Skip to main content

Tokoh Edisi 818 | Tokoh

Page 1

13 - 19 Oktober 2014

24

Budayakan Baca Sejak Dini “Buku adalah gudang ilmu”, demikian ungkapan yang sering kita dengar. Kata-kata ini memiliki makna yang lebih dari sekadar membaca. Artinya, dengan membaca banyak hal yang dapat diketahui. Dengan membaca pula kita bisa menjelajahi dunia tanpa harus menyinggahi semua tempat satu-persatu. Maka, Denpasar Book Fair pun menjadi salah satu upaya pemerintah Kota Denpasar untuk meningkatkan minat baca masyarakat, yang telah digelar 3 s.d 5 Oktober 2014, di kawasan Pedestrian Jalan Kamboja Denpasar.

A

Wali Kota Denpasar IB Rai D. Mantra saat di pembukaan book fair 2014

cara yang mengusung tema “Spirit Saraswati Cipta Kreasi Anak Indonesia” meng­ hadirkan kegiatan rutin seperti bazar buku murah, bazar kuliner, juga ber­ bagai lomba disertai pula peluncuran Tari Puja Saraswarti oleh Sanggar Cahya Art. Pada Denpasar Book Fair yang hadir untuk ke tujuh kalinya ini, lomba-lomba yang digelar berupa lomba scrapping book tingkat SD, SMP, SMA/SMK, lomba busana adat ke pura dan busana kasual endek, lomba mewarnai anak-anak TK, serta lomba menggambar tingkat SD. Tidak ketinggalan juga dilaksanakan bedah buku dan jumpa pengarang serta school time visiting, yakni one book for one visiting. Kepala Dinas Perindustrian Kota Denpasar, Drs. I Wayan Gatra, M.Si. menyatakan Denpasar Book Fair yang tahun ini terdiri dari 45 stan ini, bertujuan menyukseskan program Denpasar Kota Kreatif Berwawasan Budaya dalam Keseimbangan Menuju Keharmonisan. Juga, ikut serta dalam program mencerdaskan kehidupan bangsa melalui gerakan gemar mem­ baca. Selain itu, acara yang melibat­ kan industri penerbit, toko buku, komunitas baca, sanggar telematika dan sekolah-sekolah ini memberikan apresiasi dan kesempatan berek­ spresi kepada siswa-siswi untuk menampilkam inovasi dan kreativitas mereka dengan hiburan yang sehat. Ditemui secara terpisah Ketua Panitia Penyelenggara Denpasar Book Fair 2014, IA Dewi Citrawati, S.E., M.Si., yang juga Kabid Perdagangan Disperindag Kota Denpasar, didamp­ ingi IGA Laxmy Saraswaty, S.S., Kasi Usaha Disperindag Kota Denpasar, menambahkan bahwa kegiatan terse­

but merupakan refleksi serta filosofi Hari Suci Saraswati yang dimaknai dengan praktik nyata . ‘’Semua pro­ gram sudah dirancang untuk mem­ berikan semangat kepada masyarakat, terutama di kalangan anak-anak dan remaja dalam mengeksplorasi man­ faat maupun kesenangan yang dapat diperoleh dari buku dan kegiatan membaca,” ujar Dayu Citra. Ide dan kreativitas yang sangat menarik, juga terlihat dalam kegiatan scrapping book 3D competition bagi murid SD, SMP, SMA/SMK 2014 di Gedung Rumah Pintar. Di sana para siswa beradu kreativitas membuat majalah dinding dalam bentuk tiga dimensi. Mereka, lanjut Laxmy, tidak hanya mengolah informasi namun juga menampilkan visualisasi karya inovatif, informatif dan unik, sehingga mengundang minat siswa lainnya un­ tuk melihat dan membaca. Siswa juga diajak menanamkan rasa memiliki, peduli sekitar dan menambah wa­ wasan melalui tema-tema yang dipilih.

Kegiatan ini juga menjadi sarana untuk melatih jiwa kompetitif, sportivitas dan kerjasama tim yang baik antar sesama teman. Sementara, Wali Kota Denpasar IB Rai Dharmawijaya Mantra men­ gatakan kegiatan Denpasar Book

Cok Murniathi

IA Dewi Citrawati

Fair untuk memperingati turunnya ilmu pengetahuan itu telah disesuai­ kan dengan konteks kekinian demi menumbuhkan kembali minat baca di kalangan siswa dan masyarakat. Terus menumbuhkan kecintaan siswa dan masyarakat terhadap buku. “Acara ini juga menunjukkan bahwa buku dapat memberikan manfaat dan inspirasi bagi kehidupan kita. Sebagai alternatif dalam memperluas wawasan untuk dapat mengikuti arah perkembangan zaman serta memberikan sumber ref­ erensi untuk dapat mengaplikasikan antara teori dan praktik. Buku pun da­ pat mengantarkan seseorang menuju perubahan yang lebih baik. Sehingga ,lebih lanjut masing-masing orang berinisiatif membuat taman bacaan sendiri di rumahnya, ” ujarnya.

gerakan gemar membaca, tapi juga gemar menulis, dan gemar meng­ unjungi perpustakaan. Salah seorang pengunjung Den­ pasar Book Fair, Cok Murniathi, yang juga Kepala Sekolah SD Saraswati 3 Denpasar ini mengatakan acara de­ ngan Spirit Saraswati ini sangat tepat. Sebab, agama mengarahkan hidup, ilmu pengetahuan memudahkan hidup, sedangkan seni menghaluskan hidup. “Karena itu, rangkaian acara pada book fair sangat tepat untuk anak-anak didik kami. Terutama, untuk turut meningkatkan minat baca di kalangan generasi muda. Disediakannya stan bacaan dengan diskon istimewa, juga mampu mem­ beri stimulan untuk menumbuhkan kebiasaan membaca sejak dini,” kata Bu Cok. Apalagi, kata Bu Cok, membaca itu luar biasa, selain melatih konsentrasi anak, cakrawala pengetahuan anakanak juga menjadi luas. Pada giliran­ nya anak-anak akan menemukan keasyikan dengan membaca sebagai salah satu proses belajar. Sementara pengetahuan yang diserap melalui membaca akan meningkatkan rasa ingin tahu dan mengasah kecakapan berbahasa anak Bicara bazar buku, bagi tiga remaja yakni Erika, Izzabillah dan Yanti murid kelas 9 dari SMP Ganesha Denpasar mengaku saat book fair adalah kesem­ patan mereka membeli buku cerita seperti komik dan novel dengan harga terjangkau. “Maunya kami selain stan yang julan buku murah, kami ingin ada stan-stan yang bisa memberikan informasi tentang bagaimana memilih sekolah lanjutan yang tepat, infor­ masi berbagai keterampilan untuk anak sekolah seperti stan yang bisa memberikan tips bisa menulis dengan mudah juga bagaimana bisa berbahasa Inggris dengan mudah, dan yang se­ jenisnya,” celoteh Izza yang diamini kedua temannya. Sedangkan pengunjung lainnya, yakni seorang ibu bernama Putu Ida mengaku sengaja datang ke book fair untuk membeli beberapa bacaan tentang hobi dan novel remaja yang tengah digemari, untuk kado bagi putrinya yang akan berulang tahun ke 15. ‘’Kado berupa buku ,tidak berarti ketinggalan zaman kan,’’ ce­ tusnya. -ard

BELI BUKU UNTUK KADO Denpasar Book Fair sebagai agenda tahunan Pemerintah Kota Denpasar, menurut beberapa masyarakat yang berkunjung meski belum sepenuh­ nya menjadi pusat promosi buku di Kota Denpasar dan pusat kegiatan baca-tulis, namun setidaknya berhasil dikemas untuk menghibur anak-anak dan masyarakat dengan tetap meng­ utamakan nilai-nilai edukasi. Berbagai harapan pun mencuat agar setiap tahun acara ini tetap hadir, dengan semakin banyaknya tersedia buku bacaan yang murah sebagai upaya terus menghangatkan budaya baca di masyarakat dan mampu menjadikan buku sebagai investasi kesuksesan di masa yang akan datang. Denpasar Book Fair, sebagai sarana yang bukan hanya mengampanyekan

Dari Kiri: Erika, Izzabillah, dan Yanti

Suasana persiapan lomba scrapping book

Suasana di salah satu stan buku


2

Ekspresso

13 - 19 Oktober 2014

GORO-GORO

DAri daPUr Redaksi

Belajar dari Mahabharata

Media massa sering disebut sebagai pilar keempat demokrasi setelah eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Peran media massa “mengantarkan” informasi hingga ke pelosok memang sudah terbukti. Tak hanya urusan peme­ rintahan yang diantarkan, urusan hiburan pun tak bisa dilepaskan dari peran media massa. Salah satu buktinya ketika film Mahabharata versi modern ditayangkan di salah satu stasiun televisi. Masyarakat mulai dari perdesaan hingga perkotaan, dari anak-anak hingga orang tua terkesima. Tak hanya kisahnya yang menjadi perhatian, para pemerannya pun mampu membuat penonton terkesima. Pemain yang tampan dan cantik mampu membius penonton di Indonesia. Ketika para pemeran Maha­ bharata ini datang ke Indonesia dan ke Bali, kehebohan sangat terasa. Para penggemar yang mayoritas wanita ini tak sabar ingin melihat langsung idola me­ reka. Wajah asli para pemeran Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, Sahadewa, Duryodana, dan Karna

tak beda jauh dengan wajah dan penampilan mereka saat bermain film. Wajah khas India, tampan, ke­ kar, gondrong, dan dibalut pakaian kasual membuat para penggemar makin histeris. Ada yang berteriakteriak, ada yang menangis, bahkan ada yang rela berdesak-desakan demi mendapatkan foto bersama para idola. Bunga mawar, boneka, kaus, dan bingkisan pun menghampiri para pemain idola ini. Mereka dengan ramah melayani para penggemar walaupun lelah harus

Salah Naik Boat Kejadian ini saya alami pada saat ada acara piodalan di Pura Dalem Ped. Saya berangkat sendiri saja dari rumah pukul 07.00 naik sepeda motor ke ­Padang Bai. Pukul 08.30 saya sudah sampai di Padang Bai dan sempat bi­ ngung juga mau titip di mana sepeda motor karena baru pertama kali juga pergi sendiri memakai sepeda motor. Setelah putar-putar dan melihat ada orang juga hendak tangkil yang bawa sepeda motor, saya ikuti terus orang itu dengan pikiran pasti orang itu akan titipkan motornya. Benar juga pikiran saya ternyata orang itu mau titip sepeda motor juga dan saya pun ikut titip motor di tempat itu. Saya lalu berganti pakaian dan mencari tempat penjualan tiket. Saya beli tiket dengan harga Rp 50 ribu. Pukul 09.00 boat pun berangkat de­ ngan kapasitas 50 orang penumpang. Perjalanannya menyeberang dengan boat berlangsung baik dan aman saja karena ombaknya tenang. Sampai di Nusa Penida, saya tanya warga bagaimana caranya sampai di Pura Dalem Ped. Akhirnya, saya naik ojek sesuai petunjuk mereka. Karena pemedek belum begitu ramai, saya bisa sembahyang dengan cepat. Selesai sembahyang saya istirahat sebentar di wantilan lalu membeli makan siang. Waktu menunjukkan pukul 14.30,

mingguan berita wanita Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

saya memutuskan untuk balik kembali ke dermaga naik ojek. Saya sempat bincangbincang dengan tukang ojek jam berapa kapal boat terakhir dari Nusa Penida ke Padang Bai dan tukang ojek mengatakan pukul 15.30. Itu berarti masih ada waktu 1 jam lagi untuk dapatkan boat. Tukang ojek mengantar saya ke dermaga, tetapi beda dengan dermaga ketika saya datang. Tukang ojeknya mengatakan ada 2 dermaga di Nusa Penida. Saya menuju loket untuk beli tiket dan membayar Rp 75 ribu. Saya terkejut tetapi dapat memahami karena boat ini tempat duduknya sedikit dan lebih bagus. Saya sempat ngobrol-ngobrol dengan calon penumpang lain tapi tidak sempat membicarakan masalah tujuannya mau ke mana karena saya pikir sudah pasti tujuannya sama. Tidak berapa lama kita dipersilahkan naik ke boat karena akan segera berangkat dan dengan senang hati saya naik ke boat yang memang benar

mengikuti padatnya jadwal. “We love Bali. Luar biasa,” itu jawaban Shaheer Sheikh ketika ditanya komentarnya tentang fans mereka di Bali. Pemeran Arjuna ini merupakan aktor yang paling banyak memiliki penggemar. Kisah Mahabharata tak kan pernah lekang dimakan waktu. Para artis yang memainkan peran di lakon ini pun menuai berkah. Semua kerja keras mereka selama berbulan-bulan terbayar. Ini pel­ ajaran yang bisa kita petik. Apa pun yang kita lakukan, lakukan dengan baik dan sepenuh hati. Salam untuk penggemar Mahabharata. jauh lebih baik dan kebersihan boatnya sangat terjaga dan saya memilih tempat duduk paling depan. Beberapa saat boat meninggalkan dermaga, petugas meminta dan memeriksa tiket penumpang. Satu persatu tiketnya diminta, ada bagian yang dirobek dan ketika sampai di tempat saya, betapa terkejutnya saya melihat tiket yang dirobek setelah dikembalikan ke saya tertulis bahwa tujuan boat itu ternyata ke Sanur. Oh My God…ternyata saya salah naik boat dan saya langsung kepikiran bagaimana dengan motor saya di Padang Bai? Seandainya saja salah angkutan umum di darat mungkin saya akan stop untuk berhenti dan saya akan mencari angkutan umum yang lain, tetapi karena ini di laut nggak mungkin saya stop dan saya berenang di laut kan? Dalam hati saya berjanji cukup kali ini saja saya naik boat jurusan Nusa Penida-Sanur dan saya harus lebih teliti memilih kapal boatnya. Mudah- mudahan hal ini tidak terjadi pada pembaca dan cukup saya saja yang mengalami. Tresna AW, Denpasar

Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca ­lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. ­Panjang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan no kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373

Putu Wijaya

sapu

“Pak, dulu, untuk berbagai keperluan resmi, diperlukan ada surat keterangan berkelakuan baik,” kata Bu Amat. “Betul.” “Apa gunanya?” “Supaya orang tidak berani melakukan perbuatan melawan hukum, karena itu akan membuat dia susah melamar pekerjaan.” “Betul, saya tahu!” “Kalau sudah tahu, kenapa bertanya lagi?” “Karena, saya mau bertanya lagi. Kalau begitu, berarti orang yang permah masuk penjara tidak akan dapat surat kelakuan baik?” “Itu tidak usah ditanyakan lagi. Sudah jelas!” “Berarti dia akan susah melamar pekerjaan?” “Tentu saja! Karena memang tujuannya menakut-nakuti orang, supaya jangan berani melanggar hukum. Dan, membuat jera orang sudah dihukum, supaya tidak melakukan kejahatan lagi, karena ia tidak akan diterima melamar kerja di mana pun. Apalagi menduduki jabatan! Atau jadi caleg. Jelas, Bu?” “Jelas sekali. Tapi kalau begitu kenapa bui dan penjara sekarang disebut Rumah Pemasyarakatan?” “Itu pertanyaan bagus. Jawabannya lebih bagus lagi. Karena orang yang dibui atau dipenjarakan itu, tidak berarti dibuang atau dikucilkan. Mereka hanya dididik agar berjalan di jalan yang benar. Mentalnya ditempa supaya siap dan layak dikembalikan ke masyarakat. Jadi diajar bagaimana caranya hidup sebagai warga sama dengan warga lain, bisa jadi anggota mayarakat. Bui dan penjara itu dulu seperti kerangkeng pembuangan. Dengan berubah menjadi rumah pemasyarakatan, fungsinya bergeser dari tempat pembuangan menjadi sekolah mental. Begitu kita-kira, Bu. Jelas? Bisa mengikuti?” “Bisa sekali. Tapi bagaimana mantan penghuni rumah pemasyarakatan itu bisa kembali ke masyarakat, kalau semua pintu pekerjaan tertutup, karena dia tidak bisa mendapat surat keterangan kelakuan baik?” Amat tertegun. “Bapak dengar pertanyaan Ibu?” “Ya, dengar.” “Jelas?” “Jelas sekali.” “Mengerti? Dapat mengikuti?” Amat diam, mencoba mencari jawaban yang telak. Keburu istrinya bertanya lagi. “Sesudah surat kelakuan baik, ada lagi yang harus disiapkan untuk bisa hidup layak di masyarakat di masa Orde Baru. Yaitu keterangan bersih lingkungan. Betul-tidak, Pak?” “Betul.” “Bisa mengikuti pertanyaan Ibu?” “O, bisa!” “Dan, sekarang ada lagi yang harus disiapkan yang membuat kita repot. Untuk berbagai urusan diperlukan akte kelahiran. Apa Bapak punya akte kelahiran?” “Tidak. Zaman dulu kita tidak kenal akte kelahiran!” “Betul! Ibu juga tidak punya. Semua orang yang lahir sezaman dengan kita, tidak punya akte kelahiran!” “Memang!” “ Apa itu berarti kita cacad sebagai warga masyarakat? Karena apa-apa, harus dilengkapi akte kelahiran?! Ya kan?”” Amat mengangguk. Ia lantas teringat pada tahun 1960-an. Ada yang disebut Manikebu. “Dulu juga ada peristiwa Manikebu. Para penandatangan Manikebu dikeluarkan dari pekerjaannya. Atau, termasuk ke dalam daftar hitam yang menyebabkan pintu tertutup bagi para penandatangannya.” Bu Amat membenarkan. “Nah, kalau begitu, di masa kemerdekaan, masih ada orang-orang yang tidak merdeka? Betul, Pak?” “Betul. Tapi......” “Tapi apa?” Amat mati langkah. Diam-diam ia mengagumi istrinya. Pendidikannya sedang-sedang saja. Tidak punya diploma S2 apalagi doktor. Tapi ternyata cerdas. Itu jauh lebih baik dari pintar. Untunglah Bu Amat tidak terus bertanya, jadi Amat masih sempat menikmati kopinya dan laga bola. Esok paginya Amat repot membersihkan halaman. Angin kencang semalaman menyebabkan daun sawo Belanda berserakan. Dengan tekun Amat menyapu mengumpulkan guguran daun itu di sudut. Tiba-tiba ia tercengang disengat pikirannya.. “Daun-daun yang tadinya terasa banyak sekali berserakan memenuhi dan mengotori halaman itu, Bapak sapu dan kumpulkan di sudut,” lapor Amat pada istrinya,”tapi setelah terkumpul ternyata hanya seonggokan kecil saja yang bisa tertampung dalam satu kantung plastik. Tidak sebanyak ketika berserak. Sementara halaman seluruhnya jadi bersih. Lalu Bapak berpikir. Apa surat-surat keterangan yang kita bicarakan semalam itu, intinya seperti sapu? Melihat sejatinya berapa besarnya masalah, demi tepatnya kebijakan yang harus diambil?”

Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budi­a rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Se­k retariat: Ayu ­A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­D enpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­merah ­Barat 21 G Jakarta Pusat 10270–Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­F aksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­ ­F aksi­m ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BCA Cabang ­Pal­m erah Barat Jakarta. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 229.3006644 Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

Mozaik

13 - 19 Oktober 2014

23

BIMC Raih Akreditasi ACHSI

R

umah Sakit BIMC (Bali Indonesia Medika Citra) Nusa Dua, merupakan rumah sakit pertama di Indonesia yang meraih akreditasi internasional oleh Australian Council on Healthcare Standars International (ACHSI) Australia. Acara penyerahan dilakukan, Kamis, (9/10) di Rumah Sakit BIMC. BIMC Nusa Dua merupakan salah satu bagian dari Siloam Hospital International Group. Sejak Desember 2013, BIMC Group telah menjadi bagian dari Siloam Hospital Group yang sampai saat ini mengoperasikan 19 rumah sakit di seluruh Indonesia. Profesor Bruce Waxman, ketua tim penilai ACHSI menyatakan, penghargaan yang diberikan ini sebagai komitmen BIMC Nusa Dua dalam

Kirim surat Anda ke Redaksi Tokoh dan cantumkan “Sex Edu” di amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh. co.id. Rubrik ini diasuh Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI) Denpasar

memberikan dan mengembangkan pelayanan berstandar internasional kepada pasien secara konsisten. Chief Executive Officer BIMC Siloam Hospital Group Bali dr. Donna Moniaga melihat momen ini sebagai langkah yang penting untuk menjadikan Bali sebagai tujuan pariwisata medis di dunia. Pengukuhan ACHSI menguatkan BIMC Nusa Dua sebagai penyedia pelayanan kesehatan terdepan dan terkemuka di Bali, baik untuk masyarakat lokal maupun pasien pariwisata medis dari luar negeri. Dr. Donna Moniaga juga meng­ ungkapkan lebih dari 16 ribu warga Australia datang ke Bali tiap Ming­ gu, dimana jumlahnya merupakan seperempat dari total kunjungan wisatawan ke Bali dalam setahun. Bagi mereka yang memang memerlukan perawatan medis dan elektif,

dr. Oka Negara,FIAS

BIMC Nusa Dua merupakan salah satu alternatif penyedia pelayanan ksehatan berstandar internasional yang setara dengan rumah sakit di Australia. Craig Beveridge, Executive Chariman BIMC Siloam Hospital Group Bali mengungkapkan ACHSI memiliki lebih dari 1000 anggota rumah sakit yang terakreditasi di seluruh dunia. Tahun ini akreditasi ACHSI yang pertama untuk rumah sakit di Indonesia dan yang kedua di wilayah Asia Tenggara. “Karena itu, kami sangat merasa senang menjadi rumah sakit pertama yang mendapatkan akreditasi ACHSI untuk wilayah Indonesia,” ujarnya. Beveridge juga menambahkan, sebelumnya jika wisatawan asing mengalami masalah kesehatan di Bali atau masalah lainnya yang lebih serius dari sekadar patah tulang, maka mereka akan memilih terbang ke Singapura. “Banyak dari mereka yang mempertanyakan mengapa tidak bisa mendapatkan perawatan medis kelas bintang lima di kawasan resor pariwisata bertaraf internasional. Sekarang mereka sudah bisa mendapatkan pelayanan tersebut di BIMC Nusa Dua,” ujarnya. ACHSI sendiri merupakan badan independen dan bukan organisasi nirlaba yang secara konsisten mengkaji dan menilai standar pelayanan rumah sakit sebelum memberikan akreditasi. Para surveyor melakukan banyak pengamatan detil berstruktur, kebijakan perusahaan, standar prosedur kerja, buku panduan, dan komit-

Tak lagi Menggairahkan

“Dok, saya sudah 4 tahun menikah, saat ini hubungan seksual kami terasa kurang menggairahkan bahkan saya susah mendapatkan kepuasan lagi. Sekarang kalau berhubungan seks biasanya saya lebih dulu yang merangsang suami, tetapi suami tidak membalasnya dengan melakukan hal yang sama, maunya langsung saja berhubungan seksual tanpa pemanasan. Hubungan seksual juga sekarang menjadi lebih jarang. Bisa diberikan tips agar kembali bisa menggairahkan, Dok?” (Yuri,28) Kebosanan dan kehilangan gairah bersama dalam seks memang sering terjadi. Tidak lagi menyenangkan seperti saat masih pengantin baru atau di awal aktivitas seksual dilakukan, dan hanya terkesan rutinitas yang itu-itu saja. Sesungguhnya masih banyak cara yang bisa dilakukan pasangan untuk tetap membuat suasana tetap hangat membara. Dengan mengubah semua yang membuat bosan pada pasangan, termasuk juga pada diri Anda. Sebelum melakukan perubahan, perlu dicari tahu dulu, apa yang menyebabkan terjadi penurunan romantisme dan gairah bersama. Beberapa masalah berikut sering kali menjadi penyebabnya: 1. Kurang Romantis. Jika Anda berdua selama ini bersikap biasa-biasa saja, tidak mengherankan kalau hubungan berubah menjadi dingin. Ibarat kopi panas yang walaupun nikmat tetapi jika didiamkan lama juga akan jadi dingin dan tidak lagi nikmat. Kejenuhan pekerjaan yang seakan tak ada habisnya serta segala kesibukan dari hari ke hari memang membuat kita kerap lupa memberikan perhatian pada pasangan kita. Bahkan sering melupakan betapa berartinya

pasangan kita, dan melupakan melewatkan waktu bersamanya. 2. Foreplay Tidak Pernah Maksimal. Seks merupakan hal yang menggairahkan, terasa menye­ nangkan dan bisa dilakukan berulang-ulang kali. Bisa jadi itu dulu, dan tidak lagi dirasakan saat ini. Saat ini malah bisa dirasakan seks yang membosankan dan hanya berlangsung beberapa menit saja. Penyebab paling sering adalah kurangnya foreplay. Banyak pasangan yang tidak tahu atau malah melewatkan sesi ini dengan menganggapnya tidak penting. Tentu saja itu keliru. 3. Tidak Pernah Mencoba Hal-hal Baru. Setiap sesi hubungan seksual juga memiliki arti memberi kesempatan untuk saling berbagi kesenangan pada pasangan. Berhubungan seksual dengan gaya yang sama dari waktu ke waktu tentunya akan menjadi sesuatu yang membosankan. Luap­kan fantasi Anda, mainkan peran-peran yang berbeda, kenakan busana yang menggoda. Bisa juga bermain-main dengan pencahayaan, bermain peran tertentu yang bisa membangkitkan gairah semisal menjadi perawat seksi, dokter seksi dan apa pun yang ingin Anda lakukan di ranjang. Pasti akan menjadi seru. Beberapa hal yang perlu dilakukan sebagai langkah-langkah membuatnya jadi berhasil. 1. Bicarakan berdua 2. Diskusikan cara mengatasi kebosanan 3. Lakukan perubahan 4. Buat kejutan lagi Jadi, sekali lagi, lakukanlah perubahan dan nikmati serta wujudkan semuanya.

men dari para staf dan manajemen BIMC Nusa Dua terhadap pelayanan kepada pasien. Di Indonesia, badan independen pengkajian dan penilaian stan-

dar rumah sakit bernama Komite Akreditasi Rumah sakit (KARS). BIMC Nusa Dua juga telah meraih akreditasi nasional dari KARS pada tahun 2014. –bns

Kiprah Wanita dalam Bisnis Pariwisata Sentuhan wanita dalam industri pariwisata Bali diharapkan makin nyata. Tidak hanya dalam kuantitas, tetapi juga dalam kualitas. Seiring dengan itu, kemampuan manajerial yang dimiliki mereka harus terus dipupuk dan ditingkatkan. Dengan demikian, jumlah wanita yang akan menduduki posisi penting, setingkat manager dan general manager akan makin banyak. ‘’Kami harap demikian. Mereka ini terus dibimbing dan ditingkatkan kemampuannya,’’ ujar General Manager ibis Styles Bali Kuta Dewi Sri, Tantiarini Hidayati saat berkunjung ke Tokoh, belum lama ini. Tantiarini, perempuan asal Yogyakarta ini yang masimakrama didampingi Sales Executive Yudi Gunadi Nugroho, Sales Manager Paula Manik dan Marketing Communication & Administration Astari D. Priyanti ini mengungkapkan sekilas lintas peran serta potensi wanita dalam pariwisata Bali kepada Penanggung Jawab/Pemimpin Umum Tabloid Tokoh Gde Palgunadi serta staf. Hotel ibis yang masuk jaringan Manajemen Hotel Accor International, menurut Tantiarini, memberikan peluang sekaligus tantangan kepada seluruh jaringan hotel Accor di seluruh dunia untuk mempekerjakan wanita sebanyak banyaknya. ‘’Saya sih punya target 50:50, tetapi belum kesampaian. Malahan, ada yang ditantang bagaimana mewujudkan seluruh karyawannya perempuan,’’ ujarnya. Dalam kaitan ini, ada program i Woman at Accor Generation. Program ini ditujukan kepada para perempuan agar bisa meningkatkan diri ke posisi management yang lebih tinggi. Contohnya menjadi General Manager. Persentase perempuan menjadi General Manager dalam industri hospitality masih rendah. Nah, lewat program ‘’ Woman at Accor Generation’’ inilah para perempuan akan dibimbing menuju puncak karir. “Saat ini, saya dipercaya sebagai Commite Leader program ‘’Woman at Accor Generation’’ untuk kawasan regional BaliLombok. Kalau dilihat sekarang persentase GM perempuan di Accor baru sekitar 20%. Mengingat status emansipasi wanita masih dalam proses. Targetnya dalam waktu 5 tahun angka ini bisa meningkat menjadi 50% agar seimbang,” ungkap perempuan yang murah senyum ini. -pal

Lomba Komik Strip Seniman komik Indonesia diharapkan bisa unjuk gigi di tengah maraknya karya komik-komik dari Jepang dan Amerika Serikat. Untuk mendorong hal tersebut, Faber-Castell meng­ adakan loma komik strip bertema “Cuma di Indonesia” di 11 kota di Indonesia. Untuk wilayah Bali, lomba diadakan Minggu (19/10) di kampus ISI Denpasar. Peserta berusia 12-22 tahun, karya yang dibuatkan merupakan karya asli, tidak pernah dipublikasikan, tidak bermuatan pornografi, dan tidak menyinggung SARA. Brand Manager PT Faber-Castell International Indonesia Fransiska Remila mengatakan karya pemenang dari masing-masing kota akan dikumpulkan untuk diterbitkan menjadi sebuah komik kompilasi. -wah


Metropolitan

22

“Pemanasan” Jelang MEA Ajang ‘pemanasan MEA’ (Masyarakat Ekono­ mi ASEAN) berlangsung di Trade Expo In­ donesia 2014 yang berlangsung di Interna­ tional Expo Kemayoran, Jakarta. Di arena seluas 4 hektare beragam produk unggulan Indonesia digelar oleh 2000 peserta pame­ ran, seolah ingin menunjukkan kesiapan In­ donesia menghadapi MEA yang mulai berlaku tahun 2015 mendatang.

I

ni memang bukan pameran biasa. Pameran ini ditujukan pada buyer internasional dalam rangka peningkatan ekspor produk dan jasa nasional serta perluasan jaringan bisnis pengusaha Indonesia. Lihat saja pengaturan jam buka pameran, dari pukul 10.00 hingga 16.00 diperuntukkan untuk para pebisnis. Sedang jam kunjungan masyarakat umum mulai pukul 16.00 hingga 20.00. Sepertinya kerja keras Kementerian Perdagangan menyelenggarakan pameran akbar ini tak sia-sia. Selain jumlah buyer asing yang datang meningkat pesat diban­ ding tahun lalu, juga laris manisnya produk-produk unggulan Indonesia diborong para buyer asing. Berbagai produk yang diminati antara lain;

dekorasi rumah, furnitur, produk karet, hingga mainan anak-anak. Dengan hasil menggembirakan ini, maka tak berlebihan kalau berharap target transaksi pada Trade Expo Indonesia 2014 sebesar 800 juta dolar AS bakal tercapai. Berdasarkan data, jumlah buyer asing yang mengunjungi pameran bertema ‘Towards Green Business’ tersebut tercatat mencapai 12.000 orang yang berasal dari 97 negara. Antara lain dari Malaysia, Brunei, Australiam Afrika Selatan, AS, Timor Leste, Saudi Arabia, Jepang, Thailand, Mesir, dll. Di antara itu, ada juga delegasi misi perdagangan dari 63 negara. “Potensi nilai transaksi akan lebih besar karena banyak pembeli yang sudah jauh-jauh hari kami

Jokowi dan Menteri Perdagangan M. Lutfi sedang meninjau Trade Expo Indonesia 2014

notifikasi datang ke pameran ini. Selain itu, para duta besar kita juga turut berkontribusi dengan mendatangkan para buyer,” kata Menteri Perdagangan M Lutfi pada pers Rabu (8/10). Produk-produk Indonesia yang ditampilkan di ajang TEI di antaranya; komoditas utama seperti produk tekstil, elektronik, karet dan

produk karet, produk kayu, pulp dan furnitur, produk kimia, logam, mesin-mesin, makanan olahan dan otomotif. Komoditas prospektif yang juga ikut meramaikan pameran ini adalah, kerajinan, rempah, produk kulit, alas kaki, perhiasan, produk plastik, udang, ikan dan produk ikan, kakao dan olahannya. Sedang komoditas ekspor lain-

Ibarat Gadis Seksi Belum Dandan Indonesia memiliki potensi besar menjadi surge wisata MICE (Meeting, Incentive, Convention and Exhibition) dunia. Namun, untuk mencapai itu, banyak hal harus dibenahi. Di antaranya masalah infrastruktur, aksesibilitas, sumber daya manusia dan konektivitas. Menurut Wiryanti Sukamdani, Ketua Badan Promosi Pariwisata Indonesia, berdasarkan data 2013, wisata MICE menyumbang 40% dari jumlah kunjungan wisman saat itu, yakni 8,8 juta.

Trade Expo Indonesia 2014

nya seperti batubara, hewan dan produk hewan, peralat­an medis, buah dan sayur mayur, minyak atsiri. Serta tak ketinggalan, aneka produk jasa dan tenaga kerja terlatih, seperti, jasa konstruksi, jasa profesi dan jasa akomodasi. Ada dua bangunan menarik dalam pameran ini yakni, Pride of Indonesia Pavilion, tempat yang menjadi etalase berbagai produk yang sudah diterima oleh pasar global di antaranya; industri strategis, produk-produk berbasis teknologi tinggi, manufaktur, green product juga industri kreatif dan UMKM unggulan. Sedang pada ASEAN Pavilion berisi berbagai informasi tentang peluang-peluang perdagangan di Negara-negara ASEAN dalam rangka menyambut MEA. Bagi UMKM yang mendapat kesempatan berpameran di ajang ini, tentunya sangat gembira karena ajang ini selain dapat mengangkat citra positif UMKM di pasar nasional dan global, juga menjadi peluang mereka untuk membawa produknya go international. Karena salah satu permasalahan utama UMKM Indonesia dalam mengembangkan usahanya adalah dalam hal promosi. –Diana Runtu

Ada sejumlah kendala yang menyebabkan industri MICE di Indonesia belum berkembang maksimal. Di antaranya adalah masalah infrastruktur, aksesibilitas, sumber daya manusia dan konektivitas. Indonesia menghadapi sejumlah keterbatasan, misalnya, masalah ketersediaan ruang convention dan exhibition yang berkapasitas di atas 6.000 orang. Sampai saat ini baru Jakarta dan Bali yang memiliki. Keduanya saat ini menjadi primadona menggelar MICE. “Sampai saat ini baru Jakarta dan Bali yang memiliki tempat MICE standar internasional. Jakarta misalnya ada di Jakarta Convetion Center (JCC) dan Jakarta International Expo (JIE) Kemayoran. Faktor penunjang MICE di Jakarta dan Bali cukup memadai, seperti infrastruktur, aksesbilitas dan konektivitas,” tuturnya dalam diskusi Indonesia sebagai Surga MICE Dunia. Surabaya, Medan, Manado, Makassar, Bandung, Solo dan Yogyakarta, masih masuk kategori destinasi potensial. Sedang Padang, Batam, Bintan, Palembang, Semarang, Balikpapan dan Lombok, masuk emerging destination alias masih dalam proses pertumbuhan. Dengan memperbaiki berbagai kendala, diharapkan industri MICE juga dapat berkembang di kota-kota lain. Dengan demikian target kunjungan wisatawan 20 juta orang pada 2019 dapat tercapai. Menurut Yanti, ada beberapa cara yang dapat dilakukan, di antaranya, merangkul asosiasi tingkat dunia untuk menyelenggarakan acaranya di Indonesia. Tahun 2015 mendatang, akan berlaku pasar bebas ASEAN dimana banyak produk dan jasa termasuk para pekerja asing ke Indonesia. Hal ini harus dijadikan peluang untuk memaksimalkan potensi wisata MICE. Menurut Ernest K Remboen, Presdir PT Dyandra UBM International, Indonesia merupakan pasar industri MICE yang bagus. Jika diibaratkan, Indonesia bagai ‘gadis seksi yang belum didandani’. Menurutnya, banyak hal yang harus dibenahi agar industri MICE dapat berkembang maksimal. Salah satunya adalah persoalan infrastruktur. –Diana Runtu

Sosialita

13 - 19 oktober 2014

13 - 19 oktober 2014

3

Ni Ma de Ay u H a r r i P ra tiw i

Pintar Gunakan Peluang

Dari semua yang dijalaninya, ia makin menyadari dunia MC dan dunia penyiaran adalah bidang yang betul-betul di­ sukainya. Konsistensi dan kecintaannya di dunia ini, sudah menghabiskan waktunya hingga belasan tahun.

P

emilik nama lengkap Ni Made Ayu Harri Pratiwi, S.H., yang wajahnya sering tampil membawakan Seputar Bali dan beberapa acara dialog di Bali TV ini, kian mantap menapaki kariernya di dunia penyiaran dan MC. Ia merasa menemukan inilah passionnya . Ia pernah mencoba beberapa usaha atau bisnis. Namun, dalam perjalanannya, ia kembali memilih menjadi MC. Perempuan yang akrab disapa Yupi ini juga mengaku mendapatkan lebih dari apa dipikirkannya. Yupi yang kini tercatat sebagai Sekretaris Direksi RSUP Sanglah ini, mengatakan ia tak bisa jauh dari segala hal yang berhubungan dengan dunia broadcast. Di luar tugas utamanya ia masih bersedia melakukan kegiatan memanfaatkan kemampuannya sebagai MC . Salah satunya tampil bersama rekannya Sonny Wijaya, memandu acara Festival Keluarga Tokoh 2014 Sejuk Bersama Coolant. Dengan pembawaannya yang hangat dan bersahabat, putri dari pasutri I Nyoman Oka Tri Suparsono, S.Sos.,M.Si.-Ni Made Wistari,

S.E., M.M., ini pun menceritakan bagaimana langkah-langkah yang dilaluinya. Pengalaman pertama jadi MC, saat masih kelas 2 SMP, tahun 1998 di acara ulang tahun sekolahnya. Ketika itu belum paham MC itu tugasnya apa, tapi ia berpikir ini kesempatan untuk bisa latihan sekaligus langsung unjuk gigi. Karena Yupi juga aktif di OSIS, maka ia pun dikenal oleh guru-guru. Begitu ada lagi acara di sekolahnya, ia pun dengan percaya diri menawarkan diri, dan diterima menjadi MC. Sejak itu ia mulai menyukai yang namanya menjadi pembawa acara atau MC. “Eh ternyata enak juga ya bicara di depan orang banyak dan jadi pusat perhatian begitu perasaan saya ketika itu,” kenangnya. Dari itu juga, ia makin menyukai dunia komunikasi, ia menjadi sering mendengar suara orang siaran di radio. Ketika sekolahnya mendirikan Radio Sisma (SMA7) ia juga tidak sungkan mengajukan diri dan terpilih sebagai salah seorang penyiar. Siarannya dilakukan saat jam istirahat dan ia bertugas hingga ia naik ke kelas 3. Saat SMA kelas 2, ada acara “Nano-Nano Go to School”, datang ke sekolahnya. Ia pun beruntung, karena pengalamannya menjadi penyiar radio di sekolahnya, Yupi dan seorang temannya ternyata terpilih menjadi MC bersama MC yang sudah disiapkan panitia. ”Inilah event pertama saya tampil sebagai MC di luar tugas sekolah,” katanya. Yang tak terduga adalah, setelah beberapa waktu kemudian Yupi pun diminta kembali menjadi MC oleh partner MC-nya saat acara NanoNano. Tanpa pikir panjang Yupi langsung bilang oke. “Saya harus pintar menggunakan peluang menjadi kesempatan terbaik, ini harus diciptakan jangan ditunggu,”cetusnya. “Acaranya waktu itu ulang tahun BEM Fakultas Sastra Unud.Rasanya gimana gitu karena saya masih SMA, sedangkan pasangan saya sudah kuliah. Berbekal pede, akhirnya memudahkan semuanya dan berjalan lancar,” lanjut Yupi. Di acara tersebut pula Yupi berhasil menambah

Yupi saat acara Festival Keluarga Tokoh 2014

jejaringnya, seperti dengan penyanyi, dancernya hingga bagian sound system. Melihat kesibukannya orangtua Yupi khawatir soal pendidikannya. Sebagian besar waktunya habis untuk kegiatan MC, seolaholah tidak ada waktu lagi untuk belajar. Karenanya, begitu kelas 3 SMA semua kegiatan stop, hanya mengikuti les pelajaran dan fokus untuk ujian. Saat penjurusan di SMA ia pun memilih kelas Bahasa, namun lucunya karena yang memilih kelas tersebut hanya 12 orang, akhirnya kelas ditiadakan dan ia pun masuk

ke ke­ las IPA. Begitu selesai S M A , Yupi ingin kuliah komunikasi di Malang, namun sebagai anak bungsu dan orangtua­nya­ingin selalu dekat dengannya. Apalagi, orangtuanya yang bekerja di bidang kesehatan, ingin anaknya men-

jadi dokter, namun Yupi memiliki keinginan berbeda. Ia pun kuliah di FH Unud melalui jalur PMDK. TAMBAH JAM TERBANG Tahun 2005, Yupi ikut acara SCTV Goes to Campus. Ia pun berhasil masuk 10 besar. Yupi merasa perlu meningkatkan pengetahuan, kemampuan dan kualitas dirinya. Solusinya, ia mengikuti pelatihan MC yang diadakan oleh Santy Sastra. Diakuinya ini membantunya menjadi semakin mahir. Job sebagai MC pun tak berhenti mengalir dan berlanjut dengan terbukanya kesempatan ia menjadi penyiar radio di Duta FM. Ia juga sempat mengisi siaran di TVRI. Ini pun dimulai dari dimintanya ia menjadi MC sampai akhirnya mendapat tawaran mem­ bawakan acara dialog bisnis. Di sini ia kembali mendapatkan banyak proses belajar sampai akhirnya sempat pula mencicipinya berkarier di beberapa TV lainnya sebagai presenter dan reporter. Selanjutnya, dengan jam terbang yang dikantonginya Yupi menjadi semakin piawai bukan hanya menjadi MC untuk kalangan kampus, tapi juga mahir untuk mengantarkan acara wedding, gala dinner, acara music baik yang in door maupun out door. “Hanya ketika diawal acaranya masih untuk kalangan lokal, sebab waktu itu bahasa ­I nggris belum pinter, tapi sekarang ayo mari,” kata pengagum Tina Talisa ini tersenyum. Begitu kuliahnya selesai tahun 2007, Yupi juga sempat berkarier di Adira. Waktu ­istirahat makan siang, ia justru lari ke sebuah stasiun TV untuk siaran dan bukannya makan. Mulai tahun 2009, ia bekerja di RS Sanglah hingga saat ini. Ia direkrut oleh RS Sanglah karena sering menjadi MC di sana. Ke­betulan ketika itu Humas RS Sanglah memerlukan sosok yang bisa menjadi MC dan mampu mengelola event. Akhirnya, ia ditempatkan di Diklat. “Ini dapurnya rumah sakit. Ketika ada kunjungan, bidang inilah yang menerimanya termasuk urusan mahasiswa, karena RS Sanglah juga RS pendidikan,”kata Yupi yang masih menyimpan keinginan untuk melanjutkan kuliah S2. Disinggung suka-duka di dunia MC, ia mengatakan tidak selalu mulus, ia pernah juga telantar dan tidak dibayar ketika menjadi MC di luar kota. Namun, Yupi mengatakan lebih banyak suka. Sebab dari kegiatannya menjadi MC ia justru menjadi pribadi yang tumbuh lebih baik. Ia menjadi lebih disiplin dan lebih bisa menghargai waktu, menghargai orangtuanya maupun orang lain Bicara masa depan pemilik moto never give up yang lebih memilih fokus pada apa yang dikerjakan dan berpikir positif memandang segala hal ini, menyatakan ingin bisa mewujudkan mimpi besarnya, yakni memiliki stasiun radio sendiri. Di samping itu ia juga berkeinginan mendirikan sekolah atau lembaga khusus untuk menjadi MC dan presenter yang bersifat one stop learn. “Rasanya saya ingin cepat-cepat bisa berbagi dan menyampaikan pesan cara meng­ arungi karier sebagai MC atau presenter, mulai dari communication skill, termasuk urusan meng-upgrade penampilan, menjadi pede (percaya diri) hingga mengatur vokal, mengolah, memilah kata, dan segala macamnya,” katanya sambil menguntai kalimat “Apa pun bidang yang kamu pilih, apa pun keahli­an kamu, saat kamu ingin memberikan itu semua untuk orang banyak maka itu adalah passion kamu.” – Sri Ardhini


4

Inspirasi

13 - 19 Oktober 2014

Noni Subagja

Sukses dari Bumbu Dapur Memiliki delapan anak ditambah lagi suami yang menderita stroke dan kini sedang koma, apa yang bisa dilakukan oleh Noni Subagja, seorang ibu rumah tangga biasa? ‘Pukulan’ itu sungguh terasa berat baginya. Perekonomian keluarga yang tadinya mapan, kontan menjadi morat-marit. Tapi Noni tidak bisa berlama-lama terbenam dalam kesedihan, anak-anak yang masih sekolah membutuhkan pendampingannya, di sisi lain ia harus menggantikan peran suaminya dalam mencari nafkah.

