicapai dengan kerja keras semua staf dan manajemen, dan juga tak lepas dari berbagai promosi yang dilakukan. Belum adanya dukungan pemerintah untuk promosi medical tourism, membuat-

nya harus ­bekerja lebih keras. Ia mengatakan, promosi Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pariwisata & Ekonomi Kreatif masih sebatas pada promosi pengembangan medical tourism untuk wellness seperti spa. Sementara, untuk health tourism-nya belum. Walaupun begitu, tak mengurangi semangatnya untuk melakukan promosi sendiri. Ia rutin melakukan promosi dua sampai tiga kali dalam setahun ke luar negeri. Saat promosi pun, ia manfaatkan ketika ada event besar bidang pariwisata yang digelar di luar negeri. “Tak mudah untuk memberikan brosur tentang rumah sakit kepada orang asing. Apalagi, mau menjelaskan lebih detil,” kata Dayu Oka tentang kendalanya berpromosi di luar negeri. Ia mengatakan, harus mempunyai trik agar pengunjung pameran tertarik untuk menerima brosur ‘kesehatan/rumah sakit’ yang diberikan. “Saya harus menjelaskan tentang destinasi wisata terlebih dahulu. Kemudian menambahkan dengan, jika terjadi kondisi emergency, bisa datang ke RS kami. Dengan begitu, mereka baru mau menerima brosur. Setelah brosur diterima, barulah saya bisa menjelaskan tentang layanan yang bisa kami lakukan untuk medical tourism,” ucapnya. Ia menambahkan, pengunjung mau menerima brosur saja sudah membuatnya senang, satu usahanya berhasil. Walaupun, belum tentu mereka akan datang ke BROS. Namun, bagi Dayu Oka, branding juga menjadi salah satu bentuk promosi yang sedang ia gencarkan. Menurut Dayu Oka, saat ini ia masih fokus untuk pengembangan BROS yang berlokasi di Jalan Letda Tantular Renon Denpasar. Diakui, ada keinginan untuk mengembang-

kan BROS ke Indonesia Timur ataupun daerah lainnya di Bali. “Tapi semuanya masih harus dipikirkan dengan matang, ” kata Dayu Oka. Terkait himbauan pemerintah, dimana RS swasta juga harus menangani pasien BPJS, tentu menjadi hal yang harus diperhatikan oleh BROS. “Ada beberapa hal yang harus kami persiapkan. Salah satunya penambahan kamar rawat inap, pengembangan layanan poliklinik dll,” kata istri Ir. Ida Bagus Indrajaya ini. Saat ini ada lebih dari 100 perusahaan yang bekerja sama dengan BROS. Dengan ketentuan semua perusahaan harus bergabung dalam asuransi nasional BPJS, tentu BROS juga harus siap mengikuti aturan pemerintah. Ia bersyukur, sampai saat ini occupancy BROS mencapai 8590%. “Untuk itu, selain penambahan kamar rawat inap, kami menambahkan satu ruang operasi, selain rencana pengembangan di areal belakang BROS yang masih kosong,” jelasnya. Saat ini, BROS didukung lebih dari 400 staf, 15 dokter umum, dan 100 lebih dokter konsultan. Keberhasilan yang sudah dicapai merupakan kado istimewa menjelang ulang tahun BROS yang kelima, 17 Juli 2015. Prestasi ini juga tak lepas dari dukungan suami dan keluarga Dayu Oka, agar ia tetap eksis berkiprah dan memajukan BROS. Ia berharap, ke depan, Bali akan menjadi pusat medical ­tourism. Hal ini, karena Bali sebagai ­destinasi wisata dunia mempunyai nilai le­ bih. Ia sangat berharap, pemerin­tah bisa mendukung konsep ­medical tourism ini, karena turis tentu akan semakin banyak datang ke Bali, dan Indonesia. –ast


4

Inspirasi

Edisi 851/ 1 - 7 JUNI 2015

Jangan Takut Bermimpi M

enjalani kehidupan harus selalu dengan bersyukur. Apapun yang terjadi dan diraih selalu disyukuri. Itulah prinsip yang dijalankan Ir. Gede Agus Hardyawan, Presiden Direktur Hardy’s yang akrab disapa Gede Hardy, disela-sela perayaan ulang tahunnya yang ke-43, Selasa (26/5). “Pepatah mengatakan life begin at 40. Kalau sekarang usia saya 43 berarti saya baru tiga tahun hidup. Tetapi, banyak hal yang sudah saya dan grup Hardys yang lalui. Semua saya syukuri,” tegas pria asal Jembrana ini. Gede Hardy menuturkan perjalanan hidupnya mulai dari kuliah di ITB, ikut training di Astra Toyota, hingga memutuskan membuka toserba pertama di Negara, Jembrana 11 Juli 1997. Ini menjadi usaha pertamanya. Dari Jembrana ia merambah Buleleng dengan membuka Hardys Seririt tahun 2000. Setelah usahanya lancar, ia ekspansi ke Gianyar tahun 2001 setelah mendapat dukungan Bupati Gianyar ketika itu Cokorda Budi Suryawan. Setahun kemudian Hardy’s masuk kota Singaraja. Tak cukup sampai disitu, tahun 2003 Hardy’s mengakuisisi Alas Arum Sanur dan dibukalah Hardy’s Sanur. “Tahun 2004, kami membuat 4 Hardy’s Mall di Amlapura, Sesetan, Banyuwangi, dan Batubulan.

Ternyata kami kena “badai” dan terseok-seok. Untung ada bantuan “tangan-tangan” Tuhan sehingga kami mendapat kepercayaan dan bisa bangkit,” kenang alumnus Teknik Industri, Institut Teknologi Bandung (ITB) ini. Setelah bangkit, Hardy ’s merambah Tabanan tahun 2005 dan Jember tahun 2007. Ekspansi besar-besaran kembali dilakukan tahun 2008 dengan membuka empat usaha di Nusa Dua, Singaraja Plaza, Probolinggo, dan Banyuwangi (Jln. Basuki Rahmat). Ternyata angka 4 kurang memberi keberuntungan bagi perjalanan usaha Hardy’s. Mereka kembali terseok-seok walaupun bisa bangkit lagi. “Karena kurang cocok dengan angka 4, saya beralih ke angka 7 dengan membuka 7 Hardy’s di tahun 2015 ini. Lokasinya di Gatot Subroto Denpasar, Banyuwangi, Supernova Tuban, BTDC, Jl. By Pass Mantra, Dalung Permai, dan Renon. Ada yang sudah buka dan ada yang sedang proses,” ujar Ketua Umum DPD Aprindo (Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia) Bali ini. Tak hanya berkiprah di usaha ritel, Gede Hardy mulai masuk bisnis hotel di tahun 2004 dengan hotel pertama

di Negara dan hotel berikutnya di Singaraja yang diresmikan 2014. Di Kuta, Seminyak, dan Legian juga ada usaha hotel miliknya. “Mulai 2003, saya memisahkan bisnis ritel dengan properti. Dari property berkembang menjadi Hardy’s Land dengan lahan-lahan yang berada di lokasi premium. Tidak hanya di Bali tetapi juga ada di NTB,” ujar suami Ni Ketut Rukmini Hardy, SP ini. Ia juga mengembangkan Hardy’s Agro yang terinspirasi Al Gore ketika memberikan pemaparan di acara UNFCCC di Nusa Dua. Lahan-lahan tidur dibeli kemudian ditanami pohon jati dan ini menjadi hutan pribadi. Hardy’s Trans juga dihadirkan untuk korporat dan pemerintah yang memerlukan sewa kendaraan. Tak ketinggalan untuk anak-anak juga ada Hardy’s Fun Zone sebagai sarana hiburan. Total ada 9 core bisnis yang dikelola Hardy’s. MENIRU BILL GATES Dalam mengelola bisnisnya, ayah dari Hillary Angelina Gardenia Hardy, Lilly Harmony Hardy & Jasmine Lovely Hardy ini mengaku hanya berdasarkan kepercayaan. Selain itu ia juga merekrut kaum professional yang memiliki reputasi nasional. Mereka diberi target sesuai dengan jenjangnya. Evaluasi pun dilakukan secara rutin. Bagi yang berprestasi dibeikan bonus

baik bulanan maupun tahunan. Gede Hardy juga memberikan kiat sukses dalam mengurus semua usahanya. “Menjaga kepercayaan itu berat tapi itulah yang menjadi kunci sukses. Apa pun yang kita lakukan tanpa restu Ida Sanghyang Widhi, tidak akan berarti apa-apa. Dukungan keluarga dan masyarakat juga menjadi modal saya,” tegas peraih penghargaan Bali “Marketeers Champion (2013), Sector : Healthcare, Pharmaceutical & Consumer” ini. Untuk mendekatkan diri kepada Ida Sanghyang Widhi, ia mengajak keluarga besar Hardy’s tirtayatra ke Pura-Pura yang ada di Bali dan Jawa Timur. Bahkan ada Departemen Pemangku yang bertanggung jawab untuk urusan kerohanian. Keluarga juga sangat mendukung Gede Hardy lakukan. “Bapak saya petani dan pedagang sedangkan ibu saya guru SD. Mereka sangat mendukung saya. Istri dan anak-anak juga demikian. Saya juga belajar banyak dari nenek saya yang buta huruf tetapi punya jiwa enterprenur,” ujarnya. Dari semua yang sudah diraih, ia masih punya impian agar seperti Bill Gates. Impian ini direalisasikan

Edisi 851/ 1 - 7 JUNI 2015

Gede Hardy bersama istri

dengan membuat Hardy’s Foundation sebagai wadah penyaluran CSR grup Hardy’s. Tanpa harus menjadi pejabat pemerintah atau politikus, Gede Hardy ingin memberi sumbangsih untuk masyarakat. Kepada generasi muda, Gede Hardy berpesan agar jangan takut bermimpi dan harus berani pasang target. Jika ini dilakukan dan dibarengi usaha, pasti akan sukses. “Saya masih ingat saat pacaran dengan istri, kami sudah merancang mimpi masa depan di Jembatan Merah di Kebun Raya Bogor. Astungkara apa yang kami rancang itu bisa terwujud. Kami ingin mendorong kaum muda untuk terjun sebagai pengusaha. Kalau mau jadi bangsa hebat, jumlah pengusahanya harus diatas 5% dari jumlah penduduk,” tegasnya. –Ngurah Budi

Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI kembali memberikan penghargaan terhadap laporan keuangan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat Tahun anggaran 2014 sebagai opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Provinsi NTB Tahun Anggaran 2014, kali ini merupakan penghargaan yang keempat kalinya diterima oleh Pemerintah Provinsi NTB. Pemberian penghargaan opini WTP tersebut dilaksanakan dalam Rapat Paripurna Istimewa Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi NTB, beberapa waktu lalu.

A

nggota VI BPK RI Prof. Dr. Bahrullah Akbar., M.B.A, dalam sambutan penyerahan hasil pemeriksaan BPK RI atas laporan keuangan Pemerintah Provinsi NTB Tahun Anggaran 2014 menyebutkan, sesuai dengan amanat Undang-undang Nomor 15 Tahun

2004 Pasal 16 Ayat 1, pemberian opini LKPD didasarkan pada empat kriteria, yaitu kesesuaian dengan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP), Kecukupan Pengungkapan (Adequate Disclosures), Kepatuhan terhadap Peraturan Perundangundangan, dan Efektifitas Sistem Pengendalian Intern.

Berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan BPK sesuai dengan empat kriteria tersebut, dapat disimpulkan bahwa penyusunan LKPD Provinsi NTB Tahun Anggaran 2014 telah sesuai dengan SAP, telah diungkapkan secara memadai, dan tidak terdapat ketidakpatuhan yang

berpengaruh langsung dan material, serta telah menyusun dan merancang unsur-unsur SPI yakni lingkungan pengendalian, penilaian resiko, kegiatan pengendalian, informasi dan komunikasi serta pemantauan. “Berdasarkan empat kriteria tersebut dan pemeriksaan

BPK yang telah dilakukan sesuai dengan SPKN, maka BPK RI menyimpulkan bahwa opini atas Laporan Keungan Pemerintah Daerah Provinsi NTB Tahun Anggaran 2014 adalah Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) yang keempat kalinya,” ucap Bahrullah. –Hms/Naniek I. Taufan

Motivasi bagi Aparatur Pemerintah

Anggota VI BPK RI Prof. Dr. Bahrullah Akbar., M.B.A, menyerahkan hasil pemeriksaan BPK RI terhadap laporan keuangan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat Tahun anggaran 2014 sebagai opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP), kepada Gubernur NTB, TGH. M. Zainul Majdi.

Gede Hardy bersama keluarga

21

Penghargaan Opini WTP Keempat Kalinya bagi Pemprov NTB

Ir. Gede Agus Hardyawan

Dari sebuah toserba di Negara, Hardy’s terus berkembang dan mendapat tempat di hati konsumen. Semua itu tak diraih dengan mudah. Banyak cobaan dan rintangan untuk mewujudkannya. Dari modal mimpi, usaha, dan kepercayaan, Gede Hardy mampu meraih semuanya.

Mandalika

Untuk diketahui, BPK RI telah memeriksa Laporan Keuangan yang terdiri dari Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, Laporan Arus Kas dan Catatan atas LKPD Provinsi NTB. Pemeriksaan tersebut meliputi Pendapatan dengan realisasi sebesar Rp 2,79 Triliun dari anggaran sebesar Rp 2,92 triliun, Belanja dan Transfer dengan realisasi sebesar Rp 2,61 triliun dari anggaran sebesar Rp 2,90 triliun, total aktiva sebesar Rp11,96 triliun dan total passiva sebesar Rp 11,96 triliun. Dari laporan realisasi anggaran TA 2014 diketahui bahwa ang-

garan belanja senilai Rp 2.438,09 miliar direalisasikan senilai Rp 2.159,30 miliar atau 88,57%. Anggaran belanja tersebut dibiayai dari pendapatan transfer senilai Rp1.672,37 miliar atau 59,95%, dan pendapatan Asli Daerah senilai Rp1.115,06 miliar atau 39,97%. Disebutkan oleh Bahrullah, Pendapatan Daerah Provinsi NTB TA 2014 mengalami trend kenaikan senilai 17,22% dibandingkan dengan TA 2013, sementara belanja TA 2014 mengalami penurunan senilai 0,01% dibandingkan dengan TA 2013. Penurunan belanja tersebut terjadi pada belanja bantuan sosial

sebesar 45,88%, belanja bantuan keuangan sebesar 42,57%, belanja modal sebesar 6,10%, dan belanja tak terduga sebesar 95,24% dibandingkan TA 2013. Dari hasil pemantauan tindak lanjut per 31 Maret 2015 atas rekomendasi BPK RI untuk temuan pemeriksaan TA 2014 dan sebelumnya, mengungkapkan bahwa terdapat 1.210 rekomendasi senilai Rp 90,45 miliar yang terdiri dari 946 rekomendasi senilai Rp 49,46 miliar telah ditindaklanjuti (78,18%) dan sebanyak 143 rekomendasi senilai Rp19,78 miliar belum sesuai dan dalam proses tindak lanjut (11,82%) serta sebanyak 106 rekomendasi senilai Rp 265,2 juta yang belum ditindaklanjuti (8,76%) dan sebanyak 15 rekomendasi senilai Rp 20,9 miliar yang tidak dapat ditindaklanjuti karena alasan yang sah (1,24%) Sementara itu, Gubernur NTB Dr. TGH. M. Zainul Majdi dalam sambutannya menyampaikan rasa suka cita atas perolehan Predikat Wajar Tanpa Pengecualian yang kembali diraih Provinsi NTB untuk yang ke empat kalinya, serta atas capaian penilaian Laporan Penilaian Keuangan Pemerintah Daerah di 8 kabupaten/ kota se-Nusa Tenggara Barat yang juga berhasil meraih Opini Wajar Tanpa Pengecualian. “Semoga prestasi ini dapat terus dipertahankan dan ditingkatkan, serta menjadi motivasi bagi seluruh aparatur pemerintah

daerah kabupaten/kota, untuk senantiasa taat pada aturan dalam mengelola keuangan daerah, serta dapat memperbaiki semua celah yang selama ini menjadi kendala dalam penyampaian laporan keuangan,” kata Gubernur. Penilaian atas laporan pengelolaan keuangan ini tidak lepas dari rekomendasi serta catatan BPK RI, terhadap laporan keuangan Pemerintah Provinsi NTB tahun anggaran sebelumnya, juga atas petunjuk dan arahan dari BPK RI melalui fasilitasi perwakilan BPK Provinsi NTB. “Ke depan, Laporan Hasil Pemeriksaan BPK RI ini, akan menjadi acuan selanjutnya bagi kami, untuk senantiasa terus meningkatkan kualitas dalam pengelolaan keuangan daerah, dan berbagai hal

yang melingkupinya, serta menjadi kepercayaan diri bagi kami untuk melanjutkan program dan kegiatan pembangunan yang telah kami rencanakan. Oleh karenanya, kami senantiasa mengharapkan fasilitasi BPK RI dan perangkat organisasinya di daerah,” ujar Gubernur pada acara yang juga dihadiri oleh Pimpinan beserta anggota DPRD Provinsi NTB dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Provinsi NTB. Di akhir sambutannya, Gubernur menyampaikan harapan agar pada penilaian laporan keuangan pemerintah, baik pemerintah provinsi serta pemerintah kabupaten/kota se-Nusa Tenggara Barat selanjutnya, seluruhnya mendapat penilaian wajar tanpa pengecualian. –Hms/Naniek I. Taufan


20

Nine

Edisi 851/ 1 - 7 JUNI 2015

Inspirasi

Edisi 851/ 1 - 7 JUNI 2015

Agustin Ramli

Ir. Baiq Rahmayati, M.Si.

merupakan acara rutin tahunan dari Ant Charity. “Mereka yang berprestasi di sekolah, murid terbaik, dll, akan kita kasih medali dan hadiah. Acara ini akan digelar di Jakarta pada 13 Juni mendatang, sedang di Bali akan diadakan pada 27-28 Juli. Setidaknya ada lima daerah, termasuk dua berada di Indone­ sia Timur yakni Palu dan Poso. Hanya saja untuk Poso sepertinya masih dipertimbangkan karena

program, juga partner ataupun sponsor yang ikut membantu. Dengan begitu, tambahnya, akan semakin banyak anak yang bisa dibantu baik dalam bidang pen­ didikan maupun kesehatan. Sejauh ini, katanya, dirinya masih meng-handle langsung lembaga ini, sekalipun sudah banyak kader yang mumpuni. Untuk itu, ucapnya, dia harus pandai-pandai membagi waktu. Aktivitas sosial, katanya, tidak bakal ditinggalkannya, meski dia sendiri memiliki begitu banyak kesibukan di luar. “Saya memiliki latar bela­ kang kenapa tetap berkiprah di bidang ini. Dulu kehidupan kami susah. Nah ketika kehidupan finansial keluarga membaik, saya berjanji akan berkiprah terus di bidang sosial membantu mereka yang tak mampu. Mama dulu mengajarkan kami untuk peduli pendidikan juga harus mem­ bantu sesama. Itulah yang saya kerjakan sekarang,” kata sarjana Psikologi Universitas Atma Jaya, Jakarta, ini. Jadi, lanjutnya, sekalipun keg­ iatan di luar Ant Charity tak kalah padatnya, ia tetap menyem­ patkan diri untuk berkiprah di bidang sosial. Saat ini, Agustin selain masih menjadi presenter sejumlah acara di televisi, juga kerap mendapat undangan men­ jadi MC di berbagai event, belum lagi saat ini dia sedang menangani bisnis apotik online. Bisnis ini, ucap Agustin, sebe­ narnya sudah ada sejak 2012

situasi di sana kurang kondusif. Anak-anak kami di sana ‘kocarkacir’ karena mengungsi. Untuk Bali, tahun ini cukup banyak sekitar 200-an anak. Jakarta tidak seban­ yak Bali. Tadinya yang terdata ada 100-an anak. Namun situasi anak-anak kami juga kurang baik. Mereka, kan, berasal dari keluarga tak mampu. Sekarang ini banyak dari mereka rumahnya kena peng­ gusuran. Jadi ‘kocar-kacir’ juga. Jadi mungkin hanya 50-an anak,” ucap Agustin seraya menyampaikan rasa prihatinnya dengan keadaan anakanak asuhnya. Berbicara tentang perkem­ bangan Ant Charity yang didirikan sejak 2002, Agustin Ramli tak henti-hentinya mengucap syukur karena organisasinya ini berkem­ bang semakin baik. Hal ini ditan­ dai dengan semakin banyak

lalu. Bahkan ketika itu, katanya, order cukup banyak bukan hanya dari dalam negeri tapi juga luar negeri. Hanya saja, karena kes­ ibukannya yang tinggi, akhirnya bisnis tersebut kurang tertangani dengan baik. “Nah saat ini, saya baru bisa kembali me-manage langsung. Soalnya sayang, kan. Dulu bis­ nis apotik online ini berjalan bagus, prospeknya juga bagus, jadi sayang kalau dibiarkan. Tapi sekarang, konsepnya dibuat lebih bagus dan lebih lengkap. Saya inginnya apotik online ini bukan hanya menjual obat-obatan dan suplemen, tapi juga hal-hal yang berkaitan dengan kecantikan misalnya,” ujar Agustin yang berencana me-relauncing ‘Apo­ tikpintar.com’ miliknya dalam waktu dekat. –Diana Runtu

Tugas Baru Tantangan Baru Latih Self Safety Bekerja sesuai dengan latar belakang pendidi­ kan, tentu saja akan memberikan kemudahan dalam menjalani pekerjaan tersebut. Kesempa­ tan untuk meraih prestasi pun bisa dengan mu­ dah dirancang karena mampu menguasai bidang yang menjadi tanggung jawab. Lalu bagaimana dengan orang yang bekerja pada bidang yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan­ nya? Hal inilah yang kemudian banyak dianggap bahwa orang berprestasi karena bekerja sesuai dengan latar belakangnya, itu sudah biasa. Se­ mentara orang yang bekerja pada bidang yang tidak sesuai dengan latar belakang dan mampu berprestasi, itu baru luar biasa.

T

ampaknya ini yang menjadi “cambuk” semangat bagi Ir. Baiq Rahmayati, M.Si., Kepala Museum Negeri Nusa Tenggara Barat yang baru. Awalnya ia mengaku memang pesimis saat tugas itu diteri­ manya. Namun, ia meyakinkan dirinya, bahwa tidak ada yang tidak bisa dilakukan jika punya tekad yang kuat. Inilah yang membuatnya bisa menikmati tugasnya sejak awal. Meski berlatar bela­ kang bidang pertanian, Maya, panggilan akrab­ nya kini bersiap untuk

maju bersama Museum Negeri NTB. Menjaga, memelihara dan menggerakkan warisan kebudayaan Nusa Tenggara Ba­ rat yang tersimpan di museum daerah ini untuk generasi muda Bumi Gora dan untuk kepen­ tingan kemajuan kebudayaan nasional. Meski ada yang meng­ anggap kepindahan dari tugas di bidang pertanian yang sudah dijalani­ nya sejak perta­ ma kali diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil tahun 1999, ke museum sebagai sesuatu yang “kurang menyenang­ kan” dengan mengatakan bahwa ia “di­ museumkan”, Maya jus­

Ir. Baiq Rahmayati M.Si

Maraknya kasus-kasus pelecehan seksual juga kasus pornografi anak akhir-akhir ini menjadi perhatian banyak pihak. Tak terke­ cuali Ant Charity Foundation, organisasi sosial nirlaba yang bergerak di bidang pendidik dan kesehatan anak-anak tak mampu. “Situasi saat ini sepertinya cukup meresahkan ya, khususnya tentang pelecehan seksual terhadap anak, juga ka­ sus-kasus seks bebas. Ini harus menjadi perhatian semua pihak, bukan hanya pemerintah tapi juga masyarakat. Harus dicari cara agar kasus-kasus semacam ini tidak makin menjadi-jadi,” ungkap Agustin Ramli, pendiri Ant Charity Foundation.

Ir. Baiq Rahmayati (paling kiri) mendampingi istri Gubernur NTB Hj. Erica Zainul Majdi dalam suatu acara di Museum Negeri NTB

tru bang­­ga menerima tugas ini. “Saya bangga bisa lompat dari hal-hal yang normatif dan dari bidang keilmuan yang telah menjadi kebiasaan saya selama ini. Karena dari tugas ini saya pasti akan mendapatkan keka­ yaan baru, yaitu pengalaman dan kesempatan belajar di tempat yang baru,” kata lulusan Fakultas Pertanian Universitas Mataram ini dengan penuh semangat. Ia senang karena dengan tugas baru ini, ia akan mendapat tantangan baru pula untuk me­ rancang program-program yang juga baru yang bisa membuatnya keluar dari rutinitas yang itu-itu saja dan monoton. Maya mengalir seperti air, berjalan mengiringi waktu me­ melihara dedikasi untuk sebuah tugas yang menjadi tanggung jawabnya. “Di manapun saya bertugas, saya ingin mendedi­ kasikan diri dengan total,” ung­ kap mantan pemain teater era 1990-an di Mataram ini. Maya tidak pernah merasa khawatir saat diserahkan tugas dan tang­ gung jawab yang di luar bidang keilmuannya karena ia selalu berprinsip bisa melakukannya. “Semua bisa, asal ada kemauan untuk belajar,” kata perem­ puan kelahiran 7 Mei 1968 ini. Mendedikasikan dirinya di bidang kebudayaan seperti saat ini, memberikan keuntungan tersendiri bagi Maya karena ia bisa belajar banyak hal terkait kebudayaan. Maya mengambil hal yang paling membuatnya dapat be­ kerja dengan senang, yakni bahwa pertanian adalah juga kebudayaan baginya. “Pertanian tidak lepas dari budaya dengan adanya inovasi yang dilakukan petani yang menuntut mereka melakukan sesuatu yaitu meng­ ubah dari yang biasa menjadi

luar biasa. Itu juga kebudayaan,” ungkapnya. Karena itulah, Maya tidak mengalami kesulitan untuk masuk dan berinteraksi dengan stake holder kebudayaan. Apalagi, ia pernah dekat de­ ngan dunia kesenian dan kebu­ dayaan semasa SMA dan kuliah. Maya terbilang rajin menonton pertunjukan-pertunjukan ke­ senian di Mataram. Ia juga per­ nah mewakili NTB dalam ajang gelar festival teater pelajar di Jakarta saat ia duduk di bangku kelas 2 SMA. Maya pernah berperan sebagai Putri Laras­ mara adik dari Putri Mandalika dalam drama teater bertajuk Putri Mandalika dalam ajang festival tersebut. Ia juga kerap mengikuti lomba baca puisi di Mataram dan mengikuti ke­ giatan menari. “Sejak kecil saya sudah dekat dunia sastra dan kesenian,” katanya. MAKSIMALKAN FUNGSI MUSEUM Kini Maya tengah merancang usaha untuk lebih memajukan museum dengan melanjutkan program-program yang sudah ada sebelumnya dan menyiapkan langkah-langkah strategis untuk memperkuat museum sebagai sarana pendidikan bagi anak-anak dan masyarakat di NTB. Selain itu, katanya, agar Museum ­Negeri

NTB juga bisa menjadi lebih menarik karena museum bisa menjadi pintu masuk pariwisata Nusa Tenggara Barat. Selain itu, ia ingin memaksimalkan fungsi museum sebagai media komu­ nikasi lintas generasi. “Saya ingin mendekatkan museum dengan gererasi muda dan masyarakat NTB untuk lebih mengenal bu­ dayanya agar tetap berkarakter Indonesia,” katanya. Rupanya, di samping itu, masih segudang rencana yang dipersiapkan Maya guna mem­ bumikan Museum Negeri NTB, setidaknya untuk masyarakat Nusa Tenggara Barat. Dan satu hal yang tidak kalah penting­ nya yang akan dilakukan oleh “Putri Larasmara” ini yakni menyentuh masyarakat untuk mencintai museum dengan pendekatan keluarga. Hal ini telah dimulainya dengan meng­ gelar acara family gathering yang diselenggarakan Museum NTB beberapa waktu lalu. Selain itu, Museum NTB akan membuka diri untuk berbagai kegiatan yang menyangkut pendidikan dan kebudayaan lainnya. Seperti halnya kegiatan bedah buku sastra bertajuk, Imtihan Taufan, Interior Nikolo dan Pemikiran Besar Seniman yang diseleng­ garakan beberapa waktu lalu. -Naniek I. Taufan

“Saya bangga bisa lompat dari hal-hal yang normatif dan dari bidang ­keilmuan yang ­telah menjadi kebiasaan saya ­selama ini. Karena dari tugas ini saya pasti akan mendapatkan kekayaan baru, yaitu ­pengalaman dan kesempatan belajar di tempat yang baru”

Agustin Ramli

S

elain masalah pelece­ han seksual, ia juga merasa prihatin dengan maraknya seks bebas di kalangan anak muda.“Kalau saya perhatikan, malah sekarang ini kayaknya anak-anak pun sudah tahu ten­ tang hubungan seks. Itu salah satunya diketahui lewat internet yang terlalu cepat masuk ke anak-anak. Saya sangat prihatin karena sebagian dari mereka telah ‘terkontaminasi’ sejak ke­ cil. Kita tidak bisa menyalahkan mereka tapi ini karena keadaan,” tuturnya. Agustin Ramli sudah pasti merasa sangat resah. Pasalnya, selebriti yang wajahnya kerap muncul di layar kaca ini, memiliki ratusan anak asuh yang tersebar di seluruh Indonesia. “Ant Charity memiliki anak asuh sekitar 600 orang yang tersebar di seluruh Indonesia. Mereka mulai dari SD, SMP juga SMA,” tambah Agustin yang baru saja menyelesai­ kan pekerjaannya se­ bagai MC dalam acara peluncuran Academy Golfdi Pondok Indah, Jakarta. Terkait dengan itu, kata bintang video klip ‘Langit 7 Bidadari’ Ada Band ini, Ant Charity me­

luncurkan program baru yakni Self Safety yang diperuntukkan untuk anak-anak asuh Ant Charity. Untuk melaksanakan pro­ gram yang akan digelar di seluruh Indonesia itu, Ant Charity, kata Agustin, mengandeng sejumlah partner di antaranya Komunitas AMAN. “Sebenarnya keresahan akan kondisi keamanan anak-anak kar­ ena maraknya kasus sexual abuse sudah ada sejak lama. Karena itu, sebenarnya sejak dulu kami juga memiliki program edukasi untuk masalah ini pada kelas-kelas reg­ uler. Nah baru kali ini kami ingin mengadakannya agak sedikit besar dengan menggandeng partner dari luar. Jadi pendidikan ‘Self Safety’ ini akan digelar di beberapa daerah, di antaranya Jakarta dan Bali,” katanya. Untuk Bali, jelas Agustin,

pihaknya bekerja sama dengan Komunitas AMAN. Komunitas AMAN adalah komunitas yang basiknya adalah pelajaran bela diri. Namun kemudian mereka mengembangkan ke bidang lain termasuk memberi workshop untuk masalah keamanan. Jadi anak-anak nantinya akan menda­ pat bekal ketrampilan dalam mengadapi ancaman kekerasan dan kejahatan. “Tapi tentu saja, pelajaran nantinya disesuaikan dengan usia anak. Jadi materinya akan berbeda-beda. Misalnya materi untuk anak SD, beda den­ gan SMP atau SMA,” paparnya. Tadinya, tambah finalis Putri Indonesia 2006 ini, program yang akan digelar adalah sex education. Namun mengingat, banyak anak asuh masih sekolah dasar, sedang sex education dirasakan lebih tepat ketika anak sudah menginjak SMP, maka program yang dipilih adalah Self Safety. Dengan ‘Self Safety’ materinya bisa menjadi lebih luas, bukan sekadar pengetahuan seks tapi juga bagaimana menjaga keaman­ an diri khususnya dari situasi yang tidak dikehendaki. ACADEMY PARTY DI JAKARTA DAN BALI Selain program tersebut, lanjut Agustin, ada sejumlah program yang akan digelar da­ lam waktu dekat ini, di antaran­ ya adalah Academy Party yakni sebuah acara pemberian peng­ hargaan kepada anak-anak yang berprestasi selama setahun. Ini

5


6

Women on Top

Edisi 851/ 1 - 7 juni 2015

Edisi 851/ 1 - 7 juni 2015

Anak Agung Ayu Ketut Agung

D a m p a k G a m b a r S e r a m d i B u n g k u s Ro k o k

Indahnya Berbagi

Ngerinya hanya Sebentar

Tiga puluh enam tahun sudah Anak Agung Ayu Ketut Agung bergelut di bidang tata rias. Bukan waktu yang singkat bagi seseorang untuk menekuni suatu keterampilan tertentu. Tak mengherankan pula, jika kemudian berbekal keterampilan tata rias itu, Bu Agung yang juga pemiliki Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Kecantikan Agung ini lantas kerap dipercaya sebagai narasumber dan juri di bidang tata rias dan busana adat Bali.

T

ak jarang pula Bu Agung berpatisipasi atau mensponsori tata rias dan busana Bali dalam acara-acara yang “berbau” pelestarian adat dan budaya Bali. Bahkan, anak-anak didiknya di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM)

Agung pun, juga dibekalinya dengan keterampilan tata rias. Menurutnya, skill (keterampilan) itu sangat perlu dimiliki setiap orang sehingga bisa mandiri, karena tidak lagi menggantungkan kesempatan bekerja pada orang lain. Bagi Bu agung, inilah makna

Dari kanan: Tu Gek Diva, Ny. Hj. Baiq Irma Suryani Fadli (Ketua Tim Penggerak PKK Lombok Tengah), Model, Ibu Agung, di Gedung Dakwah Mesjid Agung Praya, Lombok Tengah. Berkesempatan foto bersama usai memberikan pelatihan.

hidup yang sesungguhnya, bisa berbagi, indahnya berbagi. Karena sejatinya, dengan berbagi, kita juga akan mendapatkan sesuatu dari mereka, yang bukan dinilai dari material. Sebut saja ketika Bu Agung menggelar roadshow tata rias dan busana adat Bali serta etika berbusana adat yang baik dan benar, ke seluruh Bali dan Indonesia. Bu Agung menjadi tahu permasalahan sesungguhnya di masyarakat. Karena itu pula ia pun bisa memberikan solusi menyampaikan trik praktis merias wajah sendiri, memasang pusung tagel, tengkuluk lelunakan dan cara merias pengantin dengan cepat. Bahkan Bu Agung mengaku bangga, bahwa busana adat Bali diminati masyarakat luar Bali. Terbukti beberapa waktu lalu ketika memenuhi undangan untuk memberikan seminar dan workshop busana adat Bali di tiga tempat di Lombok, pesertanya selalu membludak dan mendapat antusiasme tinggi peserta. Karena jam terbang tinggi dengan segala pengalamannya itulah, LKP

Agung kerap pula menjadi tempat studi banding bagi sekolah atau lembaga di Indonesia. Seperti, kunjungan Akademi Kesejahteraan Sosial (AKS) Ibu Kartini, Semarang, Selasa (26/5) ke LKP Agung. Studi Banding yang kesekian kalinya oleh Program Studi Tata Rias AKS Ibu Kartini Semarang ini, kali ini diikuti 24 mahasiswinya didampingi 4 dosen pembimbing. Salah seorang dosen mengatakan, LKP Agung menjadi pilihan tempat Kuliah Kerja Lapangan (KKL) mereka karena LKP ini dinilai terbaik di Bali dan intens mengadakan kegiatankegiatan tata rias. Sekaligus juga mereka bisa meninjau Tempat Uji Kompetensi Tata Kecantikan Kulit dan Tata Rias Pengantin. Selain melihat secara langsung praktik kerja untuk meningkatkan kemampuan dan wawasan, mereka juga mendapatkan workshop singkat dari Bu Agung tanpa dipungut biaya, seperti membuat tengkuluk lelunakan serta tengkuluk lelunakan dengan hijab. Sebelumnya, LKP Agung juga mendapat kunjungan dari 60 siswa Jurusan

Perbaiki Tata Kelola Hutan Tidak dapat kita pungkiri, kerusakan hutan terjadi tiap hari. ­Kejadian kerusakan hutan tidak hanya disebabkan faktor alam, namun, sebagian besar disebabkan ulah manusia. “Hal ini karena sejak dulu manusia telah memanfaatkan hutan dan berbagai jasa ekosistem yang ditawarkannya. Disamping itu, diperkirakan 1,2 miliar penduduk dunia menggantungkan penghidupan mereka kepada hutan,” ujar Staf Khusus Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan ­­Ir. Hanni Adiati, M.Si., saat launching dan workshop Indeks Tata Kelola Hutan Ekoregion Bali Nusra, Rabu (27/5).

H

iklim. Untuk itu dunia sangat menaruh perhatian pada tingkat deforestasi (penebangan hutan) dan degradasi lahan Indonesia yang cukup mengkhawatirkan. FAO menyoroti penebangan hutan Indonesia yang tertinggi di dunia yakni mencapai sekitar 60 ribu hektare per tahun. Menurut FAO pembukaan dan pembakaran lahan terutama di lahan gambut mengakibatkan In­ donesia kehilangan keanekaraga­ man hayati yang cukup besar dan menghasilkan emosi gas rumah kaca tertinggi ketiga di dunia. Ia menilai, good governance memiliki peran yang penting untuk menjaga hutan. Indonesia

Berbagai cara dilakukan untuk menurunkan jumlah perokok di Indonesia, mulai dari peraturan menempatkan gambar-gambar seram pada bungkus rokok hingga larangan merokok di sejumlah tempat. Bahkan sekarang larangan merokok sudah makin meluas, bukan hanya di mal dan kendaraan umum, tapi juga ruang-ruang publik lainnnya. Sayangnya berbagai aturan yang dibuat belum sepenuhnya membuah­ kan hasil yang diharapkan. Salah satu sebabnya adalah kurangnya law enforcement (penegakan hukum) juga ketidakdisiplinan masyarakat.

Dr. Marius Widjajarta Kunjungan mahasiswi Prodi Tata Rias Akademi Kesejahteraan Sosial (AKS) Ibu Kartini, Semarang, Selasa (26/5) ke LKP Agung.

