Skip to main content

tokoh-1042

Page 1

16

Edisi 1042/ 29 JULi - 4 AGUSTUS 2019

Kolaborasi Hebat Trio Srikandi Melalui Tembang “Galungan lan Kuningan” Budha Kliwon Wuku Dungulan Semeton Hindu sami nyanggra ­Galungan Pinaka cihna pemargin Dharma Jaya ngasorang pe­margin Adharma Dasa dina sesampun Galungan Semeton Hindu mangkin sami nyanggra Kuningan Ngaturang sembah pangubakti Majeng ring Ida Sang Hyang Widhi Lugrayang titiang ngaturang Rahajeng Galungan lan Kuningan ­ Tincapang seradha tur bhakti Ulati antuk mulat sarira Dumogi shanti semeton sareng sami Mokshartam Jagathita ya cha iti dharma

I

tulah lirik single berjudul ‘Galungan lan Kuningan’ yang dilantunkan dengan merdu oleh Trio Srikandi Bali yakni Putri Suastini Koster (istri Gubernur Bali yang juga seorang seniman ), Galuh Bilen (pengusaha dan seniman) dan Luh Gede Herryani (notaris dan pengusaha). Tembang nan indah ini diciptakan oleh I Komang Wawan

Ratmadi alias Oyok Sbr, dan diarasemen oleh Dek Artha. Memang indah, karena diawali dengan alunan kidung dan menjadi semakin menawan ketika terdengar pula iringan suling, gamelan, musik modern, gitar. Semua disempurnakan dalam video klip yang digarap Adi Siput dengan lokasi syuting di Tirta Empul dan dilengkapi pula gemulainya para penari Bali.

Meski belum lama diliris, kolaborasi karya seni berbentuk tembang “Galungan lan Kuningan” ini menjadi perhatian publik dan viral di media sosial, mengingat pelantunnya adalah perpaduan yang unik, tiga sosok perempuan istimewa dengan tiga karakter mereka dari berbagai unsur. Banyak diantara mereka yang berharap akan ada lagi kejutan lainnya dari Trio Srikandi Bali ini sekaligus untuk menambah semaraknya Lagu Pop Bali. Putri Suastini adalah istri dari orang nomor satu di Provinsi Bali. Selain itu perannya di dunia seni sudah tak diragukan lagi dan terus dilakoninya hingga kini. Bahkan di berbagai kesempatan ia sukses menampilkan kepiawaiannya dalam berpuisi, menyanyi dan menari. Begitu juga Galuh Bilen, yang tercatat sebagai seorang pengusaha dan artis ternama Bali. Sebagai pelaku seni Galuh sudah banyak tampil baik di seni musik maupun seni peran, yang semua pernah dijajalnya. Sementara Luh Gede Herryani adalah seorang notaris dan juga pengusaha yang mencintai seni dan budaya Bali. Menurut Luh Gede Herryani , keterlibatannya dalam projek seni perdana ini adalah atas ajakan sahabatnya Galuh Bilen.

Nah, menjadi istimewa karena Galuh Bilen juga berhasil mengajak Bunda Putri Suastini Koster. Kesediaan Bunda Putri, kata Luh De menjadikan energi

dan taksu pada tembang ini semakin klop, selain menandakan sikap istri Gubernur yang mengayomi masyarakatnya. Begitulah cinta budaya Bali berhasil dituangkan dalam tembang “Galungan lan Kuningan”. Tembang religi yang menggambarkan kegembiraan sekaligus mengajak masyarakat introspeksi diri. Sedangkan unsur budaya juga kuat ditampilkan saat syuting, melalui busana adat modifikasi yang dikenakan oleh personil Trio Srikandi Bali ini. Di ujung pertemun Luh gede Herryani tak lupa mengucapkan “Rahajeng Galungan lan Kuningan. Mogi-mogi Sangkaning Paswecan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Irage Praside Nemo­ning Kerahayuan”. -ard

redaksi@cybertokoh.com, iklan@cybertokoh.com

cybertokoh

@cybertokoh

@cybertokoh

www.cybertokoh.com


2

ESPRESSO GORO-GORO BK (5)

Di tempat tidur Bu Amat mengecam suaminya. “Baik itu memang baik. Tapi Putu Wijaya terlalu baik itu tidak baik, Pak. Apa saja yang terlalu itu jelek! Tidak mendidik! itu sebabnya kenapa kata terlalu itu diciptakan! Jangan suka over acting, Pak! Pak Made itu, tambah merajalela kalau Bapak terlalu baik. Dia pikir kita takut” Amat tak menjawab sepatah pun. “Bapak memainkan ungkapan diam adalah emas,” kata Amat menceritakan kejadian itu pada Ami. “Kalau kereta Shinkansen, kereta cepat di jepang, lewat, tak

Qemar Hamalik (1990: 95) menjelaskan emosi sebenarnya sangat kabur dan inklusif sehingga beberapa psikolog tidak mau menggunakannya. Emosi dirumuskan sebagai keadaan bergolak, gejolak atau guncangan di dalam organisme. Emosi dapat berupa kebencian dan teror yang berakhir pada perkelahian. Emosi juga dapat berupa kasih sayang dan perhatian, cinta dan ambisi. Emosi dapat pula dirumuskan sebagai keadaan perasaan atau pengalaman afektif yang mengiringi suasana bergejolak dalam organisme. Implikasinya adalah bahwa anak harus ditolong untuk dapat mengontrol emosinya agar berkembang ke arah hal-hal yang positif dan konstruktif. Sekalipun kata “kematangan” (mature) berarti perkembangan yang penuh, pengertiannya secara psikologis bersifat fleksibel. Dalam pengertian psikologis, seorang anak dikatakan matang apabila ia telah mencapai perkembangan yang khas bagi usianya. Anak usia 4 tahun yang memperlihatkan sikap keras kepala satu kali saja dalam 3 atau 4 minggu, dapat dianggap telah matang. Seorang remaja yang segera sembuh dari perasaan patah hati adalah matang untuk usianya. Jadi, pengertian kematangan di sini bukanlah sesuatu yang mutlak, melainkan suatu proses yang relatif. Masalah yang dihadapi orang tuaorang tua dan para pendidik adalah

bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

peduli salah atau benar, kita harus minggir. Mengalah tak berarti kalah. Tapi hanya menunda menang! Itu teori taichi. Kalau dipukul, jangan melawan, terima baik saja serangan itu, malahan ikut bantu agar itu bisa menggebrak lebih dahsyat. Tetapi diam-diam, belokkan arahnya ke target lain, bahkan jangan ragu-ragu balikkan serangan itu ke kandangnya sendiri?” “Dan hasilnya?” “Dan hasilnya...” “Bapak digebrak dobel oleh Pak Made dan ibu!” “Salah! Dan hasilnya, pagipagi buta ibumu sudah ke dapur, untuk bikin jajanan pasar, sumping, nagasari, pisang rai, untuk dibawa menengok Bu Made yang semalam konon trambositnya turun gara-gara ibumu berteriak: Bung Karnoooo!” Ami heran.

“O,ya? Masak ibu malah bikinin Bu Made pisang rai ?!” “Ya! Itulah ibu kamu. Seperti kata Bung Kar (so)no, musuh itu sparring partner, jadi tak cukup hanya minta maaf, apalagi pada tetangga bersebelahan dinding, tak cukup hanya dengan ucapan. Maaf harus ada bukti konkrit, kata ibumu yang kemudian memaksa Bapak mendampinginya mengantarkan pisang rai itu untuk Bu Made yang kena DB. Padahal sejatinya bukan DB tapi hanya telat minum kopi, plus...” “Plus apa?” “Plus Bapak terpaksa menjelaskan lagi kepada Bu Made kenapa kami ujug-ujug datang membawa pisang rai. Dan... “ “Dan apa?” “Dan itu berarti Bapak juga tepaksa sekali lagi mengulangi pekerjaan yang paling bikin hati

EDISI 1042/ 29 JULI - 4 AGUSTUS 2019

keki!” “Pekerjaan apa?” “ Ya itulah! Bapak yang sedikit pun tak salah harus minta maaf lagi pada Pak Made yang nampak suci padahal pembohong, suka jahil, ngadu domba, memfitnah, menghalalkan segala cara, hoax, karena mau menang sendiri, padahal jelas salah! Mbok terus-terang saja kalau mau minta dibikinkan pisang rai, ya minta saja, kita kan tetangga, masak kami tega menolak! Pakai ngakungaku istri DB segala!” Ami ketawa. “Itu namanya lihai, Pak! Kan politikus!” “Pakai ngaku-ngaku istrinya DB segala lah, ya akhirnya DB betulan sekarang!” Ami terkejut. “Ah! Jadi betul DB?” “Tadi ada kabar hasil pemeriksaan darahnya positif DB!” Ami kaget. “Bapak dan ibu kamu langsung nengok ke RSU, gotong-royong,

Memahami Kematangan Emosi dan Kecerdasan Emosi Anak

menetapkan tujuan-tuiuan tentang kematangan emosi dan berusaha agar tujuan-tuiuan tersebut dapat dicapai. Beberapa kriteria yang dapat dijadikan tujuan kematangan emosi adalah sebagai berikut: 1. Mampu menahan emosi yang negatif atau dapat menyatakan secara tidak langsung. 2. Membina dan mengembangkan emosi yang positif. Ini dapat dilakukan dengan memberikan pengalaman-pengalaman yang berhasil. 3. Mengembangkan toleransi yang tinggi terhadap situasi-situasi atau hal-hal yang tidak berkenan di hati. 4. Memperoleh kepuasan sosial yang terus bertambah karena tindakan yang sesuai dengan masyarakat. 5. Kebabasan dalam bertindak yang terus bertambah. 6. Kemampuan untuk melakukan pilihan. 7.Bebas dari rasa takut yang beralasan (tak masuk akal). 8. Bertindak sesuai dengan batas-batas kemampuan. 9. Berani berbuat salah tanpa ada perasaan tidak akan dihormati. 10. Sadar akan kemampuan dan prestasi orang lain. 11.Mampu meraih kemenangan secara terhormat. 12. Mampu bangkit kembali setelah mengalami pengalaman yang tidak menyenangkan atau kegagalan. 13.Mampu menangguhkan pemuasan dorongan-dorongan yang bersifat jasmaniah. 14. Kemampuan untuk bersifat terbuka

I Gusti Ayu Suasthi dan menerima keterbukaan dalam hubungan inter personal. 15. Merasa senang dengan kehidupan sehari-hari. Latihan-latihan yang berhubungan dengan mental, emosional, spiritual, dan kegiatan-kegiatan fisik adalah kegiatan yang membawa kepada kepuasan sehari-hari. Dari 15 kreteria kematangan emosi di atas dapat memberikan gambaran bahwa para remaja yang dapat menjalankan 50 % dari kreteria tersebut menunjukkan bahwa mereka sudah memiliki kecerdasan Emosi (EQ). Kecerdasan Emosi merupakan faktor yang paling mempengaruhi keberhasilan dan kesuksesan seseorang.

KECERDASAN EMOSI Kecerdasan emosi adalah kemampuan untuk mengenal perasaan diri sendiri dan perasaan orang lain, dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungannya dengan orang lain. Daniel Goleman (1999:5 12), dengan riset kecerdasan emosi mencakup kemampuan-kemampuan yang berbeda, tetap saling melengkapi, dengan kecerdasan akademik (Academic Intelligence) yaitu kemampuan-kemampuan kognitif murni yang diukur dengan IQ. Meskipun IQ tinggi, tetapi bila kecerdasan emosi rendah tidak banyak membantu. Banyak orang cerdas dalam arti terpelajar, tetapi dengan kecerdasan emosi rendah tetapi unggul dalam keterampilan kecerdasan emosi. menjadi bawahan dan orang yang IQ nya rendah tetapi unggul dalarn keterampilan kecerdasan emosi. Parameter kerangka kerja kecerdasan emosi oleh Daniel Goleman (Agus, 2002) terdiri dari lima kategori utama, Kesadaran diri, Pengaturan diri, Motivasi, Empati,

ngasih sumbangat duit sedikit, meskipun itu tadinya untuk beli beras. Jadi sekarang Bapak terpaksa datang merongrong kamu, pinjami dulu berapa begitu untuk makan saja. Besok rumah gadainya sudah buka lagi, nanti sepeda ontelnya Bapak gadaikan dulu.”. Ami cepat masuk, lalu kembali membawa dua lembar ratusan ribu. “Ini dulu. Nanti kalau Bli Sugi datang tak anterin tambahannya. Bapak cepet pulang supaya ibu bisa masak. Ini cukup?” Amat menjawab lemah. “Cukup tak cukup harus dicukup-cukupkan. Soalnya...” “Soalnya apa?” “Waktu pulang dari nengok Bu Made, ternyata di rumah ada Bung Kar(so)no. Dia minta ongkos pulang ke Jawa, kasihan kakinya dibebat.” “Lho kenapa?” “Katanya, malam itu, karena dia takut telat nonton Koetkoebi, dia lari, lalu digigit anjing.”

dan Keterampilan sosial. Banyak anak yang datang ke sekolah dengan emosi yang tidak baik, misaInya lekas marah, mudah tersinggung. Hal ini mungkin disebabkan oleh (1) sakit kepala karena penglihatannya mengalami gangguan, (2) kurang tidur atau lapar, (3) ada ketegangan dengan orang tuanya, (4) ada ketidakseimbangan kelenjar-kelenjar, atau (5) kondisi sekolah sendiri yang kaku dan terlalu banyak tuntutan kepada anak. Emosi yang positif dan konstruktif bersumber pada (1) adanya perhatian yang cukup dari orang tua atau guru dan orang dewasa lainnya; (2) anak mendapat rasa kasih sayang. baik dari orang tua ataupun dari guru; (3) suasana yang penuh persaudaraan dan persahabatan; (4) penghormatan terhadap individualitas masing-masing pribadi anak; (5) suasana yang humoristis; (6) keterbukaan dari orang tuaorang tua atau guru vang mau menerima dan mengerti kesulitankesulitan anak. I Gusti Ayu Suasthi Dosen Psikologi Agama FPAS UNHI Denpasar

KATA HATI: Rubrik ini khusus untuk menuangkan ide/pemikiran/gagasan dalam bentuk tulisan. Tema terkait wanita dan keluarga serta tidak mengandung unsur SARA. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter. Lampirkan juga foto close up (bukan pasfoto). Cantumkan nama lengkap, profesi, nomor hp, dan alamat email. Naskah dikirim ke redaksi@cybertokoh.com, redaksitokoh@yahoo.com.

Penanggung Jawab/Pemimpin Redaksi: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Iklan Denpasar: IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti. Buleleng: Wiwin Meliana. Jakarta: Diana Runtu. NTB: Naniek Dwi Surahmi. Desain Grafis: ­I Made Ary ­S upratman. Manajer Sirkulasi dan Iklan: I Ketut Budiarta, Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama, Hariyono, Ayu Wika Yuliani. Se­kretariat: Ayu ­Agustini, Putu Agus Mariantara. Ombudsman: Jimmy Silalahi. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­merah ­Barat 21 G Jakarta Pusat 10270–Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257. Surat Elektronik: info@cybertokoh.com, redaksi@cybertokoh.com, iklan@cybertokoh.com. Bank: BRI ­Cabang ­Gajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

EDISI 1042/ 29 JULI - 4 AGUSTUS 2019

SUDUT PANDANG

15

Tetap Rendah Hati saat Raih Kemenangan Menurut teori Maslow, setiap orang memiliki kebutuhan-kebutuhan psikologis antara lain kebutuhan penghargaan diri dan kebutuhan aktualisasi diri. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut setiap orang akan termotivasi untuk mencapai tujuannya. Hasil yang tentu diharapkan adalah kemenangan, kesuksesan.

M

enurut psikolog Nyoman Wiraadi Tria Ariani, M.Psi., semua orang tentu menginginkan kemenangan seperti kemenangan dalam berkarier, berkarya, dalam pertandingan, bahkan dalam perlombaan-perlombaan kecil sampai adu argumen pun kita ingin menang. Lalu bagaimana cara kita menyikapi kemenangan tersebut? “Cara menyikapi kemenangan adalah dengan kita bertanggung jawab. Buktikanlah kepada orang lain, kita layak dan pantas mendapatkan kemenangan. Buktikanlah dengan bertanggungjawab mengupayakan yang terbaik dan bertindak sebaikbaiknya,” kata Tria. Ia menyarankan, setelah memperoleh kemenangan sebaiknya kita tetap rendah hati, jangan jumawa, menyombongkan diri ke semua orang. “Ketika kita

dihadapkan dengan kemenangan, sebenarnya diri kita seperti sedang “dites” apakah kita layak dan berkualitas untuk kemenangan tersebut. Untuk itu, kita harus rendah hati,” sarannya. Ia menambahkan, dengan memaknai kemenangan tersebut tentu kita dapat melakoninya dengan mencurahkan kemampuan seoptimal mungkin dan bersikap terhormat yakni menghargai serta merangkul pihak yang merasakan kalah. Menurutnya, perayaan kemenangan dengan pesta agar membuat hati bahagia boleh saja dilakukan, namun perlu dipertimbangkan apakah pesta tersebut diperlukan? Apakah tidak merugikan orang lain dan apakah tidak membuang-buang waktu, tenaga, biaya. “Jikapun pesta dilakukan agar membuat hati bahagia, apakah kemenangan saja tidak cukup membuat bahagia? Apa perlu ada

Jangan “Terlena” Kemasan Plastik Keberhasilan pelaksanaan pembangunan ekonomi berkelanjutan dan ramah lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, namun semua pihak termasuk pelaku usaha dan masyarakat. Demikian disampaikan Ketua Dekranasda Provinsi Bali Ny. Putri Suastini Koster saat memberi sambutan sekaligus sebagai narasumber pada acara Circular Revolution dengan tema “Sampah Kemasan di Lautan Bali” yang digagas Business and Export Development Organization (BEDO) di Hotel Alila, Seminyak, Kuta, Senin (22/7). Menurutnya masyarakat saat ini terlena dengan kemudahan penggunaan plastik sekali pakai. Ia mencontohkan, dahulu para kaum ibu ke pasar terbiasa membawa tas belanja sendiri, namun sejak muncul kantong plastik, mereka justru membawa pulang bahan belanjaan dengan terbungkus dalam beragam kantong plastik. Ketua BEDO Dwi Iskandar mengatakan, sebagai pengusaha merasa ikut memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan dan sosial sesuai visi misi BEDO yang tidak hanya berhasil di bisnis, namun memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Ketua Panitia Circular Revolution Rahmi Fajar Harini mengajak semua lini usaha, anggota, partner BEDO yang tidak hanya lini usaha fashion tapi juga lini usaha lain untuk bisa saling belajar, saling menginspirasi satu sama lain mengenai praktek circular economy. (Wirati Astiti)

perayaan lagi?” ujarnya. Ia berpandangan, hendaknya pesta, perayaan, selebrasi sepatutnya saja, sebagai sarana pendukung saja, bukan sebagai esensi dari suatu kemenangan. Nirmala, salah satu yang mencoba mengungkapkan kemenangan yang diraihnya. Saat ini, ia lolos untuk penerima beasiswa melanjutkan studi SMA di Singapura. Tentu saja, hal itu membuatnya gembira. Namun, kemenangan itu ia sikapi dengan biasa saja, karena ia yakin, ke depan, tentu perjuangan lebih berat. “Ada rasa bahagia karena hasil kerja keras belajar membuahkan hasil. Walaupun merasa gembira, tak ada pesta perayaan. Kemenangan ini saya sikapi dengan bersyukur dan tidak mau sombong, karena ke depan, saya harus lebih giat belajar agar studi saya berhasil,” ujarnya. (Wirati Astiti)

Nyoman Wiraadi Tria Ariani

Hsen Chii


14 ‘Belajar tak kenal usia’. Ungkapan ini sudah kerap kita dengar. Nyatanya memang bukan sekadar ungkapan saja karena faktanya banyak juga mereka yang berusia di atas 50 tahun namun memilih untuk kembali menempuh pendidikan formal. Melva Tobing misalnya, ibu rumah tangga yang kala itu berusia 49 tahun memutuskan untuk kuliah lagi. Dan ia berhasil meraih gelar S1 –nya di usia 55 tahun.

SUDUT PANDANG

Raih Gelar Sarjana Usia 55 Tahun

“R

asanya bangga sekali bisa meraih gelar sarjana. Sesuatu yang tadinya tak pernah aku pikirkan. Ini adalah pencapaian terbaik—dalam bidang pendidikan-aku dalam hidup,” ungkap Melva dengan wajah berseri. Baru tahun lalu dia menamatkan pendidikan S1 –nya di Sekolah Tinggi Teologia di Depok, Jawa Barat. Sebenarnya menempuh pendidikan tinggi bukan lah baru kali itu saja. Di tahun 1980-an ia juga telah sempat kuliah di Fakultas Komunikasi namun tidak dituntaskannya. “Jadi aku dulu pernah kuliah, bahkan sudah masuk pada pembuatan skripsi. Seingat aku dulu kuliah aku tidak selesai karena sibuk bekerja. Mungkin terlalu keenakan bekerja, sudah bisa cari uang sendiri, jadi pendidikan terbengkalai,” ujar wanita berdarah Batak itu. Apalagi, tambahnya, ia kemudian menikah. “Jadi aku sibuk bekerja juga mengurus keluarga. Nggak kepikir lagi untuk menuntaskan kuliah,” tambah ibu dua anak ini. Di akhir 1990-an, kantor dimana dia bekerja tutup akibat krismon. “Ketika kantor tutup, aku tidak mencari

Edisi 1042/ 29 JULi - 4 AGUSTUS 2019

Melva Tobing

pekerjaan lain karena sibuk mengurus anak-anak yang masih kecil. Selain itu aku juga aktif di organisasi gereja. Jadi praktis, banyak waktu aku untuk berbagai kegiatan itu,” ujarnya. Rasa ‘kosong’ baru dialaminya ketika kedua anaknya berangkat besar dan sudah memiliki kegiatan masing-masing. Saat itulah dia mulai merenung tentang keadaannya. “Rasanya ‘kosong’ dan hanya menjalani rutinitas saja. Bosan. Aku merasa perlu mengisi waktu yang kosong dengan kegiatan berguna. Tapi apa? “ tuturnya dengan nada bertanya. Sempat muncul inspirasi untuk kuliah lagi, saat itu usianya 45 tahun. Ide yang muncul itu tidak langsung dieksekusi, perlu waktu bertahun-tahun baginya untuk memantapkan diri kuliah lagi. “Ya aku memikirkannya secara mendalam

sebelum akhirnya memutuskan kuliah lagi. Baru saat usia 49 tahun aku putuskan kuliah. Suami dan anakanak aku mendukung penuh,” tuturnya. Sebenarnya itu bukan keputusan yang mudah, karena dirinya tahu kuliah di usia tidak muda, pastilah menimbulkan pertanyaan banyak orang bahkan bisa jadi ejekan. Ternyata benar saja, begitu dia masuk kuliah banyak pertanyaan kepadanya. Banyak yang meremehkan seolah-olah orang yang berusia tua tidak pantas meraih pendidikan. Meski sudah mempersiapkan mental, awalnya dia sempat juga merasa jengah dengan banyaknya pertanyaan yang bernada tidak mendukung. “Sering ditanya, bikin hati tidak nyaman. Itu awalnya. Tapi lama-lama jadi biasa. Aku pikir ngapain memikirkan ketidaksukaan orang, toh aku kuliah lagi dengan maksud baik. Aku menjadikan itu sebagai motivasi bahwa kali ini (kuliah) harus sampai selesai, harus berhasil. Aku ingin membuktikan bahwa meski masuk kuliah di umur seperti ini, aku bisa berhasil,” katanya penuh semangat. Untuk kuliahnya kali ini, Melva memilih ilmu teologia. Dia memiliki

alasan tertentu kenapa memilih memperdalam teologia Kristen. “Aku sangat suka kegiatan pelayanan di gereja. Jadi dulu itu (sebelum memutuskan kuliah lagi) hari-hari aku banyak diisi dengan pelayanan di gereja. Namun kemudian aku berpikir perlu menambah ilmu tentang teologia Kristen agar pelayanan menjadi lebih baik lagi. Makanya muncul ide untuk kuliah lagi,” jelasnya. Nyatanya, lanjut Melva, memang tidak mudah untuk orang seusianya belajar kembali. Sebagaimana umumnya orang kuliah maka banyak buku yang wajib dia baca, bikin paper, mengerjakan tugas-tugas lain. “Mungkin karena sudah tua, jadi pikiran agak ‘lemot’ ya hahahha. Tapi yang paling berat bagi aku adalah pelajaran bahasa Ibrani dan bahasa Yunani. Itu adalah pelajaran utama dan wajib. Semua mahasiswa teologia wajib menguasai bahasa Ibrani dan Yunani. Itu susahnya minta ampun. Beratnya karena alfabet Ibrani itu bukan tulisan latin sebagaimana yang kita tahu,” tuturnya. Untungnya banyak teman-temannya di kampus membantu.”Terus terang selama kuliah banyak teman membantu. Khususnya untuk pelajaran bahasa itu. Puji Tuhan akhirnya bisa lulus dua mata pelajaran itu meskipun dengan nilai pas-pasan,” katanya lagi sambil tertawa. “Kecuali dua mata kuliah itu, pelajaran lain relatif lebih mudah dikuasai,” tambahnya. DARI KOTA KE KOTA Tahun lalu, katanya, adalah tahun yang luar biasa dalam hidupnya. Ia

berhasil menyelesaikan pendidikannya dan meraih gelar Sarjana Teologia. “Aku luar biasa senangnya. Karena dulu tak terpikir untuk bisa menjadi sarjana. Itulah pencapaian tertinggi aku dalam bidang pendidikan. Berkat Tuhan lah aku bisa menyelesaikannya selama lima tahun. Sekaligus juga aku membuktikan diri bahwa sekalipun usia sudah tidak muda lagi, asalkan punya kemauan dan kerja keras—tentunya karena Tuhan—pasti akan berhasil,” kata Melva yang mengaku semakin bersemangat menjalani aktivitas pelayanan gerejanya. Saat ini lanjutnya, hari-harinya sudah tidak terasa ‘kosong’ lagi. Karena dia telah memiliki jadwal yang padat untuk kegiatan pelayanan. Mulai dari kegiatan pelayanan di gereja, menjadi guru di SMP Yayasan Sinar Kasih hingga pelayanan ke penjara wanita di Tangerang yang dilakukannya dua kali dalam seminggu. “Kini hari-hariku padat dengan kegiatan. Aku ngajar di sekolah gratis Yayasan Sinar Kasih, juga rutin melakukan pelayanan di penjara wanita Kelas II A Tangerang. Sesekali aku juga melakukan pelayanan ke daerah,” ucap Melva yang mengaku merasa sukacita meskipun lelah. “Cukup melelahkan ya tapi bukan karena pelayanannya melainkan karena tempat-tempat pelayanan itu cukup jauh dari rumah. Aku tinggal di Depok, sementara untuk mengajar aku harus ke Bogor. Sedang penjara wanita itu letaknya di Tangerang. Jadi dari kota ke kota ya hahah,” tuturnya sambil berseloroh. (Diana Runtu)

Hargai dengan Aplikasikan Ilmu Pengetahuan Setiap orang berhak memberikan penghargaan terhadap kan untuk memberi penghargaan terhadap pencapaiannya dirinya sendiri atas pencapaian yang telah diraih. Penghargaan itu, dirinya lebih memilih untuk mengaplikasikan ilmu pengetersebut tentu diberikan dengan tujuan memotivasi diri untuk tahuan yang telah ia dapat untuk kehidupan di masyarakat. terus meraih pencapaian-pencapaian yang lebih baik. peng- “Penghargaannya lebih kepada pengaplikasian dalam hargaan terhadap diri sendiri dapat dilakukan atas pencapaian bentuk melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai brahyang paling sederhana macarya, yaitu memhingga yang luar biasa. pelajari pengetahuan Masing-masing orang tidak hanya duniawi juga memiliki cara tetapi juga rohani dan sendiri untuk memberharap dapat berberi penghargaan kepengaruh dalam mepada diri sendiri. nyebarluaskan pengeSalah satunya Gatahuan agama Hindu,” nies Esa Manura, maungkapnya. hasiswa Jurusan Ilmu Ganies sebelumKomunikasi STAH nya memiliki motiNegeri Mpu Kuturan vasi yang kuat dalam Singaraja. Sebagai mengikuti lomba, seorang mahasiswa, sebab dharma waungkap Ganies kewacana berkaitan denjiban utama adalah began publik speaking lajar serta mengabdi dan menjadi speaker kepada masayarakat. adalah hobi dan poDengan ketekunannya tensi yang ia sadari belajar, Ganies diperdalam dirinya. Secaya mewakili kamlain itu, dirinya sanGanies Esa Manura pusnya dalam lomba gat tertarik dengan dharma wacana tingkat nasional. Ini merupakan pencapaian materi-materi yang disampaikan dalam dharma wacana. yang luar biasa bagi pria yang akrab disapa Ganies tersebut. Semua materi berkaitan dengan agama sehingga ia yakin Pertama kali mewakili lembaga, ia pun mampu menorehkan hal tersebut akan membawa manfaat bagi orang banyak. prestasi dengan meraih juara I dalam lomba tersebut. “Kalau Materi yang diangkat pun disesuaikan dengan kondisi sosial lomba untuk mewakili kampus ini pertama kali, sebelumnya teraktual berlandaskan kitab suci Weda dan bukan spekulasi di SMA dulu beberapa kali pernah ikut lomba,” jelasnya. sehingga dapat diaplikasikan dalam kehidupan. “Sadar akan Pencapaian luar biasa tersebut, tak lantas membuat pria potensi tersebut saya terus belajar, berusaha dan berdoa,” kelahiran Banyuwangi 19 tahun silam itu berbesar hati. Bah- pungkasnya. (Wiwin Meliana)

Edisi 1042/ 29 JULi - 4 AGUSTUS 2019

Sosialita

3

Gung Gek Vita

Percaya “Sekala Niskala” Setelah sukses dengan album “Kedeng Menek Kedeng Tuwun” yang dirilis tahun lalu, Gung Gek Vita kembali hadir dengan single terbarunya. Single berjudul “Sekala Niskala” ini bertema religius. Peluncuran berbarengan dengan pengenalan akun youtube @Gunggek Vita Official, Rabu (17/7).

“K

ali ini saya mengeluarkan lagu yang bertema religi “Sekala Niskala” ciptaan Bli Gde Prana Jaya dengan aransemen musik Bli Dek Harta Pro dan video klip yang digarap Andy Duarsa. Tema lagu memang agak berbeda. Dulu lebih ke tema cinta sedangkan sekarang lebih ke nuansa kerohanian. Makna dari lagu “Sekala Niskala” berisikan kehidupan masyarakat pada umumnya untuk selalu ingat kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dimana kehidupan manusia dipercaya akan adanya sekala dan niskala,” ujar penyanyi bernama lengkap A.A. Ayu Advaita Jelantik ini. Single “Sekala Niskala” ini mengandung makna bahwa dalam kehidupan ini, umat harus percaya tentang kehidupan secara sekala dan niskala. Sehingga, dalam menjalani kehidupan, umat harus selalu mengingat, mendekatkan diri, dan selalu berdoa kepada Tuhan. Apalagi dalam Agama Hindu, secara niskala umat Hindu Bali percaya dengan adanya hukum karma phala dan yadnya. “Hidup di bumi ini kita akan selalu berdampingan antara benar dan salah. Di lagu ini ada kata jele melah ade hidup di sekala. Kita percaya akan adanya reinkarnasi adanya karma baik atau buruk dimasa lalu. Jika kita selalu berbakti dan rajin menghaturkan sembah bakti niscaya setiap kehidupan yang kita jalani dapat berjalan dengan damai seperti kata-kata terakhir dari lirik lagu ini …om santih.santih..santih om,” ujar Gung Gek Vita. Istri dari I Gusti Ngurah Agung Satria Wibawa ini menuturkan proses perjalanan lagu religi ini sangat berkesan. Semua berkat

kerjasama dan dukungan tim. “Saya mendapat tantangan dari pembuatan lagunya. Dari mencari orang yang bisa mekidung agar ada nuansa Balinya sampai pembuatan video klipnya. Sangat menantang dan mengharukan. Cuaca yang mendung dan gerimis ditambah embun yang tebal menjadikan nuansa alam yang. Kesannya sangat spesial dan perjuangan kami dalam penggarapan klip untuk mencari spot terindah juga penuh tantangan. Kami rela mendaki gunung melewati lembah. Benar-benar banyak pengalaman dari lagu ini dan sangat berkesan,” ungkap Gung Gek Vita. Ia pun berharap semoga lagu ini dapat diterima masyarakat dimana pun berada. “Mari terus mendukung musisi Bali agar tetap bisa semangat dan terus tetap berkarya. Saya juga mohon dukungannya untuk klik link youtube channel saya. Nanti akan saya share di facebook dan instagram juga untuk tahu perkembangan dari saya. Saya sudah ada youtube channel juga. Ingat untuk subscribe, like, comment dan share ya,” pintanya. Di album sebelumnya yang berjudul “Kedeng Menek Kedeng Tuwun” (KMKT) berformat video karaoke. Ada sembilan lagu yakni “KMKT”, “Suntik Formalin”, “Muani Egois”, “Lempuyengan”, “Sinyal Kenceng”, “Beli Jonson”, “Numitis Pang Siu”, “Desah Rayuan” dan “Kilangan Kedis”. Gung Gek Vita mulai mengawali ketertarikannya pada dunia musik sejak masih umur 7 tahun dan sempat mengikuti kursus vokal di sanggar Eka Mahardika Putra, hingga menjajal berbagai lomba menyanyi di radio-radio. Kini di tengah kesibukan sebagai ibu rumah tangga, perempuan asal Karangasem ini berkesempatan menjalankan hobi menyanyi sekaligus mengembangkan kiprahnya di dunia rekaman lagu pop Bali. Semua itu tak lepas dari dukungan sang suami. --wah


Woman on Top Ni Ketut Suami

4

Edisi 1042/ 29 JULi - 4 AGUSTUS 2019

Menolong Membuat Bahagia Ketika menolong orang lain, maka kita bukan hanya merasa senang, bahagia dan bersyukur tapi juga sehat. Menolong orang tidak hanya dengan materi, bisa juga juga dengan tenaga, waktu dan pemikiran. Begitu disampaikan Ni Ketut Suami, saat ditemui Tokoh pekan lalu di rumahnya di kawasan Jalan Noja, Kesiman, Denpasar.

D

Ni Ketut Suami

alam me­ lakukan ke­baikan, istri dari I Made Sumbawa, S.Pd.,SD., ini tidak mengharapkan balasan. Sebab menurutnya, ketika dirinya menolong orang lain semua berlandaskan ketulusan hati. Apalagi ia memiliki prinsip hidup untuk ‘tidak pernah melupakan kebaikan orang lain’ terhadap dirinya maupun keluarganya. Ditegaskannya, bahwa di dalam hidupnya penting untuk selalu mengingat kebaikan orang lain. Karena prinsip ini pula yang

menuntunnya dalam melakukan berbagai hal.Termasuk dengan limpahan rezeki yang diterimanya tentu tak lepas dari apa yang telah ditanamnya. “Tiang percaya apa yang disampaikan para penglingsir kita kalau di hidup ini ada hukum tabur tunai,” cetusnya Ibu dari Ni Luh Putri Listiani, S.E., dan dan Ni Luh Made Hendriyani, S.E., M.M., ini, mengakui jika karunia Hyang Widhi luar biasa baginya dan keluarganya. Langkahnya mengalir begitu saja. Bermula dari kegiatannya mengedarkan kupon belanja, berlanjut memudahkannya mendapatkan anggota koperasi hingga menjadi pelanggan canang atau sebaliknya. Suami mengisahkan sejak usia 30 tahun-an dirinya sudah

aktif mengedarkan kupon dari beberapa tempat berbelanja. Sejak awal melakukan kegiatan bisnisnya tersebut ia sudah komit memberikan pelayanan terbaik untuk semua pelanggannya. Bahkan, hubungannya tidak hanya sebatas urusan pesanan kupon, namun berlanjut terjalinnya pertemanan yang erat. Kemudian ia melanjutkan ceritanya, begitu menjadi anggota Koperasi Amoghasiddhi belasan tahun lalu, ia pun mendapat tambahan rezeki lagi. Terlebih dengan program m e m b e r g e t m e m b e r- n y a . “Jujur, karena hubungan baik yang terjalin selama ini, memudahkan tiang menawarkan teman dan kerabat ikut menjadi anggota koperasi,” ujarnya ibu yang sempat menjadi ketua PKK Banjar Meranggi beberapa tahun silam ini. Ditanya bagaimana strateginya mengajak agar orang lain bersedia menjadi anggotan

koperasi, Ketut Suami mengatakan semua dilakukannya dengan cara yang sederhana. Jika kebetulan yang mau diajak itu seorang pedagang, maka ia akan berbelanja di sana, sembari menyampaikan manfaat menjadi anggota koperasi. Selain menabung, juga akan menerima SHU juga ada suvenir serta door prize saat gathering di samping dimudahkan jika ingin meminjam. Memang, saat mengajak, tidak semua langsung bersedia. Ada yang enam bulan hingga setahun kemudian baru bersedia. Ketika disinggung bagaimana ia mendidik kedua putrinya, Suami mengatakan ia lebih banyak dengan contoh, melalui kegiatan yang dilakukannya. “Mereka bisa melihat sendir. Bagaimana kita harus bersemangat menjalani hidup, menjaga pertemanan, kepercayaan dan terus menumbuhkan jiwa suka menolong,” pungkasnya.

Edisi 1042/ 29 JULi - 4 AGUSTUS 2019

METROPOLITAN

Siapkan Diri Ikut Pesta Diskon Bagi yang hobi berbelanja atau yang aktif berbelanja di lapak-lapak online, saatnya kembali ke dunia ‘nyata’. Saatnya berbelanja di mal-mal. Sebentar lagi akan ada gelaran pesta diskon besar-besaran di berbagai mal di Indonesia.

M

ulai 14 Agutus mendatang hingga 25 Agustus Indonesia Great Sale akan digelar secara serempak di semua mal yang ada di Indonesia. Ini baru pertama kalinya diadakan. “Pesta belanja dengan diskon besar-besaran ini menjadi yang pertama kali kami gelar secara nasional. Nantinya selain bertaburan diskon, juga ada macam-macam pertunjukan lainnya,” ungkap Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Stefanus Ridwan sembari berharap berbagai promo yang digelar itu akan memuaskan para pengunjung. Sebagaimana halnya Jakarta Great Sale yang penyelenggaraannya dikaitkan dengan HUT Jakarta, maka Indonesia Great Sale ini gelarannya dikaitkan dengan HUT Kemerdekaan RI yang ke 74. Nantinya, sekitar 321 pusat per-

Ketua APPBI Stefanus Ridwan - tengah - dan Ketua Aprindo Roy Mandey dalam jumpa pers Indonesia Great Sale - foto istimewa.

ikut meramaikan Jakarta Great Sale lalu, akan ikut berpartisipasi dalam acara Indonesia Great Sale ini,” ujar Ketua APPBI DKI Jakarta. Untuk event besar ini, APPBI selain menggandeng Asosiasi Ritel Indonesia (Aprindo) juga Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI). Dengan

(Sri Ardhini)

“Atasan”

‘Salam Senyum’ Masih ingat dengan customer internal dan customer eksternal? Di dunia layanan hal ini sering menjadi pokok pembahasan yang dalam. Pekerjaan melayani lebih ditekankan melayani customer yang tentunya diibaratkan tamu, pelanggan, atau orang luar yang datang ke perusahaan kita. Namun, jarang membahas tentang bagaimana melayani customer internal. Seperti bawahan, atasan, atau rekan kerja sejawat. Padahal ketika kita menginginkan customer eksternal terlayani dengan baik, maka yang pertama dilakukan adalah bagaimana layanan terhadap internal sudah terjalin dengan baik. Ketika memberikan pelatihan kepada sebuah instansi/perusahaan, pertanyaan untuk melayani customer internal jarang terlontarkan. Peserta pelatihan lebih fokus untuk memperbaiki layanan kepada pelanggan pelanggan mereka yang tentu datang dari luar perusahaan/intansi tempat mereka bek-

erja. Namun, setelah selesai pelatihan banyak dari peserta yang bertanya langsung kepada saya tentang melayani customer internal. Baik para bawahan yang melayani atasannya, atau bagaimana atasan melayani bawahan dan bagaimana melayani teman sejawat. Pembaca setia Dhani’s Art in Service, yang pertama yang saya bahas di sini adalah bagaimana layanan seorang bawahan ketika melayani customer internal-nya yaitu atasannya sendiri. Hal ini tentu sangat penting dilakukan. Selain untuk memudahkan pekerjaan yang menjadi tanggung jawab sebagai bawahan, juga agar dapat lebih mudah menapaki kesuksesan dalam berkarier. Pasti banyak yang tidak setuju ketika ada kalimat “Sejumlah atasan menyukai bawahan yang penjilat”. Namun, di dunia nyata, kalimat ini bukan hanya isapan jempol belaka. Banyak ditemukan kasus yang serupa dengan pernyataan di atas. Tidak dimungkiri, dalam sebuah instansi/perusahaan, keharmonisan

hubungan atasan dan bawahan sangatlah memegang peran penting dalam kemajuan kinerja perusahaan. Bagaimana cara seorang bawahan dapat melayani atasan dengan baik? Saya akan berikan beberapa cara untuk dilakukan, diantaranya. Yang pertama yang dapat dilakukan kalau menjadi seorang bawahan adalah datang lebih awal dari atasan Anda. Menyiapkan meja atasan dengan baik juga dapat dilakukan, dan jangan lupa dengan memakai pakaian yang rapi atau bahkan lebih konservatif. Setiap atasan lebih senang melihat bawahannya datang terlebih dahulu. Selanjutnya hal yang dapat dilakukan untuk melayani atasan adalah mengantisipasi kebutuhan dari atasan. Bawahan yang baik, dapat memahami apa kebutuhan seorang atasannya. Misalnya, atasan akan melakukan presentasi di hadapan forum pimpinan. Bawahan yang baik tentu sudah menyiapkan data, informasi-informasi yang penting yang berkaitan, dan juga persiapan sarana yang mendukung. Membuat pekerjaan atasan lebih mudah dan lancar akan membuat Anda sebagai bawahan kebanggaan bagi mereka. Hal ketika yang perlu dilakukan sebagai bawahan adalah yang berurusan dengan disiplin. Orang yang mempunyai disiplin yang tinggi adalah seorang pembelajar yang baik. Hal ini tentu tidak terlepas dari semangat bawahan untuk belajar dari mentornya yaitu atasannya. Menyerahkan laporan

tepat waktu, menggunakan waktu istirahat sesuai dengan jam yang ditentukan dan lain sebagainya. Pertanyaan yang mulai timbul adalah, bagaimana ketika seorang bawahan tidak sepaham dengan atasannya? Dan hal ini tentu akan dapat menimbulkan konflik. Dalam layanan, hal seperti ini sama dengan ketika seorang customer service sedang melayani complain seorang pelanggan. Perlu keahlian dalam menghadapinya. Seperti apakah itu. Nantikan tulisan saya selanjutnya. Sudahkah para pelaku layanan di perusahaan/instansi kita memahami dan melakukan hal tersebut di atas? Materi ini juga terdapat dalam pelatihan dengan Sri Sumahardani Academy dengan judul ‘Serve with Love’ atau buku saya dengan judul ‘Service A La Carte’, serta materi-materi pelatihan yang lainnya, seperti ‘Good Communication for Good Perfomance,’ ‘Great Personality,’ ‘Upgrade Your Selling Skill’ dan dua belas materi lainnya. Ingin mengetahui, memahami dan mengaplikasikan layanan ini di perusahaan/instansi Bapak/Ibu? Silakan hubungi kami, dan kami siap untuk membantu. Salam 3SP Salam Senyum Sang Penyihir Sri Sumahardani srisumahardani3sp@gmail.com www.srisumahardani.com

13

Ilustrasi - foto istimewa.

belanjaan di seluruh Indonesia akan ikut berpartisipasi dalam event ini. Di Jakarta sendiri memiliki lebih dari 100 mal. Pada Jakarta Great Sale 2019 lalu, sekitar 80 mal ikut event tersebut. “Saya berharap mal-mal yang kemarin

begitu nantinya masyarakat bukan hanya bisa menikmati diskon di pusatpusat perbelanjaan tapi juga kuliner dan lainnya. Ketua Umum Aprindo Roy Mandey mengungkapkan, ada 45 ribu ritel di

Ilustrasi - Masyarakat Serbu Pusat-pusat Perbelanjaan - Foto istimewa.

seluruh Indonesia yang akan berpartisipasi dalam event akbar itu. Dia merasa optimis, seperti event-event great sale sebelumnya, maka kali ini pun bakal berjalan sukses. Apalagi nantinya pesta diskon ini bukan hanya digelar pada saat jam operasional rutin mal, melainkan hingga tengah malam. Pesta belanja agaknya memang tengah gencar dilakukan. Bukan hanya di Jakarta saja tapi juga di daerah-daerah. Tujuannya, salah satunya, tentunya, untuk menggairahkan kembali masyarak untuk berbelanja ke mal. Maklum saja belakangan ini pusat-pusat belanja ritel mengalami kelesuan seiring dengan makin banyaknya masyarakat beralih pada belanja online. Pesta diskon dianggap sebagai salah satu daya tarik masyarakat untuk datang ke mal dan berbelanja. Apalagi nantinya di antara aneka barang yang didiskon itu adalah barang-barang branded yang jika dibeli pada saat tidak diskon, harganya bisa menguras kantong. Setelah Indonesia Great Sale ini, menurut Stefanus, akan ada lagi pesta diskon besar-besaran yang juga dilakukan seretak di seluruh Indonesia. Event bertajuk ‘Wonderful Indonesia Culinary and Shopping Festival’ ini

rencananya digelar pada 27 September hingga 27 Oktober. Satu bulan penuh. “Semua mal di Indonesia juga akan berpartipasi dalam acara ini,” ungkapnya.

ini memang telah terjadi perubahan dalam pola konsumsi masyarakat. Masyarakat datang ke mal bukan sekadar ingin belanja produk kemudian pulang, tapi juga ingin menikmati pengalaman menyenangkan. “Kalau mal yang isinya hanya toko-toko, tidak ada yang lain, masyarakat malas datang karena dianggap sudah tidak menarik lagi,” ungkapnya. Desember tahun lalu, tuturnya, tingkat kunjungan masyarakat ke mal mengalami peningkatkan sekitar 20 % karena banyak pengunjung yang datang bukan hanya untuk belanja produk barang tapi juga untuk menikmati tempat-tempat menyenangkan. ‘Lesu’-nya mal bukan karena daya beli masyarakat yang turun dan perekonomian tidak berjalan, melainkan karena perubahan pola konsumsi masyarakat. Mal-mal yang menawarkan beragam kesenangan, justru kini yang tengah berkembang. Mal yang lengkap yang tidak hanya menyediakan toko-toko untuk belanja barang tapi juga berbagai fasilitas yang menyenangkan seperti tempat hiburan, fasilitas kebugaran, tempat kongkow-kongkow yang kini tengah tren di masyarakat, dll.

Puri Indah Mall Jakarta Barat - foto pingpoint co id.

PERUBAHAN GAYA HIDUP Terkait ‘lesunya’ banyak mal yang ditandai dengan semakin menurunnya pengunjung mal, hal itu dikarenakan telah terjadi pergeseran prilaku konsumen dalam berbelanja. Kini konsumen datang ke mal tidak hanya untuk berbelanja barang tapi juga mencari pengalaman menyenangkan. Stefanus Ridwan pun membenarkan fenomena itu. Menurutnya saat

Diskon Gede-gedean Masyarakat Seru Pusat-pusat Perbelanjaan - Foto Kontan.

Intinya adalah memang telah terjadi perubahan gaya hidup masyarakat. Pola konsumsi yang berubah. Saat ini, masyarakat makin selektif dalam mengalokasikan uangnya. Masyarakat cenderung membeli produk yang betul-betul diperlukan, serta mengeluarkan uang untuk sesuatu yang sifatnya menyenangkan seperti jalan-jalan, makan-minum, dan lain-lain. Karenanya, para pengelola mal pun haruslah menyesuaikan dengan perubahan di dalam masyarakat. Pengelola mal harus mengubah paradigma pusat perbelanjaan, harus melakukan inovasi-inovasi yang disesuaikan dengan selera konsumen yang berkembang sekarang ini. Contoh yang paling mudah saja, saat ini masyarakat senang mengabadikan tempat-tempat menarik yang dikunjunginya. Foto-foto itu kemudian diupload ke media sosial mereka. Dulu, pengunjung dilarang foto-foto di mal atau toko-toko. Kini pengunjung sudah boleh berfoto-foto ria di mal atau toko. Karena kegiatan itu juga merupakan iklan gratis bagi mal atau toko yang bersangkutan. (Diana Runtu)


12

BUMI GORA

EDISI 1042/ 29 JULI - 4 AGUSTUS 2019

EDISI 1042/ 29 JULI - 4 AGUSTUS 2019

Stunting bisa Dicegah

NTB Raih Penghargaan Indonesia’s Attractiveness Award

Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah menghadiri malam penganugerahan Indonesia’s Attractiveness Award yang dimenangkan Provinsi NTB, di Jakarta, Selasa, 23 Juli 2019. Penghargaan ini diberikan kepada daerah dengan daya tarik di bidang investasi, infrastruktur, layanan publik dan pariwisata.

K

epala Biro Humas dan Protokoler Setda NTB, Najamuddin Amy, S.Sos, M.M. menjelaskan, Provinsi NTB telah ditetapkan sebagai pemenang Gold Kategori Provinsi Sedang Pelayanan Publik Indonesia’s Attractiveness Award 2019. Indonesia’s Attractiveness Award merupakan penghargaan yang diberikan oleh Tempo Media Group yang bekerjasama dengan Frontier Consulting Group. Pemenang penghargaan ditentukan setelah melalui riset dengan melibatkan investor dan publik. Proses penentuan pemenang dilakukan serangkaian tahap. Mulai dari penyaringan dan pengolahan data, melakukan survei serta verifikasi data, hingga tahap penjurian dari tanggal 24 hingga 28 Juni 2019. Dalam proses ini, NTB akhirnya terpilih dari 56 nominator kabupaten/kota dan provinsi di Indonesia. “Terpilihnya Provinsi Nusa

Tenggara Barat sebagai pemenang Indonesia’s Attractiveness Award 2019 menunjukkan adanya potensi besar Provinsi Nusa Tenggara Barat untuk dapat menarik minat para investor berbagai industri dan pelaku bisnis beragam sektor untuk turut memajukan perekonomian daerah,” ujar Ketua Panitia Penyelenggara Indonesia’s Attractiveness Award 2019, Y. Tomi Aryanto dalam surat pemberitahuannya. Dalam beberapa tahun terakhir, Provinsi NTB telah melakukan serangkaian terobosan yang menggembirakan. Khususnya, di bidang investasi, infrastruktur, layanan publik dan pariwisata. Dikonfirmasi usai menerima Penghargaan Indonesia’s Attractiveness Award, Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah mengutarakan bagaimana NTB terus berbenah di banyak lini. Salah satunya, di sektor pelayanan publik. Perbaikan pelayanan publik dilakukan dengan membuka akses

publik untuk mengadukan berbagai persoalan yang dihadapinya. Untuk memudahkan proses ini, warga dapat menggunakan aplikasi NTB Care. Aplikasi ini memungkinkan warga mengadukan persoalannya dan langsung dapat ditanggapi ataupun ditindaklanjuti oleh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait. “Dengan NTB Care, kita memastikan masyarakat merasakan kehadiran pemimpin dan aparatur negara di dalam masyarakat. Mereka bisa menyampaikan apa yang dikeluhkan memang harus didengar dan segera direspons,” ujar Gubernur yang akrab disapa Doktor Zul ini. Gubernur dalam berbagai kesempatan juga terus mendorong agar para pelaku usaha bisa merasakan kenyamanan berusaha di daerah ini. Ia telah memberikan garansi bahwa seluruh perizinan usaha di wilayah kewenangan Pemprov NTB harus tuntas dalam sepekan. Gubernur juga menegaskan kesiapannya untuk memberikan jalan keluar jika pelaku usaha menemukan kendala di luar proses perizinan. Tak jarang, Gubernur meluangkan waktu dan tenaga untuk mendampingi sendiri para pelaku usaha yang ingin mengunjungi NTB. Dalam sebuah kesempatan, Gubernur menerangkan bahwa upaya semacam itu ia tempuh untuk menanamkan keyakinan kepada para pelaku usaha bahwa NTB adalah daerah yang bersahabat bagi investasi. NTB, adalah sebuah keluarga besar yang siap hidup bersama komunitas bisnis. “Karena dalam ekonomi mod-

Ida Ayu Eka Padmiari

ern merekalah yang membuka kesempatan pekerjaan, menyelesaikan persoalan pengangguran, kemiskinan dan lain-lain,” ujarnya. Dengan pola pikir yang demikian, pemerintah daerah, gubernur, camat, bupati kepala dinas dan lain-lain harus mendudukkan kembali tugas dan fungsi mereka. “Bahwa kesediaan menjadi pejabat publik itu adalah kerendahan hati dan kerelaan untuk berkorban lebih banyak, kemudian melayani dan lain sebagainya,” ujarnya. PERCEPAT IZIN INVESTASI Ketua Komisi Ekonomi DRD NTB, Dr. M. Firmansyah dalam sebuah opininya juga mengutarakan pentingnya memberikan kemudahan dalam proses izin investasi. “Perizinan yang lama dan berbelit-belit memang salah satu penghambat daya saing ekonomi nasional dan daerah. Sehingga, mempercepat izin investasi merupakan program pemerintah dari pusat sampai daerah dan menjadi keniscayaan era industri 4.0 saat ini,” ujarnya.

Namun demikian, Firmansyah menegaskan bahwa jalan mempercepat izin bukan dengan memangkas prosedur penilaian calon investor. Melainkan, dengan menambah tenaga (petugas) yang bekerja di bidang perizinan itu. Selain kemudahan untuk investor asing dan luar daerah, Firmansyah juga mengingatkan perlunya pemerintah daerah lebih sering duduk satu meja dengan pengusaha lokal. Terutama pengusaha berskala menengah dan atas. Pemerintah daerah bisa memaparkan pintu-pintu untuk dimasuki pengusaha lokal. Sementara, pengusaha lokal memaparkan pengalaman dan rencana kerja untuk membangun investasi daerah. “Ketika nilai investasi-nya cukup besar, pengusaha lokal dapat membentuk konsorsium sehingga cukup modal untuk itu. Atau dengan pola lain misalnya perusahaan daerah menggandeng perusahaan luar daerah untuk bekerja sama dengan pola Business to Business (B to B) di antara mereka,” sarannya. (Naniek I. Taufan)

BUNDA ANANDA

Sebagian besar masyarakat mungkin belum memahami istilah yang disebut stunting yang sering disebut saat ini. Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama. Akibat kurang gizi, terjadi gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya. Demikian dipaparkan ahli gizi, Ida Ayu Eka ­Padmiari, SKM., M.Kes.

D

osen Politeknik Kesehatan Denpasar ini, mengatakan, kondisi tubuh anak yang pendek seringkali dikatakan sebagai faktor keturunan dari orangtuanya. Masyarakat hanya menerima tanpa berbuat apa-apa untuk mencegahnya. Padahal, genetika merupakan faktor kesehatan yang paling kecil pengaruhnya bila dibandingkan dengan faktor perilaku, lingkungan, dan pelayanan kesehatan. Dengan kata lain, kata dia, stunting merupakan masalah yang sebenarnya bisa dicegah. “Stunting merupakan ancaman utama terhadap kualitas manusia Indonesia, juga ancaman terhadap kemampuan daya saing bangsa,” kata Dayu Eka. Anak tidak hanya terganggu pertumbuhan fisiknya, melainkan juga terganggu perkembangan otaknya, yang mana tentu akan sangat mempengaruhi kemampuan dan prestasi di sekolah, produktivitas dan kreativitas di usia-usia produktif. Salah satu fokus pemerintah saat ini adalah pencegahan stunting. Upaya ini bertujuan agar anak-anak Indonesia dapat tumbuh dan berkembang secara optimal dan maksimal, dengan disertai kemampuan emosional, sosial, dan

fisik yang siap untuk belajar, serta mampu berinovasi dan berkompetisi di tingkat global. Ia menyebutkan, tiga hal yang harus diperhatikan dalam pencegahan stunting, yaitu perbaikan terhadap pola makan, pola asuh, serta perbaikan sanitasi dan akses air bersih. Seringkali masalah-masalah nonkesehatan menjadi akar dari masalah stunting, baik itu masalah ekonomi, politik, sosial, budaya, kemiskinan, kurangnya pemberdayaan perempuan, serta masalah degradasi lingkungan. Karena itu, kata dia, kesehatan memerlukan peran semua sektor dan tatanan masyarakat. Masalah stunting dipengaruhi rendahnya akses terhadap makanan dari segi jumlah dan kualitas gizi, serta seringkali tidak beragam. Istilah ‘’Isi Piringku’’ dengan gizi seimbang perlu diperkenalkan dan dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam satu porsi makan, setengah piring diisi oleh sayur dan buah, setengahnya lagi diisi dengan sumber protein dengan proporsi lebih banyak daripada karbohidrat. Stunting juga dipengaruhi aspek perilaku, terutama pada pola asuh yang kurang baik dalam praktek pemberian makan bagi bayi dan balita. “Edukasi tentang kesehatan reproduksi dan gizi bagi remaja sebagai cikal bakal keluarga penting diberikan,” sarannya. Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah berikanlah hak anak mendapatkan kekebalan dari penyakit berbahaya melalui imunisasi yang telah dijamin ketersediaan dan keamanannya oleh pemerintah. Masyarakat bisa memanfaatkannya dengan tanpa biaya di Posyandu atau Puskesmas. Rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan, termasuk di dalamnya adalah akses sanitasi dan air bersih, mendekatkan anak pada risiko ancaman penyakit infeksi. Untuk itu, perlu membiasakan cuci tangan pakai sabun dan air mengalir, serta tidak buang air besar sembarangan. Ia menegaskan, dalam jangka panjang akibat buruk stunting adalah menurunnya kemampuan kognitif dan prestasi belajar, menurunnya kekebalan tubuh sehingga mudah sakit, dan risiko tinggi untuk munculnya penyakit diabetes, kegemukan, penyakit jantung dan pembuluh darah, kanker, stroke, dan disabilitas pada usia tua Kesemuanya itu akan menurunkan kualitas sumber daya manusia. Kondisi stunt-

ing tidak hanya berdampak langsung terhadap kualitas intelektual bangsa, tapi juga menjadi faktor tidak langsung terhadap penyakit degeneratif. “Berbagai studi membuktikan anak-anak yang kurang gizi pada waktu balita, kemudian mengalami stunting, maka pada

usia dewasa akan lebih mudah mengalami obesitas dan terserang diabetes mellitus,” katanya. Apa yang harus dilakukan agar generasi kita terbebas dari stunting? Remaja putri diberikan tablet tambah darah untuk mencegah anemia agar siap untuk hamil. Ibu hamil mendapatkan tablet

5 tambah darah minimal 90 tablet selama masa kehamilan, pemberian makanan yang bergizi seimbang saat hamil, persalinan dengan dokter atau bidan, inisiasi menyusui dini. Selain itu, penting pemberian ASI eksklusif 6 bulan, makanan pendamping ASI yang lengkap setelah 6 bulan, imunisasi lengkap dan vitamin A, pemantauan status gizi anak secara rutin, dan lakukan prilaku hidup bersih dan sehat. (Wirati Astiti)

Orangtua perlu mengetahui tumbuhkembang anaknya

Mendongeng Lima Menit CINCIN SANG RATU Lama benar Sang Raja meninggalkan istana untuk memberangus pemberontakan. Sang Ratu yang menunggunya dengan setia, bertanya-tanya mengenai nasib sang Raja. Siang-malam ia termenung. Kadang-kadang ia mencucurkan air mata, mengenang nasib suami yang sangat dicintainya itu. Pada suatu hari Sang Ratu diam-diam meninggalkan istana menuju sebuah sumur di tepi hutan. Ia mengenang perpisahannya dengan sang suami. Di situlah Baginda Raja memasang cincin perpisahan, kemudian memeluknya, lalu melambaikan tangan masuk ke dalam hutan. Sial, dalam melamun, tak disadarinya cincin yang dipegangnya itu terlepas, jatuh dan tenggelam ke dasar sumur. Sang Ratu menangis sejadi-jadinya. Berkali-kali ia berkata, “Barang siapa yang sanggup menolongku, mengembalikan cincin kenangan itu, akan kuberi hadiah sesuai dengan permintaannya.” Usai berkata demikian, tiba-tiba di depannya berdiri seekor kodok yang sedang memegang cincin di mulutnya. “Inikah cincin Baginda Ratu?” kata kodok itu. Sang Ratu sangat gembira. Ia mengambil cincin itu lalu segera mengenakannya. “Benar sekali, Kodok! Terimakasih! Sekarang katakan, hadiah apa yang kau minta?” Kodok itu diam sejenak, lalu katanya, “Permintaan hamba tidak banyak dan tidak memberatkan. Hamba hanya minta sebuah ciuman di bibir hamba.” Sang Ratu tersinggung. Ia melemparkan hewan pelompat itu ke dalam sumur. “Kau hewan kurang ajar! Aku sudah punya suami, tahu! Ciumanku hanya

untuk suami. Mana mungkin aku mencium orang lain, apalagi mencium seekor kodok!” Kodok itu tidak berputus asa. Ia memanjat lagi ke atas sumur. Ketika Sang Ratu hendak mendorong hewan pelompat itu kembali ke dalam sumur, tiba-tiba kodok pemberani itu merampas cincin sang Ratu, dan mengancam. “Hamba hanya menginginkan sebuah ciuman, sesuai dengan janji Sang Ratu.” Sang Ratu tidak bisa berbuat apa-apa kecuali memenuhi janjinya. Ia membiarkan Sang Kodok berdiri di telapak tangannya, lalu mencium mulutnya yang monyong. Ajaib! Ajaib! Ya, ajaib! Di depan Sang Ratu sekarang tidak berdiri seekor kodok, tetapi seorang laki-laki tampan. Ia adalah suaminya, Sang Raja yang telah lama meninggalkannya. “Selesai berperang ….”, demikian Sang Raja berkisah. “Aku pulang dengan gembira. Perjalanan itu sangat jauh dan melelahkan. Aku kemalaman di tengah hutan. Untung aku menemukan sebuah rumah yang terang-benderang. Aku masuk ke dalamnya mohon izin menginap. Sial, ternyata aku kena jebakan. Penghuni rumah di hutan itu adalah seorang peri yang bersiluman menjadi seorang gadis cantik. Ia memaksa aku untuk memberinya sebuah ciuman. Aku menolak dengan mengatakan, “Ciumanku hanya untuk sang istri yang setia menungguku.” Siluman setan itu marah lalu mengutukku menjadi kodok. Ia berkata, “Kau akan menjadi manusia, setelah seorang perempuan memberimu sebuah ciuman.” Sang Raja menarik napas. Lalu katanya, “Nah, istriku yang setia! Kaulah perempuan yang dimaksud.” Pasangan suami-istri itu, sang Raja dan sang Ratu berpelukan dan berciuman lagi, lalu bergandengan tangan menuju istana. (Cerita rakyat Pomerania)


DARA

6

EDISI 1042/ 29 JULI - 4 AGUSTUS 2019

EDISI 1042/ 29 JULI - 4 AGUSTUS 2019

Fokus di Industri Musik K

ali ini wartawan bukan hanya menggali berita tentang lagu yang baru saja diluncurkan tapi juga tentang kehidupan percintaannya. Aaliyah dikabarkan memiliki hubungan spesial dengan Dul Djaelani, anak bungsu musisi kondang Ahmad Dhani dan Maia Estianty. Meski Aaliyah sudah jelas-jelas membantah adanya hubungan percintaan antara dirinya dan Dul, tapi wartawan tetap saja mencecarnya dengan berbagai pertanyaan seputar itu. Tak heran gadis cantik berambut lurus ini sempat kewalahan dengan ‘hujanan’ pertanyaan, namun dia tetap sabar meladeninya dengan baik. “Aku tuh nggak ada apa-apa kok sama Dul, hanya teman biasa saja. Kita tuh memang dekat, kita saling dukung, sering diskusi macemmacem. Kita juga punya kerjaan bareng. Kan kita sama-sama di industri musik. Tapi kedekatan kita bukan baru sekarang saja, sudah sejak kecil. Orangtua kita bersahabat. Albumnya ibu (Reza) juga dulu dibantu sama Om Dhani. Jadi aku dan Dul dan semua anak-anak Bunda Maia memang dekat,” jawab gadis bernama lengkap Aaliyah Annisa Jeffar Massaid. Sekarang ini, dirinya sedang fokus pada karier musiknya, tidak yang lain. Ia ingin bisa sukses di industri musik. “Jadi sekarang fokus di karier dulu, berkarya dulu membuat yang terbaik. Aku sekarang lagi ‘me time’ ya, sibuk berkarya. Aku ingin sukses dulu dalam kehidupan aku, soal yang lain-lain nanti saja, ” ungkap Aaliyah yang belum lama ini meluncurkan single terbarunya berjudul ‘Ulangi’. Menurut Aaliyah, pilihan kariernya ini mendapat support penuh dari sang Ibu yang kerap memberi advise. Hal itu juga dibenarkan oleh Reza yang mengaku bangga putrinya berkarier mengikuti jejaknya menjadi penyanyi. Diakui Reza, Aaliyah memiliki suara indah namun beda karakter dengannya. “Saya bersyukur dan bangga Aaliyah terjun menjadi penyanyi. Dua anak saya (Zahwa dan Aaliyah) memiliki bakat menyanyi, itu terlihat dari mereka kecil. Allah memberi anugerah talenta seni pada anak-anak, alhamdulilah. Namun yang serius ke dunia entertain ya Aaliyah,” jelas Reza.

“Kepada anak-anak saya katakan, hal yang perlu dipersiapkan dalam membangun karier di enterain bukan menjadi ‘star’ tapi menjadi serving people. Dalam artian harus membuat orang senang, nyaman. Soal dalam perjalanannya orang menganggap kamu bintang, itu adalah rejeki,” ucap Reza yang berharap anaknya tetap menjadi pribadi yang humble, tidak meremehkan orang lain dan tetap rajin sholat. Aaliyah mulai menjajal dunia musik tahun 2011 lewat penampilannya bersama grup band cilik ‘Lollipop’. Kala itu lagu-lagu anak yang ditembangkan Aaliyah dan kawan-kawannya berhasil ‘ngehits’ seperti ‘Aku Bukan Boneka’, ‘My Mama Says’ dan ‘Keajaiban’. Namun ketika itu kegiatan musiknya masih sebatas hobi. Kemudian dia juga menjajal dunia akting lewat film ‘Sayap Kecil Garuda’. Bagi Aaliyah keduanya—menyanyi dan akting—sama-sama seru dan dia menyukainya. Mungkin karena ‘darah’ menyanyi terasa lebih kuat karena sejak kecil dia melakoninya, bahkan serius berlatih olah vokal, saat ini dia pun mantap dengan pilihan menjadi penyanyi. Apalagi ada sang ibu, Reza Artamevia, yang membimbingnya. “Jadi sekarang aku fokus menyanyi dulu. Nggak mau sinetron, film. Aku sih sebenarnya ada tawaran main film. Tapi nggak dulu deh, fokus ini (menyanyi) saja dulu,” ucap Aaliyah yang kini rajin ‘ngevlog’. Diakui kemampuannya belum sebaik sang ibu. Karenanya kadang dia merasa grogi jika harus tampil menyanyi di depan ibunya. “Aku masih harus banyak belajar. Aku beda dengan ibu. Untuk range-range tinggi seperti ibu, suara aku nggak nyampe. Tapi aku sadar bahwa setiap orang kan punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, jadi ya nggak apa-apa,” kata Aaliyah. Groginya Aaliyah jika bernyanyi di depan ibunya, juga dimaklumi Reza. Karena diapun ketika seusia Aaliyah pernah merasakannya. “Ibu aku kan seorang penari nasional. Jadi aku juga berlatih menari. Kala itu aku bisa menari dengan baik kalau tidak ditonton oleh ibu. Tapi ketika ibu menonton, aku merasa grogi,” tutur Reza menceritakan kenangannya saat remaja.

BERMENTAL KUAT DAN FOKUS Memilih berkarier di dunia entertainment, Aaliyah sadar segala risikonya. Mulai dari gosip yang terkadang kejam hingga kehilangan privasi. Sebagai public figure dia akan menjadi sorotan, apapun yang dilakukannya akan ‘dipelototi’ masyarakat. Suka tidak suka, itu lah konsekuensinya. Itu tidak menggentarkannya. Karena sejak kecil dia telah ditempa dengan hal-hal semacam itu. Bahkan gosip-gosip ‘berat’ yang seharusnya tidak dialami anak seusianya kala itu. Maklum ayah-ibunya adalah artis terkenal yang kiprahnya selalu menjadi sorotan. Dulu, kehidupan keluarganya menjadi ‘makanan empuk’ bagi para pekerja media. Ketika kedua orangtuanya bercerai, hampir setiap hari media menayangkannya. Aaliyah dan Zahwa yang kala itu masih kecil diperebutkan kedua orangtuanya. Akhirnya kedua gadis itupun tinggal dalam pengasuhan ayahnya, Adjie Massaid yang kemudian menikah lagi dengan Angelina Sondakh. Cobaan hidup terhadap Aaliyah dan kakaknya, Zahwa, tak berhenti sampai situ. Ayahnya tiba-tiba meninggal dunia dan ibu sambungnya, Angelina, dijebloskan ke penjara

11

Bangkitkan Jeruk Keprok Tejakula

Aaliyah Massaid

Sabar dan penuh senyum, itulah Aaliyah Massaid, anak penyanyi Reza Artamevia dan aktor (alm) Adjie Massaid, dalam menghadapi wartawan. Aaliyah yang sejak kecil selalu dikejar-kejar wartawan terkait kehidupan keluarganya, bahkan hingga saat ini ketika ia menapaki industri hiburan. Posisinya sebagai anak artis terkenal, plus latar belakang kehidupannya yang penuh warna menjadi sebab dia kerap diburu para pencari berita.

BULELENG

Aaliyah dan ibunya Reza selalu kompak

lantaran tersangkut kasus korupsi. Kala itu Aaliyah masih 10 tahun dan kakaknya Zahwa 12 tahun. Cobaan yang tak kalah beratnya dialami Aaliyah dan Zahwa pada 2016 lalu. Kala itu giliran ibunya, Reza tersandung masalah. Kasus padepokan Gatot Brajamusti dan narkoba disangkut-sangkutkan kepada Reza, bahkan pemberitaan yang marak kala itu juga ‘menyeret’ nama Aaaliyah yang baru berusia 14 tahun. Hantaman permasalahan yang bertubi-tubi ditambah dengan aneka gosip berseliweran membuat Aaliyah tumbuh sebagai gadis yang bermental kuat sekalgus juga bijaksana dalam menyikapi berbagai hal. “Ya kalau gosip-gosip aku anggapi biasa aja sih. Udah dari dulu begitu. Dari sebelum aku di entertain pun sudah ada karena kan orangtuaku dua-duanya di dunia entertain,” ujar Aaliyah. Sikap yang sama juga terkait hatters yang kadang membuat banyak

selebriti jengkel. “Bagi aku sih itu nggak usah ditanggapi, kayak nggak ada kerjaan aja. Aku ini orang yang cenderung ‘masabodoan’ sama hal-hal seperti itu. Tapi ya mungkin saja ada juga masukan dari mereka tentang kekurangan kita, ya kita bisa perbaiki,” tambah Aaliyah yang menganggap semua permasalahan yang terjadi pasti ada hikmahnya. Kini Aaaliyah, Zahwa dan ibunya Reza terlihat selalu kompak dan saling mendukung. Aaliyah mengaku dirinya sangat terbuka dengan ibunya. Apapun permasalahan yang dihadapinya selalu didiskusikan dengan sang ibu. Hal senada disampaikan Reza tentang komunikasi yang baik terjalin dengan anak-anaknya. “Saya bersyukur ya aku punya komunikasi yang baik dengan anakanak. Mereka selalu cerita apa saja yang dilakukannya, permasalahan yang dihadapi. Jadi saya tahu perkembangan anak-anak dan memberi saran-saran terbaik kepada mereka,” ujar Reza. (Diana Runtu)

Penyehat Tradisional Mr. Chai

Sehat dengan Pengobatan Herbal Dalam metode pengobatan, kita sering dihadapkan pada dua pilihan, pengobatan medis atau pengobatan herbal. Ada yang memilih pengobatan medis, ada pula yang memilih pengobatan herbal. Obat dengan bahan kimia apabila dikonsumsi secara terus menerus, tubuh kita tidak akan bisa sehat selamanya. Maka makanlah makanan yang sehat dan alami sebagai obat. Penyehat Tradisional Mr. Chai yang berlokasi di Jalan Pulau Nusa Penida Denpasar merupakan tempat pengobatan secara herbal. Mr. Chai yang sudah membuka pengobatan herbal selama 20 tahun ini mengungkapkan orang-orang dahulu bisa hidup sehat dengan umur panjang karena mereka tidak pernah menyentuh makanan yang sifatnya kimiawi. “Leluhur kita sudah tahu yang namanya jamu atau loloh. Dibuat sedemikian rupa dan dipakai untuk mencegah penyakit. Orang zaman sekarang justru setelah sakit barulah mencari obat. Jadi kalau mau sehat, panjang umur maka hidup harus secara alami,” ujar Mr. Chai. Mr. Chai juga menambahkan, tubuh manusia sejatinya bukanlah penyakit, tapi karena keracunan maka terjadilah sakit. Di dunia medis ada disebut vaksinasi, yaitu mencegah sebelum kena penyakit. “Kalau tubuh cenderung bersifat asam maka akan terjadi korosif, misalnya kebanyakan makan daging maka pH tubuh menjadi di bawah 7, ini tidak sehat, bisa kena jantung koroner,

Panen Jeruk Keprok Tejakula

Jeruk merupakan salah satu jenis buah-buahan yang digemari masyarakat karena memiliki kapasitas dalam menunjang perbaikan gizi masyarkat. Kandungan vitamin C pada jeruk cukup tinggi dan baik dikonsumsi dalam bentuk segar maupun berbagai olahan seperti jus dan sirup.

D

i Buleleng, terdapat salah satu jenis varietas jeruk khas yang saat ini keberadaanya mulai langka. Dahulu, jeruk ini menemui masa kejayaan setelah tubuh dengan subur di Buleleng bagian timur, yaitu kecamatan Tejakula. Karena hanya dikembangkan di daerah tersebut, jeruk jenis keprok ini dinamakan Jeruk Keprok Tejakula. Dibandingkan dengan jeruk keprok lainnya, jeruk keprok Tejakula memiliki rasa dan tampilan yang khas. Kulitnya berwarna oranye cerah ketika sudah matang dan memiliki perpaduan rasa asam yang didominasi manis. Bahkan karena rasanya yang unik dan kualitas yang baik, jeruk keprok Tejakula ini mendapat sertifikat Buah Unggul Nasional.

but, Oka mencoba mengembangkan jeruk keprok Tejakula di atas lahan miliknya. Bibit jeruk ia dapatkan dari hasil pengadaan bibit di Dinas Pertanian. “Bibit yang saya tanam ini justru bibit yang sudah terbengkalai karena tidak masuk spek,” tuturnya. Jeruk keprok Tejakula dikembangkan kembali di kawasan Desa Sari Mekar Kecamatan Buleleng tepatnya di Dusun Delod. Di kawasan ini ternyata membuka harapan baru terhadap tanaman jeruk keprok Tejakula diatas lahan seluas 48 are. Virus yang selama ini dikhawatirkan akan menyerang tanaman jeruk keprok Tejakula ini tidak ditemukan sama sekali di kawasan Desa Sari Mekar. Tanaman jeruk keprok Tejakula yang ia budidayakan mulai 2013 silam di atas lahannya sendiri, hingga saat ini sudah memasuki panen ke tiga kalinya bahkan diketahui tahun ini tanaman jeruk miliknya berbuah paling lebat dibandingkan tahun–tahun sebelumnya. Ia mengatakan tidak ada tekhnik khusus yang ia lakukan dalam membudidayakan jeruk yang terkenal akan citarasanya ini, bahkan ia membudidayakan jeruk keprok Tejakula ini murni organik tanpa bantuan

obat–obatan atau pupuk kimia. “Kalau pengembangannya kami gunakan tekhnik stek batang, batang bawahnya kami gunakan jeruk yang rasanya kecut,” jelasnya. Ia menjelaskan dari 500 pohon tanaman jeruk yang ia budidayakan sebanyak 300 pohon masih dalam tahap penguatan fisik atau belum dibuahkan, sementara sisanya 200 pohon dari tahun – tahun sebelumnya mampu berproduksi sebanyak 1,5 hingga 2 ton. “Kalau tahun ini bisa lebih, karena buahnya lebih lebat, tahun lalu buahnya tidak selebat sekarang,” ungkapnya. Sejauh ini, belum ada rencana pengembangan luas lahan budidaya jeruk keprok Tejakula. Dirinya lebih memprioritaskan kualitas tanaman dan buah terlebih dahulu, termasuk 300 tanaman yang masih dalam tahap pendewasaan agar fisik dari tanaman tersebut kuat sebelum akhirnya berbuah. Dirinya juga bertekad untuk mengembalikan masa kejayaan jeruk keprok Tejakula meski ditempat berbeda. “Untuk provit saya nomor dua, saya fokus pada pelestarian dulu karena keberadaan jeruk keprok ini sudah sangat langka di Buleleng,” imbuhnya. (Wiwin Meliana)

Edukasi Masyarakat dengan Wisata Agro

Mr. Chai di antara pasien yang berkonsultasi

diabetes, hipertensi bahkan kanker. Tapi kalau pH tubuh rata-rata bersifat basa antara 6,5-7,5 maka kita bebas dari penyakit,” imbuhnya. Keluhan yang paling banyak ditangani Mr. Chai adalah pembuluh darah, jantung, dan hipertensi. Penyebabnya bisa karena obesitas, susah buang air besar atau jarang berolahraga. Gaya hidup (lifestyle) juga dapat memicu munculnya penyakit. Mengenai harga, penyehat Mr.Chai mengaku harga sangat terjangkau, mulai dari Rp 500 ribu tergantung jenis penyakit, tingkat gawat darurat penyakitnya, umur, serta komplikasi. ‘’Kalau herbal dari saya tidak mesti dikonsumsi seumur hidup. Misal kita sudah mengonsumsi selama 1 sampai 3 bulan dan sudah merasa sehat maka konsumsi boleh distop. Selanjutnya bisa dikonsumsi lagi untuk perawatan berkala,’’ katanya. -ary

Sayangnya, jeruk keprok Tejakula ini terancam keberadaanya setelah semua kebun petani diserang penyakit CVPD (Citrus Vein Phloem Degeneration). Penyakit ini menyerang bagian batang tanaman jeruk yang merupakan jalan untuk membawa nutrisi dari akar ke bagian yang lain. Pohon yang diserang akan perlahan layu yang berakibat pada kematian. Secara besar-besaran virus ini menyerah pohon jeruk petani dan sampai sekarang belum ditemukan obat untuk mengatasi serangan penyakit tersebut. Sejak saat itu, tanaman jeruk keprok Tejakula tidak lagi dilirik oleh masyarakat setempat. Tidak ingin kondisi tersebut mengancam keberadaan varietas jeruk khas Buleleng tersebut, seorang petani Putu Oka Sastra, SP.M.MA., mencoba mem-

bangkitkan kejayaan jeruk keprok Tejakula dengan menanam di atas lahan miliknya. Diakui Oka, sapaan akrab pria tersebut, upaya pelestarian jeruk ini pernah dilakukan pemerintah. Sejak tidak lagi dapat ditanam di Tejakula karena termasuk daerah endemis, jeruk ini sempat dibudidayakan di Kecamatan Gerokgak pada tahun 2012. “Saat saya menjabat sebagai Kabid Holtikultura saya dipercaya mengembangkan kembali jeruk ini di kecamatan Gerokgak,” ungkap Oka yang saat ini menjabat sebagai Kabid Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng. Oka menambahkan secara klimatologi, ada persamaan curah hujan dan iklim antara wilayah Gerokgak dan Tejakula, yang membedakan justru pada struktur tanah. Di Tejakula merupakan jenis tanah lempung berpasir sehingga ketika musim kemarau menyebabkan waterstress pada tanaman. Sedangkan di Gerokgak tanaman jeruk juga mengalami waterstress pada musim kemarau yang diakibatkan bagian bawah akar yang terputus akibat keretakan tanah. “Kalau daerah Gerokgak jenis tanah liat sehingga musim kemarau tanahnya akan retak. Hal ini membuat akar tanaman akan terputus dan jeruk ini gagal kami kembangkan,” jelasnya. Pria yang berlatarbelakang pendidikan pertanian ini tentu tidak tinggal diam melihat kondisi tersebut. Dirinya terus membaca dan belajar teknik menanam jeruk dan cara penanganan virus-virus mematikan. Alhasil, dari keinginan terse-

Petani Oka Sastra Keberhasilan dalam membudidayakan jeruk Keprok Tejakula di Dusun Delod Margi desa Sari Mekar, membawa angin segar bagi petani-petani jeruk di Buleleng. Dengan keberhasilan ini, Oka Sastra berharap banyak petani yang melirik keberadaan jeruk ini dan membudidayakan sehingga keberadaanya semakin banyak. Memasuki panen yang ketiga

kalinya setelah menanam selama 6 tahun silam, Oka mengatakan tidak ada hambatan yang berarti dalam merawat dan memelihara tanaman. Hanya saja dalam penanaman ia menggunakan bahan-bahan organik dan ketinggian tanah tidak lebih dari 400 mdpl. Pada bulan Juli 2019, sebanyak 200 pohon dari 500 pohon jeruk yang ditanam akhirnya panen raya. Masingmasing pohon mampu memproduksi hingga 10 kilogram buah. Memasuki panen raya, Oka mengatakan tidak kesulitan dalam pemasaran. Sebagai petani dirinya mengaku bahkan langsung menjaul jeruk keapada konsumen. “Jeruk kami belum masuk di pasaran, karena untuk memenuhi pesanan masyarakat sekitar dan pesanan via online saja masih kurang,” jelasnya. Meskipun jeruk jenis lain juga memasuki panen raya akan tetapi

tidak mempengaruhi harga jeruk keprok Tejakula. Jeruk ini memiliki harga sendiri, untuk satu kilogram dijual dengan harga Rp 10 ribu. “Karena memang langka dan kami bisa katakana hanya di sini bisa ditemukan dalam jumlah besar,” ungkapnya. Meskipun telah berhasil membangkitkan kembali keberadaan jeruk jenis ini, namun Oka belum

terpikirkan untuk mengembangkan kembali di tempat lain. Justru dia berharap ada petani-petani lain yang ikut mengembangkan. Dirinya membuka diri untuk berbagi ilmu kepada siapa saja yang ingin belajar cara membudidayakan jeruk jenis ini. “Kalau ada masyarakat yang ingin tahu cara menanam bisa langsung datang ke kebun,” jelasnya. Bahkan untuk mengedukasi dan memasyarakatkan jeruk Keprok Tejakula, Oka membuka wisata agro petik langsung buah jeruk untuk masyarakat yang ingin merasakan sensasi memanen sendiri buah jeruk. Dengan wisata petik langsung ini dirinya berharap dapat mengenalkan varietas jeruk yang telah mendapat sertifikat buah unggul ini. “Masyarakat kan masih awam dengan jenis jeruk ini, dengan wisata petik langsung ini secara tidak langsung akan mengedukasi masyarakat tentang keberadaan jeruk keprok Tejakula,” pungkasnya. (Wiwin Meliana)

Pembeli yang memetik langsung jeruk Keprok Tejakula


STYLE

10

EDISI 1042/ 29 JULI - 4 AGUSTUS 2019

EDUKASI

EDISI 1042/ 29 JULI - 4 AGUSTUS 2019

Sesuaikan Kurikulum Pelajaran Sejarah

Sejarah menjadi mata pelajaran wajib di sekolah dari jenjang Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas. Sejarah begitu penting bagi sebuah bangsa dan negara tanpa bermaksud mengabaikan arti pentingnya masa depan. Mempelajari sejarah sejak usia dini akan membentuk manusia berkarakter nasionalis dan berbudaya. Oleh sebab itu, pelajaran sejarah agar benar-benar dapat dipahami dan dimengerti oleh generasi muda.

Calon pengantin tentu ingin tampil istimewa di hari yang tak akan t­ erlupakan sepanjang hidupnya. Busana yang menawan, elegan, berkelas serta spesial akan mendukung kesempurnaan sebuah momen pernikahan.

S

akdek, pemilik Wedding Gallery GS Mode yang ada di kawasan Tukad Batanghari, Renon, sangat memahami hal ini. Untuk itu ia dengan tangan kreatifnya berhasil mempresentasikan pesona keindahan, diantaranya melalui sentuhan detil unik yang cantik. Sakdek sukses menggali eksotika perempuan di setiap rancangannya. Kesan seksi, siluet mewah dan modis pun muncul menjadi bagian dari pesona busananya. Sentuhan embroidery pada kebaya maupun

ekor yang menjuntai menyempurnakannya. Ia juga tetap menghadirkan unsur lokalnya, melalui padanan endek dan songket Bali. Berpadu brokat dan materi halus serta ringan lainnya, koleksi milik Sakdek ini dipersembahkan bagi para calon pengantin yang ingin tampil maksimal. Adakah salah satunya menjadi impian Anda? (Sri Ardhini)

M

enurut Ketua Jurusan Sejarah, Sosiologi dan Perpustakaan Undiksha Dr. Drs. I Made Pageh, M.Hum., pengajaran sejarah saat ini tidak hanya bercerita mengenai ceritacerita kerajaan, peperangan maupun politik di masa lalu, melainkan sesuai dengan visi pengajaran sejarah saat ini

Dr. Drs. I Made Pageh, M.Hum

pengajaran sejarah lebih kompleks dan multi dimensi. Pageh yang juga Ketua Pusat Kajian Budaya Undiksha ini menambahkan masyarakat terutama generasi muda sudah tidak tertarik lagi dengan gaya bercerita mengenai cerita-cerita masa lalu untuk memahami sejarah. “Cerita masalalu itu kan sudah selesai, siapapun yang bercerita, ceritanya akan sama saja. Bahkan untuk mempelajari sejarah itu hanya perlu baca buku saja,” jelasnya. Belajar sejarah di perguruan tinggi, kata Pageh, mahasiswa prodi sejarah akan ditawarkan pelajaran sejarah yang lebih kompleks. Belajar sejarah berarti belajar tentang manusia. Belajar tentang hak asasi manusia, budaya, politik, sosial, dan pariwisata. “Kurikulum kami saat ini seperti itu, sehingga belajar sejarah tidak lagi seperti di bangku sekolah tetapi lebih kepemahaman manusia dan kemanusiaan,” jelasnya. Untuk menarik minat generasi muda terhadap pelajaran sejarah, pihaknya menggelar open house Taman Sejarah Mini tiap bulan Oktober. Selain mengadakan lomba LKTI, para siswa akan diajak untuk melihat-lihat

7

koleksi taman sejarah mini serta menonton film sejarah di lab jurusan sejarah. Pageh mengatakan kegiatan open house ini dilakukan setiap hari pahlawan pada bulan Oktober. “Kegiatan ini rutin kita lakukan dengan membuka open house sejarah saat bulan sundawan (hari kepahlawanan nasional). Jadi murid-murid dari TK sampai SMA datang ke taman sejarah mini Undiksha yang berisi sarkofagus, patung manusia purba hingga mobil Undiksha selain itu siswa akan diajak untuk menonton film tentang sejarah,” jelasnya. Untuk mendukung mewujudkan visi misi Undiksha untuk menjadi universitas unggul berlandaskan falsafah Tri Hita Karana di Asia tahun 2045 pihaknya ikut menyesuaikan kurikulum tanpa menghilangkan dasar-dasar sejarah sebagai pemersatu bangsa. “Kurikulum kami akan menyesuaikan dengan permintaan dan peluang kerja, sehingga lulusan kami tidak hanya berpeluang bekerja sebagai guru sejarah namun dalam berbagai bidang pekerjaan lainnya hingga dapat membuka lapangan pekerjaan sendiri di berbagai bidang,” pungkasnya. (Wiwin Meliana)

Yoga untuk Osteoartritis

Gambar 1 Lihat gambar dan perhatikan posisi kaki serta panggul. Tulang punggung tegak lurus dan mulai atur napas dengan tarikan yang lembut dan buang napas. Lakukan 10 kali menarik dan hembuskan napas dalam sikap tetap seperti gambar. Begitu juga sebaliknya. Dengan memindahkan telapak kaki, jari-jari kaki arahkan ke depan. Kemudian jari kaki kiri diputar ke sisi kanan serta putar kepala menuju bahu kanan dan mulai atur napas juga. Lakukan 10 kali pengulangan napas.

1

Gambar 2 Silakan perhatikan. Sebagaimana sikap gambar. Jika sudah kuat dan benar sikap tubuhnya, sekarang mulai atur napas dengan menarik dan hembukan napas 10 kali begitupun sebaliknya. Sekarang ubah posisi telapak kaki ke bagian sisi yang kanan lakukan 10 kali pernapasan.

2

Gambar 3 Di sini perhatikan jari kaki yang diangkat. Jari-jari kaki dan kuatkan sikap tersebut diatas tulang punggung tegak lurus. Mulai atur napas dengan tarikan napas lembut dan buang napas dari hidung sebanyak 10 kali.

4

3

Gambar 5 dan 6 Silakan duduk seperti sikap di gambar 5, dengan menutup hidung kanan dan tangan kanan naikkan ke atas kepala. Sikap diatas adalah penting untuk menjaga tulang punggung tegak lurus.Silakan bersandar di tembok, gunanya untuk menempelkan punggung agar selalu terjaga tegak lurus. Jangan lupa perhatikan posisi kaki dan jari-jari kaki Anda. Jika sikap diatas sudah siap, sekarang mulai ambil napas melalui lubang hidung kiri dan hembuskan napas dengan lembut sebanyak 10 kali putaran dan begitupun sebaliknya. Lanjutkan dengan mengambil sikap seperti gambar 6. Dengan menutup lubamg hidung kiri dan mulai menarik dan hembuskan napas melalui hidung dengan 10 kali putaran. Jika dilakukan setiap hari akan sangat membantu proses penyembuhan artritis.

5

Gambar 4 Perhatikan juga posisi kaki dengan tumit berdiri setinggitingginya. Silakan Anda berpegangan di kursi atau tembok menggunakan tangan kanan. Mulai atur napas lakukan 10 kali. Menarik dan penghembusan napas dilakukan melalui lubang hidung.

Selamat berlatih dengan senyum Selalu sehat dalam yoga

6

Model : Brigitta Lea (Guru Markandeya Yoga Indonesia-Banjarmasin) LKP/LPK Markandeya Yoga Indonesia.


8

EDISI 1042/ 29 JULI - 4 AGUSTUS 2019

Bali Raih Tiga Penghargaan HKG PKK ke-47 Dalam rangka memperingati Hari Kesatuan Gerak (HKG) Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) ke-47 Tahun 2019 digelar berbagai lomba, diantaranya Pelaksana Tertib Administrasi PKK, Pola Asuh Anak dan Remaja (PAAR) dengan Penuh Cinta dan Kasih Sayang dalam Keluarga, Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K), Pemanfaatan Halaman Pekarangan (HATINYA PKK) dan Pelaksanaan Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) Test.

P

ada lomba kali ini, TP PKK Provinsi Bali berhasil menyabet tiga penghargaan. Penyerahan penghargaan diserahkan

langsung Ketua Umum Tim Penggerak PKK Pusat dr. Erni Guntarti Tjahjo Kumolo pada acara Pembukaan Pameran serangkaian Puncak HKG PKK ke-47 Tahun Dalam rangkaian HKG PKK ke-47 juga digelar lomba fashion show baju adat daerah yang diikuti para ketua TP PKK provinsi se-Indonesia. Ketua TP PKK Provinsi Bali Ny. Putri Suastini Koster tampil sebagai peserta lomba dengan mengenakan busana adat Bali, lengkap dengan kain songket hasil tenunan cagcag perajin asli Pulau Dewata, dipadukan dengan kebaya. Pilihan corak dan warna busana yang elegan, dipadu tata rias rambut pusung tagel sebagai identitas perempuan Bali yang sudah menikah, penampilan Ny Putri Koster yang ditunjang gerakan tari Bali, mampu memukau dewan juri dan para penonton yang berjubel

2019 di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Imam Bonjol, Padang, Sumatera Barat, pekan lalu. Penghargaan yang berhasil diraih oleh Bali yakni Pakarti Madya II dalam lomba Pola Asuh Anak dan Remaja (PAAR) dengan Penuh Cinta dan Kasih Sayang Keluarga oleh TP PKK Kabupaten Gianyar (Desa Sukawati). Selanjutnya penghargaan Pakarti Utama III dalam Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) oleh TP PKK Kabupaten Karangasem (Desa Sinduwati, Sidemen). Penghargaan Pakarti Madya II dalam Pelaksanaan Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) Test oleh TP PKK Kabupaten Buleleng

(Kecamatan Tejakula). Penyerahan penghargaan diterima langsung Ketua TP PKK

Provinsi Bali Ny. Putri Koster didampingi masing-masing pemenang.

Putri Koster Raih Penghargaan Lima Terbaik Lomba Busana Baju Adat

di RTH Imam Bonjol. “Pusung tagel merupakan salah satu khasanah tata rias rambut yang memberi identitas atau ciri

status wanita di Bali. Pusung tagel yang digunakan perempuan yang sudah menikah, memiliki makna kesiapan dan kesigapan bagi si

perempuan itu sendiri dalam menjalankan berbagai kewajiban dan aktivitas di masyarakat,” ujar Putri Koster. Tampil di atas panggung yang juga disaksikan Ketua Umum Tim Penggerak PKK dr Erni Guntarti Tjahjo Kumolo, Putri Koster berlenggaklenggok mengikuti irama gamelan Bali dengan menari. Keserasian busana, tata rias rambut, dan gerak yang tampak begitu gemulai di atas panggung itulah, mengantarkan Bali menjadi lima terbaik nasional untuk lomba fashion show baju adat daerah.

Mendagri: Gerakan PKK harus Ciptakan Kemandirian Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo meminta Gerakan PKK terus merajut dan menyatukan potensi nasional secara efektif dan integratif. Hal itu diungkapkannya saat mewakili Presiden Joko Widodo menghadiri Puncak Peringatan Hari Kesatuan Gerak PKK ke 47 (di Lapangan RTH Imam Bonjol, Padang, Sumatera Barat. “Gerakan PKK harus terus merajut dan menyatukan potensi nasional secara efektif dan integratif melalui program dan kegiatan dalam memberdayakan dan menyejahterakan keluarga. Gerakan PKK harus lepas dari berbagai kepentingan kelompok, golongan, politik, suku, agama dan sebagainya, tanpa mempertentangkan hal-hal yang sudah menjadi keputusan dan kesepakatan ber-

sama,” kata Tjahjo. Ia juga menambahkan, dalam menyongsong pembangunan ke depan, gerakan PKK hendaknya tidak gamang dalam menyikapi perubahan. “Tentu saja perubahan itu bukanlah sekedar dengan menambah dan menghilangkan sesuatu hingga membuat bingung pihak lain, tetapi merupakan perubahan yang konseptual disertai dengan perhitungan dampak dan implikasinya yang semata-mata untuk kemajuan dan kesejahteraan masyarakat,” ujar Tjahjo. Tak hanya itu, Tim Penggerak PKK juga diminta memiliki cara pandang ke depan serta mampu memanfaatkan peluang yang ada. “Sebagai penggerak perubahan

yang visioner, para Tim Penggerak dan Kader PKK hendaknya memiliki cara pikir dan cara pandang jauh ke depan dengan cara memanfaatkan setiap peluang melalui seluruh potensi yang dimiliki, hingga tercipta kemandirian yang mampu menghadapi berbagai tantangan dan permasalahan dalam segala kondisi,” imbuhnya. Sementara itu, Ketua Tim Penggerak PKK Pusat Erni Guntari Tjahjo Kumolo mengatakan, puncak peringatan dihadiri lebih dari 3000 orang peserta dari berbagai unsur di tingkat daerah. Ia juga mengucapkan apresiasi dan terimakasih atas kehadiran Mendagri dalam kesempatan tersebut. “Telah hadir dalam acara ini kurang lebih 3000 orang peserta

ASEM ASEM IGA CUMI-CUMI BUMBU HITAM 2 buah : tomat hijau potong-potong 9 buah : bawang merah cincang 3 lembar : daun salam 4 siung : bawang putih cincang 1 buah : kaldu blok meggi rasa sapi 1 liter : air gula dan garam secukupnya

Putri Koster menerima hadiah atas prestasi Bali mendapatkan tiga penghargaan dalam peringatan HKG PKK ke-47

Ketua Tim Penggerak PKK Pusat Erni Guntari Tjahjo Kumolo

Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo

yang terdiri dari unsur Tim Penggerak PKK Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Indonesia, unsur Pemerintah Provinsi dan beberapa Kabupaten/Kota di Indonesia serta undangan lainnya. Kami mengucapkan terimakasih dan apresiasi atas kehadiran Bapak Mendagri dalam

acara ini,” ungkap Erni. Dengan mengusung tema “Keluarga Indonesia Sejahtera” yang diartikan sebagai wujud hadirnya PKK dalam kiprahnya untuk meningkatkan kualitas dan taraf hidup di seluruh pelosok Nusantara. (Wirati Astiti)

9

EDISI 1042/ 29 JULI - 4 AGUSTUS 2019

Bahan: 1 kg : iga potong-potong menurut selera 3 sdm : air asam jawa 7 buah : bimbing wuluh juga bisa lebih 3 batang : serai dimemarkan 3 cm : jahe dimemarkan 3 cm : kunyit bakar dimemarkan 3 cm : lengkuwas dimemarkan 3 buah : cabe merah besar iris serong 7 buah : cabe rawit utuh

Cara Membuat: - Lumuri iga dengan air jeruk nipis lalu diamkan 10 menit. Cuci bersih lalu tiriskan. Rebus air sampai mendidih, masukkan iga masak sampai mendidih lalu ambil iga, tiriskan. - Tumis irisan bawang merah dan putih, jahe,lengkuwas, kunyit, serai, daun salam hingga harum lalu masukkan iga aduk hingga kaku. - Masukkan irisan cabe merah juga cabe rawit lalu masukkan air masak sampai iga empuk. Masukkan meggi blok, garam, gula, dan irisan blimbing wuluh serta air asam. - Rasakan kalau sudah asam berarti sudah jadi dan siap disajikan.

Bahan: ½ kg : cumi 2 sdm : air jeruk nipis 2 btg : serai dimemarkan 2 lbr : daun jeruk nipis buang tangkainya 1 sdt : lada bubuk 1 sdt : garam 1 sdt : gula 1 sdt : kaldu bubuk 11 : cabe rawit utuh 2 buah : cabe merah kriting iris serong Minyak secukupnya Bumbu Halus: 9 buah : bawang merah 4 siung : bawang putih 1 cm : lengkuwas 1 cm : jahe 4 butir : kemiri sangria 15 : cabe rawit 6 buah : cabe merah kriting

- Tumis bumbu halus bersama daun jeruk dan serai sampai harum. - Masukkan cabe rawit utuh dan potongan cabe merah kriting, aduk hingga layu lalu masukkan potongan cumi dan kepala cumi. - Masukkan garam, lada, bubuk gula, dan kaldu bubuk. Aduk rata. Jangan tambahkan air karena cumi-cumi mengandung air. - Masak kira-kira 10 atau 15 menit sampai matang. Siap disajikan bersama sambal pencit. Kalau kurang pedas bumbu bisa ditambahi cabe rawit menurut selera.

Chef Sarwan

Cara Membuat: - Cumi-cumi dipotong potong. Pisahkan kepala dan badan. Lumuri dengan air jeruk nipis dan diamkan 10 menit lalu cuci bersih, tiriskan.

SAMBEL PENCIT/MANGGA Bahan: 1 buah : mangga muda 2 buah : jeruk limau iris bulat 1 sdt : terasi matang 2 sdm : minyak goreng 11 buah : cabe rawit bisa lebih 7 buah : bawang merah 3 siung : bawang putih 5 buah : cabe merah kriting Garam, kaldu, bubuk secukupnya

Cara Membuat: - Kupas mangga lalu cuci bersih. Cincang dengan pisau lalu iris-iris seperti korek api. - Ulek semua bahan sambal, bawang merah, bawang putih, terasi, gula, garam, dan kaldu bubuk hingga halus. - Masukkan irisan mangga. Aduk rata lalu panaskan minyak goreng. Siram diatas sambal mangga. Aduk rata. Siap disajikan bersama irisan jeruk limau.

Urutan, Sosis versi Bali Pernah mencicipi urutan? Urutan adalah sosis versi Bali yang dibuat dari usus babi yang didalamnya berisi campuran daging babi dan bumbu. Kelezatannya sangat menggoda. Urutan dijual secara bebas di berbagai warung nasi, dari yang di pinggr jalan hingga rumah makan. Urutan memiliki permukaan yang kasar karena dibuat secara tradisional yaitu dengan cacahan daging yang dicampur dengan base genap. Urutan akan lebih enak, bila melalui proses panjang yang didahului dengan penjemuran diterik matahari lalu digoreng atau di panggang. Rasa daging urutan itu sangat khas. Dagingnya lebih kenyal, tidak bau dan terasa lebih enak. Saat itu, urutan juga lebih awet sehingga bisa bertahan berminggu-minggu. Setiap akan berangkat

ke sawah ataupun ke sekolah juga ke tempat kerja, orang mesti mengambil urutan lalu dipotong kecil. Kemudian ditusuk dengan lidi dan dipanggang. Potongan kecil urutan itu, cukup untuk menu sarapan. Perbedaan rasa itu sangat jelas, mungkin karena bahan babi yang digunakan dulu mengkonsumsi dagdag, berupa daun-daunan yang dicampur dengan dedak dan batang pohon pisang. Minyak yang digunakan juga asli dari kelapa lokal, sehingga menawarkan aroma yang beda. Dalam membuat urutan menggunakan base genap yang terdiri dari bumbu-bumbu rempah. Campuran bumbu rempah-rempah ini berguna untuk menambah aroma dan cita rasa, dan untuk daya tahan. Rempah-rempah ini juga berfungsi sebagai penghambat atau pencegah

Urutan

berkembangbiaknya bakteri. Selain urutan dijemur, bisa juga langsung digoreng. Kalau menjemur itu biasa dililitkan pada tangkai buah kelapa dan bisa diletakkan di kelakat kemudian digantung. Bahan dari urutan itu adalah daging dan usus babi. Bumbu terdiri dari bawang merah, bawang

putih, ketumbar, jinten, kencur, lombok kecil, garam, terasi, merica, kunir, jahe, dan laos. Cara membuatnya, semua bumbu dicincang halus. Usus babi dibersihkan berkali-kali. Sementara daging dipotong dengan ukuran tertentu sehingga dapat dimasukkan ke dalam usus. (Budarsana)


8

EDISI 1042/ 29 JULI - 4 AGUSTUS 2019

Bali Raih Tiga Penghargaan HKG PKK ke-47 Dalam rangka memperingati Hari Kesatuan Gerak (HKG) Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) ke-47 Tahun 2019 digelar berbagai lomba, diantaranya Pelaksana Tertib Administrasi PKK, Pola Asuh Anak dan Remaja (PAAR) dengan Penuh Cinta dan Kasih Sayang dalam Keluarga, Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K), Pemanfaatan Halaman Pekarangan (HATINYA PKK) dan Pelaksanaan Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) Test.

P

ada lomba kali ini, TP PKK Provinsi Bali berhasil menyabet tiga penghargaan. Penyerahan penghargaan diserahkan

langsung Ketua Umum Tim Penggerak PKK Pusat dr. Erni Guntarti Tjahjo Kumolo pada acara Pembukaan Pameran serangkaian Puncak HKG PKK ke-47 Tahun Dalam rangkaian HKG PKK ke-47 juga digelar lomba fashion show baju adat daerah yang diikuti para ketua TP PKK provinsi se-Indonesia. Ketua TP PKK Provinsi Bali Ny. Putri Suastini Koster tampil sebagai peserta lomba dengan mengenakan busana adat Bali, lengkap dengan kain songket hasil tenunan cagcag perajin asli Pulau Dewata, dipadukan dengan kebaya. Pilihan corak dan warna busana yang elegan, dipadu tata rias rambut pusung tagel sebagai identitas perempuan Bali yang sudah menikah, penampilan Ny Putri Koster yang ditunjang gerakan tari Bali, mampu memukau dewan juri dan para penonton yang berjubel

2019 di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Imam Bonjol, Padang, Sumatera Barat, pekan lalu. Penghargaan yang berhasil diraih oleh Bali yakni Pakarti Madya II dalam lomba Pola Asuh Anak dan Remaja (PAAR) dengan Penuh Cinta dan Kasih Sayang Keluarga oleh TP PKK Kabupaten Gianyar (Desa Sukawati). Selanjutnya penghargaan Pakarti Utama III dalam Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) oleh TP PKK Kabupaten Karangasem (Desa Sinduwati, Sidemen). Penghargaan Pakarti Madya II dalam Pelaksanaan Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) Test oleh TP PKK Kabupaten Buleleng

(Kecamatan Tejakula). Penyerahan penghargaan diterima langsung Ketua TP PKK

Provinsi Bali Ny. Putri Koster didampingi masing-masing pemenang.

Putri Koster Raih Penghargaan Lima Terbaik Lomba Busana Baju Adat

di RTH Imam Bonjol. “Pusung tagel merupakan salah satu khasanah tata rias rambut yang memberi identitas atau ciri

status wanita di Bali. Pusung tagel yang digunakan perempuan yang sudah menikah, memiliki makna kesiapan dan kesigapan bagi si

perempuan itu sendiri dalam menjalankan berbagai kewajiban dan aktivitas di masyarakat,” ujar Putri Koster. Tampil di atas panggung yang juga disaksikan Ketua Umum Tim Penggerak PKK dr Erni Guntarti Tjahjo Kumolo, Putri Koster berlenggaklenggok mengikuti irama gamelan Bali dengan menari. Keserasian busana, tata rias rambut, dan gerak yang tampak begitu gemulai di atas panggung itulah, mengantarkan Bali menjadi lima terbaik nasional untuk lomba fashion show baju adat daerah.

Mendagri: Gerakan PKK harus Ciptakan Kemandirian Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo meminta Gerakan PKK terus merajut dan menyatukan potensi nasional secara efektif dan integratif. Hal itu diungkapkannya saat mewakili Presiden Joko Widodo menghadiri Puncak Peringatan Hari Kesatuan Gerak PKK ke 47 (di Lapangan RTH Imam Bonjol, Padang, Sumatera Barat. “Gerakan PKK harus terus merajut dan menyatukan potensi nasional secara efektif dan integratif melalui program dan kegiatan dalam memberdayakan dan menyejahterakan keluarga. Gerakan PKK harus lepas dari berbagai kepentingan kelompok, golongan, politik, suku, agama dan sebagainya, tanpa mempertentangkan hal-hal yang sudah menjadi keputusan dan kesepakatan ber-

sama,” kata Tjahjo. Ia juga menambahkan, dalam menyongsong pembangunan ke depan, gerakan PKK hendaknya tidak gamang dalam menyikapi perubahan. “Tentu saja perubahan itu bukanlah sekedar dengan menambah dan menghilangkan sesuatu hingga membuat bingung pihak lain, tetapi merupakan perubahan yang konseptual disertai dengan perhitungan dampak dan implikasinya yang semata-mata untuk kemajuan dan kesejahteraan masyarakat,” ujar Tjahjo. Tak hanya itu, Tim Penggerak PKK juga diminta memiliki cara pandang ke depan serta mampu memanfaatkan peluang yang ada. “Sebagai penggerak perubahan

yang visioner, para Tim Penggerak dan Kader PKK hendaknya memiliki cara pikir dan cara pandang jauh ke depan dengan cara memanfaatkan setiap peluang melalui seluruh potensi yang dimiliki, hingga tercipta kemandirian yang mampu menghadapi berbagai tantangan dan permasalahan dalam segala kondisi,” imbuhnya. Sementara itu, Ketua Tim Penggerak PKK Pusat Erni Guntari Tjahjo Kumolo mengatakan, puncak peringatan dihadiri lebih dari 3000 orang peserta dari berbagai unsur di tingkat daerah. Ia juga mengucapkan apresiasi dan terimakasih atas kehadiran Mendagri dalam kesempatan tersebut. “Telah hadir dalam acara ini kurang lebih 3000 orang peserta

ASEM ASEM IGA CUMI-CUMI BUMBU HITAM 2 buah : tomat hijau potong-potong 9 buah : bawang merah cincang 3 lembar : daun salam 4 siung : bawang putih cincang 1 buah : kaldu blok meggi rasa sapi 1 liter : air gula dan garam secukupnya

Putri Koster menerima hadiah atas prestasi Bali mendapatkan tiga penghargaan dalam peringatan HKG PKK ke-47

Ketua Tim Penggerak PKK Pusat Erni Guntari Tjahjo Kumolo

Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo

yang terdiri dari unsur Tim Penggerak PKK Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Indonesia, unsur Pemerintah Provinsi dan beberapa Kabupaten/Kota di Indonesia serta undangan lainnya. Kami mengucapkan terimakasih dan apresiasi atas kehadiran Bapak Mendagri dalam

acara ini,” ungkap Erni. Dengan mengusung tema “Keluarga Indonesia Sejahtera” yang diartikan sebagai wujud hadirnya PKK dalam kiprahnya untuk meningkatkan kualitas dan taraf hidup di seluruh pelosok Nusantara. (Wirati Astiti)

9

EDISI 1042/ 29 JULI - 4 AGUSTUS 2019

Bahan: 1 kg : iga potong-potong menurut selera 3 sdm : air asam jawa 7 buah : bimbing wuluh juga bisa lebih 3 batang : serai dimemarkan 3 cm : jahe dimemarkan 3 cm : kunyit bakar dimemarkan 3 cm : lengkuwas dimemarkan 3 buah : cabe merah besar iris serong 7 buah : cabe rawit utuh

Cara Membuat: - Lumuri iga dengan air jeruk nipis lalu diamkan 10 menit. Cuci bersih lalu tiriskan. Rebus air sampai mendidih, masukkan iga masak sampai mendidih lalu ambil iga, tiriskan. - Tumis irisan bawang merah dan putih, jahe,lengkuwas, kunyit, serai, daun salam hingga harum lalu masukkan iga aduk hingga kaku. - Masukkan irisan cabe merah juga cabe rawit lalu masukkan air masak sampai iga empuk. Masukkan meggi blok, garam, gula, dan irisan blimbing wuluh serta air asam. - Rasakan kalau sudah asam berarti sudah jadi dan siap disajikan.

Bahan: ½ kg : cumi 2 sdm : air jeruk nipis 2 btg : serai dimemarkan 2 lbr : daun jeruk nipis buang tangkainya 1 sdt : lada bubuk 1 sdt : garam 1 sdt : gula 1 sdt : kaldu bubuk 11 : cabe rawit utuh 2 buah : cabe merah kriting iris serong Minyak secukupnya Bumbu Halus: 9 buah : bawang merah 4 siung : bawang putih 1 cm : lengkuwas 1 cm : jahe 4 butir : kemiri sangria 15 : cabe rawit 6 buah : cabe merah kriting

- Tumis bumbu halus bersama daun jeruk dan serai sampai harum. - Masukkan cabe rawit utuh dan potongan cabe merah kriting, aduk hingga layu lalu masukkan potongan cumi dan kepala cumi. - Masukkan garam, lada, bubuk gula, dan kaldu bubuk. Aduk rata. Jangan tambahkan air karena cumi-cumi mengandung air. - Masak kira-kira 10 atau 15 menit sampai matang. Siap disajikan bersama sambal pencit. Kalau kurang pedas bumbu bisa ditambahi cabe rawit menurut selera.

Chef Sarwan

Cara Membuat: - Cumi-cumi dipotong potong. Pisahkan kepala dan badan. Lumuri dengan air jeruk nipis dan diamkan 10 menit lalu cuci bersih, tiriskan.

SAMBEL PENCIT/MANGGA Bahan: 1 buah : mangga muda 2 buah : jeruk limau iris bulat 1 sdt : terasi matang 2 sdm : minyak goreng 11 buah : cabe rawit bisa lebih 7 buah : bawang merah 3 siung : bawang putih 5 buah : cabe merah kriting Garam, kaldu, bubuk secukupnya

Cara Membuat: - Kupas mangga lalu cuci bersih. Cincang dengan pisau lalu iris-iris seperti korek api. - Ulek semua bahan sambal, bawang merah, bawang putih, terasi, gula, garam, dan kaldu bubuk hingga halus. - Masukkan irisan mangga. Aduk rata lalu panaskan minyak goreng. Siram diatas sambal mangga. Aduk rata. Siap disajikan bersama irisan jeruk limau.

Urutan, Sosis versi Bali Pernah mencicipi urutan? Urutan adalah sosis versi Bali yang dibuat dari usus babi yang didalamnya berisi campuran daging babi dan bumbu. Kelezatannya sangat menggoda. Urutan dijual secara bebas di berbagai warung nasi, dari yang di pinggr jalan hingga rumah makan. Urutan memiliki permukaan yang kasar karena dibuat secara tradisional yaitu dengan cacahan daging yang dicampur dengan base genap. Urutan akan lebih enak, bila melalui proses panjang yang didahului dengan penjemuran diterik matahari lalu digoreng atau di panggang. Rasa daging urutan itu sangat khas. Dagingnya lebih kenyal, tidak bau dan terasa lebih enak. Saat itu, urutan juga lebih awet sehingga bisa bertahan berminggu-minggu. Setiap akan berangkat

ke sawah ataupun ke sekolah juga ke tempat kerja, orang mesti mengambil urutan lalu dipotong kecil. Kemudian ditusuk dengan lidi dan dipanggang. Potongan kecil urutan itu, cukup untuk menu sarapan. Perbedaan rasa itu sangat jelas, mungkin karena bahan babi yang digunakan dulu mengkonsumsi dagdag, berupa daun-daunan yang dicampur dengan dedak dan batang pohon pisang. Minyak yang digunakan juga asli dari kelapa lokal, sehingga menawarkan aroma yang beda. Dalam membuat urutan menggunakan base genap yang terdiri dari bumbu-bumbu rempah. Campuran bumbu rempah-rempah ini berguna untuk menambah aroma dan cita rasa, dan untuk daya tahan. Rempah-rempah ini juga berfungsi sebagai penghambat atau pencegah

Urutan

berkembangbiaknya bakteri. Selain urutan dijemur, bisa juga langsung digoreng. Kalau menjemur itu biasa dililitkan pada tangkai buah kelapa dan bisa diletakkan di kelakat kemudian digantung. Bahan dari urutan itu adalah daging dan usus babi. Bumbu terdiri dari bawang merah, bawang

putih, ketumbar, jinten, kencur, lombok kecil, garam, terasi, merica, kunir, jahe, dan laos. Cara membuatnya, semua bumbu dicincang halus. Usus babi dibersihkan berkali-kali. Sementara daging dipotong dengan ukuran tertentu sehingga dapat dimasukkan ke dalam usus. (Budarsana)


STYLE

10

EDISI 1042/ 29 JULI - 4 AGUSTUS 2019

EDUKASI

EDISI 1042/ 29 JULI - 4 AGUSTUS 2019

Sesuaikan Kurikulum Pelajaran Sejarah

Sejarah menjadi mata pelajaran wajib di sekolah dari jenjang Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas. Sejarah begitu penting bagi sebuah bangsa dan negara tanpa bermaksud mengabaikan arti pentingnya masa depan. Mempelajari sejarah sejak usia dini akan membentuk manusia berkarakter nasionalis dan berbudaya. Oleh sebab itu, pelajaran sejarah agar benar-benar dapat dipahami dan dimengerti oleh generasi muda.

Calon pengantin tentu ingin tampil istimewa di hari yang tak akan t­ erlupakan sepanjang hidupnya. Busana yang menawan, elegan, berkelas serta spesial akan mendukung kesempurnaan sebuah momen pernikahan.

S

akdek, pemilik Wedding Gallery GS Mode yang ada di kawasan Tukad Batanghari, Renon, sangat memahami hal ini. Untuk itu ia dengan tangan kreatifnya berhasil mempresentasikan pesona keindahan, diantaranya melalui sentuhan detil unik yang cantik. Sakdek sukses menggali eksotika perempuan di setiap rancangannya. Kesan seksi, siluet mewah dan modis pun muncul menjadi bagian dari pesona busananya. Sentuhan embroidery pada kebaya maupun

ekor yang menjuntai menyempurnakannya. Ia juga tetap menghadirkan unsur lokalnya, melalui padanan endek dan songket Bali. Berpadu brokat dan materi halus serta ringan lainnya, koleksi milik Sakdek ini dipersembahkan bagi para calon pengantin yang ingin tampil maksimal. Adakah salah satunya menjadi impian Anda? (Sri Ardhini)

M

enurut Ketua Jurusan Sejarah, Sosiologi dan Perpustakaan Undiksha Dr. Drs. I Made Pageh, M.Hum., pengajaran sejarah saat ini tidak hanya bercerita mengenai ceritacerita kerajaan, peperangan maupun politik di masa lalu, melainkan sesuai dengan visi pengajaran sejarah saat ini

Dr. Drs. I Made Pageh, M.Hum

pengajaran sejarah lebih kompleks dan multi dimensi. Pageh yang juga Ketua Pusat Kajian Budaya Undiksha ini menambahkan masyarakat terutama generasi muda sudah tidak tertarik lagi dengan gaya bercerita mengenai cerita-cerita masa lalu untuk memahami sejarah. “Cerita masalalu itu kan sudah selesai, siapapun yang bercerita, ceritanya akan sama saja. Bahkan untuk mempelajari sejarah itu hanya perlu baca buku saja,” jelasnya. Belajar sejarah di perguruan tinggi, kata Pageh, mahasiswa prodi sejarah akan ditawarkan pelajaran sejarah yang lebih kompleks. Belajar sejarah berarti belajar tentang manusia. Belajar tentang hak asasi manusia, budaya, politik, sosial, dan pariwisata. “Kurikulum kami saat ini seperti itu, sehingga belajar sejarah tidak lagi seperti di bangku sekolah tetapi lebih kepemahaman manusia dan kemanusiaan,” jelasnya. Untuk menarik minat generasi muda terhadap pelajaran sejarah, pihaknya menggelar open house Taman Sejarah Mini tiap bulan Oktober. Selain mengadakan lomba LKTI, para siswa akan diajak untuk melihat-lihat

7

koleksi taman sejarah mini serta menonton film sejarah di lab jurusan sejarah. Pageh mengatakan kegiatan open house ini dilakukan setiap hari pahlawan pada bulan Oktober. “Kegiatan ini rutin kita lakukan dengan membuka open house sejarah saat bulan sundawan (hari kepahlawanan nasional). Jadi murid-murid dari TK sampai SMA datang ke taman sejarah mini Undiksha yang berisi sarkofagus, patung manusia purba hingga mobil Undiksha selain itu siswa akan diajak untuk menonton film tentang sejarah,” jelasnya. Untuk mendukung mewujudkan visi misi Undiksha untuk menjadi universitas unggul berlandaskan falsafah Tri Hita Karana di Asia tahun 2045 pihaknya ikut menyesuaikan kurikulum tanpa menghilangkan dasar-dasar sejarah sebagai pemersatu bangsa. “Kurikulum kami akan menyesuaikan dengan permintaan dan peluang kerja, sehingga lulusan kami tidak hanya berpeluang bekerja sebagai guru sejarah namun dalam berbagai bidang pekerjaan lainnya hingga dapat membuka lapangan pekerjaan sendiri di berbagai bidang,” pungkasnya. (Wiwin Meliana)

Yoga untuk Osteoartritis

Gambar 1 Lihat gambar dan perhatikan posisi kaki serta panggul. Tulang punggung tegak lurus dan mulai atur napas dengan tarikan yang lembut dan buang napas. Lakukan 10 kali menarik dan hembuskan napas dalam sikap tetap seperti gambar. Begitu juga sebaliknya. Dengan memindahkan telapak kaki, jari-jari kaki arahkan ke depan. Kemudian jari kaki kiri diputar ke sisi kanan serta putar kepala menuju bahu kanan dan mulai atur napas juga. Lakukan 10 kali pengulangan napas.

1

Gambar 2 Silakan perhatikan. Sebagaimana sikap gambar. Jika sudah kuat dan benar sikap tubuhnya, sekarang mulai atur napas dengan menarik dan hembukan napas 10 kali begitupun sebaliknya. Sekarang ubah posisi telapak kaki ke bagian sisi yang kanan lakukan 10 kali pernapasan.

2

Gambar 3 Di sini perhatikan jari kaki yang diangkat. Jari-jari kaki dan kuatkan sikap tersebut diatas tulang punggung tegak lurus. Mulai atur napas dengan tarikan napas lembut dan buang napas dari hidung sebanyak 10 kali.

4

3

Gambar 5 dan 6 Silakan duduk seperti sikap di gambar 5, dengan menutup hidung kanan dan tangan kanan naikkan ke atas kepala. Sikap diatas adalah penting untuk menjaga tulang punggung tegak lurus.Silakan bersandar di tembok, gunanya untuk menempelkan punggung agar selalu terjaga tegak lurus. Jangan lupa perhatikan posisi kaki dan jari-jari kaki Anda. Jika sikap diatas sudah siap, sekarang mulai ambil napas melalui lubang hidung kiri dan hembuskan napas dengan lembut sebanyak 10 kali putaran dan begitupun sebaliknya. Lanjutkan dengan mengambil sikap seperti gambar 6. Dengan menutup lubamg hidung kiri dan mulai menarik dan hembuskan napas melalui hidung dengan 10 kali putaran. Jika dilakukan setiap hari akan sangat membantu proses penyembuhan artritis.

5

Gambar 4 Perhatikan juga posisi kaki dengan tumit berdiri setinggitingginya. Silakan Anda berpegangan di kursi atau tembok menggunakan tangan kanan. Mulai atur napas lakukan 10 kali. Menarik dan penghembusan napas dilakukan melalui lubang hidung.

Selamat berlatih dengan senyum Selalu sehat dalam yoga

6

Model : Brigitta Lea (Guru Markandeya Yoga Indonesia-Banjarmasin) LKP/LPK Markandeya Yoga Indonesia.


DARA

6

EDISI 1042/ 29 JULI - 4 AGUSTUS 2019

EDISI 1042/ 29 JULI - 4 AGUSTUS 2019

Fokus di Industri Musik K

ali ini wartawan bukan hanya menggali berita tentang lagu yang baru saja diluncurkan tapi juga tentang kehidupan percintaannya. Aaliyah dikabarkan memiliki hubungan spesial dengan Dul Djaelani, anak bungsu musisi kondang Ahmad Dhani dan Maia Estianty. Meski Aaliyah sudah jelas-jelas membantah adanya hubungan percintaan antara dirinya dan Dul, tapi wartawan tetap saja mencecarnya dengan berbagai pertanyaan seputar itu. Tak heran gadis cantik berambut lurus ini sempat kewalahan dengan ‘hujanan’ pertanyaan, namun dia tetap sabar meladeninya dengan baik. “Aku tuh nggak ada apa-apa kok sama Dul, hanya teman biasa saja. Kita tuh memang dekat, kita saling dukung, sering diskusi macemmacem. Kita juga punya kerjaan bareng. Kan kita sama-sama di industri musik. Tapi kedekatan kita bukan baru sekarang saja, sudah sejak kecil. Orangtua kita bersahabat. Albumnya ibu (Reza) juga dulu dibantu sama Om Dhani. Jadi aku dan Dul dan semua anak-anak Bunda Maia memang dekat,” jawab gadis bernama lengkap Aaliyah Annisa Jeffar Massaid. Sekarang ini, dirinya sedang fokus pada karier musiknya, tidak yang lain. Ia ingin bisa sukses di industri musik. “Jadi sekarang fokus di karier dulu, berkarya dulu membuat yang terbaik. Aku sekarang lagi ‘me time’ ya, sibuk berkarya. Aku ingin sukses dulu dalam kehidupan aku, soal yang lain-lain nanti saja, ” ungkap Aaliyah yang belum lama ini meluncurkan single terbarunya berjudul ‘Ulangi’. Menurut Aaliyah, pilihan kariernya ini mendapat support penuh dari sang Ibu yang kerap memberi advise. Hal itu juga dibenarkan oleh Reza yang mengaku bangga putrinya berkarier mengikuti jejaknya menjadi penyanyi. Diakui Reza, Aaliyah memiliki suara indah namun beda karakter dengannya. “Saya bersyukur dan bangga Aaliyah terjun menjadi penyanyi. Dua anak saya (Zahwa dan Aaliyah) memiliki bakat menyanyi, itu terlihat dari mereka kecil. Allah memberi anugerah talenta seni pada anak-anak, alhamdulilah. Namun yang serius ke dunia entertain ya Aaliyah,” jelas Reza.

“Kepada anak-anak saya katakan, hal yang perlu dipersiapkan dalam membangun karier di enterain bukan menjadi ‘star’ tapi menjadi serving people. Dalam artian harus membuat orang senang, nyaman. Soal dalam perjalanannya orang menganggap kamu bintang, itu adalah rejeki,” ucap Reza yang berharap anaknya tetap menjadi pribadi yang humble, tidak meremehkan orang lain dan tetap rajin sholat. Aaliyah mulai menjajal dunia musik tahun 2011 lewat penampilannya bersama grup band cilik ‘Lollipop’. Kala itu lagu-lagu anak yang ditembangkan Aaliyah dan kawan-kawannya berhasil ‘ngehits’ seperti ‘Aku Bukan Boneka’, ‘My Mama Says’ dan ‘Keajaiban’. Namun ketika itu kegiatan musiknya masih sebatas hobi. Kemudian dia juga menjajal dunia akting lewat film ‘Sayap Kecil Garuda’. Bagi Aaliyah keduanya—menyanyi dan akting—sama-sama seru dan dia menyukainya. Mungkin karena ‘darah’ menyanyi terasa lebih kuat karena sejak kecil dia melakoninya, bahkan serius berlatih olah vokal, saat ini dia pun mantap dengan pilihan menjadi penyanyi. Apalagi ada sang ibu, Reza Artamevia, yang membimbingnya. “Jadi sekarang aku fokus menyanyi dulu. Nggak mau sinetron, film. Aku sih sebenarnya ada tawaran main film. Tapi nggak dulu deh, fokus ini (menyanyi) saja dulu,” ucap Aaliyah yang kini rajin ‘ngevlog’. Diakui kemampuannya belum sebaik sang ibu. Karenanya kadang dia merasa grogi jika harus tampil menyanyi di depan ibunya. “Aku masih harus banyak belajar. Aku beda dengan ibu. Untuk range-range tinggi seperti ibu, suara aku nggak nyampe. Tapi aku sadar bahwa setiap orang kan punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, jadi ya nggak apa-apa,” kata Aaliyah. Groginya Aaliyah jika bernyanyi di depan ibunya, juga dimaklumi Reza. Karena diapun ketika seusia Aaliyah pernah merasakannya. “Ibu aku kan seorang penari nasional. Jadi aku juga berlatih menari. Kala itu aku bisa menari dengan baik kalau tidak ditonton oleh ibu. Tapi ketika ibu menonton, aku merasa grogi,” tutur Reza menceritakan kenangannya saat remaja.

BERMENTAL KUAT DAN FOKUS Memilih berkarier di dunia entertainment, Aaliyah sadar segala risikonya. Mulai dari gosip yang terkadang kejam hingga kehilangan privasi. Sebagai public figure dia akan menjadi sorotan, apapun yang dilakukannya akan ‘dipelototi’ masyarakat. Suka tidak suka, itu lah konsekuensinya. Itu tidak menggentarkannya. Karena sejak kecil dia telah ditempa dengan hal-hal semacam itu. Bahkan gosip-gosip ‘berat’ yang seharusnya tidak dialami anak seusianya kala itu. Maklum ayah-ibunya adalah artis terkenal yang kiprahnya selalu menjadi sorotan. Dulu, kehidupan keluarganya menjadi ‘makanan empuk’ bagi para pekerja media. Ketika kedua orangtuanya bercerai, hampir setiap hari media menayangkannya. Aaliyah dan Zahwa yang kala itu masih kecil diperebutkan kedua orangtuanya. Akhirnya kedua gadis itupun tinggal dalam pengasuhan ayahnya, Adjie Massaid yang kemudian menikah lagi dengan Angelina Sondakh. Cobaan hidup terhadap Aaliyah dan kakaknya, Zahwa, tak berhenti sampai situ. Ayahnya tiba-tiba meninggal dunia dan ibu sambungnya, Angelina, dijebloskan ke penjara

11

Bangkitkan Jeruk Keprok Tejakula

Aaliyah Massaid

Sabar dan penuh senyum, itulah Aaliyah Massaid, anak penyanyi Reza Artamevia dan aktor (alm) Adjie Massaid, dalam menghadapi wartawan. Aaliyah yang sejak kecil selalu dikejar-kejar wartawan terkait kehidupan keluarganya, bahkan hingga saat ini ketika ia menapaki industri hiburan. Posisinya sebagai anak artis terkenal, plus latar belakang kehidupannya yang penuh warna menjadi sebab dia kerap diburu para pencari berita.

BULELENG

Aaliyah dan ibunya Reza selalu kompak

lantaran tersangkut kasus korupsi. Kala itu Aaliyah masih 10 tahun dan kakaknya Zahwa 12 tahun. Cobaan yang tak kalah beratnya dialami Aaliyah dan Zahwa pada 2016 lalu. Kala itu giliran ibunya, Reza tersandung masalah. Kasus padepokan Gatot Brajamusti dan narkoba disangkut-sangkutkan kepada Reza, bahkan pemberitaan yang marak kala itu juga ‘menyeret’ nama Aaaliyah yang baru berusia 14 tahun. Hantaman permasalahan yang bertubi-tubi ditambah dengan aneka gosip berseliweran membuat Aaliyah tumbuh sebagai gadis yang bermental kuat sekalgus juga bijaksana dalam menyikapi berbagai hal. “Ya kalau gosip-gosip aku anggapi biasa aja sih. Udah dari dulu begitu. Dari sebelum aku di entertain pun sudah ada karena kan orangtuaku dua-duanya di dunia entertain,” ujar Aaliyah. Sikap yang sama juga terkait hatters yang kadang membuat banyak

selebriti jengkel. “Bagi aku sih itu nggak usah ditanggapi, kayak nggak ada kerjaan aja. Aku ini orang yang cenderung ‘masabodoan’ sama hal-hal seperti itu. Tapi ya mungkin saja ada juga masukan dari mereka tentang kekurangan kita, ya kita bisa perbaiki,” tambah Aaliyah yang menganggap semua permasalahan yang terjadi pasti ada hikmahnya. Kini Aaaliyah, Zahwa dan ibunya Reza terlihat selalu kompak dan saling mendukung. Aaliyah mengaku dirinya sangat terbuka dengan ibunya. Apapun permasalahan yang dihadapinya selalu didiskusikan dengan sang ibu. Hal senada disampaikan Reza tentang komunikasi yang baik terjalin dengan anak-anaknya. “Saya bersyukur ya aku punya komunikasi yang baik dengan anakanak. Mereka selalu cerita apa saja yang dilakukannya, permasalahan yang dihadapi. Jadi saya tahu perkembangan anak-anak dan memberi saran-saran terbaik kepada mereka,” ujar Reza. (Diana Runtu)

Penyehat Tradisional Mr. Chai

Sehat dengan Pengobatan Herbal Dalam metode pengobatan, kita sering dihadapkan pada dua pilihan, pengobatan medis atau pengobatan herbal. Ada yang memilih pengobatan medis, ada pula yang memilih pengobatan herbal. Obat dengan bahan kimia apabila dikonsumsi secara terus menerus, tubuh kita tidak akan bisa sehat selamanya. Maka makanlah makanan yang sehat dan alami sebagai obat. Penyehat Tradisional Mr. Chai yang berlokasi di Jalan Pulau Nusa Penida Denpasar merupakan tempat pengobatan secara herbal. Mr. Chai yang sudah membuka pengobatan herbal selama 20 tahun ini mengungkapkan orang-orang dahulu bisa hidup sehat dengan umur panjang karena mereka tidak pernah menyentuh makanan yang sifatnya kimiawi. “Leluhur kita sudah tahu yang namanya jamu atau loloh. Dibuat sedemikian rupa dan dipakai untuk mencegah penyakit. Orang zaman sekarang justru setelah sakit barulah mencari obat. Jadi kalau mau sehat, panjang umur maka hidup harus secara alami,” ujar Mr. Chai. Mr. Chai juga menambahkan, tubuh manusia sejatinya bukanlah penyakit, tapi karena keracunan maka terjadilah sakit. Di dunia medis ada disebut vaksinasi, yaitu mencegah sebelum kena penyakit. “Kalau tubuh cenderung bersifat asam maka akan terjadi korosif, misalnya kebanyakan makan daging maka pH tubuh menjadi di bawah 7, ini tidak sehat, bisa kena jantung koroner,

Panen Jeruk Keprok Tejakula

Jeruk merupakan salah satu jenis buah-buahan yang digemari masyarakat karena memiliki kapasitas dalam menunjang perbaikan gizi masyarkat. Kandungan vitamin C pada jeruk cukup tinggi dan baik dikonsumsi dalam bentuk segar maupun berbagai olahan seperti jus dan sirup.

D

i Buleleng, terdapat salah satu jenis varietas jeruk khas yang saat ini keberadaanya mulai langka. Dahulu, jeruk ini menemui masa kejayaan setelah tubuh dengan subur di Buleleng bagian timur, yaitu kecamatan Tejakula. Karena hanya dikembangkan di daerah tersebut, jeruk jenis keprok ini dinamakan Jeruk Keprok Tejakula. Dibandingkan dengan jeruk keprok lainnya, jeruk keprok Tejakula memiliki rasa dan tampilan yang khas. Kulitnya berwarna oranye cerah ketika sudah matang dan memiliki perpaduan rasa asam yang didominasi manis. Bahkan karena rasanya yang unik dan kualitas yang baik, jeruk keprok Tejakula ini mendapat sertifikat Buah Unggul Nasional.

but, Oka mencoba mengembangkan jeruk keprok Tejakula di atas lahan miliknya. Bibit jeruk ia dapatkan dari hasil pengadaan bibit di Dinas Pertanian. “Bibit yang saya tanam ini justru bibit yang sudah terbengkalai karena tidak masuk spek,” tuturnya. Jeruk keprok Tejakula dikembangkan kembali di kawasan Desa Sari Mekar Kecamatan Buleleng tepatnya di Dusun Delod. Di kawasan ini ternyata membuka harapan baru terhadap tanaman jeruk keprok Tejakula diatas lahan seluas 48 are. Virus yang selama ini dikhawatirkan akan menyerang tanaman jeruk keprok Tejakula ini tidak ditemukan sama sekali di kawasan Desa Sari Mekar. Tanaman jeruk keprok Tejakula yang ia budidayakan mulai 2013 silam di atas lahannya sendiri, hingga saat ini sudah memasuki panen ke tiga kalinya bahkan diketahui tahun ini tanaman jeruk miliknya berbuah paling lebat dibandingkan tahun–tahun sebelumnya. Ia mengatakan tidak ada tekhnik khusus yang ia lakukan dalam membudidayakan jeruk yang terkenal akan citarasanya ini, bahkan ia membudidayakan jeruk keprok Tejakula ini murni organik tanpa bantuan

obat–obatan atau pupuk kimia. “Kalau pengembangannya kami gunakan tekhnik stek batang, batang bawahnya kami gunakan jeruk yang rasanya kecut,” jelasnya. Ia menjelaskan dari 500 pohon tanaman jeruk yang ia budidayakan sebanyak 300 pohon masih dalam tahap penguatan fisik atau belum dibuahkan, sementara sisanya 200 pohon dari tahun – tahun sebelumnya mampu berproduksi sebanyak 1,5 hingga 2 ton. “Kalau tahun ini bisa lebih, karena buahnya lebih lebat, tahun lalu buahnya tidak selebat sekarang,” ungkapnya. Sejauh ini, belum ada rencana pengembangan luas lahan budidaya jeruk keprok Tejakula. Dirinya lebih memprioritaskan kualitas tanaman dan buah terlebih dahulu, termasuk 300 tanaman yang masih dalam tahap pendewasaan agar fisik dari tanaman tersebut kuat sebelum akhirnya berbuah. Dirinya juga bertekad untuk mengembalikan masa kejayaan jeruk keprok Tejakula meski ditempat berbeda. “Untuk provit saya nomor dua, saya fokus pada pelestarian dulu karena keberadaan jeruk keprok ini sudah sangat langka di Buleleng,” imbuhnya. (Wiwin Meliana)

Edukasi Masyarakat dengan Wisata Agro

Mr. Chai di antara pasien yang berkonsultasi

diabetes, hipertensi bahkan kanker. Tapi kalau pH tubuh rata-rata bersifat basa antara 6,5-7,5 maka kita bebas dari penyakit,” imbuhnya. Keluhan yang paling banyak ditangani Mr. Chai adalah pembuluh darah, jantung, dan hipertensi. Penyebabnya bisa karena obesitas, susah buang air besar atau jarang berolahraga. Gaya hidup (lifestyle) juga dapat memicu munculnya penyakit. Mengenai harga, penyehat Mr.Chai mengaku harga sangat terjangkau, mulai dari Rp 500 ribu tergantung jenis penyakit, tingkat gawat darurat penyakitnya, umur, serta komplikasi. ‘’Kalau herbal dari saya tidak mesti dikonsumsi seumur hidup. Misal kita sudah mengonsumsi selama 1 sampai 3 bulan dan sudah merasa sehat maka konsumsi boleh distop. Selanjutnya bisa dikonsumsi lagi untuk perawatan berkala,’’ katanya. -ary

Sayangnya, jeruk keprok Tejakula ini terancam keberadaanya setelah semua kebun petani diserang penyakit CVPD (Citrus Vein Phloem Degeneration). Penyakit ini menyerang bagian batang tanaman jeruk yang merupakan jalan untuk membawa nutrisi dari akar ke bagian yang lain. Pohon yang diserang akan perlahan layu yang berakibat pada kematian. Secara besar-besaran virus ini menyerah pohon jeruk petani dan sampai sekarang belum ditemukan obat untuk mengatasi serangan penyakit tersebut. Sejak saat itu, tanaman jeruk keprok Tejakula tidak lagi dilirik oleh masyarakat setempat. Tidak ingin kondisi tersebut mengancam keberadaan varietas jeruk khas Buleleng tersebut, seorang petani Putu Oka Sastra, SP.M.MA., mencoba mem-

bangkitkan kejayaan jeruk keprok Tejakula dengan menanam di atas lahan miliknya. Diakui Oka, sapaan akrab pria tersebut, upaya pelestarian jeruk ini pernah dilakukan pemerintah. Sejak tidak lagi dapat ditanam di Tejakula karena termasuk daerah endemis, jeruk ini sempat dibudidayakan di Kecamatan Gerokgak pada tahun 2012. “Saat saya menjabat sebagai Kabid Holtikultura saya dipercaya mengembangkan kembali jeruk ini di kecamatan Gerokgak,” ungkap Oka yang saat ini menjabat sebagai Kabid Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng. Oka menambahkan secara klimatologi, ada persamaan curah hujan dan iklim antara wilayah Gerokgak dan Tejakula, yang membedakan justru pada struktur tanah. Di Tejakula merupakan jenis tanah lempung berpasir sehingga ketika musim kemarau menyebabkan waterstress pada tanaman. Sedangkan di Gerokgak tanaman jeruk juga mengalami waterstress pada musim kemarau yang diakibatkan bagian bawah akar yang terputus akibat keretakan tanah. “Kalau daerah Gerokgak jenis tanah liat sehingga musim kemarau tanahnya akan retak. Hal ini membuat akar tanaman akan terputus dan jeruk ini gagal kami kembangkan,” jelasnya. Pria yang berlatarbelakang pendidikan pertanian ini tentu tidak tinggal diam melihat kondisi tersebut. Dirinya terus membaca dan belajar teknik menanam jeruk dan cara penanganan virus-virus mematikan. Alhasil, dari keinginan terse-

Petani Oka Sastra Keberhasilan dalam membudidayakan jeruk Keprok Tejakula di Dusun Delod Margi desa Sari Mekar, membawa angin segar bagi petani-petani jeruk di Buleleng. Dengan keberhasilan ini, Oka Sastra berharap banyak petani yang melirik keberadaan jeruk ini dan membudidayakan sehingga keberadaanya semakin banyak. Memasuki panen yang ketiga

kalinya setelah menanam selama 6 tahun silam, Oka mengatakan tidak ada hambatan yang berarti dalam merawat dan memelihara tanaman. Hanya saja dalam penanaman ia menggunakan bahan-bahan organik dan ketinggian tanah tidak lebih dari 400 mdpl. Pada bulan Juli 2019, sebanyak 200 pohon dari 500 pohon jeruk yang ditanam akhirnya panen raya. Masingmasing pohon mampu memproduksi hingga 10 kilogram buah. Memasuki panen raya, Oka mengatakan tidak kesulitan dalam pemasaran. Sebagai petani dirinya mengaku bahkan langsung menjaul jeruk keapada konsumen. “Jeruk kami belum masuk di pasaran, karena untuk memenuhi pesanan masyarakat sekitar dan pesanan via online saja masih kurang,” jelasnya. Meskipun jeruk jenis lain juga memasuki panen raya akan tetapi

tidak mempengaruhi harga jeruk keprok Tejakula. Jeruk ini memiliki harga sendiri, untuk satu kilogram dijual dengan harga Rp 10 ribu. “Karena memang langka dan kami bisa katakana hanya di sini bisa ditemukan dalam jumlah besar,” ungkapnya. Meskipun telah berhasil membangkitkan kembali keberadaan jeruk jenis ini, namun Oka belum

terpikirkan untuk mengembangkan kembali di tempat lain. Justru dia berharap ada petani-petani lain yang ikut mengembangkan. Dirinya membuka diri untuk berbagi ilmu kepada siapa saja yang ingin belajar cara membudidayakan jeruk jenis ini. “Kalau ada masyarakat yang ingin tahu cara menanam bisa langsung datang ke kebun,” jelasnya. Bahkan untuk mengedukasi dan memasyarakatkan jeruk Keprok Tejakula, Oka membuka wisata agro petik langsung buah jeruk untuk masyarakat yang ingin merasakan sensasi memanen sendiri buah jeruk. Dengan wisata petik langsung ini dirinya berharap dapat mengenalkan varietas jeruk yang telah mendapat sertifikat buah unggul ini. “Masyarakat kan masih awam dengan jenis jeruk ini, dengan wisata petik langsung ini secara tidak langsung akan mengedukasi masyarakat tentang keberadaan jeruk keprok Tejakula,” pungkasnya. (Wiwin Meliana)

Pembeli yang memetik langsung jeruk Keprok Tejakula


12

BUMI GORA

EDISI 1042/ 29 JULI - 4 AGUSTUS 2019

EDISI 1042/ 29 JULI - 4 AGUSTUS 2019

Stunting bisa Dicegah

NTB Raih Penghargaan Indonesia’s Attractiveness Award

Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah menghadiri malam penganugerahan Indonesia’s Attractiveness Award yang dimenangkan Provinsi NTB, di Jakarta, Selasa, 23 Juli 2019. Penghargaan ini diberikan kepada daerah dengan daya tarik di bidang investasi, infrastruktur, layanan publik dan pariwisata.

K

epala Biro Humas dan Protokoler Setda NTB, Najamuddin Amy, S.Sos, M.M. menjelaskan, Provinsi NTB telah ditetapkan sebagai pemenang Gold Kategori Provinsi Sedang Pelayanan Publik Indonesia’s Attractiveness Award 2019. Indonesia’s Attractiveness Award merupakan penghargaan yang diberikan oleh Tempo Media Group yang bekerjasama dengan Frontier Consulting Group. Pemenang penghargaan ditentukan setelah melalui riset dengan melibatkan investor dan publik. Proses penentuan pemenang dilakukan serangkaian tahap. Mulai dari penyaringan dan pengolahan data, melakukan survei serta verifikasi data, hingga tahap penjurian dari tanggal 24 hingga 28 Juni 2019. Dalam proses ini, NTB akhirnya terpilih dari 56 nominator kabupaten/kota dan provinsi di Indonesia. “Terpilihnya Provinsi Nusa

Tenggara Barat sebagai pemenang Indonesia’s Attractiveness Award 2019 menunjukkan adanya potensi besar Provinsi Nusa Tenggara Barat untuk dapat menarik minat para investor berbagai industri dan pelaku bisnis beragam sektor untuk turut memajukan perekonomian daerah,” ujar Ketua Panitia Penyelenggara Indonesia’s Attractiveness Award 2019, Y. Tomi Aryanto dalam surat pemberitahuannya. Dalam beberapa tahun terakhir, Provinsi NTB telah melakukan serangkaian terobosan yang menggembirakan. Khususnya, di bidang investasi, infrastruktur, layanan publik dan pariwisata. Dikonfirmasi usai menerima Penghargaan Indonesia’s Attractiveness Award, Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah mengutarakan bagaimana NTB terus berbenah di banyak lini. Salah satunya, di sektor pelayanan publik. Perbaikan pelayanan publik dilakukan dengan membuka akses

publik untuk mengadukan berbagai persoalan yang dihadapinya. Untuk memudahkan proses ini, warga dapat menggunakan aplikasi NTB Care. Aplikasi ini memungkinkan warga mengadukan persoalannya dan langsung dapat ditanggapi ataupun ditindaklanjuti oleh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait. “Dengan NTB Care, kita memastikan masyarakat merasakan kehadiran pemimpin dan aparatur negara di dalam masyarakat. Mereka bisa menyampaikan apa yang dikeluhkan memang harus didengar dan segera direspons,” ujar Gubernur yang akrab disapa Doktor Zul ini. Gubernur dalam berbagai kesempatan juga terus mendorong agar para pelaku usaha bisa merasakan kenyamanan berusaha di daerah ini. Ia telah memberikan garansi bahwa seluruh perizinan usaha di wilayah kewenangan Pemprov NTB harus tuntas dalam sepekan. Gubernur juga menegaskan kesiapannya untuk memberikan jalan keluar jika pelaku usaha menemukan kendala di luar proses perizinan. Tak jarang, Gubernur meluangkan waktu dan tenaga untuk mendampingi sendiri para pelaku usaha yang ingin mengunjungi NTB. Dalam sebuah kesempatan, Gubernur menerangkan bahwa upaya semacam itu ia tempuh untuk menanamkan keyakinan kepada para pelaku usaha bahwa NTB adalah daerah yang bersahabat bagi investasi. NTB, adalah sebuah keluarga besar yang siap hidup bersama komunitas bisnis. “Karena dalam ekonomi mod-

Ida Ayu Eka Padmiari

ern merekalah yang membuka kesempatan pekerjaan, menyelesaikan persoalan pengangguran, kemiskinan dan lain-lain,” ujarnya. Dengan pola pikir yang demikian, pemerintah daerah, gubernur, camat, bupati kepala dinas dan lain-lain harus mendudukkan kembali tugas dan fungsi mereka. “Bahwa kesediaan menjadi pejabat publik itu adalah kerendahan hati dan kerelaan untuk berkorban lebih banyak, kemudian melayani dan lain sebagainya,” ujarnya. PERCEPAT IZIN INVESTASI Ketua Komisi Ekonomi DRD NTB, Dr. M. Firmansyah dalam sebuah opininya juga mengutarakan pentingnya memberikan kemudahan dalam proses izin investasi. “Perizinan yang lama dan berbelit-belit memang salah satu penghambat daya saing ekonomi nasional dan daerah. Sehingga, mempercepat izin investasi merupakan program pemerintah dari pusat sampai daerah dan menjadi keniscayaan era industri 4.0 saat ini,” ujarnya.

Namun demikian, Firmansyah menegaskan bahwa jalan mempercepat izin bukan dengan memangkas prosedur penilaian calon investor. Melainkan, dengan menambah tenaga (petugas) yang bekerja di bidang perizinan itu. Selain kemudahan untuk investor asing dan luar daerah, Firmansyah juga mengingatkan perlunya pemerintah daerah lebih sering duduk satu meja dengan pengusaha lokal. Terutama pengusaha berskala menengah dan atas. Pemerintah daerah bisa memaparkan pintu-pintu untuk dimasuki pengusaha lokal. Sementara, pengusaha lokal memaparkan pengalaman dan rencana kerja untuk membangun investasi daerah. “Ketika nilai investasi-nya cukup besar, pengusaha lokal dapat membentuk konsorsium sehingga cukup modal untuk itu. Atau dengan pola lain misalnya perusahaan daerah menggandeng perusahaan luar daerah untuk bekerja sama dengan pola Business to Business (B to B) di antara mereka,” sarannya. (Naniek I. Taufan)

BUNDA ANANDA

Sebagian besar masyarakat mungkin belum memahami istilah yang disebut stunting yang sering disebut saat ini. Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama. Akibat kurang gizi, terjadi gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya. Demikian dipaparkan ahli gizi, Ida Ayu Eka ­Padmiari, SKM., M.Kes.

D

osen Politeknik Kesehatan Denpasar ini, mengatakan, kondisi tubuh anak yang pendek seringkali dikatakan sebagai faktor keturunan dari orangtuanya. Masyarakat hanya menerima tanpa berbuat apa-apa untuk mencegahnya. Padahal, genetika merupakan faktor kesehatan yang paling kecil pengaruhnya bila dibandingkan dengan faktor perilaku, lingkungan, dan pelayanan kesehatan. Dengan kata lain, kata dia, stunting merupakan masalah yang sebenarnya bisa dicegah. “Stunting merupakan ancaman utama terhadap kualitas manusia Indonesia, juga ancaman terhadap kemampuan daya saing bangsa,” kata Dayu Eka. Anak tidak hanya terganggu pertumbuhan fisiknya, melainkan juga terganggu perkembangan otaknya, yang mana tentu akan sangat mempengaruhi kemampuan dan prestasi di sekolah, produktivitas dan kreativitas di usia-usia produktif. Salah satu fokus pemerintah saat ini adalah pencegahan stunting. Upaya ini bertujuan agar anak-anak Indonesia dapat tumbuh dan berkembang secara optimal dan maksimal, dengan disertai kemampuan emosional, sosial, dan

fisik yang siap untuk belajar, serta mampu berinovasi dan berkompetisi di tingkat global. Ia menyebutkan, tiga hal yang harus diperhatikan dalam pencegahan stunting, yaitu perbaikan terhadap pola makan, pola asuh, serta perbaikan sanitasi dan akses air bersih. Seringkali masalah-masalah nonkesehatan menjadi akar dari masalah stunting, baik itu masalah ekonomi, politik, sosial, budaya, kemiskinan, kurangnya pemberdayaan perempuan, serta masalah degradasi lingkungan. Karena itu, kata dia, kesehatan memerlukan peran semua sektor dan tatanan masyarakat. Masalah stunting dipengaruhi rendahnya akses terhadap makanan dari segi jumlah dan kualitas gizi, serta seringkali tidak beragam. Istilah ‘’Isi Piringku’’ dengan gizi seimbang perlu diperkenalkan dan dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam satu porsi makan, setengah piring diisi oleh sayur dan buah, setengahnya lagi diisi dengan sumber protein dengan proporsi lebih banyak daripada karbohidrat. Stunting juga dipengaruhi aspek perilaku, terutama pada pola asuh yang kurang baik dalam praktek pemberian makan bagi bayi dan balita. “Edukasi tentang kesehatan reproduksi dan gizi bagi remaja sebagai cikal bakal keluarga penting diberikan,” sarannya. Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah berikanlah hak anak mendapatkan kekebalan dari penyakit berbahaya melalui imunisasi yang telah dijamin ketersediaan dan keamanannya oleh pemerintah. Masyarakat bisa memanfaatkannya dengan tanpa biaya di Posyandu atau Puskesmas. Rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan, termasuk di dalamnya adalah akses sanitasi dan air bersih, mendekatkan anak pada risiko ancaman penyakit infeksi. Untuk itu, perlu membiasakan cuci tangan pakai sabun dan air mengalir, serta tidak buang air besar sembarangan. Ia menegaskan, dalam jangka panjang akibat buruk stunting adalah menurunnya kemampuan kognitif dan prestasi belajar, menurunnya kekebalan tubuh sehingga mudah sakit, dan risiko tinggi untuk munculnya penyakit diabetes, kegemukan, penyakit jantung dan pembuluh darah, kanker, stroke, dan disabilitas pada usia tua Kesemuanya itu akan menurunkan kualitas sumber daya manusia. Kondisi stunt-

ing tidak hanya berdampak langsung terhadap kualitas intelektual bangsa, tapi juga menjadi faktor tidak langsung terhadap penyakit degeneratif. “Berbagai studi membuktikan anak-anak yang kurang gizi pada waktu balita, kemudian mengalami stunting, maka pada

usia dewasa akan lebih mudah mengalami obesitas dan terserang diabetes mellitus,” katanya. Apa yang harus dilakukan agar generasi kita terbebas dari stunting? Remaja putri diberikan tablet tambah darah untuk mencegah anemia agar siap untuk hamil. Ibu hamil mendapatkan tablet

5 tambah darah minimal 90 tablet selama masa kehamilan, pemberian makanan yang bergizi seimbang saat hamil, persalinan dengan dokter atau bidan, inisiasi menyusui dini. Selain itu, penting pemberian ASI eksklusif 6 bulan, makanan pendamping ASI yang lengkap setelah 6 bulan, imunisasi lengkap dan vitamin A, pemantauan status gizi anak secara rutin, dan lakukan prilaku hidup bersih dan sehat. (Wirati Astiti)

Orangtua perlu mengetahui tumbuhkembang anaknya

Mendongeng Lima Menit CINCIN SANG RATU Lama benar Sang Raja meninggalkan istana untuk memberangus pemberontakan. Sang Ratu yang menunggunya dengan setia, bertanya-tanya mengenai nasib sang Raja. Siang-malam ia termenung. Kadang-kadang ia mencucurkan air mata, mengenang nasib suami yang sangat dicintainya itu. Pada suatu hari Sang Ratu diam-diam meninggalkan istana menuju sebuah sumur di tepi hutan. Ia mengenang perpisahannya dengan sang suami. Di situlah Baginda Raja memasang cincin perpisahan, kemudian memeluknya, lalu melambaikan tangan masuk ke dalam hutan. Sial, dalam melamun, tak disadarinya cincin yang dipegangnya itu terlepas, jatuh dan tenggelam ke dasar sumur. Sang Ratu menangis sejadi-jadinya. Berkali-kali ia berkata, “Barang siapa yang sanggup menolongku, mengembalikan cincin kenangan itu, akan kuberi hadiah sesuai dengan permintaannya.” Usai berkata demikian, tiba-tiba di depannya berdiri seekor kodok yang sedang memegang cincin di mulutnya. “Inikah cincin Baginda Ratu?” kata kodok itu. Sang Ratu sangat gembira. Ia mengambil cincin itu lalu segera mengenakannya. “Benar sekali, Kodok! Terimakasih! Sekarang katakan, hadiah apa yang kau minta?” Kodok itu diam sejenak, lalu katanya, “Permintaan hamba tidak banyak dan tidak memberatkan. Hamba hanya minta sebuah ciuman di bibir hamba.” Sang Ratu tersinggung. Ia melemparkan hewan pelompat itu ke dalam sumur. “Kau hewan kurang ajar! Aku sudah punya suami, tahu! Ciumanku hanya

untuk suami. Mana mungkin aku mencium orang lain, apalagi mencium seekor kodok!” Kodok itu tidak berputus asa. Ia memanjat lagi ke atas sumur. Ketika Sang Ratu hendak mendorong hewan pelompat itu kembali ke dalam sumur, tiba-tiba kodok pemberani itu merampas cincin sang Ratu, dan mengancam. “Hamba hanya menginginkan sebuah ciuman, sesuai dengan janji Sang Ratu.” Sang Ratu tidak bisa berbuat apa-apa kecuali memenuhi janjinya. Ia membiarkan Sang Kodok berdiri di telapak tangannya, lalu mencium mulutnya yang monyong. Ajaib! Ajaib! Ya, ajaib! Di depan Sang Ratu sekarang tidak berdiri seekor kodok, tetapi seorang laki-laki tampan. Ia adalah suaminya, Sang Raja yang telah lama meninggalkannya. “Selesai berperang ….”, demikian Sang Raja berkisah. “Aku pulang dengan gembira. Perjalanan itu sangat jauh dan melelahkan. Aku kemalaman di tengah hutan. Untung aku menemukan sebuah rumah yang terang-benderang. Aku masuk ke dalamnya mohon izin menginap. Sial, ternyata aku kena jebakan. Penghuni rumah di hutan itu adalah seorang peri yang bersiluman menjadi seorang gadis cantik. Ia memaksa aku untuk memberinya sebuah ciuman. Aku menolak dengan mengatakan, “Ciumanku hanya untuk sang istri yang setia menungguku.” Siluman setan itu marah lalu mengutukku menjadi kodok. Ia berkata, “Kau akan menjadi manusia, setelah seorang perempuan memberimu sebuah ciuman.” Sang Raja menarik napas. Lalu katanya, “Nah, istriku yang setia! Kaulah perempuan yang dimaksud.” Pasangan suami-istri itu, sang Raja dan sang Ratu berpelukan dan berciuman lagi, lalu bergandengan tangan menuju istana. (Cerita rakyat Pomerania)


Woman on Top Ni Ketut Suami

4

Edisi 1042/ 29 JULi - 4 AGUSTUS 2019

Menolong Membuat Bahagia Ketika menolong orang lain, maka kita bukan hanya merasa senang, bahagia dan bersyukur tapi juga sehat. Menolong orang tidak hanya dengan materi, bisa juga juga dengan tenaga, waktu dan pemikiran. Begitu disampaikan Ni Ketut Suami, saat ditemui Tokoh pekan lalu di rumahnya di kawasan Jalan Noja, Kesiman, Denpasar.

D

Ni Ketut Suami

alam me­ lakukan ke­baikan, istri dari I Made Sumbawa, S.Pd.,SD., ini tidak mengharapkan balasan. Sebab menurutnya, ketika dirinya menolong orang lain semua berlandaskan ketulusan hati. Apalagi ia memiliki prinsip hidup untuk ‘tidak pernah melupakan kebaikan orang lain’ terhadap dirinya maupun keluarganya. Ditegaskannya, bahwa di dalam hidupnya penting untuk selalu mengingat kebaikan orang lain. Karena prinsip ini pula yang

menuntunnya dalam melakukan berbagai hal.Termasuk dengan limpahan rezeki yang diterimanya tentu tak lepas dari apa yang telah ditanamnya. “Tiang percaya apa yang disampaikan para penglingsir kita kalau di hidup ini ada hukum tabur tunai,” cetusnya Ibu dari Ni Luh Putri Listiani, S.E., dan dan Ni Luh Made Hendriyani, S.E., M.M., ini, mengakui jika karunia Hyang Widhi luar biasa baginya dan keluarganya. Langkahnya mengalir begitu saja. Bermula dari kegiatannya mengedarkan kupon belanja, berlanjut memudahkannya mendapatkan anggota koperasi hingga menjadi pelanggan canang atau sebaliknya. Suami mengisahkan sejak usia 30 tahun-an dirinya sudah

aktif mengedarkan kupon dari beberapa tempat berbelanja. Sejak awal melakukan kegiatan bisnisnya tersebut ia sudah komit memberikan pelayanan terbaik untuk semua pelanggannya. Bahkan, hubungannya tidak hanya sebatas urusan pesanan kupon, namun berlanjut terjalinnya pertemanan yang erat. Kemudian ia melanjutkan ceritanya, begitu menjadi anggota Koperasi Amoghasiddhi belasan tahun lalu, ia pun mendapat tambahan rezeki lagi. Terlebih dengan program m e m b e r g e t m e m b e r- n y a . “Jujur, karena hubungan baik yang terjalin selama ini, memudahkan tiang menawarkan teman dan kerabat ikut menjadi anggota koperasi,” ujarnya ibu yang sempat menjadi ketua PKK Banjar Meranggi beberapa tahun silam ini. Ditanya bagaimana strateginya mengajak agar orang lain bersedia menjadi anggotan

koperasi, Ketut Suami mengatakan semua dilakukannya dengan cara yang sederhana. Jika kebetulan yang mau diajak itu seorang pedagang, maka ia akan berbelanja di sana, sembari menyampaikan manfaat menjadi anggota koperasi. Selain menabung, juga akan menerima SHU juga ada suvenir serta door prize saat gathering di samping dimudahkan jika ingin meminjam. Memang, saat mengajak, tidak semua langsung bersedia. Ada yang enam bulan hingga setahun kemudian baru bersedia. Ketika disinggung bagaimana ia mendidik kedua putrinya, Suami mengatakan ia lebih banyak dengan contoh, melalui kegiatan yang dilakukannya. “Mereka bisa melihat sendir. Bagaimana kita harus bersemangat menjalani hidup, menjaga pertemanan, kepercayaan dan terus menumbuhkan jiwa suka menolong,” pungkasnya.

Edisi 1042/ 29 JULi - 4 AGUSTUS 2019

METROPOLITAN

Siapkan Diri Ikut Pesta Diskon Bagi yang hobi berbelanja atau yang aktif berbelanja di lapak-lapak online, saatnya kembali ke dunia ‘nyata’. Saatnya berbelanja di mal-mal. Sebentar lagi akan ada gelaran pesta diskon besar-besaran di berbagai mal di Indonesia.

M

ulai 14 Agutus mendatang hingga 25 Agustus Indonesia Great Sale akan digelar secara serempak di semua mal yang ada di Indonesia. Ini baru pertama kalinya diadakan. “Pesta belanja dengan diskon besar-besaran ini menjadi yang pertama kali kami gelar secara nasional. Nantinya selain bertaburan diskon, juga ada macam-macam pertunjukan lainnya,” ungkap Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Stefanus Ridwan sembari berharap berbagai promo yang digelar itu akan memuaskan para pengunjung. Sebagaimana halnya Jakarta Great Sale yang penyelenggaraannya dikaitkan dengan HUT Jakarta, maka Indonesia Great Sale ini gelarannya dikaitkan dengan HUT Kemerdekaan RI yang ke 74. Nantinya, sekitar 321 pusat per-

Ketua APPBI Stefanus Ridwan - tengah - dan Ketua Aprindo Roy Mandey dalam jumpa pers Indonesia Great Sale - foto istimewa.

ikut meramaikan Jakarta Great Sale lalu, akan ikut berpartisipasi dalam acara Indonesia Great Sale ini,” ujar Ketua APPBI DKI Jakarta. Untuk event besar ini, APPBI selain menggandeng Asosiasi Ritel Indonesia (Aprindo) juga Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI). Dengan

(Sri Ardhini)

“Atasan”

‘Salam Senyum’ Masih ingat dengan customer internal dan customer eksternal? Di dunia layanan hal ini sering menjadi pokok pembahasan yang dalam. Pekerjaan melayani lebih ditekankan melayani customer yang tentunya diibaratkan tamu, pelanggan, atau orang luar yang datang ke perusahaan kita. Namun, jarang membahas tentang bagaimana melayani customer internal. Seperti bawahan, atasan, atau rekan kerja sejawat. Padahal ketika kita menginginkan customer eksternal terlayani dengan baik, maka yang pertama dilakukan adalah bagaimana layanan terhadap internal sudah terjalin dengan baik. Ketika memberikan pelatihan kepada sebuah instansi/perusahaan, pertanyaan untuk melayani customer internal jarang terlontarkan. Peserta pelatihan lebih fokus untuk memperbaiki layanan kepada pelanggan pelanggan mereka yang tentu datang dari luar perusahaan/intansi tempat mereka bek-

erja. Namun, setelah selesai pelatihan banyak dari peserta yang bertanya langsung kepada saya tentang melayani customer internal. Baik para bawahan yang melayani atasannya, atau bagaimana atasan melayani bawahan dan bagaimana melayani teman sejawat. Pembaca setia Dhani’s Art in Service, yang pertama yang saya bahas di sini adalah bagaimana layanan seorang bawahan ketika melayani customer internal-nya yaitu atasannya sendiri. Hal ini tentu sangat penting dilakukan. Selain untuk memudahkan pekerjaan yang menjadi tanggung jawab sebagai bawahan, juga agar dapat lebih mudah menapaki kesuksesan dalam berkarier. Pasti banyak yang tidak setuju ketika ada kalimat “Sejumlah atasan menyukai bawahan yang penjilat”. Namun, di dunia nyata, kalimat ini bukan hanya isapan jempol belaka. Banyak ditemukan kasus yang serupa dengan pernyataan di atas. Tidak dimungkiri, dalam sebuah instansi/perusahaan, keharmonisan

hubungan atasan dan bawahan sangatlah memegang peran penting dalam kemajuan kinerja perusahaan. Bagaimana cara seorang bawahan dapat melayani atasan dengan baik? Saya akan berikan beberapa cara untuk dilakukan, diantaranya. Yang pertama yang dapat dilakukan kalau menjadi seorang bawahan adalah datang lebih awal dari atasan Anda. Menyiapkan meja atasan dengan baik juga dapat dilakukan, dan jangan lupa dengan memakai pakaian yang rapi atau bahkan lebih konservatif. Setiap atasan lebih senang melihat bawahannya datang terlebih dahulu. Selanjutnya hal yang dapat dilakukan untuk melayani atasan adalah mengantisipasi kebutuhan dari atasan. Bawahan yang baik, dapat memahami apa kebutuhan seorang atasannya. Misalnya, atasan akan melakukan presentasi di hadapan forum pimpinan. Bawahan yang baik tentu sudah menyiapkan data, informasi-informasi yang penting yang berkaitan, dan juga persiapan sarana yang mendukung. Membuat pekerjaan atasan lebih mudah dan lancar akan membuat Anda sebagai bawahan kebanggaan bagi mereka. Hal ketika yang perlu dilakukan sebagai bawahan adalah yang berurusan dengan disiplin. Orang yang mempunyai disiplin yang tinggi adalah seorang pembelajar yang baik. Hal ini tentu tidak terlepas dari semangat bawahan untuk belajar dari mentornya yaitu atasannya. Menyerahkan laporan

tepat waktu, menggunakan waktu istirahat sesuai dengan jam yang ditentukan dan lain sebagainya. Pertanyaan yang mulai timbul adalah, bagaimana ketika seorang bawahan tidak sepaham dengan atasannya? Dan hal ini tentu akan dapat menimbulkan konflik. Dalam layanan, hal seperti ini sama dengan ketika seorang customer service sedang melayani complain seorang pelanggan. Perlu keahlian dalam menghadapinya. Seperti apakah itu. Nantikan tulisan saya selanjutnya. Sudahkah para pelaku layanan di perusahaan/instansi kita memahami dan melakukan hal tersebut di atas? Materi ini juga terdapat dalam pelatihan dengan Sri Sumahardani Academy dengan judul ‘Serve with Love’ atau buku saya dengan judul ‘Service A La Carte’, serta materi-materi pelatihan yang lainnya, seperti ‘Good Communication for Good Perfomance,’ ‘Great Personality,’ ‘Upgrade Your Selling Skill’ dan dua belas materi lainnya. Ingin mengetahui, memahami dan mengaplikasikan layanan ini di perusahaan/instansi Bapak/Ibu? Silakan hubungi kami, dan kami siap untuk membantu. Salam 3SP Salam Senyum Sang Penyihir Sri Sumahardani srisumahardani3sp@gmail.com www.srisumahardani.com

13

Ilustrasi - foto istimewa.

belanjaan di seluruh Indonesia akan ikut berpartisipasi dalam event ini. Di Jakarta sendiri memiliki lebih dari 100 mal. Pada Jakarta Great Sale 2019 lalu, sekitar 80 mal ikut event tersebut. “Saya berharap mal-mal yang kemarin

begitu nantinya masyarakat bukan hanya bisa menikmati diskon di pusatpusat perbelanjaan tapi juga kuliner dan lainnya. Ketua Umum Aprindo Roy Mandey mengungkapkan, ada 45 ribu ritel di

Ilustrasi - Masyarakat Serbu Pusat-pusat Perbelanjaan - Foto istimewa.

seluruh Indonesia yang akan berpartisipasi dalam event akbar itu. Dia merasa optimis, seperti event-event great sale sebelumnya, maka kali ini pun bakal berjalan sukses. Apalagi nantinya pesta diskon ini bukan hanya digelar pada saat jam operasional rutin mal, melainkan hingga tengah malam. Pesta belanja agaknya memang tengah gencar dilakukan. Bukan hanya di Jakarta saja tapi juga di daerah-daerah. Tujuannya, salah satunya, tentunya, untuk menggairahkan kembali masyarak untuk berbelanja ke mal. Maklum saja belakangan ini pusat-pusat belanja ritel mengalami kelesuan seiring dengan makin banyaknya masyarakat beralih pada belanja online. Pesta diskon dianggap sebagai salah satu daya tarik masyarakat untuk datang ke mal dan berbelanja. Apalagi nantinya di antara aneka barang yang didiskon itu adalah barang-barang branded yang jika dibeli pada saat tidak diskon, harganya bisa menguras kantong. Setelah Indonesia Great Sale ini, menurut Stefanus, akan ada lagi pesta diskon besar-besaran yang juga dilakukan seretak di seluruh Indonesia. Event bertajuk ‘Wonderful Indonesia Culinary and Shopping Festival’ ini

rencananya digelar pada 27 September hingga 27 Oktober. Satu bulan penuh. “Semua mal di Indonesia juga akan berpartipasi dalam acara ini,” ungkapnya.

ini memang telah terjadi perubahan dalam pola konsumsi masyarakat. Masyarakat datang ke mal bukan sekadar ingin belanja produk kemudian pulang, tapi juga ingin menikmati pengalaman menyenangkan. “Kalau mal yang isinya hanya toko-toko, tidak ada yang lain, masyarakat malas datang karena dianggap sudah tidak menarik lagi,” ungkapnya. Desember tahun lalu, tuturnya, tingkat kunjungan masyarakat ke mal mengalami peningkatkan sekitar 20 % karena banyak pengunjung yang datang bukan hanya untuk belanja produk barang tapi juga untuk menikmati tempat-tempat menyenangkan. ‘Lesu’-nya mal bukan karena daya beli masyarakat yang turun dan perekonomian tidak berjalan, melainkan karena perubahan pola konsumsi masyarakat. Mal-mal yang menawarkan beragam kesenangan, justru kini yang tengah berkembang. Mal yang lengkap yang tidak hanya menyediakan toko-toko untuk belanja barang tapi juga berbagai fasilitas yang menyenangkan seperti tempat hiburan, fasilitas kebugaran, tempat kongkow-kongkow yang kini tengah tren di masyarakat, dll.

Puri Indah Mall Jakarta Barat - foto pingpoint co id.

PERUBAHAN GAYA HIDUP Terkait ‘lesunya’ banyak mal yang ditandai dengan semakin menurunnya pengunjung mal, hal itu dikarenakan telah terjadi pergeseran prilaku konsumen dalam berbelanja. Kini konsumen datang ke mal tidak hanya untuk berbelanja barang tapi juga mencari pengalaman menyenangkan. Stefanus Ridwan pun membenarkan fenomena itu. Menurutnya saat

Diskon Gede-gedean Masyarakat Seru Pusat-pusat Perbelanjaan - Foto Kontan.

Intinya adalah memang telah terjadi perubahan gaya hidup masyarakat. Pola konsumsi yang berubah. Saat ini, masyarakat makin selektif dalam mengalokasikan uangnya. Masyarakat cenderung membeli produk yang betul-betul diperlukan, serta mengeluarkan uang untuk sesuatu yang sifatnya menyenangkan seperti jalan-jalan, makan-minum, dan lain-lain. Karenanya, para pengelola mal pun haruslah menyesuaikan dengan perubahan di dalam masyarakat. Pengelola mal harus mengubah paradigma pusat perbelanjaan, harus melakukan inovasi-inovasi yang disesuaikan dengan selera konsumen yang berkembang sekarang ini. Contoh yang paling mudah saja, saat ini masyarakat senang mengabadikan tempat-tempat menarik yang dikunjunginya. Foto-foto itu kemudian diupload ke media sosial mereka. Dulu, pengunjung dilarang foto-foto di mal atau toko-toko. Kini pengunjung sudah boleh berfoto-foto ria di mal atau toko. Karena kegiatan itu juga merupakan iklan gratis bagi mal atau toko yang bersangkutan. (Diana Runtu)


14 ‘Belajar tak kenal usia’. Ungkapan ini sudah kerap kita dengar. Nyatanya memang bukan sekadar ungkapan saja karena faktanya banyak juga mereka yang berusia di atas 50 tahun namun memilih untuk kembali menempuh pendidikan formal. Melva Tobing misalnya, ibu rumah tangga yang kala itu berusia 49 tahun memutuskan untuk kuliah lagi. Dan ia berhasil meraih gelar S1 –nya di usia 55 tahun.

SUDUT PANDANG

Raih Gelar Sarjana Usia 55 Tahun

“R

asanya bangga sekali bisa meraih gelar sarjana. Sesuatu yang tadinya tak pernah aku pikirkan. Ini adalah pencapaian terbaik—dalam bidang pendidikan-aku dalam hidup,” ungkap Melva dengan wajah berseri. Baru tahun lalu dia menamatkan pendidikan S1 –nya di Sekolah Tinggi Teologia di Depok, Jawa Barat. Sebenarnya menempuh pendidikan tinggi bukan lah baru kali itu saja. Di tahun 1980-an ia juga telah sempat kuliah di Fakultas Komunikasi namun tidak dituntaskannya. “Jadi aku dulu pernah kuliah, bahkan sudah masuk pada pembuatan skripsi. Seingat aku dulu kuliah aku tidak selesai karena sibuk bekerja. Mungkin terlalu keenakan bekerja, sudah bisa cari uang sendiri, jadi pendidikan terbengkalai,” ujar wanita berdarah Batak itu. Apalagi, tambahnya, ia kemudian menikah. “Jadi aku sibuk bekerja juga mengurus keluarga. Nggak kepikir lagi untuk menuntaskan kuliah,” tambah ibu dua anak ini. Di akhir 1990-an, kantor dimana dia bekerja tutup akibat krismon. “Ketika kantor tutup, aku tidak mencari

Edisi 1042/ 29 JULi - 4 AGUSTUS 2019

Melva Tobing

pekerjaan lain karena sibuk mengurus anak-anak yang masih kecil. Selain itu aku juga aktif di organisasi gereja. Jadi praktis, banyak waktu aku untuk berbagai kegiatan itu,” ujarnya. Rasa ‘kosong’ baru dialaminya ketika kedua anaknya berangkat besar dan sudah memiliki kegiatan masing-masing. Saat itulah dia mulai merenung tentang keadaannya. “Rasanya ‘kosong’ dan hanya menjalani rutinitas saja. Bosan. Aku merasa perlu mengisi waktu yang kosong dengan kegiatan berguna. Tapi apa? “ tuturnya dengan nada bertanya. Sempat muncul inspirasi untuk kuliah lagi, saat itu usianya 45 tahun. Ide yang muncul itu tidak langsung dieksekusi, perlu waktu bertahun-tahun baginya untuk memantapkan diri kuliah lagi. “Ya aku memikirkannya secara mendalam

sebelum akhirnya memutuskan kuliah lagi. Baru saat usia 49 tahun aku putuskan kuliah. Suami dan anakanak aku mendukung penuh,” tuturnya. Sebenarnya itu bukan keputusan yang mudah, karena dirinya tahu kuliah di usia tidak muda, pastilah menimbulkan pertanyaan banyak orang bahkan bisa jadi ejekan. Ternyata benar saja, begitu dia masuk kuliah banyak pertanyaan kepadanya. Banyak yang meremehkan seolah-olah orang yang berusia tua tidak pantas meraih pendidikan. Meski sudah mempersiapkan mental, awalnya dia sempat juga merasa jengah dengan banyaknya pertanyaan yang bernada tidak mendukung. “Sering ditanya, bikin hati tidak nyaman. Itu awalnya. Tapi lama-lama jadi biasa. Aku pikir ngapain memikirkan ketidaksukaan orang, toh aku kuliah lagi dengan maksud baik. Aku menjadikan itu sebagai motivasi bahwa kali ini (kuliah) harus sampai selesai, harus berhasil. Aku ingin membuktikan bahwa meski masuk kuliah di umur seperti ini, aku bisa berhasil,” katanya penuh semangat. Untuk kuliahnya kali ini, Melva memilih ilmu teologia. Dia memiliki

alasan tertentu kenapa memilih memperdalam teologia Kristen. “Aku sangat suka kegiatan pelayanan di gereja. Jadi dulu itu (sebelum memutuskan kuliah lagi) hari-hari aku banyak diisi dengan pelayanan di gereja. Namun kemudian aku berpikir perlu menambah ilmu tentang teologia Kristen agar pelayanan menjadi lebih baik lagi. Makanya muncul ide untuk kuliah lagi,” jelasnya. Nyatanya, lanjut Melva, memang tidak mudah untuk orang seusianya belajar kembali. Sebagaimana umumnya orang kuliah maka banyak buku yang wajib dia baca, bikin paper, mengerjakan tugas-tugas lain. “Mungkin karena sudah tua, jadi pikiran agak ‘lemot’ ya hahahha. Tapi yang paling berat bagi aku adalah pelajaran bahasa Ibrani dan bahasa Yunani. Itu adalah pelajaran utama dan wajib. Semua mahasiswa teologia wajib menguasai bahasa Ibrani dan Yunani. Itu susahnya minta ampun. Beratnya karena alfabet Ibrani itu bukan tulisan latin sebagaimana yang kita tahu,” tuturnya. Untungnya banyak teman-temannya di kampus membantu.”Terus terang selama kuliah banyak teman membantu. Khususnya untuk pelajaran bahasa itu. Puji Tuhan akhirnya bisa lulus dua mata pelajaran itu meskipun dengan nilai pas-pasan,” katanya lagi sambil tertawa. “Kecuali dua mata kuliah itu, pelajaran lain relatif lebih mudah dikuasai,” tambahnya. DARI KOTA KE KOTA Tahun lalu, katanya, adalah tahun yang luar biasa dalam hidupnya. Ia

berhasil menyelesaikan pendidikannya dan meraih gelar Sarjana Teologia. “Aku luar biasa senangnya. Karena dulu tak terpikir untuk bisa menjadi sarjana. Itulah pencapaian tertinggi aku dalam bidang pendidikan. Berkat Tuhan lah aku bisa menyelesaikannya selama lima tahun. Sekaligus juga aku membuktikan diri bahwa sekalipun usia sudah tidak muda lagi, asalkan punya kemauan dan kerja keras—tentunya karena Tuhan—pasti akan berhasil,” kata Melva yang mengaku semakin bersemangat menjalani aktivitas pelayanan gerejanya. Saat ini lanjutnya, hari-harinya sudah tidak terasa ‘kosong’ lagi. Karena dia telah memiliki jadwal yang padat untuk kegiatan pelayanan. Mulai dari kegiatan pelayanan di gereja, menjadi guru di SMP Yayasan Sinar Kasih hingga pelayanan ke penjara wanita di Tangerang yang dilakukannya dua kali dalam seminggu. “Kini hari-hariku padat dengan kegiatan. Aku ngajar di sekolah gratis Yayasan Sinar Kasih, juga rutin melakukan pelayanan di penjara wanita Kelas II A Tangerang. Sesekali aku juga melakukan pelayanan ke daerah,” ucap Melva yang mengaku merasa sukacita meskipun lelah. “Cukup melelahkan ya tapi bukan karena pelayanannya melainkan karena tempat-tempat pelayanan itu cukup jauh dari rumah. Aku tinggal di Depok, sementara untuk mengajar aku harus ke Bogor. Sedang penjara wanita itu letaknya di Tangerang. Jadi dari kota ke kota ya hahah,” tuturnya sambil berseloroh. (Diana Runtu)

Hargai dengan Aplikasikan Ilmu Pengetahuan Setiap orang berhak memberikan penghargaan terhadap kan untuk memberi penghargaan terhadap pencapaiannya dirinya sendiri atas pencapaian yang telah diraih. Penghargaan itu, dirinya lebih memilih untuk mengaplikasikan ilmu pengetersebut tentu diberikan dengan tujuan memotivasi diri untuk tahuan yang telah ia dapat untuk kehidupan di masyarakat. terus meraih pencapaian-pencapaian yang lebih baik. peng- “Penghargaannya lebih kepada pengaplikasian dalam hargaan terhadap diri sendiri dapat dilakukan atas pencapaian bentuk melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai brahyang paling sederhana macarya, yaitu memhingga yang luar biasa. pelajari pengetahuan Masing-masing orang tidak hanya duniawi juga memiliki cara tetapi juga rohani dan sendiri untuk memberharap dapat berberi penghargaan kepengaruh dalam mepada diri sendiri. nyebarluaskan pengeSalah satunya Gatahuan agama Hindu,” nies Esa Manura, maungkapnya. hasiswa Jurusan Ilmu Ganies sebelumKomunikasi STAH nya memiliki motiNegeri Mpu Kuturan vasi yang kuat dalam Singaraja. Sebagai mengikuti lomba, seorang mahasiswa, sebab dharma waungkap Ganies kewacana berkaitan denjiban utama adalah began publik speaking lajar serta mengabdi dan menjadi speaker kepada masayarakat. adalah hobi dan poDengan ketekunannya tensi yang ia sadari belajar, Ganies diperdalam dirinya. Secaya mewakili kamlain itu, dirinya sanGanies Esa Manura pusnya dalam lomba gat tertarik dengan dharma wacana tingkat nasional. Ini merupakan pencapaian materi-materi yang disampaikan dalam dharma wacana. yang luar biasa bagi pria yang akrab disapa Ganies tersebut. Semua materi berkaitan dengan agama sehingga ia yakin Pertama kali mewakili lembaga, ia pun mampu menorehkan hal tersebut akan membawa manfaat bagi orang banyak. prestasi dengan meraih juara I dalam lomba tersebut. “Kalau Materi yang diangkat pun disesuaikan dengan kondisi sosial lomba untuk mewakili kampus ini pertama kali, sebelumnya teraktual berlandaskan kitab suci Weda dan bukan spekulasi di SMA dulu beberapa kali pernah ikut lomba,” jelasnya. sehingga dapat diaplikasikan dalam kehidupan. “Sadar akan Pencapaian luar biasa tersebut, tak lantas membuat pria potensi tersebut saya terus belajar, berusaha dan berdoa,” kelahiran Banyuwangi 19 tahun silam itu berbesar hati. Bah- pungkasnya. (Wiwin Meliana)

Edisi 1042/ 29 JULi - 4 AGUSTUS 2019

Sosialita

3

Gung Gek Vita

Percaya “Sekala Niskala” Setelah sukses dengan album “Kedeng Menek Kedeng Tuwun” yang dirilis tahun lalu, Gung Gek Vita kembali hadir dengan single terbarunya. Single berjudul “Sekala Niskala” ini bertema religius. Peluncuran berbarengan dengan pengenalan akun youtube @Gunggek Vita Official, Rabu (17/7).

“K

ali ini saya mengeluarkan lagu yang bertema religi “Sekala Niskala” ciptaan Bli Gde Prana Jaya dengan aransemen musik Bli Dek Harta Pro dan video klip yang digarap Andy Duarsa. Tema lagu memang agak berbeda. Dulu lebih ke tema cinta sedangkan sekarang lebih ke nuansa kerohanian. Makna dari lagu “Sekala Niskala” berisikan kehidupan masyarakat pada umumnya untuk selalu ingat kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dimana kehidupan manusia dipercaya akan adanya sekala dan niskala,” ujar penyanyi bernama lengkap A.A. Ayu Advaita Jelantik ini. Single “Sekala Niskala” ini mengandung makna bahwa dalam kehidupan ini, umat harus percaya tentang kehidupan secara sekala dan niskala. Sehingga, dalam menjalani kehidupan, umat harus selalu mengingat, mendekatkan diri, dan selalu berdoa kepada Tuhan. Apalagi dalam Agama Hindu, secara niskala umat Hindu Bali percaya dengan adanya hukum karma phala dan yadnya. “Hidup di bumi ini kita akan selalu berdampingan antara benar dan salah. Di lagu ini ada kata jele melah ade hidup di sekala. Kita percaya akan adanya reinkarnasi adanya karma baik atau buruk dimasa lalu. Jika kita selalu berbakti dan rajin menghaturkan sembah bakti niscaya setiap kehidupan yang kita jalani dapat berjalan dengan damai seperti kata-kata terakhir dari lirik lagu ini …om santih.santih..santih om,” ujar Gung Gek Vita. Istri dari I Gusti Ngurah Agung Satria Wibawa ini menuturkan proses perjalanan lagu religi ini sangat berkesan. Semua berkat

kerjasama dan dukungan tim. “Saya mendapat tantangan dari pembuatan lagunya. Dari mencari orang yang bisa mekidung agar ada nuansa Balinya sampai pembuatan video klipnya. Sangat menantang dan mengharukan. Cuaca yang mendung dan gerimis ditambah embun yang tebal menjadikan nuansa alam yang. Kesannya sangat spesial dan perjuangan kami dalam penggarapan klip untuk mencari spot terindah juga penuh tantangan. Kami rela mendaki gunung melewati lembah. Benar-benar banyak pengalaman dari lagu ini dan sangat berkesan,” ungkap Gung Gek Vita. Ia pun berharap semoga lagu ini dapat diterima masyarakat dimana pun berada. “Mari terus mendukung musisi Bali agar tetap bisa semangat dan terus tetap berkarya. Saya juga mohon dukungannya untuk klik link youtube channel saya. Nanti akan saya share di facebook dan instagram juga untuk tahu perkembangan dari saya. Saya sudah ada youtube channel juga. Ingat untuk subscribe, like, comment dan share ya,” pintanya. Di album sebelumnya yang berjudul “Kedeng Menek Kedeng Tuwun” (KMKT) berformat video karaoke. Ada sembilan lagu yakni “KMKT”, “Suntik Formalin”, “Muani Egois”, “Lempuyengan”, “Sinyal Kenceng”, “Beli Jonson”, “Numitis Pang Siu”, “Desah Rayuan” dan “Kilangan Kedis”. Gung Gek Vita mulai mengawali ketertarikannya pada dunia musik sejak masih umur 7 tahun dan sempat mengikuti kursus vokal di sanggar Eka Mahardika Putra, hingga menjajal berbagai lomba menyanyi di radio-radio. Kini di tengah kesibukan sebagai ibu rumah tangga, perempuan asal Karangasem ini berkesempatan menjalankan hobi menyanyi sekaligus mengembangkan kiprahnya di dunia rekaman lagu pop Bali. Semua itu tak lepas dari dukungan sang suami. --wah


2

ESPRESSO GORO-GORO BK (5)

Di tempat tidur Bu Amat mengecam suaminya. “Baik itu memang baik. Tapi Putu Wijaya terlalu baik itu tidak baik, Pak. Apa saja yang terlalu itu jelek! Tidak mendidik! itu sebabnya kenapa kata terlalu itu diciptakan! Jangan suka over acting, Pak! Pak Made itu, tambah merajalela kalau Bapak terlalu baik. Dia pikir kita takut” Amat tak menjawab sepatah pun. “Bapak memainkan ungkapan diam adalah emas,” kata Amat menceritakan kejadian itu pada Ami. “Kalau kereta Shinkansen, kereta cepat di jepang, lewat, tak

Qemar Hamalik (1990: 95) menjelaskan emosi sebenarnya sangat kabur dan inklusif sehingga beberapa psikolog tidak mau menggunakannya. Emosi dirumuskan sebagai keadaan bergolak, gejolak atau guncangan di dalam organisme. Emosi dapat berupa kebencian dan teror yang berakhir pada perkelahian. Emosi juga dapat berupa kasih sayang dan perhatian, cinta dan ambisi. Emosi dapat pula dirumuskan sebagai keadaan perasaan atau pengalaman afektif yang mengiringi suasana bergejolak dalam organisme. Implikasinya adalah bahwa anak harus ditolong untuk dapat mengontrol emosinya agar berkembang ke arah hal-hal yang positif dan konstruktif. Sekalipun kata “kematangan” (mature) berarti perkembangan yang penuh, pengertiannya secara psikologis bersifat fleksibel. Dalam pengertian psikologis, seorang anak dikatakan matang apabila ia telah mencapai perkembangan yang khas bagi usianya. Anak usia 4 tahun yang memperlihatkan sikap keras kepala satu kali saja dalam 3 atau 4 minggu, dapat dianggap telah matang. Seorang remaja yang segera sembuh dari perasaan patah hati adalah matang untuk usianya. Jadi, pengertian kematangan di sini bukanlah sesuatu yang mutlak, melainkan suatu proses yang relatif. Masalah yang dihadapi orang tuaorang tua dan para pendidik adalah

bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

peduli salah atau benar, kita harus minggir. Mengalah tak berarti kalah. Tapi hanya menunda menang! Itu teori taichi. Kalau dipukul, jangan melawan, terima baik saja serangan itu, malahan ikut bantu agar itu bisa menggebrak lebih dahsyat. Tetapi diam-diam, belokkan arahnya ke target lain, bahkan jangan ragu-ragu balikkan serangan itu ke kandangnya sendiri?” “Dan hasilnya?” “Dan hasilnya...” “Bapak digebrak dobel oleh Pak Made dan ibu!” “Salah! Dan hasilnya, pagipagi buta ibumu sudah ke dapur, untuk bikin jajanan pasar, sumping, nagasari, pisang rai, untuk dibawa menengok Bu Made yang semalam konon trambositnya turun gara-gara ibumu berteriak: Bung Karnoooo!” Ami heran.

“O,ya? Masak ibu malah bikinin Bu Made pisang rai ?!” “Ya! Itulah ibu kamu. Seperti kata Bung Kar (so)no, musuh itu sparring partner, jadi tak cukup hanya minta maaf, apalagi pada tetangga bersebelahan dinding, tak cukup hanya dengan ucapan. Maaf harus ada bukti konkrit, kata ibumu yang kemudian memaksa Bapak mendampinginya mengantarkan pisang rai itu untuk Bu Made yang kena DB. Padahal sejatinya bukan DB tapi hanya telat minum kopi, plus...” “Plus apa?” “Plus Bapak terpaksa menjelaskan lagi kepada Bu Made kenapa kami ujug-ujug datang membawa pisang rai. Dan... “ “Dan apa?” “Dan itu berarti Bapak juga tepaksa sekali lagi mengulangi pekerjaan yang paling bikin hati

EDISI 1042/ 29 JULI - 4 AGUSTUS 2019

keki!” “Pekerjaan apa?” “ Ya itulah! Bapak yang sedikit pun tak salah harus minta maaf lagi pada Pak Made yang nampak suci padahal pembohong, suka jahil, ngadu domba, memfitnah, menghalalkan segala cara, hoax, karena mau menang sendiri, padahal jelas salah! Mbok terus-terang saja kalau mau minta dibikinkan pisang rai, ya minta saja, kita kan tetangga, masak kami tega menolak! Pakai ngakungaku istri DB segala!” Ami ketawa. “Itu namanya lihai, Pak! Kan politikus!” “Pakai ngaku-ngaku istrinya DB segala lah, ya akhirnya DB betulan sekarang!” Ami terkejut. “Ah! Jadi betul DB?” “Tadi ada kabar hasil pemeriksaan darahnya positif DB!” Ami kaget. “Bapak dan ibu kamu langsung nengok ke RSU, gotong-royong,

Memahami Kematangan Emosi dan Kecerdasan Emosi Anak

menetapkan tujuan-tuiuan tentang kematangan emosi dan berusaha agar tujuan-tuiuan tersebut dapat dicapai. Beberapa kriteria yang dapat dijadikan tujuan kematangan emosi adalah sebagai berikut: 1. Mampu menahan emosi yang negatif atau dapat menyatakan secara tidak langsung. 2. Membina dan mengembangkan emosi yang positif. Ini dapat dilakukan dengan memberikan pengalaman-pengalaman yang berhasil. 3. Mengembangkan toleransi yang tinggi terhadap situasi-situasi atau hal-hal yang tidak berkenan di hati. 4. Memperoleh kepuasan sosial yang terus bertambah karena tindakan yang sesuai dengan masyarakat. 5. Kebabasan dalam bertindak yang terus bertambah. 6. Kemampuan untuk melakukan pilihan. 7.Bebas dari rasa takut yang beralasan (tak masuk akal). 8. Bertindak sesuai dengan batas-batas kemampuan. 9. Berani berbuat salah tanpa ada perasaan tidak akan dihormati. 10. Sadar akan kemampuan dan prestasi orang lain. 11.Mampu meraih kemenangan secara terhormat. 12. Mampu bangkit kembali setelah mengalami pengalaman yang tidak menyenangkan atau kegagalan. 13.Mampu menangguhkan pemuasan dorongan-dorongan yang bersifat jasmaniah. 14. Kemampuan untuk bersifat terbuka

I Gusti Ayu Suasthi dan menerima keterbukaan dalam hubungan inter personal. 15. Merasa senang dengan kehidupan sehari-hari. Latihan-latihan yang berhubungan dengan mental, emosional, spiritual, dan kegiatan-kegiatan fisik adalah kegiatan yang membawa kepada kepuasan sehari-hari. Dari 15 kreteria kematangan emosi di atas dapat memberikan gambaran bahwa para remaja yang dapat menjalankan 50 % dari kreteria tersebut menunjukkan bahwa mereka sudah memiliki kecerdasan Emosi (EQ). Kecerdasan Emosi merupakan faktor yang paling mempengaruhi keberhasilan dan kesuksesan seseorang.

KECERDASAN EMOSI Kecerdasan emosi adalah kemampuan untuk mengenal perasaan diri sendiri dan perasaan orang lain, dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungannya dengan orang lain. Daniel Goleman (1999:5 12), dengan riset kecerdasan emosi mencakup kemampuan-kemampuan yang berbeda, tetap saling melengkapi, dengan kecerdasan akademik (Academic Intelligence) yaitu kemampuan-kemampuan kognitif murni yang diukur dengan IQ. Meskipun IQ tinggi, tetapi bila kecerdasan emosi rendah tidak banyak membantu. Banyak orang cerdas dalam arti terpelajar, tetapi dengan kecerdasan emosi rendah tetapi unggul dalam keterampilan kecerdasan emosi. menjadi bawahan dan orang yang IQ nya rendah tetapi unggul dalarn keterampilan kecerdasan emosi. Parameter kerangka kerja kecerdasan emosi oleh Daniel Goleman (Agus, 2002) terdiri dari lima kategori utama, Kesadaran diri, Pengaturan diri, Motivasi, Empati,

ngasih sumbangat duit sedikit, meskipun itu tadinya untuk beli beras. Jadi sekarang Bapak terpaksa datang merongrong kamu, pinjami dulu berapa begitu untuk makan saja. Besok rumah gadainya sudah buka lagi, nanti sepeda ontelnya Bapak gadaikan dulu.”. Ami cepat masuk, lalu kembali membawa dua lembar ratusan ribu. “Ini dulu. Nanti kalau Bli Sugi datang tak anterin tambahannya. Bapak cepet pulang supaya ibu bisa masak. Ini cukup?” Amat menjawab lemah. “Cukup tak cukup harus dicukup-cukupkan. Soalnya...” “Soalnya apa?” “Waktu pulang dari nengok Bu Made, ternyata di rumah ada Bung Kar(so)no. Dia minta ongkos pulang ke Jawa, kasihan kakinya dibebat.” “Lho kenapa?” “Katanya, malam itu, karena dia takut telat nonton Koetkoebi, dia lari, lalu digigit anjing.”

dan Keterampilan sosial. Banyak anak yang datang ke sekolah dengan emosi yang tidak baik, misaInya lekas marah, mudah tersinggung. Hal ini mungkin disebabkan oleh (1) sakit kepala karena penglihatannya mengalami gangguan, (2) kurang tidur atau lapar, (3) ada ketegangan dengan orang tuanya, (4) ada ketidakseimbangan kelenjar-kelenjar, atau (5) kondisi sekolah sendiri yang kaku dan terlalu banyak tuntutan kepada anak. Emosi yang positif dan konstruktif bersumber pada (1) adanya perhatian yang cukup dari orang tua atau guru dan orang dewasa lainnya; (2) anak mendapat rasa kasih sayang. baik dari orang tua ataupun dari guru; (3) suasana yang penuh persaudaraan dan persahabatan; (4) penghormatan terhadap individualitas masing-masing pribadi anak; (5) suasana yang humoristis; (6) keterbukaan dari orang tuaorang tua atau guru vang mau menerima dan mengerti kesulitankesulitan anak. I Gusti Ayu Suasthi Dosen Psikologi Agama FPAS UNHI Denpasar

KATA HATI: Rubrik ini khusus untuk menuangkan ide/pemikiran/gagasan dalam bentuk tulisan. Tema terkait wanita dan keluarga serta tidak mengandung unsur SARA. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter. Lampirkan juga foto close up (bukan pasfoto). Cantumkan nama lengkap, profesi, nomor hp, dan alamat email. Naskah dikirim ke redaksi@cybertokoh.com, redaksitokoh@yahoo.com.

Penanggung Jawab/Pemimpin Redaksi: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Iklan Denpasar: IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti. Buleleng: Wiwin Meliana. Jakarta: Diana Runtu. NTB: Naniek Dwi Surahmi. Desain Grafis: ­I Made Ary ­S upratman. Manajer Sirkulasi dan Iklan: I Ketut Budiarta, Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama, Hariyono, Ayu Wika Yuliani. Se­kretariat: Ayu ­Agustini, Putu Agus Mariantara. Ombudsman: Jimmy Silalahi. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­merah ­Barat 21 G Jakarta Pusat 10270–Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257. Surat Elektronik: info@cybertokoh.com, redaksi@cybertokoh.com, iklan@cybertokoh.com. Bank: BRI ­Cabang ­Gajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

EDISI 1042/ 29 JULI - 4 AGUSTUS 2019

SUDUT PANDANG

15

Tetap Rendah Hati saat Raih Kemenangan Menurut teori Maslow, setiap orang memiliki kebutuhan-kebutuhan psikologis antara lain kebutuhan penghargaan diri dan kebutuhan aktualisasi diri. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut setiap orang akan termotivasi untuk mencapai tujuannya. Hasil yang tentu diharapkan adalah kemenangan, kesuksesan.

M

enurut psikolog Nyoman Wiraadi Tria Ariani, M.Psi., semua orang tentu menginginkan kemenangan seperti kemenangan dalam berkarier, berkarya, dalam pertandingan, bahkan dalam perlombaan-perlombaan kecil sampai adu argumen pun kita ingin menang. Lalu bagaimana cara kita menyikapi kemenangan tersebut? “Cara menyikapi kemenangan adalah dengan kita bertanggung jawab. Buktikanlah kepada orang lain, kita layak dan pantas mendapatkan kemenangan. Buktikanlah dengan bertanggungjawab mengupayakan yang terbaik dan bertindak sebaikbaiknya,” kata Tria. Ia menyarankan, setelah memperoleh kemenangan sebaiknya kita tetap rendah hati, jangan jumawa, menyombongkan diri ke semua orang. “Ketika kita

dihadapkan dengan kemenangan, sebenarnya diri kita seperti sedang “dites” apakah kita layak dan berkualitas untuk kemenangan tersebut. Untuk itu, kita harus rendah hati,” sarannya. Ia menambahkan, dengan memaknai kemenangan tersebut tentu kita dapat melakoninya dengan mencurahkan kemampuan seoptimal mungkin dan bersikap terhormat yakni menghargai serta merangkul pihak yang merasakan kalah. Menurutnya, perayaan kemenangan dengan pesta agar membuat hati bahagia boleh saja dilakukan, namun perlu dipertimbangkan apakah pesta tersebut diperlukan? Apakah tidak merugikan orang lain dan apakah tidak membuang-buang waktu, tenaga, biaya. “Jikapun pesta dilakukan agar membuat hati bahagia, apakah kemenangan saja tidak cukup membuat bahagia? Apa perlu ada

Jangan “Terlena” Kemasan Plastik Keberhasilan pelaksanaan pembangunan ekonomi berkelanjutan dan ramah lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, namun semua pihak termasuk pelaku usaha dan masyarakat. Demikian disampaikan Ketua Dekranasda Provinsi Bali Ny. Putri Suastini Koster saat memberi sambutan sekaligus sebagai narasumber pada acara Circular Revolution dengan tema “Sampah Kemasan di Lautan Bali” yang digagas Business and Export Development Organization (BEDO) di Hotel Alila, Seminyak, Kuta, Senin (22/7). Menurutnya masyarakat saat ini terlena dengan kemudahan penggunaan plastik sekali pakai. Ia mencontohkan, dahulu para kaum ibu ke pasar terbiasa membawa tas belanja sendiri, namun sejak muncul kantong plastik, mereka justru membawa pulang bahan belanjaan dengan terbungkus dalam beragam kantong plastik. Ketua BEDO Dwi Iskandar mengatakan, sebagai pengusaha merasa ikut memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan dan sosial sesuai visi misi BEDO yang tidak hanya berhasil di bisnis, namun memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Ketua Panitia Circular Revolution Rahmi Fajar Harini mengajak semua lini usaha, anggota, partner BEDO yang tidak hanya lini usaha fashion tapi juga lini usaha lain untuk bisa saling belajar, saling menginspirasi satu sama lain mengenai praktek circular economy. (Wirati Astiti)

perayaan lagi?” ujarnya. Ia berpandangan, hendaknya pesta, perayaan, selebrasi sepatutnya saja, sebagai sarana pendukung saja, bukan sebagai esensi dari suatu kemenangan. Nirmala, salah satu yang mencoba mengungkapkan kemenangan yang diraihnya. Saat ini, ia lolos untuk penerima beasiswa melanjutkan studi SMA di Singapura. Tentu saja, hal itu membuatnya gembira. Namun, kemenangan itu ia sikapi dengan biasa saja, karena ia yakin, ke depan, tentu perjuangan lebih berat. “Ada rasa bahagia karena hasil kerja keras belajar membuahkan hasil. Walaupun merasa gembira, tak ada pesta perayaan. Kemenangan ini saya sikapi dengan bersyukur dan tidak mau sombong, karena ke depan, saya harus lebih giat belajar agar studi saya berhasil,” ujarnya. (Wirati Astiti)

Nyoman Wiraadi Tria Ariani

Hsen Chii


16

Edisi 1042/ 29 JULi - 4 AGUSTUS 2019

Kolaborasi Hebat Trio Srikandi Melalui Tembang “Galungan lan Kuningan” Budha Kliwon Wuku Dungulan Semeton Hindu sami nyanggra ­Galungan Pinaka cihna pemargin Dharma Jaya ngasorang pe­margin Adharma Dasa dina sesampun Galungan Semeton Hindu mangkin sami nyanggra Kuningan Ngaturang sembah pangubakti Majeng ring Ida Sang Hyang Widhi Lugrayang titiang ngaturang Rahajeng Galungan lan Kuningan ­ Tincapang seradha tur bhakti Ulati antuk mulat sarira Dumogi shanti semeton sareng sami Mokshartam Jagathita ya cha iti dharma

I

tulah lirik single berjudul ‘Galungan lan Kuningan’ yang dilantunkan dengan merdu oleh Trio Srikandi Bali yakni Putri Suastini Koster (istri Gubernur Bali yang juga seorang seniman ), Galuh Bilen (pengusaha dan seniman) dan Luh Gede Herryani (notaris dan pengusaha). Tembang nan indah ini diciptakan oleh I Komang Wawan

Ratmadi alias Oyok Sbr, dan diarasemen oleh Dek Artha. Memang indah, karena diawali dengan alunan kidung dan menjadi semakin menawan ketika terdengar pula iringan suling, gamelan, musik modern, gitar. Semua disempurnakan dalam video klip yang digarap Adi Siput dengan lokasi syuting di Tirta Empul dan dilengkapi pula gemulainya para penari Bali.

Meski belum lama diliris, kolaborasi karya seni berbentuk tembang “Galungan lan Kuningan” ini menjadi perhatian publik dan viral di media sosial, mengingat pelantunnya adalah perpaduan yang unik, tiga sosok perempuan istimewa dengan tiga karakter mereka dari berbagai unsur. Banyak diantara mereka yang berharap akan ada lagi kejutan lainnya dari Trio Srikandi Bali ini sekaligus untuk menambah semaraknya Lagu Pop Bali. Putri Suastini adalah istri dari orang nomor satu di Provinsi Bali. Selain itu perannya di dunia seni sudah tak diragukan lagi dan terus dilakoninya hingga kini. Bahkan di berbagai kesempatan ia sukses menampilkan kepiawaiannya dalam berpuisi, menyanyi dan menari. Begitu juga Galuh Bilen, yang tercatat sebagai seorang pengusaha dan artis ternama Bali. Sebagai pelaku seni Galuh sudah banyak tampil baik di seni musik maupun seni peran, yang semua pernah dijajalnya. Sementara Luh Gede Herryani adalah seorang notaris dan juga pengusaha yang mencintai seni dan budaya Bali. Menurut Luh Gede Herryani , keterlibatannya dalam projek seni perdana ini adalah atas ajakan sahabatnya Galuh Bilen.

Nah, menjadi istimewa karena Galuh Bilen juga berhasil mengajak Bunda Putri Suastini Koster. Kesediaan Bunda Putri, kata Luh De menjadikan energi

dan taksu pada tembang ini semakin klop, selain menandakan sikap istri Gubernur yang mengayomi masyarakatnya. Begitulah cinta budaya Bali berhasil dituangkan dalam tembang “Galungan lan Kuningan”. Tembang religi yang menggambarkan kegembiraan sekaligus mengajak masyarakat introspeksi diri. Sedangkan unsur budaya juga kuat ditampilkan saat syuting, melalui busana adat modifikasi yang dikenakan oleh personil Trio Srikandi Bali ini. Di ujung pertemun Luh gede Herryani tak lupa mengucapkan “Rahajeng Galungan lan Kuningan. Mogi-mogi Sangkaning Paswecan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Irage Praside Nemo­ning Kerahayuan”. -ard

redaksi@cybertokoh.com, iklan@cybertokoh.com

cybertokoh

@cybertokoh

@cybertokoh

www.cybertokoh.com


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
tokoh-1042 by e-Paper KMB - Issuu