K

ondisi tersebut (suami stroke), sebenarnya telah berlangsung sejak 11 tahun namun, semakin bertambah parah sejak dua tahun terakhir, bahkan kini menurut dokter, suaminya mengalami koma. “Saya tak bisa berlama lama dalam kesedihan. Saya sibuk mengurus suami yang sakit, mengurus anakanak, juga memutar otak bagaimana caranya mendapatkan penghasilan. Saya sadar, bersedih hati, berdiam diri tidak menyelesaikan masalah, justru akan makin terpuruk. Saya juga tidak mengharapkan bantuan orang lain, saya harus bangkit dengan kekuatan sendiri. Itu tekad saya demi anak-anak. Yang terkecil baru 10 tahun,” ungkap wanita yang bernama lengkap Noni Siti Aisyah Subagja yang baru saja me­ nerima penghargaan ‘Pangan Award 2014’ untuk kategori bumbu dapur dari Kementerian Perdagangan ini. Karena masak-memasak merupakan dunia yang paling dipahaminya maka dengan modal yang ada ia pun mulai merintis bisnis makanan kecil-kecilan. Tentunya tidak mudah karena persaingan di bisnis makanan cukup tajam. Tapi, kata Noni, bisnis di bidang makanan bukan hal baru bagi­ nya. Sebelumnya, di tahun 90-an, ia pernah melakukannya dengan membuka rumah makan. Sayangnya, bisnis yang telah berhasil menggaet banyak pelanggan ini, terpaksa tutup karena dikelola dengan tidak profesional. “Dulu itu bisnis rumah makan saya bagus. Banyak pelanggan, tapi karena manajemen yang salah, tidak professional, akhirnya ditutup. Berkali-kali bikin rumah makan, berkali-kali pula gagal karena masalah manajemen. Juga, kekurangseriusan saya dalam menggarap bisnis itu. Mungkin karena dulu saya merasa kehidupan ekonomi cukup, ada suami yang mencari nafkah, jadi saya tidak serius mengelola bisnis itu. Akhirnya saya putuskan untuk berhenti berbisnis dan focus mengurus rumah tangga. Itu berlangsung selama belasan tahun sampai akhirnya suami terkena stroke sehingga mengajukan pensiun dini. Itu mengubah semuanya,” ung­ kap Noni yang memiliki keahlian mengolah masakan khas Sunda. Kondisi yang ada, memaksanya bergelut kembali dengan bisnis makanan. Hanya saja kali ini ia tidak membuka rumah makan, melainkan berbisnis aneka bumbu masak dalam kemasan. Dia memulai dengan modal yang terbatas, sekitar Rp 5 juta untuk membeli berbagai bumbu mentah serta beberapa puluh juta untuk membeli peralatan. “Sekarang peralatan saya cukup lengkap, ada mesin penggilingan cabai, mesin penggilingan bumbu karedok, mesin pengiris cabai, dll. Total nilai investasi­

nya sekitar Rp 100 jutaan. Tapi untuk melengkapi semua peralatan itu, tidak saya lakukan sekaligus karena harganya mahal. Saya beli satu persatu secara mencicil,” kata Noni. Kini, ia memiliki lima produk unggulan, yakni; bumbu kremes, karedok, sambal goreng terasi, abon ayam dan bawang goreng brebes. “Lima produk ini sebenarnya bukan baru tercipta. Tapi semuanya sudah dijual saat saya membuka rumah makan. Hanya saja, kini dilakukan penyempurnaan-penyempurnaan supaya rasanya semakin enak,” tambah wanita bertubuh subur ini. PEMASARAN DOOR TO DOOR Untuk pemasaran, katanya, dia melakukannya secara door to door. Banyak teman, katanya, sangat membantu bukan hanya dalam hal pemasaran tapi juga perbaikan produk. Mereka itulah, ucapnya, memberi banyak saran agar produknya menjadi semakin baik. Untuk semakin mengembangkan bisnisnya, lanjut Noni, ia pun menggunakan namanya “Bu Noni” sebagai merk produk. Beberapa waktu lalu, lanjutnya, digelar seleksi untuk mengikuti lomba pangan nasional. “Saya berhasil lolos seleksi dan ditunjuk mewakili DKI Jakarta untuk lomba pangan tingkat nasional. Pesertanya dari 34 provinsi. Alhamdulilah, saya berhasil juara pertama lomba itu untuk kategori bumbu masak ,” katanya dengan wajah sumringah. Untuk lomba tersebut, hanya dua produknya yang diikutsertakan yakni; bumbu karedok yang merupakan bumbu untuk makanan khas sunda, dan sambal goreng terasi. Noni mengaku, demi ke­­pentingan lomba, ia ‘membongkar’ kembali racikan bumbunya de­ ngan melakukan berbagai eksperimen. “Saya disarankan agar menambah jeruk limo pada bumbu karedok agar orang bisa langsung memakan tanpa menambah bumbu lagi. Nah, masalahnya, jeruk limo akan membuat bumbu itu menjadi basah. Kalau basah bagaimana dengan ketahanan bumbu? Karena selama ini saya menjual bumbu karedok

padat. Dengan ditambah jeruk limo, bumbu keradok menjadi berbentuk pasta atau setengah padat,” tutur Noni yang mendapat keterampilan memasaknya dengan cara otodidak. Melaksanakan saran itu, kata Noni, merupakan tantangan tersen­ diri. Ia pun melakukan berkali-kali percobaan, baik dari segi rasa juga membuat bumbu itu menjadi tahan lama. “Akhirnya berhasil juga, setelah berkali-kali gagal dalam percobaan. Jadi, bumbu karedok saya yang berbentuk pasta ini, meski ditambah jeruk limo, bisa tahan selama 21 hari dalam suhu ruangan. Kalau di dalam kulkas bisa tahan hingga 3 bulan. Tidak terlalu lama jika dibanding bumbu padat yang saya buat sebe­ lumnya, yang dapat bertahan hingga 7 bulan di dalam kulkas ,” jelasnya. Penghargaan Pangan Award 2014 yang diberikan oleh Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi, membuatnya makin bersemangat da-

13 - 19 Oktober 2014

Mandalika

21

Olahan Kreatif Kaki Ayam Di pasar-pasar tradisional, jika membeli daging ayam, pembeli jarang mau menyertakan kaki ayam sebagai bagian dari berat dalam timbangan. Kalau pun membutuhkan kaki ayam untuk olahan lain, biasanya dibeli terpisah dengan harga yang sangat murah.

Ibu Noni, Juara Nasional Lomba Pangan Kategori Bumbu-bumbuan

lam menekuni bisnisnya. Dia merasa yakin ke depannya, akan banyak peluang didapat meski disadarinya persaingan di bidang itu, lumayan ketat. “Yang penting kita terus maju, jangan berenti berkreasi. Mutu, dan rasa, juga menjadi perhatian saya,” tambah Noni yang berhasil memasukkan produknya ke sebuah hypermarket terkenal. Terus terang, lanjut Noni, sampai sekarang ia masih merasa prestasi yang didapatnya itu bagai sebuah mimpi. “Waktu saya mendengar kabar bahwa saya mendapat juara pertama, badan saya gemetaran. Perasaan campur aduk. Antara senang, bahagia juga tidak percaya. Apa benar? Karena peserta lomba dari seluruh Indonesia,

mereka semua bagus-bagus. Saya sampai menangis ketika mendengar kabar itu, sambil tak putus-putusnya mengucap syukur pada Tuhan,” tutur Noni yang sejak memenangkan lomba mendapat tawaran kerja sama dari beberapa pihak. Dengan keberhasilan ini, tekad­ nya mengembangkan bisnis aneka bumbu special semakin menggebu. Namun sayang, salah satu ‘benturannya’ adalah masalah permodalan juga peluang memasarkan produk. Dia berharap, ke depannya ada bantuan dari pemerintah baik dalam permodalan, juga pemasaran. Karena kedua hal tersebut sangat dibutuhkan oleh para UMKM seperti dirinya. –Diana Runtu

K

Krupuk ceker siap dijual

arenanya, salah satu bagian pen­ ting bagi hewan ini jarang tampak menyatu pada tubuh-tubuh ayam secara utuh. Oleh pedagang daging ayam, kaki-kaki ayam tersebut biasanya sudah dipisahkan terlebih dahulu untuk dijual khusus. Kaki ayam biasanya dipakai hanya untuk menyedapkan sayur sop yang bisa dibeli dengan harga relatif murah. Kaki-kaki ayam ini sepertinya tidak bernilai tinggi. Namun, di tangan kreatif, kaki-kaki ayam bisa menjadi bernilai sangat tinggi yang dapat memberikan penghasilan yang berlipat ketimbang harga dagingnya. Kaki-kaki ayam tersebut menjadi berharga tinggi ketika diolah menjadi krupuk. Setelah menjadi krupuk, kaki ayam tidak lagi disebut krupuk kaki ayam melainkan lebih dikenal dengan nama Krupuk Ceker. Ceker berarti kaki. Sentra pengolah­ an kaki ayam sebagai camilan

ini ada di Seganteng Subagan, Cakranegara Selatan, Mataram. Puluhan keluarga di kampung ini terkenal sebagai pembuat krupuk ceker yang dikerjakan langsung di rumah-rumah penduduk. Kaki-kaki ayam yang dibeli dalam keadaan segar di pasar, biasanya langsung diolah untuk menjamin rasa gurih dari krupuk yang dihasilkan. Proses tersebut dimulai dari membersihkan tulang-tulang dan urat ayam, pencucian, penjemuran hingga menggoreng sebagai tahap pertama. Kaki-kaki ayam yang sudah digoreng tahap pertama biasa disebut aluman. Aluman inilah yang nantinya akan disimpan dan digoreng kembali menjadi krupuk ceker ayam. Aluman tahan disimpan hingga tiga bulan. Krupuk ceker Seganteng bisa diperoleh di pasar-pasar tradisi­ onal, warung-warung makan hingga minimarket-minimarket di Mataram. Namun, bisa juga diperoleh langsung di Seganteng

Proses pengeringan terbaik krupuk ceker, dilakukan di bawah sinar matahari

di sentra pembuatan krupuk ceker. Kaki ayam yang tadinya tidak berharga mahal, akan menjadi berlipat-lipat kali harganya jika sudah menjadi krupuk ceker. Harga kaki ayam satu kilogram berkisar antara Rp 7.000 s.d. Rp 10.000. Namun, ketika kaki-kaki ayam ini menjadi krupuk ceker, harga perkilogram mencapai Rp 90.000 hingga Rp 110.000. Selain karena rasanya yang gurih dan sedap, nilai ekonomis yang bertambah ini juga dikarenakan proses pengerjaan yang terbilang rumit. Pekerjaan membuat camil­ an ini diawali dengan mengiris bagian tengah kaki hingga jari

Krupuk ceker yang baru digoreng

langsung direndam dengan air yang sudah diberi bumbu antara lain garam, kunyit dan bawang putih, beberapa saat hingga bumbu meresap dengan baik, biasanya selama 15 menit. Kunyit dipakai untuk mempertahankan warna asli krupuk ceker. Dalam cuaca panas matahari normal, ceker-ceker ini dijemur hingga kering dalam beberapa jam. Sebaiknya penjemuran dilakukan pada saat matahari terik agar langsung kering, untuk menghindari bau tidak sedap pada krupuk yang dihasilkan. Matahari menjadi

Kaki-kaki ayam yang berharga murah bisa diolah menjadi krupuk ceker dengan harga yang tinggi

lalu membelahnya, dan tulang kaki serta tulang-tulang jari dengan mudah dipisahkan. Demikian pula dengan urat-urat yang juga harus dipindahkan. Jika terdapat kotoran di tengah telapak kaki ayam biasa berupa kapalan hitam, terlebih dahulu dipotong dan dibuang. Tulangtulang muda bagian lutut juga dipisahkan. Kemudian, kulit kaki ayam dikupas dan kuku-kuku ayam dibersihkan. Untuk dapat mengupas kulitnya, kaki-kaki ayam tersebut harus disiram air panas (bukan air mendidih) dan didiamkan beberapa saat “Hasil krupuknya kurang bagus kalau sampai matang, krupuk ceker akan mengkerut,” kata Kamil, salah seorang pembuat krupuk saat mengantar pesanan krupuk di Pasar Mandalika Mataram. Setelah proses pemisahan dan pembersihan kaki ayam dari tulang, urat dan kulitnya, ceker-ceker tersebut dicuci berulang-ulang hingga bersih dan tidak amis. Ceker-ceker tersebut

sangat penting dalam proses pengeringan karena menghasilkan krupuk yang lebih mekar. Namun karena jika musim hujan tiba, proses pengeringan cekerceker tersebut memakai oven. Hasilnya, tentu saja tidak sebaik

kalau dijemur di bawah terik matahari. “Saat digoreng akan kisut atau keriput,” kata Ana, pembuat krupuk lainnya. Setelah proses penjemur­ an dan ceker-ceker menge­ ring barulah dilanjutkan dengan menggoreng tahap pertama atau membuat ceker menjadi aluman. Penggorengan tahap pertama dilakukan dalam wadah cekung atau wajan besar dengan minyak yang banyak. Penggorengan tahap pertama dilakukan minimal dua jam. Ceker aluman ini memang sengaja dibuat agar bisa disimpan dalam waktu lama sehingga dapat digoreng kapan saja. Jadi, untuk menghasilkan krupuk ceker yang baik, penggoreng­ an harus dilakukan dengan dua tahap. “Kalau langsung digoreng jadi krupuk usai dijemur, hasilnya kurang bagus dan susah mekar serta akan menyusut,” kata Kamil. Saat menggoreng aluman untuk menghasilkan krupuk ceker, api tidak boleh terlalu besar karena akan cepat membuat krupuk gosong sehingga rasanya bisa pahit. Yang disebut dengan krupuk ceker ayam, ternyata bukan semata-mata dari daging telapak hingga kaki ayam melainkan urat dan tulang jari-jari ayam pun bisa dibuat krupuk. Bentuk krupuk ceker dari urat kaki ini, panjangpanjang dan rasanya sama dengan telapak ayam. Tulang jari-jari kaki ayam pun ternyata tidak dibuang karena masih bisa diolah menjadi krupuk. Krupuk ceker, usaha kreatif yang mengolah bahan murah menjadi bernilai ekonomi tinggi. -Naniek I. Taufan

Proses pemisahan tulang, tulang jari, urat, kuku dan kulit kaki ayam


20

Nine

13 - 19 Oktober 2014

Lale Kamarukmin Mardiati

Belajar sambil Bekerja Sudah dua minggu terakhir Lale Kamarukmin Mardiati, tidak bisa mengangkat beban berat dengan tangan kanannya akibat kecelakaan sepeda motor yang dialaminya ketika tengah dalam perjalanan melakukan peliputan. Lale yang terbiasa bekerja ini menjadi gelisah karenanya.

K

egelisahan itu memuncak ketika reporter senior LPP RRI Mataram ini tidak bisa melakukan pekerja­ annya secara maksimal dalam peliputan. Ia juga tidak bisa melaporkan berita-berita yang terjadi di Nusa Tenggara Barat. Suaranya khas dalam laporanlaporan langsung di lapangan yang disiarkan RRI Mataram, sempat tidak terdengar selama lebih kurang dua minggu itu. Kecinta­annya pada dunia jurnalistik yang telah digelutinya selama 30 tahun, membawanya menjadi

membuatnya jumawa melainkan menyikapi hal itu dengan rendah hati. Siapa sangka, wartawan senior di NTB ini rupanya pernah mengundurkan diri dari pekerjaannya karena dulu ia merasa tidak sanggup menjalankan profesi yang berat baginya itu. Di awal kariernya diterima sebagai honorer seksi pemberitaan di LPP RRI Mataram tahun 1984, sebenarnya Lale tidak mengerti bidang tugas yang dibebankan kepadanya. Sesungguhnya pula ia tidak terlalu paham menjadi seorang reporter. “Pilihan saya dulu waktu ujian masuk di RRi itu, ya

Lale Kamarukmin Mardiati (jilbab putih), saat melakukan wawancara dengan Ketua KPK, Abraham Samad, di Mataram

seorang wartawan yang memiliki konsistensi dalam bekerja. Meski telah lebih dari seperempat abad berkarir, Lale masih terlihat bersahaja. Tidak ada kesan berlebih­ an dari dirinya. Sehari-hari perempuan kelahir­ an, Bonjeruk, Lombok Tengah, 31 Desember 1963 ini masih sangat gesit mengendarai sepeda motor untuk mengejar satu sumber ke sumber berita lainnya di Mataram. Tidak tampak lelah ia bekerja meski usianya telah lebih dari setengah abad. Lale bahkan masih terlihat energik dan bersemangat berada di antara para wartawan muda dalam peliputan-peliputan berita. Tidak ada kesan gengsi apalagi merasa sebagai wartawan senior yang diperlihatkannya dari pada wartawan muda lainnya. Ia justru sangat akrab dengan para pewarta bahkan ada yang masih sangat baru dalam dunia jurnalistik di Mataram. Pembawaannya santai, ia bergaul akrab layaknya sahabat dan rekan kerja. Lale yang periang memandang mereka semua sebagai rekan seprofesi yang juga harus dihormati. Memiliki pengalaman panjang sebagai wartawan dengan sahabatsahabat pejabat yang banyak, tidak

operator,” ungkap Lale yang kala SMA di Praya mengambil jurusan IPA. Pilihan yang didasari keinginan untuk bekerja hanya bersandar pada latar belakang pendidikan yang dimiliki tersebut. Yang terpikirkan olehnya kala itu hanyalah bisa be­ kerja dan tidak menganggur. Namun, ketika masuk, baru­ lah Lale mengetahui bahwa ia akan menjadi seorang reporter, profesi yang sama sekali tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Apalagi ia mengaku ketika sekolah dulu tidak hobi dengan pelajaran Bahasa Indonesia. Pelajaran yang akhirnya menjadi dasar baginya dalam menulis dan menyampaikan siaran-siarang langsung di lapangan. Saat masuk itulah ia baru mulai mengenal pekerjaannya yang membuatnya sedikit kagok dan bingung menjalaninya. UJIAN LAPANGAN Dalam masa honorer selama dua tahun itulah, ia belajar menjadi seorang wartawan. Didikan profesi masa dulu yang terbilang “keras” telah menempanya untuk memulai karier itu dari bawah. Ia tidak langsung ditugaskan di pos-pos sumber yang banyak

menawarkan berita utama seperti di kantor-kantor Pemerintah Provinsi NTB, instansi vertikal atau dinasdinas terkait, melainkan ia ditugaskan turun ke kantorkantor desa dan kelurahan juga kantor kecamatan untuk melakukan peliput­an. Pulangnya ia harus menulis berita yang akan disiarkan. “Berita itu tidak otomatis disiarkan. Jika bagus baru disiarkan, namun jika tidak bagus, ya…tidak disiarkan,” ungkapnya. Kare­ nanya, lebih banyak berita yang dihasilkannya itu tidak disiarkan ketimbang yang disiarkan. Ia sempat merasa kecewa. Lale merasa tertantang untuk menghasilkan berita yang bermutu agar liputannya itu bisa disiarkan. Ia berusaha keras untuk bisa mewujudkannya. Namun, pada suatu ketika ia merasa “tidak mampu” meneruskan profesi ini. “Ujian lapangannya menjadi seorang wartawan dulu berat sekali rasanya,” ujarnya. Belum lagi kala itu ia masih mengetik menggunakan mesin ketik manual yang berkali-kali salah ketik, berkali-kali pula harus mengganti kertas yang disengaja disobek menjadi dua bagian. Lale yang masih honorer itu hampir putus asa dan akhirnya memutuskan keluar dari RRI. Ia merasa lebih baik keluar dari pada “menanggung beban” kerja yang sulit diwujudkannya itu. Selama seminggu “menganggur” itulah menjadi titik balik bagi Lale mencintai profesi wartawan. Ia rindu mendengar suaranya di radio ketika menyampaikan petikan berita dari rekaman wawancaranya yang disiarkan. Ia pun akhirnya memikirkan ulang keputusannya untuk keluar. Lale kembali menjadi reporter yang kemudiang diangkat sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil tahun 1986 dengan gaji Rp 15.000. Sejak itulah Lale menekuni karir sebagai reporter RRI Mataram yang akhirnya menjadi profesi yang sangat dicintainya. Ia mulai melakukan peliputan-peliputan di kantor-kantor pemerintah dalam jenjang yang lebih tinggi dan juga di DPRD Provinsi NTB. Cukup lama bahkan sampai sekarang ia masih aktif meliput di Kantor Pemerintah Provinsi NTB dan DPRD NTB. Hal inilah yang membuatnya menjadi salah seorang wartawan yang sangat dikenal oleh pejabat-pejabat daerah ini.

Lale Kamarukmin Mardiati

Tidak banyak wartawan senior di Mataram yang mampu bertahan seperti dirinya hingga 30 tahun lamanya. Rekan wartawan perempuan seangkatan dengannya yang masih aktif hingga kini hanya tinggal Raka Akriyani, Redpel Harian Suara NTB. Meski tidak memiliki basic sebagai seorang wartawan, Lale belajar sambil bekerja. “Semua pakai ilmu pengalaman dan banyak bertanya pada senior serta rekan seprofesi,” ujar Lale yang banyak mendapat pelajaran dari semua narasumber yang diwawancarai­ nya itu. Ia belajar menjadi wartawan benar-benar dari nol, dari tanpa pengetahu­an sedikit pun tentang dunia jurnalistik. Kegigih­ annya belajar, membawanya mam­pu bertahan menjalani profesi ini hingga ­b erpuluh-puluh tahun lamanya. Kiprahnya yang cukup panjang sebagai wartawan di Mataram, telah mengantarnya “mengawal” pemberitaan hingga lima gubernur di Nusa Tenggara Barat sejak masa kepemimpinan Gatot Suherman, Warsito, Harun Alrasyid, HL. Serinata hingga kini DR.

TGH. M. Zainul Majdi. Dari menenteng tape recorder berukuran besar tempo dulu hingga kini ia memakai rekaman digital berukuran kecil, Lale dengan setia mengarahkan alat rekam itu mendekat ke arah suara nara sumbernya. Sebagai perempuan, Lale tidak mengalami kesulitan menjalankan profesinya ini. Dua anaknya lahir saat ia men­­jadi wartawan yang tengah aktif. Dalam kondisi hamil sekali pun, Lale tetap menjalankan tugasnya seperti biasa. Kehamilan tidak membuat langkahnya tertahan untuk melakukan peliputan meski harus ke luar Mataram. “Rasanya biasa saja, tidak ada hambatan sedikit pun untuk bekerja semasa hamil,” ujar ibu dari Lalu Yusuf Hadi Nuansa Pelandarum (25), yang kini menjadi seorang polisi berpangkat Brigadir Satu dan Lale Tanauran Nuansa Tunjung Buih, S.H., (22). Lale terbilang ibu yang sukses dalam karier, sukses pula mengantar kedua anaknya untuk meraih pendidikan dan pekerjaan yang layak. Di damping suami, Lalu Januadi, S.I.P. (48) dan kedua anaknya yang sangat mendukung, karier Lale berjalan mulus. Meski kerap meninggalkan belahan jiwanya ini untuk melakukan peliputan keli­ ling hingga ke luar daerah ketika mengikuti kunjungan kerja DPRD NTB atau pun Gubernur NTB, Lale selalu membangun komunikasi melalui telepon dengan mereka. “Dukungan dari mereka luar biasa untuk saya,” katanya. Karena itulah Lale mulus menjalankan profesinya hingga kini. Dan karena itu pula, pemirsa RRI Mataram masih akan tetap men­ dengar suara Lale dalam voice report yang disiarkan dalam paket buletin berita, pagi pukul 07.30 wita dan sore pukul 16.30 wita dan juga bisa mendengarnya secara langsung melaporkan dari berbagai lokasi liputan mengudara dengan nama Min Mardiati. -Naniek I. Taufan

Lale bersama suami dan kedua anaknya. Mereka yang selama ini mendukung karirnya dalam suka dan duka

13 - 19 Oktober 2014

Inspirasi

5

Nopi Herlina

Awalnya Enam Sepatu Siapa yang tidak ingin sukses berbisnis di usia muda? Pasti semua

ingin. Tapi bagaimana caranya? Mungkin apa yang dilakukan Nopi Herlina bisa menjadi inspirasi bagi orang-orang muda yang memiliki minat pada bisnis namun terbatas dalam hal permodalan. dengan harga jual segitu, aku tidak rugi, karena sudah bisa mengcover ongkos produksi, pengiriman baran, bahkan tiket aku ke Kanada P-P dan kehidup­ an selama di sana,” ungkapnya bersemangat. Hasil menggembirakan di membuat Nopi optimis dirinya bisa memasuki pasar negeri itu. Sayangnya, keinginannya membuka toko di sana, tidak semudah dibayangkan. “Aku kepengen punya store di sana, tapi ternyata rule berdagang di sana complicated sekali. Jadi ya pelan-pelan saja. Untungnya aku punya partner di Kreasi sepatu Novi yang sudah merambah hingga ke mancanegara

N

opi yang kini ber­ usia 26 tahun, baru serius menekuni bisnis sepatu dua tahun lalu dan kini omzetnya sudah mencapai Rp100-120 juta per bulan. Yang menariknya, alumni Universitas Bandung jurusan Public Relation ini, mengawali bisnisnya tidak dengan modal besar, melainkan dari uang jajan yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit. “Ya, boleh dibilang tanpa modal ‘bulat’. Jadi modalnya dari tabungan uang jajan. Misalnya, uang terkumpul Rp1 juta, saya beli bahan. Nanti uang terkumpul lagi beli peralatan juga untuk bayar pekerja bengkel. Semuanya dicicil. Karena dana terbatas, saya tidak bikin sepatu dalam jumlah banyak. Pokoknya, dalam enam bulan pertama, saya tidak punya apa-apa, semuanya saya curahkan untuk beli bahan, bayar pekerja, nyicil beli peralatan, dll,” jelas Nopi. Untuk memasarkan produknya, Nopi memilih berjualan secara online. Ada banyak keuntungan berjualan secara online, selain marketnya lebih luas, modal awal yang dibutuhkan pun tidak besar. Apa­ lagi di dunia online terdapat ‘toko serba ada’ dimana para UMKM bisa mendaftarkan barangnya untuk dijual di toko tersebut secara gratis. Jika produk sudah mulai dikenal, bisa juga membangun ‘toko online’ sendiri. “Sekarang aku bisa menjual rata-rata antara 15-30 pieces per hari atau 600-700 pieces per bulan lewat online. Jumlah itu belum termasuk yang aku titip disejumlah toko, yang rata-rata tingkat keterjualannya mencapai 200-300 pieces. Saat ini omzet aku rata-rata sekitar Rp100-120 juta per bulan,” ungkap gadis

kelahiran Bandung 1988 ini. Nopi mengaku, memfokuskan penjualan sepatunya di kota sen­diri (Bandung). Ini lantaran persaingan industri sepatu di Bandung sangat ketat. Sebagaimana diketahui, Bandung Jawa Barat, dikenal se­b agai kota dimana industry kre­atif berkembang sangat pesat. “Tahu sendiri namanya Bandung, barang-barang seperti produk aku banyak sekali di sini. Persaingan sangat ketat. Jadi aku pikir lebih baik mencoba memasarkannya di luar Bandung. Jadi pelan-pelan sambil membuka jaringan aku berusaha menembus kota-kota di luar Bandung, seperti Jakarta, Bali, Balikpapan, Surabaya, Makasar, dll. Ternyata justru lebih cepat tumbuh, produk lebih cepat terserap pasar,” lanjutnya. Bukan hanya di dalam negeri, Nopi juga berusaha menembus pasar di luar negeri. Meski tidak dalam jumlah besar, ia telah mengekspor produknya ke negeri tetangga seperti Singapura, Malaysia, Brunei. Secara tak terduga, seorang tantenya yang tinggal di Kanada menawarkan kesempatan berpameran di Negara tersebut. “Peluang itu langsung aku ambil, sekalian tes pasar. Namanya tes pasar, aku nggak bawa banyak barang, hanya 120 pieces. Luar biasa, responnya bagus banget. Semua barang aku sold out. Malah ada yang datang mau beli tapi barang sudah habis. Mereka memuji produk aku unik dan nyaman dipakai. Karena masih tes pasar aku jual dengan harga khusus antara 40-60 dolar. Mereka bilang, harga produk aku terlalu murah, harusnya 80 dolar AS. Aku bilang tidak apa-apa ka­rena ini masih harga khusus, masih perkenalan produk. Toh,

Nopi Herlina

sana, dia yang akan membantu aku memasarkan di sana,” tutur gadis enerjik ini. Hal lain yang didapatnya selama di Kanada adalah inspirasi membuat sepatu untuk winter dan mereka yang berkebutuhan khusus. “Aku terinspirasi untuk membuat boot khusus winter, dan

sepatu untuk mereka yang bermasalah pada kakinya. Ya semacam orthopedic shoes. Aku lihat banyak yang memerlukannya,” jelas Nopi yang sedang merencanakan akan melakukan ekspansi ke Amerika, Dubai dan Jepang. “As soon as possible,” ucap pemilik merek ‘Nokha9 Footwear’, ini.

Pekerja Sejahtera Hasil Maksimal Bisnis memang telah menjadi passion Nopi sejak remaja. Bisa jadi itu karena pengaruh jiwa berdagang keluarganya, yang hampir semua bergelut di bidang bisnis, baik itu orangtua maupun kakak-kakaknya. Ketika kuliah, meski masih taraf iseng, Nopi pun mulai berjualan sepatu hasil karya temannya. “Aku terjun ke bisnis karena memang suka. Mungkin karena ‘darah’ keluarga ya, orangtua maupun kakak-kakak semuanya terjun ke bisnis. Kebetulan saat kuliah, ada teman yang berbisnis sepatu kreasi sendiri. Nah, isengiseng aku bantu memasarkan,” tutur Nopi. Hasilnya lumayan, bisa menambah uang sakunya. Tak disadari ia menjadi makin asyik seiring dengan keberhasilannya menjual cukup banyak sepatu. ‘Pundi-pundi’ makin tebal membuatnya makin semangat berjualan. Ia pun mulai berpikir punya brand sendiri. “Aku minta izin pada teman aku untuk punya brand sendiri. Maksudnya, aku beli produk dia lalu pasang brand sendiri,” kata Nopi yang dulunya memakai merek ‘Neng Neng Shoes’. “Suatu ketika ada konsumen yang bertanya sepatu pria. Tapi teman aku nggak punya. Aku mikir, kenapa nggak produksi sendiri aja, jadi bisa juga membuat sepatu cowok. Jadi itulah awal mula aku terjun ke produksi sepatu, bukan hanya reseller,” tambahnya. Nopi mengawali produksi sepatunya dengan modal relatif kecil, hanya hasil memasarkan sepatu teman plus tabungan uang jajan. Bisnis kecil-kecilan, kata

Nopi. Awalnya, membuat 6-10 pasang sepatu kemudian dijual secara online. “Aku desain sendiri. Ilmu desain aku peroleh secara otodidak. Sampai sekarang pun, semua desain sepatu aku yang buat,” ucapnya. Usahanya tak sia-sia, desain sepatunya digemari para peminat belanja online. Orderan pun meng­alir deras. Salah satu keunik­ an sepatu kreasi Nopi selain fashionable juga kekuatan pada motifnya. “Iya motif itu berasal dari kain. Jadi sepatu ini dicover kain yang telah diberi cairan khusus untuk sepatu. Kemudian diberi pelapis. Untuk mendapatkan kain-kain dengan motif-motif menarik, tidak mudah. Kadang jalan seharian, belum tentu dapat yang cocok. Kalaupun dapat, tidak banyak paling hanya 10 atau 20 meter. Nah, kesulitan mendapat motif ini juga menjadi penentu harga sepatu. Saat ini sepatu produksi Nopi dijual dengan

kisaran harga Rp300 ribu hingga Rp500 ribu. Ada pandangan menarik dari Nopi terkait pekerjanya. Menurut dia, dalam berbisnis dia tidak ingin hanya memikirkan keuntungan semata, tapi kesejahteraan pekerja sebagai tonggak utama bisnisnya pun harus mendapat perhatian. “Dulu aku bertekad, kalau kelak punya bengkel akan memberi kehidupan lebih baik pada mereka. Kini, meskipun tidak berlebih, aku beri mereka gaji dua kali lipat dari gaji mereka sebelumnya, juga menanggung makan, dll. Aku berharap dengan kondisi lebih sejahtera, keluarga mereka akan terbantu, dan dia sendiri bisa ber­ kerja maksimal. Soal kesetiaan, itu tergantung masing-masing orang. Kalaupun kelak mereka dapat tawaran lebih baik dan akhirnya pindah, itu hak mereka untuk mendapat kehidupan yang lebih baik. Bagi saya tidak masalah,” papar Nopi. -Diana Runtu.


Woman on Top

6

13 - 19 oktober 2014

Asri Welas Kursus 1 Jam Bersama Bu Agung “Ini jadinya.Terima kasih guruku Bu Agung,ilmunya dan nilai-nilai budaya yang menakjubkan”. Demikian status Asri Welas mengomentari foto dirinya ber­busana pengantin Bali didampingi Bu Agung, yang ia unggah dalam instagram-nya.

A

ktris kocak dan desainer yang bernama asli Asri Pramawati ini, memang sejak kecil sudah suka menari dan mencintai seni budaya Indo­ nesia.Tak heran jika, Rabu (1/10), ia terbang ke Bali khusus untukbelajar tata rias dan busana pengantin Bali di Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Agung, pimpi­ nan Dra. AA Ayu Ketut Agung, M.M. “Dia hanya sempat praktik belajar berbusana dan memasang bunga satu jam. Selebihnya berkonsultasi di mobil sepanjang perjalanandari Kreneng-Peguyangan-Bandara Ngurah Rai, karena dia saya ajak menghadiri upacara ngaben kerabat saya di Peguyan­ gan,” ujar Bu Agung. Pemeran Welas dalam sitkom “Suami-Suami Takut Istri” ini mengaku kagumdengan sosok Bu Agung usai melihat­ tayangan profilnya dalam program “She Can You Can” di salah satu televisi nasional. Ia pun tertarik dan memburu nomor telepon Bu Agung, dan akhirnya datang ke Bali untuk berguru langsung dengan pakar dan praktisi tata rias dan busana adat Bali ini.Karena jadwal kesibukannya yang begitu padat, membuatnya tak bisa berlama-lama tinggal di Bali. Sore itu juga, Asri Welas kembali ke Jakarta, dan berjanji akan kembali lagi belajar tata rias dan busana adat Bali ke Bu Agung. BANYAK DIMINATI Tata rias dan busana adat Bali yang termasuk bagian dari budaya Bali ini memang unik. Di tiap kabupaten/kota di Bali saja, memiliki ciri khas masing-masing. Ini yang menjadikan Bali kaya akan tradisi dan budaya. Ini pula yang lantas men­ jadikanmasyarakat luar Bali (domestik) bahkanmancanegara mengagumi Bali. Sebagai wanita Bali, Bu Agung berkomitmen tetap men­ jaga dan melestarikan tata rias dan busana adat Bali.Karena itu pula, secara berkesinambungan ia mengadakanroadshow

hingga kedaerah-daerah, bekerjasama dengan instansi pemerintah, swasta, dan lembaga lainnya, memberikan pelatihantata rias gratis untuk diri sendiri, membuat dan memasang sanggul Bali, tengkuluk lelunakan,dan menyosialisasikan pemakaian busana adat Bali yang baik dan benar. LKP Agung yang ia pimpin juga membuka kursus reguler dengan harga diskon. Kursus dan pelatihan ini dibimbing langsung Bu Agung dan instruktur lain­ nya yang kompeten di bidangnya.Mereka yang kursus, cukup membayar satu kali, kursus sampai bisa.-ten

Diskon 50% Kursus Tata Rias di LKP Agung Hanya Rp 4,5 Juta

n 50%

Kursus Sampai Bisa dan Bersertifikat Disko Tata kecantikan kulit (perawatan muka, make up wajah, perawatan kaki dan tangan, perawatan tubuh) senilai Rp 3 juta Rp 1,5 juta Tata Kecantikan Rambut (potong, kriting, blow, set, sanggul, creambath, pelurusan, dan cat rambut) senilai Rp 3 juta Rp 1,5 juta Tata Rias pengantin (payas nista, madya, utama, modifikasi, tengkuluk lelunakan) senilai Rp 3 juta Rp 1,5 juta Total biaya kursus Rp 9 juta Hanya Rp 4,5 juta *Disediakan beasiswa kursus gratis dengan syarat dan ketentuan berlaku Sekretariat LKP Agung: Jalan Anggrek No. 12 Kreneng, Denpasar. Tlp. 0361-233850, 231985, faks. 0361 247153. Cabang Tohpati, Jalan WR. ­Supratman No. 303 A, Tohpati, Denpasar. Email: lkp_agung@yahoo.com. website: www.salonagung.com.

Sudut Pandang

13 - 19 oktober 2014

19

Histeria Penggemar Mahabarata Demam Mahabharata melanda masyarakat Indonesia, khususnya Bali. Kehebohan terjadi ketika tujuh pemeran Mahabarata melakukan kegiatan di Bali, Minggu (5/10) dari pagi hingga malam hari.

P

agi hari, mulai pu­ kul 08.00, Shaheer Sheikh (Arjuna), Aham Sharma (Karna), Rohit Bhara­dwaj (Yudistira), Saurav Gurjar (Bima), Arpit Ranka (Duryodana), Vin Rana (Nakula), dan Lavanya Bhardwaj (Sadewa) melakukan jumpa pers di Hotel Westin, Nusa Dua (5/10). Mereka tampil dengan busana kasual yang membuat mereka tampil dengan wajah aslinya. Momen ini dimanfaatkan peserta jumpa pers untuk foto bersama ke­ tujuh orang ini. Acara makin heboh ketika satu-persatu pemain Mahab­ harata ini mengucapkan salam dalam bahasa Indonesia. “Halo, selamat pagi Indonesia. Selamat pagi Bali”. Kalimat itu terlontar mulai dari Arpit Ranka. Diantara ketujuh pemain Ma­ habharata, Vin Rana juga menyapa dengan ucapan “Om Swastiastu”. Salam dari pria yang mengawali kariernya sebagai model ini diberi apluas penonton. Kepada media, ketujuh pria tam­ pan ini mengaku ini adalah kunjungan

mereka yang pertama ke Bali. Me­ reka sangat kagum dengan keindahan panorama dan budaya Bali. Mereka yakin, suatu saat, pasti kembali ke Bali dan menjelajahi lagi wilayah-wilayah lain yang ada di Pulau Dewata. Walaupun hanya sebentar, momen berharga itu tak disia-siakan salah seorang awak media, Dewa Wiguna. Ia mengabadikan dirinya bersama dua idolanya Shaheer Sheikh dan Vin Rana. Foto itu lalu diunggah di media sosial. Betapa kagetnya dia, karena kesokan harinya, ia melihat foto tersebut juga diunggah Vin Rana di twitternya dengan judul Exclucive in Indonesia. “Oh Amazing,” ucap Wiguna sembari terbelalak. LELANG KAUS Dari Westin, para pemeran Ma­ habharata ini menuju Konsulat India untuk bertemu Konjen India dan Gubernur Bali. Selanjutnya mereka menggelar meet & greet di Cellular World Gatot Subroto. Acara meet & greet diawali lelang kaus. Bagi yang menawar tertinggi

tkh/ast

Jumpa pers di Hotel Westin, Nusa Dua

diberi kesempatan untuk menyerah­ kan kaus kepada pemeran Mahab­ harata dan foto bersama. Lelang tertinggi senilai Rp 5 juta untuk kaus Arjuna dan Karna. Suasana makin heboh ketika ke­ tujuh orang ini datang sekitar pukul 10.15. Peserta yang didominasi kaum wanita terus berteriak histeris. Mereka tak sabar bertemu langsung idolanya. Hampir satu jam menunggu, akhirnya ketujuh pria ini keluar dengan pakaian seperti yang mereka kenakan di film.

