Skip to main content

Tokoh Edisi 840 | Tokoh

Page 1

24

What’s Up

Edisi 840/ 16 - 22 Maret 2015

Kosti Bali

Sepeda Tua Jangan Dipandang Sebelah Mata Salah satu cara hidup sehat adalah dengan rajin berolahraga. Pilihan olahraga pun bermacam. Mau yang murah ada, mau yang mahal ada. Bersepeda mungkin menjadi salah satu pilihan.

kan kongres IVKA karena Bali akan menjadi tuan rumah,” kata Kuning lagi. Ia juga berharap sepeda tua tidak dipandang sebelah mata. Anak-anak sekolah jangan malu bersepada, karena sepeda membuat kita hidup sehat. Selain itu bersepada atau berjalan kaki perlu diberi hak yang sama seperti pengendara sepeda motor dan diberikan lajur khusus untuk sepeda. Bagi pemilik sepeda tua, Kuning memberi tips merawat sepeda tua. “Sepeda harus sering dipakai agar tidak rusak. Rutin diberikan pelumas pada bagian tertentu, seperti rantai, bannya di pompa, sepeda juga sering dilap dan dibersihkan,” ujar pria yang bekerja di perusahaan asuransi ini.

P

uluhan sepeda tua berada di posisi depan dalam sebuah acara fun bike. Penampilan sepeda yang dipadukan dengan gaya pengendaranya sangat khas, gaya tempo doeloe. Hal ini pun menjadi perhatian peserta lain. Aktivitas bersepeda merupakan rutinitas para penggemar sepeda tua. Menurut Wayan Kuning, Ketua Komunitas Sepeda Tua Indonesia (Kosti) Bali, di Bali ada 18 klub. “Khusus di Denpasar ada 5 klub antara lain di Monangmaning, Sanur, Nusa Indah, dan Tanjung Bungkak. Dari masing-masing klub jumlah anggota antara 30-50 orang,” ujarnya. Para penggemar sepeda tua ini juga memiliki latar belakang profesi yang bermacam-macam. Ada PNS, pegawai bank, pegawai pos, pegawai hotel, petani, dan dokter. Kuning menambahkan komunitas sepeda tua biasanya berkumpul di depan Monumen Bajra Sandi. “Kami berkumpul dan bersepeda hari Minggu pukul 07.00. Kegiatan tiga bulanan komunitas sepeda tua selalu melakukan aksi sosial seperti donor darah, penghijauan, ke panti asuhan, touring antar kota seperti ke Gianyar dan Jembrana, bahkan sudah sempat touring ke Lombok,” ujar alumnus UPN “Veteran” Yogyakarta ini. Bagi para penggemar sepeda tua ini, pengalaman yang berkesan pada saat acara Kosti seluruh Indonesia yang dilaksanakan di Denpasar, 8-9 Februari 2014. Acara ini juga dihadiri penggemar sepeda tua dari Belanda, Brunei, Inggris, dan Malaysia. “Kami berharap adanya dukungan penuh dari pemerintah untuk mempersiap-

KOSTUM JADUL Kegiatan nongkrong usai bersepeda, seolah menjadi kegiatan akrab mereka. Usai bersepeda berkeliling, mereka beristirahat sembari menikmati kuliner di jalanan. Menu yang mereka pilih cukup sederhana kadang hanya ketela rebus ditemani kopi. Yang khas dari Kosti adalah tampilan santai, tak ada seragam resmi, bahkan dari ada yang berdandan ala petani. Bahkan tiap Perayaan Hari Kemerdekaan 17 Agustus, para anggota Kosti Bali biasa berkumpul di depan Museum Bali dengan berkostum jadul. Unik dan nyentrik, begitulah kesan saat melihat pawai sepeda tua ini. Bahkan banyak permintaan datang terhadap penyewaan sepeda tua ini untuk berbagai acara seperti foto pra-wedding maupun ulang tahun. Soal harga sepeda tua ini dari ratusan ribu sampai ratusan juta. Tergantung merek dan nilai historisnya. Bagi mereka, hobi bersepeda tua ini tak hanya untuk kesehatan bagi diri sendiri melainkan ajang kampanye, bahwa bersepeda itu sehat sekaligus melestarikan sejarah. -Sriadi


2

Ekspresso

Edisi 840/ 16 - 22 Maret 2015

DAri daPUr Redaksi

Memaknai Nyepi Sebelum perayaan Nyepi, terdapat beberapa rangkaian upacara yang dilaksanakan umat Hindu. Tiga atau dua hari sebelum Nyepi, ada upacara penyucian dengan Melasti atau disebut juga Melis/Mekiis ke laut atau danau yang merupakan sumber air suci. Maknanya menyucikan segala kekotoran bhuana agung dan bhuana alit. Pada tilem kesanga masyarakat Hindu melakukan upacara mecaru di rumah dan juga di perempatan maupun pertigaan. Mecaru mempunyai makna untuk menetralisir kekuatan-kekuatan yang bisa mengganggu umat dalam pelaksanaan Nyepi. Malamnya dilaksanakan pengerupukan yang dimeriahkan dengan pawai ogoh-ogoh. Keesokan harinya masyarakat Hindu mulai melaksanakan Catur Brata Penyepian. Amati Geni atau tidak menyalakan api, dalam pengertian lain Amati Geni yaitu api yang ada di dalam diri. Api yang dimaksud adalah amarah, keangkuhan dan keegoisan manusia yang bertindak dengan semaunya. Amati Karya atau tidak berkerja, tidak bekerja artinya segala kegiatan aktifitas di kehidupan di berhentikan sementara. Makna lainnya yaitu untuk bisa mengendalikan indra-indra kita terhadap kegiatan kerja yang mencari kepuasan fisik saja, melainkan kepuasan batin juga. Amati Lelungan atau tidak berpergian, mempunyai makna lain yaitu mengekang diri sendiri dari keinginan indra-indra untuk

Suasana Nyepi di Bali

melakukan tindakan negatif. Begitu juga dengan Amati Lelanguan tidak berfoya-foya, hawa nafsu atau kama yang tinggi terhadap keduniawian akan membawa manusia terlena dengan kehidupan yang tidak nyata. Ketika manusia mati, harta benda itu tidak akan bisa dibawa mati, karena harta itu tidak nyata adanya. Saat Nyepi, semua aktivitas berhenti sementara. Nyepi di Bali pun dinilai sebagai bentuk partisipasi sebagai hari penyelamatan bumi. Tanpa aktivitas sehari, bisa mengurangi emisi karbon sebesar 30 ribu ton, karena sekitar 2,3 juta kendaraan berhenti beroperasi. Listrik di Bali pun bisa dihemat. Tahun 2014, dari beban biasanya berkisar 780 megawatt (MW), turun sekitar 45% di malam hari yakni di kisaran 430 MW. Prediksi di tahun 2015, dengan beban biasanya yang mencapai 850 MW, maka dengan turun 45% berada di kisaran 500 MW Namun di balik

perayaan Nyepi tersebut, ada satu persoalan yang perlu diperhatikan, yakni polusi yang dihasilkan dari pembakaran ogoh-ogoh berbahan styrofoam. Styrofoam yang beberapa tahun terakhir banyak digunakan sebagai bahan baku utama ogohogoh ketika dibakar menghasilkan Chlorofluorocarbon (CFC). Zat ini memiliki daya rusak luar biasa terhadap lapisan ozon di atmosfer bumi. Limbah sterofoam ini, tidak dibakar saja sudah merusak, apalagi dibakar. Menurut sumber data dari US Marine and Park Service, styrofoam baru bisa diurai 7 juta tahun, lebih lama dari limbah plastik yang bisa diurai sekitar 450 tahun. Hal terpenting adalah menyikapi Hari Raya Nyepi dengan melakukan introspeksi diri. Apa yang sudah kita lakukan sebelumnya dan apa yang akan kita lakukan berikutnya. Dalam keheningan kita memusatkan pikiran demi kedamaian. Selamat Hari Raya Nyepi. Tahun Baru Caka 1937.

Gubuk Derita Suatu sore, aku sedang mengerjakan tugas dengan dua temanku, Emi dan Ira. Merasa bosan dengan tugas tersebut, kami memutuskan untuk menonton film. Setelah memilah-milih film apa yang akan ditonton, kami pun memutuskan untuk menonton sebuah film berjudul Gubuk Derita. Mulai dari judul saja film ini sudah bisa ditebak alur ceritanya menyedihkan. Tentu saja, baru beberapa menit adegan demi adegan berjalan sudah menguras hati, perasaan seperti dicabikcabik. Aku, Ira dan Emi menjadi begitu tegang pada sebuah ade­ gan memilukan. Tubuh kami tak bergeser dari tempat duduk. Pandangan kami tak lepas sedikit pun dari layar laptop. Yah, mata ini mulai mengan-

bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

tongi beberapa bulir air hangat. Ketika sebuah lagu mengalun pelan dengan lirik yang mendukung suasana waktu itu. Ketika air mata ini hampir tak terbendung lagi, terdengarlah alunan lainnya. “Bukan, ini bukan bagian dari film!” jeritku dalam hati. Lantas air mata­ku terhenti bahkan menge­ ring di kelopaknya ketika tahu itu suara siapa, mengganggu sekali. Aku dan Emi memandang Ira yang duduk di antara kami berdua. “Ira kenapa ikutan nyanyi?

Suasananya kan berubah jadi­ nya.” Emi protes lebih dulu, mewakili perasaanku saat itu. “Emang kenapa ? Suaraku jelek ya?” tanya Ira tidak mengerti perasaan yang sedang aku dan Emi rasakan. “Hahahahahahaha...”, tawa kami mengisi seisi ruangan. “Suaraku gak jelek-jelek amat kok.”, Oh my God…Ira masih berusaha membela diri, namun tidak bisa menghentikan tawa kami. Laila Fajri, Mataram

GORO-GORO pembangunan (1)

Rapat warga di hunian Amat, memutuskan akan membangun balai pertemuan. Tempat serrba guna yang multifungsi, Bisa dipakai untuk berbagai perayaan, termasuk resepsi Putu Wijaya pernikahan. “Sehingga bisa disewakan. Jadi bermanfaat untuk menambah kas bersama,” kata Pak Alit. Amat bukan saja tak setuju, tetapi juga sangat marah. “Boleh tak setuju, Pak Amat, kita kan demokratis,” kata Pak Alit, “saya juga kurang sreg. Tapi itu sudah keputusan rapat. Salahnya Pak Amat tidak hadir dan saya kalah suara.” “Saya kan sudah izin, sakit. Kalau perlu saya bisa menunjukkan keterangan dokter!” jawab Amat sengit. “Boleh saja. Kami semua paham. Tapi itu tidak akan bisa mengubah keputusan. Karena meskipun ditambah satu suara dari Pak Amat, kita tetap kalah. Warga yang setuju pembangunan Balai Pertemuan, jauh lebih banyak!” Amat penasaran, “Itulah jeleknya demokrasi!” Pak Alit terkejut. “Lho kita kan memang negara yang menegakkan paham demokrasi, Pak? Pak Amat tidak setuju demokrasi?” Amat menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menyeringai sinis. Pertanyaan itu sudah dia tunggu-tunggu. “Tidak! Demokrasi dengan adu jumlah suara, yang memenangkan suara yang lebih banyak berbahaya! Karena suara pada praktiknya gampang dibeli. Demokrasi kita, bukan jual-beli suara, tapi musyawarah dan mufakat!” “Sudah, Pak Amat!” “Sudah bagaimana?” “Keputusan membangun gedung Pertemuan, sudah dimusyawarahkan, dipungut suara dan kemudian juga sudah dimufakati, bahkan digarisbawahin Balai Pertemuan yang dibangun itu harus bukan saja representatif, tapi juga mewah, fasilitasnya lengkap, bergengsi dan komersial. Agar nantinya produktif, terjamin akan berebutan disewa untuk resepsi pernikahan.” Amat terkejut. “Jadi tujuan utamanya bukan untuk tempat pertemuan warga, tapi bisnis?” Pak Alit mengangguk. “Ya, mau tak mau begitu, Pak Amat. Sekarang kan semua harus dikaitkan dengan bisnis.” “Siapa bilang?” “Pak Baron.” “Warga baru pindahan dari Jakarta itu?” “Betul. Dia malah sudah bersedia menjadi panitia penggalang dananya, yang diperkirakan sampai 2-3 miliar.” Amat tercengang. “Dua sampai tiga miliar? Dari kantong dia sendiri?” “Tidak. Dari kantong warga dan pinjaman dari bank dengan agunan lapangan bola kita. Gedung diharapkan sudah kelar sebelum 17 Agustus. Karena Pak Baron akan mengawinkan anaknya dengan resepsi besarbesaran di gedung pertemuan itu. Itu sekaligus untuk mempublikasikan gedung pertemuan kita, sehingga masyarakat luas terbuka matanya. Sekarang saja, tidak kurang dari 10 warga kita sendiri, sudah mendaftar untuk menyelenggarakan resepsi pernikan di situ. Pak Baron memperkirakan, akhir tahun, seluruh biaya yang kita keluarkan sudah kembali. Jadi tahun depan, tinggal memetik keuntungannya.” Amat tak sanggup lagi lebih lama mendengarkan “omong kosong” itu. Jantungnya rasa meledak. Tanpa pakai pertimbangan akal sehat lagi, ia langsung ke rumah Baron. “Mau tak labrak habis, karena seenaknya mau menipu kita!” kata Amat setelah pulang, dengan emosi yang masih mendidih, “sayang orangnya lagi pergi.” Bu Amat mengulurkan segelas air putih untuk mendinginkan kepala suaminya. Setelah Amat tenang, ia berkata sejuk: “Pak Baron tadi ke mari mencari Bapak.” Amat kaget. “Apa?” “Ya, beliau tahu Bapak marah besar. Kata beliau, beliau setuju dengan Bapak.. Pembangunan jangan diartikan hanya membangun gedung. Pembanguan yang lebih diperlukan sekarang adalah pembangunan rohani. Beliau melihat warga kita di sini semua sudah salah kaprah, sehingga gampang dikibulin!”

Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca ­lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. ­Panjang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan nomor kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373 Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budi­a rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Se­k retariat: Ayu ­A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­m erah ­B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­ ­F aksi­m ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang ­G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

Edisi 840/ 16 - 22 Maret 2015

23

Vitiligo Hilang Diterjang Buah dan Sayuran Seorang ibu paruh baya yang tinggal di Karang Anyer Jawa Tengah ini awalnya tak menyangka akan penyakit yang dideritanya sejak lama ini akan hilang dengan kandungan 25 macam buah dan sayuran. Vitiligo begitu penyakit ibu ini dikenal, yaitu kelainan pada kulit yang diakibatkan oleh kurangnya pigmen pada tubuh, dimana melanosit atau sel-sel pigmen warna kulit pada area tertentu mengalami kerusakan atau hilang. Vitiligo adalah penyakit otoimun, yaitu dimana system kekebalan tubuh seseorang menyerang sel pigmen normal. Penyakit ini biasanya pertama kali muncul hanya di suatu titik saja, akan tetapi apabila tidak segera diobati, penyakit vitiligo ini akan menyebar keanggota tubuh lainnya. Penyakit vitiligo memang bukan penyakit yang mematikan, akan tetapi penyakit ini akan membuat penderitanya merasa malu dikarenakan kulit mereka berbeda dengan kulit orang – orang disekitarnya. Penyakit vitiligo juga bukan penyakit yang langka, akan tetapi cara penyembuhan penyakit vitiligo ini masih

jarang ditemukan. Secara umum, penyebab penyakit ini yaitu karena depigmentation sel melamin. Dimana melanosit yang seharusnya berfungsi sebagai penghasil pigmen pada kulit mengalami kerusakan. Hal ini di perparah dengan faktor - faktor berikut ini : Akibat luka bakar, Efek dari penyakit cacingan atau juga penyakit typus, Stress berat baik fisik maupun mental, Mengalami gangguan keringat cacat, Efek dari kosmetik yang mengandung bahan berbahaya, Mengalami rasa khawatir yang sangat tinggi, Mengalami gangguan lambung yang akut dan gas trointestinal, Parasite yang bisa memicu timbulnya penyakit kulit. Ibu Inwiyono yang menderita vetiligo ini, seluruh tangan dan kakinya terinfeksi vitiliogo dan sudah menyebar luas keseluruh tangan dan kaki yang dengan mudah dapat dilihat oleh orang lain. Hingga pada suatu hari seorang kerabat memberikan sebotol jamu tetes yang memiliki kandungan buah dan sayur sebanyak 25 jenis, yang bernama BIO HSA, seolah tak percaya ibu ini pun men-

coba untuk mengoleskan BIO HSA kebagian tubuhnya yang terkena vitiligo, walhasil baru satu botol dioleskan ketangan dan kakinya ibu ini pun merasakan manfaat dan khasiatnya, tangan dan kakinya mulai mengalami perubahan warna kulit, yang mana tadinya berbelang putih, kini belang putihnya mulai memudar menjadi kecoklatan dan hampir

menyerupai kulita slinya. Dengan keyakinan penuh ibu akan terus menggunakan BIO HSA untuk memaksimalkan penyakit vitiligo yang menyerangnya sekian lama ini. “ Ini baru satu botol saja kulit saya yang terkena vitiligo sudah menunjukan perubahan, saya akan terus menggunakan BIO HSA “ ujar ibu Inwiyono mengakhiri ceritanya.”

Untuk memperoleh BIO HSA Jamu Tetes sangat mudah karena sudah tersedia di Apotik – Apotik dan Toko Obat di seluruh Indonesia. Atau hubungi Bio HSA Pusat : 081212590300 / 081284157938 / 021-36486118, SMS Center Bio HSA 081223715206 atau cabang kami di setiap wilayah di nomor : Jabodetabek : 087880081009, Banten : 082122718538, Jawa Timur : 085200209999, Jawa Barat : 082116302286, Jawa Tengah : 082136652507, Solo 0271-8099752 / 085740787274, Bali & Lombok : 0361- 2734190 / 085239132548 / 081372533562, Riau : 082172452269, Sumatera Utara: 085373894275, Batam : 081275684519 Lampung : 087880081009/082122718538, Jambi : 085369011272, Kalimantan Timur ( Bontang 081347338421, Samarinda 081347376882, Balikpapan 085247318957, Tarakan 08125491931 ) Kalimantan Selatan ( Banjarmasin 081317500100 )


22

Sosialita

Edisi 840/ 16 - 22 maret 2015

Edisi 840/16 - 22 maret 2015

3

Kusmini & Lina

Berburu Ilmu di Mal

Seiring dengan perkembangan zaman konsep mal pun berubah tidak lagi melulu untuk tempat berbelanja tapi juga reakreasi. Bahkan kini fungsi mal makin lengkap karena juga menjadi tempat ‘berburu’ ilmu. Kini makin banyak mal di Jakarta juga menyediakan perpustakaan untuk para pengunjung yang doyan membaca buku.

P

erpustakaan ini tidak didesain seperti umumnya perpustakaan yang sejauh mata memandang hanya ada rak-rak buku, kursi dan meja untuk duduk. Terkesan ‘dingin’ dan ‘kaku’. Tapi perpustakaan di mal-mal ini bukan hanya ditata secara menarik

tapi juga segala perlengkapannya serba modern. Salah satu yang paling menarik dan paling banyak pengunjungnya adalah TBM (taman bacaan masyarakat) yang berada di Plaza Semangi, Jakarta Pusat. Pusat perbelanjaan yang lokasinya strategis di pusat Jakarta ini, menyediakan ‘taman bacaan’

yang berada di lantai III. Jika Anda penggemar buku, maka sudah pasti akan tertarik untuk masuk ke sana karena penampilannya yang keren tidak seperti perpustakaan pada umumnya. Anda akan merasa suasana tenang dan nyaman, jauh dari ‘hingar-bingar’ orang yang tengah berbelanja di luar. TBM@Mall Semanggi, merupakan satu dari sejumlah TBM@ Mall yang dikelola oleh Dewi Hughes International Foundation sejak tahun 2010. Awalnya tampilan TBM@Mall Semanggi ini tidak terlalu menonjol, namun seiring waktu dilakukan perubahan konsep dan layout ruang. Kini TBM@Mall Semanggi yang bernama ‘Learning Lounge ’ tampil memikat. Apalagi fasilitas yang ada pun terus disempurnakan menjadi makin canggih. Pengunjung tidak hanya dapat

Untung Investasi Jabon di Sri Farm membaca buku, tapi juga disediakan beberapa tablet PC yang berisi bermacam-macam e-book sehingga memudahkan untuk mengakses atau mendapatkan buku yang diperlukan. Bagi yang ingin browsing maka di sana disediakan tablet gratis, yang bisa digunakan semua pengunjung. Semua fasilitas itu bisa digunakan secara gratis. “Tempatnya asyik, wifi gratis. Bisa jadi tempat nongkrong sambil mengerjakan tugas, sambil nunggu waktu kuliah,” ujar David, mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta yang lokasi kampusnya tak jauh dari Plaza Semanggi. David sendiri sering datang ke sana bersama temantemannya karena kebetulan itulah tempat yang mengasyikkan yang paling dekat dengan kampusnya. Tentang penampilan TBM@ Mall harus menarik juga disampaikan oleh Yopie Dahlan, Ketua Forum TBM Provinsi DKI Jakarta. Menurutnya, TBM di mal harus dibuat semenarik mungkin, begitu juga suasana sehingga pengunjung mal tertarik masuk ke ‘taman bacaan’ itu. Suasana yang nyaman dengan fasilitas yang bagus akan membuat pengunjung betah berlama-lama. Menurutnya, pengelola TBM juga harus kreatif agar perpustakaannya makin dikenal orang dan mendatangkan banyak pengunjung. Salah satunya adalah menggelar berbagai macam program acara. Yopie sendiri adalah pengelola TBM Bhumi Tridharma Jakarta. Untuk mengaktifkan fungsi dari TBM yang dikelolanya, ia menggelar berbagai acara, di

antaranya aneka lomba, mulai dari lomba mewarnai, hingga lomba permainan tradisional, dll. “Jadi TBM harus dibuat menarik dan mengasyikan bagi pengunjung,” katanya. Hughes yang menjadi penggerak dari TBM@Mall juga melakukan hal serupa. Menurutnya, taman bacaan di mal bukan hanya tempat membaca, tapi di sana juga disajikan banyak kegiatan. Di TBM Semanggi sendiri, kerap menggelar berbagai acara sehingga taman bacaan itu selalu aktif. Saat ini mal sudah menjadi semacam pusat peradapan masyarakat urban. Berbagai kegiatan masyarakat kerap digelar di sana, mulai dari belanja, rekreasi , arisan, hingga acaraacara keagamaan, dll. Menurut penelitian, mereka yang paling banyak dan paling sering datang ke mal adalah mereka yang berusia muda, khususnya para remaja karena mereka lah yang paling memiliki waktu luang. Mereka datang bukan hanya karena ingin belanja, tapi banyak dari mereka datang hanya untuk kongkow-kongkow bersama temannya, makan dan menikmati fasilitas hiburan. Banyaknya pengunjung dari kalangan muda inilah yang menjadi salah satu sasaran dari TBM di mal. Diharapkan, sebagian dari anak muda yang sering datang ke mal ini tertarik datang ke ‘taman bacaan’. Harapan itu juga disampaikan pihak Kementerian Pendidikan agar masyarakat, khususnya kaum muda menjadi gemar membaca. Karena berdasarkan data, minat baca kalangan muda Indonesia masih tergolong rendah. Direktorat Pembinaan Pendidikan Masyarakat (PPM) Departemen Pendidikan sangat mendorong didirikannya TBMTBM di tempat-tenpat publik. Untuk itu pihak kementerian menyiapkan dana untuk membantu para pengelola TBM di areal publik ini agar bisa eksis. Tahun lalu, Direktorat ini memberikan bantuan rintisan TBM sebesar masing-masing Rp 30 juta untuk 250 lembaga. “Kami memberi bantuan TBM Penguatan, dan mendirikan TBM di ruang publik seperti rumah sakit, dan terminal,” kata Direktur PPM, Wartanto. –Diana Runtu

Launching Hutan Jabon Sri Farm yang berlangsung Sabtu (7/3) di Griya Agung Ball Room Sanur Paradize Hotel & Suite, Denpasar ditandai dengan pemukulan gong oleh founder Sri Farm pasutri Made Budaka Wijaya dan Nyoman Kusmini. Acara yang berlangsung meriah tersebut dihadiri lebih dari 400 undangan. Mereka tampak antusias mendengarkan pemaparan dari owner sekaligus founder PT Sukses Rimba Investama (Sri Farm) Made Budaka Wijaya, dan konseptor Sri Farm Made Robert. Duet Made Budaka dan Made Robert yang adalah seorang motivator dan pebisnis sukses ini, tentunya makin mendongkrak kepercayaan calon-calon investor untuk bergabung di Sri Farm.

Launching Hutan Jabon Sri Farm yang berlangsung meriah, Sabtu (7/3) di Griya Agung Ball Room Sanur Paradize Hotel & Suite, Denpasar ditandai dengan pemukulan gong oleh owner Sri Farm pasutri Made Budaka Wijaya dan Nyoman Kusmini

S

ebagai pebisnis, Made Budaka yang juga owner Delina Advertising ini mengamati di tengah meningkatnya kebutuhan bahan baku kayu, kehadiran kayu cepat tumbuh yang dapat dipanen dalam waktu singkat, memberikan angin segar bagi pebisnis investasi di bidang perkebunan. Jabon (jati bongsor) adalah salah satu jenis kayu cepat tumbuh yang kini mulai menjadi andalan dalam industri perkayuan. “Prospek pengembangan jabon sangat menguntungkan, minim risiko, dan menghijaukan bumi. DenganRp 225 juta bisa punya hutan jabon,” ujar suami Nyoman Kusmini ini. Kusmini menimpali, menguntungkan yang dimaksud adalah karena hanya dengan investasi Rp 225 juta, dalam 10 tahun investor bisa menikmati hasil panen senilai minimal Rp 1.164.800.000. “Ini hasil dua kali panen, karena kelebihan jabon 5 tahun sudah bisa panen. Dan nilai itu adalah perhitungan harga kayu sekarang. Sepuluh tahun ke depan dipastikan harga kayu akan semakin tinggi, bisa-bisa sepuluh kali lipat. Nilai panen jabon mengikuti harga kayu saat itu,” jelas ibu dari Dedy, Lina, dan Andika ini. Bahkan, Lina yang kini masih berstatus mahasiswa di Fakultas Hukum Unud, tergabung dalam

Dewan Direksi Sri Farm, bersama kakaknya Dedy dan kedua orangtuanya. “Saya sangat mendukung sekali investasi hutan jabon yang digelontorkan orangtua saya. Karena bisnis ini tak mencari keuntungan semata, namun turut dalam pelestarian alam. Saya sebagai generasi muda sangat men-support,” ujarnya. Investasi jabon Sri Farm minim risiko. Ini kembali ditegaskan Kusmini karena perusahaan (PT Sri Farm) mengelola semuanya, mulai dari penanaman, pemupukan, perawatan, memanen, sampai pemasarannya. Perusahaan menjamin kayu hasil panen pasti laku, karena Sri Farm sudah melakukan kontrak dengan beberapa pabrik kayu di Sulawesi dan Jawa. Pohonpohon diasuransikan, dan legalitasnya terjamin melalui proses notaries di Bali dan di Sulawesi. –ten

Dewan Direksi PT Sri Farm

Buy Back Guarantee 130% Bagaimana jika gagal? “Buy back guarantee 130%. Kami akan membeli kembali dengan nilai 130 %. Klausal ini pun nanti akan tertuang dalam perjanjian notaris. Jika gagal saja masih untung, apalagi untung, pasti Anda untung melimpah,” tegas Made Robert menjawab pertanyaan dari salah seorang undangan. Dengan berinvestasi jabon, investor tak hanya mendapatkan keuntungan dari segi bisnis dengan hasil yang melimpah, namun juga turut menyukseskan program pemerintah menghijaukan bumi dengan turut melestarikan lingkungan (go green) untuk mengurangi efek rumah kaca. Sri Farm megadopsi konsep Tri Hita Karana yaitu recovery dan pelestarian alam sebagai wujud bakti terhadap ciptaan Tuhan, pemberdayaan masyarakat dan pemanfaatan hutan tanaman rakyat yang berkelanjutan, sehingga memberikan benefit ekonomi yang besar. “Jika kita ingin hidup bahagia dan berumur panjang harus menanam pohon untuk memberikan kehidupan”. Kalimat itu dipetik Made Robert dari seorang biksu. Memangbenar, bahwa sumber dari segala sumber kehidupan adalah tumbuhan/pohon. Karena itu secara hukum alam, darimelestarikanpohoninilah ,akandidapatkanhasil/keuntungan. Made Robert, owner sekaligus founder Villa Mesari ini memutuskan untuk mengkonsepkan dan bergabung di Sri Farm setelah melihat peluang bisnis ini sangat bagus. Selain menguntungkan secara finansial juga bisa menyelamatkan lingkungan. “Saya berbisnis tak mau menyengsarakan orang dan merusak lingkungan, sebaliknya harus menguntungkan banyak orang. Mari kita sukses bersama di investasi hutan jabon,” ajaknya. Made Budaka mengimbuhkan, pemilihan lokasi perkebunan di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat sudah melalui berbagai pertimbangan yang matang dan survei yang cukup panjang. Dimulai dari letaknya yang sangat strategis, kadar kesuburan tanahnya tinggi, wilayahnya luas sehingga sangat cocok untuk pengembangan jabon. Dengan bergabung dalam bisnis ini, investor secara otomatis tergabung dalam komunitas “go green investor club”, jaringan bisnis antar investor seluruh Indonesia. Tiap enam bulan, perusahaan pun akan menyampaikan perkembangan pohon kepada investor. Dan untuk ke depan, di beberapa titik akan dipasangi kamera CCTV, sehingga investor bisa memantau secara online. Apakah investasi di sana aman? Dalam menjalankan bisnis jabon ini, Sri Farm memakai profit sharing system, 70% untuk investor, 30% untuk Sri Farm, yang mana di dalamnya sudah termasuk pengelola, masyarakat di lokasi perkebunan, desa serta pihak keamanan. “Jadi kebun jabon Anda pasti aman, karena masyarakat juga mendapatkan hasil dari sana. Dan masyarakat Sulawesi sendiri sangat wellcome, tidak ada diskriminasi,” tegas Made Budaka dan Made Rob-

Beberapa undangan langsung berinvestasi di hutan jabon Sri Farm yang prospek ke depannya sangat luar biasa

ert hamper berbarengan. Mereka sudah beberapakali pulang pergi Denpasar-Mamuju untuk mendampingi calon investor mengecek lokasi lahan. “Tanggal 12 -14 Maret, kami berangkat lagi ke Mamuju mengantar 25 calon investor dan setelah Nyepi yaitu tanggal 27-29 Maret juga akan memberangkatkan 35 orang lagi,” ungkap Made Robert. Dari kualitas tanaman, jabon memiliki kualitas tinggi dengan tingkat kegagalan relatif kecil dan nilai jualnya sangat tinggi yang tentunya dapat memberikan kesejahteraan bagi investor sekaligus bisa menghidupi masyarakat sekitar. Sri Farm pun terus meningkatkan penelitian dengan perusahaan bibit terpercaya. Saat ini Sri Farm telah mengelola lebih dari 1.500 hektare hutan jabon di Sulawesi Barat, dan tidak menutup kemungkinan akan dikembangkan juga di daerah lain di Indonesia. Legalitas dan sertifikat sah diterbitkan BPN. “Mei mendatang, kami akan presentasi di Jakarta, selanjutnyadi 18 kota besar di Indonesia. Semua orang bisa jadi investor, apapun profesinya. Saatnya uang bekerja untuk Anda,” ungkap Made Robert antusias. Ni Made Ayu Dewi Saraswati, Direktur Marketing PT Sri Farm mengakui, investasi jabon ini mendapat sambutan luarbiasadarimasyarakat Bali khususnya. Dari soft launching tahunlalu, sudah terjual 70 hektare. “Dan ketika acara launching kemarin, bertambah lagi 200 hektare terjual. Hasil panen kita pasti sukses, dan investasi Anda pasti kembali berlipat ganda. Be a Green Milyarder, Go Green Grow Rich,” ujarnya. Sri Farm menawarkan hadiah menarik bagi investor, yakni grandprize mobil Honda Mobilio, yang diundi tiap penjualan 200 hektare/paket. Kabar gembira bagi masyarakat yang mau memiliki hutan uang sekaligus menjadi green milyarder, silahkan hadir pada acara Dinner Gratis bersama Sri Farm pada Minggu, 15 Maret pukul 16.00 wita di Ibis Style Hotel ex All Season Hotel, Jalan Teuku Umar No. 185 Denpasar, undangan dinner bisa diambil di Kantor Sri Farm, Jln. Tukad Batanghari No. 9, Denpasar dan di stan pameran Sri Farm di Matahari Duta Plaza, Jalan Dewi Sartika Denpasar. Tlp. 0361-955872, HP 08533749688, 087861999658, wwwsrifarm.com. –ten

Made Robert saat presentasi investasi hutan jabon di hadapan lebih dari 400 undangan


4

Inspirasi

Edisi 840/ 16 - 22 Maret 2015

Bibong Widyarti Djaprie

Tertarik Kosmetik Organik Menerapkan pola hidup organik, mungkin akan terasa sulit bagi mereka yang terbiasa dengan gaya hidup tidak sehat. Dalam hal makanan misalnya, tentu akan terasa sulit bagi mereka yang terbiasa mengonsumsi makanan mengandung bahan pengawet, pemanis dan bahankimia lainnya, untuk hanya mengonsumsi makanan alami.

T

api, kata Bibong Widyarti Djaprie, asalkan ada kemauan, pola hidup organik dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. “Tentunya, itu semua perlu proses,” ujar Bibong Widyarti Djaprie, Ketua Yayasan Aliansi Organik Indonesia ( ALIFA). Mungkin, bisa dimulai dengan mengurangi kebiasaan makan di luar rumah. Dengan begitu kita akan mulai membiasakan diri membuat makanan sehat di rumah. Itu juga yang dilakukan Bibong saat membiasakan keluarganya menerapkan pola hidup organik. “Anak saya dua laki-laki semua, mereka kini sudah besar. Tapi sejak kecil saya sudah membiasakan mereka untuk menjalani pola hidup organik. Mengkonsumsi makanan yang dibuat di rumah, itu juga yang mereka bawa ke sekolah. Dengan begitu mereka tidak perlu jajan apalagi minum soft drink. Saya beruntung karena orang yang pandai memasak di rumah,” ungkap nominator Indihome Award ini. Apa yang diajarkannya kepada anak-anaknya ini, ternyata juga terbawa dalam kehidupan kedua anaknya di luar rumah. Terbiasa menyantap menu sehat, membuat mereka menjadi sensitive. “Jadi misalnya mereka makan di luar, lalu karena suatu sebab mereka menyantap sesuatu yang tidak biasa, maka tubuh mereka akan beraksi. Mungkin pusing, tenggorokan tidak enak, dll. Reaksi penolakan di dalam tubuh ini membuat anak-anak akhirnya jadi semakin berhati-hati dalam menyantap makanan di luar,” tuturnya. Bibong sendiri menjalani pola hidup sehat dan selaras dengan alam pun hasil ‘bentukan’ orangtuanya. “Dulu kami terbiasa menyantap makanan di dalam

rumah, jarang jajan. Ibu saya dalam memasak tidak menggunakan vetsin (MSG). Setelah itu kehidupan kami mengarah kepada alam. Saat SMP dan SMA, saya menyukai kegiatan-kegiatan yang dekat dengan alam. Sampai akhirnya saya kuliah di Institut Pertanian Bogor,” paparnya. Suatu ketika, lanjutnya, ia membaca sebuah artikel yang bercerita tentang Agatho Elsener, seorang pastor asal Swiss yang mengembangkan pertanian organik di Desa Tugu Selatan, Cisarua, Bogor. Sejak itu ia pun menjadi sangat tertarik tentang organik dan berusaha menerapkannya. Bibong yang memutuskan menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya setelah menikah, pun mulai menanam berbagai tanaman organik untuk dikonsumsi sendiri. “Dengan begitu saya menjadi tahu apa yang saya konsumsi, apa yang saya olah,” kata wanita kelahiran Bandung ini. Ia pun sempat bekerja sama dengan para petani di kawasa Cianjur dan Ciawi untuk budidaya ikan dan tanaman. “Di Cianjur, Jawa Barat, saya membuka tambak ikan bersama petani setempat. Di Ciawi juga sama, tapi juga ada tanaman organik. Dari kegiatan bertani ini, saya mendapat banyak ilmu dari para petani. Tepatnya, kami saling share, saya memiliki basic pendidikan, sedang mereka memiliki skill. Kepada mereka saya ajarkan cara membuat pakan ternak. Sedang kepada mereka saya belajar tentang alam,” papar Bibong yang juga sempat membangun koperasi benih ikan local untuk membantu kelanjutan produksi para petani kecil. Bagi Bibong, pola hidup organik bukan hanya untuk dibicarakan tapi bagaimana mengajak orang untuk ikut menerapkannya. Memang, akunya, ada sebagian

orang berpendapat menerapkan pola hidup organik membutuhkan biaya lebih alias mahal. Mungkin, katanya, orang yang berpendapat demikian karena ia hanya melihat secara ‘sepotong-sepotong’. Lalu Bibong pun membuat ‘hitung-hitungan’ pengeluaran berdasarkan pengalamannya. “Saat saya menerapkan pola hidup organik di keluarga saya, kami adalah keluarga muda yang baru mulai menapak. Beli beras misalnya, dulu harga beras biasa sekitar Rp6000 untuk keperluan 1 bulan diperlukan sekitar 20 kg, berarti Rp120.000. Jika memakai beras organik hanya diperlukan sekitar 15 kg. Kenapa lebih sedikit? Ini karena beras organik lebih awet, jika dimasak pagi sampai sore bahkan malam pun tidak basi. Berbeda dengan beras biasa yang tidak tahan lama, sore bisa basi,” papar penulis buku “Hidup Organik: Panduan Ringkas Berperilaku Selaras Alam”. Begitu pun saat mencucinya. Kalau beras biasa memerlukan bilas berkali-kali sampai air bening. Sedang beras organik hanya dua kali bilas. “Membilas beras berkali-kali menyebabkan Vitamin B yang terkandung pada beras, hilang. Dengan hanya membilas dua kali, bukankah lebih menghemat air dan vitamin pun tidak hilang?” Katanya. Apa yang digambarkan Bibong hanyalah sedikit dari begitu banyak manfaat mengkonsumsi makanan organik. “Orang yang memakai produk organik, akan melihat efeknya pada masa depan,” katanya. SELALU BEREKSPERIMEN Besarnya manfaat dalam menjalankan pola hidup organik membuat dalam kehidupan sehari-hari Bibong nyaris minim bersentuhan dengan bahanbahan mengandung kimia. Jadi bukan hanya soal makanan sehari-hari yang nyaris sepenuhnya ‘berbau organik’ tapi juga untuk kebutuhan lainnya. Sebut saja kosmetik. Sebagai wanita, meski Bibong termasuk wanita yang jarang berdandan, tetap saja melakukan perawatan terhadap wajah dan kulit. “Untuk bedak organik saya dapat dari Korea, untuk perawatan kulit saya pakai VCO (minyak kelapa murni) yang dicapur dengan essential oil rose murni, ini untuk menjaga kelembaban kulit bagi yang telah berusia 50 tahun ke atas. Saya juga menggunakan shea butter (sari buah shea) untuk lotion,” tuturnya. Untuk keperluan rumah tang-

Bibong Widyarti Djaprie

ga pun, kata Bibong, seperti sabun misalnya, ia gunakan berbahan organik yang dibelinya di Bali. “Untuk sabun cuci saya pesan dari Bali. Detergen itu rendah busa, bagus untuk pakaian berwarna putih,” tambahnya. Ia juga bereksperimen sendiri dengan membuat sabun cuci dari biji lerak. Biji lerak mengandung saponin yang menghasilkan busa dan berfungsi sebagai bahan pencuci. Selain bisa membersihkan kain, lerak dapat dipakai untuk membersihkan berbagai peralatan dapur dan lantai. “Saya hanya menghabiskan 4 kg lerak dalam setahun untuk mencuci pakaian keluarga,” ucapnya. Jadi, lanjut Bibong, dari alam ada banyak produk yang bisa dihasilkan tanpa harus menggunakan bahan kimia. Sayangnya, tidak semua orang mengetahui tentang hal ini. Bisa jadi karena kampanye pola hidup organik kalah keras dengan apa yang didengungkan oleh produsenprodusen besar. Yang terjadi sekarang ini adalah produsen yang mendikte konsumen, bukan sebaliknya. Itu juga yang menjadi salah satu sebab kenapa penerapan pola hidup organik ini terasa begitu lambat. Sejak tahun 1998 mulai didengungkan, namun hingga sekarang kemajuannya terasa lambat sekali. Ada banyak kendala yang menyebabkan ini. Selain awareness yang masih kurang, juga, kontinuitas produk organik dalam jumlah besar, masih sulit dicapai. “Biaya

produksi produk organik mahal dan tergantung musim,” kata Bibong yang juga Sekretaris Jenderal Jaringan Masyarakat untuk Perubahan Iklim. “Sentra-sentra organik juga masih terbatas. Kalau di Jakarta, sentra organik ada di Puncak dan Bogor. Memang cukup jauh dari Jakarta. Sedang organik yang sudah masuk ke supermarket tentu harganya menjadi mahal,” tambahnya. Sebenarnya, tambah Bibong, sudah dicoba membuka ‘pasar organik’ setiap pekan di halaman Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan. Namun pasar itu mati dengan sendirinya, karena ternyata masyarakat kurang tertarik membeli. Konsumen lebih suka membeli baju atau produk lain, ketimbang membeli produk organik. “Padahal yang datang berjualan itu adalah petani-petani organik, jadi harga jauh lebih murah dari pada di supermarket. Namun tidak laku, akhirnya pasar itu mati,” ucap Bibong yang kerap menjadi narasumber berbagai seminar terkait produk organik dan pertanian lainnya. Selain kampanye pola hidup organik, Bibong juga aktif di organisasi Slow Food Association. Organisasi ini untuk melawan makanan siap saji dan gaya hidup serba instant. Pendekatan gerakan Slow Food terutama pada agrikultur/pertanian, produk makanan dan gastronomi/ Iimu mengenai Cara Makan. “Saya leader Slow Food di Jabodetabek,” ucapnya. -Diana Runtu.

