Skip to main content

Tokoh edisi 784

Page 1

24

17 - 23 Februari 2014

Konser Amal “Dari Gitaris untuk Indonesia”

47 Gitaris dalam 13 Formasi

Komunitas “Dari Gitaris untuk Indonesia” kembali beraksi dalam menggalang dana bagi para korban bencana alam di ber­ bagai wilayah di Indonesia. Ini adalah aksi kedua kalinya yang dilakukan para gitaris kenama­an Tanah Air setelah empat tahun lalu juga bersatu-padu terlibat dalam acara pengumpulan dana untuk korban bencana. Luar biasa­nya, tidak sampai ­empat jam penampil­an mereka di panggung terbuka Bentara Budaya Jakarta, berhasil ter­ kumpul dana Rp 1,7 ­m iliar dan 10 dollar Singapura. Jumlah ini jauh lebih besar dibanding charity show empat tahun lalu yang hanya mengumpulkan dana sekitar ­R p 600 juta.

“D

ana ini akan disalurkan pada para korban bencana yang terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. Nantinya akan diatur oleh Yayasan Dana Kemanusiaan Kompas. Mereka yang lebih tahu kemana akan disalurkan,” ucap Dewa Budjana, pemrakarsa acara tersebut. Secara keseluruhan acara ini berlangsung meriah dan hidup karena para penonton yang memadati halaman Bentara Budaya Jakarta hingga ke jalan, pun ikut berdendang bersama. Tidak hanya itu, musik yang disuguhkan juga beragam, dari rock, blues, jazz hingga pop hingga campur sari. Iwan Hasan yang tampil memukau dengan gitar harpanya, malam itu menembang ‘Indonesia Pusaka’ karya komponis Ismail Marzuki. Sesaat suasana hening, tapi tiba-tiba meledak-ledak. “Aransemen ini mempresen­ tasikan alam Indonesia yang tidak bersahabat, terkadang tenang namun bisa mengamuk seketika,” ujar Iwan yang tampil didampingi kedua anaknya, Jessica (vokal)

Piyu, Ian Antono, dan Dewa Budjana

dan Daryl (gitar). Acara ini sendiri boleh di­bilang langka karena 47 gitaris tampil bersama-sama dalam satu panggung acara seperti saat ini. Uniknya lagi, mereka tidak tampil sendirisendiri melainkan ber­kolaborasi dengan gitaris lain, tidak bersama kelompok bandnya. Totalnya ada 13 formasi yang disesuaikan dengan genre musik masing-masing. “Itulah kekhasan konser amal komunitas ‘Dari Gitaris untuk Indonesia’,” tambah Dewa Budjana yang ditemui di Bentara Budaya.

Ke-47 gitaris tersebut antara lain Ian Antono, Eet Sjahranie, Ireng Maulana, Jopi Item, Mus Mujiono, Dewa Budjana, Baron, Tohpati, Pay, Piyu ‘Padi’, Ovy ‘Rif’, Riry Silalahi dan Oppie Andariesta yang keduanya selain main gitar juga tampil sebagai vokalis, Eross Chandra ‘Sheila On 7’, Endah n Rhesa, Jubing Kristianto, Gugun ‘Gugun Blues Shelter’, DD Crow, Denny Chasmala, Ivan Borneo, Ginda Bestari, Rama D’Masiv, Arif ‘Kerispatih’, Diat ‘Yovie n’Nuno, Marshal ‘ADA Band’, Arden ‘Tiket’, Qoqo ‘She’, dll. Memang tidak seperti konser pada umumnya, di mana para gitaris bisa tampil berlama-lama memuaskan hati para penggemar­ nya. Karena jumlahnya tergolong sangat banyak, sementara total waktu show yang di­sediakan terbatas, maka masing-ma­ sing formasi hanya diberi kesempatan sekitar 10 menit. Pengatur­an ini dilakukan cukup ketat, se­ hingga target waktu yang

di­t entukan terpenuhi. Meski demikian, tetap saja para gitaris mendapat kesempatan berimprovisasi. BERAWAL DARI OBROLAN Budjana yang tampil bersama Agam Hamzah, Donny Suhendra, dan Tohpati, mengatakan, acara penggalangan dana yang berlangsung sukses ini, dipersiapkan dalam tempo singkat, hanya 2 pekan. Awalnya, obrolan ringan komunitas gitaris tentang berbagai kejadian yang terjadi akhir-akhir ini di Indonesia. Salah satu topik bahasan adalah bencana alam yang terjadi di Indonesia. “Intinya, kami semua prihatin dengan kejadian yang terjadi akhir-akhir ini. Lalu saya bilang, kenapa kita tidak bikin lagi acara seperti empat tahun lalu (penggalangan dana untuk korban bencana)? Waktu itu, kan, kita juga menggelar event seperti ini bersama Kompas untuk korban bencana banjir bandang Wasior di Papua, tsunami Mentawai di Sumatera Barat, dan korban letusan Gunung Merapi di DI Yogyakarta dan Jawa Tengah. Acaranya juga berlangsung di sini (Bentara Budaya Jakarta),” ujar gitaris Gigi ini.

Dasar pemikiran yang dilontar­ kan Budjana ini disambut antusias oleh para member grup yang semua­n ya adalah para gitaris. Para seniman, khususnya komunitas gitaris, papar Budjana, selalu antusias jika diminta tampil dalam acara amal atau acara kemanusian semacam penggalangan dana. “Tidak sulit mengumpulkan mereka untuk acara-acara semacam ini. Padahal mereka semua orang-orang sibuk dengan jadwal aktivitas yang padat. Kita saja susah kalau mau ketemuan, karena kesibukan masing-masing. Tapi kalau untuk acara seperti ini, mereka semangat, dan mau menyisihkan waktunya karena mereka juga merasakan keprihatinan adanya kejadian-kejadian itu. Malah mungkin, kalau acara berbau bisnis, belum tentu me­ reka mau,” ucap Budjana. “Konser amal ini, bentuk kepedulian kami, para gitaris, terhadap apa yang menimpa saudara-saudara kita di berbagai daerah,” ucap Baron yang menjadi koordinator. Ian Antono yang tampil bersama Eet Sjahranie dan Toto Tewel menambahkan Indonesia tak kekurangan orang kaya. Mereka berharap, orang-orang kaya Indonesia, mau lebih peduli dan berbuat lebih untuk mereka yang tengah dilanda kesusahan. Musisi Indonesia memiliki kepedulian yang tinggi pada bangsa dan negara. Hal itu bisa dilihat dari lirik lagu yang dihasilkan, banyak yang menggambarkan kecintaan mereka terhadap negeri ini. Kegiatan ini pun salah satu bentuk kepedulian musisi pada sesama anak bangsa. “Hanya bilik bambu tempat tinggal kita, tanpa hiasan, tanpa lukisan…Beratap jerami, beralaskan tanah… Namun semua ini punya kita…Memang semua ini punya kita, sendiri…,” dendang Ian Antono. Lagu ‘Rumah Kita’ menjadi penutup acara Konser Amal 47 gitaris ini. Satu-persatu para gitaris pun bermunculan di panggung dan menyanyikan lagu ini. –Diana Runtu/Ngurah Budi


EKSPRESSO

2

17 - 23 Februari 2014

GORO-GORO

klik: www.tokoh.co.id

Bayi

mingguantokoh @mingguantokoh

Siaga Bencana Tahun 2014 ini, bangsa Indone­ sia didera berbagai bencana alam. Banjir, banjir bandang, puting beli­ ung, tanah longsor hingga gunung meletus. Berbagai upaya dilakukan untuk meminimalkan jumlah kor­ ban jiwa. Dari rentetan peristiwa itu, gunung meletus yang paling banyak menelan korban. Wilayah Indonesia yang ter­ letak di pertemuan tiga lempeng tektonik aktif dunia, yaitu lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik memiliki 127 gunung api aktif dan dikenal dengan “ring of fire”. Kon­ disi inilah yang berpotensi terhadap ancaman bencana alam. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan 19 gunung api di Indonesia tengah menggeliat dan berstatus waspada. Gunung Sinabung dan Gunung Ke­ lud bahkan sudah meletus. Secara

O

teknis, gunung api bersifat slow in set. Artinya, tidak akan tiba-tiba meletus. Ada tanda-tandanya se­ hingga status gunung punya tahapan yaitu dari normal kemudian menjadi waspada, siaga, dan awas sesuai ancamannya. Dari tanda-tanda itu pemerintah biasanya membuat langkah-langkah untuk mengamankan masyarakat yang berada di dekat lokasi. Na­ mun, masyarakat seringkali meng­ abaikan instruksi yang diberikan. Kasus Gunung Sinabung misalnya, banyak korban akibat terjangan awan panas. Mereka sudah dila­ rang mendekati kawasan, namun ada saja yang memaksa dengan berbagai alasan. Pemerintah terus menyosiali­ sasikan kepada masyarakat agar semua pihak bisa waspada dan ikut mencegah dan meminimalisir

M G

Bertemu setelah 50 Tahun Sulit membayangkan kisah saya ini. Bertemu teman lama setelah berpisah hampir 50 tahun. Saya bersyukur diberikan umur panjang oleh Tuhan Yang Maha Esa. Suatu hari saya menyimak de­ ngan seksama wawancara seorang reporter televisi dengan seorang pejabat perihal jatuhnya sebuah pesawat komersial. Mendengar namanya disebut, melihat profilnya yang tinggi besar, saya yakin Pak A (saya sebut demiki­ an di tulisan ini) adalah teman sekelas saya di SMP Ksatrya Jakarta. Waktu itu tahun 1965, saya kelas III SMP di perguruan Ksatrya Rawasari Jakarta. Ada kenangan yang sangat men­ dalam perihal teman saya A. Dia anak tunggal seorang pewira me­ nengah Angkatan Darat. Badannya tinggi besar sementara saya kecil kerempeng. Tiap mata pelajaran agama, guru kami Pak Sutan Sati selalu mengatakan, anak-anak yang tidak beragama Islam boleh istirahat di luar atau mendengarkan di kelas, Pak Guru yang amat bijaksana. Saya ingin duduk saja mendengarkan namun A menepuk pundak saya. “Madi, ayo ke kantin,” katanya. Dia selalu memanggil saya Madi. Kami makan di kantin, A yang mentraktir. Saya beragama Hindu sedangkan A beragama Protestan. Dia seorang penerbang jebolan

mingguan berita wanita Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

sekolah penerbang di Inggris. Sejak kami senantiasa berkomunikasi dan A mengharap agar suatu saat saya bisa ke Jakarta menemuinya. Saatnya tiba juga, saya mampir ke Jakarta da­ lam perjalanan pulang dari Lampung, dari Bandara Raden Intan Beranti Lampung saya kontak A. “Ya, mampir Madi, nanti sopir jemput di Bandara Soeta, namanya Pak Santoso,” kata A. Wah, saya tidak kenal, pesawat mendarat pukul 21.00. Untung saya pelontos, satu-satunya penumpang Sriwijaya pelontos hari itu. Topi saya balik, saya bawa selendang hitam, saya jadikan sal di leher. Dengan demikian, saya gampang dikenali Pak Santoso dengan teman­ nya, badan kekar rambut cepak. Pasti militer, pikir saya. Hujan turun dengan lebatnya, mobil mewah warna hitam itu meluncur, saya lama tidak ke Jakarta. Mobil masuk ke bilangan Tebet Dalam, dan saya disambut dengan hangat oleh A dan istrinya. Langsung saya diantar ke lantai atas. “Santai

dampak yang bisa ditimbulkan dari suatu bencana alam. Karena itu, penting bagi masyarakat untuk mengikuti petunjuk yang dikeluar­ kan oleh pemerintah. Namun, ekses bencana alam kadang tak bisa diprediksi. Gunung Kelud meletus, aktivitas di Yogya­ karta yang hampir lumpuh. Hujan abu vulkanik membuat Kota Gudeg tertutup abu. Kondisi ini lebih parah dibandingkan ketika Gunung Merapi meletus. Bandara pun tutup dan jadwal penerbangan ditunda hingga situasi normal kembali. Berikut hal-hal yang harus dilakukan agar nyawa tidak me­ layang sia-sia. Ikuti intruksi dari pemerintah daerah setempat. Jika disarankan mengungsi, segeralah mengungsi; Jangan panik. Kepanikan hanya akan membuahkan masalah baru; Hindari daerah gunung berapi yang lebih rendah dan jauhi lembahlembah, daerah yang lebih rendah rawan dilalui lava; Evakuasi ke daerah yang mela­ wan arah angin, jika memungkinkan hindari daerah yang arah anginnya searah dengan arah letusan gunung berapi; Persiapkan persediaan pa­ ngan dan obat-obatan dan masker untuk menutup hidung. Mari siaga dan waspada demi keselamatan bersama. Salam

Madi, tidur di sini, nanti turun makan ya,” katanya. Pundak saya ditepuktepuk seperti dulu. Wah, saya jadi grogi dan gelagapan, sekaligus surprise. Bayangkan seorang pejabat masih ingat dengan temannya yang kere macam saya. “Bapak disuruh turun untuk ma­ kan malam,” terdengar suara wanita mengetuk pintu. Saya buru-buru mandi, eh, saking buru-buru saya malah menghidupkan air panas. Wah, kepala saya melepuh. Ke­ tika masuk ke ruang makan sekali lagi saya menahan malu, karena tersandung di undakan lantai ruang makan yang lebih tinggi. “Tidak apa, hati-hati Madi,” katanya. Sambil makan, bincangbincang dan mengharap agar saya bisa di Jakarta barang seminggu. Dengan halus saya menolak dan hari itu saya pamit pulang. Pak Santoso mengantar ke terminal III Bandara Soeta. Terima kasih teman, kata saya dalam hati sulit mencari teman sejati di masa kini tetapi temanku A hatinya masih tetap seperti dulu, saat kami masih sekolah di SMP. - I Made Sukertia

Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca lain­ nya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. Pan­ jang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan no kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373

Putu Wijaya

Warga permukiman geger. Pagi-pagi buta, di depan pintu rumah Pak Amat ditemukan seorang bayi. “Saya tadinya niat jalan-jalan pagi,” kata Pak Sony, tetangga Amat, “tapi tiba-tiba saya dengar ada suara bayi menangis. Hampir saja mau masuk rumah lagi karena takut. Tapi tiba-tiba saya lihat ada buntalan putih di depan pintu Pak Amat yang bergerak-gerak. takut saya hilang. Saya ambil pentungan lalu mendekati buntalan itu. Ternyata itu jabang bayi dengan perlengkapan susunya. Saya bingung, lalu saya gedor pintu Pak Amat. Jangan-jangan itu cucu beliau yang kelupaan dibawa masuk!” Sony tertawa, mencoba mengajak semua orang melihat kejadian itu dengan humor. Tapi tak seorang pun yang mau ikut tertawa. Bu Amat sendiri cepat mengamankan bayi itu. Susunya diseduh, lalu bayi yang kehausan itu ditenangkan. Setelah dibujuk akhirnya ia minum, tersenyum lalu tidur. Sementara semua orang masih mendiskusikan apa dan kenapa bayi itu, Bu Amat dan Amat sudah memberinya “rumah”. “Heran mengapa bayi diletakkan di depan pintu kita,” sambat Amat, “apa ibunya tidak tahu kita sudah tua, tidak pantas punya bayi lagi?” “Ah dia pasti sudah punya perhitungan, Pak” “Pehitungan apa?” “Kalau lihat pakaian dan perlengkapan bayinya, ibunya pasti orang terpelajar. Mungkin mahasiswi.” Amat terkejut. “Mahasiswi? Masak mahasiswi tega buang bayinya?” “Ini tidak dibuang! Kalau dihanyutkan di sungai baru namanya dibuang. Ini namanya dititipkan.” Amat makin heran. “Kalau menitipkan kenapa tidak terus-terang saja, masak akan kita tolak? Tidak kan?!” “Ya pasti karena di sananya ada masalah!” “Masalah apa?” “Ya mana saya tahu, Pak! Anak-anak muda zaman sekarang kan masalahnya banyak!” Amat manggut-manggut. Tetapi kemudian kembali bertanya. Nada suaranya sengit: “Tetapi kenapa yang dipilih kita?!” Bu Amat menjawab dengan suara enteng: “Ya, supaya dekat!” Amat terkejut. Wajahnya mengkerut seperti disambar petir. Ia berdiri dan hendak keluar menggebrak. “Pak! Mau ke mana?!” “Mau menyeret dia supaya bertanggungjawabkan atas perbuatannya! Kalau tidak nanti jadi kebiasaan!” “Dia siapa?” “Pak Sony!” “Kenapa dia?” “Pasti bayi itu sudah diletakkan di depan pintu rumahnya oleh maha­ siswi yang dihamilinya. Tapi karena takut kepada bininya, bayi itu dioper ke kita. Lama-lama istrinya yang tidak bisa punya anak, pasti akan tertarik memungut bayi itu. Itu logika hidung belang!” Amat mendekati bayi yang tidur itu. Lalu ia menarik sebuah saputangan yang kelihatannya terbawa di buntalan bayi itu. “Lihat,” kata Amat memperlihatkan sulaman Sony di sudutnya, “ke­ napa bayi ini membawa saputangan Sony? Kalau bukan anaknya Sony?!” Bu Amat mengangguk dingin. “Terus Bapak mau apa?” “Kita paksa si Sony yang cabul itu mengakui ini anaknya!” “Lalu istrinya ngamuk, lalu bubaran dan anak yang tak berdosa ini terbengkalai?” Amat tertegun. Waktu itu masuk Rita, istri Sony. Dengan gesit Bu Amat merengutkan saputangan itu dan menyembunyikannya. Rita mendekati bayi yang tidur itu. Wajahnya kelihatan berseri-seri lalu ia menoleh ke Bu Amat. “Maaf Bu, kalau mendengar perundingan di luar, nampaknya bayi ini mau diserahkan kepada ibu. Tapi ibu kan sudah puya cucu, nanti repot. Bagaimana kalau saya saja yang memeliharanya? Saya sudah divonis dokter tidak akan punya anak. Boleh Bu?” Bu Amat berpikir. “Saya janji akan merawatnya, ibu boleh ambil lagi kalau saya siasiakan. Boleh, Bu?” Sony menyusul masuk. Bu Amat melirik lalu menjawab. “Asal Pak Sony setuju.” “Kalau saya setuju suami saya pasti setuju! Boleh Bu?” Bu Amat berpaling ke Sony. Sony langsung menjawab; “Saya terserah Rita saja.” Bu Amat baru mengangguk. “Ya boleh, asal dirawat seperti anak sendiri!” Rita gembira sekali. Bayi itu langsung dipeluk dan digendongnya. Amat cepat menginjak saputangan Sony yang terjatuh di belakang Bu Amat. Sony pura-pura tidak melihat, tapi kebisuannya menaburkan terimakasih yang tak terhingga.

Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi: Ratna Hidayati. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Pemimpin Perusahaan: IDK Suwantara. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti, Sagung Inten, Tini Dwi Rahayu. Redaksi/Pemasaran Jakarta: Diana Runtu, Sri Iswati. NTB: Naniek Dwi Surahmi. Desain Grafis: IDN Alit Budiartha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Se­kretariat: Ayu Agustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan Pal­ merah Barat 21 G Jakarta Pusat 10270–Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram– Telepon (0370) 639543–Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–Faksimile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BCA Cabang Palmerah Barat Jakarta. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 229.3006644 Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

17 - 23 Februari 2014

I N F O TO R I A L Rotary Club Bali Taman

23

Resmikan Bus Baru Pemeriksaan Kesehatan Reproduksi Bertepatan dengan Hari Purnama dan Valentine Day, Rotary Club Bali Taman meresmikan bus keliling untuk pemeriksaan kesehatan reproduksi perempuan, Jumat (14/2) di halaman Ayodya Restaurant, Sanur. Bus yang merupakan bantuan dari Rotary Club Hiroshima East Distric 2710 Japan ini, diserahkan empat orang perwakilan dari Jepang yang disaksikan semua pengurus dan anggota Rotary Club Bali Taman. Rotary Club Hiroshima East memiliki 95 ang­ gota, diantaranya empat orang perempuan. Saat ini, klub ini sudah berusia 55 tahun. Sebelumnya, Rotary Club Hiroshima East juga telah mem­ berikan bantuan bus pertama kepada Rotary Club Bali Taman. Namun, karena usia pengabdian bus lama itu sudah 17 tahun,

Rotary Club Hiroshima East menggantinya dengan yang baru. Padahal, bus lama masih dalam kondisi bagus. Sejak dulu, Rotary Club Hiro­ shima East sangat peduli terhadap kemanusiaan. Saat Rotary Club Hiroshima East berusia 40 tahun, mereka menyumbang Unit Bank Darah untuk RS Sanglah. Menurut pengelola bus ke­ sehatan keliling dr. Inne Su­ santi, kendaraan ini digunakan berkeliling menjemput bola ke berbagai wilayah di Bali untuk memberikan edukasi, peme­ riksaan kesehatan reproduksi,

Penyerahan kunci mobil kepada Ketua Yayasan Rotary Club Bali Taman AA Ayu Purnamawati

KB, penyakit infeksi, termasuk pengobatannya. “Kami mem­ berikan pemeriksaan pap smear gratis sebagai salah satu cara mendeteksi dini kanker rahim. Selain itu, pemeriksaan kesehat­ an penyakit infeksi juga dapat dilakukan,” ujarnya. Perjalanan bus ini sudah ter­

Pemecahan kendi sebagai simbol peresmian bus

jadwal setiap Hari Senin, Rabu, dan Jumat. “Kami tidak menentu­ kan target berapa yang harus di­ jangkau. Kami layani se­maksimal mungkin,” ujarnya. Menurut dr. Inne Susanti, bus yang kedua ini berbeda dengan bus yang pertama. “Pada bus pertama, pemeriksaan dilakukan di bagian tengah. Sementara pada bus kedua, pemeriksaan dilakukan di belakang sehingga kondisi lebih longgar, dan kami dapat bekerja lebih efektif dan efisien,” kata dokter senior yang masih energik ini. Ketua Yayasan Rotary Club Bali Taman AA Ayu Purnamawati berharap, dengan kehadiran bus kedua yang lebih lengkap ini akan membuat pelayanan yang diberikan ke masyarakat lebih maksimal dan lebih banyak yang dijangkau. “Dulu dengan bus

lama kami sudah menjangkau pemeriksaan kepada 17 ribu orang yang terdiri dari 13 ribu perempuan dan 4 ribu laki-laki. Sebagian besar pelayanaan me­ mang dilakukan di desa-desa. Karena selama ini ditemukan, sebagian besar masyarakat pe­ desaan atau pelosok tidak mem­ perhatikan diri bagaimana cara menjaga kesehatan reproduksi dengan baik,” ucapnya. Menurut Nyoman Nilawati, hasil yang dilakukan dengan pe­ meriksaan bus keliling terdahulu sudah tampak hasilnya. “Karena yang dulunya, perempuan lebih banyak terkena kanker serviks, kini mulai berkurang. Paling tidak, usaha kami turut memberi kontribusi deteksi dini kanker le­ her rahim,” ujar Calon Gubernur Distric 3420 dan Ibu Teladan Bali Tahun 2008 ini. –ast/ten

LP2B Gianyar dan LP2B Negara

Jamin Kompetensi dan Kualitas Naker Kapal Pesiar

Dedek Arimbawa, S.H. LP2B Gianyar dan LP2B Negara adalah sekolah pariwisata di bidang perhotelan dan kapal pesiar yang sudah terbukti sebagai kampus yang mampu menjamin kompetensi dan kualitas lulusannya (tenaga kerja) untuk mampu bersaing di bursa kerja global. Jaminan kualitas yang diberikan dua sekolah ini tampak dari banyaknya per­ mintaan terhadap lulusannya. Bahkan tak jarang perusahaan kapal pesiar (user) harus menunggu beberapa waktu untuk men­ jemput dan mempekerjakan mereka. “Jaminan kualitas bagi kami adalah yang utama. Kualitas tentu harus didu­ kung fasilitas memadai. Dan kami sudah menyiapkan bahkan selalu meng-up to date sarana prasarana saat mengikuti training. Tidak itu saja, tenaga pengajar/ instruktur pun berkualifikasi dengan standar internasional,” kata Dirut LP2B Gianyar dan LP2B Negara, Dedek Arim­ bawa, S.H. Menurut Dedek Arimbawa, me­

mang tak mudah mencetak lulusan yang siap bekerja di kapal pesiar. Selain skill, attitude dan performance, kemampuan berkomunikasi (Bahasa Inggris) adalah hal paling menentukan. “Meski punya skill dan berkompeten di bidangnya tapi kalau tak mampu berkomunikasi dengan baik, ya percuma. Di sinilah kendalanya. Dan kondisi ini dialami juga di semua lembaga pelatihan seperti kami,” imbuh Dedek Arimbawa. Untuk menjaga kualitas lulusan, LP2B dan LP2B Negara membekali lulusannya dengan kemampuan berkomunikasi yang baik. Bahkan mereka diberikan gratis kursus Bahasa Inggris selama enam bulan. “Itu sebabnya lulusan kami hampir 90% sudah bekerja dan diterima di perusahaan kapal pesiar dan perhotelan di dalam dan luar negeri. Kami cukup kewalahan memenuhi permintaan user,” lanjut Dirut yang juga instruktur ini. Saat ini, sambung Dedek Arimbawa, lulusan LP2B Gianyar dan LP2B Negara adalah naker yang paling dicari. Bekerja­ sama dengan PT Meranti Magsaysay, dua sekolah ini berusaha keras memenuhi permintaan user. LP2B adalah sekolah yang terper­ caya. LP2B akan mempertahankan kredibilitasnya sebagai satu-satunya LPK Berprestasi di Gianyar. BIAYA PALING MURAH Di sekolah yang sangat representatif ini, SDM akan digembleng untuk menjadi pekerja mandiri, berkompeten, terampil, berkarakter baik, berwawasan luas, berjiwa wirausaha (entrepreneurship) dan siap menjadi SDM berdaya saing dengan standar internasional. LP2B menggunakan kurikulum ber­ standar internasional (pengantar Bahasa Inggris) yang didukung tenaga peng­­ajar yang kompeten dan profesional di bidang­nya. Ditunjang oleh sarana dan

Kampus LP2B Gianyar

Kampus LP2B Negara prasarana lengkap, gedung yang megah dan fasilitas belajar berstandar hotel bintang lima. Selain memberikan gratis kursus Bahasa Inggris, LP2B juga memasilitasi SDM naker melaksanakan table manner di hotel-hotel berbintang yang menjadi mitra LP2B, gratis fitness dan aerobic (fasilitas milik LP2B). “Kami juga siap membantu pemerintah dalam program pemagangan hingga menyalurkannya,” tandasnya. Sementara itu, fasilitas untuk menun­ jang program pelatihan di LP2B meliputi Lab. Kitchen, Lab. Housekeeping, sarana praktek Front Office, Lab. Restaurant & Room Service, sarana praktIk Bartend­ ing serta ruang kuliah ber-AC dengan fasilitas LCD. Hotel-hotel milik keluarga besar Pande Beng Gianyar (Ubud Village Re­ sort, Camplung Sari, The Payogan, BCC, Camplung Mas) dan hotel- hotel yang berlokasi di Ubud, Kuta dan Jimbaran disiapkan untuk training naker. Tahun 2014, LP2B membuka kembali program ‘Butler’. Program ini ditawarkan untuk semua posisi demi memenuhi kebu­ tuhan user dari perusahaan Yacht di Italia dan beberapa negara-negara Eropa. “Pro­ gram ini sudah lama ada dan kami sudah ada MoU dengan mereka. Dalam waktu dekat kami juga akan melakukan MoU

dengan perusahaan River Cruise di Eropa. Kami berharap generasi muda di Bali bisa memanfaatkan dan mengisi peluang ini sebaik-baiknya karena gaji yang ditawarkan jauh lebih besar. Ini sesuai visi dan misi LP2B yang senantiasa berkomitmen untuk menjadi lembaga pelatihan yang terdepan dan unggul dalam menyiapkan lulusannya,” tutur Dedek Arimbawa.

Untuk merealisasikan minat tersebut, LP2B memberikan kemudahan berupa pemberian beasiswa bagi pelajar lulusan SMA/SMK yang mendapat peringkat I-V. Mereka mendapatkan 30% diskon dari total biaya selama pelatihan. Bahkan LP2B memberikan biaya paling murah dalam pengurusan dokumen hingga keberang­ katan. –ari/ten

Program LP2B Gianyar dan LP2B Negara: - Program Basic Level (1 tahun) untuk jurusan Tata Boga, Tata Hidangan, Housekeeping, Front Office, Bakery & Pastry serta Spa Therapist. - Program Middle Level (2 tahun) meliputi Tata Boga, Tata Hidangan dan Housekeeping. - Program Upper Level (3 tahun) meliputi Manajemen Perhote­ lan. - Program Cruise Line/Kapal Pesiar (1 tahun) meliputi Tata Boga, Tata Hidangan, Galley Steward, Bartending dan Bakery & Pastry. LP2B Gianyar - Jln. Kebo Iwa No. 21 Gianyar, tlp: 0361-943671 - Jln. Dharma Giri No. 23 Gianyar, tlp: 0361- 8958252 Web: www.lp2bbali.com Email: lp2b.kapalpesiar@gmail.com LP2B Negara - Jln. Denpasar–Gilimanuk, Desa Banyubiru–Jembrana, tlp: 0365-4731558.


22

W H AT ’ S U P

Bali:

17 - 23 Februari 2014

“S

saya meninggal karena kanker. Saya punya tiga anak asuh,” ungkap perempuan yang kini berusia 54 tahun ini. Tahun 2010, Susi giat berdis­ kusi dengan para koleganya. Profesi mereka bermacammacam, ada arsitek, seniman, musisi, karyawan swasta, peng­ usaha, dll. Diskusi yang paling banyak mendapat komentar mengenai pembangunan di Bali. Banyak pertanyaan mun­ cul di benak mereka. Bali mau diapakan, siapa yang mengatur pembangunan di Bali. Susi dan teman-temannya ini merasa ke­ sulitan mendapat informasi. Berbekal kemampuan di dunia IT, ia pun melakukan penelusuran di dunia maya. Susi kaget karena banyak men­ emukan site plan pembangunan hotel di Bali. Bahkan ada yang sudah melaksanakan pemban­ gunan. Menurutnya, banyak informasi yang disembunyi­ kan investor, dan pemerintah kurang peduli. Akibatnya pem­ bangunan seperti tidak tertata. Dalam satu kawasan bisa ada hotel yang berdekatan. “Saya dan teman-teman berdiskusi dan bertanya, berapa sih hotel yang diperlukan di Bali. Adakah data dan statistik yang valid yang bisa dijadikan acuan. Jangan sampai di Bali nanti kelebihan hotel. Pertanyaan ini melahirkan ide terbentuknya komunitas Bali: How Much is Too Much? Jika diartikan, berapa yang dianggap banyak. Ibarat orang sakit kepala, berapa obat yang harus dikonsumsi agar sembuh. Ini menjadi per­ tanyaan besar bagi kami,” ujar perempuan yang aktif di kegiatan Rotary ini. Susi lalu bergerak un­ tuk mencari informasi. Ia menemukan banyak foto tentang pembangun­ an hotel di Bali. Ia lalu mengunggah foto-foto itu. Banyak respons berdatan­ gan. Kebanyakan kaget karena tidak menyangka akan ada pembangunan seperti itu. Situs sosial seperti facebook pun dijadikan wadah untuk berkomunikasi. Ternyata

kalangan usia 18-24 dan 25-34 yang paling dominan memberi komentar. Menurut Susi, mere­ ka ini adalah generasi muda yang peduli dengan Bali. Bagi Susi, hal yang perlu diperbaiki adalah informasi. Selama ini sangat sulit menda­ patkan informasi mengenai tata ruang. Jika informasi transpar­ an, ia yakin tidak ada penum­ pukan pembangunan. “Dulu era Gubernur IB Mantra, Bali Selat­ an diarahkan untuk menjadi kawasan akomodasi pariwisata yang diwujudkan dengan ben­ tuk kawasan BTDC. Kalau sudah tertata kan bagus. Sekarang hotel ada dimana-mana. Sam­

Dua puluh tahun tinggal di Bali membuat Susi Johnston memahami selukbeluk Bali. Banyak hal yang ia amati dan pelajari. Dari tidak tahu tentang Bali kini ia ber­keinginan hidup selama­nya di Bali. Bersama para ­kolega, ia menggagas komunitas Bali: How Much is Too Much? pai kapan pembangunan hotel terus diberikan,” tandasnya. Ia mengaku bukan orang yang antipembangunan, anti­ perekonomian maupun aktivis ekstrim. Susi yang ingin selama­ nya tinggal di Bali mengaku memiliki kepedulian tentang Bali karena banyak hal yang bisa ditemukan di Bali. Ia hanya ber­ harap adanya sentra informasi

S E L E B R I TA S

3

VENNA MELINDA

How Much is Too Much? aya d a t a n g ke Bali 20 ta­ hun lalu kare­ na adik saya, Emily Johnston. Dia menjadi konsultan di sebuah perusaha­ an yang membuka wahana rafting. Adiknya saya memang petualang yang juga dokter. Seminggu sebelum pulang ke Amerika Serikat, ia menyuruh saya datang ke Bali. Ketika itu saya di Hawai. Saya pun ke Bali dan menginap di Ubud. Ternyata Emily sudah menyiap­ kan banyak tiket pertunjukkan untuk saya. Saya pun menikmati hadiah itu,” kenangnya. Ternyata liburan ini ber­ buntut tak enak. Susi sakit. Ia didiagnosa menderita infeksi saluran pernapasan. Perem­ puan berambut pirang ini pun harus istirahat total. Ia memilih tinggal di sebuah vila yang be­ rada di tengah sawah di Ubud untuk pemulihan. Selama enam bulan, ia banyak bertemu den­ gan orang-orang yang peduli Bali. Mereka pun berdiskusi dan membahas mau jadi apa Bali ke depan. Bali membuat Susi betah. Ia lalu belajar mengenai bu­ daya Bali. Banyak hal yang didapat. Bali sudah menjadi tanah air kedua baginya. Ia pun menemukan jodoh di Bali. Suaminya seorang pria asal Italia. Pernikahan mereka tidak dikaruniai buah hati. “Suami

17 - 23 Februari 2014

Tak Mau Setengah-setengah ‘Tak perlu banyak omong, tak perlu mengumbar janji, yang terpenting adalah kerja dan membuktikan kemampuan diri.’ Itulah motto Venna Melinda dalam menjalan­ kan tugasnya sebagai wakil rakyat. Bisa jadi itu sebabnya kita jarang mendengar Venna melakukan orasi, tapi dia lebih suka turun langsung ke masyarakat, khususnya kaum marjinal dan anak-anak terlantar, baik dalam ­kehidupan maupun pendidikan.

“S

yang bisa menjadi tempat untuk memberikan informasi kepada masyarakat. Jangan sampai karena kurangnya informasi, akan muncul permasalahan di kemudian hari. “Kalau sudah ada informasi yang dilengkapi data dan statistik, arah pembangunan akan jelas dan tertata. Information is power,” tegasnya. –Ngurah Budi/Inten Indrawati

Foto cover depan:KapanLagi.com

ejak awal (2009) aku tidak terlalu ba­ nyak orasi, berjanji ini-itu. Aku mem­ perkenalkan diri kepada konstituen lewat senam. Latar belakang aku se­ bagai artis, memang membantu dalam keterkenalan. Dulu, ketika aku mem­ perkenalkan diri lewat senam, orang bilang aneh. Mungkin orang berpikir, apa yang mau dipercayakan kepada calon seperti ini. Tapi kemudian, aku terpilih. Aku menjawabnya dengan bekerja total,” tegas Venna. Berlatar belakang artis, memang memiliki nilai plus-minus. Keuntungan­ nya, dia tak perlu susah-susah mem­ perkenalkan diri kepada masyarakat karena umumnya mereka telah mengenal­nya. Sebagaimana diketahui, publik mulai mengenal Venna saat dia tampil dalam film ‘Catatan Si Boy II’. Setelah tampil di film itu, ia menghilang karena fokus pada pendidikan. Ia me­ mulai kembali debutnya di dunia acting setelah terpilih sebagai None Jakarta 1993 kemudian berlanjut den­ gan kemenangannya sebagai Putri Indonesia 1994. Namanya meroket ketika ia tampil dalam sinetron ‘Bella Vista 1’ dan ‘Bella Vista 2’, ke­ mudian ‘Bulan Bukan Perawan’, ‘ Opera Jakarta’, ‘ Tersanjung 5’ dan ‘Maha Peng­asih’. Di samp­ ing itu, ia juga mengembang­ kan aktivitasnya dalam bidang perawatan tubuh dan kebu­ garan, salah satunya dengan membuka studio senam yang kemudian merambah ke dunia tari salsa. Di luar itu, ia juga mengepak sayap ke bidang tarik suara dan meluncurkan beberapa album. Ketenaran itulah, salah satunya yang mengantarnya ke Senayan sebagai anggota DPR RI periode 2009-2014. Menyandang gelar artis, tentu tak selamanya mengenakan, apalagi ketika mencalonkan diri dan akhirnya terpilih jadi anggota DPR. Bukan hanya setiap lakunya menjadi sorotan, tapi sebagian orang memandang remeh karena menganggap artis hanya modal popularitas namun tidak bisa bekerja. Venna sendiri mengaku mendengar dan merasakan kesinisan itu, namun berusaha tetap tenang. “Di awal-awal (2009) mereka underestimate, ya, nggak apa-apa. Aku menganggap itu wajar saja, karena mereka kan belum tahu. Waktu yang nantinya akan menjawab kritikan itu. Waktu yang bisa membuk­ tikan apakah mereka benar atau tidak. Aku sendiri, sejak awal sudah bertekad, dengan tulus hati akan bekerja sebaikbaiknya,” tutur Venna Melinda yang pada April mendatang akan bertarung untuk kedua kalinya memperebutkan kursi di DPR RI. Tentunya kondisi sekarang berbeda

saat awal ia mencalonkan diri sebagai wakil rakyat. Sekarang, tanpa harus ber­ kata banyak tentang capaian yang telah diraih selama lima tahun masa kerja­nya, masyarakat telah melihatnya. Kon­ stituennya yang berada di Dapil (daerah pemilihan) Jawa Timur VI yang meliputi Kediri, Tulungagung dan Blitar. Konon, Dapil ini disebut Dapil ‘neraka’ karena banyak tokoh-tokoh tenar di sana, sebut saja; Eva Kusuma Sundari dan Pramono Anung dari PDI-P, Nova Riyanti Yusuf (Demokrat) dan Riski Sadiq dari PAN. Venna mengaku tak khawatir karena telah menyiapkan langkah-langkah yang harus dilakukan nantinya. Pengalaman­ nya lima tahun sebagai wakil rakyat yang telah menjalani beberapa kali rotasi komisi, juga menambah kepercayaan dirinya. “Aku bersyukur mendapatkan pengalaman dan pengetahuan di be­ berapa komisi berbeda. Ini adalah modal untuk melangkah ke depannya,” ucap penulis buku ‘ Venna Melinda’s Guide To Good Living’. PUSING TUJUH KELILING Hari-hari belakangan ini, dia men­ jadi amat sangat sibuk. Tugas-tugas yang bertumpuk baik dari komisi maupun dari partainya. Ditambah lagi aktivitas sosial yang sebenarnya rutin dijalankan­

nya. “Salah satunya karena akan Pemilu, jadi kesibukan makin bertambah. Akibatnya, beberapa aktivitas rutin terpaksa di-pending seperti mengun­ jungi anak-anak di kolong jembatan. Saya benar-benar belum sempat,” ujar wanita kelahiran Surabaya, 20 Juli 1972 ini dengan nada menyesal. Dengan kesibukan yang luar biasa ini, Venna mengaku, pusing tujuh kelil­ ing dalam membagi waktu. “Aku pusing tujuh keliling bagi waktunya, bagaimana agar semua tugas bisa terlaksana. Baik tugas partai, Komisi III maupun kewa­ jiban pada masyarakat di Dapil. Ini aku baru saja kembali dari Dapil, di sana 10 hari blusukan ke desa-desa,” jelasnya. Dengan beban yang begitu tinggi, Venna berharap agar dia tetap sehat. “Saat ini kesehatan adalah terpenting,

aku berusaha menjaganya. Di antaranya dengan minum vitamin dan olahraga teratur,” tambah ibu dari Verrell Bra­ masta dan Athalla Naufal ini. Ketika ditanya, apakah masalah perceraiannya dengan sang suami tidak berpengaruh pada kariernya di dunia politik, khususnya citranya sebagai caleg perempuan. Dengan tegas dikatakan­ nya, mungkin tidak banyak yang tahu, tapi terus terang saja, kata Venna, dia terjun ke politik adalah dorongan suaminya (sekarang mantan). Vena mengaku suaminya ingin menghentikan pernikahan yang telah terbina 17 tahun. Meski dengan berat hati, Venna pun mengiyakan dan ia telah mempersiapkan mental untuk itu. Termasuk, mempersiapkan diri sebagai ibu tunggal yang mengasuh dua putra. Karena kondisi berbeda, dia juga harus mempersiapkan anak-anaknya dalam menghadapi itu. Meski sangat sibuk, ia tetap mem­ perhatikan anak-anaknya, setidaknya menjaga komunikasi dengan mereka. “Anak-anak adalah prioritas utama,” ujar Venna yang sampai saat ini belum dinyatakan resmi bercerai oleh Penga­ dilan Agama Jakarta Selatan. Perkara perceraian keduanya bergulir selama setahun, namun belum ada putusan­ karena terganjal masalah harta gono-gini. “Komunikasi dengan mere­ ka dilakukan setiap saat, bahkan saat saya sedang di luar kota ataupun sedang rapat. Saya pasti tanya ke mereka, ada di mana, sedang mengerjakan apa, sudah makan atau belum, dll. Kalau sedang kumpul di rumah, kami selalu berbagi cerita. Saya beru­ saha melibatkan mereka dalam aktivitas saya, jika memung­ kinkan. Misalnya, mengunjungi Dapil, kadang mereka saya ajak serta. Bahkan salah satu anak saya sepertinya memiliki minat ke politik, ini tentu menyenang­ kan. Mereka juga suka pada kegiatan-kegiatan sosial yang saya lakukan. Karena itu, ketika saya katakan niat saya untuk maju kembali sebagai caleg, mereka tidak keberatan,” kata Venna panjang lebar. Terkait persiapannya dalam Pemilu mendatang, Venna men­ gaku, dia tidak mempersiapkan banyak uang untuk itu, karena koceknya memang terbatas. Dia tidak mau seperti yang lain, mengutang sana-sini untuk membiayai pencalonannya. Dia juga mengaku tidak punya sponsor pihak tertentu untuk membiayai semuanya. Bahkan, tim sukses pun dia tidak punya. Ia yakin konstituennya tetap setia. “Kuncinya adalah treatment terhadap konstituen sejak awal dan saya melakukan itu. Jadi kepedulian terhadap konstituen bukan baru datang ketika akan kampanye atau Pemilu, tapi sejak awal terpilih hingga sekarang. Karenanya saya yakin, karena sudah bekerja untuk itu,” ujarnya. Meski demikian, Venna mengaku tak mau taka­ bur. Semua adalah kehendak Tuhan. Kalau Tuhan memang mengizinkan ia jadi lagi, ya, pasti jadi dan ia percaya itu. –Diana Runtu/Ngurah Budi


4

INSPIRASI

17 - 23 Februari 2014

dr. Cokorda Gde Oka Dharmayuda, Sp.OT(K)

Tawarkan Penanganan Sendi Lutut dan Pinggul Lebih Baik Kabar baik untuk masyarakat Bali, karena kini sudah ada dokter­ ­spesialis bedah tulang/orthopaedic traumatologi, konsultan lutut, ­pinggul dan rekontruksi untuk orang dewasa. Pasien-pasien yang mengalami masalah pada tulang dan khususnya mempunyai masalah pada sendi lutut dan sendi pinggul sekarang tidak perlu lagi berobat ke luar daerah atau bahkan ke luar negeri.

