Skip to main content

tokoh-edisi-1039

Page 1

16

Edisi 1039/ 8 - 14 juLi 2019

Pemprov Bali akan Gencarkan Sosialisasi KB 4 Anak Pemerintah Provinsi Bali di bawah kepemimpinan Wayan KosterTjokorda Oka Artha Ardana Sukawati (Cok Ace) menindaklanjuti wacana untuk mengampanyekan program Keluarga Berencana (KB) Krama Bali dimana khusus untuk Krama Bali, dianjurkan untuk memiliki 4 (empat) orang anak. “Iimbauan ini secara jelas dituangkan dalam Instruksi Gubernur (Ingub) Bali no 1545 Tahun 2019 tentang Sosialisasi Program Keluarga Berencana (KB) Krama Bali,” tutur Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Bali Agung Sutha di Denpasar.

D

Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Bali Agung Sutha

ijelaskan lebih lanjut, Ingub tersebut merupakan penghormatan terhadap hak reproduksi Krama Bali yang didasar-

kan pada kearifan lokal yang telah berjalan turun temurun, serta untuk mewujudkan Krama Bali yang unggul dan keluarga yang berkualitas. “Penghormatan hak reproduksi

tersebut punya makna bahwa Krama Bali berhak untuk memiliki keturunan lebih dari 2 (dua) orang bahkan sampai 4 (empat) orang, yang sebutannya terdiri atas Wayan, Made, Nyoman dan Ketut,” papar Agung Sutha. Dengan demikian, keluarnya Ingub ini juga berarti menghentikan kampanye dan sosialisasi KB 2 (dua) anak cukup atau 2 (dua) anak lebih baik yang selama bertahun-tahun telah dijalankan. “ Instruksi ini diharapkan

bisa dijalankan oleh Bupati/walikota se-Bali , untuk bisa ditindaklanjuti oleh jajaran masing-masing terutama yang khusus menangani program keluarga berencana,” jelas Agung Sutha. “ Selain itu, dikeluarkannya Ingub ini sebagai salah satu aktualisasi dan pelaksanaan visi ‘Nangun Sat kerthi Loka Bali’ melalui pembangunan semesta berencana menuju ‘Bali Era Baru’,” tandasnya lagi. Sementara itu, Kepala Dinas Disdukcapil-KB Bali I Gusti Agung Ketut Kartika Jaya Seputra yang ditemui secara terpisah menyebut kondisi pertumbuhan penduduk Bali asli dalam beberapa tahun terakhir makin menurun. “Kita ketahui bersama saat ini populasi ‘Nyoman’ dan ‘Ketut’ sudah mulai langka, karena itu sesuai arahan Bapak Gubernur kami susun program untuk kembali kepada konsep dan pedoman keluarga warisan leluhur kita di Bali yakni anjuran

untuk 4 anak,” ucap Seputra. Angka bonus demografi ini terkait dengan pola pikir sebagian masyarakat di mana memiliki 2 orang anak dianggap sudah cukup yang ditunjang pula oleh kampanye masif selama bertahun-tahun oleh pemerintah. Dirinya juga meyakinkan bahwa program ‘KB Krama Bali’ ini akan disosialisasikan secara lebih intens dan efektif, menggandeng pula berbagai pihak agar bisa lebih menjangkau ke tatanan rumah tangga terutama pada pasangan muda yang sedang dalam masa subur. “Tentunya program ini tak hanya menganjurkan untuk sekedar punya lebih dari 2 anak, namun juga ada pertimbangan dari berbagai aspek keluarga berencana, seperti pengaturan kelahiran, jarak kelahiran, usia ideal, perlindungan, bantuan dan lainnya. intinya tetap berpegang pada koridor KB,” kata Seputra. (ast).

Bali dan Inggris Jajaki Kerja Sama Industri Kreatif Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan bahwa dukungan peningkatan kompetensi masyarakat di bidang bahasa dan industri kreatif sangat dibutuhkan masyarakat Bali, khususnya mereka yang bekerja di bidang pariwisata atau berhubungan dengan perusahaan asing. “Penguasaan bahasa Inggris yang baik akan mendukung masyarakat Bali yang bekerja di sektor perhotelan, transportasi, jasa wisata termasuk mereka yang akan bekerja di luar negeri atau di perusahaan asing. Saya minta Dinas Pendidikan dan Dinas Tenaga Kerja bisa bekerja sama menjalankan program ini,” ujar Gubernur Koster saat menerima audiensi Kedutaan Besar Inggris untuk Indonesia di Ruang Tamu Gubernur Bali, Kantor Gubernur Bali, Denpasar, Selasa (2/7). Gubernur Koster mengatakan, untuk industri kreatif, sesuai dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, pihaknya berkomitmen untuk mengembangkan industri kreatif berbasis budaya branding Bali. “Kami membutuhkan dukungan untuk pelaku industri kreatif yang bergerak di industri kerajinan rakyat,”

kata Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Bali ini. Head of Second Cities, Network and Strategy, British Embassy Jakarta, Samuel Hayes mengatakan, menyusul pertemuan dengan Wakil Gubernur Bali, Kedutaan Besar menegaskan kembali keinginannya memberikan dukungan untuk masyarakat Bali melalui program pelajaran bahasa dan program pengembangan ekonomi kreatif. Ia mengatakan, Inggris memiliki materi pembelajaran yang telah diakui oleh dunia dan bisa dimanfaatkan oleh Bali. “Di bidang ekonomi kreatif, Inggris terkenal dengan musik, film, seni dan ekonomi kreatif lainnya,” kata Hayes. Direktur British Council Indonesia, Paul Smith mengatakan, program ini bisa membantu para guru dan birokrat di lingkungan Pemerintah Provinsi Bali. “Bisa juga spesifik untuk sektor tertentu seperti Pariwisata yang menjadi industri utama di Bali,” kata Smith. Pertemuan ini dihadiri Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali I Putu Astawa dan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Bali I Ketut Ngurah Boy Jayawibawa. (ast).

Gubernur Koster saat menerima audiensi Kedutaan Besar Inggris untuk Indonesia di Ruang Tamu Gubernur Bali, Kantor Gubernur Bali

Wagub Cok Ace Harap Sarasehan PKB Beri Ide Baru Pembangunan Bali

Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati mengajak para akademisi, seniman dan generasi muda bisa menghasilkan ide-ide baru terutama untuk penguatan visi nangun Sat Kerthi Loka Bali yang digaungkan pemerintah Provinsi Bali. “ Saya harap kegiatan ini bisa secara serius bisa menggali makna dan filosofi yang terkandung dalam visi tersebut, sehingga bisa bermanfaat bagi masyarakat Bali kedepan,” tandas pria yang akrab disapa Cok Ace ini dalam pembukaan Sarasehan Serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) ke 41 di Gedung Citta Kelangen, institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar pada Selasa, (2/7) pagi. Dalam saresehan yang mengambil tema ‘Memutar Arah Angin, Pengarusutamaaan Kearifan Lokal Bali untuk Kesejahteraan Umat Manusia’ tersebut,

Cok Ace juga mengajak para peserta untuk menggali nilai-nilai kebudayaan Bali sesuai dengan tema yang diusung kali ini. “ Dalam konteks ini, kita memuliakan sumber-sumber daya angin, yang dapat dimaknai pula sebagai sumber nafas kehidupan yang memberikan jiwa bagi masyarakat Bali,’ papar penglisir Puri Ubud ini.”Khususnya jika dikaitkan dengan nilai-nilai kearifan lokal sebagai sebuah kebaikan untuk semua dalam konteks NKRI,” tambahnya lagi. Lebih jauh, Cok Ace menjelaskan bahwa Bentang alam Pulau Bali adalah wilayah yang minim mineral dan minus pula keragaman sumber daya alam. “ Namun pulau Bali dan masyarakatnya kaya akan nilai-nilai budaya, potensi kebudayaan yang merupakan modal yang sangat handal untuk disumbangkan bagi pembangunan

semesta,” tandas sosok seniman tari ini. “untuk itu, penting untuk menggali potensi budaya Bali agar bisa dirumuskan dan dimantapkan untuk nantinya bisa dimanfaatkan bagi orang banyak,’ tukasnya. Saresehan yang diprakarsai oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Bali bekerjasama dengan ISI Denpasar ini, diadakan sebagai salah satu agenda utama dalam gelaran PKB ke 41 kali ini. Sebagai keynote speaker, hadir Bambang Suwarno, akademisi Universitas Gadjah Mada. Lalu Ida Wayan Oka Granoka Gong maestro seni dan budaya, akademisi universitas Negeri Yogjakarta Prof. Dr. I Gusti Putu Suryadarma, MS serta Rektor ISI Denpasar Prof. Dr I Gede Arya Sugiartha, S.Skar,M.Hum. Sarasehan dihadiri kalangan akademisi, budayawan, seniman serta mahasiswa. (ast)

Wagub Cok Ace membuka Sarasehan Serangkaian Pesta Kesenian Bali ke 41 di Gedung Citta Kelangen, institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar

redaksi@cybertokoh.com, iklan@cybertokoh.com

cybertokoh

@cybertokoh

@cybertokoh

www.cybertokoh.com


2

ESPRESSO GORO-GORO BK (2)

“Nah sekarang habis minum kopi bergula garam, bagaimana rasanya?” Putu Wijaya Amat tersenyum. “Lain kali jangan naruh garam dekat kopi” “Kan ada tulisannya.” “Tidak kelihatan!” “Makanya biasakan nyimak sebelum bertindak.” “Sudah jangan dibahas lagi!” “Jangan suka keki sama Pak Made. Kita kan tetangga. Namanya juga beda kubu. Kalau beliau mancing-mancing ketawa saja. Kalau keki namanya kepancing. Sekarang masih keki?” “Sudah plong!” “Kalau begitu sekarang pijitin saya.”

Kunci lain dalam melatih anak untuk berpikir kritis adalah dengan memberikan kesempatan anak untuk sebanyak-banyaknya mengeksplorasi. Jangan dipaksakan, lakukan pelan-pelan untuk mengenalkan anak mengeksplor banyak hal. Eksplorasi bisa lewat beragam media, seperti buku, gambar, video, hingga pergi bermain ke ruang terbuka dan berinteraksi dengan sosial sekitar. Selanjutnya, Anda bisa mengajak anak berdiskusi tentang apa yang ia temui, amati dan rasakan. Melatih anak untuk berpikir kritis sebenarnya juga bisa diberdayakan dengan memanfaatkan nilai- nilai kearifan lokal Bali yang kita miliki. Misalnya melalui penerapan konsep Tri Pramana. Tri Pramana merupakan tiga kekuatan hidup untuk mengetahui dan meyakini sesuatu. Ketiga tri Pramana tersebut dimiliki oleh manusia sebagai makhluk yang paling sempurna untuk mengetahui hakekat kebenaran sesuatu, baik nyata, maupun abstrak.

bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

“Sekarang?” “Ya kapan lagi. Nanti keburu hilang pegelnya!” “Kalau memang sudah mendingan rasanya buat apa dipijit lagi?” “Kalau lagi pegel dipijit sakitnya enak. Tapi kalau tidak pegel dipijit itu jijai! Ayo, Pak, nanti tak kasih hadiah.” Mata Amat berkilat. “O, ya? Apa hadiahnya? Berapa kali?” “Pijit dulu!” “Siap! Ayo, mana kaklnya?” Amat langsung duduk di lantai mau memijit kaki Bu Amat. Cepat Bu Amat mengelakkan kakinya. “Jangan kaki, Pak!” “Lho, memang kenapa? Tadi katanya mau dipijit!” “Malu! Nanti dilihat tetangga. Pagi-pagi sudah pijit-pijitan! “Lho apa salahnya? Kita kan suami-istri? Meskipun sudah tua!” “Lho ini masih pagi, di teras

rumah lagi, memangnya .... “ “Memangnya apa? O, jadi mau di kamar?” “Memangnya saya ibu rumah tangga pemalesan yang suka memperbudak suami?!” Amat ketawa. “Tapi Bapak suka kok diperbudak istrinya!” Bu Amat berdiri mengelakkan kakinya yang diraih Amat lagi mau dipijit. Tapi sudah terpegang. Bu Amat langsung menyapa ke samping. “Aduuuh, mau ke mana Pak Made, pagi-pagi sudah ganteng sekali?” Amat terkejut, melepas kaki istrinya, sambil mengintip ke bawah meja dan berseru heboh: “Mana, mana kucingnya, kan sudah ditabrak turis waktu Pemilu bulan April yang lalu?!” Bu Amat ketawa. Amat berdiri dan menengok ke samping.

EDISI 1039/ 8-14 JULI 2019

“Mana Pak Made?” Bu Amat tak menjawab. Ia mengambil gelas kopi yang sudah kosong. Amat berbisik. “Mana Pak Made?” “Ya, mungkin masih tidur. Ini kan hari Minggu, Pak.” Amat kecewa membuat Bu Amat tertawa, lalu bergegas mau ke dapur. Amat ngedumel. “Syukurlah aku berhasil lagi bikin istinya Amat tertawa lagi, jangan cuma nangis bombay garagara tidak dipijit. Tapi eee giliran kita siap, di situ kabur.” Bu Amat muncul lagi. “Kalau mau mijit nanti malam saja!” “Ah, pepesan kosong!” “Lho nggak mau? Ada upahnya lho!” Amat menggumam. “Upahnya apa?” “Nanti kalau saya mimpi lagi ketemu Bung Karno, Bapak nitip pesan?!” Amat tertegun, lalu menjawab ketus. “Bungkam saja tetangga kita

Tri Pramana sebagai Dasar Berpikir Kritis Anak (2-habis) Dalam widhi tatwa disebutkan Tri Pramana terdiri dari; Praktyaksa Pramana, Anumana Pramana, dan Agama Pramana (Sabda Pramana). Praktyaksa Pramana Praktyaksa Pramana adalah cara mengetahui sesuatu (kebenaran) dengan cara melihat langsung melalui panca indra. Contohnya misalnya melihat matahari langsung, melihat bulan purnama pada malam hari, melihat matahari terbit, mencium harumnya bunga secara langsung, mendengarkan suara musik, merasakan sejuknya angin pada sore hari, dan lainnya. Anumana Pramana Anumana Pramana adalah cara mengetahui sesuatu (kebenaran) dengan cara melihat gejala-gejala atau tanda-tanda, berdasarkan perhitungan analisa yang logis dan sebagainya. Contohnya misalnya ada asap berarti ada api, ada angin manakala melihat dedaunan pada pepo-

deta dan pinandita, para rsi, orang tua kita dan sebagainya.

A.A.Ngr. Eddy Supriyadinata Gorda

honan yang bergerak-gerak, dedaunan basah di hutan berarti terjadi hujan, ada jejak telapak kaki manusia berarti ada orang, dan lain sebagainya. Agama Pramana Agama Pramana adalah cara mengetahui sesuatu (kebenaran) dengan cara mempercayai sumber-sumber yang pantas dipercaya, misalnya kitab suci weda, orang suci seperti pen-

Ketiga cara di atas (Tri Pramana) digunakan oleh umat Hindu untuk mengetahui kebenaran. Sesuatu dikatakan benar jika masuk akal dan bisa dipertanggung jawabkan. Pada umumnya ketiganya dalam agama Hindu dipercaya dapat digunakan untuk mengetahui Tuhan (Ida Sanghyang Widhi Wasa), namun konsep di atas dapat dikembangkan untuk melatih anak berpikir kritis. Dengan semakin derasnya arus informasi yang beredar, melatih anak berpikir kritis menjadi semakin penting dilakukan untuk menghindarkan mereka dari pengaruh buruk yang mungkin muncul. Banyak

yang radikal itu! Hoaknya bikin kita senewen itu!” “Kok gitu, nanti saya laporkan Bapak sama BK tidak mau hidup damai dalam berbeda!” Amat menoleh. “ Bu, Bung Karno itu orang besar. Sejarah kita! Dia berperan membebaskan tapi juga menyatukan negeri kita dengan menggali Pancasila yang membuat Bhinneka jadi Tunggal Ika. Jangan...” “Jangan apa?” “Jangan dipakai guyonan!” “Ini lanjutan mimpi saya tadi.” Amat tercengang. “Apa?” “Kata Bung Karno, jangan takutkan perbedaan karena kita memang Bhinneka, dalam banyak hal, tapi yakinlah meskipun berbeda kita dalam kesatuan!” Amat bengong. “Itu kata BK dalam mimpi ibu?” “Bukan, barusan tadi di dapur waktu saya bilang Bapak terus keki sama Pak Made yang kubunya beda dengan kita!”

cara yang dapat kita gunakan untuk melatih anak berpikir kritis. Beberapa contoh di atas hanyalah beberapa alternatif yang dapat digunakan. Hal yang penting untuk diperhatikan adalah jangan memaksa anak untuk berpikir keras di luar kemampuan dan minatnya. Anak yang merasa dipaksa akan cenderung pasif dan menghindar dari kegiatan berpikir. Akibatnya anak cenderung negatif. Hal lain yang penting juga adalah membiasakan anak untuk mencari tahu sendiri dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tepat. Jika anak terlalu cepat diberi tahu, ia cenderung pasif dan menerima begitu saja segala sesuatu. Anak yang sering dilarang akan berkembang menjadi anak yang takut membuat keputusan sehingga cenderung pasif dan dependen. A.A.Ngr. Eddy Supriyadinata Gorda

KATA HATI: Rubrik ini khusus untuk menuangkan ide/pemikiran/gagasan dalam bentuk tulisan. Tema terkait wanita dan keluarga serta tidak mengandung unsur SARA. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter. Lampirkan juga foto close up (bukan pasfoto). Cantumkan nama lengkap, profesi, nomor hp, dan alamat email. Naskah dikirim ke redaksi@cybertokoh.com, redaksitokoh@yahoo.com.

Penanggung Jawab/Pemimpin Redaksi: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Iklan Denpasar: IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti. Buleleng: Wiwin Meliana. Jakarta: Diana Runtu. NTB: Naniek Dwi Surahmi. Desain Grafis: ­I Made Ary ­S upratman. Manajer Sirkulasi dan Iklan: I Ketut Budiarta, Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama, Hariyono, Ayu Wika Yuliani. Se­kretariat: Ayu ­Agustini, Putu Agus Mariantara. Ombudsman: Jimmy Silalahi. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­merah ­Barat 21 G Jakarta Pusat 10270–Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257. Surat Elektronik: info@cybertokoh.com, redaksi@cybertokoh.com, iklan@cybertokoh.com. Bank: BRI ­Cabang ­Gajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

EDISI 1039/ 8-14 JULI 2019

SUDUT PANDANG

15

Kebersamaan yang Hangat dan Penuh Arti

Rumah merupakan tempat yang paling nyaman dan aman bagi saya dan keluarga kecil saya. “Bagi saya pribadi rumah juga mengandung makna dimana saya bisa tertawa lepas tanpa rasa malu. Rumah akan terasa hangat dengan adanya tawa riang dan canda keluarga , terlebih dilengkapi dapur yang nyaman beserta masakannya yang lezat,” ungkap I Gusti Ayu Shinta Chrisna, S.E., M.M., desainer papan atas Bali ini.

D

ikatakan oleh Shinta Chrisna, meski dirinya tipe orang rumahan , sayangnya ia tidak ahli dalam memasak. Untuk yang satu ini

jujur ia merasa sangat terbantu dengan adanya aplikasi online yang membantu pembelian makanan saat ini. “Nah hampir setiap hari saya dan suami bersama kelima anak kami,

termasuk liburan dipastikan kami menghabiskan waktu dengan berkumpul bersama. Kami GoJek-in makanan dan berakhir di ruang keluarga yang berdampingan dengan meja makan, dimana kami menghabiskan hidangan favorit dengan selera yang berbeda satu sama lainnya,” ujarnya. Duduk di satu meja, dengan tawa canda dan menikmati makanan kesukaan masing-masing, menurut Shinta Chrisna sudah cukup membuat ia dengan keluarga kecilnya menikmati kebersamaan yang hangat, bahagia, penuh arti dan pastinya menjadi memori yang indah. “Bicara ruang favorit, hmm… mengingat hobi saya. adalah menata rumah, semua spot saya jadikan asyik untuk menghabiskan senda gurau. Memang di rumah ada banyak ruang agar tidak bosan ,tapi

tetap yang terfavorit adalah ruang keluarga dimana ada TV besar dan bersebelahan dengan meja makan,” tuturnya istri dari Agus Umaryadi Udayana, B.Com., M.Ib., M.Bq. ini. Pada kesempatan bersama, Shinta Chrisna senantiasa berupaya membuat anak anaknya menggali dirinya sendiri. “Mereka bebas berekspresi, tidak ada keseragaman dalam menentukan makanan favorit, sebab mood mereka juga berbeda-beda. Jadi semua kami layani sesuai dengan keinginannya. Ini terjadi sesekali seperti saat malam minggu kami ingin santai bersama, semua bebas pesen food , “ tutur ibu dari Alicia Catharina Udayana, Alvino Devananda Udayana, Alodia Della Conchetta Udayana, Alexandria Fortunia Cleopatra Udayana, dan Alana Valentia Violetta Udayana ini. Namun, katanya lebih lanjut dalam keseharian mereka

selama ini. sangat menikmati hidangan rumahan, apapun yang disediakan di rumah. Selain itu kami juga sangat menikmati momen spesial seperti Hari Raya Galungan, ada beberapa food yang paling kami tunggu-tunggu untuk mencobanya bersama, diantaranya lawar, urutan dan be genyol. “Ketika tahun baru kami menunggu ikan bakar dengan sambal mentah . Memang, paling asyik menghabiskan waktu santai dengan malam bersama semua anggota keluarga. Ini sekaligus menjadi kesempatan quality time dengan berbagi cerita,” ucap Shinta Chris sembari mengatakan kesempatan tersebut juga digunakannya untuk menanamkan etika, sopan santun juga pandangan –pandangan hidup yang digalinya dari setiap pribadi putra-putrinya untuk selanjutnya diberikan arahan tanpa menjudge apa yang mereka pikirkan. ( Sri Ardhini)

Bangun Kebersamaan Melalui Tanggung Jawab Banyak cara yang dapat ditempuh untuk melakukan revitalisasi fungsi keluarga, salah satunya adalah membangun kebersamaan dalam keluarga. Membangun kebersamaan dalam keluarga dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya melalui makan bersama. Kegiatan makan bersama dapat dilakukan baik di rumah maupun di luar. Pada saat makan bersama, orangtua maupun anak-anak dapat saling bercerita aktivitas yang sudah dilakukan selama seharian, sehingga masing-masing anggota keluarga mengetahui dan memahami aktivitas anggota keluarganya. Sesekali waktu perlu dijadwalkan untuk makan bersama anggota keluarga di restoran favorit keluarga sebagai variasi agar tidak bosan dengan menu atau suasana makan yang ada di rumah. Hal tersebut juga diungkapkan oleh akademisi Undiksha Putu Indah Rahmawati, ST. Par.,M. Bus.,Ph.D. Membagi waktu antara bekerja dan menjalankan

tanggung jawab sebagai orangtua tentu bukanlah hal yang mudah. Namun, perempuan yang saat ini menjabat sebagai sekretaris Jurusan Manajemen Undiksha ini memiliki karakter pekerja keras sehingga memanajemen kedua hal tersebut dengan baik. Kesibukannya dalam berkarier tidak lantas membuat Indah sapaan akrabnya lupa tanggung jawab sebagai seorang ibu dan istri. Setiap pagi sebelum berangkat ke kantor dirinya harus menyiapkan makan pagi untuk kedua anak dan suaminya. Sikap gotong royong dan kerjasama telah ia terapkan dalam keluarga kecilnya sejak dini sehingga pekerjaan rumah dapat selesai tepat waktu. “Kami bagi tugas dengan anggota keluarga yang lain, ini bertujuan untuk membangun tanggung jawab dan kerjasama bagi kedua anak kami,” ungkapnya. Meskipun tidak memiliki waktu yang banyak di meja makan untuk membangun komunikasi dengan anak, akan tetapi Indah mengaku telah membangun karakter anak

terutama sikap disiplin dalam waktu dan tanggung jawab. “Kalau untuk ngobrol lama di meja makan rasanya tidak ada waktu yang lama karena anak-anak harus segera pergi ke sekolah, tetapi sikap-sikap tanggung jawab itu kami ajarkan melalui pembagian tugas di pagi hari sebelum mereka memulai sarapan,” jelasnya. Indah menambahkan dalam mendidik anak, dirinya merupakan tipe orangtua yang cukup keras. Sebab memiliki anak yang menginjak remaja tentu harus diarahkan

dengan baik agar tidak salah dalam menentukan pilihan. Apalagi anak sulungnya yang lama tinggal di luar negeri sehingga memiliki pemahaman budaya yang berbeda. “Saya dan anak sempat memiliki pandangan y a n g b e rbeda

Putu Indah Rahmawati

dalam budaya berkomunikasi dan kesopanan sehingga ketika anak tidak memahami budaya di sini, saya harus memberikan pemahaman yang lebih agar anak menerima perbedaan tersebut,” jelasnya. Biasanya komunikasi ini ia bangun ketika memiliki waktu senggang di rumah bersama anakanaknya. Sore hari hingga malam menurutnya waktu yang paling banyak ia gunakan untuk membangun kebersamaan dengan keluarga. “Kami gunakan waktu ini untuk interaksi dengan anak baik di rumah maupun pergi ke suatu tempat yang dapat membuat kami merasa senang,” pungkasnya. (Wiwin Meliana)


SUDUT PANDANG

14

Edisi 1039/ 8 - 14 juLi 2019

Makan Bersama Menambah Keharmonisan Keluarga Kebersamaan bersama keluarga merupakan hal yang utama. Sesibuk apapun, berkumpul bersama keluarga, selalu menjadi prioritas. Apalagi, makan bersama merupakan kebiasaan yang membuat hubungan komunikasi keluarga tambah harmonis. Demikian dituturkan Utami Dwi Suryadi.

P

olitisi Partai Demokrat ini, memilih waktu makan malam sebagai waktu yang tepat berkumpul bersama keluarga. “Kami sekeluarga sehari-hari punya kesibukan masing-masing. Jadi waktu kumpul untuk makan bersama ya saat makan malam,” tutur anggota Komisi IV DPRD Bali ini. Ia mengatakan, setiap pagi sebelum beraktivitas, keluarganya jarang sarapan makanan “berat”. “Jarang juga sarapan, kadang hanya minum teh dan roti. Kebiasaan sih jarang sarapan,” tuturnya. Untuk soal menu makanan, keluarganya bukanlah tipe yang suka ribet. Apalagi dengan perpaduan dua budaya, Bali dan Jawa, untuk urusan makanan lebih ke makanan Indonesia. “Saya sering juga masak di rumah. Masakannya yang simpel seperti sayur sup. Di dalam sayur juga ditambahkan potongan daging ayam. Jadi lengkap lauk-pauknya,” kata Utami. Kadang, ia juga menikmati kebersamaan makan malam bersama keluarga di luar rumah. “Kalau ada acara khusus, misalnya, ulangtahun anggota keluarga,

kadang dirayakan dengan makan di luar bisa di mal, atau di restoran mana tergantung permintaan anak-anak,” imbuh Utami. Kadang juga, kata dia, ia janjian makan siang bersama. “Kalau saya lagi dimana, bapak atau anak juga berada di lokasi yang sama, kita ketemuan terus makan siang bareng. Sering juga seperti itu,” ucapnya. Ia mengakui, walaupun sesibuk apapun, ia usahakan untuk masak di rumah. Walaupun menu makanan sederhana. Yang penting, kebersamaan bersama keluarga. “Kadang bisa masak bersama anak-anak. Mereka maunya makan apa. Biasanya anak-anak lebih suka yang fresh pas mau makan baru dibuat,” kata Utami. KEHANGATAN KELUARGA Sementara, menurut Ni Putu Yuli Artini, sejak remaja, dibiasakan makan bersama keluarga. Saat itulah, ia dan saudara-saudaranya menyampaikan aktivitasnya seharian kepada orangtuanya. “Biasanya kami saat makan malam ditanya Bapak dan Ibu apa saja kegiatan satu hari ini. Kalau ada masalah yang

Utami Dwi Suryadi.

perlu dicarikan solusi, waktu makanlah kami sekalian diskusikan,” kata politisi dari Partai Golkar ini. Menurut Yuli, ia sejak remaja sudah biasa membantu ibunya memasak di dapur, sehingga setelah menikah pun, ia tetap memasak untuk keluarganya. “Kalau saya masak apa saja, memang lebih suka masakan Bali. Bapak dan ibu juga suka masakan Bali, Bapak jago buat lawar,” ujar putri mantan Bupati Karangasem Wayan Geredeg ini. Anggota DPRD Provinsi Bali ini menuturkan, setelah berkeluarga, ia selalu masak tiap hari, kalau tidak ada kegiatan ke luar kota. Walaupun tidak sarapan bersama dengan suami, ia selalu membuatkan bekal makanan atau rantangan untuk suami dibawa bekerja ke bank. “Saya suka masak makanan Bali seperti be genyol, babi kecap dll. Anak yang usianya dua tahun juga saya sudah biasakan makan makanan orang dewasa. Cuma memang bumbu masaknya beda, kalau untuk anak tidak pakai merica atau cabai,” kata Yuli. Menurutnya, saat anak masih kecil

ia mencoba memberikan pengenalan masakan rumah. “Karena nanti kalau dia sudah sekolah, pasti dia akan kena pengaruh lingkungan teman-temannya, suka makanan siap saji. Kalau dia sudah terbiasa makanan rumahan, tentu tidak terlalu berpengaruh. Kalau sekali-kali bolehlah,” ucap Yuli. Saat ini pun, saat ia bersama keluarga jalanjalan, mereka juga kerap mencoba makanan di resto. “Sekali-kali coba makan di luar, sekalian refreshing,” imbuhnya. Ia juga berpendapat, makan bersama keluarga merupakan hal yang bagus untuk menambah kehangatan keluarga. Kadang, ia juga berkumpul dengan keluarga besarnya di Karangasem. Sekalian bersilaturahmi juga makan bersama. (Wirati Astiti)

Sosialita

Edisi 1039/ 8 - 14 juLi 2019

3

IGA Mas Sumatri

Sampaikan Pesan Lewat “Mantri Buduh” Ribuan masyarakat Kabupaten Karangasem tumpah ruah menikmati malam penutupan pameran HUT ke-379 Kota Amlapura, Minggu (30/6) malam.

Ni Putu Yuli Artini

B

Aksi Bupati Mas Sumatri sebagai “Mantri Buduh”

erbeda dengan tahun sebelumnya, kali ini masyarakat dikejutkan dengan penampilan orang nomor satu di Kabupaten Karangasem sebagai tokoh utama dalam Pentas Seni Arja. Bupati Mas Sumatri terjun langsung menghibur masyarakatnya. Ia memerankan lakon pemimpin/ raja “Mantri Buduh” dalam pementasan Arja bertemakan Asta Brata (Delapan Sifat Kepemimpinan dalam Agama Hindu). “Saya ditelpon mendadak oleh Bu Bupati lima hari lalu. Saat itu saya sedang cek kesehatan di Sanglah, tiba-tiba beliau meminta saya langsung melatihnya memainkan peran dalam pentas seni arja demi menghibur masyarakat Karangasem, “ tutur I Ketut Bawa yang melakoni peran Parekan Punta (penasar) dalam pentas tersebut. Bawa akrab disapa Pan Gonjak merupakan seniman yang juga penyiar radio senior, pensiunan guru SMAN 1 Amlapura, mengatakan, pertemuan dengan Bupati Mas Sumatri di panggung pentas ini, bukan untuk yang pertama kalinya. Ia menceritakan, Bupati Mas Sumatri dulu sempat menjadi anak didiknya saat masih menjalani masa Pendidikan Guru Agama Hindu (PGAH) tahun 1986. Sebelum menjadi orang nomor satu di Kabupaten Karangasem, Mas Sumatri juga sempat menjajaki dunia pentas seni arja sebagai Galuh Daa (Galuh Manis) di Sidemen bersamanya. Maka tak heran, menghayati peran sebagai

Mantri kali ini mampu dikuasi Bupati Mas Sumatri hanya dalam dua kali pertemuan. “Bu Mas hanya berlatih dua kali pertemuan. Sekali pertemuan waktunya hanya satu jam. Jadi bisa dikatakan beliau hanya berlatih selama dua jam saja sebelum pentas,” ungkapnya. Disinggung mengenai pemilihan peran Mantri Buduh, Pan Gonjak menjelaskan, ini pilihan dari Bupati Mas Sumatri. Alasannya, jika memerankan Mantri dengan pakem Dharma, maka pementasan akan tampak serius dan pesan dalam cerita akan sulit dipahami masyarakat awam. Bupati menginginkan agar terlukiskan dalam pementasan sosok pemimpin yang tidak fanatik dan menampilkan sosok merakyat. Sebagai Mantri Buduh, maka lakon yang dimainkan dapat menggunakan bahasa yang lebih ringan

sehingga diharapkan pesan dalam pementasan lebih mudah dipahami oleh seluruh masyarakat. Selain dirinya, pentas seni arja Bupati Mas Sumatri juga dibantu oleh I Komang Parwata yang kesehariannya sebagai pengajar di SD 1 Budakeling. Di Pentas Arja “Asta Brata”, Parwata memerankan laku Parekan Wijil. BUDAYA DAERAH SEBAGAI ASET Bupati Mas Sumatri usai pentas mengingatkan kembali pesan yang ingin disampaikan dalam perannya. Asta Brata adalah sifat kepemimpinan yang ingin pemerintah terapkan dalam melayani masyarakat Karangasem. “Terima kasih atas dukungan masyarakat dan kepercayaan masyarakat pula. Saya berharap sifat tersebut bisa kita wujudkan

Bupati IGA Mas Sumatri memberikan sambutan saat penutupan pameran HUT ke-379 Kota Amlapura

Pesan lainnya yang ingin disampaikan, agar generasi muda jangan mau kalah dengan yang sudah tua. Justru para pemudalah pada zaman milenial ini harus getol turut melestarikan kesenian dan budaya Bali seperti seni arja. “Kita harus bangga, tahun ini HUT Kota disinkronkan dengan Festival JKPI. Kota Amlapura terpilih menjadi tuan rumah event nasional ini. Artinya, pemerintah bersama masyarakat, harus bahu-membahu melestarikan pusaka budaya daerah sebagai aset dalam meningkatkan

yang membawakan lagu “Mars Karangasem”, “Sekar Tunjung” dan “Spirit of Bali”, pada malam penutupan juga diisi dengan penyerahan piagam kepada para sponsor serta donatur HUT Kota. Selain itu diserahkan pula penghargaan pemenang lomba HUT ke-379 Kota Amlapura diantaranya, pemenang lomba kebersihan kantor, lomba kebersihan lingkungan, lomba kebersihan lingkungan sekolah, lomba penjor hias, lomba tata kelola kearsipan, lomba memancing ikan air tawar Bupati

Penyerahan hadiah kepada para pemenang lomba serangkaian HUT ke-379 Kota Amlapura

bersama demi kemajuan dan kesejahteraan Bumi Lahar. Mari kita galakkan semangat “Menyama Braya” dalam membangun Karangasem yang bersih, cerdas serta bermartabat berlandaskan Tri Hita Karana,” imbuhnya.

kunjungan wisatawan ke daerah, sehingga PAD kita bisa semakin bertambah dari sektor pariwisatanya,” ungkapnya. Malam penutupan juga dimeriahkan dengan penampilan Padus Gita Suara Pemkab Karangasem

Foto bersama Bupati Mas Sumatri dengan undangan dan pemenang

Cup I, pemenang lomba karnaval budaya dan potensi pembangunan, pemenang lomba fotografi, piala bergilir Bola Volly Bupati Karangasem Cup 2019, lomba desa tingkat kabupaten, penghargaan kategori stand makanan dengan kunjungan terbanyak dan lomba stand pameran terbaik HUT ke379 Kota Amlapura. Hiburan tari pendet dari para pegawai pria Perumda Tirta Tohlangkir PDAM Karangasem, musik dari band Lolot juga pengundian kupon berhadiah, 7 unit sepeda gayung, 2 unit sepeda motor,1 unit sepeda motor kaisar, 6 unit kulkas, 5 unit tv, 10 kompor, 10 kipas angin, 2 HP Android dan hadiah utama 1 unit mobil Ayla yang diperoleh Kadek Susila dari Ngis. Hadir dalam penutupan pameran HUT Kota Amlapura, Sekda Provinsi Bali, Wakil Bupati Karangasem beserta ibu, Ketua DPRD beserta ibu, Sekda Karangasem beserta ibu, Forkopimda dan kepala OPD lainnya. (Anie)


4

Tonjolkan Kearifan Lokal PKK Gianyar Berjaya di Ajang PKB XLI 2019 Lomba seksi kewanitaan ajang PKB XLI 2019, di Taman Budaya Art Center Denpasar masih lekat membekas bagi seluruh anggota TP. PKK Kabupaten Gianyar. Bagaimana tidak, wakil Gianyar yang dikomandoi Ketua TP.PKK Kabupaten Gianyar, Ny. Ida Ayu Surya Adnyani Mahayastra berhasil meraup prestasi di ketiga bidang lomba seperti lomba merangkai janur, lomba makanan, dan lomba busana.

M

enggunakan bahan­bahan lokal dan potensi di daerah masing-masing, lomba yang diikuti oleh TP.PKK Kabupaten/ Kota se-Bali ini, mampu menunjukkan ciri khas baik itu makanan maupun kain tradisionalnya. “Ini sesuai dengan arahan Ketua TP. PKK Provinsi Bali Ny. Putri Koster, yang menekankan jika lomba ini mendukung visi Gubernur Bali “Nangun Sat Kerthi Loka Bali”, dengan menggunakan bahan lokal. Ini sesuai pula dengan Pergub Nomor 99 tahun 2018 tentang Pemasaran dan Pemanfaatan Produk Pertanian, Perikanan dan Industri Lokal Bali,” papar Ny. Surya Adnyani Mahayastra, ditemui di ruang kerjanya di Sekretariat Kantor TP.PKK Gianyar, Senin (1/7). Pada PKB tahun ini, dari seksi kewanitaan ada tiga jenis kegiatan yang dilombakan. Diantaranya lomba merangkai janur, meliputi lomba gebogan buah untuk upacara ‘Dewa Yadnya’, ‘Banten Prayascita Sakti’, ‘Ngulat Tipat’, ‘Gebogan Kreasi’ dan lomba ‘Rangkaian Bunga Meja’ yang diselenggarakan Minggu (16/6). Selanjutnya, ada lomba makanan, meliputi makanan tradisional seperti membuat jajan laklak, jajan cerorot, tum ayam, membuat jukut (sayur) ares dan membuat masakan serba ikan, yang dilaksanakan Minggu (23/6). Di ujung bulan Juni (30/6) diadakan lomba busana yang meliputi lomba busana adat ke Pura untuk anak-anak, remaja dan dewasa, lomba busana adat ke kantor dan lomba busana atau gaun malam. Wakil Gianyar meraih prestasi hampir di semua jenis lomba. Lomba gebogan buah untuk upacara manusa yadnya berhasil menyabet juara 2. Lomba membuat banten prayascita sakti, sukses raih juara harapan 1 dan 2. Lomba gebogan kreasi sebagai juara 2. Lomba merangkai rangkaian bunga meja, Gianyar berhasil menjadi terbaik. Sementara, untuk lomba makanan, Gianyar meraih juara 1 lomba membuat tum ayam, membuat jukut ares berhasil meraih juara 3, membuat jajan cerorot harapan 1 dan lomba membuat jajan laklak berhasil meraih juara 2. Selanjutnya pada lomba busana yang juga disaksikan oleh Ketua TP.PKK Provinsi Bali Ny. Putri Koster, rancangan desainer muda Dika Saskara dari “Asperb’ (Asosiasi Perancang Busana Gianyar), meraih prestasi yang tidak mengecewakan seperti juara 3 untuk lomba busana

ke Pura untuk anak-anak, juara harapan 1 untuk tingkat remaja dan juara 2 untuk katagori dewasa. Sedangkan busana adat untuk ke kantor berhasil meraih juara harapan 1 dan untuk busana atau gaun malam meraih juara 3.Yang istimewa lagi, pada Lomba Busana ke Pura tingkat remaja, Kabupaten Gianyar diwakili oleh Putri Remaja Bali 2019, Diah Pradnya Maharani yang juga merupakan putri Bupati Gianyar Made Agus Mahayastra.

Tingkatkan SDM dan Lestarikan Budaya Prestasi yang telah diraih tersebut, merupakan buah dari kerja keras seluruh anggota TP. PKK Kabupaten, kecamatan/kelurahan hingga tingkat desa. Selama 2 periode menggawangi TP. PKK Gianyar (2013 – 2018 dan 2018- 2023) Ny. Adnyani Mahayastra yang kini dibantu Wakil Ketua 1 TP.PKK Gianyar Ny. I.A Diana Dewi Agung Mayun, Wakil Ketua II, Ny. Dwikorawati Wisnu Wijaya, Wakil Ketua III, Ny. Ayu Tagel Winarta dan seluruh pengurus TP.PKK, terus berupaya mensejahtera-

kan kaum perempuan di Gianyar melalui program KK. “Kami secara rutin turun ke kecamatan hingga ke tingkat desa melakukan pembinaan, sehingga saat menghadapi lomba baik itu PKB, HUT Kota Gianyar ataupun lomba lainnya kami tidak kelabakan lagi mencari peserta. Kami tinggal memoles sedikit, sebab peserta sudah pada pintar semua,” ujar Ny. Surya Adnyani Mahayastra. Ditambahkannya, bahwa semua yang ditampilkan saat lomba adalah produk unggulan dan potensi masyarakat di Gianyar. “Kami juga di TP.PKK khususnya Pokja II yang membidangi UP2K, tidak pernah surut memberikan berbagai macam pelatihan yang bertujuan meningkatkan SDM kaum perempuan di Gianyar,” lanjut Ny. Surya. Khusus untuk lomba busana, Ny. Surya Adnyani Mahayastra yang juga ketua Dekranasda Kabupaten Gianyar, memahami betul bagaimana seluk beluk industri UMKM di Gianyar, bagaimana kualitas, corak, motif maupun desainnya. “Lomba Busana di PKB ini merupakan kesempatan kami memamerkan kain tenun khas Gianyar. Jika sudah di garap dalam bentuk busana lengkap dengan aksesorisnya tentu menjadi lebih menarik,” tandasnya. Ke depan, pihaknya akan lebih sering memanfaatkan momen seperti ini untuk memperkenalkan kain tenun khas Gianyar. Ajang PKB, adalah salah satu arena strategis untuk pemasa-

rannya. Ny. Surya Adnyani Mahyastra juga berharap semua perajin di Gianyar dapat memanfaatkan momen yang rutin diadakan tiap tahun di Bali. Jika belum berkesempatan terlibat secara aktif di dalamnya, minimal dapat dijadikan tempat belajar, baik mengenai mutu, desain produk, jenis kain dan lain sebagainya. Mengingat pula PKB diikuti oleh seluruh kabupaten/kota di Bali dan berbagai daerah lainnya di Indonesia. Ny. Surya Adnyani Mahayastra juga menekankan, meraih prestasi memang penting, karena merupakan buah dari kerja keras. Namun yang paling penting,adalah regenerasi untuk para pemula dengan tetap melestarikan budaya Bali. - ard

Edisi 1039/ 8 - 14 juLi 2019

Edisi 1039/ 8 - 14 juLi 2019

METROPOLITAN

13

Hati-hati Berceloteh di Media Sosial

Hati manusia mana yang tidak ikut pilu melihat penderitaan Fairuz A Rafiq yang dilecehkan mantan suaminya Galih Ginanjar. Lebih lagi yang dilecehkan itu adalah hal yang paling pribadi saat keduanya masih suami-istri. Salah satu celotehan yang menghebohkan yang dilontarkan Galih lewat tayangan youtube milik Rey Utami-Pablo Benua, adalah soal ‘bau ikan asin’.

S

ontak masyarakat geger. Tak menunggu waktu lama video yang dianggap mengandung kalimat berkonten asusila itu pun menyebar dengan cepat di dunia maya. Buntutnya, Galih pun menuai berbagai kecaman dari nitizen maupun masyarakat umum. Nitizen yang biasanya nyinyir, kali ini kompak memaki Galih yang dianggap tidak etis membeberkan masalah paling pribadi dalam kehidupan sebuah perkawinan. Apalagi perkawinan itu sudah berakhir lama yakni 2014, dan masing-masing dari mereka sudah menikah. Kasus ‘bau ikan asin’ ini tidak kunjung mereda meski sudah bergulir beberapa pekan. Sebaliknya justru kian ‘panas’. Fairuz yang tadinya hanya diam dan menangis, akhirnya bangkit melawan. Didampingi pengacaranya Hotman Paris dan keluarganya, Fairuz melapor ke Polda Metro Jaya. Selain Galih, Fairuz juga melaporkan Rey Utami dan suaminya Pablo Benoa sebagai pemilik akun youtube dimana Galih berceloteh. Fairuz mengaku sedih dan terpukul ketika pertama kali mendengar kabar tentang ocehan Galih itu. Dia merasa selama ini tidak pernah berbuat jahat pada mantan suaminya itu. Dia juga tidak pernah mengubar aib Galih. “Astrafirullah. Dia maunya apa. Aku tuh nggak pernah jahat sama dia. Aku nggak pernah buka aib dia. Aku sedih dengan apa yang terjadi. Pihak lain mungkin menganggap ini lucu. Padahal ini adalah suatu yang serius. Apakah mereka tidak mikir hal itu dapat menyakiti perasaan orang lain,” ungkap Fairuz dengan berlinang air mata. Awalnya, kata Fairuz, dia ingin menghindar, ingin diam saja. Namun sepertinya tidak mungkin. Apalagi dia adalah public figure, semua orang pasti tahu. Kasus ini membuatnya tertekan. Bukan hanya berpikir tentang dirinya tapi juga dampaknya bagi anak-anaknya serta keluarga. Dia sendiri juga tak habis pikir kenapa mantan suaminya seperti itu, selalu saja membuat masalah, mengganggu hidupnya. “Aku tadinya mau menghindar. Tapi sepertinya nggak bisa. Aku sampai nggak tahu mau ngomong apa. Trus mikir, bagaimana dengan Faaz (anak Fairuz dengan Galih Ginanjar, berusia 7 tahun). Dia (Faaz) sebentar lagi masuk sekolah. Sonny (suami) bilang, ’Sayang nggak usah dipikirkan’. Tapi bagaimana. Kita kan public figure, semua orang kan tahu,” tutur ibu dua anak ini dengan suara tersendat. “Kalau aku ngomong kenapa aku bercerai dengan dia. Pasti, aku yakin, masyarakat akan makin membenci dia. Tapi aku nggak mau ngomong. Aku nggak mau menjadi

seperti dia. Aku kembalikan saja semuanya kepada Allah,” ucap anak bungsu penyangi dangdut legendaris A Rafiq ini. Yang bikin Fairuz makin sedih adalah sang mama yang tadinya tidak tahu, kini menjadi tahu kasus tersebut. “Mama akhirnya jadi tahu juga. Aku tuh berusaha terlihat biasa saja di depan mama karena takut mama jadi sedih. Apalagi papa kan sudah tidak ada. Mama belakangan sering sakit-sakitan. Jadi aku lebih menjaga perasaan mama. Berusaha nenangin mama. Aku bilang, ‘Nggak apa-apa ma. Nanti juga beritanya hilang hilang kok’,” jelas Fai. UJIAN KESABARAN YANG LUAR BIASA Aktor Sonny Septian, suami Fairuz yang mendampingi Fairuz, awalnya sempat emosi mendengar hal tersebut. Namun Fairuz menenangkannya. Orang-orang disekeliling Sonny pun ikut menenangkan dan meminta agar jangan langsung bereaksi melainkan diam dan mengamati perkembangannya. Sonny merasa bersyukur mendapat dukungan dari banyak orang termasuk saran agar dia bersabar. “Alhamdulilah aku punya benteng agama. Aku juga punya orang di sekeliling yang menenangkan. Disuruh diam saja dulu. Katanya, diam bukan berarti kamu tidak bisa apa-apa. Mereka meminta aku jangan terpancing emosi. Jangan mengeluarkan statement atau bertindak apapun,” ungkap pemeran sinetron ‘Bintang di Hatiku’, ini. Peristiwa tersebut kata Sonny menjadi pembelajaran pada dirinya bagaimana melatih kesabaran, meredam emosi, sesuatu yang tidak mudah dilakukan. “Alhamdulilah aku mendapat support dari banyak orang, termasuk dari masyarakat luas. Tidak ada yang mencela Fairuz, masyarakat justru mendukungnya. Itu semua yang membuat kita kuat,” kata Sonny sambil mengelus punggung Fairuz yang masih berlinang air mata. “Tadinya kita mau masa bodo. Mau diam saja. Tapi kok rasanya terganggu ya. Apalagi semakin banyak statement-statement,” tambah adik artis senior Elma Theana ini. KATEGORI PELECEHAN SEKSUAL Budi Wahyuni, Wakil Ketua Komnas Perempuan, menyebut, kasus tersebut masuk dalam kategori pelecehan seksual. “Ini masuk dalam kategori pelecehan seksual, di mana ada satu ungkapan, apalagi ini ada buktinya, yang menyerang atribut seksual,” kata Budi Wahyuni yang berbicara dalam program ‘Pagi Pagi Pasti Happy’. Memang, akunya, selama ini kalau ingin dipersoalankan kasus semacam

Fairuz A Rafiq

Budi Wahyuni

itu, ada kebingungan, apakah ada perundang-undangannya atau tidak. Ini, tandasnya, sangat memprihatinkan Komnas Perempuan. Ketika ditanya apakah isi konten itu ada unsur kekerasan pada perempuan, Budi mengiyakan. “Ini ada bukti rekaman itu yang memang mengarah pada konteks merendahkan harkat perempuan,” ujar Budi. Sementara pengacara kondang Hotman Paris mengaku, awalnya dirinya tidak tahu kasus tersebut. Karenanya dia sangat kaget ketika Fairuz datang padanya sambil nangis menceritakan kasus tersebut. Hotman pun geram. Sebagai sesama lelaki dia sungguh tidak menyangka ada lelaki seperti Galih Ginanjar yang tega melecehkan mantan istrinya seperti itu. “Jadi Fairuz yang datang ke Hot-

man Paris bicara tentang kasus itu. Saya malah tidak tahu sebelumnya,” kata pengacara yang memiliki julukan ‘The Most Dangerous Lawyer’, ini. Hotman mengaku banyak mendapat pertanyaan terkait alasannya mau membela Fairuz. “Banyak yang bertanya kenapa sih Hotman membeli Fairuz matimatian? Apa karena uang? Ya jelas enggak dong! Saya ini dari dulu sudah menjadi pengacara Fairuz. Saya kagum sama dia setelah dia hijrah, memakai jilbab dan menjadi muslim yang baik. Tapi anehnya setelah dia menjadi muslim yang baik, dia mendapat perlakuan yang tidak manusiawi. Itu sebabnya saya membela Fairuz,” tegas host acara ‘Hotman Paris Show’ dan Hot Room’, ini. Perkembangan terakhir kasus ini, polisi sudah mulai melakukan

pemeriksaan terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam kasus ini. Bukan hanya Fairuz, tapi juga Galih Ginanjar serta nantinya pemilik channel youtube Rey Utami-Pablo Benoa, akan diminta keterangannya. Sementara Galih kini lebih banyak diam. Hanya pengacaranya lah yang berbicara mencoba mengklarifikasi bahwa ‘ikan asin’ yang dimaksud Galih adalah makanan bukan hal lainnya. Klarifikasi itu tentu saja mengundang kecaman, karena lahirnya kata ‘bau ikan asin’ itu tidak dalam kontes berbicara makanan melainkan urusan perkawinan dan ranjang. Perkembangan lainnya, kini terjadi ‘perang dingin’ antara Berbie Kumalasari (istri Galih Ginanjar) Vs Rey Utami terkait publikasi video ‘bau ikan asin’ itu. “Miris banget ya dengan kasus ‘bau ikan asin’ ini. Semua kaum wanita merasa terhina. Kami mendukung Fairuz. Kami minta pada polisi agar menegakkan hukum. Kami juga minta agar Hotman Paris membela kaum perempuan,” seru para ibu-ibu pengajian yang videonya tayang di akun Hotman Paris Official. Banyak orang ingin agar kasus ini terus bergulir ke meja hijau sehingga perkara yang telah menyita perhatian masyarakat ini menjadi jelas. Diharapkan dengan ditegakkannya hukum, juga memberi efek jera pada orang-orang yang menjadikan media sosial sebagai tempat berbuat seenaknya. Tidak ada kebebasan absolut, semua ada batasannya. Ada rambu-rambu atau norma-norma yang harus ditaati semua orang. (Diana Runtu)

“I Am Fashion”

FASHION STARTS HERE! beachwalk Shopping Center kali ini kembali dengan program ”I AM FASHION” yang menghadirkan Fashion sebagai tema utama untuk memberikan atmosfer dan semangat baru lewat berbagai kejutan promo menarik untuk pengunjung selama liburan di bulan Juli 2019 ini. beachwalk Shopping Center sebagai destinasi belanja utama bagi para fashionista untuk menemukan International brand maupun local brand, kali ini akan menghadirkan program “BEACHWALK SUMMER SALE” yang tidak dapat dilewatkan oleh para penggemar wisata belanja. Sale Starts Here. Untuk merayakan semangat liburan musim panas, penggemar wisata belanja dapat menikmati “BEACHWALK SUMMER SALE” selama bulan Juni-Juli 2019 yang diikuti tidak hanya tenant fashion maupun tenant restoran dan café dengan memberikan berbagai macam diskon dan promo menarik hingga 70% bagi pengunjung. Berbagai diskon akan diberikan oleh sejumlah brand ternama seperti Mango, Zara, Pull & Bear, Bershka, Bath & Body Works, TUMI, Michael Kors, Kate Spade, Coach dan masih banyak brand menarik lainnya. Selain penawaran diskon, beachwalk juga memberikan berbagai promo menarik untuk menjadikan liburan musim panas ini penuh dengan kejutan special. Untuk merayakan Hari Raya Galungan & Kuningan yang jatuh di bulan Juli-Agustus ini, beachwalk memberikan program special “Instant Reward Galungan & Kuningan THR” untuk periode 22 Juli–3 Agustus 2019. Pengunjung bisa mendapatkan kejutan THR pada Hari Raya Galungan & Kuningan, hanya dengan menunjukkan Corner’s Card dan KTP Bali untuk mendapatkan voucher parkir gratis dan voucher Expat Roasters. Beachwalk juga memberikan “Galungan & Kuningan Giveaway” untuk member Corner’s Card untuk berkesempatan memenangkan voucher menginap 1 malam di Hotel Santika Seminyak hanya dengan berfoto di kawasan beachwalk Shopping Center, kemudian mengunggah foto tersebut ke Instagram, tag @beachwalk_bali & @hotelsantikaseminyak pada dan membubuhkan hashtag

#galunganatbeachwalk. Pemenang akan diumumkan pada tanggal 31 Juli 2019 (*S&K berlaku). Berita baik hadir belum lama ini, beachwalk baru saja meluncurkan area baru yang bernama “Sunset Deck” di level 3 untuk memberikan pengalaman dan suasana baru bagi pengunjung. Sunset Deck merupakan tempat terbaik untuk menikmati indahnya pemandangan matahari terbenam Pantai Kuta lengkap dengan hembusan angin pantai dan nyiur melambainya bersama keluarga dan kerabat tercinta. Tiap hari Selasa dan Rabu di Sunset Deck level 3 pukul 18.00, berbagai kegiatan budaya yang otentik diadakan secara regular untuk dinikmati oleh pengunjung, seperti belajar tari bali tradisional atau hanya menikmati berbagai pertunjukan menarik lainnya seperti; pertunjukan Tari Kontenporer, Pertunjukan Tari Kecak dan Tari Barong, dan masih banyak lagi lainnya. Beachwalk juga menampilkan pertunjukan regular “ACOUSTIC EVE” setiap Kunjungilah website beachwalk Shopping Center yang baru pada tautan www.beachwalkbali.com dengan desain dan konsep baru, dan menambahkan beberapa fitur tambahan seperti tampilan baru supaya lebih user-friendly dan fitur floor map interaktif untuk memudahkan akses pengunjung dalam mengetahui lokasi dan tenant-tenant apa saja yang ada di beachwalk Shopping Center.


BUMI GORA

12

EDISI 1039/ 8-14 JULI 2019

Sharing Gagasan Rumah Bahasa

Dalam kunjungannya ke Kota Surabaya, Jawa Timur, Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalillah melakukan sharing gagasan terkait rumah bahasa yang saat ini sedang dikembangkan di NTB.

R

umah bahasa, gagasan Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah dan Wagub Rohmi, merupakan tempat bagi anak-anak NTB untuk belajar dan meningkatkan kemampuan bahasa asing. Serta tidak ada lagi alasan bagi anak-anak NTB untuk menimba ilmu serta memperluas jaringan ke luar negeri. Kunker Wagub NTB di Kota Pahlawan itu juga dimaksud untuk menyerap serta mempertajam pemahaman program rumah bahasa yang dilaksanakan Pemerintah Kota Surabaya, sehingga kolaborasi pemahaman tentang program tersebut diyakini dapat mendukung kemajuan masing-masing daerah.

Dalam kunjungannya di Kota Surabaya, tepatnya di Rumah Bahasa Balai Pemud, Rohmi yang disambut Kepala Bagian Administrasi Kerjasama Pemerintah Kota Surabaya, Dewi Wahyu Wardani, M. Si., mengungkapkan kepada jajaran pemerintah Kota Surabaya yang menangani rumah bahasa, NTB memiliki program pengiriman mahasiswa ke luar negeri. Oleh karena itu, kemampuan bahasa bagi mereka menjadi sebuah tuntutan. Karena itu, Pemprov NTB menggagas program yang disebut rumah Bahasa. Yaitu fokus pada persiapan kemampuan TOEFL dan IELTS bagi anak-anak NTB. “Dengan program ini mereka

Wagub NTB, DR. Rohmi Djalilah saat berkunjung ke Rumah Bahasa Kota Surabaya.

mampu bersaing dengan siapapun. Sebab, banyak sekali beasiswa yang disediakan oleh lembaga dalam dan luar negeri,” ungkap Rohmi yang didampingi kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTB, H. Rusman. Ia berharap kunjungannya ke Rumah Bahasa Kota Surabaya ini dapat memberi nilai tambah bagi peningkatan kualitas rumah bahasa di NTB. Apalagi di Kota Surabaya ini, rumah bahasanya dilaksanakan gratis dan diajar oleh para volunteer dan tidak dibayar. Pengelolaannya di bawah Bagian Kerjasama, yang menjalin kerjasama dengan konjenkonjen, universitas-universitas dan lembaga-lembaga yang kemudian menyumbangkan tutor bagi rumah bahasa itu. “Hal-hal positif di sini dapat kita pelajari dan kita terapkan di NTB. Konsep yang kita punya adalah untuk tujuan peningkatan kemampuan TOEFL-IELTS dan

bisa diintegrasikan dengan apa yang ada di Surabaya. Sehingga di NTB ke depan ada rumah bahasa yang lengkap yang melayani kebutuhan lanjut sekolah ke luar negeri maupun kebutuhan yang lain,” ujarnya. Kepala Bagian Administrasi Kerjasama Pemerintah Kota Surabaya memaparkan rumah bahasa di Kota Surabaya ini awalnya hanya membuka kelas Bahasa Inggris. Sebab katanya, Walikota Surabaya, Risma menggagas program ini untuk menghadapi era MEA. Namun dalam perjalanannya, semakin banyak bahasa yang dibuka untuk masyarakat. Sehingga saat ini katanya, sudah ada dua belas bahasa asing yang diajarkan di rumah

bahasa itu. Selain itu, pesertanya tidak hanya pelajar, namun juga masyarakat umum. Seperti, sopir taksi, pedagang, pengusaha, pemandu bahkan tukang becak. Apalagi katanya, banyak produk-produk kreatif Surabaya yang telah dipasarkan ke luar negeri. Sehingga, kemampuan bahasa asing bagi pelaku usaha kreatif sangat dibutuhkan. Untuk manajemennya, rumah bahasa ini katanya di bawah tanggung jawab Bagian Administrasi Kerjasama Pemerintah Kota Surabaya. Para tutornya juga lanjutnya, mau menjadi volunteer sebagai wujud pengabdian dan kecintaannya pada masyarakat Surabaya. Pada kesempatan ini Rohmi berkeliling rumah bahasa serta mengunjungi perpustakaan umum Kota Surabaya. Di sela-sela kunjungan tersebut, ia menyempatkan diri berinteraksi dengan pengunjung perpustakaan dan para peserta yang sedang belajar di rumah bahasa. (Naniek I. Taufan)

anya ditanggung oleh pihak Northern Territory, Australia. Gubernur NTB langsung menyiapkan para ASN yang akan dikirim. “Hari ini saya memberikan pembekalan ASN-ASN kita yang akan mulai short course (kursus singkat) di Darwin Australia tanggal 8 Juli ini,” ujarnya beberapa waktu lalu. Beberapa ASN yang juga Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) pun telah ditunjuk untuk mengikuti kursus singkat mengenai mitigasi bencana ke Australia. Mereka antara lain, Staf Ahli Gubernur, Ir. Mohammad Rum, MT, Kepala Pelaksana BPBD NTB, H. Ahsanul Khalik, S. Sos, MH, Kepala Dikes NTB, dr. Nurhandini Eka Dewi, Sp.A,MPH, Direktur RSUD Provinsi NTB, dan dr. H. L. Hamzi Fikri, MM, MARS. Tujuan mengirim beberapa pimpinan OPD tersebut karena tupoksi mereka berkaitan dengan masalah kebencanaan. Terutama untuk Kepala Dikes dan Direktur RSUD Provinsi NTB, berkaitan dengan penanganan bencana yang berkaitan dengan bidang kesehatan. Gubernur menegaskan, NTB me-

Gubernur NTB memberi pembekalan pada ASN yang akan mengikuti kursus singkat di Australia. miliki stok ASN yang hebat. Bahkan, menurutnya, para ASN yang berhasil lulus seleksi ke Darwin pada batch pertama ini ternyata hampir semuanya merupakan lulusan pascasarjana Australia. Menurutnya, kesempatan mengikuti kursus semacam ini akan membawa banyak manfaat bagi para ASN lingkup Pemprov NTB. Tidak hanya sebatas peningkatan keterampilan dan ilmu pengetahuan. Lebih jauh, pengalaman mengikuti program ke luar negeri dan berinteraksi den-

gan orang dari negara yang berbeda bisa memperluas jaringan para ASN tersebut. Sebagai orang yang pernah menimba ilmu di berbagai kampus terkemuka di luar negeri, Doktor Zul merasakan betul bagaimana dampak yang dirasakan seseorang saat ia berinteraksi dengan orang-orang dari belahan dunia yang berbeda-beda. Bagi Gubernur, peningkatan kualitas ASN adalah hal mutlak untuk membentuk tatanan birokrasi yang profe-

sional. Dengan demikian, birokrasi di NTB diharapkan akan siap untuk menghadapi dinamika dunia yang setiap saat terus berubah dan melahirkan hal-hal baru. Yang terpenting, dengan bertambahnya pengalaman, ilmu dan keterampilan, ASN juga semakin terdorong untuk meningkatkan kualitas pelayanan terhadap masyarakat NTB. “Mudah-mudahan ASN kita tambah semangat demi berkhidmat maksimal pada masyarakat NTB,” pungkas Doktor Zul. (Naniek I. Taufan)

BUNDA ANANDA

5

Melukis Kaca Kembangkan Imajinasi

Melukis membuatnya lebih menjadi fokus dan kreatif, itulah yang dirasakan Gede Apriadi Saputra. Bocah kelas 6 SD I Naga Sepaha, Buleleng ini, menekuni lukisan kaca. Saat ini ia ikut berpameran di areal Pesta Kesenian Bali Art Centre Denpasar. Seperti apa?

G

NTB Kirim ASN Ikuti Kursus ke Australia Begitu tiba kembali di Lombok usai melakukan kunjungan ke Australia, Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah segera menindaklanjuti agenda kunjungannya tersebut. Ia langsung turun tangan memberikan pembekalan bagi para Aparatur Sipil Negara (ASN) lingkup Pemprov NTB yang akan mengikuti kursus singkat ke Darwin, Northern Territory (NT), Australia. Agenda kunjungan Gubernur ke Australia belum lama ini memang membuahkan sejumlah capaian menggembirakan bagi daerah. Salah satu dari sekian banyak capaian itu adalah ditandatanganinya kerjasama pendidikan dengan Chairman dan CEO Australian Skill Institute, Kathryn Stenson yang mewakili Pemerintah Australia. Melalui kesepakatan kerjasama ini, pemerintah Northern Territory bersedia memberi akses bagi para ASN lingkup Pemprov NTB mengikuti kursus singkat di Darwin, Australia. Kesepakatan ini akan direalisasikan dalam waktu dekat, dimana mulai tanggal 8 Juli 2019, rombongan pertama ASN peserta kursus singkat akan berangkat ke Darwin yang biay-

EDISI 1039/ 8-14 JULI 2019

ede menuturkan, baru dua tahun ikut menekuni lukisan kaca. Ia merasa tertarik dan sangat penasaran, dengan teknik lukisan ini. “Melukis di kaca sangat berbeda dengan melukis di kanvas. Karena kita harus membuat sketsanya terbalik,” ucapnya. Ia sendiri sering melihat ayah dan pamannya melukis. Saking seringnya melihat, ia tertarik mencoba. Memang, ia mengakui, awalnya tentu tak mudah. “Walaupun bisa menggambar sketsa di kertas, tapi karena ini melukis di kaca, jadi harus bisa membuatnya terbalik. Yang di bagian kanan akan menjadi kiri, begitu juga sebaliknya. Jadi saat membuat skesta pun, sudah berimajinasi terbalik,” tuturnya. Selain itu, proporsional gambar juga bagi Gede awalnya membuat kesulitan. Ukuran kanan dan kiri kadang tidak sama. Setelah sketsa gambar di tuangkan ke kaca, memberikan cawi

(garis dasar pada gambar dengan tinta Cina) juga sangat rumit. “Kalau tidak rapi, warna tinta belepotan dan ini membuat kotor. Walaupun bisa dilap, tentu saja hasilnya kurang bagus,” imbuhnya. Sebelum di PKB, ia sudah pernah berpameran di Yogyakarta bersama sang pamannya Ketut Santosa. Untuk satu karyanya, laku terjual dengan harga Rp 400 ribu. Satu lukisan bisa ia selesaikan selama 3 jam. Untuk tema, Gede sangat menyukai wayang. “Gambar wayang teknik kesulitannya makin tinggi dan membuat saya semakin berimajinasi dan kreatif,” kata Gede. KETERAMPILAN MOTORIK Menurut Ketut Santosa, saat ini pelukis kaca di Buleleng semakin berkurang. Kesulitan memasarkan membuat banyak pelukis berpindah pekerjaan menjadi petani. Generasi muda pun kurang meminati melukis

Gede Apriadi Saputra. kaca. Santosa, salah seorang yang masih bertahan menjadi pelukis kaca. Ia adalah generasi ketiga Jero Dalang Diah yang mengembangkan lukisan kaca di Desa Naga Sepaha Buleleng. Ia senang Gede tertarik mendalami melukis kaca, sehingga ada generasi muda yang akan meneruskan lukisan kaca ini. Gede mengaku sejak belajar melukis kaca, ia menjadi lebih fokus dan kreatif. Apalagi, dengan metode terbalik membuat otaknya makin kreatif.

Saat ini pun, prestasi di sekolahnya lumayan bagus. Ia ikut berada di areal pameran PKB karena berbarengan dengan libur sekolah. Menurut psikolog Nyoman Wiraadi Tria Ariani, S.Psi., M.Psi., pada usia 3-5 tahun anak sudah dapat dikenalkan dengan mewarnai, dengan berbagai macam media dan kuas. “Melalui melukis, anak-anak dapat mengekspresikan diri, terutama untuk anak yang cenderung pemalu, pendiam atau bahkan traumatis akan suatu hal dapat

bercerita melalui hasil karya mereka,” ujar Tria. Ia menyebutkan, melukis juga melatih keterampilan motorik halus anak. “Dengan memegang kuas dan sebagainya dapat menguatkan dan meluweskan jari anak,” imbuhnya. Melukis juga membuat anak dapat mengembangkan kreatifitas dan imajinasinya. Selain itu juga, melatih kesabaran anak untuk mencapai hasil yang bagus karena melukis memerlukan waktu dan proses. (Wirati Astiti)

Mendongeng Lima Menit

SENGKETA KURA-KURA DAN KADAL

Si Kura-kura baru tahu, persediaan garam dapurnya habis. Ia segera datang ke rumah saudaranya untuk meminjam satu besek kecil garam. Besek penuh garam itu lalu diikat seutas tali. Ujung tali yang satu diikatkan di bahu Kura-kura. Begitulah cara yang terbaik. Si Kura-kura balik ke rumah, berjalan terseok-seok, menarik sebesek garam. Seekor kadal yang kebetulan melintas, melihat pemandangan yang aneh itu. Sebuah besek bergerak perlahan-lahan, ditarik Kura-kura dengan seutas tali. Suaranya, kresek…, kresek…, kresek…! Timbul niatnya untuk memperdayakan si penarik besek itu. Ia naik ke atas besek. Kura-kura yang lugu itu dengan susah payah menarik beban yang tambah berat. Si Kadal bukan merasa kasihan, tetapi bahkan terpancing untuk melakukan permainan lebih jail. Ia memotong tali ikatan besek itu, kemudian mengangkangi garam dalam besek itu sebagai miliknya. Kura-kura dan Kadal itu bertengkar. Kura-kura mengatakan bahwa ia mendapat garam itu dari saudaranya, dan Kadal mengangkangi bahwa garam itu ia temukan di tengah jalan. Akhirnya keduanya mengadukan perkara itu ke pengadilan.

Majelis hakim yang terdiri dari beberapa hewan itu memutuskan. “Demi keadilan, garam dalam besek itu harus dibagi dua!” Tentu saja Si Kura-kura amat kecewa. Namun tak bisa berbuat apa-apa. Konon, demi keadilan, ia harus pasrah menerima. Beberapa bulan kemudian, si Kura-kura melihat si Kadal memburu segerombolan semut. Mangsa enak itu masuk ke dalam lubang kecil. Si Kadal berusaha memasukkan moncongnya ke lubang kecil itu. Nah, pada saat itulah, si Kura-kura mencaplok ekor si Kadal. Si Kura-kura mengangkangi bahwa ekor itu menjadi miliknya, karena ia menemukannya di jalan. Keduanya bertengkar hebat, membela kebenaran masing-masing. Kemudian sepakat membawa sengketa itu ke pengadilan. Pengadilan pun memutuskan dengan cara yang bijaksana. “Demi keadilan, bagi dua sajalah pemilik ekor itu!” Si Kadal kecewa dan takut. Ia balik haluan lalu melompat melarikan diri. Walaupun keputusan pengadilan itu belum terlaksana, namun Si Kura-kura merasa puas. Bukankah di mulutnya masih menempel sebagian ekor Kadal? Sesampai di rumah, si Kadal yang masih menahan sakit, sempat pula tersenyum. “Beruntung aku! Daripada bertubuh sebelah, lebih baik berekor pendek.” (Afrika)


DARA

6

EDISI 1039/ 8-14 JULI 2019

Tissa Biani Azzahra

Senang Meskipun Sibuk

Totalitas remaja ini dalam menggeluti kariernya di dunia entertainment tidak diragukan lagi. Bahkan agar kariernya bisa berjalan mulus, dia pun rela menjalani homeschooling. Itu ia lakoni sejak kelas 6 SD, saat dia mulai terjun ke dunia entertainment. Saat SMA dia mencoba untuk masuk di sekolah umum. Prestasinya lumayan bagus, meski kerap kali izin karena kesibukannya, dara kelahiran Juli 2002 ini berhasil masuk rangking tujuh di kelasnya.

I

tu sebabnya sang walikelas menyebutnya gadis cerdas karena meski banyak izin karena mengikuti banyak kegiatan di luar, namun ia tetap konsisten dalam belajar bahkan mampu berprestasi melebihi teman lainnya. Itulah Tissa Biani Azzahra, artis remaja yang kini sedang ‘laris-manis’ di dunia film dan sinetron. “Terus terang saat sekolah formal itu aku banyak dibantu oleh para guru juga teman-teman. Mereka mau memberikan aku materi juga catatan-catatan pelajaran agar aku tidak tertinggal. Aku berusaha keras mengejar ketertinggalan aku. Saat break syuting aku belajar menyelesaikan tugas-tugas,” ungkap peraih Influencers Awards 2019. Tissa memang tipe pekerja keras. Sedari kecil dia tahu apa yang diinginkannya. Ia bercita-cita menjadi artis, maka dia pun berjuang meraihnya. Di sisi lain ia juga keukeuh ingin pendidikannya tidak mandeg karena karier. Karena itu, ia pun berupaya mengejar ketertinggalannya dalam pelajaran. Di sela-sela break �syuting, ketika

teman-temannya bersantai melepas lelah, Tissa justru menggeluti pelajaran sekolahnya. Tapi akhirnya Tissa tidak tahan juga. Sekalipun berprestasi di sekolahnya, namun tingginya aktivitas di dunia hiburan, membuatnya harus memilih. Antara meneruskan pendidikan di sekolah formal atau kembali homescholing. “Terlalu capai,” kata Tissa yang merasa menjalani sekolah formal dengan seabreg kegiatan di luar sekolah, dirasakannya terlalu berat. “Homeschooling keinginan aku sendiri. Karena aku ingin pendidikan dan karier jalan seiring. Jadi aku pikir selama masih bisa diatur, kenapa tidak. Dengan homescholing bisa lebih fleksibel dalam hal waktu. Mama dan papa terserah pada aku, yang penting aku merasa nyaman, komit dan mengutamakan pendidikan,” ujar Tissa yang rencananya akan meneruskan pendidikannya di Institut Kesenian Jakarta atau ke perguruan tinggi umum dengan jurusan komunikasi. Tissa merintis kariernya di dunia

gua tuh jatuh cinta banget sama seni peran. Jadi seneng aja ngejalaninya. Yang namanya kita suka sesuatu, ya menjalaninya juga dengan senang hati meskipun sibuk banget,” tambah Tissa. Tak sia-sia kerja keras dan pengorbanannya. Pada ajang Festival Film Indonesia 2014, Tissa pun berhasil meraih penghargaan khusus lewat film ‘3 Nafas Likas’ dan Negkabau Sunting (Sokola Rimba) sebagai Pemeran Anakanak Terbaik. Setahun kemudian ia meraih penghargaan Indonesia Movie Awards 2015.

Tissa Biani Azzahra entertainment sejak SD. Menjadi artis peran telah menjadi impiannya sejak kecil. “Gua pertama kali muncul di dunia entertainment itu waktu umur 2 tahun. Jadi model salah satu majalah. Itu cerita mama. Katanya, mama-papa tuh sudah melihat bakat gua sejak masih kecil. Aku tuh sudah suka tampil, juga suka akting di depan kaca. Tapi baru benar-benar terjun ke dunia entertainment saat umur 6 tahun,” ungkap Tissa. Awalnya, kata Tissa dia mendapat tawaran untuk ikut casting produk. Setelah itu barulah dia mencoba peruntungan untuk casting sinetron. “Kebetulan Om Deddy Mizwar ketika itu mencari anak berbakat untuk tampil dalam sinetron ‘Pesantren Cinta tahun’ 2008. Aku ikut casting dan berhasil lolos. Habis main sinetron ‘Anak Kaki Gunung’ , terus dapat tawaran main film pertama kali ‘Tanah Surga, Katanya’,” tambah Tissa. Meski mempelajari seni peran secara otodidak, namun anak bungsu dari pasangan Bobby Warasno-Dian, sudah mampu menunjukkan akting yang mumpuni. Tak heran kalau kariernya terus berkembang. Tawaran main film dan sinetron membanjir. Tak jarang dalam satu tahun dia tampil di 2-3 judul film maupun sinetron. Bisa dibayangkan betapa sibuknya Tissa. Tahun 2013 misalnya, selain main film ‘Cinta Dalam Kardus’, dia juga tampil di tiga judul sinetron; ‘Biru’, Putri Duyung’ ‘Kontrakan Tiga Pintu’. Tahun 2014, ia makin sibuk. Dia membintangi dua film dan empat FTV. Tahun lalu 2018 pun demikian, ia membintangi 1 film ‘The Returning’ dan tiga sinetron sekaligus; ‘Catatan Harian Aisha’, ‘Tukang Ojek Pengkolan’, dan ‘Tangis Kehidupan Wanita’. Meski kegiatannya sangat padat, Tissa mengaku tetap enjoy menjalaninya karena memang menyukai seni peran. “Nggak tahu kenapa tapi

P E R J UA N G A N P E N U H LIKU MERAIH PRESTASI Meski terkesan hebat dan orang menyebutnya sebagai gadis beruntung karena kariernya moncer di tengah persaingan ketat di dunia seni peran, namun semua itu didapatnya tidak mudah. Ada banyak pengorbanan yang dilakukannya juga kerja keras. Betapa tidak, sejak kecil dia sudah melakoni kariernya. Ketika anak-anak lain seusianya sibuk bermain, bersuka ria bersama teman sebayanya, Tissa kecil berjuang merintis karier. “Naikturun angkot, kadang naik taksi ke tempat casting. Panas-panasan, ngantri, dll, itupun belum tentu dapat peran (lolos casting). Pernah kejadian, sudah ngantri dari pagi, eh pas siang disuruh pulang. Casting ditunda, disuruh kembali lagi besoknya. Bayangin. Nyesek banget ya,” papar Tissa. Jadi tambah Tissa lagi, apa yang dicapainya saat ini melalui proses panjang. Dan dia menjalani dan mengikuti proses itu. “Aku menjalani prosesnya. Itu tidak mudah. Tidak semuanya mulus. Tidak lolos casting juga pernah. Pernah

nggak dapat peran juga,” tambahnya. Berbagai kendala maupun kegagalan, kata Tissa, tidak membuatnya putus asa. Meski harus naik-turun kendaraan umum untuk casting, Tissa mengaku tidak keberatan menjalaninya. Itu semua karena dia sangat menyukai seni peran. Dalam hal peran maupun genre film, dia tidak ingin monoton. Ia selalu bersemangat untuk mencoba yang baru. “Aku ingin coba semuanya, karena itu akan mengasah kemampuan aku. Drama sudah sering, kemarin tampil di film horor. Aku ingin suatu saat dapat kesempatan main film action. Aku juga ingin bisa main teater. Aku tahu main teater itu tantangannya berat, tapi aku sangat ingin mencoba,” ujar Tissa yang mengaku dalam mengambil pekerjaan di film, hal pertama yang jadi pertimbangannya adalah cerita film tersebut. “Kalau ceritanya nggak bagus aku nggak ambil,” tambah gadis tomboy ini. Selain seni peran, kini Tissa juga merambah ke dunia musik. Bukan aji mumpung atau ikut-ikutan, namun bermusik juga sudah dijalaninya sejak kecil. Tak heran selain memiliki suara merdu, dia pun menguasai beberapa alat musik, seperti gitar dan piano. “Sejak lama aku ingin—sebenarnya—juga ingin terjun ke dunia menyanyi. Untuk menunjang itu aku ikut kursus vokal,” kata Tissa yang mengoleksi gitar. Di luar itu, kata Tissa, ia juga sudah mulai belajar berbisnis. Dia sadar berkarier di dunia entertainment ada masanya. Karenanya, sejak dini dia pun sudah mulai belajar bisnis. “Dunia entertainment aku suka banget. Namun begitu, sekarang aku juga sudah mulai belajar berbisnis. Saat ini kita punya bisnis keluarga, kuliner. Jadi, suatu saat nanti, kalau aku sudah nggak di dunia entertainment, sudah punya bisnis (menjalankan bisnis),” ungkapnya. (Diana Runtu)

BULELENG

EDISI 1039/ 8-14 JULI 2019

Dahulu, tanaman kelor diidentikkan dengan makanan rakyat miskin. Hal ini dikarenakan kelor hanya dikonsumsi oleh masyarakat yang kelas perekonomiannya menengah ke bawah. Kini kelor menjadi salah satu tanaman yang digemari karena memiliki segudang manfaat untuk kesehatan. Selain digunakan sebagai sayur, kelor juga memiliki manfaat sebagai obat-obatan herbal untuk berbagai jenis penyakit.

H

al ini terungkap dalam seminar nasional kelor dengan tema, “Akselerasi Pengentasan Kemiskinan dan Penurunan Angka Stunting Melalui Pengembangan Bisnis dan Agro Wisata Kelor” di gedung Mr. Ketut Pudja Eks. Pelabuhan Buleleng Sabtu (29/6). Hadir sebagai pembicara dalam acara tersebut, I Gusti Bagus Sumertana, Ketua Kelompok Tani Organik Tri Hita Karana Desa Lokapaksa Kecamatan Seririt. Pihaknya mengungkapkan saat ini kelor mulai dikembangkan sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Berbagai penelitian menemukan kelor dapat digunakan sebagai obat herbal yang mampu mengatasi berbagai penyakit. Cara konvensional untuk mengonsumsi kelor dengan dibuat sayur atau dikeringkan lalu diseduh menjadi teh. Melalui seminar ini, imbuh Bagus Sumertana, kelor dapat diolah menjadi berbagai macam panganan yang menarik dan lezat, seperti cendol, laklak, klepon, dan berbagai macam kue yang terbuat dari tepung kelor. “Selain enak, tentu kelor ini juga akan menjadi makanan yang sangat bergizi untuk kesehatan,” ungkapnya. Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Koperasi Produsen Agri Bisnis Tri Hita Karana Desa Lo-

11

Pengembangan Kelor untuk Tingkatkan Perekonomian banyak manfaat untuk kesehatan dengan kandungan gizi yang sangat banyak. Tidak hanya daun kelor, buah hingga batang kelor juga memiliki manfaatnya tersendiri. “Bagaimanapun juga, kelor ini jadi salah satu sayuran yang me-

legenda dan memiliki cita rasanya yang khas, tidak sedikir yang gemar mengolah kelor menjadi makanan, jangan sampai kelor ini hilang ditelan zaman dikalahkan dengan fast food atau junk food,” jelasnya. (Wiwin Meliana)

Konsisten untuk Kegiatan Sosial kapaksa ini juga mengatakan saat ini pihaknya akan mengembangkan tanaman kelor di atas lahan seluas 260 hektare di beberapa titik di Kabupaten Buleleng. sebagai percobaan pihaknya telah menanam sebanyak 500 pohon kelor. Bagus Sumertana mengungkapkan selain untuk kesehatan, pengembangan kelor diharapkan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat. Maka dari itu, pihaknya telah melakukan sosialisasi dan memberikan pemahaman kepada petani bagaimana cara menanam kelor dan bagaimana kelor bisa menjadi sumber penghasilan. Pihaknya bekerjasama dengan pihak koperasi Tri Hita Karana akan memasarkan hasil panen dari petani kelor di daerah Lokapaksa. “Hasil pertanian kelor itu akan kami beli dengan harga kesepakatan lima ribu per kilo, nantinya akan kami pasarkan kepada pihak buyer dari luar negeri,” jelasnya. Untuk penanaman, Bagus mengatakan kelor merupakan tanaman yang tidak sulit dibudidayakan di lahan kering. Asalkan tenik pembibitan dan pemeliharaan yang tepat, kelor dapat dipanen selama enam bulan dari masa penanaman. Pembibitan dapat dilakukan dari biji, karena

Seminar Nasional Kelor

dijika dilakukan dari batang maka batang kelor tumbuh akan mudah keropos. “Bijinya kita semai selama dua bulan baru ditanam untuk pohon yang lebih berkualitas,” ungkapnya. Hadir dalam kegiatan tersebut, Plt. Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng I Made Sumiarta. Pihaknya menjelaskan melalui seminar kelor ini memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa kelor memiliki nilai manfaat yang sangat banyak khususnya dalam peningkatan gizi serta menghindarkan anak dari stunting. Oleh karena itu, kedepan pihaknya berencana akan semakin menggenjot pengembangan tanaman kelor di Kabupaten Buleleng lebih luas lagi. “Pertama kita terlebih dahulu memperbaiki infrastuktur, terutama ketersediaan bak penampungan air serta kita akan adakan pemetaan lahanlahan kering, kemudian SDM pertanian ini yang perlu kita rancang terlebih dahulu,” ungkapnya. SAYURAN YANG MELEGENDA Sementara itu, untuk bibit tanaman kelor akan segera diprogramkan Dinas Pertanian Buleleng. Sejauh ini pembibitan kelor baru ada di salah satu Kelompok Tani di Desa Lokapaksa yang sudah bekerjasama dengan pembibit dari luar. Pihaknya menargetkan dalam lima tahun kedepan mampu melakukan penambahan luas lahan budidaya kelor khususnya di lahan marginal seperti kawasan Seririt dan Gerokgak Buleleng. Hal senada juga di ungkapkan Kadis Ketahanan Pangan Kabupaten Buleleng Surya Temaja, pihaknya mendukung pengembangan kelor di Kabupaten Buleleng. Bahkan pihaknya menegaskan, kelor jangan lagi diidentikkan dengan makanan orang miskin, karena tanaman kelor memiliki

Pengentasan kemiskinan di Kabupaten Buleleng terus digalakkan, tidak saja oleh pemerintah tetapi juga pihak lain yang peduli akan sesama. Tidak hanya melalui sebuah program pemberdayaan maupun peningkatan sumber daya manusia, pengentasan kemiskin juga dilakukan melalui pemberian bantuan. Salah satunya melalui program bedah rumah. Hal ini juga sebagai salah satu misi dari Buleleng Social Community (BSC) sebagai organisasi nonprofit dan nonpolitik. Terbentuk sejak 2015 silam, BSC konsisten menyisir masyarakat-masyarakat pinggiran yang kurang mampu. Sejak berdiri hingga sekarang, program BSC yang paling utama adalah bedah rumah untuk masyarakat kurang mampu di seluruh Kecamatan Buleleng. Sekitar 50 unit rumah telah diserahkan kepada warga. Serangkaian dengan peringatan hari jadi BSC KE-4 tahun, organisasi ini kembali menyerahkan bantuan bedah rumah sebanyak 3 unit kepada masyarakat di Buleleng. Selain penyerahan bedah rumah, kegiatan yang mengambil tema “Smile Charity” ini juga menyerahkan sembako kepada 100 lansia di Desa Patemon, pemeriksaan kesehatan gratis, donor darah, penyerahan beasiswa pendidikan kepada anak yatim dan piatu, penyerahan bantuan berupa alat tulis dan tas kepada 100 anak-anak kurang mampu yang ada di Desa Patemon. Ketua Panitia Putu Arjana menjelaskan dipilihnya Desa Patemon kali ini karena sesuai dengan hasil survei BSC yang bekerja sama dengan aparat desa setempat, TNI, Babinsa serta Dinas Sosial Kabupaten Buleleng terdapat masih banyak lansia dan anak-anak yang kurang mampu di desa tersebut. Oleh karena itu HUT BSC yang juga menggandeng Yayasan SeSama serta sejumlah donatur ini memilih lokasi perayaan di Desa Patemon dengan mengusung tema “Smike Charity” atau berbagi senyuman kepada sesama. “Berdasarkan survei tim kami, banyak sekali lansia dan anak - anak kurang mampu, oleh karena itu dari 12 banjar kita ambil per banjar 10 orang dan untuk anak-anak SD kita ambil dari tiga sekolah dasar diantaranya SD Negeri 1, SD Negeri 4 dan SD Negeri 5,” jelasnya. Sementara itu Ketua Buleleng Sosial Comunity Made Eka Tirtayana, S.E. menjelaskan kegiatan HUT BSC yang dikemas menjadi beberapa tahap ini merupakan implementasi dari visi dan misi BSC dengan konsep organisasi sosial. Eka Tirtayana juga menambahkan, hingga saat ini masih ada 15 daftar calon penerima bedah rumah yang rencananya mulai dipersiapkan untuk penggarapan pada Juli mendatang. “Yang paling urgent ada di Desa Sidetapa Kecamatan Banjar bulan depan kita mulai persiapan, setelah itu baru yang di Desa Yeh Anakan, untuk menemukan calon penerima bedah rumah kita bersinergi dengan Babinsa, TNI, Aparat Desa setempat serta data dari Dinas Sosial Kabupaten Buleleng,” jelasnya. Pihaknya berharap ke depan makin banyak lagi dukungan agar BSC mampu menjangkau lebih banyak lagi masyarakat yang kurang mampu dan lansia-lansia baik yang ada di pelosok desa hingga tidak menutup kemungkinan di perkotaan. “Untuk dana kita open donasi berapapun kita terima, mohon dukungan dari semua pihak karena tanpa dukungan dari banyak pihak kita tidak akan bisa jalan,”pungkasnya. (Wiwin Meliana)

Pemberian bedah rumah oleh BSC


Style

10

Edisi 1039/ 8 - 14 juLi 2019

Colorful dengan Kesan Fresh

Selain bidang pariwisata, pertanian masih menjadi tumpuan perekonomian masyarakat di Buleleng. Namun, makin banyaknya peluang kerja di bidang lain, membuat minat generasi muda di bidang pertanian makin menurun. Penghasilan kecil dan pekerjaan kotor menjadi alasan kurang berminatnya generasi muda terhadap pertanian. Mereka merasa lebih percaya diri ketika bekerja di sebuah perusahaan dengan pakaian rapi.

Exuberant adalah sub tema pilihan Wulan Madungki untuk rancangannya. Kesan ceria, optimis nan penuh semangat berhasil disuguhkan pada “Graduation Show Angeliqa Wu Fashion Design Course di The Vasini Boutique Hotel”, Denpasar, Sabtu (1/6) .

K

oleksi ready to wear dari pe­­raih predikat Juara Favorit ini berbahan linen dengan siluet H. Sementara gaya simpel dan minimalis, ele­ gan,

modern serta stylish-nya terinspirasi dari tema ‘Serendipity’ . Desain milik Wulan ini juga digambarkan melalui warna kuning, beige, biru dan oranye. Kolaborasi warna bernuansa ceria, harapan, kebenaran, loyalitas, sederhana namun penuh kehangatan. Koleksi berikutnya milik Kanya Winda yang inspirasi dari street art. Karyanya menjadi menarik

EDUKASI

Edisi 1039/ 8 - 14 juLi 2019

Petani Milenial Harus Punya Inovasi muda ini bisa bekerja di atas meja memikirkan strategi pemasaran dan komoditi apa yang harus dikembang untuk memenuhi kebutuhan pasar,” jelasnya.

B

dengan detail patchwork, yang ditempel dan dijarit secara zig zag. Selain itu pemenang ketiga “Graduation Show Angeliqa Wu FDC” ini menggunakan motif print berbentuk persegi, segitiga, lingkaran, unfinished pada jaket,celan dan rok jeans. Busana ready to wear buatan Kanya ini bergaya kasual, dengan kesan fresh, unik dan ceria. Pilihan bahannya denim, yang identik dengan gaya street. Pemilihan warna merah, kuning, dan hijau menghasilkan perpaduan yang colorful. (Sri Ardhini)

7

elakangan ini, pemerintah Kabupaten Buleleng melalui Dinas Pertanian mulai menggalakkan pertanian bagi petani milenial. Menurut Kepala Bidang Holtikultura Dinas Pertanian Kab.Buleleng I Gede Subudi, SP., petani milenial tidak melulu soal bekerja di sawah maupun kebun, tetapi bagaimana lebih terhadap manajemen baik pemasaran maupun inovasi-inovasi yang dilakukan. “Bagaimana petani

Subudi menambahkan sejauh ini masyarakat khususnya kalangan generasi muda di Bali sudah memiliki perubahan cara pandang terhadap dunia pertanian. Hal itu dibuktikan dengan semakin banyaknya komuni-

I Gede Subudi

tas petani muda, yang tidak saja berhasil menghasilkan produk pertanian, tetapi juga mampu membangun jaringan bisnis. Pertanian sendiri tidak hanya sekadar menghasilkan produk pertanian, tetapi di dalamnya ada rantai pemasaran dan pengolahan yang juga mempunyai peluang keuntungan cukup besar. Untuk memberikan ruang kepada petani muda, puluhan petani milenial ikut ambil bagian dalam gelaran Twin Lake Festival (TLF) ke-6 tahun 2019. Selain memamerkan hasil pertanian yang menjadi komuditas garapannya, para petani muda itu juga akan diberikan ruang untuk berbagi keberhasilan dalam usaha pertanian. Dilibatkannya para petani muda itu dalam ajang TLF kali ini bertujuan untuk merangsang minat generasi muda saat

ini dalam menggeluti dunia pertanian. Selain itu, lanjut Subudi, keterlibatan para petani muda itu juga untuk memperkenalkan pola pertanian modern yang tidak hanya melihat pertanian dari segi konvensional semata. Tetapi lebih dari itu, pertanian harus dilihat secara lebih luas dari sisi agribisnisnya. Nantinya, petani muda yang akan terlibat dan mengisi kegiatan serangkaian TLF itu berasal dari berbagai daerahn di Bali. Mereka akan diberikan kesempatan untuk memamerkan hasil komuditas yang mereka kembangkan, termasuk komuditas bisnis hasil pertanian yang mereka tekuni. “Selain stand untuk mereka (petani muda), nanti akan kami siapkan juga ruang untuk diskusi petani muda. Nantinya mereka bisa sharing tentang keberhasilannya di sana,” ungkap Subudi. (Wiwin Meliana)

Yoga untuk Osteoartritis

Banyak orang menderita artritis baik perempuan maupun laki-laki, orangtua bahkan anakanak. Ada 100 jenis lebih artritis. Dan, yang paling umum adalah osteoartritis , yakni penyakit sendi degeneratif. Penyakit ini dimulai dengan kerusakan degenerasi tulang-tulang sendi diantara tulang- tulang tubuh. Di sini kami akan memandu Anda untuk mengurangi dan mencegah terjadinya osteoartritis dengan teknik yoga.

3

Gambar 2 Masih dengan posisi tulang punggung tegak lurus (lihat gambar 2). Jangan mengangkat kedua bahu, lalu tekuk lutut kanan dan kaki kiri tetap posisi lurus, telapak kaki masih diaktifkan. Mulai dengan tenang menarik napas, tekuk lutut dan buang napas luruskan kembali kaki kanan. Lakukan 10 kali putaran gerakan diatas tentunya seiring napas. Lakukan gerakan kaki sebaliknya.

Gambar 1 Sebaiknya Anda cari tembok atau pilar untuk mempertahankan posisi tulang punggung tegak lurus. Perhatikan gambar 1, kedua telapak kaki diaktifkan, didorong ke dalam serta ke dua bahu rileks. Mulai rileks atur napas dengan tenang lalu perlahan tarik napas dengan lembut arahkan napas ke bagian kaki dengan visualisasi dan buang napas secara lembut. Lakukan 10 kali putaran napas.

1

Gambar 3 Masih tetap duduk dengan posisi seperti di gambar. Letakkan tumit kaki kanan diatas jari-jari kaki kiri (lihat gambar 3) Kedua tangan disamping badan kira-kira, 40 cm dari badan dengan jari-jari tangan menerkam ke lantai. Sekarang mulai perhatikan napas dengan lembut, tarik napas dan buang napas 10 kali putaran Lakukan sikap tersebut untuk kaki sebaliknya.

2

4

Gambar 4 Kaki masih bertumpu (lihat gambar). Putar badan ke sisi sebelah kanan dengan ke dua tangan letakkan disamping badan. Mulai atur napas dan lakukan pernapasan perut 10 kali putaran . Lakukan langkah selanjutnya dengan mengganti posisi tumpuan kaki. Selamat berlatih dengan senyum Selalu sehat dalam yoga

Model : Brigita Lea (Guru Markandeya Yoga Indonesia Banjarmasin) LKP/LPK Markandeya Yoga Indonesia


8

EDISI 1039/ 8-14 JULI 2019

Gubernu Bali memberi penghargaan kepada para pengabdi seni.

Serangkaian pelaksanaan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLI Tahun 2019, Gubernur Bali Wayan Koster didampingi Wagub Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace) dan Ny. Putri Suastini Koster menyerahkan penghargaan bagi pengabdi seni di Gedung Ksirarnawa Taman Budaya Provinsi Bali, Kamis (4/7).

D

alam sambutannya, Gubernur Koster mengatakan bahwa pemberian penghargaan bagi pengabdi seni merupakan bagian dari upaya pemajuan kebudayaan. Koster menambahkan, hadiah berupa uang tunai Rp 10 juta masih sangat kecil jika dibandingkan dengan jasa para peng-

abdi seni. “Mohon jangan dilihat dari jumlahnya, namun ini merupakan wujud komitmen dan kepedulian pemerintah terhadap para pengabdi seni,” ujar pria yang juga menjabat sebagai Ketua DPD PDIP Bali ini. Dalam kesempatan itu, Koster langsung memerintahkan Kadis Kebudayaan Provinsi Bali segera menyiap-

kan regulasi agar para pengabdi seni yang memperoleh penghargaan bisa memperoleh layanan kesehatan sesuai kebutuhan mereka. “Di luar hadiah yang diterima, kesehatan mereka harus diurus. Demikian pula pendidikan cucucucu mereka,” tambahnya. Masih dalam sambutannya, Gubernur mengutarakan rasa bangga terhadap dedikasi yang ditunjukkan para pengabdi seni. Ia berharap, para pengabdi seni bisa menginspirasi kalangan generasi muda agar mewarisi semangat mereka dalam pelestarian dan pengembangan seni budaya. Menurutnya, pemajuan budaya menjadi salah satu program prioritas dalam visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali. Keseriusan Koster dalam penguatan budaya telah ditunjukkan dengan keluarnya Pergub 79 Tahun 2018 tentang

Masih Banyak Kasus TPPO Prostitusi Anak Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Dr. Livia Istania DF Iskandar menyebutkan, masih banyak korban dan saksi dalam kasus tindak pidana perdagangan orang (TPPO) untuk tujuan prostitusi anak yang belum terungkap. Menurutnya, warga kebanyakan tak berani melapor ke aparat. “Ada ketakutan jika mereka harus menjadi saksi dalam sebuah kasus tersebut,” kata Livia di sela acara diskusi terbatas yang digelar LBH Apik Bali, bersama LPSK Nasional di kantor DPD RI Denpasar. Khusus di daerah Nusa Tenggara Timur (NTT), selama bulan Maret 2019 tercatat 60 warga menjadi korban TPPO. “Nyaris setiap harinya

ada satu korban dari kasus TPPO di NTT,” kata Livia. Menurut dia, NTT adalah tempat yang sangat parah untuk kasus TPPO, karena korban yang terkena kasus ini semuanya pulang dengan peti mayat. “Setiap harinya hampir satu orang meninggal dunia dari kasus TPPO. Ini tidak bisa dibiarkan,” kata Livia. Dikatakan, untuk jumlah korban pada 2018 yang ditangani LPSK tercatat 317 korban, tersebar di beberapa wilayah di Indonesia. “Selama tahun 2018 itu juga LPSK menangani perlindungan bagi korban TPPO dengan register permohonan yang diputuskan untuk diterima sebanyak 99 orang saksi/ korban dari 39 kasus,” ujarnya.

Sementara untuk yang diberi perlindungan oleh LPSK, kata dia, selama 2018 tercatat 70 orang. LPSK selain sudah melindungi korban TPPO dari tahun 2016 hingga 2019, juga telah membantu para korban secara gratis tanpa memungut biaya sepeser pun, baik sejak awal penyelidikan di lapangan maupun setelah menginjak persidangan di pengadilan. Livia mengatakan, kasus TPPO yang selama ini sudah ditangani bersama LSM dan instansi terkait sudah banyak. Perlindungan juga diberikan baik untuk korban, saksi maupun keluarganya. Menurut Livia, kasus-kasus TPPO yang sudah dilimpahkan ke pihak berwenang, termasuk sudah sampai

Wayan Sugita (Seniman Drama Gong dari Kabupaten Gianyar), I Komang Arsana (Seniman Sastra Daerah dari Kabupaten Jembrana), Ida Ayu Karang Adnyani Dewi (Seniman Tari dari Kabupaten Karangsem) dan Ida Bagus Ketut Wedana (Seniman Sastra dari Kabupaten Klungkung). Tiga nama terakhir berturut-turut adalah I Ketut Suada Seniman Tari dariTabanan), Wayan Gulendra (Seniman Lukis ISI Denpasar) serta I Wayan Senen (Seniman Karawitan dari Yogyakarta). Mereka memperoleh piagam penghargaan dan bantuan masingmasing sebesar Rp 10 juta. Esensi dari pemberian penghargaan pengabdi seni tahun 2019 bukan semata-mata nilai materi yang diterima namun penghormatan dan pengakuan terhadap jasajasa seniman agar bisa diketahui dan menjadi contoh bagi generasi muda. Dengan demikian segala jasa serta pengorbanan para seniman tersebut dapat diteladani oleh generasi muda demi keberlanjutan seni dan budaya Bali. Dalam kesempatan itu, para pengabdi seni menunjukkan kepiawaian untuk menghibur undangan dan masyarakat yang memadati Gedung Ksirarnawa. (ast)

9

Sarapan Sehat Praktis dengan Oat

Gubernur Koster Beri Jaminan Kesehatan Bagi Penerima Penghargaan Pengabdi Seni Hari Penggunaan Busana Adat Bali dan Pergub 80 Tahun 2018 tentang Penggunaan Bahasa, Aksara dan Sastra Bali serta Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali. Selain itu, saat ini pihaknya tengah merancang sebuah regulasi untuk pemajuan kebudayaan yang lebih komprehensif hingga ke akar-akarnya. Menambahkan apa yang disampaikan Koster, Cok Ace mengingatkan agar masyarakat Bali jangan sampai meninggalkan seni dan budaya. Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali I Wayan Adnyana dalam laporannya menyampaikan, pemberian penghargaan ini merupakan wujud apresiasi terhadap para seniman yang berperan aktif dalam pelestarian dan pengembangan seni. Pada perhelatan PKB kali ini, Pempov menganugerahkan penghargaan bagi 11 pengabdi seni dari berbagai bidang. Mereka adalah seniman sastra dari Badung Dewa Putu Gingsir, seniman ukir telor dari Bangli I Nyoman Sukanta, seniman tari dan tabuh dari Kabupaten Buleleng Anak Agung Gede Ngurah Agung Pemayun. Berikutnya adalah I Nyoman Suarsa (Seniman Tari dari Kota Denpasar), I

KULINER

EDISI 1039/ 8-14 JULI 2019

Nikki Indrawati

O

at memiliki banyak nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh. Diantaranya karbohidrat, serat, lemak, protein, vitamin B1, B2, B3, B5, B9, kalsium, magnesium, folat, fosfor, mangan, kalium dan zat besi. Karena itu oat memiliki banyak manfaat. Kandungan protein dan karbohidrat pada oat bisa menjadi sumber energi yang baik untuk tubuh di pagi hari. Selain itu juga, oat membantu meningkatkan pembakaran lemak terutama jika dikonsumsi sebelum berolah raga. Oat juga mengandung serat yang sangat baik untuk kesehatan pencernaan yang juga membantu mengurangi kolesterol ahat dan turut menjaga berat badan. Vitamin dan mineral pada oat baik

Memulai hari dengan sarapan sehat bergizi, sangat bermanfaat menunjang kita dalam menjalankan aktivitas seharian dengan semangat dan energi penuh. Salah satu dari sarapan sehat bernutrisi tinggi tersebut adalah oat. Demikian di sampaikan Nikki Indrawati (plant bassed dan konsultan nutrisi berbasis holistik). untuk kesehatan kulit, seperti zinc yang membantu membersihkan kulit dan menyingkirkan racun dan juga zat besi yang menyediakan nutrisi untuk kelembaban kulit. Oat memiliki juga kadar indeks glikemik rendah sehingga bisa membantu menstabilkan gula darah bagi penderita diabetes. Selain banyaknya manfaat kesehatan yang diperoleh, mengkonsumsi oat di pagi hari juga sangat praktis bagi yang tidak memiliki banyak waktu untuk menyiapkan sarapan. Tidak perlu khawatir dengan rasa oat yang hambar karena disini Nikki menghadirkan dua variasi resep oat yang mudah cepat, penuh nutrisi dan kaya akan rasa. (Sri Ardhini)

Bubur Oatmeal Pisang dengan Toping Selei Kacang dan Stroberi Bahan-bahan 4 sdm : oat 1 cup : air putih 1 pisang ukuran sedang diiris Sejumput garam Topping ½ cup : susu kedelai 1 sdm : selai kacang 1 sdm : selai stroberi Irisan buah menurut selera Taburan kacang menurut selera

Cara membuat - Rendam oat semalam dengan 1 cup air. - Tuangkan rendaman oat beserta airnya ke panci, tambahkan irisan pisang dan garam lalu masak hingga mendidih selama kurang lebih 5 menit dengan terus diaduk. Bisa ditambahkan air lagi jika perlu. - Lalu angkat jika sudah matang dan tuangkan ke dalam mangkok. - Hiasi dengan topping dan siap dinikmati.

Overnight Oat Apel Bahan-bahan ½ cup : oat ½ cup : susu kedelai 1 sdt : madu atau sirup gula lontar ¼ cup : parutan apel Topping 1 buah : apel malang potong dadu 1-2 sdt : gula aren 1 sdt : bubuk kayu manis 1-2 sdm : kacang2an cincang sesuai selera

Cara membuat - Campur semua bahan oat ke dalam toples kaca.Aduk rata dan diamkan di dalam kulkas sedikitnya 8 jam - Untuk topping bisa disiapkan langsung di pagi hari, campurkan semua bahan di dalam mangkok dan aduk rata - Bisa langsung dinikmati di pagi hari dengan menambah campuran topping apel.

Cita Rasa Salam hangat dari Aston Denpasar Hotel & Convention Center. Berikut ini kami sajikan resep Ayam Mandarin dan Chocolate Tart. Selamat mencoba. di tingkat pengadilan, sudah banyak. Ia berharap kepada masyarakat untuk memberikan dukungan terhadap pengungkapan kasus TPPO, sehingga bisa diselesaikan secara cepat dan mengantisipasi tidak lagi terjadi kasus perdagangan orang ke arah prostitusi. “Kasus-kasus TPPO yang kami tangani semua sudah naik ke tingkat pengadilan dan kami berharap semua pihak untuk mem-

prosesnya lebih cepat,” ujarnya. Ketua Lembaga Bantuan Hukum APIK Bali, Ni Luh Putu Nilawati mengharapkan masyarakat mewaspadai terjadinya perdagangan orang untuk tujuan prostitusi khuusnya di Bali. Ia menyerukan agar warga segera melaporkannya kepada aparat kepolisian ketika melihat anak-anak dipekerjakan. (Wirati Astiti).

Dari kiri Luh Putu Anggreni (moderator), Ni Luh Putu Nilawati, dan Livia Istania DF Iskandar.

Ayam Mandarin Chef Komang Aryana

Bahan-Bahan: 1 pcs : ayam paha tanpa tulang dipotong kotak 2 siung : bawang putih dicincang 1 sdm : saus tomat 2 sdm : gula pasir ½ sdt : bumbu penyedap 1 sdt : perasan jeruk nipis 1 cup : kuah kaldu ayam 1 sdt : tepung maizena 200 gr : tepung terigu 1 butir : telur dikocok halus ½ liter : minyak goreng Garam dan merica secukupnya Daun bawang merah dan wijen sebagai garnis

Cara Membuat: - Bumbui ayam dengan garam dan merica. - Campurkan ayam dengan telur yang sudah dikocok kemudian aduk rata. - Tambahkan sedikit tepung terigu kemudian aduk hingga rata. - Angkat ayam, kemudian masukkan sisa tepung terigu aduk hingga rata lagi. - Panaskan minyak, ayam siap digoreng sampai matang. - Siapkan saus dengan cara ditumis bawang putih dan tambahkan 1 sdm makan minyak goreng. - Masukkan saus tomat, kemudian tumis lagi hingga agak kering. - Masukkan kuah kaldu ayam, gula pasir, dan

perasan jeruk nipis. - Bumbui dengan garam, merica, dan bumbu penyedap. - Tunggu hingga mendidih, kemudian kentalkan dengan tepung maizena, kemudian masukkan ayam. - Ayam mandarin siap dihidangkan dengan taburan wijen dan potongan daun bawang merah.

Chocolate Tart Bahan-bahan: 500 gr : gula halus 100 gr : butter 5 gr : garam 150 gr : tepung terigu 25 gr : coklat bubuk 1 pcs : kuning telur 250 gr : dark coklat 100 ml : fresh krim 100 gr : whipped krim coklat Cara Membuat Cup Tart: - Kocok gula halus, garam, dan butter sampai lembut. - Masukkan kuning telur dan kocok sampai rata. - Masukkan tepung, coklat bubuk, dan campur sampai rata. Simpan di lemari es + ­­ 2 jam. - Pipihkan adonan dan cetak dalam cetakan bulat, kemudian oven selama 15 menit sampai matang. Angkat dan dinginkan. Cara Membuat Isiannya: - Lelehkan dark coklat, kemu-

dian campur dengan fresh krim dan aduk sampai rata. - Tuang ke dalam cup tart sampai penuh, kemudian dinginkan. - Hias dengan whipped cream coklat dan Chocolate Tart siap dihidangkan.


8

EDISI 1039/ 8-14 JULI 2019

Gubernu Bali memberi penghargaan kepada para pengabdi seni.

Serangkaian pelaksanaan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLI Tahun 2019, Gubernur Bali Wayan Koster didampingi Wagub Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace) dan Ny. Putri Suastini Koster menyerahkan penghargaan bagi pengabdi seni di Gedung Ksirarnawa Taman Budaya Provinsi Bali, Kamis (4/7).

D

alam sambutannya, Gubernur Koster mengatakan bahwa pemberian penghargaan bagi pengabdi seni merupakan bagian dari upaya pemajuan kebudayaan. Koster menambahkan, hadiah berupa uang tunai Rp 10 juta masih sangat kecil jika dibandingkan dengan jasa para peng-

abdi seni. “Mohon jangan dilihat dari jumlahnya, namun ini merupakan wujud komitmen dan kepedulian pemerintah terhadap para pengabdi seni,” ujar pria yang juga menjabat sebagai Ketua DPD PDIP Bali ini. Dalam kesempatan itu, Koster langsung memerintahkan Kadis Kebudayaan Provinsi Bali segera menyiap-

kan regulasi agar para pengabdi seni yang memperoleh penghargaan bisa memperoleh layanan kesehatan sesuai kebutuhan mereka. “Di luar hadiah yang diterima, kesehatan mereka harus diurus. Demikian pula pendidikan cucucucu mereka,” tambahnya. Masih dalam sambutannya, Gubernur mengutarakan rasa bangga terhadap dedikasi yang ditunjukkan para pengabdi seni. Ia berharap, para pengabdi seni bisa menginspirasi kalangan generasi muda agar mewarisi semangat mereka dalam pelestarian dan pengembangan seni budaya. Menurutnya, pemajuan budaya menjadi salah satu program prioritas dalam visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali. Keseriusan Koster dalam penguatan budaya telah ditunjukkan dengan keluarnya Pergub 79 Tahun 2018 tentang

Masih Banyak Kasus TPPO Prostitusi Anak Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Dr. Livia Istania DF Iskandar menyebutkan, masih banyak korban dan saksi dalam kasus tindak pidana perdagangan orang (TPPO) untuk tujuan prostitusi anak yang belum terungkap. Menurutnya, warga kebanyakan tak berani melapor ke aparat. “Ada ketakutan jika mereka harus menjadi saksi dalam sebuah kasus tersebut,” kata Livia di sela acara diskusi terbatas yang digelar LBH Apik Bali, bersama LPSK Nasional di kantor DPD RI Denpasar. Khusus di daerah Nusa Tenggara Timur (NTT), selama bulan Maret 2019 tercatat 60 warga menjadi korban TPPO. “Nyaris setiap harinya

ada satu korban dari kasus TPPO di NTT,” kata Livia. Menurut dia, NTT adalah tempat yang sangat parah untuk kasus TPPO, karena korban yang terkena kasus ini semuanya pulang dengan peti mayat. “Setiap harinya hampir satu orang meninggal dunia dari kasus TPPO. Ini tidak bisa dibiarkan,” kata Livia. Dikatakan, untuk jumlah korban pada 2018 yang ditangani LPSK tercatat 317 korban, tersebar di beberapa wilayah di Indonesia. “Selama tahun 2018 itu juga LPSK menangani perlindungan bagi korban TPPO dengan register permohonan yang diputuskan untuk diterima sebanyak 99 orang saksi/ korban dari 39 kasus,” ujarnya.

Sementara untuk yang diberi perlindungan oleh LPSK, kata dia, selama 2018 tercatat 70 orang. LPSK selain sudah melindungi korban TPPO dari tahun 2016 hingga 2019, juga telah membantu para korban secara gratis tanpa memungut biaya sepeser pun, baik sejak awal penyelidikan di lapangan maupun setelah menginjak persidangan di pengadilan. Livia mengatakan, kasus TPPO yang selama ini sudah ditangani bersama LSM dan instansi terkait sudah banyak. Perlindungan juga diberikan baik untuk korban, saksi maupun keluarganya. Menurut Livia, kasus-kasus TPPO yang sudah dilimpahkan ke pihak berwenang, termasuk sudah sampai

Wayan Sugita (Seniman Drama Gong dari Kabupaten Gianyar), I Komang Arsana (Seniman Sastra Daerah dari Kabupaten Jembrana), Ida Ayu Karang Adnyani Dewi (Seniman Tari dari Kabupaten Karangsem) dan Ida Bagus Ketut Wedana (Seniman Sastra dari Kabupaten Klungkung). Tiga nama terakhir berturut-turut adalah I Ketut Suada Seniman Tari dariTabanan), Wayan Gulendra (Seniman Lukis ISI Denpasar) serta I Wayan Senen (Seniman Karawitan dari Yogyakarta). Mereka memperoleh piagam penghargaan dan bantuan masingmasing sebesar Rp 10 juta. Esensi dari pemberian penghargaan pengabdi seni tahun 2019 bukan semata-mata nilai materi yang diterima namun penghormatan dan pengakuan terhadap jasajasa seniman agar bisa diketahui dan menjadi contoh bagi generasi muda. Dengan demikian segala jasa serta pengorbanan para seniman tersebut dapat diteladani oleh generasi muda demi keberlanjutan seni dan budaya Bali. Dalam kesempatan itu, para pengabdi seni menunjukkan kepiawaian untuk menghibur undangan dan masyarakat yang memadati Gedung Ksirarnawa. (ast)

9

Sarapan Sehat Praktis dengan Oat

Gubernur Koster Beri Jaminan Kesehatan Bagi Penerima Penghargaan Pengabdi Seni Hari Penggunaan Busana Adat Bali dan Pergub 80 Tahun 2018 tentang Penggunaan Bahasa, Aksara dan Sastra Bali serta Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali. Selain itu, saat ini pihaknya tengah merancang sebuah regulasi untuk pemajuan kebudayaan yang lebih komprehensif hingga ke akar-akarnya. Menambahkan apa yang disampaikan Koster, Cok Ace mengingatkan agar masyarakat Bali jangan sampai meninggalkan seni dan budaya. Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali I Wayan Adnyana dalam laporannya menyampaikan, pemberian penghargaan ini merupakan wujud apresiasi terhadap para seniman yang berperan aktif dalam pelestarian dan pengembangan seni. Pada perhelatan PKB kali ini, Pempov menganugerahkan penghargaan bagi 11 pengabdi seni dari berbagai bidang. Mereka adalah seniman sastra dari Badung Dewa Putu Gingsir, seniman ukir telor dari Bangli I Nyoman Sukanta, seniman tari dan tabuh dari Kabupaten Buleleng Anak Agung Gede Ngurah Agung Pemayun. Berikutnya adalah I Nyoman Suarsa (Seniman Tari dari Kota Denpasar), I

KULINER

EDISI 1039/ 8-14 JULI 2019

Nikki Indrawati

O

at memiliki banyak nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh. Diantaranya karbohidrat, serat, lemak, protein, vitamin B1, B2, B3, B5, B9, kalsium, magnesium, folat, fosfor, mangan, kalium dan zat besi. Karena itu oat memiliki banyak manfaat. Kandungan protein dan karbohidrat pada oat bisa menjadi sumber energi yang baik untuk tubuh di pagi hari. Selain itu juga, oat membantu meningkatkan pembakaran lemak terutama jika dikonsumsi sebelum berolah raga. Oat juga mengandung serat yang sangat baik untuk kesehatan pencernaan yang juga membantu mengurangi kolesterol ahat dan turut menjaga berat badan. Vitamin dan mineral pada oat baik

Memulai hari dengan sarapan sehat bergizi, sangat bermanfaat menunjang kita dalam menjalankan aktivitas seharian dengan semangat dan energi penuh. Salah satu dari sarapan sehat bernutrisi tinggi tersebut adalah oat. Demikian di sampaikan Nikki Indrawati (plant bassed dan konsultan nutrisi berbasis holistik). untuk kesehatan kulit, seperti zinc yang membantu membersihkan kulit dan menyingkirkan racun dan juga zat besi yang menyediakan nutrisi untuk kelembaban kulit. Oat memiliki juga kadar indeks glikemik rendah sehingga bisa membantu menstabilkan gula darah bagi penderita diabetes. Selain banyaknya manfaat kesehatan yang diperoleh, mengkonsumsi oat di pagi hari juga sangat praktis bagi yang tidak memiliki banyak waktu untuk menyiapkan sarapan. Tidak perlu khawatir dengan rasa oat yang hambar karena disini Nikki menghadirkan dua variasi resep oat yang mudah cepat, penuh nutrisi dan kaya akan rasa. (Sri Ardhini)

Bubur Oatmeal Pisang dengan Toping Selei Kacang dan Stroberi Bahan-bahan 4 sdm : oat 1 cup : air putih 1 pisang ukuran sedang diiris Sejumput garam Topping ½ cup : susu kedelai 1 sdm : selai kacang 1 sdm : selai stroberi Irisan buah menurut selera Taburan kacang menurut selera

Cara membuat - Rendam oat semalam dengan 1 cup air. - Tuangkan rendaman oat beserta airnya ke panci, tambahkan irisan pisang dan garam lalu masak hingga mendidih selama kurang lebih 5 menit dengan terus diaduk. Bisa ditambahkan air lagi jika perlu. - Lalu angkat jika sudah matang dan tuangkan ke dalam mangkok. - Hiasi dengan topping dan siap dinikmati.

Overnight Oat Apel Bahan-bahan ½ cup : oat ½ cup : susu kedelai 1 sdt : madu atau sirup gula lontar ¼ cup : parutan apel Topping 1 buah : apel malang potong dadu 1-2 sdt : gula aren 1 sdt : bubuk kayu manis 1-2 sdm : kacang2an cincang sesuai selera

Cara membuat - Campur semua bahan oat ke dalam toples kaca.Aduk rata dan diamkan di dalam kulkas sedikitnya 8 jam - Untuk topping bisa disiapkan langsung di pagi hari, campurkan semua bahan di dalam mangkok dan aduk rata - Bisa langsung dinikmati di pagi hari dengan menambah campuran topping apel.

Cita Rasa Salam hangat dari Aston Denpasar Hotel & Convention Center. Berikut ini kami sajikan resep Ayam Mandarin dan Chocolate Tart. Selamat mencoba. di tingkat pengadilan, sudah banyak. Ia berharap kepada masyarakat untuk memberikan dukungan terhadap pengungkapan kasus TPPO, sehingga bisa diselesaikan secara cepat dan mengantisipasi tidak lagi terjadi kasus perdagangan orang ke arah prostitusi. “Kasus-kasus TPPO yang kami tangani semua sudah naik ke tingkat pengadilan dan kami berharap semua pihak untuk mem-

prosesnya lebih cepat,” ujarnya. Ketua Lembaga Bantuan Hukum APIK Bali, Ni Luh Putu Nilawati mengharapkan masyarakat mewaspadai terjadinya perdagangan orang untuk tujuan prostitusi khuusnya di Bali. Ia menyerukan agar warga segera melaporkannya kepada aparat kepolisian ketika melihat anak-anak dipekerjakan. (Wirati Astiti).

Dari kiri Luh Putu Anggreni (moderator), Ni Luh Putu Nilawati, dan Livia Istania DF Iskandar.

Ayam Mandarin Chef Komang Aryana

Bahan-Bahan: 1 pcs : ayam paha tanpa tulang dipotong kotak 2 siung : bawang putih dicincang 1 sdm : saus tomat 2 sdm : gula pasir ½ sdt : bumbu penyedap 1 sdt : perasan jeruk nipis 1 cup : kuah kaldu ayam 1 sdt : tepung maizena 200 gr : tepung terigu 1 butir : telur dikocok halus ½ liter : minyak goreng Garam dan merica secukupnya Daun bawang merah dan wijen sebagai garnis

Cara Membuat: - Bumbui ayam dengan garam dan merica. - Campurkan ayam dengan telur yang sudah dikocok kemudian aduk rata. - Tambahkan sedikit tepung terigu kemudian aduk hingga rata. - Angkat ayam, kemudian masukkan sisa tepung terigu aduk hingga rata lagi. - Panaskan minyak, ayam siap digoreng sampai matang. - Siapkan saus dengan cara ditumis bawang putih dan tambahkan 1 sdm makan minyak goreng. - Masukkan saus tomat, kemudian tumis lagi hingga agak kering. - Masukkan kuah kaldu ayam, gula pasir, dan

perasan jeruk nipis. - Bumbui dengan garam, merica, dan bumbu penyedap. - Tunggu hingga mendidih, kemudian kentalkan dengan tepung maizena, kemudian masukkan ayam. - Ayam mandarin siap dihidangkan dengan taburan wijen dan potongan daun bawang merah.

Chocolate Tart Bahan-bahan: 500 gr : gula halus 100 gr : butter 5 gr : garam 150 gr : tepung terigu 25 gr : coklat bubuk 1 pcs : kuning telur 250 gr : dark coklat 100 ml : fresh krim 100 gr : whipped krim coklat Cara Membuat Cup Tart: - Kocok gula halus, garam, dan butter sampai lembut. - Masukkan kuning telur dan kocok sampai rata. - Masukkan tepung, coklat bubuk, dan campur sampai rata. Simpan di lemari es + ­­ 2 jam. - Pipihkan adonan dan cetak dalam cetakan bulat, kemudian oven selama 15 menit sampai matang. Angkat dan dinginkan. Cara Membuat Isiannya: - Lelehkan dark coklat, kemu-

dian campur dengan fresh krim dan aduk sampai rata. - Tuang ke dalam cup tart sampai penuh, kemudian dinginkan. - Hias dengan whipped cream coklat dan Chocolate Tart siap dihidangkan.


Style

10

Edisi 1039/ 8 - 14 juLi 2019

Colorful dengan Kesan Fresh

Selain bidang pariwisata, pertanian masih menjadi tumpuan perekonomian masyarakat di Buleleng. Namun, makin banyaknya peluang kerja di bidang lain, membuat minat generasi muda di bidang pertanian makin menurun. Penghasilan kecil dan pekerjaan kotor menjadi alasan kurang berminatnya generasi muda terhadap pertanian. Mereka merasa lebih percaya diri ketika bekerja di sebuah perusahaan dengan pakaian rapi.

Exuberant adalah sub tema pilihan Wulan Madungki untuk rancangannya. Kesan ceria, optimis nan penuh semangat berhasil disuguhkan pada “Graduation Show Angeliqa Wu Fashion Design Course di The Vasini Boutique Hotel”, Denpasar, Sabtu (1/6) .

K

oleksi ready to wear dari pe­­raih predikat Juara Favorit ini berbahan linen dengan siluet H. Sementara gaya simpel dan minimalis, ele­ gan,

modern serta stylish-nya terinspirasi dari tema ‘Serendipity’ . Desain milik Wulan ini juga digambarkan melalui warna kuning, beige, biru dan oranye. Kolaborasi warna bernuansa ceria, harapan, kebenaran, loyalitas, sederhana namun penuh kehangatan. Koleksi berikutnya milik Kanya Winda yang inspirasi dari street art. Karyanya menjadi menarik

EDUKASI

Edisi 1039/ 8 - 14 juLi 2019

Petani Milenial Harus Punya Inovasi muda ini bisa bekerja di atas meja memikirkan strategi pemasaran dan komoditi apa yang harus dikembang untuk memenuhi kebutuhan pasar,” jelasnya.

B

dengan detail patchwork, yang ditempel dan dijarit secara zig zag. Selain itu pemenang ketiga “Graduation Show Angeliqa Wu FDC” ini menggunakan motif print berbentuk persegi, segitiga, lingkaran, unfinished pada jaket,celan dan rok jeans. Busana ready to wear buatan Kanya ini bergaya kasual, dengan kesan fresh, unik dan ceria. Pilihan bahannya denim, yang identik dengan gaya street. Pemilihan warna merah, kuning, dan hijau menghasilkan perpaduan yang colorful. (Sri Ardhini)

7

elakangan ini, pemerintah Kabupaten Buleleng melalui Dinas Pertanian mulai menggalakkan pertanian bagi petani milenial. Menurut Kepala Bidang Holtikultura Dinas Pertanian Kab.Buleleng I Gede Subudi, SP., petani milenial tidak melulu soal bekerja di sawah maupun kebun, tetapi bagaimana lebih terhadap manajemen baik pemasaran maupun inovasi-inovasi yang dilakukan. “Bagaimana petani

Subudi menambahkan sejauh ini masyarakat khususnya kalangan generasi muda di Bali sudah memiliki perubahan cara pandang terhadap dunia pertanian. Hal itu dibuktikan dengan semakin banyaknya komuni-

I Gede Subudi

tas petani muda, yang tidak saja berhasil menghasilkan produk pertanian, tetapi juga mampu membangun jaringan bisnis. Pertanian sendiri tidak hanya sekadar menghasilkan produk pertanian, tetapi di dalamnya ada rantai pemasaran dan pengolahan yang juga mempunyai peluang keuntungan cukup besar. Untuk memberikan ruang kepada petani muda, puluhan petani milenial ikut ambil bagian dalam gelaran Twin Lake Festival (TLF) ke-6 tahun 2019. Selain memamerkan hasil pertanian yang menjadi komuditas garapannya, para petani muda itu juga akan diberikan ruang untuk berbagi keberhasilan dalam usaha pertanian. Dilibatkannya para petani muda itu dalam ajang TLF kali ini bertujuan untuk merangsang minat generasi muda saat

ini dalam menggeluti dunia pertanian. Selain itu, lanjut Subudi, keterlibatan para petani muda itu juga untuk memperkenalkan pola pertanian modern yang tidak hanya melihat pertanian dari segi konvensional semata. Tetapi lebih dari itu, pertanian harus dilihat secara lebih luas dari sisi agribisnisnya. Nantinya, petani muda yang akan terlibat dan mengisi kegiatan serangkaian TLF itu berasal dari berbagai daerahn di Bali. Mereka akan diberikan kesempatan untuk memamerkan hasil komuditas yang mereka kembangkan, termasuk komuditas bisnis hasil pertanian yang mereka tekuni. “Selain stand untuk mereka (petani muda), nanti akan kami siapkan juga ruang untuk diskusi petani muda. Nantinya mereka bisa sharing tentang keberhasilannya di sana,” ungkap Subudi. (Wiwin Meliana)

Yoga untuk Osteoartritis

Banyak orang menderita artritis baik perempuan maupun laki-laki, orangtua bahkan anakanak. Ada 100 jenis lebih artritis. Dan, yang paling umum adalah osteoartritis , yakni penyakit sendi degeneratif. Penyakit ini dimulai dengan kerusakan degenerasi tulang-tulang sendi diantara tulang- tulang tubuh. Di sini kami akan memandu Anda untuk mengurangi dan mencegah terjadinya osteoartritis dengan teknik yoga.

3

Gambar 2 Masih dengan posisi tulang punggung tegak lurus (lihat gambar 2). Jangan mengangkat kedua bahu, lalu tekuk lutut kanan dan kaki kiri tetap posisi lurus, telapak kaki masih diaktifkan. Mulai dengan tenang menarik napas, tekuk lutut dan buang napas luruskan kembali kaki kanan. Lakukan 10 kali putaran gerakan diatas tentunya seiring napas. Lakukan gerakan kaki sebaliknya.

Gambar 1 Sebaiknya Anda cari tembok atau pilar untuk mempertahankan posisi tulang punggung tegak lurus. Perhatikan gambar 1, kedua telapak kaki diaktifkan, didorong ke dalam serta ke dua bahu rileks. Mulai rileks atur napas dengan tenang lalu perlahan tarik napas dengan lembut arahkan napas ke bagian kaki dengan visualisasi dan buang napas secara lembut. Lakukan 10 kali putaran napas.

1

Gambar 3 Masih tetap duduk dengan posisi seperti di gambar. Letakkan tumit kaki kanan diatas jari-jari kaki kiri (lihat gambar 3) Kedua tangan disamping badan kira-kira, 40 cm dari badan dengan jari-jari tangan menerkam ke lantai. Sekarang mulai perhatikan napas dengan lembut, tarik napas dan buang napas 10 kali putaran Lakukan sikap tersebut untuk kaki sebaliknya.

2

4

Gambar 4 Kaki masih bertumpu (lihat gambar). Putar badan ke sisi sebelah kanan dengan ke dua tangan letakkan disamping badan. Mulai atur napas dan lakukan pernapasan perut 10 kali putaran . Lakukan langkah selanjutnya dengan mengganti posisi tumpuan kaki. Selamat berlatih dengan senyum Selalu sehat dalam yoga

Model : Brigita Lea (Guru Markandeya Yoga Indonesia Banjarmasin) LKP/LPK Markandeya Yoga Indonesia


DARA

6

EDISI 1039/ 8-14 JULI 2019

Tissa Biani Azzahra

Senang Meskipun Sibuk

Totalitas remaja ini dalam menggeluti kariernya di dunia entertainment tidak diragukan lagi. Bahkan agar kariernya bisa berjalan mulus, dia pun rela menjalani homeschooling. Itu ia lakoni sejak kelas 6 SD, saat dia mulai terjun ke dunia entertainment. Saat SMA dia mencoba untuk masuk di sekolah umum. Prestasinya lumayan bagus, meski kerap kali izin karena kesibukannya, dara kelahiran Juli 2002 ini berhasil masuk rangking tujuh di kelasnya.

I

tu sebabnya sang walikelas menyebutnya gadis cerdas karena meski banyak izin karena mengikuti banyak kegiatan di luar, namun ia tetap konsisten dalam belajar bahkan mampu berprestasi melebihi teman lainnya. Itulah Tissa Biani Azzahra, artis remaja yang kini sedang ‘laris-manis’ di dunia film dan sinetron. “Terus terang saat sekolah formal itu aku banyak dibantu oleh para guru juga teman-teman. Mereka mau memberikan aku materi juga catatan-catatan pelajaran agar aku tidak tertinggal. Aku berusaha keras mengejar ketertinggalan aku. Saat break syuting aku belajar menyelesaikan tugas-tugas,” ungkap peraih Influencers Awards 2019. Tissa memang tipe pekerja keras. Sedari kecil dia tahu apa yang diinginkannya. Ia bercita-cita menjadi artis, maka dia pun berjuang meraihnya. Di sisi lain ia juga keukeuh ingin pendidikannya tidak mandeg karena karier. Karena itu, ia pun berupaya mengejar ketertinggalannya dalam pelajaran. Di sela-sela break �syuting, ketika

teman-temannya bersantai melepas lelah, Tissa justru menggeluti pelajaran sekolahnya. Tapi akhirnya Tissa tidak tahan juga. Sekalipun berprestasi di sekolahnya, namun tingginya aktivitas di dunia hiburan, membuatnya harus memilih. Antara meneruskan pendidikan di sekolah formal atau kembali homescholing. “Terlalu capai,” kata Tissa yang merasa menjalani sekolah formal dengan seabreg kegiatan di luar sekolah, dirasakannya terlalu berat. “Homeschooling keinginan aku sendiri. Karena aku ingin pendidikan dan karier jalan seiring. Jadi aku pikir selama masih bisa diatur, kenapa tidak. Dengan homescholing bisa lebih fleksibel dalam hal waktu. Mama dan papa terserah pada aku, yang penting aku merasa nyaman, komit dan mengutamakan pendidikan,” ujar Tissa yang rencananya akan meneruskan pendidikannya di Institut Kesenian Jakarta atau ke perguruan tinggi umum dengan jurusan komunikasi. Tissa merintis kariernya di dunia

gua tuh jatuh cinta banget sama seni peran. Jadi seneng aja ngejalaninya. Yang namanya kita suka sesuatu, ya menjalaninya juga dengan senang hati meskipun sibuk banget,” tambah Tissa. Tak sia-sia kerja keras dan pengorbanannya. Pada ajang Festival Film Indonesia 2014, Tissa pun berhasil meraih penghargaan khusus lewat film ‘3 Nafas Likas’ dan Negkabau Sunting (Sokola Rimba) sebagai Pemeran Anakanak Terbaik. Setahun kemudian ia meraih penghargaan Indonesia Movie Awards 2015.

Tissa Biani Azzahra entertainment sejak SD. Menjadi artis peran telah menjadi impiannya sejak kecil. “Gua pertama kali muncul di dunia entertainment itu waktu umur 2 tahun. Jadi model salah satu majalah. Itu cerita mama. Katanya, mama-papa tuh sudah melihat bakat gua sejak masih kecil. Aku tuh sudah suka tampil, juga suka akting di depan kaca. Tapi baru benar-benar terjun ke dunia entertainment saat umur 6 tahun,” ungkap Tissa. Awalnya, kata Tissa dia mendapat tawaran untuk ikut casting produk. Setelah itu barulah dia mencoba peruntungan untuk casting sinetron. “Kebetulan Om Deddy Mizwar ketika itu mencari anak berbakat untuk tampil dalam sinetron ‘Pesantren Cinta tahun’ 2008. Aku ikut casting dan berhasil lolos. Habis main sinetron ‘Anak Kaki Gunung’ , terus dapat tawaran main film pertama kali ‘Tanah Surga, Katanya’,” tambah Tissa. Meski mempelajari seni peran secara otodidak, namun anak bungsu dari pasangan Bobby Warasno-Dian, sudah mampu menunjukkan akting yang mumpuni. Tak heran kalau kariernya terus berkembang. Tawaran main film dan sinetron membanjir. Tak jarang dalam satu tahun dia tampil di 2-3 judul film maupun sinetron. Bisa dibayangkan betapa sibuknya Tissa. Tahun 2013 misalnya, selain main film ‘Cinta Dalam Kardus’, dia juga tampil di tiga judul sinetron; ‘Biru’, Putri Duyung’ ‘Kontrakan Tiga Pintu’. Tahun 2014, ia makin sibuk. Dia membintangi dua film dan empat FTV. Tahun lalu 2018 pun demikian, ia membintangi 1 film ‘The Returning’ dan tiga sinetron sekaligus; ‘Catatan Harian Aisha’, ‘Tukang Ojek Pengkolan’, dan ‘Tangis Kehidupan Wanita’. Meski kegiatannya sangat padat, Tissa mengaku tetap enjoy menjalaninya karena memang menyukai seni peran. “Nggak tahu kenapa tapi

P E R J UA N G A N P E N U H LIKU MERAIH PRESTASI Meski terkesan hebat dan orang menyebutnya sebagai gadis beruntung karena kariernya moncer di tengah persaingan ketat di dunia seni peran, namun semua itu didapatnya tidak mudah. Ada banyak pengorbanan yang dilakukannya juga kerja keras. Betapa tidak, sejak kecil dia sudah melakoni kariernya. Ketika anak-anak lain seusianya sibuk bermain, bersuka ria bersama teman sebayanya, Tissa kecil berjuang merintis karier. “Naikturun angkot, kadang naik taksi ke tempat casting. Panas-panasan, ngantri, dll, itupun belum tentu dapat peran (lolos casting). Pernah kejadian, sudah ngantri dari pagi, eh pas siang disuruh pulang. Casting ditunda, disuruh kembali lagi besoknya. Bayangin. Nyesek banget ya,” papar Tissa. Jadi tambah Tissa lagi, apa yang dicapainya saat ini melalui proses panjang. Dan dia menjalani dan mengikuti proses itu. “Aku menjalani prosesnya. Itu tidak mudah. Tidak semuanya mulus. Tidak lolos casting juga pernah. Pernah

nggak dapat peran juga,” tambahnya. Berbagai kendala maupun kegagalan, kata Tissa, tidak membuatnya putus asa. Meski harus naik-turun kendaraan umum untuk casting, Tissa mengaku tidak keberatan menjalaninya. Itu semua karena dia sangat menyukai seni peran. Dalam hal peran maupun genre film, dia tidak ingin monoton. Ia selalu bersemangat untuk mencoba yang baru. “Aku ingin coba semuanya, karena itu akan mengasah kemampuan aku. Drama sudah sering, kemarin tampil di film horor. Aku ingin suatu saat dapat kesempatan main film action. Aku juga ingin bisa main teater. Aku tahu main teater itu tantangannya berat, tapi aku sangat ingin mencoba,” ujar Tissa yang mengaku dalam mengambil pekerjaan di film, hal pertama yang jadi pertimbangannya adalah cerita film tersebut. “Kalau ceritanya nggak bagus aku nggak ambil,” tambah gadis tomboy ini. Selain seni peran, kini Tissa juga merambah ke dunia musik. Bukan aji mumpung atau ikut-ikutan, namun bermusik juga sudah dijalaninya sejak kecil. Tak heran selain memiliki suara merdu, dia pun menguasai beberapa alat musik, seperti gitar dan piano. “Sejak lama aku ingin—sebenarnya—juga ingin terjun ke dunia menyanyi. Untuk menunjang itu aku ikut kursus vokal,” kata Tissa yang mengoleksi gitar. Di luar itu, kata Tissa, ia juga sudah mulai belajar berbisnis. Dia sadar berkarier di dunia entertainment ada masanya. Karenanya, sejak dini dia pun sudah mulai belajar bisnis. “Dunia entertainment aku suka banget. Namun begitu, sekarang aku juga sudah mulai belajar berbisnis. Saat ini kita punya bisnis keluarga, kuliner. Jadi, suatu saat nanti, kalau aku sudah nggak di dunia entertainment, sudah punya bisnis (menjalankan bisnis),” ungkapnya. (Diana Runtu)

BULELENG

EDISI 1039/ 8-14 JULI 2019

Dahulu, tanaman kelor diidentikkan dengan makanan rakyat miskin. Hal ini dikarenakan kelor hanya dikonsumsi oleh masyarakat yang kelas perekonomiannya menengah ke bawah. Kini kelor menjadi salah satu tanaman yang digemari karena memiliki segudang manfaat untuk kesehatan. Selain digunakan sebagai sayur, kelor juga memiliki manfaat sebagai obat-obatan herbal untuk berbagai jenis penyakit.

H

al ini terungkap dalam seminar nasional kelor dengan tema, “Akselerasi Pengentasan Kemiskinan dan Penurunan Angka Stunting Melalui Pengembangan Bisnis dan Agro Wisata Kelor” di gedung Mr. Ketut Pudja Eks. Pelabuhan Buleleng Sabtu (29/6). Hadir sebagai pembicara dalam acara tersebut, I Gusti Bagus Sumertana, Ketua Kelompok Tani Organik Tri Hita Karana Desa Lokapaksa Kecamatan Seririt. Pihaknya mengungkapkan saat ini kelor mulai dikembangkan sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Berbagai penelitian menemukan kelor dapat digunakan sebagai obat herbal yang mampu mengatasi berbagai penyakit. Cara konvensional untuk mengonsumsi kelor dengan dibuat sayur atau dikeringkan lalu diseduh menjadi teh. Melalui seminar ini, imbuh Bagus Sumertana, kelor dapat diolah menjadi berbagai macam panganan yang menarik dan lezat, seperti cendol, laklak, klepon, dan berbagai macam kue yang terbuat dari tepung kelor. “Selain enak, tentu kelor ini juga akan menjadi makanan yang sangat bergizi untuk kesehatan,” ungkapnya. Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Koperasi Produsen Agri Bisnis Tri Hita Karana Desa Lo-

11

Pengembangan Kelor untuk Tingkatkan Perekonomian banyak manfaat untuk kesehatan dengan kandungan gizi yang sangat banyak. Tidak hanya daun kelor, buah hingga batang kelor juga memiliki manfaatnya tersendiri. “Bagaimanapun juga, kelor ini jadi salah satu sayuran yang me-

legenda dan memiliki cita rasanya yang khas, tidak sedikir yang gemar mengolah kelor menjadi makanan, jangan sampai kelor ini hilang ditelan zaman dikalahkan dengan fast food atau junk food,” jelasnya. (Wiwin Meliana)

Konsisten untuk Kegiatan Sosial kapaksa ini juga mengatakan saat ini pihaknya akan mengembangkan tanaman kelor di atas lahan seluas 260 hektare di beberapa titik di Kabupaten Buleleng. sebagai percobaan pihaknya telah menanam sebanyak 500 pohon kelor. Bagus Sumertana mengungkapkan selain untuk kesehatan, pengembangan kelor diharapkan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat. Maka dari itu, pihaknya telah melakukan sosialisasi dan memberikan pemahaman kepada petani bagaimana cara menanam kelor dan bagaimana kelor bisa menjadi sumber penghasilan. Pihaknya bekerjasama dengan pihak koperasi Tri Hita Karana akan memasarkan hasil panen dari petani kelor di daerah Lokapaksa. “Hasil pertanian kelor itu akan kami beli dengan harga kesepakatan lima ribu per kilo, nantinya akan kami pasarkan kepada pihak buyer dari luar negeri,” jelasnya. Untuk penanaman, Bagus mengatakan kelor merupakan tanaman yang tidak sulit dibudidayakan di lahan kering. Asalkan tenik pembibitan dan pemeliharaan yang tepat, kelor dapat dipanen selama enam bulan dari masa penanaman. Pembibitan dapat dilakukan dari biji, karena

Seminar Nasional Kelor

dijika dilakukan dari batang maka batang kelor tumbuh akan mudah keropos. “Bijinya kita semai selama dua bulan baru ditanam untuk pohon yang lebih berkualitas,” ungkapnya. Hadir dalam kegiatan tersebut, Plt. Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng I Made Sumiarta. Pihaknya menjelaskan melalui seminar kelor ini memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa kelor memiliki nilai manfaat yang sangat banyak khususnya dalam peningkatan gizi serta menghindarkan anak dari stunting. Oleh karena itu, kedepan pihaknya berencana akan semakin menggenjot pengembangan tanaman kelor di Kabupaten Buleleng lebih luas lagi. “Pertama kita terlebih dahulu memperbaiki infrastuktur, terutama ketersediaan bak penampungan air serta kita akan adakan pemetaan lahanlahan kering, kemudian SDM pertanian ini yang perlu kita rancang terlebih dahulu,” ungkapnya. SAYURAN YANG MELEGENDA Sementara itu, untuk bibit tanaman kelor akan segera diprogramkan Dinas Pertanian Buleleng. Sejauh ini pembibitan kelor baru ada di salah satu Kelompok Tani di Desa Lokapaksa yang sudah bekerjasama dengan pembibit dari luar. Pihaknya menargetkan dalam lima tahun kedepan mampu melakukan penambahan luas lahan budidaya kelor khususnya di lahan marginal seperti kawasan Seririt dan Gerokgak Buleleng. Hal senada juga di ungkapkan Kadis Ketahanan Pangan Kabupaten Buleleng Surya Temaja, pihaknya mendukung pengembangan kelor di Kabupaten Buleleng. Bahkan pihaknya menegaskan, kelor jangan lagi diidentikkan dengan makanan orang miskin, karena tanaman kelor memiliki

Pengentasan kemiskinan di Kabupaten Buleleng terus digalakkan, tidak saja oleh pemerintah tetapi juga pihak lain yang peduli akan sesama. Tidak hanya melalui sebuah program pemberdayaan maupun peningkatan sumber daya manusia, pengentasan kemiskin juga dilakukan melalui pemberian bantuan. Salah satunya melalui program bedah rumah. Hal ini juga sebagai salah satu misi dari Buleleng Social Community (BSC) sebagai organisasi nonprofit dan nonpolitik. Terbentuk sejak 2015 silam, BSC konsisten menyisir masyarakat-masyarakat pinggiran yang kurang mampu. Sejak berdiri hingga sekarang, program BSC yang paling utama adalah bedah rumah untuk masyarakat kurang mampu di seluruh Kecamatan Buleleng. Sekitar 50 unit rumah telah diserahkan kepada warga. Serangkaian dengan peringatan hari jadi BSC KE-4 tahun, organisasi ini kembali menyerahkan bantuan bedah rumah sebanyak 3 unit kepada masyarakat di Buleleng. Selain penyerahan bedah rumah, kegiatan yang mengambil tema “Smile Charity” ini juga menyerahkan sembako kepada 100 lansia di Desa Patemon, pemeriksaan kesehatan gratis, donor darah, penyerahan beasiswa pendidikan kepada anak yatim dan piatu, penyerahan bantuan berupa alat tulis dan tas kepada 100 anak-anak kurang mampu yang ada di Desa Patemon. Ketua Panitia Putu Arjana menjelaskan dipilihnya Desa Patemon kali ini karena sesuai dengan hasil survei BSC yang bekerja sama dengan aparat desa setempat, TNI, Babinsa serta Dinas Sosial Kabupaten Buleleng terdapat masih banyak lansia dan anak-anak yang kurang mampu di desa tersebut. Oleh karena itu HUT BSC yang juga menggandeng Yayasan SeSama serta sejumlah donatur ini memilih lokasi perayaan di Desa Patemon dengan mengusung tema “Smike Charity” atau berbagi senyuman kepada sesama. “Berdasarkan survei tim kami, banyak sekali lansia dan anak - anak kurang mampu, oleh karena itu dari 12 banjar kita ambil per banjar 10 orang dan untuk anak-anak SD kita ambil dari tiga sekolah dasar diantaranya SD Negeri 1, SD Negeri 4 dan SD Negeri 5,” jelasnya. Sementara itu Ketua Buleleng Sosial Comunity Made Eka Tirtayana, S.E. menjelaskan kegiatan HUT BSC yang dikemas menjadi beberapa tahap ini merupakan implementasi dari visi dan misi BSC dengan konsep organisasi sosial. Eka Tirtayana juga menambahkan, hingga saat ini masih ada 15 daftar calon penerima bedah rumah yang rencananya mulai dipersiapkan untuk penggarapan pada Juli mendatang. “Yang paling urgent ada di Desa Sidetapa Kecamatan Banjar bulan depan kita mulai persiapan, setelah itu baru yang di Desa Yeh Anakan, untuk menemukan calon penerima bedah rumah kita bersinergi dengan Babinsa, TNI, Aparat Desa setempat serta data dari Dinas Sosial Kabupaten Buleleng,” jelasnya. Pihaknya berharap ke depan makin banyak lagi dukungan agar BSC mampu menjangkau lebih banyak lagi masyarakat yang kurang mampu dan lansia-lansia baik yang ada di pelosok desa hingga tidak menutup kemungkinan di perkotaan. “Untuk dana kita open donasi berapapun kita terima, mohon dukungan dari semua pihak karena tanpa dukungan dari banyak pihak kita tidak akan bisa jalan,”pungkasnya. (Wiwin Meliana)

Pemberian bedah rumah oleh BSC


BUMI GORA

12

EDISI 1039/ 8-14 JULI 2019

Sharing Gagasan Rumah Bahasa

Dalam kunjungannya ke Kota Surabaya, Jawa Timur, Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalillah melakukan sharing gagasan terkait rumah bahasa yang saat ini sedang dikembangkan di NTB.

R

umah bahasa, gagasan Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah dan Wagub Rohmi, merupakan tempat bagi anak-anak NTB untuk belajar dan meningkatkan kemampuan bahasa asing. Serta tidak ada lagi alasan bagi anak-anak NTB untuk menimba ilmu serta memperluas jaringan ke luar negeri. Kunker Wagub NTB di Kota Pahlawan itu juga dimaksud untuk menyerap serta mempertajam pemahaman program rumah bahasa yang dilaksanakan Pemerintah Kota Surabaya, sehingga kolaborasi pemahaman tentang program tersebut diyakini dapat mendukung kemajuan masing-masing daerah.

Dalam kunjungannya di Kota Surabaya, tepatnya di Rumah Bahasa Balai Pemud, Rohmi yang disambut Kepala Bagian Administrasi Kerjasama Pemerintah Kota Surabaya, Dewi Wahyu Wardani, M. Si., mengungkapkan kepada jajaran pemerintah Kota Surabaya yang menangani rumah bahasa, NTB memiliki program pengiriman mahasiswa ke luar negeri. Oleh karena itu, kemampuan bahasa bagi mereka menjadi sebuah tuntutan. Karena itu, Pemprov NTB menggagas program yang disebut rumah Bahasa. Yaitu fokus pada persiapan kemampuan TOEFL dan IELTS bagi anak-anak NTB. “Dengan program ini mereka

Wagub NTB, DR. Rohmi Djalilah saat berkunjung ke Rumah Bahasa Kota Surabaya.

mampu bersaing dengan siapapun. Sebab, banyak sekali beasiswa yang disediakan oleh lembaga dalam dan luar negeri,” ungkap Rohmi yang didampingi kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTB, H. Rusman. Ia berharap kunjungannya ke Rumah Bahasa Kota Surabaya ini dapat memberi nilai tambah bagi peningkatan kualitas rumah bahasa di NTB. Apalagi di Kota Surabaya ini, rumah bahasanya dilaksanakan gratis dan diajar oleh para volunteer dan tidak dibayar. Pengelolaannya di bawah Bagian Kerjasama, yang menjalin kerjasama dengan konjenkonjen, universitas-universitas dan lembaga-lembaga yang kemudian menyumbangkan tutor bagi rumah bahasa itu. “Hal-hal positif di sini dapat kita pelajari dan kita terapkan di NTB. Konsep yang kita punya adalah untuk tujuan peningkatan kemampuan TOEFL-IELTS dan

bisa diintegrasikan dengan apa yang ada di Surabaya. Sehingga di NTB ke depan ada rumah bahasa yang lengkap yang melayani kebutuhan lanjut sekolah ke luar negeri maupun kebutuhan yang lain,” ujarnya. Kepala Bagian Administrasi Kerjasama Pemerintah Kota Surabaya memaparkan rumah bahasa di Kota Surabaya ini awalnya hanya membuka kelas Bahasa Inggris. Sebab katanya, Walikota Surabaya, Risma menggagas program ini untuk menghadapi era MEA. Namun dalam perjalanannya, semakin banyak bahasa yang dibuka untuk masyarakat. Sehingga saat ini katanya, sudah ada dua belas bahasa asing yang diajarkan di rumah

bahasa itu. Selain itu, pesertanya tidak hanya pelajar, namun juga masyarakat umum. Seperti, sopir taksi, pedagang, pengusaha, pemandu bahkan tukang becak. Apalagi katanya, banyak produk-produk kreatif Surabaya yang telah dipasarkan ke luar negeri. Sehingga, kemampuan bahasa asing bagi pelaku usaha kreatif sangat dibutuhkan. Untuk manajemennya, rumah bahasa ini katanya di bawah tanggung jawab Bagian Administrasi Kerjasama Pemerintah Kota Surabaya. Para tutornya juga lanjutnya, mau menjadi volunteer sebagai wujud pengabdian dan kecintaannya pada masyarakat Surabaya. Pada kesempatan ini Rohmi berkeliling rumah bahasa serta mengunjungi perpustakaan umum Kota Surabaya. Di sela-sela kunjungan tersebut, ia menyempatkan diri berinteraksi dengan pengunjung perpustakaan dan para peserta yang sedang belajar di rumah bahasa. (Naniek I. Taufan)

anya ditanggung oleh pihak Northern Territory, Australia. Gubernur NTB langsung menyiapkan para ASN yang akan dikirim. “Hari ini saya memberikan pembekalan ASN-ASN kita yang akan mulai short course (kursus singkat) di Darwin Australia tanggal 8 Juli ini,” ujarnya beberapa waktu lalu. Beberapa ASN yang juga Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) pun telah ditunjuk untuk mengikuti kursus singkat mengenai mitigasi bencana ke Australia. Mereka antara lain, Staf Ahli Gubernur, Ir. Mohammad Rum, MT, Kepala Pelaksana BPBD NTB, H. Ahsanul Khalik, S. Sos, MH, Kepala Dikes NTB, dr. Nurhandini Eka Dewi, Sp.A,MPH, Direktur RSUD Provinsi NTB, dan dr. H. L. Hamzi Fikri, MM, MARS. Tujuan mengirim beberapa pimpinan OPD tersebut karena tupoksi mereka berkaitan dengan masalah kebencanaan. Terutama untuk Kepala Dikes dan Direktur RSUD Provinsi NTB, berkaitan dengan penanganan bencana yang berkaitan dengan bidang kesehatan. Gubernur menegaskan, NTB me-

Gubernur NTB memberi pembekalan pada ASN yang akan mengikuti kursus singkat di Australia. miliki stok ASN yang hebat. Bahkan, menurutnya, para ASN yang berhasil lulus seleksi ke Darwin pada batch pertama ini ternyata hampir semuanya merupakan lulusan pascasarjana Australia. Menurutnya, kesempatan mengikuti kursus semacam ini akan membawa banyak manfaat bagi para ASN lingkup Pemprov NTB. Tidak hanya sebatas peningkatan keterampilan dan ilmu pengetahuan. Lebih jauh, pengalaman mengikuti program ke luar negeri dan berinteraksi den-

gan orang dari negara yang berbeda bisa memperluas jaringan para ASN tersebut. Sebagai orang yang pernah menimba ilmu di berbagai kampus terkemuka di luar negeri, Doktor Zul merasakan betul bagaimana dampak yang dirasakan seseorang saat ia berinteraksi dengan orang-orang dari belahan dunia yang berbeda-beda. Bagi Gubernur, peningkatan kualitas ASN adalah hal mutlak untuk membentuk tatanan birokrasi yang profe-

sional. Dengan demikian, birokrasi di NTB diharapkan akan siap untuk menghadapi dinamika dunia yang setiap saat terus berubah dan melahirkan hal-hal baru. Yang terpenting, dengan bertambahnya pengalaman, ilmu dan keterampilan, ASN juga semakin terdorong untuk meningkatkan kualitas pelayanan terhadap masyarakat NTB. “Mudah-mudahan ASN kita tambah semangat demi berkhidmat maksimal pada masyarakat NTB,” pungkas Doktor Zul. (Naniek I. Taufan)

BUNDA ANANDA

5

Melukis Kaca Kembangkan Imajinasi

Melukis membuatnya lebih menjadi fokus dan kreatif, itulah yang dirasakan Gede Apriadi Saputra. Bocah kelas 6 SD I Naga Sepaha, Buleleng ini, menekuni lukisan kaca. Saat ini ia ikut berpameran di areal Pesta Kesenian Bali Art Centre Denpasar. Seperti apa?

G

NTB Kirim ASN Ikuti Kursus ke Australia Begitu tiba kembali di Lombok usai melakukan kunjungan ke Australia, Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah segera menindaklanjuti agenda kunjungannya tersebut. Ia langsung turun tangan memberikan pembekalan bagi para Aparatur Sipil Negara (ASN) lingkup Pemprov NTB yang akan mengikuti kursus singkat ke Darwin, Northern Territory (NT), Australia. Agenda kunjungan Gubernur ke Australia belum lama ini memang membuahkan sejumlah capaian menggembirakan bagi daerah. Salah satu dari sekian banyak capaian itu adalah ditandatanganinya kerjasama pendidikan dengan Chairman dan CEO Australian Skill Institute, Kathryn Stenson yang mewakili Pemerintah Australia. Melalui kesepakatan kerjasama ini, pemerintah Northern Territory bersedia memberi akses bagi para ASN lingkup Pemprov NTB mengikuti kursus singkat di Darwin, Australia. Kesepakatan ini akan direalisasikan dalam waktu dekat, dimana mulai tanggal 8 Juli 2019, rombongan pertama ASN peserta kursus singkat akan berangkat ke Darwin yang biay-

EDISI 1039/ 8-14 JULI 2019

ede menuturkan, baru dua tahun ikut menekuni lukisan kaca. Ia merasa tertarik dan sangat penasaran, dengan teknik lukisan ini. “Melukis di kaca sangat berbeda dengan melukis di kanvas. Karena kita harus membuat sketsanya terbalik,” ucapnya. Ia sendiri sering melihat ayah dan pamannya melukis. Saking seringnya melihat, ia tertarik mencoba. Memang, ia mengakui, awalnya tentu tak mudah. “Walaupun bisa menggambar sketsa di kertas, tapi karena ini melukis di kaca, jadi harus bisa membuatnya terbalik. Yang di bagian kanan akan menjadi kiri, begitu juga sebaliknya. Jadi saat membuat skesta pun, sudah berimajinasi terbalik,” tuturnya. Selain itu, proporsional gambar juga bagi Gede awalnya membuat kesulitan. Ukuran kanan dan kiri kadang tidak sama. Setelah sketsa gambar di tuangkan ke kaca, memberikan cawi

(garis dasar pada gambar dengan tinta Cina) juga sangat rumit. “Kalau tidak rapi, warna tinta belepotan dan ini membuat kotor. Walaupun bisa dilap, tentu saja hasilnya kurang bagus,” imbuhnya. Sebelum di PKB, ia sudah pernah berpameran di Yogyakarta bersama sang pamannya Ketut Santosa. Untuk satu karyanya, laku terjual dengan harga Rp 400 ribu. Satu lukisan bisa ia selesaikan selama 3 jam. Untuk tema, Gede sangat menyukai wayang. “Gambar wayang teknik kesulitannya makin tinggi dan membuat saya semakin berimajinasi dan kreatif,” kata Gede. KETERAMPILAN MOTORIK Menurut Ketut Santosa, saat ini pelukis kaca di Buleleng semakin berkurang. Kesulitan memasarkan membuat banyak pelukis berpindah pekerjaan menjadi petani. Generasi muda pun kurang meminati melukis

Gede Apriadi Saputra. kaca. Santosa, salah seorang yang masih bertahan menjadi pelukis kaca. Ia adalah generasi ketiga Jero Dalang Diah yang mengembangkan lukisan kaca di Desa Naga Sepaha Buleleng. Ia senang Gede tertarik mendalami melukis kaca, sehingga ada generasi muda yang akan meneruskan lukisan kaca ini. Gede mengaku sejak belajar melukis kaca, ia menjadi lebih fokus dan kreatif. Apalagi, dengan metode terbalik membuat otaknya makin kreatif.

Saat ini pun, prestasi di sekolahnya lumayan bagus. Ia ikut berada di areal pameran PKB karena berbarengan dengan libur sekolah. Menurut psikolog Nyoman Wiraadi Tria Ariani, S.Psi., M.Psi., pada usia 3-5 tahun anak sudah dapat dikenalkan dengan mewarnai, dengan berbagai macam media dan kuas. “Melalui melukis, anak-anak dapat mengekspresikan diri, terutama untuk anak yang cenderung pemalu, pendiam atau bahkan traumatis akan suatu hal dapat

bercerita melalui hasil karya mereka,” ujar Tria. Ia menyebutkan, melukis juga melatih keterampilan motorik halus anak. “Dengan memegang kuas dan sebagainya dapat menguatkan dan meluweskan jari anak,” imbuhnya. Melukis juga membuat anak dapat mengembangkan kreatifitas dan imajinasinya. Selain itu juga, melatih kesabaran anak untuk mencapai hasil yang bagus karena melukis memerlukan waktu dan proses. (Wirati Astiti)

Mendongeng Lima Menit

SENGKETA KURA-KURA DAN KADAL

Si Kura-kura baru tahu, persediaan garam dapurnya habis. Ia segera datang ke rumah saudaranya untuk meminjam satu besek kecil garam. Besek penuh garam itu lalu diikat seutas tali. Ujung tali yang satu diikatkan di bahu Kura-kura. Begitulah cara yang terbaik. Si Kura-kura balik ke rumah, berjalan terseok-seok, menarik sebesek garam. Seekor kadal yang kebetulan melintas, melihat pemandangan yang aneh itu. Sebuah besek bergerak perlahan-lahan, ditarik Kura-kura dengan seutas tali. Suaranya, kresek…, kresek…, kresek…! Timbul niatnya untuk memperdayakan si penarik besek itu. Ia naik ke atas besek. Kura-kura yang lugu itu dengan susah payah menarik beban yang tambah berat. Si Kadal bukan merasa kasihan, tetapi bahkan terpancing untuk melakukan permainan lebih jail. Ia memotong tali ikatan besek itu, kemudian mengangkangi garam dalam besek itu sebagai miliknya. Kura-kura dan Kadal itu bertengkar. Kura-kura mengatakan bahwa ia mendapat garam itu dari saudaranya, dan Kadal mengangkangi bahwa garam itu ia temukan di tengah jalan. Akhirnya keduanya mengadukan perkara itu ke pengadilan.

Majelis hakim yang terdiri dari beberapa hewan itu memutuskan. “Demi keadilan, garam dalam besek itu harus dibagi dua!” Tentu saja Si Kura-kura amat kecewa. Namun tak bisa berbuat apa-apa. Konon, demi keadilan, ia harus pasrah menerima. Beberapa bulan kemudian, si Kura-kura melihat si Kadal memburu segerombolan semut. Mangsa enak itu masuk ke dalam lubang kecil. Si Kadal berusaha memasukkan moncongnya ke lubang kecil itu. Nah, pada saat itulah, si Kura-kura mencaplok ekor si Kadal. Si Kura-kura mengangkangi bahwa ekor itu menjadi miliknya, karena ia menemukannya di jalan. Keduanya bertengkar hebat, membela kebenaran masing-masing. Kemudian sepakat membawa sengketa itu ke pengadilan. Pengadilan pun memutuskan dengan cara yang bijaksana. “Demi keadilan, bagi dua sajalah pemilik ekor itu!” Si Kadal kecewa dan takut. Ia balik haluan lalu melompat melarikan diri. Walaupun keputusan pengadilan itu belum terlaksana, namun Si Kura-kura merasa puas. Bukankah di mulutnya masih menempel sebagian ekor Kadal? Sesampai di rumah, si Kadal yang masih menahan sakit, sempat pula tersenyum. “Beruntung aku! Daripada bertubuh sebelah, lebih baik berekor pendek.” (Afrika)


4

Tonjolkan Kearifan Lokal PKK Gianyar Berjaya di Ajang PKB XLI 2019 Lomba seksi kewanitaan ajang PKB XLI 2019, di Taman Budaya Art Center Denpasar masih lekat membekas bagi seluruh anggota TP. PKK Kabupaten Gianyar. Bagaimana tidak, wakil Gianyar yang dikomandoi Ketua TP.PKK Kabupaten Gianyar, Ny. Ida Ayu Surya Adnyani Mahayastra berhasil meraup prestasi di ketiga bidang lomba seperti lomba merangkai janur, lomba makanan, dan lomba busana.

M

enggunakan bahan­bahan lokal dan potensi di daerah masing-masing, lomba yang diikuti oleh TP.PKK Kabupaten/ Kota se-Bali ini, mampu menunjukkan ciri khas baik itu makanan maupun kain tradisionalnya. “Ini sesuai dengan arahan Ketua TP. PKK Provinsi Bali Ny. Putri Koster, yang menekankan jika lomba ini mendukung visi Gubernur Bali “Nangun Sat Kerthi Loka Bali”, dengan menggunakan bahan lokal. Ini sesuai pula dengan Pergub Nomor 99 tahun 2018 tentang Pemasaran dan Pemanfaatan Produk Pertanian, Perikanan dan Industri Lokal Bali,” papar Ny. Surya Adnyani Mahayastra, ditemui di ruang kerjanya di Sekretariat Kantor TP.PKK Gianyar, Senin (1/7). Pada PKB tahun ini, dari seksi kewanitaan ada tiga jenis kegiatan yang dilombakan. Diantaranya lomba merangkai janur, meliputi lomba gebogan buah untuk upacara ‘Dewa Yadnya’, ‘Banten Prayascita Sakti’, ‘Ngulat Tipat’, ‘Gebogan Kreasi’ dan lomba ‘Rangkaian Bunga Meja’ yang diselenggarakan Minggu (16/6). Selanjutnya, ada lomba makanan, meliputi makanan tradisional seperti membuat jajan laklak, jajan cerorot, tum ayam, membuat jukut (sayur) ares dan membuat masakan serba ikan, yang dilaksanakan Minggu (23/6). Di ujung bulan Juni (30/6) diadakan lomba busana yang meliputi lomba busana adat ke Pura untuk anak-anak, remaja dan dewasa, lomba busana adat ke kantor dan lomba busana atau gaun malam. Wakil Gianyar meraih prestasi hampir di semua jenis lomba. Lomba gebogan buah untuk upacara manusa yadnya berhasil menyabet juara 2. Lomba membuat banten prayascita sakti, sukses raih juara harapan 1 dan 2. Lomba gebogan kreasi sebagai juara 2. Lomba merangkai rangkaian bunga meja, Gianyar berhasil menjadi terbaik. Sementara, untuk lomba makanan, Gianyar meraih juara 1 lomba membuat tum ayam, membuat jukut ares berhasil meraih juara 3, membuat jajan cerorot harapan 1 dan lomba membuat jajan laklak berhasil meraih juara 2. Selanjutnya pada lomba busana yang juga disaksikan oleh Ketua TP.PKK Provinsi Bali Ny. Putri Koster, rancangan desainer muda Dika Saskara dari “Asperb’ (Asosiasi Perancang Busana Gianyar), meraih prestasi yang tidak mengecewakan seperti juara 3 untuk lomba busana

ke Pura untuk anak-anak, juara harapan 1 untuk tingkat remaja dan juara 2 untuk katagori dewasa. Sedangkan busana adat untuk ke kantor berhasil meraih juara harapan 1 dan untuk busana atau gaun malam meraih juara 3.Yang istimewa lagi, pada Lomba Busana ke Pura tingkat remaja, Kabupaten Gianyar diwakili oleh Putri Remaja Bali 2019, Diah Pradnya Maharani yang juga merupakan putri Bupati Gianyar Made Agus Mahayastra.

Tingkatkan SDM dan Lestarikan Budaya Prestasi yang telah diraih tersebut, merupakan buah dari kerja keras seluruh anggota TP. PKK Kabupaten, kecamatan/kelurahan hingga tingkat desa. Selama 2 periode menggawangi TP. PKK Gianyar (2013 – 2018 dan 2018- 2023) Ny. Adnyani Mahayastra yang kini dibantu Wakil Ketua 1 TP.PKK Gianyar Ny. I.A Diana Dewi Agung Mayun, Wakil Ketua II, Ny. Dwikorawati Wisnu Wijaya, Wakil Ketua III, Ny. Ayu Tagel Winarta dan seluruh pengurus TP.PKK, terus berupaya mensejahtera-

kan kaum perempuan di Gianyar melalui program KK. “Kami secara rutin turun ke kecamatan hingga ke tingkat desa melakukan pembinaan, sehingga saat menghadapi lomba baik itu PKB, HUT Kota Gianyar ataupun lomba lainnya kami tidak kelabakan lagi mencari peserta. Kami tinggal memoles sedikit, sebab peserta sudah pada pintar semua,” ujar Ny. Surya Adnyani Mahayastra. Ditambahkannya, bahwa semua yang ditampilkan saat lomba adalah produk unggulan dan potensi masyarakat di Gianyar. “Kami juga di TP.PKK khususnya Pokja II yang membidangi UP2K, tidak pernah surut memberikan berbagai macam pelatihan yang bertujuan meningkatkan SDM kaum perempuan di Gianyar,” lanjut Ny. Surya. Khusus untuk lomba busana, Ny. Surya Adnyani Mahayastra yang juga ketua Dekranasda Kabupaten Gianyar, memahami betul bagaimana seluk beluk industri UMKM di Gianyar, bagaimana kualitas, corak, motif maupun desainnya. “Lomba Busana di PKB ini merupakan kesempatan kami memamerkan kain tenun khas Gianyar. Jika sudah di garap dalam bentuk busana lengkap dengan aksesorisnya tentu menjadi lebih menarik,” tandasnya. Ke depan, pihaknya akan lebih sering memanfaatkan momen seperti ini untuk memperkenalkan kain tenun khas Gianyar. Ajang PKB, adalah salah satu arena strategis untuk pemasa-

rannya. Ny. Surya Adnyani Mahyastra juga berharap semua perajin di Gianyar dapat memanfaatkan momen yang rutin diadakan tiap tahun di Bali. Jika belum berkesempatan terlibat secara aktif di dalamnya, minimal dapat dijadikan tempat belajar, baik mengenai mutu, desain produk, jenis kain dan lain sebagainya. Mengingat pula PKB diikuti oleh seluruh kabupaten/kota di Bali dan berbagai daerah lainnya di Indonesia. Ny. Surya Adnyani Mahayastra juga menekankan, meraih prestasi memang penting, karena merupakan buah dari kerja keras. Namun yang paling penting,adalah regenerasi untuk para pemula dengan tetap melestarikan budaya Bali. - ard

Edisi 1039/ 8 - 14 juLi 2019

Edisi 1039/ 8 - 14 juLi 2019

METROPOLITAN

13

Hati-hati Berceloteh di Media Sosial

Hati manusia mana yang tidak ikut pilu melihat penderitaan Fairuz A Rafiq yang dilecehkan mantan suaminya Galih Ginanjar. Lebih lagi yang dilecehkan itu adalah hal yang paling pribadi saat keduanya masih suami-istri. Salah satu celotehan yang menghebohkan yang dilontarkan Galih lewat tayangan youtube milik Rey Utami-Pablo Benua, adalah soal ‘bau ikan asin’.

S

ontak masyarakat geger. Tak menunggu waktu lama video yang dianggap mengandung kalimat berkonten asusila itu pun menyebar dengan cepat di dunia maya. Buntutnya, Galih pun menuai berbagai kecaman dari nitizen maupun masyarakat umum. Nitizen yang biasanya nyinyir, kali ini kompak memaki Galih yang dianggap tidak etis membeberkan masalah paling pribadi dalam kehidupan sebuah perkawinan. Apalagi perkawinan itu sudah berakhir lama yakni 2014, dan masing-masing dari mereka sudah menikah. Kasus ‘bau ikan asin’ ini tidak kunjung mereda meski sudah bergulir beberapa pekan. Sebaliknya justru kian ‘panas’. Fairuz yang tadinya hanya diam dan menangis, akhirnya bangkit melawan. Didampingi pengacaranya Hotman Paris dan keluarganya, Fairuz melapor ke Polda Metro Jaya. Selain Galih, Fairuz juga melaporkan Rey Utami dan suaminya Pablo Benoa sebagai pemilik akun youtube dimana Galih berceloteh. Fairuz mengaku sedih dan terpukul ketika pertama kali mendengar kabar tentang ocehan Galih itu. Dia merasa selama ini tidak pernah berbuat jahat pada mantan suaminya itu. Dia juga tidak pernah mengubar aib Galih. “Astrafirullah. Dia maunya apa. Aku tuh nggak pernah jahat sama dia. Aku nggak pernah buka aib dia. Aku sedih dengan apa yang terjadi. Pihak lain mungkin menganggap ini lucu. Padahal ini adalah suatu yang serius. Apakah mereka tidak mikir hal itu dapat menyakiti perasaan orang lain,” ungkap Fairuz dengan berlinang air mata. Awalnya, kata Fairuz, dia ingin menghindar, ingin diam saja. Namun sepertinya tidak mungkin. Apalagi dia adalah public figure, semua orang pasti tahu. Kasus ini membuatnya tertekan. Bukan hanya berpikir tentang dirinya tapi juga dampaknya bagi anak-anaknya serta keluarga. Dia sendiri juga tak habis pikir kenapa mantan suaminya seperti itu, selalu saja membuat masalah, mengganggu hidupnya. “Aku tadinya mau menghindar. Tapi sepertinya nggak bisa. Aku sampai nggak tahu mau ngomong apa. Trus mikir, bagaimana dengan Faaz (anak Fairuz dengan Galih Ginanjar, berusia 7 tahun). Dia (Faaz) sebentar lagi masuk sekolah. Sonny (suami) bilang, ’Sayang nggak usah dipikirkan’. Tapi bagaimana. Kita kan public figure, semua orang kan tahu,” tutur ibu dua anak ini dengan suara tersendat. “Kalau aku ngomong kenapa aku bercerai dengan dia. Pasti, aku yakin, masyarakat akan makin membenci dia. Tapi aku nggak mau ngomong. Aku nggak mau menjadi

seperti dia. Aku kembalikan saja semuanya kepada Allah,” ucap anak bungsu penyangi dangdut legendaris A Rafiq ini. Yang bikin Fairuz makin sedih adalah sang mama yang tadinya tidak tahu, kini menjadi tahu kasus tersebut. “Mama akhirnya jadi tahu juga. Aku tuh berusaha terlihat biasa saja di depan mama karena takut mama jadi sedih. Apalagi papa kan sudah tidak ada. Mama belakangan sering sakit-sakitan. Jadi aku lebih menjaga perasaan mama. Berusaha nenangin mama. Aku bilang, ‘Nggak apa-apa ma. Nanti juga beritanya hilang hilang kok’,” jelas Fai. UJIAN KESABARAN YANG LUAR BIASA Aktor Sonny Septian, suami Fairuz yang mendampingi Fairuz, awalnya sempat emosi mendengar hal tersebut. Namun Fairuz menenangkannya. Orang-orang disekeliling Sonny pun ikut menenangkan dan meminta agar jangan langsung bereaksi melainkan diam dan mengamati perkembangannya. Sonny merasa bersyukur mendapat dukungan dari banyak orang termasuk saran agar dia bersabar. “Alhamdulilah aku punya benteng agama. Aku juga punya orang di sekeliling yang menenangkan. Disuruh diam saja dulu. Katanya, diam bukan berarti kamu tidak bisa apa-apa. Mereka meminta aku jangan terpancing emosi. Jangan mengeluarkan statement atau bertindak apapun,” ungkap pemeran sinetron ‘Bintang di Hatiku’, ini. Peristiwa tersebut kata Sonny menjadi pembelajaran pada dirinya bagaimana melatih kesabaran, meredam emosi, sesuatu yang tidak mudah dilakukan. “Alhamdulilah aku mendapat support dari banyak orang, termasuk dari masyarakat luas. Tidak ada yang mencela Fairuz, masyarakat justru mendukungnya. Itu semua yang membuat kita kuat,” kata Sonny sambil mengelus punggung Fairuz yang masih berlinang air mata. “Tadinya kita mau masa bodo. Mau diam saja. Tapi kok rasanya terganggu ya. Apalagi semakin banyak statement-statement,” tambah adik artis senior Elma Theana ini. KATEGORI PELECEHAN SEKSUAL Budi Wahyuni, Wakil Ketua Komnas Perempuan, menyebut, kasus tersebut masuk dalam kategori pelecehan seksual. “Ini masuk dalam kategori pelecehan seksual, di mana ada satu ungkapan, apalagi ini ada buktinya, yang menyerang atribut seksual,” kata Budi Wahyuni yang berbicara dalam program ‘Pagi Pagi Pasti Happy’. Memang, akunya, selama ini kalau ingin dipersoalankan kasus semacam

Fairuz A Rafiq

Budi Wahyuni

itu, ada kebingungan, apakah ada perundang-undangannya atau tidak. Ini, tandasnya, sangat memprihatinkan Komnas Perempuan. Ketika ditanya apakah isi konten itu ada unsur kekerasan pada perempuan, Budi mengiyakan. “Ini ada bukti rekaman itu yang memang mengarah pada konteks merendahkan harkat perempuan,” ujar Budi. Sementara pengacara kondang Hotman Paris mengaku, awalnya dirinya tidak tahu kasus tersebut. Karenanya dia sangat kaget ketika Fairuz datang padanya sambil nangis menceritakan kasus tersebut. Hotman pun geram. Sebagai sesama lelaki dia sungguh tidak menyangka ada lelaki seperti Galih Ginanjar yang tega melecehkan mantan istrinya seperti itu. “Jadi Fairuz yang datang ke Hot-

man Paris bicara tentang kasus itu. Saya malah tidak tahu sebelumnya,” kata pengacara yang memiliki julukan ‘The Most Dangerous Lawyer’, ini. Hotman mengaku banyak mendapat pertanyaan terkait alasannya mau membela Fairuz. “Banyak yang bertanya kenapa sih Hotman membeli Fairuz matimatian? Apa karena uang? Ya jelas enggak dong! Saya ini dari dulu sudah menjadi pengacara Fairuz. Saya kagum sama dia setelah dia hijrah, memakai jilbab dan menjadi muslim yang baik. Tapi anehnya setelah dia menjadi muslim yang baik, dia mendapat perlakuan yang tidak manusiawi. Itu sebabnya saya membela Fairuz,” tegas host acara ‘Hotman Paris Show’ dan Hot Room’, ini. Perkembangan terakhir kasus ini, polisi sudah mulai melakukan

pemeriksaan terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam kasus ini. Bukan hanya Fairuz, tapi juga Galih Ginanjar serta nantinya pemilik channel youtube Rey Utami-Pablo Benoa, akan diminta keterangannya. Sementara Galih kini lebih banyak diam. Hanya pengacaranya lah yang berbicara mencoba mengklarifikasi bahwa ‘ikan asin’ yang dimaksud Galih adalah makanan bukan hal lainnya. Klarifikasi itu tentu saja mengundang kecaman, karena lahirnya kata ‘bau ikan asin’ itu tidak dalam kontes berbicara makanan melainkan urusan perkawinan dan ranjang. Perkembangan lainnya, kini terjadi ‘perang dingin’ antara Berbie Kumalasari (istri Galih Ginanjar) Vs Rey Utami terkait publikasi video ‘bau ikan asin’ itu. “Miris banget ya dengan kasus ‘bau ikan asin’ ini. Semua kaum wanita merasa terhina. Kami mendukung Fairuz. Kami minta pada polisi agar menegakkan hukum. Kami juga minta agar Hotman Paris membela kaum perempuan,” seru para ibu-ibu pengajian yang videonya tayang di akun Hotman Paris Official. Banyak orang ingin agar kasus ini terus bergulir ke meja hijau sehingga perkara yang telah menyita perhatian masyarakat ini menjadi jelas. Diharapkan dengan ditegakkannya hukum, juga memberi efek jera pada orang-orang yang menjadikan media sosial sebagai tempat berbuat seenaknya. Tidak ada kebebasan absolut, semua ada batasannya. Ada rambu-rambu atau norma-norma yang harus ditaati semua orang. (Diana Runtu)

“I Am Fashion”

FASHION STARTS HERE! beachwalk Shopping Center kali ini kembali dengan program ”I AM FASHION” yang menghadirkan Fashion sebagai tema utama untuk memberikan atmosfer dan semangat baru lewat berbagai kejutan promo menarik untuk pengunjung selama liburan di bulan Juli 2019 ini. beachwalk Shopping Center sebagai destinasi belanja utama bagi para fashionista untuk menemukan International brand maupun local brand, kali ini akan menghadirkan program “BEACHWALK SUMMER SALE” yang tidak dapat dilewatkan oleh para penggemar wisata belanja. Sale Starts Here. Untuk merayakan semangat liburan musim panas, penggemar wisata belanja dapat menikmati “BEACHWALK SUMMER SALE” selama bulan Juni-Juli 2019 yang diikuti tidak hanya tenant fashion maupun tenant restoran dan café dengan memberikan berbagai macam diskon dan promo menarik hingga 70% bagi pengunjung. Berbagai diskon akan diberikan oleh sejumlah brand ternama seperti Mango, Zara, Pull & Bear, Bershka, Bath & Body Works, TUMI, Michael Kors, Kate Spade, Coach dan masih banyak brand menarik lainnya. Selain penawaran diskon, beachwalk juga memberikan berbagai promo menarik untuk menjadikan liburan musim panas ini penuh dengan kejutan special. Untuk merayakan Hari Raya Galungan & Kuningan yang jatuh di bulan Juli-Agustus ini, beachwalk memberikan program special “Instant Reward Galungan & Kuningan THR” untuk periode 22 Juli–3 Agustus 2019. Pengunjung bisa mendapatkan kejutan THR pada Hari Raya Galungan & Kuningan, hanya dengan menunjukkan Corner’s Card dan KTP Bali untuk mendapatkan voucher parkir gratis dan voucher Expat Roasters. Beachwalk juga memberikan “Galungan & Kuningan Giveaway” untuk member Corner’s Card untuk berkesempatan memenangkan voucher menginap 1 malam di Hotel Santika Seminyak hanya dengan berfoto di kawasan beachwalk Shopping Center, kemudian mengunggah foto tersebut ke Instagram, tag @beachwalk_bali & @hotelsantikaseminyak pada dan membubuhkan hashtag

#galunganatbeachwalk. Pemenang akan diumumkan pada tanggal 31 Juli 2019 (*S&K berlaku). Berita baik hadir belum lama ini, beachwalk baru saja meluncurkan area baru yang bernama “Sunset Deck” di level 3 untuk memberikan pengalaman dan suasana baru bagi pengunjung. Sunset Deck merupakan tempat terbaik untuk menikmati indahnya pemandangan matahari terbenam Pantai Kuta lengkap dengan hembusan angin pantai dan nyiur melambainya bersama keluarga dan kerabat tercinta. Tiap hari Selasa dan Rabu di Sunset Deck level 3 pukul 18.00, berbagai kegiatan budaya yang otentik diadakan secara regular untuk dinikmati oleh pengunjung, seperti belajar tari bali tradisional atau hanya menikmati berbagai pertunjukan menarik lainnya seperti; pertunjukan Tari Kontenporer, Pertunjukan Tari Kecak dan Tari Barong, dan masih banyak lagi lainnya. Beachwalk juga menampilkan pertunjukan regular “ACOUSTIC EVE” setiap Kunjungilah website beachwalk Shopping Center yang baru pada tautan www.beachwalkbali.com dengan desain dan konsep baru, dan menambahkan beberapa fitur tambahan seperti tampilan baru supaya lebih user-friendly dan fitur floor map interaktif untuk memudahkan akses pengunjung dalam mengetahui lokasi dan tenant-tenant apa saja yang ada di beachwalk Shopping Center.


SUDUT PANDANG

14

Edisi 1039/ 8 - 14 juLi 2019

Makan Bersama Menambah Keharmonisan Keluarga Kebersamaan bersama keluarga merupakan hal yang utama. Sesibuk apapun, berkumpul bersama keluarga, selalu menjadi prioritas. Apalagi, makan bersama merupakan kebiasaan yang membuat hubungan komunikasi keluarga tambah harmonis. Demikian dituturkan Utami Dwi Suryadi.

P

olitisi Partai Demokrat ini, memilih waktu makan malam sebagai waktu yang tepat berkumpul bersama keluarga. “Kami sekeluarga sehari-hari punya kesibukan masing-masing. Jadi waktu kumpul untuk makan bersama ya saat makan malam,” tutur anggota Komisi IV DPRD Bali ini. Ia mengatakan, setiap pagi sebelum beraktivitas, keluarganya jarang sarapan makanan “berat”. “Jarang juga sarapan, kadang hanya minum teh dan roti. Kebiasaan sih jarang sarapan,” tuturnya. Untuk soal menu makanan, keluarganya bukanlah tipe yang suka ribet. Apalagi dengan perpaduan dua budaya, Bali dan Jawa, untuk urusan makanan lebih ke makanan Indonesia. “Saya sering juga masak di rumah. Masakannya yang simpel seperti sayur sup. Di dalam sayur juga ditambahkan potongan daging ayam. Jadi lengkap lauk-pauknya,” kata Utami. Kadang, ia juga menikmati kebersamaan makan malam bersama keluarga di luar rumah. “Kalau ada acara khusus, misalnya, ulangtahun anggota keluarga,

kadang dirayakan dengan makan di luar bisa di mal, atau di restoran mana tergantung permintaan anak-anak,” imbuh Utami. Kadang juga, kata dia, ia janjian makan siang bersama. “Kalau saya lagi dimana, bapak atau anak juga berada di lokasi yang sama, kita ketemuan terus makan siang bareng. Sering juga seperti itu,” ucapnya. Ia mengakui, walaupun sesibuk apapun, ia usahakan untuk masak di rumah. Walaupun menu makanan sederhana. Yang penting, kebersamaan bersama keluarga. “Kadang bisa masak bersama anak-anak. Mereka maunya makan apa. Biasanya anak-anak lebih suka yang fresh pas mau makan baru dibuat,” kata Utami. KEHANGATAN KELUARGA Sementara, menurut Ni Putu Yuli Artini, sejak remaja, dibiasakan makan bersama keluarga. Saat itulah, ia dan saudara-saudaranya menyampaikan aktivitasnya seharian kepada orangtuanya. “Biasanya kami saat makan malam ditanya Bapak dan Ibu apa saja kegiatan satu hari ini. Kalau ada masalah yang

Utami Dwi Suryadi.

perlu dicarikan solusi, waktu makanlah kami sekalian diskusikan,” kata politisi dari Partai Golkar ini. Menurut Yuli, ia sejak remaja sudah biasa membantu ibunya memasak di dapur, sehingga setelah menikah pun, ia tetap memasak untuk keluarganya. “Kalau saya masak apa saja, memang lebih suka masakan Bali. Bapak dan ibu juga suka masakan Bali, Bapak jago buat lawar,” ujar putri mantan Bupati Karangasem Wayan Geredeg ini. Anggota DPRD Provinsi Bali ini menuturkan, setelah berkeluarga, ia selalu masak tiap hari, kalau tidak ada kegiatan ke luar kota. Walaupun tidak sarapan bersama dengan suami, ia selalu membuatkan bekal makanan atau rantangan untuk suami dibawa bekerja ke bank. “Saya suka masak makanan Bali seperti be genyol, babi kecap dll. Anak yang usianya dua tahun juga saya sudah biasakan makan makanan orang dewasa. Cuma memang bumbu masaknya beda, kalau untuk anak tidak pakai merica atau cabai,” kata Yuli. Menurutnya, saat anak masih kecil

ia mencoba memberikan pengenalan masakan rumah. “Karena nanti kalau dia sudah sekolah, pasti dia akan kena pengaruh lingkungan teman-temannya, suka makanan siap saji. Kalau dia sudah terbiasa makanan rumahan, tentu tidak terlalu berpengaruh. Kalau sekali-kali bolehlah,” ucap Yuli. Saat ini pun, saat ia bersama keluarga jalanjalan, mereka juga kerap mencoba makanan di resto. “Sekali-kali coba makan di luar, sekalian refreshing,” imbuhnya. Ia juga berpendapat, makan bersama keluarga merupakan hal yang bagus untuk menambah kehangatan keluarga. Kadang, ia juga berkumpul dengan keluarga besarnya di Karangasem. Sekalian bersilaturahmi juga makan bersama. (Wirati Astiti)

Sosialita

Edisi 1039/ 8 - 14 juLi 2019

3

IGA Mas Sumatri

Sampaikan Pesan Lewat “Mantri Buduh” Ribuan masyarakat Kabupaten Karangasem tumpah ruah menikmati malam penutupan pameran HUT ke-379 Kota Amlapura, Minggu (30/6) malam.

Ni Putu Yuli Artini

B

Aksi Bupati Mas Sumatri sebagai “Mantri Buduh”

erbeda dengan tahun sebelumnya, kali ini masyarakat dikejutkan dengan penampilan orang nomor satu di Kabupaten Karangasem sebagai tokoh utama dalam Pentas Seni Arja. Bupati Mas Sumatri terjun langsung menghibur masyarakatnya. Ia memerankan lakon pemimpin/ raja “Mantri Buduh” dalam pementasan Arja bertemakan Asta Brata (Delapan Sifat Kepemimpinan dalam Agama Hindu). “Saya ditelpon mendadak oleh Bu Bupati lima hari lalu. Saat itu saya sedang cek kesehatan di Sanglah, tiba-tiba beliau meminta saya langsung melatihnya memainkan peran dalam pentas seni arja demi menghibur masyarakat Karangasem, “ tutur I Ketut Bawa yang melakoni peran Parekan Punta (penasar) dalam pentas tersebut. Bawa akrab disapa Pan Gonjak merupakan seniman yang juga penyiar radio senior, pensiunan guru SMAN 1 Amlapura, mengatakan, pertemuan dengan Bupati Mas Sumatri di panggung pentas ini, bukan untuk yang pertama kalinya. Ia menceritakan, Bupati Mas Sumatri dulu sempat menjadi anak didiknya saat masih menjalani masa Pendidikan Guru Agama Hindu (PGAH) tahun 1986. Sebelum menjadi orang nomor satu di Kabupaten Karangasem, Mas Sumatri juga sempat menjajaki dunia pentas seni arja sebagai Galuh Daa (Galuh Manis) di Sidemen bersamanya. Maka tak heran, menghayati peran sebagai

Mantri kali ini mampu dikuasi Bupati Mas Sumatri hanya dalam dua kali pertemuan. “Bu Mas hanya berlatih dua kali pertemuan. Sekali pertemuan waktunya hanya satu jam. Jadi bisa dikatakan beliau hanya berlatih selama dua jam saja sebelum pentas,” ungkapnya. Disinggung mengenai pemilihan peran Mantri Buduh, Pan Gonjak menjelaskan, ini pilihan dari Bupati Mas Sumatri. Alasannya, jika memerankan Mantri dengan pakem Dharma, maka pementasan akan tampak serius dan pesan dalam cerita akan sulit dipahami masyarakat awam. Bupati menginginkan agar terlukiskan dalam pementasan sosok pemimpin yang tidak fanatik dan menampilkan sosok merakyat. Sebagai Mantri Buduh, maka lakon yang dimainkan dapat menggunakan bahasa yang lebih ringan

sehingga diharapkan pesan dalam pementasan lebih mudah dipahami oleh seluruh masyarakat. Selain dirinya, pentas seni arja Bupati Mas Sumatri juga dibantu oleh I Komang Parwata yang kesehariannya sebagai pengajar di SD 1 Budakeling. Di Pentas Arja “Asta Brata”, Parwata memerankan laku Parekan Wijil. BUDAYA DAERAH SEBAGAI ASET Bupati Mas Sumatri usai pentas mengingatkan kembali pesan yang ingin disampaikan dalam perannya. Asta Brata adalah sifat kepemimpinan yang ingin pemerintah terapkan dalam melayani masyarakat Karangasem. “Terima kasih atas dukungan masyarakat dan kepercayaan masyarakat pula. Saya berharap sifat tersebut bisa kita wujudkan

Bupati IGA Mas Sumatri memberikan sambutan saat penutupan pameran HUT ke-379 Kota Amlapura

Pesan lainnya yang ingin disampaikan, agar generasi muda jangan mau kalah dengan yang sudah tua. Justru para pemudalah pada zaman milenial ini harus getol turut melestarikan kesenian dan budaya Bali seperti seni arja. “Kita harus bangga, tahun ini HUT Kota disinkronkan dengan Festival JKPI. Kota Amlapura terpilih menjadi tuan rumah event nasional ini. Artinya, pemerintah bersama masyarakat, harus bahu-membahu melestarikan pusaka budaya daerah sebagai aset dalam meningkatkan

yang membawakan lagu “Mars Karangasem”, “Sekar Tunjung” dan “Spirit of Bali”, pada malam penutupan juga diisi dengan penyerahan piagam kepada para sponsor serta donatur HUT Kota. Selain itu diserahkan pula penghargaan pemenang lomba HUT ke-379 Kota Amlapura diantaranya, pemenang lomba kebersihan kantor, lomba kebersihan lingkungan, lomba kebersihan lingkungan sekolah, lomba penjor hias, lomba tata kelola kearsipan, lomba memancing ikan air tawar Bupati

Penyerahan hadiah kepada para pemenang lomba serangkaian HUT ke-379 Kota Amlapura

bersama demi kemajuan dan kesejahteraan Bumi Lahar. Mari kita galakkan semangat “Menyama Braya” dalam membangun Karangasem yang bersih, cerdas serta bermartabat berlandaskan Tri Hita Karana,” imbuhnya.

kunjungan wisatawan ke daerah, sehingga PAD kita bisa semakin bertambah dari sektor pariwisatanya,” ungkapnya. Malam penutupan juga dimeriahkan dengan penampilan Padus Gita Suara Pemkab Karangasem

Foto bersama Bupati Mas Sumatri dengan undangan dan pemenang

Cup I, pemenang lomba karnaval budaya dan potensi pembangunan, pemenang lomba fotografi, piala bergilir Bola Volly Bupati Karangasem Cup 2019, lomba desa tingkat kabupaten, penghargaan kategori stand makanan dengan kunjungan terbanyak dan lomba stand pameran terbaik HUT ke379 Kota Amlapura. Hiburan tari pendet dari para pegawai pria Perumda Tirta Tohlangkir PDAM Karangasem, musik dari band Lolot juga pengundian kupon berhadiah, 7 unit sepeda gayung, 2 unit sepeda motor,1 unit sepeda motor kaisar, 6 unit kulkas, 5 unit tv, 10 kompor, 10 kipas angin, 2 HP Android dan hadiah utama 1 unit mobil Ayla yang diperoleh Kadek Susila dari Ngis. Hadir dalam penutupan pameran HUT Kota Amlapura, Sekda Provinsi Bali, Wakil Bupati Karangasem beserta ibu, Ketua DPRD beserta ibu, Sekda Karangasem beserta ibu, Forkopimda dan kepala OPD lainnya. (Anie)


2

ESPRESSO GORO-GORO BK (2)

“Nah sekarang habis minum kopi bergula garam, bagaimana rasanya?” Putu Wijaya Amat tersenyum. “Lain kali jangan naruh garam dekat kopi” “Kan ada tulisannya.” “Tidak kelihatan!” “Makanya biasakan nyimak sebelum bertindak.” “Sudah jangan dibahas lagi!” “Jangan suka keki sama Pak Made. Kita kan tetangga. Namanya juga beda kubu. Kalau beliau mancing-mancing ketawa saja. Kalau keki namanya kepancing. Sekarang masih keki?” “Sudah plong!” “Kalau begitu sekarang pijitin saya.”

Kunci lain dalam melatih anak untuk berpikir kritis adalah dengan memberikan kesempatan anak untuk sebanyak-banyaknya mengeksplorasi. Jangan dipaksakan, lakukan pelan-pelan untuk mengenalkan anak mengeksplor banyak hal. Eksplorasi bisa lewat beragam media, seperti buku, gambar, video, hingga pergi bermain ke ruang terbuka dan berinteraksi dengan sosial sekitar. Selanjutnya, Anda bisa mengajak anak berdiskusi tentang apa yang ia temui, amati dan rasakan. Melatih anak untuk berpikir kritis sebenarnya juga bisa diberdayakan dengan memanfaatkan nilai- nilai kearifan lokal Bali yang kita miliki. Misalnya melalui penerapan konsep Tri Pramana. Tri Pramana merupakan tiga kekuatan hidup untuk mengetahui dan meyakini sesuatu. Ketiga tri Pramana tersebut dimiliki oleh manusia sebagai makhluk yang paling sempurna untuk mengetahui hakekat kebenaran sesuatu, baik nyata, maupun abstrak.

bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

“Sekarang?” “Ya kapan lagi. Nanti keburu hilang pegelnya!” “Kalau memang sudah mendingan rasanya buat apa dipijit lagi?” “Kalau lagi pegel dipijit sakitnya enak. Tapi kalau tidak pegel dipijit itu jijai! Ayo, Pak, nanti tak kasih hadiah.” Mata Amat berkilat. “O, ya? Apa hadiahnya? Berapa kali?” “Pijit dulu!” “Siap! Ayo, mana kaklnya?” Amat langsung duduk di lantai mau memijit kaki Bu Amat. Cepat Bu Amat mengelakkan kakinya. “Jangan kaki, Pak!” “Lho, memang kenapa? Tadi katanya mau dipijit!” “Malu! Nanti dilihat tetangga. Pagi-pagi sudah pijit-pijitan! “Lho apa salahnya? Kita kan suami-istri? Meskipun sudah tua!” “Lho ini masih pagi, di teras

rumah lagi, memangnya .... “ “Memangnya apa? O, jadi mau di kamar?” “Memangnya saya ibu rumah tangga pemalesan yang suka memperbudak suami?!” Amat ketawa. “Tapi Bapak suka kok diperbudak istrinya!” Bu Amat berdiri mengelakkan kakinya yang diraih Amat lagi mau dipijit. Tapi sudah terpegang. Bu Amat langsung menyapa ke samping. “Aduuuh, mau ke mana Pak Made, pagi-pagi sudah ganteng sekali?” Amat terkejut, melepas kaki istrinya, sambil mengintip ke bawah meja dan berseru heboh: “Mana, mana kucingnya, kan sudah ditabrak turis waktu Pemilu bulan April yang lalu?!” Bu Amat ketawa. Amat berdiri dan menengok ke samping.

EDISI 1039/ 8-14 JULI 2019

“Mana Pak Made?” Bu Amat tak menjawab. Ia mengambil gelas kopi yang sudah kosong. Amat berbisik. “Mana Pak Made?” “Ya, mungkin masih tidur. Ini kan hari Minggu, Pak.” Amat kecewa membuat Bu Amat tertawa, lalu bergegas mau ke dapur. Amat ngedumel. “Syukurlah aku berhasil lagi bikin istinya Amat tertawa lagi, jangan cuma nangis bombay garagara tidak dipijit. Tapi eee giliran kita siap, di situ kabur.” Bu Amat muncul lagi. “Kalau mau mijit nanti malam saja!” “Ah, pepesan kosong!” “Lho nggak mau? Ada upahnya lho!” Amat menggumam. “Upahnya apa?” “Nanti kalau saya mimpi lagi ketemu Bung Karno, Bapak nitip pesan?!” Amat tertegun, lalu menjawab ketus. “Bungkam saja tetangga kita

Tri Pramana sebagai Dasar Berpikir Kritis Anak (2-habis) Dalam widhi tatwa disebutkan Tri Pramana terdiri dari; Praktyaksa Pramana, Anumana Pramana, dan Agama Pramana (Sabda Pramana). Praktyaksa Pramana Praktyaksa Pramana adalah cara mengetahui sesuatu (kebenaran) dengan cara melihat langsung melalui panca indra. Contohnya misalnya melihat matahari langsung, melihat bulan purnama pada malam hari, melihat matahari terbit, mencium harumnya bunga secara langsung, mendengarkan suara musik, merasakan sejuknya angin pada sore hari, dan lainnya. Anumana Pramana Anumana Pramana adalah cara mengetahui sesuatu (kebenaran) dengan cara melihat gejala-gejala atau tanda-tanda, berdasarkan perhitungan analisa yang logis dan sebagainya. Contohnya misalnya ada asap berarti ada api, ada angin manakala melihat dedaunan pada pepo-

deta dan pinandita, para rsi, orang tua kita dan sebagainya.

A.A.Ngr. Eddy Supriyadinata Gorda

honan yang bergerak-gerak, dedaunan basah di hutan berarti terjadi hujan, ada jejak telapak kaki manusia berarti ada orang, dan lain sebagainya. Agama Pramana Agama Pramana adalah cara mengetahui sesuatu (kebenaran) dengan cara mempercayai sumber-sumber yang pantas dipercaya, misalnya kitab suci weda, orang suci seperti pen-

Ketiga cara di atas (Tri Pramana) digunakan oleh umat Hindu untuk mengetahui kebenaran. Sesuatu dikatakan benar jika masuk akal dan bisa dipertanggung jawabkan. Pada umumnya ketiganya dalam agama Hindu dipercaya dapat digunakan untuk mengetahui Tuhan (Ida Sanghyang Widhi Wasa), namun konsep di atas dapat dikembangkan untuk melatih anak berpikir kritis. Dengan semakin derasnya arus informasi yang beredar, melatih anak berpikir kritis menjadi semakin penting dilakukan untuk menghindarkan mereka dari pengaruh buruk yang mungkin muncul. Banyak

yang radikal itu! Hoaknya bikin kita senewen itu!” “Kok gitu, nanti saya laporkan Bapak sama BK tidak mau hidup damai dalam berbeda!” Amat menoleh. “ Bu, Bung Karno itu orang besar. Sejarah kita! Dia berperan membebaskan tapi juga menyatukan negeri kita dengan menggali Pancasila yang membuat Bhinneka jadi Tunggal Ika. Jangan...” “Jangan apa?” “Jangan dipakai guyonan!” “Ini lanjutan mimpi saya tadi.” Amat tercengang. “Apa?” “Kata Bung Karno, jangan takutkan perbedaan karena kita memang Bhinneka, dalam banyak hal, tapi yakinlah meskipun berbeda kita dalam kesatuan!” Amat bengong. “Itu kata BK dalam mimpi ibu?” “Bukan, barusan tadi di dapur waktu saya bilang Bapak terus keki sama Pak Made yang kubunya beda dengan kita!”

cara yang dapat kita gunakan untuk melatih anak berpikir kritis. Beberapa contoh di atas hanyalah beberapa alternatif yang dapat digunakan. Hal yang penting untuk diperhatikan adalah jangan memaksa anak untuk berpikir keras di luar kemampuan dan minatnya. Anak yang merasa dipaksa akan cenderung pasif dan menghindar dari kegiatan berpikir. Akibatnya anak cenderung negatif. Hal lain yang penting juga adalah membiasakan anak untuk mencari tahu sendiri dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tepat. Jika anak terlalu cepat diberi tahu, ia cenderung pasif dan menerima begitu saja segala sesuatu. Anak yang sering dilarang akan berkembang menjadi anak yang takut membuat keputusan sehingga cenderung pasif dan dependen. A.A.Ngr. Eddy Supriyadinata Gorda

KATA HATI: Rubrik ini khusus untuk menuangkan ide/pemikiran/gagasan dalam bentuk tulisan. Tema terkait wanita dan keluarga serta tidak mengandung unsur SARA. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter. Lampirkan juga foto close up (bukan pasfoto). Cantumkan nama lengkap, profesi, nomor hp, dan alamat email. Naskah dikirim ke redaksi@cybertokoh.com, redaksitokoh@yahoo.com.

Penanggung Jawab/Pemimpin Redaksi: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Iklan Denpasar: IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti. Buleleng: Wiwin Meliana. Jakarta: Diana Runtu. NTB: Naniek Dwi Surahmi. Desain Grafis: ­I Made Ary ­S upratman. Manajer Sirkulasi dan Iklan: I Ketut Budiarta, Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama, Hariyono, Ayu Wika Yuliani. Se­kretariat: Ayu ­Agustini, Putu Agus Mariantara. Ombudsman: Jimmy Silalahi. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­merah ­Barat 21 G Jakarta Pusat 10270–Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257. Surat Elektronik: info@cybertokoh.com, redaksi@cybertokoh.com, iklan@cybertokoh.com. Bank: BRI ­Cabang ­Gajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

EDISI 1039/ 8-14 JULI 2019

SUDUT PANDANG

15

Kebersamaan yang Hangat dan Penuh Arti

Rumah merupakan tempat yang paling nyaman dan aman bagi saya dan keluarga kecil saya. “Bagi saya pribadi rumah juga mengandung makna dimana saya bisa tertawa lepas tanpa rasa malu. Rumah akan terasa hangat dengan adanya tawa riang dan canda keluarga , terlebih dilengkapi dapur yang nyaman beserta masakannya yang lezat,” ungkap I Gusti Ayu Shinta Chrisna, S.E., M.M., desainer papan atas Bali ini.

D

ikatakan oleh Shinta Chrisna, meski dirinya tipe orang rumahan , sayangnya ia tidak ahli dalam memasak. Untuk yang satu ini

jujur ia merasa sangat terbantu dengan adanya aplikasi online yang membantu pembelian makanan saat ini. “Nah hampir setiap hari saya dan suami bersama kelima anak kami,

termasuk liburan dipastikan kami menghabiskan waktu dengan berkumpul bersama. Kami GoJek-in makanan dan berakhir di ruang keluarga yang berdampingan dengan meja makan, dimana kami menghabiskan hidangan favorit dengan selera yang berbeda satu sama lainnya,” ujarnya. Duduk di satu meja, dengan tawa canda dan menikmati makanan kesukaan masing-masing, menurut Shinta Chrisna sudah cukup membuat ia dengan keluarga kecilnya menikmati kebersamaan yang hangat, bahagia, penuh arti dan pastinya menjadi memori yang indah. “Bicara ruang favorit, hmm… mengingat hobi saya. adalah menata rumah, semua spot saya jadikan asyik untuk menghabiskan senda gurau. Memang di rumah ada banyak ruang agar tidak bosan ,tapi

tetap yang terfavorit adalah ruang keluarga dimana ada TV besar dan bersebelahan dengan meja makan,” tuturnya istri dari Agus Umaryadi Udayana, B.Com., M.Ib., M.Bq. ini. Pada kesempatan bersama, Shinta Chrisna senantiasa berupaya membuat anak anaknya menggali dirinya sendiri. “Mereka bebas berekspresi, tidak ada keseragaman dalam menentukan makanan favorit, sebab mood mereka juga berbeda-beda. Jadi semua kami layani sesuai dengan keinginannya. Ini terjadi sesekali seperti saat malam minggu kami ingin santai bersama, semua bebas pesen food , “ tutur ibu dari Alicia Catharina Udayana, Alvino Devananda Udayana, Alodia Della Conchetta Udayana, Alexandria Fortunia Cleopatra Udayana, dan Alana Valentia Violetta Udayana ini. Namun, katanya lebih lanjut dalam keseharian mereka

selama ini. sangat menikmati hidangan rumahan, apapun yang disediakan di rumah. Selain itu kami juga sangat menikmati momen spesial seperti Hari Raya Galungan, ada beberapa food yang paling kami tunggu-tunggu untuk mencobanya bersama, diantaranya lawar, urutan dan be genyol. “Ketika tahun baru kami menunggu ikan bakar dengan sambal mentah . Memang, paling asyik menghabiskan waktu santai dengan malam bersama semua anggota keluarga. Ini sekaligus menjadi kesempatan quality time dengan berbagi cerita,” ucap Shinta Chris sembari mengatakan kesempatan tersebut juga digunakannya untuk menanamkan etika, sopan santun juga pandangan –pandangan hidup yang digalinya dari setiap pribadi putra-putrinya untuk selanjutnya diberikan arahan tanpa menjudge apa yang mereka pikirkan. ( Sri Ardhini)

Bangun Kebersamaan Melalui Tanggung Jawab Banyak cara yang dapat ditempuh untuk melakukan revitalisasi fungsi keluarga, salah satunya adalah membangun kebersamaan dalam keluarga. Membangun kebersamaan dalam keluarga dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya melalui makan bersama. Kegiatan makan bersama dapat dilakukan baik di rumah maupun di luar. Pada saat makan bersama, orangtua maupun anak-anak dapat saling bercerita aktivitas yang sudah dilakukan selama seharian, sehingga masing-masing anggota keluarga mengetahui dan memahami aktivitas anggota keluarganya. Sesekali waktu perlu dijadwalkan untuk makan bersama anggota keluarga di restoran favorit keluarga sebagai variasi agar tidak bosan dengan menu atau suasana makan yang ada di rumah. Hal tersebut juga diungkapkan oleh akademisi Undiksha Putu Indah Rahmawati, ST. Par.,M. Bus.,Ph.D. Membagi waktu antara bekerja dan menjalankan

tanggung jawab sebagai orangtua tentu bukanlah hal yang mudah. Namun, perempuan yang saat ini menjabat sebagai sekretaris Jurusan Manajemen Undiksha ini memiliki karakter pekerja keras sehingga memanajemen kedua hal tersebut dengan baik. Kesibukannya dalam berkarier tidak lantas membuat Indah sapaan akrabnya lupa tanggung jawab sebagai seorang ibu dan istri. Setiap pagi sebelum berangkat ke kantor dirinya harus menyiapkan makan pagi untuk kedua anak dan suaminya. Sikap gotong royong dan kerjasama telah ia terapkan dalam keluarga kecilnya sejak dini sehingga pekerjaan rumah dapat selesai tepat waktu. “Kami bagi tugas dengan anggota keluarga yang lain, ini bertujuan untuk membangun tanggung jawab dan kerjasama bagi kedua anak kami,” ungkapnya. Meskipun tidak memiliki waktu yang banyak di meja makan untuk membangun komunikasi dengan anak, akan tetapi Indah mengaku telah membangun karakter anak

terutama sikap disiplin dalam waktu dan tanggung jawab. “Kalau untuk ngobrol lama di meja makan rasanya tidak ada waktu yang lama karena anak-anak harus segera pergi ke sekolah, tetapi sikap-sikap tanggung jawab itu kami ajarkan melalui pembagian tugas di pagi hari sebelum mereka memulai sarapan,” jelasnya. Indah menambahkan dalam mendidik anak, dirinya merupakan tipe orangtua yang cukup keras. Sebab memiliki anak yang menginjak remaja tentu harus diarahkan

dengan baik agar tidak salah dalam menentukan pilihan. Apalagi anak sulungnya yang lama tinggal di luar negeri sehingga memiliki pemahaman budaya yang berbeda. “Saya dan anak sempat memiliki pandangan y a n g b e rbeda

Putu Indah Rahmawati

dalam budaya berkomunikasi dan kesopanan sehingga ketika anak tidak memahami budaya di sini, saya harus memberikan pemahaman yang lebih agar anak menerima perbedaan tersebut,” jelasnya. Biasanya komunikasi ini ia bangun ketika memiliki waktu senggang di rumah bersama anakanaknya. Sore hari hingga malam menurutnya waktu yang paling banyak ia gunakan untuk membangun kebersamaan dengan keluarga. “Kami gunakan waktu ini untuk interaksi dengan anak baik di rumah maupun pergi ke suatu tempat yang dapat membuat kami merasa senang,” pungkasnya. (Wiwin Meliana)


16

Edisi 1039/ 8 - 14 juLi 2019

Pemprov Bali akan Gencarkan Sosialisasi KB 4 Anak Pemerintah Provinsi Bali di bawah kepemimpinan Wayan KosterTjokorda Oka Artha Ardana Sukawati (Cok Ace) menindaklanjuti wacana untuk mengampanyekan program Keluarga Berencana (KB) Krama Bali dimana khusus untuk Krama Bali, dianjurkan untuk memiliki 4 (empat) orang anak. “Iimbauan ini secara jelas dituangkan dalam Instruksi Gubernur (Ingub) Bali no 1545 Tahun 2019 tentang Sosialisasi Program Keluarga Berencana (KB) Krama Bali,” tutur Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Bali Agung Sutha di Denpasar.

D

Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Bali Agung Sutha

ijelaskan lebih lanjut, Ingub tersebut merupakan penghormatan terhadap hak reproduksi Krama Bali yang didasar-

kan pada kearifan lokal yang telah berjalan turun temurun, serta untuk mewujudkan Krama Bali yang unggul dan keluarga yang berkualitas. “Penghormatan hak reproduksi

tersebut punya makna bahwa Krama Bali berhak untuk memiliki keturunan lebih dari 2 (dua) orang bahkan sampai 4 (empat) orang, yang sebutannya terdiri atas Wayan, Made, Nyoman dan Ketut,” papar Agung Sutha. Dengan demikian, keluarnya Ingub ini juga berarti menghentikan kampanye dan sosialisasi KB 2 (dua) anak cukup atau 2 (dua) anak lebih baik yang selama bertahun-tahun telah dijalankan. “ Instruksi ini diharapkan

bisa dijalankan oleh Bupati/walikota se-Bali , untuk bisa ditindaklanjuti oleh jajaran masing-masing terutama yang khusus menangani program keluarga berencana,” jelas Agung Sutha. “ Selain itu, dikeluarkannya Ingub ini sebagai salah satu aktualisasi dan pelaksanaan visi ‘Nangun Sat kerthi Loka Bali’ melalui pembangunan semesta berencana menuju ‘Bali Era Baru’,” tandasnya lagi. Sementara itu, Kepala Dinas Disdukcapil-KB Bali I Gusti Agung Ketut Kartika Jaya Seputra yang ditemui secara terpisah menyebut kondisi pertumbuhan penduduk Bali asli dalam beberapa tahun terakhir makin menurun. “Kita ketahui bersama saat ini populasi ‘Nyoman’ dan ‘Ketut’ sudah mulai langka, karena itu sesuai arahan Bapak Gubernur kami susun program untuk kembali kepada konsep dan pedoman keluarga warisan leluhur kita di Bali yakni anjuran

untuk 4 anak,” ucap Seputra. Angka bonus demografi ini terkait dengan pola pikir sebagian masyarakat di mana memiliki 2 orang anak dianggap sudah cukup yang ditunjang pula oleh kampanye masif selama bertahun-tahun oleh pemerintah. Dirinya juga meyakinkan bahwa program ‘KB Krama Bali’ ini akan disosialisasikan secara lebih intens dan efektif, menggandeng pula berbagai pihak agar bisa lebih menjangkau ke tatanan rumah tangga terutama pada pasangan muda yang sedang dalam masa subur. “Tentunya program ini tak hanya menganjurkan untuk sekedar punya lebih dari 2 anak, namun juga ada pertimbangan dari berbagai aspek keluarga berencana, seperti pengaturan kelahiran, jarak kelahiran, usia ideal, perlindungan, bantuan dan lainnya. intinya tetap berpegang pada koridor KB,” kata Seputra. (ast).

Bali dan Inggris Jajaki Kerja Sama Industri Kreatif Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan bahwa dukungan peningkatan kompetensi masyarakat di bidang bahasa dan industri kreatif sangat dibutuhkan masyarakat Bali, khususnya mereka yang bekerja di bidang pariwisata atau berhubungan dengan perusahaan asing. “Penguasaan bahasa Inggris yang baik akan mendukung masyarakat Bali yang bekerja di sektor perhotelan, transportasi, jasa wisata termasuk mereka yang akan bekerja di luar negeri atau di perusahaan asing. Saya minta Dinas Pendidikan dan Dinas Tenaga Kerja bisa bekerja sama menjalankan program ini,” ujar Gubernur Koster saat menerima audiensi Kedutaan Besar Inggris untuk Indonesia di Ruang Tamu Gubernur Bali, Kantor Gubernur Bali, Denpasar, Selasa (2/7). Gubernur Koster mengatakan, untuk industri kreatif, sesuai dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, pihaknya berkomitmen untuk mengembangkan industri kreatif berbasis budaya branding Bali. “Kami membutuhkan dukungan untuk pelaku industri kreatif yang bergerak di industri kerajinan rakyat,”

kata Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Bali ini. Head of Second Cities, Network and Strategy, British Embassy Jakarta, Samuel Hayes mengatakan, menyusul pertemuan dengan Wakil Gubernur Bali, Kedutaan Besar menegaskan kembali keinginannya memberikan dukungan untuk masyarakat Bali melalui program pelajaran bahasa dan program pengembangan ekonomi kreatif. Ia mengatakan, Inggris memiliki materi pembelajaran yang telah diakui oleh dunia dan bisa dimanfaatkan oleh Bali. “Di bidang ekonomi kreatif, Inggris terkenal dengan musik, film, seni dan ekonomi kreatif lainnya,” kata Hayes. Direktur British Council Indonesia, Paul Smith mengatakan, program ini bisa membantu para guru dan birokrat di lingkungan Pemerintah Provinsi Bali. “Bisa juga spesifik untuk sektor tertentu seperti Pariwisata yang menjadi industri utama di Bali,” kata Smith. Pertemuan ini dihadiri Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali I Putu Astawa dan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Bali I Ketut Ngurah Boy Jayawibawa. (ast).

Gubernur Koster saat menerima audiensi Kedutaan Besar Inggris untuk Indonesia di Ruang Tamu Gubernur Bali, Kantor Gubernur Bali

Wagub Cok Ace Harap Sarasehan PKB Beri Ide Baru Pembangunan Bali

Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati mengajak para akademisi, seniman dan generasi muda bisa menghasilkan ide-ide baru terutama untuk penguatan visi nangun Sat Kerthi Loka Bali yang digaungkan pemerintah Provinsi Bali. “ Saya harap kegiatan ini bisa secara serius bisa menggali makna dan filosofi yang terkandung dalam visi tersebut, sehingga bisa bermanfaat bagi masyarakat Bali kedepan,” tandas pria yang akrab disapa Cok Ace ini dalam pembukaan Sarasehan Serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) ke 41 di Gedung Citta Kelangen, institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar pada Selasa, (2/7) pagi. Dalam saresehan yang mengambil tema ‘Memutar Arah Angin, Pengarusutamaaan Kearifan Lokal Bali untuk Kesejahteraan Umat Manusia’ tersebut,

Cok Ace juga mengajak para peserta untuk menggali nilai-nilai kebudayaan Bali sesuai dengan tema yang diusung kali ini. “ Dalam konteks ini, kita memuliakan sumber-sumber daya angin, yang dapat dimaknai pula sebagai sumber nafas kehidupan yang memberikan jiwa bagi masyarakat Bali,’ papar penglisir Puri Ubud ini.”Khususnya jika dikaitkan dengan nilai-nilai kearifan lokal sebagai sebuah kebaikan untuk semua dalam konteks NKRI,” tambahnya lagi. Lebih jauh, Cok Ace menjelaskan bahwa Bentang alam Pulau Bali adalah wilayah yang minim mineral dan minus pula keragaman sumber daya alam. “ Namun pulau Bali dan masyarakatnya kaya akan nilai-nilai budaya, potensi kebudayaan yang merupakan modal yang sangat handal untuk disumbangkan bagi pembangunan

semesta,” tandas sosok seniman tari ini. “untuk itu, penting untuk menggali potensi budaya Bali agar bisa dirumuskan dan dimantapkan untuk nantinya bisa dimanfaatkan bagi orang banyak,’ tukasnya. Saresehan yang diprakarsai oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Bali bekerjasama dengan ISI Denpasar ini, diadakan sebagai salah satu agenda utama dalam gelaran PKB ke 41 kali ini. Sebagai keynote speaker, hadir Bambang Suwarno, akademisi Universitas Gadjah Mada. Lalu Ida Wayan Oka Granoka Gong maestro seni dan budaya, akademisi universitas Negeri Yogjakarta Prof. Dr. I Gusti Putu Suryadarma, MS serta Rektor ISI Denpasar Prof. Dr I Gede Arya Sugiartha, S.Skar,M.Hum. Sarasehan dihadiri kalangan akademisi, budayawan, seniman serta mahasiswa. (ast)

Wagub Cok Ace membuka Sarasehan Serangkaian Pesta Kesenian Bali ke 41 di Gedung Citta Kelangen, institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar

redaksi@cybertokoh.com, iklan@cybertokoh.com

cybertokoh

@cybertokoh

@cybertokoh

www.cybertokoh.com


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
tokoh-edisi-1039 by e-Paper KMB - Issuu