5 - 11 Mei 2014
24
“Kisah dar i Ha ti Ko e s Plu s ”
Masuk Penjara demi Misi Negara Suasana meriah penuh nostalgia mewarnai acara peluncuran buku ‘Kisah dari Hati Koes Plus’ yang ditulis Ais Suhana, di Rolling Stone Café, Ampera Raya, Jakarta Selatan. Selain menggelar bedah buku yang dipandu pengamat musik Indonesia, Bens Leo, acara peluncuran buku Koes Plus ini juga dmeriahkan dengan pertunjukkan musik band Junior pimpinan Rico, anak alm Murry, drummer Koes Plus yang wafat Februari 2014 lalu, juga Koes Plus Pembaruan dan God Bless.
Y
on Koeswoyo, rhythm guitar sekaligus vokalis Koes Plus baru datang ketika hari lewat siang. Meski usianya hampir 74 tahun pada September mendatang, namun Yon tampak sehat dan enerjik, apalagi ketika ia tampil bersama Koes Plus Pembaruan menggoyang penonton dengan tembang-tembang hits band legendaries itu. Di antara personil Koes Plus/ Bersaudara, memang hanya Yon yang masih aktif hingga kini. Usia agaknya tak menghalanginya untuk tetap aktif keliling daerah untuk manggung. Dalam satu bulan, rata-rata 3-4 kali Yon dan grup band formasi barunya mendapat undangan manggung. Yon mendirikan formasi barunya dengan nama Koes Plus Pembaruan 2004, dan hanya Yon satu-satunya personil asli Koes Plus yang memperkuat band ini. Sedang tiga lainnya rekrutan baru; Danang, Sonny dan Seno, yang sebelumnya memang sangat suka menanyikan lagu-lagu Koes Plus. Sementara Yok Koeswoyo (64), meski sesekali masih tampil jika ada event-event nostalgia Koes Plus, namun tidak bergabung dalam formasi baru bentukan Yon karena memiliki kesibukan sendiri. Acara peluncuran buku menjadi makin meriah ketika God Bless yang saat itu kebetulan hadir dengan for-
1980-an hadir. Mereka datang selain memberi apresiasi atas eksistensi Koes Plus di jagat musik Indonesia, juga menjadikan acara tersebut sebagai tempat anjangsana, karena di hari-hari biasa mereka amat jarang bertemu satu sama lain. Suasana menjadi panas ketika God Bless naik panggung dan menyanyikan tembang-temang hitsnya. Penonton pun agak histeris kesenangan karena mereka pun menyukai tembang-tembang God Bless, sebut saja; Rumah Kita, Semut Hitam, dan Panggung Sandiwara. Ahmad Albar, vokalis God Bless yang Juli mendatang berusia 68
Koes Plus Dalam Kenangan
masi hampir lengkap, didaulat naik panggung oleh para hadirin. Tak pelak, Ahmad Albar, Ian Antono, Donny Fattah dan Abadi Soesman, bahkan Teddy Sujaya, mantan drummer God Bless, akhirnya naik panggung setelah penonton terus-menerus meneriakkan nama mereka. Cuaca di luar sebenarnya kurang mendukung, sejak siang terusmenerus hujan. Namun, para undangan yang memadati Rolling Stone Café , seolah tak peduli. Mereka tetap bergoyang dengan tembang-tembang nostalgia yang disajikan. Banyak musisi yang ngetop di era 1970 sampai
tahun, pun tetap energik berjingkrakjingkrak di panggung. “Masyarakat sangat mengapresiasi Koes Plus, itu pasti. Yah, siapa lagi yang menaruh perhatian pada musisimusisi kita kalau bukan masyarakat kita sendiri. Saya sendiri mengenal Koes Plus sejak tahun 60-an, cukup kenal baik meski secara music, genre kami berbeda,” ungkap Ahmad Albar yang didampingi Ian Antono. Satu hal yang ia harapkan adalah bersatunya keluarga Koeswoyo. “Yang paling saya harapkan, sebetul nya, keluarga mereka bisa bersatu kembali. Hanya Yon yang masih
Foto bersama seusai menerima penghargaan
Bedah buku Koes Plus karya Ais Suhana bersama Ahmad Albar, Ishadi sk, dan Bens Leo
eksis, sedang Nomo dan Yok sudah tidak aktif. Lebih bagus kalau mereka kumpul lagi, itu harapan saya. Supaya solid,” ungkap Iyek, sapaan akrab Ahmad Albar. GANG KOES PLUS DI SEMARANG Sejak berdirinya di era The Beatles tahun 1969, Koes Plus tetap digandrungi pencinta musik Tanah Air. Sebelum membangun Koes Plus, Tonny, Yon dan Yok tergabung dalam Koes Bersaudara bersama Nomo dan John yang memulai debutnya pada tahun 1960. Namun John dan Nomo mengundurkan diri sehingga tinggal Tonny, Yon dan Yok yang kemudian mengubah nama band tersebut menjadi Koes Plus karena masuknya personil baru yang bukan anggota keluarga Koeswoyo, yakni Murry (drummer). Grup musik yang terkenal pada dasawarsa 1970-an ini dianggap sebagai tonggak industri musik Indonesia, sebagai pelopor musik pop dan rock ‘n roll. Ratusan lagu karya mereka menjadi hits dan dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Bahkan setelah mereka tidak terlalu aktif pun lagu-lagunya tetap berkumandang. Para fans fanatik yang berada di berbagai daerah di Indonesia kemudian membentuk fans club sendiri-sendiri. Sungguh luar biasa. Ais Suhana bercerita, saking gandrung masyarakat pada lagu-lagu Koes Plus, sampai-sampai ada jalan bernama “Gang Koes Plus” di Semarang, Jawa Tengah. Konon, di sana masyarakatnya penggemar berat Koes Plus dan setiap 17-an (perayaan Hari Kemerdekaan) warga menggelar “koesplusan” atau acara menyanyikan lagu-lagu Koes Bersaudara dan Koes Plus. Koes Plus memang luar biasa. Banyak lagunya yang kemudian diaransemen ulang dan dinyanyikan kembali oleh para penyanyi atau grup band terkenal Tanah Air. Sebut saja alm Chrisye yang memopulerkan kembali lagu ‘Cintamu T’lah Berlalu’, atau ‘Manis dan Sayang’ yang di bawakan oleh Kahitna, Lex’s Trio pun melakukan hal yang sama. Atau, Ruth Sahanaya yang kembali mengangkat lagu ‘Kisah Sedih di Hari Minggu’. Band ini sempat tenggelam ketika Tonny Koeswoyo wafat tahun 1987. Koes Plus menghilang bak ditelan bumi. Beruntung, Ais Suhana, pemerhati dan promotor musik, berjuang membangkitkan kembali kejayaan band legendaris ini pada 1993, de ngan formasi Yon, Yok, Murry dan Abadi Soesman. Tapi formasi ini hanya bertahan dua tahun saja, setelah itu Koes Plus pun kerap berganti-ganti personil. Yok sendiri sejak lama tidak lagi aktif, hanya tersisa Yon dan Murry, yang kemudian mengundurkan diri. “Koes Plus adalah aset nasional,” tegas Abadi Soesman, pemain gitar dan keyboard Koes Plus pada 1992-
93. Abadi Soesman bertutur me ngenang saat ia bergabung dengan Koes Plus. Ketika itu, katanya, bandband asing dengan mudah masuk ke Indonesia. Lalu dia pun mendatangi Yon, Yok, untuk membangkitkan Koes Plus lagi. Sambutan mereka positif. Hanya saja, untuk mengajak Yok, perlu usaha keras. “Sampai-sampai saya harus ne menin dia seharian mancing. ‘Aku main band dari zaman Jepang apa nggak blenek (mual),” kenangnya mengutip ucapan Yok saat itu, sambil tertawa. DIJEBLOSKAN KE PENJARA Buku ‘Kisah dari Hati’ Koes Plus yang ditulis Ais Suhana, merupakan catatan sang penulis tentang pertemanannya selama 44 tahun lebih (1969 akhir hingga awal 2014) bersama Koes Plus. Banyak cerita menarik yang belum diketahui publik, diungkap Ais. Salah satunya adalah pengalaman ketika personil Koes Plus yang ketika itu masih bernama Koes Bersaudara, dijeblos kan ke Penjara Glodok pada tahun 1965 oleh pemerintah Orde Lama lantaran musik ‘ngak-ngik-ngok’ yang mereka mainkan. Berita penahanan Koes Bersaudara ini juga muncul pada media terkemuka Inggris, The Observer dan The Guardian terbitan 19 November 2000. Di sana disebutkan, “Tahun 1965 grup band Koes Bersaudara ditahan karena memainkan lagu-lagu Beatles.” Tonny, tutur Ais mengutip ucapan Yok, sempat kecewa dengan kejadi an tersebut dan melampiaskannya dalam album To The So Called The Guilties yang mengisahkan pengalaman mereka di penjara. Belakangan personil Koes Plus baru tahu latar belakang mereka dijebloskan ke penjara yang konon berkaitan dengan rencana menjalankan misi rahasia ke Malaysia yang dulunya bernama Malaya. “Waktu itu kita kurang sreg dengan berdirinya Malaysia yang sebelumnya bernama Malaya,” tutur Yok sebagaimana ditulis Ais dalam buku ‘Kisah dari Hati Koes Plus’. Jadi, jika tidak terjadi peristiwa G30 S PKI 1965, kemungkinan Koes Bersaudara bakal dikirim ke Malaysia untuk melaksanakan misi rahasia negara. Waktu itu dalam pidato perayaan HUT GMNI 1965, Bung Karno dalam pidatonye menyatakan,”Djangan seperti kawan-kawanmu Kus Bersaudara. Masih banyak lagu Indonesia, kenapa mesti Elvis-Elvisan, ber-ngakngik-ngok…,” tutur Djon Koeswoyo. Koes Bersaudara ternyata sengaja dimasukan ke penjara untuk memberi kesan bahwa grup tersebut tidak disukai pemerintah sehingga jika mereka dikirim ke Malaysia untuk manggung, tidak ada kecurigaan. –Diana Runtu
EKSPRESSO
2
5 - 11 MEI 2014
GORO-GORO
klik: www.tokoh.co.id
PEDOFILIA
mingguantokoh @mingguantokoh
Jengah Awal Mei merupakan momen yang selalu diingat kaum pekerja dan pelajar. 1 Mei atau May Day sebagai Hari Buruh dan 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional. Keduanya memiliki korelasi karena sama-sama memperjuangkan sesuatu. Para buruh bekerja untuk mencari nafkah. Nafkah untuk menghidupi diri sendiri dan menghidupi keluarga. Mereka berjuang melakukan kewajiban untuk mendapatkan hak. Para pelajar juga berjuang meraih ilmu pengetahuan sebagai bekal mereka menghadapi persaingan
O
M G
kehidupan. Bekerja dan belajar juga memiliki persinggungan ketika orangtua bekerja untuk mendapatkan uang demi biaya sekolah anaknya. Anak yang disekolahkan itu diharapkan menjadi investasi masa depan yang bisa memperbaiki kondisi keluarga. Ada yang berhasil, ada yang gagal.
Pendidikan juga bukan domain anak-anak saja karena banyak orangtua yang semangat ikut belajar. Longlife education menjadi alasan orangtua untuk ikut belajar. Bukan gelar yang mereka cari tetapi mereka ingin menjadi motivator dan inspirator bagi generasi muda. Generasi muda harus jengah karena masa depan ada di tangan mereka sendiri. Bersiaplah menyongsong masa depan. Salam
Mohon info no HP atau alamat praktik dr. Oka Negara Wayan Sana (Padangasambian) l HP dr. Oka Negara 08123979397 l
Mohon info no HP Guru Mangku Hipno
l
Ketut Suadnya (Penatih), Ariana (Petapian) Guru Mangku Hipno, Center Brahmakunta Supranatural & Spiritual: Perumahan Gunung Sari Indah, Jln Tukad Buana 1 no 61 Kebo Iwa Utara, Denpasar. Telp. (0361) 7879151, (0361) 8442823
l
Filosofi Rautan Berkaca
Dulu, ketika kita membeli sebuah rautan yang berbentuk bulat, kita selalu menjumpai ada sebuah cermin di baliknya. Pernahkah kalian berpikir kenapa orang-orang dulu sengaja menyelipkan cermin di belakang rautan tersebut? Ini mungkin karena mereka ingin mengajarkan pada kita sebuah filosofi. Bahwa sebelum kita ingin membenahi sesuatu atau sebelum kita memberi kritik pada seseorang sebaiknya kita bercermin dulu, dan atau sebaiknya kita melihat diri kita sendiri dulu, apakah kita sudah lebih baik dari orang tersebut. Inilah yang diucapkan sang master Deddy Corbuzier dalam salah satu acara talkshow di salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia. Dan, ternyata filosofi ini menjadi cerminan bagi saya dalam kejadian yang saya alami beberapa hari yang lalu. Begini ceritanya. Sore itu saya dalam perjalanan pulang ke rumah setelah bekerja seharian di kantor. Udara sore itu terasa begitu sejuk, langit agak mendung, tapi belum tampak hujan akan turun. Angin bertiup sepoi-sepoi, membuat saya ingin berlama-lama dalam perjalanan saya. Saya memacu motor dengan perlahan sambil menikmati indahnya suasana sore itu. Tiba-tiba di depan kendaraan saya melaju sebuah sepeda motor yang ditumpangi oleh dua orang
mingguan berita wanita Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998
gadis muda. Mereka tampak asyik mengobrol sambil berkendara tanpa menyadari bahwa posisi standar kendaraan mereka belum dinaikkan. Hal ini tampak sangat berbahaya. Sebagai seorang manusia yang berbaik hati, saya berusaha untuk memperingati mereka sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan. Saya pun mempercepat laju motor saya. “Mbak, standarnya!” seru saya sambil menyalip motor kedua gadis tersebut. Dari kaca spion motor saya, saya dapat melihat kedua gadis itu mulai menyadari kekeliruan mereka. Mereka segera membetulkan posisi standar kendaraan mereka.
Dalam hati saya merasa sangat bangga karena telah dapat berbuat baik sore itu. Saya pun melanjutkan perjalanan saya dengan hati gembira. Namun tiba-tiba… “Tiit… Tiit…” Terdengar bunyi klakson di belakang saya. Saya pun melihat ke arah kaca spion motor saya. Tampak kedua gadis tadi berusaha mengejar laju kendaraan saya. Saya memperlambat laju motor saya agar mereka dapat menyusulku. Dalam hati saya berpikir, mungkin mereka ingin mengucapkan terima kasih. Haha.., senangnya. Setelah posisi kendaraan kami sejajar, apa yang diucapkan kedua gadis itu sungguh membuat saya terkejut dan amat malu. “Mas, standarnya juga,” seru mereka berbarengan. Saya pun segera melihat ke arah bawah motor saya. Astaga, ternyata benar, sedari tadi standar motor saya pun lupa saya naikkan. Kedua gadis itu pun melaju pergi sambil cekikikan. Dalam sekejap sore yang indah itu pun berubah menjadi sore yang suram. – Afrizal, Denpasar
Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. Panjang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan no kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373
Putu Wijaya
I N F O TO R I A L
5 - 11 MEI 2014
Sekolah CIS Bali Bebaskan Biaya Uang Gedung Dikenal Disiplin, Pendekatan Personal Bagus, Materi Plus
“Bapak dengar ada anak TK umur 6 tahun di sebuah sekolah internasional di Jakarta, diperkosa oleh petugas kebersihan?” “Disodomi?”
“Ya.” “Oleh 4 orang office boy dibantu seorang perempuan?” “Betul!” “Itu namanya pedofilia!” “Terserah apa namanya. Tapi menurut bapak siapa yang salah?” Amat berpikir. “Kok begitu saja mikir. Jelas yang salah yang memperkosa! Harus dihukum mati. Semua ibu-ibu tetangga sudah setuju!” Amat ketawa. “Bapak jangan ketawa. Bagi seorang ibu arti anak beda dengan laki-laki. Bagi kami, anak adalah segala-galanya. Kami mencintai anak lebih dari cinta kami pada diri sendiri!” “Juga lebih cinta kepada anak daripada kepada suami? “Lebih!” Amat tertegun. Ia teringat sejak Ami lahir, ia seperti kehilangan istri. Karena seluruh perhatian Bu Amat tertumpah pada anak. Sejak itu Amat, mulai membiasakan mengurus perasaannya sendiri. Ia kehilangan kemesraan. Dan selalu bertanya-tanya, apakah itu dialami oleh setiap suami? Jawabannya membingungkan. Ada yang ya, ada yang tidak. “Bapak harusnya mengutuk perbuatan biadab itu!” “Tentu saja.” “Tentu saja apa! Tentu saja, tapi Bapak tidak kelihatan marah. Pada hal dulu waktu PSSI dikalahkan Malaysia, sampai membanting gelas!” “Ya, nanti tak banting dua gelas!” Bu Amat marah. “Bapak suka melucu tidak pada tempatnya! Heran ya, laki-laki kok kurang halus perasaannya kalau ada kejahatan susila!” Bu Amat langsung meninggalkan Amat. “Ibu kamu menuduh bapak kurang peka kalau menghadapi kejahatan-kejahatan susila. Hanya karena bapak tidak mengutukngutuk pelaku sodomi di sekolah internsional itu Ami,” curhat Amat mengadukan kemarahan istrinya. Ami yang sedang menyuapi anaknya tak menjawab. “Apa bapak harus banting sepuluh gelas untuk menunjukkan kemarahan terhadap perbuatan iblis itu? Masak anak baru 6. tahun dikerjain ramai-ramai? Itu perbuatan binatang! Sampai-sampai anak itu kena penyakit kelamin lagi! Itu kelakuan terkutuk! Seumur hidup anak itu akan dihantui trauma laknat itu. Di Amerika Serikat, kabarnya memperkosa itu hukumannya mati. Di sini apa? Hukum kita lemah ketinggalan zaman. Makanya kejahatan terus merajalela! Sekolah itu, perusahaan yang memasok office boy itu ikut bertanggungjawab. Dia harus ikut memikul penderitaan korban dan keluaganya! Anak kecil berarti nyawa ibunya, kok diperkosa, kan banyak pelacur laki-laki di jalanan kalau mau sodomi? Dasar bejat! Tidak bermoral! Iblis!” Amat terus memaki berkepanjangan. Ketika suami Ami masuk rumah, Amat baru berhenti mengumpat. Dadanya sesak. Menantunya cepat datang menghampiri. “Kenapa, Pak?” Ami menolong bapaknya menjawab: “Bapak lagi latihan marah, untuk dipentaskan di depan ibu.” Sugi, suami Ami tersenyum. Lalu berbisik di telinga Amat. “Betul, Pak. Kadang-kadang di rumah juga perlu sandiwara untuk menjaga harmoni.” Tapi Ami langsung membentak. “Siapa bilang! Itu kan rumah tangga kuno. Sekarang tidak boleh ada sandiwara di dalam rumah! Bapak tidak perlu marah-marah seperti pemain sandiwara! Bapak diam saja, air muka bapak sudah menunjukkan bapak marah atau tidak!” “Bapak biar diam sebetulnya marah, bahkan lebih dari ibu mertua kamu itu, Sugi, tapi dia tidak mengerti. Bapak dimarahin karena dianggap tidak marah sama pelaku sodomi itu!” Sugi langsung mengerti apa yang sudah terjadi. Dia memotong dengan suara adem. “Saya kira, ibu tidak marah sama Bapak, hanya marah pada keadaan. Tapi siapa lagi yang bisa dimarahinya kalau bukan Bapak?!” Amat tercengang. Ia menatap menantunya. “Kok kamu berpikir begitu?” Sugi menunjuk Ami. “Itu anaknya, juga selalu begitu.” Ami ketawa.
Pemimpin Perusahaan: IDK Suwantara. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budia rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Sek retariat: Ayu A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan Palm erah B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–Telepon (0370) 639543– Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–Faksi mile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BCA Cabang Pal merah Barat Jakarta. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 229.3006644 Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.
23
Gedung CIS Bali
S
ekolah CIS Bali adalah sekolah swasta terbaik di Badung. Sekolah ini didirikan oleh penggiat pendidikan, pengusaha sekaligus anggota DPRD Badung Drs. I Putu Parwata MK., M.M. Komitmen dan dedikasinya terhadap dunia pendidikan diwujudkan dalam karya nyata dengan mendirikan sekolah CIS Bali yang mampu mencetak tamatan cerdas, unggul dan berdaya saing.
Lusi
Tak hanya itu, Putu Parwata juga memberi kesempatan kepada masyarakat untuk menyekolahkan anak-anaknya di CIS Bali dengan membebaskan biaya uang gedung untuk siswa SMP dan SMA. Bahkan bagi siswa kurang mampu, mereka dibebaskan dari uang SPP dan uang gedung. Hal ini berlaku bagi siswa dari seluruh wilayah Badung khususnya, dan
Siswa TK belajar
Bali umumnya. “Ini bentuk komitmen saya membantu pemerintah turut mencerdaskan anak bangsa. Apa yang menjadi tuntutan orangtua siswa terhadap pendidikan berkualitas, semuanya ada di CIS Bali. Silakan masyarakat memanfaatkannya,” terang kandidat doktor ini. Sekolah CIS Bali yang berdiri tahun 2012 ini, terus menuai kesan positif dari masyarakat. Puluhan orangtua sudah mendaftarkan anak-anaknya di sekolah swasta unggulan ini. Pertimbangan utamanya, sekolah CIS Bali dikenal disiplin, materi pelajarannya lebih banyak dan bervariasi (plus) serta pendekatan personal (pribadi) yang bagus dari para guru kepada siswanya. “Saya memilih sekolah CIS Bali untuk kualitas pendidikan anak saya. Fasilitas lengkap dan lokasinya yang relatif dekat,” ungkap Lusi, orangtua Patrick Owen Eldorado (7), siswa SD CIS Bali. Tak hanya fasilitas sekolah yang jadi pertimbangan Lusi, pendekatan personal para guru dalam memperlakukan siswanya membuat Lusi yang tinggal di Canggu ini semakin yakin bahwa anaknya mendapatkan pendidikan yang tepat dan kelak tumbuh menjadi pribadi mandiri, berkarakter dan mampu bersaing. Lusi bertekad akan meneruskan pendidikan anaknya di Sekolah CIS Bali hingga lanjutan (SMP, SMA).
“Saya yakin ke depannya CIS Bali akan bertambah bagus. Jadi tidak perlu pindah atau cari sekolah lain. Anak saya akan terus bersekolah hingga tingkat lanjutan di CIS Bali,” tekad wanita asal Surabaya ini. Tak hanya Lusi, Putu Mahardika, ayah dari siswi kembar Ayu Ratih dan Ayu Intan (TK A) juga berkesan yang sama. Meski hanya seorang penjahit, Putu tak main-main memilih sekolah demi pendidikan berkualitas anak-anaknya. Menurutnya, selain lokasi sekolah dekat dengan tempat tinggalnya, CIS Bali punya pola pengajaran yang teratur dan disiplin. “Saya tahu pendiri sekolah ini Bapak Putu Parwata dan Ibu Ayu yang dekat dengan masyarakat Dalung dan punya komitmen memajukan dunia pendidikan. Bagi saya pendidikan sangat penting bagi masa depan anak-anak saya,” jelas lelaki yang tinggal di
Drs. I Ketut Widia Astika
Drs. I Putu Parwata MK., M.M.
bagus dari para guru CIS Bali menurut Ms. Ria dan Ms. Yuni (guru TK A dan TK B) merupakan sikap yang harus dimiliki semua guru.Mengingat, para siswa PG dan TK khususnya adalah anak-anak yang masih sangat membutuhkan bimbingan untuk bisa menyesuaikan diri, bersosialisasi dan saat menerima materi pelajaran. “Proses pengajarannya masih bersifat pengenalan. Kita memberikan bimbingan lewat bernyanyi, menggambar, mewarnai dan berhitung. Materi pelajaran sama dengan TK umumnya. Bahasa Inggris kita berikan lewat komunikasi (bilingual) yang ringan dan mudah dimengerti. Target sekolah, TK A bersifat pengenalan, TK B sudah bisa membaca, dan lulus TK sudah siap menerima pelajaran SD,” jelas Ms. Ria.
cerdas, berkarakter sekaligus sanggup bersaing dan unggul di berbagai bidang. Sekolah CIS Bali menjadi salah satu contoh,” kata Widia Astika.
JADI TUNTUTAN Sementara itu, Kadisdikpora Badung Drs. I Ketut Widia Astika, Perum Dalung Pemai ini. Beda dengan Lusi dan Putu M.M. meminta sekolah swasta Mahardika, wanita asal Yogya- dengan pendidikan berstandar karta bernama Anastasia Binatri, nasional plus ini, untuk selalu memindahkan sekolah anaknya menyesuaikan materi dan kurikudari sebuah sekolah swasta cu- lumnya sesuai tuntutan kemajuan kup ternama di Kuta ke CIS Bali. zaman. Kualitas sekolah sudah Alasannya, CIS Bali yang terbaik. menjadi tuntutan masyarakat “Saya sudah keliling mencari saat ini. Para orangtua akan sekolah yang pas buat anak saya berusaha mencari sekolah terdan ternyata CIS Bali yang ter- baik bagi anak-anaknya. Sekolah baik. Biayanya pun tidak terlalu negeri tidak lagi menjadi priorimahal jika dilihat dari fasilitas dan tas, tetapi sekolah swasta yang gedung sekolah yang megah,” mampu menjaga kualitas, itulah yang dicari. “Pengelola sekolah tutur Anastasia. swasta harus paham apa tuntutan masyarakat saat ini yakni sekolah BIMBINGAN yang bisa membuat anak-anaknya DAN PENGENALAN Pendekatan personal yang tumbuh menjadi pribadi mandiri, Putu Mahardika
Siswa SD belajar
SAMPAI 31 JUNI Sekolah CIS Bali berlokasi di Perum Dalung Permai, Jln. Bhineka Nusa Kangin1-X Dalung, Kuta Utara, Badung, Bali. CIS Bali adalah sekolah terintegrasi yang terdiri PG (Play Group), TK (A dan B), SD, SMP dan SMA serta Program Diploma (D1 dan D2) Pariwisata. CIS Bali adalah sekolah bilingual yang tetap mengedepankan kearifan lokal. Tahun ajaran baru 20142015, Sekolah CIS Bali menerima pendaftaran siswa baru. Pendaftaran dimulai 1 Januari 2014-31 Juni 2014. Mendaftar pada Januari 2014 mendapatkan potongan biaya 25%, Februari 20%, Maret 15%, April 10% dan Mei 5% dari uang pembangunan dan SPP 1 bulan.
Taman yang asri
Anastasia Binantri
W H AT ’ S U P
22
Pemda Gianyar Teruskan Geliat Pengembangan Endek Beberapa produk kerajinan unggulan UKM Gianyar, seperti kerajinan perak, kayu, lukisan, tenun ikat dan batik Bali yang hadir dalam acara tahunan Inter national Handicraft Trade Fair (Inacraft) 2014 di Jakarta Convention Centre (JCC) yang berlangsung pada bulan April belum lama ini dipenuhi pengunjung dan men dapatkan respons positif.
Wayan Suamba
M
enurut Kepala Di nas Perindustrian dan Perdagangan Gianyar, Ir. Wayan Suamba, M.T., seiring perjalanan waktu, bidang seni dan kerajinan lainnya juga terus dikembangkan. Selain pemerintah daerah, hal ini merupakan kewajiban bersama BUMN dan pihak swasta lain nya sesuai dengan himbauan Presiden saat pembukaan Pameran Inacraft ke 16 di JCC pada April 2014. Berlanjut pada program dukungan terhadap pengembangan endek di Gianyar, Suamba mengatakan Bupati Gianyar AA Gde Agung Bharata yang selalu mengenakan endek di berbagai acara ini, sangat konsen bahkan beren cana membangun khusus pasar yang menjual endek di daerah jurusanTam paksiring menuju Istana. Ide tersebut, sebenarnya telah dimunculkan saat menjabat Bupati Gianyar periode 2003–2008 silam. Sebagai Kadisperindag, ia ditugas kan merancang pembiayaan patungan pusat (APBN) dengan APBD kabu paten. Selanjutnya bekerjasama pula dengan beberapa art shop yang ada di Gianyar untuk memajang produk endek serta bekerjasama dengan Taman Safari yang ada di Gianyar. “Bangunan disiap kan dan pengrajin tinggal mengisinya.
Sedang dipersiapkan bentuk kerjasama nya,” ungkap Suamba. Ia juga menye butkan akan dibuatnya buku khusus yang membahas dan mengungkapkan keberadaan endek Gianyar. Untuk pengerjaannya, kerjasama dilakukan dengan Perguruan Tinggi yang ada di Bali. Apalagi di Gianyar juga terdapat salah satu kain Bebali. Perihal hal ini, Suamba mengaku bakal menindaklanjuti informasi keberadaan wastra Bali, bernama kain Kemit yang dulu disebutkan pernah diproduksi masyarakat Pejeng. AA Tirta Rai, salah seorang dosen ISI Denpasar, menga takan wastra Kemit yang tampaknya sepert kain lurik tersebut termasuk kain Bebali, dan karena digunakan sebagai sarana upacara maka Kemit pun tergolong wastra wali. Agar tidak lanjut tenggelam, Tirta Rai pun meng harapkan Kadisperindag Gianyar untuk merekonstruksinya kembali. ENDEK TAK PERNAH KEHILANGAN PESONA Kain endek sebagai salah satu warisan leluhur masyarakat Bali dengan keindahan ragam motifnya. Mulai dari flora dan fauna juga motif yang diam bil dari mitologi Bali seperti wayang menjadi ciri khas kain endek Bali yang sangat menarik dan wajib dilestarikan. Apalagi tiap kabu paten memiliki motif dan ciri khas tersendiri termasuk Gianyar. Suamba menyatakan, di tiap pameran yang mengikutkan Gia nyar, endek akan selalu diikut kan, baik pameran bersifat lokal maupun nasional, sebagaimana kerajinan perak, kayu, lukisan dan lainnya yang sudah lebih dahulu dikenal. “Yang ter dekat adalah keikutsertaan Gianyar pada event fashion di JFFF pada 19 Mei mendatang di Jakarta. Di sini pemda kembali menjalin kerjasama dengan de sainer Gianyar,” ujarnya. Atas kesigapan Pemda Gia nyar untuk pengembangan endek yang sempat terpuruk, Tjokorda Gde Abinanda Su kawati, desainer yang sempat sekolah mode di London ini merespons positif upaya Pemda Gianyar lebih memasyarakat kan endek. Salah satunya, dengan memberi kesem patan
Made Karya, salah se orang pengrajin yang berkesempatan mengi kuti pameran di Inacraft tahun ini, mengatakan siap mendukung keg iatan Pemda Gianyar terkait urusan industri tenun. Dengan pengala mannya di dunia seni tenun sejak tahun 80an, termasuk yang diperolehnya saat ia bekerja di pertenunan Cap Chili ini mengata kan dengan tidak ber henti berinovasi dan menjalin kerjasama yang baik dengan pen grajin lainnya ia yakin endek bisa bersaing dengan serbuan tenun ikat yang datang dari
pengrajin endek Gianyar ikut dalam pameran yang diadakan di lokal Gia nyar, di tingkat provinsi, dan di ajang nasional. Desainer yang biasa disapa Tjok Abi ini juga melihat pemerintah telah memberikan pengarahan kepada pengrajin endek bukan hanya soal mengembangkan desain tapi juga warna endek sesuai tren. Membina para pengrajin endek agar kualitas produk makin membaik dan dapat bersaing di pasar. Sebagai perancang busana ia sangat terkesan dengan kain ataupun motif yang dihasilkan para pengrajin di Gianyar. “Makanya selama ini saya se lalu berusaha mengenakan kain–kain tradisional dalam membuat koleksi saya. Salah satunya endek yang dikombinasikannya den gan bahan lainnya agar tidak jenuh. Endek pun tetap segar, cantik dipakai serta tidak monoton dan tidak statis,” ungkap putra tunggal tek nokrat ter mashyur B a l i , Dr. Ir.
5 - 11 mei 2014
5 - 11 Mei 2014
Tjokorda Raka Sukawati ini. Begitu juga yang disampikan Wayan Budi salah seorang staf Pertenunan Pu tri Ayu, yang berlokasi di Blahbatuh ini. Pemilik pertenunan I.B Adnyana tidak berhenti berkreasi dalam memproduksi kain tenun ikatnya. Diantaranya meng gunakan teknik air brush pada motif dan pewarnaan yang diterapkannya pada
luar Bali. Ia juga mengatakan kualitas tenun seperti yang dikerjakan oleh para penenunnya menjadi keunggulan ke napa karyanya pantas dipilih. Disamp ing desain yang siap dibuatkan sesuai keinginan pemesan. “Selama ini kami banyak mengerjakan endek berisi logo perusahaan atau perkumpulan,”
Ragam warna endek pucuk
tenun yang khusus bermotifkan pucuk sebagai maskotnya Gianyar. Tenun ikat khas Gianyar ini juga dihadirkan dalam tiga pilihan yakni endek pucuk, songket pucuk dan dobby pucuk . Selain itu juga yang merupakan kombinasi ikat dan songket menjadi kannya unik dan khas. Produk songket ini tergolong songket inovasi, yakni lembarannya tidak terpotong seperti songket pada um umnya. Ta k k e t i n g galan kain ber corak unik dan berwarna khas ini juga menarik per hatian dua anak Pr i k a d a n G a lih. Pemilik merek Manikan tersebut memproduksi tas yang terbuat dari endek sejak 2011. Meskipun saat ini banyak bere dar kain ikat yang dic etak (print), mereka tetap se tia menggunakan kain warisan nenek moyang ini. “Selain berbisnis, kami juga ingin mempopuler kan kain khas tempat kami dilahirkan. Makanya, kami menggandeng perajin endek dari Gianyar ini,” tegas Prika. Pemilik pertenunan Dewi Karya di kawasan Bona Kaja, Gianyar, I Gusti
ungkap Gusti yang beberapa desainnya telah memiliki hak paten seperti logo Pemkab Gianyar dan logo PKB ini. Mengenai kendala, Gusti juga tak menampik bahwa SDM masih menjadi hal yang perlu dicarikan solusi kede pannya. Meski ia tak pernah putus asa dengan selalu bersedia melatih siap saja yang mau belajar soal tenun. “Dari sepuluh yang belajar, bisa jadi dua saja sudah patut disyu kuri. Ini bibit yang bisa dikembangkan lagi,”cetusnya. Mengenai pem binaan oleh Pemda Gianyar, menurut Gusti Karya, sudah dilakukan misal nya melalui Dinas Koperasi, Disper indag, Dekranasda atau menjadi binaan BUMN di lingkungan Gianyar. Meski disa darinya pemerintah tentu tidak mung kin bisa membantu sekaligus semua UKM di Gianyar yang mencapai 7000-an. Pengrajin pun hendaknya proaktif mencari informasi langsung ke instansi terkait. “Pemda juga perlu melengkapi mengadakan penyegaran tiap enam bulan sekali dan evaluasi langsung ke lapangan,” tegas Gusti. –ard
S E L E B R I TA S
3
IGA Andani
Ilmu adalah Punia Tertinggi “Punia yang paling tinggi dan paling berharga adalah ilmu. Ilmu bisa dibawa kemana-mana dan bisa mengubah masa depan seseorang.” Petuah orangtuanya itu selalu terngiang di telinga I Gusti Ayu Andani, S.T., M.T. Itu pula yang memotivasi putri kedua Drs. I Gusti Made Bawarta dan IGA Ayu Kurniadi ini untuk memilih pulang ke Bali setelah menyelesaikan pendidikannya di ITB dan mengabdi menjadi dosen. “Dengan menjadi dosen (pengajar), kita juga belajar, mendapat feedback dari mahasiswa yang semakin menambah khasanah ilmu yang kita punya,” imbuh perempuan berparas cantik ini.
B
aginya, ilmu yang bisa didapat melalui pendidikan ini sangat lah penting. Dengan pendidikan kita bisa mepunia, tahu harus berbuat apa dan dengan cara apa untuk kebaikan diri sendiri, keluarga dan masyarakat. “Karena, orang-orang yang berpendidikan inilah yang akan mampu membuat perubahan ke arah positif dan memberikan dampak luas (multiplier effect) untuk masyarakat,” ujar dosen S-2 Perencanaan Pem bangunan Wilayah dan Pengelolaan Lingkungan (P2WL) Universitas Mahasaraswati, Denpasar ini. Selalu melangkah dengan moto hidup “Kemampuan Terbatas, Usaha Tak Terbatas”, begitu pula Andani -sapaan akrabnya menapaki usia mudanya untuk melakukan banyak hal. Sejak SD, Andani yang dahulu bercita-cita menjadi dokter tekun belajar hingga peringkat tiga besar tak pernah lepas dari tangan nya. Menginjak bangku sekolah menengah, impiannya makin tinggi, yakni menjadi dokter yang juga dosen. “Intinya, saya ingin mengajar,” te gasnya. Dengan im pian itu pula, Andani selalu meraih predikat Juara Umum di almamater nya saat itu, SMPN 7
Denpasar dan di SMAN 1 Den pasar. Selepas SMA, ia dihadapkan pada dua pilihan berat, melanjut kan kuliah di Fakultas Kedokteran atau Teknik Planologi di ITB. Atas berbagai pertimban gan, akhirnya perempuan kelahiran Denpasar, 21 Desember 1990 ini mengambil Program Studi Teknik Planologi (Perencanaan Wilayah dan kota) di Institut Teknologi Bandung (ITB) lewat jalur USM. Perkuliahan S-1 dan S-2 Perencanaan Wilayah dan Kota, Teknik Planologi ITB pun dituntaskan nya dalam waktu lima tahun melalui program jalur cepat (fast-track). “Jadi, saat mengerjakan tugas akhir/skripsi S-1, saya juga mengambil kuliah S-2,” ujar lulusan S-1 dan S-2 Perencanaan Wilayah dan Kota, Teknik Planologi ITB dengan predikat cumlaude ini. Sembari fokus kuliah, adik dari IG Bagus Andika, S.T. yang merupakan alumni Teknik Sipil ITB dan kakak dari IG Bagus Aditya, S.E. ini juga terlibat dalam beberapa kegiatan yang dilaku kan Tim Lembaga Afiliasi Penelitian dan Industri (LAPI)-ITB, seperti Kajian Pembangunan Jembatan Selat Sunda dan perencanaan tata ruang serta infastruktur di Jawa Barat, Kalimantan Selatan, dan Papua. Dari pengalaman-pengalaman itu, wawasan keilmuannya makin bertambah. Menurut Andani, keil muan Perencanaan Wilayah dan Kota ini akan terus digunakan dan tetap ada selama pembangunan berjalan. Keilmuan ini dikatakannya sangat luas dan komprehen sif, tak hanya fisik dan lingkungan, namun juga ekonomi, so sial, hukum, hingga politik. Di luar Bali, terutama di Indo nesia bagian barat keilmuan ini cu kup berkembang. Di Bali khusus nya, mungkin ilmu planologi ini kurang famil iar dan belum begitu berkem b a n g . Pa d a h a l p e n e r a p a n n y a sangat diperlukan bagi pembangunan Bali. “Bali perlu sentuhan keilmuan ini. Karena itu, ke tika banyak lulusan planologi memilih
Keterlibatan Andani (dua dari kanan) dalam tim LAPI-ITB saat survei kegiatan pertambangan di Pulau Sebuku, Kalimantan Selatan, November 2013
tak pulang ke Bali dan bekerja di luar daerah, saya justru pulang ke Bali untuk bisa membagi ilmu saya dan berbuat sesuatu untuk Bali. Ternyata di Bali pun sudah ada S-1 Teknik Planologi” ujar Andani yang pulang ke tanah kelahirannya, Bali, akhir 2013 silam dan juga membantu mengajar sebagai Dosen Luar Biasa di S-1 Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Unhi, Denpasar ini. KURSUS TATA RIAS Di sela-sela jadwal mengajarnya yang padat, Andani masih tetap ter libat dalam urusan tata kecantikan yang pernah ditekuninya dulu semasa SMA. Ia berpendapat, seseorang juga harus memiliki keterampilan. Karena itu pun, di waktu luangnya saat SMA dimanfaatkannya untuk ikut kursus kecantikan di LKP Agung.
Baginya, semasih muda, masih banyak hal yang bisa dilakukan. Melanjutkan kuliah S-3 di bidang Infrastructure Planning menjadi targetnya dalam tiga tahun ke depan. Menempuh jalur pendidikan ini ditegaskannya bukan semata-mata karena ia seorang dosen yang mengejar status dan gelar, namun lebih kepada pendalaman ilmu yang diperoleh. “Tentunya berbeda tataran di S-1, S-2, dan S-3. Ketika di S-2 kita mendalami ilmunya, di tingkat S-3 kita sudah harus mampu mengkritisi teori yang ada, bahkan membangun teori baru,” ucapnya. Selama mengajar, ia mengaku banyak hal yang didapat, salah satunya semakin kaya akan realita masalah yang ada di Bali. Yang menarik di Bali, dikatakannya adalah karena memiliki culture (budaya) yang kuat. Karena itu, yang seharusnya difokuskan di
Andani bersama keluarga
Keterampilannya merias ini akhirnya bermanfaat juga ketika ia tergabung dalam Unit Kesenian Bali Maha Gotra Ganesha ITB, terlebih sebagai Manajer Pementasan, yang kerap men angani pementasan kesenian. “Dengan belajar kesenian, rasa memi liki dan rasa bangga akan budaya Bali semakin besar,” ujarnya. Sepulangnya ke Bali, Andani pun kembali memperdalam ilmu tata rias nya hingga mengikuti uji kompetensi. Sebagai praktisi kecantikan, Andani juga ikut terlibat dalam penjurian Lomba Busana Adat ke Pura Ber pasangan dalam Porsenijar Denpasar 2014 beberapa waktu lalu. Dan, beberapa waktu ke depan, sudah di pastikan kegiatannya akan bertambah, seiring ditetapkannya Andani sebagai Ketua DPD Yayasan Argadia Cabang Bali pada April 2014. Yayasan yang bergerak di bidang busana tradisional daerah ini sejatinya telah lama ada di Bali, namun mati suri. DENPASAR KE DEPAN Andani memang sosok wanita muda Bali yang selalu haus akan ilmu.
Bali, bukan hanya pembangunan fisik, tapi sosial-budayanya. Jangan sampai pembangunan fisik itu meninggalkan unsur budaya setempat. Budaya Bali yang unik inilah yang mendatangkan dampak ikutan yang luar biasa di sektor pariwisata. “Merencanakan kota atau wilayah tanpa memper hitungkan aspek sosial-budaya sama saja dengan merencanakan kota tak berpenghuni,” imbuhnya.