Ir. Hanni Adiati, M.Si.

anni menyatakan, setengah dari daratan Indone­ sia adalah hutan. Di dunia, Indonesia merupakan negara dengan tutupan hutan tropis terbesar ketiga di dunia. Kondisi ini meletakkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan hutan tropis terpenting di dunia. Yang secara signifikan menyuplai oksigen yang cukup besar pada bumi. Menurut catatan Bank Du­ nia, hutan Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang be­ gitu tinggi. Hutan Indonesia juga berperan penting di saat negeri ini makin rentan terhadap perubahan

19

merupakan salah satu negara pertama yang berkomitmen un­ tuk mengurangi emisi gas kaca secara drastis sebesar 26% pada tahun 2020, yang sebagian besar disebabkan oleh degradasi hutan dan lahan gambut. Menurutnya, tata kelola yang baik merupakan hal penting untuk dilaksanakan dalam mewujudkan hal tersebut. “Tanpa perbaikan tata kelola, penebangan hutan dan pembukaan gambut dapat terus terjadi tanpa terkendali se­ hingga mengakibatkan gagalnya upaya Indonesia dalam mengu­ rangi emisi gas rumah kaca,” ucapnya. Menurut Menteri Lingkung­an

Hidup dan Kehutanan ­Siti ­Nur­baya, dalam acara peluncuran Indeks Tata Kelola Hutan tanggal 21 Mei 2015 di Jakarta menyampaikan, Indeks Tata Kelola Hutan merupa­ kan salah satu instrument control yang dapat dipergunakan untuk memahami konteks tantangan pembangunan kehutanan. Pada saat bersamaan dapat dipergu­ nakan untuk melihat peran setiap aktor kunci dalam penguatan tata kelola hutan. Hasil kajian juga bermanfaat dalam menetapkan prioritas kebijakan, program, dan sejumlah inovasi yang bisa diper­ gunakan untuk mencapai targettarget pembangunan lingkungan hidup dan kehutanan.

Tata Kecantikan, SMKN 3 Klaten.

DISKON 50% KURSUS TATA RIAS Untuk mengisi liburan sekolah serta untuk lebih menyosialisasikan dan membangkitkan minat masyarakat dalam tata rias dan busana adat Bali, LKP Agung memberikan diskon 50% kursus regular. Materi yang diajarkan mencakup 3 paket yakni Tata Kecantikan Kulit, Tata Kecantikan Rambut, dan Tata Rias Pengantin (payas nista, payas madya, payas agung, modifikasi, dan tengkuluk lelunakan). Disediakan juga beasiswa kursus gratis bagi mereka yang kurang mampu dan putus sekolah, yang benar-benar berminat di bidang tata kecantikan. Syarat dan ketentuan berlaku. Silakan menghubungi Sekretariat LKP Agung, Jalan Anggrek No. 12 Kreneng, Denpasar. Telepon 0361 233850, 081 1393602, faks. 0361 247153. Cabang Tohpati, Jalan WR. Supratman No. 303 A, Tohpati, Denpasar. Email: lkp_agung@yahoo. com. website: www.salonagung.com. –iin

Hasil kajian indeks tata kelola hutan ini da­ pat dijadikan kerangka acuan dan baseline data serta rekomendasi dalam penyusunan rencana pembangunan daerah. “Hal ini karena hasil kajian tidak hanya menyajikan informasi tentang kondisi kekuatan dan kelemah­an tata kelola hutan, tetapi juga menyajikan sejumlah rekomendasi kebijakan yang perlu dilakukan se­ mua aktor untuk mem­ perkuat tata kelola hutan Indonesia,” kata Hanni. Hanni menegaskan, hasil penilaian tersebut diterjemahkan dalam tindakan konkrit untuk memperbaiki tata kelo­la hutan dan lahan ke depan­ nya sehingga dapat bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pe­ngentasan kemiski­ nan, dan pertumbuhan berkelan­ jutan. “Pelaksanaan kajian indeks tata kelola hutan tentu memerlu­ kan input berbagai pihak. Untuk itu sangat dibutuhkan kemitraan baik untuk menyukseskan pelak­ sanaan kajian ini,” tegasnya. Hasil kajian ini nantinya diharap­ kan dapat membantu semua pihak dalam pelaksanaaan pembangunan lingkungan hidup dan kehutanan ke depan. Ia juga berharap, hasil kajian ini dapat menempatkan Indonesia untuk lebih berperan penting dalam agenda perubahan iklim global.-Wirati Astiti

P

enempatan gambargambar seram (picture health warning atau PHW) pada bungkus rokok sebagaimana Peraturan Pe­ merintah No 109 Tahun 2012, ternyata belum sepenuhnya dipatuhi oleh industri rokok. Buktinya masih ada rokok yang bungkusnya tanpa gambar seram. Pemerintah sendiri berjanji akan melakukan penindakan tegas pada produsen yang bandel. Berdasarkan peraturan, pencantu­ man PHW mulai diberlakukan per 24 Juni 2014. Ada lima gambar yang wajib dicantumkan yakni; kanker mulut, kanker tenggorokan, kanker paru, pria merokok dan pria merokok bersama anak. Aturan PHW ini sebenarnya bukan hanya diadopsi oleh pemerin­ tah negeri ini. Tapi juga negara lain, Indonesia adalah negara ke 77 yang memberlakukan aturan PHW. Lalu bagaimana hasilnya, apakah PHW ini efektif menurunkan kon­ sumsi rokok? Hasilnya disejumlah negara berbeda-beda. Di Indonesia sendiri belum ada penelitian tentang adanya PHW menurunkan konsumsi rokok. Menurut Dr. Marius Widja­ jarta, Ketua Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia, PHW belum memberi dampak yang signifikan bagi pengurangan konsumsi merokok. “Saya tanya tentang PHW kemasan rokok kepada mereka yang perokok, terus mereka menjawab, ach...hanya takut sebentar saja.

Awalnya mereka memang kaget dan ngeri. Tapi kemudian karena belakangan ini banyak dijual kotak rokok, mereka menjadi tidak takut lagi. Mereka membeli kotak rokok sendiri, lalu rokok yang dibeli dipin­ dahkan ke kotak itu. Sedang bungkus rokok yang ada gambar PHW –nya dibuang,” ungkap Marius yang juga aktif di Lembaga Penanggulangan Masalah Rokok. Meski demikian, ia berpendapat PHW jangan dicabut melainkan tetap didipasang di kemasan rokok. Kalau perlu, tegasnya, gambar-gambar seramnya ditambah. Peraturan ini baru berjalan setahun, jadi memang belum terlalu bisa dilihat hasilnya. Untuk menekan jumlah perokok bukan hanya dengan PHW tapi juga harus dibarengi dengan penegakan hukum terkait berbagai peraturan pembatasan tembakau yang memang sudah ada. Kelemahannya di penega­ kan hukum. Karena itu, baik pemer­ intah pusat maupun daerah harus benar-benar melaksanakan aturanaturan yang ada. “Kita punya banyak peraturan, semuanya bagus-bagus, tapi pelaksanaannya kurang. Inilah yang harus dibenahi, “ ujarnya. Beberapa solusi yang ditawarkan Marius antara lain; menaikkan harga rokok menjadi cukup tinggi sehingga pembelinya adalah kalangan tertentu saja, pembatasan iklan rokok, juga pematasan penjualan rokok. “Saat

ini harga rokok di Indonesia murah, sehingga siapa saja bisa membeli. Lebih-lebih lagi, rokok bisa dijual ketengan, yang sudah pasti menjadi lebih murah dan mudah terjangkau. Itu sebabnya anak-anak sekolah pun bisa membelinya dengan uang saku mereka. Ditambah lagi, rokok bisa di­ jual dimana saja, harusnya ditetapkan di tempat-tempat tertentu. Penjual rokoknya pun anak-anak, pembelinya anak-anak pula, bagaimana ini? Pa­ dahal dalam peraturan ada tertulis ‘Untuk 18 tahun’ , jadi hanya tulisan saja. Begitu juga iklan-iklan rokok yang balihonya besar-besar masih banyak bertebaran di Jakarta misal­ nya,” kata Marius. Kalau ingin menekan konsumsi rokok, masih banyak yang harus dik­ erjakan. Pemerintah harus konsisten dan sungguh-sungguh. Yang dihadapi ini adalah industri besar karena itu diperlukan kekuatan dan sungguhsungguh dan konsisten. TERBANYAK KETIGA DI DUNIA Baru-baru ini, TCSC (Tobacco Control Support Center)-IAKMI (Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia) beserta 20 institusi lain di 18 kota yang merilis hasil temuan mereka terkait antara lain efektivitas PHW terhadap para perokok. Dalam kesempatan itu, disampaikan juga gambar-gambar yang berdampak cu­

kup signifikan bagi para perokok. Dari lima gambar (PHW), ada tiga gambar yang dinilai cukup efektif mengurangi minat orang untuk merokok. Menurut Dr. dr. Santi Martini, dari lima gambar itu tiga gambar dinilai efektif untuk mengurangi minat orang untuk merokok. Yakni, gambar kanker mulut, kanker tenggorokan dan kanker paru. “Gambar-gambar itu paling efektif untuk membuat orang berhenti merokok, tidak mulai merokok juga menginformasi­ kan bahaya rokok. Sedang gambar orang merokok dan orang merokok menggendong anak tidak efektif,” jelas dokter dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlaingga, Surabaya, dalam acara pemaparan penelitian bersama TCSC-IAKMI dan 20 institusi lainnya, di kawasan Kunin­ gan, Jakarta Selatan, baru-baru ini. Menurut Santi, banyak orang saat membeli rokok meminta penjual memberinya rokok tanpa gambar seram. Namun jika yang tersedia di toko/warung semuanya bergambar, maka dia akan memilih gambar orang merokok atau orang merokok menggendong anak. Hasil penelitian lapangan menunjukkan 58% pembeli akan meminta rokok yang tidak ada gambarnya, itu menunjukkan, kata Santi, bahwa pencantuman PHW itu memiliki dampak bagi perokok. “Artinya, gambar-gambar itu memiliki dampak psikologis,” ucapnya. Berdasarkan data, Indonesia memiliki jumlah perokok terbanyak ketiga di dunia setelah Cina dan India. Sedang peringkat empat dan lima adalah Amerika dan Rusia. Sementara di Asia Tenggara, Indonesia men­ duduki peringkat teratas yakni 51,1% dari total jumlah penduduknya adalah perokok. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, prevalensi

Rokok Penyebab Kanker Salah satu produk tembakau ada­ lah rokok. Produk ini mengandung berbagai bahan berbahaya. Sekitar 4000 bahan kimia yang berbahaya terkandung di dalam rokok. Menurut dr. Ayu Swandewi, M.P.H. dari Bali Tobacco Control Inisiatif, semua bahan yang terkandung dalam rokok menyebab­ kan perubahan sel dalam tubuh yang disebut kars­ inogen yakni bahan pe­ nyebab penyakit kanker. Selain itu, kata dr. Ayu, kandungan nikotin dalam rokok juga menyebabkan ketergantungan. “Bahan kimia tarr, karnium, arsenic, karena sifatnya yang dihisap akan masuk ke peredaran darah dan merusak komponen di dalam tubuh,” kata mantan Ketua Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran Unud ini. Ia menilai, masyarakat sudah paham akan bahaya rokok. Namun, walaupun berbahaya, tapi susah untuk berhenti. “Rokok salah satu ketergantungan yang paling susah di­ tanggulangi. Namun, walaupun begitu, masih ada yang

berhasil keluar dari ketergantungan tersebut,” ucap dosen pengajar di Ilmu Keseha­tan Masyarakat, Fakultas Kedokteran Unud ini. Ia menyebutkan, merokok dapat menyebabkan kanker paru, kanker paring, kanker servik, impoten, predator penyakit kadriovaskuler seperti jantung dan stroke, dan penyakit kencing manis. Memang ia mengakui, saat berhenti merokok, orang akan merasakan sakau, kondisi yang sama dengan pasien ketergantungan narkoba. Kepala menjadi pusing, mual, dan dada berdebar. Namun, kondisi ini tidak ber­ langsung lama. “Ketika perokok sudah mampu menghadapi kondisi ini, setelah itu, ia justru akan merasa membaik. Namun, tak jarang, karena tak tahan, perokok yang mencoba untuk berhenti akhirnya kembali lagi menjadi perokok. Karena itu, untuk berhenti merokok harus didasari keinginan dari diri sendiri agar menjadi lebih sehat,” kata dr. Ayu. Makin cepat berhenti merokok, justru makin baik, karena makin sedikit terpapar zat berbahaya yang terkandung dalam rokok. “Dalam rangka Hari Tanpa Tembakau, kami mengambil tema “Tidak Ada lagi Iklan Rokok”. Tema ini kami usung karena iklan rokok sudah menyasar generasi muda,” kata dr. Ayu. Menurutnya, sekali para remaja mencoba, mereka akan ketagihan untuk terus menjadi perokok. Kota Denpasar telah menetapkan memotorium sejak tahun 2012, tidak ada lagi perpanjangan iklan rokok. “Kami berharap, semoga Perwali segera ditandatangani dan keberhasilan ini akan diikuti kabupaten lain di Bali,” tegas dr. Ayu. Ia mengatakan, di Jakarta juga sedang dibahas RUU Penyiaran, agar meniadakan iklan rokok di media massa. Berdasarkan survei, sekitar 80% masyarakat tertarik merokok dengan melihat tayangan iklan rokok di media televisi. Selain soal iklan, ia juga prihatin dengan promosi rokok yang mema­ jangnya di depan kasir di supermarket. Berdasarkan survei, pengunjung yang datang menjadi tergoda untuk membeli rokok ketika melihat rokok terpajang di depan kasir. Peringatan Hari Tanpa Tembakau juga diisi dengan seminar kesehatan dan jalan sehat. Menurutnya, dalam pengendalian tembakau memerlukan banyak tahapan yang harus dimulai step by step. Karena itu, dukungan semua pihak sangat diharapkan. –Wirati Astiti

perokok menurut pendapatan, yakni pendapatan termiskin sebesar 43, 8 persen, sedangkan pendapatan terkaya sebesar 29,4 persen. Preva­ lensi perokok di Indonesia menurut pendidikan adalah tidak tamat seko­ lah atau SD sebesar 37,7 persen dan tamat perguruan tinggi 26, 7 persen. Sedang menurut karakter­ istik, proporsi terbanyak perokok aktif setiap hari pada umur 30-34 tahun sebesar 33,4 persen, umur 35-39 tahun 32,2 persen, sedangkan proporsi perokok setiap hari pada laki-laki lebih banyak dibandingkan perokok perempuan yakni 47,5 persen banding 1,1 persen. Seperti yang diungkap Dr. Marius, meski gambar seram cukup berpen­ garuh pada para perokok, namun tidak serta merta membuat mereka menjadi berhenti merokok. Mereka yang terganggu dengan gambar-gam­ bar itu, lantas menyiasatinya dengan mengganti bungkus rokok dengan kotak penyimpan rokok yang seka­ rang banyak dijual di pasaran. TERTUTUP PITA CUKAI “Pada awalnya saya kaget den­ gan gambar-gambar seram itu. Saya merasa terganggu jika memandang gambar itu setiap kali melihat bung­ kus rokok. Untuk menyiasatinya, saya beli kotak rokok yang tidak ada gambarnya yang dipasaran dijual antara Rp15-20.000. Jadi begitu beli rokok, isinya langsung dipindahkan ke kotak itu,” katanya Priadi seorang perokok sembari tertawa. Menurut Profesor Hasbullah Thabrany, MPH dari FKM Universitas Indonesia, belum cukup bukti bahwa PHW menekan tingkat konsumsi rokok. Mungkin, masyarakat semakin sadar bahaya merokok tapi bagi yang sudah teradiksi, PHW hanya mem­ beri dampak kecil. Tapi setidaknya, kata dr Santi, melihat gambar-gambar itu bisa memotivasi untuk berhenti. “Pendapat masyarakat dengan meli­ hat gambar bisa memotivasi untuk berhenti, itu angkanya tinggi di atas 90%. Juga bisa memotivasi anak muda untuk tidak merokok, atau bagi mantan perokok untuk tidak merokok lagi,” paparnya. Hasil penelitian juga menemukan bahwa 89% masyarakat mendukung PHW dan 78,8% mendukung agar gambar dibuat semakin besar. Se­ banyak 89,5% efektif meyakinkan untuk berhenti merokok, 90,2% meyakinkan anak muda tidak mulai merokok dan 91,5% untuk tetap berhenti merokok. Terkait gambar seram pada ke­ masan rokok, Yayasan Lembaga Kon­ sumen Indonesia (YLKI) menyebut, masih banyak produsen rokok sengaja menutupi gambar tersebut dengan pita cukai. Padahal berdasarkan dalam PP 109 Tahun 2012 secara jelas dis­ ebutkan bahwa tulisan peringatan kes­ ehatan tidak boleh tertutup apapun. Menurut Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi, PP 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakai Bagi Kesehatan adalah aturan turunan dari UU Kesehatan. Pada pasal 17 ayat 5 disebutkan, gambar dan tulisan peringatan kesehatan sebagaimana dimaksud tidak boleh tertutup oleh apapun sesuai dengan ketentuan pera­ turan perundangan. “Dengan tertutup pita cukai, konsumen tidak mendapat informasi kesehatan komprehensif. Informasi bahaya rokok tidak efektif karena tertutup pita cukai,” ujarnya. –Diana Runtu


18

Life

Edisi 851/ 1 - 7 juni 2015

Peluncuran Buku “Senam Kebugaran Seksual”

Yang Menopause bisa Bergairah Kembali Semua wanita normal pasti ingin memberi kepuasan seksual secara maksimal kepada pasangan­nya. Hal ini diungkapkan Adolfina Grace Tangkudung, S.Pd., M.Fis., dalam peluncuruan bukunya “Senam Kebugaran Seksual”, yang dihadiri Ketua TP PKK Kota Denpasar Ny. Selly. D. Mantra, Ny. Agung Sri Satria Naradha, perwakilan dari organisasi wanita yang ada di Bali, dan undangan lainnya, Kamis (28/5) di Istana Taman Jepun, Denpasar.

D

alam kesempatan yang santai itu, Ny. Selly D. Mantra yang juga istri Wali Kota Denpasar mengatakan “Senam Kebugaran Seksual” adalah salah satu cara untuk memperoleh kepuasan bagi pasangan suami istri. Namun, katanya yang

Adolfina Grace Tangkudung

penting juga adalah komunikasi. “Ketika jalinan komunikasi pasutri lancar, maka dalam melakukan hubungan intim pun keduanya

Bersama pemenang door prize

akan sama-sama memperoleh kepuasan. Bahkan bisa menjadikan hubungan pasutri menjadi lebih harmonis,” ucapnya. Ia pun mengajak para ibu-ibu PKK dan wanita yang ada di Kota Denpasar untuk mengetahui apa itu “Senam Kebugaran Seksual”. Adolfina Grace Tangkudung, pengasuh Rubrik Bugar Bali Post sejak 1993 hingga sekarang ini menegaskan para istri bisa memberikan kepuasan seksual yang melebihi yang diidamkan para suami, yaitu dengan cara memiliki daya cengkram vagina yang kuat. ”Untuk mendapatkannya tentunya harus latihan,”cetusnya. Ibu dua anak yang sudah 38 tahun berpengalaman di sunia senam ini pun menambahkan jika rajin berlatih, maka perempuan yang memiliki 3- 4 anak, dan berusia 35 tahun ke atas dapat mengalahkan

perempuan yang memiliki 1 anak dan berusia antara 20 hingga 25 tahun. Dalam acara yang penuh gelak tawa itu pimpinan sekaligus pemilik Lembaga Kursus dan Pelatihan Instruktur Senam Lala Studio de­ ngan segundang prestasi ini pun sempat menyampaikan beberapa

komentar para ibu yang telah dilatih “Senam Kebugaran Seksual” selama 2 bulan olehnya. Mere­ ka ternyata merasakan hasil yang luar biasa. Terbukti dari beberapa testimoni mereka. Sebuah ungkapan yang begitu jujur, terbuka dan apa adanya. Betapa mereka dari yang awalnya malu dan takut setelah mengikuti SKS, akhirnya bisa merasa bangga, malah sampai ada yang mengungkapkan kewalahan. Bahkan para perempuan yang sudah menopause bisa kembali bergairah dan menikmati kebersamaan dengan sang suami. Setelahnya, beberapa undangan pun dengan terbuka menyampaikan pengalaman maupun keluhan mereka . Grace juga tak lupa menekankan prinsip dalam melakukan lahitan Senam Kebugaran Seksual ini adalah wajib “konsentrasi”. “Senam ini juga dapat diiringi musik yang sesuai dengan ketukan iramanya agar suasana jadi menyenangkan. Apalagi senam ini dapat dilakukan kapan saja, dan dimana saja. Selengkapnya dapat dibaca di buku “Senam Kebugaran Seksual,” katanya tersenyum. Grace lalu meminta salah seorang timnya untuk memperagakan beberapa posisi latihan senam ke­ bugaran seksual.-ard

Story

Edisi 851/ 1 - 7 juni 2015

7

Waspadai Penipuan via Telepon Bunyi telepon berdering di rumah Ratni (48), yang tinggal di sekitar Labu Api, Lombok Barat. Telepon dari seorang perempuan itu diterima oleh adik ipar Ratni, yang shock mendengar kabar yang ditujukan untuk ­Ratni dan suaminya.

M

engetahui berita ini terbilang sangat penting, maka adik ipar Ratni pun menelepon Ratni dan juga mengabari suaminya (adik suami Ratni). Suami Ratni sendiri sengaja tidak diberitahu dulu mengenai kabar ini, mengingat kondisi kesehatannya yang dikhawatirkan bisa membuatnya shock. Kejadian ini terjadi seminggu yang lalu. Ratni yang tengah bekerja di sebuah salon di Mataram, tiba-tiba menangis setengah berteriak dan terlihat sangat panik ketika mendapat telepon dari adik iparnya itu. Ia baru saja mendapat kabar bahwa anaknya yang baru lulus SMU dan akan melanjutkan kuliah di Yogyakarta itu, jatuh dari sepeda motor dengan kepala luka parah

dan harus segera dioperasi untuk menyelamatkan nyawanya. Ratni lalu menelepon ke nomor yang diberikan oleh adik iparnya. Dengan masih sesegukan, Ratni menelepon orang yang mengaku guru anaknya itu dan menanyakan di mana kini anaknya berada dan bagaimana kondisinya. Sambil mempersiapkan diri untuk datang ke Rumah Sakit Risa di mana anaknya dirawat, Ratni terus berkomunikasi dengan sang guru. “Saya tidak begitu tahu kondisinya Bu, tapi ini ada dokternya yang akan menjelaskan,” kata sang guru. Penjelasan dokter sungguh membuatnya terpukul. Batok kepala anaknya retak parah dan harus segera diambil tindakan operasi sesegera mungkin. Obatnya tak tersedia di rumah sakit

melainkan harus dibeli di sebuah apotik yang disebutkan sang dokter. Ipar laki-lakinya (adik suaminya) yang juga menelepon ke nomor yang sama juga dikabari hal yang sama. Ia pun meminta kawan kerjanya untuk mengantarnya ke rumah sakit Risa di wilayah Cakranegara. Sepanjang perjalanan menuju Rumah Sakit Risa, Ratni menangis. Dalam keadaan panik tiba di rumah sakit Risa, Ratni langsung menuju UGD. Ia bertanya sana sini di manakah anaknya dirawat. Ia bertanya apakah ada pasien baru masuk karena kecelakaan dengan menyebut nama anaknya. Petugas UGD menjawab bahwa dalam tempo itu mereka tidak menerima pasien kecelakaan. “Kata petugas mungkin di rumah sakit umum,” ujar Ratni. Dalam keadaan panik, di UGD inilah ia bertemu dengan ipar laki-lakinya. Mereka berdua panik karena tidak menemukan anak Ratni, lalu menelepon nomor sang guru yang suaranya demikian cemas bukan kepalang. Benar saja, sang guru mengatakan bahwa anak Ratni dibawa ke rumah sakit umum yang peralatannya lebih lengkap karena tindakan yang diambil adalah operasi besar. Tidak lupa ia mengingatkan untuk segera mentransfer

tkh/net

uang yang dibutuhkan Rp 2 juta, karena obat saat itu juga harus segera dibeli. Ratni sesegera mungkin menuju rumah sakit umum Mataram, sedangkan adik ipar laki-lakinya menyusul karena harus mentransfer uang terlebih dahulu. Entah karena buru-buru sehingga konsentrasi adik ipar Ratni ini membuatnya salah masuk ATM. Di sekitar rumah sakit Risa, rupanya tidak ada ATM yang sesuai dengan bank yang diinfokan oleh sang guru lewat telepon. Adik ipar Ratni harus mencaricari ATM tersebut. Sementara itu, Ratni yang sudah tiba di UGD rumah sakit umum Mataram, juga tidak menemukan anaknya. Hari itu kebetulan sekali tidak ada pasien kecelakaan yang dirawat di sana. “Di situlah saya baru sadar kalau saya sedang dalam masa ditipu,” kata Ratni. Kesadaran itu membawa akal sehatnya untuk segera meneleon anaknya. Dari ujung telepon, anak Ratni mengatakan bahwa ia ada di sekolah dan dalam keadaan baikbaik saja. Lega hati Ratni mendengarnya. Ia pun menelepon adik iparnya untuk mencegahnya mengirim uang kepada sang guru.

“Untung belum dikirim karena kebetulan ia tidak menemukan ATM sesuai bank penelepon,” ungkapnya lega. Ratni tidak menyia-siakan kesempatan untuk memaki sang penipu itu lewat telepon. Beberapa saat kemudian, nomor tersebut sudah tidak aktif lagi. Pengalaman ini membuat Ratni semakin berhati-hati dan waspada. Karena sesungguhnya kasus-kasus seperti ini sudah banyak ia dengar. Namun karena menyangkut anak, maka Ratni sempat tidak mengingat apa-apa kecuali keinginan untuk segera menyelamatkan anaknya. Namanya juga seorang ibu naluri cinta dan sayang pada anak membuat Ratni tidak mampu melawan logikanya. Ia membagi kisahnya ini agar semua orangtua waspada dan selalu berhati-hati agar tidak tertipu. Ia mengambil hikmah dari apa yang dialaminya itu, bersyukur karena belum sampai mengirim sejumlah uang yang diminta penipu. Ratni bernafas lega menemukan anaknya tersenyum, saat menantinya di salon tempatnya bekerja usai ia melakukan perjalanan pencarian yang mengangkan ke dua rumah sakit di Mataram. -Naniek I. Taufan


8

Bunda & Ananda

Edisi 851/ 1 - 7 JUNI 2015

Menyiasati Liburan dengan Rutinitas Ulangan umum sudah selesai. Anak-anak sekolah tinggal menunggu pembagian raport dan kenaikan kelas. Tahun ajaran 2014/2015 sebentar lagi akan segera berakhir dan anak-anak akan segera memasuki masa liburan yang sangat dinantikan. Setelah liburan usai, anak akan kembali memasuki rutinitas sekolah dan proses ini berulang setiap tahunnya. Bagaimana sebaiknya orangtua mengarahkan anak dalam mengisi masa liburan dengan cerdas sehingga anak tetap memiliki semangat saat akan memasuki masa sekolah?

T

iap tahun, Joe dan keluarga selalu berlibur dan mengenal objek wisata di kota lain. Tahun lalu mereka pergi ke Malang dan menginap di Kota Batu selama tiga hari. Joe dan keluarga mengunjungi berbagai objek wisata yang ada di kota apel tersebut. Tahun ini Joe sudah menyiapkan rencana pergi ke Lovina untuk mengisi liburan dan ingin mengetahui tempat wisata tersebut secara langsung dengan mengunjungi pantai Lovina dan ingin melihat lumba-lumba berloncatan di tengah laut. “Kami sudah browsing di internet dan mencari paket liburan sekaligus penginapannya. Ternyata ada banyak pilihan,” ungkap Bu Dian, ibunda Joe. Bu Dian mengatakan bahwa liburan merupakan kesempatan bagi ia dan keluarga untuk menyegarkan kembali pikiran setelah sekian waktu beraktivitas dan juga memberi anak-anak sedikit hadiah kecil setelah ulangan umum. Namun di satu sisi, Bu Dian merasa kewalahan saat anak-anak akan masuk kembali ke waktu sekolah dimana anak-anak belum bersemangat menjalani masa sekolah dengan tingkatan kelas yang makin naik. “Saya jadi bingung ya, gimana caranya supaya anak tetap menikmati liburan namun juga tetap memiliki semangat menyongsong tahun ajaran baru,” kata Bu Dian. Kondisi ini bukan hanya dialami oleh Bu Dian semata namun hampir semua orangtua mengalaminya. “Itulah kenapa aktivitas fun mengisi liburan dilakukan di awal musim bukan di akhir musim karena cukup riskan secara waktu sekolah,” ujar Bu Dian lagi. Liburan menjadi sarana orangtua untuk menyegarkan pikiran dan motivasi anak setelah padat dengan rutinitas sekolah, les, ekstrakurikuler, dan ujian. Menurut Luh Kadek Pande Ary Susilawati, S.Psi, M.Psi, Psikolog, mengisi liburan dengan suatu aktivitas setelah rutinitas sekolah yang padat perlu dilakukan. Rutinitas anak dalam masa sekolah yang dimulai dengan tahap tahun ajaran kemudian liburan kemudian mulai lagi tahun ajaran baru dan libur lagi menjadi suatu rutinitas yang sudah terpola sehingga dapat menimbulkan rasa jenuh dan membuat anak menjadi malas. Kondisi ini semakin diperparah dengan kurangnya wawasan orangtua tentang alternatif yang dapat dilakukan bagi anak mereka dalam mengisi liburan. Untuk itu penting mengisi liburan dengan kegiatan yang bermanfaat

Bu Pande dan cerdas agar anak tidak sekadar liburan namun mendapat pengalaman baru, memunculkan suatu perilaku yang positif secara konsisten dalam situasi apa pun. “Datangnya masa liburan bukan berarti semua rutinitas berubah menjadi sangat longgar. Rutinitas dasar seperti waktu bangun pagi, makan, dan tidur malam tetap harus dipolakan walau tidak harus seperti waktu sekolah. Orangtua jangan terlalu frontal memberikan anak melakukan perubahan rutinitas mentang-mentang liburan. Tetap harus ada disiplin yang dibentuk walaupun itu masa liburan namun dengan toleransi. Misalnya kalau sekolah biasa bangun pukul 05.00, saat liburan ada toleransi hingga pukul 06.30. Jangan sampai bangunnya pukul 12.00. Begitu juga malam hari, biasa tidur pukul 21.00, boleh diberi toleransi hingga pukul 22.00,” ujar staf pengajar Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana ini. Waktu istirahat dan makan anak saat liburan ini penting diperhatikan. Jangan sampai saat liburan membuat kesehatan anak menurun atau malah membuat anak sakit. Kegiatan yang dilakukan saat liburan tentunya adalah kegiatan yang bermanfaat dan positif, salah satunya acara bepergian seperti yang dilakukan Joe dan keluarga, bermain ke rumah saudara atau teman, dan kegiatan-kegiatan lain yang jarang bisa dilakukan saat hari sekolah. Intinya adalah, anak-anak bisa mendapat pengalaman baru setelah melakukan kegiatan tersebut. Liburan juga menjadi momen kebersamaan bagi keluarga untuk menyegarkan pikiran dan menambah keakraban.

“BELUM PANAS” Mengenai jadwal selama liburan apakah harus tertulis atau tidak, Bu Pande mengatakan sebaiknya buat kesepakatan antara anak dan orangtua. “Ada anak yang senang dengan jadwal rapi dan terencana. Kalau ini yang dipilih, boleh buat jadwal tertulis. Ada yang senang spontan. Kalau model seperti ini, sebaiknya jadwal dibuat lisan. Anak yang menyusun jadwalnya, nanti orangtua mengevaluasi. Harus ada komunikasi antara anak dan orangtua agar liburan bermanfaat. Jangan sampai ada pihak yang merasa terbebani,” ujar pengurus Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Bali sie Data Anggota periode 2014-2019 ini. Satu hal yang juga diingatkan adalah pengawasan orangtua saat anak liburan. Bukan berarti kemana-mana anak harus diawasi. Tetapi, ingatkan

anak-anak tentang tanggung jawab terhadap apa yang mereka lakukan. Misalnya, tahu dan sadar dengan waktu, baik itu waktu istirahat, makan, maupun mandi selama anak menikmati aktivitas liburan mereka. Hal tersebut penting ditanamkan sekaligus mengingatkan anak waktu dan juga banyak hal yang bisa dilakukan saat liburan, bukan sekadar santai-santai dan bermalas-malasan. Lalu persoalan baru akan muncul setelah liburan selesai. Mood anakanak dalam memulai rutinitas sekolah, baik proses belajar, mengikuti ekstrakurikuler, maupun les masih belum stabil. Guru-guru sering mengeluhkan kalau awal tahun ajaran baru, cukup banyak anak-anak yang “belum panas” dalam arti belum siap kembali untuk mengikuti aktivitas sekolah sehingga orangtua kadang

mendapat laporan dari guru paskaliburan tentang kondisi anak mereka yang belum stabil secara mood belajar. “Anak-anak masih terbawa suasana dan hawa liburan, itu kenapa mereka ‘belum panas’,” ujar Bu Pande. Ada solusi yang dapat dilakukan yakni seminggu sebelum mulai masuk sekolah, ajaklah anak untuk mempersiapkan masa sekolah yang dapat dimulai dengan memeriksa kembali perlengkapan sekolah dan mempersiapkannya. Mana peralatan belajar yang masih layak pakai dan mana yang harus diganti. Ingatkan anak untuk menghargai apa yang mereka punya. Tidak perlu semua harus baru. Selain itu, orangtua dapat memulai semangat anak dengan memancing anak untuk menganalisa mata pelajaran apa yang akan mereka pelajari di kelas berikutnya agar anak semakin penasaran, jadi ingin tahu, dan diikuti dengan kembalinya perilaku belajar. “Proses adaptasi ini wajar terjadi. Jangankan anak-anak, orang dewasa pun perlu menyesuaikan diri ketika memasuki fase pasca liburan. Jika sudah stabil, barulah suasana belajar bisa didapatkan. Berikutnya orangtua tinggal menyesuaikan perilaku belajar anak dengan jadwal rutin sekolah,” ujar alumnus S2 Profesi Psikologi Universitas Surabaya ini.

Griya

Edisi 851/ 1 - 7 JUNI 2015

Mebel Antik tetap Diminati Meskipun sekarang ini banyak muncul dan diproduksi desain mebel modern bergaya minimalis, namun mebel bergaya antik dan ­kalsik masih tetap diminati pasar. Hal ini diakui Made Diana, seorang ­karyawan Beli Bagus Bali Classic yang berlokasi di By Pass ­Ngurah Rai –Sanur, Denpasar Bali. “Mebel antik tidak ada trennya, dari tahun ke tahun ada saja yang beli,” ujar ptia asal Negara yang sudah 15 tahun bekerja di tempat itu.

M

ebel-mebel ini didatangkan dari Probolinggo, Jawa Timur. “Di sini, saya hanya memfinishing dengan diamplas, dan ada beberapa yang dibakar biar tekstur seratnya makin keluar. Serat-serat hitam

itu makin memberi kesan antik. Tahap akhir baru di-clear gloss” ucapnya. Mebel-mebel antik ini terbuat dari kayu jati, yang usianya makin tua makin kuat. Dari beberapa jenis mebel yang ada, seperti meja, kursi, rak, lemari, dan

tempat tidur, saat ini pintu yang paling laris. Baik itu pintu gebyok yang ditempatkan sebagai pintu utama, atau pun pintu engkel yang ditempatkan sebagai pintu kamar. Pintu gebyok ditawarkan mulai Rp 7,5 juta dan pintu engkel mulai Rp 3,5 juta. –Inten Indrawati

–Ngurah Budi

Berlibur sambil belajar

Mendongeng Lima Menit

LEAK DALAM PETI

Perempuan tua yang bernama Kumpi Rerod itu benar-benar serakah. Ia makan tiap bayi yang baru lahir. Keserakahan itu muncul setelah ia menekuni ilmu leak. Ilmu itu tidak digunakan untuk menolong orang, tetapi untuk Made Taro membinasakannya. Penduduk desa lalu melaporkan keadaan yang meresahkan itu kepada Raja. Raja menunjuk Kaki Dengkur, seorang kakek untuk membunuh Kumpi Rerod. Kakek yang sakti dan bijaksana itu menyanggupi, tetapi ia tidak mau melakukan kekerasan. Ia akan mencoba dengan cara memenuhi segala kebutuhan perempuan tua itu. Pada suatu malam, ketika Kumpi Rerod hendak memakan seorang bayi, tiba-tiba Kaki Dengkur menangkapnya. Dengan kesaktiannya, ia menyulap leak itu menjadi kecil sebesar marmut, lalu mengurungnya di dalam peti yang terkunci. “Seharusnya kamu dihukum mati, tetapi aku memberi kamu kesempatan untuk mengubah perangaimu yang buruk. Tinggallah dalam peti ini selama 20 tahun!” kata Kaki Dengkur. Kumpi Rerod yang berubah kecil itu menyerah. Ilmu yang dikuasainya tidak mampu menandingi kakek sakti dan bijaksana itu. Sepuluh tahun kemudian, Kaki Dengkur memeriksa leak dalam peti itu. Didapatinya leak itu

menangis sambil berucap, “Seandainya aku hidup di sebuah gubuk kecil di lereng gunung, aku akan berhenti memakan bayi. Yang penting aku berbahagia menikmati keindahan alam dan kenyamanan hidup bersama penduduk.” Kaki Dengkur tersentuh hatinya. “Baiklah, terjadilah apa yang kau inginkan!” Tiba-tiba Kumpi Rerod mendapati dirinya duduk dalam gubuk di lereng gunung. Ia sangat senang menikmati kebebasan. Namun, malam harinya, ia gentayangan lagi, memangsa bayi-bayi. Ketika Kaki Dengkur lewat di depan gubuknya, leak itu menangis dan mengeluh lagi, “Seandainya aku hidup di rumah yang besar dan mewah, aku tidak akan memakan bayi. Aku puas dengan makanan yang dibuatkan oleh pelayan-pelayan.” Kaki Dengkur tersentuh hatinya, lalu katanya, “Baiklah, terjadilah apa yang kau inginkan!” Kumpi Rerod mendapati dirinya berada dalam rumah besar dan mewah. Pelayan-pelayan menghadap dan menawarkan masakan yang disenangi. Namun, malam harinya, walaupun sudah makan sepuasnya, leak serakah itu gentayangan mencari bayi yang baru lahir. Nah, pada malam hari itulah Kaki Dengkur memergoki leak serakah itu. Ketika Kumpi Rerod mau menangis dan mengeluh, Kaki Dengkur segera menjawab, “Apa yang kau inginkan, terjadilah!” Kumpi Rerod kembali terkurung dalam peti yang terkunci. Bentuknya kecil sebesar marmut. Setiap hari menjelang malam, seorang anak memasukkan sebuah boneka bayi terbuat dari plastik ke dalam peti itu.

17

Beberapa tips untuk merawat mebel antik tetap awet: - Letakkkan di tempat yang bersih, kering, dan bersuhu normal. Kelembaban udara yang tinggi dapat mempercepat proses oksidan kayu yang menyebabkan jamur, serangan rayap atau serangan kayu lainnya. - Jangan juga terkena sinar matahari langsung. - Pastikan permukaan mebel selalu bersih dan higienis dengan cara membersihkannya dari debu dan kotoran. - Gunakan biopolish untuk memoles permukaan mebel guna menjaga keindahan kayu jati. Cairan ini juga dapat memperpanjang usia perlindungan lapisan coating.


16

Dara

Edisi 851/ 1 - 7 juni 2015

Kedepankan Kualitas dan Pendidikan Karakter

D

alam acara Wisuda ke-34 ini, Rektor Made Suarta menyampaikan informasi tentang aktivitas akademik selama satu semester ganjil (SeptemberFebruari) tahun akademik 2014/2015 IKIP PGRI Bali. Ia mengatakan Tri Dharma adalah sebuah entitas yang tak terpisahkan dari kehidupan kampus. Merupakan dasar acuan dalam menggerakkan roda keakademisan sebuah perguruan tinggi. Dalam melahirkan atmosfir akademik yang baik, melahirkan output yang berkualitas diperlukan kerja keras, komitmen, sinergisitas dan konsentrasi yang mantap, serta konsentrasi yang tidak pernah luntur. IKIP PGRI Bali adalah sebuah lembaga yang selalu berusaha menjaga, mempertahankan, dan meningkatkan kualitas, berusaha mengaplikasikan, menerjemahkan Tri Dharma tersebut. Dalam mengimplementasikan Tri Darma itu tentunya bermuara pada hasil yang dicapai. Capaian hasil dari sebuah tindakan adalah baik dan buruk atau berhasil atau gagal. Karena bertindak adalah sebuah perilaku yang berisiko, namun lebih berisiko lagi ketika kita tidak bertindak. Made Suarta menambahkan, mulai tahun ajaran baru ini IKIP PGRIBali menerapkan kurikulum berbasis KKNI, mengedepankan kualitas dan pendidikan karakter. Apalagi, IKIP PGRI Bali adalah pusat studi studi pendidikan karakter

Belum semua orang mengetahui, di balik tebing curam itu ada pesona bahari yang menakjubkan. Terlihat dari atas birunya laut yang berkilau tertimpa matahari. Mungkin banyak pula yang tidak menyangka, alam yang dari luar terkesan liar dengan rimbunan hutan jati dan bakau yang sama sekali tak menarik itu, ternyata tersembunyi panorama pantai yang eksotis. Bahkan, tak sedikit yang kemudian menyebut kawasan tebing-tebing karang itu “sekelas” Raja Ampat.

T

empat yang masih belum banyak terjamah tersebut adalah Pantai Apparalang di Kabupaten Bulukumba, Sulsel. Dengan pesona dan keindahan alamnya, banyak pihak yang meminta pemerintah kabupaten (Pemkab) Bulukumba untuk mulai mengelola destinasi lokal yang terletak di Desa Ara, Kecamatan Bontobahari itu. Pantai Apparalang memang belum sepopuler Pantai Tanjung Bira dan destinasi lainnya di Bulukumba, namun jika diadu keindahan pantainya tidak kalah dibandingkan objek wisata yang sudah digarap sebelumnya. Suasana pantai ini pun tak “semeriah” pantaipantai lainnya, malah cenderung sepi dan tenang. Tetapi, justru itulah sisi lain yang ditawarkan Apparalang.

di Bali. “Kampus ini tinggal divitasi asesor AIPT. Karena itu saya yakin IKIP PGRI Bali memenuhi syarat PTS Sehat,” ucapnya. IKIP PGRI Bali juga tengah menjajagi kerjasama dengan DPRD Badung untuk

pendidikan inklusi, pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus. Kerjasama diawali dengan dengan pembuatan naskah akademik pendidikan inklusi oleh tim IKIP PGRI Bali. Sekalipun LPTK, IKIP PGRI Bali juga memberi penguatan jiwa kewirausahaan di semua prodi. Hal ini diperkuat lagi dengan materi sertifikat pendamping IKIP PGRI Bali yang telah bekerjasama dengan sekolah tinggi bidang IT, jurnaslistik, tat arias, dan kepelatihanan olahraga. “Dengan begitu, diversifikasi dunia kerjanya

Rangkul Perokok untuk Berhenti Merokok Penandatanganan MoU antara IKIP PGRI Bali dengan Pemerintah Kabupaten Gianyar oleh Rektor Made Suarta dan Bupati AA Gde Agung Bharata disaksikan Ketua Yayasan Arthanegara

makin luas. IKIP PGRI Bali tak hanya mencetak calon guru, namun juga wirausaha muda. Sebanyak 60% lulusan IKIP PGRI Bali sudah bekerja. Mereka tak serta merta menjadi guru, ada beberapa berwirausaha,” tegasnya. Hal ini juga ditekankan Koordinator Kopertis Wilayah VIII Prof. Dr. Nengah Dasi Astawa, M.Si. Bahwa, sarjana tidak harus mencari kerja, namun bisa membuka peluang kerja sendiri. “Lulusan IKIP PGRI Bali tidak harus jadi guru, bisa buka les atau peluang kerja lain, berwirausaha,” ujarnya bersemangat. Karena itu ia mengatakan mindset masyarakat khususnya mahasiswa IKIP PGRI Bali harus diubah. Kuliah sejatinya untuk menambah wawasan dan pintar, bukan orientasinya ke pekerjaan. Karena secara logika rasio lapangan pekerjaan dengan pencari kerja tidak seimbang. Karena iru, harus menjadi wirausaha muda. Bangsa besar bukan ditentukan kaya akan SDA, bukan juga karena SDM yang banyak, namun ditentukan kualitas SDM. Peran perguruan tinggi seperti IKIP PGRI Bali menjadi center of exellent pembenahan SDM. Cukup dengan mengepankan budaya mutu. “Harus punya mimpi, skala prioritas, tidak menunda waktu,” tegasnya. Ketua YPLP PT IKIP PGRI Bali Drs.

Penandatanganan MoU antara IKIP PGRI Bali dengan STIMIK Primakara disaksikan Ketua Yayasan Arthanegara

IGB Arthanegara, S.H. M.H., M.Pd. mengimbuhkan hakekat Tri Darma Perguruan Tinggi pada dasarnya adalah menghasilkan lulusan yang berkualitas secara intelektual dan profesional, menghasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan ikut serta dalam memecahkan masalah nasional bangsanya maupun masalah kemanusiaan. Demikian yang dikutip Arthanegara dalam sebuah artikel yang ditulis seorang tokoh pendidikan. Disadari atau tidak, menyongsong bergulirnya pasar bebas masyarakat Ekonomi Asean di tahun 2015 ini, tersedianya SDM yang berkualitas dalam jumlah yang memadai dan pengembangan nasionalisme hanya dapat dihasilkan oleh tenaga-tenaga pendidikan, terutama guru profesional yang terampil dan berwibawa. “Inilah salah satu tan-

tangan Anda para wisudawan sebagai lulusan lembaga pendidikan, tenaga kependidikan yang bernama IKIP PGRI Bali,” ucapnya. Dalam kesempatan tersebut IKIP PGRI Bali mengucapkan terimakasih atas kepercayaan Pemerintah Kabupaten/Kota yang ada di Bali, NTB, NTT bahkan sampai ke Jawa Timur. Juga para orang tua yang mempercayakan pendidikan putra putrinya mengikuti kuliah di IKIP PGRI Bali. Ini dikatakannya memberi petunjuk kepada masyarakat bahwa keberadaan IKIP PGRI Bali tidak hanya diketahui oleh masyarakat, tetapi telah pula dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Pada kesempatan tersebut dilakukan juga penandatanganan MoU antara IKIP PGRI Bali dengan Pemerintah Kabupaten Gianyar, serta MoU antara IKIP PGRI Bali dengan STIMIK Primakara. Juga, peluncuran Buku Puja Bhakti I Made Suarta: Ketika Jiwa Menari, yang berisi rangkuman capaian satu periode kepemimpinan Rektor IKIP PGRI Bali Dr. Drs. I Made Suarta, S.H., M.Hum. masa bhakti 20102014. -ten Buku “Puja Bhakti I Made Suarta: Ketika Jiwa Menari”, rang­kuman capaian satu periode ke­ pemimpinan Rektor IKIp PGRI Bali masa bhakti 2010-2014

alami ini cukup ekonomis, yakni Rp 150 ribu pulang-pergi (PP). Salah seorang traveler dari Forum Pemuda Bahari Indonesia (FPBI) Sulsel, Abdul Rajab menjelaskan, Apparalang menawarkan berbagai keindahan alam yang masih alami. “Di atas tebing Apparalang, wisatawan bisa menikmati pesona pantai dengan airnya yang bening biru. Apalagi, pada saat ada sinar matahari yang memantul pada gulungan ombak kecil, maka keindahan itu tampak sempurna,” bebernya. Rajab menyebut, daya tarik lain

S

angat tak terduga bagi Komang Manik Kencana Dewi, dia terpilih menjadi Duta Anak Anti Rokok 2014. Pasalnya, Manik awalnya ikut Mimbar Anak Bali serangkaian dengan Pemilihan Duta Anak Bali. Namun ternyata, dalam MAB tersebut, LPA Bali bekerjasama dengan Taco Bali juga mengadakan pemilihan Duta Anak Anti Rokok. “Jadi, setiap peserta mimbar saat itu diwajibkan untuk ikut seleksi. Tetapi pesertanya tidak hanya berasal dari peserta MAB, ada banyak juga yang memang mendaftar secara sengaja untuk mengikuti pemilihan Duta Anak Anti Rokok ini. Pesertanya sekitar 50-an. Jadi saya sendiri mengikuti pemilihan ini tanpa persiapan sama sekali hanya mendapat bekal dari sosialisasi mengenai bahaya rokok yang sebelumnya diberikan saat Mimbar Anak Bali,” jelas Manik. Putri dari Drs. I Nyoman Bambang Wirawan dan Ir. Luh Kompiang Srimanis ini mengisahkan seleksinya ada dua tahap yakni tes tulis dan wawancara. Tes tulisnya ada berupa pertanyaanpertanyaan yang menguji kemampuan peserta mengenai bahaya rokok, kawasan tanpa rokok, serta pengaruh iklan rokok terhadap masyarakat. Kemudian dari hasil tes tulis tersebut

bahasa Bali karena pada saat itu saya dikondisikan memberikan penyuluhan atau sosialisasi di banjar-banjar desa. Mungkin hal itu yang menjadi poin plus saya saat itu,” tuturnya sumringah. Manik kembali lolos masuk tiga besar. Selanjutnya ketiga besar ini kemudian diundang hadir pada puncak peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia di Gedung Ksirarnawa yang dihadiri oleh Gubernur Bali. Saat itulah diumumkan pemenang 1, 2, dan 3. Manik terpilih sebagai Duta Anak Anti Rokok Tahun 2014, disusul Putu Yadnya Wintara sebagai Runner Up 1, dan Dewa Gede Dawan Adi Bagaskara sebagai Runner Up 2.

Manik Kencana Dewi

disaring menjadi 20 besar, dan ikut tes wawancara. Manik lolos masuk 20 besar. Para juri melemparkan beberapa pertanyaan, salah satunya mengenai sikap peserta apabila melihat orang yang merokok di Kawasan Tanpa Rokok (KTR). “Saya diminta untuk memberikan sosialisasi serta orasi mengenai bahaya rokok. Yang paling saya ingat adalah ketika saya diminta untuk memberikan sosialisasi menggunakan

PINTU GERBANG NARKOBA Target kegiatan Duta Anak Anti Rokok tak hanya menyasar remaja, melainkan masyarakat luas, baik itu anak-anak, remaja, maupun yang sudah dewasa. Peranan duta ini menyasar seluruh aspek masyarakat untuk sadar akan bahaya rokok serta mampu membentengi diri dari bahaya rokok. “Namun untuk penerapannya kami lebih fokus kepada anak-anak dan remaja, karena mereka berada di usia yang memang harus diberikan informasi lebih dan disadarkan sebelum mereka terjerumus,” tegas

Duta Badung Juara Keluarga Harmonis Sejahtera Provinsi Bali 2015

S

Pantai Apparalang “Sekelas” Raja Ampat Suasananya cocok untuk wisatawan yang ingin menghilangkan kejenuhan. Duduk saja di tepinya, nikmati desiran angin menyapa lembut tubuh. Airnya yang biru jernih dijamin mampu menyegarkan beban pikiran. Apalagi, pemandangan tebing-tebing Apparalang juga tak kalah menariknya. Terkait akses menuju lokasi, jika menggunakan kendaraan bermotor, waktu perjalanan dapat ditempuh hanya sekitar 20 menit dari Pantai Tanjung Bira atau 60 menit dari pusat Kota “Butta Panrita Lopi” Bulukumba. Biaya menuju destinasi wisata yang masih

9

Manik Kencana Dewi

Wisuda ke-34 IKIP PGRI Bali

Sabtu (30/5) bertempat di The Westin Resort Nusa Dua Bali, Rektor IKIP PGRI Bali Dr. Drs. I Made Suarta, S.H., M.Hum mewisuda 579 maha­ siswa. Dengan demikian jumlah alumni sampai Mei 2015 menjadi 19.916 orang. Tampil sebagai lulusan terbaik, Komang Eka Swardana dari Pen­ didikan Bahasa dan Sastra Daerah, bidang Ilmu Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah dengan IP yang dicapai 3,85 (predikat pujian).

Edisi 851/ 1 - 7 juni 2015

destinasi tersebut juga lantaran akses masuknya yang mudah, bahkan tidak dipungut biaya baik ongkos masuk maupun menginap, karena semuanya gratis. “Pengunjung tidak membayar tiket masuk. Untuk menginap, wisatawan biasanya membawa per-

lengkapan camp seperti tenda dan alat masak sendiri,” imbuhnya. Untuk dapat menikmati deburan ombak yang menghempas karang secara dekat, ataupun ingin terjun merasakan sejuk dan beningnya air pantai, pengunjung harus menuruni sebuah tangga kayu yang lumayan tinggi. “Setelah itu, wisatawan akan mendapati sebuah dermaga kayu yang berdiri di atas batu-batu karang,” urainya. Tak hanya untuk melabuhkan mata terhadap keasrian bahari Apparalang, wisatawan juga dapat melakukan aktivitas bawah laut seperti snorkeling maupun diving. “Pemandangan alam bawah laut tidak kalah indahnya, terumbu karang dan habitat hewan laut di Apparalang masih sangat alami. Tentu ini tak boleh dilewatkan,” pesannya. Bahkan warga lokal yang hobi memancing, sebut Rajab, selalu menjadikan pantai tersebut sebagai tempat berburu ikan di kala senggang atau memanfaatkan hari libur. “Sambil memancing, mereka juga dapat menikmati keindahan Apparalang,” tuturnya. -Hasmiati Mus

etelah melalui penilai­ an terhadap semua duta kabupaten/kota se-Bali, akhirnya ke­ luarga I Nyoman Putra SaptanaNi Nyoman Rastini, S.Pd. (Duta Badung) dinyatakan sebagai juara I Lomba Keluarga Harmonis Se­ jahtera Provinsi Bali 2015. Lomba yang dilaksanakan Perwakilan BKKBN Probinsi Bali ini meru­ pakan rangkaian kegiatan Hari Keluarga Nasional XXII. Juara II diraih keluarga I Ketut Riman, S.Pd.-Ni Wayan Dani, Sm.Sp (Duta Gianyar) dan juara III keluarga I Ketut Wirten-Ni Luh Sukasari (Duta Buleleng). Keluarga Putra Saptana-Rastini selanjutnya men­ jadi Duta Bali di ajang serupa di tingkat nasional. Kabid KS dan PK Perwakilan BKKBN Provinsi Bali Ida Bagus Adnyana sebagai Ketua Tim Pe­ nilai mengatakan Lomba Keluarga Harmonis Sejahtera ini merupakan bentuk apresiasi pemerintah ke­ pada pemerintah kabupaten/kota dalam pembangunan keluarga. “Melalui duta kabupaten/kota ini dapat diketahui sejauhmana peran pemerintah kabupaten/kota dalam membimbing, mengarahkan, dan mendorong para keluarga untuk membangun dan mewujudkan ke­ luarga kecil bahagia dan sejahtera serta menerapkan delapan fungsi keluarga,” ujarnya. Data menunjukkan TFR Bali mencapai 2,3 anak per wanita usia subur (hasil Sensus Penduduk 2010). Artinya, para keluarga su­ dah makin ideal (kecil). Tinggal bagaimana mewujudkan keluarga itu menjadi lebih harmonis dan

Kampanye Hari Tanpa Tembakau Sedunia

Manik yang tahun ini meneruskan kuliahnya di Fakultas Kedokteran Unud. Untuk kegiatan Duta Anak Anti Rokok, banyak bekerja sama dengan LPA Bali bersama dengan Forum Anak Daerah (FAD) Bali. Manik adalah juga Duta Anak Bali Komisi Pendidikan Tahun 2014. Jadi banyak kegiatan yang ia lakukan sinergi, baik itu sebagai Duta Anak Anti Rokok maupun Duta Anak Bali. Kegiatannya Duta Anak Anti Rokok, antara lain mengikuti Kampanye Hari Tanpa Tembakau Sedunia dalam rangka memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang jatuh pada 31 Mei. Fakultas Kedokteran Universitas Udayana mengundang FAD Bali untuk ikut berpartisipasi dalam acara Aksi Damai HTTS 2014. “Saat itu, kami mendapat baju yang bertuliskan HTTS 2014, masker dan stiker free smoke yang serempak kami gunakan. Di sana kami melakukan long march dari Fakultas Kedokteran Unud sampai ke perempatan Matahari Duta Plaza membawa spanduk yang menyuarakan ketidaksetujuan kami dengan para perokok serta sikap mereka yang merokok secara sembarangan sebagai wujud meminta pemenuhan hak kami sebagai anak untuk bebas dari asap rokok,” tuturnya. Acara tersebut juga diisi dengan orasi dari serta monolog dari mahasiswa FK Unud yang menceritakan penderitaan seorang anak yang hidup dengan ayah yang seorang perokok aktif. Acara diakhiri dengan pemadaman LED TV yang berisi iklan rokok oleh mahasiswa Kedokteran Unud. Kegiatan lainnya, menyosialisasikan Bahaya Rokok dan KTR pada Kegiatan

MOS Sekolah dan Survey Perilaku Merokok pada Remaja. Dari hasil wawancara dengan beberapa peserta MOS, ada yang mengaku sudah merokok. “Setelah dia mendengar sosialisasi dari saya, dia bilang jadi takut merokok lagi dan janji untuk tidak merokok,” ucap Manik tersenyum. Manik dan para pelajar ini juga aktif berdiskusi mengenai bahaya merokok, yang juga dibarengi dengan pemutaran video komedi bahaya rokok pada sesi terakhir. Dari keterlibatannya sebagai Duta Anak Anti Rokok, Manik mengaku sangat prihatin dan khawatir terhadap kebiasaan merokok pada remaja. Karena di usia yang masih sangat belia mereka sudah mencoba bahkan memiliki kebiasaan merokok, yang tentunya akan sangat berpengaruh terhadap kesehatan maupun sosial mereka ke depannya. Dampak kesehatan sudah sangat jelas karena merokok memicu timbulnya berbagai penyakit mematikan. Dari segi sosial, mereka akan mulai bergaul dengan lingkungan yang menganggap “gak ngerokok gak keren”, yang kita ketahui bersama lingkungan tersebut akan berdampak buruk pada remaja. Karena, merokok merupakan salah satu pintu gerbang untuk memakai narkoba. Mereka juga akan mulai ketergantungan dengan rokok. “Mau melakukan ini pasti butuh rokok, mau melakukan itu butuh rokok, dan pastinya cenderung malas untuk bersekolah. Tetapi remaja yang merokok tidak untuk dihindari, rangkul mereka dan beritahu secara baik-baik agar sedikit demi sedikit mereka mau mengubah kebiasaan bahkan berhenti merokok mereka,” imbaunya. –Inten Indrawati

Keluarga Putra Saptana-Rastini

sejahtera. Inilah yang menjadi tugas seluruh komponen masyarakat saat ini dan di masa mendatang. Adnyana menambahkan sejak tahun 2014 tagline Program Kepen­ dudukan dan KB diubah menjadi Program Kependudukan, KB, dan Pembangunan Keluarga (KKBPK). Hal ini sesuai dengan UU Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga. Karena itu pembangunan keluarga menjadi salah satu upaya untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan keluarga. Pemerintah dan pemerintah daerah pun diminta menetapkan kebijakan pembangunan keluarga melalui pembinaan ketah­ anan dan kesejahteraan keluarga. Duta masing-masing kabupaten/ kota dinilai secara komprehensif mulai dari kondisi rumah yang bersih, sejuk, dan asri; pengeta­ huan tentang KB; partisipasi dalam program KB seperti Bina Keluarga Balita, Bina Keluarga Remaja, dan

Bina Keluarga Lansia; serta keak­ tifan para duta ini dalam memo­ tivasi dan mendorong keluargakeluarga lain di lingkungannya untuk menjadi keluarga kecil bahagia dan sejahtera serta kader pembangunan. “Para duta Keluarga Harmonis dan Sejahtera diharapkan menjadi model, motivator, dan panutan keluarga lainnya dalam mem­ bangun para keluarga Indonesia menjadi lebih tangguh, maju, mandiri, dan berkualitas. Ke­ luarga tangguh, bangsa tangguh. Keluarga berkualitas, Indonesia jaya. Landasannya adalah pem­ bangunan keluarga kecil, bahagia dan sejahtera,” ujar Adnyana yang didampingi anggota tim penilai Dra. Ni Made Wardani Rudolf, MPA (TP PKK Provinsi Bali), Ngurah Budi (Tabloid Tokoh), Ida Ayu Made Parwati, S.Sos (BKKBN Provinsi Bali) dan Rahmi, S.Psi. (BKKBN Provinsi Bali) –wah

Sosialisasi Pemenuhan Hak Anak dan Bahaya Rokok

Sosialisasi Bahya Rokok dan survey perilaku merokok pada remaja saat MOS


10

Bugar

Edisi 851/ 1 - 7 JUNI 2015

CT Angiografi untuk Deteksi Aneurisma pada Otak dr I Made Wijaya, Sp.Rad. Penulis adalah spesialis Radiology di Siloam Hospitals Bali

dr I Made Wijaya, Sp.Rad.

Aneurisma adalah dilatasi atau pelebaran yang abnormal pembuluh darah arteri. Aneurisma otak adalah dilatasi abnormal pembuluh darah arteri otak dan dapat melibatkan di setiap cabang-cabangnya. Darah ke otak disuplai oleh empat pembuluh darah utama yang bergabung bersama di Lingkaran Willis (Circle of Willis) di dasar otak. Pembuluh darah arteri cabang kecil meninggalkan lingkaran untuk memasok oksigen dan nutrisi ke sel-sel otak. Titik persimpangan pembuluh darah arteri dapat menjadi lemah, menyebabkan pelebaran pada dinding pembuluh darah yang dapat membentuk suatu kantung kecil atau disebut aneurisma. Sebuah aneurisma otak merupakan daerah yang menggembung pada dinding pembuluh darah arteri yang memasok otak.

Gambar anatomi normal pembuluh darah arteri otak manusia (Circle of Willis)

Aneurisma pada otak cukup sering terjadi, tetapi sebagian besar tidak menunjukkan gejala dan ditemukan secara kebetulan pada saat otopsi. Dalam kebanyakan kasus, aneurisma pada otak tidak menimbulkan gejala. Tetapi pada beberapa kasus, aneurisma dapat menyebabkan gejala berupa pendorongan daerah lain dari otak oleh aneurisma tersebut yang tergantung pada ukuran aneurisma dan daerah yang terlibat. Gejala-gejala ini dapat meliputi: - sakit kepala - sakit pada leher - pengelihatan kabur - dan perubahan bicara Ketika aneurisma pada otak tersebut pecah, akan timbul pendarahan di dalam otak. Gejala aneurisma pada otak yang pecah (ruptur) ini datang tiba-tiba dan termasuk parah, sakit kepala mendadak yang hebat yang berbeda dari sakit kepala lainnya yang pernah dialami, seperti gejala stroke atau bahkan dapat menimbulkan kematian. Sakit kepala yang tiba-tiba dan kuat tersebut bi-

asanya merupakan gejala utama pada pasien dengan perdarahan subarachnoid (SAH) yang disebabkan oleh pecahnya aneurisma di dalam otak. Perdarahan subarachnoid adalah penyakit serius dengan kasus kematian sekitar 50%. Aneurisma adalah penyebab SAH di 85% kasus. Hal yang sangat perlu diperhatikan adalah timbulnya perdarahan kembali (re-bleeding), oleh karena itu, oklusi atau penyumbatan aneurisma yang pecah adalah merupakan tujuan pertamanya. Suatu kecurigaan secara klinis yang kuat adanya aneurisma dapat divalidasi dengan menggunakan beberapa studi diagnostik, termasuk computed tomography (CT) scan, pungsi lumbal, magnetic resonance imaging angiografi (MRA) dan CT angiografi (CTA) otak. CT biasanya merupakan tes diagnostik pertama yang dipergunakan, ketika ada kemungkinan suatu perdarahan subarachnoid (SAH). SAH yang letaknya terlokalisir, sangat mungkin dapat ditunjukkan lokasi dari pecahnya aneurisma tersebut oleh CT angiografi (CTA). CT angiografi adalah metode atau modalitas diagnostik yang minimal invasif. Metode ini menampilkan detail anatomi pembuluh darah lebih baik daripada magnetic resonance angiography (MRA). CT angiography (CTA) menggunakan CT scanner untuk menghasilkan gambar yang rinci, baik pembuluh darah dan jaringan di berbagai bagian tubuh. CT angiografi (CTA) adalah tesx-ray, ia akan memancarkan radiasi ke tubuh. Selama pemeriksaan, pasien akan berbaring di atas meja, yang melewati perangkat berbentuk seperti donat. Selama CT angiogram (CTA), sejumlah dosis bahan media kontras akan disuntikkan ke dalam tubuh melalui salah satu pembuluh darah vena pasien. Bahan media kontras yang mengalir melalui sistem peredaran darah akan memberikan gambaran pembuluh darah sangat jelas pada scan. Komputer kemudian akan menghasilkan gambar tiga dimensi (3D) pembuluh darah pasien dari gambar sinar-x tersebut. Dokter akan meminta pasien untuk menghindari makanan dan cairan untuk sekitar minimal 4 jam sebelum tes dilakukan. Tes darah perlu dilakukan untuk mengevaluasi fungsi ginjal pasien sebelum CT angiografi dilakukan. CT angiografi tidak akan dilakukan apabila: - Memiliki alergi terhadap bahan media kontras yang akan disuntikkan - Memiliki masalah pada ginjal - Memiliki penyakit diabetes yang berat - Hamil, karena radiasi dapat membahayakan janin - Memiliki tanda-tanda vital yang tidak stabil Pasien harus minum banyak cairan setelah mengikuti tes CT angiografi untuk mempercepat ekskresi

atau pengeluaran agen media kontras tersebut dan untuk mencegah timbulnya dehidrasi atau kekurangan cairan tubuh.

Gambar unit Computed Tomography (CT) scan and CT Angiografi (CTA)

Gambar hasil pencitraan CTA pada pasien dengan aneurysma (tanda panah)

Style

Aksi Sepatu

Flat dan Wedges Desainnya simpel dan modern. Salah satu produk fashion koleksi dari MOV Shoes ini 100 % asli buatan Indonesia (local brand). Saat ini modelmodel yang dikeluarkannya tengah digemari kalangan anak muda di kotakota besar.

15

Edisi 851/ 1 - 7 JUNI 2015

M

odel sepatu yang didesain khusus serta menggunakan bahan kulit sintetis (faux leather) yang ringan, sangat cocok bagi para remaja putri yang menyukai gaya kasual sporti maupun tampil dengan kesan feminin. Dikenakannya juga bukan hanya sekadar untuk hang out bersama teman tapi untuk kuliah pun tetap oke. Menurut Ogek Putri pemilik MOV Shoes , sepatu yang diproduksi hand made

ini, memang bahannya dipilih senyaman mungkin saat dikenakan. Sedangkan modelnya dibuat agar bisa meng up- grade penampilan menjadi lebih keren dan stylish. Begitu juga bagi mereka yang tidak ingin terus menerus menggunakan sepatu dengan hak tinggi, maka sepatu dari MOV Shoes dengan sol model flat dan wedges ini dijamin akan membuat pemakainya merasa lebih aksi, bebas dan tidak menyiksa. – Sri Ardhini

Contoh kasus seorang pasien 20 tahun dengan sakit kepala yang tiba-tiba. (A) CT scan menunjukkan perdarahan SAH yang luas yang disertai hidrosefalus. (B) CTA menunjukkan suatu aneurisma yang besar pada persimpangan pembuluh darah arteri vertebralis (panah). (C) 3D angiografi dengan bahan media kontras yang mengalami ekstravasasi dari aneurisma (panah).

Pengobatan untuk memperbaiki aneurisma mungkin melibatkan operasi untuk menempatkan klip atau penjepit pada dinding pembuluh darah yang lemah. Koil juga dapat digunakan untuk mengisi aneurisma tersebut sehingga dapat mencegah aneurisma tersebut pecah dan berdarah.

Fotografer Penata Busana Rias Wajah/Rambut Model Sepatu

: : : : :

Wisputra Cok Raa Heny Sukma MOV Shoes Bali


14

Jelita

Edisi 851/ 1 - 7 juni 2015

Rawat Kulit Tubuh seperti Merawat Wajah Tampilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kondisi kulit wajahnya, ­bagaimanapun juga memiliki kulit tubuh mulus, sehat dan terawat bukan hanya memberi nilai plus, indah dipandang tapi juga menambah rasa percaya diri.

K

arena itulah era­ watan kulit tubuh menjadi sama pentingnya de­ ngan wajah. Jika dihitung luas kulit wajah hanya 9% dari total kulit tubuh. Jelas ketika 91% bagian kulit yang lain bermasalah, sementara hanya 9% saja yang terawat, maka segala upaya memperbaiki penampilan bisa jadi belum sempurna. Menurut dr. Kadek Dewitini, dari Miracle Aesthetic Clinic, Denpasar, problem kulit seperti jerawat dan bekasnya, kulit kasar, kering, dan kehitaman karena be­ kas luka seringkali tak terhindar­ kan. Belum lagi persoalan warna kehitaman pada ketiak , siku,lutut bahkan lipatan paha, sehingga menjadikan warna kulit yang tidak merata. Dikatakannya ada banyak faktor yang membuat kulit tubuh jadi terganggu keindahannya. Sinar matahari, po­ lusi, peradangan, luka yang meninggalkan bekas kehita­ man atau jaringan parut, kontak dengan bahan kimia, dan lingkungan yang kering, merupakan faktor utama

dalam permasalahan kulit tubuh. Jika memang salah satu masalah kulit tersebut yang dialami, katanya dapat dilakukan perawatan Miracle Body Hy­ drapeel, yang mengombinasikan antara teknik mikrodermabrasi dan dermal infusion. Perawatan ini memberikan efek pencerahan dan peremajaan pada kulit tubuh. Mikrodermabrasi, berfungsi mengangkat kulit mati menggunakan blue tip, sedangkan dermal infusion untuk penyerapan bahan aktif yang diaplikasikan pada area tubuh yang akan diterapi. Perawatan ini, l anjutnya efektif untuk menghaluskan kulit pada area lengan, siku,lutut, dan punggung. Selain itu tepat untuk mencerahkan warna kulit di bagian tubuh lain, seperti, lipatan paha, ketiak, bekas jerawat, atau bercak-bercak ke­ hitaman di dada, tungkai, dan punggung. Dijelaskannya , keunggulan utama dari Miracle Body Hydrapeel adalah penggunaan bahan aktif glycolic acid dan larutan antioksi dan memaksimalkan fungsi pencerahan, peremajaan, dan mengurangi flek hitam pada kulit. Sedangkan salycilic acid untuk mengurangi peradangan pada kulit berjerawat serta mengurangi kadar minyak berlebih.

“Prosesnya dengan alat berteknologi, hydra­ dermabrasi diaplikasikan ke area kulit tubuh yang memiliki problem, dipadukan dengan penggunaan bahan aktif glycolic acid dan salycilic acid agar lebih nyaman dan memberikan efek langsung pada kulit,” tutur dokter Dewi. Ditanya soal hasil, ia menyampaikan akan terlihat segera setelah perawatan. Agar lebih optimal dianjur­ kannya melakukan perawatan rutin 2-4 minggu. Hasil optimal terlihat setelah 3-4 sesi perawatan. “Jika pada saat itu kulit sedang mengelupas, mengalami infeksi, atau iritasi, sebaiknya Miracle Body Hydrapeel ditunda,” katanya. – Sri Ardhini

Mitos

Edisi 851/ 1 - 7 juni 2015

Diare dapat Menular? Penyakit diare masih merupakan masalah kesehatan di ­negara berkembang termasuk ­Indonesia karena angka ke­ sakitan dan angka kematiannya masih tinggi. Diare menjadi ­penyebab kematian tertinggi diantara penyakit yang sering menyerang anak usia kurang dari 5 tahun, sekitar 31,4% pada bayi dan 25,2% pada anak balita.

D

iare menu­ rut WHO didefinisi­ kan seba­ gai bertambahnya defekasi (buang air besar) lebih dari biasanya/lebih dari tiga kali sehari, disertai dengan pe­ rubahan konsisten tinja (menjadi cair) dengan atau tanpa darah. Berdasarkan lamanya makan diare dibagi menjadi dua yaitu diare akut dan diare kronis/persisten. Diare akut diberi batasan sebagai meningkatnya kek­ erapan, bertambah cairan, atau bertambah banyaknya tinja yang dikeluarkan, akan tetapi hal itu sangat relatif terhadap kebiasaan yang ada pada penderita dan berlangsung tidak lebih dari satu minggu. Apabila diare berlang­ sung antara satu sampai dua minggu maka dikatakan diare yang berkepanjangan (persis­ ten). Secara epidemiologi penyakit diare disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu infeksi, penurunan daya tahan tubuh, faktor lingkungan dan perilaku. Berbagai mitos terkait penyakit diare pun berkembang di masyarakat. Benarkah diare dapat menular? Beri­ kut penjelasan Kepala Puskesmas I

bisa disebabkan oleh in­ feksi (bakteri, virus dan parasit), alergi, malab­ sorbsi, imunodefisiensi dan oleh sebab lain. Air yang terkontaminasi oleh penyebab infeksi akan menjadi penyebab utama penularan dari penyakit diare, namun tidak semua penyakit diare menular. Risiko penularan sangat tergantung dari penyebab diare tersebut.

Denpasar Selatan, dr. A.A. Ngr. Gd. Dharmayuda, M.Kes. Mitos: Diare dapat menular Fakta: Diare merupakan penyakit yang berbasis lingkungan yang fak­ tor utama dari kontaminasi air atau tinja berakumulasi dengan perilaku manusia yang tidak sehat. Diare

Incest “Dok, pernikahan dengan saudara kandung itu setahuku dilarang. Aku selama ini membaca, bahwa hubungan seks dengan saudara kandung itu juga mendatangkan masalah penyakit genetika. Benar ya, Dok? Soalnya aku dengar ada selentingan kalau di kampungku ada yang saling bersaudara kembar buncing akan dinikahkan.” (Ayu,19 th) Masih ada praktek budaya seperti ini? Sepertinya sudah tidak ada. Kalau­ pun ada, dan terjadipada yang kembar buncing (kembar laki-laki-perempuan) bisa dipastikan itu hanya berupa sim­ bolis saja dan tidak bakal dilanjutkan ke bentuk pernikahan yang biasa dilakukan, dimana pada pernikahan yang biasa mempelai selanjutnya juga akan melakukan hubungan seksual, baik untuk prokreasi maupun untuk reproduksi. Tetapi mari disimak apa yang mungkin terjadi seandainya terjadi pernikahan sedarah. Hubungan romantisme sedarah atau juga hubungan seksual yang terjadi

pada pasangan yang memiliki hubungan keluarga atau saudara sedarah, sebe­ narnya, telah terjadi sejak zaman dahulu kala, namun sampai sekarang juga masih terjadi. Ada dilakukan dalam sebuah pernikahan ada juga yang sembunyisembunyi tanpa pernikahan, karena dianggap terlarang. Hubungan seksual dengan saudara kandung atau sedarah disebut dengan “incest”. Kalau di zaman dulu, pada beberapa daerah, hubungan seksual dan pernikahan sedarah bukan hal yang tabu, bahkan diberkahi. Zaman Mesir kuno, pernikahan sedarah biasa terjadi. Bahkan Cleopatra yang terkenal pun disebut memiliki hubungan roman­

Mitos: Daun jambu biji bisa sembuhkan diare Fakta : Daun jambu biji saat ini begitu familiar di masyarakat sebagai obat diare. Beberapa penelitian di bidang far­ makologi menunjukkan bahwa daun jambu biji memiliki kandungan zat etanol yang mampu menghambat perkembangan bak­ teri penyebab diare seperti Shigella dysenteriae dan Escherichia coli. Se­ bagai obat tradisional, pemakaian daun jambu biji dalam penanganan penyakit diare sangat baik, namun bukan sebagai obat. Penelitian lebih jauh (penelitian klinis) terh­ adap efektifitas dari daun jambu biji masih sangat diperlukan. Karena, tisme dengan adik kandungnya sendiri secara seksual. Kasus incest banyak terjadi pada masyarakat miskin di Irlandia di awal abad ke-19. Di masa lalu di kalangan bangsawan Eropa, pernikahan antara saudara sepupu dekat, dianggap legal, dan menjadi alasan memperkuat di­ nasti. Konon, penyair terkenal, Byron, telah berhubungan seksual dengan adiknya, Augusta Leigh dengan suka sama suka. Bahkan Napoleon, dari rumor masa lalu, juga pernah meniduri adiknya, keponakannya, bahkan juga anak tirinya. Hal seperti ini dalam ilmu psikoseksual disebut “Genetic Sexual Attraction”. Ini bukan fenomena yang benar-benar langka, bahkan para ahli mengatakan, ini sebenarnya merupakan hal yang bisa jadi biasa saja, tetapi kon­ truksi sosial menganggap hal ini suatu kejahatan moral. Incest dalam dunia modern jelas dianggap terlarang. Kalaupun terjadi, itu hanyalah kasus khusus yang pastinya tidak diharapkan masyarakat banyak. Kasus yang sering kita dengar di masa sekarang, umumnya incest terjadi kare­ na perkosaan, penipuan, penganiayaan. Contohnya ayah kandung yang mem­ perkosa putrinya, ibu kandung yang menggauli putranya, atau paman yang melecehkan keponakan. Kini pernika­ han dan hubungan sedarah sudah tidak dilakukan lagi secara normatif. Malah yang terjadi adalah masyarakat menolak dan menganggap aneh jika incest itu terjadi karena adanya hubungan cinta di antara keduanya. Masyarakat barat maupun timur, sepertinya mempunyai kesamaan sikap soal ini. Sejumlah

pada diare yang disebabkan oleh bakteri, pengobatan dengan pembe­ rian antibiotika yang rasional harus dipertimbangkan. Mitos: Oralit bisa obati diare Fakta: Oralit merupakan cairan yang mengandung elektrolit sep­ erti natrium klorida (NaCL), ka­ lium klorida (KCl), trisodium sitrat hidrat dan glukosa anhidrat. Oralit diberikan untuk mengganti cairan dan elektrolit dalam tubuh yang terbuang saat terjadinya diare. Pada penyakit diare, ancaman terbesar adalah terjadinya kehilangan cairan dalam tubuh yang dikenal dengan nama dehidrasi. Dehidrasi dapat dicegah dengan menjaga keseim­ bangan cairan dalam tubuh, namun keseimbangan tersebut tidak cukup diperoleh dari air minum saja. Elek­ trolit memiliki peranan sangat pent­ ing dalam mencegah dan mengatasi kejadian dehidrasi pada penderita diare. Campuran glukosa dan garam yang terkandung dalam oralit dapat diserap dengan baik oleh usus pen­ derita diare. Bagaimana mencegah diare? Kematian akibat diare disebab­ kan karena terjadinya dehidrasi. Karena itu, mencegah terjadinya dehidrasi merupakan hal terpenting yang harus dilakukan dengan bebera­ pa cara, yakni memberikan ASI pada balita lebih sering dan lebih lama dari biasanya; memberikan cairan rumah tangga seperti kuah sayur, air tajin atau kuah sup; oralit diberikan sam­ pai diare berhenti; segera membawa penderita diare ke sarana kesehatan. Selain itu, kebiasaan mencuci tan­ gan pakai sabun (CTPS) sebelum dan sesudah melakukan aktivitas sangatlah penting dilakukan dalam mencegah diare. Bagaimana penanganan diare? Pemerintah sejak tahun 2008 se­ suai rekomendasi WHO telah men­ erapkan langkah tatalaksana diare, negara mengategorikan incest sebagai suatu kejahatan pidana, dan pelakunya mendapat hukuman. Amerika Serikat misalnya, incest dinyatakan illegal den­ gan hukuman bervariasi di tiap negara bagian. Massachusetts adalah negara bagian paling keras hukumannya yakni bisa mencapai 20 tahun penjara, sedang di Hawai hanya 5 tahun. Sedang di Inggris, hukumannya adalah 12 tahun penjara. Tapi ada juga negara yang ‘bebas’ seperti Perancis misalnya. Di sana incest bukanlah suatu kejahatan. Tak heran kalau para pelaku incest lebih suka ‘lari’ ke negara ini. Tapi kenyataannya sering disebut­ kan bahwa cinta itu buta. Karena itu, tidak tertutup kemungkinan seseorang jatuh cinta dengan orang yang masih ada hubungan saudara misalnya kakak kand­ ungnya sendiri, yang sudah sekian lama terpisah darinya, misalnya. Lalu, apa ada risikonya? Mungkin contoh ini bisa dijadikan pemahaman. Pada kehidupan di pulau Tristan de Cunha, pulau ter­ isolir yang masih masuk wilayah Inggris, budaya kawin sedarah adalah biasa kar­ ena memang, selain lokasi pulau yang sangat terisolir dan sulit diakses orang di luar, juga adanya larangan keras bagi pendatang untuk tinggal di pulau itu. Di pulau yang berpenduduk 270 jiwa itu, banyak dijumpai kasus kelainan genetik, juga cacat pada bayi yang lahir. Berdasarkan ilmu kedokteran, jika dua orang yang membawa gen resesif saling bertemu untuk bereproduksi, maka anak-anaknya memiliki satu dari empat kesempatan untuk memiliki kelainan tersebut dan satu dari dua anak memiliki kesempatan menjadi

11

dengan istilah LINTAS DIARE yaitu Lima Langkah Tuntaskan Diare. Lima langkah tersebut adalah: pertama, pemberian oralit. Sejak tahun 2004 WHO telah merekomendasikan oralit dengan osmolaritas rendah untuk mengatasi diare karena da­ pat mengurangi volume tinja hingga 25%, mengurangi mual muntah hingga 30% dan mengurangi secara bermakna pemberian cairan melalui intravena sampai 33%. Kedua, pemberian Zinc selama 10 hari. Pemberian Zinc sebagai obat pada diare akan memberikan dampak sampai 25% terhadap lamanya diare dan menurunkan risiko diare berikutnya dalam ku­ run waktu 2-3 bulan berikutnya. Pemberian selama 10 hari akan membantu dalam penurunan keja­ dian diare sampai 25% serta akan menurunkan pemakaian antibiotika secara irasional. Ketiga, pemberian ASI dan makanan sesuai umur. Pemberian asupan makanan yang baik selama diare akan membantu penderita tetap kuat dan mencegah ter­ jadinya penurunan berat badan. Pada balita dan anak-anak pem­ berian asupan makanan ini akan mencegah terjadinya kurang gizi yang merupakan faktor penyebab terjadinya diare. Keempat, pemberian anti­ biotika secara selektif. Hampir 80% kasus diare diobati dengan antibiotika padahal seharusnya pemberian antibiotika pada diare tidak lebih dari 20% karena pe­ nyebab diare dominan bukan oleh bakteri. Karena itu, pemberian antibiotika haruslah rasional dan selektif sesuai indikasi/ penyebab dari diare tersebut. Kelima, memberikan nasihat khususnya bagi penggunaan Zinc untuk penderita diareakan dpat mengurangi lama dan keparahan diare, mengurangi frekuensi diare dan volume buang air besar, serta mencegah kekambuhan diare sampai 3 bulan berikutnya. –Inten Indrawati

pembawa sifat (carrier). Hal inilah yang membahayakan pernikahan sedarah atau memiliki hubungan kekeluargaan yang dekat, karena risiko penyakit atau kondisi genetik tertentu menjadi lebih besar. Pernikahan sedarah bisa menin­ gkatkan secara drastis kemungkinan mendapatkan dua salinan gen yang merugikan, dibandingkan jika menikah dengan orang yang berasal dari luar keluarga. Hal ini disebabkan masingmasing orang membawa salinan gen yang buruk dan tidak ada gen normal yang dapat menggantikannya, sehingga pasti ada beberapa masalah yang nanti­ nya bisa menyebabkan anak menderita kelainan genetik. Pernikahan sedarah memiliki kemungkinan 13 kali lebih besar dari pada populasi umum untuk memiliki keturunan yang mengalami kelainan genetik, meninggal pada saat baru lahir atau mengalami cacat yang serius. Kelainan genetik yang lebih umum terjadi pada pernikahan sedarah adalah gangguan resesif langka yang bisa menyebabkan berbagai macam masalah, seperti kebutaan, ketulian, penyakit kulit dan kondisi kelainan saraf. The Latin American Collaborative Study of Congenital Malformation menambahkan bahwa kelainan genetik yang juga sering ditemukan terjadi adalah hidrosefalus, bibir sumbing, polidaktili (jumlah jari kaki dan atau tangan yang lebih banyak dari normal) dan kelainan jantung. Akhirnya memang, berbagai keru­ gian medis ini merupakan dasar untuk tidak menganjurkan pernikahan antara mereka yang memiliki hubungan darah.

Kirim surat Anda ke Redaksi T­ okoh dan cantumkan “Sex Edu” di ­amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh.co.id. Rubrik ini diasuh Asosiasi ­Seksologi Indonesia (ASI) Denpasar.


12

Kuliner

Edisi 851/ 1 - 7 JUNI 2015

Spesial Kepiting Telur Asin Bali Nikmat Anda penggemar chinese food dan sea food? Cobalah menikmati makanan spesial sajian restoran Bali Nikmat. Tempat makan ini sa­ngat terkenal bagi warga Tionghoa yang ada di Bali. Bahkan, tempat makan ini juga menjadi favorit turis Tiongkok yang berwisata ke Bali.

Cicipi Kue Bingke Khas Sambas Sambas merupakan satu daerah di Kalimantan Barat. ­Sambas memiliki aneka makanan khas, yang bisa Anda temui di Restoran The Sambas di Jalan Tukad Unda, Denpasar.

S

Kepiting Telur Asin

Teh Cina

M

enjadi satu kehormatan bagi Tokoh, karena bisa menikmati satu set menu lengkap yang paling spesial dari Bali Nikmat, dalam ajang silaturahmi Perkumpulan Hakka (salah satu marga Tionghoa) di Bali. Paket menu spesial ini khusus dipesan untuk satu meja yang terdiri dari maksimal 10 kursi. Saat duduk, di atas meja sudah tertata piring kecil dan sepasang sumpit. Ada juga, mangkuk kecil sebagai tempat untuk sup. Ada tiga tambahan bumbu yang sudah disiapkan, merica, kecap de­ ngan cabai potong, dan saus. Ketika kita duduk, waitress segera menghidangkan teh khas Cina. Satu teko yang berisi teh Cina segera dituangkan ke masingmasing cangkir kecil. Rasa tehnya tawar dan ada rasa agak pahit menurut Tokoh.

Menurut Yusa, salah seorang waiter di Bali Nikmat, teh Cina tanpa gula memang menjadi menu wajib yang dihidangkan. Menurutnya, teh ini sangat baik diminum ketika sedang makan. Menu pembuka yang dihidang-

kan, sup asparagus. Menyusul aneka salad. Ada lima hidangan dalam satu piring sebagai menu salad. Kemudian, mulai dihidangkan nasi putih dalam satu mangkuk. Disusul, ayam goreng istimewa, dan menu yang menjadi favorit Bali Nikmat, kepiting telur asin. Menyusul menu udang, sapi lada hitam, mi goreng, brokoli kerang, dan ikan kerapu yang di-steam.

Alat makan yang disediakan sumpit. Kita bisa mengambil makan­ an dengan pelan-pelan d­e ngan sendok yang sudah disediakan di masing-masing piring saji. Saat mengambilnya juga tak bisa ba­ nyak, karena piring yang dipakai alas makan sangat kecil. Kemudian dengan sumpit, kita memakannya dengan rapi. Sedangkan, untuk makan sup, ada mangkuk khusus dan sendoknya. Setelah selesai satu kali menu dihidangkan, waitress dengan sigap mengganti piring dengan yang baru. Jadi, menurut Yusa, makannya menjadi lebih nyaman karena setiap ganti menu, piringnya juga ikut diganti. Tips untuk makan, makanlah sedikit demi sedikit, agar tidak tersisa di piring. Jika, ingin tambah, barulah kita mengambilnya lagi. Bagi orang

Tionghoa, menyisakan makan­an di piring sangatlah tidak baik. Setiap table manner, apakah itu Western, Japanese atau Chinese, memiliki cara yang berbeda-beda. Di sela-sela menghidangkan makanan, para tamu juga disuguhkan segelas wine. Menurut Yusa, biasanya sembari tamu berbincang dan makan, wine menjadi penemannya. Selain itu, wine juga menjadi penetral karena banyak menu da­ ging dan seafood yang dihidangkan. Sebagai penutup, dihidangkan semangkuk es sarang burung. Bagi Anda yang tertarik mencoba chinese food dan sea food yang terbaik, Bali Nikmat dapat dijadikan pilihan. Restoran ini buka pukul 11 sampai 22.00. Selamat menikmati Hari Minggu Anda bersama keluarga. –Wirati Astiti

alah satu makanan khas Sambas yang unik, Kue Bingke. Kue ini terbuat dari tepung terigu, telur, keju, kentang, susu, labu, dan pisang. Dari bahan campuran ini, adonan kemudian dicetak dan di­bakar, dan menghasilkan kue dengan rasa yang sangat lezat. Bentuk kue ini sangat istimewa, yakni se­ perti bunga dengan enam kelopak. Di restoran The Sambas, kue bingke disajikan dengan tambahan es krim stroberi di atasnya. Tujuannya, agar le­­ bih manis. Satu por­ si kue bingke ini sa­n gat besar dan cukup dimakan sebagai makanan se­ lingan atau penutup untuk dua atau tiga

Steak Sapi

Kue Bingke

menu lezat khas Sambas lainnya seperti sup kepala ikan gurami, gurami bakar, dan aneka minuman jus dan es campur. Yang unik di restoran The Sambas, Anda juga bisa melakukan perawatan seperti pijat badan, refleksi, dan totok wajah. Jadi, tempat ini sangat cocok bagi Anda

Dari kiri: Konjen RRT Hu Yinquan, Huang Qiang, dan Ketua umum Perkumpulan Hakka Bali, Sutikno Wibowo

ia berharap, kerja sama antara Tiongkok dan Bali dalam bidang perdagangan juga terus digencarkan. Acara silaturahmi Perkumpulan Hakka Bali, rombongan pengusaha Tiongkok, dan Konjen RRT ini berlangsung penuh rasa kekeluargaan di Restaurant Bali Nikmat, Kuta, Rabu (27/5). –Wirati Astiti

yang ingin bersantai. Setelah menikmati aneka pilih­an pijat, Anda bisa lang­­sung mengisi perut. Jangan lupa, cicipi Kue Bingke Sambas yang sangat meng­goda. Selamat mencoba. –Wirati Astiti

Sup Kepala Ikan Gurami

Es Buah Segar Ceria Sarwan

Ikan Kerapu Steam

Berdasarkan sejarah, Tiongkok dan Bali mempunyai hubungan baik sejak dulu. Karena itu, ia ingin mempromosikan Bali agar menjadi tempat wisata bagi orang Tiongkok, begitu juga sebaliknya, semakin banyak orang Bali yang berwisata ke Tiongkok. “Tahun 2014, sebanyak 600 ribu orang Tiongkok sudah datang berwisata ke Bali,” ucapnya. Selain itu,

orang. Walaupun harganya seporsi Rp 14 ribu, Anda bisa berbagi-bagi sembari bercengkrama di restoran dengan tempat yang sangat nyaman ini. Selain menyajikan kue bingke, restoran yang buka mulai pukul 09.00 sampai 24.00 ini memanjakan pengunjung dengan menu-

13

Es Cincau

Ayam Bakar Kecap Bumbu

Brokoli Kerang

Silaturahmi Perkumpulan Hakka Bali

Pengusaha Tiongkok Huang Qiang, Municipal Director of NPC Standing Committee Meizhou Guandong Province, PRC, bersama rombongan berwisata ke Bali, dalam rangka menjalin kerja sama dan silaturahmi dengan Perkumpulan Hakka Bali, pekan lalu. Rombongan para pengusaha ini berasal dari bermacam-macam bidang usaha, ada bidang perdagangan, pariwisata, dan barang elektronik. Menurut Huang Qiang, Pulau Bali sudah terkenal akan keindahannya, karena itu, mereka datang selain untuk berwisata, mereka juga ingin mengembangkan bisnis di Bali. Ia berharap, kerja sama dapat terjalin baik untuk mening­ katkan hubungan perdagangan dan investasi bagi kedua belah pihak. Ia juga melihat, banyak perantauan dari Meizhou Guandong, menetap di Bali. Konjen RRT di Bali, Hu Yinquan menambahkan, sebulan ia menetap di Bali, ia sudah bisa merasakan persahabatan yang ramah dari masyarakat Bali.

Edisi 851/ 1 - 7 JUNI 2015

Bahan: 150 gr : nanas kupas 150 gr : belimbing, buang bagian tepinya 100 gr : leci kalengan 150 gr : mangga matang 250 gr : gula pasir 250 ml : air 1 sdm : air jeruk lemon 3 cm : kulit jeruk lemon 250 ml : air soda 4 sdm : mint segar, cincang kasar Es batu / es serut

Cara membuat: - Cincang kasar nanas, iris belimbing tipis melintang, potong leci menjadi dua bagian, iris manga bentuk dadu, sisihkan - Rebus gula dan air dalam panci dengan api sedang, aduk hingga gula larut, lalu masukkan air jeruk dan kulit jeruk - Didihkan sirp hingga sirop gula agak kental, angkat, ambil kulit jeruk lemon, biarkan dingin - Campur sirup dengan semua buah, aduk rata, tambahkan air soda dan daun mint - Siapkan segelas/mangkok, isi

dengan buah bersoda tambahkan es serut, hiasi dengan daun mint segar.

Kepiting Pedas Manis Bledeq

Bahan: 1 kg 1 buah 3 siung 10 cabe 2 ruas 1 sdt 4 sdm 5 sdm

: kepiting yang sudah dibersihkan : bawang bombai, cincang halus : bawang putih, cincang halus : rawit, cincang halus : jari jahe, memarkan : lada hitam : saus sambal : saus tomat

1 sdm : saus tiram 1 sdm : kecap manis 75 ml : air Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya Margarin, secukupnya.

Cara Membuat : - Rebus kepiting hingga berubah warna kemerahan, tiriskan. - Tumis bawang bombay dan bawang putih sampai harum,

lalu masukkan air dan bumbubumbu lainnya. - Belah kepitih jadi dua atau dikeprok agar pecah cangkangnya, - Masukkan kepiting ke dalam tumisan bumbu, lalu adukaduk hingga bumbu mendidih dan bumbu merasuk di kepiting - Siap disajikan dengan taburan bawang putih goreng.

Bahan: 1 kg : ayam, potong jadi 4 bagian 2 batang : bawang prei, memarkan 2 siung : jari jahe, memarkan 2 lembar : daun jeruk purut, buang tangkainya 100 ml : kecap manis 3 sdm : kecap raja rasa 2 sdm : saus tiram 1 sdm : minyak wijen 13 buah : cabe rawit, iris halus 1 buah : tomat, ukuran sedang, iris dadu kecil 1 sdt : lada bubuk 1 sdm : air jeruk nipis Gula, garam, kaldu bubuk se­ cukupnya Margarin buat olesan, secukupnya Cara Membuat : - Rebus ayam dengan air 1 liter masukkan jahe, serai, daun jeruk dan tambahkan garam

-

-

-

-

sedikit, rebus ayam sampai matang dan tiriskan. Campur bahan sambal kecap manis dan saus tiram raja rasa, lada, garam dan kaldu bubuk, lalu bagi menjadi dua bagian. Yang satu masukkan cabe rawit iris dan diamkan, lalu yang satu bagian digunakan sebagai olesan ayam. Siapkan teflon anti lengket, olesi ayam dengan bumbu rendaman, lalu panaskan teflon anti lengket pula dengan diolesi margarin pula. Masukkan ayam sambil diolesi sambal olesan, bolak-balik, masak hingga ayam matang dan kecokelatan (lakukan hingga ayam habis). Siap untuk disajikan dengan satu sisa sambal olesan yang sudah dicampur dengan irisan cabe dan tomat.


12

Kuliner

Edisi 851/ 1 - 7 JUNI 2015

Spesial Kepiting Telur Asin Bali Nikmat Anda penggemar chinese food dan sea food? Cobalah menikmati makanan spesial sajian restoran Bali Nikmat. Tempat makan ini sa­ngat terkenal bagi warga Tionghoa yang ada di Bali. Bahkan, tempat makan ini juga menjadi favorit turis Tiongkok yang berwisata ke Bali.

Cicipi Kue Bingke Khas Sambas Sambas merupakan satu daerah di Kalimantan Barat. ­Sambas memiliki aneka makanan khas, yang bisa Anda temui di Restoran The Sambas di Jalan Tukad Unda, Denpasar.

S

Kepiting Telur Asin

Teh Cina

M

enjadi satu kehormatan bagi Tokoh, karena bisa menikmati satu set menu lengkap yang paling spesial dari Bali Nikmat, dalam ajang silaturahmi Perkumpulan Hakka (salah satu marga Tionghoa) di Bali. Paket menu spesial ini khusus dipesan untuk satu meja yang terdiri dari maksimal 10 kursi. Saat duduk, di atas meja sudah tertata piring kecil dan sepasang sumpit. Ada juga, mangkuk kecil sebagai tempat untuk sup. Ada tiga tambahan bumbu yang sudah disiapkan, merica, kecap de­ ngan cabai potong, dan saus. Ketika kita duduk, waitress segera menghidangkan teh khas Cina. Satu teko yang berisi teh Cina segera dituangkan ke masingmasing cangkir kecil. Rasa tehnya tawar dan ada rasa agak pahit menurut Tokoh.

Menurut Yusa, salah seorang waiter di Bali Nikmat, teh Cina tanpa gula memang menjadi menu wajib yang dihidangkan. Menurutnya, teh ini sangat baik diminum ketika sedang makan. Menu pembuka yang dihidang-

kan, sup asparagus. Menyusul aneka salad. Ada lima hidangan dalam satu piring sebagai menu salad. Kemudian, mulai dihidangkan nasi putih dalam satu mangkuk. Disusul, ayam goreng istimewa, dan menu yang menjadi favorit Bali Nikmat, kepiting telur asin. Menyusul menu udang, sapi lada hitam, mi goreng, brokoli kerang, dan ikan kerapu yang di-steam.

Alat makan yang disediakan sumpit. Kita bisa mengambil makan­ an dengan pelan-pelan d­e ngan sendok yang sudah disediakan di masing-masing piring saji. Saat mengambilnya juga tak bisa ba­ nyak, karena piring yang dipakai alas makan sangat kecil. Kemudian dengan sumpit, kita memakannya dengan rapi. Sedangkan, untuk makan sup, ada mangkuk khusus dan sendoknya. Setelah selesai satu kali menu dihidangkan, waitress dengan sigap mengganti piring dengan yang baru. Jadi, menurut Yusa, makannya menjadi lebih nyaman karena setiap ganti menu, piringnya juga ikut diganti. Tips untuk makan, makanlah sedikit demi sedikit, agar tidak tersisa di piring. Jika, ingin tambah, barulah kita mengambilnya lagi. Bagi orang

Tionghoa, menyisakan makan­an di piring sangatlah tidak baik. Setiap table manner, apakah itu Western, Japanese atau Chinese, memiliki cara yang berbeda-beda. Di sela-sela menghidangkan makanan, para tamu juga disuguhkan segelas wine. Menurut Yusa, biasanya sembari tamu berbincang dan makan, wine menjadi penemannya. Selain itu, wine juga menjadi penetral karena banyak menu da­ ging dan seafood yang dihidangkan. Sebagai penutup, dihidangkan semangkuk es sarang burung. Bagi Anda yang tertarik mencoba chinese food dan sea food yang terbaik, Bali Nikmat dapat dijadikan pilihan. Restoran ini buka pukul 11 sampai 22.00. Selamat menikmati Hari Minggu Anda bersama keluarga. –Wirati Astiti

alah satu makanan khas Sambas yang unik, Kue Bingke. Kue ini terbuat dari tepung terigu, telur, keju, kentang, susu, labu, dan pisang. Dari bahan campuran ini, adonan kemudian dicetak dan di­bakar, dan menghasilkan kue dengan rasa yang sangat lezat. Bentuk kue ini sangat istimewa, yakni se­ perti bunga dengan enam kelopak. Di restoran The Sambas, kue bingke disajikan dengan tambahan es krim stroberi di atasnya. Tujuannya, agar le­­ bih manis. Satu por­ si kue bingke ini sa­n gat besar dan cukup dimakan sebagai makanan se­ lingan atau penutup untuk dua atau tiga

Steak Sapi

Kue Bingke

menu lezat khas Sambas lainnya seperti sup kepala ikan gurami, gurami bakar, dan aneka minuman jus dan es campur. Yang unik di restoran The Sambas, Anda juga bisa melakukan perawatan seperti pijat badan, refleksi, dan totok wajah. Jadi, tempat ini sangat cocok bagi Anda

Dari kiri: Konjen RRT Hu Yinquan, Huang Qiang, dan Ketua umum Perkumpulan Hakka Bali, Sutikno Wibowo

ia berharap, kerja sama antara Tiongkok dan Bali dalam bidang perdagangan juga terus digencarkan. Acara silaturahmi Perkumpulan Hakka Bali, rombongan pengusaha Tiongkok, dan Konjen RRT ini berlangsung penuh rasa kekeluargaan di Restaurant Bali Nikmat, Kuta, Rabu (27/5). –Wirati Astiti

yang ingin bersantai. Setelah menikmati aneka pilih­an pijat, Anda bisa lang­­sung mengisi perut. Jangan lupa, cicipi Kue Bingke Sambas yang sangat meng­goda. Selamat mencoba. –Wirati Astiti

Sup Kepala Ikan Gurami

Es Buah Segar Ceria Sarwan

Ikan Kerapu Steam

Berdasarkan sejarah, Tiongkok dan Bali mempunyai hubungan baik sejak dulu. Karena itu, ia ingin mempromosikan Bali agar menjadi tempat wisata bagi orang Tiongkok, begitu juga sebaliknya, semakin banyak orang Bali yang berwisata ke Tiongkok. “Tahun 2014, sebanyak 600 ribu orang Tiongkok sudah datang berwisata ke Bali,” ucapnya. Selain itu,

orang. Walaupun harganya seporsi Rp 14 ribu, Anda bisa berbagi-bagi sembari bercengkrama di restoran dengan tempat yang sangat nyaman ini. Selain menyajikan kue bingke, restoran yang buka mulai pukul 09.00 sampai 24.00 ini memanjakan pengunjung dengan menu-

13

Es Cincau

Ayam Bakar Kecap Bumbu

Brokoli Kerang

Silaturahmi Perkumpulan Hakka Bali

Pengusaha Tiongkok Huang Qiang, Municipal Director of NPC Standing Committee Meizhou Guandong Province, PRC, bersama rombongan berwisata ke Bali, dalam rangka menjalin kerja sama dan silaturahmi dengan Perkumpulan Hakka Bali, pekan lalu. Rombongan para pengusaha ini berasal dari bermacam-macam bidang usaha, ada bidang perdagangan, pariwisata, dan barang elektronik. Menurut Huang Qiang, Pulau Bali sudah terkenal akan keindahannya, karena itu, mereka datang selain untuk berwisata, mereka juga ingin mengembangkan bisnis di Bali. Ia berharap, kerja sama dapat terjalin baik untuk mening­ katkan hubungan perdagangan dan investasi bagi kedua belah pihak. Ia juga melihat, banyak perantauan dari Meizhou Guandong, menetap di Bali. Konjen RRT di Bali, Hu Yinquan menambahkan, sebulan ia menetap di Bali, ia sudah bisa merasakan persahabatan yang ramah dari masyarakat Bali.

Edisi 851/ 1 - 7 JUNI 2015

Bahan: 150 gr : nanas kupas 150 gr : belimbing, buang bagian tepinya 100 gr : leci kalengan 150 gr : mangga matang 250 gr : gula pasir 250 ml : air 1 sdm : air jeruk lemon 3 cm : kulit jeruk lemon 250 ml : air soda 4 sdm : mint segar, cincang kasar Es batu / es serut

Cara membuat: - Cincang kasar nanas, iris belimbing tipis melintang, potong leci menjadi dua bagian, iris manga bentuk dadu, sisihkan - Rebus gula dan air dalam panci dengan api sedang, aduk hingga gula larut, lalu masukkan air jeruk dan kulit jeruk - Didihkan sirp hingga sirop gula agak kental, angkat, ambil kulit jeruk lemon, biarkan dingin - Campur sirup dengan semua buah, aduk rata, tambahkan air soda dan daun mint - Siapkan segelas/mangkok, isi

dengan buah bersoda tambahkan es serut, hiasi dengan daun mint segar.

Kepiting Pedas Manis Bledeq

Bahan: 1 kg 1 buah 3 siung 10 cabe 2 ruas 1 sdt 4 sdm 5 sdm

: kepiting yang sudah dibersihkan : bawang bombai, cincang halus : bawang putih, cincang halus : rawit, cincang halus : jari jahe, memarkan : lada hitam : saus sambal : saus tomat

1 sdm : saus tiram 1 sdm : kecap manis 75 ml : air Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya Margarin, secukupnya.

Cara Membuat : - Rebus kepiting hingga berubah warna kemerahan, tiriskan. - Tumis bawang bombay dan bawang putih sampai harum,

lalu masukkan air dan bumbubumbu lainnya. - Belah kepitih jadi dua atau dikeprok agar pecah cangkangnya, - Masukkan kepiting ke dalam tumisan bumbu, lalu adukaduk hingga bumbu mendidih dan bumbu merasuk di kepiting - Siap disajikan dengan taburan bawang putih goreng.

Bahan: 1 kg : ayam, potong jadi 4 bagian 2 batang : bawang prei, memarkan 2 siung : jari jahe, memarkan 2 lembar : daun jeruk purut, buang tangkainya 100 ml : kecap manis 3 sdm : kecap raja rasa 2 sdm : saus tiram 1 sdm : minyak wijen 13 buah : cabe rawit, iris halus 1 buah : tomat, ukuran sedang, iris dadu kecil 1 sdt : lada bubuk 1 sdm : air jeruk nipis Gula, garam, kaldu bubuk se­ cukupnya Margarin buat olesan, secukupnya Cara Membuat : - Rebus ayam dengan air 1 liter masukkan jahe, serai, daun jeruk dan tambahkan garam

-

-

-

-

sedikit, rebus ayam sampai matang dan tiriskan. Campur bahan sambal kecap manis dan saus tiram raja rasa, lada, garam dan kaldu bubuk, lalu bagi menjadi dua bagian. Yang satu masukkan cabe rawit iris dan diamkan, lalu yang satu bagian digunakan sebagai olesan ayam. Siapkan teflon anti lengket, olesi ayam dengan bumbu rendaman, lalu panaskan teflon anti lengket pula dengan diolesi margarin pula. Masukkan ayam sambil diolesi sambal olesan, bolak-balik, masak hingga ayam matang dan kecokelatan (lakukan hingga ayam habis). Siap untuk disajikan dengan satu sisa sambal olesan yang sudah dicampur dengan irisan cabe dan tomat.


14

Jelita

Edisi 851/ 1 - 7 juni 2015

Rawat Kulit Tubuh seperti Merawat Wajah Tampilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kondisi kulit wajahnya, ­bagaimanapun juga memiliki kulit tubuh mulus, sehat dan terawat bukan hanya memberi nilai plus, indah dipandang tapi juga menambah rasa percaya diri.

K

arena itulah era­ watan kulit tubuh menjadi sama pentingnya de­ ngan wajah. Jika dihitung luas kulit wajah hanya 9% dari total kulit tubuh. Jelas ketika 91% bagian kulit yang lain bermasalah, sementara hanya 9% saja yang terawat, maka segala upaya memperbaiki penampilan bisa jadi belum sempurna. Menurut dr. Kadek Dewitini, dari Miracle Aesthetic Clinic, Denpasar, problem kulit seperti jerawat dan bekasnya, kulit kasar, kering, dan kehitaman karena be­ kas luka seringkali tak terhindar­ kan. Belum lagi persoalan warna kehitaman pada ketiak , siku,lutut bahkan lipatan paha, sehingga menjadikan warna kulit yang tidak merata. Dikatakannya ada banyak faktor yang membuat kulit tubuh jadi terganggu keindahannya. Sinar matahari, po­ lusi, peradangan, luka yang meninggalkan bekas kehita­ man atau jaringan parut, kontak dengan bahan kimia, dan lingkungan yang kering, merupakan faktor utama

dalam permasalahan kulit tubuh. Jika memang salah satu masalah kulit tersebut yang dialami, katanya dapat dilakukan perawatan Miracle Body Hy­ drapeel, yang mengombinasikan antara teknik mikrodermabrasi dan dermal infusion. Perawatan ini memberikan efek pencerahan dan peremajaan pada kulit tubuh. Mikrodermabrasi, berfungsi mengangkat kulit mati menggunakan blue tip, sedangkan dermal infusion untuk penyerapan bahan aktif yang diaplikasikan pada area tubuh yang akan diterapi. Perawatan ini, l anjutnya efektif untuk menghaluskan kulit pada area lengan, siku,lutut, dan punggung. Selain itu tepat untuk mencerahkan warna kulit di bagian tubuh lain, seperti, lipatan paha, ketiak, bekas jerawat, atau bercak-bercak ke­ hitaman di dada, tungkai, dan punggung. Dijelaskannya , keunggulan utama dari Miracle Body Hydrapeel adalah penggunaan bahan aktif glycolic acid dan larutan antioksi dan memaksimalkan fungsi pencerahan, peremajaan, dan mengurangi flek hitam pada kulit. Sedangkan salycilic acid untuk mengurangi peradangan pada kulit berjerawat serta mengurangi kadar minyak berlebih.

“Prosesnya dengan alat berteknologi, hydra­ dermabrasi diaplikasikan ke area kulit tubuh yang memiliki problem, dipadukan dengan penggunaan bahan aktif glycolic acid dan salycilic acid agar lebih nyaman dan memberikan efek langsung pada kulit,” tutur dokter Dewi. Ditanya soal hasil, ia menyampaikan akan terlihat segera setelah perawatan. Agar lebih optimal dianjur­ kannya melakukan perawatan rutin 2-4 minggu. Hasil optimal terlihat setelah 3-4 sesi perawatan. “Jika pada saat itu kulit sedang mengelupas, mengalami infeksi, atau iritasi, sebaiknya Miracle Body Hydrapeel ditunda,” katanya. – Sri Ardhini

Mitos

Edisi 851/ 1 - 7 juni 2015

Diare dapat Menular? Penyakit diare masih merupakan masalah kesehatan di ­negara berkembang termasuk ­Indonesia karena angka ke­ sakitan dan angka kematiannya masih tinggi. Diare menjadi ­penyebab kematian tertinggi diantara penyakit yang sering menyerang anak usia kurang dari 5 tahun, sekitar 31,4% pada bayi dan 25,2% pada anak balita.

D

iare menu­ rut WHO didefinisi­ kan seba­ gai bertambahnya defekasi (buang air besar) lebih dari biasanya/lebih dari tiga kali sehari, disertai dengan pe­ rubahan konsisten tinja (menjadi cair) dengan atau tanpa darah. Berdasarkan lamanya makan diare dibagi menjadi dua yaitu diare akut dan diare kronis/persisten. Diare akut diberi batasan sebagai meningkatnya kek­ erapan, bertambah cairan, atau bertambah banyaknya tinja yang dikeluarkan, akan tetapi hal itu sangat relatif terhadap kebiasaan yang ada pada penderita dan berlangsung tidak lebih dari satu minggu. Apabila diare berlang­ sung antara satu sampai dua minggu maka dikatakan diare yang berkepanjangan (persis­ ten). Secara epidemiologi penyakit diare disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu infeksi, penurunan daya tahan tubuh, faktor lingkungan dan perilaku. Berbagai mitos terkait penyakit diare pun berkembang di masyarakat. Benarkah diare dapat menular? Beri­ kut penjelasan Kepala Puskesmas I

bisa disebabkan oleh in­ feksi (bakteri, virus dan parasit), alergi, malab­ sorbsi, imunodefisiensi dan oleh sebab lain. Air yang terkontaminasi oleh penyebab infeksi akan menjadi penyebab utama penularan dari penyakit diare, namun tidak semua penyakit diare menular. Risiko penularan sangat tergantung dari penyebab diare tersebut.

