16 - 22 Juni 2014
24
Stand Mini Omzet Maksi Wajah Ni Made Supadmi dan suaminya, Made Adi Gede, tampak sumringah. Ini adalah pertama kalinya mereka tampil di Jakarta Fair, Kemayoran, Jakarta. Baru sepekan berpameran, aneka kerajinan Bali yang mereka bawa hampir semuanya terjual. Rasanya perjalanan mereka jauh-jauh dari Kabupaten Gianyar, Bali menuju Jakarta, menjadi tidak sia-sia karena sambutÂan pengÂunjung yang kebanyakan datang dari sejumlah wilayah di Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi) begitu hangat.
L
etak stand Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Gianyar, di Hal B Jakarta Fair, Kemayoran, sepertinya kurang strategis, berhimpit-himpit dengan stand-stand kecil lainnya. Belum lagi penataannya, yang agak semrawut. Stand itu ukurannya sangat kecil, hanya 2 x 2 M, sementara kerajinan beraneka yang dipajang di sana, begitu banyaknya. Stand âminiâ itu bukan hanya berisi kerajinan SupadmiAdi, tapi juga UKM lainnya. Seperti kata pepatah, ârezeki tidak lari ke manaâ, pengunjung Jakarta Fair yang membludak mengalir juga sampai ke stand Supadmi-Adi. âKerajinan yang kami bawa kebanyakan adalah patung-patung, seperti topengtopeng kayu itu (sambil menunjuk topeng-topeng kerajinan Bali yang ditempel di dinding). Tapi keÂbanyakan sudah habis terjual hanya tinggal itu sisanya,â ungkap Adi. Supadmi dan suaminya merasa beruntung kali ini diberi kesempatan oleh Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Gianyar untuk memamerkan kerajinannya di arena Jakarta Fair kali ini. Namun kesempatan ini hanya diberikan selama sepuluh hari, setelah itu
diganti dengan kelompok UKM dari kecamatan lainnya di Gia nyar. âMeski hanya sebentar, ini memuaskan. Selain gratis menggunakan stand juga penjualan cukup maksimal,â kata Adi yang puluhan tahun bergelut di bisnis kerajinan Bali. Hasil menggembirakan ini seolah menjadi âoaseâ bagi pemilik toko kerajinan âPucuk Bang Mekarâ ini. Menurut mereka, penjualan kerajinan Bali khususnya bagi pelaku bisnis seperti mereka, mengalami penurunan yang cukup signifikan. Hal ini dikarenakan munculnya sentra-sentra penjualan kerajinan yang dikelola pihak tertentu, dan ini sangat berpengaruh para pengrajin kecil seperti dirinya. âBanyak pengrajin kecil seperti kami menjerit karena penjualan makin anjlok bahkan bisa sampai 50%. Sekarang para wisatawan yang datang ke Bali, kebanyakan di arahkan datang ke sentra-sentra itu,â keluh Adi. Akibat lesunya bisnis kerajinan, akhirnya ia pun terpaksa nyambi menjadi kontraktor bangunan. Tinggal sang istri saja yang meneruskan bisnis kerajinan mereka yang memang telah puluhan tahun ditekuni. âSaya membantu kalau ada eventevent besar saja seperti sekarang,â
Made Adi dan istrinya, Ni Made Supadmi
tambah Adi. Untuk tampil di Jakarta Fair, menurut Supadmi, mereka mempersiapkannya secara khusus, termasuk aneka kerajinan yang disiapkan. âJadi ini semua barangbarang baru, khusus untuk Jakarta Fair,â ucap Supadmi yang menjual aneka patung miliknya de ngan harga berkisar dari Rp 200 ribu hingga Rp 400 ribu. âSaya senang, patungpatung ini laris. Pembelinya pengunjung lokal,â kata Supadmi yang mengaku membawa satu truk kerajinan untuk dipamerkan di Jakarta Fair.
telah puluhan tahun bergelut di bidang ini, dan telah mengalami pasang-surut bisnis tersebut, mentalnya telah teruji untuk tetap survive. Ia berusaha maju, mencari dan membuka peluang demi perkembangan bisnisnya. Jakarta
ke Smesco tapi produk baru. Sekarang belum datang,â ungkap Supadmi. Sebelum ini, ia juga mengikuti pameran kerajinan di Monas, hasilnya pun memuaskan. âSaya bawa banyak perajinan pernak-pernik, dan itu ludes dalam tempo singkat. Banyak yang tanya, tapi sudah habis,â ucapnya. Supadmi-Adi adalah potret UKM yang gigih berjuang di te ngah persaingan tajam di bisnis kerajinan. Di arena Hall B yang memang diperuntukkan bagi para UKM dari daerah-daerah, ada banyak UKM seperti Supadmi. Mereka berjuang untuk menÂdapatkan pasar lebih baik di Jakarta. Event Jakarta Fair adalah salah satunya. Event akbar ini memang sangat menjanjikan, khususnya bagi para UKM, mengingat pengunjungnya mencapai jutaan orang.Tahun 2013 lalu, jumlah pengunjung mencapai 4,8 juta dengan nilai transaksi Rp 4,5 trilun. Pihak penyelenggara berharap, jumlah pengunjung ta-
PASAR JAKARTA MENJANJIKAN Meski penjualan kerajinan di Bali menurun tajam, namun Supadmi tidak berputus asa. Apalagi bisnis kerajinan sudah ditekuninya lama, sejak sebelum menikah. Sebagai pebisnis yang
Stan Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Gianyar ramai pembeli
adalah pasar yang potensial untuk penjualan aneka kerajinan Bali produknya. Tak heran kalau akhir-akhir ini Supadmi menjadi rajin berpameran ke Jakarta. Bulan Juni ini saja, selain Jakarta Fair, Supadmi sudah mengagendakan tampil di Smesco Festival yang akan berlangsung di Jakarta Convention Center, kawasan Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, 19-22 Juni mendatang. Ini adalah salah satu pameran kerajinan terbesar di Indonesia. Pesertanya pun selain dari UKM dalam negeri juga dari luar negeri. Karenanya para pengrajin Indonesia pun membuat persiapan khusus, sebab akan banyak pembeli mancanegara datang. âUntuk Smesco nanti, kami juga mempersiapkannya secara khusus. Kami diminta menampilkan kerajinan patung, wayang, dll. Jadi bukan barang-barang di sini (Jakarta Fair) yang akan dibawa
hun ini akan meningÂkat menjadi 5 juta orang dengan nilai transaksi Rp 5 trilun. Pentingnya memberi support pada UKM Indonesia untuk terus maju juga disadari oleh pengelola Jakarta Fair. Karenanya pada tahun ini, peluang UKM untuk berpartisipasi dibuka seluas-luasnya. Kalau sebelumnya jumlah UKM yang berpartisipasi tak terlalu banyak. Pemda DKI Jakarta tahun lalu sempat âmenyempritâ PT JIExpo sebagai penyelenggara Pekan Raya Jakarta (sekarang Jakarta Fair) gara-gara tingkat partisipasi UKM yang dinilai rendah. Karenya, tahun ini para pengusaha kecil boleh tersenyum. Tahun ini porsi UKM ditambah dengan perbandingan 60% swasta dan 40% UKM. Secara total, Jakarta Fair yang berlangsung dari 6 Juni hingga 6 Juli ini, diikuti oleh 2.650 perusahaan peserta dan 1.300 stan pameran. âDiana Runtu