Skip to main content

Tokoh Edisi 833 | Tokoh

Page 1

What’s Up

24

Ergonomi Kelola Kelemahan Manusia Di mata ergonomi, Keselamatan Kesehatan Kerja (K3) adalah solusi terakhir. Hal ini ditegaskan dosen Ergonomi Pascasarjana Unud, Dr. IGN Ardana, M. Erg. Ia menjelaskan, ergonomi berharap tiap manusia tidak menggunakan alat bantu dalam proses keamanan dirinya. Ergonomi justru membantu mengantisipasi untuk tidak menggunakan alat bantu dalam proses aktivitas manusia.

I

a menyontohkan, jika ada debu, mereka yang ber­ kecimpung di bidang ke­ selamatan kerja, memakai masker. Sementara ergonomi, akan menghindari posisi debu dengan menghindari arah angin atau mengatur posisi kerja sejajar atau tak berlawanan dengan arah angin, agar tak terpapar debu. Singkatnya, ergonomi lebih kepada tahap mencegah. Dalam sebuah bangun ruang misalnya, jika dari awal merancang, ergonomi sudah dilibatkan, letak jendela tidak akan berhadapan langsung dengan pemakainya. Namun, realitanya kini banyak ruangan yang sudah jadi dulu, baru kemudian ditentukan tata letak furnitur dan peruntukannya. Jika sudah begini, mau tak mau solusinya hanyalah mengganti kaca jendela dengan kaca tidak tembus pandang atau memasang tirai/gorden.

Dari sisi ergonomi, dalam pemakai­ an komputer, tinggi mata harus sejajar dengan bagian tengah layar monitor, sehingga posisi leher tidak terlalu menunduk atau menengadah, posisi ideal. Posisi punggung harus 105 derajat, posisi lengan bawah ha­ rus sejajar dengan permukaan lantai. Demikian juga posisi paha harus pararel dengan permukaan lantai. Bahu harus rileks, tidak terangkat, yang disebut posisi netral/fisiologis/posisi ergonomis. Secara teori-

tis, jarak mata dengan monitor ratarata 60-90 cm. Namun, hasil diskusi dari norma pemakaian ukuran yang bervariasi itu, dibuat kesepakatan ukuran yang paling praktis dan tepat, yakni dengan memakai rentangan ta­n gan sampai ujung jari tengah. Untuk mata, tiap 20 menit bekerja, harus alihkan pandangan 20 detik. Durasi duduk di depan komputer pun disaran­kannya jangan terlalu lama. “Jangan lebih dari 80 menit. Setelah itu bangun, dan akan lebih baik lagi jika dibawa berjalan agar otot yang dari tadi­ nya diam

26 Januari -1 Februari 2015 bisa bekerja,” ujar dosen Ergonomi di Jurusan Desain Interior FSRD ISI Denpasar. Ia memaparkan, ada dua otot dalam tubuh manusia yakni antagonis dan agonis. Saat di depan komputer, yang bekerja otot agonis, sementara otot antagonis rileks. Dengan berjalan setelah duduk beberapa lama, otot yang tadinya bekerja/kontraksi, akan mendapatkan energi baru. Jika hanya diam, otot mengecil sehingga pembuluh darah pada tiap otot terjepit karena tak mendapatkan energi baru. “Pemulihan akan lebih cepat lagi dan paling bagus jika melakukan peregangan dengan senam,” tegas Anggota Perhimpunan Ergonomi Indonesia (PEI) dan IEA (International Ergonomic Association) ini. Singkat kata, rumusnya adalah se­ telah 4 jam bekerja harus istirahat 1 jam. Tiap jam perlu istirahat pendek 5-10 menit untuk melakukan perega­ ngan (senam, berjalan). Awal bekerja, perlu diberikan kalori. Tiap 2 jam perlu diberikan snack (makanan kecil) yang mengandung kalori. Di Indonesia, Ardana mengamati ergonomi tidak terlalu diperhatikan. Berbeda dengan di Korea, Taiwan, dan Jepang yang ergonominya maju. Di negara-negara tersebut diyakini, dengan memperhatikan ergonomi, akan meningkatkan kualitas kerja manusia yang berujung pada meningkatnya produktivitas perusahaan. Hal ini pun dibuktikannya dengan hal sederhana. Seorang temannya yang memiliki bisnis ukiran, pada awalnya menempatkan meja minuman dan kamar mandi di dekat tempat kerja karyawan. Hal ini dimaksudkan, dengan jarak yang dekat sehingga tak banyak waktu yang dihabiskan karyawan untuk menjangkau ka-

mar mandi ataupun mengambil air minum. Setelah Ardana menyarankan memindahkan jaraknya lebih jauh yakni sekitar 20-30 meter, ternyata hasil kerja yang didapat justru lebih bagus. Kenapa? Jika jarak satu dengan lainnya dekat, pemulihan tubuhnya tidak kembali 100 persen, stabilitas kerja juga tidak 100 persen. Akibatnya terjadi proses istirahat curian (kecepatan kerja berkurang, banyak mengobrol, baca koran) sehingga produktivitas berkurang, dan pastinya kesalahan akan lebih banyak. “Jadi, manusia tidak dimanjakan. Tubuh manusia tidak boleh didiamkan, tetapi diistirahatkan,” ujar Ketua LP2M (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat) ISI Denpasar ini. Sama halnya dengan orang disarankan olahraga minimal 2-3 hari sekali, bukan seminggu sekali. Karena per­ hitungan, pada waktu selesai olahraga hari pertama, dia punya simpanan kebugaran 100%. Begitu tak olahraga 1 hari, nilai kebugarannya tersisa 50%. Pada waktu tidak olahraga di hari kedua, simpanan kebugaran tersisa 25%. Berarti pada hari ketiga ketika berolahraga, simpanan kebugaran menjadi 125%. “Berarti tiap olahraga menyisakan 25%. Jika seminggu 3 kali berolahraga berarti punya kebugaran 75%. Namun, jika berolahraga seminggu sekali walaupun dengan waktu lama lama, tidak akan akan menyisakan kebugaran tubuh,” jelasnya. Ergonomi, ilmu yang mengajarkan cara mengelola tubuh agar tetap sehat aman nyaman produktif, tanpa harus menggunakan alat bantu. Di ergonomi, organisasi kerjanya yang diatur, lama jam kerja, jam istirahat, lingkungan kerja, dan alat kerja diatur. “Jadi, di ergonomi, manusia yang mengatur alat bukan sebaliknya. Kelemahan dikelola agar tidak sampai menganggu aktivitas manusia,” tandas putra kelahiran Puri Gede Tabanan ini. –Inten Indrawati

Senangi Suasana Kerja Karmany evadhikaras te, ma phalesu kadacana Ma karma-phala-hetur bhur, ma te sango stv akarmani Hakmu hanyalah pada pelaksana­an tugas kewajiban, dan sama sekali tidak pada pahala dari tugas yang engkau lakukan. Ja­ngan beranggapan engkau menjadi penyebab dari hasil perbuatan, dan jangan menjadi terikat untuk tidak melakukan tugas kewajibanmu (Bhagawad Gita Bab Kedua, Sloka 47) Karma-jam buddhi-yukta hi, phalam tyaktva manisinah Janma-bandha-vinirmuktah, padam gacchanty anamayam Orang-orang suci membebaskan dirinya dari pahala-pahala yang lahir dari perbuatan dengan

menekuni bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam kesadaran suci. Mereka terbebaskan dari perputaran kelahiran dan kematian dan mencapai alam kekekalan (Bhagawad Gita Bab Kedua, Sloka 51) Dua sloka ini menjadi topik bahasan saat Prabu Darmayasa memberikan pencerahan di malam Maha Siwaratri di wantil­ an Gedung Pers Bali K. Nadha, Denpasar. Ia mengupas bagaimana makna Siwa Ratri dan dikaitkan dengan situasi kekinian. “Siwa Ratri berarti malamnya Dewa Siwa. Maha Siwa Ratri artinya puncak malam Siwa yang jatuh setahun sekali. Pada momen ini, Dewa Siwa melimpahkan berkahnya kepada semua tanpa

memandang baik buruk, jelek bagus. Semua mendapat berkah,” ujarnya. Prabu Darmayasa menuturkan kisah Lubdaka, si pemburu yang akhirnya mendapat berkah Dewa Siwa hingga mencapai moksa. Sebagai pemburu, ia bekerja untuk mendapatkan buruan yang dipakai untuk menghidupi keluarganya. Di era sekarang ini, bekerja merupakan kewajiban untuk mendapatkan hasil. Apalagi sekarang ini keperluan keluarga banyak, mulai dari biaya pendidik­ an, biaya kesehatan. Agar bisa memenuhinya, tentu harus dengan cara bekerja. Kalau sudah bekerja, nikmatilah pekerjaan agar tidak menjadi beban. Bekerja dengan tulus dan iklas akan mendatangkan hasil yang baik.

tkh/wawan

Prabu Darmayasa memberikan pencerahan di malam Maha Siwaratri di wantilan Gedung Pers Bali K. Nadha, Denpasar

tkh/wawan

Trio penyanyi, Ayu Saraswati, Ipang, dan Dewi Pradewi turut menyumbangkan suaranya untuk menyanyikan lagu “Jaya Bhagawad Gita” dan “Demi yang Lain”.

“Sewaktu di India, saya pernah bekerja di Kedutaan Indonesia. Hampir lima bulan saya tidak digaji karena saya memang tidak mengharapkan gaji. Saya bekerja untuk menguji apakah saya harus tetap berada di India atau saya harus balik ke Indonesia. Saya mohon petunjuk Dewi Gangga, mana yang terbaik yang saya. Rasanya tidak masuk akal, sehari sebelum pulang ke Indonesia, riksaw yang saya tumpangi ditabrak bus dan saya masuk rumah sakit. Ini pertanda saya harus berada di India beberapa saat,” kenang pria kelahiran Ubud ini. Bekerja di Kedutaan sangat ia nikmati. Walaupun tak mendapat gaji tetapi ia tak pernah kekurangan apapun. Segala keperluannya bisa terpenuhi bahkan bisa berbagi de­ ngan yang lain. Darmayasa pun yakin, bekerja itu merupakan ibadah yang harus dijalani dan dinikmati. “Jika kita bekerja dengan tulus dan iklas, pasti akan ada hasil-

nya. Jangan terbebani dengan pekerjaan. Lakoni saja. Suasana kerja harus kita senangi. Ibaratkan tempat kerja sebagai Pura. Kita datang dengan hati yang bersih, melakukan persembahan, dan hasilnya akan datang. Sloka 47 sudah menyebutkan, jangan merasa diri kita penyebab kerja. Tuhanlah yang memberikan kita jalan untuk bekerja. Tetapi, jangan sampai kita tidak bekerja,” ujar pria yang lebih dari 20 tahun belajar Weda di India ini. Ia pun mengingatkan swadharma sebagai pekerja adalah bekerja sebaik-baiknya. Suasana malam Maha Siwa Ratri makin terasa khimad karena peserta melantunkan sloka-sloka Bhagawad Gita. Trio penyanyi, Dewi Pradewi, Ipang, dan Ayu Saraswati turut menyumbangkan suaranya untuk menyanyikan lagu “Jaya Bhagawad Gita” dan “Demi yang Lain”. Mereka diiringi oleh Adi Ambara dan Komang Arjawa.

–Ngurah Budi


2

Ekspresso DAri daPUr Redaksi

26 januari - 1 Februari 2015

GORO-GORO

Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Kerja, kerja, kerja merupakan slogan yang terkenal sejak ­Dahlan Iskan menjadi Menteri BUMN di era pemerintahan Presiden SBY. Kini di era pemerintahan Presiden Jokowi, slogan kerja, kerja, kerja ini tetap bergema. Kabinet Jokowi pun disebut Kabinet Kerja karena para menteri selesai dilantik langsung bekerja dan blusukan. Bekerja dan berdoa (ora et labora) juga sering dijadikan motto. Artinya, orang harus bekerja dan dibarengi dengan berdoa. Keduanya harus harmonis. Me­ ngenai apa hasilnya, tergantung dari pribadi masing-masing yang menjalaninya. Wejangan mengenai bekerja dan berdoa pun disampaikan Prabu Darmayasa saat malam Maha Siwa Ratri di Wantilan Ge­dung Pers Bali K. Nadha. Be­ kerja dengan tulus ikhlas akan mendapatkan hasil yang maksimal. Hal ini yang dilakukan si pemburu Lubdaka yang dengan tulus melakukan jagra sehingga mendapat berkah dari Dewa Siwa. Di era modern ini, bekerja

Putu Wijaya

tkh/wawan

wajib dilakukan. Kalau tidak be­ kerja, dari mana kita mendapatkan penghasilan yang kemudian dipakai untuk menghidupi diri sendiri dan keluarga. Suasana kerja yang nyaman tentu sebuah keharusan. Suasana yang nyaman ini akan memberikan manfaat positif bagi pekerja. Pemerintah pun sudah mengatur tentang suasana kerja ini yang dikenal dengan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dan ini masuk juga dalam UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenaga­ kerjaan. Sesuai dengan namanya, kese­ lamatan dan

ke­sehatan, tentu faktor-faktor yang bersinggungan dengan kedua hal ini harus mendapat perhatian. Jika terjadi permasalahan, dampaknya bisa diminimal. Lebih bagus lagi jika tidak ada masalah. Kesadaran semua pihak sangat menentukan jalannya tujuan keselamatan dan kesehatan kerja. Berkenaan dengan keselamat­ an dan kesehatan kerja ini dan peringatan Hari Keselamatan dan Kesehatan Kerja tiap tanggal 12 Januari, kami menyajikan beberapa tulisan yang berkaitan dengan K3. Semoga pembaca bisa mendapat manfaat dari sajian kami ini. Salam

Nunggu Motor Lain Pergi Menonton konser musik merupakan salah satu kegemaran saya. Aliran musik rock menjadi pilihan saya. Saya banyak mengoleksi kaset musik rock. Idola saya Dream Theater. Beberapa album dari grup music cadas lain juga saya miliki. Teman-teman dan keluarga sudah tahu hobi saya mengoleksi album music rock. Saya pun sering mendapat informasi tentang album baru dari sebuah band atau penyanyi rock. Ketika konser Soundrenalin digelar di Pulau Serangan (tahunnya saya lupa), saya sangat bersemangat. Wajib hukumnya untuk nonton. Dari informasi teman dan baliho yang ada di jalan, saya melihat banyak grup rock papan atas Indonesia yang tampil. Saya tambah semangat karena jarang bisa menyaksikan konser banyak band dalam satu event. Hari menonton konser pun tiba. Siang itu, saya berangkat sendirian ke Pulau Serangan (sebenarnya tak cocok disebut pulau karena sudah menyatu dengan daratan Bali). Saya da-

bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

tang dua jam lebih awal. Dengan datang lebih awal, saya tidak perlu berdesakan saat masuk. Parkir pun masih lenggang. Saya bisa leluasa memarkir motor. Di areal konser, saya juga bisa membeli beberapa souvenir berbau rock. Tak terasa, waktu cepat berlalu. Konser mulai. Saya pun menikmati suasana konser. Hampir tiga jam saya berada di areal itu. Hari hampir senja. Saya memutuskan untuk pulang. Sambil berdendang lagu-lagu rock, saya melangkahkan kaki ke parkiran. Sampai di parkiran….oh My God. Saya lupa dimana saya memarkir motor. Suasana siang benar-benar beda dengan senja. Siang masih lenggang sedangkan sorenya, lapangan parkir sudah penuh. Saya menyesali diri, mengapa tadi tidak menghapal lokasi motor.

Bolak-balik saya berjalan sambil mengingat. Karena panik, saya tidak bisa konsentrasi. Kepanikan saya diperhatikan petugas parkir. Ia pun ikut membantu. Tetapi, karena saya benar-benar lupa, saya tidak bisa memberi petunjuk awal dimana lokasi motor. Hanya ada satu cara. Saya harus menunggu motor-motor itu pergi dari parkiran untuk menemukan motor saya. Saya pun memilih menepikan diri. Istirahat di warung yang ada di tepi lapangan parkir. Akhirnya motor baru saya temukan di malam hari ketika lapangan parkir sudah agak sepi. Sejak saat itu, saya selalu memilih lokasi strategis untuk parkir. Bahkan kini saya sering memotret lokasi parkir agar bisa ingat dan bernasip apes lagi. Hari P

Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca ­lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. ­Panjang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan nomor kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373

BALI

“Untuk menyambut tahun baru, apa sebaiknya yang harus saya tulis tentang Bali, Pak?” tanya Sugi kepada mertuanya. Amat cepat berpikir. “Tentang atau untuk?” “Kedua-duanya.” “Kalau tentang, tulis yang seadanya menurut Nak Sugi saja. Bagus kalau ada kritikan, tapi yang sehat, yang membangun. Kalau untuk, lain lagi, tulis yang baik-baik saja. Sebaiknya memuji. Boleh juga memberikan saran-saran positif. Kalau kedua-duanya, tentang dan untuk Bali, berarti Nak Sugi mau menceritakan Bali bagi orang-orang Bali sendiri, itu harus hati-hati sekali!” “Kenapa, PaK?” “Ya begitulah. Namanya memang pulau, jadi satu daratan. Kecil pula, karena itu dulu kita masuk dalam kelompok Sunda Kecil. Tapi ingat. Ada Bali Utara, Bali Selatan, Bali Barat dan Bali Timur. Setiap wilayah, meskipun bahasanya sama, tapi logatnya, nada bicaranya beda-beda. Watak penduduknya beda. Itu bisa dilihat dari keseniannya. Contoh, gamelan di Bali Utara, gangsanya tidak tergantung seperti di wilayah Bali lain. Suaranya juga tidak nyaring tapi dalam. Ada lagi. Di Bali Utara, Kaja itu arah Selatan, sedang di Bali Selatan, Kaja itu arah Utara. Jadi terbalik. Artinya bicara harus hati-hati, sekali lagi hati-hati sekali! Salah sedikit bisa jadi soal besar!” Sugi termenung. “Jadi apa yang akan Bli tulis?” tanya Ami melihat suaminya terus termenung berkepanjangan. Sugi menggeleng. “Susah. Daripada cari musuh, lebih diam!” “Lho kok begitu?! Bli kan dosen, intelektual yang bertugas mencari kebenaran untuk menerangi hati masyarakat. Kalau ada kebenaran yang mau Bli sampaikan kepada masyarakat, tulis saja. Jangan takut!” Sugi tersenyum kecewa, lalu kembali termenung. Lalu muncul Amat. Ia merasa bersalah karena sudah menakutnakuti menantunya sehingga tak jadi menulis. “Kalau bapak boleh tahu, apa sebenarnya yang mau Nak Sugi sampaikan tentang dan untuk Bali?” Sugi menjawab hati-hati, “Saya ingin menyampaikan bahwa Bali bukan hanya milik orang Bali. Bukan juga hanya milik orang Indonesia. Bali adalah milik dunia. Dari sudut itu, Bali bukan hanya objek wisata, tapi dengan segala isinya, Bali adalah sebuah kearifan lokal dalam kehidupan yang bisa dipakai menyikapi berbagai persoalan dunia. Tapi untuk itu diperlukan reinterpretasi terus-menerus terhadap nilainilai tradisi, sesuai dengan pesan desa-kala-patra. Artinya Bali tidak boleh mandeg menjadi museum, tapi tata nilai universal yang bergerak terus-menerus menyesuaikan diri dengan desa-kala-patra.” Amat manggut-manggut. “Wah bagus itu. Tulis saja!” “Sudah.” “Sudah? Kenapa tidak dikirimkan ke surat kabar supaya dibaca banyak orang?” “Sudah!” “Sudah? Masak?” “Sudah! Minggu lalu sudah dimuat di koran langganan Bapak. Tapi tidak ada yang baca. Bapak bahkan Ami sendiri juga tidak baca. Ya, kan?! Maklum yang top sekarang hanya berita politik, skandal, dan gosip.”

Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budi­a rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Se­k retariat: Ayu ­A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­m erah ­B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­ ­F aksi­m ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang ­G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

Mozaik

26 januari - 1 Februari 2015

Harus Pintar “Membaca” Konsumen Hampir 13 tahun, Desy Sari Dewi (38) bekerja sebagai karyawati XL. Awal kariernya sebagai Supervisor di Banjarmasin. Tanggung jawab dalam bekerja dan memberikan pencapaian hasil yang maksimal membuatnya menjadi VP Sales East Region.

“B

isa dikatakan, tiap empat tahun sekali saya naik jabatan. Itu sebenarnya bukan target saya. Target saya adalah bagaimana pelanggan bisa tertarik sehingga jumlah pelanggan bertambah, itu yang saya harapkan dalam bekerja. Namun, kita juga harus melihat di mana daerah kita bekerja. Karena tidak semua daerah sama,” jelasnya. Dalam hal ini, Desy harus bisa membaca konsumen daerah tersebut. Pelanggan XL yang ada di desa seperti apa, di kota seperti apa itu harus diketahui jika ingin mempertahankan pelanggan, bahkan untuk menambah pelanggan. Karena

keperluan tiap daerah berbeda. Ia mencontohkan, untuk pelanggan yang berada di Surabaya, mereka lebih konsumtif namun juga selektif sehingga mereka juga menginginkan harga yang paling murah. Sehingga XL harus memberikan paket yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekitar. “Itu berbeda dengan di desa, karena itu sebelumnya kita bersama tim harus melakukan survei. Apa sih yang diinginkan pelanggan di daerah tersebut, seperti itu. Baru kita memberikan programprogram yang sesuai dengan pelanggan perlukan,” ujar wanita kelahiran Banjarmasin, 10 Desember 1976. Jebolan Universitas Petra ini,

Desy Sari Dewi

selalu berupaya untuk memberikan yang terbaik terhadap perusahaannya. Namun, tidak mengesampingkan keluarganya. “Meskipun saya jauh dari keluarga, tetap komunikasi adalah hal paling utama dalam keeratan hubungan kami yakni saya dan kedua anak saya serta suami saya. Itu tiap hari,” ungkapnya. Sejauh ini, keluarga bisa memaklumi. Kadang anaknya menuntut mamanya seperti papanya yang setiap hari pulang ke rumah,

Buat Program sesuai Keperluan Pelanggan

Sebagai seorang pimpinan, merupakan tanggung jawabnya untuk memajukan wilayah yang dipimpinnya. Salah satunya, harus bisa membaca karakter pelanggan tersebut. Karena di masing-masing daerah, karakter pelanggan sangat berbeda. Apalagi antara daerah perdesaan dengan daerah perkotaan cukup jauh perbedaannya. VP Sales East Region, Desy Sari Dewi mengatakan, masyarakat perkotaan umumnya konsumtif dan selektif sementara masyarakat perdesaan umumnya sesuai kebutuhan. Di masing-masing daerah tidak akan sama persis, itulah yang harus dicari. Seperti apa yang diinginkan masyarakat di suatu daerah yang menjadi pelanggan XL dan calon pelanggan XL.

tkh/dona

“Saya bersama tim, melakukan survei terhadap pelanggan di wilayah tersebut. Apalagi di daerah perkotaan seperti Surabaya

ini. Pada 2014 lalu, pertumbuhan pelanggan XL sekitar 10 persen. Kami berharap tahun ini juga akan tumbuh,” jelasnya. Setelah dilakukan survei, mereka lalu membuat programprogram yang sesuai dengan karakter pelanggan. Misalnya dengan gratis telepon atau gratis sms atau program lainnya seperti kartu perdana paketan data. Masih banyak lagi program yang bisa dihadirkan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. “Pada dasarnya memang program tersebut sama, namun kita menyesuaikan kebutuhan pelanggan wilayah tersebut. Misalnya wilayah Surabaya dominan data, kita lebih banyak memberikan paket atau promo data. Seperti itu kira-kira,” pungkasnya. -Diyah

tkh/dona

tkh/dona

namun pada akhirnya menyadari juga. Bahkan sekarang, jika kedua anaknya sedang libur sekolah. Mereka berkunjung dan datang kesini. “Kebetulan, saya punya rumah di Surabaya. Jadi anak-anak bisa main di Surabaya ini. Ternyata mereka senang, karena banyak mainan disini,” terangnya. Hal ini bisa menjadi positif. Di saat anak liburan, mereka ke Surabaya. Sementara saat mereka sekolah, Desy yang pulang ke rumah di kampung halamannya. “Ketimbang saya kontrak yang tiap tahunnya

23 mengeluarkan uang puluhan juta, mending buat beli rumah sekalian. Jadi ketika anak ingin ke sini, bisa sepuasnya liburan di rumah sendiri,” ujar Desy. Video Conference Untuk menunjang kebutuhan komunikasi dengan keluarga, bisa dilakukan dengan salah satu aplikasi yakni video conference. Jarak yang jauh serasa begitu dekat. Hal ini biasanya dipakai untuk keluarga yang tidak tinggal serumah salah satunya Desy Sari Dewi. Ia mengaku tiap hari selalu menggunakan video conference bersama anak dan keluarganya yang tidak tinggal di Surabaya. “Selain itu, saya juga memakai jejaring sosial lainnya seperti BBM, Whats App dan lainnya untuk berkomunikasi dengan mereka. Namun, paling enak ya video conference itu tadi yang bisa melihat seperti ada di dekat mereka,” ungkapnya. Dalam sehari, ia melakukannya setiap pagi dan sebelum tidur. Hal ini juga bentuk dari rasa kangennya terhadap anak dan dengan percakapan seperti itu rasa kangennya bisa sedikit terobati. “Sekarang, komunikasi makin canggih. Tidak ada kata jarak memisahkan kita, karena sekarang kita bisa memilih aplikasi mana yang bisa kita pakai untuk berkomunikasi saat jauh dari keluarga kita. Jadi bukan suatu halangan untuk tidak berkomunikasi. Banyak kemudahan yang kita dapat dari teknologi saat ini,” pungkasnya. –Diyah

tkh/dona


26 Januari - 1 februari 2015

22

Kampung Ambon telah “Bertobat”

Perang terhadap narkoba makin keras. Berbagai penggerebekan dilakukan pihak kepolisian. Di Jakarta, awal tahun 2015 berhasil digagalkan penyelundupan sabu-sabu terbesar yang dilakukan jaringan sindikat internasional. Penangkapan itu sendiri terjadi di kawasan Lotte Mart Taman Surya, Kalideres, Jakarta Barat. Petugas berhasil menyita 840 kg sabu-sabu asal Guangzhou, Cina, yang masuk ke Indonesia lewat jalur laut . “Ini adalah penyelundupan narkoba terbesar sepanjang sejarah BNN,” ungkap Deputi Pemberantasan BNN Brigjen Pol Dedi Fauzi.

M

enurut data BNN, Jakarta adalah kota pengonsumsi narkoba terbesar di Indonesia. Angka penyalahgunaan narkoba di kota yang berpenduduk sekitar 9 juta jiwa ini, sekitar 7% dari seluruh Indonesia. Ini merupakan angka tertinggi dibanding daerah lain di Indonesia. Salah satu daerah yang diketahui sebagai kampung narkoba terbesar adalah Kampung Ambon di Jakarta Barat. Keberadaan ‘kawasan per­ dagangan narkoba’ ini sudah sejak lama, tumbuh subur dan nyaris tak tersentuh. Tapi itu dulu. Pihak yang ber­ wenang tidak bisa tinggal diam

lagi. Apalagi peredaraan narkoba di Jakarta makin mengkhawatir­ kan. Dalam dua tahun terakhir ini, gempuran intensif terus dilakukan oleh pihak kepolisian, ratusan warga yang terlibat ditangkapi. Para bandar, baik besar maupun kecil, diburu dan dijebloskan ke penjara. Sebutan Kampung Ambon ini muncul karena dulunya daerah tersebut banyak dihuni oleh warga yang berasal dari Ambon, Maluku. Nama sebenarnya adalah Komplek Permata. Letaknya di Kelurahan Kedaung Kali Angke, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat. Dalam perjalanannya, kampung tersebut kemudian berubah menjadi ‘kam­ pung narkoba’. Di sana barang

Tes urine massal di Kampung Ambon Jakarta Barat

haram ini dijual secara bebas. Ra­ tusan warganya, mulai dari orang dewasa, laki-laki, perempuan, bahkan anak-anak terlibat dalam bisnis barang haram itu. Menurut Ketua RT 07, Alfon­ siana atau akrab disapa Sheynda, kawasan itu mulai dikenal sebagai Kampung Ambon sekitar tahun 1973. Dia sendiri bersama keluar­ ganya telah menetap di sana sejak 1973. Dulu, profesi warga keban­ yakan adalah pelaut, pedagang, dll. Namun, seiring waktu, bersamaan dengan mulai maraknya penjualan narkoba, banyak warga beralih pro­ fesi, terjun ke dalam bisnis barang haram ini. “Banyak warga tergiur karena uang yang didapat besar. Bagaimana tidak, duduk saja dapat uang,” ucapnya. KAWASAN UNTOUCHABLE Tahun 1990-an, daerahnya sudah marak dengan bisnis ganja. Warga tahu tapi acuh tak acuh sampai akhirnya bisnis itu makin membesar. Sekitar tahun 1999, nama Kampung Ambon pun mu­ lai dikenal luas sebagai ‘pasar narkoba’. Hampir semua jenis narkotika dijual di sana. Sebut saja, sabu-sabu, inex, putau, heroin, dll. Semua ada! Pembeli datang dari berbagai tempat di luar Kampung

Pos polisi yang dibangun tahun 2009 lalu dan sempat tidak efektif karena oknum petugasnya terkena sogokan, kini sudah berjalan bagus. Setiap jam polisi melakukan patroli. Gara-gara narkoba, tutur seorang warga, kampungnya menjadi rusak. Ada yang bercerai, ada yang tewas tertembak, bahkan bunuh diri. Ada juga keluarga yang bapak-anak meninggal karena narkoba. Dia sendiri dulu adalah pemakai narkoba, namun sudah menjalani rehabilitasi. “Sekarang kondisi daerah ini sudah bagus, bersih narkoba. Tapi polisi tetap berjaga-jaga agar tidak terulang lagi. Warga-warga yang dulunya terlibat, kini banyak yang sudah sadar. Me­ reka ingin daerahnya bersih dari narkoba,” paparnya. November lalu, tambahnya, di daer­

3

Made Puspawati

Saling Menguntungkan Suasana pelatihan ketrampilan di Kampung Ambon

Ambon. Bukan hanya warga biasa, tapi juga para public figure, yakni, artis juga para pejabat, bahkan oknum-oknum aparat. Mereka senang ke sana karena Kampung Ambon dinilai relatif aman diban­ ding daerah lain yang kerap kena gerebek polisi. Ya, Kampung Ambon, dulu sem­ pat disebut kawasan ‘untouchable’ .Berbagai upaya kepolisian untuk membersihkan daerah itu seperti membentur tembok. Maklum, ban­ yak warga yang sudah ‘terinfeksi’ narkoba berusaha menutupi aktivi­ tas haram itu. Bahkan mereka tak segan-segan melawan aparat. Yang parahnya lagi, oknum aparat pun ikut ‘bermain’ di sana. Itu sebabnya, upaya-upaya penggerebekan tak membuahkan hasil maksimal. Di sisi lain, ‘lapak-lapak’ atau rumah yang dijadikan toko penjual narkotika dan obat-obat terlarang berjualan narkoba ,dibuka terangterangan. Pembeli bisa bertransaksi dengan bebas atau memakai lang­ sung di tempat. Berkembangnya bisnis narkoba ini, kata Sheynda, seperti membuka lapangan kerja bagi warga dengan imbalan yang menggiurkan. Mulai dari sewa rumah, juru parkir, bagian penim­ bangan, dll, semua kebagian peran. Seorang juru parkir saja, ketika sedang ramai, bisa meraup Rp 800 ribu per hari. TOLAK SOGOKAN Mungkin satu-satunya tempat yang tak tercemar adalah Jl Mu­ tiara, di mana sang Ketua RT 07 pemberani itu tinggal. Sheynda memang seolah tak kenal takut da­ lam menentang peredaran narkoba di kampungnya. Bukan sekadar berbicara keras dan tegas, tapi juga

Tes Urine Massal

Kini harapan Sheynda dan juga sebagian warga yang juga anti narkoba, agaknya sudah menemukan titik terang. Sejak pihak kepolisian aktif melakukan razia di kawasan ini, peredaran narkoba menurun drastis. Puluhan ‘lapak’ dimusnahkan, sampai akhir­ nya tidak ada lagi. “Kini sudah baik. Polisi patroli tiap hari. Sekarang orang takut bawa narkoba. Kalau dulu pengguna narkoba mudah ditemukan di pinggir jalan, sekarang tidak ada lagi,” tuturnya. Keadaan mulai membaik sejak September 2014 lalu. Banyak warga yang dulunya terlibat dalam peredaran narkoba ataupun sebagai pemakai, mendapat pembinaan. Mereka juga diberi pelatihan berbagai ketrampilan untuk bekal menjalani hidupnya. “Mereka kini sudah banyak yang bekerja,” kata Sheynda.

Sosialita

26 Januari - 1 februari 2015

dia tak mempan disogok. Banyak bandar narkoba mendekatinya, namun mereka semua mental. Sampai akhirnya tak ada yang berani mendekat karena tahu segala bujuk rayu mereka tak akan mempan. “Banyak yang mendekati. Per­ nah ada yang berani menawari saya Rp 20 juta per bulan tapi saya tolak. Saya tak tergiur dengan uang itu, untuk apa? Banyak yang terima tapi saya tidak mau,” tegas ibu satu anak ini. Dulu, di masa Kampung Am­ bon berjaya dengan bisnis narko­ ba, daerah ini luar biasa ramai dengan pembeli dari luar. Banyak mobil dan motor terparkir di jalanjalan, terkesan seolah di daerah itu ada hajatan besar. Padahal mere­ ka adalah konsumen-konsumen narkoba. Tapi Sheynda bersikap tegas. Dia tak mau sepanjang jalan tempatnya tinggal ada mobil atau motor yang ‘tak jelas’ identitasnya parkir, pasti dikempesi bannya. Sikap kerasnya ini bukan hal yang mudah. Ia harus berhadapan dengan warga yang juga terlibat dalam bisnis tersebut, juga para bandar. Tapi itu semua tak me­ nyurutkan langkahnya memerangi narkoba, minimal tidak masuk ke wilayah RT—nya. Yang namanya ancaman, bukan hal yang baru lagi baginya. “Saya hanya bisa berdoa pada Tuhan agar dilindungi. Saya selalu berdoa agar daerah kami, suatu saat bisa bersih dari narkoba. Soal ancaman sudah sering. Saya hanya berserah pada Tuhn. Kalau mau mati, di manapun bisa mati. Jadi biarlah,” ungkap alumnus Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia ini –Diana Runtu

Tak satupun usaha tanpa berhubungan dengan orang lain. Ketika berhubungan dengan orang lain atau pelanggan, ia meletakkan nilai per­sahabatan yang lebih berharga dibandingkan sekadar meraup keuntungan. Demikian di­sampaikan Made Puspawati, pemilik Komplit Jaya saat ditemui di optiknya di kawasan Jalan Thamrin, Denpasar.

M

enurut istri I Gede Astama ini memiliki usaha atau berbis­ nis bukan hanya mengejar ke­ untungan, membeli murah dan menjual de­ngan harga tertinggi. Tetapi, berbisnis adalah upayanya berkontribusi dan bermanfaat bagi orang lain tanpa mengabaikan pengembangan usahanya. “Nilai kebahagiaan dan keberhasilan usaha kami bukan pada berapa be­ sarnya keuntungan materi, tetapi seberapa baik pelayanan yang sudah dilakukan dan berapa ba­ nyak manfaat yang bisa diberikan,” ujar wanita yang akrab dipanggil Bu Geg Puspa ini. Ia menyadari kalau jantung sebuah usaha adalah pelayanan. Dalam melakukan pekerjaan apa­ pun sesungguhnya kita melayani. Ketika kita melayani dengan baik, akan menimbulkan hasil yang baik. Karenanya untuk produk yang dijualnya ia tidak perlu mematok harga terlalu tinggi. “ Jika kita men­ jalankan bisnis tentu di sana ada nilai profit, namun profitnya yang wajar. Maka memberikan harga pun kami lakukan yang wajar,” tuturnya. Untuk urusan para karyawan, ibu dari Wangsa Ayu Pitaloka (Gek Ita), Wangsa Ayu Vidya Loka(Gek Vidya) dan Wangsa Ayu Prasanti Loka (Gek Santi) ini menerapkan aturan kerja yang baik sehingga karyawan merasakan nyaman

saat bertugas. Ia memposisikan mereka sebagai aset berharga dan memperlakukan mereka bak keluar­ga, dirangkul untuk samasama berkembang.”Para karyawan pun juga menyadari bahwa bos mereka bukan kami tapi pelang­ gan,” tandas Bu Geg Puspa. Ia dan sang suami memang mendambakan model bisnis berkelanjutan yang menyeim­ bangkan pencetakan profit dan tanggung jawab sosial. Untuk ini mereka memilih menjalankan usaha berdasar nilai-nilai spiritual. Ia menyakini nilai yang ditebar­ kannya bukan hanya mendong­ krak profit namun bisa menjamin kelanggengan dan penguatan hubungan dengan pelanggan un­ tuk membentuk jalinan kerja­ sama yang saling menguntungkan.

BERAWAL DARI TOKO JAM Saat ini usaha Komplit Jaya, berkembang dalam beberapa bidang usaha. Divisi Herbal yang menyediakan produk seperti: Gar­ cia (kulit manggis); Susu Kedelai Mandala 525; Susu Zena; Vermint; dan Virgin Oil. Ada juga Komplit Jaya Optik dengan fasilitas dan pelayanan optimal, Lumbung Dewata Supplier yang menyuplai gula dan sembako ke minimarket dan beberapa toko sembako lainnya. Semua itu be­ rawal dari Toko Komplit Jaya yang menyediakan servis dan spare part beragam jenis jam.

Bu Geg Puspa mengatakan yang ada dihadapannya kini, tidaklah tercipta dalam sekejap. Sebenarnya, usaha awal di bidang sembako dengan nama Komplit, adalah milik mertuanya. Namun, begitu ia dan suami memulai usaha tahun 1989, nama Komplit ditambahkan kata Jaya. Ternyata penambahan nama Jaya di bela­ kang kata Komplit, karena alam yang menggiring, dan perlahan usahanya mulai berkembang. Mulanya, sang suami hanya me­ layani servis jam sesuai keahlian­ nya, dan dilengkapi menjual spare part . Kemudian meningkat me­ layani grosiran spare part untuk jam. Sampai akhirnya menye­ diakan aneka jam dan kaca mata. Bu Geg Puspa saat itu masih aktif bekerja di Apotik Kimia Farma. Selanjutnya berbekal latar belakang pendidikan farmasi, Bu Geg Puspa juga nyambi menjadi distributor, bekerjasama dengan perusahaan yang memegang Gar­ cia dan MDL 525 , dan dikem­ bangkan di wilayah Kimia Farma Tabanan dan Bangli. Tahun 2004 ia resmi mundur dari Kimia Farma demi melanjutkan usaha bersama suami . Di saat yang sama ia juga mendapatkan tawaran sebagai supplier gula di bawah bendera Lumbung Dewata Supplier, yang pasarnya masuk ke minimarket juga pasar-pasar tradisional. Ia mengaku bersyukur, dengan makin bervariasi produk yang dijual, hasil yang diterima karya­ wan pun mengikuti. Apalagi mereka memiliki sistem kerja yang baik. “Seperti untuk divisi herbal, kami punya target. Dari target ini kami bisa memberikan peluang penghasilan lebih kepada karyawan. Untuk mencapai target, kami juga memberikan langkah yang harus dilakukan,” kata ibu yang rajin membaca Bhagawad Gita, mendengarkan slokanya dan membaca buku spitritual dari berbagai kalangan ini. Ketika karyawan sudah melakukan dengan baik, namun

ahnya dilakukan tes urine massal. Warga dengan suka rela melakukan­ nya. Mereka yang terindikasi pemakai mendapat rehabilitasi. “Di sini ada Pos BNN. Mereka yang pemakai ringan, dapat ‘berobat jalan’ di pos ini,” tambahnya. Kampung Ambon bukan sekadar ‘dibersihkan’ dari narkoba tapi juga mendapat pembinaan dari BNN. Berba­ gai kesempatan kerja dibuka. Selain itu juga diadakan event-event pelatihan ketrampilan untuk bekal bekerja. Misalnya, ketrampilan pembuatan sablon, kerajinan, dll. –Diana Runtu

Puspa bersama keluarga

Puspa dan suami

tidak mencapai target, di sinilah perannya sebagai owner, dengan nilai spiritual yang dimiliki bisa menerima dengan lebih legowo, sebab mereka sudah menerapkan prinsip bekerja dengan benar. Bahkan lebih dari itu, ia menya­ dari ketika suata saat karyawan­ nya mengalami kesulitan, ia akan berlapang dada untuk dijadikan sandaran. Mungkin suatu saat uang yang diperoleh karyawannya tidak seberapa, namun karena nyaman

mereka bisa mensyukuri dan mengatur perolehannya. Ia juga sering menekankan bahwa usaha

dilakukan ibarat ladang dari Tu­ han. Bagaimana agar ladang ini tersebut tidak dicemari hama atau segala bentuk perbuatan negatif. Karena hasil dari ladang nantinya akan diberikan pada anak–anak, dimakan sendiri atau diberikan pada orangtua, Jika hasil yang dikonsumsi bersih, maka berkat ini akan menghasilkan pikiran ber­ sih. Jika kita memperoleh sesuatu melalui perjuangan positif dan hasil positif pula yang akan diberi­ kan pada anak cucu nantinya.

TANAMKAN BUDI PEKERTI Disinggung soal keluarga, Bu Geg Puspa menyatakan sangat bersyukur dalam menjalankan usahanya, didukung penuh sang suami. “Apalagi suami saya orangnya tidak ambisius. Ia berprinsip lakukan pekerjaan dengan baik, seberapapun hasilnya dinikmati dan disyu­ kuri. Jadi menjadi pasangan­ nya buat saya sangat istimewa,” ujarnya. Untuk mendidik ketiga pu­ trinya ia lakukan dengan mena­ namkan budi pekerti. Begitu pula hasil kerja yang diberikan pada anak itu dari hasil yang baik maka anak juga menjadi sehat termasuk cara berpikirnya juga jernih, ber­ sahaja, dan tidak neko-neko. Saat ini lanjutnya tidak muluk-muluk , ia sedang belajar mendelegasikan tugas-tugasnya kepada putri-pu­ trinya, dengan mengajarkan mer­ eka seperti yang dilakukannya. Bu Geg Puspa berharap anak-anaknya pun bisa mandiri, sehingga di­ rinya dan suami bisa lebih banyak melakukan kegiatan sosial “Sebagai seorang ibu pula, kewajiban saya mendoakan anak. Dengan kekuatan gayatri man­ tram kami berdoa bukan untuk menjadi kaya tapi mereka bisa menempatkan diri dimana pun berada. Apa yang mereka lakukan bisa menjadi contoh yang baik bagi lingkungannya. Begitu juga doa untuk keluarga agar selalu diberikan kemampuan menjadi pribadi yang baik. Sebab tujuan hidup kami memperbaiki kualitas kehidupan ini, ” papar pemilik prinsip bekerja dengan hati dan menjaga sikap baik kepada siapa­ pun ini. -ard


Inspirasi

4

26 januari - 1 Februari 2015

Aria Indrawati

Hinaan Anggap Tantangan “Menjadi tunanetra bukan keinginanku atau pilihanku”. Begitulah pergolakan batin Aria Indrawati saat sekolah umum menolaknya menjadi murid di sana karena tunanetra. Hanya dengan perjuangan luar biasa, akhirnya Aria bisa bersekolah di sekolah umum. Suatu kesempatan yang boleh dibilang ‘langka’ bagi kebanyakan tunanetra karenanya Aria tak mau menyia-nyiakannya. Ia harus menunjukkan bahwa seorang tunanetra pun dapat berprestasi jika diberi kesempatan. Ia juga sadar dengan prestasi maka orang akan menghargai, tidak meremehkannya.

Aria Indrawati

B

erbekal tekad yang kuat itulah, Aria belajar super giat. Bukan hanya itu, ia juga berusaha bersosialisasi dengan baik, membuka diri, sehingga temanteman sekolahnya bisa menerima keberadaannya. Kerja kerasnya membuahkan hasil. SMA yang sebelumnya sempat menenolaknya masuk sebagai murid, menjadi ‘terbuka’ matanya. Meski tunanetra, Aria bukan hanya berhasil menyerap pelajaran dengan baik, tapi juga meraih nilai tinggi di kelasnya. Bisa jadi saat itu banyak yang tercengang, karena nilai-nilai yang diraihnya berhasil mengalahkan mereka yang berkondisi normal. Atas prestasinya, ia pun berhasil masuk ke ‘kelas teladan’, kelas di mana berkumpul murid-murid cerdas di sekolah itu. Dan pada akhirnya mereka pernah berapriori terhadapnya harus mengakui bahwa Aria memang spesial. Aria berhasil lulus SMA dengan capaian peringkat terbaik kedua untuk jurusan IPS. Itu adalah momen yang membahagiakan Aria.

“Ijazahku diberikan pihak sekolah pada orangtua daalm sebuah pertemuan yang dihadiri oleh seluruh orangtua murid. Inilah pertama kalinya aku bisa memberikan kebanggaan kepada orangtuaku di muka umum,” tutur wanita yang kini menjadi Ketua Umum Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni). Kejadian yang sama kembali terulang ketika ia masuk perguruan tinggi. Meski sudah jelas-jelas ia adalah murid berprestasi juga lulusan terbaik di SMA-nya, namun tetap saja ditolak masuk Universitas Negeri Diponegoro (UNDIP) Semarang hanya karena tunanetra. Sedih, sudah pasti. Namun ia juga tak mau berputus asa. Aria pun akhirnya masuk perguruan tinggi swasta, Universitas 17 Agustus Semarang. “Prinsip aku tetap sama, belajar keras, berprestasi dan membuat setiap orang menghargai aku meski tunanetra. Kerja keras ku membuahkan hasil, aku berhasil menerima beasiswa kuliah gratis,” papar Aria yang akhirnya menjadi dosen di almamaternya. Begitupun, masih saja ada orang yang menghinanya. Celakanya, itu dilakukan oleh petinggi di kampus tersebut. Tapi tindakan tidak terpuji itu, disikapi Aria dengan sabar dan berpikir positif. “Aku memaknai penghinaan itu sebagai tantangan, memberiku energi lebih untuk membuktikan bahwa aku juga bisa berprestasi dalam bekerja,” ucap editor Majalh ‘Diffa’ ini. Dan itu memang benar-benar dibuktikannya, dengan mengajar beberapa mata kuliah, termasuk mengajar mata kuliah yang kala itu dianggap momok, yakni, kriminologi. Begitulah sekelumit kisah tentang Aria Indrawati, seorang penyandang tunanetra yang berkat kerja kerasnya berhasil meraih berbagai prestasi yang mengagumkan. Untuk mencapai itu semua bukan hal yang mudah, begitu besar rintangan yang harus dilalui. Hanya berkat kekuatan mental serta kemauan untuk terus maju meraih cita-cita lah, akhirnya ia bisa mewujudkan impiannya. “Aku percaya, dilahirkan menjadi seorang tunanetra bukanlah sebuah ‘kebetulan’. Tapi ini adalah rencana Tuhan untukku. Dan jika sesuatu itu merupakan ‘keputusan Tuhan’, aku percaya itu pasti yang terbaik. Karenanya, meski sempat ‘marah’ kepada Tuhan karena aku dijadikan seorang tunanetra, saat ini

Refleksi untuk Negeri Kulihat Ibu Pertiwi, sedang bersusah hati. Air matamu berlinang, mas intanmu terkenang. Hutan gunung sawah lautan, simpanan kekayaan. Kini ibu sedang susah, merintih dan berdoa. Kulihat ibu pertiwi, kami datang berbakti. Lihatlah putra-putrimu, menggembirakan ibu. Ibu kami tetap cinta, putramu yang setia. Menjaga harta pusaka, untuk nusa dan bangsa.

aku sangat bersyukur dan bahagia karena dipilih menjadi tunanetra. Ini adalah jalan yang Tuhan berikan untuk mencapai kesuksesan dalam hidupku,” ujar wanita kelahiran Surabaya Januari 1965 ini. BESARNYA PERANAN ORANGTUA Kini ia bukan hanya telah tumbuh menjadi wanita mandiri dan penuh percaya diri, tapi juga menjadi wanita karier yang super sibuk dengan seabreg aktivitas. Ia juga kerap ‘wara-wiri’ ke mancanegara menghadiri berbagai pertemuan internasional. “Aku menjadi seperti ini tak lepas dari peranan dan dukungan dari orangtua. Tanpa mereka, aku tidak mungkin jadi seperti ini. Orangtua aku sungguh luar biasa. They take care of me very well dan aku sangat bersyukur karenanya,” ungkap penggemar buku dan traveling ini. Aria Indrawati adalah anak keempat dari tujuh bersaudara. Kurangnya penglihatan itu diderita sejak lahir, namun baru disadari oleh orangtuanya setelah usia 2 tahun. Di antara saudaranya, hanya dia sendiri yang menderita penyakit itu. “Semacam ada selaput putih menutupi mata. Kedua mata kemudian dioperasi, namun tidak memberi perbaikan yang berarti. Menurut dokter dampak gangguan itu sudah menjangkau syaraf. Namun begitu saya masih bisa melihat sedikit atau samar atau low vision,” ungkap Aria saat berbincang dengan Tabloid Tokoh. Kalaupun ia sekarang ini menjadi terlihat begitu mandiri dan penuh percaya diri, tuturnya, itu karena didikan orangtuanya. Sejak kecil, ia telah dilatih untuk melakukan berbagai hal sendiri. Ke sekolah misalnya, orangtua tidak mendampingi, tapi diantar-jemput tukang becak. “Ibu juga melatih aku naik angkot, bagaimana menyeberang jalan, dll, yang pada akhirnya Caracara itu menumbuhkan keberanian dalam diri aku. Lebih dari itu, aku senang melakukannya, tidak takut. Aku juga tidak malu karena kondisi ini,” paparnya. Begitu juga di rumah. Meski memiliki keterbatasan, bukan berarti ia hanya tahu beres atau hanya ‘duduk-duduk saja’ tanpa bekerja. “Seperti kakak yang lain, saya pun diajar mengerjakan pekerjaan rumah. Setrika baju, menyapu, memasak, bahkan cuci baju. Kamar tidur, meja belajar harus rapih. Kemandirian itu diajarkan sejak

Brigjen. Srijono saat berinteraksi dengan peserta NAC

aku kecil dan itu terbawa hingga dewasa,” tuturnya. Namun begitu sebagai manusia, tentu saja, meski terlihat tangguh, bukan berarti dia tidak pernah merasa down. “Yang namanya down, jujur saja, itu sering kali aku alami. Tapi aku tidak membiarkan itu berlarut-larut. Orang tangguh menyikapi hal itu dengan positif. Untuk aku sendiri, dikala down, aku berusaha mencari orang-orang yang sekiranya bisa membantu. Di ruangan kerjaku ada lukisan macan yang indah. Aku, kan, masih bisa melihat walau sedikit, suka sekali memandangi lukisan itu. Kadang ketika down, aku berbicara (curhat) pada lukisan itu. Atau, menulis, aktivitas ini bisa membantu untuk ‘bangkit’ kembali,” kata Aria yang selain menjabat Ketua Umum Pertuni juga aktif sebagai Kepala Humas di Yayasan Mitra Netra. MENCIPTAKAN PEMIJAT BERKUALITAS Dua organisasi itu, tutur Aria, memiliki fungsi yang berbeda. Kalau Pertuni, lebih kepada pressure group, sedang Yayasan Mitra Netra berfungsi semacam service provider atau penyedia layanan, khususnya di bidang pendidikan dan pekerjaan. “Tapi peluang kerja khususnya untuk mereka (tunanetra) yang memiliki pendidikan tinggi. Pertuni juga berkonsentrasi pada pendidikan, hanya saja lebih umum karena kebanyakan para penyandang tunanetra berpendidikan SMA ke bawah. Jadi kami juga membuka peluang kerja, misalnya dengan bekerjasama dengan berbagai pihak. Misalnya kerja sama dengan PT Sidomuncul, tentang budidaya tanaman obat,

atau dengan Kementerian Koperasi, dll,” papar Aria yang telah 20 tahun berkiprah di Pertuni. Tak dapat dipungkiri bahwa banyak penyandang tunanetra berprofesi sebagai tenaga massage. Sayangnya banyak tenaga massage tunanetra itu kualitasnya belum memadai, ini karena pelatihan yang didapat pun kualitasnya tidak memadai. Beda dengan di Jepang atau Korea, dimana para tunanetra mendapat pendidikan massage setara Diploma3. Jadi ke depannya, tutur Aria, Pertuni memiliki program menjadikan tunanetra yang berminat pada ketrampilan massage menjadi qualified masseuse (tukang pijat yang berkualitas) yang setara dengan tenaga kesehatan. “Kami berencana akan membuka program itu, tenaga pengajarnya pun adalah orang-orang yang handal di bidangnya. Untuk itu kami akan bekerja sama antara lain dengan Politeknik Kesehatan untuk bidang anatomi kesehatan. Sertifikasinya dari Kementerian Kesehatan atau dari Dinas Kesehatan. Korea, Cina, Jepang, sangat maju dalam bidang ini karena mendapat dukungan penuh dari Kementerian Kesehatan-nya. Kami berharap kita pun akan mendapat dukungan dari Kementerian Kesehatan. Rencananya kami akan menemui Menteri Kesehatan,” paparnya. Dalam UU Tenaga Kesehatan yang disahkan tahun lalu, paparnya, salah satu pasalnya juga menyebut tentang jasa pijat. Bagi Pertuni, jelasnya, hal ini bisa menjadi ‘pintu masuk’ untuk para tunanetra mendapat kesempatan memperoleh pendidikan sesuai dengan standar tenaga kesehatan. -Diana Runtu

Mandalika

26 januari - 1 Februari 2015

L

agu berjudul Ibu Pertiwi itu berkumandang dalam Gedung Sasana Dharma Polda Nusa Tenggara Barat, menyentuh hati seluruh peserta NAC (Neuro Assosiative Conditioning NAC) yang ikut menyanyikan lagu tersebut den-

gan penuh perasaan. Ada rasa haru dan nasionalisme yang bangkit dari dalam diri peserta yang sebagian besar adalah Polisi Wanita Polda NTB ketika mencurahkan perasaannya saat menyanyikan lagu yang merupakan personifikasi nasional dari Negara Indonesia atau Nusantara ini. Video pertikaian antarwarga, demonstrasi dan anarkisme juga kerusuhan, sebagian besar terjadi di Nusa Tenggara Barat, diputar sepanjang lagu tersebut dinyanyikan. Pikiran, hati, perasaan dan jiwa para polisi juga beberapa masyarakat umum yang mengikuti kegiatan ini, ikut serta memaknai lagu dan gambar yang ditampilkan secara bersamaan dengan kesan yang mendalam. Apalagi, pada sesi berikutnya masih dalam materi yang sama, lagu Indonesia Pusaka kembali berkumandang disertai video yang memperlihatkan kekayaan alam dan budaya serta tradisi Bumi Gora yang membentang dari puncak gunung hingga dasar laut, termasuk pantai-pantai dengan pasir putir bundar bak

mutu manikam. Lagu dan video ini ditampilkan setelah Brigjen. Pol. Drs. Srijono, Kapolda Nusa Tenggara Barat, menyampaikan dan memaparkan betapa pertikaian dan anarkisme itu tidak perlu terjadi untuk dapat menjaga dan mengolah kekayaan tanah air ini untuk mencapai kemakmuran dan kedamaian hidup bersama. “Bersatu adalah jalan keluar terbaik untuk menjaga keutuhan bangsa khususnya daerah (NTB-red) ini agar tetap damai dan tentram,” ungkap Srijono, di sela-sela kegiatan tersebut. Materi Refleksi Untuk Negeri ini, turut menggetarkan hati para abdi negara yang akan segera mulai bertugas setelah mengikuti pendidikan Brigadir. Buktinya, tidak sedikit dari mereka menyanyi dengan mata berkaca-kaca. Menumbuhkan rasa cinta tanah air dan kesadaran bahwa negara ini adalah negara yang kaya, Brigjen. Srijono yang juga seorang motivator tersebut membuka Pelatihan Mentor Polwan dan Pembekalan Polwan Diktuk Brigadir Tahun Angkatan 2014, Polda NTB, dengan modul pertama yakni Refleksi Untuk Negeri, beberapa waktu lalu. Refleksi untuk negeri adalah satu dari 18

modul lengkap dalam pelatihan NAC Polri yang kini telah masuk dalam kurikulum pendidikan Polri secara resmi. Kegiatan pelatihan yang kali ini menurunkan tiga motivator utama, Brigjen. Pol. Drs. Srijono, M. Si., Meiyar, B.Sc dan Nyoman, berlangsung dari pukul 08.00 wita sampai dengan 23.00 wita. Meski berlangsung hampir sehari penuh, para peserta tidak merasa jenuh dan bosan, karena pelatihan NAC dikemas dengan gaya entertainment. Motivator atau trainer tidak hanya berbicara melainkan diselingi berbagai kegiatan yang menyenangkan, seperti peserta melakukan berbagai permainan, bernyanyi dan menonton videovideo yang dapat memotivasi peserta untuk move on, berubah dari hal yang tidak baik menuju kepada kebaikan. “Yang utama adalah merubah mindset (pola pikir) dari yang sudah sangat lama dilakukan (cara berpikir yang salah/tidak tepat, menuju

21 pola pikir baru yang lebih baik,” kata Meiyar, Ketua Bhayangkari Daerah NTB yang juga ikut turun sebagai motivator. Perubahan yang dimaksud adalah hijrahnya pola pikir menjadi lebih baik dengan menjadi agen perubahan untuk dapat membangun dan menata kembali karakter bangsa ini, mulai dari diri sendiri, mulai dari yang paling kecil dan dimulai sekarang juga. “Manusia itu tidak ada yang sempurna, tapi tekad yang kuat untuk menyempurnakan, itulah yang terpenting,” kata Brigjen. Srijono. Menurut Srijono, orang yang cerdas dalam kehidupan itu adalah mereka yang mau mencari solusi dengan kreativitasnya bukan mengalah pada kesimpulan yang membuat pribadi menjadi pesimis. “Banyak terjadi, jika orang mendapatkan masalah maka kerap mengambil kesimpulan bahwa masalah itu tidak cocok dengan dirinya. Padahal mestinya bagaimana menghadapi masalah tersebut dengan mencari dan menemukan solusi terbaik dengan memaksimalkan potensi kreativitas yang dimiliki oleh tiap pribadi,” ungkapnya. -Naniek I. Taufan

Brigjen. Srijono saat briefing dengan tim NAC Polda NTB

Pelatihan NAC 9 Kali lebih Cepat NAC Polri telah dikembangkan yang dimulai dengan pembentukan tim trainer NAC sejak tahun 2005 mulai dari SPN Purwokerto, Polda Kalimantan Barat, Sespima, Setukpa Lemdikpol dan Akpol. Kini Puluhan ribu anggota Polri sudah mengikuti pelatihan ini dan ada juga yang secara khusus dilatih untuk menjadi trainer. Tidak hanya Polri, NAC itu juga banyak diikuti oleh birokrat, kalangan legislatif, eksekutif, para pendidik, Bhayangkari, Perguruan Tinggi, Pondok Pesantren hingga para karyawan. “Harapannya, kegiatan ini bisa memberi sentuhan nurani kepada anak negeri dalam mendukung akselerasi perubahan Kultur Polri dan masyarakat menuju NKRI yang kuat yang dimulai dari intitusi Polri,” kata Srijono. NAC adalah salah satu bentuk usaha untuk membangun negeri dengan hati bersama Polri. Di mana, dalam melakukan perubahan karakter Polri dalam suasana damai di antara anak negeri. Setidaknya inilah jargon yang kerap digaungkan oleh para motivator NAC. Sebagai penggagas NAC

NTB disiapkan untuk menjadi Role Model NAC Polri

Polri, Brigjen. Srijono menyebar aura perubahan lewat pelatihanpelatihan yang dilakukan dalam berbagai komunitas di NTB. Dimulai dari jajaran kepolisian Polda NTB dan Polres-polres seNTB bahkan kini tengah bersiap untuk masuk ke sekolah-sekolah. “Bahkan tengah dalam pematangan rencana untuk bekerja sama dengan perguruan tinggi di NTB, untuk memasukan NAC sebagai bagian dari kegiatan penerimaan mahasiswa baru, guna membantu menumbuhkan kesadaran peruba-

han,” kata Srijono. Perubahan, khususnya karakter itu tidak bisa dilakukan oleh orang lain melainkan harus atas keasadaran sendiri. Karena itu NAC diharapkan bisa menjadi stimulan bagi sebuah kesadaran perubahan. Pelatihan ini dinilai sebagai waktu yang tepat untuk memberikan motivasi perubahan pada mahasiswa baru yang masih berada dalam tahapan yang baru saja lepas dari masa SMA, usia pencarian jati diri. “Dalam hal perubahan mindset, pelatihan NAC

9 kali lebih cepat penyerapannya dibandingkan dengan mendengarkan ceramah/kuliah biasa,” ungkapnya. Dengan 24 orang tim NAC Polda NTB yang siap menjadi trainer dan menguasai modul-modul pelatihan, Srijono berharap dapat menjadikan NTB sebagai role model NAC yang dikembangkan dan disebarluaskan tidak hanya dalam lingkungan Polri melainkan juga di berbagai komunitas. “Saya akan membagi ilmu dan manfaat NAC kepada siapa saja, di mana saja dan kapan saja,

khususnya sekarang ketika saya ditugaskan di NTB,” ujar Kapolda yang murah senyum ini. Selain melakukan tugas rutin mengawal kamtibmas di daerah ini, Brigjen. Srijono memiliki mimpi yang besar untuk melakukan sebuah gerakan perubahan bangsa ini. “Kita adalah orang kecil, mungkin yang dilakukan juga kecil, tapi harus punya cita-cita besar untuk sebuah perubahan. Sekecil apapun kontribusi itu, maka akan sangat besar pengaruhnya bagi berjalannya perubahan itu sendiri,” kata. -Naniek I. Taufan

Para Polwan baru saat mengikuti pelatihan NAC


Nine

20

Selesaikan KDRT dengan ADR

Sedih, terharu, kasihan bahkan banyak kelucuan yang dihadapi para Polisi Wanita Polres Mataram khususnya yang bertugas di Unit PPA Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim), ketika menangani kasus-kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) di wilayah hukum Polres Mataram, yang korbannya kebanyakan perempuan ini.

T

Anggota Unit PPA Satreskrim Polres Mataram

idak hanya itu, sebagai manusia biasa, para Polwan ini terkadang jengkel menghadapi tingkah polah pasangan suami istri yang berulang-ulang berseteru dan berulang-ulang pula melaporkan kasus yang sama. “Tapi kami sesama anggota mencoba saling mengingatkan untuk bersabar dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapi suami istri yang bermasalah ini,” ungkap Brigadir Yayuk Sulistyani, anggota Regu III PPA Satreskrim Polres Mataram. Begitulah, tugas keseharian para Polwan di sini setelah kasus-kasus KDRT yang dilaporkan diupayakan diselesaikan dengan mediasi Alternative Dispute Resolution (ADR) atau mekanisme penyelesaian alternatif. Penanganan kasus KDRT dan juga kasus anak melalui mekanisme ADR telah dilakukan sejak tahun 2006, termasuk di Polres Mataram. “Semua kasus KDRT dan kasus anak yang dilaporkan ke Polres Mataram, diupayakan penanganannya dengan langkah pertama terlebih dahulu melalui mediasi menggunakan mekanisme ADR. Jika tidak ada kesepakatan untuk berdamai maka barulah akan diproses secara hukum. Dan sebagian besar kasus KDRT yang masuk khususnya dalam dua tahun terakhir yakni 2013 dan 2014, selesai dengan ADR,” ungkap Komisaris Polisi Ni Made Pujewati, S.Ik, Wakapolres Mataram. Kasus-kasus yang dimaksud tentulah kasus yang dipandang

lebih tepat diselesaikan dengan mediasi perdamaian, misalnya yang bersifat penganiayaan ringan yang terjadi dalam rumah tangga. Ini tidak termasuk kasus yang menyebabkan korban luka parah atau pembunuhan, perkosaan dan tindak pidana berat lainnya yang harus secara tegas dilakukan penegakan hukum. Tiap kasus KDRT yang dilaporkan akan diarahkan penanganannya kepada unit PPA Satreskrim yang digawangi oleh tujuh orang yang terbagi dalam tiga regu dengan seorang Kepala Unit (Kanit). Data kasus KDRT yang dilaporkan ke Unit PPA Satreskrim Polres Mataram, tahun 2013 sebanyak 68 kasus. “52 kasus diselesaikan

dengan ADR, sisanya ada yang lanjut ke pengadilan dan ada pula menjalani proses penyelidikan dan penyidikan,” ungkap Bripka Putu Yulianingsih, SH, anggota Regu I PPA Satreskrim Polres Mataram. Sedangkan data kasus KDRT yang ditangani unit ini di tahun 2014 adalah turun sebanyak 50 kasus dan yang terselesaikan dengan mediasi (ADR) sebanyak 31 kasus. Penyelesaian kasus KDRT dengan cara ADR akan memberikan win-win solution dalam mempertahankan keutuhan rumah tangga suami istri yang berperkara. Bagi polisi, menghadapi masalah yang berkaitan urusan rumah tangga, tentulah penangannya tidak diterapkan secara kaku karena banyak hal yang harus dipertimbangkan selama mereka ingin berdamai dan berjanji khususnya pelaku tidak akan mengulangi perbuatannya. Namun perdamaian ini bukan sembarang damai dan bukanlah proses yang gampang. Ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi kedua belah pihak untuk berdamai, terutama bagi suami sebagai pelakunya. Perdamaian ini biasanya dilakukan di Unit PPA Satreksrim Polres Mataram atau di lingkungan tempat suami istri itu tinggal. Mekanisme penyelesaian kasus KDRT dengan ADR dimulai dari membuat surat penyataan perdamaian dari kedua pihak, pelapor (korban) dan pelaku yang disaksikan oleh korban dan pelaku, juga Bhabinkamtibmas, Kepala Desa/Lurah atau Kepala Lingkungan tempat mereka tinggal. “Surat perdamaian ini harus distempel secara resmi,” kata Putu Yulianingsih. Prosedur selanjutnya adalah membuat surat pencabutan laporan polisi dari pelapor (korban). Lalu membuat surat penyataan dari terlapor (pelaku) untuk tidak

Perdamaian dengan mekanisme ADR dalam kasus KDRT selama kasusnya bukan tindak pidana berat

26 januari - 1 Februari 2015

Inspirasi

26 januari - 1 Februari 2015

5

I Putu Sudibawa

Lakoni dengan Baik Proses perdamaian yang dilakukan di lingkungan tempat tinggal suami istri yang berseteru disaksikan oleh Bhabinkamtibmas dan aparat desa setempat

mengulangi perbuatannya serta membuat foto dokumentasi perdamaian. Dokumen-dokumen ini lalu diajukan kepada Kapolres Mataram yang kemudian mendisposisikannya pada Kasatreskrim, lalu turun ke Kanit PPA untuk dibuatkan saran. “Kami kemudian memanggil korban dan pelaku untuk memastikan bahwa mereka memilih damai,” ujar Putu Yulianingsih. Saran inilah yang kemudian secara berurutan akan diproses kembali hingga tingkat persetujuan Kapolres, barulah SP2HP (Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan) keluar. Kasus dianggap selesai dengan damai. Perdamaian ini dipantau secara langsung oleh aparat desa dan juga Bhabinkamtibmas setempat, agar pelaku merasa ada yang mengawasi.

“Bhabinkamtibmas kami maksimalkan dengan memberikan tanggung jawab untuk memantau pelaku agar tidak mengulangi perbuatannya melakukan kekerasan dalam rumah tangga,” ungkap Pujewati. Sedemikian rumitnya prosedur perdamaian sehingga kerap mengaduk-aduk emosi para penegak hukum ini, ketika harus berhadapan dengan kasus yang sama yang dialami pasangan yang sama. “Bahkan ada yang sampai empat kali bolakbalik melaporkan kasusnya, ngotot minta dilanjutkan namun setelah itu dicabut dan minta damai dengan berbagai alasan,” kata Yayuk. Pada perkembangannya, kasus KDRT yang dilaporkan ke Unit PPA Satreskrim Polres Mataram disebabkan banyak hal. --Naniek I. Taufan

Kasus anak yang masuk di Polres Mataram juga banyak diselesaikan dengan ADR

Telat Buat Kopi Picu KDRT Yang paling menonjol adalah masalah ekonomi dan orang ketiga yang kerap berakhir pada penganiayaan. Bahkan masalah sepele saja, seperti telat membuat kopi, bisa memicu KDRT. “Itulah sebabnya, pada perkembangannya sekarang, sedikit sedikit korban melapor dan belum lagi pemanggilan pertama dilakukan terkadang mereka sudah diam-diam berdamai,” kata Pujewati yang memahami benar bahwa sebuah hubungan suami istri pastilah mengalami pasang surut. Namun begitu, lanjut Pujewati yang pernah bertugas di Ditreskrimum Unit PPA Polda NTB dan memiliki banyak pengalaman dalam menangani kasus anak dan KDRT ini, pelaku tetap diperiksa atau dimintai keterangan. Menurutnya, biasanya laporan pertama kali yang dilakukan oleh perempuan yang menjadi korban KDRT kepada polisi, bisa dipastikan itu bukan KDRT pertama yang dialaminya. “Biasanya korban sudah mengalami KDRT berulangulang atau sudah merasa terancam barulah timbul keberanian untuk melapor,” katanya. Bagi siapa saja, khususnya korban, masalah rumah tangga tidaklah mudah untuk diceritakan secara terbuka apalagi sampai menyentuh urusan yang sangat pribadi. “Karena itu, jika korban sampai melapor, biasanya itu bukan KDRT pertama yang mereka alami,” tegas Pujewati. Penyelesaian kasus KDRT dengan ADR yang mewajibkan aparat desa dan Bhabinkamtibmas ikut serta dalam perjanjian damai tersebut, semata-mata untuk melindungi kaum perempuan yang kebanyakan menjadi korban dari kasus KDRT yang terjadi selama ini. --Naniek I. Taufan

Guru adalah profesi yang mulia. Sebuah profesi yang mampu mempertemukan dua generasi yang berbeda. Paling tidak, demikianlah penilaian I Putu Sudibawa, S.Pd., Guru Berprestasi Nasional tahun 2011 ini, terhadap profesi yang kini dilakoninya. “Setiap hari pasti ada dialog dan diskusi antara dua generasi ini,” tegas Sudibawa, yang juga dinobatkan sebagai Guru Ajeg Bali (GAB) 2007 oleh Kelompok Media Bali Post.

D

alam proses pertemuan inilah letak “tantangan” menjadi seorang guru. Selanjutnya, pengalaman suka dan dukanya turut mengukir lembar demi lembar kehidupan seorang Putu Bawa. Ada perasaan puas ketika dalam diskusi dan dialog tersebut, apa yang disampaikannya dapat dimengerti dan diimplementasikan dengan baik oleh peserta didik. Apalagi, ketika apa yang dirancangnya sebagai sebuah bentuk untuk memudahkan diskusi dan dialog dengan peserta didik berjalan dengan baik, atau bahkan lebih baik dari yang direncanakan. Terlebih, ketika inovasi yang berhasil itu mampu ditulis dan dinarasikannya dalam sebuah tulisan, kemudian mendapatkan pengakuan. “Inilah kepuasan yang luar biasa bagi saya seorang guru,” imbuh suami dari Ni Kadek Omasti ini. Banyak hal yang membuatnya menyenangi profesi “pahlawan tanpa tanda jasa” ini. Ayah dua putra, I Wayan Baskara Danadipa dan I Made Arki Dhyanashambu ini mengaku puas ketika mampu membimbing dan membina anakanak didiknya hingga berhasil dalam bidang kegiatan akademis yang lain. “Bahkan karena keberhasilan dalam bidang akademis yang saya bina ini, peserta didik bersangkutan dapat melanjutkan ke fakultas favorit yang menjadi idaman mereka,” ujarnya. Beberapa motivasi dan nasihat yang diberikannya di kelas rupanya mampu mengubah pola pikir dan perilaku peserta didik. “Secara kolegial, ini menginspirasi saya dalam menjalankan tugas. Apalagi ketika orangtua peserta didik menelepon atau datang langsung, disini biasanya letak kepuasan menjadi guru yang luar biasa. Saya yakin banyak teman-teman guru yang juga mengalami hal yang sama,” ucap guru peraih beberapa prestasi bergengsi ini, di antaranya, Juara 1 Nasional Penulisan Modul Pendidikan Peduli Lingkungan Yayasan Kehati Jakarta, 2000; Sains is Fun Competetion Australian Education Centre (AEC), 2005; Penerima Science Education Award (SEA) ITSF Jepang, 2006; Aktivitas Terbaik dan Juara 1 Nasional Citi Succes Fund (CSF) dari Citi Bank Jakarta, 2007; dan Peserta Terbaik Nasional Kegiatan Best Practice Guru Kemdiknas, 2011.

I Putu Sudibawa

TERMOTIVASI IBU Putu Bawa berasal dari keluarga sederhana di Lembongan dengan kemampuan ekonomi yang pas-pasan. Orangtuanya, I Made Nusa dan Ni Wayan Ampiun hanyalah petani rumput laut. Setamat SMP di Lembongan, ia melanjutkan sekolah di SMAN1 Melaya. Waktu itu, informasi yang sering didengarkannya untuk melanjutkan studi lebih banyak keguruan. Dengan keterbatasan ekonomi keluarga saat itu, nampaknya informasi yang didapatkan Putu Bawa agak sesuai. Karena itu pula, pendidikan keguruan menjadi acuan pilihannya. Walaupun proses pendidikan di awal agak tertatih, tetapi pihak keluarga selalu memberikannya motivasi. Selama menempuh pendidikan keguruan di Undiksha Singaraja, ia berusaha untuk dapat menyelesaikan pendidikan secepat mungkin. Keadaan ekonomi keluarga saat itu, ibu yang hanya petani rumput laut sebagai tulang punggung biaya pendidikannya, menjadikan motivasi yang luar biasa bagi Putu Bawa dalam menjalani kehidupan. Ia pun berusaha tidak mengecewakan orangtua yang sudah mempercayakan hasil jerih payahnya untuk biaya pendidikannya. “Walaupun dengan sarana pendidikan yang seadanya, saya berusaha untuk melakoni proses pendidikan dengan sabar. Saya yakin, banyak cerita teman-teman di desa saya yang mampu menyelesaikan pen-

didikan karena kesederhanaan dalam menjalani proses pendidikan,” ungkapnya. Ia tak menyangkal, kerapkali muncul rasa putus asa dalam dirinya. Namun, ketika terispirasi dari keberhasilan orang, motivasi untuk melanjutkan pendidikan muncul lagi. Tahun 1996, Putu Bawa menyelesaikan pendidikan keguruannya di Undiksha Singaraja. Ia mengambil program studi pendidikan kimia. Sebenarnya mata pelajaran kimia tidak menjadi mata pelajaran favoritnya saat SMA, namun entah mengapa ketika mengisi formulir penerimaan mahasiswa jalur non tulis (PMDK dari FKIP Unud saat itu), ia menulis pendidikan kimia sebagai salah satu pilihan pendidikan lanjutan, dan kebetulan diterima. Secara kebetulan juga ia mendapatkan beasiswa Tunjangan Ikatan Dinas (TID), sebuah penghargaan beasiswa yang menjadi favorit mahasiswa keguruan saat itu. “Jadi saya pertama kali menjadi guru di SMAN 1 Rendang tahun 1998 melalui jalur Ikatan Dinas. Kebetulan juga langsung jadi guru, tanpa seleksi. Sebuah anugerah dan kebesaran yang luar biasa dari Tuhan,” kisahnya. Di sinilah awal ia menapaki profesi guru. Diakuinya, pembentukan karakter guru di lapangan terbentuk di SMAN 1 Rendang. Ia masih ingat betul dengan kepemimpinan kepala SMAN 1 Rendang saat itu Drs. A.A Gde Raka Suarka yang dengan telaten membimbing dan membinanya sebagai guru

pemula. Akhirnya semuanya mengalir apa adanya. Tahun 2002, Putu Bawa dimutasi ke SMAN 1 Sidemen. Di sini ia bertemu dengan Drs. I Gede Ariyasa, M.Pd. (sekarang Kadis Dikpora Kabupaten Karangasem), yang tanpa sadar selalu mengarahkannya untuk berbuat baik dalam menjalankan profesi sebagai guru. Hampir di setiap generasi kepemimpinan kepala sekolah di SMAN 1 Sidemen, dikatakannya memberikan ruang yang luas bagi dirinya untuk mengembangkan diri yang berhubungan dengan profesi keguruan. Demikian halnya dengan teman-teman guru yang juga sangat empati dengan apa yang dilakukannya. Guru adalah pembangun insan cendikia. Guru adalah sosok individu yang mampu menjadi motivator dan mediator dalam membimbing peserta didik dalam proses pembelajaran. Selain menjalankan guru sebagai sebuah pekerjaan, Putu Bawa juga menjadikan guru sebuah profesi. Harapannya, mampu menjalankan ini secara seimbang, guru sebagai sebuah pekerjaan, profesi, dan panggilan jiwa. Dalam menjalankan profesi sebagai guru, ia berharap anak-anak didiknya menjadi peserta didik pembelajar yang berkarakter baik secara sikap, pengetahuan, maupun keterampilan. Berhasil juga

I Putu Sudibawa bersama keluarga

dalam bidang non akademis. Keseimbangan ini dikatakannya akan sangat menentukan keberhasilan peserta didik dalam menjalankan bahtera kehidupan. Dalam setiap proses persinggungan dengan peserta didik, ia selalu memotivasi untuk selalu berjuang, kerja keras, menghargai orang lain, dan terus berdoa. Cerita-cerita sukses seseorang sering menjadi bagian cerita dalam persinggungan dengan peserta didik. Sebagai guru, ia berusaha menjadikan proses pembelajaran itu menyenangkan dengan penyampaian materi yang mudah dipahami oleh peserta didik. Dalam kegiatan inilah beberapa inovasi pembelajaran sering masuk ke dalam proses pembelajaran. Walau beberapa metode dan alat peraga tidak semuanya efektif, namun paling tidak minimal dapat memberikan suasana baru dalam proses pembelajaran. Sebut saja, sebagai guru pengampu mata pelajaran Kimia, Putu Bawa sering menghubungkan beberapa konsep kimia dengan fenomena alam yang sering dialami dan dihadapi peserta didik. Misalnya, ketika peserta didik ada keraguan memahami proses adsorpsi dalam kimia koloid, ia mengajak mengamati limbah garmen yang dimasuki limbah batu padas. Ia juga mengajak peserta didik mengamati gejala yang muncul. Secara terminologi guru berasal dari bahasa Sansekerta yang terdiri dari dua kata, yaitu gu (darkness) dan ru (to push away). Hal itu pulalah yang sedang ia coba lakoni kini, berusaha melakukan profesi guru dengan baik. Apa yang sudah ia lakukan, dikomunikasikannya, baik dalam tataran ide maupun dalam tindakan implementasi yang nyata. Syukurnya semua mendukung dan akhirnya ia mendapat pengakuan. Beberapa penghargaan teranyar yang diraihnya di tahun 2014 yakni sebagai Tokoh Pendidikan dari Bupati Karangasem dan dari The Soekarno Centre. Di tahun yang sama, ia juga berhasil meraih Benchmarking Pendidikan ke Korea Selatan dari Kemdikbud. –Inten Indrawati


Women on Top

6

26 Januari - 1 februari 2015

Perkaya Diri dengan Ilmu Sejak didirikan tahun 2003, Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Bali masih eksis hingga kini. Begitu juga dengan ketuanya, ­N i Nyoman Masni, S.H. Ia adalah sosok wanita yang dikenal punya jiwa pejuang dan optimisme yang tinggi.

P

artisipasi istri dari I Made Paterem ini da­ lam kegiatan perlin­ dungan anak, karena tergerak fakta di lapangan. Betapa kasus yang melibatkan anak sebagai korban semakin meningkat. Di bawah kendalinya pula kiprah LPA Bali cukup menggembirakan baik di Bali sendiri maupun di kalangan LPA se – Indone­ sia, Komnas Perlindungan Anak hingga Kemensos RI. Akhirnya sejak tahun 2012 LPA Bali beserta beberapa LPA lainnya menjadi mitra Kemensos RI dalam pelaksanaan Program Kesejahteraan Sosial Anak (PKSA) berupa penyalur­an Bantuan Tunai Bersyarat (BTB) bagi Anak Berhadapan Hukum (ABH) dan Anak Memerlukan Perlindungan Khusus (AMPK). Untuk ini pula LPA Bali mendapatkan tiga orang pekerja sosial yang diperbantukan dari Kemensos, sebagai pelaksana PKSA. Selain itu, masih banyak lagi kegiatan

yang memberikan Masni spirit dan melupakan usianya yang sudah kepala tujuh. Ia selalu bersemangat dan akrab bersama anak-anak sampai berlanjut terbentuknya Forum Anak Daerah (FAD) Provinsi Bali. Selain bicara tentang perjuangan dan kepeduliannya pada anak dalam Buku “Nyoman Masni Perempuan Teladan” juga dituangkan peng­alaman dari perjalanan hidupnya. Bahwa Masni, yang dilahirkan pada 12 Januari 1943 ini merasakan masa kecil yang jauh dari berkecukupan. Sejak kecil ia sudah mandiri, biasa mengurus diri­ nya, bahkan me­ngurus dua adiknya. Banyak lagi hal lainnya yang mencirikan kesederhanaan dan ketangguhan hidup seorang Masni. Begitu juga dengan dukungan ibunya Ni Nyoman Candri

Komunikasi Hati ke Hati Kamis pagi itu, ruang rapat di lantai 2 Puskesmas II Denpasar Utara dipenuhi kaum waria. Setelah semuanya berkumpul, Kepala Puskesmas dr. Emilia membuka acara tersebut yang kemudian dilanjutkan oleh perwakilan KPA Denpasar yang memberikan pe­ nyuluhan seputar HIV/AIDS. Mengingat perilaku seksual mereka yang cukup berisiko, mau tak mau suka tak suka, Emilia tetap harus menangan­ inya untuk menekan angka penularan HIV/AIDS, karena mereka tinggal di wilayah lingkup kerjanya. “Tiap em­ pat bulan, kami jadwalkan berkumpul untuk diberikan penyuluhan kesehatan, seperti bahaya suntik KB untuk mem­ perbesar payudara, merokok, IMS, HIV/AIDS, dan sosialisasi JKN/BPJS. Kami juga melakukan tes darah dan IMS, dan tiap Kamis mereka dibagikan kondom gratis,”ujar mantan Bendahara IDI Bali, mantan Ketua IIDI Denpasar, dan mantan Ketua Bundo Kanduang IKMS Bali ini. Puskesmas II Denut yang mewil­ ayahi 2 desa (Desa Pemecutan Kaca dengan 13 banjar, dan Desa Ubung Kaja dengan 18 banjar) dan 1 kelurahan yakni Ubung dengan 4 banjar, memiliki masyarakat dengan beragam profesi, lengkap dengan permasalahannya yang begitu kompleks. Puskesmas yang dipimpinnya sejak 2009 tersebut memiliki 3 program

Widminarko, Masni, dan Prof.Mardani

(almh) ,yang memintanya untuk sekolah terus. Sebab, kata sang ibu, anak yang bodoh tidak pernah sukses dan bahagia dalam hidupnya. Juga bijaksananya sang ayah I Made Soekoe (alm) yang tidak membedakan anak-anaknya dalam me­ nempuh pendidikan. Rupanya, hal inilah yang menjadi tonggak atau fase penting dalam sejarah hidup yang berharga bagi Masni sebagai pemacu cita-citanya. Menginjak masa remaja ketegaran Masni semakin terasah, dan ia bertekad memperkaya diri dengan ilmu dan ke­ pintaran. Hingga ia pun bisa merasakan masa sekolah yang menyenangkan, ketika mengikuti pendidikan di Sekolah Menengah Kehakiman Atas (SMKA) Surabaya. Berikutnya digambarkan se­ cara singkat Masni menjalani kariernya

Suasana peluncuran buku yang dirangkaikan dengan Hut ke-72 Masni

dr. Emilia Sabiruddin

prioritas. Pertama, pembinaan HIV/ AIDS dan Infeksi Menular seksual (IMS) yang difasilitasi dengan pengadaan Klinik VCT Melati yang di-launching Desem­ ber 2011. Klinik ini banyak dimanfaat­ kan kaum GWL (Gay, Waria, Laki suka laki), termasuk komunitas Warcan, alias Waria Cantik yang beranggotakan 35 orang, yang meramaikan ruang rapat kala itu. Mereka umumnya warga pen­ datang dan berdomisili di wilayah ini. Klinik VCT ini ditempatkan di bela­ kang, jauh dari klinik pelayanan umum dan ada jalan khusus menuju kesana. Dengan begitu, mereka yang meman­ faatkan layanan ini pun merasa lebih le­ luasa memeriksakan kesehatannya dan berkonsultasi seputar permasalahan mereka. “Tapi ada juga dari mereka, Warcan itu yang ingin pamer, sen­ gaja masuk lewat jalan umum. Jadilah mereka tontonan karena penampilan mereka memang agak norak,” ujar dr. Emilia yang terlihat akrab dengan komunitas Warcan ini. Yang jelas, dengan komunikasi dari hati ke hati dengan komunitas berisiko ini, Emilia berharap mereka bisa berperilaku seksual yang aman. Program kedua adalah kebersi­ han dan kesehatan lingkungan yakni dengan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat). Kegiatannya antara lain pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan gertak (gerakan serentak) PSN

dilakukan tiap minggu, berkoordinasi dengan PKK, kepala dusun, dan lurah setempat. Bahkan, di tahun 2014, wilayah binaannya, Desa Ubung Kaja berhasil meraih Juara 3 PSN se-Kota Denpasar. Menjaga kebersihan dilakukan mulai dari pemilahan sampah hingga mengolahnya menjadi kompos. Di tiap desa dan kelurahan juga sudah memiliki bank sampah. Selain itu, penyakit yang juga cukup mendapat perhatian adalah TBC. Bahkan di tahun 2014, pukesmas ini menduduki peringkat 3 untuk jumlah pasien TBC di Denpasar, yakni seban­ yak 49 penderita. Tahun 2009, pihaknya sudah membuat pelatihan Desa Peduli TBC dengan melatih kader PPTI (Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia) Denpasar. Ketiga, program yodiumisasi yang berjalan sejak 2013. Ini dilatarbelakangi karena ada be­ berapa masyarakat ditemukan sakit gondok. Padahal umum­ nya, penyakit ini ditemui pada masyarakat yang tinggal di daerah pegunungan. Sete­ lah melakukan tes sampling dua anak di tiap seko­ lah, yang diminta mem­ bawa garam rumahnya ke sekolah, ditemukan ternyata garam mereka tak beryodium.

19

Gugup saat Simulasi Lupa Teori Pemadaman

Nyoman Masni

atau aktivitas LPA yang dijalankan ibu em­ pat anak ini, seperti untuk mengantisipasi perkawinan anak di bawah umur, pelece­ han seksual ter­hadap anak dan perlind­ ungan anak dari bahaya rokok. Namun, perhatian Masni terhadap kehidupan anak tidak berhenti sampai di situ. Di setiap kesempatan seleksi per­ siapan anak mengikuti Kongres Anak Indonesia yang diselenggarakan tiap tahun oleh Komnas Perlindungan Anak, selalu disisipkannya pembinaan dan pembekalan tentang Bali dan adat budayanya serta masalah aktul lainnya di Bali. Hal ini menjadikan anak Bali selalu tampil prima dalam kongres dan selalu juga berhasil meraih predikat Duta Anak di antara sepuluh anak se Indonesia yang terpilih. Keberhasilan anak-anak inilah

26 Januari - 1 februari 2015

Dari sanalah kemudian kader-kader jumantik (sekarang kader kesehatan) dilatih, yang kemudian sembari bertu­ gas mengecek jentik nyamuk ke rumahrumah penduduk, juga menyosialisasi­ kan pemakaian garam beryodium dan membagikannya kepada masyarakat. Penyuluhan tentang garam beryodium, DBD, dan kesehatan lainnya juga di­ lakukan di posyandu. Sayangnya, target pencapaian tahun 2014 masih rendah, karena hanya diposkan pemerintah bantuan garam beryodium untuk 5 RT per banjar pertahun. Meski demikian, ada satu prestasi yang berhasil ditore­ hkannya, yakni berhasil membina UKS TL Permata Hati sebagai Juara 1 tingkat provinsi Bali tahun 2014, dan akan bersiap maju ke tingkat nasional.

di Kejaksaan mulai tahun 1965 dan pensiun pada awal tahun 2000, ketika ia menjadi anggota DPRD Bali, yang semasa aktifnya duduk di Komisi A. Di bidang organisasi, sejak tahun 1972 Masni mulai terlibat dalam ber­ bagai kegiatan organisasi. Diantaranya berperan dalam pembentukan Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) Provinsi Bali. Dari sekian organisasi yang diikutinya salah satu adalah pengadian­ nya yang cukup panjang di Badan Ker­ jasama Organisasi Wanita (BKOW) Bali. Masni pun tercatat sebagi Ketua BKOW Daerah Bali periode 1999-2004. Kombinasi antara Masni yang berdisiplin tinggi dan penuh passion dalam menjalankan tugas-tugas baik di rumah tangga, di masyarakat dan saat menjalankan kariernya rupanya berhasil mengantarkan nenek delapan orang cucu ini sebagai Ibu Teladan se – Bali dan salah satu Tokoh Perem­ puan Bali. Itulah beberapa hal yang diungkap dalam buku ”Nyoman Masni Perem­ puan Teladan” yang diluncurkan, Senin (19/1) di Kantor LPA. Ketika ditanya motivasinya me­ luncur­kan buku, Masni mengatakan ia ingin menyampaikan pesan singkat saja bahwa jika kita bekerja dan melakukan apapun dalam hidup ini pedomannya adalah ikhlas dan tanpa pamrih. –Sri Ardhini TAHU RAMBU & ATURAN Sebagai Kepala Puskesmas II Denut, istri Dr. dr. Dewa Putu Gde Purwa Samatra, Sp. S (K) ini membawahi 44 staf. Mereka ditugaskan membuat lapo­ ran bulanan, laporan mingguan untuk penyakit menular, dan untuk kejadian luar biasa, laporannya 1x24 jam. Emilia mengatakan, pola kepemimpinannya memakai cara kekeluargaan. “Karena saya lebih tua, mereka sudah mengang­ gap saya seperti ibu. Saya bisa marah ke mereka, mereka juga bisa marah ke saya jika saya salah. Yang penting tahu rambu-rambu dan aturan pemerintah yang dipakai acuan bertindak. Tak hanya urusan pekerjaan, bahkan mereka kerap curhat masalah pribadi kepada saya,” ucapnya tersenyum. Lalu bagaimana membagi waktu antara karier dan keluarga? Syukurnya suami dan anak-anak sudah mengerti dengan aktivitas dr. Emilia. Karena sebagai Kapus, tak jarang jam 05.30 pagi ia sudah harus di lapangan me­ mantau PSN. “Anak-anak juga sudah besar-besar, jadi sudah bisa mandiri,” ujarnya. Namun biasanya, pagi sebe­ lum berangkat kerja, Emilia masih sempat sarapan bersama suami dan satu anaknya yang masih belum menikah. Sesekali, di sore hari mereka masih sempat berkumpul dan membersihkan rumah bersama, mengeluarkan sampah untuk di­ angkut mobil sampah mulai pukul 17-19.00. Malam harinya kembali berkumpul makan bersama. Kalaupun ada masalah, dan mereka masih di luar dengan kesibukannya masing-mas­ ing, sarana telepon genggam menjadi pemersatunya. –Inten Indrawati

Siapa pun tak ingin tempat kerjanya terbakar. Entah karena korsleting listrik ataupun sebab lain. Namun, ketika hal tersebut terjadi, apa­ kah sudah siap dengan peralatan standar pem­ adam kebakaran? Apakah perusahaan memberi pelatihan pada karyawannya dalam mengatasi situasi darurat tersebut? Mungkin kalau gedung kantor yang tidak bertingkat, karyawan bisa lebih mudah menyelamatkan diri tapi bagai­ mana jika gedung kantor bertingkat-tingkat?

D

iakui atau tidak, tidak semua kan­ tor menerapkan standar keselamat­ an kerja sebagaimana yang dia­ manatkan dalam UU No 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Salah satu pasalnya mewajibkan perusahaan menerapkan sistem manajemen Keselamatan dan Ke­ sehatan Kerja (K3) yang terintegrasi dengan sistem manajemen perusa­ haan. Misalnya saja cara menang­ gulangi kebakaran kantor, bisa jadi pegawai tidak mengetahui­nya ka­rena perusahaan tidak pernah memberi pelatihan kepada pe­ gawainya tentang masalah tersebut. Padahal bahaya kebakaran bisa saja terjadi sewaktu-waktu. Peralatan pemadam kebakaran misalnya, terkadang diabaikan. Ka­ laupun terlihat menempel di tem­

bok, belum tentu secara berkala diperiksa, apakah masih berfungsi atau tidak. Kalaupun APAR (alat pemadam api ringan) berfungsi dengan baik, belum tentu pegawai tahu cara menggunakannya. Karena itu pentingnya memberi pelatihan kepada pegawai sehingga bisa me­ nanggulangi keadaan darurat. Kantor Badan Pemerik­s a Keuang­an RI, termasuk salah satu yang menerapkan sistem manaje­ men K3. Untuk penanggulangan kebakaran misalnya, kantor ini telah memiliki Standar Prosedur Teknis Tindakan Penangangan Darurat Kebakaran pada bangunan kantor. Tiap tahun instansi ini secara rutin menggelar diklat penanggulangan kebakaran untuk para pegawai. Karena pesertanya cukup ba­ nyak, diklat dilakukan dalam be­ berapa gelombang yang masing-

Praktik penanggulangan kebakaran di Kantor BPK

masing memakan waktu sampai dua hari untuk teori dan praktek. Tentu tidak semua pegawai ikut diklat. Peserta diklat digilir, mereka dipilih mewakili divisi masing-masing,” ungkap Bambang, yang bertugas mengurus K3 di Kantor BPK. Instruktur didatangkan dari Di­ nas Kebakaran DKI Jakarta. Karya­ wan diajarkan tentang pengenalan APAR dan cara menggunakan­nya, proteksi kebakaran, manajemen keselamatan kebakaran, medical first responder, dan lain-lain. “Salah satu materi yang disam­ paikan adalah pengenalan api dan bagaimana mengatasinya, serta pro­ teksinya untuk kita dan orang lain. Lalu bagaimana cara menggunakan

alat-alat pemadam kebakaran. Ini penting karena tidak semua orang tahu bagaimana menggunakannya,” jelas Bambang. TEKNIK MENYEMPROT Misalnya saja tabung APAR yang menempel di dinding, menurut Bambang, belum tentu semua pe­ gawai tahu cara menggunakannya. Kalaupun tahu menggunakannya, belum tentu tahu cara yang benar dan efektif dalam menggunakannya. “Orang awam, ketika berhadapan dengan api kebanyakan spontan langsung menyemprot. Padahal me­ nyemprot untuk memadamkan api tidak bisa dilakukan dengan sem­ barangan. Jika tak tahu tekniknya,

Yang Kecil sering Lalai Dalam Pasal 86 UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, disebutkan, ayat (1) Setiap pekerja/ buruh mempunyai hak untuk memperoleh perlindun­ gan atas: keselamatan dan kesehatan kerja, moral, dan kesusilaan, dan perlakukan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai agama. Ayat (2) Untuk melindungi keselamatan pekerja/buruh guna mewujudkan produktivitas kerja yang optimal diseleng­ garakan upaya keselamatan dan kesehatan kerja. Ayat (3) Perlindungan sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 dan 2 dilaksanakan sesuai dengan undang-undang yang berlaku. UU Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, dalam Bab II Ruang lingkup ketentuan-ketentuan dalam keselamatan kerja berlaku di tempat kerja antara lain, dibuat, dicoba, dipakai atau dipergunakan di pe­ sawat, alat perkakas, peralatan, instalasi berbahaya, atau dapat menimbulkan kecelakaan atau kebakaran, atau peledakan. Pasal 3, ditetapkan juga syarat-syarat keselamatan kerja, (a) Mencegah dan mengurangi kecelakaan. (b) Mencegah, mengurangi, dan memad­ amkan kebakaran, (c) Mencegah, mengurangi bahaya peledakan, (d) Memberi kesempatan atau jalan me­ nyelamatkan diri atas kebakaran atau kejadian lain yang berbahaya, (e) Memberi pertolongan pada kecelakaan, (f) Mendapat perlindungan dari para pekerja, dll. Menurut Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Trans­ migrasi Provinsi Bali, I Gusti Agung Ngurah Sudar­ sana, kontrol dilakukan secara terus-menerus kepada perusahaaan dalam penerapan K-3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja). Beberapa hal yang menjadi fokus pengawasan Dis­ nakertrans, lift dan eskalator harus dalam kondisi yang baik, ada penangkal petir yang berfungsi dengan baik,

kondisi listrik cukup dan baik. “Yang tidak kalah penting, misalnya hotel yang sudah didirikan selama 35 tahun ke atas, wajib direnovasi guna menghindari kecelakaan kerja dan demi keselamatan kerja,” ucapnya. Ia memberi contoh pengawasan dalam hotel. Selain pengawasan yang ia sebutkan tadi, pompa air juga perlu diperiksa cara kerjanya. Kemudian disel. Apakah saat listrik mati dapat berfungsi dengan baik. Apakah jika disel hidup menimbulkan suara bising? “Ketel uap untuk menyeterika juga perlu diperiksa. Begitu juga, fire hydrant, smooking detector. Minuman beralkohol pun diperiksa. Walaupun izin di kabupaten, tapi kami tetap mengontrol keberadaannya. Pengawasan juga dilakukan pada pengolahan limbahnya,” kata Sudarsana. Untuk pengawasan di swalayan, juga menyangkut alat angkut/angkat. “Mereka harus mempertimbangkan, cara kerja alat tersebut agar tidak menimbulkan kecelakaan. Untuk swalayan yang besar, diharapkan, ada toilet tiap lantai,” katanya. Bidang usaha garmen, penga­ wasan dilakukan kepada karyawannya, agar selalu menggunakan masker. Begitu juga, pada mesin kompresor dan pengetesan zat kimia. Menurut Sudarsana, pengawasan dan kontrol yang dilakukan Disnakertrans disesuaikan dengan kebutuhan. Contohnya, penangkat petir diperiksa setiap dua tahun. Namun, dilihat juga, lokasi tempat penangkal petir tersebut, apakah di pinggir laut, sehingga pengecekan dilakukan menjadi tiap enam bulan. Sementara, jika berada pada lokasi seperti di Denpasar, penga­ wasan bisa tiap tahun. Namun, kadang pengawasan masih kurang, karena kekurangan tenaga pengawas itu sendiri. “Jadi, kami maksimalkan saja tenaga yang ada. Khusus Provinsi Bali memiliki 8 orang tenaga

salah-salah, api tidak padam tapi isi tabung sudah habis,” jelasnya. Itu sebabnya, perlunya pendidik­ an dasar ini. Sehingga sekalipun tabung APAR itu kecil, dapat cukup efektif digunakan untuk memadam­ kan api. Tentu saja, untuk ukuran APAR yang kecil, api yang dapat dipadamkan pun kecil pula. Tapi intinya adalah bagaimana meng­ gunakan APAR dengan efektif. “Bertabung-tabung digunakan, api tetap berkobar. Ini terjadi kalau orang yang menyemprot tidak tahu teknik menyemprot yang benar,” tambahnya. Hal lain yang perlu diketahui adalah untuk memadamkan api, penyemprotan harus dilakukan pada titik pusat api. Api membesar karena adanya udara. Jika ingin me­ matikan api, menyemprot bagian dimana udara bisa masuk. Jadi yang harus ditutup adalah tempat udara masuk. Dalam diklat, kata Bambang yang pernah menjadi panitia diklat di kantornya, hal-hal seperti itu diajarkan. Termasuk praktiknya yang dilakukan di halaman be­ lakang gedung. Meski itu hanya diklat alias simulasi kebakaran, namun banyak peserta praktek pemadaman kebakaran, saat ber­ hadapan dengan api terlihat panik dan cemas. Mereka gugup. Saking gugupnya, lupa dengan apa yang diajarkan dalam teori. –Diana Runtu

pengawas,” kata Sudarsana. Ia menambahkan, untuk menjadi tenaga pengawas, haruslah mendapatkan pelatihan tertentu, dan biaya yang dibutuhkan untuk menyekolahkan tenaga pengawas, juga cukup banyak. Untuk itu, tenaga pengawas yang sudah ada diefektifkan. Bagi pengusaha yang melanggar K-3, akan mendapat­ kan sanksi yang disebut sanksi administrasi. Dimulai dari, teguran, peringatan tertulis, pembatasan kegiatan usaha, pembekuan kegiatan usaha, pembatalan persetujuan, pem­ batalan pendaftaran, penghentian sementara atau seluruh alat produksi, dan pencabutan izin. Namun, kelalaian justru sering terjadi pada perusahaan yang berskala kecil. “Mereka kurang menyadari pentingnya K-3. Jadi, tugas kami untuk terus memberikan sosialisasi terus-menerus. Kami rutin melakukan sosialisasi tiap tahun. Kami juga berharap, peran masyarakat untuk ikut memberi­ kan informasi kepada kami, jika melihat ada pelanggaran dalam K-3,” kata Sudarsana. –Wirati Astiti


Kreasi

18

26 Januari - 1 februari 2015

Geliat Seni Kebyar Bali

Sudah 100 tahun seni kebyar menun­ jukkan eksistensinya di tengah masyarakat Bali. Berawal dari muncul­ nya gong kebyar di Bali Utara pada tahun 1915. Kehadiran gamelan den­ gan gaya estetik-musikal yang sarat gairah ini, memicu menguaknya seni tari baru yang berbeda dari tari tradisi yang telah mengkristal sebelumnya. Tari nafas baru dengan iringan gong kebyar inilah yang disebut seni kebyar atau kakebyaran.

K

ini, perkem­ bangan seni kebyar tak pernah henti menggeliat dan menggebrak dalam kancah seni pertunju­ kan Bali. I Ketut Marya dapat disebut sebagai pionir lahirnya seni kebyar. Lewat karya cipta tarinya yang berjudul Kebyar Duduk yang mulai dikenal masyarakat sejak tahun 1925, era seni kebyar menggelinding di Bali. Pada tahun 1942 lahir tari Panji Semirang dan tari Mergapati karya I Nyoman Kaler. Tahun 1950 mencuat tari Tarunajaya olahan I Gede Manik. Selanjutnya, Ketut Marya yang namanya meng­ internasional dengan sebutan Mario menciptakan tari duet Oleg Tambulilingan (1952), I Nyoman Ridet dan I Wayan Likes menelorkan tari Tenun dan I Wayan Beratha melahir­ kan tari Tani (1957), dan seterusnya berdenyut kencang pada tahun 1980-an dengan lahirnya deretan tari yang bertema fauna, diantaranya, tari Manukrawa (I Wayan Dibia), Kidangkencana (I Gusti Ngurah Supartha) dan tari Cendrawasih ( NLN. Swanthi Bandem). Di tengah sebagian masyarakat Bali, seni ke­ byar sering latah disebut legong atau lazim dinamai tari lepas. Seni kebyar pada umumnya dipentaskan sebagai

seni tontonan atau hiburan masyarakat. Dalam per­ jalanannya, seni pertunjukan balih-balihan ini dapat disajikan secara tersendiri atau sering menjadi bagian pementasan tertentu. Ketika teater rakyat drama gong sedang naik daun pada tahun 1970-an, sebelum pertunjukan inti dimulai sering diawali dengan satu dua page­ laran seni kebyar seperti tari Tarunujaya, Wiranata, Panji Semirang, atau Oleg Tambulil­ ingan. Demikian pula sebuah pementasan drama tari Prem­ bon, sering dimulai dengan sajian tari lepas kebyar. Adalah Bung Karno, presi­ den pertama RI, sangat men­ gapresiasi seni kebyar dan sekaligus menyayangi para pe­ narinya. Begitu besarnya per­ hatian sang presiden dengan kesenian Bali hingga sempat memberikan nama Tarunajaya pada karya tari Gede Manik yang kini memonumental itu. Munculnya seni kebyar dengan tema-tema sosialistik di Bali seperti tari Tenun, Nelayan, Tani dan sebagainya adalah merupakan peran langsung dan tidak langsung dari atmosfer sosial, kultural, dan politik yang digadang-gadang Bung Karno pada era kekuasaannya. Realitanya, Bung Karno, sering memamerkan kesenian Bali, termasuk seni kebyar, kepada tamu-tamu pentingnya, baik di Istana Tampaksiring maupun di

26 Januari - 1 februari 2015

Buka Lahan dengan Disiplin Militer Tahun 1970, H. Syahbuddin, salah seorang to­ koh di Desa Kadindi Kecamatan Pekat, Dompu, pertama kali menginjakkan kakinya di kaki di wilayah paling ujung utara Kabupaten Dompu itu. Saat ia datang, laki-laki asal Lombok Timur ini tercengang melihat hutan belantara yang begitu lebat karena di sanalah ia akan tinggal. “Saya hampir saja ingin lari pulang kembali ke Lombok dan membatalkan niat transmigrasi waktu itu,” ujarnya.

Tari Tarunajaya, salah satu seni kebyar yang memasyarakat, disuguhkan sebagai seni pentas yang banyak disimak penonton.

Istana Negara Jakarta. Gong kebyar sebagai media gamelan pengiring tari kebyar kini tersebar merata di pen­ juru Bali. Selain banjar atau desa, gamelan yang dapat ber­ fungsi fleksibel ini juga dimiliki sekolah-sekolah, kantor-kantor pemerintahan, dan tentu juga sanggar-sanggar seni pertunju­ kan yang kian tumbuh subur. Sejatinya, sejak tahun 1960an, pementasan seni kebyar menjadi sebuah pertunjukan favorit masyarakat. Tidak sedikit pelaku seni tari ter­ sohor karena kepiawaiannya membawakan tari kebyar ter­ tentu. Ada yang namanya eksis dan virtuoso sebagai penari Tarunajaya, Kebyar Duduk, Panji Semirang dan sebagainya. Bahkan ada identifikasi seorang wanita Bali yang postur tubuh­ nya langsing semampai dengan rambut panjang menjuntai seperti Oleg Tambulilingan. Namun, menginjak tahun 1990-an, pementasan tari-tari kebyar di tengah masyarakat Bali agak meredup. Fenomena tergerusnya perhatian penon­ ton terhadap seni kebyar juga dialami seni tontonan Bali yang sebelumnya digemari seperti

drama gong, arja, dan send­ ratari. Walau demikian, lem­ baga pendidikan formal seni sepert­i SMKI (kini SMK Negeri 3 Sukawati) dan STSI (kini ISI Denpasar) tetap konsisten mengajarkan dan menciptakan seni kebyar. Sementara itu, sanggar-sanggar seni mulai menunjukkan kontribusi yang signifikan pada keberadaan seni tari, tentu termasuk seni kebyar. Menapak tahun 2000-an, seni kebyar kembali bergairah. Sanggar-sanggar seni mampu menelorkan penari-penari seni kebyar yang andal. Salah satu pemicu menetasnya generasi muda unggul seni kebyar adalah lomba-lomba tari yang berlang­ sung secara sporadis hampir di seluruh Bali. Lomba-lomba tari yang digelar di bale banjar hingga di podium universitas itu mengompetisikan seni kebyar, selain tari Baris, Jauk, dan Legong Keraton. Dari arena ini seni kebyar teraktu­ alisasi di tengah masyarakat, karena umumnya para penab­ uh sebuah sekaa gamelan men­ genal dan mampu mengiringi tari Panji Semirang, Wiranata, Tarunajaya, Oleg Tambulilingan

hingga tari Manukrawa. Memperingati seabad seni kebyar, sudah sepatutnya para generasi muda Bali pelestari seni kebyar didorong un­ juk kemampuan. Porsenijar (Pekan Seni dan Olahraga Pelajar) yang digelar pada bulan-bulan awal tahun adalah salah satu arena ideal bagi para pelajar berseni kebyar. Dinas Pendidik­an Propinsi Bali sebagai penyelenggara, semestinya sudah menganti­ sipasi memasukkan dan me­ rinci materi tari-tarian kebyar untuk ditampilkan pada lomba bidang seninya. Materi taritarian kebyar kiranya tepat diperuntukkan pada sajian tari putri; Panji Semirang (SD), Wiranata (SMP), dan Tarunaja­ ya (SMA/SMK). Sedangkan untuk materi tari putra lebih relevan dilombakan tari non kebyar seperti Baris (SD), Jauk Keras (SMP) dan Jauk Manis (SMA/SMK). Melalui Porseni­ jar, pemerintah propinsi Bali dapat menunjukkan peran dan kepeduliannya membangun jag­ at seni, mengapresiasi tonggak seabad seni kebyar yang kini telah mendunia. -Kadek Suartaya

7

H. Syahbuddin

K

ala itu, memang pemerintah tengah gencar dengan pro­ gram transmigrasi. Syahbuddin dan rekan-rekan lain­ nya pun ikut program ini, bergeser dari Pulau Lombok ke Pulau Sum­ bawa, tepatnya di kaki Gunung Tambora ini. Jika kini Syahbuddin menjadi salah seorang yang sukses di Desa Kadindi, baik sebagai pengusaha transportasi, pertanian hingga penginapan, itu tidak diraih­ nya dengan mudah melainkan telah melewati kerja keras dan menem­ puh masa yang cukup panjang. Di sebuah penginapan yang dibangun­ nya untuk menampung pengunjung yang kebanyakan bertujuan ke Gunung Tambora dan sekitarnya, ia pun mengisahkan perjalanan hidup­ nya hingga sampai ke Kadindi, desa yang jarak tempuhnya 6-7 jam dari Kabupaten Dompu dan Bima. Bersama 117 orang lainnya yang juga berasal dari Lombok, diangkut menggunakan truk-truk menuju Pelabuhan Kayangan Lom­ bok Timur, Syahbuddin naik perahu kayu menuju Nangamiro, Dompu. Berangkat dari Pelabuhan Kayangan pukul 15.00 mereka pun mendarat di pantai Nangamiro keesokan paginya sekitar pukul 08.00. Dari Nangamiro menuju lokasi penam­ pungan/asrama, mereka berjalan kaki menembus hutan hingga tiba pukul 15.00. Di sinilah kisah sukses hidupnya berawal di kala ia menjadi transmigran yang benarbenar merasakan pahitnya sebagai transmigran dulu. “Beda dengan transmigran sekarang, seperti ‘raja’, semua sudah disediakan pemerin­ tah,” katanya. Pelabuhan Nangamiro adalah pelabuhan terdekat untuk sampai

ke lokasi transmigrasi tersebut. Di sebuah lokasi di Kadindi Atas yang kini berdiri rumah yang dikenal oleh orang-orang di Kadindi sebagai Ru­ mah Pusaka, ada pula masjid yang disebut Masjid Pusaka dan Lapang­ an bernama 7 Juli. Itulah kawasan pertama tempat barak-barak para transmigran ini dibangun. “Di barak asrama berdinding bedek dan bera­ las alang-alang, ranting dan batang kayu itulah kami ditampung dan tidur berhimpitan selama proses pembukaan hutan belantara ini,” ujarnya. Asrama itu lebih mirip disebut gudang, modelnya panjang berhadap-hadapan dengan lorong di tengahnya. Tidak mudah memang menjadi perintis itu. Syahbudin mengisahkan betapa mereka harus berjuang un­ tuk bisa bertahan di tengah hutan belantara itu. “Banyak kawankawan kami yang tidak tahan dan memilih lari pulang ke Lombok,” ujarnya. Dalam berjuang itu pula Syahbuddin pernah mengalami makan nasi dari beras yang na­ manya beras tekat. “Beras ini harus dimasak dua kali baru enak dimakan sehingga besar bulir berasnya men­ jadi nasi itu jadi sebesar biji asam,” katanya tertawa. Syahbuddin ingat benar ba­ gaimana mereka mulai membabat hutan di bawah bimbingan se­ orang pejabat Pemerintah Daerah NTB, yang sangat berwibawa dan “ditakuti” kala itu yang bernama Lalu Anggrat (salah seorang tokoh birokrat di NTB dan pernah men­ jadi Bupati Lombok Barat sebelum dipecah menjadi Lombok Barat dan Kota Mataram). “Beliau saat itu sebagai Kepala Sospol NTB dan orangnya sangat berwibawa,” ungkap Syahabuddin. Rasa segan pada Lalu Anggrat inilah yang diakuinya membuat para transmigran akhirnya mau mengikuti program ini dan mulai bekerja membabat hutan belan­ tara itu, membuka lahan untuk transmigrasi. “Kami dulu bekerja buka lahan ini dengan bergotong royong dalam disiplin yang tinggi bahkan seperti militer rasanya,” ujarnya. Pukul 04.00, Syahbuddin dan rekan-rekannya sudah harus siap berbaris dan berjejer rapi di lapangan depan barak dan tidak ada yang berani tinggal di asrama untuk mendengarkan pengarahan Lalu Anggrat. “Begitu Lalu Anggrat datang, kami pun duduk dan men­ dengarkan nasehat dan pengarahan Lalu Anggrat untuk membuka lahan bagian sebelah mana hari itu,” ka­ tanya. Dalam pengarahan itulah,

Rumah peninggalan Lalu Anggrat di lokasi pertama pembukaan lahan di Kadindi Atas

mereka mengetahui kelompok yang mana yang akan mengerjakan atau membuka lahan yang mana. Didikan dan disiplin keras yang diterapkan oleh Lalu Anggrat itulah yang menurutnya akhirnya mampu membuat para transmigran itu sukses membuka lahan transmigrasi pertama di NTB itu. “Selain Lalu Anggrat yang pimpin, saya rasa dulu tidak akan mungkin jadi Kadindi ini,” katanya. Para transmigran ini tidak ada yang berani main. Pernah suatu ketika, cerita Syahbuddin, ada seorang kawannya yang mening­ galkan asrama tanpa pamit, pergi memancing dan sempat kesasar di tengah hutan hingga tidak tahu jalan pulang. “Begitu di pagi hari baru bisa sampai ke asrama, ia lalu dihukum dengan direndam di air karena tidak disiplin,” kata Syah­ buddin mengenang. DUA HEKTARE PER ORANG Tiap hari mereka memiliki jadwal untuk membuka lahan yang dilakukan secara berkelompok. Tiap kali menuju lokasi pembu­ kaan baru, berbekal parang dan cangkul serta linggis, berjalan di antara semak belukar dan pepo­

honan di jalan setapak bekas jejak kerbau dan sapi, para transmigran ini secara berkelompok menuju lokasi yang akan dibuka. Hanya jalan setapak yang bisa mereka lalui kala itu. Tidak ada jalan sama sekali karena seluruh areal adalah hutan belantara. Bisa dibayangkan bagaimana perjuangan para transmigran ini, berjalan membawa peralatan berat dan bekal dalam tas yang kerap kali tersangkut di semak-semak belukar berduri-duri. “Untuk mencapai lokasi hutan yang harus dibuka, tidak jarang kami harus berjalan hingga sembilan jam lamanya,” kata Syahbuddin yang saat itu sudah berkeluarga dan memiliki tiga anak yang ditinggal di kampung halaman­ nya di Terara Lombok Timur. Perjuangan berat membuka lahan di kaki Gunung Tambora itu berlangsung setidaknya satu tahun. Setelah hutan belantara mulai bersih, barulah mereka diberikan haknya untuk mendapatkan jatah dua hektare per orang yang dibagi secara adil pada tahun 1971. “Pem­ bagiannya pakai lot, tidak dibagi begitu saja atau tinggal pilih,” kata Syahbuddin yang mendapatkan jatah di tempatnya kini tinggal di

Kadindi Bawah yang jaraknya seki­ tar 15 menit kendaraan dari Kadindi Atas, tempat asrama mereka dulu. Perjuangan itu belum berakhir, mereka lalu mendirikan rumahrumah sederhana dari kayu yang didapat di hutan sekitar. Belum lagi untuk memenuhi kebutuhan air bersih ia harus berjalan kaki berjam-jam lamanya menuju mata air di Kadindi Atas. Di lokasi transmigran inilah kawasan ini bermula. Kemudian berkembang hingga hari ini men­ jadi sebuah kecamatan bernama Pekat. Maka tidak heran, sebagian besar penduduk yang tinggal di Kecamatan Pekat adalah orang Lombok, yang secara turun temu­ run mendiami wilayah ini sejak tahun 1970. Syahbuddin sendiri menjadi salah satu transmigran yang sukses baik sebagai petani, pengusaha transportasi bus hingga kini memiliki penginapan sederhana 12 kamar yang disewakan untuk para pengunjung Gunung Tambora dan sekitarnya. Tidak hanya itu, Syahbuddin juga banyak memiliki lahan hasil kerja kerasnya selama ini. “Hidup penuh perjuangan dulu, kini saya baru menikmati hasilnya,” katanya. -Naniek I. Taufan


Bunda & Ananda

8

26 januari - 1 Februari 2015

Jangan Sembarangan Menyusui

Manfaatkan Pojok ASI Inisiasi Menyusui Dini (IMD) harus dilakukan sesegera mungkin setelah bayi lahir. Aktivitas ini bertujuan mengenalkan bayi dengan puting susu ibunya. “Begitu bayi lahir, tunda injeksi dulu. Bersihkan bayi kecuali bagian tangannya. Tangan yang berbau ketuban ini akan mengantarkan bayi ke puting susu ibunya. Di sekitar puting susu ada kelenjar yang menyerupai air ketuban. Tempatkan bayi di atas perut ibunya, biarkan dia merangkak menggapai puting susu ibunya. Jangan dibantu. Ini proses alamiah,” jelas dr. A.A. Ngurah Prayoga, Sp.A.

S

etelah proses IMD ini dilakukan, perawatan ibu dan bayi bisa dilakukan seperti biasa. Sebaiknya ibu dan bayi ditempatkan bersama. “Prinsip dalam pemberian ASI, makin cepat makin baik, makin sering makin lancar. Isapan bayi ini akan merangsang produksi ASI,” tegas dokter anak RSIA Puri Bunda Denpasar ini. Mengenai posisi menyusui, dr. Prayoga mengatakan posisi harus benar. Puting susu harus masuk semuanya ke mulut bayi. Jika hanya di ujungnya, itu akan menyebabkan puting mudah lecet dan bayi tidak dapat mengisap dengan baik. Bayi pun menjadi rewel karena hanya mendapatkan sedikit ASI. “Tempatkan bayi sedemikian rupa agar menempel dengan ketat. Dagu bayi melekat di payudara ibunya. Kalau posisi sudah baik dan bayi mengisap dengan baik, hasilnya pasti bagus. Lakukan pemberian ASI eksklusif ini selama enam bulan. Pemberian air putih tidak perlu kalau pemberian ASI lancar,” tandasnya. Dokter Prayoga menambahkan ASI dapat diberikan sampai buah hati berusia dua tahun bahkan lebih. Tetapi, anjuran pemerintah, ASI eksklusif selama enam bulan. Setelah itu berikan makanan pendamping ASI. Satu hal yang penting dan selalu diingat adalah kualitas ASI itu yang terbaik. Tidak ada ASI yang encer atau yang kental. Komposisinya yang terbaik untuk nutrisi bayi

AA Ngurah Yuliartha

dan tidak ada ASI basi. Produksi ASI juga banyak bahkan ada ibu yang memiliki anak kembar dua bisa memberikan ASI eksklusif selama enam bulan. POJOK ASI Bagi ibu yang sedang menyusui, tak perlu risau jika ingin berjalan-jalan bersama bayi. Kini beberapa fasilitas ruang menyusui sudah tersedia. Memperhatikan kenyamanan pengunjung khususnya ibu yang menyusui bisa meningkatkan kunjungan ke tempat-tempat perbelanjaan. Tak hanya pasar modern yang sudah menyiapkan fasilitas ini. Pasar tradisional pun sudah sudah ada yang memiliki Pojok ASI. Sebuah ruangan di lantai 1 Pasar Badung memiliki tempat tidur, kursi, meja, dan dilengkapi

AC. Ruang ini berdinding kaca dan di pintu depannya bertuliskan “Ruang Pojok ASI”. Beberapa poster bertema kesehatan juga tertempel di kaca. “Ruang ini biasa dipakai pengunjung yang mengajak anaknya untuk istirahat. Ada juga pedagang yang memiliki bayi, memanfaatkan ruangan ini untuk menyusui,” ujar seorang tukang suun di Pasar Badung yang duduk di depan ruang Pojok ASI. Fasilitas ini sudah disediakan sejak tiga tahun silam. Ini merupakan bagian dari upaya Kota Denpasar untuk mewujudkan Kota Layak Anak. Salah satunya dengan memperhatikan pemenuhan hak dan perlindungan anak. Bayi yang sedang dalam masa menyusui pun menjadi target. Jangan sampai mereka tak mendapatkan ASI karena ibunya sibuk bekerja. Menurut Kepala Unit Pasar Badung AA Kartika, S.H., ruang Pojok ASI disiapkan bagi peda-

dr. A.A. Ngurah Prayoga, Sp.A.

Trans Retail Indonesia sudah menyiapkan fasilitas ruang ASI bagi pengunjung. “80% konsumen kami adalah wanita, jadi kami berusaha memberikan yang terbaik untuk konsumen, salah satu ruang ASI,” kata pria yang juga Penasihat Asosiasi Perusahaan Sahabat Anak Indonesia (APSAI) Pusat ini. –Ngurah Budi

Ilustrasi ibu menyusui

Mendongeng Lima Menit

Pondok Kecil Seorang Petani

Made Taro

Ruang pojok ASI di Pasar Badung

gang dan pengunjung yang mengajak bayi. “Jangan sampai ibu-ibu menyusui di sembarang tempat. Kami suah siapkan ruangan yang representatif,” tegasnya. Kartika yang didampingi Kepala Bagian Pengawasan PD Pasar Kota Denpasar AA Ngurah Yuliartha menambahkan penempatan pojok ASI ini juga berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kota Denpasar. Selain pojok ASI, di Pasar Badung juga tersedia klinik yang berlokasi di lantai 3. Sementara itu, RM Adji Srihandoyo, Corporate Affairs Director Carrefour mengatakan di Carrefour yang berada di bawah PT

Seorang petani yang biasa dipanggil Pan Wayan, tinggal di pondok kecil dengan keluarganya. Ia tidak pernah merasa bahagia. Tiap hari ia mengeluh dan mengomel. Suatu hari ia meminta petunjuk kepada Pan Bantas, orang pintar dan bijaksana di

desa itu. “Bapane! Berilah aku petunjuk, bagaimana hidup berbahagia. Di pondokku yang kecil, aku tinggal bersama seorang istri, mertua laki-perempuan, lima orang anak dan dua orang cucu. Di antara kami sering terjadi cekcok.” Pan Bantas berpikir, lalu katanya, “Pan Wayan kan punya banyak ayam. Masukkanlah ayam-ayam itu ke dalam pondok dan hiduplah bersama-sama. Cobalah, lalu besok laporkan ke sini.” Dalam perjalanan pulang, Pan Wayan berpikir. “Aneh, dalam pondok kecil yang dihuni banyak orang, harus tidur bersama ayam?” Keesokan harinya Pan Wayan melapor kepada orang bijaksana itu. “Tambah ribet, Bapane! Ayam-ayam itu ribut dan berak di pondok. Tidur kami terganggu.” Pan Bantas berpikir lalu katanya, “Pan Wayan ‘kan punya empat ekor sapi. Jangan biarkan mereka merumput di ladang dan tidur di kandang. Cobalah seharian

masukkan ke dalam pondok, lalu tinggallah bersama mereka. Besok datanglah ke sini!” Dalam perjalanan pulang Pan Bantas berpikir keras. Tidakkah orang bijaksana itu mengolok-olok? Namun, hari itu juga ia mencoba menjalankan petunjuk Pan Bantas. “Wah, benar-benar kacau, Bapane! Istriku mau cerai, anak-anak menuduh aku gila dan mertuaku mengancam akan membunuhku,” kata Pan Wayan keesokan harinya kepada Pan Bantas.” “Bagus kalau begitu!” kata Pan Bantas dengan tenang. “Cobalah yang terakhir ini! Mulai hari ini, keluarkan ayamayam itu dan biarkan sapi-sapi itu merumput di ladang dan tinggal di kandang. Lalu bersihkan pondok itu.” Petunjuk yang terakhir itu membuat Pan Wayan benar-benar berpikir keras. “Apakah orang bijaksana itu gila? Bukankah sudah kukatakan bahwa aku tak pernah berbahagia hidup dengan banyak anggota keluarga dalam pondok kecil?” Sesampai di pondok ia keluarkan semua ayam, ia biarkan sapi-sapinya merumput dan tinggal di kandang, lalu ia bersihkan pondok kecil-mungil itu. Nyaman benar rasanya kumpul dengan keluarga, lalu mereka ngobrol tentang pengalaman yang menarik itu. “Terimakasih, Bapane!” kata Pan Wayan keesokan paginya di rumah Pan Bantas. “Kebahagiaan itu tidak jauh. Untuk menemukannya kita harus belajar dari penderitaan,” katanya sambil tersenyum.

26 januari - 1 Februari 2015

Griya

Beragam Dekoratif Marmer Batu alam makin banyak digunakan tak ha­ nya untuk dekoratif dinding dan lantai, namun juga untuk bermacam-macam bentuk hiasan/pajangan. Daya tariknya tentu saja ada pada corak atau teksturnya yang natural. Salah satunya adalah batu marmer dan onyx.

M

armer dan onyx, oleh sebagian masyarakat dianggap bebatuan yang sama. Tak salah memang, karena dari batu marmer yang sudah lama inilah akan dihasilkan batu onyx yang sangat keras. Secara kasat mata, perbedaan di antara keduanya adalah batu onyx memiliki warna yang agak pekat dan mengkilat. Dengan beragam tekstur dan warna, hasil pahatan dalam berbagai bentuk dekoratif ini dipajang di Bagong Bali Gallery.

Jika melintasi Jalan By Pass Ngurah Rai, Sanur, bongkahanbongkahan batu alam dengan ukuran yang besar-besar, sengaja diletakkan di depan. Tampilan batu-batu dengan teksturnya yang natural tersebut mampu menarik perhatian orang yang melewatinya. “Batu itu biasa kami sebut batu berlubang. Jadi, sebelum batu marmer, ketemunya batu berlubang ini dulu,” ujar Wiwid, salah seorang karyawati gallery sembari menunjuk batu-batu besar dengan tekstur berlubang tersebut.

Batu-batu tersebut dikatakannya didatangkan dari beberapa daerah di Jawa. Karena itu pula, berbagai bentuk pajangan tersebut terdiri dari beraneka warna, seperti putih, kuning, cokelat, merah, hitam, bahkan loreng, dengan tekstur yang beragam pula. Beberapa model bentuk hasil olahan bebatuan ini di antaranya, meja, kursi, papan catur, washtafel, stand decorative, stone base (alas), mangkok, bola, papan permainan congklak/dakon, ikan, dan model tambi (gilingan jagung/beras zaman dulu). –Inten Indrawati

17


Edukasi

16

26 Januari - 1 februari 2015

Blue Print

S

eharusnya Indonesia sudah memiliki blue print sistem pen­ didikan nasional, se­ hingga tak lagi “ganti menteri ganti kebijakan”. Jika sudah ada blue print, arah tujuan pendidikan sudah jelas, tinggal dilanjutkan saja oleh menteri-menteri beri­ kutnya. “Misalkan menteri satu menerapkan tema satu, menteri kedua melanjutkan tema dua,

Daerah Bali selat­ an memang banyak menawarkan tem­ pat rekreasi yang menarik. Anda bisa me­ngunjungi Pantai Dreamland, Pantai Blue Point, Pantai Padang-padang, dan Garuda Wisnu Ken­ cana. Selain beberapa tempat rekreasi ter­ sebut, Anda juga dapat memilih bere­ kreasi ke kawasan hutan Mangrove.

H

utan Mangrove atau bisa juga disebut hutan bakau merupa­ kan daerah konservatif yang bertujuan untuk menahan gelombang air laut yang masuk ke daratan. Hutan Mangrove Bali berlokasi di jalan By Pass Ngurah Rai Kuta, sekitar 100 meter dari simpang Dewa Ruci. Letak hutan ini sangat dekat dengan Bandara Ngurah Rai. Lokasi hutan mangrove Bali berada di jalur keramaian yang setiap harinya dipenuhi dengan kebisingan lalu lintas dan polusi

dan seterusnya. Sehingga, ributribut tentang kurikulum tak perlu ada,”ujar Ketua Dewan Pen­ didikan Denpasar ini. Perubahan kurikulum itu dini­ lainya wajar. Karena, minimal da­ lam lima tahun itu harus ada kajian tentang kurikulum, apakah ten­ tang kedalaman materi, metode, dan sebagainya yang disesuaikan dengan perkembangan ilmu pasti, sosial, dan budaya. Menurutnya, guru profesional mau tak mau

harus berubah untuk menuju blue print tersebut. “Berubah untuk pendidikan yang lebih baik. Jika siap berubah, awalnya pasti berat untuk mencapainya,” tegas Rumawan Salain. Lebih lanjut ia menjelaskan, dalam blue print itu, salah satu yang disiasati adalah sistem pen­ didikan dengan melihat kon­ disi geografi Indonesia. Indonesia memiliki laut yang luas. Jadi, yang dikembangkan adalah pendidikan di bidang kelautan, buat sekolah kelautan. Segala sarana prasana dilengkapi, sehingga nantinya Indonesia benar-benar memiliki SDM yang andal di bidang ini, untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. “Jika di Indonesia pertaniannya maju, buat se­ kolah pertanian. Demikian halnya bidang lain seperti kehutanan atau TI (teknologi informasi),” lanjutnya. Ia mencontohkan, TI yang berkembang sangat pesat. Na­ mun, seberapa jauh TI ini bisa masuk dalam pendidikan? “Kita belum bisa membuat, terus mem­ beli saja. Dengan TI ini seharusnya kita mampu memenuhi kebutuh­ an untuk dalam negeri dulu dan untuk di pendidikan. Siapkan SDM

Dr. Rumawan Salain, M.Si.

dalam negeri dulu, sehingga kita tak terus tergantung pada negara lain. Harus ada base on competition local. Selama ini kita hanya bermain di wacana saja, seperti wajib belajar 12 tahun dan rasio SMA:SMK 40%:60%,” tegas Rumawan. Sejak kemaritiman di bawah kendali Menteri Susi, ia melihat Indonesia sepertinya baru ter­ sadar bahwa kemaritiman kita sangat menjanjikan. Hal yang sama juga semestinya dilakukan di bidang pertanian, kehutanan, TI, dll. Indonesia bisa bercer­

min pada sistem pendidikan di Jepang, yang disesuaikan dengan kebutuhan dalam negerinya. Dari semua itu, blue print pendidikan tetap terbingkai dalam budaya luhur dari Sabang sampai Me­ rauke. Itu sebabnya Indonesia memiliki corak pendidikan yang beragam. Rumawan Salain kembali menyoroti pelaksanaan UN yang selama ini hanya untuk peringkat sekolah. Peringkat ini pun dikatakannya seharus­ nya mengacu pada blue print. Substansi yang harus ada yang berdasarkan tujuan pendidikan nasional, mencerdaskan kehidup­ an bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya. Yakni, manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Pendidikan nasional, pendidikan yang be­ rakar pada kebudayaan bangsa Indonesia dan berdasarkan pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. –Inten Indrawati

Menikmati Suasana Hutan Mangrove dari Menara Pandang

Menara pandang di hutan mangrove

udara. Dengan adanya banyak pohon di hutan bakau, dapat me­ ngurangi polusi udara di kawasan dekat hutan bakau tersebut. Dengan tiket Rp 5.000 per orang, kita bisa menikmati sua­ sana hutan mangrove dengan menyusuri jembatan kayu yang memiliki panjang 2 km. Anda juga bisa mengelilingi hutan mangrove dengan menyewa perahu yang

telah disiapkan oleh pengelola hutan mangrove. Terdapat juga menara pandang untuk melihat hutan mangrove dari keting­ gian. Hijaunya pepohonan man­ grove menjadi daya tarik tersendiri untuk menjadikan­ nya sebagai tempat rekreasi. Ada juga yang memilih hutan mangrove sebagai tempat un­

Jembatan kayu di hutan mangrove

tuk foto prewedding. “Saya memilih hutan mangrove un­ tuk lokasi pemotretan, karena hutan mangrove menawarkan pemandangan yang sangat indah. Selain itu, kita juga bisa mem­ promosikan hutan mangrove melalui foto agar masyarakat turut menjaga keindahan dan keasrian hutan mangrove,” ujar Bram, seorang pengunjung yang

Dara

9

Ni Nyoman Sintya Agniswari Anasta Putri

Perjelas Tujuan Pendidikan Ganti pemimpin, ganti kebijakan. Hal ini sepertinya lumrah terjadi di segala lini, tak terkecuali di bidang pendidikan. “Tiap pemimpin me­ ngeluarkan kebijakan sesuai ‘rasa’ me­reka masing-masing. Saya kha­ watir Indonesia belum mempunyai blue print atau perencanaan yang jelas tentang sistem pendidikan nasonal,”ujar pengamat pendidikan Dr. Ir. Rumawan Salain, M.Si.

26 januari - 1 februari 2015

mencintai dunia fotografi ini. Upaya menjaga lingkungan hutan mangrove tetap alami sangat penting. Caranya de­ ngan tidak merusak lingkungan yang termasuk kawasan peles­ tarian ini dan tidak membuang sampah plastik ke kawasan hutan mangrove karena dapat merusak ekosistem yang ada di dalamnya. -Ary

Terapi Berbuah Prestasi TAK banyak orang yang mampu menjadikan kekurangan itu sebuah kelebihan. Justru sebaliknya yang terjadi. Masih banyak orang yang melihat kekurangan itu hambatan besar untuk meraih sebuah prestasi. Namun, beda dengan Sintya. Dara kelahiran Denpasar, 22 Maret 1998 ini sukses menjadikan kekurangan yang dimiliki menjadi sebuah prestasi ber­label internasional.

P

emilik nama lengkap Ni Nyo­ man Sintya Agniswari Anasta Putri ini berprestasi di olahraga renang. Proses panjang pun te­ lah dilalui untuk mendapatkan prestasi seperti saat ini. Olahraga renang yang telah ditekuni sejak duduk di bangku kelas III SD, diawali nyaris tanpa target. Bungsu tiga bersaudara buah hati pasangan Ir. I Kd. Anom AstabrataNi Ketut Rai Supradewi ini, ketika itu pulang sekolah nyaris tak ada kegiatan. Waktu lebih banyak di depan TV maupun kegiatan ber­ main lainnya. Orangtuanya pun menawarkan Sintya untuk renang. Alasannya selain tak ada kegiatan yang dilakukan dengan sisa waktu pulang sekolah yang cukup banyak, lagi pula mengikuti anjuran dokter untuk renang. Ada pembengkokan tulang yang dibawa Sintya sejak lahir. Sintya pun dengan senang hati mengikuti ajakan orangtuanya. Lama-kelamaan Sintya merasakan jika renang itu menyenangkan dan mengasyikkan. Dia pun sangat rajin latihan, walaupun dengan jarak tempuh Celuk-Denpasar. Ketika duduk di kelas V SD Cipta Dharma, Denpasar, dara berkacamata ini diikutsertakan kejuaraan oleh Swimming Club Bali Pari, tempatnya bernaung. Pertimbangannya semata-mata un­ tuk mendapatkan pengalaman. “Saya merasa deg-degan karena pertamakalinya ikut lomba. Saya berusaha tanpa beban, di luar dugaan meskipun pertamakali ikut lomba, pulangnya bawa medali perunggu. Sampai saat ini medali itu salah satu medali yang paling bersejarah dalam aktivitas renang saya,’’ ujarnya sambil tersenyum. Sintya yang saat ini tercatat se­ bagai siswa kelas XI MIPA 2 SMAN 3 Denpasar, makin termotivasi un­ tuk ikut lomba. Dia pun mengingat pesan orangtua maupun pelatihnya, jika kemenangan itu tidak turun begitu saja dari langit. Kemenang­ an itu hanya didapat oleh mereka yang mau bekerja keras dan berlatih dengan sungguh-sungguh. Jika pada awal-awal ikut kejuaraan re­ nang Sintya turun di gaya dada 50 meter, akibat pernah mengalami cedera, Sintya pun akhirnya turun di gaya bebas. Per­ nah mengalami cedera ketika latihan, sama sekali tak membuat Sintya kapok dan ingin mening­ galkan renang yang telah membuat­ nya sehat dan ber­ prestasi. Malahan, dia pun pelan-pelan sudah memiliki target ketika turun di sebuah kejuaraan. Tak mengherankan jika lebih dari 100 medali telah dikoleksi dan tersimpan rapi di rumahnya. Dari ratusan medali yang telah diraih, ada beberapa yang sangat mengesankan bagi Sintya. Diantaranya

ketika meraih juara pertama nasional antarper­ kumpulan seluruh Indonesia (KRAPSI) 2014 lalu. Menduduki posisi kedua nasional PON Remaja di Surabaya, sukses meraih medali emas pada nomor 100 meter gaya bebas. Di ajang bergengsi Porprov Bali tahun 2013 lalu, Sintya juga sukses mendapatkan medali emas nomor 200 gaya bebas. ‘’Prestasi terakhir saya menyabet medali emas 50 meter gaya bebas KU 1 putri KRAPSI 2014 lalu,’’ ujar dara yang memiliki moto hidup keep swimming ini. Ditanya pengalaman yang paling berkesan selama menggeluti aktivitas renang, Sintya pun menceritakan ketika pertamakali ikut kejuaraan di tingkat nasional di Jakarta tahun 2009 lalu. Ketika itu dia duduk di bangku kelas VI SD. Setelah melewati beberapa kali seleksi, Sintya lolos masuk tim renang Bali. Menariknya, Sintya satu-satunya wanita dan paling kecil diantara perenang lainnya. Walaupun perem­ puan sendiri dan paling kecil, Sintya pulang kembali ke Bali membawa medali perunggu. Sintya turun di nomor 100 meter gaya dada KU IV putri. BIASA ULANGAN SUSULAN Bagi adik kesayangan dari Ni Putu Ratih Pradnyasuari Anasta Putri dan Ni Made Wu­ lan Widyasuari Anasta Putri ini, untuk meraih sebuah prestasi itu banyak tantangan. Tak hanya dari dalam diri sendiri, juga hambatan dari luar. Jika teman-teman sebayanya asyik dengan acaranya masing-masing, pagi-pagi benar dia sudah harus bangun dan bersiapsiap untuk latihan. Beruntung pagi-pagi jarak tempuh Celuk-Denpasar cukup lancar, sehingga tidak terjabak macet. Seusai latihan harus sekolah, pulangnya ikut les pelajaran, dan sore wajib latihan lagi. Bahkan jika menjelang ikut kejuaraan waktu, tenaga dan perhatian benar-benar tersita un­ tuk latihan. Tekad kuat Sintya untuk tetap sukses di renang maupun pela­ jaran, membuatnya harus mengejar keter­tinggalan dalam pelajaran. Lantaran tak bisa optimal memgikuti penjelasan guru, tak jarang Sintya banyak belajar dari teman-temannya. Mengikuti ulang­ an susulan mungkin hal yang biasa bagi Sintya. Tak jarang pula Sintya harus mengikuti ulangan susulan di ruang guru. ‘’Awal-awal sempat sedih juga. Lama-kelamaan akhir­ nya menjadi terbiasa. Tapi saya berusaha agar keduanya sama-sama bisa jalan,’’ katanya se­ mangat. Sintya yang meng­ idolakan Siman, pere­ nang Bali yang sukses mendulang prestasi internasional, merasa­ kan benar jika seorang

Sintya diapit guru olah raga dan wali kelasnya.

perenang itu ada target dalam latihan. Teru­ tama peningkatan waktu. Jika hal itu tidak berhasil dilakukan, kecil kemungkinan akan mampu mempertahankan prestasinya. Hanya saja untuk bisa seperti itu, harus latihan sekuat tenaga. Stamina dan kesehatan fisik tak mungkin terabaikan. Sintya mengajak remaja Bali khususnya untuk tidak bermalas-malasan. “Tiap orang memiliki talenta maupun bakat yang harus terus digali. Jangan melihat kekurangan itu menjadi hambatan untuk berprestasi. Sebaliknya, di balik kekurangan itu ter­ simpan kelebihan yang harus terus digali,“

tegasnya. Sukses mencatatkan dirinya sebagai salah satu perenang perempuan Bali yang telah menunjukkan prestasi internasional, Sintya punya cita-cita ingin menjadi dokter. Ada panggilan nurani, ingin berada di tengahtengah masyarakat, membantu mereka di bidang kesehatan. Bagaimana pun kesehatan itu modal utama untuk berbuat maupun melakukan sesuatu. Keluarga yang sehat modal utama mewujudkan keluarga bahagia. Demikian juga dengan masyarakat maupun bangsa yang sehat, akan menjadikan negara kuat dan sukses dalam pembangunan. -Yoga


10

Bugar

26 januari - 1 Februari 2015

Pembusukan Jenazah di Air

Dua Kali lebih Lambat tetap ada, ada baiknya dilakukan pencegahan untuk menghindari penularan penyakit. Walaupun dalam pembahasannya, ada dua kubu atau pendapat yang pro-kontra.

Kecelakaan pesawat terbang AirAsia QZ 8501 menyisakan kepedihan. Beberapa jenazah penumpang ditemukan di permukaan laut Pangkalan Bun. Bagaimana mayat bisa mengapung dalam beberapa hari? Apa bedanya kematian manusia di darat dan di dalam air?

S

taf Bagian/SMF/ I n s t a l a s i Ke d o k teran Forensik FK Unud/RS Sanglah dr. Hengky, Sp.F., M.Bth., FACLM., menjelaskan penyebabnya. “Jenazah yang ditemukan di dalam air memiliki perbedaan kondisi dengan yang ditemukan di darat. Jenazah yang di dalam air akan banyak mendapat pengaruh kimia termasuk elektrolit yang dapat mempengaruhi dan memodifikasi perubahan terhadap jenazah tersebut. Umumnya jenazah yang lama terendam di dalam air, proses pembusukannya akan menjadi lebih lambat dibandingkan dengan jenazah di darat,” ujarnya. Ia mengatakan, umumnya, pembusukan jenazah di dalam air dua kali lebih lambat dari jenazah yang di darat. “Kalau jenazah dalam kurun waktu 1-2 hari sudah membusuk, jenazah yang di dalam air akan mengalami pembusukan 3 sampai 5 hari,” jelasnya. Awalnya, setelah pesawat jatuh ke air, tubuh penumpang tenggelam ke dasar laut. Setelah tiga sampai lima hari jenazah muncul ke permukaan air karena sudah terbentuk gas pembusukan. Setelah membusuk terbentuk gas pembusukan, dimana berat jenisnya lebih rendah dari berat jenis air laut sehingga menyebabkan badan jenazah mengapung. Setelah lima hari ada binatang air yang memakan, sehingga gasnya makin berkurang dan jenazah kembali tenggelam ke dasar laut. Proses pembusukan terus berlangsung dan jaringan lunak jenazah habis dimakan binatang laut sehingga nanti tersisa hanya tulang. Begitulah proses pembusukan jenazah di dalam air. Proses pembusukan jenazah memerlukan waktu. Berdasarkan teori, banyak pengaruhnya, terutama iklim. Misalnya, iklim di Indonesia yang tropis mengakibatkan pembusukan jenazah rata-rata berlangsung 24 jam. Di beberapa negara yang iklimnya lebih dingin proses pembusukan jenazah akan berlangsung lebih lama. Begitu juga, di dalam air, yang kondisinya lebih dingin, sehingga pembusukan jenazah akan berlangsung lebih lama.

PENULARAN PENYAKIT Apakah pembusukan jenazah di dalam air dapat menyebabkan infeksi dan berisiko menularkan penyakit? Menurut dr. Hengky, beberapa bukti ilmiah belum bisa disimpulkan karena sulit melakukan penelitian terbentur etika dan budaya. Umumnya, mendekati keluarga yang sedang berduka, untuk penelitian secara sponstan ditolak. “Itu kesulitan kami di bagian forensik untuk melakukan penelitian terhadap pertanyaan seperti itu,” kata dr. Hengky. Namun, ia mendapat literatur, ada dua argumen, pendapat pertama mengatakan, tidak ada masalah. Logikanya, orang yang sudah meninggal apalagi sudah membusuk, selnya sudah mati sehingga tidak mungkin bakteri atau virus bisa hidup. Jenazah itu tidak akan lebih menular dari dengan orang yang masih hidup. Tetapi, pembuktian tersebut tidak bisa dikatakan valid, karena sampel yang diteliti sedikit. Pendapat lain mengatakan, virus bisa menular karena ada penelitian pada jenazah di darat, mereka bisa menularkan virus HIV hingga 16 hari, tapi dengan suhu 2 derajat Celcius. Suhu

dr. Hengky, Sp.F., M.Bth., FACLM.

rendah yang mengakibatkan sel-nya bertahan lebih lama. Bagaimana dengan virus lainya, seperti virus hepatitis belum ada penelitian, tapi sudah ada penularan terhadap petugas kamar jenazah. Bagaimana dengan bakteri lainnya? Jika dalam proses pembusukan berlangsung ditemukan bakteri anaerob, ada perantara, lingkungan dalam hal ini misalnya air, bisa saja tercemar. Begitu juga, virus TBC bisa menyebabkan infeksi pada pekerja kamar jenazah. Umumnya, jenazah ditutup setiap lubangnya, lubang hidung, mulut, telinga, dan kemaluan perempuan dengan kapas untuk menghindari pencemaran lewat udara. Ia menyatakan, walaupun belum ada penelitian, risiko itu

KEMATIAN SELULER Secara umum, berdasarkan teori, kematian seluler rata-rata terjadi 4 jam setelah dinyatakan meninggal. Seharusnya setelah 4 jam bakteri tersebut tidak mempunyai sel lagi untuk hidup. Logikanya, bakteri tidak mendapatkan tempat untuk hidup. Tetapi, setelah mengalami pembusukan, kemungkinan muncul bakteri lainnya. Apakah menginfeksi atau tidak, ini masih pro-kontra. Untuk lebih amannya, biasanya, setelah kematian seluler, barulah sebaiknya dilakukan tindakan kepada jenazah. “Sama halnya dengan kasus hukuman mati. Perlu dokter untuk memastikan kematiannya. Jadi, tidak sembarangan memastikan kematian, perlu waktu, bisa mudah atau sulit. Kalau seandainya ada penyakit atau kelainan, proses kematian tersebut memerlukan waktu untuk memastikan kematiannya,” jelas dr. Hengky. Sebisa mungkin jenazah ditangani petugas medis, karena

mereka sudah mengetahui, bagaimana memperlakukan jenazah. Saat keluar dari rumah sakit jenazah sudah cukup aman kembali ke keluarganya atau masyarakat dan lingkungannya. Untuk menjaga penularan penyakit dari jenazah, ia menyarankan, selalu mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan jenazah. Usahakan menggunakan sarung tangan dan masker dalam menangani jenazah. – Wirati Astiti

“Kalau jenazah dalam kurun waktu 1-2 hari sudah membusuk, jenazah yang di dalam air akan mengalami pembusukan 3 sampai 5 hari”

Style

Feminin dan

26 januari - 1 Februari 2015

Pilihan Style Tokoh pekan ini adalah racangan dari Angeliqa Wu yang bertemakan “Nu Hope”. Koleksi yang mewakili penyuka penampilan feminin dan girly ini dihadirkan dalam acara “Fashion Tendance 2015” di TS Suites Leuiser Hotel, Semi­nyak beberapa waktu lalu.

I

nspirasinya tergo long unik. Anggota APPMi Bali ini rupanya tertarik pada kehidupan jamur yang memiliki daya tahan menakjubkan dan mampu beradaptasi dengan sekitarnya. Seperti juga dalam kehidupan selalu ada harapan baru untuk bertahan hidup di masa mendatang. Pada deretan karyanya ini Angeliqa Wu mengambil detil desain busana dari struktur dan bentuk dari jamur, yakni bulat , berlipat dan bertumpuk-tumpuk yang semakin menguatkan

15

Girly

karakter girly-nya. Anggota APPMI Bali ini juga tak ke­ tinggalan menghadirkan waris­ an budaya , endek menjadi bagian dari rancangannya. Selain feminin – girly, kesan simpel namun elegan pun terlihat dengan disatukannya bahan seperti sifon, satin, tile dan brokat. Begitu juga variasi warna seperti pink, peach, fuchia, black, dan silver berhasil menguatkan selera fashion seorang Angelica Wu, yang cocok dikenakan para remaja dan ibu-ibu muda untuk ke acara pesta. – Sri Ardhini

Angeliqa Wu


26 januari - 1 februari 2015

14

Jangan Lalaikan Rawat Alat Make Up

Secara umum perempuan senang berdandan. Apalagi bagi mereka yang aktivitasnya di bidang yang menutut menjaga penampilan, sudah pasti berdandan menjadi salah satu kegiatan yang me­sti dilakukan untuk selalu tampil cantik.

K

etika bicara urusan berdandan sudah pasti di sana ada peralatan make up yang diperlukan. Namun, persoalannya masih banyak perempuan lupa merawat alat- alat make up-nya. Padahal kebersihannya akan menunjang keamanan dan kesehatan kulit terutama pada alat-alat make up yang paling sering digunakan. Menurut Dewa Ayu Wedanaasih, S.Sn., dari Cahya Atsyuka Salon, yang ada di kawasan Jalan SMA Negeri 3, Denpasar, sebenarnya merawat alat make up itu tidaklah sulit. Hanya diperlukan sedikit waktu dan pengetahuan. Selanjutnya Desak begitu sapaannya menyebutkan beberapa peralatan mak eup yang paling sering digunakan sehari-hari yakni: lKuas foundation, dipakai untuk mengoleskan foundation atau alas bedak cair agar merata dengan baik di wajah. Bentuk­ nya seperti spons atau busa yang halus dan tidak keras. lPowder puff, digunakan mengoleskan bedak padat atau tabur. Selain itu powder puff juga sering dipakai menghapus sisa –sisa eyeshadow dan eyeliner. lKuas eyeshadow, ada yang berbentuk pipih dengan ujung tipis dan bulu-bulunya bertekstur lembut, biasa dipakai untuk mendapatkan efek riasan mata yang indah. Sedangkan yang ujungnya bulat dan agak lebih tebal juga dengan tekstur bulu yang lembut untuk mengahaluskan sapuan gradasi warnanya. lPenjepit bulu mata , adalah alat make up yang dipakai menjadikan bulu mata lebih lentik dan indah. lSikat bulu mata, bentuknya agak meling­kar, digunakan membersihkan maskara yang menggumpal pada bulu mata lKuas eyeliner, fungsinya memulaskan eyeliner serta warna di garis bulu mata serta dapat membantu merapikan alis. Untuk hasil terbaik disarankan memilih kuas yang bagian depannya datar dan tumpul. lKuas bibir, yaitu kuas yang lancip di bagian ujungnya, bagus untuk membentuk riasan bibir agar terlihat lebih indah, natural dan warnanya terpoles sempurna. lKuas blush on yang khusus digunakan untuk memulaskan blush on atau bronzer pada pipi. Ukurannya beragam, mulai dari yang kecil, medium hingga besar l Kuas concealer , untuk membantu menyempurnakan hasil riasan atau memulas area sekitar mata dan menyamarkan lingkaran hitam jika ada. lCotton swabs, bisa dipakai untuk perbaikan pada tata rias wajah. Menggunaknnya pun cukup mudah, yaitu dengan mencelupkan ujungnya pada krim atau toner wajah selanjutnya digunakan menghapus maskara yang keliru dioleskan. lCotton rounds, kapas yang empuk untuk membersihkan atau menghapus tata rias bagian mata. KERINGKAN SECARA ALAMI Semua alat tersebut, kata Desak memiliki fungsi yang berbeda namun kegunaannya sama yaitu untuk tata rias wajah. Semua alat make up ini sebaiknya dibersihkan dan dirawat secara rutin, minimal sebulan sekali. “Merawat kebersihan alat make up dilakukan bukan hanya untuk menjaga kesehtan kulit atau aman dari penyebaran kuman tapi juga menjadikannya awet. Bayangkan jika peralatan make up seperti spons bedak dan kuas blush on yang sering dipakai bahkan dalam waktu cukup lama tapi tidak pernah dibersihkan. Tentu kotoran yang menempel bukan hanya dari debu, tapi juga dari keringat bahkan dari sel kulit mati,” ujarnya. Ia menambahkan, ketika kotoran itu terus menempel, maka menjadi sangat mudah berpindah ke kulit kita. “Risikonya tentu bisa mengakibatkan hal-hal yang tidak baik untuk kulit. Apakah itu gatal, jerawat hingga penyakit kulit yang lainnya,” papar salah

seorang penata rias papan atas di Bali ini. Aplikator make up lainnya yang juga sering digunakan, seperti kuas bibir, kuas eyeliner atau eyeshadow untuk membersihkannya cukup menggunakan sedikit sabun lembut dan air. “Caranya mudah yaitu dengan meletakkan bahan pencuci di telapak tangan, lalu putar rambut kuas tidak perlu direndam. Ingat pegang gagangnya , sehingga hanya bulu kuasnya saja yang terkena air. Bilas hingga bersih, dan keringkan dengan kain yang lembut,” ucapnya sambil menambahkan kalau facial foam yang biasa digunakan untuk wajah, juga sampo bayi dengan kelembutan dan keamanannya juga baik untuk membersihkan peralatan make up. Berikutnya merawat kebersihan peralatan make up lainnya seperti spons, dilakukan dengan membasahi seluruh bagian dan cukup ditekan –tekan agar kotorannya bisa keluar. Setelah dirasa bersih, tidak ada sisa sabun yang tertinggal, baru kemudian dibilas dengan air bersih. “Saat mencuci di air bersih atau membilasnya akan lebih baik jika menggunakan air yang mengalir. Membersihkan di bawah kucuran air, membuat kotoran lebih mudah hilang termasuk bahan pembersihnya juga hilang bersama air yang mengalir,” uajr Desak. Jika kotorannya masih tersisa, hal tersebut

11

Tubektomi Kurangi Gairah Seksual? Bagi pasangan suami-istri yang menunda untuk memiliki anak biasanya menggunakan alat atau metode kontra­ sepsi. Alat atau metode ini bertujuan mencegah kehamil­ an yang prinsip dasarnya menghalangi bertemunya sperma dengan sel telur sehingga tidak terjadi pembuahan. Ada berbagai macam alat kontrasepsi yang bisa dipilih pasangan tersebut. Ada yang memakai metode pantang berkala dan senggama terputus, ada yang menggunakan metode hormonal (pil, suntik, dan susuk), ada yang menggunakan IUD dan kondom, serta ada yang memilih vasektomi, dan tubektomi.

D

dapat mengakibatkan hasil tata rias jadi tidak bagus jika alat make up dipakai lagi. Begitu juga yang masih basah selain menimbulkan bau tidak sedap juga mudah kena serangan jamur. Selain itu, lanjutnya jangan memakai alat pengering misalnya hair dryer, terutama untuk alat yang berupa kuas. Untuk proses pengeringannya selain dapat menggunakan kain yang lembut, juga dapat dengan diangin-anginkan di tempat terbuka, dengan catatan tidak boleh terkena sinar matahari secara langsung. “Sebab, proses pengeringan yang terlalu panas membuat alat tersebut menjadi kaku dan mudah rusak. Jadi harus bersabar hingga semua alat menjadi kering dengan cara yang alami,” tandasnya. – Sri Ardhini

Mitos

26 januari - 1 februari 2015

pilih­an alat atau metode kontrasepsi tersebut, pasang­ an suamiistri bisa me­milih

ari banyak­ nya

salah satunya. Seringkali, pemilihan hanya berdasarkan cerita yang didapat dari sekeliling. Beberapa mitos pun berkembang di masyarakat terkait alat atau metode kontrasepsi. Untuk memberikan pemahaman yang benar, dr. I Made Tangkas, Sp.OG, MPH menjelaskan beberapa hal terkait kontrasepsi. Mitos: Memakai IUD bisa menyebabkan komplikasi Fakta: Belum tentu. Semua alat kontrasepsi sebelum dijual ke publik sudah melalui tes dan uji coba. Alat kontrasepsi bukan masalah cocok atau tidak, tetapi masalah paham atau tidak tentang cara kerja alat ini. Kalaupun terjadi efek natural, itu tidak bisa dianggap sebagai komplikasi. IUD yang dipasang di dinding rahim berperan mengurangi kemampuan sperma yang lewat. Karena ditempatkan

Kirim surat Anda ke Redaksi Tokoh dan cantumkan “Sex Edu” di ­amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh. co.id. Rubrik ini diasuh Asosiasi ­Seksologi Indonesia (ASI) Denpasar.

di din­ding rahim, tentu memiliki efek natural berupa radang. Saat haid, darah pun menjadi keluar lebih banyak. Inilah yang dianggap sebagai komplikasi. Mitos: Suntik KB menyebabkan gemuk Fakta: Masing-masing orang memiliki berat badan yang berbeda. Suntikan tidak berkorelasi dengan kegemukan seseorang. Kalau terjadi penambahan berat badan, itu hal yang normal dan tergantung dari orang per orang. Bisa jadi karena ada faktor lain, misalnya pola makan dan jenis makanannya. Namun, bagi yang percaya suntik KB bisa membuat gemuk dan yang bersangkut­ an sedang berusaha untuk menggemukan badan, itu sah-sah saja. Mitos: telat melakukan suntik KB, tidak berisiko Fakta: Bagi yang memilih metode kontrasepsi suntik, haruslah disiplin dalam melakukan suntik. Kalau sudah jadwal, harus ditepati. Lebih baik maju dari jadwal daripada telat melakukan suntikan. Kalau kamu dari jadwal, level dalam darah masih tinggi sedangkan kalau mundur dari jadwal, sangat riskan dan berpeluang menyebabkan kehamilan. Metode kontrasepsi yang memerlukan disiplin tinggi ternyata angka kegagalannya makin tinggi. Misalnya, pil, kondom, dan metode alamiah. Kalau pasangan tidak disiplin untuk mengikuti jadwal atau petunjuk penggunaan, besar kemungkinan terjadinya proses pembuahan. Mitos: Metode vasektomi dan tubektomi paling sempurna Fakta: Jika proses vasektomi dan tubektomi dilakukan dengan benar, kecil kemungkinkan terjadi “ke­

–Ngurah Budi

Gatal Usai Berhubungan Seksual

“Dok, langsung saja. Belakangan ini tiap usai berhubungan seksual dengan istri, selalu saja alat kelamin saya menjadi gatal dan ada bintik-bintik merah. Istri saya juga mengalami hal yang sama yaitu rasa gatal di kelaminnya. Apa kira-kira penyebabnya ya dok?” (Mike,40) Tentu saja rasa gatal seperti ini akan mengganggu dan bisa jadi jika tidak dituntaskan akan ber­akibat juga dalam hubungan seksual berikutnya, yang secara fisik maupun psikis terdapat kemungkinan hambatan kenyamanan dalam melakukan hubungan seksual. Jadi, memang sebaiknya dikonsultasikan dan ditangani segera. Rasa gatal setelah berhubungan seksual memang bukan hal yang diharapkan dan tidak semestinya terjadi, karena hubungan seksual yang tuntas dan yang biasa terjadi adalah yang tidak memunculkan keluhan gatal seperti ini. Jadi, yang perlu diketahui berikutnya adalah apakah yang memunculkan rasa gatal ini, apalagi jika sebelumnya belum pernah terjadi. Beberapa kemungkinan yang mungkin terjadi adalah reaksi iritasi atau adanya infeksi, mengingat

bocoran”. Tetapi, jika ada yang salah atau proses pembuntuan saluran tidak sempurna, ada peluang terjadi kebocoran atau rekanalisasi. Salah satu cara yang dipakai dalam vasektomi adalah, setelah operasi, tetap harus menggunakan kondom hingga hasil tes pemerik­ saan menunjukkan sperma nol. Mitos: Metode tubektomi akan mengurangi gairah seksual Fakta: Salah. Pembuntuan saluran tidak berhubungan dengan terjadinya penurunan gairah seksual. Operasi pembuntuan tidak berhubungan dengan hormon esterogen yang dihasilkan indung telur. Operasi itu untuk menutup saluran indung telur. Gairah seksual lebih dipengaruhi oleh kerjasama antara otak, mata, dan hati serta suasana. Mitos: IUD boleh dibiarkan bertahun-tahun Fakta: Pada masa lalu, IUD memang bisa bertahan antara 7 hingga 12 tahun. Tetapi, kini dianjurkan melakukan penggantian tiap 5 tahun jika belum ada rencana untuk menambah anak. Durasi 5 tahun ini disesuaikan dengan kemampuan optimal dari alat yang dipasang di rahim. Dokter spesialis kandungan dan kebidanan yang praktik di RSIA Puri Bunda dan Apotek Pandu Medika ini menyarankan bagi pasangan yang memilih alat atau metode kontrasepsi, banyaklah berdiskusi dengan tenaga kesehatan. Jangan hanya mengandalkan informasi yang diperoleh dari sekeli­ ling. Banyak bertanya akan menambah pemahaman tentang mana alat atau metode kontrasepsi yang akan dipilih.

rasa gatal dialami oleh kedua pihak, suami dan istri. Kalau hanya satu pihak saja yang mengalami, bisa jadi itu adalah reaksi alergi, tetapi itu kemungkinan kecil terjadi dalam kasus ini. Ada baiknya diperhatikan juga apakah selama mengalami rasa gatal, istri ada menggunakan bahan kimia tertentu yang baru saja digunakan misalnya untuk kepentingan membasuh vagina. Jika ada, dan memang waktunya berhubungan dengan penggunaan bahan kimia dengan kejadian gatal, maka bisa diduga bahan kimia itu menimbulkan iritasi pada kedua pihak. Jadi, penggunaannya tentu saja harus

dihentikan dan silakan berkonsultasi dengan dokter untuk langkah selanjutnya. Juga, perlu diperhatikan, apakah selama mengalami rasa gatal, istri mengalami keputihan yang tidak seperti biasanya. Jika ada, bisa jadi penyebabnya adalah keputihan yang tidak normal atau patologis ini sebagai penyebabnya. Penyebab dari keputihan yang patologis ini bisa berupa parasit, bakteri, dan jamur. Yang dapat ditulari juga ke suaminya. Pada pihak perempuan, rasa gatal akan dikeluhkan, apalagi jika penyebabnya adalah jamur. Sementara jika penularan terjadi ke pihak pasangan, pada laki-laki akan mengalami keradangan, yang salah satunya bisa dilihat merah meradang di ujung penis juga, yang sering juga disertai dengan rasa gatal. Tetapi terlepas dari kemungkinan itu, untuk membuat keluh­ an dan penyakit menjadi jelas dan mendapatkan pengobatan yang tuntas, yang perlu dilakukan adalah memastikan penyebabnya yang pasti, dengan melakukan konsultasi dan pemeriksaan ke dokter, agar jika ternyata ada infeksi, segera bisa disembuhkan dan bukan malah menjadi masalah di kemudian hari.


12

Kuliner

26 januari - 1 Februari 2015

Roti Bakar Telur

Tampin Plain

Roti Bakar Cokelat

Menggunakan minyak kelapa asli atau biasa disebut lengis tandusan, dalam mengolah makanan, akan memberikan rasa yang sedap dan lezat. Apalagi, minyak tersebut digunakan dalam proses pembuatan makanan khas tradisional Bali.

Sarapan Sehat

ala Café Santai

“Sarapan menentukan kualitas aktivitas energi kita sepanjang hari.” Wacana ini kerapkali kita dengar, namun belum dipahami betul sebagian masyarakat. Realitanya justru tiap pagi orang antre beli pisang goreng, atau jenis gorengan lainnya, sebagai menu sarapan mereka.

E

Tipat Kuah Sayur

Bubur Kuah Ceker

sehat ala Café Santai yang bisa menjadi pilihan adalah bubur sayur ceker dan tipat kuah ceker (dilengkapi ayam nyatnyat, telur pindang, sayur urap, kuah ayam merah), burger santai, tampin special, dan tampin plain. Tersedia pula menu paket, seperti roti bakar telur+susu, burger santai+susu, tampin special+susu, dan aneka varian susu.

Paket Burger + Susu Paket Roti Bakar Cokelat + Susu

13

di Karangasem

Tampin Special

nak memang, jika pagi-pagi menyeruput secangkir teh atau kopi ditemani pisang goreng hangat. Namun, di balik enaknya rasa gorengan tersebut, ada bahaya mengintip kita. Kenapa? Karena dalam gorengan mengandung lemak trans yang berkolesterol tinggi. Belum lagi minyak yang dipakai menggoreng umumnya minyak bekas yang sudah dipakai berkali-kali hingga berwarna kehitaman. Perlu diketahui, dalam minyak bekas itu tedapat zat radikal bebas yang dapat berisiko terhadap kesehatan, yang bisa menimbulkan bermacam penyakit seperti metabolism kolesterol. Dan yang tak kalah berisikonya lagi, pembungkus gorengan yang kerap menggunakan koran atau majalah bekas. Bila tinta terkena panas atau mi­ nyak, maka tinta tersebut akan larut, dan jika tertelan akan menyebabkan akumulasi dalam jaringan tubuh. Hal inilah yang melatar belakangi Ayu Widiani, me­ ngenalkan menu sarapan sehat ala Café Santai. “Makan gorengan enak di mulut, tapi tak enak di badan. Karena itu, saya ingin mencoba menggiring masyarakat beralih ke menu sarapan sehat, yang enak dilidah dan enak juga di badan,” ujarnya. Beberapa menu sarapan

Nikmati Pesan Klengis

26 januari - 1 Februari 2015

Ayu berani memastikan makanan ini sehat karena proses dan tempat pembuatannya sangat memperhatikan kehigienisan. Se­perti, air yang dipakai untuk merebus sayur adalah air bersih yang siap minum. Dalam pandang­ an Ayu, jika yang dipakai merebus adalah air keran/ kotor, kotoran atau kuman yang ada dalam air dan sayur, akan tetap ber­ ada pada air tersebut dan kembali masuk ke sayur. Karena itu pula, di warungnya ini dilengkapi dengan mesin air isi ulang yang siap mengeluarkan air bersih dan sehat untuk diminum. “Bahan makanan dan peralatan makan seperti sendok-garpu, semua dalam keadaan tertutup agar tak sampai dihinggapi lalat atau kuman dan bakteri lainnya,” imbuh perempuan pekerja keras yang Paket Roti Bakar Telur+Susu

B

Burger Santai

selalu tampil energik ini. Dan yang paling terpen­ting adalah, menu sarapan ini hanya tersedia untuk makan pagi saja, menu makan siangnya beda lagi. Hal ini dikatakan Ayu, de­­mi menjaga makanan yang disajikan tetap dalam keadaan fresh. “Kami khusus menyajikan menu tersebut untuk makan pagi saja. Kalaupun sisa, bisa untuk makanan karyawan, tidak akan kami jual lagi untuk keesokan harinya. Kami tak melulu cari untung, yang penting makanannya fresh dan sehat,” tegas Ayu. Selalu menyantap makan­ an fresh ini dipelajarinya dari perilaku m a s ya ra k a t Jepang, dalam lawatannya bersama keluarga ke Negeri Sakura itu tahun lalu. Di sana, menu sarapan tak ada yang di­ goreng. Yang ada, proses pemasakannya dipanggang, itupun tak memakai arang tetapi listrik. Dan yang paling unik, tak ada istilah sisa makanan yang bisa dibungkus bawa pulang. “Jika kita di sini, kan sayang jika makan di restoran, sisa, terus dibuang. Biasanya sisa makan­ an itu kita bungkus untuk bisa dimakan nanti atau besoknya.

Di Jepang tidak boleh. Makanan yang dibuat harus langsung dimakan,” paparnya. Pengalaman itulah yang kemudian menginspirasi Ayu untuk mengenalkan menu sarapan sehat di Café Santai, enam bulan terakhir. Café Santai yang berdiri sejak 2004 di Jalan Raya Sesetan ini, juga memiliki cabang di Jalan Raya Tanah Lot dan di Tiara Dewata Food Centre ini. Selain menyediakan chinnese food dan menu Bali, juga menawarkan aneka es campur khas Taiwan yang cita rasanya pas dengan lidah orang Indonesia. “Sehat itu sederhana,

anyak orang yang memanfaatkan waktu luangnya untuk membuat minyak kelapa sendiri, karena endapan dari pembuatan minyak kelapa tersebut dapat dimanfaatkan sebagai lauk-pauk. Endapan ini biasa disebut klengis. Klengis biasanya diolah menjadi pesan atau pepes. Dalam satu kesempatan kunjungan ke Karangasem, Tokoh tak melewatkan kesempatan menikmati pesan klengis spesial buatan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Karangasem, Yudiantara. Lelaki yang menguasai keterampilan memasak makanan Bali ini, menuturkan, agar mendapatkan olahan klengis yang enak,

Udang Krispi Sarwan

Paket Tampin Special + Susu

Aneka Susu

Pesan Klengis

minyak tandusan harus diadukaduk, jangan sampai dia meluap dari wajannya. Karena membuatnya agak lama otomatis harga minyak tandusan lebih mahal,” katanya. Yudiantara mengatakan, kepiawaiannya memasak, bukan otodidak. Itu semua berkat belajar. Awalnya, karena tuntutan manyama-braya dan adat, lakilaki harus bisa mebat. Karena itu, dia akhirnya mencoba belajar. Setelah bisa, ia pun tak hanya mengikuti resep asli, ia mencoba berkreasi sesuai keinginannya. “Sesekali saya masak di luar kesibukan kantor, apalagi istri dan anak-anak suka sekali dengan masakan saya,” ujarnya sembari tertawa. –Wirati Astiti

Yudiantara

Mie Goreng Sayur Pedas

Roti Bakar Pisang Cokelat

cukup makan makanan yang tak mengan­dung bahan kimia, dan makan makanan yang direbus,” ujar Ayu. Jadi, apakah menu sarapan Anda hari ini sudah berkualitas? Mau sarapan sehat? Datang saja ke Café Santai, di Jalan Raya Sesetan No. 293 Denpasar. Telepon 0361-7440658, 7427678. -ten

sebaiknya, klengis dicicipi terlebih dahulu. Jika kurang manis, bisa ditambahkan gula merah. “Klengis identik dengan rasa agak asam, karena itu perlu ditambahkan gula merah agar rasa klengis setelah diolah menjadi pesan lebih enak,” ujar suami Putu Lastiawati ini. Setelah ditambahkan gula merah, klengis dikukus untuk membuat klengis menjadi lebih sedap dan higienis. Untuk bumbu, menggunakan bawang merah, bawang putih, dan jahe. Perbandingan bawang merah dan bawang putih 1: 10. Sementara jahe jumlahnya, ¼ dari jumlah bawang merah. Ada juga, garam, merica, terasi, dan cabai rawit sesuai selera. Ia menyarankan, garam, terasi, dan cabai rawit dihan-

curkan terlebih dahulu dengan tangan. Jangan menggunakan ulekan, agar rasa yang digunakan lebih mantap. Kemudian, tambahkan kecambah mentah, terong hijau, dan ikan teri. Aduk-aduk, agar menyatu. Terakhir, baru tambahkan klengis tadi. Tujuannya, agar semua bahan terasa di lidah saat dimakan. Kemudian bungkus pesan dengan daun pisang dan jangan terlalu keras atau padat, beri sedikit ruang, karena bungkusan pesan biasanya mengembang. Tujuannya, agar bungkusan tidak pecah. Setelah dikukus sampai matang, pesan klengis siap dinikmati. Selain memberi tips membuat klengis, Yudiantara juga memberikan trik membuat minyak tandusan. “Pilihlah kelapa tua agar mendapatkan santan yang banyak. Kemudian rebus santan ditambahkan muncuk daun pepaya muda. Tujuannya, agar aroma dan warna minyak menjadi kekuningan. Membuat

Bahan: 750 gr : udang ukuran besar atau sedang 300 gr : tepung kanji atau maizena 1 sdm : bawang butih halus 1 sdt : lada bubuk 1 sdm : saus raja rasa 2 butir : telur, ambil putihnya Gula, kaldu bubuk dan minyak goreng secukupnya

Cara Membuat: - Kupas kulit udang, sisakan kulit ekornya lalu belah punggung (jangan sampai putus/sampai lepas ekornya), lalu masukkan ke mangkok. Masukkan pula bawang putih halus, saus raja rasa, lada, garam dan kaldu bubuk, aduk-aduk hingga tercampur merata, diamkan selama 5 menit. - Aduk putih telur, celup-celupkan udang dalam putih telur

lalu guling-gulingkan di atas tepung hingga udang terbalut tepung (lakukan terus hingga udah habis). - Panaskan minyak hingga panas lalu masukkan udang ke minyak panas, goreng udang sampai matang kecokelatan lalu tiriskan. - Siap dihidangkan dengan saus sambal yang siap pakai.

Nasi Goreng Campur Bahan: 500 gr : 100 gr : ¼ buah : ¼ buah : 1 sdt : 3 sdm : 1 buah : 100 gr : 1 sdm :

nasi kacang polong kalang paprika merah, potong dadu kecil paprika kuning, iris dadu kecil lada bubuk saus tiram bawang bombay, iris dadu kecil daging ayam fille, potong dadu kecil minyak wijen

2 sdm : margarin Cara Membuat: - Panaskan minyak dalam wajan, lalu masukkan irisan bawang bombay hingga harum. - Masukkan irisan ayam, aduk hingga ayam matang lalu masukkan irisan paprika, aduk hingga tercampur merata, lalu masukkan semua sisa bahan bumbu dan aduk, masak hingga matang. - Siap untuk disajikan dengan taburan bawang putih goreng.

Bahan: 400 gr : mi kuning 1 buah : wortel, iris dadu kecil 50 gr : kecambah atau tauge 100 gr : irisan kol atau kubis 1 batang : daun pre, iris serong 1 buah : bawang bombai ukuran sedang, iris halus 15 buah : cabe rawit kecil, iris halus 1 sdt : lada halus 2 sdm : kecap manis 200 gr : ayam fille, potong dadu kecil 2 sdm : saus tiram Gula, garam, kaldu bubuk, minyak dan air secukupnya.

Cara Membuat: - Rendam mi dengan air panas hingga lunak lalu tiriskan. - Tumis bawang bombay hingga layu dan masukkan irisan bawang pre, masukkan pula potongan ayam, aduk-aduk merata hingga ayam dan irisan wortel matang, masukkan irisan cabe kecil dan mi, aduk perlahan hingga tercampur bumbu tumisan. - Tambahkan air dan masukkan saus tiram, kecap manis dan bahan-bahan lainnya lalu aduk aduk hingga bumbu meresap dan matang, tiriskan. - Siap dihidangkan dengan taburan bawang putih goreng.


12

Kuliner

26 januari - 1 Februari 2015

Roti Bakar Telur

Tampin Plain

Roti Bakar Cokelat

Menggunakan minyak kelapa asli atau biasa disebut lengis tandusan, dalam mengolah makanan, akan memberikan rasa yang sedap dan lezat. Apalagi, minyak tersebut digunakan dalam proses pembuatan makanan khas tradisional Bali.

Sarapan Sehat

ala Café Santai

“Sarapan menentukan kualitas aktivitas energi kita sepanjang hari.” Wacana ini kerapkali kita dengar, namun belum dipahami betul sebagian masyarakat. Realitanya justru tiap pagi orang antre beli pisang goreng, atau jenis gorengan lainnya, sebagai menu sarapan mereka.

E

Tipat Kuah Sayur

Bubur Kuah Ceker

sehat ala Café Santai yang bisa menjadi pilihan adalah bubur sayur ceker dan tipat kuah ceker (dilengkapi ayam nyatnyat, telur pindang, sayur urap, kuah ayam merah), burger santai, tampin special, dan tampin plain. Tersedia pula menu paket, seperti roti bakar telur+susu, burger santai+susu, tampin special+susu, dan aneka varian susu.

Paket Burger + Susu Paket Roti Bakar Cokelat + Susu

13

di Karangasem

Tampin Special

nak memang, jika pagi-pagi menyeruput secangkir teh atau kopi ditemani pisang goreng hangat. Namun, di balik enaknya rasa gorengan tersebut, ada bahaya mengintip kita. Kenapa? Karena dalam gorengan mengandung lemak trans yang berkolesterol tinggi. Belum lagi minyak yang dipakai menggoreng umumnya minyak bekas yang sudah dipakai berkali-kali hingga berwarna kehitaman. Perlu diketahui, dalam minyak bekas itu tedapat zat radikal bebas yang dapat berisiko terhadap kesehatan, yang bisa menimbulkan bermacam penyakit seperti metabolism kolesterol. Dan yang tak kalah berisikonya lagi, pembungkus gorengan yang kerap menggunakan koran atau majalah bekas. Bila tinta terkena panas atau mi­ nyak, maka tinta tersebut akan larut, dan jika tertelan akan menyebabkan akumulasi dalam jaringan tubuh. Hal inilah yang melatar belakangi Ayu Widiani, me­ ngenalkan menu sarapan sehat ala Café Santai. “Makan gorengan enak di mulut, tapi tak enak di badan. Karena itu, saya ingin mencoba menggiring masyarakat beralih ke menu sarapan sehat, yang enak dilidah dan enak juga di badan,” ujarnya. Beberapa menu sarapan

Nikmati Pesan Klengis

26 januari - 1 Februari 2015

Ayu berani memastikan makanan ini sehat karena proses dan tempat pembuatannya sangat memperhatikan kehigienisan. Se­perti, air yang dipakai untuk merebus sayur adalah air bersih yang siap minum. Dalam pandang­ an Ayu, jika yang dipakai merebus adalah air keran/ kotor, kotoran atau kuman yang ada dalam air dan sayur, akan tetap ber­ ada pada air tersebut dan kembali masuk ke sayur. Karena itu pula, di warungnya ini dilengkapi dengan mesin air isi ulang yang siap mengeluarkan air bersih dan sehat untuk diminum. “Bahan makanan dan peralatan makan seperti sendok-garpu, semua dalam keadaan tertutup agar tak sampai dihinggapi lalat atau kuman dan bakteri lainnya,” imbuh perempuan pekerja keras yang Paket Roti Bakar Telur+Susu

B

Burger Santai

selalu tampil energik ini. Dan yang paling terpen­ting adalah, menu sarapan ini hanya tersedia untuk makan pagi saja, menu makan siangnya beda lagi. Hal ini dikatakan Ayu, de­­mi menjaga makanan yang disajikan tetap dalam keadaan fresh. “Kami khusus menyajikan menu tersebut untuk makan pagi saja. Kalaupun sisa, bisa untuk makanan karyawan, tidak akan kami jual lagi untuk keesokan harinya. Kami tak melulu cari untung, yang penting makanannya fresh dan sehat,” tegas Ayu. Selalu menyantap makan­ an fresh ini dipelajarinya dari perilaku m a s ya ra k a t Jepang, dalam lawatannya bersama keluarga ke Negeri Sakura itu tahun lalu. Di sana, menu sarapan tak ada yang di­ goreng. Yang ada, proses pemasakannya dipanggang, itupun tak memakai arang tetapi listrik. Dan yang paling unik, tak ada istilah sisa makanan yang bisa dibungkus bawa pulang. “Jika kita di sini, kan sayang jika makan di restoran, sisa, terus dibuang. Biasanya sisa makan­ an itu kita bungkus untuk bisa dimakan nanti atau besoknya.

Di Jepang tidak boleh. Makanan yang dibuat harus langsung dimakan,” paparnya. Pengalaman itulah yang kemudian menginspirasi Ayu untuk mengenalkan menu sarapan sehat di Café Santai, enam bulan terakhir. Café Santai yang berdiri sejak 2004 di Jalan Raya Sesetan ini, juga memiliki cabang di Jalan Raya Tanah Lot dan di Tiara Dewata Food Centre ini. Selain menyediakan chinnese food dan menu Bali, juga menawarkan aneka es campur khas Taiwan yang cita rasanya pas dengan lidah orang Indonesia. “Sehat itu sederhana,

anyak orang yang memanfaatkan waktu luangnya untuk membuat minyak kelapa sendiri, karena endapan dari pembuatan minyak kelapa tersebut dapat dimanfaatkan sebagai lauk-pauk. Endapan ini biasa disebut klengis. Klengis biasanya diolah menjadi pesan atau pepes. Dalam satu kesempatan kunjungan ke Karangasem, Tokoh tak melewatkan kesempatan menikmati pesan klengis spesial buatan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Karangasem, Yudiantara. Lelaki yang menguasai keterampilan memasak makanan Bali ini, menuturkan, agar mendapatkan olahan klengis yang enak,

Udang Krispi Sarwan

Paket Tampin Special + Susu

Aneka Susu

Pesan Klengis

minyak tandusan harus diadukaduk, jangan sampai dia meluap dari wajannya. Karena membuatnya agak lama otomatis harga minyak tandusan lebih mahal,” katanya. Yudiantara mengatakan, kepiawaiannya memasak, bukan otodidak. Itu semua berkat belajar. Awalnya, karena tuntutan manyama-braya dan adat, lakilaki harus bisa mebat. Karena itu, dia akhirnya mencoba belajar. Setelah bisa, ia pun tak hanya mengikuti resep asli, ia mencoba berkreasi sesuai keinginannya. “Sesekali saya masak di luar kesibukan kantor, apalagi istri dan anak-anak suka sekali dengan masakan saya,” ujarnya sembari tertawa. –Wirati Astiti

Yudiantara

Mie Goreng Sayur Pedas

Roti Bakar Pisang Cokelat

cukup makan makanan yang tak mengan­dung bahan kimia, dan makan makanan yang direbus,” ujar Ayu. Jadi, apakah menu sarapan Anda hari ini sudah berkualitas? Mau sarapan sehat? Datang saja ke Café Santai, di Jalan Raya Sesetan No. 293 Denpasar. Telepon 0361-7440658, 7427678. -ten

sebaiknya, klengis dicicipi terlebih dahulu. Jika kurang manis, bisa ditambahkan gula merah. “Klengis identik dengan rasa agak asam, karena itu perlu ditambahkan gula merah agar rasa klengis setelah diolah menjadi pesan lebih enak,” ujar suami Putu Lastiawati ini. Setelah ditambahkan gula merah, klengis dikukus untuk membuat klengis menjadi lebih sedap dan higienis. Untuk bumbu, menggunakan bawang merah, bawang putih, dan jahe. Perbandingan bawang merah dan bawang putih 1: 10. Sementara jahe jumlahnya, ¼ dari jumlah bawang merah. Ada juga, garam, merica, terasi, dan cabai rawit sesuai selera. Ia menyarankan, garam, terasi, dan cabai rawit dihan-

curkan terlebih dahulu dengan tangan. Jangan menggunakan ulekan, agar rasa yang digunakan lebih mantap. Kemudian, tambahkan kecambah mentah, terong hijau, dan ikan teri. Aduk-aduk, agar menyatu. Terakhir, baru tambahkan klengis tadi. Tujuannya, agar semua bahan terasa di lidah saat dimakan. Kemudian bungkus pesan dengan daun pisang dan jangan terlalu keras atau padat, beri sedikit ruang, karena bungkusan pesan biasanya mengembang. Tujuannya, agar bungkusan tidak pecah. Setelah dikukus sampai matang, pesan klengis siap dinikmati. Selain memberi tips membuat klengis, Yudiantara juga memberikan trik membuat minyak tandusan. “Pilihlah kelapa tua agar mendapatkan santan yang banyak. Kemudian rebus santan ditambahkan muncuk daun pepaya muda. Tujuannya, agar aroma dan warna minyak menjadi kekuningan. Membuat

Bahan: 750 gr : udang ukuran besar atau sedang 300 gr : tepung kanji atau maizena 1 sdm : bawang butih halus 1 sdt : lada bubuk 1 sdm : saus raja rasa 2 butir : telur, ambil putihnya Gula, kaldu bubuk dan minyak goreng secukupnya

Cara Membuat: - Kupas kulit udang, sisakan kulit ekornya lalu belah punggung (jangan sampai putus/sampai lepas ekornya), lalu masukkan ke mangkok. Masukkan pula bawang putih halus, saus raja rasa, lada, garam dan kaldu bubuk, aduk-aduk hingga tercampur merata, diamkan selama 5 menit. - Aduk putih telur, celup-celupkan udang dalam putih telur

lalu guling-gulingkan di atas tepung hingga udang terbalut tepung (lakukan terus hingga udah habis). - Panaskan minyak hingga panas lalu masukkan udang ke minyak panas, goreng udang sampai matang kecokelatan lalu tiriskan. - Siap dihidangkan dengan saus sambal yang siap pakai.

Nasi Goreng Campur Bahan: 500 gr : 100 gr : ¼ buah : ¼ buah : 1 sdt : 3 sdm : 1 buah : 100 gr : 1 sdm :

nasi kacang polong kalang paprika merah, potong dadu kecil paprika kuning, iris dadu kecil lada bubuk saus tiram bawang bombay, iris dadu kecil daging ayam fille, potong dadu kecil minyak wijen

2 sdm : margarin Cara Membuat: - Panaskan minyak dalam wajan, lalu masukkan irisan bawang bombay hingga harum. - Masukkan irisan ayam, aduk hingga ayam matang lalu masukkan irisan paprika, aduk hingga tercampur merata, lalu masukkan semua sisa bahan bumbu dan aduk, masak hingga matang. - Siap untuk disajikan dengan taburan bawang putih goreng.

Bahan: 400 gr : mi kuning 1 buah : wortel, iris dadu kecil 50 gr : kecambah atau tauge 100 gr : irisan kol atau kubis 1 batang : daun pre, iris serong 1 buah : bawang bombai ukuran sedang, iris halus 15 buah : cabe rawit kecil, iris halus 1 sdt : lada halus 2 sdm : kecap manis 200 gr : ayam fille, potong dadu kecil 2 sdm : saus tiram Gula, garam, kaldu bubuk, minyak dan air secukupnya.

Cara Membuat: - Rendam mi dengan air panas hingga lunak lalu tiriskan. - Tumis bawang bombay hingga layu dan masukkan irisan bawang pre, masukkan pula potongan ayam, aduk-aduk merata hingga ayam dan irisan wortel matang, masukkan irisan cabe kecil dan mi, aduk perlahan hingga tercampur bumbu tumisan. - Tambahkan air dan masukkan saus tiram, kecap manis dan bahan-bahan lainnya lalu aduk aduk hingga bumbu meresap dan matang, tiriskan. - Siap dihidangkan dengan taburan bawang putih goreng.


26 januari - 1 februari 2015

14

Jangan Lalaikan Rawat Alat Make Up

Secara umum perempuan senang berdandan. Apalagi bagi mereka yang aktivitasnya di bidang yang menutut menjaga penampilan, sudah pasti berdandan menjadi salah satu kegiatan yang me­sti dilakukan untuk selalu tampil cantik.

K

etika bicara urusan berdandan sudah pasti di sana ada peralatan make up yang diperlukan. Namun, persoalannya masih banyak perempuan lupa merawat alat- alat make up-nya. Padahal kebersihannya akan menunjang keamanan dan kesehatan kulit terutama pada alat-alat make up yang paling sering digunakan. Menurut Dewa Ayu Wedanaasih, S.Sn., dari Cahya Atsyuka Salon, yang ada di kawasan Jalan SMA Negeri 3, Denpasar, sebenarnya merawat alat make up itu tidaklah sulit. Hanya diperlukan sedikit waktu dan pengetahuan. Selanjutnya Desak begitu sapaannya menyebutkan beberapa peralatan mak eup yang paling sering digunakan sehari-hari yakni: lKuas foundation, dipakai untuk mengoleskan foundation atau alas bedak cair agar merata dengan baik di wajah. Bentuk­ nya seperti spons atau busa yang halus dan tidak keras. lPowder puff, digunakan mengoleskan bedak padat atau tabur. Selain itu powder puff juga sering dipakai menghapus sisa –sisa eyeshadow dan eyeliner. lKuas eyeshadow, ada yang berbentuk pipih dengan ujung tipis dan bulu-bulunya bertekstur lembut, biasa dipakai untuk mendapatkan efek riasan mata yang indah. Sedangkan yang ujungnya bulat dan agak lebih tebal juga dengan tekstur bulu yang lembut untuk mengahaluskan sapuan gradasi warnanya. lPenjepit bulu mata , adalah alat make up yang dipakai menjadikan bulu mata lebih lentik dan indah. lSikat bulu mata, bentuknya agak meling­kar, digunakan membersihkan maskara yang menggumpal pada bulu mata lKuas eyeliner, fungsinya memulaskan eyeliner serta warna di garis bulu mata serta dapat membantu merapikan alis. Untuk hasil terbaik disarankan memilih kuas yang bagian depannya datar dan tumpul. lKuas bibir, yaitu kuas yang lancip di bagian ujungnya, bagus untuk membentuk riasan bibir agar terlihat lebih indah, natural dan warnanya terpoles sempurna. lKuas blush on yang khusus digunakan untuk memulaskan blush on atau bronzer pada pipi. Ukurannya beragam, mulai dari yang kecil, medium hingga besar l Kuas concealer , untuk membantu menyempurnakan hasil riasan atau memulas area sekitar mata dan menyamarkan lingkaran hitam jika ada. lCotton swabs, bisa dipakai untuk perbaikan pada tata rias wajah. Menggunaknnya pun cukup mudah, yaitu dengan mencelupkan ujungnya pada krim atau toner wajah selanjutnya digunakan menghapus maskara yang keliru dioleskan. lCotton rounds, kapas yang empuk untuk membersihkan atau menghapus tata rias bagian mata. KERINGKAN SECARA ALAMI Semua alat tersebut, kata Desak memiliki fungsi yang berbeda namun kegunaannya sama yaitu untuk tata rias wajah. Semua alat make up ini sebaiknya dibersihkan dan dirawat secara rutin, minimal sebulan sekali. “Merawat kebersihan alat make up dilakukan bukan hanya untuk menjaga kesehtan kulit atau aman dari penyebaran kuman tapi juga menjadikannya awet. Bayangkan jika peralatan make up seperti spons bedak dan kuas blush on yang sering dipakai bahkan dalam waktu cukup lama tapi tidak pernah dibersihkan. Tentu kotoran yang menempel bukan hanya dari debu, tapi juga dari keringat bahkan dari sel kulit mati,” ujarnya. Ia menambahkan, ketika kotoran itu terus menempel, maka menjadi sangat mudah berpindah ke kulit kita. “Risikonya tentu bisa mengakibatkan hal-hal yang tidak baik untuk kulit. Apakah itu gatal, jerawat hingga penyakit kulit yang lainnya,” papar salah

seorang penata rias papan atas di Bali ini. Aplikator make up lainnya yang juga sering digunakan, seperti kuas bibir, kuas eyeliner atau eyeshadow untuk membersihkannya cukup menggunakan sedikit sabun lembut dan air. “Caranya mudah yaitu dengan meletakkan bahan pencuci di telapak tangan, lalu putar rambut kuas tidak perlu direndam. Ingat pegang gagangnya , sehingga hanya bulu kuasnya saja yang terkena air. Bilas hingga bersih, dan keringkan dengan kain yang lembut,” ucapnya sambil menambahkan kalau facial foam yang biasa digunakan untuk wajah, juga sampo bayi dengan kelembutan dan keamanannya juga baik untuk membersihkan peralatan make up. Berikutnya merawat kebersihan peralatan make up lainnya seperti spons, dilakukan dengan membasahi seluruh bagian dan cukup ditekan –tekan agar kotorannya bisa keluar. Setelah dirasa bersih, tidak ada sisa sabun yang tertinggal, baru kemudian dibilas dengan air bersih. “Saat mencuci di air bersih atau membilasnya akan lebih baik jika menggunakan air yang mengalir. Membersihkan di bawah kucuran air, membuat kotoran lebih mudah hilang termasuk bahan pembersihnya juga hilang bersama air yang mengalir,” uajr Desak. Jika kotorannya masih tersisa, hal tersebut

11

Tubektomi Kurangi Gairah Seksual? Bagi pasangan suami-istri yang menunda untuk memiliki anak biasanya menggunakan alat atau metode kontra­ sepsi. Alat atau metode ini bertujuan mencegah kehamil­ an yang prinsip dasarnya menghalangi bertemunya sperma dengan sel telur sehingga tidak terjadi pembuahan. Ada berbagai macam alat kontrasepsi yang bisa dipilih pasangan tersebut. Ada yang memakai metode pantang berkala dan senggama terputus, ada yang menggunakan metode hormonal (pil, suntik, dan susuk), ada yang menggunakan IUD dan kondom, serta ada yang memilih vasektomi, dan tubektomi.

D

dapat mengakibatkan hasil tata rias jadi tidak bagus jika alat make up dipakai lagi. Begitu juga yang masih basah selain menimbulkan bau tidak sedap juga mudah kena serangan jamur. Selain itu, lanjutnya jangan memakai alat pengering misalnya hair dryer, terutama untuk alat yang berupa kuas. Untuk proses pengeringannya selain dapat menggunakan kain yang lembut, juga dapat dengan diangin-anginkan di tempat terbuka, dengan catatan tidak boleh terkena sinar matahari secara langsung. “Sebab, proses pengeringan yang terlalu panas membuat alat tersebut menjadi kaku dan mudah rusak. Jadi harus bersabar hingga semua alat menjadi kering dengan cara yang alami,” tandasnya. – Sri Ardhini

Mitos

26 januari - 1 februari 2015

pilih­an alat atau metode kontrasepsi tersebut, pasang­ an suamiistri bisa me­milih

ari banyak­ nya

salah satunya. Seringkali, pemilihan hanya berdasarkan cerita yang didapat dari sekeliling. Beberapa mitos pun berkembang di masyarakat terkait alat atau metode kontrasepsi. Untuk memberikan pemahaman yang benar, dr. I Made Tangkas, Sp.OG, MPH menjelaskan beberapa hal terkait kontrasepsi. Mitos: Memakai IUD bisa menyebabkan komplikasi Fakta: Belum tentu. Semua alat kontrasepsi sebelum dijual ke publik sudah melalui tes dan uji coba. Alat kontrasepsi bukan masalah cocok atau tidak, tetapi masalah paham atau tidak tentang cara kerja alat ini. Kalaupun terjadi efek natural, itu tidak bisa dianggap sebagai komplikasi. IUD yang dipasang di dinding rahim berperan mengurangi kemampuan sperma yang lewat. Karena ditempatkan

Kirim surat Anda ke Redaksi Tokoh dan cantumkan “Sex Edu” di ­amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh. co.id. Rubrik ini diasuh Asosiasi ­Seksologi Indonesia (ASI) Denpasar.

di din­ding rahim, tentu memiliki efek natural berupa radang. Saat haid, darah pun menjadi keluar lebih banyak. Inilah yang dianggap sebagai komplikasi. Mitos: Suntik KB menyebabkan gemuk Fakta: Masing-masing orang memiliki berat badan yang berbeda. Suntikan tidak berkorelasi dengan kegemukan seseorang. Kalau terjadi penambahan berat badan, itu hal yang normal dan tergantung dari orang per orang. Bisa jadi karena ada faktor lain, misalnya pola makan dan jenis makanannya. Namun, bagi yang percaya suntik KB bisa membuat gemuk dan yang bersangkut­ an sedang berusaha untuk menggemukan badan, itu sah-sah saja. Mitos: telat melakukan suntik KB, tidak berisiko Fakta: Bagi yang memilih metode kontrasepsi suntik, haruslah disiplin dalam melakukan suntik. Kalau sudah jadwal, harus ditepati. Lebih baik maju dari jadwal daripada telat melakukan suntikan. Kalau kamu dari jadwal, level dalam darah masih tinggi sedangkan kalau mundur dari jadwal, sangat riskan dan berpeluang menyebabkan kehamilan. Metode kontrasepsi yang memerlukan disiplin tinggi ternyata angka kegagalannya makin tinggi. Misalnya, pil, kondom, dan metode alamiah. Kalau pasangan tidak disiplin untuk mengikuti jadwal atau petunjuk penggunaan, besar kemungkinan terjadinya proses pembuahan. Mitos: Metode vasektomi dan tubektomi paling sempurna Fakta: Jika proses vasektomi dan tubektomi dilakukan dengan benar, kecil kemungkinkan terjadi “ke­

–Ngurah Budi

Gatal Usai Berhubungan Seksual

“Dok, langsung saja. Belakangan ini tiap usai berhubungan seksual dengan istri, selalu saja alat kelamin saya menjadi gatal dan ada bintik-bintik merah. Istri saya juga mengalami hal yang sama yaitu rasa gatal di kelaminnya. Apa kira-kira penyebabnya ya dok?” (Mike,40) Tentu saja rasa gatal seperti ini akan mengganggu dan bisa jadi jika tidak dituntaskan akan ber­akibat juga dalam hubungan seksual berikutnya, yang secara fisik maupun psikis terdapat kemungkinan hambatan kenyamanan dalam melakukan hubungan seksual. Jadi, memang sebaiknya dikonsultasikan dan ditangani segera. Rasa gatal setelah berhubungan seksual memang bukan hal yang diharapkan dan tidak semestinya terjadi, karena hubungan seksual yang tuntas dan yang biasa terjadi adalah yang tidak memunculkan keluhan gatal seperti ini. Jadi, yang perlu diketahui berikutnya adalah apakah yang memunculkan rasa gatal ini, apalagi jika sebelumnya belum pernah terjadi. Beberapa kemungkinan yang mungkin terjadi adalah reaksi iritasi atau adanya infeksi, mengingat

bocoran”. Tetapi, jika ada yang salah atau proses pembuntuan saluran tidak sempurna, ada peluang terjadi kebocoran atau rekanalisasi. Salah satu cara yang dipakai dalam vasektomi adalah, setelah operasi, tetap harus menggunakan kondom hingga hasil tes pemerik­ saan menunjukkan sperma nol. Mitos: Metode tubektomi akan mengurangi gairah seksual Fakta: Salah. Pembuntuan saluran tidak berhubungan dengan terjadinya penurunan gairah seksual. Operasi pembuntuan tidak berhubungan dengan hormon esterogen yang dihasilkan indung telur. Operasi itu untuk menutup saluran indung telur. Gairah seksual lebih dipengaruhi oleh kerjasama antara otak, mata, dan hati serta suasana. Mitos: IUD boleh dibiarkan bertahun-tahun Fakta: Pada masa lalu, IUD memang bisa bertahan antara 7 hingga 12 tahun. Tetapi, kini dianjurkan melakukan penggantian tiap 5 tahun jika belum ada rencana untuk menambah anak. Durasi 5 tahun ini disesuaikan dengan kemampuan optimal dari alat yang dipasang di rahim. Dokter spesialis kandungan dan kebidanan yang praktik di RSIA Puri Bunda dan Apotek Pandu Medika ini menyarankan bagi pasangan yang memilih alat atau metode kontrasepsi, banyaklah berdiskusi dengan tenaga kesehatan. Jangan hanya mengandalkan informasi yang diperoleh dari sekeli­ ling. Banyak bertanya akan menambah pemahaman tentang mana alat atau metode kontrasepsi yang akan dipilih.

rasa gatal dialami oleh kedua pihak, suami dan istri. Kalau hanya satu pihak saja yang mengalami, bisa jadi itu adalah reaksi alergi, tetapi itu kemungkinan kecil terjadi dalam kasus ini. Ada baiknya diperhatikan juga apakah selama mengalami rasa gatal, istri ada menggunakan bahan kimia tertentu yang baru saja digunakan misalnya untuk kepentingan membasuh vagina. Jika ada, dan memang waktunya berhubungan dengan penggunaan bahan kimia dengan kejadian gatal, maka bisa diduga bahan kimia itu menimbulkan iritasi pada kedua pihak. Jadi, penggunaannya tentu saja harus

dihentikan dan silakan berkonsultasi dengan dokter untuk langkah selanjutnya. Juga, perlu diperhatikan, apakah selama mengalami rasa gatal, istri mengalami keputihan yang tidak seperti biasanya. Jika ada, bisa jadi penyebabnya adalah keputihan yang tidak normal atau patologis ini sebagai penyebabnya. Penyebab dari keputihan yang patologis ini bisa berupa parasit, bakteri, dan jamur. Yang dapat ditulari juga ke suaminya. Pada pihak perempuan, rasa gatal akan dikeluhkan, apalagi jika penyebabnya adalah jamur. Sementara jika penularan terjadi ke pihak pasangan, pada laki-laki akan mengalami keradangan, yang salah satunya bisa dilihat merah meradang di ujung penis juga, yang sering juga disertai dengan rasa gatal. Tetapi terlepas dari kemungkinan itu, untuk membuat keluh­ an dan penyakit menjadi jelas dan mendapatkan pengobatan yang tuntas, yang perlu dilakukan adalah memastikan penyebabnya yang pasti, dengan melakukan konsultasi dan pemeriksaan ke dokter, agar jika ternyata ada infeksi, segera bisa disembuhkan dan bukan malah menjadi masalah di kemudian hari.


10

Bugar

26 januari - 1 Februari 2015

Pembusukan Jenazah di Air

Dua Kali lebih Lambat tetap ada, ada baiknya dilakukan pencegahan untuk menghindari penularan penyakit. Walaupun dalam pembahasannya, ada dua kubu atau pendapat yang pro-kontra.

Kecelakaan pesawat terbang AirAsia QZ 8501 menyisakan kepedihan. Beberapa jenazah penumpang ditemukan di permukaan laut Pangkalan Bun. Bagaimana mayat bisa mengapung dalam beberapa hari? Apa bedanya kematian manusia di darat dan di dalam air?

S

taf Bagian/SMF/ I n s t a l a s i Ke d o k teran Forensik FK Unud/RS Sanglah dr. Hengky, Sp.F., M.Bth., FACLM., menjelaskan penyebabnya. “Jenazah yang ditemukan di dalam air memiliki perbedaan kondisi dengan yang ditemukan di darat. Jenazah yang di dalam air akan banyak mendapat pengaruh kimia termasuk elektrolit yang dapat mempengaruhi dan memodifikasi perubahan terhadap jenazah tersebut. Umumnya jenazah yang lama terendam di dalam air, proses pembusukannya akan menjadi lebih lambat dibandingkan dengan jenazah di darat,” ujarnya. Ia mengatakan, umumnya, pembusukan jenazah di dalam air dua kali lebih lambat dari jenazah yang di darat. “Kalau jenazah dalam kurun waktu 1-2 hari sudah membusuk, jenazah yang di dalam air akan mengalami pembusukan 3 sampai 5 hari,” jelasnya. Awalnya, setelah pesawat jatuh ke air, tubuh penumpang tenggelam ke dasar laut. Setelah tiga sampai lima hari jenazah muncul ke permukaan air karena sudah terbentuk gas pembusukan. Setelah membusuk terbentuk gas pembusukan, dimana berat jenisnya lebih rendah dari berat jenis air laut sehingga menyebabkan badan jenazah mengapung. Setelah lima hari ada binatang air yang memakan, sehingga gasnya makin berkurang dan jenazah kembali tenggelam ke dasar laut. Proses pembusukan terus berlangsung dan jaringan lunak jenazah habis dimakan binatang laut sehingga nanti tersisa hanya tulang. Begitulah proses pembusukan jenazah di dalam air. Proses pembusukan jenazah memerlukan waktu. Berdasarkan teori, banyak pengaruhnya, terutama iklim. Misalnya, iklim di Indonesia yang tropis mengakibatkan pembusukan jenazah rata-rata berlangsung 24 jam. Di beberapa negara yang iklimnya lebih dingin proses pembusukan jenazah akan berlangsung lebih lama. Begitu juga, di dalam air, yang kondisinya lebih dingin, sehingga pembusukan jenazah akan berlangsung lebih lama.

PENULARAN PENYAKIT Apakah pembusukan jenazah di dalam air dapat menyebabkan infeksi dan berisiko menularkan penyakit? Menurut dr. Hengky, beberapa bukti ilmiah belum bisa disimpulkan karena sulit melakukan penelitian terbentur etika dan budaya. Umumnya, mendekati keluarga yang sedang berduka, untuk penelitian secara sponstan ditolak. “Itu kesulitan kami di bagian forensik untuk melakukan penelitian terhadap pertanyaan seperti itu,” kata dr. Hengky. Namun, ia mendapat literatur, ada dua argumen, pendapat pertama mengatakan, tidak ada masalah. Logikanya, orang yang sudah meninggal apalagi sudah membusuk, selnya sudah mati sehingga tidak mungkin bakteri atau virus bisa hidup. Jenazah itu tidak akan lebih menular dari dengan orang yang masih hidup. Tetapi, pembuktian tersebut tidak bisa dikatakan valid, karena sampel yang diteliti sedikit. Pendapat lain mengatakan, virus bisa menular karena ada penelitian pada jenazah di darat, mereka bisa menularkan virus HIV hingga 16 hari, tapi dengan suhu 2 derajat Celcius. Suhu

dr. Hengky, Sp.F., M.Bth., FACLM.

rendah yang mengakibatkan sel-nya bertahan lebih lama. Bagaimana dengan virus lainya, seperti virus hepatitis belum ada penelitian, tapi sudah ada penularan terhadap petugas kamar jenazah. Bagaimana dengan bakteri lainnya? Jika dalam proses pembusukan berlangsung ditemukan bakteri anaerob, ada perantara, lingkungan dalam hal ini misalnya air, bisa saja tercemar. Begitu juga, virus TBC bisa menyebabkan infeksi pada pekerja kamar jenazah. Umumnya, jenazah ditutup setiap lubangnya, lubang hidung, mulut, telinga, dan kemaluan perempuan dengan kapas untuk menghindari pencemaran lewat udara. Ia menyatakan, walaupun belum ada penelitian, risiko itu

KEMATIAN SELULER Secara umum, berdasarkan teori, kematian seluler rata-rata terjadi 4 jam setelah dinyatakan meninggal. Seharusnya setelah 4 jam bakteri tersebut tidak mempunyai sel lagi untuk hidup. Logikanya, bakteri tidak mendapatkan tempat untuk hidup. Tetapi, setelah mengalami pembusukan, kemungkinan muncul bakteri lainnya. Apakah menginfeksi atau tidak, ini masih pro-kontra. Untuk lebih amannya, biasanya, setelah kematian seluler, barulah sebaiknya dilakukan tindakan kepada jenazah. “Sama halnya dengan kasus hukuman mati. Perlu dokter untuk memastikan kematiannya. Jadi, tidak sembarangan memastikan kematian, perlu waktu, bisa mudah atau sulit. Kalau seandainya ada penyakit atau kelainan, proses kematian tersebut memerlukan waktu untuk memastikan kematiannya,” jelas dr. Hengky. Sebisa mungkin jenazah ditangani petugas medis, karena

mereka sudah mengetahui, bagaimana memperlakukan jenazah. Saat keluar dari rumah sakit jenazah sudah cukup aman kembali ke keluarganya atau masyarakat dan lingkungannya. Untuk menjaga penularan penyakit dari jenazah, ia menyarankan, selalu mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan jenazah. Usahakan menggunakan sarung tangan dan masker dalam menangani jenazah. – Wirati Astiti

“Kalau jenazah dalam kurun waktu 1-2 hari sudah membusuk, jenazah yang di dalam air akan mengalami pembusukan 3 sampai 5 hari”

Style

Feminin dan

26 januari - 1 Februari 2015

Pilihan Style Tokoh pekan ini adalah racangan dari Angeliqa Wu yang bertemakan “Nu Hope”. Koleksi yang mewakili penyuka penampilan feminin dan girly ini dihadirkan dalam acara “Fashion Tendance 2015” di TS Suites Leuiser Hotel, Semi­nyak beberapa waktu lalu.

I

nspirasinya tergo long unik. Anggota APPMi Bali ini rupanya tertarik pada kehidupan jamur yang memiliki daya tahan menakjubkan dan mampu beradaptasi dengan sekitarnya. Seperti juga dalam kehidupan selalu ada harapan baru untuk bertahan hidup di masa mendatang. Pada deretan karyanya ini Angeliqa Wu mengambil detil desain busana dari struktur dan bentuk dari jamur, yakni bulat , berlipat dan bertumpuk-tumpuk yang semakin menguatkan

15

Girly

karakter girly-nya. Anggota APPMI Bali ini juga tak ke­ tinggalan menghadirkan waris­ an budaya , endek menjadi bagian dari rancangannya. Selain feminin – girly, kesan simpel namun elegan pun terlihat dengan disatukannya bahan seperti sifon, satin, tile dan brokat. Begitu juga variasi warna seperti pink, peach, fuchia, black, dan silver berhasil menguatkan selera fashion seorang Angelica Wu, yang cocok dikenakan para remaja dan ibu-ibu muda untuk ke acara pesta. – Sri Ardhini

Angeliqa Wu


Edukasi

16

26 Januari - 1 februari 2015

Blue Print

S

eharusnya Indonesia sudah memiliki blue print sistem pen­ didikan nasional, se­ hingga tak lagi “ganti menteri ganti kebijakan”. Jika sudah ada blue print, arah tujuan pendidikan sudah jelas, tinggal dilanjutkan saja oleh menteri-menteri beri­ kutnya. “Misalkan menteri satu menerapkan tema satu, menteri kedua melanjutkan tema dua,

Daerah Bali selat­ an memang banyak menawarkan tem­ pat rekreasi yang menarik. Anda bisa me­ngunjungi Pantai Dreamland, Pantai Blue Point, Pantai Padang-padang, dan Garuda Wisnu Ken­ cana. Selain beberapa tempat rekreasi ter­ sebut, Anda juga dapat memilih bere­ kreasi ke kawasan hutan Mangrove.

H

utan Mangrove atau bisa juga disebut hutan bakau merupa­ kan daerah konservatif yang bertujuan untuk menahan gelombang air laut yang masuk ke daratan. Hutan Mangrove Bali berlokasi di jalan By Pass Ngurah Rai Kuta, sekitar 100 meter dari simpang Dewa Ruci. Letak hutan ini sangat dekat dengan Bandara Ngurah Rai. Lokasi hutan mangrove Bali berada di jalur keramaian yang setiap harinya dipenuhi dengan kebisingan lalu lintas dan polusi

dan seterusnya. Sehingga, ributribut tentang kurikulum tak perlu ada,”ujar Ketua Dewan Pen­ didikan Denpasar ini. Perubahan kurikulum itu dini­ lainya wajar. Karena, minimal da­ lam lima tahun itu harus ada kajian tentang kurikulum, apakah ten­ tang kedalaman materi, metode, dan sebagainya yang disesuaikan dengan perkembangan ilmu pasti, sosial, dan budaya. Menurutnya, guru profesional mau tak mau

harus berubah untuk menuju blue print tersebut. “Berubah untuk pendidikan yang lebih baik. Jika siap berubah, awalnya pasti berat untuk mencapainya,” tegas Rumawan Salain. Lebih lanjut ia menjelaskan, dalam blue print itu, salah satu yang disiasati adalah sistem pen­ didikan dengan melihat kon­ disi geografi Indonesia. Indonesia memiliki laut yang luas. Jadi, yang dikembangkan adalah pendidikan di bidang kelautan, buat sekolah kelautan. Segala sarana prasana dilengkapi, sehingga nantinya Indonesia benar-benar memiliki SDM yang andal di bidang ini, untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. “Jika di Indonesia pertaniannya maju, buat se­ kolah pertanian. Demikian halnya bidang lain seperti kehutanan atau TI (teknologi informasi),” lanjutnya. Ia mencontohkan, TI yang berkembang sangat pesat. Na­ mun, seberapa jauh TI ini bisa masuk dalam pendidikan? “Kita belum bisa membuat, terus mem­ beli saja. Dengan TI ini seharusnya kita mampu memenuhi kebutuh­ an untuk dalam negeri dulu dan untuk di pendidikan. Siapkan SDM

Dr. Rumawan Salain, M.Si.

dalam negeri dulu, sehingga kita tak terus tergantung pada negara lain. Harus ada base on competition local. Selama ini kita hanya bermain di wacana saja, seperti wajib belajar 12 tahun dan rasio SMA:SMK 40%:60%,” tegas Rumawan. Sejak kemaritiman di bawah kendali Menteri Susi, ia melihat Indonesia sepertinya baru ter­ sadar bahwa kemaritiman kita sangat menjanjikan. Hal yang sama juga semestinya dilakukan di bidang pertanian, kehutanan, TI, dll. Indonesia bisa bercer­

min pada sistem pendidikan di Jepang, yang disesuaikan dengan kebutuhan dalam negerinya. Dari semua itu, blue print pendidikan tetap terbingkai dalam budaya luhur dari Sabang sampai Me­ rauke. Itu sebabnya Indonesia memiliki corak pendidikan yang beragam. Rumawan Salain kembali menyoroti pelaksanaan UN yang selama ini hanya untuk peringkat sekolah. Peringkat ini pun dikatakannya seharus­ nya mengacu pada blue print. Substansi yang harus ada yang berdasarkan tujuan pendidikan nasional, mencerdaskan kehidup­ an bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya. Yakni, manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Pendidikan nasional, pendidikan yang be­ rakar pada kebudayaan bangsa Indonesia dan berdasarkan pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. –Inten Indrawati

Menikmati Suasana Hutan Mangrove dari Menara Pandang

Menara pandang di hutan mangrove

udara. Dengan adanya banyak pohon di hutan bakau, dapat me­ ngurangi polusi udara di kawasan dekat hutan bakau tersebut. Dengan tiket Rp 5.000 per orang, kita bisa menikmati sua­ sana hutan mangrove dengan menyusuri jembatan kayu yang memiliki panjang 2 km. Anda juga bisa mengelilingi hutan mangrove dengan menyewa perahu yang

telah disiapkan oleh pengelola hutan mangrove. Terdapat juga menara pandang untuk melihat hutan mangrove dari keting­ gian. Hijaunya pepohonan man­ grove menjadi daya tarik tersendiri untuk menjadikan­ nya sebagai tempat rekreasi. Ada juga yang memilih hutan mangrove sebagai tempat un­

Jembatan kayu di hutan mangrove

tuk foto prewedding. “Saya memilih hutan mangrove un­ tuk lokasi pemotretan, karena hutan mangrove menawarkan pemandangan yang sangat indah. Selain itu, kita juga bisa mem­ promosikan hutan mangrove melalui foto agar masyarakat turut menjaga keindahan dan keasrian hutan mangrove,” ujar Bram, seorang pengunjung yang

Dara

9

Ni Nyoman Sintya Agniswari Anasta Putri

Perjelas Tujuan Pendidikan Ganti pemimpin, ganti kebijakan. Hal ini sepertinya lumrah terjadi di segala lini, tak terkecuali di bidang pendidikan. “Tiap pemimpin me­ ngeluarkan kebijakan sesuai ‘rasa’ me­reka masing-masing. Saya kha­ watir Indonesia belum mempunyai blue print atau perencanaan yang jelas tentang sistem pendidikan nasonal,”ujar pengamat pendidikan Dr. Ir. Rumawan Salain, M.Si.

26 januari - 1 februari 2015

mencintai dunia fotografi ini. Upaya menjaga lingkungan hutan mangrove tetap alami sangat penting. Caranya de­ ngan tidak merusak lingkungan yang termasuk kawasan peles­ tarian ini dan tidak membuang sampah plastik ke kawasan hutan mangrove karena dapat merusak ekosistem yang ada di dalamnya. -Ary

Terapi Berbuah Prestasi TAK banyak orang yang mampu menjadikan kekurangan itu sebuah kelebihan. Justru sebaliknya yang terjadi. Masih banyak orang yang melihat kekurangan itu hambatan besar untuk meraih sebuah prestasi. Namun, beda dengan Sintya. Dara kelahiran Denpasar, 22 Maret 1998 ini sukses menjadikan kekurangan yang dimiliki menjadi sebuah prestasi ber­label internasional.

P

emilik nama lengkap Ni Nyo­ man Sintya Agniswari Anasta Putri ini berprestasi di olahraga renang. Proses panjang pun te­ lah dilalui untuk mendapatkan prestasi seperti saat ini. Olahraga renang yang telah ditekuni sejak duduk di bangku kelas III SD, diawali nyaris tanpa target. Bungsu tiga bersaudara buah hati pasangan Ir. I Kd. Anom AstabrataNi Ketut Rai Supradewi ini, ketika itu pulang sekolah nyaris tak ada kegiatan. Waktu lebih banyak di depan TV maupun kegiatan ber­ main lainnya. Orangtuanya pun menawarkan Sintya untuk renang. Alasannya selain tak ada kegiatan yang dilakukan dengan sisa waktu pulang sekolah yang cukup banyak, lagi pula mengikuti anjuran dokter untuk renang. Ada pembengkokan tulang yang dibawa Sintya sejak lahir. Sintya pun dengan senang hati mengikuti ajakan orangtuanya. Lama-kelamaan Sintya merasakan jika renang itu menyenangkan dan mengasyikkan. Dia pun sangat rajin latihan, walaupun dengan jarak tempuh Celuk-Denpasar. Ketika duduk di kelas V SD Cipta Dharma, Denpasar, dara berkacamata ini diikutsertakan kejuaraan oleh Swimming Club Bali Pari, tempatnya bernaung. Pertimbangannya semata-mata un­ tuk mendapatkan pengalaman. “Saya merasa deg-degan karena pertamakalinya ikut lomba. Saya berusaha tanpa beban, di luar dugaan meskipun pertamakali ikut lomba, pulangnya bawa medali perunggu. Sampai saat ini medali itu salah satu medali yang paling bersejarah dalam aktivitas renang saya,’’ ujarnya sambil tersenyum. Sintya yang saat ini tercatat se­ bagai siswa kelas XI MIPA 2 SMAN 3 Denpasar, makin termotivasi un­ tuk ikut lomba. Dia pun mengingat pesan orangtua maupun pelatihnya, jika kemenangan itu tidak turun begitu saja dari langit. Kemenang­ an itu hanya didapat oleh mereka yang mau bekerja keras dan berlatih dengan sungguh-sungguh. Jika pada awal-awal ikut kejuaraan re­ nang Sintya turun di gaya dada 50 meter, akibat pernah mengalami cedera, Sintya pun akhirnya turun di gaya bebas. Per­ nah mengalami cedera ketika latihan, sama sekali tak membuat Sintya kapok dan ingin mening­ galkan renang yang telah membuat­ nya sehat dan ber­ prestasi. Malahan, dia pun pelan-pelan sudah memiliki target ketika turun di sebuah kejuaraan. Tak mengherankan jika lebih dari 100 medali telah dikoleksi dan tersimpan rapi di rumahnya. Dari ratusan medali yang telah diraih, ada beberapa yang sangat mengesankan bagi Sintya. Diantaranya

ketika meraih juara pertama nasional antarper­ kumpulan seluruh Indonesia (KRAPSI) 2014 lalu. Menduduki posisi kedua nasional PON Remaja di Surabaya, sukses meraih medali emas pada nomor 100 meter gaya bebas. Di ajang bergengsi Porprov Bali tahun 2013 lalu, Sintya juga sukses mendapatkan medali emas nomor 200 gaya bebas. ‘’Prestasi terakhir saya menyabet medali emas 50 meter gaya bebas KU 1 putri KRAPSI 2014 lalu,’’ ujar dara yang memiliki moto hidup keep swimming ini. Ditanya pengalaman yang paling berkesan selama menggeluti aktivitas renang, Sintya pun menceritakan ketika pertamakali ikut kejuaraan di tingkat nasional di Jakarta tahun 2009 lalu. Ketika itu dia duduk di bangku kelas VI SD. Setelah melewati beberapa kali seleksi, Sintya lolos masuk tim renang Bali. Menariknya, Sintya satu-satunya wanita dan paling kecil diantara perenang lainnya. Walaupun perem­ puan sendiri dan paling kecil, Sintya pulang kembali ke Bali membawa medali perunggu. Sintya turun di nomor 100 meter gaya dada KU IV putri. BIASA ULANGAN SUSULAN Bagi adik kesayangan dari Ni Putu Ratih Pradnyasuari Anasta Putri dan Ni Made Wu­ lan Widyasuari Anasta Putri ini, untuk meraih sebuah prestasi itu banyak tantangan. Tak hanya dari dalam diri sendiri, juga hambatan dari luar. Jika teman-teman sebayanya asyik dengan acaranya masing-masing, pagi-pagi benar dia sudah harus bangun dan bersiapsiap untuk latihan. Beruntung pagi-pagi jarak tempuh Celuk-Denpasar cukup lancar, sehingga tidak terjabak macet. Seusai latihan harus sekolah, pulangnya ikut les pelajaran, dan sore wajib latihan lagi. Bahkan jika menjelang ikut kejuaraan waktu, tenaga dan perhatian benar-benar tersita un­ tuk latihan. Tekad kuat Sintya untuk tetap sukses di renang maupun pela­ jaran, membuatnya harus mengejar keter­tinggalan dalam pelajaran. Lantaran tak bisa optimal memgikuti penjelasan guru, tak jarang Sintya banyak belajar dari teman-temannya. Mengikuti ulang­ an susulan mungkin hal yang biasa bagi Sintya. Tak jarang pula Sintya harus mengikuti ulangan susulan di ruang guru. ‘’Awal-awal sempat sedih juga. Lama-kelamaan akhir­ nya menjadi terbiasa. Tapi saya berusaha agar keduanya sama-sama bisa jalan,’’ katanya se­ mangat. Sintya yang meng­ idolakan Siman, pere­ nang Bali yang sukses mendulang prestasi internasional, merasa­ kan benar jika seorang

Sintya diapit guru olah raga dan wali kelasnya.

perenang itu ada target dalam latihan. Teru­ tama peningkatan waktu. Jika hal itu tidak berhasil dilakukan, kecil kemungkinan akan mampu mempertahankan prestasinya. Hanya saja untuk bisa seperti itu, harus latihan sekuat tenaga. Stamina dan kesehatan fisik tak mungkin terabaikan. Sintya mengajak remaja Bali khususnya untuk tidak bermalas-malasan. “Tiap orang memiliki talenta maupun bakat yang harus terus digali. Jangan melihat kekurangan itu menjadi hambatan untuk berprestasi. Sebaliknya, di balik kekurangan itu ter­ simpan kelebihan yang harus terus digali,“

tegasnya. Sukses mencatatkan dirinya sebagai salah satu perenang perempuan Bali yang telah menunjukkan prestasi internasional, Sintya punya cita-cita ingin menjadi dokter. Ada panggilan nurani, ingin berada di tengahtengah masyarakat, membantu mereka di bidang kesehatan. Bagaimana pun kesehatan itu modal utama untuk berbuat maupun melakukan sesuatu. Keluarga yang sehat modal utama mewujudkan keluarga bahagia. Demikian juga dengan masyarakat maupun bangsa yang sehat, akan menjadikan negara kuat dan sukses dalam pembangunan. -Yoga


Bunda & Ananda

8

26 januari - 1 Februari 2015

Jangan Sembarangan Menyusui

Manfaatkan Pojok ASI Inisiasi Menyusui Dini (IMD) harus dilakukan sesegera mungkin setelah bayi lahir. Aktivitas ini bertujuan mengenalkan bayi dengan puting susu ibunya. “Begitu bayi lahir, tunda injeksi dulu. Bersihkan bayi kecuali bagian tangannya. Tangan yang berbau ketuban ini akan mengantarkan bayi ke puting susu ibunya. Di sekitar puting susu ada kelenjar yang menyerupai air ketuban. Tempatkan bayi di atas perut ibunya, biarkan dia merangkak menggapai puting susu ibunya. Jangan dibantu. Ini proses alamiah,” jelas dr. A.A. Ngurah Prayoga, Sp.A.

S

etelah proses IMD ini dilakukan, perawatan ibu dan bayi bisa dilakukan seperti biasa. Sebaiknya ibu dan bayi ditempatkan bersama. “Prinsip dalam pemberian ASI, makin cepat makin baik, makin sering makin lancar. Isapan bayi ini akan merangsang produksi ASI,” tegas dokter anak RSIA Puri Bunda Denpasar ini. Mengenai posisi menyusui, dr. Prayoga mengatakan posisi harus benar. Puting susu harus masuk semuanya ke mulut bayi. Jika hanya di ujungnya, itu akan menyebabkan puting mudah lecet dan bayi tidak dapat mengisap dengan baik. Bayi pun menjadi rewel karena hanya mendapatkan sedikit ASI. “Tempatkan bayi sedemikian rupa agar menempel dengan ketat. Dagu bayi melekat di payudara ibunya. Kalau posisi sudah baik dan bayi mengisap dengan baik, hasilnya pasti bagus. Lakukan pemberian ASI eksklusif ini selama enam bulan. Pemberian air putih tidak perlu kalau pemberian ASI lancar,” tandasnya. Dokter Prayoga menambahkan ASI dapat diberikan sampai buah hati berusia dua tahun bahkan lebih. Tetapi, anjuran pemerintah, ASI eksklusif selama enam bulan. Setelah itu berikan makanan pendamping ASI. Satu hal yang penting dan selalu diingat adalah kualitas ASI itu yang terbaik. Tidak ada ASI yang encer atau yang kental. Komposisinya yang terbaik untuk nutrisi bayi

AA Ngurah Yuliartha

dan tidak ada ASI basi. Produksi ASI juga banyak bahkan ada ibu yang memiliki anak kembar dua bisa memberikan ASI eksklusif selama enam bulan. POJOK ASI Bagi ibu yang sedang menyusui, tak perlu risau jika ingin berjalan-jalan bersama bayi. Kini beberapa fasilitas ruang menyusui sudah tersedia. Memperhatikan kenyamanan pengunjung khususnya ibu yang menyusui bisa meningkatkan kunjungan ke tempat-tempat perbelanjaan. Tak hanya pasar modern yang sudah menyiapkan fasilitas ini. Pasar tradisional pun sudah sudah ada yang memiliki Pojok ASI. Sebuah ruangan di lantai 1 Pasar Badung memiliki tempat tidur, kursi, meja, dan dilengkapi

AC. Ruang ini berdinding kaca dan di pintu depannya bertuliskan “Ruang Pojok ASI”. Beberapa poster bertema kesehatan juga tertempel di kaca. “Ruang ini biasa dipakai pengunjung yang mengajak anaknya untuk istirahat. Ada juga pedagang yang memiliki bayi, memanfaatkan ruangan ini untuk menyusui,” ujar seorang tukang suun di Pasar Badung yang duduk di depan ruang Pojok ASI. Fasilitas ini sudah disediakan sejak tiga tahun silam. Ini merupakan bagian dari upaya Kota Denpasar untuk mewujudkan Kota Layak Anak. Salah satunya dengan memperhatikan pemenuhan hak dan perlindungan anak. Bayi yang sedang dalam masa menyusui pun menjadi target. Jangan sampai mereka tak mendapatkan ASI karena ibunya sibuk bekerja. Menurut Kepala Unit Pasar Badung AA Kartika, S.H., ruang Pojok ASI disiapkan bagi peda-

dr. A.A. Ngurah Prayoga, Sp.A.

Trans Retail Indonesia sudah menyiapkan fasilitas ruang ASI bagi pengunjung. “80% konsumen kami adalah wanita, jadi kami berusaha memberikan yang terbaik untuk konsumen, salah satu ruang ASI,” kata pria yang juga Penasihat Asosiasi Perusahaan Sahabat Anak Indonesia (APSAI) Pusat ini. –Ngurah Budi

Ilustrasi ibu menyusui

Mendongeng Lima Menit

Pondok Kecil Seorang Petani

Made Taro

Ruang pojok ASI di Pasar Badung

gang dan pengunjung yang mengajak bayi. “Jangan sampai ibu-ibu menyusui di sembarang tempat. Kami suah siapkan ruangan yang representatif,” tegasnya. Kartika yang didampingi Kepala Bagian Pengawasan PD Pasar Kota Denpasar AA Ngurah Yuliartha menambahkan penempatan pojok ASI ini juga berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kota Denpasar. Selain pojok ASI, di Pasar Badung juga tersedia klinik yang berlokasi di lantai 3. Sementara itu, RM Adji Srihandoyo, Corporate Affairs Director Carrefour mengatakan di Carrefour yang berada di bawah PT

Seorang petani yang biasa dipanggil Pan Wayan, tinggal di pondok kecil dengan keluarganya. Ia tidak pernah merasa bahagia. Tiap hari ia mengeluh dan mengomel. Suatu hari ia meminta petunjuk kepada Pan Bantas, orang pintar dan bijaksana di

desa itu. “Bapane! Berilah aku petunjuk, bagaimana hidup berbahagia. Di pondokku yang kecil, aku tinggal bersama seorang istri, mertua laki-perempuan, lima orang anak dan dua orang cucu. Di antara kami sering terjadi cekcok.” Pan Bantas berpikir, lalu katanya, “Pan Wayan kan punya banyak ayam. Masukkanlah ayam-ayam itu ke dalam pondok dan hiduplah bersama-sama. Cobalah, lalu besok laporkan ke sini.” Dalam perjalanan pulang, Pan Wayan berpikir. “Aneh, dalam pondok kecil yang dihuni banyak orang, harus tidur bersama ayam?” Keesokan harinya Pan Wayan melapor kepada orang bijaksana itu. “Tambah ribet, Bapane! Ayam-ayam itu ribut dan berak di pondok. Tidur kami terganggu.” Pan Bantas berpikir lalu katanya, “Pan Wayan ‘kan punya empat ekor sapi. Jangan biarkan mereka merumput di ladang dan tidur di kandang. Cobalah seharian

masukkan ke dalam pondok, lalu tinggallah bersama mereka. Besok datanglah ke sini!” Dalam perjalanan pulang Pan Bantas berpikir keras. Tidakkah orang bijaksana itu mengolok-olok? Namun, hari itu juga ia mencoba menjalankan petunjuk Pan Bantas. “Wah, benar-benar kacau, Bapane! Istriku mau cerai, anak-anak menuduh aku gila dan mertuaku mengancam akan membunuhku,” kata Pan Wayan keesokan harinya kepada Pan Bantas.” “Bagus kalau begitu!” kata Pan Bantas dengan tenang. “Cobalah yang terakhir ini! Mulai hari ini, keluarkan ayamayam itu dan biarkan sapi-sapi itu merumput di ladang dan tinggal di kandang. Lalu bersihkan pondok itu.” Petunjuk yang terakhir itu membuat Pan Wayan benar-benar berpikir keras. “Apakah orang bijaksana itu gila? Bukankah sudah kukatakan bahwa aku tak pernah berbahagia hidup dengan banyak anggota keluarga dalam pondok kecil?” Sesampai di pondok ia keluarkan semua ayam, ia biarkan sapi-sapinya merumput dan tinggal di kandang, lalu ia bersihkan pondok kecil-mungil itu. Nyaman benar rasanya kumpul dengan keluarga, lalu mereka ngobrol tentang pengalaman yang menarik itu. “Terimakasih, Bapane!” kata Pan Wayan keesokan paginya di rumah Pan Bantas. “Kebahagiaan itu tidak jauh. Untuk menemukannya kita harus belajar dari penderitaan,” katanya sambil tersenyum.

26 januari - 1 Februari 2015

Griya

Beragam Dekoratif Marmer Batu alam makin banyak digunakan tak ha­ nya untuk dekoratif dinding dan lantai, namun juga untuk bermacam-macam bentuk hiasan/pajangan. Daya tariknya tentu saja ada pada corak atau teksturnya yang natural. Salah satunya adalah batu marmer dan onyx.

M

armer dan onyx, oleh sebagian masyarakat dianggap bebatuan yang sama. Tak salah memang, karena dari batu marmer yang sudah lama inilah akan dihasilkan batu onyx yang sangat keras. Secara kasat mata, perbedaan di antara keduanya adalah batu onyx memiliki warna yang agak pekat dan mengkilat. Dengan beragam tekstur dan warna, hasil pahatan dalam berbagai bentuk dekoratif ini dipajang di Bagong Bali Gallery.

Jika melintasi Jalan By Pass Ngurah Rai, Sanur, bongkahanbongkahan batu alam dengan ukuran yang besar-besar, sengaja diletakkan di depan. Tampilan batu-batu dengan teksturnya yang natural tersebut mampu menarik perhatian orang yang melewatinya. “Batu itu biasa kami sebut batu berlubang. Jadi, sebelum batu marmer, ketemunya batu berlubang ini dulu,” ujar Wiwid, salah seorang karyawati gallery sembari menunjuk batu-batu besar dengan tekstur berlubang tersebut.

Batu-batu tersebut dikatakannya didatangkan dari beberapa daerah di Jawa. Karena itu pula, berbagai bentuk pajangan tersebut terdiri dari beraneka warna, seperti putih, kuning, cokelat, merah, hitam, bahkan loreng, dengan tekstur yang beragam pula. Beberapa model bentuk hasil olahan bebatuan ini di antaranya, meja, kursi, papan catur, washtafel, stand decorative, stone base (alas), mangkok, bola, papan permainan congklak/dakon, ikan, dan model tambi (gilingan jagung/beras zaman dulu). –Inten Indrawati

17


Kreasi

18

26 Januari - 1 februari 2015

Geliat Seni Kebyar Bali

Sudah 100 tahun seni kebyar menun­ jukkan eksistensinya di tengah masyarakat Bali. Berawal dari muncul­ nya gong kebyar di Bali Utara pada tahun 1915. Kehadiran gamelan den­ gan gaya estetik-musikal yang sarat gairah ini, memicu menguaknya seni tari baru yang berbeda dari tari tradisi yang telah mengkristal sebelumnya. Tari nafas baru dengan iringan gong kebyar inilah yang disebut seni kebyar atau kakebyaran.

K

ini, perkem­ bangan seni kebyar tak pernah henti menggeliat dan menggebrak dalam kancah seni pertunju­ kan Bali. I Ketut Marya dapat disebut sebagai pionir lahirnya seni kebyar. Lewat karya cipta tarinya yang berjudul Kebyar Duduk yang mulai dikenal masyarakat sejak tahun 1925, era seni kebyar menggelinding di Bali. Pada tahun 1942 lahir tari Panji Semirang dan tari Mergapati karya I Nyoman Kaler. Tahun 1950 mencuat tari Tarunajaya olahan I Gede Manik. Selanjutnya, Ketut Marya yang namanya meng­ internasional dengan sebutan Mario menciptakan tari duet Oleg Tambulilingan (1952), I Nyoman Ridet dan I Wayan Likes menelorkan tari Tenun dan I Wayan Beratha melahir­ kan tari Tani (1957), dan seterusnya berdenyut kencang pada tahun 1980-an dengan lahirnya deretan tari yang bertema fauna, diantaranya, tari Manukrawa (I Wayan Dibia), Kidangkencana (I Gusti Ngurah Supartha) dan tari Cendrawasih ( NLN. Swanthi Bandem). Di tengah sebagian masyarakat Bali, seni ke­ byar sering latah disebut legong atau lazim dinamai tari lepas. Seni kebyar pada umumnya dipentaskan sebagai

seni tontonan atau hiburan masyarakat. Dalam per­ jalanannya, seni pertunjukan balih-balihan ini dapat disajikan secara tersendiri atau sering menjadi bagian pementasan tertentu. Ketika teater rakyat drama gong sedang naik daun pada tahun 1970-an, sebelum pertunjukan inti dimulai sering diawali dengan satu dua page­ laran seni kebyar seperti tari Tarunujaya, Wiranata, Panji Semirang, atau Oleg Tambulil­ ingan. Demikian pula sebuah pementasan drama tari Prem­ bon, sering dimulai dengan sajian tari lepas kebyar. Adalah Bung Karno, presi­ den pertama RI, sangat men­ gapresiasi seni kebyar dan sekaligus menyayangi para pe­ narinya. Begitu besarnya per­ hatian sang presiden dengan kesenian Bali hingga sempat memberikan nama Tarunajaya pada karya tari Gede Manik yang kini memonumental itu. Munculnya seni kebyar dengan tema-tema sosialistik di Bali seperti tari Tenun, Nelayan, Tani dan sebagainya adalah merupakan peran langsung dan tidak langsung dari atmosfer sosial, kultural, dan politik yang digadang-gadang Bung Karno pada era kekuasaannya. Realitanya, Bung Karno, sering memamerkan kesenian Bali, termasuk seni kebyar, kepada tamu-tamu pentingnya, baik di Istana Tampaksiring maupun di

26 Januari - 1 februari 2015

Buka Lahan dengan Disiplin Militer Tahun 1970, H. Syahbuddin, salah seorang to­ koh di Desa Kadindi Kecamatan Pekat, Dompu, pertama kali menginjakkan kakinya di kaki di wilayah paling ujung utara Kabupaten Dompu itu. Saat ia datang, laki-laki asal Lombok Timur ini tercengang melihat hutan belantara yang begitu lebat karena di sanalah ia akan tinggal. “Saya hampir saja ingin lari pulang kembali ke Lombok dan membatalkan niat transmigrasi waktu itu,” ujarnya.

Tari Tarunajaya, salah satu seni kebyar yang memasyarakat, disuguhkan sebagai seni pentas yang banyak disimak penonton.

Istana Negara Jakarta. Gong kebyar sebagai media gamelan pengiring tari kebyar kini tersebar merata di pen­ juru Bali. Selain banjar atau desa, gamelan yang dapat ber­ fungsi fleksibel ini juga dimiliki sekolah-sekolah, kantor-kantor pemerintahan, dan tentu juga sanggar-sanggar seni pertunju­ kan yang kian tumbuh subur. Sejatinya, sejak tahun 1960an, pementasan seni kebyar menjadi sebuah pertunjukan favorit masyarakat. Tidak sedikit pelaku seni tari ter­ sohor karena kepiawaiannya membawakan tari kebyar ter­ tentu. Ada yang namanya eksis dan virtuoso sebagai penari Tarunajaya, Kebyar Duduk, Panji Semirang dan sebagainya. Bahkan ada identifikasi seorang wanita Bali yang postur tubuh­ nya langsing semampai dengan rambut panjang menjuntai seperti Oleg Tambulilingan. Namun, menginjak tahun 1990-an, pementasan tari-tari kebyar di tengah masyarakat Bali agak meredup. Fenomena tergerusnya perhatian penon­ ton terhadap seni kebyar juga dialami seni tontonan Bali yang sebelumnya digemari seperti

drama gong, arja, dan send­ ratari. Walau demikian, lem­ baga pendidikan formal seni sepert­i SMKI (kini SMK Negeri 3 Sukawati) dan STSI (kini ISI Denpasar) tetap konsisten mengajarkan dan menciptakan seni kebyar. Sementara itu, sanggar-sanggar seni mulai menunjukkan kontribusi yang signifikan pada keberadaan seni tari, tentu termasuk seni kebyar. Menapak tahun 2000-an, seni kebyar kembali bergairah. Sanggar-sanggar seni mampu menelorkan penari-penari seni kebyar yang andal. Salah satu pemicu menetasnya generasi muda unggul seni kebyar adalah lomba-lomba tari yang berlang­ sung secara sporadis hampir di seluruh Bali. Lomba-lomba tari yang digelar di bale banjar hingga di podium universitas itu mengompetisikan seni kebyar, selain tari Baris, Jauk, dan Legong Keraton. Dari arena ini seni kebyar teraktu­ alisasi di tengah masyarakat, karena umumnya para penab­ uh sebuah sekaa gamelan men­ genal dan mampu mengiringi tari Panji Semirang, Wiranata, Tarunajaya, Oleg Tambulilingan

hingga tari Manukrawa. Memperingati seabad seni kebyar, sudah sepatutnya para generasi muda Bali pelestari seni kebyar didorong un­ juk kemampuan. Porsenijar (Pekan Seni dan Olahraga Pelajar) yang digelar pada bulan-bulan awal tahun adalah salah satu arena ideal bagi para pelajar berseni kebyar. Dinas Pendidik­an Propinsi Bali sebagai penyelenggara, semestinya sudah menganti­ sipasi memasukkan dan me­ rinci materi tari-tarian kebyar untuk ditampilkan pada lomba bidang seninya. Materi taritarian kebyar kiranya tepat diperuntukkan pada sajian tari putri; Panji Semirang (SD), Wiranata (SMP), dan Tarunaja­ ya (SMA/SMK). Sedangkan untuk materi tari putra lebih relevan dilombakan tari non kebyar seperti Baris (SD), Jauk Keras (SMP) dan Jauk Manis (SMA/SMK). Melalui Porseni­ jar, pemerintah propinsi Bali dapat menunjukkan peran dan kepeduliannya membangun jag­ at seni, mengapresiasi tonggak seabad seni kebyar yang kini telah mendunia. -Kadek Suartaya

7

H. Syahbuddin

K

ala itu, memang pemerintah tengah gencar dengan pro­ gram transmigrasi. Syahbuddin dan rekan-rekan lain­ nya pun ikut program ini, bergeser dari Pulau Lombok ke Pulau Sum­ bawa, tepatnya di kaki Gunung Tambora ini. Jika kini Syahbuddin menjadi salah seorang yang sukses di Desa Kadindi, baik sebagai pengusaha transportasi, pertanian hingga penginapan, itu tidak diraih­ nya dengan mudah melainkan telah melewati kerja keras dan menem­ puh masa yang cukup panjang. Di sebuah penginapan yang dibangun­ nya untuk menampung pengunjung yang kebanyakan bertujuan ke Gunung Tambora dan sekitarnya, ia pun mengisahkan perjalanan hidup­ nya hingga sampai ke Kadindi, desa yang jarak tempuhnya 6-7 jam dari Kabupaten Dompu dan Bima. Bersama 117 orang lainnya yang juga berasal dari Lombok, diangkut menggunakan truk-truk menuju Pelabuhan Kayangan Lom­ bok Timur, Syahbuddin naik perahu kayu menuju Nangamiro, Dompu. Berangkat dari Pelabuhan Kayangan pukul 15.00 mereka pun mendarat di pantai Nangamiro keesokan paginya sekitar pukul 08.00. Dari Nangamiro menuju lokasi penam­ pungan/asrama, mereka berjalan kaki menembus hutan hingga tiba pukul 15.00. Di sinilah kisah sukses hidupnya berawal di kala ia menjadi transmigran yang benarbenar merasakan pahitnya sebagai transmigran dulu. “Beda dengan transmigran sekarang, seperti ‘raja’, semua sudah disediakan pemerin­ tah,” katanya. Pelabuhan Nangamiro adalah pelabuhan terdekat untuk sampai

ke lokasi transmigrasi tersebut. Di sebuah lokasi di Kadindi Atas yang kini berdiri rumah yang dikenal oleh orang-orang di Kadindi sebagai Ru­ mah Pusaka, ada pula masjid yang disebut Masjid Pusaka dan Lapang­ an bernama 7 Juli. Itulah kawasan pertama tempat barak-barak para transmigran ini dibangun. “Di barak asrama berdinding bedek dan bera­ las alang-alang, ranting dan batang kayu itulah kami ditampung dan tidur berhimpitan selama proses pembukaan hutan belantara ini,” ujarnya. Asrama itu lebih mirip disebut gudang, modelnya panjang berhadap-hadapan dengan lorong di tengahnya. Tidak mudah memang menjadi perintis itu. Syahbudin mengisahkan betapa mereka harus berjuang un­ tuk bisa bertahan di tengah hutan belantara itu. “Banyak kawankawan kami yang tidak tahan dan memilih lari pulang ke Lombok,” ujarnya. Dalam berjuang itu pula Syahbuddin pernah mengalami makan nasi dari beras yang na­ manya beras tekat. “Beras ini harus dimasak dua kali baru enak dimakan sehingga besar bulir berasnya men­ jadi nasi itu jadi sebesar biji asam,” katanya tertawa. Syahbuddin ingat benar ba­ gaimana mereka mulai membabat hutan di bawah bimbingan se­ orang pejabat Pemerintah Daerah NTB, yang sangat berwibawa dan “ditakuti” kala itu yang bernama Lalu Anggrat (salah seorang tokoh birokrat di NTB dan pernah men­ jadi Bupati Lombok Barat sebelum dipecah menjadi Lombok Barat dan Kota Mataram). “Beliau saat itu sebagai Kepala Sospol NTB dan orangnya sangat berwibawa,” ungkap Syahabuddin. Rasa segan pada Lalu Anggrat inilah yang diakuinya membuat para transmigran akhirnya mau mengikuti program ini dan mulai bekerja membabat hutan belan­ tara itu, membuka lahan untuk transmigrasi. “Kami dulu bekerja buka lahan ini dengan bergotong royong dalam disiplin yang tinggi bahkan seperti militer rasanya,” ujarnya. Pukul 04.00, Syahbuddin dan rekan-rekannya sudah harus siap berbaris dan berjejer rapi di lapangan depan barak dan tidak ada yang berani tinggal di asrama untuk mendengarkan pengarahan Lalu Anggrat. “Begitu Lalu Anggrat datang, kami pun duduk dan men­ dengarkan nasehat dan pengarahan Lalu Anggrat untuk membuka lahan bagian sebelah mana hari itu,” ka­ tanya. Dalam pengarahan itulah,

Rumah peninggalan Lalu Anggrat di lokasi pertama pembukaan lahan di Kadindi Atas

mereka mengetahui kelompok yang mana yang akan mengerjakan atau membuka lahan yang mana. Didikan dan disiplin keras yang diterapkan oleh Lalu Anggrat itulah yang menurutnya akhirnya mampu membuat para transmigran itu sukses membuka lahan transmigrasi pertama di NTB itu. “Selain Lalu Anggrat yang pimpin, saya rasa dulu tidak akan mungkin jadi Kadindi ini,” katanya. Para transmigran ini tidak ada yang berani main. Pernah suatu ketika, cerita Syahbuddin, ada seorang kawannya yang mening­ galkan asrama tanpa pamit, pergi memancing dan sempat kesasar di tengah hutan hingga tidak tahu jalan pulang. “Begitu di pagi hari baru bisa sampai ke asrama, ia lalu dihukum dengan direndam di air karena tidak disiplin,” kata Syah­ buddin mengenang. DUA HEKTARE PER ORANG Tiap hari mereka memiliki jadwal untuk membuka lahan yang dilakukan secara berkelompok. Tiap kali menuju lokasi pembu­ kaan baru, berbekal parang dan cangkul serta linggis, berjalan di antara semak belukar dan pepo­

honan di jalan setapak bekas jejak kerbau dan sapi, para transmigran ini secara berkelompok menuju lokasi yang akan dibuka. Hanya jalan setapak yang bisa mereka lalui kala itu. Tidak ada jalan sama sekali karena seluruh areal adalah hutan belantara. Bisa dibayangkan bagaimana perjuangan para transmigran ini, berjalan membawa peralatan berat dan bekal dalam tas yang kerap kali tersangkut di semak-semak belukar berduri-duri. “Untuk mencapai lokasi hutan yang harus dibuka, tidak jarang kami harus berjalan hingga sembilan jam lamanya,” kata Syahbuddin yang saat itu sudah berkeluarga dan memiliki tiga anak yang ditinggal di kampung halaman­ nya di Terara Lombok Timur. Perjuangan berat membuka lahan di kaki Gunung Tambora itu berlangsung setidaknya satu tahun. Setelah hutan belantara mulai bersih, barulah mereka diberikan haknya untuk mendapatkan jatah dua hektare per orang yang dibagi secara adil pada tahun 1971. “Pem­ bagiannya pakai lot, tidak dibagi begitu saja atau tinggal pilih,” kata Syahbuddin yang mendapatkan jatah di tempatnya kini tinggal di

Kadindi Bawah yang jaraknya seki­ tar 15 menit kendaraan dari Kadindi Atas, tempat asrama mereka dulu. Perjuangan itu belum berakhir, mereka lalu mendirikan rumahrumah sederhana dari kayu yang didapat di hutan sekitar. Belum lagi untuk memenuhi kebutuhan air bersih ia harus berjalan kaki berjam-jam lamanya menuju mata air di Kadindi Atas. Di lokasi transmigran inilah kawasan ini bermula. Kemudian berkembang hingga hari ini men­ jadi sebuah kecamatan bernama Pekat. Maka tidak heran, sebagian besar penduduk yang tinggal di Kecamatan Pekat adalah orang Lombok, yang secara turun temu­ run mendiami wilayah ini sejak tahun 1970. Syahbuddin sendiri menjadi salah satu transmigran yang sukses baik sebagai petani, pengusaha transportasi bus hingga kini memiliki penginapan sederhana 12 kamar yang disewakan untuk para pengunjung Gunung Tambora dan sekitarnya. Tidak hanya itu, Syahbuddin juga banyak memiliki lahan hasil kerja kerasnya selama ini. “Hidup penuh perjuangan dulu, kini saya baru menikmati hasilnya,” katanya. -Naniek I. Taufan


Women on Top

6

26 Januari - 1 februari 2015

Perkaya Diri dengan Ilmu Sejak didirikan tahun 2003, Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Bali masih eksis hingga kini. Begitu juga dengan ketuanya, ­N i Nyoman Masni, S.H. Ia adalah sosok wanita yang dikenal punya jiwa pejuang dan optimisme yang tinggi.

P

artisipasi istri dari I Made Paterem ini da­ lam kegiatan perlin­ dungan anak, karena tergerak fakta di lapangan. Betapa kasus yang melibatkan anak sebagai korban semakin meningkat. Di bawah kendalinya pula kiprah LPA Bali cukup menggembirakan baik di Bali sendiri maupun di kalangan LPA se – Indone­ sia, Komnas Perlindungan Anak hingga Kemensos RI. Akhirnya sejak tahun 2012 LPA Bali beserta beberapa LPA lainnya menjadi mitra Kemensos RI dalam pelaksanaan Program Kesejahteraan Sosial Anak (PKSA) berupa penyalur­an Bantuan Tunai Bersyarat (BTB) bagi Anak Berhadapan Hukum (ABH) dan Anak Memerlukan Perlindungan Khusus (AMPK). Untuk ini pula LPA Bali mendapatkan tiga orang pekerja sosial yang diperbantukan dari Kemensos, sebagai pelaksana PKSA. Selain itu, masih banyak lagi kegiatan

yang memberikan Masni spirit dan melupakan usianya yang sudah kepala tujuh. Ia selalu bersemangat dan akrab bersama anak-anak sampai berlanjut terbentuknya Forum Anak Daerah (FAD) Provinsi Bali. Selain bicara tentang perjuangan dan kepeduliannya pada anak dalam Buku “Nyoman Masni Perempuan Teladan” juga dituangkan peng­alaman dari perjalanan hidupnya. Bahwa Masni, yang dilahirkan pada 12 Januari 1943 ini merasakan masa kecil yang jauh dari berkecukupan. Sejak kecil ia sudah mandiri, biasa mengurus diri­ nya, bahkan me­ngurus dua adiknya. Banyak lagi hal lainnya yang mencirikan kesederhanaan dan ketangguhan hidup seorang Masni. Begitu juga dengan dukungan ibunya Ni Nyoman Candri

Komunikasi Hati ke Hati Kamis pagi itu, ruang rapat di lantai 2 Puskesmas II Denpasar Utara dipenuhi kaum waria. Setelah semuanya berkumpul, Kepala Puskesmas dr. Emilia membuka acara tersebut yang kemudian dilanjutkan oleh perwakilan KPA Denpasar yang memberikan pe­ nyuluhan seputar HIV/AIDS. Mengingat perilaku seksual mereka yang cukup berisiko, mau tak mau suka tak suka, Emilia tetap harus menangan­ inya untuk menekan angka penularan HIV/AIDS, karena mereka tinggal di wilayah lingkup kerjanya. “Tiap em­ pat bulan, kami jadwalkan berkumpul untuk diberikan penyuluhan kesehatan, seperti bahaya suntik KB untuk mem­ perbesar payudara, merokok, IMS, HIV/AIDS, dan sosialisasi JKN/BPJS. Kami juga melakukan tes darah dan IMS, dan tiap Kamis mereka dibagikan kondom gratis,”ujar mantan Bendahara IDI Bali, mantan Ketua IIDI Denpasar, dan mantan Ketua Bundo Kanduang IKMS Bali ini. Puskesmas II Denut yang mewil­ ayahi 2 desa (Desa Pemecutan Kaca dengan 13 banjar, dan Desa Ubung Kaja dengan 18 banjar) dan 1 kelurahan yakni Ubung dengan 4 banjar, memiliki masyarakat dengan beragam profesi, lengkap dengan permasalahannya yang begitu kompleks. Puskesmas yang dipimpinnya sejak 2009 tersebut memiliki 3 program

Widminarko, Masni, dan Prof.Mardani

(almh) ,yang memintanya untuk sekolah terus. Sebab, kata sang ibu, anak yang bodoh tidak pernah sukses dan bahagia dalam hidupnya. Juga bijaksananya sang ayah I Made Soekoe (alm) yang tidak membedakan anak-anaknya dalam me­ nempuh pendidikan. Rupanya, hal inilah yang menjadi tonggak atau fase penting dalam sejarah hidup yang berharga bagi Masni sebagai pemacu cita-citanya. Menginjak masa remaja ketegaran Masni semakin terasah, dan ia bertekad memperkaya diri dengan ilmu dan ke­ pintaran. Hingga ia pun bisa merasakan masa sekolah yang menyenangkan, ketika mengikuti pendidikan di Sekolah Menengah Kehakiman Atas (SMKA) Surabaya. Berikutnya digambarkan se­ cara singkat Masni menjalani kariernya

Suasana peluncuran buku yang dirangkaikan dengan Hut ke-72 Masni

dr. Emilia Sabiruddin

prioritas. Pertama, pembinaan HIV/ AIDS dan Infeksi Menular seksual (IMS) yang difasilitasi dengan pengadaan Klinik VCT Melati yang di-launching Desem­ ber 2011. Klinik ini banyak dimanfaat­ kan kaum GWL (Gay, Waria, Laki suka laki), termasuk komunitas Warcan, alias Waria Cantik yang beranggotakan 35 orang, yang meramaikan ruang rapat kala itu. Mereka umumnya warga pen­ datang dan berdomisili di wilayah ini. Klinik VCT ini ditempatkan di bela­ kang, jauh dari klinik pelayanan umum dan ada jalan khusus menuju kesana. Dengan begitu, mereka yang meman­ faatkan layanan ini pun merasa lebih le­ luasa memeriksakan kesehatannya dan berkonsultasi seputar permasalahan mereka. “Tapi ada juga dari mereka, Warcan itu yang ingin pamer, sen­ gaja masuk lewat jalan umum. Jadilah mereka tontonan karena penampilan mereka memang agak norak,” ujar dr. Emilia yang terlihat akrab dengan komunitas Warcan ini. Yang jelas, dengan komunikasi dari hati ke hati dengan komunitas berisiko ini, Emilia berharap mereka bisa berperilaku seksual yang aman. Program kedua adalah kebersi­ han dan kesehatan lingkungan yakni dengan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat). Kegiatannya antara lain pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan gertak (gerakan serentak) PSN

dilakukan tiap minggu, berkoordinasi dengan PKK, kepala dusun, dan lurah setempat. Bahkan, di tahun 2014, wilayah binaannya, Desa Ubung Kaja berhasil meraih Juara 3 PSN se-Kota Denpasar. Menjaga kebersihan dilakukan mulai dari pemilahan sampah hingga mengolahnya menjadi kompos. Di tiap desa dan kelurahan juga sudah memiliki bank sampah. Selain itu, penyakit yang juga cukup mendapat perhatian adalah TBC. Bahkan di tahun 2014, pukesmas ini menduduki peringkat 3 untuk jumlah pasien TBC di Denpasar, yakni seban­ yak 49 penderita. Tahun 2009, pihaknya sudah membuat pelatihan Desa Peduli TBC dengan melatih kader PPTI (Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia) Denpasar. Ketiga, program yodiumisasi yang berjalan sejak 2013. Ini dilatarbelakangi karena ada be­ berapa masyarakat ditemukan sakit gondok. Padahal umum­ nya, penyakit ini ditemui pada masyarakat yang tinggal di daerah pegunungan. Sete­ lah melakukan tes sampling dua anak di tiap seko­ lah, yang diminta mem­ bawa garam rumahnya ke sekolah, ditemukan ternyata garam mereka tak beryodium.

19

Gugup saat Simulasi Lupa Teori Pemadaman

Nyoman Masni

atau aktivitas LPA yang dijalankan ibu em­ pat anak ini, seperti untuk mengantisipasi perkawinan anak di bawah umur, pelece­ han seksual ter­hadap anak dan perlind­ ungan anak dari bahaya rokok. Namun, perhatian Masni terhadap kehidupan anak tidak berhenti sampai di situ. Di setiap kesempatan seleksi per­ siapan anak mengikuti Kongres Anak Indonesia yang diselenggarakan tiap tahun oleh Komnas Perlindungan Anak, selalu disisipkannya pembinaan dan pembekalan tentang Bali dan adat budayanya serta masalah aktul lainnya di Bali. Hal ini menjadikan anak Bali selalu tampil prima dalam kongres dan selalu juga berhasil meraih predikat Duta Anak di antara sepuluh anak se Indonesia yang terpilih. Keberhasilan anak-anak inilah

26 Januari - 1 februari 2015

Dari sanalah kemudian kader-kader jumantik (sekarang kader kesehatan) dilatih, yang kemudian sembari bertu­ gas mengecek jentik nyamuk ke rumahrumah penduduk, juga menyosialisasi­ kan pemakaian garam beryodium dan membagikannya kepada masyarakat. Penyuluhan tentang garam beryodium, DBD, dan kesehatan lainnya juga di­ lakukan di posyandu. Sayangnya, target pencapaian tahun 2014 masih rendah, karena hanya diposkan pemerintah bantuan garam beryodium untuk 5 RT per banjar pertahun. Meski demikian, ada satu prestasi yang berhasil ditore­ hkannya, yakni berhasil membina UKS TL Permata Hati sebagai Juara 1 tingkat provinsi Bali tahun 2014, dan akan bersiap maju ke tingkat nasional.

di Kejaksaan mulai tahun 1965 dan pensiun pada awal tahun 2000, ketika ia menjadi anggota DPRD Bali, yang semasa aktifnya duduk di Komisi A. Di bidang organisasi, sejak tahun 1972 Masni mulai terlibat dalam ber­ bagai kegiatan organisasi. Diantaranya berperan dalam pembentukan Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) Provinsi Bali. Dari sekian organisasi yang diikutinya salah satu adalah pengadian­ nya yang cukup panjang di Badan Ker­ jasama Organisasi Wanita (BKOW) Bali. Masni pun tercatat sebagi Ketua BKOW Daerah Bali periode 1999-2004. Kombinasi antara Masni yang berdisiplin tinggi dan penuh passion dalam menjalankan tugas-tugas baik di rumah tangga, di masyarakat dan saat menjalankan kariernya rupanya berhasil mengantarkan nenek delapan orang cucu ini sebagai Ibu Teladan se – Bali dan salah satu Tokoh Perem­ puan Bali. Itulah beberapa hal yang diungkap dalam buku ”Nyoman Masni Perem­ puan Teladan” yang diluncurkan, Senin (19/1) di Kantor LPA. Ketika ditanya motivasinya me­ luncur­kan buku, Masni mengatakan ia ingin menyampaikan pesan singkat saja bahwa jika kita bekerja dan melakukan apapun dalam hidup ini pedomannya adalah ikhlas dan tanpa pamrih. –Sri Ardhini TAHU RAMBU & ATURAN Sebagai Kepala Puskesmas II Denut, istri Dr. dr. Dewa Putu Gde Purwa Samatra, Sp. S (K) ini membawahi 44 staf. Mereka ditugaskan membuat lapo­ ran bulanan, laporan mingguan untuk penyakit menular, dan untuk kejadian luar biasa, laporannya 1x24 jam. Emilia mengatakan, pola kepemimpinannya memakai cara kekeluargaan. “Karena saya lebih tua, mereka sudah mengang­ gap saya seperti ibu. Saya bisa marah ke mereka, mereka juga bisa marah ke saya jika saya salah. Yang penting tahu rambu-rambu dan aturan pemerintah yang dipakai acuan bertindak. Tak hanya urusan pekerjaan, bahkan mereka kerap curhat masalah pribadi kepada saya,” ucapnya tersenyum. Lalu bagaimana membagi waktu antara karier dan keluarga? Syukurnya suami dan anak-anak sudah mengerti dengan aktivitas dr. Emilia. Karena sebagai Kapus, tak jarang jam 05.30 pagi ia sudah harus di lapangan me­ mantau PSN. “Anak-anak juga sudah besar-besar, jadi sudah bisa mandiri,” ujarnya. Namun biasanya, pagi sebe­ lum berangkat kerja, Emilia masih sempat sarapan bersama suami dan satu anaknya yang masih belum menikah. Sesekali, di sore hari mereka masih sempat berkumpul dan membersihkan rumah bersama, mengeluarkan sampah untuk di­ angkut mobil sampah mulai pukul 17-19.00. Malam harinya kembali berkumpul makan bersama. Kalaupun ada masalah, dan mereka masih di luar dengan kesibukannya masing-mas­ ing, sarana telepon genggam menjadi pemersatunya. –Inten Indrawati

Siapa pun tak ingin tempat kerjanya terbakar. Entah karena korsleting listrik ataupun sebab lain. Namun, ketika hal tersebut terjadi, apa­ kah sudah siap dengan peralatan standar pem­ adam kebakaran? Apakah perusahaan memberi pelatihan pada karyawannya dalam mengatasi situasi darurat tersebut? Mungkin kalau gedung kantor yang tidak bertingkat, karyawan bisa lebih mudah menyelamatkan diri tapi bagai­ mana jika gedung kantor bertingkat-tingkat?

D

iakui atau tidak, tidak semua kan­ tor menerapkan standar keselamat­ an kerja sebagaimana yang dia­ manatkan dalam UU No 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Salah satu pasalnya mewajibkan perusahaan menerapkan sistem manajemen Keselamatan dan Ke­ sehatan Kerja (K3) yang terintegrasi dengan sistem manajemen perusa­ haan. Misalnya saja cara menang­ gulangi kebakaran kantor, bisa jadi pegawai tidak mengetahui­nya ka­rena perusahaan tidak pernah memberi pelatihan kepada pe­ gawainya tentang masalah tersebut. Padahal bahaya kebakaran bisa saja terjadi sewaktu-waktu. Peralatan pemadam kebakaran misalnya, terkadang diabaikan. Ka­ laupun terlihat menempel di tem­

bok, belum tentu secara berkala diperiksa, apakah masih berfungsi atau tidak. Kalaupun APAR (alat pemadam api ringan) berfungsi dengan baik, belum tentu pegawai tahu cara menggunakannya. Karena itu pentingnya memberi pelatihan kepada pegawai sehingga bisa me­ nanggulangi keadaan darurat. Kantor Badan Pemerik­s a Keuang­an RI, termasuk salah satu yang menerapkan sistem manaje­ men K3. Untuk penanggulangan kebakaran misalnya, kantor ini telah memiliki Standar Prosedur Teknis Tindakan Penangangan Darurat Kebakaran pada bangunan kantor. Tiap tahun instansi ini secara rutin menggelar diklat penanggulangan kebakaran untuk para pegawai. Karena pesertanya cukup ba­ nyak, diklat dilakukan dalam be­ berapa gelombang yang masing-

Praktik penanggulangan kebakaran di Kantor BPK

masing memakan waktu sampai dua hari untuk teori dan praktek. Tentu tidak semua pegawai ikut diklat. Peserta diklat digilir, mereka dipilih mewakili divisi masing-masing,” ungkap Bambang, yang bertugas mengurus K3 di Kantor BPK. Instruktur didatangkan dari Di­ nas Kebakaran DKI Jakarta. Karya­ wan diajarkan tentang pengenalan APAR dan cara menggunakan­nya, proteksi kebakaran, manajemen keselamatan kebakaran, medical first responder, dan lain-lain. “Salah satu materi yang disam­ paikan adalah pengenalan api dan bagaimana mengatasinya, serta pro­ teksinya untuk kita dan orang lain. Lalu bagaimana cara menggunakan

alat-alat pemadam kebakaran. Ini penting karena tidak semua orang tahu bagaimana menggunakannya,” jelas Bambang. TEKNIK MENYEMPROT Misalnya saja tabung APAR yang menempel di dinding, menurut Bambang, belum tentu semua pe­ gawai tahu cara menggunakannya. Kalaupun tahu menggunakannya, belum tentu tahu cara yang benar dan efektif dalam menggunakannya. “Orang awam, ketika berhadapan dengan api kebanyakan spontan langsung menyemprot. Padahal me­ nyemprot untuk memadamkan api tidak bisa dilakukan dengan sem­ barangan. Jika tak tahu tekniknya,

Yang Kecil sering Lalai Dalam Pasal 86 UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, disebutkan, ayat (1) Setiap pekerja/ buruh mempunyai hak untuk memperoleh perlindun­ gan atas: keselamatan dan kesehatan kerja, moral, dan kesusilaan, dan perlakukan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai agama. Ayat (2) Untuk melindungi keselamatan pekerja/buruh guna mewujudkan produktivitas kerja yang optimal diseleng­ garakan upaya keselamatan dan kesehatan kerja. Ayat (3) Perlindungan sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 dan 2 dilaksanakan sesuai dengan undang-undang yang berlaku. UU Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, dalam Bab II Ruang lingkup ketentuan-ketentuan dalam keselamatan kerja berlaku di tempat kerja antara lain, dibuat, dicoba, dipakai atau dipergunakan di pe­ sawat, alat perkakas, peralatan, instalasi berbahaya, atau dapat menimbulkan kecelakaan atau kebakaran, atau peledakan. Pasal 3, ditetapkan juga syarat-syarat keselamatan kerja, (a) Mencegah dan mengurangi kecelakaan. (b) Mencegah, mengurangi, dan memad­ amkan kebakaran, (c) Mencegah, mengurangi bahaya peledakan, (d) Memberi kesempatan atau jalan me­ nyelamatkan diri atas kebakaran atau kejadian lain yang berbahaya, (e) Memberi pertolongan pada kecelakaan, (f) Mendapat perlindungan dari para pekerja, dll. Menurut Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Trans­ migrasi Provinsi Bali, I Gusti Agung Ngurah Sudar­ sana, kontrol dilakukan secara terus-menerus kepada perusahaaan dalam penerapan K-3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja). Beberapa hal yang menjadi fokus pengawasan Dis­ nakertrans, lift dan eskalator harus dalam kondisi yang baik, ada penangkal petir yang berfungsi dengan baik,

kondisi listrik cukup dan baik. “Yang tidak kalah penting, misalnya hotel yang sudah didirikan selama 35 tahun ke atas, wajib direnovasi guna menghindari kecelakaan kerja dan demi keselamatan kerja,” ucapnya. Ia memberi contoh pengawasan dalam hotel. Selain pengawasan yang ia sebutkan tadi, pompa air juga perlu diperiksa cara kerjanya. Kemudian disel. Apakah saat listrik mati dapat berfungsi dengan baik. Apakah jika disel hidup menimbulkan suara bising? “Ketel uap untuk menyeterika juga perlu diperiksa. Begitu juga, fire hydrant, smooking detector. Minuman beralkohol pun diperiksa. Walaupun izin di kabupaten, tapi kami tetap mengontrol keberadaannya. Pengawasan juga dilakukan pada pengolahan limbahnya,” kata Sudarsana. Untuk pengawasan di swalayan, juga menyangkut alat angkut/angkat. “Mereka harus mempertimbangkan, cara kerja alat tersebut agar tidak menimbulkan kecelakaan. Untuk swalayan yang besar, diharapkan, ada toilet tiap lantai,” katanya. Bidang usaha garmen, penga­ wasan dilakukan kepada karyawannya, agar selalu menggunakan masker. Begitu juga, pada mesin kompresor dan pengetesan zat kimia. Menurut Sudarsana, pengawasan dan kontrol yang dilakukan Disnakertrans disesuaikan dengan kebutuhan. Contohnya, penangkat petir diperiksa setiap dua tahun. Namun, dilihat juga, lokasi tempat penangkal petir tersebut, apakah di pinggir laut, sehingga pengecekan dilakukan menjadi tiap enam bulan. Sementara, jika berada pada lokasi seperti di Denpasar, penga­ wasan bisa tiap tahun. Namun, kadang pengawasan masih kurang, karena kekurangan tenaga pengawas itu sendiri. “Jadi, kami maksimalkan saja tenaga yang ada. Khusus Provinsi Bali memiliki 8 orang tenaga

salah-salah, api tidak padam tapi isi tabung sudah habis,” jelasnya. Itu sebabnya, perlunya pendidik­ an dasar ini. Sehingga sekalipun tabung APAR itu kecil, dapat cukup efektif digunakan untuk memadam­ kan api. Tentu saja, untuk ukuran APAR yang kecil, api yang dapat dipadamkan pun kecil pula. Tapi intinya adalah bagaimana meng­ gunakan APAR dengan efektif. “Bertabung-tabung digunakan, api tetap berkobar. Ini terjadi kalau orang yang menyemprot tidak tahu teknik menyemprot yang benar,” tambahnya. Hal lain yang perlu diketahui adalah untuk memadamkan api, penyemprotan harus dilakukan pada titik pusat api. Api membesar karena adanya udara. Jika ingin me­ matikan api, menyemprot bagian dimana udara bisa masuk. Jadi yang harus ditutup adalah tempat udara masuk. Dalam diklat, kata Bambang yang pernah menjadi panitia diklat di kantornya, hal-hal seperti itu diajarkan. Termasuk praktiknya yang dilakukan di halaman be­ lakang gedung. Meski itu hanya diklat alias simulasi kebakaran, namun banyak peserta praktek pemadaman kebakaran, saat ber­ hadapan dengan api terlihat panik dan cemas. Mereka gugup. Saking gugupnya, lupa dengan apa yang diajarkan dalam teori. –Diana Runtu

pengawas,” kata Sudarsana. Ia menambahkan, untuk menjadi tenaga pengawas, haruslah mendapatkan pelatihan tertentu, dan biaya yang dibutuhkan untuk menyekolahkan tenaga pengawas, juga cukup banyak. Untuk itu, tenaga pengawas yang sudah ada diefektifkan. Bagi pengusaha yang melanggar K-3, akan mendapat­ kan sanksi yang disebut sanksi administrasi. Dimulai dari, teguran, peringatan tertulis, pembatasan kegiatan usaha, pembekuan kegiatan usaha, pembatalan persetujuan, pem­ batalan pendaftaran, penghentian sementara atau seluruh alat produksi, dan pencabutan izin. Namun, kelalaian justru sering terjadi pada perusahaan yang berskala kecil. “Mereka kurang menyadari pentingnya K-3. Jadi, tugas kami untuk terus memberikan sosialisasi terus-menerus. Kami rutin melakukan sosialisasi tiap tahun. Kami juga berharap, peran masyarakat untuk ikut memberi­ kan informasi kepada kami, jika melihat ada pelanggaran dalam K-3,” kata Sudarsana. –Wirati Astiti


Nine

20

Selesaikan KDRT dengan ADR

Sedih, terharu, kasihan bahkan banyak kelucuan yang dihadapi para Polisi Wanita Polres Mataram khususnya yang bertugas di Unit PPA Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim), ketika menangani kasus-kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) di wilayah hukum Polres Mataram, yang korbannya kebanyakan perempuan ini.

T

Anggota Unit PPA Satreskrim Polres Mataram

idak hanya itu, sebagai manusia biasa, para Polwan ini terkadang jengkel menghadapi tingkah polah pasangan suami istri yang berulang-ulang berseteru dan berulang-ulang pula melaporkan kasus yang sama. “Tapi kami sesama anggota mencoba saling mengingatkan untuk bersabar dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapi suami istri yang bermasalah ini,” ungkap Brigadir Yayuk Sulistyani, anggota Regu III PPA Satreskrim Polres Mataram. Begitulah, tugas keseharian para Polwan di sini setelah kasus-kasus KDRT yang dilaporkan diupayakan diselesaikan dengan mediasi Alternative Dispute Resolution (ADR) atau mekanisme penyelesaian alternatif. Penanganan kasus KDRT dan juga kasus anak melalui mekanisme ADR telah dilakukan sejak tahun 2006, termasuk di Polres Mataram. “Semua kasus KDRT dan kasus anak yang dilaporkan ke Polres Mataram, diupayakan penanganannya dengan langkah pertama terlebih dahulu melalui mediasi menggunakan mekanisme ADR. Jika tidak ada kesepakatan untuk berdamai maka barulah akan diproses secara hukum. Dan sebagian besar kasus KDRT yang masuk khususnya dalam dua tahun terakhir yakni 2013 dan 2014, selesai dengan ADR,” ungkap Komisaris Polisi Ni Made Pujewati, S.Ik, Wakapolres Mataram. Kasus-kasus yang dimaksud tentulah kasus yang dipandang

lebih tepat diselesaikan dengan mediasi perdamaian, misalnya yang bersifat penganiayaan ringan yang terjadi dalam rumah tangga. Ini tidak termasuk kasus yang menyebabkan korban luka parah atau pembunuhan, perkosaan dan tindak pidana berat lainnya yang harus secara tegas dilakukan penegakan hukum. Tiap kasus KDRT yang dilaporkan akan diarahkan penanganannya kepada unit PPA Satreskrim yang digawangi oleh tujuh orang yang terbagi dalam tiga regu dengan seorang Kepala Unit (Kanit). Data kasus KDRT yang dilaporkan ke Unit PPA Satreskrim Polres Mataram, tahun 2013 sebanyak 68 kasus. “52 kasus diselesaikan

dengan ADR, sisanya ada yang lanjut ke pengadilan dan ada pula menjalani proses penyelidikan dan penyidikan,” ungkap Bripka Putu Yulianingsih, SH, anggota Regu I PPA Satreskrim Polres Mataram. Sedangkan data kasus KDRT yang ditangani unit ini di tahun 2014 adalah turun sebanyak 50 kasus dan yang terselesaikan dengan mediasi (ADR) sebanyak 31 kasus. Penyelesaian kasus KDRT dengan cara ADR akan memberikan win-win solution dalam mempertahankan keutuhan rumah tangga suami istri yang berperkara. Bagi polisi, menghadapi masalah yang berkaitan urusan rumah tangga, tentulah penangannya tidak diterapkan secara kaku karena banyak hal yang harus dipertimbangkan selama mereka ingin berdamai dan berjanji khususnya pelaku tidak akan mengulangi perbuatannya. Namun perdamaian ini bukan sembarang damai dan bukanlah proses yang gampang. Ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi kedua belah pihak untuk berdamai, terutama bagi suami sebagai pelakunya. Perdamaian ini biasanya dilakukan di Unit PPA Satreksrim Polres Mataram atau di lingkungan tempat suami istri itu tinggal. Mekanisme penyelesaian kasus KDRT dengan ADR dimulai dari membuat surat penyataan perdamaian dari kedua pihak, pelapor (korban) dan pelaku yang disaksikan oleh korban dan pelaku, juga Bhabinkamtibmas, Kepala Desa/Lurah atau Kepala Lingkungan tempat mereka tinggal. “Surat perdamaian ini harus distempel secara resmi,” kata Putu Yulianingsih. Prosedur selanjutnya adalah membuat surat pencabutan laporan polisi dari pelapor (korban). Lalu membuat surat penyataan dari terlapor (pelaku) untuk tidak

Perdamaian dengan mekanisme ADR dalam kasus KDRT selama kasusnya bukan tindak pidana berat

26 januari - 1 Februari 2015

Inspirasi

26 januari - 1 Februari 2015

5

I Putu Sudibawa

Lakoni dengan Baik Proses perdamaian yang dilakukan di lingkungan tempat tinggal suami istri yang berseteru disaksikan oleh Bhabinkamtibmas dan aparat desa setempat

mengulangi perbuatannya serta membuat foto dokumentasi perdamaian. Dokumen-dokumen ini lalu diajukan kepada Kapolres Mataram yang kemudian mendisposisikannya pada Kasatreskrim, lalu turun ke Kanit PPA untuk dibuatkan saran. “Kami kemudian memanggil korban dan pelaku untuk memastikan bahwa mereka memilih damai,” ujar Putu Yulianingsih. Saran inilah yang kemudian secara berurutan akan diproses kembali hingga tingkat persetujuan Kapolres, barulah SP2HP (Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan) keluar. Kasus dianggap selesai dengan damai. Perdamaian ini dipantau secara langsung oleh aparat desa dan juga Bhabinkamtibmas setempat, agar pelaku merasa ada yang mengawasi.

“Bhabinkamtibmas kami maksimalkan dengan memberikan tanggung jawab untuk memantau pelaku agar tidak mengulangi perbuatannya melakukan kekerasan dalam rumah tangga,” ungkap Pujewati. Sedemikian rumitnya prosedur perdamaian sehingga kerap mengaduk-aduk emosi para penegak hukum ini, ketika harus berhadapan dengan kasus yang sama yang dialami pasangan yang sama. “Bahkan ada yang sampai empat kali bolakbalik melaporkan kasusnya, ngotot minta dilanjutkan namun setelah itu dicabut dan minta damai dengan berbagai alasan,” kata Yayuk. Pada perkembangannya, kasus KDRT yang dilaporkan ke Unit PPA Satreskrim Polres Mataram disebabkan banyak hal. --Naniek I. Taufan

Kasus anak yang masuk di Polres Mataram juga banyak diselesaikan dengan ADR

Telat Buat Kopi Picu KDRT Yang paling menonjol adalah masalah ekonomi dan orang ketiga yang kerap berakhir pada penganiayaan. Bahkan masalah sepele saja, seperti telat membuat kopi, bisa memicu KDRT. “Itulah sebabnya, pada perkembangannya sekarang, sedikit sedikit korban melapor dan belum lagi pemanggilan pertama dilakukan terkadang mereka sudah diam-diam berdamai,” kata Pujewati yang memahami benar bahwa sebuah hubungan suami istri pastilah mengalami pasang surut. Namun begitu, lanjut Pujewati yang pernah bertugas di Ditreskrimum Unit PPA Polda NTB dan memiliki banyak pengalaman dalam menangani kasus anak dan KDRT ini, pelaku tetap diperiksa atau dimintai keterangan. Menurutnya, biasanya laporan pertama kali yang dilakukan oleh perempuan yang menjadi korban KDRT kepada polisi, bisa dipastikan itu bukan KDRT pertama yang dialaminya. “Biasanya korban sudah mengalami KDRT berulangulang atau sudah merasa terancam barulah timbul keberanian untuk melapor,” katanya. Bagi siapa saja, khususnya korban, masalah rumah tangga tidaklah mudah untuk diceritakan secara terbuka apalagi sampai menyentuh urusan yang sangat pribadi. “Karena itu, jika korban sampai melapor, biasanya itu bukan KDRT pertama yang mereka alami,” tegas Pujewati. Penyelesaian kasus KDRT dengan ADR yang mewajibkan aparat desa dan Bhabinkamtibmas ikut serta dalam perjanjian damai tersebut, semata-mata untuk melindungi kaum perempuan yang kebanyakan menjadi korban dari kasus KDRT yang terjadi selama ini. --Naniek I. Taufan

Guru adalah profesi yang mulia. Sebuah profesi yang mampu mempertemukan dua generasi yang berbeda. Paling tidak, demikianlah penilaian I Putu Sudibawa, S.Pd., Guru Berprestasi Nasional tahun 2011 ini, terhadap profesi yang kini dilakoninya. “Setiap hari pasti ada dialog dan diskusi antara dua generasi ini,” tegas Sudibawa, yang juga dinobatkan sebagai Guru Ajeg Bali (GAB) 2007 oleh Kelompok Media Bali Post.

D

alam proses pertemuan inilah letak “tantangan” menjadi seorang guru. Selanjutnya, pengalaman suka dan dukanya turut mengukir lembar demi lembar kehidupan seorang Putu Bawa. Ada perasaan puas ketika dalam diskusi dan dialog tersebut, apa yang disampaikannya dapat dimengerti dan diimplementasikan dengan baik oleh peserta didik. Apalagi, ketika apa yang dirancangnya sebagai sebuah bentuk untuk memudahkan diskusi dan dialog dengan peserta didik berjalan dengan baik, atau bahkan lebih baik dari yang direncanakan. Terlebih, ketika inovasi yang berhasil itu mampu ditulis dan dinarasikannya dalam sebuah tulisan, kemudian mendapatkan pengakuan. “Inilah kepuasan yang luar biasa bagi saya seorang guru,” imbuh suami dari Ni Kadek Omasti ini. Banyak hal yang membuatnya menyenangi profesi “pahlawan tanpa tanda jasa” ini. Ayah dua putra, I Wayan Baskara Danadipa dan I Made Arki Dhyanashambu ini mengaku puas ketika mampu membimbing dan membina anakanak didiknya hingga berhasil dalam bidang kegiatan akademis yang lain. “Bahkan karena keberhasilan dalam bidang akademis yang saya bina ini, peserta didik bersangkutan dapat melanjutkan ke fakultas favorit yang menjadi idaman mereka,” ujarnya. Beberapa motivasi dan nasihat yang diberikannya di kelas rupanya mampu mengubah pola pikir dan perilaku peserta didik. “Secara kolegial, ini menginspirasi saya dalam menjalankan tugas. Apalagi ketika orangtua peserta didik menelepon atau datang langsung, disini biasanya letak kepuasan menjadi guru yang luar biasa. Saya yakin banyak teman-teman guru yang juga mengalami hal yang sama,” ucap guru peraih beberapa prestasi bergengsi ini, di antaranya, Juara 1 Nasional Penulisan Modul Pendidikan Peduli Lingkungan Yayasan Kehati Jakarta, 2000; Sains is Fun Competetion Australian Education Centre (AEC), 2005; Penerima Science Education Award (SEA) ITSF Jepang, 2006; Aktivitas Terbaik dan Juara 1 Nasional Citi Succes Fund (CSF) dari Citi Bank Jakarta, 2007; dan Peserta Terbaik Nasional Kegiatan Best Practice Guru Kemdiknas, 2011.

I Putu Sudibawa

TERMOTIVASI IBU Putu Bawa berasal dari keluarga sederhana di Lembongan dengan kemampuan ekonomi yang pas-pasan. Orangtuanya, I Made Nusa dan Ni Wayan Ampiun hanyalah petani rumput laut. Setamat SMP di Lembongan, ia melanjutkan sekolah di SMAN1 Melaya. Waktu itu, informasi yang sering didengarkannya untuk melanjutkan studi lebih banyak keguruan. Dengan keterbatasan ekonomi keluarga saat itu, nampaknya informasi yang didapatkan Putu Bawa agak sesuai. Karena itu pula, pendidikan keguruan menjadi acuan pilihannya. Walaupun proses pendidikan di awal agak tertatih, tetapi pihak keluarga selalu memberikannya motivasi. Selama menempuh pendidikan keguruan di Undiksha Singaraja, ia berusaha untuk dapat menyelesaikan pendidikan secepat mungkin. Keadaan ekonomi keluarga saat itu, ibu yang hanya petani rumput laut sebagai tulang punggung biaya pendidikannya, menjadikan motivasi yang luar biasa bagi Putu Bawa dalam menjalani kehidupan. Ia pun berusaha tidak mengecewakan orangtua yang sudah mempercayakan hasil jerih payahnya untuk biaya pendidikannya. “Walaupun dengan sarana pendidikan yang seadanya, saya berusaha untuk melakoni proses pendidikan dengan sabar. Saya yakin, banyak cerita teman-teman di desa saya yang mampu menyelesaikan pen-

didikan karena kesederhanaan dalam menjalani proses pendidikan,” ungkapnya. Ia tak menyangkal, kerapkali muncul rasa putus asa dalam dirinya. Namun, ketika terispirasi dari keberhasilan orang, motivasi untuk melanjutkan pendidikan muncul lagi. Tahun 1996, Putu Bawa menyelesaikan pendidikan keguruannya di Undiksha Singaraja. Ia mengambil program studi pendidikan kimia. Sebenarnya mata pelajaran kimia tidak menjadi mata pelajaran favoritnya saat SMA, namun entah mengapa ketika mengisi formulir penerimaan mahasiswa jalur non tulis (PMDK dari FKIP Unud saat itu), ia menulis pendidikan kimia sebagai salah satu pilihan pendidikan lanjutan, dan kebetulan diterima. Secara kebetulan juga ia mendapatkan beasiswa Tunjangan Ikatan Dinas (TID), sebuah penghargaan beasiswa yang menjadi favorit mahasiswa keguruan saat itu. “Jadi saya pertama kali menjadi guru di SMAN 1 Rendang tahun 1998 melalui jalur Ikatan Dinas. Kebetulan juga langsung jadi guru, tanpa seleksi. Sebuah anugerah dan kebesaran yang luar biasa dari Tuhan,” kisahnya. Di sinilah awal ia menapaki profesi guru. Diakuinya, pembentukan karakter guru di lapangan terbentuk di SMAN 1 Rendang. Ia masih ingat betul dengan kepemimpinan kepala SMAN 1 Rendang saat itu Drs. A.A Gde Raka Suarka yang dengan telaten membimbing dan membinanya sebagai guru

pemula. Akhirnya semuanya mengalir apa adanya. Tahun 2002, Putu Bawa dimutasi ke SMAN 1 Sidemen. Di sini ia bertemu dengan Drs. I Gede Ariyasa, M.Pd. (sekarang Kadis Dikpora Kabupaten Karangasem), yang tanpa sadar selalu mengarahkannya untuk berbuat baik dalam menjalankan profesi sebagai guru. Hampir di setiap generasi kepemimpinan kepala sekolah di SMAN 1 Sidemen, dikatakannya memberikan ruang yang luas bagi dirinya untuk mengembangkan diri yang berhubungan dengan profesi keguruan. Demikian halnya dengan teman-teman guru yang juga sangat empati dengan apa yang dilakukannya. Guru adalah pembangun insan cendikia. Guru adalah sosok individu yang mampu menjadi motivator dan mediator dalam membimbing peserta didik dalam proses pembelajaran. Selain menjalankan guru sebagai sebuah pekerjaan, Putu Bawa juga menjadikan guru sebuah profesi. Harapannya, mampu menjalankan ini secara seimbang, guru sebagai sebuah pekerjaan, profesi, dan panggilan jiwa. Dalam menjalankan profesi sebagai guru, ia berharap anak-anak didiknya menjadi peserta didik pembelajar yang berkarakter baik secara sikap, pengetahuan, maupun keterampilan. Berhasil juga

I Putu Sudibawa bersama keluarga

dalam bidang non akademis. Keseimbangan ini dikatakannya akan sangat menentukan keberhasilan peserta didik dalam menjalankan bahtera kehidupan. Dalam setiap proses persinggungan dengan peserta didik, ia selalu memotivasi untuk selalu berjuang, kerja keras, menghargai orang lain, dan terus berdoa. Cerita-cerita sukses seseorang sering menjadi bagian cerita dalam persinggungan dengan peserta didik. Sebagai guru, ia berusaha menjadikan proses pembelajaran itu menyenangkan dengan penyampaian materi yang mudah dipahami oleh peserta didik. Dalam kegiatan inilah beberapa inovasi pembelajaran sering masuk ke dalam proses pembelajaran. Walau beberapa metode dan alat peraga tidak semuanya efektif, namun paling tidak minimal dapat memberikan suasana baru dalam proses pembelajaran. Sebut saja, sebagai guru pengampu mata pelajaran Kimia, Putu Bawa sering menghubungkan beberapa konsep kimia dengan fenomena alam yang sering dialami dan dihadapi peserta didik. Misalnya, ketika peserta didik ada keraguan memahami proses adsorpsi dalam kimia koloid, ia mengajak mengamati limbah garmen yang dimasuki limbah batu padas. Ia juga mengajak peserta didik mengamati gejala yang muncul. Secara terminologi guru berasal dari bahasa Sansekerta yang terdiri dari dua kata, yaitu gu (darkness) dan ru (to push away). Hal itu pulalah yang sedang ia coba lakoni kini, berusaha melakukan profesi guru dengan baik. Apa yang sudah ia lakukan, dikomunikasikannya, baik dalam tataran ide maupun dalam tindakan implementasi yang nyata. Syukurnya semua mendukung dan akhirnya ia mendapat pengakuan. Beberapa penghargaan teranyar yang diraihnya di tahun 2014 yakni sebagai Tokoh Pendidikan dari Bupati Karangasem dan dari The Soekarno Centre. Di tahun yang sama, ia juga berhasil meraih Benchmarking Pendidikan ke Korea Selatan dari Kemdikbud. –Inten Indrawati


Inspirasi

4

26 januari - 1 Februari 2015

Aria Indrawati

Hinaan Anggap Tantangan “Menjadi tunanetra bukan keinginanku atau pilihanku”. Begitulah pergolakan batin Aria Indrawati saat sekolah umum menolaknya menjadi murid di sana karena tunanetra. Hanya dengan perjuangan luar biasa, akhirnya Aria bisa bersekolah di sekolah umum. Suatu kesempatan yang boleh dibilang ‘langka’ bagi kebanyakan tunanetra karenanya Aria tak mau menyia-nyiakannya. Ia harus menunjukkan bahwa seorang tunanetra pun dapat berprestasi jika diberi kesempatan. Ia juga sadar dengan prestasi maka orang akan menghargai, tidak meremehkannya.

Aria Indrawati

B

erbekal tekad yang kuat itulah, Aria belajar super giat. Bukan hanya itu, ia juga berusaha bersosialisasi dengan baik, membuka diri, sehingga temanteman sekolahnya bisa menerima keberadaannya. Kerja kerasnya membuahkan hasil. SMA yang sebelumnya sempat menenolaknya masuk sebagai murid, menjadi ‘terbuka’ matanya. Meski tunanetra, Aria bukan hanya berhasil menyerap pelajaran dengan baik, tapi juga meraih nilai tinggi di kelasnya. Bisa jadi saat itu banyak yang tercengang, karena nilai-nilai yang diraihnya berhasil mengalahkan mereka yang berkondisi normal. Atas prestasinya, ia pun berhasil masuk ke ‘kelas teladan’, kelas di mana berkumpul murid-murid cerdas di sekolah itu. Dan pada akhirnya mereka pernah berapriori terhadapnya harus mengakui bahwa Aria memang spesial. Aria berhasil lulus SMA dengan capaian peringkat terbaik kedua untuk jurusan IPS. Itu adalah momen yang membahagiakan Aria.

“Ijazahku diberikan pihak sekolah pada orangtua daalm sebuah pertemuan yang dihadiri oleh seluruh orangtua murid. Inilah pertama kalinya aku bisa memberikan kebanggaan kepada orangtuaku di muka umum,” tutur wanita yang kini menjadi Ketua Umum Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni). Kejadian yang sama kembali terulang ketika ia masuk perguruan tinggi. Meski sudah jelas-jelas ia adalah murid berprestasi juga lulusan terbaik di SMA-nya, namun tetap saja ditolak masuk Universitas Negeri Diponegoro (UNDIP) Semarang hanya karena tunanetra. Sedih, sudah pasti. Namun ia juga tak mau berputus asa. Aria pun akhirnya masuk perguruan tinggi swasta, Universitas 17 Agustus Semarang. “Prinsip aku tetap sama, belajar keras, berprestasi dan membuat setiap orang menghargai aku meski tunanetra. Kerja keras ku membuahkan hasil, aku berhasil menerima beasiswa kuliah gratis,” papar Aria yang akhirnya menjadi dosen di almamaternya. Begitupun, masih saja ada orang yang menghinanya. Celakanya, itu dilakukan oleh petinggi di kampus tersebut. Tapi tindakan tidak terpuji itu, disikapi Aria dengan sabar dan berpikir positif. “Aku memaknai penghinaan itu sebagai tantangan, memberiku energi lebih untuk membuktikan bahwa aku juga bisa berprestasi dalam bekerja,” ucap editor Majalh ‘Diffa’ ini. Dan itu memang benar-benar dibuktikannya, dengan mengajar beberapa mata kuliah, termasuk mengajar mata kuliah yang kala itu dianggap momok, yakni, kriminologi. Begitulah sekelumit kisah tentang Aria Indrawati, seorang penyandang tunanetra yang berkat kerja kerasnya berhasil meraih berbagai prestasi yang mengagumkan. Untuk mencapai itu semua bukan hal yang mudah, begitu besar rintangan yang harus dilalui. Hanya berkat kekuatan mental serta kemauan untuk terus maju meraih cita-cita lah, akhirnya ia bisa mewujudkan impiannya. “Aku percaya, dilahirkan menjadi seorang tunanetra bukanlah sebuah ‘kebetulan’. Tapi ini adalah rencana Tuhan untukku. Dan jika sesuatu itu merupakan ‘keputusan Tuhan’, aku percaya itu pasti yang terbaik. Karenanya, meski sempat ‘marah’ kepada Tuhan karena aku dijadikan seorang tunanetra, saat ini

Refleksi untuk Negeri Kulihat Ibu Pertiwi, sedang bersusah hati. Air matamu berlinang, mas intanmu terkenang. Hutan gunung sawah lautan, simpanan kekayaan. Kini ibu sedang susah, merintih dan berdoa. Kulihat ibu pertiwi, kami datang berbakti. Lihatlah putra-putrimu, menggembirakan ibu. Ibu kami tetap cinta, putramu yang setia. Menjaga harta pusaka, untuk nusa dan bangsa.

aku sangat bersyukur dan bahagia karena dipilih menjadi tunanetra. Ini adalah jalan yang Tuhan berikan untuk mencapai kesuksesan dalam hidupku,” ujar wanita kelahiran Surabaya Januari 1965 ini. BESARNYA PERANAN ORANGTUA Kini ia bukan hanya telah tumbuh menjadi wanita mandiri dan penuh percaya diri, tapi juga menjadi wanita karier yang super sibuk dengan seabreg aktivitas. Ia juga kerap ‘wara-wiri’ ke mancanegara menghadiri berbagai pertemuan internasional. “Aku menjadi seperti ini tak lepas dari peranan dan dukungan dari orangtua. Tanpa mereka, aku tidak mungkin jadi seperti ini. Orangtua aku sungguh luar biasa. They take care of me very well dan aku sangat bersyukur karenanya,” ungkap penggemar buku dan traveling ini. Aria Indrawati adalah anak keempat dari tujuh bersaudara. Kurangnya penglihatan itu diderita sejak lahir, namun baru disadari oleh orangtuanya setelah usia 2 tahun. Di antara saudaranya, hanya dia sendiri yang menderita penyakit itu. “Semacam ada selaput putih menutupi mata. Kedua mata kemudian dioperasi, namun tidak memberi perbaikan yang berarti. Menurut dokter dampak gangguan itu sudah menjangkau syaraf. Namun begitu saya masih bisa melihat sedikit atau samar atau low vision,” ungkap Aria saat berbincang dengan Tabloid Tokoh. Kalaupun ia sekarang ini menjadi terlihat begitu mandiri dan penuh percaya diri, tuturnya, itu karena didikan orangtuanya. Sejak kecil, ia telah dilatih untuk melakukan berbagai hal sendiri. Ke sekolah misalnya, orangtua tidak mendampingi, tapi diantar-jemput tukang becak. “Ibu juga melatih aku naik angkot, bagaimana menyeberang jalan, dll, yang pada akhirnya Caracara itu menumbuhkan keberanian dalam diri aku. Lebih dari itu, aku senang melakukannya, tidak takut. Aku juga tidak malu karena kondisi ini,” paparnya. Begitu juga di rumah. Meski memiliki keterbatasan, bukan berarti ia hanya tahu beres atau hanya ‘duduk-duduk saja’ tanpa bekerja. “Seperti kakak yang lain, saya pun diajar mengerjakan pekerjaan rumah. Setrika baju, menyapu, memasak, bahkan cuci baju. Kamar tidur, meja belajar harus rapih. Kemandirian itu diajarkan sejak

Brigjen. Srijono saat berinteraksi dengan peserta NAC

aku kecil dan itu terbawa hingga dewasa,” tuturnya. Namun begitu sebagai manusia, tentu saja, meski terlihat tangguh, bukan berarti dia tidak pernah merasa down. “Yang namanya down, jujur saja, itu sering kali aku alami. Tapi aku tidak membiarkan itu berlarut-larut. Orang tangguh menyikapi hal itu dengan positif. Untuk aku sendiri, dikala down, aku berusaha mencari orang-orang yang sekiranya bisa membantu. Di ruangan kerjaku ada lukisan macan yang indah. Aku, kan, masih bisa melihat walau sedikit, suka sekali memandangi lukisan itu. Kadang ketika down, aku berbicara (curhat) pada lukisan itu. Atau, menulis, aktivitas ini bisa membantu untuk ‘bangkit’ kembali,” kata Aria yang selain menjabat Ketua Umum Pertuni juga aktif sebagai Kepala Humas di Yayasan Mitra Netra. MENCIPTAKAN PEMIJAT BERKUALITAS Dua organisasi itu, tutur Aria, memiliki fungsi yang berbeda. Kalau Pertuni, lebih kepada pressure group, sedang Yayasan Mitra Netra berfungsi semacam service provider atau penyedia layanan, khususnya di bidang pendidikan dan pekerjaan. “Tapi peluang kerja khususnya untuk mereka (tunanetra) yang memiliki pendidikan tinggi. Pertuni juga berkonsentrasi pada pendidikan, hanya saja lebih umum karena kebanyakan para penyandang tunanetra berpendidikan SMA ke bawah. Jadi kami juga membuka peluang kerja, misalnya dengan bekerjasama dengan berbagai pihak. Misalnya kerja sama dengan PT Sidomuncul, tentang budidaya tanaman obat,

atau dengan Kementerian Koperasi, dll,” papar Aria yang telah 20 tahun berkiprah di Pertuni. Tak dapat dipungkiri bahwa banyak penyandang tunanetra berprofesi sebagai tenaga massage. Sayangnya banyak tenaga massage tunanetra itu kualitasnya belum memadai, ini karena pelatihan yang didapat pun kualitasnya tidak memadai. Beda dengan di Jepang atau Korea, dimana para tunanetra mendapat pendidikan massage setara Diploma3. Jadi ke depannya, tutur Aria, Pertuni memiliki program menjadikan tunanetra yang berminat pada ketrampilan massage menjadi qualified masseuse (tukang pijat yang berkualitas) yang setara dengan tenaga kesehatan. “Kami berencana akan membuka program itu, tenaga pengajarnya pun adalah orang-orang yang handal di bidangnya. Untuk itu kami akan bekerja sama antara lain dengan Politeknik Kesehatan untuk bidang anatomi kesehatan. Sertifikasinya dari Kementerian Kesehatan atau dari Dinas Kesehatan. Korea, Cina, Jepang, sangat maju dalam bidang ini karena mendapat dukungan penuh dari Kementerian Kesehatan-nya. Kami berharap kita pun akan mendapat dukungan dari Kementerian Kesehatan. Rencananya kami akan menemui Menteri Kesehatan,” paparnya. Dalam UU Tenaga Kesehatan yang disahkan tahun lalu, paparnya, salah satu pasalnya juga menyebut tentang jasa pijat. Bagi Pertuni, jelasnya, hal ini bisa menjadi ‘pintu masuk’ untuk para tunanetra mendapat kesempatan memperoleh pendidikan sesuai dengan standar tenaga kesehatan. -Diana Runtu

Mandalika

26 januari - 1 Februari 2015

L

agu berjudul Ibu Pertiwi itu berkumandang dalam Gedung Sasana Dharma Polda Nusa Tenggara Barat, menyentuh hati seluruh peserta NAC (Neuro Assosiative Conditioning NAC) yang ikut menyanyikan lagu tersebut den-

gan penuh perasaan. Ada rasa haru dan nasionalisme yang bangkit dari dalam diri peserta yang sebagian besar adalah Polisi Wanita Polda NTB ketika mencurahkan perasaannya saat menyanyikan lagu yang merupakan personifikasi nasional dari Negara Indonesia atau Nusantara ini. Video pertikaian antarwarga, demonstrasi dan anarkisme juga kerusuhan, sebagian besar terjadi di Nusa Tenggara Barat, diputar sepanjang lagu tersebut dinyanyikan. Pikiran, hati, perasaan dan jiwa para polisi juga beberapa masyarakat umum yang mengikuti kegiatan ini, ikut serta memaknai lagu dan gambar yang ditampilkan secara bersamaan dengan kesan yang mendalam. Apalagi, pada sesi berikutnya masih dalam materi yang sama, lagu Indonesia Pusaka kembali berkumandang disertai video yang memperlihatkan kekayaan alam dan budaya serta tradisi Bumi Gora yang membentang dari puncak gunung hingga dasar laut, termasuk pantai-pantai dengan pasir putir bundar bak

mutu manikam. Lagu dan video ini ditampilkan setelah Brigjen. Pol. Drs. Srijono, Kapolda Nusa Tenggara Barat, menyampaikan dan memaparkan betapa pertikaian dan anarkisme itu tidak perlu terjadi untuk dapat menjaga dan mengolah kekayaan tanah air ini untuk mencapai kemakmuran dan kedamaian hidup bersama. “Bersatu adalah jalan keluar terbaik untuk menjaga keutuhan bangsa khususnya daerah (NTB-red) ini agar tetap damai dan tentram,” ungkap Srijono, di sela-sela kegiatan tersebut. Materi Refleksi Untuk Negeri ini, turut menggetarkan hati para abdi negara yang akan segera mulai bertugas setelah mengikuti pendidikan Brigadir. Buktinya, tidak sedikit dari mereka menyanyi dengan mata berkaca-kaca. Menumbuhkan rasa cinta tanah air dan kesadaran bahwa negara ini adalah negara yang kaya, Brigjen. Srijono yang juga seorang motivator tersebut membuka Pelatihan Mentor Polwan dan Pembekalan Polwan Diktuk Brigadir Tahun Angkatan 2014, Polda NTB, dengan modul pertama yakni Refleksi Untuk Negeri, beberapa waktu lalu. Refleksi untuk negeri adalah satu dari 18

modul lengkap dalam pelatihan NAC Polri yang kini telah masuk dalam kurikulum pendidikan Polri secara resmi. Kegiatan pelatihan yang kali ini menurunkan tiga motivator utama, Brigjen. Pol. Drs. Srijono, M. Si., Meiyar, B.Sc dan Nyoman, berlangsung dari pukul 08.00 wita sampai dengan 23.00 wita. Meski berlangsung hampir sehari penuh, para peserta tidak merasa jenuh dan bosan, karena pelatihan NAC dikemas dengan gaya entertainment. Motivator atau trainer tidak hanya berbicara melainkan diselingi berbagai kegiatan yang menyenangkan, seperti peserta melakukan berbagai permainan, bernyanyi dan menonton videovideo yang dapat memotivasi peserta untuk move on, berubah dari hal yang tidak baik menuju kepada kebaikan. “Yang utama adalah merubah mindset (pola pikir) dari yang sudah sangat lama dilakukan (cara berpikir yang salah/tidak tepat, menuju

21 pola pikir baru yang lebih baik,” kata Meiyar, Ketua Bhayangkari Daerah NTB yang juga ikut turun sebagai motivator. Perubahan yang dimaksud adalah hijrahnya pola pikir menjadi lebih baik dengan menjadi agen perubahan untuk dapat membangun dan menata kembali karakter bangsa ini, mulai dari diri sendiri, mulai dari yang paling kecil dan dimulai sekarang juga. “Manusia itu tidak ada yang sempurna, tapi tekad yang kuat untuk menyempurnakan, itulah yang terpenting,” kata Brigjen. Srijono. Menurut Srijono, orang yang cerdas dalam kehidupan itu adalah mereka yang mau mencari solusi dengan kreativitasnya bukan mengalah pada kesimpulan yang membuat pribadi menjadi pesimis. “Banyak terjadi, jika orang mendapatkan masalah maka kerap mengambil kesimpulan bahwa masalah itu tidak cocok dengan dirinya. Padahal mestinya bagaimana menghadapi masalah tersebut dengan mencari dan menemukan solusi terbaik dengan memaksimalkan potensi kreativitas yang dimiliki oleh tiap pribadi,” ungkapnya. -Naniek I. Taufan

Brigjen. Srijono saat briefing dengan tim NAC Polda NTB

Pelatihan NAC 9 Kali lebih Cepat NAC Polri telah dikembangkan yang dimulai dengan pembentukan tim trainer NAC sejak tahun 2005 mulai dari SPN Purwokerto, Polda Kalimantan Barat, Sespima, Setukpa Lemdikpol dan Akpol. Kini Puluhan ribu anggota Polri sudah mengikuti pelatihan ini dan ada juga yang secara khusus dilatih untuk menjadi trainer. Tidak hanya Polri, NAC itu juga banyak diikuti oleh birokrat, kalangan legislatif, eksekutif, para pendidik, Bhayangkari, Perguruan Tinggi, Pondok Pesantren hingga para karyawan. “Harapannya, kegiatan ini bisa memberi sentuhan nurani kepada anak negeri dalam mendukung akselerasi perubahan Kultur Polri dan masyarakat menuju NKRI yang kuat yang dimulai dari intitusi Polri,” kata Srijono. NAC adalah salah satu bentuk usaha untuk membangun negeri dengan hati bersama Polri. Di mana, dalam melakukan perubahan karakter Polri dalam suasana damai di antara anak negeri. Setidaknya inilah jargon yang kerap digaungkan oleh para motivator NAC. Sebagai penggagas NAC

NTB disiapkan untuk menjadi Role Model NAC Polri

Polri, Brigjen. Srijono menyebar aura perubahan lewat pelatihanpelatihan yang dilakukan dalam berbagai komunitas di NTB. Dimulai dari jajaran kepolisian Polda NTB dan Polres-polres seNTB bahkan kini tengah bersiap untuk masuk ke sekolah-sekolah. “Bahkan tengah dalam pematangan rencana untuk bekerja sama dengan perguruan tinggi di NTB, untuk memasukan NAC sebagai bagian dari kegiatan penerimaan mahasiswa baru, guna membantu menumbuhkan kesadaran peruba-

han,” kata Srijono. Perubahan, khususnya karakter itu tidak bisa dilakukan oleh orang lain melainkan harus atas keasadaran sendiri. Karena itu NAC diharapkan bisa menjadi stimulan bagi sebuah kesadaran perubahan. Pelatihan ini dinilai sebagai waktu yang tepat untuk memberikan motivasi perubahan pada mahasiswa baru yang masih berada dalam tahapan yang baru saja lepas dari masa SMA, usia pencarian jati diri. “Dalam hal perubahan mindset, pelatihan NAC

9 kali lebih cepat penyerapannya dibandingkan dengan mendengarkan ceramah/kuliah biasa,” ungkapnya. Dengan 24 orang tim NAC Polda NTB yang siap menjadi trainer dan menguasai modul-modul pelatihan, Srijono berharap dapat menjadikan NTB sebagai role model NAC yang dikembangkan dan disebarluaskan tidak hanya dalam lingkungan Polri melainkan juga di berbagai komunitas. “Saya akan membagi ilmu dan manfaat NAC kepada siapa saja, di mana saja dan kapan saja,

khususnya sekarang ketika saya ditugaskan di NTB,” ujar Kapolda yang murah senyum ini. Selain melakukan tugas rutin mengawal kamtibmas di daerah ini, Brigjen. Srijono memiliki mimpi yang besar untuk melakukan sebuah gerakan perubahan bangsa ini. “Kita adalah orang kecil, mungkin yang dilakukan juga kecil, tapi harus punya cita-cita besar untuk sebuah perubahan. Sekecil apapun kontribusi itu, maka akan sangat besar pengaruhnya bagi berjalannya perubahan itu sendiri,” kata. -Naniek I. Taufan

Para Polwan baru saat mengikuti pelatihan NAC


26 Januari - 1 februari 2015

22

Kampung Ambon telah “Bertobat”

Perang terhadap narkoba makin keras. Berbagai penggerebekan dilakukan pihak kepolisian. Di Jakarta, awal tahun 2015 berhasil digagalkan penyelundupan sabu-sabu terbesar yang dilakukan jaringan sindikat internasional. Penangkapan itu sendiri terjadi di kawasan Lotte Mart Taman Surya, Kalideres, Jakarta Barat. Petugas berhasil menyita 840 kg sabu-sabu asal Guangzhou, Cina, yang masuk ke Indonesia lewat jalur laut . “Ini adalah penyelundupan narkoba terbesar sepanjang sejarah BNN,” ungkap Deputi Pemberantasan BNN Brigjen Pol Dedi Fauzi.

M

enurut data BNN, Jakarta adalah kota pengonsumsi narkoba terbesar di Indonesia. Angka penyalahgunaan narkoba di kota yang berpenduduk sekitar 9 juta jiwa ini, sekitar 7% dari seluruh Indonesia. Ini merupakan angka tertinggi dibanding daerah lain di Indonesia. Salah satu daerah yang diketahui sebagai kampung narkoba terbesar adalah Kampung Ambon di Jakarta Barat. Keberadaan ‘kawasan per­ dagangan narkoba’ ini sudah sejak lama, tumbuh subur dan nyaris tak tersentuh. Tapi itu dulu. Pihak yang ber­ wenang tidak bisa tinggal diam

lagi. Apalagi peredaraan narkoba di Jakarta makin mengkhawatir­ kan. Dalam dua tahun terakhir ini, gempuran intensif terus dilakukan oleh pihak kepolisian, ratusan warga yang terlibat ditangkapi. Para bandar, baik besar maupun kecil, diburu dan dijebloskan ke penjara. Sebutan Kampung Ambon ini muncul karena dulunya daerah tersebut banyak dihuni oleh warga yang berasal dari Ambon, Maluku. Nama sebenarnya adalah Komplek Permata. Letaknya di Kelurahan Kedaung Kali Angke, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat. Dalam perjalanannya, kampung tersebut kemudian berubah menjadi ‘kam­ pung narkoba’. Di sana barang

Tes urine massal di Kampung Ambon Jakarta Barat

haram ini dijual secara bebas. Ra­ tusan warganya, mulai dari orang dewasa, laki-laki, perempuan, bahkan anak-anak terlibat dalam bisnis barang haram itu. Menurut Ketua RT 07, Alfon­ siana atau akrab disapa Sheynda, kawasan itu mulai dikenal sebagai Kampung Ambon sekitar tahun 1973. Dia sendiri bersama keluar­ ganya telah menetap di sana sejak 1973. Dulu, profesi warga keban­ yakan adalah pelaut, pedagang, dll. Namun, seiring waktu, bersamaan dengan mulai maraknya penjualan narkoba, banyak warga beralih pro­ fesi, terjun ke dalam bisnis barang haram ini. “Banyak warga tergiur karena uang yang didapat besar. Bagaimana tidak, duduk saja dapat uang,” ucapnya. KAWASAN UNTOUCHABLE Tahun 1990-an, daerahnya sudah marak dengan bisnis ganja. Warga tahu tapi acuh tak acuh sampai akhirnya bisnis itu makin membesar. Sekitar tahun 1999, nama Kampung Ambon pun mu­ lai dikenal luas sebagai ‘pasar narkoba’. Hampir semua jenis narkotika dijual di sana. Sebut saja, sabu-sabu, inex, putau, heroin, dll. Semua ada! Pembeli datang dari berbagai tempat di luar Kampung

Pos polisi yang dibangun tahun 2009 lalu dan sempat tidak efektif karena oknum petugasnya terkena sogokan, kini sudah berjalan bagus. Setiap jam polisi melakukan patroli. Gara-gara narkoba, tutur seorang warga, kampungnya menjadi rusak. Ada yang bercerai, ada yang tewas tertembak, bahkan bunuh diri. Ada juga keluarga yang bapak-anak meninggal karena narkoba. Dia sendiri dulu adalah pemakai narkoba, namun sudah menjalani rehabilitasi. “Sekarang kondisi daerah ini sudah bagus, bersih narkoba. Tapi polisi tetap berjaga-jaga agar tidak terulang lagi. Warga-warga yang dulunya terlibat, kini banyak yang sudah sadar. Me­ reka ingin daerahnya bersih dari narkoba,” paparnya. November lalu, tambahnya, di daer­

3

Made Puspawati

Saling Menguntungkan Suasana pelatihan ketrampilan di Kampung Ambon

Ambon. Bukan hanya warga biasa, tapi juga para public figure, yakni, artis juga para pejabat, bahkan oknum-oknum aparat. Mereka senang ke sana karena Kampung Ambon dinilai relatif aman diban­ ding daerah lain yang kerap kena gerebek polisi. Ya, Kampung Ambon, dulu sem­ pat disebut kawasan ‘untouchable’ .Berbagai upaya kepolisian untuk membersihkan daerah itu seperti membentur tembok. Maklum, ban­ yak warga yang sudah ‘terinfeksi’ narkoba berusaha menutupi aktivi­ tas haram itu. Bahkan mereka tak segan-segan melawan aparat. Yang parahnya lagi, oknum aparat pun ikut ‘bermain’ di sana. Itu sebabnya, upaya-upaya penggerebekan tak membuahkan hasil maksimal. Di sisi lain, ‘lapak-lapak’ atau rumah yang dijadikan toko penjual narkotika dan obat-obat terlarang berjualan narkoba ,dibuka terangterangan. Pembeli bisa bertransaksi dengan bebas atau memakai lang­ sung di tempat. Berkembangnya bisnis narkoba ini, kata Sheynda, seperti membuka lapangan kerja bagi warga dengan imbalan yang menggiurkan. Mulai dari sewa rumah, juru parkir, bagian penim­ bangan, dll, semua kebagian peran. Seorang juru parkir saja, ketika sedang ramai, bisa meraup Rp 800 ribu per hari. TOLAK SOGOKAN Mungkin satu-satunya tempat yang tak tercemar adalah Jl Mu­ tiara, di mana sang Ketua RT 07 pemberani itu tinggal. Sheynda memang seolah tak kenal takut da­ lam menentang peredaran narkoba di kampungnya. Bukan sekadar berbicara keras dan tegas, tapi juga

Tes Urine Massal

Kini harapan Sheynda dan juga sebagian warga yang juga anti narkoba, agaknya sudah menemukan titik terang. Sejak pihak kepolisian aktif melakukan razia di kawasan ini, peredaran narkoba menurun drastis. Puluhan ‘lapak’ dimusnahkan, sampai akhir­ nya tidak ada lagi. “Kini sudah baik. Polisi patroli tiap hari. Sekarang orang takut bawa narkoba. Kalau dulu pengguna narkoba mudah ditemukan di pinggir jalan, sekarang tidak ada lagi,” tuturnya. Keadaan mulai membaik sejak September 2014 lalu. Banyak warga yang dulunya terlibat dalam peredaran narkoba ataupun sebagai pemakai, mendapat pembinaan. Mereka juga diberi pelatihan berbagai ketrampilan untuk bekal menjalani hidupnya. “Mereka kini sudah banyak yang bekerja,” kata Sheynda.

Sosialita

26 Januari - 1 februari 2015

dia tak mempan disogok. Banyak bandar narkoba mendekatinya, namun mereka semua mental. Sampai akhirnya tak ada yang berani mendekat karena tahu segala bujuk rayu mereka tak akan mempan. “Banyak yang mendekati. Per­ nah ada yang berani menawari saya Rp 20 juta per bulan tapi saya tolak. Saya tak tergiur dengan uang itu, untuk apa? Banyak yang terima tapi saya tidak mau,” tegas ibu satu anak ini. Dulu, di masa Kampung Am­ bon berjaya dengan bisnis narko­ ba, daerah ini luar biasa ramai dengan pembeli dari luar. Banyak mobil dan motor terparkir di jalanjalan, terkesan seolah di daerah itu ada hajatan besar. Padahal mere­ ka adalah konsumen-konsumen narkoba. Tapi Sheynda bersikap tegas. Dia tak mau sepanjang jalan tempatnya tinggal ada mobil atau motor yang ‘tak jelas’ identitasnya parkir, pasti dikempesi bannya. Sikap kerasnya ini bukan hal yang mudah. Ia harus berhadapan dengan warga yang juga terlibat dalam bisnis tersebut, juga para bandar. Tapi itu semua tak me­ nyurutkan langkahnya memerangi narkoba, minimal tidak masuk ke wilayah RT—nya. Yang namanya ancaman, bukan hal yang baru lagi baginya. “Saya hanya bisa berdoa pada Tuhan agar dilindungi. Saya selalu berdoa agar daerah kami, suatu saat bisa bersih dari narkoba. Soal ancaman sudah sering. Saya hanya berserah pada Tuhn. Kalau mau mati, di manapun bisa mati. Jadi biarlah,” ungkap alumnus Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia ini –Diana Runtu

Tak satupun usaha tanpa berhubungan dengan orang lain. Ketika berhubungan dengan orang lain atau pelanggan, ia meletakkan nilai per­sahabatan yang lebih berharga dibandingkan sekadar meraup keuntungan. Demikian di­sampaikan Made Puspawati, pemilik Komplit Jaya saat ditemui di optiknya di kawasan Jalan Thamrin, Denpasar.

M

enurut istri I Gede Astama ini memiliki usaha atau berbis­ nis bukan hanya mengejar ke­ untungan, membeli murah dan menjual de­ngan harga tertinggi. Tetapi, berbisnis adalah upayanya berkontribusi dan bermanfaat bagi orang lain tanpa mengabaikan pengembangan usahanya. “Nilai kebahagiaan dan keberhasilan usaha kami bukan pada berapa be­ sarnya keuntungan materi, tetapi seberapa baik pelayanan yang sudah dilakukan dan berapa ba­ nyak manfaat yang bisa diberikan,” ujar wanita yang akrab dipanggil Bu Geg Puspa ini. Ia menyadari kalau jantung sebuah usaha adalah pelayanan. Dalam melakukan pekerjaan apa­ pun sesungguhnya kita melayani. Ketika kita melayani dengan baik, akan menimbulkan hasil yang baik. Karenanya untuk produk yang dijualnya ia tidak perlu mematok harga terlalu tinggi. “ Jika kita men­ jalankan bisnis tentu di sana ada nilai profit, namun profitnya yang wajar. Maka memberikan harga pun kami lakukan yang wajar,” tuturnya. Untuk urusan para karyawan, ibu dari Wangsa Ayu Pitaloka (Gek Ita), Wangsa Ayu Vidya Loka(Gek Vidya) dan Wangsa Ayu Prasanti Loka (Gek Santi) ini menerapkan aturan kerja yang baik sehingga karyawan merasakan nyaman

saat bertugas. Ia memposisikan mereka sebagai aset berharga dan memperlakukan mereka bak keluar­ga, dirangkul untuk samasama berkembang.”Para karyawan pun juga menyadari bahwa bos mereka bukan kami tapi pelang­ gan,” tandas Bu Geg Puspa. Ia dan sang suami memang mendambakan model bisnis berkelanjutan yang menyeim­ bangkan pencetakan profit dan tanggung jawab sosial. Untuk ini mereka memilih menjalankan usaha berdasar nilai-nilai spiritual. Ia menyakini nilai yang ditebar­ kannya bukan hanya mendong­ krak profit namun bisa menjamin kelanggengan dan penguatan hubungan dengan pelanggan un­ tuk membentuk jalinan kerja­ sama yang saling menguntungkan.

BERAWAL DARI TOKO JAM Saat ini usaha Komplit Jaya, berkembang dalam beberapa bidang usaha. Divisi Herbal yang menyediakan produk seperti: Gar­ cia (kulit manggis); Susu Kedelai Mandala 525; Susu Zena; Vermint; dan Virgin Oil. Ada juga Komplit Jaya Optik dengan fasilitas dan pelayanan optimal, Lumbung Dewata Supplier yang menyuplai gula dan sembako ke minimarket dan beberapa toko sembako lainnya. Semua itu be­ rawal dari Toko Komplit Jaya yang menyediakan servis dan spare part beragam jenis jam.

Bu Geg Puspa mengatakan yang ada dihadapannya kini, tidaklah tercipta dalam sekejap. Sebenarnya, usaha awal di bidang sembako dengan nama Komplit, adalah milik mertuanya. Namun, begitu ia dan suami memulai usaha tahun 1989, nama Komplit ditambahkan kata Jaya. Ternyata penambahan nama Jaya di bela­ kang kata Komplit, karena alam yang menggiring, dan perlahan usahanya mulai berkembang. Mulanya, sang suami hanya me­ layani servis jam sesuai keahlian­ nya, dan dilengkapi menjual spare part . Kemudian meningkat me­ layani grosiran spare part untuk jam. Sampai akhirnya menye­ diakan aneka jam dan kaca mata. Bu Geg Puspa saat itu masih aktif bekerja di Apotik Kimia Farma. Selanjutnya berbekal latar belakang pendidikan farmasi, Bu Geg Puspa juga nyambi menjadi distributor, bekerjasama dengan perusahaan yang memegang Gar­ cia dan MDL 525 , dan dikem­ bangkan di wilayah Kimia Farma Tabanan dan Bangli. Tahun 2004 ia resmi mundur dari Kimia Farma demi melanjutkan usaha bersama suami . Di saat yang sama ia juga mendapatkan tawaran sebagai supplier gula di bawah bendera Lumbung Dewata Supplier, yang pasarnya masuk ke minimarket juga pasar-pasar tradisional. Ia mengaku bersyukur, dengan makin bervariasi produk yang dijual, hasil yang diterima karya­ wan pun mengikuti. Apalagi mereka memiliki sistem kerja yang baik. “Seperti untuk divisi herbal, kami punya target. Dari target ini kami bisa memberikan peluang penghasilan lebih kepada karyawan. Untuk mencapai target, kami juga memberikan langkah yang harus dilakukan,” kata ibu yang rajin membaca Bhagawad Gita, mendengarkan slokanya dan membaca buku spitritual dari berbagai kalangan ini. Ketika karyawan sudah melakukan dengan baik, namun

ahnya dilakukan tes urine massal. Warga dengan suka rela melakukan­ nya. Mereka yang terindikasi pemakai mendapat rehabilitasi. “Di sini ada Pos BNN. Mereka yang pemakai ringan, dapat ‘berobat jalan’ di pos ini,” tambahnya. Kampung Ambon bukan sekadar ‘dibersihkan’ dari narkoba tapi juga mendapat pembinaan dari BNN. Berba­ gai kesempatan kerja dibuka. Selain itu juga diadakan event-event pelatihan ketrampilan untuk bekal bekerja. Misalnya, ketrampilan pembuatan sablon, kerajinan, dll. –Diana Runtu

Puspa bersama keluarga

Puspa dan suami

tidak mencapai target, di sinilah perannya sebagai owner, dengan nilai spiritual yang dimiliki bisa menerima dengan lebih legowo, sebab mereka sudah menerapkan prinsip bekerja dengan benar. Bahkan lebih dari itu, ia menya­ dari ketika suata saat karyawan­ nya mengalami kesulitan, ia akan berlapang dada untuk dijadikan sandaran. Mungkin suatu saat uang yang diperoleh karyawannya tidak seberapa, namun karena nyaman

mereka bisa mensyukuri dan mengatur perolehannya. Ia juga sering menekankan bahwa usaha

dilakukan ibarat ladang dari Tu­ han. Bagaimana agar ladang ini tersebut tidak dicemari hama atau segala bentuk perbuatan negatif. Karena hasil dari ladang nantinya akan diberikan pada anak–anak, dimakan sendiri atau diberikan pada orangtua, Jika hasil yang dikonsumsi bersih, maka berkat ini akan menghasilkan pikiran ber­ sih. Jika kita memperoleh sesuatu melalui perjuangan positif dan hasil positif pula yang akan diberi­ kan pada anak cucu nantinya.

TANAMKAN BUDI PEKERTI Disinggung soal keluarga, Bu Geg Puspa menyatakan sangat bersyukur dalam menjalankan usahanya, didukung penuh sang suami. “Apalagi suami saya orangnya tidak ambisius. Ia berprinsip lakukan pekerjaan dengan baik, seberapapun hasilnya dinikmati dan disyu­ kuri. Jadi menjadi pasangan­ nya buat saya sangat istimewa,” ujarnya. Untuk mendidik ketiga pu­ trinya ia lakukan dengan mena­ namkan budi pekerti. Begitu pula hasil kerja yang diberikan pada anak itu dari hasil yang baik maka anak juga menjadi sehat termasuk cara berpikirnya juga jernih, ber­ sahaja, dan tidak neko-neko. Saat ini lanjutnya tidak muluk-muluk , ia sedang belajar mendelegasikan tugas-tugasnya kepada putri-pu­ trinya, dengan mengajarkan mer­ eka seperti yang dilakukannya. Bu Geg Puspa berharap anak-anaknya pun bisa mandiri, sehingga di­ rinya dan suami bisa lebih banyak melakukan kegiatan sosial “Sebagai seorang ibu pula, kewajiban saya mendoakan anak. Dengan kekuatan gayatri man­ tram kami berdoa bukan untuk menjadi kaya tapi mereka bisa menempatkan diri dimana pun berada. Apa yang mereka lakukan bisa menjadi contoh yang baik bagi lingkungannya. Begitu juga doa untuk keluarga agar selalu diberikan kemampuan menjadi pribadi yang baik. Sebab tujuan hidup kami memperbaiki kualitas kehidupan ini, ” papar pemilik prinsip bekerja dengan hati dan menjaga sikap baik kepada siapa­ pun ini. -ard


2

Ekspresso DAri daPUr Redaksi

26 januari - 1 Februari 2015

GORO-GORO

Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Kerja, kerja, kerja merupakan slogan yang terkenal sejak ­Dahlan Iskan menjadi Menteri BUMN di era pemerintahan Presiden SBY. Kini di era pemerintahan Presiden Jokowi, slogan kerja, kerja, kerja ini tetap bergema. Kabinet Jokowi pun disebut Kabinet Kerja karena para menteri selesai dilantik langsung bekerja dan blusukan. Bekerja dan berdoa (ora et labora) juga sering dijadikan motto. Artinya, orang harus bekerja dan dibarengi dengan berdoa. Keduanya harus harmonis. Me­ ngenai apa hasilnya, tergantung dari pribadi masing-masing yang menjalaninya. Wejangan mengenai bekerja dan berdoa pun disampaikan Prabu Darmayasa saat malam Maha Siwa Ratri di Wantilan Ge­dung Pers Bali K. Nadha. Be­ kerja dengan tulus ikhlas akan mendapatkan hasil yang maksimal. Hal ini yang dilakukan si pemburu Lubdaka yang dengan tulus melakukan jagra sehingga mendapat berkah dari Dewa Siwa. Di era modern ini, bekerja

Putu Wijaya

tkh/wawan

wajib dilakukan. Kalau tidak be­ kerja, dari mana kita mendapatkan penghasilan yang kemudian dipakai untuk menghidupi diri sendiri dan keluarga. Suasana kerja yang nyaman tentu sebuah keharusan. Suasana yang nyaman ini akan memberikan manfaat positif bagi pekerja. Pemerintah pun sudah mengatur tentang suasana kerja ini yang dikenal dengan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dan ini masuk juga dalam UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenaga­ kerjaan. Sesuai dengan namanya, kese­ lamatan dan

ke­sehatan, tentu faktor-faktor yang bersinggungan dengan kedua hal ini harus mendapat perhatian. Jika terjadi permasalahan, dampaknya bisa diminimal. Lebih bagus lagi jika tidak ada masalah. Kesadaran semua pihak sangat menentukan jalannya tujuan keselamatan dan kesehatan kerja. Berkenaan dengan keselamat­ an dan kesehatan kerja ini dan peringatan Hari Keselamatan dan Kesehatan Kerja tiap tanggal 12 Januari, kami menyajikan beberapa tulisan yang berkaitan dengan K3. Semoga pembaca bisa mendapat manfaat dari sajian kami ini. Salam

Nunggu Motor Lain Pergi Menonton konser musik merupakan salah satu kegemaran saya. Aliran musik rock menjadi pilihan saya. Saya banyak mengoleksi kaset musik rock. Idola saya Dream Theater. Beberapa album dari grup music cadas lain juga saya miliki. Teman-teman dan keluarga sudah tahu hobi saya mengoleksi album music rock. Saya pun sering mendapat informasi tentang album baru dari sebuah band atau penyanyi rock. Ketika konser Soundrenalin digelar di Pulau Serangan (tahunnya saya lupa), saya sangat bersemangat. Wajib hukumnya untuk nonton. Dari informasi teman dan baliho yang ada di jalan, saya melihat banyak grup rock papan atas Indonesia yang tampil. Saya tambah semangat karena jarang bisa menyaksikan konser banyak band dalam satu event. Hari menonton konser pun tiba. Siang itu, saya berangkat sendirian ke Pulau Serangan (sebenarnya tak cocok disebut pulau karena sudah menyatu dengan daratan Bali). Saya da-

bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

tang dua jam lebih awal. Dengan datang lebih awal, saya tidak perlu berdesakan saat masuk. Parkir pun masih lenggang. Saya bisa leluasa memarkir motor. Di areal konser, saya juga bisa membeli beberapa souvenir berbau rock. Tak terasa, waktu cepat berlalu. Konser mulai. Saya pun menikmati suasana konser. Hampir tiga jam saya berada di areal itu. Hari hampir senja. Saya memutuskan untuk pulang. Sambil berdendang lagu-lagu rock, saya melangkahkan kaki ke parkiran. Sampai di parkiran….oh My God. Saya lupa dimana saya memarkir motor. Suasana siang benar-benar beda dengan senja. Siang masih lenggang sedangkan sorenya, lapangan parkir sudah penuh. Saya menyesali diri, mengapa tadi tidak menghapal lokasi motor.

Bolak-balik saya berjalan sambil mengingat. Karena panik, saya tidak bisa konsentrasi. Kepanikan saya diperhatikan petugas parkir. Ia pun ikut membantu. Tetapi, karena saya benar-benar lupa, saya tidak bisa memberi petunjuk awal dimana lokasi motor. Hanya ada satu cara. Saya harus menunggu motor-motor itu pergi dari parkiran untuk menemukan motor saya. Saya pun memilih menepikan diri. Istirahat di warung yang ada di tepi lapangan parkir. Akhirnya motor baru saya temukan di malam hari ketika lapangan parkir sudah agak sepi. Sejak saat itu, saya selalu memilih lokasi strategis untuk parkir. Bahkan kini saya sering memotret lokasi parkir agar bisa ingat dan bernasip apes lagi. Hari P

Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca ­lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. ­Panjang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan nomor kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373

BALI

“Untuk menyambut tahun baru, apa sebaiknya yang harus saya tulis tentang Bali, Pak?” tanya Sugi kepada mertuanya. Amat cepat berpikir. “Tentang atau untuk?” “Kedua-duanya.” “Kalau tentang, tulis yang seadanya menurut Nak Sugi saja. Bagus kalau ada kritikan, tapi yang sehat, yang membangun. Kalau untuk, lain lagi, tulis yang baik-baik saja. Sebaiknya memuji. Boleh juga memberikan saran-saran positif. Kalau kedua-duanya, tentang dan untuk Bali, berarti Nak Sugi mau menceritakan Bali bagi orang-orang Bali sendiri, itu harus hati-hati sekali!” “Kenapa, PaK?” “Ya begitulah. Namanya memang pulau, jadi satu daratan. Kecil pula, karena itu dulu kita masuk dalam kelompok Sunda Kecil. Tapi ingat. Ada Bali Utara, Bali Selatan, Bali Barat dan Bali Timur. Setiap wilayah, meskipun bahasanya sama, tapi logatnya, nada bicaranya beda-beda. Watak penduduknya beda. Itu bisa dilihat dari keseniannya. Contoh, gamelan di Bali Utara, gangsanya tidak tergantung seperti di wilayah Bali lain. Suaranya juga tidak nyaring tapi dalam. Ada lagi. Di Bali Utara, Kaja itu arah Selatan, sedang di Bali Selatan, Kaja itu arah Utara. Jadi terbalik. Artinya bicara harus hati-hati, sekali lagi hati-hati sekali! Salah sedikit bisa jadi soal besar!” Sugi termenung. “Jadi apa yang akan Bli tulis?” tanya Ami melihat suaminya terus termenung berkepanjangan. Sugi menggeleng. “Susah. Daripada cari musuh, lebih diam!” “Lho kok begitu?! Bli kan dosen, intelektual yang bertugas mencari kebenaran untuk menerangi hati masyarakat. Kalau ada kebenaran yang mau Bli sampaikan kepada masyarakat, tulis saja. Jangan takut!” Sugi tersenyum kecewa, lalu kembali termenung. Lalu muncul Amat. Ia merasa bersalah karena sudah menakutnakuti menantunya sehingga tak jadi menulis. “Kalau bapak boleh tahu, apa sebenarnya yang mau Nak Sugi sampaikan tentang dan untuk Bali?” Sugi menjawab hati-hati, “Saya ingin menyampaikan bahwa Bali bukan hanya milik orang Bali. Bukan juga hanya milik orang Indonesia. Bali adalah milik dunia. Dari sudut itu, Bali bukan hanya objek wisata, tapi dengan segala isinya, Bali adalah sebuah kearifan lokal dalam kehidupan yang bisa dipakai menyikapi berbagai persoalan dunia. Tapi untuk itu diperlukan reinterpretasi terus-menerus terhadap nilainilai tradisi, sesuai dengan pesan desa-kala-patra. Artinya Bali tidak boleh mandeg menjadi museum, tapi tata nilai universal yang bergerak terus-menerus menyesuaikan diri dengan desa-kala-patra.” Amat manggut-manggut. “Wah bagus itu. Tulis saja!” “Sudah.” “Sudah? Kenapa tidak dikirimkan ke surat kabar supaya dibaca banyak orang?” “Sudah!” “Sudah? Masak?” “Sudah! Minggu lalu sudah dimuat di koran langganan Bapak. Tapi tidak ada yang baca. Bapak bahkan Ami sendiri juga tidak baca. Ya, kan?! Maklum yang top sekarang hanya berita politik, skandal, dan gosip.”

Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budi­a rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Se­k retariat: Ayu ­A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­m erah ­B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­ ­F aksi­m ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang ­G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

Mozaik

26 januari - 1 Februari 2015

Harus Pintar “Membaca” Konsumen Hampir 13 tahun, Desy Sari Dewi (38) bekerja sebagai karyawati XL. Awal kariernya sebagai Supervisor di Banjarmasin. Tanggung jawab dalam bekerja dan memberikan pencapaian hasil yang maksimal membuatnya menjadi VP Sales East Region.

“B

isa dikatakan, tiap empat tahun sekali saya naik jabatan. Itu sebenarnya bukan target saya. Target saya adalah bagaimana pelanggan bisa tertarik sehingga jumlah pelanggan bertambah, itu yang saya harapkan dalam bekerja. Namun, kita juga harus melihat di mana daerah kita bekerja. Karena tidak semua daerah sama,” jelasnya. Dalam hal ini, Desy harus bisa membaca konsumen daerah tersebut. Pelanggan XL yang ada di desa seperti apa, di kota seperti apa itu harus diketahui jika ingin mempertahankan pelanggan, bahkan untuk menambah pelanggan. Karena

keperluan tiap daerah berbeda. Ia mencontohkan, untuk pelanggan yang berada di Surabaya, mereka lebih konsumtif namun juga selektif sehingga mereka juga menginginkan harga yang paling murah. Sehingga XL harus memberikan paket yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekitar. “Itu berbeda dengan di desa, karena itu sebelumnya kita bersama tim harus melakukan survei. Apa sih yang diinginkan pelanggan di daerah tersebut, seperti itu. Baru kita memberikan programprogram yang sesuai dengan pelanggan perlukan,” ujar wanita kelahiran Banjarmasin, 10 Desember 1976. Jebolan Universitas Petra ini,

Desy Sari Dewi

selalu berupaya untuk memberikan yang terbaik terhadap perusahaannya. Namun, tidak mengesampingkan keluarganya. “Meskipun saya jauh dari keluarga, tetap komunikasi adalah hal paling utama dalam keeratan hubungan kami yakni saya dan kedua anak saya serta suami saya. Itu tiap hari,” ungkapnya. Sejauh ini, keluarga bisa memaklumi. Kadang anaknya menuntut mamanya seperti papanya yang setiap hari pulang ke rumah,

Buat Program sesuai Keperluan Pelanggan

Sebagai seorang pimpinan, merupakan tanggung jawabnya untuk memajukan wilayah yang dipimpinnya. Salah satunya, harus bisa membaca karakter pelanggan tersebut. Karena di masing-masing daerah, karakter pelanggan sangat berbeda. Apalagi antara daerah perdesaan dengan daerah perkotaan cukup jauh perbedaannya. VP Sales East Region, Desy Sari Dewi mengatakan, masyarakat perkotaan umumnya konsumtif dan selektif sementara masyarakat perdesaan umumnya sesuai kebutuhan. Di masing-masing daerah tidak akan sama persis, itulah yang harus dicari. Seperti apa yang diinginkan masyarakat di suatu daerah yang menjadi pelanggan XL dan calon pelanggan XL.

tkh/dona

“Saya bersama tim, melakukan survei terhadap pelanggan di wilayah tersebut. Apalagi di daerah perkotaan seperti Surabaya

ini. Pada 2014 lalu, pertumbuhan pelanggan XL sekitar 10 persen. Kami berharap tahun ini juga akan tumbuh,” jelasnya. Setelah dilakukan survei, mereka lalu membuat programprogram yang sesuai dengan karakter pelanggan. Misalnya dengan gratis telepon atau gratis sms atau program lainnya seperti kartu perdana paketan data. Masih banyak lagi program yang bisa dihadirkan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. “Pada dasarnya memang program tersebut sama, namun kita menyesuaikan kebutuhan pelanggan wilayah tersebut. Misalnya wilayah Surabaya dominan data, kita lebih banyak memberikan paket atau promo data. Seperti itu kira-kira,” pungkasnya. -Diyah

tkh/dona

tkh/dona

namun pada akhirnya menyadari juga. Bahkan sekarang, jika kedua anaknya sedang libur sekolah. Mereka berkunjung dan datang kesini. “Kebetulan, saya punya rumah di Surabaya. Jadi anak-anak bisa main di Surabaya ini. Ternyata mereka senang, karena banyak mainan disini,” terangnya. Hal ini bisa menjadi positif. Di saat anak liburan, mereka ke Surabaya. Sementara saat mereka sekolah, Desy yang pulang ke rumah di kampung halamannya. “Ketimbang saya kontrak yang tiap tahunnya

23 mengeluarkan uang puluhan juta, mending buat beli rumah sekalian. Jadi ketika anak ingin ke sini, bisa sepuasnya liburan di rumah sendiri,” ujar Desy. Video Conference Untuk menunjang kebutuhan komunikasi dengan keluarga, bisa dilakukan dengan salah satu aplikasi yakni video conference. Jarak yang jauh serasa begitu dekat. Hal ini biasanya dipakai untuk keluarga yang tidak tinggal serumah salah satunya Desy Sari Dewi. Ia mengaku tiap hari selalu menggunakan video conference bersama anak dan keluarganya yang tidak tinggal di Surabaya. “Selain itu, saya juga memakai jejaring sosial lainnya seperti BBM, Whats App dan lainnya untuk berkomunikasi dengan mereka. Namun, paling enak ya video conference itu tadi yang bisa melihat seperti ada di dekat mereka,” ungkapnya. Dalam sehari, ia melakukannya setiap pagi dan sebelum tidur. Hal ini juga bentuk dari rasa kangennya terhadap anak dan dengan percakapan seperti itu rasa kangennya bisa sedikit terobati. “Sekarang, komunikasi makin canggih. Tidak ada kata jarak memisahkan kita, karena sekarang kita bisa memilih aplikasi mana yang bisa kita pakai untuk berkomunikasi saat jauh dari keluarga kita. Jadi bukan suatu halangan untuk tidak berkomunikasi. Banyak kemudahan yang kita dapat dari teknologi saat ini,” pungkasnya. –Diyah

tkh/dona


What’s Up

24

Ergonomi Kelola Kelemahan Manusia Di mata ergonomi, Keselamatan Kesehatan Kerja (K3) adalah solusi terakhir. Hal ini ditegaskan dosen Ergonomi Pascasarjana Unud, Dr. IGN Ardana, M. Erg. Ia menjelaskan, ergonomi berharap tiap manusia tidak menggunakan alat bantu dalam proses keamanan dirinya. Ergonomi justru membantu mengantisipasi untuk tidak menggunakan alat bantu dalam proses aktivitas manusia.

I

a menyontohkan, jika ada debu, mereka yang ber­ kecimpung di bidang ke­ selamatan kerja, memakai masker. Sementara ergonomi, akan menghindari posisi debu dengan menghindari arah angin atau mengatur posisi kerja sejajar atau tak berlawanan dengan arah angin, agar tak terpapar debu. Singkatnya, ergonomi lebih kepada tahap mencegah. Dalam sebuah bangun ruang misalnya, jika dari awal merancang, ergonomi sudah dilibatkan, letak jendela tidak akan berhadapan langsung dengan pemakainya. Namun, realitanya kini banyak ruangan yang sudah jadi dulu, baru kemudian ditentukan tata letak furnitur dan peruntukannya. Jika sudah begini, mau tak mau solusinya hanyalah mengganti kaca jendela dengan kaca tidak tembus pandang atau memasang tirai/gorden.

Dari sisi ergonomi, dalam pemakai­ an komputer, tinggi mata harus sejajar dengan bagian tengah layar monitor, sehingga posisi leher tidak terlalu menunduk atau menengadah, posisi ideal. Posisi punggung harus 105 derajat, posisi lengan bawah ha­ rus sejajar dengan permukaan lantai. Demikian juga posisi paha harus pararel dengan permukaan lantai. Bahu harus rileks, tidak terangkat, yang disebut posisi netral/fisiologis/posisi ergonomis. Secara teori-

tis, jarak mata dengan monitor ratarata 60-90 cm. Namun, hasil diskusi dari norma pemakaian ukuran yang bervariasi itu, dibuat kesepakatan ukuran yang paling praktis dan tepat, yakni dengan memakai rentangan ta­n gan sampai ujung jari tengah. Untuk mata, tiap 20 menit bekerja, harus alihkan pandangan 20 detik. Durasi duduk di depan komputer pun disaran­kannya jangan terlalu lama. “Jangan lebih dari 80 menit. Setelah itu bangun, dan akan lebih baik lagi jika dibawa berjalan agar otot yang dari tadi­ nya diam

26 Januari -1 Februari 2015 bisa bekerja,” ujar dosen Ergonomi di Jurusan Desain Interior FSRD ISI Denpasar. Ia memaparkan, ada dua otot dalam tubuh manusia yakni antagonis dan agonis. Saat di depan komputer, yang bekerja otot agonis, sementara otot antagonis rileks. Dengan berjalan setelah duduk beberapa lama, otot yang tadinya bekerja/kontraksi, akan mendapatkan energi baru. Jika hanya diam, otot mengecil sehingga pembuluh darah pada tiap otot terjepit karena tak mendapatkan energi baru. “Pemulihan akan lebih cepat lagi dan paling bagus jika melakukan peregangan dengan senam,” tegas Anggota Perhimpunan Ergonomi Indonesia (PEI) dan IEA (International Ergonomic Association) ini. Singkat kata, rumusnya adalah se­ telah 4 jam bekerja harus istirahat 1 jam. Tiap jam perlu istirahat pendek 5-10 menit untuk melakukan perega­ ngan (senam, berjalan). Awal bekerja, perlu diberikan kalori. Tiap 2 jam perlu diberikan snack (makanan kecil) yang mengandung kalori. Di Indonesia, Ardana mengamati ergonomi tidak terlalu diperhatikan. Berbeda dengan di Korea, Taiwan, dan Jepang yang ergonominya maju. Di negara-negara tersebut diyakini, dengan memperhatikan ergonomi, akan meningkatkan kualitas kerja manusia yang berujung pada meningkatnya produktivitas perusahaan. Hal ini pun dibuktikannya dengan hal sederhana. Seorang temannya yang memiliki bisnis ukiran, pada awalnya menempatkan meja minuman dan kamar mandi di dekat tempat kerja karyawan. Hal ini dimaksudkan, dengan jarak yang dekat sehingga tak banyak waktu yang dihabiskan karyawan untuk menjangkau ka-

mar mandi ataupun mengambil air minum. Setelah Ardana menyarankan memindahkan jaraknya lebih jauh yakni sekitar 20-30 meter, ternyata hasil kerja yang didapat justru lebih bagus. Kenapa? Jika jarak satu dengan lainnya dekat, pemulihan tubuhnya tidak kembali 100 persen, stabilitas kerja juga tidak 100 persen. Akibatnya terjadi proses istirahat curian (kecepatan kerja berkurang, banyak mengobrol, baca koran) sehingga produktivitas berkurang, dan pastinya kesalahan akan lebih banyak. “Jadi, manusia tidak dimanjakan. Tubuh manusia tidak boleh didiamkan, tetapi diistirahatkan,” ujar Ketua LP2M (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat) ISI Denpasar ini. Sama halnya dengan orang disarankan olahraga minimal 2-3 hari sekali, bukan seminggu sekali. Karena per­ hitungan, pada waktu selesai olahraga hari pertama, dia punya simpanan kebugaran 100%. Begitu tak olahraga 1 hari, nilai kebugarannya tersisa 50%. Pada waktu tidak olahraga di hari kedua, simpanan kebugaran tersisa 25%. Berarti pada hari ketiga ketika berolahraga, simpanan kebugaran menjadi 125%. “Berarti tiap olahraga menyisakan 25%. Jika seminggu 3 kali berolahraga berarti punya kebugaran 75%. Namun, jika berolahraga seminggu sekali walaupun dengan waktu lama lama, tidak akan akan menyisakan kebugaran tubuh,” jelasnya. Ergonomi, ilmu yang mengajarkan cara mengelola tubuh agar tetap sehat aman nyaman produktif, tanpa harus menggunakan alat bantu. Di ergonomi, organisasi kerjanya yang diatur, lama jam kerja, jam istirahat, lingkungan kerja, dan alat kerja diatur. “Jadi, di ergonomi, manusia yang mengatur alat bukan sebaliknya. Kelemahan dikelola agar tidak sampai menganggu aktivitas manusia,” tandas putra kelahiran Puri Gede Tabanan ini. –Inten Indrawati

Senangi Suasana Kerja Karmany evadhikaras te, ma phalesu kadacana Ma karma-phala-hetur bhur, ma te sango stv akarmani Hakmu hanyalah pada pelaksana­an tugas kewajiban, dan sama sekali tidak pada pahala dari tugas yang engkau lakukan. Ja­ngan beranggapan engkau menjadi penyebab dari hasil perbuatan, dan jangan menjadi terikat untuk tidak melakukan tugas kewajibanmu (Bhagawad Gita Bab Kedua, Sloka 47) Karma-jam buddhi-yukta hi, phalam tyaktva manisinah Janma-bandha-vinirmuktah, padam gacchanty anamayam Orang-orang suci membebaskan dirinya dari pahala-pahala yang lahir dari perbuatan dengan

menekuni bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam kesadaran suci. Mereka terbebaskan dari perputaran kelahiran dan kematian dan mencapai alam kekekalan (Bhagawad Gita Bab Kedua, Sloka 51) Dua sloka ini menjadi topik bahasan saat Prabu Darmayasa memberikan pencerahan di malam Maha Siwaratri di wantil­ an Gedung Pers Bali K. Nadha, Denpasar. Ia mengupas bagaimana makna Siwa Ratri dan dikaitkan dengan situasi kekinian. “Siwa Ratri berarti malamnya Dewa Siwa. Maha Siwa Ratri artinya puncak malam Siwa yang jatuh setahun sekali. Pada momen ini, Dewa Siwa melimpahkan berkahnya kepada semua tanpa

memandang baik buruk, jelek bagus. Semua mendapat berkah,” ujarnya. Prabu Darmayasa menuturkan kisah Lubdaka, si pemburu yang akhirnya mendapat berkah Dewa Siwa hingga mencapai moksa. Sebagai pemburu, ia bekerja untuk mendapatkan buruan yang dipakai untuk menghidupi keluarganya. Di era sekarang ini, bekerja merupakan kewajiban untuk mendapatkan hasil. Apalagi sekarang ini keperluan keluarga banyak, mulai dari biaya pendidik­ an, biaya kesehatan. Agar bisa memenuhinya, tentu harus dengan cara bekerja. Kalau sudah bekerja, nikmatilah pekerjaan agar tidak menjadi beban. Bekerja dengan tulus dan iklas akan mendatangkan hasil yang baik.

tkh/wawan

Prabu Darmayasa memberikan pencerahan di malam Maha Siwaratri di wantilan Gedung Pers Bali K. Nadha, Denpasar

tkh/wawan

Trio penyanyi, Ayu Saraswati, Ipang, dan Dewi Pradewi turut menyumbangkan suaranya untuk menyanyikan lagu “Jaya Bhagawad Gita” dan “Demi yang Lain”.

“Sewaktu di India, saya pernah bekerja di Kedutaan Indonesia. Hampir lima bulan saya tidak digaji karena saya memang tidak mengharapkan gaji. Saya bekerja untuk menguji apakah saya harus tetap berada di India atau saya harus balik ke Indonesia. Saya mohon petunjuk Dewi Gangga, mana yang terbaik yang saya. Rasanya tidak masuk akal, sehari sebelum pulang ke Indonesia, riksaw yang saya tumpangi ditabrak bus dan saya masuk rumah sakit. Ini pertanda saya harus berada di India beberapa saat,” kenang pria kelahiran Ubud ini. Bekerja di Kedutaan sangat ia nikmati. Walaupun tak mendapat gaji tetapi ia tak pernah kekurangan apapun. Segala keperluannya bisa terpenuhi bahkan bisa berbagi de­ ngan yang lain. Darmayasa pun yakin, bekerja itu merupakan ibadah yang harus dijalani dan dinikmati. “Jika kita bekerja dengan tulus dan iklas, pasti akan ada hasil-

nya. Jangan terbebani dengan pekerjaan. Lakoni saja. Suasana kerja harus kita senangi. Ibaratkan tempat kerja sebagai Pura. Kita datang dengan hati yang bersih, melakukan persembahan, dan hasilnya akan datang. Sloka 47 sudah menyebutkan, jangan merasa diri kita penyebab kerja. Tuhanlah yang memberikan kita jalan untuk bekerja. Tetapi, jangan sampai kita tidak bekerja,” ujar pria yang lebih dari 20 tahun belajar Weda di India ini. Ia pun mengingatkan swadharma sebagai pekerja adalah bekerja sebaik-baiknya. Suasana malam Maha Siwa Ratri makin terasa khimad karena peserta melantunkan sloka-sloka Bhagawad Gita. Trio penyanyi, Dewi Pradewi, Ipang, dan Ayu Saraswati turut menyumbangkan suaranya untuk menyanyikan lagu “Jaya Bhagawad Gita” dan “Demi yang Lain”. Mereka diiringi oleh Adi Ambara dan Komang Arjawa.

–Ngurah Budi


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Tokoh Edisi 833 | Tokoh by e-Paper KMB - Issuu