Denpasar Selatan, dr. A.A. Ngr. Gd. Dharmayuda, M.Kes. Mitos: Diare dapat menular Fakta: Diare merupakan penyakit yang berbasis lingkungan yang fak­ tor utama dari kontaminasi air atau tinja berakumulasi dengan perilaku manusia yang tidak sehat. Diare

Incest “Dok, pernikahan dengan saudara kandung itu setahuku dilarang. Aku selama ini membaca, bahwa hubungan seks dengan saudara kandung itu juga mendatangkan masalah penyakit genetika. Benar ya, Dok? Soalnya aku dengar ada selentingan kalau di kampungku ada yang saling bersaudara kembar buncing akan dinikahkan.” (Ayu,19 th) Masih ada praktek budaya seperti ini? Sepertinya sudah tidak ada. Kalau­ pun ada, dan terjadipada yang kembar buncing (kembar laki-laki-perempuan) bisa dipastikan itu hanya berupa sim­ bolis saja dan tidak bakal dilanjutkan ke bentuk pernikahan yang biasa dilakukan, dimana pada pernikahan yang biasa mempelai selanjutnya juga akan melakukan hubungan seksual, baik untuk prokreasi maupun untuk reproduksi. Tetapi mari disimak apa yang mungkin terjadi seandainya terjadi pernikahan sedarah. Hubungan romantisme sedarah atau juga hubungan seksual yang terjadi

pada pasangan yang memiliki hubungan keluarga atau saudara sedarah, sebe­ narnya, telah terjadi sejak zaman dahulu kala, namun sampai sekarang juga masih terjadi. Ada dilakukan dalam sebuah pernikahan ada juga yang sembunyisembunyi tanpa pernikahan, karena dianggap terlarang. Hubungan seksual dengan saudara kandung atau sedarah disebut dengan “incest”. Kalau di zaman dulu, pada beberapa daerah, hubungan seksual dan pernikahan sedarah bukan hal yang tabu, bahkan diberkahi. Zaman Mesir kuno, pernikahan sedarah biasa terjadi. Bahkan Cleopatra yang terkenal pun disebut memiliki hubungan roman­

Mitos: Daun jambu biji bisa sembuhkan diare Fakta : Daun jambu biji saat ini begitu familiar di masyarakat sebagai obat diare. Beberapa penelitian di bidang far­ makologi menunjukkan bahwa daun jambu biji memiliki kandungan zat etanol yang mampu menghambat perkembangan bak­ teri penyebab diare seperti Shigella dysenteriae dan Escherichia coli. Se­ bagai obat tradisional, pemakaian daun jambu biji dalam penanganan penyakit diare sangat baik, namun bukan sebagai obat. Penelitian lebih jauh (penelitian klinis) terh­ adap efektifitas dari daun jambu biji masih sangat diperlukan. Karena, tisme dengan adik kandungnya sendiri secara seksual. Kasus incest banyak terjadi pada masyarakat miskin di Irlandia di awal abad ke-19. Di masa lalu di kalangan bangsawan Eropa, pernikahan antara saudara sepupu dekat, dianggap legal, dan menjadi alasan memperkuat di­ nasti. Konon, penyair terkenal, Byron, telah berhubungan seksual dengan adiknya, Augusta Leigh dengan suka sama suka. Bahkan Napoleon, dari rumor masa lalu, juga pernah meniduri adiknya, keponakannya, bahkan juga anak tirinya. Hal seperti ini dalam ilmu psikoseksual disebut “Genetic Sexual Attraction”. Ini bukan fenomena yang benar-benar langka, bahkan para ahli mengatakan, ini sebenarnya merupakan hal yang bisa jadi biasa saja, tetapi kon­ truksi sosial menganggap hal ini suatu kejahatan moral. Incest dalam dunia modern jelas dianggap terlarang. Kalaupun terjadi, itu hanyalah kasus khusus yang pastinya tidak diharapkan masyarakat banyak. Kasus yang sering kita dengar di masa sekarang, umumnya incest terjadi kare­ na perkosaan, penipuan, penganiayaan. Contohnya ayah kandung yang mem­ perkosa putrinya, ibu kandung yang menggauli putranya, atau paman yang melecehkan keponakan. Kini pernika­ han dan hubungan sedarah sudah tidak dilakukan lagi secara normatif. Malah yang terjadi adalah masyarakat menolak dan menganggap aneh jika incest itu terjadi karena adanya hubungan cinta di antara keduanya. Masyarakat barat maupun timur, sepertinya mempunyai kesamaan sikap soal ini. Sejumlah

pada diare yang disebabkan oleh bakteri, pengobatan dengan pembe­ rian antibiotika yang rasional harus dipertimbangkan. Mitos: Oralit bisa obati diare Fakta: Oralit merupakan cairan yang mengandung elektrolit sep­ erti natrium klorida (NaCL), ka­ lium klorida (KCl), trisodium sitrat hidrat dan glukosa anhidrat. Oralit diberikan untuk mengganti cairan dan elektrolit dalam tubuh yang terbuang saat terjadinya diare. Pada penyakit diare, ancaman terbesar adalah terjadinya kehilangan cairan dalam tubuh yang dikenal dengan nama dehidrasi. Dehidrasi dapat dicegah dengan menjaga keseim­ bangan cairan dalam tubuh, namun keseimbangan tersebut tidak cukup diperoleh dari air minum saja. Elek­ trolit memiliki peranan sangat pent­ ing dalam mencegah dan mengatasi kejadian dehidrasi pada penderita diare. Campuran glukosa dan garam yang terkandung dalam oralit dapat diserap dengan baik oleh usus pen­ derita diare. Bagaimana mencegah diare? Kematian akibat diare disebab­ kan karena terjadinya dehidrasi. Karena itu, mencegah terjadinya dehidrasi merupakan hal terpenting yang harus dilakukan dengan bebera­ pa cara, yakni memberikan ASI pada balita lebih sering dan lebih lama dari biasanya; memberikan cairan rumah tangga seperti kuah sayur, air tajin atau kuah sup; oralit diberikan sam­ pai diare berhenti; segera membawa penderita diare ke sarana kesehatan. Selain itu, kebiasaan mencuci tan­ gan pakai sabun (CTPS) sebelum dan sesudah melakukan aktivitas sangatlah penting dilakukan dalam mencegah diare. Bagaimana penanganan diare? Pemerintah sejak tahun 2008 se­ suai rekomendasi WHO telah men­ erapkan langkah tatalaksana diare, negara mengategorikan incest sebagai suatu kejahatan pidana, dan pelakunya mendapat hukuman. Amerika Serikat misalnya, incest dinyatakan illegal den­ gan hukuman bervariasi di tiap negara bagian. Massachusetts adalah negara bagian paling keras hukumannya yakni bisa mencapai 20 tahun penjara, sedang di Hawai hanya 5 tahun. Sedang di Inggris, hukumannya adalah 12 tahun penjara. Tapi ada juga negara yang ‘bebas’ seperti Perancis misalnya. Di sana incest bukanlah suatu kejahatan. Tak heran kalau para pelaku incest lebih suka ‘lari’ ke negara ini. Tapi kenyataannya sering disebut­ kan bahwa cinta itu buta. Karena itu, tidak tertutup kemungkinan seseorang jatuh cinta dengan orang yang masih ada hubungan saudara misalnya kakak kand­ ungnya sendiri, yang sudah sekian lama terpisah darinya, misalnya. Lalu, apa ada risikonya? Mungkin contoh ini bisa dijadikan pemahaman. Pada kehidupan di pulau Tristan de Cunha, pulau ter­ isolir yang masih masuk wilayah Inggris, budaya kawin sedarah adalah biasa kar­ ena memang, selain lokasi pulau yang sangat terisolir dan sulit diakses orang di luar, juga adanya larangan keras bagi pendatang untuk tinggal di pulau itu. Di pulau yang berpenduduk 270 jiwa itu, banyak dijumpai kasus kelainan genetik, juga cacat pada bayi yang lahir. Berdasarkan ilmu kedokteran, jika dua orang yang membawa gen resesif saling bertemu untuk bereproduksi, maka anak-anaknya memiliki satu dari empat kesempatan untuk memiliki kelainan tersebut dan satu dari dua anak memiliki kesempatan menjadi

11

dengan istilah LINTAS DIARE yaitu Lima Langkah Tuntaskan Diare. Lima langkah tersebut adalah: pertama, pemberian oralit. Sejak tahun 2004 WHO telah merekomendasikan oralit dengan osmolaritas rendah untuk mengatasi diare karena da­ pat mengurangi volume tinja hingga 25%, mengurangi mual muntah hingga 30% dan mengurangi secara bermakna pemberian cairan melalui intravena sampai 33%. Kedua, pemberian Zinc selama 10 hari. Pemberian Zinc sebagai obat pada diare akan memberikan dampak sampai 25% terhadap lamanya diare dan menurunkan risiko diare berikutnya dalam ku­ run waktu 2-3 bulan berikutnya. Pemberian selama 10 hari akan membantu dalam penurunan keja­ dian diare sampai 25% serta akan menurunkan pemakaian antibiotika secara irasional. Ketiga, pemberian ASI dan makanan sesuai umur. Pemberian asupan makanan yang baik selama diare akan membantu penderita tetap kuat dan mencegah ter­ jadinya penurunan berat badan. Pada balita dan anak-anak pem­ berian asupan makanan ini akan mencegah terjadinya kurang gizi yang merupakan faktor penyebab terjadinya diare. Keempat, pemberian anti­ biotika secara selektif. Hampir 80% kasus diare diobati dengan antibiotika padahal seharusnya pemberian antibiotika pada diare tidak lebih dari 20% karena pe­ nyebab diare dominan bukan oleh bakteri. Karena itu, pemberian antibiotika haruslah rasional dan selektif sesuai indikasi/ penyebab dari diare tersebut. Kelima, memberikan nasihat khususnya bagi penggunaan Zinc untuk penderita diareakan dpat mengurangi lama dan keparahan diare, mengurangi frekuensi diare dan volume buang air besar, serta mencegah kekambuhan diare sampai 3 bulan berikutnya. –Inten Indrawati

pembawa sifat (carrier). Hal inilah yang membahayakan pernikahan sedarah atau memiliki hubungan kekeluargaan yang dekat, karena risiko penyakit atau kondisi genetik tertentu menjadi lebih besar. Pernikahan sedarah bisa menin­ gkatkan secara drastis kemungkinan mendapatkan dua salinan gen yang merugikan, dibandingkan jika menikah dengan orang yang berasal dari luar keluarga. Hal ini disebabkan masingmasing orang membawa salinan gen yang buruk dan tidak ada gen normal yang dapat menggantikannya, sehingga pasti ada beberapa masalah yang nanti­ nya bisa menyebabkan anak menderita kelainan genetik. Pernikahan sedarah memiliki kemungkinan 13 kali lebih besar dari pada populasi umum untuk memiliki keturunan yang mengalami kelainan genetik, meninggal pada saat baru lahir atau mengalami cacat yang serius. Kelainan genetik yang lebih umum terjadi pada pernikahan sedarah adalah gangguan resesif langka yang bisa menyebabkan berbagai macam masalah, seperti kebutaan, ketulian, penyakit kulit dan kondisi kelainan saraf. The Latin American Collaborative Study of Congenital Malformation menambahkan bahwa kelainan genetik yang juga sering ditemukan terjadi adalah hidrosefalus, bibir sumbing, polidaktili (jumlah jari kaki dan atau tangan yang lebih banyak dari normal) dan kelainan jantung. Akhirnya memang, berbagai keru­ gian medis ini merupakan dasar untuk tidak menganjurkan pernikahan antara mereka yang memiliki hubungan darah.

Kirim surat Anda ke Redaksi T­ okoh dan cantumkan “Sex Edu” di ­amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh.co.id. Rubrik ini diasuh Asosiasi ­Seksologi Indonesia (ASI) Denpasar.


10

Bugar

Edisi 851/ 1 - 7 JUNI 2015

CT Angiografi untuk Deteksi Aneurisma pada Otak dr I Made Wijaya, Sp.Rad. Penulis adalah spesialis Radiology di Siloam Hospitals Bali

dr I Made Wijaya, Sp.Rad.

Aneurisma adalah dilatasi atau pelebaran yang abnormal pembuluh darah arteri. Aneurisma otak adalah dilatasi abnormal pembuluh darah arteri otak dan dapat melibatkan di setiap cabang-cabangnya. Darah ke otak disuplai oleh empat pembuluh darah utama yang bergabung bersama di Lingkaran Willis (Circle of Willis) di dasar otak. Pembuluh darah arteri cabang kecil meninggalkan lingkaran untuk memasok oksigen dan nutrisi ke sel-sel otak. Titik persimpangan pembuluh darah arteri dapat menjadi lemah, menyebabkan pelebaran pada dinding pembuluh darah yang dapat membentuk suatu kantung kecil atau disebut aneurisma. Sebuah aneurisma otak merupakan daerah yang menggembung pada dinding pembuluh darah arteri yang memasok otak.

Gambar anatomi normal pembuluh darah arteri otak manusia (Circle of Willis)

Aneurisma pada otak cukup sering terjadi, tetapi sebagian besar tidak menunjukkan gejala dan ditemukan secara kebetulan pada saat otopsi. Dalam kebanyakan kasus, aneurisma pada otak tidak menimbulkan gejala. Tetapi pada beberapa kasus, aneurisma dapat menyebabkan gejala berupa pendorongan daerah lain dari otak oleh aneurisma tersebut yang tergantung pada ukuran aneurisma dan daerah yang terlibat. Gejala-gejala ini dapat meliputi: - sakit kepala - sakit pada leher - pengelihatan kabur - dan perubahan bicara Ketika aneurisma pada otak tersebut pecah, akan timbul pendarahan di dalam otak. Gejala aneurisma pada otak yang pecah (ruptur) ini datang tiba-tiba dan termasuk parah, sakit kepala mendadak yang hebat yang berbeda dari sakit kepala lainnya yang pernah dialami, seperti gejala stroke atau bahkan dapat menimbulkan kematian. Sakit kepala yang tiba-tiba dan kuat tersebut bi-

asanya merupakan gejala utama pada pasien dengan perdarahan subarachnoid (SAH) yang disebabkan oleh pecahnya aneurisma di dalam otak. Perdarahan subarachnoid adalah penyakit serius dengan kasus kematian sekitar 50%. Aneurisma adalah penyebab SAH di 85% kasus. Hal yang sangat perlu diperhatikan adalah timbulnya perdarahan kembali (re-bleeding), oleh karena itu, oklusi atau penyumbatan aneurisma yang pecah adalah merupakan tujuan pertamanya. Suatu kecurigaan secara klinis yang kuat adanya aneurisma dapat divalidasi dengan menggunakan beberapa studi diagnostik, termasuk computed tomography (CT) scan, pungsi lumbal, magnetic resonance imaging angiografi (MRA) dan CT angiografi (CTA) otak. CT biasanya merupakan tes diagnostik pertama yang dipergunakan, ketika ada kemungkinan suatu perdarahan subarachnoid (SAH). SAH yang letaknya terlokalisir, sangat mungkin dapat ditunjukkan lokasi dari pecahnya aneurisma tersebut oleh CT angiografi (CTA). CT angiografi adalah metode atau modalitas diagnostik yang minimal invasif. Metode ini menampilkan detail anatomi pembuluh darah lebih baik daripada magnetic resonance angiography (MRA). CT angiography (CTA) menggunakan CT scanner untuk menghasilkan gambar yang rinci, baik pembuluh darah dan jaringan di berbagai bagian tubuh. CT angiografi (CTA) adalah tesx-ray, ia akan memancarkan radiasi ke tubuh. Selama pemeriksaan, pasien akan berbaring di atas meja, yang melewati perangkat berbentuk seperti donat. Selama CT angiogram (CTA), sejumlah dosis bahan media kontras akan disuntikkan ke dalam tubuh melalui salah satu pembuluh darah vena pasien. Bahan media kontras yang mengalir melalui sistem peredaran darah akan memberikan gambaran pembuluh darah sangat jelas pada scan. Komputer kemudian akan menghasilkan gambar tiga dimensi (3D) pembuluh darah pasien dari gambar sinar-x tersebut. Dokter akan meminta pasien untuk menghindari makanan dan cairan untuk sekitar minimal 4 jam sebelum tes dilakukan. Tes darah perlu dilakukan untuk mengevaluasi fungsi ginjal pasien sebelum CT angiografi dilakukan. CT angiografi tidak akan dilakukan apabila: - Memiliki alergi terhadap bahan media kontras yang akan disuntikkan - Memiliki masalah pada ginjal - Memiliki penyakit diabetes yang berat - Hamil, karena radiasi dapat membahayakan janin - Memiliki tanda-tanda vital yang tidak stabil Pasien harus minum banyak cairan setelah mengikuti tes CT angiografi untuk mempercepat ekskresi

atau pengeluaran agen media kontras tersebut dan untuk mencegah timbulnya dehidrasi atau kekurangan cairan tubuh.

Gambar unit Computed Tomography (CT) scan and CT Angiografi (CTA)

Gambar hasil pencitraan CTA pada pasien dengan aneurysma (tanda panah)

Style

Aksi Sepatu

Flat dan Wedges Desainnya simpel dan modern. Salah satu produk fashion koleksi dari MOV Shoes ini 100 % asli buatan Indonesia (local brand). Saat ini modelmodel yang dikeluarkannya tengah digemari kalangan anak muda di kotakota besar.

15

Edisi 851/ 1 - 7 JUNI 2015

M

odel sepatu yang didesain khusus serta menggunakan bahan kulit sintetis (faux leather) yang ringan, sangat cocok bagi para remaja putri yang menyukai gaya kasual sporti maupun tampil dengan kesan feminin. Dikenakannya juga bukan hanya sekadar untuk hang out bersama teman tapi untuk kuliah pun tetap oke. Menurut Ogek Putri pemilik MOV Shoes , sepatu yang diproduksi hand made

ini, memang bahannya dipilih senyaman mungkin saat dikenakan. Sedangkan modelnya dibuat agar bisa meng up- grade penampilan menjadi lebih keren dan stylish. Begitu juga bagi mereka yang tidak ingin terus menerus menggunakan sepatu dengan hak tinggi, maka sepatu dari MOV Shoes dengan sol model flat dan wedges ini dijamin akan membuat pemakainya merasa lebih aksi, bebas dan tidak menyiksa. – Sri Ardhini

Contoh kasus seorang pasien 20 tahun dengan sakit kepala yang tiba-tiba. (A) CT scan menunjukkan perdarahan SAH yang luas yang disertai hidrosefalus. (B) CTA menunjukkan suatu aneurisma yang besar pada persimpangan pembuluh darah arteri vertebralis (panah). (C) 3D angiografi dengan bahan media kontras yang mengalami ekstravasasi dari aneurisma (panah).

Pengobatan untuk memperbaiki aneurisma mungkin melibatkan operasi untuk menempatkan klip atau penjepit pada dinding pembuluh darah yang lemah. Koil juga dapat digunakan untuk mengisi aneurisma tersebut sehingga dapat mencegah aneurisma tersebut pecah dan berdarah.

Fotografer Penata Busana Rias Wajah/Rambut Model Sepatu

: : : : :

Wisputra Cok Raa Heny Sukma MOV Shoes Bali


16

Dara

Edisi 851/ 1 - 7 juni 2015

Kedepankan Kualitas dan Pendidikan Karakter

D

alam acara Wisuda ke-34 ini, Rektor Made Suarta menyampaikan informasi tentang aktivitas akademik selama satu semester ganjil (SeptemberFebruari) tahun akademik 2014/2015 IKIP PGRI Bali. Ia mengatakan Tri Dharma adalah sebuah entitas yang tak terpisahkan dari kehidupan kampus. Merupakan dasar acuan dalam menggerakkan roda keakademisan sebuah perguruan tinggi. Dalam melahirkan atmosfir akademik yang baik, melahirkan output yang berkualitas diperlukan kerja keras, komitmen, sinergisitas dan konsentrasi yang mantap, serta konsentrasi yang tidak pernah luntur. IKIP PGRI Bali adalah sebuah lembaga yang selalu berusaha menjaga, mempertahankan, dan meningkatkan kualitas, berusaha mengaplikasikan, menerjemahkan Tri Dharma tersebut. Dalam mengimplementasikan Tri Darma itu tentunya bermuara pada hasil yang dicapai. Capaian hasil dari sebuah tindakan adalah baik dan buruk atau berhasil atau gagal. Karena bertindak adalah sebuah perilaku yang berisiko, namun lebih berisiko lagi ketika kita tidak bertindak. Made Suarta menambahkan, mulai tahun ajaran baru ini IKIP PGRIBali menerapkan kurikulum berbasis KKNI, mengedepankan kualitas dan pendidikan karakter. Apalagi, IKIP PGRI Bali adalah pusat studi studi pendidikan karakter

Belum semua orang mengetahui, di balik tebing curam itu ada pesona bahari yang menakjubkan. Terlihat dari atas birunya laut yang berkilau tertimpa matahari. Mungkin banyak pula yang tidak menyangka, alam yang dari luar terkesan liar dengan rimbunan hutan jati dan bakau yang sama sekali tak menarik itu, ternyata tersembunyi panorama pantai yang eksotis. Bahkan, tak sedikit yang kemudian menyebut kawasan tebing-tebing karang itu “sekelas” Raja Ampat.

T

empat yang masih belum banyak terjamah tersebut adalah Pantai Apparalang di Kabupaten Bulukumba, Sulsel. Dengan pesona dan keindahan alamnya, banyak pihak yang meminta pemerintah kabupaten (Pemkab) Bulukumba untuk mulai mengelola destinasi lokal yang terletak di Desa Ara, Kecamatan Bontobahari itu. Pantai Apparalang memang belum sepopuler Pantai Tanjung Bira dan destinasi lainnya di Bulukumba, namun jika diadu keindahan pantainya tidak kalah dibandingkan objek wisata yang sudah digarap sebelumnya. Suasana pantai ini pun tak “semeriah” pantaipantai lainnya, malah cenderung sepi dan tenang. Tetapi, justru itulah sisi lain yang ditawarkan Apparalang.

di Bali. “Kampus ini tinggal divitasi asesor AIPT. Karena itu saya yakin IKIP PGRI Bali memenuhi syarat PTS Sehat,” ucapnya. IKIP PGRI Bali juga tengah menjajagi kerjasama dengan DPRD Badung untuk

pendidikan inklusi, pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus. Kerjasama diawali dengan dengan pembuatan naskah akademik pendidikan inklusi oleh tim IKIP PGRI Bali. Sekalipun LPTK, IKIP PGRI Bali juga memberi penguatan jiwa kewirausahaan di semua prodi. Hal ini diperkuat lagi dengan materi sertifikat pendamping IKIP PGRI Bali yang telah bekerjasama dengan sekolah tinggi bidang IT, jurnaslistik, tat arias, dan kepelatihanan olahraga. “Dengan begitu, diversifikasi dunia kerjanya

Rangkul Perokok untuk Berhenti Merokok Penandatanganan MoU antara IKIP PGRI Bali dengan Pemerintah Kabupaten Gianyar oleh Rektor Made Suarta dan Bupati AA Gde Agung Bharata disaksikan Ketua Yayasan Arthanegara

makin luas. IKIP PGRI Bali tak hanya mencetak calon guru, namun juga wirausaha muda. Sebanyak 60% lulusan IKIP PGRI Bali sudah bekerja. Mereka tak serta merta menjadi guru, ada beberapa berwirausaha,” tegasnya. Hal ini juga ditekankan Koordinator Kopertis Wilayah VIII Prof. Dr. Nengah Dasi Astawa, M.Si. Bahwa, sarjana tidak harus mencari kerja, namun bisa membuka peluang kerja sendiri. “Lulusan IKIP PGRI Bali tidak harus jadi guru, bisa buka les atau peluang kerja lain, berwirausaha,” ujarnya bersemangat. Karena itu ia mengatakan mindset masyarakat khususnya mahasiswa IKIP PGRI Bali harus diubah. Kuliah sejatinya untuk menambah wawasan dan pintar, bukan orientasinya ke pekerjaan. Karena secara logika rasio lapangan pekerjaan dengan pencari kerja tidak seimbang. Karena iru, harus menjadi wirausaha muda. Bangsa besar bukan ditentukan kaya akan SDA, bukan juga karena SDM yang banyak, namun ditentukan kualitas SDM. Peran perguruan tinggi seperti IKIP PGRI Bali menjadi center of exellent pembenahan SDM. Cukup dengan mengepankan budaya mutu. “Harus punya mimpi, skala prioritas, tidak menunda waktu,” tegasnya. Ketua YPLP PT IKIP PGRI Bali Drs.

Penandatanganan MoU antara IKIP PGRI Bali dengan STIMIK Primakara disaksikan Ketua Yayasan Arthanegara

IGB Arthanegara, S.H. M.H., M.Pd. mengimbuhkan hakekat Tri Darma Perguruan Tinggi pada dasarnya adalah menghasilkan lulusan yang berkualitas secara intelektual dan profesional, menghasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan ikut serta dalam memecahkan masalah nasional bangsanya maupun masalah kemanusiaan. Demikian yang dikutip Arthanegara dalam sebuah artikel yang ditulis seorang tokoh pendidikan. Disadari atau tidak, menyongsong bergulirnya pasar bebas masyarakat Ekonomi Asean di tahun 2015 ini, tersedianya SDM yang berkualitas dalam jumlah yang memadai dan pengembangan nasionalisme hanya dapat dihasilkan oleh tenaga-tenaga pendidikan, terutama guru profesional yang terampil dan berwibawa. “Inilah salah satu tan-

tangan Anda para wisudawan sebagai lulusan lembaga pendidikan, tenaga kependidikan yang bernama IKIP PGRI Bali,” ucapnya. Dalam kesempatan tersebut IKIP PGRI Bali mengucapkan terimakasih atas kepercayaan Pemerintah Kabupaten/Kota yang ada di Bali, NTB, NTT bahkan sampai ke Jawa Timur. Juga para orang tua yang mempercayakan pendidikan putra putrinya mengikuti kuliah di IKIP PGRI Bali. Ini dikatakannya memberi petunjuk kepada masyarakat bahwa keberadaan IKIP PGRI Bali tidak hanya diketahui oleh masyarakat, tetapi telah pula dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Pada kesempatan tersebut dilakukan juga penandatanganan MoU antara IKIP PGRI Bali dengan Pemerintah Kabupaten Gianyar, serta MoU antara IKIP PGRI Bali dengan STIMIK Primakara. Juga, peluncuran Buku Puja Bhakti I Made Suarta: Ketika Jiwa Menari, yang berisi rangkuman capaian satu periode kepemimpinan Rektor IKIP PGRI Bali Dr. Drs. I Made Suarta, S.H., M.Hum. masa bhakti 20102014. -ten Buku “Puja Bhakti I Made Suarta: Ketika Jiwa Menari”, rang­kuman capaian satu periode ke­ pemimpinan Rektor IKIp PGRI Bali masa bhakti 2010-2014

alami ini cukup ekonomis, yakni Rp 150 ribu pulang-pergi (PP). Salah seorang traveler dari Forum Pemuda Bahari Indonesia (FPBI) Sulsel, Abdul Rajab menjelaskan, Apparalang menawarkan berbagai keindahan alam yang masih alami. “Di atas tebing Apparalang, wisatawan bisa menikmati pesona pantai dengan airnya yang bening biru. Apalagi, pada saat ada sinar matahari yang memantul pada gulungan ombak kecil, maka keindahan itu tampak sempurna,” bebernya. Rajab menyebut, daya tarik lain

S

angat tak terduga bagi Komang Manik Kencana Dewi, dia terpilih menjadi Duta Anak Anti Rokok 2014. Pasalnya, Manik awalnya ikut Mimbar Anak Bali serangkaian dengan Pemilihan Duta Anak Bali. Namun ternyata, dalam MAB tersebut, LPA Bali bekerjasama dengan Taco Bali juga mengadakan pemilihan Duta Anak Anti Rokok. “Jadi, setiap peserta mimbar saat itu diwajibkan untuk ikut seleksi. Tetapi pesertanya tidak hanya berasal dari peserta MAB, ada banyak juga yang memang mendaftar secara sengaja untuk mengikuti pemilihan Duta Anak Anti Rokok ini. Pesertanya sekitar 50-an. Jadi saya sendiri mengikuti pemilihan ini tanpa persiapan sama sekali hanya mendapat bekal dari sosialisasi mengenai bahaya rokok yang sebelumnya diberikan saat Mimbar Anak Bali,” jelas Manik. Putri dari Drs. I Nyoman Bambang Wirawan dan Ir. Luh Kompiang Srimanis ini mengisahkan seleksinya ada dua tahap yakni tes tulis dan wawancara. Tes tulisnya ada berupa pertanyaanpertanyaan yang menguji kemampuan peserta mengenai bahaya rokok, kawasan tanpa rokok, serta pengaruh iklan rokok terhadap masyarakat. Kemudian dari hasil tes tulis tersebut

bahasa Bali karena pada saat itu saya dikondisikan memberikan penyuluhan atau sosialisasi di banjar-banjar desa. Mungkin hal itu yang menjadi poin plus saya saat itu,” tuturnya sumringah. Manik kembali lolos masuk tiga besar. Selanjutnya ketiga besar ini kemudian diundang hadir pada puncak peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia di Gedung Ksirarnawa yang dihadiri oleh Gubernur Bali. Saat itulah diumumkan pemenang 1, 2, dan 3. Manik terpilih sebagai Duta Anak Anti Rokok Tahun 2014, disusul Putu Yadnya Wintara sebagai Runner Up 1, dan Dewa Gede Dawan Adi Bagaskara sebagai Runner Up 2.

Manik Kencana Dewi

disaring menjadi 20 besar, dan ikut tes wawancara. Manik lolos masuk 20 besar. Para juri melemparkan beberapa pertanyaan, salah satunya mengenai sikap peserta apabila melihat orang yang merokok di Kawasan Tanpa Rokok (KTR). “Saya diminta untuk memberikan sosialisasi serta orasi mengenai bahaya rokok. Yang paling saya ingat adalah ketika saya diminta untuk memberikan sosialisasi menggunakan

PINTU GERBANG NARKOBA Target kegiatan Duta Anak Anti Rokok tak hanya menyasar remaja, melainkan masyarakat luas, baik itu anak-anak, remaja, maupun yang sudah dewasa. Peranan duta ini menyasar seluruh aspek masyarakat untuk sadar akan bahaya rokok serta mampu membentengi diri dari bahaya rokok. “Namun untuk penerapannya kami lebih fokus kepada anak-anak dan remaja, karena mereka berada di usia yang memang harus diberikan informasi lebih dan disadarkan sebelum mereka terjerumus,” tegas

Duta Badung Juara Keluarga Harmonis Sejahtera Provinsi Bali 2015

S

Pantai Apparalang “Sekelas” Raja Ampat Suasananya cocok untuk wisatawan yang ingin menghilangkan kejenuhan. Duduk saja di tepinya, nikmati desiran angin menyapa lembut tubuh. Airnya yang biru jernih dijamin mampu menyegarkan beban pikiran. Apalagi, pemandangan tebing-tebing Apparalang juga tak kalah menariknya. Terkait akses menuju lokasi, jika menggunakan kendaraan bermotor, waktu perjalanan dapat ditempuh hanya sekitar 20 menit dari Pantai Tanjung Bira atau 60 menit dari pusat Kota “Butta Panrita Lopi” Bulukumba. Biaya menuju destinasi wisata yang masih

9

Manik Kencana Dewi

Wisuda ke-34 IKIP PGRI Bali

Sabtu (30/5) bertempat di The Westin Resort Nusa Dua Bali, Rektor IKIP PGRI Bali Dr. Drs. I Made Suarta, S.H., M.Hum mewisuda 579 maha­ siswa. Dengan demikian jumlah alumni sampai Mei 2015 menjadi 19.916 orang. Tampil sebagai lulusan terbaik, Komang Eka Swardana dari Pen­ didikan Bahasa dan Sastra Daerah, bidang Ilmu Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah dengan IP yang dicapai 3,85 (predikat pujian).

Edisi 851/ 1 - 7 juni 2015

destinasi tersebut juga lantaran akses masuknya yang mudah, bahkan tidak dipungut biaya baik ongkos masuk maupun menginap, karena semuanya gratis. “Pengunjung tidak membayar tiket masuk. Untuk menginap, wisatawan biasanya membawa per-

lengkapan camp seperti tenda dan alat masak sendiri,” imbuhnya. Untuk dapat menikmati deburan ombak yang menghempas karang secara dekat, ataupun ingin terjun merasakan sejuk dan beningnya air pantai, pengunjung harus menuruni sebuah tangga kayu yang lumayan tinggi. “Setelah itu, wisatawan akan mendapati sebuah dermaga kayu yang berdiri di atas batu-batu karang,” urainya. Tak hanya untuk melabuhkan mata terhadap keasrian bahari Apparalang, wisatawan juga dapat melakukan aktivitas bawah laut seperti snorkeling maupun diving. “Pemandangan alam bawah laut tidak kalah indahnya, terumbu karang dan habitat hewan laut di Apparalang masih sangat alami. Tentu ini tak boleh dilewatkan,” pesannya. Bahkan warga lokal yang hobi memancing, sebut Rajab, selalu menjadikan pantai tersebut sebagai tempat berburu ikan di kala senggang atau memanfaatkan hari libur. “Sambil memancing, mereka juga dapat menikmati keindahan Apparalang,” tuturnya. -Hasmiati Mus

etelah melalui penilai­ an terhadap semua duta kabupaten/kota se-Bali, akhirnya ke­ luarga I Nyoman Putra SaptanaNi Nyoman Rastini, S.Pd. (Duta Badung) dinyatakan sebagai juara I Lomba Keluarga Harmonis Se­ jahtera Provinsi Bali 2015. Lomba yang dilaksanakan Perwakilan BKKBN Probinsi Bali ini meru­ pakan rangkaian kegiatan Hari Keluarga Nasional XXII. Juara II diraih keluarga I Ketut Riman, S.Pd.-Ni Wayan Dani, Sm.Sp (Duta Gianyar) dan juara III keluarga I Ketut Wirten-Ni Luh Sukasari (Duta Buleleng). Keluarga Putra Saptana-Rastini selanjutnya men­ jadi Duta Bali di ajang serupa di tingkat nasional. Kabid KS dan PK Perwakilan BKKBN Provinsi Bali Ida Bagus Adnyana sebagai Ketua Tim Pe­ nilai mengatakan Lomba Keluarga Harmonis Sejahtera ini merupakan bentuk apresiasi pemerintah ke­ pada pemerintah kabupaten/kota dalam pembangunan keluarga. “Melalui duta kabupaten/kota ini dapat diketahui sejauhmana peran pemerintah kabupaten/kota dalam membimbing, mengarahkan, dan mendorong para keluarga untuk membangun dan mewujudkan ke­ luarga kecil bahagia dan sejahtera serta menerapkan delapan fungsi keluarga,” ujarnya. Data menunjukkan TFR Bali mencapai 2,3 anak per wanita usia subur (hasil Sensus Penduduk 2010). Artinya, para keluarga su­ dah makin ideal (kecil). Tinggal bagaimana mewujudkan keluarga itu menjadi lebih harmonis dan

Kampanye Hari Tanpa Tembakau Sedunia

Manik yang tahun ini meneruskan kuliahnya di Fakultas Kedokteran Unud. Untuk kegiatan Duta Anak Anti Rokok, banyak bekerja sama dengan LPA Bali bersama dengan Forum Anak Daerah (FAD) Bali. Manik adalah juga Duta Anak Bali Komisi Pendidikan Tahun 2014. Jadi banyak kegiatan yang ia lakukan sinergi, baik itu sebagai Duta Anak Anti Rokok maupun Duta Anak Bali. Kegiatannya Duta Anak Anti Rokok, antara lain mengikuti Kampanye Hari Tanpa Tembakau Sedunia dalam rangka memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang jatuh pada 31 Mei. Fakultas Kedokteran Universitas Udayana mengundang FAD Bali untuk ikut berpartisipasi dalam acara Aksi Damai HTTS 2014. “Saat itu, kami mendapat baju yang bertuliskan HTTS 2014, masker dan stiker free smoke yang serempak kami gunakan. Di sana kami melakukan long march dari Fakultas Kedokteran Unud sampai ke perempatan Matahari Duta Plaza membawa spanduk yang menyuarakan ketidaksetujuan kami dengan para perokok serta sikap mereka yang merokok secara sembarangan sebagai wujud meminta pemenuhan hak kami sebagai anak untuk bebas dari asap rokok,” tuturnya. Acara tersebut juga diisi dengan orasi dari serta monolog dari mahasiswa FK Unud yang menceritakan penderitaan seorang anak yang hidup dengan ayah yang seorang perokok aktif. Acara diakhiri dengan pemadaman LED TV yang berisi iklan rokok oleh mahasiswa Kedokteran Unud. Kegiatan lainnya, menyosialisasikan Bahaya Rokok dan KTR pada Kegiatan

MOS Sekolah dan Survey Perilaku Merokok pada Remaja. Dari hasil wawancara dengan beberapa peserta MOS, ada yang mengaku sudah merokok. “Setelah dia mendengar sosialisasi dari saya, dia bilang jadi takut merokok lagi dan janji untuk tidak merokok,” ucap Manik tersenyum. Manik dan para pelajar ini juga aktif berdiskusi mengenai bahaya merokok, yang juga dibarengi dengan pemutaran video komedi bahaya rokok pada sesi terakhir. Dari keterlibatannya sebagai Duta Anak Anti Rokok, Manik mengaku sangat prihatin dan khawatir terhadap kebiasaan merokok pada remaja. Karena di usia yang masih sangat belia mereka sudah mencoba bahkan memiliki kebiasaan merokok, yang tentunya akan sangat berpengaruh terhadap kesehatan maupun sosial mereka ke depannya. Dampak kesehatan sudah sangat jelas karena merokok memicu timbulnya berbagai penyakit mematikan. Dari segi sosial, mereka akan mulai bergaul dengan lingkungan yang menganggap “gak ngerokok gak keren”, yang kita ketahui bersama lingkungan tersebut akan berdampak buruk pada remaja. Karena, merokok merupakan salah satu pintu gerbang untuk memakai narkoba. Mereka juga akan mulai ketergantungan dengan rokok. “Mau melakukan ini pasti butuh rokok, mau melakukan itu butuh rokok, dan pastinya cenderung malas untuk bersekolah. Tetapi remaja yang merokok tidak untuk dihindari, rangkul mereka dan beritahu secara baik-baik agar sedikit demi sedikit mereka mau mengubah kebiasaan bahkan berhenti merokok mereka,” imbaunya. –Inten Indrawati

Keluarga Putra Saptana-Rastini

sejahtera. Inilah yang menjadi tugas seluruh komponen masyarakat saat ini dan di masa mendatang. Adnyana menambahkan sejak tahun 2014 tagline Program Kepen­ dudukan dan KB diubah menjadi Program Kependudukan, KB, dan Pembangunan Keluarga (KKBPK). Hal ini sesuai dengan UU Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga. Karena itu pembangunan keluarga menjadi salah satu upaya untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan keluarga. Pemerintah dan pemerintah daerah pun diminta menetapkan kebijakan pembangunan keluarga melalui pembinaan ketah­ anan dan kesejahteraan keluarga. Duta masing-masing kabupaten/ kota dinilai secara komprehensif mulai dari kondisi rumah yang bersih, sejuk, dan asri; pengeta­ huan tentang KB; partisipasi dalam program KB seperti Bina Keluarga Balita, Bina Keluarga Remaja, dan

Bina Keluarga Lansia; serta keak­ tifan para duta ini dalam memo­ tivasi dan mendorong keluargakeluarga lain di lingkungannya untuk menjadi keluarga kecil bahagia dan sejahtera serta kader pembangunan. “Para duta Keluarga Harmonis dan Sejahtera diharapkan menjadi model, motivator, dan panutan keluarga lainnya dalam mem­ bangun para keluarga Indonesia menjadi lebih tangguh, maju, mandiri, dan berkualitas. Ke­ luarga tangguh, bangsa tangguh. Keluarga berkualitas, Indonesia jaya. Landasannya adalah pem­ bangunan keluarga kecil, bahagia dan sejahtera,” ujar Adnyana yang didampingi anggota tim penilai Dra. Ni Made Wardani Rudolf, MPA (TP PKK Provinsi Bali), Ngurah Budi (Tabloid Tokoh), Ida Ayu Made Parwati, S.Sos (BKKBN Provinsi Bali) dan Rahmi, S.Psi. (BKKBN Provinsi Bali) –wah

Sosialisasi Pemenuhan Hak Anak dan Bahaya Rokok

Sosialisasi Bahya Rokok dan survey perilaku merokok pada remaja saat MOS


8

Bunda & Ananda

Edisi 851/ 1 - 7 JUNI 2015

Menyiasati Liburan dengan Rutinitas Ulangan umum sudah selesai. Anak-anak sekolah tinggal menunggu pembagian raport dan kenaikan kelas. Tahun ajaran 2014/2015 sebentar lagi akan segera berakhir dan anak-anak akan segera memasuki masa liburan yang sangat dinantikan. Setelah liburan usai, anak akan kembali memasuki rutinitas sekolah dan proses ini berulang setiap tahunnya. Bagaimana sebaiknya orangtua mengarahkan anak dalam mengisi masa liburan dengan cerdas sehingga anak tetap memiliki semangat saat akan memasuki masa sekolah?

T

iap tahun, Joe dan keluarga selalu berlibur dan mengenal objek wisata di kota lain. Tahun lalu mereka pergi ke Malang dan menginap di Kota Batu selama tiga hari. Joe dan keluarga mengunjungi berbagai objek wisata yang ada di kota apel tersebut. Tahun ini Joe sudah menyiapkan rencana pergi ke Lovina untuk mengisi liburan dan ingin mengetahui tempat wisata tersebut secara langsung dengan mengunjungi pantai Lovina dan ingin melihat lumba-lumba berloncatan di tengah laut. “Kami sudah browsing di internet dan mencari paket liburan sekaligus penginapannya. Ternyata ada banyak pilihan,” ungkap Bu Dian, ibunda Joe. Bu Dian mengatakan bahwa liburan merupakan kesempatan bagi ia dan keluarga untuk menyegarkan kembali pikiran setelah sekian waktu beraktivitas dan juga memberi anak-anak sedikit hadiah kecil setelah ulangan umum. Namun di satu sisi, Bu Dian merasa kewalahan saat anak-anak akan masuk kembali ke waktu sekolah dimana anak-anak belum bersemangat menjalani masa sekolah dengan tingkatan kelas yang makin naik. “Saya jadi bingung ya, gimana caranya supaya anak tetap menikmati liburan namun juga tetap memiliki semangat menyongsong tahun ajaran baru,” kata Bu Dian. Kondisi ini bukan hanya dialami oleh Bu Dian semata namun hampir semua orangtua mengalaminya. “Itulah kenapa aktivitas fun mengisi liburan dilakukan di awal musim bukan di akhir musim karena cukup riskan secara waktu sekolah,” ujar Bu Dian lagi. Liburan menjadi sarana orangtua untuk menyegarkan pikiran dan motivasi anak setelah padat dengan rutinitas sekolah, les, ekstrakurikuler, dan ujian. Menurut Luh Kadek Pande Ary Susilawati, S.Psi, M.Psi, Psikolog, mengisi liburan dengan suatu aktivitas setelah rutinitas sekolah yang padat perlu dilakukan. Rutinitas anak dalam masa sekolah yang dimulai dengan tahap tahun ajaran kemudian liburan kemudian mulai lagi tahun ajaran baru dan libur lagi menjadi suatu rutinitas yang sudah terpola sehingga dapat menimbulkan rasa jenuh dan membuat anak menjadi malas. Kondisi ini semakin diperparah dengan kurangnya wawasan orangtua tentang alternatif yang dapat dilakukan bagi anak mereka dalam mengisi liburan. Untuk itu penting mengisi liburan dengan kegiatan yang bermanfaat

Bu Pande dan cerdas agar anak tidak sekadar liburan namun mendapat pengalaman baru, memunculkan suatu perilaku yang positif secara konsisten dalam situasi apa pun. “Datangnya masa liburan bukan berarti semua rutinitas berubah menjadi sangat longgar. Rutinitas dasar seperti waktu bangun pagi, makan, dan tidur malam tetap harus dipolakan walau tidak harus seperti waktu sekolah. Orangtua jangan terlalu frontal memberikan anak melakukan perubahan rutinitas mentang-mentang liburan. Tetap harus ada disiplin yang dibentuk walaupun itu masa liburan namun dengan toleransi. Misalnya kalau sekolah biasa bangun pukul 05.00, saat liburan ada toleransi hingga pukul 06.30. Jangan sampai bangunnya pukul 12.00. Begitu juga malam hari, biasa tidur pukul 21.00, boleh diberi toleransi hingga pukul 22.00,” ujar staf pengajar Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana ini. Waktu istirahat dan makan anak saat liburan ini penting diperhatikan. Jangan sampai saat liburan membuat kesehatan anak menurun atau malah membuat anak sakit. Kegiatan yang dilakukan saat liburan tentunya adalah kegiatan yang bermanfaat dan positif, salah satunya acara bepergian seperti yang dilakukan Joe dan keluarga, bermain ke rumah saudara atau teman, dan kegiatan-kegiatan lain yang jarang bisa dilakukan saat hari sekolah. Intinya adalah, anak-anak bisa mendapat pengalaman baru setelah melakukan kegiatan tersebut. Liburan juga menjadi momen kebersamaan bagi keluarga untuk menyegarkan pikiran dan menambah keakraban.

“BELUM PANAS” Mengenai jadwal selama liburan apakah harus tertulis atau tidak, Bu Pande mengatakan sebaiknya buat kesepakatan antara anak dan orangtua. “Ada anak yang senang dengan jadwal rapi dan terencana. Kalau ini yang dipilih, boleh buat jadwal tertulis. Ada yang senang spontan. Kalau model seperti ini, sebaiknya jadwal dibuat lisan. Anak yang menyusun jadwalnya, nanti orangtua mengevaluasi. Harus ada komunikasi antara anak dan orangtua agar liburan bermanfaat. Jangan sampai ada pihak yang merasa terbebani,” ujar pengurus Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Bali sie Data Anggota periode 2014-2019 ini. Satu hal yang juga diingatkan adalah pengawasan orangtua saat anak liburan. Bukan berarti kemana-mana anak harus diawasi. Tetapi, ingatkan

anak-anak tentang tanggung jawab terhadap apa yang mereka lakukan. Misalnya, tahu dan sadar dengan waktu, baik itu waktu istirahat, makan, maupun mandi selama anak menikmati aktivitas liburan mereka. Hal tersebut penting ditanamkan sekaligus mengingatkan anak waktu dan juga banyak hal yang bisa dilakukan saat liburan, bukan sekadar santai-santai dan bermalas-malasan. Lalu persoalan baru akan muncul setelah liburan selesai. Mood anakanak dalam memulai rutinitas sekolah, baik proses belajar, mengikuti ekstrakurikuler, maupun les masih belum stabil. Guru-guru sering mengeluhkan kalau awal tahun ajaran baru, cukup banyak anak-anak yang “belum panas” dalam arti belum siap kembali untuk mengikuti aktivitas sekolah sehingga orangtua kadang

mendapat laporan dari guru paskaliburan tentang kondisi anak mereka yang belum stabil secara mood belajar. “Anak-anak masih terbawa suasana dan hawa liburan, itu kenapa mereka ‘belum panas’,” ujar Bu Pande. Ada solusi yang dapat dilakukan yakni seminggu sebelum mulai masuk sekolah, ajaklah anak untuk mempersiapkan masa sekolah yang dapat dimulai dengan memeriksa kembali perlengkapan sekolah dan mempersiapkannya. Mana peralatan belajar yang masih layak pakai dan mana yang harus diganti. Ingatkan anak untuk menghargai apa yang mereka punya. Tidak perlu semua harus baru. Selain itu, orangtua dapat memulai semangat anak dengan memancing anak untuk menganalisa mata pelajaran apa yang akan mereka pelajari di kelas berikutnya agar anak semakin penasaran, jadi ingin tahu, dan diikuti dengan kembalinya perilaku belajar. “Proses adaptasi ini wajar terjadi. Jangankan anak-anak, orang dewasa pun perlu menyesuaikan diri ketika memasuki fase pasca liburan. Jika sudah stabil, barulah suasana belajar bisa didapatkan. Berikutnya orangtua tinggal menyesuaikan perilaku belajar anak dengan jadwal rutin sekolah,” ujar alumnus S2 Profesi Psikologi Universitas Surabaya ini.

Griya

Edisi 851/ 1 - 7 JUNI 2015

Mebel Antik tetap Diminati Meskipun sekarang ini banyak muncul dan diproduksi desain mebel modern bergaya minimalis, namun mebel bergaya antik dan ­kalsik masih tetap diminati pasar. Hal ini diakui Made Diana, seorang ­karyawan Beli Bagus Bali Classic yang berlokasi di By Pass ­Ngurah Rai –Sanur, Denpasar Bali. “Mebel antik tidak ada trennya, dari tahun ke tahun ada saja yang beli,” ujar ptia asal Negara yang sudah 15 tahun bekerja di tempat itu.

M

ebel-mebel ini didatangkan dari Probolinggo, Jawa Timur. “Di sini, saya hanya memfinishing dengan diamplas, dan ada beberapa yang dibakar biar tekstur seratnya makin keluar. Serat-serat hitam

itu makin memberi kesan antik. Tahap akhir baru di-clear gloss” ucapnya. Mebel-mebel antik ini terbuat dari kayu jati, yang usianya makin tua makin kuat. Dari beberapa jenis mebel yang ada, seperti meja, kursi, rak, lemari, dan

tempat tidur, saat ini pintu yang paling laris. Baik itu pintu gebyok yang ditempatkan sebagai pintu utama, atau pun pintu engkel yang ditempatkan sebagai pintu kamar. Pintu gebyok ditawarkan mulai Rp 7,5 juta dan pintu engkel mulai Rp 3,5 juta. –Inten Indrawati

–Ngurah Budi

Berlibur sambil belajar

Mendongeng Lima Menit

LEAK DALAM PETI

Perempuan tua yang bernama Kumpi Rerod itu benar-benar serakah. Ia makan tiap bayi yang baru lahir. Keserakahan itu muncul setelah ia menekuni ilmu leak. Ilmu itu tidak digunakan untuk menolong orang, tetapi untuk Made Taro membinasakannya. Penduduk desa lalu melaporkan keadaan yang meresahkan itu kepada Raja. Raja menunjuk Kaki Dengkur, seorang kakek untuk membunuh Kumpi Rerod. Kakek yang sakti dan bijaksana itu menyanggupi, tetapi ia tidak mau melakukan kekerasan. Ia akan mencoba dengan cara memenuhi segala kebutuhan perempuan tua itu. Pada suatu malam, ketika Kumpi Rerod hendak memakan seorang bayi, tiba-tiba Kaki Dengkur menangkapnya. Dengan kesaktiannya, ia menyulap leak itu menjadi kecil sebesar marmut, lalu mengurungnya di dalam peti yang terkunci. “Seharusnya kamu dihukum mati, tetapi aku memberi kamu kesempatan untuk mengubah perangaimu yang buruk. Tinggallah dalam peti ini selama 20 tahun!” kata Kaki Dengkur. Kumpi Rerod yang berubah kecil itu menyerah. Ilmu yang dikuasainya tidak mampu menandingi kakek sakti dan bijaksana itu. Sepuluh tahun kemudian, Kaki Dengkur memeriksa leak dalam peti itu. Didapatinya leak itu

menangis sambil berucap, “Seandainya aku hidup di sebuah gubuk kecil di lereng gunung, aku akan berhenti memakan bayi. Yang penting aku berbahagia menikmati keindahan alam dan kenyamanan hidup bersama penduduk.” Kaki Dengkur tersentuh hatinya. “Baiklah, terjadilah apa yang kau inginkan!” Tiba-tiba Kumpi Rerod mendapati dirinya duduk dalam gubuk di lereng gunung. Ia sangat senang menikmati kebebasan. Namun, malam harinya, ia gentayangan lagi, memangsa bayi-bayi. Ketika Kaki Dengkur lewat di depan gubuknya, leak itu menangis dan mengeluh lagi, “Seandainya aku hidup di rumah yang besar dan mewah, aku tidak akan memakan bayi. Aku puas dengan makanan yang dibuatkan oleh pelayan-pelayan.” Kaki Dengkur tersentuh hatinya, lalu katanya, “Baiklah, terjadilah apa yang kau inginkan!” Kumpi Rerod mendapati dirinya berada dalam rumah besar dan mewah. Pelayan-pelayan menghadap dan menawarkan masakan yang disenangi. Namun, malam harinya, walaupun sudah makan sepuasnya, leak serakah itu gentayangan mencari bayi yang baru lahir. Nah, pada malam hari itulah Kaki Dengkur memergoki leak serakah itu. Ketika Kumpi Rerod mau menangis dan mengeluh, Kaki Dengkur segera menjawab, “Apa yang kau inginkan, terjadilah!” Kumpi Rerod kembali terkurung dalam peti yang terkunci. Bentuknya kecil sebesar marmut. Setiap hari menjelang malam, seorang anak memasukkan sebuah boneka bayi terbuat dari plastik ke dalam peti itu.

17

Beberapa tips untuk merawat mebel antik tetap awet: - Letakkkan di tempat yang bersih, kering, dan bersuhu normal. Kelembaban udara yang tinggi dapat mempercepat proses oksidan kayu yang menyebabkan jamur, serangan rayap atau serangan kayu lainnya. - Jangan juga terkena sinar matahari langsung. - Pastikan permukaan mebel selalu bersih dan higienis dengan cara membersihkannya dari debu dan kotoran. - Gunakan biopolish untuk memoles permukaan mebel guna menjaga keindahan kayu jati. Cairan ini juga dapat memperpanjang usia perlindungan lapisan coating.


18

Life

Edisi 851/ 1 - 7 juni 2015

Peluncuran Buku “Senam Kebugaran Seksual”

Yang Menopause bisa Bergairah Kembali Semua wanita normal pasti ingin memberi kepuasan seksual secara maksimal kepada pasangan­nya. Hal ini diungkapkan Adolfina Grace Tangkudung, S.Pd., M.Fis., dalam peluncuruan bukunya “Senam Kebugaran Seksual”, yang dihadiri Ketua TP PKK Kota Denpasar Ny. Selly. D. Mantra, Ny. Agung Sri Satria Naradha, perwakilan dari organisasi wanita yang ada di Bali, dan undangan lainnya, Kamis (28/5) di Istana Taman Jepun, Denpasar.

D

alam kesempatan yang santai itu, Ny. Selly D. Mantra yang juga istri Wali Kota Denpasar mengatakan “Senam Kebugaran Seksual” adalah salah satu cara untuk memperoleh kepuasan bagi pasangan suami istri. Namun, katanya yang

Adolfina Grace Tangkudung

penting juga adalah komunikasi. “Ketika jalinan komunikasi pasutri lancar, maka dalam melakukan hubungan intim pun keduanya

Bersama pemenang door prize

akan sama-sama memperoleh kepuasan. Bahkan bisa menjadikan hubungan pasutri menjadi lebih harmonis,” ucapnya. Ia pun mengajak para ibu-ibu PKK dan wanita yang ada di Kota Denpasar untuk mengetahui apa itu “Senam Kebugaran Seksual”. Adolfina Grace Tangkudung, pengasuh Rubrik Bugar Bali Post sejak 1993 hingga sekarang ini menegaskan para istri bisa memberikan kepuasan seksual yang melebihi yang diidamkan para suami, yaitu dengan cara memiliki daya cengkram vagina yang kuat. ”Untuk mendapatkannya tentunya harus latihan,”cetusnya. Ibu dua anak yang sudah 38 tahun berpengalaman di sunia senam ini pun menambahkan jika rajin berlatih, maka perempuan yang memiliki 3- 4 anak, dan berusia 35 tahun ke atas dapat mengalahkan

perempuan yang memiliki 1 anak dan berusia antara 20 hingga 25 tahun. Dalam acara yang penuh gelak tawa itu pimpinan sekaligus pemilik Lembaga Kursus dan Pelatihan Instruktur Senam Lala Studio de­ ngan segundang prestasi ini pun sempat menyampaikan beberapa

komentar para ibu yang telah dilatih “Senam Kebugaran Seksual” selama 2 bulan olehnya. Mere­ ka ternyata merasakan hasil yang luar biasa. Terbukti dari beberapa testimoni mereka. Sebuah ungkapan yang begitu jujur, terbuka dan apa adanya. Betapa mereka dari yang awalnya malu dan takut setelah mengikuti SKS, akhirnya bisa merasa bangga, malah sampai ada yang mengungkapkan kewalahan. Bahkan para perempuan yang sudah menopause bisa kembali bergairah dan menikmati kebersamaan dengan sang suami. Setelahnya, beberapa undangan pun dengan terbuka menyampaikan pengalaman maupun keluhan mereka . Grace juga tak lupa menekankan prinsip dalam melakukan lahitan Senam Kebugaran Seksual ini adalah wajib “konsentrasi”. “Senam ini juga dapat diiringi musik yang sesuai dengan ketukan iramanya agar suasana jadi menyenangkan. Apalagi senam ini dapat dilakukan kapan saja, dan dimana saja. Selengkapnya dapat dibaca di buku “Senam Kebugaran Seksual,” katanya tersenyum. Grace lalu meminta salah seorang timnya untuk memperagakan beberapa posisi latihan senam ke­ bugaran seksual.-ard

Story

Edisi 851/ 1 - 7 juni 2015

7

Waspadai Penipuan via Telepon Bunyi telepon berdering di rumah Ratni (48), yang tinggal di sekitar Labu Api, Lombok Barat. Telepon dari seorang perempuan itu diterima oleh adik ipar Ratni, yang shock mendengar kabar yang ditujukan untuk ­Ratni dan suaminya.

M

engetahui berita ini terbilang sangat penting, maka adik ipar Ratni pun menelepon Ratni dan juga mengabari suaminya (adik suami Ratni). Suami Ratni sendiri sengaja tidak diberitahu dulu mengenai kabar ini, mengingat kondisi kesehatannya yang dikhawatirkan bisa membuatnya shock. Kejadian ini terjadi seminggu yang lalu. Ratni yang tengah bekerja di sebuah salon di Mataram, tiba-tiba menangis setengah berteriak dan terlihat sangat panik ketika mendapat telepon dari adik iparnya itu. Ia baru saja mendapat kabar bahwa anaknya yang baru lulus SMU dan akan melanjutkan kuliah di Yogyakarta itu, jatuh dari sepeda motor dengan kepala luka parah

dan harus segera dioperasi untuk menyelamatkan nyawanya. Ratni lalu menelepon ke nomor yang diberikan oleh adik iparnya. Dengan masih sesegukan, Ratni menelepon orang yang mengaku guru anaknya itu dan menanyakan di mana kini anaknya berada dan bagaimana kondisinya. Sambil mempersiapkan diri untuk datang ke Rumah Sakit Risa di mana anaknya dirawat, Ratni terus berkomunikasi dengan sang guru. “Saya tidak begitu tahu kondisinya Bu, tapi ini ada dokternya yang akan menjelaskan,” kata sang guru. Penjelasan dokter sungguh membuatnya terpukul. Batok kepala anaknya retak parah dan harus segera diambil tindakan operasi sesegera mungkin. Obatnya tak tersedia di rumah sakit

melainkan harus dibeli di sebuah apotik yang disebutkan sang dokter. Ipar laki-lakinya (adik suaminya) yang juga menelepon ke nomor yang sama juga dikabari hal yang sama. Ia pun meminta kawan kerjanya untuk mengantarnya ke rumah sakit Risa di wilayah Cakranegara. Sepanjang perjalanan menuju Rumah Sakit Risa, Ratni menangis. Dalam keadaan panik tiba di rumah sakit Risa, Ratni langsung menuju UGD. Ia bertanya sana sini di manakah anaknya dirawat. Ia bertanya apakah ada pasien baru masuk karena kecelakaan dengan menyebut nama anaknya. Petugas UGD menjawab bahwa dalam tempo itu mereka tidak menerima pasien kecelakaan. “Kata petugas mungkin di rumah sakit umum,” ujar Ratni. Dalam keadaan panik, di UGD inilah ia bertemu dengan ipar laki-lakinya. Mereka berdua panik karena tidak menemukan anak Ratni, lalu menelepon nomor sang guru yang suaranya demikian cemas bukan kepalang. Benar saja, sang guru mengatakan bahwa anak Ratni dibawa ke rumah sakit umum yang peralatannya lebih lengkap karena tindakan yang diambil adalah operasi besar. Tidak lupa ia mengingatkan untuk segera mentransfer

tkh/net

uang yang dibutuhkan Rp 2 juta, karena obat saat itu juga harus segera dibeli. Ratni sesegera mungkin menuju rumah sakit umum Mataram, sedangkan adik ipar laki-lakinya menyusul karena harus mentransfer uang terlebih dahulu. Entah karena buru-buru sehingga konsentrasi adik ipar Ratni ini membuatnya salah masuk ATM. Di sekitar rumah sakit Risa, rupanya tidak ada ATM yang sesuai dengan bank yang diinfokan oleh sang guru lewat telepon. Adik ipar Ratni harus mencaricari ATM tersebut. Sementara itu, Ratni yang sudah tiba di UGD rumah sakit umum Mataram, juga tidak menemukan anaknya. Hari itu kebetulan sekali tidak ada pasien kecelakaan yang dirawat di sana. “Di situlah saya baru sadar kalau saya sedang dalam masa ditipu,” kata Ratni. Kesadaran itu membawa akal sehatnya untuk segera meneleon anaknya. Dari ujung telepon, anak Ratni mengatakan bahwa ia ada di sekolah dan dalam keadaan baikbaik saja. Lega hati Ratni mendengarnya. Ia pun menelepon adik iparnya untuk mencegahnya mengirim uang kepada sang guru.

“Untung belum dikirim karena kebetulan ia tidak menemukan ATM sesuai bank penelepon,” ungkapnya lega. Ratni tidak menyia-siakan kesempatan untuk memaki sang penipu itu lewat telepon. Beberapa saat kemudian, nomor tersebut sudah tidak aktif lagi. Pengalaman ini membuat Ratni semakin berhati-hati dan waspada. Karena sesungguhnya kasus-kasus seperti ini sudah banyak ia dengar. Namun karena menyangkut anak, maka Ratni sempat tidak mengingat apa-apa kecuali keinginan untuk segera menyelamatkan anaknya. Namanya juga seorang ibu naluri cinta dan sayang pada anak membuat Ratni tidak mampu melawan logikanya. Ia membagi kisahnya ini agar semua orangtua waspada dan selalu berhati-hati agar tidak tertipu. Ia mengambil hikmah dari apa yang dialaminya itu, bersyukur karena belum sampai mengirim sejumlah uang yang diminta penipu. Ratni bernafas lega menemukan anaknya tersenyum, saat menantinya di salon tempatnya bekerja usai ia melakukan perjalanan pencarian yang mengangkan ke dua rumah sakit di Mataram. -Naniek I. Taufan


6

Women on Top

Edisi 851/ 1 - 7 juni 2015

Edisi 851/ 1 - 7 juni 2015

Anak Agung Ayu Ketut Agung

D a m p a k G a m b a r S e r a m d i B u n g k u s Ro k o k

Indahnya Berbagi

Ngerinya hanya Sebentar

Tiga puluh enam tahun sudah Anak Agung Ayu Ketut Agung bergelut di bidang tata rias. Bukan waktu yang singkat bagi seseorang untuk menekuni suatu keterampilan tertentu. Tak mengherankan pula, jika kemudian berbekal keterampilan tata rias itu, Bu Agung yang juga pemiliki Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Kecantikan Agung ini lantas kerap dipercaya sebagai narasumber dan juri di bidang tata rias dan busana adat Bali.

T

ak jarang pula Bu Agung berpatisipasi atau mensponsori tata rias dan busana Bali dalam acara-acara yang “berbau” pelestarian adat dan budaya Bali. Bahkan, anak-anak didiknya di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM)

Agung pun, juga dibekalinya dengan keterampilan tata rias. Menurutnya, skill (keterampilan) itu sangat perlu dimiliki setiap orang sehingga bisa mandiri, karena tidak lagi menggantungkan kesempatan bekerja pada orang lain. Bagi Bu agung, inilah makna

Dari kanan: Tu Gek Diva, Ny. Hj. Baiq Irma Suryani Fadli (Ketua Tim Penggerak PKK Lombok Tengah), Model, Ibu Agung, di Gedung Dakwah Mesjid Agung Praya, Lombok Tengah. Berkesempatan foto bersama usai memberikan pelatihan.

hidup yang sesungguhnya, bisa berbagi, indahnya berbagi. Karena sejatinya, dengan berbagi, kita juga akan mendapatkan sesuatu dari mereka, yang bukan dinilai dari material. Sebut saja ketika Bu Agung menggelar roadshow tata rias dan busana adat Bali serta etika berbusana adat yang baik dan benar, ke seluruh Bali dan Indonesia. Bu Agung menjadi tahu permasalahan sesungguhnya di masyarakat. Karena itu pula ia pun bisa memberikan solusi menyampaikan trik praktis merias wajah sendiri, memasang pusung tagel, tengkuluk lelunakan dan cara merias pengantin dengan cepat. Bahkan Bu Agung mengaku bangga, bahwa busana adat Bali diminati masyarakat luar Bali. Terbukti beberapa waktu lalu ketika memenuhi undangan untuk memberikan seminar dan workshop busana adat Bali di tiga tempat di Lombok, pesertanya selalu membludak dan mendapat antusiasme tinggi peserta. Karena jam terbang tinggi dengan segala pengalamannya itulah, LKP

Agung kerap pula menjadi tempat studi banding bagi sekolah atau lembaga di Indonesia. Seperti, kunjungan Akademi Kesejahteraan Sosial (AKS) Ibu Kartini, Semarang, Selasa (26/5) ke LKP Agung. Studi Banding yang kesekian kalinya oleh Program Studi Tata Rias AKS Ibu Kartini Semarang ini, kali ini diikuti 24 mahasiswinya didampingi 4 dosen pembimbing. Salah seorang dosen mengatakan, LKP Agung menjadi pilihan tempat Kuliah Kerja Lapangan (KKL) mereka karena LKP ini dinilai terbaik di Bali dan intens mengadakan kegiatankegiatan tata rias. Sekaligus juga mereka bisa meninjau Tempat Uji Kompetensi Tata Kecantikan Kulit dan Tata Rias Pengantin. Selain melihat secara langsung praktik kerja untuk meningkatkan kemampuan dan wawasan, mereka juga mendapatkan workshop singkat dari Bu Agung tanpa dipungut biaya, seperti membuat tengkuluk lelunakan serta tengkuluk lelunakan dengan hijab. Sebelumnya, LKP Agung juga mendapat kunjungan dari 60 siswa Jurusan

Perbaiki Tata Kelola Hutan Tidak dapat kita pungkiri, kerusakan hutan terjadi tiap hari. ­Kejadian kerusakan hutan tidak hanya disebabkan faktor alam, namun, sebagian besar disebabkan ulah manusia. “Hal ini karena sejak dulu manusia telah memanfaatkan hutan dan berbagai jasa ekosistem yang ditawarkannya. Disamping itu, diperkirakan 1,2 miliar penduduk dunia menggantungkan penghidupan mereka kepada hutan,” ujar Staf Khusus Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan ­­Ir. Hanni Adiati, M.Si., saat launching dan workshop Indeks Tata Kelola Hutan Ekoregion Bali Nusra, Rabu (27/5).

H

iklim. Untuk itu dunia sangat menaruh perhatian pada tingkat deforestasi (penebangan hutan) dan degradasi lahan Indonesia yang cukup mengkhawatirkan. FAO menyoroti penebangan hutan Indonesia yang tertinggi di dunia yakni mencapai sekitar 60 ribu hektare per tahun. Menurut FAO pembukaan dan pembakaran lahan terutama di lahan gambut mengakibatkan In­ donesia kehilangan keanekaraga­ man hayati yang cukup besar dan menghasilkan emosi gas rumah kaca tertinggi ketiga di dunia. Ia menilai, good governance memiliki peran yang penting untuk menjaga hutan. Indonesia

Berbagai cara dilakukan untuk menurunkan jumlah perokok di Indonesia, mulai dari peraturan menempatkan gambar-gambar seram pada bungkus rokok hingga larangan merokok di sejumlah tempat. Bahkan sekarang larangan merokok sudah makin meluas, bukan hanya di mal dan kendaraan umum, tapi juga ruang-ruang publik lainnnya. Sayangnya berbagai aturan yang dibuat belum sepenuhnya membuah­ kan hasil yang diharapkan. Salah satu sebabnya adalah kurangnya law enforcement (penegakan hukum) juga ketidakdisiplinan masyarakat.

Dr. Marius Widjajarta Kunjungan mahasiswi Prodi Tata Rias Akademi Kesejahteraan Sosial (AKS) Ibu Kartini, Semarang, Selasa (26/5) ke LKP Agung.

Ir. Hanni Adiati, M.Si.

anni menyatakan, setengah dari daratan Indone­ sia adalah hutan. Di dunia, Indonesia merupakan negara dengan tutupan hutan tropis terbesar ketiga di dunia. Kondisi ini meletakkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan hutan tropis terpenting di dunia. Yang secara signifikan menyuplai oksigen yang cukup besar pada bumi. Menurut catatan Bank Du­ nia, hutan Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang be­ gitu tinggi. Hutan Indonesia juga berperan penting di saat negeri ini makin rentan terhadap perubahan

19

merupakan salah satu negara pertama yang berkomitmen un­ tuk mengurangi emisi gas kaca secara drastis sebesar 26% pada tahun 2020, yang sebagian besar disebabkan oleh degradasi hutan dan lahan gambut. Menurutnya, tata kelola yang baik merupakan hal penting untuk dilaksanakan dalam mewujudkan hal tersebut. “Tanpa perbaikan tata kelola, penebangan hutan dan pembukaan gambut dapat terus terjadi tanpa terkendali se­ hingga mengakibatkan gagalnya upaya Indonesia dalam mengu­ rangi emisi gas rumah kaca,” ucapnya. Menurut Menteri Lingkung­an

Hidup dan Kehutanan ­Siti ­Nur­baya, dalam acara peluncuran Indeks Tata Kelola Hutan tanggal 21 Mei 2015 di Jakarta menyampaikan, Indeks Tata Kelola Hutan merupa­ kan salah satu instrument control yang dapat dipergunakan untuk memahami konteks tantangan pembangunan kehutanan. Pada saat bersamaan dapat dipergu­ nakan untuk melihat peran setiap aktor kunci dalam penguatan tata kelola hutan. Hasil kajian juga bermanfaat dalam menetapkan prioritas kebijakan, program, dan sejumlah inovasi yang bisa diper­ gunakan untuk mencapai targettarget pembangunan lingkungan hidup dan kehutanan.

Tata Kecantikan, SMKN 3 Klaten.

DISKON 50% KURSUS TATA RIAS Untuk mengisi liburan sekolah serta untuk lebih menyosialisasikan dan membangkitkan minat masyarakat dalam tata rias dan busana adat Bali, LKP Agung memberikan diskon 50% kursus regular. Materi yang diajarkan mencakup 3 paket yakni Tata Kecantikan Kulit, Tata Kecantikan Rambut, dan Tata Rias Pengantin (payas nista, payas madya, payas agung, modifikasi, dan tengkuluk lelunakan). Disediakan juga beasiswa kursus gratis bagi mereka yang kurang mampu dan putus sekolah, yang benar-benar berminat di bidang tata kecantikan. Syarat dan ketentuan berlaku. Silakan menghubungi Sekretariat LKP Agung, Jalan Anggrek No. 12 Kreneng, Denpasar. Telepon 0361 233850, 081 1393602, faks. 0361 247153. Cabang Tohpati, Jalan WR. Supratman No. 303 A, Tohpati, Denpasar. Email: lkp_agung@yahoo. com. website: www.salonagung.com. –iin

Hasil kajian indeks tata kelola hutan ini da­ pat dijadikan kerangka acuan dan baseline data serta rekomendasi dalam penyusunan rencana pembangunan daerah. “Hal ini karena hasil kajian tidak hanya menyajikan informasi tentang kondisi kekuatan dan kelemah­an tata kelola hutan, tetapi juga menyajikan sejumlah rekomendasi kebijakan yang perlu dilakukan se­ mua aktor untuk mem­ perkuat tata kelola hutan Indonesia,” kata Hanni. Hanni menegaskan, hasil penilaian tersebut diterjemahkan dalam tindakan konkrit untuk memperbaiki tata kelo­la hutan dan lahan ke depan­ nya sehingga dapat bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pe­ngentasan kemiski­ nan, dan pertumbuhan berkelan­ jutan. “Pelaksanaan kajian indeks tata kelola hutan tentu memerlu­ kan input berbagai pihak. Untuk itu sangat dibutuhkan kemitraan baik untuk menyukseskan pelak­ sanaan kajian ini,” tegasnya. Hasil kajian ini nantinya diharap­ kan dapat membantu semua pihak dalam pelaksanaaan pembangunan lingkungan hidup dan kehutanan ke depan. Ia juga berharap, hasil kajian ini dapat menempatkan Indonesia untuk lebih berperan penting dalam agenda perubahan iklim global.-Wirati Astiti

P

enempatan gambargambar seram (picture health warning atau PHW) pada bungkus rokok sebagaimana Peraturan Pe­ merintah No 109 Tahun 2012, ternyata belum sepenuhnya dipatuhi oleh industri rokok. Buktinya masih ada rokok yang bungkusnya tanpa gambar seram. Pemerintah sendiri berjanji akan melakukan penindakan tegas pada produsen yang bandel. Berdasarkan peraturan, pencantu­ man PHW mulai diberlakukan per 24 Juni 2014. Ada lima gambar yang wajib dicantumkan yakni; kanker mulut, kanker tenggorokan, kanker paru, pria merokok dan pria merokok bersama anak. Aturan PHW ini sebenarnya bukan hanya diadopsi oleh pemerin­ tah negeri ini. Tapi juga negara lain, Indonesia adalah negara ke 77 yang memberlakukan aturan PHW. Lalu bagaimana hasilnya, apakah PHW ini efektif menurunkan kon­ sumsi rokok? Hasilnya disejumlah negara berbeda-beda. Di Indonesia sendiri belum ada penelitian tentang adanya PHW menurunkan konsumsi rokok. Menurut Dr. Marius Widja­ jarta, Ketua Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia, PHW belum memberi dampak yang signifikan bagi pengurangan konsumsi merokok. “Saya tanya tentang PHW kemasan rokok kepada mereka yang perokok, terus mereka menjawab, ach...hanya takut sebentar saja.

