31 Maret - 6 April 2014
24
Jangan Jatuh dan Tertimpa Tangga Tahun 2009 lalu, seusai Pemilu, pemberitaan dihebohkan dengan banyaknya calon anggota legislatif yang stres dan depresi karena gagal meraih kursi wakil rakyat yang terhormat. Bukan sekadar stres dan depresi, banyak juga yang menjadi gila, meninggal karena serangan jantung atau bahkan bunuh diri.
P
enyebab utama dari stres, depresi bahkan gila dan bunuh diri itu, bukan sematamata karena malu gagal menjadi wakil rakyat, tapi karena biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh tempat terhormat itu luar biasa besar itu, hilang tak kembali. Padahal untuk mendapatkan dana kampanye sebesar itu, seorang caleg telah mengeluarkan segala kemampuannya mulai menjual atau menggadaikan barang berharga miliknya hingga berutang kemana-mana. Tak heran kalau kemudian para caleg gagal ini, stress atau depresi ketika harapannya musnah. Kisahkisah caleg gagal jatuh bangkrut alias miskin mendadak, tentu sudah banyak kita dengar. Membayangkan tagihan utang yang menggunung, membuat mereka down dan akhirnya mendekam di rumah sakit jiwa. Bahkan ada yang bunuh diri karena tak kuat menanggung hutang yang harus dibayar. Ibaratnya, sudah jatuh tertimpa tangga. Data Kementerian Kesehat an menyebutkan, paskapemilu 2009, sebanyak 7.376 caleg yang gagal terkena gangguan jiwa alias gila, yang terbanyak adalah caleg tingkat kabupaten/kota. Sebanyak 182.876 caleg berpotensi mengalami gangguan jiwa ringan. Sedang beberapa caleg lainnya dilaporkan bunuh diri. Diperkirakan, jumlah caleg stres dan depresi pada Pemilu 2014 ini akan meningkat sekitar 20%-30% dari sebelumnya. Hal ini diamini oleh Siti Zuhro, peneliti
Hamdi Muluk
dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. “Ini karena mahalnya biaya kampanye dan ketatnya pertarungan di dapil, membuat para caleg yang gagal mengalami stres. Mereka yang kalah pasti stres berat. Mereka tidak bisa menyalahkan siapa-siapa, sementara sudah habis-habisan. Itu sebabnya muncul fenomena caleg stres bahkan sampai bunuh diri,” ujar pengamat politik berambut pendek ini, di Senayan, Jakarta. Menurut Hamdi Muluk, Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, fenomena maraknya caleg stres karena mereka tidak siap mental dan tidak mengkur kemampuan diri. Sosialisasi kampanye yang menghabiskan dana besar dan tekanan sosial menjadi penyebab utamanya. Tujuan mereka menjadi anggota legislatif adalah karena gaji besar dan menguntungkan dari sisi pendapatan.
Sehingga rela mengeluarkan uang ratusan juta bahkan miliaran untuk membiayai kampanyenya. Mereka berpikir uang yang dikeluarkan selama masa kampanye akan bisa kembali setelah menjabat. Mereka yang berpikir demikian, memiliki potensi mengalami gangguan jiwa, ketika gagal. “Kalau nggak siap mental dan risikonya, ya, stres,” ucapnya. Fenomena 2009 yang tak terduga membuat sejumlah rumah sakit mempersiapkan diri untuk menghadapi paskapemilu 2014. Hal ini sejalan dengan imbauan Menteri Sosial Salim Segaf Al-Jufri yang meminta agar rumah sakit menyediakan tempat khusus untuk merawat caleg yang stres paskapemilu 2014. “Jumlah orang stres di Indonesia setiap tahunnya bertambah. Kami juga memprediksi jumlah caleg stres usai pemilu akan cukup banyak khususnya mereka yang kalah. Karena itu kami sudah berkoordinasi dengan pemerintah daerah maupun rumah sakit agar menyediakan tempat khusus untuk caleg yang stres,” katanya. TARIF RP 75-250 RIBU Di Jakarta sendiri, setidaknya ada dua rumah sakit jiwa yang telah siap menampung calegcaleg stres, yakni, Rumah Sakit Jiwa Soeharto Heerdjan, Grogol Jakarta, dan, Rumah Sakit Khusus Duren Sawit, yakni rumah sakit pelayanan jiwa dan narkoba. RSJ Soeharto Heerdjan yang terletak di Jl Prof Latumenten No 1 Grogol Jakarta Barat, menjadi tempat para caleg menjalani tes kesehatan jiwa sebagai syarat ikut pemilu, telah menyediakan sejumlah ruang
RSJ Soeharto Heerdjan
rawat inap dengan biaya bervariasi dari Rp 75.000 hingga Rp 250.000 per-malam. Menurut Direktur Medik dan Keperawatan RSJ Soeharto Heerdjan, M Reza Sjah, sebenarnya rumah sakitnya tidak secara khusus menyiapkan ruangan untuk caleg-caleg stres. Namun, melihat fenomena paskapemilu 2009, rumah sakitnya juga mengantisipasi hal tersebut. Dia sendiri tidak mengetahui persis apakah tahun 2009 lalu, ada caleg gagal yang mengalami gangguan jiwa masuk rumah sakitnya atau tidak karena dalam biodata pasien tidak tertulis pekerjaan sebagai caleg. “Mungkin ada, namun data semacam itu dirahasiakan oleh dokter. Lagipula kalau berdasarkan formulir yang diisi pasien, tidak ada yang menyebut pekerjaan caleg,” jelasnya. Bisa jadi juga, data tersebut tidak disampaikan, karena rasa malu berobat ke rumah sakit jiwa. “Penilaian masyarakat, kalau berobat ke rumah sakit jiwa, negatif. Karena ini adalah rumah sakit khusus. Kalau rumah sakit lain, kan, tidak ketahuan karena gabung dengan pasien lain,” tambahnya. Menurutnya, caleg yang menjalani perawatan di rumah sakit jiwa, umumnya dikarenakan terjadinya gangguan psikosomatis. Gangguan yang disebabkan faktor psikis ini merupakan gangguan gangguan kesehatan yang sering dialami karena seseorang stres. Gangguan psikosomatik terjadi akibat adanya gangguan
Diperkirakan, jumlah caleg stres dan depresi pada Pemilu 2014 ini akan meningkat sekitar 20%-30% dari sebelumnya.
Ruang rawat inap RSJ Soeharto Heerdjan
keseimbangan saraf otonom, sistim-hormonal tubuh, gangguan organ-organ tubuh serta sistem pertahanan tubuh. Berbagai kelainan organ yang terjadi dapat dihubungkan dengan faktor-faktor yang menyebabkan kelainan organ tersebut. Berbagai keluhan yang dapat timbul saat seseorang mengalami stress antara lain sakit kepala, pusing melayang, tangan gemetar, sakit leher, nyeri punggung dan otot terasa kaku, banyak keringat terutama pada ujung-ujung jari tangan dan kaki, selain itu ujung-ujung jari tangan dan kaki terasa dingin, gatal-gatal pada kulit tanpa sebab yang jelas. Mereka juga bisa mengalami nyeri dada, nyeri ulu hati, mual, perut kembung dan begah serta diare. Gangguan yang terjadi akibat stres bisa multi organ. Proses penyembuhannya bisa dengan meminum obat psikofarma dan konseling hingga sembuh. Sedang jangka waktu penyembuhan, tergantung pada berat ringannya gangguan. “Jika ringan, hanya sekitar dua mingguan. Tapi bila berat, bisa sampai berbulanbulan,” ujarnya. Tapi, tidak semua orang yang terkena depresi harus mendekam di rumah sakit jiwa. Jika yang bersangkutan memiliki kemampuan untuk mengatasi masalah maka tak akan sampai kena gangguan jiwa. “Tidak perlu dirawat,” ucapnya. Sebenarnya, lanjut Reza, setiap caleg yang akan berlaga dalam pemilu telah diperiksa kesehatan jiwanya di rumah sakit. Ini adalah salah satu persyaratan yang harus dimiliki caleg. Untuk mendapatkan surat tersebut, caleg benar-benar harus menjalani serangkaian tes, baik tertulis maupun wawancara. Materi tes tersebut khusus dirancang oleh psikolog untuk melihat dan menilai kepasitas mental seseorang. Pertanyaan cenderung berulang-ulang untuk melihat konsistensi jawabannya. “Jadi akan terlihat kalau seseorang itu berbohong atau tidak dari jawabanjawabannya. Dari tes juga akan terlihat apakah dia rentan terhadap stress, depresi, dll,” ujarnya. Jadi nantinya, dalam surat keterangan sehat jiwa tersebut, akan terlihat kondisi kejiwaan caleg yang bersangkutan, misalnya, apakah rentan stres, depresi, dll. “Hasil tes akan menjelaskan kondisi kejiwaan seseorang. Nah, soal memutuskan apakah seorang jadi caleg atau tidak, tetap saja parpol yang ber sangkutan,” tuturnya. –Diana Runtu
EKSPRESSO
2
31 Maret - 6 April 2014
GORO-GORO
klik: www.tokoh.co.id
Sampah Berkurang Kita Untung
Sampah memang tak terelakkan dalam kehidupan kita. Kita mungkin tak sadar berapa banyak sampah yang kita produksi tiap hari di rumah. Coba kita runut dari dapur. Tiap hari, dapur kita menjadi sumber sampah. Membuat tumis kangkung, ada tangkai kangkung yang terbuang. Sampah dari bumbunya, ada kulit bawang putih, kulit bawang merah, tangkai cabai. Masak ikan goreng, ada insang ikan yang harus dibuang. Sisiknya juga. Kita pakai penyedap masakan, ada plastiknya. Beli garam, ada plastiknya juga. Tiap hari, kita bikin kopi dan teh. Kalau pakai kopi bubuk kiloan, sampah plastiknya hanya sekali dalam satu atau dua minggu. Kalau kopi sachet? Tiap buat, kita memproduksi sampah kopi.
O
M G
Sampah teh, tiap kali buat. Ada kantung teh yang harus dibuang. Begitu juga gula. Kalau pakai gula dalam sachet, sampahnya sesuai jumlah pembuatan. Itu baru di dapur. Di kamar mandi, ada sampah dari bungkus sabun, botol shampoo, tube pembersih wajah, wadah masker. Di ruang belakang, ada sampah dari bungkus deterjen, sabun cuci perabotan, pewangi pakaian. Wah, banyak sekali. Itu baru tiga ruangan. Belum semua. Berapa banyak sampah yang kita produksi tiap hari? Di Denpasar, rata-rata orang memproduksi sampah 0,8 liter per hari. Jika satu rumah terdiri atas lima orang, berarti mereka memproduksi empat liter sampah per hari. Dalam sebulan, satu rumah memproduksi 120 liter sampah. Bukan angka yang kecil bukan? Pertanyaannya sekarang, seberapa banyak di antara kita yang memilah sampah itu?
Telapak Tangan Monster
Aku ingin cerita bahwa aku pernah mengalami penyakit yang sangat mengerikan dan membuat hidupku menjadi tidak bergairah. Aku memiliki hobi menulis buku harian, tentunya membutuhkan jari tangan yang normal agar tulisanku terlihat indah. Namun kenyataannya, hal itu tidak dapat aku lakukan dengan sempurna. Awalnya aku merasakan gatalgatal di tangan, seperti gelembunggelembung berair gitu…di jari kelingking tangan kanan. Kubiarkan saja, toh dari kecil aku sudah sering kok mengalami gelembung-gelembung semacam itu dan sembuh sendiri tanpa dikasih obat apa pun. Aku mengalami itu ketika aku sedang menyelesaikan UTS di bangku kuliah. Kupikir, ah, mungkin karena perubahan hormon. Tapi ternyata gelembung-gelembung tersebut menjalar ke jari manis tangan kanan sampai kemudian baruku sadari sudah sampai ibu jari tangan kanan dan itu berlangsung hingga berminggu-minggu. Berikutnya ke tangan kiri..wah parah. Gatal, sakit luar biasa, dan stres kurasakan. Bukan apa-apa, aku sampai tidak bisa meluruskan jari jemariku saat itu. Timbul pula luka-luka di tanganku hingga aku geli pada telapak tanganku sendiri. Barulah saat itu kusadar, aku harus ke dokter. Ketika akhirnya aku mengunjungi dokter umum, dokter mengatakan tanganku kena jamur.
mingguan berita wanita Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998
Ya Tuhan. Dan aku pun disuntik dan diberi obat racikan. Ternyata obatnya tidak ampuh. Seminggu kemudian aku pun mengunjungi dokter lagi, kali ini dokter spesialis kulit. Setibanya aku di sana, Aku terkejut, ya Tuhan, antriannya banyak banget. Aku pun bergegas mengambil nomor antrian. Dengan penuh rasa kesabaran aku menunggu giliran, rasa gatal yang tidak bisa aku tahan membuatku mondar-mandir tidak jelas di depan banyak orang. Masa bodoh. Nah, waktunya telah tiba kini giliranku untuk di periksa. Diagnosanya ternyata berbeda dengan dokter sebelumnya. Dokter spesialis kulit mengatakan, aku terkena alergi kulit akibat sentuhan dengan sesuatu yang menyebabkan alergi. Aku ditanya, “Suka mencuci pakai deterjen ya?”. Lantas kujawab, iya, sambil menyebutkan salah satu merek deterjen. Dan kata dokter tadi, “Tandanya Adik alergi dengan deterjen tersebut, jangan dipakai lagi ya.” Aku berjanji tidak akan memakainya lagi, kecuali kepepet. Dan ketika menggunakannya harus pakai sarung tangan. Aku pun dikasih obat,
dioles-oles. Obat itu ampuh untuk beberapa lama, namun alergi itu tidak hilang samasekali, masih ada sisa-sisa kasar di telapak tangan. Aku pun balik lagi ke dokter, dicek lagi, bagaimana perkembangan alergi telapak tanganku. Ternyata menurut dokter sudah lebih baik. “Tinggal diolesin vaselin,” katanya. Jangan dipikir merek vaselin, tapi vaselin yang dibeli di apotik berupa bahan dasar campuran untuk obat kulit atau untuk hand and body lotion. Dan dengan vaselin itu tanganku berangsur sembuh, tak kasar lagi, tidak seperti monster lagi, tidak dibilang lagi sama teman-temanku yang jahil, “Tangan Sri cantik, tapi kasar kayak tangan monster hehehehe.” Aku pun tetap ingat dengan saran dokter agar aku menghindari deterjen dan sabun colek yang memang keras untuk kulit yang alergi terhadap bersentuhan dengan zat-zat di deterjen dan sabun colek tersebut. Hal itu berlangsung sampai saat ini. Ah, lega rasanya punya telapak tangan normal kembali. Ni Luh Sri Eka Tarmini Singaraja
Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. Panjang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan no kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373
I N F O TO R I A L
Mendengar banyak caleg sudah mempergunakan dukun, Bu Amat bertanya. Apakah dibenarkan dukun sebagai alat untuk mencapai kedudukan wakil rakyat? “Kalau untuk kepentingan pribadi, ya terserah. Itu pun asal tidak dipakai untuk mencelakakan atau mengganggu orang lain,” jawab Amat. “Tapi kalau dipakai untuk sesuatu yang sifatnya menyangkut kepentingan rakyat, harusnya dilarang!” “Harusnya? Jadi sebelum dilarang, boleh?” “Ya, begitulah. Nyatanya, seperti yang disiarkan di TV itu, segala macam cara sudah dipergunakan. Termasuk dukun.” “Makanya! Kenapa tidak dilarang? Masak wakil-wakil rakyat main dukun-dukunan? Kita kan negeri yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa? Berarti itu melanggar Pancasila, Pak! Kalau percaya dukun kan artinya sudan ingkar pada Ketuhanan YME?” Amat membenarkan. Tapi setelah berpikir ia menggumam sendiri. “Cuma kalau dilarang, itu kan secara tidak langsung, artinya pemerintah sudah mempercayai adanya dukun? Nah itu mungkin yang berkecamuk di kepala yang berwajib. Makanya tidak ada alasan untuk melarang dukun berpraktik.” “Masak tidak ada alasan? Anak tetangga yang begitu sehat tiba-tiba tewas. Setelah diusut ternyata mereka punya musuh. Musuh itulah yang sudah menewaskan putra tunggal tetangga. Ya akhirnya musuhnya itu dihukum.” “O, ya? Bagaimana membuktikan musuh tetangga itu yang sudah melakukan pembunuhan?” “Karena dukunnya mengaku.” “Jadi dia pakai dukun?” “Ya! Ilmu hitam!” Amat mengernyitkan dahinya. “Bagaimana sampai ketahuan, musuh tetangga kita itu sudah pakai dukun?” “Kata dukun tetangga.” Amat terkejut. “Jadi dia juga pakai dukun? Kan profesor?” “Lho, bapak kok heran? Di lingkungan kita ini, semuanya punya dukun. Kita saja yang belum. Sudah sering mereka datang menawari kita dukun. Tarifnya dari ratusan ribu sampai miliaran.” Amat sangat terkejut. Malam itu juga ia bertamu ke beberapa tetangga. Ngecek kebenaran omongan istrinya. Ternyata, bukan hanya tetangga Amat, tukang warung pun punya dukun. Dan yang lebih mengejutkan, ternyata Pak Wayan yang tinggal di rumah paling ujung, bukan hanya punya dukun, tapi juga dukun. Amat jadi penasaran. Esok paginya Amat pagi sebelum sempat ngopi, ia bertamu ke rumah Pak Wayan. “Silakan masuk Pak Amat, sudah saya siapkan kopi pahit. Mari.” Amat kaget. “Lho, Pak Wayan kok tahu saya akan datang?” Pak Wayan senyum. “Feeling saja Pak Amat.” “Dan Bapak kok tahu saya suka kopi pahit?” “Itu juga feeling. Pak Amat mau menanyai apa betul saya paranormal, bukan?” Kembali Amat kaget. “Lho kok tahu?” “Feeling Pak Amat. Kita semua punya feeling. Kalau sering meditasi, feeling kita akan tajam.” Pak Wayan kemudian bercerita panjang lebar. Ia tampak menguasai hal-hal gaib. “Pak Wayan itu memang dukun hebat,” kata Amat kepada istrinya setelah pulang. “Dia sudah tahu Bapak akan datang, dia juga tahu Bapak belum ngopi dan suka kopi pahit. Dia memang dukun hebat.” Bu Amat tersenyum. “Waktu Bapak pergi, saya pinjam telepon di rumah tetangga mengabarkan Bapak datang dan belum sempat minum kopi. Takut nanti Bapak sakit kepala di situ.”
“Menuju Bali Mandiri dan Sejahtera 2020”
Putu Wijaya
Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi: Ratna Hidayati. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Pemimpin Perusahaan: IDK Suwantara. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti, Sagung Inten, Tini Dwi Rahayu. Redaksi/Pemasaran Jakarta: Diana Runtu. NTB: Naniek Dwi Surahmi. Desain Grafis: IDN Alit Budiartha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Sekretariat: Ayu Agustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan Palmerah Barat 21 G Jakarta Pusat 10270–Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram– Telepon (0370) 639543–Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–Faksimile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BCA Cabang Palmerah Barat Jakarta. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 229.3006644 Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.
23
I Made Sundayana, S.Kep.,M.Si.
dukun
mingguantokoh @mingguantokoh
Mulai kini, cobalah memilah sampah dari rumah. Hal ini untuk mengurangi sampah yang keluar dari rumah dan mengurangi tumpukan sampah di tempat pembuangan akhir. Jangan pikirkan kebersihan rumah sendiri, sebab, kalau lingkungan kita kotor, yang rugi kita juga. Bagaimana kalau musim hujan tiba? Sampah di mana-mana bisa menyumbat saluran air, jadi banjir. Kita lagi yang kena. Lalu, bagaimana caranya? Reduce, reuse, recycle. Artinya, kurangi, gunakan kembali, dan daur ulang. Perhatikan susunan sampah di rumah kita. Sampah organik bisa kita olah se bagai bahan kompos. Ada kok cara sederhana membuat kompos dari bahan yang ada di rumah. Cukup buat lubang biopori, sekatkan dinding tanah dengan kayu atau pipa paralon, dan siapkan tutup di atasnya agar tidak terkena air hujan. Masukkan sampah organik yang kita produksi setiap hari seperti sobekan kertas yang tidak berwarna, kulit telur, daun, rumput, ranting pohon, kantung teh, bubuk kopi, dan buah busuk ke dalam biopori tersebut. Biarkan beberapa waktu. Mikro organisme akan menghancurkannya dan sampah organik itu akan menjadi kompos yang bisa kita gunakan untuk menyuburkan tanaman. Masukkan ke polibag dan tanamlah bumbu-bumbu yang diperlukan dalam membuat masakan seperti cabai, tomat, jahe, kencur. Dengan begitu, sampah berkurang, kita untung.
31 Maret - 6 April 2014
yang mendalam. Kondisi ini diperkuat dengan jumlah penduduk miskin yang masih relatif tinggi yakni mencapai angka 168.78 ribu orang. “Karena itu, perlu diperjuangkan otonomi yang lebih luas untuk mengentask an kemiskinan melalui pembangunan ekonomi dalam wadah NKRI,” terangnya memberi solusi. Tak hanya aspek ekonomi yang menciptakan ketimpangan itu, aspek sumber daya manusia (SDM) dalam persaingan memperebutkan posisi strategis di dunia kerja, SDM Bali seringkali terpinggirkan justru di tanah kelahirannya sendiri. Sektor pariwisata yang merupakan tiang penyangga perekonomian Bali misalnya, kepemilikan hotel-hotel berbintang dan sarana akomodasi kepariwisataan lainnya yang didominasi oleh kaum-kaum berduit dari luar, makin menambah kesenjang an itu. “Sangatlah perlu meningkatkan kompetensi SDM Bali terutama dalam menyongsong AFTA 2015, karena SDM di Bali menghadapi dua tantangan sekaligus yaitu persaingan internal dan eksternal,” ungkap pria yang dikenal tegas ini.
Profil calon legislatif yang satu ini lebih populer di kalangan pendidik khususnya di Kabupaten Buleleng. Kiprah pria yang lahir di Cipanas, 1 September 1969 ini terkenal gigih memperjuangkan aspirasi masyarakatnya. Ini tak lepas dari character building yang didapatnya selama puluhan tahun membela negeri ini sebagai seorang marinir. Saat ini I Made Sundayana adalah seorang perawat yang telah menempuh pendidikan profesi.
M
eski calon doktor (S3) yang sedang menimba ilmu di Universitas Negeri Jakarta itu tak lagi mengangkat senjata secara langsung, namun kegigihannya membela kepentingan masyarakat tak pernah surut, sebaliknya makin menggelora. Visi misinya membangun masyarakat menuju masyarakat Bali Mandiri dan Sejahtera di 2020, sangat relevan dengan kondisi masyarakat Bali saat ini yang boleh dikatakan masih jauh dari sejahtera. Untuk mewujudkan harapannya itu, putra pasangan Serka Purn. I Made Wirsa (Alm.) dan Ni Ketut Dari ini membulatkan tekadnya maju menjadi calon anggota DPD RI periode 2014-2019 Dapil Provinsi Bali Nomor 25. Pejuang aspirasi rakyat yang berasal dari Desa Kubutambahan, Kabupaten Buleleng ini memproklamirkan diri menjadi figur yang layak dipilih masyarakat Bali. Made Sundayana adalah tokoh masyarakat dan tokoh pendidikan.
Jabatannya sebagai Ketua Stikes Majapahit Singaraja cukup strategis dalam memperjuangkan berbagai permasalahan yang ada di masyarakat. Figurnya dinilai sangat paham terhadap permasalahan pendidikan dan kesehatan masyarakat. “Saya mencalonkan diri sebagai anggota DPD RI karena banyaknya dukungan masyarakat khususnya Buleleng. Saya diharapkan untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat di bidang pendidikan dan kesehatan karena masalah inilah yang paling utama untuk dibenahi,” tuturnya. Sebagai tenaga pendidik, Made Sundayana melihat bahwa ketimpangan yang terjadi di masyarakat Bali saat ini cukup jauh. Dari aspek ekonomi misalnya, Bali yang diprediksi tumbuh mencapai 6,7% hingga triwulan IV/2012, dinilai keluar dari tujuannya menyejahterakan masyarakat. Pasalnya, pencapaian ekonomi yang didorong sektor perdagangan, hotel dan restoran ini justru mencatatkan ketimpangan
DAYA SAING LEMAH Menurut Made Sundayana yang mengutip laporan Badan Pusat Statistik dan Bappeda Provinsi Bali 2012, bahwa indeks pembangunan semakin baik yaitu 72,84% pada tahun 2011 meningkat dari periode sebelumnya yang mencapai 72,28%. Analisis daya saing dan strategi pembangunan untuk 33 provinsi di Indonesia, Bali menempati peringkat sembilan. Namun, jika dilihat dari 20% indikator terlemah dalam daya saing, Bali justru bermasalah pada aspek tenaga kerjanya. “Karena itu perlu ditekankan agar Bali membangun SDM yang cerdas dan berkarakter. Di samping itu, Bali harus memantapkan potensi pasar domestik, baik tenaga kerja maupun produk yang berbasiskan kreativitas dan budaya unggul serta berbagai kearifan lokal. Yang perlu diperhatikan yaitu hubungan tenaga kerja, produktivitas tenaga kerja, kapasitas SDM dan pertumbuhan penduduk. Perlu dikembangkan pendidikan karakter, kreativitas berdasarkan kearifan lokal,” sambungnya. INGIN BANGUN PUSKESMAS Di bidang kesehatan, Made Sundayana bertekad mengoptimalkan keberadaan pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) yang berfungsi sebagai tempat pelayanan kesehatan dasar atau primer. Mengingat fungsinya sebagai tempat pelayanan kesehatan pertama bagi masyarakat, pemerintah semestinya secara intensif memperkuat peran Puskesmas agar sebagian besar masalah kesehatan masyarakat bisa ditangani. “Layanan primer yang mengedepankan prinsip pencegahan yang diutamakan, bukan kuratif/mengobati penderita sakit. Namun realitanya di lapangan, keberadaan Puskesmas termasuk di Bali cenderung dinomorduakan, lantaran sebagian kalangan masyarakat menganggap Puskesmas kurang bermutu. Mereka lebih memilih berobat ke Rumah Sakit (RS) milik swasta maupun pemerintah. Perlu didorong untuk mem-
Bersama mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso.
bangun fasilitas pelayanan kesehatan primer di Puskesmas,” terang Made Sundayana yang juga fokus di bidang kesehatan lingkungan ini. DIDUKUNG INSAN KEPERAWATAN Untuk pencalonannya, Made Sundayana mendapat dukungan dari segenap insan keperawatan se-Bali dan berbagai organisasi kesehatan seperti Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Prov. Bali, Persatuan Ahli Radiografer Indonesia (PARI) Bali, Asosiasi Kesehatan Ling-
kungan Indonesia (AKLI) Bali, Perkumpulan Persatuan Elektromedik Indonesia (PPEI) Bali, Persatuan Analis Kesehatan Indonesia (PAKI) Bali, Persatuan Perawat Gigi Indonesia (PPGI) Bali dan Perkumpulan Fisiotherapi Indonesia (PFI) Bali. Dukungan penuh ini tak lepas dari peran Made Sundayana dalam organisasi. Beberapa jabatan yang dipercayakan kepadanya saat ini adalah sebagai Ketua Pengurus Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Buleleng sekaligus Dewan Pertimbangan Pengurus PPNI Provinsi Bali. -ari
Akrab dengan Gubernur Mangku Pastika.
Visi : - Terwujudnya DPD RI sebagai lembaga legislatif yang kuat dan bijaksana, serta efektif dalam memperjuangkan aspirasi rakyat dan daerah Bali menuju masyarakat Bali yang Mandiri dan Sejahtera 2020 dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Misi : 1. Memperjuangkan Otonomi Daerah Bali yang lebih luas berlandaskan Tri Hita Karana (THK) dalam koridor NKRI. 2. Memperjuangkan peningkatan SDM Bali melalui perluasan pendidikan non formal berbasis kecamatan, meningkatkan jumlah Akademi Komunitas di tingkat kecamatan yang disesuaikan dengan kebutuhan, membangun SMK yang disesuaikan dengan potensi wilayah yang ada di kecamatan. 3. Memperjuangkan edukasi melalui penguatan Desa Adat, memfasilitasi pembuatan awig-awig desa pakraman dan melakukan beberapa edukasi berbasiskan Desa Pakraman seperti penyuluhan HIV/AIDS. 4. Optimalisasi penyerapan SDM lokal (Bali), memfasilitasi penyerapan tenaga lokal untuk bidang pariwisata dan bidang kesehatan, memberikan keterampilan dan kompetensi SDM lokal lewat pendidikan dan pelatihan. 5. Memperjuangkan perluasan pendidikan dan pelatihan berkarakter di Bali dengan cara meningkatkan peran lembaga adat untuk pendidikan karakter generasi muda lewat pasraman-pasraman yang ada. 6. Peningkatan kualitas dan kemudahan akses layanan kesehatan primer dengan jalan menggalakkan berdirinya layanan rawat inap di Puskesmas di tiap kecamatan.
W H AT ’ S U P
22
31 maret - 6 april 2014
31 maret - 6 April 2014
Made Herry Erika Sedana
Bangga Kulit Gosong
Komunitas Mbambung Adventure alias Kombad ini merupakan komunitas yang para anggotanya memiliki kesamaan hobi petualangan. Kombad terbentuk November 2013 silam. Dari 15 anggota kini menjadi 35 anggota.
K
omunitas ini lahir dari obrolan santai sekelompok anak muda yang gemar berpetualang di alam bebas seperti Rikimaru, Niko dan Lanang. “Peresmiannya sewaktu kami camping di Danau Buyan,” ucap Niko. Mendaki gunung, salah satu kegiatan komunitas ini. Karena itu, mereka menggunakan kata mbambung, yang dalam Bahasa Jawa berarti gelandangan. Namun, bukan berarti mereka tak punya rumah loh, tapi anak gunung, yang suka tidur beralas tanah dan beratap langit. Para anggota komunitas ini tak sebatas kaum laki-laki karena ada juga wanita yang bergabung. Meski kegiatan komunitas ini identik sangat menantang namun bukan berarti kaum cewek ini kelakilakian. Bahkan sebagian besar memiliki penampilan feminim. “Kami di sini memiliki latar belakang berbeda, ada yang masih kuliah, ada juga yang bekerja,” ucap Niko. Komunitas ini masih cukup baru, sehingga baru beberapa gunung di Bali saja yang sempet mereka jelajahi, seperti Gunung Agung dan Gunung Batur. Tak semua anggota punya pengalaman naik gunung, bahkan sebagian besar sama sekali belum pernah naik gunung. Namun, ada juga dari mereka yang sebelumnya telah menaklukkan beberapa gunung yang berada di Bali, Lombok dan Jawa. Sebelum mulai mendaki,
mereka biasa melakukan serangkaian persiapan. Salah satu hal terpenting yakni melihat kondisi cuaca. “Tak tanggung-tanggung kami meminta bantuan BMKG untuk informasi cuaca. Hal ini sangat penting karena nyawa kami yang akan menjadi taruhan,” ucap Lanang Tunggal Santoso, Ketua Kombad. Jika cuaca bagus, mereka putuskan berangkat. Beberapa peralata n yang mereka bawa seperti alat penerangan berupa senter dan lampu kepala beserta baterai cadangan. Membawa bekal makanan, seperti mie instan, cokelat, madu dan air min-
eral, lengkap dengan nasting dan portable. Makanan yang dibawa juga harus berkalori. Rikimaru menambahkan pendaki sebaiknya memakai se-
patu yang aman buat mendaki, kalau bisa yang tahan air. Jaket pilih dari jenis bahan parasut kare na bersifat antiair, antiangin serta mencegah keluarnya suhu badan. Juga, gunakan slayer, sarung ta ngan, kacamata dan masker untuk menghindari panas dan dingin. Tenda bisa dibawa atau bisa tidak, tergantung kondisi. Jika diantara pendaki ada yang belum berpengalaman naik gunung atau memiliki riwayat penyakit tertentu, sebaiknya tenda harus dibawa. Peralatan lain seperti peralatan sholat, jas hujan dan tisu basah ada di dalam tas tiap orang. “Obat-obatan dan peralatan P3K jangan pernah lupa,” ucap Rikimaru. Sebelum berangkat, mereka membagi dalam beberapa regu. Tiap regu terdiri dari lima orang yang dipimpin satu kepala rombongan. “Melakukan cek jumlah personil sangat penting, karena kondisi tiap orang berbeda,” imbuh Niko. Tiap gunung memiliki tantangan berbeda. Jika medannya sangat susah, bisa diistilahkan jidat ketemu dengkul, mereka harus memanjat. Selain itu, kegiatan mendaki ini mereka kaitkan dengan kampanye sayangi alam. Saat mendaki gunung, para anggota Kombad ini memegang tiga prinsip. Tidak mengambil apapun selain gambar, tidak membunuh apapun selain waktu dan tidak meninggalkan apapun selain jejak. Mereka juga selalu memungut sampah-sampah plastik yang tercecer di hutan. “Karena itu kami selalu berbekal tas kresek. Jika kita baik pada alam, alam pun akan baik pada kita,” ujar Rikimaru. Para anggota Kombad ini seolah mencoba menantang
maut dengan membelah hutan, menyusuri setapak terjal dengan tebing-tebing curam demi sampai ke puncak. Bahkan pernah juga sampai tersesat. Apa sih yang mereka cari? “Kami tentu punya alasan beragam ikut dalam pendakian. Ada yang sekadar penasaran, sebagai obat penghilang stres, mencari ketenangan, ada juga yang demi mencari inspirasi dan menyalurkan hobi fotografi. Yang jelas bagi kami, kegiatan ini bisa memberikan kami kepuasan batin,” kata Rikimaru. Bagi mereka, mendaki gunung ibarat melawan diri sendiri. “Ketika berada dalam situasi lelah, haus, lapar, akan muncul sifat asli tiap orang. Siapa yang egois, cuek, pemarah atau suka menolong akan terlihat. Di sinilah kami saling intropeksi dan menasihati,” imbuhnya. Agar tak sampai tersesat, mereka mengikuti jejak-jejak yang dibuat para pendaki sebelum mereka. Kadang jejak ini kabur sehingga mereka membuat yang baru dengan mengikatkan kain merah pada tumbuhan tertentu. Saat mencapai puncak, menjadi
S E L E B R I TA S
3
Sesuatu yang Mendasar
kisah yang tak terlupakan. “Karena itu, kami selalu mengabadikan moment itu dalam sebuah foto ataupun video. Saat berada di puncak, kami bisa menikmati pesona matahari terbit. Jika cuaca sedang bagus, dari puncak Gunung Batur kami bisa melihat Gunung Abang, Gunung Agung dan Rinjani,” ujar Lanang. Namun, mereka tak bisa berlama-lama berada di titik tertinggi, Paling lama satu jam, karena takut ada kabut dan terkena sun burn (kulit terbakar). Meski cuaca di puncak tak terasa panas, namun para pendaki perlu waspada, sebab rasa panas pada kulit yang terbakar baru terasa saat berada di bawah. “Tapi bagi saya gosong sebuah kebanggaan,” ucap Rikimaru. Tak hanya naik gunung, kegiatan positif lain yang pernah mereka lakukan seperti futsal, pengajian serta menggelar acara baksos. “Beberapa waktu lalu kami melakukan kunjungan ke Pondok Pesantren Attaqwim, Karangasem. Selain memberi bantuan, kami juga berbagi pengalaman tentang alam dengan para penghuni pondok,” ujar Lanang. -Tini Dwi Rahayu
Sosok yang satu ini, sejak lama sudah tercatat sebagai salah seorang perempuan Bali pertama yang menduduki posisi senior profesional di dunia logistics & supply chain. Tak tanggung-tanggung di perusahaan market leader industry express, ia memegang tanggung jawab besar sebagai kepala cabang di usia 27 tahun dan pada usia 28 tahun ia sudah berada di jajaran country management. Apa kabar Erika Sedana kini?
S
aat ini pemilik nama Made Herry Erika Sedana A.Md., S.E., ini masih duduk sebagai Head of Telesales Indonesia & Country Trainer, DHL Global Forwarding Indonesia. Rupanya, perempuan satu ini masih saja memiliki self motivation yang tinggi juga sibuk sebagai coach dan pembicara di berbagai tempat. Ia tampak selalu aktif, bersemangat, dan ceria dengan senyum khas yang ia miliki. Demikian gambaran yang tertangkap saat Tokoh bertemu dengannya di salah satu coffe shop di kawasan Sanur pekan lalu. Begitu ditanya bagaimana ia bisa begitu lama bertahan dan terjun di industri logistics & supply chain ini, dengan yakin Erika menyatakan bahwa dirinya memiliki kecintaan yang dalam terhadap industri logistics &supply chain. “Di industri ini, tidak hanya passion yang selalu saya rasakan, namun lebih jauh dari itu, saya mendapat professional network dan talents dari banyak negara yang tetap bisa berhubungan untuk saling memberi masukan, informasi dan diskusi yang positif,” ungkapnya. Ia mengaku banyak belajar dari senior & leader di network ini. Mereka begitu tekun, terfokus dan mencapai apa yang mereka inginkan dengan tiga hal yang selalu dilihatnya, yakni respect, professional behavior, dan effective collaboration. Perempuan kelahiran 28 Maret 1979, yang pernah memenangkan beberapa penghargaan Indonesia maupun Asia Pacific ini, di antaranya Outstanding Sales Performer, First Time Buyer, Country Retail, dan Import Star Performer ini, sekarang tidak hanya
melakukan pengembangan pasar logistik, namun ia dipercaya juga menjadi Global QSE Facilitator untuk Team Region Asia Pacific, DHL Global Forwarding. Erika juga memaparkan kalau dirinya mulai terjun dan menekuni dunia logistics & supply chain sejak awal tahun 2004. Ketertarikannya berawal dari pengetahuannya tentang sejarah perusahaan market leader yang merekrutnya. “Cepatnya akusisi bisnis dan penetrasi pasar tentu sangat dipengaruhi oleh leader dengan visi yang sangat jelas. Structured approach yang diaplikasikan di hampir semua proses termasuk, proses menjual, proses komunikasi dan koordinasi intradepartemen ini, membuat sistem yang diimplemen-
tasikan berhasil dengan sangat efektif,” paparnya. Sehingga, Erika pun merasakan waktu untuk kariernya dan keluarga bisa seimbang (work life balance). Menurut Erika, ia melihat bahwa keeping top talents masih menjadi tantangan terbesar saat ini dalam sebuah organisasi. “Perusahaan biasanya merekrut talent (seseorang dengan bakat dan kemampuannya) kemudian mengembangkan talent tersebut dengan berbagai macam standar proses yang ada, untuk kemudian dapat memberikan hasil yang luar biasa tehadap perusahaan. Baik dari sisi komersial maupun pengembangan sub-ordinate atau bawahan,” tuturnya. Pada akhirnya, kata Erika yang diinginkan sesungguhnya adalah menciptakan satu talent company, yaitu perusahaan yang menjadi pilihan para talent, pilihan pelanggan dan pilihan pemberi modal. “Ada banyak nilai mendasar yang tertanam hingga membentuk suatu corporate culture yang akhirnya mampu membentuk kembali talents yang ada di dalamnya untuk menjadi lebih baik dan dapat sepenuhnya manjadi duta dari brand image yang ia bawa,” paparnya lebih lanjut sambil menambahkan keyakinannya kalau banyak orang sependapat bahwa talent is our top priority. Bagi Erika, karier adalah salah satu hal yang mendasar. “Jika kita lihat jari tengah dan jari telunjuk, keduanya tidak sama. Ibarat fokus karier dan fokus keluarga, juga tidak bisa sama besar. Salah satu harus lebih besar porsinya. “Hanya saja, challenge kita adalah bagaimana membuat jarak itu tidak terlalu jauh. Satu hal yang selalu saya ingatkan diri saya adalah saya juga seorang istri dan ibu. Jadi seberapa pun aktifnya di luar berkarier, sampai di rumah, saya wajib mengurus suami dan anak-anak,” tutur istri dari Putu Ari Sedana, S.T., M.M., ini. Ditegaskan pula oleh Erika, apa pun yang diraihnya di dalam ber karier, ia kembalikan lagi kepada orang-orang yang disayangi, yakni keluarga, suami dan anak-anaknya serta orang-orang terdekat yang selalu memberi dukungan. Sementara melihat perempuan Bali terkini Erika mengatakan kalau dirinya sangat senang melihat perkembangan yang ada.
Ketiga buah hati Erika
Erika dan suami
“Perempuan Bali sekarang, sudah berpikiran luas, terbuka, dan sangat positif. Karena itu, perempuan Bali berani berkarier di berbagai bidang bahkan sampai ke ranah politik,” katanya. Ia sangat salut pada mereka. Perempuan Bali sekarang lanjutnya sudah mulai melihat dan belajar banyak dari figur perempuan dunia yang sukses. “Mereka luar biasa,” kata ibu dari Gede Tristan Desirata Rama, Made Dyfan Genesia Nataraja, dan Komang Atalanta Ramanavami Daiva ini sembari berharap semua berkembang di bidangnya masing-masing. Di sela-sela rutinitasnya, Erika memiliki cara sendiri untuk refreshing. Kebetulan ia dan suaminya memiliki hobi sama, yaitu traveling, maka mereka acapkali menyempatkan untuk bepergian berdua. Paling tidak sebulan atau dua bulan sekali, mereka melakukan perjalanan yang mereka sebut short break. Myanmar adalah salah satu negara yang mereka kunjungi dan memberikan kenangan tersendiri. Hobi lainnya, adalah membaca buku, salah satunya Harvad Business Review menjelang boarding dan saat di pesawat. Ia juga suka membeli bukunya Daniel Goleman yang banyak bicara tentang people development. Ada lagi yang cukup memberikan hiburan baginya yakni mengurus tanaman dan kebun kecil di rumahnya. Di samping satu lagi
kegemaran lainnya yakni kecintaannya terhadap parfum. Ternyata Erika memiliki selera yang berbeda dalam memilih parfum. Selanjutnya menyinggung aktivitas lainnya Erika yang mantan presenter TVRI Bali untuk acara berita ber bahasa Inggris, Bali Vision ini juga dikenal sebagai salah satu MC (Master of Ceremony) ternama dan andal untuk acara-acara internasional. Ia juga masih sering diminta menjadi narasumber di beberapa kampus. Branch Manager Bali & Nusa Tenggara, DHL Global Forwarding Indonesia yang dipromosikan menjadi Head of Telesales Indonesia ini, juga senang dan banyak menggunakan metrics pada saat berbagi pengetahuan dan pengalaman. “Hal yang menarik perhatian saat ini adalah seni mentoring with microfeedback dalam arti memberi motivasi dan arahan melalui diskusi dan masukan yang lebih detail dan faktual. Di sini ada orang yang lebih menerima dan yang lainnya lebih banyak merespons dengan pertanyaan,” ujar Erika yang lulus DIII dan S1 dengan predikat cumlaude. Sebab, menurutnya, people needs regular feedback on how well they are doing not on how bad they are. “Talent pun tentu pernah mengambil keputusan yang salah dalam pengembangan karier dan pribadinya. Nah, seni mentoring with microfeedback ini menciptakan dan memberi penegasan atas recovery process seseorang; you fall, you get up and you run again,” ujar pemilik moto hidup sederhana whatever you do, do it well and make sure it’s good. “Satu hal lagi, terkadang kita harus siap untuk meninggalkan sesuatu agar dapat mengerjakan hal lain yang lebih produktif,” tandasnya. Ketika disinggung karier yang masih ingin digapainya, Erika dengan yakin mengatakan, “Saya yang asli perempuan Bali ini, ingin menjadi CEO perusahaan besar.” Selain ingin menjadi CEO, rupanya masih ada yang ingin digarapnya. Erika menyebut dirinya ingin menciptakan an I care about you culture sebagai strong foundation for effective relationship. It’s a desire to have a positive impact on others. “Doakan agar semua dapat berjalan dengan baik ya,” ujarnya tersenyum optimis. -ard
INSPIRASI
4
31 Maret - 6 April 2014
Sosok Wanita Hindu Penuh Semangat Pengabdian
B
Pelantikan pengurus WHDI Papua Barat
egitulah sosok yang dikenal memiliki kepedulian sangat tinggi ini, kembali memegang kendali organisasi kemasyarakatan berbasis agama Hindu sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) periode 2011-2016. Hal ini berkat prestasinya bersama jajaran pengurus WHDI pusat untuk periode pertama (2006-2011), menjadikan Ir. Rataya B. Kentjanawathy terpilih untuk kedua kalinya secara aklamasi. Dalam kiprahnya sebagai pemimpin WHDI periode pertama, istri Mayjen. TNI (Purn.)Sang Nyoman Suwisma, Ketua Umum Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) dan Dirut MNC TV ini, ia mampu pula mereorganisasi WHDI sehingga berhasil memperoleh kekuatan hukum. Akhirnya, WHDI sebagai organisasi kemasyarakatan berbasis agama Hindu ini memiliki akta notaris sebagai badan hukum dan telah terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM sebagai badan hukum yang sah.
Selain itu Kentjanawathy juga sempat mencatatkan tonggak sejarah bagi WHDI. Betapa tidak pada April tahun 2007, organisasi wanita Hindu ini berhasil terdaftar sebagai anggota ke-80 di Kongres Wanita Indonesia (Kowani) yang merupakan wadah berhimpunnya organisasi kemasyarakatan wanita di Indonesia, dan menempatkan beberapa fungsionaris untuk berkarya dalam kepemimpinan organisasi Kowani. Pencapaian ini memang luar biasa, sebab memang sejak lama WHDI menginginkan agar bisa bergabung dalam Kowani. Apalagi, sebelum masuknya WHDI tidak ada satupun organisasi perempuan Hindu yang tercatat di sana. Sementara, organisasi keagamaan lainnya sudah lebih dahulu terdaftar. Bukan hanya itu, selainberhasil mendidik ketiga putranya, Kapten (inf) Sang Ngurah Wikrama Witapathy, S.Kom., Lettu (Czi ) Sang Ngurah Wiranggana Adityapathy, S.T., yang adalah Komandan Peleton Kompi Jihandak Garuda XX Misi Perdamaian PBB di Kongo dan Iptu (Pol) Sang Ngurah Wiratama
Rataya Kentjanawathy dalam salah satu kegiatan masimakrama
Satriapathy, Kanit 3 Subden II Detasemen C Resimen I Gegana Korp Brimob Polri, juga berhasil membuka WHDI Provinsi dari 7 menjadi 31 Provinsi, dan satu perwakilan luar negeri yakni perwakilan Hongkong. Linda Amalia Sari Gumelar yang ketika itu menjabat sebagai Ketua Kowa ni dan kini Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, mengatakan telah lama memonitor kiprah WHDI. Terlebih setelah dipimpin Kentjanawathy, terjadi perkembangan yang luar biasa, baik dari sisi organisasi maupun program-programnya. Selaku ketua umum yang dikenal tak suka tinggal diam ini, menurut Linda Gumelar putri dari Brigjen. TNI (Purn.) Ranga Bondjoran Bayupathy (alm) dan Rataya Puspawathy ini terbukti berhasil membuat program terobosan-terobos an dalam melaksanakan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak termasuk masalah lingkungan. Linda Gumelar juga mengatakanWHDI memiliki kekuatan dalam menggaungkan pentingnya kesetaraan perempuan. Juga, bagaimana para ibu bisa bersatu dalam pembangunan bangsa, khususnya mengejar MDGs (Millennium Development Goals), terlebih angka kematian ibu dan anak masih tinggi. Hal ini juga menjadikan semangat mengabdi dan jiwa berjuang dalam diri Kentjanawathy semakin berkobar. Selain itu, Rataya Kentjanawathy sebagai seorang leader juga mampu meletakkan dasar-dasar kehidupan organisasi yang sehat dan mandiri. Berbagai komunikasi dan pembinaan jaringan eksternal telah dirintis dan membuahkan hasil. Kepercayaaan demi kepercayaan telah diperoleh bahwa wanita Hindu mau dan mampu untuk mengambil peran. Jiwa berjuang dalam dirinya yang mengalir dari sang ayah, yang tokoh pejuang Bali dan diangkat sebagai staf khusus oleh I Gusti Ngurah Rai juga merupakan mantan Ketua Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Markas Daerah Bali, juga telah berhasil mendirikan yayasan di bawah WHDI. Yayasan tersebut katanya untuk peningkatan kesejahteraan anggota. Melalui organsiasi wanita Hindu pula, ia mendirikan PAUD-PAUD Hindu di seluruh provinsi di Indonesia. Kentjanawathy berharap semua lembaga sayap WHDI dapat tumbuh dan berkembang mewadahi idealismenya. Di samping itu, Kentjanawathi yang juga aktif sebagai anggota Pengurus
MANDALIKA
21
Temu dan Forum Anak NTB
Rat aya B. Ke n tj a n awa thy
Bakal calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI 2014 -2019 dari Provinsi Bali pada pemilu legislatif 2014 ini, bukan perempuan biasa. Perjalanan kariernya telah mencatat cukup banyak prestasi terutama untuk perempuan Hindu.
31 Maret - 6 April 2014
“He sai lako sia ….. apa rungan? Oo ham… He… lenga bune haba? Oo ham … He hip … berembe kabar? Oo ham … Kita bertemu di sini di Temu Anak NTB. Sasambo-sasambo, Sasambo-sasambo, Sasak Samawa Mbojo…”
L
Pusat Persit, Perip, dan Perwosi (Persatuan Wanita Olahraga Seluruh Indonesia) ini berhasil meningkatkan sumber pendanaan WHDI, salah satunya dari pemerintah pusat. Berikutnya, Kentjanawathy kembali menyampaikan jika niatnya untuk maju menjadi calon anggota DPD RI periode 2014-2019 dilatarbelakangi oleh pengalamannya selama dua periode memimpin WHDI Pusat bahwa masih banyak persoalan dalam isu-isu perempuan Bali baik itu pendidikan, kesejahteraan, serta kesehatan. Juga, masalah anak-anak, KDRT, yang masih luput dari perhatian pemerintah baik pusat maupun daerah. Selain itu, imbuhnya, pada Pesamuhan Agung PHDI Pusat, 21-23 Februari 2013 yang berlangsung di
buta aksara pada perempuan Bali. Kentjanawathy yang tak pernah sepi dari kegiatan sosial ini juga menyimpulkan bahwa untuk melakukan perubahan yang berdampak luas dan sistematis, mau tidak mau harus masuk ke dalam sistem. Namun, nampaknya pilihan tersebut membawa konsekuensi pada pilihannya melalui jalur DPD RI. Menjadi anggota DPR RI, sekalipun wewenangnya lebih luas, namun posisin ya sebagai pucuk pimpinan WHDI, menghendaki berdiri di atas semua golongan (partai politik). Karena, perempuan Hindu (khususnya perempuan Bali) memiliki aspirasi politik yang tersebar di berbagai partai politik. Ia berpendapat, dengan menjadi anggota DPD RI, ia dapat lebih
Palangkaraya, ditemukan beberapa fakta tentang kondisi perempuan yang memprihatinkan belakangan di Bali, meningkatnya intensitas KDRT di Bali, kekerasan terhadap anak, tingginya penderita HIV/AIDS di Bali, dan angka
fleksibel bertemu dengan konstituen perempuan, khususnya di Provinsi Bali tanpa kendala sekat organisasi. Srikandi Bali ini juga mengakui bahwa keputusannya terjun menjadi calon anggota DPD, tidak lepas dari dorongan besar dari unsur-unsur masyarakat, tokoh agama, serta LSM di Bali. Didukung sedikitnya 4.600 orang sebagai syarat awal memenuhi pendaftaran bakal calon DPD RI, kentjanawathy optimis langkahnya akan memperoleh dukungan dari masyarakat. Selanjutnya, dengan turun langsung ke desa-desa serta memperoleh fakta sesungguhnya di lapangan, ia akan mencari solusi tercepat untuk mengatasinya, seraya mempersiapkan langkah-langkah strategis bersama segenap unsur terlibat. “Perempuan Bali juga perlu ditingkatkan pemahaman akan arti pentingnya pembentukan generasi baru yang lebih berkualitas. Sebab, bagaimana pun sebagai ibu, perempuan berperan besar dalam pembentukan karakter, kecerdasan, dan akhlak anak-anaknya di masyarakat,” ujar perempuan energik ini. - ard
Peresmian salah satu Paud Hindu di Sulawesi
agu yang menggunakan bahasa tiga suku di NTB ini, Sasak (Lombok), Samawa (Sumbawa) dan Mbojo (Bima dan Dompu), memeriahkan acara tatap muka dan dialog antara Gubernur NTB dengan anak-anak Nusa Tenggara Barat, di Ruang Rapat Utama Kantor Gubernur NTB, beberapa waktu lalu. Dalam pertemuan tersebut, sebagian dari anak-anak NTB ini mengenakan pakaian adat dari suku masing-masing. Nuansa keakraban tampak selama kegiatan dialog berlangsung. “Hitam putihnya bangsa kita ke depan, baik buruknya negara kita ke depan, semua tergantung pada perjuangan anak-anak,” ungkap Gubernur NTB, TGH. M. Zainul Majdi dalam TGB. Dalam Temu dan Forum Anak NTB yang mengambil tema “Nasionalisme, Kebhinekaan dan Persaudaraan” ini, anak-anak NTB mendeklarasikan hasil rekomendasi mereka, di antaranya mengharapkan kemudahan proses kepemilikan akta kelahiran bagi setiap anak, pembentukan klinik remaja sebagai sarana pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi, taman bacaan dan bermain ramah anak yang bebas polusi, jaminan sarana dan prasarana bagi anak berkebutuhan khusus, hingga perda tentang perlindungan khusus anak-anak yang berada pada zona rawan konflik, serta berbagai persoalan lainnya. Forum dialog dan diskusi antara Gubernur NTB dengan 44 anak yang mewakili anak-anak dari 10 kabupaten dan kota se-Nusa Tenggara Barat, berlangsung hangat. Dengan sedikit melipat lengan kemejanya, gubernur termuda di Indonesia saat pertama kali dilantik pada tahun 2008 ini, membuat suasana dialog tersebut santai. Sambil berdiri sepanjang hampir satu jam, Majdi, dengan sabar meladeni “curhat” anak-anak masa depan NTB ini. Kegiatan ini difasilitasi oleh Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (BP3A&KB) Provinsi NTB yang bekerja sama dengan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Nusa Tenggara Barat. Beberapa pertanyaan menyangkut anak, baik dalam bentuk hak maupun kewajiban, juga berbagai persoalan yang dihadapi oleh anak-anak NTB, mengalir dalam dialog yang ter bilang komunikatif itu. “Keran-keran” birokrasi yang menyangkut masalah anak yang selama ini masih tersendat, langsung “dibuka” oleh Gubernur NTB dengan mengomunikasikannya secara langsung dengan dinas dan instansi terkait yang ikut hadir dalam kegiatan tersebut. Berbagai masalah tersebut misal nya, mulai dari pandangan mereka atas “diskriminasi” dari sekolah kejuruan saat mereka akan menghadiri kegiatan-kegiatan anak di luar daerah, soal keinginan mendapatkan kesempatan bekerja yang sama bagi anak-anak mantan narapidana yang menyampaikan agar adanya toleransi bagi anak-anak yang berhadapan dengan hukum, sampai pada keinginan anakanak untuk dapat berdialog dengan gubernur tidak hanya sekali dalam setahun. “Kami ingin dapat berdialog langsung seperti ini dengan Bapak Gubernur, tidak hanya sekali setahun melainkan bisa lebih sering lagi, agar apa yang menjadi permasalahan kami
dapat didengar langsung dan harapan kami ada solusinya,” ungkap salah seorang anak asal Mataram. Dari banyak persoalan yang disampaikan dan diperhatikan gubernur, beberapa hal yang secara khusus diberikan perhatian yakni tentang fasilitas SLB dan anak-anak yang berhadapan dengan hukum. Ketika salah seorang anak dari Sekolah Luar Biasa (SLB) bernama Lia menyampaikan bahwa mereka kekurangan buku-buku yang dapat diakses oleh tunanetra juga peralatan tulis- menulis yang terbatas, Majdi langsung merespons. “Saya instruksikan dinas terkait untuk memperhatikan dan membenahi hal tersebut, juga melengkapi buku dan peralatan yang dibutuhkan,” ujar Gubernur secara langsung di depan forum. Begitu pula dengan masalah anakanak yang berada di LP. Bahwa, saat membentuk karakter anak, tidak ada tempat yang tepat dasn tempat yang lebih baik bagi anak, selain dilakukan di rumah, di sekolah dan di lingkungan yang baik. “Sekolah dan lingkungan keluarga, adalah tempat yang terbaik bagi pembentukan karakter anak,” ungkapnya. Oleh karena itulah, atas keluhan bahwa banyak anak-anak mantan narapidana yang sulit masuk perguruan tinggi terkendala Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) yang tertulis mantan narapidana, Gubernur berjanji untuk mendiskusikan dengan para rektor di NTB. Berbagai persoalan anak yang terjadi di NTB, mendapat perhatian serius dari beberapa lembaga yang fokus menanganinya, seperti Lembaga Perlindungan Anak (LPA) NTB yang juga mendampingi anak-anak dalam kegiatan ini dengan terus berupaya melakukan perlindungan terhadap hak-hak anak NTB. Jika pun tidak mungkin mengeliminasinya, tetapi upaya meminimalkan terus-menerus dilakukan lembaga ini. Dalam kerangka acuan kegiatan ini, LPA NTB menyatakan bahwa upaya tersebut antara lain dilakukan dengan penyadaran pada masyarakat agar masyarakat tidak melakukan tindak kekerasan pada anak dan masyarakat aktif melindu ngi anak serta memberikan bantuan terhadap anak yang menderita tindak kekerasan. Tetapi, hal yang tidak kalah pentingnya adalah peningkatan kesadaran anak-anak itu sendiri akan hak-haknya, upaya perlindungan akan hak-haknya bila terjadi pelanggaran. Proses penyadaran secara aktif oleh anak-anak itu sendiri dapat dilakukan melalui berbagai bentuk partisipasi anak. Salah satunya adalah melalui bentuk pertemuan anak-anak yang difasilitasi oleh anak
sendiri. Kegiatan ini membuka ruang agar anak-anak dapat membahas masalah hak-hak anak, kekerasan pada anak dan upaya penyebarluasan hak-hak anak, dengan cara dan dinamika anak-anak. Dialog antara Gubernur dan anak-anak ini merupakan salah satu wujud bagi anak untuk dapat perperan aktif dalam pembangunan daerah, setidaknya mereka bisa menyampaikan pendapat dan masukannya seputar anak secara langsung kepada pemerintah daerah. Gubernur NTB yang juga seorang da’i ini terlihat piawai menjawab pertanyaan anak-anak ini dengan candaan khasnya yang membangkitkan keberanian anak-anak untuk bi-
cara dan memunculkan kecerdasan mereka dalam kalimat-kalimat yang tertata rapi. Gelak tawa juga mewarnai dialog tersebut. Selain itu, Gubernur juga sempat memberikan pemahaman-pemahaman kepada mereka tentang peran dan fungsi pemerintah juga tentang hak dan kewajiban anak-anak. Dengan gaya humor, Gubernur menyampaikan bahwa pemerintah tidak memiliki “tongkat aladin”, tidak pula memiliki “kantong Doraemon”, juga tidak punya “tongkat Harry Potter”, yang bisa mengubah segalanya sendiri dan dalam waktu seketika. “Tidak ada yang bisa disulap, pemerintah tidak bisa mengerjakan segalanya tanpa kerjasama
semua pihak. Namun begitu, ada bagian-bagian yang mengharuskan adanya intervensi pemerintah akan dilakukan,” katanya. Yang unik dari akhir kegiatan ini adalah seluruh anak yang ikut dalam forum anak ini meminta tanda tangan khusus dari Gubernur NTB, termasuk pada kaos yang mereka pakai. Rupanya, kesuksesan Majdi sebagai pimpinan daerah ini, pemimpin yang berusia muda, menjadi tokoh inspiratif bagi anak-anak NTB. Dengan sabar, Gubernur memberi kesempatan satu-persatu bagi anak-anak untuk mendapatkan tanda tangannya juga foto bersama. -Naniek I. Taufan
NINE
20
31 Maret - 6 April 2014
Timbu, Penganan Khas Masyarakat NTB Lalu-lalang bus antardaerah dari Bima ke Mataram yang berangkat tiap malam hari, menjadi lahan nafkah bagi penjual timbu di desa Bolo Kecamatan Bolo, Bima. Tempat ini merupakan salah satu lokasi berkumpulnya penumpang yang menanti bus tujuan Mataram atau Pulau Jawa. Penjual timbu, terutama perempuan dan anakanak, dengan cekatan naik ke atas bus untuk menjajakan makanan khas yang terbuat dari ketan ini setiap kali ada bus yang berhenti untuk menaikkan penumpang.
B
erjualan timbu di lokasi ini telah dilakukan sejak puluhan tahun lalu oleh warga di sekitarnya. Puluhan tahun pula, timbu telah menjadi ladang nafkah bagi orang-orang kampung yang terletak di bagian Barat Kabupaten Bima ini. Timbu menjadi salah satu mata pencaharian perempuan di beberapa desa di Bima dan Dompu. Meski tidak lagi membuat timbu sebanyak dulu, kuliner khas ini tetap bisa menjadi tambahan penghasilan mereka yang lumayan bagi keluarga. Ini ������������ disebabkan karena produk-produk makanan ringan yang praktis telah menyerbu. ”Sehingga, para penumpang bus lebih banyak memilih makanan ringan yang sudah tersedia sebagai bekal selama perjalanan, ketimbang makanan khas seperti timbu,” kata salah seorang penjual timbu. Timbu merupakan penganan khas di NTB yang terbuat dari ketan putih dan santan kental yang dibakar menggunakan media bambu. Pembakarannya yang dilakukan secara tradisional dengan kayu atau arang membuat rasanya renyah dan gurih. Penganan ini biasanya disajikan dengan tape ketan hitam. Pembuatannya yang sederhana membuat usaha ini berkembang baik di beberapa daerah seperti di Kabupaten Bima dan Dompu. Timbu Bolo dijajakan hingga ke luar desa di kecamatan Bolo, terutama di malam hari. Timbu biasanya dijajakan di sepanjang jalan raya (jalan negara yang merupakan jalur kendaraan antardaerah) yang merupakan tempat keramaian. Namun kini, bisa dibilang timbu hanya bisa ditemukan di pasarpasar tradisional atau di Desa Bolo, terutama malam hari. ”Dulu, setiap malam pedagang timbu berderet di sepanjang jalan raya di Sila. Penjual timbu akan semakin ramai di kala Lebaran. Sekarang timbu hanya bisa didapatkan di Bolo atau pasarpasar tradisional,” kata Minarni, warga Desa Rato, Sila Bima. Dalam perjalanan menuju Mataram dan Pulau Jawa, penjual timbu juga bisa ditemukan di Terminal Ginte, Dompu. Di sini, seperti juga di Bolo, penjual timbu yang kebanyakan perempuan dan anak-anak, juga dengan sigap naik ke atas bus ketika bus masuk ke terminal. Mereka menjajakan dagangannya hingga bus-bus dari Bima menuju ke barat habis sekitar jam sebelas malam. Di sini, penjualnya malah lebih banyak. Timbu Dompu masih sangat diminati sebagai kuliner khas oleh masyarakat Dompu. Di terminal ini juga tampak para penjual timbu yang menjajakan dagangannya bahkan hingga pagi tiba. Para perempuan yang menggeluti bisnis berjualan timbu di sini menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk beraktivitas mulai dari menyiapkan bahan hingga membakar dan menjajakan timbu.
Nyaris 24 jam mereka menggeluti usaha ini, dari proses pembuatan hingga pemasarannya. “Soalnya timbu semakin malam semakin laku,” ujar Kalsom, salah seorang penjual timbu yang berjualan pagi di pasar dan malam harinya di Terminal Ginte, Dompu. Para penjual timbu rela berjualan hingga pagi hari agar penganan ini tidak sampai tersimpan hingga dua hari. Hal ini bisa menyebabkan kerugian akibat timbu sewaktu-waktu bisa basi setelah dua hari. Jadi, boleh dikatakan, timbu di Dompu selalu dijual dalam keadaan yang tetap baik. Usaha pembuatan timbu juga terlihat lebih hidup di daerah ini. Di sepanjang jalan menuju salah satu objek wisata Pantai Lakey Hu’u di Dompu dapat disaksikan para perempuan pembuat timbu, misalnya di Desa Lepadi atau desa-desa selanjutnya menuju Lakey. Lepadi merupakan lokasi pembuatan timbu secara turun temurun. Di beberapa lokasi, bisa ditemukan masyarakat yang sedang membakar timbu di pinggir jalan. Pemandangan yang unik. Bahkan di dalam kota Dompu juga terdapat pembuat timbu, seperti di Kelurahan Bada. Timbu juga banyak dijajakan di pasar-pasar tradisional di Dompu saat pasar buka di pagi dan siang hari. Di Pasar Atas, salah satu kompleks pertokoan di tengah kota Dompu, para perempuan penjual timbu yang datang dari berbagai desa di Dompu berjualan dari sore hingga malam hari. Di sini, para perempuan dengan busa-
na khas rimpu (jilbab khas suku Mbojo), duduk berderet menjajakan timbu. Penganan ini rupanya sangat digemari di malam hari, karena rata-rata penjual timbu mengaku makanan ini lebih laku justru pada malam harinya. Para penjual timbu yang rata-rata perempuan ini menghabiskan waktu mereka di pasar dan di terminal. Diakui oleh pembuat dan penjual timbu di Dompu, usaha ini ternyata mampu menjadi mata pencaharian yang dapat menghidupi keluarga. Kalsom misalnya, mengaku, rumah yang ditempatinya saat ini merupakan hasil
jerih payahnya membuat dan menjual timbu. “Dulu rumah saya rumah kayu, dari hasil membuat dan berjualan timbu, saya bisa membuat rumah tembok sederhana,” katanya. Ia bahkan bisa menyekolahkan anak-anaknya dari usaha ini. Kalsom awalnya hanya membuat timbu dari sekitar 10 kg ketan di tahun 1980an. Namun, seiring dengan semakin digemarinya penganan ini, bahan baku pembuatan timbu berupa ketan meningkat menjadi 30-50 kg perhari. “Saat lebaran tiba, ia bisa mendapat pesanan timbu hingga 75 kg ketan dalam sehari,” ujarnya. Dalam kondisi normal, sehari ia bisa memproduksi hingga 50 kg ketan. Jumlah ini, selain untuk dijual sendiri oleh Kalsom di pasar dan di terminal, juga atas pesanan dari penjual-penjual timbu di berbagai tempat di Dompu. Kalsom termasuk salah seorang pembuat timbu beromzet besar dibandingkan dengan yang lainnya. Dan setiap hari, masing-masing pembuat timbu lainnya bisa memproduksi hingga seratus batang timbu yang dibuat dari puluhan kilogram ketan putih. Timbu masih menjadi salah satu penganan favorit di Dompu. Jika di Bima, timbu mulai terasa agak berkurang, di Dompu malah menjadi mata pencaharian yang menjanjikan. Sedangkan di Mataram, timbu yang dalam bahasa Sasak disebut timbung ini, justru mulai jarang terlihat lagi. Hanya sesekali penganan ini ditemukan di pasar tradisional atau pedagang keliling yang berjualan dengan cara dipikul. Penjual timbung keliling di Mataram, adalah laki-laki. Para pembuatnya tidak terpusat seperti di Bima dan Dompu, melainkan pembuatnya perorangan yang tersebar di Lombok. Di Lombok, timbung tidak menjadi pilihan, melainkan penganan kebetulan semata. ”Jika ketemu penjualnya dan sedang berselera, kami membelinya. Tapi tidak dicari-cari,” ujar mahasiswa kos-kosan di Ampenan. Para penjualnya pun harus berjuang berjalan
berkilo-kilo meter untuk menghabiskan dagangannya dalam sehari. Jika saja ada mata pencaharian lain, ujar salah seorang penjual timbung di Kebon Roek, ia ingin beralih profesi. Namun ia bersyukur, meski begitu, perjuangannya berjualan timbung dapat mengasilkan sejumlah keuntungan yang bisa ia bawa pulang untuk keluarganya. PROSES PEMBUATAN TIMBU Untuk membuat timbu diperlukan ketan putih berkualitas baik sebagai bahan bakunya agar hasilnya putih
31 Maret - 6 April 2014
INSPIRASI
Kurnia Ito
Hidup Bersama 80 Ekor Kucing
Bagi pencinta satwa, memilih kucing ras angora atau persia sebagai hewan peliharaan rumah merupakan hiburan menyenangkan. Meskipun dibanding kucing lokal, pemeliharaan kucing ras membutuhkan biaya lebih besar. Selain itu, dibutuhkan waktu dan perhatian lebih karena tiap hari, kucing-kucing jenis ini perlu disisir bulunya, diseka mata dan hidungnya bahkan dibersihkan telinganya. Sedangkan makanannya pun harus dibeli khusus di toko makanan satwa peliharaan. Lalu apa maksud Kurnia Ito memiliki peliharaan kucing dari dua ras ini hingga mencapai 80 ekor?
“K
dan menarik. Beras ketan tidak boleh dicampur dengan beras biasa karena jika dicampur sedikit saja bisa merusak hasil. Selain ketan putih, usaha ini membutuhkan bambu-bambu yang setiap hari pula harus ada. Karena, bambu merupakan wadah atau media utama yang dipergunakan untuk membakarnya. Usaha pembuatan timbu di Dompu dilakukan selama lebih kurang 10 jam. ”Biasanya proses pembuatannya dari pagi hingga sore hari,” kata Kalsom. Keadaan cuaca rupanya menjadi salah satu penentu sedikit banyaknya timbu dibuat. ”Jika musim hujan seperti ini, pembuatan timbu paling banyak sekitar 30 kg saja,” ujarnya. Namun, ketika tidak musim hujan sehari bisa menjadi mencapai 50 kilogram beras ketan. Ini disebabkan karena pembakaran timbu yang membutuhkan waktu berjam-jam itu, rata-rata dilakukan di luar rumah di tempat yang terbuka. Sehingga ketika hujan tiba, musim ini menjadi salah satu penghalangnya. Proses pembuatannya sederhana saja. Untuk 50 kilogram ketan putih dibersihkan dari kotoran lainnya, seperti bulir yang tidak terkelupas dari kulit arinya. Ketan harus benar-benar bersih demi mendapatkan hasil yang juga baik ketika matang nantinya. Juga, agar penggemar timbu tidak terganggu ketika memakannya. Ketan kemudian dicuci hingga benar-benar bersih dan putih. Bambu dengan diameter tertentu dipotong sepanjang 30-40 cm. Selain ketan, kelapa dan bambu, bahan pembuatan timbu yang harus ada setiap hari adalah daun pisang yang muda agar hasil timbunya baik dan aromanya wangi khas. Daun pisang muda yang telah dipotong-potong ini, dimasukan ke dalam bambu yang kemudian diisi dengan beras ketan putih yang sudah dicuci dan ditiriskan hingga menjelang penuh. Lalu, dimasukkan santan yang sudah dicampurkan dengan garam secukupnya hingga penuh. Sisa daun pisang dilipat dan disumbat dengan ampas kelapa agar bisa matang. Untuk membuat timbu dari 50 kilogram beras ketan putih, dibutuhkan 100 batang potongan bambu dengan ukuran
30-40 cm. Jadi, masing-masing bambu akan terisi dengan setengah kilogram beras ketan putih. Sebanyak 30 kilogram beras ketan putih yang rata-rata dibuat setiap harinya, akan menjadi 60-65 timbung seukuran bambu. Dan, untuk 50 kilogram beras ketan putih ini membutuhkan kelapa parut sekitar Rp 40 ribu. Perbandingannya, untuk empat kilogram beras ketan putih membutuhkan tiga buah kelapa ukuran besar. Timbu mentah yang sudah disiapkan dalam dalam bambu-bambu ini kemudian dibakar bersama bambunya. Pembakaran timbu hingga benar-benar tanak, membutuhkan waktu sekitar dua setengah jam efektif jika menggunakan bambu yang sudah pernah dipakai untuk membakarnya. Namun jika bambu baru, pembakaran memerlukan waktu tiga jam atau lebih. Bambu sebagai wadah untuk membakarnya biasanya dipakai tiga sampai empat kali. Setelah itu bambu yang pecah dan bocor diganti dengan yang baru. Membakar timbu harus benar-benar tanak, jika tidak akan cepat basi. Timbu yang dibakar hingga tanak betul bisa bertahan dua hari. Dalam sehari, kata Kalsom, ia membutuhkan bambu dengan harga Rp 30 ribu. Dan pembakaran timbu yang terbuat dari 30 kilogram beras ketan putih ini, membutuhkan Rp 50 ribu untuk membeli arang. Untuk satu timbu diameter kecil dengan panjang 30-40 cm dijual dengan harga Rp 7.000 dan yang berdiameter lebih besar dengan panjang yang sama harganya Rp 10.000 per buah. Timbu tidak harus dibeli satu lonjor melainkan juga dijual dengan potongan kecilkecil, mulai Rp 1.000 hingga sesuai permintaan pembeli. Penjual biasanya menyesuaikan diri. Dengan beras ketan putih yang dibelinya Rp 6.500 per kilogram tiap harinya, dari 30 kilogram beras ketan putih dan bahan lainnya, ia mampu menjual timbu Rp 400-600 ribu. Timbu akan lebih terasa enak jika dimakan dengan tape ketan hitam. Timbu, penganan khas yang telah ada di NTB secara turun temurun, namun perkembangannya tidak sama di tiap daerah. Timbu menjadi mata pencaharian bagi sebagian masyarakat Dompu yang menggelutinya secara berkesinambungan. -Naniek I. Taufan.
5
ucingkucing ini mengajarkan pada saya menyadari anugerah kehidupan. Melatih ketegaran menghadapi kesakitan dan kehilangan,” ujar wanita yang sudah berada pada ambang senja usianya ini kepada Tokoh. Dengan populasi kucing peliharaan sebanyak itu Kurnia menolak tegas jika disebut sebagai pembiak atau peternak komersial. Karena nyatanya sebagian besar biaya perawatan kucing dikeluarkan dari koceknya sendiri. Sebagai mantan pengusaha yang telah bekerja keras pada usia produktifnya, Kurnia mampu melakoni hobi mahalnya ini tanpa mengandalkan bantuan dari mana pun. Ia memiliki dua rumah serta sumber penghasilan pasif yang memungkinkannya menampung dan memelihara hewan kecinta annya ini. Selain pakan yang merupakan produk impor, para kucing harus mendapat vaksinasi teratur. Mulai dari ketika masih anakan usia dua bulan menyusul pada usia tiga bulan sesudah itu setiap tahun. Dapat dibayangkan berapa besar dana diperlukan Kurnia setiap bulan apalagi jika ada kucing yang sakit dan harus dirawat di klinik hewan. “Sebetulnya saya tidak bermaksud memelihara kucing begini banyak,” ujar Kurnia. Ketika namanya mulai dikenal sebagai pencinta kucing, Kurnia kerap didatangi pemelihara kucing yang merasa tidak sanggup merawat kucingnya lagi. Pelbagai alasan dan kondisi yang melatari. Ada yang tak sanggup membeli pakan, ada yang kewalahan karena kucingnya beranak-pinak terlalu ban yak, ada yang tidak punya waktu oleh sebab tuntutan kariern ya, ada pula yang dipindahtugaskan keluar dari wilayah Bali. Kasus
paling menyentuh ketika Kurnia menemukan enam ekor kucing tak terawat selazimnya. Tubuh mereka tinggal tulang berbalut kulit. Kandangnya terpapar ter iknya matahari siang dan dinginn ya angin malam. Selain sakit kulit kucing-kucing tersebut juga berkutu. Namun cacinglah yang menjadikan tubuh mereka kurus kering. Dengan restu si pemilik, Kurnia memboyong semua kucing itu dan membawanya ke klinik hewan. Di situ kucingkucing itu dimandikan, diberi makan dan minum kemudian disuntik vitamin dan antiparasit. Setelah beberapa minggu kemudian kondisi kucing-kucing itu membaik barulah Kurnia membawa mereka pulang. “Ternyata diperlukan waktu berbulanbulan merawat k uc ing-kucing
yang terabaikan itu hingga menjadi sehat dan gemuk lagi,” ungkapnya. Lima ekor telah berhasil diadopsi orang lain, hanya seekor tertinggal. Namun Kurnia berniat memelihara sendiri karena kucing itu buta total. Ia tidak memiliki bola mata semenjak lahir. Kurnia menamainya Buby. Kurnia juga harus mempekerjakan beberapa karya wan untuk merawat kucingkucingnya. Untuk membantu menekan biaya pemeliharaan, selain mengenakan biaya adopsi Kurnia menerima jasa pemacakan dan penitipan. Cukup ba nyak pemilik kucing kebingung an pada hari liburan panjang. Di tempat Kurnia, kucing-kucing titipan senantiasa diperlakukan dengan perhatian dan kasih, tak ubahnya seperti perlakuan pada
kucing-kucing miliknya sendiri. Meskipun pernah ada pemilik kucing marah karena kucing anakannya terjangkit penyakit kulit. Turunnya sistem imun mempermudah anak kucing di serang jamur terutama jika sedang dalam proses penyapihan. Agar populasi kucingnya tidak semakin bertambah, Kurnia memisahkan kucing jantan dan betina dalam ruang-ruang tersendiri. Kurnia terpaksa harus mensterilkan kucing yang sangat hiperaktif. Bagi Kurnia, adopsi merupakan solusi terbaik. Kucing yang dipelihara hanya seekor atau dua ekor cenderung lebih sehat dan gemuk dibanding hidup dalam kelompok. Meskipun demikian, Kurnia sangat selektif memilih orang yang ingin mengadopsi kucingnya. Ia tidak menginginkan berjumpa de ngan pribadi yang cenderung menganggap kucing sebagai dagangan mudah diperjualb elikan atau mainan yang mudah diberikan jika setelah bosan. Memelihara makhluk hidup tentunya selalu berhadapan dengan risiko menyedihkan terutama jika
“Kucing-kucing ini mengajarkan pada saya menyadari anugerah kehidupan. Melatih ketegaran menghadapi kesakitan dan kehilangan” ada kucing sakit lalu mati. “Meskipun semua kucing saya sudah divaksinasi tapi masih banyak ancaman penyakit yang bisa mematikan kucing,” ucap Kurnia dengan nada serius. Feline peritonitis, gagal ginjal akut, penyakit jantung bawaan adalah penyakit yang mengakibatkan kematian pada kucing. Kurnia selalu berupaya mencari peng obatan terbaik bagi kucingnya yang sakit namun sekiranya nyawanya tak terselamatkan maka Kurnia menerimanya sebagai suatu takdir. Justru ia menjadi lebih sedih jika men dengar kucing yang diadopsikan hilang dari tempat pemilik baru. “Kucing ras tidak terbiasa hidup liar. Sangat sedih jika membayangkan kucing yang hilang itu terlunta-lunta dan kelaparan,” tukasnya lirih. Bagi Kurnia tidak ada pemandangan lebih mengasyikkan seperti ketika ia menunggui induk kucing yang baru melahirkan dan sedang berbaring menyusui anak-anaknya. Betapa dinamis energi kehidupan demikian kesimpulannya manakala menyaksikan bayi-bayi kucing saling berebut untuk menyedot air susu ibunya. Agaknya inilah yang dimaksud oleh wanita sang penyayang kucing meng apa ia merasa dapat memetik suatu makna berharga melalui makhluk peliharaan yang begitu banyak. Dengan mengikuti proses kelahiran, pertumbuhan, perjalanan hidup para kucingnya, Kurnia akhirnya berkesimpulan bahwa tak berbeda dengan manusia, kucing juga memiliki takdir dan nasib sendiri-sendiri. – Tini Dwi Rahayu
6
l i f e s to ry
Dibayar Sepiring Nasi
Roni (bukan nama sebenarnya), pria yang mengaku suka dengan sesama jenis. Penampilannya cukup menarik sebagai seorang pria. Namun, tingkahnya kemayu layaknya seorang wanita. Karena itu, ia dipanggil Mbak yu.
R
oni berasal dari sebuah kota di Jawa Timur. Lima tahun lalu ia memutuskan pindah ke Bali untuk bekerja. Ia dit erima bekerja di sebuah salon kecantikan di Denpasar. Tak perlu waktu lama bagi Roni untuk belajar menangani semua pekerjaan di tempat ia bekerja. Apalagi sejak kecil Roni terbiasa dengan pekerjaan wanita. Ia dibesarkan hanya dengan kasih sayang seorang ibu angkat. Ayah angkat Roni meninggal saat usia Roni dua tahun. Sejak bayi Roni diasuh orangtua angkat, karena mereka tak punya anak. Meski tahu siapa orangtua kandungnya Roni mem ilih hidup bersama orangtua angkat yang sudah ia anggap seperti orangtua kandung. Roni tumbuh sebagai anak yang rajin membantu orangtua. “Kebetulan ibu bekerja mengupas kedelai untuk baha n membuat tempe,” ucapnya. Roni juga piawai dalam membuat kue. Bahkan saat duduk di bangku SMP, ia bisa mandiri, mencari duit sendiri dengan berjualan kue. Melihat Roni yang gemar membuat kue, tak pernah terlintas dalam benak ibu ataupun saudara-saudara
Roni lainnya jika Roni memendam sifat kewanitaan. Hal ini mungkin karena Roni sejak kecil rajin mengaji. Seiring masa remaja, Roni mulai merasakan adan ya suatu getarangetaran cinta, namun anehnya getaran itu muncul saat ia berada di dekat teman pria. Perasaannya itu seolah kian nyata, saat ia duduk di bangku kelas dua Sekolah Menengah Pertama (SMP). Ia merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya dengan teman pria sekelasnya. Ta n p a r a g u - r a g u R o n i mendekati teman prianya itu layaknya remaja yang tengah mabuk asmara. Betapa girang hati Roni karena ternyata teman prianya itu menerima perasaan cintanya. “Kami sempat bercinta di kamar mandi sekolah,” ungkapnya tanpa malu-malu kepada Tokoh. Sejak saat itu hasrat Roni terhadap sesama jenisnya seolah kian membara. Puncakn ya ketika ia duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Ia bahkan tidur de ngan banyak pria alias gonta-ganti pasangan. Meski Roni sadar ada yang salah terhadap dirinya, namun, ia tak mau
ambil pusing. Bahkan seiring waktu hal itu ia nikmati. Lambat laun, pergaulannya dengan kaum gay ini makin meluas. Bahkan hampir tiap saat ia bersama-sama teman gay-nya berburu laki-laki. Sasarannya, jika ada siswa sekolah lain yang punya wajah ganteng. “Saya minta teman buat ngenalin ke saya, jika sudah kenal, saya lakukan pendekatan,” ucapnya.
Namun, tak semua teman pria yang akan ia ajak tidur setuju. “Ada yang menolak namun kami bawa paksa ke hotel. Satu anak bisa kami tiduri secara bergantian,” ujarnya. Menurutnya, tak perlu membayar mahal untuk mengajak tidur
31 maret - 6 april 2014
31 maret - 6 april 2014
seorang teman laki-laki. “Kadang teman kencan laki-laki saya itu mau meski hanya dibayar sepiring nasi atau uang jajan,” kenangnya. Kegilaan Roni pun kian menjadi, saat ia memutuskan berpacaran de ngan ayah dari teman pria sekelasnya. “Saya memanggilnya Om,” ucapnya. Hubungannya den gan si Om ini cukup lama, sekitar 3 tahun. Dengan Om ini Roni merasa menemukan sosok ayah yang telah lama ia rindukan. Hampir tiap malam minggu si Om datang mengapel ke rumah Roni. Meski awalnya sempat mendapat teguran dari ibunya, namun Roni hanya cuek. Namun, lama-lama ibu Roni tak bisa berkata apa apalagi setelah melihat sikap baik si Om kepadanya. “Om ser ing memberi ibu uang atau sekadar oleh-oleh,” ucap Roni. Kampung Roni sempat dibuat geger dengan terendusnya hubungan terlarang itu. “Saat saya tengah bersama Om di rumah tiba-tiba istrinya datang melabrak,” kenang Roni. Hati Roni pun kecut, lantas ia menyuruh pacarnya itu untuk membuat pilihan, ia apa istrinya. Tapi, karena laki-laki itu tak bisa mengambil keputusan Roni memilih memutuskan hubung an itu. Sejak peristiwa itu, Roni menjadi buah bibir warga kampung.
Namun, ia tak pernah ambil pusing. Di kampungnya, Roni dikenal pendiam dan tertutup. Bahkan ia tak pernah bergaul dengan anak-anak sekampungnya. “Justru teman-teman saya lebih banyak dari luar desa,” ungkapnya. Setamat SMA, Roni memutuskan mencari kerja di Bali. Bukannya sembuh, sakit Roni seolah kian menjadi. Hari-harinya ia nikmati dengan berganti-ganti pria. “Biasanya sih cinta kilat,” selorohnya. Namun, seiring bertambahnya usia, kata Roni ia lebih bisa mengontrol nafsu seksnya. Ia pun lebih hati-hati dalam memilih teman kencan. “Saat ini saya lebih mencari kecocokan, sebelum akhirnya kami memutuskan berpacaran,” ucapnya. Roni seolah kian terlena dalam sebuah hubungan terlarang. Bukan hanya itu, ia pun mulai berani mencicipi narkoba. Kadang ia takut akan bahaya virus HIV/AIDS. Apalagi seorang temannya telah positif tertular virus mematikan itu. “Karena itu, saya selalu memakai kondom,” ungkapnya. Kini Roni mengaku tak punya pacar alias jomblo. Di usianya, yang hampir menginjak kepala tiga, tak pernah terlintas dalam benaknya untuk menikahi seorang wanita. “Saya tak pernah punya gairah seks, saat melihat teman wanita,” ungkapnya. Meski sadar dirinya kini tengah sakit, ia tak berusaha untuk sembuh. “Saya tak ingin paksakan diri saya, untuk saat ini saya jalani hidup saya seperti apa adanya,” pungkasnya. -Tini Dwi Rahayu
S U D U T PA N D A N G
19
Buang Sampah Sembarangan Denda Rp 5 Juta Menanti Ada pemandangan umum yang biasa ditemui warga Denpasar. Tak jarang, kita menemukan orang membawa tas kresek berisi sampah. Begitu melihat bak sampah di pinggir jalan, langsung lempar. Sebagian ada yang memilih berhenti agar sampah tepat masuk di bak. Aksi bawa sampah ini diakui Bu Wati yang bertempat tinggal di Jalan Mahendradatta. Ia bingung harus membuang sampah di mana. Tiap pagi, ia membawa tas kresek berisi sampah saat mengantar anaknya sekolah. Kalau ia lihat bak sampah berwarna hijau, ia berhenti dan membuangnya di sana. Suatu ketika, ia membuang sampah di bak sampah milik Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Denpasar yang ada di pinggir Jalan Hayam Wuruk. Lalu datang seseorang yang mengingatkan agar tidak membuang sampah di bak tersebut karena bak itu hanya untuk warga di lingkungan dusun tersebut. “Apa iya, bak sampah milik DKP itu hanya untuk dusun tertentu? Saya bingung mau buang sampah di mana. Di lingkungan saya, tak ada bak sampah dan pengelola sampah,” keluhnya.
“J
ika ada kasus seperti itu, sebaiknya masyarakat mengadu ke kepala lingkungan atau kepala dusun. Karena kaling/kadus se-Kota Denpasar sudah diberikan bimbingan teknis soal lingkungan. Kalau masyarakat mau mengadu pada kaling/kadus, saya yakin hal tersebut bisa tertangani,” kata Kadis DKP Denpasar I Ketut Wisada, S.E., M.Si. Volume sampah di Kota Denpasar per hari 2.700 meter kubik. Dari volume ini, 80% dikelola pemerintah sisanya ditangani kelompok swakelola. “Pemerintah Kota Denpasar memiliki komitmen dengan kades/ lurah sejak tahun 1992 dalam pengelolaan sampah. Wilayah yang tidak tertangani pemerintah, dibentuk swakelola, kepala desa/lurah yang mengoordinir. Mereka bebas memungut iuran pengelolaan sampah dan punya sistem sendiri,” katanya. Wisada menambahkan, masya rakat tidak perlu membawa sampah keliling. “Membawa sampah pada pagi hari itu melanggar aturan jam pembuangan sampah. Waktu pengeluaran sampah pukul 17.00-19.00. Tidak ada yang boleh membuang sampah di luar jam itu. Armada kami akan melakukan pengangkutan
sampah pada malam hari. Kalau siang hari, bisa macet jalanan. Sosialisasi itu sudah lama, masyarakat jangan purapura tidak tahu. Jadwal pembuangan dipasang di mana-mana,” katanya. Bagi masyarakat yang membuang sampah sembarangan, pihak DKP Denpasar tidak main-main. Sudah sering kejadian masyarakat tertangkap membuang sampah sembarangan dan dikenakan tindak pidana ringan. Kerja sama dengan pihak kejaksaan dan pengadilan negeri pun dilakukan dengan menggelar sidang tipiring di balai banjar. Dalam seminggu bisa disidang 30-40 pelanggar. Namun, denda yang dikenakan masih ringan, antara Rp 50 ribu-Rp 100 ribu. Padahal, dalam Perda Kota Denpasar No. 24 Tahun 2011 disebutkan sanksi bagi yang membuang sampah sembarangan dikenakan denda maksimal Rp 5 juta. “Sayangnya, denda yang dikenakan masih kecil. Orang berpikir masih bisa bayar Rp 50 ribu. Coba diterapkan denda yang tinggi. Masyarakat pasti jera. Kami juga mohon media ikut membantu memublikasikan berita jika ada yang disidang karena membuang sampah sembarangan agar yang lain jadi tahu dan ikut peduli,” tegas pria kelahiran Penyaringan, Jembrana, 28 Agustus 1960 ini.
Suasana diskusi di Warung 63 Denpasar
Saat ini, menurut Wisada, kita tak hanya berperang dengan sampah. Tetapi, juga berperang dengan perilaku masyarakat. “Kita sudah 68 tahun merdeka tapi kita belum merdeka soal sampah. Ada masyarakat yang buang sampah seenaknya, yang penting rumah mereka bersih, tak peduli buang sampah di mana. Jika masyarakat tersebut tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya, ini sama saja dengan bohong. Hal yang perlu dicermati, jangan sampai Denpasar menjadi lautan sampah seperti yang pernah dialami Bandung,” katanya mengingatkan. Pengelolaan kebersihan tak bisa berdiri sendiri. Ada three domain, yaitu pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Pola ke depan, antara pengelolaan sampah 25% ditangani pemerintah, 50% ditangani masyarakat, dan 25% ditangani dunia usaha. Jumlah sampah identik dengan jumlah penduduk. Makin tinggi jumlahpenduduk, makin tinggi volume sampah. Jika dihitung dari jumlah penduduk Denpasar yang mencapai 788.500 jiwa, dihasilkan 800 ton sampah sehari. Artinya per orang menghasilkan sampah 0,8 kg per hari. Saat hari raya, timbunan sampah bisa
I Ketut Wisada
I Made Ada
bertambah 50% yang didominasi sampah organik. Salah satu kendala yang dihadapi DKP Denpasar adalah tenaga angkut yang 99% orang Bali. Ketika hari raya, pengangkutan sampah menjadi terlambat kare na para pengangkut sampah ini merayakan hari raya terlebih dahulu. Wisada meyakinkan masyarakat agar tidak perlu khawatir karena sampah pasti akan terangkut walau agak lambat. “Sampah ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah tetapi juga tanggung jawab masyarakat karena masyarakat sebagai penghasil sampah. Masih banyak yang perlu disadarkan. Kami sudah berkoordinasi dengan kades/lurah dan kadus/ kaling agar terus-menerus mengingatkan masyarakat tentang pentingnya penanganan sampah. Kalau ada masalah dengan lingkungan, silakan lapor ke kadus/kaling,” tandasnya. Upaya lain yang juga dilakukan pemerintah adalah melakukan desentralisasi pengelolaan sampah. Beberapa urusan pengelolaan sampah kini ditangani camat dan kades/lurah disertai dengan penyerahan dana untuk pengelolaan lingkungan. Di masing-masing kecamatan juga sudah ada unit pelaksana teknis (UPT) yang menangani sampah. Di desa pakraman atau banjar-banjar juga diharapkan ada perarem yang berkaitan dengan penanganan sampah. Semua ini kata kuncinya adalah kesepakatan untuk membuat Denpasar bersih dan kesepakatan untuk melaksanakan. Upaya lain yang juga dilakukan adalah membuat program Jumat Organik. Pada hari Jumat, masyarakat hanya boleh mengeluarkan sampah organik. DKP siap untuk menyediakan angkutan yang akan mengangkut sampah tersebut. Dari awal, pemilik rumah harus memilah mana sampah organik dan anorganik. Mengenai swastanisasi pengelola an sampah, suami Putu Purwanti, S.H., M.H. ini mengatakan sudah ada 33 bank sampah di Denpasar yang sangat membantu. Mereka dimodali Rp 8,5 juta untuk membeli sampah dari masyarakat dan membuat satu sistem composting. Bank sampah Nojasari misalnya, bisa mengirim tujuh ton sampah yang bernilai ekonomis atau dapat diuangkan. Ditargetkan, sampah bisa berkurang 20% pada tahun 2015. “Satu hal yang perlu dicatat, kami tidak membina pemulung. Pemulung sering berlaku sembaran-
gan. Mereka mengorek-ngorek bak sampah mencari yang diperlukan lalu meninggalkan bak sampah dalam kondisi sampah berserakan. Pemulung hanya boleh di TPA dan TPS, jangan di bak sampah yang di tepi jalan,” tegas Wisada. Ia mengingakan masyarakat, agar memperlakukan sampah dengan benar. “Pembalut dan pampers harus dicuci bersih dulu sebelum dibuang. Kalau mau buang kasur, jangan buang ke sungai. Telepon saja DKP, kami akan jemput,” katanya. Selain itu, buanglah sampah pada tempatnya. Kalau sedang berolahraga di lapangan misalnya, ada bak khusus sampah. Di Lapangan Ngurah Rai, ada 50 relawan yang memberikan informasi tempat membuang sampah di lokasi itu. “Tolong sebarkan dari mulut ke mulut,” pintanya. Mengurai permasalahan sampah menurut I Made Ada, S.Sos., Kepala Desa Sanur Kauh bagai mengurai benang kusut. Apalagi posisi yang dialami Desa Sanur Kauh sebagai desa yang berada di hilir. Muara Tukad Rangda dan Tukad Loloan yang berada di desa ini membuat sampah berkumpul di hilir. Masyarakat di hulu sungai membuang sampah sembarangan ke sungai, desa ini kebagian sampah yang bertumpuk. “Kami menyiasati tepian muara dengan melakukan pavingisasi agar kesan muara lebih indah. Kami punya Kelompok Sadar Wisata Gema Saka (Gerakan Masyarakat Sanur Kauh). Kami juga sering ingatkan masyarakat kalau di rumah bersih, di lingkungan juga harus bersih. Mulailah memilah sampah dari rumah. Tapi kalau masyarakat di hulu sungai yang buang sampah sembarangan, kami tak bisa berbuat apa. Mau atau tak mau, kami membersihkan sampah kiriman itu,” ujarnya. Desa Sanur Kauh memiliki depo Palasari yang bisa menampung 48 kubik sampah per hari. Dalam sehari ada dua truk yang bertugas mengangkut sampah. Armada ini masih kurang untuk mengatasi sampah di Sanur Kauh. Di depo ini dilakukan pemilahan sampah. Untuk pemilahan sampah, ada dusun Bet Ngandang dan Blanjong sebagai percontohan. Program baru juga sedang dikembangkan, rumah yang dibangun di tepi sungai harus menghadap ke sungai dan menyisakan telabah satu meter agar sungai tidak dijadikan comberan. – Ngurah Budi
D AYA C I P TA
18
Narsis dengan Selfie Pernah memotret diri sendiri dengan kamera ponsel? Ke banyakan pengguna kamera ponsel pasti pernah melakukan nya. Aksi ini dikenal dengan selfie. Apa itu selfie dan kota mana yang paling banyak aktivitas selfie?
S
martphone-self portrait atau selfie saat ini disebut-sebut sebagai Word of The Year 2013 oleh kamus Oxford. “Kata selfie adalah merujuk pada aktivitas memotret diri sendiri, dengan kamera ponsel atau webcam kemudian mengunggahnya ke media sosial. Narsis dengan mengunggah foto hasil selfie acapkali menunjukkan keberadaan mereka di lokasi atau objek tertentu yang dirasa pantas untuk diperlihatkan. Bahan kata selfie resmi masuk kamus Oxford yang sangat dikenal dan dihormati tersebut,” kata I Putu Wis Aryawan Eka Putra, seorang fotografer yang menekuni wedding photography. Fotografer yang akrab disapa Wiss Putra ini menambahkan selfie tidak mengenal umur, status sosial maupun pekerjaan dan profesi seseorang. Berkat kema-
juan teknologi saat ini, melakukan selfie bisa dimana saja, Mulai dari di jalan, di sekolah, di pesawat, di restoran atau di acara kawinan
maupun tempat aca ra seminar dan acara resmi lainnya. Selfie benar-benar menjalar pada masyarakat di seluruh pelosok dunia. “Dari info yang pernah saya baca, selfie sudah muncul tahun 2002, di sebuah forum on line Australia dan hastag #selfie muncul juga dalam foto sharing di Flickr tahun 2004. Namun, penggunaan selfie tidak meluas. Tahun 2012 ketika selfie digunakan umum di media mainstream barulah istilah ini menjadi trending topic,” ujar pria kelahiran
27 Desember 1989 ini. Sekarang selfie atau foto narsis menjadi tren di seluruh dunia. Tak hanya anak muda, aksi narsis ini sendiri juga menjangkiti orangtua maupun anak-anak. Tak mau ketinggalan, banyak para pejabat penting pun juga terjangkit virus selfie. Seperti yang dilakukan oleh Barack Obama dan istrinya Michelle Obama. Selanjutnya muncul per tanyaan, kota manakah yang paling narsis? Majalah Time.com, melansir Denpasar menjadi salah satu kota di Indonesia yang hampir sebagian besar warganya suka tampil narsis di depan kamera. Di data milik Time.com, tercatat 75 orang mengambil foto selfie dari 100 ribu orang yang melakukan hal sama. Mereka juga mengunggahnya di mesia sosial, seperti Instagram. Hasil ini diperoleh Time setelah proses pemantauan unggahan foto yang berkategori selfie sepanjang 24 jam penuh, foto selfie selama lima hari sejak 28 Januari hingga 2 Februari 2014 serta 3 sampai 7 Maret 2014. “Kota Denpasar menduduki posisi ke-18 di dunia dan nomor 1 paling narsis di Indonesia. Peringkat kedua kota Yogyakarta, ketiga Bandung,” ujar pemilik Wisputra Photography ini melansir data Time. Jumlah selfies tersebut katanya diambil dengan jarak maksimal lima kilometer dari pusat kota. Hasilnya cukup mengejutkan, karena kota ter-selfie tidak ber ada di benua Amerika atau Eropa, tapi di Asia, yakni Makaty City dan Pasig, Filipina. Situs Time.com pun menetapkan Denpasar bukan hanya popular sebagai destinasi wisata, tapi juga kota dengan foto selfie terbanyak di Indonesia. “Boleh–boleh saja berfoto selfie, namun perlu juga tahu asalusul selfie tersebut. Foto bergaya selfie ini rupanya sudah lama dilakukan sejak ratusan tahun lalu. Berdasarkan beberapa sumber, foto selfie muncul pertama pada
31 maret - 6 april 2014
31 maret - 6 april 2014
tahun 1900 memakai kamera boks Kodak Brownie,” kata Wiss Putra. Metode selfie ini mengambil gambar sendiri ini dilakukan dengan menggunakan cermin dan pertama kali dilakukan oleh Putri Kekaisar an Rusia, Anastasia Nikolaevna pada tahun 1914. Foto tersebut kemudian dikirimkan kepada temannya. Di dalam surat yang dikirim tertulis “Saya mengambil foto ini menggunakan cermin. Sangat susah dan tangan saya gemetar.” Huffington Post merilis, sebelum Anastasia ada orang lain yang melakukan foto selfie tahun 1839, yakni Robert Cornelius, yang dikenal melakukan foto selfie pertama di dunia. Foto selfie Robert itu disimpan di Perpustakaan Kongres di Washington, AS. Di belakang foto
I Putu Wis Aryawan Eka Putra
berisi tulisan, “Gambar cahaya pertama yang pernah diambil 1839.” “Sekarang memotret diri sendiri di era kecanggihan teknologi, biasanya mengambil angle agak tinggi sekitar 45 derajat, dengan macam-macam ekspresi dan pose, seperti mulut yang dimonyongkan, ataupun sok lucu memakai kamera telepon genggam,” kata Wiss Putra. –Sri Ardhini
l i f e s to ry
7
Merayu Dokter dengan Madu Asli Bima Empat puluh hari setelah kematian suaminya, Ida (bukan nama sebenarnya), kaget dengan perilaku tidak sehat suaminya itu. Berbulanbulan dirawat di rumah sakit akibat komplikasi berbagai penyakit, ia baru sadar bahwa banyak obat bebas itu “menjadi racun” tambahan bagi tubuh suaminya. Begitu banyak bungkus dan sisa-sisa obat warung yang dikonsumsi suaminya semasa hidup, ia temukan di bawah ranjang dalam kamar rumahnya. “Sampai saya tidak bisa menghitung jumlahnya, saking banyaknya bung kus obat-obatan warung itu,” kata itu.
B
erbagai jenis obat penghilang rasa sakit yang dijual bebas itu berserakan di bawah ranjang dalam jumlah yang sama. Ia menemukan ketika membersihkan kamar tidurnya setelah seluruh acara mengenang kepergian suaminya itu usai. Perempuan yang kini berusia 42 tahun itu, memang tidak lagi tampak sedih. Bahkan sifat periang perempuan ini mampu menutupi kesedihannya ditinggal suaminya dua tahun lalu itu dengan banyak menceritakan kelucuan-kelucuan tiga anaknya. Ia juga menceritakan bahwa anak sulungnya yang kini berusia 12 tahunlah yang diminta oleh suaminya untuk membelikan obat-obatan tersebut. “Saya baru tahu karena selama ini suami saya menyembunyikan hal itu dari saya dengan sangat rapi,” katanya. Ida lalu mengisahkan mulai dari pertemuan pertamanya dengan suami hingga sakit yang dialami suaminya sampai-sampai ia pernah tinggal beberapa bulan di Rumah Sakit Sanglah Denpasar, Bali. Setelah kekasihnya meninggalkannya untuk menikah dengan anak gadis tetangga rumahnya, Ida kembali menemukan jodohnya beberapa tahun kemudian. Lakilaki yang bekerja sebagai sebagai satpam di sebuah perusahaan swasta di Jakarta itu, sempat pulang kampung di Bima. Jika perantau umumnya pulang kampung niatnya untuk liburan dan bertemu dengan sanak famili, laki-laki ini justru pulang kampung untuk mencari istri. Beberapa gadis desa itu telah ia jajaki. Bahkan salah seorang di antaranya telah membuatnya kepincut dan jatuh hati namun menurut Ida, orangtua gadis itu terlalu “banyak syarat”. Setengah
putus harapan, laki-laki yang kata Ida keras kepala ini, kembali ke Jakarta dengan tangan hampa. Rupanya, Adri (bukan nama sebenarnya, suami Ida), belum putus berharap untuk dapat menemukan gadis pujaan hatinya dari kampung halamannya. Ia rupanya tidak tertarik dengan gadis Kota Jakarta dan membulatkan tekadnya harus menikah dengan gadis Bima. Melalui mantan gurunya, Adri berusaha meminta informasi tentang gadis-gadis desanya, siapa yang pantas disuntingnya. Sampailah pada nama Ida. Berbekal nomor telepon rumah Ida, Adri tiap hari menyapa Ida lewat telepon. “Saya heran, kalau telepon tiap hari dan berjam-jam,” ungkap Ida yang membayangkan berapa pulsa yang harus ia habiskan untuk dapat bicara dengannya, tiap hari pula. Ida sendiri kala itu, belum terlalu jatuh hati padanya mengingat ia merasa belum pernah ketemu dan hanya suaranya saja yang ia kenal. Hingga suatu hari sebuah foto ia terima. Laki-laki itu cukup gendut baginya. Namun, mantan guru Adri meyakinkan ia bahwa akan sangat berbeda melihat foto dan bertemu langsung dengan orangnya. “Karena rajin dia menelepon, saya mulai berpikir bahwa dia serius apalagi usia saya semakin bertambah,” kata Ida. Ditambah lagi rupanya Adri adalah kawan satu angkatannya, beda jurusan. Ia tidak bisa mengingat dengan jelas sosok Adri karena beda jurusan dan beda kelas. Namun karena kegigihan itu tidak hanya diperlihat kan oleh Adri, melainkan orangtua terutama ibu Adri yang selalu datang ke rumah orangtua Ida, membuatnya semakin yakin bahwa Adri serius ingin mempersunting dirinya. “Ibunya hampir tiap hari
datang ‘mengapel’ ke rumah saya,” ungkapnya tertawa. Ibu Adri memang kerap bertandang ke rumahnya dan menunjukkan keinginannya untuk menjadikannya menantu. Hal inilah yang kemudian memuluskan rencana pernikahan mereka yang diatur lewat telepon. Adri pulang kampung saat itu untuk menikah. Jadi praktis, Ida dan Adri tidak pernah menjalankan pacaran secara fisik (saling bertemu) melainkan jarak jauh dan ketika bertemu mereka langsung menikah. Sejak menikah, Adri memilih pulang kampung dan bekerja di kampung halamannya. Kehidupan mereka bahagia sampai dikarunia tiga orang anak. Pada tahun ke sepuluh pernikahan mereka, suatu siang Adri mengalami kecelakaan tunggal sepeda motor. Entah karena kecapean menempuh perjalanan yang cukup jauh dari tempat kerjanya, motornya selip di jalan berpasir. Adri sempat terkapar di pinggir jalan dan dibantu pengendara lain. “Adri di bawa ke rumah sakit dan sempat dirawat di UGD, namun bisa pulang hari itu juga,” kata Ida. SATU STRIP SATU HARI Memang tidak terdapat luka dan bekas yang parah dari kejadian itu, namun dua tahun kemudian barulah terasa. Adri tiba-tiba sering mengalami sakit kepala yang hebat. Tiap kali sakit kepala itu datang, ia mengonsumsi obat-obatan warung. “Dia keras kepala, saya minta untuk ke dokter dia tidak mau. Dia selalu merasa sehatsehat saja karena tiap kali minum obat, ia merasa sembuh,” ujarnya. Celakanya, konsumsi obat-obatan bebas itu berlangsung sangat lama, beberapa tahun lamanya. “Kalau sakit kepala datang, minum obat dia merasa sehat,” katanya. Makin lama ia mengonsumsi obat-obatan itu, makin pendek jarak sakit yang bisa diobati. “Satu strip obat bisa dia habiskan satu hari saja. Karena tiap kali minum obat hanya bisa menahan sakit tidak lebih dari dua jam dan setelah ia harus mengonsumsi lagi,” kata Ida. Yang diketahui Ida banyak obat ia konsumsi namun ternyata lebih banyak lagi yang tidak Ida ketahui jumlahnya. Melihat perilaku tidak sehat inilah yang membuat Ida memaksa suaminya agar mau memeriksakan kondisinya. Saat pertama kali diper-
iksa di Rumah Sakit Umum Bima, suaminya dinyatakan mengalami tumor otak. Alangkah kagetnya Ida mendengarnya. Demi kesehatan terbaik bagi suaminya Ida selalu membujuk suaminya agar mau berobat lebih lanjut, namun suaminya masih kekeh merasa sehat. “Saya sampai pusing mencari cara agar dia mau berobat,” katanya. Tiap kali bicara soal usaha untuk pengobatan, mereka selalu bertengkar. Suaminya selalu meminta ia untuk diam dan mengh entikan pertengkaran karena tidak tahan dengan sakit kepalanya. “Kalau emosi sakit kepalanya kumat. Karena kasihan melihatnya menahan sakit, saya mengalah tapi akhirnya pengobatan itu tidak berjalan sebagaimana mestinya,” ujarnya. Dengan berbagai cara pendekatan sudah ia lakukan, namun suaminya bertahan tetap merasa sehat. Rupanya karena obat-obatan itu dapat menyanggah rasa sakitnya meski hanya sebentar. Sampai akhirnya sakit yang dialami suaminya makin para. Adri tak lagi bisa bicara karena tenggorokannya panas. Adri akhirnya dilarikan ke Rumah Sakit Sanglah di Bali. Ia dirawat di sana. “Yang saya tahu penyakitnya, selain tumor otak, kanker tenggorokan dan sinusitis kronis,” kata Ida. Ia pasrah namun tiada waktu ia habiskan tanpa berdoa untuk suaminya yang selalu merasa sehat. Ida kagum pada suaminya yang kelihatan tegar dan selalu menyatakan bahwa dirinya sehat. “Dia pandai merayu dokter agar bisa pulang dengan mengiming-imingi dokter dengan madu asli Bima,” kata Ida. Adri memang selalu minta izin pada dokter untuk bisa pulang ke Bima beberapa hari saja dan akan kembali lagi untuk dirawat di rumah sakit. Tentu saja dokter tidak bisa mengizinkannya pulang dengan kondisi yang tidak memungkinkan. Hingga akhirnya, suatu hari, Ida pulang ke Bima untuk mengambil gaji karena kehabisan biaya menunggui suaminya di rumah sakit. Biaya rumah sakit memang ditanggung asuransi namun biaya beberapa orang kerabat yang bergantian menunggu di rumah sakit, terbilang besar. Saat itu Ida kehabisan uang dan memilih pulang untuk mengambil gaji sekaligus menjenguk anak-anaknya. Empat hari Ida meninggalkannya di rumah sakit membuat suaminya tiap waktu mengirim
pesan pendek agar ia segera menemaninya. Saat itu suaminya sudah tidak bisa berkomunikasi verbal melainkan lewat SMS. “Sampai-sampai saya tidak bisa tidur, SMS-nya masuk terus,” kata Ida. Akhirnya ia pun kembali ke Bali. Ia masih menemukan suaminya merayu dokter agar diizinkan pulang untuk menjalankan ibadah puasa di kampung halaman dengan janji akan segera kembali setelah lebaran. Mereka minta izin dua minggu pulang ke Bima dan terpaksa dokter mengizinkannya. “Sejak saat itulah dia tidak pernah mau kembali ke rumah sakit,” kata Ida yang akhirnya pasrah menerima apa pun ketentuan yang diberikan Allah pada mereka. Benar saja, suaminya tidak lagi mampu bertahan. Mungkin itulah jalan terbaik baginya. Setelah dua bulan meninggalkan rumah sakit dan “melanjutkan” sakitnya di kampung halaman, Adri menghembuskan nafas terakhirnya dua tahun lalu. Sedih iya. Pasrah juga iya. Namun dari kisah ini, Ida ingin berbagi agar istri harus lebih detil memperhatikan perilaku suami. “Jangan sampai seperti saya, tidak tahu bahwa betapa banyaknya suami saya mengonsumsi obat-obatan bebas itu,” katanya. Ida tidak menyesali apa yang telah terjadi, karena itulah usaha maksimal yang telah ia lakukan untuk suaminya. Kini Ida lebih fokus membesarkan tiga anaknya. Wajah-wajah mereka mengingatkan ia pada sosok suaminya yang humoris. -Naniek I. Taufan
BUNDA & ANANDA
8
31 Maret - 6 April 2014
Menjaga Kelestarian Budaya dari Anak-anak Seminggu sebelum Pengerupukan, Damar minta dibelikan ogoh-ogoh. Ia melihat banyak model ogoh-ogoh yang dijual. Orangtua pun membelikan sebuah ogoh-ogoh dengan harga Rp 200 ribu. Ogoh-ogoh belum termasuk sanan. Di rumah, Damar bersama ayahnya membuat sanan dari bambu agar bisa diangkat bersama-sama.
P
enjual ogoh-ogoh untuk anak-anak banyak ditemukan di Denpasar. Tak hanya sanggar yang khusus mengerjakan ogoh-ogoh, warung biasa pun ikut menjual ogohogoh. Di Kapal, Badung deret an penjual ogoh-ogoh mudah ditemui di pinggir jalan. Penjualnya kebanyakan penjual sarana upacara yang memanfaatkan momentum hari raya Nyepi. Lain dengan Tika yang membuat ogoh-ogoh bersama Agas, sepupunya. Bahan ogoh-ogoh mereka dapatkan dari bambu dan kayu bekas yang ditemukan di sekitar rumah. Walau pun bentuk tak simetris tetapi keduanya berusaha untuk membuat sesuatu yang seram. Tapel (topeng) untuk ogoh-ogoh ini diambil dari topeng rusak yang ditemukan di gudang.
Kain penutup ogoh-ogoh ber asal dari kain perca yang mereka minta dari saudara yang memiliki usaha tailor. Ekspresi dan bentuk ogohogoh merupakan simbol dari bhuta kala. Inspirasi dari tawur kesanga yang merupakan kurban suci untuk menyomya (meningkatkan status) bhuta kala sehingga ogoh-ogoh dibuat dalam bentuk yang menyeramkan sebagai refleksi sifat-sifat negatif agar tidak mengganggu alam semesta. Perkembangan zaman dan teknologi juga membuat pembuatan ogoh-ogoh makin kreatif. Dulu bahan yang dipakai berupa kayu dan bambu agar tidak terlalu berat saat diusung. Kini banyak yang menggunakan gabus atau styrofoam yang lebih ringan dan tahan lama. I Proses pembuatan ogoh-ogoh biasanya diawali dari
Anak-anak mengusung ogoh-ogoh
inspirasi atau ide yang datang kapan saja dan dimana saja. Setelah ada ide, tuangkan ke dalam sketsa global, lalu dibuatkan bentuk kasar atau kerangka, dilanjutkan dengan memberikan bentuk atau pendukung gerak, lalu dicat dasar diakhiri dengan aksesoris dan finishing. Bagi Drs. Ida Bagus Gede Agastia, sebaiknya membuat ogoh-ogoh dilakukan sendiri atau berkelompok. Dengan membuat sendiri, anak -anak kesempat an untuk berkreasi. “Membuat ogoh-ogoh yang menyeramkan akan mendekatkan anak dengan konsep kala yang identik dengan menakutkan dan mengerikan.
Anak-anak akan membuat imajinasi sendiri, mengerikan dan menakutan itu seperti apa. Dari kecil, anak harus dibiasakan untuk membangun wira rasa (rasa berani) dan butha rasa (rasa ngeri) agar mereka bisa menghadapi kehidupan sebagaimana seharusnya,” papar budayawan ini. Agastia mencontohkan tukang ukir yang membuat Boma. Wajah Boma yang mengerikan itu merupakan imajinasi dan kreasi dari tukang ukir melalui pikiran mereka tentang sesuatu yang mengerikan. Wajah Boma itu bukan cetakan yang sudah ada tetapi lahir dari sebuah proses kreativitas.
Apa Itu Gusi Berdarah ?
Hampir sebagian besar orang pernah mengalami gusi berdarah. Bentuk penyakit gusi yang paling umum terjadi adalah radang gusi atau sering disebut dengan istilah gingivitis. Gingivitis merupakan peradangan gusi yang paling sering terjadi dan merupakan respons inflamasi tanpa merusak jaringan pendukung. Gusi berdarah juga bisa disebabkan oleh kurangnya perhatian dalam menjaga kebersihan gigi dan sering membiasakan mencungkil sisa makanan yang terselip dengan menggunakan tusuk gigi. Beberapa tanda gusi berdarah atau bisa juga disebut gingivitis antara lain gusi yang biasanya berwarna merah muda menjadi merah tua sampai ungu karena adanya pelebaran dari pembuluh darah, sehingga terjadi suplai darah berlebihan pada jaringan yang meradang kemudian gusi menjadi bengkak, secara reflek atau spontan gusi mengeluarkan darah baik saat menyikat gigi atau sewaktu gigi dalam keadaan rileks. Selain itu, gusi berdarah akan menjadi sering terjadi
yang disertai dengan pembengkakan gusi, rasa gatal pada gusi, dan disertai timbulnya bau nafas yang tidak enak. Pada peradangan gusi yang lebih parah tampak adanya nanah di sekitar gigi dan gusi. Hal tersebut adalah tanda-tanda awal adanya kerusakan gusi. Ada beberapa hal yang bisa menjadi penyebab terjadinya gusi berdarah : - Plak dan karang gigi yang menempel pada permukaan gigi - Infeksi bakteri, jamur atau virus - Adanya gangguan pendarahan - Teknik penyikatan gigi yang salah - Perubahan hormon selama kehamilan - Gusi menjadi lebih sensitif selama kehamilan disebabkan oleh fluktuasi kadar hormon yang meningkatkan aliran darah ke gusi dan jaringan lain ke tubuh. Hormon-hormon kehamil an juga mempengaruhi respons normal tubuh terhadap bakteri membuat Anda lebih rentan terhadap infeksi periodontal. - Penyakit darah yang tak cukup memiliki sel darah merah - Pemasangan gigi palsu yang tidak pas - Flossing yang tidak sesuai - Penggunaan pengencer darah - Kekurangan vitamin C Cara mengatasi gusi berdarah: - Hindari penggunaan tembakau dan merokok - Kontrol pendarahan gusi dengan memberikan tekanan langsung pada gusi dengan kain kasa yang direndam dalam air es
- Cukupi kebutuhan vitamin. Batasi asupan makanan, seperti gula, makanan ringan, soda, makanan olahan yang dapat menyebabkan kerusakan gigi dan memperparah perdarahan - Hindari obat pengencer darah - Konsumsi makanan yang banyak me ngandung vitamin C dan kalsium - Emergency treatment seperti berkumur dengan air hangat yang telah dicampur dengan garam. Adanya plak dan karang gigi yang menempel pada permukaan gigi dapat menyebabkan gusi berdarah. Apabila tidak segera ditangani, karang gigi dapat terus bertambah sehingga perlekatan gusi pada permukaan gigi menjadi
“Dalam beberapa buku di sebutkan dalam kengerian itu kesucian terjaga. Kengerian itu banyak ditemukan di laut maka nya laut dianggap suci. Lihat saja binatang-binatang yang ada di laut bentuknya mengerikan, tetapi merekalah yang menjaga kesucian laut. Ibarat permata yang dipendam dan dijaga bintang yang menyeramkan,” ujar mantan anggota DPD Perwakilan Bali ini. Kepada para orangtua, Agastia mengingatkan agar mereka meng ajarkan anak untuk membuat sesu atu sendiri. Proses ini harus dilalui. Kalau anak diberikan langsung secara instan, secara psikologis anak akan cenderung merusak. Proses penciptaan ide ini harus didukung orangtua. Namun, ia tak melarang jika anak-anak harus dibelikan. Memperkenalkan budaya ogoh-ogoh dan proses kreatif pembuatannya merupakan bagian dari transformasi nilai-nilai budaya. Ini juga merupakan upaya penerusan nilai-nilai yang metodenya berbeda tiap zaman. “Masing-masing generasi memiliki metodenya sendiri sehingga yang muncul adalah sesuatu yang baru. Inilah yang menjadi keunggulan budaya Bali. Regenerasi yang dilakukan mulai dari anak-anak ini harus terus dilakukan untuk menjaga kelestarian budaya,” tegas Agastia. –Ngurah Budi
lepas dan terbentuk adanya kantung pada gusi yang disebut periodontal pocket. Bila terjadi peradangan jaringan penyangga gigi (periodontitis), akan terjadi perdarahan gusi dan kerusaka n tulang penyangga gigi. Bila tidak segera ditangani, gigi akan menjadi goyang dan akh irnya tanggal. Solusinya, de ngan melakukan pembersihan plak dan karang gigi. Untuk menghindari terjadinya gusi berdarah, sebaiknya mengunjungi dokter minimal enam (6) bulan sekali, menggunakan sikat gigi dengan bulu sikat halus, dan hindari penggunaan obat kumur yang mengandung alkohol. Pentingnya kunjungan rutin ke dokter gigi tiap 6 bulan, untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh pada gigi dan mulut sehingga jika ada masalah dapat ditangani sejak dini dan juga mendapatkan perawatan gusi dan gigi yang sesuai dengan kondisi gigi Anda. –ast
31 Maret - 6 April 2014
G R I YA
17
Konsep Natural Desa dalam Kota Konsep kembali ke alam (natural), kini makin banyak diminati. Konsep ini biasanya diterjemahkan dalam pemilihan material yang diaplikasikan pada sebuah bangunan, baik interior maupun eksteriornya. Salah satu bangunan yang menerapkan konsep natural adalah Warung Makan Mang boo di kawasan Jalan Noja Denpasar.
IB Budi Utama
P
emiliknya, IB Budi Utama mengatakan konsep natural ini terinspirasi dari kondisi lahan sebelumnya yang memang memiliki banyak pohon besar. Di antaranya, tiga pohon jati berusia sekitar 50 tahun, pohon sengon/belalu, pohon juwet, dan pohon mangga. Beranjak dari ingin mempertahankan suasana desa dalam kota inilah, akhirnya tampilan bangunan WM Mang Boo yang menyediakan makan an tradisional Bali, yakni lawar kebo ini, seperti sekarang. Di lahan seluas 11 are ini, satu bangunan wantilan, empat gazebo beratap ilalang, satu bangunan mini bar, dilengkapi dapur, kasir, dan toilet, menjadi satu-kesatuan ruang bernu-
ansa perdesaan dalam sebuah area dengan hamparan taman yang indah. Namun, seiring perjalanan waktu, mengikuti permintaan menu makanan dari anak muda yang lebih menyukai masakan modern, tampilan Mang Boo pun menyesesuaikan. “Jadi, kami memasukkan konsep natural tradisional untuk sisi selatan yang khusus menyediakan makanan tradisional lawar kebo, dan konsep natural mo dern pada sisi utara (bangunan mini bar) yang menyediakan menu modern seperti chiken steak,” ujar Gus Budi, sapaan karibnya. Empat gazebo yang terletak di beberapa tempat terpisah ini, memanfaatkan kayu jati sebagai tiangnya. Balai-balai dan meja besar terbuat dari kayu sengon/ belalu Bali, sejenis kayu albesia. Demikian halnya, meja-meja besar dan bangku panjang yang diletakkan di wantilan, juga memanfaatkan kayu belalu. Untuk mempertegas kesan alami tradisional, bangunan wantilan ini menggunakan atap ekspos dengan tiang-tiang dari kayu kelapa. Lantainya menggunakan batu pilah Kintamani. Sebagai penghalang cahaya matahari dan hujan, pada sisi luar baik di wantilan maupun pada tiap gazebo, dipasangi lampit. Pada ruang kasir, materian kayu, bambu, dan bata ekspos dikolborasikan sedemikian rupa. Yang paling unik adalah pada bagian dinding di ruang ka-
Dipersembahkan oleh Tim Dokter “Dental Care Clinic “ Prima Medika Hospital. Pelayanan Buka Setiap hari kerja jam 08.00 – 21.00 wita Ditangani Tim Dokter Gigi profesional & Sub Spesialis, seperti: - Spesialis Bedah Mulut - Spesialis Periodontia - Spesialis Konservasi Gigi Alamat : Jln. Raya Sesetan no 10 Denpasar, Tlp. 0361232434 Tembok pagar dari bahan kayu kopi
Wantilan
sir ini memanfaatkan potonganpotongan kecil dahan kayu jati yang tak terpakai. “Daripada terbuang, kami mencoba berkreasi dari material-material yang tak terpakai, hasilnya se perti ini. Tetapi hasilnya belum maksimal sih,” ujar Gus Budi sembari menunjuk ke arah dinding kasir yang terlihat bermotif bulat-bulat. Sementara, bangunan di sisi utara yakni mini bar, Gus Budi lebih memberikan kesan modern, namun tetap natural. Kesan natural diaplikasikan de ngan memilih bahan lantai dari terakota, tiang-tiang dilapisi gedek, dinding bar memanfaatkan potongan-potongan kayu bekas, kayu dan kursi dari kayu, serta kap lampu di atas meja bar memanfaatkan capil (topi petani dari ulatan daun kelapa). Kesan modern dicoba dihadirkan de ngan pemilihan warna-warna biru dan orange terang, seperti pada kap lampu hias gantung, serta pemilihan warna putih pada batu alam yang diaplikasikan pada lantai,
yang juga dimanfaatkan untuk mempertegas batas ruang. Di sisi utara area mini bar ini
juga ada stage (panggung). Untuk mempertegas kesan natural modern, di dindingnya dibuat pola-pola geometris dengan material alam, batu bata merah. Sebagai pembatas, WM Mang Boo menggunakan pagar dari batang-batang kayu kopi dengan fondasi beton. “Kayu kopi ini lumayan kuat terkena sinar matahari dan hujan,” ujar bapak satu anak ini. Di atas pilar pagar dari bata merah, di letakkan lampu-lampu hias unik berbentuk gubug. Ketika malam hari, tentunya lampu-lampu hias yang menyinari sudut-sudut tertentu ini semakin memberikan nilai estetika WM Mangg Boo.
Area mini bar
–Inten Indrawati
PELESIR
16
31 maret - 6 april 2014
31 maret - 6 april 2014
DARA
9
Menjinakkan Kera di Hutan Pala Yang Fresh dari Anak Muda Objek Taman Wisata Alam Sangeh tak pernah sepi pengunjung. Tiap hari ada saja wisatawan yang berkunjung. Apalagi sekarang ada jalan tembus dari Sangeh ke Belayu. Jalur ini menjadi bagian dari paket wisata Ubud-Sangeh-Bedugul.
M
eski belum diresmikan, jalan yang menghubungan Desa Sangeh, Badung dengan Desa Cau Belayu, Tabanan sudah ramai dilalui pengendara. Dalam waktu lima menit, orang sudah bisa sampai di Desa Cau Belayu atau Jalan Raya Denpasar-Bedugul dari Desa Sangeh atau sebaliknya. “Jalan penghubung ke dua desa tersebut, ternyata berimbas pada kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Daya Tarik Wisata (DTW) Bukit Sari Sangeh,” kata Manajer Pengelola DTW Sangeh, I Made Sumohon. Ramainya kunjungan wisman itu mulai terlihat sejak awal September lalu atau setelah rampungnya jembatan tersebut. Wisman yang berkunjung lebih banyak datang dari Ubud menuju kawasan wisata Bedugul. “Nah,
sebelum sampai di Bedugul mere ka terlebih dahulu mampir ke DTW Sangeh,” ceritanya. Jumlah kunjungan wisman ke DTW Bukit Sari Sangeh diakhir September 2013 saja sudah mencapai 2000 orang. Sedangkan di bulan-bulan sebelumnya kunjungan wisman hanya mampu mencapai 1000 orang. “Sekarang ini jumlah kunjung an wisatawan domestik (wisdom) dan wisman hampir berimbang. Beda dengan sebelumnya yang selalu didominasi wisdom. Apalagi pada hari-hari libur, wisdom terkadang membludak,” ujar Sumohon. Sangeh merupakan objek wisata alam yang sudah terkenal sejak dulu. Tempat wisata ini mengandalkan satwa dan hutan sebagai daya tarik wisatawan untuk berkunjung kesana. Objek wisata Sangeh memiliki luas 13,969 hektare, dengan batas utara persawahan, batas barat sungai Yeh Penet, batas selatan dan timur perkampungan banjar Batusari. Hutan Sangeh ditumbuhi 6443 pohon pala (difterocarpus tri nervis), dan pohon lain seper ti gamal, harbesia, pule, dan beringin. Hewan yang menjadi daya tarik di objek wisata ini adalah kera berwarna abu-abu (macaca fascicularis) yang berekor panjang. Kera-kera ini hidup dari hasil hutan dan makanan yang diberikan pihak pengelola. Dulu, penghuni hutan ini sangat galak dan nakal. Banyak makanan pengunjung diambil tanpa permisi. Bahkan, barang maupun aksesoris pengunjung seperti kaca mata, topi dan sebagainya juga diambil.
Anak muda yang mau bergelut dengan wirausaha jumlahnya masih sedikit. Padahal, pemerintah terus mengupayakan agar jumlah wirausaha muda terus bertambah. Bagi generasi muda, masa muda merupakan masa untuk bersenang-senang. Namun, masih ada anak muda yang mau berkreasi menghasilkan sesuatu yang bermanfaat dan memiliki nilai jual.
“Itu dulu, tetapi setelah objek ini dikelola secara profesional dengan melibatkan orang-orang professional sejak tahun 2003 silam, kera di sini mulai jinak,” ungkap alumnus BPLP ini. Sebagai daya tarik utama, kera-kera ini mendapat perawatan yang luar biasa. Makan disediakan 2 kali dalam sehari. Demikian juga dengan perawatan kesehatan yang dilakukan setahun sekali. Kecuali ada kera yang sakit baru didatangkan dokter. Namun, untuk menjaga kelestarian satwa pihak pengelola juga menyiapkan kandang untuk tempat isolasi kera yang nakal dan bangunan lab untuk kera yang sakit. HUTAN BERGERAK Di objek wisata ini juga terdapat 4 Pura, yakni Pura Bukitsari yang terletak paling Barat, Pura Melanting di tengah hutan, Pura Tirta di depan lokasi hutan dan Pura Anyar di depan pintu masuk menuju hutan. Semua Pura ini disungsung oleh krama adat Sangeh, kecuali pura Anyar khusus disungsung oleh warga Banjar Batusari. Konon, hutan ini datangnya
dari Gunung Agung yang rencananya ke Mengwi. Hutan ini bergerak secara perlahan di malam hari. Tetapi setelah ada orang yang berteriak melihat hutan itu “mandeg” (berhenti). Kepercayaan ini dikuatkan dengan pohon pala yang ada di dalam hutan itu tidak bisa ditemukan di daerah lain. Kalaupun ada itu hanya satu dua dan tempatnya juga di daerah Pura yang angker. “Kami sudah mencoba menanam
pohon itu dengan maksud memperbanyak tetapi selalu mati. Hal ini bukan sekali dilakukan. Bahkan dulu pernah ada orang yang “nunas” pohon pala untuk ditanam dirumahnya,” kata Sumohon Sangeh terus ditata agar menjadi tempat pelesir serta mampu memberikan suasana
baru. Di samping itu, juga karena wisatawan yang berkunjung ke Sangeh terus bertambah, sehingga merasa perlu untuk memberikan pelayanan yang terbaik. “Sebelumn ya, sudah dilakukan perluasan hutan. Kini, kami ingin memperluas halaman. Sehingga wisatawan yang berkunjung merasa aman dan nyaman,” imbuh Sumohon. Penataan secara besar-besaran ini dilakukan atas bantuan dari Dinas Pariwisata Kabupaten Badung. Penataan toko seni, warung makan dan minum, serta penataan taman bunga, modal dan pengerjaannya dikumpulkan dari swadaya Desa Adat Sangeh yang terdiri dari 5 banjar. Areal parkir yang luasnya mencapai 1 hektare juga menjadi lebih rapi dan bersih bersih. Awalnya, areal parkir akan dipasangi paving, namun setelah ada usulan dari beberapa warga agar memakai hotmix sehingga menjadi lebih kuat dan tahan lama. Selain halaman parkir, pihak pengelola juga akan menata taman-taman di areal parkir. Berbagai jenis tanaman bunga akan mewarnai objek wisata alam tersebut. Pohon-pohon besar sebagai peneduh, juga akan ditanam sehingga areal parkir menjadi lebih teduh. Untuk menjaga kebersihan, para pedagang yang berada di lokasi parkir diwajibkan memiliki bak sampah organik dan non organik. “Partisipasi para pedagang juga dibutuhkan untuk menjaga kebersihan dan ke indahan objek, karena petugas kebersihan yang terbatas,” ujar pria yang dulu pernah bekerja di bidang perhotelan ini. -Budarsana
“O
rangtua saya pu nya usaha keraji nan tenun yang baru dirintis empat tahun lalu. Saya jadi banyak tahu ketika orangtua saya memulai usaha tenun. Jujur, sebelum itu saya kurang tertarik dan tahu mengenai tenun,” ungkap Bagus Galih Hastosa, wirausaha muda yang mengem bangkan tas etnik. Galih bersama te mannya Parinatra Candrarka Nugraha (Prika) kemudian membuat label Manikan, dua ta hun lalu. “Manikan diambil dari kata Manik yang berarti permata sehing ga kami berharap produk kami men jadi suatu hal yang berharga serta unik di mata pelanggan kami. Manikan me rupakan brand yang fokus mengembang kan tas etnik yang unik namun tetap simpel untuk anak muda. Kami tidak hanya menggu nakan endek tapi juga mengguna kan tepi yang biasa digunakan untuk pembuatan udeng dan tidak menutup kemungkinan untuk menggunakan tenun dari provinsi lain ataupun songket,” ujar pria berusia 22 tahun ini.
Ide untuk memadukan endek ke dalam berbagai akse sori/produk didapat ketika Ga lih sedang menjaga stan tenun milik orangtuanya di kawasan Nusa Dua. Ia sering menden gar di berita bahwa endek Bali diminati wisatawan asing, namun yang ia temui kala itu hampir tidak ada tamu asing yang membeli kain tenun. Kalaupun ada hanya digunakan sebagai pajangan rumah. Se mentara, orang Bali banyak yang membeli, tapi mereka hanya berpikiran menggu nakannya untuk aca ra persem bahyangan. “Setelah itu saya ber temu Prika yang kebetul an mempu nyai ide untuk membuat tas laptop dari te nun. Kami pun akhirnya ber gabung. Setelah pembicaraan lama, akhirnya kami tidak jadi membuat tas laptop melainkan membuat tas tenun untuk anak muda,” kenangnya tentang awal usaha Manikan. Suka duka dialami se lama pros
es kreatif ini. Dukanya, mereka ditolak berbagai toko karena katanya produk Manikan terlalu tradisional. Galih dan Prika pun sering bertengkar karena salah paham dalam penciptaan pros es kreatif ini. Sukanya, kalau di jalan bertemu orang memakai produk Manikan, mereka surprise dan senang. Produk ini juga pernah masuk majalah remaja nasional dan sinetron di TV. Ini membuktikan ide anak muda bisa diterima baik di pasar lokal dan nasional. Galih dan Prika tidak mulukmuluk dengan harapan mereka. “Kami ingin tas yang kami buat bisa diterima anak muda dan digunakan untuk aktivitas ka sual, seperti sekolah, pergi ke mal, dan travelling. Itu sudah membuat kami senang kare na mem buktikan bahwa te nun bisa dipakai dimana dan kapan saja,” te gas Galih. Seba
g a i mahasiswa, Galih harus pandaipandai mengatur waktu ku liah dan berkreasi. Namun,
ia mengatakan tidak terlalu susah karena mendesain dan membuat marketing plan di lakukan sepulang kuliah. Ide biasanya mengalir di malam hari. Kadang-kadang mer eka menyempatkan untuk membalas SMS pelanggan di sela kegiatan kampus. Orangtua dan teman-te man Galih serta Prika ternyata mendukung apa yang mereka lakukan ini. “Orangtua sangat mendukung bahkan men dorong kami untuk berani ambil kredit di bank agar kami serius menjalankan usaha Manikan ini. Temanteman juga banyak mem bantu. Mereka memberi masukan untuk produk kami. Sebelum dilempar ke pasar, saya biasanya membawa contoh produk ke teman-teman untuk mengetahui respons dan masukan mereka. Karena, mungkin saja ada detail yang luput dari kami,” papar Galih.
Kepada para generasi muda, Galih berharap generasi muda lainnya tidak sekadar asal-asalan menciptakan desain da lam industri kreatif. Begitu baju distro booming semua bikin hal yang sama, ada tas furla booming, semua tas dibikin dengan model yang sama. “Saya pribadi lebih suka ada desain-de sain baru yang fresh dari anak muda, tidak sekadar melihat apa yang sedang tren, tapi berusaha untuk menciptakan tren dari pemikiran sendiri,” tan das Galih yang mengaku merasakan pengalam an baru setiap harinya. Impian Galih dan Pri ka yang belum tercapai adalah menciptakan suatu produk yang klasik yang tak lekang oleh zaman dan tren. Bagi yang penasaran dengan produk Manikan, bisa cari info lebih lanjutnya di Ins tagram: wearemanikan dan twiter: wearemanikan. -Ngurah Budi.
BUGAR
10
31 Maret - 6 April 2014
Mengenal Penyakit Maag dan Penanganannya Secara umum, maag atau dalam bahasa medis disebut dyspepsia terjadi pada sekitar 25% dari populasi setiap tahun. Namun, orang-orang yang terkena seringkali tidak mencari pertolongan medis. Setengahnya diklasifikasikan sebagai dispepsia fungsional yg tidak diketahui pasti penyebabnya. Meskipun dispepsia tidak mempengaruhi kelangsungan hidup, namun biaya perawatan kesehatan akibat penyakit maag tidaklah sedikit dan secara signifikan mempengaruhi kualitas hidup.
yang terdiri dari: usia lebih dari 55 tahun, riwayat keluarga kanker saluran cerna atas, penurunan berat badan yang tidak jelas, perdarahan saluran cerna atas, nyeri atau susah menelan, adanya anemia dan mata kuning, muntah-muntah yang berkepanjangan, serta teraba tumor pada pemeriksaan fisik. Pemeriksaan laboratorium berupa darah rutim, fungsi hati dan ginjal serta pemeriksaan gula darah dapat mengarahkan pada factor metabolic sebagai penyebab penyakit maag.
Penanganan awal penyakit maag Pengobatan sesuai dengan keluhan atau penyebab dapat dipakai sebagai acuan pengobatan awal penyakit maag. Obat-obatan penurun asam lambung Beberapa orang merasa lebih baik setelah minum obat yang mengurangi asam lambung, obat ini dapat berupa golongan proton pump inhibitor, histamine blocker atau golongan antasida.
berbentuk tabung yang dimulai di mulut, dan berakhir pada anus. Saluran cerna atas termasuk oesophagus, lambung, dan usus duabelas jari. Berbagai kondisi dapat menyebabkan dispepsia. Gejalanya sering berkaitan dengan makanan. Gejala tersebut sering hilang timbul. Kebanyakan orang menganggap maag ini sebagai gangguan pencernaan. Sebagai contoh, nyeri ulu hati setelah makan pedas dalam jumlah banyak. Dalam kebanyakan kasus penyakit maag segera membaik dan hanya sedikit yang memerlukan perhatian. Namun, beberapa orang memiliki serangan maag yang berat dan sering, yang mempengaruhi kualitas hidup mereka.
Strategi diagnostic dan Pengobatan penyakit maag Pendekatan evaluasi diagnostik pasien dengan penyakit maag didasarkan pada ada atau tidak adanya tanda “alarm”, usia pasien, dan status kekerapan infeksi H. pylori di suatu daerah. Penyakit maag akibat minum obat penghilang nyeri atau karena refluk asam lambung dapat diterapi dengan obat-obatan penurun asam lambung, namun bila keluhan masih tetap muncul setelah 8 minggu maka perlu penelusuran lebih lanjut untuk evaluasi.
Obat-obatan simptomatik Obat ini berupa penghilang gejala seperti obat mual dan kembung.
dr. I Gede Pande Sastrawan, SpPD
Proses menelan makanan dan pencernaan makanan Makanan melewati bawah oesophagus ke dalam perut. Lambung mengeluarkan asam lambung, untuk membantu untuk mencerna makanan. Makanan kemudian secara bertahap turun ke duodenum (bagian pertama dari usus kecil). Dalam duodenum dan usus kecil, makanan bercampur dengan enzim pencernaan ,yang berasal dari pankreas dan dari sel-sel usus, sebagai pemecah (mencerna) makanan. Makanan yang dicerna kemudian diserap ke dalam tubuh dari usus kecil. Apakah itu penyakit maag? Menurut kriteria ROME III, dispepsia didefinisikan sebagai satu atau lebih dari gejala berikut : Rasa penuh/sesak setelah makan (postprandial fullness) Rasa cepat kenyang saat makan (early satiation) Nyeri atau rasa terbakar di ulu hati (epigastric pain or burning). Saluran cerna adalah organ yang
Apa penyebab penyakit maag (dyspepsia)? Sekitar 25% pasien dengan penyakit maag memiliki penyebab organik yang mendasari, namun 75% pasien tanpa penyebab yang mendasari yang sering disebut dispepsia fungsional (idiopatik atau nonulcer). Penyebab utama sakit maag sering kali akibat: Dispepsia non ulkus (tukak), disebut dispepsia fungsional, didefinisikan sebagai adanya satu atau lebih gejala dari kriteria ROME III diatas tanpa ada bukti penyakit struktural yg mendasari. Kriteria-kriteria ini harus dipenuhi selama tiga bulan terakhir dengan onset gejala setidaknya enam bulan sebelum diagnosis. Ini adalah penyebab paling tersering penyakit maag. Sekitar 6 dari 10 orang yang memiliki serangan berulang dispepsia merupakan dyspepsia non ulkus. Ulkus (tukak) lambung dan duodenum, tukak merupakan kerusakan dari lapisan lambung sehingga jaringan dibawahnya terbuka, sehingga tukak lambung memberikan gambaran berupa luka kecil berwarna kemerahan pada lapisan lambung. Gastritis atau duodenitis, berupa peradangan ringan lapisan lambung
atau duodenum, dari ringan hanya berupa kemerahan sampai menyerupai tukak. Refluk atau regurgitasi, yaitu aliran balik asam lambung ke esophagus dari lambung yg mengakibatkan esophagitis (kerusakan dinding esophagus), hal ini dikenal sebagai GERD (gastroesofageal reflux disease) Hernia hiatus, dimana bagian lambung teratas masuk kedalam bagian bawah dinding dada melalui kelainan yg terbentuk celah pada diafragma. Infeksi, Helicobacter pylori merupakan infeksi tersering penyebab penyakit maag. Keganasan (kanker) saluran cerna bagian atas, angka kejadiannya tinggi pada populasi asia, Hispanic dan Afro-caribbean dan juga semakin tinggi pada usia tua. Gejala sering kali minimal pada stadium dini dan semakin memberat seiring dengan bertambah beratnya penyakit. Obat-obatan, beberapa obat sering sebagai penyebab penyakit maag diantaranya: penghilang nyeri golongan NSAID, golongan steroid, digoxin, antibiotik, zat besi, nitrat, theophiline, dll. Evaluasi awal penyakit maag Riwayat dan perjalanan penyakit, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium merupakan langkah awal evaluasi pasien dengan penyakit maag. Adanya riwayat rasa terbakar yang menjalar ke dada, atau mual dan muntah setelah minum obat penghilang nyeri, mual-mual dan muntah yang berulang, penurunan berat badan atau adanya riwayat muntah darah dapat memberikan arahan penyebab penyakit maag. Seringkali ditemukan rasa nyeri pada penekanan di ulu hati (epigastrium) pada saat pemeriksaan dokter atau bahkan teraba masa tumor. Tanda “alarm” memerlukan perhatian khusus saat dilakukan pemeriksaan fisik dan anamnesis,
Pasien dengan tanda “alarm” atau usia> 55 tahun Endoskopi saluran cerna atas harus dilakukan untuk evaluasi penyebab penyakit maag pada pasien dengan fitur alarm atau orang-orang di atas usia 55 tahun. Endoskopi atas merupakan standar baku sebagai alat diagnostik pada pasien dengan nyeri perut bagian atas. Biopsi (pengambilan jaringan) lambung pada saat dilakukan gastroskopi dapat dipakai untuk mengetahui adanya infeksi H. pylori. Pasien dengan H. pylori harus menerima terapi eradikasi di samping pengobatan sesuai dengan diagnosis yang mendasarinya. American Gastroenterological Association (AGA) dan American College of Gastroenterology (ACG) merekomendasikan melakukan gastroskopi lebih awal bila 2 minggu keluhan tidak membaik pada usia diatas 55 tahun tanpa adanya tanda alarm. Pasien tanpa tanda “alarm” dan usia ≤ 55 tahun Dua strategi diagnostik utama pada pasien ≤ 55 tahun tanpa fitur alarm adalah test untuk infeksi H.pylori dan mengobati bila ditemukan adanya infeksi H.pylori serta pengobatan dengan obat-obatan penurun sekresi asam.
Pengobatan (eradikasi) infeksi H.pylori Apabila infeksi H.pylori sebagai penyebab penyakit maag, maka harus dilakukan eradikasi kuman oleh dokter yang merawat pasien tersebut. Perlu dilakukan evaluasi terhadap keberhasilan eradikasi infeksi H.pylori Baik dengan cara dilakukan gastroskopi ulang atau pemeriksaan urea breath test. Kapan sebaiknya ke dokter bila ada gejala penyakit maag buang air besar berdarah atau muntah darah nyeri ulu hati yang parah dan berlangsung lebih dari satu jam atau datang dan pergi selama lebih dari 24 jam tidak dapat makan atau minum selama berjam-jam demam tinggi kehilangan banyak berat badan tanpa sebab, atau kehilangan nafsu makan Makanan apa saja dan bagaimana mengatur makan bila terkena maag Beberapa orang merasa sedikit lebih nyaman setelah melakukan perubahan dalam apa yang mereka makan, termasuk: Menghindari makanan berlemak (yang dapat memperlambat pengosongan lambung) Makan dalam porsi kecil, namun sering. Sebagai pengganti tiga kali makan besar, dapat dicoba makan lima atau enam porsi kecil dalam sehari. Menghindari makanan yang membuat keluhan lebih buruk, seperti makanan pedas, asam, obat-obatan penghilang nyeri. Konsultasikanlah dengan dokter sesuai dengan kondisi penyakit yang mendasari. dr. I Gede Pande Sastrawan, Sp.PD. Hp: 081 139 8586
31 Maret - 6 April 2014
STYLE
Pesona Endek Segala Usia Pekan ini Style Tokoh tampil beda. Menghadirkan varian fashion segala rentang umur melalui pilihan fashion endek yang segar untuk berbagai acara.
A
palagi Denpasar dikenal sebagai Kota Kreatif yang berhasil mengusung produk lokal endek, selain untuk pelestarian juga gencar meramaikan perkembangan fashion nasional maupun internasional. Endek bernuansa dan motif senada ini, tetap trendi di kenakan berbagai usia. Seperti dress den gan detail cut-out atau detail berbentuk lubang yang trendi dan semakin menarik pula dengan halter neckline seperti yang dikenakan Ogek. Begitu pula dress yang di-
15
gunakan Kumala, meski simpel namun berkat aksen warna cerah di seputar lehernya dan lengan boxy type tetap gaya. Ada juga yang ceria dan menawan ala Dayu Nanik yang tampil mengenakan padanan slim skirt dan blus polosnya. Pesona endek memang tak pernah habis, sebagaimana busana bersiluet smoking jacket dress pilihan Dayu Candra, yang berh asil menampilkan sisi feminin pemakainya. Sedangkan Prida Dewi, hadir dengan sentuhan aplikasi menarik pada roknya dilengkai bolero berhasil memunculkan kesan elegan. Selanjutnya Yuliani Shukana, yang set iap harinya tampil khas berupa kain dan kebaya, kali ini memilih kebaya kutu baru dengan aplikasi selaras kain padanannya. Inilah ber bagai gaya dengan garis klasik modern sebagai benang merah desain endek kali ini. – Sri Ardhini
J E L I TA
14
31 maret - 6 april 2014
Alas Bedak Sempurnakan Penampilan
Memilih alas bedak yang tepat, adalah kunci riasan yang sempurna. Saat ini sudah tidak zamannya make up yang tebal, berat dan menor. Untuk men dapatkan wajah segar tanpa riasan tebal, diperlukan alas bedak serta be dak berformula ringan yang mendekati tekstur serta dan warna kulit wajah.
K
etika, pemilihan dan pemakaian alas bedak tidak tepat, hal ini da pat merusak penampilan. Selain melekatnya tidak baik, alas be dak juga dapat berubah warna. Agar pemakaian alas bedak bisa membantu memaksimalkan riasan wajah, haruslah memilih warna alas bedak yang sesuai warna kulit serta menggunakan tabir surya dan face primer sebelum memoleskannya ke wajah. Ayu Dewi, pemilik Syahrani Salon & Spa di kawasan Gatsu Tengah menyarankan, untuk memilih warna alas bedak yang tepat. “Caranya pilih 3 jenis warna yang paling mendekati warna kulit. Untuk warna kulit Asia, banyak para pakar mengatakan lebih tepat menggunakan yellow based,” katanya. Namun, katanya karena setiap perempuan memiliki jenis kulit yang berbeda, maka pemilihan jenis alas bedak perlu diper hatikan. Jika salah memilih da pat menjadikan riasan tidak me nempel sempurna. Menurutnya beberapa jenis
alas bedak yang dapat dipilih se suai kondisi dan jenis kulit. Alas bedak untuk kulit normal, adalah jenis sheer foundation. Alas bedak jenis ini dapat membuat wajah terlihat lebih segar dan bebas minyak serta riasan akan tampak menyatu dengan kulit wajah. Kulit kering, untuk alas be daknya dapat menggunakan oil based foundation, yang memiliki kandungan minyak sehingga dapat memicu pertambahan kadar mi nyak di kulit dan menjadikan tam pak lebih lembap dan segar. Selain itu, dapat juga menggunakan alas bedak dalam bentuk krim. Alas bedak ini dapat menutup garis kerutan di wajah dan teksturnya yang lembut juga melembapkan kulit yang kering. Sedangkan alas bedak untuk kulit berminyak, agak sulit sebab minyak berlebih pada wajah dapat membuat alas bendak mudah luntur dan riasan tidak menempel di wajah. Namun, dapat meng gunakan matte foundation. Alas bedak jenis ini, memang dirancang khusus untuk menangani masalah kulit berminyak. Teksturnya yang
Ayu Dewi
ringan membuatnya cepat kering sehingga cocok untuk jenis kulit berminyak. “Menggunakan cukup tipis-tipis saja agar hasil riasan terlihat lebih natural dan bagus,” katanya menekankan. Alas bedak untuk kulit ber jerawat, cocok memakai stick foundation. Alas bedak jenis ini memiliki kandungan salicyle acid yang bisa membantu mengatasi masalah jerawat. Se lain itu, bentuk stik membuat lebih steril karena bagian yang be lum digunakan tidak akan terkontaminasi kotoran atau debu, sehingga san gat cocok untuk kulit berminyak. “Untuk kulit berminyak juga perha tikan memilih alas be dak yang labelnya noncomedogenic karen a hal ini berguna demi menghindari mun
culnya komedo yang juastru me nyebabkan jerawat,” lanjutnya. Sekali lagi, dikatakannya pemilihan alas bedak yang benar sangatlah menentukan hasil riasan yang maksimal serta pilihlah alas bedak dengan warna satu tingkat dari warna asli kulit. Selain me nyamarkan ketidaksempurnaan kulit wajah, sesungguhnya, alas bedak juga bisa melangsingkan bentuk wajah yang terlihat lebih bulat atau lebar. “Caranya, aplikasikan warna transparan yang berbeda- beda yang paling mendekati warna kulit. Baurkan warna gelap di sekitar tulang wajah, pelipis, ujung wajah juga sisi hidung. Lakukan dengan lembut hingga hasilnya tampak halus, samar dan merata,”paparnya. Proses terakhir, lanjut Ayu Dewi untuk memperoleh riasan wajah yang segar dan alami, jangan hanya menga nd alka n make up semata,
namun kita juga harus melakukan perawatan wajah secara teratur. Jika kulit wajah tidak bersih, maka riasan tidak bisa menempel den gan sempurna. Selain itu, rawat kelembapan kulit dengan selalu mengenakan pelembap dan lin dungi pula dengan tabir surya. Untuk alat –alat pengaplika siannya juga perlu diperhatikan. Untuk alas bedak cair harus dira takan dengan spons, jangan me makai jemari. Cara meratakannya pun cukup ditekan-tekan, bukan dipulaskan dengan gerakan me mutar seperti memulas bedak. Sedangkan untuk alas bedak jenis krim, dapat diaplikasikan dengan beberapa cara, yaitu dengan jari, spons, dan kuas. “Semuanya bisa memberikan hasil yang bagus. Namun, pas tikan tangan bersih dan sudah dicuci saat memulas dengan jemari,”ujarnya. Jika menggunakan kuas, apli kasikan tipis-tipis dan perlahan. Lebih baik melakukannya ber ulang-ulang dengan tarikan yang tipis daripada tebal sekaligus. “Untuk alas bedak berjenis matte, peng aplikasian harus cepat karen a t e k s t u r n y a cepat kering dan mudah menggumpal. Jadi, memerlukan tangan yang terampil dan tentu saja latihan yang cukup saat mengaplikasikannya,” kata Ayu Dewi menyudahi pen jelasannya.
31 maret - 6 april 2014
K
anker masih menjadi penyebab kematian utama di Indonesia, bahkan di dunia. Fakta menyebutkan, ka sus ini makin meningkat tiap tahunnya. Sebuah liter atur menulis kanker payudara menjadi penyebab ke matian utama wanita di Indonesia. Untuk itu, penting dipahami kebenaran beberapa mitos yang berkembang di masyarakat. Berikut penjelasan dr. I Putu Arya Dharma, Sp.B (K) Onk. yang praktik di RSAD Udayana dan RS Bhakti Rahayu, Denpasar. Mitos: Setiap benjolan di payudara adalah kanker Fakta: Belum tentu. Harus dibedakan antara tumor dan kanker. Tiap benjolan yang seharusnya tak ada, tetapi ada di bagian tubuh, disebut tumor. Tu mor bisa jinak, bisa ganas. Tumor ganas itu yang sering dianalogikan dengan kanker. Kanker berasal dari bahasa latin, cancer yang berarti kepiting. Kepiting memiliki capit yang bisa mencengkeram keras, dan penyakit ini dianggap bisa menggerogoti. Mitos: Kanker adalah pe nyakit keturunan/gen Fakta: Beberapa jenis kanker berhubungan dengan kelainan pada gen. Ini yang disebut ber sifat keturunan. Contoh kanker payudara, apabila ada mutasi (ada kelainan) pada gen BRCA1 atau BRCA2 ini akan mudah kena kanker payudara. Mutasi gen atau jenis gen yang mengalami mutasi itu berbeda-beda, dan itu berhubungan dengan jenis kanker, seperti kanker usus atau paru.
Sehat ala Ade Rai
Kirim surat Anda ke Redaksi Tokoh dan cantumkan “Sehat ala Ade Rai” di amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh.co.id Rubrik ini diasuh Ade Rai.
Binaraga natural merupakan istilah yang disematkan untuk gaya hidup maupun aktivitas kompetisi yang tidak menggunakan obatobat terlarang, baik itu narkoba maupun zat doping. Gaya hidup ini dilandasi atas pemikiran mencapai keselarasan antara bentuk fisik yang prima dengan kesehatan, vitalitas, energi, dan performa hidup yang prima. Dalam berkompetisi, bina raga natural memberikan lan dasan bertanding yang adil karena sama-sama tidak memiliki “unfair advantage” (keunggulan yang tidak adil) terhadap kompetitor yang dihadapi. Meskipun ada argumen, apabila semua atlet binaraga menggunakan zat doping, maka bukankah keung gulan tidak adil tersebut sudah tidak ada? Kompetisi tersebut menjadi sesuatu yang adil? Pendapat ini me mang benar, tetapi tidak menjadi pembenaran untuk menggunakan
zat doping untuk memenangkan pertandingan. Karena intinya, bina raga dengan fisik yang kekar dan kuat adalah cerminan bagi kualitas fisik yang sehat dan bugar. Penggunaan zat doping pada semua atlet meskipun dianggap mewujudkan “level playing field” (arena bertanding yang seimbang karena semua kompetitor mengguna kan zat doping) membawa berbagai masalah, di antaranya: Minim atau tidak adanya peng akuan organisasi dunia terhadap ca bang olahraga binaraga. Dari minim nya pengakuan organisasi dunia ini menjadikan binaraga sebagai olahraga yang terkucil dari arena Olimpiade. Para atletnya dianggap bukan sebagai panutan olahraga yang baik untuk generasi muda. Akibatnya, olahraga ini tidak mendapatkan liputan media massa dan para atletnya tidak men dapatkan pengakuan. Dampak kualitas kesehatan yang lebih buruk. Apabila zat doping
Mentalitas yang Mengizinkan Zat Doping dalam Fitness & Binaraga Menjalani fitness dan binaraga natural sebenarnya tidak sulit. Yang
Mengonsumsi makanan dengan zat pengawet yang bersifat carsinogenic seperti formalin, borax, zat pewarna tekstil dapat memicu kanker dalam dosis komulatif tertentu. Orang terpapar zat ter sebut walaupun tanpa membawa gen kanker, bisa terkena. Mitos: Penggunaan bra kawat yang mengikat lingkar dada cukup kencang, atau menggunakan bra saat tidur, bisa memicu kanker payudara Fakta: Sampai saat ini belum ada laporan ilmiah resmi yang membenarkan hal tersebut. Se cara teori kedokteran juga tidak ada. Hal ini dimungkinkan dikait kan dengan rasa nyaman saja. Mitos: Payudara besar lebih rentan kena kanker payudara Fakta: Hubungan langsungnya tidak ada. Hanya saja, perempuan yang memiliki payudara lebih besar, otomatis kelenjar-kelenjar penghasil air susu dan lemak jumlahn ya juga lebih banyak daripada yang berpayudara kecil. Namun, risiko untuk terserang
– Sri Ardhini
dibutuhkan hanyalah pola pikir dan sikap mental yang tepat. Kenali mindset yang menguatkan, maka kita akan selalu menjalani gaya hidup ini secara natural dan sportif. Hidup ini adalah mengenai pilihan, mana yang akan fitnesmania pilih? Hidup adalah mengenai membuat pilihan. Makin banyak pilihan, makin bebas kita memilih. Makin sedikit pilihan, makin terkekang hidup kita. Iming-iming meraih penampilan atletis dalam kurun waktu singkat merupakan suatu yang menggoda. Terkadang, nikmatnya iming-iming ini dianggap lebih besar daripada nikmatnya menjalani hidup natural yang sehat. Gengsi dan perasaan ke cil hati ‘kalah pesat’ daripada teman atau pemula yang lebih sedikit jam terbang berlatih yang menggunakan zat doping bisa menjadi faktor peng goda seorang fitnesmania untuk mencobanya. Di sisi lain, mimpi menjadi tenar di dunia fitness dan binaraga, menjadi model iklan atau idola baru dengan menjuarai kontes ‘body ideal’ ter tentu menjadi peluang yang terlalu sayang dibuang oleh perkembangan fisik natural yang ‘lambat’. Padahal ‘kelambatan’ itu adalah sebuah pe maknaan terhadap nilai waktu men desak yang ia patokkan atas dirinya
sendiri (ketidaksabaran). Meskipun ada yang mengata kan,”Saya sudah latihan bertahuntahun, bahkan sudah pakai suplemen tapi hasilnya itu-itu saja.” Bukanlah suatu pembenaran untuk segera menjadikan zat doping sebagai solusi ataupun menudingkan kesalahan pada orangtua yang menurunkan genetik perkembangan otot yang lemah. Dari keterbatasan pengetahuan, muncul pula mentalitas “no we can not” – suatu kondisi yang mudah menyerah pada kondisi yang ada (kemajuan fisik yang lambat / tidak kunjung terjadi). Pendapat “Ga mungkin bisa kalau ga pakai ste roids.” Menjadi bentuk pernyataan yang dilontarkan oleh mentalitas “no we can not” ini. Pola pikir dan sikap mental sep erti ini membatasi diri dari kemung kinan menambah pengetahua n, memperkaya pengalaman dan me nikmati kemajuan dengan penerap an pengetahuan yang didapat, dan bersifat menutup diri sendiri dari pencerahan fitness dan binaraga yang sebenarnya. Sehingga yang tersisa adalah pilihan yang sangat terbatas, di mana pemakaian zat doping tampak menjadi segalanya yang indah bagi pola pikir dan sikap mental ini.
11
Payudara Besar Rentan Kena Kanker Payudara?
Mindset Seorang Drug-Free Fitnessmania (1) membuat kita lebih sehat, membuat kita lebih panjang umur, bermanfaat bagi diri kita dan orang lain, maka kami juga akan menganjurkan semua orang untuk memakainya. Kenyataan nya adalah tidak demikian, sehingga menghindarinya menjadi salah satu anjuran kami untuk hidup yang lebih sehat. “Level playing field” di mana semua peserta ajang fitness dan binaraga menggunakan zat doping hanya berarti satu pasti “level health risk”, yaitu: risiko kesehatan yang sama dihadapi oleh semua atlet yang menggunakannya. Lambatnya pertumbuhan indus tri fitness dan binaraga. Orangtua menaruh rasa khawatir apabila anaknya menekuni olahraga fitness dan binaraga, karena dianggap rentan disodorkan zat doping yang ilegal dan membahayakan kesehatan. Selain itu, fitness dan binaraga hanya akan identik dengan hobi yang konsumtif, bukan passion yang bisa dijadikan mata pencaharian hidup yang ber martabat dengan prospek masa depan cerah.
MITOS ATAU FAKTA
dr. Oka Negara, FIAS
Kirim surat Anda ke Redaksi Tokoh dan cantumkan “Sex Edu”di amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh.co.id. Rubrik ini diasuh Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI) Denpasar.
“Dok, saya ingin sekali memiliki anak laki-laki. Sebagai orang Bali rasanya tidak lengkap kalau belum punya anak laki-laki sebagai penerus keluarga. Saya punya dua anak, semuanya perempuan. Tadinya saya pikir saya yang ada masalah, tetapi setelah saya baca-baca ternyata laki-laki yang menentukan anak itu bakal jadi laki-laki atau perempuan ya, Dok. Apa ada cara yang dapat dilakukan untuk mendapatkan anak laki-laki? Siapa tahu bisa saya praktekkan caranya.” (Gek Yanti, 28) Keinginan dan upaya untuk dapat menentukan anak yang lahir sesuai dengan keinginan suami-istri sudah lama terjadi, bahkan sejak zaman purbakala. Minum ramuan tertentu, mengonsumsi makanan tertentu, hingga perilakuperilaku tertentu sempat dilakukan turun-temurun dan memunculkan mi tos. Contohnya adalah masih ada yang percaya jika ingin berhubungan seksual dengan suami memulai “menaiki” istri dari sebelah kanan akan mendapatkan anak laki-laki, sedangkan bila dari sebe lah kiri akan mendapatkan anak perem puan. Tentu saja ini hanya mitos. Jenis kelamin seorang anak di tentukan oleh kromosom seks yang ada pada sel sperma dari pihak laki-laki yang membuahi sel telur perempuan. Kro mosom seks pada sel sperma laki-laki ada dua jenis, yaitu X dan Y. Sel telur hanya memiliki satu jenis kromosom seks yaitu X. Jadi laki-laki yang menen tukan akan jadi apa nanti jenis kelamin
anaknya. Jika jenis kromosom pada sel sperma yang bertemu sel telur adalah yang Y, maka akan terbentuk kromosom gabungan XY yang selanjutnya lahir menjadi anak laki-laki. Sedangkan jika jenis kromosom pada sel sperma yang bertemu sel telur adalah yang X, maka akan menjadi XX, atau yang nanti ter lahir sebagai anak perempuan. Secara umum, kemungkinan jenis kelamin bayi adalah tetap berkisar 50-50. Ada cara yang sering dicoba dan di anggap bisa berpengaruh terhadap jenis kelamin anak dalam konteks hubungan seksual. Salah satu yang paling populer adalah metode asam basa. Secara ilmiah disepakati bahwa derajat keasaman atau pH vagina berperan dalam proses pembuahan. Makin basa cenderung menghasilkan bayi berjenis kelamin laki-laki, sementara pH yang lebih asam akan menghasilkan bayi perempuan. Atas dasar teori ini, selanjutnya diteliti dan dicari cara dan kombinasi teknik
kanker payudara, sama saja. Mitos: Kanker payudara hanya menyerang usia tua Fakta: Tidak selalu benar. Karena, belakangan ini banyak juga usia di bawah 30 tahun terkena kanker payudara. Pemicunya lebih banyak karena faktor genetik. Jika ada mutasi, 80 % kemungkinan terkena kanker. Mitos: Wanita yang tak me miliki bayi dan tak menyusui di atas usia 30 tahun, berisiko kena kanker payudara Fakta: Benar, karena ini terkait dengan hormon estrogen. Untuk bertumbuh dan berkem bangnya kanker payudara, hampir 75 % memerlukan hormon estro gen. Hormon ini adalah hormon alamiah pada wanita. Paparan yang tinggi dalam jangka waktu lama dapat memicu terjadinya kanker payudara. Paparan ini bisa dikurangi dengan terjadinya kehamilan dan menyusui. Pada kondisi tersebut, kadar hormon estrogen menurun, sebaliknya kadar hormon progesteron men
dr. I Putu Arya Dharma, Sp.B (K) Onk.
ingkat. Saat hamil dan menyusui, seorang wanita akan terhidar dari paparan hormon estrogen, sehingga mengurangi risiko ter jadinya kanker payudra. Karena itu, wanita yang pernah hamil dan menyusui berisiko lebih kecil terkena kanker payudara. Mitos: Wanita yang tak melakukan aktivitas seksual berisiko kena kanker payudara Fakta: Hal ini tak ada ber hubungan dengan kanker payu dara. Justru aktivitas seksual yang berlebihan pada usia lebih awal/muda dan berganti-ganti pasangan, akan memicu terjadinya kanker serviks/leher rahim. Ini kaitannya dengan higienis dan in feksi Human Papilloma Virus (HPV) yang dapat memicu terjadinya kanker serviks. Mitos: Cegah kanker payudara dengan sering meremas-remas payudara Fakta: Ada benarnya, jika
yang dimaksud meremas payudara sendiri sebagai langkah sadari (pemeriksaan payudara sendiri). Tujuannya, untuk menganalisa secara detail bentuk dan ukuran payudara sendiri dan mendeteksi secara dini apabila ada hal-hal yang mencurigakan pada payudara sendiri. Pada beberapa kasus, se cara tak sengaja, pasutri yang lebih dulu mengetahui adanya kelainan (benjolan/tumor) pada payudara. Mitos: Orang yang sudah melakukan mastektomi, tidak bisa kena kanker Fakta: Benar, karena kelenjar payudaranya sudah diangkat. Mastektomi adalah operasi peng angkatan seluruh kelenjar dan jaringan penunjang payudara atau kalau diperlukan disertai dengan pengangkatan otot di bawahnya dan kelenjar-kelanjar getah ben ing di sekitarnya. Belakangan ini di negara maju, mastektomi sudah menjadi salah satu pilihan untuk mencegah terjadinya kanker payu dara pada orang dengan kelainan gen. Hal ini disebut profilactic mastectomy. Salah seorang artis Hollywood yang sudah melaku kannya adalah Angelina Jolie. Mitos: Perawatan kesuburan bisa meningkatkan risiko kanker Fakta: Ada benarnya, karena obat-obatan kesuburan bersifat hormonal. Hal ini berkaitan de ngan paparan hormon estrogen. Tetapi, dengan penggunaan yang diawasi dokter ahli dan dengan dosis tepat, risiko tersebut dapat dihindari. –Inten Indrawati
Ingin Anak Laki-laki untuk memperoleh suasana pH vagina yang diiinginkan. Pertama, untuk mencari anak lakilaki, dikondisikan pH vagina menjadi basa, posisi hubungan seks yang dian jurkan adalah penetrasi makin dalam sehingga lebih mendekat ke arah mulut rahim. Penetrasi yang lebih ke arah luar, cenderung menciptakan suasana asam, yang artinya peluang memperoleh anak perempuan malah lebih besar. Kedua, ada yang berusaha dikom binasikan dengan mengkondisikan jenis makanan yang bisa menciptakan suasana asam atau basa. Misalnya, untuk men imbulkan suasana asam, maka konsumsi makanan yang dianjurkan adalah maka nan berkadar garam tinggi, atau yang tinggi kalsium dan magnesium, seperti produk susu olahan (keju, yoghurt) dan sejenisnya. Sebaliknya, untuk memper oleh anak laki-laki, dianjurkan memilih makanan yang banyak dagingnya karena tinggi natrium dan kalium karena akan membantu suasana cairan vagina men jadi lebih basa. Tentu saja ini bias dan kegagalan cukup tinggi. Ketiga, cara lain yang sering di pakai adalah mencuci vagina sebelum berhubungan seksual. Misalnya, untuk mendapatkan pH vagina yang asam, vagina dicuci dengan asam cuka, se mentara untuk mendapatkan suasana basa, bisa dibasuh dengan soda kue. Gabungan ketiga teknik ini jika disiplin dilakukan sebenarnya memiliki tingkat keberhasilan yang tidak terlalu tinggi, beberapa penelitian lama menyebutkan hanya sekitar 50-70 persen.
Ada cara lain? Ada sebuah cara lain adalah dengan teknik memperhitungkan waktu saat subur atau ovulasi. Teknik ini dasar ilmiahnya adalah melihat per bedaan gerakan sel sperma. Sel sperma berkromosom Y yang ukurannya lebih kecil, gerakannya lebih cepat dari yang X, tetapi umurnya lebih pendek dalam saluran telur. Sel sperma X lebih besar, lebih lambat gerakannya, tapi umurnya lebih tahan lama di saluran telur. Atas dasar perbedaan ini, diyakini faktor waktu dalam hubungan seksual bisa berpengaruh terhadap jenis kelamin bayi. Semakin dekat waktu hubun gan seks ke saat ovulasi, diharapkan sel sperma Y yang lebih cepat dan lebih awal bergerak ke sel telur, sehingga kemungkinan menghasilkan anak laki-laki lebih besar. Dianjurkan hubungan seksual dilakukan 1 hari sebelum ovulasi atau di saat ovulasi jika menginginkan anak laki-laki. Jika ingin anak perempuan, hubungan seksual sebaiknya dilakukan jauh hari sebelum ovulasi, bisa 2-3 hari sebelum ovulasi, setelah itu jangan berhubungan lagi. Biarkan istri mencapai orgasme lebih dahulu baru disusul suami. Cairan yang dihasilkan saat wanita mengalami orgasme diyakini lebih mendukung perg erakan sel sperma Y untuk lebih cepat sampai ke sel telur. Apakah ada cara yang lebih canggih? Ada, tetapi tentu saja tidak bisa dikerja kan di rumah dan harus datang ke ahl inya karena tentu saja ini hanya bisa di lakukan oleh kalangan profesional medis terlatih dan didukung alat-alat yang juga
mutakhir. Salah satunya yang populer adalah dengan melakukan separasi atau memilah dan memilih sel sperma X dan Y dengan jalan disaring menggunakan bahan kimia tertentu misalnya cairan albumin. Metode ini sekarang banyak digunakan untuk proses inseminasi. Lalu bisa juga menggunakan teknik mikro sortir (microsort). Sperma Y atau X disortir atau dipilih sesuai dengan keperluan. Keberhasilan metode ini diklaim paling tinggi, walaupun masih muncul pro-kontra seputar keamanan pewarna yang digunakan. Itu semua adalah berbagai cara, teknik dan kemungkinan yang bisa dilakukan dalam merencanakan pemi lihan jenis kelamin anak. Ada yang bisa dikerjakan di rumah atau oleh pasangan itu sendiri, ada yang lebih canggih lagi dengan bantuan teknologi. Hal yang perlu diketahui adalah semua metode hanya dapat meningkatkan persentase keberhasilan. Tidak ada yang bisa menjamin 100 persen bahwa nanti yang lahir pasti bayi laki-laki atau bayi perempuan. Tetapi, dalam kenyataan yang terjadi secara global, usaha ke arah riset dan pemanfaatannya untuk pemilihan jenis kelamin anak ini sudah tidak lagi menjadi hal menarik di dunia, banyak yang menilai upaya pemilihan jenis kelamin anak sebagai hal diskrimi natif. Karena sesungguhnya dengan kemajuan pemahaman akan hak asasi manusia dan kesetaraan gender, posisi anak laki-laki dan perempuan di dunia global sudah tidak lagi menyisakan perbedaan yang bermakna.
RESEP ALA CHEF
12
31 Maret - 6 April 2014
Pesta Ceria Pan Sheared Fish Fillet
Putu Raka Susila
Kali ini Tokoh akan menampilkan menu Barat untuk hidangan pesta mewah dan meriah. Cara membuatnya sangat sederhana namun sangat terlihat berkelas dan menggoda selera. Menu spesial ini persembahan Sous Chef The 101 Bali Legian Putu Raka Susila. Anda tertarik? Selamat mencoba.
Hollandaise Sauce
Bahan: 180 gram : ikan mahi-mahi/ ikan sesuai selera 120 gram : potato mashed 50 gram : bayam 30 gram : tomat ceri 1 butir : kuning telur 20 gram : jeruk nipis Red wine Garam dan merica
- Kuning telur, mentega, jeruk nipis dan red wine dimasak untuk membuat hollandaise
sauce - Hidangkan dengan tomat ceri.
kulit lumpia sosis kambing bawang bombai terung paprika tomat telur rebus
Hiasan: Tomat ceri Daun oregano Saus teriyaki (sudah jadi bisa dibeli di supermarket)
Nyepi di Kapal Pesiar Ngelawar dan Sembahyang Bersama
D
Lamb Ratatouille Tart
Cara membuat: - Potong kulit lumpia menjadi 9 buah. Masukkan ke cetakan bulat lalu oven hingga renyah. - Potong bawang bombai, terung, tomat, paprika, bentuk dadu. Lalu tumis dengan garam dan merica, aduk hingga kayu dan matang. - Potong telur rebus menjadi 6 bagian. - Ambil kulit lumpia, isi bagian isi tadi. Hidangkan menu ini dengan tambahkan telur ayam, tomat ceri, saus teriyaki, dan daun oregano.
itemui di sela-sela gathering Indonesian Chef Association (ICA) Bali di The 101 Bali Legian, Rabu (26/3), Putu Raka sangat antusias menceritakan pengalamannya bekerja di bidang perhotelan. “Saya awalnya bisa tertarik kerja di hotel karena mendengar nasihat orangtua. Kebetulan bapak bekerja di hotel,” tutur lelaki usia 37 tahun ini. Walaupun berbadan besar dan kerap dikira security, Putu Raka tertarik menekuni bidang kuliner. Tamat SMP, ia langsung ambil jurusan Tata Boga di SMTK Denpasar. Kemudian melanjutkan ke Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Pariwisata di Kuta. Sambil kuliah dia ditawari ikut bekerja di Matahari Bungalow sekaligus untuk mencari
di supermarket) Hiasan: daun oregano Cara membuat: - Cuci kentang, lalu rebus hingga matang. Angkat kupas dan uleni, tambahkan krim, garam, merica dan pala
bubuk. Aduk di atas api kecil sampai padat lalu dibentuk kotak kecil. - Tumis bawang bombai hingga layu, masukkan irisan daging sapi, aduk, tambahkan saus merica hitam, aduk rata dan masak hingga daging menjadi empuk. - Saus merica hitam: merica hitam butiran ditambahkan demiglace (dalam
bentuk bubuk dicampur air sedikit). Panaskan sebentar. Siap digunakan. - Bersihkan buncis potong miring dan rebus dengan air garam, angkat dan tiriskan. - Hidangkan kentang dan black pepper beef. Hias dengan buncis dengan daun oregano. –Wirati Astiti
pengalaman. Sampai ia tamat, ia pindah bekerja ke restoran Bali Medori Nusa Dua. Ia serius menekuni memasak makanan Barat. Menurutnya, memasak makanan Barat lebih mudah karena tak perlu banyak waktu dan tidak banyak bumbu. “Lebih banyak menggunakan garam dan merica dan rasa dari aneka saus,” kata Putu Rata. Setelah puas mendapatkan pengalaman di sana, ia pindah ke Mercure kuta. Setelah berkarier lima tahun, Putu Raka, mencoba peruntungannya ke kapal pesiar. Selama di kapal, ia menuturkan, sering juga mendapatkan menu Indonesia. “Menu dari berbagai negara asal para pekerja, semua pernah disajikan saat makan. Tujuannya, agar kita juga mengenal
makanan khas mereka. Biasanya, untuk makanan Indonesia, yang disajikan makanan yang sudah dikenal seperti nasi goreng atau sate,” kata Putu Raka. Yang paling seru menurutnya adalah pengalaman merasakan hari raya besar di kapal. “Saya empat kali kontrak selalu bertemu hari raya Hindu di kapal. Yang seru, kami biasanya membuat lawar makanan khas Bali bersama sesama warga Bali di kapal. Lumayan juga untuk menghilangkan stres dan kerinduan akan kampung halaman,” kata Putu Raka. Bumbu lawar biasanya ia beli dalam bentuk bubuk. Biasanya dijual di Asian market. Ia mengakui, tetap saja ada perbedaan rasa namun tak memengaruhi kebersamaan di antara para pekerja
Putu Raka Susila
asal Bali. Ia menuturkan, tahu hari raya Hindu dari kalender Bali yang dibawa. Saat Hari Raya Nyepi, setelah selesai merapikan peralatan untuk makan malam para tamu, Putu Raka dan teman-teman sesama Hindu mulai membuat lawar. Setelah lawar siap, mereka semua mandi dan menggunakan pakaian adat madya untuk melakukan persembahyangan bersama. Bertempat di satu dak di kapal, mereka menata diri dengan baik
dan khusuk. “Mungkin selama di Bali, kami ada yang jarang-jarang sembahyang. Tapi di kapal, semua rajin-rajin sembahyang,” tuturnya sembari tertawa. Walaupun tanpa sarana canang, mereka sembahyang dengan khusuk. Setelah itu, satu teman di pilih untuk memberikan semacam motivasi kepada yang lain. “Bia sanya teman yang dipilih adalah teman yang dikenal “vokal”. Tujuannya, agar kami selalu ingat akan diri selama di perantauan dan taat sembahyang. Mungkin lebih tepatnya, kami saling menyemangati diri masing-masing agar dapat bertahan dan menyelesaikan kontrak dengan baik,” kata Putu Raka. Empat kali kontrak, berbeda kapal dan berbeda teman. Namun, bagi Putu Raka, saat hari raya Hindu ditemui di kapal, ritual yang biasa mereka lakukan tetap sama yakni membuat lawar dan makan bersama. “Biasanya, dalam satu kapal, ada orang Bali sekitar 20-an orang,” kata Putu Raka. Setelah mengundurkan diri dari kapal, Putu sempat bekerja di beberapa tempat sampai akhirnya, ia memulai kariernya tahun 2011 di The 101 Bali Legian. -Wirati Astiti
Sup Kacang Merah
Potato and Black Pepper Beef Bahan: 150 gram : kentang 20 ml : krim masak 80 gram : daging sapi yang dipotong kecil-kecil 20 gram : bawang bombai 2 gram : merica hitam 10 gram : buncis Demiglace (sudah bentuk jadi bisa dibeli
13
Putu Raka Susila
Bekerja di kapal pesiar masih menjadi satu hal yang menjanjikan bagi sebagian besar pemuda asal Bali. Selain untuk mencari pengalaman kerja, traveling ke berbagai negara dilakukan dengan gratis. Hal ini yang dituturkan Raka Susila, yang sempat empat kali kontrak kerja di kapal pesiar. Banyak pengalaman yang dirasakan Sous Chef The 101 Bali Legian ini, saat di perantauan. Seperti apa?
Cara membuat: - Bersihkan dan potong-potong ikan. Lumuri ikan dengan garam, merica, dan air jeruk nipis. Diamkan sebentar lalu dipanggang hingga matang. - Potato mashed: kentang direbus, kemudian dihancurkan, tambahkan krim, dimasak di atas api kecil, hingga padat. - Bayam yang sudah direbus ditumis dengan bawang putih, garam, dan merica.
Bahan: 1 buah : 50 gram : 20 gram : 10 gram : 20 gram : 20 gram : 1 butir :
C U L I N A RY C O R N E R
31 Maret - 6 April 2014
Lumpia Isi Rebung Sarwan Bahan kulit: 250 gr : tepung terigu 2 butir : telur ayam 450 ml : air 1 sdt : garam 50 gr : susu bubuk Bahan isi: 350 gr : rebung, rebus, iris halus 3 sdm : minyak untuk menumis 6 siung : bawang putih, haluskan 2 batang : daun bawang, iris halus ½ sdt : garam 2 sdm : gula pasir 1 sdm : kecap manis 2 sdm : tepung terigu, larutkan dengan sedikit air
Cara membuat: - Campur terigu, susu bubuk, telur, air dan garam, aduk sampai menjadi adonan yang licin, panaskan wajan teflon, buat dadar tipis, sisihkan. - Tumis bawang putih, masukkan rebung, kecap, merica bubuk, gula, garam, aduk
hingga rata dan semua bahan menjadi matang, angkat, sisih kan. - Siapkan 1 lembar kullit lumpia, ambil isi, letakkan di atas kulit lumpia, lipat kedua sisinya dan rekatkan tepinya dengan larutan tepung terigu. - Goreng hingga kecokelatan.
Jus Stroberi Es Krim Bahan: 2 scoop 70 ml 20 ml 6 buah Es batu
: : : : :
es krim stroberi susu segar sirup merah stroberi segar secukupnya
Cara membuat: - Campur semua bahan, masukkan dalam blender, proses hingga halus. - Tuangkan dalam gelas saji, hiasi dengan stroberi yang telah dicincang di atasnya. - Sajikan selagi dingin.
Bahan: 200 gr : wortel, iris tipis 150 gr : kacang merah, rebus, lalu tiriskan 3 biji : sosis ayam/sapi, potong tipis 2 biji : tomat, direbus lalu dihaluskan 1 tangkai : daun seledri, lalu diikat 2 sdm : margarin 3 siung : bawang putih, cincang halus ½ buah : bawang bombai, cincang halus 100 ml air 2 biji kaldu blok
Merica, garam, gula secukupnya Bawang goreng secukupnya Cara membuat: - Panaskan margarin, masukkan wortel, bawang putih, bawang bombai sampai layu, lalu masukkan air, kacang merah dan sosis, serrta ikatan seledri, lalu tomat halus, tambahkan kaldu blok, tunggu hingga mendidih. - Masukkan merica, gula dan garam. - Taburkan bawang goreng, hidangkan selagi panas.
RESEP ALA CHEF
12
31 Maret - 6 April 2014
Pesta Ceria Pan Sheared Fish Fillet
Putu Raka Susila
Kali ini Tokoh akan menampilkan menu Barat untuk hidangan pesta mewah dan meriah. Cara membuatnya sangat sederhana namun sangat terlihat berkelas dan menggoda selera. Menu spesial ini persembahan Sous Chef The 101 Bali Legian Putu Raka Susila. Anda tertarik? Selamat mencoba.
Hollandaise Sauce
Bahan: 180 gram : ikan mahi-mahi/ ikan sesuai selera 120 gram : potato mashed 50 gram : bayam 30 gram : tomat ceri 1 butir : kuning telur 20 gram : jeruk nipis Red wine Garam dan merica
- Kuning telur, mentega, jeruk nipis dan red wine dimasak untuk membuat hollandaise
sauce - Hidangkan dengan tomat ceri.
kulit lumpia sosis kambing bawang bombai terung paprika tomat telur rebus
Hiasan: Tomat ceri Daun oregano Saus teriyaki (sudah jadi bisa dibeli di supermarket)
Nyepi di Kapal Pesiar Ngelawar dan Sembahyang Bersama
D
Lamb Ratatouille Tart
Cara membuat: - Potong kulit lumpia menjadi 9 buah. Masukkan ke cetakan bulat lalu oven hingga renyah. - Potong bawang bombai, terung, tomat, paprika, bentuk dadu. Lalu tumis dengan garam dan merica, aduk hingga kayu dan matang. - Potong telur rebus menjadi 6 bagian. - Ambil kulit lumpia, isi bagian isi tadi. Hidangkan menu ini dengan tambahkan telur ayam, tomat ceri, saus teriyaki, dan daun oregano.
itemui di sela-sela gathering Indonesian Chef Association (ICA) Bali di The 101 Bali Legian, Rabu (26/3), Putu Raka sangat antusias menceritakan pengalamannya bekerja di bidang perhotelan. “Saya awalnya bisa tertarik kerja di hotel karena mendengar nasihat orangtua. Kebetulan bapak bekerja di hotel,” tutur lelaki usia 37 tahun ini. Walaupun berbadan besar dan kerap dikira security, Putu Raka tertarik menekuni bidang kuliner. Tamat SMP, ia langsung ambil jurusan Tata Boga di SMTK Denpasar. Kemudian melanjutkan ke Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Pariwisata di Kuta. Sambil kuliah dia ditawari ikut bekerja di Matahari Bungalow sekaligus untuk mencari
di supermarket) Hiasan: daun oregano Cara membuat: - Cuci kentang, lalu rebus hingga matang. Angkat kupas dan uleni, tambahkan krim, garam, merica dan pala
bubuk. Aduk di atas api kecil sampai padat lalu dibentuk kotak kecil. - Tumis bawang bombai hingga layu, masukkan irisan daging sapi, aduk, tambahkan saus merica hitam, aduk rata dan masak hingga daging menjadi empuk. - Saus merica hitam: merica hitam butiran ditambahkan demiglace (dalam
bentuk bubuk dicampur air sedikit). Panaskan sebentar. Siap digunakan. - Bersihkan buncis potong miring dan rebus dengan air garam, angkat dan tiriskan. - Hidangkan kentang dan black pepper beef. Hias dengan buncis dengan daun oregano. –Wirati Astiti
pengalaman. Sampai ia tamat, ia pindah bekerja ke restoran Bali Medori Nusa Dua. Ia serius menekuni memasak makanan Barat. Menurutnya, memasak makanan Barat lebih mudah karena tak perlu banyak waktu dan tidak banyak bumbu. “Lebih banyak menggunakan garam dan merica dan rasa dari aneka saus,” kata Putu Rata. Setelah puas mendapatkan pengalaman di sana, ia pindah ke Mercure kuta. Setelah berkarier lima tahun, Putu Raka, mencoba peruntungannya ke kapal pesiar. Selama di kapal, ia menuturkan, sering juga mendapatkan menu Indonesia. “Menu dari berbagai negara asal para pekerja, semua pernah disajikan saat makan. Tujuannya, agar kita juga mengenal
makanan khas mereka. Biasanya, untuk makanan Indonesia, yang disajikan makanan yang sudah dikenal seperti nasi goreng atau sate,” kata Putu Raka. Yang paling seru menurutnya adalah pengalaman merasakan hari raya besar di kapal. “Saya empat kali kontrak selalu bertemu hari raya Hindu di kapal. Yang seru, kami biasanya membuat lawar makanan khas Bali bersama sesama warga Bali di kapal. Lumayan juga untuk menghilangkan stres dan kerinduan akan kampung halaman,” kata Putu Raka. Bumbu lawar biasanya ia beli dalam bentuk bubuk. Biasanya dijual di Asian market. Ia mengakui, tetap saja ada perbedaan rasa namun tak memengaruhi kebersamaan di antara para pekerja
Putu Raka Susila
asal Bali. Ia menuturkan, tahu hari raya Hindu dari kalender Bali yang dibawa. Saat Hari Raya Nyepi, setelah selesai merapikan peralatan untuk makan malam para tamu, Putu Raka dan teman-teman sesama Hindu mulai membuat lawar. Setelah lawar siap, mereka semua mandi dan menggunakan pakaian adat madya untuk melakukan persembahyangan bersama. Bertempat di satu dak di kapal, mereka menata diri dengan baik
dan khusuk. “Mungkin selama di Bali, kami ada yang jarang-jarang sembahyang. Tapi di kapal, semua rajin-rajin sembahyang,” tuturnya sembari tertawa. Walaupun tanpa sarana canang, mereka sembahyang dengan khusuk. Setelah itu, satu teman di pilih untuk memberikan semacam motivasi kepada yang lain. “Bia sanya teman yang dipilih adalah teman yang dikenal “vokal”. Tujuannya, agar kami selalu ingat akan diri selama di perantauan dan taat sembahyang. Mungkin lebih tepatnya, kami saling menyemangati diri masing-masing agar dapat bertahan dan menyelesaikan kontrak dengan baik,” kata Putu Raka. Empat kali kontrak, berbeda kapal dan berbeda teman. Namun, bagi Putu Raka, saat hari raya Hindu ditemui di kapal, ritual yang biasa mereka lakukan tetap sama yakni membuat lawar dan makan bersama. “Biasanya, dalam satu kapal, ada orang Bali sekitar 20-an orang,” kata Putu Raka. Setelah mengundurkan diri dari kapal, Putu sempat bekerja di beberapa tempat sampai akhirnya, ia memulai kariernya tahun 2011 di The 101 Bali Legian. -Wirati Astiti
Sup Kacang Merah
Potato and Black Pepper Beef Bahan: 150 gram : kentang 20 ml : krim masak 80 gram : daging sapi yang dipotong kecil-kecil 20 gram : bawang bombai 2 gram : merica hitam 10 gram : buncis Demiglace (sudah bentuk jadi bisa dibeli
13
Putu Raka Susila
Bekerja di kapal pesiar masih menjadi satu hal yang menjanjikan bagi sebagian besar pemuda asal Bali. Selain untuk mencari pengalaman kerja, traveling ke berbagai negara dilakukan dengan gratis. Hal ini yang dituturkan Raka Susila, yang sempat empat kali kontrak kerja di kapal pesiar. Banyak pengalaman yang dirasakan Sous Chef The 101 Bali Legian ini, saat di perantauan. Seperti apa?
Cara membuat: - Bersihkan dan potong-potong ikan. Lumuri ikan dengan garam, merica, dan air jeruk nipis. Diamkan sebentar lalu dipanggang hingga matang. - Potato mashed: kentang direbus, kemudian dihancurkan, tambahkan krim, dimasak di atas api kecil, hingga padat. - Bayam yang sudah direbus ditumis dengan bawang putih, garam, dan merica.
Bahan: 1 buah : 50 gram : 20 gram : 10 gram : 20 gram : 20 gram : 1 butir :
C U L I N A RY C O R N E R
31 Maret - 6 April 2014
Lumpia Isi Rebung Sarwan Bahan kulit: 250 gr : tepung terigu 2 butir : telur ayam 450 ml : air 1 sdt : garam 50 gr : susu bubuk Bahan isi: 350 gr : rebung, rebus, iris halus 3 sdm : minyak untuk menumis 6 siung : bawang putih, haluskan 2 batang : daun bawang, iris halus ½ sdt : garam 2 sdm : gula pasir 1 sdm : kecap manis 2 sdm : tepung terigu, larutkan dengan sedikit air
Cara membuat: - Campur terigu, susu bubuk, telur, air dan garam, aduk sampai menjadi adonan yang licin, panaskan wajan teflon, buat dadar tipis, sisihkan. - Tumis bawang putih, masukkan rebung, kecap, merica bubuk, gula, garam, aduk
hingga rata dan semua bahan menjadi matang, angkat, sisih kan. - Siapkan 1 lembar kullit lumpia, ambil isi, letakkan di atas kulit lumpia, lipat kedua sisinya dan rekatkan tepinya dengan larutan tepung terigu. - Goreng hingga kecokelatan.
Jus Stroberi Es Krim Bahan: 2 scoop 70 ml 20 ml 6 buah Es batu
: : : : :
es krim stroberi susu segar sirup merah stroberi segar secukupnya
Cara membuat: - Campur semua bahan, masukkan dalam blender, proses hingga halus. - Tuangkan dalam gelas saji, hiasi dengan stroberi yang telah dicincang di atasnya. - Sajikan selagi dingin.
Bahan: 200 gr : wortel, iris tipis 150 gr : kacang merah, rebus, lalu tiriskan 3 biji : sosis ayam/sapi, potong tipis 2 biji : tomat, direbus lalu dihaluskan 1 tangkai : daun seledri, lalu diikat 2 sdm : margarin 3 siung : bawang putih, cincang halus ½ buah : bawang bombai, cincang halus 100 ml air 2 biji kaldu blok
Merica, garam, gula secukupnya Bawang goreng secukupnya Cara membuat: - Panaskan margarin, masukkan wortel, bawang putih, bawang bombai sampai layu, lalu masukkan air, kacang merah dan sosis, serrta ikatan seledri, lalu tomat halus, tambahkan kaldu blok, tunggu hingga mendidih. - Masukkan merica, gula dan garam. - Taburkan bawang goreng, hidangkan selagi panas.
J E L I TA
14
31 maret - 6 april 2014
Alas Bedak Sempurnakan Penampilan
Memilih alas bedak yang tepat, adalah kunci riasan yang sempurna. Saat ini sudah tidak zamannya make up yang tebal, berat dan menor. Untuk men dapatkan wajah segar tanpa riasan tebal, diperlukan alas bedak serta be dak berformula ringan yang mendekati tekstur serta dan warna kulit wajah.
K
etika, pemilihan dan pemakaian alas bedak tidak tepat, hal ini da pat merusak penampilan. Selain melekatnya tidak baik, alas be dak juga dapat berubah warna. Agar pemakaian alas bedak bisa membantu memaksimalkan riasan wajah, haruslah memilih warna alas bedak yang sesuai warna kulit serta menggunakan tabir surya dan face primer sebelum memoleskannya ke wajah. Ayu Dewi, pemilik Syahrani Salon & Spa di kawasan Gatsu Tengah menyarankan, untuk memilih warna alas bedak yang tepat. “Caranya pilih 3 jenis warna yang paling mendekati warna kulit. Untuk warna kulit Asia, banyak para pakar mengatakan lebih tepat menggunakan yellow based,” katanya. Namun, katanya karena setiap perempuan memiliki jenis kulit yang berbeda, maka pemilihan jenis alas bedak perlu diper hatikan. Jika salah memilih da pat menjadikan riasan tidak me nempel sempurna. Menurutnya beberapa jenis
alas bedak yang dapat dipilih se suai kondisi dan jenis kulit. Alas bedak untuk kulit normal, adalah jenis sheer foundation. Alas bedak jenis ini dapat membuat wajah terlihat lebih segar dan bebas minyak serta riasan akan tampak menyatu dengan kulit wajah. Kulit kering, untuk alas be daknya dapat menggunakan oil based foundation, yang memiliki kandungan minyak sehingga dapat memicu pertambahan kadar mi nyak di kulit dan menjadikan tam pak lebih lembap dan segar. Selain itu, dapat juga menggunakan alas bedak dalam bentuk krim. Alas bedak ini dapat menutup garis kerutan di wajah dan teksturnya yang lembut juga melembapkan kulit yang kering. Sedangkan alas bedak untuk kulit berminyak, agak sulit sebab minyak berlebih pada wajah dapat membuat alas bendak mudah luntur dan riasan tidak menempel di wajah. Namun, dapat meng gunakan matte foundation. Alas bedak jenis ini, memang dirancang khusus untuk menangani masalah kulit berminyak. Teksturnya yang
Ayu Dewi
ringan membuatnya cepat kering sehingga cocok untuk jenis kulit berminyak. “Menggunakan cukup tipis-tipis saja agar hasil riasan terlihat lebih natural dan bagus,” katanya menekankan. Alas bedak untuk kulit ber jerawat, cocok memakai stick foundation. Alas bedak jenis ini memiliki kandungan salicyle acid yang bisa membantu mengatasi masalah jerawat. Se lain itu, bentuk stik membuat lebih steril karena bagian yang be lum digunakan tidak akan terkontaminasi kotoran atau debu, sehingga san gat cocok untuk kulit berminyak. “Untuk kulit berminyak juga perha tikan memilih alas be dak yang labelnya noncomedogenic karen a hal ini berguna demi menghindari mun
culnya komedo yang juastru me nyebabkan jerawat,” lanjutnya. Sekali lagi, dikatakannya pemilihan alas bedak yang benar sangatlah menentukan hasil riasan yang maksimal serta pilihlah alas bedak dengan warna satu tingkat dari warna asli kulit. Selain me nyamarkan ketidaksempurnaan kulit wajah, sesungguhnya, alas bedak juga bisa melangsingkan bentuk wajah yang terlihat lebih bulat atau lebar. “Caranya, aplikasikan warna transparan yang berbeda- beda yang paling mendekati warna kulit. Baurkan warna gelap di sekitar tulang wajah, pelipis, ujung wajah juga sisi hidung. Lakukan dengan lembut hingga hasilnya tampak halus, samar dan merata,”paparnya. Proses terakhir, lanjut Ayu Dewi untuk memperoleh riasan wajah yang segar dan alami, jangan hanya menga nd alka n make up semata,
namun kita juga harus melakukan perawatan wajah secara teratur. Jika kulit wajah tidak bersih, maka riasan tidak bisa menempel den gan sempurna. Selain itu, rawat kelembapan kulit dengan selalu mengenakan pelembap dan lin dungi pula dengan tabir surya. Untuk alat –alat pengaplika siannya juga perlu diperhatikan. Untuk alas bedak cair harus dira takan dengan spons, jangan me makai jemari. Cara meratakannya pun cukup ditekan-tekan, bukan dipulaskan dengan gerakan me mutar seperti memulas bedak. Sedangkan untuk alas bedak jenis krim, dapat diaplikasikan dengan beberapa cara, yaitu dengan jari, spons, dan kuas. “Semuanya bisa memberikan hasil yang bagus. Namun, pas tikan tangan bersih dan sudah dicuci saat memulas dengan jemari,”ujarnya. Jika menggunakan kuas, apli kasikan tipis-tipis dan perlahan. Lebih baik melakukannya ber ulang-ulang dengan tarikan yang tipis daripada tebal sekaligus. “Untuk alas bedak berjenis matte, peng aplikasian harus cepat karen a t e k s t u r n y a cepat kering dan mudah menggumpal. Jadi, memerlukan tangan yang terampil dan tentu saja latihan yang cukup saat mengaplikasikannya,” kata Ayu Dewi menyudahi pen jelasannya.
31 maret - 6 april 2014
K
anker masih menjadi penyebab kematian utama di Indonesia, bahkan di dunia. Fakta menyebutkan, ka sus ini makin meningkat tiap tahunnya. Sebuah liter atur menulis kanker payudara menjadi penyebab ke matian utama wanita di Indonesia. Untuk itu, penting dipahami kebenaran beberapa mitos yang berkembang di masyarakat. Berikut penjelasan dr. I Putu Arya Dharma, Sp.B (K) Onk. yang praktik di RSAD Udayana dan RS Bhakti Rahayu, Denpasar. Mitos: Setiap benjolan di payudara adalah kanker Fakta: Belum tentu. Harus dibedakan antara tumor dan kanker. Tiap benjolan yang seharusnya tak ada, tetapi ada di bagian tubuh, disebut tumor. Tu mor bisa jinak, bisa ganas. Tumor ganas itu yang sering dianalogikan dengan kanker. Kanker berasal dari bahasa latin, cancer yang berarti kepiting. Kepiting memiliki capit yang bisa mencengkeram keras, dan penyakit ini dianggap bisa menggerogoti. Mitos: Kanker adalah pe nyakit keturunan/gen Fakta: Beberapa jenis kanker berhubungan dengan kelainan pada gen. Ini yang disebut ber sifat keturunan. Contoh kanker payudara, apabila ada mutasi (ada kelainan) pada gen BRCA1 atau BRCA2 ini akan mudah kena kanker payudara. Mutasi gen atau jenis gen yang mengalami mutasi itu berbeda-beda, dan itu berhubungan dengan jenis kanker, seperti kanker usus atau paru.
Sehat ala Ade Rai
Kirim surat Anda ke Redaksi Tokoh dan cantumkan “Sehat ala Ade Rai” di amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh.co.id Rubrik ini diasuh Ade Rai.
Binaraga natural merupakan istilah yang disematkan untuk gaya hidup maupun aktivitas kompetisi yang tidak menggunakan obatobat terlarang, baik itu narkoba maupun zat doping. Gaya hidup ini dilandasi atas pemikiran mencapai keselarasan antara bentuk fisik yang prima dengan kesehatan, vitalitas, energi, dan performa hidup yang prima. Dalam berkompetisi, bina raga natural memberikan lan dasan bertanding yang adil karena sama-sama tidak memiliki “unfair advantage” (keunggulan yang tidak adil) terhadap kompetitor yang dihadapi. Meskipun ada argumen, apabila semua atlet binaraga menggunakan zat doping, maka bukankah keung gulan tidak adil tersebut sudah tidak ada? Kompetisi tersebut menjadi sesuatu yang adil? Pendapat ini me mang benar, tetapi tidak menjadi pembenaran untuk menggunakan
zat doping untuk memenangkan pertandingan. Karena intinya, bina raga dengan fisik yang kekar dan kuat adalah cerminan bagi kualitas fisik yang sehat dan bugar. Penggunaan zat doping pada semua atlet meskipun dianggap mewujudkan “level playing field” (arena bertanding yang seimbang karena semua kompetitor mengguna kan zat doping) membawa berbagai masalah, di antaranya: Minim atau tidak adanya peng akuan organisasi dunia terhadap ca bang olahraga binaraga. Dari minim nya pengakuan organisasi dunia ini menjadikan binaraga sebagai olahraga yang terkucil dari arena Olimpiade. Para atletnya dianggap bukan sebagai panutan olahraga yang baik untuk generasi muda. Akibatnya, olahraga ini tidak mendapatkan liputan media massa dan para atletnya tidak men dapatkan pengakuan. Dampak kualitas kesehatan yang lebih buruk. Apabila zat doping
Mentalitas yang Mengizinkan Zat Doping dalam Fitness & Binaraga Menjalani fitness dan binaraga natural sebenarnya tidak sulit. Yang
Mengonsumsi makanan dengan zat pengawet yang bersifat carsinogenic seperti formalin, borax, zat pewarna tekstil dapat memicu kanker dalam dosis komulatif tertentu. Orang terpapar zat ter sebut walaupun tanpa membawa gen kanker, bisa terkena. Mitos: Penggunaan bra kawat yang mengikat lingkar dada cukup kencang, atau menggunakan bra saat tidur, bisa memicu kanker payudara Fakta: Sampai saat ini belum ada laporan ilmiah resmi yang membenarkan hal tersebut. Se cara teori kedokteran juga tidak ada. Hal ini dimungkinkan dikait kan dengan rasa nyaman saja. Mitos: Payudara besar lebih rentan kena kanker payudara Fakta: Hubungan langsungnya tidak ada. Hanya saja, perempuan yang memiliki payudara lebih besar, otomatis kelenjar-kelenjar penghasil air susu dan lemak jumlahn ya juga lebih banyak daripada yang berpayudara kecil. Namun, risiko untuk terserang
– Sri Ardhini
dibutuhkan hanyalah pola pikir dan sikap mental yang tepat. Kenali mindset yang menguatkan, maka kita akan selalu menjalani gaya hidup ini secara natural dan sportif. Hidup ini adalah mengenai pilihan, mana yang akan fitnesmania pilih? Hidup adalah mengenai membuat pilihan. Makin banyak pilihan, makin bebas kita memilih. Makin sedikit pilihan, makin terkekang hidup kita. Iming-iming meraih penampilan atletis dalam kurun waktu singkat merupakan suatu yang menggoda. Terkadang, nikmatnya iming-iming ini dianggap lebih besar daripada nikmatnya menjalani hidup natural yang sehat. Gengsi dan perasaan ke cil hati ‘kalah pesat’ daripada teman atau pemula yang lebih sedikit jam terbang berlatih yang menggunakan zat doping bisa menjadi faktor peng goda seorang fitnesmania untuk mencobanya. Di sisi lain, mimpi menjadi tenar di dunia fitness dan binaraga, menjadi model iklan atau idola baru dengan menjuarai kontes ‘body ideal’ ter tentu menjadi peluang yang terlalu sayang dibuang oleh perkembangan fisik natural yang ‘lambat’. Padahal ‘kelambatan’ itu adalah sebuah pe maknaan terhadap nilai waktu men desak yang ia patokkan atas dirinya
sendiri (ketidaksabaran). Meskipun ada yang mengata kan,”Saya sudah latihan bertahuntahun, bahkan sudah pakai suplemen tapi hasilnya itu-itu saja.” Bukanlah suatu pembenaran untuk segera menjadikan zat doping sebagai solusi ataupun menudingkan kesalahan pada orangtua yang menurunkan genetik perkembangan otot yang lemah. Dari keterbatasan pengetahuan, muncul pula mentalitas “no we can not” – suatu kondisi yang mudah menyerah pada kondisi yang ada (kemajuan fisik yang lambat / tidak kunjung terjadi). Pendapat “Ga mungkin bisa kalau ga pakai ste roids.” Menjadi bentuk pernyataan yang dilontarkan oleh mentalitas “no we can not” ini. Pola pikir dan sikap mental sep erti ini membatasi diri dari kemung kinan menambah pengetahua n, memperkaya pengalaman dan me nikmati kemajuan dengan penerap an pengetahuan yang didapat, dan bersifat menutup diri sendiri dari pencerahan fitness dan binaraga yang sebenarnya. Sehingga yang tersisa adalah pilihan yang sangat terbatas, di mana pemakaian zat doping tampak menjadi segalanya yang indah bagi pola pikir dan sikap mental ini.
11
Payudara Besar Rentan Kena Kanker Payudara?
Mindset Seorang Drug-Free Fitnessmania (1) membuat kita lebih sehat, membuat kita lebih panjang umur, bermanfaat bagi diri kita dan orang lain, maka kami juga akan menganjurkan semua orang untuk memakainya. Kenyataan nya adalah tidak demikian, sehingga menghindarinya menjadi salah satu anjuran kami untuk hidup yang lebih sehat. “Level playing field” di mana semua peserta ajang fitness dan binaraga menggunakan zat doping hanya berarti satu pasti “level health risk”, yaitu: risiko kesehatan yang sama dihadapi oleh semua atlet yang menggunakannya. Lambatnya pertumbuhan indus tri fitness dan binaraga. Orangtua menaruh rasa khawatir apabila anaknya menekuni olahraga fitness dan binaraga, karena dianggap rentan disodorkan zat doping yang ilegal dan membahayakan kesehatan. Selain itu, fitness dan binaraga hanya akan identik dengan hobi yang konsumtif, bukan passion yang bisa dijadikan mata pencaharian hidup yang ber martabat dengan prospek masa depan cerah.
MITOS ATAU FAKTA
dr. Oka Negara, FIAS
Kirim surat Anda ke Redaksi Tokoh dan cantumkan “Sex Edu”di amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh.co.id. Rubrik ini diasuh Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI) Denpasar.
“Dok, saya ingin sekali memiliki anak laki-laki. Sebagai orang Bali rasanya tidak lengkap kalau belum punya anak laki-laki sebagai penerus keluarga. Saya punya dua anak, semuanya perempuan. Tadinya saya pikir saya yang ada masalah, tetapi setelah saya baca-baca ternyata laki-laki yang menentukan anak itu bakal jadi laki-laki atau perempuan ya, Dok. Apa ada cara yang dapat dilakukan untuk mendapatkan anak laki-laki? Siapa tahu bisa saya praktekkan caranya.” (Gek Yanti, 28) Keinginan dan upaya untuk dapat menentukan anak yang lahir sesuai dengan keinginan suami-istri sudah lama terjadi, bahkan sejak zaman purbakala. Minum ramuan tertentu, mengonsumsi makanan tertentu, hingga perilakuperilaku tertentu sempat dilakukan turun-temurun dan memunculkan mi tos. Contohnya adalah masih ada yang percaya jika ingin berhubungan seksual dengan suami memulai “menaiki” istri dari sebelah kanan akan mendapatkan anak laki-laki, sedangkan bila dari sebe lah kiri akan mendapatkan anak perem puan. Tentu saja ini hanya mitos. Jenis kelamin seorang anak di tentukan oleh kromosom seks yang ada pada sel sperma dari pihak laki-laki yang membuahi sel telur perempuan. Kro mosom seks pada sel sperma laki-laki ada dua jenis, yaitu X dan Y. Sel telur hanya memiliki satu jenis kromosom seks yaitu X. Jadi laki-laki yang menen tukan akan jadi apa nanti jenis kelamin
anaknya. Jika jenis kromosom pada sel sperma yang bertemu sel telur adalah yang Y, maka akan terbentuk kromosom gabungan XY yang selanjutnya lahir menjadi anak laki-laki. Sedangkan jika jenis kromosom pada sel sperma yang bertemu sel telur adalah yang X, maka akan menjadi XX, atau yang nanti ter lahir sebagai anak perempuan. Secara umum, kemungkinan jenis kelamin bayi adalah tetap berkisar 50-50. Ada cara yang sering dicoba dan di anggap bisa berpengaruh terhadap jenis kelamin anak dalam konteks hubungan seksual. Salah satu yang paling populer adalah metode asam basa. Secara ilmiah disepakati bahwa derajat keasaman atau pH vagina berperan dalam proses pembuahan. Makin basa cenderung menghasilkan bayi berjenis kelamin laki-laki, sementara pH yang lebih asam akan menghasilkan bayi perempuan. Atas dasar teori ini, selanjutnya diteliti dan dicari cara dan kombinasi teknik
kanker payudara, sama saja. Mitos: Kanker payudara hanya menyerang usia tua Fakta: Tidak selalu benar. Karena, belakangan ini banyak juga usia di bawah 30 tahun terkena kanker payudara. Pemicunya lebih banyak karena faktor genetik. Jika ada mutasi, 80 % kemungkinan terkena kanker. Mitos: Wanita yang tak me miliki bayi dan tak menyusui di atas usia 30 tahun, berisiko kena kanker payudara Fakta: Benar, karena ini terkait dengan hormon estrogen. Untuk bertumbuh dan berkem bangnya kanker payudara, hampir 75 % memerlukan hormon estro gen. Hormon ini adalah hormon alamiah pada wanita. Paparan yang tinggi dalam jangka waktu lama dapat memicu terjadinya kanker payudara. Paparan ini bisa dikurangi dengan terjadinya kehamilan dan menyusui. Pada kondisi tersebut, kadar hormon estrogen menurun, sebaliknya kadar hormon progesteron men
dr. I Putu Arya Dharma, Sp.B (K) Onk.
ingkat. Saat hamil dan menyusui, seorang wanita akan terhidar dari paparan hormon estrogen, sehingga mengurangi risiko ter jadinya kanker payudra. Karena itu, wanita yang pernah hamil dan menyusui berisiko lebih kecil terkena kanker payudara. Mitos: Wanita yang tak melakukan aktivitas seksual berisiko kena kanker payudara Fakta: Hal ini tak ada ber hubungan dengan kanker payu dara. Justru aktivitas seksual yang berlebihan pada usia lebih awal/muda dan berganti-ganti pasangan, akan memicu terjadinya kanker serviks/leher rahim. Ini kaitannya dengan higienis dan in feksi Human Papilloma Virus (HPV) yang dapat memicu terjadinya kanker serviks. Mitos: Cegah kanker payudara dengan sering meremas-remas payudara Fakta: Ada benarnya, jika
yang dimaksud meremas payudara sendiri sebagai langkah sadari (pemeriksaan payudara sendiri). Tujuannya, untuk menganalisa secara detail bentuk dan ukuran payudara sendiri dan mendeteksi secara dini apabila ada hal-hal yang mencurigakan pada payudara sendiri. Pada beberapa kasus, se cara tak sengaja, pasutri yang lebih dulu mengetahui adanya kelainan (benjolan/tumor) pada payudara. Mitos: Orang yang sudah melakukan mastektomi, tidak bisa kena kanker Fakta: Benar, karena kelenjar payudaranya sudah diangkat. Mastektomi adalah operasi peng angkatan seluruh kelenjar dan jaringan penunjang payudara atau kalau diperlukan disertai dengan pengangkatan otot di bawahnya dan kelenjar-kelanjar getah ben ing di sekitarnya. Belakangan ini di negara maju, mastektomi sudah menjadi salah satu pilihan untuk mencegah terjadinya kanker payu dara pada orang dengan kelainan gen. Hal ini disebut profilactic mastectomy. Salah seorang artis Hollywood yang sudah melaku kannya adalah Angelina Jolie. Mitos: Perawatan kesuburan bisa meningkatkan risiko kanker Fakta: Ada benarnya, karena obat-obatan kesuburan bersifat hormonal. Hal ini berkaitan de ngan paparan hormon estrogen. Tetapi, dengan penggunaan yang diawasi dokter ahli dan dengan dosis tepat, risiko tersebut dapat dihindari. –Inten Indrawati
Ingin Anak Laki-laki untuk memperoleh suasana pH vagina yang diiinginkan. Pertama, untuk mencari anak lakilaki, dikondisikan pH vagina menjadi basa, posisi hubungan seks yang dian jurkan adalah penetrasi makin dalam sehingga lebih mendekat ke arah mulut rahim. Penetrasi yang lebih ke arah luar, cenderung menciptakan suasana asam, yang artinya peluang memperoleh anak perempuan malah lebih besar. Kedua, ada yang berusaha dikom binasikan dengan mengkondisikan jenis makanan yang bisa menciptakan suasana asam atau basa. Misalnya, untuk men imbulkan suasana asam, maka konsumsi makanan yang dianjurkan adalah maka nan berkadar garam tinggi, atau yang tinggi kalsium dan magnesium, seperti produk susu olahan (keju, yoghurt) dan sejenisnya. Sebaliknya, untuk memper oleh anak laki-laki, dianjurkan memilih makanan yang banyak dagingnya karena tinggi natrium dan kalium karena akan membantu suasana cairan vagina men jadi lebih basa. Tentu saja ini bias dan kegagalan cukup tinggi. Ketiga, cara lain yang sering di pakai adalah mencuci vagina sebelum berhubungan seksual. Misalnya, untuk mendapatkan pH vagina yang asam, vagina dicuci dengan asam cuka, se mentara untuk mendapatkan suasana basa, bisa dibasuh dengan soda kue. Gabungan ketiga teknik ini jika disiplin dilakukan sebenarnya memiliki tingkat keberhasilan yang tidak terlalu tinggi, beberapa penelitian lama menyebutkan hanya sekitar 50-70 persen.
Ada cara lain? Ada sebuah cara lain adalah dengan teknik memperhitungkan waktu saat subur atau ovulasi. Teknik ini dasar ilmiahnya adalah melihat per bedaan gerakan sel sperma. Sel sperma berkromosom Y yang ukurannya lebih kecil, gerakannya lebih cepat dari yang X, tetapi umurnya lebih pendek dalam saluran telur. Sel sperma X lebih besar, lebih lambat gerakannya, tapi umurnya lebih tahan lama di saluran telur. Atas dasar perbedaan ini, diyakini faktor waktu dalam hubungan seksual bisa berpengaruh terhadap jenis kelamin bayi. Semakin dekat waktu hubun gan seks ke saat ovulasi, diharapkan sel sperma Y yang lebih cepat dan lebih awal bergerak ke sel telur, sehingga kemungkinan menghasilkan anak laki-laki lebih besar. Dianjurkan hubungan seksual dilakukan 1 hari sebelum ovulasi atau di saat ovulasi jika menginginkan anak laki-laki. Jika ingin anak perempuan, hubungan seksual sebaiknya dilakukan jauh hari sebelum ovulasi, bisa 2-3 hari sebelum ovulasi, setelah itu jangan berhubungan lagi. Biarkan istri mencapai orgasme lebih dahulu baru disusul suami. Cairan yang dihasilkan saat wanita mengalami orgasme diyakini lebih mendukung perg erakan sel sperma Y untuk lebih cepat sampai ke sel telur. Apakah ada cara yang lebih canggih? Ada, tetapi tentu saja tidak bisa dikerja kan di rumah dan harus datang ke ahl inya karena tentu saja ini hanya bisa di lakukan oleh kalangan profesional medis terlatih dan didukung alat-alat yang juga
mutakhir. Salah satunya yang populer adalah dengan melakukan separasi atau memilah dan memilih sel sperma X dan Y dengan jalan disaring menggunakan bahan kimia tertentu misalnya cairan albumin. Metode ini sekarang banyak digunakan untuk proses inseminasi. Lalu bisa juga menggunakan teknik mikro sortir (microsort). Sperma Y atau X disortir atau dipilih sesuai dengan keperluan. Keberhasilan metode ini diklaim paling tinggi, walaupun masih muncul pro-kontra seputar keamanan pewarna yang digunakan. Itu semua adalah berbagai cara, teknik dan kemungkinan yang bisa dilakukan dalam merencanakan pemi lihan jenis kelamin anak. Ada yang bisa dikerjakan di rumah atau oleh pasangan itu sendiri, ada yang lebih canggih lagi dengan bantuan teknologi. Hal yang perlu diketahui adalah semua metode hanya dapat meningkatkan persentase keberhasilan. Tidak ada yang bisa menjamin 100 persen bahwa nanti yang lahir pasti bayi laki-laki atau bayi perempuan. Tetapi, dalam kenyataan yang terjadi secara global, usaha ke arah riset dan pemanfaatannya untuk pemilihan jenis kelamin anak ini sudah tidak lagi menjadi hal menarik di dunia, banyak yang menilai upaya pemilihan jenis kelamin anak sebagai hal diskrimi natif. Karena sesungguhnya dengan kemajuan pemahaman akan hak asasi manusia dan kesetaraan gender, posisi anak laki-laki dan perempuan di dunia global sudah tidak lagi menyisakan perbedaan yang bermakna.
BUGAR
10
31 Maret - 6 April 2014
Mengenal Penyakit Maag dan Penanganannya Secara umum, maag atau dalam bahasa medis disebut dyspepsia terjadi pada sekitar 25% dari populasi setiap tahun. Namun, orang-orang yang terkena seringkali tidak mencari pertolongan medis. Setengahnya diklasifikasikan sebagai dispepsia fungsional yg tidak diketahui pasti penyebabnya. Meskipun dispepsia tidak mempengaruhi kelangsungan hidup, namun biaya perawatan kesehatan akibat penyakit maag tidaklah sedikit dan secara signifikan mempengaruhi kualitas hidup.
yang terdiri dari: usia lebih dari 55 tahun, riwayat keluarga kanker saluran cerna atas, penurunan berat badan yang tidak jelas, perdarahan saluran cerna atas, nyeri atau susah menelan, adanya anemia dan mata kuning, muntah-muntah yang berkepanjangan, serta teraba tumor pada pemeriksaan fisik. Pemeriksaan laboratorium berupa darah rutim, fungsi hati dan ginjal serta pemeriksaan gula darah dapat mengarahkan pada factor metabolic sebagai penyebab penyakit maag.
Penanganan awal penyakit maag Pengobatan sesuai dengan keluhan atau penyebab dapat dipakai sebagai acuan pengobatan awal penyakit maag. Obat-obatan penurun asam lambung Beberapa orang merasa lebih baik setelah minum obat yang mengurangi asam lambung, obat ini dapat berupa golongan proton pump inhibitor, histamine blocker atau golongan antasida.
berbentuk tabung yang dimulai di mulut, dan berakhir pada anus. Saluran cerna atas termasuk oesophagus, lambung, dan usus duabelas jari. Berbagai kondisi dapat menyebabkan dispepsia. Gejalanya sering berkaitan dengan makanan. Gejala tersebut sering hilang timbul. Kebanyakan orang menganggap maag ini sebagai gangguan pencernaan. Sebagai contoh, nyeri ulu hati setelah makan pedas dalam jumlah banyak. Dalam kebanyakan kasus penyakit maag segera membaik dan hanya sedikit yang memerlukan perhatian. Namun, beberapa orang memiliki serangan maag yang berat dan sering, yang mempengaruhi kualitas hidup mereka.
Strategi diagnostic dan Pengobatan penyakit maag Pendekatan evaluasi diagnostik pasien dengan penyakit maag didasarkan pada ada atau tidak adanya tanda “alarm”, usia pasien, dan status kekerapan infeksi H. pylori di suatu daerah. Penyakit maag akibat minum obat penghilang nyeri atau karena refluk asam lambung dapat diterapi dengan obat-obatan penurun asam lambung, namun bila keluhan masih tetap muncul setelah 8 minggu maka perlu penelusuran lebih lanjut untuk evaluasi.
Obat-obatan simptomatik Obat ini berupa penghilang gejala seperti obat mual dan kembung.
dr. I Gede Pande Sastrawan, SpPD
Proses menelan makanan dan pencernaan makanan Makanan melewati bawah oesophagus ke dalam perut. Lambung mengeluarkan asam lambung, untuk membantu untuk mencerna makanan. Makanan kemudian secara bertahap turun ke duodenum (bagian pertama dari usus kecil). Dalam duodenum dan usus kecil, makanan bercampur dengan enzim pencernaan ,yang berasal dari pankreas dan dari sel-sel usus, sebagai pemecah (mencerna) makanan. Makanan yang dicerna kemudian diserap ke dalam tubuh dari usus kecil. Apakah itu penyakit maag? Menurut kriteria ROME III, dispepsia didefinisikan sebagai satu atau lebih dari gejala berikut : Rasa penuh/sesak setelah makan (postprandial fullness) Rasa cepat kenyang saat makan (early satiation) Nyeri atau rasa terbakar di ulu hati (epigastric pain or burning). Saluran cerna adalah organ yang
Apa penyebab penyakit maag (dyspepsia)? Sekitar 25% pasien dengan penyakit maag memiliki penyebab organik yang mendasari, namun 75% pasien tanpa penyebab yang mendasari yang sering disebut dispepsia fungsional (idiopatik atau nonulcer). Penyebab utama sakit maag sering kali akibat: Dispepsia non ulkus (tukak), disebut dispepsia fungsional, didefinisikan sebagai adanya satu atau lebih gejala dari kriteria ROME III diatas tanpa ada bukti penyakit struktural yg mendasari. Kriteria-kriteria ini harus dipenuhi selama tiga bulan terakhir dengan onset gejala setidaknya enam bulan sebelum diagnosis. Ini adalah penyebab paling tersering penyakit maag. Sekitar 6 dari 10 orang yang memiliki serangan berulang dispepsia merupakan dyspepsia non ulkus. Ulkus (tukak) lambung dan duodenum, tukak merupakan kerusakan dari lapisan lambung sehingga jaringan dibawahnya terbuka, sehingga tukak lambung memberikan gambaran berupa luka kecil berwarna kemerahan pada lapisan lambung. Gastritis atau duodenitis, berupa peradangan ringan lapisan lambung
atau duodenum, dari ringan hanya berupa kemerahan sampai menyerupai tukak. Refluk atau regurgitasi, yaitu aliran balik asam lambung ke esophagus dari lambung yg mengakibatkan esophagitis (kerusakan dinding esophagus), hal ini dikenal sebagai GERD (gastroesofageal reflux disease) Hernia hiatus, dimana bagian lambung teratas masuk kedalam bagian bawah dinding dada melalui kelainan yg terbentuk celah pada diafragma. Infeksi, Helicobacter pylori merupakan infeksi tersering penyebab penyakit maag. Keganasan (kanker) saluran cerna bagian atas, angka kejadiannya tinggi pada populasi asia, Hispanic dan Afro-caribbean dan juga semakin tinggi pada usia tua. Gejala sering kali minimal pada stadium dini dan semakin memberat seiring dengan bertambah beratnya penyakit. Obat-obatan, beberapa obat sering sebagai penyebab penyakit maag diantaranya: penghilang nyeri golongan NSAID, golongan steroid, digoxin, antibiotik, zat besi, nitrat, theophiline, dll. Evaluasi awal penyakit maag Riwayat dan perjalanan penyakit, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium merupakan langkah awal evaluasi pasien dengan penyakit maag. Adanya riwayat rasa terbakar yang menjalar ke dada, atau mual dan muntah setelah minum obat penghilang nyeri, mual-mual dan muntah yang berulang, penurunan berat badan atau adanya riwayat muntah darah dapat memberikan arahan penyebab penyakit maag. Seringkali ditemukan rasa nyeri pada penekanan di ulu hati (epigastrium) pada saat pemeriksaan dokter atau bahkan teraba masa tumor. Tanda “alarm” memerlukan perhatian khusus saat dilakukan pemeriksaan fisik dan anamnesis,
Pasien dengan tanda “alarm” atau usia> 55 tahun Endoskopi saluran cerna atas harus dilakukan untuk evaluasi penyebab penyakit maag pada pasien dengan fitur alarm atau orang-orang di atas usia 55 tahun. Endoskopi atas merupakan standar baku sebagai alat diagnostik pada pasien dengan nyeri perut bagian atas. Biopsi (pengambilan jaringan) lambung pada saat dilakukan gastroskopi dapat dipakai untuk mengetahui adanya infeksi H. pylori. Pasien dengan H. pylori harus menerima terapi eradikasi di samping pengobatan sesuai dengan diagnosis yang mendasarinya. American Gastroenterological Association (AGA) dan American College of Gastroenterology (ACG) merekomendasikan melakukan gastroskopi lebih awal bila 2 minggu keluhan tidak membaik pada usia diatas 55 tahun tanpa adanya tanda alarm. Pasien tanpa tanda “alarm” dan usia ≤ 55 tahun Dua strategi diagnostik utama pada pasien ≤ 55 tahun tanpa fitur alarm adalah test untuk infeksi H.pylori dan mengobati bila ditemukan adanya infeksi H.pylori serta pengobatan dengan obat-obatan penurun sekresi asam.
Pengobatan (eradikasi) infeksi H.pylori Apabila infeksi H.pylori sebagai penyebab penyakit maag, maka harus dilakukan eradikasi kuman oleh dokter yang merawat pasien tersebut. Perlu dilakukan evaluasi terhadap keberhasilan eradikasi infeksi H.pylori Baik dengan cara dilakukan gastroskopi ulang atau pemeriksaan urea breath test. Kapan sebaiknya ke dokter bila ada gejala penyakit maag buang air besar berdarah atau muntah darah nyeri ulu hati yang parah dan berlangsung lebih dari satu jam atau datang dan pergi selama lebih dari 24 jam tidak dapat makan atau minum selama berjam-jam demam tinggi kehilangan banyak berat badan tanpa sebab, atau kehilangan nafsu makan Makanan apa saja dan bagaimana mengatur makan bila terkena maag Beberapa orang merasa sedikit lebih nyaman setelah melakukan perubahan dalam apa yang mereka makan, termasuk: Menghindari makanan berlemak (yang dapat memperlambat pengosongan lambung) Makan dalam porsi kecil, namun sering. Sebagai pengganti tiga kali makan besar, dapat dicoba makan lima atau enam porsi kecil dalam sehari. Menghindari makanan yang membuat keluhan lebih buruk, seperti makanan pedas, asam, obat-obatan penghilang nyeri. Konsultasikanlah dengan dokter sesuai dengan kondisi penyakit yang mendasari. dr. I Gede Pande Sastrawan, Sp.PD. Hp: 081 139 8586
31 Maret - 6 April 2014
STYLE
Pesona Endek Segala Usia Pekan ini Style Tokoh tampil beda. Menghadirkan varian fashion segala rentang umur melalui pilihan fashion endek yang segar untuk berbagai acara.
A
palagi Denpasar dikenal sebagai Kota Kreatif yang berhasil mengusung produk lokal endek, selain untuk pelestarian juga gencar meramaikan perkembangan fashion nasional maupun internasional. Endek bernuansa dan motif senada ini, tetap trendi di kenakan berbagai usia. Seperti dress den gan detail cut-out atau detail berbentuk lubang yang trendi dan semakin menarik pula dengan halter neckline seperti yang dikenakan Ogek. Begitu pula dress yang di-
15
gunakan Kumala, meski simpel namun berkat aksen warna cerah di seputar lehernya dan lengan boxy type tetap gaya. Ada juga yang ceria dan menawan ala Dayu Nanik yang tampil mengenakan padanan slim skirt dan blus polosnya. Pesona endek memang tak pernah habis, sebagaimana busana bersiluet smoking jacket dress pilihan Dayu Candra, yang berh asil menampilkan sisi feminin pemakainya. Sedangkan Prida Dewi, hadir dengan sentuhan aplikasi menarik pada roknya dilengkai bolero berhasil memunculkan kesan elegan. Selanjutnya Yuliani Shukana, yang set iap harinya tampil khas berupa kain dan kebaya, kali ini memilih kebaya kutu baru dengan aplikasi selaras kain padanannya. Inilah ber bagai gaya dengan garis klasik modern sebagai benang merah desain endek kali ini. – Sri Ardhini
PELESIR
16
31 maret - 6 april 2014
31 maret - 6 april 2014
DARA
9
Menjinakkan Kera di Hutan Pala Yang Fresh dari Anak Muda Objek Taman Wisata Alam Sangeh tak pernah sepi pengunjung. Tiap hari ada saja wisatawan yang berkunjung. Apalagi sekarang ada jalan tembus dari Sangeh ke Belayu. Jalur ini menjadi bagian dari paket wisata Ubud-Sangeh-Bedugul.
M
eski belum diresmikan, jalan yang menghubungan Desa Sangeh, Badung dengan Desa Cau Belayu, Tabanan sudah ramai dilalui pengendara. Dalam waktu lima menit, orang sudah bisa sampai di Desa Cau Belayu atau Jalan Raya Denpasar-Bedugul dari Desa Sangeh atau sebaliknya. “Jalan penghubung ke dua desa tersebut, ternyata berimbas pada kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Daya Tarik Wisata (DTW) Bukit Sari Sangeh,” kata Manajer Pengelola DTW Sangeh, I Made Sumohon. Ramainya kunjungan wisman itu mulai terlihat sejak awal September lalu atau setelah rampungnya jembatan tersebut. Wisman yang berkunjung lebih banyak datang dari Ubud menuju kawasan wisata Bedugul. “Nah,
sebelum sampai di Bedugul mere ka terlebih dahulu mampir ke DTW Sangeh,” ceritanya. Jumlah kunjungan wisman ke DTW Bukit Sari Sangeh diakhir September 2013 saja sudah mencapai 2000 orang. Sedangkan di bulan-bulan sebelumnya kunjungan wisman hanya mampu mencapai 1000 orang. “Sekarang ini jumlah kunjung an wisatawan domestik (wisdom) dan wisman hampir berimbang. Beda dengan sebelumnya yang selalu didominasi wisdom. Apalagi pada hari-hari libur, wisdom terkadang membludak,” ujar Sumohon. Sangeh merupakan objek wisata alam yang sudah terkenal sejak dulu. Tempat wisata ini mengandalkan satwa dan hutan sebagai daya tarik wisatawan untuk berkunjung kesana. Objek wisata Sangeh memiliki luas 13,969 hektare, dengan batas utara persawahan, batas barat sungai Yeh Penet, batas selatan dan timur perkampungan banjar Batusari. Hutan Sangeh ditumbuhi 6443 pohon pala (difterocarpus tri nervis), dan pohon lain seper ti gamal, harbesia, pule, dan beringin. Hewan yang menjadi daya tarik di objek wisata ini adalah kera berwarna abu-abu (macaca fascicularis) yang berekor panjang. Kera-kera ini hidup dari hasil hutan dan makanan yang diberikan pihak pengelola. Dulu, penghuni hutan ini sangat galak dan nakal. Banyak makanan pengunjung diambil tanpa permisi. Bahkan, barang maupun aksesoris pengunjung seperti kaca mata, topi dan sebagainya juga diambil.
Anak muda yang mau bergelut dengan wirausaha jumlahnya masih sedikit. Padahal, pemerintah terus mengupayakan agar jumlah wirausaha muda terus bertambah. Bagi generasi muda, masa muda merupakan masa untuk bersenang-senang. Namun, masih ada anak muda yang mau berkreasi menghasilkan sesuatu yang bermanfaat dan memiliki nilai jual.
“Itu dulu, tetapi setelah objek ini dikelola secara profesional dengan melibatkan orang-orang professional sejak tahun 2003 silam, kera di sini mulai jinak,” ungkap alumnus BPLP ini. Sebagai daya tarik utama, kera-kera ini mendapat perawatan yang luar biasa. Makan disediakan 2 kali dalam sehari. Demikian juga dengan perawatan kesehatan yang dilakukan setahun sekali. Kecuali ada kera yang sakit baru didatangkan dokter. Namun, untuk menjaga kelestarian satwa pihak pengelola juga menyiapkan kandang untuk tempat isolasi kera yang nakal dan bangunan lab untuk kera yang sakit. HUTAN BERGERAK Di objek wisata ini juga terdapat 4 Pura, yakni Pura Bukitsari yang terletak paling Barat, Pura Melanting di tengah hutan, Pura Tirta di depan lokasi hutan dan Pura Anyar di depan pintu masuk menuju hutan. Semua Pura ini disungsung oleh krama adat Sangeh, kecuali pura Anyar khusus disungsung oleh warga Banjar Batusari. Konon, hutan ini datangnya
dari Gunung Agung yang rencananya ke Mengwi. Hutan ini bergerak secara perlahan di malam hari. Tetapi setelah ada orang yang berteriak melihat hutan itu “mandeg” (berhenti). Kepercayaan ini dikuatkan dengan pohon pala yang ada di dalam hutan itu tidak bisa ditemukan di daerah lain. Kalaupun ada itu hanya satu dua dan tempatnya juga di daerah Pura yang angker. “Kami sudah mencoba menanam
pohon itu dengan maksud memperbanyak tetapi selalu mati. Hal ini bukan sekali dilakukan. Bahkan dulu pernah ada orang yang “nunas” pohon pala untuk ditanam dirumahnya,” kata Sumohon Sangeh terus ditata agar menjadi tempat pelesir serta mampu memberikan suasana
baru. Di samping itu, juga karena wisatawan yang berkunjung ke Sangeh terus bertambah, sehingga merasa perlu untuk memberikan pelayanan yang terbaik. “Sebelumn ya, sudah dilakukan perluasan hutan. Kini, kami ingin memperluas halaman. Sehingga wisatawan yang berkunjung merasa aman dan nyaman,” imbuh Sumohon. Penataan secara besar-besaran ini dilakukan atas bantuan dari Dinas Pariwisata Kabupaten Badung. Penataan toko seni, warung makan dan minum, serta penataan taman bunga, modal dan pengerjaannya dikumpulkan dari swadaya Desa Adat Sangeh yang terdiri dari 5 banjar. Areal parkir yang luasnya mencapai 1 hektare juga menjadi lebih rapi dan bersih bersih. Awalnya, areal parkir akan dipasangi paving, namun setelah ada usulan dari beberapa warga agar memakai hotmix sehingga menjadi lebih kuat dan tahan lama. Selain halaman parkir, pihak pengelola juga akan menata taman-taman di areal parkir. Berbagai jenis tanaman bunga akan mewarnai objek wisata alam tersebut. Pohon-pohon besar sebagai peneduh, juga akan ditanam sehingga areal parkir menjadi lebih teduh. Untuk menjaga kebersihan, para pedagang yang berada di lokasi parkir diwajibkan memiliki bak sampah organik dan non organik. “Partisipasi para pedagang juga dibutuhkan untuk menjaga kebersihan dan ke indahan objek, karena petugas kebersihan yang terbatas,” ujar pria yang dulu pernah bekerja di bidang perhotelan ini. -Budarsana
“O
rangtua saya pu nya usaha keraji nan tenun yang baru dirintis empat tahun lalu. Saya jadi banyak tahu ketika orangtua saya memulai usaha tenun. Jujur, sebelum itu saya kurang tertarik dan tahu mengenai tenun,” ungkap Bagus Galih Hastosa, wirausaha muda yang mengem bangkan tas etnik. Galih bersama te mannya Parinatra Candrarka Nugraha (Prika) kemudian membuat label Manikan, dua ta hun lalu. “Manikan diambil dari kata Manik yang berarti permata sehing ga kami berharap produk kami men jadi suatu hal yang berharga serta unik di mata pelanggan kami. Manikan me rupakan brand yang fokus mengembang kan tas etnik yang unik namun tetap simpel untuk anak muda. Kami tidak hanya menggu nakan endek tapi juga mengguna kan tepi yang biasa digunakan untuk pembuatan udeng dan tidak menutup kemungkinan untuk menggunakan tenun dari provinsi lain ataupun songket,” ujar pria berusia 22 tahun ini.
Ide untuk memadukan endek ke dalam berbagai akse sori/produk didapat ketika Ga lih sedang menjaga stan tenun milik orangtuanya di kawasan Nusa Dua. Ia sering menden gar di berita bahwa endek Bali diminati wisatawan asing, namun yang ia temui kala itu hampir tidak ada tamu asing yang membeli kain tenun. Kalaupun ada hanya digunakan sebagai pajangan rumah. Se mentara, orang Bali banyak yang membeli, tapi mereka hanya berpikiran menggu nakannya untuk aca ra persem bahyangan. “Setelah itu saya ber temu Prika yang kebetul an mempu nyai ide untuk membuat tas laptop dari te nun. Kami pun akhirnya ber gabung. Setelah pembicaraan lama, akhirnya kami tidak jadi membuat tas laptop melainkan membuat tas tenun untuk anak muda,” kenangnya tentang awal usaha Manikan. Suka duka dialami se lama pros
es kreatif ini. Dukanya, mereka ditolak berbagai toko karena katanya produk Manikan terlalu tradisional. Galih dan Prika pun sering bertengkar karena salah paham dalam penciptaan pros es kreatif ini. Sukanya, kalau di jalan bertemu orang memakai produk Manikan, mereka surprise dan senang. Produk ini juga pernah masuk majalah remaja nasional dan sinetron di TV. Ini membuktikan ide anak muda bisa diterima baik di pasar lokal dan nasional. Galih dan Prika tidak mulukmuluk dengan harapan mereka. “Kami ingin tas yang kami buat bisa diterima anak muda dan digunakan untuk aktivitas ka sual, seperti sekolah, pergi ke mal, dan travelling. Itu sudah membuat kami senang kare na mem buktikan bahwa te nun bisa dipakai dimana dan kapan saja,” te gas Galih. Seba
g a i mahasiswa, Galih harus pandaipandai mengatur waktu ku liah dan berkreasi. Namun,
ia mengatakan tidak terlalu susah karena mendesain dan membuat marketing plan di lakukan sepulang kuliah. Ide biasanya mengalir di malam hari. Kadang-kadang mer eka menyempatkan untuk membalas SMS pelanggan di sela kegiatan kampus. Orangtua dan teman-te man Galih serta Prika ternyata mendukung apa yang mereka lakukan ini. “Orangtua sangat mendukung bahkan men dorong kami untuk berani ambil kredit di bank agar kami serius menjalankan usaha Manikan ini. Temanteman juga banyak mem bantu. Mereka memberi masukan untuk produk kami. Sebelum dilempar ke pasar, saya biasanya membawa contoh produk ke teman-teman untuk mengetahui respons dan masukan mereka. Karena, mungkin saja ada detail yang luput dari kami,” papar Galih.
Kepada para generasi muda, Galih berharap generasi muda lainnya tidak sekadar asal-asalan menciptakan desain da lam industri kreatif. Begitu baju distro booming semua bikin hal yang sama, ada tas furla booming, semua tas dibikin dengan model yang sama. “Saya pribadi lebih suka ada desain-de sain baru yang fresh dari anak muda, tidak sekadar melihat apa yang sedang tren, tapi berusaha untuk menciptakan tren dari pemikiran sendiri,” tan das Galih yang mengaku merasakan pengalam an baru setiap harinya. Impian Galih dan Pri ka yang belum tercapai adalah menciptakan suatu produk yang klasik yang tak lekang oleh zaman dan tren. Bagi yang penasaran dengan produk Manikan, bisa cari info lebih lanjutnya di Ins tagram: wearemanikan dan twiter: wearemanikan. -Ngurah Budi.
BUNDA & ANANDA
8
31 Maret - 6 April 2014
Menjaga Kelestarian Budaya dari Anak-anak Seminggu sebelum Pengerupukan, Damar minta dibelikan ogoh-ogoh. Ia melihat banyak model ogoh-ogoh yang dijual. Orangtua pun membelikan sebuah ogoh-ogoh dengan harga Rp 200 ribu. Ogoh-ogoh belum termasuk sanan. Di rumah, Damar bersama ayahnya membuat sanan dari bambu agar bisa diangkat bersama-sama.
P
enjual ogoh-ogoh untuk anak-anak banyak ditemukan di Denpasar. Tak hanya sanggar yang khusus mengerjakan ogoh-ogoh, warung biasa pun ikut menjual ogohogoh. Di Kapal, Badung deret an penjual ogoh-ogoh mudah ditemui di pinggir jalan. Penjualnya kebanyakan penjual sarana upacara yang memanfaatkan momentum hari raya Nyepi. Lain dengan Tika yang membuat ogoh-ogoh bersama Agas, sepupunya. Bahan ogoh-ogoh mereka dapatkan dari bambu dan kayu bekas yang ditemukan di sekitar rumah. Walau pun bentuk tak simetris tetapi keduanya berusaha untuk membuat sesuatu yang seram. Tapel (topeng) untuk ogoh-ogoh ini diambil dari topeng rusak yang ditemukan di gudang.
Kain penutup ogoh-ogoh ber asal dari kain perca yang mereka minta dari saudara yang memiliki usaha tailor. Ekspresi dan bentuk ogohogoh merupakan simbol dari bhuta kala. Inspirasi dari tawur kesanga yang merupakan kurban suci untuk menyomya (meningkatkan status) bhuta kala sehingga ogoh-ogoh dibuat dalam bentuk yang menyeramkan sebagai refleksi sifat-sifat negatif agar tidak mengganggu alam semesta. Perkembangan zaman dan teknologi juga membuat pembuatan ogoh-ogoh makin kreatif. Dulu bahan yang dipakai berupa kayu dan bambu agar tidak terlalu berat saat diusung. Kini banyak yang menggunakan gabus atau styrofoam yang lebih ringan dan tahan lama. I Proses pembuatan ogoh-ogoh biasanya diawali dari
Anak-anak mengusung ogoh-ogoh
inspirasi atau ide yang datang kapan saja dan dimana saja. Setelah ada ide, tuangkan ke dalam sketsa global, lalu dibuatkan bentuk kasar atau kerangka, dilanjutkan dengan memberikan bentuk atau pendukung gerak, lalu dicat dasar diakhiri dengan aksesoris dan finishing. Bagi Drs. Ida Bagus Gede Agastia, sebaiknya membuat ogoh-ogoh dilakukan sendiri atau berkelompok. Dengan membuat sendiri, anak -anak kesempat an untuk berkreasi. “Membuat ogoh-ogoh yang menyeramkan akan mendekatkan anak dengan konsep kala yang identik dengan menakutkan dan mengerikan.
Anak-anak akan membuat imajinasi sendiri, mengerikan dan menakutan itu seperti apa. Dari kecil, anak harus dibiasakan untuk membangun wira rasa (rasa berani) dan butha rasa (rasa ngeri) agar mereka bisa menghadapi kehidupan sebagaimana seharusnya,” papar budayawan ini. Agastia mencontohkan tukang ukir yang membuat Boma. Wajah Boma yang mengerikan itu merupakan imajinasi dan kreasi dari tukang ukir melalui pikiran mereka tentang sesuatu yang mengerikan. Wajah Boma itu bukan cetakan yang sudah ada tetapi lahir dari sebuah proses kreativitas.
Apa Itu Gusi Berdarah ?
Hampir sebagian besar orang pernah mengalami gusi berdarah. Bentuk penyakit gusi yang paling umum terjadi adalah radang gusi atau sering disebut dengan istilah gingivitis. Gingivitis merupakan peradangan gusi yang paling sering terjadi dan merupakan respons inflamasi tanpa merusak jaringan pendukung. Gusi berdarah juga bisa disebabkan oleh kurangnya perhatian dalam menjaga kebersihan gigi dan sering membiasakan mencungkil sisa makanan yang terselip dengan menggunakan tusuk gigi. Beberapa tanda gusi berdarah atau bisa juga disebut gingivitis antara lain gusi yang biasanya berwarna merah muda menjadi merah tua sampai ungu karena adanya pelebaran dari pembuluh darah, sehingga terjadi suplai darah berlebihan pada jaringan yang meradang kemudian gusi menjadi bengkak, secara reflek atau spontan gusi mengeluarkan darah baik saat menyikat gigi atau sewaktu gigi dalam keadaan rileks. Selain itu, gusi berdarah akan menjadi sering terjadi
yang disertai dengan pembengkakan gusi, rasa gatal pada gusi, dan disertai timbulnya bau nafas yang tidak enak. Pada peradangan gusi yang lebih parah tampak adanya nanah di sekitar gigi dan gusi. Hal tersebut adalah tanda-tanda awal adanya kerusakan gusi. Ada beberapa hal yang bisa menjadi penyebab terjadinya gusi berdarah : - Plak dan karang gigi yang menempel pada permukaan gigi - Infeksi bakteri, jamur atau virus - Adanya gangguan pendarahan - Teknik penyikatan gigi yang salah - Perubahan hormon selama kehamilan - Gusi menjadi lebih sensitif selama kehamilan disebabkan oleh fluktuasi kadar hormon yang meningkatkan aliran darah ke gusi dan jaringan lain ke tubuh. Hormon-hormon kehamil an juga mempengaruhi respons normal tubuh terhadap bakteri membuat Anda lebih rentan terhadap infeksi periodontal. - Penyakit darah yang tak cukup memiliki sel darah merah - Pemasangan gigi palsu yang tidak pas - Flossing yang tidak sesuai - Penggunaan pengencer darah - Kekurangan vitamin C Cara mengatasi gusi berdarah: - Hindari penggunaan tembakau dan merokok - Kontrol pendarahan gusi dengan memberikan tekanan langsung pada gusi dengan kain kasa yang direndam dalam air es
- Cukupi kebutuhan vitamin. Batasi asupan makanan, seperti gula, makanan ringan, soda, makanan olahan yang dapat menyebabkan kerusakan gigi dan memperparah perdarahan - Hindari obat pengencer darah - Konsumsi makanan yang banyak me ngandung vitamin C dan kalsium - Emergency treatment seperti berkumur dengan air hangat yang telah dicampur dengan garam. Adanya plak dan karang gigi yang menempel pada permukaan gigi dapat menyebabkan gusi berdarah. Apabila tidak segera ditangani, karang gigi dapat terus bertambah sehingga perlekatan gusi pada permukaan gigi menjadi
“Dalam beberapa buku di sebutkan dalam kengerian itu kesucian terjaga. Kengerian itu banyak ditemukan di laut maka nya laut dianggap suci. Lihat saja binatang-binatang yang ada di laut bentuknya mengerikan, tetapi merekalah yang menjaga kesucian laut. Ibarat permata yang dipendam dan dijaga bintang yang menyeramkan,” ujar mantan anggota DPD Perwakilan Bali ini. Kepada para orangtua, Agastia mengingatkan agar mereka meng ajarkan anak untuk membuat sesu atu sendiri. Proses ini harus dilalui. Kalau anak diberikan langsung secara instan, secara psikologis anak akan cenderung merusak. Proses penciptaan ide ini harus didukung orangtua. Namun, ia tak melarang jika anak-anak harus dibelikan. Memperkenalkan budaya ogoh-ogoh dan proses kreatif pembuatannya merupakan bagian dari transformasi nilai-nilai budaya. Ini juga merupakan upaya penerusan nilai-nilai yang metodenya berbeda tiap zaman. “Masing-masing generasi memiliki metodenya sendiri sehingga yang muncul adalah sesuatu yang baru. Inilah yang menjadi keunggulan budaya Bali. Regenerasi yang dilakukan mulai dari anak-anak ini harus terus dilakukan untuk menjaga kelestarian budaya,” tegas Agastia. –Ngurah Budi
lepas dan terbentuk adanya kantung pada gusi yang disebut periodontal pocket. Bila terjadi peradangan jaringan penyangga gigi (periodontitis), akan terjadi perdarahan gusi dan kerusaka n tulang penyangga gigi. Bila tidak segera ditangani, gigi akan menjadi goyang dan akh irnya tanggal. Solusinya, de ngan melakukan pembersihan plak dan karang gigi. Untuk menghindari terjadinya gusi berdarah, sebaiknya mengunjungi dokter minimal enam (6) bulan sekali, menggunakan sikat gigi dengan bulu sikat halus, dan hindari penggunaan obat kumur yang mengandung alkohol. Pentingnya kunjungan rutin ke dokter gigi tiap 6 bulan, untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh pada gigi dan mulut sehingga jika ada masalah dapat ditangani sejak dini dan juga mendapatkan perawatan gusi dan gigi yang sesuai dengan kondisi gigi Anda. –ast
31 Maret - 6 April 2014
G R I YA
17
Konsep Natural Desa dalam Kota Konsep kembali ke alam (natural), kini makin banyak diminati. Konsep ini biasanya diterjemahkan dalam pemilihan material yang diaplikasikan pada sebuah bangunan, baik interior maupun eksteriornya. Salah satu bangunan yang menerapkan konsep natural adalah Warung Makan Mang boo di kawasan Jalan Noja Denpasar.
IB Budi Utama
P
emiliknya, IB Budi Utama mengatakan konsep natural ini terinspirasi dari kondisi lahan sebelumnya yang memang memiliki banyak pohon besar. Di antaranya, tiga pohon jati berusia sekitar 50 tahun, pohon sengon/belalu, pohon juwet, dan pohon mangga. Beranjak dari ingin mempertahankan suasana desa dalam kota inilah, akhirnya tampilan bangunan WM Mang Boo yang menyediakan makan an tradisional Bali, yakni lawar kebo ini, seperti sekarang. Di lahan seluas 11 are ini, satu bangunan wantilan, empat gazebo beratap ilalang, satu bangunan mini bar, dilengkapi dapur, kasir, dan toilet, menjadi satu-kesatuan ruang bernu-
ansa perdesaan dalam sebuah area dengan hamparan taman yang indah. Namun, seiring perjalanan waktu, mengikuti permintaan menu makanan dari anak muda yang lebih menyukai masakan modern, tampilan Mang Boo pun menyesesuaikan. “Jadi, kami memasukkan konsep natural tradisional untuk sisi selatan yang khusus menyediakan makanan tradisional lawar kebo, dan konsep natural mo dern pada sisi utara (bangunan mini bar) yang menyediakan menu modern seperti chiken steak,” ujar Gus Budi, sapaan karibnya. Empat gazebo yang terletak di beberapa tempat terpisah ini, memanfaatkan kayu jati sebagai tiangnya. Balai-balai dan meja besar terbuat dari kayu sengon/ belalu Bali, sejenis kayu albesia. Demikian halnya, meja-meja besar dan bangku panjang yang diletakkan di wantilan, juga memanfaatkan kayu belalu. Untuk mempertegas kesan alami tradisional, bangunan wantilan ini menggunakan atap ekspos dengan tiang-tiang dari kayu kelapa. Lantainya menggunakan batu pilah Kintamani. Sebagai penghalang cahaya matahari dan hujan, pada sisi luar baik di wantilan maupun pada tiap gazebo, dipasangi lampit. Pada ruang kasir, materian kayu, bambu, dan bata ekspos dikolborasikan sedemikian rupa. Yang paling unik adalah pada bagian dinding di ruang ka-
Dipersembahkan oleh Tim Dokter “Dental Care Clinic “ Prima Medika Hospital. Pelayanan Buka Setiap hari kerja jam 08.00 – 21.00 wita Ditangani Tim Dokter Gigi profesional & Sub Spesialis, seperti: - Spesialis Bedah Mulut - Spesialis Periodontia - Spesialis Konservasi Gigi Alamat : Jln. Raya Sesetan no 10 Denpasar, Tlp. 0361232434 Tembok pagar dari bahan kayu kopi
Wantilan
sir ini memanfaatkan potonganpotongan kecil dahan kayu jati yang tak terpakai. “Daripada terbuang, kami mencoba berkreasi dari material-material yang tak terpakai, hasilnya se perti ini. Tetapi hasilnya belum maksimal sih,” ujar Gus Budi sembari menunjuk ke arah dinding kasir yang terlihat bermotif bulat-bulat. Sementara, bangunan di sisi utara yakni mini bar, Gus Budi lebih memberikan kesan modern, namun tetap natural. Kesan natural diaplikasikan de ngan memilih bahan lantai dari terakota, tiang-tiang dilapisi gedek, dinding bar memanfaatkan potongan-potongan kayu bekas, kayu dan kursi dari kayu, serta kap lampu di atas meja bar memanfaatkan capil (topi petani dari ulatan daun kelapa). Kesan modern dicoba dihadirkan de ngan pemilihan warna-warna biru dan orange terang, seperti pada kap lampu hias gantung, serta pemilihan warna putih pada batu alam yang diaplikasikan pada lantai,
yang juga dimanfaatkan untuk mempertegas batas ruang. Di sisi utara area mini bar ini
juga ada stage (panggung). Untuk mempertegas kesan natural modern, di dindingnya dibuat pola-pola geometris dengan material alam, batu bata merah. Sebagai pembatas, WM Mang Boo menggunakan pagar dari batang-batang kayu kopi dengan fondasi beton. “Kayu kopi ini lumayan kuat terkena sinar matahari dan hujan,” ujar bapak satu anak ini. Di atas pilar pagar dari bata merah, di letakkan lampu-lampu hias unik berbentuk gubug. Ketika malam hari, tentunya lampu-lampu hias yang menyinari sudut-sudut tertentu ini semakin memberikan nilai estetika WM Mangg Boo.
Area mini bar
–Inten Indrawati
D AYA C I P TA
18
Narsis dengan Selfie Pernah memotret diri sendiri dengan kamera ponsel? Ke banyakan pengguna kamera ponsel pasti pernah melakukan nya. Aksi ini dikenal dengan selfie. Apa itu selfie dan kota mana yang paling banyak aktivitas selfie?
S
martphone-self portrait atau selfie saat ini disebut-sebut sebagai Word of The Year 2013 oleh kamus Oxford. “Kata selfie adalah merujuk pada aktivitas memotret diri sendiri, dengan kamera ponsel atau webcam kemudian mengunggahnya ke media sosial. Narsis dengan mengunggah foto hasil selfie acapkali menunjukkan keberadaan mereka di lokasi atau objek tertentu yang dirasa pantas untuk diperlihatkan. Bahan kata selfie resmi masuk kamus Oxford yang sangat dikenal dan dihormati tersebut,” kata I Putu Wis Aryawan Eka Putra, seorang fotografer yang menekuni wedding photography. Fotografer yang akrab disapa Wiss Putra ini menambahkan selfie tidak mengenal umur, status sosial maupun pekerjaan dan profesi seseorang. Berkat kema-
juan teknologi saat ini, melakukan selfie bisa dimana saja, Mulai dari di jalan, di sekolah, di pesawat, di restoran atau di acara kawinan
maupun tempat aca ra seminar dan acara resmi lainnya. Selfie benar-benar menjalar pada masyarakat di seluruh pelosok dunia. “Dari info yang pernah saya baca, selfie sudah muncul tahun 2002, di sebuah forum on line Australia dan hastag #selfie muncul juga dalam foto sharing di Flickr tahun 2004. Namun, penggunaan selfie tidak meluas. Tahun 2012 ketika selfie digunakan umum di media mainstream barulah istilah ini menjadi trending topic,” ujar pria kelahiran
27 Desember 1989 ini. Sekarang selfie atau foto narsis menjadi tren di seluruh dunia. Tak hanya anak muda, aksi narsis ini sendiri juga menjangkiti orangtua maupun anak-anak. Tak mau ketinggalan, banyak para pejabat penting pun juga terjangkit virus selfie. Seperti yang dilakukan oleh Barack Obama dan istrinya Michelle Obama. Selanjutnya muncul per tanyaan, kota manakah yang paling narsis? Majalah Time.com, melansir Denpasar menjadi salah satu kota di Indonesia yang hampir sebagian besar warganya suka tampil narsis di depan kamera. Di data milik Time.com, tercatat 75 orang mengambil foto selfie dari 100 ribu orang yang melakukan hal sama. Mereka juga mengunggahnya di mesia sosial, seperti Instagram. Hasil ini diperoleh Time setelah proses pemantauan unggahan foto yang berkategori selfie sepanjang 24 jam penuh, foto selfie selama lima hari sejak 28 Januari hingga 2 Februari 2014 serta 3 sampai 7 Maret 2014. “Kota Denpasar menduduki posisi ke-18 di dunia dan nomor 1 paling narsis di Indonesia. Peringkat kedua kota Yogyakarta, ketiga Bandung,” ujar pemilik Wisputra Photography ini melansir data Time. Jumlah selfies tersebut katanya diambil dengan jarak maksimal lima kilometer dari pusat kota. Hasilnya cukup mengejutkan, karena kota ter-selfie tidak ber ada di benua Amerika atau Eropa, tapi di Asia, yakni Makaty City dan Pasig, Filipina. Situs Time.com pun menetapkan Denpasar bukan hanya popular sebagai destinasi wisata, tapi juga kota dengan foto selfie terbanyak di Indonesia. “Boleh–boleh saja berfoto selfie, namun perlu juga tahu asalusul selfie tersebut. Foto bergaya selfie ini rupanya sudah lama dilakukan sejak ratusan tahun lalu. Berdasarkan beberapa sumber, foto selfie muncul pertama pada
31 maret - 6 april 2014
31 maret - 6 april 2014
tahun 1900 memakai kamera boks Kodak Brownie,” kata Wiss Putra. Metode selfie ini mengambil gambar sendiri ini dilakukan dengan menggunakan cermin dan pertama kali dilakukan oleh Putri Kekaisar an Rusia, Anastasia Nikolaevna pada tahun 1914. Foto tersebut kemudian dikirimkan kepada temannya. Di dalam surat yang dikirim tertulis “Saya mengambil foto ini menggunakan cermin. Sangat susah dan tangan saya gemetar.” Huffington Post merilis, sebelum Anastasia ada orang lain yang melakukan foto selfie tahun 1839, yakni Robert Cornelius, yang dikenal melakukan foto selfie pertama di dunia. Foto selfie Robert itu disimpan di Perpustakaan Kongres di Washington, AS. Di belakang foto
I Putu Wis Aryawan Eka Putra
berisi tulisan, “Gambar cahaya pertama yang pernah diambil 1839.” “Sekarang memotret diri sendiri di era kecanggihan teknologi, biasanya mengambil angle agak tinggi sekitar 45 derajat, dengan macam-macam ekspresi dan pose, seperti mulut yang dimonyongkan, ataupun sok lucu memakai kamera telepon genggam,” kata Wiss Putra. –Sri Ardhini
l i f e s to ry
7
Merayu Dokter dengan Madu Asli Bima Empat puluh hari setelah kematian suaminya, Ida (bukan nama sebenarnya), kaget dengan perilaku tidak sehat suaminya itu. Berbulanbulan dirawat di rumah sakit akibat komplikasi berbagai penyakit, ia baru sadar bahwa banyak obat bebas itu “menjadi racun” tambahan bagi tubuh suaminya. Begitu banyak bungkus dan sisa-sisa obat warung yang dikonsumsi suaminya semasa hidup, ia temukan di bawah ranjang dalam kamar rumahnya. “Sampai saya tidak bisa menghitung jumlahnya, saking banyaknya bung kus obat-obatan warung itu,” kata itu.
B
erbagai jenis obat penghilang rasa sakit yang dijual bebas itu berserakan di bawah ranjang dalam jumlah yang sama. Ia menemukan ketika membersihkan kamar tidurnya setelah seluruh acara mengenang kepergian suaminya itu usai. Perempuan yang kini berusia 42 tahun itu, memang tidak lagi tampak sedih. Bahkan sifat periang perempuan ini mampu menutupi kesedihannya ditinggal suaminya dua tahun lalu itu dengan banyak menceritakan kelucuan-kelucuan tiga anaknya. Ia juga menceritakan bahwa anak sulungnya yang kini berusia 12 tahunlah yang diminta oleh suaminya untuk membelikan obat-obatan tersebut. “Saya baru tahu karena selama ini suami saya menyembunyikan hal itu dari saya dengan sangat rapi,” katanya. Ida lalu mengisahkan mulai dari pertemuan pertamanya dengan suami hingga sakit yang dialami suaminya sampai-sampai ia pernah tinggal beberapa bulan di Rumah Sakit Sanglah Denpasar, Bali. Setelah kekasihnya meninggalkannya untuk menikah dengan anak gadis tetangga rumahnya, Ida kembali menemukan jodohnya beberapa tahun kemudian. Lakilaki yang bekerja sebagai sebagai satpam di sebuah perusahaan swasta di Jakarta itu, sempat pulang kampung di Bima. Jika perantau umumnya pulang kampung niatnya untuk liburan dan bertemu dengan sanak famili, laki-laki ini justru pulang kampung untuk mencari istri. Beberapa gadis desa itu telah ia jajaki. Bahkan salah seorang di antaranya telah membuatnya kepincut dan jatuh hati namun menurut Ida, orangtua gadis itu terlalu “banyak syarat”. Setengah
putus harapan, laki-laki yang kata Ida keras kepala ini, kembali ke Jakarta dengan tangan hampa. Rupanya, Adri (bukan nama sebenarnya, suami Ida), belum putus berharap untuk dapat menemukan gadis pujaan hatinya dari kampung halamannya. Ia rupanya tidak tertarik dengan gadis Kota Jakarta dan membulatkan tekadnya harus menikah dengan gadis Bima. Melalui mantan gurunya, Adri berusaha meminta informasi tentang gadis-gadis desanya, siapa yang pantas disuntingnya. Sampailah pada nama Ida. Berbekal nomor telepon rumah Ida, Adri tiap hari menyapa Ida lewat telepon. “Saya heran, kalau telepon tiap hari dan berjam-jam,” ungkap Ida yang membayangkan berapa pulsa yang harus ia habiskan untuk dapat bicara dengannya, tiap hari pula. Ida sendiri kala itu, belum terlalu jatuh hati padanya mengingat ia merasa belum pernah ketemu dan hanya suaranya saja yang ia kenal. Hingga suatu hari sebuah foto ia terima. Laki-laki itu cukup gendut baginya. Namun, mantan guru Adri meyakinkan ia bahwa akan sangat berbeda melihat foto dan bertemu langsung dengan orangnya. “Karena rajin dia menelepon, saya mulai berpikir bahwa dia serius apalagi usia saya semakin bertambah,” kata Ida. Ditambah lagi rupanya Adri adalah kawan satu angkatannya, beda jurusan. Ia tidak bisa mengingat dengan jelas sosok Adri karena beda jurusan dan beda kelas. Namun karena kegigihan itu tidak hanya diperlihat kan oleh Adri, melainkan orangtua terutama ibu Adri yang selalu datang ke rumah orangtua Ida, membuatnya semakin yakin bahwa Adri serius ingin mempersunting dirinya. “Ibunya hampir tiap hari
datang ‘mengapel’ ke rumah saya,” ungkapnya tertawa. Ibu Adri memang kerap bertandang ke rumahnya dan menunjukkan keinginannya untuk menjadikannya menantu. Hal inilah yang kemudian memuluskan rencana pernikahan mereka yang diatur lewat telepon. Adri pulang kampung saat itu untuk menikah. Jadi praktis, Ida dan Adri tidak pernah menjalankan pacaran secara fisik (saling bertemu) melainkan jarak jauh dan ketika bertemu mereka langsung menikah. Sejak menikah, Adri memilih pulang kampung dan bekerja di kampung halamannya. Kehidupan mereka bahagia sampai dikarunia tiga orang anak. Pada tahun ke sepuluh pernikahan mereka, suatu siang Adri mengalami kecelakaan tunggal sepeda motor. Entah karena kecapean menempuh perjalanan yang cukup jauh dari tempat kerjanya, motornya selip di jalan berpasir. Adri sempat terkapar di pinggir jalan dan dibantu pengendara lain. “Adri di bawa ke rumah sakit dan sempat dirawat di UGD, namun bisa pulang hari itu juga,” kata Ida. SATU STRIP SATU HARI Memang tidak terdapat luka dan bekas yang parah dari kejadian itu, namun dua tahun kemudian barulah terasa. Adri tiba-tiba sering mengalami sakit kepala yang hebat. Tiap kali sakit kepala itu datang, ia mengonsumsi obat-obatan warung. “Dia keras kepala, saya minta untuk ke dokter dia tidak mau. Dia selalu merasa sehatsehat saja karena tiap kali minum obat, ia merasa sembuh,” ujarnya. Celakanya, konsumsi obat-obatan bebas itu berlangsung sangat lama, beberapa tahun lamanya. “Kalau sakit kepala datang, minum obat dia merasa sehat,” katanya. Makin lama ia mengonsumsi obat-obatan itu, makin pendek jarak sakit yang bisa diobati. “Satu strip obat bisa dia habiskan satu hari saja. Karena tiap kali minum obat hanya bisa menahan sakit tidak lebih dari dua jam dan setelah ia harus mengonsumsi lagi,” kata Ida. Yang diketahui Ida banyak obat ia konsumsi namun ternyata lebih banyak lagi yang tidak Ida ketahui jumlahnya. Melihat perilaku tidak sehat inilah yang membuat Ida memaksa suaminya agar mau memeriksakan kondisinya. Saat pertama kali diper-
iksa di Rumah Sakit Umum Bima, suaminya dinyatakan mengalami tumor otak. Alangkah kagetnya Ida mendengarnya. Demi kesehatan terbaik bagi suaminya Ida selalu membujuk suaminya agar mau berobat lebih lanjut, namun suaminya masih kekeh merasa sehat. “Saya sampai pusing mencari cara agar dia mau berobat,” katanya. Tiap kali bicara soal usaha untuk pengobatan, mereka selalu bertengkar. Suaminya selalu meminta ia untuk diam dan mengh entikan pertengkaran karena tidak tahan dengan sakit kepalanya. “Kalau emosi sakit kepalanya kumat. Karena kasihan melihatnya menahan sakit, saya mengalah tapi akhirnya pengobatan itu tidak berjalan sebagaimana mestinya,” ujarnya. Dengan berbagai cara pendekatan sudah ia lakukan, namun suaminya bertahan tetap merasa sehat. Rupanya karena obat-obatan itu dapat menyanggah rasa sakitnya meski hanya sebentar. Sampai akhirnya sakit yang dialami suaminya makin para. Adri tak lagi bisa bicara karena tenggorokannya panas. Adri akhirnya dilarikan ke Rumah Sakit Sanglah di Bali. Ia dirawat di sana. “Yang saya tahu penyakitnya, selain tumor otak, kanker tenggorokan dan sinusitis kronis,” kata Ida. Ia pasrah namun tiada waktu ia habiskan tanpa berdoa untuk suaminya yang selalu merasa sehat. Ida kagum pada suaminya yang kelihatan tegar dan selalu menyatakan bahwa dirinya sehat. “Dia pandai merayu dokter agar bisa pulang dengan mengiming-imingi dokter dengan madu asli Bima,” kata Ida. Adri memang selalu minta izin pada dokter untuk bisa pulang ke Bima beberapa hari saja dan akan kembali lagi untuk dirawat di rumah sakit. Tentu saja dokter tidak bisa mengizinkannya pulang dengan kondisi yang tidak memungkinkan. Hingga akhirnya, suatu hari, Ida pulang ke Bima untuk mengambil gaji karena kehabisan biaya menunggui suaminya di rumah sakit. Biaya rumah sakit memang ditanggung asuransi namun biaya beberapa orang kerabat yang bergantian menunggu di rumah sakit, terbilang besar. Saat itu Ida kehabisan uang dan memilih pulang untuk mengambil gaji sekaligus menjenguk anak-anaknya. Empat hari Ida meninggalkannya di rumah sakit membuat suaminya tiap waktu mengirim
pesan pendek agar ia segera menemaninya. Saat itu suaminya sudah tidak bisa berkomunikasi verbal melainkan lewat SMS. “Sampai-sampai saya tidak bisa tidur, SMS-nya masuk terus,” kata Ida. Akhirnya ia pun kembali ke Bali. Ia masih menemukan suaminya merayu dokter agar diizinkan pulang untuk menjalankan ibadah puasa di kampung halaman dengan janji akan segera kembali setelah lebaran. Mereka minta izin dua minggu pulang ke Bima dan terpaksa dokter mengizinkannya. “Sejak saat itulah dia tidak pernah mau kembali ke rumah sakit,” kata Ida yang akhirnya pasrah menerima apa pun ketentuan yang diberikan Allah pada mereka. Benar saja, suaminya tidak lagi mampu bertahan. Mungkin itulah jalan terbaik baginya. Setelah dua bulan meninggalkan rumah sakit dan “melanjutkan” sakitnya di kampung halaman, Adri menghembuskan nafas terakhirnya dua tahun lalu. Sedih iya. Pasrah juga iya. Namun dari kisah ini, Ida ingin berbagi agar istri harus lebih detil memperhatikan perilaku suami. “Jangan sampai seperti saya, tidak tahu bahwa betapa banyaknya suami saya mengonsumsi obat-obatan bebas itu,” katanya. Ida tidak menyesali apa yang telah terjadi, karena itulah usaha maksimal yang telah ia lakukan untuk suaminya. Kini Ida lebih fokus membesarkan tiga anaknya. Wajah-wajah mereka mengingatkan ia pada sosok suaminya yang humoris. -Naniek I. Taufan
6
l i f e s to ry
Dibayar Sepiring Nasi
Roni (bukan nama sebenarnya), pria yang mengaku suka dengan sesama jenis. Penampilannya cukup menarik sebagai seorang pria. Namun, tingkahnya kemayu layaknya seorang wanita. Karena itu, ia dipanggil Mbak yu.
R
oni berasal dari sebuah kota di Jawa Timur. Lima tahun lalu ia memutuskan pindah ke Bali untuk bekerja. Ia dit erima bekerja di sebuah salon kecantikan di Denpasar. Tak perlu waktu lama bagi Roni untuk belajar menangani semua pekerjaan di tempat ia bekerja. Apalagi sejak kecil Roni terbiasa dengan pekerjaan wanita. Ia dibesarkan hanya dengan kasih sayang seorang ibu angkat. Ayah angkat Roni meninggal saat usia Roni dua tahun. Sejak bayi Roni diasuh orangtua angkat, karena mereka tak punya anak. Meski tahu siapa orangtua kandungnya Roni mem ilih hidup bersama orangtua angkat yang sudah ia anggap seperti orangtua kandung. Roni tumbuh sebagai anak yang rajin membantu orangtua. “Kebetulan ibu bekerja mengupas kedelai untuk baha n membuat tempe,” ucapnya. Roni juga piawai dalam membuat kue. Bahkan saat duduk di bangku SMP, ia bisa mandiri, mencari duit sendiri dengan berjualan kue. Melihat Roni yang gemar membuat kue, tak pernah terlintas dalam benak ibu ataupun saudara-saudara
Roni lainnya jika Roni memendam sifat kewanitaan. Hal ini mungkin karena Roni sejak kecil rajin mengaji. Seiring masa remaja, Roni mulai merasakan adan ya suatu getarangetaran cinta, namun anehnya getaran itu muncul saat ia berada di dekat teman pria. Perasaannya itu seolah kian nyata, saat ia duduk di bangku kelas dua Sekolah Menengah Pertama (SMP). Ia merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya dengan teman pria sekelasnya. Ta n p a r a g u - r a g u R o n i mendekati teman prianya itu layaknya remaja yang tengah mabuk asmara. Betapa girang hati Roni karena ternyata teman prianya itu menerima perasaan cintanya. “Kami sempat bercinta di kamar mandi sekolah,” ungkapnya tanpa malu-malu kepada Tokoh. Sejak saat itu hasrat Roni terhadap sesama jenisnya seolah kian membara. Puncakn ya ketika ia duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Ia bahkan tidur de ngan banyak pria alias gonta-ganti pasangan. Meski Roni sadar ada yang salah terhadap dirinya, namun, ia tak mau
ambil pusing. Bahkan seiring waktu hal itu ia nikmati. Lambat laun, pergaulannya dengan kaum gay ini makin meluas. Bahkan hampir tiap saat ia bersama-sama teman gay-nya berburu laki-laki. Sasarannya, jika ada siswa sekolah lain yang punya wajah ganteng. “Saya minta teman buat ngenalin ke saya, jika sudah kenal, saya lakukan pendekatan,” ucapnya.
Namun, tak semua teman pria yang akan ia ajak tidur setuju. “Ada yang menolak namun kami bawa paksa ke hotel. Satu anak bisa kami tiduri secara bergantian,” ujarnya. Menurutnya, tak perlu membayar mahal untuk mengajak tidur
31 maret - 6 april 2014
31 maret - 6 april 2014
seorang teman laki-laki. “Kadang teman kencan laki-laki saya itu mau meski hanya dibayar sepiring nasi atau uang jajan,” kenangnya. Kegilaan Roni pun kian menjadi, saat ia memutuskan berpacaran de ngan ayah dari teman pria sekelasnya. “Saya memanggilnya Om,” ucapnya. Hubungannya den gan si Om ini cukup lama, sekitar 3 tahun. Dengan Om ini Roni merasa menemukan sosok ayah yang telah lama ia rindukan. Hampir tiap malam minggu si Om datang mengapel ke rumah Roni. Meski awalnya sempat mendapat teguran dari ibunya, namun Roni hanya cuek. Namun, lama-lama ibu Roni tak bisa berkata apa apalagi setelah melihat sikap baik si Om kepadanya. “Om ser ing memberi ibu uang atau sekadar oleh-oleh,” ucap Roni. Kampung Roni sempat dibuat geger dengan terendusnya hubungan terlarang itu. “Saat saya tengah bersama Om di rumah tiba-tiba istrinya datang melabrak,” kenang Roni. Hati Roni pun kecut, lantas ia menyuruh pacarnya itu untuk membuat pilihan, ia apa istrinya. Tapi, karena laki-laki itu tak bisa mengambil keputusan Roni memilih memutuskan hubung an itu. Sejak peristiwa itu, Roni menjadi buah bibir warga kampung.
Namun, ia tak pernah ambil pusing. Di kampungnya, Roni dikenal pendiam dan tertutup. Bahkan ia tak pernah bergaul dengan anak-anak sekampungnya. “Justru teman-teman saya lebih banyak dari luar desa,” ungkapnya. Setamat SMA, Roni memutuskan mencari kerja di Bali. Bukannya sembuh, sakit Roni seolah kian menjadi. Hari-harinya ia nikmati dengan berganti-ganti pria. “Biasanya sih cinta kilat,” selorohnya. Namun, seiring bertambahnya usia, kata Roni ia lebih bisa mengontrol nafsu seksnya. Ia pun lebih hati-hati dalam memilih teman kencan. “Saat ini saya lebih mencari kecocokan, sebelum akhirnya kami memutuskan berpacaran,” ucapnya. Roni seolah kian terlena dalam sebuah hubungan terlarang. Bukan hanya itu, ia pun mulai berani mencicipi narkoba. Kadang ia takut akan bahaya virus HIV/AIDS. Apalagi seorang temannya telah positif tertular virus mematikan itu. “Karena itu, saya selalu memakai kondom,” ungkapnya. Kini Roni mengaku tak punya pacar alias jomblo. Di usianya, yang hampir menginjak kepala tiga, tak pernah terlintas dalam benaknya untuk menikahi seorang wanita. “Saya tak pernah punya gairah seks, saat melihat teman wanita,” ungkapnya. Meski sadar dirinya kini tengah sakit, ia tak berusaha untuk sembuh. “Saya tak ingin paksakan diri saya, untuk saat ini saya jalani hidup saya seperti apa adanya,” pungkasnya. -Tini Dwi Rahayu
S U D U T PA N D A N G
19
Buang Sampah Sembarangan Denda Rp 5 Juta Menanti Ada pemandangan umum yang biasa ditemui warga Denpasar. Tak jarang, kita menemukan orang membawa tas kresek berisi sampah. Begitu melihat bak sampah di pinggir jalan, langsung lempar. Sebagian ada yang memilih berhenti agar sampah tepat masuk di bak. Aksi bawa sampah ini diakui Bu Wati yang bertempat tinggal di Jalan Mahendradatta. Ia bingung harus membuang sampah di mana. Tiap pagi, ia membawa tas kresek berisi sampah saat mengantar anaknya sekolah. Kalau ia lihat bak sampah berwarna hijau, ia berhenti dan membuangnya di sana. Suatu ketika, ia membuang sampah di bak sampah milik Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Denpasar yang ada di pinggir Jalan Hayam Wuruk. Lalu datang seseorang yang mengingatkan agar tidak membuang sampah di bak tersebut karena bak itu hanya untuk warga di lingkungan dusun tersebut. “Apa iya, bak sampah milik DKP itu hanya untuk dusun tertentu? Saya bingung mau buang sampah di mana. Di lingkungan saya, tak ada bak sampah dan pengelola sampah,” keluhnya.
“J
ika ada kasus seperti itu, sebaiknya masyarakat mengadu ke kepala lingkungan atau kepala dusun. Karena kaling/kadus se-Kota Denpasar sudah diberikan bimbingan teknis soal lingkungan. Kalau masyarakat mau mengadu pada kaling/kadus, saya yakin hal tersebut bisa tertangani,” kata Kadis DKP Denpasar I Ketut Wisada, S.E., M.Si. Volume sampah di Kota Denpasar per hari 2.700 meter kubik. Dari volume ini, 80% dikelola pemerintah sisanya ditangani kelompok swakelola. “Pemerintah Kota Denpasar memiliki komitmen dengan kades/ lurah sejak tahun 1992 dalam pengelolaan sampah. Wilayah yang tidak tertangani pemerintah, dibentuk swakelola, kepala desa/lurah yang mengoordinir. Mereka bebas memungut iuran pengelolaan sampah dan punya sistem sendiri,” katanya. Wisada menambahkan, masya rakat tidak perlu membawa sampah keliling. “Membawa sampah pada pagi hari itu melanggar aturan jam pembuangan sampah. Waktu pengeluaran sampah pukul 17.00-19.00. Tidak ada yang boleh membuang sampah di luar jam itu. Armada kami akan melakukan pengangkutan
sampah pada malam hari. Kalau siang hari, bisa macet jalanan. Sosialisasi itu sudah lama, masyarakat jangan purapura tidak tahu. Jadwal pembuangan dipasang di mana-mana,” katanya. Bagi masyarakat yang membuang sampah sembarangan, pihak DKP Denpasar tidak main-main. Sudah sering kejadian masyarakat tertangkap membuang sampah sembarangan dan dikenakan tindak pidana ringan. Kerja sama dengan pihak kejaksaan dan pengadilan negeri pun dilakukan dengan menggelar sidang tipiring di balai banjar. Dalam seminggu bisa disidang 30-40 pelanggar. Namun, denda yang dikenakan masih ringan, antara Rp 50 ribu-Rp 100 ribu. Padahal, dalam Perda Kota Denpasar No. 24 Tahun 2011 disebutkan sanksi bagi yang membuang sampah sembarangan dikenakan denda maksimal Rp 5 juta. “Sayangnya, denda yang dikenakan masih kecil. Orang berpikir masih bisa bayar Rp 50 ribu. Coba diterapkan denda yang tinggi. Masyarakat pasti jera. Kami juga mohon media ikut membantu memublikasikan berita jika ada yang disidang karena membuang sampah sembarangan agar yang lain jadi tahu dan ikut peduli,” tegas pria kelahiran Penyaringan, Jembrana, 28 Agustus 1960 ini.
Suasana diskusi di Warung 63 Denpasar
Saat ini, menurut Wisada, kita tak hanya berperang dengan sampah. Tetapi, juga berperang dengan perilaku masyarakat. “Kita sudah 68 tahun merdeka tapi kita belum merdeka soal sampah. Ada masyarakat yang buang sampah seenaknya, yang penting rumah mereka bersih, tak peduli buang sampah di mana. Jika masyarakat tersebut tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya, ini sama saja dengan bohong. Hal yang perlu dicermati, jangan sampai Denpasar menjadi lautan sampah seperti yang pernah dialami Bandung,” katanya mengingatkan. Pengelolaan kebersihan tak bisa berdiri sendiri. Ada three domain, yaitu pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Pola ke depan, antara pengelolaan sampah 25% ditangani pemerintah, 50% ditangani masyarakat, dan 25% ditangani dunia usaha. Jumlah sampah identik dengan jumlah penduduk. Makin tinggi jumlahpenduduk, makin tinggi volume sampah. Jika dihitung dari jumlah penduduk Denpasar yang mencapai 788.500 jiwa, dihasilkan 800 ton sampah sehari. Artinya per orang menghasilkan sampah 0,8 kg per hari. Saat hari raya, timbunan sampah bisa
I Ketut Wisada
I Made Ada
bertambah 50% yang didominasi sampah organik. Salah satu kendala yang dihadapi DKP Denpasar adalah tenaga angkut yang 99% orang Bali. Ketika hari raya, pengangkutan sampah menjadi terlambat kare na para pengangkut sampah ini merayakan hari raya terlebih dahulu. Wisada meyakinkan masyarakat agar tidak perlu khawatir karena sampah pasti akan terangkut walau agak lambat. “Sampah ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah tetapi juga tanggung jawab masyarakat karena masyarakat sebagai penghasil sampah. Masih banyak yang perlu disadarkan. Kami sudah berkoordinasi dengan kades/lurah dan kadus/ kaling agar terus-menerus mengingatkan masyarakat tentang pentingnya penanganan sampah. Kalau ada masalah dengan lingkungan, silakan lapor ke kadus/kaling,” tandasnya. Upaya lain yang juga dilakukan pemerintah adalah melakukan desentralisasi pengelolaan sampah. Beberapa urusan pengelolaan sampah kini ditangani camat dan kades/lurah disertai dengan penyerahan dana untuk pengelolaan lingkungan. Di masing-masing kecamatan juga sudah ada unit pelaksana teknis (UPT) yang menangani sampah. Di desa pakraman atau banjar-banjar juga diharapkan ada perarem yang berkaitan dengan penanganan sampah. Semua ini kata kuncinya adalah kesepakatan untuk membuat Denpasar bersih dan kesepakatan untuk melaksanakan. Upaya lain yang juga dilakukan adalah membuat program Jumat Organik. Pada hari Jumat, masyarakat hanya boleh mengeluarkan sampah organik. DKP siap untuk menyediakan angkutan yang akan mengangkut sampah tersebut. Dari awal, pemilik rumah harus memilah mana sampah organik dan anorganik. Mengenai swastanisasi pengelola an sampah, suami Putu Purwanti, S.H., M.H. ini mengatakan sudah ada 33 bank sampah di Denpasar yang sangat membantu. Mereka dimodali Rp 8,5 juta untuk membeli sampah dari masyarakat dan membuat satu sistem composting. Bank sampah Nojasari misalnya, bisa mengirim tujuh ton sampah yang bernilai ekonomis atau dapat diuangkan. Ditargetkan, sampah bisa berkurang 20% pada tahun 2015. “Satu hal yang perlu dicatat, kami tidak membina pemulung. Pemulung sering berlaku sembaran-
gan. Mereka mengorek-ngorek bak sampah mencari yang diperlukan lalu meninggalkan bak sampah dalam kondisi sampah berserakan. Pemulung hanya boleh di TPA dan TPS, jangan di bak sampah yang di tepi jalan,” tegas Wisada. Ia mengingakan masyarakat, agar memperlakukan sampah dengan benar. “Pembalut dan pampers harus dicuci bersih dulu sebelum dibuang. Kalau mau buang kasur, jangan buang ke sungai. Telepon saja DKP, kami akan jemput,” katanya. Selain itu, buanglah sampah pada tempatnya. Kalau sedang berolahraga di lapangan misalnya, ada bak khusus sampah. Di Lapangan Ngurah Rai, ada 50 relawan yang memberikan informasi tempat membuang sampah di lokasi itu. “Tolong sebarkan dari mulut ke mulut,” pintanya. Mengurai permasalahan sampah menurut I Made Ada, S.Sos., Kepala Desa Sanur Kauh bagai mengurai benang kusut. Apalagi posisi yang dialami Desa Sanur Kauh sebagai desa yang berada di hilir. Muara Tukad Rangda dan Tukad Loloan yang berada di desa ini membuat sampah berkumpul di hilir. Masyarakat di hulu sungai membuang sampah sembarangan ke sungai, desa ini kebagian sampah yang bertumpuk. “Kami menyiasati tepian muara dengan melakukan pavingisasi agar kesan muara lebih indah. Kami punya Kelompok Sadar Wisata Gema Saka (Gerakan Masyarakat Sanur Kauh). Kami juga sering ingatkan masyarakat kalau di rumah bersih, di lingkungan juga harus bersih. Mulailah memilah sampah dari rumah. Tapi kalau masyarakat di hulu sungai yang buang sampah sembarangan, kami tak bisa berbuat apa. Mau atau tak mau, kami membersihkan sampah kiriman itu,” ujarnya. Desa Sanur Kauh memiliki depo Palasari yang bisa menampung 48 kubik sampah per hari. Dalam sehari ada dua truk yang bertugas mengangkut sampah. Armada ini masih kurang untuk mengatasi sampah di Sanur Kauh. Di depo ini dilakukan pemilahan sampah. Untuk pemilahan sampah, ada dusun Bet Ngandang dan Blanjong sebagai percontohan. Program baru juga sedang dikembangkan, rumah yang dibangun di tepi sungai harus menghadap ke sungai dan menyisakan telabah satu meter agar sungai tidak dijadikan comberan. – Ngurah Budi
NINE
20
31 Maret - 6 April 2014
Timbu, Penganan Khas Masyarakat NTB Lalu-lalang bus antardaerah dari Bima ke Mataram yang berangkat tiap malam hari, menjadi lahan nafkah bagi penjual timbu di desa Bolo Kecamatan Bolo, Bima. Tempat ini merupakan salah satu lokasi berkumpulnya penumpang yang menanti bus tujuan Mataram atau Pulau Jawa. Penjual timbu, terutama perempuan dan anakanak, dengan cekatan naik ke atas bus untuk menjajakan makanan khas yang terbuat dari ketan ini setiap kali ada bus yang berhenti untuk menaikkan penumpang.
B
erjualan timbu di lokasi ini telah dilakukan sejak puluhan tahun lalu oleh warga di sekitarnya. Puluhan tahun pula, timbu telah menjadi ladang nafkah bagi orang-orang kampung yang terletak di bagian Barat Kabupaten Bima ini. Timbu menjadi salah satu mata pencaharian perempuan di beberapa desa di Bima dan Dompu. Meski tidak lagi membuat timbu sebanyak dulu, kuliner khas ini tetap bisa menjadi tambahan penghasilan mereka yang lumayan bagi keluarga. Ini ������������ disebabkan karena produk-produk makanan ringan yang praktis telah menyerbu. ”Sehingga, para penumpang bus lebih banyak memilih makanan ringan yang sudah tersedia sebagai bekal selama perjalanan, ketimbang makanan khas seperti timbu,” kata salah seorang penjual timbu. Timbu merupakan penganan khas di NTB yang terbuat dari ketan putih dan santan kental yang dibakar menggunakan media bambu. Pembakarannya yang dilakukan secara tradisional dengan kayu atau arang membuat rasanya renyah dan gurih. Penganan ini biasanya disajikan dengan tape ketan hitam. Pembuatannya yang sederhana membuat usaha ini berkembang baik di beberapa daerah seperti di Kabupaten Bima dan Dompu. Timbu Bolo dijajakan hingga ke luar desa di kecamatan Bolo, terutama di malam hari. Timbu biasanya dijajakan di sepanjang jalan raya (jalan negara yang merupakan jalur kendaraan antardaerah) yang merupakan tempat keramaian. Namun kini, bisa dibilang timbu hanya bisa ditemukan di pasarpasar tradisional atau di Desa Bolo, terutama malam hari. ”Dulu, setiap malam pedagang timbu berderet di sepanjang jalan raya di Sila. Penjual timbu akan semakin ramai di kala Lebaran. Sekarang timbu hanya bisa didapatkan di Bolo atau pasarpasar tradisional,” kata Minarni, warga Desa Rato, Sila Bima. Dalam perjalanan menuju Mataram dan Pulau Jawa, penjual timbu juga bisa ditemukan di Terminal Ginte, Dompu. Di sini, seperti juga di Bolo, penjual timbu yang kebanyakan perempuan dan anak-anak, juga dengan sigap naik ke atas bus ketika bus masuk ke terminal. Mereka menjajakan dagangannya hingga bus-bus dari Bima menuju ke barat habis sekitar jam sebelas malam. Di sini, penjualnya malah lebih banyak. Timbu Dompu masih sangat diminati sebagai kuliner khas oleh masyarakat Dompu. Di terminal ini juga tampak para penjual timbu yang menjajakan dagangannya bahkan hingga pagi tiba. Para perempuan yang menggeluti bisnis berjualan timbu di sini menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk beraktivitas mulai dari menyiapkan bahan hingga membakar dan menjajakan timbu.
Nyaris 24 jam mereka menggeluti usaha ini, dari proses pembuatan hingga pemasarannya. “Soalnya timbu semakin malam semakin laku,” ujar Kalsom, salah seorang penjual timbu yang berjualan pagi di pasar dan malam harinya di Terminal Ginte, Dompu. Para penjual timbu rela berjualan hingga pagi hari agar penganan ini tidak sampai tersimpan hingga dua hari. Hal ini bisa menyebabkan kerugian akibat timbu sewaktu-waktu bisa basi setelah dua hari. Jadi, boleh dikatakan, timbu di Dompu selalu dijual dalam keadaan yang tetap baik. Usaha pembuatan timbu juga terlihat lebih hidup di daerah ini. Di sepanjang jalan menuju salah satu objek wisata Pantai Lakey Hu’u di Dompu dapat disaksikan para perempuan pembuat timbu, misalnya di Desa Lepadi atau desa-desa selanjutnya menuju Lakey. Lepadi merupakan lokasi pembuatan timbu secara turun temurun. Di beberapa lokasi, bisa ditemukan masyarakat yang sedang membakar timbu di pinggir jalan. Pemandangan yang unik. Bahkan di dalam kota Dompu juga terdapat pembuat timbu, seperti di Kelurahan Bada. Timbu juga banyak dijajakan di pasar-pasar tradisional di Dompu saat pasar buka di pagi dan siang hari. Di Pasar Atas, salah satu kompleks pertokoan di tengah kota Dompu, para perempuan penjual timbu yang datang dari berbagai desa di Dompu berjualan dari sore hingga malam hari. Di sini, para perempuan dengan busa-
na khas rimpu (jilbab khas suku Mbojo), duduk berderet menjajakan timbu. Penganan ini rupanya sangat digemari di malam hari, karena rata-rata penjual timbu mengaku makanan ini lebih laku justru pada malam harinya. Para penjual timbu yang rata-rata perempuan ini menghabiskan waktu mereka di pasar dan di terminal. Diakui oleh pembuat dan penjual timbu di Dompu, usaha ini ternyata mampu menjadi mata pencaharian yang dapat menghidupi keluarga. Kalsom misalnya, mengaku, rumah yang ditempatinya saat ini merupakan hasil
jerih payahnya membuat dan menjual timbu. “Dulu rumah saya rumah kayu, dari hasil membuat dan berjualan timbu, saya bisa membuat rumah tembok sederhana,” katanya. Ia bahkan bisa menyekolahkan anak-anaknya dari usaha ini. Kalsom awalnya hanya membuat timbu dari sekitar 10 kg ketan di tahun 1980an. Namun, seiring dengan semakin digemarinya penganan ini, bahan baku pembuatan timbu berupa ketan meningkat menjadi 30-50 kg perhari. “Saat lebaran tiba, ia bisa mendapat pesanan timbu hingga 75 kg ketan dalam sehari,” ujarnya. Dalam kondisi normal, sehari ia bisa memproduksi hingga 50 kg ketan. Jumlah ini, selain untuk dijual sendiri oleh Kalsom di pasar dan di terminal, juga atas pesanan dari penjual-penjual timbu di berbagai tempat di Dompu. Kalsom termasuk salah seorang pembuat timbu beromzet besar dibandingkan dengan yang lainnya. Dan setiap hari, masing-masing pembuat timbu lainnya bisa memproduksi hingga seratus batang timbu yang dibuat dari puluhan kilogram ketan putih. Timbu masih menjadi salah satu penganan favorit di Dompu. Jika di Bima, timbu mulai terasa agak berkurang, di Dompu malah menjadi mata pencaharian yang menjanjikan. Sedangkan di Mataram, timbu yang dalam bahasa Sasak disebut timbung ini, justru mulai jarang terlihat lagi. Hanya sesekali penganan ini ditemukan di pasar tradisional atau pedagang keliling yang berjualan dengan cara dipikul. Penjual timbung keliling di Mataram, adalah laki-laki. Para pembuatnya tidak terpusat seperti di Bima dan Dompu, melainkan pembuatnya perorangan yang tersebar di Lombok. Di Lombok, timbung tidak menjadi pilihan, melainkan penganan kebetulan semata. ”Jika ketemu penjualnya dan sedang berselera, kami membelinya. Tapi tidak dicari-cari,” ujar mahasiswa kos-kosan di Ampenan. Para penjualnya pun harus berjuang berjalan
berkilo-kilo meter untuk menghabiskan dagangannya dalam sehari. Jika saja ada mata pencaharian lain, ujar salah seorang penjual timbung di Kebon Roek, ia ingin beralih profesi. Namun ia bersyukur, meski begitu, perjuangannya berjualan timbung dapat mengasilkan sejumlah keuntungan yang bisa ia bawa pulang untuk keluarganya. PROSES PEMBUATAN TIMBU Untuk membuat timbu diperlukan ketan putih berkualitas baik sebagai bahan bakunya agar hasilnya putih
31 Maret - 6 April 2014
INSPIRASI
Kurnia Ito
Hidup Bersama 80 Ekor Kucing
Bagi pencinta satwa, memilih kucing ras angora atau persia sebagai hewan peliharaan rumah merupakan hiburan menyenangkan. Meskipun dibanding kucing lokal, pemeliharaan kucing ras membutuhkan biaya lebih besar. Selain itu, dibutuhkan waktu dan perhatian lebih karena tiap hari, kucing-kucing jenis ini perlu disisir bulunya, diseka mata dan hidungnya bahkan dibersihkan telinganya. Sedangkan makanannya pun harus dibeli khusus di toko makanan satwa peliharaan. Lalu apa maksud Kurnia Ito memiliki peliharaan kucing dari dua ras ini hingga mencapai 80 ekor?
“K
dan menarik. Beras ketan tidak boleh dicampur dengan beras biasa karena jika dicampur sedikit saja bisa merusak hasil. Selain ketan putih, usaha ini membutuhkan bambu-bambu yang setiap hari pula harus ada. Karena, bambu merupakan wadah atau media utama yang dipergunakan untuk membakarnya. Usaha pembuatan timbu di Dompu dilakukan selama lebih kurang 10 jam. ”Biasanya proses pembuatannya dari pagi hingga sore hari,” kata Kalsom. Keadaan cuaca rupanya menjadi salah satu penentu sedikit banyaknya timbu dibuat. ”Jika musim hujan seperti ini, pembuatan timbu paling banyak sekitar 30 kg saja,” ujarnya. Namun, ketika tidak musim hujan sehari bisa menjadi mencapai 50 kilogram beras ketan. Ini disebabkan karena pembakaran timbu yang membutuhkan waktu berjam-jam itu, rata-rata dilakukan di luar rumah di tempat yang terbuka. Sehingga ketika hujan tiba, musim ini menjadi salah satu penghalangnya. Proses pembuatannya sederhana saja. Untuk 50 kilogram ketan putih dibersihkan dari kotoran lainnya, seperti bulir yang tidak terkelupas dari kulit arinya. Ketan harus benar-benar bersih demi mendapatkan hasil yang juga baik ketika matang nantinya. Juga, agar penggemar timbu tidak terganggu ketika memakannya. Ketan kemudian dicuci hingga benar-benar bersih dan putih. Bambu dengan diameter tertentu dipotong sepanjang 30-40 cm. Selain ketan, kelapa dan bambu, bahan pembuatan timbu yang harus ada setiap hari adalah daun pisang yang muda agar hasil timbunya baik dan aromanya wangi khas. Daun pisang muda yang telah dipotong-potong ini, dimasukan ke dalam bambu yang kemudian diisi dengan beras ketan putih yang sudah dicuci dan ditiriskan hingga menjelang penuh. Lalu, dimasukkan santan yang sudah dicampurkan dengan garam secukupnya hingga penuh. Sisa daun pisang dilipat dan disumbat dengan ampas kelapa agar bisa matang. Untuk membuat timbu dari 50 kilogram beras ketan putih, dibutuhkan 100 batang potongan bambu dengan ukuran
30-40 cm. Jadi, masing-masing bambu akan terisi dengan setengah kilogram beras ketan putih. Sebanyak 30 kilogram beras ketan putih yang rata-rata dibuat setiap harinya, akan menjadi 60-65 timbung seukuran bambu. Dan, untuk 50 kilogram beras ketan putih ini membutuhkan kelapa parut sekitar Rp 40 ribu. Perbandingannya, untuk empat kilogram beras ketan putih membutuhkan tiga buah kelapa ukuran besar. Timbu mentah yang sudah disiapkan dalam dalam bambu-bambu ini kemudian dibakar bersama bambunya. Pembakaran timbu hingga benar-benar tanak, membutuhkan waktu sekitar dua setengah jam efektif jika menggunakan bambu yang sudah pernah dipakai untuk membakarnya. Namun jika bambu baru, pembakaran memerlukan waktu tiga jam atau lebih. Bambu sebagai wadah untuk membakarnya biasanya dipakai tiga sampai empat kali. Setelah itu bambu yang pecah dan bocor diganti dengan yang baru. Membakar timbu harus benar-benar tanak, jika tidak akan cepat basi. Timbu yang dibakar hingga tanak betul bisa bertahan dua hari. Dalam sehari, kata Kalsom, ia membutuhkan bambu dengan harga Rp 30 ribu. Dan pembakaran timbu yang terbuat dari 30 kilogram beras ketan putih ini, membutuhkan Rp 50 ribu untuk membeli arang. Untuk satu timbu diameter kecil dengan panjang 30-40 cm dijual dengan harga Rp 7.000 dan yang berdiameter lebih besar dengan panjang yang sama harganya Rp 10.000 per buah. Timbu tidak harus dibeli satu lonjor melainkan juga dijual dengan potongan kecilkecil, mulai Rp 1.000 hingga sesuai permintaan pembeli. Penjual biasanya menyesuaikan diri. Dengan beras ketan putih yang dibelinya Rp 6.500 per kilogram tiap harinya, dari 30 kilogram beras ketan putih dan bahan lainnya, ia mampu menjual timbu Rp 400-600 ribu. Timbu akan lebih terasa enak jika dimakan dengan tape ketan hitam. Timbu, penganan khas yang telah ada di NTB secara turun temurun, namun perkembangannya tidak sama di tiap daerah. Timbu menjadi mata pencaharian bagi sebagian masyarakat Dompu yang menggelutinya secara berkesinambungan. -Naniek I. Taufan.
5
ucingkucing ini mengajarkan pada saya menyadari anugerah kehidupan. Melatih ketegaran menghadapi kesakitan dan kehilangan,” ujar wanita yang sudah berada pada ambang senja usianya ini kepada Tokoh. Dengan populasi kucing peliharaan sebanyak itu Kurnia menolak tegas jika disebut sebagai pembiak atau peternak komersial. Karena nyatanya sebagian besar biaya perawatan kucing dikeluarkan dari koceknya sendiri. Sebagai mantan pengusaha yang telah bekerja keras pada usia produktifnya, Kurnia mampu melakoni hobi mahalnya ini tanpa mengandalkan bantuan dari mana pun. Ia memiliki dua rumah serta sumber penghasilan pasif yang memungkinkannya menampung dan memelihara hewan kecinta annya ini. Selain pakan yang merupakan produk impor, para kucing harus mendapat vaksinasi teratur. Mulai dari ketika masih anakan usia dua bulan menyusul pada usia tiga bulan sesudah itu setiap tahun. Dapat dibayangkan berapa besar dana diperlukan Kurnia setiap bulan apalagi jika ada kucing yang sakit dan harus dirawat di klinik hewan. “Sebetulnya saya tidak bermaksud memelihara kucing begini banyak,” ujar Kurnia. Ketika namanya mulai dikenal sebagai pencinta kucing, Kurnia kerap didatangi pemelihara kucing yang merasa tidak sanggup merawat kucingnya lagi. Pelbagai alasan dan kondisi yang melatari. Ada yang tak sanggup membeli pakan, ada yang kewalahan karena kucingnya beranak-pinak terlalu ban yak, ada yang tidak punya waktu oleh sebab tuntutan kariern ya, ada pula yang dipindahtugaskan keluar dari wilayah Bali. Kasus
paling menyentuh ketika Kurnia menemukan enam ekor kucing tak terawat selazimnya. Tubuh mereka tinggal tulang berbalut kulit. Kandangnya terpapar ter iknya matahari siang dan dinginn ya angin malam. Selain sakit kulit kucing-kucing tersebut juga berkutu. Namun cacinglah yang menjadikan tubuh mereka kurus kering. Dengan restu si pemilik, Kurnia memboyong semua kucing itu dan membawanya ke klinik hewan. Di situ kucingkucing itu dimandikan, diberi makan dan minum kemudian disuntik vitamin dan antiparasit. Setelah beberapa minggu kemudian kondisi kucing-kucing itu membaik barulah Kurnia membawa mereka pulang. “Ternyata diperlukan waktu berbulanbulan merawat k uc ing-kucing
yang terabaikan itu hingga menjadi sehat dan gemuk lagi,” ungkapnya. Lima ekor telah berhasil diadopsi orang lain, hanya seekor tertinggal. Namun Kurnia berniat memelihara sendiri karena kucing itu buta total. Ia tidak memiliki bola mata semenjak lahir. Kurnia menamainya Buby. Kurnia juga harus mempekerjakan beberapa karya wan untuk merawat kucingkucingnya. Untuk membantu menekan biaya pemeliharaan, selain mengenakan biaya adopsi Kurnia menerima jasa pemacakan dan penitipan. Cukup ba nyak pemilik kucing kebingung an pada hari liburan panjang. Di tempat Kurnia, kucing-kucing titipan senantiasa diperlakukan dengan perhatian dan kasih, tak ubahnya seperti perlakuan pada
kucing-kucing miliknya sendiri. Meskipun pernah ada pemilik kucing marah karena kucing anakannya terjangkit penyakit kulit. Turunnya sistem imun mempermudah anak kucing di serang jamur terutama jika sedang dalam proses penyapihan. Agar populasi kucingnya tidak semakin bertambah, Kurnia memisahkan kucing jantan dan betina dalam ruang-ruang tersendiri. Kurnia terpaksa harus mensterilkan kucing yang sangat hiperaktif. Bagi Kurnia, adopsi merupakan solusi terbaik. Kucing yang dipelihara hanya seekor atau dua ekor cenderung lebih sehat dan gemuk dibanding hidup dalam kelompok. Meskipun demikian, Kurnia sangat selektif memilih orang yang ingin mengadopsi kucingnya. Ia tidak menginginkan berjumpa de ngan pribadi yang cenderung menganggap kucing sebagai dagangan mudah diperjualb elikan atau mainan yang mudah diberikan jika setelah bosan. Memelihara makhluk hidup tentunya selalu berhadapan dengan risiko menyedihkan terutama jika
“Kucing-kucing ini mengajarkan pada saya menyadari anugerah kehidupan. Melatih ketegaran menghadapi kesakitan dan kehilangan” ada kucing sakit lalu mati. “Meskipun semua kucing saya sudah divaksinasi tapi masih banyak ancaman penyakit yang bisa mematikan kucing,” ucap Kurnia dengan nada serius. Feline peritonitis, gagal ginjal akut, penyakit jantung bawaan adalah penyakit yang mengakibatkan kematian pada kucing. Kurnia selalu berupaya mencari peng obatan terbaik bagi kucingnya yang sakit namun sekiranya nyawanya tak terselamatkan maka Kurnia menerimanya sebagai suatu takdir. Justru ia menjadi lebih sedih jika men dengar kucing yang diadopsikan hilang dari tempat pemilik baru. “Kucing ras tidak terbiasa hidup liar. Sangat sedih jika membayangkan kucing yang hilang itu terlunta-lunta dan kelaparan,” tukasnya lirih. Bagi Kurnia tidak ada pemandangan lebih mengasyikkan seperti ketika ia menunggui induk kucing yang baru melahirkan dan sedang berbaring menyusui anak-anaknya. Betapa dinamis energi kehidupan demikian kesimpulannya manakala menyaksikan bayi-bayi kucing saling berebut untuk menyedot air susu ibunya. Agaknya inilah yang dimaksud oleh wanita sang penyayang kucing meng apa ia merasa dapat memetik suatu makna berharga melalui makhluk peliharaan yang begitu banyak. Dengan mengikuti proses kelahiran, pertumbuhan, perjalanan hidup para kucingnya, Kurnia akhirnya berkesimpulan bahwa tak berbeda dengan manusia, kucing juga memiliki takdir dan nasib sendiri-sendiri. – Tini Dwi Rahayu
INSPIRASI
4
31 Maret - 6 April 2014
Sosok Wanita Hindu Penuh Semangat Pengabdian
B
Pelantikan pengurus WHDI Papua Barat
egitulah sosok yang dikenal memiliki kepedulian sangat tinggi ini, kembali memegang kendali organisasi kemasyarakatan berbasis agama Hindu sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) periode 2011-2016. Hal ini berkat prestasinya bersama jajaran pengurus WHDI pusat untuk periode pertama (2006-2011), menjadikan Ir. Rataya B. Kentjanawathy terpilih untuk kedua kalinya secara aklamasi. Dalam kiprahnya sebagai pemimpin WHDI periode pertama, istri Mayjen. TNI (Purn.)Sang Nyoman Suwisma, Ketua Umum Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) dan Dirut MNC TV ini, ia mampu pula mereorganisasi WHDI sehingga berhasil memperoleh kekuatan hukum. Akhirnya, WHDI sebagai organisasi kemasyarakatan berbasis agama Hindu ini memiliki akta notaris sebagai badan hukum dan telah terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM sebagai badan hukum yang sah.
Selain itu Kentjanawathy juga sempat mencatatkan tonggak sejarah bagi WHDI. Betapa tidak pada April tahun 2007, organisasi wanita Hindu ini berhasil terdaftar sebagai anggota ke-80 di Kongres Wanita Indonesia (Kowani) yang merupakan wadah berhimpunnya organisasi kemasyarakatan wanita di Indonesia, dan menempatkan beberapa fungsionaris untuk berkarya dalam kepemimpinan organisasi Kowani. Pencapaian ini memang luar biasa, sebab memang sejak lama WHDI menginginkan agar bisa bergabung dalam Kowani. Apalagi, sebelum masuknya WHDI tidak ada satupun organisasi perempuan Hindu yang tercatat di sana. Sementara, organisasi keagamaan lainnya sudah lebih dahulu terdaftar. Bukan hanya itu, selainberhasil mendidik ketiga putranya, Kapten (inf) Sang Ngurah Wikrama Witapathy, S.Kom., Lettu (Czi ) Sang Ngurah Wiranggana Adityapathy, S.T., yang adalah Komandan Peleton Kompi Jihandak Garuda XX Misi Perdamaian PBB di Kongo dan Iptu (Pol) Sang Ngurah Wiratama
Rataya Kentjanawathy dalam salah satu kegiatan masimakrama
Satriapathy, Kanit 3 Subden II Detasemen C Resimen I Gegana Korp Brimob Polri, juga berhasil membuka WHDI Provinsi dari 7 menjadi 31 Provinsi, dan satu perwakilan luar negeri yakni perwakilan Hongkong. Linda Amalia Sari Gumelar yang ketika itu menjabat sebagai Ketua Kowa ni dan kini Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, mengatakan telah lama memonitor kiprah WHDI. Terlebih setelah dipimpin Kentjanawathy, terjadi perkembangan yang luar biasa, baik dari sisi organisasi maupun program-programnya. Selaku ketua umum yang dikenal tak suka tinggal diam ini, menurut Linda Gumelar putri dari Brigjen. TNI (Purn.) Ranga Bondjoran Bayupathy (alm) dan Rataya Puspawathy ini terbukti berhasil membuat program terobosan-terobos an dalam melaksanakan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak termasuk masalah lingkungan. Linda Gumelar juga mengatakanWHDI memiliki kekuatan dalam menggaungkan pentingnya kesetaraan perempuan. Juga, bagaimana para ibu bisa bersatu dalam pembangunan bangsa, khususnya mengejar MDGs (Millennium Development Goals), terlebih angka kematian ibu dan anak masih tinggi. Hal ini juga menjadikan semangat mengabdi dan jiwa berjuang dalam diri Kentjanawathy semakin berkobar. Selain itu, Rataya Kentjanawathy sebagai seorang leader juga mampu meletakkan dasar-dasar kehidupan organisasi yang sehat dan mandiri. Berbagai komunikasi dan pembinaan jaringan eksternal telah dirintis dan membuahkan hasil. Kepercayaaan demi kepercayaan telah diperoleh bahwa wanita Hindu mau dan mampu untuk mengambil peran. Jiwa berjuang dalam dirinya yang mengalir dari sang ayah, yang tokoh pejuang Bali dan diangkat sebagai staf khusus oleh I Gusti Ngurah Rai juga merupakan mantan Ketua Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Markas Daerah Bali, juga telah berhasil mendirikan yayasan di bawah WHDI. Yayasan tersebut katanya untuk peningkatan kesejahteraan anggota. Melalui organsiasi wanita Hindu pula, ia mendirikan PAUD-PAUD Hindu di seluruh provinsi di Indonesia. Kentjanawathy berharap semua lembaga sayap WHDI dapat tumbuh dan berkembang mewadahi idealismenya. Di samping itu, Kentjanawathi yang juga aktif sebagai anggota Pengurus
MANDALIKA
21
Temu dan Forum Anak NTB
Rat aya B. Ke n tj a n awa thy
Bakal calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI 2014 -2019 dari Provinsi Bali pada pemilu legislatif 2014 ini, bukan perempuan biasa. Perjalanan kariernya telah mencatat cukup banyak prestasi terutama untuk perempuan Hindu.
31 Maret - 6 April 2014
“He sai lako sia ….. apa rungan? Oo ham… He… lenga bune haba? Oo ham … He hip … berembe kabar? Oo ham … Kita bertemu di sini di Temu Anak NTB. Sasambo-sasambo, Sasambo-sasambo, Sasak Samawa Mbojo…”
L
Pusat Persit, Perip, dan Perwosi (Persatuan Wanita Olahraga Seluruh Indonesia) ini berhasil meningkatkan sumber pendanaan WHDI, salah satunya dari pemerintah pusat. Berikutnya, Kentjanawathy kembali menyampaikan jika niatnya untuk maju menjadi calon anggota DPD RI periode 2014-2019 dilatarbelakangi oleh pengalamannya selama dua periode memimpin WHDI Pusat bahwa masih banyak persoalan dalam isu-isu perempuan Bali baik itu pendidikan, kesejahteraan, serta kesehatan. Juga, masalah anak-anak, KDRT, yang masih luput dari perhatian pemerintah baik pusat maupun daerah. Selain itu, imbuhnya, pada Pesamuhan Agung PHDI Pusat, 21-23 Februari 2013 yang berlangsung di
buta aksara pada perempuan Bali. Kentjanawathy yang tak pernah sepi dari kegiatan sosial ini juga menyimpulkan bahwa untuk melakukan perubahan yang berdampak luas dan sistematis, mau tidak mau harus masuk ke dalam sistem. Namun, nampaknya pilihan tersebut membawa konsekuensi pada pilihannya melalui jalur DPD RI. Menjadi anggota DPR RI, sekalipun wewenangnya lebih luas, namun posisin ya sebagai pucuk pimpinan WHDI, menghendaki berdiri di atas semua golongan (partai politik). Karena, perempuan Hindu (khususnya perempuan Bali) memiliki aspirasi politik yang tersebar di berbagai partai politik. Ia berpendapat, dengan menjadi anggota DPD RI, ia dapat lebih
Palangkaraya, ditemukan beberapa fakta tentang kondisi perempuan yang memprihatinkan belakangan di Bali, meningkatnya intensitas KDRT di Bali, kekerasan terhadap anak, tingginya penderita HIV/AIDS di Bali, dan angka
fleksibel bertemu dengan konstituen perempuan, khususnya di Provinsi Bali tanpa kendala sekat organisasi. Srikandi Bali ini juga mengakui bahwa keputusannya terjun menjadi calon anggota DPD, tidak lepas dari dorongan besar dari unsur-unsur masyarakat, tokoh agama, serta LSM di Bali. Didukung sedikitnya 4.600 orang sebagai syarat awal memenuhi pendaftaran bakal calon DPD RI, kentjanawathy optimis langkahnya akan memperoleh dukungan dari masyarakat. Selanjutnya, dengan turun langsung ke desa-desa serta memperoleh fakta sesungguhnya di lapangan, ia akan mencari solusi tercepat untuk mengatasinya, seraya mempersiapkan langkah-langkah strategis bersama segenap unsur terlibat. “Perempuan Bali juga perlu ditingkatkan pemahaman akan arti pentingnya pembentukan generasi baru yang lebih berkualitas. Sebab, bagaimana pun sebagai ibu, perempuan berperan besar dalam pembentukan karakter, kecerdasan, dan akhlak anak-anaknya di masyarakat,” ujar perempuan energik ini. - ard
Peresmian salah satu Paud Hindu di Sulawesi
agu yang menggunakan bahasa tiga suku di NTB ini, Sasak (Lombok), Samawa (Sumbawa) dan Mbojo (Bima dan Dompu), memeriahkan acara tatap muka dan dialog antara Gubernur NTB dengan anak-anak Nusa Tenggara Barat, di Ruang Rapat Utama Kantor Gubernur NTB, beberapa waktu lalu. Dalam pertemuan tersebut, sebagian dari anak-anak NTB ini mengenakan pakaian adat dari suku masing-masing. Nuansa keakraban tampak selama kegiatan dialog berlangsung. “Hitam putihnya bangsa kita ke depan, baik buruknya negara kita ke depan, semua tergantung pada perjuangan anak-anak,” ungkap Gubernur NTB, TGH. M. Zainul Majdi dalam TGB. Dalam Temu dan Forum Anak NTB yang mengambil tema “Nasionalisme, Kebhinekaan dan Persaudaraan” ini, anak-anak NTB mendeklarasikan hasil rekomendasi mereka, di antaranya mengharapkan kemudahan proses kepemilikan akta kelahiran bagi setiap anak, pembentukan klinik remaja sebagai sarana pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi, taman bacaan dan bermain ramah anak yang bebas polusi, jaminan sarana dan prasarana bagi anak berkebutuhan khusus, hingga perda tentang perlindungan khusus anak-anak yang berada pada zona rawan konflik, serta berbagai persoalan lainnya. Forum dialog dan diskusi antara Gubernur NTB dengan 44 anak yang mewakili anak-anak dari 10 kabupaten dan kota se-Nusa Tenggara Barat, berlangsung hangat. Dengan sedikit melipat lengan kemejanya, gubernur termuda di Indonesia saat pertama kali dilantik pada tahun 2008 ini, membuat suasana dialog tersebut santai. Sambil berdiri sepanjang hampir satu jam, Majdi, dengan sabar meladeni “curhat” anak-anak masa depan NTB ini. Kegiatan ini difasilitasi oleh Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (BP3A&KB) Provinsi NTB yang bekerja sama dengan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Nusa Tenggara Barat. Beberapa pertanyaan menyangkut anak, baik dalam bentuk hak maupun kewajiban, juga berbagai persoalan yang dihadapi oleh anak-anak NTB, mengalir dalam dialog yang ter bilang komunikatif itu. “Keran-keran” birokrasi yang menyangkut masalah anak yang selama ini masih tersendat, langsung “dibuka” oleh Gubernur NTB dengan mengomunikasikannya secara langsung dengan dinas dan instansi terkait yang ikut hadir dalam kegiatan tersebut. Berbagai masalah tersebut misal nya, mulai dari pandangan mereka atas “diskriminasi” dari sekolah kejuruan saat mereka akan menghadiri kegiatan-kegiatan anak di luar daerah, soal keinginan mendapatkan kesempatan bekerja yang sama bagi anak-anak mantan narapidana yang menyampaikan agar adanya toleransi bagi anak-anak yang berhadapan dengan hukum, sampai pada keinginan anakanak untuk dapat berdialog dengan gubernur tidak hanya sekali dalam setahun. “Kami ingin dapat berdialog langsung seperti ini dengan Bapak Gubernur, tidak hanya sekali setahun melainkan bisa lebih sering lagi, agar apa yang menjadi permasalahan kami
dapat didengar langsung dan harapan kami ada solusinya,” ungkap salah seorang anak asal Mataram. Dari banyak persoalan yang disampaikan dan diperhatikan gubernur, beberapa hal yang secara khusus diberikan perhatian yakni tentang fasilitas SLB dan anak-anak yang berhadapan dengan hukum. Ketika salah seorang anak dari Sekolah Luar Biasa (SLB) bernama Lia menyampaikan bahwa mereka kekurangan buku-buku yang dapat diakses oleh tunanetra juga peralatan tulis- menulis yang terbatas, Majdi langsung merespons. “Saya instruksikan dinas terkait untuk memperhatikan dan membenahi hal tersebut, juga melengkapi buku dan peralatan yang dibutuhkan,” ujar Gubernur secara langsung di depan forum. Begitu pula dengan masalah anakanak yang berada di LP. Bahwa, saat membentuk karakter anak, tidak ada tempat yang tepat dasn tempat yang lebih baik bagi anak, selain dilakukan di rumah, di sekolah dan di lingkungan yang baik. “Sekolah dan lingkungan keluarga, adalah tempat yang terbaik bagi pembentukan karakter anak,” ungkapnya. Oleh karena itulah, atas keluhan bahwa banyak anak-anak mantan narapidana yang sulit masuk perguruan tinggi terkendala Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) yang tertulis mantan narapidana, Gubernur berjanji untuk mendiskusikan dengan para rektor di NTB. Berbagai persoalan anak yang terjadi di NTB, mendapat perhatian serius dari beberapa lembaga yang fokus menanganinya, seperti Lembaga Perlindungan Anak (LPA) NTB yang juga mendampingi anak-anak dalam kegiatan ini dengan terus berupaya melakukan perlindungan terhadap hak-hak anak NTB. Jika pun tidak mungkin mengeliminasinya, tetapi upaya meminimalkan terus-menerus dilakukan lembaga ini. Dalam kerangka acuan kegiatan ini, LPA NTB menyatakan bahwa upaya tersebut antara lain dilakukan dengan penyadaran pada masyarakat agar masyarakat tidak melakukan tindak kekerasan pada anak dan masyarakat aktif melindu ngi anak serta memberikan bantuan terhadap anak yang menderita tindak kekerasan. Tetapi, hal yang tidak kalah pentingnya adalah peningkatan kesadaran anak-anak itu sendiri akan hak-haknya, upaya perlindungan akan hak-haknya bila terjadi pelanggaran. Proses penyadaran secara aktif oleh anak-anak itu sendiri dapat dilakukan melalui berbagai bentuk partisipasi anak. Salah satunya adalah melalui bentuk pertemuan anak-anak yang difasilitasi oleh anak
sendiri. Kegiatan ini membuka ruang agar anak-anak dapat membahas masalah hak-hak anak, kekerasan pada anak dan upaya penyebarluasan hak-hak anak, dengan cara dan dinamika anak-anak. Dialog antara Gubernur dan anak-anak ini merupakan salah satu wujud bagi anak untuk dapat perperan aktif dalam pembangunan daerah, setidaknya mereka bisa menyampaikan pendapat dan masukannya seputar anak secara langsung kepada pemerintah daerah. Gubernur NTB yang juga seorang da’i ini terlihat piawai menjawab pertanyaan anak-anak ini dengan candaan khasnya yang membangkitkan keberanian anak-anak untuk bi-
cara dan memunculkan kecerdasan mereka dalam kalimat-kalimat yang tertata rapi. Gelak tawa juga mewarnai dialog tersebut. Selain itu, Gubernur juga sempat memberikan pemahaman-pemahaman kepada mereka tentang peran dan fungsi pemerintah juga tentang hak dan kewajiban anak-anak. Dengan gaya humor, Gubernur menyampaikan bahwa pemerintah tidak memiliki “tongkat aladin”, tidak pula memiliki “kantong Doraemon”, juga tidak punya “tongkat Harry Potter”, yang bisa mengubah segalanya sendiri dan dalam waktu seketika. “Tidak ada yang bisa disulap, pemerintah tidak bisa mengerjakan segalanya tanpa kerjasama
semua pihak. Namun begitu, ada bagian-bagian yang mengharuskan adanya intervensi pemerintah akan dilakukan,” katanya. Yang unik dari akhir kegiatan ini adalah seluruh anak yang ikut dalam forum anak ini meminta tanda tangan khusus dari Gubernur NTB, termasuk pada kaos yang mereka pakai. Rupanya, kesuksesan Majdi sebagai pimpinan daerah ini, pemimpin yang berusia muda, menjadi tokoh inspiratif bagi anak-anak NTB. Dengan sabar, Gubernur memberi kesempatan satu-persatu bagi anak-anak untuk mendapatkan tanda tangannya juga foto bersama. -Naniek I. Taufan
W H AT ’ S U P
22
31 maret - 6 april 2014
31 maret - 6 April 2014
Made Herry Erika Sedana
Bangga Kulit Gosong
Komunitas Mbambung Adventure alias Kombad ini merupakan komunitas yang para anggotanya memiliki kesamaan hobi petualangan. Kombad terbentuk November 2013 silam. Dari 15 anggota kini menjadi 35 anggota.
K
omunitas ini lahir dari obrolan santai sekelompok anak muda yang gemar berpetualang di alam bebas seperti Rikimaru, Niko dan Lanang. “Peresmiannya sewaktu kami camping di Danau Buyan,” ucap Niko. Mendaki gunung, salah satu kegiatan komunitas ini. Karena itu, mereka menggunakan kata mbambung, yang dalam Bahasa Jawa berarti gelandangan. Namun, bukan berarti mereka tak punya rumah loh, tapi anak gunung, yang suka tidur beralas tanah dan beratap langit. Para anggota komunitas ini tak sebatas kaum laki-laki karena ada juga wanita yang bergabung. Meski kegiatan komunitas ini identik sangat menantang namun bukan berarti kaum cewek ini kelakilakian. Bahkan sebagian besar memiliki penampilan feminim. “Kami di sini memiliki latar belakang berbeda, ada yang masih kuliah, ada juga yang bekerja,” ucap Niko. Komunitas ini masih cukup baru, sehingga baru beberapa gunung di Bali saja yang sempet mereka jelajahi, seperti Gunung Agung dan Gunung Batur. Tak semua anggota punya pengalaman naik gunung, bahkan sebagian besar sama sekali belum pernah naik gunung. Namun, ada juga dari mereka yang sebelumnya telah menaklukkan beberapa gunung yang berada di Bali, Lombok dan Jawa. Sebelum mulai mendaki,
mereka biasa melakukan serangkaian persiapan. Salah satu hal terpenting yakni melihat kondisi cuaca. “Tak tanggung-tanggung kami meminta bantuan BMKG untuk informasi cuaca. Hal ini sangat penting karena nyawa kami yang akan menjadi taruhan,” ucap Lanang Tunggal Santoso, Ketua Kombad. Jika cuaca bagus, mereka putuskan berangkat. Beberapa peralata n yang mereka bawa seperti alat penerangan berupa senter dan lampu kepala beserta baterai cadangan. Membawa bekal makanan, seperti mie instan, cokelat, madu dan air min-
eral, lengkap dengan nasting dan portable. Makanan yang dibawa juga harus berkalori. Rikimaru menambahkan pendaki sebaiknya memakai se-
patu yang aman buat mendaki, kalau bisa yang tahan air. Jaket pilih dari jenis bahan parasut kare na bersifat antiair, antiangin serta mencegah keluarnya suhu badan. Juga, gunakan slayer, sarung ta ngan, kacamata dan masker untuk menghindari panas dan dingin. Tenda bisa dibawa atau bisa tidak, tergantung kondisi. Jika diantara pendaki ada yang belum berpengalaman naik gunung atau memiliki riwayat penyakit tertentu, sebaiknya tenda harus dibawa. Peralatan lain seperti peralatan sholat, jas hujan dan tisu basah ada di dalam tas tiap orang. “Obat-obatan dan peralatan P3K jangan pernah lupa,” ucap Rikimaru. Sebelum berangkat, mereka membagi dalam beberapa regu. Tiap regu terdiri dari lima orang yang dipimpin satu kepala rombongan. “Melakukan cek jumlah personil sangat penting, karena kondisi tiap orang berbeda,” imbuh Niko. Tiap gunung memiliki tantangan berbeda. Jika medannya sangat susah, bisa diistilahkan jidat ketemu dengkul, mereka harus memanjat. Selain itu, kegiatan mendaki ini mereka kaitkan dengan kampanye sayangi alam. Saat mendaki gunung, para anggota Kombad ini memegang tiga prinsip. Tidak mengambil apapun selain gambar, tidak membunuh apapun selain waktu dan tidak meninggalkan apapun selain jejak. Mereka juga selalu memungut sampah-sampah plastik yang tercecer di hutan. “Karena itu kami selalu berbekal tas kresek. Jika kita baik pada alam, alam pun akan baik pada kita,” ujar Rikimaru. Para anggota Kombad ini seolah mencoba menantang
maut dengan membelah hutan, menyusuri setapak terjal dengan tebing-tebing curam demi sampai ke puncak. Bahkan pernah juga sampai tersesat. Apa sih yang mereka cari? “Kami tentu punya alasan beragam ikut dalam pendakian. Ada yang sekadar penasaran, sebagai obat penghilang stres, mencari ketenangan, ada juga yang demi mencari inspirasi dan menyalurkan hobi fotografi. Yang jelas bagi kami, kegiatan ini bisa memberikan kami kepuasan batin,” kata Rikimaru. Bagi mereka, mendaki gunung ibarat melawan diri sendiri. “Ketika berada dalam situasi lelah, haus, lapar, akan muncul sifat asli tiap orang. Siapa yang egois, cuek, pemarah atau suka menolong akan terlihat. Di sinilah kami saling intropeksi dan menasihati,” imbuhnya. Agar tak sampai tersesat, mereka mengikuti jejak-jejak yang dibuat para pendaki sebelum mereka. Kadang jejak ini kabur sehingga mereka membuat yang baru dengan mengikatkan kain merah pada tumbuhan tertentu. Saat mencapai puncak, menjadi
S E L E B R I TA S
3
Sesuatu yang Mendasar
kisah yang tak terlupakan. “Karena itu, kami selalu mengabadikan moment itu dalam sebuah foto ataupun video. Saat berada di puncak, kami bisa menikmati pesona matahari terbit. Jika cuaca sedang bagus, dari puncak Gunung Batur kami bisa melihat Gunung Abang, Gunung Agung dan Rinjani,” ujar Lanang. Namun, mereka tak bisa berlama-lama berada di titik tertinggi, Paling lama satu jam, karena takut ada kabut dan terkena sun burn (kulit terbakar). Meski cuaca di puncak tak terasa panas, namun para pendaki perlu waspada, sebab rasa panas pada kulit yang terbakar baru terasa saat berada di bawah. “Tapi bagi saya gosong sebuah kebanggaan,” ucap Rikimaru. Tak hanya naik gunung, kegiatan positif lain yang pernah mereka lakukan seperti futsal, pengajian serta menggelar acara baksos. “Beberapa waktu lalu kami melakukan kunjungan ke Pondok Pesantren Attaqwim, Karangasem. Selain memberi bantuan, kami juga berbagi pengalaman tentang alam dengan para penghuni pondok,” ujar Lanang. -Tini Dwi Rahayu
Sosok yang satu ini, sejak lama sudah tercatat sebagai salah seorang perempuan Bali pertama yang menduduki posisi senior profesional di dunia logistics & supply chain. Tak tanggung-tanggung di perusahaan market leader industry express, ia memegang tanggung jawab besar sebagai kepala cabang di usia 27 tahun dan pada usia 28 tahun ia sudah berada di jajaran country management. Apa kabar Erika Sedana kini?
S
aat ini pemilik nama Made Herry Erika Sedana A.Md., S.E., ini masih duduk sebagai Head of Telesales Indonesia & Country Trainer, DHL Global Forwarding Indonesia. Rupanya, perempuan satu ini masih saja memiliki self motivation yang tinggi juga sibuk sebagai coach dan pembicara di berbagai tempat. Ia tampak selalu aktif, bersemangat, dan ceria dengan senyum khas yang ia miliki. Demikian gambaran yang tertangkap saat Tokoh bertemu dengannya di salah satu coffe shop di kawasan Sanur pekan lalu. Begitu ditanya bagaimana ia bisa begitu lama bertahan dan terjun di industri logistics & supply chain ini, dengan yakin Erika menyatakan bahwa dirinya memiliki kecintaan yang dalam terhadap industri logistics &supply chain. “Di industri ini, tidak hanya passion yang selalu saya rasakan, namun lebih jauh dari itu, saya mendapat professional network dan talents dari banyak negara yang tetap bisa berhubungan untuk saling memberi masukan, informasi dan diskusi yang positif,” ungkapnya. Ia mengaku banyak belajar dari senior & leader di network ini. Mereka begitu tekun, terfokus dan mencapai apa yang mereka inginkan dengan tiga hal yang selalu dilihatnya, yakni respect, professional behavior, dan effective collaboration. Perempuan kelahiran 28 Maret 1979, yang pernah memenangkan beberapa penghargaan Indonesia maupun Asia Pacific ini, di antaranya Outstanding Sales Performer, First Time Buyer, Country Retail, dan Import Star Performer ini, sekarang tidak hanya
melakukan pengembangan pasar logistik, namun ia dipercaya juga menjadi Global QSE Facilitator untuk Team Region Asia Pacific, DHL Global Forwarding. Erika juga memaparkan kalau dirinya mulai terjun dan menekuni dunia logistics & supply chain sejak awal tahun 2004. Ketertarikannya berawal dari pengetahuannya tentang sejarah perusahaan market leader yang merekrutnya. “Cepatnya akusisi bisnis dan penetrasi pasar tentu sangat dipengaruhi oleh leader dengan visi yang sangat jelas. Structured approach yang diaplikasikan di hampir semua proses termasuk, proses menjual, proses komunikasi dan koordinasi intradepartemen ini, membuat sistem yang diimplemen-
tasikan berhasil dengan sangat efektif,” paparnya. Sehingga, Erika pun merasakan waktu untuk kariernya dan keluarga bisa seimbang (work life balance). Menurut Erika, ia melihat bahwa keeping top talents masih menjadi tantangan terbesar saat ini dalam sebuah organisasi. “Perusahaan biasanya merekrut talent (seseorang dengan bakat dan kemampuannya) kemudian mengembangkan talent tersebut dengan berbagai macam standar proses yang ada, untuk kemudian dapat memberikan hasil yang luar biasa tehadap perusahaan. Baik dari sisi komersial maupun pengembangan sub-ordinate atau bawahan,” tuturnya. Pada akhirnya, kata Erika yang diinginkan sesungguhnya adalah menciptakan satu talent company, yaitu perusahaan yang menjadi pilihan para talent, pilihan pelanggan dan pilihan pemberi modal. “Ada banyak nilai mendasar yang tertanam hingga membentuk suatu corporate culture yang akhirnya mampu membentuk kembali talents yang ada di dalamnya untuk menjadi lebih baik dan dapat sepenuhnya manjadi duta dari brand image yang ia bawa,” paparnya lebih lanjut sambil menambahkan keyakinannya kalau banyak orang sependapat bahwa talent is our top priority. Bagi Erika, karier adalah salah satu hal yang mendasar. “Jika kita lihat jari tengah dan jari telunjuk, keduanya tidak sama. Ibarat fokus karier dan fokus keluarga, juga tidak bisa sama besar. Salah satu harus lebih besar porsinya. “Hanya saja, challenge kita adalah bagaimana membuat jarak itu tidak terlalu jauh. Satu hal yang selalu saya ingatkan diri saya adalah saya juga seorang istri dan ibu. Jadi seberapa pun aktifnya di luar berkarier, sampai di rumah, saya wajib mengurus suami dan anak-anak,” tutur istri dari Putu Ari Sedana, S.T., M.M., ini. Ditegaskan pula oleh Erika, apa pun yang diraihnya di dalam ber karier, ia kembalikan lagi kepada orang-orang yang disayangi, yakni keluarga, suami dan anak-anaknya serta orang-orang terdekat yang selalu memberi dukungan. Sementara melihat perempuan Bali terkini Erika mengatakan kalau dirinya sangat senang melihat perkembangan yang ada.
Ketiga buah hati Erika
Erika dan suami
“Perempuan Bali sekarang, sudah berpikiran luas, terbuka, dan sangat positif. Karena itu, perempuan Bali berani berkarier di berbagai bidang bahkan sampai ke ranah politik,” katanya. Ia sangat salut pada mereka. Perempuan Bali sekarang lanjutnya sudah mulai melihat dan belajar banyak dari figur perempuan dunia yang sukses. “Mereka luar biasa,” kata ibu dari Gede Tristan Desirata Rama, Made Dyfan Genesia Nataraja, dan Komang Atalanta Ramanavami Daiva ini sembari berharap semua berkembang di bidangnya masing-masing. Di sela-sela rutinitasnya, Erika memiliki cara sendiri untuk refreshing. Kebetulan ia dan suaminya memiliki hobi sama, yaitu traveling, maka mereka acapkali menyempatkan untuk bepergian berdua. Paling tidak sebulan atau dua bulan sekali, mereka melakukan perjalanan yang mereka sebut short break. Myanmar adalah salah satu negara yang mereka kunjungi dan memberikan kenangan tersendiri. Hobi lainnya, adalah membaca buku, salah satunya Harvad Business Review menjelang boarding dan saat di pesawat. Ia juga suka membeli bukunya Daniel Goleman yang banyak bicara tentang people development. Ada lagi yang cukup memberikan hiburan baginya yakni mengurus tanaman dan kebun kecil di rumahnya. Di samping satu lagi
kegemaran lainnya yakni kecintaannya terhadap parfum. Ternyata Erika memiliki selera yang berbeda dalam memilih parfum. Selanjutnya menyinggung aktivitas lainnya Erika yang mantan presenter TVRI Bali untuk acara berita ber bahasa Inggris, Bali Vision ini juga dikenal sebagai salah satu MC (Master of Ceremony) ternama dan andal untuk acara-acara internasional. Ia juga masih sering diminta menjadi narasumber di beberapa kampus. Branch Manager Bali & Nusa Tenggara, DHL Global Forwarding Indonesia yang dipromosikan menjadi Head of Telesales Indonesia ini, juga senang dan banyak menggunakan metrics pada saat berbagi pengetahuan dan pengalaman. “Hal yang menarik perhatian saat ini adalah seni mentoring with microfeedback dalam arti memberi motivasi dan arahan melalui diskusi dan masukan yang lebih detail dan faktual. Di sini ada orang yang lebih menerima dan yang lainnya lebih banyak merespons dengan pertanyaan,” ujar Erika yang lulus DIII dan S1 dengan predikat cumlaude. Sebab, menurutnya, people needs regular feedback on how well they are doing not on how bad they are. “Talent pun tentu pernah mengambil keputusan yang salah dalam pengembangan karier dan pribadinya. Nah, seni mentoring with microfeedback ini menciptakan dan memberi penegasan atas recovery process seseorang; you fall, you get up and you run again,” ujar pemilik moto hidup sederhana whatever you do, do it well and make sure it’s good. “Satu hal lagi, terkadang kita harus siap untuk meninggalkan sesuatu agar dapat mengerjakan hal lain yang lebih produktif,” tandasnya. Ketika disinggung karier yang masih ingin digapainya, Erika dengan yakin mengatakan, “Saya yang asli perempuan Bali ini, ingin menjadi CEO perusahaan besar.” Selain ingin menjadi CEO, rupanya masih ada yang ingin digarapnya. Erika menyebut dirinya ingin menciptakan an I care about you culture sebagai strong foundation for effective relationship. It’s a desire to have a positive impact on others. “Doakan agar semua dapat berjalan dengan baik ya,” ujarnya tersenyum optimis. -ard
EKSPRESSO
2
31 Maret - 6 April 2014
GORO-GORO
klik: www.tokoh.co.id
Sampah Berkurang Kita Untung
Sampah memang tak terelakkan dalam kehidupan kita. Kita mungkin tak sadar berapa banyak sampah yang kita produksi tiap hari di rumah. Coba kita runut dari dapur. Tiap hari, dapur kita menjadi sumber sampah. Membuat tumis kangkung, ada tangkai kangkung yang terbuang. Sampah dari bumbunya, ada kulit bawang putih, kulit bawang merah, tangkai cabai. Masak ikan goreng, ada insang ikan yang harus dibuang. Sisiknya juga. Kita pakai penyedap masakan, ada plastiknya. Beli garam, ada plastiknya juga. Tiap hari, kita bikin kopi dan teh. Kalau pakai kopi bubuk kiloan, sampah plastiknya hanya sekali dalam satu atau dua minggu. Kalau kopi sachet? Tiap buat, kita memproduksi sampah kopi.
O
M G
Sampah teh, tiap kali buat. Ada kantung teh yang harus dibuang. Begitu juga gula. Kalau pakai gula dalam sachet, sampahnya sesuai jumlah pembuatan. Itu baru di dapur. Di kamar mandi, ada sampah dari bungkus sabun, botol shampoo, tube pembersih wajah, wadah masker. Di ruang belakang, ada sampah dari bungkus deterjen, sabun cuci perabotan, pewangi pakaian. Wah, banyak sekali. Itu baru tiga ruangan. Belum semua. Berapa banyak sampah yang kita produksi tiap hari? Di Denpasar, rata-rata orang memproduksi sampah 0,8 liter per hari. Jika satu rumah terdiri atas lima orang, berarti mereka memproduksi empat liter sampah per hari. Dalam sebulan, satu rumah memproduksi 120 liter sampah. Bukan angka yang kecil bukan? Pertanyaannya sekarang, seberapa banyak di antara kita yang memilah sampah itu?
Telapak Tangan Monster
Aku ingin cerita bahwa aku pernah mengalami penyakit yang sangat mengerikan dan membuat hidupku menjadi tidak bergairah. Aku memiliki hobi menulis buku harian, tentunya membutuhkan jari tangan yang normal agar tulisanku terlihat indah. Namun kenyataannya, hal itu tidak dapat aku lakukan dengan sempurna. Awalnya aku merasakan gatalgatal di tangan, seperti gelembunggelembung berair gitu…di jari kelingking tangan kanan. Kubiarkan saja, toh dari kecil aku sudah sering kok mengalami gelembung-gelembung semacam itu dan sembuh sendiri tanpa dikasih obat apa pun. Aku mengalami itu ketika aku sedang menyelesaikan UTS di bangku kuliah. Kupikir, ah, mungkin karena perubahan hormon. Tapi ternyata gelembung-gelembung tersebut menjalar ke jari manis tangan kanan sampai kemudian baruku sadari sudah sampai ibu jari tangan kanan dan itu berlangsung hingga berminggu-minggu. Berikutnya ke tangan kiri..wah parah. Gatal, sakit luar biasa, dan stres kurasakan. Bukan apa-apa, aku sampai tidak bisa meluruskan jari jemariku saat itu. Timbul pula luka-luka di tanganku hingga aku geli pada telapak tanganku sendiri. Barulah saat itu kusadar, aku harus ke dokter. Ketika akhirnya aku mengunjungi dokter umum, dokter mengatakan tanganku kena jamur.
mingguan berita wanita Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998
Ya Tuhan. Dan aku pun disuntik dan diberi obat racikan. Ternyata obatnya tidak ampuh. Seminggu kemudian aku pun mengunjungi dokter lagi, kali ini dokter spesialis kulit. Setibanya aku di sana, Aku terkejut, ya Tuhan, antriannya banyak banget. Aku pun bergegas mengambil nomor antrian. Dengan penuh rasa kesabaran aku menunggu giliran, rasa gatal yang tidak bisa aku tahan membuatku mondar-mandir tidak jelas di depan banyak orang. Masa bodoh. Nah, waktunya telah tiba kini giliranku untuk di periksa. Diagnosanya ternyata berbeda dengan dokter sebelumnya. Dokter spesialis kulit mengatakan, aku terkena alergi kulit akibat sentuhan dengan sesuatu yang menyebabkan alergi. Aku ditanya, “Suka mencuci pakai deterjen ya?”. Lantas kujawab, iya, sambil menyebutkan salah satu merek deterjen. Dan kata dokter tadi, “Tandanya Adik alergi dengan deterjen tersebut, jangan dipakai lagi ya.” Aku berjanji tidak akan memakainya lagi, kecuali kepepet. Dan ketika menggunakannya harus pakai sarung tangan. Aku pun dikasih obat,
dioles-oles. Obat itu ampuh untuk beberapa lama, namun alergi itu tidak hilang samasekali, masih ada sisa-sisa kasar di telapak tangan. Aku pun balik lagi ke dokter, dicek lagi, bagaimana perkembangan alergi telapak tanganku. Ternyata menurut dokter sudah lebih baik. “Tinggal diolesin vaselin,” katanya. Jangan dipikir merek vaselin, tapi vaselin yang dibeli di apotik berupa bahan dasar campuran untuk obat kulit atau untuk hand and body lotion. Dan dengan vaselin itu tanganku berangsur sembuh, tak kasar lagi, tidak seperti monster lagi, tidak dibilang lagi sama teman-temanku yang jahil, “Tangan Sri cantik, tapi kasar kayak tangan monster hehehehe.” Aku pun tetap ingat dengan saran dokter agar aku menghindari deterjen dan sabun colek yang memang keras untuk kulit yang alergi terhadap bersentuhan dengan zat-zat di deterjen dan sabun colek tersebut. Hal itu berlangsung sampai saat ini. Ah, lega rasanya punya telapak tangan normal kembali. Ni Luh Sri Eka Tarmini Singaraja
Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. Panjang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan no kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373
I N F O TO R I A L
Mendengar banyak caleg sudah mempergunakan dukun, Bu Amat bertanya. Apakah dibenarkan dukun sebagai alat untuk mencapai kedudukan wakil rakyat? “Kalau untuk kepentingan pribadi, ya terserah. Itu pun asal tidak dipakai untuk mencelakakan atau mengganggu orang lain,” jawab Amat. “Tapi kalau dipakai untuk sesuatu yang sifatnya menyangkut kepentingan rakyat, harusnya dilarang!” “Harusnya? Jadi sebelum dilarang, boleh?” “Ya, begitulah. Nyatanya, seperti yang disiarkan di TV itu, segala macam cara sudah dipergunakan. Termasuk dukun.” “Makanya! Kenapa tidak dilarang? Masak wakil-wakil rakyat main dukun-dukunan? Kita kan negeri yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa? Berarti itu melanggar Pancasila, Pak! Kalau percaya dukun kan artinya sudan ingkar pada Ketuhanan YME?” Amat membenarkan. Tapi setelah berpikir ia menggumam sendiri. “Cuma kalau dilarang, itu kan secara tidak langsung, artinya pemerintah sudah mempercayai adanya dukun? Nah itu mungkin yang berkecamuk di kepala yang berwajib. Makanya tidak ada alasan untuk melarang dukun berpraktik.” “Masak tidak ada alasan? Anak tetangga yang begitu sehat tiba-tiba tewas. Setelah diusut ternyata mereka punya musuh. Musuh itulah yang sudah menewaskan putra tunggal tetangga. Ya akhirnya musuhnya itu dihukum.” “O, ya? Bagaimana membuktikan musuh tetangga itu yang sudah melakukan pembunuhan?” “Karena dukunnya mengaku.” “Jadi dia pakai dukun?” “Ya! Ilmu hitam!” Amat mengernyitkan dahinya. “Bagaimana sampai ketahuan, musuh tetangga kita itu sudah pakai dukun?” “Kata dukun tetangga.” Amat terkejut. “Jadi dia juga pakai dukun? Kan profesor?” “Lho, bapak kok heran? Di lingkungan kita ini, semuanya punya dukun. Kita saja yang belum. Sudah sering mereka datang menawari kita dukun. Tarifnya dari ratusan ribu sampai miliaran.” Amat sangat terkejut. Malam itu juga ia bertamu ke beberapa tetangga. Ngecek kebenaran omongan istrinya. Ternyata, bukan hanya tetangga Amat, tukang warung pun punya dukun. Dan yang lebih mengejutkan, ternyata Pak Wayan yang tinggal di rumah paling ujung, bukan hanya punya dukun, tapi juga dukun. Amat jadi penasaran. Esok paginya Amat pagi sebelum sempat ngopi, ia bertamu ke rumah Pak Wayan. “Silakan masuk Pak Amat, sudah saya siapkan kopi pahit. Mari.” Amat kaget. “Lho, Pak Wayan kok tahu saya akan datang?” Pak Wayan senyum. “Feeling saja Pak Amat.” “Dan Bapak kok tahu saya suka kopi pahit?” “Itu juga feeling. Pak Amat mau menanyai apa betul saya paranormal, bukan?” Kembali Amat kaget. “Lho kok tahu?” “Feeling Pak Amat. Kita semua punya feeling. Kalau sering meditasi, feeling kita akan tajam.” Pak Wayan kemudian bercerita panjang lebar. Ia tampak menguasai hal-hal gaib. “Pak Wayan itu memang dukun hebat,” kata Amat kepada istrinya setelah pulang. “Dia sudah tahu Bapak akan datang, dia juga tahu Bapak belum ngopi dan suka kopi pahit. Dia memang dukun hebat.” Bu Amat tersenyum. “Waktu Bapak pergi, saya pinjam telepon di rumah tetangga mengabarkan Bapak datang dan belum sempat minum kopi. Takut nanti Bapak sakit kepala di situ.”
“Menuju Bali Mandiri dan Sejahtera 2020”
Putu Wijaya
Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi: Ratna Hidayati. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Pemimpin Perusahaan: IDK Suwantara. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti, Sagung Inten, Tini Dwi Rahayu. Redaksi/Pemasaran Jakarta: Diana Runtu. NTB: Naniek Dwi Surahmi. Desain Grafis: IDN Alit Budiartha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Sekretariat: Ayu Agustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan Palmerah Barat 21 G Jakarta Pusat 10270–Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram– Telepon (0370) 639543–Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–Faksimile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BCA Cabang Palmerah Barat Jakarta. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 229.3006644 Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.
23
I Made Sundayana, S.Kep.,M.Si.
dukun
mingguantokoh @mingguantokoh
Mulai kini, cobalah memilah sampah dari rumah. Hal ini untuk mengurangi sampah yang keluar dari rumah dan mengurangi tumpukan sampah di tempat pembuangan akhir. Jangan pikirkan kebersihan rumah sendiri, sebab, kalau lingkungan kita kotor, yang rugi kita juga. Bagaimana kalau musim hujan tiba? Sampah di mana-mana bisa menyumbat saluran air, jadi banjir. Kita lagi yang kena. Lalu, bagaimana caranya? Reduce, reuse, recycle. Artinya, kurangi, gunakan kembali, dan daur ulang. Perhatikan susunan sampah di rumah kita. Sampah organik bisa kita olah se bagai bahan kompos. Ada kok cara sederhana membuat kompos dari bahan yang ada di rumah. Cukup buat lubang biopori, sekatkan dinding tanah dengan kayu atau pipa paralon, dan siapkan tutup di atasnya agar tidak terkena air hujan. Masukkan sampah organik yang kita produksi setiap hari seperti sobekan kertas yang tidak berwarna, kulit telur, daun, rumput, ranting pohon, kantung teh, bubuk kopi, dan buah busuk ke dalam biopori tersebut. Biarkan beberapa waktu. Mikro organisme akan menghancurkannya dan sampah organik itu akan menjadi kompos yang bisa kita gunakan untuk menyuburkan tanaman. Masukkan ke polibag dan tanamlah bumbu-bumbu yang diperlukan dalam membuat masakan seperti cabai, tomat, jahe, kencur. Dengan begitu, sampah berkurang, kita untung.
31 Maret - 6 April 2014
yang mendalam. Kondisi ini diperkuat dengan jumlah penduduk miskin yang masih relatif tinggi yakni mencapai angka 168.78 ribu orang. “Karena itu, perlu diperjuangkan otonomi yang lebih luas untuk mengentask an kemiskinan melalui pembangunan ekonomi dalam wadah NKRI,” terangnya memberi solusi. Tak hanya aspek ekonomi yang menciptakan ketimpangan itu, aspek sumber daya manusia (SDM) dalam persaingan memperebutkan posisi strategis di dunia kerja, SDM Bali seringkali terpinggirkan justru di tanah kelahirannya sendiri. Sektor pariwisata yang merupakan tiang penyangga perekonomian Bali misalnya, kepemilikan hotel-hotel berbintang dan sarana akomodasi kepariwisataan lainnya yang didominasi oleh kaum-kaum berduit dari luar, makin menambah kesenjang an itu. “Sangatlah perlu meningkatkan kompetensi SDM Bali terutama dalam menyongsong AFTA 2015, karena SDM di Bali menghadapi dua tantangan sekaligus yaitu persaingan internal dan eksternal,” ungkap pria yang dikenal tegas ini.
Profil calon legislatif yang satu ini lebih populer di kalangan pendidik khususnya di Kabupaten Buleleng. Kiprah pria yang lahir di Cipanas, 1 September 1969 ini terkenal gigih memperjuangkan aspirasi masyarakatnya. Ini tak lepas dari character building yang didapatnya selama puluhan tahun membela negeri ini sebagai seorang marinir. Saat ini I Made Sundayana adalah seorang perawat yang telah menempuh pendidikan profesi.
M
eski calon doktor (S3) yang sedang menimba ilmu di Universitas Negeri Jakarta itu tak lagi mengangkat senjata secara langsung, namun kegigihannya membela kepentingan masyarakat tak pernah surut, sebaliknya makin menggelora. Visi misinya membangun masyarakat menuju masyarakat Bali Mandiri dan Sejahtera di 2020, sangat relevan dengan kondisi masyarakat Bali saat ini yang boleh dikatakan masih jauh dari sejahtera. Untuk mewujudkan harapannya itu, putra pasangan Serka Purn. I Made Wirsa (Alm.) dan Ni Ketut Dari ini membulatkan tekadnya maju menjadi calon anggota DPD RI periode 2014-2019 Dapil Provinsi Bali Nomor 25. Pejuang aspirasi rakyat yang berasal dari Desa Kubutambahan, Kabupaten Buleleng ini memproklamirkan diri menjadi figur yang layak dipilih masyarakat Bali. Made Sundayana adalah tokoh masyarakat dan tokoh pendidikan.
Jabatannya sebagai Ketua Stikes Majapahit Singaraja cukup strategis dalam memperjuangkan berbagai permasalahan yang ada di masyarakat. Figurnya dinilai sangat paham terhadap permasalahan pendidikan dan kesehatan masyarakat. “Saya mencalonkan diri sebagai anggota DPD RI karena banyaknya dukungan masyarakat khususnya Buleleng. Saya diharapkan untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat di bidang pendidikan dan kesehatan karena masalah inilah yang paling utama untuk dibenahi,” tuturnya. Sebagai tenaga pendidik, Made Sundayana melihat bahwa ketimpangan yang terjadi di masyarakat Bali saat ini cukup jauh. Dari aspek ekonomi misalnya, Bali yang diprediksi tumbuh mencapai 6,7% hingga triwulan IV/2012, dinilai keluar dari tujuannya menyejahterakan masyarakat. Pasalnya, pencapaian ekonomi yang didorong sektor perdagangan, hotel dan restoran ini justru mencatatkan ketimpangan
DAYA SAING LEMAH Menurut Made Sundayana yang mengutip laporan Badan Pusat Statistik dan Bappeda Provinsi Bali 2012, bahwa indeks pembangunan semakin baik yaitu 72,84% pada tahun 2011 meningkat dari periode sebelumnya yang mencapai 72,28%. Analisis daya saing dan strategi pembangunan untuk 33 provinsi di Indonesia, Bali menempati peringkat sembilan. Namun, jika dilihat dari 20% indikator terlemah dalam daya saing, Bali justru bermasalah pada aspek tenaga kerjanya. “Karena itu perlu ditekankan agar Bali membangun SDM yang cerdas dan berkarakter. Di samping itu, Bali harus memantapkan potensi pasar domestik, baik tenaga kerja maupun produk yang berbasiskan kreativitas dan budaya unggul serta berbagai kearifan lokal. Yang perlu diperhatikan yaitu hubungan tenaga kerja, produktivitas tenaga kerja, kapasitas SDM dan pertumbuhan penduduk. Perlu dikembangkan pendidikan karakter, kreativitas berdasarkan kearifan lokal,” sambungnya. INGIN BANGUN PUSKESMAS Di bidang kesehatan, Made Sundayana bertekad mengoptimalkan keberadaan pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) yang berfungsi sebagai tempat pelayanan kesehatan dasar atau primer. Mengingat fungsinya sebagai tempat pelayanan kesehatan pertama bagi masyarakat, pemerintah semestinya secara intensif memperkuat peran Puskesmas agar sebagian besar masalah kesehatan masyarakat bisa ditangani. “Layanan primer yang mengedepankan prinsip pencegahan yang diutamakan, bukan kuratif/mengobati penderita sakit. Namun realitanya di lapangan, keberadaan Puskesmas termasuk di Bali cenderung dinomorduakan, lantaran sebagian kalangan masyarakat menganggap Puskesmas kurang bermutu. Mereka lebih memilih berobat ke Rumah Sakit (RS) milik swasta maupun pemerintah. Perlu didorong untuk mem-
Bersama mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso.
bangun fasilitas pelayanan kesehatan primer di Puskesmas,” terang Made Sundayana yang juga fokus di bidang kesehatan lingkungan ini. DIDUKUNG INSAN KEPERAWATAN Untuk pencalonannya, Made Sundayana mendapat dukungan dari segenap insan keperawatan se-Bali dan berbagai organisasi kesehatan seperti Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Prov. Bali, Persatuan Ahli Radiografer Indonesia (PARI) Bali, Asosiasi Kesehatan Ling-
kungan Indonesia (AKLI) Bali, Perkumpulan Persatuan Elektromedik Indonesia (PPEI) Bali, Persatuan Analis Kesehatan Indonesia (PAKI) Bali, Persatuan Perawat Gigi Indonesia (PPGI) Bali dan Perkumpulan Fisiotherapi Indonesia (PFI) Bali. Dukungan penuh ini tak lepas dari peran Made Sundayana dalam organisasi. Beberapa jabatan yang dipercayakan kepadanya saat ini adalah sebagai Ketua Pengurus Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Buleleng sekaligus Dewan Pertimbangan Pengurus PPNI Provinsi Bali. -ari
Akrab dengan Gubernur Mangku Pastika.
Visi : - Terwujudnya DPD RI sebagai lembaga legislatif yang kuat dan bijaksana, serta efektif dalam memperjuangkan aspirasi rakyat dan daerah Bali menuju masyarakat Bali yang Mandiri dan Sejahtera 2020 dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Misi : 1. Memperjuangkan Otonomi Daerah Bali yang lebih luas berlandaskan Tri Hita Karana (THK) dalam koridor NKRI. 2. Memperjuangkan peningkatan SDM Bali melalui perluasan pendidikan non formal berbasis kecamatan, meningkatkan jumlah Akademi Komunitas di tingkat kecamatan yang disesuaikan dengan kebutuhan, membangun SMK yang disesuaikan dengan potensi wilayah yang ada di kecamatan. 3. Memperjuangkan edukasi melalui penguatan Desa Adat, memfasilitasi pembuatan awig-awig desa pakraman dan melakukan beberapa edukasi berbasiskan Desa Pakraman seperti penyuluhan HIV/AIDS. 4. Optimalisasi penyerapan SDM lokal (Bali), memfasilitasi penyerapan tenaga lokal untuk bidang pariwisata dan bidang kesehatan, memberikan keterampilan dan kompetensi SDM lokal lewat pendidikan dan pelatihan. 5. Memperjuangkan perluasan pendidikan dan pelatihan berkarakter di Bali dengan cara meningkatkan peran lembaga adat untuk pendidikan karakter generasi muda lewat pasraman-pasraman yang ada. 6. Peningkatan kualitas dan kemudahan akses layanan kesehatan primer dengan jalan menggalakkan berdirinya layanan rawat inap di Puskesmas di tiap kecamatan.
31 Maret - 6 April 2014
24
Jangan Jatuh dan Tertimpa Tangga Tahun 2009 lalu, seusai Pemilu, pemberitaan dihebohkan dengan banyaknya calon anggota legislatif yang stres dan depresi karena gagal meraih kursi wakil rakyat yang terhormat. Bukan sekadar stres dan depresi, banyak juga yang menjadi gila, meninggal karena serangan jantung atau bahkan bunuh diri.
P
enyebab utama dari stres, depresi bahkan gila dan bunuh diri itu, bukan sematamata karena malu gagal menjadi wakil rakyat, tapi karena biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh tempat terhormat itu luar biasa besar itu, hilang tak kembali. Padahal untuk mendapatkan dana kampanye sebesar itu, seorang caleg telah mengeluarkan segala kemampuannya mulai menjual atau menggadaikan barang berharga miliknya hingga berutang kemana-mana. Tak heran kalau kemudian para caleg gagal ini, stress atau depresi ketika harapannya musnah. Kisahkisah caleg gagal jatuh bangkrut alias miskin mendadak, tentu sudah banyak kita dengar. Membayangkan tagihan utang yang menggunung, membuat mereka down dan akhirnya mendekam di rumah sakit jiwa. Bahkan ada yang bunuh diri karena tak kuat menanggung hutang yang harus dibayar. Ibaratnya, sudah jatuh tertimpa tangga. Data Kementerian Kesehat an menyebutkan, paskapemilu 2009, sebanyak 7.376 caleg yang gagal terkena gangguan jiwa alias gila, yang terbanyak adalah caleg tingkat kabupaten/kota. Sebanyak 182.876 caleg berpotensi mengalami gangguan jiwa ringan. Sedang beberapa caleg lainnya dilaporkan bunuh diri. Diperkirakan, jumlah caleg stres dan depresi pada Pemilu 2014 ini akan meningkat sekitar 20%-30% dari sebelumnya. Hal ini diamini oleh Siti Zuhro, peneliti
Hamdi Muluk
dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. “Ini karena mahalnya biaya kampanye dan ketatnya pertarungan di dapil, membuat para caleg yang gagal mengalami stres. Mereka yang kalah pasti stres berat. Mereka tidak bisa menyalahkan siapa-siapa, sementara sudah habis-habisan. Itu sebabnya muncul fenomena caleg stres bahkan sampai bunuh diri,” ujar pengamat politik berambut pendek ini, di Senayan, Jakarta. Menurut Hamdi Muluk, Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, fenomena maraknya caleg stres karena mereka tidak siap mental dan tidak mengkur kemampuan diri. Sosialisasi kampanye yang menghabiskan dana besar dan tekanan sosial menjadi penyebab utamanya. Tujuan mereka menjadi anggota legislatif adalah karena gaji besar dan menguntungkan dari sisi pendapatan.
Sehingga rela mengeluarkan uang ratusan juta bahkan miliaran untuk membiayai kampanyenya. Mereka berpikir uang yang dikeluarkan selama masa kampanye akan bisa kembali setelah menjabat. Mereka yang berpikir demikian, memiliki potensi mengalami gangguan jiwa, ketika gagal. “Kalau nggak siap mental dan risikonya, ya, stres,” ucapnya. Fenomena 2009 yang tak terduga membuat sejumlah rumah sakit mempersiapkan diri untuk menghadapi paskapemilu 2014. Hal ini sejalan dengan imbauan Menteri Sosial Salim Segaf Al-Jufri yang meminta agar rumah sakit menyediakan tempat khusus untuk merawat caleg yang stres paskapemilu 2014. “Jumlah orang stres di Indonesia setiap tahunnya bertambah. Kami juga memprediksi jumlah caleg stres usai pemilu akan cukup banyak khususnya mereka yang kalah. Karena itu kami sudah berkoordinasi dengan pemerintah daerah maupun rumah sakit agar menyediakan tempat khusus untuk caleg yang stres,” katanya. TARIF RP 75-250 RIBU Di Jakarta sendiri, setidaknya ada dua rumah sakit jiwa yang telah siap menampung calegcaleg stres, yakni, Rumah Sakit Jiwa Soeharto Heerdjan, Grogol Jakarta, dan, Rumah Sakit Khusus Duren Sawit, yakni rumah sakit pelayanan jiwa dan narkoba. RSJ Soeharto Heerdjan yang terletak di Jl Prof Latumenten No 1 Grogol Jakarta Barat, menjadi tempat para caleg menjalani tes kesehatan jiwa sebagai syarat ikut pemilu, telah menyediakan sejumlah ruang
RSJ Soeharto Heerdjan
rawat inap dengan biaya bervariasi dari Rp 75.000 hingga Rp 250.000 per-malam. Menurut Direktur Medik dan Keperawatan RSJ Soeharto Heerdjan, M Reza Sjah, sebenarnya rumah sakitnya tidak secara khusus menyiapkan ruangan untuk caleg-caleg stres. Namun, melihat fenomena paskapemilu 2009, rumah sakitnya juga mengantisipasi hal tersebut. Dia sendiri tidak mengetahui persis apakah tahun 2009 lalu, ada caleg gagal yang mengalami gangguan jiwa masuk rumah sakitnya atau tidak karena dalam biodata pasien tidak tertulis pekerjaan sebagai caleg. “Mungkin ada, namun data semacam itu dirahasiakan oleh dokter. Lagipula kalau berdasarkan formulir yang diisi pasien, tidak ada yang menyebut pekerjaan caleg,” jelasnya. Bisa jadi juga, data tersebut tidak disampaikan, karena rasa malu berobat ke rumah sakit jiwa. “Penilaian masyarakat, kalau berobat ke rumah sakit jiwa, negatif. Karena ini adalah rumah sakit khusus. Kalau rumah sakit lain, kan, tidak ketahuan karena gabung dengan pasien lain,” tambahnya. Menurutnya, caleg yang menjalani perawatan di rumah sakit jiwa, umumnya dikarenakan terjadinya gangguan psikosomatis. Gangguan yang disebabkan faktor psikis ini merupakan gangguan gangguan kesehatan yang sering dialami karena seseorang stres. Gangguan psikosomatik terjadi akibat adanya gangguan
Diperkirakan, jumlah caleg stres dan depresi pada Pemilu 2014 ini akan meningkat sekitar 20%-30% dari sebelumnya.
Ruang rawat inap RSJ Soeharto Heerdjan
keseimbangan saraf otonom, sistim-hormonal tubuh, gangguan organ-organ tubuh serta sistem pertahanan tubuh. Berbagai kelainan organ yang terjadi dapat dihubungkan dengan faktor-faktor yang menyebabkan kelainan organ tersebut. Berbagai keluhan yang dapat timbul saat seseorang mengalami stress antara lain sakit kepala, pusing melayang, tangan gemetar, sakit leher, nyeri punggung dan otot terasa kaku, banyak keringat terutama pada ujung-ujung jari tangan dan kaki, selain itu ujung-ujung jari tangan dan kaki terasa dingin, gatal-gatal pada kulit tanpa sebab yang jelas. Mereka juga bisa mengalami nyeri dada, nyeri ulu hati, mual, perut kembung dan begah serta diare. Gangguan yang terjadi akibat stres bisa multi organ. Proses penyembuhannya bisa dengan meminum obat psikofarma dan konseling hingga sembuh. Sedang jangka waktu penyembuhan, tergantung pada berat ringannya gangguan. “Jika ringan, hanya sekitar dua mingguan. Tapi bila berat, bisa sampai berbulanbulan,” ujarnya. Tapi, tidak semua orang yang terkena depresi harus mendekam di rumah sakit jiwa. Jika yang bersangkutan memiliki kemampuan untuk mengatasi masalah maka tak akan sampai kena gangguan jiwa. “Tidak perlu dirawat,” ucapnya. Sebenarnya, lanjut Reza, setiap caleg yang akan berlaga dalam pemilu telah diperiksa kesehatan jiwanya di rumah sakit. Ini adalah salah satu persyaratan yang harus dimiliki caleg. Untuk mendapatkan surat tersebut, caleg benar-benar harus menjalani serangkaian tes, baik tertulis maupun wawancara. Materi tes tersebut khusus dirancang oleh psikolog untuk melihat dan menilai kepasitas mental seseorang. Pertanyaan cenderung berulang-ulang untuk melihat konsistensi jawabannya. “Jadi akan terlihat kalau seseorang itu berbohong atau tidak dari jawabanjawabannya. Dari tes juga akan terlihat apakah dia rentan terhadap stress, depresi, dll,” ujarnya. Jadi nantinya, dalam surat keterangan sehat jiwa tersebut, akan terlihat kondisi kejiwaan caleg yang bersangkutan, misalnya, apakah rentan stres, depresi, dll. “Hasil tes akan menjelaskan kondisi kejiwaan seseorang. Nah, soal memutuskan apakah seorang jadi caleg atau tidak, tetap saja parpol yang ber sangkutan,” tuturnya. –Diana Runtu