Bagaimana kondisi Denpasar jika dilihat dari kacamata Plano logi? Khusus di Denpasar, Andani mengamati sudah ada upaya-upaya pemerintah untuk membangun cagar budaya seperti kawasan heritage Jalan Gajah Mada yang memiliki sejarah dan fisik bangunan khas. “Saya dengar di Denpasar sudah dilakukan identi fikasi kawasan atau bangunan urban heritage. Urban heritage ini penting sekali untuk membentuk citra kota. Saya berharap ada tindakan preservasi yang sama untuk bangunan-bangunan bersejarah lainnya” harapnya. Denpasar juga sudah memiliki taman kota dan adanya kegiatan car free day yang efektif sebagai alternatif ruang publik. Namun menurutnya, yang masih menjadi masalah adalah penataan parkir terutama di ka wasan padat lalu-lintas yang selalu berujung pada kemacetan. Menu rutnya, solusi jangka panjang untuk mengatasi kemacetan adalah melalui adanya sinergi antara pengembangan transportasi publik dan perencanaan penggunaan serta pemanfaatan la han. “Rencana tata ruang saya yakin disusun dengan sebaik mungkin dan dengan melibatkan partisi pasi masyarakat, namun lagi-lagi, kita kerap kecolongan saat implementasi, pengendalian, dan pengawasannya,” ujarnya. Semuanya itu dikatakannya terkait dengan institusional planning atau aspek kelembagaannya. Lantas, apa cita-cita Andani un tuk Denpasar ke depannya? “Ha haha.. Saya berharap sekali Denpasar memiliki sistem transportasi publik yang nyaman, menjangkau seluruh pelosok kota, dan terintegrasi de ngan transportasi publik di wilayah sekitarnya. Saya pun bermimpi agar Kota Denpasar menjadi kota yang ramah pejalan kaki,” jawabnya ter tawa ketika disodorkan pertanyaan tersebut. Denpasar sudah memi liki jalur khusus sepeda di beberapa kawasan, tinggal dibarengi dengan perbaikan jalur khusus pejalan kaki yang ramah (nyaman). “Jika sudah ramah pejalan kaki, lalu dibarengi juga dengan pengembangan tranportasi publik yang layak seperti yang sedang dilakukan sekarang, kecenderungan menggunakan kendaraan pribadi juga akan berkurang, dan berimbas pada menurunnya kemacetan lalu lintas,” tandasnya. –ten
Andani (paling kiri) dan Bu Agung (dua dari kiri) bersama Menteri Pendidikan M. Nuh dan istri dalam suatu kesempatan
INSPIRASI
4
L a e la S ar i
Naik Gerobak Sapi Enam puluh empat tahun berkarir di dunia hiburan dan tetap aktif hingga kini adalah sebuah prestasi luar biasa. Rasanya tidak ada artis Indonesia yang melakukan itu selain Laela Sari, artis gaek yang November nanti berusia 79 tahun. Bagi mereka yang gemar nonton tayangan hiburan di televisi tentu tak asing dengan wajah Emak Sari, begitu namanya akrab disapa. Pasalnya, wajahnya kerap wara-wiri di berbagai tayangan hiburan, entah itu sinetron ataupun menyanyi dan melawak.
U
sia tak menghalangi Si Emak berjingkrak-jingkrak di panggung menyanyikan lagu rock n roll. Suaranya lumayan enak, maklum selain berakting dia juga mantan vokalis orkes keliling di era 50-an. Dia juga jago ngebanyol makanya kerap ditanggap untuk acaraacara-acara bergenre komedi. Semangatnya yang terus berkarya ini bukan hanya menjadi inspirasi bagi para artis muda yang menekuni industry hiburan, tapi juga membuat Laela Sari mendapat ganjaran ‘Life Achievement Award’ pada 2005 . “November nanti Emak 79 tahun, tapi masih bekerja. Alhamdulilah rejeki ada saja. Tidak banyak, tapi selalu ada, alhamdulilah,” ujar Laela Sari seusai shooting sebuah acara televise di
Jakarta. Bagi nenek kelahiran November 1935 ini, usia tidak menjadi halangan baginya untuk terus berkarya, sepanjang sehat, ia akan terus berkiprah di panggung hiburan. Meski puluhan tahun bergelut dalam dunia hiburan, acting khususnya, Laela mengaku tak merasa bosan. Ibaratnya, kata Laila, acting sudah ‘mendarahdaging’ dalam hidupnya sehingga sulit ditinggalkan. “Kalau ditanya sampe kapan, sampe bosen? Tapi Emak nggak pernah bosen. Ya bagaimana nanti saja. Allah yang punya kuasa,” ucap Laela Sari dengan logat Betawi yang kental. Karena memiliki logat Betawi yang kental, orang mengira ia asli Betawi, padahal nenek enerjik ini asli berdarah
Padang Panjang, Sumatera Barat. Hanya saja ia telah tinggal di Jakarta sejak usia remaja. Jika bercerita tentang kehidupannya, wajah Emak Laela langsung redup. Wajahnya yang biasa ceria dengan guyon-guyonnya, berubah sendu. Enampuluh empat tahun berkarier di dunia hiburan, membuat Emak Laela merasakan betul asam-garam dunia entertainment. Ia memulai kiprahnya di dunia hiburan lewat sandiwara keliling yang anggotanya juga berasal dari keluarga sendiri, baik ibu, ayah juga kakak, melakukan pementasan sandiwara dari kota ke kota. “Lalu ayah (tiri) aku punya ide membentuk orkes yang diberi nama grup orkes ‘Laela Sari’, nama aku. Seperti sandiwara keliling, kami juga kerap ditanggap ke berbagai kota. Banyak pengalaman pahit-manis yang aku rasa. Bahkan yang paling pahit pun pernah mengalami,” ucapnya. Satu pengalaman yang diingat Laela sampai kini yakni penampilan grup orkesnya tidak dibayar. Lebih mengenaskan lagi, mereka saat itu sudah tidak memiliki uang, sementara harus membayar penginapan dan lain-lain. “Terpaksa perhiasan yang ada, baik gelang, kalung, dijual untuk biaya pulang dan makan. Bayangkan, untuk menyambung transportasi kita harus naik gerobak sapi dari Tegal ke Cirebon. Gara-gara itu aku sempat kapok manggung. Namun namanya sudah mendarahdaging, akhirnya aku jadi semangat lagi,” tutur Laela Sari. Membandingkan perjuangan menjadi artis di masa lalu dan sekarang, ibarat ‘bumi dan langit’. Dulu di masanya, begitu sulit menjadi artis terkenal setidaknya itu yang dia rasakan. Perjuangan-
5 - 11 MEI 2014
nya luar biasa pedih untuk bisa dikenal masyarakat. Beda dengan sekarang, tutur Laela, artis lebih mudah melejit dan mudah dikenal luas masyrakat. “Zaman sekarang enak, artis lebih mudah terkenal, mudah melejit. Zaman aku dulu, sulit sekali,” tuturnya. Meski sulit, katanya, namun dirinya tak putus asa, sampai akhirnya berhasil mendapat peran pertama dalam film layar lebar ‘Kembang Katjang’ tahun 1950. Sejak itu namanya mulai naik daun. Tahun 1954 ia tampil dalam tiga film sekaligus, ‘Perantaian 13’, Konde Tjioda’ dan ‘Burung Merpati’. Karier Laela makin bersinar terang di kancah perfilman Tanah Air. Ia tampil di sejumlah film populer di masa lalu seperti Karmila, Air Mata Ibu dan Lupus IV. Puluhan film dibintanginya, terakhir adalah ‘Comic 8’ , film bergenre komedi yang tayang di awal tahun 2014 ini. Ketika era sinetron melanda Indonesia, nenek enerjik ini pun tak ketinggalan, ia tampil antara lain dalam sinetron ‘Ada Ada Saja’ dan ‘Pelangi di Rumah Susun’. Hanya saja seiring usianya yang makin bertambah, meski tampil di sinetron, peran-perannya pun semakin berkurang. Ini diakui juga oleh Laela, yang mengaku kebanyakan perannya tidak terlalu berat. “Iya, Emak kalau main sinetron perannya kebanyakan nangis melulu, pokoknya peran-peran sedih. Pengen juga sekali-kali kebagian peran yang enak-enak, seperti jalan-jalan, makan-makan…(sambil tertawared). Tapi nggak apa-apa, rejeki Emak barangkali memang di situ,” katanya sembari tertawa. Apapun itu, lanjut Laela Sari, dirinya merasa sangat bersyukur karena sampai sekarang—meski usia tua renta--- masih diberi pekerjaan (rejeki) lewat peran-peran di sinetron, film, acara-acara hiburan televise lainnya juga kegiatan-kegian off air. “Rejeki lumayan, alhamdulilah, cukup untuk biaya hidup,” ujar Emak. Diakui Laela Sari, kebanyakan orang diusia seperti dirinya tidak lagi bekerja. Mereka beristirahat atau menikmati masa tua bersama keluarga. Namun ia tidak bisa melakukan itu karena tuntutan hidup, dia adalah tulang punggung keluarga. Ia harus mencari nafkah untuk membiayai kehidupan keluarganya yang menetap di bilangan Tangkiwood, Jakarta Barat, kawasan yang dulunya dikenal sebagai ‘gudangnya’ para artis ngetop lantaran banyak artis top era 40-60-an tinggal di daerah tersebut. Sebut saja, FiFi Young, M Sardi (ayah violis Idris
MANDALIKA
5 - 11 MEI 2014
Tari Oncer
21
Sambut Prajurit usai Perang Pampang paok do adi jadi sempare Galah nangke sik bebilah Adu silaq do bai do semeton Lalang jaok donadi kepah mase taoq begitah Adu silaq do bai semeton
Laela Sari bersama keluarga
Sardi), Rukiah-Kartolo (orangtua Rachmat Kartolo), dll, tinggal di kawasan tersebut. Di kawasan padat penduduk itu, Laela Sari tinggal dan membantu membiayai kehidupan enam anggota keluarga lainnya. “Usia segini masih kerja, tapi kalau tidak siapa yang mau kasih makan Emak, anak dan cucu? Aku mencari nafkah karena masih ada yang harus dibiayai. Itu yang paling penting. Masih ada anak kecilkecil, buyut. Aku bantu mereka lah. Ngandelin mereka aja, nggak cukup,” ucapnya. Lalu apa rahasianya Laela Sari tetap segar dan sehat? Menurutnya, resep sederhana yaitu, selalu bersyukur, jangan menggerutu dan terpenting harus selalu happy. Kebahagiaan yang ada di dalam hati, akan membantu menyehatkan tubuh. Soal makanan, katanya, tidak macam-macam. Ia tak terlalu suka makan daging-dagingan, termasuk ayam. “Makanan sederhana saja, ikan, tempe, ikan asin, sambel terasi, lalap. Itu menu favorit. Jadi, kunci tetap sehat dan semangat adalah bahagia dan ikhlas,” ujar Laela Sari. -Diana Runtu
S
Barong Tengkok
yair di atas merupakan petikan nyanyian para penari Oncer dalam salah satu tari tradisional masyarakat Sasak, tari Oncer. Menurut salah seorang seniman tari di Mataram, A. Hamid, tari Oncer merupakan tarian sederhana yang diiringi gendang beleq. Dalam sejarahnya, tari Oncer merupakan tarian untuk menyambut para prajurit yang baru pulang dari medan perang. Gendang beleq sebagai pengiring dengan suaranya yang bergemuruh merupakan alat untuk memberitahu atau mengumumkan penyambutan para prajurit usai berperang.
Dua buah gendang beleq tersebut disebut gendang mama (lakilaki) dan gendang nina (perempuan), berfungsi sebagai pembawa dinamika. Alat musik tradisional lainnya adalah gendang kodeq (gendang kecil), dua buah reog sebagai pembawa melodi masingmasing reog mama, terdiri atas dua nada dan sebuah reog nina, sebuah perembak beleq yang berfungsi sebagai alat ritmis dan enam-sepuluh buah perembak kodeq, disebut juga “copek”. Juga petuk dan gong yang berfungsi sebagai alat ritmis. Sebuah gong penyentak sebagai alat ritmis, gong oncer. Saat ini tari Oncer ditarikan sebagai tarian penyambut tamu
yang juga diiringi dengan cengceng sebagai alat musiknya. Sekalipun tarian ini ditarikan oleh para perempuan, penari selalu memakai kostum laki-laki. Hal ini disebabkan karena tarian ini menggambarkan tarian perang dimana perang dilakukan oleh para lelaki. Tarian Oncer biasanya ditarikan beberapa orang. Enam di antaranya membawa alat musik ceng-ceng, dua orang membawa gendang beleq, dua orang membawa bendera, satu orang membawa alat musik petuk. Penamaan Oncer diambil dari gerakan ikan repait yang dikenal dengan gerakan ekornya yang terus bergerak tidak pernah diam, sangat gesit dan lihai. Gerakan inilah yang diambil sebagai gerak dasar tari Oncer yakni, goyangan pinggul yang khas yang disebut ngecok. “Agamnya tidak tinggi melainnya hanya sebatas pinggul saja,” kata A. Hamid, koreografer tradisional Sasak. Selain itu dalam tari Oncer ada juga gerak ngesok (bahu bergoyang bergerik atau bergetar). Gerak kakinya khas tarian Sasak yakni berdeser yang sangat berbeda dengan tari Bali yang menggunakan gerak kaki nyeresek (terisik). Selain Oncer, tari tradisional yang mencirikan daerah Sasak yang terbilang langka dan jarang ditarikan namun kini mulai dihidupkan kembali adalah Tari Tandang Mendet dan Barong Tengkok. Kedua tarian ini menurut Hamid, sesungguhnya memiliki nilai-nilai filosofi Sasak yang kental. Tari Tandang Mendet adalah tari asli Sasak yang juga sangat khas. Tari Tandang Mendet berasal dari Lombok Utara. “Tarian ini biasa
ditarikan ketika acara ritual Mengayu-ayu (tradisi berdoa yang dilakukan masyarakat Lombok Utara menjelang musim tanam tiba). Tandang artinya sikap sedangkan mendet berarti penyambutan. Tandang mendet berarti tari penyambutan. Dalam tradisi mengayu-ayu, p o s i s i t a rian ini sebagai penyambutan terhadap tujuh mata air yang merupakan bagian dari rangkaian tradisi sakral mengayu-ayu,” Tari Tandang Mendet salah satu tarian khas daerah Lombok NTB ujar Hamid. Penarinya ada delapan orang Tengkok yang merupakan tari dengan susunan penarinya adalah: hiburan yang lahir dari masyarakat posisi paling depan adalah bebatek tradisional Sasak dan juga mulai sebagai ketua kelompok. Lalu jarang ditarikan. Kesenian ini disusul pengawal bebatek dan merupakan salah satu tarian yang lainnya sebagai pasukan. Bebatek ditarikan sembari membawa alat membawa pedang dan tameng musik reong yang berbentuk sedangkan pasukannya membawa barong yang dibunyikan sepanjang tombak. Kain yang dipakai penari pergelaran berlangsung. Penarinya adalah kain beberuk (ragi genep) adalah laki-laki. Ditarikan oleh lakidan kain polong dalam berwarna laki, karena dahulu perempuan putih sepanjang 3,5 meter. Bajunya Sasak tidak diperkenankan menari memakai baju pegon dengan sapuq di depan umum. Karena itulah, (ikat kepala khas Sasak) berwarna beberapa penari perempuan yang putih. menjadi bagian dari tari banrong Demikian pula Tari Barong tengkok selalu menyamar menjadi laki-laki. Para penari perempuan ini disebut telek (penari penghibur sambil bernyanyi).
Ketak dan Cukli Wakili NTB di Inacraft 2014 Meningkatnya jumlah pengrajin lokal dengan berbagai inovasi dan kreativitas merek produk baru menunjukkan industri kerajinan di Indonesia sudah mulai menunjukkan potensinya. Hal ini juga ditunjukkan oleh para pengrajin dari Nusa Tenggara Barat yang ikut acara Inacraft 2014. Ada 10 UKM NTB yang secara mandiri tampil dalam event tahunan ini. Inacraft 2014 yang bertema “From Smart Village to Global Market” adalah event untuk meningkatkan dan memfasilitasi produk-produk kerajinan ke tingkat yang lebih tinggi. Spesifikasi produk yang akan dipamerkan antara lain handicrafts (gifts, housewares, fashion product, fewellery) dengan target pembeli mancanegara. NTB diwakili oleh pengrajin yang membawa kerajinan khas seperti dari Beleke Lombok Tengah dan Lombok Barat yang menampilkan kerajinan ketak, cukli, hiasan perak dan kain songket. Pemerintah Provinsi NTB mendukung kegiatan tersebut. Gubernur NTB Dr. TGH M. Zainul Majdi beserta istri, Hj. Erica Zainul Majdi yang juga merupakan Ketua TP. PKK Provinsi NTB sengaja hadir memberi dukungan bagi pengrajin asal NTB pada pameran berstandar internasional tersebut. Kehadirannya memberi semangat dan menambah gairah para pengrajin asal NTB. Dukungan atas keikutsertaan NTB itu diwujudkan dalam stand yang difasilitasi Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi NTB dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten/Kota.
Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi didampingi Ketua Tim Penggerak PKK NTB, Hj. Erica Zainul Majdi, mengunjungi para pengrajin NTB yang ikut dalamPameran INACRAFT (International Handicraft Trade Fair), di Jakarta Convention Center.
Gubernur NTB tentu merasa bangga karena untuk tampilnya NTB di kancah internasional luar biasa kemajuannya, semua sudah bisa dikoordinasikan dengan baik. “Harapannya akan tampil lebih banyak lagi UKM, apalagi sudah ada 5 hingga 10 UKM mandiri turut serta di event besar yang tentunya tidak mengeluarkan dana sedikit, Inilah pengorbanan yang membanggakan NTB demi mendongkarak pertumbuhan dan peningkatan ekonomi NTB juga,” ungkapnya. --Naniek I. Taufan
-Naniek I. Taufan
20
NINE
5 - 11 MEI 2014
Keunikan Sate Junjung Lombok Maemunah, Aeniah dan Jumanah, adalah tiga orang perempuan Lombok yang tidak pernah kenal lelah berjalan untuk mencari nafkah. Tiap hari, langkah kakinya selalu berkeliling Kota Mataram menempuh jarak berkilokilo meter untuk berdagang sate junjung demi meng hidupi keluarga mereka. Mereka adalah sebagian kecil dari begitu banyak perempuan yang tinggal di Gomong Mataram, yang juga berprofesi sama.
S
udah puluhan tahun ��� sebagian perempuan yang tinggal Gomong Lama, Mataram, menjadi pedagang sate khas Lombok dari usus dan jeroan sapi ini. Sekilas tidak ada yang istimewa dari sate ini, sama dengan sate-sate lainnya yang dihidangkan dengan cara ditusuk dan dibakar. Namun uniknya, sate ini justru dikenal karena cara berdagangnya yang dilakukan oleh perempuan-perempuan dengan memakai kain sarung dengan cara dijajakan berkeliling. Pedagang perempuan sate keliling ini akan menyapa pelanggannya setiap sore hingga malam hari dengan junjungan menggunung di kepalanya. Para pedagang sate keliling ini, mempunyai wilayah berdagang masing-masing. Misalnya, ada yang berjualan di seputaran Ampenan, Mataram atau Cakranegara. Berdagang sate keliling, bahkan dilakoni turun-temurun oleh perempuan di Gomong Lama ini. Tidak seorang pun yang tahu persis sejak kapan usaha menjunjung sate keliling ini dimulai. Se������������ ingat Jumainah salah seorang penjaja sate keliling, setidaknya usaha ini sudah ditekuni tiga generasi. Para penjual mengatakan bahwa orangtua dan neneknya dulu bekerja menghidupi keluarga sebagai pedagang sate junjung. Tidak ada yang berubah dari para pedagangnya, meski kendaraan sudah cukup banyak dan gampang dicapai, mereka tetap bertahan dengan berjalan kaki meskipun dengan junjungan yang berat. “Kami berdagang sate junjung sejak harga usus dan jeroan Rp 750 per kilogram,” ujar Jumainah. Usaha sate junjung ini kelihatannya tidak pernah surut mengingat para peda-
gang ini masih terus bertahan dan relatif tidak berkurang jumlahnya. Bahkan dalam satu keluarga, pedagang sate junjung terdiri dari orangtua, ibu dan anak-anaknya. Salah satu keluarga tersebut adalah Siti (60an) dan anak-anaknya, Jumainah dan Erni. Alasan utama tetap mempertahankan usaha ini karena sate junjung merupakan mata pencaharian mereka. “Kalau tak jualan, bagaimana bisa menghidupi empat anak saya,” ujar Erni (25). Para perempuan ini memililih waktu sore hari untuk berkeliling menjajakan dagangannya���������������� , di samping karena sudah kebiasaan sejak dulu, juga karena dianggap waktu yang tepat bagi pelanggan menikmati sate khas ini sembari bersantai. Setiap hari sekitar pukul 14.00, para perempuan ini mulai meninggalkan rumah dan berpencar berjalan hingga berkilo-kilo meter jauhnya mulai dari Gomong Lama hingga tujuan masing-masing. Ada yang memilih Perumnas Ampenan, Seruni, Kekalik, BTN Kekalik, Taman Kapitan, Kompleks Unram dan sekitarnya. Para pendagang sate junjung memilih berjalan kaki karena, selain pelanggan di daerah masing-masing yang dituju, juga pembeli yang kebetulan bertemu di jalan. Maka tidak heran, kalau kipas-kipas sate khas ini dilakukan di pinggirpinggir jalan. Waktu dan jalan yang biasanya dilalui jarang berubah karena mereka mengharapkan pelanggan yang sudah tahu dan tinggal menunggu jika ingin membeli sate. ��� Karenanya, sepanjang jalan pedagang sate junjung sesekali berteriak, “sate,… sate….” Dan suara-suara para perempuan��������� itu menjadi sangat khas, terutama bagi mahasiswa yang banyak kos di daerah koskosan sekitar Unram. Bagi mereka, sate junjung bisa menjadi solusi saat malas keluar mencari makanan. Tidak sulit menemukan di mana mereka membuat. Saat pagi hari, cobalah melintasi di lorong-lorong sempit pemukiman padat penduduk di Gomong Lama. Di teras-teras rumahnya, para perempuan sedang
asyik menusuk sate, menggoreng bumbu, memeras santan dan menyiapkan segala sesuatu untuk dijual sore harinya. Ternyata sejak pukul setengah 06.30, mereka sudah memulai aktivitasnya setiap hari. Pagi selalu diawali dengan berbelanja usus dan jeroan sapi, kangkung sebagai pelengkap, bahan-bahan urap dan bumbubumbu. “Kalau kesiangan bisa kehabisan usus,” kata Erni yang sejak kelas IV SD sudah berjalan menjunjung sate di kepalanya. Sepulang sekolah, ia membantu ibunya dan kini ia telah memiliki anak-anak. Bisa dibilang, hampir seluruh waktu para perempuan ini ������������������������ bisa mereka habiskan untuk mencari nafkah. Sepulang dari pasar, mereka disibukkan dengan aktivitas rutin menyiapkan dagangan hingga lewat tengah hari. Istirahat paling lama bisa dilakukan hanya satu jam karena mereka sudah harus mulai berjalan menjajakan dagangannya bahkan hingga malam hari. BERSIAP JUALAN Pelecing kangkung dan urap-urap serta bumbunya diletakkan di baskom besar. Lontong disusun pada nampan besar yang kemudian disusun kembali dengan nampan satu lagi berisi sate daging, sate usus dan jeroan serta sate sisok (siput). Ratusan tusuk sate tersebut kemudian ditutup dengan daun pisang yang juga difungsikan sebagai pembungkus sate dan pelecing lontong jika ada pembeli yang ditemui di jalan. Sate junjung ini tergolong murah meriah. Tidak ada patokan harga khusus per porsinya. “Terserah pembeli saja,” kata Mahmunah, penjual yang lain. Dari ratusan tusuk sate inilah para perempuan pedagang keliling menghidupi keluarganya. Setidaknya, mereka mengaku bisa mendapatkan penghasilan bersih setiap harinya Rp 25 ribu sampai Rp 40an ribu. “Kalau ramai bisa lebih dari itu,” ujar Aeniah. Penghasilan ini dipakai untuk membiayai kehidupan sehari-hari, terutama bagi mereka yang sudah menjadi seperti Aeniah dan Mahmunah. “Untuk biaya hidup anakanak kami,” ujar keduanya. Sate junjung yang identik dengan keseharian perempuan pedagang keliling ini, ternyata pada waktu-waktu tertentu tidak
INSPIRASI
5 - 11 MEI 2014
AKBP Ni Wayan Sri Yudayatni Wirawati
Tegas Urusan Pendidikan Longgar Urusan Pergaulan Menjadi pimpinan instansi yang mayoritas laki-laki bukan masalah bagi perempuan yang satu ini. Ia menggunakan pendekatan komunikasi yang elegan dengan stafnya termasuk dengan masyarakat. Hal inilah yang dilakoni AKBP Ni Wayan Sri Yudayatni Wirawati, Kapolres Klungkung yang menjadi Kapolres perempuan pertama di wilayah hukum Polda Bali.
“D
Berjualan sate keliling adalah aktivitas seharihari para perempuan yang tinggal di Gomong Lama, Mataram
dilakoni dan sepertinya kompak dilakukan. “Jika ada keramaian, kami istirahat menjunjung sate keliling dan kompak merubah profesi,” kata Jumainah, Aeniah dan lainnya. Pasalnya, di keramaian tersebut mereka merubah profesi menjadi pedagang asongan. Kalau mau dihitung, ujar mereka, penghasilan menjadi pedagang asongan lebih besar ketimbang menjual sate keliling. Namun, pada event besar yang menguntungkan itu tidak selalu datang melainkan hanya sesekali. Sebab itulah, berkeliling menjajakan sate menjadi pilihan utama sebagai lahan pencari nafkah bagi para perempuan ini. -Naniek I. Taufan
Para perempuan Gomong Lama, Mataram tengah menyiapkan sate yang akan dijual
5
ari kecil saya senang main perang-perangan karena ayah saya tentara. Saya lahir ketika ayah ikut perang di Irian. Cita-cita saya awalnya masuk Kowad, tetapi saya tidak lulus kemudian ikut tes polwan, lulus. Orangtua tahu saya agak maskulin. Ketika saya lulus sebagai polisi, ayah mengingatkan agar saya semangat dan bekerja keras. Kalau menjadi polisi pilihan saya, jangan bikin malu. Berkarierlah sebaik-baiknya,” ujar putri sulung pasangan I Wayan Jajar-Ni Made Darni ini. Sri mengawali karier sebagai bintara yang bertugas di Ambon tahun 1986. Ini pertama kali ia tinggal jauh dari orangtua dan harus hidup mandiri. Selama di Ambon, alumnus SD 1 Kuta, SMP Sunariloka, dan SMA Kutapura, Kuta ini menyempatkan diri kuliah ilmu administrasi di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Ambon. Ambon menjadi kota yang tak terlupakan bagi perempuan kelahiran 21 Mei 1965 ini. Ia bertemu pujaan hatinya, Ir. Acep Manatap Simanjuntak, seorang spesialis landasan penerbangan yang bekerja di Departemen Perhubungan Udara. Mereka menikah tahun 1994 dan memiliki dua anak, Cendikia Yehuda Simanjuntak dan Tia Marselina Simanjuntak. Dari Ambon, Sri sempat berpindahpindah kota untuk mengikuti tugas suami. Ketika pangkatnya sersan satu, Sri lolos untuk masuk Sekolah
AKBP Ni Wayan Sri Yudayatni Wirawati dalam acara Beauty Fair di Bali TV
Calon Perwira (Secapa). Polwan yang masuk Secapa jumlahnya sangat terbatas. Seleksi yang ketat membuat hanya sedikit yang lolos. Dari Secapa, ia lolos lagi masuk Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK). Berikutnya ia lolos Sespim tahun 2007. POLA KEMITRAAN Sri resmi bertugas di Bali tahun 2000. Ia dan keluarga memutuskan menetap di Bali. Suaminya pensiun dini dari Departemen Perhubungan Udara dan memilih berwiraswasta. Jabatan yang pernah diemban di Bali antara lain
Kegiatan Kapolres Klungkung bersama jajarannya
Kepala KP3 Udara Ngurah Rai, Kabag RBP Polda Bali, dan menjabat Kapolres Klungkung sejak 7 Agustus 2012. “Di Bali, saya Kapolres perempuan pertama tetapi dari teman-teman seangkatan saya di Sespim, saya yang terakhir menjadi Kapolres,” ungkapnya di sela-sela acara Beauty Fair yang diadakan Bali TV di Gedung Pers Bali K. Nadha, 25 April 2014. Sri menambahkan jabatan merupakan anugerah Tuhan. Ia juga berterima kasih kepada pimpinan Polri yang memberi kesempatan kepada polwan untuk menduduki jabatan strategis. Adanya PTIK perempuan juga merupakan kaderisasi pemimpin perempuan di lingkungan Polri. Sebagai Kapolres yang memiliki 641 anggota, 13 diantaranya polwan, Sri mengedepankan pola kemitraan (partnership) dalam melaksanakan tugas di wilayah hukum Polres Klungkung. “Saya tidak mau hanya duduk di belakang meja. Saya harus tahu dinamika permasalahan yang terjadi di lapangan agar bisa mengambil keputusan yang tepat. Wilayah Klungkung yang terdiri dari daratan dan kepulauan ini sangat unik,” tegasnya. Selama ini kendala yang dihadapi Sri bersama anak buahnya adalah penanganan keadaan darurat atau sisi kemanusiaan di wilayah perairan. Kondisi perairan
yang tak bisa diprediksi merupakan tantangan untuk dihadapi. Misalnya, di Cristal Bay, pusaran arus sangat kuat. Ia pernah mengajak anak buahnya melewati wilayah tersebut. Untung saja perahu yang mereka naiki tidak terseret arus. Upaya lain yang dilakukan Sri adalah berkoordinasi dengan masyarakat jika terjadi permasalahan di wilayah mereka. “Kami pernah dibantu masyarakat yang jago menyelam untuk melakukan pertolongan. Ketika penyelamatan warga Jepang yang terhempas gelombang, masyarakat sangat membantu kami dalam proses pencarian dan evakuasi korban,” ujar perempuan yang hobi beternak dan berkebun ini. FLEKSIBEL DIDIK ANAK Jabatan sebagai Kapolres Klungkung membuat Sri tinggal terpisah dengan keluarganya. Ia menempati rumah dinas Kapolres sedangkan suami dan anak-anaknya yang di Denpasar. Namun, jalinan komunikasi mereka lakukan tiap saat. “Saya beri pengertian ke anak-anak, saya melaksanakan tugas negara. Mereka pun paham dengan apa yang saya jelaskan. Saya tidak bisa tiap hari mengantar-jemput anak. Tetapi, saat penerimaan raport saya usahakan hadir ke sekolah,” tandasnya. Dalam mendidik anak-anak yang bersekolah di SD Anugerah dan SMP 3 Denpasar, Sri dan suaminya fleksibel. Mereka tegas dalam urusan pendidikan dan agama tetapi longgar dalam urusan bersosialisasi. Ketegasan itu terlihat dari jadwal sekolah dan jadwal belajar termasuk bagaimana mereka mendapatkan pendidikan agama. Ini merupakan fondasi untuk membentuk karakter anak-anak. Urusan bergaul, anak-anak dipersilakan bergaul dengan teman-temannya. Sri menilai pendidikan itu sangat penting sebagai bekal di kemudian hari. Hal ini ia alami
AKBP Ni Wayan Sri Yudayatni Wirawati
ketika mendapat kesempatan mengikuti pendidikan pengawasan pengiriman narkoba di Thailand. Kesempatan ini didapat dari Kedutaan Besar Amerika Serikat. “Kalau saya tidak sekolah dan tidak ikut pendidikan, mungkin saya tidak mendapat posisi seperti sekarang,” ujarnya sembari menyebut dua yuniornya yang siap untuk masuk Sespim, Ayu Suinaci dan Kompyang Srinadi. Kepada kaum perempuan, Sri berpesan agar jangan mudah putus asa. Apapun bisa dilakukan perempuan untuk mengisi pembangunan. Kata kuncinya kemauan. Tantangan seberat apapun pasti bisa dilalui. “Laki-laki bukan lawan tetapi laki-laki adalah partner,” tegasnya. –Ngurah Budi
“Saya tidak mau hanya duduk di belakang meja. Saya harus tahu dinamika permasalah an yang terjadi di lapangan agar bisa mengambil keputusan yang tepat...”
Sri bersama keluarga
l i f e s to ry
6
Kisah Dua Kalung Kenangan Dengan wajah sedih, Sarinah (70), bukan nama sebenar nya, menceritakan kenangan dua buah kalung emas paling berharga dalam hidupnya. Meski memiliki beberapa perhiasan emas lainnya, namun dua kalung seberat masingmasing 30 gram dan 75 gram itu, memiliki arti tersendiri yang sangat penting baginya. Benda berharga itu mempunyai riwayat masing-masing. “Yang 30 gram itu, hasil keringat saya berjualan dari satu kantin ke kantin lainnya. Tiap hari saya menabung seribu rupiah selama lebih dari 10 tahun. Setelah terkumpul cukup banyak, betapa bahagianya saya akhirnya bisa membeli kalung emas itu dari hasil keringat sendiri,” ungkap Sarinah sedih.
S
arinah yang gigih itu ingat benar betapa pedih ia menyisihkan sedikit-demi sedikit uang untuk bisa membeli emas itu. “Emas itu tabungan saya untuk kebutuhan anak-anak saya kelak,” katanya memegang dadanya. Jerih payahnya yang begitu menguras energi dan tenaga, raib begitu saja ketika anak angkat dari saudaranya meminjamnya untuk dijadikan emas kawin. “Saya pikir saat itu dipinjam untuk sementara. Tak tahunya dibawa hingga saat ini dan tidak dikembalikan,” katanya. Bisa dibayangkan betapa kecewanya Sarinah mendapati kalung yang baru saja seminggu dibelinya itu tidak kembali lagi. Ia ingat ketika matanya berbinar diliputi kegirangan dalam dadanya ketika mendatangi toko emas dan membeli kalung itu dari uang ribuan yang dikumpulkannya. Yang ada dalam kepalanya bahwa jika suatu hari nanti anak-anaknya membutuhkan biaya kuliah yang mendesak, ia bisa menanggulanginya dengan kalung itu.
Sebulan kemudian, anak angkat saudaranya itu kembali meminjam sebuah kalung seberat 75 gram yang dipakai untuk modal usaha. Karena ia dan saudaranya sangat dekat sehingga ia juga sayang pada anak angkat saudaranya itu, membuat ia dengan mudahnya kembali memberikan kalung itu. “Janjinya waktu itu dipinjam untuk lima hari saja. Mereka (suami-istri) berjanji akan mengembalikan semuanya –dua kalung itu- lima hari kemudian. Dan itu pun raib hingga hari ini,” katanya kesal. Sejarah kalung itu pun tidak kalah berharga baginya. Bahkan lebih ber harga dari nilai 75 gram itu. Kalung itu rupanya adalah warisan dari orangtuanya yang kini telah tiada. “Kalau saya ingat orangtua, menangis hati ini rasanya mengenang kalung pemberiannya. Dari tangan mereka saya menerima dengan pesan jaga baik-baik, pakailah saat engkau membutuhkannya,” ujar Sarinah dengan mata berkaca-kaca. Ia rindu pada orangtuanya yang telah tiada. Sarinah memang lahir dari keluarga
berada. Sejak kecil hidupnya selalu senang dan ber kecukupan. Orangtuanya yang tinggal di Lombok adalah pejabat di zaman Belanda yang ketika me ninggal banyak meninggalkan warisan untuk ia dan saudara-saudaranya. Meski begitu, anak bungsu dari empat bersaudara ini, memilih hidup mandiri ketika berpisah dari orangtuanya dan ikut suaminya tinggal di Kota Mataram. Dari sanalah Sarinah belajar lepas dari orangtua dengan cara berjualan dari satu kantin pemerintah ke kantin pemerintah lainnya. Hal ini dilakukan Sarinah untuk menyiasati kehidupan pahitnya bersama suaminya. Awalnya ia menutupi semua itu dari orangtuanya. Sejak menikah, Sarinah mengaku tidak pernah dibiayai oleh suaminya. Uang gaji suaminya selalu dihabiskannya untuk berfoya-foya dan ia lebih memilih memberikannya pada keluarganya ketimbang membiayai ia dan anak-anaknya. Sungguh sakit hati Sarinah diperlakukan seperti itu hingga akhirnya ia memutar otak untuk bisa mendapatkan uang demi kehidupan ia dan anak-anaknya. Tiga orang anaknya terus tumbuh besar dan membutuhkan cukup banyak biaya terutama biaya sekolah. “Tidak sesen pun dia (suaminya) membantu biaya pendidikan anak-anak. Uangnya lebih banyak habis untuk berfoya-foya,” katanya. Sebagai orang yang tinggal kam-
5 - 11 mei 2014
5 - 11 mei 2014
pung, Sarinah tidak cukup berani untuk meminta cerai melainkan menjalankan kehidupan pahit itu dengan ikhlas. Sampai suatu hari orangtuanya tahu bahwa kondisinya tidak baik. “Sejak itu biaya sekolah anak-anak saya ditanggung ayah saya. Untuk makan sehari-hari saya berjualan makanan di kantin-kantin kantor pemerintahan,” katanya. Atas tanggungan biaya pendidikan dari orangtuanya inilah yang membuat Sarinah dapat menabung untuk membeli emas itu. Belum lagi adzan subuh berkumandang, dapurnya telah riuh oleh suara peralatan masak yang menemaninya. Bau harum aroma bumbu menyeruak ke mana-mana. Usai menghangatkan masakan dagangannya ia harus me nerobos dinginnya pagi yang ditetesi embun saat matahari belum lagi tiba, mengantar Sarinah menuju ke pasar. Tiap pagi dengan berjalan kaki, ia akan berbelanja di pasar untuk kebutuhan dagangannya esok hari. Setelah itu ia langsung bergegas ke kantin untuk menyiapkan dagangannya yang biasa melayani pegawai kantor
sarapan sekitar pukul sembilan pagi. Ia berdagang hingga pukul dua siang. Kembali ke rumah bukannya istirahat melainkan ia harus mencuci dan membereskan peralatan dapur yang tadi pagi dipakainya memasak. Ia memang selalu tidak sempat membereskan peralatan dapur karena harus ke pasar dan bergegas berangkat ke kantin. Setelah itu ia harus mengurus rumah dan anak-anak serta suaminya. Berlanjut kembali memasak untuk keperluan dagangan esok hari. “Saya selesai bekerja hingga pukul sebelas malam,” katanya mengenang. Namun apa lacur, hasil kerja keras yang dibelinya dari uang halal itu kini tinggal kenangan. Tinggal menunggu janji anak angkat saudaranya yang tidak tahu diri itu. “Saya capek menagih agar ia kembalikan kalung saya itu tapi dia seperti mati rasa,” ungkapnya. Tidak adanya keinginan untuk mengembalikan perhiasannya itu membuat ia kerap sedih mengingat hal itu. “Biar Allah yang akan membalasnya,” katanya gusar. Kesedihan Sarinah juga atas “terampasnya” kalung warisan orangtuanya itu lebih karena kecintaannya pada keduanya terutama ibundanya. “Melihat kalung itu sama rasanya ibu ada di dekat saya. Tapi kini saya sudah tidak lagi bisa melihatnya,” ujarnya yang masih berharap kalung itu dikembalikan. Meski tidak kembali kalung aslinya, ia berharap dapat diganti dengan jumlah gram yang sama, agar jerih payahnya dan kecintaannya pada orangtuanya terobati. Meski ia memiliki beberapa perhiasan namun kisah dua kalung itu baginya adalah bagian penting dari perjalanan hidupnya. Hal itulah yang selalu membuatnya menangis tiap kali menceritakannya. -Naniek I. Taufan
S U D U T PA N D A N G
19
Mereka Jadi Inspirator dan Motivator Pendidikan tak mengenal usia. Pepatah mengatakan, kejarlah ilmu sampai ke negeri Tiongkok. Artinya, kejarlah ilmu setinggi-tingginya. Pendidikan juga tak mengenal usia. Sampai tua pun kita bisa belajar.
P
rinsip ini juga yang sudah diterapkan Dr. Ni Wayan Karthi Sutardjana, M.M. Usianya beberapa bulan lagi genap 80 tahun. Namun, ia tetap ingin terus belajar mengembangkan diri. Perempuan yang selalu sumringah ini, mengatakan pernah membaca di satu media cetak, belajar dapat dilakukan seumur hidup. “Saya coba terapkan dalam diri saya, ternyata saya sudah membuktikan. Asal ada kemauan, pasti ada jalan,” kata perempuan yang tetap energik ini. Ia menambahkan, di era globalisasi saat ini, manusia harus mampu berkompetisi, sehingga bisa memenangkan persaingan global. Wayan Karthi, menyelesaikan S-2 di bagian Magister Manajemen di usia 74 tahun, dan tamat Doktor Manajemen di usia 79 tahun di Universitas Brawijaya Malang. Uniknya, saat ia menekuni S-2, ia menyelesaikan bersama dengan putranya dr. Wayan Primara Sutardjana, Sp.THT, M.M. “Saya termotivasi karena melihat anak saya. Begitu juga, dia termotivasi karena melihat saya, jadi sama-sama termotivasi,” kata perempuan yang mahir berbahasa inggris ini. Karthi punya kiat khusus agar tetap sehat dan energik di usianya yang sudah lansia. “Saya selalu bangun pagi pukul 04.00. Kemudian melakukan olahraga hidup baru (orhiba). Itu rutin saya lakukan, termasuk menjaga makan yang sehat,” katanya. Ia menuturkan sempat mempunyai masalah ketika sedang menyelesaikan tesisnya. “Karena faktor usia, mata saya mulai rabun. Ternyata saya katarak. Saya putuskan untuk operasi. Setelah operasi, saya dianjurkan oleh dokter mengurangi menonton televisi, atau menatap layar komputer. Otomatis ada sedikit gangguan
pada pengerjaan tugas-tugas kuliah. Saya langsung sampaikan ke dosen pembimbing. Untungnya, beliau mengerti, dan saya diberikan asisten yang khusus mengetik apa yang ingin saya sampaikan. Dosennya sempat bilang kagum atas semangat belajar saya yang tinggi,” kata Karthi sembari tertawa sekaligus menambahkan, tak ada hambatan ketika kita semangat dan ada kemauan tinggi. Saat ini, Karthi menjabat Ketua Yayasan Akademi Kartini Bali. Seandainya ia tak bergerak di bidang pendidikan, ia tetap ingin meneruskan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. “Dulu, ketika suami saya masih menjabat Rektor Universitas Mahendradatta, sudah ada keinginan meneruskan kuliah sampai S-2 dan S-3. Namun, waktu itu masih kendala biaya. Biar anak-anak saya dulu maju,” kata Karthi. Ia selalu menyarankan, siapapun untuk meneruskan pendidikannya setinggi mungkin. Ia memacu semangat para dosen, karyawan, dan pengurus asrama di Akademi Kebidanan Kartini Bali untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Dengan Karthi sebagai pionirnya, Akademi Kartini Bali sudah memiliki dosen bergelar S-2 14 orang dan 6 orang kini masih sedang menempuh pendidikannya. Sementara, dosen bergelar S-3 ada dua orang dan satu orang sedang menempuh pendidikan. “Agar tetap bisa beraktivitas dengan baik, badan jasmani dan rohani harus sehat. Karena itu, saya menggiatkan olahraga hidup baru di kampus. Mereka melakukan orhiba tiap dua minggu sekali hari Jumat pukul 06.00. Dengan kesehatan prima, berkaktivitas juga lancar,” kata Karthi. LONGLIFE EDUCATION “Pendidikan adalah proses untuk menjabarkan lebih jauh tentang apa yang kita tidak tahu tetapi tidak semua kita harus
Made Suarta
Karthi Sutardjana
Eddy Antonius
tahu,” ungkap I Made Jayantara (56). Proses ini bisa dilakukan di lembaga pendidikan secara formal, bisa di tempat bekerja maupun dengan mengamati pengalaman orang lain. Satu hal yang juga diingatkan ayah 4 anak, kakek 2 cucu ini adalah pendidikan tidak mengenal usia. Salah satu bukti, Jayantara kini tercatat sebagai mahasiswa Program Magister S2 Ilmu Hukum Universitas Udayana. Baginya tak masalah di usia tua kuliah. “Kuliah ini untuk menambah ilmu dan mem perbaiki kerangka berpikir agar lebih efektif, berdaya guna dan berhasil guna,. Kalau dulu berpikir bagaimana agar bisa kaya, sekarang berpikir apa yang diperlukan biar bisa sejahtera,” ujar pria yang menyelesaikan S1 Hukum di Universitas Udayana tahun 1987 ini. Eddy Antonius (57) mengatakan hal senada. “Kuliah ini menambah wawasan. Belajar tidak mengenal batas, longlife education. Seumur hidup pun boleh belajar. Kami kuliah Magister bukan untuk mengejar gelar tetapi memperkaya khasanah pemikiran,” tegas alumnus Fakultas Hukum Universitas Udayana tahun 1986 yang kini satu kelas dengan Jayantara di Konsentrasi Hukum Pemerintahan Program Magister S2 Ilmu Hukum Universitas Udayana. Jayantara dan Eddy juga mendapat dukungan dari keluarga ketika mereka memilih untuk kembali ke bangku kuliah. Mereka menjadi inspirator bagi anak-anak dan cucunya. Di usia tua, mereka masih semangat belajar. “Ke depan, kami ingin sharing dengan siapa pun mengenai permasalahan hukum yang terjadi untuk mendapatkan solusi. Ilmu pengetahuan
yang kami dapatkan dulu dan sekarangan akan bermanfaat untuk menambah pemahaman dan menjadi bahan analisa,” ujar Eddy yang memiliki 2 anak dan 5 cucu ini.
yang karena rasa ingin taunya luar biasa, ada yang mencari kepuasan dalam ilmu yang didalaminya, yang selanjutnya sejauhmana ilmu itu dikembangkan. Bagian berikutnya, bisa juga sebagai motivator untuk anak cucu. “Orang-orang yang mau bersekolah hingga di usia lanjut adalah contoh motivator yang baik dari dunia pendidikan karakter. Ia patut dijadikan teladan untuk generasi berikutnya. Sehingga, generasi berikutnya jengah (tertantang) untuk melakukan aktivitas yang sama. Lalu, bagaimana IKIP PGRI Bali sebagai lembaga pendidik tenaga kependidikan, mempersiapkan calon pendidik masa depan sesuai kebutuhan zaman? “Agar tak tergilas zaman tentu saja harus menyesesuaikan dengan kebutuhan zaman. Dalam hal ini, lembaga pencetak guru, selain mening katkan kualitas out put, di samping memberikan bekal akademis di bangku perkuliah an, juga memberikan pelatihan keterampilan/skill kepada mahasiwa, dengan mendirikan UKM-UKM,” ujarnya. Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) ini dikatakannya merupakan bagian dari pendalaman aplikasi ilmu yang didapatkan sekaligus sebagai wadah menggali potensi dan bakat yang dimiliki mahasiswa. UKM-UKM ini pun ditangani pakarnya. “Sedapat mungkin, kami mendatangkan orang akademis yang sekaligus praktisi. Jadi, ilmunya komprehensif. Untuk menunjang itu ada fasilitas lab, dsb. Jadi, lembaga harus mengadaptasi zaman dengan pendidikan akademis yang diimbangi pula dengan pengembangan skill melalui UKM,” tandasnya. –Tim Tokoh
PENDIDIKAN ADALAH VAKSIN Pendidikan di mata Rektor IKIP PGRI Bali Dr. Made Suarta, S.H., M.Hum., ibarat vaksin sosial. Agar tubuh tahan terhadap berbagai penyakit, daya imunitasnya harus ditingkatkan. Dalam perspektif sosial kemasyarakatan, ia menyebut ada tiga penyakit sosial yang sangat besar dampak negatifnya, yakni kemiskinan, ketidaktahuan, dan keterbelakangan peradaban. Bagaimana caranya menaikkan daya tahan sosial agar terhidar dari ketiga macam penyakit tersebut? “Jawabannya adalah pendidikan. Karena itu pendidikan dapat menjadi vaksin sosial,” tegasnya. Secara luas, pendidikan merupakan bagian dari mencerdaskan bangsa. Jika masyarakat tak kenal pendidikan, sama seperti hidup di pedalaman, dunia seperti gelap karena buta akan peristiwa-peristiwa yang terjadi di luar sana, karena menjauhkan diri dari dunia pendidikan. Selain sebagai vaksin sosial, pendidikan juga merupakan elevator sosial untuk meningkatkan status sosial. “Kita memerlukan vaksin dan elevator sosial itu sehingga terhindar dari tiga penyakit tersebut dan sekaligus mampu meningkatkan status sosial,” ujarnya. Karena itu, sering juga didengar kalimat “longlife education”, bahwa pendidikan dikejar seumur hidup. Untuk apa? Menurut Made Suarta, ada beberapa motivasi dari orangorang yang haus akan ilmu. Ada
D AYA C I P TA
18
5 - 11 mei 2014
Inovasi Wayang
Dari Ruwatan ke Hiburan Seni pertunjukan wayang kulit di Bali sangat multidimensi. Karena, dalam penyajiannya tak hanya memadukan keselarasan gerak tari dan musik, tetapi juga ada seni vokal, lukis, dan sas tra. Menguasai ke lima unsur seni tersebut juga sebagai syarat menjadi seorang dalang (orang yang memainkan wayang) yang baik.
I Nyoman Sumandhi, M.A.
W
ayang memi liki filosofi, se bagai cermi nan perilaku kehidupan. Hal itu ditandai de ngan disajikannya semua karakter kehidupan manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan. Dalam per tunjukannya terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman, sehingga permainan boneka dua dimensi itu menjadi tontonan seni yang inovatif.
Seniman wayang asal Desa Tunjuk, I Nyoman Sumandhi mengatakan, belum ada yang mengetahui lahirnya wayang secara pasti. Namun, ada yang menduga wayang berasal dari India karena dikuatkan dengan cerita yang diambil dari Epos Ramayana dan Mahabharata. Ada pula yang mengatakan lahir di Jawa karena secara etimologi kata wayang serta perlengkapan lainnya seperti damar wayang, kelir, cepala, keropak, blencong, gedebong terdapat di dalam ba hasa Jawa Kuno. D������������������������ ulu, menurut dalang ber bahasa Inggris ini, wayang ben tuknya sederhana yang diper tunjukan pada malam hari sebagai sebuah persembahan kepada
leluhur. Seni wayang itu dimainkan oleh Saman (seorang ahli yang mampu berkomonikasi dengan leluhur). Setelah masuknya bu daya Hindu yang kebetulan me miliki persamaan budaya, wayang mulai mengarah kepada seni per tunjukan dengan menggandeng berbagai jenis cerita. Mantan Kepala Sekolah Me nengah Karawitan Indonesia (SMKI) ini menambahkan, selain sebagai pertunjukan seni wali (pe lengkap upacara), wayang juga sebagai seni bebali (penunjang upacara), dan balih-balihan (hi buran). Sebagai wali, kesenian ini dapat dikategorikan menjadi tiga: wayang lemah, wayang Sapuh Leger dan wayang Sudamala. Wayang lemah dipentas
I NYoman Sumandhi, M.A., dalang berbahasa Inggris terkenal di mancanegara pementasan Wayang lemah sebuah tari wali sebagai pelengkap upacara
kan sebagai pelengkap upacara (Dewa Yadnya, Rsi Yadnya, Manusa Yadnya, Pitra Yadanya, Bhuta Yadnya) yang lebih menekankan pada sebuah persembahan. Cerita yang diangkat disesuaikan dengan jenis upacara yang digelar. Beda dengan wayang Sapuh Leger dan wayang Sudamala yang merupakan pertunjukan wayang kulit biasa yang digelar malam hari. Namun, dalam pentasnya khu sus untuk meruwat anak yang lahir pada tumpek wayang sehingga mengangkat cerita dan memakai banten yang khusus pula. ”Biasanya mengangkat kisah seperti Dewa Kala atau Siwa Rare Kumara. Se dang wayang Sudamala, memakai ceritra Durga yang diruwat oleh Sahadewa,” ungkap Sumandhi. Belakangan kemudian, seni pertunjukan wayang mengarah pada dunia hiburan. Hal ter sebut ditandai dengan munculnya Wayang Buduk di tahun 60 – 70an. Dengan dalang IB Ngurah yang dalam penyajiannya sarat dengan filsafat yang dipadu dengan unsurunsur modern yang bersifat kekinian. Di sisi lain pertunjukan wayang ini juga menampilkan banyolan sehingga menjadi per
tunjukan wayang yang memiliki banyak penggemar. Demikian pula Dalang Jagra dari Bongkasa yang khas dengan wayang Ramayana dan wayang Bangli khas dengan lelucon dan tafsiran nomor loto (buntut). Perkembangan kemudian, mun cul wayang Arja dan wayang Tantri dengan binatang sebagai tokoh sentral. Ada juga wayang Wakul yang memasukkan un sur modern seperti ada kapal udara dan robot ke dalam tokohtokohnya. Tahun 1990-an dikejutkan dengan munculnya wayang Cenk Blonk yang sangat inovatif. Dalam pentasnya, diiringi oleh pulu han pendukung serta berbagai eleman gamelan Bali. Menjadi khas adalah dua tokoh punaka wan Cenk dan Blonk yang se cara kocak melontarkan keadaan masa kini. Ada juga wayang Joblar yang lebih mengedepankan estetika, sehingga lampu, sound, dan efek suara alam betul-betul ditata. Maka wajarlah dalam tahun ter akhir ini, Cenk Blonk dan Joblar menjadi pertunjukan wayang terlaris di Bali saat ini. -Budarsana
Lima Kesalahan Utama dalam Latihan Beban Latihan mandeg dan kurang efektif? Beban angkatan tidak naik padahal sudah pakai suplemen? Akhirnya tidak dapat hasil, bosan, dan berhenti? Kalau Anda mengalami hal ini, mungkin Anda telah melakukan salah satu dari empat kesalahan di sini. Dengan mengetahui dan kemudian memperbaikinya, pasti fitness menjadi aktivitas yang lebih menyenangkan dan menghasilkan untuk kita semua! Latihan biasanya menjadi bagian yang pa ling menyenangkan bagi fitnessmania. Dengan banyaknya variasi program dan fasilitas latihan yang ditawarkan oleh masing-masing pusat ke bugaran serta berkumpul dengan beberapa te man dalam suatu ritual olah fisik menciptakan pengalaman latihan yang selalu menyenangkan. Namun, ada kalanya juga latihan men jadi pengalaman yang tidak menyenangkan. Selama 1 tahun terakhir, berlatih disiplin 3-5 hari setiap minggu, menghabiskan waktu 2 jam per hari untuk latihan beban tetapi hasil yang diharapkan tak kunjung datang. Padahal
beban angkatan sudah berat, dan konon angkatan berat diwajibkan untuk menghasil kan kerusakan otot maksimal agar otot bisa menebal secara
maksimal pula. Daripada muncul pikiran negatif seperti menyalahkan genetik atau menuding orang lain yang berhasil menggunakan jalur pin tas, coba kita evaluasi apakah ada dari lima kesalahan ini yang kita lakukan? Mungkin bisa kita perbaiki hingga akhirnya kita terlepas dari belenggu ketidakefektifan program dan masuk dalam jalur cepat membangun otot secara natural. 1.Terlalu Lama Latihan beban secara mendasar adalah aktivitas anaerobik, yang berarti paling efektif apabila kita mengerahkan tenaga (power) be sar dalam waktu yang relatif singkat. Semakin lama latihan beban kita lakukan, semakin rendah tenaga yang kita kerahkan, sehingga semakin rendah tingkat efektivitasnya. Banyak fitnessmania yang berlatih terlalu lama, menganggap setiap jenis latihan harus
dilakukan dengan jumlah set yang banyak. Pendapat ini lumrah muncul karena mengikuti logika “lebih banyak berarti lebih baik” (more is better). Dalam latihan untuk meningkatkan massa otot, falsafah “better is better” adalah lebih tepat. Langkah untuk memperbaiki: Segera potong waktu latihan Anda. Berikan jatah set inti terberat sebanyak 6-9 set untuk otot kecil, dan 9-12 set untuk otot besar – tanpa menghitung pemanasan. Atau, acuan umumnya, 20-30 menit untuk otot kecil, 30-45 menit untuk otot besar – sudah termasuk pemanasan dan jeda antar set. 2.Waktu Latihan Terlalu Singkat Keterbatasan waktu biasanya menjadi penyebab seorang fitnessmania untuk berlatih dengan tempo yang lebih cepat. Biasanya ritme latihan yang lebih cepat ini diwujudkan dalam bentuk latihan yang kurang efektif seperti: tempo repetisi yang lebih cepat dengan memanfaatkan momentum atau pantulan. Latihan dengan momentum ini berpotensi menyebabkan cedera dan trauma pada jaringan otot, jaringan pengikat (ten don), maupun persendian (ligamen). Hal ini kemudian diperparah oleh istirahat antar set yang terlalu singkat, sehingga energi belum pulih benar, di mana set berikutnya dilakukan
1
dalam kondisi yang kurang kondusif untuk bisa fokus, mengakibatkan teknik gerakan yang kurang benar. Teknik istirahat antar set yang singkat memang sering dipakai oleh fitnessmania untuk mencapai dan menjaga pacu jantung yang lebih tinggi, lebih cepat. Namun, hal ini memiliki beberapa konsekuensi, antara lain: lKita tidak bisa menggunakan beban yang sama beratnya dengan set inti sebelumnya karena sistem pemulihan sementara kita masih belum optimal, sehingga cenderung menimbulkan risiko cedera latihan yang lebih tinggi. lKonsentrasi latihan akan mudah buyar karena ritme jantung dan nafas yang belum teratur. lRisiko lebih besar terjadinya eksekusi repetisi dengan tehnik gerakan yang salah. Langkah untuk memperbaiki: Berlatihlah tempo repetisi yang baik. Mulailah dengan tempo 2 hitungan untuk gerakan positif dan 3-4 hitungan untuk gerakan negatif. Apabila memang tidak cukup waktu, persingkat saja sesi latihan dengan mengurangi jenis latihan atau jumlah set yang dijalankan. Hindari memantul dengan mo mentum dalam setiap repetisi, juga hindari istirahat antar set yang terlalu pendek (<60 detik) demi mengejar target kuantitas latihan.
l i f e s to ry
5 - 11 mei 2014 Sejak memutuskan setuju menikah de ngan laki-laki pilihan orang tuanya, Fariaty (68), bukan nama sebenarnya, ia telah bertekad untuk tidak bercerai. Sepahit apa pun yang akan dihadapi dalam rumah tangga yang dibangunnya tanpa cinta kelak, ia telah siap lahir ba tin meski menderita sekali pun. Ia ingat selalu pesan ibundanya, perempuan paling sabar dan paling mulia di matanya itu, agar tidak sekali-kali berpikir untuk bercerai, sepahit apa pun itu. Fariaty menyimpan pesan almarhum ibundanya itu hingga hari ini. Ia pegang teguh janji perkawinannya meski ia sadar laki-laki yang telah memberinya tiga anak itu, terlalu banyak menyakitinya.
“R
asanya ham pir seluruh u s i a p e r kawinan kami, ia lebih banyak menya kiti perasaan saya,” kata Fariaty tersenyum. Fariaty sepertin ya sudah kebal dengan rasa sakit seperti itu dan memilih bersabar selama 50 tahun mendampingi suaminya. Ia banyak belajar dari kesabaran Sang Bunda yang kerap memendam sakit tiap kali ayah nya menikah. Ayah Fariaty dulu memang seorang tuan tanah yang berpengaruh. Ia menikah beberapa kali namun sama sekali tidak menceraikan ibunda Fari aty sebagai istri pertaman ya. Sesungguhnya ayah Fariaty sangat mencintai ibundanya. Itu diketahui dengan pasti oleh ibunda Fariaty. Namun, kebiasaan menikah dan bercerai tidak bisa lepas darinya. Melihat keteguhan hati ibunda nya itu membuat Fariaty matimatian tidak ingin berpisah dari suaminya meski suaminya kerap pacaran dan diketahui sekali telah menikah. Hal ini sempat mem buatnya sakit hati. Betapa ia tidak tahu sama sekali jika suaminya itu telah menikah lagi bahkan memi liki seorang anak. Ia mengetahui bahwa suaminya itu telah menikah lagi dan memiliki seorang anak dari orang lain. “Saya tahunya dari orang yang sepertinya kasihan pada saya,” ujarnya. Padahal kala itu, usia suaminya 53 tahun. Ketika mendapat berita bahwa suaminya telah menikah, ia tidak langsung bertanya pada suaminya. Fariaty pun mencari informa si seorang diri. Ia juga belum memberitahukan ketiga anaknya yang sudah dewasa itu. Ia diam dan banyak melakukan ibadah saja sembari mencari informasi. Hingga akhirnya ia mendapat informasi tempat suaminya me nikah dan saksi-saksi pernikahan suaminya yang berlangsung dua tahun sebelumnya. “Kebetulan saya kenal dengan pemilik rumah tempatnya menikah di Lombok Timur,” kata Fariaty di kediaman nya di Pulau Sumbawa. Setelah mendapat informasi yang lengkap, Fariaty pun pelanpelan memberitahu anak-anaknya yang memang selama ini telah mengetahui kelakuan ayah me
7
Diam Itu Pertanda Ya Begitu suaminya meninggal, barulah ia tahu detil gaji suaminya yang rupanya terbilang banyak. Ia mengaku sempat kaget ketika menerima slip gaji pensiun suami nya dari kantor pos yang kemudi an diterimanya tiap bulan. Cukup banyak. Lalu dibawa ke mana saja uang sebanyak itu padahal ia sama sekali tidak pernah memberinya mau pun untuk kebutuhan anakanaknya? Pertanyaan itu sem
www.hebatnews.com
reka. Ketiganya marah namun memilih diam saja dan tidak me negur ayah mereka. “Anak-anak saya sudah tahu bagaimana ayahnya sering menyakiti saya,” katanya. Suatu sore beberapa hari sete lah anak-anaknya tahu bahwa ayah mereka telah menikah lagi dan memiliki seorang anak, Fariaty meminta suaminya duduk bersama nya di teras rumah. Dengan nada halus ia bertanya dan meminta suaminya bicara terus terang karena semua bukti tentang hal itu sudah dipegangnya. Suaminya pun memi lih diam. “Diamnya itu pertanda ia menjawab ya,” kata Fariaty menu tup pembicaraan tanpa komunikasi sore itu. Rasa sakit yang sudah biasa dirasakan oleh Fariaty hari itu memuncak, namun ia menahan emosi untuk berlaku wajar. Sejak itulah, meski tidak ber cerai, ia memilih pisah ranjang dengan suamin ya dan tetap tinggal satu rumah bersama anakanak mer eka. Situasi rumah memang men jadi berbeda dan tidak ada lagi kegembiraan. Mereka menjalani hidup sangat biasa saja tanpa timbal balik emosi na mun tidak ada yang ingin bercerai satu sama lain. Suasana antara me reka menjadi “dingin”. Mereka bertegur sapa seadanya saja. Entah apa yang ada di benak Fariaty mem pertahankan laki-laki itu. Menurutnya sejak menikah ia tidak pernah diberi gaji suaminya yang pegawai negeri itu. “Jangank an men dapatkan bagian dari gaji itu, tunjangan istri yang harusnya men jadi hak saya saja tidak pernah saya dapat kan,” katanya. Untuk menghidupi keluarg anya, Fariaty beruntung ketika orang tuanya masih hidup, merekalah yang memberi uang bulanan dan membiayai seluruh pendidikan tiga anaknya. “Sejak me nikah, saya tidak pernah tahu berapa jumlah gaji suami saya hingga ia meninggal dunia dua tahun lalu,” katanya.
Untuk mencukupi kebutu han hidup sehari-hari, selain mengandalkan pemberian orang tuanya, Fariaty banting tulang bekerja hingga berjualan di warung pinggir jalan. Meski tersiksa de ngan situasi itu, sebagai anak yang lahir dari keluarga kaya, Fariaty tidak ingin mengeluh. Ia jalani saja hari-harinya meski pun ia juga tidak pernah menyembunyikan kelakuan suaminya pada orang tuanya. Namun, mereka akhirnya tahu bahwa situasinya tidak baik. Itu sebabnya orangtuanya selalu mendukung dana untuk kehidupan ia dan anak-anaknya. Beruntung ia mendapat warisan yang cukup sehingga bisa membangun rumah sendiri yang juga ditempati ber sama suaminya itu.
pat mengganggunya namun kini sudah tak dipedulikann ya lagi. Dari semua kenanga n tentang suaminya, Fariaty menghargai satu sikapnya yang meski ia banyak menyakiti hati Fariaty, suaminya tidak pernah sekali pun menyakitinya secara fisik. “Selama menikah, suami saya tidak pernah memukul saya sekali pun,” katanya menutup pem bicaraan. –Naniek I. Taufan
BUNDA & ANANDA
8
5 - 11 MEI 2014
Mendongeng Lima Menit
Bahagiakan Anak dengan Dunia Mereka Mendongeng merupakan kebiasaan yang dilakukan orangtua sebelum anaknya tidur. Kini kebiasaan itu mulai hilang. Alasan kesibukan dan tidak tahu materi dongeng bisa menjadi alasan. Tetapi, kini mendongeng tidak harus berjam-jam dan materi dongeng mudah didapatkan berkat teknologi.
M
I Made Taro saat mendongeng di depan anak-anak
alam hari, sepulang dari kantor, Bu Ewi menyempatkan diri untuk membacakan dongeng untuk anaknya. Buku dongeng itu ceritanya pendek-pendek sehingga satu cerita tak sampai lima menit. “Anak saya bisa baca, tetapi dia sengaja menunggu saya pulang untuk dibacakan. Kadang saya dan suami bergantian untuk membacakan. Memang tidak tiap hari kami membacakannya karena kadang dia sudah tidur ketika kami sampai di rumah,” ujarnya. Pengalaman Bu Ewi membacakan dongeng tak lepas dari kebiasaannya sejak kecil yang suka membaca. Ia menuturkan sejak kecil sudah dibelikan buku cerita oleh ayahnya. Kini kebiasaan itu ditularkan ke putra semata wayangnya. Ia juga berlangganan majalah anak-anak yang berisi dongeng sebagai bahan cerita untuk putranya. Pengalaman Bu Rika lain lagi. Ia mengaku tak pernah membacakan dongeng untuk anaknya. “Saya tidak pernah mendongeng untuk anak. Mungkin karena waktu kecil saya tidak pernah dibacakan dongeng, jadi bukan menjadi kebiasaan kami,” ujarnya polos. Bagi I Made Taro, dongeng adalah dunia anak-anak. “Walaupun banyak yang bersifat fiksi namun dongeng sarat dengan pendidikan karakter. Dongeng bisa mengubah perilaku orang,” tutur pimpinan Sanggar Kukuruyuk, Denpasar ini. Ia mencontohkan dongeng Ni Diah Tantri yang mengubah karakter raja yang awalnya tidak peduli rakyat menjadi cinta kepada rakyat. Di India ada dongeng
Panca Tantra yang mengisahkan seorang raja yang ingin mewariskan tahta kepada putranya tetapi putranya itu bodoh. Raja lalu memanggil seorang guru untuk mengajar putranya. Setelah sekian lama, putra raja itu menjadi cerdas dan bijaksana. Semua kisah ini menunjukkan dongeng bisa mengubah kehidupan khususnya dalam hal perilaku. “Orangtua zaman dulu biasa mendongeng untuk anak atau cucunya. Tetapi, tradisi ini mulai hilang karena kesibukan orangtua. Perubahan zaman juga memberi pengaruh terhadap tradisi. Dulu orangtua sebagai sentral, sekarang televisi yang menjadi tokoh sentral,” ujar Taro yang piawai mendongeng ini. Tantangan ini harus dilalui orangtua yang ingin anaknya mendapat pendidikan karakter yang baik. Waktu lima menit untuk mendongeng tak masalah asalkan dongeng yang dibacakan itu sudah tepat. Taro menuturkan ada beberapa kelemahan dongeng yang sering ia temui. Pertama, dongeng kurang menceritakan adanya perjuangan untuk berprestasi. Kedua, materi dongeng menceritakan tokoh yang kurang tahan uji dalam penderitaan. Ketiga, ada karakter yang hilang dalam dongeng padahal karakter itu seharusnya menjadi pusat cerita. Keempat, banyak cerita kekerasan dalam dongeng. Kelima, dongeng banyak menggurui. Dari kelemahan ini, orangtua harus bisa menyaring mana yang layak untuk anak-anak, mana yang tidak. “Orangtua harus selektif memilih. Caranya, baca dulu untuk diri sendiri, pahami. Kalau dinilai layak, baru bacakan untuk
anak-anak. Misalnya dongeng Bawang Merah dan Bawang Putih. Ini dongeng yang luar biasa karena ada kisah tentang perjuangan hidup. Ada baik ada buruk. Sejak dini anak-anak harus diperkenalkan tentang hal ini. Pengalaman dari mendengar dongeng ini akan membekas di memori anak dan bermanfaat baginya saat menjalani kehidupan ini. Satu hal yang perlu diingat, jangan mengharap dampak dari kebiasaan membacakan dongeng untuk anak-anak itu instan. Dampaknya akan terasa setelah anak-anak itu dewasa,” ungkap pensiunan guru SMA 2 Denpasar ini. Orangtua yang terbiasa membacakan dongeng untuk anaknya cenderung memiliki kedekatan dengan anaknya. Ini juga menunjukkan kasih sayang orangtua kepada anak. Sesibuk apapun orangtua, jika sudah memiliki kebiasaan ini, pasti akan meluangkan waktunya untuk mendongeng. Taro menegaskan dongeng menjadi media tepat dan tangguh menanamkan nilai-nilai moral dan karakter sehingga anak bisa membedakan mana baik mana buruk, mana jujur mana bohong. Kini ditengah kemajuan teknologi dan merosotnya kepercayaan anak terhadap karma pala (hasil perbuatan), dongeng bisa menjadi solusi untuk memperkuat kembali nilai-nilai karakter anak. Pria asal Sengkidu, Karangasem yang banyak mendapat penghargaan karena kepedulian terhadap
Tips Memilih dan Menanam Rumput
I Gusti Bagus Ranuh
pelestarian dongeng dan anakanak ini melihat sudah banyak dampak dari berkurangnya nilai karakter anak. Ada anak yang tidak hormat kepada orangtua, ada yang minder atau tidak percaya diri, dan ada yang memilih jalan pintas untuk mendapatkan sesuatu. “Pemerintah harus jeli dalam menghadapi permasalahan pendidikan karakter ini. Caranya, masukkan pelajaran dongeng ke sekolah-sekolah dasar. Yang sudah dilakukan antara lain lomba mendongeng dan penataran guru tentang dongeng. Semoga dari penataran ini akan lahir pembuat-pembuat dongeng yang sarat pendidikan karakter,” tegas pendongeng yang sudah banyak meluncurkan buku dongeng ini. Kepada para orangtua, Taro mengingatkan agar mereka mendongeng untuk anak-anak. “Bahagiakan anak-anak dengan dongeng karena dongeng itu dunia mereka. Cukup lima menit tetapi berkualitas,” pesannya.
kan dongeng tentu harus dibarengi dengan mempermudah mendapatkan dongeng. Selama ini banyak materi dongeng yang dimiliki Indonesia. Ada dongeng yang sudah dituliskan sehingga menjadi buku, namun ada yang belum. Untuk mencegah kepunahan warisan budaya ini, perlu ada langkah nyata. Salah satunya dilakukan dengan digitalisasi dongeng sesuai perkembangan teknologi. “Kami memiliki program Gerakan 1001 Cerita Nusantara berupa program penyelamatan cerita atau dongeng nusantara dan menghimpunnya dalam bentuk digital berupa e-book yang ditayangkan di Qbaca. Qbaca ini platform buku digital dari Telkom yang dapat diakses melalui gadget berbasis Android, iOS, maupun Windows Phone. Melalui konten ini kami berharap dapat menjadi konten pendidikan untuk anakanak sekolah dan mengenalkan mereka kekayaan dongeng nusantara yang bisa diakses kapan pun dan dimana pun,” ujar I Gusti Bagus Ranuh, GM Telkom Bali Selatan. Buku digital Qbaca ini diharapkan akan memangkas jalur distribusi yang dianggap sebagai salah satu kendala bagi masyarakat yang jauh dari pusat kota. Untuk mendapatkan buku, mereka harus mengeluarkan biaya transportasi tambahan. Demikian juga dengan pengiriman buku akan membuat harga buku lebih mahal. Dengan adanya e-book, harga buku akan lebih murah karena biaya transportasi dan biaya cetak sudah dipangkas. Namun, bagi penulis buku dongeng tetap akan mendapatkan haknya sesuai perjanjian dengan penerbit dan Telkom. Kriterian buku dongeng yang bisa masuk dalam program ini antara lain edukatif, inspiratif, tidak provokatif, dan tidak mengandung unsur pelecehan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Tema yang diangkat merupakan tema universal untuk pelestarian budaya dengan mengedepankan nilai-nilai pendidikan karakter.
DIGITALISASI DONGENG Upaya untuk memasyarakat-
Beberapa buku dongeng anak-anak
-Ngurah Budi
17
Bisakah Anda bayangkan, jika taman Anda yang luas tidak ditanami rumput? Sekali pun, beberapa pohon indah dan mahal tumbuh rimbun di sana, dipastikan ada sesuatu yang kurang. Jika diibaratkan, sebuah rumah mewah namun hanya berlantaikan cor-coran, tentunya akan mengurangi nilai setetika secara keseluruhan. Pada edisi Tokoh kali ini, kita akan mengupas tanaman rumput yang kerap dipakai sebagai ground cover atau tanaman lantai.
M
I Made Taro
G R I YA
5 - 11 MEI 2014
enurut penjaga stan bunga Trubus Bali, Yono, dari sekian banyak jenis rumput, masyarakat Denpasar khususnya lebig menggemari rumput mutiara dan rumput jepang. Rumput mutiara adalah tanaman rumput liar yang termasuk ke dalam famili rubiaceae ini dikenal dengan nama daerah rumput siku-siku, daun mutiara, lidah ular, atau katepan. Rumput
ini tumbuh subur di tanah yang lembap, di kebun kosong yang basah, halaman rumah, pinggir jalan, dan selokan. Rumput mutiara juga terkenal sebagai tanaman obat yang dimanfaatkan di Cina, India dan wilayah Asia Tenggara untuk mengobati berbagai jenis penyakit. Apabila anda tidak memiliki waktu untuk memotong rumput karena semakin lama semakin tinggi dan mengganggu pemandangan, rumput mutiara dapat menjadi satu solusi rumput hias yang bisa Anda tanami di taman rumah Anda. Sekilas rumput mutiara mirip dengan rumput gajah mini. Tetapi, bila Anda diperhatikan dengan lebih detail, akan terlihat perbedaannya. Warna daun pada bagian pinggir hijau tua sedangkan bagian tengah cenderung muda, berbeda dengan rumput gajah mini yang cenderung satu warna yakni hijau tua merata. Selain itu juga urat daun terlihat jelas berwarna putih sehingga dari jauh ada kesan garis yang menambah indah karakter rumput sebagai ground cover taman Anda. Kelebihan rumput mutiara,
tumbuh lebih cepat walau tak disiram; merambatnya lebih cepat dan berwarna hijau segar dan melepaskan oksigen lebih daripada rumput biasa; tidak perlu terlalu sering dipotong; dan tidak terlalu susah perawatannya untuk melawan serangan pertumbuhan rumput atau tumbuhan lainnya. “Cukup dicabuti tanaman liarnya dua minggu sekali,” ujar Yono. Sebenarnya menanam rumput bukanlah hal yang sulit. Anda bisa
mengerjakan sendiri tanpa harus mengeluarkan dana untuk membayar tukang taman. Berikut ini ada beberapa tips sederhana untuk menanam rumput mutiara: 1. Gantilah tanah anda sedalam 20 cm dengan tanah subur, apabila tanah anda berupa tanah urugan material atau tanah keras. 2. Tanah subur digemburkan menggunakan garpu atau sekop kecil sehingga tanah menjadi terpisah-pisah dan tidak keras. 3. Sebarkan pupuk organik di atas tanah yang sudah digemburkan tadi dan diamkan selama 1-2 hari sebelum ditanam, agar efek panas pupuk sudah hilang. 4. Rumput mutiara dijual dalam bentuk 1 karung yang luasnya sama dengan 1m2, kelemahannya terkadang kondisi rumput sudah agak kering walaupun dengan penyiraman rutin akan dapat tumbuh. Cara lain kita dapat langsung membeli dalam bentuk masih tertanam dalam ukuran 1mx1m yang tentunya masih dalam keadaan segar bila anda langsung menanamnya. 5. Buatlah lubang-lubang
kecil untuk meletakkan rumput yang sebelumnya sudah dibelah, apabila anda ingin dalam waktu 1 bulan seluruh tanam anda bisa tertutup dengan rapat, maka jarak antar rumput kira-kira seukuran jari anda. 6. Sebaiknya rumput ditanam pada sore hari sehingga akan mengurangi penguapan yang ditimbulkan oleh panas matahari, sehingga rumput tidak menjadi kering. 7. Setelah semua rumput tertanam sebarkan pasir untuk membuat permukaan rumput menjadi rata Lakukan penyiraman di awal penanaman tiga kali dalam 1 hari, pagi hari sebelum jam 7 pagi, kemudian tengah hari dan sore hari setelah jam 3 sore. 8. Rumput harus ter papar sinar matahari secara langsung karena penting untuk proses fotosintesa, rumput yang terlindung dari sinar pertumbuhannya menjadi terhambat. 9. Musuh pertumbuhan rumput adalah rumput liar atau tanaman kecil yang menjadi gulma tanaman rumput, gulma ini harus secara rutin dicabuti karena akan merebut makanan rumput sehingga pertumbuhan menjadi terganggu. RUMPUT JEPANG Alternatif jenis rumput lain yang bisa Anda tanam di taman
adalah rumput jepang.Rumput jepang adalah salah satu jenis rumput hias yang sering ditanam di halaman rumah untuk memperindah taman. Cara menanam rumput jepang juga sangatlah mudah. Nama lain rumput jepang yaitu di daerah lain sering disebut rumput jarum atau rum-
put babi. Manfaat rumput jepang juga digunakan sebagai penahan tanah.Cara menanam rumput jepang juga harus memperhatikan faktor cuaca, pupuk dan juga drainase. Ciri-ciri rumput jepang yaitu berdaun hijau seperti duri, tinggi sekitar 5cm dan tumbuh bergerombol.
Tips Menanam Rumput Jepang 1. Cangkullah tanah sekitar kedalaman 15cm. Gemburkan tanah dan ratakan, supaya saat tumbuh bisa rata. 2. Lebih disarankan untuk menggunakan pupuk kandang untuk pencampuran tanah setelah dicangkul dan digemburkan 3. Gunakan pupuk organik / urea di atas tanah yang sudah digemburkan tadi dan diamkan selama 1-2 hari sebelum ditanam, agar efek panas pupuk sudah hilang. 4. Siram dengan air secara merata. Penggunaan air lebih diutamakan sedikit agar tidak terlalu lembek 5. Buatlah lubang-lubang kecil untuk meletakkan rumput yang sebelumnya sudah dibelah. Jarak sekitar 5cm agar permukaan nantinya tertutup rapat 6. Lepaskan rumput dari gerobolan, pastikan setiap bibit ada akarnya seperti gambar rumput jepang di bawah ini. 7. Tanam rumput disore hari karena akan mengurangi penguapan panas matahari 8. Setelah semua rumput tertanam sebarkan pasir untuk membuat permukaan rumput menjadi rata 9. Bila cuaca panas siram 2 kali sehari, jika tidak minimal sore hari disiram 10. Rumput harus terkena sinar matahari secara langsung karena penting untuk proses fotosintesis, rumput yang terlindung dari sinar pertumbuhannya menjadi terhambat. Jika Anda melakukannya dengan telaten dan ulet, dipastikan rumput yang Anda tanam akan tumbuh subur dan lebat. Rumput ini akan menjadikan taman rumbah Anda semakin indah berseri dan sejuk dipandang mata. Selamat mencoba! –Inten Indrawati
PELESIR
16
5 - 11 mei 2014
Taman Binatang Mini di Tepi Danau
DARA
5 - 11 mei 2014
Konseling Pranikah
Kenali Esensi Pernikahan
Seminar bagi remaja ini dipandu Ida Ayu Nyoman Candrawati, S.H., M.Par, Kepala Bidang Perlindungan Perempuan BP3A Provinsi Bali menghadirkan pembicara dr. Romy Kamaludin, S.Ked, Ida Ayu Maharatni, S.P.Si, M.Si. Kadek Arya Prima Dewi Putri Fajar, S.Ag. M.Pd, Luh Putu Anggreni, S.H, dan Mercya Soetanto.
Daya Tarik Wisata (DTW) Ulun Danu Berat an tak hanya indah. Objek yang terletak di kawasan wisata Bedugul, Baturiti, Tabanan atau sekitar 50 Km arah utara Kota Denpasar itu juga sebagai pusat atraksi wisata. Selain atraksi wisata budaya, kawasan ini juga di lengkapi dengan berbagai jenis permainan.
B
erfoto dengan berbagai hewan menjadi atraksi unik. Atraksi wisata bernama Taman Safari Ulun Danu Beratan ini tergolong baru. Taman binatang mini ini terletak di areal kebun paling depan, di sebelah kiri pintu masuk objek. Berbagai jenis hewan peliharaan yang lucu itu mampu menjadikan suasana berwisata semakin manis. Taman Safari Ulun Danu Beratan mengoleksi berbagai jenis burung langka asli Bali. Ada juga burung dari luar bahkan dari luar negeri. “Wisatawan yang sedang berwisata di sini bisa berfoto bareng dengan binatang yang ada di sini,” kata Manajer Pengelola DTW Ulun Danu Beratan Wayan Mustika. Maraknya tanaman bunga besar dan kecil menjadi latar yang indah dalam berpose. Pada deretan utara terdapat kalong-kalong (kelelawar raksasa) bergelayutan akan sangat manis kalau diajak
berfoto. Ada elang berbagai warna bulu, rangkok (jenis burung yang dari Bali Barat), burung hantu kecil dan besar, ular black piton, albino, camelion (binatang dari Brasil, dan iguana. Adanya atraksi baru ini sebagai bentuk pelayanan kepada wisatawan dalam memberikan atraksi tambahan di DTW Ulun Danu beratan. Termasuk juga menggelar Ulun Danu Festival yang akan digelar setiap setahun. “Selain terus menata infrastruktur, kami juga terus memberikan pelayanan dengan cara membuat wisatawan tidak jenuh,” ujarnya. Di samping atraksi hewan, di kawasan DTW yang sejuk itu menyediaka permainan bagi anak-anak. Hanya saja, jenis dan lokasinya yang beda. Permainan itu berupa perosotan, ayunan, timbangan dan panjatan. Semua permainan itu terletak di alam bebas yaitu di sebelah kanan pintu masuk ke pusat wisata. Permainan anak-anak ini cukup menghibur bagi anak-anak.
kan kenangan indah. Mulai dari permainan jukung (alat transportasi laut tradisional), paddle boat, speed boat, dan memancing di tepi danau. Wisata jukung memuat empat hingga lima orang selama 30 menit. Dengan berkeliling menyusuri danau akan bisa mengabadikan aktivitas keluarga di dalam perahu. Atau sekadar memancing dari perahu. –Budarsana
Mereka yang tidak bisa menikmati permainan air bisa memanfaatkan jenis permainan ini secara gratis. Pada saat liburan tempat per-
mainan ini selalu penuh. Ta k h a n y a pengunjung anakanak lokal, wisatawan asing juga banyak yang tertarik. Bahkan, mereka berbaur dengan anak-anak lokal sehingga tercipta interaksi ala anakanak. Atraksi wisata yang lain berlokasi di air. Atraksi wisata ini dipadu dengan suasana alam eksotik yang mampu mencipta-
9
Foto bersama ketua panita, pembicara, Ketua WHDI, dan moderator seminar pendiddkan
Hari Pendidikan Nasional diperingati dengan berbagai cara. Begitu juga dengan Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Provinsi Bali mengisinya dengan menggelar acara “Seminar Pendidikan Pranikah Menuju Keluarga Sukinah Bhawantu” bagi siswa SMA dan SMK se-Kota Denpasar, di SMK 3 Denpasar, Jumat (2/5).
K
etua Panitia Dra. Ni Luh Yulie Astini, B.A.,M.Pd., mengatakan banyak pasangan tidak mampu mewujudkan harapan rumah tangga yang bahagia dan sejahtera dalam kehidupan rumah tangga mere ka. Ikatan pernikahan mereka rapuh, lemah, dan akibatnya konflik mudah terjadi. Indikasi tampak pada tingginya tingkat perselisihan yang dialami banyak pasangan. Ini juga menujukkan betapa rapuhnya ikatan pernikahan yang di bangun oleh pasangan suami - istri. Kenyataan ini menunjukkan, peran atau fungsi perkawinan telah mengalami degradasi secara perlahan dari waktu ke waktu. Gejala rapuhnya sendi kehidupan perkawinan dan keluarga, serta merosotnya peran orangtua belakang an ini, menjadi salah satu penyebab maraknya kasus perceraian. Ketua WHDI Provinsi Bali, Bintang Dharmawati Puspayoga, S.E., M.Si., mengatakan selama ini, proses perkawinan atau pawiwahan dalam agama Hindu belum melewati proses
pendidikan pranikah. Untuk mengantisipasi gejala yang tidak baik, perlu digelar pendidikan pranikah. Sebab, disadari atau tidak, untuk mewujudkan rumah tangga sejahtera, bahagia memerlukan pendidikan, bimbingan serta nasihat, baik sebelum melangsungkan pernikahan maupun setelah berumah tangga. Salah satu penyebab gagalnya pasanga n dalam mempertahankan pernikahan dan mewujudkan ke bahagiaan, adalah terbatasnya upaya persiapan pernikahan yang mereka lakukan. Karenanya sangat perlu memperkenalkan dan menyosialisasikan pendidikan pranikah sebagai solusi alternatif dari kondisi rapuh dan rentannya bahtera rumah tangga yang berujung perceraian. “Pendidikan pranikah juga ber tujuan untuk merencanakan keluarga Hindu yang baik dan memberdayakan keluarga agar mampu meningkatkan kualitas keluarganya. Meningkatkan kualitas generasi muda Hindu menjadi lebih baik dan positif. Selain itu, untuk
Suasana seru peserta remaja
memberikan gambaran mengenai esensi dari pernikahan atau pawiwahan,” ujarnya. Ia juga mengatakan kepada pengurus WHDI kabupaten/kota agar melaksanakan kegiatan serupa.
BIBIT, BEBET, BOBOT Dokter Romy memaparkan perihal kesehatan reproduksi remaja mulai dari perkembangan genitalia internal hingga masa subur. Tak ketinggalan juga disampaikan untuk pacaran sehat perlu menggunakan akal sehat bukan emosi. Remaja harus memikirkan masa depan dan terbuka pada orangtua demi kebahagiaan mereka. Pembicara kedua, Ida Ayu Maharatni memaparkan materi yang diberi judul “Pernikahan? Ayo Rencanakan”. “Kalau siswa SMA punya pacar itu normal. Justru mereka yang sama sekali tidak atau belum kenal taksir-taksir perlu dipertanyakan. Ada lima tahap pacaran yang sering dilakukan remaja, mulai dari pegangan tangan, pelukan, kissing, necking hingga risiko married by accident,” tegasnya. Ia juga menyampaikan pentingnya pendidikan pranikah, diantaranya agar punya pandangan ke depan, mempermudah penyatuan visi, mengurangi risiko perceraian hingga punya kemam-
Suasana seminar pendidikan WHDI
puan menyelesaikan konflik. Selain itu ia tak lupa menekankan untuk anak perempuan kissing masih ditoleransi tapi tidak dengan necking. Kadek Arya Prima Dewi Putri Fajar menjelaskan materi perkawinan menurut Hindu, dengan memaparkan tujuan Grhastha. Sebelum bicara tugas dan kewajiban istri maupun suami, dosen IHDN Denpasar ini juga mengingatkan saat mencari calon pasangan hendaknya dilihat juga bibit, bobot dan bebetnya. “Sesungguhnya keberhasilan dalam pernikahan bukanlah dalam hal mencari orang yang tepat melainkan menjadi orang yang tepat,” tegasnya. Sementara itu, Luh Putu Anggreni, S.H, lebih menekankan soal pemahaman hukum positif dan hukum adat dalam perkawinan Hindu Bali. Ia juga memberikan peserta sebuah buku saku yang mengupas tentang payung hukum adat untuk keluarga Bali. Mercya Soetanto, seorang aktivis dalam pemberdayaan generasi muda untuk pembentukan karakter melalui berbagai bidang pengetahuan ini menyampaikan prinsip dasar pengelolaan keuangan keluarga seperti punya rencana keuangan, sumber uang yang dikelola serta berfokus pada surplus. Ia juga memberikan tips mengelola keuanga n keluarga dengan dasar keluarga mesti terbuka masalah keuangan, hemat dan bijak dalam mengendalikan uang, dan belajar mandiri. Ketua WHDI sebagai penggagas kegiatan ini tak lupa menyampaikan WHDI telah siap melaksanakan konseling bagi 10-15 pasangan muda yang ingin berkonsultasi tentang hal-hal yang berhubungan dengan persiapan membentuk rumah tangga baru. “Silakan datang ke Jalan Padma Gang Harum, Penatih Denpasar Utara. Workshop perdana rencananya akan diselenggarakan pada 1 Juni 2014 dan pada tahap I konseling diberikan gratis dari para konselor WHDI Provinsi Bali,” tegas Ny. Bintang Puspayoga. –Sri Ardhini
BUGAR
10
Mengenal Nyeri Kepala haya yang berkedip-kedip, bintik-bintik, garis-garis), gangguan sensoris (pins/ needles/hilang rasa/kebas), gangguan berbicara. Tension type headache: nyeri kepala episodic yang berlangsung 30 menit - 7 hari. Nyeri bilateral, rasa menekan atau mengikat dengan intensitas ringan-sedang. Nyeri tidak bertambah dengan aktivitas rutin sehari-hari, tidak didapatkan mual, tapi bisa ada fotofobi/ fonofobi. Dapat berhubungan dengan nyeri tekan pada otot perikranial (otot pfrontal, temporal, masseter, pterygoid, sternokleidomastoid, splenius dan trapezius)
dr. IGAM Ryantarini, Sp.S Nyeri kepala adalah salah satu keluhan medis tersering yang ditangani oleh bagian ilmu penyakit saraf. Gejalanya yaitu nyeri di daerah kepala dengan batas depan di atas garis penghubung sudut mata dengan telinga, di belakang di atas garis rambut. Ada yang menggambarkan nyerinya seperti ditusuktusuk, berdenyut, seperti ditekan/ diremas/diberi beban yang berat dll. Keluhannya mulai dari yang ringan sehingga seseorang dapat mengabaikannya atau meminum obat-obatan yang dijual bebas, sampai jika keluhannya hebat, dapat menyebabkan seseorang akhirnya ke unit gawat darurat. Telah dikenal berbagai klasifikasi tentang nyeri kepala. Nyeri kepala primer dan sekunder. Nyeri kepala primer adalah migren, tension headache, cluster headache. Yang tersering berobat adalah migren, diikuti tension, cluster kejadiannya kurang dari 1%. Nyeri kepala sekunder adalah nyeri kepala yang disebabkan oleh berbagai hal baik di dalam atau di luar otak, misalnya penyakit sistemik (demam, hipertensi akut, sinusitis), sebagian kecil lainnya disebabkan kelainan neurologi (nyeri kepala post trauma, nyeri kepala karena penyakit tulang servikal/leher, proses ekspansif intracranial), gangguan refraksi (jumlahnya sedikit dan membaik dengan koreksi kacamata). Migren : nyeri kepala berulang dengan manifestasi serangan selama 4-72 jam, dengan karakteristik nyerinya unilateral, berdenyut, intensitas sedang-berat, bertambah berat dengan aktivitas rutin, diikuti nausea dan atau fotofobi/fonofobi. Dikenal juga migren dengan aura dimana serangan nyeri kepala berulang didahului gejala neurologi fokal yang reversible secara bertahap 5-20 menit dan berlangsung kurang dari 60 menit. Nyeri kepala yg terjadi biasanya timbul sesudah gejala aura. Aura: gangguan visual (ca-
Pemicu Nyeri Kepala: Beberapa pemicu dapat menginduksi nyeri kepala ataupun memperberat nyeri kepala yang telah terjadi, terutama pada migren. Hipertensi menyebabkan nyeri kepala? Benar pada kondisi hipertensif emergensi. Tapi tidak pada kondisi migren atau tension headache. Berdasarkan laporan dari Amerika Serikat dan Norwegia: pada 22.701 laki-laki Amerika berusia 40-84 tahun yang menganalisa berbagai faktor risiko serebrovaskular ditemukan tidak ada perbedaan persentase jumlah laki-laki dengan riwayat hipertensi pada kelompok migren dengan nonmigren. Pada penelitian prospektif dari 22.685 orang dewasa Norwegia, ditemukan bahwa tekanan darah sistolik dan diastolic yang tinggi berhubungan dengan penurunan resiko nyeri kepala nonmigren. Hasil metaanalisis dari 95 RCT yg menilai penanganan antihipertensi dengan 4 terapi berbeda, pasien-pasien dengan terapi hipertensi secara signifikan prevalensi nyeri kepala menurun. Kemungkinan karena respons migren terhadap antihipertensi. Prinsip evaluasi nyeri kepala: Anamnesis: l Usia saat onset l Ada/tidak aura dan prodrom - Frekuensi, intensitas dan durasi serangan - Jumlah serangan perbulan - Waktu dan kondisi saat serangan - Kualitas, lokasi dan penyebaran nyeri - Gejala dan abnormalitas yang berhubungan - Riwayat keluarga dengan migren - Faktor pencetus dan pemulih - Efek terhadap aktivitas - Hubungan dengan makanan/ alkohol - Respons terhadap terapi - Perubahan tajam penglihatan yang baru - Hubungan dengan trauma terakhir - Perubahan tidur, olahraga, berat badan dan diet - Status general - Perubahan gaya hidup, pekerjaan
- Perubahan metode melahirkan - Kemungkinan berhububungan dengan faktor lingkungan - Efek siklus menstruasi dan hormon eksogen (wanita) Pertanyaan yang penting: - Seberapa sering mengalami nyeri kepala hebat (tanpa terapi sulit beraktifitas)? - Seberapa sering mengalami nyeri kepala ringan - Seberapa sering meminum obat penghilang rasa nyeri (no. 2 dan 3 untuk menilai pasien dengan medication overuse, memakai obat lebih dari 3 hari dalam seminggu dan atau setiap hari mengalami nyeri kepala) - Apakah ada perubahan dari model nyeri kepala selama ini (nyeri kepala sekunder dari penyebab yang penting), apabila sejak 6 bulan tipe nyeri kepala sama artinya bukan sesuatu yang serius sebagai penyebab Tanda bahaya berdasarkan anamnesis: Menilai adanya tanda SOL/lesi vascular, infeksi, gangguan metabolik, masalah sistemik. - Nyeri kepala mendadak, memberat, intensitas maksimal dalam beberapa detik/menit dari mulai nyeri kepala (SAH), migren diawali dengan nyeri moderate, meningkat menjadi maksimal dalam 1-2 jam, cluster berlangsung 1-2 jam dengan tanda otonom salah satu sisi wajah (air mata, rinore) - Nyeri kepala yang tidak pernah dialami sebelumnya, tidak pernah sehebat itu (ICB, infeksi kepala, nyeri kepala karena overuse obatobatan) - Disertai gejala neurologis fokal selain aura sensori/visual (lesi masa, avm, penyakit vaskulaer kolagen) - Demam berhubungan dengan nyeri kepala (infeksi intracranial, sistemik/ lokal) - Perubahan status mental, kepribadian, fluktuasi kesadaran. - Nyeri kepala menyebar ke leher bagian bawah diantara bahu, iritasi meningen (SAH/infeksi) - Nyeri kepala yang baru dialami pada usia dibawah 5 tahun atau > 50. - Nyeri kepala tipe yang lain pada pasien dengan keganasan, pada pasien HIV (infeksi oportunistik/ tumor) - Nyeri kepala selama kehamilan/ postpartum (thrombosis venakortikal /sinus, diseksi carotis, apopleksi pituitari) Gambaran lainnya yang menyertai nyeri kepala: - Hidung mampet/infeksi pernafasan kronik: sinusitis (migren+sinusitis) - Menurunnya penglihatan/melihat bintik hitam (glaucoma), nyeri kepala hebat kurang dari 1 jam salah satu sisi dan tidak memenuhi kriteria migren pada usia 50 tahun ke atas
5 - 11 MEI 2014
- Defek lapang pandang (massa pituitary) - Penglihatan kabur pada posisi kepala tegak/nyeri kepala saat bangun pagi, meningkat dengan posisi duduk, penglihatan dobel/ gangguan keseimbangan : tanda peningkatan intracranial (atau pada pasien dengan nausea kronik) - Optic neuritis: mendadak, berat hilang penglihatan salah satu sisi mata - Nyeri kepala, fatiq, nyeri menyeluruh, keringat malam di usia lebih dari 55 tahun: arteritis temporalis Pemeriksaan Fisik: sebagian besar pasien dengan nyeri kepala, pemeriksaan fisik neurologi dbn. - Tekanan darah, nadi - Dengarkan bruit pada leher, mata, kepala : AVM - Arteri temporal/leher - Otot-otot leher/spine - Test koordinasi dll Tanda bahaya dari pemeriksaan: - Kaku kuduk - Papil edema - Tanda deficit neurologi: lesi masa intracranial, avm. Indikasi foto rontgen: - Dengan tanda bahaya dari pemeriksaan fisik - Nyeri kepala kronik dan temuan fisik neurologi abnormal - Nyeri hebat sehingga membangunkan tidur dimalam hari - Pada migren komplikata - Perubahan pola nyeri kepala, frekuensi dan keparahannya - Nyeri kepala memburuk progresif walaupun dengan terapi - Bruit pada mata - Nyeri kepala diatas usia 40 tahun - MRA+MRI: jika lesi fosa posterior/ lesi vascular Indikasi lumbal punksi: Curiga SAH dg CT scan kepala normal, infeksi Terapi : - Langkah umum: menghindari pencetus nyeri, perubahan pola tidur, makanan, stress, dan rutinitas seharihari, cahaya terang, kelap-kelip, perubahan cuaca, berada di tempat yang tinggi seperti di gunung atau di pesawat udara, hindari alkohol, hindari suara gaduh/sinar terang. - Terapi abortif: nonspesifik (analgetik, NSAID), spesifik (triptans, dihidroergotamin) Terapi preventif: mengurangi frekuensi berat dan lamanya serangan, meningkatkan respon pasien terhadap pengobatan, meningkatkan aktivitas sehari-hari Indikasi terapi preventif migren: - Serangan berulang lebih dari 2 kali/ minggu yang mengganggu aktivitas, meskipun telah diberikan pengobatan akut yang adekuat - Nyeri kepala migren yang sering/ berlangsung 48 jam - Pengobatan akut gagal/tidak efektif - Ada kontraindikasi obat, efek samping obat muncul, over use terhadap terapi akut - Munculnya gejala-gejala dan kondisi
luar biasa, migren basiler hemiplegic, aura yang memanjang - Keinginan penderita sendiri Kesimpulan: - Seleksi nyeri kepala yang serius atau penyebab nyeri kepala sekunder - Dengan anamnesis, dari riwayat sebelumnya - Foto rontgen hanya pada keadaan tertentu saja Apa saja tipe tersering dari sakit kepala? Nyeri kepala banyak jenisnya, yang tersering nyeri kepala tipe tegang (tension type headache) dan migren. Nyeri kepala TTH: nyeri dirasakan di kedua bagian kepala, seperti tekanan atau diikat Nyeri kepala migren: nyeri kepala yang makin lama makin memberat, mengenai salah satu sisi kepala, bisa disertai mual, muntah, sensitif terhadap suara/cahaya Apa yang dikerjakan jika mengalaminya? Berbaring pada tempat yang sejuk, gelap dan ruangan yang tenang (efektif untuk migren) Minum obat-obatan penghilang rasa nyeri (sebelumnya konsultasi dengan dokter) Untuk mencegahnya apa saja yang dikerjakan? Beberapa orang menyadari nyeri kepalanya terpicu oleh makanan tertentu atau beberapa hal yang dikerjakan. Untuk menyadarinya, mulai membuat buku harian nyeri kepala. Diperhatikan, setiap mengalami nyeri kepala dicatat, apa yang dimakan sebelumnya, apa yang dikerjakan sebelumnya, nyerinya berapa lama, bagaimana cara menguranginya. Beberapa hal yang memicu nyeri kepala: tidak makan sesuai jadwalnya, makan terlalu sedikit, minum kopi terlalu sedikit/banyak, tidur terlalu lama/sedikit, makanan-makanan tertentu (coklat, keju), sebelum menstruasi. Kapan konsultasi ke dokter? Segera ke dokter apabila: nyeri kepala sering terjadi, atau datangnya tiba-tiba, cepat memberat, nyeri kepala terberat sepanjang hidup, disertai dengan panas badan, kejang, setelah kecelakaan, adanya kelemahan, kesemutan, gangguan penglihatan. Bagaimana pengobatan nyeri kepala? Ada banyak obat nyeri kepala baik yang tanpa resep ataupun dengan resep dokter. Ada juga obat-obatan yang dapat mencegah terjadinya nyeri kepala. Obat yang tepat apabila sesuai dengan tipe nyeri kepala yang terjadi, seberapa sering terjadi dan seberat apa nyerinya. Jika nyeri kepala sering terjadi, konsultasi dengan dokter sehingga dapat memilih terapi yang sesuai. Jangan mencoba mengobati diri sendiri dari nyeri kepala yang telah sering terjadi dengan obat-obatan tanpa resep. Terlalu sering minum obat nyeri kepala justru akan memicu terjadinya nyeri kepala. dr. IGAM Ryantarini, Sp.S
5 - 11 MEI 2014
Party Hang-out
STYLE
15
Endek semakin hari semakin digemari menjadi pilihan item fashion yang menarik. Begitu juga yang nampak dalam parade busana oleh para Teruni Denpasar di Gedung Pers Bali K Nadha pada acara “Beauty Fair� yang diselenggarakan Bali TV pekan lalu.
B
ahan lokal Bali ini hadir dalam ragam mini dress yang menjadi salah satu tren busana remaja tahun ini. Apalagi dress yang dikenakann para Truni Denpasar ini juga mampu memberikan efek jenjang pada si pemakai. Begitu pula dengan model blus yang chic dan cantik, dengan motif-nya yang unik, atraktif atau basic, menjadikan pemakainya tampil etnik tapi fashionable. Sedangkan kesan remaja dan trendi diperoleh
dengan potongan yang simpel dan aksen bahan polos atau tambahan belitan ikat pinggang. Kalaupun ingin lebih lagi mempercantik penampilan, tentu tinggal menggunakan aksesoris dengan ukuran yang kecil. Model –model endek pada halaman Style Tokoh kali ini berhasil menawarkan sisi modern tanpa menghilangÂkan kesan unik dan etniknya. Dress dan blus ini pun dapat dikenakan untuk acara party maupun sekadar hang-out bersama teman. -Sri Ardhini
14
J E L I TA
Tren Facial Organik
Produk kecantikan organik lebih aman digunakan sebab tidak mengandung bahan kimia berbahaya, dan ter hindar dari efek negatif untuk jangka panjang. Itu sebagian alasan yang diungkapkan Bu Ayu saat ditemui usai melakukan perawatan facial dan totok aura organik.
H
al ini dibenarkan oleh Dewi Mastini pemilik Rumah Natural Totok Aura di kawasan Jalan Gatot Subroto, Denpasar. Menurutnya tren ke depan adalah kembali ke alam. “Jika bicara jangka panjang , penggunaan produk perawatan yang organik ini yang akan semakin dicari dan digemari untuk menjaga kesehatan sekaligus keindahan kulit,” ujarnya. Begitu juga dikatakannya untuk perawatan secara menyeluruh dan seharihari mulai dari dari day creamnya hingga night cream-nya juga berbahan organik,’lanjutnya. Menurut Bu Ayu, sebagai perempuan, ia sangat menyadari pentingnya merawat kulit yang tak lepas dari kotoran, debu, serta sel-sel kulit mati, dengan benar dan dengan produk yang baik. Karena itu pula ia lebih memilih perawatan dengan treatment berbahan alami. “Bahan organik ini cocok untuk semua jenis kulit baik perempuan maupun laki-laki. Sebab, sudah banyak dilakukan
Dewi Mastini
penelitian oleh para pakar , kalau facial oganik ini memiliki fungsi yang sangat banyak seperti untuk anti aging, anti wrinkle bahkan fungsi lightening,” lanjut Dewi. Dewi kembali menekankan bahwa facial organik ini sangat aman untuk semua jenis kulit karena bebas dari reaksi bahan-bahan kimia sehingga wajah tampak bersih, dan akan tampak
selalu muda, “ ujar Dewi . Terlebih untuk wanita yang sudah mulai menginjak usia 30 tahunan, yang rawan akan kerutan di wajah, sehingga jika tidak dirawat akan menyebabkan penuaan dini. Dewi pun menyebutkan beberapa produk organik yang digunakannya, diantaranya ada campuran ekstrak beras dan madu. Beras klatanya sudah lama pula diyakini bisa memutihkan wajah, membuat kulit tampak halus, kencang dan bebas jerawat. Sedangkan madu fungsinya membantu melembabkan sekaligus menutrisi. Ada juga bekatul (rice bran) yaitu bagian luar dari beras yang terlepas menjadi serbuk halus selain mempunyai manfaat kesehatan, juga untuk dunia kecantikan. “Saat ini memang belum banyak orang yang mengenal manfaat bekatul, padahal di balik buliran putih beras tersebut, bahan aktifnya menyimpan manfaat yang besar untuk kecantikan. Sebagai bahan produk kecantikan, bekatul memiliki kemampuan sebagai pelindung kulit. Selain itu saja ada pula daun mint, sebagai salah satu tanaman herbal yang dapat memberikan sensasi dingin menyegarkan serta manfaat yang sangat baik untuk mengatasi berbagai masalah kulit.
5 - 11 mei 2014
5 - 11 mei 2014
Selanjutnya, Dewi juga menyebut memakai minyak zaitu atau olive oil, yang mengandung vitamin E dan oleic acid dan dipercaya sejak ratusan tahun di berbagai belahan dunia sebagai bahan alami menghaluskan dan melembutkan kulit secara efektif. Vitamin di dalamnya pun membantu meningkatkan elastisitas kulit dan anti oksidan. Minyak zaitun, katanya juga sering diguna-
kan sebagai pembersih make up, mengatasi masalah kulit kering, serta melembabkan, menghaluskan, dan mengatasi pecah-pecah pada bibir. Facial organik lanjut Dewi juga aman untuk kulit para remaja putri dan remaja putra, yang ingin merawat wajah maupun facial dengan bahan yang alami dan bebas zat kimia. “Saat facial dan totok misalnya , setelah wajah dimanjakan dengan pemijatan dan penekanan di titik-titik tertentu. Bagian terakhir, wajah diolesi masker organik yang berfungsi untuk mengencangkan kulit,”ujarnya. – Sri Ardhini
MITOS ATAU FAKTA
11
Mengapa Obat Antibiotik harus Dihabiskan?
B
anyak pasien bertanya-tanya, mengapa saya harus meminum obat antibiotik sampai habis? Kemu dian, dalam resep obat sering kita temui takaran yang disarankan memakai ukuran sendok makan (sdm) atau sendok teh (sdt). “Kalau sendok teh saya di rumah, kecil. Jadi, ukuran yang dimaksud yang mana?”. Pertanyaan-pertanyan tersebut kerap terlontar dari perbincangan para orangtua. Dokter Luh Gde Wisudani Parimartha akan mengupasnya lebih dalam.
Mitos: Dosis obat tergantung pada usia Fakta: Dosis obat adalah jumlah obat yang diberikan kepada penderita/pasien dalam satuan berat (gram, milligram, mikrogram) atau satu anisi (liter, ml, UI) untuk mencapai efek terapeutik yang diharapkan. Usia pasien merupakan salah satu pertimbangan untuk menentukan dosis obat, apakah obat tersebut akan diberikan pada neonatal (bayi baru lahir), anakanak (pediatric), orang dewasa ataukah orangtua (geriatric). Pertimbangan khusus pada bayi dan anak-anak dikarenakan mereka memiliki bobot lebih kecil dan sistem tubuh belum berkembang sepenuhnya. Sementara pada pasien geriatric berhubungan de ngan terjadinya penurunan fungsi fisiologis. Pertimbangan faktor usia dalam menentukan dosis obat sangatlah penting mengingat adanya perbedaan respons tubuh masing-masing terhadap obat yang diberikan. Perbedaan tersebut oleh karena adanya faktor dari dalam tubuh dan faktor dari luar tubuh (endogen dan eksogen), yaitu 1. Pola ADME (Absorpsi, Distribusi, Metabolisme dan Ekskresi), 2. Sensitivitas yang berlainan terhadap obat, 3. Redistribusi dari zat-zat yang ada di dalam tubuh (zat endogen). Di samping faktor usia, dosis obat juga terantung pada berat badan, luas permukaan tubuh, jenis kelamin, dan toleransi obat terhadap pasien tersebut. Yang perlu diperhatikan, dosis
dr. Oka Negara, FIAS
obat terutama yang dalam bentuk suspensi/sirup kerap ditulis 1 sendok makan (sdm) atau 1 sendok teh (sdt). Dokter umum Puskesmas Sukawati 2 Gianyar yang kerap disapa dr. Winnie ini mengatakan di sini seringkali terjadi kekeliruan. Volume 1 sendok teh/sendok makan yang ada pada etiket obat, itu berbeda dengan 1 sendok makan/ sendok the yang ada di rumah. Satu sendok makan itu setara dengan 15 ml dan 1 sendok teh setara dengan 5 ml. Sehingg, kalau memberikan obat yang dalam bentuk sirup, harus memakai sendok yang sudah ada pada obat tersebut. Mitos : Meningkatkan dosis obat akan menyebabkan lebih cepat sembuh Fakta: Kesembuhan pasien tergantung dari banyak faktor , yaitu ketepatan diagnosis suatu penyakit, pemberian obat yang tepat, ketaatan pasien dalam minum obat dan faktor dukungan keluarga. Obat tidak ubahnya seperti pedang bermata dua. Jika tepat obat dan tepat pemberian, dia akan sangat bermanfaat untuk penyembuhan penyakit. Jika salah pemberian, justru bukan sebagai obat lagi, namun sebagai racun dalam tubuh. Pemberian obat yang tidak sesuai dengan dosis terapi akan menimbulkan efek samping yang lebih berat. Peningkatan dosis dapat saja dilakukan, jika dosis terapi belum tercapai. Namun, kalau dosis obat yang diberikan melampaui dosis maksimal, terapi justru akan menyebabkan efek toksik (keracunan terhadap obat). Hal penting yang
Kirim surat Anda ke Redaksi Tokoh dan cantumkan “Sex Edu”di amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh.co.id. Rubrik ini diasuh Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI) Denpasar.
“Dok, saya mau tanya masalah istri saya, setiap kali diajak berhubungan seksual dia mengeluh nyeri di kelaminnya dan susah sekali mendapatkan orgasme. Saya mohon penjelasan dan solusinya, Dok.” (Komang) Setiap gangguan seksual yang dirasakan tentu saja jangan dibiar kan berlangsung lama, karena membiarkan masalah seksual berlarut-larut adalah sebuah kesalahan besar. Akan lebih baik sejak keluhan muncul (ketika istri terus menyebutkan merasa sakit) sudah disarankan untuk mendapat pemeriksaan untuk memastikan penyebab nyeri dan segera melakukan pengobatan. Kasus yang dialami ini, disebut dyspareunia, yang berarti rasa nyeri yang muncul saat hubungan seksual. Penyebab rasa nyeri saat hubungan seksual itu secara umum kemungkinan disebabkan oleh tiga
hal. Pertama, istri tidak terangsang. Kedua, istri mengalami hambatan perlendiran atau cairan lubrikasi vagina. Ketiga, istri mengalami gangguan atau penyakit pada organ kelaminnya. Rasa nyeri yang muncul selama hubungan seksual, jika terus dilanjutkan akan memunculkan kegagalan mendapatkan orgasme. Untuk memastikan, tentu saja diperlukan pemeriksaan. Yang terjadi bisa dari bekas luka (misalnya luka pascapersalinan), bisa juga karena terjadi peradangan vagina hingga proses penyakit di dalam panggul. Atau, juga trauma psikis karena se suatu yang tidak menyenangkan
dr. Luh Gde Wisudani Parimartha
harus diperhatikan adalah 5 TEPAT yaitu tepat obat, tepat dosis, tepat pasien, tepat jalur pemberian dan tepat waktu pemberian obat tersebut. Sehingga, tidak selalu meningkatkan dosis obat untuk mempercepat penyembuhan. Mitos : Mengonsumsi obat yang paten/mahal akan mempercepat kesembuhan Fakta: Penggunaan obat paten di masyarakat tidak bisa dimungkiri lagi begitu banyak dan bahkan sekarang sudah menjadi tren/gaya hidup. Bukan karena dokter saja yang meresepkannya, tetapi permintaan dari pasiennya. “Kasi saya obat yang paten dan mahal Dok, biar cepat sembuh.” Sebenarnya, tidak begitu halnya. Obat generik dan obat paten sama-sama bisa menyembuhkan. Yang terpenting tepat guna dan tepat dosis. Obat generik memiliki khasiat yang sama dengan obat paten. Baik obat generik maupun paten mempunyai kandungan dan khasiat yang sama. Perlu ditekankan bahwa obat generik adalah obat yang bermutu tinggi dan telah melalui kualitas kontrol yang sangat ketat. Obat generik adalah obat yang berkualitas. Obat
paten ada yang memiliki mutu yang sama dengan obat generik, dan ada pula yang lebih bermutu dibandingkan dengan obat generik. Beberapa obat paten mempunyai teknologi yang mereka kembangkan sendiri yang sudah dipatenkan yang tidak terdapat pada obat generik. Beberapa obat paten juga mempunyai teknologi yang bisa mengurangi bau obat yang mungkin bisa mengakibatkan mual pada pasien. Obat paten juga memiliki sistem pelepasan berkala sehingga obat akan larut secara perlahan. Sehingga, obat yang sebelumnya diminum 3x, dapat diminum 1x saja. Harga obat tidak menjamin kesembuhan pasien, yang terpenting adalah “5 TEPAT”. Hanya saja adanya sugesti di masyarakat dimana jika diberi obat generik atau obat murah tidak merasa puas atau tidak percaya dengan khasiat obat tersebut . Karena, pasien merasa jika obat tersebut mahal, pasti obatnya baik dan pasti menyembuhkan. Untuk memperbaiki anggapan ini, sudah seharusnya dokter memiliki waktu yang cukup untuk menjelaskan hal tersebut. Mitos: Minum obat dalam waktu lama dapat merusak ginjal Fakta: Penggunaan obat tiap hari, dalam jangka waktu yang lama dan tidak rasional akan menyebabkan terganggunya beberapa organ seperti hati, lambung, lemak darah dan yang tersering adalah terganggu nya fungsi ginjal. Ginjal berfungsi menyaring darah yang mengalir ke seluruh organ tubuh. Dalam darah juga berisi bahan-bahan yang bersifat racun, daya tahan saringan dipengaruhi juga oleh bahan yang disaring. Dalam hal ini, jika yang disaring adalah bahan-bahan kimia yang sulit terurai, kerja ginjal menjadi berat. Bahan -bahan yang bersifat merusak ginjal tersebut disebut bahan nefrotoksik atau mengganggu fungsi ginjal seperti, antibiotik gol aminoglikosid, AINS (anti inflamasi non steroid), zat kontras radiografi, analgetik (obat
penghilang rasa nyeri), beberapa jamu pegal linu dan rematik, dan beberapa jamu pelangsing. Obat-obat tersebut jika dikonsumsi tiap hari dan dalam waktu yang lama dapat meyebabkan gangguan ginjal. Sementara, obat-obat yang bahkan diminum seumur hidup, sepertit obat hipertensi dan kolesterol, malahan aman karena tidak bersifat nefrotoksik. Justru, kalau obat tersebut tidak diminum, akan merusak ginjal akibat dari hipertensinya. Apabila memiliki risiko gangguan ginjal, untuk minum obat apapun, termasuk obat bebas, sebaiknya lebih dahulu berkonsultasi dengan dokter untuk mencegah efek samping pada ginjal. Mitos: Obat antibiotik harus diminum sampai habis agar tubuh kebal terhadap infeksi/kuman. Fakta : Antibiotik memang harus diminum sampai habis tetapi bukan agar tubuh kebal dari penyakit, namun agar kuman/bakteri penyebab penyakit tidak kebal terhadap antibiotik. Pemakaian antibiotik yang tidak bijaksana, tidak sesuai aturan dikhawatirkan bisa menyebabkan terjadinya resistensi (kekebalan) bakteri tertentu terhadap antibiotik, karena bakteri yang tidak terbunuh mengalami mutasi dan menjadi kebal sehingga memerlukan jenis antibiotik yang lebih kuat. Resistensi tersebut bukan hanya karena lama pemakaian yang tidak benar namun juga karena kesalahan memilih antibiotik dan cara pemberian antibiotik tersebut. Kebiasaan memberikan antibiotik dengan dosis yang tidak tepat, waktu pemberian yang terlalu singkat atau lama, akan menimbulkan masalah resistensi yang cukup serius. Di samping itu juga, pemakaian antibiotik yang tidak tepat akan membunuh kuman baik dan berguna yang ada di dalam tubuh kita, sehingga tempat yang semula diisi oleh bakteri baik akan diisi oleh bakteri jahat atau jamur, yang disebut sebagai superinfeksi. –Inten Indrawati
Nyeri Bikin Susah Orgasme berkaitan dengan seks atau reproduksinya. Nyeri di daerah vagina juga bisa muncul saat cairan lubrikasi tidak maksimal keluar. Cairan lubrikasi ini hanya akan keluar jika perempuan terangsang maksimal, tapi jika sedang stres atau tegang, cairan itu tidak akan keluar. Rasa nyeri seharusnya tidak muncul saat melakukan seks jika perempuan sudah siap dan terangsang. Nyeri saat berhubungan seksual juga bisa dicegah jika laki-laki tidak tergesa-gesa melakukan penetrasi. Sebaiknya atur posisi dengan baik, lebih baik lagi jika perempuan yang mengarahkan. Jika laki-laki terlalu tergesa-gesa melakukan penetrasi sedangkan perempuan belum siap, maka bisa terjadi lecet dan perlukaan di dinding vagina. Untuk menghindari rasa nyeri saat berhubungan seksual, sebaiknya kedua belah pihak saling mengerti. Laki-laki jangan
terg esa-gesa dan perempuan sebaiknya mempersiapkan diri. Jangan lupa lakukan foreplay (pemanasan) yang maksimal mulai dari yang paling ringan seperti memeluk, mencium, meraba, memijat dan sebagainya. Tetapi yang benar-benar perlu diperhatikan adalah memastikan kembali apakah rasa nyeri itu disebabkan karena hal lain juga misalnya masih ada sisa luka dan penyakit di vagina maupun panggul, atau justru karena masalah psikis? Ini yang perlu diperiksa dan pastikan. Yang bisa dimaksimalkan se belum melakukan pemeriksaan juga adalah dengan selalu saling melibatkan pasangan untuk tetap berkomunikasi dan saling memahami permasalahan bersama dan berniat positif untuk memeriksakan diri dan mengatasi masalah ini. Jangan pernah berlama-lama membiarkan perempuan untuk tidak menikmati hubungan seksualnya hingga akhirnya
tidak mendapatkan orgasmenya. Perempuan yang tidak mencapai orgasme seringkali memunculkan akibat dan pengaruh negatif ke psikisnya seperti menjadi sering marah, cemas atau gangguan tidur. Komunikasi dengan pasangan, khususnya komunikasi seksual, merupakan faktor penting agar hubungan seksual berlangsung harmonis yang berarti dapat dinikmati oleh kedua pihak, perempuan dan laki-laki. Komunikasi seksual yang baik sebenarnya merupakan juga stimulus awal sekaligus rangsangan yang sifatnya psikis sebelum hubungan seksual berlangsung. Saat diperlukan untuk melakukan konseling khusus dan sex therapy, maka sangat perlu dilakukan de ngan melibatkan kedua pasangan, karena sesungguhnya, sekali lagi, permasalahan seksual pada satu pihak tidak pernah terlepas dan teratasi tanpa melibatkan pasangannya.
12
RESEP ALA CHEF
Sate Lilit Bali
5 - 11 MEI 2014
Sate lilit merupakan makanan khas Bali yang sangat terkenal. Sate lilit bisa dibuat dari berbagai sumber protein seperti ayam, ikan, babi, dan sapi. Daging dicincang halus dicampur dengan bumbu kemudian dikepalkan pada sebatang tusuk sate yang terbuat dari bambu. Namun, agar penyajiannya lebih indah, batang serai dapat dijadikan tusuk sate. Sate lilit dapat disajikan bersama sambal mentah. Berikut resep sate yang diambil dari Buku Ikon Kuliner Tradisional Indonesia Menparekraf. Selamat mencoba.
Bahan: 500 gr : fillet ikan tenggiri 400 gr : udang dibuang kulit dan kepala 6 sdm : santan kental 70 gr : kelapa setengah tua diparut 20 batang : serai ambil bagian atas untuk tusuk sate 10 gr : daun jeruk iris halus 3 sdt : jeruk lemo 3 sdm : minyak goreng untuk menumis bumbu 20 potong : kertas aluminum 10 x 10 cm Base wangen: 5 gr : lada hitam 3 butir : kemiri 3 siung : bawang putih 1 sdt : terasi 5 buah : cabai merah 100 ml : minyak 5 gr : garam
Bumbu halus (campur bersama): 12 butir : bawang merah 3 siung : bawang putih 5 buah : cabai merah 1 ½ sdt : kencur dicincang 2 ½ sdt : kunyit dicincang 2 ½ sdt : laos dicincang 3 sdt : gula merah sisir 3 sdt : serai cincang halus 5 butir : kemiri sangrai 2 sdt : garam Cara membuat: - Haluskan fillet ikan bersama udang. Tumis bumbu halus hingga matang masukkan santan. Aduk rata, angkat biarkan sampai dingin. - Campur ikan, udang, dan bumbu halus, kelapa parut daun jeruk, dan air jeruk lemo. Aduk sampai rata. - Lilitkan setiap adonan pada pangkal batang serai dengan padat.
- Panggang di atas bara api, balik-balikkan agar matangnya rata, angkat. Hidangkan bersama sambal matah (mentah).
Sambal Matah Bahan: 10 butir : 7 buah : 3 lembar : ½ sdt : 3 batang : 40 ml :
bawang merah diiris halus cabai rawit, iris halus daun jeruk terasi matang serai minyak goreng
Cara membuat: - Campur semua bahan menjadi satu. Sajikan sambal matah.
Nasi Campur ala Bu Susi Warung ini sangat sederhana. Hanya di emper toko di Jalan Kartini, Br. Wangaya Kelod, Denpasar. Namun, banyak warga Kota Denpasar sangat mengenal warung yang diberi nama Warung Bu Susi ini. Makanan khas Bali ala Warung Bu Susi sangat diminati, mulai dari bubuh Bali, tipat kuah, dan nasi campur Bali. Warung ini mulai buka pukul 07.00. Namun, sekitar pukul 10.00, biasanya makanannya sudah habis. Selain menjual nasi, Warung Bu Susi juga menerima pesanan seperti sate, bermacam-macam lawar seperti lawar nangka, belimbing, pare,
serapah, ayam betutu, dan tum. Menurut pemiliknya, Bu Susi, pesanan justru banyak dari pemilik usaha katering makanan, selain dari perseorangan yang mempunyai hajatan. Bu Susi memang mengkhususkan menjual makanan khas Bali. “Pesanan yang paling sering diterima adalah sate, baik sate ayam, maupun sate babi,” kata istri Gede Darma atau biasa dipanggil Pak Ganepo ini. Awalnya, menurut penuturan bu Susi, ia hanya menjual sate di pinggir jalan. Satu biji sate ia jual Rp 400. Penghasilannya dari berjualan sate bersama suaminya, selain
untuk kebutuhan keluarga seharihari, juga untuk menyekolahkan dua putranya. Lama-kelamaan setelah sate Bu Susi makin terkenal, akhirnya timbul keinginan pasutri ini untuk membuka warung makan. Walaupun hanya menempati warung kecil di emper toko, Warung Bu Susi selalu ramai setiap hari. Apalagi, dalam setiap kesempatan pameran yang digelar Pemerintah Kota Denpasar, Bu Susi selalu mendapatkan kesempatan untuk ikut mengisi pameran kuliner di Denpasar Festival dan di Taman Kota Denpasar. Menurut salah satu penggemar nasi campur Bu Susi, Rathi, makanannya memang enak, apalagi lawar dan sate lilit yang menjadi andalannya. Untuk satu porsi nasi campur dijual seharga Rp 10 ribu. Namun, jika Bu Susi berjualan di pameran ia menaikkan harga setengahnya
C U L I N A RY C O R N E R
5 - 11 MEI 2014
Nasi Babi Guling “Drunken Pig” Nama warung ini sangat unik, “Drunken Pig” alias babi mabuk. Nama ini sangat istimewa karena pemberian dari selebrity chef yang namanya sudah sangat terkenal, Chef Juna. Awalnya, masakan yang ingin disajikan aneka olahan daging babi. Namun, dalam perjalanan waktu, sajian babi guling khas Gianyar menjadi andalannya.
Menurut Ni Made Honey, awal terbentuknya warung makan ini bermula ketika ajang Sanur Festival ia melihat masih minim masakan lokal yang ditampilkan. Ia mengusulkan agar makanan tradisional Bali diberi kesempatan tampil. Berkawan baik dengan salah seorang pengurus
Yayasan Pembangunan Sanur, Honey diberi kesempatan membuka satu stan makanan. Honey bersama temannya Taufan Hari Putra mencoba menawarkan konsep makanan khas Bali, babi guling Gianyar. Ternyata sambutannya luar biasa. Terbersit keinginannya untuk membuka warung makan. Kebetulan, tanpa sengaja, ia dipertemukan kembali dengan teman lamanya Chef Juna lewat media jeja ring sosial. Dari pertemanan yang kembali terjalin, Honey mencoba meminta saran untuk warung makannya. Chef Juna tertarik ikut bergabung. Ak hirnya mereka bertiga bekerja sama untuk membuka warung makan “Drunken Pig” di Ke robokan, Oktober 2012. Awalnya, konsep yang diinginkan semua olahan serba-babi. Namun, karena kesibukan Chef Juna, akhirnya Honey dan Taufan memfokuskan ke babi guling Gianyar. November 2013, Wa rung Drunken Pig pindah ke Jalan Hayam Wuruk Nomor 42, sebelah Babi Guling Gianyar andalan Drunken Pig Timur Banjar Kelandis Denpasar.
Walaupun menempati lokasi yang tidak begitu luas, namun banyak pengunjung yang sudah mengenal Drunken Pig dari Kerobokan tetap setia datang. “Lokasi warung ini masih sementara, sambil menunggu tempat yang lebih strategis. Rencananya di daerah Petitenget, sekalian menunggu Chef Juna,” kata perempuan yang melanjutkan kuliah ke Boston, AS, setelah tamat SMAN 3 Denpasar ini. Keistimewaan babi guling Drunken Pig, daging babi selalu baru setiap hari dan nasi dimasak dengan dandang dan kukusan agar terasi lebih harum. Honey mempunyai kiat agar daging babi gulingnya bisa habis tiap hari. “Awalnya saya iseng mencoba, setelah selesai berjualan pukul 21.00, daging diolah kembali menjadi masakan baru untuk lauk-pauk nasi jinggo. Nasi bungkus ini dijual dengan harga Rp 5.000. Ternyata kiat coba-coba ini, berhasil. Akhirnya keterusan sampai sekarang kalau masih ada sisa daging babi guling,” kata perempuan yang sejak SD, SMP, dan SMA satu angkatan dengan Chef Juna ini. –Wirati Astiti
Cah Sawi Putih Jagung Manis Sarwan Bu Susi
menjadi Rp 15 ribu. Dalam mengolah makanan di rumah, Bu Susi dibantu kedua anak dan suaminya. Sedangkan, saat acara pameran ia mencari orang untuk membantunya di warung melayani pembeli. Dalam sehari, ia bisa menghabiskan 15 kilogram beras. Namun, menurutnya, pesanan sate yang paling banyak tiap hari dibandingkan pembeli warung
Tipat kuah
nasinya. Saat pameran, selain menjual bubuh, tipat kuah, dan nasi, ia juga melengkapi dengan es daluman dan beberapa minuman. Bahkan, ia mengatakan, saat Denpasar Festival, ia mampu mendapatkan omzet hingga Rp 15 juta dalam sehari. “Saat pameran memang banyak mendapatkan hasil. Kalau sehari-hari, paling Rp 2 jutaan,” kata perempuan usia 53 tahun ini. Bu Susi mengaku, belajar memasak secara otodidak. Ia aslinya orang Yogyakarta yang menikah ke Bali. Di Bali ia bekerja di salah satu restoran di Denpasar yang kini restorannya tersebut sudah tutup. Sementara suaminya, yang asli warga Banjar Wangaya Kelod, belajar membuat sate dari acaraacara di banjar. Hasil belajar di belajar dimodifikasi Bu Susi, agar mempunyai ciri khas tersendiri. Ia mengatakan sangat bersyukur, karena dengan berjualan mampu menyekolahkan kedua anaknya sampai sarjana. –Wirati Astiti
13
Bahan: 250 gr 150 gr 250 ml 1 biji 2 buah 2 sdm 1 batang ½ buah
: sawi putih, cuci, potong-potong : jagung manis pipil : air : kaldu blok : cabe merah besar, buang bijinya, iris serong : bawang putih goreng, buat taburan : seledri, ikat simpul : bawang bombai, iris halus
1 sdm : margarin 100 gr : udang, kupas kulitnya Garam, gula dan lada secukup nya Cara membuat: - Panaskan margarin, masukkan bawang bombai hingga harum, tambahkan bawang pre, udang hingga berubah warna dan harum, tambahkan jagung pipil lalu masukkan cabe merah dan cabe kecil - Tuangkan air hingga mendidih, masukkan sawi putih, lada, gula dan garam. - Masukkan seledri yang telah diikat, lalu masukkan kaldu blok
hingga mendidih - Masakan siap dihidangkan dengan ditaburi bawang putih goreng.
Es Agar-agar Sirup Bahan: 2 buah : jeruk manis, belah jadi dua, buang bijinya, ambil isinya 200 ml : jus jeruk Es batu secukupnya Sirup coco pandan secukupnya
menjadi satu dan masak, sesekali diaduk hingga mendidih, angkat dan biarkan uap panas hilang, cetak dalam kotak persegi empat yang telah dibasahi dengan air, biarkan dingin atau mengeras. - Keluarkan agar-agar dari cetakan, potong dadu, sisihkan. Bahan agar-agar: - Campur es jeruk dengan irisan 1 bungkus: agar-agar jeruk serta es batu, juga agar-agar. 100 gr : gula pasir - Siapkan gelas saji, masukkan 2 sdm 300 ml : susu segar sirup ke dalam gelas, tambahkan es batu. Cara membuat: - Masukkan campuran jeruk ke dalam - Campur semua bahan agar-agar gelas saji dan siap dihidangkan.
Warung Drunken Pig
Dari kiri chef Juna, Ni Made Honey, dan Taufan Hari Putra
Sambal Goreng Kentang Petai Bahan: 500 gr : kentang, potong kotak, goreng 7 buah : petai, iris panjang, goreng 3 lembar : daun salam 3 ruas : jari lengkuas, memarkan 1 sdt : air asam 200 ml : santan 2 sdm : minyak untuk menumis Garam, gula dan kaldu bubuk secukupnya Bumbu halus: 7 butir : bawang merah 3 siung : bawang putih 7 biji : cabai besar 6 butir : kemiri, didangrai
1 ruas : jari kunyit, bakar ½ sdt : terasi, bakar Cara membuat: - Panaskan minyak, tumis bumbu halus, lengkuas juga daun salam sampai harum, masukkan petai, aduk sampai rata. - Masukkan kentang, aduk rata, tambahkan santan, masak sampai mendidih. - Tambahkan garam, gula pasir juga kaldu bubuk serta air asam, masak sampai matang dan mengental. - Masakan siap dihidangkan, taburi dengan bawang putih goreng.
12
RESEP ALA CHEF
Sate Lilit Bali
5 - 11 MEI 2014
Sate lilit merupakan makanan khas Bali yang sangat terkenal. Sate lilit bisa dibuat dari berbagai sumber protein seperti ayam, ikan, babi, dan sapi. Daging dicincang halus dicampur dengan bumbu kemudian dikepalkan pada sebatang tusuk sate yang terbuat dari bambu. Namun, agar penyajiannya lebih indah, batang serai dapat dijadikan tusuk sate. Sate lilit dapat disajikan bersama sambal mentah. Berikut resep sate yang diambil dari Buku Ikon Kuliner Tradisional Indonesia Menparekraf. Selamat mencoba.
Bahan: 500 gr : fillet ikan tenggiri 400 gr : udang dibuang kulit dan kepala 6 sdm : santan kental 70 gr : kelapa setengah tua diparut 20 batang : serai ambil bagian atas untuk tusuk sate 10 gr : daun jeruk iris halus 3 sdt : jeruk lemo 3 sdm : minyak goreng untuk menumis bumbu 20 potong : kertas aluminum 10 x 10 cm Base wangen: 5 gr : lada hitam 3 butir : kemiri 3 siung : bawang putih 1 sdt : terasi 5 buah : cabai merah 100 ml : minyak 5 gr : garam
Bumbu halus (campur bersama): 12 butir : bawang merah 3 siung : bawang putih 5 buah : cabai merah 1 ½ sdt : kencur dicincang 2 ½ sdt : kunyit dicincang 2 ½ sdt : laos dicincang 3 sdt : gula merah sisir 3 sdt : serai cincang halus 5 butir : kemiri sangrai 2 sdt : garam Cara membuat: - Haluskan fillet ikan bersama udang. Tumis bumbu halus hingga matang masukkan santan. Aduk rata, angkat biarkan sampai dingin. - Campur ikan, udang, dan bumbu halus, kelapa parut daun jeruk, dan air jeruk lemo. Aduk sampai rata. - Lilitkan setiap adonan pada pangkal batang serai dengan padat.
- Panggang di atas bara api, balik-balikkan agar matangnya rata, angkat. Hidangkan bersama sambal matah (mentah).
Sambal Matah Bahan: 10 butir : 7 buah : 3 lembar : ½ sdt : 3 batang : 40 ml :
bawang merah diiris halus cabai rawit, iris halus daun jeruk terasi matang serai minyak goreng
Cara membuat: - Campur semua bahan menjadi satu. Sajikan sambal matah.
Nasi Campur ala Bu Susi Warung ini sangat sederhana. Hanya di emper toko di Jalan Kartini, Br. Wangaya Kelod, Denpasar. Namun, banyak warga Kota Denpasar sangat mengenal warung yang diberi nama Warung Bu Susi ini. Makanan khas Bali ala Warung Bu Susi sangat diminati, mulai dari bubuh Bali, tipat kuah, dan nasi campur Bali. Warung ini mulai buka pukul 07.00. Namun, sekitar pukul 10.00, biasanya makanannya sudah habis. Selain menjual nasi, Warung Bu Susi juga menerima pesanan seperti sate, bermacam-macam lawar seperti lawar nangka, belimbing, pare,
serapah, ayam betutu, dan tum. Menurut pemiliknya, Bu Susi, pesanan justru banyak dari pemilik usaha katering makanan, selain dari perseorangan yang mempunyai hajatan. Bu Susi memang mengkhususkan menjual makanan khas Bali. “Pesanan yang paling sering diterima adalah sate, baik sate ayam, maupun sate babi,” kata istri Gede Darma atau biasa dipanggil Pak Ganepo ini. Awalnya, menurut penuturan bu Susi, ia hanya menjual sate di pinggir jalan. Satu biji sate ia jual Rp 400. Penghasilannya dari berjualan sate bersama suaminya, selain
untuk kebutuhan keluarga seharihari, juga untuk menyekolahkan dua putranya. Lama-kelamaan setelah sate Bu Susi makin terkenal, akhirnya timbul keinginan pasutri ini untuk membuka warung makan. Walaupun hanya menempati warung kecil di emper toko, Warung Bu Susi selalu ramai setiap hari. Apalagi, dalam setiap kesempatan pameran yang digelar Pemerintah Kota Denpasar, Bu Susi selalu mendapatkan kesempatan untuk ikut mengisi pameran kuliner di Denpasar Festival dan di Taman Kota Denpasar. Menurut salah satu penggemar nasi campur Bu Susi, Rathi, makanannya memang enak, apalagi lawar dan sate lilit yang menjadi andalannya. Untuk satu porsi nasi campur dijual seharga Rp 10 ribu. Namun, jika Bu Susi berjualan di pameran ia menaikkan harga setengahnya
C U L I N A RY C O R N E R
5 - 11 MEI 2014
Nasi Babi Guling “Drunken Pig” Nama warung ini sangat unik, “Drunken Pig” alias babi mabuk. Nama ini sangat istimewa karena pemberian dari selebrity chef yang namanya sudah sangat terkenal, Chef Juna. Awalnya, masakan yang ingin disajikan aneka olahan daging babi. Namun, dalam perjalanan waktu, sajian babi guling khas Gianyar menjadi andalannya.
Menurut Ni Made Honey, awal terbentuknya warung makan ini bermula ketika ajang Sanur Festival ia melihat masih minim masakan lokal yang ditampilkan. Ia mengusulkan agar makanan tradisional Bali diberi kesempatan tampil. Berkawan baik dengan salah seorang pengurus
Yayasan Pembangunan Sanur, Honey diberi kesempatan membuka satu stan makanan. Honey bersama temannya Taufan Hari Putra mencoba menawarkan konsep makanan khas Bali, babi guling Gianyar. Ternyata sambutannya luar biasa. Terbersit keinginannya untuk membuka warung makan. Kebetulan, tanpa sengaja, ia dipertemukan kembali dengan teman lamanya Chef Juna lewat media jeja ring sosial. Dari pertemanan yang kembali terjalin, Honey mencoba meminta saran untuk warung makannya. Chef Juna tertarik ikut bergabung. Ak hirnya mereka bertiga bekerja sama untuk membuka warung makan “Drunken Pig” di Ke robokan, Oktober 2012. Awalnya, konsep yang diinginkan semua olahan serba-babi. Namun, karena kesibukan Chef Juna, akhirnya Honey dan Taufan memfokuskan ke babi guling Gianyar. November 2013, Wa rung Drunken Pig pindah ke Jalan Hayam Wuruk Nomor 42, sebelah Babi Guling Gianyar andalan Drunken Pig Timur Banjar Kelandis Denpasar.
Walaupun menempati lokasi yang tidak begitu luas, namun banyak pengunjung yang sudah mengenal Drunken Pig dari Kerobokan tetap setia datang. “Lokasi warung ini masih sementara, sambil menunggu tempat yang lebih strategis. Rencananya di daerah Petitenget, sekalian menunggu Chef Juna,” kata perempuan yang melanjutkan kuliah ke Boston, AS, setelah tamat SMAN 3 Denpasar ini. Keistimewaan babi guling Drunken Pig, daging babi selalu baru setiap hari dan nasi dimasak dengan dandang dan kukusan agar terasi lebih harum. Honey mempunyai kiat agar daging babi gulingnya bisa habis tiap hari. “Awalnya saya iseng mencoba, setelah selesai berjualan pukul 21.00, daging diolah kembali menjadi masakan baru untuk lauk-pauk nasi jinggo. Nasi bungkus ini dijual dengan harga Rp 5.000. Ternyata kiat coba-coba ini, berhasil. Akhirnya keterusan sampai sekarang kalau masih ada sisa daging babi guling,” kata perempuan yang sejak SD, SMP, dan SMA satu angkatan dengan Chef Juna ini. –Wirati Astiti
Cah Sawi Putih Jagung Manis Sarwan Bu Susi
menjadi Rp 15 ribu. Dalam mengolah makanan di rumah, Bu Susi dibantu kedua anak dan suaminya. Sedangkan, saat acara pameran ia mencari orang untuk membantunya di warung melayani pembeli. Dalam sehari, ia bisa menghabiskan 15 kilogram beras. Namun, menurutnya, pesanan sate yang paling banyak tiap hari dibandingkan pembeli warung
Tipat kuah
nasinya. Saat pameran, selain menjual bubuh, tipat kuah, dan nasi, ia juga melengkapi dengan es daluman dan beberapa minuman. Bahkan, ia mengatakan, saat Denpasar Festival, ia mampu mendapatkan omzet hingga Rp 15 juta dalam sehari. “Saat pameran memang banyak mendapatkan hasil. Kalau sehari-hari, paling Rp 2 jutaan,” kata perempuan usia 53 tahun ini. Bu Susi mengaku, belajar memasak secara otodidak. Ia aslinya orang Yogyakarta yang menikah ke Bali. Di Bali ia bekerja di salah satu restoran di Denpasar yang kini restorannya tersebut sudah tutup. Sementara suaminya, yang asli warga Banjar Wangaya Kelod, belajar membuat sate dari acaraacara di banjar. Hasil belajar di belajar dimodifikasi Bu Susi, agar mempunyai ciri khas tersendiri. Ia mengatakan sangat bersyukur, karena dengan berjualan mampu menyekolahkan kedua anaknya sampai sarjana. –Wirati Astiti
13
Bahan: 250 gr 150 gr 250 ml 1 biji 2 buah 2 sdm 1 batang ½ buah
: sawi putih, cuci, potong-potong : jagung manis pipil : air : kaldu blok : cabe merah besar, buang bijinya, iris serong : bawang putih goreng, buat taburan : seledri, ikat simpul : bawang bombai, iris halus
1 sdm : margarin 100 gr : udang, kupas kulitnya Garam, gula dan lada secukup nya Cara membuat: - Panaskan margarin, masukkan bawang bombai hingga harum, tambahkan bawang pre, udang hingga berubah warna dan harum, tambahkan jagung pipil lalu masukkan cabe merah dan cabe kecil - Tuangkan air hingga mendidih, masukkan sawi putih, lada, gula dan garam. - Masukkan seledri yang telah diikat, lalu masukkan kaldu blok
hingga mendidih - Masakan siap dihidangkan dengan ditaburi bawang putih goreng.
Es Agar-agar Sirup Bahan: 2 buah : jeruk manis, belah jadi dua, buang bijinya, ambil isinya 200 ml : jus jeruk Es batu secukupnya Sirup coco pandan secukupnya
menjadi satu dan masak, sesekali diaduk hingga mendidih, angkat dan biarkan uap panas hilang, cetak dalam kotak persegi empat yang telah dibasahi dengan air, biarkan dingin atau mengeras. - Keluarkan agar-agar dari cetakan, potong dadu, sisihkan. Bahan agar-agar: - Campur es jeruk dengan irisan 1 bungkus: agar-agar jeruk serta es batu, juga agar-agar. 100 gr : gula pasir - Siapkan gelas saji, masukkan 2 sdm 300 ml : susu segar sirup ke dalam gelas, tambahkan es batu. Cara membuat: - Masukkan campuran jeruk ke dalam - Campur semua bahan agar-agar gelas saji dan siap dihidangkan.
Warung Drunken Pig
Dari kiri chef Juna, Ni Made Honey, dan Taufan Hari Putra
Sambal Goreng Kentang Petai Bahan: 500 gr : kentang, potong kotak, goreng 7 buah : petai, iris panjang, goreng 3 lembar : daun salam 3 ruas : jari lengkuas, memarkan 1 sdt : air asam 200 ml : santan 2 sdm : minyak untuk menumis Garam, gula dan kaldu bubuk secukupnya Bumbu halus: 7 butir : bawang merah 3 siung : bawang putih 7 biji : cabai besar 6 butir : kemiri, didangrai
1 ruas : jari kunyit, bakar ½ sdt : terasi, bakar Cara membuat: - Panaskan minyak, tumis bumbu halus, lengkuas juga daun salam sampai harum, masukkan petai, aduk sampai rata. - Masukkan kentang, aduk rata, tambahkan santan, masak sampai mendidih. - Tambahkan garam, gula pasir juga kaldu bubuk serta air asam, masak sampai matang dan mengental. - Masakan siap dihidangkan, taburi dengan bawang putih goreng.
14
J E L I TA
Tren Facial Organik
Produk kecantikan organik lebih aman digunakan sebab tidak mengandung bahan kimia berbahaya, dan ter hindar dari efek negatif untuk jangka panjang. Itu sebagian alasan yang diungkapkan Bu Ayu saat ditemui usai melakukan perawatan facial dan totok aura organik.
H
al ini dibenarkan oleh Dewi Mastini pemilik Rumah Natural Totok Aura di kawasan Jalan Gatot Subroto, Denpasar. Menurutnya tren ke depan adalah kembali ke alam. “Jika bicara jangka panjang , penggunaan produk perawatan yang organik ini yang akan semakin dicari dan digemari untuk menjaga kesehatan sekaligus keindahan kulit,” ujarnya. Begitu juga dikatakannya untuk perawatan secara menyeluruh dan seharihari mulai dari dari day creamnya hingga night cream-nya juga berbahan organik,’lanjutnya. Menurut Bu Ayu, sebagai perempuan, ia sangat menyadari pentingnya merawat kulit yang tak lepas dari kotoran, debu, serta sel-sel kulit mati, dengan benar dan dengan produk yang baik. Karena itu pula ia lebih memilih perawatan dengan treatment berbahan alami. “Bahan organik ini cocok untuk semua jenis kulit baik perempuan maupun laki-laki. Sebab, sudah banyak dilakukan
Dewi Mastini
penelitian oleh para pakar , kalau facial oganik ini memiliki fungsi yang sangat banyak seperti untuk anti aging, anti wrinkle bahkan fungsi lightening,” lanjut Dewi. Dewi kembali menekankan bahwa facial organik ini sangat aman untuk semua jenis kulit karena bebas dari reaksi bahan-bahan kimia sehingga wajah tampak bersih, dan akan tampak
selalu muda, “ ujar Dewi . Terlebih untuk wanita yang sudah mulai menginjak usia 30 tahunan, yang rawan akan kerutan di wajah, sehingga jika tidak dirawat akan menyebabkan penuaan dini. Dewi pun menyebutkan beberapa produk organik yang digunakannya, diantaranya ada campuran ekstrak beras dan madu. Beras klatanya sudah lama pula diyakini bisa memutihkan wajah, membuat kulit tampak halus, kencang dan bebas jerawat. Sedangkan madu fungsinya membantu melembabkan sekaligus menutrisi. Ada juga bekatul (rice bran) yaitu bagian luar dari beras yang terlepas menjadi serbuk halus selain mempunyai manfaat kesehatan, juga untuk dunia kecantikan. “Saat ini memang belum banyak orang yang mengenal manfaat bekatul, padahal di balik buliran putih beras tersebut, bahan aktifnya menyimpan manfaat yang besar untuk kecantikan. Sebagai bahan produk kecantikan, bekatul memiliki kemampuan sebagai pelindung kulit. Selain itu saja ada pula daun mint, sebagai salah satu tanaman herbal yang dapat memberikan sensasi dingin menyegarkan serta manfaat yang sangat baik untuk mengatasi berbagai masalah kulit.
5 - 11 mei 2014
5 - 11 mei 2014
Selanjutnya, Dewi juga menyebut memakai minyak zaitu atau olive oil, yang mengandung vitamin E dan oleic acid dan dipercaya sejak ratusan tahun di berbagai belahan dunia sebagai bahan alami menghaluskan dan melembutkan kulit secara efektif. Vitamin di dalamnya pun membantu meningkatkan elastisitas kulit dan anti oksidan. Minyak zaitun, katanya juga sering diguna-
kan sebagai pembersih make up, mengatasi masalah kulit kering, serta melembabkan, menghaluskan, dan mengatasi pecah-pecah pada bibir. Facial organik lanjut Dewi juga aman untuk kulit para remaja putri dan remaja putra, yang ingin merawat wajah maupun facial dengan bahan yang alami dan bebas zat kimia. “Saat facial dan totok misalnya , setelah wajah dimanjakan dengan pemijatan dan penekanan di titik-titik tertentu. Bagian terakhir, wajah diolesi masker organik yang berfungsi untuk mengencangkan kulit,”ujarnya. – Sri Ardhini
MITOS ATAU FAKTA
11
Mengapa Obat Antibiotik harus Dihabiskan?
B
anyak pasien bertanya-tanya, mengapa saya harus meminum obat antibiotik sampai habis? Kemu dian, dalam resep obat sering kita temui takaran yang disarankan memakai ukuran sendok makan (sdm) atau sendok teh (sdt). “Kalau sendok teh saya di rumah, kecil. Jadi, ukuran yang dimaksud yang mana?”. Pertanyaan-pertanyan tersebut kerap terlontar dari perbincangan para orangtua. Dokter Luh Gde Wisudani Parimartha akan mengupasnya lebih dalam.
Mitos: Dosis obat tergantung pada usia Fakta: Dosis obat adalah jumlah obat yang diberikan kepada penderita/pasien dalam satuan berat (gram, milligram, mikrogram) atau satu anisi (liter, ml, UI) untuk mencapai efek terapeutik yang diharapkan. Usia pasien merupakan salah satu pertimbangan untuk menentukan dosis obat, apakah obat tersebut akan diberikan pada neonatal (bayi baru lahir), anakanak (pediatric), orang dewasa ataukah orangtua (geriatric). Pertimbangan khusus pada bayi dan anak-anak dikarenakan mereka memiliki bobot lebih kecil dan sistem tubuh belum berkembang sepenuhnya. Sementara pada pasien geriatric berhubungan de ngan terjadinya penurunan fungsi fisiologis. Pertimbangan faktor usia dalam menentukan dosis obat sangatlah penting mengingat adanya perbedaan respons tubuh masing-masing terhadap obat yang diberikan. Perbedaan tersebut oleh karena adanya faktor dari dalam tubuh dan faktor dari luar tubuh (endogen dan eksogen), yaitu 1. Pola ADME (Absorpsi, Distribusi, Metabolisme dan Ekskresi), 2. Sensitivitas yang berlainan terhadap obat, 3. Redistribusi dari zat-zat yang ada di dalam tubuh (zat endogen). Di samping faktor usia, dosis obat juga terantung pada berat badan, luas permukaan tubuh, jenis kelamin, dan toleransi obat terhadap pasien tersebut. Yang perlu diperhatikan, dosis
dr. Oka Negara, FIAS
obat terutama yang dalam bentuk suspensi/sirup kerap ditulis 1 sendok makan (sdm) atau 1 sendok teh (sdt). Dokter umum Puskesmas Sukawati 2 Gianyar yang kerap disapa dr. Winnie ini mengatakan di sini seringkali terjadi kekeliruan. Volume 1 sendok teh/sendok makan yang ada pada etiket obat, itu berbeda dengan 1 sendok makan/ sendok the yang ada di rumah. Satu sendok makan itu setara dengan 15 ml dan 1 sendok teh setara dengan 5 ml. Sehingg, kalau memberikan obat yang dalam bentuk sirup, harus memakai sendok yang sudah ada pada obat tersebut. Mitos : Meningkatkan dosis obat akan menyebabkan lebih cepat sembuh Fakta: Kesembuhan pasien tergantung dari banyak faktor , yaitu ketepatan diagnosis suatu penyakit, pemberian obat yang tepat, ketaatan pasien dalam minum obat dan faktor dukungan keluarga. Obat tidak ubahnya seperti pedang bermata dua. Jika tepat obat dan tepat pemberian, dia akan sangat bermanfaat untuk penyembuhan penyakit. Jika salah pemberian, justru bukan sebagai obat lagi, namun sebagai racun dalam tubuh. Pemberian obat yang tidak sesuai dengan dosis terapi akan menimbulkan efek samping yang lebih berat. Peningkatan dosis dapat saja dilakukan, jika dosis terapi belum tercapai. Namun, kalau dosis obat yang diberikan melampaui dosis maksimal, terapi justru akan menyebabkan efek toksik (keracunan terhadap obat). Hal penting yang
Kirim surat Anda ke Redaksi Tokoh dan cantumkan “Sex Edu”di amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh.co.id. Rubrik ini diasuh Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI) Denpasar.
“Dok, saya mau tanya masalah istri saya, setiap kali diajak berhubungan seksual dia mengeluh nyeri di kelaminnya dan susah sekali mendapatkan orgasme. Saya mohon penjelasan dan solusinya, Dok.” (Komang) Setiap gangguan seksual yang dirasakan tentu saja jangan dibiar kan berlangsung lama, karena membiarkan masalah seksual berlarut-larut adalah sebuah kesalahan besar. Akan lebih baik sejak keluhan muncul (ketika istri terus menyebutkan merasa sakit) sudah disarankan untuk mendapat pemeriksaan untuk memastikan penyebab nyeri dan segera melakukan pengobatan. Kasus yang dialami ini, disebut dyspareunia, yang berarti rasa nyeri yang muncul saat hubungan seksual. Penyebab rasa nyeri saat hubungan seksual itu secara umum kemungkinan disebabkan oleh tiga
hal. Pertama, istri tidak terangsang. Kedua, istri mengalami hambatan perlendiran atau cairan lubrikasi vagina. Ketiga, istri mengalami gangguan atau penyakit pada organ kelaminnya. Rasa nyeri yang muncul selama hubungan seksual, jika terus dilanjutkan akan memunculkan kegagalan mendapatkan orgasme. Untuk memastikan, tentu saja diperlukan pemeriksaan. Yang terjadi bisa dari bekas luka (misalnya luka pascapersalinan), bisa juga karena terjadi peradangan vagina hingga proses penyakit di dalam panggul. Atau, juga trauma psikis karena se suatu yang tidak menyenangkan
dr. Luh Gde Wisudani Parimartha
harus diperhatikan adalah 5 TEPAT yaitu tepat obat, tepat dosis, tepat pasien, tepat jalur pemberian dan tepat waktu pemberian obat tersebut. Sehingga, tidak selalu meningkatkan dosis obat untuk mempercepat penyembuhan. Mitos : Mengonsumsi obat yang paten/mahal akan mempercepat kesembuhan Fakta: Penggunaan obat paten di masyarakat tidak bisa dimungkiri lagi begitu banyak dan bahkan sekarang sudah menjadi tren/gaya hidup. Bukan karena dokter saja yang meresepkannya, tetapi permintaan dari pasiennya. “Kasi saya obat yang paten dan mahal Dok, biar cepat sembuh.” Sebenarnya, tidak begitu halnya. Obat generik dan obat paten sama-sama bisa menyembuhkan. Yang terpenting tepat guna dan tepat dosis. Obat generik memiliki khasiat yang sama dengan obat paten. Baik obat generik maupun paten mempunyai kandungan dan khasiat yang sama. Perlu ditekankan bahwa obat generik adalah obat yang bermutu tinggi dan telah melalui kualitas kontrol yang sangat ketat. Obat generik adalah obat yang berkualitas. Obat
paten ada yang memiliki mutu yang sama dengan obat generik, dan ada pula yang lebih bermutu dibandingkan dengan obat generik. Beberapa obat paten mempunyai teknologi yang mereka kembangkan sendiri yang sudah dipatenkan yang tidak terdapat pada obat generik. Beberapa obat paten juga mempunyai teknologi yang bisa mengurangi bau obat yang mungkin bisa mengakibatkan mual pada pasien. Obat paten juga memiliki sistem pelepasan berkala sehingga obat akan larut secara perlahan. Sehingga, obat yang sebelumnya diminum 3x, dapat diminum 1x saja. Harga obat tidak menjamin kesembuhan pasien, yang terpenting adalah “5 TEPAT”. Hanya saja adanya sugesti di masyarakat dimana jika diberi obat generik atau obat murah tidak merasa puas atau tidak percaya dengan khasiat obat tersebut . Karena, pasien merasa jika obat tersebut mahal, pasti obatnya baik dan pasti menyembuhkan. Untuk memperbaiki anggapan ini, sudah seharusnya dokter memiliki waktu yang cukup untuk menjelaskan hal tersebut. Mitos: Minum obat dalam waktu lama dapat merusak ginjal Fakta: Penggunaan obat tiap hari, dalam jangka waktu yang lama dan tidak rasional akan menyebabkan terganggunya beberapa organ seperti hati, lambung, lemak darah dan yang tersering adalah terganggu nya fungsi ginjal. Ginjal berfungsi menyaring darah yang mengalir ke seluruh organ tubuh. Dalam darah juga berisi bahan-bahan yang bersifat racun, daya tahan saringan dipengaruhi juga oleh bahan yang disaring. Dalam hal ini, jika yang disaring adalah bahan-bahan kimia yang sulit terurai, kerja ginjal menjadi berat. Bahan -bahan yang bersifat merusak ginjal tersebut disebut bahan nefrotoksik atau mengganggu fungsi ginjal seperti, antibiotik gol aminoglikosid, AINS (anti inflamasi non steroid), zat kontras radiografi, analgetik (obat
penghilang rasa nyeri), beberapa jamu pegal linu dan rematik, dan beberapa jamu pelangsing. Obat-obat tersebut jika dikonsumsi tiap hari dan dalam waktu yang lama dapat meyebabkan gangguan ginjal. Sementara, obat-obat yang bahkan diminum seumur hidup, sepertit obat hipertensi dan kolesterol, malahan aman karena tidak bersifat nefrotoksik. Justru, kalau obat tersebut tidak diminum, akan merusak ginjal akibat dari hipertensinya. Apabila memiliki risiko gangguan ginjal, untuk minum obat apapun, termasuk obat bebas, sebaiknya lebih dahulu berkonsultasi dengan dokter untuk mencegah efek samping pada ginjal. Mitos: Obat antibiotik harus diminum sampai habis agar tubuh kebal terhadap infeksi/kuman. Fakta : Antibiotik memang harus diminum sampai habis tetapi bukan agar tubuh kebal dari penyakit, namun agar kuman/bakteri penyebab penyakit tidak kebal terhadap antibiotik. Pemakaian antibiotik yang tidak bijaksana, tidak sesuai aturan dikhawatirkan bisa menyebabkan terjadinya resistensi (kekebalan) bakteri tertentu terhadap antibiotik, karena bakteri yang tidak terbunuh mengalami mutasi dan menjadi kebal sehingga memerlukan jenis antibiotik yang lebih kuat. Resistensi tersebut bukan hanya karena lama pemakaian yang tidak benar namun juga karena kesalahan memilih antibiotik dan cara pemberian antibiotik tersebut. Kebiasaan memberikan antibiotik dengan dosis yang tidak tepat, waktu pemberian yang terlalu singkat atau lama, akan menimbulkan masalah resistensi yang cukup serius. Di samping itu juga, pemakaian antibiotik yang tidak tepat akan membunuh kuman baik dan berguna yang ada di dalam tubuh kita, sehingga tempat yang semula diisi oleh bakteri baik akan diisi oleh bakteri jahat atau jamur, yang disebut sebagai superinfeksi. –Inten Indrawati
Nyeri Bikin Susah Orgasme berkaitan dengan seks atau reproduksinya. Nyeri di daerah vagina juga bisa muncul saat cairan lubrikasi tidak maksimal keluar. Cairan lubrikasi ini hanya akan keluar jika perempuan terangsang maksimal, tapi jika sedang stres atau tegang, cairan itu tidak akan keluar. Rasa nyeri seharusnya tidak muncul saat melakukan seks jika perempuan sudah siap dan terangsang. Nyeri saat berhubungan seksual juga bisa dicegah jika laki-laki tidak tergesa-gesa melakukan penetrasi. Sebaiknya atur posisi dengan baik, lebih baik lagi jika perempuan yang mengarahkan. Jika laki-laki terlalu tergesa-gesa melakukan penetrasi sedangkan perempuan belum siap, maka bisa terjadi lecet dan perlukaan di dinding vagina. Untuk menghindari rasa nyeri saat berhubungan seksual, sebaiknya kedua belah pihak saling mengerti. Laki-laki jangan
terg esa-gesa dan perempuan sebaiknya mempersiapkan diri. Jangan lupa lakukan foreplay (pemanasan) yang maksimal mulai dari yang paling ringan seperti memeluk, mencium, meraba, memijat dan sebagainya. Tetapi yang benar-benar perlu diperhatikan adalah memastikan kembali apakah rasa nyeri itu disebabkan karena hal lain juga misalnya masih ada sisa luka dan penyakit di vagina maupun panggul, atau justru karena masalah psikis? Ini yang perlu diperiksa dan pastikan. Yang bisa dimaksimalkan se belum melakukan pemeriksaan juga adalah dengan selalu saling melibatkan pasangan untuk tetap berkomunikasi dan saling memahami permasalahan bersama dan berniat positif untuk memeriksakan diri dan mengatasi masalah ini. Jangan pernah berlama-lama membiarkan perempuan untuk tidak menikmati hubungan seksualnya hingga akhirnya
tidak mendapatkan orgasmenya. Perempuan yang tidak mencapai orgasme seringkali memunculkan akibat dan pengaruh negatif ke psikisnya seperti menjadi sering marah, cemas atau gangguan tidur. Komunikasi dengan pasangan, khususnya komunikasi seksual, merupakan faktor penting agar hubungan seksual berlangsung harmonis yang berarti dapat dinikmati oleh kedua pihak, perempuan dan laki-laki. Komunikasi seksual yang baik sebenarnya merupakan juga stimulus awal sekaligus rangsangan yang sifatnya psikis sebelum hubungan seksual berlangsung. Saat diperlukan untuk melakukan konseling khusus dan sex therapy, maka sangat perlu dilakukan de ngan melibatkan kedua pasangan, karena sesungguhnya, sekali lagi, permasalahan seksual pada satu pihak tidak pernah terlepas dan teratasi tanpa melibatkan pasangannya.
BUGAR
10
Mengenal Nyeri Kepala haya yang berkedip-kedip, bintik-bintik, garis-garis), gangguan sensoris (pins/ needles/hilang rasa/kebas), gangguan berbicara. Tension type headache: nyeri kepala episodic yang berlangsung 30 menit - 7 hari. Nyeri bilateral, rasa menekan atau mengikat dengan intensitas ringan-sedang. Nyeri tidak bertambah dengan aktivitas rutin sehari-hari, tidak didapatkan mual, tapi bisa ada fotofobi/ fonofobi. Dapat berhubungan dengan nyeri tekan pada otot perikranial (otot pfrontal, temporal, masseter, pterygoid, sternokleidomastoid, splenius dan trapezius)
dr. IGAM Ryantarini, Sp.S Nyeri kepala adalah salah satu keluhan medis tersering yang ditangani oleh bagian ilmu penyakit saraf. Gejalanya yaitu nyeri di daerah kepala dengan batas depan di atas garis penghubung sudut mata dengan telinga, di belakang di atas garis rambut. Ada yang menggambarkan nyerinya seperti ditusuktusuk, berdenyut, seperti ditekan/ diremas/diberi beban yang berat dll. Keluhannya mulai dari yang ringan sehingga seseorang dapat mengabaikannya atau meminum obat-obatan yang dijual bebas, sampai jika keluhannya hebat, dapat menyebabkan seseorang akhirnya ke unit gawat darurat. Telah dikenal berbagai klasifikasi tentang nyeri kepala. Nyeri kepala primer dan sekunder. Nyeri kepala primer adalah migren, tension headache, cluster headache. Yang tersering berobat adalah migren, diikuti tension, cluster kejadiannya kurang dari 1%. Nyeri kepala sekunder adalah nyeri kepala yang disebabkan oleh berbagai hal baik di dalam atau di luar otak, misalnya penyakit sistemik (demam, hipertensi akut, sinusitis), sebagian kecil lainnya disebabkan kelainan neurologi (nyeri kepala post trauma, nyeri kepala karena penyakit tulang servikal/leher, proses ekspansif intracranial), gangguan refraksi (jumlahnya sedikit dan membaik dengan koreksi kacamata). Migren : nyeri kepala berulang dengan manifestasi serangan selama 4-72 jam, dengan karakteristik nyerinya unilateral, berdenyut, intensitas sedang-berat, bertambah berat dengan aktivitas rutin, diikuti nausea dan atau fotofobi/fonofobi. Dikenal juga migren dengan aura dimana serangan nyeri kepala berulang didahului gejala neurologi fokal yang reversible secara bertahap 5-20 menit dan berlangsung kurang dari 60 menit. Nyeri kepala yg terjadi biasanya timbul sesudah gejala aura. Aura: gangguan visual (ca-
Pemicu Nyeri Kepala: Beberapa pemicu dapat menginduksi nyeri kepala ataupun memperberat nyeri kepala yang telah terjadi, terutama pada migren. Hipertensi menyebabkan nyeri kepala? Benar pada kondisi hipertensif emergensi. Tapi tidak pada kondisi migren atau tension headache. Berdasarkan laporan dari Amerika Serikat dan Norwegia: pada 22.701 laki-laki Amerika berusia 40-84 tahun yang menganalisa berbagai faktor risiko serebrovaskular ditemukan tidak ada perbedaan persentase jumlah laki-laki dengan riwayat hipertensi pada kelompok migren dengan nonmigren. Pada penelitian prospektif dari 22.685 orang dewasa Norwegia, ditemukan bahwa tekanan darah sistolik dan diastolic yang tinggi berhubungan dengan penurunan resiko nyeri kepala nonmigren. Hasil metaanalisis dari 95 RCT yg menilai penanganan antihipertensi dengan 4 terapi berbeda, pasien-pasien dengan terapi hipertensi secara signifikan prevalensi nyeri kepala menurun. Kemungkinan karena respons migren terhadap antihipertensi. Prinsip evaluasi nyeri kepala: Anamnesis: l Usia saat onset l Ada/tidak aura dan prodrom - Frekuensi, intensitas dan durasi serangan - Jumlah serangan perbulan - Waktu dan kondisi saat serangan - Kualitas, lokasi dan penyebaran nyeri - Gejala dan abnormalitas yang berhubungan - Riwayat keluarga dengan migren - Faktor pencetus dan pemulih - Efek terhadap aktivitas - Hubungan dengan makanan/ alkohol - Respons terhadap terapi - Perubahan tajam penglihatan yang baru - Hubungan dengan trauma terakhir - Perubahan tidur, olahraga, berat badan dan diet - Status general - Perubahan gaya hidup, pekerjaan
- Perubahan metode melahirkan - Kemungkinan berhububungan dengan faktor lingkungan - Efek siklus menstruasi dan hormon eksogen (wanita) Pertanyaan yang penting: - Seberapa sering mengalami nyeri kepala hebat (tanpa terapi sulit beraktifitas)? - Seberapa sering mengalami nyeri kepala ringan - Seberapa sering meminum obat penghilang rasa nyeri (no. 2 dan 3 untuk menilai pasien dengan medication overuse, memakai obat lebih dari 3 hari dalam seminggu dan atau setiap hari mengalami nyeri kepala) - Apakah ada perubahan dari model nyeri kepala selama ini (nyeri kepala sekunder dari penyebab yang penting), apabila sejak 6 bulan tipe nyeri kepala sama artinya bukan sesuatu yang serius sebagai penyebab Tanda bahaya berdasarkan anamnesis: Menilai adanya tanda SOL/lesi vascular, infeksi, gangguan metabolik, masalah sistemik. - Nyeri kepala mendadak, memberat, intensitas maksimal dalam beberapa detik/menit dari mulai nyeri kepala (SAH), migren diawali dengan nyeri moderate, meningkat menjadi maksimal dalam 1-2 jam, cluster berlangsung 1-2 jam dengan tanda otonom salah satu sisi wajah (air mata, rinore) - Nyeri kepala yang tidak pernah dialami sebelumnya, tidak pernah sehebat itu (ICB, infeksi kepala, nyeri kepala karena overuse obatobatan) - Disertai gejala neurologis fokal selain aura sensori/visual (lesi masa, avm, penyakit vaskulaer kolagen) - Demam berhubungan dengan nyeri kepala (infeksi intracranial, sistemik/ lokal) - Perubahan status mental, kepribadian, fluktuasi kesadaran. - Nyeri kepala menyebar ke leher bagian bawah diantara bahu, iritasi meningen (SAH/infeksi) - Nyeri kepala yang baru dialami pada usia dibawah 5 tahun atau > 50. - Nyeri kepala tipe yang lain pada pasien dengan keganasan, pada pasien HIV (infeksi oportunistik/ tumor) - Nyeri kepala selama kehamilan/ postpartum (thrombosis venakortikal /sinus, diseksi carotis, apopleksi pituitari) Gambaran lainnya yang menyertai nyeri kepala: - Hidung mampet/infeksi pernafasan kronik: sinusitis (migren+sinusitis) - Menurunnya penglihatan/melihat bintik hitam (glaucoma), nyeri kepala hebat kurang dari 1 jam salah satu sisi dan tidak memenuhi kriteria migren pada usia 50 tahun ke atas
5 - 11 MEI 2014
- Defek lapang pandang (massa pituitary) - Penglihatan kabur pada posisi kepala tegak/nyeri kepala saat bangun pagi, meningkat dengan posisi duduk, penglihatan dobel/ gangguan keseimbangan : tanda peningkatan intracranial (atau pada pasien dengan nausea kronik) - Optic neuritis: mendadak, berat hilang penglihatan salah satu sisi mata - Nyeri kepala, fatiq, nyeri menyeluruh, keringat malam di usia lebih dari 55 tahun: arteritis temporalis Pemeriksaan Fisik: sebagian besar pasien dengan nyeri kepala, pemeriksaan fisik neurologi dbn. - Tekanan darah, nadi - Dengarkan bruit pada leher, mata, kepala : AVM - Arteri temporal/leher - Otot-otot leher/spine - Test koordinasi dll Tanda bahaya dari pemeriksaan: - Kaku kuduk - Papil edema - Tanda deficit neurologi: lesi masa intracranial, avm. Indikasi foto rontgen: - Dengan tanda bahaya dari pemeriksaan fisik - Nyeri kepala kronik dan temuan fisik neurologi abnormal - Nyeri hebat sehingga membangunkan tidur dimalam hari - Pada migren komplikata - Perubahan pola nyeri kepala, frekuensi dan keparahannya - Nyeri kepala memburuk progresif walaupun dengan terapi - Bruit pada mata - Nyeri kepala diatas usia 40 tahun - MRA+MRI: jika lesi fosa posterior/ lesi vascular Indikasi lumbal punksi: Curiga SAH dg CT scan kepala normal, infeksi Terapi : - Langkah umum: menghindari pencetus nyeri, perubahan pola tidur, makanan, stress, dan rutinitas seharihari, cahaya terang, kelap-kelip, perubahan cuaca, berada di tempat yang tinggi seperti di gunung atau di pesawat udara, hindari alkohol, hindari suara gaduh/sinar terang. - Terapi abortif: nonspesifik (analgetik, NSAID), spesifik (triptans, dihidroergotamin) Terapi preventif: mengurangi frekuensi berat dan lamanya serangan, meningkatkan respon pasien terhadap pengobatan, meningkatkan aktivitas sehari-hari Indikasi terapi preventif migren: - Serangan berulang lebih dari 2 kali/ minggu yang mengganggu aktivitas, meskipun telah diberikan pengobatan akut yang adekuat - Nyeri kepala migren yang sering/ berlangsung 48 jam - Pengobatan akut gagal/tidak efektif - Ada kontraindikasi obat, efek samping obat muncul, over use terhadap terapi akut - Munculnya gejala-gejala dan kondisi
luar biasa, migren basiler hemiplegic, aura yang memanjang - Keinginan penderita sendiri Kesimpulan: - Seleksi nyeri kepala yang serius atau penyebab nyeri kepala sekunder - Dengan anamnesis, dari riwayat sebelumnya - Foto rontgen hanya pada keadaan tertentu saja Apa saja tipe tersering dari sakit kepala? Nyeri kepala banyak jenisnya, yang tersering nyeri kepala tipe tegang (tension type headache) dan migren. Nyeri kepala TTH: nyeri dirasakan di kedua bagian kepala, seperti tekanan atau diikat Nyeri kepala migren: nyeri kepala yang makin lama makin memberat, mengenai salah satu sisi kepala, bisa disertai mual, muntah, sensitif terhadap suara/cahaya Apa yang dikerjakan jika mengalaminya? Berbaring pada tempat yang sejuk, gelap dan ruangan yang tenang (efektif untuk migren) Minum obat-obatan penghilang rasa nyeri (sebelumnya konsultasi dengan dokter) Untuk mencegahnya apa saja yang dikerjakan? Beberapa orang menyadari nyeri kepalanya terpicu oleh makanan tertentu atau beberapa hal yang dikerjakan. Untuk menyadarinya, mulai membuat buku harian nyeri kepala. Diperhatikan, setiap mengalami nyeri kepala dicatat, apa yang dimakan sebelumnya, apa yang dikerjakan sebelumnya, nyerinya berapa lama, bagaimana cara menguranginya. Beberapa hal yang memicu nyeri kepala: tidak makan sesuai jadwalnya, makan terlalu sedikit, minum kopi terlalu sedikit/banyak, tidur terlalu lama/sedikit, makanan-makanan tertentu (coklat, keju), sebelum menstruasi. Kapan konsultasi ke dokter? Segera ke dokter apabila: nyeri kepala sering terjadi, atau datangnya tiba-tiba, cepat memberat, nyeri kepala terberat sepanjang hidup, disertai dengan panas badan, kejang, setelah kecelakaan, adanya kelemahan, kesemutan, gangguan penglihatan. Bagaimana pengobatan nyeri kepala? Ada banyak obat nyeri kepala baik yang tanpa resep ataupun dengan resep dokter. Ada juga obat-obatan yang dapat mencegah terjadinya nyeri kepala. Obat yang tepat apabila sesuai dengan tipe nyeri kepala yang terjadi, seberapa sering terjadi dan seberat apa nyerinya. Jika nyeri kepala sering terjadi, konsultasi dengan dokter sehingga dapat memilih terapi yang sesuai. Jangan mencoba mengobati diri sendiri dari nyeri kepala yang telah sering terjadi dengan obat-obatan tanpa resep. Terlalu sering minum obat nyeri kepala justru akan memicu terjadinya nyeri kepala. dr. IGAM Ryantarini, Sp.S
5 - 11 MEI 2014
Party Hang-out
STYLE
15
Endek semakin hari semakin digemari menjadi pilihan item fashion yang menarik. Begitu juga yang nampak dalam parade busana oleh para Teruni Denpasar di Gedung Pers Bali K Nadha pada acara “Beauty Fair� yang diselenggarakan Bali TV pekan lalu.
B
ahan lokal Bali ini hadir dalam ragam mini dress yang menjadi salah satu tren busana remaja tahun ini. Apalagi dress yang dikenakann para Truni Denpasar ini juga mampu memberikan efek jenjang pada si pemakai. Begitu pula dengan model blus yang chic dan cantik, dengan motif-nya yang unik, atraktif atau basic, menjadikan pemakainya tampil etnik tapi fashionable. Sedangkan kesan remaja dan trendi diperoleh
dengan potongan yang simpel dan aksen bahan polos atau tambahan belitan ikat pinggang. Kalaupun ingin lebih lagi mempercantik penampilan, tentu tinggal menggunakan aksesoris dengan ukuran yang kecil. Model –model endek pada halaman Style Tokoh kali ini berhasil menawarkan sisi modern tanpa menghilangÂkan kesan unik dan etniknya. Dress dan blus ini pun dapat dikenakan untuk acara party maupun sekadar hang-out bersama teman. -Sri Ardhini
PELESIR
16
5 - 11 mei 2014
Taman Binatang Mini di Tepi Danau
DARA
5 - 11 mei 2014
Konseling Pranikah
Kenali Esensi Pernikahan
Seminar bagi remaja ini dipandu Ida Ayu Nyoman Candrawati, S.H., M.Par, Kepala Bidang Perlindungan Perempuan BP3A Provinsi Bali menghadirkan pembicara dr. Romy Kamaludin, S.Ked, Ida Ayu Maharatni, S.P.Si, M.Si. Kadek Arya Prima Dewi Putri Fajar, S.Ag. M.Pd, Luh Putu Anggreni, S.H, dan Mercya Soetanto.
Daya Tarik Wisata (DTW) Ulun Danu Berat an tak hanya indah. Objek yang terletak di kawasan wisata Bedugul, Baturiti, Tabanan atau sekitar 50 Km arah utara Kota Denpasar itu juga sebagai pusat atraksi wisata. Selain atraksi wisata budaya, kawasan ini juga di lengkapi dengan berbagai jenis permainan.
B
erfoto dengan berbagai hewan menjadi atraksi unik. Atraksi wisata bernama Taman Safari Ulun Danu Beratan ini tergolong baru. Taman binatang mini ini terletak di areal kebun paling depan, di sebelah kiri pintu masuk objek. Berbagai jenis hewan peliharaan yang lucu itu mampu menjadikan suasana berwisata semakin manis. Taman Safari Ulun Danu Beratan mengoleksi berbagai jenis burung langka asli Bali. Ada juga burung dari luar bahkan dari luar negeri. “Wisatawan yang sedang berwisata di sini bisa berfoto bareng dengan binatang yang ada di sini,” kata Manajer Pengelola DTW Ulun Danu Beratan Wayan Mustika. Maraknya tanaman bunga besar dan kecil menjadi latar yang indah dalam berpose. Pada deretan utara terdapat kalong-kalong (kelelawar raksasa) bergelayutan akan sangat manis kalau diajak
berfoto. Ada elang berbagai warna bulu, rangkok (jenis burung yang dari Bali Barat), burung hantu kecil dan besar, ular black piton, albino, camelion (binatang dari Brasil, dan iguana. Adanya atraksi baru ini sebagai bentuk pelayanan kepada wisatawan dalam memberikan atraksi tambahan di DTW Ulun Danu beratan. Termasuk juga menggelar Ulun Danu Festival yang akan digelar setiap setahun. “Selain terus menata infrastruktur, kami juga terus memberikan pelayanan dengan cara membuat wisatawan tidak jenuh,” ujarnya. Di samping atraksi hewan, di kawasan DTW yang sejuk itu menyediaka permainan bagi anak-anak. Hanya saja, jenis dan lokasinya yang beda. Permainan itu berupa perosotan, ayunan, timbangan dan panjatan. Semua permainan itu terletak di alam bebas yaitu di sebelah kanan pintu masuk ke pusat wisata. Permainan anak-anak ini cukup menghibur bagi anak-anak.
kan kenangan indah. Mulai dari permainan jukung (alat transportasi laut tradisional), paddle boat, speed boat, dan memancing di tepi danau. Wisata jukung memuat empat hingga lima orang selama 30 menit. Dengan berkeliling menyusuri danau akan bisa mengabadikan aktivitas keluarga di dalam perahu. Atau sekadar memancing dari perahu. –Budarsana
Mereka yang tidak bisa menikmati permainan air bisa memanfaatkan jenis permainan ini secara gratis. Pada saat liburan tempat per-
mainan ini selalu penuh. Ta k h a n y a pengunjung anakanak lokal, wisatawan asing juga banyak yang tertarik. Bahkan, mereka berbaur dengan anak-anak lokal sehingga tercipta interaksi ala anakanak. Atraksi wisata yang lain berlokasi di air. Atraksi wisata ini dipadu dengan suasana alam eksotik yang mampu mencipta-
9
Foto bersama ketua panita, pembicara, Ketua WHDI, dan moderator seminar pendiddkan
Hari Pendidikan Nasional diperingati dengan berbagai cara. Begitu juga dengan Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Provinsi Bali mengisinya dengan menggelar acara “Seminar Pendidikan Pranikah Menuju Keluarga Sukinah Bhawantu” bagi siswa SMA dan SMK se-Kota Denpasar, di SMK 3 Denpasar, Jumat (2/5).
K
etua Panitia Dra. Ni Luh Yulie Astini, B.A.,M.Pd., mengatakan banyak pasangan tidak mampu mewujudkan harapan rumah tangga yang bahagia dan sejahtera dalam kehidupan rumah tangga mere ka. Ikatan pernikahan mereka rapuh, lemah, dan akibatnya konflik mudah terjadi. Indikasi tampak pada tingginya tingkat perselisihan yang dialami banyak pasangan. Ini juga menujukkan betapa rapuhnya ikatan pernikahan yang di bangun oleh pasangan suami - istri. Kenyataan ini menunjukkan, peran atau fungsi perkawinan telah mengalami degradasi secara perlahan dari waktu ke waktu. Gejala rapuhnya sendi kehidupan perkawinan dan keluarga, serta merosotnya peran orangtua belakang an ini, menjadi salah satu penyebab maraknya kasus perceraian. Ketua WHDI Provinsi Bali, Bintang Dharmawati Puspayoga, S.E., M.Si., mengatakan selama ini, proses perkawinan atau pawiwahan dalam agama Hindu belum melewati proses
pendidikan pranikah. Untuk mengantisipasi gejala yang tidak baik, perlu digelar pendidikan pranikah. Sebab, disadari atau tidak, untuk mewujudkan rumah tangga sejahtera, bahagia memerlukan pendidikan, bimbingan serta nasihat, baik sebelum melangsungkan pernikahan maupun setelah berumah tangga. Salah satu penyebab gagalnya pasanga n dalam mempertahankan pernikahan dan mewujudkan ke bahagiaan, adalah terbatasnya upaya persiapan pernikahan yang mereka lakukan. Karenanya sangat perlu memperkenalkan dan menyosialisasikan pendidikan pranikah sebagai solusi alternatif dari kondisi rapuh dan rentannya bahtera rumah tangga yang berujung perceraian. “Pendidikan pranikah juga ber tujuan untuk merencanakan keluarga Hindu yang baik dan memberdayakan keluarga agar mampu meningkatkan kualitas keluarganya. Meningkatkan kualitas generasi muda Hindu menjadi lebih baik dan positif. Selain itu, untuk
Suasana seru peserta remaja
memberikan gambaran mengenai esensi dari pernikahan atau pawiwahan,” ujarnya. Ia juga mengatakan kepada pengurus WHDI kabupaten/kota agar melaksanakan kegiatan serupa.
BIBIT, BEBET, BOBOT Dokter Romy memaparkan perihal kesehatan reproduksi remaja mulai dari perkembangan genitalia internal hingga masa subur. Tak ketinggalan juga disampaikan untuk pacaran sehat perlu menggunakan akal sehat bukan emosi. Remaja harus memikirkan masa depan dan terbuka pada orangtua demi kebahagiaan mereka. Pembicara kedua, Ida Ayu Maharatni memaparkan materi yang diberi judul “Pernikahan? Ayo Rencanakan”. “Kalau siswa SMA punya pacar itu normal. Justru mereka yang sama sekali tidak atau belum kenal taksir-taksir perlu dipertanyakan. Ada lima tahap pacaran yang sering dilakukan remaja, mulai dari pegangan tangan, pelukan, kissing, necking hingga risiko married by accident,” tegasnya. Ia juga menyampaikan pentingnya pendidikan pranikah, diantaranya agar punya pandangan ke depan, mempermudah penyatuan visi, mengurangi risiko perceraian hingga punya kemam-
Suasana seminar pendidikan WHDI
puan menyelesaikan konflik. Selain itu ia tak lupa menekankan untuk anak perempuan kissing masih ditoleransi tapi tidak dengan necking. Kadek Arya Prima Dewi Putri Fajar menjelaskan materi perkawinan menurut Hindu, dengan memaparkan tujuan Grhastha. Sebelum bicara tugas dan kewajiban istri maupun suami, dosen IHDN Denpasar ini juga mengingatkan saat mencari calon pasangan hendaknya dilihat juga bibit, bobot dan bebetnya. “Sesungguhnya keberhasilan dalam pernikahan bukanlah dalam hal mencari orang yang tepat melainkan menjadi orang yang tepat,” tegasnya. Sementara itu, Luh Putu Anggreni, S.H, lebih menekankan soal pemahaman hukum positif dan hukum adat dalam perkawinan Hindu Bali. Ia juga memberikan peserta sebuah buku saku yang mengupas tentang payung hukum adat untuk keluarga Bali. Mercya Soetanto, seorang aktivis dalam pemberdayaan generasi muda untuk pembentukan karakter melalui berbagai bidang pengetahuan ini menyampaikan prinsip dasar pengelolaan keuangan keluarga seperti punya rencana keuangan, sumber uang yang dikelola serta berfokus pada surplus. Ia juga memberikan tips mengelola keuanga n keluarga dengan dasar keluarga mesti terbuka masalah keuangan, hemat dan bijak dalam mengendalikan uang, dan belajar mandiri. Ketua WHDI sebagai penggagas kegiatan ini tak lupa menyampaikan WHDI telah siap melaksanakan konseling bagi 10-15 pasangan muda yang ingin berkonsultasi tentang hal-hal yang berhubungan dengan persiapan membentuk rumah tangga baru. “Silakan datang ke Jalan Padma Gang Harum, Penatih Denpasar Utara. Workshop perdana rencananya akan diselenggarakan pada 1 Juni 2014 dan pada tahap I konseling diberikan gratis dari para konselor WHDI Provinsi Bali,” tegas Ny. Bintang Puspayoga. –Sri Ardhini
BUNDA & ANANDA
8
5 - 11 MEI 2014
Mendongeng Lima Menit
Bahagiakan Anak dengan Dunia Mereka Mendongeng merupakan kebiasaan yang dilakukan orangtua sebelum anaknya tidur. Kini kebiasaan itu mulai hilang. Alasan kesibukan dan tidak tahu materi dongeng bisa menjadi alasan. Tetapi, kini mendongeng tidak harus berjam-jam dan materi dongeng mudah didapatkan berkat teknologi.
M
I Made Taro saat mendongeng di depan anak-anak
alam hari, sepulang dari kantor, Bu Ewi menyempatkan diri untuk membacakan dongeng untuk anaknya. Buku dongeng itu ceritanya pendek-pendek sehingga satu cerita tak sampai lima menit. “Anak saya bisa baca, tetapi dia sengaja menunggu saya pulang untuk dibacakan. Kadang saya dan suami bergantian untuk membacakan. Memang tidak tiap hari kami membacakannya karena kadang dia sudah tidur ketika kami sampai di rumah,” ujarnya. Pengalaman Bu Ewi membacakan dongeng tak lepas dari kebiasaannya sejak kecil yang suka membaca. Ia menuturkan sejak kecil sudah dibelikan buku cerita oleh ayahnya. Kini kebiasaan itu ditularkan ke putra semata wayangnya. Ia juga berlangganan majalah anak-anak yang berisi dongeng sebagai bahan cerita untuk putranya. Pengalaman Bu Rika lain lagi. Ia mengaku tak pernah membacakan dongeng untuk anaknya. “Saya tidak pernah mendongeng untuk anak. Mungkin karena waktu kecil saya tidak pernah dibacakan dongeng, jadi bukan menjadi kebiasaan kami,” ujarnya polos. Bagi I Made Taro, dongeng adalah dunia anak-anak. “Walaupun banyak yang bersifat fiksi namun dongeng sarat dengan pendidikan karakter. Dongeng bisa mengubah perilaku orang,” tutur pimpinan Sanggar Kukuruyuk, Denpasar ini. Ia mencontohkan dongeng Ni Diah Tantri yang mengubah karakter raja yang awalnya tidak peduli rakyat menjadi cinta kepada rakyat. Di India ada dongeng
Panca Tantra yang mengisahkan seorang raja yang ingin mewariskan tahta kepada putranya tetapi putranya itu bodoh. Raja lalu memanggil seorang guru untuk mengajar putranya. Setelah sekian lama, putra raja itu menjadi cerdas dan bijaksana. Semua kisah ini menunjukkan dongeng bisa mengubah kehidupan khususnya dalam hal perilaku. “Orangtua zaman dulu biasa mendongeng untuk anak atau cucunya. Tetapi, tradisi ini mulai hilang karena kesibukan orangtua. Perubahan zaman juga memberi pengaruh terhadap tradisi. Dulu orangtua sebagai sentral, sekarang televisi yang menjadi tokoh sentral,” ujar Taro yang piawai mendongeng ini. Tantangan ini harus dilalui orangtua yang ingin anaknya mendapat pendidikan karakter yang baik. Waktu lima menit untuk mendongeng tak masalah asalkan dongeng yang dibacakan itu sudah tepat. Taro menuturkan ada beberapa kelemahan dongeng yang sering ia temui. Pertama, dongeng kurang menceritakan adanya perjuangan untuk berprestasi. Kedua, materi dongeng menceritakan tokoh yang kurang tahan uji dalam penderitaan. Ketiga, ada karakter yang hilang dalam dongeng padahal karakter itu seharusnya menjadi pusat cerita. Keempat, banyak cerita kekerasan dalam dongeng. Kelima, dongeng banyak menggurui. Dari kelemahan ini, orangtua harus bisa menyaring mana yang layak untuk anak-anak, mana yang tidak. “Orangtua harus selektif memilih. Caranya, baca dulu untuk diri sendiri, pahami. Kalau dinilai layak, baru bacakan untuk
anak-anak. Misalnya dongeng Bawang Merah dan Bawang Putih. Ini dongeng yang luar biasa karena ada kisah tentang perjuangan hidup. Ada baik ada buruk. Sejak dini anak-anak harus diperkenalkan tentang hal ini. Pengalaman dari mendengar dongeng ini akan membekas di memori anak dan bermanfaat baginya saat menjalani kehidupan ini. Satu hal yang perlu diingat, jangan mengharap dampak dari kebiasaan membacakan dongeng untuk anak-anak itu instan. Dampaknya akan terasa setelah anak-anak itu dewasa,” ungkap pensiunan guru SMA 2 Denpasar ini. Orangtua yang terbiasa membacakan dongeng untuk anaknya cenderung memiliki kedekatan dengan anaknya. Ini juga menunjukkan kasih sayang orangtua kepada anak. Sesibuk apapun orangtua, jika sudah memiliki kebiasaan ini, pasti akan meluangkan waktunya untuk mendongeng. Taro menegaskan dongeng menjadi media tepat dan tangguh menanamkan nilai-nilai moral dan karakter sehingga anak bisa membedakan mana baik mana buruk, mana jujur mana bohong. Kini ditengah kemajuan teknologi dan merosotnya kepercayaan anak terhadap karma pala (hasil perbuatan), dongeng bisa menjadi solusi untuk memperkuat kembali nilai-nilai karakter anak. Pria asal Sengkidu, Karangasem yang banyak mendapat penghargaan karena kepedulian terhadap
Tips Memilih dan Menanam Rumput
I Gusti Bagus Ranuh
pelestarian dongeng dan anakanak ini melihat sudah banyak dampak dari berkurangnya nilai karakter anak. Ada anak yang tidak hormat kepada orangtua, ada yang minder atau tidak percaya diri, dan ada yang memilih jalan pintas untuk mendapatkan sesuatu. “Pemerintah harus jeli dalam menghadapi permasalahan pendidikan karakter ini. Caranya, masukkan pelajaran dongeng ke sekolah-sekolah dasar. Yang sudah dilakukan antara lain lomba mendongeng dan penataran guru tentang dongeng. Semoga dari penataran ini akan lahir pembuat-pembuat dongeng yang sarat pendidikan karakter,” tegas pendongeng yang sudah banyak meluncurkan buku dongeng ini. Kepada para orangtua, Taro mengingatkan agar mereka mendongeng untuk anak-anak. “Bahagiakan anak-anak dengan dongeng karena dongeng itu dunia mereka. Cukup lima menit tetapi berkualitas,” pesannya.
kan dongeng tentu harus dibarengi dengan mempermudah mendapatkan dongeng. Selama ini banyak materi dongeng yang dimiliki Indonesia. Ada dongeng yang sudah dituliskan sehingga menjadi buku, namun ada yang belum. Untuk mencegah kepunahan warisan budaya ini, perlu ada langkah nyata. Salah satunya dilakukan dengan digitalisasi dongeng sesuai perkembangan teknologi. “Kami memiliki program Gerakan 1001 Cerita Nusantara berupa program penyelamatan cerita atau dongeng nusantara dan menghimpunnya dalam bentuk digital berupa e-book yang ditayangkan di Qbaca. Qbaca ini platform buku digital dari Telkom yang dapat diakses melalui gadget berbasis Android, iOS, maupun Windows Phone. Melalui konten ini kami berharap dapat menjadi konten pendidikan untuk anakanak sekolah dan mengenalkan mereka kekayaan dongeng nusantara yang bisa diakses kapan pun dan dimana pun,” ujar I Gusti Bagus Ranuh, GM Telkom Bali Selatan. Buku digital Qbaca ini diharapkan akan memangkas jalur distribusi yang dianggap sebagai salah satu kendala bagi masyarakat yang jauh dari pusat kota. Untuk mendapatkan buku, mereka harus mengeluarkan biaya transportasi tambahan. Demikian juga dengan pengiriman buku akan membuat harga buku lebih mahal. Dengan adanya e-book, harga buku akan lebih murah karena biaya transportasi dan biaya cetak sudah dipangkas. Namun, bagi penulis buku dongeng tetap akan mendapatkan haknya sesuai perjanjian dengan penerbit dan Telkom. Kriterian buku dongeng yang bisa masuk dalam program ini antara lain edukatif, inspiratif, tidak provokatif, dan tidak mengandung unsur pelecehan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Tema yang diangkat merupakan tema universal untuk pelestarian budaya dengan mengedepankan nilai-nilai pendidikan karakter.
DIGITALISASI DONGENG Upaya untuk memasyarakat-
Beberapa buku dongeng anak-anak
-Ngurah Budi
17
Bisakah Anda bayangkan, jika taman Anda yang luas tidak ditanami rumput? Sekali pun, beberapa pohon indah dan mahal tumbuh rimbun di sana, dipastikan ada sesuatu yang kurang. Jika diibaratkan, sebuah rumah mewah namun hanya berlantaikan cor-coran, tentunya akan mengurangi nilai setetika secara keseluruhan. Pada edisi Tokoh kali ini, kita akan mengupas tanaman rumput yang kerap dipakai sebagai ground cover atau tanaman lantai.
M
I Made Taro
G R I YA
5 - 11 MEI 2014
enurut penjaga stan bunga Trubus Bali, Yono, dari sekian banyak jenis rumput, masyarakat Denpasar khususnya lebig menggemari rumput mutiara dan rumput jepang. Rumput mutiara adalah tanaman rumput liar yang termasuk ke dalam famili rubiaceae ini dikenal dengan nama daerah rumput siku-siku, daun mutiara, lidah ular, atau katepan. Rumput
ini tumbuh subur di tanah yang lembap, di kebun kosong yang basah, halaman rumah, pinggir jalan, dan selokan. Rumput mutiara juga terkenal sebagai tanaman obat yang dimanfaatkan di Cina, India dan wilayah Asia Tenggara untuk mengobati berbagai jenis penyakit. Apabila anda tidak memiliki waktu untuk memotong rumput karena semakin lama semakin tinggi dan mengganggu pemandangan, rumput mutiara dapat menjadi satu solusi rumput hias yang bisa Anda tanami di taman rumah Anda. Sekilas rumput mutiara mirip dengan rumput gajah mini. Tetapi, bila Anda diperhatikan dengan lebih detail, akan terlihat perbedaannya. Warna daun pada bagian pinggir hijau tua sedangkan bagian tengah cenderung muda, berbeda dengan rumput gajah mini yang cenderung satu warna yakni hijau tua merata. Selain itu juga urat daun terlihat jelas berwarna putih sehingga dari jauh ada kesan garis yang menambah indah karakter rumput sebagai ground cover taman Anda. Kelebihan rumput mutiara,
tumbuh lebih cepat walau tak disiram; merambatnya lebih cepat dan berwarna hijau segar dan melepaskan oksigen lebih daripada rumput biasa; tidak perlu terlalu sering dipotong; dan tidak terlalu susah perawatannya untuk melawan serangan pertumbuhan rumput atau tumbuhan lainnya. “Cukup dicabuti tanaman liarnya dua minggu sekali,” ujar Yono. Sebenarnya menanam rumput bukanlah hal yang sulit. Anda bisa
mengerjakan sendiri tanpa harus mengeluarkan dana untuk membayar tukang taman. Berikut ini ada beberapa tips sederhana untuk menanam rumput mutiara: 1. Gantilah tanah anda sedalam 20 cm dengan tanah subur, apabila tanah anda berupa tanah urugan material atau tanah keras. 2. Tanah subur digemburkan menggunakan garpu atau sekop kecil sehingga tanah menjadi terpisah-pisah dan tidak keras. 3. Sebarkan pupuk organik di atas tanah yang sudah digemburkan tadi dan diamkan selama 1-2 hari sebelum ditanam, agar efek panas pupuk sudah hilang. 4. Rumput mutiara dijual dalam bentuk 1 karung yang luasnya sama dengan 1m2, kelemahannya terkadang kondisi rumput sudah agak kering walaupun dengan penyiraman rutin akan dapat tumbuh. Cara lain kita dapat langsung membeli dalam bentuk masih tertanam dalam ukuran 1mx1m yang tentunya masih dalam keadaan segar bila anda langsung menanamnya. 5. Buatlah lubang-lubang
kecil untuk meletakkan rumput yang sebelumnya sudah dibelah, apabila anda ingin dalam waktu 1 bulan seluruh tanam anda bisa tertutup dengan rapat, maka jarak antar rumput kira-kira seukuran jari anda. 6. Sebaiknya rumput ditanam pada sore hari sehingga akan mengurangi penguapan yang ditimbulkan oleh panas matahari, sehingga rumput tidak menjadi kering. 7. Setelah semua rumput tertanam sebarkan pasir untuk membuat permukaan rumput menjadi rata Lakukan penyiraman di awal penanaman tiga kali dalam 1 hari, pagi hari sebelum jam 7 pagi, kemudian tengah hari dan sore hari setelah jam 3 sore. 8. Rumput harus ter papar sinar matahari secara langsung karena penting untuk proses fotosintesa, rumput yang terlindung dari sinar pertumbuhannya menjadi terhambat. 9. Musuh pertumbuhan rumput adalah rumput liar atau tanaman kecil yang menjadi gulma tanaman rumput, gulma ini harus secara rutin dicabuti karena akan merebut makanan rumput sehingga pertumbuhan menjadi terganggu. RUMPUT JEPANG Alternatif jenis rumput lain yang bisa Anda tanam di taman
adalah rumput jepang.Rumput jepang adalah salah satu jenis rumput hias yang sering ditanam di halaman rumah untuk memperindah taman. Cara menanam rumput jepang juga sangatlah mudah. Nama lain rumput jepang yaitu di daerah lain sering disebut rumput jarum atau rum-
put babi. Manfaat rumput jepang juga digunakan sebagai penahan tanah.Cara menanam rumput jepang juga harus memperhatikan faktor cuaca, pupuk dan juga drainase. Ciri-ciri rumput jepang yaitu berdaun hijau seperti duri, tinggi sekitar 5cm dan tumbuh bergerombol.
Tips Menanam Rumput Jepang 1. Cangkullah tanah sekitar kedalaman 15cm. Gemburkan tanah dan ratakan, supaya saat tumbuh bisa rata. 2. Lebih disarankan untuk menggunakan pupuk kandang untuk pencampuran tanah setelah dicangkul dan digemburkan 3. Gunakan pupuk organik / urea di atas tanah yang sudah digemburkan tadi dan diamkan selama 1-2 hari sebelum ditanam, agar efek panas pupuk sudah hilang. 4. Siram dengan air secara merata. Penggunaan air lebih diutamakan sedikit agar tidak terlalu lembek 5. Buatlah lubang-lubang kecil untuk meletakkan rumput yang sebelumnya sudah dibelah. Jarak sekitar 5cm agar permukaan nantinya tertutup rapat 6. Lepaskan rumput dari gerobolan, pastikan setiap bibit ada akarnya seperti gambar rumput jepang di bawah ini. 7. Tanam rumput disore hari karena akan mengurangi penguapan panas matahari 8. Setelah semua rumput tertanam sebarkan pasir untuk membuat permukaan rumput menjadi rata 9. Bila cuaca panas siram 2 kali sehari, jika tidak minimal sore hari disiram 10. Rumput harus terkena sinar matahari secara langsung karena penting untuk proses fotosintesis, rumput yang terlindung dari sinar pertumbuhannya menjadi terhambat. Jika Anda melakukannya dengan telaten dan ulet, dipastikan rumput yang Anda tanam akan tumbuh subur dan lebat. Rumput ini akan menjadikan taman rumbah Anda semakin indah berseri dan sejuk dipandang mata. Selamat mencoba! –Inten Indrawati
D AYA C I P TA
18
5 - 11 mei 2014
Inovasi Wayang
Dari Ruwatan ke Hiburan Seni pertunjukan wayang kulit di Bali sangat multidimensi. Karena, dalam penyajiannya tak hanya memadukan keselarasan gerak tari dan musik, tetapi juga ada seni vokal, lukis, dan sas tra. Menguasai ke lima unsur seni tersebut juga sebagai syarat menjadi seorang dalang (orang yang memainkan wayang) yang baik.
I Nyoman Sumandhi, M.A.
W
ayang memi liki filosofi, se bagai cermi nan perilaku kehidupan. Hal itu ditandai de ngan disajikannya semua karakter kehidupan manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan. Dalam per tunjukannya terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman, sehingga permainan boneka dua dimensi itu menjadi tontonan seni yang inovatif.
Seniman wayang asal Desa Tunjuk, I Nyoman Sumandhi mengatakan, belum ada yang mengetahui lahirnya wayang secara pasti. Namun, ada yang menduga wayang berasal dari India karena dikuatkan dengan cerita yang diambil dari Epos Ramayana dan Mahabharata. Ada pula yang mengatakan lahir di Jawa karena secara etimologi kata wayang serta perlengkapan lainnya seperti damar wayang, kelir, cepala, keropak, blencong, gedebong terdapat di dalam ba hasa Jawa Kuno. D������������������������ ulu, menurut dalang ber bahasa Inggris ini, wayang ben tuknya sederhana yang diper tunjukan pada malam hari sebagai sebuah persembahan kepada
leluhur. Seni wayang itu dimainkan oleh Saman (seorang ahli yang mampu berkomonikasi dengan leluhur). Setelah masuknya bu daya Hindu yang kebetulan me miliki persamaan budaya, wayang mulai mengarah kepada seni per tunjukan dengan menggandeng berbagai jenis cerita. Mantan Kepala Sekolah Me nengah Karawitan Indonesia (SMKI) ini menambahkan, selain sebagai pertunjukan seni wali (pe lengkap upacara), wayang juga sebagai seni bebali (penunjang upacara), dan balih-balihan (hi buran). Sebagai wali, kesenian ini dapat dikategorikan menjadi tiga: wayang lemah, wayang Sapuh Leger dan wayang Sudamala. Wayang lemah dipentas
I NYoman Sumandhi, M.A., dalang berbahasa Inggris terkenal di mancanegara pementasan Wayang lemah sebuah tari wali sebagai pelengkap upacara
kan sebagai pelengkap upacara (Dewa Yadnya, Rsi Yadnya, Manusa Yadnya, Pitra Yadanya, Bhuta Yadnya) yang lebih menekankan pada sebuah persembahan. Cerita yang diangkat disesuaikan dengan jenis upacara yang digelar. Beda dengan wayang Sapuh Leger dan wayang Sudamala yang merupakan pertunjukan wayang kulit biasa yang digelar malam hari. Namun, dalam pentasnya khu sus untuk meruwat anak yang lahir pada tumpek wayang sehingga mengangkat cerita dan memakai banten yang khusus pula. ”Biasanya mengangkat kisah seperti Dewa Kala atau Siwa Rare Kumara. Se dang wayang Sudamala, memakai ceritra Durga yang diruwat oleh Sahadewa,” ungkap Sumandhi. Belakangan kemudian, seni pertunjukan wayang mengarah pada dunia hiburan. Hal ter sebut ditandai dengan munculnya Wayang Buduk di tahun 60 – 70an. Dengan dalang IB Ngurah yang dalam penyajiannya sarat dengan filsafat yang dipadu dengan unsurunsur modern yang bersifat kekinian. Di sisi lain pertunjukan wayang ini juga menampilkan banyolan sehingga menjadi per
tunjukan wayang yang memiliki banyak penggemar. Demikian pula Dalang Jagra dari Bongkasa yang khas dengan wayang Ramayana dan wayang Bangli khas dengan lelucon dan tafsiran nomor loto (buntut). Perkembangan kemudian, mun cul wayang Arja dan wayang Tantri dengan binatang sebagai tokoh sentral. Ada juga wayang Wakul yang memasukkan un sur modern seperti ada kapal udara dan robot ke dalam tokohtokohnya. Tahun 1990-an dikejutkan dengan munculnya wayang Cenk Blonk yang sangat inovatif. Dalam pentasnya, diiringi oleh pulu han pendukung serta berbagai eleman gamelan Bali. Menjadi khas adalah dua tokoh punaka wan Cenk dan Blonk yang se cara kocak melontarkan keadaan masa kini. Ada juga wayang Joblar yang lebih mengedepankan estetika, sehingga lampu, sound, dan efek suara alam betul-betul ditata. Maka wajarlah dalam tahun ter akhir ini, Cenk Blonk dan Joblar menjadi pertunjukan wayang terlaris di Bali saat ini. -Budarsana
Lima Kesalahan Utama dalam Latihan Beban Latihan mandeg dan kurang efektif? Beban angkatan tidak naik padahal sudah pakai suplemen? Akhirnya tidak dapat hasil, bosan, dan berhenti? Kalau Anda mengalami hal ini, mungkin Anda telah melakukan salah satu dari empat kesalahan di sini. Dengan mengetahui dan kemudian memperbaikinya, pasti fitness menjadi aktivitas yang lebih menyenangkan dan menghasilkan untuk kita semua! Latihan biasanya menjadi bagian yang pa ling menyenangkan bagi fitnessmania. Dengan banyaknya variasi program dan fasilitas latihan yang ditawarkan oleh masing-masing pusat ke bugaran serta berkumpul dengan beberapa te man dalam suatu ritual olah fisik menciptakan pengalaman latihan yang selalu menyenangkan. Namun, ada kalanya juga latihan men jadi pengalaman yang tidak menyenangkan. Selama 1 tahun terakhir, berlatih disiplin 3-5 hari setiap minggu, menghabiskan waktu 2 jam per hari untuk latihan beban tetapi hasil yang diharapkan tak kunjung datang. Padahal
beban angkatan sudah berat, dan konon angkatan berat diwajibkan untuk menghasil kan kerusakan otot maksimal agar otot bisa menebal secara
maksimal pula. Daripada muncul pikiran negatif seperti menyalahkan genetik atau menuding orang lain yang berhasil menggunakan jalur pin tas, coba kita evaluasi apakah ada dari lima kesalahan ini yang kita lakukan? Mungkin bisa kita perbaiki hingga akhirnya kita terlepas dari belenggu ketidakefektifan program dan masuk dalam jalur cepat membangun otot secara natural. 1.Terlalu Lama Latihan beban secara mendasar adalah aktivitas anaerobik, yang berarti paling efektif apabila kita mengerahkan tenaga (power) be sar dalam waktu yang relatif singkat. Semakin lama latihan beban kita lakukan, semakin rendah tenaga yang kita kerahkan, sehingga semakin rendah tingkat efektivitasnya. Banyak fitnessmania yang berlatih terlalu lama, menganggap setiap jenis latihan harus
dilakukan dengan jumlah set yang banyak. Pendapat ini lumrah muncul karena mengikuti logika “lebih banyak berarti lebih baik” (more is better). Dalam latihan untuk meningkatkan massa otot, falsafah “better is better” adalah lebih tepat. Langkah untuk memperbaiki: Segera potong waktu latihan Anda. Berikan jatah set inti terberat sebanyak 6-9 set untuk otot kecil, dan 9-12 set untuk otot besar – tanpa menghitung pemanasan. Atau, acuan umumnya, 20-30 menit untuk otot kecil, 30-45 menit untuk otot besar – sudah termasuk pemanasan dan jeda antar set. 2.Waktu Latihan Terlalu Singkat Keterbatasan waktu biasanya menjadi penyebab seorang fitnessmania untuk berlatih dengan tempo yang lebih cepat. Biasanya ritme latihan yang lebih cepat ini diwujudkan dalam bentuk latihan yang kurang efektif seperti: tempo repetisi yang lebih cepat dengan memanfaatkan momentum atau pantulan. Latihan dengan momentum ini berpotensi menyebabkan cedera dan trauma pada jaringan otot, jaringan pengikat (ten don), maupun persendian (ligamen). Hal ini kemudian diperparah oleh istirahat antar set yang terlalu singkat, sehingga energi belum pulih benar, di mana set berikutnya dilakukan
1
dalam kondisi yang kurang kondusif untuk bisa fokus, mengakibatkan teknik gerakan yang kurang benar. Teknik istirahat antar set yang singkat memang sering dipakai oleh fitnessmania untuk mencapai dan menjaga pacu jantung yang lebih tinggi, lebih cepat. Namun, hal ini memiliki beberapa konsekuensi, antara lain: lKita tidak bisa menggunakan beban yang sama beratnya dengan set inti sebelumnya karena sistem pemulihan sementara kita masih belum optimal, sehingga cenderung menimbulkan risiko cedera latihan yang lebih tinggi. lKonsentrasi latihan akan mudah buyar karena ritme jantung dan nafas yang belum teratur. lRisiko lebih besar terjadinya eksekusi repetisi dengan tehnik gerakan yang salah. Langkah untuk memperbaiki: Berlatihlah tempo repetisi yang baik. Mulailah dengan tempo 2 hitungan untuk gerakan positif dan 3-4 hitungan untuk gerakan negatif. Apabila memang tidak cukup waktu, persingkat saja sesi latihan dengan mengurangi jenis latihan atau jumlah set yang dijalankan. Hindari memantul dengan mo mentum dalam setiap repetisi, juga hindari istirahat antar set yang terlalu pendek (<60 detik) demi mengejar target kuantitas latihan.
l i f e s to ry
5 - 11 mei 2014 Sejak memutuskan setuju menikah de ngan laki-laki pilihan orang tuanya, Fariaty (68), bukan nama sebenarnya, ia telah bertekad untuk tidak bercerai. Sepahit apa pun yang akan dihadapi dalam rumah tangga yang dibangunnya tanpa cinta kelak, ia telah siap lahir ba tin meski menderita sekali pun. Ia ingat selalu pesan ibundanya, perempuan paling sabar dan paling mulia di matanya itu, agar tidak sekali-kali berpikir untuk bercerai, sepahit apa pun itu. Fariaty menyimpan pesan almarhum ibundanya itu hingga hari ini. Ia pegang teguh janji perkawinannya meski ia sadar laki-laki yang telah memberinya tiga anak itu, terlalu banyak menyakitinya.
“R
asanya ham pir seluruh u s i a p e r kawinan kami, ia lebih banyak menya kiti perasaan saya,” kata Fariaty tersenyum. Fariaty sepertin ya sudah kebal dengan rasa sakit seperti itu dan memilih bersabar selama 50 tahun mendampingi suaminya. Ia banyak belajar dari kesabaran Sang Bunda yang kerap memendam sakit tiap kali ayah nya menikah. Ayah Fariaty dulu memang seorang tuan tanah yang berpengaruh. Ia menikah beberapa kali namun sama sekali tidak menceraikan ibunda Fari aty sebagai istri pertaman ya. Sesungguhnya ayah Fariaty sangat mencintai ibundanya. Itu diketahui dengan pasti oleh ibunda Fariaty. Namun, kebiasaan menikah dan bercerai tidak bisa lepas darinya. Melihat keteguhan hati ibunda nya itu membuat Fariaty matimatian tidak ingin berpisah dari suaminya meski suaminya kerap pacaran dan diketahui sekali telah menikah. Hal ini sempat mem buatnya sakit hati. Betapa ia tidak tahu sama sekali jika suaminya itu telah menikah lagi bahkan memi liki seorang anak. Ia mengetahui bahwa suaminya itu telah menikah lagi dan memiliki seorang anak dari orang lain. “Saya tahunya dari orang yang sepertinya kasihan pada saya,” ujarnya. Padahal kala itu, usia suaminya 53 tahun. Ketika mendapat berita bahwa suaminya telah menikah, ia tidak langsung bertanya pada suaminya. Fariaty pun mencari informa si seorang diri. Ia juga belum memberitahukan ketiga anaknya yang sudah dewasa itu. Ia diam dan banyak melakukan ibadah saja sembari mencari informasi. Hingga akhirnya ia mendapat informasi tempat suaminya me nikah dan saksi-saksi pernikahan suaminya yang berlangsung dua tahun sebelumnya. “Kebetulan saya kenal dengan pemilik rumah tempatnya menikah di Lombok Timur,” kata Fariaty di kediaman nya di Pulau Sumbawa. Setelah mendapat informasi yang lengkap, Fariaty pun pelanpelan memberitahu anak-anaknya yang memang selama ini telah mengetahui kelakuan ayah me
7
Diam Itu Pertanda Ya Begitu suaminya meninggal, barulah ia tahu detil gaji suaminya yang rupanya terbilang banyak. Ia mengaku sempat kaget ketika menerima slip gaji pensiun suami nya dari kantor pos yang kemudi an diterimanya tiap bulan. Cukup banyak. Lalu dibawa ke mana saja uang sebanyak itu padahal ia sama sekali tidak pernah memberinya mau pun untuk kebutuhan anakanaknya? Pertanyaan itu sem
www.hebatnews.com
reka. Ketiganya marah namun memilih diam saja dan tidak me negur ayah mereka. “Anak-anak saya sudah tahu bagaimana ayahnya sering menyakiti saya,” katanya. Suatu sore beberapa hari sete lah anak-anaknya tahu bahwa ayah mereka telah menikah lagi dan memiliki seorang anak, Fariaty meminta suaminya duduk bersama nya di teras rumah. Dengan nada halus ia bertanya dan meminta suaminya bicara terus terang karena semua bukti tentang hal itu sudah dipegangnya. Suaminya pun memi lih diam. “Diamnya itu pertanda ia menjawab ya,” kata Fariaty menu tup pembicaraan tanpa komunikasi sore itu. Rasa sakit yang sudah biasa dirasakan oleh Fariaty hari itu memuncak, namun ia menahan emosi untuk berlaku wajar. Sejak itulah, meski tidak ber cerai, ia memilih pisah ranjang dengan suamin ya dan tetap tinggal satu rumah bersama anakanak mer eka. Situasi rumah memang men jadi berbeda dan tidak ada lagi kegembiraan. Mereka menjalani hidup sangat biasa saja tanpa timbal balik emosi na mun tidak ada yang ingin bercerai satu sama lain. Suasana antara me reka menjadi “dingin”. Mereka bertegur sapa seadanya saja. Entah apa yang ada di benak Fariaty mem pertahankan laki-laki itu. Menurutnya sejak menikah ia tidak pernah diberi gaji suaminya yang pegawai negeri itu. “Jangank an men dapatkan bagian dari gaji itu, tunjangan istri yang harusnya men jadi hak saya saja tidak pernah saya dapat kan,” katanya. Untuk menghidupi keluarg anya, Fariaty beruntung ketika orang tuanya masih hidup, merekalah yang memberi uang bulanan dan membiayai seluruh pendidikan tiga anaknya. “Sejak me nikah, saya tidak pernah tahu berapa jumlah gaji suami saya hingga ia meninggal dunia dua tahun lalu,” katanya.
Untuk mencukupi kebutu han hidup sehari-hari, selain mengandalkan pemberian orang tuanya, Fariaty banting tulang bekerja hingga berjualan di warung pinggir jalan. Meski tersiksa de ngan situasi itu, sebagai anak yang lahir dari keluarga kaya, Fariaty tidak ingin mengeluh. Ia jalani saja hari-harinya meski pun ia juga tidak pernah menyembunyikan kelakuan suaminya pada orang tuanya. Namun, mereka akhirnya tahu bahwa situasinya tidak baik. Itu sebabnya orangtuanya selalu mendukung dana untuk kehidupan ia dan anak-anaknya. Beruntung ia mendapat warisan yang cukup sehingga bisa membangun rumah sendiri yang juga ditempati ber sama suaminya itu.
pat mengganggunya namun kini sudah tak dipedulikann ya lagi. Dari semua kenanga n tentang suaminya, Fariaty menghargai satu sikapnya yang meski ia banyak menyakiti hati Fariaty, suaminya tidak pernah sekali pun menyakitinya secara fisik. “Selama menikah, suami saya tidak pernah memukul saya sekali pun,” katanya menutup pem bicaraan. –Naniek I. Taufan
l i f e s to ry
6
Kisah Dua Kalung Kenangan Dengan wajah sedih, Sarinah (70), bukan nama sebenar nya, menceritakan kenangan dua buah kalung emas paling berharga dalam hidupnya. Meski memiliki beberapa perhiasan emas lainnya, namun dua kalung seberat masingmasing 30 gram dan 75 gram itu, memiliki arti tersendiri yang sangat penting baginya. Benda berharga itu mempunyai riwayat masing-masing. “Yang 30 gram itu, hasil keringat saya berjualan dari satu kantin ke kantin lainnya. Tiap hari saya menabung seribu rupiah selama lebih dari 10 tahun. Setelah terkumpul cukup banyak, betapa bahagianya saya akhirnya bisa membeli kalung emas itu dari hasil keringat sendiri,” ungkap Sarinah sedih.
S
arinah yang gigih itu ingat benar betapa pedih ia menyisihkan sedikit-demi sedikit uang untuk bisa membeli emas itu. “Emas itu tabungan saya untuk kebutuhan anak-anak saya kelak,” katanya memegang dadanya. Jerih payahnya yang begitu menguras energi dan tenaga, raib begitu saja ketika anak angkat dari saudaranya meminjamnya untuk dijadikan emas kawin. “Saya pikir saat itu dipinjam untuk sementara. Tak tahunya dibawa hingga saat ini dan tidak dikembalikan,” katanya. Bisa dibayangkan betapa kecewanya Sarinah mendapati kalung yang baru saja seminggu dibelinya itu tidak kembali lagi. Ia ingat ketika matanya berbinar diliputi kegirangan dalam dadanya ketika mendatangi toko emas dan membeli kalung itu dari uang ribuan yang dikumpulkannya. Yang ada dalam kepalanya bahwa jika suatu hari nanti anak-anaknya membutuhkan biaya kuliah yang mendesak, ia bisa menanggulanginya dengan kalung itu.
Sebulan kemudian, anak angkat saudaranya itu kembali meminjam sebuah kalung seberat 75 gram yang dipakai untuk modal usaha. Karena ia dan saudaranya sangat dekat sehingga ia juga sayang pada anak angkat saudaranya itu, membuat ia dengan mudahnya kembali memberikan kalung itu. “Janjinya waktu itu dipinjam untuk lima hari saja. Mereka (suami-istri) berjanji akan mengembalikan semuanya –dua kalung itu- lima hari kemudian. Dan itu pun raib hingga hari ini,” katanya kesal. Sejarah kalung itu pun tidak kalah berharga baginya. Bahkan lebih ber harga dari nilai 75 gram itu. Kalung itu rupanya adalah warisan dari orangtuanya yang kini telah tiada. “Kalau saya ingat orangtua, menangis hati ini rasanya mengenang kalung pemberiannya. Dari tangan mereka saya menerima dengan pesan jaga baik-baik, pakailah saat engkau membutuhkannya,” ujar Sarinah dengan mata berkaca-kaca. Ia rindu pada orangtuanya yang telah tiada. Sarinah memang lahir dari keluarga
berada. Sejak kecil hidupnya selalu senang dan ber kecukupan. Orangtuanya yang tinggal di Lombok adalah pejabat di zaman Belanda yang ketika me ninggal banyak meninggalkan warisan untuk ia dan saudara-saudaranya. Meski begitu, anak bungsu dari empat bersaudara ini, memilih hidup mandiri ketika berpisah dari orangtuanya dan ikut suaminya tinggal di Kota Mataram. Dari sanalah Sarinah belajar lepas dari orangtua dengan cara berjualan dari satu kantin pemerintah ke kantin pemerintah lainnya. Hal ini dilakukan Sarinah untuk menyiasati kehidupan pahitnya bersama suaminya. Awalnya ia menutupi semua itu dari orangtuanya. Sejak menikah, Sarinah mengaku tidak pernah dibiayai oleh suaminya. Uang gaji suaminya selalu dihabiskannya untuk berfoya-foya dan ia lebih memilih memberikannya pada keluarganya ketimbang membiayai ia dan anak-anaknya. Sungguh sakit hati Sarinah diperlakukan seperti itu hingga akhirnya ia memutar otak untuk bisa mendapatkan uang demi kehidupan ia dan anak-anaknya. Tiga orang anaknya terus tumbuh besar dan membutuhkan cukup banyak biaya terutama biaya sekolah. “Tidak sesen pun dia (suaminya) membantu biaya pendidikan anak-anak. Uangnya lebih banyak habis untuk berfoya-foya,” katanya. Sebagai orang yang tinggal kam-
5 - 11 mei 2014
5 - 11 mei 2014
pung, Sarinah tidak cukup berani untuk meminta cerai melainkan menjalankan kehidupan pahit itu dengan ikhlas. Sampai suatu hari orangtuanya tahu bahwa kondisinya tidak baik. “Sejak itu biaya sekolah anak-anak saya ditanggung ayah saya. Untuk makan sehari-hari saya berjualan makanan di kantin-kantin kantor pemerintahan,” katanya. Atas tanggungan biaya pendidikan dari orangtuanya inilah yang membuat Sarinah dapat menabung untuk membeli emas itu. Belum lagi adzan subuh berkumandang, dapurnya telah riuh oleh suara peralatan masak yang menemaninya. Bau harum aroma bumbu menyeruak ke mana-mana. Usai menghangatkan masakan dagangannya ia harus me nerobos dinginnya pagi yang ditetesi embun saat matahari belum lagi tiba, mengantar Sarinah menuju ke pasar. Tiap pagi dengan berjalan kaki, ia akan berbelanja di pasar untuk kebutuhan dagangannya esok hari. Setelah itu ia langsung bergegas ke kantin untuk menyiapkan dagangannya yang biasa melayani pegawai kantor
sarapan sekitar pukul sembilan pagi. Ia berdagang hingga pukul dua siang. Kembali ke rumah bukannya istirahat melainkan ia harus mencuci dan membereskan peralatan dapur yang tadi pagi dipakainya memasak. Ia memang selalu tidak sempat membereskan peralatan dapur karena harus ke pasar dan bergegas berangkat ke kantin. Setelah itu ia harus mengurus rumah dan anak-anak serta suaminya. Berlanjut kembali memasak untuk keperluan dagangan esok hari. “Saya selesai bekerja hingga pukul sebelas malam,” katanya mengenang. Namun apa lacur, hasil kerja keras yang dibelinya dari uang halal itu kini tinggal kenangan. Tinggal menunggu janji anak angkat saudaranya yang tidak tahu diri itu. “Saya capek menagih agar ia kembalikan kalung saya itu tapi dia seperti mati rasa,” ungkapnya. Tidak adanya keinginan untuk mengembalikan perhiasannya itu membuat ia kerap sedih mengingat hal itu. “Biar Allah yang akan membalasnya,” katanya gusar. Kesedihan Sarinah juga atas “terampasnya” kalung warisan orangtuanya itu lebih karena kecintaannya pada keduanya terutama ibundanya. “Melihat kalung itu sama rasanya ibu ada di dekat saya. Tapi kini saya sudah tidak lagi bisa melihatnya,” ujarnya yang masih berharap kalung itu dikembalikan. Meski tidak kembali kalung aslinya, ia berharap dapat diganti dengan jumlah gram yang sama, agar jerih payahnya dan kecintaannya pada orangtuanya terobati. Meski ia memiliki beberapa perhiasan namun kisah dua kalung itu baginya adalah bagian penting dari perjalanan hidupnya. Hal itulah yang selalu membuatnya menangis tiap kali menceritakannya. -Naniek I. Taufan
S U D U T PA N D A N G
19
Mereka Jadi Inspirator dan Motivator Pendidikan tak mengenal usia. Pepatah mengatakan, kejarlah ilmu sampai ke negeri Tiongkok. Artinya, kejarlah ilmu setinggi-tingginya. Pendidikan juga tak mengenal usia. Sampai tua pun kita bisa belajar.
P
rinsip ini juga yang sudah diterapkan Dr. Ni Wayan Karthi Sutardjana, M.M. Usianya beberapa bulan lagi genap 80 tahun. Namun, ia tetap ingin terus belajar mengembangkan diri. Perempuan yang selalu sumringah ini, mengatakan pernah membaca di satu media cetak, belajar dapat dilakukan seumur hidup. “Saya coba terapkan dalam diri saya, ternyata saya sudah membuktikan. Asal ada kemauan, pasti ada jalan,” kata perempuan yang tetap energik ini. Ia menambahkan, di era globalisasi saat ini, manusia harus mampu berkompetisi, sehingga bisa memenangkan persaingan global. Wayan Karthi, menyelesaikan S-2 di bagian Magister Manajemen di usia 74 tahun, dan tamat Doktor Manajemen di usia 79 tahun di Universitas Brawijaya Malang. Uniknya, saat ia menekuni S-2, ia menyelesaikan bersama dengan putranya dr. Wayan Primara Sutardjana, Sp.THT, M.M. “Saya termotivasi karena melihat anak saya. Begitu juga, dia termotivasi karena melihat saya, jadi sama-sama termotivasi,” kata perempuan yang mahir berbahasa inggris ini. Karthi punya kiat khusus agar tetap sehat dan energik di usianya yang sudah lansia. “Saya selalu bangun pagi pukul 04.00. Kemudian melakukan olahraga hidup baru (orhiba). Itu rutin saya lakukan, termasuk menjaga makan yang sehat,” katanya. Ia menuturkan sempat mempunyai masalah ketika sedang menyelesaikan tesisnya. “Karena faktor usia, mata saya mulai rabun. Ternyata saya katarak. Saya putuskan untuk operasi. Setelah operasi, saya dianjurkan oleh dokter mengurangi menonton televisi, atau menatap layar komputer. Otomatis ada sedikit gangguan
pada pengerjaan tugas-tugas kuliah. Saya langsung sampaikan ke dosen pembimbing. Untungnya, beliau mengerti, dan saya diberikan asisten yang khusus mengetik apa yang ingin saya sampaikan. Dosennya sempat bilang kagum atas semangat belajar saya yang tinggi,” kata Karthi sembari tertawa sekaligus menambahkan, tak ada hambatan ketika kita semangat dan ada kemauan tinggi. Saat ini, Karthi menjabat Ketua Yayasan Akademi Kartini Bali. Seandainya ia tak bergerak di bidang pendidikan, ia tetap ingin meneruskan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. “Dulu, ketika suami saya masih menjabat Rektor Universitas Mahendradatta, sudah ada keinginan meneruskan kuliah sampai S-2 dan S-3. Namun, waktu itu masih kendala biaya. Biar anak-anak saya dulu maju,” kata Karthi. Ia selalu menyarankan, siapapun untuk meneruskan pendidikannya setinggi mungkin. Ia memacu semangat para dosen, karyawan, dan pengurus asrama di Akademi Kebidanan Kartini Bali untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Dengan Karthi sebagai pionirnya, Akademi Kartini Bali sudah memiliki dosen bergelar S-2 14 orang dan 6 orang kini masih sedang menempuh pendidikannya. Sementara, dosen bergelar S-3 ada dua orang dan satu orang sedang menempuh pendidikan. “Agar tetap bisa beraktivitas dengan baik, badan jasmani dan rohani harus sehat. Karena itu, saya menggiatkan olahraga hidup baru di kampus. Mereka melakukan orhiba tiap dua minggu sekali hari Jumat pukul 06.00. Dengan kesehatan prima, berkaktivitas juga lancar,” kata Karthi. LONGLIFE EDUCATION “Pendidikan adalah proses untuk menjabarkan lebih jauh tentang apa yang kita tidak tahu tetapi tidak semua kita harus
Made Suarta
Karthi Sutardjana
Eddy Antonius
tahu,” ungkap I Made Jayantara (56). Proses ini bisa dilakukan di lembaga pendidikan secara formal, bisa di tempat bekerja maupun dengan mengamati pengalaman orang lain. Satu hal yang juga diingatkan ayah 4 anak, kakek 2 cucu ini adalah pendidikan tidak mengenal usia. Salah satu bukti, Jayantara kini tercatat sebagai mahasiswa Program Magister S2 Ilmu Hukum Universitas Udayana. Baginya tak masalah di usia tua kuliah. “Kuliah ini untuk menambah ilmu dan mem perbaiki kerangka berpikir agar lebih efektif, berdaya guna dan berhasil guna,. Kalau dulu berpikir bagaimana agar bisa kaya, sekarang berpikir apa yang diperlukan biar bisa sejahtera,” ujar pria yang menyelesaikan S1 Hukum di Universitas Udayana tahun 1987 ini. Eddy Antonius (57) mengatakan hal senada. “Kuliah ini menambah wawasan. Belajar tidak mengenal batas, longlife education. Seumur hidup pun boleh belajar. Kami kuliah Magister bukan untuk mengejar gelar tetapi memperkaya khasanah pemikiran,” tegas alumnus Fakultas Hukum Universitas Udayana tahun 1986 yang kini satu kelas dengan Jayantara di Konsentrasi Hukum Pemerintahan Program Magister S2 Ilmu Hukum Universitas Udayana. Jayantara dan Eddy juga mendapat dukungan dari keluarga ketika mereka memilih untuk kembali ke bangku kuliah. Mereka menjadi inspirator bagi anak-anak dan cucunya. Di usia tua, mereka masih semangat belajar. “Ke depan, kami ingin sharing dengan siapa pun mengenai permasalahan hukum yang terjadi untuk mendapatkan solusi. Ilmu pengetahuan
yang kami dapatkan dulu dan sekarangan akan bermanfaat untuk menambah pemahaman dan menjadi bahan analisa,” ujar Eddy yang memiliki 2 anak dan 5 cucu ini.
yang karena rasa ingin taunya luar biasa, ada yang mencari kepuasan dalam ilmu yang didalaminya, yang selanjutnya sejauhmana ilmu itu dikembangkan. Bagian berikutnya, bisa juga sebagai motivator untuk anak cucu. “Orang-orang yang mau bersekolah hingga di usia lanjut adalah contoh motivator yang baik dari dunia pendidikan karakter. Ia patut dijadikan teladan untuk generasi berikutnya. Sehingga, generasi berikutnya jengah (tertantang) untuk melakukan aktivitas yang sama. Lalu, bagaimana IKIP PGRI Bali sebagai lembaga pendidik tenaga kependidikan, mempersiapkan calon pendidik masa depan sesuai kebutuhan zaman? “Agar tak tergilas zaman tentu saja harus menyesesuaikan dengan kebutuhan zaman. Dalam hal ini, lembaga pencetak guru, selain mening katkan kualitas out put, di samping memberikan bekal akademis di bangku perkuliah an, juga memberikan pelatihan keterampilan/skill kepada mahasiwa, dengan mendirikan UKM-UKM,” ujarnya. Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) ini dikatakannya merupakan bagian dari pendalaman aplikasi ilmu yang didapatkan sekaligus sebagai wadah menggali potensi dan bakat yang dimiliki mahasiswa. UKM-UKM ini pun ditangani pakarnya. “Sedapat mungkin, kami mendatangkan orang akademis yang sekaligus praktisi. Jadi, ilmunya komprehensif. Untuk menunjang itu ada fasilitas lab, dsb. Jadi, lembaga harus mengadaptasi zaman dengan pendidikan akademis yang diimbangi pula dengan pengembangan skill melalui UKM,” tandasnya. –Tim Tokoh
PENDIDIKAN ADALAH VAKSIN Pendidikan di mata Rektor IKIP PGRI Bali Dr. Made Suarta, S.H., M.Hum., ibarat vaksin sosial. Agar tubuh tahan terhadap berbagai penyakit, daya imunitasnya harus ditingkatkan. Dalam perspektif sosial kemasyarakatan, ia menyebut ada tiga penyakit sosial yang sangat besar dampak negatifnya, yakni kemiskinan, ketidaktahuan, dan keterbelakangan peradaban. Bagaimana caranya menaikkan daya tahan sosial agar terhidar dari ketiga macam penyakit tersebut? “Jawabannya adalah pendidikan. Karena itu pendidikan dapat menjadi vaksin sosial,” tegasnya. Secara luas, pendidikan merupakan bagian dari mencerdaskan bangsa. Jika masyarakat tak kenal pendidikan, sama seperti hidup di pedalaman, dunia seperti gelap karena buta akan peristiwa-peristiwa yang terjadi di luar sana, karena menjauhkan diri dari dunia pendidikan. Selain sebagai vaksin sosial, pendidikan juga merupakan elevator sosial untuk meningkatkan status sosial. “Kita memerlukan vaksin dan elevator sosial itu sehingga terhindar dari tiga penyakit tersebut dan sekaligus mampu meningkatkan status sosial,” ujarnya. Karena itu, sering juga didengar kalimat “longlife education”, bahwa pendidikan dikejar seumur hidup. Untuk apa? Menurut Made Suarta, ada beberapa motivasi dari orangorang yang haus akan ilmu. Ada
20
NINE
5 - 11 MEI 2014
Keunikan Sate Junjung Lombok Maemunah, Aeniah dan Jumanah, adalah tiga orang perempuan Lombok yang tidak pernah kenal lelah berjalan untuk mencari nafkah. Tiap hari, langkah kakinya selalu berkeliling Kota Mataram menempuh jarak berkilokilo meter untuk berdagang sate junjung demi meng hidupi keluarga mereka. Mereka adalah sebagian kecil dari begitu banyak perempuan yang tinggal di Gomong Mataram, yang juga berprofesi sama.
S
udah puluhan tahun ��� sebagian perempuan yang tinggal Gomong Lama, Mataram, menjadi pedagang sate khas Lombok dari usus dan jeroan sapi ini. Sekilas tidak ada yang istimewa dari sate ini, sama dengan sate-sate lainnya yang dihidangkan dengan cara ditusuk dan dibakar. Namun uniknya, sate ini justru dikenal karena cara berdagangnya yang dilakukan oleh perempuan-perempuan dengan memakai kain sarung dengan cara dijajakan berkeliling. Pedagang perempuan sate keliling ini akan menyapa pelanggannya setiap sore hingga malam hari dengan junjungan menggunung di kepalanya. Para pedagang sate keliling ini, mempunyai wilayah berdagang masing-masing. Misalnya, ada yang berjualan di seputaran Ampenan, Mataram atau Cakranegara. Berdagang sate keliling, bahkan dilakoni turun-temurun oleh perempuan di Gomong Lama ini. Tidak seorang pun yang tahu persis sejak kapan usaha menjunjung sate keliling ini dimulai. Se������������ ingat Jumainah salah seorang penjaja sate keliling, setidaknya usaha ini sudah ditekuni tiga generasi. Para penjual mengatakan bahwa orangtua dan neneknya dulu bekerja menghidupi keluarga sebagai pedagang sate junjung. Tidak ada yang berubah dari para pedagangnya, meski kendaraan sudah cukup banyak dan gampang dicapai, mereka tetap bertahan dengan berjalan kaki meskipun dengan junjungan yang berat. “Kami berdagang sate junjung sejak harga usus dan jeroan Rp 750 per kilogram,” ujar Jumainah. Usaha sate junjung ini kelihatannya tidak pernah surut mengingat para peda-
gang ini masih terus bertahan dan relatif tidak berkurang jumlahnya. Bahkan dalam satu keluarga, pedagang sate junjung terdiri dari orangtua, ibu dan anak-anaknya. Salah satu keluarga tersebut adalah Siti (60an) dan anak-anaknya, Jumainah dan Erni. Alasan utama tetap mempertahankan usaha ini karena sate junjung merupakan mata pencaharian mereka. “Kalau tak jualan, bagaimana bisa menghidupi empat anak saya,” ujar Erni (25). Para perempuan ini memililih waktu sore hari untuk berkeliling menjajakan dagangannya���������������� , di samping karena sudah kebiasaan sejak dulu, juga karena dianggap waktu yang tepat bagi pelanggan menikmati sate khas ini sembari bersantai. Setiap hari sekitar pukul 14.00, para perempuan ini mulai meninggalkan rumah dan berpencar berjalan hingga berkilo-kilo meter jauhnya mulai dari Gomong Lama hingga tujuan masing-masing. Ada yang memilih Perumnas Ampenan, Seruni, Kekalik, BTN Kekalik, Taman Kapitan, Kompleks Unram dan sekitarnya. Para pendagang sate junjung memilih berjalan kaki karena, selain pelanggan di daerah masing-masing yang dituju, juga pembeli yang kebetulan bertemu di jalan. Maka tidak heran, kalau kipas-kipas sate khas ini dilakukan di pinggirpinggir jalan. Waktu dan jalan yang biasanya dilalui jarang berubah karena mereka mengharapkan pelanggan yang sudah tahu dan tinggal menunggu jika ingin membeli sate. ��� Karenanya, sepanjang jalan pedagang sate junjung sesekali berteriak, “sate,… sate….” Dan suara-suara para perempuan��������� itu menjadi sangat khas, terutama bagi mahasiswa yang banyak kos di daerah koskosan sekitar Unram. Bagi mereka, sate junjung bisa menjadi solusi saat malas keluar mencari makanan. Tidak sulit menemukan di mana mereka membuat. Saat pagi hari, cobalah melintasi di lorong-lorong sempit pemukiman padat penduduk di Gomong Lama. Di teras-teras rumahnya, para perempuan sedang
asyik menusuk sate, menggoreng bumbu, memeras santan dan menyiapkan segala sesuatu untuk dijual sore harinya. Ternyata sejak pukul setengah 06.30, mereka sudah memulai aktivitasnya setiap hari. Pagi selalu diawali dengan berbelanja usus dan jeroan sapi, kangkung sebagai pelengkap, bahan-bahan urap dan bumbubumbu. “Kalau kesiangan bisa kehabisan usus,” kata Erni yang sejak kelas IV SD sudah berjalan menjunjung sate di kepalanya. Sepulang sekolah, ia membantu ibunya dan kini ia telah memiliki anak-anak. Bisa dibilang, hampir seluruh waktu para perempuan ini ������������������������ bisa mereka habiskan untuk mencari nafkah. Sepulang dari pasar, mereka disibukkan dengan aktivitas rutin menyiapkan dagangan hingga lewat tengah hari. Istirahat paling lama bisa dilakukan hanya satu jam karena mereka sudah harus mulai berjalan menjajakan dagangannya bahkan hingga malam hari. BERSIAP JUALAN Pelecing kangkung dan urap-urap serta bumbunya diletakkan di baskom besar. Lontong disusun pada nampan besar yang kemudian disusun kembali dengan nampan satu lagi berisi sate daging, sate usus dan jeroan serta sate sisok (siput). Ratusan tusuk sate tersebut kemudian ditutup dengan daun pisang yang juga difungsikan sebagai pembungkus sate dan pelecing lontong jika ada pembeli yang ditemui di jalan. Sate junjung ini tergolong murah meriah. Tidak ada patokan harga khusus per porsinya. “Terserah pembeli saja,” kata Mahmunah, penjual yang lain. Dari ratusan tusuk sate inilah para perempuan pedagang keliling menghidupi keluarganya. Setidaknya, mereka mengaku bisa mendapatkan penghasilan bersih setiap harinya Rp 25 ribu sampai Rp 40an ribu. “Kalau ramai bisa lebih dari itu,” ujar Aeniah. Penghasilan ini dipakai untuk membiayai kehidupan sehari-hari, terutama bagi mereka yang sudah menjadi seperti Aeniah dan Mahmunah. “Untuk biaya hidup anakanak kami,” ujar keduanya. Sate junjung yang identik dengan keseharian perempuan pedagang keliling ini, ternyata pada waktu-waktu tertentu tidak
INSPIRASI
5 - 11 MEI 2014
AKBP Ni Wayan Sri Yudayatni Wirawati
Tegas Urusan Pendidikan Longgar Urusan Pergaulan Menjadi pimpinan instansi yang mayoritas laki-laki bukan masalah bagi perempuan yang satu ini. Ia menggunakan pendekatan komunikasi yang elegan dengan stafnya termasuk dengan masyarakat. Hal inilah yang dilakoni AKBP Ni Wayan Sri Yudayatni Wirawati, Kapolres Klungkung yang menjadi Kapolres perempuan pertama di wilayah hukum Polda Bali.
“D
Berjualan sate keliling adalah aktivitas seharihari para perempuan yang tinggal di Gomong Lama, Mataram
dilakoni dan sepertinya kompak dilakukan. “Jika ada keramaian, kami istirahat menjunjung sate keliling dan kompak merubah profesi,” kata Jumainah, Aeniah dan lainnya. Pasalnya, di keramaian tersebut mereka merubah profesi menjadi pedagang asongan. Kalau mau dihitung, ujar mereka, penghasilan menjadi pedagang asongan lebih besar ketimbang menjual sate keliling. Namun, pada event besar yang menguntungkan itu tidak selalu datang melainkan hanya sesekali. Sebab itulah, berkeliling menjajakan sate menjadi pilihan utama sebagai lahan pencari nafkah bagi para perempuan ini. -Naniek I. Taufan
Para perempuan Gomong Lama, Mataram tengah menyiapkan sate yang akan dijual
5
ari kecil saya senang main perang-perangan karena ayah saya tentara. Saya lahir ketika ayah ikut perang di Irian. Cita-cita saya awalnya masuk Kowad, tetapi saya tidak lulus kemudian ikut tes polwan, lulus. Orangtua tahu saya agak maskulin. Ketika saya lulus sebagai polisi, ayah mengingatkan agar saya semangat dan bekerja keras. Kalau menjadi polisi pilihan saya, jangan bikin malu. Berkarierlah sebaik-baiknya,” ujar putri sulung pasangan I Wayan Jajar-Ni Made Darni ini. Sri mengawali karier sebagai bintara yang bertugas di Ambon tahun 1986. Ini pertama kali ia tinggal jauh dari orangtua dan harus hidup mandiri. Selama di Ambon, alumnus SD 1 Kuta, SMP Sunariloka, dan SMA Kutapura, Kuta ini menyempatkan diri kuliah ilmu administrasi di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Ambon. Ambon menjadi kota yang tak terlupakan bagi perempuan kelahiran 21 Mei 1965 ini. Ia bertemu pujaan hatinya, Ir. Acep Manatap Simanjuntak, seorang spesialis landasan penerbangan yang bekerja di Departemen Perhubungan Udara. Mereka menikah tahun 1994 dan memiliki dua anak, Cendikia Yehuda Simanjuntak dan Tia Marselina Simanjuntak. Dari Ambon, Sri sempat berpindahpindah kota untuk mengikuti tugas suami. Ketika pangkatnya sersan satu, Sri lolos untuk masuk Sekolah
AKBP Ni Wayan Sri Yudayatni Wirawati dalam acara Beauty Fair di Bali TV
Calon Perwira (Secapa). Polwan yang masuk Secapa jumlahnya sangat terbatas. Seleksi yang ketat membuat hanya sedikit yang lolos. Dari Secapa, ia lolos lagi masuk Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK). Berikutnya ia lolos Sespim tahun 2007. POLA KEMITRAAN Sri resmi bertugas di Bali tahun 2000. Ia dan keluarga memutuskan menetap di Bali. Suaminya pensiun dini dari Departemen Perhubungan Udara dan memilih berwiraswasta. Jabatan yang pernah diemban di Bali antara lain
Kegiatan Kapolres Klungkung bersama jajarannya
Kepala KP3 Udara Ngurah Rai, Kabag RBP Polda Bali, dan menjabat Kapolres Klungkung sejak 7 Agustus 2012. “Di Bali, saya Kapolres perempuan pertama tetapi dari teman-teman seangkatan saya di Sespim, saya yang terakhir menjadi Kapolres,” ungkapnya di sela-sela acara Beauty Fair yang diadakan Bali TV di Gedung Pers Bali K. Nadha, 25 April 2014. Sri menambahkan jabatan merupakan anugerah Tuhan. Ia juga berterima kasih kepada pimpinan Polri yang memberi kesempatan kepada polwan untuk menduduki jabatan strategis. Adanya PTIK perempuan juga merupakan kaderisasi pemimpin perempuan di lingkungan Polri. Sebagai Kapolres yang memiliki 641 anggota, 13 diantaranya polwan, Sri mengedepankan pola kemitraan (partnership) dalam melaksanakan tugas di wilayah hukum Polres Klungkung. “Saya tidak mau hanya duduk di belakang meja. Saya harus tahu dinamika permasalahan yang terjadi di lapangan agar bisa mengambil keputusan yang tepat. Wilayah Klungkung yang terdiri dari daratan dan kepulauan ini sangat unik,” tegasnya. Selama ini kendala yang dihadapi Sri bersama anak buahnya adalah penanganan keadaan darurat atau sisi kemanusiaan di wilayah perairan. Kondisi perairan
yang tak bisa diprediksi merupakan tantangan untuk dihadapi. Misalnya, di Cristal Bay, pusaran arus sangat kuat. Ia pernah mengajak anak buahnya melewati wilayah tersebut. Untung saja perahu yang mereka naiki tidak terseret arus. Upaya lain yang dilakukan Sri adalah berkoordinasi dengan masyarakat jika terjadi permasalahan di wilayah mereka. “Kami pernah dibantu masyarakat yang jago menyelam untuk melakukan pertolongan. Ketika penyelamatan warga Jepang yang terhempas gelombang, masyarakat sangat membantu kami dalam proses pencarian dan evakuasi korban,” ujar perempuan yang hobi beternak dan berkebun ini. FLEKSIBEL DIDIK ANAK Jabatan sebagai Kapolres Klungkung membuat Sri tinggal terpisah dengan keluarganya. Ia menempati rumah dinas Kapolres sedangkan suami dan anak-anaknya yang di Denpasar. Namun, jalinan komunikasi mereka lakukan tiap saat. “Saya beri pengertian ke anak-anak, saya melaksanakan tugas negara. Mereka pun paham dengan apa yang saya jelaskan. Saya tidak bisa tiap hari mengantar-jemput anak. Tetapi, saat penerimaan raport saya usahakan hadir ke sekolah,” tandasnya. Dalam mendidik anak-anak yang bersekolah di SD Anugerah dan SMP 3 Denpasar, Sri dan suaminya fleksibel. Mereka tegas dalam urusan pendidikan dan agama tetapi longgar dalam urusan bersosialisasi. Ketegasan itu terlihat dari jadwal sekolah dan jadwal belajar termasuk bagaimana mereka mendapatkan pendidikan agama. Ini merupakan fondasi untuk membentuk karakter anak-anak. Urusan bergaul, anak-anak dipersilakan bergaul dengan teman-temannya. Sri menilai pendidikan itu sangat penting sebagai bekal di kemudian hari. Hal ini ia alami
AKBP Ni Wayan Sri Yudayatni Wirawati
ketika mendapat kesempatan mengikuti pendidikan pengawasan pengiriman narkoba di Thailand. Kesempatan ini didapat dari Kedutaan Besar Amerika Serikat. “Kalau saya tidak sekolah dan tidak ikut pendidikan, mungkin saya tidak mendapat posisi seperti sekarang,” ujarnya sembari menyebut dua yuniornya yang siap untuk masuk Sespim, Ayu Suinaci dan Kompyang Srinadi. Kepada kaum perempuan, Sri berpesan agar jangan mudah putus asa. Apapun bisa dilakukan perempuan untuk mengisi pembangunan. Kata kuncinya kemauan. Tantangan seberat apapun pasti bisa dilalui. “Laki-laki bukan lawan tetapi laki-laki adalah partner,” tegasnya. –Ngurah Budi
“Saya tidak mau hanya duduk di belakang meja. Saya harus tahu dinamika permasalah an yang terjadi di lapangan agar bisa mengambil keputusan yang tepat...”
Sri bersama keluarga
INSPIRASI
4
L a e la S ar i
Naik Gerobak Sapi Enam puluh empat tahun berkarir di dunia hiburan dan tetap aktif hingga kini adalah sebuah prestasi luar biasa. Rasanya tidak ada artis Indonesia yang melakukan itu selain Laela Sari, artis gaek yang November nanti berusia 79 tahun. Bagi mereka yang gemar nonton tayangan hiburan di televisi tentu tak asing dengan wajah Emak Sari, begitu namanya akrab disapa. Pasalnya, wajahnya kerap wara-wiri di berbagai tayangan hiburan, entah itu sinetron ataupun menyanyi dan melawak.
U
sia tak menghalangi Si Emak berjingkrak-jingkrak di panggung menyanyikan lagu rock n roll. Suaranya lumayan enak, maklum selain berakting dia juga mantan vokalis orkes keliling di era 50-an. Dia juga jago ngebanyol makanya kerap ditanggap untuk acaraacara-acara bergenre komedi. Semangatnya yang terus berkarya ini bukan hanya menjadi inspirasi bagi para artis muda yang menekuni industry hiburan, tapi juga membuat Laela Sari mendapat ganjaran ‘Life Achievement Award’ pada 2005 . “November nanti Emak 79 tahun, tapi masih bekerja. Alhamdulilah rejeki ada saja. Tidak banyak, tapi selalu ada, alhamdulilah,” ujar Laela Sari seusai shooting sebuah acara televise di
Jakarta. Bagi nenek kelahiran November 1935 ini, usia tidak menjadi halangan baginya untuk terus berkarya, sepanjang sehat, ia akan terus berkiprah di panggung hiburan. Meski puluhan tahun bergelut dalam dunia hiburan, acting khususnya, Laela mengaku tak merasa bosan. Ibaratnya, kata Laila, acting sudah ‘mendarahdaging’ dalam hidupnya sehingga sulit ditinggalkan. “Kalau ditanya sampe kapan, sampe bosen? Tapi Emak nggak pernah bosen. Ya bagaimana nanti saja. Allah yang punya kuasa,” ucap Laela Sari dengan logat Betawi yang kental. Karena memiliki logat Betawi yang kental, orang mengira ia asli Betawi, padahal nenek enerjik ini asli berdarah
Padang Panjang, Sumatera Barat. Hanya saja ia telah tinggal di Jakarta sejak usia remaja. Jika bercerita tentang kehidupannya, wajah Emak Laela langsung redup. Wajahnya yang biasa ceria dengan guyon-guyonnya, berubah sendu. Enampuluh empat tahun berkarier di dunia hiburan, membuat Emak Laela merasakan betul asam-garam dunia entertainment. Ia memulai kiprahnya di dunia hiburan lewat sandiwara keliling yang anggotanya juga berasal dari keluarga sendiri, baik ibu, ayah juga kakak, melakukan pementasan sandiwara dari kota ke kota. “Lalu ayah (tiri) aku punya ide membentuk orkes yang diberi nama grup orkes ‘Laela Sari’, nama aku. Seperti sandiwara keliling, kami juga kerap ditanggap ke berbagai kota. Banyak pengalaman pahit-manis yang aku rasa. Bahkan yang paling pahit pun pernah mengalami,” ucapnya. Satu pengalaman yang diingat Laela sampai kini yakni penampilan grup orkesnya tidak dibayar. Lebih mengenaskan lagi, mereka saat itu sudah tidak memiliki uang, sementara harus membayar penginapan dan lain-lain. “Terpaksa perhiasan yang ada, baik gelang, kalung, dijual untuk biaya pulang dan makan. Bayangkan, untuk menyambung transportasi kita harus naik gerobak sapi dari Tegal ke Cirebon. Gara-gara itu aku sempat kapok manggung. Namun namanya sudah mendarahdaging, akhirnya aku jadi semangat lagi,” tutur Laela Sari. Membandingkan perjuangan menjadi artis di masa lalu dan sekarang, ibarat ‘bumi dan langit’. Dulu di masanya, begitu sulit menjadi artis terkenal setidaknya itu yang dia rasakan. Perjuangan-
5 - 11 MEI 2014
nya luar biasa pedih untuk bisa dikenal masyarakat. Beda dengan sekarang, tutur Laela, artis lebih mudah melejit dan mudah dikenal luas masyrakat. “Zaman sekarang enak, artis lebih mudah terkenal, mudah melejit. Zaman aku dulu, sulit sekali,” tuturnya. Meski sulit, katanya, namun dirinya tak putus asa, sampai akhirnya berhasil mendapat peran pertama dalam film layar lebar ‘Kembang Katjang’ tahun 1950. Sejak itu namanya mulai naik daun. Tahun 1954 ia tampil dalam tiga film sekaligus, ‘Perantaian 13’, Konde Tjioda’ dan ‘Burung Merpati’. Karier Laela makin bersinar terang di kancah perfilman Tanah Air. Ia tampil di sejumlah film populer di masa lalu seperti Karmila, Air Mata Ibu dan Lupus IV. Puluhan film dibintanginya, terakhir adalah ‘Comic 8’ , film bergenre komedi yang tayang di awal tahun 2014 ini. Ketika era sinetron melanda Indonesia, nenek enerjik ini pun tak ketinggalan, ia tampil antara lain dalam sinetron ‘Ada Ada Saja’ dan ‘Pelangi di Rumah Susun’. Hanya saja seiring usianya yang makin bertambah, meski tampil di sinetron, peran-perannya pun semakin berkurang. Ini diakui juga oleh Laela, yang mengaku kebanyakan perannya tidak terlalu berat. “Iya, Emak kalau main sinetron perannya kebanyakan nangis melulu, pokoknya peran-peran sedih. Pengen juga sekali-kali kebagian peran yang enak-enak, seperti jalan-jalan, makan-makan…(sambil tertawared). Tapi nggak apa-apa, rejeki Emak barangkali memang di situ,” katanya sembari tertawa. Apapun itu, lanjut Laela Sari, dirinya merasa sangat bersyukur karena sampai sekarang—meski usia tua renta--- masih diberi pekerjaan (rejeki) lewat peran-peran di sinetron, film, acara-acara hiburan televise lainnya juga kegiatan-kegian off air. “Rejeki lumayan, alhamdulilah, cukup untuk biaya hidup,” ujar Emak. Diakui Laela Sari, kebanyakan orang diusia seperti dirinya tidak lagi bekerja. Mereka beristirahat atau menikmati masa tua bersama keluarga. Namun ia tidak bisa melakukan itu karena tuntutan hidup, dia adalah tulang punggung keluarga. Ia harus mencari nafkah untuk membiayai kehidupan keluarganya yang menetap di bilangan Tangkiwood, Jakarta Barat, kawasan yang dulunya dikenal sebagai ‘gudangnya’ para artis ngetop lantaran banyak artis top era 40-60-an tinggal di daerah tersebut. Sebut saja, FiFi Young, M Sardi (ayah violis Idris
MANDALIKA
5 - 11 MEI 2014
Tari Oncer
21
Sambut Prajurit usai Perang Pampang paok do adi jadi sempare Galah nangke sik bebilah Adu silaq do bai do semeton Lalang jaok donadi kepah mase taoq begitah Adu silaq do bai semeton
Laela Sari bersama keluarga
Sardi), Rukiah-Kartolo (orangtua Rachmat Kartolo), dll, tinggal di kawasan tersebut. Di kawasan padat penduduk itu, Laela Sari tinggal dan membantu membiayai kehidupan enam anggota keluarga lainnya. “Usia segini masih kerja, tapi kalau tidak siapa yang mau kasih makan Emak, anak dan cucu? Aku mencari nafkah karena masih ada yang harus dibiayai. Itu yang paling penting. Masih ada anak kecilkecil, buyut. Aku bantu mereka lah. Ngandelin mereka aja, nggak cukup,” ucapnya. Lalu apa rahasianya Laela Sari tetap segar dan sehat? Menurutnya, resep sederhana yaitu, selalu bersyukur, jangan menggerutu dan terpenting harus selalu happy. Kebahagiaan yang ada di dalam hati, akan membantu menyehatkan tubuh. Soal makanan, katanya, tidak macam-macam. Ia tak terlalu suka makan daging-dagingan, termasuk ayam. “Makanan sederhana saja, ikan, tempe, ikan asin, sambel terasi, lalap. Itu menu favorit. Jadi, kunci tetap sehat dan semangat adalah bahagia dan ikhlas,” ujar Laela Sari. -Diana Runtu
S
Barong Tengkok
yair di atas merupakan petikan nyanyian para penari Oncer dalam salah satu tari tradisional masyarakat Sasak, tari Oncer. Menurut salah seorang seniman tari di Mataram, A. Hamid, tari Oncer merupakan tarian sederhana yang diiringi gendang beleq. Dalam sejarahnya, tari Oncer merupakan tarian untuk menyambut para prajurit yang baru pulang dari medan perang. Gendang beleq sebagai pengiring dengan suaranya yang bergemuruh merupakan alat untuk memberitahu atau mengumumkan penyambutan para prajurit usai berperang.
Dua buah gendang beleq tersebut disebut gendang mama (lakilaki) dan gendang nina (perempuan), berfungsi sebagai pembawa dinamika. Alat musik tradisional lainnya adalah gendang kodeq (gendang kecil), dua buah reog sebagai pembawa melodi masingmasing reog mama, terdiri atas dua nada dan sebuah reog nina, sebuah perembak beleq yang berfungsi sebagai alat ritmis dan enam-sepuluh buah perembak kodeq, disebut juga “copek”. Juga petuk dan gong yang berfungsi sebagai alat ritmis. Sebuah gong penyentak sebagai alat ritmis, gong oncer. Saat ini tari Oncer ditarikan sebagai tarian penyambut tamu
yang juga diiringi dengan cengceng sebagai alat musiknya. Sekalipun tarian ini ditarikan oleh para perempuan, penari selalu memakai kostum laki-laki. Hal ini disebabkan karena tarian ini menggambarkan tarian perang dimana perang dilakukan oleh para lelaki. Tarian Oncer biasanya ditarikan beberapa orang. Enam di antaranya membawa alat musik ceng-ceng, dua orang membawa gendang beleq, dua orang membawa bendera, satu orang membawa alat musik petuk. Penamaan Oncer diambil dari gerakan ikan repait yang dikenal dengan gerakan ekornya yang terus bergerak tidak pernah diam, sangat gesit dan lihai. Gerakan inilah yang diambil sebagai gerak dasar tari Oncer yakni, goyangan pinggul yang khas yang disebut ngecok. “Agamnya tidak tinggi melainnya hanya sebatas pinggul saja,” kata A. Hamid, koreografer tradisional Sasak. Selain itu dalam tari Oncer ada juga gerak ngesok (bahu bergoyang bergerik atau bergetar). Gerak kakinya khas tarian Sasak yakni berdeser yang sangat berbeda dengan tari Bali yang menggunakan gerak kaki nyeresek (terisik). Selain Oncer, tari tradisional yang mencirikan daerah Sasak yang terbilang langka dan jarang ditarikan namun kini mulai dihidupkan kembali adalah Tari Tandang Mendet dan Barong Tengkok. Kedua tarian ini menurut Hamid, sesungguhnya memiliki nilai-nilai filosofi Sasak yang kental. Tari Tandang Mendet adalah tari asli Sasak yang juga sangat khas. Tari Tandang Mendet berasal dari Lombok Utara. “Tarian ini biasa
ditarikan ketika acara ritual Mengayu-ayu (tradisi berdoa yang dilakukan masyarakat Lombok Utara menjelang musim tanam tiba). Tandang artinya sikap sedangkan mendet berarti penyambutan. Tandang mendet berarti tari penyambutan. Dalam tradisi mengayu-ayu, p o s i s i t a rian ini sebagai penyambutan terhadap tujuh mata air yang merupakan bagian dari rangkaian tradisi sakral mengayu-ayu,” Tari Tandang Mendet salah satu tarian khas daerah Lombok NTB ujar Hamid. Penarinya ada delapan orang Tengkok yang merupakan tari dengan susunan penarinya adalah: hiburan yang lahir dari masyarakat posisi paling depan adalah bebatek tradisional Sasak dan juga mulai sebagai ketua kelompok. Lalu jarang ditarikan. Kesenian ini disusul pengawal bebatek dan merupakan salah satu tarian yang lainnya sebagai pasukan. Bebatek ditarikan sembari membawa alat membawa pedang dan tameng musik reong yang berbentuk sedangkan pasukannya membawa barong yang dibunyikan sepanjang tombak. Kain yang dipakai penari pergelaran berlangsung. Penarinya adalah kain beberuk (ragi genep) adalah laki-laki. Ditarikan oleh lakidan kain polong dalam berwarna laki, karena dahulu perempuan putih sepanjang 3,5 meter. Bajunya Sasak tidak diperkenankan menari memakai baju pegon dengan sapuq di depan umum. Karena itulah, (ikat kepala khas Sasak) berwarna beberapa penari perempuan yang putih. menjadi bagian dari tari banrong Demikian pula Tari Barong tengkok selalu menyamar menjadi laki-laki. Para penari perempuan ini disebut telek (penari penghibur sambil bernyanyi).
Ketak dan Cukli Wakili NTB di Inacraft 2014 Meningkatnya jumlah pengrajin lokal dengan berbagai inovasi dan kreativitas merek produk baru menunjukkan industri kerajinan di Indonesia sudah mulai menunjukkan potensinya. Hal ini juga ditunjukkan oleh para pengrajin dari Nusa Tenggara Barat yang ikut acara Inacraft 2014. Ada 10 UKM NTB yang secara mandiri tampil dalam event tahunan ini. Inacraft 2014 yang bertema “From Smart Village to Global Market” adalah event untuk meningkatkan dan memfasilitasi produk-produk kerajinan ke tingkat yang lebih tinggi. Spesifikasi produk yang akan dipamerkan antara lain handicrafts (gifts, housewares, fashion product, fewellery) dengan target pembeli mancanegara. NTB diwakili oleh pengrajin yang membawa kerajinan khas seperti dari Beleke Lombok Tengah dan Lombok Barat yang menampilkan kerajinan ketak, cukli, hiasan perak dan kain songket. Pemerintah Provinsi NTB mendukung kegiatan tersebut. Gubernur NTB Dr. TGH M. Zainul Majdi beserta istri, Hj. Erica Zainul Majdi yang juga merupakan Ketua TP. PKK Provinsi NTB sengaja hadir memberi dukungan bagi pengrajin asal NTB pada pameran berstandar internasional tersebut. Kehadirannya memberi semangat dan menambah gairah para pengrajin asal NTB. Dukungan atas keikutsertaan NTB itu diwujudkan dalam stand yang difasilitasi Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi NTB dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten/Kota.
Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi didampingi Ketua Tim Penggerak PKK NTB, Hj. Erica Zainul Majdi, mengunjungi para pengrajin NTB yang ikut dalamPameran INACRAFT (International Handicraft Trade Fair), di Jakarta Convention Center.
Gubernur NTB tentu merasa bangga karena untuk tampilnya NTB di kancah internasional luar biasa kemajuannya, semua sudah bisa dikoordinasikan dengan baik. “Harapannya akan tampil lebih banyak lagi UKM, apalagi sudah ada 5 hingga 10 UKM mandiri turut serta di event besar yang tentunya tidak mengeluarkan dana sedikit, Inilah pengorbanan yang membanggakan NTB demi mendongkarak pertumbuhan dan peningkatan ekonomi NTB juga,” ungkapnya. --Naniek I. Taufan
-Naniek I. Taufan
W H AT ’ S U P
22
Pemda Gianyar Teruskan Geliat Pengembangan Endek Beberapa produk kerajinan unggulan UKM Gianyar, seperti kerajinan perak, kayu, lukisan, tenun ikat dan batik Bali yang hadir dalam acara tahunan Inter national Handicraft Trade Fair (Inacraft) 2014 di Jakarta Convention Centre (JCC) yang berlangsung pada bulan April belum lama ini dipenuhi pengunjung dan men dapatkan respons positif.
Wayan Suamba
M
enurut Kepala Di nas Perindustrian dan Perdagangan Gianyar, Ir. Wayan Suamba, M.T., seiring perjalanan waktu, bidang seni dan kerajinan lainnya juga terus dikembangkan. Selain pemerintah daerah, hal ini merupakan kewajiban bersama BUMN dan pihak swasta lain nya sesuai dengan himbauan Presiden saat pembukaan Pameran Inacraft ke 16 di JCC pada April 2014. Berlanjut pada program dukungan terhadap pengembangan endek di Gianyar, Suamba mengatakan Bupati Gianyar AA Gde Agung Bharata yang selalu mengenakan endek di berbagai acara ini, sangat konsen bahkan beren cana membangun khusus pasar yang menjual endek di daerah jurusanTam paksiring menuju Istana. Ide tersebut, sebenarnya telah dimunculkan saat menjabat Bupati Gianyar periode 2003–2008 silam. Sebagai Kadisperindag, ia ditugas kan merancang pembiayaan patungan pusat (APBN) dengan APBD kabu paten. Selanjutnya bekerjasama pula dengan beberapa art shop yang ada di Gianyar untuk memajang produk endek serta bekerjasama dengan Taman Safari yang ada di Gianyar. “Bangunan disiap kan dan pengrajin tinggal mengisinya.
Sedang dipersiapkan bentuk kerjasama nya,” ungkap Suamba. Ia juga menye butkan akan dibuatnya buku khusus yang membahas dan mengungkapkan keberadaan endek Gianyar. Untuk pengerjaannya, kerjasama dilakukan dengan Perguruan Tinggi yang ada di Bali. Apalagi di Gianyar juga terdapat salah satu kain Bebali. Perihal hal ini, Suamba mengaku bakal menindaklanjuti informasi keberadaan wastra Bali, bernama kain Kemit yang dulu disebutkan pernah diproduksi masyarakat Pejeng. AA Tirta Rai, salah seorang dosen ISI Denpasar, menga takan wastra Kemit yang tampaknya sepert kain lurik tersebut termasuk kain Bebali, dan karena digunakan sebagai sarana upacara maka Kemit pun tergolong wastra wali. Agar tidak lanjut tenggelam, Tirta Rai pun meng harapkan Kadisperindag Gianyar untuk merekonstruksinya kembali. ENDEK TAK PERNAH KEHILANGAN PESONA Kain endek sebagai salah satu warisan leluhur masyarakat Bali dengan keindahan ragam motifnya. Mulai dari flora dan fauna juga motif yang diam bil dari mitologi Bali seperti wayang menjadi ciri khas kain endek Bali yang sangat menarik dan wajib dilestarikan. Apalagi tiap kabu paten memiliki motif dan ciri khas tersendiri termasuk Gianyar. Suamba menyatakan, di tiap pameran yang mengikutkan Gia nyar, endek akan selalu diikut kan, baik pameran bersifat lokal maupun nasional, sebagaimana kerajinan perak, kayu, lukisan dan lainnya yang sudah lebih dahulu dikenal. “Yang ter dekat adalah keikutsertaan Gianyar pada event fashion di JFFF pada 19 Mei mendatang di Jakarta. Di sini pemda kembali menjalin kerjasama dengan de sainer Gianyar,” ujarnya. Atas kesigapan Pemda Gia nyar untuk pengembangan endek yang sempat terpuruk, Tjokorda Gde Abinanda Su kawati, desainer yang sempat sekolah mode di London ini merespons positif upaya Pemda Gianyar lebih memasyarakat kan endek. Salah satunya, dengan memberi kesem patan
Made Karya, salah se orang pengrajin yang berkesempatan mengi kuti pameran di Inacraft tahun ini, mengatakan siap mendukung keg iatan Pemda Gianyar terkait urusan industri tenun. Dengan pengala mannya di dunia seni tenun sejak tahun 80an, termasuk yang diperolehnya saat ia bekerja di pertenunan Cap Chili ini mengata kan dengan tidak ber henti berinovasi dan menjalin kerjasama yang baik dengan pen grajin lainnya ia yakin endek bisa bersaing dengan serbuan tenun ikat yang datang dari
pengrajin endek Gianyar ikut dalam pameran yang diadakan di lokal Gia nyar, di tingkat provinsi, dan di ajang nasional. Desainer yang biasa disapa Tjok Abi ini juga melihat pemerintah telah memberikan pengarahan kepada pengrajin endek bukan hanya soal mengembangkan desain tapi juga warna endek sesuai tren. Membina para pengrajin endek agar kualitas produk makin membaik dan dapat bersaing di pasar. Sebagai perancang busana ia sangat terkesan dengan kain ataupun motif yang dihasilkan para pengrajin di Gianyar. “Makanya selama ini saya se lalu berusaha mengenakan kain–kain tradisional dalam membuat koleksi saya. Salah satunya endek yang dikombinasikannya den gan bahan lainnya agar tidak jenuh. Endek pun tetap segar, cantik dipakai serta tidak monoton dan tidak statis,” ungkap putra tunggal tek nokrat ter mashyur B a l i , Dr. Ir.
5 - 11 mei 2014
5 - 11 Mei 2014
Tjokorda Raka Sukawati ini. Begitu juga yang disampikan Wayan Budi salah seorang staf Pertenunan Pu tri Ayu, yang berlokasi di Blahbatuh ini. Pemilik pertenunan I.B Adnyana tidak berhenti berkreasi dalam memproduksi kain tenun ikatnya. Diantaranya meng gunakan teknik air brush pada motif dan pewarnaan yang diterapkannya pada
luar Bali. Ia juga mengatakan kualitas tenun seperti yang dikerjakan oleh para penenunnya menjadi keunggulan ke napa karyanya pantas dipilih. Disamp ing desain yang siap dibuatkan sesuai keinginan pemesan. “Selama ini kami banyak mengerjakan endek berisi logo perusahaan atau perkumpulan,”
Ragam warna endek pucuk
tenun yang khusus bermotifkan pucuk sebagai maskotnya Gianyar. Tenun ikat khas Gianyar ini juga dihadirkan dalam tiga pilihan yakni endek pucuk, songket pucuk dan dobby pucuk . Selain itu juga yang merupakan kombinasi ikat dan songket menjadi kannya unik dan khas. Produk songket ini tergolong songket inovasi, yakni lembarannya tidak terpotong seperti songket pada um umnya. Ta k k e t i n g galan kain ber corak unik dan berwarna khas ini juga menarik per hatian dua anak Pr i k a d a n G a lih. Pemilik merek Manikan tersebut memproduksi tas yang terbuat dari endek sejak 2011. Meskipun saat ini banyak bere dar kain ikat yang dic etak (print), mereka tetap se tia menggunakan kain warisan nenek moyang ini. “Selain berbisnis, kami juga ingin mempopuler kan kain khas tempat kami dilahirkan. Makanya, kami menggandeng perajin endek dari Gianyar ini,” tegas Prika. Pemilik pertenunan Dewi Karya di kawasan Bona Kaja, Gianyar, I Gusti
ungkap Gusti yang beberapa desainnya telah memiliki hak paten seperti logo Pemkab Gianyar dan logo PKB ini. Mengenai kendala, Gusti juga tak menampik bahwa SDM masih menjadi hal yang perlu dicarikan solusi kede pannya. Meski ia tak pernah putus asa dengan selalu bersedia melatih siap saja yang mau belajar soal tenun. “Dari sepuluh yang belajar, bisa jadi dua saja sudah patut disyu kuri. Ini bibit yang bisa dikembangkan lagi,”cetusnya. Mengenai pem binaan oleh Pemda Gianyar, menurut Gusti Karya, sudah dilakukan misal nya melalui Dinas Koperasi, Disper indag, Dekranasda atau menjadi binaan BUMN di lingkungan Gianyar. Meski disa darinya pemerintah tentu tidak mung kin bisa membantu sekaligus semua UKM di Gianyar yang mencapai 7000-an. Pengrajin pun hendaknya proaktif mencari informasi langsung ke instansi terkait. “Pemda juga perlu melengkapi mengadakan penyegaran tiap enam bulan sekali dan evaluasi langsung ke lapangan,” tegas Gusti. –ard
S E L E B R I TA S
3
IGA Andani
Ilmu adalah Punia Tertinggi “Punia yang paling tinggi dan paling berharga adalah ilmu. Ilmu bisa dibawa kemana-mana dan bisa mengubah masa depan seseorang.” Petuah orangtuanya itu selalu terngiang di telinga I Gusti Ayu Andani, S.T., M.T. Itu pula yang memotivasi putri kedua Drs. I Gusti Made Bawarta dan IGA Ayu Kurniadi ini untuk memilih pulang ke Bali setelah menyelesaikan pendidikannya di ITB dan mengabdi menjadi dosen. “Dengan menjadi dosen (pengajar), kita juga belajar, mendapat feedback dari mahasiswa yang semakin menambah khasanah ilmu yang kita punya,” imbuh perempuan berparas cantik ini.
B
aginya, ilmu yang bisa didapat melalui pendidikan ini sangat lah penting. Dengan pendidikan kita bisa mepunia, tahu harus berbuat apa dan dengan cara apa untuk kebaikan diri sendiri, keluarga dan masyarakat. “Karena, orang-orang yang berpendidikan inilah yang akan mampu membuat perubahan ke arah positif dan memberikan dampak luas (multiplier effect) untuk masyarakat,” ujar dosen S-2 Perencanaan Pem bangunan Wilayah dan Pengelolaan Lingkungan (P2WL) Universitas Mahasaraswati, Denpasar ini. Selalu melangkah dengan moto hidup “Kemampuan Terbatas, Usaha Tak Terbatas”, begitu pula Andani -sapaan akrabnya menapaki usia mudanya untuk melakukan banyak hal. Sejak SD, Andani yang dahulu bercita-cita menjadi dokter tekun belajar hingga peringkat tiga besar tak pernah lepas dari tangan nya. Menginjak bangku sekolah menengah, impiannya makin tinggi, yakni menjadi dokter yang juga dosen. “Intinya, saya ingin mengajar,” te gasnya. Dengan im pian itu pula, Andani selalu meraih predikat Juara Umum di almamater nya saat itu, SMPN 7
Denpasar dan di SMAN 1 Den pasar. Selepas SMA, ia dihadapkan pada dua pilihan berat, melanjut kan kuliah di Fakultas Kedokteran atau Teknik Planologi di ITB. Atas berbagai pertimban gan, akhirnya perempuan kelahiran Denpasar, 21 Desember 1990 ini mengambil Program Studi Teknik Planologi (Perencanaan Wilayah dan kota) di Institut Teknologi Bandung (ITB) lewat jalur USM. Perkuliahan S-1 dan S-2 Perencanaan Wilayah dan Kota, Teknik Planologi ITB pun dituntaskan nya dalam waktu lima tahun melalui program jalur cepat (fast-track). “Jadi, saat mengerjakan tugas akhir/skripsi S-1, saya juga mengambil kuliah S-2,” ujar lulusan S-1 dan S-2 Perencanaan Wilayah dan Kota, Teknik Planologi ITB dengan predikat cumlaude ini. Sembari fokus kuliah, adik dari IG Bagus Andika, S.T. yang merupakan alumni Teknik Sipil ITB dan kakak dari IG Bagus Aditya, S.E. ini juga terlibat dalam beberapa kegiatan yang dilaku kan Tim Lembaga Afiliasi Penelitian dan Industri (LAPI)-ITB, seperti Kajian Pembangunan Jembatan Selat Sunda dan perencanaan tata ruang serta infastruktur di Jawa Barat, Kalimantan Selatan, dan Papua. Dari pengalaman-pengalaman itu, wawasan keilmuannya makin bertambah. Menurut Andani, keil muan Perencanaan Wilayah dan Kota ini akan terus digunakan dan tetap ada selama pembangunan berjalan. Keilmuan ini dikatakannya sangat luas dan komprehen sif, tak hanya fisik dan lingkungan, namun juga ekonomi, so sial, hukum, hingga politik. Di luar Bali, terutama di Indo nesia bagian barat keilmuan ini cu kup berkembang. Di Bali khusus nya, mungkin ilmu planologi ini kurang famil iar dan belum begitu berkem b a n g . Pa d a h a l p e n e r a p a n n y a sangat diperlukan bagi pembangunan Bali. “Bali perlu sentuhan keilmuan ini. Karena itu, ke tika banyak lulusan planologi memilih
Keterlibatan Andani (dua dari kanan) dalam tim LAPI-ITB saat survei kegiatan pertambangan di Pulau Sebuku, Kalimantan Selatan, November 2013
tak pulang ke Bali dan bekerja di luar daerah, saya justru pulang ke Bali untuk bisa membagi ilmu saya dan berbuat sesuatu untuk Bali. Ternyata di Bali pun sudah ada S-1 Teknik Planologi” ujar Andani yang pulang ke tanah kelahirannya, Bali, akhir 2013 silam dan juga membantu mengajar sebagai Dosen Luar Biasa di S-1 Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Unhi, Denpasar ini. KURSUS TATA RIAS Di sela-sela jadwal mengajarnya yang padat, Andani masih tetap ter libat dalam urusan tata kecantikan yang pernah ditekuninya dulu semasa SMA. Ia berpendapat, seseorang juga harus memiliki keterampilan. Karena itu pun, di waktu luangnya saat SMA dimanfaatkannya untuk ikut kursus kecantikan di LKP Agung.
Baginya, semasih muda, masih banyak hal yang bisa dilakukan. Melanjutkan kuliah S-3 di bidang Infrastructure Planning menjadi targetnya dalam tiga tahun ke depan. Menempuh jalur pendidikan ini ditegaskannya bukan semata-mata karena ia seorang dosen yang mengejar status dan gelar, namun lebih kepada pendalaman ilmu yang diperoleh. “Tentunya berbeda tataran di S-1, S-2, dan S-3. Ketika di S-2 kita mendalami ilmunya, di tingkat S-3 kita sudah harus mampu mengkritisi teori yang ada, bahkan membangun teori baru,” ucapnya. Selama mengajar, ia mengaku banyak hal yang didapat, salah satunya semakin kaya akan realita masalah yang ada di Bali. Yang menarik di Bali, dikatakannya adalah karena memiliki culture (budaya) yang kuat. Karena itu, yang seharusnya difokuskan di
Andani bersama keluarga
Keterampilannya merias ini akhirnya bermanfaat juga ketika ia tergabung dalam Unit Kesenian Bali Maha Gotra Ganesha ITB, terlebih sebagai Manajer Pementasan, yang kerap men angani pementasan kesenian. “Dengan belajar kesenian, rasa memi liki dan rasa bangga akan budaya Bali semakin besar,” ujarnya. Sepulangnya ke Bali, Andani pun kembali memperdalam ilmu tata rias nya hingga mengikuti uji kompetensi. Sebagai praktisi kecantikan, Andani juga ikut terlibat dalam penjurian Lomba Busana Adat ke Pura Ber pasangan dalam Porsenijar Denpasar 2014 beberapa waktu lalu. Dan, beberapa waktu ke depan, sudah di pastikan kegiatannya akan bertambah, seiring ditetapkannya Andani sebagai Ketua DPD Yayasan Argadia Cabang Bali pada April 2014. Yayasan yang bergerak di bidang busana tradisional daerah ini sejatinya telah lama ada di Bali, namun mati suri. DENPASAR KE DEPAN Andani memang sosok wanita muda Bali yang selalu haus akan ilmu.
Bali, bukan hanya pembangunan fisik, tapi sosial-budayanya. Jangan sampai pembangunan fisik itu meninggalkan unsur budaya setempat. Budaya Bali yang unik inilah yang mendatangkan dampak ikutan yang luar biasa di sektor pariwisata. “Merencanakan kota atau wilayah tanpa memper hitungkan aspek sosial-budaya sama saja dengan merencanakan kota tak berpenghuni,” imbuhnya.
Bagaimana kondisi Denpasar jika dilihat dari kacamata Plano logi? Khusus di Denpasar, Andani mengamati sudah ada upaya-upaya pemerintah untuk membangun cagar budaya seperti kawasan heritage Jalan Gajah Mada yang memiliki sejarah dan fisik bangunan khas. “Saya dengar di Denpasar sudah dilakukan identi fikasi kawasan atau bangunan urban heritage. Urban heritage ini penting sekali untuk membentuk citra kota. Saya berharap ada tindakan preservasi yang sama untuk bangunan-bangunan bersejarah lainnya” harapnya. Denpasar juga sudah memiliki taman kota dan adanya kegiatan car free day yang efektif sebagai alternatif ruang publik. Namun menurutnya, yang masih menjadi masalah adalah penataan parkir terutama di ka wasan padat lalu-lintas yang selalu berujung pada kemacetan. Menu rutnya, solusi jangka panjang untuk mengatasi kemacetan adalah melalui adanya sinergi antara pengembangan transportasi publik dan perencanaan penggunaan serta pemanfaatan la han. “Rencana tata ruang saya yakin disusun dengan sebaik mungkin dan dengan melibatkan partisi pasi masyarakat, namun lagi-lagi, kita kerap kecolongan saat implementasi, pengendalian, dan pengawasannya,” ujarnya. Semuanya itu dikatakannya terkait dengan institusional planning atau aspek kelembagaannya. Lantas, apa cita-cita Andani un tuk Denpasar ke depannya? “Ha haha.. Saya berharap sekali Denpasar memiliki sistem transportasi publik yang nyaman, menjangkau seluruh pelosok kota, dan terintegrasi de ngan transportasi publik di wilayah sekitarnya. Saya pun bermimpi agar Kota Denpasar menjadi kota yang ramah pejalan kaki,” jawabnya ter tawa ketika disodorkan pertanyaan tersebut. Denpasar sudah memi liki jalur khusus sepeda di beberapa kawasan, tinggal dibarengi dengan perbaikan jalur khusus pejalan kaki yang ramah (nyaman). “Jika sudah ramah pejalan kaki, lalu dibarengi juga dengan pengembangan tranportasi publik yang layak seperti yang sedang dilakukan sekarang, kecenderungan menggunakan kendaraan pribadi juga akan berkurang, dan berimbas pada menurunnya kemacetan lalu lintas,” tandasnya. –ten
Andani (paling kiri) dan Bu Agung (dua dari kiri) bersama Menteri Pendidikan M. Nuh dan istri dalam suatu kesempatan
EKSPRESSO
2
5 - 11 MEI 2014
GORO-GORO
klik: www.tokoh.co.id
PEDOFILIA
mingguantokoh @mingguantokoh
Jengah Awal Mei merupakan momen yang selalu diingat kaum pekerja dan pelajar. 1 Mei atau May Day sebagai Hari Buruh dan 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional. Keduanya memiliki korelasi karena sama-sama memperjuangkan sesuatu. Para buruh bekerja untuk mencari nafkah. Nafkah untuk menghidupi diri sendiri dan menghidupi keluarga. Mereka berjuang melakukan kewajiban untuk mendapatkan hak. Para pelajar juga berjuang meraih ilmu pengetahuan sebagai bekal mereka menghadapi persaingan
O
M G
kehidupan. Bekerja dan belajar juga memiliki persinggungan ketika orangtua bekerja untuk mendapatkan uang demi biaya sekolah anaknya. Anak yang disekolahkan itu diharapkan menjadi investasi masa depan yang bisa memperbaiki kondisi keluarga. Ada yang berhasil, ada yang gagal.
Pendidikan juga bukan domain anak-anak saja karena banyak orangtua yang semangat ikut belajar. Longlife education menjadi alasan orangtua untuk ikut belajar. Bukan gelar yang mereka cari tetapi mereka ingin menjadi motivator dan inspirator bagi generasi muda. Generasi muda harus jengah karena masa depan ada di tangan mereka sendiri. Bersiaplah menyongsong masa depan. Salam
Mohon info no HP atau alamat praktik dr. Oka Negara Wayan Sana (Padangasambian) l HP dr. Oka Negara 08123979397 l
Mohon info no HP Guru Mangku Hipno
l
Ketut Suadnya (Penatih), Ariana (Petapian) Guru Mangku Hipno, Center Brahmakunta Supranatural & Spiritual: Perumahan Gunung Sari Indah, Jln Tukad Buana 1 no 61 Kebo Iwa Utara, Denpasar. Telp. (0361) 7879151, (0361) 8442823
l
Filosofi Rautan Berkaca
Dulu, ketika kita membeli sebuah rautan yang berbentuk bulat, kita selalu menjumpai ada sebuah cermin di baliknya. Pernahkah kalian berpikir kenapa orang-orang dulu sengaja menyelipkan cermin di belakang rautan tersebut? Ini mungkin karena mereka ingin mengajarkan pada kita sebuah filosofi. Bahwa sebelum kita ingin membenahi sesuatu atau sebelum kita memberi kritik pada seseorang sebaiknya kita bercermin dulu, dan atau sebaiknya kita melihat diri kita sendiri dulu, apakah kita sudah lebih baik dari orang tersebut. Inilah yang diucapkan sang master Deddy Corbuzier dalam salah satu acara talkshow di salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia. Dan, ternyata filosofi ini menjadi cerminan bagi saya dalam kejadian yang saya alami beberapa hari yang lalu. Begini ceritanya. Sore itu saya dalam perjalanan pulang ke rumah setelah bekerja seharian di kantor. Udara sore itu terasa begitu sejuk, langit agak mendung, tapi belum tampak hujan akan turun. Angin bertiup sepoi-sepoi, membuat saya ingin berlama-lama dalam perjalanan saya. Saya memacu motor dengan perlahan sambil menikmati indahnya suasana sore itu. Tiba-tiba di depan kendaraan saya melaju sebuah sepeda motor yang ditumpangi oleh dua orang
mingguan berita wanita Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998
gadis muda. Mereka tampak asyik mengobrol sambil berkendara tanpa menyadari bahwa posisi standar kendaraan mereka belum dinaikkan. Hal ini tampak sangat berbahaya. Sebagai seorang manusia yang berbaik hati, saya berusaha untuk memperingati mereka sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan. Saya pun mempercepat laju motor saya. “Mbak, standarnya!” seru saya sambil menyalip motor kedua gadis tersebut. Dari kaca spion motor saya, saya dapat melihat kedua gadis itu mulai menyadari kekeliruan mereka. Mereka segera membetulkan posisi standar kendaraan mereka.
Dalam hati saya merasa sangat bangga karena telah dapat berbuat baik sore itu. Saya pun melanjutkan perjalanan saya dengan hati gembira. Namun tiba-tiba… “Tiit… Tiit…” Terdengar bunyi klakson di belakang saya. Saya pun melihat ke arah kaca spion motor saya. Tampak kedua gadis tadi berusaha mengejar laju kendaraan saya. Saya memperlambat laju motor saya agar mereka dapat menyusulku. Dalam hati saya berpikir, mungkin mereka ingin mengucapkan terima kasih. Haha.., senangnya. Setelah posisi kendaraan kami sejajar, apa yang diucapkan kedua gadis itu sungguh membuat saya terkejut dan amat malu. “Mas, standarnya juga,” seru mereka berbarengan. Saya pun segera melihat ke arah bawah motor saya. Astaga, ternyata benar, sedari tadi standar motor saya pun lupa saya naikkan. Kedua gadis itu pun melaju pergi sambil cekikikan. Dalam sekejap sore yang indah itu pun berubah menjadi sore yang suram. – Afrizal, Denpasar
Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. Panjang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan no kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373
Putu Wijaya
I N F O TO R I A L
5 - 11 MEI 2014
Sekolah CIS Bali Bebaskan Biaya Uang Gedung Dikenal Disiplin, Pendekatan Personal Bagus, Materi Plus
“Bapak dengar ada anak TK umur 6 tahun di sebuah sekolah internasional di Jakarta, diperkosa oleh petugas kebersihan?” “Disodomi?”
“Ya.” “Oleh 4 orang office boy dibantu seorang perempuan?” “Betul!” “Itu namanya pedofilia!” “Terserah apa namanya. Tapi menurut bapak siapa yang salah?” Amat berpikir. “Kok begitu saja mikir. Jelas yang salah yang memperkosa! Harus dihukum mati. Semua ibu-ibu tetangga sudah setuju!” Amat ketawa. “Bapak jangan ketawa. Bagi seorang ibu arti anak beda dengan laki-laki. Bagi kami, anak adalah segala-galanya. Kami mencintai anak lebih dari cinta kami pada diri sendiri!” “Juga lebih cinta kepada anak daripada kepada suami? “Lebih!” Amat tertegun. Ia teringat sejak Ami lahir, ia seperti kehilangan istri. Karena seluruh perhatian Bu Amat tertumpah pada anak. Sejak itu Amat, mulai membiasakan mengurus perasaannya sendiri. Ia kehilangan kemesraan. Dan selalu bertanya-tanya, apakah itu dialami oleh setiap suami? Jawabannya membingungkan. Ada yang ya, ada yang tidak. “Bapak harusnya mengutuk perbuatan biadab itu!” “Tentu saja.” “Tentu saja apa! Tentu saja, tapi Bapak tidak kelihatan marah. Pada hal dulu waktu PSSI dikalahkan Malaysia, sampai membanting gelas!” “Ya, nanti tak banting dua gelas!” Bu Amat marah. “Bapak suka melucu tidak pada tempatnya! Heran ya, laki-laki kok kurang halus perasaannya kalau ada kejahatan susila!” Bu Amat langsung meninggalkan Amat. “Ibu kamu menuduh bapak kurang peka kalau menghadapi kejahatan-kejahatan susila. Hanya karena bapak tidak mengutukngutuk pelaku sodomi di sekolah internsional itu Ami,” curhat Amat mengadukan kemarahan istrinya. Ami yang sedang menyuapi anaknya tak menjawab. “Apa bapak harus banting sepuluh gelas untuk menunjukkan kemarahan terhadap perbuatan iblis itu? Masak anak baru 6. tahun dikerjain ramai-ramai? Itu perbuatan binatang! Sampai-sampai anak itu kena penyakit kelamin lagi! Itu kelakuan terkutuk! Seumur hidup anak itu akan dihantui trauma laknat itu. Di Amerika Serikat, kabarnya memperkosa itu hukumannya mati. Di sini apa? Hukum kita lemah ketinggalan zaman. Makanya kejahatan terus merajalela! Sekolah itu, perusahaan yang memasok office boy itu ikut bertanggungjawab. Dia harus ikut memikul penderitaan korban dan keluaganya! Anak kecil berarti nyawa ibunya, kok diperkosa, kan banyak pelacur laki-laki di jalanan kalau mau sodomi? Dasar bejat! Tidak bermoral! Iblis!” Amat terus memaki berkepanjangan. Ketika suami Ami masuk rumah, Amat baru berhenti mengumpat. Dadanya sesak. Menantunya cepat datang menghampiri. “Kenapa, Pak?” Ami menolong bapaknya menjawab: “Bapak lagi latihan marah, untuk dipentaskan di depan ibu.” Sugi, suami Ami tersenyum. Lalu berbisik di telinga Amat. “Betul, Pak. Kadang-kadang di rumah juga perlu sandiwara untuk menjaga harmoni.” Tapi Ami langsung membentak. “Siapa bilang! Itu kan rumah tangga kuno. Sekarang tidak boleh ada sandiwara di dalam rumah! Bapak tidak perlu marah-marah seperti pemain sandiwara! Bapak diam saja, air muka bapak sudah menunjukkan bapak marah atau tidak!” “Bapak biar diam sebetulnya marah, bahkan lebih dari ibu mertua kamu itu, Sugi, tapi dia tidak mengerti. Bapak dimarahin karena dianggap tidak marah sama pelaku sodomi itu!” Sugi langsung mengerti apa yang sudah terjadi. Dia memotong dengan suara adem. “Saya kira, ibu tidak marah sama Bapak, hanya marah pada keadaan. Tapi siapa lagi yang bisa dimarahinya kalau bukan Bapak?!” Amat tercengang. Ia menatap menantunya. “Kok kamu berpikir begitu?” Sugi menunjuk Ami. “Itu anaknya, juga selalu begitu.” Ami ketawa.
Pemimpin Perusahaan: IDK Suwantara. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budia rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Sek retariat: Ayu A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan Palm erah B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–Telepon (0370) 639543– Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–Faksi mile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BCA Cabang Pal merah Barat Jakarta. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 229.3006644 Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.
23
Gedung CIS Bali
S
ekolah CIS Bali adalah sekolah swasta terbaik di Badung. Sekolah ini didirikan oleh penggiat pendidikan, pengusaha sekaligus anggota DPRD Badung Drs. I Putu Parwata MK., M.M. Komitmen dan dedikasinya terhadap dunia pendidikan diwujudkan dalam karya nyata dengan mendirikan sekolah CIS Bali yang mampu mencetak tamatan cerdas, unggul dan berdaya saing.
Lusi
Tak hanya itu, Putu Parwata juga memberi kesempatan kepada masyarakat untuk menyekolahkan anak-anaknya di CIS Bali dengan membebaskan biaya uang gedung untuk siswa SMP dan SMA. Bahkan bagi siswa kurang mampu, mereka dibebaskan dari uang SPP dan uang gedung. Hal ini berlaku bagi siswa dari seluruh wilayah Badung khususnya, dan
Siswa TK belajar
Bali umumnya. “Ini bentuk komitmen saya membantu pemerintah turut mencerdaskan anak bangsa. Apa yang menjadi tuntutan orangtua siswa terhadap pendidikan berkualitas, semuanya ada di CIS Bali. Silakan masyarakat memanfaatkannya,” terang kandidat doktor ini. Sekolah CIS Bali yang berdiri tahun 2012 ini, terus menuai kesan positif dari masyarakat. Puluhan orangtua sudah mendaftarkan anak-anaknya di sekolah swasta unggulan ini. Pertimbangan utamanya, sekolah CIS Bali dikenal disiplin, materi pelajarannya lebih banyak dan bervariasi (plus) serta pendekatan personal (pribadi) yang bagus dari para guru kepada siswanya. “Saya memilih sekolah CIS Bali untuk kualitas pendidikan anak saya. Fasilitas lengkap dan lokasinya yang relatif dekat,” ungkap Lusi, orangtua Patrick Owen Eldorado (7), siswa SD CIS Bali. Tak hanya fasilitas sekolah yang jadi pertimbangan Lusi, pendekatan personal para guru dalam memperlakukan siswanya membuat Lusi yang tinggal di Canggu ini semakin yakin bahwa anaknya mendapatkan pendidikan yang tepat dan kelak tumbuh menjadi pribadi mandiri, berkarakter dan mampu bersaing. Lusi bertekad akan meneruskan pendidikan anaknya di Sekolah CIS Bali hingga lanjutan (SMP, SMA).
“Saya yakin ke depannya CIS Bali akan bertambah bagus. Jadi tidak perlu pindah atau cari sekolah lain. Anak saya akan terus bersekolah hingga tingkat lanjutan di CIS Bali,” tekad wanita asal Surabaya ini. Tak hanya Lusi, Putu Mahardika, ayah dari siswi kembar Ayu Ratih dan Ayu Intan (TK A) juga berkesan yang sama. Meski hanya seorang penjahit, Putu tak main-main memilih sekolah demi pendidikan berkualitas anak-anaknya. Menurutnya, selain lokasi sekolah dekat dengan tempat tinggalnya, CIS Bali punya pola pengajaran yang teratur dan disiplin. “Saya tahu pendiri sekolah ini Bapak Putu Parwata dan Ibu Ayu yang dekat dengan masyarakat Dalung dan punya komitmen memajukan dunia pendidikan. Bagi saya pendidikan sangat penting bagi masa depan anak-anak saya,” jelas lelaki yang tinggal di
Drs. I Ketut Widia Astika
Drs. I Putu Parwata MK., M.M.
bagus dari para guru CIS Bali menurut Ms. Ria dan Ms. Yuni (guru TK A dan TK B) merupakan sikap yang harus dimiliki semua guru.Mengingat, para siswa PG dan TK khususnya adalah anak-anak yang masih sangat membutuhkan bimbingan untuk bisa menyesuaikan diri, bersosialisasi dan saat menerima materi pelajaran. “Proses pengajarannya masih bersifat pengenalan. Kita memberikan bimbingan lewat bernyanyi, menggambar, mewarnai dan berhitung. Materi pelajaran sama dengan TK umumnya. Bahasa Inggris kita berikan lewat komunikasi (bilingual) yang ringan dan mudah dimengerti. Target sekolah, TK A bersifat pengenalan, TK B sudah bisa membaca, dan lulus TK sudah siap menerima pelajaran SD,” jelas Ms. Ria.
cerdas, berkarakter sekaligus sanggup bersaing dan unggul di berbagai bidang. Sekolah CIS Bali menjadi salah satu contoh,” kata Widia Astika.
JADI TUNTUTAN Sementara itu, Kadisdikpora Badung Drs. I Ketut Widia Astika, Perum Dalung Pemai ini. Beda dengan Lusi dan Putu M.M. meminta sekolah swasta Mahardika, wanita asal Yogya- dengan pendidikan berstandar karta bernama Anastasia Binatri, nasional plus ini, untuk selalu memindahkan sekolah anaknya menyesuaikan materi dan kurikudari sebuah sekolah swasta cu- lumnya sesuai tuntutan kemajuan kup ternama di Kuta ke CIS Bali. zaman. Kualitas sekolah sudah Alasannya, CIS Bali yang terbaik. menjadi tuntutan masyarakat “Saya sudah keliling mencari saat ini. Para orangtua akan sekolah yang pas buat anak saya berusaha mencari sekolah terdan ternyata CIS Bali yang ter- baik bagi anak-anaknya. Sekolah baik. Biayanya pun tidak terlalu negeri tidak lagi menjadi priorimahal jika dilihat dari fasilitas dan tas, tetapi sekolah swasta yang gedung sekolah yang megah,” mampu menjaga kualitas, itulah yang dicari. “Pengelola sekolah tutur Anastasia. swasta harus paham apa tuntutan masyarakat saat ini yakni sekolah BIMBINGAN yang bisa membuat anak-anaknya DAN PENGENALAN Pendekatan personal yang tumbuh menjadi pribadi mandiri, Putu Mahardika
Siswa SD belajar
SAMPAI 31 JUNI Sekolah CIS Bali berlokasi di Perum Dalung Permai, Jln. Bhineka Nusa Kangin1-X Dalung, Kuta Utara, Badung, Bali. CIS Bali adalah sekolah terintegrasi yang terdiri PG (Play Group), TK (A dan B), SD, SMP dan SMA serta Program Diploma (D1 dan D2) Pariwisata. CIS Bali adalah sekolah bilingual yang tetap mengedepankan kearifan lokal. Tahun ajaran baru 20142015, Sekolah CIS Bali menerima pendaftaran siswa baru. Pendaftaran dimulai 1 Januari 2014-31 Juni 2014. Mendaftar pada Januari 2014 mendapatkan potongan biaya 25%, Februari 20%, Maret 15%, April 10% dan Mei 5% dari uang pembangunan dan SPP 1 bulan.
Taman yang asri
Anastasia Binantri
5 - 11 Mei 2014
24
“Kisah dar i Ha ti Ko e s Plu s ”
Masuk Penjara demi Misi Negara Suasana meriah penuh nostalgia mewarnai acara peluncuran buku ‘Kisah dari Hati Koes Plus’ yang ditulis Ais Suhana, di Rolling Stone Café, Ampera Raya, Jakarta Selatan. Selain menggelar bedah buku yang dipandu pengamat musik Indonesia, Bens Leo, acara peluncuran buku Koes Plus ini juga dmeriahkan dengan pertunjukkan musik band Junior pimpinan Rico, anak alm Murry, drummer Koes Plus yang wafat Februari 2014 lalu, juga Koes Plus Pembaruan dan God Bless.
Y
on Koeswoyo, rhythm guitar sekaligus vokalis Koes Plus baru datang ketika hari lewat siang. Meski usianya hampir 74 tahun pada September mendatang, namun Yon tampak sehat dan enerjik, apalagi ketika ia tampil bersama Koes Plus Pembaruan menggoyang penonton dengan tembang-tembang hits band legendaries itu. Di antara personil Koes Plus/ Bersaudara, memang hanya Yon yang masih aktif hingga kini. Usia agaknya tak menghalanginya untuk tetap aktif keliling daerah untuk manggung. Dalam satu bulan, rata-rata 3-4 kali Yon dan grup band formasi barunya mendapat undangan manggung. Yon mendirikan formasi barunya dengan nama Koes Plus Pembaruan 2004, dan hanya Yon satu-satunya personil asli Koes Plus yang memperkuat band ini. Sedang tiga lainnya rekrutan baru; Danang, Sonny dan Seno, yang sebelumnya memang sangat suka menanyikan lagu-lagu Koes Plus. Sementara Yok Koeswoyo (64), meski sesekali masih tampil jika ada event-event nostalgia Koes Plus, namun tidak bergabung dalam formasi baru bentukan Yon karena memiliki kesibukan sendiri. Acara peluncuran buku menjadi makin meriah ketika God Bless yang saat itu kebetulan hadir dengan for-
1980-an hadir. Mereka datang selain memberi apresiasi atas eksistensi Koes Plus di jagat musik Indonesia, juga menjadikan acara tersebut sebagai tempat anjangsana, karena di hari-hari biasa mereka amat jarang bertemu satu sama lain. Suasana menjadi panas ketika God Bless naik panggung dan menyanyikan tembang-temang hitsnya. Penonton pun agak histeris kesenangan karena mereka pun menyukai tembang-tembang God Bless, sebut saja; Rumah Kita, Semut Hitam, dan Panggung Sandiwara. Ahmad Albar, vokalis God Bless yang Juli mendatang berusia 68
Koes Plus Dalam Kenangan
masi hampir lengkap, didaulat naik panggung oleh para hadirin. Tak pelak, Ahmad Albar, Ian Antono, Donny Fattah dan Abadi Soesman, bahkan Teddy Sujaya, mantan drummer God Bless, akhirnya naik panggung setelah penonton terus-menerus meneriakkan nama mereka. Cuaca di luar sebenarnya kurang mendukung, sejak siang terusmenerus hujan. Namun, para undangan yang memadati Rolling Stone Café , seolah tak peduli. Mereka tetap bergoyang dengan tembang-tembang nostalgia yang disajikan. Banyak musisi yang ngetop di era 1970 sampai
tahun, pun tetap energik berjingkrakjingkrak di panggung. “Masyarakat sangat mengapresiasi Koes Plus, itu pasti. Yah, siapa lagi yang menaruh perhatian pada musisimusisi kita kalau bukan masyarakat kita sendiri. Saya sendiri mengenal Koes Plus sejak tahun 60-an, cukup kenal baik meski secara music, genre kami berbeda,” ungkap Ahmad Albar yang didampingi Ian Antono. Satu hal yang ia harapkan adalah bersatunya keluarga Koeswoyo. “Yang paling saya harapkan, sebetul nya, keluarga mereka bisa bersatu kembali. Hanya Yon yang masih
Foto bersama seusai menerima penghargaan
Bedah buku Koes Plus karya Ais Suhana bersama Ahmad Albar, Ishadi sk, dan Bens Leo
eksis, sedang Nomo dan Yok sudah tidak aktif. Lebih bagus kalau mereka kumpul lagi, itu harapan saya. Supaya solid,” ungkap Iyek, sapaan akrab Ahmad Albar. GANG KOES PLUS DI SEMARANG Sejak berdirinya di era The Beatles tahun 1969, Koes Plus tetap digandrungi pencinta musik Tanah Air. Sebelum membangun Koes Plus, Tonny, Yon dan Yok tergabung dalam Koes Bersaudara bersama Nomo dan John yang memulai debutnya pada tahun 1960. Namun John dan Nomo mengundurkan diri sehingga tinggal Tonny, Yon dan Yok yang kemudian mengubah nama band tersebut menjadi Koes Plus karena masuknya personil baru yang bukan anggota keluarga Koeswoyo, yakni Murry (drummer). Grup musik yang terkenal pada dasawarsa 1970-an ini dianggap sebagai tonggak industri musik Indonesia, sebagai pelopor musik pop dan rock ‘n roll. Ratusan lagu karya mereka menjadi hits dan dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Bahkan setelah mereka tidak terlalu aktif pun lagu-lagunya tetap berkumandang. Para fans fanatik yang berada di berbagai daerah di Indonesia kemudian membentuk fans club sendiri-sendiri. Sungguh luar biasa. Ais Suhana bercerita, saking gandrung masyarakat pada lagu-lagu Koes Plus, sampai-sampai ada jalan bernama “Gang Koes Plus” di Semarang, Jawa Tengah. Konon, di sana masyarakatnya penggemar berat Koes Plus dan setiap 17-an (perayaan Hari Kemerdekaan) warga menggelar “koesplusan” atau acara menyanyikan lagu-lagu Koes Bersaudara dan Koes Plus. Koes Plus memang luar biasa. Banyak lagunya yang kemudian diaransemen ulang dan dinyanyikan kembali oleh para penyanyi atau grup band terkenal Tanah Air. Sebut saja alm Chrisye yang memopulerkan kembali lagu ‘Cintamu T’lah Berlalu’, atau ‘Manis dan Sayang’ yang di bawakan oleh Kahitna, Lex’s Trio pun melakukan hal yang sama. Atau, Ruth Sahanaya yang kembali mengangkat lagu ‘Kisah Sedih di Hari Minggu’. Band ini sempat tenggelam ketika Tonny Koeswoyo wafat tahun 1987. Koes Plus menghilang bak ditelan bumi. Beruntung, Ais Suhana, pemerhati dan promotor musik, berjuang membangkitkan kembali kejayaan band legendaris ini pada 1993, de ngan formasi Yon, Yok, Murry dan Abadi Soesman. Tapi formasi ini hanya bertahan dua tahun saja, setelah itu Koes Plus pun kerap berganti-ganti personil. Yok sendiri sejak lama tidak lagi aktif, hanya tersisa Yon dan Murry, yang kemudian mengundurkan diri. “Koes Plus adalah aset nasional,” tegas Abadi Soesman, pemain gitar dan keyboard Koes Plus pada 1992-
93. Abadi Soesman bertutur me ngenang saat ia bergabung dengan Koes Plus. Ketika itu, katanya, bandband asing dengan mudah masuk ke Indonesia. Lalu dia pun mendatangi Yon, Yok, untuk membangkitkan Koes Plus lagi. Sambutan mereka positif. Hanya saja, untuk mengajak Yok, perlu usaha keras. “Sampai-sampai saya harus ne menin dia seharian mancing. ‘Aku main band dari zaman Jepang apa nggak blenek (mual),” kenangnya mengutip ucapan Yok saat itu, sambil tertawa. DIJEBLOSKAN KE PENJARA Buku ‘Kisah dari Hati’ Koes Plus yang ditulis Ais Suhana, merupakan catatan sang penulis tentang pertemanannya selama 44 tahun lebih (1969 akhir hingga awal 2014) bersama Koes Plus. Banyak cerita menarik yang belum diketahui publik, diungkap Ais. Salah satunya adalah pengalaman ketika personil Koes Plus yang ketika itu masih bernama Koes Bersaudara, dijeblos kan ke Penjara Glodok pada tahun 1965 oleh pemerintah Orde Lama lantaran musik ‘ngak-ngik-ngok’ yang mereka mainkan. Berita penahanan Koes Bersaudara ini juga muncul pada media terkemuka Inggris, The Observer dan The Guardian terbitan 19 November 2000. Di sana disebutkan, “Tahun 1965 grup band Koes Bersaudara ditahan karena memainkan lagu-lagu Beatles.” Tonny, tutur Ais mengutip ucapan Yok, sempat kecewa dengan kejadi an tersebut dan melampiaskannya dalam album To The So Called The Guilties yang mengisahkan pengalaman mereka di penjara. Belakangan personil Koes Plus baru tahu latar belakang mereka dijebloskan ke penjara yang konon berkaitan dengan rencana menjalankan misi rahasia ke Malaysia yang dulunya bernama Malaya. “Waktu itu kita kurang sreg dengan berdirinya Malaysia yang sebelumnya bernama Malaya,” tutur Yok sebagaimana ditulis Ais dalam buku ‘Kisah dari Hati Koes Plus’. Jadi, jika tidak terjadi peristiwa G30 S PKI 1965, kemungkinan Koes Bersaudara bakal dikirim ke Malaysia untuk melaksanakan misi rahasia negara. Waktu itu dalam pidato perayaan HUT GMNI 1965, Bung Karno dalam pidatonye menyatakan,”Djangan seperti kawan-kawanmu Kus Bersaudara. Masih banyak lagu Indonesia, kenapa mesti Elvis-Elvisan, ber-ngakngik-ngok…,” tutur Djon Koeswoyo. Koes Bersaudara ternyata sengaja dimasukan ke penjara untuk memberi kesan bahwa grup tersebut tidak disukai pemerintah sehingga jika mereka dikirim ke Malaysia untuk manggung, tidak ada kecurigaan. –Diana Runtu