Awalnya mereka memang kaget dan ngeri. Tapi kemudian karena belakangan ini banyak dijual kotak rokok, mereka menjadi tidak takut lagi. Mereka membeli kotak rokok sendiri, lalu rokok yang dibeli dipin­ dahkan ke kotak itu. Sedang bungkus rokok yang ada gambar PHW –nya dibuang,” ungkap Marius yang juga aktif di Lembaga Penanggulangan Masalah Rokok. Meski demikian, ia berpendapat PHW jangan dicabut melainkan tetap didipasang di kemasan rokok. Kalau perlu, tegasnya, gambar-gambar seramnya ditambah. Peraturan ini baru berjalan setahun, jadi memang belum terlalu bisa dilihat hasilnya. Untuk menekan jumlah perokok bukan hanya dengan PHW tapi juga harus dibarengi dengan penegakan hukum terkait berbagai peraturan pembatasan tembakau yang memang sudah ada. Kelemahannya di penega­ kan hukum. Karena itu, baik pemer­ intah pusat maupun daerah harus benar-benar melaksanakan aturanaturan yang ada. “Kita punya banyak peraturan, semuanya bagus-bagus, tapi pelaksanaannya kurang. Inilah yang harus dibenahi, “ ujarnya. Beberapa solusi yang ditawarkan Marius antara lain; menaikkan harga rokok menjadi cukup tinggi sehingga pembelinya adalah kalangan tertentu saja, pembatasan iklan rokok, juga pematasan penjualan rokok. “Saat

ini harga rokok di Indonesia murah, sehingga siapa saja bisa membeli. Lebih-lebih lagi, rokok bisa dijual ketengan, yang sudah pasti menjadi lebih murah dan mudah terjangkau. Itu sebabnya anak-anak sekolah pun bisa membelinya dengan uang saku mereka. Ditambah lagi, rokok bisa di­ jual dimana saja, harusnya ditetapkan di tempat-tempat tertentu. Penjual rokoknya pun anak-anak, pembelinya anak-anak pula, bagaimana ini? Pa­ dahal dalam peraturan ada tertulis ‘Untuk 18 tahun’ , jadi hanya tulisan saja. Begitu juga iklan-iklan rokok yang balihonya besar-besar masih banyak bertebaran di Jakarta misal­ nya,” kata Marius. Kalau ingin menekan konsumsi rokok, masih banyak yang harus dik­ erjakan. Pemerintah harus konsisten dan sungguh-sungguh. Yang dihadapi ini adalah industri besar karena itu diperlukan kekuatan dan sungguhsungguh dan konsisten. TERBANYAK KETIGA DI DUNIA Baru-baru ini, TCSC (Tobacco Control Support Center)-IAKMI (Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia) beserta 20 institusi lain di 18 kota yang merilis hasil temuan mereka terkait antara lain efektivitas PHW terhadap para perokok. Dalam kesempatan itu, disampaikan juga gambar-gambar yang berdampak cu­

kup signifikan bagi para perokok. Dari lima gambar (PHW), ada tiga gambar yang dinilai cukup efektif mengurangi minat orang untuk merokok. Menurut Dr. dr. Santi Martini, dari lima gambar itu tiga gambar dinilai efektif untuk mengurangi minat orang untuk merokok. Yakni, gambar kanker mulut, kanker tenggorokan dan kanker paru. “Gambar-gambar itu paling efektif untuk membuat orang berhenti merokok, tidak mulai merokok juga menginformasi­ kan bahaya rokok. Sedang gambar orang merokok dan orang merokok menggendong anak tidak efektif,” jelas dokter dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlaingga, Surabaya, dalam acara pemaparan penelitian bersama TCSC-IAKMI dan 20 institusi lainnya, di kawasan Kunin­ gan, Jakarta Selatan, baru-baru ini. Menurut Santi, banyak orang saat membeli rokok meminta penjual memberinya rokok tanpa gambar seram. Namun jika yang tersedia di toko/warung semuanya bergambar, maka dia akan memilih gambar orang merokok atau orang merokok menggendong anak. Hasil penelitian lapangan menunjukkan 58% pembeli akan meminta rokok yang tidak ada gambarnya, itu menunjukkan, kata Santi, bahwa pencantuman PHW itu memiliki dampak bagi perokok. “Artinya, gambar-gambar itu memiliki dampak psikologis,” ucapnya. Berdasarkan data, Indonesia memiliki jumlah perokok terbanyak ketiga di dunia setelah Cina dan India. Sedang peringkat empat dan lima adalah Amerika dan Rusia. Sementara di Asia Tenggara, Indonesia men­ duduki peringkat teratas yakni 51,1% dari total jumlah penduduknya adalah perokok. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, prevalensi

Rokok Penyebab Kanker Salah satu produk tembakau ada­ lah rokok. Produk ini mengandung berbagai bahan berbahaya. Sekitar 4000 bahan kimia yang berbahaya terkandung di dalam rokok. Menurut dr. Ayu Swandewi, M.P.H. dari Bali Tobacco Control Inisiatif, semua bahan yang terkandung dalam rokok menyebab­ kan perubahan sel dalam tubuh yang disebut kars­ inogen yakni bahan pe­ nyebab penyakit kanker. Selain itu, kata dr. Ayu, kandungan nikotin dalam rokok juga menyebabkan ketergantungan. “Bahan kimia tarr, karnium, arsenic, karena sifatnya yang dihisap akan masuk ke peredaran darah dan merusak komponen di dalam tubuh,” kata mantan Ketua Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran Unud ini. Ia menilai, masyarakat sudah paham akan bahaya rokok. Namun, walaupun berbahaya, tapi susah untuk berhenti. “Rokok salah satu ketergantungan yang paling susah di­ tanggulangi. Namun, walaupun begitu, masih ada yang

berhasil keluar dari ketergantungan tersebut,” ucap dosen pengajar di Ilmu Keseha­tan Masyarakat, Fakultas Kedokteran Unud ini. Ia menyebutkan, merokok dapat menyebabkan kanker paru, kanker paring, kanker servik, impoten, predator penyakit kadriovaskuler seperti jantung dan stroke, dan penyakit kencing manis. Memang ia mengakui, saat berhenti merokok, orang akan merasakan sakau, kondisi yang sama dengan pasien ketergantungan narkoba. Kepala menjadi pusing, mual, dan dada berdebar. Namun, kondisi ini tidak ber­ langsung lama. “Ketika perokok sudah mampu menghadapi kondisi ini, setelah itu, ia justru akan merasa membaik. Namun, tak jarang, karena tak tahan, perokok yang mencoba untuk berhenti akhirnya kembali lagi menjadi perokok. Karena itu, untuk berhenti merokok harus didasari keinginan dari diri sendiri agar menjadi lebih sehat,” kata dr. Ayu. Makin cepat berhenti merokok, justru makin baik, karena makin sedikit terpapar zat berbahaya yang terkandung dalam rokok. “Dalam rangka Hari Tanpa Tembakau, kami mengambil tema “Tidak Ada lagi Iklan Rokok”. Tema ini kami usung karena iklan rokok sudah menyasar generasi muda,” kata dr. Ayu. Menurutnya, sekali para remaja mencoba, mereka akan ketagihan untuk terus menjadi perokok. Kota Denpasar telah menetapkan memotorium sejak tahun 2012, tidak ada lagi perpanjangan iklan rokok. “Kami berharap, semoga Perwali segera ditandatangani dan keberhasilan ini akan diikuti kabupaten lain di Bali,” tegas dr. Ayu. Ia mengatakan, di Jakarta juga sedang dibahas RUU Penyiaran, agar meniadakan iklan rokok di media massa. Berdasarkan survei, sekitar 80% masyarakat tertarik merokok dengan melihat tayangan iklan rokok di media televisi. Selain soal iklan, ia juga prihatin dengan promosi rokok yang mema­ jangnya di depan kasir di supermarket. Berdasarkan survei, pengunjung yang datang menjadi tergoda untuk membeli rokok ketika melihat rokok terpajang di depan kasir. Peringatan Hari Tanpa Tembakau juga diisi dengan seminar kesehatan dan jalan sehat. Menurutnya, dalam pengendalian tembakau memerlukan banyak tahapan yang harus dimulai step by step. Karena itu, dukungan semua pihak sangat diharapkan. –Wirati Astiti

perokok menurut pendapatan, yakni pendapatan termiskin sebesar 43, 8 persen, sedangkan pendapatan terkaya sebesar 29,4 persen. Preva­ lensi perokok di Indonesia menurut pendidikan adalah tidak tamat seko­ lah atau SD sebesar 37,7 persen dan tamat perguruan tinggi 26, 7 persen. Sedang menurut karakter­ istik, proporsi terbanyak perokok aktif setiap hari pada umur 30-34 tahun sebesar 33,4 persen, umur 35-39 tahun 32,2 persen, sedangkan proporsi perokok setiap hari pada laki-laki lebih banyak dibandingkan perokok perempuan yakni 47,5 persen banding 1,1 persen. Seperti yang diungkap Dr. Marius, meski gambar seram cukup berpen­ garuh pada para perokok, namun tidak serta merta membuat mereka menjadi berhenti merokok. Mereka yang terganggu dengan gambar-gam­ bar itu, lantas menyiasatinya dengan mengganti bungkus rokok dengan kotak penyimpan rokok yang seka­ rang banyak dijual di pasaran. TERTUTUP PITA CUKAI “Pada awalnya saya kaget den­ gan gambar-gambar seram itu. Saya merasa terganggu jika memandang gambar itu setiap kali melihat bung­ kus rokok. Untuk menyiasatinya, saya beli kotak rokok yang tidak ada gambarnya yang dipasaran dijual antara Rp15-20.000. Jadi begitu beli rokok, isinya langsung dipindahkan ke kotak itu,” katanya Priadi seorang perokok sembari tertawa. Menurut Profesor Hasbullah Thabrany, MPH dari FKM Universitas Indonesia, belum cukup bukti bahwa PHW menekan tingkat konsumsi rokok. Mungkin, masyarakat semakin sadar bahaya merokok tapi bagi yang sudah teradiksi, PHW hanya mem­ beri dampak kecil. Tapi setidaknya, kata dr Santi, melihat gambar-gambar itu bisa memotivasi untuk berhenti. “Pendapat masyarakat dengan meli­ hat gambar bisa memotivasi untuk berhenti, itu angkanya tinggi di atas 90%. Juga bisa memotivasi anak muda untuk tidak merokok, atau bagi mantan perokok untuk tidak merokok lagi,” paparnya. Hasil penelitian juga menemukan bahwa 89% masyarakat mendukung PHW dan 78,8% mendukung agar gambar dibuat semakin besar. Se­ banyak 89,5% efektif meyakinkan untuk berhenti merokok, 90,2% meyakinkan anak muda tidak mulai merokok dan 91,5% untuk tetap berhenti merokok. Terkait gambar seram pada ke­ masan rokok, Yayasan Lembaga Kon­ sumen Indonesia (YLKI) menyebut, masih banyak produsen rokok sengaja menutupi gambar tersebut dengan pita cukai. Padahal berdasarkan dalam PP 109 Tahun 2012 secara jelas dis­ ebutkan bahwa tulisan peringatan kes­ ehatan tidak boleh tertutup apapun. Menurut Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi, PP 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakai Bagi Kesehatan adalah aturan turunan dari UU Kesehatan. Pada pasal 17 ayat 5 disebutkan, gambar dan tulisan peringatan kesehatan sebagaimana dimaksud tidak boleh tertutup oleh apapun sesuai dengan ketentuan pera­ turan perundangan. “Dengan tertutup pita cukai, konsumen tidak mendapat informasi kesehatan komprehensif. Informasi bahaya rokok tidak efektif karena tertutup pita cukai,” ujarnya. –Diana Runtu


20

Nine

Edisi 851/ 1 - 7 JUNI 2015

Inspirasi

Edisi 851/ 1 - 7 JUNI 2015

Agustin Ramli

Ir. Baiq Rahmayati, M.Si.

merupakan acara rutin tahunan dari Ant Charity. “Mereka yang berprestasi di sekolah, murid terbaik, dll, akan kita kasih medali dan hadiah. Acara ini akan digelar di Jakarta pada 13 Juni mendatang, sedang di Bali akan diadakan pada 27-28 Juli. Setidaknya ada lima daerah, termasuk dua berada di Indone­ sia Timur yakni Palu dan Poso. Hanya saja untuk Poso sepertinya masih dipertimbangkan karena

program, juga partner ataupun sponsor yang ikut membantu. Dengan begitu, tambahnya, akan semakin banyak anak yang bisa dibantu baik dalam bidang pen­ didikan maupun kesehatan. Sejauh ini, katanya, dirinya masih meng-handle langsung lembaga ini, sekalipun sudah banyak kader yang mumpuni. Untuk itu, ucapnya, dia harus pandai-pandai membagi waktu. Aktivitas sosial, katanya, tidak bakal ditinggalkannya, meski dia sendiri memiliki begitu banyak kesibukan di luar. “Saya memiliki latar bela­ kang kenapa tetap berkiprah di bidang ini. Dulu kehidupan kami susah. Nah ketika kehidupan finansial keluarga membaik, saya berjanji akan berkiprah terus di bidang sosial membantu mereka yang tak mampu. Mama dulu mengajarkan kami untuk peduli pendidikan juga harus mem­ bantu sesama. Itulah yang saya kerjakan sekarang,” kata sarjana Psikologi Universitas Atma Jaya, Jakarta, ini. Jadi, lanjutnya, sekalipun keg­ iatan di luar Ant Charity tak kalah padatnya, ia tetap menyem­ patkan diri untuk berkiprah di bidang sosial. Saat ini, Agustin selain masih menjadi presenter sejumlah acara di televisi, juga kerap mendapat undangan men­ jadi MC di berbagai event, belum lagi saat ini dia sedang menangani bisnis apotik online. Bisnis ini, ucap Agustin, sebe­ narnya sudah ada sejak 2012

situasi di sana kurang kondusif. Anak-anak kami di sana ‘kocarkacir’ karena mengungsi. Untuk Bali, tahun ini cukup banyak sekitar 200-an anak. Jakarta tidak seban­ yak Bali. Tadinya yang terdata ada 100-an anak. Namun situasi anak-anak kami juga kurang baik. Mereka, kan, berasal dari keluarga tak mampu. Sekarang ini banyak dari mereka rumahnya kena peng­ gusuran. Jadi ‘kocar-kacir’ juga. Jadi mungkin hanya 50-an anak,” ucap Agustin seraya menyampaikan rasa prihatinnya dengan keadaan anakanak asuhnya. Berbicara tentang perkem­ bangan Ant Charity yang didirikan sejak 2002, Agustin Ramli tak henti-hentinya mengucap syukur karena organisasinya ini berkem­ bang semakin baik. Hal ini ditan­ dai dengan semakin banyak

lalu. Bahkan ketika itu, katanya, order cukup banyak bukan hanya dari dalam negeri tapi juga luar negeri. Hanya saja, karena kes­ ibukannya yang tinggi, akhirnya bisnis tersebut kurang tertangani dengan baik. “Nah saat ini, saya baru bisa kembali me-manage langsung. Soalnya sayang, kan. Dulu bis­ nis apotik online ini berjalan bagus, prospeknya juga bagus, jadi sayang kalau dibiarkan. Tapi sekarang, konsepnya dibuat lebih bagus dan lebih lengkap. Saya inginnya apotik online ini bukan hanya menjual obat-obatan dan suplemen, tapi juga hal-hal yang berkaitan dengan kecantikan misalnya,” ujar Agustin yang berencana me-relauncing ‘Apo­ tikpintar.com’ miliknya dalam waktu dekat. –Diana Runtu

Tugas Baru Tantangan Baru Latih Self Safety Bekerja sesuai dengan latar belakang pendidi­ kan, tentu saja akan memberikan kemudahan dalam menjalani pekerjaan tersebut. Kesempa­ tan untuk meraih prestasi pun bisa dengan mu­ dah dirancang karena mampu menguasai bidang yang menjadi tanggung jawab. Lalu bagaimana dengan orang yang bekerja pada bidang yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan­ nya? Hal inilah yang kemudian banyak dianggap bahwa orang berprestasi karena bekerja sesuai dengan latar belakangnya, itu sudah biasa. Se­ mentara orang yang bekerja pada bidang yang tidak sesuai dengan latar belakang dan mampu berprestasi, itu baru luar biasa.

T

ampaknya ini yang menjadi “cambuk” semangat bagi Ir. Baiq Rahmayati, M.Si., Kepala Museum Negeri Nusa Tenggara Barat yang baru. Awalnya ia mengaku memang pesimis saat tugas itu diteri­ manya. Namun, ia meyakinkan dirinya, bahwa tidak ada yang tidak bisa dilakukan jika punya tekad yang kuat. Inilah yang membuatnya bisa menikmati tugasnya sejak awal. Meski berlatar bela­ kang bidang pertanian, Maya, panggilan akrab­ nya kini bersiap untuk

maju bersama Museum Negeri NTB. Menjaga, memelihara dan menggerakkan warisan kebudayaan Nusa Tenggara Ba­ rat yang tersimpan di museum daerah ini untuk generasi muda Bumi Gora dan untuk kepen­ tingan kemajuan kebudayaan nasional. Meski ada yang meng­ anggap kepindahan dari tugas di bidang pertanian yang sudah dijalani­ nya sejak perta­ ma kali diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil tahun 1999, ke museum sebagai sesuatu yang “kurang menyenang­ kan” dengan mengatakan bahwa ia “di­ museumkan”, Maya jus­

Ir. Baiq Rahmayati M.Si

Maraknya kasus-kasus pelecehan seksual juga kasus pornografi anak akhir-akhir ini menjadi perhatian banyak pihak. Tak terke­ cuali Ant Charity Foundation, organisasi sosial nirlaba yang bergerak di bidang pendidik dan kesehatan anak-anak tak mampu. “Situasi saat ini sepertinya cukup meresahkan ya, khususnya tentang pelecehan seksual terhadap anak, juga ka­ sus-kasus seks bebas. Ini harus menjadi perhatian semua pihak, bukan hanya pemerintah tapi juga masyarakat. Harus dicari cara agar kasus-kasus semacam ini tidak makin menjadi-jadi,” ungkap Agustin Ramli, pendiri Ant Charity Foundation.

Ir. Baiq Rahmayati (paling kiri) mendampingi istri Gubernur NTB Hj. Erica Zainul Majdi dalam suatu acara di Museum Negeri NTB

tru bang­­ga menerima tugas ini. “Saya bangga bisa lompat dari hal-hal yang normatif dan dari bidang keilmuan yang telah menjadi kebiasaan saya selama ini. Karena dari tugas ini saya pasti akan mendapatkan keka­ yaan baru, yaitu pengalaman dan kesempatan belajar di tempat yang baru,” kata lulusan Fakultas Pertanian Universitas Mataram ini dengan penuh semangat. Ia senang karena dengan tugas baru ini, ia akan mendapat tantangan baru pula untuk me­ rancang program-program yang juga baru yang bisa membuatnya keluar dari rutinitas yang itu-itu saja dan monoton. Maya mengalir seperti air, berjalan mengiringi waktu me­ melihara dedikasi untuk sebuah tugas yang menjadi tanggung jawabnya. “Di manapun saya bertugas, saya ingin mendedi­ kasikan diri dengan total,” ung­ kap mantan pemain teater era 1990-an di Mataram ini. Maya tidak pernah merasa khawatir saat diserahkan tugas dan tang­ gung jawab yang di luar bidang keilmuannya karena ia selalu berprinsip bisa melakukannya. “Semua bisa, asal ada kemauan untuk belajar,” kata perem­ puan kelahiran 7 Mei 1968 ini. Mendedikasikan dirinya di bidang kebudayaan seperti saat ini, memberikan keuntungan tersendiri bagi Maya karena ia bisa belajar banyak hal terkait kebudayaan. Maya mengambil hal yang paling membuatnya dapat be­ kerja dengan senang, yakni bahwa pertanian adalah juga kebudayaan baginya. “Pertanian tidak lepas dari budaya dengan adanya inovasi yang dilakukan petani yang menuntut mereka melakukan sesuatu yaitu meng­ ubah dari yang biasa menjadi

luar biasa. Itu juga kebudayaan,” ungkapnya. Karena itulah, Maya tidak mengalami kesulitan untuk masuk dan berinteraksi dengan stake holder kebudayaan. Apalagi, ia pernah dekat de­ ngan dunia kesenian dan kebu­ dayaan semasa SMA dan kuliah. Maya terbilang rajin menonton pertunjukan-pertunjukan ke­ senian di Mataram. Ia juga per­ nah mewakili NTB dalam ajang gelar festival teater pelajar di Jakarta saat ia duduk di bangku kelas 2 SMA. Maya pernah berperan sebagai Putri Laras­ mara adik dari Putri Mandalika dalam drama teater bertajuk Putri Mandalika dalam ajang festival tersebut. Ia juga kerap mengikuti lomba baca puisi di Mataram dan mengikuti ke­ giatan menari. “Sejak kecil saya sudah dekat dunia sastra dan kesenian,” katanya. MAKSIMALKAN FUNGSI MUSEUM Kini Maya tengah merancang usaha untuk lebih memajukan museum dengan melanjutkan program-program yang sudah ada sebelumnya dan menyiapkan langkah-langkah strategis untuk memperkuat museum sebagai sarana pendidikan bagi anak-anak dan masyarakat di NTB. Selain itu, katanya, agar Museum ­Negeri

NTB juga bisa menjadi lebih menarik karena museum bisa menjadi pintu masuk pariwisata Nusa Tenggara Barat. Selain itu, ia ingin memaksimalkan fungsi museum sebagai media komu­ nikasi lintas generasi. “Saya ingin mendekatkan museum dengan gererasi muda dan masyarakat NTB untuk lebih mengenal bu­ dayanya agar tetap berkarakter Indonesia,” katanya. Rupanya, di samping itu, masih segudang rencana yang dipersiapkan Maya guna mem­ bumikan Museum Negeri NTB, setidaknya untuk masyarakat Nusa Tenggara Barat. Dan satu hal yang tidak kalah penting­ nya yang akan dilakukan oleh “Putri Larasmara” ini yakni menyentuh masyarakat untuk mencintai museum dengan pendekatan keluarga. Hal ini telah dimulainya dengan meng­ gelar acara family gathering yang diselenggarakan Museum NTB beberapa waktu lalu. Selain itu, Museum NTB akan membuka diri untuk berbagai kegiatan yang menyangkut pendidikan dan kebudayaan lainnya. Seperti halnya kegiatan bedah buku sastra bertajuk, Imtihan Taufan, Interior Nikolo dan Pemikiran Besar Seniman yang diseleng­ garakan beberapa waktu lalu. -Naniek I. Taufan

“Saya bangga bisa lompat dari hal-hal yang normatif dan dari bidang ­keilmuan yang ­telah menjadi kebiasaan saya ­selama ini. Karena dari tugas ini saya pasti akan mendapatkan kekayaan baru, yaitu ­pengalaman dan kesempatan belajar di tempat yang baru”

Agustin Ramli

S

elain masalah pelece­ han seksual, ia juga merasa prihatin dengan maraknya seks bebas di kalangan anak muda.“Kalau saya perhatikan, malah sekarang ini kayaknya anak-anak pun sudah tahu ten­ tang hubungan seks. Itu salah satunya diketahui lewat internet yang terlalu cepat masuk ke anak-anak. Saya sangat prihatin karena sebagian dari mereka telah ‘terkontaminasi’ sejak ke­ cil. Kita tidak bisa menyalahkan mereka tapi ini karena keadaan,” tuturnya. Agustin Ramli sudah pasti merasa sangat resah. Pasalnya, selebriti yang wajahnya kerap muncul di layar kaca ini, memiliki ratusan anak asuh yang tersebar di seluruh Indonesia. “Ant Charity memiliki anak asuh sekitar 600 orang yang tersebar di seluruh Indonesia. Mereka mulai dari SD, SMP juga SMA,” tambah Agustin yang baru saja menyelesai­ kan pekerjaannya se­ bagai MC dalam acara peluncuran Academy Golfdi Pondok Indah, Jakarta. Terkait dengan itu, kata bintang video klip ‘Langit 7 Bidadari’ Ada Band ini, Ant Charity me­

luncurkan program baru yakni Self Safety yang diperuntukkan untuk anak-anak asuh Ant Charity. Untuk melaksanakan pro­ gram yang akan digelar di seluruh Indonesia itu, Ant Charity, kata Agustin, mengandeng sejumlah partner di antaranya Komunitas AMAN. “Sebenarnya keresahan akan kondisi keamanan anak-anak kar­ ena maraknya kasus sexual abuse sudah ada sejak lama. Karena itu, sebenarnya sejak dulu kami juga memiliki program edukasi untuk masalah ini pada kelas-kelas reg­ uler. Nah baru kali ini kami ingin mengadakannya agak sedikit besar dengan menggandeng partner dari luar. Jadi pendidikan ‘Self Safety’ ini akan digelar di beberapa daerah, di antaranya Jakarta dan Bali,” katanya. Untuk Bali, jelas Agustin,

pihaknya bekerja sama dengan Komunitas AMAN. Komunitas AMAN adalah komunitas yang basiknya adalah pelajaran bela diri. Namun kemudian mereka mengembangkan ke bidang lain termasuk memberi workshop untuk masalah keamanan. Jadi anak-anak nantinya akan menda­ pat bekal ketrampilan dalam mengadapi ancaman kekerasan dan kejahatan. “Tapi tentu saja, pelajaran nantinya disesuaikan dengan usia anak. Jadi materinya akan berbeda-beda. Misalnya materi untuk anak SD, beda den­ gan SMP atau SMA,” paparnya. Tadinya, tambah finalis Putri Indonesia 2006 ini, program yang akan digelar adalah sex education. Namun mengingat, banyak anak asuh masih sekolah dasar, sedang sex education dirasakan lebih tepat ketika anak sudah menginjak SMP, maka program yang dipilih adalah Self Safety. Dengan ‘Self Safety’ materinya bisa menjadi lebih luas, bukan sekadar pengetahuan seks tapi juga bagaimana menjaga keaman­ an diri khususnya dari situasi yang tidak dikehendaki. ACADEMY PARTY DI JAKARTA DAN BALI Selain program tersebut, lanjut Agustin, ada sejumlah program yang akan digelar da­ lam waktu dekat ini, di antaran­ ya adalah Academy Party yakni sebuah acara pemberian peng­ hargaan kepada anak-anak yang berprestasi selama setahun. Ini

5


4

Inspirasi

Edisi 851/ 1 - 7 JUNI 2015

Jangan Takut Bermimpi M

enjalani kehidupan harus selalu dengan bersyukur. Apapun yang terjadi dan diraih selalu disyukuri. Itulah prinsip yang dijalankan Ir. Gede Agus Hardyawan, Presiden Direktur Hardy’s yang akrab disapa Gede Hardy, disela-sela perayaan ulang tahunnya yang ke-43, Selasa (26/5). “Pepatah mengatakan life begin at 40. Kalau sekarang usia saya 43 berarti saya baru tiga tahun hidup. Tetapi, banyak hal yang sudah saya dan grup Hardys yang lalui. Semua saya syukuri,” tegas pria asal Jembrana ini. Gede Hardy menuturkan perjalanan hidupnya mulai dari kuliah di ITB, ikut training di Astra Toyota, hingga memutuskan membuka toserba pertama di Negara, Jembrana 11 Juli 1997. Ini menjadi usaha pertamanya. Dari Jembrana ia merambah Buleleng dengan membuka Hardys Seririt tahun 2000. Setelah usahanya lancar, ia ekspansi ke Gianyar tahun 2001 setelah mendapat dukungan Bupati Gianyar ketika itu Cokorda Budi Suryawan. Setahun kemudian Hardy’s masuk kota Singaraja. Tak cukup sampai disitu, tahun 2003 Hardy’s mengakuisisi Alas Arum Sanur dan dibukalah Hardy’s Sanur. “Tahun 2004, kami membuat 4 Hardy’s Mall di Amlapura, Sesetan, Banyuwangi, dan Batubulan.

Ternyata kami kena “badai” dan terseok-seok. Untung ada bantuan “tangan-tangan” Tuhan sehingga kami mendapat kepercayaan dan bisa bangkit,” kenang alumnus Teknik Industri, Institut Teknologi Bandung (ITB) ini. Setelah bangkit, Hardy ’s merambah Tabanan tahun 2005 dan Jember tahun 2007. Ekspansi besar-besaran kembali dilakukan tahun 2008 dengan membuka empat usaha di Nusa Dua, Singaraja Plaza, Probolinggo, dan Banyuwangi (Jln. Basuki Rahmat). Ternyata angka 4 kurang memberi keberuntungan bagi perjalanan usaha Hardy’s. Mereka kembali terseok-seok walaupun bisa bangkit lagi. “Karena kurang cocok dengan angka 4, saya beralih ke angka 7 dengan membuka 7 Hardy’s di tahun 2015 ini. Lokasinya di Gatot Subroto Denpasar, Banyuwangi, Supernova Tuban, BTDC, Jl. By Pass Mantra, Dalung Permai, dan Renon. Ada yang sudah buka dan ada yang sedang proses,” ujar Ketua Umum DPD Aprindo (Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia) Bali ini. Tak hanya berkiprah di usaha ritel, Gede Hardy mulai masuk bisnis hotel di tahun 2004 dengan hotel pertama

di Negara dan hotel berikutnya di Singaraja yang diresmikan 2014. Di Kuta, Seminyak, dan Legian juga ada usaha hotel miliknya. “Mulai 2003, saya memisahkan bisnis ritel dengan properti. Dari property berkembang menjadi Hardy’s Land dengan lahan-lahan yang berada di lokasi premium. Tidak hanya di Bali tetapi juga ada di NTB,” ujar suami Ni Ketut Rukmini Hardy, SP ini. Ia juga mengembangkan Hardy’s Agro yang terinspirasi Al Gore ketika memberikan pemaparan di acara UNFCCC di Nusa Dua. Lahan-lahan tidur dibeli kemudian ditanami pohon jati dan ini menjadi hutan pribadi. Hardy’s Trans juga dihadirkan untuk korporat dan pemerintah yang memerlukan sewa kendaraan. Tak ketinggalan untuk anak-anak juga ada Hardy’s Fun Zone sebagai sarana hiburan. Total ada 9 core bisnis yang dikelola Hardy’s. MENIRU BILL GATES Dalam mengelola bisnisnya, ayah dari Hillary Angelina Gardenia Hardy, Lilly Harmony Hardy & Jasmine Lovely Hardy ini mengaku hanya berdasarkan kepercayaan. Selain itu ia juga merekrut kaum professional yang memiliki reputasi nasional. Mereka diberi target sesuai dengan jenjangnya. Evaluasi pun dilakukan secara rutin. Bagi yang berprestasi dibeikan bonus

baik bulanan maupun tahunan. Gede Hardy juga memberikan kiat sukses dalam mengurus semua usahanya. “Menjaga kepercayaan itu berat tapi itulah yang menjadi kunci sukses. Apa pun yang kita lakukan tanpa restu Ida Sanghyang Widhi, tidak akan berarti apa-apa. Dukungan keluarga dan masyarakat juga menjadi modal saya,” tegas peraih penghargaan Bali “Marketeers Champion (2013), Sector : Healthcare, Pharmaceutical & Consumer” ini. Untuk mendekatkan diri kepada Ida Sanghyang Widhi, ia mengajak keluarga besar Hardy’s tirtayatra ke Pura-Pura yang ada di Bali dan Jawa Timur. Bahkan ada Departemen Pemangku yang bertanggung jawab untuk urusan kerohanian. Keluarga juga sangat mendukung Gede Hardy lakukan. “Bapak saya petani dan pedagang sedangkan ibu saya guru SD. Mereka sangat mendukung saya. Istri dan anak-anak juga demikian. Saya juga belajar banyak dari nenek saya yang buta huruf tetapi punya jiwa enterprenur,” ujarnya. Dari semua yang sudah diraih, ia masih punya impian agar seperti Bill Gates. Impian ini direalisasikan

Edisi 851/ 1 - 7 JUNI 2015

Gede Hardy bersama istri

dengan membuat Hardy’s Foundation sebagai wadah penyaluran CSR grup Hardy’s. Tanpa harus menjadi pejabat pemerintah atau politikus, Gede Hardy ingin memberi sumbangsih untuk masyarakat. Kepada generasi muda, Gede Hardy berpesan agar jangan takut bermimpi dan harus berani pasang target. Jika ini dilakukan dan dibarengi usaha, pasti akan sukses. “Saya masih ingat saat pacaran dengan istri, kami sudah merancang mimpi masa depan di Jembatan Merah di Kebun Raya Bogor. Astungkara apa yang kami rancang itu bisa terwujud. Kami ingin mendorong kaum muda untuk terjun sebagai pengusaha. Kalau mau jadi bangsa hebat, jumlah pengusahanya harus diatas 5% dari jumlah penduduk,” tegasnya. –Ngurah Budi

Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI kembali memberikan penghargaan terhadap laporan keuangan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat Tahun anggaran 2014 sebagai opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Provinsi NTB Tahun Anggaran 2014, kali ini merupakan penghargaan yang keempat kalinya diterima oleh Pemerintah Provinsi NTB. Pemberian penghargaan opini WTP tersebut dilaksanakan dalam Rapat Paripurna Istimewa Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi NTB, beberapa waktu lalu.

A

nggota VI BPK RI Prof. Dr. Bahrullah Akbar., M.B.A, dalam sambutan penyerahan hasil pemeriksaan BPK RI atas laporan keuangan Pemerintah Provinsi NTB Tahun Anggaran 2014 menyebutkan, sesuai dengan amanat Undang-undang Nomor 15 Tahun

2004 Pasal 16 Ayat 1, pemberian opini LKPD didasarkan pada empat kriteria, yaitu kesesuaian dengan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP), Kecukupan Pengungkapan (Adequate Disclosures), Kepatuhan terhadap Peraturan Perundangundangan, dan Efektifitas Sistem Pengendalian Intern.

Berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan BPK sesuai dengan empat kriteria tersebut, dapat disimpulkan bahwa penyusunan LKPD Provinsi NTB Tahun Anggaran 2014 telah sesuai dengan SAP, telah diungkapkan secara memadai, dan tidak terdapat ketidakpatuhan yang

berpengaruh langsung dan material, serta telah menyusun dan merancang unsur-unsur SPI yakni lingkungan pengendalian, penilaian resiko, kegiatan pengendalian, informasi dan komunikasi serta pemantauan. “Berdasarkan empat kriteria tersebut dan pemeriksaan

BPK yang telah dilakukan sesuai dengan SPKN, maka BPK RI menyimpulkan bahwa opini atas Laporan Keungan Pemerintah Daerah Provinsi NTB Tahun Anggaran 2014 adalah Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) yang keempat kalinya,” ucap Bahrullah. –Hms/Naniek I. Taufan

Motivasi bagi Aparatur Pemerintah

Anggota VI BPK RI Prof. Dr. Bahrullah Akbar., M.B.A, menyerahkan hasil pemeriksaan BPK RI terhadap laporan keuangan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat Tahun anggaran 2014 sebagai opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP), kepada Gubernur NTB, TGH. M. Zainul Majdi.

Gede Hardy bersama keluarga

21

Penghargaan Opini WTP Keempat Kalinya bagi Pemprov NTB

Ir. Gede Agus Hardyawan

Dari sebuah toserba di Negara, Hardy’s terus berkembang dan mendapat tempat di hati konsumen. Semua itu tak diraih dengan mudah. Banyak cobaan dan rintangan untuk mewujudkannya. Dari modal mimpi, usaha, dan kepercayaan, Gede Hardy mampu meraih semuanya.

Mandalika

Untuk diketahui, BPK RI telah memeriksa Laporan Keuangan yang terdiri dari Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, Laporan Arus Kas dan Catatan atas LKPD Provinsi NTB. Pemeriksaan tersebut meliputi Pendapatan dengan realisasi sebesar Rp 2,79 Triliun dari anggaran sebesar Rp 2,92 triliun, Belanja dan Transfer dengan realisasi sebesar Rp 2,61 triliun dari anggaran sebesar Rp 2,90 triliun, total aktiva sebesar Rp11,96 triliun dan total passiva sebesar Rp 11,96 triliun. Dari laporan realisasi anggaran TA 2014 diketahui bahwa ang-

garan belanja senilai Rp 2.438,09 miliar direalisasikan senilai Rp 2.159,30 miliar atau 88,57%. Anggaran belanja tersebut dibiayai dari pendapatan transfer senilai Rp1.672,37 miliar atau 59,95%, dan pendapatan Asli Daerah senilai Rp1.115,06 miliar atau 39,97%. Disebutkan oleh Bahrullah, Pendapatan Daerah Provinsi NTB TA 2014 mengalami trend kenaikan senilai 17,22% dibandingkan dengan TA 2013, sementara belanja TA 2014 mengalami penurunan senilai 0,01% dibandingkan dengan TA 2013. Penurunan belanja tersebut terjadi pada belanja bantuan sosial

sebesar 45,88%, belanja bantuan keuangan sebesar 42,57%, belanja modal sebesar 6,10%, dan belanja tak terduga sebesar 95,24% dibandingkan TA 2013. Dari hasil pemantauan tindak lanjut per 31 Maret 2015 atas rekomendasi BPK RI untuk temuan pemeriksaan TA 2014 dan sebelumnya, mengungkapkan bahwa terdapat 1.210 rekomendasi senilai Rp 90,45 miliar yang terdiri dari 946 rekomendasi senilai Rp 49,46 miliar telah ditindaklanjuti (78,18%) dan sebanyak 143 rekomendasi senilai Rp19,78 miliar belum sesuai dan dalam proses tindak lanjut (11,82%) serta sebanyak 106 rekomendasi senilai Rp 265,2 juta yang belum ditindaklanjuti (8,76%) dan sebanyak 15 rekomendasi senilai Rp 20,9 miliar yang tidak dapat ditindaklanjuti karena alasan yang sah (1,24%) Sementara itu, Gubernur NTB Dr. TGH. M. Zainul Majdi dalam sambutannya menyampaikan rasa suka cita atas perolehan Predikat Wajar Tanpa Pengecualian yang kembali diraih Provinsi NTB untuk yang ke empat kalinya, serta atas capaian penilaian Laporan Penilaian Keuangan Pemerintah Daerah di 8 kabupaten/ kota se-Nusa Tenggara Barat yang juga berhasil meraih Opini Wajar Tanpa Pengecualian. “Semoga prestasi ini dapat terus dipertahankan dan ditingkatkan, serta menjadi motivasi bagi seluruh aparatur pemerintah

daerah kabupaten/kota, untuk senantiasa taat pada aturan dalam mengelola keuangan daerah, serta dapat memperbaiki semua celah yang selama ini menjadi kendala dalam penyampaian laporan keuangan,” kata Gubernur. Penilaian atas laporan pengelolaan keuangan ini tidak lepas dari rekomendasi serta catatan BPK RI, terhadap laporan keuangan Pemerintah Provinsi NTB tahun anggaran sebelumnya, juga atas petunjuk dan arahan dari BPK RI melalui fasilitasi perwakilan BPK Provinsi NTB. “Ke depan, Laporan Hasil Pemeriksaan BPK RI ini, akan menjadi acuan selanjutnya bagi kami, untuk senantiasa terus meningkatkan kualitas dalam pengelolaan keuangan daerah, dan berbagai hal

yang melingkupinya, serta menjadi kepercayaan diri bagi kami untuk melanjutkan program dan kegiatan pembangunan yang telah kami rencanakan. Oleh karenanya, kami senantiasa mengharapkan fasilitasi BPK RI dan perangkat organisasinya di daerah,” ujar Gubernur pada acara yang juga dihadiri oleh Pimpinan beserta anggota DPRD Provinsi NTB dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Provinsi NTB. Di akhir sambutannya, Gubernur menyampaikan harapan agar pada penilaian laporan keuangan pemerintah, baik pemerintah provinsi serta pemerintah kabupaten/kota se-Nusa Tenggara Barat selanjutnya, seluruhnya mendapat penilaian wajar tanpa pengecualian. –Hms/Naniek I. Taufan


22

Sosialita

Edisi 851/ 1 - 7 Juni 2015

Jika Anda pemburu diskon belanja, jika Anda penggemar otomotif atau jika Anda penggemar produk-produk kerajinan, maka kini saatnya Anda berburu di Jakarta Fair yang berlangsung di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat. Acara pameran terbesar dan terlengkap dengan penawaran diskon besar-besaran ini, baru saja dibuka oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla bersama Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama, Jumat (29/5).

Pertunjukan kesenian Betawi di stan Pemda DKI Jakarta

B

agi yang tinggal di luar Jakarta atau masih sibuk, tidak perlu khawatir event ini bakal terlewatkan, karena penyelenggaraan Jakarta Fair tahun ini lebih lama dari biasanya. Kalau sebelumnya hanya berlangsung selama 30 hari maka tahun ini penyelenggaraan dimajukan mulai akhir Mei selama 38 hari ke depan atau akan berakhir pada 5 Juli 2015 mendatang. Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam pidato pembukaannya sempat menyinggung tentang sejarah Jakarta Fair yang pertama kali digelar tahun 1967. Menurut Kalla, ketika itu situasi perekonomian Indonesia sedang kurang baik karena inflasi. “Saat itu ekonomi kita sedang turun akibat inflasi dan krisis ekonomi,” ucapnya. Dalam kondisi demikian dicari cara bagaimana agar produktivitas dan konsumsi masyarakat meningkat sehingga lapangan pekerjaan bisa terbuka. Akhirnya digelarlah pameran ini, Jakarta Fair,” ujarnya. Menurut Kalla, konsep Jakarta Fair tergolong unik karena meng-

gabungkan bisnis dan hiburan rakyat. “Upaya ini sudah berjalan selama hampir setengah abad yang dimulai oleh Gubernur Jakarta Ali Sadikin, gubernur yang legendaris,” ujar Kalla seraya berharap agar event pameran terbesar di Asia Tenggara ini dapat berjalan dengan baik. Menurut penyelenggara, ada 2700 perusahaan dengan 1500 stan memeriahkan perhelatan

Jakarta Fair tahun ini. Jumlah pengunjung ditargetkan mencapai 5 juta orang dengan target transaksi mencapai Rp 5 triliun. Target pengunjung ini optimis bakal dicapai karena seperti biasanya, event Jakarta Fair digelar bertepatan dengan musim liburan sekolah juga kampus. Harga tiket, Senin Rp 20.000, Selasa-Kamis Rp 25.000 per orang sedang JumatMinggu Rp 30.000.

Makanan khas Betawi yang selalu memeriahkan event Jakarta Fair

3

Ida Ayu Oka Purnama Wati

Jakarta Fair 2015

Kombinasi Bisnis dan Hiburan 38 Hari

Edisi 851/ 1 - 7 juni 2015

Kado Istimewa Berbagai pertunjukkan menarik siap menghibur para pengunjung selama 38 hari penyelenggaraan, di antaranya; musik, sajian budaya nusantara, demo masak, cosplay, fashion show, cabaret show, pertunjukan berbagai kamunitas seperti dancer, hip hop, reggae, ska, beatbox, serta beragam acara lainnya. Selain itu, deretan musisi papan atas juga akan dihadirkan, termasuk Agnez Mo, Ari Lasso, Slank, Iwan Fals, Godbless, PAS Band, Tulus, Sheila On 7, Geisha, Raisa, Tipe-X, JKT48, Naif, Kotak, Ayu Ting Ting, Cita Citata, Afgan, Nidji, RAN, Ello, Changcuters, Armada, dll. KELUHKAN HARGA TIKET Dulu selalu yang banyak dikeluhkan adalah masalah perparkiran, khususnya mereka yang tidak mendapat lahan parkir di areal yang disediakan. Karena untuk parkir di luar areal, bisa dikenakan biaya parkir yang tak jelas alias pemalak yang mengaku penjaga parkir. Namun itu tak perlu dikhawatirkan lagi karena pihak menyelenggara telah mengaturnya. Sementara bagi yang tidak memiliki kendaraan, tidak perlu khawatir karena selain angkutan umum biasa yang disediakan untuk para pengunjung pameran, juga busway Transjakarta siap beroperasi di sana sampai tengah malam. Transjakarta untuk Jakarta Fair memang khusus, dan baru tahun ini disediakan. Pembangunan haltenya pun belum lama selesai. Soal tiket, memang selalu mejadi keluhan masyarakat. Harga tiket dirasakan memberatkan oleh sebagian masyarakat. Meski hari Senin tiket termurah yakni Rp20.000 per orang, tetap saja masih dirasakan mahal. Maklum

selain situasi ekonomi memang sedang lesu juga mereka umumnya berkunjung tidak hanya sendiri melainkan bersama keluarga ataupun pasangan. Jadi, jika minimal satu keluarga adalah tiga orang maka harus merogoh kocek sekitar Rp 60.000 jika berkunjung hari Senin, atau Rp 75.000 pada Selasa-Kamis. Sedang jika datang pada Jumat hingga Minggu maka harus merogoh kocek lebih dalam yakni Rp 90.000 untuk tiga orang. Sepintas harga tiket ini sama dengan tahun lalu, padahal tidak demikian. Kalau tahun lalu, dari Senin-Kamis Rp 20.000, sedang Jumat barulah harganya Rp 25.000 sedang Sabtu-Minggu Rp 30.000. Tahun ini Rp 20.000 hanya pada Senin. Ada yang berbeda tahun ini. Tidak seperti sebelumnya, mulai tahun ini Pemda DKI Jakarta mendapat lahan pameran gratis dari penyelenggara. Di lahan seluas 2000 M2 ini Pemda DKI memamerkan berbagai hal, mulai dari perkembangan Jakarta, kebudayaan, pelayanan kesehatan dari Dinas Kesehatan, Pertamanan, transportasi hingga UKM yang meluputi kerajinan dan kuliner. Yang juga menarik adalah adanya stan “Smart City” yang diresmikan oleh Ahok. “Smart City” merupakan sebuah aplikasi yang dicanangkan Pemda DKI Jakarta sejak Desember 2014 lalu, bisa menampung aspirasi, laporan maupun keluhan warga yang bakal direspons oleh Pemda secara cepat. Lewat aplikasi ini orang juga bisa tahu apa yang telah dilakukan pemerintah. “Kami harapkan orang bisa tahu lebih banyak tentang Jakarta dan apa yang kami lakukan,” ujar Ahok di Jakarta Fair.—Diana Runtu

Stand-stand otomotif selalu ramai pengunjung

Rumah Sakit Singapura dan Malaysia sudah lama menikmati pasar Indonesia. Pasien yang berobat menilai pelayanan kesehatan di Indonesia sangat inferior. Pola konsumerisme berobat sekaligus ber­belanja menjadi tren di masyarakat. Celakanya, Indonesia hanya menjadi pasar. Padahal Bali se­bagai de­stinasi wisata dunia, seharusnya melihat ini se­bagai peluang untuk mengembangkan medical tourism.

H

Dayu Oka bersama suami

al ini yang di­lirik oleh founder Bali Roya l H o s p i t a l ( B RO S ) u n t u k mengembangkan medical tourism di Bali. Satu penghargaan bergengsi baru saja diterima, 15 April lalu. BROS menerima penghargaan ‘Highly Commended’ untuk kategori “International Infertility Clinic” (bayi tabung) sebagai klinik bayi tabung yang paling direkomendasikan dari International Travel Medical Journal ( IMTJ) di London, Inggris. Menurut Direktur Marketing dan Pengembangan Bisnis BROS, Ida Ayu Oka Purnama Wati, S.S., M.M., penghargaan bergengsi ini diraih karena BROS telah memenuhi 5 kriteria penilaian yakni jenis layanan yang mampu dilakukan, kualitas layanan, jumlah pasien, kepuasan pasien, dan tingkat keberhasilan. Khusus mengenai tingkat keberhasilan bayi tabung di BROS untuk pasien lokal sebesar 32% dan pasien ­internasional 36%. Penghargaan ini tentu menjadi kebanggaan bagi segenap manajemen BROS karena sebagai ­kelanjut­a n prestasi yang telah diraih tahun lalu. “Tanggal 2 Juli 2014, BROS berhasil meraih “Best Regional Hospital” dari Europe

Business Assembly (EBA) di Milan Italia. Menjadi satu kebanggaan juga bagi kami, karena BROS satusatunya rumah sakit di Indonesia yang terdaftar dalam treatment abroad (medical website) yang berbasis di London, Inggris,” kata Dayu Oka, yang juga Direktur Utama Merdeka Medical Centre (MMC) di Denpasar ini. Untuk memberi pengetahuan dan informasi terbaru dalam ­bidang kesehatan, BROS rutin memperbaharui informasi tersebut, yang didukung, “up to date”, satu jaring­ an portal kesehatan yang memuat tentang informasi tentang ­penyakit, terapi, farmasi, dan penanganan kesehatan terbaru. Ia menilai, Bali sebagai destinasi wisata dunia, seharusnya mampu mengembangkan ­medical tourism. Namun, konsep ter­sebut terganjal beberapa kendala, ­seperti belum ada rumah sakit di Bali yang telah memperoleh International Accreditation on Medical Tourism (akreditasi khusus untuk Medical Tourism). “Memang selain faktor biaya yang tinggi, persyaratan untuk bisa lolos akreditasi ini cukup berat. Ada banyak standar yang harus dipenuhi,” tambahnya. ­Selain itu, sumber daya manusianya juga masih terbatas. Tantangan lain, dalam medical tourism adalah

kemampuan komunikasi verbal dan tulisan terutama untuk staf medis masih kurang. “Selain menguasai bahasa asing dengan fasih, kemampuan berkomunikasi yang baik sangat diperlukan. Menghadapi pasien asing berbeda dengan pasien lokal. Mereka lebih kritis, banyak bertanya dan mereka bisa komplain tentang hal-hal kecil yang kadang tidak substansial,” kata Dayu Oka. Ia menambahkan, tanta­ngan lain adalah insurance ­coverage, ­jarang ada asuransi yang mau me­nangani/ menanggung biaya ­kesehatan untuk medical ­tourism. ­Disamping itu, dukungan ­p emerintah ter­ hadap ­p engemba­n gan medical tourism juga dirasa kurang, terutama dalam hal perpajakan. “Belum adanya ­i nsentif pajak ini sangat ber­pengaruh pada harga yang kita tawarkan pada pasien asing. Harga kami menjadi tidak kompetitif, ­k arena lebih tinggi 20-25% dibandingkan dengan negara ­tetangga di Asia. Peralatan medis dan implan bahkan dianggap sebagai luxurious goods sehingga pajaknya tinggi,” ujarnya. Belum lagi terbatasnya pabrik obat-obatan di Indonesia, ­menyebabkan sebagian besar obat masih harus diimpor, sehingga menambah tingginya harga tindakan medis yang kita tawarkan. Ia mencontohkan rumah sakit di Malaysia dan Thailand yang sangat didukung pemerintahnya dengan memberikan insentif pajak hingga nol persen untuk pembelian peralatan medis, implan dan obat-obatan. Bahkan, ada satu contoh yang ia utarakan, saat mengajukan harga untuk satu tindakan penanganan penyakit di BROS, RS Malaysia berani memberikan harga yang jauh lebih murah. “Mengapa harga kami tidak bisa ditekan, ya karena hampir semua obat-obatan yang digunakan masih impor, pajaknya tinggi, begitu juga dengan implan yang digunakan,” imbuhnya. Di BROS sendiri, guna mendukung medical tourism, sejak tahun 2012 sudah memiliki Unit RIPAC (Royal International Patient Asistance Centre), satu unit khusus untuk menangani pasien asing. Unit ini tidak hanya berfungsi menangani pasien asing dalam kasus darurat, tapi juga untuk pasien medical tourism. Untuk pelayanan pasien medical tourism, pelayanan dibantu mulai dari pengurusan dokumen (asuransi, visa, imigrasi) sampai evakuasi. BROS juga menyediakan penerjemah bagi warga asing. “Untuk bahasa Belanda, Italia, dan Jerman, ada perawat BROS yang menguasai keterampilan bahasa tersebut. Sementara, Rusia, Mandarin, Perancis, dll. biasanya kami menyewa sesuai keperluan,” ujarnya. Menurut Dayu Oka, semua prestasi yang diraih BROS, tentu dicapai dengan kerja keras semua staf dan manajemen, dan juga tak lepas dari berbagai promosi yang dilakukan. Belum adanya dukungan pemerintah untuk promosi medical tourism, membuat-

nya harus ­bekerja lebih keras. Ia mengatakan, promosi Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pariwisata & Ekonomi Kreatif masih sebatas pada promosi pengembangan medical tourism untuk wellness seperti spa. Sementara, untuk health tourism-nya belum. Walaupun begitu, tak mengurangi semangatnya untuk melakukan promosi sendiri. Ia rutin melakukan promosi dua sampai tiga kali dalam setahun ke luar negeri. Saat promosi pun, ia manfaatkan ketika ada event besar bidang pariwisata yang digelar di luar negeri. “Tak mudah untuk memberikan brosur tentang rumah sakit kepada orang asing. Apalagi, mau menjelaskan lebih detil,” kata Dayu Oka tentang kendalanya berpromosi di luar negeri. Ia mengatakan, harus mempunyai trik agar pengunjung pameran tertarik untuk menerima brosur ‘kesehatan/rumah sakit’ yang diberikan. “Saya harus menjelaskan tentang destinasi wisata terlebih dahulu. Kemudian menambahkan dengan, jika terjadi kondisi emergency, bisa datang ke RS kami. Dengan begitu, mereka baru mau menerima brosur. Setelah brosur diterima, barulah saya bisa menjelaskan tentang layanan yang bisa kami lakukan untuk medical tourism,” ucapnya. Ia menambahkan, pengunjung mau menerima brosur saja sudah membuatnya senang, satu usahanya berhasil. Walaupun, belum tentu mereka akan datang ke BROS. Namun, bagi Dayu Oka, branding juga menjadi salah satu bentuk promosi yang sedang ia gencarkan. Menurut Dayu Oka, saat ini ia masih fokus untuk pengembangan BROS yang berlokasi di Jalan Letda Tantular Renon Denpasar. Diakui, ada keinginan untuk mengembang-

kan BROS ke Indonesia Timur ataupun daerah lainnya di Bali. “Tapi semuanya masih harus dipikirkan dengan matang, ” kata Dayu Oka. Terkait himbauan pemerintah, dimana RS swasta juga harus menangani pasien BPJS, tentu menjadi hal yang harus diperhatikan oleh BROS. “Ada beberapa hal yang harus kami persiapkan. Salah satunya penambahan kamar rawat inap, pengembangan layanan poliklinik dll,” kata istri Ir. Ida Bagus Indrajaya ini. Saat ini ada lebih dari 100 perusahaan yang bekerja sama dengan BROS. Dengan ketentuan semua perusahaan harus bergabung dalam asuransi nasional BPJS, tentu BROS juga harus siap mengikuti aturan pemerintah. Ia bersyukur, sampai saat ini occupancy BROS mencapai 8590%. “Untuk itu, selain penambahan kamar rawat inap, kami menambahkan satu ruang operasi, selain rencana pengembangan di areal belakang BROS yang masih kosong,” jelasnya. Saat ini, BROS didukung lebih dari 400 staf, 15 dokter umum, dan 100 lebih dokter konsultan. Keberhasilan yang sudah dicapai merupakan kado istimewa menjelang ulang tahun BROS yang kelima, 17 Juli 2015. Prestasi ini juga tak lepas dari dukungan suami dan keluarga Dayu Oka, agar ia tetap eksis berkiprah dan memajukan BROS. Ia berharap, ke depan, Bali akan menjadi pusat medical ­tourism. Hal ini, karena Bali sebagai ­destinasi wisata dunia mempunyai nilai le­ bih. Ia sangat berharap, pemerin­tah bisa mendukung konsep ­medical tourism ini, karena turis tentu akan semakin banyak datang ke Bali, dan Indonesia. –ast


2

Edisi 851/ 1 - 7 JUNI 2015

DAri daPUr Redaksi

Rokok Tiap tanggal 31 Mei diperingati sebagai Hari tanpa Tembakau Sedunia. Peringatan ini tidak hanya ditujukan bagi para perokok agar berhenti atau meminimalkan konsumsi rokok tetapi kepada semua masyarakat. Dampak rokok tidak hanya menimpa yang merokok tetapi bisa berdampak ke orang yang tidak merokok tetapi berada di lingkungan perokok (perokok pasif). Berbagai cara dilakukan untuk menurunkan jumlah perokok di Indonesia, mulai dari peraturan menempatkan gambar-gambar seram pada bungkus rokok hingga larangan merokok di sejumlah tempat. Bahkan sekarang larangan merokok sudah makin meluas, bukan hanya di mal dan kendaraan umum, tapi juga ruang-ruang publik lainnnya. Sayangnya berbagai aturan yang dibuat belum sepenuhnya membuahkan hasil yang diharapkan. Salah satu sebabnya

adalah kurangnya law enforcement (penegakan hukum) juga ketidakdisiplinan masyarakat. Penempatan gambar-gambar seram (picture health warning atau PHW) pada bungkus rokok sebagaimana Peraturan Pemerintah No 109 Tahun 2012, ternyata belum sepenuhnya dipatuhi oleh industri rokok. Masih ada rokok yang bungkusnya tanpa gambar seram. Pemerintah sendiri berjanji akan melakukan penindakan tegas pada produsen yang bandel. Berdasarkan peraturan, pencantuman PHW mulai diberlakukan per 24 Juni 2014. Ada lima gambar yang wajib dicantumkan yakni; kanker mulut, kanker tenggorokan, kanker paru, pria merokok dan pria merokok bersama anak. Aturan PHW ini sebenarnya bukan hanya diadopsi oleh pemerintah negeri ini. Tapi juga negara lain, Indonesia adalah negara ke-77 yang memberlakukan aturan PHW. Lalu bagaimana hasilnya, apakah PHW ini efektif menurunkan konsumsi rokok?

Ekspresso Hasilnya di sejumlah negara berbeda-beda. Di Indonesia sendiri belum ada penelitian tentang adanya PHW menurunkan konsumsi rokok. Para perokok mengaku hanya takut sebentar saja melihat gambar seram. Tapi karena belakangan ini banyak dijual kotak rokok, mereka menjadi tidak takut lagi. Mereka membeli kotak rokok sendiri, lalu rokok yang dibeli dipindahkan ke kotak itu. Sedang bungkus rokok yang ada gambar PHW–nya dibuang. Dari sisi medis, Menurut dr. Ayu Swandewi, M.P.H. dari Bali Tobacco Control Inisiatif, semua bahan yang terkandung dalam rokok menyebabkan perubahan sel dalam tubuh yang disebut karsinogen yakni bahan penyebab penyakit kanker. Kandungan nikotin dalam rokok juga menyebabkan ketergantungan. Bahan kimia tarr, karnium, arsenic, karena sifatnya yang dihisap akan masuk ke peredaran darah dan merusak komponen di dalam tubuh. Masyarakat sebenarnya sudah paham akan bahaya rokok. Namun, walaupun berbahaya, tapi susah untuk berhenti. Merokok dapat menyebabkan kanker paru, kanker paring, kanker servik, impoten, predator penyakit kadriovaskuler seperti jantung dan stroke, dan penyakit kencing manis. Mau sakit atau mau sehat? Pilihan ada di tangan Anda.

“Guide” Dunia Maya Kejadian jatuhnya seorang mahasiswa ke kawah Gunung Merapi beberapa waktu yang lalu, mengingatkan saya akan pengalaman mendaki gunung. Pada tahun 1977 ketika saya baru menjadi pelajar di SLUA Saraswati. Sebagaimana tradisi di Perguruan Rakyat Saraswati, setiap siswa baru dianjurkan untuk ikut dalam pendakian sesuai tingkatan pendidikan. Siswa SMP ditantang untuk ikut mendaki, dengan pilihan Gunung Abang atau Gunung Batur. Sedangkan siswa SMA diarahkan ke Gunung Agung. Rombongan sekolah pun berangkat menuju tujuan yakni Desa Sebudi, Kecamatan Selat, Karangasem dengan menggunakan truk. Oleh Guru Pembina kami diberikan pengarahan yang berisi “peraturan atau tata tertib” pendakian. Dalam suasana alam yang masih asri sembari mengobrol kami terus berjalan menelusuri jejak-jejak pendakian yang telah diinfokan dan ternyata kode alam jejak pendaki sebelumnya adalah petunjuk yang sangat membantu. Tidak terasa “gerombolan” saya yang tadinya terdiri dari 25-30 orang mulai menyusut, sampai tersisa 10 orang saja, yang lain masih tercecer dibelakang, ada yang duduk sambil minum ada juga yang berjalan sambil tertatih tatih, karena sinar surya mulai menyengat. Tepat jam 12.00, kami pun tiba di Pos 1 dan disana sudah ada koordinator pendaki yang menunggu. Mereka menyarankan kami untuk beristirahat sejenak. Sesuai kesepakatan awal bahwa kami harus kembali sebelum suasana gelap

bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

walaupun belum mencapai puncak. Tepat jam 19.00 kami pun memutuskan untuk tidak melanjutkan sampai ke puncak tertinggi, karena kami tinggal bertiga dan suasana gelap mulai menyelimuti. Dalam perjalanan turun rombongan kami bertemu dengan seseorang, dan kami mengira “orang itu” adalah bagian dari rombongan PR Saraswati. kami pun melanjutkan perjalanan. “Orang itu” menjadi “guide” bagi kami untuk turun. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam “guide” menawarkan makanan dan minuman, tentu saja saya sambut dengan gembira dan sukacita. Saya sempatkan melirik wajahnya, dengan rambut gondrong sebahu, berkumis serta bercambang nampak berwibawa di hadapan saya. Sambil ngobrol dia pun bercerita terpisah dari rombongan, walau sudah malam tidak nampak kelesuan di wajahnya, Kurang lebih pukul 24.00, kami pun tiba kembali di Desa Sebudi. Kami diajak istirahat di sebuah pasar malam dengan lampu yang terang benderang layak pasar malam di kota, sembari memesan soto ayam dan teh hangat, kami pun makan malam bersama. Setelah selesai makan, kamipun bergegas istirahat di SD terdekat yang memang disiapkan untuk kami. Paginya saya bangun. OMG

ternyata saya tidur dengan pulas di emperan depan sekolah atau persis di bawah cucuran air yang turun dari genteng dengan beralaskan kerikil yang berserakan. Ternyata dua teman saya tidak melihat “guide” yang memandu kami untuk turun gunung. Menurut teman-teman, saya ngoceh sendiri “kangin kauh (ngalor ngidul)” sambil berpuisi. Sampai menyelesaikan pendidikan di SMA saya mencari tahu keberadaan “beliau” ternyata memang tidak pernah ketemu. Beberapa tahun kemudian rasa penasaran saya baru sedikit terjawab, ketika saya ceritakan pengalaman ini pada tetangga baru yang secara tidak sengaja bercerita tentang masa-masa SMA dan bertutur juga masalah hobby dan kegemaran masing-masing. Ditengah obrolan tersebut “sang tetangga” memaparkan kisahnya tentang pendakian. Sayapun menimpali tentang pengalaman mendaki di Gunung Agung dan OMG pengalamannya serupa tapi tak sama. Bedanya sang teman diajak bersantap di warung langganan beliau yang katanya sudah ada sejak dulu. Sedangkan tidurnya di sebuah pondok, dan ternyata itu kandang sapi yang sudah ditinggal oleh pemiliknya. Sukanata, Denpasar

Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca ­lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. ­Panjang naskah maksimal 2.000 karakter. Sertakan juga nama dan nomor kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373

GORO-GORO Putu Wijaya

tong

Masih terlalu pagi, ketika seorang tetangga bertamu. Dengan bercucuran air mata, ia menceritakan ulah suaminya.yang kasar. “Saya dimaki-maki oleh suami saya sendiri, di depan anak-anak saya! Siapa yang sudah melindungi bapaknya di masa penumpasan? Bapak saya! Siapa yang membiayai sekolahnya? Bapak saya!” “Mentang-mentang mau ngambil hati bini mudanya, saya selalu dijadikan korban! Tapi kalau saya minta cerai, tidak boleh. Dia takut nanti saya bawa semua warisan bapak saya. Rumah, mobil, perhiasan yang dipakai bini mudanya sekarang itu, semuanya punya saya. Dia sendiri, tidak punya apa-apa! Orangnya pemalas! Pengangguran! Modalnya hanya (disensor) itunya saja! Dia itu benalu, tidak tahu malu! Tidak punya keahlian apa pun! Kecuali merokok dan nonton tv! Kalau perlu rokok saya yang belikan! Semua uang yang dipakai ngurus bini mudanya itu juga dari saya!” “Heran saya! Perempuan gembrot, kayak ulat itu juga tidak tahu diri! Saya bingung, kenapa suami saya bisa tergila-gila sama raksasa begitu?! Padahal bau keleknya dari jarak 100 meter juga sudah bikin muntah! Iiih, jijik aku! Mukanya seperti Surpakanaka. Perut dan pantatnya melending seperti Tualen (Semar) tapi suami saya kok tergiia-gila? Pasti sudah diguna-guna!” Tiba-tiba muncul lagi. Seorang ibu tetangga yang lain. Ia membawa kopor. Langsung menyembunyikan kopornya di balik almari dapur. “Tolong Bu Amat, tolong saya! Jangan katakan kopor itu milik saya. Isinya hanya perhiasan. Rumah saya digeledah penagih hutang. Mereka mengancam akan mengambil barang-barang berharga dari rumah saya, kalau hari ini belum melunasi hutang saya. Sebetulnya hanya Rp 3 juta, tapi karena bunganya jadi Rp 10 juta. Itu kesalahan saya, karena tidak pernah bilang-bilang pinjam uang kepada suami saya. Soalnya adik saya bangkrut, jadi saya harus menolong. Tapi suami saya bilang, bagaimana bisa menolong kalau kita sendiri perlu pertolongan. Jadi ....” Ibu itu tak bisa melanjutkan, karena tangisnya meledak. Bu Amat bengong. Amat muncul. Ia kaget melihat 2 ibu tetangganya menangis. Bu Amat mendekat mau memberi keterangan. Tapi sebelum sempat menjelaskan, Amat berbisik: “Ibu Ktut ada di depan. Minta waktu.untuk bicara.” “Soal apa?” Amat melirihkan suaranya: “Guru kelas anaknya, kirim surat, ngajak kawin lari.” Bu Amat terkejut. “Terus bagaimana?” “Dia minta saran, sebab kalau ditolak, takut jadi dendam. Kalau setuju, bisa malu besar. Lagian Bu Ktut ingin anaknya melanjutkan jadi dokter. Ayo temui sebentar!” Bu Amat bingung. Kepalanya pusing tujuh keliling. Lalu ia masuk kamar. Amat membuntuti. “Bagaimana, Bu? Kasihan, temuilah dia sebentar saja. Nggak enak dia kan tetangga dekat.” “ Kepala saya pusing, Pak. Kenapa kita jadi tong sampah. Katakan kepada mereka, saya sakit!” Bu Amat berbaring sambil menutup mukanya dengan bantal. Suara Amat ditolaknya. Amat sangat kecewa. Sore hari, setelah merasa aman, baru Bu Amat keluar. Ia terkejut melihat Amat sedang asyik bicara serius dengan ibu-ibu tetangga yang bermasalah itu. “Sekarang Bapak sudah jadi dukun ya!” damprat Bu Amat setelah ibu-ibu itu pulang. Amat mengangguk sabar dan bijak. “Bu, di negara maju, ada konsultan rumah-tangga. Di kita, kebutuhannya sudah mendesak, tetapi konsultan rumah-tangga belum menjadi pekerjaan. Kasihan. Jadi kita sebagai tetangga, harus menolong mereka! Itu sesuai dengan kepribadian kita: gotongroyong!” Bu Amat kesal sekali, tapi tidak menjawab. Esoknya, masih terlalu pagi, Amat menggedor bangun istrinya. Ia memaksa Bu Amat mengintip keluar rumah. “Ya ampun! Tadi baru 3, sekarang sudah 6 orang ibu tetangga menunggu mau curhat!”

Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budi­a rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Se­k retariat: Ayu ­A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­m erah ­B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­ ­F aksi­m ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang ­G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

Mozaik

Edisi 851/ 1 - 7 JUNI 2015

Dyah Wahyu Utami

23

Menikmati Pekerjaan Menjadi wanita karier di usia muda tidaklah mudah, seperti yang dialami Dyah Wahyu Utami sudah 2 tahun menjadi Public Relation Manager. Wanita kelahiran 28 Agustus 1987 ini tak menurunkan semangatnya untuk terus belajar dan ingin menjadi dosen.

D

yah yang bekerja di hotel Java Paragon ini juga memiliki banyak pengalaman di usia yang tergolong cukup muda. Ia pernah menjadi salah satu finalis Cak Neng Surabaya tahun 2009 lalu menjadi finalis Putri Indonesia Provinsi Jawa Jimur tahun 2012. “Tiap pekerjaan itu harus dinikmati dan harus dicintai karena membuat kita menjadi lebih nyaman dengan pekerjaan kita” ujarnya. Pekerjaan yang ia dapatkan sekarang tidak membebankan dia. Walau sering pulang di atas jam kerja, baginya itu sudah biasa. “Justru karena disini saya dapat memiliki banyak teman dan kenalan baru,” wanita yang suka belajar dan membaca ini. Buku favoritnya berjudul Pride and Prejudice. Membaca membuatnya menjadi tenang, karena ia menyukai ketenangan.

Dyah Wahyu Utami

Dyah juga punya impian menjadi dosen. “Kalau disuruh pilih maunya jadi dosen Sastra Inggris tapi lihat saja nanti karena aku punya 2 jurusan. S1 Sastra Inggris dan S2 Ekonomi. Karena itu mau ndak

mau aku ambil S2 Sastra Inggris atau S1 Ekonomi,” ungkapnya. Ketika ditanya mengapa sekarang menyukai dunia perhotelan, ia mengaku karena banyak mendapat pengalaman. Wanita ini juga suka bergaul menjalin relasi dengan orang-orang di sekitarnya. Selain itu kesempatan yang ada padanya ia manfaatkan dengan sebaiknya. “Menjadi Public Relation tidaklah susah asalkan niat dan menjalani semuanya dengan tekun. Semuanya akan bisa dilakukan dengan baik,” tegasnya. Kesibukannya di hotel tak menurunkan semangatnya untuk mencari pekerjaan sambilan. Anak tunggal ini juga memiliki bisnis online shop. Munculnya bisnis tersebut berawal dari barang kesukaan ada juga karena sering menggunakan barang-barang tersebut dan rekannya tertarik itu pula yang menyebabkan dia ingin membuat online shop. -Priska Andini

Novita Operaningtyas

Harus Jaga Image Novita Operaningtyas

Berkomunikasi dan menciptakan hal baru merupakan hal yang digemari Novita Ope­ raningtyas. Dia sudah 7 bulan menjabat Public Relation (PR) Manager di Garden Palace Hotel. Wanita berusia 36 tahun ini sangat gemar berbicara dengan banyak orang, sehingga menun-

jang kariernya sebagai manajer public relation. “Menjadi PR harus kreatif dan inovatif dalam mengangkat branding, hotel. Juru bicara dituntut mengadakan event charity dan program mengangkat branding agar tamu makin tertarik,” kata Novita Operaningtyas, di Surabaya, pekan lalu. Public Relation juga menangani komplain jika ada pengunjung yang kurang berkenan, lalu menindak lanjuti hal tersebut hingga tuntas. “Di awal tahun, kami sudah mempersiapkan rencana event yang akan diadakan setiap bulannya. Contohnya, akhir Mei lalu ada event Kampung Taman Festival, kemudian Juni diusung tema acara yang bertema Ramadan, Juli diadakan Japan Food Festival, selama dua minggu,” tambahnya. Sebelum bekerja di hotel, ia pernah menjadi Public Relation Manager di Hitech Mall, sekitar 7 tahun. Dia sudah jenuh dengan pekerjaan terkait dengan mall, karena harus bersaing ketat dan mencetuskan ide atau acara dadakan agar dapat

mengimbangi mall lainnya. Awalnya, Novita bercita-cita ingin menggeluti bidang jasa atau bekerja di rumah sakit. Tetapi malah menjadi public relation manager. Wanita yang sudah memiliki

dua anak ini mengaku hobi nonton film, terutama drama Korea. Apalagi, ia juga sering travelling ke luar negeri. Sejak kerja jadi PR di hotel, wanita berusia 36 tahun ini makin sibuk, dan jarang ke luar negeri. Solusinya, ia dan keluarga liburan di luar kota. “Kebetulan suami dan anakanak sangat mendukung karier saya. Mereka tidak mempermasalahkan jika pulang terlalu larut,” katanya. Ia sangat pandai membagi waktu untuk keluarga dan pekerjaan. Bangun pagi setiap hari, kemudian menyiapkan sarapan dan perlengkapan sekolah anak-anaknya. Saat di kantorpun ia menyempatkan untuk menelepon anak-anaknya, dan mengingatkan les, dan lainnya. Hari Minggu, dipergunakan untuk keluarga. Sehingga Novita selalu tinggal di rumah atau pergi bersama keluarga. Selama ini, saat weekend tidak ada urusan pekerjaan di hotel yang menyita waktu dengan keluarga. Apapun yang terjadi, akan dibicarakan dengan suaminya, yang akan memberi saran bagaimana solusinya. Tentang suka-duka selama bekerja menjadi di hotel tersebut dia menyatakan, dulu ke kantor jarang mengenakan rok dan stocking. Tetapi sekarang dituntut untuk tampil cantik, menarik, dan juga harus menjaga image. Dukanya, ia susah mencari stocking yang bisa tahan lama. -Maynada


24

What’s Up

Edisi 851/ 1 - 7 Juni 2015

Mengantar Matahari Terbenam di Pantai Ampenan Di pinggir Pantai Ampenan, warga Kota Mataram duduk berderet menikmati kopi, teh dan camilan. Anak-anak bermain air laut dan ada pula yang bermain bola di pasir. Para pedagang sibuk dengan aktivitas membakar sate, jagung hingga mengaduk kopi dan teh pesanan para pelanggan. Inilah menjadi sore hari yang asyik di Pantai Ampenan, lokasi wisata dalam kota.

P

enat dengan kesibukan dan rutinitas sehari-hari membuat orang mencari aktivitas hiburan untuk menyegarkan kembali suasana agar tidak terjebak pada kejenuhan. Tempat liburan dan hiburan menjadi pilihan yang pas untuk melepas kesuntukan. Karena itulah, tempat-tempat bersantai, termasuk di Kota Mataram dipenuhi masyarakat khususnya di jam-jam istirahat maupun di waktu-waktu libur. Tempat bersantai yang dekat dari rumah tinggal apalagi murah meriah, pastilah akan kebanjiran kunjungan untuk itu. Salah satu tempat bersantai di Mataram yang

akhir-akhir ini kian ramai dikunjungi masyarakat kota ini, adalah Pantai Ampenan, yang berada di pinggir bagian barat Kota Mataram. Tiap sore tiba, Pantai Ampenan mulai didatangi pengunjung yang kebanyakan warga Kota Mataram. Di pantai ini selain duduk menikmati sore di tepi pantai, berbagai aktivitas lain dilakukan seperti mandi, berenang, main bola hingga menikmati kuliner khas Lombok dan jagung bakar yang banyak di jual di sepanjang areal pantai. Lokasi ini telah ditata demi kenyamanan pengunjung. Para pedagang juga menyajikan berbagai makanan dan minuman yang siap menemani pengunjung dari sore

hingga malam hari. Pantai ini akan lebih ramai lagi, bahkan dari pagi hingga malam hari saat libur atau hari Minggu. “Kalau hari Minggu atau waktu libur, kami berjualan dari pagi hingga malam hari,” kata Ratna, salah seorang pedagang camilan di Pantai Ampenan. Makin sore, makin banyak orang duduk berjejer di tempat yang sengaja dibuat untuk bersantai mengantar matahari terbenam. Posisi pantai yang berada di bagian barat Kota Mataram menjadi tempat yang asyik untuk menikmati matahari tenggelam bersama keluarga. Warga yang datang bersantai ratarata membawa keluarga khususnya anak-anak. Ada pula muda mudi

bahkan pasangan suami istri yang hanya datang berdua saja. Lina dan suaminya misalnya, sore itu mereka hanya datang berdua melepas penat dengan minum kopi dan camilan di tepi pantai. “Biasanya kami membawa anak-anak, tapi hari ini cuma ingin berdua saja,” ungkap Lina warga Seruni yang sangat sering mengunjungi Pantai Ampenan. Menurut Lina, sepulang dari kantor, keduanya sering menghabiskan waktu di pantai ini, baik sore maupun malam hari. “Biasanya sesudah Salat Asar atau sehabis Salat Magrib, kami nongkrong di sini,” katanya. Bagi Lina dan keluarga, Pantai Ampenan menjadi pilihan yang tepat untuk bersantai. Selain karena sangat dekat dari rumahnya, hanya sekitar 10 menit perjalanan, juga berbiaya murah karena gratis,

mereka telah dapat menikmati sore bersama ratusan warga kota lainnya. Hal yang sama juga dilakukan keluarga Mila di Pejeruk dan Titin di Pagesangan. “Dari pada cari yang jauh, di sini saja sudah lengkap. Bisa menikmati pantai dan matahari tenggelam juga kuliner khas Lombok seperti pelecing, sate dan lainnya,” ujar Titin. Harga yang ditawarkan para pedagang juga murah meriah. Di samping kini ramai sebagai tempat wisata nongkrong, Pantai Ampenan juga kerap menjadi tempat penyelenggaraan berbagai kegiatan di panggung sederhana yang ada di tengah lapangan sekitar pantai ini. Hal ini memberikan penghasilan yang cukup bagi para tukang parkir di sana. Demikian pula para pedagang makanan khas dan camilan yang rata-rata warga sekitar Pantai Ampenan. Mereka mendapat penghasilan yang cukup dari aktivitas wisata dalam kota ini. -Naniek I. Taufan

Wisata Belanja di Batam Musim liburan segera tiba. Tak heran kalau belakangan paket-paket liburan dan wisata gencar ditawarkan. Bagi yang ingin berlibur namun cukup hanya di kawasan Indonesia, mungkin mengunjungi Batam bisa menjadi pilihan. Pulau yang berada dalam lingkup Provinsi Kepulauan Riau ini, tengah melakukan pembenahan besar-besaran terkait pariwisata. Salah satu incaran pelaku industri pariwisata Batam adalah mendatangkan wisatawan-wisatawan negeri tetangga seperti, Singapura, Malaysia dan Brunei.

S

ejak lama Batam dikenal sebagai destinasi wisata belanja. Ini lantaran banyak barang-barang bermerek yang didatangkan dari luar negeri dijual di Batam dengan harga relatif murah. Bahkan konon lebih murah 1/3 dari Singapura

juga Malaysia. Itu sebabnya banyak penduduk negeri tetangga belanja barang tertentu ke Batam ketimbang beli di negerinya sendiri. Apalagi, untuk mencapai Batam tidak terlalu menyulitkan. Penduduk Singapura misalnya, jika tidak ingin naik pesawat terbang, cukup datang ke HarbourFront untuk menyeberang menggunakan ferry ke Pelabuhan Batam Centre. Hanya dibutuhkan sekitar 1 jam mereka pun bisa menjejak-

kan kaki di Batam. Begitu juga Malaysia yakni lewat Pelabuhan Stulang Laut dan Pasir Gudang di Johor Baru. Pesatnya perkembangan wisata belanja Pulau Batam juga membuat makin suburnya pertumbuhan pusat-pusat perbelanjaan. Lalu, kenapa harga barang di Batam bisa lebih murah dibanding daerah lain, atau bahkan negeri tetangga. Salah satunya, kemungkinan, karena diberlakukannya Free Trade Zone atau zona

Belanja murah meriah di Batam

perdagangan bebas dimana adanya fasilitas khusus berupa keringanan pajak terhadap barang tertentu. Fasilitas itu kemudian membuat harga barang pun ikut turun. Salah satu kawasan belanja yang dikenal murah adalah Nagoya yang menjual aneka produk seperti tas, sepatu, pakaian hingga gadget dan komputer. Yang juga dikenal tempat belanja murah adalah Lucky Plaza dan Batam City Square. Hanya saja, meski harga murah, pembeli harus tetap hati-hati, jangan kalap. Karena ada saja pedagang nakal. Jadi yang pasti, sebelum membeli produk sebaiknya kenali dulu produknya, periksa baik-baik, termasuk mengecek garansinya. Karena asal tahu saja, di sana banyak barang ‘black market’ yang beredar. Yang juga tak kalah pentingnya adalah cek harga untuk perbandingan. Selain wisata belanja yang sudah dikenal sejak lama, saat ini Batam juga mengembangkan wisata bahari juga wisata olahraga. Untuk wisata bahari, saat ini yang tengah dikembangkan adalah kawasan wisata terpadu

Funtasy Island di gugusan Pulau Manis, Kota Batam. Salah satu yang menarik di sini, wisatawan bisa langsung membeli ikan segar tangkapan nelayan yang dijajakan di sekitar resort. Untuk mencapai Pulau Manis, tak usah khawatir, karena ada kapal khusus rute Pulau BatamPulau Manis dengan jarak tempuh sekitar 20 menit.Jika wisatawan ingin berwisata olahraga, Batam juga menyiapkan sejumlah paket wisata olahraga seperti bersepeda, selam dan golf. Malah untuk bersepeda, Batam menggelar event khusus berkelas internasional. Salah satunya adalah Tour de Barelang. Pembenahan pariwisata terus dilakukan oleh pemda setempat. Kelak Batam akan makin tertata dengan adanya pengembangan wisata tiga zona. Yakni, Kota Batam yang mendukung industri MICE, Bulang dan Belakangpadang untuk wisata budaya dan kuliner dan Galang dan Galang Baru untuk mendukung agrowisata, wisata bahari dan wisata minat khusus seperti tracking dan sepeda. –Diana Runtu


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Tokoh Edisi 851 | Tokoh by e-Paper KMB - Issuu