Mandalika

Edisi 840/ 16 - 22 Maret 2015

Berbagai Kegiatan Semarakkan TMD

M

emperingati peristiwa me­ letusnya Gunung Tambora di Kabupaten Dompu dan Kabupaten Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), digelar berbagai kegiatan yang dikemas dalam even bertajuk “Tambora Menyapa Dunia” (TMD). Untuk mendukung kegiatan tersebut, Wakil Gubernur NTB H. Muh. Amin, S.H., M.Si yang mewakili Pemerintah Provinsi NTB menandatangani MoU dengan Presiden/ CEO Pasific Asia Travel Association (PATA) Indonesia Chapter Poernomo Siswoprasetijo, di Balairung Soesilo Sudarman, Gedung Sapta Pesona Jakarta, Kantor Kementerian Pariwisata, beberapa waktu lalu untuk pengembangan, peningkatan dan mensinergikan promosi di bidang kepariwisataan di wilayah NTB. Seperti, penyelenggaraan even nasional dan internasional, roadshow promosi pariwisata daerah, pameran nasional dan internasional, periklanan dan table top. Event TMD tidak hanya fokus di Kabupaten Dompu tetapi menyebar di beberapa kabupaten di NTB yang terbagi dalam kelompok kegiatan. Kelompok seni antara lain menyajikan music country konvensional dan moden yang melibatkan semua sanggar di Tambora, upacara selamatan laut di kawasan “SAMOTA” (Teluk Saleh, Moyo dan Tambora) yang dijadwalkan

Rangkaian kegiatan penandatangan MoU dukungan untuk Tambora Menyapa Dunia, termasuk jumpa pers

akan diluncurkan sebagai kawasan ekonomi khusus (KEK), serta pawai budaya (1 April 2015) dan jambore seni budaya di Dusun Pancasila sebagai pintu masuk utama pendakian ke Gunung Tambora. Berbagai kegiatan lain dalam menyemarakkan TMD seperti kegiatan sport adventure; Tambora Bike, Mount Tambora Ultra Trail Run, Tambora Chalenge Trans Sumbawa, Lari 10K, Trabas Tambora, Tambora Savana Run dan Lakey Kite Surf Exhibition Camp di pantai Lakey serta beberapa kegiatan adventure lainnya. “Penyelenggaraan even TMD merupakan upaya dalam meningkatkan kunjungan wisatawan ke NTB yang tahun ini menargetkan 2 juta wisatawan. Pada acara

puncak TMD nanti diperkirakan akan dihadiri 15 ribu wisatawan,” ungkap Muh. Amin. Di samping karena sejarah ledakan dahsyat Gunung Tambora yang menarik minat wisatawan, destinasi wisata NTB memang memiliki daya tarik tersendiri, baik objek berupa pantai, alam maupun budayanya. “NTB merupakan destinasi pariwisata unggulan yang kita tempatkan sebagai bagian dari Great Bali. Sekitar 40% wisman yang berkunjung ke Indonesia masuk melalui Bali. Kita berusaha tarik mereka agar melanjutkan kunjungannya ke NTB. Saya merinding menyaksikan indahnya pariwisata NTB,” kata Menteri Pariwisata RI, Arief Yahya. -Naniek I. Taufan

21

BNN NTB Bentuk IPWL Dihadiri oleh berbagai pihak, mulai dari Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Danrem, Danlanal, Danlanud, Kemenag NTB, Kejati dan dari Kementrian Hukum dan HAM), Bupati KLU, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, pemuda dan pramuka, Gubernur Nusa Tenggara Barat, Dr. TGH. M. Zainul Majdi, secara khusus dalam sambutannya meminta semua pihak untuk menyamakan visi bahwa narkoba adalah permasalahan yang serius dan meminta pula kepada seluruh penegak hukum untuk melaksanakan tugasnya khususnya dalam hal ini dengan sungguh-sungguh. “Bilamana ada di antara para penegak hukum yang melakukan penyalahgunaan narkoba, untuk ditindak dan dihukum seberat-beratnya,” kata TGH. M. Zainul Majdi, dalam kegiatan Deklarasi dan Penandatanganan Komitmen dalam Rangka Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan Narkoba yang dilaksanakan di Gedung Pemuda Mataram, yang diselenggarakan oleh BNN Provinsi NTB, beberapa waktu lalu. Dalam kegiatan ini, terungkap bahwa model pendekatan dalam menangani permasalahan narkoba yang semula berorientasi pada pemberantasan sindikat kejahatan narkoba termasuk penyalahgunaan narkoba, kini beralih pada pendekatan yang berorientasi pada rehabilitasi penyalahgunaan narkoba. Pemakai tidak harus dihukum penjara melainkan mendapatkan kesempatan untuk direhabilitasi. Untuk mengatasi masalah ancaman narkoba, BNN Provinsi Nusa Tenggara Barat di bawah pimpinan Drs. H. Mufti Djusnir, Apt. M.Si, merangkul segenap pimpinan daerah, pimpinan FKPD, organisasi kewanitaan, ormas dan masyarakat untuk dapat menyatukan tekad menyukseskan tahun 2015 sebagai tahun rehabilitasi 100.000 pengguna narkoba. Dari jumlah tersebut, NTB akan merehabilitasi 1.500 orang pengguna narkoba. “Membangun kesadaran bahwa para pengguna narkoba yang melaporkan diri ke IPWL (Institusi Penerima Wajib Lapor), tidak dituntut pidana,” kata Drs. H. Mufti Djusnir, Apt. M.Si., Kepala BNN Provinsi NTB. IPWL dibentuk dengan tujuan merangkul pengguna atau pecandu narkoba, sebagai proses rehabilitasi. Dengan melapor ke IPWL, maka pecandu narkoba bisa terhindar dari jeratan hukum. Jika seseorang merasa sebagai pecandu narkoba, lalu dengan sukarela melaporkan dirinya ke IPWL untuk direhabilitasi, maka ia akan menjalani rehabilitasi tersebut dan tidak akan dipidana karena laporannya (pengakuannya) sebagai pengguna. Namun, jika seorang pecandu tidak melaporkan diri, lalu tertangkap dalam sebuah razia dan kedapatan sedang menggunakan narkoba, maka ketika belum pernah melapor ke IPWL, pecandu tersebut terancam hukuman penjara sesuai ketentuan yang berlaku. Selain itu, Mufti berharap agar berbagai pihak dapat memberikan ide-ide, gagasan-gagasan alternatif yang konstruktif dalam penanganan penyalahgunaan narkoba di tahun 2015 sehingga lahir rekomendasi yang dapat mendorong adanya kebijakan politik Pemerintah Provinsi NTB maupun Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota di NTB dalam upaya mengatasi masalah ini. -Naniek I. Taufan

Wali Kota Rai Mantra dan Wakil Wali Kota Jaya Negara

Ucapkan Selamat Hari Suci Nyepi Warga Diminta Jaga Keheningan dan Kedamaian Momentum Hari Suci Nyepi bagi umat Hindu hendaknya dimaknai sebagai sebuah penghormatan terhadap alam beserta isinya. Makna dari Nyepi adalah membuat suasana hening melalui pelaksanaan catur berata penyepian. Dalam suasana yang hening dapat menimbulkan kesadaran, konsentrasi dan kebijaksanaan. Untuk itu kepada seluruh masyarakat Kota Denpasar diharapkan dapat merenung dan merefleksikan kembali ajaran-ajaran agama yang senantiasa mengajarkan untuk selalu berpikir, berkata dan berbuat baik. Jadikan spirit Hari Suci Nyepi untuk lebih meningkatkan srada bakti kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa serta lebih mawas diri. Serangkaian perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Caka 1937 yang jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2015, Wali Kota Denpasar IB. Rai Dharmawijaya Mantra bersama Wakil Wali Kota IGN. Jaya Negara, Sabtu,13 Maret 2015 secara khusus mengucapkan selamat melaksanakan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Caka 1937. “Melalui perayaan Hari Suci Nyepi bagi umat Hindu ini, kami mengajak seluruh masyarakat Denpasar untuk selalu meningkatkan srada bhakti kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa, serta menumbuhkan rasa persaudaraan di kalangan umat beragama, sehingga akan dapat menimbulkan shanti atau damai di kalangan masyarakat,” kata Rai Mantra. Selebihnya, Rai Mantra mengungkap-

kan pada perayaan Nyepi ini pihaknya juga mengajak masyarakat di Kota Denpasar untuk selalu introspeksi dan mulat sarira. Momentum perayaan Hari Suci Nyepi ini sangat tepat untuk kembali pada jati diri sebagai manusia Bali yang selalu mengedepankan rasa solidaritas dan saling menghormati antar sesama umat manusia. Momentum mulat sarira sangat tepat dikedepankan demi menjaga kenyamanan dan keamanan Kota Denpasar dan

Bali umumnya. “Buang jauh-jauh rasa dendam, dengki dan iri hati. Dengan rasa persatuan dan kesatuan serta kedamaian melalui Hari Suci Nyepi akan dapat mewujudkan pembangunan Kota Denpasar yang berwawasan budaya, dalam keseimbangan menuju keharmonisan,” ujar Rai Mantra lebih lanjut. Dalam merayakan Hari Suci Nyepi, kata Rai Mantra umat diajarkan untuk mengendalikan diri lewat Catur Brata Penyepian yakni amati geni, amati karya,

amati lelungan dan amati lelanguan. Dengan mampu mengendalikan diri diharapkan tercipta kaharmonisan. Oleh karena itu, pada momen Hari Suci Nyepi yang baik ini umat mesti berusaha menjalankan ajaran agama dengan sebaik-baiknya. Selanjutnya Wakil Wali Kota, Jaya Negara juga mengajak masyarakat untuk melakukan introspeksi diri dengan menekankan pada spirit sewaka dharma dan Tri Kaya Parisudha dimana kita harus tetap berpikir, berkata, dan berbuat yang baik dalam melaksanakan tugas dan kewajiban masing-masing. Sebab, berbagai permasalahan dan tantangan dalam melaksanakan pembangunan di Kota Denpasar ke depan masih akan dijumpai. Permasalahan tersebut, katanya merupakan tantangan dan ujian yang semestinya secara bersama-sama dicarikan solusi terbaik untuk penyelesaiannya. Sementara itu berbagai keberhasilan pelaksanaan pembangunan di Ibu Kota Provinsi Bali ini dicapai sebagai wujud partisipasi masyarakat Kota Denpasar yang sangat tinggi. Akhirnya Wali Kota Denpasar, Rai Mantra bersama Wakil Wali Kota Denpasar, Jaya Negara menyampaikan ucapan terima kasih atas partisipasi seluruh masyarakat yang selama ini sudah ikut memberi dukungan terhadap pelaksanaan pembangunan di Kota Denpasar, serta tak lupa mengucapkan “Selamat Hari Suci Nyepi Tahun Baru Caka 1937”.


20

Nine

Edisi 840/ 16 - 22 Maret 2015

Inspirasi

Iptu Pratiwi Nofiani, SH.

Edisi 840/ 16 - 22 Maret 2015

Ni Ketut Mursi

5

Ambil yang Baik, Buang yang Buruk Wujudkan Mimpi “Maaf mbak, baru buka HP, habis pulang razia malam,” kata Iptu Pratiwi Nofiani, SH., Kepala Satuan Lalu Lintas (Kasatlantas) Polres Bima, membalas dan menjawab SMS pukul 22.56 wita, beberapa waktu lalu. Inilah salah satu aktivitas Polwan yang selalu tampil energik dan cekatan ini. Tidak kenal siang maupun malam, dilahirkan sebagai seorang perempuan, Pratiwi membuktikan dirinya dapat mengemban dan melaksanakan tugas yang diberikan padanya sama seperti laki-laki. Hal inilah yang membuatnya dipercaya dalam berbagai jabatan selama enam tahun menjadi seorang polisi.

P

Iptu Pratiwi Nofiani, SH.

ernah me­ ngemban berbagai tugas dalam kepolisian, selalu meninggalkan kesan tersendiri bagi Pratiwi yang dulu sempat mendaftar sebagai Kowal (Korps Wanita Angkatan Laut), namun garis hidup mengantarnya menjadi seorang Polisi Wanita. Sejak lulus Akpol tahun 2009, sudah enam jabatan yang diemban perempuan kelahiran Jombang, 6 Oktober 1988 ini. Sebelum akhirnya dipercaya sebagai Kasatlantas Polres Bima sejak bulan November 2014 lalu, Pratiwi pernah menjadi Kanit PPA Satreskrim Polres Lombok Barat (Lobar), Kapolsek KP3 Udara Bandara Selaparang, Kanit Lidik II Satreskrim Polres Mataram, Kanit Laka Satlantas Polres Mataram hingga KBO Satlantas Polres Lombok Barat.

Tugas-tugas yang diembannya selama di NTB sejak tahun 2010 ini, bagi Pratiwi adalah pelajaran yang sangat berharga yang memberinya banyak inspirasi. “Masing-masing tugas punya kesan tersendiri buat saya karena dari sana saya banyak belajar tentang berbagai hal dalam kehidupan,” ujar Pratiwi. Saat bertugas sebagai Kanit PPA Satreskrim Polres Lobar selama 1,5 tahun, Pratiwi mau tidak mau “terlibat” dalam urusan rumah tangga orang lain ketika harus menangani kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan anak, karena bagaimana pun untuk membantu mencarikan solusi atau bahkan melanjutkannya ke jalur hukum, ia harus meneliti tiap kasus yang ditangani unitnya. “Jadi cenderung mengurus intern rumah tangga orang lain, untuk bisa menemukan solusi terbaik bagi pasangan yang bermasalah itu,” kata ibu dari Muhammad Daffa Hafizh Argani ini. Hal inilah yang membuatnya terbilang sangat sibuk, mengingat cukup banyak kasus yang

Rekreasi Bersama

Perempuan yang mengemban tugas sebagai pimpinan seperti Pratiwi, tentulah memiliki nilai rasa tersendiri dalam membangun kedekatan dengan anak buahnya. Memiliki 44 anak buah di Satlantas Polres Bima, membuatnya sangat terbantu dalam menjalankan tugas sehari-hari. Pratiwi beruntung karena selalu menempatkan perasaan senang ketika diberikan tugas dan tanggung jawab apapun. Dan ia juga selalu berusaha menyenangkan anak buahnya agar segala tugas yang menjadi tanggung jawab di satuannya dapat berjalan lancar. Pertemuan rutin setidaknya sebulan sekali, dilakukan oleh Pratiwi dan anak buahnya, untuk menjaring masukan dan keluhan serta kendala yang ditemui anggotanya di lapangan. Dari sini, Pratiwi dapat mengenal anggotanya satu persatu. Pendekatan yang dilakukannya bukan hanya pendekatan kedinasan melainkan juga pendekatan kekeluargaan. Untuk itu, Pratiwi tidak hanya mengenal anggotanya di kantor, melainkan mulai mengajak anak buah beserta keluarganya masingmasing untuk menikmati waktu santai bersama di kala waktu senggang atau saat tidak sedang sibuk, dengan berekreasi bersama secara sederhana. “Intinya kumpul bersama dan di sanalah saya

mengenal ibu-ibu Bhayangkari Satlantas Polres Bima,” ujar satu-satunya Kasatlantas perempuan di NTB saat ini. Dalam tanggung jawab tugas yang diemban yang tentu saja menyita banyak waktunya, Pratiwi adalah seorang ibu yang tidak ingin meninggalkan kodratnya sebagai seorang perempuan untuk bayinya yang baru berusia satu tahun dua bulan. Kelebihan seorang perempuan yang tidak bisa dimiliki oleh pemimpin laki-laki seperti dirinya, tetap dijalankannya dengan baik. Hingga hari ini, Pratiwi tetap berkomitmen memberi ASI kepada bayinya hingga usia anaknya tersebut dua tahun. Pratiwi tetap memberi ASI untuk bayinya lebih karena ia tidak ingin menyia-siakan kesempatan emas untuk anak peramanya itu, yang tentu saja kesempatan itu tidak datang dua kali dan juga tidak bisa diulangi atau pun dibeli dengan jumlah uang berapa pun nilainya. “Saya ingin anak saya mendapatkan haknya mendapatkan ASI semaksimal mungkin,” katanya. Dengan komitmennya ini (tentu saja pemberian ASI telah ia atur semaksimal mungkin menyesuaikan dengan waktu tugasnya), Pratiwi menjadi pemimpin perempuan yang memiliki kesempatan dan keistimewaan yang tidak mungkin dimiliki oleh laki-laki. -Naniek I. Taufan

ia tangani kala itu. Waktunya banyak tersita termasuk untuk terus mempelajari peraturan yang berkaitan dengan hal tersebut. Tugas ini, bagi Pratiwi sangat mengasyikkan dan ia nikmati benar waktu demi waktunya dalam bekerja karena ia menjadi lebih banyak tahu, selain peraturan hukum berkaitan dengan masalah ini

juga banyak tahu lika-liku persoalan rumah tangga dan anak-anak. Setidaknya, tiap kasus yang ditanganinya memberinya inspirasi untuk mengambil yang baik dan membuang yang buruk. Ini adalah ilmu yang kemudian dibawanya dalam berumah tangga dengan Mutawalli, ST., MM., yang juga seorang polisi. –Naniek I. Taufan

Jadi Kenyataan

Memiliki impian untuk adalah hak semua orang. Apakah impian itu bisa diwujudkan atau tidak tergantung pribadi masing-masing. Asalkan mau berusaha, impian itu pasti terwujud. Demikian jalan pikiran Ni Ketut Mursi, penyandang tunanetra yang sukses menjadi pecatur dan kini membuka klinik alternatif Prana Holistic.

M

Pratiwi saat membetulkan helm pengguna jalan di Bima

Hadiah Kaus dari Kapolda Selain itu menjadi Kanit PPA membuat pergaulannya menjadi lebih luas, tidak hanya polisi, jaksa, hakim dan juga pengacara melainkan dari berbagai instansi dan organisasi. “Saya banyak memiliki kawan, punya teman dari berbagai kalangan, seperti Pemda, pekerja sosial, organisasi sosial, perempuan dan juga organisasi anak,” ungkapnya. Saat menjadi Kapolsek KP3 Udara Bandara Selaparang, pengalaman Pratiwi semakin bertambah. Meski hanya dalam lingkungan bandara, tugas ini telah melatihnya menjadi pimpinan suatu wilayah, yakni wilayah Bandar Udara yang memiliki spesifikasi permasalahan tersendiri. Meski hanya tiga bulan ia menjadi Kapolsek di sini, Pratiwi mengambil banyak keberuntungan dari tugas ini. Di samping ia bisa belajar untuk mengepalai suatu wilayah, meskipun lingkup kecil, ia juga bersyukur bisa bertemu langsung dengan para pimpinannya yang berpergian keluar ataupun kembali ke Mataram, kala itu. “Saya senang selama tiga bulan itu, saya bisa mengenal secara langsung pimpinan saya,” ungkap Kapolsek terakhir di Bandara Selaparang Mataram, ini (saat itu Bandara Selaparang Mataram lalu pindah ke Bandara Internasional Lombok, Lombok Tengah). Satu hal yang tidak akan ia lupakan saat bertugas di sini adalah ketika Kapolda NTB, Brigjen. Arif Wachjunadi, kala itu tibatiba menghadiahkan sebuah kaos yang dibelikannya di bandara tersebut. “Saya senang sekali,” ujar Pratiwi bangga. Hadiah itu sungguhlah bermakna bagi Pratiwi. Bukan sekedar selembar kaus baginya, namun pelajaran di balik itulah yang ia ambil. Perhatian seorang pimpinan sungguh mengguncang adrenalinya dalam rasa bangga sehingga ia bersemangat bekerja dan merasa tugasnya menjadi sangat dihargai. Setidaknya itulah gambaran yang bisa ia terapkan manakala ia menjadi pimpinan, baik dari level terendah hingga yang tertinggi jika kelak ia mendapatkan amanah itu. Selain soal itu, tugas di bandara ini mengingatkannya kembali, bahwa saat pertama kali bertugas di NTB, tahun 2010, kala itulah pertama kali ia naik pesawat terbang. “Kalau saya tidak bertugas di NTB, mungkin saya tidak akan naik pesawat terbang,” ujarnya tertawa. Hal ini membuatnya menyimpan kesan terhadap bandara. Karena sejak kecil dan sekolah hingga Akpol di Semarang, Pratiwi tidak pernah keluar dari Pulau Jawa. Bahkan tempat sekolahnya juga berdekatan dengan kampung halamannya di Jombang, sehingga ia hanya memakai transportasi bus dan kereta api, sudah sampai di tempat tujuan.

ursi lahir 4 Mei 1977 di Banjar Belalang, Desa Kediri, Tabanan. Ia anak ke-12 dari 13 bersaudara. Orangtuanya Ketut RibungNengah Landri. Sejak lahir, Mursi mengalami kelainan di matanya. Ia menderita low vision. Jarak pandangnya sangat terbatas, antara 1-2 meter. “Menurut cerita orangtua, ayah saya bersemedi sebelum saya lahir. Ayah berharap anak yang akan lahir ini laki-laki, sehat, dan digadang-gadang menjadi pengobat. Ternyata yang lahir cewek dan hampir buta,” kenang Mursi. Seiring perjalanan waktu, Mursi tumbuh menjadi anak desa yang senang bermain-main. Ia tak pernah mengeluh walau pandangannya terbatas. Mursi lalu “ditemukan” I Gede Nyoman Sumitha yang saat itu bertugas di Panti Sosial Bina Netra Ma-

hatmiya, Tabanan. “Tahun 1983 saya mengadakan home visit untuk mencari anak-anak tunanetra. Saat itulah saya bertemu Mursi dan tiga temannya lalu mengajak mereka bergabung di Mahatmiya,” ujar Sumitha yang juga Ketua National Paralympic Committee (NPC) Bali. Tahun 1988, Mursi ikut Porpenca. Ia yang dari kecil menyukai atletik memilih bertanding di olahraga catur. Pengalaman ini membekas di benaknya. Tahun 1993 ia ingin ikut lagi, kali ini atletik menjadi pilihannya. Sayang, Mursi tak bisa melewati limit yang ditentukan. Ia pun gagal. “Saat itu saya sedih. Saya ingin ikut bertanding. Tetapi, tidak lolos. Sejak itu, saya terus berdoa agar nanti bisa ikut pertandingan dan dapat emas,” ungkapnya. Tamat SMP, Mursi yang sudah memiliki keterampilan sebagai terapis pijat diterima bekerja di Hotel Amandari sejak 2005.

Penghasilannya lumayan karena ia kerap mendapat tips dari tamu yang dipijat. Beberapa pejabat pusat pernah ia pijat, salah satunya Try Sutrisno. Di sela-sela waktu istirahat di hotel, ia melihat orang main catur. Niatnya berlatih catur kembali membuncah. Mursi pun bertekad untuk mewujudkan impiannya ikut pertandingan dan memiliki medali emas. Ajang pertama yang ia jajal Kejurda. Hasilnya, Mursi menjadi juara I. Berikutnya ia ikut Kejuaraan Catur Wanita yang diadakan Koran Tokoh tahun 2006. Walaupun tak menjadi juara, Mursi tetap bersemangat. Berikutnya ia ikut Kejurnas di Ternate tahun 2006. Ia berangkat bersama tim yang dipimpin Sumitha. “Saya dapat juara I. Selama di Ternate, saya juga sibuk memijat. Ada saja yang minta dipijat. Tiap habis pertandingan, selalu ada yang menunggu. Bahkan ada yang menawarkan saya untuk tinggal di Ter-

Orang “SAKTI”

Mursi bersama Sumita

Mursi sebenarnya tak sepenuhnya lepas dari catur. Ia masih memberi bimbingan kepada juniornya. Salah satunya Debi, pecatur tunanetra dari Jawa Barat yang berhasil meraih medali emas di ASEAN Paralympic di Myanmar. “Kami komunikasi via telepon. Saya banyak memberi-

kan teori-teori catur karena selama di Pelatnas, kami tidak diberikan teorinya,” ujar Mursi yang absen di Myamnar karena saat yang bersamaan berada di Jepang. Untuk menambah ilmu catur, Mursi rela merogoh kocek untuk berguru ke pelatih seperti Oki Irawan dan Maksum Firdaus. Ia pun bersyukur didukung NPC Bali dan Pemprov. Bali. “Sekarang saya mau fokus mengurus klinik. Dari kecil saya diharapkan menjadi pengobat oleh ayah saya. Sekarang saatnya saya mewujudkan harapan itu. Saya membuat klinik bukan semata-mata ingin bisnis. Tetapi, saya ingin mengedukasi masyarakat luas bagaimana cara menjaga kesehatan sebelum ia pergi. Sehat itu murah, sakit itu mahal,” tegasnya. Jika sakit datang, bagaimana caranya agar tidak langsung diobati dengan kimia, tetapi menyembuhkan dengan gaya hidup sehat seperti mengatur pola makan, berolahraga, mengolah nafas dan menguras usus yang ada di perut karena disanalah berbagai macam sumber penyakit terjadi. Mursi juga ingin menginspirasi bahwa kecacatam fisik bukan berarti tak bisa membuat orang sehat. “Saya ingin menjadi orang SAKTI. Sukses dalam segala hal. Arif menyikapi masalah. Kaya hati kaya harta. Berarti bagi alam beserta isinya,” ungkap Mursi. –Ngurah Budi

Ni Ketut Mursi

nate selama tiga bulan. Tetapi, Pak Sumitha melarang. Sebagai bagian dari tim, saya harus ikut pulang ke Bali usai Kejurnas,” kata Mursi. BUTA TOTAL Perjalanan Mursi sebagai pecatur tunanetra pun memasuki babak baru. Ia masuk Pelatnas di Solo. Selama enam bulan ia berada di Pelatnas untuk persiapan ASEAN Paralympic di Thailand tahun 2007. Empat bulan pertama, kerjaannya hanya tidur dan makan. Dua bulan terakhir barulah ia dilatih untuk memantapkan strategi. Dari hasil di Thailand ia meraih medali perak. Salah satu penyebab, ia dan pelatih terlambat datang ke lokasi pertandingan karena tersesat. Di Thailand juga Mursi mengalami buta total. “Saya dibangunkan teman karena sudah siang. Saya bilang ini masih malam. Ternyata saya mengalami buta total,” kenang Mursi. Kebutaan total ini tak menghambat Mursi dalam meraih prestasi. Dua tahun kemudian ia ikut ASEAN Paralympic di Malaysia. Ia berhasil meraih 2 emas dan 1 perunggu. Andai tak kena diskualifikasi, ia yakin bisa meraih tiga emas. “Sebelum pertandingan catur open, panitia minta semua pecatur istirahat. Saya pun tidurtiduran sambil mengirim SMS ke guru catur saya. SMS tidak langsung dibalas. Tiba-tiba panitia meminta semua pecatur ber-

kumpul lagi untuk pertandingan karena akan disaksikan Sultan. Kami pun langsung bergegas. Pas main, ponsel saya bunyi. Saya pun kena diskualifikasi dan dinyatakan kalah. Saya menangis dan ngambek,” kata Mursi. Pihak Kemenpora RI yang mendampingi Mursi tak berani memaksa Mursi untuk main di babak selanjutnya sementara Malaysia memohon agar Mursi main untuk mengalahkan pecatur Vietnam. Akhirnya, Mursi pun main lagi hingga meraih perunggu. Niatnya untuk sapu bersih medali emas baru bisa terealisasi tahun 2011 di Solo. Impian sejak kecil pun bisa ia wujudkan. Selain meraih emas, Mursi juga mendapat bonus dari pemerintah. Bonus-bonus itu ia kumpulkan dan sekarang dipakai untuk modal membuka usaha. Ia bekerja sama dengan dr. Kompyang Rahayu, Sp.M yang membantunya membuka klinik alternatif Prana Holistik di Panjer. Karena sibuk mengurus klinik, ia pun menolak untuk bertanding catur lagi. Informasi yang ia dapat, ASEAN Paralympic di Singapura tidak mempertandingkan catur putri karena tuan rumah tidak memiliki atlet. Ternyata belakangan ada perubahan, catur putri dipertandingkan. Namun, Mursi yang sudah telanjur teken kontrak untuk mengurus klinik, memilih fokus di klinik dulu. –Ngurah Budi

Mursi saat mengikuti kejuaraan catur terbuka khusus wanita yang diadakan Tokoh tahun 2006


6

Woman on Top

Edisi 840/ 16 - 22 Maret 2015

Edisi 840/ 16 - 22 Maret 2015

Anak Agung Ayu Ketut Agung

Hemat Listrik 500 MW

Bangga Kursus Tata Rias Pengantin dan Tata Kecantikan Masuk Permendikbud Perasaan bangga menyelimuti hati Anak Agung Ayu Ketut Agung. Pasalnya, kursus tata rias pengantin dan tata kecantikan yang telah dilakoninya sejak tahun 1982 masuk dalam Permendikbud. Hal tersebut dipaparkan dalam “Panduan Kegiatan Implementasi Strategi Penguatan Tata Kelola Bangunan dan Ruang LKP” yang dilangsungkan 11 s.d. 13 Maret 2015 di Wisma Arga Mulya, Kemdikbud, Bogor.

K

ebetulan untuk kali ini, Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Agung pimpinan Bu Agung menjadi satu-satunya LKP dari Bali yang diundang sebagai peserta pelatihan. “Katanya ini baru sesi pertama, nanti akan ada pelatihan lagi dengan peserta lain,” ujar Bu Agung ketika ditemui di salonnya, Sabtu (14/3). Dalam permendikbud No. 127 tahun 2014 tentang standar sarana prasarana LKP, tersirat bahwa sudah seyogianya tiap LKP didukung oleh sarana prasara memadai. Dan, sapras tersebut pun harus pula memenuhi standar. Ketentuan ini tertuang dalam PP No.19 Tahun 2005 pasal 42 yang kemudian diubah menjadi PP No. 32 Tahun 2013, dan ditetapkan 9 Oktober 2014. PP tersebut mengatur tentang keselarasan antara peralatan belajar yang digunakan di LKP dengan peralatan kerja yang digunakan di dunia kerja dan industri. Dengan selarasnya peralatan tersebut, akan menjadikan LKP sebagai lembaga yang mampu menghasilkan suplay dan memenuhi demand. Di LKP Agung, sarana prasarananya sudah memadai, terutama sarana pembelajaran praktik, yang sebagaian besar sudah memenuhi standar yang digunakan dunia kerja dan dunia pariwisata.

Sapras di LKP Agung, baik dari aspek kuantitas, kualitas, spesifikasi teknik alat, dan rasio penggunaannya sudah memenuhi standar. Dan, dalam waktu 5 tahun sejak ditetapkannya PP tersebut, LKP lain yang tersebar di Indonesia diberikan kesempatan berbenah. Untuk saat ini tercatat 10 jenis keterampilan yang sarana prasarananya masuk dalam standar Permendikbud, yakni keterampilan mekanik sepeda motor, mengemudi kendaraan bermotor, tata busana, tata kecantikan kulit, spa, baby sitter, tata kecantikan rambut, tata rias pengantin, tata boga, dan keterampilan perhotelan. Prasarana yang dimaksud mencakup lahan, bangunan, ruang pembelajaran teori, ruang pembelajaran praktik, dan ruang pnunjang. Dan kriteria minimal tentang sarana mencakup, sarana pembelajaran teori, sarana pembelajaran praktik, media pembelajaran, dan bahan ajar pembelajaran lainnya. Untuk bidang keterampilan tata rias pengantin, tata kecantikan kulit dan tata kecantikan rambut, Bu Agung yang mengelola salon mulai tahun 1979, membuka kursus tersebut sejak tahun 1982. Sampai saat ini LKP Agung sudah memiliki alumni 9.000an yang tersebar di seluruh Indonesia, bahkan ada juga dari

tamu mancanegara. Salah seorang murid kesayangannya adalah Asri Welas, artis nasional yang juga seorang desainer dan pemilik sanggar tari, yang belum lama ini mementaskan koleksi desainnya yang mengusung kebudayaan daerah, salah satunya Bali, di New York. “Saya bangga dengan Asri Welas, karena meski dia artis top, dia masih mau turut melestarikan budaya nusantara melalui karya-karyanya,” ungkap Bu Agung kagum. Dalam kesempatan berbeda, Tokoh juga sempat menyambangi Bu Agung di Hotel Grand Niko, Nusa Dua, Bali, Kamis (10/3). Saat itu memang tengah berlangsung Forum Asia-Europe Meeting (ASEM) for Lifelong Learning 2015. ASEM Forum adalah suatu landasan dialog informal yang melibatkan 22 negara di Asia dan 31 negara di Eropa. Forum ini bertujuan menekankan pentingnya pendidikan sebagai investasi yang berharga bagi Sumber Daya Manusia (SDM). ASEM memiliki fokus pada empat pilar kerja sama dan kemitraan pendidikan yang dikenal sebagai ASEM Education Process, yaitu: 1) Jaminan Mutu dan Pengakuannya; 2) Melibatkan Bisnis dan Industri dalam Pendidikan; 3) Mobilitas yang Seimbang; dan 4) Pembelajaran Sepanjang Hayat

19

Saatnya Introspeksi, bukan Tidur Seharian Sebelum menggelar fashion show di New York, Asri Welas menyempatkan diri ke Bali berpamitan langsung dengan Bu Agung

termasuk Pendidikan Teknik dan Vokasi serta Pelatihan (TVET). Pada even internasional tersebut Bu Agung (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat/PKBM Agung) yang juga pengawas SD ini diundang untuk berpameran bersama tiga SMK Negeri di Bali, yakni SMKN 1 Gianyar, SMKN Sukawati, dan SMKN 3 Denpasar. DISKON 50% KURSUS TATA RIAS Menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1937, LKP Agung memberikan diskon 50% kursus regular. Materi yang diajarkan mencakup 3 paket yakni Tata Kecantikan Kulit, Tata Kecantikan Rambut, dan Tata Rias Pengantin (payas nista, madya, utama, modifikasi, dan tengkuluk lelunakan). LKP Agung memi-

liki tempat belajar yang memadai dan kondusif di dua tempat di Denpasar dan ditangani langsung Bu Agung dibantu instruktur lain yang mempunyai latar belakang keahlian dan pengalaman legal yang telah mengantongi sertifikat kompetensi di bidang tata kecantikan. Semua peralatan kursus disiapkan lembaga. Disediakan juga beasiswa kursus gratis bagi mereka yang kurang mampu dan putus sekolah, yang benar-benar berminat di bidang tata kecantikan. Syarat dan ketentuan berlaku. Silakan menghubungi Sekretariat LKP Agung, Jalan Anggrek No. 12 Kreneng, Denpasar. Telepon 0361 233850, 081 1393602, faks. 0361 247153. Cabang Tohpati, Jalan WR. Supratman No. 303 A, Tohpati, Denpasar. Email: lkp_agung@yahoo.com. website: www.salonagung.com. –iin

Hari Raya Nyepi merupakan perayaan tahun baru agama Hindu yang berdasarkan penanggalan/kalender Caka, yang dimulai sejak tahun 78 Masehi. Tiap tahun baru Caka, umat Hindu di Bali mulainya dengan menyepi. Semua aktivitas atau kegiatan diberhentikan sementara.

K

ata Nyepi itu sendiri berasal dari kata sepi (sunyi, senyap). Nyepi yang jatuh pada pinanggal pisan sasih Kedasa atau hari setelah tilem kesanga ini, masyarakat Hindu khususnya di Bali melaksanakan “Catur Brata” Penyepian. Adapun bagian dari catur Brata penyepian yaitu Amati Geni (tiada berapi-api/ tidak menggunakan atau menghidupkan api), Amati Karya (tidak bekerja), Amati Lelungan (tidak berpergian) dan Amati Lelanguan (tidak berpoya-poya atau mencari hiburan). Dr. Wayan Suarjaya, M.Si, dosen IHDN Denpasar menuturkan Nyepi itu bersumber dari Filsafat Samkhya yang mengatakan bahwa dunia ini diatur oleh Rwa Bhineda, sehingga ada siang dan malam. “Dari malam ke siang atau dari hari ini ke hari besok, tentunya ada pergantian hari yang terjadi pada waktu tengah malam. Pada tengah malam, semua orang secara alamiah mengistirahatkan badan atau tidur. Makna tidur atau istirahat sendiri adalah memulihkan tenaga untuk memulai aktivitas kee-

sokan harinya,” paparnya. Makna tidur itu sendiri sama halnya perayaan Nyepi, dengan melaksanakan penyepian atau mengistirahatkan alam dari kegiatan kerja maka akan memulihkan bhuana agung dan juga bhuana alit atau unsur makro dan mikro di alam ini. “Makna Nyepi yaitu untuk memulihkan kembali kekuatan-kekuatan alam berserta isinya ini, sehingga dapat kita manfaatkan kembali dengan baik,” tutur Suarjaya. Saat Nyepi, lakukan mengendalikan panca Indra dengan manah dan budhi. Dengan meredakan panca indra, tentunya kebahagian akan tumbuh dalam diri sendiri secara dinamis sehingga kualitas hidup menjadi meningkat. Mereka yang mempunyai kemampuan khusus, akan melakukan tapa brata yoga dan semadhi. Masa kini, masyarakat jarang memaknai Nyepi dengan melakukan hal seperti itu. Perubahan pemikiran

Waspadai Polusi Styrofoam Isu pemanasan global (global warming) memang sudah menjadi masalah dunia. Meningkatnya suhu muka bumi ini dikarenakan menipisnya lapisan ozon yang menyelimuti bumi. Penyebabnya adalah penggundulan hutan, polusi, dan pencemaran udara lainnya. Gas buang hasil pembakaran bahan bakar minyak pada kendaraan bermotor disebut-sebut sebagai penyumbang polusi terbesar selama ini. Perayaan Nyepi di Bali pun dinilai sebagai bentuk partisipasi sebagai hari penyelamatan bumi. Penelitian yang dilakukan pada perayaan Nyepi tahun 2012, bisa mengurangi emisi karbon sebesar 30 ribu ton, karena sekitar 2,3 juta kendaraan berhenti beroperasi hari itu. Hal tersebut diungkapkan Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Bali, Suriadi Dharmoko, S.Ag. Secara teori, ia menyebutkan perayaan Nyepi di Bali sebenarnya waktu yang sedang istirahat. Konsumsi energi rendah dan menghasilkan polusi rendah. “Sesungguhnya, dalam satu hari Nyepi itu terjadi jeda produksi polusi, dalam artian satu hari tidak memproduksi polusi,” tegas Suriadi. Sebut saja untuk pemakaian bahan bakar minyak (BBM). Dari 1 liter BBM

membuat masyarakat terlena akan perbuatan-perbuatan yang kurang memaknai perayaan Nyepi, seperti berjudi dan keluar rumah. Menurut Suarjaya, perbuatan seperti itu karena pemahaman yang kurang terhadap makna perayaan Nyepi tersebut. “Makna Perayaan Nyepi adalah belajar untuk intropeksi diri dan mulat sarira, disini belum ada pemahaman masyarakat terhadap perayaan yang sebenarnya Nyepi ini. Desa, kala, patra yang menjadi perbedaan pemahaman terhadap perayaan Nyepi ini. Hal tersebut tidak bisa dihindarkan dari keberadaan agama Hindu yang fleksibel,” tegasnya. Suarjaya juga menambahkan, dalam perayaan Nyepi tidak harus dilakukan dengan tidur seharian, tetapi tetap melakukan persembahyangan kepada Ida Sang hyang Widhi Wasa. Kadang masyarakat melaksanakan perayaan Nyepi dengan tidur seharian di kamar, tidak melakukan apapun, hal itu sebenarnya kurang tepat. Momen Nyepi harusnya umat Hindu mengintropeksi diri dalam setahun dan yang terpenting tetap mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa untuk mencapai Moksartham Jagathitaya ca iti Dharma. Selain makna yang terkandung dalam perayaan Nyepi, terdapat nilai yang bisa diambil dan pengaplikasiannya di dunia. Salah satunya Silent Day, yang sudah dilakukan di beberapa negara. Silent Day tersendiri merupakan hari dimana semua kerjaan diberhentikan selama sehari itu, sama seperti perayaan Nyepi tetapi hari dalam pelaksanaannya yang berbeda. -Jelantik

Walaupun umat Hindu melaksanakan brata penyepian tanggal 21 Maret, listrik di Bali tetap hidup. Menurut Humas PLN Distribusi Bali, Wayan Redika, listrik pada saat Nyepi tetap harus hidup karena PLN harus memberi pasokan kepada instalasi penting yang tidak boleh dipadamkan, seperti rumah sakit atau instalasi TNI. “Walaupun di institusi tersebut sudah tidak lagi memakai listrik secara mencolok, tetapi kebutuhan alat-alat ada yang tidak boleh dipadamkan,” ujarnya. Untuk penghematan beban listrik di tahun 2014, dari beban biasanya berkisar 780 megawatt (MW), turun sekitar 45% di malam hari yakni di kisaran 430 MW. Prediksi di tahun 2015, dengan beban biasanya yang mencapai 850 MW, maka dengan turun 45% berada di kisaran 500 MW. Ia menyadari, masyarakat Bali sangat heterogen dengan berbagai umat beragama. Selain itu, listrik masih sangat diperlukan untuk hotelhotel, sehingga beban masih cukup tinggi sebesar 55 % dari beban biasanya. Namun, ia menilai, sudah ada usaha untuk mendukung penyepian ini, dengan tidak menyalakan lampu sampai mencolok keluar agar tidak mengganggu umat Hindu yang sedang melakukan brata penyepian. Menurut pengamatannya, tren lima tahun

lalu, penurunan beban masih normatif berkisar 45 sampai 50%. Artinya, pemahaman kebutuhan energi saat Nyepi masih relatif stabil dan masyarakat sudah memahaminya. Dari penurunan beban ini, kata Redika, tentu berdampak besar bagi PLN. Pembangkit yang setara dengan beban itu, tidak dihidupkan. Bahan bakar solar tidak digunakan. “Dari 1600 kiloliter atau 16 juta liter untuk seluruh Bali, terjadi penurunan sebesar 45%, tentu sangat menurunkan biaya produksi solar. 16 juta liter x 45% x Rp 11.000, sebesar itu terjadi penghematan. Dari sisi lain lingkungan, CO2 tidak dikeluarkan selama mesin tidak beroperasi,” jelas Redika. Ia berharap, kondisi Nyepi sebaiknya dijadikan momentum untuk berhemat energi. “Kalau secara budaya kita bisa menikmati amati geni, amati karya, amati lelangunan, dan amati lelungan, kita juga bisa berhemat listrik. Ini bisa menginspirasi kita untuk berhemat dalam kehidupan sehari-hari,” kata Redika. Dengan berhemat listrik, kita sudah memberi ruang yang besar bagi orang lain yang belum menikmati listrik. Dengan banyaknya persediaan, tentu masyarakat yang belum terlayani listrik bisa segera dilayani. Ia menegaskan hemat adalah sebuah kebutuhan budaya. –Wirati Astiti

tereduksi 4 kilo gram karbon. Bayangkan saja, berapa banyak karbon yang tereduksi dari hasil pembakaran kendaraan bermotor ini setiap harinya. Namun di balik perayaan Nyepi tersebut, ada satu persoalan yang perlu diperhatikan, yakni polusi yang dihasilkan dari pembakaran ogoh-ogoh styrofoam. “Selama ini kami selalu mengevaluasi asap yang dikeluarkan dari hasil pembakaran BBM kendaraan bermotor, namun kami tidak bisa mengevaluasi asap yang dihasilkan dari pembakaran ogoh-ogoh ini,” ujarnya. Styrofoam yang beberapa tahun terakhir banyak digunakan sebagai bahan baku utama ogoh-ogoh dijelaskannya, ketika dibakar menghasilkan Chlorofluorocarbon (CFC). Zat ini memiliki daya rusak luar biasa terhadap lapisan ozon di atmosfer bumi. Limbah styrofoam ini, tidak dibakar saja sudah merusak, apalagi dibakar. Menurut sumber data dari US Marine and Park Service, styrofoam baru bisa diurai 7 juta tahun, lebih lama dari limbah plastik yang bisa diurai sekitar 450 tahun. Karena itu, Suriadi sangat menyambut baik instruksi Pemkot Denpasar yang melarang pemakaian styrofoam sebagai ogoh-ogoh. “Seyogianya pembuatan ogoh-ogoh kembali memakai cara-cara tradisional dengan menggunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan. Ini juga sebagai cara orang Bali menghormati alam,” ujarnya. Perayaan Nyepi yang menyumbang penghematan energi listrik dan BBM ini ditegaskan Surioko hanya di skala RT. “Yang punya respek terhadap ligkungan adalah orang Bali. Ia menyentil beberapa badan usaha khususnya hotel justru memanfaatkan momentum ini untuk mengeruk keuntungan lebih dengan menjual paket Nyepi. Perayaan Nyepi yang seharusnya hening dan gelap tak berlaku di hotel, konsumsi energi tetap dilakukan. “Kalau di rumah sakit wajar menyalakan listrik atau di rumah tangga yang punya anak kecil atau orang tua. Tapi kalau di hotel, apa yang menginap di sana orang sakit?” sindirnya. Menurut alumni IHDN Denpasar ini, boleh saja hari raya keagamaan dijual sebagai paket pariwisata, namun esensi perayaan tersebut harus tetap diikuti. Seperti perayaan Nyepi di Bali, mereka yang datang dan tinggal di Bali saat itu seharusnya mengikuti esensi Nyepi tersebut. “Dimana bumi dipijak disana langit dijunjung”. –Inten Indrawati


18

IA Yutri Indahgustari

Targetkan Desa Layak Anak

L

Life

Edisi 840/ 16 - 22 maret 2015

a ma berkecimpung

di bagian keuangan, bahkan hampir 11 tahun, IA Yutri Indahgustari akhir­­nya diberi kesem­patan memimpin Kantor Pemberdayaan Perempuan Kabupaten Badung. Hal ini, tentu merupakan tantangan besar bagi perempuan kelahiran 31 Agustus, 43 tahun lalu ini. “Saya kaget saat pertama kalinya masuk ke Kantor Pemberdayaan Perempuan. Banyak sekali UU dan peraturan menteri yang harus saya pelajari. Saya sempat berpikir, harus mulai dari mana, saking banyaknya peraturan yang harus saya ketahui,” tuturnya. Namun, dari berbagai kegiatan yang diikuti, mulailah Yutri pelanpelan, bisa mengikuti. “Untung juga pemimpin sebelumnya sudah memberikan pondasi kuat sehingga saya masuk sudah ada prestasinya. Hal ini membuat saya terpacu untuk terus melakukan yang terbaik,” ujarnya. Dari penilaian Kantor Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, kabupaten Badung sudah sangat memperhatikan perempuan dalam pemenuhan

haknya. Ada juga inovasi kegiat­an, seperti sekolah siaga bencana dan forum anak daerah. Yutri memiliki target untuk desa layak anak. Ia menyadari, ini memang memerlukan komitmen kepala desa untuk membantu mewujudkannya. Saat ini, memang ia sudah melakukan berbagai pembinaan. Ia membuat suatu pedoman yang dibagikan kepada para kepala desa. Namun, sebagai langkah awal, memang banyak tantangannya. “Kadang buku pedoman belum sampai ke tangan kepala desa,” kata Yutri. Memang Yutri tak mau gegabah. Banyak hal yang harus ia lakukan. Mulai dari mendata tiap desa, sisi mana yang kurang sehingga bisa dibuatkan program sesuai dengan kondisi desanya. Ia mengatakan, ada contoh desa yang sangat aktif, yakni desa Sibang Kaja. Di desa tersebut kegiatan pemberdayaan perempuannya cukup aktif, termasuk kegiatan lansia, dan seka teruna-teruni. Untuk desa Munggu, ia contohkan sudah ada tempat bermain anak di areal terbuka desa. Memang ia banyak men­dapatkan

masukan dari kepala desa, tak ada lahan di desa yang bisa dijadikan tempat bermain anak. Inilah yang menjadi pemikirannya. Tapi dia berharap, dengan adanya dana yang sudah masuk ke desa, pemenuhan hak anak agar dimasukkan ke dalam anggaran mereka. Selama ini, kata Yutri, sosialisasi pencegahan Kekerasan Dalam Rumahtangga (KDRT), rutin dilakukan tiap tahun. Namun, ia sangat berharap, di tiap desa memiliki posko penanganan KDRT sehingga penyelesaikan bisa dilakukan di level desa. Seperti contohnya desa Ungasan yang sudah memiliki posko pena­nganan KDRT. Desa Ungasan, sudah memiliki prestasi sampai menang urutan keempat tingkat nasional. Uniknya, walaupun sudah memiliki posko penanganan KDRT, sampai saat ini, tidak ada kasus KDRT. Tujuan posko dibuat adalah untuk pencegahan dan sosialisasi KDRT. Namun, jika terjadi kasus, dapat diselesaikan di level desa terlebih dahulu. Ia menyatakan, berbagai kegiatan yang dilakukan pemberdayaan perempuan, selalu bersinergi dengan SKPD terkait. Misalnya untuk deteksi kanker payudara dan vaksin kanker serviks dengan Dinas Kesehatan. Sampai saat ini sudah 6000 orang yang sudah divaksin kanker serviks. Pendidikan wajar 12 tahun bersinergi dengan Dinas pendidik­an yang sudah dilakukan sejak tahun 2011. Selain sosialisasi KDRT ke masyarakat, sosialisasi juga dilakukan ke sekolah-sekolah. Ia mencontohkan, SMPN Mengwi. Sudah ada toilet khusus laki-laki dan perempuan dekat dengan lapangan. Ada UKS dan juga kerindangan sekolah.

Sebagai pemimpin, tentu Yutri tak bisa bekerja sendiri. Ia dibantu 31 staf dan 4 orang kasi. Menurutnya, gaya kepemimpinannya lebih kepada pendekatan keterbukaan. “Saya wajibkan mereka memberi masukan, karena tak selamanya pimpinan selalu benar,” kata Yutri. Hal lain, ia selalu memotivasi stafnya untuk terus belajar. Dari yang tidak tahu komputer, ia motivasi untuk belajar. “Sering saya tekankan, kalau mereka tidak bisa, itu akan membuat kegiatan ngadat. Jadi semua harus belajar. Walaupun saya tahu, tak bisa memaksakan karena

kemampuan tiap orang berbeda. Tapi selau saya motivasi,” ujarnya tentang kiatnya dalam memimpin. Menurutnya, dia teringat prinsip ayahnya (alm) Ida Bagus Yudara Pidada yang pernah menjabat Sekda Badung. Kalau staf pintar, pimpinan akan mudah bekerja. Jadi berbagilah ilmu. “Saya bersyukur dengan berpindah-pindah tempat kerja, banyak sekali keuntungan buat saya. Banyak ilmu yang saya dapatkan dan bisa dibagi kepada staf, misalnya keuangan, anggaran dan perencanaan, termasuk aset,” kata Yutri. –Wirati Astiti

Story

Edisi 840/ 16 - 22 maret 2015

Wedhasmara

Lupa Waktu kalau Bermusik

Wedhasmara saat menerima paguyuban Teruna-Teruna Bali

Seni musik sudah menjadi bagian perjalan hidup I Gusti Putu Gede Wedhasmara sejak kecil. Ia bisa bermain musik dan menciptakan lagu-lagu yang menjadi hits di zaman dulu. Lagu berjudul “Senja di Batas Kota”, “Berpisah di St Carolus”, dan “Kau Selalu di Hatiku” merupakan beberapa karyanya yang masih akrab di telinga penikmat musik. Hasil karyanya tersebut lebih banyak bernuansa romantis, membuat orang akan terlena ketika mendengar lagunya tersebut.

W

edhasmara lahir di Denpasar, 10 September 1932. Ketika mulai masuk sekolah dasar, ia berlatih di tempat-tempat musik pada zaman itu. Kemampuan bermusiknya didapat secara otodidak, tanpa ada guru yang mengajarinya. Wedhasmara terus berada di tempat bermain musik, tanpa mengenal waktu terkadang sampai malam hari. “Di mana ada tempat bermain musik, di sana kadang saya tidak melihat waktu, karena itu sudah menjadi hobi saya bermain musik,”

tuturnya kepada Paguyuban Teruna-Teruni Bali yang mengunjunginya Minggu (8/3). Saat SMP, ia mulai ikut lomba nyanyi. Tahun 1940-an ia melanjutkan pendidikan di Yogyakarta. Di sana ia bertemu dengan Gesang, Idris Sardi, dan Pranajaya. Wedhasmara mulai membuat lagu-lagu pop maupun keroncong di Kota Pelajar ini, bahkan membentuk grup musik. Pengalamannya membuat ia sosok yang andal dalam menciptakan lagu dan bermain musik. Lulus dari Yogyakarta, Wedhasmara bekerja NV GIEB Denpasar dari tahun 1954 sampai dengan

Wedhasmara menunjukkan koleksinya

1956. Selanjutnya ia bekerja di Dinas Pertanian Bali selama 13 tahun. Untuk mengisi waktu luangnya ia selalu bernyanyi dan menciptakan lagu-lagu, tapi lagunya tersebut belum

direkam, hanya dicatat saja. Ia sempat mengikuti lomba-lomba menyanyi dan beberapa kali meraih juara. Wedhasmara lalu diajak oleh temennya untuk bekerja di studio di Jakarta. Pria asal Puri Batan Moning, Banjar Gerenceng, Denpasar ini bertemu dengan musisimusisi yang sudah terkenal di saat itu. Bekerja di tempat rekaman musik ini membuat ia memulai berkarier di dunia musik. Ia pun merekam semua karya cipta lagunya tersebut. Tahun 1960 hingga 1970-an, lagunya banyak diminati oleh beberapa produser maupun penyanyi. Karya-karyanya tersebut telah membesarkan nama sejumlah penyanyi angkatan 1970-an seperti Erni Djohan, Lilis Suryani, Tetty Kadi, Deasy Arisandi, sampai Titiek Sandhora. Di usia 83 tahun, ia masih menekuni hobinya. Pencipta lagu “Kaden Saja” ini juga sering mengamati perkembangan musik Bali. Dalam hal berkarya, ia bisa mendapat ide dari mana saja. Tiap ada ide, ia langsung catat di kertas. Berbagai kegiatan kesenian di bidang musik ia ikuti, seperti menciptakan mars untuk awal mula Pesta Kesenian Bali (PKB) dan menjadi juri dalam perlombaan di PKB tersebut. Wedhasmara ingin hasil karyanya tersebut bisa diterima dan dikenang oleh masyarakat. BANGUN MUSEUM MUSIK Kemampuannya dalam bermain musik juga diturunkan ke anak dan cucunya. Wedhasmara yang memiliki 3 anak laki-laki dan 2 anak perempuan ini memberikan kebebasan kepada mereka dalam bernyanyi, bermain musik, dan menciptakan lagu. Namun, satu hal, ia melarang cucunya melakukan les suara. Hal itu dilakukan supaya cucunya mempunyai ciri khas suaranya sendiri.

7

Perjalanan karier Wedhasmara di bidang musik tidaklah sia-sia. Berkat dedikasinya di bidang musik, tahun 2011 ia mendapatkan penghargaan Seni dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata bersama dengan 2 seniman lainnya. Selain penghargaan tersebut, ada banyak penghargaan yang diraihnya. “Saya berharap seniman dan musisi Bali kedepannya tetap mencintai lagu-lagu pop Bali. Yang memperhatikan perkembangan lagu pop Bali bukan hanya media atau golongan tertentu saja. Penggemar lagu pop Bali adalah anak-anak, dewasa maupun orang tua,” ujarnya. Wedhasmara berencana akan membuat istana musik, museum musik dan pusat dokumentasi musik yang berada di rumahnya itu. Koleksi piringan hitam, lagu-lagu, potret-potret berbagai jenis musik dan musisi dari seluruh Indonesia siap untuk dipajang. “Rasanya sangat tepat jika menjadikan itu semua sebagai sumber dokumentasi informatif terkait sejarah musik Indonesia pada umumnya,” tuturnya. Membangun semua itu di rumah mempunyai makna tersendiri buat Wedhasmara, karena rumahnya tersebut merupakan bagian dari sejarahnya. Banyak koleksi yang terdapat di rumahnya, tetapi belum di atur dalam penyimpanannya. Ia berharap, koleksinya tersebut bisa jadi sarana informasi bagi generasi mendatang supaya mereka tahu sejarah musik Indonesia umumnya dan Bali khususnya. Ia pun salut kepada Paguyuban Teruna-Teruni Bali yang memiliki kegiatan mengunjungi seniman Bali. Apalagi tema yang diangkat adalah “Belajar Peduli dan Berbagi Bersama Seniman demi Pelestarian Budaya Bali”. “Kunjungan ini merupakan bentuk kepedulian kami kepada seniman Bali,” ujar Eka, dari Paguyuban Teruna-Teruni Bali. -Jelantik


8

Bunda & Ananda

Edisi 840/ 16 - 22 Maret 2015

Anak Susah Tidur? Kenali Penyebabnya Tidur merupakan cara istirahat yang paling baik untuk memulihkan kondisi. Bisa tidur di malam hari dengan nyenyak setelah beraktivitas tentu hal yang sangat nikmat. Esoknya bangun dengan bersemangat. Tetapi, bagaimana dengan anak-anak. Apakah tidur mereka selalu nyenyak? Kalau tidak, apa yang harus dilakukan orangtua?

P

ola tidur malam tiap anak berbeda. Ada yang sudah punya jadwal tetap, ada juga yang fleksibel. Bagi orangtua yang ingin mendisiplinkan anak, lebih baik jadwal tidur ditetapkan. Pola pembiasaan tidur ini akan membuat anak menjadi disiplin. Walaupun siangnya mereka sibuk beraktivitas, jadwal tidur tetap bisa diikuti karena anak sudah terbiasa. Jika jadwal ini diubah, anak bisa kesulitan untuk tidur. “Banyak hal yang bisa membuat anak tidak bisa tidur nye­ nyak. Bisa karena anak tidak punya jadwal yang tetap. Artinya kapan pun mereka mau tidur, waktunya tidak pasti. Bisa juga karena siang hingga sore terlalu lelah beraktivitas, malamnya mereka menjadi rewel. Atau bisa juga karena jarak antara tidur siang dengan tidur malam terlalu pendek,” ungkap Ni Ketut Jeni Adhi, M.Psi, Psikolog, konsultan psikologi Tema Insan. Selain alasan tersebut, ia juga mengatakan anak susah tidur jika ada ritual yang terlewatkan. Misalnya, orangtua selalu mendongeng sebelum anak tidur. Tetapi, ketika ritual, itu dilewatkan, anak merasa ada sesuatu yang kurang. Ini pun terbawa saat tidur. Suasana kamar yang nyaman pun bisa berpenga­ruh terhadap nyenyak atau tidaknya tidur si anak. “Hal ini menyangkut sensitivitas anak. Ada yang senang kamarnya dingin, ada yang senang

mendongeng, dan yang lainnya agar anak tidak terganggu saat tidur. Satu hal yang juga perlu diperhatikan bagi orangtua adalah ketika anak menginap. Ada anak yang mudah sekali tidur di tempat lain selain kamar tidurnya. Namun, ada yang perlu membawa barang kesukaannya untuk menemani tidur. Semua ini tergantung kebiasaan masing-masing. Tugas orangtua adalah memastikan anak berada di tempat yang aman dan nyaman sehingga acara menginap tidak bermasalah. Kalau si anak tidak mau menginap, orangtua jangan memaksa karena sama saja membuat si anak tidak tidur nyenyak. -Ngurah Budi

Ilustrasi

Anak tidur

kamarnya gelap, ada juga yang senang kamarnya terang. Masingmasing punya pilihan sendiri,” ujar anggota Himpunan Psikologi (Himpsi) Bali ini. Penempatan televisi di kamar juga berpotensi mengganggu tidur. Suara televisi bisa mempengaruhi konsentrasi saat tidur. Apalagi jika anak menonton film horor. Memori film ini bisa diingat dan menyebabkan anak sulit tidur karena takut. Atau, saat sudah tidur ia bisa terkaget-kaget. Tak hanya urusan kamar, pakai­a n yang dikenakan anak juga bisa mempengaruhi tidur. Anak tentu tak nyaman saat tidur dengan pakaian yang basah akibat keringat. Karena itu, orangtua perlu mengganti pakaian anak sebelum tidur. “Anak saya suka berkeringat. Sebelum tidur, me­ reka mengelap badannya dulu, lalu ganti pakaian dengan pakaian tidur yang nyaman. Kalau tidak ganti baju, mereka tidak akan bisa tidur. Malah jadi bermain,” kata Dina, yang memiliki tiga putra. Lain lagi penuturan Mona yang memandikan putrinya sebelum tidur. “Saya mandikan atau dilap dengan handuk basah. Lalu badannya dikeringkan, diberikan bedak, dipakaikan pakaian tidur. Baru dia bisa tidur nyenyak,” ungkapnya. Kebiasaan rutin yang dilakukan Dina dan Mona ini menurut Jeni merupakan ritual yang sangat membantu anak-anak mereka tidur nyenyak. Kalau ritual ini ditiadakan, anak-anak akan merasa ada yang kurang. Proses untuk mendapatkan tidur nyenyak menjadi lebih lama. Bagaimana dengan anak yang mengigau? Menurut Jeni hal ini biasanya terjadi pada anak yang “tertutup” atau anak-anak yang

tidak mau bercerita dengan orangtuanya. Apa yang dialami dibiarkan terpendam dan ak­ hirnya keluar saat tidur. Proses ini biasanya diawali dengan tidur yang gelisah. “Jika orangtua memergoki anak mengigau, orangtua harus berkomunikasi dengan anak. Lakukan secara perlahan tanpa menghakimi si anak. Buka ruang komunikasi dengan anak agar ia mau menceritakan apa yang sebelumnya dialami,” ujar psikolog yang menyelesaikan pendidikan S1 dan S2 di Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya ini.

Misalnya, anak perempuan yang mulai beranjak remaja meng­ alami perubahan dengan payudara. Jika si anak hanya memendam sendiri, ia akan memikirkan sendiri penyebabnya hingga terbawa saat tidur. Dalam situasi seperti ini, ibu harus berperan untuk memberi penjelasan. Komunikasi bisa dilakukan sebelum anak tidur. Jeni juga mengingatkan orangtua untuk memahami kebiasaan pola tidur anak. Penuhi semua keperluan sebelum tidur, seperti mengganti pakaian, minum susu,

Jeni Adhi

Mendongeng Lima Menit Rapat Pleno Tikus

Satu hal yang membuat para tikus resah adalah kehadiran seekor kucing. Sejak kucing itu berada di wilayahnya, tikus-tikus tidak leluasa mondarmandir. Sekurang-kurangMade Taro nya dalam sehari, dua ekor tikus dilahap oleh kucing serakah itu. Pada suatu hari ketika kucing tidur lelap, tikustikus itu mengadakan rapat pleno di sudut loteng sebuah rumah. “Musuh bersama itu harus segera ditangkap,” kata pemimpin rapat. “Kalau kita bersatu pasti berhasil!” Tak seekor tikus pun yang mengajukan pendapat. Pemimpin rapat menyambung pidatonya, “Tunjukkan bahwa bangsa tikus adalah bangsa bermartabat dan kompak.” Tak seekor tikus pun yang angkat bicara. Dalam keadaan hening seperti itu, tiba-tiba seekor tikus muda berdiri lalu katanya bersemangat, “Sebetulnya caranya mudah, tetapi seperti yang dikatakan pemimpin rapat, kita harus kompak.”

“Bagaimana caranya?” tanya semua tikus. “Adakan perlawanan tanpa kekerasan. Gantungkan sebuah lonceng peringatan di leher kucing kurang ajar itu. Kalau ia bergerak, lonceng itu akan berbunyi. Nah, itulah tanda yang mengharuskan kita untuk segera bersembunyi.” Semua tikus menyetujui pendapat pemuda itu. Suasana rapat riuh-rendah. Mereka memuji-muji pendapat yang cerdas itu. Seekor tikus tua yang sejak awal hanya mende­ ngar dan mendengar, tiba-tiba angkat bicara. Kata­ nya, “Bagus benar pendapat anak muda itu! Pendapat itu pasti menjamin keselamatan kita bersama. Kita harus mendukung pendapat itu. Pertanyaan saya, siapakah di antara kita yang akan memasang lonceng peringatan itu di leher kucing?” Suasana rapat kembali riuh-rendah. Ada yang memuji-muji pendapat tikus tua itu, dan ada yang mencela pendapat tikus muda. Keriuhan itu makin lama makin mereda, karena tikus-tikus itu satu persatu meninggalkan ruang rapat. Mereka khawatir, kalau-kalau keriuhan itu membangunkan kucing yang sedang tidur lelap, padahal di leher kucing itu belum tergantung lonceng peringatan.

Edisi 840/ 16 - 22 Maret 2015

17


16

Edukasi

Edisi 840/ 16 - 22 maret 2015

Akbid Kartini Bali Siap Berbenah Menjadi Stikes H

ari istimewa dira­ sakan, seluruh pe­ ngurus Yayasan Kar­ tini Bali dan civitas akademika Akademi Kebidanan (Akbid) Kartini Bali, Kamis, (12/3). Koordinator Kopertis Wilayah VIII, Prof. Dr. I Nengah Dasi Astawa, M.Si., melakukan kunjungan seka­ ligus berdiskusi dengan penuh keluar­g aan di kampus yang be­ ralamat di Jalan Piranha, Pegok, Sesetan, Denpasar Selatan. Acara diskusi yang lebih banyak diisi dengan gelak tawa tersebut, di­ pandu Direktur Akademi Kebidanan Kartini Bali Ni Made Darmiyanti, SST., M.Keb. Ketua Yayasan Kartini Bali, ­Dr. Dra Wayan Karthi Suthardjana, MM., menyambut baik kehadiran Prof. Dasi Astawa yang memberikan ba­nyak sekali masukan demi kema­ juan Akbid Kartini Bali ke depan. “Kami berdiskusi tentang rencana perubahan status dari akademi kebidanan menjadi sekolah tinggi kesehatan. Beberapa syaratnya memang tidak semudah seperti

dulu saat awal mendirikan Akbid Kartini Bali. Tapi kami optimis bisa menyelesaikan proposal, hanya menunggu wak­ tu,” kata Karthi Suthardjana. Ia menambahkan, penaikan status ini karena ada aturan, tamatan D-4 tidak bisa praktik, jadi harus S-1. Yayasan Kartini Bali berdiri ber­ dasarkan Akta Notaris Nomor 10 tanggal 23 Oktober 2004. Salah satu kegiatannya mendirikan Aka­ demi Kebidanan Kartini Bali yang menyelenggarakan satu program studi D.III Kebidanan. Akademi kebidanan Kartini Bali berdiri berdasarkan SK DIKTI No: 161/D/O/2005 tertanggal 31 Oktober 2005. Sudah terakreditasi B, SK BAN-PT No: 26/Ban-PT/AK-XI/ DPl-III/XII/2011 tertanggal 8 Desember 2011. Klasifikasi keseluruhan dosen ter­

Prof. Dasi Astawa meninjau ruang kuliah dan berdiskusi dengan pengurus Yayasan Kartini Bali

diri dari dosen S-3: 2 orang dan dosen S-2: 10 orang (dosen DPK: 1 orang dan yang melanjutkan S-3: 1 orang). Dosen S-1/D4: 19 orang (yang sedang melanjutkan S-2: 12 orang dan pembimbing lapangan 6 orang). Dosen yang sudah mempunyai NIDN: 14 orang. Jumlah staf 13 orang terdiri dari tata usaha 4 orang, keamanan 3 orang, perpustakaan 2 orang, IT 1 orang, cleaning service 2 orang, dan supir 1 orang. Saat ini, jumlah keseluruhan ma­ hasiswa sebanyak 412 orang, terdiri dari mahasiswa semester 2: 126 orang, semester 4: 155 orang, dan semester

Para dosen Akademi Kebidanan Kartini Bali mendengarkan pemaparan Prof. Dasi Astawa

Perpaduan Edukasi dan Pengalaman di Eco Green Park Satu lagi kawasan di Kota Wisata Batu yang bisa dimasukkan dalam daftar kunjungan adalah Eco Green Park. Ini adalah persembahan terbaru dari Jawa Timur Park Group. Lokasinya satu kompleks dengan Jawa Timur Park 2. Eco Green Park terletak di lereng Gunung Panderman, Kota Wisata Batu. Udara yang sejuk dan suasana yang nyaman akan membuat Anda dan keluarga betah untuk menikmati 35 wahana yang tersedia. Konsep yang disajikan berupa wisata alam, kebudayaan, lingkungan dan seni inspiratif, menarik, dan mendidik. Ada tema besar yang diusung kawasan ini, eksebisi dan edukasi (exhibition & education) serta pengalaman (experience).

Pasar tempo doeloe

6: 131 orang. Ra­ sio perbandingan do­sen dan maha­ siswa adalah 1:29. Lulusan Akbid Kartini Bali sudah 2 kali mengikuti uji kompetensi bidan tanggal 26 Juni dan 20 Nopem­ ber 2014, dengan tingkat kelulusan 98%. Jumlah lu­ lusan sampai 2014 sebanyak 1142 orang. Sebagian besar sudah bekerja di rumah sakit pemerintah maupun swasta, puskesmas, klinik, dan bidan praktik mandiri. Prof. Dasi Astawa menyambut baik keinginan Akbid Kartini Bali untuk meningkatkan statusnya. Karena itu, ia menyampaikan ada beberapa syarat yang memang harus dilengkapi untuk pengajuan peningkatan status. Ada be­ berapa aturan yang perlu ditindaklanjuti bagi PTS. Clusthering perguruan tinggi akan dimulai 26 Maret. Masing-masing PTS akan dirangking dengan 4 instru­ men penilaian. Tujuannya, agar PTS

Untuk masuk Eco Green Park, harga tiketnya Rp 40 ribu (Senin-Kamis) dan Rp 60 ribu (Jumat-Sabtu dan musim liburan). Anda yang khawatir kelelahan untuk menjelajahi semua wahana, tak usah khawatir karena bisa menyewa e-bike. Tetapi, bila cukup kuat, silakan langkahkan kaki untuk berolahraga sekaligus berwisata. Perjalanan di wahana ini mulai dari Insectarium untuk melihat koleksi serangga dari yang kecil hingga yang besar. Banyak anak-anak yang mencatat serangga apa saja yang mereka lihat di wahana ini. Selanjutnya anak-anak bisa menyaksikan walking bird. Ini adalah wahana tempat burung-burung yang tidak suka terbang. Pengunjung juga bisa melihat dunia ayam,

Replika Candi Borobudur

cara pengolahan sampah, rumah jamur, carnivora garden, pengolahan susu, perkebunan sayur dan bird gallery. Tak hanya melihat aneka satwa, pengunjung bisa masuk ke rumah terbalik. Rumah terbalik ini bentuknya rumah yang atapnya di bawah, fondasinya di atas. Semua peralatan yang ada dalam rumah ditempatkan terbalik. Namun, ini sensasi yang sangat berbeda. Keluar dari rumah terbalik, pengunjung masuk rumah kaca. Perlu kesabaran untuk menemukan jalan keluar. Tapi, jangan khawatir tersesat karena ada panduan lampu di langit-langit yang menunjukkan arah keluar. Dari rumah terbalik, pengunjung bisa bermain di water track lalu melihat aneka lukisan tiga dimensi, serta rehat di

Rumah terbalik

pasar burung untuk membeli jajanan khas tempo dulu. Perjalanan dilanjutkan untuk melihat science center, ruang seni daur ulang, dan menyaksikan film Hanoman di

bangkit dan lebih bergairah. Rasio dosen dengan mahasiswa akan dipantau sampai Desember. Jika akhir Desember rasio tidak sesuai standar yang ditentukan, mahasiswa dinonaktifkan, kampus tidak masuk dalam database, atau bisa dikatakan kampus bodong. Untuk itu, ia menyarankan, bagi dosen S-1 segera melanjutkan pen­ didikan ke S-2. Karena nantinya, gelar S-1 tidak bisa lagi menjadi dosen. Ia memberikan suntikan motivasi dengan berbagi kiat sukses kepada dosen Akbid Kartini Bali. Menurut­ nya, ada 10 penyebab orang gagal, diantaranya, selalu menunda-nunda, ingin berada di zona nyaman, dan budaya instan. Ada tiga prinsip yang ditekankan, kemauan, kemampuan, dan keberanian. Syaratnya, harus selalu enjoy dalam berbagai hal, selalu bersemangat, tebarkan emosi yang positif, efektivitas, dan daya tahan yang kuat. Ia juga menyarankan, agar tiap universitas wajib mengajarkan ilmu enterprenuer. Dengan persaingan yang ketat, ia berharap, lulusan tidak hanya mengejar pekerjaan, tapi justru menciptakan pekerjaan. Antara yayasan dan insitusi yang dibentuk, harus selalu mengu­ tamakan keterbukaan dan akuntabel dalam pengelolaan. Biasanya, dari pengamatannya ke beberapa PTS, kata Prof. Dasi, konflik yayasan yang terjadi selalu soal uang. Konflik ini sering mengakibatkan PTS menjadi tidak sehat. Karena itu, ia berharap, Akbid Kartini Bali mampu menjaga kualitas dan menjadi PTS yang sehat. –ast Dome Theater. Ini merupakan tayangan 3D yang menceritakan Hanoman dengan layar berputar dan efek-efek yang mengejutkan. Bagi yang ingin berfoto di replika candi Borobudur dan Prambanan, bisa juga menemukannya di Eco Green Park. Terakhir, pengunjung bisa istirahat di food court yang rindang dengan aneka pilihan kuliner. Atau, menikmati terapi ikan bagi yang merasa pegal. “Lumayan keliling sampai dua jam. Tapi kami puas bisa menikmati perpa­ duan alam dan seni yang inspiratif sekaligus perpaduan edukasi dan pengalaman. Ini wahana pembelajaran yang dikemas edukatif dan sangat pas bagi anak-anak,” ungkap Niko, yang datang bersama empat putranya. –Ngurah Budi

Edisi 840/ 16 - 22 maret 2015

Disperindag Kota Denpasar

9

Gelar Pelatihan Peningkatan Kemampuan Pengusaha Ekspor Impor Ketatnya persaingan perdagangan global bagi pelaku usaha, eksportir dan importir membawa konsekuensi bagi pemerintah untuk mereformasi mekanisme pe­ layanan dan sistem perdagangan. Untuk ini Dinas Per­ industrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Denpasar menggelar pelatihan terkait Kebijakan Prosedur Doku­ men Ekspor Impor dan Tata Laksana Kepabeanan.

Namun, Wayan Gatra juga yakin para eksportir di Kota Denpasar juga sudah menyiapkan diri dengam strateginya masing-masing dalam menghadapi MEA. Ia juga berharap soal produksi pun tidak kalah, ten­ tu dengan menjaga kualitasnya. “Pengusaha hendaknya memahami proses ekspor terkini dengan segala perubahannya yang begitu cepat, terutama persoalan mengisi doku­

men yang benar agar tidak menjadi hambatan. Saat ini juga lebih banyak kegiatan yang dilakukan secara on line. Pengusaha juga jangan sampai mengalami kesulitan dalam melaku­ kannya apalagi sampai tertinggal dalam proses menjalankan usaha ekspornya,” katanya. Pada kesempatan tersebut juga disampaikan selain pelatihan men­ ingkatkan kemampuan para pen­

gusaha, Pemerintah Kota juga terus melakukan upaya-upaya lainnya demi pengembangan segala ben­ tuk produk unggulan ekspor Kota Denpasar. Seperti telah tersedianya e-commerce gratis yang merupakan support dari Pemerintah Kota untuk para pengusaha mempromosikan produk-produknya. “Mari manfaat­ kan e- commerce ini dengan sebaikbaiknya,” tandasnya. –ard

JENIS-JENIS DOKUMEN EKSPOR DAN KEPABEANAN

Wayan Gatra

Ida Ayu Dewi Citrawati

egiatan yang diikuti 30 orang dari kalang­ an pengusaha ekspor impor di Kota Den­ pasar ini berlangsung sehari pada Selasa (10/3) di Ruang Pertemuan Disperin­dag Kota Denpasar, Gedung Sewaka Dharma Lantai III, Jalan Ma­ japahit, Lumintang, Denpasar. Dipilihnya dua topik yakni “Ke­ bijakan Penyederhanaan Prosedur dan Dokumen Ekspor Impor “ serta “Tentang Tata Laksana Kepabeanan di Bidang Ekspor Impor” ini meru­ pakan sinyalemen positif bagi pelaku usaha (eksportir-importir) untuk meningkatkan kemampuan daya sa­ ing dan intensitas ekspor-impornya dalam perdagangan global yang san­ gat ketat dan kompetitif menghadapi MEA 2015. Kabid Perdagangan Disperindag Kota Denpasar, Ida Ayu Dewi Citra­ wati, S.E., M.Si., didampingi Kasi Ekspor Impor, A.Ag.A. Kartika Dewi, S.E., selaku Ketua Panitia pelatihan mengatakan perdagangan interna­ sional merupakan faktor penting dalam menggerakkan dan mendor­ ong pertumbuhan perekonomian nasional. Sementara ekspor dan impor ba­ rang skala besar umumnya memerlu­ kan campur tangan dari bea cukai di negara pengirim maupun penerima. Terkait ini pula masih sering terjadi permasalahan di lapangan.

Untuk memperlancar urusan bisnis globalnya, para pengusaha, eksportir maupun importir dituntut memiliki pengetahuan yang cukup mengenai prosedur ekspor impor. Baik dari segi peraturan yang se­ lalu diperbaharui terutama yang hubungan­nya dengan perdagangan internasional, kepabeanan, shipping maupun perbankan, yang saling terkait mendukung kegiatan per­ dagangan. Dayu Citra mengatakan, demi mengantisipasi permasalahan yang disebabkan dengan kurangnya pema­ haman tentang prosedur pengurus­ an dokumen ekspor impor maka pelatihan pun dilaksanakan. ”Di sini pemerintah ingin memberikan informasi serta pemahaman yang se­ luas-luasnya mengenai berbagai ke­ bijakan, prosedur, perizinan ­ekspor impor serta kemudahan dan fasilitas di dalamnya,” paparnya. Berikutnya, Kepala Disperindag Kota Denpasar, Drs. I Wayan Gatra, M.Si. pun menegaskan Disperindag setiap tahunnya selalu menyeleng­ garakan pelatihan. Mengingat pula perubahan yang terjadi di bidang perdagangan sangat cepat. Untuk tahun ini materi yang diangkat ada­ lah mengenai ekspor. Sebab, katanya semua negara, terutama di ASEAN saat ini sudah berlomba-lomba mempersiapkan produk yang khas dan memiliki keunggulan.

K

Kasi Ekspor Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali, ­I Putu Sutaryana yang didampingi salah seorang staf teknisnya dalam pelatihan tersebut lebih menitik beratkan pada bidang ekspor. Mulai dari Peraturan Menteri Perdagan­ gan No. 13/M-DAG/PER/3/2012 , tentang ketentuan umum dibidang ekspor. Bahwa hal tersebut dapat di­ lakukan baik oleh perorangan, perusaha­an maupun lembaga atau badan usaha berbentuk badan hu­ kun atau bukan badan hukum. Dengan catatan, telah memenuhi persyaratan umum dan khusus sebagai eksportir sesuai dengan barang yang diatur, mendapat pen­ gakuan sebagai eksportir terdaftar dari Mendag, dalam hal ini Ditjen Perdagangan Luar Negeri. Disampaikan pula jenis-jenis dokumen yang diperlukan dalam kegiatan ekspor, seperti kontrak dagang, penyiapan dan pengadaan barang, proses pengiriman, kepa­ beanan hingga menyelesaikan doku­ men transaksi ekspor. Salah satu dokumen transaksi ekspor yang didiskusikan saat itu adalah SKA, yakni dokumen berdasarkan kesepakatan dalam perjanjian bilateral, regional dan multilateral. Serta, ketentuan sepi­ hak suatu negara tertentu, wajib disertakan pada waktu barang ekspor Indonesia akan memasuki wilayah negara tertentu yang mem­ buktikan bahwa barang tersebut berasal, dihasilkan dan atau diolah di Indonesia. Juga tentang SKA Preferensi, yakni dokumen yang berfungsi sebagai persyaratan memper­ oleh preferensi, yang disertakan pada barang ekspor tertentu un­ tuk memperoleh fasilitas berupa pembebasan seluruh atau sebagian bea masuk yang diberikan oleh suatu negara atau kelompok negara

Suasana pelatihan

I Putu Sutaryana

I Nyoman P Candra

tertentu. Sedangkan SKA Non Pref­ erensi, berfungsi sebagai dokumen pengawasan atau penyerta asal ba­ rang yang disertakan pada barang ekspor agar dapat memasuki suatu wilayah negara tertentu. Pada sesi pertama ini, juga cu­ kup banyak informasi yang diberi­ kan perihal proses pengajuan per­ mohonan penerbitan SKA dengan dokumen pendukungnya termasuk tata cara pengisiannya. Selanjutnya I Nyoman P Can­ dra, Kasi Penyuluhan dan Layanan Informasi Kantor Pengawasan Bea Cukai Tipe Madya Pabean Ngurah Rai, menyuguhkan materi tentang Tata Laksana Kepabeanan di Bidang Ekspor dan Impor juga untuk me­ nyambut MEA. Selain menyampaikan filosofi sistem pelayan kepabeanan, Can­ dra di antaranya juga berbicara tentang kewajiban manifes ke­ berangkatan sarana pengangkut (Outward Manifest), yaitu daftar muatan barang niaga yang diang­ kut sarana pengangkut melalui laut, udara, dan darat saat mening­

galkan kawasan pabean. Dipaparkannya kalau pengang­ kut yang sarana pengangkutnya akan berangkat menuju ke luar daerah pabean (DP) atau ke da­ lam DP membawa barang impor/ ekspor dan/atau barang asal DP yang diangkut ke DP lainnya mela­ lui luar DP, wajib menyerahkan pemberitahuan berupa Outward Manifest kepada pejabat di Kan­ tor Pabean. Sedangkan kewajiban peny­ erahan manifes kedatangan sarana pengangkut, disebut Inward Manifest adalah daftar muatan barang niaga yang diangkut oleh sarana pengangkut melalui laut, udara, dan darat pada saat memasuki ka­ wasan pabean. Selain itu dipapar­ kan pula oleh Candra segala bentuk kewajibannya di setiap sarana pengangkut. Candra juga tak lupa mengingatkan kalau KPPBC Tipe Madya Pabean Ngurah Rai dalam melakukan pemberitahuan Inward Manifes telah menerapkan sistem pertukaran data dengan media pe­ nyimpan data elektronik. - ard


Bugar

Edisi 840/ 16 - 22 Maret 2015

Bakteri Apel yang Mengguncang Dunia Beberapa waktu lalu, ada larangan mengonsumsi apel impor. Larangan ini bukan tanpa sebab. Apel impor disebut mengandung bakteri listeria monocytogenes. Apa itu bakteri listeria monocytogenes, bagaimana akibatnya?

P

ada akhir tahun 2014 sampai awal Januari 2015, 32 orang terinfeksi wabah penyakit listeriosis di 11 negara bagian di Amerika Serikat. Penyakit ini mengakibatkan beberapa pasien meninggal dunia dan terjadi gangguan kehamilan pada ibu hamil yang terkena. Setelah diselidiki, penyakit ini berhubungan dengan konsumsi buah apel dan produknya. Ditemukan indikasi adanya kontaminasi bakteri listeria monocytogenes pada buah apel jenis granny smith dan royal gala. Sejak saat itu terjadi kehebohan di seluruh dunia termasuk di Indonesia karena juga mengimpor buah dari luar negeri. Menurut dosen pengajar di Bagian/SMF Mikrobiologi Klinik FK Unud/RS.Sanglah, dr. Made Agus Hendrayana, M.Ked, bakteri listeria monocytogenes adalah bakteri golongan gram-positif yang terdapat di alam dan lingkungan seperti di air, tanah pada lahan perkebunan, bahan makanan dan di sekitar peternakan. Sering ditemukan pada tubuh hewan ternak dan kotorannya. Bakteri ini dapat menyerang manusia apabila masuk ke dalam tubuh dan menginfeksi.

Bakteri ini dapat hidup di alam karena sifatnya tahan terhadap panas, asam, dan garam, tumbuh pada suhu dingin dan tahan terhadap pembekuan. Artinya, bakteri ini masih dapat hidup pada makanan yang disimpan di kulkas. “Bakteri ini dapat menyebabkan penyakit yang disebut dengan penyakit listeriosis. Penyakit ini termasuk dalam food borne disease atau penyakit yang disebarkan melalui makanan,” ujar Wakil Ketua IDI Cabang Denpasar ini. Karena sifatnya yang dapat tumbuh di alam, bakteri listeria monocytogenes dapat saja hidup di lingkungan yang mendukung hidupnya, seperti di bahan makanan atau makanan jadi yang tidak terjaga kebersihannya. “Susu mentah, keju, sayur mentah, buah-buahan serta daging dan ikan beserta produk olahannya yang diolah dengan tidak steril dapat terjadi kontaminasi,” kata Magister Ilmu Kedokteran Tropis ini. Kanada, Amerika Serikat, dan juga di negara-negara Eropa pernah melaporkan terjadinya kasus-kasus infeksi yang disebabkan bakteri ini dari kubis, blewah,

Tips mencegah listeria monocytogenes dalam kehidupan sehari-hari: - Cucilah dengan baik bahan makanan yang akan dimasak atau dikonsumsi dengan air bersih yang mengalir. Begitu juga bahan makanan yang akan disimpan di lemari pendingin sebaiknya dicuci dulu dengan bersih baru kemudian disimpan di lemari pendingin. Untuk buah-buahan atau bahan makanan dengan kulit yang bertekstur permukaannya kasar seperti melon, kentang, wortel sebaiknya juga menggunakan sikat untuk membersihkan sisa sisa kotoran seperti tanah yang masih menempel. - Bakteri listeria monocytogenes dapat menempel pada kulit buah. Pengupasan kulit buah setidaknya bisa menekan risiko terinfeksi dari bakteri berbahaya yang menempel pada kulit buah. - Hindari mengonsumsi makanan mentah apabila tidak yakin akan kebersihannya. - Bakteri listeria monocytogenes akan mati pada suhu >75oC, sehingga masaklah makanan dengan matang. - Saat penyimpanan, sebaiknya pisahkan antara bahan makanan yang belum diolah dengan makanan yang siap dimakan. - Cuci tangan dengan bersih menggunakan sabun sebelum mengolah makanan maupun saat akan makan. -Wirati Astiti

susu dan keju yang tercemar. Infeksi bakteri listeria monocytogenes dapat menyebabkan infeksi serius dan fatal terutama pada janin dalam kandungan, bayi, anak-anak, orang sakit dan lanjut usia. Begitu juga, orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, namun orang sehat dapat juga dapat terinfeksi bakteri ini. “Menurut penelitian angka kematian akibat penyakit ini mencapai 20-30% dan dapat meningkat pada bayi,” ujar dokter yang pernah mengikuti pelatihan di Springschool on Tropical Medicine, Infectious Diseases and Molecular Biology, dan UMG, Göttingen, German dan Microbiology Research and Diagnostic, Erasmus Medical Centre, Rotterdam, Netherland ini.

ti, S.H. ini mengatakan, gejala awal yang ditimbulkan, dapat berupa gejala sakit infeksi pada umumnya seperti demam, mengigil, nyeri otot, sakit kepala, mual, diare dan tidak nafsu makan. Jika terjadi infeksi yang menyerang sistem saraf pusat bisa menimbulkan gejala berupa nyeri kepala yang hebat, kaku di bagian leher, mengalami fase bingung, kejang, tremor. “Infeksi bakteri ini pada ibu hamil dapat berisiko menyebabkan keguguran, kelahiran prematur, kematian janin di dalam kandungan,” imbuh ayahda Putu Prasista Ardyaswari Mahavira ini. –Wirati Astiti

Gejala listeriosis dapat muncul kapan saja antara 3-70 hari paskainfeksi bakteri. Jika masuk ke dalam tubuh dan terjadi infeksi dapat menyerang organorgan vital seperti sistem saraf pusat, selaput otak, jantung, ginjal, kelenjar limfa saluran pencernaan, dan menyebar ke seluruh tubuh melalui darah. Suami I Dewa Ayu dr. Made Agus Hendrayana, M.Ked Novia Saraswa-

Style

Edisi 840/ 16 - 22 Maret 2015

Cantiknya Kebaya Bali

“Lelakon Dedari” demikian tema yang diangkat Rhea Cempaka, salah seorang perancang busana di Kota Denpasar saat menyajikan koleksi kebayanya di panggung mode Indonesia Fashion Week (IFW), di Jakarta Convention Centre, Sabtu (28/2). Rhea Cempaka

10

S

eluruh kebaya kreasinya berbahan kain tradisional Bali, yakni endek dengan motif-motif nan unik. Kebaya pun menjadi semakin cantik dihiasi detil teknik bordir serta kerancang yang rapi. Begitu juga dengan pilihan gambar dan warna-warna segar yang dilengkapi bahan lace dan payet. Seluruh kebaya milik Ketua Asosiasi Bordir Endek dan Songket (ASBEST) Kota Denpasar ini dipadukan bawahan berupa kain lembar­a n atau kamen jadi yang simpel. Total looknya nampak ele­g an dengan tetap menonjolkan bahan u t a m a ­n y a dari endek ter­­ masuk pada beberapa alas kaki­ nya. Yang

menarik lainnya adalah hadirnya ciri khas endek Denpasar yakni dibordir dibagian tumpal. Menurut Rhea, persembahan kebaya khas Bali ini, dapat dikenakan pada acara persembahyangan, menghadiri undangan hingga kebaya untuk resepsi. Selanjutnya demi melengkapi keindahan penampilan, Rhea melengkapinya dengan aksesori khas Bali juga kipas dan selendang. – Sri Ardhini

15


14

Mitos

Edisi 840/16 - 22 maret 2015

Sensasi Spa Tuntutan kehidupan dengan berbagai jadwal kegiatan yang dijalani, khususnya bagi para perempuan tentu sangat melelahkan. Belum lagi mereka yang tinggal di kota besar, kondisi jalan dan udara juga kurang bersahabat dengan segala bentuk polusi yang dihadirkan. Hal ini juga menjadi salah satu pemicu mudahnya kulit seseorang menjadi rusak dan terserang stres.

M

enurut Ary Wijayanti, pemilik Cahya Dewi Salon, Spa & Bridal, jika kondisi demikian tidak diimbangi dengan waktu relaksasi yang cukup, maka sangat mungkin seseorang menjadi lebih cepat mengalami penuaan. Apalagi tanpa disadari juga kita seringkali mengabaikan perawatan pada kulit, padahal kulit berisiko lebih besar terkena bahaya radikal bebas, yang diakibatkan polusi serta sinar ultraviolet yang berbahaya. “Nah, spa menjadi salah satu solusi terbaik untuk membersihkan racun pada kulit,”katanya. Menjalani spa secara rutin, kata Ari membuat kita dapat merasakan hal positif. Spa selain bisa menjadikan kotoran dan racun pada tubuh hilang dan kulit lebih kencang karena mendapat nutrisi. “Dengan demikian kulit alami kita akan langsung terlihat segar. Begitu juga dengan stres mudah membuat kita terlihat tua bahkan dapat memicu terjadinya penuaan dini. Pijat relaksasi membuat tubuh segar dan terlihat muda kembali. Rasa pegal pun seketika hilang,”paparnya . Begitu pula yang disampaikan Ida Rohida pemilik Safira Salon & Spa di Mataram, Spa atau solus per aqua sebenarnya merupakan model perawatan memakai terapi air. Namun, seiring perkembangan zaman, spa kini telah bertransformasi dari sekadar perawatan terapi air, menjadi terapi yang lebih kompleks dan dikenal seba-

Ida Rohida

gai pusat perawatan kecantikan, yang bisa menimbulkan efek menyegarkan dan menenangkan pikiran, tubuh, dan jiwa. Senada dengan Ari, dikatakan oleh Ida melakukan spa juga berarti memanjakan serta meregangkan otot di tubuh. “Ketika sudah merasakan lebih rileks, kemudian efek rileks ini dapat mengurangi kecemasan. Selain pegal-pegal hilang juga, dapat membuat mood terdongkrak kembali ,” ujar Ida saat ditemui pekan lalu di kawasan Kuta. Manfaat spa, kata Ari lebih lanjut memang cukup banyak, terutama untuk kulit. Seperti body spa dapat menjadikan kulit lebih kencang, putih, bersih dan mencegah keriput. Body spa pada umumnya terdiri dari rangkaian perawatan seperti pijat terapi, pijat aromaterapi, lulur, facial, sauna, masker, ratus, mandi

susu dan masih banyak lagi lainnya. Waktu yang diperlukan untuk perawatan spa biasanya sekitar satu setengah hingga dua jam. “Kita semua mungkin sering tak bisa menghindari beban pikiran dan aktivitas yang padat setiap harinya. Akibat rasa lelah akhirnya tubuh terasa drop dan otak juga tidak lagi merespon apa yang ada di sekeliling kita. Namun ,dengan perawatan spa bisa memanjakan diri dengan pijatan aromaterapi. Setelahnya kita bisa melakukan aktivitas dengan tubuh yang segar kembali,” tutur Ari sambil tak lupa menyampaikan kalau semua akan lebih sempurna jika dilengkapi dengan kuliner sehat. PIJATAN UNTUK REVITALISASI Bicara perawatan spa, Ida Rohida mengatakan secara umum pemijatan saat perawatan atau terapi spa dilakukan secara perlahan-lahan supaya tubuh benar-benar merasakan lebih rileks. Saat ini katanya selain spa tradisional dengan berbagai aroma minyak essensialnya juga ada spa madu dan spa buah formulasi alami yang banyak digemari untuk merevitalisasi dan meremajakan kulit. “Terapis yang baik katanya sebelum melakukan pemijatan akan menanyakan mengenai kondisi tubuh mereka yang akan melakukan perawatan spa, apakah memiliki alergi atau masalah lainnya. Tujuannya agar saat dilakukan pemijatan terpisnya bisa lebih waspada,” terangnya. Teknik pemijatan juga banyak ragamnya, namun biasanya kata Ida dimulai dari bagian punggung terlebih dahulu. Nanti terapis juga akan bertanya apakah tekanannya cukup atau perlu lebih keras. Selanjutnya pemijatan beralih ke kedua lengan dan terus ke bagian paha hingga telapak

Ary Wijayanti

kaki. Setelah punggung, dilanjutkan dengan membalikkan badan dan pijatan dilanjutkan lagi dari telapak kaki sampai kepala. Ida juga menyampaikan ada juga perawatan lainnya setelah pemijatan, seperti steam, lulur,

body scrub, boody peeling kemudian mandi susu dan diakhiri pemakaian lotion ekstrak mawar sebagai sentuhan yang menyegarkan. Maka tubuh pun mengalami revitalisasi maksimal secara alami menjadikan kulit lebih halus, dan meningkatkan mood juga,” katanya. Demikian juga Ari mengatakan hal yang tidak jauh berbeda, bagi mereka yang rutin ke spa, ketika menikmati perawatan terutama saat pemijatan dilakukan, dipastikan merasakan tubuhnya menjadi sangat rileks. Bahkan, banyak yang sangat menikmati hingga akhirnya tertidur. “Sensasi dan revitalisasi pasti akan diperoleh melalui semua proses perawatan. Selain memiliki khasiat yang baik bagi kesehatan juga kecantikan, karena beberapa bahan juga bisa mengangkat sel kulit mati,” tandas Ari - Sri Ardhini

Edisi 840/ 16 - 22 maret 2015

Tahankah Tubuh tanpa Makanan dan Minuman? Saat hari Nyepi, umat Hindu melaksana catur brata penyepian. Karena tidak ada aktivitas seharian, disarankan tidak makan atau puasa. Ada beberapa mitos menyebutkan bahwa puasa bisa membuat sakit, dan ketika berpuasa hendaknya tidak usah berolahraga. Berikut penjelasan dokter ahli gizi RSUP Sanglah, Dr. dr. Gde ­Ngurah Indraguna Pinatih,M.Sc., Akp. Sp.GK.

S

ecara umum puasa diterjemahkan macam-macam. Ada puasa tidak makan dan minum, ada puasa tidak makan tapi

Kirim surat Anda ke Redaksi Tokoh dan cantumkan “Sex Edu” di ­amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh. co.id. Rubrik ini diasuh Asosiasi ­Seksologi Indonesia (ASI) Denpasar.

“Dok, langsung saja. Belakangan ini setiap usai berhubungan seksual dengan istri, selalu saja alat kelamin saya menjadi gatal dan ada bintik-bintik merah. Istri saya juga mengalami hal yang sama yaitu rasa gatal di kelaminnya. Apa kira-kira penyebabnya ya dok?” (Mike, 40 thn) Tentu saja rasa gatal seperti ini akan mengganggu dan bisa jadi jika tidak dituntaskan akan berakibat juga dalam hubungan seksual berikutnya, yang secara fisik maupun psikis terdapat kemungkinan hambatan ke-

nyamanan dalam melakukan hubungan seksual. Jadi, memang sebaiknya dikonsultasikan dan ditangani segera. Rasa gatal setelah berhubungan seksual memang bukan hal yang diharapkan dan tidak se-

minum saja, ada puasa yang menu makanannya diubah, ada juga puasa untuk kesehatan, pemeriksaan, dan puasa yang dihubungkan dengan religi. Khusus berbicara puasa dalam konteks tidak makan dan minum, yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana tubuh bisa bertahan? Dengan berpuasa, yang sudah pasti terjadi adalah kekurangan cairan, dan ini tak bisa digantikan. Namun, Dr. Indraguna Pinatih mengingatkan, bahwa 70% dari massa tubuh kita adalah cairan. “Jadi, cairan itu yang dipakai tubuh menjaga keseimbangan agar fungsi tubuh berjalan terus,” ujarnya. Lalu, seperapa lama tubuh bisa bertahan tanpa makan dan minum? Semua itu dijelaskan Dr. Indraguna tergantung dari aktitivitas, temperatur, berat/besar badan, usia, dan jenis kelamin. Ia mengatakan tubuh sebetulnya punya cadangan energi/kalori yang tersimpan dalam tubuh, bisa

dalam lemak yang tersimpan di bawah kulit dan juga pada otot. Sumber utama energi di tubuh adalah glukosa. Ketika berpuasa dan tubuh memerlukan energi, cadangan pertama yang dipakai adalah glukogin dalam otot. Jika sudah habis, baru kemudian diambil dari cadangan otot dan lemak. Berpuasa penuh selam 24 jam masih dikategorikan aman, namun juga tergantung usia. “Umumnya lebih dari 2x24 jam atau masuk hari ketiga, orang yang tanpa makan dan minum ini akan mengalami tanda-tanda dehidrasi, seperti kencing berkurang dan warna kencing merah,” ucapnya. Adakah makanan khusus yang sebaiknya dimakan sebelum memulai puasa untuk pertahanan tubuh yang lebih baik dan setelah berbuka puasa untuk menggantikan nutrisi yang hilang selama berpuasa? “Sebenarnya tidak ada makanan khusus yang wajib dikonsumsi sebelum mulai berpuasa. Apalagi ketika pagi, biasanya perut belum siap mengonsumsi banyak makanan. Yang paling memungkinkan adalah konsumsi makanan yang tinggi kalori dan nutrien yang banyak terkandung dalam makanan yang manis-manis supaya kadar gula tinggi, seperti kurma, keju, susu, telur,” jelasnya. Ketika berbuka puasa, diingatkannya untuk berhati-hati. “Jangan terlalu cepat mengisi perut dengan makanan keras, karena kondisi perut tidak akan siap setelah lama tak beraktivitas,” ujarnya. Sebaiknya, konsumsi makanan cair yang sifatnya mudah diserap, lunak, manis, dan berenergi untuk merangsang lambung siap diisi makanan, seperti teh manis, kacang hijau. Setelah itu baru

11

boleh makan menu normal. Apakah berpuasa bisa bikin sakit? Jika menjalankan puasa dalam batas normal dikatakan Dr. Indraguna justru baik. Apalagi puasa untuk kesehatan tentunya memberikan efek positif untuk kesehatan dan biasanya di bawah pengawasan dokter. Berbeda dengan puasa religi yang tujuannya lebih kepada pengendalian diri. Pada puasa religi, sepanjang bisa bertahan, ia tak berani mengatakan apakah itu berefek positif atau justru negatif terhadap kesehatan. Selama berpuasa sebaiknya tak perlu olahraga. Ada yang berpandangan pernyataan ini salah. Alasannya, gerakan olahraga justru akan merangsang keluarnya hormon antiinsulin, yang antara lain berfungsi melepaskan gula darah dari “pabriknya”. Sebaliknya, kalau kurang gerak, tubuh bisa terasa lemas akibat kadar gula dibiarkan menurun drastis, yang bisa membuat tubuh limbung, dan bisa menyebabkan pingsan. Bila tetap ingin berolahraga, disarankan memilih waktu menjelang berbuka puasa (1 - 2 jam sebelumnya) atau 2-3 jam sesudahnya. Dr. Indraguna memiliki pendapat lain, khususnya untuk puasa religi yang umumnya diisi dengan meditasi yang otomatis mengistirahatkan tubuh. “Untuk yang menjalankan puasa religi seperti saat brata penyepian nanti, disarankan untuk tidak berolahraga. Dengan begitu, tubuh tidak akan menggunakan energi terlalu banyak sehingga tubuh seimbang-seimbang saja,” ucapnya. Hal ini tentunya berbeda bagi mereka yang melakukan puasa kesehatan. Olahraga mutlak, namun diatur tidak berlebihan. –Inten Indrawati

Kok Gatal Ya? mestinya terjadi, karena hubungan seksual yang tuntas dan yang biasa terjadi adalah yang tidak memunculkan keluhan gatal seperti ini. Jadi, yang perlu diketahui berikutnya adalah apakah yang memunculkan rasa gatal ini, apalagi jika sebelumnya belum pernah terjadi. Beberapa kemungkinan yang mungkin terjadi adalah reaksi iritasi atau adanya infeksi, mengingat rasa gatal dialami oleh kedua pihak, suami dan istri. Kalau hanya satu pihak saja yang mengalami, bisa jadi itu adalah reaksi alergi, tetapi itu kemungkinan kecil terjadi dalam kasus ini. Ada baiknya diperhatikan juga apakah selama mengalami rasa gatal, istri ada menggunakan bahan kimia tertentu yang

baru saja digunakan misalnya untuk kepentingan membasuh vagina. Jika ada dan memang waktunya berhubungan dengan penggunaan bahan kimia dengan kejadian gatal, maka bisa diduga bahan kimia itu menimbulkan iritasi pada kedua pihak. Jadi, penggunaannya tentu saja harus dihentikan dan silakan berkonsultasi dengan dokter untuk langkah selanjutnya. Perlu diperhatikan juga, apakah selama mengalami rasa gatal, istri mengalami keputihan yang tidak seperti biasanya. Jika ada, bisa jadi penyebabnya adalah keputihan yang tidak normal atau patologis ini sebagai penyebabnya. Penyebab dari keputihan yang patologis ini bisa berupa parasit, bakteri, dan jamur yang dapat ditulari juga

ke suaminya. Pada pihak perempuan, rasa gatal akan dikeluhkan, apalagi jika penyebabnya adalah jamur. Sementara jika penularan terjadi ke pihak pasangan, pada laki-laki akan mengalami keradangan, yang salah satunya bisa dilihat merah meradang di ujung penis juga, yang sering juga disertai dengan rasa gatal. Tetapi terlepas dari kemungkinan itu, untuk membuat keluhan dan penyakit menjadi jelas dan mendapatkan pengobatan yang tuntas, yang perlu dilakukan adalah memastikan penyebabnya yang pasti, dengan melakukan konsultasi dan pemeriksaan ke dokter, agar jika ternyata ada infeksi, segera bisa disembuhkan dan bukan malah menjadi masalah di kemudian hari.


12

Kuliner

Edisi 840/ 16 - 22 Maret 2015

Nikmatnya Sate Kelinci Pernahkah Anda mengonsumsi daging kelinci? Jika belum, pertimbangkanlah untuk mencoba menyantap daging yang sangat lezat ini. Dag­ ing kelinci biasanya dibuat sate. Pembakaran dagingnya, disebut tidak membuat khasiatnya berkurang. Anda tertarik?

M

enurut salah satu penjualnya, Komang Sug­ iantara, daging kelinci memiliki banyak khasiat untuk kesehatan. Daging kelinci diyakini mampu mengobati pe­ nyakit asma. Selain itu, daging kelinci disebut juga sebagai obat vitalitas. Bahkan, bagi Anda yang suka terserang tensi rendah, dag­ ing kelinci bisa menaikan tensi Anda. Sugiantara, memang sangat terkenal sebagai penjual sate kelinci di Kota Denpasar. Ia ser­ ing ikut pameran dalam berbagai acara kuliner di Kota Denpasar. Saat ini, ia termasuk dalam ang­ gota paguyuban kuliner Kota Denpasar. Bahkan, kata lelaki asal Karangasem ini, sate kelinci ola­ hannya kerap digunakan sebagai jamuan makan pejabat.

Banyak cerita unik dikisahkan penjual sate yang sudah berda­ gang sejak lima tahun di Jalan Subita ini. “Sate kelinci tidak umum. Biasanya yang suka ma­ kan pasti sudah tahu khasiatnya. Saya sering mendengar pembeli sebagian besar mengidap penyakit asma,” katanya. Bahkan, menurut kisahnya, ada seorang ibu yang mengatakan sate kelinci adalah sate ayam, kar­ ena anaknya yang mengidap asma tidak mau makan sate kelinci. “Kini kata ibu itu, anaknya sudah membaik. Saya banyak menden­ gar cerita seperti itu dari pelang­ gan,” kata Sugiantara. Warungnya buka mulai pukul 10 sampai 7 malam. Selain mem­ buka warung di Jalan Subita, Sug­ iantara, juga kini berjualan dengan mobil di Taman Kota Lumintang Denpasar. Sejak ikut dalam pa­

Sate kelinci

meran kuliner D’TIK Festival, Sugiantara mulai berjualan di sana. “Respons masyarakat cukup ba­ gus. Penjualan saya lumayan ban­ yak saat D’TIK Festival,” ujarnya. Selain menjual sate kelinci, ada juga sate ayam, sate ikan, sate biawak, dan sate kakul. Menurutnya, awal kisah ia berjualan sate, hanya menyedia­ kan sate ikan ala pesinggahan. Namun, ia tertarik menjual segala macam sate karena melihat prospek sate tersebut. Uniknya, ia bergerilya mencari sate yang enak dan kemudian mencoba melakukan eksperi­

men sendiri dalam membuat bumbunya. Untuk sate kelinci, ia sampai berburu ke Desa Marga Ta­ banan. “Dagangnya baik sekali, saya diberitahu cara membuat bumbunya. Kemudian saya coba sendiri dan baca-baca di internet untuk memadukan resepnya,” ucapnya. Setelah merasa cukup yakin, ia mulai menjual beraneka sate. Da­ lam ajang Denpasar Festival yang

digelar di Jalan Gajah Mada, war­ ungnya menjadi favorit. Banyak pembeli tertarik aneka satenya. Namun, yang paling favorti, sate kakul dan sate kelinci. Ia bahkan sampai mendapatkan hasil pen­ jualan selama empat hari aneka jenis satenya, sekitar Rp 55 juta. Sate kelinci dia jual sampai 1000 porsi dan kakul sampai mengha­ biskan 70 kilogram dalam sehari. Belum lagi ikan, biawak, dan dag­ ing ayam. Untuk bahan baku kelinci, ia mendapatkan dari banyak tempat. Sementara, untuk kakul, kata dia, agak sulit. Kadang ia harus meny­ impan dalam freezer sampai 100 kilogram karena kesulitan bahan baku. Apalagi, musim kering, agak sulit mendapatkan kakul. Ia mengatakan, resep keleza­ tan satenya terletak pada bumbu yang sudah menyatu dalam dag­ ing. Sementara, sambal hanya sebagai tambahan rasa. “Walau dimakan tampa bumbu, sate ini memang sudah enak,” ujarnya. Ada tiga bumbu sambal peneman­ nya, sambal plecing, kacang, dan serapah. –Wirati Astiti

Edisi 840/ 16 - 22 Maret 2015

Roti Meriang Gerobak Cokelat

Roti tawar sangat digemari siapa saja baik tua maupun muda. Roti tawar juga sangat enak untuk dimakan saat sarapan. Berbagai kreasi roti tawar dapat kita ciptakan. Warung Gerobak Cokelat menyajikan aneka camilan dengan hiasan cokelat. Salah satunya, roti meriang.

Roti Meriang

Namanya sangat unik, dan membuat pengunjung tertarik untuk memesannya. Sebenarnya kreasi ini sangat mudah. Bahan

utamanya, dua tangkup roti tawar. Roti diberi mentega, Kemudian dibakar. Masingmasing roti diberi selai cokelat.

Kemudian ditangkupkan men­ jadi satu. Kemudian di atas roti diberi lelehan cokelat lagi den­ gan bentuk bergaris-garis atau menyilang. Dua skup es krim cokelat menghiasi atas roti. Tak lupa, buah stroberi merekah dan taburan kenari. Siap disajikan. Enak dan lezat. Bisa untuk bekal anak sekolah atau teman minum teh atau kopi. Gerobak Cokelat memang menyajikan menu-menu yang mudah dibuat sebagai teman untuk mengobrol. Seperti kue Bisco. Biscuit diatur berbaris di piring. Beri selai cokelat dan taburan keju. Siap dimakan. Anda juga bisa membuatnya di rumah. Anda banyak punya biscuit tanpa rasa? Tak usah pusing. Anda bisa menyajik­ annya seperti sajian Gerobak Cokelat. Biskuit Anda terlihat sangat manis. Pasti anak-anak

Sate Biawak Sehat

Sate biawak

Awal menjual sate biawak pun, tak sengaja. Karena mengan­ tar teman, Sugiantara diberikan kesempatan untuk mencoba berjualan sate biawak, dan bayar belakangan. Sugiantara tertarik mencoba. Memang ia mengakui, banyak tantangan awalnya. “Dag­ ing biawak agak keras, jadi saya terus berusaha mencari kiat, agar daging bisa lebih lunak,” katanya. Daging biawak juga diyakini memiliki banyak khasiat. Selain untuk mengobati gatal-gatal, sakit kulit, luka bakar, biawak juga dis­ ebut penambah stamina. Daging biawak juga dapat mengobati asma dan menghaluskan kulit.

Untuk bahan baku daging biawak ia memang membelinya dalam bentuk ekoran. Ia menda­ patkan bahan baku dari Keram­ bitan Tabanan. “Sekali ambil, bisa sampai 50 kilogram. Saya simpan di freezer, karena orang yang menjual tak selalu ada. Jadi saya punya stok,” kata Sugiantara. Namun, ia juga meminta orang lain untuk mengulitinya dan mem­ berikannya dalam bentuk daging bersih. Untuk sisa kulitnya, tetap ia dapatkan. Sugiantara juga belajar mengo­ lah kulit biawak tersebut. Ia me­ nemukan formula untuk mengo­ lahnya menjadi kerupuk. Caranya sangat mudah. Rebus kulit biawak

Nasi Ayam Spesial Jika Anda sedang berada di Kuta, dan ingin makan nasi ayam kedewatan Ubud, Anda tak usah bingung. Cobalah mampir ke nasi ayam kedewatan ala Harris Raya Kuta. Kreasi Executive Chef Nyoman Maleachi ini, rasanya tak kalah dengan nasi ayam kedewatan di Ubud. Satu porsi nasi ayam kedewatan terdiri dari nasi putih, sate lilit, tum tahu, ayam suwir, sayur urap spe­ sial yang terdiri dari kubis, wortel, dan kacang panjang, kacang tanah goreng, dan sambal matah. Tak lupa irisan mentimun, tomat, dan kubis mentah sebagai hiasan sekaligus lalapannya. Di atas nasi, disiram kuah ayam dengan irisan gorengan rempela. Sebagai penemannya satu mangkuk sayur kuah labu ayam. Rasa pedasnya sangat pas. Sangat cocok bagi siapa saja. Dengan harga yang sangat terjangkau, nasi ayam ini, kini menjadi primadona Harris Raya Kuta. –Wirati Astiti

Anda akan berebut memakan­ nya. Gerobak Cokelat, juga memiliki pancake spesial. Pancake diberi lapisan cokelat cair yang tebal, kemudian dita­ mbahkan cokelat putih yang diserut. Sensasi warna cokelat putih sangat menarik dan tentu mengenyangkan.

Jika Anda tak punya pilihan tempat untuk menikmati waktu santai, cobalah datang ke Ger­ obak Cokelat di Jalan Gunung Andakasa Denpasar. Tempat ini biasanya ramai didatangi anakanak muda pada sore dan malam hari. Harga terjangkau sesuai kantong anak muda. –Wirati Astiti

Gurami Goreng Sambal Tomat

sampai sisiknya terlepas. Kemu­ dian angkat dan campur dengaan bumbu racikannya. Kemudian dijemur sampai kering. Kemudian digoreng. Jadilah kerupuk biawak yang enak. Kalau dilihat sepintas ben­ tuknya seperti kulit ular. Namun, rasanya sangat enak, karena selain garing, ada rasa gurih dari cam­ puran bumbunya. Minyak Biawak Penghilang Gatal Keterampilan Sugiantara mengolah daging biawak bukan hanya seputar sate dan kerupuk. Ia juga membuat minyak biawak. Namun, minyak ini bukan un­ tuk dimakan. Minyak ini sangat manjur diolesi pada luka bakar, gatal, dan sakit kulit. Cara mem­ buatnya juga mudah. Gorenglah lemak yang ada di dalam dag­ ing biawak. Tunggu beberapa menit, akan keluar minyak. Ia juga mencampur sedikit dengan minyak aromaterapi, agar baunya tidak terlalu menyengat. Setelah dingin, oleskan minyak itu pada kulit Anda yang sakit. “Jika rutin dilakukan, luka atau sakit kulit, bahkan jerawat bisa hilang,” kata Sugiantara. Jika Anda penasaran dengan minyak biawak ala Sugiantara, da­ tanglah ke Taman Kota Lumintang. Ia berjualan menggunakan mobil hitam. Jam buka mulai pukul 10 sampai 7 malam. -Wirati Astiti

13

Udang Bumbu Rujak Sarwan

Penjual sate

Bahan: 750 gr : udang agak besar, kupas dan sisakan ekornya, belah punggungnya 1 ruas : jari lengkuas, memarkan

1 batang : serai, memarkan 100 ml : air Gula, garam, kaldu bubuk se­ cukup­nya

4 butir : kemiri sangrai ruas : jari jahe 1 buah : tomat ukuran se­ dang.

Bumbu yang Dihaluskan: 7 buah : bawang merah 3 siung : bawang putih 2 buah : cabe besar merah 11 buah : cabe keci atau rawit

Cara Membuat: - Tumis bumbu halus beserta serai dan lengkuas, adukaduk hingga harum, lalu masukkan udang. Adukaduk, masak hingga berubah kemerahan, lalu masukkan air, gula, garam dan kaldu bubuk, aduk-aduk hinga tercampur bumbunya, masak dengan api sedang hingga air berkurang, angkat. - Siap untuk disajikan den­ gan taburan bawang putih goreng.

Bahan: 750 gr : gurami, bersihkan, sayat-sayat punggungya Garam, lada, minyak secukup­ nya. Bahan Sambal, Haluskan: 6 buah : bawang merah 2 buah : tomat 17 buah : cabe rawit 3 buah : cabe merah ½ sdm : gula merah

½ sdm : terasi Garam secukupnya. Cara Membuat: - Lumuri ikan dengan garam dan lada, lalu goreng sampai matang dan kering, tiriskan. - Tumis bumbu sambal sampai matang, lalu ulek sampai lumer, siap disajikan dengan gurami goreng dengan lala­ pan daun selada dan men­ timun.

Orak Arik Teri Pete Bahan: 200 gr : 10 buah : 5 buah : 1 batang : 4 buah :

teri goreng kering mata petai, belah dua bawang merah, cincang kasar bawang pre, iris serong cabe hijau besar,

iris serong 15 buah : cabe rawit hijau, cincang halus 1 sdt : lada 2 sdm : kecap manis Margarin, garam, kaldu bubuk secukupnya

Cara membuat: - Tumis irisan bawang merah, bawang pre hingga harum, lalu masukkan irisan petai, cabe dan bahan-bahan lainnya, aduk-aduk hingga bumbu meresap dan matang, angkat. - Siap untuk disajikan.


12

Kuliner

Edisi 840/ 16 - 22 Maret 2015

Nikmatnya Sate Kelinci Pernahkah Anda mengonsumsi daging kelinci? Jika belum, pertimbangkanlah untuk mencoba menyantap daging yang sangat lezat ini. Dag­ ing kelinci biasanya dibuat sate. Pembakaran dagingnya, disebut tidak membuat khasiatnya berkurang. Anda tertarik?

M

enurut salah satu penjualnya, Komang Sug­ iantara, daging kelinci memiliki banyak khasiat untuk kesehatan. Daging kelinci diyakini mampu mengobati pe­ nyakit asma. Selain itu, daging kelinci disebut juga sebagai obat vitalitas. Bahkan, bagi Anda yang suka terserang tensi rendah, dag­ ing kelinci bisa menaikan tensi Anda. Sugiantara, memang sangat terkenal sebagai penjual sate kelinci di Kota Denpasar. Ia ser­ ing ikut pameran dalam berbagai acara kuliner di Kota Denpasar. Saat ini, ia termasuk dalam ang­ gota paguyuban kuliner Kota Denpasar. Bahkan, kata lelaki asal Karangasem ini, sate kelinci ola­ hannya kerap digunakan sebagai jamuan makan pejabat.

Banyak cerita unik dikisahkan penjual sate yang sudah berda­ gang sejak lima tahun di Jalan Subita ini. “Sate kelinci tidak umum. Biasanya yang suka ma­ kan pasti sudah tahu khasiatnya. Saya sering mendengar pembeli sebagian besar mengidap penyakit asma,” katanya. Bahkan, menurut kisahnya, ada seorang ibu yang mengatakan sate kelinci adalah sate ayam, kar­ ena anaknya yang mengidap asma tidak mau makan sate kelinci. “Kini kata ibu itu, anaknya sudah membaik. Saya banyak menden­ gar cerita seperti itu dari pelang­ gan,” kata Sugiantara. Warungnya buka mulai pukul 10 sampai 7 malam. Selain mem­ buka warung di Jalan Subita, Sug­ iantara, juga kini berjualan dengan mobil di Taman Kota Lumintang Denpasar. Sejak ikut dalam pa­

Sate kelinci

meran kuliner D’TIK Festival, Sugiantara mulai berjualan di sana. “Respons masyarakat cukup ba­ gus. Penjualan saya lumayan ban­ yak saat D’TIK Festival,” ujarnya. Selain menjual sate kelinci, ada juga sate ayam, sate ikan, sate biawak, dan sate kakul. Menurutnya, awal kisah ia berjualan sate, hanya menyedia­ kan sate ikan ala pesinggahan. Namun, ia tertarik menjual segala macam sate karena melihat prospek sate tersebut. Uniknya, ia bergerilya mencari sate yang enak dan kemudian mencoba melakukan eksperi­

men sendiri dalam membuat bumbunya. Untuk sate kelinci, ia sampai berburu ke Desa Marga Ta­ banan. “Dagangnya baik sekali, saya diberitahu cara membuat bumbunya. Kemudian saya coba sendiri dan baca-baca di internet untuk memadukan resepnya,” ucapnya. Setelah merasa cukup yakin, ia mulai menjual beraneka sate. Da­ lam ajang Denpasar Festival yang

digelar di Jalan Gajah Mada, war­ ungnya menjadi favorit. Banyak pembeli tertarik aneka satenya. Namun, yang paling favorti, sate kakul dan sate kelinci. Ia bahkan sampai mendapatkan hasil pen­ jualan selama empat hari aneka jenis satenya, sekitar Rp 55 juta. Sate kelinci dia jual sampai 1000 porsi dan kakul sampai mengha­ biskan 70 kilogram dalam sehari. Belum lagi ikan, biawak, dan dag­ ing ayam. Untuk bahan baku kelinci, ia mendapatkan dari banyak tempat. Sementara, untuk kakul, kata dia, agak sulit. Kadang ia harus meny­ impan dalam freezer sampai 100 kilogram karena kesulitan bahan baku. Apalagi, musim kering, agak sulit mendapatkan kakul. Ia mengatakan, resep keleza­ tan satenya terletak pada bumbu yang sudah menyatu dalam dag­ ing. Sementara, sambal hanya sebagai tambahan rasa. “Walau dimakan tampa bumbu, sate ini memang sudah enak,” ujarnya. Ada tiga bumbu sambal peneman­ nya, sambal plecing, kacang, dan serapah. –Wirati Astiti

Edisi 840/ 16 - 22 Maret 2015

Roti Meriang Gerobak Cokelat

Roti tawar sangat digemari siapa saja baik tua maupun muda. Roti tawar juga sangat enak untuk dimakan saat sarapan. Berbagai kreasi roti tawar dapat kita ciptakan. Warung Gerobak Cokelat menyajikan aneka camilan dengan hiasan cokelat. Salah satunya, roti meriang.

Roti Meriang

Namanya sangat unik, dan membuat pengunjung tertarik untuk memesannya. Sebenarnya kreasi ini sangat mudah. Bahan

utamanya, dua tangkup roti tawar. Roti diberi mentega, Kemudian dibakar. Masingmasing roti diberi selai cokelat.

Kemudian ditangkupkan men­ jadi satu. Kemudian di atas roti diberi lelehan cokelat lagi den­ gan bentuk bergaris-garis atau menyilang. Dua skup es krim cokelat menghiasi atas roti. Tak lupa, buah stroberi merekah dan taburan kenari. Siap disajikan. Enak dan lezat. Bisa untuk bekal anak sekolah atau teman minum teh atau kopi. Gerobak Cokelat memang menyajikan menu-menu yang mudah dibuat sebagai teman untuk mengobrol. Seperti kue Bisco. Biscuit diatur berbaris di piring. Beri selai cokelat dan taburan keju. Siap dimakan. Anda juga bisa membuatnya di rumah. Anda banyak punya biscuit tanpa rasa? Tak usah pusing. Anda bisa menyajik­ annya seperti sajian Gerobak Cokelat. Biskuit Anda terlihat sangat manis. Pasti anak-anak

Sate Biawak Sehat

Sate biawak

Awal menjual sate biawak pun, tak sengaja. Karena mengan­ tar teman, Sugiantara diberikan kesempatan untuk mencoba berjualan sate biawak, dan bayar belakangan. Sugiantara tertarik mencoba. Memang ia mengakui, banyak tantangan awalnya. “Dag­ ing biawak agak keras, jadi saya terus berusaha mencari kiat, agar daging bisa lebih lunak,” katanya. Daging biawak juga diyakini memiliki banyak khasiat. Selain untuk mengobati gatal-gatal, sakit kulit, luka bakar, biawak juga dis­ ebut penambah stamina. Daging biawak juga dapat mengobati asma dan menghaluskan kulit.

Untuk bahan baku daging biawak ia memang membelinya dalam bentuk ekoran. Ia menda­ patkan bahan baku dari Keram­ bitan Tabanan. “Sekali ambil, bisa sampai 50 kilogram. Saya simpan di freezer, karena orang yang menjual tak selalu ada. Jadi saya punya stok,” kata Sugiantara. Namun, ia juga meminta orang lain untuk mengulitinya dan mem­ berikannya dalam bentuk daging bersih. Untuk sisa kulitnya, tetap ia dapatkan. Sugiantara juga belajar mengo­ lah kulit biawak tersebut. Ia me­ nemukan formula untuk mengo­ lahnya menjadi kerupuk. Caranya sangat mudah. Rebus kulit biawak

Nasi Ayam Spesial Jika Anda sedang berada di Kuta, dan ingin makan nasi ayam kedewatan Ubud, Anda tak usah bingung. Cobalah mampir ke nasi ayam kedewatan ala Harris Raya Kuta. Kreasi Executive Chef Nyoman Maleachi ini, rasanya tak kalah dengan nasi ayam kedewatan di Ubud. Satu porsi nasi ayam kedewatan terdiri dari nasi putih, sate lilit, tum tahu, ayam suwir, sayur urap spe­ sial yang terdiri dari kubis, wortel, dan kacang panjang, kacang tanah goreng, dan sambal matah. Tak lupa irisan mentimun, tomat, dan kubis mentah sebagai hiasan sekaligus lalapannya. Di atas nasi, disiram kuah ayam dengan irisan gorengan rempela. Sebagai penemannya satu mangkuk sayur kuah labu ayam. Rasa pedasnya sangat pas. Sangat cocok bagi siapa saja. Dengan harga yang sangat terjangkau, nasi ayam ini, kini menjadi primadona Harris Raya Kuta. –Wirati Astiti

Anda akan berebut memakan­ nya. Gerobak Cokelat, juga memiliki pancake spesial. Pancake diberi lapisan cokelat cair yang tebal, kemudian dita­ mbahkan cokelat putih yang diserut. Sensasi warna cokelat putih sangat menarik dan tentu mengenyangkan.

Jika Anda tak punya pilihan tempat untuk menikmati waktu santai, cobalah datang ke Ger­ obak Cokelat di Jalan Gunung Andakasa Denpasar. Tempat ini biasanya ramai didatangi anakanak muda pada sore dan malam hari. Harga terjangkau sesuai kantong anak muda. –Wirati Astiti

Gurami Goreng Sambal Tomat

sampai sisiknya terlepas. Kemu­ dian angkat dan campur dengaan bumbu racikannya. Kemudian dijemur sampai kering. Kemudian digoreng. Jadilah kerupuk biawak yang enak. Kalau dilihat sepintas ben­ tuknya seperti kulit ular. Namun, rasanya sangat enak, karena selain garing, ada rasa gurih dari cam­ puran bumbunya. Minyak Biawak Penghilang Gatal Keterampilan Sugiantara mengolah daging biawak bukan hanya seputar sate dan kerupuk. Ia juga membuat minyak biawak. Namun, minyak ini bukan un­ tuk dimakan. Minyak ini sangat manjur diolesi pada luka bakar, gatal, dan sakit kulit. Cara mem­ buatnya juga mudah. Gorenglah lemak yang ada di dalam dag­ ing biawak. Tunggu beberapa menit, akan keluar minyak. Ia juga mencampur sedikit dengan minyak aromaterapi, agar baunya tidak terlalu menyengat. Setelah dingin, oleskan minyak itu pada kulit Anda yang sakit. “Jika rutin dilakukan, luka atau sakit kulit, bahkan jerawat bisa hilang,” kata Sugiantara. Jika Anda penasaran dengan minyak biawak ala Sugiantara, da­ tanglah ke Taman Kota Lumintang. Ia berjualan menggunakan mobil hitam. Jam buka mulai pukul 10 sampai 7 malam. -Wirati Astiti

13

Udang Bumbu Rujak Sarwan

Penjual sate

Bahan: 750 gr : udang agak besar, kupas dan sisakan ekornya, belah punggungnya 1 ruas : jari lengkuas, memarkan

1 batang : serai, memarkan 100 ml : air Gula, garam, kaldu bubuk se­ cukup­nya

4 butir : kemiri sangrai ruas : jari jahe 1 buah : tomat ukuran se­ dang.

Bumbu yang Dihaluskan: 7 buah : bawang merah 3 siung : bawang putih 2 buah : cabe besar merah 11 buah : cabe keci atau rawit

Cara Membuat: - Tumis bumbu halus beserta serai dan lengkuas, adukaduk hingga harum, lalu masukkan udang. Adukaduk, masak hingga berubah kemerahan, lalu masukkan air, gula, garam dan kaldu bubuk, aduk-aduk hinga tercampur bumbunya, masak dengan api sedang hingga air berkurang, angkat. - Siap untuk disajikan den­ gan taburan bawang putih goreng.

Bahan: 750 gr : gurami, bersihkan, sayat-sayat punggungya Garam, lada, minyak secukup­ nya. Bahan Sambal, Haluskan: 6 buah : bawang merah 2 buah : tomat 17 buah : cabe rawit 3 buah : cabe merah ½ sdm : gula merah

½ sdm : terasi Garam secukupnya. Cara Membuat: - Lumuri ikan dengan garam dan lada, lalu goreng sampai matang dan kering, tiriskan. - Tumis bumbu sambal sampai matang, lalu ulek sampai lumer, siap disajikan dengan gurami goreng dengan lala­ pan daun selada dan men­ timun.

Orak Arik Teri Pete Bahan: 200 gr : 10 buah : 5 buah : 1 batang : 4 buah :

teri goreng kering mata petai, belah dua bawang merah, cincang kasar bawang pre, iris serong cabe hijau besar,

iris serong 15 buah : cabe rawit hijau, cincang halus 1 sdt : lada 2 sdm : kecap manis Margarin, garam, kaldu bubuk secukupnya

Cara membuat: - Tumis irisan bawang merah, bawang pre hingga harum, lalu masukkan irisan petai, cabe dan bahan-bahan lainnya, aduk-aduk hingga bumbu meresap dan matang, angkat. - Siap untuk disajikan.


14

Mitos

Edisi 840/16 - 22 maret 2015

Sensasi Spa Tuntutan kehidupan dengan berbagai jadwal kegiatan yang dijalani, khususnya bagi para perempuan tentu sangat melelahkan. Belum lagi mereka yang tinggal di kota besar, kondisi jalan dan udara juga kurang bersahabat dengan segala bentuk polusi yang dihadirkan. Hal ini juga menjadi salah satu pemicu mudahnya kulit seseorang menjadi rusak dan terserang stres.

M

enurut Ary Wijayanti, pemilik Cahya Dewi Salon, Spa & Bridal, jika kondisi demikian tidak diimbangi dengan waktu relaksasi yang cukup, maka sangat mungkin seseorang menjadi lebih cepat mengalami penuaan. Apalagi tanpa disadari juga kita seringkali mengabaikan perawatan pada kulit, padahal kulit berisiko lebih besar terkena bahaya radikal bebas, yang diakibatkan polusi serta sinar ultraviolet yang berbahaya. “Nah, spa menjadi salah satu solusi terbaik untuk membersihkan racun pada kulit,”katanya. Menjalani spa secara rutin, kata Ari membuat kita dapat merasakan hal positif. Spa selain bisa menjadikan kotoran dan racun pada tubuh hilang dan kulit lebih kencang karena mendapat nutrisi. “Dengan demikian kulit alami kita akan langsung terlihat segar. Begitu juga dengan stres mudah membuat kita terlihat tua bahkan dapat memicu terjadinya penuaan dini. Pijat relaksasi membuat tubuh segar dan terlihat muda kembali. Rasa pegal pun seketika hilang,”paparnya . Begitu pula yang disampaikan Ida Rohida pemilik Safira Salon & Spa di Mataram, Spa atau solus per aqua sebenarnya merupakan model perawatan memakai terapi air. Namun, seiring perkembangan zaman, spa kini telah bertransformasi dari sekadar perawatan terapi air, menjadi terapi yang lebih kompleks dan dikenal seba-

Ida Rohida

gai pusat perawatan kecantikan, yang bisa menimbulkan efek menyegarkan dan menenangkan pikiran, tubuh, dan jiwa. Senada dengan Ari, dikatakan oleh Ida melakukan spa juga berarti memanjakan serta meregangkan otot di tubuh. “Ketika sudah merasakan lebih rileks, kemudian efek rileks ini dapat mengurangi kecemasan. Selain pegal-pegal hilang juga, dapat membuat mood terdongkrak kembali ,” ujar Ida saat ditemui pekan lalu di kawasan Kuta. Manfaat spa, kata Ari lebih lanjut memang cukup banyak, terutama untuk kulit. Seperti body spa dapat menjadikan kulit lebih kencang, putih, bersih dan mencegah keriput. Body spa pada umumnya terdiri dari rangkaian perawatan seperti pijat terapi, pijat aromaterapi, lulur, facial, sauna, masker, ratus, mandi

susu dan masih banyak lagi lainnya. Waktu yang diperlukan untuk perawatan spa biasanya sekitar satu setengah hingga dua jam. “Kita semua mungkin sering tak bisa menghindari beban pikiran dan aktivitas yang padat setiap harinya. Akibat rasa lelah akhirnya tubuh terasa drop dan otak juga tidak lagi merespon apa yang ada di sekeliling kita. Namun ,dengan perawatan spa bisa memanjakan diri dengan pijatan aromaterapi. Setelahnya kita bisa melakukan aktivitas dengan tubuh yang segar kembali,” tutur Ari sambil tak lupa menyampaikan kalau semua akan lebih sempurna jika dilengkapi dengan kuliner sehat. PIJATAN UNTUK REVITALISASI Bicara perawatan spa, Ida Rohida mengatakan secara umum pemijatan saat perawatan atau terapi spa dilakukan secara perlahan-lahan supaya tubuh benar-benar merasakan lebih rileks. Saat ini katanya selain spa tradisional dengan berbagai aroma minyak essensialnya juga ada spa madu dan spa buah formulasi alami yang banyak digemari untuk merevitalisasi dan meremajakan kulit. “Terapis yang baik katanya sebelum melakukan pemijatan akan menanyakan mengenai kondisi tubuh mereka yang akan melakukan perawatan spa, apakah memiliki alergi atau masalah lainnya. Tujuannya agar saat dilakukan pemijatan terpisnya bisa lebih waspada,” terangnya. Teknik pemijatan juga banyak ragamnya, namun biasanya kata Ida dimulai dari bagian punggung terlebih dahulu. Nanti terapis juga akan bertanya apakah tekanannya cukup atau perlu lebih keras. Selanjutnya pemijatan beralih ke kedua lengan dan terus ke bagian paha hingga telapak

Ary Wijayanti

kaki. Setelah punggung, dilanjutkan dengan membalikkan badan dan pijatan dilanjutkan lagi dari telapak kaki sampai kepala. Ida juga menyampaikan ada juga perawatan lainnya setelah pemijatan, seperti steam, lulur,

body scrub, boody peeling kemudian mandi susu dan diakhiri pemakaian lotion ekstrak mawar sebagai sentuhan yang menyegarkan. Maka tubuh pun mengalami revitalisasi maksimal secara alami menjadikan kulit lebih halus, dan meningkatkan mood juga,” katanya. Demikian juga Ari mengatakan hal yang tidak jauh berbeda, bagi mereka yang rutin ke spa, ketika menikmati perawatan terutama saat pemijatan dilakukan, dipastikan merasakan tubuhnya menjadi sangat rileks. Bahkan, banyak yang sangat menikmati hingga akhirnya tertidur. “Sensasi dan revitalisasi pasti akan diperoleh melalui semua proses perawatan. Selain memiliki khasiat yang baik bagi kesehatan juga kecantikan, karena beberapa bahan juga bisa mengangkat sel kulit mati,” tandas Ari - Sri Ardhini

Edisi 840/ 16 - 22 maret 2015

Tahankah Tubuh tanpa Makanan dan Minuman? Saat hari Nyepi, umat Hindu melaksana catur brata penyepian. Karena tidak ada aktivitas seharian, disarankan tidak makan atau puasa. Ada beberapa mitos menyebutkan bahwa puasa bisa membuat sakit, dan ketika berpuasa hendaknya tidak usah berolahraga. Berikut penjelasan dokter ahli gizi RSUP Sanglah, Dr. dr. Gde ­Ngurah Indraguna Pinatih,M.Sc., Akp. Sp.GK.

S

ecara umum puasa diterjemahkan macam-macam. Ada puasa tidak makan dan minum, ada puasa tidak makan tapi

Kirim surat Anda ke Redaksi Tokoh dan cantumkan “Sex Edu” di ­amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh. co.id. Rubrik ini diasuh Asosiasi ­Seksologi Indonesia (ASI) Denpasar.

“Dok, langsung saja. Belakangan ini setiap usai berhubungan seksual dengan istri, selalu saja alat kelamin saya menjadi gatal dan ada bintik-bintik merah. Istri saya juga mengalami hal yang sama yaitu rasa gatal di kelaminnya. Apa kira-kira penyebabnya ya dok?” (Mike, 40 thn) Tentu saja rasa gatal seperti ini akan mengganggu dan bisa jadi jika tidak dituntaskan akan berakibat juga dalam hubungan seksual berikutnya, yang secara fisik maupun psikis terdapat kemungkinan hambatan ke-

nyamanan dalam melakukan hubungan seksual. Jadi, memang sebaiknya dikonsultasikan dan ditangani segera. Rasa gatal setelah berhubungan seksual memang bukan hal yang diharapkan dan tidak se-

minum saja, ada puasa yang menu makanannya diubah, ada juga puasa untuk kesehatan, pemeriksaan, dan puasa yang dihubungkan dengan religi. Khusus berbicara puasa dalam konteks tidak makan dan minum, yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana tubuh bisa bertahan? Dengan berpuasa, yang sudah pasti terjadi adalah kekurangan cairan, dan ini tak bisa digantikan. Namun, Dr. Indraguna Pinatih mengingatkan, bahwa 70% dari massa tubuh kita adalah cairan. “Jadi, cairan itu yang dipakai tubuh menjaga keseimbangan agar fungsi tubuh berjalan terus,” ujarnya. Lalu, seperapa lama tubuh bisa bertahan tanpa makan dan minum? Semua itu dijelaskan Dr. Indraguna tergantung dari aktitivitas, temperatur, berat/besar badan, usia, dan jenis kelamin. Ia mengatakan tubuh sebetulnya punya cadangan energi/kalori yang tersimpan dalam tubuh, bisa

dalam lemak yang tersimpan di bawah kulit dan juga pada otot. Sumber utama energi di tubuh adalah glukosa. Ketika berpuasa dan tubuh memerlukan energi, cadangan pertama yang dipakai adalah glukogin dalam otot. Jika sudah habis, baru kemudian diambil dari cadangan otot dan lemak. Berpuasa penuh selam 24 jam masih dikategorikan aman, namun juga tergantung usia. “Umumnya lebih dari 2x24 jam atau masuk hari ketiga, orang yang tanpa makan dan minum ini akan mengalami tanda-tanda dehidrasi, seperti kencing berkurang dan warna kencing merah,” ucapnya. Adakah makanan khusus yang sebaiknya dimakan sebelum memulai puasa untuk pertahanan tubuh yang lebih baik dan setelah berbuka puasa untuk menggantikan nutrisi yang hilang selama berpuasa? “Sebenarnya tidak ada makanan khusus yang wajib dikonsumsi sebelum mulai berpuasa. Apalagi ketika pagi, biasanya perut belum siap mengonsumsi banyak makanan. Yang paling memungkinkan adalah konsumsi makanan yang tinggi kalori dan nutrien yang banyak terkandung dalam makanan yang manis-manis supaya kadar gula tinggi, seperti kurma, keju, susu, telur,” jelasnya. Ketika berbuka puasa, diingatkannya untuk berhati-hati. “Jangan terlalu cepat mengisi perut dengan makanan keras, karena kondisi perut tidak akan siap setelah lama tak beraktivitas,” ujarnya. Sebaiknya, konsumsi makanan cair yang sifatnya mudah diserap, lunak, manis, dan berenergi untuk merangsang lambung siap diisi makanan, seperti teh manis, kacang hijau. Setelah itu baru

11

boleh makan menu normal. Apakah berpuasa bisa bikin sakit? Jika menjalankan puasa dalam batas normal dikatakan Dr. Indraguna justru baik. Apalagi puasa untuk kesehatan tentunya memberikan efek positif untuk kesehatan dan biasanya di bawah pengawasan dokter. Berbeda dengan puasa religi yang tujuannya lebih kepada pengendalian diri. Pada puasa religi, sepanjang bisa bertahan, ia tak berani mengatakan apakah itu berefek positif atau justru negatif terhadap kesehatan. Selama berpuasa sebaiknya tak perlu olahraga. Ada yang berpandangan pernyataan ini salah. Alasannya, gerakan olahraga justru akan merangsang keluarnya hormon antiinsulin, yang antara lain berfungsi melepaskan gula darah dari “pabriknya”. Sebaliknya, kalau kurang gerak, tubuh bisa terasa lemas akibat kadar gula dibiarkan menurun drastis, yang bisa membuat tubuh limbung, dan bisa menyebabkan pingsan. Bila tetap ingin berolahraga, disarankan memilih waktu menjelang berbuka puasa (1 - 2 jam sebelumnya) atau 2-3 jam sesudahnya. Dr. Indraguna memiliki pendapat lain, khususnya untuk puasa religi yang umumnya diisi dengan meditasi yang otomatis mengistirahatkan tubuh. “Untuk yang menjalankan puasa religi seperti saat brata penyepian nanti, disarankan untuk tidak berolahraga. Dengan begitu, tubuh tidak akan menggunakan energi terlalu banyak sehingga tubuh seimbang-seimbang saja,” ucapnya. Hal ini tentunya berbeda bagi mereka yang melakukan puasa kesehatan. Olahraga mutlak, namun diatur tidak berlebihan. –Inten Indrawati

Kok Gatal Ya? mestinya terjadi, karena hubungan seksual yang tuntas dan yang biasa terjadi adalah yang tidak memunculkan keluhan gatal seperti ini. Jadi, yang perlu diketahui berikutnya adalah apakah yang memunculkan rasa gatal ini, apalagi jika sebelumnya belum pernah terjadi. Beberapa kemungkinan yang mungkin terjadi adalah reaksi iritasi atau adanya infeksi, mengingat rasa gatal dialami oleh kedua pihak, suami dan istri. Kalau hanya satu pihak saja yang mengalami, bisa jadi itu adalah reaksi alergi, tetapi itu kemungkinan kecil terjadi dalam kasus ini. Ada baiknya diperhatikan juga apakah selama mengalami rasa gatal, istri ada menggunakan bahan kimia tertentu yang

baru saja digunakan misalnya untuk kepentingan membasuh vagina. Jika ada dan memang waktunya berhubungan dengan penggunaan bahan kimia dengan kejadian gatal, maka bisa diduga bahan kimia itu menimbulkan iritasi pada kedua pihak. Jadi, penggunaannya tentu saja harus dihentikan dan silakan berkonsultasi dengan dokter untuk langkah selanjutnya. Perlu diperhatikan juga, apakah selama mengalami rasa gatal, istri mengalami keputihan yang tidak seperti biasanya. Jika ada, bisa jadi penyebabnya adalah keputihan yang tidak normal atau patologis ini sebagai penyebabnya. Penyebab dari keputihan yang patologis ini bisa berupa parasit, bakteri, dan jamur yang dapat ditulari juga

ke suaminya. Pada pihak perempuan, rasa gatal akan dikeluhkan, apalagi jika penyebabnya adalah jamur. Sementara jika penularan terjadi ke pihak pasangan, pada laki-laki akan mengalami keradangan, yang salah satunya bisa dilihat merah meradang di ujung penis juga, yang sering juga disertai dengan rasa gatal. Tetapi terlepas dari kemungkinan itu, untuk membuat keluhan dan penyakit menjadi jelas dan mendapatkan pengobatan yang tuntas, yang perlu dilakukan adalah memastikan penyebabnya yang pasti, dengan melakukan konsultasi dan pemeriksaan ke dokter, agar jika ternyata ada infeksi, segera bisa disembuhkan dan bukan malah menjadi masalah di kemudian hari.


Bugar

Edisi 840/ 16 - 22 Maret 2015

Bakteri Apel yang Mengguncang Dunia Beberapa waktu lalu, ada larangan mengonsumsi apel impor. Larangan ini bukan tanpa sebab. Apel impor disebut mengandung bakteri listeria monocytogenes. Apa itu bakteri listeria monocytogenes, bagaimana akibatnya?

P

ada akhir tahun 2014 sampai awal Januari 2015, 32 orang terinfeksi wabah penyakit listeriosis di 11 negara bagian di Amerika Serikat. Penyakit ini mengakibatkan beberapa pasien meninggal dunia dan terjadi gangguan kehamilan pada ibu hamil yang terkena. Setelah diselidiki, penyakit ini berhubungan dengan konsumsi buah apel dan produknya. Ditemukan indikasi adanya kontaminasi bakteri listeria monocytogenes pada buah apel jenis granny smith dan royal gala. Sejak saat itu terjadi kehebohan di seluruh dunia termasuk di Indonesia karena juga mengimpor buah dari luar negeri. Menurut dosen pengajar di Bagian/SMF Mikrobiologi Klinik FK Unud/RS.Sanglah, dr. Made Agus Hendrayana, M.Ked, bakteri listeria monocytogenes adalah bakteri golongan gram-positif yang terdapat di alam dan lingkungan seperti di air, tanah pada lahan perkebunan, bahan makanan dan di sekitar peternakan. Sering ditemukan pada tubuh hewan ternak dan kotorannya. Bakteri ini dapat menyerang manusia apabila masuk ke dalam tubuh dan menginfeksi.

Bakteri ini dapat hidup di alam karena sifatnya tahan terhadap panas, asam, dan garam, tumbuh pada suhu dingin dan tahan terhadap pembekuan. Artinya, bakteri ini masih dapat hidup pada makanan yang disimpan di kulkas. “Bakteri ini dapat menyebabkan penyakit yang disebut dengan penyakit listeriosis. Penyakit ini termasuk dalam food borne disease atau penyakit yang disebarkan melalui makanan,” ujar Wakil Ketua IDI Cabang Denpasar ini. Karena sifatnya yang dapat tumbuh di alam, bakteri listeria monocytogenes dapat saja hidup di lingkungan yang mendukung hidupnya, seperti di bahan makanan atau makanan jadi yang tidak terjaga kebersihannya. “Susu mentah, keju, sayur mentah, buah-buahan serta daging dan ikan beserta produk olahannya yang diolah dengan tidak steril dapat terjadi kontaminasi,” kata Magister Ilmu Kedokteran Tropis ini. Kanada, Amerika Serikat, dan juga di negara-negara Eropa pernah melaporkan terjadinya kasus-kasus infeksi yang disebabkan bakteri ini dari kubis, blewah,

Tips mencegah listeria monocytogenes dalam kehidupan sehari-hari: - Cucilah dengan baik bahan makanan yang akan dimasak atau dikonsumsi dengan air bersih yang mengalir. Begitu juga bahan makanan yang akan disimpan di lemari pendingin sebaiknya dicuci dulu dengan bersih baru kemudian disimpan di lemari pendingin. Untuk buah-buahan atau bahan makanan dengan kulit yang bertekstur permukaannya kasar seperti melon, kentang, wortel sebaiknya juga menggunakan sikat untuk membersihkan sisa sisa kotoran seperti tanah yang masih menempel. - Bakteri listeria monocytogenes dapat menempel pada kulit buah. Pengupasan kulit buah setidaknya bisa menekan risiko terinfeksi dari bakteri berbahaya yang menempel pada kulit buah. - Hindari mengonsumsi makanan mentah apabila tidak yakin akan kebersihannya. - Bakteri listeria monocytogenes akan mati pada suhu >75oC, sehingga masaklah makanan dengan matang. - Saat penyimpanan, sebaiknya pisahkan antara bahan makanan yang belum diolah dengan makanan yang siap dimakan. - Cuci tangan dengan bersih menggunakan sabun sebelum mengolah makanan maupun saat akan makan. -Wirati Astiti

susu dan keju yang tercemar. Infeksi bakteri listeria monocytogenes dapat menyebabkan infeksi serius dan fatal terutama pada janin dalam kandungan, bayi, anak-anak, orang sakit dan lanjut usia. Begitu juga, orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, namun orang sehat dapat juga dapat terinfeksi bakteri ini. “Menurut penelitian angka kematian akibat penyakit ini mencapai 20-30% dan dapat meningkat pada bayi,” ujar dokter yang pernah mengikuti pelatihan di Springschool on Tropical Medicine, Infectious Diseases and Molecular Biology, dan UMG, Göttingen, German dan Microbiology Research and Diagnostic, Erasmus Medical Centre, Rotterdam, Netherland ini.

ti, S.H. ini mengatakan, gejala awal yang ditimbulkan, dapat berupa gejala sakit infeksi pada umumnya seperti demam, mengigil, nyeri otot, sakit kepala, mual, diare dan tidak nafsu makan. Jika terjadi infeksi yang menyerang sistem saraf pusat bisa menimbulkan gejala berupa nyeri kepala yang hebat, kaku di bagian leher, mengalami fase bingung, kejang, tremor. “Infeksi bakteri ini pada ibu hamil dapat berisiko menyebabkan keguguran, kelahiran prematur, kematian janin di dalam kandungan,” imbuh ayahda Putu Prasista Ardyaswari Mahavira ini. –Wirati Astiti

Gejala listeriosis dapat muncul kapan saja antara 3-70 hari paskainfeksi bakteri. Jika masuk ke dalam tubuh dan terjadi infeksi dapat menyerang organorgan vital seperti sistem saraf pusat, selaput otak, jantung, ginjal, kelenjar limfa saluran pencernaan, dan menyebar ke seluruh tubuh melalui darah. Suami I Dewa Ayu dr. Made Agus Hendrayana, M.Ked Novia Saraswa-

Style

Edisi 840/ 16 - 22 Maret 2015

Cantiknya Kebaya Bali

“Lelakon Dedari” demikian tema yang diangkat Rhea Cempaka, salah seorang perancang busana di Kota Denpasar saat menyajikan koleksi kebayanya di panggung mode Indonesia Fashion Week (IFW), di Jakarta Convention Centre, Sabtu (28/2). Rhea Cempaka

10

S

eluruh kebaya kreasinya berbahan kain tradisional Bali, yakni endek dengan motif-motif nan unik. Kebaya pun menjadi semakin cantik dihiasi detil teknik bordir serta kerancang yang rapi. Begitu juga dengan pilihan gambar dan warna-warna segar yang dilengkapi bahan lace dan payet. Seluruh kebaya milik Ketua Asosiasi Bordir Endek dan Songket (ASBEST) Kota Denpasar ini dipadukan bawahan berupa kain lembar­a n atau kamen jadi yang simpel. Total looknya nampak ele­g an dengan tetap menonjolkan bahan u t a m a ­n y a dari endek ter­­ masuk pada beberapa alas kaki­ nya. Yang

menarik lainnya adalah hadirnya ciri khas endek Denpasar yakni dibordir dibagian tumpal. Menurut Rhea, persembahan kebaya khas Bali ini, dapat dikenakan pada acara persembahyangan, menghadiri undangan hingga kebaya untuk resepsi. Selanjutnya demi melengkapi keindahan penampilan, Rhea melengkapinya dengan aksesori khas Bali juga kipas dan selendang. – Sri Ardhini

15


16

Edukasi

Edisi 840/ 16 - 22 maret 2015

Akbid Kartini Bali Siap Berbenah Menjadi Stikes H

ari istimewa dira­ sakan, seluruh pe­ ngurus Yayasan Kar­ tini Bali dan civitas akademika Akademi Kebidanan (Akbid) Kartini Bali, Kamis, (12/3). Koordinator Kopertis Wilayah VIII, Prof. Dr. I Nengah Dasi Astawa, M.Si., melakukan kunjungan seka­ ligus berdiskusi dengan penuh keluar­g aan di kampus yang be­ ralamat di Jalan Piranha, Pegok, Sesetan, Denpasar Selatan. Acara diskusi yang lebih banyak diisi dengan gelak tawa tersebut, di­ pandu Direktur Akademi Kebidanan Kartini Bali Ni Made Darmiyanti, SST., M.Keb. Ketua Yayasan Kartini Bali, ­Dr. Dra Wayan Karthi Suthardjana, MM., menyambut baik kehadiran Prof. Dasi Astawa yang memberikan ba­nyak sekali masukan demi kema­ juan Akbid Kartini Bali ke depan. “Kami berdiskusi tentang rencana perubahan status dari akademi kebidanan menjadi sekolah tinggi kesehatan. Beberapa syaratnya memang tidak semudah seperti

dulu saat awal mendirikan Akbid Kartini Bali. Tapi kami optimis bisa menyelesaikan proposal, hanya menunggu wak­ tu,” kata Karthi Suthardjana. Ia menambahkan, penaikan status ini karena ada aturan, tamatan D-4 tidak bisa praktik, jadi harus S-1. Yayasan Kartini Bali berdiri ber­ dasarkan Akta Notaris Nomor 10 tanggal 23 Oktober 2004. Salah satu kegiatannya mendirikan Aka­ demi Kebidanan Kartini Bali yang menyelenggarakan satu program studi D.III Kebidanan. Akademi kebidanan Kartini Bali berdiri berdasarkan SK DIKTI No: 161/D/O/2005 tertanggal 31 Oktober 2005. Sudah terakreditasi B, SK BAN-PT No: 26/Ban-PT/AK-XI/ DPl-III/XII/2011 tertanggal 8 Desember 2011. Klasifikasi keseluruhan dosen ter­

Prof. Dasi Astawa meninjau ruang kuliah dan berdiskusi dengan pengurus Yayasan Kartini Bali

diri dari dosen S-3: 2 orang dan dosen S-2: 10 orang (dosen DPK: 1 orang dan yang melanjutkan S-3: 1 orang). Dosen S-1/D4: 19 orang (yang sedang melanjutkan S-2: 12 orang dan pembimbing lapangan 6 orang). Dosen yang sudah mempunyai NIDN: 14 orang. Jumlah staf 13 orang terdiri dari tata usaha 4 orang, keamanan 3 orang, perpustakaan 2 orang, IT 1 orang, cleaning service 2 orang, dan supir 1 orang. Saat ini, jumlah keseluruhan ma­ hasiswa sebanyak 412 orang, terdiri dari mahasiswa semester 2: 126 orang, semester 4: 155 orang, dan semester

Para dosen Akademi Kebidanan Kartini Bali mendengarkan pemaparan Prof. Dasi Astawa

Perpaduan Edukasi dan Pengalaman di Eco Green Park Satu lagi kawasan di Kota Wisata Batu yang bisa dimasukkan dalam daftar kunjungan adalah Eco Green Park. Ini adalah persembahan terbaru dari Jawa Timur Park Group. Lokasinya satu kompleks dengan Jawa Timur Park 2. Eco Green Park terletak di lereng Gunung Panderman, Kota Wisata Batu. Udara yang sejuk dan suasana yang nyaman akan membuat Anda dan keluarga betah untuk menikmati 35 wahana yang tersedia. Konsep yang disajikan berupa wisata alam, kebudayaan, lingkungan dan seni inspiratif, menarik, dan mendidik. Ada tema besar yang diusung kawasan ini, eksebisi dan edukasi (exhibition & education) serta pengalaman (experience).

Pasar tempo doeloe

6: 131 orang. Ra­ sio perbandingan do­sen dan maha­ siswa adalah 1:29. Lulusan Akbid Kartini Bali sudah 2 kali mengikuti uji kompetensi bidan tanggal 26 Juni dan 20 Nopem­ ber 2014, dengan tingkat kelulusan 98%. Jumlah lu­ lusan sampai 2014 sebanyak 1142 orang. Sebagian besar sudah bekerja di rumah sakit pemerintah maupun swasta, puskesmas, klinik, dan bidan praktik mandiri. Prof. Dasi Astawa menyambut baik keinginan Akbid Kartini Bali untuk meningkatkan statusnya. Karena itu, ia menyampaikan ada beberapa syarat yang memang harus dilengkapi untuk pengajuan peningkatan status. Ada be­ berapa aturan yang perlu ditindaklanjuti bagi PTS. Clusthering perguruan tinggi akan dimulai 26 Maret. Masing-masing PTS akan dirangking dengan 4 instru­ men penilaian. Tujuannya, agar PTS

Untuk masuk Eco Green Park, harga tiketnya Rp 40 ribu (Senin-Kamis) dan Rp 60 ribu (Jumat-Sabtu dan musim liburan). Anda yang khawatir kelelahan untuk menjelajahi semua wahana, tak usah khawatir karena bisa menyewa e-bike. Tetapi, bila cukup kuat, silakan langkahkan kaki untuk berolahraga sekaligus berwisata. Perjalanan di wahana ini mulai dari Insectarium untuk melihat koleksi serangga dari yang kecil hingga yang besar. Banyak anak-anak yang mencatat serangga apa saja yang mereka lihat di wahana ini. Selanjutnya anak-anak bisa menyaksikan walking bird. Ini adalah wahana tempat burung-burung yang tidak suka terbang. Pengunjung juga bisa melihat dunia ayam,

Replika Candi Borobudur

cara pengolahan sampah, rumah jamur, carnivora garden, pengolahan susu, perkebunan sayur dan bird gallery. Tak hanya melihat aneka satwa, pengunjung bisa masuk ke rumah terbalik. Rumah terbalik ini bentuknya rumah yang atapnya di bawah, fondasinya di atas. Semua peralatan yang ada dalam rumah ditempatkan terbalik. Namun, ini sensasi yang sangat berbeda. Keluar dari rumah terbalik, pengunjung masuk rumah kaca. Perlu kesabaran untuk menemukan jalan keluar. Tapi, jangan khawatir tersesat karena ada panduan lampu di langit-langit yang menunjukkan arah keluar. Dari rumah terbalik, pengunjung bisa bermain di water track lalu melihat aneka lukisan tiga dimensi, serta rehat di

Rumah terbalik

pasar burung untuk membeli jajanan khas tempo dulu. Perjalanan dilanjutkan untuk melihat science center, ruang seni daur ulang, dan menyaksikan film Hanoman di

bangkit dan lebih bergairah. Rasio dosen dengan mahasiswa akan dipantau sampai Desember. Jika akhir Desember rasio tidak sesuai standar yang ditentukan, mahasiswa dinonaktifkan, kampus tidak masuk dalam database, atau bisa dikatakan kampus bodong. Untuk itu, ia menyarankan, bagi dosen S-1 segera melanjutkan pen­ didikan ke S-2. Karena nantinya, gelar S-1 tidak bisa lagi menjadi dosen. Ia memberikan suntikan motivasi dengan berbagi kiat sukses kepada dosen Akbid Kartini Bali. Menurut­ nya, ada 10 penyebab orang gagal, diantaranya, selalu menunda-nunda, ingin berada di zona nyaman, dan budaya instan. Ada tiga prinsip yang ditekankan, kemauan, kemampuan, dan keberanian. Syaratnya, harus selalu enjoy dalam berbagai hal, selalu bersemangat, tebarkan emosi yang positif, efektivitas, dan daya tahan yang kuat. Ia juga menyarankan, agar tiap universitas wajib mengajarkan ilmu enterprenuer. Dengan persaingan yang ketat, ia berharap, lulusan tidak hanya mengejar pekerjaan, tapi justru menciptakan pekerjaan. Antara yayasan dan insitusi yang dibentuk, harus selalu mengu­ tamakan keterbukaan dan akuntabel dalam pengelolaan. Biasanya, dari pengamatannya ke beberapa PTS, kata Prof. Dasi, konflik yayasan yang terjadi selalu soal uang. Konflik ini sering mengakibatkan PTS menjadi tidak sehat. Karena itu, ia berharap, Akbid Kartini Bali mampu menjaga kualitas dan menjadi PTS yang sehat. –ast Dome Theater. Ini merupakan tayangan 3D yang menceritakan Hanoman dengan layar berputar dan efek-efek yang mengejutkan. Bagi yang ingin berfoto di replika candi Borobudur dan Prambanan, bisa juga menemukannya di Eco Green Park. Terakhir, pengunjung bisa istirahat di food court yang rindang dengan aneka pilihan kuliner. Atau, menikmati terapi ikan bagi yang merasa pegal. “Lumayan keliling sampai dua jam. Tapi kami puas bisa menikmati perpa­ duan alam dan seni yang inspiratif sekaligus perpaduan edukasi dan pengalaman. Ini wahana pembelajaran yang dikemas edukatif dan sangat pas bagi anak-anak,” ungkap Niko, yang datang bersama empat putranya. –Ngurah Budi

Edisi 840/ 16 - 22 maret 2015

Disperindag Kota Denpasar

9

Gelar Pelatihan Peningkatan Kemampuan Pengusaha Ekspor Impor Ketatnya persaingan perdagangan global bagi pelaku usaha, eksportir dan importir membawa konsekuensi bagi pemerintah untuk mereformasi mekanisme pe­ layanan dan sistem perdagangan. Untuk ini Dinas Per­ industrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Denpasar menggelar pelatihan terkait Kebijakan Prosedur Doku­ men Ekspor Impor dan Tata Laksana Kepabeanan.

Namun, Wayan Gatra juga yakin para eksportir di Kota Denpasar juga sudah menyiapkan diri dengam strateginya masing-masing dalam menghadapi MEA. Ia juga berharap soal produksi pun tidak kalah, ten­ tu dengan menjaga kualitasnya. “Pengusaha hendaknya memahami proses ekspor terkini dengan segala perubahannya yang begitu cepat, terutama persoalan mengisi doku­

men yang benar agar tidak menjadi hambatan. Saat ini juga lebih banyak kegiatan yang dilakukan secara on line. Pengusaha juga jangan sampai mengalami kesulitan dalam melaku­ kannya apalagi sampai tertinggal dalam proses menjalankan usaha ekspornya,” katanya. Pada kesempatan tersebut juga disampaikan selain pelatihan men­ ingkatkan kemampuan para pen­

gusaha, Pemerintah Kota juga terus melakukan upaya-upaya lainnya demi pengembangan segala ben­ tuk produk unggulan ekspor Kota Denpasar. Seperti telah tersedianya e-commerce gratis yang merupakan support dari Pemerintah Kota untuk para pengusaha mempromosikan produk-produknya. “Mari manfaat­ kan e- commerce ini dengan sebaikbaiknya,” tandasnya. –ard

JENIS-JENIS DOKUMEN EKSPOR DAN KEPABEANAN

Wayan Gatra

Ida Ayu Dewi Citrawati

egiatan yang diikuti 30 orang dari kalang­ an pengusaha ekspor impor di Kota Den­ pasar ini berlangsung sehari pada Selasa (10/3) di Ruang Pertemuan Disperin­dag Kota Denpasar, Gedung Sewaka Dharma Lantai III, Jalan Ma­ japahit, Lumintang, Denpasar. Dipilihnya dua topik yakni “Ke­ bijakan Penyederhanaan Prosedur dan Dokumen Ekspor Impor “ serta “Tentang Tata Laksana Kepabeanan di Bidang Ekspor Impor” ini meru­ pakan sinyalemen positif bagi pelaku usaha (eksportir-importir) untuk meningkatkan kemampuan daya sa­ ing dan intensitas ekspor-impornya dalam perdagangan global yang san­ gat ketat dan kompetitif menghadapi MEA 2015. Kabid Perdagangan Disperindag Kota Denpasar, Ida Ayu Dewi Citra­ wati, S.E., M.Si., didampingi Kasi Ekspor Impor, A.Ag.A. Kartika Dewi, S.E., selaku Ketua Panitia pelatihan mengatakan perdagangan interna­ sional merupakan faktor penting dalam menggerakkan dan mendor­ ong pertumbuhan perekonomian nasional. Sementara ekspor dan impor ba­ rang skala besar umumnya memerlu­ kan campur tangan dari bea cukai di negara pengirim maupun penerima. Terkait ini pula masih sering terjadi permasalahan di lapangan.

Untuk memperlancar urusan bisnis globalnya, para pengusaha, eksportir maupun importir dituntut memiliki pengetahuan yang cukup mengenai prosedur ekspor impor. Baik dari segi peraturan yang se­ lalu diperbaharui terutama yang hubungan­nya dengan perdagangan internasional, kepabeanan, shipping maupun perbankan, yang saling terkait mendukung kegiatan per­ dagangan. Dayu Citra mengatakan, demi mengantisipasi permasalahan yang disebabkan dengan kurangnya pema­ haman tentang prosedur pengurus­ an dokumen ekspor impor maka pelatihan pun dilaksanakan. ”Di sini pemerintah ingin memberikan informasi serta pemahaman yang se­ luas-luasnya mengenai berbagai ke­ bijakan, prosedur, perizinan ­ekspor impor serta kemudahan dan fasilitas di dalamnya,” paparnya. Berikutnya, Kepala Disperindag Kota Denpasar, Drs. I Wayan Gatra, M.Si. pun menegaskan Disperindag setiap tahunnya selalu menyeleng­ garakan pelatihan. Mengingat pula perubahan yang terjadi di bidang perdagangan sangat cepat. Untuk tahun ini materi yang diangkat ada­ lah mengenai ekspor. Sebab, katanya semua negara, terutama di ASEAN saat ini sudah berlomba-lomba mempersiapkan produk yang khas dan memiliki keunggulan.

K

Kasi Ekspor Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali, ­I Putu Sutaryana yang didampingi salah seorang staf teknisnya dalam pelatihan tersebut lebih menitik beratkan pada bidang ekspor. Mulai dari Peraturan Menteri Perdagan­ gan No. 13/M-DAG/PER/3/2012 , tentang ketentuan umum dibidang ekspor. Bahwa hal tersebut dapat di­ lakukan baik oleh perorangan, perusaha­an maupun lembaga atau badan usaha berbentuk badan hu­ kun atau bukan badan hukum. Dengan catatan, telah memenuhi persyaratan umum dan khusus sebagai eksportir sesuai dengan barang yang diatur, mendapat pen­ gakuan sebagai eksportir terdaftar dari Mendag, dalam hal ini Ditjen Perdagangan Luar Negeri. Disampaikan pula jenis-jenis dokumen yang diperlukan dalam kegiatan ekspor, seperti kontrak dagang, penyiapan dan pengadaan barang, proses pengiriman, kepa­ beanan hingga menyelesaikan doku­ men transaksi ekspor. Salah satu dokumen transaksi ekspor yang didiskusikan saat itu adalah SKA, yakni dokumen berdasarkan kesepakatan dalam perjanjian bilateral, regional dan multilateral. Serta, ketentuan sepi­ hak suatu negara tertentu, wajib disertakan pada waktu barang ekspor Indonesia akan memasuki wilayah negara tertentu yang mem­ buktikan bahwa barang tersebut berasal, dihasilkan dan atau diolah di Indonesia. Juga tentang SKA Preferensi, yakni dokumen yang berfungsi sebagai persyaratan memper­ oleh preferensi, yang disertakan pada barang ekspor tertentu un­ tuk memperoleh fasilitas berupa pembebasan seluruh atau sebagian bea masuk yang diberikan oleh suatu negara atau kelompok negara

Suasana pelatihan

I Putu Sutaryana

I Nyoman P Candra

tertentu. Sedangkan SKA Non Pref­ erensi, berfungsi sebagai dokumen pengawasan atau penyerta asal ba­ rang yang disertakan pada barang ekspor agar dapat memasuki suatu wilayah negara tertentu. Pada sesi pertama ini, juga cu­ kup banyak informasi yang diberi­ kan perihal proses pengajuan per­ mohonan penerbitan SKA dengan dokumen pendukungnya termasuk tata cara pengisiannya. Selanjutnya I Nyoman P Can­ dra, Kasi Penyuluhan dan Layanan Informasi Kantor Pengawasan Bea Cukai Tipe Madya Pabean Ngurah Rai, menyuguhkan materi tentang Tata Laksana Kepabeanan di Bidang Ekspor dan Impor juga untuk me­ nyambut MEA. Selain menyampaikan filosofi sistem pelayan kepabeanan, Can­ dra di antaranya juga berbicara tentang kewajiban manifes ke­ berangkatan sarana pengangkut (Outward Manifest), yaitu daftar muatan barang niaga yang diang­ kut sarana pengangkut melalui laut, udara, dan darat saat mening­

galkan kawasan pabean. Dipaparkannya kalau pengang­ kut yang sarana pengangkutnya akan berangkat menuju ke luar daerah pabean (DP) atau ke da­ lam DP membawa barang impor/ ekspor dan/atau barang asal DP yang diangkut ke DP lainnya mela­ lui luar DP, wajib menyerahkan pemberitahuan berupa Outward Manifest kepada pejabat di Kan­ tor Pabean. Sedangkan kewajiban peny­ erahan manifes kedatangan sarana pengangkut, disebut Inward Manifest adalah daftar muatan barang niaga yang diangkut oleh sarana pengangkut melalui laut, udara, dan darat pada saat memasuki ka­ wasan pabean. Selain itu dipapar­ kan pula oleh Candra segala bentuk kewajibannya di setiap sarana pengangkut. Candra juga tak lupa mengingatkan kalau KPPBC Tipe Madya Pabean Ngurah Rai dalam melakukan pemberitahuan Inward Manifes telah menerapkan sistem pertukaran data dengan media pe­ nyimpan data elektronik. - ard


8

Bunda & Ananda

Edisi 840/ 16 - 22 Maret 2015

Anak Susah Tidur? Kenali Penyebabnya Tidur merupakan cara istirahat yang paling baik untuk memulihkan kondisi. Bisa tidur di malam hari dengan nyenyak setelah beraktivitas tentu hal yang sangat nikmat. Esoknya bangun dengan bersemangat. Tetapi, bagaimana dengan anak-anak. Apakah tidur mereka selalu nyenyak? Kalau tidak, apa yang harus dilakukan orangtua?

P

ola tidur malam tiap anak berbeda. Ada yang sudah punya jadwal tetap, ada juga yang fleksibel. Bagi orangtua yang ingin mendisiplinkan anak, lebih baik jadwal tidur ditetapkan. Pola pembiasaan tidur ini akan membuat anak menjadi disiplin. Walaupun siangnya mereka sibuk beraktivitas, jadwal tidur tetap bisa diikuti karena anak sudah terbiasa. Jika jadwal ini diubah, anak bisa kesulitan untuk tidur. “Banyak hal yang bisa membuat anak tidak bisa tidur nye­ nyak. Bisa karena anak tidak punya jadwal yang tetap. Artinya kapan pun mereka mau tidur, waktunya tidak pasti. Bisa juga karena siang hingga sore terlalu lelah beraktivitas, malamnya mereka menjadi rewel. Atau bisa juga karena jarak antara tidur siang dengan tidur malam terlalu pendek,” ungkap Ni Ketut Jeni Adhi, M.Psi, Psikolog, konsultan psikologi Tema Insan. Selain alasan tersebut, ia juga mengatakan anak susah tidur jika ada ritual yang terlewatkan. Misalnya, orangtua selalu mendongeng sebelum anak tidur. Tetapi, ketika ritual, itu dilewatkan, anak merasa ada sesuatu yang kurang. Ini pun terbawa saat tidur. Suasana kamar yang nyaman pun bisa berpenga­ruh terhadap nyenyak atau tidaknya tidur si anak. “Hal ini menyangkut sensitivitas anak. Ada yang senang kamarnya dingin, ada yang senang

mendongeng, dan yang lainnya agar anak tidak terganggu saat tidur. Satu hal yang juga perlu diperhatikan bagi orangtua adalah ketika anak menginap. Ada anak yang mudah sekali tidur di tempat lain selain kamar tidurnya. Namun, ada yang perlu membawa barang kesukaannya untuk menemani tidur. Semua ini tergantung kebiasaan masing-masing. Tugas orangtua adalah memastikan anak berada di tempat yang aman dan nyaman sehingga acara menginap tidak bermasalah. Kalau si anak tidak mau menginap, orangtua jangan memaksa karena sama saja membuat si anak tidak tidur nyenyak. -Ngurah Budi

Ilustrasi

Anak tidur

kamarnya gelap, ada juga yang senang kamarnya terang. Masingmasing punya pilihan sendiri,” ujar anggota Himpunan Psikologi (Himpsi) Bali ini. Penempatan televisi di kamar juga berpotensi mengganggu tidur. Suara televisi bisa mempengaruhi konsentrasi saat tidur. Apalagi jika anak menonton film horor. Memori film ini bisa diingat dan menyebabkan anak sulit tidur karena takut. Atau, saat sudah tidur ia bisa terkaget-kaget. Tak hanya urusan kamar, pakai­a n yang dikenakan anak juga bisa mempengaruhi tidur. Anak tentu tak nyaman saat tidur dengan pakaian yang basah akibat keringat. Karena itu, orangtua perlu mengganti pakaian anak sebelum tidur. “Anak saya suka berkeringat. Sebelum tidur, me­ reka mengelap badannya dulu, lalu ganti pakaian dengan pakaian tidur yang nyaman. Kalau tidak ganti baju, mereka tidak akan bisa tidur. Malah jadi bermain,” kata Dina, yang memiliki tiga putra. Lain lagi penuturan Mona yang memandikan putrinya sebelum tidur. “Saya mandikan atau dilap dengan handuk basah. Lalu badannya dikeringkan, diberikan bedak, dipakaikan pakaian tidur. Baru dia bisa tidur nyenyak,” ungkapnya. Kebiasaan rutin yang dilakukan Dina dan Mona ini menurut Jeni merupakan ritual yang sangat membantu anak-anak mereka tidur nyenyak. Kalau ritual ini ditiadakan, anak-anak akan merasa ada yang kurang. Proses untuk mendapatkan tidur nyenyak menjadi lebih lama. Bagaimana dengan anak yang mengigau? Menurut Jeni hal ini biasanya terjadi pada anak yang “tertutup” atau anak-anak yang

tidak mau bercerita dengan orangtuanya. Apa yang dialami dibiarkan terpendam dan ak­ hirnya keluar saat tidur. Proses ini biasanya diawali dengan tidur yang gelisah. “Jika orangtua memergoki anak mengigau, orangtua harus berkomunikasi dengan anak. Lakukan secara perlahan tanpa menghakimi si anak. Buka ruang komunikasi dengan anak agar ia mau menceritakan apa yang sebelumnya dialami,” ujar psikolog yang menyelesaikan pendidikan S1 dan S2 di Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya ini.

Misalnya, anak perempuan yang mulai beranjak remaja meng­ alami perubahan dengan payudara. Jika si anak hanya memendam sendiri, ia akan memikirkan sendiri penyebabnya hingga terbawa saat tidur. Dalam situasi seperti ini, ibu harus berperan untuk memberi penjelasan. Komunikasi bisa dilakukan sebelum anak tidur. Jeni juga mengingatkan orangtua untuk memahami kebiasaan pola tidur anak. Penuhi semua keperluan sebelum tidur, seperti mengganti pakaian, minum susu,

Jeni Adhi

Mendongeng Lima Menit Rapat Pleno Tikus

Satu hal yang membuat para tikus resah adalah kehadiran seekor kucing. Sejak kucing itu berada di wilayahnya, tikus-tikus tidak leluasa mondarmandir. Sekurang-kurangMade Taro nya dalam sehari, dua ekor tikus dilahap oleh kucing serakah itu. Pada suatu hari ketika kucing tidur lelap, tikustikus itu mengadakan rapat pleno di sudut loteng sebuah rumah. “Musuh bersama itu harus segera ditangkap,” kata pemimpin rapat. “Kalau kita bersatu pasti berhasil!” Tak seekor tikus pun yang mengajukan pendapat. Pemimpin rapat menyambung pidatonya, “Tunjukkan bahwa bangsa tikus adalah bangsa bermartabat dan kompak.” Tak seekor tikus pun yang angkat bicara. Dalam keadaan hening seperti itu, tiba-tiba seekor tikus muda berdiri lalu katanya bersemangat, “Sebetulnya caranya mudah, tetapi seperti yang dikatakan pemimpin rapat, kita harus kompak.”

“Bagaimana caranya?” tanya semua tikus. “Adakan perlawanan tanpa kekerasan. Gantungkan sebuah lonceng peringatan di leher kucing kurang ajar itu. Kalau ia bergerak, lonceng itu akan berbunyi. Nah, itulah tanda yang mengharuskan kita untuk segera bersembunyi.” Semua tikus menyetujui pendapat pemuda itu. Suasana rapat riuh-rendah. Mereka memuji-muji pendapat yang cerdas itu. Seekor tikus tua yang sejak awal hanya mende­ ngar dan mendengar, tiba-tiba angkat bicara. Kata­ nya, “Bagus benar pendapat anak muda itu! Pendapat itu pasti menjamin keselamatan kita bersama. Kita harus mendukung pendapat itu. Pertanyaan saya, siapakah di antara kita yang akan memasang lonceng peringatan itu di leher kucing?” Suasana rapat kembali riuh-rendah. Ada yang memuji-muji pendapat tikus tua itu, dan ada yang mencela pendapat tikus muda. Keriuhan itu makin lama makin mereda, karena tikus-tikus itu satu persatu meninggalkan ruang rapat. Mereka khawatir, kalau-kalau keriuhan itu membangunkan kucing yang sedang tidur lelap, padahal di leher kucing itu belum tergantung lonceng peringatan.

Edisi 840/ 16 - 22 Maret 2015

17


18

IA Yutri Indahgustari

Targetkan Desa Layak Anak

L

Life

Edisi 840/ 16 - 22 maret 2015

a ma berkecimpung

di bagian keuangan, bahkan hampir 11 tahun, IA Yutri Indahgustari akhir­­nya diberi kesem­patan memimpin Kantor Pemberdayaan Perempuan Kabupaten Badung. Hal ini, tentu merupakan tantangan besar bagi perempuan kelahiran 31 Agustus, 43 tahun lalu ini. “Saya kaget saat pertama kalinya masuk ke Kantor Pemberdayaan Perempuan. Banyak sekali UU dan peraturan menteri yang harus saya pelajari. Saya sempat berpikir, harus mulai dari mana, saking banyaknya peraturan yang harus saya ketahui,” tuturnya. Namun, dari berbagai kegiatan yang diikuti, mulailah Yutri pelanpelan, bisa mengikuti. “Untung juga pemimpin sebelumnya sudah memberikan pondasi kuat sehingga saya masuk sudah ada prestasinya. Hal ini membuat saya terpacu untuk terus melakukan yang terbaik,” ujarnya. Dari penilaian Kantor Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, kabupaten Badung sudah sangat memperhatikan perempuan dalam pemenuhan

haknya. Ada juga inovasi kegiat­an, seperti sekolah siaga bencana dan forum anak daerah. Yutri memiliki target untuk desa layak anak. Ia menyadari, ini memang memerlukan komitmen kepala desa untuk membantu mewujudkannya. Saat ini, memang ia sudah melakukan berbagai pembinaan. Ia membuat suatu pedoman yang dibagikan kepada para kepala desa. Namun, sebagai langkah awal, memang banyak tantangannya. “Kadang buku pedoman belum sampai ke tangan kepala desa,” kata Yutri. Memang Yutri tak mau gegabah. Banyak hal yang harus ia lakukan. Mulai dari mendata tiap desa, sisi mana yang kurang sehingga bisa dibuatkan program sesuai dengan kondisi desanya. Ia mengatakan, ada contoh desa yang sangat aktif, yakni desa Sibang Kaja. Di desa tersebut kegiatan pemberdayaan perempuannya cukup aktif, termasuk kegiatan lansia, dan seka teruna-teruni. Untuk desa Munggu, ia contohkan sudah ada tempat bermain anak di areal terbuka desa. Memang ia banyak men­dapatkan

masukan dari kepala desa, tak ada lahan di desa yang bisa dijadikan tempat bermain anak. Inilah yang menjadi pemikirannya. Tapi dia berharap, dengan adanya dana yang sudah masuk ke desa, pemenuhan hak anak agar dimasukkan ke dalam anggaran mereka. Selama ini, kata Yutri, sosialisasi pencegahan Kekerasan Dalam Rumahtangga (KDRT), rutin dilakukan tiap tahun. Namun, ia sangat berharap, di tiap desa memiliki posko penanganan KDRT sehingga penyelesaikan bisa dilakukan di level desa. Seperti contohnya desa Ungasan yang sudah memiliki posko pena­nganan KDRT. Desa Ungasan, sudah memiliki prestasi sampai menang urutan keempat tingkat nasional. Uniknya, walaupun sudah memiliki posko penanganan KDRT, sampai saat ini, tidak ada kasus KDRT. Tujuan posko dibuat adalah untuk pencegahan dan sosialisasi KDRT. Namun, jika terjadi kasus, dapat diselesaikan di level desa terlebih dahulu. Ia menyatakan, berbagai kegiatan yang dilakukan pemberdayaan perempuan, selalu bersinergi dengan SKPD terkait. Misalnya untuk deteksi kanker payudara dan vaksin kanker serviks dengan Dinas Kesehatan. Sampai saat ini sudah 6000 orang yang sudah divaksin kanker serviks. Pendidikan wajar 12 tahun bersinergi dengan Dinas pendidik­an yang sudah dilakukan sejak tahun 2011. Selain sosialisasi KDRT ke masyarakat, sosialisasi juga dilakukan ke sekolah-sekolah. Ia mencontohkan, SMPN Mengwi. Sudah ada toilet khusus laki-laki dan perempuan dekat dengan lapangan. Ada UKS dan juga kerindangan sekolah.

Sebagai pemimpin, tentu Yutri tak bisa bekerja sendiri. Ia dibantu 31 staf dan 4 orang kasi. Menurutnya, gaya kepemimpinannya lebih kepada pendekatan keterbukaan. “Saya wajibkan mereka memberi masukan, karena tak selamanya pimpinan selalu benar,” kata Yutri. Hal lain, ia selalu memotivasi stafnya untuk terus belajar. Dari yang tidak tahu komputer, ia motivasi untuk belajar. “Sering saya tekankan, kalau mereka tidak bisa, itu akan membuat kegiatan ngadat. Jadi semua harus belajar. Walaupun saya tahu, tak bisa memaksakan karena

kemampuan tiap orang berbeda. Tapi selau saya motivasi,” ujarnya tentang kiatnya dalam memimpin. Menurutnya, dia teringat prinsip ayahnya (alm) Ida Bagus Yudara Pidada yang pernah menjabat Sekda Badung. Kalau staf pintar, pimpinan akan mudah bekerja. Jadi berbagilah ilmu. “Saya bersyukur dengan berpindah-pindah tempat kerja, banyak sekali keuntungan buat saya. Banyak ilmu yang saya dapatkan dan bisa dibagi kepada staf, misalnya keuangan, anggaran dan perencanaan, termasuk aset,” kata Yutri. –Wirati Astiti

Story

Edisi 840/ 16 - 22 maret 2015

Wedhasmara

Lupa Waktu kalau Bermusik

Wedhasmara saat menerima paguyuban Teruna-Teruna Bali

Seni musik sudah menjadi bagian perjalan hidup I Gusti Putu Gede Wedhasmara sejak kecil. Ia bisa bermain musik dan menciptakan lagu-lagu yang menjadi hits di zaman dulu. Lagu berjudul “Senja di Batas Kota”, “Berpisah di St Carolus”, dan “Kau Selalu di Hatiku” merupakan beberapa karyanya yang masih akrab di telinga penikmat musik. Hasil karyanya tersebut lebih banyak bernuansa romantis, membuat orang akan terlena ketika mendengar lagunya tersebut.

W

edhasmara lahir di Denpasar, 10 September 1932. Ketika mulai masuk sekolah dasar, ia berlatih di tempat-tempat musik pada zaman itu. Kemampuan bermusiknya didapat secara otodidak, tanpa ada guru yang mengajarinya. Wedhasmara terus berada di tempat bermain musik, tanpa mengenal waktu terkadang sampai malam hari. “Di mana ada tempat bermain musik, di sana kadang saya tidak melihat waktu, karena itu sudah menjadi hobi saya bermain musik,”

tuturnya kepada Paguyuban Teruna-Teruni Bali yang mengunjunginya Minggu (8/3). Saat SMP, ia mulai ikut lomba nyanyi. Tahun 1940-an ia melanjutkan pendidikan di Yogyakarta. Di sana ia bertemu dengan Gesang, Idris Sardi, dan Pranajaya. Wedhasmara mulai membuat lagu-lagu pop maupun keroncong di Kota Pelajar ini, bahkan membentuk grup musik. Pengalamannya membuat ia sosok yang andal dalam menciptakan lagu dan bermain musik. Lulus dari Yogyakarta, Wedhasmara bekerja NV GIEB Denpasar dari tahun 1954 sampai dengan

Wedhasmara menunjukkan koleksinya

1956. Selanjutnya ia bekerja di Dinas Pertanian Bali selama 13 tahun. Untuk mengisi waktu luangnya ia selalu bernyanyi dan menciptakan lagu-lagu, tapi lagunya tersebut belum

direkam, hanya dicatat saja. Ia sempat mengikuti lomba-lomba menyanyi dan beberapa kali meraih juara. Wedhasmara lalu diajak oleh temennya untuk bekerja di studio di Jakarta. Pria asal Puri Batan Moning, Banjar Gerenceng, Denpasar ini bertemu dengan musisimusisi yang sudah terkenal di saat itu. Bekerja di tempat rekaman musik ini membuat ia memulai berkarier di dunia musik. Ia pun merekam semua karya cipta lagunya tersebut. Tahun 1960 hingga 1970-an, lagunya banyak diminati oleh beberapa produser maupun penyanyi. Karya-karyanya tersebut telah membesarkan nama sejumlah penyanyi angkatan 1970-an seperti Erni Djohan, Lilis Suryani, Tetty Kadi, Deasy Arisandi, sampai Titiek Sandhora. Di usia 83 tahun, ia masih menekuni hobinya. Pencipta lagu “Kaden Saja” ini juga sering mengamati perkembangan musik Bali. Dalam hal berkarya, ia bisa mendapat ide dari mana saja. Tiap ada ide, ia langsung catat di kertas. Berbagai kegiatan kesenian di bidang musik ia ikuti, seperti menciptakan mars untuk awal mula Pesta Kesenian Bali (PKB) dan menjadi juri dalam perlombaan di PKB tersebut. Wedhasmara ingin hasil karyanya tersebut bisa diterima dan dikenang oleh masyarakat. BANGUN MUSEUM MUSIK Kemampuannya dalam bermain musik juga diturunkan ke anak dan cucunya. Wedhasmara yang memiliki 3 anak laki-laki dan 2 anak perempuan ini memberikan kebebasan kepada mereka dalam bernyanyi, bermain musik, dan menciptakan lagu. Namun, satu hal, ia melarang cucunya melakukan les suara. Hal itu dilakukan supaya cucunya mempunyai ciri khas suaranya sendiri.

7

Perjalanan karier Wedhasmara di bidang musik tidaklah sia-sia. Berkat dedikasinya di bidang musik, tahun 2011 ia mendapatkan penghargaan Seni dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata bersama dengan 2 seniman lainnya. Selain penghargaan tersebut, ada banyak penghargaan yang diraihnya. “Saya berharap seniman dan musisi Bali kedepannya tetap mencintai lagu-lagu pop Bali. Yang memperhatikan perkembangan lagu pop Bali bukan hanya media atau golongan tertentu saja. Penggemar lagu pop Bali adalah anak-anak, dewasa maupun orang tua,” ujarnya. Wedhasmara berencana akan membuat istana musik, museum musik dan pusat dokumentasi musik yang berada di rumahnya itu. Koleksi piringan hitam, lagu-lagu, potret-potret berbagai jenis musik dan musisi dari seluruh Indonesia siap untuk dipajang. “Rasanya sangat tepat jika menjadikan itu semua sebagai sumber dokumentasi informatif terkait sejarah musik Indonesia pada umumnya,” tuturnya. Membangun semua itu di rumah mempunyai makna tersendiri buat Wedhasmara, karena rumahnya tersebut merupakan bagian dari sejarahnya. Banyak koleksi yang terdapat di rumahnya, tetapi belum di atur dalam penyimpanannya. Ia berharap, koleksinya tersebut bisa jadi sarana informasi bagi generasi mendatang supaya mereka tahu sejarah musik Indonesia umumnya dan Bali khususnya. Ia pun salut kepada Paguyuban Teruna-Teruni Bali yang memiliki kegiatan mengunjungi seniman Bali. Apalagi tema yang diangkat adalah “Belajar Peduli dan Berbagi Bersama Seniman demi Pelestarian Budaya Bali”. “Kunjungan ini merupakan bentuk kepedulian kami kepada seniman Bali,” ujar Eka, dari Paguyuban Teruna-Teruni Bali. -Jelantik


6

Woman on Top

Edisi 840/ 16 - 22 Maret 2015

Edisi 840/ 16 - 22 Maret 2015

Anak Agung Ayu Ketut Agung

Hemat Listrik 500 MW

Bangga Kursus Tata Rias Pengantin dan Tata Kecantikan Masuk Permendikbud Perasaan bangga menyelimuti hati Anak Agung Ayu Ketut Agung. Pasalnya, kursus tata rias pengantin dan tata kecantikan yang telah dilakoninya sejak tahun 1982 masuk dalam Permendikbud. Hal tersebut dipaparkan dalam “Panduan Kegiatan Implementasi Strategi Penguatan Tata Kelola Bangunan dan Ruang LKP” yang dilangsungkan 11 s.d. 13 Maret 2015 di Wisma Arga Mulya, Kemdikbud, Bogor.

K

ebetulan untuk kali ini, Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Agung pimpinan Bu Agung menjadi satu-satunya LKP dari Bali yang diundang sebagai peserta pelatihan. “Katanya ini baru sesi pertama, nanti akan ada pelatihan lagi dengan peserta lain,” ujar Bu Agung ketika ditemui di salonnya, Sabtu (14/3). Dalam permendikbud No. 127 tahun 2014 tentang standar sarana prasarana LKP, tersirat bahwa sudah seyogianya tiap LKP didukung oleh sarana prasara memadai. Dan, sapras tersebut pun harus pula memenuhi standar. Ketentuan ini tertuang dalam PP No.19 Tahun 2005 pasal 42 yang kemudian diubah menjadi PP No. 32 Tahun 2013, dan ditetapkan 9 Oktober 2014. PP tersebut mengatur tentang keselarasan antara peralatan belajar yang digunakan di LKP dengan peralatan kerja yang digunakan di dunia kerja dan industri. Dengan selarasnya peralatan tersebut, akan menjadikan LKP sebagai lembaga yang mampu menghasilkan suplay dan memenuhi demand. Di LKP Agung, sarana prasarananya sudah memadai, terutama sarana pembelajaran praktik, yang sebagaian besar sudah memenuhi standar yang digunakan dunia kerja dan dunia pariwisata.

Sapras di LKP Agung, baik dari aspek kuantitas, kualitas, spesifikasi teknik alat, dan rasio penggunaannya sudah memenuhi standar. Dan, dalam waktu 5 tahun sejak ditetapkannya PP tersebut, LKP lain yang tersebar di Indonesia diberikan kesempatan berbenah. Untuk saat ini tercatat 10 jenis keterampilan yang sarana prasarananya masuk dalam standar Permendikbud, yakni keterampilan mekanik sepeda motor, mengemudi kendaraan bermotor, tata busana, tata kecantikan kulit, spa, baby sitter, tata kecantikan rambut, tata rias pengantin, tata boga, dan keterampilan perhotelan. Prasarana yang dimaksud mencakup lahan, bangunan, ruang pembelajaran teori, ruang pembelajaran praktik, dan ruang pnunjang. Dan kriteria minimal tentang sarana mencakup, sarana pembelajaran teori, sarana pembelajaran praktik, media pembelajaran, dan bahan ajar pembelajaran lainnya. Untuk bidang keterampilan tata rias pengantin, tata kecantikan kulit dan tata kecantikan rambut, Bu Agung yang mengelola salon mulai tahun 1979, membuka kursus tersebut sejak tahun 1982. Sampai saat ini LKP Agung sudah memiliki alumni 9.000an yang tersebar di seluruh Indonesia, bahkan ada juga dari

tamu mancanegara. Salah seorang murid kesayangannya adalah Asri Welas, artis nasional yang juga seorang desainer dan pemilik sanggar tari, yang belum lama ini mementaskan koleksi desainnya yang mengusung kebudayaan daerah, salah satunya Bali, di New York. “Saya bangga dengan Asri Welas, karena meski dia artis top, dia masih mau turut melestarikan budaya nusantara melalui karya-karyanya,” ungkap Bu Agung kagum. Dalam kesempatan berbeda, Tokoh juga sempat menyambangi Bu Agung di Hotel Grand Niko, Nusa Dua, Bali, Kamis (10/3). Saat itu memang tengah berlangsung Forum Asia-Europe Meeting (ASEM) for Lifelong Learning 2015. ASEM Forum adalah suatu landasan dialog informal yang melibatkan 22 negara di Asia dan 31 negara di Eropa. Forum ini bertujuan menekankan pentingnya pendidikan sebagai investasi yang berharga bagi Sumber Daya Manusia (SDM). ASEM memiliki fokus pada empat pilar kerja sama dan kemitraan pendidikan yang dikenal sebagai ASEM Education Process, yaitu: 1) Jaminan Mutu dan Pengakuannya; 2) Melibatkan Bisnis dan Industri dalam Pendidikan; 3) Mobilitas yang Seimbang; dan 4) Pembelajaran Sepanjang Hayat

19

Saatnya Introspeksi, bukan Tidur Seharian Sebelum menggelar fashion show di New York, Asri Welas menyempatkan diri ke Bali berpamitan langsung dengan Bu Agung

termasuk Pendidikan Teknik dan Vokasi serta Pelatihan (TVET). Pada even internasional tersebut Bu Agung (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat/PKBM Agung) yang juga pengawas SD ini diundang untuk berpameran bersama tiga SMK Negeri di Bali, yakni SMKN 1 Gianyar, SMKN Sukawati, dan SMKN 3 Denpasar. DISKON 50% KURSUS TATA RIAS Menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1937, LKP Agung memberikan diskon 50% kursus regular. Materi yang diajarkan mencakup 3 paket yakni Tata Kecantikan Kulit, Tata Kecantikan Rambut, dan Tata Rias Pengantin (payas nista, madya, utama, modifikasi, dan tengkuluk lelunakan). LKP Agung memi-

liki tempat belajar yang memadai dan kondusif di dua tempat di Denpasar dan ditangani langsung Bu Agung dibantu instruktur lain yang mempunyai latar belakang keahlian dan pengalaman legal yang telah mengantongi sertifikat kompetensi di bidang tata kecantikan. Semua peralatan kursus disiapkan lembaga. Disediakan juga beasiswa kursus gratis bagi mereka yang kurang mampu dan putus sekolah, yang benar-benar berminat di bidang tata kecantikan. Syarat dan ketentuan berlaku. Silakan menghubungi Sekretariat LKP Agung, Jalan Anggrek No. 12 Kreneng, Denpasar. Telepon 0361 233850, 081 1393602, faks. 0361 247153. Cabang Tohpati, Jalan WR. Supratman No. 303 A, Tohpati, Denpasar. Email: lkp_agung@yahoo.com. website: www.salonagung.com. –iin

Hari Raya Nyepi merupakan perayaan tahun baru agama Hindu yang berdasarkan penanggalan/kalender Caka, yang dimulai sejak tahun 78 Masehi. Tiap tahun baru Caka, umat Hindu di Bali mulainya dengan menyepi. Semua aktivitas atau kegiatan diberhentikan sementara.

K

ata Nyepi itu sendiri berasal dari kata sepi (sunyi, senyap). Nyepi yang jatuh pada pinanggal pisan sasih Kedasa atau hari setelah tilem kesanga ini, masyarakat Hindu khususnya di Bali melaksanakan “Catur Brata” Penyepian. Adapun bagian dari catur Brata penyepian yaitu Amati Geni (tiada berapi-api/ tidak menggunakan atau menghidupkan api), Amati Karya (tidak bekerja), Amati Lelungan (tidak berpergian) dan Amati Lelanguan (tidak berpoya-poya atau mencari hiburan). Dr. Wayan Suarjaya, M.Si, dosen IHDN Denpasar menuturkan Nyepi itu bersumber dari Filsafat Samkhya yang mengatakan bahwa dunia ini diatur oleh Rwa Bhineda, sehingga ada siang dan malam. “Dari malam ke siang atau dari hari ini ke hari besok, tentunya ada pergantian hari yang terjadi pada waktu tengah malam. Pada tengah malam, semua orang secara alamiah mengistirahatkan badan atau tidur. Makna tidur atau istirahat sendiri adalah memulihkan tenaga untuk memulai aktivitas kee-

sokan harinya,” paparnya. Makna tidur itu sendiri sama halnya perayaan Nyepi, dengan melaksanakan penyepian atau mengistirahatkan alam dari kegiatan kerja maka akan memulihkan bhuana agung dan juga bhuana alit atau unsur makro dan mikro di alam ini. “Makna Nyepi yaitu untuk memulihkan kembali kekuatan-kekuatan alam berserta isinya ini, sehingga dapat kita manfaatkan kembali dengan baik,” tutur Suarjaya. Saat Nyepi, lakukan mengendalikan panca Indra dengan manah dan budhi. Dengan meredakan panca indra, tentunya kebahagian akan tumbuh dalam diri sendiri secara dinamis sehingga kualitas hidup menjadi meningkat. Mereka yang mempunyai kemampuan khusus, akan melakukan tapa brata yoga dan semadhi. Masa kini, masyarakat jarang memaknai Nyepi dengan melakukan hal seperti itu. Perubahan pemikiran

Waspadai Polusi Styrofoam Isu pemanasan global (global warming) memang sudah menjadi masalah dunia. Meningkatnya suhu muka bumi ini dikarenakan menipisnya lapisan ozon yang menyelimuti bumi. Penyebabnya adalah penggundulan hutan, polusi, dan pencemaran udara lainnya. Gas buang hasil pembakaran bahan bakar minyak pada kendaraan bermotor disebut-sebut sebagai penyumbang polusi terbesar selama ini. Perayaan Nyepi di Bali pun dinilai sebagai bentuk partisipasi sebagai hari penyelamatan bumi. Penelitian yang dilakukan pada perayaan Nyepi tahun 2012, bisa mengurangi emisi karbon sebesar 30 ribu ton, karena sekitar 2,3 juta kendaraan berhenti beroperasi hari itu. Hal tersebut diungkapkan Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Bali, Suriadi Dharmoko, S.Ag. Secara teori, ia menyebutkan perayaan Nyepi di Bali sebenarnya waktu yang sedang istirahat. Konsumsi energi rendah dan menghasilkan polusi rendah. “Sesungguhnya, dalam satu hari Nyepi itu terjadi jeda produksi polusi, dalam artian satu hari tidak memproduksi polusi,” tegas Suriadi. Sebut saja untuk pemakaian bahan bakar minyak (BBM). Dari 1 liter BBM

membuat masyarakat terlena akan perbuatan-perbuatan yang kurang memaknai perayaan Nyepi, seperti berjudi dan keluar rumah. Menurut Suarjaya, perbuatan seperti itu karena pemahaman yang kurang terhadap makna perayaan Nyepi tersebut. “Makna Perayaan Nyepi adalah belajar untuk intropeksi diri dan mulat sarira, disini belum ada pemahaman masyarakat terhadap perayaan yang sebenarnya Nyepi ini. Desa, kala, patra yang menjadi perbedaan pemahaman terhadap perayaan Nyepi ini. Hal tersebut tidak bisa dihindarkan dari keberadaan agama Hindu yang fleksibel,” tegasnya. Suarjaya juga menambahkan, dalam perayaan Nyepi tidak harus dilakukan dengan tidur seharian, tetapi tetap melakukan persembahyangan kepada Ida Sang hyang Widhi Wasa. Kadang masyarakat melaksanakan perayaan Nyepi dengan tidur seharian di kamar, tidak melakukan apapun, hal itu sebenarnya kurang tepat. Momen Nyepi harusnya umat Hindu mengintropeksi diri dalam setahun dan yang terpenting tetap mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa untuk mencapai Moksartham Jagathitaya ca iti Dharma. Selain makna yang terkandung dalam perayaan Nyepi, terdapat nilai yang bisa diambil dan pengaplikasiannya di dunia. Salah satunya Silent Day, yang sudah dilakukan di beberapa negara. Silent Day tersendiri merupakan hari dimana semua kerjaan diberhentikan selama sehari itu, sama seperti perayaan Nyepi tetapi hari dalam pelaksanaannya yang berbeda. -Jelantik

Walaupun umat Hindu melaksanakan brata penyepian tanggal 21 Maret, listrik di Bali tetap hidup. Menurut Humas PLN Distribusi Bali, Wayan Redika, listrik pada saat Nyepi tetap harus hidup karena PLN harus memberi pasokan kepada instalasi penting yang tidak boleh dipadamkan, seperti rumah sakit atau instalasi TNI. “Walaupun di institusi tersebut sudah tidak lagi memakai listrik secara mencolok, tetapi kebutuhan alat-alat ada yang tidak boleh dipadamkan,” ujarnya. Untuk penghematan beban listrik di tahun 2014, dari beban biasanya berkisar 780 megawatt (MW), turun sekitar 45% di malam hari yakni di kisaran 430 MW. Prediksi di tahun 2015, dengan beban biasanya yang mencapai 850 MW, maka dengan turun 45% berada di kisaran 500 MW. Ia menyadari, masyarakat Bali sangat heterogen dengan berbagai umat beragama. Selain itu, listrik masih sangat diperlukan untuk hotelhotel, sehingga beban masih cukup tinggi sebesar 55 % dari beban biasanya. Namun, ia menilai, sudah ada usaha untuk mendukung penyepian ini, dengan tidak menyalakan lampu sampai mencolok keluar agar tidak mengganggu umat Hindu yang sedang melakukan brata penyepian. Menurut pengamatannya, tren lima tahun

lalu, penurunan beban masih normatif berkisar 45 sampai 50%. Artinya, pemahaman kebutuhan energi saat Nyepi masih relatif stabil dan masyarakat sudah memahaminya. Dari penurunan beban ini, kata Redika, tentu berdampak besar bagi PLN. Pembangkit yang setara dengan beban itu, tidak dihidupkan. Bahan bakar solar tidak digunakan. “Dari 1600 kiloliter atau 16 juta liter untuk seluruh Bali, terjadi penurunan sebesar 45%, tentu sangat menurunkan biaya produksi solar. 16 juta liter x 45% x Rp 11.000, sebesar itu terjadi penghematan. Dari sisi lain lingkungan, CO2 tidak dikeluarkan selama mesin tidak beroperasi,” jelas Redika. Ia berharap, kondisi Nyepi sebaiknya dijadikan momentum untuk berhemat energi. “Kalau secara budaya kita bisa menikmati amati geni, amati karya, amati lelangunan, dan amati lelungan, kita juga bisa berhemat listrik. Ini bisa menginspirasi kita untuk berhemat dalam kehidupan sehari-hari,” kata Redika. Dengan berhemat listrik, kita sudah memberi ruang yang besar bagi orang lain yang belum menikmati listrik. Dengan banyaknya persediaan, tentu masyarakat yang belum terlayani listrik bisa segera dilayani. Ia menegaskan hemat adalah sebuah kebutuhan budaya. –Wirati Astiti

tereduksi 4 kilo gram karbon. Bayangkan saja, berapa banyak karbon yang tereduksi dari hasil pembakaran kendaraan bermotor ini setiap harinya. Namun di balik perayaan Nyepi tersebut, ada satu persoalan yang perlu diperhatikan, yakni polusi yang dihasilkan dari pembakaran ogoh-ogoh styrofoam. “Selama ini kami selalu mengevaluasi asap yang dikeluarkan dari hasil pembakaran BBM kendaraan bermotor, namun kami tidak bisa mengevaluasi asap yang dihasilkan dari pembakaran ogoh-ogoh ini,” ujarnya. Styrofoam yang beberapa tahun terakhir banyak digunakan sebagai bahan baku utama ogoh-ogoh dijelaskannya, ketika dibakar menghasilkan Chlorofluorocarbon (CFC). Zat ini memiliki daya rusak luar biasa terhadap lapisan ozon di atmosfer bumi. Limbah styrofoam ini, tidak dibakar saja sudah merusak, apalagi dibakar. Menurut sumber data dari US Marine and Park Service, styrofoam baru bisa diurai 7 juta tahun, lebih lama dari limbah plastik yang bisa diurai sekitar 450 tahun. Karena itu, Suriadi sangat menyambut baik instruksi Pemkot Denpasar yang melarang pemakaian styrofoam sebagai ogoh-ogoh. “Seyogianya pembuatan ogoh-ogoh kembali memakai cara-cara tradisional dengan menggunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan. Ini juga sebagai cara orang Bali menghormati alam,” ujarnya. Perayaan Nyepi yang menyumbang penghematan energi listrik dan BBM ini ditegaskan Surioko hanya di skala RT. “Yang punya respek terhadap ligkungan adalah orang Bali. Ia menyentil beberapa badan usaha khususnya hotel justru memanfaatkan momentum ini untuk mengeruk keuntungan lebih dengan menjual paket Nyepi. Perayaan Nyepi yang seharusnya hening dan gelap tak berlaku di hotel, konsumsi energi tetap dilakukan. “Kalau di rumah sakit wajar menyalakan listrik atau di rumah tangga yang punya anak kecil atau orang tua. Tapi kalau di hotel, apa yang menginap di sana orang sakit?” sindirnya. Menurut alumni IHDN Denpasar ini, boleh saja hari raya keagamaan dijual sebagai paket pariwisata, namun esensi perayaan tersebut harus tetap diikuti. Seperti perayaan Nyepi di Bali, mereka yang datang dan tinggal di Bali saat itu seharusnya mengikuti esensi Nyepi tersebut. “Dimana bumi dipijak disana langit dijunjung”. –Inten Indrawati


20

Nine

Edisi 840/ 16 - 22 Maret 2015

Inspirasi

Iptu Pratiwi Nofiani, SH.

Edisi 840/ 16 - 22 Maret 2015

Ni Ketut Mursi

5

Ambil yang Baik, Buang yang Buruk Wujudkan Mimpi “Maaf mbak, baru buka HP, habis pulang razia malam,” kata Iptu Pratiwi Nofiani, SH., Kepala Satuan Lalu Lintas (Kasatlantas) Polres Bima, membalas dan menjawab SMS pukul 22.56 wita, beberapa waktu lalu. Inilah salah satu aktivitas Polwan yang selalu tampil energik dan cekatan ini. Tidak kenal siang maupun malam, dilahirkan sebagai seorang perempuan, Pratiwi membuktikan dirinya dapat mengemban dan melaksanakan tugas yang diberikan padanya sama seperti laki-laki. Hal inilah yang membuatnya dipercaya dalam berbagai jabatan selama enam tahun menjadi seorang polisi.

P

Iptu Pratiwi Nofiani, SH.

ernah me­ ngemban berbagai tugas dalam kepolisian, selalu meninggalkan kesan tersendiri bagi Pratiwi yang dulu sempat mendaftar sebagai Kowal (Korps Wanita Angkatan Laut), namun garis hidup mengantarnya menjadi seorang Polisi Wanita. Sejak lulus Akpol tahun 2009, sudah enam jabatan yang diemban perempuan kelahiran Jombang, 6 Oktober 1988 ini. Sebelum akhirnya dipercaya sebagai Kasatlantas Polres Bima sejak bulan November 2014 lalu, Pratiwi pernah menjadi Kanit PPA Satreskrim Polres Lombok Barat (Lobar), Kapolsek KP3 Udara Bandara Selaparang, Kanit Lidik II Satreskrim Polres Mataram, Kanit Laka Satlantas Polres Mataram hingga KBO Satlantas Polres Lombok Barat.

Tugas-tugas yang diembannya selama di NTB sejak tahun 2010 ini, bagi Pratiwi adalah pelajaran yang sangat berharga yang memberinya banyak inspirasi. “Masing-masing tugas punya kesan tersendiri buat saya karena dari sana saya banyak belajar tentang berbagai hal dalam kehidupan,” ujar Pratiwi. Saat bertugas sebagai Kanit PPA Satreskrim Polres Lobar selama 1,5 tahun, Pratiwi mau tidak mau “terlibat” dalam urusan rumah tangga orang lain ketika harus menangani kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan anak, karena bagaimana pun untuk membantu mencarikan solusi atau bahkan melanjutkannya ke jalur hukum, ia harus meneliti tiap kasus yang ditangani unitnya. “Jadi cenderung mengurus intern rumah tangga orang lain, untuk bisa menemukan solusi terbaik bagi pasangan yang bermasalah itu,” kata ibu dari Muhammad Daffa Hafizh Argani ini. Hal inilah yang membuatnya terbilang sangat sibuk, mengingat cukup banyak kasus yang

Rekreasi Bersama

Perempuan yang mengemban tugas sebagai pimpinan seperti Pratiwi, tentulah memiliki nilai rasa tersendiri dalam membangun kedekatan dengan anak buahnya. Memiliki 44 anak buah di Satlantas Polres Bima, membuatnya sangat terbantu dalam menjalankan tugas sehari-hari. Pratiwi beruntung karena selalu menempatkan perasaan senang ketika diberikan tugas dan tanggung jawab apapun. Dan ia juga selalu berusaha menyenangkan anak buahnya agar segala tugas yang menjadi tanggung jawab di satuannya dapat berjalan lancar. Pertemuan rutin setidaknya sebulan sekali, dilakukan oleh Pratiwi dan anak buahnya, untuk menjaring masukan dan keluhan serta kendala yang ditemui anggotanya di lapangan. Dari sini, Pratiwi dapat mengenal anggotanya satu persatu. Pendekatan yang dilakukannya bukan hanya pendekatan kedinasan melainkan juga pendekatan kekeluargaan. Untuk itu, Pratiwi tidak hanya mengenal anggotanya di kantor, melainkan mulai mengajak anak buah beserta keluarganya masingmasing untuk menikmati waktu santai bersama di kala waktu senggang atau saat tidak sedang sibuk, dengan berekreasi bersama secara sederhana. “Intinya kumpul bersama dan di sanalah saya

mengenal ibu-ibu Bhayangkari Satlantas Polres Bima,” ujar satu-satunya Kasatlantas perempuan di NTB saat ini. Dalam tanggung jawab tugas yang diemban yang tentu saja menyita banyak waktunya, Pratiwi adalah seorang ibu yang tidak ingin meninggalkan kodratnya sebagai seorang perempuan untuk bayinya yang baru berusia satu tahun dua bulan. Kelebihan seorang perempuan yang tidak bisa dimiliki oleh pemimpin laki-laki seperti dirinya, tetap dijalankannya dengan baik. Hingga hari ini, Pratiwi tetap berkomitmen memberi ASI kepada bayinya hingga usia anaknya tersebut dua tahun. Pratiwi tetap memberi ASI untuk bayinya lebih karena ia tidak ingin menyia-siakan kesempatan emas untuk anak peramanya itu, yang tentu saja kesempatan itu tidak datang dua kali dan juga tidak bisa diulangi atau pun dibeli dengan jumlah uang berapa pun nilainya. “Saya ingin anak saya mendapatkan haknya mendapatkan ASI semaksimal mungkin,” katanya. Dengan komitmennya ini (tentu saja pemberian ASI telah ia atur semaksimal mungkin menyesuaikan dengan waktu tugasnya), Pratiwi menjadi pemimpin perempuan yang memiliki kesempatan dan keistimewaan yang tidak mungkin dimiliki oleh laki-laki. -Naniek I. Taufan

ia tangani kala itu. Waktunya banyak tersita termasuk untuk terus mempelajari peraturan yang berkaitan dengan hal tersebut. Tugas ini, bagi Pratiwi sangat mengasyikkan dan ia nikmati benar waktu demi waktunya dalam bekerja karena ia menjadi lebih banyak tahu, selain peraturan hukum berkaitan dengan masalah ini

juga banyak tahu lika-liku persoalan rumah tangga dan anak-anak. Setidaknya, tiap kasus yang ditanganinya memberinya inspirasi untuk mengambil yang baik dan membuang yang buruk. Ini adalah ilmu yang kemudian dibawanya dalam berumah tangga dengan Mutawalli, ST., MM., yang juga seorang polisi. –Naniek I. Taufan

Jadi Kenyataan

Memiliki impian untuk adalah hak semua orang. Apakah impian itu bisa diwujudkan atau tidak tergantung pribadi masing-masing. Asalkan mau berusaha, impian itu pasti terwujud. Demikian jalan pikiran Ni Ketut Mursi, penyandang tunanetra yang sukses menjadi pecatur dan kini membuka klinik alternatif Prana Holistic.

M

Pratiwi saat membetulkan helm pengguna jalan di Bima

Hadiah Kaus dari Kapolda Selain itu menjadi Kanit PPA membuat pergaulannya menjadi lebih luas, tidak hanya polisi, jaksa, hakim dan juga pengacara melainkan dari berbagai instansi dan organisasi. “Saya banyak memiliki kawan, punya teman dari berbagai kalangan, seperti Pemda, pekerja sosial, organisasi sosial, perempuan dan juga organisasi anak,” ungkapnya. Saat menjadi Kapolsek KP3 Udara Bandara Selaparang, pengalaman Pratiwi semakin bertambah. Meski hanya dalam lingkungan bandara, tugas ini telah melatihnya menjadi pimpinan suatu wilayah, yakni wilayah Bandar Udara yang memiliki spesifikasi permasalahan tersendiri. Meski hanya tiga bulan ia menjadi Kapolsek di sini, Pratiwi mengambil banyak keberuntungan dari tugas ini. Di samping ia bisa belajar untuk mengepalai suatu wilayah, meskipun lingkup kecil, ia juga bersyukur bisa bertemu langsung dengan para pimpinannya yang berpergian keluar ataupun kembali ke Mataram, kala itu. “Saya senang selama tiga bulan itu, saya bisa mengenal secara langsung pimpinan saya,” ungkap Kapolsek terakhir di Bandara Selaparang Mataram, ini (saat itu Bandara Selaparang Mataram lalu pindah ke Bandara Internasional Lombok, Lombok Tengah). Satu hal yang tidak akan ia lupakan saat bertugas di sini adalah ketika Kapolda NTB, Brigjen. Arif Wachjunadi, kala itu tibatiba menghadiahkan sebuah kaos yang dibelikannya di bandara tersebut. “Saya senang sekali,” ujar Pratiwi bangga. Hadiah itu sungguhlah bermakna bagi Pratiwi. Bukan sekedar selembar kaus baginya, namun pelajaran di balik itulah yang ia ambil. Perhatian seorang pimpinan sungguh mengguncang adrenalinya dalam rasa bangga sehingga ia bersemangat bekerja dan merasa tugasnya menjadi sangat dihargai. Setidaknya itulah gambaran yang bisa ia terapkan manakala ia menjadi pimpinan, baik dari level terendah hingga yang tertinggi jika kelak ia mendapatkan amanah itu. Selain soal itu, tugas di bandara ini mengingatkannya kembali, bahwa saat pertama kali bertugas di NTB, tahun 2010, kala itulah pertama kali ia naik pesawat terbang. “Kalau saya tidak bertugas di NTB, mungkin saya tidak akan naik pesawat terbang,” ujarnya tertawa. Hal ini membuatnya menyimpan kesan terhadap bandara. Karena sejak kecil dan sekolah hingga Akpol di Semarang, Pratiwi tidak pernah keluar dari Pulau Jawa. Bahkan tempat sekolahnya juga berdekatan dengan kampung halamannya di Jombang, sehingga ia hanya memakai transportasi bus dan kereta api, sudah sampai di tempat tujuan.

ursi lahir 4 Mei 1977 di Banjar Belalang, Desa Kediri, Tabanan. Ia anak ke-12 dari 13 bersaudara. Orangtuanya Ketut RibungNengah Landri. Sejak lahir, Mursi mengalami kelainan di matanya. Ia menderita low vision. Jarak pandangnya sangat terbatas, antara 1-2 meter. “Menurut cerita orangtua, ayah saya bersemedi sebelum saya lahir. Ayah berharap anak yang akan lahir ini laki-laki, sehat, dan digadang-gadang menjadi pengobat. Ternyata yang lahir cewek dan hampir buta,” kenang Mursi. Seiring perjalanan waktu, Mursi tumbuh menjadi anak desa yang senang bermain-main. Ia tak pernah mengeluh walau pandangannya terbatas. Mursi lalu “ditemukan” I Gede Nyoman Sumitha yang saat itu bertugas di Panti Sosial Bina Netra Ma-

hatmiya, Tabanan. “Tahun 1983 saya mengadakan home visit untuk mencari anak-anak tunanetra. Saat itulah saya bertemu Mursi dan tiga temannya lalu mengajak mereka bergabung di Mahatmiya,” ujar Sumitha yang juga Ketua National Paralympic Committee (NPC) Bali. Tahun 1988, Mursi ikut Porpenca. Ia yang dari kecil menyukai atletik memilih bertanding di olahraga catur. Pengalaman ini membekas di benaknya. Tahun 1993 ia ingin ikut lagi, kali ini atletik menjadi pilihannya. Sayang, Mursi tak bisa melewati limit yang ditentukan. Ia pun gagal. “Saat itu saya sedih. Saya ingin ikut bertanding. Tetapi, tidak lolos. Sejak itu, saya terus berdoa agar nanti bisa ikut pertandingan dan dapat emas,” ungkapnya. Tamat SMP, Mursi yang sudah memiliki keterampilan sebagai terapis pijat diterima bekerja di Hotel Amandari sejak 2005.

Penghasilannya lumayan karena ia kerap mendapat tips dari tamu yang dipijat. Beberapa pejabat pusat pernah ia pijat, salah satunya Try Sutrisno. Di sela-sela waktu istirahat di hotel, ia melihat orang main catur. Niatnya berlatih catur kembali membuncah. Mursi pun bertekad untuk mewujudkan impiannya ikut pertandingan dan memiliki medali emas. Ajang pertama yang ia jajal Kejurda. Hasilnya, Mursi menjadi juara I. Berikutnya ia ikut Kejuaraan Catur Wanita yang diadakan Koran Tokoh tahun 2006. Walaupun tak menjadi juara, Mursi tetap bersemangat. Berikutnya ia ikut Kejurnas di Ternate tahun 2006. Ia berangkat bersama tim yang dipimpin Sumitha. “Saya dapat juara I. Selama di Ternate, saya juga sibuk memijat. Ada saja yang minta dipijat. Tiap habis pertandingan, selalu ada yang menunggu. Bahkan ada yang menawarkan saya untuk tinggal di Ter-

Orang “SAKTI”

Mursi bersama Sumita

Mursi sebenarnya tak sepenuhnya lepas dari catur. Ia masih memberi bimbingan kepada juniornya. Salah satunya Debi, pecatur tunanetra dari Jawa Barat yang berhasil meraih medali emas di ASEAN Paralympic di Myanmar. “Kami komunikasi via telepon. Saya banyak memberi-

kan teori-teori catur karena selama di Pelatnas, kami tidak diberikan teorinya,” ujar Mursi yang absen di Myamnar karena saat yang bersamaan berada di Jepang. Untuk menambah ilmu catur, Mursi rela merogoh kocek untuk berguru ke pelatih seperti Oki Irawan dan Maksum Firdaus. Ia pun bersyukur didukung NPC Bali dan Pemprov. Bali. “Sekarang saya mau fokus mengurus klinik. Dari kecil saya diharapkan menjadi pengobat oleh ayah saya. Sekarang saatnya saya mewujudkan harapan itu. Saya membuat klinik bukan semata-mata ingin bisnis. Tetapi, saya ingin mengedukasi masyarakat luas bagaimana cara menjaga kesehatan sebelum ia pergi. Sehat itu murah, sakit itu mahal,” tegasnya. Jika sakit datang, bagaimana caranya agar tidak langsung diobati dengan kimia, tetapi menyembuhkan dengan gaya hidup sehat seperti mengatur pola makan, berolahraga, mengolah nafas dan menguras usus yang ada di perut karena disanalah berbagai macam sumber penyakit terjadi. Mursi juga ingin menginspirasi bahwa kecacatam fisik bukan berarti tak bisa membuat orang sehat. “Saya ingin menjadi orang SAKTI. Sukses dalam segala hal. Arif menyikapi masalah. Kaya hati kaya harta. Berarti bagi alam beserta isinya,” ungkap Mursi. –Ngurah Budi

Ni Ketut Mursi

nate selama tiga bulan. Tetapi, Pak Sumitha melarang. Sebagai bagian dari tim, saya harus ikut pulang ke Bali usai Kejurnas,” kata Mursi. BUTA TOTAL Perjalanan Mursi sebagai pecatur tunanetra pun memasuki babak baru. Ia masuk Pelatnas di Solo. Selama enam bulan ia berada di Pelatnas untuk persiapan ASEAN Paralympic di Thailand tahun 2007. Empat bulan pertama, kerjaannya hanya tidur dan makan. Dua bulan terakhir barulah ia dilatih untuk memantapkan strategi. Dari hasil di Thailand ia meraih medali perak. Salah satu penyebab, ia dan pelatih terlambat datang ke lokasi pertandingan karena tersesat. Di Thailand juga Mursi mengalami buta total. “Saya dibangunkan teman karena sudah siang. Saya bilang ini masih malam. Ternyata saya mengalami buta total,” kenang Mursi. Kebutaan total ini tak menghambat Mursi dalam meraih prestasi. Dua tahun kemudian ia ikut ASEAN Paralympic di Malaysia. Ia berhasil meraih 2 emas dan 1 perunggu. Andai tak kena diskualifikasi, ia yakin bisa meraih tiga emas. “Sebelum pertandingan catur open, panitia minta semua pecatur istirahat. Saya pun tidurtiduran sambil mengirim SMS ke guru catur saya. SMS tidak langsung dibalas. Tiba-tiba panitia meminta semua pecatur ber-

kumpul lagi untuk pertandingan karena akan disaksikan Sultan. Kami pun langsung bergegas. Pas main, ponsel saya bunyi. Saya pun kena diskualifikasi dan dinyatakan kalah. Saya menangis dan ngambek,” kata Mursi. Pihak Kemenpora RI yang mendampingi Mursi tak berani memaksa Mursi untuk main di babak selanjutnya sementara Malaysia memohon agar Mursi main untuk mengalahkan pecatur Vietnam. Akhirnya, Mursi pun main lagi hingga meraih perunggu. Niatnya untuk sapu bersih medali emas baru bisa terealisasi tahun 2011 di Solo. Impian sejak kecil pun bisa ia wujudkan. Selain meraih emas, Mursi juga mendapat bonus dari pemerintah. Bonus-bonus itu ia kumpulkan dan sekarang dipakai untuk modal membuka usaha. Ia bekerja sama dengan dr. Kompyang Rahayu, Sp.M yang membantunya membuka klinik alternatif Prana Holistik di Panjer. Karena sibuk mengurus klinik, ia pun menolak untuk bertanding catur lagi. Informasi yang ia dapat, ASEAN Paralympic di Singapura tidak mempertandingkan catur putri karena tuan rumah tidak memiliki atlet. Ternyata belakangan ada perubahan, catur putri dipertandingkan. Namun, Mursi yang sudah telanjur teken kontrak untuk mengurus klinik, memilih fokus di klinik dulu. –Ngurah Budi

Mursi saat mengikuti kejuaraan catur terbuka khusus wanita yang diadakan Tokoh tahun 2006


4

Inspirasi

Edisi 840/ 16 - 22 Maret 2015

Bibong Widyarti Djaprie

Tertarik Kosmetik Organik Menerapkan pola hidup organik, mungkin akan terasa sulit bagi mereka yang terbiasa dengan gaya hidup tidak sehat. Dalam hal makanan misalnya, tentu akan terasa sulit bagi mereka yang terbiasa mengonsumsi makanan mengandung bahan pengawet, pemanis dan bahankimia lainnya, untuk hanya mengonsumsi makanan alami.

T

api, kata Bibong Widyarti Djaprie, asalkan ada kemauan, pola hidup organik dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. “Tentunya, itu semua perlu proses,” ujar Bibong Widyarti Djaprie, Ketua Yayasan Aliansi Organik Indonesia ( ALIFA). Mungkin, bisa dimulai dengan mengurangi kebiasaan makan di luar rumah. Dengan begitu kita akan mulai membiasakan diri membuat makanan sehat di rumah. Itu juga yang dilakukan Bibong saat membiasakan keluarganya menerapkan pola hidup organik. “Anak saya dua laki-laki semua, mereka kini sudah besar. Tapi sejak kecil saya sudah membiasakan mereka untuk menjalani pola hidup organik. Mengkonsumsi makanan yang dibuat di rumah, itu juga yang mereka bawa ke sekolah. Dengan begitu mereka tidak perlu jajan apalagi minum soft drink. Saya beruntung karena orang yang pandai memasak di rumah,” ungkap nominator Indihome Award ini. Apa yang diajarkannya kepada anak-anaknya ini, ternyata juga terbawa dalam kehidupan kedua anaknya di luar rumah. Terbiasa menyantap menu sehat, membuat mereka menjadi sensitive. “Jadi misalnya mereka makan di luar, lalu karena suatu sebab mereka menyantap sesuatu yang tidak biasa, maka tubuh mereka akan beraksi. Mungkin pusing, tenggorokan tidak enak, dll. Reaksi penolakan di dalam tubuh ini membuat anak-anak akhirnya jadi semakin berhati-hati dalam menyantap makanan di luar,” tuturnya. Bibong sendiri menjalani pola hidup sehat dan selaras dengan alam pun hasil ‘bentukan’ orangtuanya. “Dulu kami terbiasa menyantap makanan di dalam

rumah, jarang jajan. Ibu saya dalam memasak tidak menggunakan vetsin (MSG). Setelah itu kehidupan kami mengarah kepada alam. Saat SMP dan SMA, saya menyukai kegiatan-kegiatan yang dekat dengan alam. Sampai akhirnya saya kuliah di Institut Pertanian Bogor,” paparnya. Suatu ketika, lanjutnya, ia membaca sebuah artikel yang bercerita tentang Agatho Elsener, seorang pastor asal Swiss yang mengembangkan pertanian organik di Desa Tugu Selatan, Cisarua, Bogor. Sejak itu ia pun menjadi sangat tertarik tentang organik dan berusaha menerapkannya. Bibong yang memutuskan menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya setelah menikah, pun mulai menanam berbagai tanaman organik untuk dikonsumsi sendiri. “Dengan begitu saya menjadi tahu apa yang saya konsumsi, apa yang saya olah,” kata wanita kelahiran Bandung ini. Ia pun sempat bekerja sama dengan para petani di kawasa Cianjur dan Ciawi untuk budidaya ikan dan tanaman. “Di Cianjur, Jawa Barat, saya membuka tambak ikan bersama petani setempat. Di Ciawi juga sama, tapi juga ada tanaman organik. Dari kegiatan bertani ini, saya mendapat banyak ilmu dari para petani. Tepatnya, kami saling share, saya memiliki basic pendidikan, sedang mereka memiliki skill. Kepada mereka saya ajarkan cara membuat pakan ternak. Sedang kepada mereka saya belajar tentang alam,” papar Bibong yang juga sempat membangun koperasi benih ikan local untuk membantu kelanjutan produksi para petani kecil. Bagi Bibong, pola hidup organik bukan hanya untuk dibicarakan tapi bagaimana mengajak orang untuk ikut menerapkannya. Memang, akunya, ada sebagian

orang berpendapat menerapkan pola hidup organik membutuhkan biaya lebih alias mahal. Mungkin, katanya, orang yang berpendapat demikian karena ia hanya melihat secara ‘sepotong-sepotong’. Lalu Bibong pun membuat ‘hitung-hitungan’ pengeluaran berdasarkan pengalamannya. “Saat saya menerapkan pola hidup organik di keluarga saya, kami adalah keluarga muda yang baru mulai menapak. Beli beras misalnya, dulu harga beras biasa sekitar Rp6000 untuk keperluan 1 bulan diperlukan sekitar 20 kg, berarti Rp120.000. Jika memakai beras organik hanya diperlukan sekitar 15 kg. Kenapa lebih sedikit? Ini karena beras organik lebih awet, jika dimasak pagi sampai sore bahkan malam pun tidak basi. Berbeda dengan beras biasa yang tidak tahan lama, sore bisa basi,” papar penulis buku “Hidup Organik: Panduan Ringkas Berperilaku Selaras Alam”. Begitu pun saat mencucinya. Kalau beras biasa memerlukan bilas berkali-kali sampai air bening. Sedang beras organik hanya dua kali bilas. “Membilas beras berkali-kali menyebabkan Vitamin B yang terkandung pada beras, hilang. Dengan hanya membilas dua kali, bukankah lebih menghemat air dan vitamin pun tidak hilang?” Katanya. Apa yang digambarkan Bibong hanyalah sedikit dari begitu banyak manfaat mengkonsumsi makanan organik. “Orang yang memakai produk organik, akan melihat efeknya pada masa depan,” katanya. SELALU BEREKSPERIMEN Besarnya manfaat dalam menjalankan pola hidup organik membuat dalam kehidupan sehari-hari Bibong nyaris minim bersentuhan dengan bahanbahan mengandung kimia. Jadi bukan hanya soal makanan sehari-hari yang nyaris sepenuhnya ‘berbau organik’ tapi juga untuk kebutuhan lainnya. Sebut saja kosmetik. Sebagai wanita, meski Bibong termasuk wanita yang jarang berdandan, tetap saja melakukan perawatan terhadap wajah dan kulit. “Untuk bedak organik saya dapat dari Korea, untuk perawatan kulit saya pakai VCO (minyak kelapa murni) yang dicapur dengan essential oil rose murni, ini untuk menjaga kelembaban kulit bagi yang telah berusia 50 tahun ke atas. Saya juga menggunakan shea butter (sari buah shea) untuk lotion,” tuturnya. Untuk keperluan rumah tang-

Bibong Widyarti Djaprie

ga pun, kata Bibong, seperti sabun misalnya, ia gunakan berbahan organik yang dibelinya di Bali. “Untuk sabun cuci saya pesan dari Bali. Detergen itu rendah busa, bagus untuk pakaian berwarna putih,” tambahnya. Ia juga bereksperimen sendiri dengan membuat sabun cuci dari biji lerak. Biji lerak mengandung saponin yang menghasilkan busa dan berfungsi sebagai bahan pencuci. Selain bisa membersihkan kain, lerak dapat dipakai untuk membersihkan berbagai peralatan dapur dan lantai. “Saya hanya menghabiskan 4 kg lerak dalam setahun untuk mencuci pakaian keluarga,” ucapnya. Jadi, lanjut Bibong, dari alam ada banyak produk yang bisa dihasilkan tanpa harus menggunakan bahan kimia. Sayangnya, tidak semua orang mengetahui tentang hal ini. Bisa jadi karena kampanye pola hidup organik kalah keras dengan apa yang didengungkan oleh produsenprodusen besar. Yang terjadi sekarang ini adalah produsen yang mendikte konsumen, bukan sebaliknya. Itu juga yang menjadi salah satu sebab kenapa penerapan pola hidup organik ini terasa begitu lambat. Sejak tahun 1998 mulai didengungkan, namun hingga sekarang kemajuannya terasa lambat sekali. Ada banyak kendala yang menyebabkan ini. Selain awareness yang masih kurang, juga, kontinuitas produk organik dalam jumlah besar, masih sulit dicapai. “Biaya

produksi produk organik mahal dan tergantung musim,” kata Bibong yang juga Sekretaris Jenderal Jaringan Masyarakat untuk Perubahan Iklim. “Sentra-sentra organik juga masih terbatas. Kalau di Jakarta, sentra organik ada di Puncak dan Bogor. Memang cukup jauh dari Jakarta. Sedang organik yang sudah masuk ke supermarket tentu harganya menjadi mahal,” tambahnya. Sebenarnya, tambah Bibong, sudah dicoba membuka ‘pasar organik’ setiap pekan di halaman Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan. Namun pasar itu mati dengan sendirinya, karena ternyata masyarakat kurang tertarik membeli. Konsumen lebih suka membeli baju atau produk lain, ketimbang membeli produk organik. “Padahal yang datang berjualan itu adalah petani-petani organik, jadi harga jauh lebih murah dari pada di supermarket. Namun tidak laku, akhirnya pasar itu mati,” ucap Bibong yang kerap menjadi narasumber berbagai seminar terkait produk organik dan pertanian lainnya. Selain kampanye pola hidup organik, Bibong juga aktif di organisasi Slow Food Association. Organisasi ini untuk melawan makanan siap saji dan gaya hidup serba instant. Pendekatan gerakan Slow Food terutama pada agrikultur/pertanian, produk makanan dan gastronomi/ Iimu mengenai Cara Makan. “Saya leader Slow Food di Jabodetabek,” ucapnya. -Diana Runtu.

Mandalika

Edisi 840/ 16 - 22 Maret 2015

Berbagai Kegiatan Semarakkan TMD

M

emperingati peristiwa me­ letusnya Gunung Tambora di Kabupaten Dompu dan Kabupaten Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), digelar berbagai kegiatan yang dikemas dalam even bertajuk “Tambora Menyapa Dunia” (TMD). Untuk mendukung kegiatan tersebut, Wakil Gubernur NTB H. Muh. Amin, S.H., M.Si yang mewakili Pemerintah Provinsi NTB menandatangani MoU dengan Presiden/ CEO Pasific Asia Travel Association (PATA) Indonesia Chapter Poernomo Siswoprasetijo, di Balairung Soesilo Sudarman, Gedung Sapta Pesona Jakarta, Kantor Kementerian Pariwisata, beberapa waktu lalu untuk pengembangan, peningkatan dan mensinergikan promosi di bidang kepariwisataan di wilayah NTB. Seperti, penyelenggaraan even nasional dan internasional, roadshow promosi pariwisata daerah, pameran nasional dan internasional, periklanan dan table top. Event TMD tidak hanya fokus di Kabupaten Dompu tetapi menyebar di beberapa kabupaten di NTB yang terbagi dalam kelompok kegiatan. Kelompok seni antara lain menyajikan music country konvensional dan moden yang melibatkan semua sanggar di Tambora, upacara selamatan laut di kawasan “SAMOTA” (Teluk Saleh, Moyo dan Tambora) yang dijadwalkan

Rangkaian kegiatan penandatangan MoU dukungan untuk Tambora Menyapa Dunia, termasuk jumpa pers

akan diluncurkan sebagai kawasan ekonomi khusus (KEK), serta pawai budaya (1 April 2015) dan jambore seni budaya di Dusun Pancasila sebagai pintu masuk utama pendakian ke Gunung Tambora. Berbagai kegiatan lain dalam menyemarakkan TMD seperti kegiatan sport adventure; Tambora Bike, Mount Tambora Ultra Trail Run, Tambora Chalenge Trans Sumbawa, Lari 10K, Trabas Tambora, Tambora Savana Run dan Lakey Kite Surf Exhibition Camp di pantai Lakey serta beberapa kegiatan adventure lainnya. “Penyelenggaraan even TMD merupakan upaya dalam meningkatkan kunjungan wisatawan ke NTB yang tahun ini menargetkan 2 juta wisatawan. Pada acara

puncak TMD nanti diperkirakan akan dihadiri 15 ribu wisatawan,” ungkap Muh. Amin. Di samping karena sejarah ledakan dahsyat Gunung Tambora yang menarik minat wisatawan, destinasi wisata NTB memang memiliki daya tarik tersendiri, baik objek berupa pantai, alam maupun budayanya. “NTB merupakan destinasi pariwisata unggulan yang kita tempatkan sebagai bagian dari Great Bali. Sekitar 40% wisman yang berkunjung ke Indonesia masuk melalui Bali. Kita berusaha tarik mereka agar melanjutkan kunjungannya ke NTB. Saya merinding menyaksikan indahnya pariwisata NTB,” kata Menteri Pariwisata RI, Arief Yahya. -Naniek I. Taufan

21

BNN NTB Bentuk IPWL Dihadiri oleh berbagai pihak, mulai dari Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Danrem, Danlanal, Danlanud, Kemenag NTB, Kejati dan dari Kementrian Hukum dan HAM), Bupati KLU, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, pemuda dan pramuka, Gubernur Nusa Tenggara Barat, Dr. TGH. M. Zainul Majdi, secara khusus dalam sambutannya meminta semua pihak untuk menyamakan visi bahwa narkoba adalah permasalahan yang serius dan meminta pula kepada seluruh penegak hukum untuk melaksanakan tugasnya khususnya dalam hal ini dengan sungguh-sungguh. “Bilamana ada di antara para penegak hukum yang melakukan penyalahgunaan narkoba, untuk ditindak dan dihukum seberat-beratnya,” kata TGH. M. Zainul Majdi, dalam kegiatan Deklarasi dan Penandatanganan Komitmen dalam Rangka Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan Narkoba yang dilaksanakan di Gedung Pemuda Mataram, yang diselenggarakan oleh BNN Provinsi NTB, beberapa waktu lalu. Dalam kegiatan ini, terungkap bahwa model pendekatan dalam menangani permasalahan narkoba yang semula berorientasi pada pemberantasan sindikat kejahatan narkoba termasuk penyalahgunaan narkoba, kini beralih pada pendekatan yang berorientasi pada rehabilitasi penyalahgunaan narkoba. Pemakai tidak harus dihukum penjara melainkan mendapatkan kesempatan untuk direhabilitasi. Untuk mengatasi masalah ancaman narkoba, BNN Provinsi Nusa Tenggara Barat di bawah pimpinan Drs. H. Mufti Djusnir, Apt. M.Si, merangkul segenap pimpinan daerah, pimpinan FKPD, organisasi kewanitaan, ormas dan masyarakat untuk dapat menyatukan tekad menyukseskan tahun 2015 sebagai tahun rehabilitasi 100.000 pengguna narkoba. Dari jumlah tersebut, NTB akan merehabilitasi 1.500 orang pengguna narkoba. “Membangun kesadaran bahwa para pengguna narkoba yang melaporkan diri ke IPWL (Institusi Penerima Wajib Lapor), tidak dituntut pidana,” kata Drs. H. Mufti Djusnir, Apt. M.Si., Kepala BNN Provinsi NTB. IPWL dibentuk dengan tujuan merangkul pengguna atau pecandu narkoba, sebagai proses rehabilitasi. Dengan melapor ke IPWL, maka pecandu narkoba bisa terhindar dari jeratan hukum. Jika seseorang merasa sebagai pecandu narkoba, lalu dengan sukarela melaporkan dirinya ke IPWL untuk direhabilitasi, maka ia akan menjalani rehabilitasi tersebut dan tidak akan dipidana karena laporannya (pengakuannya) sebagai pengguna. Namun, jika seorang pecandu tidak melaporkan diri, lalu tertangkap dalam sebuah razia dan kedapatan sedang menggunakan narkoba, maka ketika belum pernah melapor ke IPWL, pecandu tersebut terancam hukuman penjara sesuai ketentuan yang berlaku. Selain itu, Mufti berharap agar berbagai pihak dapat memberikan ide-ide, gagasan-gagasan alternatif yang konstruktif dalam penanganan penyalahgunaan narkoba di tahun 2015 sehingga lahir rekomendasi yang dapat mendorong adanya kebijakan politik Pemerintah Provinsi NTB maupun Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota di NTB dalam upaya mengatasi masalah ini. -Naniek I. Taufan

Wali Kota Rai Mantra dan Wakil Wali Kota Jaya Negara

Ucapkan Selamat Hari Suci Nyepi Warga Diminta Jaga Keheningan dan Kedamaian Momentum Hari Suci Nyepi bagi umat Hindu hendaknya dimaknai sebagai sebuah penghormatan terhadap alam beserta isinya. Makna dari Nyepi adalah membuat suasana hening melalui pelaksanaan catur berata penyepian. Dalam suasana yang hening dapat menimbulkan kesadaran, konsentrasi dan kebijaksanaan. Untuk itu kepada seluruh masyarakat Kota Denpasar diharapkan dapat merenung dan merefleksikan kembali ajaran-ajaran agama yang senantiasa mengajarkan untuk selalu berpikir, berkata dan berbuat baik. Jadikan spirit Hari Suci Nyepi untuk lebih meningkatkan srada bakti kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa serta lebih mawas diri. Serangkaian perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Caka 1937 yang jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2015, Wali Kota Denpasar IB. Rai Dharmawijaya Mantra bersama Wakil Wali Kota IGN. Jaya Negara, Sabtu,13 Maret 2015 secara khusus mengucapkan selamat melaksanakan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Caka 1937. “Melalui perayaan Hari Suci Nyepi bagi umat Hindu ini, kami mengajak seluruh masyarakat Denpasar untuk selalu meningkatkan srada bhakti kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa, serta menumbuhkan rasa persaudaraan di kalangan umat beragama, sehingga akan dapat menimbulkan shanti atau damai di kalangan masyarakat,” kata Rai Mantra. Selebihnya, Rai Mantra mengungkap-

kan pada perayaan Nyepi ini pihaknya juga mengajak masyarakat di Kota Denpasar untuk selalu introspeksi dan mulat sarira. Momentum perayaan Hari Suci Nyepi ini sangat tepat untuk kembali pada jati diri sebagai manusia Bali yang selalu mengedepankan rasa solidaritas dan saling menghormati antar sesama umat manusia. Momentum mulat sarira sangat tepat dikedepankan demi menjaga kenyamanan dan keamanan Kota Denpasar dan

Bali umumnya. “Buang jauh-jauh rasa dendam, dengki dan iri hati. Dengan rasa persatuan dan kesatuan serta kedamaian melalui Hari Suci Nyepi akan dapat mewujudkan pembangunan Kota Denpasar yang berwawasan budaya, dalam keseimbangan menuju keharmonisan,” ujar Rai Mantra lebih lanjut. Dalam merayakan Hari Suci Nyepi, kata Rai Mantra umat diajarkan untuk mengendalikan diri lewat Catur Brata Penyepian yakni amati geni, amati karya,

amati lelungan dan amati lelanguan. Dengan mampu mengendalikan diri diharapkan tercipta kaharmonisan. Oleh karena itu, pada momen Hari Suci Nyepi yang baik ini umat mesti berusaha menjalankan ajaran agama dengan sebaik-baiknya. Selanjutnya Wakil Wali Kota, Jaya Negara juga mengajak masyarakat untuk melakukan introspeksi diri dengan menekankan pada spirit sewaka dharma dan Tri Kaya Parisudha dimana kita harus tetap berpikir, berkata, dan berbuat yang baik dalam melaksanakan tugas dan kewajiban masing-masing. Sebab, berbagai permasalahan dan tantangan dalam melaksanakan pembangunan di Kota Denpasar ke depan masih akan dijumpai. Permasalahan tersebut, katanya merupakan tantangan dan ujian yang semestinya secara bersama-sama dicarikan solusi terbaik untuk penyelesaiannya. Sementara itu berbagai keberhasilan pelaksanaan pembangunan di Ibu Kota Provinsi Bali ini dicapai sebagai wujud partisipasi masyarakat Kota Denpasar yang sangat tinggi. Akhirnya Wali Kota Denpasar, Rai Mantra bersama Wakil Wali Kota Denpasar, Jaya Negara menyampaikan ucapan terima kasih atas partisipasi seluruh masyarakat yang selama ini sudah ikut memberi dukungan terhadap pelaksanaan pembangunan di Kota Denpasar, serta tak lupa mengucapkan “Selamat Hari Suci Nyepi Tahun Baru Caka 1937”.


22

Sosialita

Edisi 840/ 16 - 22 maret 2015

Edisi 840/16 - 22 maret 2015

3

Kusmini & Lina

Berburu Ilmu di Mal

Seiring dengan perkembangan zaman konsep mal pun berubah tidak lagi melulu untuk tempat berbelanja tapi juga reakreasi. Bahkan kini fungsi mal makin lengkap karena juga menjadi tempat ‘berburu’ ilmu. Kini makin banyak mal di Jakarta juga menyediakan perpustakaan untuk para pengunjung yang doyan membaca buku.

P

erpustakaan ini tidak didesain seperti umumnya perpustakaan yang sejauh mata memandang hanya ada rak-rak buku, kursi dan meja untuk duduk. Terkesan ‘dingin’ dan ‘kaku’. Tapi perpustakaan di mal-mal ini bukan hanya ditata secara menarik

tapi juga segala perlengkapannya serba modern. Salah satu yang paling menarik dan paling banyak pengunjungnya adalah TBM (taman bacaan masyarakat) yang berada di Plaza Semangi, Jakarta Pusat. Pusat perbelanjaan yang lokasinya strategis di pusat Jakarta ini, menyediakan ‘taman bacaan’

yang berada di lantai III. Jika Anda penggemar buku, maka sudah pasti akan tertarik untuk masuk ke sana karena penampilannya yang keren tidak seperti perpustakaan pada umumnya. Anda akan merasa suasana tenang dan nyaman, jauh dari ‘hingar-bingar’ orang yang tengah berbelanja di luar. TBM@Mall Semanggi, merupakan satu dari sejumlah TBM@ Mall yang dikelola oleh Dewi Hughes International Foundation sejak tahun 2010. Awalnya tampilan TBM@Mall Semanggi ini tidak terlalu menonjol, namun seiring waktu dilakukan perubahan konsep dan layout ruang. Kini TBM@Mall Semanggi yang bernama ‘Learning Lounge ’ tampil memikat. Apalagi fasilitas yang ada pun terus disempurnakan menjadi makin canggih. Pengunjung tidak hanya dapat

Untung Investasi Jabon di Sri Farm membaca buku, tapi juga disediakan beberapa tablet PC yang berisi bermacam-macam e-book sehingga memudahkan untuk mengakses atau mendapatkan buku yang diperlukan. Bagi yang ingin browsing maka di sana disediakan tablet gratis, yang bisa digunakan semua pengunjung. Semua fasilitas itu bisa digunakan secara gratis. “Tempatnya asyik, wifi gratis. Bisa jadi tempat nongkrong sambil mengerjakan tugas, sambil nunggu waktu kuliah,” ujar David, mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta yang lokasi kampusnya tak jauh dari Plaza Semanggi. David sendiri sering datang ke sana bersama temantemannya karena kebetulan itulah tempat yang mengasyikkan yang paling dekat dengan kampusnya. Tentang penampilan TBM@ Mall harus menarik juga disampaikan oleh Yopie Dahlan, Ketua Forum TBM Provinsi DKI Jakarta. Menurutnya, TBM di mal harus dibuat semenarik mungkin, begitu juga suasana sehingga pengunjung mal tertarik masuk ke ‘taman bacaan’ itu. Suasana yang nyaman dengan fasilitas yang bagus akan membuat pengunjung betah berlama-lama. Menurutnya, pengelola TBM juga harus kreatif agar perpustakaannya makin dikenal orang dan mendatangkan banyak pengunjung. Salah satunya adalah menggelar berbagai macam program acara. Yopie sendiri adalah pengelola TBM Bhumi Tridharma Jakarta. Untuk mengaktifkan fungsi dari TBM yang dikelolanya, ia menggelar berbagai acara, di

antaranya aneka lomba, mulai dari lomba mewarnai, hingga lomba permainan tradisional, dll. “Jadi TBM harus dibuat menarik dan mengasyikan bagi pengunjung,” katanya. Hughes yang menjadi penggerak dari TBM@Mall juga melakukan hal serupa. Menurutnya, taman bacaan di mal bukan hanya tempat membaca, tapi di sana juga disajikan banyak kegiatan. Di TBM Semanggi sendiri, kerap menggelar berbagai acara sehingga taman bacaan itu selalu aktif. Saat ini mal sudah menjadi semacam pusat peradapan masyarakat urban. Berbagai kegiatan masyarakat kerap digelar di sana, mulai dari belanja, rekreasi , arisan, hingga acaraacara keagamaan, dll. Menurut penelitian, mereka yang paling banyak dan paling sering datang ke mal adalah mereka yang berusia muda, khususnya para remaja karena mereka lah yang paling memiliki waktu luang. Mereka datang bukan hanya karena ingin belanja, tapi banyak dari mereka datang hanya untuk kongkow-kongkow bersama temannya, makan dan menikmati fasilitas hiburan. Banyaknya pengunjung dari kalangan muda inilah yang menjadi salah satu sasaran dari TBM di mal. Diharapkan, sebagian dari anak muda yang sering datang ke mal ini tertarik datang ke ‘taman bacaan’. Harapan itu juga disampaikan pihak Kementerian Pendidikan agar masyarakat, khususnya kaum muda menjadi gemar membaca. Karena berdasarkan data, minat baca kalangan muda Indonesia masih tergolong rendah. Direktorat Pembinaan Pendidikan Masyarakat (PPM) Departemen Pendidikan sangat mendorong didirikannya TBMTBM di tempat-tenpat publik. Untuk itu pihak kementerian menyiapkan dana untuk membantu para pengelola TBM di areal publik ini agar bisa eksis. Tahun lalu, Direktorat ini memberikan bantuan rintisan TBM sebesar masing-masing Rp 30 juta untuk 250 lembaga. “Kami memberi bantuan TBM Penguatan, dan mendirikan TBM di ruang publik seperti rumah sakit, dan terminal,” kata Direktur PPM, Wartanto. –Diana Runtu

Launching Hutan Jabon Sri Farm yang berlangsung Sabtu (7/3) di Griya Agung Ball Room Sanur Paradize Hotel & Suite, Denpasar ditandai dengan pemukulan gong oleh founder Sri Farm pasutri Made Budaka Wijaya dan Nyoman Kusmini. Acara yang berlangsung meriah tersebut dihadiri lebih dari 400 undangan. Mereka tampak antusias mendengarkan pemaparan dari owner sekaligus founder PT Sukses Rimba Investama (Sri Farm) Made Budaka Wijaya, dan konseptor Sri Farm Made Robert. Duet Made Budaka dan Made Robert yang adalah seorang motivator dan pebisnis sukses ini, tentunya makin mendongkrak kepercayaan calon-calon investor untuk bergabung di Sri Farm.

Launching Hutan Jabon Sri Farm yang berlangsung meriah, Sabtu (7/3) di Griya Agung Ball Room Sanur Paradize Hotel & Suite, Denpasar ditandai dengan pemukulan gong oleh owner Sri Farm pasutri Made Budaka Wijaya dan Nyoman Kusmini

S

ebagai pebisnis, Made Budaka yang juga owner Delina Advertising ini mengamati di tengah meningkatnya kebutuhan bahan baku kayu, kehadiran kayu cepat tumbuh yang dapat dipanen dalam waktu singkat, memberikan angin segar bagi pebisnis investasi di bidang perkebunan. Jabon (jati bongsor) adalah salah satu jenis kayu cepat tumbuh yang kini mulai menjadi andalan dalam industri perkayuan. “Prospek pengembangan jabon sangat menguntungkan, minim risiko, dan menghijaukan bumi. DenganRp 225 juta bisa punya hutan jabon,” ujar suami Nyoman Kusmini ini. Kusmini menimpali, menguntungkan yang dimaksud adalah karena hanya dengan investasi Rp 225 juta, dalam 10 tahun investor bisa menikmati hasil panen senilai minimal Rp 1.164.800.000. “Ini hasil dua kali panen, karena kelebihan jabon 5 tahun sudah bisa panen. Dan nilai itu adalah perhitungan harga kayu sekarang. Sepuluh tahun ke depan dipastikan harga kayu akan semakin tinggi, bisa-bisa sepuluh kali lipat. Nilai panen jabon mengikuti harga kayu saat itu,” jelas ibu dari Dedy, Lina, dan Andika ini. Bahkan, Lina yang kini masih berstatus mahasiswa di Fakultas Hukum Unud, tergabung dalam

Dewan Direksi Sri Farm, bersama kakaknya Dedy dan kedua orangtuanya. “Saya sangat mendukung sekali investasi hutan jabon yang digelontorkan orangtua saya. Karena bisnis ini tak mencari keuntungan semata, namun turut dalam pelestarian alam. Saya sebagai generasi muda sangat men-support,” ujarnya. Investasi jabon Sri Farm minim risiko. Ini kembali ditegaskan Kusmini karena perusahaan (PT Sri Farm) mengelola semuanya, mulai dari penanaman, pemupukan, perawatan, memanen, sampai pemasarannya. Perusahaan menjamin kayu hasil panen pasti laku, karena Sri Farm sudah melakukan kontrak dengan beberapa pabrik kayu di Sulawesi dan Jawa. Pohonpohon diasuransikan, dan legalitasnya terjamin melalui proses notaries di Bali dan di Sulawesi. –ten

Dewan Direksi PT Sri Farm

Buy Back Guarantee 130% Bagaimana jika gagal? “Buy back guarantee 130%. Kami akan membeli kembali dengan nilai 130 %. Klausal ini pun nanti akan tertuang dalam perjanjian notaris. Jika gagal saja masih untung, apalagi untung, pasti Anda untung melimpah,” tegas Made Robert menjawab pertanyaan dari salah seorang undangan. Dengan berinvestasi jabon, investor tak hanya mendapatkan keuntungan dari segi bisnis dengan hasil yang melimpah, namun juga turut menyukseskan program pemerintah menghijaukan bumi dengan turut melestarikan lingkungan (go green) untuk mengurangi efek rumah kaca. Sri Farm megadopsi konsep Tri Hita Karana yaitu recovery dan pelestarian alam sebagai wujud bakti terhadap ciptaan Tuhan, pemberdayaan masyarakat dan pemanfaatan hutan tanaman rakyat yang berkelanjutan, sehingga memberikan benefit ekonomi yang besar. “Jika kita ingin hidup bahagia dan berumur panjang harus menanam pohon untuk memberikan kehidupan”. Kalimat itu dipetik Made Robert dari seorang biksu. Memangbenar, bahwa sumber dari segala sumber kehidupan adalah tumbuhan/pohon. Karena itu secara hukum alam, darimelestarikanpohoninilah ,akandidapatkanhasil/keuntungan. Made Robert, owner sekaligus founder Villa Mesari ini memutuskan untuk mengkonsepkan dan bergabung di Sri Farm setelah melihat peluang bisnis ini sangat bagus. Selain menguntungkan secara finansial juga bisa menyelamatkan lingkungan. “Saya berbisnis tak mau menyengsarakan orang dan merusak lingkungan, sebaliknya harus menguntungkan banyak orang. Mari kita sukses bersama di investasi hutan jabon,” ajaknya. Made Budaka mengimbuhkan, pemilihan lokasi perkebunan di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat sudah melalui berbagai pertimbangan yang matang dan survei yang cukup panjang. Dimulai dari letaknya yang sangat strategis, kadar kesuburan tanahnya tinggi, wilayahnya luas sehingga sangat cocok untuk pengembangan jabon. Dengan bergabung dalam bisnis ini, investor secara otomatis tergabung dalam komunitas “go green investor club”, jaringan bisnis antar investor seluruh Indonesia. Tiap enam bulan, perusahaan pun akan menyampaikan perkembangan pohon kepada investor. Dan untuk ke depan, di beberapa titik akan dipasangi kamera CCTV, sehingga investor bisa memantau secara online. Apakah investasi di sana aman? Dalam menjalankan bisnis jabon ini, Sri Farm memakai profit sharing system, 70% untuk investor, 30% untuk Sri Farm, yang mana di dalamnya sudah termasuk pengelola, masyarakat di lokasi perkebunan, desa serta pihak keamanan. “Jadi kebun jabon Anda pasti aman, karena masyarakat juga mendapatkan hasil dari sana. Dan masyarakat Sulawesi sendiri sangat wellcome, tidak ada diskriminasi,” tegas Made Budaka dan Made Rob-

Beberapa undangan langsung berinvestasi di hutan jabon Sri Farm yang prospek ke depannya sangat luar biasa

ert hamper berbarengan. Mereka sudah beberapakali pulang pergi Denpasar-Mamuju untuk mendampingi calon investor mengecek lokasi lahan. “Tanggal 12 -14 Maret, kami berangkat lagi ke Mamuju mengantar 25 calon investor dan setelah Nyepi yaitu tanggal 27-29 Maret juga akan memberangkatkan 35 orang lagi,” ungkap Made Robert. Dari kualitas tanaman, jabon memiliki kualitas tinggi dengan tingkat kegagalan relatif kecil dan nilai jualnya sangat tinggi yang tentunya dapat memberikan kesejahteraan bagi investor sekaligus bisa menghidupi masyarakat sekitar. Sri Farm pun terus meningkatkan penelitian dengan perusahaan bibit terpercaya. Saat ini Sri Farm telah mengelola lebih dari 1.500 hektare hutan jabon di Sulawesi Barat, dan tidak menutup kemungkinan akan dikembangkan juga di daerah lain di Indonesia. Legalitas dan sertifikat sah diterbitkan BPN. “Mei mendatang, kami akan presentasi di Jakarta, selanjutnyadi 18 kota besar di Indonesia. Semua orang bisa jadi investor, apapun profesinya. Saatnya uang bekerja untuk Anda,” ungkap Made Robert antusias. Ni Made Ayu Dewi Saraswati, Direktur Marketing PT Sri Farm mengakui, investasi jabon ini mendapat sambutan luarbiasadarimasyarakat Bali khususnya. Dari soft launching tahunlalu, sudah terjual 70 hektare. “Dan ketika acara launching kemarin, bertambah lagi 200 hektare terjual. Hasil panen kita pasti sukses, dan investasi Anda pasti kembali berlipat ganda. Be a Green Milyarder, Go Green Grow Rich,” ujarnya. Sri Farm menawarkan hadiah menarik bagi investor, yakni grandprize mobil Honda Mobilio, yang diundi tiap penjualan 200 hektare/paket. Kabar gembira bagi masyarakat yang mau memiliki hutan uang sekaligus menjadi green milyarder, silahkan hadir pada acara Dinner Gratis bersama Sri Farm pada Minggu, 15 Maret pukul 16.00 wita di Ibis Style Hotel ex All Season Hotel, Jalan Teuku Umar No. 185 Denpasar, undangan dinner bisa diambil di Kantor Sri Farm, Jln. Tukad Batanghari No. 9, Denpasar dan di stan pameran Sri Farm di Matahari Duta Plaza, Jalan Dewi Sartika Denpasar. Tlp. 0361-955872, HP 08533749688, 087861999658, wwwsrifarm.com. –ten

Made Robert saat presentasi investasi hutan jabon di hadapan lebih dari 400 undangan


2

Ekspresso

Edisi 840/ 16 - 22 Maret 2015

DAri daPUr Redaksi

Memaknai Nyepi Sebelum perayaan Nyepi, terdapat beberapa rangkaian upacara yang dilaksanakan umat Hindu. Tiga atau dua hari sebelum Nyepi, ada upacara penyucian dengan Melasti atau disebut juga Melis/Mekiis ke laut atau danau yang merupakan sumber air suci. Maknanya menyucikan segala kekotoran bhuana agung dan bhuana alit. Pada tilem kesanga masyarakat Hindu melakukan upacara mecaru di rumah dan juga di perempatan maupun pertigaan. Mecaru mempunyai makna untuk menetralisir kekuatan-kekuatan yang bisa mengganggu umat dalam pelaksanaan Nyepi. Malamnya dilaksanakan pengerupukan yang dimeriahkan dengan pawai ogoh-ogoh. Keesokan harinya masyarakat Hindu mulai melaksanakan Catur Brata Penyepian. Amati Geni atau tidak menyalakan api, dalam pengertian lain Amati Geni yaitu api yang ada di dalam diri. Api yang dimaksud adalah amarah, keangkuhan dan keegoisan manusia yang bertindak dengan semaunya. Amati Karya atau tidak berkerja, tidak bekerja artinya segala kegiatan aktifitas di kehidupan di berhentikan sementara. Makna lainnya yaitu untuk bisa mengendalikan indra-indra kita terhadap kegiatan kerja yang mencari kepuasan fisik saja, melainkan kepuasan batin juga. Amati Lelungan atau tidak berpergian, mempunyai makna lain yaitu mengekang diri sendiri dari keinginan indra-indra untuk

Suasana Nyepi di Bali

melakukan tindakan negatif. Begitu juga dengan Amati Lelanguan tidak berfoya-foya, hawa nafsu atau kama yang tinggi terhadap keduniawian akan membawa manusia terlena dengan kehidupan yang tidak nyata. Ketika manusia mati, harta benda itu tidak akan bisa dibawa mati, karena harta itu tidak nyata adanya. Saat Nyepi, semua aktivitas berhenti sementara. Nyepi di Bali pun dinilai sebagai bentuk partisipasi sebagai hari penyelamatan bumi. Tanpa aktivitas sehari, bisa mengurangi emisi karbon sebesar 30 ribu ton, karena sekitar 2,3 juta kendaraan berhenti beroperasi. Listrik di Bali pun bisa dihemat. Tahun 2014, dari beban biasanya berkisar 780 megawatt (MW), turun sekitar 45% di malam hari yakni di kisaran 430 MW. Prediksi di tahun 2015, dengan beban biasanya yang mencapai 850 MW, maka dengan turun 45% berada di kisaran 500 MW Namun di balik

perayaan Nyepi tersebut, ada satu persoalan yang perlu diperhatikan, yakni polusi yang dihasilkan dari pembakaran ogoh-ogoh berbahan styrofoam. Styrofoam yang beberapa tahun terakhir banyak digunakan sebagai bahan baku utama ogohogoh ketika dibakar menghasilkan Chlorofluorocarbon (CFC). Zat ini memiliki daya rusak luar biasa terhadap lapisan ozon di atmosfer bumi. Limbah sterofoam ini, tidak dibakar saja sudah merusak, apalagi dibakar. Menurut sumber data dari US Marine and Park Service, styrofoam baru bisa diurai 7 juta tahun, lebih lama dari limbah plastik yang bisa diurai sekitar 450 tahun. Hal terpenting adalah menyikapi Hari Raya Nyepi dengan melakukan introspeksi diri. Apa yang sudah kita lakukan sebelumnya dan apa yang akan kita lakukan berikutnya. Dalam keheningan kita memusatkan pikiran demi kedamaian. Selamat Hari Raya Nyepi. Tahun Baru Caka 1937.

Gubuk Derita Suatu sore, aku sedang mengerjakan tugas dengan dua temanku, Emi dan Ira. Merasa bosan dengan tugas tersebut, kami memutuskan untuk menonton film. Setelah memilah-milih film apa yang akan ditonton, kami pun memutuskan untuk menonton sebuah film berjudul Gubuk Derita. Mulai dari judul saja film ini sudah bisa ditebak alur ceritanya menyedihkan. Tentu saja, baru beberapa menit adegan demi adegan berjalan sudah menguras hati, perasaan seperti dicabikcabik. Aku, Ira dan Emi menjadi begitu tegang pada sebuah ade­ gan memilukan. Tubuh kami tak bergeser dari tempat duduk. Pandangan kami tak lepas sedikit pun dari layar laptop. Yah, mata ini mulai mengan-

bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

tongi beberapa bulir air hangat. Ketika sebuah lagu mengalun pelan dengan lirik yang mendukung suasana waktu itu. Ketika air mata ini hampir tak terbendung lagi, terdengarlah alunan lainnya. “Bukan, ini bukan bagian dari film!” jeritku dalam hati. Lantas air mata­ku terhenti bahkan menge­ ring di kelopaknya ketika tahu itu suara siapa, mengganggu sekali. Aku dan Emi memandang Ira yang duduk di antara kami berdua. “Ira kenapa ikutan nyanyi?

Suasananya kan berubah jadi­ nya.” Emi protes lebih dulu, mewakili perasaanku saat itu. “Emang kenapa ? Suaraku jelek ya?” tanya Ira tidak mengerti perasaan yang sedang aku dan Emi rasakan. “Hahahahahahaha...”, tawa kami mengisi seisi ruangan. “Suaraku gak jelek-jelek amat kok.”, Oh my God…Ira masih berusaha membela diri, namun tidak bisa menghentikan tawa kami. Laila Fajri, Mataram

GORO-GORO pembangunan (1)

Rapat warga di hunian Amat, memutuskan akan membangun balai pertemuan. Tempat serrba guna yang multifungsi, Bisa dipakai untuk berbagai perayaan, termasuk resepsi Putu Wijaya pernikahan. “Sehingga bisa disewakan. Jadi bermanfaat untuk menambah kas bersama,” kata Pak Alit. Amat bukan saja tak setuju, tetapi juga sangat marah. “Boleh tak setuju, Pak Amat, kita kan demokratis,” kata Pak Alit, “saya juga kurang sreg. Tapi itu sudah keputusan rapat. Salahnya Pak Amat tidak hadir dan saya kalah suara.” “Saya kan sudah izin, sakit. Kalau perlu saya bisa menunjukkan keterangan dokter!” jawab Amat sengit. “Boleh saja. Kami semua paham. Tapi itu tidak akan bisa mengubah keputusan. Karena meskipun ditambah satu suara dari Pak Amat, kita tetap kalah. Warga yang setuju pembangunan Balai Pertemuan, jauh lebih banyak!” Amat penasaran, “Itulah jeleknya demokrasi!” Pak Alit terkejut. “Lho kita kan memang negara yang menegakkan paham demokrasi, Pak? Pak Amat tidak setuju demokrasi?” Amat menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menyeringai sinis. Pertanyaan itu sudah dia tunggu-tunggu. “Tidak! Demokrasi dengan adu jumlah suara, yang memenangkan suara yang lebih banyak berbahaya! Karena suara pada praktiknya gampang dibeli. Demokrasi kita, bukan jual-beli suara, tapi musyawarah dan mufakat!” “Sudah, Pak Amat!” “Sudah bagaimana?” “Keputusan membangun gedung Pertemuan, sudah dimusyawarahkan, dipungut suara dan kemudian juga sudah dimufakati, bahkan digarisbawahin Balai Pertemuan yang dibangun itu harus bukan saja representatif, tapi juga mewah, fasilitasnya lengkap, bergengsi dan komersial. Agar nantinya produktif, terjamin akan berebutan disewa untuk resepsi pernikahan.” Amat terkejut. “Jadi tujuan utamanya bukan untuk tempat pertemuan warga, tapi bisnis?” Pak Alit mengangguk. “Ya, mau tak mau begitu, Pak Amat. Sekarang kan semua harus dikaitkan dengan bisnis.” “Siapa bilang?” “Pak Baron.” “Warga baru pindahan dari Jakarta itu?” “Betul. Dia malah sudah bersedia menjadi panitia penggalang dananya, yang diperkirakan sampai 2-3 miliar.” Amat tercengang. “Dua sampai tiga miliar? Dari kantong dia sendiri?” “Tidak. Dari kantong warga dan pinjaman dari bank dengan agunan lapangan bola kita. Gedung diharapkan sudah kelar sebelum 17 Agustus. Karena Pak Baron akan mengawinkan anaknya dengan resepsi besarbesaran di gedung pertemuan itu. Itu sekaligus untuk mempublikasikan gedung pertemuan kita, sehingga masyarakat luas terbuka matanya. Sekarang saja, tidak kurang dari 10 warga kita sendiri, sudah mendaftar untuk menyelenggarakan resepsi pernikan di situ. Pak Baron memperkirakan, akhir tahun, seluruh biaya yang kita keluarkan sudah kembali. Jadi tahun depan, tinggal memetik keuntungannya.” Amat tak sanggup lagi lebih lama mendengarkan “omong kosong” itu. Jantungnya rasa meledak. Tanpa pakai pertimbangan akal sehat lagi, ia langsung ke rumah Baron. “Mau tak labrak habis, karena seenaknya mau menipu kita!” kata Amat setelah pulang, dengan emosi yang masih mendidih, “sayang orangnya lagi pergi.” Bu Amat mengulurkan segelas air putih untuk mendinginkan kepala suaminya. Setelah Amat tenang, ia berkata sejuk: “Pak Baron tadi ke mari mencari Bapak.” Amat kaget. “Apa?” “Ya, beliau tahu Bapak marah besar. Kata beliau, beliau setuju dengan Bapak.. Pembangunan jangan diartikan hanya membangun gedung. Pembanguan yang lebih diperlukan sekarang adalah pembangunan rohani. Beliau melihat warga kita di sini semua sudah salah kaprah, sehingga gampang dikibulin!”

Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca ­lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. ­Panjang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan nomor kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373 Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budi­a rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Se­k retariat: Ayu ­A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­m erah ­B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­ ­F aksi­m ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang ­G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

Edisi 840/ 16 - 22 Maret 2015

23

Vitiligo Hilang Diterjang Buah dan Sayuran Seorang ibu paruh baya yang tinggal di Karang Anyer Jawa Tengah ini awalnya tak menyangka akan penyakit yang dideritanya sejak lama ini akan hilang dengan kandungan 25 macam buah dan sayuran. Vitiligo begitu penyakit ibu ini dikenal, yaitu kelainan pada kulit yang diakibatkan oleh kurangnya pigmen pada tubuh, dimana melanosit atau sel-sel pigmen warna kulit pada area tertentu mengalami kerusakan atau hilang. Vitiligo adalah penyakit otoimun, yaitu dimana system kekebalan tubuh seseorang menyerang sel pigmen normal. Penyakit ini biasanya pertama kali muncul hanya di suatu titik saja, akan tetapi apabila tidak segera diobati, penyakit vitiligo ini akan menyebar keanggota tubuh lainnya. Penyakit vitiligo memang bukan penyakit yang mematikan, akan tetapi penyakit ini akan membuat penderitanya merasa malu dikarenakan kulit mereka berbeda dengan kulit orang – orang disekitarnya. Penyakit vitiligo juga bukan penyakit yang langka, akan tetapi cara penyembuhan penyakit vitiligo ini masih

jarang ditemukan. Secara umum, penyebab penyakit ini yaitu karena depigmentation sel melamin. Dimana melanosit yang seharusnya berfungsi sebagai penghasil pigmen pada kulit mengalami kerusakan. Hal ini di perparah dengan faktor - faktor berikut ini : Akibat luka bakar, Efek dari penyakit cacingan atau juga penyakit typus, Stress berat baik fisik maupun mental, Mengalami gangguan keringat cacat, Efek dari kosmetik yang mengandung bahan berbahaya, Mengalami rasa khawatir yang sangat tinggi, Mengalami gangguan lambung yang akut dan gas trointestinal, Parasite yang bisa memicu timbulnya penyakit kulit. Ibu Inwiyono yang menderita vetiligo ini, seluruh tangan dan kakinya terinfeksi vitiliogo dan sudah menyebar luas keseluruh tangan dan kaki yang dengan mudah dapat dilihat oleh orang lain. Hingga pada suatu hari seorang kerabat memberikan sebotol jamu tetes yang memiliki kandungan buah dan sayur sebanyak 25 jenis, yang bernama BIO HSA, seolah tak percaya ibu ini pun men-

coba untuk mengoleskan BIO HSA kebagian tubuhnya yang terkena vitiligo, walhasil baru satu botol dioleskan ketangan dan kakinya ibu ini pun merasakan manfaat dan khasiatnya, tangan dan kakinya mulai mengalami perubahan warna kulit, yang mana tadinya berbelang putih, kini belang putihnya mulai memudar menjadi kecoklatan dan hampir

menyerupai kulita slinya. Dengan keyakinan penuh ibu akan terus menggunakan BIO HSA untuk memaksimalkan penyakit vitiligo yang menyerangnya sekian lama ini. “ Ini baru satu botol saja kulit saya yang terkena vitiligo sudah menunjukan perubahan, saya akan terus menggunakan BIO HSA “ ujar ibu Inwiyono mengakhiri ceritanya.”

Untuk memperoleh BIO HSA Jamu Tetes sangat mudah karena sudah tersedia di Apotik – Apotik dan Toko Obat di seluruh Indonesia. Atau hubungi Bio HSA Pusat : 081212590300 / 081284157938 / 021-36486118, SMS Center Bio HSA 081223715206 atau cabang kami di setiap wilayah di nomor : Jabodetabek : 087880081009, Banten : 082122718538, Jawa Timur : 085200209999, Jawa Barat : 082116302286, Jawa Tengah : 082136652507, Solo 0271-8099752 / 085740787274, Bali & Lombok : 0361- 2734190 / 085239132548 / 081372533562, Riau : 082172452269, Sumatera Utara: 085373894275, Batam : 081275684519 Lampung : 087880081009/082122718538, Jambi : 085369011272, Kalimantan Timur ( Bontang 081347338421, Samarinda 081347376882, Balikpapan 085247318957, Tarakan 08125491931 ) Kalimantan Selatan ( Banjarmasin 081317500100 )


24

What’s Up

Edisi 840/ 16 - 22 Maret 2015

Kosti Bali

Sepeda Tua Jangan Dipandang Sebelah Mata Salah satu cara hidup sehat adalah dengan rajin berolahraga. Pilihan olahraga pun bermacam. Mau yang murah ada, mau yang mahal ada. Bersepeda mungkin menjadi salah satu pilihan.

kan kongres IVKA karena Bali akan menjadi tuan rumah,” kata Kuning lagi. Ia juga berharap sepeda tua tidak dipandang sebelah mata. Anak-anak sekolah jangan malu bersepada, karena sepeda membuat kita hidup sehat. Selain itu bersepada atau berjalan kaki perlu diberi hak yang sama seperti pengendara sepeda motor dan diberikan lajur khusus untuk sepeda. Bagi pemilik sepeda tua, Kuning memberi tips merawat sepeda tua. “Sepeda harus sering dipakai agar tidak rusak. Rutin diberikan pelumas pada bagian tertentu, seperti rantai, bannya di pompa, sepeda juga sering dilap dan dibersihkan,” ujar pria yang bekerja di perusahaan asuransi ini.

P

uluhan sepeda tua berada di posisi depan dalam sebuah acara fun bike. Penampilan sepeda yang dipadukan dengan gaya pengendaranya sangat khas, gaya tempo doeloe. Hal ini pun menjadi perhatian peserta lain. Aktivitas bersepeda merupakan rutinitas para penggemar sepeda tua. Menurut Wayan Kuning, Ketua Komunitas Sepeda Tua Indonesia (Kosti) Bali, di Bali ada 18 klub. “Khusus di Denpasar ada 5 klub antara lain di Monangmaning, Sanur, Nusa Indah, dan Tanjung Bungkak. Dari masing-masing klub jumlah anggota antara 30-50 orang,” ujarnya. Para penggemar sepeda tua ini juga memiliki latar belakang profesi yang bermacam-macam. Ada PNS, pegawai bank, pegawai pos, pegawai hotel, petani, dan dokter. Kuning menambahkan komunitas sepeda tua biasanya berkumpul di depan Monumen Bajra Sandi. “Kami berkumpul dan bersepeda hari Minggu pukul 07.00. Kegiatan tiga bulanan komunitas sepeda tua selalu melakukan aksi sosial seperti donor darah, penghijauan, ke panti asuhan, touring antar kota seperti ke Gianyar dan Jembrana, bahkan sudah sempat touring ke Lombok,” ujar alumnus UPN “Veteran” Yogyakarta ini. Bagi para penggemar sepeda tua ini, pengalaman yang berkesan pada saat acara Kosti seluruh Indonesia yang dilaksanakan di Denpasar, 8-9 Februari 2014. Acara ini juga dihadiri penggemar sepeda tua dari Belanda, Brunei, Inggris, dan Malaysia. “Kami berharap adanya dukungan penuh dari pemerintah untuk mempersiap-

KOSTUM JADUL Kegiatan nongkrong usai bersepeda, seolah menjadi kegiatan akrab mereka. Usai bersepeda berkeliling, mereka beristirahat sembari menikmati kuliner di jalanan. Menu yang mereka pilih cukup sederhana kadang hanya ketela rebus ditemani kopi. Yang khas dari Kosti adalah tampilan santai, tak ada seragam resmi, bahkan dari ada yang berdandan ala petani. Bahkan tiap Perayaan Hari Kemerdekaan 17 Agustus, para anggota Kosti Bali biasa berkumpul di depan Museum Bali dengan berkostum jadul. Unik dan nyentrik, begitulah kesan saat melihat pawai sepeda tua ini. Bahkan banyak permintaan datang terhadap penyewaan sepeda tua ini untuk berbagai acara seperti foto pra-wedding maupun ulang tahun. Soal harga sepeda tua ini dari ratusan ribu sampai ratusan juta. Tergantung merek dan nilai historisnya. Bagi mereka, hobi bersepeda tua ini tak hanya untuk kesehatan bagi diri sendiri melainkan ajang kampanye, bahwa bersepeda itu sehat sekaligus melestarikan sejarah. -Sriadi


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Tokoh Edisi 840 | Tokoh by e-Paper KMB - Issuu