M

enurut dokter yang meraih spesialis orthopedi di Universitas Indonesia Jakarta dan menyelesaikan pendidikan di bidang lutut dan pinggul di Jakarta dan RS GleenEagle Kualalumpur ini, sebenarnya keterampilan dan kemampuan dokter di Indonesia tidak kalah dengan dokter di luar negeri. Mereka sudah diakui dari segi teknologi, kemampuan para dokter di Indonesia, Bali khususnya sudah berkembang sangat pesat. Menurut lelaki dengan dua putri ini, umumnya pasien yang datang berobat mengeluh nyeri lutut atau nyeri pinggul. Parahnya, mereka umumnya masih takut untuk datang berobat ke

dokter dan mencoba minum obat-obatan yang di jual bebas di pasaran. Umumnya mereka mengatakan, menderita asam urat atau penyakit reumatik. Padahal, pasien tersebut belum tentu mengalami nyeri lutut atau pinggul yang diakibatkan penyakit rheumatik atau asam urat. Ak­ hirnya, anggapan yang salah akan mengakibatkan pengobatan yang salah. “Bukan kesembuhan yang didapat tetapi malah penyakitnya semakin parah,” ujarnya. Adapun penyebab nyeri lutut dan pinggul yang sering terjadi ka­ rena proses penuaan (degenerativ procces) seperti pengapuran atau di dalam bahasa kedokterannya disebut dengan osteoarthritis. Osteoarthritis ini biasanya di-

jumpai pada orang tua di atas usia 50 tahun terutama pada wanita dengan berat badan berlebih atau pada orang yang lebih muda dengan riwayat pernah mengalami trauma/ patah di sekitar lutut. Penderita yang mengalami pengapuran sendi atau osteoarthritis ini biasanya mengeluh nyeri sendi setelah beraktivitas, kaku pada sendi, dan sulit untuk di gerakkan, bengkak, kadangkadang terdengar bunyi saat kaki ditekuk. Kondisi parah, sering didapat kaki bengkok berbentuk huruf O atau huruf X. Untuk mengetahui berat ringan­nya penyakit ini diperlukan pemeriksaan penunjang berupa foto rontgen. Dari foto rontgen ini kita akan dapat mengetahui berat ringannya atau stadium pengapurannya sehingga dapat menentukan pengobatan apa yang dilakukan. Osteoarthritis ini memiliki empat stadium yaitu stadium ringan (stadium 1 dan 2) dan stadium berat (stadium 3 dan 4). Pada stadium ringan, pengobatan yang dapat dilakukan berupa latihan dan minum obat-obatan. Sedangkan pada stadium berat, pengobatan yang terbaik adalah dengan tindakan operasi.

Macam-macam teknik operasi yang tersedia sekarang seperti arthroskopi, hight tibia osteotomi, arthrodesi (sendi dikakukan), pergantian sendi lutut atau sendi pinggul. Ia menyatakan, pergantian sendi lutut atau sendi pinggul sekarang ini mempunyai tingkat kesuksesan yang pa­ ling tinggi di dalam me­nangani penga­ puran sendi atau osteoarthritis pada yang derajat berat. Setelah operasi dr. Cok bersama ahli lutut dari Gleeneagle Kuala Lumpur penderita sudah tidak merasakan lutut atau pinggul karena proses nyeri lagi dan dapat berjalan den- penuaan, infeksi karena kuman gan baik sehingga dapat mening- TBC, patah tulang di sekitar katkan kualitas hidup penderita. lutut pinggul, cedera olahraga/ Menurut dokter RS Sanglah putusnya ligamen lutut. yang sudah mengerjakan raIa menyatakan, dengan pena­ tusan penggantian sendi lutut nganan yang tepat dan peng­ dan sendi pinggul dan rekon- awasan yang baik pasien dengan truksi ligamen lutut dengan keluhan di lutut dan pinggul akan arthroskopi ini, penyakit yang sembuh dengan baik. paling sering dijumpai, nyeri -Wirati Astiti/Inten Indrawati

17 - 23 Februari 2014

21

“Si Unyil” Iringi Gule Gending Dari jauh, samar-samar terdengar suara musik yang ditabuh dari sebuah rombong yang terbuat dari kaleng-kaleng bekas. Meski monoton, irama itu memiliki kekhasan di telinga anak-anak Lombok, salah satunya irama yang pernah sangat akrab di tahun 1980an yakni lagu pengiring serial anak-anak yang ditayangkan TVRI berjudul Si Unyil. Dalam sekali tabuh, orang sudah sangat mengenal suara itu, gule gending, begitu biasa disebut.

Rombong gule gending terbuat dari kaleng memiliki bunyi yang khas

M

eski tidak lagi banyak penjual gule gending yang berkeliling menjajakan dagangannya, camilan ini masih menjadi favorit anak-anak. Setidaknya, hal ini diungkapkan sekelompok penjual gule gen­ding yang tinggal di seputar Sindu, Cakranegara Mataram. Keenam penjual yang tinggal dalam satu rumah kontrakan tersebut di antara­ nya Sadikin dan Fahmi mengaku, setiap hari dagangannya selalu habis terjual. “Jika laku semua hasilnya bisa sampai Rp 150 ribu,” kata Fahmi yang setiap hari membuat gule gending dari 2 kg gula pasir. Para penjual gule gending yang tidak lagi banyak ini, berasal dari sebuah kampung bernama Kembang Kerang, Lombok Timur. Mereka, tidak hanya menjajakan dagangannya di Pulau Lombok, namun juga di luar kota seperti Bima, Sumbawa dan Dompu. Bah-

kan banyak yang merantau hingga ke luar daerah, seperti Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Bali dan Jawa. “Kami merantau untuk menjajakan gule gending hingga ke luar daerah berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya,” kata Sadikin yang pernah berangkat bersama 40 kawannya untuk menjajakan dagang­annya hampir di semua kabupaten di Banjarmasin, Kalimantan Selatan beberapa tahun silam. Di Lombok, orang mengenal camilan yang terbuat dari gula ini sebagai gule gending atau halus manis. Dijual menggunakan rombong yang dibuat khusus dari bahan kaleng-kaleng bekas dan bentuknya disesuaikan dengan pinggang sam­ ping sang penjaja agar tidak kesulitan ketika menabuhnya. Bentuk rombong dagangannya itu setengah lingkaran dengan rongga sebagai penyimpan gule gending di bagian tengah­nya. Di sekeliling rombong ter-

dr. Cok saat melakukan operasi sendi lutut

Biodata

dr. Cok bersama keluarga

MANDALIKA

Nama : dr. Cokorda Gde Oka Dharmayuda, Sp.OT(K) Spesialisasi : Orthopaedi Traumatologi (K) Lutut, Pinggul dan Adult Rekontruksi Tempat tanggal lahir: Gianyar, 29 Januari 1976 Istri : AA Dian Chandra SE,MM Anak : Cokorda istri Anandita Dharmayuda dan Cokorda Istri Anindya Putri Dharmayuda Alamat : Puri Agung Batuyang, Batubulan Kangin, Sukawati Kantor : SMF Orthopaedi Traumatologi RSUP Sanglah Email : dharmayuda76@gmail.com Lulusan: - Fakultas Kedokteran Universitas Udayana (Pendidikan dokter) - Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta( Spesialis Orthopaedi) - Fellowship Indonesia Hip Knee Society dan RS Gleeneagle Kualalumpur Pengalaman: - Table instructure cadaveric workshop Total Hip Arthroplasti di RSCM Jakarta - Table Instructure cadaveric workshop ACL Rekontruksi di RSUD Soetomo Surabaya - Table Instructure AO course di Jakarta Gule gending yang siap dijual

dapat enam kantong kaleng yang berfungsi sebagai tempat menyimpan kertas bukan sebagai pembungkus tetapi sebagai alas gule gending ketika ada yang membeli. Kantongkantong ini juga berfungsi sebagai gending yang dipukul penjaja untuk menarik perhatian pembeli. “Disebut gule gending, karena saat menjajakan camilan yang terbuat dari gula ini, penjaja selalu menabuh kantong-kantong kaleng layaknya gending meskipun iramanya monoton,” ujar Sadikin dan Fahmi. Namun, inilah kekhasan gule gending yang bisa jadi hanya ada di Lombok. “Kalaupun ada di tempat lain, tentunya dengan ciri yang sama, bisa dipastikan berasal dari Lombok,” kata Sadikin sembari menambahkan, mengingat para penjaja gule gending yang berasal dari kampungnya Kembang Kerang, Lombok Timur, sudah menyebar, merantau hampir di semua pulau di tanah air. Biasanya, para penjaja gule gending, sebelum datang ke satu daerah berkelompok, mereka selalu ada yang memulai. Misalnya, beberapa orang ada yang berani datang ke tempat baru sekadar untuk mencoba berjualan. “Kalau kelihatannya laku, kami saling kontak,” kata Sadikin. Secara berke­ lompok mereka mendatangi daerah tersebut. Di sana mereka hidup berkelompok juga dan menyebar membagi wilayah di satu kota pertama hingga beberapa waktu. Kalau sudah kelihatan orang mulai bosan, mereka berpindah dari satu kota ke kota lainnya hingga ke pelosok

Gule gending dengan musiknya yang khas masih digemari anak-anak

di daerah yang sama,” ujar Sadikin yang mengaku sudah lupa berapa kota yang telah ia datangi untuk berjualan. Dalam waktu tertentu, para penjaja memilih untuk berpindah pulau. Selama menjajakan gule gending, seberapa pun jauhnya tempat berjualan, kami berjalan kaki meski harus seharian,” kata­ nya. Mereka menumpang angkutan umum biasanya ketika berangkat berjualan ke wilayah masingmasing, selebihnya berjalan kaki bahkan hingga kembali ke rumah. “Jalur yang kami lewati pulang lumayan jauh, sekalian menghabiskan dagangan yang belum laku,” ujar Fahmi. gule gending yang terbuat dari gula pasir ini, ternyata pembuatan­ nya sangat sederhana dengan wak­ tu hanya sekitar 45 menit. Mereka keluar menjajakan dagangannya sekitar pukul 08.00 hingga pukul 17.00. Biasanya, para penjaja ini membuat gule gending yang akan dijual besoknya pada sore hari se­ telah pulang dari berjualan. Diawali dengan memasak dua kilogram gula pasir dengan air secukupnya hingga benar-benar mendidih dan agak mengental. Di perapian yang lain, setengah kilogram kurang sedikit, tepung terigu dimasak

dengan setengah kilogram minyak kelapa dimasak sambil diaduk sampai mendidih dan menggumpal. Kemudian didinginkan hingga mengental. Pada sebuah wadah aluminium ukuran 1,5 X 1,5 m, terigu yang dimasak dengan minyak yang sudah menggumpal tadi ditabur di atasnya. Lalu gula yang sudah mengental dan padat dimasukan sambil menggunakan sebuah kayu yang mereka buat sendiri, gula yang sudah mulai kelihatan terpisah tadi diletakkan di kayu tersebut sambil dibongkar dan diurai hingga benar-benar terpisah. Minyak kelapa dan tepung terigu yang dimasak tadi, adalah kunci untuk memisahkan gula menjadi sangat halus seperti benang atau bulu. Saat inilah, dua kilogram gula tadi terlihat menjadi sangat banyak. Proses selesai. gule gending harus langsung dimasukkan ke dalam rombong dan tidak boleh dibuka lagi hingga keesokan harinya. “Ja­ ngan sampai udara masuk terlalu banyak agar tidak mengempes,” ingat Sadikin. “Dari 2 kilogram gula pasir, 1/2 kilogram (kurang sedikit) tepung terigu dan minyak kelapa 1/2 kilogram, bisa menjadi Rp 150 ribu hasil kotornya esok hari,” kata Fahmi. –Naniek I Taufik/Inten Indrawati


NINE

20

17 - 23 Februari 2014

Tradisi Berambut Panjang di Wawo Rambut adalah mahkota untuk mempercantik penampilan terutama bagi kaum wanita. Rambut yang panjang tergerai, lebat dan hitam menjadi dambaan bagi para gadis. Namun, tidak semua wanita mam­ pu membiarkan dan mempertahankan rambut yang panjang tersebut.

S

aat ini, banyak faktor yang membuat para wanita memilih tidak lagi tampil dengan ram­ but panjang, terutama mereka yang memilih profesi sebagai wanita karir. Antara lain, tidak praktis, membu­ tuhkan perawatan ekstra, sedikit repot jika harus bergelut dengan rutinitas dan mobilitas sehari-sehari yang terbilang padat bagi wanita karir. Pilihannya, berambut pendek karena dianggap praktis dan relatif mudah merawatnya. Karena itulah, di zaman sekarang, secara umum, tidak banyak lagi wanita yang meme­ lihara dan memilih memiliki rambut yang panjang alami. Jika pun ada yang menginginkan rambut panjang, biasanya karena tuntutan penampil­ an sesaat dengan cara rambut di­ sambung menjadi panjang atau yang dikenal dengan teknik extension. Namun, tidak begitu dengan para gadis dan kaum wanita di Ke­ camatan Wawo Kabupaten Bima, yang hingga saat ini masih mem­ pertahankan tradisi merawat dan memelihara rambut secara alami hingga panjangnya bahkan ada yang mencapai tumit kakinya. Para gadis di sini, memilih berlomba-lomba merawat rambutnya dengan cara tradisional yang unik, yakni menggu­ nakan berbagai bahan yang diambil dari alam, seperti kemiri, kelapa, asam, mangga, rempah-rempah dan lain sebagainya. Tidak heran, jika di Wawo dengan mudah bisa menemu­ kan gadis-gadis berambut panjang tergerai, hitam dan lebat. Mulai dari anak-anak hingga dewasa dan orang tua, semua senang memelihara dan merawat rambut. “Seni merawat dan memelihara rambut secara tradisional, tetap kami pertahankan hingga saat ini karena sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Wawo,” ujar Minarni, salah seorang warga Wawo yang memberi perhatian terhadap pe­ lestarian rambut panjang bagi para wanita Wawo. Ia mengimbau ke­ pada anak-anak perempuan dan para gadis untuk tidak terpengaruh memotong rambutnya melainkan tetap mempertahankannya seba­

Minarni

gai sebuah tradisi. Tiap sekolah di Wawo, menurut Minarni, meng­ anjurkan agar murid dan siswanya berambut panjang. “Anak-anak mulai dari Taman Kanak-kanak hingga minimal kelas 6 SD, mulai kami imbau juga untuk tidak memotong rambutnya melainkan merawat dan memeliharanya agar tetap panjang,” ungkap Minarni yang juga seorang guru SD ini. Hal ini dilakukan sekali­ gus untuk mengangkat potensi alam Wawo sebagai daerah penghasil kemiri di Bima. Kebiasaan merawat dan me­ melihara rambut secara tradisional dengan bahan-bahan alami, telah dimulai oleh masyarakat Wawo sejak anak masih bayi, yakni menggunakan kemiri yang dibakar ataupun disang­ rai bahkan kemiri mentah. Kemiri yang diulek halus biasanya langsung dikeramaskan pada rambut si bayi. Lebih tradisional lagi, minyak kemiri yang dikunyah oleh ibu atau orang yang memandikan si bayi tersebut yang akan dipijatkan pada kepala­ nya. Keramas kemiri berlangsung terus-menerus hingga anak tumbuh dewasa dan menjadi kebiasaan sehari-hari dan turun-temurun. Jika pada saat bayi dan anak-anak, perawatan rambut hanya dilakukan dengan menggunakan kemiri, di usia remaja dan dewasa, bahan perawat­ an rambut menjadi bertambah dan unik. Selain menggunakan kemiri yang dibakar atau disangrai, juga dicampur dengan santan kelapa yang telah dibakar ter­ lebih dahulu, bahkan ada yang mencapur ramuan tersebut dengan asam, jeruk, mangga dan cabe merah kering dan rempah-rempah lainnya. “Biasanya yang pakai rempahrempah itu, orang tua untuk meng­ hangatkan kepala,” ujar Minarni. Kebi­ asaan menghangat­ kan kepala dengan rempah-rempah Dalam merawat rambut panjang, terutama saat keramas, membutuhkan bantuan orang lain sembari keramas,

memang telah lama menjadi kebia­ saan masyarakat Wawo, mengingat Wawo termasuk daerah dingin ka­ rena berada di atas ketinggian, sesuai dengan namanya, Wawo berarti berada di atas. Memiliki rambut panjang, me­ mang terbilang relatif sulit mera­ watnya. Selain membutuhkan bahan perawatan yang lebih banyak, juga membutuhkan setidaknya satu tenaga orang lain untuk membantu saat keramas. Namun begitu, gadisgadis Wawo masih tetap bertahan dengan rambut panjangnya. Dua di antaranya adalah Mirna dan Dian yang telah merawat dan memelihara rambut mereka sejak kecil. “Selama 27 tahun, rambut saya tidak per­ nah dipotong. Kalaupun dipotong, biasanya hanya ujung-ujungnya saja untuk merapikan,” ujar Mirna. Ia mengaku mempertahankan rambut panjangnya karena baginya rambut adalah mahkota. Ia memang tidak membiarkan rambutnya tergerai sampai tumit, melainkan sebatas paha bawah. Alasan memanjangkan rambut tidak sampai setumit adalah kare­

INSPIRASI

5

Ida Bagus Putra Adnyana

Foto bisa Pengaruhi Keputusan Politik Selfie adalah istilah yang sangat populer di kalangan penggemar fotografi. Karena bukan hanya remaja yang suka selfie, bahkan kepala negara adidaya juga doyan selfie. Begitu diungkapkan IB Putra Adnyana, salah seorang fotografer senior Bali.

G

Gadis-gadis Wawo memamerkan rambut panjang mereka yang tergerai di rumah panggung khas suku Mbojo. Sejak kanak-kanak mereka telah dianjurkan untuk tidak memotong rambut dan membiarkannya panjang mengikuti usia mereka

untuk sekali mencuci rambut,” kata Mirna. Perawatan rambut menggunakan kemiri dan santan kelapa, membuat rambut mereka tampak hitam dan lebat serta tak berketombe. Ada perawatan rambut yang lebih tradisional lagi yang dilaku­ kan orang Wawo, yakni dengan mencampur kemiri dengan santan kelapa, mangga yang mereka sebut Fo’o Mpangi, jeruk yang mereka sebut Dungga Nggefa, dan air asam.

Bahan-bahan tradisional untuk keramas guna merawat rambut agar memiliki akar yang kuat, hitam, tebal dan panjang, antara lain kemiri, asam dan rempah

na ia bekerja sebagai pegawai yang membutuhkan aktivitas lebih dibandingkan yang tidak bekerja. Terlalu sulit baginya merawat ram­ but jika harus dibiarkan sampai tumit dengan aktivitasnya itu. Karena itu, ia memilih rambut yang tidak terlalu panjang. Begitu juga dengan Dian yang rambutnya ikal sebatas paha. Ia juga seorang pegawai pemerintah yang tetap mempertahankan rambut panjang di antara kesibukannya. Me­ reka berdua tidak merasa terganggu dengan rambutnya yang tergerai panjang sekalipun harus ber­aktivitas tiap hari di luar rumah. Untuk merawat rambutnya tersebut, Mirna dan Dian tetap memakai bahan tradisional seperti kemiri dan kelapa. Karena pertim­ bangan demi kenyamanan, mereka juga memakai sampo agar rambut tidak berbau apek. Jadi, cara pera­ watan tradisional tidak ditinggalkan­ nya, namun dikolaborasikan dengan perawatan modern menggunakan sampo sebagai pembersihnya. Untuk sekali keramas, mere­ ka membutuhkan minimal empat sampai lima kemiri yang dicampur dengan santan kelapa yang dibakar sebelumnya. Setelah keramas kelapa dan kemiri, didiamkan beberapa saat agar meresap kemudian barulah disampo. “Butuh dua saset sampo

17 - 23 Februari 2014

“Ada yang mencampurnya jadi satu seluruhnya kemudian airnya diperas untuk dipakai keramas. Ada juga yang memilih beberapa saja dari bahan tersebut,” kata Minarni. “Rambut terasa dingin dan kepala jadi sejuk,” kata Mirna. Bahkan, lanjutnya, setelah keramas dengan berbagai bahan tradisional itu, ada juga yang menutupnya dengan rempah-rempah (sirih hutan). Kalau memakai sirih hutan dan rempahrempah sebagai penutupnya, kepala akan terasa hangat dalam waktu yang lama. Ini bisa mengatasi hawa dingin Wawo.

Di sebuah rumah panggung, tampak para gadis dan remaja yang baru pulang sekolah tengah membuat ramuan untuk keramas. Kemiri yang sudah dibakar mereka ulek pada ulekan batu khusus sam­ pai minyaknya keluar. Kemudian dicampur dengan santan kelapa yang sebelum diparut telah dibakar terlebih dahulu. Asam tua, jeruk dan mangga diambil airnya lalu diaduk rata bersama santan kelapa dan minyak kemiri. Satu sama lain saling membantu untuk keramas. Di zaman dahulu, ungkap Minar­ ni, para wanita melakukan keramas dan mandi bersama di sungai-sungai yang airnya jernih. Rambut-rambut panjang mereka tergerai mengikuti aliran air nan sejuk. Bahan-bahan un­ tuk keramas mereka ambil langsung di lokasi permandian dan diulek ber­ sama pada batu-batu ceper yang ada di sungai sembari bersenda gurau. Di sanalah para wanita memamer­ kan rambut-rambut indah mereka. “Biasanya, kalau lihat kawan lain yang rambutnya lebih panjang ada rasa iri (dalam arti positif-red) ingin lebih panjang darinya,” kata Mirna. Begitu juga para gadis Wawo di zaman dahulu. Mereka “bersaing” untuk memiliki rambut yang lebih panjang, lebat, hitam dan kuat. Dan, kesadaran untuk memelihara dan merawat rambut panjang, kini terus digalakkan di Wawo. Semua itu di­ lakukan, untuk menjaga kemurnian tradisi yang telah diwariskan nenek moyang masyarakat Wawo dulu. “Sebelum semuanya tergilas oleh perubahan zaman, kami ingin meles­ tarikan tradisi merawat dan meme­ lihara rambut secara tradisional dan alami,” kata Minarni yang seorang pelatih tari dan memiliki sanggar seni dan budaya di Wawo ini. -Naniek I. Taufan/Inten Indrawati

ustra, begitu ia bi­ asa disapa, menga­ takan, kalau istilah selfie ini mengacu pada kebiasaan orang yang suka melakukan self portrait alias me­ motret dirinya sendiri. Baik di tempat yang pribadi maupun pada momen tertentu. Fenomena ini, menurut Gustra terjadi akibat kemajuan dunia fotografi digital yang sangat pesat. Apalagi kini banyak tersedia media sosial untuk memamerkan foto, bahkan dalam hitungan detik. Selain itu, kini banyak kamera di­ lengkapi dengan fitur wi-fi se­hingga posting bisa dilakukan real time. Su­ paya tidak terjebak dalam kontro­ versi, kata suami Anak Agung Ayu Ngurah Putri Sumartini ini, bagi mereka yang memiliki keduduk­ an terhormat dalam ma­ sya­rakat hen­ daknya mema­ hami hal-hal yang sensitif. Tentu akan jadi pertanyaan, ke­t ika selfie dan dimuat di me­d ia sosial padahal saat itu masyarakat se­dang terkena bencana. “Bukan hanya saat berinteraksi di media sosial tapi juga harus memahami hal-hal yang sensitif lainnya. Misalnya, saat memotret prosesi atau upacara keagamaan, mestinya juga memi­ liki respek kepada masyarakat se­ tempat,” tutur Gustra yang tengah sibuk menyiapkan foto-fotonya untuk dibukukan. “Demikian juga ketika ingin memotret momen budaya yang bersifat sakral. Ba­ gaimana kita para fotografer bisa beradaptasi dengan masyarakat se­ tempat yang baru dikenal sehingga diizinkan berbaur untuk mengikuti ritual mereka,” lanjutnya. Meski diakuinya ada sisi miring dari dunia fotografi, yang terka­ dang digunakan untuk tujuan yang tak semestinya. Namun, banyak hal positif yang bisa dipelajari dari dunia potret-memotret yang satu ini. Seperti misalnya, kegiatan fotografi makro yang banyak memotret hewan-hewan kecil. “Ini bukan hanya menampilkan bentuk yang unik tapi bisa juga sebagai dokumentasi ilmiah,” ujar penghobi baca majalah, terutama untuk melihat foto-foto human interest atau yang subjeknya orang

dengan momen menarik. Begitu pula dengan fotografi budaya. ”Bukan mustahil suatu saat ada kegiatan budaya yang perlahan akan punah, di sinilah fotografi berperan agar dapat mengingatkan pentingnya men­ jaga keluhuran sebuah budaya,” ujar ayah dari Ida Bagus Ngurah Primarta, Ida Ayu Agung Adriani, dan Ida Bagus Angga Triadi ini. Hal yang paling menantang dalam fotografi adalah fotografi jurnalistik. Bukan hanya memer­ lukan keterampilan teknis yang mantap tapi juga insting yang jitu, selain nyali ketika berhadapan dengan situasi yang genting. Ke­ terampilan, perlu ketika misalnya, menggunakan kamera saku. Karena itu, diperlukan pengetahuan untuk memahami kualitas

Hasil jepretan Gustra yan

Sedangkan soal nyali yang tinggi diperlukan ketika berada di daerah rawan konflik atau bencana. Con­ tohnya, seperti berada di kawasan perang di Timur Tengah, Afgani­ stan atau bencana di Afrika. “Ka­ rena risikonya adalah nyawa,” katanya. “Saya ka­ gum kepada mereka yang me­m iliki ko­ mitmen dan de­dikasi yang tinggi untuk dunia foto­ grafi. Sebab, karya mere­ ka sedikit ba­­nyak bisa memenga­ ruhi kepu­ tus­a n poli­ tik,” ujar i raf melatih fotog Gustra (kiri) sedang Gustra yang akhir tahun 2013 ­cahaya, komposisi serta subjek menerima penghargaan medali yang difoto, selain fitur kamera ten­ perak dari Salon Photo di Hong tunya. Sekarang bahkan dikatakan­ Kong, dan meraih total hadiah le­ nya cukup dengan kamera HP saja, bih dari puluhan juta rupiah untuk seorang fotografer berpengalaman sebuah foto bertema “Ngaben”, tetap mampu menghasilkan foto pada lomba foto yang diseleng­ yang bagus. garakan Indomaret.

g meraih juara 1 lomba foto

Indomaret 2013

Kini, seiring makin pesatnya perkembangan dunia fotografi di Bali, banyak juga fotografer muda Bali yang menjuarai lomba foto dan mendapat hadiah hingga puluhan juta rupiah. “Bahkan, pernah sebuah foto di Tukad Unda, Bali karya fotografer Singa­ pura meraih hadiah hampir Rp 200 juta. Padahal idenya dari fotografer Bali,” ungkap Gustra yang pernah pameran bersama Auw Kok Heng dan K. Suajana di Museum der Welkulturen Frank­ furt, Jerman pada tahun 2009 ini. Sambil terus bergerilya dengan momen-momen menarik pada berbagai aktivitas fotografinya, Gustra rupanya juga tengah me­ nyiapkan beberapa buku dari hasil karyanya dalam periode 20132014 yang diharapkan dapat terbit pada tahun 2015. Selain itu, bapak yang satu ini juga sempat berperan sebagai kontributor foto untuk buku yang diterbitkan secara internasional, beberapa di antaranya “Bali im Fokus der Kamera: Drei Bali­ nesische Fotografen 1930-2009” (Museum der Weltkulturen Frank­ furt am Main und), “Inventing

Art: The Painting of Batuan Bali” (diterbitkan Satumata Press, teks oleh Bruce Granquist), “Balinese Art : Paintings and Drawings of Bali 1800-2010” (Adrian Vickers, diter­ bitkan Tuttle Publishing 2012) dan yang terakhir adalah “Time, Rites and Festival in Bali” (Jean Couteau, Georges Breguet/an imprint of BAB Publishing Indonesia). Begitu pula dalam launching buku “Time, Rites and Festival in Bali” pada 12 Desember 2013 silam juga disertai pameran foto karyanya di GoetheInstitut Jakarta. Bicara hal yang menjadikan di­ rinya bisa bertahan lama di dunia fotografi, Gustra menyatakan selain karena fotografi memberi penghasilan yang cukup tinggi, juga karena ia bisa mendokumen­ tasikan budaya Bali yang luhur dan unik. “Di Amlapura misalnya, banyak sekali kekayaan budaya yang belum didokumentasikan. Seperti ngaben memedi di Desa Bungaya atau siat dedempok dalam prosesi barisan di Desa Seraya. Ini juga berkat bantuan Klecak Klecek Grup yang mem­ beri informasi tentang berbagai kegiatan budaya di Amalapura,” papar pria paruh baya ini penuh semangat. Menyinggung saat memotret yang paling berkesan, Gustra menyebutkan, ketika memotret makepung atau balap kerbau di Jembrana. Sebab dengan jarak yang relatif dekat subjek foto, ia menda­ pat momen yang mengesankan; debu dan kerikil berhamburan di udara. “Yang lainnya ketika saya berkesempatan memotret ikon Kota Paris, Menara Eiffel. Sebab, sejak kecil saya memang punya mimpi bisa sampai di sana,” kata mantan Klian Banjar Belaluan Sadmerta, Denpasar yang sebe­ lum pensiun total dari kegiatan fotografi, ingin menerbitkan buku foto agar dapat dijadikan inspirasi generasi berikutnya. — Sri Ardhini/Ratna Hidayati


l i f e s to ry

6

Dari Anak Majikan Jadi Sopir

Kisah dan pengalaman Haris (34), saat bekerja sebagai TKI di Riyadh, Arab Saudi, memberikan gambaran bahwa tidak hanya TKW yang mengalami perlakuan buruk dari ­majikan seperti yang selama ini ramai diberitakan. Haris yang memilih melarikan diri dari rumah majikannya mengalami banyak hal tidak menyenangkan selama hampir tiga tahun menjadi TKI di negeri tersebut.

P

erjalanan hidup manusia yang berputar, pasti di­ alami oleh semua orang. Roda kehidupan itu akan terus berputar, hari ini susah besok atau ke depannya belum tentu susah terus namun bisa mendapat kesenang­ an. Demikian pula sebaliknya, hari ini senang besok dan selanjutnya belum tentu selalu senang, bisa jadi susah. Itulah yang dialami oleh Haris. Dulu ia tinggal bersama orangtua yang kaya dan memiliki banyak anak buah yang juga siap mengantarkan ia ke manamana. Sekarang berbalik, Harislah yang mengantar anak-anak majikannya ke mana-mana. Ia menjadi sopir sebuah keluarga di Arab. Hanya dalam waktu lima tahun, harta plus tabungan ayah Haris, ludes untuk keperluan sehari-hari termasuk biaya sekolah mereka dan kuliah kakak sulungnya yang hidup mewah di peran­ tauan. Kejatuhan itu terasa sangat memukul mereka. Kakak sulungnya tidak melanjutkan kuliah sedangkan ia berhenti setelah lulus SMA dan dua adiknya hanya sampai tamat sekolah dasar karena memilih bekerja. Dari hasil penjualan aset ayahnya, mereka dibekali masing-masing uang yang diserahkan untuk dikelola sendiri-sendiri. Lagi-lagi, kebiasaan hidup enak menyeret uang tersebut sampai habis tak bersisa.

Kakak sulungnya menikah dan terpaksa harus bekerja banting tulang berjualan di pasar. Pekerjaan yang jauh dari basis kehidupan mereka. Haris sendiri setelah menikah tidak tahu harus berbuat apa. Sementara kedua adiknya yang hanya lulus SD itu, ikut bekas anak buah ayahnya bekerja apa saja ke sana kemari. Haris pun memutuskan mening­ galkan Pulau Sumbawa, berangkat ke Riyadh, setelah sebelumnya kena tipu perekrut tenaga kerja sehingga uang hasil pembagian dari penjualan aset ayahnya habis tak tersisa. Tahun 2010, setelah menjalankan karantina selama dua bulan di Jakarta dan membayar Rp 11 juta, Haris berangkat ke Riyadh un­ tuk menjadi seorang supir dari keluarga purnawirawan polisi di sana. Keluarga ini termasuk keluarga besar karena memiliki tujuh orang anak (4 laki-laki dan 3 perempuan). Mereka memiliki beberapa mobil dan Haris bertanggung jawab mengurus dua mobil dan menjadi sopir untuk tiga anak perempuannya. Berbagai prilaku majikan dan anak-anaknya ini merepotkannya sejak pertama kali ia bekerja. Dua anaknya sekolah dan kuliah sedangkan satu anak lagi adalah seorang janda yang menurut Haris, “nakal”. “Ini yang paling bikin repot. Suka melanggar aturan keluarga senang

Kota Riyadh

pergi ke tempat hiburan bahkan hingga dini hari,” katanya. Hari-harinya bekerja sebagai sopir selalu kena marah dan caci maki. Tidak jarang ia kena pukulan. Ia jadi tidak mengerti harus mengikuti aturan yang mana. Orangtua bilang anak-anak tidak boleh pulang dini hari sedangkan anakanak memaksanya untuk mengantar hingga waktu yang tidak terbatas. “Ikut kata orangtua, anaknya yang kasar dan main pukul jika saya menolak. Ikut kata anaknya, orang tuanya yang menganiaya saya dan dikatakan melanggar aturan,” ujarnya. Sudah capek mengurus si janda yang selalu keluar tanpa jeda, ia juga harus mengantar jemput kedua anak lainnya sampai ke acara jalan-jalan ke mall atau ke rumah kawannya. Jam kerja yang ditentukan sesuai kontrak, tidak lagi berlaku. Dengan gaji hanya sekitar Rp 2.5 juta, Haris bekerja siang malam, 24 jam. “Jika ingin istrirahat tidur sebentar saja, HP harus selalu di bawah telinga,” katanya. Haris tinggal di bagian depan rumah tersebut dekat satpam. Ia sama sekali tidak diperboleh­

kan masuk rumah. Ia hanya bisa ketemu dengan pekerja rumah tangga yang berasal dari Jawa Timur, saat mereka keluar untuk buang sampah. Haris merasa benar-benar tenaga­ nya habis. Makan juga tidak teratur. Selama bekerja di sana, para pembantu rumah tangga dan supir serta satpam, diberi makanan sisa mereka. Karena sudah tidak tahan lagi dengan perlakuan majikan yang makin hari makin sering memukulnya, ia pun melawan dan meminta berhenti bekerja saat kontrak kerjanya dua tahun berakhir. “Tapi majikan tidak mengizinkan saya ber­ henti, pasport, KTP dan semua suratsurat saya ditahan,” katanya. Mereka hanya berjanji saja, selalu bulan depan atau liburan sekolah ia baru diizinkan berhenti bekerja. Jika saja perlakuan mereka baik, kemungkinan Haris masih mau bertahan untuk bekerja, tapi mengingat buruknya perlakuan tersebut, ia memilih kabur dari rumah majikannya, setelah setahun tertahan. Ia meminta pertolongan pada per­ wakilan perusahaan yang “menjualnya” pada keluarga itu yang ada di Riyadh.

17 - 23 Februari 2014

17 - 23 Februari 2014

Namun tidak diurus sama sekali. Ia diminta melapor pada polisi setempat (seperti Polsek). Sialnya, salah seorang anak majikannya yang seorang polisi malah memaki dan mengusirnya. Ia juga datang ke imigrasi untuk mengurus kepulangan, juga terdapat salah seorang kerabat majikannya. Pengurusan suratsuratnya dipersulit sedemikian rupa. Maka luntang-lantunglah ia sampai akhirnya ia lari ke KJRI Riyadh. Tiba di sana, ia meminta perlindungan dan menceritakan semua permasalahannya serta ia menginformasikan bahwa masa kontraknya telah habis dan ia ingin kembali ke Indonesia. “Sempat diurus oleh KJRI sampai mendatangi rumah majikan saya. Tapi perlakuan majikan saya pada staf KJRI yang mengantar saya untuk meminta surat-surat saya agar saya bisa pu­ lang ke Indonesia, sangat kasar dan tidak menghargai. Kami malah dicaci maki dengan kata-kata tidak pantas,” katanya. Ia dan staf KJRI pun pulang dengan tangan hampa. Empat bulan ia tinggal di penampungan KJRI Riyadh menunggu agar semua surat-surat kepulangannya dapat diurus. Sampai akhirnya, Desember 2013, ia dapat kembali ke Indonesia Haris bersyukur dapat kembali berkumpul dengan keluarganya dalam keadaan selamat mengingat terlalu banyak kisah sedih rekan-rekannya sesama TKI yang hingga saat ini tidak bisa pulang karena berbagai persoalan. Ia mengaku tidak berminat lagi bekerja di luar negeri. “Apa pun pekerjaan akan saya lakukan di kampung halaman ini, agar saya bisa berkumpul dengan anak dan istri,” katanya. -Naniek I. Taufan/Ngurah Budi

S U D U T PA N D A N G

19

Dapat Biaya Ngaben Rp 21 Juta

Tak Perlu Adep Kanan Adep Kiri Pemerintah kini menerapkan Sistem ­Jaminan Sosial Nasional (SJSN). ­Jaminan Sosial ini ­me­liputi ­jaminan ­kesehatan, jaminan ­kecelakaan kerja, jaminan hari tua, ­jaminan penisun, dan jaminan ke­matian. ­Pe­nyeleng­gara program ini ada dua, B ­ adan Penyelenggara ­Jaminan ­Sosial (BPJS) Kesehat­an me­nangani ­jamin­an kesehat­an dan BPJS Ketenaga­kerjaan menangani ­jaminan kecelaka­an kerja, jaminan hari tua, dan jaminan kematian.

B

P J S Ke s e h a t a n dikelola lembaga yang dulu bernama Askes sedangkan BPJS Ketenagakerjaan dikelola lembaga yang dulu dikenal de­ngan nama Jamsostek. So­ sialisasi pun terus digencarkan untuk memperkenalkan pro­ gram dari kedua lembaga ini. Bagi tenaga kerja yang sudah memiliki Jamsostek, program jaminan kesehatannya dialih­ kan ke BPJS Kesehatan. Tetapi, jangan khawatir karena kartu Jamsostek Kesehatan masih berlaku hingga Maret 2014. Setelah itu, program kesehatan ditangani BPJS Kesehatan. Prosedur pengalihan kepeserta­an ini sudah dilaku­ kan perusahaan peserta Jam­ sostek. Bu Ayu, yang mengurus peralihan untuk karyawan di kantor tempatnya bekerja menuturkan, proses peralihan sangat mudah. “Karyawan yang menjadi peserta Jamsostek kesehatan tinggal mengisi for­ mulir dari BPJS Kesehatan. Selain mengisi data, peserta juga memilih fasilitas kesehat­ an primer. Disarankan untuk memilih fasilitas kesehatan primer terdekat dengan tempat tinggal,” ujarnya.

Ketut Arja

Pemilihan fasilitas kesehat­ an terdekat ini akan memper­ mudah peserta BPJS Kesehatan untuk mendapatkan penanga­ nan jika sakit. Apabila fasilitas kesehatan primer tidak mampu menangani, akan diberi rujukan ke fasilitas kesehatan sekunder maupun tersier. “Selama ini masyarakat kurang memper­ hatikan masalah rujukan ini. Sakit sedikit maunya ke rumah sakit. Pola pikir masyarakat ini harus diubah. Ini memerlukan waktu dan kedisiplinan un­ tuk mengikuti prosedur,” ujar Direktur Utama RS Sanglah dr. Anak Ayu Sri Saraswati. Bagi masyarakat yang belum memahami prosedur atau masih bingung dengan pola BPJS Kes­ ehatan, sudah ada petugas di masing-masing RS yang bekerja sama dengan BPJS. Petugas ini yang akan memberikan pen­ jelasan mengenai prosedur yang harus diikuti. Bagi yang belum memiliki BPJS Kesehatan bisa langsung mendaftar dan membayar iuran. Selanjutnya mereka bisa merasakan man­ faat dari program ini. Di sisi lain, pengalihan pro­ gram kesehatan bagi tenaga kerja yang dulunya menjadi peserta Jamsostek ke BPJS

Agung Karma

Ngaben

Kesehatan membuat pekerja­an BPJS Ketenagakerjaan men­ jadi berkurang. “Dari satu sisi memang berkurang karena program kesehatan sudah di­ tangani BPJS Kesehatan. Tetapi, ada tugas berat yang harus kami laksanakan yakni menga­ jak semua tenaga kerja agar ikut dalam program BPJS Ketenaga­ kerjaan. Karena program ini sifatnya kolektif, perusahaan yang mendaftarkan tenaga kerjanya untuk ikut dalam jami­ nan kecelakaan kerja, jaminan kematian, dan jaminan hari tua,” ujar AA Karma Krisnadi, Kabid Pemasaran Formal BPJS Ketenagakerjaan Kantor Ca­ bang Bali I. Biaya masing-masing ja­ minan ini berbeda-beda. Jami­ nan kecelakaan kerja iurannya 0,24%-0,89% dari penghasilan, jaminan kematian 0,3% dari penghasilan, dan jaminan hari tua 5,7%. Karma mengakui, iuran jaminan hari tua yang dianggap memberatkan pada­ hal iuran itu tidak sepenuhnya dibayar perusahaan tetapi di­ tanggung bersama si tenaga kerja. Dari 10 ribuan perusa­ haan di Bali, baru 4.100 atau 60% yang menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan. Agung Karma menilai perusaha­an di Bali merasa nya­ man dengan kondisi yang ada. Karena itu, merasa tidak perlu dengan jaminan bagi tenaga kerjanya. Bahkan ada perusa­ haan yang didatangi Jamsostek mengatakan hanya tunduk kepada UUD 1945 bukannya kepada UU yang mengatur ja­ minan bagi tenaga kerja. “Bali sebagai daerah tujuan wisata sangat berpotensi untuk pengembangan jaminan bagi tenaga kerja. Budaya di Bali sangat mendukung. Contohnya,

jika peserta BPJS Ketenagaker­ jaan ini meninggal dunia, ada santunan Rp 21 juta. Jika di­ pakai biaya ngaben, ini cukup, tidak perlu lagi adep kanan, adep kiri. Ya kalau ada yang diadep (dijual), kalau tidak, mau cari uang di mana. Santunan ini diberikan jika peserta me­ ninggal di luar hubungan kerja. Jika meninggal akibat kerja, per­hitungannya 60% dikali 80 bulan upah. Iuran jaminan ke­ matian hanya 0,3% dari upah. Misalnya upah Rp 1 juta, 0,3% sama dengan Rp 3 ribu. Normal­ nya dari Rp 3 ribu mencapai Rp 21 juta memerlukan Rp 7 ribu bulan,” tandasnya. Pembayaran santunan atau klaim juga bisa dilakukan kapan saja, sepanjang data lengkap. Tidak ada istilah kadaluwarsa dalam pembayaran santunan. Jika karena kesibukan per­ usahaan, pengurusan klaim bisa dilakukan belakangan asal­ kan ada penjelasan mengapa terlambat dalam pengurusan ini. Manfaat lainnya, jika yang meninggal keluarga inti dari peserta (istri/suami, anak), akan mendapat uang kubur Rp 2 juta. Khusus untuk anak diberikan kepada anak yang berusia di bawah 21 tahun dan belum menikah. Prinsip yang dikembangkan dalam jaminan ketenagakerjaan ini adalah yang sehat membantu yang sakit, yang berpenghasilan besar membantu yang berpeng­ hasilan kecil, dan yang muda membantu yang tua. Ketut Arja Leksana, Ka­ bid Pemasaran Informal BPJS Ketenagakerjaan Kantor Ca­ bang Bali I menambahkan, selain tenaga kerja yang didaf­ tarkan perusahaannya, ada juga pendaftaran yang dilakukan secara kolektif oleh kelompok.

“Contoh, ada petani, pedagang kaki lima yang membentuk kelompok lalu mendaftar di BPJS Ketenagakerjaan. Mereka bisa ikut jaminan kecelakaan kerja yang iurannya 1% dari UMK, jaminan kematian 0,3% dari UMK, dan jaminan hari tua 2% dari UMK. Satu syarat khususnya adalah ada pem­ batasan usia hingga 55 tahun,” jelasnya. Manfaat yang diper­ oleh peserta informal ini sama dengan peserta formal (tenaga kerja perusahaan). Perlunya kelompok ini agar jika terjadi sesuatu, nanti ada yang mengurus. Karena itu, dalam jaminan sosial ketena­ gakerjaan ini dikembangkan prinsip gotong-royong. Jika ada yang mengalami musibah agar ada yang membantu mengurus. Hal yang sama juga berlaku bagi peserta formal. Semua pen­ gurusan dokumen dilakukan perusahaan sebagai lembaga yang bertanggung jawab. Agung Karma dan Ketut Arja menegaskan, pihaknya juga mu­ lai menyasar mahasiswa yang setelah tamat nanti akan men­ jadi tenaga kerja. “Kami sudah bersurat ke Kopertis agar diberi kesempatan untuk sosialisasi mengenai manfaat jaminan so­ sial ketenagakerjaan. Beberapa yayasan yang ber­gerak di bidang pendidikan juga kami sasar dan sudah ada yang merespons tetapi ada juga cuek. Pesan kami kepada generasi muda, pilihlah pasangan yang memiliki BPJS Ketenagak­ erjaan. Ini akan menjamin jika di kemudian hari ada masalah. Bagi tenaga kerja, daripada demo menuntut kenaikan upah, lebih baik minta perusahaan men­ daftarkan tenaga kerjanya ikut BPJS Ketenagakerjaan,” tegas Agung Karma. –Ngurah Budi/Ratna Hidayati


D AYA C I P TA

18

17 - 23 Februari 2014

Games Berbasis Budaya Bali

Dari D’Kala sampai Puzzle Endek Games D’Kala menjadi pusat per­ hatian sejak diluncurkan tahun 2012. Games ini menjadi awal ­eksistensi per­usahaan software di Bali ­untuk unjuk gigi di dunia teknologi ­informasi. Nama D’Kala tak bisa di­lepaskan dari tangan dingin Putu Sudiarta bersama tim ­Bamboomedia.

“D

’ K a l a dibuat saat ­Angry B i rd s e ­ dang booming. Konsep hukum fisika yang digunakan dalam Angry Bird menginspirasi kami untuk membuat sesuatu yang beda. Dari diskusi de­ngan te­ man-teman akhirnya muncul ogoh-ogoh dengan menggu­ nakan konsep keseimba­ngan,” ungkap Su­diarta, Direktur Bam­ boomedia. Ada enam langkah yang harus dilaku­ kan sebelum ogoh-ogoh bisa diarak. Enam langkah ini mencerminkan sad ripu (enam musuh dalam diri manusia). Jika berha­ sil mengatasi enam musuh ini, barulah bisa melangkah. Dari 20 kara­ kter ogoh-ogoh yang dibuat, hanya 1 yang dikerjakan tim Bamboomedia, 19 lainnya ha­ sil kreasi anak-anak SMK yang magang di Bambomedia. Ke­ betulan para siswa tersebut memiliki bakat menggambar. “Tahun 2012, kami di­undang

Games berbasis budaya Bali ini me­rupakan bagian dari pelestarian budaya Bali sekaligus edukasi kepada masyarakat.

Kementerian Perindustrian untuk ikut CeBIT, pameran IT terbesar di dunia di Han­ nver, Jerman. Kami melakukan beberapa terobosan seperti memasang logo android yang memakai udeng dan saput poleng yang kami juluki Mr Android from Bali, memasang topeng dan menyiapkan suvenir khas Bali. Selain suasana Bali, kami memperkenalkan aplikasi D’Kala untuk android. Bagi yang bisa menyele­ saikan permain­ an ini, boleh mengambil satu suvenir. Ternya­ ta peminat­nya banyak dan D’Kala mu­ l a i d i k e n a l ,” ujar pria asal Klungkung yang meng­aku mem­ buat games disela-sela mengerjakan proyek formal ini. PUZZLE ENDEK Peraih Best Information Technology International Busi­ ness & Company Award 2010 dan Primaniyarta Award Kate­ gori Ekonomi Krea­tif dari Ke­ menterian Per­d agangan RI pada tahun 2011 ini tak ber­ henti sampai disini. Akhir ta­ hun 2013, dalam sebuah acara

17 - 23 Februari 2014

Sehari Bagai Setahun Setelah tiga bulan menjadi pesakitan di Rutan Malendeng, Manado, Sulawesi Utara, dr. Dewa Ayu Sasiary Prawani, Sp.OG. akhirnya bisa menghirup udara bebas, Sabtu (8/2) pukul 00.45. Ia langsung ke Bali melepas kangen dengan keluarga dan malukat di Pura Pancoran Selukat, ­Keramas, Gianyar. “Malukat me­rupakan upacara pembersihan diri. Ini keyakinan pri­badi untuk membuang sial, membuang semua ­permasalahan agar tak terulang lagi di kemudian hari dan terlahir kembali ­menjadi manusia baru,” ujarnya.

D

bertema endek di Denpasar ia me­ lihat ada potensi dari endek yang dipindahkan ke games. Sebelum­ nya, ia juga me­ nyaksikan para ke p a l a n e g a ­r a yang ikut APEC di Nusa Dua foto ber­ sama me­ngenakan pakaian endek. “Saya searching di Apple Store dan Play Store dan me­ masukkan keyword endek. Tak ada yang muncul. D a r i s i t u s aya yakin belum ada yang membuat games berbasis endek,” papar­nya. Dalam waktu seming­gu, Su­ diarta dan tim berhasil meram­ pungkan games yang diberi nama “Puzzle Endek. Original

okter Ayu hanya dua hari di Bali. Rabu (12/2) dr. Ayu ke Jakarta ber­ silaturahmi dengan perwakilan IDI dan kuasa hukumnya di Jakarta. Ia bersama dua rekannya, dr. Hendry Simanjuntak dan dr. Hendy Siagian tersangkut kasus dugaan melakukan malaprakrik hingga merengut nyawa pasiennya Julia Fansiska Makatey saat menjalani operasi cesar di RS Kandou, Malalayang, Manado pada 2010. Ketiganya divonis masing-masing 10 bulan penjara. Keputusan tersebut mengundang reaksi dokter-dokter se-Indonesia yang tergabung dalam IDI (Ika­ tan Dokter Indonesia). Berbagai gelombang protes hingga demo alias mogok melayani pasien dilaksanakan 27 November 2013 sebagai aksi solidaritas. “Dari tahun 2010 itu kasusnya bergulir terus. Tahun 2011 sidang di

Woven Fabric of Bali”. Games ini sudah dipublikasikan dan hingga kini peng­u nduhnya sekitar 10 ribu. Games ini berjenis puzzle. Ada poton­ gan motif endek yang harus dis­ usun seh­ ingga me­ nampilkan motif yang utuh. Ba­ nyak anaka n a k ya n g suka dengan permainan sederhana ini. Mela­ lui games ini Sudiarta ­i ngin mem­ perkenalkan endek se­ bagai waris­ a n b u d aya khas Bali.

Puzzle ini memiliki 9 level permainan. Setelah menyelesai­ kan level 1, barulah pemain bisa melanjutkan ke level 2 dan selanjutnya sampai level 9. Jika mampu menyelesaikan se­ mua level atau menyelesaikan level 9, pemain akan mendapat hadiah berupa gambar produkproduk turunan endek sepeti tas, sandal, dll. Ke depan, Sudiarta ingin mengembangkan games ini. Jika ada pihak-pihak mau be­ kerja sama, pihaknya sangat terbuka. Baginya games berba­ sis budaya Bali ini merupakan bagian dari pelestarian budaya Bali sekaligus edukasi kepada masyarakat. Games lain yang sudah dipublikasikan adalah “Live in Gajah Mada” yang terinspirasi situasi jalan Ga­ jah Mada. “Kami ingin mem­ bawa kearifan lokal Bali ke era kekini­an atau era teknologi,” tegasnya. –Ngurah Budi/Wirati Astiti

l i f e s to ry

Pengadilan Negeri, dinyatakan tidak bersalah. Sampai akhirnya saya menyelesaikan studi dan kembali ke Balikpapan untuk bertugas,” ungkapnya. Ternyata jaksa mengajukan kasasi. Awal 2013 keputusan kasasi keluar menyatakan dr. Ayu dan rekan-rekan­ nya bersalah. Mereka pun langsung mengajukan peninjauan kembali (PK). Ironisnya, semasih menanti putusan PK, dr. Ayu dijemput pihak kejaksaan di tempatnya bekerja, di Rumah Sakit Permata Hati, Balikpapan, Kalimantan Timur. Ia mengaku ketika dinyatakan bersalah, merasa sedih, kecewa, dan merasa diperlakukan tidak adil. Sudah melakukan sesuai prosedur, tetap dipersalahkan. “Saya sempat ke­ cewa, karena ketika kasus ini terangbenderang, saya justru di penjara. Bagaimana jika kasus saya abu-abu atau hitam, mungkin dipenjara lebih lama,” sindirnya. Ketika itu, ia tak bisa membayang­ kan apa yang akan terjadi di dalam jeruji besi. Ia merasa sedih dan tertekan. Dua hari mendekam di pen­ jara, ia mulai berke­ nalan de­ngan para penghuni lainnya. “Ternyata mereka meng­a lami nasib yang sama, meng­ alami ketidak­ adilan, masih dalam tahapan pemeriksaan su­ dah dipenjarakan. Kami saling support, tukar pikiran, dan itu membuat saya kuat,” kisah­ nya. Hari-harinya di balik jeruji besi diisi dengan mem­ baca dan olahraga. Ia tetap membantu menangani tahan­

7

dr. Dewa Ayu Sasiary Prawani, Sp.OG.

an yang sakit, seperti pendarahan, stroke, hipertensi, terutama di luar jam kerja. “Penjara tiga bulan mung­ kin waktu yang pendek bagi mereka yang hukumannya panjang. Tetapi bagi saya, sehari rasanya setahun,” ucapnya. Melalui peristiwa ini, dr. Ayu menegaskan memetik kesimpulan bahwa dok­ ter hanya alat dari Tu­ han. Sebagai dokter han­ ya bisa ber­ upaya mak­ simal sesuai kemampuan dan keilmuan yang dimiliki. Selanjutnya, tangan Tuhan yang bekerja untuk menyela­ matkan pasien. Kesembuhan, mati, hidupnya pasien ada di tangan Tuhan, bukan di tangan dokter. Karena itu ia berpesan, jika sudah berniat atau bercita-cita men­ jadi dokter yang baik, di dalamnya harus ada keinginan untuk melayani pasien dengan keilmuan, melayani sesuai prosedur, dan dengan rasa kasih sayang. “Jika sudah melayani dengan semua itu, jangan takut pada risiko. Semua kembali pada Tuhan,” ingatnya. MERANTAU AGAR MANDIRI Di mata kakak-kakak, adik dan keluarganya, dr. Ayu adalah sosok perempuan yang kuat dan teguh dalam pendiriannya. Ia merupakan anak kelima dari enam bersaudara buah pernikahan dr. I Dewa Ngurah Adi Palguna (alm.) dengan Dewa Ayu Anom, S.H. Sejak kecil, dr. Ayu sering

diajak sang ayah mengunjungi pasien ke klinik atau rumah sakit. Keinginan menjadi dokter untuk bisa menolong orang sakit itu terus berkecamuk dalam dirinya, hingga dr. Ayu melewati jenjang pendidikan­ nya di SD 5 Saraswati, Denpasar, SMPN 2 Den­ pasar, SMAN 1 Denpasar, dan nekat melanjutkan kuliahnya di daerah peran­ tauan di Uni­ versitas Sam R a t u ­l a n g i , Manado ta­ hun 1993. “ S e b e ­ narnya Ibu kurang setuju kar­ ena tem­ patnya jauh, apalagi saya perempuan. Begitu juga Ayah, tapi beliau senang karena saya di­ terima di kedokteran,” ungkapnya. Ia mengaku, entah mengapa seperti ada panggilan jiwa untuk merantau ke Manado, daerah yang masih ­asing, tanpa keluarga di sana. Yang ada di benaknya saat itu, ia ingin belajar mandiri, tak tergantung orangtua, dan satu-satunya cara dengan mer­ antau. “Dengan merantau kita bisa belajar mengatur diri di berbagai hal, ke­uangan, waktu, dan emosional,” ujarnya. Akhirnya, di universitas inilah ia ketemu jodoh, dr. IGN Okadara, kakak kelasnya. Menyelesaikan pen­ didikan tahun 2000, ia melanjutkan kariernya sebagai dokter PTT yang bertugas di Kalimantan Timur sampai saat ini. Sehari setelah penjemputan paksa dr. Ayu oleh kejaksaan, media-media lokal dan nasional pun menjadikan kasus ini sebagai headline. Dari ke­

terangan suaminya, putranya IGN Tata Adityawarnam yang masih duduk di kelas 6 SD pulang sekolah membawa koran yang memuat kasus ibunya lengkap dengan fotonya. Dok­ ter Ayu tidak ingat, koran itu didapat dari teman atau gurunya. “Trus, kamu bilang apa sama mereka,” ujar sang ayah mencoba mengorek komentar anaknya terkait reaksi teman-teman maupun guru sekolahnya. “Mama saya tidak salah. Saya yakin mereka menangkap orang yang salah,” ujar Tata seperti yang dituturkan dr. Okadara kepada dr. Ayu. Dokter Ayu mengaku sudah ter­ biasa menceritakan banyak hal kepada anak semata wayangnya itu, termasuk kasus yang menjerat dirinya. Awalnya Tata terkejut dan tidak terima karena ia yakin ibunya tidak bersalah. Karena itu ketika kasus ini terus bergulir dan akhirnya menjebloskan dr. Ayu ke penjara, Tata bisa menerima dengan sikap dewasa. Karena kendala sekolah, Tata baru sempat membesuk ibunya setelah sebulan di penjara. Kasus yang membelit ibunya itu tak membuat cita-citanya untuk menjadi dokter kelak, goyah. Putusan Mahkamah Agung yang mengabulkan PK yang diajukan kantor Sabas Sibaga, Ramli Siagian Associates terkait kasus dokter Ayu dan rekannya akhirnya dikabulkan Mahkamah Agung (MA). Putusan ini adalah hasil putusan tertinggi dari sistem peradilan di Indonesia. Tak ada yang bisa mengubahnya lagi, karena apa pun hasil PK dari MA ini sudah menjadi yurisprudensi untuk langkahlagkah hukum bagi dunia medis. Rencananya, minggu ini dr. Ayu akan kembali menjalani rutinitasnya melayani pasien di Rumah Sakit Per­ mata Hati, Balikpapan, Kalimantan Timur. Awalnya ia mengaku sempat takut dengan respons pasien. Karena, sebagai dokter yang memberikan jasa profesional, yang dibutuhkan adalah kepercayaan pasien. “Awalnya saya khawatir mereka tak mau lagi datang berobat pada saya. Tetapi, justru support itu datang dari pasien. Mereka sering berkirim kabar menantikan kedatangan saya dan itu membuat saya yakin kedepannya mereka masih menggunakan tenaga saya untuk menolong mereka,” ujarnya seraya mengatakan kalau sudah pensiun, ingin pulang ke Bali. –Inten Indrawati/Ngurah Budi


8

BUNDA & ANANDA

17 - 23 Februari 2014

Jangan Bawa Anak Sehat Besuk ke Rumah Sakit

17 - 23 Februari 2014

LKP Agung Gelar 30 Roadshow Tata Rias Diskon Kursus 50%

Ketika Bu Dewi sakit dan harus opname di rumah sakit, dua buah hatinya tak mau diam di rumah. Mereka memilih ikut ke rumah sakit. Selama tiga hari, keduanya berada di lingkungan rumah sakit. “Saya sudah melarang mereka untuk ke rumah sakit dan meminta mereka tetap di rumah bersama neneknya, tetapi mereka tidak mau. Satu sisi saya tenang karena bisa mengawasi mereka tetapi di sisi lain saya khawatir mereka tertular penyakit,” tutur Bu Dewi.

Ilustrasi

W

alaupun rumah sakit sudah membuat aturan, anak yang sehat sebaiknya tidak diajak membesuk pasien, tetap saja banyak yang mengajak anak sehat ke rumah sakit. Kadangkala, pihak rumah sakit menegur orangtua atau keluarga yang mengajak a n a k kecil ke rumah sakit. “Ke rumah sakit bukan untuk piknik atau jalanjalan

tetapi menengok orang sakit”. Kadangkala si anak yang ngotot ingin ikut ke rumah sakit. Padahal, rumah sakit sudah mewanti-wanti dengan memasang pengumuman, anak yang sehat sebaiknya tidak diajak ke rumah sakit. “Saya punya kemenakan yang ngotot ikut ke rumah sakit padahal dia sudah baca larangan itu. Masalahnya, saat yang bersamaan ada anak kecil juga ikut masuk rumah sakit. Kenapa dia boleh, saya tidak. Saya jelaskan, mungkin si anak itu sakit sehingga harus masuk rumah sakit. Kemenakan saya t i d a k p e rcaya. Saya jelaskan lagi, di rumah sakit banyak kuman dan virus. Kekebalan yang dimiliki anak kecil belum

mampu mengatasinya. Dia ngotot mau masuk, akhirnya saya berikan tetapi hanya sebentar,” ujar Pak Hari. Pengalaman Bu Dewi dan Pak Hari mungkin dialami juga oleh orangtua yang lainnya. Ada dilema ketika mengizinkan atau tidak, anak yang sehat ikut besuk ke rumah sakit. Apalagi jika yang ingin ditengok adalah orang terdekat anak itu. Bisa jadi kedatangan si anak akan menambah semangat yang sakit sehingga cepat sembuh. Tetapi, siapa yang bisa menjamin si anak tidak akan terkena virus atau kuman saat berada di tempat orang sakit. “Anak di bawah usia 12 tahun yang sehat tidak diperbolehkan masuk ke rumah sakit. Ini berlaku di semua rumah sakit. Ada kuman nosokomial yang harus dihindari. Kuman ini bias menular melalui percikan saat batuk, pilek, atau bersin. Ada juga kuman yang beterbangan di udara, seperti kuman TBC. Kalau ini terhirup oleh anak, ia akan sakit,” kata Prof. Dr. Hendra Santosa, SpA(K). Dokter yang praktik di RSIA

“Anak di bawah usia 12 tahun yang sehat tidak diperbolehkan masuk ke rumah sakit. Ini berlaku di semua rumah sakit. Ada kuman nosokomial yang harus dihindari. Kuman ini bias menular melalui percikan saat batuk, pilek, atau bersin. Ada juga kuman yang beterbangan di udara, seperti kuman TBC. Kalau ini terhirup oleh anak, ia akan sakit”

Puri Bunda ini menambahkan, selain kuman, bakteri, dan virus yang ada di rumah sakit, masalah kekebalan anak juga perlu diperhatikan. Anak memiliki dua kekebalan, kekebalan alamiah (ada dalam tubuh) dan kekebalan yang didapat. Kekebalan alamiah akan matang seiringan pertumbuhan usia. Jika belum matang, fungsinya tidak akan maksimal. Kalau anak yang kekebalannya belum maksimal lalu terpapar virus, kuman, atau bakteri, tentu ia mudah sakit. “Bayi di dalam kan­ dungan terlindungi tetapi se­telah lahir, ia mulai mendapat virus, kuman, bakteri. Sebagai solusi, sembari menunggu kekebalan alami itu berfungsi maksimal, diberikanlah vaksinasi. Kuman hidup dilemahkan atau dimatikan supaya ada respons dari tubuh untuk membentuk antibodi,” ujar dokter kelahiran Surabaya, 6 Oktober 1939 ini. Karena faktor lingkungan serta kekebalan inilah, anak kecil menjadi rentan dengan penyakit jika ikut ke rumah sakit. Walaupun pasien yang berada di rumah sakit penyakitnya tidak menular, tetapi tetap saja lingkungan sekitar yang harus diwaspadai. “Virus, kuman, bakteri itu banyak dan sangat kecil, tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Melihatnya harus dengan mikroskop. Paling aman, kalau anak sehat jangan ikut ke rumah sakit. Kalau terpapar kuman nosokomial, pengobatan menjadi lebih sulit dan lama,” ujar dokter yang pernah mengikuti pendidikan alergi imunologi di Sydney dan Perth, Australia tahun 1981 dan meraih gelar profesor tahun 2000 ini. Ia juga memperhatikan ketika

Prof Hendra

orang menengok pasien yang baru melahirkan. Saat ini rumah sakit mengembangkan rooming in artinya ibu dan bayinya ditempatkan dalam satu kamar. Tujuannya ibu bisa langsung menyusui. Pemerintah pun sudah menegaskan bayi yang baru lahir sesegera mungkin mendapatkan ASI karena ASI adalah nutrisi terbaik bagi bayi. Kendalanya, ketika di dalam kamar, banyak pembesuk, bayi tidak bisa leluasa menyusui. Suasana ramai kadang membuat bayi tidak nyaman. Sang ibu pun risih jika menyusui dihadapan orang banyak. “Pembesuk kan tidak semua sehat, mungkin ada yang sakit. Ini harus diperhatikan juga. Daya tahan bayi belum maksimal walaupun sudah memiliki kekebalan pasif yang didapat dari ibunya. Bayi bisa ikut tertular,” ujar Prof. Hendra. Ia pun menyarankan jika merasa sakit sebaiknya menunda untuk melihat bayi yang baru lahir. Bagi yang sehat, diingatkan untuk membersihkan tangan terlebih dahulu sebelum memegang bayi. “Di depan kamar perawatan biasanya sudah tersedia cairan antiseptik yang berguna untuk mengurangi kuman yang ada di tangan. Kadang personal hygiene ini diabaikan, padahal prinsip dalam dunia kesehatan adalah lebih baik mencegah daripada mengobati,” ujarnya.

17

AA Ayu Ketut Agung

P

agi itu, Jumat (14/2) Salon Agung dipenuhi gadis-gadis cantik berusia belia. Ditangani langsung Bu Agung dan dua tenaga profesonal lainnya, 30 anak SMAN 3 Denpasar itu tampak cantik dalam balutan busana tengkuluk lelunakan.Para murid tersebut tampak puas dengan hasil akhir riasan Salon Agung ini. Dua siswi kelas XI IPA, Ni Ketut Ria­ningsih Waringin dan Ni Komang Putri Lusiana Dewi menga­ takan ini kali pertama mereka menjadi pagar ayu dan dirias oleh Salon Agung. “Dulu kami pernah dirias salon lain berbusana tengkuluk lelunakan, tetapi hasilnya kurang bagus,” ujar Rianingsih. “Hasil matengkuluk lelunakan di

sini membuat kami semakin cantik dan jelita, dan sangat jelas terlihat bahwa kami gadis Bali,” imbuh Putri Lusiana. Dalam rang­­ ka penjaringan dan penyaringan calon tuan rumah Pon XX tahun 2020 oleh KONI p u s a t , SMAN 3 Denpasar dipercaya sebagai pagar ayu untuk menyambut panitia PON pusat. “Kami, Salon Agung, dipercaya Disdikpora Provinsi Bali untuk berpartisipasi merias tengkuluk lelunakan para penyambut tamu dari pusat,” ujar Dra. AA Ayu Ketut Agung, M.M., pemilik Salon Agung. Bu Agung, sapaan akrabnya mengatakan, busana tengkuluk lelunakan yang menjadi busana khas Kota Denpasar ini sudah seharusnya lebih disosialisasikan lagi penggunaannya. Cara pengerjaannya yang simpel dan mudah dipadupadankan dengan busana lain, termasuk busana muslim, sangat memungkin­ kan untuk menjadikan busana tengkuluk lelunakan ini sebagai ikon Bali. “Saya masih berharap busana tengkuluk lelunakan ini bisa menjadi ikon Bali ke depannya. Artinya, tiap wisatawan yang datang ke Bali merasa wajib menggunakan busana ini dan mendokumentasikannya sebagai bukti bahwa mereka benar-benar

sudah ke Bali,” ujar Bu Agung. Busana tengkuluk lelunakan hanyalah satu dari sekian banyak kekayaan budaya dan adat di Bali yang harus tetap dijaga dan dilestarikan. Karena itu pula, Bu Agung yang terus berkomitmen melestarikan budaya Bali ini selalu memasukkannya dalam tiap aktivitas berkaryanya. Sebut saja dalam tiap roadshow tata rias bekerjasama dengan Viva Cosmetic®. Selain mengajarkan etika berbusana adat Bali yang baik dan benar, memberikan pelatihan tata rias untuk diri-sendiri, serta membuat dan memasang sanggul Bali dan modern, Bu Agung juga mengajarkan bagaimana trik praktis membuat dan memasang tengkuluk lelunakan. ­­Semuanya ini dikatakan Bu Agung sebagai bentuk swadarmaning geginan, yakni membagi ilmu atau keterampilan yang ia miliki untuk orang banyak, khususnya perempuan Bali. Tujuannya, selain sebagai bentuk pelestarian budaya, juga menjadi nilai tambah bagi perempuan Bali untuk bisa mandiri. Dalam artian, mere­k a yang memiliki keterampilan khususnya di bidang tata rias, bisa mengambil peluang kerja secara mandiri tanpa harus bergantung pada pihak lain. Apalagi Bali sangat kental dengan kegiatan adat dan kegiatan keagamaan lainnya yang mengharuskannya menggunakan tata rias dan busana adat Bali. Sehingga, berkecimpung dalam tata rias menjadi profesi yang sangat menjanjikan. Belum lagi ketertarikan para wisatawan domestik maupun asing yang makin banyak ingin­ mendokumentasikan dirinya memakai busana adat Bali, baik untuk prewedding atau kegiatan lainnya. “Dengan menguasai keterampilan tata rias, minimal perempuan Bali yang biasanya harus pergi

ke salon hanya untuk berias dan memasang sanggul, bisa melakukannya sen­diri. Syukurnya lagi jika keterampil­an ini bisa berkembang menjadi ladang bisnis, yang tentunya bisa membantu menopang perekonomian keluarga, dan menjadikan perempuan Bali mandiri,” ujar Bu Agung. ROADSHOW TATA RIAS Sudah beberapa tahun ter­ akhir ini Bu Agung, Pimpinan Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Agung bekerjasama de­ngan Viva Cosmetic® menggelar roadshow tata rias ke seluruh pelosok Bali. Bu Agung berterima­kasih di tahun 2014 ini masih diberikan kepercayaan oleh Viva Cosmetic® untuk melanjutkan kembali roadshow-roadshow tersebut. Sepanjang tahun 2014 ini, sudah dijadwalkan ada 30 kegiatan serupa. Minggu ini (16/2), roadshow tata rias dilaksanakan di Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas), Denpasar. Berikutnya, (21/2) direncanakan digelar di Kabupaten Badung. Sebelumnya itu, sudah terlaksana lima kali kegiatan di awal tahun 2014 ini. Di antaranya, roadshow tata rias di Banjar Sema, Desa Pering, Gianyar, dan di Banjar Peninjoan, Batuan, Sukawati, Gianyar yang disinergikan dalam KKN Undiknas Denpasar. Berikutnya, be­kerjasama dengan WHDI Provinsi Bali bertempat di Wantilan Bali TV (26/1); di Balai Budaya Klungkung bekerjasama dengan TP PKK Klungkung dan dibuka langsung Bupati Klungkung, diikuti 550 peserta (7/2); dan Poltekes Jurusan Gizi (6/2). Menariknya, dalam tiap pe­ latih­a n tata rias yang digelar, se­t iap peserta mendapatkan cinderamata dan buku panduan tata rias se­hingga lebih memudahkan diri untuk belajar. “Kami membuka tangan bagi organisasi

wanita, ins­tansi pemerintah maupun swasta, yang berkeinginan mendapatkan pelatihan tata rias tanpa dipungut biaya, silakan menghubungi kami, dengan syarat peserta minimal 100 orang,” ujar Bu Agung. DISKON KURSUS 50% Bu Agung juga memberikan kesempatan luas kepada masyarakat umum untuk meng­ ikuti kursus reguler di LKP Agung dengan memberikan diskon 50%. Materi yang diajarkan mencakup Tata Kecantikan Kulit (perawatan muka, make up wajah, perawat­ an kaki dan tangan, perawatan tubuh), Tata Kecantikan Rambut (potong, kriting, blow, set, sanggu, creambath, pelurusan, dan cat rambut), Tata Rias Pe­ ngantin Bali (payas nista, madya, utama, modifikasi, tengkuluk lelunakan). LKP Agung memiliki tempat belajar yang memadai dan kondusif di dua tempat di Denpasar, dengan instruktur yang mempunyai latar belakang keahlian dan pengalaman legal yang tentunya telah mengantongi sertifikat kompetensi di bidang tata kecantikan. Sampai saat ini LKP Agung telah menamatkan 7.600 siswa didiknya yang sudah tersebar di Bali dan Nusantara. Disediakan pula beasiswa kursus gratis bagi mereka yang kurang mampu dan putus sekolah, yang benar-benar berminat di bidang tata kecantikan. Syarat dan ketentuan berlaku. Masyarakat yang berminat, silakan mendaftar di Sekretariat LKP Agung, Jalan Anggrek No. 12 Kreneng, Denpasar. Telepon 0361 233850, 081 1393602, faks. 0361 247153. Cabang Tohpati, Jalan WR. Supratman No. 303 A, Tohpati, Denpasar. Email: lkp_agung@yahoo.com. website: www.salonagung.com. –Inten Indrawati

–Ngurah Budi/Wirati Astiti

Bu Agung (paling kiri) bersama 30 siswi SMAN 3 Denpasar dalam balutan busana tengkuluk lelunakan usai dirias


PELESIR

16

17 - 23 Februari 2014

Jantan atau Betina Tergantung Suhu Siapa yang tak kenal penyu? ­Binatang yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di laut ini secara alamiah memang hidup dan berkembang biak dalam kondisi yang penuh tantangan. Mulai dari gangguan alam dan binatang pemangsa saat ­penetasan telur penyu.

Made K ­ arsa

D

i Indonesia, ditemukan enam spesies penyu. Ada tiga spesies yang hidup di Bali. Tokoh berkesempatan berjalanjalan ke Pusat Pendidikan dan Konservasi Penyu di Pulau Serangan, Sabtu, awal Februari 2014. Tak sulit mencari tempat ini. Ketika memasuki Desa

Serang­an dan melewati Pura Sakenan, Anda terus saja meng­ ikuti jalan yang membentang ke depan. Berbelok ke kiri, Anda sudah menemukan tempat ini. Namun, jika kebingungan, silakan bertanya kepada warga yang siap mengantar Anda mencapai tempat ini. Anda akan menemui satu plang besar di depan pintu masuk bertuliskan Pusat Pendidikan dan Konservasi Penyu Desa Adat Serangan. Dipandu Made ­Karsa, salah seo r a n g penjaga di sana, kami me­ ngobrol seputar penetas­ an penyu hingga siap dibawa ke laut. Luas keseluruh­ an areal ini sekitar 80 are.

Tempat penetasan telur penyu

Kolam untuk penyu besar

17 - 23 Februari 2014

DARA

Gara-gara Komik

9

“Watashi no namae wa Mia desu Tabanan kara kimashita Juunana sai desu Duzo yoroshiku Onegaishimasu”

K

Patung penyu besar se­bagai ikon tempat konservasi

Untuk konser­ vasi penyu hanya 35 are dan sisa­ nya untuk ­areal bumi perkemahan. Pepohon­an besar yang tumbuh di areal ini memberikan suasana rindang. Satu patung penyu besar se­bagai ikon tempat ini dipajang di halaman. Menurut Made Karsa, anak-anak sekolah sering datang ke konservasi penyu. Biasanya mereka belajar penetasan penyu. Selain itu, mahasiswa PKL dari luar Bali kerap ber­datangan. Sehari-hari konservasi ini ramai dikunjungi turis asing dari Eropa. Pada hari libur, banyak wisatawan lokal berkunjung. Pertama, Made Karsa me­ nun­juk­­kan areal pengeraman telur penyu. Bentuk telur pe-

nyu ini juga bermacam-macam, ada yang lonjong seperti telur ayam atau itik, ada pula yang bulat seperti bola. Sedang untuk warnanya adalah putih bersih. Di Bali, biasanya musim bertelur pada bulan Mei sampai September. Setelah lebih kurang 45 hari, telur-telur ini menetas. Menurutnya, keberhasilan penetasan telur penyu ini berkisar 80 persen. Kendalanya, kondisi lembab dan suhu. Suhu yang pa­ ling baik adalah saat musim panas. Telur ini me­n etas secara alami dalam media pasir. Suhu juga mempe­ ngaruhi jenis kelamin. “Suhu rendah mempengaruhi kelahiran penyu jantan, sementara penyu bentina lahir pada suhu panas,” ujarnya. Setelah telur

Kolam tukik

penyu menetas menjadi tukik, mereka dipindahkan ke satu kolam. Ada 10 kolam, yang isinya penyu dalam berbagai usia. Mulai sebulan, tiga bulan, setahun, bahkan tahunan. Tiap hari tukik ini diberi makan pagi dan sore hari. Ada tiga jenis penyu yang ada di konservasi ini yakni penyu hijau, sisik, dan lekang. Penyu lekang dalam habitatnya makan ubur-ubur, penyu hijau makan rumput laut, dan penyu sisik makan terumbu karang yang lembut, kepiting, atau kerang. Sementara di tempat konservasi ini, penyu diberikan makan ikan tongkol dan lemuru. “Pemberian makan juga tidak langsung diberikan tapi dicari dagingnya yang lembut. Satu kilogram ikan, biasanya hanya mendapatkan ¼ kilogram da­ging. Satu ekor penyu usia sebulan satu hari makan sebanyak 100 gram. Penyu besar malah b i s a mencapai 1 k g ,” tutur Karsa. S e lain pe­nyu yang diternakkan, ada juga penyu di konservasi ini pemberian turis asing. “Ada penyu yang terdampar dibawa ke sini, untuk dirawat. Kalau sudah kuat kami kembalikan lagi ke laut,” ucapnya. Setelah tukik berusia tiga bulan, mereka disebar ke laut dan kembali ke habitatnya. Sementara, ada beberapa yang dibesarkan di tempat konservasi untuk keperluan pameran dan edukasi bagi anak sekolah. –Wirati Astiti/Ngurah Budi

alimat dalam bahasa Jepang meluncur begitu lancar dari bibir Ni Made Mia Septiarini Putri. “Itu artinya per­kenalan saya dalam bahasa Jepang,” ujar siswi Kelas XII Jurusan Bahasa SMAN 5 Denpasar ini. Dara usia 17 tahun ini menuturkan, mendengar Jepang, membuatnya begitu terpesona. Uniknya, semua itu lantaran awalnya ia suka membaca komik manga. “Saya suka membaca komik manga sejak SMP. Suka juga nonton animasi Jepang. Lama-kelamaan, saya tertarik belajar bahasa Jepang. Apalagi melihat hurufnya unik sekali,” kata Mia, begitu gadis berkulit putih ini disapa. Selain suka komik Naruto, Mia paling suka menonton animasi Naruto dan Bleach. Untuk penyanyi Jepang, dia memfavoritkan girl band AKB 48. “Aksen orang Jepang unik. Saya jadi ingin juga belajar menyanyi Jepang,” tuturnya. Menurut Mia, anggapan komik hanya untuk anak kecil dan memberikan efek buruk ditepisnya “Tergantung dari kita, bagaimana cara memanfaatkan komik menjadi hal positif. Saya biasanya membaca komik kalau pas hari Sabtu, Minggu atau hari libur. Ke sekolah pun saya sering membawa komik. Tapi saya baca saat menunggu pergantian waktu belajar. Kalau lagi sibuk ba­ nyak tugas komiknya saya simpan dulu,” kata Mia. Justru, menurut Mia, komik banyak memberi nilai positif bagi­ nya. “Dalam cerita komik banyak yang memberikan inspirasi dan motivasi. Tokoh utamanya se­ ring menyebut jangan menyerah dalam meraih apa pun. Semua usaha harus kita keluarkan untuk mencapai tujuan,” kata Mia yang mengoleksi 200 komik manga dalam bahasa Indonesia dan tiga komik dalam bahasa Jepang ini. Setelah tamat SMP Ganesha Denpasar, Mia melanjutkan ke SMAN 5 Denpasar. Hobi membaca komik Jepang makin menjadi-jadi. Apalagi, saat kelas X, ia mendapat pelajaran bahasa Jepang selama dua jam pelajaran. Mia makin ter­tantang untuk belajar bahasa Jepang. Mia mencoba mengikuti berbagai lomba untuk mengasah keterampilannya berbahasa Jepang. Ia mencoba mengikuti lomba story telling dalam bahasa Jepang. Namun, usaha Mia gagal. Ia tak berkecil hati. “Waktu itu saya berpikir, mungkin kemampuan saya belum apa-apa sehingga saya harus terus belajar. Apalagi, dalam komik sering saya baca, kegagalan merupakan kesuksesan yang tertunda. Saya tak boleh patah

semangat,” kata Mia. Setelah naik ke kelas XI, Mia masuk di jurusan bahasa. Ia kembali mencoba peruntungannya ikut lomba berpidato dalam bahasa Jepang. Mia juga tertantang meng­ ikuti lomba menulis kalimat dalam bahasa Jepang. Namun, usaha Mia kembali gagal. “Saya sempat kecewa karena berkali-kali usaha saya gagal. Namun, berkat bimbingan guru Pembina, saya tak patah semangat. Saya terus meningkat­ kan keterampilan saya,” ujar peraih Juara I di kelas Bahasa ini. Tak berselang lama, bintang terang menyinari Mia. Ia berhasil dalam lomba berikutnya, yakni mendapatkan juara I Lomba pidato dalam bahasa Jepang tingkat SMA/ SMK se-Kota Denpasar. Dibarengi prestasi berikutnya Juara harapan I Tingkat Provinsi Bali. Prestasi ini tak membuatnya berhenti me­ngasah diri. Ketika naik kelas XII, Mia akhirnya mampu meraih prestasi yang lebih tinggi, Juara I Lomba Pidato Bahasa Jepang Tingkat Kota Denpasar, Juara I Tingkat Provinsi Bali, dan Juara II tingkat Nasional. Prestasi Mia terbilang hebat, bersama tiga juara nasional lainnya, peserta dari Aceh-Sumut, Jatim, dan Jawa Barat, ia akan berangkat ke Jepang bulan Juni mendatang. Usaha Mia tak mudah mendapatkan prestasi itu. Waktu dua bulan, ia persiapkan untuk lomba. Judul pidatonya “Daisuki na Manga”. Judul itu berkisah tentang dirinya yang sangat menyukai komik ­manga. Menurut Mia, ia menceritakan tentang kesukaannya pada komik manga apa adanya. Namun, paling tidak, ia harus mengetahui komik manga itu ada dua jenis, manga perempuan dan laki-laki. Menurut Mia, ia lebih suka komik manga laki-laki karena lebih ba­ nyak kisah motivasi dan perjuangan mengejar kesuksesan. Bukan hanya jago menuliskan, ia juga harus pintar mengucapkannya. “Lafalnya harus bagus dan hapal isi serta mengerti dengan baik apa tema yang ingin disampaikan. Karena setelah berpidato, juri akan bertanya mengenai seputar tema yang dibawakan,” kata Mia. Kesempatan mengunjungi Negeri Sakura tentu membuat Mia bahagia karena cita-citanya untuk bisa datang langsung ke Jepang tercapai. Saya ingin belajar budaya Jepang yang sangat unik seperti ­ritual minum teh dan belajar kaligrafi Jepang. Pokoknya banyak tempat yang ingin saya kunjungi terutama pusat penjualan komik manga dan animasi,” tutur Mia. Ada dua hadiah yang bisa dipilih empat juara nasional yakni pergi ke Tokyo mewakili Indonesia

Ni Made Mia Septiarini Putri bersama dua guru pembina Bahasa Jepang dan Kepala SMAN 5 Denpasar Drs. Nyoman Winata, M.Hum. (kanan)

dalam ajang kontes pidato yang diikuti peserta dari seluruh dunia, dan pergi ke Osaka mengunjungi beberapa SMA di sana. Mia berharap, mendapatkan kesempatan untuk pergi ke Tokyo dan mewakili Indonesia di ajang yang paling bergengsi. “Pengalam­ an yang paling luar biasa tentunya,” kata Mia. Dua guru pembina Mia, Made Indah Sarita Dewi, S.S. dan IA Widiastuti,S.S mengatakan, untuk memotivasi siswa belajar bahasa Jepang ada beberapa teknik yang dilakukan. “Kami mengajar dengan cara bermain. Mereka belajar ­saling mengajari teman. Selain itu, kami tak pernah memaksakan siswa kalau setiap lomba mereka harus menang, tapi tetap lakukan yang terbaik,” ujar Indah Sarita Dewi dan Widiastuti kompak. Teori memang perlu, tapi beberapa trik dilakukan agar siswa tak bosan. “Kami biasanya menyelipkan permainan tebak-tebakan kalimat. Termasuk kadang memutar video menyaksikan bagaimana orang Jepang berkomunikasi. Biar lebih seru, kami memutar lagu Jepang. Liriknya kami hapus beberapa kalimat. Siswa yang harus mengisinya,” kata Indah Sarita Dewi. Untuk persiapan Mia saat lomba, dua guru pembinanya memberikan banyak masukan seper­ti aturan dalam membuat naskah sendiri, tema, pesan yang ingin disampaikan dan teknik pelafalan, termasuk pemahaman dan teknik wawancara dengan juri. Menurut Indah Sarita Dewi, Mia tergolong siswa yang cerdas. Tak lama mengarahkan Mia, namun, ia sudah mengerti dengan baik. “Mungkin karena Mia sudah hobi baca komik manga sejak dulu jadi dia mengerti sekali apa yang ingin dia sampaikan,” kata guru honorer Bahasa Jepang ini. Indah Sarita Dewi menambah-

kan, di komik manga sering digunakan bahasa gaul. “Kami hanya mengajarkan bahasa yang lebih sopan untuk menjawab pertanyaan juri,” ucapnya. Namun, menurut Widiastuti, siswa diberikan target agar mereka menjadi lebih tertantang untuk belajar lebih giat. Kepala SMAN 5 Denpasar Drs. Nyoman Winata, M.Hum., menyambut baik prestasi yang diraih anak didiknya. “Sekolah memiliki visi terbuka dan berbagi. Artinya SMAN 5 terbuka bagi semua siswa, guru termasuk pemangku kepen­ tingan yang memberi masukan yang baik bagi sekolah. Kami juga terbuka untuk mengembangkan segala kegiatan civitas akademika. Kalau ingin berkembang, kami dukung semampunya. Apakah guru ingin berkreasi maksimal, silakan. Guru ke luar negeri karena prestasi, kami dukung. Potensi sekecil apapun, untuk mengembangkan diri kami beri kesempat­an, dalam bidang apapun

kami dukung dengan klub-klub. Kami wadahi dalam ekstrakurikuler. Seperti prestasi yang sudah diraih Mia. Ia sudah membawa nama harum diri sendiri, keluarga, kelas, sekolah, Kota Denpasar, Pulau Bali, termasuk Indonesia, kalau sampai Mia nanti berlaga di Tokyo. Sekolah memberi apreasiasi setinggi-tinggi kepada semua yang berprestasi,” kata lelaki yang pernah meraih predikat Kepala Sekolah Ber­ prestasi Tingkat Nasional ini. Hanya saja, ia masih ada ganjalan dan harapan kepada pemerintah. Masih banyak guru honor yang perlu diperhatikan nasibnya. “Guruguru ini sudah mendidik siswa dengan baik dan mampu meraih prestasi. Semoga pemerintah dapat memberikan apreasiasi dengan mengangkat mereka menjadi guru tetap, seperti guru pembina bahasa Jepang di SMAN 5 Denpasar,” kata Winata. -Wirati Astiti/Inten Indrawati


BUGAR

10

17 - 23 Februari 2014

Waspadai Nyeri Lutut

Pengapuran sendi lutut lebih sering dialami wanita yang berusia lanjut dengan berat badan yang berlebih. Pengapuran sendi merupakan penyebab utama nyeri pada sendi dan bukan karena penyakit reumatik atau asam urat. Pada penyakit reumatik terjadi proses peradangan lapisan dalam kapsul/pembungkus sendi sehingga sendi membengkak dan terasa nyeri.

M

enurut dokter spesialis bedah tulang/ortho paedi traumatologi dr. Cokorda Gde Oka Dharmayuda Sp.OT(K), penyakit reumatik cenderung menyerang sendi-sendi yang kecil seperti sendi pergelangan tangan atau jari jari tangan, menyerang secara simetris (sisi kanan dan sisi kiri) dan mengenai lebih dari tiga sendi secara bersamaan. Pengapuran sendi pada umumnya mengenai satu sendi saja tanpa disertai dengan nyeri pada sendi yang lain. Konsultan lutut, pinggul, dan rekontruksi ini mengatakan, penyebab penipisan lapisan tulang rawan sendi pada pengapuran sendi atau osteoarthritis tidak diketahui secara pasti dan dianggap sebagai proses penuaan sama seperti proses penuaan yang

terjadi pada tubuh lainnya seperti kulit menjadi keriput dan rambut yang memutih. Pada tulang rawan sendi, proses penuaan ditandai dengan penipisan dan kemunduran fungsi tulang rawan sebagai pelapis ujung tulang pembentuk sendi. Sebagian orang tua akan mengalami 80% pengapuran sendi dengan derajat yang berbeda beda. Diduga proses penuaan ini dipandang sebagai akibat dari beberapa faktor risiko. Pertama, usia tua. Pada wanita usia diatas 55 tahun akan mengalami pengapuran tulang sebesar 80%. Kedua, kelebihan berat badan. Sendi-sendi pada tungkai bawah, khususnya lutut dan pinggul setiap hari menerima beban yang cukup berat. Pada saat berdiri kedua sendi ini menerima beban dua kali berat badan kita. Pada saat berdiri dengan satu kaki beban yang diterima empat kali berat badan. Karena itu, berat badan yang melebihi berat badan ideal akan menambah beban berat yang diterima sendi lutut dan pinggul sehari hari. Kelebihan berat badan ini merupakan faktor risiko yang penting bagi timbulnya pengapuran sendi khususnya sendi lutut dan pinggul. Ketiga, aktivitas yang berlebihan seperti sering meloncat dan Tampak kedua lutut sudah bengkok naik turun tangga

Sehat ala Ade Rai

Kirim surat Anda ke Redaksi Tokoh dan cantumkan “Sehat ala Ade Rai” di amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh.co.id Rubrik ini diasuh Ade Rai.

Jurus 4: Jagalah Kesehatan Pencernaan Ada pendapat yang menyarankan bahwa banyak penyakit populer yang diderita manusia (seperti: migrain, mudah lelah, darah tinggi, malnutrisi, ambeien bahkan diabetes, kanker usus dan stroke) diawali oleh organ pencernaan yang tidak sehat. Pendapat tersebut sangat masuk akal, karena pada sistem pencernaan manusia melibatkan berbagai faktor yang berhubungan langsung dengan penyakit-penyakit yang disebut di atas. Sebut saja sistem metabolisme tubuh yang berhubungan erat dengan insulin. Juga organ usus yang sangat integral peranannya dalam penyerapan nutrisi maupun sistem pembuangan sisa-sisa metabolisme. Bahkan dalam suatu penelitian,

jelas akan menambah beban yang diterima sendi lutut dan pinggul sehingga dapat menyebabkan proses penipisan tulang rawan sendi menjadi lebih cepat dibandingkan dengan orang yang memiliki aktikvitas normal. Keempat, menderita kelemahan otot paha. Otot otot paha dan ligamen berfungsi menjaga stabilitas sendi. Apabila terjadi kelemahan pada otot otot paha atau cedera pada ligamen akan menyebabkan sendi menjadi tidak stabil dan goyah yang akan menyebabkan gesekan yang lebih sering dibanding sendi yang stabil sehingga lapisan tulang rawan sendi menjadi lebih cepat rusak. Kelima, trauma/pernah mengalami patah tulang sekitar sendi. Patah tulang di sekitar sendi yang tidak ditangani secara tepat seperti dibawa ke dukun patah tulang atau patah tulang yang berat yang mengenai sendi akan dapat menyebabkan kerusakan pada lapisan tulang rawan sendi sehingga mempercepat terjadinya osteoarthritis. Pada pengapuran sendi yang disebabkan proses penuaan akan terjadi kehilangan dari pada matrix atau proteoglikan yang merupakan komponen penting dalam tulang sehingga akan menyebabkan tulang rawan menjadi kehilangan kekenyalannya. Disamping itu juga, akan terjadi kehilangan sejumlah air sehingga tulang rawan sendi menjadi kering dan mudah pecah, mirip seperti tanah di sawah yang apabila tidak mendapatkan air tanahnya menjadi mudah pecah atau terbelah dan akan lepas ke dalam sendi saat sendi bergesakan pada waktu berjalan. Oleh karena sendi dibungkus oleh kapsul sendi, pecahan tulang rawan sendi ini akan terperangkap

di dalam sendi sebagai benda asing sehingga dr. Cokorda Gde Oka Dharmayuda sendi akan beruIa menyebutkan, pengobatan saha untuk melawan benda asing untuk pengapuran sendi berbedaini sehingga menimbulkan bengbeda tergantung stadiumnya. kak dan cairan dalam sendi dan nyeri. Cairan ini berbeda dengan Pada stadium ringan dilakukan cairan normal yang ada di dalam tanpa pembedahan sedangkan sendi, di mana cairan ini berwarna pada stadium berat dilakukan kekuningan dan apabila jumlah pembedahan. Tujuan pengobatan pada banyak sering menyebabkan lutut pengapuran sendi, memberikan kaku. “Adanya rasa nyeri ini teruta- pengertian pengapuran sendi ma yang timbul di pagi hari setelah merupakan proses yang umum beraktivitas, akan menyebabkan dialami oleh orang tua, dan penotot paha akan berkontraksi se- gapuran sendi ini tidak membahingga lama lama otot otot paha hayakan jiwa pasien. Menghilanmenjadi memendek dan timbul gkan rasa nyeri dan meningkatkan rasa kaku pada sendi lutut atau kualitas hidup sehingga penderita dapat hidup bebas dari nyeri. pinggul,” jelas dr. Cok. Gejala gejala yang ditimbulkan Mengurangi pembengkakan yang pengapuran sendi bervariasi ter- terjadi. Mencegah pengapuran gantung derajat berat ringannya sendi menjadi lebih berat dari pengapuran yang dialami. Pada stadium ringan menjadi stadium stadium awal sering berupa nyeri berat. Mencegah kelainan bentuk pada lutut terutama setelah be- yang mungkin terjadi dan mengraktivitas seperti sehabis lari, naik oreksi kelainan bentuk tungkai turun tangga dan nyeri berkurang apabila sudah terjadi.Tetap aktif saat istirahat. Sering terdengar melakukan aktivitas sehari hari. bunyi “krek-krek pada saat sendi Menjaga kekuatan otot otot lutut di gerakan. Disamping itu sekitar paha. Dokter Cok menegaskan, sering juga mengalami kekakuan pada sendi setelah bangun tidur di seperti halnya proses penuaan, pagi hari atau setelah duduk lama. pengapuran sendi tidak dapat diceCairan yang berlebihan pada sendi gah. Namun, bagi yang mempunyai akan menimbulkan bengkak pada faktor risiko untuk terjadinya pesendi dimana cairan yang berlebi- nyakit ini, dapat melakukan modihan ini akan memperberat nyeri fikasi gaya hidup dengan menurun berat badan, menjaga sendi tetap yang terjadi. Pada stadium yang lebih be- sehat, berolahraga secara teratur rat, rasa sakit yang dialami tidak untuk menjaga kekuatan otot hanya saat beraktivitas saja tetapi otot sekitar lutut. “Memperoleh juga dirasakan saat beristirahat, pengobatan yang benar pada yang sendi juga menjadi lebih kaku menderita pengapuran sendi stadisehingga penderita tidak mampu um ringan juga sangat bermanfaat lagi untuk berjongkok. Sering kita memperlambat menjadi stadium jumpai pada stadium yang berat berat,” ujarnya. –Wirati Astiti/Ngurah Budi kaki menjadi bentuk huruf O atau bentuk huruf X.

Jurus Meningkatkan Daya Tahan Tubuh (4) ditemukan bahwa jumlah kotoran yang menumpuk dan mengendap pada dinding usus bisa mencapai seberat 3 kilogram! Sebenarnya untuk menjaga kesehatan pencernaan adalah hal yang gampang-gampang susah. Artinya, mudah apabila sudah menjadi kebiasaan namun sulit apabila tidak dijalankan tanpa kesadaran yang penuh. Untuk itu, fitnessmania bisa memulainya dengan beberapa pointer berikut ini: Pastikan konsumsi serat minimal 25 gram per hari dengan konsumsi sayur-sayuran dan buah. Bisa pula dengan suplementasi serat dari bahan psyllium husk atau agar-agar rumput laut. Konsumsi setidaknya 16 gelas air minum per hari. Pastikan untuk makan dengan tempo yang sedang, terutama saat mengunyah. Proses mengunyah yang baik

bisa meringankan kerja peristaltik lambung hingga 50%. Konsumsi yoghurt atau suplemen prebiotik / probiotik untuk menjaga keseimbangan bakteri dalam usus. Konsumsi enzim pencernaan, terutama yang mengandung amilase, protease, lipase, papain, dan bromelain. Konsumsi vitamin B kompleks yang merupakan vitamin metabolisme. Cobalah beberapa pointer di atas. Akan lebih baik lagi apabila semuanya bisa dilakukan secara reguler setiap hari sebagai bagian baru dan penting dari kebiasaan hidup sehari-hari. Siapa tahu kualitas hidup fitnessmania menjadi lebih baik dengan menjalankan saran-saran di atas. Meskipun bukan merupakan suatu panduan wajib dan masih jauh dari lengkap, setidaknya jurus ini cukup pantas untuk dijadikan pertimbangan apabila kesehatan dan imunitas menjadi prioritas bagi fitnessmania.

STYLE

17 - 23 Februari 2014

15

Kebaya Endek Modifikasi Kebaya sebagai salah satu busana nasional, kini dibuat dengan beragam model dan modifikasi. Hal ini, membuat perempuan tampil semakin cantik dan anggun.

U

Rhea Cempaka

ntuk sebuah kebaya pula, desainer maupun pecinta mode kini sama-sama cermat memilih, baik untuk model, warna juga bahan yang sesuai. Seperti juga garapan dari Ni Wayan Ria Mariani, yang lebih dikenal dengan panggilan Rhea Cempaka. Untuk koleksinya kali ini, ia memilih bahan endek, tenun ikat khas Bali Rhea dalam menampilkan desain –desainnya, berhasil mengolah selembar kain endek menjadi sepotong kebaya dengan daya saing tersendiri, baik di pasar lokal maupun nasional. Baginya endek yang dikenal sebagai bahan bernilai seni tinggi ,

tidak pernah kehilangan daya tarik di tengah kemajuan teknologi saat ini. Terlebih, Rhea sebagai salah seorang pelaku industri endek menyadari semakin modern seseorang maka ia akan semakin mencintai dan menghargai hal yang mengandung nilai sejarah budaya yang kuat serta ada menjaga unsur tradisionalnya, seperti endek. Pekan ini, melalui tangan pemilik Butik Cempaka ini, dapat dilihat kain endek diciptakan menjadi busana model kebaya yang gaya. Persembahan kebaya endek inipun semakin indah dengan aplikasi bordir, ikat polos, brokat serta taburan payet. – Sri Ardhini/WiratiAstiti


14

J E L I TA

17 - 23 Februari 2014

Lebih “Pede” dengan Gigi Putih Senyum seseorang menjadi indah ketika giginya tidak ada masalah. Namun, jika terjadi perubahan warna pada gigi, tentu berpengaruh pada ­penampilannya.

M

enurut drg. Dewa Ayu Wulandari dari House of Dura di Renon, Denpasar, ada banyak penyebab warna gigi menjadi kusam, mulai dari merokok, minum kopi, teh, red wine, atau riwayat penggunaan obat-obatan tertentu. Lantas, jika ingin membuat gigi menjadi putih dan bersih kembali apa yang harus dilakukan? Menurut Dokter Dewa Ayu, untuk mengatasi persoalan gigi kusam, dapat dilakukan perawatan dengan teknik bleaching. Untuk melakukan tindakan ini diperlukan diagnosis dari tenaga yang berkompeten. Bleaching gigi adalah perawatan yang menjadikan gigi lebih putih dan cerah. Bahannya, hidrogen peroksida (H202), sodium perborat, kar­ bamid peroksida. “Semua bahan tersebut terbilang aman, kalau dilakukan dengan teknik yang benar dan di bawah pengawasan seorang dokter gigi,” kata Dokter Dewa Ayu. Namun, tidak semua orang giginya bisa dilakukan bleaching. Bagi yang giginya banyak ditambal, atau ada retak tidak disarankan bleaching begtu juga ibu hamil tidak disarankan melakukan perawatan ini. Termasuk untuk gigi yang berwarna abu kebirubiruan, yang menandakan gigi terkena tetrasiklin sudah parah, juga tidak dapat diputihkan, melainkan dilakukan perawatan labial veneering. Gigi yang dapat dilakukan bleaching diantaranya gigi yang tidak sensitif, tidak retak, tidak ada karies atau lubang dan orangnya tidak alergi terhadap bahan bleaching. Untuk menentukan gigi mana yang memerlukan perawatan, diperlukan diagnosis dari penyebab perubahan warna gigi, sehingga, dapat ditentukan metode bleaching apa yang diperlukan. Salah satu metode bleaching gigi, in office white­ ning, yaitu proses bleaching gigi yang dilakukan dokter gigi di klinik. “Di sini, gusi akan diisolasi memakai

drg. Dewa Ayu Wulandari

bahan pelindung sebelum kemudian bahan bleaching diaplikasikan pada gigi menggunakan sendok cetak. Umumnya perawatan in office akan diikuti perawatan home whitening untuk mendapatkan hasil maksimal,” jelas dokter Dewa Ayu. Lebih lanjut ia mengatakan, kalau bleaching gigi bukan merupakan prosedur permanen. Perlu perawatan pemeliharaan touch up selama 1- 2 hari setelah bleaching. Gigi bleaching dapat bertahan selama 6 bulan hingga 6 tahun, tergantung dari makanan dan minuman yang dikonsumsi. “Faktor yang me��� nentukan daya tahan bleaching adalah pola makan seseorang. Semakin sering mengonsumsi makanan yang mengandung zat pewarna, maka daya tahan bleaching semakin berkurang,”paparnya. Bagaimana jika membeli produk bleaching yang dijual di pasaran? Menurutnya, sangat berbahaya. “Pasien belum tentu mengetahui kandungan dalam bahan tersebut. Jika bahan bleaching yang digunakan tidak tepat dalam pengaplikasiannya, dapat merusak lapisan email gigi dan gigi menjadi sangat sensitif,” lanjutnya. Efek samping yang mungkin terjadi jika seseorang melakukan bleaching, jika seseorang yang gigi­ nya retak, ia merasakan efek ngilu yang luar biasa. Sedangkan untuk gigi ditambal,bahan bleaching tidak dapat meresap ke dalam tambalannya. Makanya ia pun menyarankan setiap orang untuk kembali ke pola hidup sehat. “Gosok gigi yang rutin dua kali sehari. Kurangi me­ngonsumsi makanan dan minuman yang bersifat dapat mewarnai gigi,” saran dokter Dewa Ayu. Dental Diamond Saat ini fashion tidak hanya terpaku pada pakaian dan model rambut, gigi pun menjadi salah

satu bagian dari tren, yakni dengan menambah aksesoris tertentu yang bertujuan untuk memperindah gigi. Dalam dunia kedokteran gigi, dikatakan dokter Dewa Ayu, terdapat banyak aksesoris yang membantu seseorang untuk tampil lebih menarik dan percaya diri. “Saat ini aksesoris yang paling populer adalah berlian, baik asli maupun imitasi,”ujarnya. Harganyapun beragam, dari yang ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Pemasangan berlian pada permukaan gigi bukanlah hal yang baru, aksesoris ini, katanya telah menjadi tren di kalangan selebritis baik dalam maupun luar negeri. Proses pemasangannya pun relatif mudah, cepat, dan tidak sakit. “Mirip seperti pemasangan bracket pada alat orthodontic. Gigi tidak perlu dibur atau diasah, dan resiko kerusakan terhadap email gigi relatif sangat kecil,” kata dokter yang juga praktik di kawasan Jalan Sidakarya, Denpasar Selatan ini. Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait pemakaian aksesoris pada gigi. “Pertama, jangan pasang aksesoris gigi di sembarang tempat . Sebaiknya datang ke dokter gigi, karena pemasangannya membutuhkan alat dan bahan khusus. Gigi juga perlu perlakuan khusus sebelum aksesoris ditempel. Jika tidak, aksesoris tidak akan kuat menempel pada permukaan gigi dan ada risiko terlepas bahkan tertelan,” tuturnya. Kedua, lanjutnya benda apapun yang menempel pada permukaan gigi, apakah tambalan, bracket orth­ odontic, atau aksesoris gigi dapat menjadi tempat akumulasi plak. Karenya kebersihan gigi dan mulut harus selalu terjaga. “Asesoris ini tidak dapat bertahan seumur hidup. Sifatnya temporer. Asesoris dapat dilepas, dan sebaiknya juga dilakukan oleh dokter gigi,”katanya. Perihal lama atau tidaknya berlian yang dipasang di gigi bertahan, juga tergantung dari jenis berliannya. Begitu juga teknik memasangnya harus benar dan bahan yang digunakan berkualitas serta cara merawatnya. “Untuk perawatannya, cukup dengam menggosok gigi secara perlahan, dan jangan menggigit sesuatu pada gigi yang ada berliannya,” tegasnya. Ia menyebutkan, proses pemasangannya sendiri tidak terlalu lama, yaitu sekitar 10 menit untuk satu gigi. Jika suatu saat berlian tersebut ingin diambil kembali karena bosan, tidak ada masalah. Sebab, dokter akan mencabutnya dan akan melapisi kembali gigi tersebut denganlapisan pelindung. “Saat ini pe­ minat pemasangan berlian di gigi di Bali cukup tinggi,” katanya. –Sri Ardhini/Wirati Astiti

17 - 23 Februari 2014

MITOS ATAU FAKTA

11

Donor Darah Bonus Medical Check Up

D

onor darah me­rupakan perbuatan mulia membatu sesama manusia. Namun, masih ada saja yang takut untuk menjadi pendonor. Hal itu tak lepas dari ­mitos-mitos yang masih beredar di masyarakat yang belum bisa dibuktikan ­kebenarannya. Berikut ini penjelasan dari dr. Ni Kadek Mulyantari, Sp.PK(K), Bagian Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Univer­sitas Udayana/RSUP Sang­lah Denpasar. 1. Mitos: Donor darah membuat badan lemah, tekanan darah rendah, dan rentan penyakit. Fakta: Donor darah yang dilakukan secara rutin dan teratur bukan sebagai pemicu seseorang mengalami badan lemas, tekanan darah turun atau rentan terhadap penyakit. Justru sebaliknya, de­ ngan mendonorkan darah secara otomatis seseorang telah menjalani medical check up secara gratis. Setiap calon donor akan dicek kesehatannya baik melalui anamnesis, pemeriksaan fisik maupun pemeriksaan laboratorium. Tidak jarang dijumpai seseorang baru mengetahui dirinya sakit setelah menjalani seleksi donor. 2. Mitos: Sering donor dapat membuat tubuh kekurangan zat besi Fakta: Benar, apabila frekuen­

dr. Oka Negara, FIAS

si donor berlebihan. Berbagai peneliti­a n telah membuktikan bahwa donor yang dilakukan secara rutin dan teratur tidak akan menyebabkan tubuh kekurangan zat besi selama intake dari makanan seimbang. Frekuensi donor yang dianjurkan adalah maksimal 5 kali dalam setahun dengan jangka waktu setiap 75 hari. Apabila donor dilakukan lebih dari itu maka kekurangan zat besi bisa terjadi. 3. Mitos: Donor dapat membuat awet muda Fakta: Bisa ya bisa tidak. Awet muda ditentukan oleh banyak faktor. Yang jelas, donor darah dapat membuat sel-sel darah menjadi lebih muda. Pada proses donor darah, darah akan dikeluarkan dari tubuh sehingga akan merangsang sumsum tulang untuk meningkat­

Kirim surat Anda ke ­Redaksi Tokoh dan cantumkan “Sex Edu”di amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh.co.id. Rubrik ini diasuh ­Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI) Denpasar.

“Dok, saya punya putri umur 3,5 tahun belakangan ini senang sekali memegang-megang kelaminnya berlama-lama. Malah saya amati dia juga suka sekali memeluk guling dan bonek-bonekanya sambil ditekan-tekankan ke kelaminnya. Saat saya tanya, dia jujur kalau dirinya merasakan geli dan rasa menyenangkan. Kok saya khawatir ya Dok? Apakah hal ini normal terjadi pada anak perempuan, dok?” (Ibu Agnes, Denpasar) Tidak perlu khawatir, hal ini wajar dan normal. Di usia ini, sesuai dengan perkembangan psikoseksualnya, disebutkan anak ada dalam fase falik, atau fase di mana si anak merasakan sensasi seksual di kelaminnya. Kalau ditelusuri lagi ada tahapan fase-fase sensasi seksual yang berbeda di tahapan perkembangannya. Usia baru lahir sampai dua tahun, sensasi seksualnya di mulut, sehingga disebut fase oral. Sekitar usia 2-3 tahun sensasi seksualnya di dubur, sehingga di­sebut fase anal. Lalu sekitar usia 3-5 atau 3-6 tahun sensasi seksualnya di kelamin, yang disebut fase falik tadi, sering kali tanpa disadari dan dipahami dengan baik. Lalu sekitar usia 6-11 tahun adalah fase laten dimana si

anak tidak fokus dengan sensasi seksual tetapi lebih banyak waktu hidupnya untuk tumbuh kembang fisik dan kognitif (masa belajar di sekolah). Usia 12 tahun ke atas sudah masuk fase genital, yaitu memasuki perkenalan dan tahapan kehidupan seksual sesungguhnya yang ditandai dengan adanya tandatanda pubertas, dan sensasi seksual sudah dinikmati di organ-organ seksnya secara sadar. Lalu, bagaimana cara menjelaskan hal ini pada si kecil? Sebenar­ nya cukup dengan dibiarkan saja, selama tidak mengganggu lingkungan sekitar. Seringkali malah bukan hanya memegang dan menggesek-gesekkan kelaminnya secara sembunyi, tetapi bisa juga, ada beberapa kasus, si anak sering

kan produksi sel-sel darah baru guna menggantikan sel-sel darah yang sudah diambil. Jadi, jumlah sel-sel darah yang usianya lebih muda akan meningkat dan biasanya memiliki fungsi yang lebih baik dibandingkan sel-sel darah yang umurnya sudah tua. 4.Mitos: Donor darah membuat kecanduan Fakta: Kasus ini cukup banyak dijumpai pada donor yang sudah rutin dan reguler menyumbangkan darah. Para pendonor sering merasa lemas, nyeri kepala dan tidak fit apabila jadwal donasi harus ditunda. Faktor-faktor penyebab mengapa seseorang sering ketagihan untuk mendonorkan darah masih perlu digali lebih lanjut melalui berbagai penelitian. Beberapa hal yang mungkin bisa berpengaruh antara lain, faktor psikologis, adanya perubahan sirkulasi darah atau menurunnya kekentalan darah sehingga aliran darah menjadi lebih lancar dan terasa lebih fit. 5. Mitos: Vegan tidak boleh donor karena kurang zat besi Fakta: Salah. Pada tahap seleksi donor berbagai pemeriksaan dilakukan, antara lain pemeriksaan kadar Hb (Hemoglobin) dalam darah. Kadar Hb dapat digunakan sebagai salah satu indikator status besi dalam tubuh. Apabila kadar Hb > 12,5 g/dL dan semua persyaratan lain terpenuhi, seseorang tetap dapat menyumbangkan darah tanpa melihat status pen­ donor seorang vegan atau tidak. 6. Mitos: Ibu hamil, menyusui, dan menstruasi tidak boleh donor

dr. Ni Kadek Mulyantari, Sp.PK(K).

Fakta: Benar. Donor pada wanita hamil, menyusui dan menstrusasi memang dihindari. Pada kondisi hamil dan menyusui kebutuhan zat gizi akan meningkat. Beberapa zat gizi terutama zat besi (Fe) banyak terkandung dalam sel darah merah. Donor darah (penge­luaran darah dari dalam tubuh) berpotensi menambah beban peningkatan kebutuhan nutrisi. Apabila tidak diimbangi dengan intake yang kuat, ibu hamil dan menyusui dapat menjadi anemia jika mendonorkan darah. Pada wanita yang sedang menstruasi, donor darah dihindari untuk mencegah pengeluaran darah berlebihan selain dari proses menstruasi itu sendiri. Intinya mencegah terjadinya anemia. 7 . M i t o s : Perokok tidak boleh donor darah Fakta: Bukan merupakan kontraindikasi mutlak dalam persyarat­ an donor. Perokok ringan yang

masih sehat dan memenuhi semua persyaratan lainnya masih tetap dapat mendonorkan darah. Tetapi seorang perokok berat yang sudah mengalami keluhan sampai sakit paru-paru tentu dilarang untuk donor. 8. Mitos: Orang yang suka minum alkohol tidak boleh donor Fakta: Hampir sama dengan pe­ rokok. Jika sesorang mengonsumsi alkohol dalam jumlah berlebihan bahkan sampai mengganggu organ tubuhnya tentu tidak diperbolehkan menjadi donor. 9. Mitos: Donor secara teratur dapat menyebabkan obesitas Fakta: Obesitas atau gemuk dapat disebabkan oleh tidak seimbangnya jumlah kalori yang masuk dan keluar. Konsumsi makanan berlebihan dan tidak diimbangi dengan aktivitas akan memicu penambahan berat badan. Sebagian besar pendonor tidak mengalami perubahan berat badan yang bermakna selama melakukan donor darah. Memang ada beberapa pendonor mengeluh berat badannya meningkat tapi hal tersebut perlu ditelusuri lebih lanjut apakah ada faktor lain yang juga berperanan, tentunya harus melalui bukti-bukti ilmiah. 10. Mitos: Benarkah usia pendonor berkisar antara 17 tahun sampai 65 tahun Fakta: Benar. Idealnya seorang pendonor berusia 17-60 tahun. Pendonor yang telah melakukan donor secara rutin dan teratur tidak ada batasan usia sepanjang semua persyaratan donor lainnya terpenuhi. —Inten Indrawati/Ngurah Budi

Anak Suka Memegang Kelamin

telanjang dan memegang-megang kelaminnya di depan orang lain, misalnya di hadap­an tamu saat ada yang berkunjung ke rumah atau saat ibunya arisan bareng temanteman ibunya, kejadian ini kadang membuat malu atau si ibu menjadi tidak nyaman. Kalau kejadiannya seperti ini tinggal ajak ke dalam kamar dan alihkan perhatian, misal­ nya dengan mengajak bermain yang lain atau diberikan permainan yang lebih menarik dan disukainya dan jangan dimarahi karena bisa menjadi nanti terekam dalam memori si anak sebagai sebuah kejadian yang baginya memegang kelamin atau beraktivitas seksual itu adalah sebuah hal terlarang, ini akan berpotensi akan persepsi buruk seksual di masa depannya. Karena kebiasaan ini akan hilang seiring waktu dengan beralih ke fase laten. Jadi akan berhenti sekitar usia 5 tahun biasanya. Jadi, pahami dulu tentang tahapan perkembangan seksual anak, karena sesungguhnya hal ini wajar dan nanti juga akan meng­ hilang berjalan usia. Sekarang tinggal bagaimana menyikapi ekses dari kejadian yang dilakukan si anak, selama dilakukan di tempat dan bersama orang yang wajar

saja (misalnya dengan orangtua saat tidur-tiduran, atau bersama boneka­nya) tidak usah bereaksi yang bersifat melarang dan memarahi. Biarkan saja. Yang perlu diperhatikan adalah lihat juga apakah ada alat-alat berbahaya yang juga digunakan, atau tangan si anak sering kali dalam keadaan kotor sudah memegang kelaminnya, karena jika ini terjadi maka perlu juga diajarkan si anak untuk belajar mencuci tangan dan singkirkan benda-benda yang berisiko memunculkan perlukaan hingga infeksi. Lalu, kalaupun memunculkan rasa tidak nyaman karena bisa jadi dilakukan di tempat terbuka dan terlalu sering karena hampir tiap hari, cobalah berkomunikasi de­ ngan biasa saja untuk mengalihkan aktivitasnya dengan aktivitas lainnya yang menyenangkan anak, seperti mengajak bermain atau diberikan mainan yang disukai. Sekali lagi jangan dimarahi berlebihan karena bisa menjadi nanti terekam dalam memori si anak sebagai sebuah kejadian yang baginya memegang kelamin atau beraktivitas seksual itu adalah sebuah hal terlarang, ini akan berpotensi akan persepsi buruk seksual di masa depannya. Dalam memberikan pendidikan

seks awal di rumah, ciptakan suasana bahwa kebersamaan orangtua, baik ayah dan ibu adalah sebagai sumber informasi seksual yang sama. Tetapi memang akhirnya nanti akan terseleksi, yang sebaiknya lebih berperan adalah yang memang paling punya kualitas waktu terbaik yang paling sering bersama si anak. Misalnya ibunya. Tetapi bukan berarti si ayah lalu tidak melakukan apa-apa atau tidak berperan dalam komunikasi seksual bersama anaknya, hal ini tetap harus dilakukan. Dalam proses pendidikan seks pada anak tentu saja disesuaikan dengan usianya. Di usia bermain, ajarkan anak untuk memahami dirinya dengan menyenangkan dan berkomunikasi sambil bermain. Ajarkan anak dengan menggunakan alat bantu permainan yang disukainya, serta libatkan anak untuk mengenali organ tubuhnya dengan baik sambil melakukan aktivitas sehari-hari. Misalnya memberitahukan tentang nama dan fungsi kelaminnya sambil mengajarkan mandi sendiri saat dimandikan di kamar mandi. Ini akan baik buat si anak dan melekat memorinya akan hal baik dan berguna seputar keadaan seksualitasnya.


RESEP ALA CHEF

12

17 - 23 Februari 2014

17 - 23 Februari 2014

Makanan Biasa Jadi Istimewa

Terus Berkarya Usianya sudah menginjak 74 tahun. Namun, ia masih eksis bergerak dalam bidang kuliner. Walaupun tak menjadi chef atau ahli masak profesional, ia selalu peduli dengan perkembangan kuliner di Indonesia, khususnya di Bali. Saat ditemui, Rabu (12/1) di SMKN 3 Denpasar saat menguji siswa ujian praktik, I Gede Widjana bercerita banyak tentang harapannya para generasi muda Bali yang bergerak di bidang kuliner. Seperti apa?

dikemas menjadi satu hidangan istimewa, berkelas dan tampil dengan gaya hotel bintang lima. Bahkan, membuatnya sangat gampang. Nasi putih misalnya. Nasi bisa kita juga dengan tempe. Sajikan tempe goreng dengan saus tomat dan irisan keju, pasti enak dan mengoda selera. Tak ketinggalan ada resep Singkong Manis, dan Ravioli Ayam

I Made Karyasa

Kuah Bening, kreasi I Made Karyasa, Executive Chef Sense Hotel Seminyak Kuta. Selamat Mencoba.

Tempe Nachos Bahan: Tempe goreng renyah 350 gram : tomato concase 100 gram : keju mozzarella Bahan tempe goreng renyah: 1 bungkus : tempe 15 gram : bawang putih dicincang 10 gram : jahe dicincang

Garam dan merica Kaldu ayam secukupnya Cara membuat: - Iris tempe tipis-tipis. - Bawang putih, jahe, garam, dan merica dicampur. Tambahkan kaldu ayam secukupnya. Beri air sedikit, dan masukkan tempe tadi. Diamkan sebentar. - Goreng tempe hingga kering

dan garing. Bahan tomato concase: 1 kg : tomat dihancurkan ½ kg : saus pasta tomat 3 lembar : daun salam 2 butir : bawang bombai cincang 3 butir : bawang putih cincang 1 biji : cabai rawit Garam dan gula secukupnya Saus cabai jika suka pedas Minyak goreng

Nasi Bakar Bahan: 250 gram 250 gram 100 ml 1 biji 2 lembar

: : : : :

beras merah beras putih santan sereh daun salam

Sambal bawang Daun pisang Bahan sambal bawang: 50 gram : bawang merah iris 10 gram : bawang putih iris

Singkong Manis Cokelat Saus Santan

Bahan: 1 kg : singkong 250 gram : gula merah 1 lembar : pandan 350 ml : air Garam secukupnya

Bahan saus: ¼ gelas : santan 250 gram : cokelat putih batang­an (beli di supermarket) 100 ml : susu kental manis

Hiasan: es krim

Cara membuat: - Kupas singkong, bersihkan lalu potong lebih kurang 10 cm. Kemudian dibagi dua. Rebus singkong dengan daun pandan dan garam sampai empuk, lalu masukkan gula, masak sampai gula mencair lalu dinginkan. - Untuk saus: cairkan cokelat batangan lalu masukkan santan dan susu kental manis. - Untuk pennyajiannya, singkong bersama saus dan hias dengan es krim.

Cara membuat tomato cancase: - Bawang putih dan bombai ditumis sampai harum. Masukkan tomat. Tambahkan kaldu ayam sedikit. Tambahkan saus tomat, daun salam, garam, dan gula. Tambahkan saus cabai dan cabai rawit jika ingin pedas. Penyelesaian: - Sajikan saus di piring taruh tempe di atasnya. - Beri parutan keju di atas tempe dan krim. Siap sajikan. 1 biji : lombok merah iris 1 biji : cabai rawit iris ½ sdt : terasi Minyak goreng Cara membuat: - Beras dimasak setengah matang, diaron dengan santan yang sudah dimasak dengan daun salam dan sereh. Kukus nasi sampai matang. - Cara membuat sambal: semua bahan dicampur jadi satu. - Campur nasi dengan sambal b a w a ng b ung kus dengan duan pisang. Nasi dibakar sampai keluar aroma daun pisang yang terbakar. - S a j i k a n b e rsama lauk-pauk dan sayuran yang Anda sukai.

13

I Gede Widjana

Banyak makanan yang biasa kita makan sehari-hari dapat

kreasikan menjadi nasi bakar yang enak dan gurih. Begitu

C U L I N A RY C O R N E R

I Gede Widjana

M

enurut lelaki yang disebut sebagai tokoh kuliner Bali ini, berbicara dapur, banyak hal terkandung di dalamnya. Dapur adalah tempat pengolahan makanan sehingga sangat riskan. Mengapa? Karena terdapat beragam jenis alat masak dalam jumlah banyak dan harganya mahal. “Oven saja bisa seharga satu mobil,” ujar lelaki yang sudah banyak menempuh pelatihan kuliner dalam dan luar negeri ini. Menurut Widjana, sumber daya manusia di dapur juga menjadi perhatian. Para koki ini tidak hanya harus menguasai satu jenis makanan namun harus kreatif da-

lam mengolah berbagai jenis makanan. Dapur juga berhubungan dengan bahan makanan yang mudah rusak seperti daging atau seafood. “Jika tidak dikelola dengan baik bisa mengakibatkan sakit perut atau keracunan. Para koki harus menjaga standar kebersihan dan kesehatan baik dapur itu sendiri, termasuk dirinya sendiri,” kata Penasihat Indonesian Chef Association (ICA) Bali dan Pusat ini. Ia menyebutkan, para koki harus memiliki standar dalam urusan resep, termasuk pembelian bahan, jumlah porsi, kecepatan, dan ketepatan memasak. Standar resep baku termasuk menghitung harga pokok dan harga jual. “Bila tak cermat bisa membuat kerugian dari satu perusahaan di mana dapur itu berada. Saat ini sedang tren menu analisis, artinya

para chef harus tahu menu-menu yang potensial untuk mendapatkan keuntungan besar atau laku. Begitu juga menu yang tidak potensial tapi bisa juga memberi nilai lebih,” tutur lelaki yang kini menjabat Manajer Sertifikasi dan Standardisasi Lembaga Sertifikasi Profesi Pariwisata Indonesia ini. Ia menambahkan, tidak hanya urusan masak-memasak, chef harus juga memiliki kemampuan kepemimpinan, karena diharapkan nanti, dia mampu mencetak para kader yang berkualitas atau SDM yang berkompeten. Pandai berkomunikasi dalam bahasa asing juga menjadi satu hal penting bagi para calon chef agar mampu bersaing dengan para chef asing. Bagi Widjana, dunia kuliner menjadi hal yang memberinya banyak tantangan. “Waktu saya tamat dari Akademi Nasional

Pariwisata Bandung tahun 1966, saya bekerja di Bali Beach Intercontinental Sanur (The Inna Grand Bali Beach). Belum banyak para ahli masak profesional dari Indonesia. Sebagian besar para chef itu orang asing,” katanya. Karena itu, dalam benaknya timbul keinginan memunculkan banyak generasi muda Bali agar eksis di bidang kuliner. Widjana mendapatkan posisi chef de partie di bagian pastry dan bakery. Namun, ia tetap belajar banyak hal di bagian lain dapur, seperti dapur dingin, dapur panas, termasuk bucher, post control, dan urusan administrasi di Departemen Makanan dan Minuman. Menurut Widjana, hal itu dilakukan agar ia mampu menguasai semua bidang di dapur. Setelah sempat pindah ke Pertamina Cottage, tahun 1978

ia diberi kesempatan menjadi kepala dapur praktik di P4B Nusa Dua yang sekarang menjadi Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua (STPND) Bali. Berbagai pelatihan kuliner dalam dan luar negeri telah ia ikuti. Salah satunya, tahun 1981 ia sempat belajar kuliner ke Prancis di Kota Evian. Ia belajar dari tiga chef Prancis, yakni Pierre Cassani, Roger La Pierre, dan Andre Crespino. Ia juga belajar makanan klasik Eropa di Hotel dan Casino Royale dan di Ecole Hotelliere Thonon Les Bains Swiss. Jabatan tertinggi juga pernah dipegangnya yakni Ketua STPND Bali tahun 1992-1998. Widjana tak berhenti berkiprah walaupun sudah pensiun. Ia memikirkan bagaimana mencetak para generasi muda di bidang kuliner lebih banyak lagi. Bersama rekan-rekannya, ia mendirikan Sekolah Perhotelan Bali (SPB) di Denpasar tahun 2000. Setelah mengundurkan diri tahun 2006, ia membentuk Nikki International Hotel School. Namun, karena ada sesuatu dan lain hal, sekolah ditutup tahun 2012. Widjana tak berhenti berkarya. Ia ingin terus berkiprah dalam berbagai asosiasi bidang pariwisata di antaranya PHRI, Ikatan Ahli Perhotelan Indonesia, dan Himpunan Lembaga Pendidikan Tinggi Pariwisata Indonesia. Ia mengajak para chef ikut pelatihan asesor kompetensi sehingga dapat melatih dan menilai staf dan menjadikan mereka SDM berkompeten. -Wirati Astiti/Ratna Hidayati

Jus Buah Kesemek Ceria

Rica-Rica Ceker Bledek Sarwan

Ravioli Ayam Kuah Bening Bahan: 25 lembar : ravioli ayam (bisa dibeli sudah jadi dalam bentuk beku atau bisa juga diganti pangsit ayam/siomay ayam) Bahan kuah ayam bening: 1 kg : tulang ayam 1 liter : air 100 gram : wortel 100 gram : bawang bombai 25 ml : kecap raja rasa 50 ml : saus tiram 25 gram : kaldu ayam 1 batang : daun bawang Merica Garam Hiasan: 10 gram : seledri 10 gram : bawang goreng Daun bawang

Cara membuat: - Rebus tulang ayam sampai mendidih. Buang airnya. Masak air sampai mendidih lalu masukkan tulang ayam yang sudah direbus tadi. Tambahkan wortel dan bawang bombai. Masak dengan api kecil kira-kira 45 menit. Sa­ ring, ambil kaldunya saja. - Panaskan kaldu, masukkan ravioli masak sampai matang. - Tambahkan kaldu ayam, saus tiram, kecap, garam dan merica. - Sajikan dengan piring sup, taburi daun bawang, bawang goreng, dan seledri. –Wirati Astiti/Ratna Hidayati

Bahan: 500 grm :ceker ayam, bersih­ kan, lumuri dengan perasan jeruk nipis 3 sdm : minyak untuk menumis 4 biji : bawang merah iris tipis 2 batang : serai, memarkan 400 ml : air 50 ml : kecap manis Garam, gula dan kaldu bubuk Bumbu halus: Siung bawang putih 7 buah : cabai merah

15 buah : cabai kecil 2 ruas : jari jahe 10 butir : merica Cara membuat: - Panaskan minyak, tumis bumbu yg sudah dihaluskan sampai harum. - Tambahkan bawang merah dan serai, aduk-aduk hingga bumbu beraroma. - Masukkan ceker, aduk aduk hingga bumbu merata. - Tambahkan air, adukaduk, tambahkan ke-

cap manis, gula, garam dan kaldu bubuk. - Kecilkan api dan tutup wajan dengan rapat sampai ceker matang. - Tambahkan dengan taburan bawang putih goring.

Bahan: 500 gr : buah kesemek, bersihkan, dipotong potong 250 gr : nata de coco 300 gr : melon yang sudah dibersihkan 300 ml : santan 300 gr : gula pasir 300 ml : air 4 lembar : daun pandan 3 sdm : air jeruk lemon

tan, sirup juga nata de coco. - Sajikan di gelas panjang, tambahkan es batu. - Siap untuk diminum.

Cara membuat: - Gula, air, daun pandan dimasak hingga mendidih dan beraroma, matikan api dan tambahkan jeruk lemon. - Siapkan blender, masukkan buah kesemek juga melon, lalu blender sampai halus. - Jadikan satu, tambahkan san-

Serundeng Kerang Bahan: 500 grm : kerang matang tanpa kulit 1 butir : kelapa, parut kasar 3 lembar : daun jeruk 2 lembar : daun salam Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya Bumbu halus: 7 butir : bawang merah 3 siung : bawang putih 1 ruas : jari kunyit 1 sdt : ketumbar

¼ sdt 1 sdt 3 buah 7 buah

: : : :

jinten asam jawa cabai merah besar cabai merah kecil

Cara membuat: - Campurkan parutan kelapa dan bumbu halus, daun jeruk, daun salam, gula, garam dan kaldu bubuk. - Panaskan minyak secukupnya, masukkan campuran bahan, aduk rata. - Masukkan kerang, masak dengan api kecil hingga matang dan siap disajikan.


RESEP ALA CHEF

12

17 - 23 Februari 2014

17 - 23 Februari 2014

Makanan Biasa Jadi Istimewa

Terus Berkarya Usianya sudah menginjak 74 tahun. Namun, ia masih eksis bergerak dalam bidang kuliner. Walaupun tak menjadi chef atau ahli masak profesional, ia selalu peduli dengan perkembangan kuliner di Indonesia, khususnya di Bali. Saat ditemui, Rabu (12/1) di SMKN 3 Denpasar saat menguji siswa ujian praktik, I Gede Widjana bercerita banyak tentang harapannya para generasi muda Bali yang bergerak di bidang kuliner. Seperti apa?

dikemas menjadi satu hidangan istimewa, berkelas dan tampil dengan gaya hotel bintang lima. Bahkan, membuatnya sangat gampang. Nasi putih misalnya. Nasi bisa kita juga dengan tempe. Sajikan tempe goreng dengan saus tomat dan irisan keju, pasti enak dan mengoda selera. Tak ketinggalan ada resep Singkong Manis, dan Ravioli Ayam

I Made Karyasa

Kuah Bening, kreasi I Made Karyasa, Executive Chef Sense Hotel Seminyak Kuta. Selamat Mencoba.

Tempe Nachos Bahan: Tempe goreng renyah 350 gram : tomato concase 100 gram : keju mozzarella Bahan tempe goreng renyah: 1 bungkus : tempe 15 gram : bawang putih dicincang 10 gram : jahe dicincang

Garam dan merica Kaldu ayam secukupnya Cara membuat: - Iris tempe tipis-tipis. - Bawang putih, jahe, garam, dan merica dicampur. Tambahkan kaldu ayam secukupnya. Beri air sedikit, dan masukkan tempe tadi. Diamkan sebentar. - Goreng tempe hingga kering

dan garing. Bahan tomato concase: 1 kg : tomat dihancurkan ½ kg : saus pasta tomat 3 lembar : daun salam 2 butir : bawang bombai cincang 3 butir : bawang putih cincang 1 biji : cabai rawit Garam dan gula secukupnya Saus cabai jika suka pedas Minyak goreng

Nasi Bakar Bahan: 250 gram 250 gram 100 ml 1 biji 2 lembar

: : : : :

beras merah beras putih santan sereh daun salam

Sambal bawang Daun pisang Bahan sambal bawang: 50 gram : bawang merah iris 10 gram : bawang putih iris

Singkong Manis Cokelat Saus Santan

Bahan: 1 kg : singkong 250 gram : gula merah 1 lembar : pandan 350 ml : air Garam secukupnya

Bahan saus: ¼ gelas : santan 250 gram : cokelat putih batang­an (beli di supermarket) 100 ml : susu kental manis

Hiasan: es krim

Cara membuat: - Kupas singkong, bersihkan lalu potong lebih kurang 10 cm. Kemudian dibagi dua. Rebus singkong dengan daun pandan dan garam sampai empuk, lalu masukkan gula, masak sampai gula mencair lalu dinginkan. - Untuk saus: cairkan cokelat batangan lalu masukkan santan dan susu kental manis. - Untuk pennyajiannya, singkong bersama saus dan hias dengan es krim.

Cara membuat tomato cancase: - Bawang putih dan bombai ditumis sampai harum. Masukkan tomat. Tambahkan kaldu ayam sedikit. Tambahkan saus tomat, daun salam, garam, dan gula. Tambahkan saus cabai dan cabai rawit jika ingin pedas. Penyelesaian: - Sajikan saus di piring taruh tempe di atasnya. - Beri parutan keju di atas tempe dan krim. Siap sajikan. 1 biji : lombok merah iris 1 biji : cabai rawit iris ½ sdt : terasi Minyak goreng Cara membuat: - Beras dimasak setengah matang, diaron dengan santan yang sudah dimasak dengan daun salam dan sereh. Kukus nasi sampai matang. - Cara membuat sambal: semua bahan dicampur jadi satu. - Campur nasi dengan sambal b a w a ng b ung kus dengan duan pisang. Nasi dibakar sampai keluar aroma daun pisang yang terbakar. - S a j i k a n b e rsama lauk-pauk dan sayuran yang Anda sukai.

13

I Gede Widjana

Banyak makanan yang biasa kita makan sehari-hari dapat

kreasikan menjadi nasi bakar yang enak dan gurih. Begitu

C U L I N A RY C O R N E R

I Gede Widjana

M

enurut lelaki yang disebut sebagai tokoh kuliner Bali ini, berbicara dapur, banyak hal terkandung di dalamnya. Dapur adalah tempat pengolahan makanan sehingga sangat riskan. Mengapa? Karena terdapat beragam jenis alat masak dalam jumlah banyak dan harganya mahal. “Oven saja bisa seharga satu mobil,” ujar lelaki yang sudah banyak menempuh pelatihan kuliner dalam dan luar negeri ini. Menurut Widjana, sumber daya manusia di dapur juga menjadi perhatian. Para koki ini tidak hanya harus menguasai satu jenis makanan namun harus kreatif da-

lam mengolah berbagai jenis makanan. Dapur juga berhubungan dengan bahan makanan yang mudah rusak seperti daging atau seafood. “Jika tidak dikelola dengan baik bisa mengakibatkan sakit perut atau keracunan. Para koki harus menjaga standar kebersihan dan kesehatan baik dapur itu sendiri, termasuk dirinya sendiri,” kata Penasihat Indonesian Chef Association (ICA) Bali dan Pusat ini. Ia menyebutkan, para koki harus memiliki standar dalam urusan resep, termasuk pembelian bahan, jumlah porsi, kecepatan, dan ketepatan memasak. Standar resep baku termasuk menghitung harga pokok dan harga jual. “Bila tak cermat bisa membuat kerugian dari satu perusahaan di mana dapur itu berada. Saat ini sedang tren menu analisis, artinya

para chef harus tahu menu-menu yang potensial untuk mendapatkan keuntungan besar atau laku. Begitu juga menu yang tidak potensial tapi bisa juga memberi nilai lebih,” tutur lelaki yang kini menjabat Manajer Sertifikasi dan Standardisasi Lembaga Sertifikasi Profesi Pariwisata Indonesia ini. Ia menambahkan, tidak hanya urusan masak-memasak, chef harus juga memiliki kemampuan kepemimpinan, karena diharapkan nanti, dia mampu mencetak para kader yang berkualitas atau SDM yang berkompeten. Pandai berkomunikasi dalam bahasa asing juga menjadi satu hal penting bagi para calon chef agar mampu bersaing dengan para chef asing. Bagi Widjana, dunia kuliner menjadi hal yang memberinya banyak tantangan. “Waktu saya tamat dari Akademi Nasional

Pariwisata Bandung tahun 1966, saya bekerja di Bali Beach Intercontinental Sanur (The Inna Grand Bali Beach). Belum banyak para ahli masak profesional dari Indonesia. Sebagian besar para chef itu orang asing,” katanya. Karena itu, dalam benaknya timbul keinginan memunculkan banyak generasi muda Bali agar eksis di bidang kuliner. Widjana mendapatkan posisi chef de partie di bagian pastry dan bakery. Namun, ia tetap belajar banyak hal di bagian lain dapur, seperti dapur dingin, dapur panas, termasuk bucher, post control, dan urusan administrasi di Departemen Makanan dan Minuman. Menurut Widjana, hal itu dilakukan agar ia mampu menguasai semua bidang di dapur. Setelah sempat pindah ke Pertamina Cottage, tahun 1978

ia diberi kesempatan menjadi kepala dapur praktik di P4B Nusa Dua yang sekarang menjadi Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua (STPND) Bali. Berbagai pelatihan kuliner dalam dan luar negeri telah ia ikuti. Salah satunya, tahun 1981 ia sempat belajar kuliner ke Prancis di Kota Evian. Ia belajar dari tiga chef Prancis, yakni Pierre Cassani, Roger La Pierre, dan Andre Crespino. Ia juga belajar makanan klasik Eropa di Hotel dan Casino Royale dan di Ecole Hotelliere Thonon Les Bains Swiss. Jabatan tertinggi juga pernah dipegangnya yakni Ketua STPND Bali tahun 1992-1998. Widjana tak berhenti berkiprah walaupun sudah pensiun. Ia memikirkan bagaimana mencetak para generasi muda di bidang kuliner lebih banyak lagi. Bersama rekan-rekannya, ia mendirikan Sekolah Perhotelan Bali (SPB) di Denpasar tahun 2000. Setelah mengundurkan diri tahun 2006, ia membentuk Nikki International Hotel School. Namun, karena ada sesuatu dan lain hal, sekolah ditutup tahun 2012. Widjana tak berhenti berkarya. Ia ingin terus berkiprah dalam berbagai asosiasi bidang pariwisata di antaranya PHRI, Ikatan Ahli Perhotelan Indonesia, dan Himpunan Lembaga Pendidikan Tinggi Pariwisata Indonesia. Ia mengajak para chef ikut pelatihan asesor kompetensi sehingga dapat melatih dan menilai staf dan menjadikan mereka SDM berkompeten. -Wirati Astiti/Ratna Hidayati

Jus Buah Kesemek Ceria

Rica-Rica Ceker Bledek Sarwan

Ravioli Ayam Kuah Bening Bahan: 25 lembar : ravioli ayam (bisa dibeli sudah jadi dalam bentuk beku atau bisa juga diganti pangsit ayam/siomay ayam) Bahan kuah ayam bening: 1 kg : tulang ayam 1 liter : air 100 gram : wortel 100 gram : bawang bombai 25 ml : kecap raja rasa 50 ml : saus tiram 25 gram : kaldu ayam 1 batang : daun bawang Merica Garam Hiasan: 10 gram : seledri 10 gram : bawang goreng Daun bawang

Cara membuat: - Rebus tulang ayam sampai mendidih. Buang airnya. Masak air sampai mendidih lalu masukkan tulang ayam yang sudah direbus tadi. Tambahkan wortel dan bawang bombai. Masak dengan api kecil kira-kira 45 menit. Sa­ ring, ambil kaldunya saja. - Panaskan kaldu, masukkan ravioli masak sampai matang. - Tambahkan kaldu ayam, saus tiram, kecap, garam dan merica. - Sajikan dengan piring sup, taburi daun bawang, bawang goreng, dan seledri. –Wirati Astiti/Ratna Hidayati

Bahan: 500 grm :ceker ayam, bersih­ kan, lumuri dengan perasan jeruk nipis 3 sdm : minyak untuk menumis 4 biji : bawang merah iris tipis 2 batang : serai, memarkan 400 ml : air 50 ml : kecap manis Garam, gula dan kaldu bubuk Bumbu halus: Siung bawang putih 7 buah : cabai merah

15 buah : cabai kecil 2 ruas : jari jahe 10 butir : merica Cara membuat: - Panaskan minyak, tumis bumbu yg sudah dihaluskan sampai harum. - Tambahkan bawang merah dan serai, aduk-aduk hingga bumbu beraroma. - Masukkan ceker, aduk aduk hingga bumbu merata. - Tambahkan air, adukaduk, tambahkan ke-

cap manis, gula, garam dan kaldu bubuk. - Kecilkan api dan tutup wajan dengan rapat sampai ceker matang. - Tambahkan dengan taburan bawang putih goring.

Bahan: 500 gr : buah kesemek, bersihkan, dipotong potong 250 gr : nata de coco 300 gr : melon yang sudah dibersihkan 300 ml : santan 300 gr : gula pasir 300 ml : air 4 lembar : daun pandan 3 sdm : air jeruk lemon

tan, sirup juga nata de coco. - Sajikan di gelas panjang, tambahkan es batu. - Siap untuk diminum.

Cara membuat: - Gula, air, daun pandan dimasak hingga mendidih dan beraroma, matikan api dan tambahkan jeruk lemon. - Siapkan blender, masukkan buah kesemek juga melon, lalu blender sampai halus. - Jadikan satu, tambahkan san-

Serundeng Kerang Bahan: 500 grm : kerang matang tanpa kulit 1 butir : kelapa, parut kasar 3 lembar : daun jeruk 2 lembar : daun salam Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya Bumbu halus: 7 butir : bawang merah 3 siung : bawang putih 1 ruas : jari kunyit 1 sdt : ketumbar

¼ sdt 1 sdt 3 buah 7 buah

: : : :

jinten asam jawa cabai merah besar cabai merah kecil

Cara membuat: - Campurkan parutan kelapa dan bumbu halus, daun jeruk, daun salam, gula, garam dan kaldu bubuk. - Panaskan minyak secukupnya, masukkan campuran bahan, aduk rata. - Masukkan kerang, masak dengan api kecil hingga matang dan siap disajikan.


14

J E L I TA

17 - 23 Februari 2014

Lebih “Pede” dengan Gigi Putih Senyum seseorang menjadi indah ketika giginya tidak ada masalah. Namun, jika terjadi perubahan warna pada gigi, tentu berpengaruh pada ­penampilannya.

M

enurut drg. Dewa Ayu Wulandari dari House of Dura di Renon, Denpasar, ada banyak penyebab warna gigi menjadi kusam, mulai dari merokok, minum kopi, teh, red wine, atau riwayat penggunaan obat-obatan tertentu. Lantas, jika ingin membuat gigi menjadi putih dan bersih kembali apa yang harus dilakukan? Menurut Dokter Dewa Ayu, untuk mengatasi persoalan gigi kusam, dapat dilakukan perawatan dengan teknik bleaching. Untuk melakukan tindakan ini diperlukan diagnosis dari tenaga yang berkompeten. Bleaching gigi adalah perawatan yang menjadikan gigi lebih putih dan cerah. Bahannya, hidrogen peroksida (H202), sodium perborat, kar­ bamid peroksida. “Semua bahan tersebut terbilang aman, kalau dilakukan dengan teknik yang benar dan di bawah pengawasan seorang dokter gigi,” kata Dokter Dewa Ayu. Namun, tidak semua orang giginya bisa dilakukan bleaching. Bagi yang giginya banyak ditambal, atau ada retak tidak disarankan bleaching begtu juga ibu hamil tidak disarankan melakukan perawatan ini. Termasuk untuk gigi yang berwarna abu kebirubiruan, yang menandakan gigi terkena tetrasiklin sudah parah, juga tidak dapat diputihkan, melainkan dilakukan perawatan labial veneering. Gigi yang dapat dilakukan bleaching diantaranya gigi yang tidak sensitif, tidak retak, tidak ada karies atau lubang dan orangnya tidak alergi terhadap bahan bleaching. Untuk menentukan gigi mana yang memerlukan perawatan, diperlukan diagnosis dari penyebab perubahan warna gigi, sehingga, dapat ditentukan metode bleaching apa yang diperlukan. Salah satu metode bleaching gigi, in office white­ ning, yaitu proses bleaching gigi yang dilakukan dokter gigi di klinik. “Di sini, gusi akan diisolasi memakai

drg. Dewa Ayu Wulandari

bahan pelindung sebelum kemudian bahan bleaching diaplikasikan pada gigi menggunakan sendok cetak. Umumnya perawatan in office akan diikuti perawatan home whitening untuk mendapatkan hasil maksimal,” jelas dokter Dewa Ayu. Lebih lanjut ia mengatakan, kalau bleaching gigi bukan merupakan prosedur permanen. Perlu perawatan pemeliharaan touch up selama 1- 2 hari setelah bleaching. Gigi bleaching dapat bertahan selama 6 bulan hingga 6 tahun, tergantung dari makanan dan minuman yang dikonsumsi. “Faktor yang me��� nentukan daya tahan bleaching adalah pola makan seseorang. Semakin sering mengonsumsi makanan yang mengandung zat pewarna, maka daya tahan bleaching semakin berkurang,”paparnya. Bagaimana jika membeli produk bleaching yang dijual di pasaran? Menurutnya, sangat berbahaya. “Pasien belum tentu mengetahui kandungan dalam bahan tersebut. Jika bahan bleaching yang digunakan tidak tepat dalam pengaplikasiannya, dapat merusak lapisan email gigi dan gigi menjadi sangat sensitif,” lanjutnya. Efek samping yang mungkin terjadi jika seseorang melakukan bleaching, jika seseorang yang gigi­ nya retak, ia merasakan efek ngilu yang luar biasa. Sedangkan untuk gigi ditambal,bahan bleaching tidak dapat meresap ke dalam tambalannya. Makanya ia pun menyarankan setiap orang untuk kembali ke pola hidup sehat. “Gosok gigi yang rutin dua kali sehari. Kurangi me­ngonsumsi makanan dan minuman yang bersifat dapat mewarnai gigi,” saran dokter Dewa Ayu. Dental Diamond Saat ini fashion tidak hanya terpaku pada pakaian dan model rambut, gigi pun menjadi salah

satu bagian dari tren, yakni dengan menambah aksesoris tertentu yang bertujuan untuk memperindah gigi. Dalam dunia kedokteran gigi, dikatakan dokter Dewa Ayu, terdapat banyak aksesoris yang membantu seseorang untuk tampil lebih menarik dan percaya diri. “Saat ini aksesoris yang paling populer adalah berlian, baik asli maupun imitasi,”ujarnya. Harganyapun beragam, dari yang ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Pemasangan berlian pada permukaan gigi bukanlah hal yang baru, aksesoris ini, katanya telah menjadi tren di kalangan selebritis baik dalam maupun luar negeri. Proses pemasangannya pun relatif mudah, cepat, dan tidak sakit. “Mirip seperti pemasangan bracket pada alat orthodontic. Gigi tidak perlu dibur atau diasah, dan resiko kerusakan terhadap email gigi relatif sangat kecil,” kata dokter yang juga praktik di kawasan Jalan Sidakarya, Denpasar Selatan ini. Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait pemakaian aksesoris pada gigi. “Pertama, jangan pasang aksesoris gigi di sembarang tempat . Sebaiknya datang ke dokter gigi, karena pemasangannya membutuhkan alat dan bahan khusus. Gigi juga perlu perlakuan khusus sebelum aksesoris ditempel. Jika tidak, aksesoris tidak akan kuat menempel pada permukaan gigi dan ada risiko terlepas bahkan tertelan,” tuturnya. Kedua, lanjutnya benda apapun yang menempel pada permukaan gigi, apakah tambalan, bracket orth­ odontic, atau aksesoris gigi dapat menjadi tempat akumulasi plak. Karenya kebersihan gigi dan mulut harus selalu terjaga. “Asesoris ini tidak dapat bertahan seumur hidup. Sifatnya temporer. Asesoris dapat dilepas, dan sebaiknya juga dilakukan oleh dokter gigi,”katanya. Perihal lama atau tidaknya berlian yang dipasang di gigi bertahan, juga tergantung dari jenis berliannya. Begitu juga teknik memasangnya harus benar dan bahan yang digunakan berkualitas serta cara merawatnya. “Untuk perawatannya, cukup dengam menggosok gigi secara perlahan, dan jangan menggigit sesuatu pada gigi yang ada berliannya,” tegasnya. Ia menyebutkan, proses pemasangannya sendiri tidak terlalu lama, yaitu sekitar 10 menit untuk satu gigi. Jika suatu saat berlian tersebut ingin diambil kembali karena bosan, tidak ada masalah. Sebab, dokter akan mencabutnya dan akan melapisi kembali gigi tersebut denganlapisan pelindung. “Saat ini pe­ minat pemasangan berlian di gigi di Bali cukup tinggi,” katanya. –Sri Ardhini/Wirati Astiti

17 - 23 Februari 2014

MITOS ATAU FAKTA

11

Donor Darah Bonus Medical Check Up

D

onor darah me­rupakan perbuatan mulia membatu sesama manusia. Namun, masih ada saja yang takut untuk menjadi pendonor. Hal itu tak lepas dari ­mitos-mitos yang masih beredar di masyarakat yang belum bisa dibuktikan ­kebenarannya. Berikut ini penjelasan dari dr. Ni Kadek Mulyantari, Sp.PK(K), Bagian Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Univer­sitas Udayana/RSUP Sang­lah Denpasar. 1. Mitos: Donor darah membuat badan lemah, tekanan darah rendah, dan rentan penyakit. Fakta: Donor darah yang dilakukan secara rutin dan teratur bukan sebagai pemicu seseorang mengalami badan lemas, tekanan darah turun atau rentan terhadap penyakit. Justru sebaliknya, de­ ngan mendonorkan darah secara otomatis seseorang telah menjalani medical check up secara gratis. Setiap calon donor akan dicek kesehatannya baik melalui anamnesis, pemeriksaan fisik maupun pemeriksaan laboratorium. Tidak jarang dijumpai seseorang baru mengetahui dirinya sakit setelah menjalani seleksi donor. 2. Mitos: Sering donor dapat membuat tubuh kekurangan zat besi Fakta: Benar, apabila frekuen­

dr. Oka Negara, FIAS

si donor berlebihan. Berbagai peneliti­a n telah membuktikan bahwa donor yang dilakukan secara rutin dan teratur tidak akan menyebabkan tubuh kekurangan zat besi selama intake dari makanan seimbang. Frekuensi donor yang dianjurkan adalah maksimal 5 kali dalam setahun dengan jangka waktu setiap 75 hari. Apabila donor dilakukan lebih dari itu maka kekurangan zat besi bisa terjadi. 3. Mitos: Donor dapat membuat awet muda Fakta: Bisa ya bisa tidak. Awet muda ditentukan oleh banyak faktor. Yang jelas, donor darah dapat membuat sel-sel darah menjadi lebih muda. Pada proses donor darah, darah akan dikeluarkan dari tubuh sehingga akan merangsang sumsum tulang untuk meningkat­

Kirim surat Anda ke ­Redaksi Tokoh dan cantumkan “Sex Edu”di amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh.co.id. Rubrik ini diasuh ­Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI) Denpasar.

“Dok, saya punya putri umur 3,5 tahun belakangan ini senang sekali memegang-megang kelaminnya berlama-lama. Malah saya amati dia juga suka sekali memeluk guling dan bonek-bonekanya sambil ditekan-tekankan ke kelaminnya. Saat saya tanya, dia jujur kalau dirinya merasakan geli dan rasa menyenangkan. Kok saya khawatir ya Dok? Apakah hal ini normal terjadi pada anak perempuan, dok?” (Ibu Agnes, Denpasar) Tidak perlu khawatir, hal ini wajar dan normal. Di usia ini, sesuai dengan perkembangan psikoseksualnya, disebutkan anak ada dalam fase falik, atau fase di mana si anak merasakan sensasi seksual di kelaminnya. Kalau ditelusuri lagi ada tahapan fase-fase sensasi seksual yang berbeda di tahapan perkembangannya. Usia baru lahir sampai dua tahun, sensasi seksualnya di mulut, sehingga disebut fase oral. Sekitar usia 2-3 tahun sensasi seksualnya di dubur, sehingga di­sebut fase anal. Lalu sekitar usia 3-5 atau 3-6 tahun sensasi seksualnya di kelamin, yang disebut fase falik tadi, sering kali tanpa disadari dan dipahami dengan baik. Lalu sekitar usia 6-11 tahun adalah fase laten dimana si

anak tidak fokus dengan sensasi seksual tetapi lebih banyak waktu hidupnya untuk tumbuh kembang fisik dan kognitif (masa belajar di sekolah). Usia 12 tahun ke atas sudah masuk fase genital, yaitu memasuki perkenalan dan tahapan kehidupan seksual sesungguhnya yang ditandai dengan adanya tandatanda pubertas, dan sensasi seksual sudah dinikmati di organ-organ seksnya secara sadar. Lalu, bagaimana cara menjelaskan hal ini pada si kecil? Sebenar­ nya cukup dengan dibiarkan saja, selama tidak mengganggu lingkungan sekitar. Seringkali malah bukan hanya memegang dan menggesek-gesekkan kelaminnya secara sembunyi, tetapi bisa juga, ada beberapa kasus, si anak sering

kan produksi sel-sel darah baru guna menggantikan sel-sel darah yang sudah diambil. Jadi, jumlah sel-sel darah yang usianya lebih muda akan meningkat dan biasanya memiliki fungsi yang lebih baik dibandingkan sel-sel darah yang umurnya sudah tua. 4.Mitos: Donor darah membuat kecanduan Fakta: Kasus ini cukup banyak dijumpai pada donor yang sudah rutin dan reguler menyumbangkan darah. Para pendonor sering merasa lemas, nyeri kepala dan tidak fit apabila jadwal donasi harus ditunda. Faktor-faktor penyebab mengapa seseorang sering ketagihan untuk mendonorkan darah masih perlu digali lebih lanjut melalui berbagai penelitian. Beberapa hal yang mungkin bisa berpengaruh antara lain, faktor psikologis, adanya perubahan sirkulasi darah atau menurunnya kekentalan darah sehingga aliran darah menjadi lebih lancar dan terasa lebih fit. 5. Mitos: Vegan tidak boleh donor karena kurang zat besi Fakta: Salah. Pada tahap seleksi donor berbagai pemeriksaan dilakukan, antara lain pemeriksaan kadar Hb (Hemoglobin) dalam darah. Kadar Hb dapat digunakan sebagai salah satu indikator status besi dalam tubuh. Apabila kadar Hb > 12,5 g/dL dan semua persyaratan lain terpenuhi, seseorang tetap dapat menyumbangkan darah tanpa melihat status pen­ donor seorang vegan atau tidak. 6. Mitos: Ibu hamil, menyusui, dan menstruasi tidak boleh donor

dr. Ni Kadek Mulyantari, Sp.PK(K).

Fakta: Benar. Donor pada wanita hamil, menyusui dan menstrusasi memang dihindari. Pada kondisi hamil dan menyusui kebutuhan zat gizi akan meningkat. Beberapa zat gizi terutama zat besi (Fe) banyak terkandung dalam sel darah merah. Donor darah (penge­luaran darah dari dalam tubuh) berpotensi menambah beban peningkatan kebutuhan nutrisi. Apabila tidak diimbangi dengan intake yang kuat, ibu hamil dan menyusui dapat menjadi anemia jika mendonorkan darah. Pada wanita yang sedang menstruasi, donor darah dihindari untuk mencegah pengeluaran darah berlebihan selain dari proses menstruasi itu sendiri. Intinya mencegah terjadinya anemia. 7 . M i t o s : Perokok tidak boleh donor darah Fakta: Bukan merupakan kontraindikasi mutlak dalam persyarat­ an donor. Perokok ringan yang

masih sehat dan memenuhi semua persyaratan lainnya masih tetap dapat mendonorkan darah. Tetapi seorang perokok berat yang sudah mengalami keluhan sampai sakit paru-paru tentu dilarang untuk donor. 8. Mitos: Orang yang suka minum alkohol tidak boleh donor Fakta: Hampir sama dengan pe­ rokok. Jika sesorang mengonsumsi alkohol dalam jumlah berlebihan bahkan sampai mengganggu organ tubuhnya tentu tidak diperbolehkan menjadi donor. 9. Mitos: Donor secara teratur dapat menyebabkan obesitas Fakta: Obesitas atau gemuk dapat disebabkan oleh tidak seimbangnya jumlah kalori yang masuk dan keluar. Konsumsi makanan berlebihan dan tidak diimbangi dengan aktivitas akan memicu penambahan berat badan. Sebagian besar pendonor tidak mengalami perubahan berat badan yang bermakna selama melakukan donor darah. Memang ada beberapa pendonor mengeluh berat badannya meningkat tapi hal tersebut perlu ditelusuri lebih lanjut apakah ada faktor lain yang juga berperanan, tentunya harus melalui bukti-bukti ilmiah. 10. Mitos: Benarkah usia pendonor berkisar antara 17 tahun sampai 65 tahun Fakta: Benar. Idealnya seorang pendonor berusia 17-60 tahun. Pendonor yang telah melakukan donor secara rutin dan teratur tidak ada batasan usia sepanjang semua persyaratan donor lainnya terpenuhi. —Inten Indrawati/Ngurah Budi

Anak Suka Memegang Kelamin

telanjang dan memegang-megang kelaminnya di depan orang lain, misalnya di hadap­an tamu saat ada yang berkunjung ke rumah atau saat ibunya arisan bareng temanteman ibunya, kejadian ini kadang membuat malu atau si ibu menjadi tidak nyaman. Kalau kejadiannya seperti ini tinggal ajak ke dalam kamar dan alihkan perhatian, misal­ nya dengan mengajak bermain yang lain atau diberikan permainan yang lebih menarik dan disukainya dan jangan dimarahi karena bisa menjadi nanti terekam dalam memori si anak sebagai sebuah kejadian yang baginya memegang kelamin atau beraktivitas seksual itu adalah sebuah hal terlarang, ini akan berpotensi akan persepsi buruk seksual di masa depannya. Karena kebiasaan ini akan hilang seiring waktu dengan beralih ke fase laten. Jadi akan berhenti sekitar usia 5 tahun biasanya. Jadi, pahami dulu tentang tahapan perkembangan seksual anak, karena sesungguhnya hal ini wajar dan nanti juga akan meng­ hilang berjalan usia. Sekarang tinggal bagaimana menyikapi ekses dari kejadian yang dilakukan si anak, selama dilakukan di tempat dan bersama orang yang wajar

saja (misalnya dengan orangtua saat tidur-tiduran, atau bersama boneka­nya) tidak usah bereaksi yang bersifat melarang dan memarahi. Biarkan saja. Yang perlu diperhatikan adalah lihat juga apakah ada alat-alat berbahaya yang juga digunakan, atau tangan si anak sering kali dalam keadaan kotor sudah memegang kelaminnya, karena jika ini terjadi maka perlu juga diajarkan si anak untuk belajar mencuci tangan dan singkirkan benda-benda yang berisiko memunculkan perlukaan hingga infeksi. Lalu, kalaupun memunculkan rasa tidak nyaman karena bisa jadi dilakukan di tempat terbuka dan terlalu sering karena hampir tiap hari, cobalah berkomunikasi de­ ngan biasa saja untuk mengalihkan aktivitasnya dengan aktivitas lainnya yang menyenangkan anak, seperti mengajak bermain atau diberikan mainan yang disukai. Sekali lagi jangan dimarahi berlebihan karena bisa menjadi nanti terekam dalam memori si anak sebagai sebuah kejadian yang baginya memegang kelamin atau beraktivitas seksual itu adalah sebuah hal terlarang, ini akan berpotensi akan persepsi buruk seksual di masa depannya. Dalam memberikan pendidikan

seks awal di rumah, ciptakan suasana bahwa kebersamaan orangtua, baik ayah dan ibu adalah sebagai sumber informasi seksual yang sama. Tetapi memang akhirnya nanti akan terseleksi, yang sebaiknya lebih berperan adalah yang memang paling punya kualitas waktu terbaik yang paling sering bersama si anak. Misalnya ibunya. Tetapi bukan berarti si ayah lalu tidak melakukan apa-apa atau tidak berperan dalam komunikasi seksual bersama anaknya, hal ini tetap harus dilakukan. Dalam proses pendidikan seks pada anak tentu saja disesuaikan dengan usianya. Di usia bermain, ajarkan anak untuk memahami dirinya dengan menyenangkan dan berkomunikasi sambil bermain. Ajarkan anak dengan menggunakan alat bantu permainan yang disukainya, serta libatkan anak untuk mengenali organ tubuhnya dengan baik sambil melakukan aktivitas sehari-hari. Misalnya memberitahukan tentang nama dan fungsi kelaminnya sambil mengajarkan mandi sendiri saat dimandikan di kamar mandi. Ini akan baik buat si anak dan melekat memorinya akan hal baik dan berguna seputar keadaan seksualitasnya.


BUGAR

10

17 - 23 Februari 2014

Waspadai Nyeri Lutut

Pengapuran sendi lutut lebih sering dialami wanita yang berusia lanjut dengan berat badan yang berlebih. Pengapuran sendi merupakan penyebab utama nyeri pada sendi dan bukan karena penyakit reumatik atau asam urat. Pada penyakit reumatik terjadi proses peradangan lapisan dalam kapsul/pembungkus sendi sehingga sendi membengkak dan terasa nyeri.

M

enurut dokter spesialis bedah tulang/ortho paedi traumatologi dr. Cokorda Gde Oka Dharmayuda Sp.OT(K), penyakit reumatik cenderung menyerang sendi-sendi yang kecil seperti sendi pergelangan tangan atau jari jari tangan, menyerang secara simetris (sisi kanan dan sisi kiri) dan mengenai lebih dari tiga sendi secara bersamaan. Pengapuran sendi pada umumnya mengenai satu sendi saja tanpa disertai dengan nyeri pada sendi yang lain. Konsultan lutut, pinggul, dan rekontruksi ini mengatakan, penyebab penipisan lapisan tulang rawan sendi pada pengapuran sendi atau osteoarthritis tidak diketahui secara pasti dan dianggap sebagai proses penuaan sama seperti proses penuaan yang

terjadi pada tubuh lainnya seperti kulit menjadi keriput dan rambut yang memutih. Pada tulang rawan sendi, proses penuaan ditandai dengan penipisan dan kemunduran fungsi tulang rawan sebagai pelapis ujung tulang pembentuk sendi. Sebagian orang tua akan mengalami 80% pengapuran sendi dengan derajat yang berbeda beda. Diduga proses penuaan ini dipandang sebagai akibat dari beberapa faktor risiko. Pertama, usia tua. Pada wanita usia diatas 55 tahun akan mengalami pengapuran tulang sebesar 80%. Kedua, kelebihan berat badan. Sendi-sendi pada tungkai bawah, khususnya lutut dan pinggul setiap hari menerima beban yang cukup berat. Pada saat berdiri kedua sendi ini menerima beban dua kali berat badan kita. Pada saat berdiri dengan satu kaki beban yang diterima empat kali berat badan. Karena itu, berat badan yang melebihi berat badan ideal akan menambah beban berat yang diterima sendi lutut dan pinggul sehari hari. Kelebihan berat badan ini merupakan faktor risiko yang penting bagi timbulnya pengapuran sendi khususnya sendi lutut dan pinggul. Ketiga, aktivitas yang berlebihan seperti sering meloncat dan Tampak kedua lutut sudah bengkok naik turun tangga

Sehat ala Ade Rai

Kirim surat Anda ke Redaksi Tokoh dan cantumkan “Sehat ala Ade Rai” di amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh.co.id Rubrik ini diasuh Ade Rai.

Jurus 4: Jagalah Kesehatan Pencernaan Ada pendapat yang menyarankan bahwa banyak penyakit populer yang diderita manusia (seperti: migrain, mudah lelah, darah tinggi, malnutrisi, ambeien bahkan diabetes, kanker usus dan stroke) diawali oleh organ pencernaan yang tidak sehat. Pendapat tersebut sangat masuk akal, karena pada sistem pencernaan manusia melibatkan berbagai faktor yang berhubungan langsung dengan penyakit-penyakit yang disebut di atas. Sebut saja sistem metabolisme tubuh yang berhubungan erat dengan insulin. Juga organ usus yang sangat integral peranannya dalam penyerapan nutrisi maupun sistem pembuangan sisa-sisa metabolisme. Bahkan dalam suatu penelitian,

jelas akan menambah beban yang diterima sendi lutut dan pinggul sehingga dapat menyebabkan proses penipisan tulang rawan sendi menjadi lebih cepat dibandingkan dengan orang yang memiliki aktikvitas normal. Keempat, menderita kelemahan otot paha. Otot otot paha dan ligamen berfungsi menjaga stabilitas sendi. Apabila terjadi kelemahan pada otot otot paha atau cedera pada ligamen akan menyebabkan sendi menjadi tidak stabil dan goyah yang akan menyebabkan gesekan yang lebih sering dibanding sendi yang stabil sehingga lapisan tulang rawan sendi menjadi lebih cepat rusak. Kelima, trauma/pernah mengalami patah tulang sekitar sendi. Patah tulang di sekitar sendi yang tidak ditangani secara tepat seperti dibawa ke dukun patah tulang atau patah tulang yang berat yang mengenai sendi akan dapat menyebabkan kerusakan pada lapisan tulang rawan sendi sehingga mempercepat terjadinya osteoarthritis. Pada pengapuran sendi yang disebabkan proses penuaan akan terjadi kehilangan dari pada matrix atau proteoglikan yang merupakan komponen penting dalam tulang sehingga akan menyebabkan tulang rawan menjadi kehilangan kekenyalannya. Disamping itu juga, akan terjadi kehilangan sejumlah air sehingga tulang rawan sendi menjadi kering dan mudah pecah, mirip seperti tanah di sawah yang apabila tidak mendapatkan air tanahnya menjadi mudah pecah atau terbelah dan akan lepas ke dalam sendi saat sendi bergesakan pada waktu berjalan. Oleh karena sendi dibungkus oleh kapsul sendi, pecahan tulang rawan sendi ini akan terperangkap

di dalam sendi sebagai benda asing sehingga dr. Cokorda Gde Oka Dharmayuda sendi akan beruIa menyebutkan, pengobatan saha untuk melawan benda asing untuk pengapuran sendi berbedaini sehingga menimbulkan bengbeda tergantung stadiumnya. kak dan cairan dalam sendi dan nyeri. Cairan ini berbeda dengan Pada stadium ringan dilakukan cairan normal yang ada di dalam tanpa pembedahan sedangkan sendi, di mana cairan ini berwarna pada stadium berat dilakukan kekuningan dan apabila jumlah pembedahan. Tujuan pengobatan pada banyak sering menyebabkan lutut pengapuran sendi, memberikan kaku. “Adanya rasa nyeri ini teruta- pengertian pengapuran sendi ma yang timbul di pagi hari setelah merupakan proses yang umum beraktivitas, akan menyebabkan dialami oleh orang tua, dan penotot paha akan berkontraksi se- gapuran sendi ini tidak membahingga lama lama otot otot paha hayakan jiwa pasien. Menghilanmenjadi memendek dan timbul gkan rasa nyeri dan meningkatkan rasa kaku pada sendi lutut atau kualitas hidup sehingga penderita dapat hidup bebas dari nyeri. pinggul,” jelas dr. Cok. Gejala gejala yang ditimbulkan Mengurangi pembengkakan yang pengapuran sendi bervariasi ter- terjadi. Mencegah pengapuran gantung derajat berat ringannya sendi menjadi lebih berat dari pengapuran yang dialami. Pada stadium ringan menjadi stadium stadium awal sering berupa nyeri berat. Mencegah kelainan bentuk pada lutut terutama setelah be- yang mungkin terjadi dan mengraktivitas seperti sehabis lari, naik oreksi kelainan bentuk tungkai turun tangga dan nyeri berkurang apabila sudah terjadi.Tetap aktif saat istirahat. Sering terdengar melakukan aktivitas sehari hari. bunyi “krek-krek pada saat sendi Menjaga kekuatan otot otot lutut di gerakan. Disamping itu sekitar paha. Dokter Cok menegaskan, sering juga mengalami kekakuan pada sendi setelah bangun tidur di seperti halnya proses penuaan, pagi hari atau setelah duduk lama. pengapuran sendi tidak dapat diceCairan yang berlebihan pada sendi gah. Namun, bagi yang mempunyai akan menimbulkan bengkak pada faktor risiko untuk terjadinya pesendi dimana cairan yang berlebi- nyakit ini, dapat melakukan modihan ini akan memperberat nyeri fikasi gaya hidup dengan menurun berat badan, menjaga sendi tetap yang terjadi. Pada stadium yang lebih be- sehat, berolahraga secara teratur rat, rasa sakit yang dialami tidak untuk menjaga kekuatan otot hanya saat beraktivitas saja tetapi otot sekitar lutut. “Memperoleh juga dirasakan saat beristirahat, pengobatan yang benar pada yang sendi juga menjadi lebih kaku menderita pengapuran sendi stadisehingga penderita tidak mampu um ringan juga sangat bermanfaat lagi untuk berjongkok. Sering kita memperlambat menjadi stadium jumpai pada stadium yang berat berat,” ujarnya. –Wirati Astiti/Ngurah Budi kaki menjadi bentuk huruf O atau bentuk huruf X.

Jurus Meningkatkan Daya Tahan Tubuh (4) ditemukan bahwa jumlah kotoran yang menumpuk dan mengendap pada dinding usus bisa mencapai seberat 3 kilogram! Sebenarnya untuk menjaga kesehatan pencernaan adalah hal yang gampang-gampang susah. Artinya, mudah apabila sudah menjadi kebiasaan namun sulit apabila tidak dijalankan tanpa kesadaran yang penuh. Untuk itu, fitnessmania bisa memulainya dengan beberapa pointer berikut ini: Pastikan konsumsi serat minimal 25 gram per hari dengan konsumsi sayur-sayuran dan buah. Bisa pula dengan suplementasi serat dari bahan psyllium husk atau agar-agar rumput laut. Konsumsi setidaknya 16 gelas air minum per hari. Pastikan untuk makan dengan tempo yang sedang, terutama saat mengunyah. Proses mengunyah yang baik

bisa meringankan kerja peristaltik lambung hingga 50%. Konsumsi yoghurt atau suplemen prebiotik / probiotik untuk menjaga keseimbangan bakteri dalam usus. Konsumsi enzim pencernaan, terutama yang mengandung amilase, protease, lipase, papain, dan bromelain. Konsumsi vitamin B kompleks yang merupakan vitamin metabolisme. Cobalah beberapa pointer di atas. Akan lebih baik lagi apabila semuanya bisa dilakukan secara reguler setiap hari sebagai bagian baru dan penting dari kebiasaan hidup sehari-hari. Siapa tahu kualitas hidup fitnessmania menjadi lebih baik dengan menjalankan saran-saran di atas. Meskipun bukan merupakan suatu panduan wajib dan masih jauh dari lengkap, setidaknya jurus ini cukup pantas untuk dijadikan pertimbangan apabila kesehatan dan imunitas menjadi prioritas bagi fitnessmania.

STYLE

17 - 23 Februari 2014

15

Kebaya Endek Modifikasi Kebaya sebagai salah satu busana nasional, kini dibuat dengan beragam model dan modifikasi. Hal ini, membuat perempuan tampil semakin cantik dan anggun.

U

Rhea Cempaka

ntuk sebuah kebaya pula, desainer maupun pecinta mode kini sama-sama cermat memilih, baik untuk model, warna juga bahan yang sesuai. Seperti juga garapan dari Ni Wayan Ria Mariani, yang lebih dikenal dengan panggilan Rhea Cempaka. Untuk koleksinya kali ini, ia memilih bahan endek, tenun ikat khas Bali Rhea dalam menampilkan desain –desainnya, berhasil mengolah selembar kain endek menjadi sepotong kebaya dengan daya saing tersendiri, baik di pasar lokal maupun nasional. Baginya endek yang dikenal sebagai bahan bernilai seni tinggi ,

tidak pernah kehilangan daya tarik di tengah kemajuan teknologi saat ini. Terlebih, Rhea sebagai salah seorang pelaku industri endek menyadari semakin modern seseorang maka ia akan semakin mencintai dan menghargai hal yang mengandung nilai sejarah budaya yang kuat serta ada menjaga unsur tradisionalnya, seperti endek. Pekan ini, melalui tangan pemilik Butik Cempaka ini, dapat dilihat kain endek diciptakan menjadi busana model kebaya yang gaya. Persembahan kebaya endek inipun semakin indah dengan aplikasi bordir, ikat polos, brokat serta taburan payet. – Sri Ardhini/WiratiAstiti


PELESIR

16

17 - 23 Februari 2014

Jantan atau Betina Tergantung Suhu Siapa yang tak kenal penyu? ­Binatang yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di laut ini secara alamiah memang hidup dan berkembang biak dalam kondisi yang penuh tantangan. Mulai dari gangguan alam dan binatang pemangsa saat ­penetasan telur penyu.

Made K ­ arsa

D

i Indonesia, ditemukan enam spesies penyu. Ada tiga spesies yang hidup di Bali. Tokoh berkesempatan berjalanjalan ke Pusat Pendidikan dan Konservasi Penyu di Pulau Serangan, Sabtu, awal Februari 2014. Tak sulit mencari tempat ini. Ketika memasuki Desa

Serang­an dan melewati Pura Sakenan, Anda terus saja meng­ ikuti jalan yang membentang ke depan. Berbelok ke kiri, Anda sudah menemukan tempat ini. Namun, jika kebingungan, silakan bertanya kepada warga yang siap mengantar Anda mencapai tempat ini. Anda akan menemui satu plang besar di depan pintu masuk bertuliskan Pusat Pendidikan dan Konservasi Penyu Desa Adat Serangan. Dipandu Made ­Karsa, salah seo r a n g penjaga di sana, kami me­ ngobrol seputar penetas­ an penyu hingga siap dibawa ke laut. Luas keseluruh­ an areal ini sekitar 80 are.

Tempat penetasan telur penyu

Kolam untuk penyu besar

17 - 23 Februari 2014

DARA

Gara-gara Komik

9

“Watashi no namae wa Mia desu Tabanan kara kimashita Juunana sai desu Duzo yoroshiku Onegaishimasu”

K

Patung penyu besar se­bagai ikon tempat konservasi

Untuk konser­ vasi penyu hanya 35 are dan sisa­ nya untuk ­areal bumi perkemahan. Pepohon­an besar yang tumbuh di areal ini memberikan suasana rindang. Satu patung penyu besar se­bagai ikon tempat ini dipajang di halaman. Menurut Made Karsa, anak-anak sekolah sering datang ke konservasi penyu. Biasanya mereka belajar penetasan penyu. Selain itu, mahasiswa PKL dari luar Bali kerap ber­datangan. Sehari-hari konservasi ini ramai dikunjungi turis asing dari Eropa. Pada hari libur, banyak wisatawan lokal berkunjung. Pertama, Made Karsa me­ nun­juk­­kan areal pengeraman telur penyu. Bentuk telur pe-

nyu ini juga bermacam-macam, ada yang lonjong seperti telur ayam atau itik, ada pula yang bulat seperti bola. Sedang untuk warnanya adalah putih bersih. Di Bali, biasanya musim bertelur pada bulan Mei sampai September. Setelah lebih kurang 45 hari, telur-telur ini menetas. Menurutnya, keberhasilan penetasan telur penyu ini berkisar 80 persen. Kendalanya, kondisi lembab dan suhu. Suhu yang pa­ ling baik adalah saat musim panas. Telur ini me­n etas secara alami dalam media pasir. Suhu juga mempe­ ngaruhi jenis kelamin. “Suhu rendah mempengaruhi kelahiran penyu jantan, sementara penyu bentina lahir pada suhu panas,” ujarnya. Setelah telur

Kolam tukik

penyu menetas menjadi tukik, mereka dipindahkan ke satu kolam. Ada 10 kolam, yang isinya penyu dalam berbagai usia. Mulai sebulan, tiga bulan, setahun, bahkan tahunan. Tiap hari tukik ini diberi makan pagi dan sore hari. Ada tiga jenis penyu yang ada di konservasi ini yakni penyu hijau, sisik, dan lekang. Penyu lekang dalam habitatnya makan ubur-ubur, penyu hijau makan rumput laut, dan penyu sisik makan terumbu karang yang lembut, kepiting, atau kerang. Sementara di tempat konservasi ini, penyu diberikan makan ikan tongkol dan lemuru. “Pemberian makan juga tidak langsung diberikan tapi dicari dagingnya yang lembut. Satu kilogram ikan, biasanya hanya mendapatkan ¼ kilogram da­ging. Satu ekor penyu usia sebulan satu hari makan sebanyak 100 gram. Penyu besar malah b i s a mencapai 1 k g ,” tutur Karsa. S e lain pe­nyu yang diternakkan, ada juga penyu di konservasi ini pemberian turis asing. “Ada penyu yang terdampar dibawa ke sini, untuk dirawat. Kalau sudah kuat kami kembalikan lagi ke laut,” ucapnya. Setelah tukik berusia tiga bulan, mereka disebar ke laut dan kembali ke habitatnya. Sementara, ada beberapa yang dibesarkan di tempat konservasi untuk keperluan pameran dan edukasi bagi anak sekolah. –Wirati Astiti/Ngurah Budi

alimat dalam bahasa Jepang meluncur begitu lancar dari bibir Ni Made Mia Septiarini Putri. “Itu artinya per­kenalan saya dalam bahasa Jepang,” ujar siswi Kelas XII Jurusan Bahasa SMAN 5 Denpasar ini. Dara usia 17 tahun ini menuturkan, mendengar Jepang, membuatnya begitu terpesona. Uniknya, semua itu lantaran awalnya ia suka membaca komik manga. “Saya suka membaca komik manga sejak SMP. Suka juga nonton animasi Jepang. Lama-kelamaan, saya tertarik belajar bahasa Jepang. Apalagi melihat hurufnya unik sekali,” kata Mia, begitu gadis berkulit putih ini disapa. Selain suka komik Naruto, Mia paling suka menonton animasi Naruto dan Bleach. Untuk penyanyi Jepang, dia memfavoritkan girl band AKB 48. “Aksen orang Jepang unik. Saya jadi ingin juga belajar menyanyi Jepang,” tuturnya. Menurut Mia, anggapan komik hanya untuk anak kecil dan memberikan efek buruk ditepisnya “Tergantung dari kita, bagaimana cara memanfaatkan komik menjadi hal positif. Saya biasanya membaca komik kalau pas hari Sabtu, Minggu atau hari libur. Ke sekolah pun saya sering membawa komik. Tapi saya baca saat menunggu pergantian waktu belajar. Kalau lagi sibuk ba­ nyak tugas komiknya saya simpan dulu,” kata Mia. Justru, menurut Mia, komik banyak memberi nilai positif bagi­ nya. “Dalam cerita komik banyak yang memberikan inspirasi dan motivasi. Tokoh utamanya se­ ring menyebut jangan menyerah dalam meraih apa pun. Semua usaha harus kita keluarkan untuk mencapai tujuan,” kata Mia yang mengoleksi 200 komik manga dalam bahasa Indonesia dan tiga komik dalam bahasa Jepang ini. Setelah tamat SMP Ganesha Denpasar, Mia melanjutkan ke SMAN 5 Denpasar. Hobi membaca komik Jepang makin menjadi-jadi. Apalagi, saat kelas X, ia mendapat pelajaran bahasa Jepang selama dua jam pelajaran. Mia makin ter­tantang untuk belajar bahasa Jepang. Mia mencoba mengikuti berbagai lomba untuk mengasah keterampilannya berbahasa Jepang. Ia mencoba mengikuti lomba story telling dalam bahasa Jepang. Namun, usaha Mia gagal. Ia tak berkecil hati. “Waktu itu saya berpikir, mungkin kemampuan saya belum apa-apa sehingga saya harus terus belajar. Apalagi, dalam komik sering saya baca, kegagalan merupakan kesuksesan yang tertunda. Saya tak boleh patah

semangat,” kata Mia. Setelah naik ke kelas XI, Mia masuk di jurusan bahasa. Ia kembali mencoba peruntungannya ikut lomba berpidato dalam bahasa Jepang. Mia juga tertantang meng­ ikuti lomba menulis kalimat dalam bahasa Jepang. Namun, usaha Mia kembali gagal. “Saya sempat kecewa karena berkali-kali usaha saya gagal. Namun, berkat bimbingan guru Pembina, saya tak patah semangat. Saya terus meningkat­ kan keterampilan saya,” ujar peraih Juara I di kelas Bahasa ini. Tak berselang lama, bintang terang menyinari Mia. Ia berhasil dalam lomba berikutnya, yakni mendapatkan juara I Lomba pidato dalam bahasa Jepang tingkat SMA/ SMK se-Kota Denpasar. Dibarengi prestasi berikutnya Juara harapan I Tingkat Provinsi Bali. Prestasi ini tak membuatnya berhenti me­ngasah diri. Ketika naik kelas XII, Mia akhirnya mampu meraih prestasi yang lebih tinggi, Juara I Lomba Pidato Bahasa Jepang Tingkat Kota Denpasar, Juara I Tingkat Provinsi Bali, dan Juara II tingkat Nasional. Prestasi Mia terbilang hebat, bersama tiga juara nasional lainnya, peserta dari Aceh-Sumut, Jatim, dan Jawa Barat, ia akan berangkat ke Jepang bulan Juni mendatang. Usaha Mia tak mudah mendapatkan prestasi itu. Waktu dua bulan, ia persiapkan untuk lomba. Judul pidatonya “Daisuki na Manga”. Judul itu berkisah tentang dirinya yang sangat menyukai komik ­manga. Menurut Mia, ia menceritakan tentang kesukaannya pada komik manga apa adanya. Namun, paling tidak, ia harus mengetahui komik manga itu ada dua jenis, manga perempuan dan laki-laki. Menurut Mia, ia lebih suka komik manga laki-laki karena lebih ba­ nyak kisah motivasi dan perjuangan mengejar kesuksesan. Bukan hanya jago menuliskan, ia juga harus pintar mengucapkannya. “Lafalnya harus bagus dan hapal isi serta mengerti dengan baik apa tema yang ingin disampaikan. Karena setelah berpidato, juri akan bertanya mengenai seputar tema yang dibawakan,” kata Mia. Kesempatan mengunjungi Negeri Sakura tentu membuat Mia bahagia karena cita-citanya untuk bisa datang langsung ke Jepang tercapai. Saya ingin belajar budaya Jepang yang sangat unik seperti ­ritual minum teh dan belajar kaligrafi Jepang. Pokoknya banyak tempat yang ingin saya kunjungi terutama pusat penjualan komik manga dan animasi,” tutur Mia. Ada dua hadiah yang bisa dipilih empat juara nasional yakni pergi ke Tokyo mewakili Indonesia

Ni Made Mia Septiarini Putri bersama dua guru pembina Bahasa Jepang dan Kepala SMAN 5 Denpasar Drs. Nyoman Winata, M.Hum. (kanan)

dalam ajang kontes pidato yang diikuti peserta dari seluruh dunia, dan pergi ke Osaka mengunjungi beberapa SMA di sana. Mia berharap, mendapatkan kesempatan untuk pergi ke Tokyo dan mewakili Indonesia di ajang yang paling bergengsi. “Pengalam­ an yang paling luar biasa tentunya,” kata Mia. Dua guru pembina Mia, Made Indah Sarita Dewi, S.S. dan IA Widiastuti,S.S mengatakan, untuk memotivasi siswa belajar bahasa Jepang ada beberapa teknik yang dilakukan. “Kami mengajar dengan cara bermain. Mereka belajar ­saling mengajari teman. Selain itu, kami tak pernah memaksakan siswa kalau setiap lomba mereka harus menang, tapi tetap lakukan yang terbaik,” ujar Indah Sarita Dewi dan Widiastuti kompak. Teori memang perlu, tapi beberapa trik dilakukan agar siswa tak bosan. “Kami biasanya menyelipkan permainan tebak-tebakan kalimat. Termasuk kadang memutar video menyaksikan bagaimana orang Jepang berkomunikasi. Biar lebih seru, kami memutar lagu Jepang. Liriknya kami hapus beberapa kalimat. Siswa yang harus mengisinya,” kata Indah Sarita Dewi. Untuk persiapan Mia saat lomba, dua guru pembinanya memberikan banyak masukan seper­ti aturan dalam membuat naskah sendiri, tema, pesan yang ingin disampaikan dan teknik pelafalan, termasuk pemahaman dan teknik wawancara dengan juri. Menurut Indah Sarita Dewi, Mia tergolong siswa yang cerdas. Tak lama mengarahkan Mia, namun, ia sudah mengerti dengan baik. “Mungkin karena Mia sudah hobi baca komik manga sejak dulu jadi dia mengerti sekali apa yang ingin dia sampaikan,” kata guru honorer Bahasa Jepang ini. Indah Sarita Dewi menambah-

kan, di komik manga sering digunakan bahasa gaul. “Kami hanya mengajarkan bahasa yang lebih sopan untuk menjawab pertanyaan juri,” ucapnya. Namun, menurut Widiastuti, siswa diberikan target agar mereka menjadi lebih tertantang untuk belajar lebih giat. Kepala SMAN 5 Denpasar Drs. Nyoman Winata, M.Hum., menyambut baik prestasi yang diraih anak didiknya. “Sekolah memiliki visi terbuka dan berbagi. Artinya SMAN 5 terbuka bagi semua siswa, guru termasuk pemangku kepen­ tingan yang memberi masukan yang baik bagi sekolah. Kami juga terbuka untuk mengembangkan segala kegiatan civitas akademika. Kalau ingin berkembang, kami dukung semampunya. Apakah guru ingin berkreasi maksimal, silakan. Guru ke luar negeri karena prestasi, kami dukung. Potensi sekecil apapun, untuk mengembangkan diri kami beri kesempat­an, dalam bidang apapun

kami dukung dengan klub-klub. Kami wadahi dalam ekstrakurikuler. Seperti prestasi yang sudah diraih Mia. Ia sudah membawa nama harum diri sendiri, keluarga, kelas, sekolah, Kota Denpasar, Pulau Bali, termasuk Indonesia, kalau sampai Mia nanti berlaga di Tokyo. Sekolah memberi apreasiasi setinggi-tinggi kepada semua yang berprestasi,” kata lelaki yang pernah meraih predikat Kepala Sekolah Ber­ prestasi Tingkat Nasional ini. Hanya saja, ia masih ada ganjalan dan harapan kepada pemerintah. Masih banyak guru honor yang perlu diperhatikan nasibnya. “Guruguru ini sudah mendidik siswa dengan baik dan mampu meraih prestasi. Semoga pemerintah dapat memberikan apreasiasi dengan mengangkat mereka menjadi guru tetap, seperti guru pembina bahasa Jepang di SMAN 5 Denpasar,” kata Winata. -Wirati Astiti/Inten Indrawati


8

BUNDA & ANANDA

17 - 23 Februari 2014

Jangan Bawa Anak Sehat Besuk ke Rumah Sakit

17 - 23 Februari 2014

LKP Agung Gelar 30 Roadshow Tata Rias Diskon Kursus 50%

Ketika Bu Dewi sakit dan harus opname di rumah sakit, dua buah hatinya tak mau diam di rumah. Mereka memilih ikut ke rumah sakit. Selama tiga hari, keduanya berada di lingkungan rumah sakit. “Saya sudah melarang mereka untuk ke rumah sakit dan meminta mereka tetap di rumah bersama neneknya, tetapi mereka tidak mau. Satu sisi saya tenang karena bisa mengawasi mereka tetapi di sisi lain saya khawatir mereka tertular penyakit,” tutur Bu Dewi.

Ilustrasi

W

alaupun rumah sakit sudah membuat aturan, anak yang sehat sebaiknya tidak diajak membesuk pasien, tetap saja banyak yang mengajak anak sehat ke rumah sakit. Kadangkala, pihak rumah sakit menegur orangtua atau keluarga yang mengajak a n a k kecil ke rumah sakit. “Ke rumah sakit bukan untuk piknik atau jalanjalan

tetapi menengok orang sakit”. Kadangkala si anak yang ngotot ingin ikut ke rumah sakit. Padahal, rumah sakit sudah mewanti-wanti dengan memasang pengumuman, anak yang sehat sebaiknya tidak diajak ke rumah sakit. “Saya punya kemenakan yang ngotot ikut ke rumah sakit padahal dia sudah baca larangan itu. Masalahnya, saat yang bersamaan ada anak kecil juga ikut masuk rumah sakit. Kenapa dia boleh, saya tidak. Saya jelaskan, mungkin si anak itu sakit sehingga harus masuk rumah sakit. Kemenakan saya t i d a k p e rcaya. Saya jelaskan lagi, di rumah sakit banyak kuman dan virus. Kekebalan yang dimiliki anak kecil belum

mampu mengatasinya. Dia ngotot mau masuk, akhirnya saya berikan tetapi hanya sebentar,” ujar Pak Hari. Pengalaman Bu Dewi dan Pak Hari mungkin dialami juga oleh orangtua yang lainnya. Ada dilema ketika mengizinkan atau tidak, anak yang sehat ikut besuk ke rumah sakit. Apalagi jika yang ingin ditengok adalah orang terdekat anak itu. Bisa jadi kedatangan si anak akan menambah semangat yang sakit sehingga cepat sembuh. Tetapi, siapa yang bisa menjamin si anak tidak akan terkena virus atau kuman saat berada di tempat orang sakit. “Anak di bawah usia 12 tahun yang sehat tidak diperbolehkan masuk ke rumah sakit. Ini berlaku di semua rumah sakit. Ada kuman nosokomial yang harus dihindari. Kuman ini bias menular melalui percikan saat batuk, pilek, atau bersin. Ada juga kuman yang beterbangan di udara, seperti kuman TBC. Kalau ini terhirup oleh anak, ia akan sakit,” kata Prof. Dr. Hendra Santosa, SpA(K). Dokter yang praktik di RSIA

“Anak di bawah usia 12 tahun yang sehat tidak diperbolehkan masuk ke rumah sakit. Ini berlaku di semua rumah sakit. Ada kuman nosokomial yang harus dihindari. Kuman ini bias menular melalui percikan saat batuk, pilek, atau bersin. Ada juga kuman yang beterbangan di udara, seperti kuman TBC. Kalau ini terhirup oleh anak, ia akan sakit”

Puri Bunda ini menambahkan, selain kuman, bakteri, dan virus yang ada di rumah sakit, masalah kekebalan anak juga perlu diperhatikan. Anak memiliki dua kekebalan, kekebalan alamiah (ada dalam tubuh) dan kekebalan yang didapat. Kekebalan alamiah akan matang seiringan pertumbuhan usia. Jika belum matang, fungsinya tidak akan maksimal. Kalau anak yang kekebalannya belum maksimal lalu terpapar virus, kuman, atau bakteri, tentu ia mudah sakit. “Bayi di dalam kan­ dungan terlindungi tetapi se­telah lahir, ia mulai mendapat virus, kuman, bakteri. Sebagai solusi, sembari menunggu kekebalan alami itu berfungsi maksimal, diberikanlah vaksinasi. Kuman hidup dilemahkan atau dimatikan supaya ada respons dari tubuh untuk membentuk antibodi,” ujar dokter kelahiran Surabaya, 6 Oktober 1939 ini. Karena faktor lingkungan serta kekebalan inilah, anak kecil menjadi rentan dengan penyakit jika ikut ke rumah sakit. Walaupun pasien yang berada di rumah sakit penyakitnya tidak menular, tetapi tetap saja lingkungan sekitar yang harus diwaspadai. “Virus, kuman, bakteri itu banyak dan sangat kecil, tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Melihatnya harus dengan mikroskop. Paling aman, kalau anak sehat jangan ikut ke rumah sakit. Kalau terpapar kuman nosokomial, pengobatan menjadi lebih sulit dan lama,” ujar dokter yang pernah mengikuti pendidikan alergi imunologi di Sydney dan Perth, Australia tahun 1981 dan meraih gelar profesor tahun 2000 ini. Ia juga memperhatikan ketika

Prof Hendra

orang menengok pasien yang baru melahirkan. Saat ini rumah sakit mengembangkan rooming in artinya ibu dan bayinya ditempatkan dalam satu kamar. Tujuannya ibu bisa langsung menyusui. Pemerintah pun sudah menegaskan bayi yang baru lahir sesegera mungkin mendapatkan ASI karena ASI adalah nutrisi terbaik bagi bayi. Kendalanya, ketika di dalam kamar, banyak pembesuk, bayi tidak bisa leluasa menyusui. Suasana ramai kadang membuat bayi tidak nyaman. Sang ibu pun risih jika menyusui dihadapan orang banyak. “Pembesuk kan tidak semua sehat, mungkin ada yang sakit. Ini harus diperhatikan juga. Daya tahan bayi belum maksimal walaupun sudah memiliki kekebalan pasif yang didapat dari ibunya. Bayi bisa ikut tertular,” ujar Prof. Hendra. Ia pun menyarankan jika merasa sakit sebaiknya menunda untuk melihat bayi yang baru lahir. Bagi yang sehat, diingatkan untuk membersihkan tangan terlebih dahulu sebelum memegang bayi. “Di depan kamar perawatan biasanya sudah tersedia cairan antiseptik yang berguna untuk mengurangi kuman yang ada di tangan. Kadang personal hygiene ini diabaikan, padahal prinsip dalam dunia kesehatan adalah lebih baik mencegah daripada mengobati,” ujarnya.

17

AA Ayu Ketut Agung

P

agi itu, Jumat (14/2) Salon Agung dipenuhi gadis-gadis cantik berusia belia. Ditangani langsung Bu Agung dan dua tenaga profesonal lainnya, 30 anak SMAN 3 Denpasar itu tampak cantik dalam balutan busana tengkuluk lelunakan.Para murid tersebut tampak puas dengan hasil akhir riasan Salon Agung ini. Dua siswi kelas XI IPA, Ni Ketut Ria­ningsih Waringin dan Ni Komang Putri Lusiana Dewi menga­ takan ini kali pertama mereka menjadi pagar ayu dan dirias oleh Salon Agung. “Dulu kami pernah dirias salon lain berbusana tengkuluk lelunakan, tetapi hasilnya kurang bagus,” ujar Rianingsih. “Hasil matengkuluk lelunakan di

sini membuat kami semakin cantik dan jelita, dan sangat jelas terlihat bahwa kami gadis Bali,” imbuh Putri Lusiana. Dalam rang­­ ka penjaringan dan penyaringan calon tuan rumah Pon XX tahun 2020 oleh KONI p u s a t , SMAN 3 Denpasar dipercaya sebagai pagar ayu untuk menyambut panitia PON pusat. “Kami, Salon Agung, dipercaya Disdikpora Provinsi Bali untuk berpartisipasi merias tengkuluk lelunakan para penyambut tamu dari pusat,” ujar Dra. AA Ayu Ketut Agung, M.M., pemilik Salon Agung. Bu Agung, sapaan akrabnya mengatakan, busana tengkuluk lelunakan yang menjadi busana khas Kota Denpasar ini sudah seharusnya lebih disosialisasikan lagi penggunaannya. Cara pengerjaannya yang simpel dan mudah dipadupadankan dengan busana lain, termasuk busana muslim, sangat memungkin­ kan untuk menjadikan busana tengkuluk lelunakan ini sebagai ikon Bali. “Saya masih berharap busana tengkuluk lelunakan ini bisa menjadi ikon Bali ke depannya. Artinya, tiap wisatawan yang datang ke Bali merasa wajib menggunakan busana ini dan mendokumentasikannya sebagai bukti bahwa mereka benar-benar

sudah ke Bali,” ujar Bu Agung. Busana tengkuluk lelunakan hanyalah satu dari sekian banyak kekayaan budaya dan adat di Bali yang harus tetap dijaga dan dilestarikan. Karena itu pula, Bu Agung yang terus berkomitmen melestarikan budaya Bali ini selalu memasukkannya dalam tiap aktivitas berkaryanya. Sebut saja dalam tiap roadshow tata rias bekerjasama dengan Viva Cosmetic®. Selain mengajarkan etika berbusana adat Bali yang baik dan benar, memberikan pelatihan tata rias untuk diri-sendiri, serta membuat dan memasang sanggul Bali dan modern, Bu Agung juga mengajarkan bagaimana trik praktis membuat dan memasang tengkuluk lelunakan. ­­Semuanya ini dikatakan Bu Agung sebagai bentuk swadarmaning geginan, yakni membagi ilmu atau keterampilan yang ia miliki untuk orang banyak, khususnya perempuan Bali. Tujuannya, selain sebagai bentuk pelestarian budaya, juga menjadi nilai tambah bagi perempuan Bali untuk bisa mandiri. Dalam artian, mere­k a yang memiliki keterampilan khususnya di bidang tata rias, bisa mengambil peluang kerja secara mandiri tanpa harus bergantung pada pihak lain. Apalagi Bali sangat kental dengan kegiatan adat dan kegiatan keagamaan lainnya yang mengharuskannya menggunakan tata rias dan busana adat Bali. Sehingga, berkecimpung dalam tata rias menjadi profesi yang sangat menjanjikan. Belum lagi ketertarikan para wisatawan domestik maupun asing yang makin banyak ingin­ mendokumentasikan dirinya memakai busana adat Bali, baik untuk prewedding atau kegiatan lainnya. “Dengan menguasai keterampilan tata rias, minimal perempuan Bali yang biasanya harus pergi

ke salon hanya untuk berias dan memasang sanggul, bisa melakukannya sen­diri. Syukurnya lagi jika keterampil­an ini bisa berkembang menjadi ladang bisnis, yang tentunya bisa membantu menopang perekonomian keluarga, dan menjadikan perempuan Bali mandiri,” ujar Bu Agung. ROADSHOW TATA RIAS Sudah beberapa tahun ter­ akhir ini Bu Agung, Pimpinan Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Agung bekerjasama de­ngan Viva Cosmetic® menggelar roadshow tata rias ke seluruh pelosok Bali. Bu Agung berterima­kasih di tahun 2014 ini masih diberikan kepercayaan oleh Viva Cosmetic® untuk melanjutkan kembali roadshow-roadshow tersebut. Sepanjang tahun 2014 ini, sudah dijadwalkan ada 30 kegiatan serupa. Minggu ini (16/2), roadshow tata rias dilaksanakan di Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas), Denpasar. Berikutnya, (21/2) direncanakan digelar di Kabupaten Badung. Sebelumnya itu, sudah terlaksana lima kali kegiatan di awal tahun 2014 ini. Di antaranya, roadshow tata rias di Banjar Sema, Desa Pering, Gianyar, dan di Banjar Peninjoan, Batuan, Sukawati, Gianyar yang disinergikan dalam KKN Undiknas Denpasar. Berikutnya, be­kerjasama dengan WHDI Provinsi Bali bertempat di Wantilan Bali TV (26/1); di Balai Budaya Klungkung bekerjasama dengan TP PKK Klungkung dan dibuka langsung Bupati Klungkung, diikuti 550 peserta (7/2); dan Poltekes Jurusan Gizi (6/2). Menariknya, dalam tiap pe­ latih­a n tata rias yang digelar, se­t iap peserta mendapatkan cinderamata dan buku panduan tata rias se­hingga lebih memudahkan diri untuk belajar. “Kami membuka tangan bagi organisasi

wanita, ins­tansi pemerintah maupun swasta, yang berkeinginan mendapatkan pelatihan tata rias tanpa dipungut biaya, silakan menghubungi kami, dengan syarat peserta minimal 100 orang,” ujar Bu Agung. DISKON KURSUS 50% Bu Agung juga memberikan kesempatan luas kepada masyarakat umum untuk meng­ ikuti kursus reguler di LKP Agung dengan memberikan diskon 50%. Materi yang diajarkan mencakup Tata Kecantikan Kulit (perawatan muka, make up wajah, perawat­ an kaki dan tangan, perawatan tubuh), Tata Kecantikan Rambut (potong, kriting, blow, set, sanggu, creambath, pelurusan, dan cat rambut), Tata Rias Pe­ ngantin Bali (payas nista, madya, utama, modifikasi, tengkuluk lelunakan). LKP Agung memiliki tempat belajar yang memadai dan kondusif di dua tempat di Denpasar, dengan instruktur yang mempunyai latar belakang keahlian dan pengalaman legal yang tentunya telah mengantongi sertifikat kompetensi di bidang tata kecantikan. Sampai saat ini LKP Agung telah menamatkan 7.600 siswa didiknya yang sudah tersebar di Bali dan Nusantara. Disediakan pula beasiswa kursus gratis bagi mereka yang kurang mampu dan putus sekolah, yang benar-benar berminat di bidang tata kecantikan. Syarat dan ketentuan berlaku. Masyarakat yang berminat, silakan mendaftar di Sekretariat LKP Agung, Jalan Anggrek No. 12 Kreneng, Denpasar. Telepon 0361 233850, 081 1393602, faks. 0361 247153. Cabang Tohpati, Jalan WR. Supratman No. 303 A, Tohpati, Denpasar. Email: lkp_agung@yahoo.com. website: www.salonagung.com. –Inten Indrawati

–Ngurah Budi/Wirati Astiti

Bu Agung (paling kiri) bersama 30 siswi SMAN 3 Denpasar dalam balutan busana tengkuluk lelunakan usai dirias


D AYA C I P TA

18

17 - 23 Februari 2014

Games Berbasis Budaya Bali

Dari D’Kala sampai Puzzle Endek Games D’Kala menjadi pusat per­ hatian sejak diluncurkan tahun 2012. Games ini menjadi awal ­eksistensi per­usahaan software di Bali ­untuk unjuk gigi di dunia teknologi ­informasi. Nama D’Kala tak bisa di­lepaskan dari tangan dingin Putu Sudiarta bersama tim ­Bamboomedia.

“D

’ K a l a dibuat saat ­Angry B i rd s e ­ dang booming. Konsep hukum fisika yang digunakan dalam Angry Bird menginspirasi kami untuk membuat sesuatu yang beda. Dari diskusi de­ngan te­ man-teman akhirnya muncul ogoh-ogoh dengan menggu­ nakan konsep keseimba­ngan,” ungkap Su­diarta, Direktur Bam­ boomedia. Ada enam langkah yang harus dilaku­ kan sebelum ogoh-ogoh bisa diarak. Enam langkah ini mencerminkan sad ripu (enam musuh dalam diri manusia). Jika berha­ sil mengatasi enam musuh ini, barulah bisa melangkah. Dari 20 kara­ kter ogoh-ogoh yang dibuat, hanya 1 yang dikerjakan tim Bamboomedia, 19 lainnya ha­ sil kreasi anak-anak SMK yang magang di Bambomedia. Ke­ betulan para siswa tersebut memiliki bakat menggambar. “Tahun 2012, kami di­undang

Games berbasis budaya Bali ini me­rupakan bagian dari pelestarian budaya Bali sekaligus edukasi kepada masyarakat.

Kementerian Perindustrian untuk ikut CeBIT, pameran IT terbesar di dunia di Han­ nver, Jerman. Kami melakukan beberapa terobosan seperti memasang logo android yang memakai udeng dan saput poleng yang kami juluki Mr Android from Bali, memasang topeng dan menyiapkan suvenir khas Bali. Selain suasana Bali, kami memperkenalkan aplikasi D’Kala untuk android. Bagi yang bisa menyele­ saikan permain­ an ini, boleh mengambil satu suvenir. Ternya­ ta peminat­nya banyak dan D’Kala mu­ l a i d i k e n a l ,” ujar pria asal Klungkung yang meng­aku mem­ buat games disela-sela mengerjakan proyek formal ini. PUZZLE ENDEK Peraih Best Information Technology International Busi­ ness & Company Award 2010 dan Primaniyarta Award Kate­ gori Ekonomi Krea­tif dari Ke­ menterian Per­d agangan RI pada tahun 2011 ini tak ber­ henti sampai disini. Akhir ta­ hun 2013, dalam sebuah acara

17 - 23 Februari 2014

Sehari Bagai Setahun Setelah tiga bulan menjadi pesakitan di Rutan Malendeng, Manado, Sulawesi Utara, dr. Dewa Ayu Sasiary Prawani, Sp.OG. akhirnya bisa menghirup udara bebas, Sabtu (8/2) pukul 00.45. Ia langsung ke Bali melepas kangen dengan keluarga dan malukat di Pura Pancoran Selukat, ­Keramas, Gianyar. “Malukat me­rupakan upacara pembersihan diri. Ini keyakinan pri­badi untuk membuang sial, membuang semua ­permasalahan agar tak terulang lagi di kemudian hari dan terlahir kembali ­menjadi manusia baru,” ujarnya.

D

bertema endek di Denpasar ia me­ lihat ada potensi dari endek yang dipindahkan ke games. Sebelum­ nya, ia juga me­ nyaksikan para ke p a l a n e g a ­r a yang ikut APEC di Nusa Dua foto ber­ sama me­ngenakan pakaian endek. “Saya searching di Apple Store dan Play Store dan me­ masukkan keyword endek. Tak ada yang muncul. D a r i s i t u s aya yakin belum ada yang membuat games berbasis endek,” papar­nya. Dalam waktu seming­gu, Su­ diarta dan tim berhasil meram­ pungkan games yang diberi nama “Puzzle Endek. Original

okter Ayu hanya dua hari di Bali. Rabu (12/2) dr. Ayu ke Jakarta ber­ silaturahmi dengan perwakilan IDI dan kuasa hukumnya di Jakarta. Ia bersama dua rekannya, dr. Hendry Simanjuntak dan dr. Hendy Siagian tersangkut kasus dugaan melakukan malaprakrik hingga merengut nyawa pasiennya Julia Fansiska Makatey saat menjalani operasi cesar di RS Kandou, Malalayang, Manado pada 2010. Ketiganya divonis masing-masing 10 bulan penjara. Keputusan tersebut mengundang reaksi dokter-dokter se-Indonesia yang tergabung dalam IDI (Ika­ tan Dokter Indonesia). Berbagai gelombang protes hingga demo alias mogok melayani pasien dilaksanakan 27 November 2013 sebagai aksi solidaritas. “Dari tahun 2010 itu kasusnya bergulir terus. Tahun 2011 sidang di

Woven Fabric of Bali”. Games ini sudah dipublikasikan dan hingga kini peng­u nduhnya sekitar 10 ribu. Games ini berjenis puzzle. Ada poton­ gan motif endek yang harus dis­ usun seh­ ingga me­ nampilkan motif yang utuh. Ba­ nyak anaka n a k ya n g suka dengan permainan sederhana ini. Mela­ lui games ini Sudiarta ­i ngin mem­ perkenalkan endek se­ bagai waris­ a n b u d aya khas Bali.

Puzzle ini memiliki 9 level permainan. Setelah menyelesai­ kan level 1, barulah pemain bisa melanjutkan ke level 2 dan selanjutnya sampai level 9. Jika mampu menyelesaikan se­ mua level atau menyelesaikan level 9, pemain akan mendapat hadiah berupa gambar produkproduk turunan endek sepeti tas, sandal, dll. Ke depan, Sudiarta ingin mengembangkan games ini. Jika ada pihak-pihak mau be­ kerja sama, pihaknya sangat terbuka. Baginya games berba­ sis budaya Bali ini merupakan bagian dari pelestarian budaya Bali sekaligus edukasi kepada masyarakat. Games lain yang sudah dipublikasikan adalah “Live in Gajah Mada” yang terinspirasi situasi jalan Ga­ jah Mada. “Kami ingin mem­ bawa kearifan lokal Bali ke era kekini­an atau era teknologi,” tegasnya. –Ngurah Budi/Wirati Astiti

l i f e s to ry

Pengadilan Negeri, dinyatakan tidak bersalah. Sampai akhirnya saya menyelesaikan studi dan kembali ke Balikpapan untuk bertugas,” ungkapnya. Ternyata jaksa mengajukan kasasi. Awal 2013 keputusan kasasi keluar menyatakan dr. Ayu dan rekan-rekan­ nya bersalah. Mereka pun langsung mengajukan peninjauan kembali (PK). Ironisnya, semasih menanti putusan PK, dr. Ayu dijemput pihak kejaksaan di tempatnya bekerja, di Rumah Sakit Permata Hati, Balikpapan, Kalimantan Timur. Ia mengaku ketika dinyatakan bersalah, merasa sedih, kecewa, dan merasa diperlakukan tidak adil. Sudah melakukan sesuai prosedur, tetap dipersalahkan. “Saya sempat ke­ cewa, karena ketika kasus ini terangbenderang, saya justru di penjara. Bagaimana jika kasus saya abu-abu atau hitam, mungkin dipenjara lebih lama,” sindirnya. Ketika itu, ia tak bisa membayang­ kan apa yang akan terjadi di dalam jeruji besi. Ia merasa sedih dan tertekan. Dua hari mendekam di pen­ jara, ia mulai berke­ nalan de­ngan para penghuni lainnya. “Ternyata mereka meng­a lami nasib yang sama, meng­ alami ketidak­ adilan, masih dalam tahapan pemeriksaan su­ dah dipenjarakan. Kami saling support, tukar pikiran, dan itu membuat saya kuat,” kisah­ nya. Hari-harinya di balik jeruji besi diisi dengan mem­ baca dan olahraga. Ia tetap membantu menangani tahan­

7

dr. Dewa Ayu Sasiary Prawani, Sp.OG.

an yang sakit, seperti pendarahan, stroke, hipertensi, terutama di luar jam kerja. “Penjara tiga bulan mung­ kin waktu yang pendek bagi mereka yang hukumannya panjang. Tetapi bagi saya, sehari rasanya setahun,” ucapnya. Melalui peristiwa ini, dr. Ayu menegaskan memetik kesimpulan bahwa dok­ ter hanya alat dari Tu­ han. Sebagai dokter han­ ya bisa ber­ upaya mak­ simal sesuai kemampuan dan keilmuan yang dimiliki. Selanjutnya, tangan Tuhan yang bekerja untuk menyela­ matkan pasien. Kesembuhan, mati, hidupnya pasien ada di tangan Tuhan, bukan di tangan dokter. Karena itu ia berpesan, jika sudah berniat atau bercita-cita men­ jadi dokter yang baik, di dalamnya harus ada keinginan untuk melayani pasien dengan keilmuan, melayani sesuai prosedur, dan dengan rasa kasih sayang. “Jika sudah melayani dengan semua itu, jangan takut pada risiko. Semua kembali pada Tuhan,” ingatnya. MERANTAU AGAR MANDIRI Di mata kakak-kakak, adik dan keluarganya, dr. Ayu adalah sosok perempuan yang kuat dan teguh dalam pendiriannya. Ia merupakan anak kelima dari enam bersaudara buah pernikahan dr. I Dewa Ngurah Adi Palguna (alm.) dengan Dewa Ayu Anom, S.H. Sejak kecil, dr. Ayu sering

diajak sang ayah mengunjungi pasien ke klinik atau rumah sakit. Keinginan menjadi dokter untuk bisa menolong orang sakit itu terus berkecamuk dalam dirinya, hingga dr. Ayu melewati jenjang pendidikan­ nya di SD 5 Saraswati, Denpasar, SMPN 2 Den­ pasar, SMAN 1 Denpasar, dan nekat melanjutkan kuliahnya di daerah peran­ tauan di Uni­ versitas Sam R a t u ­l a n g i , Manado ta­ hun 1993. “ S e b e ­ narnya Ibu kurang setuju kar­ ena tem­ patnya jauh, apalagi saya perempuan. Begitu juga Ayah, tapi beliau senang karena saya di­ terima di kedokteran,” ungkapnya. Ia mengaku, entah mengapa seperti ada panggilan jiwa untuk merantau ke Manado, daerah yang masih ­asing, tanpa keluarga di sana. Yang ada di benaknya saat itu, ia ingin belajar mandiri, tak tergantung orangtua, dan satu-satunya cara dengan mer­ antau. “Dengan merantau kita bisa belajar mengatur diri di berbagai hal, ke­uangan, waktu, dan emosional,” ujarnya. Akhirnya, di universitas inilah ia ketemu jodoh, dr. IGN Okadara, kakak kelasnya. Menyelesaikan pen­ didikan tahun 2000, ia melanjutkan kariernya sebagai dokter PTT yang bertugas di Kalimantan Timur sampai saat ini. Sehari setelah penjemputan paksa dr. Ayu oleh kejaksaan, media-media lokal dan nasional pun menjadikan kasus ini sebagai headline. Dari ke­

terangan suaminya, putranya IGN Tata Adityawarnam yang masih duduk di kelas 6 SD pulang sekolah membawa koran yang memuat kasus ibunya lengkap dengan fotonya. Dok­ ter Ayu tidak ingat, koran itu didapat dari teman atau gurunya. “Trus, kamu bilang apa sama mereka,” ujar sang ayah mencoba mengorek komentar anaknya terkait reaksi teman-teman maupun guru sekolahnya. “Mama saya tidak salah. Saya yakin mereka menangkap orang yang salah,” ujar Tata seperti yang dituturkan dr. Okadara kepada dr. Ayu. Dokter Ayu mengaku sudah ter­ biasa menceritakan banyak hal kepada anak semata wayangnya itu, termasuk kasus yang menjerat dirinya. Awalnya Tata terkejut dan tidak terima karena ia yakin ibunya tidak bersalah. Karena itu ketika kasus ini terus bergulir dan akhirnya menjebloskan dr. Ayu ke penjara, Tata bisa menerima dengan sikap dewasa. Karena kendala sekolah, Tata baru sempat membesuk ibunya setelah sebulan di penjara. Kasus yang membelit ibunya itu tak membuat cita-citanya untuk menjadi dokter kelak, goyah. Putusan Mahkamah Agung yang mengabulkan PK yang diajukan kantor Sabas Sibaga, Ramli Siagian Associates terkait kasus dokter Ayu dan rekannya akhirnya dikabulkan Mahkamah Agung (MA). Putusan ini adalah hasil putusan tertinggi dari sistem peradilan di Indonesia. Tak ada yang bisa mengubahnya lagi, karena apa pun hasil PK dari MA ini sudah menjadi yurisprudensi untuk langkahlagkah hukum bagi dunia medis. Rencananya, minggu ini dr. Ayu akan kembali menjalani rutinitasnya melayani pasien di Rumah Sakit Per­ mata Hati, Balikpapan, Kalimantan Timur. Awalnya ia mengaku sempat takut dengan respons pasien. Karena, sebagai dokter yang memberikan jasa profesional, yang dibutuhkan adalah kepercayaan pasien. “Awalnya saya khawatir mereka tak mau lagi datang berobat pada saya. Tetapi, justru support itu datang dari pasien. Mereka sering berkirim kabar menantikan kedatangan saya dan itu membuat saya yakin kedepannya mereka masih menggunakan tenaga saya untuk menolong mereka,” ujarnya seraya mengatakan kalau sudah pensiun, ingin pulang ke Bali. –Inten Indrawati/Ngurah Budi


l i f e s to ry

6

Dari Anak Majikan Jadi Sopir

Kisah dan pengalaman Haris (34), saat bekerja sebagai TKI di Riyadh, Arab Saudi, memberikan gambaran bahwa tidak hanya TKW yang mengalami perlakuan buruk dari ­majikan seperti yang selama ini ramai diberitakan. Haris yang memilih melarikan diri dari rumah majikannya mengalami banyak hal tidak menyenangkan selama hampir tiga tahun menjadi TKI di negeri tersebut.

P

erjalanan hidup manusia yang berputar, pasti di­ alami oleh semua orang. Roda kehidupan itu akan terus berputar, hari ini susah besok atau ke depannya belum tentu susah terus namun bisa mendapat kesenang­ an. Demikian pula sebaliknya, hari ini senang besok dan selanjutnya belum tentu selalu senang, bisa jadi susah. Itulah yang dialami oleh Haris. Dulu ia tinggal bersama orangtua yang kaya dan memiliki banyak anak buah yang juga siap mengantarkan ia ke manamana. Sekarang berbalik, Harislah yang mengantar anak-anak majikannya ke mana-mana. Ia menjadi sopir sebuah keluarga di Arab. Hanya dalam waktu lima tahun, harta plus tabungan ayah Haris, ludes untuk keperluan sehari-hari termasuk biaya sekolah mereka dan kuliah kakak sulungnya yang hidup mewah di peran­ tauan. Kejatuhan itu terasa sangat memukul mereka. Kakak sulungnya tidak melanjutkan kuliah sedangkan ia berhenti setelah lulus SMA dan dua adiknya hanya sampai tamat sekolah dasar karena memilih bekerja. Dari hasil penjualan aset ayahnya, mereka dibekali masing-masing uang yang diserahkan untuk dikelola sendiri-sendiri. Lagi-lagi, kebiasaan hidup enak menyeret uang tersebut sampai habis tak bersisa.

Kakak sulungnya menikah dan terpaksa harus bekerja banting tulang berjualan di pasar. Pekerjaan yang jauh dari basis kehidupan mereka. Haris sendiri setelah menikah tidak tahu harus berbuat apa. Sementara kedua adiknya yang hanya lulus SD itu, ikut bekas anak buah ayahnya bekerja apa saja ke sana kemari. Haris pun memutuskan mening­ galkan Pulau Sumbawa, berangkat ke Riyadh, setelah sebelumnya kena tipu perekrut tenaga kerja sehingga uang hasil pembagian dari penjualan aset ayahnya habis tak tersisa. Tahun 2010, setelah menjalankan karantina selama dua bulan di Jakarta dan membayar Rp 11 juta, Haris berangkat ke Riyadh un­ tuk menjadi seorang supir dari keluarga purnawirawan polisi di sana. Keluarga ini termasuk keluarga besar karena memiliki tujuh orang anak (4 laki-laki dan 3 perempuan). Mereka memiliki beberapa mobil dan Haris bertanggung jawab mengurus dua mobil dan menjadi sopir untuk tiga anak perempuannya. Berbagai prilaku majikan dan anak-anaknya ini merepotkannya sejak pertama kali ia bekerja. Dua anaknya sekolah dan kuliah sedangkan satu anak lagi adalah seorang janda yang menurut Haris, “nakal”. “Ini yang paling bikin repot. Suka melanggar aturan keluarga senang

Kota Riyadh

pergi ke tempat hiburan bahkan hingga dini hari,” katanya. Hari-harinya bekerja sebagai sopir selalu kena marah dan caci maki. Tidak jarang ia kena pukulan. Ia jadi tidak mengerti harus mengikuti aturan yang mana. Orangtua bilang anak-anak tidak boleh pulang dini hari sedangkan anakanak memaksanya untuk mengantar hingga waktu yang tidak terbatas. “Ikut kata orangtua, anaknya yang kasar dan main pukul jika saya menolak. Ikut kata anaknya, orang tuanya yang menganiaya saya dan dikatakan melanggar aturan,” ujarnya. Sudah capek mengurus si janda yang selalu keluar tanpa jeda, ia juga harus mengantar jemput kedua anak lainnya sampai ke acara jalan-jalan ke mall atau ke rumah kawannya. Jam kerja yang ditentukan sesuai kontrak, tidak lagi berlaku. Dengan gaji hanya sekitar Rp 2.5 juta, Haris bekerja siang malam, 24 jam. “Jika ingin istrirahat tidur sebentar saja, HP harus selalu di bawah telinga,” katanya. Haris tinggal di bagian depan rumah tersebut dekat satpam. Ia sama sekali tidak diperboleh­

kan masuk rumah. Ia hanya bisa ketemu dengan pekerja rumah tangga yang berasal dari Jawa Timur, saat mereka keluar untuk buang sampah. Haris merasa benar-benar tenaga­ nya habis. Makan juga tidak teratur. Selama bekerja di sana, para pembantu rumah tangga dan supir serta satpam, diberi makanan sisa mereka. Karena sudah tidak tahan lagi dengan perlakuan majikan yang makin hari makin sering memukulnya, ia pun melawan dan meminta berhenti bekerja saat kontrak kerjanya dua tahun berakhir. “Tapi majikan tidak mengizinkan saya ber­ henti, pasport, KTP dan semua suratsurat saya ditahan,” katanya. Mereka hanya berjanji saja, selalu bulan depan atau liburan sekolah ia baru diizinkan berhenti bekerja. Jika saja perlakuan mereka baik, kemungkinan Haris masih mau bertahan untuk bekerja, tapi mengingat buruknya perlakuan tersebut, ia memilih kabur dari rumah majikannya, setelah setahun tertahan. Ia meminta pertolongan pada per­ wakilan perusahaan yang “menjualnya” pada keluarga itu yang ada di Riyadh.

17 - 23 Februari 2014

17 - 23 Februari 2014

Namun tidak diurus sama sekali. Ia diminta melapor pada polisi setempat (seperti Polsek). Sialnya, salah seorang anak majikannya yang seorang polisi malah memaki dan mengusirnya. Ia juga datang ke imigrasi untuk mengurus kepulangan, juga terdapat salah seorang kerabat majikannya. Pengurusan suratsuratnya dipersulit sedemikian rupa. Maka luntang-lantunglah ia sampai akhirnya ia lari ke KJRI Riyadh. Tiba di sana, ia meminta perlindungan dan menceritakan semua permasalahannya serta ia menginformasikan bahwa masa kontraknya telah habis dan ia ingin kembali ke Indonesia. “Sempat diurus oleh KJRI sampai mendatangi rumah majikan saya. Tapi perlakuan majikan saya pada staf KJRI yang mengantar saya untuk meminta surat-surat saya agar saya bisa pu­ lang ke Indonesia, sangat kasar dan tidak menghargai. Kami malah dicaci maki dengan kata-kata tidak pantas,” katanya. Ia dan staf KJRI pun pulang dengan tangan hampa. Empat bulan ia tinggal di penampungan KJRI Riyadh menunggu agar semua surat-surat kepulangannya dapat diurus. Sampai akhirnya, Desember 2013, ia dapat kembali ke Indonesia Haris bersyukur dapat kembali berkumpul dengan keluarganya dalam keadaan selamat mengingat terlalu banyak kisah sedih rekan-rekannya sesama TKI yang hingga saat ini tidak bisa pulang karena berbagai persoalan. Ia mengaku tidak berminat lagi bekerja di luar negeri. “Apa pun pekerjaan akan saya lakukan di kampung halaman ini, agar saya bisa berkumpul dengan anak dan istri,” katanya. -Naniek I. Taufan/Ngurah Budi

S U D U T PA N D A N G

19

Dapat Biaya Ngaben Rp 21 Juta

Tak Perlu Adep Kanan Adep Kiri Pemerintah kini menerapkan Sistem ­Jaminan Sosial Nasional (SJSN). ­Jaminan Sosial ini ­me­liputi ­jaminan ­kesehatan, jaminan ­kecelakaan kerja, jaminan hari tua, ­jaminan penisun, dan jaminan ke­matian. ­Pe­nyeleng­gara program ini ada dua, B ­ adan Penyelenggara ­Jaminan ­Sosial (BPJS) Kesehat­an me­nangani ­jamin­an kesehat­an dan BPJS Ketenaga­kerjaan menangani ­jaminan kecelaka­an kerja, jaminan hari tua, dan jaminan kematian.

B

P J S Ke s e h a t a n dikelola lembaga yang dulu bernama Askes sedangkan BPJS Ketenagakerjaan dikelola lembaga yang dulu dikenal de­ngan nama Jamsostek. So­ sialisasi pun terus digencarkan untuk memperkenalkan pro­ gram dari kedua lembaga ini. Bagi tenaga kerja yang sudah memiliki Jamsostek, program jaminan kesehatannya dialih­ kan ke BPJS Kesehatan. Tetapi, jangan khawatir karena kartu Jamsostek Kesehatan masih berlaku hingga Maret 2014. Setelah itu, program kesehatan ditangani BPJS Kesehatan. Prosedur pengalihan kepeserta­an ini sudah dilaku­ kan perusahaan peserta Jam­ sostek. Bu Ayu, yang mengurus peralihan untuk karyawan di kantor tempatnya bekerja menuturkan, proses peralihan sangat mudah. “Karyawan yang menjadi peserta Jamsostek kesehatan tinggal mengisi for­ mulir dari BPJS Kesehatan. Selain mengisi data, peserta juga memilih fasilitas kesehat­ an primer. Disarankan untuk memilih fasilitas kesehatan primer terdekat dengan tempat tinggal,” ujarnya.

Ketut Arja

Pemilihan fasilitas kesehat­ an terdekat ini akan memper­ mudah peserta BPJS Kesehatan untuk mendapatkan penanga­ nan jika sakit. Apabila fasilitas kesehatan primer tidak mampu menangani, akan diberi rujukan ke fasilitas kesehatan sekunder maupun tersier. “Selama ini masyarakat kurang memper­ hatikan masalah rujukan ini. Sakit sedikit maunya ke rumah sakit. Pola pikir masyarakat ini harus diubah. Ini memerlukan waktu dan kedisiplinan un­ tuk mengikuti prosedur,” ujar Direktur Utama RS Sanglah dr. Anak Ayu Sri Saraswati. Bagi masyarakat yang belum memahami prosedur atau masih bingung dengan pola BPJS Kes­ ehatan, sudah ada petugas di masing-masing RS yang bekerja sama dengan BPJS. Petugas ini yang akan memberikan pen­ jelasan mengenai prosedur yang harus diikuti. Bagi yang belum memiliki BPJS Kesehatan bisa langsung mendaftar dan membayar iuran. Selanjutnya mereka bisa merasakan man­ faat dari program ini. Di sisi lain, pengalihan pro­ gram kesehatan bagi tenaga kerja yang dulunya menjadi peserta Jamsostek ke BPJS

Agung Karma

Ngaben

Kesehatan membuat pekerja­an BPJS Ketenagakerjaan men­ jadi berkurang. “Dari satu sisi memang berkurang karena program kesehatan sudah di­ tangani BPJS Kesehatan. Tetapi, ada tugas berat yang harus kami laksanakan yakni menga­ jak semua tenaga kerja agar ikut dalam program BPJS Ketenaga­ kerjaan. Karena program ini sifatnya kolektif, perusahaan yang mendaftarkan tenaga kerjanya untuk ikut dalam jami­ nan kecelakaan kerja, jaminan kematian, dan jaminan hari tua,” ujar AA Karma Krisnadi, Kabid Pemasaran Formal BPJS Ketenagakerjaan Kantor Ca­ bang Bali I. Biaya masing-masing ja­ minan ini berbeda-beda. Jami­ nan kecelakaan kerja iurannya 0,24%-0,89% dari penghasilan, jaminan kematian 0,3% dari penghasilan, dan jaminan hari tua 5,7%. Karma mengakui, iuran jaminan hari tua yang dianggap memberatkan pada­ hal iuran itu tidak sepenuhnya dibayar perusahaan tetapi di­ tanggung bersama si tenaga kerja. Dari 10 ribuan perusa­ haan di Bali, baru 4.100 atau 60% yang menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan. Agung Karma menilai perusaha­an di Bali merasa nya­ man dengan kondisi yang ada. Karena itu, merasa tidak perlu dengan jaminan bagi tenaga kerjanya. Bahkan ada perusa­ haan yang didatangi Jamsostek mengatakan hanya tunduk kepada UUD 1945 bukannya kepada UU yang mengatur ja­ minan bagi tenaga kerja. “Bali sebagai daerah tujuan wisata sangat berpotensi untuk pengembangan jaminan bagi tenaga kerja. Budaya di Bali sangat mendukung. Contohnya,

jika peserta BPJS Ketenagaker­ jaan ini meninggal dunia, ada santunan Rp 21 juta. Jika di­ pakai biaya ngaben, ini cukup, tidak perlu lagi adep kanan, adep kiri. Ya kalau ada yang diadep (dijual), kalau tidak, mau cari uang di mana. Santunan ini diberikan jika peserta me­ ninggal di luar hubungan kerja. Jika meninggal akibat kerja, per­hitungannya 60% dikali 80 bulan upah. Iuran jaminan ke­ matian hanya 0,3% dari upah. Misalnya upah Rp 1 juta, 0,3% sama dengan Rp 3 ribu. Normal­ nya dari Rp 3 ribu mencapai Rp 21 juta memerlukan Rp 7 ribu bulan,” tandasnya. Pembayaran santunan atau klaim juga bisa dilakukan kapan saja, sepanjang data lengkap. Tidak ada istilah kadaluwarsa dalam pembayaran santunan. Jika karena kesibukan per­ usahaan, pengurusan klaim bisa dilakukan belakangan asal­ kan ada penjelasan mengapa terlambat dalam pengurusan ini. Manfaat lainnya, jika yang meninggal keluarga inti dari peserta (istri/suami, anak), akan mendapat uang kubur Rp 2 juta. Khusus untuk anak diberikan kepada anak yang berusia di bawah 21 tahun dan belum menikah. Prinsip yang dikembangkan dalam jaminan ketenagakerjaan ini adalah yang sehat membantu yang sakit, yang berpenghasilan besar membantu yang berpeng­ hasilan kecil, dan yang muda membantu yang tua. Ketut Arja Leksana, Ka­ bid Pemasaran Informal BPJS Ketenagakerjaan Kantor Ca­ bang Bali I menambahkan, selain tenaga kerja yang didaf­ tarkan perusahaannya, ada juga pendaftaran yang dilakukan secara kolektif oleh kelompok.

“Contoh, ada petani, pedagang kaki lima yang membentuk kelompok lalu mendaftar di BPJS Ketenagakerjaan. Mereka bisa ikut jaminan kecelakaan kerja yang iurannya 1% dari UMK, jaminan kematian 0,3% dari UMK, dan jaminan hari tua 2% dari UMK. Satu syarat khususnya adalah ada pem­ batasan usia hingga 55 tahun,” jelasnya. Manfaat yang diper­ oleh peserta informal ini sama dengan peserta formal (tenaga kerja perusahaan). Perlunya kelompok ini agar jika terjadi sesuatu, nanti ada yang mengurus. Karena itu, dalam jaminan sosial ketena­ gakerjaan ini dikembangkan prinsip gotong-royong. Jika ada yang mengalami musibah agar ada yang membantu mengurus. Hal yang sama juga berlaku bagi peserta formal. Semua pen­ gurusan dokumen dilakukan perusahaan sebagai lembaga yang bertanggung jawab. Agung Karma dan Ketut Arja menegaskan, pihaknya juga mu­ lai menyasar mahasiswa yang setelah tamat nanti akan men­ jadi tenaga kerja. “Kami sudah bersurat ke Kopertis agar diberi kesempatan untuk sosialisasi mengenai manfaat jaminan so­ sial ketenagakerjaan. Beberapa yayasan yang ber­gerak di bidang pendidikan juga kami sasar dan sudah ada yang merespons tetapi ada juga cuek. Pesan kami kepada generasi muda, pilihlah pasangan yang memiliki BPJS Ketenagak­ erjaan. Ini akan menjamin jika di kemudian hari ada masalah. Bagi tenaga kerja, daripada demo menuntut kenaikan upah, lebih baik minta perusahaan men­ daftarkan tenaga kerjanya ikut BPJS Ketenagakerjaan,” tegas Agung Karma. –Ngurah Budi/Ratna Hidayati


NINE

20

17 - 23 Februari 2014

Tradisi Berambut Panjang di Wawo Rambut adalah mahkota untuk mempercantik penampilan terutama bagi kaum wanita. Rambut yang panjang tergerai, lebat dan hitam menjadi dambaan bagi para gadis. Namun, tidak semua wanita mam­ pu membiarkan dan mempertahankan rambut yang panjang tersebut.

S

aat ini, banyak faktor yang membuat para wanita memilih tidak lagi tampil dengan ram­ but panjang, terutama mereka yang memilih profesi sebagai wanita karir. Antara lain, tidak praktis, membu­ tuhkan perawatan ekstra, sedikit repot jika harus bergelut dengan rutinitas dan mobilitas sehari-sehari yang terbilang padat bagi wanita karir. Pilihannya, berambut pendek karena dianggap praktis dan relatif mudah merawatnya. Karena itulah, di zaman sekarang, secara umum, tidak banyak lagi wanita yang meme­ lihara dan memilih memiliki rambut yang panjang alami. Jika pun ada yang menginginkan rambut panjang, biasanya karena tuntutan penampil­ an sesaat dengan cara rambut di­ sambung menjadi panjang atau yang dikenal dengan teknik extension. Namun, tidak begitu dengan para gadis dan kaum wanita di Ke­ camatan Wawo Kabupaten Bima, yang hingga saat ini masih mem­ pertahankan tradisi merawat dan memelihara rambut secara alami hingga panjangnya bahkan ada yang mencapai tumit kakinya. Para gadis di sini, memilih berlomba-lomba merawat rambutnya dengan cara tradisional yang unik, yakni menggu­ nakan berbagai bahan yang diambil dari alam, seperti kemiri, kelapa, asam, mangga, rempah-rempah dan lain sebagainya. Tidak heran, jika di Wawo dengan mudah bisa menemu­ kan gadis-gadis berambut panjang tergerai, hitam dan lebat. Mulai dari anak-anak hingga dewasa dan orang tua, semua senang memelihara dan merawat rambut. “Seni merawat dan memelihara rambut secara tradisional, tetap kami pertahankan hingga saat ini karena sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Wawo,” ujar Minarni, salah seorang warga Wawo yang memberi perhatian terhadap pe­ lestarian rambut panjang bagi para wanita Wawo. Ia mengimbau ke­ pada anak-anak perempuan dan para gadis untuk tidak terpengaruh memotong rambutnya melainkan tetap mempertahankannya seba­

Minarni

gai sebuah tradisi. Tiap sekolah di Wawo, menurut Minarni, meng­ anjurkan agar murid dan siswanya berambut panjang. “Anak-anak mulai dari Taman Kanak-kanak hingga minimal kelas 6 SD, mulai kami imbau juga untuk tidak memotong rambutnya melainkan merawat dan memeliharanya agar tetap panjang,” ungkap Minarni yang juga seorang guru SD ini. Hal ini dilakukan sekali­ gus untuk mengangkat potensi alam Wawo sebagai daerah penghasil kemiri di Bima. Kebiasaan merawat dan me­ melihara rambut secara tradisional dengan bahan-bahan alami, telah dimulai oleh masyarakat Wawo sejak anak masih bayi, yakni menggunakan kemiri yang dibakar ataupun disang­ rai bahkan kemiri mentah. Kemiri yang diulek halus biasanya langsung dikeramaskan pada rambut si bayi. Lebih tradisional lagi, minyak kemiri yang dikunyah oleh ibu atau orang yang memandikan si bayi tersebut yang akan dipijatkan pada kepala­ nya. Keramas kemiri berlangsung terus-menerus hingga anak tumbuh dewasa dan menjadi kebiasaan sehari-hari dan turun-temurun. Jika pada saat bayi dan anak-anak, perawatan rambut hanya dilakukan dengan menggunakan kemiri, di usia remaja dan dewasa, bahan perawat­ an rambut menjadi bertambah dan unik. Selain menggunakan kemiri yang dibakar atau disangrai, juga dicampur dengan santan kelapa yang telah dibakar ter­ lebih dahulu, bahkan ada yang mencapur ramuan tersebut dengan asam, jeruk, mangga dan cabe merah kering dan rempah-rempah lainnya. “Biasanya yang pakai rempahrempah itu, orang tua untuk meng­ hangatkan kepala,” ujar Minarni. Kebi­ asaan menghangat­ kan kepala dengan rempah-rempah Dalam merawat rambut panjang, terutama saat keramas, membutuhkan bantuan orang lain sembari keramas,

memang telah lama menjadi kebia­ saan masyarakat Wawo, mengingat Wawo termasuk daerah dingin ka­ rena berada di atas ketinggian, sesuai dengan namanya, Wawo berarti berada di atas. Memiliki rambut panjang, me­ mang terbilang relatif sulit mera­ watnya. Selain membutuhkan bahan perawatan yang lebih banyak, juga membutuhkan setidaknya satu tenaga orang lain untuk membantu saat keramas. Namun begitu, gadisgadis Wawo masih tetap bertahan dengan rambut panjangnya. Dua di antaranya adalah Mirna dan Dian yang telah merawat dan memelihara rambut mereka sejak kecil. “Selama 27 tahun, rambut saya tidak per­ nah dipotong. Kalaupun dipotong, biasanya hanya ujung-ujungnya saja untuk merapikan,” ujar Mirna. Ia mengaku mempertahankan rambut panjangnya karena baginya rambut adalah mahkota. Ia memang tidak membiarkan rambutnya tergerai sampai tumit, melainkan sebatas paha bawah. Alasan memanjangkan rambut tidak sampai setumit adalah kare­

INSPIRASI

5

Ida Bagus Putra Adnyana

Foto bisa Pengaruhi Keputusan Politik Selfie adalah istilah yang sangat populer di kalangan penggemar fotografi. Karena bukan hanya remaja yang suka selfie, bahkan kepala negara adidaya juga doyan selfie. Begitu diungkapkan IB Putra Adnyana, salah seorang fotografer senior Bali.

G

Gadis-gadis Wawo memamerkan rambut panjang mereka yang tergerai di rumah panggung khas suku Mbojo. Sejak kanak-kanak mereka telah dianjurkan untuk tidak memotong rambut dan membiarkannya panjang mengikuti usia mereka

untuk sekali mencuci rambut,” kata Mirna. Perawatan rambut menggunakan kemiri dan santan kelapa, membuat rambut mereka tampak hitam dan lebat serta tak berketombe. Ada perawatan rambut yang lebih tradisional lagi yang dilaku­ kan orang Wawo, yakni dengan mencampur kemiri dengan santan kelapa, mangga yang mereka sebut Fo’o Mpangi, jeruk yang mereka sebut Dungga Nggefa, dan air asam.

Bahan-bahan tradisional untuk keramas guna merawat rambut agar memiliki akar yang kuat, hitam, tebal dan panjang, antara lain kemiri, asam dan rempah

na ia bekerja sebagai pegawai yang membutuhkan aktivitas lebih dibandingkan yang tidak bekerja. Terlalu sulit baginya merawat ram­ but jika harus dibiarkan sampai tumit dengan aktivitasnya itu. Karena itu, ia memilih rambut yang tidak terlalu panjang. Begitu juga dengan Dian yang rambutnya ikal sebatas paha. Ia juga seorang pegawai pemerintah yang tetap mempertahankan rambut panjang di antara kesibukannya. Me­ reka berdua tidak merasa terganggu dengan rambutnya yang tergerai panjang sekalipun harus ber­aktivitas tiap hari di luar rumah. Untuk merawat rambutnya tersebut, Mirna dan Dian tetap memakai bahan tradisional seperti kemiri dan kelapa. Karena pertim­ bangan demi kenyamanan, mereka juga memakai sampo agar rambut tidak berbau apek. Jadi, cara pera­ watan tradisional tidak ditinggalkan­ nya, namun dikolaborasikan dengan perawatan modern menggunakan sampo sebagai pembersihnya. Untuk sekali keramas, mere­ ka membutuhkan minimal empat sampai lima kemiri yang dicampur dengan santan kelapa yang dibakar sebelumnya. Setelah keramas kelapa dan kemiri, didiamkan beberapa saat agar meresap kemudian barulah disampo. “Butuh dua saset sampo

17 - 23 Februari 2014

“Ada yang mencampurnya jadi satu seluruhnya kemudian airnya diperas untuk dipakai keramas. Ada juga yang memilih beberapa saja dari bahan tersebut,” kata Minarni. “Rambut terasa dingin dan kepala jadi sejuk,” kata Mirna. Bahkan, lanjutnya, setelah keramas dengan berbagai bahan tradisional itu, ada juga yang menutupnya dengan rempah-rempah (sirih hutan). Kalau memakai sirih hutan dan rempahrempah sebagai penutupnya, kepala akan terasa hangat dalam waktu yang lama. Ini bisa mengatasi hawa dingin Wawo.

Di sebuah rumah panggung, tampak para gadis dan remaja yang baru pulang sekolah tengah membuat ramuan untuk keramas. Kemiri yang sudah dibakar mereka ulek pada ulekan batu khusus sam­ pai minyaknya keluar. Kemudian dicampur dengan santan kelapa yang sebelum diparut telah dibakar terlebih dahulu. Asam tua, jeruk dan mangga diambil airnya lalu diaduk rata bersama santan kelapa dan minyak kemiri. Satu sama lain saling membantu untuk keramas. Di zaman dahulu, ungkap Minar­ ni, para wanita melakukan keramas dan mandi bersama di sungai-sungai yang airnya jernih. Rambut-rambut panjang mereka tergerai mengikuti aliran air nan sejuk. Bahan-bahan un­ tuk keramas mereka ambil langsung di lokasi permandian dan diulek ber­ sama pada batu-batu ceper yang ada di sungai sembari bersenda gurau. Di sanalah para wanita memamer­ kan rambut-rambut indah mereka. “Biasanya, kalau lihat kawan lain yang rambutnya lebih panjang ada rasa iri (dalam arti positif-red) ingin lebih panjang darinya,” kata Mirna. Begitu juga para gadis Wawo di zaman dahulu. Mereka “bersaing” untuk memiliki rambut yang lebih panjang, lebat, hitam dan kuat. Dan, kesadaran untuk memelihara dan merawat rambut panjang, kini terus digalakkan di Wawo. Semua itu di­ lakukan, untuk menjaga kemurnian tradisi yang telah diwariskan nenek moyang masyarakat Wawo dulu. “Sebelum semuanya tergilas oleh perubahan zaman, kami ingin meles­ tarikan tradisi merawat dan meme­ lihara rambut secara tradisional dan alami,” kata Minarni yang seorang pelatih tari dan memiliki sanggar seni dan budaya di Wawo ini. -Naniek I. Taufan/Inten Indrawati

ustra, begitu ia bi­ asa disapa, menga­ takan, kalau istilah selfie ini mengacu pada kebiasaan orang yang suka melakukan self portrait alias me­ motret dirinya sendiri. Baik di tempat yang pribadi maupun pada momen tertentu. Fenomena ini, menurut Gustra terjadi akibat kemajuan dunia fotografi digital yang sangat pesat. Apalagi kini banyak tersedia media sosial untuk memamerkan foto, bahkan dalam hitungan detik. Selain itu, kini banyak kamera di­ lengkapi dengan fitur wi-fi se­hingga posting bisa dilakukan real time. Su­ paya tidak terjebak dalam kontro­ versi, kata suami Anak Agung Ayu Ngurah Putri Sumartini ini, bagi mereka yang memiliki keduduk­ an terhormat dalam ma­ sya­rakat hen­ daknya mema­ hami hal-hal yang sensitif. Tentu akan jadi pertanyaan, ke­t ika selfie dan dimuat di me­d ia sosial padahal saat itu masyarakat se­dang terkena bencana. “Bukan hanya saat berinteraksi di media sosial tapi juga harus memahami hal-hal yang sensitif lainnya. Misalnya, saat memotret prosesi atau upacara keagamaan, mestinya juga memi­ liki respek kepada masyarakat se­ tempat,” tutur Gustra yang tengah sibuk menyiapkan foto-fotonya untuk dibukukan. “Demikian juga ketika ingin memotret momen budaya yang bersifat sakral. Ba­ gaimana kita para fotografer bisa beradaptasi dengan masyarakat se­ tempat yang baru dikenal sehingga diizinkan berbaur untuk mengikuti ritual mereka,” lanjutnya. Meski diakuinya ada sisi miring dari dunia fotografi, yang terka­ dang digunakan untuk tujuan yang tak semestinya. Namun, banyak hal positif yang bisa dipelajari dari dunia potret-memotret yang satu ini. Seperti misalnya, kegiatan fotografi makro yang banyak memotret hewan-hewan kecil. “Ini bukan hanya menampilkan bentuk yang unik tapi bisa juga sebagai dokumentasi ilmiah,” ujar penghobi baca majalah, terutama untuk melihat foto-foto human interest atau yang subjeknya orang

dengan momen menarik. Begitu pula dengan fotografi budaya. ”Bukan mustahil suatu saat ada kegiatan budaya yang perlahan akan punah, di sinilah fotografi berperan agar dapat mengingatkan pentingnya men­ jaga keluhuran sebuah budaya,” ujar ayah dari Ida Bagus Ngurah Primarta, Ida Ayu Agung Adriani, dan Ida Bagus Angga Triadi ini. Hal yang paling menantang dalam fotografi adalah fotografi jurnalistik. Bukan hanya memer­ lukan keterampilan teknis yang mantap tapi juga insting yang jitu, selain nyali ketika berhadapan dengan situasi yang genting. Ke­ terampilan, perlu ketika misalnya, menggunakan kamera saku. Karena itu, diperlukan pengetahuan untuk memahami kualitas

Hasil jepretan Gustra yan

Sedangkan soal nyali yang tinggi diperlukan ketika berada di daerah rawan konflik atau bencana. Con­ tohnya, seperti berada di kawasan perang di Timur Tengah, Afgani­ stan atau bencana di Afrika. “Ka­ rena risikonya adalah nyawa,” katanya. “Saya ka­ gum kepada mereka yang me­m iliki ko­ mitmen dan de­dikasi yang tinggi untuk dunia foto­ grafi. Sebab, karya mere­ ka sedikit ba­­nyak bisa memenga­ ruhi kepu­ tus­a n poli­ tik,” ujar i raf melatih fotog Gustra (kiri) sedang Gustra yang akhir tahun 2013 ­cahaya, komposisi serta subjek menerima penghargaan medali yang difoto, selain fitur kamera ten­ perak dari Salon Photo di Hong tunya. Sekarang bahkan dikatakan­ Kong, dan meraih total hadiah le­ nya cukup dengan kamera HP saja, bih dari puluhan juta rupiah untuk seorang fotografer berpengalaman sebuah foto bertema “Ngaben”, tetap mampu menghasilkan foto pada lomba foto yang diseleng­ yang bagus. garakan Indomaret.

g meraih juara 1 lomba foto

Indomaret 2013

Kini, seiring makin pesatnya perkembangan dunia fotografi di Bali, banyak juga fotografer muda Bali yang menjuarai lomba foto dan mendapat hadiah hingga puluhan juta rupiah. “Bahkan, pernah sebuah foto di Tukad Unda, Bali karya fotografer Singa­ pura meraih hadiah hampir Rp 200 juta. Padahal idenya dari fotografer Bali,” ungkap Gustra yang pernah pameran bersama Auw Kok Heng dan K. Suajana di Museum der Welkulturen Frank­ furt, Jerman pada tahun 2009 ini. Sambil terus bergerilya dengan momen-momen menarik pada berbagai aktivitas fotografinya, Gustra rupanya juga tengah me­ nyiapkan beberapa buku dari hasil karyanya dalam periode 20132014 yang diharapkan dapat terbit pada tahun 2015. Selain itu, bapak yang satu ini juga sempat berperan sebagai kontributor foto untuk buku yang diterbitkan secara internasional, beberapa di antaranya “Bali im Fokus der Kamera: Drei Bali­ nesische Fotografen 1930-2009” (Museum der Weltkulturen Frank­ furt am Main und), “Inventing

Art: The Painting of Batuan Bali” (diterbitkan Satumata Press, teks oleh Bruce Granquist), “Balinese Art : Paintings and Drawings of Bali 1800-2010” (Adrian Vickers, diter­ bitkan Tuttle Publishing 2012) dan yang terakhir adalah “Time, Rites and Festival in Bali” (Jean Couteau, Georges Breguet/an imprint of BAB Publishing Indonesia). Begitu pula dalam launching buku “Time, Rites and Festival in Bali” pada 12 Desember 2013 silam juga disertai pameran foto karyanya di GoetheInstitut Jakarta. Bicara hal yang menjadikan di­ rinya bisa bertahan lama di dunia fotografi, Gustra menyatakan selain karena fotografi memberi penghasilan yang cukup tinggi, juga karena ia bisa mendokumen­ tasikan budaya Bali yang luhur dan unik. “Di Amlapura misalnya, banyak sekali kekayaan budaya yang belum didokumentasikan. Seperti ngaben memedi di Desa Bungaya atau siat dedempok dalam prosesi barisan di Desa Seraya. Ini juga berkat bantuan Klecak Klecek Grup yang mem­ beri informasi tentang berbagai kegiatan budaya di Amalapura,” papar pria paruh baya ini penuh semangat. Menyinggung saat memotret yang paling berkesan, Gustra menyebutkan, ketika memotret makepung atau balap kerbau di Jembrana. Sebab dengan jarak yang relatif dekat subjek foto, ia menda­ pat momen yang mengesankan; debu dan kerikil berhamburan di udara. “Yang lainnya ketika saya berkesempatan memotret ikon Kota Paris, Menara Eiffel. Sebab, sejak kecil saya memang punya mimpi bisa sampai di sana,” kata mantan Klian Banjar Belaluan Sadmerta, Denpasar yang sebe­ lum pensiun total dari kegiatan fotografi, ingin menerbitkan buku foto agar dapat dijadikan inspirasi generasi berikutnya. — Sri Ardhini/Ratna Hidayati


4

INSPIRASI

17 - 23 Februari 2014

dr. Cokorda Gde Oka Dharmayuda, Sp.OT(K)

Tawarkan Penanganan Sendi Lutut dan Pinggul Lebih Baik Kabar baik untuk masyarakat Bali, karena kini sudah ada dokter­ ­spesialis bedah tulang/orthopaedic traumatologi, konsultan lutut, ­pinggul dan rekontruksi untuk orang dewasa. Pasien-pasien yang mengalami masalah pada tulang dan khususnya mempunyai masalah pada sendi lutut dan sendi pinggul sekarang tidak perlu lagi berobat ke luar daerah atau bahkan ke luar negeri.

M

enurut dokter yang meraih spesialis orthopedi di Universitas Indonesia Jakarta dan menyelesaikan pendidikan di bidang lutut dan pinggul di Jakarta dan RS GleenEagle Kualalumpur ini, sebenarnya keterampilan dan kemampuan dokter di Indonesia tidak kalah dengan dokter di luar negeri. Mereka sudah diakui dari segi teknologi, kemampuan para dokter di Indonesia, Bali khususnya sudah berkembang sangat pesat. Menurut lelaki dengan dua putri ini, umumnya pasien yang datang berobat mengeluh nyeri lutut atau nyeri pinggul. Parahnya, mereka umumnya masih takut untuk datang berobat ke

dokter dan mencoba minum obat-obatan yang di jual bebas di pasaran. Umumnya mereka mengatakan, menderita asam urat atau penyakit reumatik. Padahal, pasien tersebut belum tentu mengalami nyeri lutut atau pinggul yang diakibatkan penyakit rheumatik atau asam urat. Ak­ hirnya, anggapan yang salah akan mengakibatkan pengobatan yang salah. “Bukan kesembuhan yang didapat tetapi malah penyakitnya semakin parah,” ujarnya. Adapun penyebab nyeri lutut dan pinggul yang sering terjadi ka­ rena proses penuaan (degenerativ procces) seperti pengapuran atau di dalam bahasa kedokterannya disebut dengan osteoarthritis. Osteoarthritis ini biasanya di-

jumpai pada orang tua di atas usia 50 tahun terutama pada wanita dengan berat badan berlebih atau pada orang yang lebih muda dengan riwayat pernah mengalami trauma/ patah di sekitar lutut. Penderita yang mengalami pengapuran sendi atau osteoarthritis ini biasanya mengeluh nyeri sendi setelah beraktivitas, kaku pada sendi, dan sulit untuk di gerakkan, bengkak, kadangkadang terdengar bunyi saat kaki ditekuk. Kondisi parah, sering didapat kaki bengkok berbentuk huruf O atau huruf X. Untuk mengetahui berat ringan­nya penyakit ini diperlukan pemeriksaan penunjang berupa foto rontgen. Dari foto rontgen ini kita akan dapat mengetahui berat ringannya atau stadium pengapurannya sehingga dapat menentukan pengobatan apa yang dilakukan. Osteoarthritis ini memiliki empat stadium yaitu stadium ringan (stadium 1 dan 2) dan stadium berat (stadium 3 dan 4). Pada stadium ringan, pengobatan yang dapat dilakukan berupa latihan dan minum obat-obatan. Sedangkan pada stadium berat, pengobatan yang terbaik adalah dengan tindakan operasi.

Macam-macam teknik operasi yang tersedia sekarang seperti arthroskopi, hight tibia osteotomi, arthrodesi (sendi dikakukan), pergantian sendi lutut atau sendi pinggul. Ia menyatakan, pergantian sendi lutut atau sendi pinggul sekarang ini mempunyai tingkat kesuksesan yang pa­ ling tinggi di dalam me­nangani penga­ puran sendi atau osteoarthritis pada yang derajat berat. Setelah operasi dr. Cok bersama ahli lutut dari Gleeneagle Kuala Lumpur penderita sudah tidak merasakan lutut atau pinggul karena proses nyeri lagi dan dapat berjalan den- penuaan, infeksi karena kuman gan baik sehingga dapat mening- TBC, patah tulang di sekitar katkan kualitas hidup penderita. lutut pinggul, cedera olahraga/ Menurut dokter RS Sanglah putusnya ligamen lutut. yang sudah mengerjakan raIa menyatakan, dengan pena­ tusan penggantian sendi lutut nganan yang tepat dan peng­ dan sendi pinggul dan rekon- awasan yang baik pasien dengan truksi ligamen lutut dengan keluhan di lutut dan pinggul akan arthroskopi ini, penyakit yang sembuh dengan baik. paling sering dijumpai, nyeri -Wirati Astiti/Inten Indrawati

17 - 23 Februari 2014

21

“Si Unyil” Iringi Gule Gending Dari jauh, samar-samar terdengar suara musik yang ditabuh dari sebuah rombong yang terbuat dari kaleng-kaleng bekas. Meski monoton, irama itu memiliki kekhasan di telinga anak-anak Lombok, salah satunya irama yang pernah sangat akrab di tahun 1980an yakni lagu pengiring serial anak-anak yang ditayangkan TVRI berjudul Si Unyil. Dalam sekali tabuh, orang sudah sangat mengenal suara itu, gule gending, begitu biasa disebut.

Rombong gule gending terbuat dari kaleng memiliki bunyi yang khas

M

eski tidak lagi banyak penjual gule gending yang berkeliling menjajakan dagangannya, camilan ini masih menjadi favorit anak-anak. Setidaknya, hal ini diungkapkan sekelompok penjual gule gen­ding yang tinggal di seputar Sindu, Cakranegara Mataram. Keenam penjual yang tinggal dalam satu rumah kontrakan tersebut di antara­ nya Sadikin dan Fahmi mengaku, setiap hari dagangannya selalu habis terjual. “Jika laku semua hasilnya bisa sampai Rp 150 ribu,” kata Fahmi yang setiap hari membuat gule gending dari 2 kg gula pasir. Para penjual gule gending yang tidak lagi banyak ini, berasal dari sebuah kampung bernama Kembang Kerang, Lombok Timur. Mereka, tidak hanya menjajakan dagangannya di Pulau Lombok, namun juga di luar kota seperti Bima, Sumbawa dan Dompu. Bah-

kan banyak yang merantau hingga ke luar daerah, seperti Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Bali dan Jawa. “Kami merantau untuk menjajakan gule gending hingga ke luar daerah berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya,” kata Sadikin yang pernah berangkat bersama 40 kawannya untuk menjajakan dagang­annya hampir di semua kabupaten di Banjarmasin, Kalimantan Selatan beberapa tahun silam. Di Lombok, orang mengenal camilan yang terbuat dari gula ini sebagai gule gending atau halus manis. Dijual menggunakan rombong yang dibuat khusus dari bahan kaleng-kaleng bekas dan bentuknya disesuaikan dengan pinggang sam­ ping sang penjaja agar tidak kesulitan ketika menabuhnya. Bentuk rombong dagangannya itu setengah lingkaran dengan rongga sebagai penyimpan gule gending di bagian tengah­nya. Di sekeliling rombong ter-

dr. Cok saat melakukan operasi sendi lutut

Biodata

dr. Cok bersama keluarga

MANDALIKA

Nama : dr. Cokorda Gde Oka Dharmayuda, Sp.OT(K) Spesialisasi : Orthopaedi Traumatologi (K) Lutut, Pinggul dan Adult Rekontruksi Tempat tanggal lahir: Gianyar, 29 Januari 1976 Istri : AA Dian Chandra SE,MM Anak : Cokorda istri Anandita Dharmayuda dan Cokorda Istri Anindya Putri Dharmayuda Alamat : Puri Agung Batuyang, Batubulan Kangin, Sukawati Kantor : SMF Orthopaedi Traumatologi RSUP Sanglah Email : dharmayuda76@gmail.com Lulusan: - Fakultas Kedokteran Universitas Udayana (Pendidikan dokter) - Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta( Spesialis Orthopaedi) - Fellowship Indonesia Hip Knee Society dan RS Gleeneagle Kualalumpur Pengalaman: - Table instructure cadaveric workshop Total Hip Arthroplasti di RSCM Jakarta - Table Instructure cadaveric workshop ACL Rekontruksi di RSUD Soetomo Surabaya - Table Instructure AO course di Jakarta Gule gending yang siap dijual

dapat enam kantong kaleng yang berfungsi sebagai tempat menyimpan kertas bukan sebagai pembungkus tetapi sebagai alas gule gending ketika ada yang membeli. Kantongkantong ini juga berfungsi sebagai gending yang dipukul penjaja untuk menarik perhatian pembeli. “Disebut gule gending, karena saat menjajakan camilan yang terbuat dari gula ini, penjaja selalu menabuh kantong-kantong kaleng layaknya gending meskipun iramanya monoton,” ujar Sadikin dan Fahmi. Namun, inilah kekhasan gule gending yang bisa jadi hanya ada di Lombok. “Kalaupun ada di tempat lain, tentunya dengan ciri yang sama, bisa dipastikan berasal dari Lombok,” kata Sadikin sembari menambahkan, mengingat para penjaja gule gending yang berasal dari kampungnya Kembang Kerang, Lombok Timur, sudah menyebar, merantau hampir di semua pulau di tanah air. Biasanya, para penjaja gule gending, sebelum datang ke satu daerah berkelompok, mereka selalu ada yang memulai. Misalnya, beberapa orang ada yang berani datang ke tempat baru sekadar untuk mencoba berjualan. “Kalau kelihatannya laku, kami saling kontak,” kata Sadikin. Secara berke­ lompok mereka mendatangi daerah tersebut. Di sana mereka hidup berkelompok juga dan menyebar membagi wilayah di satu kota pertama hingga beberapa waktu. Kalau sudah kelihatan orang mulai bosan, mereka berpindah dari satu kota ke kota lainnya hingga ke pelosok

Gule gending dengan musiknya yang khas masih digemari anak-anak

di daerah yang sama,” ujar Sadikin yang mengaku sudah lupa berapa kota yang telah ia datangi untuk berjualan. Dalam waktu tertentu, para penjaja memilih untuk berpindah pulau. Selama menjajakan gule gending, seberapa pun jauhnya tempat berjualan, kami berjalan kaki meski harus seharian,” kata­ nya. Mereka menumpang angkutan umum biasanya ketika berangkat berjualan ke wilayah masingmasing, selebihnya berjalan kaki bahkan hingga kembali ke rumah. “Jalur yang kami lewati pulang lumayan jauh, sekalian menghabiskan dagangan yang belum laku,” ujar Fahmi. gule gending yang terbuat dari gula pasir ini, ternyata pembuatan­ nya sangat sederhana dengan wak­ tu hanya sekitar 45 menit. Mereka keluar menjajakan dagangannya sekitar pukul 08.00 hingga pukul 17.00. Biasanya, para penjaja ini membuat gule gending yang akan dijual besoknya pada sore hari se­ telah pulang dari berjualan. Diawali dengan memasak dua kilogram gula pasir dengan air secukupnya hingga benar-benar mendidih dan agak mengental. Di perapian yang lain, setengah kilogram kurang sedikit, tepung terigu dimasak

dengan setengah kilogram minyak kelapa dimasak sambil diaduk sampai mendidih dan menggumpal. Kemudian didinginkan hingga mengental. Pada sebuah wadah aluminium ukuran 1,5 X 1,5 m, terigu yang dimasak dengan minyak yang sudah menggumpal tadi ditabur di atasnya. Lalu gula yang sudah mengental dan padat dimasukan sambil menggunakan sebuah kayu yang mereka buat sendiri, gula yang sudah mulai kelihatan terpisah tadi diletakkan di kayu tersebut sambil dibongkar dan diurai hingga benar-benar terpisah. Minyak kelapa dan tepung terigu yang dimasak tadi, adalah kunci untuk memisahkan gula menjadi sangat halus seperti benang atau bulu. Saat inilah, dua kilogram gula tadi terlihat menjadi sangat banyak. Proses selesai. gule gending harus langsung dimasukkan ke dalam rombong dan tidak boleh dibuka lagi hingga keesokan harinya. “Ja­ ngan sampai udara masuk terlalu banyak agar tidak mengempes,” ingat Sadikin. “Dari 2 kilogram gula pasir, 1/2 kilogram (kurang sedikit) tepung terigu dan minyak kelapa 1/2 kilogram, bisa menjadi Rp 150 ribu hasil kotornya esok hari,” kata Fahmi. –Naniek I Taufik/Inten Indrawati


22

W H AT ’ S U P

Bali:

17 - 23 Februari 2014

“S

saya meninggal karena kanker. Saya punya tiga anak asuh,” ungkap perempuan yang kini berusia 54 tahun ini. Tahun 2010, Susi giat berdis­ kusi dengan para koleganya. Profesi mereka bermacammacam, ada arsitek, seniman, musisi, karyawan swasta, peng­ usaha, dll. Diskusi yang paling banyak mendapat komentar mengenai pembangunan di Bali. Banyak pertanyaan mun­ cul di benak mereka. Bali mau diapakan, siapa yang mengatur pembangunan di Bali. Susi dan teman-temannya ini merasa ke­ sulitan mendapat informasi. Berbekal kemampuan di dunia IT, ia pun melakukan penelusuran di dunia maya. Susi kaget karena banyak men­ emukan site plan pembangunan hotel di Bali. Bahkan ada yang sudah melaksanakan pemban­ gunan. Menurutnya, banyak informasi yang disembunyi­ kan investor, dan pemerintah kurang peduli. Akibatnya pem­ bangunan seperti tidak tertata. Dalam satu kawasan bisa ada hotel yang berdekatan. “Saya dan teman-teman berdiskusi dan bertanya, berapa sih hotel yang diperlukan di Bali. Adakah data dan statistik yang valid yang bisa dijadikan acuan. Jangan sampai di Bali nanti kelebihan hotel. Pertanyaan ini melahirkan ide terbentuknya komunitas Bali: How Much is Too Much? Jika diartikan, berapa yang dianggap banyak. Ibarat orang sakit kepala, berapa obat yang harus dikonsumsi agar sembuh. Ini menjadi per­ tanyaan besar bagi kami,” ujar perempuan yang aktif di kegiatan Rotary ini. Susi lalu bergerak un­ tuk mencari informasi. Ia menemukan banyak foto tentang pembangun­ an hotel di Bali. Ia lalu mengunggah foto-foto itu. Banyak respons berdatan­ gan. Kebanyakan kaget karena tidak menyangka akan ada pembangunan seperti itu. Situs sosial seperti facebook pun dijadikan wadah untuk berkomunikasi. Ternyata

kalangan usia 18-24 dan 25-34 yang paling dominan memberi komentar. Menurut Susi, mere­ ka ini adalah generasi muda yang peduli dengan Bali. Bagi Susi, hal yang perlu diperbaiki adalah informasi. Selama ini sangat sulit menda­ patkan informasi mengenai tata ruang. Jika informasi transpar­ an, ia yakin tidak ada penum­ pukan pembangunan. “Dulu era Gubernur IB Mantra, Bali Selat­ an diarahkan untuk menjadi kawasan akomodasi pariwisata yang diwujudkan dengan ben­ tuk kawasan BTDC. Kalau sudah tertata kan bagus. Sekarang hotel ada dimana-mana. Sam­

Dua puluh tahun tinggal di Bali membuat Susi Johnston memahami selukbeluk Bali. Banyak hal yang ia amati dan pelajari. Dari tidak tahu tentang Bali kini ia ber­keinginan hidup selama­nya di Bali. Bersama para ­kolega, ia menggagas komunitas Bali: How Much is Too Much? pai kapan pembangunan hotel terus diberikan,” tandasnya. Ia mengaku bukan orang yang antipembangunan, anti­ perekonomian maupun aktivis ekstrim. Susi yang ingin selama­ nya tinggal di Bali mengaku memiliki kepedulian tentang Bali karena banyak hal yang bisa ditemukan di Bali. Ia hanya ber­ harap adanya sentra informasi

S E L E B R I TA S

3

VENNA MELINDA

How Much is Too Much? aya d a t a n g ke Bali 20 ta­ hun lalu kare­ na adik saya, Emily Johnston. Dia menjadi konsultan di sebuah perusaha­ an yang membuka wahana rafting. Adiknya saya memang petualang yang juga dokter. Seminggu sebelum pulang ke Amerika Serikat, ia menyuruh saya datang ke Bali. Ketika itu saya di Hawai. Saya pun ke Bali dan menginap di Ubud. Ternyata Emily sudah menyiap­ kan banyak tiket pertunjukkan untuk saya. Saya pun menikmati hadiah itu,” kenangnya. Ternyata liburan ini ber­ buntut tak enak. Susi sakit. Ia didiagnosa menderita infeksi saluran pernapasan. Perem­ puan berambut pirang ini pun harus istirahat total. Ia memilih tinggal di sebuah vila yang be­ rada di tengah sawah di Ubud untuk pemulihan. Selama enam bulan, ia banyak bertemu den­ gan orang-orang yang peduli Bali. Mereka pun berdiskusi dan membahas mau jadi apa Bali ke depan. Bali membuat Susi betah. Ia lalu belajar mengenai bu­ daya Bali. Banyak hal yang didapat. Bali sudah menjadi tanah air kedua baginya. Ia pun menemukan jodoh di Bali. Suaminya seorang pria asal Italia. Pernikahan mereka tidak dikaruniai buah hati. “Suami

17 - 23 Februari 2014

Tak Mau Setengah-setengah ‘Tak perlu banyak omong, tak perlu mengumbar janji, yang terpenting adalah kerja dan membuktikan kemampuan diri.’ Itulah motto Venna Melinda dalam menjalan­ kan tugasnya sebagai wakil rakyat. Bisa jadi itu sebabnya kita jarang mendengar Venna melakukan orasi, tapi dia lebih suka turun langsung ke masyarakat, khususnya kaum marjinal dan anak-anak terlantar, baik dalam ­kehidupan maupun pendidikan.

“S

yang bisa menjadi tempat untuk memberikan informasi kepada masyarakat. Jangan sampai karena kurangnya informasi, akan muncul permasalahan di kemudian hari. “Kalau sudah ada informasi yang dilengkapi data dan statistik, arah pembangunan akan jelas dan tertata. Information is power,” tegasnya. –Ngurah Budi/Inten Indrawati

Foto cover depan:KapanLagi.com

ejak awal (2009) aku tidak terlalu ba­ nyak orasi, berjanji ini-itu. Aku mem­ perkenalkan diri kepada konstituen lewat senam. Latar belakang aku se­ bagai artis, memang membantu dalam keterkenalan. Dulu, ketika aku mem­ perkenalkan diri lewat senam, orang bilang aneh. Mungkin orang berpikir, apa yang mau dipercayakan kepada calon seperti ini. Tapi kemudian, aku terpilih. Aku menjawabnya dengan bekerja total,” tegas Venna. Berlatar belakang artis, memang memiliki nilai plus-minus. Keuntungan­ nya, dia tak perlu susah-susah mem­ perkenalkan diri kepada masyarakat karena umumnya mereka telah mengenal­nya. Sebagaimana diketahui, publik mulai mengenal Venna saat dia tampil dalam film ‘Catatan Si Boy II’. Setelah tampil di film itu, ia menghilang karena fokus pada pendidikan. Ia me­ mulai kembali debutnya di dunia acting setelah terpilih sebagai None Jakarta 1993 kemudian berlanjut den­ gan kemenangannya sebagai Putri Indonesia 1994. Namanya meroket ketika ia tampil dalam sinetron ‘Bella Vista 1’ dan ‘Bella Vista 2’, ke­ mudian ‘Bulan Bukan Perawan’, ‘ Opera Jakarta’, ‘ Tersanjung 5’ dan ‘Maha Peng­asih’. Di samp­ ing itu, ia juga mengembang­ kan aktivitasnya dalam bidang perawatan tubuh dan kebu­ garan, salah satunya dengan membuka studio senam yang kemudian merambah ke dunia tari salsa. Di luar itu, ia juga mengepak sayap ke bidang tarik suara dan meluncurkan beberapa album. Ketenaran itulah, salah satunya yang mengantarnya ke Senayan sebagai anggota DPR RI periode 2009-2014. Menyandang gelar artis, tentu tak selamanya mengenakan, apalagi ketika mencalonkan diri dan akhirnya terpilih jadi anggota DPR. Bukan hanya setiap lakunya menjadi sorotan, tapi sebagian orang memandang remeh karena menganggap artis hanya modal popularitas namun tidak bisa bekerja. Venna sendiri mengaku mendengar dan merasakan kesinisan itu, namun berusaha tetap tenang. “Di awal-awal (2009) mereka underestimate, ya, nggak apa-apa. Aku menganggap itu wajar saja, karena mereka kan belum tahu. Waktu yang nantinya akan menjawab kritikan itu. Waktu yang bisa membuk­ tikan apakah mereka benar atau tidak. Aku sendiri, sejak awal sudah bertekad, dengan tulus hati akan bekerja sebaikbaiknya,” tutur Venna Melinda yang pada April mendatang akan bertarung untuk kedua kalinya memperebutkan kursi di DPR RI. Tentunya kondisi sekarang berbeda

saat awal ia mencalonkan diri sebagai wakil rakyat. Sekarang, tanpa harus ber­ kata banyak tentang capaian yang telah diraih selama lima tahun masa kerja­nya, masyarakat telah melihatnya. Kon­ stituennya yang berada di Dapil (daerah pemilihan) Jawa Timur VI yang meliputi Kediri, Tulungagung dan Blitar. Konon, Dapil ini disebut Dapil ‘neraka’ karena banyak tokoh-tokoh tenar di sana, sebut saja; Eva Kusuma Sundari dan Pramono Anung dari PDI-P, Nova Riyanti Yusuf (Demokrat) dan Riski Sadiq dari PAN. Venna mengaku tak khawatir karena telah menyiapkan langkah-langkah yang harus dilakukan nantinya. Pengalaman­ nya lima tahun sebagai wakil rakyat yang telah menjalani beberapa kali rotasi komisi, juga menambah kepercayaan dirinya. “Aku bersyukur mendapatkan pengalaman dan pengetahuan di be­ berapa komisi berbeda. Ini adalah modal untuk melangkah ke depannya,” ucap penulis buku ‘ Venna Melinda’s Guide To Good Living’. PUSING TUJUH KELILING Hari-hari belakangan ini, dia men­ jadi amat sangat sibuk. Tugas-tugas yang bertumpuk baik dari komisi maupun dari partainya. Ditambah lagi aktivitas sosial yang sebenarnya rutin dijalankan­

nya. “Salah satunya karena akan Pemilu, jadi kesibukan makin bertambah. Akibatnya, beberapa aktivitas rutin terpaksa di-pending seperti mengun­ jungi anak-anak di kolong jembatan. Saya benar-benar belum sempat,” ujar wanita kelahiran Surabaya, 20 Juli 1972 ini dengan nada menyesal. Dengan kesibukan yang luar biasa ini, Venna mengaku, pusing tujuh kelil­ ing dalam membagi waktu. “Aku pusing tujuh keliling bagi waktunya, bagaimana agar semua tugas bisa terlaksana. Baik tugas partai, Komisi III maupun kewa­ jiban pada masyarakat di Dapil. Ini aku baru saja kembali dari Dapil, di sana 10 hari blusukan ke desa-desa,” jelasnya. Dengan beban yang begitu tinggi, Venna berharap agar dia tetap sehat. “Saat ini kesehatan adalah terpenting,

aku berusaha menjaganya. Di antaranya dengan minum vitamin dan olahraga teratur,” tambah ibu dari Verrell Bra­ masta dan Athalla Naufal ini. Ketika ditanya, apakah masalah perceraiannya dengan sang suami tidak berpengaruh pada kariernya di dunia politik, khususnya citranya sebagai caleg perempuan. Dengan tegas dikatakan­ nya, mungkin tidak banyak yang tahu, tapi terus terang saja, kata Venna, dia terjun ke politik adalah dorongan suaminya (sekarang mantan). Vena mengaku suaminya ingin menghentikan pernikahan yang telah terbina 17 tahun. Meski dengan berat hati, Venna pun mengiyakan dan ia telah mempersiapkan mental untuk itu. Termasuk, mempersiapkan diri sebagai ibu tunggal yang mengasuh dua putra. Karena kondisi berbeda, dia juga harus mempersiapkan anak-anaknya dalam menghadapi itu. Meski sangat sibuk, ia tetap mem­ perhatikan anak-anaknya, setidaknya menjaga komunikasi dengan mereka. “Anak-anak adalah prioritas utama,” ujar Venna yang sampai saat ini belum dinyatakan resmi bercerai oleh Penga­ dilan Agama Jakarta Selatan. Perkara perceraian keduanya bergulir selama setahun, namun belum ada putusan­ karena terganjal masalah harta gono-gini. “Komunikasi dengan mere­ ka dilakukan setiap saat, bahkan saat saya sedang di luar kota ataupun sedang rapat. Saya pasti tanya ke mereka, ada di mana, sedang mengerjakan apa, sudah makan atau belum, dll. Kalau sedang kumpul di rumah, kami selalu berbagi cerita. Saya beru­ saha melibatkan mereka dalam aktivitas saya, jika memung­ kinkan. Misalnya, mengunjungi Dapil, kadang mereka saya ajak serta. Bahkan salah satu anak saya sepertinya memiliki minat ke politik, ini tentu menyenang­ kan. Mereka juga suka pada kegiatan-kegiatan sosial yang saya lakukan. Karena itu, ketika saya katakan niat saya untuk maju kembali sebagai caleg, mereka tidak keberatan,” kata Venna panjang lebar. Terkait persiapannya dalam Pemilu mendatang, Venna men­ gaku, dia tidak mempersiapkan banyak uang untuk itu, karena koceknya memang terbatas. Dia tidak mau seperti yang lain, mengutang sana-sini untuk membiayai pencalonannya. Dia juga mengaku tidak punya sponsor pihak tertentu untuk membiayai semuanya. Bahkan, tim sukses pun dia tidak punya. Ia yakin konstituennya tetap setia. “Kuncinya adalah treatment terhadap konstituen sejak awal dan saya melakukan itu. Jadi kepedulian terhadap konstituen bukan baru datang ketika akan kampanye atau Pemilu, tapi sejak awal terpilih hingga sekarang. Karenanya saya yakin, karena sudah bekerja untuk itu,” ujarnya. Meski demikian, Venna mengaku tak mau taka­ bur. Semua adalah kehendak Tuhan. Kalau Tuhan memang mengizinkan ia jadi lagi, ya, pasti jadi dan ia percaya itu. –Diana Runtu/Ngurah Budi


EKSPRESSO

2

17 - 23 Februari 2014

GORO-GORO

klik: www.tokoh.co.id

Bayi

mingguantokoh @mingguantokoh

Siaga Bencana Tahun 2014 ini, bangsa Indone­ sia didera berbagai bencana alam. Banjir, banjir bandang, puting beli­ ung, tanah longsor hingga gunung meletus. Berbagai upaya dilakukan untuk meminimalkan jumlah kor­ ban jiwa. Dari rentetan peristiwa itu, gunung meletus yang paling banyak menelan korban. Wilayah Indonesia yang ter­ letak di pertemuan tiga lempeng tektonik aktif dunia, yaitu lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik memiliki 127 gunung api aktif dan dikenal dengan “ring of fire”. Kon­ disi inilah yang berpotensi terhadap ancaman bencana alam. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan 19 gunung api di Indonesia tengah menggeliat dan berstatus waspada. Gunung Sinabung dan Gunung Ke­ lud bahkan sudah meletus. Secara

O

teknis, gunung api bersifat slow in set. Artinya, tidak akan tiba-tiba meletus. Ada tanda-tandanya se­ hingga status gunung punya tahapan yaitu dari normal kemudian menjadi waspada, siaga, dan awas sesuai ancamannya. Dari tanda-tanda itu pemerintah biasanya membuat langkah-langkah untuk mengamankan masyarakat yang berada di dekat lokasi. Na­ mun, masyarakat seringkali meng­ abaikan instruksi yang diberikan. Kasus Gunung Sinabung misalnya, banyak korban akibat terjangan awan panas. Mereka sudah dila­ rang mendekati kawasan, namun ada saja yang memaksa dengan berbagai alasan. Pemerintah terus menyosiali­ sasikan kepada masyarakat agar semua pihak bisa waspada dan ikut mencegah dan meminimalisir

M G

Bertemu setelah 50 Tahun Sulit membayangkan kisah saya ini. Bertemu teman lama setelah berpisah hampir 50 tahun. Saya bersyukur diberikan umur panjang oleh Tuhan Yang Maha Esa. Suatu hari saya menyimak de­ ngan seksama wawancara seorang reporter televisi dengan seorang pejabat perihal jatuhnya sebuah pesawat komersial. Mendengar namanya disebut, melihat profilnya yang tinggi besar, saya yakin Pak A (saya sebut demiki­ an di tulisan ini) adalah teman sekelas saya di SMP Ksatrya Jakarta. Waktu itu tahun 1965, saya kelas III SMP di perguruan Ksatrya Rawasari Jakarta. Ada kenangan yang sangat men­ dalam perihal teman saya A. Dia anak tunggal seorang pewira me­ nengah Angkatan Darat. Badannya tinggi besar sementara saya kecil kerempeng. Tiap mata pelajaran agama, guru kami Pak Sutan Sati selalu mengatakan, anak-anak yang tidak beragama Islam boleh istirahat di luar atau mendengarkan di kelas, Pak Guru yang amat bijaksana. Saya ingin duduk saja mendengarkan namun A menepuk pundak saya. “Madi, ayo ke kantin,” katanya. Dia selalu memanggil saya Madi. Kami makan di kantin, A yang mentraktir. Saya beragama Hindu sedangkan A beragama Protestan. Dia seorang penerbang jebolan

mingguan berita wanita Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

sekolah penerbang di Inggris. Sejak kami senantiasa berkomunikasi dan A mengharap agar suatu saat saya bisa ke Jakarta menemuinya. Saatnya tiba juga, saya mampir ke Jakarta da­ lam perjalanan pulang dari Lampung, dari Bandara Raden Intan Beranti Lampung saya kontak A. “Ya, mampir Madi, nanti sopir jemput di Bandara Soeta, namanya Pak Santoso,” kata A. Wah, saya tidak kenal, pesawat mendarat pukul 21.00. Untung saya pelontos, satu-satunya penumpang Sriwijaya pelontos hari itu. Topi saya balik, saya bawa selendang hitam, saya jadikan sal di leher. Dengan demikian, saya gampang dikenali Pak Santoso dengan teman­ nya, badan kekar rambut cepak. Pasti militer, pikir saya. Hujan turun dengan lebatnya, mobil mewah warna hitam itu meluncur, saya lama tidak ke Jakarta. Mobil masuk ke bilangan Tebet Dalam, dan saya disambut dengan hangat oleh A dan istrinya. Langsung saya diantar ke lantai atas. “Santai

dampak yang bisa ditimbulkan dari suatu bencana alam. Karena itu, penting bagi masyarakat untuk mengikuti petunjuk yang dikeluar­ kan oleh pemerintah. Namun, ekses bencana alam kadang tak bisa diprediksi. Gunung Kelud meletus, aktivitas di Yogya­ karta yang hampir lumpuh. Hujan abu vulkanik membuat Kota Gudeg tertutup abu. Kondisi ini lebih parah dibandingkan ketika Gunung Merapi meletus. Bandara pun tutup dan jadwal penerbangan ditunda hingga situasi normal kembali. Berikut hal-hal yang harus dilakukan agar nyawa tidak me­ layang sia-sia. Ikuti intruksi dari pemerintah daerah setempat. Jika disarankan mengungsi, segeralah mengungsi; Jangan panik. Kepanikan hanya akan membuahkan masalah baru; Hindari daerah gunung berapi yang lebih rendah dan jauhi lembahlembah, daerah yang lebih rendah rawan dilalui lava; Evakuasi ke daerah yang mela­ wan arah angin, jika memungkinkan hindari daerah yang arah anginnya searah dengan arah letusan gunung berapi; Persiapkan persediaan pa­ ngan dan obat-obatan dan masker untuk menutup hidung. Mari siaga dan waspada demi keselamatan bersama. Salam

Madi, tidur di sini, nanti turun makan ya,” katanya. Pundak saya ditepuktepuk seperti dulu. Wah, saya jadi grogi dan gelagapan, sekaligus surprise. Bayangkan seorang pejabat masih ingat dengan temannya yang kere macam saya. “Bapak disuruh turun untuk ma­ kan malam,” terdengar suara wanita mengetuk pintu. Saya buru-buru mandi, eh, saking buru-buru saya malah menghidupkan air panas. Wah, kepala saya melepuh. Ke­ tika masuk ke ruang makan sekali lagi saya menahan malu, karena tersandung di undakan lantai ruang makan yang lebih tinggi. “Tidak apa, hati-hati Madi,” katanya. Sambil makan, bincangbincang dan mengharap agar saya bisa di Jakarta barang seminggu. Dengan halus saya menolak dan hari itu saya pamit pulang. Pak Santoso mengantar ke terminal III Bandara Soeta. Terima kasih teman, kata saya dalam hati sulit mencari teman sejati di masa kini tetapi temanku A hatinya masih tetap seperti dulu, saat kami masih sekolah di SMP. - I Made Sukertia

Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca lain­ nya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. Pan­ jang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan no kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373

Putu Wijaya

Warga permukiman geger. Pagi-pagi buta, di depan pintu rumah Pak Amat ditemukan seorang bayi. “Saya tadinya niat jalan-jalan pagi,” kata Pak Sony, tetangga Amat, “tapi tiba-tiba saya dengar ada suara bayi menangis. Hampir saja mau masuk rumah lagi karena takut. Tapi tiba-tiba saya lihat ada buntalan putih di depan pintu Pak Amat yang bergerak-gerak. takut saya hilang. Saya ambil pentungan lalu mendekati buntalan itu. Ternyata itu jabang bayi dengan perlengkapan susunya. Saya bingung, lalu saya gedor pintu Pak Amat. Jangan-jangan itu cucu beliau yang kelupaan dibawa masuk!” Sony tertawa, mencoba mengajak semua orang melihat kejadian itu dengan humor. Tapi tak seorang pun yang mau ikut tertawa. Bu Amat sendiri cepat mengamankan bayi itu. Susunya diseduh, lalu bayi yang kehausan itu ditenangkan. Setelah dibujuk akhirnya ia minum, tersenyum lalu tidur. Sementara semua orang masih mendiskusikan apa dan kenapa bayi itu, Bu Amat dan Amat sudah memberinya “rumah”. “Heran mengapa bayi diletakkan di depan pintu kita,” sambat Amat, “apa ibunya tidak tahu kita sudah tua, tidak pantas punya bayi lagi?” “Ah dia pasti sudah punya perhitungan, Pak” “Pehitungan apa?” “Kalau lihat pakaian dan perlengkapan bayinya, ibunya pasti orang terpelajar. Mungkin mahasiswi.” Amat terkejut. “Mahasiswi? Masak mahasiswi tega buang bayinya?” “Ini tidak dibuang! Kalau dihanyutkan di sungai baru namanya dibuang. Ini namanya dititipkan.” Amat makin heran. “Kalau menitipkan kenapa tidak terus-terang saja, masak akan kita tolak? Tidak kan?!” “Ya pasti karena di sananya ada masalah!” “Masalah apa?” “Ya mana saya tahu, Pak! Anak-anak muda zaman sekarang kan masalahnya banyak!” Amat manggut-manggut. Tetapi kemudian kembali bertanya. Nada suaranya sengit: “Tetapi kenapa yang dipilih kita?!” Bu Amat menjawab dengan suara enteng: “Ya, supaya dekat!” Amat terkejut. Wajahnya mengkerut seperti disambar petir. Ia berdiri dan hendak keluar menggebrak. “Pak! Mau ke mana?!” “Mau menyeret dia supaya bertanggungjawabkan atas perbuatannya! Kalau tidak nanti jadi kebiasaan!” “Dia siapa?” “Pak Sony!” “Kenapa dia?” “Pasti bayi itu sudah diletakkan di depan pintu rumahnya oleh maha­ siswi yang dihamilinya. Tapi karena takut kepada bininya, bayi itu dioper ke kita. Lama-lama istrinya yang tidak bisa punya anak, pasti akan tertarik memungut bayi itu. Itu logika hidung belang!” Amat mendekati bayi yang tidur itu. Lalu ia menarik sebuah saputangan yang kelihatannya terbawa di buntalan bayi itu. “Lihat,” kata Amat memperlihatkan sulaman Sony di sudutnya, “ke­ napa bayi ini membawa saputangan Sony? Kalau bukan anaknya Sony?!” Bu Amat mengangguk dingin. “Terus Bapak mau apa?” “Kita paksa si Sony yang cabul itu mengakui ini anaknya!” “Lalu istrinya ngamuk, lalu bubaran dan anak yang tak berdosa ini terbengkalai?” Amat tertegun. Waktu itu masuk Rita, istri Sony. Dengan gesit Bu Amat merengutkan saputangan itu dan menyembunyikannya. Rita mendekati bayi yang tidur itu. Wajahnya kelihatan berseri-seri lalu ia menoleh ke Bu Amat. “Maaf Bu, kalau mendengar perundingan di luar, nampaknya bayi ini mau diserahkan kepada ibu. Tapi ibu kan sudah puya cucu, nanti repot. Bagaimana kalau saya saja yang memeliharanya? Saya sudah divonis dokter tidak akan punya anak. Boleh Bu?” Bu Amat berpikir. “Saya janji akan merawatnya, ibu boleh ambil lagi kalau saya siasiakan. Boleh, Bu?” Sony menyusul masuk. Bu Amat melirik lalu menjawab. “Asal Pak Sony setuju.” “Kalau saya setuju suami saya pasti setuju! Boleh Bu?” Bu Amat berpaling ke Sony. Sony langsung menjawab; “Saya terserah Rita saja.” Bu Amat baru mengangguk. “Ya boleh, asal dirawat seperti anak sendiri!” Rita gembira sekali. Bayi itu langsung dipeluk dan digendongnya. Amat cepat menginjak saputangan Sony yang terjatuh di belakang Bu Amat. Sony pura-pura tidak melihat, tapi kebisuannya menaburkan terimakasih yang tak terhingga.

Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi: Ratna Hidayati. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Pemimpin Perusahaan: IDK Suwantara. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti, Sagung Inten, Tini Dwi Rahayu. Redaksi/Pemasaran Jakarta: Diana Runtu, Sri Iswati. NTB: Naniek Dwi Surahmi. Desain Grafis: IDN Alit Budiartha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Se­kretariat: Ayu Agustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan Pal­ merah Barat 21 G Jakarta Pusat 10270–Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram– Telepon (0370) 639543–Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–Faksimile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BCA Cabang Palmerah Barat Jakarta. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 229.3006644 Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

17 - 23 Februari 2014

I N F O TO R I A L Rotary Club Bali Taman

23

Resmikan Bus Baru Pemeriksaan Kesehatan Reproduksi Bertepatan dengan Hari Purnama dan Valentine Day, Rotary Club Bali Taman meresmikan bus keliling untuk pemeriksaan kesehatan reproduksi perempuan, Jumat (14/2) di halaman Ayodya Restaurant, Sanur. Bus yang merupakan bantuan dari Rotary Club Hiroshima East Distric 2710 Japan ini, diserahkan empat orang perwakilan dari Jepang yang disaksikan semua pengurus dan anggota Rotary Club Bali Taman. Rotary Club Hiroshima East memiliki 95 ang­ gota, diantaranya empat orang perempuan. Saat ini, klub ini sudah berusia 55 tahun. Sebelumnya, Rotary Club Hiroshima East juga telah mem­ berikan bantuan bus pertama kepada Rotary Club Bali Taman. Namun, karena usia pengabdian bus lama itu sudah 17 tahun,

Rotary Club Hiroshima East menggantinya dengan yang baru. Padahal, bus lama masih dalam kondisi bagus. Sejak dulu, Rotary Club Hiro­ shima East sangat peduli terhadap kemanusiaan. Saat Rotary Club Hiroshima East berusia 40 tahun, mereka menyumbang Unit Bank Darah untuk RS Sanglah. Menurut pengelola bus ke­ sehatan keliling dr. Inne Su­ santi, kendaraan ini digunakan berkeliling menjemput bola ke berbagai wilayah di Bali untuk memberikan edukasi, peme­ riksaan kesehatan reproduksi,

Penyerahan kunci mobil kepada Ketua Yayasan Rotary Club Bali Taman AA Ayu Purnamawati

KB, penyakit infeksi, termasuk pengobatannya. “Kami mem­ berikan pemeriksaan pap smear gratis sebagai salah satu cara mendeteksi dini kanker rahim. Selain itu, pemeriksaan kesehat­ an penyakit infeksi juga dapat dilakukan,” ujarnya. Perjalanan bus ini sudah ter­

Pemecahan kendi sebagai simbol peresmian bus

jadwal setiap Hari Senin, Rabu, dan Jumat. “Kami tidak menentu­ kan target berapa yang harus di­ jangkau. Kami layani se­maksimal mungkin,” ujarnya. Menurut dr. Inne Susanti, bus yang kedua ini berbeda dengan bus yang pertama. “Pada bus pertama, pemeriksaan dilakukan di bagian tengah. Sementara pada bus kedua, pemeriksaan dilakukan di belakang sehingga kondisi lebih longgar, dan kami dapat bekerja lebih efektif dan efisien,” kata dokter senior yang masih energik ini. Ketua Yayasan Rotary Club Bali Taman AA Ayu Purnamawati berharap, dengan kehadiran bus kedua yang lebih lengkap ini akan membuat pelayanan yang diberikan ke masyarakat lebih maksimal dan lebih banyak yang dijangkau. “Dulu dengan bus

lama kami sudah menjangkau pemeriksaan kepada 17 ribu orang yang terdiri dari 13 ribu perempuan dan 4 ribu laki-laki. Sebagian besar pelayanaan me­ mang dilakukan di desa-desa. Karena selama ini ditemukan, sebagian besar masyarakat pe­ desaan atau pelosok tidak mem­ perhatikan diri bagaimana cara menjaga kesehatan reproduksi dengan baik,” ucapnya. Menurut Nyoman Nilawati, hasil yang dilakukan dengan pe­ meriksaan bus keliling terdahulu sudah tampak hasilnya. “Karena yang dulunya, perempuan lebih banyak terkena kanker serviks, kini mulai berkurang. Paling tidak, usaha kami turut memberi kontribusi deteksi dini kanker le­ her rahim,” ujar Calon Gubernur Distric 3420 dan Ibu Teladan Bali Tahun 2008 ini. –ast/ten

LP2B Gianyar dan LP2B Negara

Jamin Kompetensi dan Kualitas Naker Kapal Pesiar

Dedek Arimbawa, S.H. LP2B Gianyar dan LP2B Negara adalah sekolah pariwisata di bidang perhotelan dan kapal pesiar yang sudah terbukti sebagai kampus yang mampu menjamin kompetensi dan kualitas lulusannya (tenaga kerja) untuk mampu bersaing di bursa kerja global. Jaminan kualitas yang diberikan dua sekolah ini tampak dari banyaknya per­ mintaan terhadap lulusannya. Bahkan tak jarang perusahaan kapal pesiar (user) harus menunggu beberapa waktu untuk men­ jemput dan mempekerjakan mereka. “Jaminan kualitas bagi kami adalah yang utama. Kualitas tentu harus didu­ kung fasilitas memadai. Dan kami sudah menyiapkan bahkan selalu meng-up to date sarana prasarana saat mengikuti training. Tidak itu saja, tenaga pengajar/ instruktur pun berkualifikasi dengan standar internasional,” kata Dirut LP2B Gianyar dan LP2B Negara, Dedek Arim­ bawa, S.H. Menurut Dedek Arimbawa, me­

mang tak mudah mencetak lulusan yang siap bekerja di kapal pesiar. Selain skill, attitude dan performance, kemampuan berkomunikasi (Bahasa Inggris) adalah hal paling menentukan. “Meski punya skill dan berkompeten di bidangnya tapi kalau tak mampu berkomunikasi dengan baik, ya percuma. Di sinilah kendalanya. Dan kondisi ini dialami juga di semua lembaga pelatihan seperti kami,” imbuh Dedek Arimbawa. Untuk menjaga kualitas lulusan, LP2B dan LP2B Negara membekali lulusannya dengan kemampuan berkomunikasi yang baik. Bahkan mereka diberikan gratis kursus Bahasa Inggris selama enam bulan. “Itu sebabnya lulusan kami hampir 90% sudah bekerja dan diterima di perusahaan kapal pesiar dan perhotelan di dalam dan luar negeri. Kami cukup kewalahan memenuhi permintaan user,” lanjut Dirut yang juga instruktur ini. Saat ini, sambung Dedek Arimbawa, lulusan LP2B Gianyar dan LP2B Negara adalah naker yang paling dicari. Bekerja­ sama dengan PT Meranti Magsaysay, dua sekolah ini berusaha keras memenuhi permintaan user. LP2B adalah sekolah yang terper­ caya. LP2B akan mempertahankan kredibilitasnya sebagai satu-satunya LPK Berprestasi di Gianyar. BIAYA PALING MURAH Di sekolah yang sangat representatif ini, SDM akan digembleng untuk menjadi pekerja mandiri, berkompeten, terampil, berkarakter baik, berwawasan luas, berjiwa wirausaha (entrepreneurship) dan siap menjadi SDM berdaya saing dengan standar internasional. LP2B menggunakan kurikulum ber­ standar internasional (pengantar Bahasa Inggris) yang didukung tenaga peng­­ajar yang kompeten dan profesional di bidang­nya. Ditunjang oleh sarana dan

Kampus LP2B Gianyar

Kampus LP2B Negara prasarana lengkap, gedung yang megah dan fasilitas belajar berstandar hotel bintang lima. Selain memberikan gratis kursus Bahasa Inggris, LP2B juga memasilitasi SDM naker melaksanakan table manner di hotel-hotel berbintang yang menjadi mitra LP2B, gratis fitness dan aerobic (fasilitas milik LP2B). “Kami juga siap membantu pemerintah dalam program pemagangan hingga menyalurkannya,” tandasnya. Sementara itu, fasilitas untuk menun­ jang program pelatihan di LP2B meliputi Lab. Kitchen, Lab. Housekeeping, sarana praktek Front Office, Lab. Restaurant & Room Service, sarana praktIk Bartend­ ing serta ruang kuliah ber-AC dengan fasilitas LCD. Hotel-hotel milik keluarga besar Pande Beng Gianyar (Ubud Village Re­ sort, Camplung Sari, The Payogan, BCC, Camplung Mas) dan hotel- hotel yang berlokasi di Ubud, Kuta dan Jimbaran disiapkan untuk training naker. Tahun 2014, LP2B membuka kembali program ‘Butler’. Program ini ditawarkan untuk semua posisi demi memenuhi kebu­ tuhan user dari perusahaan Yacht di Italia dan beberapa negara-negara Eropa. “Pro­ gram ini sudah lama ada dan kami sudah ada MoU dengan mereka. Dalam waktu dekat kami juga akan melakukan MoU

dengan perusahaan River Cruise di Eropa. Kami berharap generasi muda di Bali bisa memanfaatkan dan mengisi peluang ini sebaik-baiknya karena gaji yang ditawarkan jauh lebih besar. Ini sesuai visi dan misi LP2B yang senantiasa berkomitmen untuk menjadi lembaga pelatihan yang terdepan dan unggul dalam menyiapkan lulusannya,” tutur Dedek Arimbawa.

Untuk merealisasikan minat tersebut, LP2B memberikan kemudahan berupa pemberian beasiswa bagi pelajar lulusan SMA/SMK yang mendapat peringkat I-V. Mereka mendapatkan 30% diskon dari total biaya selama pelatihan. Bahkan LP2B memberikan biaya paling murah dalam pengurusan dokumen hingga keberang­ katan. –ari/ten

Program LP2B Gianyar dan LP2B Negara: - Program Basic Level (1 tahun) untuk jurusan Tata Boga, Tata Hidangan, Housekeeping, Front Office, Bakery & Pastry serta Spa Therapist. - Program Middle Level (2 tahun) meliputi Tata Boga, Tata Hidangan dan Housekeeping. - Program Upper Level (3 tahun) meliputi Manajemen Perhote­ lan. - Program Cruise Line/Kapal Pesiar (1 tahun) meliputi Tata Boga, Tata Hidangan, Galley Steward, Bartending dan Bakery & Pastry. LP2B Gianyar - Jln. Kebo Iwa No. 21 Gianyar, tlp: 0361-943671 - Jln. Dharma Giri No. 23 Gianyar, tlp: 0361- 8958252 Web: www.lp2bbali.com Email: lp2b.kapalpesiar@gmail.com LP2B Negara - Jln. Denpasar–Gilimanuk, Desa Banyubiru–Jembrana, tlp: 0365-4731558.


24

17 - 23 Februari 2014

Konser Amal “Dari Gitaris untuk Indonesia”

47 Gitaris dalam 13 Formasi

Komunitas “Dari Gitaris untuk Indonesia” kembali beraksi dalam menggalang dana bagi para korban bencana alam di ber­ bagai wilayah di Indonesia. Ini adalah aksi kedua kalinya yang dilakukan para gitaris kenama­an Tanah Air setelah empat tahun lalu juga bersatu-padu terlibat dalam acara pengumpulan dana untuk korban bencana. Luar biasa­nya, tidak sampai ­empat jam penampil­an mereka di panggung terbuka Bentara Budaya Jakarta, berhasil ter­ kumpul dana Rp 1,7 ­m iliar dan 10 dollar Singapura. Jumlah ini jauh lebih besar dibanding charity show empat tahun lalu yang hanya mengumpulkan dana sekitar ­R p 600 juta.

“D

ana ini akan disalurkan pada para korban bencana yang terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. Nantinya akan diatur oleh Yayasan Dana Kemanusiaan Kompas. Mereka yang lebih tahu kemana akan disalurkan,” ucap Dewa Budjana, pemrakarsa acara tersebut. Secara keseluruhan acara ini berlangsung meriah dan hidup karena para penonton yang memadati halaman Bentara Budaya Jakarta hingga ke jalan, pun ikut berdendang bersama. Tidak hanya itu, musik yang disuguhkan juga beragam, dari rock, blues, jazz hingga pop hingga campur sari. Iwan Hasan yang tampil memukau dengan gitar harpanya, malam itu menembang ‘Indonesia Pusaka’ karya komponis Ismail Marzuki. Sesaat suasana hening, tapi tiba-tiba meledak-ledak. “Aransemen ini mempresen­ tasikan alam Indonesia yang tidak bersahabat, terkadang tenang namun bisa mengamuk seketika,” ujar Iwan yang tampil didampingi kedua anaknya, Jessica (vokal)

Piyu, Ian Antono, dan Dewa Budjana

dan Daryl (gitar). Acara ini sendiri boleh di­bilang langka karena 47 gitaris tampil bersama-sama dalam satu panggung acara seperti saat ini. Uniknya lagi, mereka tidak tampil sendirisendiri melainkan ber­kolaborasi dengan gitaris lain, tidak bersama kelompok bandnya. Totalnya ada 13 formasi yang disesuaikan dengan genre musik masing-masing. “Itulah kekhasan konser amal komunitas ‘Dari Gitaris untuk Indonesia’,” tambah Dewa Budjana yang ditemui di Bentara Budaya.

Ke-47 gitaris tersebut antara lain Ian Antono, Eet Sjahranie, Ireng Maulana, Jopi Item, Mus Mujiono, Dewa Budjana, Baron, Tohpati, Pay, Piyu ‘Padi’, Ovy ‘Rif’, Riry Silalahi dan Oppie Andariesta yang keduanya selain main gitar juga tampil sebagai vokalis, Eross Chandra ‘Sheila On 7’, Endah n Rhesa, Jubing Kristianto, Gugun ‘Gugun Blues Shelter’, DD Crow, Denny Chasmala, Ivan Borneo, Ginda Bestari, Rama D’Masiv, Arif ‘Kerispatih’, Diat ‘Yovie n’Nuno, Marshal ‘ADA Band’, Arden ‘Tiket’, Qoqo ‘She’, dll. Memang tidak seperti konser pada umumnya, di mana para gitaris bisa tampil berlama-lama memuaskan hati para penggemar­ nya. Karena jumlahnya tergolong sangat banyak, sementara total waktu show yang di­sediakan terbatas, maka masing-ma­ sing formasi hanya diberi kesempatan sekitar 10 menit. Pengatur­an ini dilakukan cukup ketat, se­ hingga target waktu yang

di­t entukan terpenuhi. Meski demikian, tetap saja para gitaris mendapat kesempatan berimprovisasi. BERAWAL DARI OBROLAN Budjana yang tampil bersama Agam Hamzah, Donny Suhendra, dan Tohpati, mengatakan, acara penggalangan dana yang berlangsung sukses ini, dipersiapkan dalam tempo singkat, hanya 2 pekan. Awalnya, obrolan ringan komunitas gitaris tentang berbagai kejadian yang terjadi akhir-akhir ini di Indonesia. Salah satu topik bahasan adalah bencana alam yang terjadi di Indonesia. “Intinya, kami semua prihatin dengan kejadian yang terjadi akhir-akhir ini. Lalu saya bilang, kenapa kita tidak bikin lagi acara seperti empat tahun lalu (penggalangan dana untuk korban bencana)? Waktu itu, kan, kita juga menggelar event seperti ini bersama Kompas untuk korban bencana banjir bandang Wasior di Papua, tsunami Mentawai di Sumatera Barat, dan korban letusan Gunung Merapi di DI Yogyakarta dan Jawa Tengah. Acaranya juga berlangsung di sini (Bentara Budaya Jakarta),” ujar gitaris Gigi ini.

Dasar pemikiran yang dilontar­ kan Budjana ini disambut antusias oleh para member grup yang semua­n ya adalah para gitaris. Para seniman, khususnya komunitas gitaris, papar Budjana, selalu antusias jika diminta tampil dalam acara amal atau acara kemanusian semacam penggalangan dana. “Tidak sulit mengumpulkan mereka untuk acara-acara semacam ini. Padahal mereka semua orang-orang sibuk dengan jadwal aktivitas yang padat. Kita saja susah kalau mau ketemuan, karena kesibukan masing-masing. Tapi kalau untuk acara seperti ini, mereka semangat, dan mau menyisihkan waktunya karena mereka juga merasakan keprihatinan adanya kejadian-kejadian itu. Malah mungkin, kalau acara berbau bisnis, belum tentu me­ reka mau,” ucap Budjana. “Konser amal ini, bentuk kepedulian kami, para gitaris, terhadap apa yang menimpa saudara-saudara kita di berbagai daerah,” ucap Baron yang menjadi koordinator. Ian Antono yang tampil bersama Eet Sjahranie dan Toto Tewel menambahkan Indonesia tak kekurangan orang kaya. Mereka berharap, orang-orang kaya Indonesia, mau lebih peduli dan berbuat lebih untuk mereka yang tengah dilanda kesusahan. Musisi Indonesia memiliki kepedulian yang tinggi pada bangsa dan negara. Hal itu bisa dilihat dari lirik lagu yang dihasilkan, banyak yang menggambarkan kecintaan mereka terhadap negeri ini. Kegiatan ini pun salah satu bentuk kepedulian musisi pada sesama anak bangsa. “Hanya bilik bambu tempat tinggal kita, tanpa hiasan, tanpa lukisan…Beratap jerami, beralaskan tanah… Namun semua ini punya kita…Memang semua ini punya kita, sendiri…,” dendang Ian Antono. Lagu ‘Rumah Kita’ menjadi penutup acara Konser Amal 47 gitaris ini. Satu-persatu para gitaris pun bermunculan di panggung dan menyanyikan lagu ini. –Diana Runtu/Ngurah Budi


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook