Skip to main content

tokoh-edisi-1049

Page 1

SUDUT PANDANG

16

EDISI 1049/ 23 - 29 SEPTEMBER 2019

Jangan Gunakan Tarian Sakral Raih Rekor Muri

Gubernur Bali Wayan Koster menyebut seni budaya yang ada di Bali bukan seni biasa, melainkan berakar dari karya yang diciptakan untuk kepentingan upakara. Di mana kepentingan agama dan upakara agama dijalankan dengan satu tradisi adat istiadat yang juga diisi dengan unsur seni. “Itulah kelebihan kita di Bali, ada gamelan serta tarian. Tariannya bersifat sakral karena dipentaskan saat ada upacara agama,” kata Gubernur Koster di hadapan awak media seusai prosesi ‘Penandatanganan Keputusan Bersama Tentang Penguatan dan Perlindungan Tari Sakral Bali’, di Rumah Jabatan Gubernur Bali, Jayasabha, Denpasar, pada Selasa (17/9) pagi. Ia melihat, banyak seni tari sakral yang banyak bergeser dan mulai dipentaskan untuk kepentingan komersialisasi. Dipentaskan di sembarang tempat bahkan dijadikan alat untuk mendapatkan penghargaan seperti Rekor MURI. “Kondisi ini kami anggap desakralisasi, yang akan menurunkan kesakralan, akan menggeser dan merusak tatanan seni budaya yang diwariskan leluhur. Untuk itulah dalam rangka menguatkan adat dan kebudayaan lokal, saya pandang penting untuk memprioritaskan menjaga, melestarikan dan memelihara tatanan seni tradisi yang kita punya, khususnya tari sakral,” ujar Gubernur kelahiran Desa Sembiran, Kabupaten Buleleng ini. Gubernur menegaskan, masyarakat juga perlu memahami pentingnya hal ini, dan memang harus dijaga bersama kesakralannya, sebagai suatu karya kreatif yang dibuat untuk upakara

keagamaan, adat, agama dan budaya dalam satu kesatuan. Namun demikan, Ketua DPD PDI Perjuangan Bali ini tak menampik pula bahwa banyak seniman yang mendapatkan inspirasi untuk mengembangkan suatu tarian baru dari tarian-tarian sakral tersebut. Langkah ini sama sekali bukan untuk mengekang kreativitas, seniman, sanggar seni, serta sekaa yang ada di Bali. “Silahkan berkreasi dengan berbasis kepada seni tradisi sakral, namun tentu dibedakan dari garapan dan kemasannya. Namanya pun beda. Ini semata-mata untuk kepentingan penguatan kesakralan tari tradisi kita, agar kita punya ‘pagar’ untuk mengontrol hal tersebut. Mudah-mudahan ini jadi langkah penting kita untuk memajukan kebudayaan di Bali, ” katanya lagi. Dalam kesempatan yang sama, Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati (Cok Ace) juga menyampaikan rasa apresiasinya dengan kesepakatan yang ditandatangani oleh berbagai pihak dan lembaga yang berkepentingan. “Jika saya mengambil sudut pandang seniman, maka akan sangat berbeda orientasinya jika kita membawakan tarian yang sakral. Ini karena orientasinya 100 persen adalah persembahan kepada Tuhan, bukan untuk menghibur apalagi komersil. Kalau demikian sudah menyimpang namanya,” ujar pria yang juga seniman tari ini. Sementara itu, Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar Prof I Gede Arya Sugiartha menyebut daftar tarian yang disakralkan tersebut sudah melaui

kajian antara lain melibatkan tim dari ISI Denpasar, dinas Kebudayaan provinsi Bali serta Majelis Pertimbangan dan Pembinaan Kebudayaan (Listibya) Provinsi Bali. “Kesepakatan ini tentu akan diteruskan dengan sosialisasi lebih lanjut ke masyarakat, agar tidak terjadi salah pemahaman. Sekali lagi ini bukan mengekang kreativitas, namun upaya untuk mendudukkan seni sakral ini di tempat yang semestinya. Unsur nilainya bisa berkembang lagi di masyarakat,” urainya. Di kesempatan tersebut juga, Budayawan Prof Dr Made Bandem menyebut pendataan tarian sakral yang disusun tersebut berdasarkan kepada rumusan di tahun 1971 dengan klasifikasi bertajuk ‘Wali, Bebali dan Bali-Balihan’ yang diartikan sebagai wali (sakral) atau bebali (upacara) dan balih-balihan (hiburan). “Tari wali dan bebali dapat ditarikan di tempat dan waktu tertentu. Tari wali dipentaskan di halaman bagian dalam pura dan tari bebali di halaman tengah (jaba tengah, red) jadi dapat dikategorikan sebagai tarian sakral. Sebaliknya tari balihbalihan ditarikan di halaman luar pura (jaba sisi, red) dalam acara yang bersifat hiburan lebih ditekankan kepada sisi artistiknya dan bisa dipentaskan di tempat lain, untuk pariwisata dan lainnya,” ujar Prof Bandem. Dilanjutkan Prof Bandem, dalam data mutakhir yang disusun pada tahun 1992 oleh Listibya dimana terdaftar 6.512 kelompok seni di Bali yang 70 persen diantaranya mengusung tari kategori wali dan bebali. “Perkem-

Keputusan Bersama tentang Penguatan dan Pelindungan Tari Sakral Bali

bangan seni yang begitu pesat di Bali dan pada tahun 2015 kita menemukan 10.049 sekaa di Bali dan tetap sebagian besar pada wilayah tari wali dan bebali. Ini dasarnya sehingga perlu diproteksi lebih jauh lagi,” ujarnya. Dalam kesepakatan yang dibacakan oleh Kadis kebudayaan Provinsi Bali I Wayan Kun Adnyana, disebutkan bahwa dalam upaya Penguatan dan Pelindungan Kebudayaan Bali sesuai visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, melalui POLA PEMBANGUNAN SEMESTA BERENCANA, menuju BALI ERA BARU, maka dibuat Keputusan Bersama tentang Penguatan dan Pelindungan Tari Sakral Bali yang ditandatangani oleh Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali Prof. Dr. Drs. I Gusti Ngurah Sudiana M.Si, Bendesa Agung Majelis Desa Adat

(MDA) Provinsi Bali Ida Penglingsir Agung Putra Sukahet, Ketua Umum Majelis Pertimbangan dan Pembinaan Kebudayaan (LISTIBIYA) Provinsi Bali Prof. Dr. I Made Bandem, MA, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Dr. I Wayan Adnyana, S.Sn., M.Sn, dan Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha, S.SKar., M.Hum., serta disaksikan oleh Gubernur Bali Wayan Koster dan Sekretari Daerah Provinsi Bali Dewa Made Indra. Adapun Jenis tari yang dimaksud antara lain: Tari Rejang, Tari Sanghyang, Tari Baris Gede, Wayang Lemah, Topeng Sidakarya dan lain-lain dengan total 127 jenis tarian. “ Namun tidak menutup kemungkinan bisa bertambah lagi, dengan melihat aspirasi dan usulan masyarakat,” ujar Adnyana. (ast).

Terbitkan Perda Nomor 4 Tahun 2019

Pemprov Bali Serius dalam Penguatan Desa Adat

Pemerintah Provinsi Bali serius dalam penguatan keberadaan Desa Adat di Bali. Hal ini telah dibuktikan dari terbitnya Perda Provinsi Bali No. 4 Tahun 2019 tentang Desa Adat di Bali, yang secara resmi telah diberlakukan tanggal 4 Juni 2019. Selain itu, Peraturan Gubernur Bali No. 34 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Keuangan Desa Adat di Bali, juga telah diundangkan tanggal 17 September 2019. Bahkan, Pemprov Bali telah membuat Dinas Pemajuan Masyarakat Adat, yang diatur dalam Peraturan Daerah Provinsi Bali No. 7 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah No.10 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah, yang diundangkan tanggal 17 September 2019. Dan akan dibangun Kantor Majelis Desa Adat Provinsi dan Kabupaten /Kota Se-Bali yang akan dimulai pada tahun 2020. Hal ini disampaikan Gubernur Bali Wayan Koster melalui press rilis resminya, Rabu (18/9) di Denpasar. Disampaikan Gubernur Koster, Penguatan Desa Adat di Bali dalam Perda Provinsi Bali No. 4 Tahun 2019 tentang Desa Adat di Bali antara lain memberikan pengakuan dan penghormatan atas kedudukan dan peran Desa Adat yang sudah ada dengan keberagamannya sebelum dan sesudah terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. “Desa Adat berkedudukan di

wilayah Provinsi Bali. Desa Adat berstatus sebagai subyek hukum dalam sistem pemerintahan Provinsi Bali. Menjadikan Desa Adat sebagai pelembagaan dalam pelaksanaan tatanan kehidupan masyarakat Bali sesuai dengan kearifan lokal Sad Kerthi,” ungkapnya. Lebih lanjut, pengaturan yang jelas mengenai kategori Krama beserta swadharma (kewajiban) dan swadikara (hak) masing-masing terdiri atas : Krama Desa Adat, Krama Tamiu, dan Tamiu. Selain itu, perubahan status hak dan fungsi atas tanah Desa Adat harus dilakukan berdasarkan kesepakatan melalui Paruman Desa Adat/Banjar Adat bersangkutan. Ditambahkan Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Bali ini, penegasan dan perluasan tugas serta wewenang Desa Adat termasuk kewenangan lokal bersakala Desa Adat yang meliputi: 1. Mengatur, mengurus, dan mengayomi penyelenggaraan Parahyangan, Pawongan, dan Palemahan Desa Adat; 2. Memelihara dan mengembangkan sistem dan pelaksanaan hukum adat; 3. Menyelenggarakan Sabha Desa Adat dan Kerta Desa Adat; 4. Memajukan adat, agama, tradisi, seni dan budaya, serta kearifan lokal masyarakat Desa Adat; 5. Melaksanakan kegiatan sesuai dengan nilai-nilai Sad Kerthi; 6. Menyelenggarakan Pasraman berbasis keagamaan Hindu untuk pengembangan

Gubernur Wayan Koster

jati diri, integritas moral, dan kualitas masyarakat Bali; 7. Memelihara keamanan Desa Adat; 8. Mengembangkan perekonomian Desa Adat; 9. Menjaga keberlangsungan status hak atas tanah Padruwen Desa Adat; Serta menjaga kesucian, kelestarian, kebersihan, dan ketertiban Palemahan Desa Adat. “Memperjelas tugas dan kewenangan Pemerintahan Desa Adat yang terdiri atas Prajuru, Sabha Desa, dan Kertha Desa. Tak hanya itu, juga memperjelas tata kelola kelembaga Adat di Desa Adat meliputi : Paiketan Pamangku; Paiketan Serati; Paiketan

Wredha; Pacalang; Yowana Desa Adat; Paiketan Krama Istri Desa Adat; Pasraman; dan Sekaa dan Lembaga Adat lainnya. Mengatur dengan jelas Padruwen dan Utsaha Desa Adat. Mengatur Anggaran Belanja dan Pendapatan Desa Adat,” jelasnya. Selain itu juga diatur tata hubungan dan kerjasama Desa Adat : Kerjasama Desa Adat dengan Desa Adat lain; Kerjasama Desa Adat dengan Desa/ Kelurahan; Kerjasama Desa Adat dengan pihak lain. Sementara Peraturan Gubernur Bali No. 34 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Keuangan Desa Adat di Bali mengatur antara lain Pendapatan Desa Adat bersumber dari: pendapatan asli Desa Adat; hasil pengelolaan padruwen Desa Adat; alokasi APBD Provinsi; bantuan Pemerintah Kabupaten/Kota; bantuan Pemerintah Pusat; hibah dan sumbangan (dana punia) pihak ketiga yang tidak mengikat; dan pendapatan lain-lain Desa Adat yang sah. “Dana alokasi APBD Provinsi, bantuan Pemerintah Kabupaten/Kota, dan bantuan Pemerintah Pusat, ditransfer langsung ke rekening Desa Adat; tidak lagi melalui BKK (Bantuan Keuangan Khusus) ke Desa Dinas. Dengan Pergub ini penggunaan keuangan Desa Adat menjadi lebih terencana, terarah, dan akuntabel, sehingga Prajuru Desa

Adat dapat melaksanakan tugasnya dengan aman, nyaman, dan tidak dihantui ketakutan masalah hukum. Dana Desa Adat yang bersumber dari APBD Provinsi dapat digunakan untuk: membiayai operasional, menunjang kelancaran penyelenggaraan pemerintahan Desa Adat, dan meningkatkan pelayanan Krama Desa Adat,” tegas Gubernur asal Desa Sembiran, Tejakula, Buleleng ini. Dengan dibentuknya Dinas Pemajuan Masyarakat Adat, yang diatur dalam Peraturan Daerah Provinsi Bali No. 7 Tahun 2019, maka untuk pertama kali sepanjang sejarah Pemerintah Provinsi memiliki perangkat daerah yang khusus menangani urusan yang berkaitan dengan Desa Adat. “Majelis Desa Adat Provinsi dan Kabupaten/Kota Se-Bali akan disediakan kantor, dilengkapi dengan tenaga administrasi, peralatan kantor, dan biaya operasional untuk menunjang tugas Majelis dalam melakukan pembinaan dan pemberdayaan Desa Adat,” imbuhnya. Semua kebijakan tersebut merupakan bukti nyata kesungguhan Gubernur Bali dalam memperkuat Desa Adat sebagai jantung peradaban Bali sebagai implementasi Visi “Nangun Sat Kerthi Loka Bali” melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana menuju Bali Era Baru. (ast).

redaksi@cybertokoh.com, iklan@cybertokoh.com

cybertokoh

@cybertokoh

@cybertokoh

www.cybertokoh.com


ESPRESSO GORO-GORO BK (11)

2

Waktu Amat keluar ke teras, untuk memberikan amp l o p go to n g Putu Wijaya r o y o n g i t u pada Bung Kar(so)no, yang bersangkutan sudah kabur. Kedua kursi yang dipakainya tidur sudah dirapikan ke tempatnya. Hanya di atas meja asbak penuh dengan puntung rokok plus bungkus rokok kretek yang sudah kosong.“Dia pasti mau menunjukkan bahwa dia sudah berjam-jam menunggu,” kata Amat. Bu Amat jatuh kasihan. “Mungkin dia kelaparan, Pak. Siapa tahu lagi cari makan di warung Nyoman sana. Coba lihat.” “Ah biar saja! Kita juga kan belum makan!” Tapi Amat pergi juga. Bu Nyoman, pemilik warung membenarkan, tadi ada seniman makan belum bayar.

“Katanya, nanti minta Pak Amat saja, sebab Ia tak bawa uang tunai. Mau bayar pakai kartu, ya saya minta maaf, nanti bayar lain kali saja kalau makan lagi. Tapi dia bilang tidak ada lain kali, sebab dia mau bunuh diri. Saya kan jadi kaget, Pak Amat!” Amat terkejut. “Dia bilang mau bunuh diri, Bu Nyoman?” “ Ya b u n u h d i r i ! S a y a j a d i takut. Terus dia buka cincin batu akiknya untuk bayar, tapi minta kembalian, karena katanya cincin itu harganya Rp 25 juta. Saya bilang belum ada yang belanja tapi dia lihat saya bawa uang lima puluh ribu sebab mau beli minyak ke situ, ya itu saja, katanya. Karena bingung saya kasih kan uang itu, tapi dia pakai lagi cincinnya, mungkin lupa. Lalu ngomong lagi yang bikin saya takut sekali, Pak Amat!” “Ngomong apa, Bu?” “Dia nunjuk ke pohon beringin itu lalu bilang, kalau saya

EDISI 1049/ 23 - 29 SEPTEMBER 2019

nya sudah ada lagi!” Amat ketawa. “Makan dulu di warung, habis lapar!” gantung diri di situ kelihatan “Jangan ketawa! Urus dulu tidak, ya? Kalau tidak ada yang dia, katanya mau pamit mati! thu, nanti ibu tolong laporkan, Saya kan jadi bingung!” ya. Nanti saya kirimi ibu jamu Amat yang sudah tambah geli pelaris. Begitu, Pak, Amat! Piki- menahan ketawanya. ran saya jadi kacau. Badan saya “Pamit mati?” panas dingin sampai sekarang!” “Ya! Tetangga juga pada denBu Nyoman nampak pucat. gar. Mereka juga ketakutan, Amat malah ketawa. Ia buka m a l a h a d a y a n g m a u l a p o r amplop mengembalikan uang polisi!” Bu Nyoman serta membayar Amat kaget. makan Karsono. “Pamit mati itu kan ungkapan “Jangan takut, Bu Nyoman, orang Jawa yang jadi pemimpin teman saya itu bekas pemain untuk menunjukkan dia bukan k e t o p r a k . M e m a n g h o b i n y a lagi milik diri dan keluagnya, m e l a w a k d e n g a n n g a g e t i n tapi milik rakyat?” orang.” “Saya tahu, Pak! Itu kearifan Tapi Bu Nyoman masih terus lokal Jawa! Tapi ini, dia mau ketakutan. Karena lapar, Amat bunuh diri!” makan dulu, baru pulang. Amat terkejut. Dia bergegas Ternyata di teras rumah ada mau ke teras. Bung Kar(so)no. Lagi tiduran “Tunggu! Bapak mau apa?” kembali di kursi, sama seperti “Mau bilangin hidup ini bukan yang Amat pergoki sebelumnya. panggung ketoprak!” Untuk amannya, Amat kem“Maksud Bapak apa?” bali masuk rumah leewat be“Jangan ngomong pelesetan di lakang. Bu Amat langsung mem- luar panggung! Dia tidak boleh bentak. melawak di depan ...” “Bapak ke mana saja? Orang“Jangan!”

“Kok jangan?” “Pokoknya jangan!” “Terus?” “Berikan saja amplop itu!” “Ia tidak butuh uang! Dia putus asa kehilangan harga dirinya!” “Tidak ada orang yang tidak butuh uang, Pak! Harga dirinya justru sedang kembali sekarang! Karena itu dia menolak Bapak kasih uang! Tapi bagaimana bisa pulang setelah tahunan meninggalkan rumah tanpa bawa uang? Pasti malu! Ya tidak?!” Amat terhenyak. “Ya, tidak?” Amat bingung. “Ya, tidak?” Amat tambah bingung. “Jadi baiknya, bagaimana?” “Cepat kasihkan amplop itu!” “Kalau dia menolak?” “Pasti menolak! Tapi katakan uang itu bukan untuk dia, tapi untuk istri dan anaknya!” “Kalau dia menolak?” “Berarti dia menentang gotong-royong! Menentang Eka Sila! Menentang Panca Sila! Menentang BK!” Amat merogoh amplop dari sakunya “Cepat!!!”

Literasi Digital dalam Potret Keluarga Masa Kini

Ni Luh Putu Ariani

Keluarga adalah harta yang paling berharga, sedangkan literasi adalah bekal untuk kita menjadi berharga. Kedua hal tersebut nyaris berbeda, tetapi saling berkaitan. Keluarga yang literat akan menjadikan penerus keluarga menjadi penuh akan ide dan inspirasi kehidupan. Keluarga secara sederhana terdiri atas ayah, ibu, dan anak. Orangtua memiliki peran untuk mengarahkan, mendampingi, dan mengajarkan anak untuk memiliki budaya literasi sejak

bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

dini, sedangkan anak memiliki dedikasi untuk terus menambah wawasan dan pemahaman melalui literasi agar tetap harmonis dalam keluarga ataupun di masyarakat. Adanya dunia dalam genggaman berupa daring yang menghapus batasbatas antar wilayah secara maya. “Mendekatkan yang jauh, dan menjauhkan yang dekat” bukan kalimat tanpa makna pada zaman milenial seperti sekarang ini karena hal seperti itu dominan terjadi pada keluarga masa kini. Orangtua asyik bercengkerama dengan koleganya di dunia maya, anak-anaknya tidak mau kalah sibuk memainkan gawai tanpa dibimbing oleh orangtuanya, seperti kalimat “Anak senang, orang tua tenang”. Era digital kini tanpa kita sadari menjadi penyumbang permasalahan baru dalam kehidupan sehari-hari yang disebabkan oleh kurangnya kemampuan dalam menyaring informasi yang ada, dan kurangnya kesadaran penggunaan sosial media secara tepat guna menyebabkan banyak kasus-kasus dalam bersosial media merajalela terjadi. Aktivitas bermedia sosial yang intens tanpa dibekali dengan pengetahuan dan etika, dan kurangnya penanaman

karakter yang adiluhung menjadi sangat riskan bagi generasi muda. Perlu keterlibatan orangtua dalam mengawasi anak-anaknya terkait penggunaan media sosial. Dalam sosial media apapun bisa ada dan bisa terjadi dari unggahan yang positif hingga unggahan yang negatif ada di sana. Perlu adanya inisiatif dan inovasi untuk mengenalkan budaya literasi sejak dini mulai dari lingkungan keluarga, dengan penggunaan media yang relavan dan dikombinasikan dengan penanaman karakter bagi anak sehingga hadir generasi emas sebagai penerus bangsa sekaligus masa depan keluarga. Berkembangnya peralatan digital dan akses akan informasi dalam bentuk digital mempunyai tantangan sekaligus peluang. Teknologi digital memungkinkan orang untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan keluarga dan teman dalam kehidupan sehari-hari. . Literasi digital adalah ketertarikan, sikap, dan kemampuan individu menggunakan teknologi digital, dan alat komunikasi untuk mengakses, mengelola, mengintegrasikan, menganalisis, dan mengevaluasi informasi, membangun pengetahuan baru, membuat, dan berkomunikasi dengan orang lain agar

dapat berpartisipasi secara efektif dalam masyarakat. Literasi digital sebetulnya dapat dimulai dari lingkungan terdekat, yakni keluarga. Keluarga adalah lingkungan utama dan pertama seorang anak. Orangtualah yang paling awal mengenal anak-anaknya. Keberhasilan membangun literasi digital merupakan salah satu indikator pencapaian dalam bidang pendidikan dan kebudayaan. Oleh karena itu, literasi digital merupakan kecakapan (life skills). Penanaman literasi digital di lingkungan keluarga sejak dini akan menciptakan tatanan masyarakat dengan pola pikir dan pandangan yang kritis-kreatif. Hal itu perlu dilakukan dengan cara proaktif dan produktif dalam berkarya, orangtua pro-aktif menanamkan etika dan nilai budi pekerti dalam menggunakan sosial media sehingga penyalahgunaan dan permasalahan sosial media bisa diminimalkan.

Literasi digital memiliki peran strategis untuk penembangan diri, dan peningkatan perekonomian dalam keluarga. Literasi digital sama pentingnya dengan membaca, menulis, berhitung, dan disiplin ilmu lainnya. Melalui penerapan dan memperkenalkan literasi digital dalam keluarga komunikasi sesama anggota keluarga terjalin lebih efisien, produktif dan aktif. Mampu memanfaatkan era digital dengan optimal bukan tidak mungkin bisa menjalani pekerjaan dengan tetap berkumpul dengan keluarga di rumah untuk mengawasi buah hati sepeti membuka online shop, menjadi bloger bahkan editor. Era digital harus dimanfaatan dengan bijak agar tidak menjadi budak oleh digital. Ni Luh Putu Ariani Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Hindu STKIP Agama Hindu-Amlapura

KATA HATI: Rubrik ini khusus untuk menuangkan ide/pemikiran/gagasan dalam bentuk tulisan. Tema terkait wanita dan keluarga serta tidak mengandung unsur SARA. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter. Lampirkan juga foto close up (bukan pasfoto). Cantumkan nama lengkap, profesi, nomor hp, dan alamat email. Naskah dikirim ke redaksi@cybertokoh.com, redaksitokoh@yahoo.com.

Penanggung Jawab/Pemimpin Redaksi: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Iklan Denpasar: IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti. Buleleng: Wiwin Meliana. Jakarta: Diana Runtu. NTB: Naniek Dwi Surahmi. Desain Grafis: ­I Made Ary ­S upratman. Manajer Sirkulasi dan Iklan: I Ketut Budiarta, Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama, Hariyono, Ayu Wika Yuliani. Se­kretariat: Ayu ­Agustini, Putu Agus Mariantara. Ombudsman: Jimmy Silalahi. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­merah ­Barat 21 G Jakarta Pusat 10270–Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257. Surat Elektronik: info@cybertokoh.com, redaksi@cybertokoh.com, iklan@cybertokoh.com. Bank: BRI ­Cabang ­Gajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

EDISI 1049/ 23 - 29 SEPTEMBER 2019

Bidang pariwisata masih menjadi sektor unggulan di kabupaten Buleleng. Berbagai objek wisata diperkenalkan kepada pengunjung lokal maupun mancanegara, mulai dari wisata alam, wisata budaya, maupun wisata budaya. Beberapa tahun belakangan di beberapa daerah mulai berkembang wisata buatan dengan memadukan panorama alam dan kreatifitas sehingga menjadi spot swafoto yang digemari oleh masyarakat.

K

etut Sudiharta salah satunya pelaku wisata yang ada di desa Pedawa. Berawal dari usaha yang dimilikinya sebagai pengusaha penghasil bubuk kopi Moola Pedawa dengan cara tradisional. Keinginannya untuk mengenalkan potensi yang dimiliki oleh desa Pedawa semakin besar dengan membuat objek wisata Kubu Hobbit. Objek wisata swafoto ini berkonsep menyuguhkan rumah-rumah Hobbit yang terkenal di luar negeri sehingga pengunjung dapat berswafoto di beberapa spot agar hasil foto tampak instagramable. Bahkan setelah puas pengunjung juga dapat menikmati berbagai kuliner khas Pedawa seperti minum kopi dengan gula asli Pedawa, blayag, sate keladi, dan jaja laklak. “Ini adalah cara saya untuk mempromosikan potensi desa Pedawa,” jelasnya. Sempat viral beberapa tahun lalu dengan membludaknya kunjungan, dan diliput oleh berbagai media lokal maupun nasional, tidak dapat

SUDUT PANDANG

15

Kembangkan Agro Wisata Plantation Kopi dimungkiri kunjungan wisatawan saat ini mulai menurun. Penurunan jumlah kunjungan, kata Sudiharta disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya krisis ekonomi global. Selain itu, akses jalan yang tidak dapat dilalui oleh bus-bus pariwisata membuat kunjungan wisatawan dari luar daerah tidak bisa menikmati keindahan Kubu Hobbit. Selain itu, akses internet yang belum menjangkau desa Pedawa juga menjadi salah satu faktornya. “Animo masyarakat untuk wisata swafoto memang hanya sesaat, maka dari itu kami selaku pelaku wisata lokal harus terus berinovasi agar wisata yang kami bangun ini tidak mati,” ungkapnya. Untuk kembali menarik minat pengunjunga, Sudiharta kembali berencana akan membuat agrowisata salah satunya plantation kopi. Wisatawan baik lokal dan mancanegara akan diberikan kesempatan untuk memetik dan mengolah kopi secara langsung hingga menjadi bubuk kopi yang bisa langsung dinikmati ataupun dibawa pulang. “Pengunjung akan kami berikan memetik dan mengolah kopi dari green bean sampai menjadi kopi bubuk. Setiap orang kami batasi hanya dapat memetik hingga 200 gram,” imbuhnya. Selain wisata petik kopi, pihaknya juga akan menyiapkan beberapa wisata lain seperti wisata petik jeruk, durian dan budidaya tanaman vanili semi modern. Menurutnya nilai jual vanili saat ini sangat tinggi dan belum

banyak petani yang beralih untuk menanam sehingga dengan adanya wisata ini dirinya berharap dapat memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai budidaya vanili. Untuk wisata swafoto juga terus

benahi dengan penambahan wahanawahana baru sehingga lebih menarik. Sudiharta juga mengungkapkan hingga saat ini dukungan pemerintah baik desa maupun kabupaten sangat luar biasa. Dukungan diberikan melalui

promosi-promosi di berbagai media. “Ini juga menjadi motivasi kami untuk terus mempromosikan budaya dan potensi yang dimiliki desa Baliaga secara umum dan desa Pedawa secara khusus,” tandasnya. (Wiwin Meliana)

Mendongeng Lima Menit Man Meri (1)

Di sebuah desa terpencil di Bali tinggal seorang anak laki-laki. Namanya I Nyoman Memeri, disingkat Man Meri. Ia hidup sebatang kara. Dua kakaknya meninggal ketika dilahirkan. Ayahnya meninggal sewaktu ia berumur lima tahun. Setahun kemudian menyusul ibunya. Sebelum mengembuskan napas terakhir, ibunya berpesan, “Nyoman, anakku sayang! Ibu tidak punya apa-apa. Ibu hanya punya seekor memeri yang kupungut waktu kecil. Sayangilah dia dan peliharalah baik-baik!” Lama benar Man Meri hidup dalam kesedihan. Sejak kecil ia ditempa untuk hidup mandiri. Ia harus sanggup bekerja menggantikan ayah dan ibunya. Ia harus mampu menggarap tanah sempit, tanah garapan ayahnya. Ia hidup dari hasil tanah itu. Teman satu-satunya adalah Memeri, anak bebek yang sangat disayanginya. Anak bebek itu sangat patuh dan setia. Kalau Man Meri makan, anak bebek itu juga makan di sebelahnya. Kalau Man Meri bekerja di kebun, anak bebek itu juga ikut ke kebun. Kalau Man Meri tidur, anak bebek itu juga tidur di telapak kaki majikannya. Di antara mereka berdua seolah-olah terdapat ikatan batin yang tak dapat dipisahkan. Seperti biasa, suatu pagi Man Meri mencangkul di kebunnya. Ikut pula si anak bebek bermain-main di sebelahnya. Anak bebek itu seakan-akan ikut membantu bekerja. Ia melompat-lompat sambil bernyanyi, kwik, kwik, kwik….! Sedang asyiknya Man Meri mengayunkan cangkul, tiba-tiba memeri itu melompat ke tanah yang gembur. Braaak…! Tubuh anak bebek yang nakal itu hampir kena cangkul. Untunglah cangkul itu hanya menyerempet sayapnya. Empat daun helai bulunya gugur. Kwik, kwik,

kwik….! Kwik, kwik, kwik…! Si Memeri terkejut ketakutan, dan Man Meri sedikit marah. “Hai, Meri! Jangan mengganggu! Kau pulang saja!” teriaknya. Anak bebek yang gemetar itu mengerti apa yang dimaksud majikannya. Ia pun pulang berlari-lari sendirian. Menjelang matahari tenggelam, Man Meri ingat kepada anak bebeknya. Ia harus memberi makan. Man Meri pun pulang tergopoh-gopoh. Di depan pintu gubuknya ia memanggil teman kesayangannya. “Ri, ri, ri…! Ri, ri, ri….!” Di tunggu-tunggu tak ada jawaban kwik, kwik, kwik. Ia pun mencari anak bebek itu di dalam gubuk. “Ri, ri, ri…!” Juga tak ada jawaban. Man Meri mulai khawatir. Jangan-jangan teman akrabnya itu tersesat di jalan. Ia pun balik menyusuri jalan setapak ke kebunnya. Ia bertanya kepada setiap tetangga, “Bapak, Ibu! Adakah melihat anak bebek saya?” “Tadi kulihat ia berlari ke timur laut,” jawab tetangganya itu. Walaupun hari mulai gelap ia lanjut mencari kawan karibnya ke timur laut. “Bapak, Ibu! Adakah melihat anak bebek saya?” “Tadi kulihat ia berlari ke timur laut,” jawab tetangga berikutnya. Hari sudah gelap. Man Meri tidak bisa melihat jalan setapak lagi. Kalau ia melanjutkan perjalanan, ia akan menjumpai semak-semak lebat yang ditumbuhi pohon-pohon besar. Konon tempat itu sangat angker. Walaupun ia tidak takut akan tempat angker, namun ia sadar, pencariannya akan sia-sia. Ia tidak akan melihat bayangan dan juga tidak akan melihat anak bebek itu. Setelah berpikir panjang, ia pun memilih kembali pulang. Besok pagi-pagi benar ia akan melanjutkan pencariannya. Walaupun pikirannya terganggu, ia mendoakan, semoga anak bebek kesayangannya itu mendapatkan tempat tidur yang aman. “Besok kita pasti berjumpa, sayangku!” katanya.


14 Kenapa harus berburu lokasi wisata indah hingga keluar negeri, padahal Indonesia yang begitu luas, memiliki begitu banyak objek wisata indah, baik yang masih murni maupun yang telah ditata cantik. Hal itu juga disadari oleh penyanyi jazz Andien dan Nadine Chandrawinata. Dalam banyak kesempatan berlibur, keduanya kerap kali lebih memilih mengunjungi berbagai tempat wisata indah yang berada di dalam negeri.

SUDUT PANDANG

EDISI 1049/ 23 - 29 SEPTEMBER 2019

Eksplorasi Tempat Wisata Dalam Negeri

EDISI 1049/ 23 - 29 SEPTEMBER 2019

SOSIALITA

Dekranasda Gianyar Lestarikan Warisan Budaya

3

A

ndien misalnya, belum lama ini mengunjungi sejumlah tempat wisata di Nusa Tenggara Timur seperti Sumba, Maumere, dll. Sementara Nadine, jangan ditanya lagi, karena selain memang penggemar traveling ‘kelas berat’ dia juga pengasuh program jelajah wisata alam di sebuah stasiun televisi nasional. Maka tak heran kalau hari-harinya banyak disibukkan dengan mengunjungi tempattempat wisata alam di berbagai tempat di Indonesia. “Indonesia memiliki banyak destinasi wisata lokal yang menarik, nggak kalah dengan di luar negeri. Berkunjung ke berbagai tempat di Indonesia kita bukan hanya melihat keindahan tempatnya tapi juga adat istiadatnya. Itulah kenapa aku selalu senang mengeksplorasi tempat-tempat wisata di dalam negeri,” tutur Andien yang menyukai wisata alam. Nusa Tenggara Timur misalnya, memiliki banyak sekali tempat eksotis yang telah dikunjungi Andien. Seperti Pulau Flores, Rote dfan Sumba. “Tempat-tempat itu memiliki pantai-pantai yang sangat indah. Aku suka pantai, Kawa (anak Andien) juga sangat menikmati bermain di pantai. Belum seni budayanya, aku sangat menikmati sekali,” tambah Andien yang mengaku telah beberapa kali berlibur ke NTT. Tapi Bali, kata wanita bernama lengkap Andini Aisyah Haryadi ini, adalah tempat wisata favoritnya. Tak heran kalau dia dan keluarganya kerap kali bolak-balik Pulau Dewata untuk mengisi liburan. Tidak bosan. Karena, ucap Andien, begitu banyak tempat menarik di sana. Di mata Andien, pariwisata Bali lengkap, mulai dari objek wisatanya, seni-budaya hingga pantai-pantainya. Hobi Andien yang gemar traveling ini juga mendapat dukungan dari sang suami, Irfan Wahyudi atau akrab disala Ippe. Bersama anak semata wayang mereka, Anaku Askara Biru (Kawa) yang berusia hampir 3 tahun, Ippe kerap menemani Andien mengunjungi berbagai tempat wisata di dalam maupun luar negeri. “Aku kerap ajak Kawa ikut sekaligus mengenalkannya pada alam dan belajar mencintai alam,” kata Andien. Bagi Andien, liburan yang me-

Andien dan Kawa pengegmar pantai

nyenangkan itu yang terprogram dengan begitu berbagai hal bisa dipersiapkan secara matang. Apalagi dirinya selalu membawa Kawa sehingga persiapan pun harus detail. “Yang pertama adalah kumpulkan informasi sebanyak-banyak tentang tempat yang akan dituju, termasuk penginapan yang nyaman, dll. Selanjutnya membuat persiapanpersiapan,” jelasnya. Soal inspirasi lokasi wisata, katanya, bisa datang dari mana saja, termasuk juga usulan dari sang suami. Di luar itu, katanya, ada juga acara liburan yang ‘dadakan’ dalam artian dilakukan saat bekerja. Seperti beberapa waktu lalu ketika dirinya ikut memeriahkan Maumere Jazz Fiest Flores. Kesempatan itu sekaligus digunakan Andien untuk menikmati liburan mengasyikan bersama keluarganya di Flores. “Aku malah sempat ke kampung penenun Lepo Lorun, di sini banyak motif tenun-tenun cantik,” katanya. HOBI DAN BISNIS Nadine Chandrawinata, Putri Indonesia 2010, juga menyukai wisata alam, khususnya wisata bahari. Mengaku tidak bisa berdiam lama di rumah, ia menjelajah ke banyak tempat wisata alam di Indonesia juga luar negeri. Kebetulan juga dia mengasuh program wisata alam di televisi sehingga hasratnya untuk terus mengekplorasi tempattempat indah dan unik di Indonesia, tersalurkan. Lebih beruntung lagi, karena hobinya ini mendapat dukungan dari sang suami, Dimas Anggara yang juga sama-sama mencintai alam. “Aku tuh hobi banget dengan traveling , menjelajah keindahan berbagai tempat. Bukan hanya di Indonesia tapi juga di luar negeri. Aku beryukur beberapa waktu terakhir ini perkembangan pariwisata, khususnya wisata alam dan bahari sangat menggembirakan,” ucap Nadine yang juga Duta Wisata

Bahari 2017. Kecintaannya pada wisata bahari jugalah yang menginspirasi dirinya untuk membangun bisnis yang ‘tak jauh-jauh’ dari wisata bahari. Saat ini dia bersama keluarganya �mengelola Raja Ampat Dive Resort, Papua Barat. Bisnis ini, kata Nadine, sudah berjalan beberapa tahun dan menunjukkan perkemban-

Andien-Kawa

gan yang baik. Kalau awalnya pada 2012 baru memiliki tiga villa, kini sudah berkembang menjadi belasan bangunan. Perkembangan bisnis ini tentunya tak lepas dari terus berkembangkan pariwisata Raja

Ampat. “Namanya bisnis tak selalu mulus. Biasa saja lah. Malah diawal-awal waktu baru belajar bisnis sempat merugi juga. Tapi maju terus aja, belajar dari pengalaman,” tambahnya. (Diana Runtu)

Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Gianyar, mengajak perajin binaannya, tenun tradisional ‘Cap Menuh’ dan ‘Arimasta Silver’ turut berpartisipasi pada Pameran Karya Nusantara (Kriyanusa) 2019. Pameran yang mengusung tema “Peningkatan Daya Saing Produk Kerajinan Melalui Pengembangan Kreativitas dan Kewirausahaan” ini berlangsung selama 5 hari (11- 15/9) di Gedung Balai Kartini, Jakarta.

M

enurut Ketua Dekranasda Gianyar Ny. Ida Ayu Surya Adnyani Mahayastra, pameran nasional yang memamerkan aneka kerajinan khas berbagai provinsi di Indonesia kali ini dirangkaikan dengan Rakernas Dekranas 2019 dan telah dilaksanakan sehari sebelumnya (10/9), di lantai 16 Gedung Serba Guna Jenderal AH Nasution Kementerian Pertahanan RI, Jakarta. Rakernas dibuka oleh Ketua Umum Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) Ny. Mufidah Jusuf Kalla didampingi Megawati Sukarno Putri. “Tema Rakernas tahun ini “Bekerja dengan Hati untuk Memajukan Kerajinan Indonesia”. Sesuai dengan tema pula, kami senantiasa berupaya mendorong pelaku industri di Kabupaten Gianyar untuk meningkatkan kualitas maupun kuantitas produk mereka. Hal ini agar para perajin

mampu meningkatkan daya saing UMKM serta ekonomi kreatif,” ujar Ny. Surya Adnyani Mahayastra. Ia menambahkan, pada Rakernas tersebut Ketua Umum Dekranas, Ny. Mufida Jusut Kalla juga menegaskan makna dari tema ‘Bekerja dengan Hati untuk Memajukan Kerajinan Indonesia’, yakni bertekad, bekerja keras, ikhlas tanpa pamrih untuk memajukan produk kerajinan guna memenangkan persaingan di pasar global. Industri kerajinan tumbuh sangat bervariasi dari skala mikro kecil sampai skala menengah dengan berbagai kendala yang ada seperti pemasaran, permodalan dan teknik produksi. Disinilah peran Dekranas daan Dekranasda sangat diperlukan, terutama dalam peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM). Selain itu juga, perlu program

pembinaan yang tepat sehingga pada gilirannya dapat menghasilkan produk kerajinan yang kreatif, berkualitas

dan berbasis tradisi dan budaya yang mampu menguasai pasar dalam neg-

eri dan internasional. Menyikapi pernyataan dari Ketua Umum Dekranas, menurut Ny. Adnyani Mahayastra berbagai upaya telah dilakukan pihaknya dalam upaya meningkatkan kualitas perajin di Kabupaten Gianyar. Rakernas ini juga menurut Ny. Adnyani Mahayastra sebagai suatu upaya menambah wawasan bagi Dekranasda Kabupaten Gianyar dalam upaya membina UMKM. Sehingga, produk kerajinan yang dihasilkan lebih berkualitas, memiliki nilai tambah, dan dapat bersaing di pasar nasional maupun internasional. Sebab, pada dasarnya produk hasil perajin di

daerah memiliki manfaat dalam upaya melestarikan warisan budaya kita sesuai kearifan lokal, yang dapat menumbuhkan kegiatan ekonomi kerakyatan. “Dalam pameran Kriyanusa ini selain kami memfasilitasi perajin mempromosikan dan memasarkan hasil kerajinan mereka. Disamping itu, kami juga berpartisipasi dalam kegiatan fashion show dengan menampilkan koleksi gaun malam rancangan desainer muda binaan Dekranasda Gianyar, Kadek Wira Dika Saskara,” imbuh Ny. Surya Adnyani Mahayastra bangga. Selanjutnya istri Bupati Gianyar Agus Mahayastra ini juga tidak lupa mengungkapkan rasa bahagia dan bangga, karena pada pembukaan pameran Kriyanusa, stan Dekranasda Kabupaten Gianyar dikunjungi oleh Ibu Negara Ny. Iriana Joko Widodo didampingi Ketua Umum Dekranas Ny. Mufidah Jusuf Kalla, serta beberapa pejabat negara lainnya. -ard


4 Objek wisata lokal mulai diminati wisatawan. Apa yang perlu dibenahi? Menurut praktisi pariwisata Dewi Mas, CHA, CHT., jaminan keamanan dan kenyamanan dari pemerintah daerah baik dari kabupaten sampai desa adat dengan pihak pengelola obyek wisata lokal perlu ditingkatkan.

“D

WOMAN ON TOP

EDISI 1049/ 23 - 29 SEPTEMBER 2019

Dewi Mas

Harga Tiket Standar untuk Hindari Pungli

nis, serta harga memadai. Sebaiknya, kata dia, disediakan iperlukan sinergi antar fasilitas kesehatan atau klinik untuk semua pihak first aid dan tanggungan asuransi baik instansi tercover untuk setiap pengunjung. terkait, demi tercapainya suatu “Jangan lupa ada fasilitas ATM dan sinergi dan konsistensi yang baik penertiban pedagang lokal baik bagi konsumen, dalam mendukung untuk oleh-oleh maupun untuk objek wisata lokal tersebut,” ujar penjualan lainnya,” kata Dewi. Menurutnya, perlu juga pelatihan Group General Manager Alaya yang konsisten kepada masyarakat Hotels and Resort ini. Ia mencontohkan, untuk biaya lokal untuk bisa ikut menjadi tenaga masuk ke objek wisata harus pekerja dan pendukung di obyek standar dan disetujui bersama serta wisata yang mampu berbahasa Ingterjangkau untuk menghindari gris dan memiliki kompetensi di pungli. Disamping itu, ia meminta, bidangnya. “Kerjasama pelatihan ini penyediaan fasilitas umum beserta seharusnya dilakukan pihak Departepetugas yang bertanggung jawab men Pariwisata dengan lembaga seperti fasilitas parkir yang mema- pendidikan, asosiasi pariwisata serta dai dengan biaya parkir yang masuk LSP - Lembaga Sertifikasi Kompeakal, toilet umum yang bersih, dan tensi. Ini sangat diperlukan untuk cukup jumlahnya. Ada penyediaan memberikan pelayanan dan produk tempat beribadah untuk para pen- yang memberikan jaminan kualitas atau quality assurance,” kata Dewi. gunjung. Ia menambahkan, pelatihan ini Tempat berjualan makanan dan minuman juga harus bersih, hiegi- tidak hanya untuk pengelola atau

manajemen tapi juga untuk semua karyawan baik yang bertugas di bidang produk, di bidang pelayanan, bidang penyediaan makanan dan minuman, pelayanan keamanan dllnya. Selain itu, perlu juga, dukungan kerjasama dari biro perjalanan wisata untuk mempromosikan objek wisata lokal, baik kepada tamu lokal di Bali, tamu domestik dan tamu mancanegara dengan penentuan biaya yang standar. “Media juga perlu menyebarluaskan apa keunikan serta semua kearifan lokal yang ada untuk menarik minat pengunjung baik tamu lokal di Bali, tamu domestik, maupun tamu mancanegara,” sarannya. Dewi berharap, perlu juga kerja sama dengan lembaga lingkungan untuk memastikan pengembangan pariwisata objek lokal yang terjadi, untuk menjaga keasrian dan keseimbangan alam di daerah jangka panjang. (Wirati Astiti).

Dewi Mas

“Langkah Awal Menuju Zero Complain” #1 (Bagian Kedua) Salam Senyum “Bagaimana cara merekrut para calon pelaku layanan agar mendapatkan bahan baku yang sesuai dengan harapan perusahaan/instansi?” Dari beberapa refrensi buku layanan yang saya baca dan pengalaman lebih dari 27 tahun terjun sebagai pelaku layanan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika kita akan merekrut para calon pelaku layanan. Yang pertama adalah menyampaikan visi layanan yang tercermin dari budaya layanan yang ada dalam perusahaan/ instansi kita pada iklan lowongan kerja. Tentu ini dicantumkan dengan kata-kata yang penuh dengan semangat dan motivasi untuk menunjukkan bahwa visi ini sangat penting untuk menjadi dasar para pelamar mampu melakukannya ketika sudah diterima sebagai karyawan. Selain menyampaikan hal ini di lowongan pekerjaan, sampaikan juga ketika mulai tahap wawancara awal. Yaitu dengan pertanyaan terbuka yang dapat menggali sejauh mana visi ini dapat dipahami oleh para pelamar yang dibuktikan dengan cerita pengalaman yang sudah mereka lakukan. Langkah kedua untuk mendapatkan ‘bahan baku ‘ yang baik untuk pelaku layanan adalah dengan melibatkan seorang pemimpin layanan dalam instansi/perusahaan Anda. Ketika budaya layanan sudah kuat dilaksanakan dalam perusahaan, maka tentu ini ditentukan oleh seorang pemimpin dalam tim budaya layanan yang terbentuk. Para pemimpin budaya layanan dalam sebuah perusahaan tentu sudah sangat konsisten untuk menjadi role model, coaching, evaluasi, serta melakukan

hal-hal yang terkait untuk membuat layanan di perusahaan dapat berjalan dengan baik dan konsisten. Untuk langkah perekrutan yang kedua ini sering keliru dalam pelaksanaannya. Banyak para perekrut calon pelaku layanan, tidak terlalu paham tentang layanan. Dalam artian mereka tidak melibatkan para pemimpin layanan. Tentu kalau mereka tidak dilibatkan maka penggalian kepada calon karyawan tidak menjurus kepada hal layanan. Namun lebih kepada hal-hal yang tidak terlalu berpengaruh terhadap layanan. Hal ketiga yang harus dilakukan untuk mendapatkan ‘bahan baku’ yang baik sebagai seorang pelaku layanan adalah dengan meminta kandidat untuk mengevaluasi layanan di perusahaan kita. Bisa dengan membandingkan dengan layanan di perusahaan lain, atau memberi saran untuk perbaikan layanan yang mereka lihat pada perusahaan kita. Biasanya mereka akan menjawab dengan dua hal yang berbeda. Ada yang langsung memuji dan mengangap layanan di perusahaan kita sudah baik. Namun ada juga yang mengkritik dengan ide-ide konstruktif. Lalu sebenarnya, yang mana yang baik untuk masa depan layanan kita? Jawabannya adalah mereka yang sering memberi saran untuk praktek layanan terbaik dan tentu saran dengan contoh layanan ter- up to date. Selanjutnya langkah keempat yang dilakukan adalah rekomendasi. Libatkanlah seluruh karyawan untuk merekomendasikan orang-orang yang mereka kenal. Karyawan kita tentu sudah mengetahui dan memahami budaya layanan yang ada dalam perusahaan kita. Dan, mereka akan merekomendasikan orang yang dianggap sesuai dengan visi misi serta budaya layanan perusahaan kita. Selain melibatkan karyawan dalam merekomendasi, para pelanggan terbaik di perusahaan kita juga dapat dimintakan rekomendasi. Apapun mereka sudah

tahu dan merasakan sendiri layanan yang diberikan oleh perusahaan kita. Hal terakhir yang mesti dilakukan untuk merekrut ‘bahan baku’ seorang pelaku layanan yang baik adalah dengan cara bersabar. Bersabar di sini lebih kepada bagaimana kita tidak memiliki istilah ‘sindrom kursi kosong’. Ketika ada jabatan di posisi layanan lowong, kita jadi tergesa-gesa untuk mengisi posisi itu. Padahal, dampak dari kesalahan merekrut orang yang akan masuk sebuah tim layanan, akan membuat keseluruhan tim layanan kita tidak nyaman dalam melakukan proses menuju layanan yang terbaik. Kelima hal inilah yang semestinya dilakukan untuk mendapat ‘bahan baku’ yang baik sebagai pelaku layanan. Bukan hanya mengandalkan kesempurnaan fisik, atau selembar kertas dokumen sebagai bukti akademis. Apakah instansi atau perusahaan Anda siap untuk melakukan hal ini? Mari kita mulai memetakan sebuah proses layanan dari langkah awal. Sudahkah para pelaku layanan di perusahaan/instansi Anda memahami dan melakukan hal tersebut di atas? Materi ini juga terdapat dalam pelatihan dengan Sri Sumahardani Academy dengan judul ‘Serve with Love’ atau buku saya dengan judul ‘Service A La Carte’, serta materi-materi pelatihan yang lainnya, seperti ‘Good Communication for Good Perfomance,’ ‘Great Personality,’ ‘Upgrade Your Selling Skill’ dan dua belas materi lainnya. Ingin mengetahui, memahami dan mengaplikasikan layanan ini di perusahaan/iInstansi Bapak/Ibu ? Silakan hubungi kami, dan kami siap untuk membantu. Salam 3SP Salam Senyum Sang Penyihir Sri Sumahardani srisumahardani3sp@gmail.com www.srisumahardani.com

EDISI 1049/ 23 - 29 SEPTEMBER 2019

METROPOLITAN

Generasi 1990-an tentu ingat lagu indah yang ditembangkan Katon Bagaskara dari KLA Project, ‘Negeri di Awan’. Lagu indah itu meledak di pasaran pada 1996, dan membuahkan dua penghargaan bergengsi BASF Award 1996 sebagai Lagu Terbaik dan Video Klip Terbaik VMI 1996. Sejauh itu masyarakat menikmati lagu itu, namun tidak ada yang tahu “Negeri di Awan” yang dimaksud Katon. Apakah itu benar ada atau hanya imajinasi Katon semata.

B

arulah 21 tahun kemudian, di acara Dieng Culture Festival 2017, Katon menjelaskan ‘Negeri di Awan’ yang dimaksudnya adalah Dataran Tinggi Dieng, Banjarnegara. Tempat wisata itu tidak asing lagi di masyarakat. Tempat wisata yang luar biasa indah yang telah terkenal hingga ke mancanegara. Baginya, Dieng ibarat desa yang berada di atas awan dengan kehidupan masyarakatnya yang harmonis. Bagi masyarakat Jabodetabek dan sekitarnya tak perlu jauhjauh ke Dataran Tinggi Dieng untuk menyaksikan pesona “Negeri di Atas Awan”. Karena di Lebak, Provinsi Banten pun ada “Negeri di Atas Awan” Citorek yang tak kalah memesona. Akhir-akhir ini sebagian masyarakat Jabodetabek seperti sedang ‘kesemsem’ dengan objek wisata baru itu. Persisnya terletak di Desa Citorek, Gunung Luhur, kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Mudah dicapai dari Jakarta karena akses jalan menuju ke sana sudah dibangun. Memang belum setenar Dieng. Maklum kawasan wisata itu masih sangat baru dan dikelola secara swadya masyarakat setempat. Belum terjamah investor swasta. Dipastikan, tempat wisata ini akan bersinar cemerlang jika digarap maksimal. Pemda Banten pun tengah menatanya, salah satunya dengan membangun infrastruktur di antaranya jalan menuju lokasi wisata yang hampir selesai, serta sejumlah fasilitas lainnya. Jalan mulus menuju puncak Gunung Luhur, sungguh menggem-

13

Pesona “Negeri di Atas Awan” Citorek

birakan masyarakat khususnya penduduk setempat yang tinggal di kawasan terpencil. Itu sebabnya pesona “Negeri di Atas Awan” Desa Citorek tidak diketahui masyarakat luas. Hanya warga setempat yang tahu.

Warga Buka Penginapan Sederhana

SEOLAH BERADA DI ATAS LANGIT Tapi kondisi kini berbeda setelah akses dibuka. Kalangan muda yang gemar adventure berdatangan dari berbagai penjuru. Umumnya warga Jabodetabek. Mereka juga tahu waktu terbaik untuk menyaksikan pesona luar biasa dari “Negeri di Atas Awan” adalah pukul 05.30 hingga 07.30. Karena itu jangan heran kalau di sana banyak tenda-tenda kecil wisatawan yang menunggu ‘serbuan awan’di pagi hari. Yang utamanya sudah pasti, selain menikmati anugerah luar biasa dari Tuhan, juga untuk selfiewefie serta membuat video dari berbagai angle. Berkat penyebaran foto-foto dan video itulah “Negeri di Atas Awan” Citorek menjadi viral dan mengundang penasaran masyarakat. Gubernur Banten Wahidin Halim pun meninjau tempat wisata yang menjadi buah-bibir masyara-

kat itu, pekan lalu. Seperti yang digambarkan semua orang yang pernah datang ke sana, Wahidin pun terpukau keindahan luar biasa yang disaksikannya. Kebetulan dia dan rombongannya datang pagipagi sekali ke sana dan menyaksikan awan seolah berada di bawah kaki mereka berdiri. “Pemandangannya luar biasa indah. Awan berkumpul terasa dekat di sisi kita. Kita seolah berada di atas langit. Seperti kita berada di pesawat dan melihat ke bawah,” ungkap Wahidin yang datang ke lokasi itu bersama rombongan Dinas PURR dan Dinas Pariwisata Provinsi Banten untuk memastikan pembangunan infrastruktur jalan dan fasilitas pada tempat wisata berjalan dengan baik. Selama ini, ungkap Wahidin, sudah banyak cerita tentang keindahan dari “Negeri di Atas Awan” Citorek yang beredar, namun baru kali ini lah dia berkesempatan untuk membuktikannya. (Diana Runtu)

Sejak delapan bulan lalu, seiring semakin banyaknya foto-foto dan video-video tentang “Negeri di Atas Awan” Citorek, Kecamatan Cibeber, Lebak, beredar di dunia maya, wisatawan pun berduyun-duyun ke sana. Wisatawan seolah tidak keberatan dengan masih minimnya fasilitas wisata yang tersedia seperti penginapan dan lain-lain. “Tempat wisatanya masih murni banget, masih minim fasilitas. Beruntungnya, akses jalan sudah bagus, jadi mencapainya bisa lebih mudah dibanding dulu. Meski masih minim, tapi saya rasa cukup sepadan ya dengan hasil yang kita dapat. Pemandangannya luar biasa. Bener-benar ini “Negeri di Atas Awan”,” ungkap Wanto yang datang bersama rombongannya naik motor. Dari Serang, Jawa Barat, sekitar 1,5 jam perjalanan. “Kami bangun tenda di sini,” tambahnya. Sadi, warga asli Desa Cibeber, mengaku, sangat bersyukur akhirnya keberadaan “Negeri di Atas Awan” Citorek terungkap ke masyarakat luas. Perkembangan yang terjadi di desanya selama delapan bulan terakhir, kata Sadi, sungguh luar biasa. Sejak dibangunnya akses jalan beton menuju desanya, jelas Sadi, perekonomian masyarakat berkembang cepat karena mudahnya sarana transportasi. Apalagi kemudian wisata “Negeri di Atas Awan” berkembang cepat. Beberapa warga mulai mengembangkan penginapan sederhana namun bersih dengan harga terjangkau. Sebagian warga lainnya berjualan aneka makanan. Jadi jangan takut kelaparan. “Sekarang ini banyak orang datang rombongan ke desa kami untuk menikmati “Negeri di Atas Awan”. Kalau Sabtu-Minggu bisa sampai ribuan, rata-rata 2000 an orang, sampai-sampai lokasi parkiran nggak muat,” ucap Sadi dengan wajah semringah. Dulu Desa Citorek cukup terpencil dan tidak mudah dicapai. Jalanan yang ada adalah jalanan seadanya yang bebatuan dan becek jika terkena hujan. Namun sekarang jalan mulus beton telah menembus Citorek Atas sekaligus menyingkap keberadaan “Negeri Di Atas Awan” kepada dunia. Ketika kita berada di Lebak, tidak hanya mendapat satu objek wisata, namun masih ada beberapa objek wisata alam lainnya yang letaknya berdekatan. Misalnya, di dekat “Negeri di Atas Awan” , ada objek wisata Curug Kadupunah. Lokasi wisata air terjun ini berada di kawasan Taman Nasional Curug Kadupunah. Di samping Curug itu juga terdapat lubang besar bekas penambangan emas peninggalan Antam. Selain itu, ada tempat wisata kebun teh Cikuya, Curug Ciporolak yang sudah sejak lama terkenal serta yang terbaru wisata alam pohon damar. Ketiga tempat wisata itu berada di Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Bagi yang penasaran dengan kehidupan suku Baduy, bisa langsung ‘merapat’ ke sana karena “Negeri di Atas Awan” Citorek berdekatan dengan wisata suku Baduy. (Diana Runtu)


12

BUMI GORA

EDISI 1049/ 23 - 29 SEPTEMBER 2019

Menjaga Kehidupan Kesenian tanpa Jeda Perhelatan kesenian yang menggembirakan sekaligus membahagiakan kembali hadir di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Dalam durasi yang cukup panjang, 14-25 September 2019 kegiatan Lombok Art Ekshibition 2019 digelar di Taman Budaya Nusa Tenggara Barat. Bertajuk Napak Tilas Perupa NTB, gelar pameran lukisan ini menyajikan karya-karya Perupa NTB.

K

epala Taman Budaya NTB, dihadirkan di ruang pamer Galeri Seni Ir. Baiq Rahmayati, M.Si., Rupa Taman Budaya NTB juga mem­ mengungkapkan, Lombok buat pameran ini penuh makna. Dengan Art Exhibition diseleng­ kurator Sasih Gunalan, M.Sn., Lombok garakan untuk mengabarkan kepada Art Exhibition memamerkan karya pe­ masyarakat, NTB kaya perupa dengan lukis mendiang I Wayan Pengsong, Lalu karya-karya mengagumkan. Ia berharap Agus Faturrahman, M. Tarfi Abdullah pameran ini juga menjadi awal yang baik yang juga menghidupkan suasana pam­ untuk NTB ke depan memiliki database eran. Dilengkapi pula dengan kehadiran perupa lengkap dengan karya-karyanya. karya Abdullah Sidiq, Abdul Gani Selim, Yang me­ I Gusti Bagus narik dari Kebon dan I Lombok Art Nengah Ki­ Exhibition sid. Generasi 2019 ini, berikutnya sebab me­ ada Mantra mamerkan Ardhana, I karya-karya Wayan Gre­ mulai dari deg, Lalu yang “be­ Syaukani dan rat” hingga Karyana. Pe­ “ringan” un­ rupa Altha tuk dinikma­ Rivan juga ti. Menonton turut hadir pameran ini, denga karyamenawarkan karyanya guyub rasa yang “rapi”. sebab keru­ Begitu mitan-keru­ pula dengan mitan dalam Saparul An­ membaca war. Paripur­ karya lukis nalah pamer­ terakomodir an ini dengan dengan ber­ karya-karya Salah satu karya Mantra Ardhana dalam Lombok dari pelukis kumpulkan Art Exhibition 2019 yang banyak menarik para perupa muda Ijjatul perhatian pengunjung berkelas Islam dan dengan karya penuh kedalaman, pula juga Arief Firmansyah. Sisi lain dari perupa dengan karya-karyanya yang pameran ini adalah keunikan suasana ringan, mudah dicerna dan membuat yang mampu mewakili penonton kala hati riang gembira. Ini tentu mewakili menikmati lukisan dari para perupa cita rasa penikmat pameran yang datang “sekolahan” dan “tidak sekolahan” yang dari berbagai lapisan masyarakat. menjadi daya tarik tersendiri dalam Lombok Art Exhibition ini menu­ pameran ini. Masing-masing mereka runkan 16 perupa dengan ragam latar memiliki kekuatan sendiri-sendiri. belakang yang menjadikan warna pameran demikian lengkap. Jejak-jejak WAYANG SASAK karya para pelukis kawakan NTB yang Selain pameran lukisan, di Lombok

Pemprov Bali Belajar Pengelolaan Sampah ke Surabaya

Pengelolaan sampah masih menjadi salah satu persoalan yang harus diselesaikan Pemerintah Provinsi Bali dalam mewujudkan Visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali. Beruntung, Guber­ nur Bali Wayan Koster di awal kepe­ mimpinannya bergerak cepat dengan menerbitkan Pergub 97 Tahun 2018 yang mengatur pembatasan timbulan sampah plastik sekali pakai.

L

Kepala Taman Budaya NTB, Ir. Baiq Rahmayati, M. Si

Art Exhibition 2019 ini juga ada Coffe Nite Jam Session. Panggung musik yang digelar di taman timur Taman Budaya NTB yang bersebelahan dengan galeri seni rupa mampu menghangatkan suasana dengan tampilnya para musisi dan grup band di Mataram. Organic Mind besutan Mantra Ardhana tampil perdana dengan teknologi multimedia yang kekinian pada pembukaan pam­ eran dengan Perfomance Art berjudul Tangga Menuju Bulan. Grup musik yang tampil berturutturut sepanjang kegiatan ini adalah Intuisi, Tunggang Gunung, Vhee Navan, solois Pamela Paganini. Aksi panggung eksentrik dari penyanyi ekspresif Sid­ zia Madvox turut membakar semangat para fansnya dengan aksi panggung teaterikalnya. Sidzia Madvox, rocker yang juga komikus selengean ini, terbi­ lang menghibur sebab ia mampu tampil komunikatif. Pada sesi berikutnya ada anak-anak muda kreatif yang tergabung dalam Kelompok Burung Hitam yang tampil apik menggabungkan musik, sastra dan teater di atas panggung. Minggu, 22 September 2019, tampil Sang Gerilyawan Musik, musisi ke­ namaan Ary Juliant (bersama Paris Hasan) dengan karya-karyanya yang

fenomenal. Dan malam berikutnya akan tampil Asyilvm, Suradipa lalu ditutup oleh Tjerita Coklat feat Dina Glistan, 25 September 2019. Selain pameran lukisan dan music session, ditampilkan pula gelar Wayang Sasak dan festival anak-anak melukis. Screening film yang hampir tiap malam diputar, turut mengisi kegiatan. Melihat apresiator Lombok Art Exhibition 2019 yang menggembirakan, penyelenggara kegiatan berharap mo­ mentum ini bisa menghangatkan dan

menggairahkan serta mampu menjaga daya hidup kesenian di Mataram dan Nusa Tenggara Barat. Majas Pribadi, penggagas Lombok Art Exhibition yang juga pimpinan rombongan Nusa Teng­ gara Art Community, berharap bisa berkomunikasi dengan para seniman NTB untuk duduk bersama merancang kegiatan-kegiatan kesenian yang lebih besar lagi dan melibatkan lebih ban­ yak aktivitas kesenian demi menjaga kehidupan kesenian NTB tanpa jeda. (Naniek I. Taufan)

angkah konkrit ini bukan saja mendapat apresiasi dari banyak pihak namun secara nyata mengurangi jumlah sampah plastik yang beredar di Bali. Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Bali menyebutkan jumlah timbulan sampah plastik di TPA regional sarbagita pada bulan Maret 2019 sebesar 1400 ton atau mengalami penurunan hingga 50 persen dari 2880 ton sebelum Pergub dikeluarkan. Pengurangan ini salah satunya berasal dari tiada lagi kantong plastik di toko modern yang sebelum­ nya mencapai 8.760 kg pada Desember 2018. Selain itu Gerakan Semesta Berencana Bali Resik Sampah Plastik yang melibatkan berbagai komponen masyarakat yang ada di Bali berhasil membersihkan sampah anorganik dari lingkungan sebanyak 462.000 kg se Bali. Kebijakan ini tentu saja baru se­ bagian dari rencana Gubernur Bali Wayan Koster untuk menyelesaikan permasalahan sampah di Bali. Gubernur asal Desa Sembiran ini telah merancang upaya penanganan sampah yang holistik mulai dari hulu sampai ke hilir. Sebagai salah satu langkah untuk mendukung rencana Bapak Gubernur sekaligus untuk mendapatkan gambaran pe­ nanganan sampah di hulu, Pemerintah Provinsi Bali mengajak awak media

untuk ‘mengintip’ penanganan sampah di Kota Surabaya. Bukan rahasia bahwa Kota Surabaya telah mendapat banyak pengakuan karena upaya pengelolaan sampahnya yang sudah baik. Rombongan awak media baik cetak, elektronik maupun online yang di­ pimpin Asisten III Pemprov Bali I Wayan Suarjana dan didampingi Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Bali A.A Oka Sutha Diana mengunjungi beberapa lokasi terkait pengelolaan sampah di Surabaya, Selasa (17/9) dan Rabu (18/9). Salah satu lokasi yang dikunjungi adalah Pusat Daur Ulang Jambangan. Di lokasi yang mulai beroperasi tahun 2016 ini sampah organik dan anorganik yang dikumpulkan dari seluruh kelurah­ an Jambangan dipilah dan diolah men­ jadi pupuk organik. Dengan bermodal 25 gerobak sampah, PDU Jambangan bisa mengumpulkan sampah sebanyak 5-6 ton. Pengawas PDU Jambangan Hadi Waskito mengatakan fasilitas ini bisa mengurangi sekitar 50 persen sampah yang dibawa ke TPA. “Jadi 2,5 sampai tiga ton kita olah disini menjadi [pupuk-red] organik,” kata Waskito. Ia menambahkan kompos yang dihasilkan dari PDU Jambangan didistribusikan ke seluruh taman-taman yang ada di Surabaya. Selain itu masyarakat berKTP Surabaya boleh mengambil secara gratis, termasuk instansi pemerintah seperti kelurahan, kecamatan, pus­ kesmas dan sekolah. Salah satu kelebihan PDU Jam­ bangan adalah penggunaan larva lalat tentara hitam untuk mempercepat proses pengomposan. Selain bisa digunakan sebagai kompos, larva lalat tentara hitam juga punya nilai tambah lain sebagai pakan ternak. Kelebihan lainnya adalah fasilitas ini juga dileng­ kapi dengan Pembangkit Listrik Tenaga

Kelompok Burung Hitam tampil menggabungkan musik, sastra dan teater

Asisten III I Wayan Suarjana dan Kabiro Humas dan Protokol Setda Prov Bali AA Oka Sutha Diana melihat lebih detail pengelolaan sampah di TPA Jambangan.

Suasana pameran lukisan para perupa NTB yang turun pada Lombok Art Exhibition

Sidzia Madvox tampil energik pada Music Jam Session Lombok Art Exhibition 2019

5

EDISI 1049/ 23 - 29 SEPTEMBER 2019

Koordinator TPA Jambangan memberi penjelasan bagaimana mengelola sampah menjadi kompos

Kunjungan media dan humas Pemprov Bali ke TPA Jambangan Surabaya

Sampah (PLTSa) mini yang bisa meng­ hasilkan listrik 4000 Watt yang cukup untuk kebutuhan operasional PDU Jambangan. Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah Andhini Kusumawardani Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau Kota Surabaya mengatakan fasilitas TPST-3R seperti ini sudah ada tiga di Surabaya, yakni di Jambangan, Sutorejo dan Tambak Oso Wilangun. “Yang di Su­ torejo bantuan dari Kitakyushu, yang ini bantuan dari KLHK dan di Tambak Oso kami bikin sendiri,” kata Andhini. Karena kesuksesannya, Pemkot Surabaya tahun ini membuat lima lagi yang direncanakan bisa beroperasi tahun 2020. Berdasarkan pengalaman di Tambak Oso Wilangun, Andhini mengatakan ang­

garan yang diperlukan untuk membuat satu TPST-3R sebesar 2 milyar rupiah. Asisten III Administrasi Umum Provinsi Bali Wayan Suarjana me­ ngatakan banyak belajar dari kunjungan ke Surabaya. Salah satunya mengenai komitmen pemerintah yang kuat untuk mengatasi persoalan sampah di Kota Surabaya. Ia mengatakan keberhasilan kota Surabaya tidak lepas dari perubah­ an pola pikir dalam mengelola sampah. Menurutnya dengan kunjungan ini Bali memiliki gambaran pengelolaan sam­ pah yang bisa saja diimplementasikan di Bali. “Kebetulan di Bali dengan visi misinya bapak Gubernur Nangun Sat Kerthi Loka Bali salah satunya adalah bagaimana menjaga keseimbangan alam Bali yang bersih sekala lan niskala salah

satunya adalah membersihkan sampah menjadi yang berguna,” kata Suarjana. Wayan Suarjana mengatakan pi­ haknya belajar banyak dari kunjungan ke TPA Benowo. “Ini adalah sebuah bekal yang baik bagi kita khususnya Bali karena disini menurut saya su­ dah berhasil dari tidak ada menjadi ada,” ujar mantan Sekwan Provinsi Bali ini. Ia mengatakan keberhasilan Pemkot tidak lepas dari perubahan pola pikir dalam mengelola sampah. Menurutnya dengan kunjungan ini Bali memiliki gambaran pengelolaan sampah yang bisa diimplementasikan di Bali. “Ke­betulan di Bali dengan visi misinya bapak Gubernur Nangun Sat Kerthi Loka Bali salah satunya adalah bagaimana menjaga keseimbangan alam Bali yang bersih sekala lan niskala salah satunya adalah membersihkan sampah menjadi yang berguna,” kata Suarjana. Ia optimis, kunjungan ini akan bermanfaat untuk pengelolaan sampah dari tingkat hulu di Provinsi Bali. Selain mengunjungi TPST-3R, rombongan pers Pemprov Bali juga mengunjungi Command Center 112 Surabaya dan TPA Benowo. Dengan banyaknya CCTV dan kanal yang dipantau Command Center bisa mengawasi berbagai permasalahan yang terjadi di Kota Surabaya termasuk persoalan sampah. Sementara di TPA Benowo awak media mendapat gam­ baran pengelolaan sampah menjadi tenaga listrik.

TPA Benowo “Sulap” Sampah Jadi Listrik Salah satu pengolahan sampah men­ jadi energi listrik telah sukses dikerjakan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo, Surabaya. Penanggung jawab operasional PT Sumber Organik Surabaya, M Ali Azhari, menuturkan sebanyak 1.500-1700 ton sampah per hari diolah di TPA Benowo dan mampu menghasilkan energi listrik sebesar 2 mega watt. Lahan 37,4 hektare tersebut dapat dimanfaatkan dengan baik dalam waktu yang panjang. Sampah diolah jadi sumber energi yang dapat digunakan. Sebelumnya Pemkot Surabaya meng­ ajukan dua syarat untuk perusahaan yang mengikuti lelang pengolahan sampah. Penanggung jawab operasional PT Sumber Organik Surabaya, M Ali Azhari “Dua syarat tersebut yakni tentang menjelaskan pengelolaan sampah d TPA Benowo. kemampuan perusahaan memanfaatkan sampah menjadi energi terbarukan serta perihal sani­ Kabid Sarana dan Prasarana Dinas Kebersihan dan Ruang tasi. Keduanya harus dipenuhi agar menang dalam lelang,” Terbuka Hijau Kota Surabaya Iman Rachmadi menambahkan, ujarnya. dalam pengolahan sampah menjadi energi listrik ini diperlu­ Pada akhirnya, PT Sumber Organik (SO) memenangkan kan cerobong asap dengan tinggi 60 meter. lelang. Investor itu bekerja sama dengan Pemkot Surabaya Bila menara cerobong asap dibuat tidak memenuhi dengan perjanjian Build Operate Transfer (BOT) selama 20 syarat ketinggian, tentu akan dapat menimbulkan volusi tahun, terhitung sejak 8 Agustus 2012. asap di sekitarnya dan juga menebarkan bau yang kurang Ali Azhari menambahkan, pengolahan sampah men­ sedap. jadi listrik PT SO bukan sekadar demi mendatangkan Iman menyebutkan, lokasi yang kini dijadikan TPA Ben­ keuntungan, namun untuk berinovasi agar lingkungan di dowo letaknya cukup berdekatan dengan Stadion Olahraga Kota Pahlawan tetap terjaga. Bila pengelolaan sampah Bung Tomo Surabaya. “Kadang kami masih was-was juga, tidak dilakukan dengan baik, bakal berdampak buruk saat pertandingan kalau sampai menebar mau tak sedap,” pada masyarakat. Sebab, sampah yang tak tertangani katanya sembari tertawa. dengan benar dapat mengakibatkan banjir dan wabah Asisten III Wayan Suarjana mengatakan, semoga sistem penyakit. pengelolaan sampah di Surabaya sewaktu saat dapat di­ Sampah yang ada di perumahan warga dikumpulkan ke adopsi di Bali. tempat pembuangan sementara (TPS). Kemudian, truk DK “Segala sesuatu yang diperlukan untuk membangun RTH mengangkut sampah dari TPS menuju TPA Benowo. pembangkit listrik bertenaga sampah di Bali, harus dilakukan Di tempat inilah, sampah dari seluruh penjuru kota diolah perencanaan yang benar-benar matang dan terarah,” kata menjadi listrik. Suarjana. (Wirati Astiti)


DARA

6 Dewi Gita terbahak di belakang panggung Blind Audition The Voice Indonesia, sambil tangannya menunjuk pada Armand Maulana, suaminya, musisi senior yang saat itu menjadi salah satu juri acara itu. Sebentar-sebentar Dewi yang ditemani host Omesh menunjuknunjuk Armand lalu memegang kepalanya.

W

EDISI 1049/ 23 - 29 SEPTEMBER 2019

Si Pemalu Bersuara Emas Fokus Pendidikan

instagram dewigita

penasaran lantaran dianggap beda dengan sosok ayah-ibunya yang ‘ramai’. “Orang tuh memang banyak yang tanya kenapa Naja begitu pemalu dan sangat kalem. Orang pikir aku tuh suka marahin anak, sampai-sampai anak jadi pendiem banget, kalem banget,” ungkap Dewi Gita sambil tersenyum. Kepribadian Naja yang pendiam dan sangat kalem, kata Dewi, memang sudah terlihat sejak kecil. Dia dan Armand pun tak pernah memarahi Naja. Kalaupun ada hal-hal tidak baik, mereka sebagai orangtua hanya menjelaskan dan Naja sudah mengerti. Tapi, lanjut Dewi, sesungguhnya sifat Naja yang pendiam itu ‘menurun’ dari bapaknya, yakni Armand. Mungkin banyak yang tidak tahu kalau sesungguhnya sang suami yang kelihatan ‘heboh’ dan ‘garang’ kalau di panggung, sebenarnya adalah pribadi yang pendiam, persis seperti Naja. Hal itu juga dibenarkan oleh Armand. Bakat menyanyi itu, ujar Dewi, sudah terlihat sejak Naja sekolah dasar. Namun karena anaknya super pemalu, meski dirinya juga Armand mendorongnya untuk mengeksplor lebih jauh bakatnya, Naja seolah tidak tertarik. Sebaliknya, dia malah lebih menekuni bakatnya yang lain yakni melukis. Dia ingin jadi ilustrator. Sejak kecil Naja gemar membaca komik dan hal-hal terkait science fiction, tontonan animasi, dll. “Jadi dia tuh kalau ngomong sama saya soal film science fiction, komik, animasi, super hero, nah itu nyambung. Soalnya saya juga suka. Dia juga suka menggambar, mungkin bakatnya menurun dari kakeknya yang pelukis,” tutur Armand. Waktu kecil, lanjut Armand, Naja sangat suka anime Jepang. Namun seiring waktu, minatnya mulai berkembang. “Saya lihat gambar-gambar karyanya juga sudah punya warna sendiri,” tambah Armand yang kerap memangil anaknya dengan sebutan ‘Neng’. (Diana Runtu)

Saat konser Dewi Gita

11

Potensi pariwisata dan pertanian yang dimiliki Kabupaten Buleleng menjadi dua sektor tumpuan hidup masyarakatnya. Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk kemajuan dua sektor tersebut demi kesejahteraan masyarakat. Berbagai event dan pembangunan insfrastruktur dilakukan untuk menunjang sektor pariwisata. Bahkan promosi pun gencar dilakukan hingga mancanegara.

Naja -paling kiri--lulus sma

Naja

BULELENG

Bantaeng Ingin Tiru Pertanian Buleleng

Naja Dewi Maulana

ajah Dewi tampak gemas lantaran melihat reaksi Armand Maulana yang seperti cuek saja. Padahal di panggung, sang anak tercinta, Naja Dewi Maulana, tengah memperdengarkan suara merdunya lewat lagu ‘Gravity’ dari Sara Bareilles. Beda dengan para juri lainnya yang seperti sangat menikmati suara Naja, wajah Armand biasa saja, bahkan terkesan datar saja seolah suara si penyanyi biasa-biasa saja. Itulah yang bikin Dewi gemas. Padahal itulah penampilan perdana Naja menyanyi di ajang pencarian bakat di televisi. Ketika Naja selesai menyanyi, para coach seperti Titi DJ, Isyana Sarasvati dan Anindyo Baskoro serta Vidi Aldiano berebut memecet tombol merah yang juga otomatis Naja menyanyi di acara memutar kursinya menghadap Voince Indonesia panggung. Armand justru sebaliknya. Ia sempat terdiam meski akhirnya perlahan memencet pula tombol merah itu. Begitu menghadap panggung, Armand nyengir lalu menepuk dahinya. Para coach meledek Armand yang seolah tak mengenali suara putrinya. Sementara Naja berdiri di panggung sambil tertawa lebar. Armand lantas menghampiri panggung dan memeluk putri tercintanya. Tudingan banyak orang lantas dibantah tegas oleh vokali grup Band Gigi itu. “Nggak benar dong. Gue kenal banget suara anak tercinta gue dari awal dia nyanyi gue juga udah tahu. Pas desahan nafas pertamanya gua udah menduga kalau itu Naja,” kata Armand sambil tertawa. Yang sempat membuatnya terdiam adalah haru yang memenuhi hatinya. Dia tak menyangka kalau putrinya yang amat sangat pemalu itu mau menyanyi sendiri di panggung yang disaksikan jutaan orang. “Naja itu pemaluuuu banget. Karena itu gua kaget dia mau nyanyi. Tapi gua bangga dan haru sampai nangis,” ujar Armand sambil mengusap air mata di ujung matanya. Naja, remaja 18 tahun, putri semata wayang Armand Maulan-Dewi Gita, memang amat pemalu. Tidak mudah mewawancarainya, paling hanya sepatah dua-kata yang keluar dari bibirnya. Biasanya, sang ibu atau ayahnya lah yang jadi ‘jubir’ Naja jika kebetulan berhadapan dengan wartawan. Ketika ditanya apakah akan mengikuti jejak orangtua menjadi penyanyi, dia hanya senyum saja sambil berkata,”Ya lihat nanti saja”. INGIN JADI ILUSTRATOR Soal Naja yang sangat pemalu dan kalem, ujar Dewi, memang sempat ditanya banyak orang padanya. Banyak yang

EDISI 1049/ 23 - 29 SEPTEMBER 2019

Berbeda dari kebanyakan anak-anak, sejak kecil Naja sudah tahu apa yang diinginkannya. Kepada orangtuanya ia tegas menyebut keinginannya menjadi ilustrator dan ingin memperdalam sekolah yang berhubungan dengan minatnya. Dewi dan Armand tentunya sangat mendukung minat anaknya foto instagram dewigita itu. Namun di sisi lain, mereka juga berusaha Naja Dewi Maulana dan orangtuanya mendorong Naja agar juga menekuni dunia menyanyi karena dia memiliki talenta itu juga. “Kita berdua (dirinya dan Armand) tidak memaksakan keinginan. Terserah Naja mau menekuni yang mana. Hanya saja kita selalu bilang ke dia, ‘Kamu tuh sudah dikasih Allah bakat yang luar biasa, kan sayang kalau tidak dimanfaatkan. Jadi kita tuh selalu menggali dia agar kepercayaan dirinya muncul. Soalnya dia jarang banget mau nyanyi,” lanjut Dewi. Untuk menumbuhkan kepercayaan diri Naja, Dewi kerap mengajaknya menyanyi bareng dalam acara-acara tertentu. Kadang, mau juga Naja menyanyi. “Sebenarnya sih dia pernah mengaku tertarik menyanyi hanya saja dia malu berada di panggung,” tambah Dewi. Hal itu dibenarkan oleh Armand bahwa dirinya dan Dewi sangat ingin anaknya juga menekuni menyanyi. Salah satu alasannya karena Naja memiliki talenta suara yang indah. “Kalau ibunya (Dewi) kalau ngomong ke anaknya kan ‘ya gitu deh, namanya cewek-sama cewek bla-bla bla. Nah kalau saya pendekatannya lebih soft. Saya bilang, ‘Neng ayo nyanyi nanti papa cariin produser yang tepat dengan suara kamu’. Tapi ya mau gimana, anaknya memang begitu (menolak). Dia malah bilang mau jadi ilustrator. Itu sudah dia bilang sejak SMP. Malah dia sebut sekolah yang jurusan untuk ilustrasi-nya bagus. Jadi dia konsennya ke sana,” tutur Armand. Belakangan Naja terlihat mulai tertarik ke dunia menyanyi. Sepertinya itu bertepatan ketika dia tampil menyanyi dalam konser ‘ Hati 1 Cinta’, Januari 2019 lalu. Konser itu digelar Armand Maulana bersama Dewi Gita dalam rangka merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang ke-25. Saat itu Naja termasuk salah satu penyanyinya. “Jadi sepertinya dia mulai tergerak ya. Nyanyi di panggung di hadapan penonton, merasakan atmosfirnya. Kelihatan di wajah dan matanya kalau dia senang dan tertarik. Nah yang penting itu dulu, rasa tertarik, kenyamanan. Dia merasa nyaman dan merasa ‘wah ini rumah gua’,” ungkap Armand. Kepada Dewi, Naja juga mengakui kalau dirinya ingin mengisi waktunya menyanyi dari panggung ke panggung sebelum dia fokus pada pendidikan. Rencananya Naja yang belum lama lulus SMA ini akan melanjutkan kuliah di salah satu perguruan tinggi di Inggris. Sebenarnya ada rasa berat melepas Naja kuliah di negeri orang. Namun demi masa depan sang anak tercinta, dia pun harus merelakannya. Namun yang paling berat, tutur Dewi, adalah Armand yang awalnya tidak membolehkan Naja kuliah jauh dari dirinya. “Papanya protektif banget. Dari dulu begitu. Guru-guru tuh sampai heran, karena papanya sering banget nelponin guru-guru. Hahahhaha. Waktu guru Naja ketemu saya, bilang begini ‘Aduhh Pak Armand itu yaa lebih-lebih daripada ibunya (saya),” ungkap Dewi sambil tertawa. Sementara Naja yang berada di samping Dewi hanya senyum. (Diana Runtu)

S

ementara itu, di bidang pertanian pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk menghasilkan berbagai jenis produk unggulan. Bahkan dibawah kepemimpinan Bupati Putu Agus Suradnyana telah dicanangkan program one village one product untuk menggali potensi pertanian di masingmasing desa di Kabupaten Buleleng. Beberapa produk pertanian seperti buah lokal bahkan sudah mampu merambah pasar ekspor seperti di antaranya

manggis, buah naga, dan durian. Keberhasilan mengelola dua sektor tersebut rupanya menjadi daya tarik untuk Pemerintah Kabupaten Bantaeng, Provinsi Sulawesi Selatan untuk melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Buleleng, Rabu (18/9). Bertempat di Ruang Rapat Kantor Bupati Buleleng, rombongan Pemkab Bantaeng yang dipimpin langsung Bupati Bantaeng Dr. H. Ilham Syah Azikin,M. Si ini disambut oleh Wakil Bupati Buleleng dr. I Nyoman Sutjidra,Sp.OG

Kunjungan Pemkab Bantaeng Provinsi Sulawesi Selatan ke Buleleng

didampingi Asisten Bidang Administrasi Umum Setda Kabupaten Buleleng Drs. Gede Suyasa,M.Pd, para Camat, dan beberapa pimpinan SKPD lingkup Pemkab Buleleng. Wakil Bupati Buleleng dr. I Nyoman Sutjidra mengatakan, sangat berterimakasih atas dipilihnya Kabupaten Buleleng sebagai tujuan kunker. Ia menjelaskan, ini merupakan kunker balasan yang dilakukan Pemkab Bantaeng. Sebelumnya, Pemkab Buleleng pernah melakukan kunker ke Kabupaten Bantaeng. Wabup mengakui kondisi dan potensi di Kabupaten Bantaeng tidak jauh beda dengan di Kabupaten Buleleng. Pemkab Bantaeng sangat terkesan dengan pengembangan potensi pertanian di Kabupaten Buleleng. “Mereka ingin meniru apa yang kita

lakukan dalam pengembangan sektor pertanian khusunya kopi. Tapi mereka memiliki produksi kopi yang khas yaitu kopi organik yang perlu kita contoh untuk dikembangkan di Kabupaten Buleleng,” katanya. Sementara itu, Bupati Bantaeng Ilham Sayh Azikin mengatakan sangat senang bisa berkunjung ke Buleleng. Ia mengatakan, sambutan hangat yang diberikan Wakil Bupati Buleleng dan jajarannya menjadi kesan tersendiri baginya. Ia mengatakan, potensi-potensi dan topografi di Buleleng mirip dengan daerahnya. Sehingga ia meyakini bisa meniru cara mengembangkan potensi tersebut di daerahnya. “Banyak sektor yang dapat disinergikan oleh Pemkab Buleleng dan Pemkab Bantaeng. Yang lain tentu

kami harus banyak belajar bagaimana Pemkab Buleleng menggerakan sektor jasa pariwisata. Itu yang menurut kami yang paling menarik,” ujarnya. Bupati yang juga Alumni STPDN angkatan 05 ini mengatakan, kunjungan kali ini difokuskan kepada sektor pendidikan. Bupati Ilham mengaku, ingin melihat cara pola kerjasama yang dilakukan oleh Pemkab Buleleng dalam meningkatkan sumber daya manusia. Bupati Ilham berharap, strategi yang dilakukan Pemkab Buleleng bisa menjadi referensi untuk Pemkab Bantaeng dalam meningkatkan SDM di daerahnya. “Hari ini kami konsentrasi dulu untuk melihat desain kerjasama dan pelibatan pihak ketiga dalam meningkatkan SDM di Kabupaten Buleleng,” tuturnya. (Wiwin Meliana)

Masih Ada yang Keliru Gunakan Tata Bahasa Indonesia

Penyuluhan bahasa oleh Balai bahasa Bali

Penggunaan bahasa dalam komunikasi sangat berperan penting terhadap pesan yang ingin disampaikan kepada lawan tutur. Sikap bahasa penutur terhadap petutur akan menunjukkan kualitas diri. Maka dari itu, diperlukan pemahaman penggunaan bahasa yang baik dan benar, baik yang dimaksud sesuai dengan situasi dan kondisi, formal dan nonformal sedangkan benar yang dimaksud bahasa yang digunakan sesuai dengan kaidah kebahasaan yang

berlaku. Agar tercipta pemahaman dalam penggunaan bahasa yang baik dan benar dilingkup pemerintahan, Balai Bahasa Bali, Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memberikan penyuluhan penggunaan bahasa media luar ruang di Kabupaten Buleleng. Penyuluhan yang diikuti OPD seluruh Kabupaten Buleleng ini di gelar di ruang rapat unit IV setda Kabupaten Buleleng,

Rabu (18/9). Kepala Balai Bahasa Bali Toha Machsum, M. Ag. menjadi pemateri untuk penyuluhan ini. Ia menerangkan penggunaan tata bahasa yang digunakan selama ini masih banyak yang keliru, melalui kegiatan penyuluhan ini ia berharap Balai Bahasa Bali mampu memberikan wawasan dan pencerahan tentang tata bahasa. Ia juga menyebut bahasa Indonesia harus menjadi bahasa yang utama. “Gunakan bahasa Indo-

nesia, lestarikan bahasa daerah, dan pelajari bahasa asing,” jelasnya. Penyuluhan dibuka Asisten Bidang Administrasi Perekonomian, Pembangunan dan Kesejahtraan Rakyat Ni Made Rousmini, S.Sos. Sebelum dilakukan penyuluhan, peserta diberikan tes untuk mengetahui kemampuan peserta dalam hal penggunaan tata bahasa. Dalam sambutannya, Rousmini mengatakan sudah sepatutnya kita menggunakan bahasa Indonesia yang

baik dan benar. Martabat bahasa Indonesia bukan hanya tanggung jawab Balai Bahasa Bali selaku lembaga kebahasaan tetapi juga merupakan tanggung jawab pemerintah daerah agar bahasa Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan melestarikan bahasa daerah Bali sebagai lambang jati diri kedaerahan agar tetap lestari dan tidak terancam punah. Ia menambahkan penyuluhan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pencerahan tentang tata bahasa, terutama pemilihan dan penggunaan bahasa yang baik dan benar. Penyuluhan inipun dikhususkan untuk pegawai di bidang administrasi untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terkait penggunaan tata bahasa yang kurang tepat. Rousmini berharap peserta penyuluhan benar-benar mengikuti kegiatan sampai tuntas agar nantinya mampu mengetahui penggunaan tata bahasa yang tepat dilingkungan pemerintahan maupun di ruang publik serta memberikan masukan kepada lembaga ataupun pimpinan tempat bekerja. “Saya harap peserta memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk mengikuti penyuluhan ini untuk hasil yang maksimal,” pungkasnya. (Wiwin Meliana)


STYLE

10

EDISI 1049/ 23 - 29 SEPTEMBER 2019

EDISI 1049/ 23 - 29 SEPTEMBER 2019

Jalinan Harmonis Gaya Klasik

Berbicara tentang perkembangan kain tenun ikat (endek), salah satunya tidak bisa lepas dari Gianyar. Betapa jalinan lungsi dan pakan yang dihasilkan, mampu mempresentasikan ketulusan, cinta, semangat, kesabaran, ketekunan, nilai sejarah, hingga nilai estetika yang tertuang pada motif di setiap lembar kainnya.

EDUKASI

Dari Alien Child untuk Zarra dan Naria Setelah berhasil menyelesaikan tantangan dari sastrawan Fajar Arcana untuk menggubah karya puisinya menjadi sebuah lagu imajinasi senja. Alien Child tergugah untuk berbagi karya mereka kepada penyanti lain. Kali ini mereka memilih Zarra dan Naria. dua orang murid dari Staccato Bali, asuhan sang mama, Heny Janawati.

Kadek Wira Dika Saskara

K

eindahan jalinan harmonis tersebut berhasil dirancang oleh salah seorang desainer binaan Dekranasda Gianyar, Kadek Wira Dika Saskara. Busana malam dengan look yang simpel namun tetap elegan pun sukses disuguhkannya pada ajang Kriya Nusa di, Balai Kartini, Jakarta belum lama ini. Dika Saskara mengusung warna marun, ungu, hijau,

biru dan hitam, busana karyanya trendi dikenakan kalangan remaja hingga para ibu. Melalui sederet koleksi, hasil diadopsi dari gaya klasik yang dikreasikannya. Ia berharap dapat memberikan inspirasi kepada para fashionista dan masyarakat umum, endek dapat diaplikasikan dalam beragam gaya busana dan dipakai dalam berbagai kesempatan. (Sri Ardhini)

M

engenai proyek ini, Aya Maranda dan Lala Maranda , dua remaja bertalenta yang menggawangi Alien Child ini, mengaku merasa tertantang untuk membuat lagu anak-anak yang murni mencirikan anak-anak, mulai dari lirik melodi hingga aransemen musiknya. Begitu juga dengan musik video mer-

eka, ingin menampilkan kemurnian anak-anak baik dari sisi kostum, akting hingga wajahnya yang alami dan natural. Aya dan Lala, tidak ingin wajah anakanak milik Zarra dipoles dengan bedak. Karena itulah, sejak awal produksi Alien Child terlibat langsung dalam proses karya ini. Dua bersaudara ini pun berbagi peran. Untuk pembuatan lirik dan melodi digarap

7

Lala yang sekaligus Song,” ujar Lala yang berperan sebagai diamini Aya. director dan Te m b a n g screenwriting kedua yang untuk video di-sharing musiknya. Alien Child Urusan adalah lagu mixing dan bertema mastering remaja, ditangani judulnya langsung “Beautiful Aya yang This Way” kemudian Lagu ini membuat berkisah aransemen mengenai musiknya. seorang Untuk remaja lagu yang y a n g bertema anakmelewati anak ini, Alien fase ketZarra Child menjatuherpurukan kan pilihan kepada akibat bully dari Zarra Apsara (6 tahun)) teman-temannya. putri keempat dari pasangan Namun, akhirnya ia meEndra Datta dan Putu Asih nyadari bahwa dirinya Primatanti. Rupanya. Aya dan adalah orang yang kuat Lala melihat potensi besar dan memiliki kecantikan pada diri Zarra saat. Menden- luar dalam. Lagu ini digarnya sedang berlatih vokal. percayakan kepada Naria, Terlebih bahasa Inggrisnya P u t r i p e r t a m a p a s u t r i juga fasih. Budi Sentosa dan Luh ‘Lagunya menggambarkan Putu Hermawati. tentang keceriaan anak-anak Cerita dipilihnya Naria yang ingin menghabiskan waktu membawakan lagu ini, liburan sekolah bersama kelu- sebab ia memiliki karaarga dan para sahabat karibnya. kter suara pop khas. BaJudul lagunya “Summertime hasa Inggrisnya juga fasih.

Dalam proses pengerjaan lagu inipun Alien Child berbagi peran yang sama. Lirik dan melodi digarap Lala kemudian dilanjutkan Aya untuk membuatkan aransemen musiknya termasuk mixing dan mastering juga ditangani langsung oleh Aya selaku music producer. Alien Child akan tampil di Gedung Candra Metu ISI Denpasar, Sabtu (28/9) mulai pukul 18.30. Mereka berdua mengawali acara dengan menampilkan lagu-lagu original yang diproduksi sendiri. Selanjutnya pada sesi pamungkas dilangsungkan pemutaran video klip dan penampilan Zarra mendendangkan lagu “Summertime Song” serta Naria menyanyikan tembang “ Beautiful This Way.” (Sri Ardhini)

Naria Putri


8

EDISI 1049/ 23 - 29 SEPTEMBER 2019

Menu Sehat untuk Anak B

Gubernur Koster Tidak Main-main Lindungi Alam dan Budaya Bali

Gubernur Bali Wayan Koster saat memberikan sembrana wacana pada upacara Karya Agung Mamungkah, Padudusan Agung, Ngenteg Linggih, Tawur Agung Pedanan di Pura Desa lan Puseh, Desa Adat Bentuyung, Ubud.

Gubernur Bali I Wayan Koster menekankan adat dan budaya merupakan akar kehidupan masyarakat. Dikarenakan keberadaan adat dan budaya, masyarakat dari berbagai penjuru dunia mengenal Bali, sehingga berkontribusi menggerakkan

perekonomian Bali. “Untuk itu saya tidak akan main-main dalam melindungi adat dan budaya Bali,” ujar Gubernur Koster saat memberikan sembrana wacana pada upacara Karya Agung Mamungkah, Padudusan Agung,

Ngenteg Linggih, Tawur Agung Pedanan di Pura Desa lan Puseh, Desa Adat Bentuyung, Ubud, Gianyar, Senin (16/9). Gubernur kelahiran Sembiran Buleleng ini melanjutkan, visi misi yang diusung Pemerintah Provinsi Bali, yakni ‘Nangun Sat Kerthi Loka Bali’ bertujuan untuk melindungi Bali berikut isinya serta melestarikan adat dan budaya Bali. Visi misi yang diusung dalam kepemimpinannya ini bertujuan untuk melindungi alam Bali, sekaligus beserta isinya. Mulai dari manusia, adat istiadat hingga budaya Bali. Lebih lanjut Ketua DPD PDIP Bali tersebut menjabarkan beberapa langkah yang telah dilakukan dalam upaya melindungi adat dan budaya Bali. “Pemerintah Provinsi Bali telah mengeluarkan Perda No. 4 Tahun 2019 tentang Desa Adat. Dikeluarkannya Perda ini karena saya menilai keberadaan desa adat begitu vital bagi kelangsungan aspek religius, sosial dan budaya di Bali,” ujarnya dalam acara yang juga dihadiri oleh Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Su-

kawati (Cok Ace), Ny Tjokorda Hariyani Ardhana Sukawati, Wakil Bupati Gianyar Anak Agung Mayun, Ketua Majelis Desa Adat Ida Panglingsir Putra Sukahet, beserta para penglingsir Puri dari seluruh Bali dan undangan lainnya. Bahkan sebagai bentuk perhatian pemerintah akan eksistenai desa adat, Pemprov Bali akan membuat Dinas Pemajuan Desa Adat. “Dinas inilah yang akan mengarahkan dan mengoptimalkan perencanaan dan pelaksanaan program desa adat,” ujarnya. Sementara sebelumnya, ia mengaku telah mengeluarkan Pergub No. 79 tahun 2018 tentang Penggunaan Busana Adat Bali serta Pergub No. 80 tahun 2018 tentang Perlindungan Penggunaan Bahasa, Aksara dan Sastra Bali. Dalam pergub ini, menurutnya, telah diatur pemakaian busana Bali yaitu pada hari Kamis, Purnama, Tilem, Hari Jadi Pemprov Bali serta acara-acara nasional dan internasional yang diadakan di Bali. Sementara Pergub No. 80 mengatur agar instansi maupun swasta mencantum-

kam aksara Bali pada papan namanya. “Jadi saya minta semua instansi dan pelaku wisata mencantumkan aksara Bali sebagai identitas kita, serta dalam upaya penyelamatan aksara dan bahasa Bali agar tidak punah,” jelasnya. Selain penguatan adat, budaya dan agama, untuk mendukung kemajuan sektor pariwisata Pemprov juga tengah merancang pengembangan infrastruktur baik darat, laut maupun udara. “Saat ini kita tengah membangun shortcut sehingga memudahkan mengakses Bali utara. Selain itu kita juga tengah memgenbangkan pelabuhanpelabuhan agar berstandar internasional. Bahkan jalur kereta api bandara juga sedang dalam proses pengerjaan,” jelasnya. Ia berharap, melalui program pembangunan infrastruktur ini bisa memudahkan masyarakat bahkan wisatawan dalam mengakses Pulau Bali. Pada kesempatan tersebut, Gubernur Bali juga berkesempatan menghaturkan punia yang diterima langsung oleh Bendesa Adat Bentuyung. (ast).

Kasus Rabies di Bali Alami Tren Penurunan

Terkait adanya sorotan penanganan rabies di Bali, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnak) Provinsi Bali, I Wayan Mardiana menegaskan bahwa saat ini kasus rabies menunjukan tren penurunan di hampir tiap kabupaten/kota di Bali. “Kasus rabies sejak bulan Juli (2019,red) setelah vaksinasi massal rabies telah mengalami penurunan. Vaksinasi massal tersebut dilaksanakan pada bulan Maret - Juli 2019 dengan menyasar 716 desa se-Bali. Total cakupan vaksinasi hingga September mencapai 92 persen,” terang Mardiana di Denpasar Sabtu (14/9). Ditambahkannya, angka jumlah estimasi populasi anjing yang telah divaksinasi juga menunjukan hal itu. Dari total populasi anjing di Bali yang berjumlah 573 ribu ekor, yang telah tervaksinasi mencapai 510 ribu ekor. “Sedangkan angka kasus rabies hingga September 2019 masih ada kasus yang sifatnya insidentil terhadap anjing-anjing yang belum tervaksin. Misalnya ada kasus anjing yang dibuang pemiliknya atau anjing liar yang berkeliaran di semak-semak hingga pegunungan, yang sulit dijangkau tim kami,”

jelas Mardiana. Kemudian pihaknya membeberkan, dari sembilan kabupaten/kota se-Bali, Kabupaten Tabanan sejak Januari 2019 tercatat nihil kasus positif rabies. Di Badung terdapat satu kasus, yakni di daerah Kuta Selatan. Sementara di Jembrana muncul satu kasus di Medewi, itupun terjadi akibat anjing liar yang dibuang oleh pemiliknya di tepi pantai. Sedangkan di Buleleng hanya terjadi satudua kasus, yakni di daerah Gerokgak. Hal itu kemudian ditindaklanjuti dengan vaksinasi ulang dan eliminasi. Sementara itu, di Kabupaten Karangasem masih terjadi satu-dua kasus di daerah Kubu dan Abang. Yang lantas ditindaklanjuti dengan pembuatan pararem bagi masyarakat yang meliarkan anjingnya akan dieliminasi serta dikenakan denda. Selanjutnya di Bangli juga tak jauh berbeda, hanya terjadi satu-dua kasus. Yakni di daerah Kintamani. Demikian pula di Kabupaten Klungkung masih terjadi satu-dua kasus. Sedangkan Gianyar hanya satu kasus, dan telah ditindaklanjuti dengan vaksinasi ulang pada anak anjing kelahiran baru. “In-

Kadis Peternakan I Wayan Mardiana

tinya semua hanya bersifat insidentil dan kasuistik,” tegas Mardiana. Tak hanya itu, pihaknya bersama tim juga telah bekerja ekstra dan memberi prioritas guna mengatasi rabies di kawasan yang masuk Zona Merah Rabies. Selain itu, berbagai upaya pencegahan pun juga dilakukan melalui sosialisasi Perda Nomor 15 tahun 2009 tentang Pemberantasan Rabies di Bali. Dalam Perda

itu disebutkan bahwa setiap warga masyarakat yang memiliki anjing wajib memelihara dan merawat kesehatan anjing mereka Sanksinya bagi yang melanggar akan dijerat hukum pidana dengan ancama kurungan penjara maksimal selama tiga bulan, dan menanggung biaya pengobatan serta upacara pengabenan apabila warga masyarakat tergigit anjing meninggal dunia. “Pencegahannya juga mencakup sosialisasi dan informasi terutama kepada pemilik anjing agar senantiasa menjaga kesehatan hewan peliharaannya sehingga dapat terhindar dari terjangkit rabies. Juga langkah-langkah pencegahan agar rabies tidak menyebar ke kawasan lain di luar zona merah tersebut,” kata Mardiana. “Program ini juga kita sharing dengan kabupaten/kota, bahkan ke desa-desa sebagai ujung tombak,” imbuhnya. Mulai September 2019 ini menurutnya, akan dilakukan vaksinasi kembali terhadap anjing-anjing yang belum tervaksinasi serta anjing yang baru lahir. “Ini dilakukan agar Desember (2019, red) mendatang target Bali Bebas Rabies 2020 seperti yang dicanangkan

bisa lebih cepat tercapai. Tidak perlu tunggu 2020,” tegasnya. Sementara itu, Prof. Ketut Pudja, akademisi yang juga sering disebut ‘pakar rabies’ menyebut bahwa dukungan dari Pemerintah Provinsi Bali membuat kasus rabies di Bali secepatnya mampu dituntaskan, hingga mengembalikan nama Bali sebagai Provinsi Bebas Rabies seperti beberapa tahun sebelumnya. “Tahun ini (2019. Red) pun kami bersama Disnak dan tim berusaha ‘menggempur’ rabies agar bisa tuntas di Provinsi Bali. Jadi di tidak perlu tunggu tahun 2020,” tukasnya beberapa waktu yang lalu. Pada kesempatan lain belum lama ini, Kadis Kesehatan Provinsi Bali Ketut Suarjaya juga menyatakan pihaknya mendukung penuh penanggulangan rabies terutama dengan tindakan kesehatan jika terjadi gigitan anjing serta penyediaan Vaksin Anti Rabies (VAR). “Juga didukung dengan adanya 42 Rabies Center di seluruh Bali. Jika mampu terlaksana (tahun 2020 bebas rabies, red) tentu sangat baik dan kita dukung penuh,” harapnya. (ast).

Gubernur Koster Sambut Baik Jalinan Kerja Sama Irlandia Gubernur Bali Wayan Koster menyambut baik jalinan kerja sama yang ingin dibangun Pemerintah Irlandia bersama Pemerintah Provinsi Bali, khususnya di bidang pariwisata. “Diharapkan ada pertemuan lanjutan guna membahas hal ini secara lebih detail. Tentunya sebagai upaya meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan asal Irlandia ke Bali,” demikian dikatakan Gubernur Koster saat berjumpa Duta Besar Pemerintah Irlandia untuk Indonesia Olivia Leslie dan Deputy Head of Mission Carol Staunton di kediaman Jayasabha, Denpasar, Jumat (18/9). Gubernur Koster merinci upayaupaya yang sudah dilaksanakan selama kepemimpinannya dan ke depan dalam meningkatkan tingkat kunjungan wisatawan asing ke Bali, termasuk wisatawan asal Irlandia. Meliputi menitikberatkan pada pembangunan infrastruktur trans-

portasi, baik darat seperti pembangunan jalan shortcut, udara yakni berupa pelebaran landasan pacu, dan laut berupa pembangunan pelabuhan-pelabuhan laut khusus untuk jalur pariwisata. Seperti, Dermaga Sanur yang akan menghubungkan wisatawan ke Nusa Penida dan Lembongan. “Pada kedua daerah tersebut akan dibangun dermaga serupa untuk menunjang kenyamanan wisatawan. Di daerah Benoa pun akan dibangun pelabuhan khusus kapal pesiar ukuran besar, sehingga memungkinkan peningkatan jumlah kunjungan wisatawan. Pelabuhan Tanah Ampo yang pembangunannya sempat mangkrak akan kembali ditata ulang,” ujar Ketua DPD PDI Perjuangan Bali ini. Tak hanya itu, Gubernur Koster pun menyampaikan visi yang dilaksanakan di bawah kepemimpinannya yakni

‘Nangun Sat Kerthi Loka Bali’. Visi ini mengandung makna untuk membangun Bali beserta isinya yakni manusia, alam dan kebudayaannya. Bali yang tidak memiliki sumber daya alam, menurutnya, harus mengedepankan pengembangan sumber daya manusia agar semakin berkualitas. Sementara itu, Duta Besar Irlandia Olivia Leslie menyebutkan, banyak investasi warga negara Irlandia di Indonesia khususnya Bali, terutama di bidang animasi, teknologi serta pariwisata kapal pesiar. Untuk itu, ia sangat berharap bisa menjalin hubungan kerja sama yang lebih erat di bidang pariwisata. Dalam waktu dekat, sekitar bulan Oktober tahun ini, Pemerintah Irlandia berencana melaksanakan pertemuan antara pelaku wisata asal Irlandia guna membahas kelanjutan jalinan kerja sama yang ingin dibangun.

Duta Besar Pemerintah Irlandia untuk Indonesia Olivia Leslie dan Gubernur Koster

Untuk itu, Olivia Leslie mengharapkan dukungan dari Pemprov Bali dengan ikut hadir pada acara tersebut. “Saat ini sekitar 300 orang warga negara Irlandia berdomisili di Bali dan sudah mem-

bentuk satu komunitas, yang kegiatan utamanya membantu anak-anak putus sekolah karena mereka menilai remajaremaja Bali memiliki semangat belajar yang baik,” ujar Olivia Leslie. (ast).

9

EDISI 1049/ 23 - 29 SEPTEMBER 2019

Nikki Indrawati

ukan hal yang mudah untuk memperkenalkan makanan sehat seperti sayuran pada anak-anak. Apalagi sejak dini anak-anak sudah terlanjur diperkenalkan kepada makanan instant dan cepat saji. Namun, tidak ada kata terlambat jika kita ingin sedikit-demi sedikit memasukkan sayuran ke dalam menu harian mereka. Menurut Nikki Indrawati (Plant Bassed dan Konsultan Nutrisi Berbasis Holistik), hal perlu diperhatikan agar makanan dapat diterima anak-anak adalah rasa yang familiar di lidah mereka. Lalu, membuat penampilannya semenarik mungkin sehingga anak ingin mencobanya. Yang terakhir, menyamarkan bentuk sayuran sehingga anak tidak buruburu menolaknya terutama bagi anak yang

Burger Tempe Oatmeal

sangat antipati terhadap sayuran. Dalam edisi khusus kali ini kata Nikki, ia menghadirkan resep ‘Burger Tempe Oatmeal’ yang bisa menjadi alternatif di saat anak-anak ingin makan di gerai burger cepat saji favorit mereka. Menu ini, bisa menjadi pilihan yang lebih sehat. Sementara bagi para ibu, sangat mudah membuatnya dan bahannya pun tidak sulit didapat. Resep burger ini, terdiri dari bahan berbasis tumbuhan yang tinggi kandungan nutrisisnya, seperti tempe sebagai sumber protein nabati dan juga oatmeal yang kaya akan serat. Belum lagi sayuran yang ada di dalamnya, tentunya akan menambah kandungan vitamin dan mineral yang diperlukan bagi pertumbuhan anak. (Sri Ardhini)

Di dalam mangkok ukuran sedang campurkan tempe, tepung oatmeal, tumisan bawang dan paprika, daun ketumbar, selei kacang atau telur dan semua bumbu lalu aduk rata menggunakan tangan. Bentuk seperti bola-bola lalu pipihkan seperti burger Diamkan di lemari es paling sedikit 30 menit Goreng dengan sedikit minyak hingga berwarna kuning kecokelatan lalu angkat dan tiriskan

Bahan tempe patty 400gr tempe, potong dadu dan kukus 1 cup oatmeal, blender hingga menjadi tepung 1 paprika merah dirajang ½ bawang bombay dirajang 2 sendok teh bawang putih cincang 3 sendok makan daun ketumbar iris tipis 2 sendok makan selei kacang atau 1 butir telur 1 sendok teh jintan bubuk 1 sendok teh bubuk ketumbar ½ sendok teh merica hitam 1 sendok teh bubuk jamur 1 sendok teh garam Cara membuat Remas-remas tempe yang sudah dikukus hingga hancur Tumis paprika, bawang putih dan bawang bombay hingga layu dan harum lalu angkat

Saos tomat home made Bahan-bahan 1 kaleng tomat 3 siung bawang putih, cincang 3 sendok makan olive oil ½ sendok teh garam 1 sendok makan saos sambal 1 sendok teh kaldu jamur bubuk Gula kelapa secukupnya Cara membuat Tumis bawang puih dengan olive oil hingga harum lalu tambahkan tomat kaleng, saos sambal dan kaldu bubuk. Masak dengan api kecil selama 10 sampai 15 menit.

Sensasi Pedas Ikan Bakar Loang Baloq Menggiurkan! Begitu tampaknya respons orang jika melihat sepiring nasi dengan menu lengkap, ikan bakar, sambal, sambal terong bakar dan juga sayur bening bayam. Apalagi menu lengkap yang bisa dipesan di ikan bakar Loang Baloq ini terbilang murah. Ikan dengan bumbu pelecing yang dibakar menggunakan sabut kelapa membuat aromanya khas. Pedas tentu saja. Ditambah lagi dua sambal, yakni sambal tomat dan sambal terong bakar jelas menambah rasa pedas. Ikan bakar Loang Baloq sensasi pedas yang sesungguhnya. Bagi para pencinta makanan pedas, ikan bakar Loang Baloq perlu dicoba. Meskipun memang boleh memilih level pedas sesuai selera. Dimakan bersama nasi hangat, ikan bakar ini sema-

kin sempurna dengan sayur bening yang bisa dipilih, bayam, kacang panjang atau kelor. Sayur bening tanpa bumbu apa pun selain kuah dan isi sayuran ini, begitu menggoda selera. Sebab bisa menjadi penetral di antara ragam pelengkap menu yang sarat bumbu. Oleh sebab itu, jika datang ke Makan Loang Baloq dan Pantai Tanjung Karang, lengkapilah kunjungan dengan berwisata kuliner di ikan bakar Loang Baloq. (Naniek I. Taufan)

Lalu koreksi rasa dengan menambahkan garam dan gula kelapa jika perlu. Salad kol saos mayones Bahan-bahan 1 cup kol iris tipis ½ cup wortel parut ¼ sendok teh mustard 2 sendok makan mayones 1 sendok teh honey ½ sendok teh garam 1 sendok teh cuka Cara membuat Masukkan semua bahan ke dalam mangkok lalu aduk hingga rata Cara menyusun burger Panggang roti burger, sesudah itu olesi bagian bawah dengan saos tomat dan bagian atas roti dengan saos mayones. Tambahkan daun salada, lalu patty burger dan terakhir salad kol. Setelah selesai disusun, tusuk dengan tusukan sate dengan menambahkan tomat cheri diatasnya. Lalu siap untuk disajikan


8

EDISI 1049/ 23 - 29 SEPTEMBER 2019

Menu Sehat untuk Anak B

Gubernur Koster Tidak Main-main Lindungi Alam dan Budaya Bali

Gubernur Bali Wayan Koster saat memberikan sembrana wacana pada upacara Karya Agung Mamungkah, Padudusan Agung, Ngenteg Linggih, Tawur Agung Pedanan di Pura Desa lan Puseh, Desa Adat Bentuyung, Ubud.

Gubernur Bali I Wayan Koster menekankan adat dan budaya merupakan akar kehidupan masyarakat. Dikarenakan keberadaan adat dan budaya, masyarakat dari berbagai penjuru dunia mengenal Bali, sehingga berkontribusi menggerakkan

perekonomian Bali. “Untuk itu saya tidak akan main-main dalam melindungi adat dan budaya Bali,” ujar Gubernur Koster saat memberikan sembrana wacana pada upacara Karya Agung Mamungkah, Padudusan Agung,

Ngenteg Linggih, Tawur Agung Pedanan di Pura Desa lan Puseh, Desa Adat Bentuyung, Ubud, Gianyar, Senin (16/9). Gubernur kelahiran Sembiran Buleleng ini melanjutkan, visi misi yang diusung Pemerintah Provinsi Bali, yakni ‘Nangun Sat Kerthi Loka Bali’ bertujuan untuk melindungi Bali berikut isinya serta melestarikan adat dan budaya Bali. Visi misi yang diusung dalam kepemimpinannya ini bertujuan untuk melindungi alam Bali, sekaligus beserta isinya. Mulai dari manusia, adat istiadat hingga budaya Bali. Lebih lanjut Ketua DPD PDIP Bali tersebut menjabarkan beberapa langkah yang telah dilakukan dalam upaya melindungi adat dan budaya Bali. “Pemerintah Provinsi Bali telah mengeluarkan Perda No. 4 Tahun 2019 tentang Desa Adat. Dikeluarkannya Perda ini karena saya menilai keberadaan desa adat begitu vital bagi kelangsungan aspek religius, sosial dan budaya di Bali,” ujarnya dalam acara yang juga dihadiri oleh Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Su-

kawati (Cok Ace), Ny Tjokorda Hariyani Ardhana Sukawati, Wakil Bupati Gianyar Anak Agung Mayun, Ketua Majelis Desa Adat Ida Panglingsir Putra Sukahet, beserta para penglingsir Puri dari seluruh Bali dan undangan lainnya. Bahkan sebagai bentuk perhatian pemerintah akan eksistenai desa adat, Pemprov Bali akan membuat Dinas Pemajuan Desa Adat. “Dinas inilah yang akan mengarahkan dan mengoptimalkan perencanaan dan pelaksanaan program desa adat,” ujarnya. Sementara sebelumnya, ia mengaku telah mengeluarkan Pergub No. 79 tahun 2018 tentang Penggunaan Busana Adat Bali serta Pergub No. 80 tahun 2018 tentang Perlindungan Penggunaan Bahasa, Aksara dan Sastra Bali. Dalam pergub ini, menurutnya, telah diatur pemakaian busana Bali yaitu pada hari Kamis, Purnama, Tilem, Hari Jadi Pemprov Bali serta acara-acara nasional dan internasional yang diadakan di Bali. Sementara Pergub No. 80 mengatur agar instansi maupun swasta mencantum-

kam aksara Bali pada papan namanya. “Jadi saya minta semua instansi dan pelaku wisata mencantumkan aksara Bali sebagai identitas kita, serta dalam upaya penyelamatan aksara dan bahasa Bali agar tidak punah,” jelasnya. Selain penguatan adat, budaya dan agama, untuk mendukung kemajuan sektor pariwisata Pemprov juga tengah merancang pengembangan infrastruktur baik darat, laut maupun udara. “Saat ini kita tengah membangun shortcut sehingga memudahkan mengakses Bali utara. Selain itu kita juga tengah memgenbangkan pelabuhanpelabuhan agar berstandar internasional. Bahkan jalur kereta api bandara juga sedang dalam proses pengerjaan,” jelasnya. Ia berharap, melalui program pembangunan infrastruktur ini bisa memudahkan masyarakat bahkan wisatawan dalam mengakses Pulau Bali. Pada kesempatan tersebut, Gubernur Bali juga berkesempatan menghaturkan punia yang diterima langsung oleh Bendesa Adat Bentuyung. (ast).

Kasus Rabies di Bali Alami Tren Penurunan

Terkait adanya sorotan penanganan rabies di Bali, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnak) Provinsi Bali, I Wayan Mardiana menegaskan bahwa saat ini kasus rabies menunjukan tren penurunan di hampir tiap kabupaten/kota di Bali. “Kasus rabies sejak bulan Juli (2019,red) setelah vaksinasi massal rabies telah mengalami penurunan. Vaksinasi massal tersebut dilaksanakan pada bulan Maret - Juli 2019 dengan menyasar 716 desa se-Bali. Total cakupan vaksinasi hingga September mencapai 92 persen,” terang Mardiana di Denpasar Sabtu (14/9). Ditambahkannya, angka jumlah estimasi populasi anjing yang telah divaksinasi juga menunjukan hal itu. Dari total populasi anjing di Bali yang berjumlah 573 ribu ekor, yang telah tervaksinasi mencapai 510 ribu ekor. “Sedangkan angka kasus rabies hingga September 2019 masih ada kasus yang sifatnya insidentil terhadap anjing-anjing yang belum tervaksin. Misalnya ada kasus anjing yang dibuang pemiliknya atau anjing liar yang berkeliaran di semak-semak hingga pegunungan, yang sulit dijangkau tim kami,”

jelas Mardiana. Kemudian pihaknya membeberkan, dari sembilan kabupaten/kota se-Bali, Kabupaten Tabanan sejak Januari 2019 tercatat nihil kasus positif rabies. Di Badung terdapat satu kasus, yakni di daerah Kuta Selatan. Sementara di Jembrana muncul satu kasus di Medewi, itupun terjadi akibat anjing liar yang dibuang oleh pemiliknya di tepi pantai. Sedangkan di Buleleng hanya terjadi satudua kasus, yakni di daerah Gerokgak. Hal itu kemudian ditindaklanjuti dengan vaksinasi ulang dan eliminasi. Sementara itu, di Kabupaten Karangasem masih terjadi satu-dua kasus di daerah Kubu dan Abang. Yang lantas ditindaklanjuti dengan pembuatan pararem bagi masyarakat yang meliarkan anjingnya akan dieliminasi serta dikenakan denda. Selanjutnya di Bangli juga tak jauh berbeda, hanya terjadi satu-dua kasus. Yakni di daerah Kintamani. Demikian pula di Kabupaten Klungkung masih terjadi satu-dua kasus. Sedangkan Gianyar hanya satu kasus, dan telah ditindaklanjuti dengan vaksinasi ulang pada anak anjing kelahiran baru. “In-

Kadis Peternakan I Wayan Mardiana

tinya semua hanya bersifat insidentil dan kasuistik,” tegas Mardiana. Tak hanya itu, pihaknya bersama tim juga telah bekerja ekstra dan memberi prioritas guna mengatasi rabies di kawasan yang masuk Zona Merah Rabies. Selain itu, berbagai upaya pencegahan pun juga dilakukan melalui sosialisasi Perda Nomor 15 tahun 2009 tentang Pemberantasan Rabies di Bali. Dalam Perda

itu disebutkan bahwa setiap warga masyarakat yang memiliki anjing wajib memelihara dan merawat kesehatan anjing mereka Sanksinya bagi yang melanggar akan dijerat hukum pidana dengan ancama kurungan penjara maksimal selama tiga bulan, dan menanggung biaya pengobatan serta upacara pengabenan apabila warga masyarakat tergigit anjing meninggal dunia. “Pencegahannya juga mencakup sosialisasi dan informasi terutama kepada pemilik anjing agar senantiasa menjaga kesehatan hewan peliharaannya sehingga dapat terhindar dari terjangkit rabies. Juga langkah-langkah pencegahan agar rabies tidak menyebar ke kawasan lain di luar zona merah tersebut,” kata Mardiana. “Program ini juga kita sharing dengan kabupaten/kota, bahkan ke desa-desa sebagai ujung tombak,” imbuhnya. Mulai September 2019 ini menurutnya, akan dilakukan vaksinasi kembali terhadap anjing-anjing yang belum tervaksinasi serta anjing yang baru lahir. “Ini dilakukan agar Desember (2019, red) mendatang target Bali Bebas Rabies 2020 seperti yang dicanangkan

bisa lebih cepat tercapai. Tidak perlu tunggu 2020,” tegasnya. Sementara itu, Prof. Ketut Pudja, akademisi yang juga sering disebut ‘pakar rabies’ menyebut bahwa dukungan dari Pemerintah Provinsi Bali membuat kasus rabies di Bali secepatnya mampu dituntaskan, hingga mengembalikan nama Bali sebagai Provinsi Bebas Rabies seperti beberapa tahun sebelumnya. “Tahun ini (2019. Red) pun kami bersama Disnak dan tim berusaha ‘menggempur’ rabies agar bisa tuntas di Provinsi Bali. Jadi di tidak perlu tunggu tahun 2020,” tukasnya beberapa waktu yang lalu. Pada kesempatan lain belum lama ini, Kadis Kesehatan Provinsi Bali Ketut Suarjaya juga menyatakan pihaknya mendukung penuh penanggulangan rabies terutama dengan tindakan kesehatan jika terjadi gigitan anjing serta penyediaan Vaksin Anti Rabies (VAR). “Juga didukung dengan adanya 42 Rabies Center di seluruh Bali. Jika mampu terlaksana (tahun 2020 bebas rabies, red) tentu sangat baik dan kita dukung penuh,” harapnya. (ast).

Gubernur Koster Sambut Baik Jalinan Kerja Sama Irlandia Gubernur Bali Wayan Koster menyambut baik jalinan kerja sama yang ingin dibangun Pemerintah Irlandia bersama Pemerintah Provinsi Bali, khususnya di bidang pariwisata. “Diharapkan ada pertemuan lanjutan guna membahas hal ini secara lebih detail. Tentunya sebagai upaya meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan asal Irlandia ke Bali,” demikian dikatakan Gubernur Koster saat berjumpa Duta Besar Pemerintah Irlandia untuk Indonesia Olivia Leslie dan Deputy Head of Mission Carol Staunton di kediaman Jayasabha, Denpasar, Jumat (18/9). Gubernur Koster merinci upayaupaya yang sudah dilaksanakan selama kepemimpinannya dan ke depan dalam meningkatkan tingkat kunjungan wisatawan asing ke Bali, termasuk wisatawan asal Irlandia. Meliputi menitikberatkan pada pembangunan infrastruktur trans-

portasi, baik darat seperti pembangunan jalan shortcut, udara yakni berupa pelebaran landasan pacu, dan laut berupa pembangunan pelabuhan-pelabuhan laut khusus untuk jalur pariwisata. Seperti, Dermaga Sanur yang akan menghubungkan wisatawan ke Nusa Penida dan Lembongan. “Pada kedua daerah tersebut akan dibangun dermaga serupa untuk menunjang kenyamanan wisatawan. Di daerah Benoa pun akan dibangun pelabuhan khusus kapal pesiar ukuran besar, sehingga memungkinkan peningkatan jumlah kunjungan wisatawan. Pelabuhan Tanah Ampo yang pembangunannya sempat mangkrak akan kembali ditata ulang,” ujar Ketua DPD PDI Perjuangan Bali ini. Tak hanya itu, Gubernur Koster pun menyampaikan visi yang dilaksanakan di bawah kepemimpinannya yakni

‘Nangun Sat Kerthi Loka Bali’. Visi ini mengandung makna untuk membangun Bali beserta isinya yakni manusia, alam dan kebudayaannya. Bali yang tidak memiliki sumber daya alam, menurutnya, harus mengedepankan pengembangan sumber daya manusia agar semakin berkualitas. Sementara itu, Duta Besar Irlandia Olivia Leslie menyebutkan, banyak investasi warga negara Irlandia di Indonesia khususnya Bali, terutama di bidang animasi, teknologi serta pariwisata kapal pesiar. Untuk itu, ia sangat berharap bisa menjalin hubungan kerja sama yang lebih erat di bidang pariwisata. Dalam waktu dekat, sekitar bulan Oktober tahun ini, Pemerintah Irlandia berencana melaksanakan pertemuan antara pelaku wisata asal Irlandia guna membahas kelanjutan jalinan kerja sama yang ingin dibangun.

Duta Besar Pemerintah Irlandia untuk Indonesia Olivia Leslie dan Gubernur Koster

Untuk itu, Olivia Leslie mengharapkan dukungan dari Pemprov Bali dengan ikut hadir pada acara tersebut. “Saat ini sekitar 300 orang warga negara Irlandia berdomisili di Bali dan sudah mem-

bentuk satu komunitas, yang kegiatan utamanya membantu anak-anak putus sekolah karena mereka menilai remajaremaja Bali memiliki semangat belajar yang baik,” ujar Olivia Leslie. (ast).

9

EDISI 1049/ 23 - 29 SEPTEMBER 2019

Nikki Indrawati

ukan hal yang mudah untuk memperkenalkan makanan sehat seperti sayuran pada anak-anak. Apalagi sejak dini anak-anak sudah terlanjur diperkenalkan kepada makanan instant dan cepat saji. Namun, tidak ada kata terlambat jika kita ingin sedikit-demi sedikit memasukkan sayuran ke dalam menu harian mereka. Menurut Nikki Indrawati (Plant Bassed dan Konsultan Nutrisi Berbasis Holistik), hal perlu diperhatikan agar makanan dapat diterima anak-anak adalah rasa yang familiar di lidah mereka. Lalu, membuat penampilannya semenarik mungkin sehingga anak ingin mencobanya. Yang terakhir, menyamarkan bentuk sayuran sehingga anak tidak buruburu menolaknya terutama bagi anak yang

Burger Tempe Oatmeal

sangat antipati terhadap sayuran. Dalam edisi khusus kali ini kata Nikki, ia menghadirkan resep ‘Burger Tempe Oatmeal’ yang bisa menjadi alternatif di saat anak-anak ingin makan di gerai burger cepat saji favorit mereka. Menu ini, bisa menjadi pilihan yang lebih sehat. Sementara bagi para ibu, sangat mudah membuatnya dan bahannya pun tidak sulit didapat. Resep burger ini, terdiri dari bahan berbasis tumbuhan yang tinggi kandungan nutrisisnya, seperti tempe sebagai sumber protein nabati dan juga oatmeal yang kaya akan serat. Belum lagi sayuran yang ada di dalamnya, tentunya akan menambah kandungan vitamin dan mineral yang diperlukan bagi pertumbuhan anak. (Sri Ardhini)

Di dalam mangkok ukuran sedang campurkan tempe, tepung oatmeal, tumisan bawang dan paprika, daun ketumbar, selei kacang atau telur dan semua bumbu lalu aduk rata menggunakan tangan. Bentuk seperti bola-bola lalu pipihkan seperti burger Diamkan di lemari es paling sedikit 30 menit Goreng dengan sedikit minyak hingga berwarna kuning kecokelatan lalu angkat dan tiriskan

Bahan tempe patty 400gr tempe, potong dadu dan kukus 1 cup oatmeal, blender hingga menjadi tepung 1 paprika merah dirajang ½ bawang bombay dirajang 2 sendok teh bawang putih cincang 3 sendok makan daun ketumbar iris tipis 2 sendok makan selei kacang atau 1 butir telur 1 sendok teh jintan bubuk 1 sendok teh bubuk ketumbar ½ sendok teh merica hitam 1 sendok teh bubuk jamur 1 sendok teh garam Cara membuat Remas-remas tempe yang sudah dikukus hingga hancur Tumis paprika, bawang putih dan bawang bombay hingga layu dan harum lalu angkat

Saos tomat home made Bahan-bahan 1 kaleng tomat 3 siung bawang putih, cincang 3 sendok makan olive oil ½ sendok teh garam 1 sendok makan saos sambal 1 sendok teh kaldu jamur bubuk Gula kelapa secukupnya Cara membuat Tumis bawang puih dengan olive oil hingga harum lalu tambahkan tomat kaleng, saos sambal dan kaldu bubuk. Masak dengan api kecil selama 10 sampai 15 menit.

Sensasi Pedas Ikan Bakar Loang Baloq Menggiurkan! Begitu tampaknya respons orang jika melihat sepiring nasi dengan menu lengkap, ikan bakar, sambal, sambal terong bakar dan juga sayur bening bayam. Apalagi menu lengkap yang bisa dipesan di ikan bakar Loang Baloq ini terbilang murah. Ikan dengan bumbu pelecing yang dibakar menggunakan sabut kelapa membuat aromanya khas. Pedas tentu saja. Ditambah lagi dua sambal, yakni sambal tomat dan sambal terong bakar jelas menambah rasa pedas. Ikan bakar Loang Baloq sensasi pedas yang sesungguhnya. Bagi para pencinta makanan pedas, ikan bakar Loang Baloq perlu dicoba. Meskipun memang boleh memilih level pedas sesuai selera. Dimakan bersama nasi hangat, ikan bakar ini sema-

kin sempurna dengan sayur bening yang bisa dipilih, bayam, kacang panjang atau kelor. Sayur bening tanpa bumbu apa pun selain kuah dan isi sayuran ini, begitu menggoda selera. Sebab bisa menjadi penetral di antara ragam pelengkap menu yang sarat bumbu. Oleh sebab itu, jika datang ke Makan Loang Baloq dan Pantai Tanjung Karang, lengkapilah kunjungan dengan berwisata kuliner di ikan bakar Loang Baloq. (Naniek I. Taufan)

Lalu koreksi rasa dengan menambahkan garam dan gula kelapa jika perlu. Salad kol saos mayones Bahan-bahan 1 cup kol iris tipis ½ cup wortel parut ¼ sendok teh mustard 2 sendok makan mayones 1 sendok teh honey ½ sendok teh garam 1 sendok teh cuka Cara membuat Masukkan semua bahan ke dalam mangkok lalu aduk hingga rata Cara menyusun burger Panggang roti burger, sesudah itu olesi bagian bawah dengan saos tomat dan bagian atas roti dengan saos mayones. Tambahkan daun salada, lalu patty burger dan terakhir salad kol. Setelah selesai disusun, tusuk dengan tusukan sate dengan menambahkan tomat cheri diatasnya. Lalu siap untuk disajikan


STYLE

10

EDISI 1049/ 23 - 29 SEPTEMBER 2019

EDISI 1049/ 23 - 29 SEPTEMBER 2019

Jalinan Harmonis Gaya Klasik

Berbicara tentang perkembangan kain tenun ikat (endek), salah satunya tidak bisa lepas dari Gianyar. Betapa jalinan lungsi dan pakan yang dihasilkan, mampu mempresentasikan ketulusan, cinta, semangat, kesabaran, ketekunan, nilai sejarah, hingga nilai estetika yang tertuang pada motif di setiap lembar kainnya.

EDUKASI

Dari Alien Child untuk Zarra dan Naria Setelah berhasil menyelesaikan tantangan dari sastrawan Fajar Arcana untuk menggubah karya puisinya menjadi sebuah lagu imajinasi senja. Alien Child tergugah untuk berbagi karya mereka kepada penyanti lain. Kali ini mereka memilih Zarra dan Naria. dua orang murid dari Staccato Bali, asuhan sang mama, Heny Janawati.

Kadek Wira Dika Saskara

K

eindahan jalinan harmonis tersebut berhasil dirancang oleh salah seorang desainer binaan Dekranasda Gianyar, Kadek Wira Dika Saskara. Busana malam dengan look yang simpel namun tetap elegan pun sukses disuguhkannya pada ajang Kriya Nusa di, Balai Kartini, Jakarta belum lama ini. Dika Saskara mengusung warna marun, ungu, hijau,

biru dan hitam, busana karyanya trendi dikenakan kalangan remaja hingga para ibu. Melalui sederet koleksi, hasil diadopsi dari gaya klasik yang dikreasikannya. Ia berharap dapat memberikan inspirasi kepada para fashionista dan masyarakat umum, endek dapat diaplikasikan dalam beragam gaya busana dan dipakai dalam berbagai kesempatan. (Sri Ardhini)

M

engenai proyek ini, Aya Maranda dan Lala Maranda , dua remaja bertalenta yang menggawangi Alien Child ini, mengaku merasa tertantang untuk membuat lagu anak-anak yang murni mencirikan anak-anak, mulai dari lirik melodi hingga aransemen musiknya. Begitu juga dengan musik video mer-

eka, ingin menampilkan kemurnian anak-anak baik dari sisi kostum, akting hingga wajahnya yang alami dan natural. Aya dan Lala, tidak ingin wajah anakanak milik Zarra dipoles dengan bedak. Karena itulah, sejak awal produksi Alien Child terlibat langsung dalam proses karya ini. Dua bersaudara ini pun berbagi peran. Untuk pembuatan lirik dan melodi digarap

7

Lala yang sekaligus Song,” ujar Lala yang berperan sebagai diamini Aya. director dan Te m b a n g screenwriting kedua yang untuk video di-sharing musiknya. Alien Child Urusan adalah lagu mixing dan bertema mastering remaja, ditangani judulnya langsung “Beautiful Aya yang This Way” kemudian Lagu ini membuat berkisah aransemen mengenai musiknya. seorang Untuk remaja lagu yang y a n g bertema anakmelewati anak ini, Alien fase ketZarra Child menjatuherpurukan kan pilihan kepada akibat bully dari Zarra Apsara (6 tahun)) teman-temannya. putri keempat dari pasangan Namun, akhirnya ia meEndra Datta dan Putu Asih nyadari bahwa dirinya Primatanti. Rupanya. Aya dan adalah orang yang kuat Lala melihat potensi besar dan memiliki kecantikan pada diri Zarra saat. Menden- luar dalam. Lagu ini digarnya sedang berlatih vokal. percayakan kepada Naria, Terlebih bahasa Inggrisnya P u t r i p e r t a m a p a s u t r i juga fasih. Budi Sentosa dan Luh ‘Lagunya menggambarkan Putu Hermawati. tentang keceriaan anak-anak Cerita dipilihnya Naria yang ingin menghabiskan waktu membawakan lagu ini, liburan sekolah bersama kelu- sebab ia memiliki karaarga dan para sahabat karibnya. kter suara pop khas. BaJudul lagunya “Summertime hasa Inggrisnya juga fasih.

Dalam proses pengerjaan lagu inipun Alien Child berbagi peran yang sama. Lirik dan melodi digarap Lala kemudian dilanjutkan Aya untuk membuatkan aransemen musiknya termasuk mixing dan mastering juga ditangani langsung oleh Aya selaku music producer. Alien Child akan tampil di Gedung Candra Metu ISI Denpasar, Sabtu (28/9) mulai pukul 18.30. Mereka berdua mengawali acara dengan menampilkan lagu-lagu original yang diproduksi sendiri. Selanjutnya pada sesi pamungkas dilangsungkan pemutaran video klip dan penampilan Zarra mendendangkan lagu “Summertime Song” serta Naria menyanyikan tembang “ Beautiful This Way.” (Sri Ardhini)

Naria Putri


DARA

6 Dewi Gita terbahak di belakang panggung Blind Audition The Voice Indonesia, sambil tangannya menunjuk pada Armand Maulana, suaminya, musisi senior yang saat itu menjadi salah satu juri acara itu. Sebentar-sebentar Dewi yang ditemani host Omesh menunjuknunjuk Armand lalu memegang kepalanya.

W

EDISI 1049/ 23 - 29 SEPTEMBER 2019

Si Pemalu Bersuara Emas Fokus Pendidikan

instagram dewigita

penasaran lantaran dianggap beda dengan sosok ayah-ibunya yang ‘ramai’. “Orang tuh memang banyak yang tanya kenapa Naja begitu pemalu dan sangat kalem. Orang pikir aku tuh suka marahin anak, sampai-sampai anak jadi pendiem banget, kalem banget,” ungkap Dewi Gita sambil tersenyum. Kepribadian Naja yang pendiam dan sangat kalem, kata Dewi, memang sudah terlihat sejak kecil. Dia dan Armand pun tak pernah memarahi Naja. Kalaupun ada hal-hal tidak baik, mereka sebagai orangtua hanya menjelaskan dan Naja sudah mengerti. Tapi, lanjut Dewi, sesungguhnya sifat Naja yang pendiam itu ‘menurun’ dari bapaknya, yakni Armand. Mungkin banyak yang tidak tahu kalau sesungguhnya sang suami yang kelihatan ‘heboh’ dan ‘garang’ kalau di panggung, sebenarnya adalah pribadi yang pendiam, persis seperti Naja. Hal itu juga dibenarkan oleh Armand. Bakat menyanyi itu, ujar Dewi, sudah terlihat sejak Naja sekolah dasar. Namun karena anaknya super pemalu, meski dirinya juga Armand mendorongnya untuk mengeksplor lebih jauh bakatnya, Naja seolah tidak tertarik. Sebaliknya, dia malah lebih menekuni bakatnya yang lain yakni melukis. Dia ingin jadi ilustrator. Sejak kecil Naja gemar membaca komik dan hal-hal terkait science fiction, tontonan animasi, dll. “Jadi dia tuh kalau ngomong sama saya soal film science fiction, komik, animasi, super hero, nah itu nyambung. Soalnya saya juga suka. Dia juga suka menggambar, mungkin bakatnya menurun dari kakeknya yang pelukis,” tutur Armand. Waktu kecil, lanjut Armand, Naja sangat suka anime Jepang. Namun seiring waktu, minatnya mulai berkembang. “Saya lihat gambar-gambar karyanya juga sudah punya warna sendiri,” tambah Armand yang kerap memangil anaknya dengan sebutan ‘Neng’. (Diana Runtu)

Saat konser Dewi Gita

11

Potensi pariwisata dan pertanian yang dimiliki Kabupaten Buleleng menjadi dua sektor tumpuan hidup masyarakatnya. Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk kemajuan dua sektor tersebut demi kesejahteraan masyarakat. Berbagai event dan pembangunan insfrastruktur dilakukan untuk menunjang sektor pariwisata. Bahkan promosi pun gencar dilakukan hingga mancanegara.

Naja -paling kiri--lulus sma

Naja

BULELENG

Bantaeng Ingin Tiru Pertanian Buleleng

Naja Dewi Maulana

ajah Dewi tampak gemas lantaran melihat reaksi Armand Maulana yang seperti cuek saja. Padahal di panggung, sang anak tercinta, Naja Dewi Maulana, tengah memperdengarkan suara merdunya lewat lagu ‘Gravity’ dari Sara Bareilles. Beda dengan para juri lainnya yang seperti sangat menikmati suara Naja, wajah Armand biasa saja, bahkan terkesan datar saja seolah suara si penyanyi biasa-biasa saja. Itulah yang bikin Dewi gemas. Padahal itulah penampilan perdana Naja menyanyi di ajang pencarian bakat di televisi. Ketika Naja selesai menyanyi, para coach seperti Titi DJ, Isyana Sarasvati dan Anindyo Baskoro serta Vidi Aldiano berebut memecet tombol merah yang juga otomatis Naja menyanyi di acara memutar kursinya menghadap Voince Indonesia panggung. Armand justru sebaliknya. Ia sempat terdiam meski akhirnya perlahan memencet pula tombol merah itu. Begitu menghadap panggung, Armand nyengir lalu menepuk dahinya. Para coach meledek Armand yang seolah tak mengenali suara putrinya. Sementara Naja berdiri di panggung sambil tertawa lebar. Armand lantas menghampiri panggung dan memeluk putri tercintanya. Tudingan banyak orang lantas dibantah tegas oleh vokali grup Band Gigi itu. “Nggak benar dong. Gue kenal banget suara anak tercinta gue dari awal dia nyanyi gue juga udah tahu. Pas desahan nafas pertamanya gua udah menduga kalau itu Naja,” kata Armand sambil tertawa. Yang sempat membuatnya terdiam adalah haru yang memenuhi hatinya. Dia tak menyangka kalau putrinya yang amat sangat pemalu itu mau menyanyi sendiri di panggung yang disaksikan jutaan orang. “Naja itu pemaluuuu banget. Karena itu gua kaget dia mau nyanyi. Tapi gua bangga dan haru sampai nangis,” ujar Armand sambil mengusap air mata di ujung matanya. Naja, remaja 18 tahun, putri semata wayang Armand Maulan-Dewi Gita, memang amat pemalu. Tidak mudah mewawancarainya, paling hanya sepatah dua-kata yang keluar dari bibirnya. Biasanya, sang ibu atau ayahnya lah yang jadi ‘jubir’ Naja jika kebetulan berhadapan dengan wartawan. Ketika ditanya apakah akan mengikuti jejak orangtua menjadi penyanyi, dia hanya senyum saja sambil berkata,”Ya lihat nanti saja”. INGIN JADI ILUSTRATOR Soal Naja yang sangat pemalu dan kalem, ujar Dewi, memang sempat ditanya banyak orang padanya. Banyak yang

EDISI 1049/ 23 - 29 SEPTEMBER 2019

Berbeda dari kebanyakan anak-anak, sejak kecil Naja sudah tahu apa yang diinginkannya. Kepada orangtuanya ia tegas menyebut keinginannya menjadi ilustrator dan ingin memperdalam sekolah yang berhubungan dengan minatnya. Dewi dan Armand tentunya sangat mendukung minat anaknya foto instagram dewigita itu. Namun di sisi lain, mereka juga berusaha Naja Dewi Maulana dan orangtuanya mendorong Naja agar juga menekuni dunia menyanyi karena dia memiliki talenta itu juga. “Kita berdua (dirinya dan Armand) tidak memaksakan keinginan. Terserah Naja mau menekuni yang mana. Hanya saja kita selalu bilang ke dia, ‘Kamu tuh sudah dikasih Allah bakat yang luar biasa, kan sayang kalau tidak dimanfaatkan. Jadi kita tuh selalu menggali dia agar kepercayaan dirinya muncul. Soalnya dia jarang banget mau nyanyi,” lanjut Dewi. Untuk menumbuhkan kepercayaan diri Naja, Dewi kerap mengajaknya menyanyi bareng dalam acara-acara tertentu. Kadang, mau juga Naja menyanyi. “Sebenarnya sih dia pernah mengaku tertarik menyanyi hanya saja dia malu berada di panggung,” tambah Dewi. Hal itu dibenarkan oleh Armand bahwa dirinya dan Dewi sangat ingin anaknya juga menekuni menyanyi. Salah satu alasannya karena Naja memiliki talenta suara yang indah. “Kalau ibunya (Dewi) kalau ngomong ke anaknya kan ‘ya gitu deh, namanya cewek-sama cewek bla-bla bla. Nah kalau saya pendekatannya lebih soft. Saya bilang, ‘Neng ayo nyanyi nanti papa cariin produser yang tepat dengan suara kamu’. Tapi ya mau gimana, anaknya memang begitu (menolak). Dia malah bilang mau jadi ilustrator. Itu sudah dia bilang sejak SMP. Malah dia sebut sekolah yang jurusan untuk ilustrasi-nya bagus. Jadi dia konsennya ke sana,” tutur Armand. Belakangan Naja terlihat mulai tertarik ke dunia menyanyi. Sepertinya itu bertepatan ketika dia tampil menyanyi dalam konser ‘ Hati 1 Cinta’, Januari 2019 lalu. Konser itu digelar Armand Maulana bersama Dewi Gita dalam rangka merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang ke-25. Saat itu Naja termasuk salah satu penyanyinya. “Jadi sepertinya dia mulai tergerak ya. Nyanyi di panggung di hadapan penonton, merasakan atmosfirnya. Kelihatan di wajah dan matanya kalau dia senang dan tertarik. Nah yang penting itu dulu, rasa tertarik, kenyamanan. Dia merasa nyaman dan merasa ‘wah ini rumah gua’,” ungkap Armand. Kepada Dewi, Naja juga mengakui kalau dirinya ingin mengisi waktunya menyanyi dari panggung ke panggung sebelum dia fokus pada pendidikan. Rencananya Naja yang belum lama lulus SMA ini akan melanjutkan kuliah di salah satu perguruan tinggi di Inggris. Sebenarnya ada rasa berat melepas Naja kuliah di negeri orang. Namun demi masa depan sang anak tercinta, dia pun harus merelakannya. Namun yang paling berat, tutur Dewi, adalah Armand yang awalnya tidak membolehkan Naja kuliah jauh dari dirinya. “Papanya protektif banget. Dari dulu begitu. Guru-guru tuh sampai heran, karena papanya sering banget nelponin guru-guru. Hahahhaha. Waktu guru Naja ketemu saya, bilang begini ‘Aduhh Pak Armand itu yaa lebih-lebih daripada ibunya (saya),” ungkap Dewi sambil tertawa. Sementara Naja yang berada di samping Dewi hanya senyum. (Diana Runtu)

S

ementara itu, di bidang pertanian pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk menghasilkan berbagai jenis produk unggulan. Bahkan dibawah kepemimpinan Bupati Putu Agus Suradnyana telah dicanangkan program one village one product untuk menggali potensi pertanian di masingmasing desa di Kabupaten Buleleng. Beberapa produk pertanian seperti buah lokal bahkan sudah mampu merambah pasar ekspor seperti di antaranya

manggis, buah naga, dan durian. Keberhasilan mengelola dua sektor tersebut rupanya menjadi daya tarik untuk Pemerintah Kabupaten Bantaeng, Provinsi Sulawesi Selatan untuk melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Buleleng, Rabu (18/9). Bertempat di Ruang Rapat Kantor Bupati Buleleng, rombongan Pemkab Bantaeng yang dipimpin langsung Bupati Bantaeng Dr. H. Ilham Syah Azikin,M. Si ini disambut oleh Wakil Bupati Buleleng dr. I Nyoman Sutjidra,Sp.OG

Kunjungan Pemkab Bantaeng Provinsi Sulawesi Selatan ke Buleleng

didampingi Asisten Bidang Administrasi Umum Setda Kabupaten Buleleng Drs. Gede Suyasa,M.Pd, para Camat, dan beberapa pimpinan SKPD lingkup Pemkab Buleleng. Wakil Bupati Buleleng dr. I Nyoman Sutjidra mengatakan, sangat berterimakasih atas dipilihnya Kabupaten Buleleng sebagai tujuan kunker. Ia menjelaskan, ini merupakan kunker balasan yang dilakukan Pemkab Bantaeng. Sebelumnya, Pemkab Buleleng pernah melakukan kunker ke Kabupaten Bantaeng. Wabup mengakui kondisi dan potensi di Kabupaten Bantaeng tidak jauh beda dengan di Kabupaten Buleleng. Pemkab Bantaeng sangat terkesan dengan pengembangan potensi pertanian di Kabupaten Buleleng. “Mereka ingin meniru apa yang kita

lakukan dalam pengembangan sektor pertanian khusunya kopi. Tapi mereka memiliki produksi kopi yang khas yaitu kopi organik yang perlu kita contoh untuk dikembangkan di Kabupaten Buleleng,” katanya. Sementara itu, Bupati Bantaeng Ilham Sayh Azikin mengatakan sangat senang bisa berkunjung ke Buleleng. Ia mengatakan, sambutan hangat yang diberikan Wakil Bupati Buleleng dan jajarannya menjadi kesan tersendiri baginya. Ia mengatakan, potensi-potensi dan topografi di Buleleng mirip dengan daerahnya. Sehingga ia meyakini bisa meniru cara mengembangkan potensi tersebut di daerahnya. “Banyak sektor yang dapat disinergikan oleh Pemkab Buleleng dan Pemkab Bantaeng. Yang lain tentu

kami harus banyak belajar bagaimana Pemkab Buleleng menggerakan sektor jasa pariwisata. Itu yang menurut kami yang paling menarik,” ujarnya. Bupati yang juga Alumni STPDN angkatan 05 ini mengatakan, kunjungan kali ini difokuskan kepada sektor pendidikan. Bupati Ilham mengaku, ingin melihat cara pola kerjasama yang dilakukan oleh Pemkab Buleleng dalam meningkatkan sumber daya manusia. Bupati Ilham berharap, strategi yang dilakukan Pemkab Buleleng bisa menjadi referensi untuk Pemkab Bantaeng dalam meningkatkan SDM di daerahnya. “Hari ini kami konsentrasi dulu untuk melihat desain kerjasama dan pelibatan pihak ketiga dalam meningkatkan SDM di Kabupaten Buleleng,” tuturnya. (Wiwin Meliana)

Masih Ada yang Keliru Gunakan Tata Bahasa Indonesia

Penyuluhan bahasa oleh Balai bahasa Bali

Penggunaan bahasa dalam komunikasi sangat berperan penting terhadap pesan yang ingin disampaikan kepada lawan tutur. Sikap bahasa penutur terhadap petutur akan menunjukkan kualitas diri. Maka dari itu, diperlukan pemahaman penggunaan bahasa yang baik dan benar, baik yang dimaksud sesuai dengan situasi dan kondisi, formal dan nonformal sedangkan benar yang dimaksud bahasa yang digunakan sesuai dengan kaidah kebahasaan yang

berlaku. Agar tercipta pemahaman dalam penggunaan bahasa yang baik dan benar dilingkup pemerintahan, Balai Bahasa Bali, Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memberikan penyuluhan penggunaan bahasa media luar ruang di Kabupaten Buleleng. Penyuluhan yang diikuti OPD seluruh Kabupaten Buleleng ini di gelar di ruang rapat unit IV setda Kabupaten Buleleng,

Rabu (18/9). Kepala Balai Bahasa Bali Toha Machsum, M. Ag. menjadi pemateri untuk penyuluhan ini. Ia menerangkan penggunaan tata bahasa yang digunakan selama ini masih banyak yang keliru, melalui kegiatan penyuluhan ini ia berharap Balai Bahasa Bali mampu memberikan wawasan dan pencerahan tentang tata bahasa. Ia juga menyebut bahasa Indonesia harus menjadi bahasa yang utama. “Gunakan bahasa Indo-

nesia, lestarikan bahasa daerah, dan pelajari bahasa asing,” jelasnya. Penyuluhan dibuka Asisten Bidang Administrasi Perekonomian, Pembangunan dan Kesejahtraan Rakyat Ni Made Rousmini, S.Sos. Sebelum dilakukan penyuluhan, peserta diberikan tes untuk mengetahui kemampuan peserta dalam hal penggunaan tata bahasa. Dalam sambutannya, Rousmini mengatakan sudah sepatutnya kita menggunakan bahasa Indonesia yang

baik dan benar. Martabat bahasa Indonesia bukan hanya tanggung jawab Balai Bahasa Bali selaku lembaga kebahasaan tetapi juga merupakan tanggung jawab pemerintah daerah agar bahasa Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan melestarikan bahasa daerah Bali sebagai lambang jati diri kedaerahan agar tetap lestari dan tidak terancam punah. Ia menambahkan penyuluhan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pencerahan tentang tata bahasa, terutama pemilihan dan penggunaan bahasa yang baik dan benar. Penyuluhan inipun dikhususkan untuk pegawai di bidang administrasi untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terkait penggunaan tata bahasa yang kurang tepat. Rousmini berharap peserta penyuluhan benar-benar mengikuti kegiatan sampai tuntas agar nantinya mampu mengetahui penggunaan tata bahasa yang tepat dilingkungan pemerintahan maupun di ruang publik serta memberikan masukan kepada lembaga ataupun pimpinan tempat bekerja. “Saya harap peserta memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk mengikuti penyuluhan ini untuk hasil yang maksimal,” pungkasnya. (Wiwin Meliana)


12

BUMI GORA

EDISI 1049/ 23 - 29 SEPTEMBER 2019

Menjaga Kehidupan Kesenian tanpa Jeda Perhelatan kesenian yang menggembirakan sekaligus membahagiakan kembali hadir di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Dalam durasi yang cukup panjang, 14-25 September 2019 kegiatan Lombok Art Ekshibition 2019 digelar di Taman Budaya Nusa Tenggara Barat. Bertajuk Napak Tilas Perupa NTB, gelar pameran lukisan ini menyajikan karya-karya Perupa NTB.

K

epala Taman Budaya NTB, dihadirkan di ruang pamer Galeri Seni Ir. Baiq Rahmayati, M.Si., Rupa Taman Budaya NTB juga mem­ mengungkapkan, Lombok buat pameran ini penuh makna. Dengan Art Exhibition diseleng­ kurator Sasih Gunalan, M.Sn., Lombok garakan untuk mengabarkan kepada Art Exhibition memamerkan karya pe­ masyarakat, NTB kaya perupa dengan lukis mendiang I Wayan Pengsong, Lalu karya-karya mengagumkan. Ia berharap Agus Faturrahman, M. Tarfi Abdullah pameran ini juga menjadi awal yang baik yang juga menghidupkan suasana pam­ untuk NTB ke depan memiliki database eran. Dilengkapi pula dengan kehadiran perupa lengkap dengan karya-karyanya. karya Abdullah Sidiq, Abdul Gani Selim, Yang me­ I Gusti Bagus narik dari Kebon dan I Lombok Art Nengah Ki­ Exhibition sid. Generasi 2019 ini, berikutnya sebab me­ ada Mantra mamerkan Ardhana, I karya-karya Wayan Gre­ mulai dari deg, Lalu yang “be­ Syaukani dan rat” hingga Karyana. Pe­ “ringan” un­ rupa Altha tuk dinikma­ Rivan juga ti. Menonton turut hadir pameran ini, denga karyamenawarkan karyanya guyub rasa yang “rapi”. sebab keru­ Begitu mitan-keru­ pula dengan mitan dalam Saparul An­ membaca war. Paripur­ karya lukis nalah pamer­ terakomodir an ini dengan dengan ber­ karya-karya Salah satu karya Mantra Ardhana dalam Lombok dari pelukis kumpulkan Art Exhibition 2019 yang banyak menarik para perupa muda Ijjatul perhatian pengunjung berkelas Islam dan dengan karya penuh kedalaman, pula juga Arief Firmansyah. Sisi lain dari perupa dengan karya-karyanya yang pameran ini adalah keunikan suasana ringan, mudah dicerna dan membuat yang mampu mewakili penonton kala hati riang gembira. Ini tentu mewakili menikmati lukisan dari para perupa cita rasa penikmat pameran yang datang “sekolahan” dan “tidak sekolahan” yang dari berbagai lapisan masyarakat. menjadi daya tarik tersendiri dalam Lombok Art Exhibition ini menu­ pameran ini. Masing-masing mereka runkan 16 perupa dengan ragam latar memiliki kekuatan sendiri-sendiri. belakang yang menjadikan warna pameran demikian lengkap. Jejak-jejak WAYANG SASAK karya para pelukis kawakan NTB yang Selain pameran lukisan, di Lombok

Pemprov Bali Belajar Pengelolaan Sampah ke Surabaya

Pengelolaan sampah masih menjadi salah satu persoalan yang harus diselesaikan Pemerintah Provinsi Bali dalam mewujudkan Visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali. Beruntung, Guber­ nur Bali Wayan Koster di awal kepe­ mimpinannya bergerak cepat dengan menerbitkan Pergub 97 Tahun 2018 yang mengatur pembatasan timbulan sampah plastik sekali pakai.

L

Kepala Taman Budaya NTB, Ir. Baiq Rahmayati, M. Si

Art Exhibition 2019 ini juga ada Coffe Nite Jam Session. Panggung musik yang digelar di taman timur Taman Budaya NTB yang bersebelahan dengan galeri seni rupa mampu menghangatkan suasana dengan tampilnya para musisi dan grup band di Mataram. Organic Mind besutan Mantra Ardhana tampil perdana dengan teknologi multimedia yang kekinian pada pembukaan pam­ eran dengan Perfomance Art berjudul Tangga Menuju Bulan. Grup musik yang tampil berturutturut sepanjang kegiatan ini adalah Intuisi, Tunggang Gunung, Vhee Navan, solois Pamela Paganini. Aksi panggung eksentrik dari penyanyi ekspresif Sid­ zia Madvox turut membakar semangat para fansnya dengan aksi panggung teaterikalnya. Sidzia Madvox, rocker yang juga komikus selengean ini, terbi­ lang menghibur sebab ia mampu tampil komunikatif. Pada sesi berikutnya ada anak-anak muda kreatif yang tergabung dalam Kelompok Burung Hitam yang tampil apik menggabungkan musik, sastra dan teater di atas panggung. Minggu, 22 September 2019, tampil Sang Gerilyawan Musik, musisi ke­ namaan Ary Juliant (bersama Paris Hasan) dengan karya-karyanya yang

fenomenal. Dan malam berikutnya akan tampil Asyilvm, Suradipa lalu ditutup oleh Tjerita Coklat feat Dina Glistan, 25 September 2019. Selain pameran lukisan dan music session, ditampilkan pula gelar Wayang Sasak dan festival anak-anak melukis. Screening film yang hampir tiap malam diputar, turut mengisi kegiatan. Melihat apresiator Lombok Art Exhibition 2019 yang menggembirakan, penyelenggara kegiatan berharap mo­ mentum ini bisa menghangatkan dan

menggairahkan serta mampu menjaga daya hidup kesenian di Mataram dan Nusa Tenggara Barat. Majas Pribadi, penggagas Lombok Art Exhibition yang juga pimpinan rombongan Nusa Teng­ gara Art Community, berharap bisa berkomunikasi dengan para seniman NTB untuk duduk bersama merancang kegiatan-kegiatan kesenian yang lebih besar lagi dan melibatkan lebih ban­ yak aktivitas kesenian demi menjaga kehidupan kesenian NTB tanpa jeda. (Naniek I. Taufan)

angkah konkrit ini bukan saja mendapat apresiasi dari banyak pihak namun secara nyata mengurangi jumlah sampah plastik yang beredar di Bali. Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Bali menyebutkan jumlah timbulan sampah plastik di TPA regional sarbagita pada bulan Maret 2019 sebesar 1400 ton atau mengalami penurunan hingga 50 persen dari 2880 ton sebelum Pergub dikeluarkan. Pengurangan ini salah satunya berasal dari tiada lagi kantong plastik di toko modern yang sebelum­ nya mencapai 8.760 kg pada Desember 2018. Selain itu Gerakan Semesta Berencana Bali Resik Sampah Plastik yang melibatkan berbagai komponen masyarakat yang ada di Bali berhasil membersihkan sampah anorganik dari lingkungan sebanyak 462.000 kg se Bali. Kebijakan ini tentu saja baru se­ bagian dari rencana Gubernur Bali Wayan Koster untuk menyelesaikan permasalahan sampah di Bali. Gubernur asal Desa Sembiran ini telah merancang upaya penanganan sampah yang holistik mulai dari hulu sampai ke hilir. Sebagai salah satu langkah untuk mendukung rencana Bapak Gubernur sekaligus untuk mendapatkan gambaran pe­ nanganan sampah di hulu, Pemerintah Provinsi Bali mengajak awak media

untuk ‘mengintip’ penanganan sampah di Kota Surabaya. Bukan rahasia bahwa Kota Surabaya telah mendapat banyak pengakuan karena upaya pengelolaan sampahnya yang sudah baik. Rombongan awak media baik cetak, elektronik maupun online yang di­ pimpin Asisten III Pemprov Bali I Wayan Suarjana dan didampingi Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Bali A.A Oka Sutha Diana mengunjungi beberapa lokasi terkait pengelolaan sampah di Surabaya, Selasa (17/9) dan Rabu (18/9). Salah satu lokasi yang dikunjungi adalah Pusat Daur Ulang Jambangan. Di lokasi yang mulai beroperasi tahun 2016 ini sampah organik dan anorganik yang dikumpulkan dari seluruh kelurah­ an Jambangan dipilah dan diolah men­ jadi pupuk organik. Dengan bermodal 25 gerobak sampah, PDU Jambangan bisa mengumpulkan sampah sebanyak 5-6 ton. Pengawas PDU Jambangan Hadi Waskito mengatakan fasilitas ini bisa mengurangi sekitar 50 persen sampah yang dibawa ke TPA. “Jadi 2,5 sampai tiga ton kita olah disini menjadi [pupuk-red] organik,” kata Waskito. Ia menambahkan kompos yang dihasilkan dari PDU Jambangan didistribusikan ke seluruh taman-taman yang ada di Surabaya. Selain itu masyarakat berKTP Surabaya boleh mengambil secara gratis, termasuk instansi pemerintah seperti kelurahan, kecamatan, pus­ kesmas dan sekolah. Salah satu kelebihan PDU Jam­ bangan adalah penggunaan larva lalat tentara hitam untuk mempercepat proses pengomposan. Selain bisa digunakan sebagai kompos, larva lalat tentara hitam juga punya nilai tambah lain sebagai pakan ternak. Kelebihan lainnya adalah fasilitas ini juga dileng­ kapi dengan Pembangkit Listrik Tenaga

Kelompok Burung Hitam tampil menggabungkan musik, sastra dan teater

Asisten III I Wayan Suarjana dan Kabiro Humas dan Protokol Setda Prov Bali AA Oka Sutha Diana melihat lebih detail pengelolaan sampah di TPA Jambangan.

Suasana pameran lukisan para perupa NTB yang turun pada Lombok Art Exhibition

Sidzia Madvox tampil energik pada Music Jam Session Lombok Art Exhibition 2019

5

EDISI 1049/ 23 - 29 SEPTEMBER 2019

Koordinator TPA Jambangan memberi penjelasan bagaimana mengelola sampah menjadi kompos

Kunjungan media dan humas Pemprov Bali ke TPA Jambangan Surabaya

Sampah (PLTSa) mini yang bisa meng­ hasilkan listrik 4000 Watt yang cukup untuk kebutuhan operasional PDU Jambangan. Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah Andhini Kusumawardani Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau Kota Surabaya mengatakan fasilitas TPST-3R seperti ini sudah ada tiga di Surabaya, yakni di Jambangan, Sutorejo dan Tambak Oso Wilangun. “Yang di Su­ torejo bantuan dari Kitakyushu, yang ini bantuan dari KLHK dan di Tambak Oso kami bikin sendiri,” kata Andhini. Karena kesuksesannya, Pemkot Surabaya tahun ini membuat lima lagi yang direncanakan bisa beroperasi tahun 2020. Berdasarkan pengalaman di Tambak Oso Wilangun, Andhini mengatakan ang­

garan yang diperlukan untuk membuat satu TPST-3R sebesar 2 milyar rupiah. Asisten III Administrasi Umum Provinsi Bali Wayan Suarjana me­ ngatakan banyak belajar dari kunjungan ke Surabaya. Salah satunya mengenai komitmen pemerintah yang kuat untuk mengatasi persoalan sampah di Kota Surabaya. Ia mengatakan keberhasilan kota Surabaya tidak lepas dari perubah­ an pola pikir dalam mengelola sampah. Menurutnya dengan kunjungan ini Bali memiliki gambaran pengelolaan sam­ pah yang bisa saja diimplementasikan di Bali. “Kebetulan di Bali dengan visi misinya bapak Gubernur Nangun Sat Kerthi Loka Bali salah satunya adalah bagaimana menjaga keseimbangan alam Bali yang bersih sekala lan niskala salah

satunya adalah membersihkan sampah menjadi yang berguna,” kata Suarjana. Wayan Suarjana mengatakan pi­ haknya belajar banyak dari kunjungan ke TPA Benowo. “Ini adalah sebuah bekal yang baik bagi kita khususnya Bali karena disini menurut saya su­ dah berhasil dari tidak ada menjadi ada,” ujar mantan Sekwan Provinsi Bali ini. Ia mengatakan keberhasilan Pemkot tidak lepas dari perubahan pola pikir dalam mengelola sampah. Menurutnya dengan kunjungan ini Bali memiliki gambaran pengelolaan sampah yang bisa diimplementasikan di Bali. “Ke­betulan di Bali dengan visi misinya bapak Gubernur Nangun Sat Kerthi Loka Bali salah satunya adalah bagaimana menjaga keseimbangan alam Bali yang bersih sekala lan niskala salah satunya adalah membersihkan sampah menjadi yang berguna,” kata Suarjana. Ia optimis, kunjungan ini akan bermanfaat untuk pengelolaan sampah dari tingkat hulu di Provinsi Bali. Selain mengunjungi TPST-3R, rombongan pers Pemprov Bali juga mengunjungi Command Center 112 Surabaya dan TPA Benowo. Dengan banyaknya CCTV dan kanal yang dipantau Command Center bisa mengawasi berbagai permasalahan yang terjadi di Kota Surabaya termasuk persoalan sampah. Sementara di TPA Benowo awak media mendapat gam­ baran pengelolaan sampah menjadi tenaga listrik.

TPA Benowo “Sulap” Sampah Jadi Listrik Salah satu pengolahan sampah men­ jadi energi listrik telah sukses dikerjakan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo, Surabaya. Penanggung jawab operasional PT Sumber Organik Surabaya, M Ali Azhari, menuturkan sebanyak 1.500-1700 ton sampah per hari diolah di TPA Benowo dan mampu menghasilkan energi listrik sebesar 2 mega watt. Lahan 37,4 hektare tersebut dapat dimanfaatkan dengan baik dalam waktu yang panjang. Sampah diolah jadi sumber energi yang dapat digunakan. Sebelumnya Pemkot Surabaya meng­ ajukan dua syarat untuk perusahaan yang mengikuti lelang pengolahan sampah. Penanggung jawab operasional PT Sumber Organik Surabaya, M Ali Azhari “Dua syarat tersebut yakni tentang menjelaskan pengelolaan sampah d TPA Benowo. kemampuan perusahaan memanfaatkan sampah menjadi energi terbarukan serta perihal sani­ Kabid Sarana dan Prasarana Dinas Kebersihan dan Ruang tasi. Keduanya harus dipenuhi agar menang dalam lelang,” Terbuka Hijau Kota Surabaya Iman Rachmadi menambahkan, ujarnya. dalam pengolahan sampah menjadi energi listrik ini diperlu­ Pada akhirnya, PT Sumber Organik (SO) memenangkan kan cerobong asap dengan tinggi 60 meter. lelang. Investor itu bekerja sama dengan Pemkot Surabaya Bila menara cerobong asap dibuat tidak memenuhi dengan perjanjian Build Operate Transfer (BOT) selama 20 syarat ketinggian, tentu akan dapat menimbulkan volusi tahun, terhitung sejak 8 Agustus 2012. asap di sekitarnya dan juga menebarkan bau yang kurang Ali Azhari menambahkan, pengolahan sampah men­ sedap. jadi listrik PT SO bukan sekadar demi mendatangkan Iman menyebutkan, lokasi yang kini dijadikan TPA Ben­ keuntungan, namun untuk berinovasi agar lingkungan di dowo letaknya cukup berdekatan dengan Stadion Olahraga Kota Pahlawan tetap terjaga. Bila pengelolaan sampah Bung Tomo Surabaya. “Kadang kami masih was-was juga, tidak dilakukan dengan baik, bakal berdampak buruk saat pertandingan kalau sampai menebar mau tak sedap,” pada masyarakat. Sebab, sampah yang tak tertangani katanya sembari tertawa. dengan benar dapat mengakibatkan banjir dan wabah Asisten III Wayan Suarjana mengatakan, semoga sistem penyakit. pengelolaan sampah di Surabaya sewaktu saat dapat di­ Sampah yang ada di perumahan warga dikumpulkan ke adopsi di Bali. tempat pembuangan sementara (TPS). Kemudian, truk DK “Segala sesuatu yang diperlukan untuk membangun RTH mengangkut sampah dari TPS menuju TPA Benowo. pembangkit listrik bertenaga sampah di Bali, harus dilakukan Di tempat inilah, sampah dari seluruh penjuru kota diolah perencanaan yang benar-benar matang dan terarah,” kata menjadi listrik. Suarjana. (Wirati Astiti)


4 Objek wisata lokal mulai diminati wisatawan. Apa yang perlu dibenahi? Menurut praktisi pariwisata Dewi Mas, CHA, CHT., jaminan keamanan dan kenyamanan dari pemerintah daerah baik dari kabupaten sampai desa adat dengan pihak pengelola obyek wisata lokal perlu ditingkatkan.

“D

WOMAN ON TOP

EDISI 1049/ 23 - 29 SEPTEMBER 2019

Dewi Mas

Harga Tiket Standar untuk Hindari Pungli

nis, serta harga memadai. Sebaiknya, kata dia, disediakan iperlukan sinergi antar fasilitas kesehatan atau klinik untuk semua pihak first aid dan tanggungan asuransi baik instansi tercover untuk setiap pengunjung. terkait, demi tercapainya suatu “Jangan lupa ada fasilitas ATM dan sinergi dan konsistensi yang baik penertiban pedagang lokal baik bagi konsumen, dalam mendukung untuk oleh-oleh maupun untuk objek wisata lokal tersebut,” ujar penjualan lainnya,” kata Dewi. Menurutnya, perlu juga pelatihan Group General Manager Alaya yang konsisten kepada masyarakat Hotels and Resort ini. Ia mencontohkan, untuk biaya lokal untuk bisa ikut menjadi tenaga masuk ke objek wisata harus pekerja dan pendukung di obyek standar dan disetujui bersama serta wisata yang mampu berbahasa Ingterjangkau untuk menghindari gris dan memiliki kompetensi di pungli. Disamping itu, ia meminta, bidangnya. “Kerjasama pelatihan ini penyediaan fasilitas umum beserta seharusnya dilakukan pihak Departepetugas yang bertanggung jawab men Pariwisata dengan lembaga seperti fasilitas parkir yang mema- pendidikan, asosiasi pariwisata serta dai dengan biaya parkir yang masuk LSP - Lembaga Sertifikasi Kompeakal, toilet umum yang bersih, dan tensi. Ini sangat diperlukan untuk cukup jumlahnya. Ada penyediaan memberikan pelayanan dan produk tempat beribadah untuk para pen- yang memberikan jaminan kualitas atau quality assurance,” kata Dewi. gunjung. Ia menambahkan, pelatihan ini Tempat berjualan makanan dan minuman juga harus bersih, hiegi- tidak hanya untuk pengelola atau

manajemen tapi juga untuk semua karyawan baik yang bertugas di bidang produk, di bidang pelayanan, bidang penyediaan makanan dan minuman, pelayanan keamanan dllnya. Selain itu, perlu juga, dukungan kerjasama dari biro perjalanan wisata untuk mempromosikan objek wisata lokal, baik kepada tamu lokal di Bali, tamu domestik dan tamu mancanegara dengan penentuan biaya yang standar. “Media juga perlu menyebarluaskan apa keunikan serta semua kearifan lokal yang ada untuk menarik minat pengunjung baik tamu lokal di Bali, tamu domestik, maupun tamu mancanegara,” sarannya. Dewi berharap, perlu juga kerja sama dengan lembaga lingkungan untuk memastikan pengembangan pariwisata objek lokal yang terjadi, untuk menjaga keasrian dan keseimbangan alam di daerah jangka panjang. (Wirati Astiti).

Dewi Mas

“Langkah Awal Menuju Zero Complain” #1 (Bagian Kedua) Salam Senyum “Bagaimana cara merekrut para calon pelaku layanan agar mendapatkan bahan baku yang sesuai dengan harapan perusahaan/instansi?” Dari beberapa refrensi buku layanan yang saya baca dan pengalaman lebih dari 27 tahun terjun sebagai pelaku layanan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika kita akan merekrut para calon pelaku layanan. Yang pertama adalah menyampaikan visi layanan yang tercermin dari budaya layanan yang ada dalam perusahaan/ instansi kita pada iklan lowongan kerja. Tentu ini dicantumkan dengan kata-kata yang penuh dengan semangat dan motivasi untuk menunjukkan bahwa visi ini sangat penting untuk menjadi dasar para pelamar mampu melakukannya ketika sudah diterima sebagai karyawan. Selain menyampaikan hal ini di lowongan pekerjaan, sampaikan juga ketika mulai tahap wawancara awal. Yaitu dengan pertanyaan terbuka yang dapat menggali sejauh mana visi ini dapat dipahami oleh para pelamar yang dibuktikan dengan cerita pengalaman yang sudah mereka lakukan. Langkah kedua untuk mendapatkan ‘bahan baku ‘ yang baik untuk pelaku layanan adalah dengan melibatkan seorang pemimpin layanan dalam instansi/perusahaan Anda. Ketika budaya layanan sudah kuat dilaksanakan dalam perusahaan, maka tentu ini ditentukan oleh seorang pemimpin dalam tim budaya layanan yang terbentuk. Para pemimpin budaya layanan dalam sebuah perusahaan tentu sudah sangat konsisten untuk menjadi role model, coaching, evaluasi, serta melakukan

hal-hal yang terkait untuk membuat layanan di perusahaan dapat berjalan dengan baik dan konsisten. Untuk langkah perekrutan yang kedua ini sering keliru dalam pelaksanaannya. Banyak para perekrut calon pelaku layanan, tidak terlalu paham tentang layanan. Dalam artian mereka tidak melibatkan para pemimpin layanan. Tentu kalau mereka tidak dilibatkan maka penggalian kepada calon karyawan tidak menjurus kepada hal layanan. Namun lebih kepada hal-hal yang tidak terlalu berpengaruh terhadap layanan. Hal ketiga yang harus dilakukan untuk mendapatkan ‘bahan baku’ yang baik sebagai seorang pelaku layanan adalah dengan meminta kandidat untuk mengevaluasi layanan di perusahaan kita. Bisa dengan membandingkan dengan layanan di perusahaan lain, atau memberi saran untuk perbaikan layanan yang mereka lihat pada perusahaan kita. Biasanya mereka akan menjawab dengan dua hal yang berbeda. Ada yang langsung memuji dan mengangap layanan di perusahaan kita sudah baik. Namun ada juga yang mengkritik dengan ide-ide konstruktif. Lalu sebenarnya, yang mana yang baik untuk masa depan layanan kita? Jawabannya adalah mereka yang sering memberi saran untuk praktek layanan terbaik dan tentu saran dengan contoh layanan ter- up to date. Selanjutnya langkah keempat yang dilakukan adalah rekomendasi. Libatkanlah seluruh karyawan untuk merekomendasikan orang-orang yang mereka kenal. Karyawan kita tentu sudah mengetahui dan memahami budaya layanan yang ada dalam perusahaan kita. Dan, mereka akan merekomendasikan orang yang dianggap sesuai dengan visi misi serta budaya layanan perusahaan kita. Selain melibatkan karyawan dalam merekomendasi, para pelanggan terbaik di perusahaan kita juga dapat dimintakan rekomendasi. Apapun mereka sudah

tahu dan merasakan sendiri layanan yang diberikan oleh perusahaan kita. Hal terakhir yang mesti dilakukan untuk merekrut ‘bahan baku’ seorang pelaku layanan yang baik adalah dengan cara bersabar. Bersabar di sini lebih kepada bagaimana kita tidak memiliki istilah ‘sindrom kursi kosong’. Ketika ada jabatan di posisi layanan lowong, kita jadi tergesa-gesa untuk mengisi posisi itu. Padahal, dampak dari kesalahan merekrut orang yang akan masuk sebuah tim layanan, akan membuat keseluruhan tim layanan kita tidak nyaman dalam melakukan proses menuju layanan yang terbaik. Kelima hal inilah yang semestinya dilakukan untuk mendapat ‘bahan baku’ yang baik sebagai pelaku layanan. Bukan hanya mengandalkan kesempurnaan fisik, atau selembar kertas dokumen sebagai bukti akademis. Apakah instansi atau perusahaan Anda siap untuk melakukan hal ini? Mari kita mulai memetakan sebuah proses layanan dari langkah awal. Sudahkah para pelaku layanan di perusahaan/instansi Anda memahami dan melakukan hal tersebut di atas? Materi ini juga terdapat dalam pelatihan dengan Sri Sumahardani Academy dengan judul ‘Serve with Love’ atau buku saya dengan judul ‘Service A La Carte’, serta materi-materi pelatihan yang lainnya, seperti ‘Good Communication for Good Perfomance,’ ‘Great Personality,’ ‘Upgrade Your Selling Skill’ dan dua belas materi lainnya. Ingin mengetahui, memahami dan mengaplikasikan layanan ini di perusahaan/iInstansi Bapak/Ibu ? Silakan hubungi kami, dan kami siap untuk membantu. Salam 3SP Salam Senyum Sang Penyihir Sri Sumahardani srisumahardani3sp@gmail.com www.srisumahardani.com

EDISI 1049/ 23 - 29 SEPTEMBER 2019

METROPOLITAN

Generasi 1990-an tentu ingat lagu indah yang ditembangkan Katon Bagaskara dari KLA Project, ‘Negeri di Awan’. Lagu indah itu meledak di pasaran pada 1996, dan membuahkan dua penghargaan bergengsi BASF Award 1996 sebagai Lagu Terbaik dan Video Klip Terbaik VMI 1996. Sejauh itu masyarakat menikmati lagu itu, namun tidak ada yang tahu “Negeri di Awan” yang dimaksud Katon. Apakah itu benar ada atau hanya imajinasi Katon semata.

B

arulah 21 tahun kemudian, di acara Dieng Culture Festival 2017, Katon menjelaskan ‘Negeri di Awan’ yang dimaksudnya adalah Dataran Tinggi Dieng, Banjarnegara. Tempat wisata itu tidak asing lagi di masyarakat. Tempat wisata yang luar biasa indah yang telah terkenal hingga ke mancanegara. Baginya, Dieng ibarat desa yang berada di atas awan dengan kehidupan masyarakatnya yang harmonis. Bagi masyarakat Jabodetabek dan sekitarnya tak perlu jauhjauh ke Dataran Tinggi Dieng untuk menyaksikan pesona “Negeri di Atas Awan”. Karena di Lebak, Provinsi Banten pun ada “Negeri di Atas Awan” Citorek yang tak kalah memesona. Akhir-akhir ini sebagian masyarakat Jabodetabek seperti sedang ‘kesemsem’ dengan objek wisata baru itu. Persisnya terletak di Desa Citorek, Gunung Luhur, kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Mudah dicapai dari Jakarta karena akses jalan menuju ke sana sudah dibangun. Memang belum setenar Dieng. Maklum kawasan wisata itu masih sangat baru dan dikelola secara swadya masyarakat setempat. Belum terjamah investor swasta. Dipastikan, tempat wisata ini akan bersinar cemerlang jika digarap maksimal. Pemda Banten pun tengah menatanya, salah satunya dengan membangun infrastruktur di antaranya jalan menuju lokasi wisata yang hampir selesai, serta sejumlah fasilitas lainnya. Jalan mulus menuju puncak Gunung Luhur, sungguh menggem-

13

Pesona “Negeri di Atas Awan” Citorek

birakan masyarakat khususnya penduduk setempat yang tinggal di kawasan terpencil. Itu sebabnya pesona “Negeri di Atas Awan” Desa Citorek tidak diketahui masyarakat luas. Hanya warga setempat yang tahu.

Warga Buka Penginapan Sederhana

SEOLAH BERADA DI ATAS LANGIT Tapi kondisi kini berbeda setelah akses dibuka. Kalangan muda yang gemar adventure berdatangan dari berbagai penjuru. Umumnya warga Jabodetabek. Mereka juga tahu waktu terbaik untuk menyaksikan pesona luar biasa dari “Negeri di Atas Awan” adalah pukul 05.30 hingga 07.30. Karena itu jangan heran kalau di sana banyak tenda-tenda kecil wisatawan yang menunggu ‘serbuan awan’di pagi hari. Yang utamanya sudah pasti, selain menikmati anugerah luar biasa dari Tuhan, juga untuk selfiewefie serta membuat video dari berbagai angle. Berkat penyebaran foto-foto dan video itulah “Negeri di Atas Awan” Citorek menjadi viral dan mengundang penasaran masyarakat. Gubernur Banten Wahidin Halim pun meninjau tempat wisata yang menjadi buah-bibir masyara-

kat itu, pekan lalu. Seperti yang digambarkan semua orang yang pernah datang ke sana, Wahidin pun terpukau keindahan luar biasa yang disaksikannya. Kebetulan dia dan rombongannya datang pagipagi sekali ke sana dan menyaksikan awan seolah berada di bawah kaki mereka berdiri. “Pemandangannya luar biasa indah. Awan berkumpul terasa dekat di sisi kita. Kita seolah berada di atas langit. Seperti kita berada di pesawat dan melihat ke bawah,” ungkap Wahidin yang datang ke lokasi itu bersama rombongan Dinas PURR dan Dinas Pariwisata Provinsi Banten untuk memastikan pembangunan infrastruktur jalan dan fasilitas pada tempat wisata berjalan dengan baik. Selama ini, ungkap Wahidin, sudah banyak cerita tentang keindahan dari “Negeri di Atas Awan” Citorek yang beredar, namun baru kali ini lah dia berkesempatan untuk membuktikannya. (Diana Runtu)

Sejak delapan bulan lalu, seiring semakin banyaknya foto-foto dan video-video tentang “Negeri di Atas Awan” Citorek, Kecamatan Cibeber, Lebak, beredar di dunia maya, wisatawan pun berduyun-duyun ke sana. Wisatawan seolah tidak keberatan dengan masih minimnya fasilitas wisata yang tersedia seperti penginapan dan lain-lain. “Tempat wisatanya masih murni banget, masih minim fasilitas. Beruntungnya, akses jalan sudah bagus, jadi mencapainya bisa lebih mudah dibanding dulu. Meski masih minim, tapi saya rasa cukup sepadan ya dengan hasil yang kita dapat. Pemandangannya luar biasa. Bener-benar ini “Negeri di Atas Awan”,” ungkap Wanto yang datang bersama rombongannya naik motor. Dari Serang, Jawa Barat, sekitar 1,5 jam perjalanan. “Kami bangun tenda di sini,” tambahnya. Sadi, warga asli Desa Cibeber, mengaku, sangat bersyukur akhirnya keberadaan “Negeri di Atas Awan” Citorek terungkap ke masyarakat luas. Perkembangan yang terjadi di desanya selama delapan bulan terakhir, kata Sadi, sungguh luar biasa. Sejak dibangunnya akses jalan beton menuju desanya, jelas Sadi, perekonomian masyarakat berkembang cepat karena mudahnya sarana transportasi. Apalagi kemudian wisata “Negeri di Atas Awan” berkembang cepat. Beberapa warga mulai mengembangkan penginapan sederhana namun bersih dengan harga terjangkau. Sebagian warga lainnya berjualan aneka makanan. Jadi jangan takut kelaparan. “Sekarang ini banyak orang datang rombongan ke desa kami untuk menikmati “Negeri di Atas Awan”. Kalau Sabtu-Minggu bisa sampai ribuan, rata-rata 2000 an orang, sampai-sampai lokasi parkiran nggak muat,” ucap Sadi dengan wajah semringah. Dulu Desa Citorek cukup terpencil dan tidak mudah dicapai. Jalanan yang ada adalah jalanan seadanya yang bebatuan dan becek jika terkena hujan. Namun sekarang jalan mulus beton telah menembus Citorek Atas sekaligus menyingkap keberadaan “Negeri Di Atas Awan” kepada dunia. Ketika kita berada di Lebak, tidak hanya mendapat satu objek wisata, namun masih ada beberapa objek wisata alam lainnya yang letaknya berdekatan. Misalnya, di dekat “Negeri di Atas Awan” , ada objek wisata Curug Kadupunah. Lokasi wisata air terjun ini berada di kawasan Taman Nasional Curug Kadupunah. Di samping Curug itu juga terdapat lubang besar bekas penambangan emas peninggalan Antam. Selain itu, ada tempat wisata kebun teh Cikuya, Curug Ciporolak yang sudah sejak lama terkenal serta yang terbaru wisata alam pohon damar. Ketiga tempat wisata itu berada di Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Bagi yang penasaran dengan kehidupan suku Baduy, bisa langsung ‘merapat’ ke sana karena “Negeri di Atas Awan” Citorek berdekatan dengan wisata suku Baduy. (Diana Runtu)


14 Kenapa harus berburu lokasi wisata indah hingga keluar negeri, padahal Indonesia yang begitu luas, memiliki begitu banyak objek wisata indah, baik yang masih murni maupun yang telah ditata cantik. Hal itu juga disadari oleh penyanyi jazz Andien dan Nadine Chandrawinata. Dalam banyak kesempatan berlibur, keduanya kerap kali lebih memilih mengunjungi berbagai tempat wisata indah yang berada di dalam negeri.

SUDUT PANDANG

EDISI 1049/ 23 - 29 SEPTEMBER 2019

Eksplorasi Tempat Wisata Dalam Negeri

EDISI 1049/ 23 - 29 SEPTEMBER 2019

SOSIALITA

Dekranasda Gianyar Lestarikan Warisan Budaya

3

A

ndien misalnya, belum lama ini mengunjungi sejumlah tempat wisata di Nusa Tenggara Timur seperti Sumba, Maumere, dll. Sementara Nadine, jangan ditanya lagi, karena selain memang penggemar traveling ‘kelas berat’ dia juga pengasuh program jelajah wisata alam di sebuah stasiun televisi nasional. Maka tak heran kalau hari-harinya banyak disibukkan dengan mengunjungi tempattempat wisata alam di berbagai tempat di Indonesia. “Indonesia memiliki banyak destinasi wisata lokal yang menarik, nggak kalah dengan di luar negeri. Berkunjung ke berbagai tempat di Indonesia kita bukan hanya melihat keindahan tempatnya tapi juga adat istiadatnya. Itulah kenapa aku selalu senang mengeksplorasi tempat-tempat wisata di dalam negeri,” tutur Andien yang menyukai wisata alam. Nusa Tenggara Timur misalnya, memiliki banyak sekali tempat eksotis yang telah dikunjungi Andien. Seperti Pulau Flores, Rote dfan Sumba. “Tempat-tempat itu memiliki pantai-pantai yang sangat indah. Aku suka pantai, Kawa (anak Andien) juga sangat menikmati bermain di pantai. Belum seni budayanya, aku sangat menikmati sekali,” tambah Andien yang mengaku telah beberapa kali berlibur ke NTT. Tapi Bali, kata wanita bernama lengkap Andini Aisyah Haryadi ini, adalah tempat wisata favoritnya. Tak heran kalau dia dan keluarganya kerap kali bolak-balik Pulau Dewata untuk mengisi liburan. Tidak bosan. Karena, ucap Andien, begitu banyak tempat menarik di sana. Di mata Andien, pariwisata Bali lengkap, mulai dari objek wisatanya, seni-budaya hingga pantai-pantainya. Hobi Andien yang gemar traveling ini juga mendapat dukungan dari sang suami, Irfan Wahyudi atau akrab disala Ippe. Bersama anak semata wayang mereka, Anaku Askara Biru (Kawa) yang berusia hampir 3 tahun, Ippe kerap menemani Andien mengunjungi berbagai tempat wisata di dalam maupun luar negeri. “Aku kerap ajak Kawa ikut sekaligus mengenalkannya pada alam dan belajar mencintai alam,” kata Andien. Bagi Andien, liburan yang me-

Andien dan Kawa pengegmar pantai

nyenangkan itu yang terprogram dengan begitu berbagai hal bisa dipersiapkan secara matang. Apalagi dirinya selalu membawa Kawa sehingga persiapan pun harus detail. “Yang pertama adalah kumpulkan informasi sebanyak-banyak tentang tempat yang akan dituju, termasuk penginapan yang nyaman, dll. Selanjutnya membuat persiapanpersiapan,” jelasnya. Soal inspirasi lokasi wisata, katanya, bisa datang dari mana saja, termasuk juga usulan dari sang suami. Di luar itu, katanya, ada juga acara liburan yang ‘dadakan’ dalam artian dilakukan saat bekerja. Seperti beberapa waktu lalu ketika dirinya ikut memeriahkan Maumere Jazz Fiest Flores. Kesempatan itu sekaligus digunakan Andien untuk menikmati liburan mengasyikan bersama keluarganya di Flores. “Aku malah sempat ke kampung penenun Lepo Lorun, di sini banyak motif tenun-tenun cantik,” katanya. HOBI DAN BISNIS Nadine Chandrawinata, Putri Indonesia 2010, juga menyukai wisata alam, khususnya wisata bahari. Mengaku tidak bisa berdiam lama di rumah, ia menjelajah ke banyak tempat wisata alam di Indonesia juga luar negeri. Kebetulan juga dia mengasuh program wisata alam di televisi sehingga hasratnya untuk terus mengekplorasi tempattempat indah dan unik di Indonesia, tersalurkan. Lebih beruntung lagi, karena hobinya ini mendapat dukungan dari sang suami, Dimas Anggara yang juga sama-sama mencintai alam. “Aku tuh hobi banget dengan traveling , menjelajah keindahan berbagai tempat. Bukan hanya di Indonesia tapi juga di luar negeri. Aku beryukur beberapa waktu terakhir ini perkembangan pariwisata, khususnya wisata alam dan bahari sangat menggembirakan,” ucap Nadine yang juga Duta Wisata

Bahari 2017. Kecintaannya pada wisata bahari jugalah yang menginspirasi dirinya untuk membangun bisnis yang ‘tak jauh-jauh’ dari wisata bahari. Saat ini dia bersama keluarganya �mengelola Raja Ampat Dive Resort, Papua Barat. Bisnis ini, kata Nadine, sudah berjalan beberapa tahun dan menunjukkan perkemban-

Andien-Kawa

gan yang baik. Kalau awalnya pada 2012 baru memiliki tiga villa, kini sudah berkembang menjadi belasan bangunan. Perkembangan bisnis ini tentunya tak lepas dari terus berkembangkan pariwisata Raja

Ampat. “Namanya bisnis tak selalu mulus. Biasa saja lah. Malah diawal-awal waktu baru belajar bisnis sempat merugi juga. Tapi maju terus aja, belajar dari pengalaman,” tambahnya. (Diana Runtu)

Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Gianyar, mengajak perajin binaannya, tenun tradisional ‘Cap Menuh’ dan ‘Arimasta Silver’ turut berpartisipasi pada Pameran Karya Nusantara (Kriyanusa) 2019. Pameran yang mengusung tema “Peningkatan Daya Saing Produk Kerajinan Melalui Pengembangan Kreativitas dan Kewirausahaan” ini berlangsung selama 5 hari (11- 15/9) di Gedung Balai Kartini, Jakarta.

M

enurut Ketua Dekranasda Gianyar Ny. Ida Ayu Surya Adnyani Mahayastra, pameran nasional yang memamerkan aneka kerajinan khas berbagai provinsi di Indonesia kali ini dirangkaikan dengan Rakernas Dekranas 2019 dan telah dilaksanakan sehari sebelumnya (10/9), di lantai 16 Gedung Serba Guna Jenderal AH Nasution Kementerian Pertahanan RI, Jakarta. Rakernas dibuka oleh Ketua Umum Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) Ny. Mufidah Jusuf Kalla didampingi Megawati Sukarno Putri. “Tema Rakernas tahun ini “Bekerja dengan Hati untuk Memajukan Kerajinan Indonesia”. Sesuai dengan tema pula, kami senantiasa berupaya mendorong pelaku industri di Kabupaten Gianyar untuk meningkatkan kualitas maupun kuantitas produk mereka. Hal ini agar para perajin

mampu meningkatkan daya saing UMKM serta ekonomi kreatif,” ujar Ny. Surya Adnyani Mahayastra. Ia menambahkan, pada Rakernas tersebut Ketua Umum Dekranas, Ny. Mufida Jusut Kalla juga menegaskan makna dari tema ‘Bekerja dengan Hati untuk Memajukan Kerajinan Indonesia’, yakni bertekad, bekerja keras, ikhlas tanpa pamrih untuk memajukan produk kerajinan guna memenangkan persaingan di pasar global. Industri kerajinan tumbuh sangat bervariasi dari skala mikro kecil sampai skala menengah dengan berbagai kendala yang ada seperti pemasaran, permodalan dan teknik produksi. Disinilah peran Dekranas daan Dekranasda sangat diperlukan, terutama dalam peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM). Selain itu juga, perlu program

pembinaan yang tepat sehingga pada gilirannya dapat menghasilkan produk kerajinan yang kreatif, berkualitas

dan berbasis tradisi dan budaya yang mampu menguasai pasar dalam neg-

eri dan internasional. Menyikapi pernyataan dari Ketua Umum Dekranas, menurut Ny. Adnyani Mahayastra berbagai upaya telah dilakukan pihaknya dalam upaya meningkatkan kualitas perajin di Kabupaten Gianyar. Rakernas ini juga menurut Ny. Adnyani Mahayastra sebagai suatu upaya menambah wawasan bagi Dekranasda Kabupaten Gianyar dalam upaya membina UMKM. Sehingga, produk kerajinan yang dihasilkan lebih berkualitas, memiliki nilai tambah, dan dapat bersaing di pasar nasional maupun internasional. Sebab, pada dasarnya produk hasil perajin di

daerah memiliki manfaat dalam upaya melestarikan warisan budaya kita sesuai kearifan lokal, yang dapat menumbuhkan kegiatan ekonomi kerakyatan. “Dalam pameran Kriyanusa ini selain kami memfasilitasi perajin mempromosikan dan memasarkan hasil kerajinan mereka. Disamping itu, kami juga berpartisipasi dalam kegiatan fashion show dengan menampilkan koleksi gaun malam rancangan desainer muda binaan Dekranasda Gianyar, Kadek Wira Dika Saskara,” imbuh Ny. Surya Adnyani Mahayastra bangga. Selanjutnya istri Bupati Gianyar Agus Mahayastra ini juga tidak lupa mengungkapkan rasa bahagia dan bangga, karena pada pembukaan pameran Kriyanusa, stan Dekranasda Kabupaten Gianyar dikunjungi oleh Ibu Negara Ny. Iriana Joko Widodo didampingi Ketua Umum Dekranas Ny. Mufidah Jusuf Kalla, serta beberapa pejabat negara lainnya. -ard


ESPRESSO GORO-GORO BK (11)

2

Waktu Amat keluar ke teras, untuk memberikan amp l o p go to n g Putu Wijaya r o y o n g i t u pada Bung Kar(so)no, yang bersangkutan sudah kabur. Kedua kursi yang dipakainya tidur sudah dirapikan ke tempatnya. Hanya di atas meja asbak penuh dengan puntung rokok plus bungkus rokok kretek yang sudah kosong.“Dia pasti mau menunjukkan bahwa dia sudah berjam-jam menunggu,” kata Amat. Bu Amat jatuh kasihan. “Mungkin dia kelaparan, Pak. Siapa tahu lagi cari makan di warung Nyoman sana. Coba lihat.” “Ah biar saja! Kita juga kan belum makan!” Tapi Amat pergi juga. Bu Nyoman, pemilik warung membenarkan, tadi ada seniman makan belum bayar.

“Katanya, nanti minta Pak Amat saja, sebab Ia tak bawa uang tunai. Mau bayar pakai kartu, ya saya minta maaf, nanti bayar lain kali saja kalau makan lagi. Tapi dia bilang tidak ada lain kali, sebab dia mau bunuh diri. Saya kan jadi kaget, Pak Amat!” Amat terkejut. “Dia bilang mau bunuh diri, Bu Nyoman?” “ Ya b u n u h d i r i ! S a y a j a d i takut. Terus dia buka cincin batu akiknya untuk bayar, tapi minta kembalian, karena katanya cincin itu harganya Rp 25 juta. Saya bilang belum ada yang belanja tapi dia lihat saya bawa uang lima puluh ribu sebab mau beli minyak ke situ, ya itu saja, katanya. Karena bingung saya kasih kan uang itu, tapi dia pakai lagi cincinnya, mungkin lupa. Lalu ngomong lagi yang bikin saya takut sekali, Pak Amat!” “Ngomong apa, Bu?” “Dia nunjuk ke pohon beringin itu lalu bilang, kalau saya

EDISI 1049/ 23 - 29 SEPTEMBER 2019

nya sudah ada lagi!” Amat ketawa. “Makan dulu di warung, habis lapar!” gantung diri di situ kelihatan “Jangan ketawa! Urus dulu tidak, ya? Kalau tidak ada yang dia, katanya mau pamit mati! thu, nanti ibu tolong laporkan, Saya kan jadi bingung!” ya. Nanti saya kirimi ibu jamu Amat yang sudah tambah geli pelaris. Begitu, Pak, Amat! Piki- menahan ketawanya. ran saya jadi kacau. Badan saya “Pamit mati?” panas dingin sampai sekarang!” “Ya! Tetangga juga pada denBu Nyoman nampak pucat. gar. Mereka juga ketakutan, Amat malah ketawa. Ia buka m a l a h a d a y a n g m a u l a p o r amplop mengembalikan uang polisi!” Bu Nyoman serta membayar Amat kaget. makan Karsono. “Pamit mati itu kan ungkapan “Jangan takut, Bu Nyoman, orang Jawa yang jadi pemimpin teman saya itu bekas pemain untuk menunjukkan dia bukan k e t o p r a k . M e m a n g h o b i n y a lagi milik diri dan keluagnya, m e l a w a k d e n g a n n g a g e t i n tapi milik rakyat?” orang.” “Saya tahu, Pak! Itu kearifan Tapi Bu Nyoman masih terus lokal Jawa! Tapi ini, dia mau ketakutan. Karena lapar, Amat bunuh diri!” makan dulu, baru pulang. Amat terkejut. Dia bergegas Ternyata di teras rumah ada mau ke teras. Bung Kar(so)no. Lagi tiduran “Tunggu! Bapak mau apa?” kembali di kursi, sama seperti “Mau bilangin hidup ini bukan yang Amat pergoki sebelumnya. panggung ketoprak!” Untuk amannya, Amat kem“Maksud Bapak apa?” bali masuk rumah leewat be“Jangan ngomong pelesetan di lakang. Bu Amat langsung mem- luar panggung! Dia tidak boleh bentak. melawak di depan ...” “Bapak ke mana saja? Orang“Jangan!”

“Kok jangan?” “Pokoknya jangan!” “Terus?” “Berikan saja amplop itu!” “Ia tidak butuh uang! Dia putus asa kehilangan harga dirinya!” “Tidak ada orang yang tidak butuh uang, Pak! Harga dirinya justru sedang kembali sekarang! Karena itu dia menolak Bapak kasih uang! Tapi bagaimana bisa pulang setelah tahunan meninggalkan rumah tanpa bawa uang? Pasti malu! Ya tidak?!” Amat terhenyak. “Ya, tidak?” Amat bingung. “Ya, tidak?” Amat tambah bingung. “Jadi baiknya, bagaimana?” “Cepat kasihkan amplop itu!” “Kalau dia menolak?” “Pasti menolak! Tapi katakan uang itu bukan untuk dia, tapi untuk istri dan anaknya!” “Kalau dia menolak?” “Berarti dia menentang gotong-royong! Menentang Eka Sila! Menentang Panca Sila! Menentang BK!” Amat merogoh amplop dari sakunya “Cepat!!!”

Literasi Digital dalam Potret Keluarga Masa Kini

Ni Luh Putu Ariani

Keluarga adalah harta yang paling berharga, sedangkan literasi adalah bekal untuk kita menjadi berharga. Kedua hal tersebut nyaris berbeda, tetapi saling berkaitan. Keluarga yang literat akan menjadikan penerus keluarga menjadi penuh akan ide dan inspirasi kehidupan. Keluarga secara sederhana terdiri atas ayah, ibu, dan anak. Orangtua memiliki peran untuk mengarahkan, mendampingi, dan mengajarkan anak untuk memiliki budaya literasi sejak

bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

dini, sedangkan anak memiliki dedikasi untuk terus menambah wawasan dan pemahaman melalui literasi agar tetap harmonis dalam keluarga ataupun di masyarakat. Adanya dunia dalam genggaman berupa daring yang menghapus batasbatas antar wilayah secara maya. “Mendekatkan yang jauh, dan menjauhkan yang dekat” bukan kalimat tanpa makna pada zaman milenial seperti sekarang ini karena hal seperti itu dominan terjadi pada keluarga masa kini. Orangtua asyik bercengkerama dengan koleganya di dunia maya, anak-anaknya tidak mau kalah sibuk memainkan gawai tanpa dibimbing oleh orangtuanya, seperti kalimat “Anak senang, orang tua tenang”. Era digital kini tanpa kita sadari menjadi penyumbang permasalahan baru dalam kehidupan sehari-hari yang disebabkan oleh kurangnya kemampuan dalam menyaring informasi yang ada, dan kurangnya kesadaran penggunaan sosial media secara tepat guna menyebabkan banyak kasus-kasus dalam bersosial media merajalela terjadi. Aktivitas bermedia sosial yang intens tanpa dibekali dengan pengetahuan dan etika, dan kurangnya penanaman

karakter yang adiluhung menjadi sangat riskan bagi generasi muda. Perlu keterlibatan orangtua dalam mengawasi anak-anaknya terkait penggunaan media sosial. Dalam sosial media apapun bisa ada dan bisa terjadi dari unggahan yang positif hingga unggahan yang negatif ada di sana. Perlu adanya inisiatif dan inovasi untuk mengenalkan budaya literasi sejak dini mulai dari lingkungan keluarga, dengan penggunaan media yang relavan dan dikombinasikan dengan penanaman karakter bagi anak sehingga hadir generasi emas sebagai penerus bangsa sekaligus masa depan keluarga. Berkembangnya peralatan digital dan akses akan informasi dalam bentuk digital mempunyai tantangan sekaligus peluang. Teknologi digital memungkinkan orang untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan keluarga dan teman dalam kehidupan sehari-hari. . Literasi digital adalah ketertarikan, sikap, dan kemampuan individu menggunakan teknologi digital, dan alat komunikasi untuk mengakses, mengelola, mengintegrasikan, menganalisis, dan mengevaluasi informasi, membangun pengetahuan baru, membuat, dan berkomunikasi dengan orang lain agar

dapat berpartisipasi secara efektif dalam masyarakat. Literasi digital sebetulnya dapat dimulai dari lingkungan terdekat, yakni keluarga. Keluarga adalah lingkungan utama dan pertama seorang anak. Orangtualah yang paling awal mengenal anak-anaknya. Keberhasilan membangun literasi digital merupakan salah satu indikator pencapaian dalam bidang pendidikan dan kebudayaan. Oleh karena itu, literasi digital merupakan kecakapan (life skills). Penanaman literasi digital di lingkungan keluarga sejak dini akan menciptakan tatanan masyarakat dengan pola pikir dan pandangan yang kritis-kreatif. Hal itu perlu dilakukan dengan cara proaktif dan produktif dalam berkarya, orangtua pro-aktif menanamkan etika dan nilai budi pekerti dalam menggunakan sosial media sehingga penyalahgunaan dan permasalahan sosial media bisa diminimalkan.

Literasi digital memiliki peran strategis untuk penembangan diri, dan peningkatan perekonomian dalam keluarga. Literasi digital sama pentingnya dengan membaca, menulis, berhitung, dan disiplin ilmu lainnya. Melalui penerapan dan memperkenalkan literasi digital dalam keluarga komunikasi sesama anggota keluarga terjalin lebih efisien, produktif dan aktif. Mampu memanfaatkan era digital dengan optimal bukan tidak mungkin bisa menjalani pekerjaan dengan tetap berkumpul dengan keluarga di rumah untuk mengawasi buah hati sepeti membuka online shop, menjadi bloger bahkan editor. Era digital harus dimanfaatan dengan bijak agar tidak menjadi budak oleh digital. Ni Luh Putu Ariani Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Hindu STKIP Agama Hindu-Amlapura

KATA HATI: Rubrik ini khusus untuk menuangkan ide/pemikiran/gagasan dalam bentuk tulisan. Tema terkait wanita dan keluarga serta tidak mengandung unsur SARA. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter. Lampirkan juga foto close up (bukan pasfoto). Cantumkan nama lengkap, profesi, nomor hp, dan alamat email. Naskah dikirim ke redaksi@cybertokoh.com, redaksitokoh@yahoo.com.

Penanggung Jawab/Pemimpin Redaksi: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Iklan Denpasar: IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti. Buleleng: Wiwin Meliana. Jakarta: Diana Runtu. NTB: Naniek Dwi Surahmi. Desain Grafis: ­I Made Ary ­S upratman. Manajer Sirkulasi dan Iklan: I Ketut Budiarta, Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama, Hariyono, Ayu Wika Yuliani. Se­kretariat: Ayu ­Agustini, Putu Agus Mariantara. Ombudsman: Jimmy Silalahi. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­merah ­Barat 21 G Jakarta Pusat 10270–Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257. Surat Elektronik: info@cybertokoh.com, redaksi@cybertokoh.com, iklan@cybertokoh.com. Bank: BRI ­Cabang ­Gajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

EDISI 1049/ 23 - 29 SEPTEMBER 2019

Bidang pariwisata masih menjadi sektor unggulan di kabupaten Buleleng. Berbagai objek wisata diperkenalkan kepada pengunjung lokal maupun mancanegara, mulai dari wisata alam, wisata budaya, maupun wisata budaya. Beberapa tahun belakangan di beberapa daerah mulai berkembang wisata buatan dengan memadukan panorama alam dan kreatifitas sehingga menjadi spot swafoto yang digemari oleh masyarakat.

K

etut Sudiharta salah satunya pelaku wisata yang ada di desa Pedawa. Berawal dari usaha yang dimilikinya sebagai pengusaha penghasil bubuk kopi Moola Pedawa dengan cara tradisional. Keinginannya untuk mengenalkan potensi yang dimiliki oleh desa Pedawa semakin besar dengan membuat objek wisata Kubu Hobbit. Objek wisata swafoto ini berkonsep menyuguhkan rumah-rumah Hobbit yang terkenal di luar negeri sehingga pengunjung dapat berswafoto di beberapa spot agar hasil foto tampak instagramable. Bahkan setelah puas pengunjung juga dapat menikmati berbagai kuliner khas Pedawa seperti minum kopi dengan gula asli Pedawa, blayag, sate keladi, dan jaja laklak. “Ini adalah cara saya untuk mempromosikan potensi desa Pedawa,” jelasnya. Sempat viral beberapa tahun lalu dengan membludaknya kunjungan, dan diliput oleh berbagai media lokal maupun nasional, tidak dapat

SUDUT PANDANG

15

Kembangkan Agro Wisata Plantation Kopi dimungkiri kunjungan wisatawan saat ini mulai menurun. Penurunan jumlah kunjungan, kata Sudiharta disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya krisis ekonomi global. Selain itu, akses jalan yang tidak dapat dilalui oleh bus-bus pariwisata membuat kunjungan wisatawan dari luar daerah tidak bisa menikmati keindahan Kubu Hobbit. Selain itu, akses internet yang belum menjangkau desa Pedawa juga menjadi salah satu faktornya. “Animo masyarakat untuk wisata swafoto memang hanya sesaat, maka dari itu kami selaku pelaku wisata lokal harus terus berinovasi agar wisata yang kami bangun ini tidak mati,” ungkapnya. Untuk kembali menarik minat pengunjunga, Sudiharta kembali berencana akan membuat agrowisata salah satunya plantation kopi. Wisatawan baik lokal dan mancanegara akan diberikan kesempatan untuk memetik dan mengolah kopi secara langsung hingga menjadi bubuk kopi yang bisa langsung dinikmati ataupun dibawa pulang. “Pengunjung akan kami berikan memetik dan mengolah kopi dari green bean sampai menjadi kopi bubuk. Setiap orang kami batasi hanya dapat memetik hingga 200 gram,” imbuhnya. Selain wisata petik kopi, pihaknya juga akan menyiapkan beberapa wisata lain seperti wisata petik jeruk, durian dan budidaya tanaman vanili semi modern. Menurutnya nilai jual vanili saat ini sangat tinggi dan belum

banyak petani yang beralih untuk menanam sehingga dengan adanya wisata ini dirinya berharap dapat memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai budidaya vanili. Untuk wisata swafoto juga terus

benahi dengan penambahan wahanawahana baru sehingga lebih menarik. Sudiharta juga mengungkapkan hingga saat ini dukungan pemerintah baik desa maupun kabupaten sangat luar biasa. Dukungan diberikan melalui

promosi-promosi di berbagai media. “Ini juga menjadi motivasi kami untuk terus mempromosikan budaya dan potensi yang dimiliki desa Baliaga secara umum dan desa Pedawa secara khusus,” tandasnya. (Wiwin Meliana)

Mendongeng Lima Menit Man Meri (1)

Di sebuah desa terpencil di Bali tinggal seorang anak laki-laki. Namanya I Nyoman Memeri, disingkat Man Meri. Ia hidup sebatang kara. Dua kakaknya meninggal ketika dilahirkan. Ayahnya meninggal sewaktu ia berumur lima tahun. Setahun kemudian menyusul ibunya. Sebelum mengembuskan napas terakhir, ibunya berpesan, “Nyoman, anakku sayang! Ibu tidak punya apa-apa. Ibu hanya punya seekor memeri yang kupungut waktu kecil. Sayangilah dia dan peliharalah baik-baik!” Lama benar Man Meri hidup dalam kesedihan. Sejak kecil ia ditempa untuk hidup mandiri. Ia harus sanggup bekerja menggantikan ayah dan ibunya. Ia harus mampu menggarap tanah sempit, tanah garapan ayahnya. Ia hidup dari hasil tanah itu. Teman satu-satunya adalah Memeri, anak bebek yang sangat disayanginya. Anak bebek itu sangat patuh dan setia. Kalau Man Meri makan, anak bebek itu juga makan di sebelahnya. Kalau Man Meri bekerja di kebun, anak bebek itu juga ikut ke kebun. Kalau Man Meri tidur, anak bebek itu juga tidur di telapak kaki majikannya. Di antara mereka berdua seolah-olah terdapat ikatan batin yang tak dapat dipisahkan. Seperti biasa, suatu pagi Man Meri mencangkul di kebunnya. Ikut pula si anak bebek bermain-main di sebelahnya. Anak bebek itu seakan-akan ikut membantu bekerja. Ia melompat-lompat sambil bernyanyi, kwik, kwik, kwik….! Sedang asyiknya Man Meri mengayunkan cangkul, tiba-tiba memeri itu melompat ke tanah yang gembur. Braaak…! Tubuh anak bebek yang nakal itu hampir kena cangkul. Untunglah cangkul itu hanya menyerempet sayapnya. Empat daun helai bulunya gugur. Kwik, kwik,

kwik….! Kwik, kwik, kwik…! Si Memeri terkejut ketakutan, dan Man Meri sedikit marah. “Hai, Meri! Jangan mengganggu! Kau pulang saja!” teriaknya. Anak bebek yang gemetar itu mengerti apa yang dimaksud majikannya. Ia pun pulang berlari-lari sendirian. Menjelang matahari tenggelam, Man Meri ingat kepada anak bebeknya. Ia harus memberi makan. Man Meri pun pulang tergopoh-gopoh. Di depan pintu gubuknya ia memanggil teman kesayangannya. “Ri, ri, ri…! Ri, ri, ri….!” Di tunggu-tunggu tak ada jawaban kwik, kwik, kwik. Ia pun mencari anak bebek itu di dalam gubuk. “Ri, ri, ri…!” Juga tak ada jawaban. Man Meri mulai khawatir. Jangan-jangan teman akrabnya itu tersesat di jalan. Ia pun balik menyusuri jalan setapak ke kebunnya. Ia bertanya kepada setiap tetangga, “Bapak, Ibu! Adakah melihat anak bebek saya?” “Tadi kulihat ia berlari ke timur laut,” jawab tetangganya itu. Walaupun hari mulai gelap ia lanjut mencari kawan karibnya ke timur laut. “Bapak, Ibu! Adakah melihat anak bebek saya?” “Tadi kulihat ia berlari ke timur laut,” jawab tetangga berikutnya. Hari sudah gelap. Man Meri tidak bisa melihat jalan setapak lagi. Kalau ia melanjutkan perjalanan, ia akan menjumpai semak-semak lebat yang ditumbuhi pohon-pohon besar. Konon tempat itu sangat angker. Walaupun ia tidak takut akan tempat angker, namun ia sadar, pencariannya akan sia-sia. Ia tidak akan melihat bayangan dan juga tidak akan melihat anak bebek itu. Setelah berpikir panjang, ia pun memilih kembali pulang. Besok pagi-pagi benar ia akan melanjutkan pencariannya. Walaupun pikirannya terganggu, ia mendoakan, semoga anak bebek kesayangannya itu mendapatkan tempat tidur yang aman. “Besok kita pasti berjumpa, sayangku!” katanya.


SUDUT PANDANG

16

EDISI 1049/ 23 - 29 SEPTEMBER 2019

Jangan Gunakan Tarian Sakral Raih Rekor Muri

Gubernur Bali Wayan Koster menyebut seni budaya yang ada di Bali bukan seni biasa, melainkan berakar dari karya yang diciptakan untuk kepentingan upakara. Di mana kepentingan agama dan upakara agama dijalankan dengan satu tradisi adat istiadat yang juga diisi dengan unsur seni. “Itulah kelebihan kita di Bali, ada gamelan serta tarian. Tariannya bersifat sakral karena dipentaskan saat ada upacara agama,” kata Gubernur Koster di hadapan awak media seusai prosesi ‘Penandatanganan Keputusan Bersama Tentang Penguatan dan Perlindungan Tari Sakral Bali’, di Rumah Jabatan Gubernur Bali, Jayasabha, Denpasar, pada Selasa (17/9) pagi. Ia melihat, banyak seni tari sakral yang banyak bergeser dan mulai dipentaskan untuk kepentingan komersialisasi. Dipentaskan di sembarang tempat bahkan dijadikan alat untuk mendapatkan penghargaan seperti Rekor MURI. “Kondisi ini kami anggap desakralisasi, yang akan menurunkan kesakralan, akan menggeser dan merusak tatanan seni budaya yang diwariskan leluhur. Untuk itulah dalam rangka menguatkan adat dan kebudayaan lokal, saya pandang penting untuk memprioritaskan menjaga, melestarikan dan memelihara tatanan seni tradisi yang kita punya, khususnya tari sakral,” ujar Gubernur kelahiran Desa Sembiran, Kabupaten Buleleng ini. Gubernur menegaskan, masyarakat juga perlu memahami pentingnya hal ini, dan memang harus dijaga bersama kesakralannya, sebagai suatu karya kreatif yang dibuat untuk upakara

keagamaan, adat, agama dan budaya dalam satu kesatuan. Namun demikan, Ketua DPD PDI Perjuangan Bali ini tak menampik pula bahwa banyak seniman yang mendapatkan inspirasi untuk mengembangkan suatu tarian baru dari tarian-tarian sakral tersebut. Langkah ini sama sekali bukan untuk mengekang kreativitas, seniman, sanggar seni, serta sekaa yang ada di Bali. “Silahkan berkreasi dengan berbasis kepada seni tradisi sakral, namun tentu dibedakan dari garapan dan kemasannya. Namanya pun beda. Ini semata-mata untuk kepentingan penguatan kesakralan tari tradisi kita, agar kita punya ‘pagar’ untuk mengontrol hal tersebut. Mudah-mudahan ini jadi langkah penting kita untuk memajukan kebudayaan di Bali, ” katanya lagi. Dalam kesempatan yang sama, Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati (Cok Ace) juga menyampaikan rasa apresiasinya dengan kesepakatan yang ditandatangani oleh berbagai pihak dan lembaga yang berkepentingan. “Jika saya mengambil sudut pandang seniman, maka akan sangat berbeda orientasinya jika kita membawakan tarian yang sakral. Ini karena orientasinya 100 persen adalah persembahan kepada Tuhan, bukan untuk menghibur apalagi komersil. Kalau demikian sudah menyimpang namanya,” ujar pria yang juga seniman tari ini. Sementara itu, Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar Prof I Gede Arya Sugiartha menyebut daftar tarian yang disakralkan tersebut sudah melaui

kajian antara lain melibatkan tim dari ISI Denpasar, dinas Kebudayaan provinsi Bali serta Majelis Pertimbangan dan Pembinaan Kebudayaan (Listibya) Provinsi Bali. “Kesepakatan ini tentu akan diteruskan dengan sosialisasi lebih lanjut ke masyarakat, agar tidak terjadi salah pemahaman. Sekali lagi ini bukan mengekang kreativitas, namun upaya untuk mendudukkan seni sakral ini di tempat yang semestinya. Unsur nilainya bisa berkembang lagi di masyarakat,” urainya. Di kesempatan tersebut juga, Budayawan Prof Dr Made Bandem menyebut pendataan tarian sakral yang disusun tersebut berdasarkan kepada rumusan di tahun 1971 dengan klasifikasi bertajuk ‘Wali, Bebali dan Bali-Balihan’ yang diartikan sebagai wali (sakral) atau bebali (upacara) dan balih-balihan (hiburan). “Tari wali dan bebali dapat ditarikan di tempat dan waktu tertentu. Tari wali dipentaskan di halaman bagian dalam pura dan tari bebali di halaman tengah (jaba tengah, red) jadi dapat dikategorikan sebagai tarian sakral. Sebaliknya tari balihbalihan ditarikan di halaman luar pura (jaba sisi, red) dalam acara yang bersifat hiburan lebih ditekankan kepada sisi artistiknya dan bisa dipentaskan di tempat lain, untuk pariwisata dan lainnya,” ujar Prof Bandem. Dilanjutkan Prof Bandem, dalam data mutakhir yang disusun pada tahun 1992 oleh Listibya dimana terdaftar 6.512 kelompok seni di Bali yang 70 persen diantaranya mengusung tari kategori wali dan bebali. “Perkem-

Keputusan Bersama tentang Penguatan dan Pelindungan Tari Sakral Bali

bangan seni yang begitu pesat di Bali dan pada tahun 2015 kita menemukan 10.049 sekaa di Bali dan tetap sebagian besar pada wilayah tari wali dan bebali. Ini dasarnya sehingga perlu diproteksi lebih jauh lagi,” ujarnya. Dalam kesepakatan yang dibacakan oleh Kadis kebudayaan Provinsi Bali I Wayan Kun Adnyana, disebutkan bahwa dalam upaya Penguatan dan Pelindungan Kebudayaan Bali sesuai visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, melalui POLA PEMBANGUNAN SEMESTA BERENCANA, menuju BALI ERA BARU, maka dibuat Keputusan Bersama tentang Penguatan dan Pelindungan Tari Sakral Bali yang ditandatangani oleh Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali Prof. Dr. Drs. I Gusti Ngurah Sudiana M.Si, Bendesa Agung Majelis Desa Adat

(MDA) Provinsi Bali Ida Penglingsir Agung Putra Sukahet, Ketua Umum Majelis Pertimbangan dan Pembinaan Kebudayaan (LISTIBIYA) Provinsi Bali Prof. Dr. I Made Bandem, MA, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Dr. I Wayan Adnyana, S.Sn., M.Sn, dan Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha, S.SKar., M.Hum., serta disaksikan oleh Gubernur Bali Wayan Koster dan Sekretari Daerah Provinsi Bali Dewa Made Indra. Adapun Jenis tari yang dimaksud antara lain: Tari Rejang, Tari Sanghyang, Tari Baris Gede, Wayang Lemah, Topeng Sidakarya dan lain-lain dengan total 127 jenis tarian. “ Namun tidak menutup kemungkinan bisa bertambah lagi, dengan melihat aspirasi dan usulan masyarakat,” ujar Adnyana. (ast).

Terbitkan Perda Nomor 4 Tahun 2019

Pemprov Bali Serius dalam Penguatan Desa Adat

Pemerintah Provinsi Bali serius dalam penguatan keberadaan Desa Adat di Bali. Hal ini telah dibuktikan dari terbitnya Perda Provinsi Bali No. 4 Tahun 2019 tentang Desa Adat di Bali, yang secara resmi telah diberlakukan tanggal 4 Juni 2019. Selain itu, Peraturan Gubernur Bali No. 34 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Keuangan Desa Adat di Bali, juga telah diundangkan tanggal 17 September 2019. Bahkan, Pemprov Bali telah membuat Dinas Pemajuan Masyarakat Adat, yang diatur dalam Peraturan Daerah Provinsi Bali No. 7 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah No.10 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah, yang diundangkan tanggal 17 September 2019. Dan akan dibangun Kantor Majelis Desa Adat Provinsi dan Kabupaten /Kota Se-Bali yang akan dimulai pada tahun 2020. Hal ini disampaikan Gubernur Bali Wayan Koster melalui press rilis resminya, Rabu (18/9) di Denpasar. Disampaikan Gubernur Koster, Penguatan Desa Adat di Bali dalam Perda Provinsi Bali No. 4 Tahun 2019 tentang Desa Adat di Bali antara lain memberikan pengakuan dan penghormatan atas kedudukan dan peran Desa Adat yang sudah ada dengan keberagamannya sebelum dan sesudah terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. “Desa Adat berkedudukan di

wilayah Provinsi Bali. Desa Adat berstatus sebagai subyek hukum dalam sistem pemerintahan Provinsi Bali. Menjadikan Desa Adat sebagai pelembagaan dalam pelaksanaan tatanan kehidupan masyarakat Bali sesuai dengan kearifan lokal Sad Kerthi,” ungkapnya. Lebih lanjut, pengaturan yang jelas mengenai kategori Krama beserta swadharma (kewajiban) dan swadikara (hak) masing-masing terdiri atas : Krama Desa Adat, Krama Tamiu, dan Tamiu. Selain itu, perubahan status hak dan fungsi atas tanah Desa Adat harus dilakukan berdasarkan kesepakatan melalui Paruman Desa Adat/Banjar Adat bersangkutan. Ditambahkan Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Bali ini, penegasan dan perluasan tugas serta wewenang Desa Adat termasuk kewenangan lokal bersakala Desa Adat yang meliputi: 1. Mengatur, mengurus, dan mengayomi penyelenggaraan Parahyangan, Pawongan, dan Palemahan Desa Adat; 2. Memelihara dan mengembangkan sistem dan pelaksanaan hukum adat; 3. Menyelenggarakan Sabha Desa Adat dan Kerta Desa Adat; 4. Memajukan adat, agama, tradisi, seni dan budaya, serta kearifan lokal masyarakat Desa Adat; 5. Melaksanakan kegiatan sesuai dengan nilai-nilai Sad Kerthi; 6. Menyelenggarakan Pasraman berbasis keagamaan Hindu untuk pengembangan

Gubernur Wayan Koster

jati diri, integritas moral, dan kualitas masyarakat Bali; 7. Memelihara keamanan Desa Adat; 8. Mengembangkan perekonomian Desa Adat; 9. Menjaga keberlangsungan status hak atas tanah Padruwen Desa Adat; Serta menjaga kesucian, kelestarian, kebersihan, dan ketertiban Palemahan Desa Adat. “Memperjelas tugas dan kewenangan Pemerintahan Desa Adat yang terdiri atas Prajuru, Sabha Desa, dan Kertha Desa. Tak hanya itu, juga memperjelas tata kelola kelembaga Adat di Desa Adat meliputi : Paiketan Pamangku; Paiketan Serati; Paiketan

Wredha; Pacalang; Yowana Desa Adat; Paiketan Krama Istri Desa Adat; Pasraman; dan Sekaa dan Lembaga Adat lainnya. Mengatur dengan jelas Padruwen dan Utsaha Desa Adat. Mengatur Anggaran Belanja dan Pendapatan Desa Adat,” jelasnya. Selain itu juga diatur tata hubungan dan kerjasama Desa Adat : Kerjasama Desa Adat dengan Desa Adat lain; Kerjasama Desa Adat dengan Desa/ Kelurahan; Kerjasama Desa Adat dengan pihak lain. Sementara Peraturan Gubernur Bali No. 34 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Keuangan Desa Adat di Bali mengatur antara lain Pendapatan Desa Adat bersumber dari: pendapatan asli Desa Adat; hasil pengelolaan padruwen Desa Adat; alokasi APBD Provinsi; bantuan Pemerintah Kabupaten/Kota; bantuan Pemerintah Pusat; hibah dan sumbangan (dana punia) pihak ketiga yang tidak mengikat; dan pendapatan lain-lain Desa Adat yang sah. “Dana alokasi APBD Provinsi, bantuan Pemerintah Kabupaten/Kota, dan bantuan Pemerintah Pusat, ditransfer langsung ke rekening Desa Adat; tidak lagi melalui BKK (Bantuan Keuangan Khusus) ke Desa Dinas. Dengan Pergub ini penggunaan keuangan Desa Adat menjadi lebih terencana, terarah, dan akuntabel, sehingga Prajuru Desa

Adat dapat melaksanakan tugasnya dengan aman, nyaman, dan tidak dihantui ketakutan masalah hukum. Dana Desa Adat yang bersumber dari APBD Provinsi dapat digunakan untuk: membiayai operasional, menunjang kelancaran penyelenggaraan pemerintahan Desa Adat, dan meningkatkan pelayanan Krama Desa Adat,” tegas Gubernur asal Desa Sembiran, Tejakula, Buleleng ini. Dengan dibentuknya Dinas Pemajuan Masyarakat Adat, yang diatur dalam Peraturan Daerah Provinsi Bali No. 7 Tahun 2019, maka untuk pertama kali sepanjang sejarah Pemerintah Provinsi memiliki perangkat daerah yang khusus menangani urusan yang berkaitan dengan Desa Adat. “Majelis Desa Adat Provinsi dan Kabupaten/Kota Se-Bali akan disediakan kantor, dilengkapi dengan tenaga administrasi, peralatan kantor, dan biaya operasional untuk menunjang tugas Majelis dalam melakukan pembinaan dan pemberdayaan Desa Adat,” imbuhnya. Semua kebijakan tersebut merupakan bukti nyata kesungguhan Gubernur Bali dalam memperkuat Desa Adat sebagai jantung peradaban Bali sebagai implementasi Visi “Nangun Sat Kerthi Loka Bali” melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana menuju Bali Era Baru. (ast).

redaksi@cybertokoh.com, iklan@cybertokoh.com

cybertokoh

@cybertokoh

@cybertokoh

www.cybertokoh.com


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
tokoh-edisi-1049 by e-Paper KMB - Issuu