Sarat Ajaran Budi Pekerti Pawai arak-arakan artis Mahabharata

Jumpa penggemar di Cellular World Gatot Subroto

Menurut Psikolog Listiyani Dewi Hartika, Ketua Program Studi Psikologi Universitas Dyana Pura Denpasar, film Mahabharata memberi nilai positif karena memperkenalkan legenda masyarakat Hindu dengan banyak filosofi kehidupan. Namun, karena epic tersebut banyak berkisah tentang konflik, perang dan politik, penonton anak-anak sebaiknya didampingi para orangtuanya. Banyak dari mereka mengidolakan para pemain­ nya yang memang sebagian besar berwajah tampan dan cantik. Apalagi, anak-anak yang memasuki masa puber, mereka bisa saja berfantasi sendiri. Karena itu, para orangtua hendaknya memberikan pendampingan dan mengarahkan mereka intisari dari cerita tersebut. Dengan karakter yang kuat dari pemainnya, tentu saja, membuat penonton menjadi sangat terkesima dan menghayati kisah film tersebut. Orangtua perlu memberi arahan karena bagaimana pun film tersebut film dewasa. Memang film tersebut intinya menga­ jarkan manusia, berbuat baik, sabar, hasilnya selalu baik dan memperoleh kemenangan, sementara, kejahatan pasti kalah. Dra. Ni Wayan Karti, salah seorang pengurus Bidang Agama WHDI Bali mengakui kehebohan masyarakat terkait Mahabharata. Jika kita sempat

tkh/wah

menonton dan mengikuti jalan ceritanya, akhirnya ingin terus mengikutinya. Sebab ceritanya erat kaitannya dengan filosofi agama Hindu. Kalaupun anak-anak sangat menggemarinya, bahkan mereka bukan hanya hapal jalan cerita drama kolosal ini tapi juga hapal nama sebenarnya dari hampir seluruh pemeran Mahabarata. Mungkin, ini karena ceritanya memang menarik dan saat ini lagi naik daun dan menjadi bahan pembicaraan dimanamana. “Anak–anak biasanya tidak mau kalah dengan teman-temannya yang ramai bicara tentang Mahabarata. Disamping karena pemainnya yang cantik dan ganteng pastilah mencuri perhatian,” ujar Karti. Ia juga mengatakan, untuk anakanak yang menyukai cerita pewayang­ an ini bagus, sebab sarat dengan ajaran budi pekerti. Anak-anak jadi lebih jelas tahu gambaran tentang hal yang baik dan buruk . Sayangnya, saat tayang waktunya agak larut malam. Namun, sekarang mereka cukup nonton DVD-nya saja. –Wirati Astiti/Sri Ardhini

Peserta pun meringsek ke bibir panggung. “We love Bali,” ujar Vin Rana menyapa penggemarnya. Sua­ sana makin heboh ketika Shaheer Sheikh yang berbicara. Ia memi­ liki penggemar terbanyak. Kepada penggemarnya, pemeran Arjuna ini mengaku setelah menyelesaikan syuting Mahabharata, mereka ingin berlibur. Salah satu agendanya ber­ libur di Bali. “Antusiasme masyarakat terhadap film Mahabharata sangat luar biasa,” ujar Malika Jiwaji, Retail Manager Cellular World yang me­ nyempatkan diri berfoto bersama pemeran Mahabharata. Usai meet & greet, ketujuhnya dibawa ke mobil jip terbuka untuk menuju Gallery Kohinoor lalu makan siang di Sitara Indian Restaurant. Un­ tuk penyambutan, Sonia Kaur, pemilik Sitara Indian Restaurant memakaikan Aarti dengan Sindoor yang dioleskan di kening. Ini ritual Hindu India yang merupakan ucapan selamat datang di Bali serta berkat agar selama mereka di Bali baik-baik saja. “Kami menyiap­ kan menu India dengan cita rasanya asli dan mayoritas vegetarian. Ada juga

tkh/wah

berbagai variasi salad,” ujar Sonia. Setelah beberapa hari di Indonesia dan sampai di Bali, kemudian mencicipi hidangan yang disediakan oleh Sitara, komentar para pemeran Mahabharata ini, “wow ini persis seperti di India”. Mereka menyampaikan hidangan yang dinikmatinya itu sangat sesuai dengan keinginan mereka. Saurav Gurjar mengaku kagum atas kebersihan atau higienis yang sangat dijaga oleh Sitara. “Meski mereka hanya singgah untuk makan siang ternyata sangat perhatian den­ gan lingkungan yang ada di restoran kami,” ujar Sonia . Sonia yang terlihat akrab berbin­ cang dalam bahasa Hindi dan Inggris ini juga mengatakan, semua pemain sangat supel dan humoris . Ramainya para penggemar memadati jalan-jalan yang akan dilewati cukup menyulitkan mereka melangkah. “Untuk yang tidak makan siang bersama sudah juga dibungkuskan makanan untuk dibawakan ke hotel tempat mereka istirahat,:” kata Sonia. –Wirati Astiti/Ngurah Budi/ Sri Ardhini


13 - 19 oktober 2014

13 - 19 oktober 2014

18

Maestro Dr. HC Nyoman Gunarsa:

“Filosofi SLKB adalah Way of Life Masyarakat Hindu” dewanya Begawan Kasiapa dan un­ tuk pengeleak­an dewanya Begawan Mercuguna), mengan­dung nilai-nilai pelestarian lingkungan dalam Tri Hita Karana (THK), seperti hubungan antara manusia dengan Tuhan, antara manusia dengan manusia, antara manusia dengan alam serta lingkun­ gannya seperti Tumpek Bubuh dan Tumpek Kandang, dll. Manfaat inilah yang harus dipertahankan bahkan dilestarikan dan kelak menjadi aset WBN dan WBD. Saya berjuang untuk itu. Mudah-mudahan ini tidak ter­ lambat. Saya mohon dukungannya,” jelas Nyoman Gunarsa rinci.

Mengapa seorang maestro Nyoman Gunarsa begitu gigih memperjuangkan Seni Lukis Klasik Bali (SLKB) menjadi aset warisan budaya nasional (WBN) bahkan warisan budaya dunia (WBD)? Jawabannya sederhana. Sang maestro ingin agar masyarakat luas memahami bahwa filosofi yang ter­ kandung dalam karya-karya SLKB bisa dijadikan tuntunan hidup (way of life), tidak saja bagi masyarakat Hindu di Bali dan Indonesia saja tetapi juga masyarakat dunia. “Filosofi yang terkandung dalam SLKB sungguh luar biasa. Mengandung makna mendasar bagi hidup dan kehidupan. Benar sekali jika filosofi dalam karya-karya SLKB bisa menjadi dan dijadikan tuntunan hidup (way of life) masyarakat dunia,” ujar sang maestro. Alasan lain mengapa sang maestro mengawali per­ juangan itu dari diri sendiri, tokoh seni sepanjang masa ini mengaku agar SLKB yang mengandung nilai filsafat Agama Hindu dan filsafat Rwa Bhinneda ini tidak lantas terlupakan/dilupakan. “Saya ingin SLKB menjadi milik WBN dan WBD, tentu­ nya ada alasan yang sangat mendasar. Ini sesuai dengan pertanyaan staf ahli Kemendikbud Prof. ­Dr. ­I Wayan Rai S, maupun dari Balai Pelestarian Nilai Budaya Prov. Bali, NTB, NTT tentang apa manfaat SLK Bali itu,” terang pejuang HAKI ini. Lebih jauh Nyoman Gunarsa memaparkan, manfaat SLKB tidak lain karena selain mengandung nilai-nilai filsafat Agama Hindu dan filsafat Rwa Bhinneda (dalam pewayangan diceritakan dalam film Mahabharata), juga mengandung nilai-nilai etika (moral) yang mengajarkan hal-hal yang tidak boleh/tidak baik dan yang boleh/baik untuk dilakukan. “SLKB juga mengandung ajaran estetika/keindahan, mempunyai aturan-aturan. Mengandung nilai mistik berupa gambar-gambar rerajahan (pengeleakan untuk pengobatan

NILAI EKONOMI DAN PENDIDIKAN Di era globalisasi saat ini, SLKB juga bisa menjadi panutan bagaimana masyarakat Timur dan Barat bisa bergaul sejajar dan mampu men­ junjung tinggi nilai etika dan moral masing-masing karena jati diri yang dimiliki. “Kita pun sanggup hidup dan bergaul dengan masyarakat mo­dern tetapi tidak meninggalkan jati diri kita sebagai orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai yang diwariskan leluhur, yang semuanya ada dalam filosofi SLKB,” tambah Nyoman Gunarsa. SLKB, lanjutnya, juga mengajar­kan kita memahami nilai-nilai astronomi/ perbintangan yang bisa “menahkodai” kapan waktunya bertani, kapan wak­ tunya melaut dan bahkan waktunya menikah. Filosofi ini bisa digambarkan berupa lukisan Palelintangan, Tika berupa lontar-lontar, dll. Tak hanya itu, SLKB juga filosofi yang memberikan “pe­ tunjuk” dalam berusaha/berbisnis (mengandung nilai-nilai ekonomi). SLKB sebagai sumber penciptaan telah mem­ berikan ide-ide kreatifitas seni modern dalam menunjang ekonomi kreatif, me­ngandung nilai filosofi kuliner yang mengembangkan cita rasa orang Bali yang ada kaitannya dengan darma agama serta mengandung nilai-nilai pendidi­ kan/edukatif lewat cerita-cerita yang dilukiskan (dongeng rakyat Men Tiwas dan Men Sugih, I Lutung dan Kambing, Cangak dan Yuyu, dll). SLKB mengandung nilai Nawa Guna (diistilahkan oleh Nyoman Gunarsa). SUMBER DARI SEGALA SUMBER SLKB telah menjadi cikal-bakal dan sumber dari segala sumber seni lukis Bali berikutnya yakni: 1.Mazhab Pita Maha Mazhab ini didasari nilai-nilai yang tinggi dari seni lukis klasik Bali, bertemu dengan teknik barat yang dibawa Walterspiece dan R. Bonnet di Ubud tahun 1931. Mazhab ini melahirkan pelukis-pelukis yang mumpuni antara lain, I Gusti Nyoman Lempad, IB Made Poleng, A Sobrat, Raka Turas, IB Made Kembeng, dan IB Gelgel (Kamasan). 2.Mazhab Batuan Atas arahan Margaret Mid, Juan Bello dan beberapa penulis barat yang bermukim di Batuan, telah memberi inspirasi kepada perupa-perupa lokal Batuan dan sekaligus mempromosikannya ke luar negeri. Lahirlah senimanseniman hebat seperti, IB Made Wija, Togog, Made Jata, Nyoman Rajin, dsb. 3.Mazhab Young Artist Atas inisiatif Arie Smit di Penestanan, anak-anak desa yang biasa bekerja di sawah, diajarkan ikut melukis dengan kemampuannya sendiri. Mereka disupport de­ngan alat-alat lukis kemudian karya-karyanya dijual. Dari pelukis-pelukis “alam” ini telah memunculkan perupa-perupa andal seperti Made Tagen, Cakra, Soki, dll. 4.Mazhab Akademis Setelah putra-putri Bali banyak mengenyam pen­didikan seni rupa akademis, di bawah kepemimpinan Nyoman

Gunarsa sebagai dosen ISI Yogyakarta, dihimpunlah ­generasi muda Bali yang kuliah di Yogya masuk dalam Sanggar Dewata Indonesia (SDI). Di SDI yang ruang lingkupnya nasional bahkan univer­ sal ini, Nyoman Gunarsa mengajak para mahasiswa untuk menggali nilai-nilai tradisi yang ada di bumi Indonesia sebagai sumber inspirasi penciptaan, salah satunya adalah sumber dari Seni Lukis Klasik Bali. Ini untuk mengisi dinamika perkembangan seni lukis Indonesia yang sedang gencar-gencarnya di­kumandangkan oleh Founding Father Bangsa Indonesia. Dari sini timbul­ lah karya-karya Nyoman Gunarsa dengan Periode Offering (Sesaji) 1970, kemudian Periode ­Aringgit 1980, Periode Tari (gerak dalam bidang), Periode Sintesa, Periode Moksa, Periode Sosial Religius. Dari ISI Yogyakarta yang tergabung dalam Sanggar De­ wata Indonesia ini, lahirlah perupa-perupa andal, antara lain Made Wianta, Nyoman Erawan, Gusti Nurata, Made Djirna, Made Budiana, Pande Gde Supada, dll. FESTIVAL SLKB INTERNASIONAL Greget sang maestro dalam upaya melestarikan SLKB su­ dah dibuktikan sejak lama. Perjuangannya sudah diwujudkan saat dirinya menggelar even akbar yakni Festival Seni Lukis Klasik Bali berskala internasional di museum milik­nya, belum lama ini. Festival ini tidak hanya dihadiri para seniman dan seniwati lokal di Bali dan Indonesia, ­namun juga dihadiri para seniman luar negeri di tujuh negara yang memiliki koleksi seni lukis klasik Bali kuno. Nyoman Gunarsa menegaskan, SLKB sudah dikagumi dunia sejak masyarakat Eropa mengenal dunia Timur abad XV. SLKB sendiri merupakan harta karun atau warisan bu­ daya bangsa yang tiada ternilai harganya, yang sudah tidak bisa lagi dikritik atau dikomentari karena sudah merupakan filosofi mati hidupnya orang Bali. Nyoman Gunarsa mengaku sengaja menggelar festival SLKB internasional tersebut untuk bisa seluas-luasnya mengundang dan menampilkan peserta-peserta dari dalam maupun dari luar negeri yang memiliki banyak karya SLKB kuno yang agung. “Hal ini dilakukan tidak lain untuk mem­ perlihatkan pada masyarakat Bali khususnya, Indonesia dan dunia kalau para leluhur asal Bali memiliki peradaban yang sangat tinggi dengan karya-karya agung berupa lukisan-lukisan klasik,” katanya. Selain itu, menurut sang Maestro, festival tersebut juga digelar sebagai langkah untuk membangkitkan kembali ket­ erpurukan SLKB khususnya gaya Kamasan dan daerah lainnya yang kesannya murahan, yang cuma untuk perlengkapan upacara keagamaan dan tersebar di pasar kelontong ataupun artshop-artshop lainnya di Bali. “Semua itu perlu diberi tempat yang proporsional karena jelas bersumber dari karya-karya adiluhung seni budaya Bali,” ingatnya. Festival mengundang dan menampilkan koleksi-koleksi SLKB kuno dari berbagai negara. Dengan menyan­dingkan karya seniman-seniman Kamasan maupun daerah lain yang masih hidup dan produktif, paling tidak, ada kontribusi positif terhadap perkembangan seni budaya Bali. “Festival ini punya visi dan misi menjadikan SLKB sebagai garda terdepan budaya bangsa dalam mengawal dan melestarikan seni budaya Bali dalam era global disamping berkontribusi dalam pembangu­ nan karakter bangsa,” sambung Nyoman Gunarsa. Ditandaskan sang maestro, buah karya SLKB bukan sekadar untuk kepentingan upacara ritual saja, tetapi ikut mengisi ruang-ruang bergengsi gedung-gedung pemerintah, rumah para pejabat, gedung konglomerat, dsb. “Bahkan sejajar dengan karya seni maestro-maestro dunia sekaliber Michael Angelo, Leonardo Da Vinci, Pablo Picasso, Salvador Dali, Affandi, Hendra, Sudjoyono, dll,” ungkap maestro Nyoman Gunarsa. Pribadi unik dan sedikit “gila” dari sang maestro mendapat pujian dan kesan tersendiri dari Prof. Dr. M. Dwi Marianto yang dipercaya Nyoman Gunarsa sebagai editor bukunya yang berjudul “Dari Seniman sampai Presiden-Kata Mereka tentang Nyoman Gunarsa”. Dalam prolognya, sang editor menyebutkan jika Nyoman Gunarsa mempunyai visi politik berkesenian, sosok berenergi taksu, ikonografi Bali ‘adonan’ lokal-universal, sebagai guru dan motivator, zigzag seni dan spirit, ekspresi universal dan jiwa Bali, martir hak ciptamelawan mafia hukum. “Pribadinya cukup unik dan sedikit ‘gila’ apalagi saat berekspresi,” kesan Dwi Marianto. –ari

Life

Story

Cinta Lama Bersemi Kembali Setelah lima tahun pergi tanpa pamit, Meisya (27), bukan nama sebenarnya, akhirnya kembali ke kampung halaman­nya di Pulau Sumbawa. Malam itu, ketika kapal penumpang Tilongkabila dari Sulawesi bersandar di pelabuhan, Meisya langsung disambut isak tangis ibundanya yang menanti kedatangannya sejak pagi. Sejak pergi meninggalkan kampung halamannya, inilah kali per­tamanya Meisya pulang.

K

isah kepergian Meisya se­ sungguhnya sempat mem­ buat ibundanya meradang. Ia tiba-tiba saja menghilang dari rumah dan kemudian diketahui ia telah menikah di Sulawesi dengan seorang pemuda yang baru dikenalnya. Sejak awal berkenalan dengan pemuda itu, sebenar­ nya ibunda Meisya sudah tidak merestui hubungan mereka. “Orangnya kasar dan tidak sopan,” kata ibunda Meisya. Sejak Meisya pergi, ibundanya sangat merindukannya, namun ia tidak berani pu­ lang. Saat kepulangannya ini, akhirnya se­ mua baru terungkap, bahwa kepergiannya itu tidak sepenuhnya ia inginkan. Meisya merasa terjebak dan tidak bisa menolak ketika akhirnya pemuda itu membawanya ke Sulawesi. Hari itu, menjelang sore, Meisya pamit pada ibunya untuk jalan-jalan ke kota yang jaraknya sekitar dua jam perjalanan dari kampung halamannya. Ia pergi bersama tiga orang kawannya, dua perempuan dan satu lagi laki-laki. Mereka sesungguhnya telah membuat janji perjalanan ke kota itu sekalian untuk melihat kapal Tilongkabila yang akan tiba di pelabuhan malam hari. Kedatangan kapal besar di sini memang kerap menjadikan pelabuhan sebagai tem­ pat bagi masyarakat untuk melihat suasana bongkar muat tersebut. Hari itulah, mereka berempat sempat naik berjalan-jalan di atas kapal. Entah apa yang terjadi, menurut Meisya, tiba-tiba tiga orang kawannya itu menghilang di

kerumunan penumpang yang naik turun. Ia sendiri dan tiba-tiba pemuda yang baru di­ pacarinya itu ada di dekatnya. Pemuda itu menunjukkan dua tiket yang akan mem­ bawa mereka ke Sulawesi. Meisya mengaku sempat ke­bingungan menghadapi situasi itu sampai akhirnya pengumuman agar selain penumpang diminta untuk turun karena kapal 15 menit lagi akan melanjutkan per­ jalanan. Sauh diangkat, kapal pun mela­ ju. Hanya dengan pakaian di badan, Meisya pergi bersama pemuda yang dicintainya itu meski sebenarnya be­ rat meninggalkan keluar­ ganya dengan cara seperti itu. Sepanjang perjalanan Meisya dibujuk untuk mau menikah dengan pemuda itu. Ia memang tidak menangis karena separuh hatinya setuju pergi dengan pe­ muda itu meski separuh lagi ia tidak menyukai pergi dengan cara seperti itu. TAK BOLEH BERDANDAN Sadar ibunya pasti akan kebingun­ gan mencarinya, di atas kapal, Meisya

Pertemuan yang sering itu membuat benih-benih cinta lama bersemi kembali. Perhatian mantan kekasihnya itu membuat Meisya mabuk kepayang. Dalam waktu beberapa bulan, tubuhnya sudah terlihat berisi dan segar, ia kembali ceria.

mencoba menghubungi ibunya. Dalam kondisi sinyal yang putus-putus, Meisya terbata-bata memberitahukan ibunya bahwa ia akan menikah di Sulawesi. Entah bagaimana cara si pemuda, konon keduanya menikah dengan wali hakim. Sejak itulah ibunya menanti kabar yang tak kunjung datang. Hingga akhirnya ia menemukan putri pulang sendirian dalam luka psikis dan badan akibat

7

kekerasan yang dilakukan suaminya. Tubuhnya kurus kering dan telihat lemah. Meisya rupanya tengah mengurus perceraiannya karena tidak lagi tahan dengan suaminya yang kasar. Selain itu, ia tidak diperbolehkan berdandan karena suami yang terlalu cemburu. Banyak hal lain yang menjadi kepedihan bagi Meisya sehingga ia memutuskan lari dari rumah dan kembali ke pelukan ibundanya. Di kampung halamannya itulah, Meisya bertemu kembali dengan kekasih yang saat ia tinggalkan belum terucap kata putus. Kekasihnya itu telah memiliki istri dan seorang anak. Rupanya kembalinya Meisya sampai ke telinga mantan kekasihnya itu yang kemudian datang ke rumahnya untuk bertemu. Rasa malu sempat muncul di hatinya manakala mantan kekasihnya itu datang menjenguknya. Namun, tidak sekali saja mantan kekasihnya itu menjenguk melainkan mulai sering bertandang ke rumahnya. Kebetulan sekali, saat me­ reka pacaran ibunda Meisya menyetujui hubung­an mereka. Pertemuan yang sering itu membuat benih-benih cinta lama bersemi kembali. Perhatian mantan kekasihnya itu mem­ buat Meisya mabuk kepayang. Dalam waktu beberapa bulan, tubuhnya sudah terlihat berisi dan segar, ia kembali ceria. Mantan kekasihnya ini memanjakannya dengan berbagai makanan dan juga barang-barang kebutuhannya. Namun sayang, Meisya lupa jika mantan kekasihnya itu telah berkeluarga. Mereka menjalin hubungan ter­ larang dan berencana hendak me­ nikah. Meisya sadar jika dirinya adalah orang ketiga sehingga ia meminta mantan kekasihnya itu tidak menceraikan istrinya jika ingin menikahinya. “Dia rela menjadi istri kedua,” kata kekasih Meisya yang mengaku sempat ke­ cewa sekali ketika Meisya tiba-tiba meninggalkannya. Untuk mencapai jenjang pernikahan, memang tidak gampang bagi Meisya meng­ ingat kekasihnya itu memiliki keluarga. “Sementara biar hubungan berjalan seperti ini saja,” kata kekasih Meisya yang juga sudah berniat menikahi Meisya sebagai isti kedua, jika telah tiba waktunya. Kebetulan mereka masih menanti sidang cerai Meisya berakhir. Meisya sadar kisah hidupnya ini, terutama yang terakhir, tidak patut dicontoh. Namun inilah kisah yang tidak bisa lepas dari perjalanan hidupnya. Entah apa yang terjadi pada dirinya ke depan, Meisya mengaku telah pasrah. -Naniek I. Taufan


Bunda & Ananda

13 - 19 Oktober 2014

13 - 19 Oktober 2014

Griya

Tanaman Border Kebersamaan Berbunga Cantik dalam Tugas yang Berbeda 8

Anak-anak suka bermain musik? Orangtua pasti akan senang jika anaknya memiliki hobi bermusik. Apalagi jika musik yang dipilih gamelan tradisional. Memainkan gamelan Bali tak hanya sekadar menjalankan hobi, mengasah keterampilan ataupun sebagai pencetak generasi dalam upaya melestarikan kesenian Bali.

“Y

ana mau ikut ekstra menambuh. Ba­ nyak temanteman yang memilih menabuh. Nanti bisa pentas saat kenaikan kelas,” ujar Yana kepada ayahnya. Dedi, sang adik, tak mau ketinggalan. Dedi pun mau ikut menabuh. Ayah dan ibunya tersenyum melihat semangat anak-anak mereka. “Kami salut dengan pilihan anakanak untuk menekuni seni musik khusus menabuh. Ayahnya pun me­ respons pilihan anak-anak dengan mengantar mereka les menabuh,” ungkap ibu Yana dan Dedi. Dari beberapa penelitian, menabuh ternyata memiliki manfaat, salah satunya membangkitkan SQ dan yang utama sebagai bentuk pembelajaran budi pekerti secara nyata. Hal itulah yang mendorong I Gusti Made Lumbung, seniman tabuh asal Banjar Lambing, Desa Mekar Bhuana, Kecamatan Abian­ semal, Badung ini tak penah berhenti menularkan ilmu seni kepada anak-anak. Disamping membina sekaa gong kebyar di banjar, ia juga melatih anak-anak bermain gender wayang. “Belajar budi pekerti lewat berlatih permainan musik tradisional jauh lebih ampuh dibandingkan pelajaran budi pekerti di dalam kelas,” katanya. Dalam berlatih gamelan, Lumbung secara bebas mengungkapkan ekspresinya, anak-anak juga dapat mempraktikkan secara langsung bagaimana pelajaran budi pekerti yang sesungguhnya. Mereka selalu menghormati guru yang dianggapnya lebih tua dan senior. Mereka juga selalu patuh terhadap apa yang diberikan oleh pelatihnya. Walau demikian, suasananya belajar bukan menjadi kaku, ka­ rena tetap mengedepankan komu-

nikasi antara murid dan guru dalam mencapai tujuan. Meski terlihat santai, namun dalam bermain gamelan itu terdapat pendidikan sikap dan mental. Karena, sikap disiplin dan saling menghormati selalu ada dalam suasana menabuh. “Di sana juga ada sikap saling menghargai dan rasa kebersamaan,” imbuhnya. Bagaimana tidak, anak yang merasa kurang akan lebih giat mengisi dirinya dengan cara lebih sering bertanya. Begitu juga de­ ngan anak yang merasa lebih akan memberitahukan temannya yang masih kurang ataupun belum bisa, sehingga mampu tercipta permainan musik yang harmonis. “Sikap menonjolkan diri sendiri tidak akan terjadi, karena jika itu dilakukan maka anak itu akan dianggap salah,” ungkapnya. Masing-masing anak akan menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Jika ada anak yang mengambil tugas anak yang lain, hasilnya akan tidak harmonis, sehingga anak itu juga dikatakan melanggar dan salah.

Karena itu, anak akan merasa puas dengan tugasnya serta bertanggung jawab terhadap penuh. Mereka tidak boleh iri, angkuh, semena-mena karena akan menjadi salah sendiri. Uniknya lagi, kesalahan yang dibuat secara sengaja ataupun tidak sengaja tidak akan ditegur

baru kemudian diperbaiki. Anak itu akan memperbaiki dirinya sendiri karena sudah mengetahui dirinya salah. “Yang dibutuhkan dalam memainkan gamelan adalah sikap kebersamaan walau berada dalam tugasnya berbeda-beda,” tegasnya. Biasa memainkan musik ga­ melan, jelas Lumbung, juga sebagai cara untuk menghaluskan rasa jiwa seseorang. Biasa memainkan gamelan cendrung untuk membangkitkan spiritual quation (SQ), mendorong munculnya rasa kasih sayang dan lebih cepat bersosiali­ sasi. SQ ini untuk mengimbangi emotional quation (EQ) yang cendrung untuk melatih kecepatan untuk memutuskan sesuatu, yang mengarah pada ilmu pasti. GENDER WAYANG Di rumahnya, di Banjar Lam­ bing, Desa Mekar Buana, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung ia menurunkan ilmu seni kepada anak-anak. Mereka diajak duduk di atas jineng dengan santai, kemudian dengan sabar membangkitkan kreativitas anak dalam berkesenian. Mendengar dentingan gamelan itu, anak-anak desa kemudian datang. Terdengarnya dentingan gamelan itu, seakan menjadi tanda untuk berlatih megamel. Jumlahnya memang tak terlalu banyak, tidak lebih dari sepuluh anak. Selain anak-anak dari banjar setempat, ada juga dari daerah

Tabanan. Maklum jenis gamelan gender yang ia miliki masih terbatas yaitu dua tungguh pemade dan dua tungguh jenis kantil. “Saya melihat anak-anak serius mau belajar menabuh gender, maka saya tertarik untuk membeli gamelan gender. Baru bisa beli dua pasang saja, sehingga anakanak memainkan secara bergilir,” ucapnya. Dalam mengajar tabuh, pene­ rima penghargaan Dharma Kusuma ini tidak menentukan jadwal secara pasti. Kapan anak-anak sempat, ia siap melatihnya. Biasanya, latihan dilakukan setiap hari libur atau setiap sore hari setelah anak-anak pulang sekolah. Dalam berlatih itu tidak ada target. Artinya, dalam waktu sekian pertemuan harus menguasai sekian lagu atau gending. “Masalah bisa megamel itu nomor dua. Artinya tidak harus cepat menguasai gending. Pertama harus membuat mereka senang terlebih dahulu. Kalau sudah senang, mereka pasti gampang mem­pelajarinya,” paparnya. Demikian juga dalam melatihnya, ia tidak memilih gedinggending yang dianggap baik dan bagus atau yang populer dan tidak terkenal. Melainkan memberikan gending-gending dasar untuk melemaskan tangan serta merangsang anak untuk menjadi lebih senang, seperti gending Tulang Lindung dan gending Dongkang Menek Biu. -Darsana

Mendongeng Lima Menit Menunda Kematian Tuan Bergug adalah orang terkaya di Negeri Basang Lantang. Dengan Made Taro kekayaannya yang berlimpah-limpah itu, ia dapat membeli segala apa yang diinginkan. Kalau mau, ia dapat membeli seluruh kekayaan negeri, bukan saja tanahnya, gunungnya, lautnya, bahkan penduduknya. Satu hal yang tidak dapat dibelinya adalah kematian. Berkali-kali ia menghadap Dewa Kematian, minta agar dibebaskan dari hukum kematian itu. “Dengan harga berapa pun akan kubayar agar aku dibebaskan dari kematian,” katanya. “Tidak bisa!” jawab Dewa Kematian. “Kematian itu menimpa setiap orang. Mungkin besok, mungkin setahun lagi. Rahasia kematian ada di tangan Dewa Tertinggi.” “Kalau tak bisa dibeli, tak apalah! Tapi tolonglah aku, Dewa Junjunganku! Dua, tiga tahun sebelum aku mati, berilah aku kabar, sehingga aku bisa mempersiapkan diri. Aku punya banyak anak, cucu, dan cicit. Menjelang kematian, akan kuurus surat-menyurat pembagian warisan,” katanya, sambil menyerahkan tiga amplop berisi uang kepada petugas kematian itu.

Waktu berlalu, entah berapa tahun kemudian, Tuan Bergug jatuh sakit, lalu tiba-tiba mati. Walaupun mayatnya diarak ke kuburan dengan upacara meriah oleh penduduk negeri Basang Lantang, namun arwahnya marah-marah. Dengan berkacak-pinggang arwah Tuan Bergug menghadap kepada petugas kematian yang pernah diberi tiga amplop uang. “Hai, petugas!” bentaknya. “Mengapa aku dipanggil tiba-tiba? Bukankah telah kuperingatkan agar aku diberitahu, dua atau tiga tahun sebelumnya?” “Maaf! Menurut catatan, Tuan sudah tiga kali diperingati, tetapi Tuan tak mau mengerti. Peringatan pertama melalui rambut. Rambut Tuan sudah diputihkan, tetapi Tuan segera menghitamkannya kembali dengan semir. Peringatan kedua, melalui gigi. Gigi Tuan sudah diompongkan, tetapi Tuan secepatnya mengganti gigi-gigi itu dengan gigi-gigi baru. Dan…, ini yang terakhir, Tuan! Mata Tuan sudah buta. Tetapi Tuan segera menggantinya dengan mata baru.” Arwah Tuan Bergug tidak bisa menyangkal. Hatinya berkata jujur, bahwa segala daya-upayanya untuk menghindari kematian itu, tidak bisa melawan hukum alam. Ia pun menyerah ketika diantar masuk ke pintu gerbang kematian.

di rumah tinggal atau di Keberadaan sebuah taman, baik itu man tidak sekadar pengisi Ta a. sam gsi fun liki mi me k bli pu a are hijau yang diharapkan ruang kosong. Taman menjadi ruang tuk kenyamanan pemilik un lain si lek ref kan eri mb me u mp ma atau penikmatnya.

Nengah Sudarma di antara deretan tanaman bordernya

T

aman mempunyai ba­ nyak fungsi dan peran yang jauh lebih besar itu. Taman yang berisi tanaman hidup, antara lain berfungsi memberikan keseimbangan terhadap rumah yang dibangun dengan batu dan semen. Tanaman yang terdapat di taman akan memberikan kontribusi yang cukup penting untuk sirkulasi udara yang segar dan bersih bagi penghuni rumah. Terlebih di perkotaan yang tingkat polusi udaranya cukup tinggi. Dalam lingkup yang lebih luas, seperti taman kota, berguna sebagai arena rekreasi bagi keluarga. Selain itu, bagi yang hobi berkebun, taman bisa sebagai media atau sarana untuk mengisi kegiatan. Kelelahan atau stres yang dialami saat bekerja di kantor akan segera hilang dengan sekadar menyiram tanaman atau memandang dan menikmati keindahan tanaman yang ada. Mengingat pentingnya fungsi taman, tak ada salahnya jika Anda ber­ usaha menghadirkan taman di rumah Anda. Dimana pun Anda tinggal dan berapa pun luas halaman yang ada, Anda dapat membuatnya. Jika halaman rumah hanya tersisa sedikit, Anda dapat memanfaatkan sudut-sudut ruang untuk sekadar memberi kesan hijau, atau bisa juga membuat taman vertikal dengan membuat pola menempel ke dinding tembok, dan meletakkan tanam­an pot di atasnya. Kalau pun benar-benar tak ada lagi halaman tersisa, Anda bisa menyiasatinya dengan membuat tanaman gantung. Bagi Anda yang memiliki ketersediaan lahan, namun hanya memiliki budget kecil untuk membuat taman, tak perlu khawatir. Ada banyak jenis tanaman hias yang harganya terjangkau, namun tak kalah cantiknya. Seperti, tanaman seribu bintang, tapak dara, monika, star blue, Taiwan beauty, mawar Barbie, dan mawar hijau. “Ini jenis tanaman border yang berbunga,” ujar Nengah Sudarma, pemilik Stan Wijaya Kusuma di kawasan Tanjung Bungkak Denpasar ini.

Di stan bunga yang sudah dikelola­ nya sejak 11 tahun itu, tanaman­tanaman border tersebut tersedia dalam media polibag dengan media tanam sekam. Bagi yang memiliki dana terbatas, pria asal Klungkung ini mengatakan jenis tanaman tersebut bisa menjadi alternatif, selain cara perawatannya juga mudah. Sebut saja tanaman seribu bintang yang memiliki warna bunga kuning ce­ rah, hanya senilai Rp 3.000 per polibag. Demikian juga dengan tanaman Taiwan beauty yang memiliki bentuk buga kecil-kecil berwarna ungu. Tanam­ an tapak dara yang tersedia dengan warna bunga putih, merah, dan ungu, ditawarkan dengan harga Rp 5.000 per polibag. Sedangkan, star blue lebih mahal sedikit, yakni Rp 10.000. Di antara sekian tanaman border itu, harga tanaman monika dan mawar Barbie lumayan agak tinggi, yakni Rp 25.000 per polibag. Ini dikarenakan ketersediaan tanaman tersebut terbatas. Mawar Barbie yang dua bulan terakhir menjadi tren, dipasok dari Bogor. “Saya minta 100 saja, yang datang cuma bisa 50,” ungkapnya. Mawar Barbie ini sesuai dengan nama­nya, bunganya kecil-kecil berwarna putih.Uniknya, ketika kecil bunga ini berwarna pink, setelah membesar menjadi warna putih. Meskipun tak mengeluarkan aroma harum se­perti bunga mawar umumnya, mawar Barbie ini cukup mencuri perhatian pencinta tanaman hias. Pertumbuhan sebagian besar tanam­an ini memerlukan banyak sinar matahari. Saat menanam, lokasi yang ditanam harus gembur. “Jika Anda membeli dalam bentuk polibag seperti ini, ketika akan ditanam, buka plastiknya saja, lalu tanam sampai sekam (media tanam langsung),” jelasnya. Penyiraman cukup dilakukan sekali sehari,sore hari saja. Sama halnya dengan tanaman bonsai, untuk perawatannya, tanaman border harus dipotong minimal sebulan sekali untuk menjaga atau mengatur bentuknya yang indah. Tanaman border ini tak hanya

cantik ditanam langsung di tanah, ada beberapa pencinta tanaman justru lebih senang menanamnya dalam media pot. Hasilnya sama-sama cantik, yang penting Anda rajin merawatnya. Yang jelas, sebelum menentukan jenis tanaman yang Anda pilih untuk taman Anda, kenali dulu karakteristik tanaman tersebut. Dan, bagi Anda yang hanya memiliki sedikit waktu ka­ rena kesibukan kerja Anda, sebaiknya memilih jenis tanaman yang mudah dalam perawatannya seperti tanaman border ini. Tanpa harus melakukan perawatan khusus dan mengeluarkan kocek banyak, tanaman border dengan bunga-bunganya yang indah cukup cantik menghiasi taman rumah Anda. Tinggal, bagaimana kreasi Anda mengatur penempatannya. –Inten Indrawati

Aneka tanaman border berbunga

17


Edukasi

16

13 - 19 oktober 2014

IKIP PGRI Bali Gelar ToT

Promosi Elegan yang Sentuh Masyarakat Untuk menjadikan lembaga makin berkualitas khususnya dalam proses belajar-mengajar (PBM) yang nantinya menghasilkan output yang berkualitas pula, IKIP PGRI Bali menggelar Training of Trainer (ToT). ToT ini dilaksanakan selama dua hari, Jumat (10/10) dan Sabtu (11/10) menghadirkan instruktur berkompeten dari Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus (Untag) 1945, Surabaya.

T

oT dibuka Rektor yang diwakili Pembantu Rektor I, Drs. Pande Wayan Bawa, M.Si., dihadiri Pembina YPLP IKIP PGRI Bali Drs. Dewa Putu Tengah, Sekretaris Yayasan Ngurah Oka, diikuti seluruh pimpinan Kaprodi dan beberapa dosen di lingkup IKIP PGRI Bali. Pande Bawa mengatakan kegiatan ToT ini adalah kelanjutan bentuk kerjasama antara IKIP PGRI Bali dengan Untag 1945 Surabaya. Di samping, ToT dipandang perlu sebagai proses

pembelajaran keahlian dasar. Melaui ToT ini diharapkan dapat mengembangkan pengetahuan skill maupun ability/atensi dari masingmasing dosen/peserta. “Mengingat para dosen setiap saat selalu berhubungan dengan individu-individu, baik secara perorangan maupun kelompok, yang mana masing-masing individu memiliki keunikan. Contoh sederhana materi TOT melatih berkomunikasi dengan baik. Inilah salah satu kompetensi yang harus dimiliki para dosen,” ujarnya. ToT yang merupakan program pelati-

Pianis yang Bangga Pakai Endek

P

PR I Pande Bawa, Dewa Putu Tengah, Ngurah Oka, Prof. Sa’ad, Niken Titi Pratitis, dan tim ToT Untag 1945 Surabaya

han bagi para pimpinan dan dosen yang selanjutnya akan diteruskan ke mahasiswa ini, menurut Ketua Panitia Drs. Nyoman Rajeg Mukyawan, M.Pd. diisi dengan materi seperti desain training, game of training, knowing your audience and situation, training needs analysis, become good speaker and communication, serta outbond. Dekan Fakultas Ilmu Pendidik­ an yang sekaligus sebagai penanggung jawab program, Dr. AA Ngurah Adhiputra, M.Pd. menambahkan, program ToT ini pun akan diteruskan ke mahasiswa FIP khususnya. “Mahasiswa FIP akan melanjutkan memberikan pelatihan trainer kepada siswa SMA/ SMK se-Bali yang akan kami jadwalkan mulai terjun ke masyarakat akhir tahun ini,” ujarnya.

Surabaya, Prof. Sa’ad Djalali didampingi Niken Titin Pratitis, S.Psi., M.Psi., Amanda Pasca Rini, Karolina Rista R., Hana Harmida, dan Eko April Ariyanto, mengatakan ToT ini menjadi bagian dari promosi lembaga secara elegan kepada masyarakat, yang tak lagi memakai cara konvensional. “Lembaga berpromosi dengan menunjukkan apa yang bisa dilakukan di masyarakat,” ujarnya. Niken Titin Pratitis menjelaskan training mengajarkan bagaimana seorang dosen cara membuat SAP/ mengajar dengan baik, bagaimana seorang manajer mampu memimpin dengan efektif, karya­wan dapat berkomunikasi efektif, dsb. “Training menjadi indikator bagi baik-buruknya manajemen. Dalam kaitannya dengan performance manajemen usaha-usaha training harus dilakukan agar setiap karyawan memberikan kontribusi untukk mencapai tujuan organisasi,” ujarnya.

Hari kedua ToT diisi dengan outbond yang mengambil lokasi di luar ruangan. Para peserta dibagi menjadi empat kelompok. Tiap kelompok diberikan tantangan untuk bisa menyelesaikannya secara berkelompok/teamwork. Beberapa permainan yang dilakukan adalah memindahkan tepung, bos, X-Line, labirin, dan puzzle. Dalam semua permainan tersebut, peserta dituntut untuk bisa berkomunikasi dengan baik, ada rasa empati, memberi, mengalah, leadership, kompak, perjuangan untuk keluar dari zona nyaman, dalam satu teamwork. “Ini semua didesain untuk melatih peserta agar bisa menjadi pelatih/ trainer. Mereka nantinya diharapkan bisa membuat desain sendiri, kompak, bisa mengatur, meningkatkan percaya diri, dan ada kebersamaan. Pelatihan ini untuk merubah perilaku yang tidak diharapkan menjadi diterima,” tandas Prof. Sa’ad. –ten

Miracle Aesthetic Clinic Denpasar

Peduli Kanker Payudara kanker payudara telah menurun 40%. Hal ini terjadi karena kanker payudara telah dapat ditemukan lebih dini, sehingga penanganannya dapat dilakukan dengan cepat dan tepat. Di negara maju tersebut, program deteksi dini telah menjadi suatu keharusan. Dengan ditemukannya kanker payudara dalam stadium yang lebih dini, harapan sembuh akan semakin besar dan perempuan tidak perlu kehilangan payudara. Menurut Jap Budi Wijaya, Direktur Operasional Miracle Aesthetic Clinic, yang tersebar di Jakarta, Surabaya, Malang, Denpasar, Kuta, Balikpapan, Batam, Makassar, Medan, Manado, Lombok, Yogyakarta, dan Semarang ini, sebagai perintis bisnis estetika di tanah air dan berbekal pengalaman selama hampir 18 tahun, Miracle bukan hanya berkomitmen melakukan kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat tapi juga untuk kalangan interennya dengan budaya social concern. “Apalagi hampir 80% karyawan seluruh Miracle adalah perempuan, hingga kami antusias sekali untuk melakukan kampanye deteksi dini kanker

Foto bersama setelah acara

payudara ‘Stand Up for Pink’ ini ke pihak internal, mengingat hal ini juga penting untuk diketahui dan disadari,” ujar Jap Budi Wijaya, yang hadir dalam acara tersebut. Pada kesempatan tersebut dokter Dewi menjelaskan anatomi payudara serta faktor genetik dan gaya hidup perempuan yang terjangkit kanker. Dilanjutkan dengan peragaan beberapa teknik pemeriksaaan dini kanker payudara, seperti sadari (sendiri), pemeriksaan oleh dokter, dan USG /mammografi bagi perempuan berusia 40 tahun ke atas. “Dengan adanya penyuluhan ini, kami mengharapkan peserta akan mulai mengambil langkah deteksi dini yang paling mudah, yakni teknik sadari.

Suasana Acara Peduli Kanker Payudara di Miracle Denpasar

Dari situ, sudah terlihat bahwa mereka sudah mulai aware. Dengan deteksi dini, peluang penderita untuk sembuh bisa mencapai 98% atau hampir sempurna,” jelas dokter Dewi. Kampanye deteksi dini kanker payudara “Stand Up for Pink” yang dilakukan oleh Miracle Aesthetic Clinic ini juga ditujukan kepada pihak eksternal seperti customer. Selama Oktober 2014 ini, tim Miracle akan membagikan pembatas buku (bookmark) kepada customer, yang berisikan cara singkat dan mudah melakukan pemeriksaan dini “SADARI” yang bisa dilakukan sendiri untuk meningkatkan kesadaran pentingnya deteksi dini kanker payudara dan pencegahan keterlambatan penanganan kasus ini. Selain itu, seluruh karyawan Miracle mengenakan pink ribbon sebagai bagian dari kampanye ini. “Tidak hanya karyawan, namun customer juga perlu diedukasi mengenai deteksi dini kanker payudara ini, karena kanker payudara pada dasarnya dapat menyerang siapa pun, termasuk kaum pria. Selain itu, kampanye ini merupakan salah satu implementasi dari nilai dalam budaya Miracle yaitu social concern, sehingga kami berperan serta dalam aspek sosial pihak-pihak yang bersangkutan dengan perusahaan,” lanjut Bapak Jap Budi Wijaya. -sri ardhini/bns

9

Bramantha Patra

Bramantha Patra, siswa kelas XI di SMAN 5 Denpasar, salah seorang finalis Duta Endek 2013, unjuk kebolehan bermain piano di Singapura. Ia berhasil memperoleh penghargaan saat tampil di Asia Arts Festival 2014 di Singapura tersebut.

OUTBOND LEADERSHIP Kaprodi Magister Psikologi Untag

Bertepatan dengan bulan Peduli Kanker Payudara (Breast Cancer Awareness Month) ini, seluruh klinik Miracle Aesthetic Clinic seIndonesia mengadakan penyuluhan deteksi dini kanker payudara bagi seluruh karyawan. Hal ini juga sebagai salah satu kegiatan dalam kampanye “Stand Up for Pink” oleh Miracle. Seperti, yang dilaksanakan Jumat (10/10) di Miracle Aesthetic Clinic, Denpasar di Jalan Letda Tantular, Renon. Dalam acara tersebut, nampak karyawan Miracle Denpasar sangat antusias mendengar­ kan informasi dan pengetahuan mengenai pentingnya memahami tanda-tanda kanker payudara dan cara memeriksanya secara dini yang disampaikan oleh dr. Kadek Dewitini. “Persoalannya, 70% penderita yang datang berobat sudah terlanjur memasuki stadium III-IV, yang seharusnya bisa dicegah lebih awal,” ujar dokter Dewi. Upik Rustia, Manager Clinic Miracle Denpasar mengatakan kegiatan ini didasari juga oleh fakta bahwa angka kasus kanker payudara yang selalu meningkat setiap tahunnya. Di negara maju, angka kematian akibat

Dara

13 - 19 oktober 2014

emilik nama panjang Ngurah Bramantha Patra ini terpilih mengikuti Asia Arts Festival di Singapura. Di sana ia menujukkan kemahirannya bermain piano. Meski cita-citanya menjadi software engineer, namun ia tak pernah meninggalkan kegemarannya bermain piano. Ia secara rutin berlatih setiap hari. Awalnya Nyoman Winata, Kepala SMAN 5 Denpasar dan Bu Putri, guru tari sekolah menginformasikan kepada sang mama. ”Mama menyuruh saya ikut berangkat bersama beberapa teman penari untuk tampil di acara Asia Arts Festival itu, ” ucap pelajar yang akrab dipanggil Bram atau Bam ini. Karena diberitahu mendadak, Bram mengaku hanya memiliki waktu satu bulan untuk latihan lagu yang akan ia mainkan. Kakak dari Ayu Khikanea Patra ini berlatih keras setiap hari. Beruntung ia sudah mengetahui lagu yang akan dibawakannya sehingga ia tinggal merapikan permainannya saja. Dalam berlatih tak sungkan ia bertanya kepada guru les nya jika ada bagian yang susah. Mengenai dukungan orangtua, mereka sangat mendukung segala kegiatan Bram. Ketika ditanya tentang seberapa besar rasa percaya dirinya, putra satu-satunya dari pasangan I Gde Pramana Susanta dan AAA Arina Saraswati Hardy ini merasa memiliki tingkat percaya diri sekitar 80% walaupun tak jarang masih merasa gugup jika tampil dan dilihat banyak orang. “Gugup dan nervous itu pasti, tentu karena ajang yang saya ikuti, Asia Arts Festival2014 bukan ajang main-main.” ungkap penggemar Korean pianist, Yiruma tersebut.

Tampil di Asia Arts Festival, Bram mengaku itulah penampilannya yang paling berkesan. Bram merasa bangga sekali, sebab ia bisa tampil di salah satu hotel iconic di Singapura dan di hall yang biasa dijadikan tempat acara-acara internasional. “Apalagi saat saya diberi tahu bahwa saya adalah satu-satunya orang Indonesia yang ada di kategori piano solo, rasanya bangga bukan main,” cerita siswa yang fasih berbahasa Inggris itu dengan gembira. Pengalaman pertama kali tampil di event besar seperti Asia Arts Festival, Bram merasakan dampak positif dari mengikuti acara tersebut. Ia merasa semakin termotivasi untuk lebih lagi menguasai piano dengan baik. Bram sendiri masih kurang puas dengan penampilannya saat di Singapura. Hal ini disebabkan dirinya merasa grogi. Betapa itu kali pertama ia tampil di panggung sebesar itu. Tetapi pemilik motto hidup “Be a leader, not a follower” itu tetap senang dan bangga sudah berhasil melaluinya bahkan bisa mendapatkan piala dan piagam dari acara bergengsi itu. Selain gemar bermain piano, Bram juga seorang pelajar yang memiliki kepedulian terhadap produk lokal, salah satunya kain endek. ketertarikannya membuat ia berhasil terpilih sebagai salah satu finalis Duta Endek tahun 2013. Menurut Bram , dari serangkaian tes yang sudah diikutinya, menambah pengalaman wawasannya tentang endek. Beruntung juga saat pengumuman finalis, namanya juga disebut. Bram yang biasa belajar dua jam sehari ini, merasakan bahwa setelah mengikuti Duta Endek ia mendapat banyak pengalaman berharga, selain wawasan juga menambah teman, dan yang terpenting ia

Biodata Nama lengkap: Ngurah Bramantha Patra Panggilan: Bam/Bram Alamat & No. Telpon: Jalan Pulau Kawe no 21 – 081238938230 Anak ke-1 dari 2 bersaudara Orangtua Ayah: I Gde Pramana Susanta Ibu : A A A Arina Saraswati Hardy Saudara: Ayu Khikanea Patra (adik) Hobi: Bikin short video, main piano, baca, dan nulis Busana favorit: Casual warna biru Bacaan favorit: bacaan motivational, humor Artis idola: The Script, Taylor Swift Motto hidup: Be a leader, not a ­follower. makin bangga menggunakan endek dalam acara formal maupuna acara santai lainnya. “Nilai tambahannya dari saya ikut Duta Endek , saya bisa ikut serta dalam berbagai kesempatan yang tidak semua orang bisa ikut.” ucapnya bangga. -Nina

Ngurah Bramantha Patra


10

Bugar

13 - 19 Oktober 2014

Yang Perlu Diketahui

13 - 19 Oktober 2014

Style

g n a t n te Karang Gigi

P

emeliharaan kesehatan gigi sangatlah penting, karena gigi bukan hanya sebagai alat pengunyahan melainkan lebih dari itu gigi merupakan gerbang kesehatan dalam tubuh, maka sepatutnya gigi dijaga dan dipertahan­ kan keberadaannya di dalam rongga mulut. Penyakit gigi dan mulut meru­ pakan penyakit yang tersebar luas di masyarakat Indonesia. Salah satu faktor penyebab masalah kesehatan gigi adalah karang gigi. Karang gigi tentu saja tidak hanya akan mengurangi penampilan Anda tetapi sekaligus berdampak pada tidak sehatnya gusi dan gigi Anda. Gigi meru­ pakan salah satu mahkota tubuh kita. Bagaimana tidak ketika kita berekspresi dengan menggunakan senyum kita, mau tidak mau gigi menjadi titik sentral ke­ tertarikan atau perhatian orang kepada kita. Faktanya banyak dari kita yang mempunyai permasalahan terhadap gigi­ nya merasa kurang percaya diri dalam menjalani aktifitas kehidupannya. Untuk mengatasi hal tersebut banyak pula dari mereka mengeluarkan biaya tidak sedikit untuk memperbaiki ataupun melakukan perawatan sehingga bisa mempunyai tampilan gigi yang indah. Sebaliknya apabila Anda pandai merawat gigi Anda sendiri berapa banyak rupiah uang yang bisa Anda simpan untuk membeli kebu­ tuhan lainnya. 1. Apa karang gigi itu? Karang gigi adalah kotoran dalam mulut yang menempel pada gigi dalam jangka waktu lama, sehingga lama ke­ lamaan akan mengeras dan membatu

sehingga akan sulit untuk dibersihkan jika hanya dengan menggosok gigi atau dalam pengertian lain, karang gigi adalah kumpulan plak gigi yang meng­ alami mineralisasi pada permukaan gigi maupun gigi palsu. Karang gigi ini berisi bakteri-bakteri bersama dengan kandungan anorganik seperti kalsium yang berasal dari air liur (saliva) kita. Karang gigi berwarna putih, atau putih kekuningan, dan keras seperti tanah liat. Warna karang gigi bisa juga bervariasi menjadi kecoklatan atau kehitaman tergantung kontak dengan bahan lain, misalnya kopi, teh, pewarna makanan atau tembakau pada perokok. Karang gigi biasanya terbentuk pada bagian leher gigi yang berbatasan de­ ngan gigi. Karang gigi ini bisa terjadi di atas gusi (supra gingiva) atau terbentuk hingga ke dalam gusi (sub gingiva) yang biasanya berwarna hitam kecokelatan.

2. Bagaimana bisa terbentuk karang gigi itu? Karang gigi terbentuk dari plak (sisa makanan) yang mengalami mineralisasi (pengerasan). Jadi pada awalnya adalah plak yang kurang bersih dalam me­ nyikat gigi, kemudian mineral dari air ludah masuk ke dalam plak ini, terus menerus hingga plak mengeras dan terjadilah karang gigi. Karang gigi yang telah terbentuk ini merupakan media yang baik untuk melekatnya mineral dan plak, sehingga perlahan-lahan karang gigi menjadi lebih besar dan masuk ke dalam gusi. 3. Apa akibatnya bila karang gigi dibiarkan? Karena sebenarnya karang gigi ialah kumpulan bakteri yang bersinggungan dengan gusi dan jaringan di sekitar gigi, maka karang gigi dapat menyebabkan in­ feksi kronis atau akut pada gusi (gingivitis/ peradangan gusi) atau jaringan di sekitar gigi (periodontitis). Berikut ini ialah gejala yang sering timbul berhubungan dengan karang gigi : - Gusi berdarah dan kemerahan - Bau mulut - Gusi membengkak dan atau ber­ nanah - Gusi melorot atau gigi tampak men­ jadi panjang - Gigi lama-lama menjadi goyang - Gigi menjadi meregang (timbul celahcelah antara gigi) - Gigi menjadi linu padahal tidak ada yang berlubang

pembersihan dapat berlangsung tanpa rasa sakit.

drg. E. Chitra. F. Akibat dari karang gigi ini masih banyak dan akan kami jelaskan langsung kepada pasien. Bahkan penelitian yang terbaru menyatakan ada hubungan karang gigi dengan penyakit sistemik seperti diabetes mellitus (kencing manis) dan jantung. 4. Bagaimana cara menghilangkan karang gigi? Sakit tidak? Karang gigi yang telah mengeras dapat dibersihkan oleh dokter gigi menggunakan alat bernama scaler. Ultrasonic Scaler ialah semacam alat berbentuk seperti ungkitan, yang akan bergetar dengan sangat halus. Getaran ini apabila diaplikasikan kepada karang gigi akan membuat ikatan karang gigi dengan gigi akan terlepas. Prosedur pembersihan karang gigi dengan ultra­ sonic scaler ini relatif sangat nyaman. Pada saat pembersihan, ultrasonic scaler akan mengeluarkan air dengan jumlah yang cukup untuk memberikan pen­ dinginan, sehingga panas akibat gesekan yang menyebabkan linu akan minimal. Namun, pada beberapa bagian, di mana terbentuk karang gigi subgingival, pembersihan akan sedikit tidak nyaman karena getaran pada bagian permukaan akar akan menimbulkan rasa linu bagi mereka yang sensitif. Pada keadaan tertentu, dokter gigi akan memberikan anestesi apabila diperlukan sehingga

5. Bagaimana mencegah terbentuknya karang gigi? Seperti yang dikatakan sebelum­ nya, karang gigi terbentuk karena ada sisa makanan (plak), jadi supaya tidak terjadi karang gigi, kuncinya ialah membersihkan gigi dengan baik dan benar. Seringkali yang terjadi ialah penderita tidak berani menyikat hingga menyentuh leher gigi dan gusi, padahal di daerah itulah paling banyak terbentuk karang gigi. Atau sering juga orang yang merasa sudah menyikat gigi dengan frekuensi yang tinggi, misalnya 4 kali sehari, atau durasi sikat gigi yang lama, namun karang gigi masih banyak. Sebenarnya faktor yang menyebabkan karang gigi ada beberapa, namun mem­ bersihkan gigi dengan cara yang benar lebih penting daripada frekuensi dan durasi tersebut. Tentang menyikat gigi yang efektif ini akan dijelaskan langsung kepada pasien. 6. Tiap berapa lama kita sebaiknya membersihkan karang gigi? Tergantung. Laju pembentukan karang gigi ini bervariasi antar individu. Secara teori, studi menunjukkan bahwa plak dapat terkalsifikasi 90% hanya pada 12 hari. Banyak faktor yang berperan, misalnya kebersihan giginya, kandungan air liur, pola makan dan sebagainya. Biasanya kunjungan ulang pada 3 bulan pertama dokter gigi akan melihat sejauh mana laju pembentukankarang gigi. Apabila pada waktu itu sudah banyak terbentuk karang, mungkin akan dievalu­ asi, apa yang salah, mungkin dari cara pembersihannya. Kunjungan ini akan diulang, dan jika pada interval tertentu keadaannya lebih baik, mungkin interval diperlukan perawatan ulang bisa diper­ lama kurang lebih 6 bulan. 7. Saat membersihkan karang gigi, kadang gusi kita berdarah, apakah itu tidak apa-apa? Pada keadaan penderita normal, maksudnya tidak ada gangguan ke­ sehatan yang lain, misalnya gangguan pembekuan darah, leukemia dan seba­ gainya, berdarah ini lazim terjadi saat prosedur pembersihan karang gigi. Sep­ erti yang dikatakan sebelumnya, karang gigi ini dapat menyebabkan keradan­ gan baik kronis maupun akut. Pada

keadaan ini, akan terjadi peningkat­an vaskularisasi jaringan (sederhananya penambahan aliran darah ke jaringan), sehingga gusi nampak lebih merah. Vaskularisasi ini merupakan usaha tubuh untuk mengalirkan elemen darah putih dari darah untuk menghadapi infeksi tersebut. Namun, karena vaskularisasi ini bersifat sementara, maka dinding dari pembuluh darah yang terjadi bi­ asanya rapuh. Inilah yang menyebabkan gusi jadi berdarah saat disentuh. Bahkan sebelumnya mungkin penderita juga merasakan gusi berdarah saat sikat gigi. Perdarahan kecil ini akan berhenti segera setelah pembersihan selesai dan karang gigi telah bersih. 8. Pada bagian tertentu permukaan gigi terlihat cokelat atau kehitaman, apakah itu juga karang gigi? Mungkin yang dimaksudkan ialah dental stain. Stain (noda) ini, biasanya kecokelatan (terutama pada peminum teh, kopi, obat kumur atau pewarna makanan yang lain) atau kehitaman pada perokok. Dental stain paling banyak dijumpai pada bagian belakang gigi yang menghadap langit-langit. Dental stain murni tidak menyebabkan keradangan seperti halnya karang gigi, melainkan hanya gangguan estetika. Namun dental stain dapat juga terjadi di permukaan karang gigi. Pembersihan stain dapat dilakukan dengan alat yang sama di­ sertai pemulasan (polishing). Apabila perubahan warna bukan karena noda, kita dapat melakukan proses bleaching (pemutihan gigi). 9. Kemanakah bisa mendapat-­ kan perawatan pembersihan karang gigi ini? Menggunakan cara yang salah justru hanya akan memperparah keadaan yang tadinya baik-baik saja bahkan bisa me­ nyebabkan infeksi pada gusi. Agar lebih aman sebaiknya datang ke dokter gigi (bukan ahli gigi). Anda dapat member­ sihkan karang gigi pada dokter gigi Anda dengan cara yang aman dan sehat. drg. E. Chitra. F. Dentist Klinik Rawat Jalan (OPD) Rumah Sakit SILOAM Appointment : (0361) 779-900 ext. 29701 Hp: 082114983537 Email: eka.chitra@siloamhospitals.com

Eksotik Gaun Tanpa Lengan

Rancangannya dikenal simpel, berkualitas dan memiliki identitas. Selain itu, ia juga salah seorang desainer nasional yang mendunia dengan ide kreatifnya yang banyak digarap secara hand made.

K

ali ini, untuk hala­ man Style Tokoh, Mardiana Ika me­ mamerkan kolek­ sinya berupa gaun tanpa lengan. Gaun feminin dengan garis ran­ cangan sederhana ala Ika, namun tetap memunculkan kesan me­ wah dan modern. Yang menarik juga, Ika tak

pernah lepas mengaplikasikan seninya dalam teknik lipat. Di sini desainnya tidak hanya tampil dengan warna polos, namun ada pula koleksi bermotif nan atraktif. Gaun tanpa lengan, seringkali dipilih para perempuan, sebab da­ pat membuat pemakainya tampil beda. Bahkan banyak perancang

menyatakan kalau busana pesta tanpa lengan memang memberi­ kan efek lebih sensual dan elegan. Memakai busana tanpa lengan juga bisa membuat pemakainya jadi bisa menambahkan berbagai jenis aksesori, seperti mengena­ kan gelang, kalung, dan aksesori lainnya, hingga menjadi semakin cantik dan elegan Karena itu pula semakin banyak perempuan memilih gaun pesta tanpa lengan untuk menghadiri pesta pernikahan, ulang tahun, atau acara-acara semi formal lain­ nya. Nah, para fashionista, silakan menilai mana yang disukai dan ter­ lihat paling menawan untuk dipilih sebagai inspirasi. – Sri Ardhini

15


Jelita

14

Menjilat Bibir Kebiasaan Salah

Bibir yang selalu tampak segar, sehat dan merona alami, ada­ lah dambaan setiap perempuan. Bibir, juga salah bagian ter­depan dari wajah, bayangkan jika tidak di­rawat dengan baik. Selain penampil­an jadi kurang baik, juga kemungkinan ada masalah akan timbul.

M

enurut dr. IGN Darma Pu­ tra, Sp.KK dari D& I Skin Centre, terdapat tiga persoalan seputar bibir yang umumnya menjadi ke­luhan, yakni bibir kering, bibir pecah-pecah serta bibir hitam. “Tentunya kondisi ini sangat mempengaruhi penampilan seseorang,” katanya. Dikatakannya, bibir yang terasa ker­ ing, akan membuat tidak nyaman. Apalagi jika sampai pecah-pecah dan ber­darah. Selain pedih, juga tidak sedap dipandang mata. Banyak hal penyebabnya, seperti se­ ring terpapar matahari, terlalu lama di ruang ber-AC, kurang minum air putih hingga kebiasaan menggigit dan menjilat bibir. Kebiasaan menjilat bibir, merupakan salah satu contoh kebiasaan salah. Jika bibir terasa kering, sering tanpa sadar seseorang menjilat bibirnya. Kebiasaan ini ternyata tidak membuat kondisi bibir menjadi lebih baik malahan menjadikan tambah ke­ring. Sebab, air liur bukanlah air putih yang dapat mengatasi dehidrasi, melainkan mengandung berbagai enzim sehingga meningkatkan penguapan air pada bibir. Begitu pula perubahan iklim yang tidak menentu, bukan hanya membuat kulit dan wajah kering tapi juga bibir dengan kulitnya yang lebih sensitif. Bibir akan menjadi kering bahkan bisa pecah-pecah dan berdarah. “Paparan sinar matahari yang kuat selain membuat kulit menjadi gelap juga mem­ pengaruhi warna bibir dan menyebabkan bibir gelap. Sinar UV memiliki efek merusak yang sama pada bibir seperti halnya pada kulit. Bibir berwarna hitam juga bisa disebabkan oleh kebiasaan merokok serta karena alergi terhadap lipstik.

Beberapa tahun terakhir ini, Korea telah mencuri banyak per­ hatian dunia. Semenjak merebaknya drama Korea dan demam K-Pop. Korea hampir selalu menjadi topik pembicaraan tentang tren dan gaya hidup terkini, termasuk menjadi kiblat tren kecantikan. Perempuan di negeri ginseng itu sangat gemar melakukan ber­ bagai perawatan kecantikan demi mendapat bentuk wajah yang ideal (V-Shape). Miracle Aesthetic Clinic juga menawarkan berbagai pilihan perawatan untuk memiliki bentuk wajah ideal (V-shape) sekaligus ­hidung indah tanpa prosedur bedah. Di antaranya, Miracle Nose Beauty Perfection dan Miracle Autocell Threadlift. Miracle Nose Beauty Perfection Miracle Nose Beauty Perfection merupakan kombinasi yang ideal dari tiga macam perawatan. Yaitu, benang Hiko, injeksi dermal filler, dan Botulinum toksin A. Benang Hiko memiliki keunggulan spesifik untuk menyempurnakan bentuk hidung dengan hasil yang natural. Benang Hiko berbeda dari benang PDO biasa yang lazim di­ gunakan untuk thread lift karena dirancang khusus untuk digunakan

Reaksi alergi awalnya ditandai rasa gatal pada bibir, berair serta menebal. Kalau reaksi ini tidak ditangai dengan tepat, dapat menyebakan bibir kehitaman,” lanjutnya. Oleh karena itu, kata dokter spesilis kulit ini, kita perlu mengetahui cara perawatan bibir yang benar dan meng­ hindari faktor-faktor yang menyebabkan kerusakan bibir. Seperti bagian tubuh lainnya, bibir juga perlu perawatan. Hal sederhana yang disarankannya adalah banyak minum air putih. Penuhi kebu­ tuhan tubuh akan cairan dengan mengonsumsi air putih kurang lebih 8 gelas setiap hari. Jika cairan tubuh terpenuhi, kelembaban bibir akan tetap terjaga dari dalam. Untuk mengatasi bibir yang kering, juga bisa dengan menggunakan pelembab. Guna­ kan pelembab bibir (lip balm) minimal dua kali sehari, apabila berada di luar ruangan dalam waktu lama dan berpotensi terkena sinar matahari langsung . Sedangkan dalam cuaca yang ekstrim seperti terlalu dingin atau terlalu panas lindungi bibir dengan pelembab bibir terutama yang mengandung tabir surya. Selain itu juga dikatakan makanan berper­ an pula pada kondisi bibir. Pola makan yang sehat, dengan mengonsumsi buah-buahan dan sayuran tak hanya baik untuk kesehatan, antioksi dan airnya dapat menjaga bibir tetap sehat dan lembab. Perlu juga mengonsumsi vitamin B dan C yang cukup serta per­ banyak pula mengkonsumsi vitamin B kompleks, terutama vitamin B3 dan B2 yang bisa diperoleh dari sayuran hijau berupa bayam dan kacang hijau. Tidak merokok, karena merokok merusak kelembutan alami dan menyebabkan perubahan warna bibir. Bahkan bisa juga membuat bibir pecah-pecah dan kering. Berhenti merokok adalah cara terbaik menjaga bibir tetap lembut dan merah alami. Kemudian, menghindari penggunaan lipstik yang mengandung pewarna sintetis dan juga pewangi yang berpotensi menimbulkan iritasi dan alergi. ”Gunakan lipstik ketika sedang memerlukan saja serta hentikan pemakaiannya dan konsultasikan dengan dokter

pada hidung karena memiliki efek 3D. Hiko berasal dari kata Hi dalam bahasa Korea yang artinya tinggi dan Ko yang berarti hidung, sehingga Hiko berarti meninggikan atau memancungkan hidung. Hiko adalah benang tipis yang dapat diserap jaringan kulit, di­ masukkan di bawah lapisan kulit, menahan bentuk hidung pada posisi yang diinginkan, sekaligus merang­ sang produksi kolagen alami. Untuk memberikan volume pada hidung, dikombinasikan dengan suntikan filler yang mengandung asam hyaluronat. Sedangkan Botulinum toksin A (botox) dari protein yang dimurnikan, diinjeksikan untuk merampingkan cuping hidung. Miracle Nose Beauty Perfection dilakukan dengan waktu penger­ jaan sangat singkat. Yaitu sekitar 30 menit. Tidak perlu dipersiapkan khusus, setelah dioleskan krim anestesi 30 menit sebelumnya atau dengan suntikan pengurang sakit, prosedur peninggian, dan pem­ bentukan hidung dapat dikerjakan. Segera setelah pengerjaan, hasil dapat langsung dilihat, sehingga memberikan kebebasan untuk mendesain bentuk hidung yang paling cocok dan mampu mem­ berikan penampilan terbaik. Satu sesi perawatan sudah memberikan

ketika terjadi reaksi alergi,” ujarnya. Jangan lupa agar bibir tetap lembut dan lentur kembali, gunakan lip scrub setidaknya sekali dalam minggu, untuk menghilangkan sel-sel mati dan kulit kering dari bibir. Ini, tidak hanya membuat bibir jadi lembut, cara ini juga dapat memperlancar sirkulasi darah ke bibir sehingga bibir terlihat lebih sehat dan berseri. – Sri Ardhini

11

Dr. Herny Tri Setiawati Board Certified in Aesthetic Medicine (USA), Dipl. Medical Aesthetic, Dipl. CIBTAC (UK) CosMedic Doctor BIMC Hospitals Seiring perkembangan zaman, manusia terus mengembangkan teknologi di berbagai bidang, di antaranya teknologi yang bersinergi dengan ke­ cantikan dan kesehatan untuk meningkatkan seni estetika dalam dunia kecantikan. Hal ini didukung kebutuhan banyak orang yang mulai sadar ke­ sem­purnaan penampilan. Perawatan antipenuaan yang berkembang pesat di seluruh dunia memberi harapan baru bagi semua orang untuk tampak awet muda. Orang memiliki makin banyak pilihan perawatan kesehatan wajah.

D

Miracle V-Shape Perfection untuk mewujudkan wajah dan hidung ideal tanpa prosedur bedah.

Bugar

Seni Memahat Wajah di Segitiga Kecantikan

ari zaman dulu kita sering mendengar bahwa kecantik­ an ada di mata pe­ nilainya dan tentu saja definisi ke­ indahan dan kecantikan bervariasi menurut ras, suku, budaya dan era. Variasi tidak terbatas dalam warna kulit dan bentuk fitur wajah (mata,

hasil yang maksimal dan bertahan hingga 1 – 2 tahun. Miracle Autocell Threadlift Salah satu perawatan pengen­ cangan wajah di Miracle yang banyak digemari adalah Miracle Autocell Threadlift, merupakan prosedur penanaman benang dengan meng­ gunakan benang Polydioxanone (PDO) dan dikombinasikan dengan plasma darah yang kaya akan kand­ ungan growth factor. Jarum Autocell Threadlift bersifat non traumatic sehingga tidak menimbulkan nyeri saat diaplikasikan. Dalam waktu 3 bulan, benang DPO akan diserap dan digantikan dengan produksi kolagen yang lebih meningkat sehingga kulit menjadi lebih kenyal dan kencang. Selain un­ tuk pengencang kulit, perawatan itu dapat membentuk wajah menjadi proporsional, sekaligus mencerah­ kan dan meremajakan kulit. Jadi, segera kunjungi ­Miracle Aesthetic Clinic terdekat. Nikmati cash back sesuai usia dan penawaran istimewa untuk berbagai perawat­ an Miracle V-Shape perfection, seperti, Miracle Dermal Filler, Botox, tanam benang (threadlift) dan lainnya hingga 31 Oktober 2014. Let’s experience the ­Miracle touch!

13 - 19 oktober 2014

13 - 19 oktober 2014

alis, hidung, pipi, bibir, dagu, dll). Sebenarnya semua orang adalah cantik dan bisa menjadi lebih cantik karena tiap orang mempunyai ciri khas tersendiri dan variasi ke­ indahan yang unik tanpa batas di tiap individu. Ilmu kedokteran estetika telah banyak berkembang dan banyak

membantu memahami struktur anatomi kulit, jaringan lemak, otot, tulang, mekanisme terjadinya proses penuaan, juga mengetahui cara menganalisa wajah, variasi teknik-teknik penyuntikan dan ko­ reksi secara mendetail di titik-titik kecantikan mana yang akan menjadi kunci keberhasilan dalam seni me­ mahat wajah. Bisa dibilang dunia kedokteran estetika merupakan gabungan ilmu pengetahuan medis, kecantikan dan seni yang sangat berperan penting terutama dalam memahat wajah yang lebih berfokus pada prosedur peremajaan kulit dan penyempurnaan wajah tanpa bedah. Secara kecantikan universal terkait dengan garis lengkung wajah yang proporsional yang diambil dari perhitungan Golden Ratio/ Phi Ratio yang menjadikan dasar untuk pengembangan bagaimana fitur wajah bisa dikoreksi untuk mendapatkan wajah yang harmoni mem­ buat wajah tua menjadi lebih muda dan wajah muda menjadi lebih cantik. Wajah yang cantik umumnya memiliki keseimbangan hori­ sontal yang terletak pada proporsi tiga bagian, yaitu bagian pertama yang dimulai dari garis rambut tepat di atas dahi hingga ke

garis atas alis, bagian kedua dimulai dari garis alis hingga pangkal bawah hidung, bagian terakhir dimulai dari dasar hidung hingga dasar dagu. Sedangkan secara vertikal, wajah yang proporsional idealnya dibagi menjadi lima bagian seimbang, yaitu adanya jarak selebar satu mata diantara kedua alis dan jarak selebar satu mata di kedua sisi luar mata yang berbatasan dengan garis telinga. Area inilah yang disebut sebagai segitiga kecantikan (triangle beauty), dan jika proporsi area ini seimbang, simetris, harmoni, dan proporsional maka wajah akan selalu tampak awet muda. Dalam seni memahat wajah me­ liputi prosedur peremajaan kulit yang mengkombinasikan manfaat

dari injeksi botulinum toxin type A(botox cosmetic), dermal filler yang menggunakan hyaluronic acid dan tanam benang dengan bahan yang dapat me­ nyatu dan diabsorbsi oleh tubuh. Hasilnya bukan hanya mem­ bantu menghilangkan kerutaan tanda penu­ aaan, namun akan memahat kembali wajah sehingga harap­ an untuk mendapat­ kan wajah yang tam­ pak lebih harmoni, muda, segar, berisi, kencang, ideal, dan pro­p orsional dapat diwujudkan. Botox (botulinum toxin type A) adalah protein yang dimurni­ kan yang bekerja de­ ngan cara menghambat pelepasan asetil kolin sehingga terjadi relaksasi otot dengan demikian kerutan di­ namis yang terjadi akibat kontraksi otot otot wajah akan berangsur angsur berkurang. Manfaat botox cosmetic untuk memahat wajah tidak terbatas untuk relaksasi otot saja, tetapi dapat juga digunakan untuk meninggikan bentuk alis, membuat mata tampak lebih lebar, mengecilkan cuping hidung, mem­ buat wajah lebih terlihat tirus, dan memberikan efek pengencangan pada kulit dalam batas-batas ter­ tentu. Dermal filler yang mengandung asam hyaluronat bermanfaat untuk koreksi wajah, perbaikan kontur wajah seperti pipi, hidung, dagu, bibir, dan juga mengisi bagianbagian tertentu pada wajah yang mengalami kekurangan volume akibat proses penuaan, misalkan cekungan di bawah mata, pipi yang menjadi cekung,dan munculnya lipatan kulit seperti di di area garis senyum, dibawah sudut mulut, dan bibir yang menipis dan sudut bibir yang menurun, yang kesemuanya ini memberikan penampakan wajah yang menua, sedih, dan tampak lelah, dan kurang sehat. Dermal filler juga dapat memberikan efek pengencangan kulit dalam batas tertentu. Tanam benang (threadlift) me­ rupakan sebuah metode memasuk­ kan benang ke dalam lapisan kulit untuk meningkatkan mikrosirkulasi, sintesis kolagen, mengencangkan kulit, dan meningkatkan elastisi­ tas kulit. Efek dari tanam benang secara estetika juga bisa untuk mengangkat wajah yang kendur dalam batas tertentu, membantu menghilangkan kerutan, menirus­ kan wajah, memancungkan hidung, dll. Bahan benang yang paling ban­ yak digunakan saat ini adalah bahan polydioxanone (PDO) dan polylactic acid (PLA) yang dapat diserap oleh tubuh (absorbable) Dengan kombinasi tiga prose­ dur diatas akan memberikan man­ faat rejuvenation (peremajaan), refill (mengisi), reshape (membentuk) dan tightening (pengencangan). Hasil akan sangat ditentukan oleh pemilihan pasien yang tepat karena untuk beberapa kasus tertentu diperlukan prosedur pembedahan, jika harapan pasien tidak dapat terpenuhi oleh prosedur minimally invasive (nonbedah).


12

Kuliner Spesial Seafood khas Nusa Dua P

13 - 19 Oktober 2014

Selera Nusantara

Kalau Anda sedang mencari makanan yang unik, enak, dan lezat di seputaran Jalan Dewi Sri Kuta, restoran di Hotel Ibis Styles Bali Kuta Dewi Sri, dapat dijadikan pilihan. Kreasi Sous Chef Zefnath Huwae atau biasa dipanggil Chef Sonny ini, menyuguhkan perpaduan cita rasa masakan Indonesia yang khas.

N

asi Bakarnya dipadu dengan ikan teri. Apalagi, dibungkus daun pisang, aromanya benar-benar harum dan menggoda selera. Dengan tambahan sambal hijau

di dalamnya, nasi bakar ini begitu kental dengan rasa pedas. Jika kurang pedas, tambahkan dengan sambal terasi. Menu lainnya, Balinese Tuna Spice Pizza. Perpaduan ikan tuna dengan sambal matah ditambah

keju mozzarella, nikmat sekali disajikan sambil bercengkrama bersama keluarga maupun handaitolan Anda. Es Cincau Dewi Sri, juga tak kalah menawan menghilangkan dahaga Anda. Selamat mencoba.

Es Cincau Dewi Sri Bahan: 500 gr : cincau 500 gr : es serut Bahan kuah santan: 600 ml : santan dari 1 butir kelapa 3 lembar : daun pandan, simpulkan 1/4 sdt : garam 5 gr : semangka, dipotong kotak-kotak kecil 5 gr : biji mutiara yang sudah dimasak 5 gr : nangka masak, dipotong kotak-kotak kecil

Nasi Bakar Dewi Sri Bumbu: 2 siung : bawang putih, iris tipis 3 butir : bawang merah, iris tipis 2 buah : cabai merah besar, iris miring 50 gr : sambal hijau 1 gengam: daun kemangi 50 gr : teri nasi ¼ sdt : garam 1 sdm : minyak, untuk menumis Bahan Pelengkap: Sambal terasi 2 buah : tahu goreng 2 buah : tempe goreng 10 tangkai : kemangi

Bahan sirup gula merah: 200 gr : gula merah 100 ml : air 1 lembar : daun pandan Cara pengolahan: - Kuah santan: rebus santan, daun pandan, dan garam sambil diaduk sampai mendidih. Angkat dan dinginkan. - Sirup gula: rebus air, gula merah, dan daun

Marcom & Administration Ibis Styles Bali Kuta Dewi Sri Astari D.Priyanti bersama Chef Sonny

Daunpisang, untuk membungkus Cara membuat: - Tumis bawang merah, bawang putih, dan cabai merah besar sampai harum. - Tambahkan sambal hijau, teri nasi, dan garam. Masukkan nasi putih. - Aduk rata dengan bahan tumisan tadi, masukkan daun kemangi. - Ambil dua lembar daun pisang. Beri nasi di dalamnya. - Bungkus, bisa digulung atau dilipat. Bakar sampai harum.

erhelatan Nusa Dua Fiesta (NDF) 2014 kembali digelar untuk yang ke-17 kalinya, 10 s.d. 14 Oktober di Peninsula Island, Nusa Dua. Kali ini kegiatan yang diselenggarakan Indonesia Tourisme Development Corporation (ITDC) ini, mengambil tema “Love, Peace, and Harmony”. Indonesian Chef Association (ICA) Bali turut berpartisipasi dalam kegiat­ an NDF kali ini dengan mengusung Nusa Dua Kuliner yang diisi dengan kegiatan lomba memasak dengan mengambil bahan lokal khas Bali se­perti bebek betutu, makanan hasil kekayaan laut khas daerah pesisir pantai seperti, ikan, rumput laut, kerang, gurita, cumi-cumi, udang, dll. Menurut Ketua ICA Bali Komang Adi Arsana, tema NDF menjadi acu­ an para chef untuk mengolaborasikan aneka menu yang disajikan spesial pada saat jamuan makan malam pembukaan NDF, Jumat (10/10) di Peninsula Island, Nusa Dua. Adapun menu spesial yang disuguhkan kepada tamu undangan, menu pembuka (appetizer) ulam segara yang merupakan sajian aneka salad dengan campuran kepiting dan rumput laut khas sawangan Nusa Dua Blue Swimmer Crab Salad with Sawangan Seaweed. Ada juga sajian

pandan sampai kental. Angkat. - Ambil gelas saji. Tata buah semangka, nangka, cincau, dan biji mutiara. Beri kuah santan, es serut, dan sirup gula.

Bahan Pelengkap: 100 gr : saus tomat 100 gr : ikan tuna yang sudah direbus 3 batang : sereh 4 butir : bawang merah 4 siung : bawang putih 3 buah : cabai rawit ( jika ingin pedas bisa ditambah kan sesuai selera) 1 sdt : garam 500 gr : keju mozerella Minyak goreng secukupnya (untuk mengaduk sambal mentahnya) Cara membuat: - Kulit pizza: campur tepung terigu, gula pasir, ragi, dan susu bubuk. Aduk rata. Tuang air sedikit demi sedikit. Uleni sampai kalis. Tambahkan margarin dan garam. Aduk sampai elastis. Diamkan 30 menit.

Timbang adonan 30 gram. Bentuk bulat. Diamkan 10 menit. - Giling tipis adonan, bentuk bulat dengan sisi lebih tebal. Tusuk-tusuk dengan garpu. Diamkan 30 menit sampai mengembang. - Oven kulit pizza tadi dengan api bawah bersuhu 190°C ­selama 8 menit sampai setengah matang. - Buat sambal matah dari bawang merah, bawang putih, cabai rawit, sereh, dan garam.

- Campur sambal matah dengan ikan tuna, remas-remas agar menyatu. - Oleskan dough pizza dengan saus tomat. Tata tuna yang sudah dicampurkan dengan sambal matah, tambahkan keju di atas tuna tadi. - Masukkan pizza tadi ke oven yang sudah panas. Biarkan sampai keju meleleh dan terlihat kecokelatan. Oven lagi 10 menit sampai matang. - Siap dihidangkan. -Wirati Astiti

lomba mengukir buah dan sayuran, serta kreativitas set up. Tak ketinggalan lomba untuk siswa SMK dan mahasiswa sekolah perhotelan dan pariwisata dalam menunjukkan keahlian mereka dalam memasak bubur khas Bali. Untuk para chef profesional ada kontes memasak sate dan bebek betutu, serta basa gede sebagai bumbu dasar dari masakan Bali. Yang unik, ada lomba membuat jajan Bali. Dewan juri memberi kebebasan peserta untuk mengolahnya, baik itu dikukus, di­ goreng, atau direbus. Sementara, Chef Ronald bagian pengembangan sumber daya manusia ICA Bali mengatakan, kini ICA Bali, sedang fokus pada pengembangan pendidikan kuliner bagi junior chef usia 10 s.d. 13 tahun. Mereka melakukan cooking class di Glaze Restoran di Tanjung benoa, restoran milik Chef Ronald. Cooking class dilakukan delapan kali pertemuan setiap hari libur sekolah. Maksimal satu grup terdiri atas delapan orang. Materi yang diajarkan, mulai dari cara membersihkan ikan, sayuran, sampai memasak, dan menghias makanan hingga menjadi satu menu makanan yang menarik disajikan untuk para tamu. Dalam ajang NDF para junior chef ini diberikan kesempatan untuk unjuk kebolehan. Mereka diajak ikut berkreasi dalam penyajian menu makan malam bagi undangan VIP saat pembukaan, Jumat (10/10). “Mereka tidak ikut memasak. Tapi kami berikan kesempatan untuk ikut membantu dalam menghias makanan. Ini kami lakukan agar mereka bisa melihat sendiri, beginilah kerja para chef,” ujar Komang Adi Arsana. -Wirati Astiti

Cara Membuat: - Campurkan garam, essence pandan dan air kapur sirih ke dalam air hangat, aduk merata. Lalu, tuang ke dalam tepung ketan sambil diuleni, aduk sampai kalis dan tidak lengket di tangan. - Ambil sejumput adonan lalu isi dengan 1 sdt gula merah. Bentuklah adonan menjadi bola-bola kecil. Lakukan hingga adonan habis. - Rebus bulatan klepon ke dalam

air mendidih sampai mengembang, lalu angkat dan tiriskan. Saat klepon masih dalam keadaan panas, gulingkan klepon ke dalam parutan kelapa. - Klepon siap dihidangkan.

Bebek Rica-rica Bledeq

Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya Bumbu yang dipotong/dirajang

: bebek, rebus hingga empuk, potong sesuai selera : daun salam : kecap manis : lada bubuk kasar : air : bawang merah, iris kasar : bawang putih, iris kasar : cabe, iris serong : cabe merah besar, iris serong

Cara Membuat : - Panaskan minyak di wajan atau panci, lalu masukkan bumbubumbu yang dipotong dan daun salam, aduk hingga harum. - Masukkan bebek, lada, garam, gula, kaldu bubuk, air dan kecap. Aduk perlahan hingga bumbu merata, lalu ungkep agar bumbu meresap dan air berkurang. - Siap untuk dihidangkan dengan taburan bawang putih goreng.

Sarwan Bahan: - 200 gr : tepung ketan - 150 ml : air hangat - ½ sdt : garam - 1 sdt : essence pandan - 2 sdm : air kapur sirih - Gula merah secukupnya, sisir buat isian - Kelapa parut setengah tua, kukus dan beri sedikit garam buat taburan

Bahan: 1 ekor 2 lembar 100 ml 1 sdt 75 ml 10 buah 4 buah 15 buah 3 buah

13

Chef Komang Adi Arsana Chef Ronald

Tips Memasak Udang Ada beberapa cara memasak menu seafood yang satu ini. Tidak perlu terlalu lama memasaknya agar rasanya tetap fresh dan lezat. Dilansir Heb.com, Anda bisa menggunakan 4 cara untuk mengolah udang dan menyulapnya menjadi makanan lezat. - Kukus atau direbus. Metode ini menghasilkan udang yang nyaris sama lembutnya. Umumnya menggunakan jenis udang dengan ukuran sedang atau disesuaikan dengan jenis masakan. - Deep fry. Umumnya menggunakan jenis udang berukuran sedang hingga besar. Caranya adalah dengan membalutnya dengan tepung dan kemudian menggoreng di dalam minyak goreng selama 2-3 menit. Goreng hingga kuning kecokelatan. - Saute. Teknik ini menggunakan minyak goreng yang sedikit jumlahnya, atau bisa diganti dengan margarin, dan minyak sayur. Udang ditumis di dalam wajan dengan sedikit minyak selama 3-4 menit untuk udang berukuran besar, dan 2-3 menit untuk udang berukuran sedang. - Dipanggang. Udang panggang atau udang bakar umumnya menggunakan jenis udang sedang atau besar. Jauhkan udang dari api langsung, gunakan panggangan dengan panas maksimal sehingga udang lekas matang. Selama dipanggang, udang memakan waktu 3-6 menit sampai dagingnya benar-benar matang sepenuhnya. - Carilah udang yang masih segar sehingga tidak memancing reaksi alergi dan memberikan kelezatan maksimal. -Wirati Astiti

Mujair Goreng Sambal Kecap

Klepon

Balinese Tuna Spice Pizza Bahan pizza: 175 gr : tepung terigu protein tinggi 8 gr : gula pasir 3 gr : ragi instan 10 gr : susu bubuk 120 ml : air es 25 gr : margarin 1/2 sdt : garam

daging gurita Bualu Spiced Octopus and Micro Green. Untuk menu utama (main course) Nusa Dua Surf and Turf terdiri dari Consist of Pan Seared kecarum Scallops, Poached Prawn Tail in Avocado Leave Bullions, Oven Baked Lamb Medaliin Kecicang, Roasted Chicken Sambal Matah. Makanan penutup (dessert) Janger Benoa. Menurut Komang Adi Arsana, sajian menu makan malam para undangan memang dibuat sangat spesial. Semua menu percampuran tradisional dengan sajian berkelas hotel bintang lima. Perpaduan aneka bahan khas tradisional seperti kecicang, dan menu sambal matah yang sudah menjadi ikon masakan Bali, tetap menjadi favorit. Yang unik adalah perpaduan kambing panggang dengan sambal kecicang, termasuk ayam panggang dengan sambal mentahnya. Makanan penutup Janger Benoa, adalah perpaduan aneka kue manis khas tradisional Bali. Dalam ajang NDF 2014, Kegiat­ an hari pertama, lomba kreativitas membuat gebogan janur. Kreasi bahan utama janur yang mendapatkan poin tertinggi. Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, tidak boleh menggunakan sterofoam dan streples. Semua peralatan dan bahan adalah tradisional. Ada juga

13 - 19 Oktober 2014

Bahan: 500 gr : mujair, bersihkan, sayat-sayat punggungnya, lumuri dengan air jeruk nipis 1 sdm : bawang putih halus 1 sdt : jahe halus 1 sdt : ketumbar halus 100 ml : kecap manis Garam, kaldu, bubuk, secukupnya. Minyak goreng secukupnya. Bahan sambal dihaluskan: 17 buah : cabe kecil 5 buah : cabe merah besar 7 buah : bawang merah Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya. Cara Membuat : - Lumuri ikan mujair dengan bumbu halus dan diamkan selama 5 menit. - Panaskan minyak, goreng ikan sampai kecokelatan dan matang, tiriskan. - Goreng bumbu sambal halus, tumis sampai harum, lalu tiriskan. - Campur sambal dengan kecap manis dan taburkan bawang putih goreng di atas sambal. - Mujair dan sambal kecap siap disajikan.


Jelita

14

Menjilat Bibir Kebiasaan Salah

Bibir yang selalu tampak segar, sehat dan merona alami, ada­ lah dambaan setiap perempuan. Bibir, juga salah bagian ter­depan dari wajah, bayangkan jika tidak di­rawat dengan baik. Selain penampil­an jadi kurang baik, juga kemungkinan ada masalah akan timbul.

M

enurut dr. IGN Darma Pu­ tra, Sp.KK dari D& I Skin Centre, terdapat tiga persoalan seputar bibir yang umumnya menjadi ke­luhan, yakni bibir kering, bibir pecah-pecah serta bibir hitam. “Tentunya kondisi ini sangat mempengaruhi penampilan seseorang,” katanya. Dikatakannya, bibir yang terasa ker­ ing, akan membuat tidak nyaman. Apalagi jika sampai pecah-pecah dan ber­darah. Selain pedih, juga tidak sedap dipandang mata. Banyak hal penyebabnya, seperti se­ ring terpapar matahari, terlalu lama di ruang ber-AC, kurang minum air putih hingga kebiasaan menggigit dan menjilat bibir. Kebiasaan menjilat bibir, merupakan salah satu contoh kebiasaan salah. Jika bibir terasa kering, sering tanpa sadar seseorang menjilat bibirnya. Kebiasaan ini ternyata tidak membuat kondisi bibir menjadi lebih baik malahan menjadikan tambah ke­ring. Sebab, air liur bukanlah air putih yang dapat mengatasi dehidrasi, melainkan mengandung berbagai enzim sehingga meningkatkan penguapan air pada bibir. Begitu pula perubahan iklim yang tidak menentu, bukan hanya membuat kulit dan wajah kering tapi juga bibir dengan kulitnya yang lebih sensitif. Bibir akan menjadi kering bahkan bisa pecah-pecah dan berdarah. “Paparan sinar matahari yang kuat selain membuat kulit menjadi gelap juga mem­ pengaruhi warna bibir dan menyebabkan bibir gelap. Sinar UV memiliki efek merusak yang sama pada bibir seperti halnya pada kulit. Bibir berwarna hitam juga bisa disebabkan oleh kebiasaan merokok serta karena alergi terhadap lipstik.

Beberapa tahun terakhir ini, Korea telah mencuri banyak per­ hatian dunia. Semenjak merebaknya drama Korea dan demam K-Pop. Korea hampir selalu menjadi topik pembicaraan tentang tren dan gaya hidup terkini, termasuk menjadi kiblat tren kecantikan. Perempuan di negeri ginseng itu sangat gemar melakukan ber­ bagai perawatan kecantikan demi mendapat bentuk wajah yang ideal (V-Shape). Miracle Aesthetic Clinic juga menawarkan berbagai pilihan perawatan untuk memiliki bentuk wajah ideal (V-shape) sekaligus ­hidung indah tanpa prosedur bedah. Di antaranya, Miracle Nose Beauty Perfection dan Miracle Autocell Threadlift. Miracle Nose Beauty Perfection Miracle Nose Beauty Perfection merupakan kombinasi yang ideal dari tiga macam perawatan. Yaitu, benang Hiko, injeksi dermal filler, dan Botulinum toksin A. Benang Hiko memiliki keunggulan spesifik untuk menyempurnakan bentuk hidung dengan hasil yang natural. Benang Hiko berbeda dari benang PDO biasa yang lazim di­ gunakan untuk thread lift karena dirancang khusus untuk digunakan

Reaksi alergi awalnya ditandai rasa gatal pada bibir, berair serta menebal. Kalau reaksi ini tidak ditangai dengan tepat, dapat menyebakan bibir kehitaman,” lanjutnya. Oleh karena itu, kata dokter spesilis kulit ini, kita perlu mengetahui cara perawatan bibir yang benar dan meng­ hindari faktor-faktor yang menyebabkan kerusakan bibir. Seperti bagian tubuh lainnya, bibir juga perlu perawatan. Hal sederhana yang disarankannya adalah banyak minum air putih. Penuhi kebu­ tuhan tubuh akan cairan dengan mengonsumsi air putih kurang lebih 8 gelas setiap hari. Jika cairan tubuh terpenuhi, kelembaban bibir akan tetap terjaga dari dalam. Untuk mengatasi bibir yang kering, juga bisa dengan menggunakan pelembab. Guna­ kan pelembab bibir (lip balm) minimal dua kali sehari, apabila berada di luar ruangan dalam waktu lama dan berpotensi terkena sinar matahari langsung . Sedangkan dalam cuaca yang ekstrim seperti terlalu dingin atau terlalu panas lindungi bibir dengan pelembab bibir terutama yang mengandung tabir surya. Selain itu juga dikatakan makanan berper­ an pula pada kondisi bibir. Pola makan yang sehat, dengan mengonsumsi buah-buahan dan sayuran tak hanya baik untuk kesehatan, antioksi dan airnya dapat menjaga bibir tetap sehat dan lembab. Perlu juga mengonsumsi vitamin B dan C yang cukup serta per­ banyak pula mengkonsumsi vitamin B kompleks, terutama vitamin B3 dan B2 yang bisa diperoleh dari sayuran hijau berupa bayam dan kacang hijau. Tidak merokok, karena merokok merusak kelembutan alami dan menyebabkan perubahan warna bibir. Bahkan bisa juga membuat bibir pecah-pecah dan kering. Berhenti merokok adalah cara terbaik menjaga bibir tetap lembut dan merah alami. Kemudian, menghindari penggunaan lipstik yang mengandung pewarna sintetis dan juga pewangi yang berpotensi menimbulkan iritasi dan alergi. ”Gunakan lipstik ketika sedang memerlukan saja serta hentikan pemakaiannya dan konsultasikan dengan dokter

pada hidung karena memiliki efek 3D. Hiko berasal dari kata Hi dalam bahasa Korea yang artinya tinggi dan Ko yang berarti hidung, sehingga Hiko berarti meninggikan atau memancungkan hidung. Hiko adalah benang tipis yang dapat diserap jaringan kulit, di­ masukkan di bawah lapisan kulit, menahan bentuk hidung pada posisi yang diinginkan, sekaligus merang­ sang produksi kolagen alami. Untuk memberikan volume pada hidung, dikombinasikan dengan suntikan filler yang mengandung asam hyaluronat. Sedangkan Botulinum toksin A (botox) dari protein yang dimurnikan, diinjeksikan untuk merampingkan cuping hidung. Miracle Nose Beauty Perfection dilakukan dengan waktu penger­ jaan sangat singkat. Yaitu sekitar 30 menit. Tidak perlu dipersiapkan khusus, setelah dioleskan krim anestesi 30 menit sebelumnya atau dengan suntikan pengurang sakit, prosedur peninggian, dan pem­ bentukan hidung dapat dikerjakan. Segera setelah pengerjaan, hasil dapat langsung dilihat, sehingga memberikan kebebasan untuk mendesain bentuk hidung yang paling cocok dan mampu mem­ berikan penampilan terbaik. Satu sesi perawatan sudah memberikan

ketika terjadi reaksi alergi,” ujarnya. Jangan lupa agar bibir tetap lembut dan lentur kembali, gunakan lip scrub setidaknya sekali dalam minggu, untuk menghilangkan sel-sel mati dan kulit kering dari bibir. Ini, tidak hanya membuat bibir jadi lembut, cara ini juga dapat memperlancar sirkulasi darah ke bibir sehingga bibir terlihat lebih sehat dan berseri. – Sri Ardhini

11

Dr. Herny Tri Setiawati Board Certified in Aesthetic Medicine (USA), Dipl. Medical Aesthetic, Dipl. CIBTAC (UK) CosMedic Doctor BIMC Hospitals Seiring perkembangan zaman, manusia terus mengembangkan teknologi di berbagai bidang, di antaranya teknologi yang bersinergi dengan ke­ cantikan dan kesehatan untuk meningkatkan seni estetika dalam dunia kecantikan. Hal ini didukung kebutuhan banyak orang yang mulai sadar ke­ sem­purnaan penampilan. Perawatan antipenuaan yang berkembang pesat di seluruh dunia memberi harapan baru bagi semua orang untuk tampak awet muda. Orang memiliki makin banyak pilihan perawatan kesehatan wajah.

D

Miracle V-Shape Perfection untuk mewujudkan wajah dan hidung ideal tanpa prosedur bedah.

Bugar

Seni Memahat Wajah di Segitiga Kecantikan

ari zaman dulu kita sering mendengar bahwa kecantik­ an ada di mata pe­ nilainya dan tentu saja definisi ke­ indahan dan kecantikan bervariasi menurut ras, suku, budaya dan era. Variasi tidak terbatas dalam warna kulit dan bentuk fitur wajah (mata,

hasil yang maksimal dan bertahan hingga 1 – 2 tahun. Miracle Autocell Threadlift Salah satu perawatan pengen­ cangan wajah di Miracle yang banyak digemari adalah Miracle Autocell Threadlift, merupakan prosedur penanaman benang dengan meng­ gunakan benang Polydioxanone (PDO) dan dikombinasikan dengan plasma darah yang kaya akan kand­ ungan growth factor. Jarum Autocell Threadlift bersifat non traumatic sehingga tidak menimbulkan nyeri saat diaplikasikan. Dalam waktu 3 bulan, benang DPO akan diserap dan digantikan dengan produksi kolagen yang lebih meningkat sehingga kulit menjadi lebih kenyal dan kencang. Selain un­ tuk pengencang kulit, perawatan itu dapat membentuk wajah menjadi proporsional, sekaligus mencerah­ kan dan meremajakan kulit. Jadi, segera kunjungi ­Miracle Aesthetic Clinic terdekat. Nikmati cash back sesuai usia dan penawaran istimewa untuk berbagai perawat­ an Miracle V-Shape perfection, seperti, Miracle Dermal Filler, Botox, tanam benang (threadlift) dan lainnya hingga 31 Oktober 2014. Let’s experience the ­Miracle touch!

13 - 19 oktober 2014

13 - 19 oktober 2014

alis, hidung, pipi, bibir, dagu, dll). Sebenarnya semua orang adalah cantik dan bisa menjadi lebih cantik karena tiap orang mempunyai ciri khas tersendiri dan variasi ke­ indahan yang unik tanpa batas di tiap individu. Ilmu kedokteran estetika telah banyak berkembang dan banyak

membantu memahami struktur anatomi kulit, jaringan lemak, otot, tulang, mekanisme terjadinya proses penuaan, juga mengetahui cara menganalisa wajah, variasi teknik-teknik penyuntikan dan ko­ reksi secara mendetail di titik-titik kecantikan mana yang akan menjadi kunci keberhasilan dalam seni me­ mahat wajah. Bisa dibilang dunia kedokteran estetika merupakan gabungan ilmu pengetahuan medis, kecantikan dan seni yang sangat berperan penting terutama dalam memahat wajah yang lebih berfokus pada prosedur peremajaan kulit dan penyempurnaan wajah tanpa bedah. Secara kecantikan universal terkait dengan garis lengkung wajah yang proporsional yang diambil dari perhitungan Golden Ratio/ Phi Ratio yang menjadikan dasar untuk pengembangan bagaimana fitur wajah bisa dikoreksi untuk mendapatkan wajah yang harmoni mem­ buat wajah tua menjadi lebih muda dan wajah muda menjadi lebih cantik. Wajah yang cantik umumnya memiliki keseimbangan hori­ sontal yang terletak pada proporsi tiga bagian, yaitu bagian pertama yang dimulai dari garis rambut tepat di atas dahi hingga ke

garis atas alis, bagian kedua dimulai dari garis alis hingga pangkal bawah hidung, bagian terakhir dimulai dari dasar hidung hingga dasar dagu. Sedangkan secara vertikal, wajah yang proporsional idealnya dibagi menjadi lima bagian seimbang, yaitu adanya jarak selebar satu mata diantara kedua alis dan jarak selebar satu mata di kedua sisi luar mata yang berbatasan dengan garis telinga. Area inilah yang disebut sebagai segitiga kecantikan (triangle beauty), dan jika proporsi area ini seimbang, simetris, harmoni, dan proporsional maka wajah akan selalu tampak awet muda. Dalam seni memahat wajah me­ liputi prosedur peremajaan kulit yang mengkombinasikan manfaat

dari injeksi botulinum toxin type A(botox cosmetic), dermal filler yang menggunakan hyaluronic acid dan tanam benang dengan bahan yang dapat me­ nyatu dan diabsorbsi oleh tubuh. Hasilnya bukan hanya mem­ bantu menghilangkan kerutaan tanda penu­ aaan, namun akan memahat kembali wajah sehingga harap­ an untuk mendapat­ kan wajah yang tam­ pak lebih harmoni, muda, segar, berisi, kencang, ideal, dan pro­p orsional dapat diwujudkan. Botox (botulinum toxin type A) adalah protein yang dimurni­ kan yang bekerja de­ ngan cara menghambat pelepasan asetil kolin sehingga terjadi relaksasi otot dengan demikian kerutan di­ namis yang terjadi akibat kontraksi otot otot wajah akan berangsur angsur berkurang. Manfaat botox cosmetic untuk memahat wajah tidak terbatas untuk relaksasi otot saja, tetapi dapat juga digunakan untuk meninggikan bentuk alis, membuat mata tampak lebih lebar, mengecilkan cuping hidung, mem­ buat wajah lebih terlihat tirus, dan memberikan efek pengencangan pada kulit dalam batas-batas ter­ tentu. Dermal filler yang mengandung asam hyaluronat bermanfaat untuk koreksi wajah, perbaikan kontur wajah seperti pipi, hidung, dagu, bibir, dan juga mengisi bagianbagian tertentu pada wajah yang mengalami kekurangan volume akibat proses penuaan, misalkan cekungan di bawah mata, pipi yang menjadi cekung,dan munculnya lipatan kulit seperti di di area garis senyum, dibawah sudut mulut, dan bibir yang menipis dan sudut bibir yang menurun, yang kesemuanya ini memberikan penampakan wajah yang menua, sedih, dan tampak lelah, dan kurang sehat. Dermal filler juga dapat memberikan efek pengencangan kulit dalam batas tertentu. Tanam benang (threadlift) me­ rupakan sebuah metode memasuk­ kan benang ke dalam lapisan kulit untuk meningkatkan mikrosirkulasi, sintesis kolagen, mengencangkan kulit, dan meningkatkan elastisi­ tas kulit. Efek dari tanam benang secara estetika juga bisa untuk mengangkat wajah yang kendur dalam batas tertentu, membantu menghilangkan kerutan, menirus­ kan wajah, memancungkan hidung, dll. Bahan benang yang paling ban­ yak digunakan saat ini adalah bahan polydioxanone (PDO) dan polylactic acid (PLA) yang dapat diserap oleh tubuh (absorbable) Dengan kombinasi tiga prose­ dur diatas akan memberikan man­ faat rejuvenation (peremajaan), refill (mengisi), reshape (membentuk) dan tightening (pengencangan). Hasil akan sangat ditentukan oleh pemilihan pasien yang tepat karena untuk beberapa kasus tertentu diperlukan prosedur pembedahan, jika harapan pasien tidak dapat terpenuhi oleh prosedur minimally invasive (nonbedah).


10

Bugar

13 - 19 Oktober 2014

Yang Perlu Diketahui

13 - 19 Oktober 2014

Style

g n a t n te Karang Gigi

P

emeliharaan kesehatan gigi sangatlah penting, karena gigi bukan hanya sebagai alat pengunyahan melainkan lebih dari itu gigi merupakan gerbang kesehatan dalam tubuh, maka sepatutnya gigi dijaga dan dipertahan­ kan keberadaannya di dalam rongga mulut. Penyakit gigi dan mulut meru­ pakan penyakit yang tersebar luas di masyarakat Indonesia. Salah satu faktor penyebab masalah kesehatan gigi adalah karang gigi. Karang gigi tentu saja tidak hanya akan mengurangi penampilan Anda tetapi sekaligus berdampak pada tidak sehatnya gusi dan gigi Anda. Gigi meru­ pakan salah satu mahkota tubuh kita. Bagaimana tidak ketika kita berekspresi dengan menggunakan senyum kita, mau tidak mau gigi menjadi titik sentral ke­ tertarikan atau perhatian orang kepada kita. Faktanya banyak dari kita yang mempunyai permasalahan terhadap gigi­ nya merasa kurang percaya diri dalam menjalani aktifitas kehidupannya. Untuk mengatasi hal tersebut banyak pula dari mereka mengeluarkan biaya tidak sedikit untuk memperbaiki ataupun melakukan perawatan sehingga bisa mempunyai tampilan gigi yang indah. Sebaliknya apabila Anda pandai merawat gigi Anda sendiri berapa banyak rupiah uang yang bisa Anda simpan untuk membeli kebu­ tuhan lainnya. 1. Apa karang gigi itu? Karang gigi adalah kotoran dalam mulut yang menempel pada gigi dalam jangka waktu lama, sehingga lama ke­ lamaan akan mengeras dan membatu

sehingga akan sulit untuk dibersihkan jika hanya dengan menggosok gigi atau dalam pengertian lain, karang gigi adalah kumpulan plak gigi yang meng­ alami mineralisasi pada permukaan gigi maupun gigi palsu. Karang gigi ini berisi bakteri-bakteri bersama dengan kandungan anorganik seperti kalsium yang berasal dari air liur (saliva) kita. Karang gigi berwarna putih, atau putih kekuningan, dan keras seperti tanah liat. Warna karang gigi bisa juga bervariasi menjadi kecoklatan atau kehitaman tergantung kontak dengan bahan lain, misalnya kopi, teh, pewarna makanan atau tembakau pada perokok. Karang gigi biasanya terbentuk pada bagian leher gigi yang berbatasan de­ ngan gigi. Karang gigi ini bisa terjadi di atas gusi (supra gingiva) atau terbentuk hingga ke dalam gusi (sub gingiva) yang biasanya berwarna hitam kecokelatan.

2. Bagaimana bisa terbentuk karang gigi itu? Karang gigi terbentuk dari plak (sisa makanan) yang mengalami mineralisasi (pengerasan). Jadi pada awalnya adalah plak yang kurang bersih dalam me­ nyikat gigi, kemudian mineral dari air ludah masuk ke dalam plak ini, terus menerus hingga plak mengeras dan terjadilah karang gigi. Karang gigi yang telah terbentuk ini merupakan media yang baik untuk melekatnya mineral dan plak, sehingga perlahan-lahan karang gigi menjadi lebih besar dan masuk ke dalam gusi. 3. Apa akibatnya bila karang gigi dibiarkan? Karena sebenarnya karang gigi ialah kumpulan bakteri yang bersinggungan dengan gusi dan jaringan di sekitar gigi, maka karang gigi dapat menyebabkan in­ feksi kronis atau akut pada gusi (gingivitis/ peradangan gusi) atau jaringan di sekitar gigi (periodontitis). Berikut ini ialah gejala yang sering timbul berhubungan dengan karang gigi : - Gusi berdarah dan kemerahan - Bau mulut - Gusi membengkak dan atau ber­ nanah - Gusi melorot atau gigi tampak men­ jadi panjang - Gigi lama-lama menjadi goyang - Gigi menjadi meregang (timbul celahcelah antara gigi) - Gigi menjadi linu padahal tidak ada yang berlubang

pembersihan dapat berlangsung tanpa rasa sakit.

drg. E. Chitra. F. Akibat dari karang gigi ini masih banyak dan akan kami jelaskan langsung kepada pasien. Bahkan penelitian yang terbaru menyatakan ada hubungan karang gigi dengan penyakit sistemik seperti diabetes mellitus (kencing manis) dan jantung. 4. Bagaimana cara menghilangkan karang gigi? Sakit tidak? Karang gigi yang telah mengeras dapat dibersihkan oleh dokter gigi menggunakan alat bernama scaler. Ultrasonic Scaler ialah semacam alat berbentuk seperti ungkitan, yang akan bergetar dengan sangat halus. Getaran ini apabila diaplikasikan kepada karang gigi akan membuat ikatan karang gigi dengan gigi akan terlepas. Prosedur pembersihan karang gigi dengan ultra­ sonic scaler ini relatif sangat nyaman. Pada saat pembersihan, ultrasonic scaler akan mengeluarkan air dengan jumlah yang cukup untuk memberikan pen­ dinginan, sehingga panas akibat gesekan yang menyebabkan linu akan minimal. Namun, pada beberapa bagian, di mana terbentuk karang gigi subgingival, pembersihan akan sedikit tidak nyaman karena getaran pada bagian permukaan akar akan menimbulkan rasa linu bagi mereka yang sensitif. Pada keadaan tertentu, dokter gigi akan memberikan anestesi apabila diperlukan sehingga

5. Bagaimana mencegah terbentuknya karang gigi? Seperti yang dikatakan sebelum­ nya, karang gigi terbentuk karena ada sisa makanan (plak), jadi supaya tidak terjadi karang gigi, kuncinya ialah membersihkan gigi dengan baik dan benar. Seringkali yang terjadi ialah penderita tidak berani menyikat hingga menyentuh leher gigi dan gusi, padahal di daerah itulah paling banyak terbentuk karang gigi. Atau sering juga orang yang merasa sudah menyikat gigi dengan frekuensi yang tinggi, misalnya 4 kali sehari, atau durasi sikat gigi yang lama, namun karang gigi masih banyak. Sebenarnya faktor yang menyebabkan karang gigi ada beberapa, namun mem­ bersihkan gigi dengan cara yang benar lebih penting daripada frekuensi dan durasi tersebut. Tentang menyikat gigi yang efektif ini akan dijelaskan langsung kepada pasien. 6. Tiap berapa lama kita sebaiknya membersihkan karang gigi? Tergantung. Laju pembentukan karang gigi ini bervariasi antar individu. Secara teori, studi menunjukkan bahwa plak dapat terkalsifikasi 90% hanya pada 12 hari. Banyak faktor yang berperan, misalnya kebersihan giginya, kandungan air liur, pola makan dan sebagainya. Biasanya kunjungan ulang pada 3 bulan pertama dokter gigi akan melihat sejauh mana laju pembentukankarang gigi. Apabila pada waktu itu sudah banyak terbentuk karang, mungkin akan dievalu­ asi, apa yang salah, mungkin dari cara pembersihannya. Kunjungan ini akan diulang, dan jika pada interval tertentu keadaannya lebih baik, mungkin interval diperlukan perawatan ulang bisa diper­ lama kurang lebih 6 bulan. 7. Saat membersihkan karang gigi, kadang gusi kita berdarah, apakah itu tidak apa-apa? Pada keadaan penderita normal, maksudnya tidak ada gangguan ke­ sehatan yang lain, misalnya gangguan pembekuan darah, leukemia dan seba­ gainya, berdarah ini lazim terjadi saat prosedur pembersihan karang gigi. Sep­ erti yang dikatakan sebelumnya, karang gigi ini dapat menyebabkan keradan­ gan baik kronis maupun akut. Pada

keadaan ini, akan terjadi peningkat­an vaskularisasi jaringan (sederhananya penambahan aliran darah ke jaringan), sehingga gusi nampak lebih merah. Vaskularisasi ini merupakan usaha tubuh untuk mengalirkan elemen darah putih dari darah untuk menghadapi infeksi tersebut. Namun, karena vaskularisasi ini bersifat sementara, maka dinding dari pembuluh darah yang terjadi bi­ asanya rapuh. Inilah yang menyebabkan gusi jadi berdarah saat disentuh. Bahkan sebelumnya mungkin penderita juga merasakan gusi berdarah saat sikat gigi. Perdarahan kecil ini akan berhenti segera setelah pembersihan selesai dan karang gigi telah bersih. 8. Pada bagian tertentu permukaan gigi terlihat cokelat atau kehitaman, apakah itu juga karang gigi? Mungkin yang dimaksudkan ialah dental stain. Stain (noda) ini, biasanya kecokelatan (terutama pada peminum teh, kopi, obat kumur atau pewarna makanan yang lain) atau kehitaman pada perokok. Dental stain paling banyak dijumpai pada bagian belakang gigi yang menghadap langit-langit. Dental stain murni tidak menyebabkan keradangan seperti halnya karang gigi, melainkan hanya gangguan estetika. Namun dental stain dapat juga terjadi di permukaan karang gigi. Pembersihan stain dapat dilakukan dengan alat yang sama di­ sertai pemulasan (polishing). Apabila perubahan warna bukan karena noda, kita dapat melakukan proses bleaching (pemutihan gigi). 9. Kemanakah bisa mendapat-­ kan perawatan pembersihan karang gigi ini? Menggunakan cara yang salah justru hanya akan memperparah keadaan yang tadinya baik-baik saja bahkan bisa me­ nyebabkan infeksi pada gusi. Agar lebih aman sebaiknya datang ke dokter gigi (bukan ahli gigi). Anda dapat member­ sihkan karang gigi pada dokter gigi Anda dengan cara yang aman dan sehat. drg. E. Chitra. F. Dentist Klinik Rawat Jalan (OPD) Rumah Sakit SILOAM Appointment : (0361) 779-900 ext. 29701 Hp: 082114983537 Email: eka.chitra@siloamhospitals.com

Eksotik Gaun Tanpa Lengan

Rancangannya dikenal simpel, berkualitas dan memiliki identitas. Selain itu, ia juga salah seorang desainer nasional yang mendunia dengan ide kreatifnya yang banyak digarap secara hand made.

K

ali ini, untuk hala­ man Style Tokoh, Mardiana Ika me­ mamerkan kolek­ sinya berupa gaun tanpa lengan. Gaun feminin dengan garis ran­ cangan sederhana ala Ika, namun tetap memunculkan kesan me­ wah dan modern. Yang menarik juga, Ika tak

pernah lepas mengaplikasikan seninya dalam teknik lipat. Di sini desainnya tidak hanya tampil dengan warna polos, namun ada pula koleksi bermotif nan atraktif. Gaun tanpa lengan, seringkali dipilih para perempuan, sebab da­ pat membuat pemakainya tampil beda. Bahkan banyak perancang

menyatakan kalau busana pesta tanpa lengan memang memberi­ kan efek lebih sensual dan elegan. Memakai busana tanpa lengan juga bisa membuat pemakainya jadi bisa menambahkan berbagai jenis aksesori, seperti mengena­ kan gelang, kalung, dan aksesori lainnya, hingga menjadi semakin cantik dan elegan Karena itu pula semakin banyak perempuan memilih gaun pesta tanpa lengan untuk menghadiri pesta pernikahan, ulang tahun, atau acara-acara semi formal lain­ nya. Nah, para fashionista, silakan menilai mana yang disukai dan ter­ lihat paling menawan untuk dipilih sebagai inspirasi. – Sri Ardhini

15


Edukasi

16

13 - 19 oktober 2014

IKIP PGRI Bali Gelar ToT

Promosi Elegan yang Sentuh Masyarakat Untuk menjadikan lembaga makin berkualitas khususnya dalam proses belajar-mengajar (PBM) yang nantinya menghasilkan output yang berkualitas pula, IKIP PGRI Bali menggelar Training of Trainer (ToT). ToT ini dilaksanakan selama dua hari, Jumat (10/10) dan Sabtu (11/10) menghadirkan instruktur berkompeten dari Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus (Untag) 1945, Surabaya.

T

oT dibuka Rektor yang diwakili Pembantu Rektor I, Drs. Pande Wayan Bawa, M.Si., dihadiri Pembina YPLP IKIP PGRI Bali Drs. Dewa Putu Tengah, Sekretaris Yayasan Ngurah Oka, diikuti seluruh pimpinan Kaprodi dan beberapa dosen di lingkup IKIP PGRI Bali. Pande Bawa mengatakan kegiatan ToT ini adalah kelanjutan bentuk kerjasama antara IKIP PGRI Bali dengan Untag 1945 Surabaya. Di samping, ToT dipandang perlu sebagai proses

pembelajaran keahlian dasar. Melaui ToT ini diharapkan dapat mengembangkan pengetahuan skill maupun ability/atensi dari masingmasing dosen/peserta. “Mengingat para dosen setiap saat selalu berhubungan dengan individu-individu, baik secara perorangan maupun kelompok, yang mana masing-masing individu memiliki keunikan. Contoh sederhana materi TOT melatih berkomunikasi dengan baik. Inilah salah satu kompetensi yang harus dimiliki para dosen,” ujarnya. ToT yang merupakan program pelati-

Pianis yang Bangga Pakai Endek

P

PR I Pande Bawa, Dewa Putu Tengah, Ngurah Oka, Prof. Sa’ad, Niken Titi Pratitis, dan tim ToT Untag 1945 Surabaya

han bagi para pimpinan dan dosen yang selanjutnya akan diteruskan ke mahasiswa ini, menurut Ketua Panitia Drs. Nyoman Rajeg Mukyawan, M.Pd. diisi dengan materi seperti desain training, game of training, knowing your audience and situation, training needs analysis, become good speaker and communication, serta outbond. Dekan Fakultas Ilmu Pendidik­ an yang sekaligus sebagai penanggung jawab program, Dr. AA Ngurah Adhiputra, M.Pd. menambahkan, program ToT ini pun akan diteruskan ke mahasiswa FIP khususnya. “Mahasiswa FIP akan melanjutkan memberikan pelatihan trainer kepada siswa SMA/ SMK se-Bali yang akan kami jadwalkan mulai terjun ke masyarakat akhir tahun ini,” ujarnya.

Surabaya, Prof. Sa’ad Djalali didampingi Niken Titin Pratitis, S.Psi., M.Psi., Amanda Pasca Rini, Karolina Rista R., Hana Harmida, dan Eko April Ariyanto, mengatakan ToT ini menjadi bagian dari promosi lembaga secara elegan kepada masyarakat, yang tak lagi memakai cara konvensional. “Lembaga berpromosi dengan menunjukkan apa yang bisa dilakukan di masyarakat,” ujarnya. Niken Titin Pratitis menjelaskan training mengajarkan bagaimana seorang dosen cara membuat SAP/ mengajar dengan baik, bagaimana seorang manajer mampu memimpin dengan efektif, karya­wan dapat berkomunikasi efektif, dsb. “Training menjadi indikator bagi baik-buruknya manajemen. Dalam kaitannya dengan performance manajemen usaha-usaha training harus dilakukan agar setiap karyawan memberikan kontribusi untukk mencapai tujuan organisasi,” ujarnya.

Hari kedua ToT diisi dengan outbond yang mengambil lokasi di luar ruangan. Para peserta dibagi menjadi empat kelompok. Tiap kelompok diberikan tantangan untuk bisa menyelesaikannya secara berkelompok/teamwork. Beberapa permainan yang dilakukan adalah memindahkan tepung, bos, X-Line, labirin, dan puzzle. Dalam semua permainan tersebut, peserta dituntut untuk bisa berkomunikasi dengan baik, ada rasa empati, memberi, mengalah, leadership, kompak, perjuangan untuk keluar dari zona nyaman, dalam satu teamwork. “Ini semua didesain untuk melatih peserta agar bisa menjadi pelatih/ trainer. Mereka nantinya diharapkan bisa membuat desain sendiri, kompak, bisa mengatur, meningkatkan percaya diri, dan ada kebersamaan. Pelatihan ini untuk merubah perilaku yang tidak diharapkan menjadi diterima,” tandas Prof. Sa’ad. –ten

Miracle Aesthetic Clinic Denpasar

Peduli Kanker Payudara kanker payudara telah menurun 40%. Hal ini terjadi karena kanker payudara telah dapat ditemukan lebih dini, sehingga penanganannya dapat dilakukan dengan cepat dan tepat. Di negara maju tersebut, program deteksi dini telah menjadi suatu keharusan. Dengan ditemukannya kanker payudara dalam stadium yang lebih dini, harapan sembuh akan semakin besar dan perempuan tidak perlu kehilangan payudara. Menurut Jap Budi Wijaya, Direktur Operasional Miracle Aesthetic Clinic, yang tersebar di Jakarta, Surabaya, Malang, Denpasar, Kuta, Balikpapan, Batam, Makassar, Medan, Manado, Lombok, Yogyakarta, dan Semarang ini, sebagai perintis bisnis estetika di tanah air dan berbekal pengalaman selama hampir 18 tahun, Miracle bukan hanya berkomitmen melakukan kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat tapi juga untuk kalangan interennya dengan budaya social concern. “Apalagi hampir 80% karyawan seluruh Miracle adalah perempuan, hingga kami antusias sekali untuk melakukan kampanye deteksi dini kanker

Foto bersama setelah acara

payudara ‘Stand Up for Pink’ ini ke pihak internal, mengingat hal ini juga penting untuk diketahui dan disadari,” ujar Jap Budi Wijaya, yang hadir dalam acara tersebut. Pada kesempatan tersebut dokter Dewi menjelaskan anatomi payudara serta faktor genetik dan gaya hidup perempuan yang terjangkit kanker. Dilanjutkan dengan peragaan beberapa teknik pemeriksaaan dini kanker payudara, seperti sadari (sendiri), pemeriksaan oleh dokter, dan USG /mammografi bagi perempuan berusia 40 tahun ke atas. “Dengan adanya penyuluhan ini, kami mengharapkan peserta akan mulai mengambil langkah deteksi dini yang paling mudah, yakni teknik sadari.

Suasana Acara Peduli Kanker Payudara di Miracle Denpasar

Dari situ, sudah terlihat bahwa mereka sudah mulai aware. Dengan deteksi dini, peluang penderita untuk sembuh bisa mencapai 98% atau hampir sempurna,” jelas dokter Dewi. Kampanye deteksi dini kanker payudara “Stand Up for Pink” yang dilakukan oleh Miracle Aesthetic Clinic ini juga ditujukan kepada pihak eksternal seperti customer. Selama Oktober 2014 ini, tim Miracle akan membagikan pembatas buku (bookmark) kepada customer, yang berisikan cara singkat dan mudah melakukan pemeriksaan dini “SADARI” yang bisa dilakukan sendiri untuk meningkatkan kesadaran pentingnya deteksi dini kanker payudara dan pencegahan keterlambatan penanganan kasus ini. Selain itu, seluruh karyawan Miracle mengenakan pink ribbon sebagai bagian dari kampanye ini. “Tidak hanya karyawan, namun customer juga perlu diedukasi mengenai deteksi dini kanker payudara ini, karena kanker payudara pada dasarnya dapat menyerang siapa pun, termasuk kaum pria. Selain itu, kampanye ini merupakan salah satu implementasi dari nilai dalam budaya Miracle yaitu social concern, sehingga kami berperan serta dalam aspek sosial pihak-pihak yang bersangkutan dengan perusahaan,” lanjut Bapak Jap Budi Wijaya. -sri ardhini/bns

9

Bramantha Patra

Bramantha Patra, siswa kelas XI di SMAN 5 Denpasar, salah seorang finalis Duta Endek 2013, unjuk kebolehan bermain piano di Singapura. Ia berhasil memperoleh penghargaan saat tampil di Asia Arts Festival 2014 di Singapura tersebut.

OUTBOND LEADERSHIP Kaprodi Magister Psikologi Untag

Bertepatan dengan bulan Peduli Kanker Payudara (Breast Cancer Awareness Month) ini, seluruh klinik Miracle Aesthetic Clinic seIndonesia mengadakan penyuluhan deteksi dini kanker payudara bagi seluruh karyawan. Hal ini juga sebagai salah satu kegiatan dalam kampanye “Stand Up for Pink” oleh Miracle. Seperti, yang dilaksanakan Jumat (10/10) di Miracle Aesthetic Clinic, Denpasar di Jalan Letda Tantular, Renon. Dalam acara tersebut, nampak karyawan Miracle Denpasar sangat antusias mendengar­ kan informasi dan pengetahuan mengenai pentingnya memahami tanda-tanda kanker payudara dan cara memeriksanya secara dini yang disampaikan oleh dr. Kadek Dewitini. “Persoalannya, 70% penderita yang datang berobat sudah terlanjur memasuki stadium III-IV, yang seharusnya bisa dicegah lebih awal,” ujar dokter Dewi. Upik Rustia, Manager Clinic Miracle Denpasar mengatakan kegiatan ini didasari juga oleh fakta bahwa angka kasus kanker payudara yang selalu meningkat setiap tahunnya. Di negara maju, angka kematian akibat

Dara

13 - 19 oktober 2014

emilik nama panjang Ngurah Bramantha Patra ini terpilih mengikuti Asia Arts Festival di Singapura. Di sana ia menujukkan kemahirannya bermain piano. Meski cita-citanya menjadi software engineer, namun ia tak pernah meninggalkan kegemarannya bermain piano. Ia secara rutin berlatih setiap hari. Awalnya Nyoman Winata, Kepala SMAN 5 Denpasar dan Bu Putri, guru tari sekolah menginformasikan kepada sang mama. ”Mama menyuruh saya ikut berangkat bersama beberapa teman penari untuk tampil di acara Asia Arts Festival itu, ” ucap pelajar yang akrab dipanggil Bram atau Bam ini. Karena diberitahu mendadak, Bram mengaku hanya memiliki waktu satu bulan untuk latihan lagu yang akan ia mainkan. Kakak dari Ayu Khikanea Patra ini berlatih keras setiap hari. Beruntung ia sudah mengetahui lagu yang akan dibawakannya sehingga ia tinggal merapikan permainannya saja. Dalam berlatih tak sungkan ia bertanya kepada guru les nya jika ada bagian yang susah. Mengenai dukungan orangtua, mereka sangat mendukung segala kegiatan Bram. Ketika ditanya tentang seberapa besar rasa percaya dirinya, putra satu-satunya dari pasangan I Gde Pramana Susanta dan AAA Arina Saraswati Hardy ini merasa memiliki tingkat percaya diri sekitar 80% walaupun tak jarang masih merasa gugup jika tampil dan dilihat banyak orang. “Gugup dan nervous itu pasti, tentu karena ajang yang saya ikuti, Asia Arts Festival2014 bukan ajang main-main.” ungkap penggemar Korean pianist, Yiruma tersebut.

Tampil di Asia Arts Festival, Bram mengaku itulah penampilannya yang paling berkesan. Bram merasa bangga sekali, sebab ia bisa tampil di salah satu hotel iconic di Singapura dan di hall yang biasa dijadikan tempat acara-acara internasional. “Apalagi saat saya diberi tahu bahwa saya adalah satu-satunya orang Indonesia yang ada di kategori piano solo, rasanya bangga bukan main,” cerita siswa yang fasih berbahasa Inggris itu dengan gembira. Pengalaman pertama kali tampil di event besar seperti Asia Arts Festival, Bram merasakan dampak positif dari mengikuti acara tersebut. Ia merasa semakin termotivasi untuk lebih lagi menguasai piano dengan baik. Bram sendiri masih kurang puas dengan penampilannya saat di Singapura. Hal ini disebabkan dirinya merasa grogi. Betapa itu kali pertama ia tampil di panggung sebesar itu. Tetapi pemilik motto hidup “Be a leader, not a follower” itu tetap senang dan bangga sudah berhasil melaluinya bahkan bisa mendapatkan piala dan piagam dari acara bergengsi itu. Selain gemar bermain piano, Bram juga seorang pelajar yang memiliki kepedulian terhadap produk lokal, salah satunya kain endek. ketertarikannya membuat ia berhasil terpilih sebagai salah satu finalis Duta Endek tahun 2013. Menurut Bram , dari serangkaian tes yang sudah diikutinya, menambah pengalaman wawasannya tentang endek. Beruntung juga saat pengumuman finalis, namanya juga disebut. Bram yang biasa belajar dua jam sehari ini, merasakan bahwa setelah mengikuti Duta Endek ia mendapat banyak pengalaman berharga, selain wawasan juga menambah teman, dan yang terpenting ia

Biodata Nama lengkap: Ngurah Bramantha Patra Panggilan: Bam/Bram Alamat & No. Telpon: Jalan Pulau Kawe no 21 – 081238938230 Anak ke-1 dari 2 bersaudara Orangtua Ayah: I Gde Pramana Susanta Ibu : A A A Arina Saraswati Hardy Saudara: Ayu Khikanea Patra (adik) Hobi: Bikin short video, main piano, baca, dan nulis Busana favorit: Casual warna biru Bacaan favorit: bacaan motivational, humor Artis idola: The Script, Taylor Swift Motto hidup: Be a leader, not a ­follower. makin bangga menggunakan endek dalam acara formal maupuna acara santai lainnya. “Nilai tambahannya dari saya ikut Duta Endek , saya bisa ikut serta dalam berbagai kesempatan yang tidak semua orang bisa ikut.” ucapnya bangga. -Nina

Ngurah Bramantha Patra


Bunda & Ananda

13 - 19 Oktober 2014

13 - 19 Oktober 2014

Griya

Tanaman Border Kebersamaan Berbunga Cantik dalam Tugas yang Berbeda 8

Anak-anak suka bermain musik? Orangtua pasti akan senang jika anaknya memiliki hobi bermusik. Apalagi jika musik yang dipilih gamelan tradisional. Memainkan gamelan Bali tak hanya sekadar menjalankan hobi, mengasah keterampilan ataupun sebagai pencetak generasi dalam upaya melestarikan kesenian Bali.

“Y

ana mau ikut ekstra menambuh. Ba­ nyak temanteman yang memilih menabuh. Nanti bisa pentas saat kenaikan kelas,” ujar Yana kepada ayahnya. Dedi, sang adik, tak mau ketinggalan. Dedi pun mau ikut menabuh. Ayah dan ibunya tersenyum melihat semangat anak-anak mereka. “Kami salut dengan pilihan anakanak untuk menekuni seni musik khusus menabuh. Ayahnya pun me­ respons pilihan anak-anak dengan mengantar mereka les menabuh,” ungkap ibu Yana dan Dedi. Dari beberapa penelitian, menabuh ternyata memiliki manfaat, salah satunya membangkitkan SQ dan yang utama sebagai bentuk pembelajaran budi pekerti secara nyata. Hal itulah yang mendorong I Gusti Made Lumbung, seniman tabuh asal Banjar Lambing, Desa Mekar Bhuana, Kecamatan Abian­ semal, Badung ini tak penah berhenti menularkan ilmu seni kepada anak-anak. Disamping membina sekaa gong kebyar di banjar, ia juga melatih anak-anak bermain gender wayang. “Belajar budi pekerti lewat berlatih permainan musik tradisional jauh lebih ampuh dibandingkan pelajaran budi pekerti di dalam kelas,” katanya. Dalam berlatih gamelan, Lumbung secara bebas mengungkapkan ekspresinya, anak-anak juga dapat mempraktikkan secara langsung bagaimana pelajaran budi pekerti yang sesungguhnya. Mereka selalu menghormati guru yang dianggapnya lebih tua dan senior. Mereka juga selalu patuh terhadap apa yang diberikan oleh pelatihnya. Walau demikian, suasananya belajar bukan menjadi kaku, ka­ rena tetap mengedepankan komu-

nikasi antara murid dan guru dalam mencapai tujuan. Meski terlihat santai, namun dalam bermain gamelan itu terdapat pendidikan sikap dan mental. Karena, sikap disiplin dan saling menghormati selalu ada dalam suasana menabuh. “Di sana juga ada sikap saling menghargai dan rasa kebersamaan,” imbuhnya. Bagaimana tidak, anak yang merasa kurang akan lebih giat mengisi dirinya dengan cara lebih sering bertanya. Begitu juga de­ ngan anak yang merasa lebih akan memberitahukan temannya yang masih kurang ataupun belum bisa, sehingga mampu tercipta permainan musik yang harmonis. “Sikap menonjolkan diri sendiri tidak akan terjadi, karena jika itu dilakukan maka anak itu akan dianggap salah,” ungkapnya. Masing-masing anak akan menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Jika ada anak yang mengambil tugas anak yang lain, hasilnya akan tidak harmonis, sehingga anak itu juga dikatakan melanggar dan salah.

Karena itu, anak akan merasa puas dengan tugasnya serta bertanggung jawab terhadap penuh. Mereka tidak boleh iri, angkuh, semena-mena karena akan menjadi salah sendiri. Uniknya lagi, kesalahan yang dibuat secara sengaja ataupun tidak sengaja tidak akan ditegur

baru kemudian diperbaiki. Anak itu akan memperbaiki dirinya sendiri karena sudah mengetahui dirinya salah. “Yang dibutuhkan dalam memainkan gamelan adalah sikap kebersamaan walau berada dalam tugasnya berbeda-beda,” tegasnya. Biasa memainkan musik ga­ melan, jelas Lumbung, juga sebagai cara untuk menghaluskan rasa jiwa seseorang. Biasa memainkan gamelan cendrung untuk membangkitkan spiritual quation (SQ), mendorong munculnya rasa kasih sayang dan lebih cepat bersosiali­ sasi. SQ ini untuk mengimbangi emotional quation (EQ) yang cendrung untuk melatih kecepatan untuk memutuskan sesuatu, yang mengarah pada ilmu pasti. GENDER WAYANG Di rumahnya, di Banjar Lam­ bing, Desa Mekar Buana, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung ia menurunkan ilmu seni kepada anak-anak. Mereka diajak duduk di atas jineng dengan santai, kemudian dengan sabar membangkitkan kreativitas anak dalam berkesenian. Mendengar dentingan gamelan itu, anak-anak desa kemudian datang. Terdengarnya dentingan gamelan itu, seakan menjadi tanda untuk berlatih megamel. Jumlahnya memang tak terlalu banyak, tidak lebih dari sepuluh anak. Selain anak-anak dari banjar setempat, ada juga dari daerah

Tabanan. Maklum jenis gamelan gender yang ia miliki masih terbatas yaitu dua tungguh pemade dan dua tungguh jenis kantil. “Saya melihat anak-anak serius mau belajar menabuh gender, maka saya tertarik untuk membeli gamelan gender. Baru bisa beli dua pasang saja, sehingga anakanak memainkan secara bergilir,” ucapnya. Dalam mengajar tabuh, pene­ rima penghargaan Dharma Kusuma ini tidak menentukan jadwal secara pasti. Kapan anak-anak sempat, ia siap melatihnya. Biasanya, latihan dilakukan setiap hari libur atau setiap sore hari setelah anak-anak pulang sekolah. Dalam berlatih itu tidak ada target. Artinya, dalam waktu sekian pertemuan harus menguasai sekian lagu atau gending. “Masalah bisa megamel itu nomor dua. Artinya tidak harus cepat menguasai gending. Pertama harus membuat mereka senang terlebih dahulu. Kalau sudah senang, mereka pasti gampang mem­pelajarinya,” paparnya. Demikian juga dalam melatihnya, ia tidak memilih gedinggending yang dianggap baik dan bagus atau yang populer dan tidak terkenal. Melainkan memberikan gending-gending dasar untuk melemaskan tangan serta merangsang anak untuk menjadi lebih senang, seperti gending Tulang Lindung dan gending Dongkang Menek Biu. -Darsana

Mendongeng Lima Menit Menunda Kematian Tuan Bergug adalah orang terkaya di Negeri Basang Lantang. Dengan Made Taro kekayaannya yang berlimpah-limpah itu, ia dapat membeli segala apa yang diinginkan. Kalau mau, ia dapat membeli seluruh kekayaan negeri, bukan saja tanahnya, gunungnya, lautnya, bahkan penduduknya. Satu hal yang tidak dapat dibelinya adalah kematian. Berkali-kali ia menghadap Dewa Kematian, minta agar dibebaskan dari hukum kematian itu. “Dengan harga berapa pun akan kubayar agar aku dibebaskan dari kematian,” katanya. “Tidak bisa!” jawab Dewa Kematian. “Kematian itu menimpa setiap orang. Mungkin besok, mungkin setahun lagi. Rahasia kematian ada di tangan Dewa Tertinggi.” “Kalau tak bisa dibeli, tak apalah! Tapi tolonglah aku, Dewa Junjunganku! Dua, tiga tahun sebelum aku mati, berilah aku kabar, sehingga aku bisa mempersiapkan diri. Aku punya banyak anak, cucu, dan cicit. Menjelang kematian, akan kuurus surat-menyurat pembagian warisan,” katanya, sambil menyerahkan tiga amplop berisi uang kepada petugas kematian itu.

Waktu berlalu, entah berapa tahun kemudian, Tuan Bergug jatuh sakit, lalu tiba-tiba mati. Walaupun mayatnya diarak ke kuburan dengan upacara meriah oleh penduduk negeri Basang Lantang, namun arwahnya marah-marah. Dengan berkacak-pinggang arwah Tuan Bergug menghadap kepada petugas kematian yang pernah diberi tiga amplop uang. “Hai, petugas!” bentaknya. “Mengapa aku dipanggil tiba-tiba? Bukankah telah kuperingatkan agar aku diberitahu, dua atau tiga tahun sebelumnya?” “Maaf! Menurut catatan, Tuan sudah tiga kali diperingati, tetapi Tuan tak mau mengerti. Peringatan pertama melalui rambut. Rambut Tuan sudah diputihkan, tetapi Tuan segera menghitamkannya kembali dengan semir. Peringatan kedua, melalui gigi. Gigi Tuan sudah diompongkan, tetapi Tuan secepatnya mengganti gigi-gigi itu dengan gigi-gigi baru. Dan…, ini yang terakhir, Tuan! Mata Tuan sudah buta. Tetapi Tuan segera menggantinya dengan mata baru.” Arwah Tuan Bergug tidak bisa menyangkal. Hatinya berkata jujur, bahwa segala daya-upayanya untuk menghindari kematian itu, tidak bisa melawan hukum alam. Ia pun menyerah ketika diantar masuk ke pintu gerbang kematian.

di rumah tinggal atau di Keberadaan sebuah taman, baik itu man tidak sekadar pengisi Ta a. sam gsi fun liki mi me k bli pu a are hijau yang diharapkan ruang kosong. Taman menjadi ruang tuk kenyamanan pemilik un lain si lek ref kan eri mb me u mp ma atau penikmatnya.

Nengah Sudarma di antara deretan tanaman bordernya

T

aman mempunyai ba­ nyak fungsi dan peran yang jauh lebih besar itu. Taman yang berisi tanaman hidup, antara lain berfungsi memberikan keseimbangan terhadap rumah yang dibangun dengan batu dan semen. Tanaman yang terdapat di taman akan memberikan kontribusi yang cukup penting untuk sirkulasi udara yang segar dan bersih bagi penghuni rumah. Terlebih di perkotaan yang tingkat polusi udaranya cukup tinggi. Dalam lingkup yang lebih luas, seperti taman kota, berguna sebagai arena rekreasi bagi keluarga. Selain itu, bagi yang hobi berkebun, taman bisa sebagai media atau sarana untuk mengisi kegiatan. Kelelahan atau stres yang dialami saat bekerja di kantor akan segera hilang dengan sekadar menyiram tanaman atau memandang dan menikmati keindahan tanaman yang ada. Mengingat pentingnya fungsi taman, tak ada salahnya jika Anda ber­ usaha menghadirkan taman di rumah Anda. Dimana pun Anda tinggal dan berapa pun luas halaman yang ada, Anda dapat membuatnya. Jika halaman rumah hanya tersisa sedikit, Anda dapat memanfaatkan sudut-sudut ruang untuk sekadar memberi kesan hijau, atau bisa juga membuat taman vertikal dengan membuat pola menempel ke dinding tembok, dan meletakkan tanam­an pot di atasnya. Kalau pun benar-benar tak ada lagi halaman tersisa, Anda bisa menyiasatinya dengan membuat tanaman gantung. Bagi Anda yang memiliki ketersediaan lahan, namun hanya memiliki budget kecil untuk membuat taman, tak perlu khawatir. Ada banyak jenis tanaman hias yang harganya terjangkau, namun tak kalah cantiknya. Seperti, tanaman seribu bintang, tapak dara, monika, star blue, Taiwan beauty, mawar Barbie, dan mawar hijau. “Ini jenis tanaman border yang berbunga,” ujar Nengah Sudarma, pemilik Stan Wijaya Kusuma di kawasan Tanjung Bungkak Denpasar ini.

Di stan bunga yang sudah dikelola­ nya sejak 11 tahun itu, tanaman­tanaman border tersebut tersedia dalam media polibag dengan media tanam sekam. Bagi yang memiliki dana terbatas, pria asal Klungkung ini mengatakan jenis tanaman tersebut bisa menjadi alternatif, selain cara perawatannya juga mudah. Sebut saja tanaman seribu bintang yang memiliki warna bunga kuning ce­ rah, hanya senilai Rp 3.000 per polibag. Demikian juga dengan tanaman Taiwan beauty yang memiliki bentuk buga kecil-kecil berwarna ungu. Tanam­ an tapak dara yang tersedia dengan warna bunga putih, merah, dan ungu, ditawarkan dengan harga Rp 5.000 per polibag. Sedangkan, star blue lebih mahal sedikit, yakni Rp 10.000. Di antara sekian tanaman border itu, harga tanaman monika dan mawar Barbie lumayan agak tinggi, yakni Rp 25.000 per polibag. Ini dikarenakan ketersediaan tanaman tersebut terbatas. Mawar Barbie yang dua bulan terakhir menjadi tren, dipasok dari Bogor. “Saya minta 100 saja, yang datang cuma bisa 50,” ungkapnya. Mawar Barbie ini sesuai dengan nama­nya, bunganya kecil-kecil berwarna putih.Uniknya, ketika kecil bunga ini berwarna pink, setelah membesar menjadi warna putih. Meskipun tak mengeluarkan aroma harum se­perti bunga mawar umumnya, mawar Barbie ini cukup mencuri perhatian pencinta tanaman hias. Pertumbuhan sebagian besar tanam­an ini memerlukan banyak sinar matahari. Saat menanam, lokasi yang ditanam harus gembur. “Jika Anda membeli dalam bentuk polibag seperti ini, ketika akan ditanam, buka plastiknya saja, lalu tanam sampai sekam (media tanam langsung),” jelasnya. Penyiraman cukup dilakukan sekali sehari,sore hari saja. Sama halnya dengan tanaman bonsai, untuk perawatannya, tanaman border harus dipotong minimal sebulan sekali untuk menjaga atau mengatur bentuknya yang indah. Tanaman border ini tak hanya

cantik ditanam langsung di tanah, ada beberapa pencinta tanaman justru lebih senang menanamnya dalam media pot. Hasilnya sama-sama cantik, yang penting Anda rajin merawatnya. Yang jelas, sebelum menentukan jenis tanaman yang Anda pilih untuk taman Anda, kenali dulu karakteristik tanaman tersebut. Dan, bagi Anda yang hanya memiliki sedikit waktu ka­ rena kesibukan kerja Anda, sebaiknya memilih jenis tanaman yang mudah dalam perawatannya seperti tanaman border ini. Tanpa harus melakukan perawatan khusus dan mengeluarkan kocek banyak, tanaman border dengan bunga-bunganya yang indah cukup cantik menghiasi taman rumah Anda. Tinggal, bagaimana kreasi Anda mengatur penempatannya. –Inten Indrawati

Aneka tanaman border berbunga

17


13 - 19 oktober 2014

13 - 19 oktober 2014

18

Maestro Dr. HC Nyoman Gunarsa:

“Filosofi SLKB adalah Way of Life Masyarakat Hindu” dewanya Begawan Kasiapa dan un­ tuk pengeleak­an dewanya Begawan Mercuguna), mengan­dung nilai-nilai pelestarian lingkungan dalam Tri Hita Karana (THK), seperti hubungan antara manusia dengan Tuhan, antara manusia dengan manusia, antara manusia dengan alam serta lingkun­ gannya seperti Tumpek Bubuh dan Tumpek Kandang, dll. Manfaat inilah yang harus dipertahankan bahkan dilestarikan dan kelak menjadi aset WBN dan WBD. Saya berjuang untuk itu. Mudah-mudahan ini tidak ter­ lambat. Saya mohon dukungannya,” jelas Nyoman Gunarsa rinci.

Mengapa seorang maestro Nyoman Gunarsa begitu gigih memperjuangkan Seni Lukis Klasik Bali (SLKB) menjadi aset warisan budaya nasional (WBN) bahkan warisan budaya dunia (WBD)? Jawabannya sederhana. Sang maestro ingin agar masyarakat luas memahami bahwa filosofi yang ter­ kandung dalam karya-karya SLKB bisa dijadikan tuntunan hidup (way of life), tidak saja bagi masyarakat Hindu di Bali dan Indonesia saja tetapi juga masyarakat dunia. “Filosofi yang terkandung dalam SLKB sungguh luar biasa. Mengandung makna mendasar bagi hidup dan kehidupan. Benar sekali jika filosofi dalam karya-karya SLKB bisa menjadi dan dijadikan tuntunan hidup (way of life) masyarakat dunia,” ujar sang maestro. Alasan lain mengapa sang maestro mengawali per­ juangan itu dari diri sendiri, tokoh seni sepanjang masa ini mengaku agar SLKB yang mengandung nilai filsafat Agama Hindu dan filsafat Rwa Bhinneda ini tidak lantas terlupakan/dilupakan. “Saya ingin SLKB menjadi milik WBN dan WBD, tentu­ nya ada alasan yang sangat mendasar. Ini sesuai dengan pertanyaan staf ahli Kemendikbud Prof. ­Dr. ­I Wayan Rai S, maupun dari Balai Pelestarian Nilai Budaya Prov. Bali, NTB, NTT tentang apa manfaat SLK Bali itu,” terang pejuang HAKI ini. Lebih jauh Nyoman Gunarsa memaparkan, manfaat SLKB tidak lain karena selain mengandung nilai-nilai filsafat Agama Hindu dan filsafat Rwa Bhinneda (dalam pewayangan diceritakan dalam film Mahabharata), juga mengandung nilai-nilai etika (moral) yang mengajarkan hal-hal yang tidak boleh/tidak baik dan yang boleh/baik untuk dilakukan. “SLKB juga mengandung ajaran estetika/keindahan, mempunyai aturan-aturan. Mengandung nilai mistik berupa gambar-gambar rerajahan (pengeleakan untuk pengobatan

NILAI EKONOMI DAN PENDIDIKAN Di era globalisasi saat ini, SLKB juga bisa menjadi panutan bagaimana masyarakat Timur dan Barat bisa bergaul sejajar dan mampu men­ junjung tinggi nilai etika dan moral masing-masing karena jati diri yang dimiliki. “Kita pun sanggup hidup dan bergaul dengan masyarakat mo­dern tetapi tidak meninggalkan jati diri kita sebagai orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai yang diwariskan leluhur, yang semuanya ada dalam filosofi SLKB,” tambah Nyoman Gunarsa. SLKB, lanjutnya, juga mengajar­kan kita memahami nilai-nilai astronomi/ perbintangan yang bisa “menahkodai” kapan waktunya bertani, kapan wak­ tunya melaut dan bahkan waktunya menikah. Filosofi ini bisa digambarkan berupa lukisan Palelintangan, Tika berupa lontar-lontar, dll. Tak hanya itu, SLKB juga filosofi yang memberikan “pe­ tunjuk” dalam berusaha/berbisnis (mengandung nilai-nilai ekonomi). SLKB sebagai sumber penciptaan telah mem­ berikan ide-ide kreatifitas seni modern dalam menunjang ekonomi kreatif, me­ngandung nilai filosofi kuliner yang mengembangkan cita rasa orang Bali yang ada kaitannya dengan darma agama serta mengandung nilai-nilai pendidi­ kan/edukatif lewat cerita-cerita yang dilukiskan (dongeng rakyat Men Tiwas dan Men Sugih, I Lutung dan Kambing, Cangak dan Yuyu, dll). SLKB mengandung nilai Nawa Guna (diistilahkan oleh Nyoman Gunarsa). SUMBER DARI SEGALA SUMBER SLKB telah menjadi cikal-bakal dan sumber dari segala sumber seni lukis Bali berikutnya yakni: 1.Mazhab Pita Maha Mazhab ini didasari nilai-nilai yang tinggi dari seni lukis klasik Bali, bertemu dengan teknik barat yang dibawa Walterspiece dan R. Bonnet di Ubud tahun 1931. Mazhab ini melahirkan pelukis-pelukis yang mumpuni antara lain, I Gusti Nyoman Lempad, IB Made Poleng, A Sobrat, Raka Turas, IB Made Kembeng, dan IB Gelgel (Kamasan). 2.Mazhab Batuan Atas arahan Margaret Mid, Juan Bello dan beberapa penulis barat yang bermukim di Batuan, telah memberi inspirasi kepada perupa-perupa lokal Batuan dan sekaligus mempromosikannya ke luar negeri. Lahirlah senimanseniman hebat seperti, IB Made Wija, Togog, Made Jata, Nyoman Rajin, dsb. 3.Mazhab Young Artist Atas inisiatif Arie Smit di Penestanan, anak-anak desa yang biasa bekerja di sawah, diajarkan ikut melukis dengan kemampuannya sendiri. Mereka disupport de­ngan alat-alat lukis kemudian karya-karyanya dijual. Dari pelukis-pelukis “alam” ini telah memunculkan perupa-perupa andal seperti Made Tagen, Cakra, Soki, dll. 4.Mazhab Akademis Setelah putra-putri Bali banyak mengenyam pen­didikan seni rupa akademis, di bawah kepemimpinan Nyoman

Gunarsa sebagai dosen ISI Yogyakarta, dihimpunlah ­generasi muda Bali yang kuliah di Yogya masuk dalam Sanggar Dewata Indonesia (SDI). Di SDI yang ruang lingkupnya nasional bahkan univer­ sal ini, Nyoman Gunarsa mengajak para mahasiswa untuk menggali nilai-nilai tradisi yang ada di bumi Indonesia sebagai sumber inspirasi penciptaan, salah satunya adalah sumber dari Seni Lukis Klasik Bali. Ini untuk mengisi dinamika perkembangan seni lukis Indonesia yang sedang gencar-gencarnya di­kumandangkan oleh Founding Father Bangsa Indonesia. Dari sini timbul­ lah karya-karya Nyoman Gunarsa dengan Periode Offering (Sesaji) 1970, kemudian Periode ­Aringgit 1980, Periode Tari (gerak dalam bidang), Periode Sintesa, Periode Moksa, Periode Sosial Religius. Dari ISI Yogyakarta yang tergabung dalam Sanggar De­ wata Indonesia ini, lahirlah perupa-perupa andal, antara lain Made Wianta, Nyoman Erawan, Gusti Nurata, Made Djirna, Made Budiana, Pande Gde Supada, dll. FESTIVAL SLKB INTERNASIONAL Greget sang maestro dalam upaya melestarikan SLKB su­ dah dibuktikan sejak lama. Perjuangannya sudah diwujudkan saat dirinya menggelar even akbar yakni Festival Seni Lukis Klasik Bali berskala internasional di museum milik­nya, belum lama ini. Festival ini tidak hanya dihadiri para seniman dan seniwati lokal di Bali dan Indonesia, ­namun juga dihadiri para seniman luar negeri di tujuh negara yang memiliki koleksi seni lukis klasik Bali kuno. Nyoman Gunarsa menegaskan, SLKB sudah dikagumi dunia sejak masyarakat Eropa mengenal dunia Timur abad XV. SLKB sendiri merupakan harta karun atau warisan bu­ daya bangsa yang tiada ternilai harganya, yang sudah tidak bisa lagi dikritik atau dikomentari karena sudah merupakan filosofi mati hidupnya orang Bali. Nyoman Gunarsa mengaku sengaja menggelar festival SLKB internasional tersebut untuk bisa seluas-luasnya mengundang dan menampilkan peserta-peserta dari dalam maupun dari luar negeri yang memiliki banyak karya SLKB kuno yang agung. “Hal ini dilakukan tidak lain untuk mem­ perlihatkan pada masyarakat Bali khususnya, Indonesia dan dunia kalau para leluhur asal Bali memiliki peradaban yang sangat tinggi dengan karya-karya agung berupa lukisan-lukisan klasik,” katanya. Selain itu, menurut sang Maestro, festival tersebut juga digelar sebagai langkah untuk membangkitkan kembali ket­ erpurukan SLKB khususnya gaya Kamasan dan daerah lainnya yang kesannya murahan, yang cuma untuk perlengkapan upacara keagamaan dan tersebar di pasar kelontong ataupun artshop-artshop lainnya di Bali. “Semua itu perlu diberi tempat yang proporsional karena jelas bersumber dari karya-karya adiluhung seni budaya Bali,” ingatnya. Festival mengundang dan menampilkan koleksi-koleksi SLKB kuno dari berbagai negara. Dengan menyan­dingkan karya seniman-seniman Kamasan maupun daerah lain yang masih hidup dan produktif, paling tidak, ada kontribusi positif terhadap perkembangan seni budaya Bali. “Festival ini punya visi dan misi menjadikan SLKB sebagai garda terdepan budaya bangsa dalam mengawal dan melestarikan seni budaya Bali dalam era global disamping berkontribusi dalam pembangu­ nan karakter bangsa,” sambung Nyoman Gunarsa. Ditandaskan sang maestro, buah karya SLKB bukan sekadar untuk kepentingan upacara ritual saja, tetapi ikut mengisi ruang-ruang bergengsi gedung-gedung pemerintah, rumah para pejabat, gedung konglomerat, dsb. “Bahkan sejajar dengan karya seni maestro-maestro dunia sekaliber Michael Angelo, Leonardo Da Vinci, Pablo Picasso, Salvador Dali, Affandi, Hendra, Sudjoyono, dll,” ungkap maestro Nyoman Gunarsa. Pribadi unik dan sedikit “gila” dari sang maestro mendapat pujian dan kesan tersendiri dari Prof. Dr. M. Dwi Marianto yang dipercaya Nyoman Gunarsa sebagai editor bukunya yang berjudul “Dari Seniman sampai Presiden-Kata Mereka tentang Nyoman Gunarsa”. Dalam prolognya, sang editor menyebutkan jika Nyoman Gunarsa mempunyai visi politik berkesenian, sosok berenergi taksu, ikonografi Bali ‘adonan’ lokal-universal, sebagai guru dan motivator, zigzag seni dan spirit, ekspresi universal dan jiwa Bali, martir hak ciptamelawan mafia hukum. “Pribadinya cukup unik dan sedikit ‘gila’ apalagi saat berekspresi,” kesan Dwi Marianto. –ari

Life

Story

Cinta Lama Bersemi Kembali Setelah lima tahun pergi tanpa pamit, Meisya (27), bukan nama sebenarnya, akhirnya kembali ke kampung halaman­nya di Pulau Sumbawa. Malam itu, ketika kapal penumpang Tilongkabila dari Sulawesi bersandar di pelabuhan, Meisya langsung disambut isak tangis ibundanya yang menanti kedatangannya sejak pagi. Sejak pergi meninggalkan kampung halamannya, inilah kali per­tamanya Meisya pulang.

K

isah kepergian Meisya se­ sungguhnya sempat mem­ buat ibundanya meradang. Ia tiba-tiba saja menghilang dari rumah dan kemudian diketahui ia telah menikah di Sulawesi dengan seorang pemuda yang baru dikenalnya. Sejak awal berkenalan dengan pemuda itu, sebenar­ nya ibunda Meisya sudah tidak merestui hubungan mereka. “Orangnya kasar dan tidak sopan,” kata ibunda Meisya. Sejak Meisya pergi, ibundanya sangat merindukannya, namun ia tidak berani pu­ lang. Saat kepulangannya ini, akhirnya se­ mua baru terungkap, bahwa kepergiannya itu tidak sepenuhnya ia inginkan. Meisya merasa terjebak dan tidak bisa menolak ketika akhirnya pemuda itu membawanya ke Sulawesi. Hari itu, menjelang sore, Meisya pamit pada ibunya untuk jalan-jalan ke kota yang jaraknya sekitar dua jam perjalanan dari kampung halamannya. Ia pergi bersama tiga orang kawannya, dua perempuan dan satu lagi laki-laki. Mereka sesungguhnya telah membuat janji perjalanan ke kota itu sekalian untuk melihat kapal Tilongkabila yang akan tiba di pelabuhan malam hari. Kedatangan kapal besar di sini memang kerap menjadikan pelabuhan sebagai tem­ pat bagi masyarakat untuk melihat suasana bongkar muat tersebut. Hari itulah, mereka berempat sempat naik berjalan-jalan di atas kapal. Entah apa yang terjadi, menurut Meisya, tiba-tiba tiga orang kawannya itu menghilang di

kerumunan penumpang yang naik turun. Ia sendiri dan tiba-tiba pemuda yang baru di­ pacarinya itu ada di dekatnya. Pemuda itu menunjukkan dua tiket yang akan mem­ bawa mereka ke Sulawesi. Meisya mengaku sempat ke­bingungan menghadapi situasi itu sampai akhirnya pengumuman agar selain penumpang diminta untuk turun karena kapal 15 menit lagi akan melanjutkan per­ jalanan. Sauh diangkat, kapal pun mela­ ju. Hanya dengan pakaian di badan, Meisya pergi bersama pemuda yang dicintainya itu meski sebenarnya be­ rat meninggalkan keluar­ ganya dengan cara seperti itu. Sepanjang perjalanan Meisya dibujuk untuk mau menikah dengan pemuda itu. Ia memang tidak menangis karena separuh hatinya setuju pergi dengan pe­ muda itu meski separuh lagi ia tidak menyukai pergi dengan cara seperti itu. TAK BOLEH BERDANDAN Sadar ibunya pasti akan kebingun­ gan mencarinya, di atas kapal, Meisya

Pertemuan yang sering itu membuat benih-benih cinta lama bersemi kembali. Perhatian mantan kekasihnya itu membuat Meisya mabuk kepayang. Dalam waktu beberapa bulan, tubuhnya sudah terlihat berisi dan segar, ia kembali ceria.

mencoba menghubungi ibunya. Dalam kondisi sinyal yang putus-putus, Meisya terbata-bata memberitahukan ibunya bahwa ia akan menikah di Sulawesi. Entah bagaimana cara si pemuda, konon keduanya menikah dengan wali hakim. Sejak itulah ibunya menanti kabar yang tak kunjung datang. Hingga akhirnya ia menemukan putri pulang sendirian dalam luka psikis dan badan akibat

7

kekerasan yang dilakukan suaminya. Tubuhnya kurus kering dan telihat lemah. Meisya rupanya tengah mengurus perceraiannya karena tidak lagi tahan dengan suaminya yang kasar. Selain itu, ia tidak diperbolehkan berdandan karena suami yang terlalu cemburu. Banyak hal lain yang menjadi kepedihan bagi Meisya sehingga ia memutuskan lari dari rumah dan kembali ke pelukan ibundanya. Di kampung halamannya itulah, Meisya bertemu kembali dengan kekasih yang saat ia tinggalkan belum terucap kata putus. Kekasihnya itu telah memiliki istri dan seorang anak. Rupanya kembalinya Meisya sampai ke telinga mantan kekasihnya itu yang kemudian datang ke rumahnya untuk bertemu. Rasa malu sempat muncul di hatinya manakala mantan kekasihnya itu datang menjenguknya. Namun, tidak sekali saja mantan kekasihnya itu menjenguk melainkan mulai sering bertandang ke rumahnya. Kebetulan sekali, saat me­ reka pacaran ibunda Meisya menyetujui hubung­an mereka. Pertemuan yang sering itu membuat benih-benih cinta lama bersemi kembali. Perhatian mantan kekasihnya itu mem­ buat Meisya mabuk kepayang. Dalam waktu beberapa bulan, tubuhnya sudah terlihat berisi dan segar, ia kembali ceria. Mantan kekasihnya ini memanjakannya dengan berbagai makanan dan juga barang-barang kebutuhannya. Namun sayang, Meisya lupa jika mantan kekasihnya itu telah berkeluarga. Mereka menjalin hubungan ter­ larang dan berencana hendak me­ nikah. Meisya sadar jika dirinya adalah orang ketiga sehingga ia meminta mantan kekasihnya itu tidak menceraikan istrinya jika ingin menikahinya. “Dia rela menjadi istri kedua,” kata kekasih Meisya yang mengaku sempat ke­ cewa sekali ketika Meisya tiba-tiba meninggalkannya. Untuk mencapai jenjang pernikahan, memang tidak gampang bagi Meisya meng­ ingat kekasihnya itu memiliki keluarga. “Sementara biar hubungan berjalan seperti ini saja,” kata kekasih Meisya yang juga sudah berniat menikahi Meisya sebagai isti kedua, jika telah tiba waktunya. Kebetulan mereka masih menanti sidang cerai Meisya berakhir. Meisya sadar kisah hidupnya ini, terutama yang terakhir, tidak patut dicontoh. Namun inilah kisah yang tidak bisa lepas dari perjalanan hidupnya. Entah apa yang terjadi pada dirinya ke depan, Meisya mengaku telah pasrah. -Naniek I. Taufan


Woman on Top

6

13 - 19 oktober 2014

Asri Welas Kursus 1 Jam Bersama Bu Agung “Ini jadinya.Terima kasih guruku Bu Agung,ilmunya dan nilai-nilai budaya yang menakjubkan”. Demikian status Asri Welas mengomentari foto dirinya ber­busana pengantin Bali didampingi Bu Agung, yang ia unggah dalam instagram-nya.

A

ktris kocak dan desainer yang bernama asli Asri Pramawati ini, memang sejak kecil sudah suka menari dan mencintai seni budaya Indo­ nesia.Tak heran jika, Rabu (1/10), ia terbang ke Bali khusus untukbelajar tata rias dan busana pengantin Bali di Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Agung, pimpi­ nan Dra. AA Ayu Ketut Agung, M.M. “Dia hanya sempat praktik belajar berbusana dan memasang bunga satu jam. Selebihnya berkonsultasi di mobil sepanjang perjalanandari Kreneng-Peguyangan-Bandara Ngurah Rai, karena dia saya ajak menghadiri upacara ngaben kerabat saya di Peguyan­ gan,” ujar Bu Agung. Pemeran Welas dalam sitkom “Suami-Suami Takut Istri” ini mengaku kagumdengan sosok Bu Agung usai melihat­ tayangan profilnya dalam program “She Can You Can” di salah satu televisi nasional. Ia pun tertarik dan memburu nomor telepon Bu Agung, dan akhirnya datang ke Bali untuk berguru langsung dengan pakar dan praktisi tata rias dan busana adat Bali ini.Karena jadwal kesibukannya yang begitu padat, membuatnya tak bisa berlama-lama tinggal di Bali. Sore itu juga, Asri Welas kembali ke Jakarta, dan berjanji akan kembali lagi belajar tata rias dan busana adat Bali ke Bu Agung. BANYAK DIMINATI Tata rias dan busana adat Bali yang termasuk bagian dari budaya Bali ini memang unik. Di tiap kabupaten/kota di Bali saja, memiliki ciri khas masing-masing. Ini yang menjadikan Bali kaya akan tradisi dan budaya. Ini pula yang lantas men­ jadikanmasyarakat luar Bali (domestik) bahkanmancanegara mengagumi Bali. Sebagai wanita Bali, Bu Agung berkomitmen tetap men­ jaga dan melestarikan tata rias dan busana adat Bali.Karena itu pula, secara berkesinambungan ia mengadakanroadshow

hingga kedaerah-daerah, bekerjasama dengan instansi pemerintah, swasta, dan lembaga lainnya, memberikan pelatihantata rias gratis untuk diri sendiri, membuat dan memasang sanggul Bali, tengkuluk lelunakan,dan menyosialisasikan pemakaian busana adat Bali yang baik dan benar. LKP Agung yang ia pimpin juga membuka kursus reguler dengan harga diskon. Kursus dan pelatihan ini dibimbing langsung Bu Agung dan instruktur lain­ nya yang kompeten di bidangnya.Mereka yang kursus, cukup membayar satu kali, kursus sampai bisa.-ten

Diskon 50% Kursus Tata Rias di LKP Agung Hanya Rp 4,5 Juta

n 50%

Kursus Sampai Bisa dan Bersertifikat Disko Tata kecantikan kulit (perawatan muka, make up wajah, perawatan kaki dan tangan, perawatan tubuh) senilai Rp 3 juta Rp 1,5 juta Tata Kecantikan Rambut (potong, kriting, blow, set, sanggul, creambath, pelurusan, dan cat rambut) senilai Rp 3 juta Rp 1,5 juta Tata Rias pengantin (payas nista, madya, utama, modifikasi, tengkuluk lelunakan) senilai Rp 3 juta Rp 1,5 juta Total biaya kursus Rp 9 juta Hanya Rp 4,5 juta *Disediakan beasiswa kursus gratis dengan syarat dan ketentuan berlaku Sekretariat LKP Agung: Jalan Anggrek No. 12 Kreneng, Denpasar. Tlp. 0361-233850, 231985, faks. 0361 247153. Cabang Tohpati, Jalan WR. ­Supratman No. 303 A, Tohpati, Denpasar. Email: lkp_agung@yahoo.com. website: www.salonagung.com.

Sudut Pandang

13 - 19 oktober 2014

19

Histeria Penggemar Mahabarata Demam Mahabharata melanda masyarakat Indonesia, khususnya Bali. Kehebohan terjadi ketika tujuh pemeran Mahabarata melakukan kegiatan di Bali, Minggu (5/10) dari pagi hingga malam hari.

P

agi hari, mulai pu­ kul 08.00, Shaheer Sheikh (Arjuna), Aham Sharma (Karna), Rohit Bhara­dwaj (Yudistira), Saurav Gurjar (Bima), Arpit Ranka (Duryodana), Vin Rana (Nakula), dan Lavanya Bhardwaj (Sadewa) melakukan jumpa pers di Hotel Westin, Nusa Dua (5/10). Mereka tampil dengan busana kasual yang membuat mereka tampil dengan wajah aslinya. Momen ini dimanfaatkan peserta jumpa pers untuk foto bersama ke­ tujuh orang ini. Acara makin heboh ketika satu-persatu pemain Mahab­ harata ini mengucapkan salam dalam bahasa Indonesia. “Halo, selamat pagi Indonesia. Selamat pagi Bali”. Kalimat itu terlontar mulai dari Arpit Ranka. Diantara ketujuh pemain Ma­ habharata, Vin Rana juga menyapa dengan ucapan “Om Swastiastu”. Salam dari pria yang mengawali kariernya sebagai model ini diberi apluas penonton. Kepada media, ketujuh pria tam­ pan ini mengaku ini adalah kunjungan

mereka yang pertama ke Bali. Me­ reka sangat kagum dengan keindahan panorama dan budaya Bali. Mereka yakin, suatu saat, pasti kembali ke Bali dan menjelajahi lagi wilayah-wilayah lain yang ada di Pulau Dewata. Walaupun hanya sebentar, momen berharga itu tak disia-siakan salah seorang awak media, Dewa Wiguna. Ia mengabadikan dirinya bersama dua idolanya Shaheer Sheikh dan Vin Rana. Foto itu lalu diunggah di media sosial. Betapa kagetnya dia, karena kesokan harinya, ia melihat foto tersebut juga diunggah Vin Rana di twitternya dengan judul Exclucive in Indonesia. “Oh Amazing,” ucap Wiguna sembari terbelalak. LELANG KAUS Dari Westin, para pemeran Ma­ habharata ini menuju Konsulat India untuk bertemu Konjen India dan Gubernur Bali. Selanjutnya mereka menggelar meet & greet di Cellular World Gatot Subroto. Acara meet & greet diawali lelang kaus. Bagi yang menawar tertinggi

tkh/ast

Jumpa pers di Hotel Westin, Nusa Dua

diberi kesempatan untuk menyerah­ kan kaus kepada pemeran Mahab­ harata dan foto bersama. Lelang tertinggi senilai Rp 5 juta untuk kaus Arjuna dan Karna. Suasana makin heboh ketika ke­ tujuh orang ini datang sekitar pukul 10.15. Peserta yang didominasi kaum wanita terus berteriak histeris. Mereka tak sabar bertemu langsung idolanya. Hampir satu jam menunggu, akhirnya ketujuh pria ini keluar dengan pakaian seperti yang mereka kenakan di film.

Sarat Ajaran Budi Pekerti Pawai arak-arakan artis Mahabharata

Jumpa penggemar di Cellular World Gatot Subroto

Menurut Psikolog Listiyani Dewi Hartika, Ketua Program Studi Psikologi Universitas Dyana Pura Denpasar, film Mahabharata memberi nilai positif karena memperkenalkan legenda masyarakat Hindu dengan banyak filosofi kehidupan. Namun, karena epic tersebut banyak berkisah tentang konflik, perang dan politik, penonton anak-anak sebaiknya didampingi para orangtuanya. Banyak dari mereka mengidolakan para pemain­ nya yang memang sebagian besar berwajah tampan dan cantik. Apalagi, anak-anak yang memasuki masa puber, mereka bisa saja berfantasi sendiri. Karena itu, para orangtua hendaknya memberikan pendampingan dan mengarahkan mereka intisari dari cerita tersebut. Dengan karakter yang kuat dari pemainnya, tentu saja, membuat penonton menjadi sangat terkesima dan menghayati kisah film tersebut. Orangtua perlu memberi arahan karena bagaimana pun film tersebut film dewasa. Memang film tersebut intinya menga­ jarkan manusia, berbuat baik, sabar, hasilnya selalu baik dan memperoleh kemenangan, sementara, kejahatan pasti kalah. Dra. Ni Wayan Karti, salah seorang pengurus Bidang Agama WHDI Bali mengakui kehebohan masyarakat terkait Mahabharata. Jika kita sempat

tkh/wah

menonton dan mengikuti jalan ceritanya, akhirnya ingin terus mengikutinya. Sebab ceritanya erat kaitannya dengan filosofi agama Hindu. Kalaupun anak-anak sangat menggemarinya, bahkan mereka bukan hanya hapal jalan cerita drama kolosal ini tapi juga hapal nama sebenarnya dari hampir seluruh pemeran Mahabarata. Mungkin, ini karena ceritanya memang menarik dan saat ini lagi naik daun dan menjadi bahan pembicaraan dimanamana. “Anak–anak biasanya tidak mau kalah dengan teman-temannya yang ramai bicara tentang Mahabarata. Disamping karena pemainnya yang cantik dan ganteng pastilah mencuri perhatian,” ujar Karti. Ia juga mengatakan, untuk anakanak yang menyukai cerita pewayang­ an ini bagus, sebab sarat dengan ajaran budi pekerti. Anak-anak jadi lebih jelas tahu gambaran tentang hal yang baik dan buruk . Sayangnya, saat tayang waktunya agak larut malam. Namun, sekarang mereka cukup nonton DVD-nya saja. –Wirati Astiti/Sri Ardhini

Peserta pun meringsek ke bibir panggung. “We love Bali,” ujar Vin Rana menyapa penggemarnya. Sua­ sana makin heboh ketika Shaheer Sheikh yang berbicara. Ia memi­ liki penggemar terbanyak. Kepada penggemarnya, pemeran Arjuna ini mengaku setelah menyelesaikan syuting Mahabharata, mereka ingin berlibur. Salah satu agendanya ber­ libur di Bali. “Antusiasme masyarakat terhadap film Mahabharata sangat luar biasa,” ujar Malika Jiwaji, Retail Manager Cellular World yang me­ nyempatkan diri berfoto bersama pemeran Mahabharata. Usai meet & greet, ketujuhnya dibawa ke mobil jip terbuka untuk menuju Gallery Kohinoor lalu makan siang di Sitara Indian Restaurant. Un­ tuk penyambutan, Sonia Kaur, pemilik Sitara Indian Restaurant memakaikan Aarti dengan Sindoor yang dioleskan di kening. Ini ritual Hindu India yang merupakan ucapan selamat datang di Bali serta berkat agar selama mereka di Bali baik-baik saja. “Kami menyiap­ kan menu India dengan cita rasanya asli dan mayoritas vegetarian. Ada juga

tkh/wah

berbagai variasi salad,” ujar Sonia. Setelah beberapa hari di Indonesia dan sampai di Bali, kemudian mencicipi hidangan yang disediakan oleh Sitara, komentar para pemeran Mahabharata ini, “wow ini persis seperti di India”. Mereka menyampaikan hidangan yang dinikmatinya itu sangat sesuai dengan keinginan mereka. Saurav Gurjar mengaku kagum atas kebersihan atau higienis yang sangat dijaga oleh Sitara. “Meski mereka hanya singgah untuk makan siang ternyata sangat perhatian den­ gan lingkungan yang ada di restoran kami,” ujar Sonia . Sonia yang terlihat akrab berbin­ cang dalam bahasa Hindi dan Inggris ini juga mengatakan, semua pemain sangat supel dan humoris . Ramainya para penggemar memadati jalan-jalan yang akan dilewati cukup menyulitkan mereka melangkah. “Untuk yang tidak makan siang bersama sudah juga dibungkuskan makanan untuk dibawakan ke hotel tempat mereka istirahat,:” kata Sonia. –Wirati Astiti/Ngurah Budi/ Sri Ardhini


20

Nine

13 - 19 Oktober 2014

Lale Kamarukmin Mardiati

Belajar sambil Bekerja Sudah dua minggu terakhir Lale Kamarukmin Mardiati, tidak bisa mengangkat beban berat dengan tangan kanannya akibat kecelakaan sepeda motor yang dialaminya ketika tengah dalam perjalanan melakukan peliputan. Lale yang terbiasa bekerja ini menjadi gelisah karenanya.

K

egelisahan itu memuncak ketika reporter senior LPP RRI Mataram ini tidak bisa melakukan pekerja­ annya secara maksimal dalam peliputan. Ia juga tidak bisa melaporkan berita-berita yang terjadi di Nusa Tenggara Barat. Suaranya khas dalam laporanlaporan langsung di lapangan yang disiarkan RRI Mataram, sempat tidak terdengar selama lebih kurang dua minggu itu. Kecinta­annya pada dunia jurnalistik yang telah digelutinya selama 30 tahun, membawanya menjadi

membuatnya jumawa melainkan menyikapi hal itu dengan rendah hati. Siapa sangka, wartawan senior di NTB ini rupanya pernah mengundurkan diri dari pekerjaannya karena dulu ia merasa tidak sanggup menjalankan profesi yang berat baginya itu. Di awal kariernya diterima sebagai honorer seksi pemberitaan di LPP RRI Mataram tahun 1984, sebenarnya Lale tidak mengerti bidang tugas yang dibebankan kepadanya. Sesungguhnya pula ia tidak terlalu paham menjadi seorang reporter. “Pilihan saya dulu waktu ujian masuk di RRi itu, ya

Lale Kamarukmin Mardiati (jilbab putih), saat melakukan wawancara dengan Ketua KPK, Abraham Samad, di Mataram

seorang wartawan yang memiliki konsistensi dalam bekerja. Meski telah lebih dari seperempat abad berkarir, Lale masih terlihat bersahaja. Tidak ada kesan berlebih­ an dari dirinya. Sehari-hari perempuan kelahir­ an, Bonjeruk, Lombok Tengah, 31 Desember 1963 ini masih sangat gesit mengendarai sepeda motor untuk mengejar satu sumber ke sumber berita lainnya di Mataram. Tidak tampak lelah ia bekerja meski usianya telah lebih dari setengah abad. Lale bahkan masih terlihat energik dan bersemangat berada di antara para wartawan muda dalam peliputan-peliputan berita. Tidak ada kesan gengsi apalagi merasa sebagai wartawan senior yang diperlihatkannya dari pada wartawan muda lainnya. Ia justru sangat akrab dengan para pewarta bahkan ada yang masih sangat baru dalam dunia jurnalistik di Mataram. Pembawaannya santai, ia bergaul akrab layaknya sahabat dan rekan kerja. Lale yang periang memandang mereka semua sebagai rekan seprofesi yang juga harus dihormati. Memiliki pengalaman panjang sebagai wartawan dengan sahabatsahabat pejabat yang banyak, tidak

operator,” ungkap Lale yang kala SMA di Praya mengambil jurusan IPA. Pilihan yang didasari keinginan untuk bekerja hanya bersandar pada latar belakang pendidikan yang dimiliki tersebut. Yang terpikirkan olehnya kala itu hanyalah bisa be­ kerja dan tidak menganggur. Namun, ketika masuk, baru­ lah Lale mengetahui bahwa ia akan menjadi seorang reporter, profesi yang sama sekali tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Apalagi ia mengaku ketika sekolah dulu tidak hobi dengan pelajaran Bahasa Indonesia. Pelajaran yang akhirnya menjadi dasar baginya dalam menulis dan menyampaikan siaran-siarang langsung di lapangan. Saat masuk itulah ia baru mulai mengenal pekerjaannya yang membuatnya sedikit kagok dan bingung menjalaninya. UJIAN LAPANGAN Dalam masa honorer selama dua tahun itulah, ia belajar menjadi seorang wartawan. Didikan profesi masa dulu yang terbilang “keras” telah menempanya untuk memulai karier itu dari bawah. Ia tidak langsung ditugaskan di pos-pos sumber yang banyak

menawarkan berita utama seperti di kantor-kantor Pemerintah Provinsi NTB, instansi vertikal atau dinasdinas terkait, melainkan ia ditugaskan turun ke kantorkantor desa dan kelurahan juga kantor kecamatan untuk melakukan peliput­an. Pulangnya ia harus menulis berita yang akan disiarkan. “Berita itu tidak otomatis disiarkan. Jika bagus baru disiarkan, namun jika tidak bagus, ya…tidak disiarkan,” ungkapnya. Kare­ nanya, lebih banyak berita yang dihasilkannya itu tidak disiarkan ketimbang yang disiarkan. Ia sempat merasa kecewa. Lale merasa tertantang untuk menghasilkan berita yang bermutu agar liputannya itu bisa disiarkan. Ia berusaha keras untuk bisa mewujudkannya. Namun, pada suatu ketika ia merasa “tidak mampu” meneruskan profesi ini. “Ujian lapangannya menjadi seorang wartawan dulu berat sekali rasanya,” ujarnya. Belum lagi kala itu ia masih mengetik menggunakan mesin ketik manual yang berkali-kali salah ketik, berkali-kali pula harus mengganti kertas yang disengaja disobek menjadi dua bagian. Lale yang masih honorer itu hampir putus asa dan akhirnya memutuskan keluar dari RRI. Ia merasa lebih baik keluar dari pada “menanggung beban” kerja yang sulit diwujudkannya itu. Selama seminggu “menganggur” itulah menjadi titik balik bagi Lale mencintai profesi wartawan. Ia rindu mendengar suaranya di radio ketika menyampaikan petikan berita dari rekaman wawancaranya yang disiarkan. Ia pun akhirnya memikirkan ulang keputusannya untuk keluar. Lale kembali menjadi reporter yang kemudiang diangkat sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil tahun 1986 dengan gaji Rp 15.000. Sejak itulah Lale menekuni karir sebagai reporter RRI Mataram yang akhirnya menjadi profesi yang sangat dicintainya. Ia mulai melakukan peliputan-peliputan di kantor-kantor pemerintah dalam jenjang yang lebih tinggi dan juga di DPRD Provinsi NTB. Cukup lama bahkan sampai sekarang ia masih aktif meliput di Kantor Pemerintah Provinsi NTB dan DPRD NTB. Hal inilah yang membuatnya menjadi salah seorang wartawan yang sangat dikenal oleh pejabat-pejabat daerah ini.

Lale Kamarukmin Mardiati

Tidak banyak wartawan senior di Mataram yang mampu bertahan seperti dirinya hingga 30 tahun lamanya. Rekan wartawan perempuan seangkatan dengannya yang masih aktif hingga kini hanya tinggal Raka Akriyani, Redpel Harian Suara NTB. Meski tidak memiliki basic sebagai seorang wartawan, Lale belajar sambil bekerja. “Semua pakai ilmu pengalaman dan banyak bertanya pada senior serta rekan seprofesi,” ujar Lale yang banyak mendapat pelajaran dari semua narasumber yang diwawancarai­ nya itu. Ia belajar menjadi wartawan benar-benar dari nol, dari tanpa pengetahu­an sedikit pun tentang dunia jurnalistik. Kegigih­ annya belajar, membawanya mam­pu bertahan menjalani profesi ini hingga ­b erpuluh-puluh tahun lamanya. Kiprahnya yang cukup panjang sebagai wartawan di Mataram, telah mengantarnya “mengawal” pemberitaan hingga lima gubernur di Nusa Tenggara Barat sejak masa kepemimpinan Gatot Suherman, Warsito, Harun Alrasyid, HL. Serinata hingga kini DR.

TGH. M. Zainul Majdi. Dari menenteng tape recorder berukuran besar tempo dulu hingga kini ia memakai rekaman digital berukuran kecil, Lale dengan setia mengarahkan alat rekam itu mendekat ke arah suara nara sumbernya. Sebagai perempuan, Lale tidak mengalami kesulitan menjalankan profesinya ini. Dua anaknya lahir saat ia men­­jadi wartawan yang tengah aktif. Dalam kondisi hamil sekali pun, Lale tetap menjalankan tugasnya seperti biasa. Kehamilan tidak membuat langkahnya tertahan untuk melakukan peliputan meski harus ke luar Mataram. “Rasanya biasa saja, tidak ada hambatan sedikit pun untuk bekerja semasa hamil,” ujar ibu dari Lalu Yusuf Hadi Nuansa Pelandarum (25), yang kini menjadi seorang polisi berpangkat Brigadir Satu dan Lale Tanauran Nuansa Tunjung Buih, S.H., (22). Lale terbilang ibu yang sukses dalam karier, sukses pula mengantar kedua anaknya untuk meraih pendidikan dan pekerjaan yang layak. Di damping suami, Lalu Januadi, S.I.P. (48) dan kedua anaknya yang sangat mendukung, karier Lale berjalan mulus. Meski kerap meninggalkan belahan jiwanya ini untuk melakukan peliputan keli­ ling hingga ke luar daerah ketika mengikuti kunjungan kerja DPRD NTB atau pun Gubernur NTB, Lale selalu membangun komunikasi melalui telepon dengan mereka. “Dukungan dari mereka luar biasa untuk saya,” katanya. Karena itulah Lale mulus menjalankan profesinya hingga kini. Dan karena itu pula, pemirsa RRI Mataram masih akan tetap men­ dengar suara Lale dalam voice report yang disiarkan dalam paket buletin berita, pagi pukul 07.30 wita dan sore pukul 16.30 wita dan juga bisa mendengarnya secara langsung melaporkan dari berbagai lokasi liputan mengudara dengan nama Min Mardiati. -Naniek I. Taufan

Lale bersama suami dan kedua anaknya. Mereka yang selama ini mendukung karirnya dalam suka dan duka

13 - 19 Oktober 2014

Inspirasi

5

Nopi Herlina

Awalnya Enam Sepatu Siapa yang tidak ingin sukses berbisnis di usia muda? Pasti semua

ingin. Tapi bagaimana caranya? Mungkin apa yang dilakukan Nopi Herlina bisa menjadi inspirasi bagi orang-orang muda yang memiliki minat pada bisnis namun terbatas dalam hal permodalan. dengan harga jual segitu, aku tidak rugi, karena sudah bisa mengcover ongkos produksi, pengiriman baran, bahkan tiket aku ke Kanada P-P dan kehidup­ an selama di sana,” ungkapnya bersemangat. Hasil menggembirakan di membuat Nopi optimis dirinya bisa memasuki pasar negeri itu. Sayangnya, keinginannya membuka toko di sana, tidak semudah dibayangkan. “Aku kepengen punya store di sana, tapi ternyata rule berdagang di sana complicated sekali. Jadi ya pelan-pelan saja. Untungnya aku punya partner di Kreasi sepatu Novi yang sudah merambah hingga ke mancanegara

N

opi yang kini ber­ usia 26 tahun, baru serius menekuni bisnis sepatu dua tahun lalu dan kini omzetnya sudah mencapai Rp100-120 juta per bulan. Yang menariknya, alumni Universitas Bandung jurusan Public Relation ini, mengawali bisnisnya tidak dengan modal besar, melainkan dari uang jajan yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit. “Ya, boleh dibilang tanpa modal ‘bulat’. Jadi modalnya dari tabungan uang jajan. Misalnya, uang terkumpul Rp1 juta, saya beli bahan. Nanti uang terkumpul lagi beli peralatan juga untuk bayar pekerja bengkel. Semuanya dicicil. Karena dana terbatas, saya tidak bikin sepatu dalam jumlah banyak. Pokoknya, dalam enam bulan pertama, saya tidak punya apa-apa, semuanya saya curahkan untuk beli bahan, bayar pekerja, nyicil beli peralatan, dll,” jelas Nopi. Untuk memasarkan produknya, Nopi memilih berjualan secara online. Ada banyak keuntungan berjualan secara online, selain marketnya lebih luas, modal awal yang dibutuhkan pun tidak besar. Apa­ lagi di dunia online terdapat ‘toko serba ada’ dimana para UMKM bisa mendaftarkan barangnya untuk dijual di toko tersebut secara gratis. Jika produk sudah mulai dikenal, bisa juga membangun ‘toko online’ sendiri. “Sekarang aku bisa menjual rata-rata antara 15-30 pieces per hari atau 600-700 pieces per bulan lewat online. Jumlah itu belum termasuk yang aku titip disejumlah toko, yang rata-rata tingkat keterjualannya mencapai 200-300 pieces. Saat ini omzet aku rata-rata sekitar Rp100-120 juta per bulan,” ungkap gadis

kelahiran Bandung 1988 ini. Nopi mengaku, memfokuskan penjualan sepatunya di kota sen­diri (Bandung). Ini lantaran persaingan industri sepatu di Bandung sangat ketat. Sebagaimana diketahui, Bandung Jawa Barat, dikenal se­b agai kota dimana industry kre­atif berkembang sangat pesat. “Tahu sendiri namanya Bandung, barang-barang seperti produk aku banyak sekali di sini. Persaingan sangat ketat. Jadi aku pikir lebih baik mencoba memasarkannya di luar Bandung. Jadi pelan-pelan sambil membuka jaringan aku berusaha menembus kota-kota di luar Bandung, seperti Jakarta, Bali, Balikpapan, Surabaya, Makasar, dll. Ternyata justru lebih cepat tumbuh, produk lebih cepat terserap pasar,” lanjutnya. Bukan hanya di dalam negeri, Nopi juga berusaha menembus pasar di luar negeri. Meski tidak dalam jumlah besar, ia telah mengekspor produknya ke negeri tetangga seperti Singapura, Malaysia, Brunei. Secara tak terduga, seorang tantenya yang tinggal di Kanada menawarkan kesempatan berpameran di Negara tersebut. “Peluang itu langsung aku ambil, sekalian tes pasar. Namanya tes pasar, aku nggak bawa banyak barang, hanya 120 pieces. Luar biasa, responnya bagus banget. Semua barang aku sold out. Malah ada yang datang mau beli tapi barang sudah habis. Mereka memuji produk aku unik dan nyaman dipakai. Karena masih tes pasar aku jual dengan harga khusus antara 40-60 dolar. Mereka bilang, harga produk aku terlalu murah, harusnya 80 dolar AS. Aku bilang tidak apa-apa ka­rena ini masih harga khusus, masih perkenalan produk. Toh,

Nopi Herlina

sana, dia yang akan membantu aku memasarkan di sana,” tutur gadis enerjik ini. Hal lain yang didapatnya selama di Kanada adalah inspirasi membuat sepatu untuk winter dan mereka yang berkebutuhan khusus. “Aku terinspirasi untuk membuat boot khusus winter, dan

sepatu untuk mereka yang bermasalah pada kakinya. Ya semacam orthopedic shoes. Aku lihat banyak yang memerlukannya,” jelas Nopi yang sedang merencanakan akan melakukan ekspansi ke Amerika, Dubai dan Jepang. “As soon as possible,” ucap pemilik merek ‘Nokha9 Footwear’, ini.

Pekerja Sejahtera Hasil Maksimal Bisnis memang telah menjadi passion Nopi sejak remaja. Bisa jadi itu karena pengaruh jiwa berdagang keluarganya, yang hampir semua bergelut di bidang bisnis, baik itu orangtua maupun kakak-kakaknya. Ketika kuliah, meski masih taraf iseng, Nopi pun mulai berjualan sepatu hasil karya temannya. “Aku terjun ke bisnis karena memang suka. Mungkin karena ‘darah’ keluarga ya, orangtua maupun kakak-kakak semuanya terjun ke bisnis. Kebetulan saat kuliah, ada teman yang berbisnis sepatu kreasi sendiri. Nah, isengiseng aku bantu memasarkan,” tutur Nopi. Hasilnya lumayan, bisa menambah uang sakunya. Tak disadari ia menjadi makin asyik seiring dengan keberhasilannya menjual cukup banyak sepatu. ‘Pundi-pundi’ makin tebal membuatnya makin semangat berjualan. Ia pun mulai berpikir punya brand sendiri. “Aku minta izin pada teman aku untuk punya brand sendiri. Maksudnya, aku beli produk dia lalu pasang brand sendiri,” kata Nopi yang dulunya memakai merek ‘Neng Neng Shoes’. “Suatu ketika ada konsumen yang bertanya sepatu pria. Tapi teman aku nggak punya. Aku mikir, kenapa nggak produksi sendiri aja, jadi bisa juga membuat sepatu cowok. Jadi itulah awal mula aku terjun ke produksi sepatu, bukan hanya reseller,” tambahnya. Nopi mengawali produksi sepatunya dengan modal relatif kecil, hanya hasil memasarkan sepatu teman plus tabungan uang jajan. Bisnis kecil-kecilan, kata

Nopi. Awalnya, membuat 6-10 pasang sepatu kemudian dijual secara online. “Aku desain sendiri. Ilmu desain aku peroleh secara otodidak. Sampai sekarang pun, semua desain sepatu aku yang buat,” ucapnya. Usahanya tak sia-sia, desain sepatunya digemari para peminat belanja online. Orderan pun meng­alir deras. Salah satu keunik­ an sepatu kreasi Nopi selain fashionable juga kekuatan pada motifnya. “Iya motif itu berasal dari kain. Jadi sepatu ini dicover kain yang telah diberi cairan khusus untuk sepatu. Kemudian diberi pelapis. Untuk mendapatkan kain-kain dengan motif-motif menarik, tidak mudah. Kadang jalan seharian, belum tentu dapat yang cocok. Kalaupun dapat, tidak banyak paling hanya 10 atau 20 meter. Nah, kesulitan mendapat motif ini juga menjadi penentu harga sepatu. Saat ini sepatu produksi Nopi dijual dengan

kisaran harga Rp300 ribu hingga Rp500 ribu. Ada pandangan menarik dari Nopi terkait pekerjanya. Menurut dia, dalam berbisnis dia tidak ingin hanya memikirkan keuntungan semata, tapi kesejahteraan pekerja sebagai tonggak utama bisnisnya pun harus mendapat perhatian. “Dulu aku bertekad, kalau kelak punya bengkel akan memberi kehidupan lebih baik pada mereka. Kini, meskipun tidak berlebih, aku beri mereka gaji dua kali lipat dari gaji mereka sebelumnya, juga menanggung makan, dll. Aku berharap dengan kondisi lebih sejahtera, keluarga mereka akan terbantu, dan dia sendiri bisa ber­ kerja maksimal. Soal kesetiaan, itu tergantung masing-masing orang. Kalaupun kelak mereka dapat tawaran lebih baik dan akhirnya pindah, itu hak mereka untuk mendapat kehidupan yang lebih baik. Bagi saya tidak masalah,” papar Nopi. -Diana Runtu.


4

Inspirasi

13 - 19 Oktober 2014

Noni Subagja

Sukses dari Bumbu Dapur Memiliki delapan anak ditambah lagi suami yang menderita stroke dan kini sedang koma, apa yang bisa dilakukan oleh Noni Subagja, seorang ibu rumah tangga biasa? ‘Pukulan’ itu sungguh terasa berat baginya. Perekonomian keluarga yang tadinya mapan, kontan menjadi morat-marit. Tapi Noni tidak bisa berlama-lama terbenam dalam kesedihan, anak-anak yang masih sekolah membutuhkan pendampingannya, di sisi lain ia harus menggantikan peran suaminya dalam mencari nafkah.

K

ondisi tersebut (suami stroke), sebenarnya telah berlangsung sejak 11 tahun namun, semakin bertambah parah sejak dua tahun terakhir, bahkan kini menurut dokter, suaminya mengalami koma. “Saya tak bisa berlama lama dalam kesedihan. Saya sibuk mengurus suami yang sakit, mengurus anakanak, juga memutar otak bagaimana caranya mendapatkan penghasilan. Saya sadar, bersedih hati, berdiam diri tidak menyelesaikan masalah, justru akan makin terpuruk. Saya juga tidak mengharapkan bantuan orang lain, saya harus bangkit dengan kekuatan sendiri. Itu tekad saya demi anak-anak. Yang terkecil baru 10 tahun,” ungkap wanita yang bernama lengkap Noni Siti Aisyah Subagja yang baru saja me­ nerima penghargaan ‘Pangan Award 2014’ untuk kategori bumbu dapur dari Kementerian Perdagangan ini. Karena masak-memasak merupakan dunia yang paling dipahaminya maka dengan modal yang ada ia pun mulai merintis bisnis makanan kecil-kecilan. Tentunya tidak mudah karena persaingan di bisnis makanan cukup tajam. Tapi, kata Noni, bisnis di bidang makanan bukan hal baru bagi­ nya. Sebelumnya, di tahun 90-an, ia pernah melakukannya dengan membuka rumah makan. Sayangnya, bisnis yang telah berhasil menggaet banyak pelanggan ini, terpaksa tutup karena dikelola dengan tidak profesional. “Dulu itu bisnis rumah makan saya bagus. Banyak pelanggan, tapi karena manajemen yang salah, tidak professional, akhirnya ditutup. Berkali-kali bikin rumah makan, berkali-kali pula gagal karena masalah manajemen. Juga, kekurangseriusan saya dalam menggarap bisnis itu. Mungkin karena dulu saya merasa kehidupan ekonomi cukup, ada suami yang mencari nafkah, jadi saya tidak serius mengelola bisnis itu. Akhirnya saya putuskan untuk berhenti berbisnis dan focus mengurus rumah tangga. Itu berlangsung selama belasan tahun sampai akhirnya suami terkena stroke sehingga mengajukan pensiun dini. Itu mengubah semuanya,” ung­ kap Noni yang memiliki keahlian mengolah masakan khas Sunda. Kondisi yang ada, memaksanya bergelut kembali dengan bisnis makanan. Hanya saja kali ini ia tidak membuka rumah makan, melainkan berbisnis aneka bumbu masak dalam kemasan. Dia memulai dengan modal yang terbatas, sekitar Rp 5 juta untuk membeli berbagai bumbu mentah serta beberapa puluh juta untuk membeli peralatan. “Sekarang peralatan saya cukup lengkap, ada mesin penggilingan cabai, mesin penggilingan bumbu karedok, mesin pengiris cabai, dll. Total nilai investasi­

nya sekitar Rp 100 jutaan. Tapi untuk melengkapi semua peralatan itu, tidak saya lakukan sekaligus karena harganya mahal. Saya beli satu persatu secara mencicil,” kata Noni. Kini, ia memiliki lima produk unggulan, yakni; bumbu kremes, karedok, sambal goreng terasi, abon ayam dan bawang goreng brebes. “Lima produk ini sebenarnya bukan baru tercipta. Tapi semuanya sudah dijual saat saya membuka rumah makan. Hanya saja, kini dilakukan penyempurnaan-penyempurnaan supaya rasanya semakin enak,” tambah wanita bertubuh subur ini. PEMASARAN DOOR TO DOOR Untuk pemasaran, katanya, dia melakukannya secara door to door. Banyak teman, katanya, sangat membantu bukan hanya dalam hal pemasaran tapi juga perbaikan produk. Mereka itulah, ucapnya, memberi banyak saran agar produknya menjadi semakin baik. Untuk semakin mengembangkan bisnisnya, lanjut Noni, ia pun menggunakan namanya “Bu Noni” sebagai merk produk. Beberapa waktu lalu, lanjutnya, digelar seleksi untuk mengikuti lomba pangan nasional. “Saya berhasil lolos seleksi dan ditunjuk mewakili DKI Jakarta untuk lomba pangan tingkat nasional. Pesertanya dari 34 provinsi. Alhamdulilah, saya berhasil juara pertama lomba itu untuk kategori bumbu masak ,” katanya dengan wajah sumringah. Untuk lomba tersebut, hanya dua produknya yang diikutsertakan yakni; bumbu karedok yang merupakan bumbu untuk makanan khas sunda, dan sambal goreng terasi. Noni mengaku, demi ke­­pentingan lomba, ia ‘membongkar’ kembali racikan bumbunya de­ ngan melakukan berbagai eksperimen. “Saya disarankan agar menambah jeruk limo pada bumbu karedok agar orang bisa langsung memakan tanpa menambah bumbu lagi. Nah, masalahnya, jeruk limo akan membuat bumbu itu menjadi basah. Kalau basah bagaimana dengan ketahanan bumbu? Karena selama ini saya menjual bumbu karedok

padat. Dengan ditambah jeruk limo, bumbu keradok menjadi berbentuk pasta atau setengah padat,” tutur Noni yang mendapat keterampilan memasaknya dengan cara otodidak. Melaksanakan saran itu, kata Noni, merupakan tantangan tersen­ diri. Ia pun melakukan berkali-kali percobaan, baik dari segi rasa juga membuat bumbu itu menjadi tahan lama. “Akhirnya berhasil juga, setelah berkali-kali gagal dalam percobaan. Jadi, bumbu karedok saya yang berbentuk pasta ini, meski ditambah jeruk limo, bisa tahan selama 21 hari dalam suhu ruangan. Kalau di dalam kulkas bisa tahan hingga 3 bulan. Tidak terlalu lama jika dibanding bumbu padat yang saya buat sebe­ lumnya, yang dapat bertahan hingga 7 bulan di dalam kulkas ,” jelasnya. Penghargaan Pangan Award 2014 yang diberikan oleh Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi, membuatnya makin bersemangat da-

13 - 19 Oktober 2014

Mandalika

21

Olahan Kreatif Kaki Ayam Di pasar-pasar tradisional, jika membeli daging ayam, pembeli jarang mau menyertakan kaki ayam sebagai bagian dari berat dalam timbangan. Kalau pun membutuhkan kaki ayam untuk olahan lain, biasanya dibeli terpisah dengan harga yang sangat murah.

Ibu Noni, Juara Nasional Lomba Pangan Kategori Bumbu-bumbuan

lam menekuni bisnisnya. Dia merasa yakin ke depannya, akan banyak peluang didapat meski disadarinya persaingan di bidang itu, lumayan ketat. “Yang penting kita terus maju, jangan berenti berkreasi. Mutu, dan rasa, juga menjadi perhatian saya,” tambah Noni yang berhasil memasukkan produknya ke sebuah hypermarket terkenal. Terus terang, lanjut Noni, sampai sekarang ia masih merasa prestasi yang didapatnya itu bagai sebuah mimpi. “Waktu saya mendengar kabar bahwa saya mendapat juara pertama, badan saya gemetaran. Perasaan campur aduk. Antara senang, bahagia juga tidak percaya. Apa benar? Karena peserta lomba dari seluruh Indonesia,

mereka semua bagus-bagus. Saya sampai menangis ketika mendengar kabar itu, sambil tak putus-putusnya mengucap syukur pada Tuhan,” tutur Noni yang sejak memenangkan lomba mendapat tawaran kerja sama dari beberapa pihak. Dengan keberhasilan ini, tekad­ nya mengembangkan bisnis aneka bumbu special semakin menggebu. Namun sayang, salah satu ‘benturannya’ adalah masalah permodalan juga peluang memasarkan produk. Dia berharap, ke depannya ada bantuan dari pemerintah baik dalam permodalan, juga pemasaran. Karena kedua hal tersebut sangat dibutuhkan oleh para UMKM seperti dirinya. –Diana Runtu

K

Krupuk ceker siap dijual

arenanya, salah satu bagian pen­ ting bagi hewan ini jarang tampak menyatu pada tubuh-tubuh ayam secara utuh. Oleh pedagang daging ayam, kaki-kaki ayam tersebut biasanya sudah dipisahkan terlebih dahulu untuk dijual khusus. Kaki ayam biasanya dipakai hanya untuk menyedapkan sayur sop yang bisa dibeli dengan harga relatif murah. Kaki-kaki ayam ini sepertinya tidak bernilai tinggi. Namun, di tangan kreatif, kaki-kaki ayam bisa menjadi bernilai sangat tinggi yang dapat memberikan penghasilan yang berlipat ketimbang harga dagingnya. Kaki-kaki ayam tersebut menjadi berharga tinggi ketika diolah menjadi krupuk. Setelah menjadi krupuk, kaki ayam tidak lagi disebut krupuk kaki ayam melainkan lebih dikenal dengan nama Krupuk Ceker. Ceker berarti kaki. Sentra pengolah­ an kaki ayam sebagai camilan

ini ada di Seganteng Subagan, Cakranegara Selatan, Mataram. Puluhan keluarga di kampung ini terkenal sebagai pembuat krupuk ceker yang dikerjakan langsung di rumah-rumah penduduk. Kaki-kaki ayam yang dibeli dalam keadaan segar di pasar, biasanya langsung diolah untuk menjamin rasa gurih dari krupuk yang dihasilkan. Proses tersebut dimulai dari membersihkan tulang-tulang dan urat ayam, pencucian, penjemuran hingga menggoreng sebagai tahap pertama. Kaki-kaki ayam yang sudah digoreng tahap pertama biasa disebut aluman. Aluman inilah yang nantinya akan disimpan dan digoreng kembali menjadi krupuk ceker ayam. Aluman tahan disimpan hingga tiga bulan. Krupuk ceker Seganteng bisa diperoleh di pasar-pasar tradisi­ onal, warung-warung makan hingga minimarket-minimarket di Mataram. Namun, bisa juga diperoleh langsung di Seganteng

Proses pengeringan terbaik krupuk ceker, dilakukan di bawah sinar matahari

di sentra pembuatan krupuk ceker. Kaki ayam yang tadinya tidak berharga mahal, akan menjadi berlipat-lipat kali harganya jika sudah menjadi krupuk ceker. Harga kaki ayam satu kilogram berkisar antara Rp 7.000 s.d. Rp 10.000. Namun, ketika kaki-kaki ayam ini menjadi krupuk ceker, harga perkilogram mencapai Rp 90.000 hingga Rp 110.000. Selain karena rasanya yang gurih dan sedap, nilai ekonomis yang bertambah ini juga dikarenakan proses pengerjaan yang terbilang rumit. Pekerjaan membuat camil­ an ini diawali dengan mengiris bagian tengah kaki hingga jari

Krupuk ceker yang baru digoreng

langsung direndam dengan air yang sudah diberi bumbu antara lain garam, kunyit dan bawang putih, beberapa saat hingga bumbu meresap dengan baik, biasanya selama 15 menit. Kunyit dipakai untuk mempertahankan warna asli krupuk ceker. Dalam cuaca panas matahari normal, ceker-ceker ini dijemur hingga kering dalam beberapa jam. Sebaiknya penjemuran dilakukan pada saat matahari terik agar langsung kering, untuk menghindari bau tidak sedap pada krupuk yang dihasilkan. Matahari menjadi

Kaki-kaki ayam yang berharga murah bisa diolah menjadi krupuk ceker dengan harga yang tinggi

lalu membelahnya, dan tulang kaki serta tulang-tulang jari dengan mudah dipisahkan. Demikian pula dengan urat-urat yang juga harus dipindahkan. Jika terdapat kotoran di tengah telapak kaki ayam biasa berupa kapalan hitam, terlebih dahulu dipotong dan dibuang. Tulangtulang muda bagian lutut juga dipisahkan. Kemudian, kulit kaki ayam dikupas dan kuku-kuku ayam dibersihkan. Untuk dapat mengupas kulitnya, kaki-kaki ayam tersebut harus disiram air panas (bukan air mendidih) dan didiamkan beberapa saat “Hasil krupuknya kurang bagus kalau sampai matang, krupuk ceker akan mengkerut,” kata Kamil, salah seorang pembuat krupuk saat mengantar pesanan krupuk di Pasar Mandalika Mataram. Setelah proses pemisahan dan pembersihan kaki ayam dari tulang, urat dan kulitnya, ceker-ceker tersebut dicuci berulang-ulang hingga bersih dan tidak amis. Ceker-ceker tersebut

sangat penting dalam proses pengeringan karena menghasilkan krupuk yang lebih mekar. Namun karena jika musim hujan tiba, proses pengeringan cekerceker tersebut memakai oven. Hasilnya, tentu saja tidak sebaik

kalau dijemur di bawah terik matahari. “Saat digoreng akan kisut atau keriput,” kata Ana, pembuat krupuk lainnya. Setelah proses penjemur­ an dan ceker-ceker menge­ ring barulah dilanjutkan dengan menggoreng tahap pertama atau membuat ceker menjadi aluman. Penggorengan tahap pertama dilakukan dalam wadah cekung atau wajan besar dengan minyak yang banyak. Penggorengan tahap pertama dilakukan minimal dua jam. Ceker aluman ini memang sengaja dibuat agar bisa disimpan dalam waktu lama sehingga dapat digoreng kapan saja. Jadi, untuk menghasilkan krupuk ceker yang baik, penggoreng­ an harus dilakukan dengan dua tahap. “Kalau langsung digoreng jadi krupuk usai dijemur, hasilnya kurang bagus dan susah mekar serta akan menyusut,” kata Kamil. Saat menggoreng aluman untuk menghasilkan krupuk ceker, api tidak boleh terlalu besar karena akan cepat membuat krupuk gosong sehingga rasanya bisa pahit. Yang disebut dengan krupuk ceker ayam, ternyata bukan semata-mata dari daging telapak hingga kaki ayam melainkan urat dan tulang jari-jari ayam pun bisa dibuat krupuk. Bentuk krupuk ceker dari urat kaki ini, panjangpanjang dan rasanya sama dengan telapak ayam. Tulang jari-jari kaki ayam pun ternyata tidak dibuang karena masih bisa diolah menjadi krupuk. Krupuk ceker, usaha kreatif yang mengolah bahan murah menjadi bernilai ekonomi tinggi. -Naniek I. Taufan

Proses pemisahan tulang, tulang jari, urat, kuku dan kulit kaki ayam


Metropolitan

22

“Pemanasan” Jelang MEA Ajang ‘pemanasan MEA’ (Masyarakat Ekono­ mi ASEAN) berlangsung di Trade Expo In­ donesia 2014 yang berlangsung di Interna­ tional Expo Kemayoran, Jakarta. Di arena seluas 4 hektare beragam produk unggulan Indonesia digelar oleh 2000 peserta pame­ ran, seolah ingin menunjukkan kesiapan In­ donesia menghadapi MEA yang mulai berlaku tahun 2015 mendatang.

I

ni memang bukan pameran biasa. Pameran ini ditujukan pada buyer internasional dalam rangka peningkatan ekspor produk dan jasa nasional serta perluasan jaringan bisnis pengusaha Indonesia. Lihat saja pengaturan jam buka pameran, dari pukul 10.00 hingga 16.00 diperuntukkan untuk para pebisnis. Sedang jam kunjungan masyarakat umum mulai pukul 16.00 hingga 20.00. Sepertinya kerja keras Kementerian Perdagangan menyelenggarakan pameran akbar ini tak sia-sia. Selain jumlah buyer asing yang datang meningkat pesat diban­ ding tahun lalu, juga laris manisnya produk-produk unggulan Indonesia diborong para buyer asing. Berbagai produk yang diminati antara lain;

dekorasi rumah, furnitur, produk karet, hingga mainan anak-anak. Dengan hasil menggembirakan ini, maka tak berlebihan kalau berharap target transaksi pada Trade Expo Indonesia 2014 sebesar 800 juta dolar AS bakal tercapai. Berdasarkan data, jumlah buyer asing yang mengunjungi pameran bertema ‘Towards Green Business’ tersebut tercatat mencapai 12.000 orang yang berasal dari 97 negara. Antara lain dari Malaysia, Brunei, Australiam Afrika Selatan, AS, Timor Leste, Saudi Arabia, Jepang, Thailand, Mesir, dll. Di antara itu, ada juga delegasi misi perdagangan dari 63 negara. “Potensi nilai transaksi akan lebih besar karena banyak pembeli yang sudah jauh-jauh hari kami

Jokowi dan Menteri Perdagangan M. Lutfi sedang meninjau Trade Expo Indonesia 2014

notifikasi datang ke pameran ini. Selain itu, para duta besar kita juga turut berkontribusi dengan mendatangkan para buyer,” kata Menteri Perdagangan M Lutfi pada pers Rabu (8/10). Produk-produk Indonesia yang ditampilkan di ajang TEI di antaranya; komoditas utama seperti produk tekstil, elektronik, karet dan

produk karet, produk kayu, pulp dan furnitur, produk kimia, logam, mesin-mesin, makanan olahan dan otomotif. Komoditas prospektif yang juga ikut meramaikan pameran ini adalah, kerajinan, rempah, produk kulit, alas kaki, perhiasan, produk plastik, udang, ikan dan produk ikan, kakao dan olahannya. Sedang komoditas ekspor lain-

Ibarat Gadis Seksi Belum Dandan Indonesia memiliki potensi besar menjadi surge wisata MICE (Meeting, Incentive, Convention and Exhibition) dunia. Namun, untuk mencapai itu, banyak hal harus dibenahi. Di antaranya masalah infrastruktur, aksesibilitas, sumber daya manusia dan konektivitas. Menurut Wiryanti Sukamdani, Ketua Badan Promosi Pariwisata Indonesia, berdasarkan data 2013, wisata MICE menyumbang 40% dari jumlah kunjungan wisman saat itu, yakni 8,8 juta.

Trade Expo Indonesia 2014

nya seperti batubara, hewan dan produk hewan, peralat­an medis, buah dan sayur mayur, minyak atsiri. Serta tak ketinggalan, aneka produk jasa dan tenaga kerja terlatih, seperti, jasa konstruksi, jasa profesi dan jasa akomodasi. Ada dua bangunan menarik dalam pameran ini yakni, Pride of Indonesia Pavilion, tempat yang menjadi etalase berbagai produk yang sudah diterima oleh pasar global di antaranya; industri strategis, produk-produk berbasis teknologi tinggi, manufaktur, green product juga industri kreatif dan UMKM unggulan. Sedang pada ASEAN Pavilion berisi berbagai informasi tentang peluang-peluang perdagangan di Negara-negara ASEAN dalam rangka menyambut MEA. Bagi UMKM yang mendapat kesempatan berpameran di ajang ini, tentunya sangat gembira karena ajang ini selain dapat mengangkat citra positif UMKM di pasar nasional dan global, juga menjadi peluang mereka untuk membawa produknya go international. Karena salah satu permasalahan utama UMKM Indonesia dalam mengembangkan usahanya adalah dalam hal promosi. –Diana Runtu

Ada sejumlah kendala yang menyebabkan industri MICE di Indonesia belum berkembang maksimal. Di antaranya adalah masalah infrastruktur, aksesibilitas, sumber daya manusia dan konektivitas. Indonesia menghadapi sejumlah keterbatasan, misalnya, masalah ketersediaan ruang convention dan exhibition yang berkapasitas di atas 6.000 orang. Sampai saat ini baru Jakarta dan Bali yang memiliki. Keduanya saat ini menjadi primadona menggelar MICE. “Sampai saat ini baru Jakarta dan Bali yang memiliki tempat MICE standar internasional. Jakarta misalnya ada di Jakarta Convetion Center (JCC) dan Jakarta International Expo (JIE) Kemayoran. Faktor penunjang MICE di Jakarta dan Bali cukup memadai, seperti infrastruktur, aksesbilitas dan konektivitas,” tuturnya dalam diskusi Indonesia sebagai Surga MICE Dunia. Surabaya, Medan, Manado, Makassar, Bandung, Solo dan Yogyakarta, masih masuk kategori destinasi potensial. Sedang Padang, Batam, Bintan, Palembang, Semarang, Balikpapan dan Lombok, masuk emerging destination alias masih dalam proses pertumbuhan. Dengan memperbaiki berbagai kendala, diharapkan industri MICE juga dapat berkembang di kota-kota lain. Dengan demikian target kunjungan wisatawan 20 juta orang pada 2019 dapat tercapai. Menurut Yanti, ada beberapa cara yang dapat dilakukan, di antaranya, merangkul asosiasi tingkat dunia untuk menyelenggarakan acaranya di Indonesia. Tahun 2015 mendatang, akan berlaku pasar bebas ASEAN dimana banyak produk dan jasa termasuk para pekerja asing ke Indonesia. Hal ini harus dijadikan peluang untuk memaksimalkan potensi wisata MICE. Menurut Ernest K Remboen, Presdir PT Dyandra UBM International, Indonesia merupakan pasar industri MICE yang bagus. Jika diibaratkan, Indonesia bagai ‘gadis seksi yang belum didandani’. Menurutnya, banyak hal yang harus dibenahi agar industri MICE dapat berkembang maksimal. Salah satunya adalah persoalan infrastruktur. –Diana Runtu

Sosialita

13 - 19 oktober 2014

13 - 19 oktober 2014

3

Ni Ma de Ay u H a r r i P ra tiw i

Pintar Gunakan Peluang

Dari semua yang dijalaninya, ia makin menyadari dunia MC dan dunia penyiaran adalah bidang yang betul-betul di­ sukainya. Konsistensi dan kecintaannya di dunia ini, sudah menghabiskan waktunya hingga belasan tahun.

P

emilik nama lengkap Ni Made Ayu Harri Pratiwi, S.H., yang wajahnya sering tampil membawakan Seputar Bali dan beberapa acara dialog di Bali TV ini, kian mantap menapaki kariernya di dunia penyiaran dan MC. Ia merasa menemukan inilah passionnya . Ia pernah mencoba beberapa usaha atau bisnis. Namun, dalam perjalanannya, ia kembali memilih menjadi MC. Perempuan yang akrab disapa Yupi ini juga mengaku mendapatkan lebih dari apa dipikirkannya. Yupi yang kini tercatat sebagai Sekretaris Direksi RSUP Sanglah ini, mengatakan ia tak bisa jauh dari segala hal yang berhubungan dengan dunia broadcast. Di luar tugas utamanya ia masih bersedia melakukan kegiatan memanfaatkan kemampuannya sebagai MC . Salah satunya tampil bersama rekannya Sonny Wijaya, memandu acara Festival Keluarga Tokoh 2014 Sejuk Bersama Coolant. Dengan pembawaannya yang hangat dan bersahabat, putri dari pasutri I Nyoman Oka Tri Suparsono, S.Sos.,M.Si.-Ni Made Wistari,

S.E., M.M., ini pun menceritakan bagaimana langkah-langkah yang dilaluinya. Pengalaman pertama jadi MC, saat masih kelas 2 SMP, tahun 1998 di acara ulang tahun sekolahnya. Ketika itu belum paham MC itu tugasnya apa, tapi ia berpikir ini kesempatan untuk bisa latihan sekaligus langsung unjuk gigi. Karena Yupi juga aktif di OSIS, maka ia pun dikenal oleh guru-guru. Begitu ada lagi acara di sekolahnya, ia pun dengan percaya diri menawarkan diri, dan diterima menjadi MC. Sejak itu ia mulai menyukai yang namanya menjadi pembawa acara atau MC. “Eh ternyata enak juga ya bicara di depan orang banyak dan jadi pusat perhatian begitu perasaan saya ketika itu,” kenangnya. Dari itu juga, ia makin menyukai dunia komunikasi, ia menjadi sering mendengar suara orang siaran di radio. Ketika sekolahnya mendirikan Radio Sisma (SMA7) ia juga tidak sungkan mengajukan diri dan terpilih sebagai salah seorang penyiar. Siarannya dilakukan saat jam istirahat dan ia bertugas hingga ia naik ke kelas 3. Saat SMA kelas 2, ada acara “Nano-Nano Go to School”, datang ke sekolahnya. Ia pun beruntung, karena pengalamannya menjadi penyiar radio di sekolahnya, Yupi dan seorang temannya ternyata terpilih menjadi MC bersama MC yang sudah disiapkan panitia. ”Inilah event pertama saya tampil sebagai MC di luar tugas sekolah,” katanya. Yang tak terduga adalah, setelah beberapa waktu kemudian Yupi pun diminta kembali menjadi MC oleh partner MC-nya saat acara NanoNano. Tanpa pikir panjang Yupi langsung bilang oke. “Saya harus pintar menggunakan peluang menjadi kesempatan terbaik, ini harus diciptakan jangan ditunggu,”cetusnya. “Acaranya waktu itu ulang tahun BEM Fakultas Sastra Unud.Rasanya gimana gitu karena saya masih SMA, sedangkan pasangan saya sudah kuliah. Berbekal pede, akhirnya memudahkan semuanya dan berjalan lancar,” lanjut Yupi. Di acara tersebut pula Yupi berhasil menambah

Yupi saat acara Festival Keluarga Tokoh 2014

jejaringnya, seperti dengan penyanyi, dancernya hingga bagian sound system. Melihat kesibukannya orangtua Yupi khawatir soal pendidikannya. Sebagian besar waktunya habis untuk kegiatan MC, seolaholah tidak ada waktu lagi untuk belajar. Karenanya, begitu kelas 3 SMA semua kegiatan stop, hanya mengikuti les pelajaran dan fokus untuk ujian. Saat penjurusan di SMA ia pun memilih kelas Bahasa, namun lucunya karena yang memilih kelas tersebut hanya 12 orang, akhirnya kelas ditiadakan dan ia pun masuk

ke ke­ las IPA. Begitu selesai S M A , Yupi ingin kuliah komunikasi di Malang, namun sebagai anak bungsu dan orangtua­nya­ingin selalu dekat dengannya. Apalagi, orangtuanya yang bekerja di bidang kesehatan, ingin anaknya men-

jadi dokter, namun Yupi memiliki keinginan berbeda. Ia pun kuliah di FH Unud melalui jalur PMDK. TAMBAH JAM TERBANG Tahun 2005, Yupi ikut acara SCTV Goes to Campus. Ia pun berhasil masuk 10 besar. Yupi merasa perlu meningkatkan pengetahuan, kemampuan dan kualitas dirinya. Solusinya, ia mengikuti pelatihan MC yang diadakan oleh Santy Sastra. Diakuinya ini membantunya menjadi semakin mahir. Job sebagai MC pun tak berhenti mengalir dan berlanjut dengan terbukanya kesempatan ia menjadi penyiar radio di Duta FM. Ia juga sempat mengisi siaran di TVRI. Ini pun dimulai dari dimintanya ia menjadi MC sampai akhirnya mendapat tawaran mem­ bawakan acara dialog bisnis. Di sini ia kembali mendapatkan banyak proses belajar sampai akhirnya sempat pula mencicipinya berkarier di beberapa TV lainnya sebagai presenter dan reporter. Selanjutnya, dengan jam terbang yang dikantonginya Yupi menjadi semakin piawai bukan hanya menjadi MC untuk kalangan kampus, tapi juga mahir untuk mengantarkan acara wedding, gala dinner, acara music baik yang in door maupun out door. “Hanya ketika diawal acaranya masih untuk kalangan lokal, sebab waktu itu bahasa ­I nggris belum pinter, tapi sekarang ayo mari,” kata pengagum Tina Talisa ini tersenyum. Begitu kuliahnya selesai tahun 2007, Yupi juga sempat berkarier di Adira. Waktu ­istirahat makan siang, ia justru lari ke sebuah stasiun TV untuk siaran dan bukannya makan. Mulai tahun 2009, ia bekerja di RS Sanglah hingga saat ini. Ia direkrut oleh RS Sanglah karena sering menjadi MC di sana. Ke­betulan ketika itu Humas RS Sanglah memerlukan sosok yang bisa menjadi MC dan mampu mengelola event. Akhirnya, ia ditempatkan di Diklat. “Ini dapurnya rumah sakit. Ketika ada kunjungan, bidang inilah yang menerimanya termasuk urusan mahasiswa, karena RS Sanglah juga RS pendidikan,”kata Yupi yang masih menyimpan keinginan untuk melanjutkan kuliah S2. Disinggung suka-duka di dunia MC, ia mengatakan tidak selalu mulus, ia pernah juga telantar dan tidak dibayar ketika menjadi MC di luar kota. Namun, Yupi mengatakan lebih banyak suka. Sebab dari kegiatannya menjadi MC ia justru menjadi pribadi yang tumbuh lebih baik. Ia menjadi lebih disiplin dan lebih bisa menghargai waktu, menghargai orangtuanya maupun orang lain Bicara masa depan pemilik moto never give up yang lebih memilih fokus pada apa yang dikerjakan dan berpikir positif memandang segala hal ini, menyatakan ingin bisa mewujudkan mimpi besarnya, yakni memiliki stasiun radio sendiri. Di samping itu ia juga berkeinginan mendirikan sekolah atau lembaga khusus untuk menjadi MC dan presenter yang bersifat one stop learn. “Rasanya saya ingin cepat-cepat bisa berbagi dan menyampaikan pesan cara meng­ arungi karier sebagai MC atau presenter, mulai dari communication skill, termasuk urusan meng-upgrade penampilan, menjadi pede (percaya diri) hingga mengatur vokal, mengolah, memilah kata, dan segala macamnya,” katanya sambil menguntai kalimat “Apa pun bidang yang kamu pilih, apa pun keahli­an kamu, saat kamu ingin memberikan itu semua untuk orang banyak maka itu adalah passion kamu.” – Sri Ardhini


2

Ekspresso

13 - 19 Oktober 2014

GORO-GORO

DAri daPUr Redaksi

Belajar dari Mahabharata

Media massa sering disebut sebagai pilar keempat demokrasi setelah eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Peran media massa “mengantarkan” informasi hingga ke pelosok memang sudah terbukti. Tak hanya urusan peme­ rintahan yang diantarkan, urusan hiburan pun tak bisa dilepaskan dari peran media massa. Salah satu buktinya ketika film Mahabharata versi modern ditayangkan di salah satu stasiun televisi. Masyarakat mulai dari perdesaan hingga perkotaan, dari anak-anak hingga orang tua terkesima. Tak hanya kisahnya yang menjadi perhatian, para pemerannya pun mampu membuat penonton terkesima. Pemain yang tampan dan cantik mampu membius penonton di Indonesia. Ketika para pemeran Maha­ bharata ini datang ke Indonesia dan ke Bali, kehebohan sangat terasa. Para penggemar yang mayoritas wanita ini tak sabar ingin melihat langsung idola me­ reka. Wajah asli para pemeran Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, Sahadewa, Duryodana, dan Karna

tak beda jauh dengan wajah dan penampilan mereka saat bermain film. Wajah khas India, tampan, ke­ kar, gondrong, dan dibalut pakaian kasual membuat para penggemar makin histeris. Ada yang berteriakteriak, ada yang menangis, bahkan ada yang rela berdesak-desakan demi mendapatkan foto bersama para idola. Bunga mawar, boneka, kaus, dan bingkisan pun menghampiri para pemain idola ini. Mereka dengan ramah melayani para penggemar walaupun lelah harus

Salah Naik Boat Kejadian ini saya alami pada saat ada acara piodalan di Pura Dalem Ped. Saya berangkat sendiri saja dari rumah pukul 07.00 naik sepeda motor ke ­Padang Bai. Pukul 08.30 saya sudah sampai di Padang Bai dan sempat bi­ ngung juga mau titip di mana sepeda motor karena baru pertama kali juga pergi sendiri memakai sepeda motor. Setelah putar-putar dan melihat ada orang juga hendak tangkil yang bawa sepeda motor, saya ikuti terus orang itu dengan pikiran pasti orang itu akan titipkan motornya. Benar juga pikiran saya ternyata orang itu mau titip sepeda motor juga dan saya pun ikut titip motor di tempat itu. Saya lalu berganti pakaian dan mencari tempat penjualan tiket. Saya beli tiket dengan harga Rp 50 ribu. Pukul 09.00 boat pun berangkat de­ ngan kapasitas 50 orang penumpang. Perjalanannya menyeberang dengan boat berlangsung baik dan aman saja karena ombaknya tenang. Sampai di Nusa Penida, saya tanya warga bagaimana caranya sampai di Pura Dalem Ped. Akhirnya, saya naik ojek sesuai petunjuk mereka. Karena pemedek belum begitu ramai, saya bisa sembahyang dengan cepat. Selesai sembahyang saya istirahat sebentar di wantilan lalu membeli makan siang. Waktu menunjukkan pukul 14.30,

mingguan berita wanita Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

saya memutuskan untuk balik kembali ke dermaga naik ojek. Saya sempat bincangbincang dengan tukang ojek jam berapa kapal boat terakhir dari Nusa Penida ke Padang Bai dan tukang ojek mengatakan pukul 15.30. Itu berarti masih ada waktu 1 jam lagi untuk dapatkan boat. Tukang ojek mengantar saya ke dermaga, tetapi beda dengan dermaga ketika saya datang. Tukang ojeknya mengatakan ada 2 dermaga di Nusa Penida. Saya menuju loket untuk beli tiket dan membayar Rp 75 ribu. Saya terkejut tetapi dapat memahami karena boat ini tempat duduknya sedikit dan lebih bagus. Saya sempat ngobrol-ngobrol dengan calon penumpang lain tapi tidak sempat membicarakan masalah tujuannya mau ke mana karena saya pikir sudah pasti tujuannya sama. Tidak berapa lama kita dipersilahkan naik ke boat karena akan segera berangkat dan dengan senang hati saya naik ke boat yang memang benar

mengikuti padatnya jadwal. “We love Bali. Luar biasa,” itu jawaban Shaheer Sheikh ketika ditanya komentarnya tentang fans mereka di Bali. Pemeran Arjuna ini merupakan aktor yang paling banyak memiliki penggemar. Kisah Mahabharata tak kan pernah lekang dimakan waktu. Para artis yang memainkan peran di lakon ini pun menuai berkah. Semua kerja keras mereka selama berbulan-bulan terbayar. Ini pel­ ajaran yang bisa kita petik. Apa pun yang kita lakukan, lakukan dengan baik dan sepenuh hati. Salam untuk penggemar Mahabharata. jauh lebih baik dan kebersihan boatnya sangat terjaga dan saya memilih tempat duduk paling depan. Beberapa saat boat meninggalkan dermaga, petugas meminta dan memeriksa tiket penumpang. Satu persatu tiketnya diminta, ada bagian yang dirobek dan ketika sampai di tempat saya, betapa terkejutnya saya melihat tiket yang dirobek setelah dikembalikan ke saya tertulis bahwa tujuan boat itu ternyata ke Sanur. Oh My God…ternyata saya salah naik boat dan saya langsung kepikiran bagaimana dengan motor saya di Padang Bai? Seandainya saja salah angkutan umum di darat mungkin saya akan stop untuk berhenti dan saya akan mencari angkutan umum yang lain, tetapi karena ini di laut nggak mungkin saya stop dan saya berenang di laut kan? Dalam hati saya berjanji cukup kali ini saja saya naik boat jurusan Nusa Penida-Sanur dan saya harus lebih teliti memilih kapal boatnya. Mudah- mudahan hal ini tidak terjadi pada pembaca dan cukup saya saja yang mengalami. Tresna AW, Denpasar

Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca ­lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. ­Panjang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan no kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373

Putu Wijaya

sapu

“Pak, dulu, untuk berbagai keperluan resmi, diperlukan ada surat keterangan berkelakuan baik,” kata Bu Amat. “Betul.” “Apa gunanya?” “Supaya orang tidak berani melakukan perbuatan melawan hukum, karena itu akan membuat dia susah melamar pekerjaan.” “Betul, saya tahu!” “Kalau sudah tahu, kenapa bertanya lagi?” “Karena, saya mau bertanya lagi. Kalau begitu, berarti orang yang permah masuk penjara tidak akan dapat surat kelakuan baik?” “Itu tidak usah ditanyakan lagi. Sudah jelas!” “Berarti dia akan susah melamar pekerjaan?” “Tentu saja! Karena memang tujuannya menakut-nakuti orang, supaya jangan berani melanggar hukum. Dan, membuat jera orang sudah dihukum, supaya tidak melakukan kejahatan lagi, karena ia tidak akan diterima melamar kerja di mana pun. Apalagi menduduki jabatan! Atau jadi caleg. Jelas, Bu?” “Jelas sekali. Tapi kalau begitu kenapa bui dan penjara sekarang disebut Rumah Pemasyarakatan?” “Itu pertanyaan bagus. Jawabannya lebih bagus lagi. Karena orang yang dibui atau dipenjarakan itu, tidak berarti dibuang atau dikucilkan. Mereka hanya dididik agar berjalan di jalan yang benar. Mentalnya ditempa supaya siap dan layak dikembalikan ke masyarakat. Jadi diajar bagaimana caranya hidup sebagai warga sama dengan warga lain, bisa jadi anggota mayarakat. Bui dan penjara itu dulu seperti kerangkeng pembuangan. Dengan berubah menjadi rumah pemasyarakatan, fungsinya bergeser dari tempat pembuangan menjadi sekolah mental. Begitu kita-kira, Bu. Jelas? Bisa mengikuti?” “Bisa sekali. Tapi bagaimana mantan penghuni rumah pemasyarakatan itu bisa kembali ke masyarakat, kalau semua pintu pekerjaan tertutup, karena dia tidak bisa mendapat surat keterangan kelakuan baik?” Amat tertegun. “Bapak dengar pertanyaan Ibu?” “Ya, dengar.” “Jelas?” “Jelas sekali.” “Mengerti? Dapat mengikuti?” Amat diam, mencoba mencari jawaban yang telak. Keburu istrinya bertanya lagi. “Sesudah surat kelakuan baik, ada lagi yang harus disiapkan untuk bisa hidup layak di masyarakat di masa Orde Baru. Yaitu keterangan bersih lingkungan. Betul-tidak, Pak?” “Betul.” “Bisa mengikuti pertanyaan Ibu?” “O, bisa!” “Dan, sekarang ada lagi yang harus disiapkan yang membuat kita repot. Untuk berbagai urusan diperlukan akte kelahiran. Apa Bapak punya akte kelahiran?” “Tidak. Zaman dulu kita tidak kenal akte kelahiran!” “Betul! Ibu juga tidak punya. Semua orang yang lahir sezaman dengan kita, tidak punya akte kelahiran!” “Memang!” “ Apa itu berarti kita cacad sebagai warga masyarakat? Karena apa-apa, harus dilengkapi akte kelahiran?! Ya kan?”” Amat mengangguk. Ia lantas teringat pada tahun 1960-an. Ada yang disebut Manikebu. “Dulu juga ada peristiwa Manikebu. Para penandatangan Manikebu dikeluarkan dari pekerjaannya. Atau, termasuk ke dalam daftar hitam yang menyebabkan pintu tertutup bagi para penandatangannya.” Bu Amat membenarkan. “Nah, kalau begitu, di masa kemerdekaan, masih ada orang-orang yang tidak merdeka? Betul, Pak?” “Betul. Tapi......” “Tapi apa?” Amat mati langkah. Diam-diam ia mengagumi istrinya. Pendidikannya sedang-sedang saja. Tidak punya diploma S2 apalagi doktor. Tapi ternyata cerdas. Itu jauh lebih baik dari pintar. Untunglah Bu Amat tidak terus bertanya, jadi Amat masih sempat menikmati kopinya dan laga bola. Esok paginya Amat repot membersihkan halaman. Angin kencang semalaman menyebabkan daun sawo Belanda berserakan. Dengan tekun Amat menyapu mengumpulkan guguran daun itu di sudut. Tiba-tiba ia tercengang disengat pikirannya.. “Daun-daun yang tadinya terasa banyak sekali berserakan memenuhi dan mengotori halaman itu, Bapak sapu dan kumpulkan di sudut,” lapor Amat pada istrinya,”tapi setelah terkumpul ternyata hanya seonggokan kecil saja yang bisa tertampung dalam satu kantung plastik. Tidak sebanyak ketika berserak. Sementara halaman seluruhnya jadi bersih. Lalu Bapak berpikir. Apa surat-surat keterangan yang kita bicarakan semalam itu, intinya seperti sapu? Melihat sejatinya berapa besarnya masalah, demi tepatnya kebijakan yang harus diambil?”

Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budi­a rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Se­k retariat: Ayu ­A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­D enpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­merah ­Barat 21 G Jakarta Pusat 10270–Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­F aksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­ ­F aksi­m ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BCA Cabang ­Pal­m erah Barat Jakarta. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 229.3006644 Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

Mozaik

13 - 19 Oktober 2014

23

BIMC Raih Akreditasi ACHSI

R

umah Sakit BIMC (Bali Indonesia Medika Citra) Nusa Dua, merupakan rumah sakit pertama di Indonesia yang meraih akreditasi internasional oleh Australian Council on Healthcare Standars International (ACHSI) Australia. Acara penyerahan dilakukan, Kamis, (9/10) di Rumah Sakit BIMC. BIMC Nusa Dua merupakan salah satu bagian dari Siloam Hospital International Group. Sejak Desember 2013, BIMC Group telah menjadi bagian dari Siloam Hospital Group yang sampai saat ini mengoperasikan 19 rumah sakit di seluruh Indonesia. Profesor Bruce Waxman, ketua tim penilai ACHSI menyatakan, penghargaan yang diberikan ini sebagai komitmen BIMC Nusa Dua dalam

Kirim surat Anda ke Redaksi Tokoh dan cantumkan “Sex Edu” di amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh. co.id. Rubrik ini diasuh Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI) Denpasar

memberikan dan mengembangkan pelayanan berstandar internasional kepada pasien secara konsisten. Chief Executive Officer BIMC Siloam Hospital Group Bali dr. Donna Moniaga melihat momen ini sebagai langkah yang penting untuk menjadikan Bali sebagai tujuan pariwisata medis di dunia. Pengukuhan ACHSI menguatkan BIMC Nusa Dua sebagai penyedia pelayanan kesehatan terdepan dan terkemuka di Bali, baik untuk masyarakat lokal maupun pasien pariwisata medis dari luar negeri. Dr. Donna Moniaga juga meng­ ungkapkan lebih dari 16 ribu warga Australia datang ke Bali tiap Ming­ gu, dimana jumlahnya merupakan seperempat dari total kunjungan wisatawan ke Bali dalam setahun. Bagi mereka yang memang memerlukan perawatan medis dan elektif,

dr. Oka Negara,FIAS

BIMC Nusa Dua merupakan salah satu alternatif penyedia pelayanan ksehatan berstandar internasional yang setara dengan rumah sakit di Australia. Craig Beveridge, Executive Chariman BIMC Siloam Hospital Group Bali mengungkapkan ACHSI memiliki lebih dari 1000 anggota rumah sakit yang terakreditasi di seluruh dunia. Tahun ini akreditasi ACHSI yang pertama untuk rumah sakit di Indonesia dan yang kedua di wilayah Asia Tenggara. “Karena itu, kami sangat merasa senang menjadi rumah sakit pertama yang mendapatkan akreditasi ACHSI untuk wilayah Indonesia,” ujarnya. Beveridge juga menambahkan, sebelumnya jika wisatawan asing mengalami masalah kesehatan di Bali atau masalah lainnya yang lebih serius dari sekadar patah tulang, maka mereka akan memilih terbang ke Singapura. “Banyak dari mereka yang mempertanyakan mengapa tidak bisa mendapatkan perawatan medis kelas bintang lima di kawasan resor pariwisata bertaraf internasional. Sekarang mereka sudah bisa mendapatkan pelayanan tersebut di BIMC Nusa Dua,” ujarnya. ACHSI sendiri merupakan badan independen dan bukan organisasi nirlaba yang secara konsisten mengkaji dan menilai standar pelayanan rumah sakit sebelum memberikan akreditasi. Para surveyor melakukan banyak pengamatan detil berstruktur, kebijakan perusahaan, standar prosedur kerja, buku panduan, dan komit-

Tak lagi Menggairahkan

“Dok, saya sudah 4 tahun menikah, saat ini hubungan seksual kami terasa kurang menggairahkan bahkan saya susah mendapatkan kepuasan lagi. Sekarang kalau berhubungan seks biasanya saya lebih dulu yang merangsang suami, tetapi suami tidak membalasnya dengan melakukan hal yang sama, maunya langsung saja berhubungan seksual tanpa pemanasan. Hubungan seksual juga sekarang menjadi lebih jarang. Bisa diberikan tips agar kembali bisa menggairahkan, Dok?” (Yuri,28) Kebosanan dan kehilangan gairah bersama dalam seks memang sering terjadi. Tidak lagi menyenangkan seperti saat masih pengantin baru atau di awal aktivitas seksual dilakukan, dan hanya terkesan rutinitas yang itu-itu saja. Sesungguhnya masih banyak cara yang bisa dilakukan pasangan untuk tetap membuat suasana tetap hangat membara. Dengan mengubah semua yang membuat bosan pada pasangan, termasuk juga pada diri Anda. Sebelum melakukan perubahan, perlu dicari tahu dulu, apa yang menyebabkan terjadi penurunan romantisme dan gairah bersama. Beberapa masalah berikut sering kali menjadi penyebabnya: 1. Kurang Romantis. Jika Anda berdua selama ini bersikap biasa-biasa saja, tidak mengherankan kalau hubungan berubah menjadi dingin. Ibarat kopi panas yang walaupun nikmat tetapi jika didiamkan lama juga akan jadi dingin dan tidak lagi nikmat. Kejenuhan pekerjaan yang seakan tak ada habisnya serta segala kesibukan dari hari ke hari memang membuat kita kerap lupa memberikan perhatian pada pasangan kita. Bahkan sering melupakan betapa berartinya

pasangan kita, dan melupakan melewatkan waktu bersamanya. 2. Foreplay Tidak Pernah Maksimal. Seks merupakan hal yang menggairahkan, terasa menye­ nangkan dan bisa dilakukan berulang-ulang kali. Bisa jadi itu dulu, dan tidak lagi dirasakan saat ini. Saat ini malah bisa dirasakan seks yang membosankan dan hanya berlangsung beberapa menit saja. Penyebab paling sering adalah kurangnya foreplay. Banyak pasangan yang tidak tahu atau malah melewatkan sesi ini dengan menganggapnya tidak penting. Tentu saja itu keliru. 3. Tidak Pernah Mencoba Hal-hal Baru. Setiap sesi hubungan seksual juga memiliki arti memberi kesempatan untuk saling berbagi kesenangan pada pasangan. Berhubungan seksual dengan gaya yang sama dari waktu ke waktu tentunya akan menjadi sesuatu yang membosankan. Luap­kan fantasi Anda, mainkan peran-peran yang berbeda, kenakan busana yang menggoda. Bisa juga bermain-main dengan pencahayaan, bermain peran tertentu yang bisa membangkitkan gairah semisal menjadi perawat seksi, dokter seksi dan apa pun yang ingin Anda lakukan di ranjang. Pasti akan menjadi seru. Beberapa hal yang perlu dilakukan sebagai langkah-langkah membuatnya jadi berhasil. 1. Bicarakan berdua 2. Diskusikan cara mengatasi kebosanan 3. Lakukan perubahan 4. Buat kejutan lagi Jadi, sekali lagi, lakukanlah perubahan dan nikmati serta wujudkan semuanya.

men dari para staf dan manajemen BIMC Nusa Dua terhadap pelayanan kepada pasien. Di Indonesia, badan independen pengkajian dan penilaian stan-

dar rumah sakit bernama Komite Akreditasi Rumah sakit (KARS). BIMC Nusa Dua juga telah meraih akreditasi nasional dari KARS pada tahun 2014. –bns

Kiprah Wanita dalam Bisnis Pariwisata Sentuhan wanita dalam industri pariwisata Bali diharapkan makin nyata. Tidak hanya dalam kuantitas, tetapi juga dalam kualitas. Seiring dengan itu, kemampuan manajerial yang dimiliki mereka harus terus dipupuk dan ditingkatkan. Dengan demikian, jumlah wanita yang akan menduduki posisi penting, setingkat manager dan general manager akan makin banyak. ‘’Kami harap demikian. Mereka ini terus dibimbing dan ditingkatkan kemampuannya,’’ ujar General Manager ibis Styles Bali Kuta Dewi Sri, Tantiarini Hidayati saat berkunjung ke Tokoh, belum lama ini. Tantiarini, perempuan asal Yogyakarta ini yang masimakrama didampingi Sales Executive Yudi Gunadi Nugroho, Sales Manager Paula Manik dan Marketing Communication & Administration Astari D. Priyanti ini mengungkapkan sekilas lintas peran serta potensi wanita dalam pariwisata Bali kepada Penanggung Jawab/Pemimpin Umum Tabloid Tokoh Gde Palgunadi serta staf. Hotel ibis yang masuk jaringan Manajemen Hotel Accor International, menurut Tantiarini, memberikan peluang sekaligus tantangan kepada seluruh jaringan hotel Accor di seluruh dunia untuk mempekerjakan wanita sebanyak banyaknya. ‘’Saya sih punya target 50:50, tetapi belum kesampaian. Malahan, ada yang ditantang bagaimana mewujudkan seluruh karyawannya perempuan,’’ ujarnya. Dalam kaitan ini, ada program i Woman at Accor Generation. Program ini ditujukan kepada para perempuan agar bisa meningkatkan diri ke posisi management yang lebih tinggi. Contohnya menjadi General Manager. Persentase perempuan menjadi General Manager dalam industri hospitality masih rendah. Nah, lewat program ‘’ Woman at Accor Generation’’ inilah para perempuan akan dibimbing menuju puncak karir. “Saat ini, saya dipercaya sebagai Commite Leader program ‘’Woman at Accor Generation’’ untuk kawasan regional BaliLombok. Kalau dilihat sekarang persentase GM perempuan di Accor baru sekitar 20%. Mengingat status emansipasi wanita masih dalam proses. Targetnya dalam waktu 5 tahun angka ini bisa meningkat menjadi 50% agar seimbang,” ungkap perempuan yang murah senyum ini. -pal

Lomba Komik Strip Seniman komik Indonesia diharapkan bisa unjuk gigi di tengah maraknya karya komik-komik dari Jepang dan Amerika Serikat. Untuk mendorong hal tersebut, Faber-Castell meng­ adakan loma komik strip bertema “Cuma di Indonesia” di 11 kota di Indonesia. Untuk wilayah Bali, lomba diadakan Minggu (19/10) di kampus ISI Denpasar. Peserta berusia 12-22 tahun, karya yang dibuatkan merupakan karya asli, tidak pernah dipublikasikan, tidak bermuatan pornografi, dan tidak menyinggung SARA. Brand Manager PT Faber-Castell International Indonesia Fransiska Remila mengatakan karya pemenang dari masing-masing kota akan dikumpulkan untuk diterbitkan menjadi sebuah komik kompilasi. -wah


13 - 19 Oktober 2014

24

Budayakan Baca Sejak Dini “Buku adalah gudang ilmu”, demikian ungkapan yang sering kita dengar. Kata-kata ini memiliki makna yang lebih dari sekadar membaca. Artinya, dengan membaca banyak hal yang dapat diketahui. Dengan membaca pula kita bisa menjelajahi dunia tanpa harus menyinggahi semua tempat satu-persatu. Maka, Denpasar Book Fair pun menjadi salah satu upaya pemerintah Kota Denpasar untuk meningkatkan minat baca masyarakat, yang telah digelar 3 s.d 5 Oktober 2014, di kawasan Pedestrian Jalan Kamboja Denpasar.

A

Wali Kota Denpasar IB Rai D. Mantra saat di pembukaan book fair 2014

cara yang mengusung tema “Spirit Saraswati Cipta Kreasi Anak Indonesia” meng­ hadirkan kegiatan rutin seperti bazar buku murah, bazar kuliner, juga ber­ bagai lomba disertai pula peluncuran Tari Puja Saraswarti oleh Sanggar Cahya Art. Pada Denpasar Book Fair yang hadir untuk ke tujuh kalinya ini, lomba-lomba yang digelar berupa lomba scrapping book tingkat SD, SMP, SMA/SMK, lomba busana adat ke pura dan busana kasual endek, lomba mewarnai anak-anak TK, serta lomba menggambar tingkat SD. Tidak ketinggalan juga dilaksanakan bedah buku dan jumpa pengarang serta school time visiting, yakni one book for one visiting. Kepala Dinas Perindustrian Kota Denpasar, Drs. I Wayan Gatra, M.Si. menyatakan Denpasar Book Fair yang tahun ini terdiri dari 45 stan ini, bertujuan menyukseskan program Denpasar Kota Kreatif Berwawasan Budaya dalam Keseimbangan Menuju Keharmonisan. Juga, ikut serta dalam program mencerdaskan kehidupan bangsa melalui gerakan gemar mem­ baca. Selain itu, acara yang melibat­ kan industri penerbit, toko buku, komunitas baca, sanggar telematika dan sekolah-sekolah ini memberikan apresiasi dan kesempatan berek­ spresi kepada siswa-siswi untuk menampilkam inovasi dan kreativitas mereka dengan hiburan yang sehat. Ditemui secara terpisah Ketua Panitia Penyelenggara Denpasar Book Fair 2014, IA Dewi Citrawati, S.E., M.Si., yang juga Kabid Perdagangan Disperindag Kota Denpasar, didamp­ ingi IGA Laxmy Saraswaty, S.S., Kasi Usaha Disperindag Kota Denpasar, menambahkan bahwa kegiatan terse­

but merupakan refleksi serta filosofi Hari Suci Saraswati yang dimaknai dengan praktik nyata . ‘’Semua pro­ gram sudah dirancang untuk mem­ berikan semangat kepada masyarakat, terutama di kalangan anak-anak dan remaja dalam mengeksplorasi man­ faat maupun kesenangan yang dapat diperoleh dari buku dan kegiatan membaca,” ujar Dayu Citra. Ide dan kreativitas yang sangat menarik, juga terlihat dalam kegiatan scrapping book 3D competition bagi murid SD, SMP, SMA/SMK 2014 di Gedung Rumah Pintar. Di sana para siswa beradu kreativitas membuat majalah dinding dalam bentuk tiga dimensi. Mereka, lanjut Laxmy, tidak hanya mengolah informasi namun juga menampilkan visualisasi karya inovatif, informatif dan unik, sehingga mengundang minat siswa lainnya un­ tuk melihat dan membaca. Siswa juga diajak menanamkan rasa memiliki, peduli sekitar dan menambah wa­ wasan melalui tema-tema yang dipilih.

Kegiatan ini juga menjadi sarana untuk melatih jiwa kompetitif, sportivitas dan kerjasama tim yang baik antar sesama teman. Sementara, Wali Kota Denpasar IB Rai Dharmawijaya Mantra men­ gatakan kegiatan Denpasar Book

Cok Murniathi

IA Dewi Citrawati

Fair untuk memperingati turunnya ilmu pengetahuan itu telah disesuai­ kan dengan konteks kekinian demi menumbuhkan kembali minat baca di kalangan siswa dan masyarakat. Terus menumbuhkan kecintaan siswa dan masyarakat terhadap buku. “Acara ini juga menunjukkan bahwa buku dapat memberikan manfaat dan inspirasi bagi kehidupan kita. Sebagai alternatif dalam memperluas wawasan untuk dapat mengikuti arah perkembangan zaman serta memberikan sumber ref­ erensi untuk dapat mengaplikasikan antara teori dan praktik. Buku pun da­ pat mengantarkan seseorang menuju perubahan yang lebih baik. Sehingga ,lebih lanjut masing-masing orang berinisiatif membuat taman bacaan sendiri di rumahnya, ” ujarnya.

gerakan gemar membaca, tapi juga gemar menulis, dan gemar meng­ unjungi perpustakaan. Salah seorang pengunjung Den­ pasar Book Fair, Cok Murniathi, yang juga Kepala Sekolah SD Saraswati 3 Denpasar ini mengatakan acara de­ ngan Spirit Saraswati ini sangat tepat. Sebab, agama mengarahkan hidup, ilmu pengetahuan memudahkan hidup, sedangkan seni menghaluskan hidup. “Karena itu, rangkaian acara pada book fair sangat tepat untuk anak-anak didik kami. Terutama, untuk turut meningkatkan minat baca di kalangan generasi muda. Disediakannya stan bacaan dengan diskon istimewa, juga mampu mem­ beri stimulan untuk menumbuhkan kebiasaan membaca sejak dini,” kata Bu Cok. Apalagi, kata Bu Cok, membaca itu luar biasa, selain melatih konsentrasi anak, cakrawala pengetahuan anakanak juga menjadi luas. Pada giliran­ nya anak-anak akan menemukan keasyikan dengan membaca sebagai salah satu proses belajar. Sementara pengetahuan yang diserap melalui membaca akan meningkatkan rasa ingin tahu dan mengasah kecakapan berbahasa anak Bicara bazar buku, bagi tiga remaja yakni Erika, Izzabillah dan Yanti murid kelas 9 dari SMP Ganesha Denpasar mengaku saat book fair adalah kesem­ patan mereka membeli buku cerita seperti komik dan novel dengan harga terjangkau. “Maunya kami selain stan yang julan buku murah, kami ingin ada stan-stan yang bisa memberikan informasi tentang bagaimana memilih sekolah lanjutan yang tepat, infor­ masi berbagai keterampilan untuk anak sekolah seperti stan yang bisa memberikan tips bisa menulis dengan mudah juga bagaimana bisa berbahasa Inggris dengan mudah, dan yang se­ jenisnya,” celoteh Izza yang diamini kedua temannya. Sedangkan pengunjung lainnya, yakni seorang ibu bernama Putu Ida mengaku sengaja datang ke book fair untuk membeli beberapa bacaan tentang hobi dan novel remaja yang tengah digemari, untuk kado bagi putrinya yang akan berulang tahun ke 15. ‘’Kado berupa buku ,tidak berarti ketinggalan zaman kan,’’ ce­ tusnya. -ard

BELI BUKU UNTUK KADO Denpasar Book Fair sebagai agenda tahunan Pemerintah Kota Denpasar, menurut beberapa masyarakat yang berkunjung meski belum sepenuh­ nya menjadi pusat promosi buku di Kota Denpasar dan pusat kegiatan baca-tulis, namun setidaknya berhasil dikemas untuk menghibur anak-anak dan masyarakat dengan tetap meng­ utamakan nilai-nilai edukasi. Berbagai harapan pun mencuat agar setiap tahun acara ini tetap hadir, dengan semakin banyaknya tersedia buku bacaan yang murah sebagai upaya terus menghangatkan budaya baca di masyarakat dan mampu menjadikan buku sebagai investasi kesuksesan di masa yang akan datang. Denpasar Book Fair, sebagai sarana yang bukan hanya mengampanyekan

Dari Kiri: Erika, Izzabillah, dan Yanti

Suasana persiapan lomba scrapping book

Suasana di salah satu stan buku


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook