Issuu on Google+

Bali Post 14 | 2 - 8 Desember 2013

Cukup Bukti, Kenapa Takut?

RP 20.000


DAFTAR ISI KILAS BERITA lDanau Tercantik di Dunia 6 LAPORAN UTAMA lUngkap Korupsi di Bali Cukup Bukti, Kenapa Takut? 8 lJangan Ada Pembiaran 9 lSebelum Ditahan Titib Tertipu 10 POLITIK lMenggugat Peraturan Peraga Kampanye 12 lTransparasi Politik Lewat Rekening Kampanye13 LINGKUNGAN lMempersembahkan Beras Merah 14 OPINI l Korupsi Makin Jamak 16 JAJAK PENDAPAT l Parpol Abaikan Kaderisasi 17 PENDIDIKAN lBijaksana Kelola Plastik 18 MANCANEGARA lBentrokan di Mesir Bangkitkan Memori Kelam 20

lPemindahan Batang Uranium Penuh Risiko 21 DAERAH lPasar Mangkrak Kios Jadi Tempat Kos 22 KESEHATAN lNeuropati, Penyakit Saraf Akibat Kekurangan Vitamin B 24 LENSA l Daur Ulang 26 OLAHRAGA

KRIMINAL l Parkir Bandara Diguncang Korupsi Rp 28 Miliar 32 lHendak ke Uluwatu Malah Masuk Jurang 34 EKONOMI l Bisnis Mokas Kian Suram 36 PARIWISATA l Kintamani Luntur di Tangan Pengasong 38 l Dicoret dari Daftar ”Tour” 39 EVENT l Napak Tilas I Gusti Ngurah Rai 40 KULINER l Klepon yang Membuat ’’On’’ 42

TRADISI l Upacara ”Naur Palebuh” Ketulusan Mempersembahkan Sesuatu 44 lPertahankan ’’Krama Tri Datu’’ 46 GAYA HIDUP lGaun Pengantin dan Aplikasi ’’Handmade’’ 48 PROFESI lSpa, Gaya Hidup Modern 50

l Si Merak Pertontonkan Kemolekannya 28 lLayar Dicoret dari PON 2016 Bali Terancam 30

2 - 8 Desember 2013

3

3


DARI PEMBACA

Perlu Ekstra Hati-hati

K

epada yang terhormat bapak-bapak yang memegang kebijakan, tolong sebelum memberikan kebijakan para pemohon tanah negara, perlu ekstra hati-hati. Kalau salah mengambil kebijakan pasti tambah parah lagi karena masyarakat yang berkeinginan seperti itu masih banyak, apalagi tanah negara di daerah mana pun masih ada. Tolong jangan sampai salah, nanti itu sebagai pemicunya. Saya menginginkan Bali yang selalu nyaman aman dan selalu damai. Regen Pemuteran, Buleleng

Perintis K Nadha Pemimpin Umum ABG Satria Naradha Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab Wirata

Jujur kepada Rakyat

S

angat-sangat memalukan anggota Dewan magarang dana bansos, dana reses dan lain-lain, sing nawang lek teken masyarakate. Makane sebagai incumbent katakan sejujurnya pada rakyat, dana bansos dan reses ini dana pemerintah yang ditujukan pada masyarakat, DPRD dan eksekutif mengawal turunnya dana tersebut apa tepat sasaran atau tidak. Da ngaku-ngaku Dewan yang punya dana tersebut, zaman sekarang masyarakat sudah melek teken politik, jangan bohongi masyarakat. Sudi Bangli

Tilang Pengendara Bawah Umur

K

epada bapak polisi lalu lintas (Polantas) yang bertugas di seputaran Perumnas Monang Maning, saya mohon kepada bapak agar mengadakan tilang bagi pengendara sepeda motor yang masih di bawah umur. Terutama anak-anak SMP bahkan anak SD juga ada. Ini semua demi keselamatan si pengendara terlebih keselamatan orang lain. Sekali lagi saya mohon agar bapak lebih awal mencegahnya daripada sudah terjadi kecelakaan. Kalau perlu orang tua si pengendara yang ditilang. Bagas Jl. Imam Bonjol, Denpasar

Kemacetan Jam-jam Tertentu

T

epat di perempatan antara Jalan Tangkuban Perahu dengan Mertanadi dan Merta Agung pada jam-jam tertentu sangat macet. Bahkan kendaraan tak bisa bergerak sedikit pun, karena pengendara saling masuk dan tak ada yang mengalah. Jika sudah demikian semua akan terhambat, perjalanan yang dekat akan jadi lama karena macet. Saran saya sebagai pengguna jalan yang selalu melintasi jalan tersebut agar selalu ada petugas kepolisian dari pagi hingga sore hari, untuk mengatur lalu lintas. Karena kemacetan terjadi antara pukul 08.00 wita ketika berangkat kerja serta pukul 15.00 ketika pulang kerja. Mohon diatur agar tidak macet. Mank Toprax’s Denpasar

4

2 - 8 Desember 2013

Redaktur Pelaksana/Wakil Penanggung Jawab Alit Purnata Sekretaris Redaksi Sugiartha Redaksi Alit Susrini, Alit Sumertha, Daniel Fajry, Dira Arsana,Mawa, Sri Hartini, Suana, Sueca, Yudi Winanto Anggota Redaksi Denpasar Giriana Saputra, Oka Rusmini, Umbu Landu Paranggi, Subrata, Sumatika, Asmara Putra, Diah Dewi, Yudi Karnaedi, Wira Sanjiwani, Pramana Wijaya, Eka Adhiyasa, Dedy Sumartana, Parwata, Widana. Bangli: Ida Ayu Swasrina, Buleleng: Adnyana, Gianyar: Agung Dharmada, Karangasem: Budana, Klungkung: Bagiarta, Negara: IB Surya Dharma, Tabanan: Budi Wiryanto Jakarta Nikson, Hardianto, Ade Irawan NTB Agus Talino, Syamsudin Karim, Izzul Khairi, Raka Akriyani Surabaya Bambang Wiliarto Kantor Redaksi Jalan Kepundung 67 A Denpasar 80232. Telepon : (0361)225764, Facsimile: 227418, Alamat Surat: P.O.Box:3010 Denpasar 80001. Perwakilan Bali Post Jakarta, Bag.Iklan/Redaksi: Jl.Palmerah Barat 21F. Telp 021-5357602, Facsimile: 021-5357605 Jakarta Pusat. NTB: Jalam Bangau No. 15 Cakranegara Telp. (0370) 639543, Facsimile: (0370) 628257 Manajer Iklan: Suryanta, Manajer Sirkulasi: Budiarta, Alamat Bagian Iklan: Jl.Kepundung 67A, Denpasar 80232 Telp.: 225764, Facsimile : 227418 Senin s.d. Jumat 08.00-19.00, Sabtu 08.00-13.00, Minggu 08.00-19.00. Surat Izin Usaha Penerbitan Pers SK Menpen No. 005/SK/Menpen/SIUPP/A.7/1985 Tanggal 24 Oktober 1985, ISSN 0852-6515. Anggota SPS-SGP, Penerbit PT Bali Post. Rek. BCA KCU Hasanudin Denpasar AC: 0403070618 a/n PT. Bali Post. Rek. BRI Jl. Gajahmada Denpasar A/C: 00170 1000320 300 an Pt.Bali Post. Dicetak di Percetakan BP


KILAS BERITA

Danau Tercantik di Dunia

K

eindahan panorama lama yang dimiliki, membuat kawasan Ulun Danu Beratan, Baturiti, Tabanan banyak dikunjungi wisatawan. Bahkan, banyak diabadikan dalam postcard, lukisan, iklan/promosi dan lainnya. Tak berlebihan jika kawasan Danau Beratan ini dinyatakan sebagai danau tercantik di dunia. Sayang, kecantikannya kini terusik aktivitas speed boat yang ditengarai memicu pencemaran. l Budi Wiriyanto

MBP/udi

10 Dolar Per Wisman untuk ’’Heritage Protection’’ UNTUK perlindung-an adat dan budaya (heritage protection) Bali, mulai 2014 mendatang wisatawan mancanegara (wisman) yang berlibur ke Bali akan dikenai pungutan donasi 10 dolar AS. Kebijakan ini nantinya akan dituangkan dalam bentuk pergub (peraturan gubernur) ataupun perda (peraturan daerah) Provinsi Bali. l Widana

MBP/dok

6

2 - 8 Desember 2013

Sidang MK Rusuh

MBP/ade

INI baru pertama kalinya terjadi dalam sejarah hukum di Indonesia, sekaligus sebagai citra terburuk peradilan di Tanah Air. Sidang sengketa pilkada di Mahkamah Konstitusi (MK), Kamis (14/11), berakhir rusuh. Panel hakim yang sebelumnya menyidangkan sengkeda Pilkada Maluku, mendadak diserang massa. Hakim pun akhirnya menunda sidang dan memilih menyelamatkan diri karena dikejar massa. l Wandy Kelana

Arsip RPH Temesi Hilang PERBURUAN dokumen yang berhubungan dengan pengadaan tanah Rumah Potong Hewan (RPH) Temesi, Gianyar, yang dilakukan tim penyidik Kejari Gianyar tak berjalan mulus. Ini terjadi saat mereka menggeledah Kantor Camat Gianyar, Senin (18/11). Di tempat penyimpanan arsip di Kantor Camat Gianyar, tim penyidik Kejari dibuat tercengang dengan hilangnya arsip pelepasan hak tanah RPH tahun 2002. Padahal, arsip lainnya sejak tahun 1980 hingga tahun 2003 masih utuh. l Agung Dharmada

MBP/dar


LAPORAN UTAMA

Ungkap Korupsi di Bali

Cukup Bukti, Kenapa Takut?

S

iang itu langit tiba-tiba kelabu. Dan benar saja, hujan kemudian turun. Tak hanya turun membasahi dua mobil tahanan milik Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bali dan Polsek Denpasar Timur. Juga ‘’membasahi’’ Prof. Dr. I Made Titib, Ph.D. bersama empat koleganya yang harus naik ke mobil itu. Menuju rumah tahanan. Apa yang terjadi pada Senin, 18 November itu bermula dari 10 temuan penyimpangan di kampus IHDN Denpasar yang dibeberkan Kementrian Agama berdasarkan pemeriksaan BPKRI bulan Maret lalu. Penyimpangan itu terus bergulir hingga masuk ke meja penyidikan Kejaksaan Tinggi Bali. Hingga akhirnya, Pembantu Rektor II Dr. Praptini ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi pengadaan barang dan jasa tahun 2011 di IHDN Denpasar. Titib yang kala itu menjadi Rektor, bolak-balik diperiksa sebagai saksi. Tak ada tanda-tanda statusnya berubah seperti Praptini. Kejati Bali lantas membuat kejutan, Titib bersama pegawai IHDN Drs. I Nyoman Suweca dan dua orang rekanan Ni Putu Indera Maritin, S.T. dan Ir. I Wayan Sudiasa, resmi ditahan. Rupanya Titib sudah resmi menyandang status tersangka sejak Kamis, 14 November. Kejutan yang sama juga pernah dirasakan ketika Kepala Dinas Kebudayaan Bali, Ketut Suastika akhirnya ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan sound system di Art Center Denpasar. Jauh sebelum Suastika, Kejati Bali sudah menetapkan bawahannya, Kepala UPT Taman Budaya Ketut Mantaragandi sebagai tersangka. Bedanya, mereka lebih mujur karena masih menghirup udara bebas alias tidak ditahan. “Saya tidak bisa memastikan (penahanan, red), nunggu hasil penyidikan. Yang jelas kan kita ini tiap hari melaksanakan penyidikan. Mudah-mudahan, tinggal menunggu waktu saja,” ujar Kasi Penkum dan Humas Kejati Bali Ashari Kurniawan. Ia juga menegaskan,

8

2 - 8 Desember 2013

tidak ada prioritas dalam penanganan kasus. Hanya saja, penghitungan kerugian negara untuk kasus IHDN sudah lebih rampung ketimbang kasus lainnya. Alasan inilah yang memberanikan tim penyidik untuk segera menahan lima tersangka. “Kalau unsur kerugian negara belum ketemu, kami tidak berani langsung melakukan penahanan terhadap tersangka. Takutnya nanti sudah ditahan, penghitungan kerugian negara belum selesai, kan lewat waktu penahanannya,” jelas Ashari. Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Udayana Prof. Dr. I Ketut Rai Setiabudhi, S.H., M.S., menyadari betul, masyarakat pasti bertanya-tanya mengapa hanya tersangka kasus IHDN yang

ditahan. Sementara, kasus sound system yang lebih dulu muncul dan sudah ada tersangka tak kunjung ditahan. Menurutnya, penahanan lantaran khawatir si tersangka akan melarikan diri atau menghilangkan barang bukti itu sangat subjektif dari penyidik. “Kalau soal penahanan ada syaratnya, kalau memang penyidik menganggap khawatir melarikan diri, menghilangkan barang bukti, ya itu bisa ditahan. Artinya itu tergantung penyidik, karena ukuran kekhawatiran melarikan diri, menghilangkan barang bukti, dan lain-lain itu kan ukuran subjektif dari penyidik. Tapi kalau sudah cukup barang bukti mengapa takut?” jelasnya. l Rindra


Jangan Ada Pembiaran TAK hanya korupsi IHDN dan sound system yang harus diselesaikan Kejati Bali, masih banyak kasus korupsi di Bali yang perlu sentuhan ‘’tangan-tangan’’ bersih di Kejati Bali. Di antaranya kasus LED TV, penyimpangan pembangunan dermaga Gunaksa, SP-3 RSI Tabanan serta kasus lainnya yang melibatkan pejabat di wilayah ini. Selain itu, diharapkan Kejati tidak hanya berani dengan pejabat kecil-kecil saja. Kejati harus menunjukan bahwa aparat adyaksa itu tak gentar menghadapi pejabat atas yang terindikasi memuluskan tindak korupsi. Pernyataan menarik yang dilontarkan Humas Kejati Bali Ashari Kurniawan, akhir pekan lalu patut menjadi perhatian aparat penegak hukum di Kejaksaan

Tinggi Bali. Ia menyebutkan tersangka Suastika dan Mantaragandi yang terbelit kasus sound system merupakan tersangka level bawah yang baru disentuh Kejati. Itu artinya, ada tersangka baru yang akan dibidik Kejati Bali terkait dengan kasus sound system. Bahkan bisa jadi tersangkanya level atas yang merupakan atasan Ketut Sustika, Kadisbud Bali. Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Udayana Prof. Dr. I Ketut Rai Setiabudhi, S.H., M.S. mengakui, dalam menangani kasus kriminal, yang paling mudah untuk diungkap itulah yang harus diungkap dulu. Tapi semuanya akan terjaring, tinggal tunggu waktu. Teknik interogasi akan berkembang terus sehingga yang terlibat itu akan bisa kena semua. Asalkan para penegak hukum ini benar-benar serius dan berani untuk mengambil tokoh-tokoh intelektualnya. Kalau sudah cukup bukti, kenapa takut? ‘’Bupati, Gubernur bahkan mantan Menteri sudah banyak yang ditangkap,” jelas Setiabudhi. Ahli hukum pidana ini juga menjelaskan, bukti yang belum cukup merupakan kerikil yang membuat kasus sound system tak kunjung tuntas. Apalagi, kasus ini diduga melibatkan petinggi yang memiliki jabatan dalam pemerintahan. Hal ini bisa menjadi alasan sulitnya aparat penegak hukum mengungkap dalang di balik kasus yang merugikan negara hingga belasan miliar rupiah itu. “Korupsi adalah kejahatan terselubung atau hidden crime, jadi bisa saja diselubungi faktor jabatan, politik, kekuasan, kewenangan, dan faktor-faktor lain (sehingga memperlama proses penyidikan, red),” lanjutnya. Setiabudhi pun hanya bisa berpesan agar Kejati Bali berhati-hati dan memiliki konsistensi tegas dalam mengusut korupsi, supaya tidak mengurangi hak Para tersangka kasus korupsi pengadaan barang IHDN Denpasar saat digiring ke rumah tahanan Kerobokan

dari tersangka dan juga tidak mengurangi hak dari negara. Jangan sampai ada kasus-kasus yang merugikan negara justru penyelesaiannya tidak tuntas. Seperti misalnya, kasus dugaan korupsi dalam pembangunan RSI di Desa Nyitdah, Kediri, Tabanan yang di SP3-kan. “Sebetulnya kasus SP3, tidak menjamin perkara itu selesai terus. Apabila suatu ketika ada temuan dan bukti baru, itu bisa diungkap lagi. Bisa diproses lagi, apalagi kasus-kasus yang sudah terekspose publik, penegak hukum harus hatihati betul itu karena publik, masyarakat akan memantau terus perkembangannya,” jelas Setiabudhi. Terlepas dari itu semua, Kejati Bali sejatinya banyak mendapat hujan pujian. Meski baru menahan lima tersangka dalam satu kasus saja, namun tindakan ini dianggap sebagai terobosan penting di tengah sorotan negatif terhadap korps adhyaksa. “Yang jelas Kejati sudah berani mengambil terobosan untuk melakukan penahanan terhadap tersangka kasus korupsi, semoga nanti berimbas pada koruptor lain yang sudah ditetapkan sebagai tersangka seperti kasus Art Center, kemudian kasus CPNS, biar bisa segera direalisasikan tidak hanya sebatas wacana. Kalau memang alat bukti cukup, itu kan kewenangan dari penyidik untuk melakukan penahanan,” ujar Dosen Hukum Pidana Universitas Warmadewa Dr. I Made Sepud, S.H., M.H. Kejati Bali juga diharapkan menjadi tombak di bidang hukum, utamanya dalam memberantas korupsi. Paling tidak, tindak kejahatan ini bisa diminimalisir di Bali. “Kejaksaan sudah punya gereget, kasus yang dulu terjadi pembiaran, sekarang sudah melakukan penyidikan bahkan menahan. Dulunya kejaksaan kan dibilang melempem, kalau terjadi pembiaran lagi, KPK bisa mengambil alih penyidikan,” tambah Dosen Pidana Fakultas Hukum Universitas Warmadewa I Nyoman Sujana, S.H., M.H. l Rindra 2 - 8 Desember 2013

9


Sebelum Ditahan

LAPORAN UTAMA

B

anyak yang terkejut atas ditahannya Prof. Dr. Made Titib. Tak hanya sekali, sebelumnya juga banyak yang terkejut ketika Prof. Titib melapor ke polisi atas tindak penipuan yang dialaminya. Ia mengaku ditipu seseorang yang mengaku-ngaku sebagai Kajati Bali. Akibat penipuan itu, korban mengalami kerugian Rp 450 juta. Kasus ini pun telah dilaporkan ke Sat. Reskrim Polresta Denpasar. Dalam laporan itu, korban mengaku dihubungi seseorang yang tidak dikenal dan mengaku sebagai Kajati Bali. Pelaku pun mengatakan akan membantunya menyelesaikan kasus korupsi yang membelit IHDN Denpasar. Korban diminta mengirim uang ke tiga rekening. Tanpa curiga, korban mengirimkan melalui Rekening Bank Mandiri atas nama Iqba Hidayat dan Siti Ramayanti dan Rekening Bank BNI atas nama Marcella Kelly. Atas laporan itu, penyidik Sat. Reskrim Polresta Denpasar harus bekerja keras. Penyidik pun meminta bantuan petugas cyber crime Polda Bali guna mendeteksi, siapa pelaku penipuan yang mencatut nama Kajati Bali tersebut. Selain itu, penyidik memeriksa kembali korban untuk mengetahui lebih dalam kronologi kejadiannya. Sumber di Polresta Denpasar mengatakan, pemeriksaan ulang terhadap korban dilakukan Selasa (25/6) lalu. Sebab, korban awalnya hanya melapor, sementara pemeriksaan untuk BAP (berita acara pemeriksaan) belum dilakukan. Jadi, pemeriksaannya lebih dalam dan kronologinya diterangkan secara detail. Kasat Reskrim Polresta Denpasar Kompol Encep Syamsul Hayat membenarkan pemeriksaan korban dan

pihaknya meminta bantuan petugas cyber crime. Sejauh ini, belum ada perkembangan berarti terkait hasil penyelidikan. Sampai ditahannya Prof. Titib, kasus penipuan yang dilaporkan belum menemui titik terang. Putu Wirata Dwikora, Ketua Bali Corruption Watch (BCW) yang ditemui pekan lalu, menyatakan kasus penipuan ini perlu diungkap. Selain pengakuan k o r b a n berubahubah, juga kasus ini penting untuk membersihkan nama K e jaksaan Tinggi (Kejati) Bali lantaran sudah kadung disebut oleh Titib. Kasus penipuan ini juga bisa digunakan untuk memperdalam kasus dugaan korupsi pengadaan barang IHDN yang kini telah menyeret sejumlah tersangka.

MBP/eka

Prof. Titib

10

2 - 8 Desember 2013

Apa yang disampai Wirata patut ditindaklanjuti. Apalagi sempat ada protes Dr. Praptini karena merasa diperlakukan tidak adil. Sebab Kejati belum menetapkan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan Pokja sebagai tersangka seperti dirinya. Padahal, menurut Praptini, PPK


Titib Tertipu dan Pokja adalah bagian dari struktur penyelenggara proyek. Terhadap protes itu Kasi Penkum dan Humas Kejati Bali Ashari Kurniawan pun menegaskan masih melakukan penyidikan atas kasus tersebut. Meski Kejati Bali sudah menetapkan lima ter-

sangka, termasuk Praptini dan menahan kelimanya, bukan berarti tidak akan ada lagi tersangka baru yang diciduk. ‘’Pokoknya semua yang terlibat dalam kasus ini akan kita sidik, akan kita lakukan proses penyidikan dan penuntutan. Tetapi kan semuanya

kembali menunggu hasil dari penyidik dan pengembangan penyidikan. Kalau memang ditemukan dua alat bukti yang cukup tetap akan kita proses,’’ tegas Ashari pecan lalu. l Rindra

2 - 8 Desember 2013

11


POLITIK

Menggugat Peraturan Peraga Kampanye

B

aliho dengan beragam gaya terpampang di setiap sudut jalan. Model dan ukurannya pun sekehendak hati. Potret para calon penghuni gedung legislatif ini bertebaran sejak Daftar Calon Tetap (DCT) diumumkan. Bahkan, jauh sebelum itu, peraga politik untuk mensosialisasikan diri telah terpampang di sudut-sudut kota hingga ke pelosok desa. Potret calon legislator juga menempel di kayu dan tebok. Bahkan, angkot pun menjadi media kampanye politik untuk mempopulerkan diri. Hiruk pikuknya suasana menjelang pesta politik 2014 ini pun diantisipasi lebih awal oleh KPU. Komisi Pemilihan Umum (KPU) pun melakukan sosialisasi dua peraturan kepada 12 partai politik peserta pemilu. Dua peraturan itu adalah Peraturan KPU (PKPU) No. 15 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Peraturan KPU No.1 Tahun 2013 tentang Pedoman Kampanye Pemilu dan PKPU No. 17 Tahun 2013 tentang Dana Kampanye.  “Ini adalah kegiatan rutin yang dilakukan KPU untuk mensosialisasikan aturan-aturan yang diterbitkan oleh KPU,” ujar Ketua KPU Husni Kamal Malik di Gedung KPU Pusat, Menteng, Jakarta.

12

2 - 8 Desember 2013

IB Udiyana

Peraturan Nomor 15 tahun 2013, tentang pedoman pelaksanaan kampanye pemilihan umum anggota DPR/DPRD dan DPD-RI. Dalam peraturan tersebut, salah satunya memuat tentang penempatan alat peraga kampanye partai politik dan calon anggota legislatif. KPU melarang alat peraga dipasang di tempat ibadah atau tempat umum lainnya. KPU akan mengatur penempatan alat peraga kampanye dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah. “Alat peraga kampanye juga tidak ditempatkan di lokasi pelayanan kesehatan, gedung milik pemerintah, lembaga pendidikan (gedung dan sekolah), jalan-jalan protokol, jalan bebas hambatan, sarana dan prasarana publik, taman dan pepohonan,” bunyi peraturan KPU tersebut. Dalam peraturan tersebut juga ditulis, peserta pemilu dapat memasang alat peraga kampanye di luar ruangan dengan ketentuan baliho atau papan reklame hanya diperuntukan bagi satu partai politik untuk satu desa atau kelurahan. Menyikapi hal ini, banyak politisi berteriak. Aturan KPU ini tak hanya membatasi ruang sosialisasi juga menjadi pukulan telak bagi pendatang baru. ‘’Pendatang baru sangat dirugikan. Ketika popularitas mereka belum terbangun, baliho termasuk sepanduk bisa menjadi media sosialisasi,’’ ujar politisi IB Udiyana. Udiyana yang telah berulang kali menduduki kursi wakil rakyat ini mengatakan, peraturan KPU ini kurang mengadopsi realitas di lapangan. ‘’Politik jelas membutuhkan publikasi. Baliho merupakan salah satu medianya,’’ tegasnya. Politisi partai Golkar ini tetap menyambut baik upaya-upaya untuk mengoptimalkan kinerja para calon wakil rakyat. Menurutnya dengan membatasi baliho, kemungkinan para caleg akan meningkatkan intensitas simakrama. Ini akan meningkatkan komunikasi politik antara calon pendukung dengan yang didukung. Namun, demikian pembatasan satu baliho untuk satu desa/kelurahan juga harus ditinjau. Setidaknya harus ada toleransi. Jika ada kesepakatan untuk

BALIHO calon legilsatif diturunkan petugas Satpol PP Kabupaten Buleleng. KPU mengatur pemasangan peraga kampanye untuk meningkatkan interaksi dan komunikasi politik antar calon wakil rakyat dengan konstituennya.

melakukan kampanye antar caleg di tingkat desa, bisa saja baliho partai politik lebih dari satu. ‘’Ini harapan kami. Satu desa wilayahnya amat luas. Satu baliho tak menjamin sosialisasi diri efektif,’’ ujarnya. Pengamat sosial politik Ngurah Karyadi juga mengingatkan agar calon tak hanya mengedepankan popularits diri dalam meraih simpati publik. Calon harus memiliki visi dan konsep-konsep yang terukur. ‘’Peraturan KPU mengatur pembatasan baliho dan media spanduk dalam kampanye untuk membuat efektif masa kampanye. Jadi akan terbangun komunikasi dua arah jika caleg membudayakan simakrama,’’ ujarnya. l Dira Arsana


Transparansi Politik Lewat Rekening Kampanye

TINGGINYA biaya politik membuat praktik pemerintahan cenderung korup. Penguasa yang lahir dari proses politik yang mahal kerap menghalalkan segala cara untuk mengembalikan modal politiknya. Akibatnya, penjara pun menjadi kantor terakhir para birokrat korup. Menyikapi tingginya pengelola pemerintahan terjerat kasus korupsi, KPU pun memasang aturan main, partai politik hingga para calon legislatif, calon kepala daerah hingga calon presiden/wakil presiden diwajibkan menyetorkan dana kampanye. Rekening menjadi piranti untuk melakukan kontrol atas pengeluaran belanja politik. Bahkan, KPU telah menjadwalkan bagi partai politik untuk melaporkan dana kampanye awal pada tanggal 27 Desember atau akhir tahun ini. “Harapannya paling telat pertengahan Desember sudah bisa tanda tangan Memorandum of Understanding (MoU),” kata Ketua KPU Husni Kamil Manik. Untuk menyuk-

seskan aturan dana kampanye partai politik itu, KPU akan menggandeng Pusat Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Terkait kerja sama, antara KPU dan PPATK memiliki peran dan tanggung jawab masing-masing. Sehingga, tujuan awal menciptakan pemilu yang bersih dan transparan mudah tercipta. KPU dalam hal ini memiliki kepentingan menegakkan aturan yang telah disepakati bersama mengenai aturan dana kampanye. Sedangkan, PPATK berkewajiban menginfromasikan sistem transaksi keuangan bagi peserta pemilu pada publik. Di lain pihak, Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi Keuangan (PPATK) meminta KPU membuat aturan yang mewajibkan partai politik dan calon legislatif membuat dan melaporkan rekening dana kampanye. Nantinya, rekening dana kampanye tersebut haruslah dilaporkan ke KPU dan diteruskan ke PPATK. Wakil Ketua PPATK Agus Santoso mengatakan PPATK telah berkoordinasi dengan KPU untuk membahas rencana pembuatan aturan tersebut. Tujuannya, agar seluruh aliran dana kampanye khususnya caleg dapat ditelusuri PPATK. Sehingga, meminimalkan masuknya dana kampanye yang berasal dari sumber tak jelas. Untuk merealisasikan aturan tersebut sebenarnya bukanlah perkara sulit. Caleg dan parpol yang telah membuat rekening khusus yang menampung dana kampanye tinggal melaporkan nomor rekening tersebut ke KPU. Kemudian, oleh KPU nomor rekening tersebut diteruskan PPATK untuk ditelusuri. Namun, sejauh mana efektivitas rekening dana kampnye bisa membuat pesta politik transparan dan murah, tak ada politisi yang berani memastikan. Budaya politik transaksional akan membuat politisi tetap menjadi pembeli suara. ‘’Inilah proses politik yang sulit dikontrol hanya dengan rekening,’’ ujar pengamat Prof. IB Raka Suardana. Guru Besar Undiknas University ini mengatakan, transparansi harus dibangun dari awal yakni mulai proses rekrutmen calon legislatif. ‘’Sejak awal penentuan jatah kursi, transaksi sudah berjalan. Jadi akan sangat sulit menekan biaya politik hanya dengan mengukur besaran dana rekening

kampanye,’’ ujarnya. Ia mengingatkan agar politisi dan rakyat sebagai pemilih sama-sama membangun integritas diri. Rakyat jangan mau dipolitisasi hanya dengan bansos politik, tetapi harus memilih berdasarkan kualitas calon. Demikian pula sebaliknya, para calon jangan menggunakan kekuatan finansial untuk dipilih. ‘’Inilah yang semestinya dibudayakan untuk membangun politik yang bermartabat,’’ sarannya. Namun, ia mengatakan makin banyak alat kontrol yang diterapkan untuk menekan politik biaya tinggi, maka upaya untuk membatasi transaksi akan makin efektif. Ia mengingatkan bahwa akan sangat sulit dan memakan waktu lama bagi PPATK untuk mengontrol rening para calon yang jumlahnya sangat banyak di seluruh negeri. ‘’Teknis kerja dalam mengontrol rekening para calon wakil rakyat juga harus dipikirkan karena jumlahnya sangat banyak,’’ ujarnya. Ia meyakini dalam dunia politik ada rekayasa yang sulit dibuktikan hanya dengan berbekalkan rekening. l Dira Arsana/ Hardianto

2 - 8 Desember 2013

13


LINGKUNGAN

Mempersembahkan Beras Merah

N

asi beras merah yang punya rasa khas kini banyak diburu orang. Beras merah kerap dikaitkan dengan tren gaya hidup sehat. Apalagi masyarakat Indonesia selalu mengonsumsi nasi putih sebagai makanan pokok. Kandungan gula nasi putih lebih tinggi ketimbang beras merah. Tingginya konsumsi gula mengakibatkan semakin tinggi prevalensi penyakit diabetes mellitus. Selain itu mereka yang menjalani pola diet lebih memilih beras merah. Karena lebih mudah kenyang sehingga tidak perlu makan dengan porsi banyak. Kandungan gizi beras merah memang patut diunggulkan. Kandungan utama pada semua jenis beras yakni vitamin B1, B6, dan B12 ternyata dimiliki oleh beras merah. Vitamin B adalah kunci untuk proses pembentukan energi dalam organisme. Lagipula kandungan serat beras merah lebih tinggi ketimbang beras putih. Serat mampu mengganggu penyerapan gula dalam karbohidrat serta penyerapan lemak yang masuk bersama makanan. Tentu akan lebih menyehatkan dan akan memberikan sensasi lebih mengenyangkan. Proses pengolahan serat yang lambat di dalam tubuh menyebabkan perut terus merasa kenyang sehingga tidak terlalu sering makan. Keunggulan tersebut tak pelak membuat harga beras merah dua kali lipat lebih tinggi ketimbang harga beras biasa berkisar Rp 8.000 s.d. Rp 9.000 per kilogram. Walaupun harganya tinggi, toh tetap diburu para pembeli. Terbukti, sejumlah warung babi guling yang menawarkan nasi beras merah ramai diserbu pembeli. Dengan label beras organik-beras merah diburu para pembeli setianya terutama mereka yang mempunyai penyakit gula. Namun, di sisi lain, masih sedikit petani yang punya niat serius mengembangkan padi beras merah. Areal sawah untuk ditanami padi beras merah masih puluhan hektar di sejumlah subak. Dari yang sedikit itu, tersebutlah petani sejumlah subak di Desa Munduk, Desa Gobleg dan Desa Gesing di Kecamatan Banjar, Buleleng. Pada setiap musim tanam, petani di tiga desa itu selalu setia menanam padi beras merah. Upaya petani tersebut patut dicontoh dalam upaya pelestarian plasma nuftah padi lokal Bali. Keseriusan petani di wilayah Munduk, Gesing dan Gobleg, menanam padi beras merah sudah dilakukan sejak zaman dulu dan diteruskan secara turuntemurun. Subak di tiga desa itu mewarisi awig-awig yang mengharuskan petani menanam padi jenis lokal.

14

2 - 8 Desember 2013

Karena di daerah itu, warga harus mempersembahkan beras merah saat upacara ngusaba. ‘’Pada setiap ngusaba di subak petani harus mempersembahkan beras merah, sehingga petani diharuskan untuk menanam di setiap musim,’’ kata Klian Desa Pakraman Munduk Putu Ardana. Awig-awig yang diterapkan pada subak di Desa Munduk dan Gobleg itu sebenarnya bisa ditiru oleh subak-subak lain di Bali sebagai salah satu upaya penyelamatan nuftah padi lokal. Setelah awig-awig diikuti, tinggal kemudian pemerintah melalui Dinas Perdagangan atau instansi sejenis melakukan berbagai upaya dan aturan agar harga padi beras merah tetap membuat petani untung. Untuk memacu semangat petani menanam padi beras merah, Dinas Pertanian dan Peternakan Buleleng juga membuat sejumlah program seperti membuat demplot atau semacam percontohan padi lokal. Di Subak Desa Munduk, Kecamatan Banjar, dibuka lahan percontohan untuk ditanami beras merah seluas 55 hektar. Subak Gobleg, Desa Gobleg juga dikembangkan beras merah seluas 35 hektar, dan di Desa Gesing lahan yang diujicobakan seluas 10 hektar. Klian Subak Jembong, Desa Gobleg, Kecamatan Banjar Ketut Ardika, mengatakan, program penanaman padi beras merah yang diarahkan pemerintah daerah telah menuai hasil maksimal. Ini terlihat dari perkembangan padi yang tumbuh subur dan target produksi diperkirakan sebanyak 2,5 kwintal tiap are. Dengan perkiraan produksi sebanyak itu, Ardika menawarkan kepada calon pembeli dengan harga Rp 17.000 tiap kilogram. Dengan penawaran harga sebesar itu, petani dinilai sudah mendapatkan keuntungan. Sementara itu Klian Subak Munduk, Desa Munduk, Kecamatan Banjar Nyoman Sudira mengatakan, untuk panen perdana ini petani sudah menyepakati untuk tidak menjual seluruh hasil panen. Dia akan menyisihkan beras hasil sawahnya untuk kebutuhan beras di desanya dan sisanya akan dipilah untuk bahan benih yang ditanam pada musim panen tahun 2014 mendatang. Sisanya baru akan dijual berdasarkan harga yang sudah disepakati. l Adnyana Ole

Panen padi beras merah masih menggunakan anai-anai


Dikemas Jadi Teh Beras merah menjadi ikon pertanian di Tabanan. Mirisnya, jumlah petani yang berminat menanam padi beras merah terus berkurang. Lahan yang ditanami tak berubah. Kondisi ini dikhawatirkan berdampak pada kelangsungan produksi beras merah. Saat ini petani beras merah hanya tersebar di Kecamatan Penebel, beberapa ada di Baturiti. Lahan yang ditanami tak lebih dari 350 hektar. Pusatnya, di subak Jatiluwih, Wongaya dan Soka. Meski harga beras merah cenderung mahal, petani di luar Penebel tak tertarik menanamnya. Pemicunya beragam. Salah satunya, masa panen beras merah lebih lama, sekitar 4 -5 bulan. Sedangkan, beras biasa sekitar 3-4 bulan. Sehingga, petani beras merah hanya bisa panen setahun sekali. Sedangkan, beras biasa bisa panen hingga dua kali. Faktor cuaca ikut berpengaruh. Beras merah lebih bagus ditanam di daerah pegunungan -- dataran tinggi. Lalu, batang beras merah lebih panjang sehingga proses panennya menggunakan anai-anai. ‘’Dari pertimbangan itu, tak banyak petani yang tergiur menanam beras merah. Sementara hanya di Penebel dan Baturiti,’’ kata Kepala Dinas Pertanian dan Hortikultura Tabanan Nyoman Budana, akhir pekan lalu. Jika dihitung secara ekonomi, bertani beras merah cenderung menguntungkan. Sebab, biayanya lebih murah dan tahan penyakit. Satu-satunya hama pengganggu, tikus. ‘’Kami tak bisa mewajibkan petani menanam beras merah, meski lebih menguntungkan,’’ jelasnya. Padahal, permintaan beras merah cukup tinggi, jauh di atas produksi petani. Produksi padi merah ratarata mencapai 4-5 ton per hektar. Jika dihitung berdasarkan luas lahan, total produksi sekitar 1600 ton per tahun. Angka ini, seluruhnya terserap di pasar Bali. Sisanya, dikirim ke berbagai kota besar. Harga beras merah di pasar lokal mencapai Rp 25.000 sampai Rp 30.000 per kilogram. Sedangkan di Jakarta bisa menembus Rp 75.000 per kilogram. Mahalnya harga ini sejak munculnya sertifikat organik yang diterima Subak Wangaya Batan. Subak ini, kata Budana, murni menggunakan pupuk organik. Sehingga, berasnya diburu pasar. Sehingga, beras organik Tabanan makin diminati pasar. Sasarannya, bisa menembus ekspor. Sejatinya, kata Budana, pihaknya ingin menambah lahan produksi beras merah. Namun, terganjal keinginan petani, khusus-

nya di daerah bawah. Mereka cenderung memilih beras umum karena lebih cepat panen. Hasilnya juga lebih melimpah, bisa menembus 7-11 ton per hektar. Meski petani beras merah tak bertambah, Budana meyakini, produksi akan tetap stabil, jauh dari kata punah. Apalagi, permintaan beras merah tak pernah sepi. Keyakinan lainnya, menanam beras merah sudah melekat di hati petani Penebel dan sekitarnya. Sehingga, mereka tidak akan tergiur beralih ke beras biasa. Lalu, kawasan pusat beras merah, Subak Jatiluwih dinobatkan sebagai Warisan Budaya Dunai (WBD). ‘’Kami yakin, produksi beras merah jauh dari ancaman kepunahan. Ini sudah menjadi mata pencaharian petani,’’ pungkas Budana. Beras merah Jatiluwih, tak hanya dipasarkan sebagai pencampur nasi. Komoditi ini dikemas menjadi minuman teh tradisional. Pencetusnya, Semarajaya, tokoh petani Jatiluwih. Sejak tahun 2009, teh beras merah ini dipasarkan. Teh berbahan beras ini sejatinya menjadi tradisi warga. Hanya, tidak pernah tercetus dipasarkan. ‘’Teh beras merah sudah menjadi tradisi warga. Tetapi, belum pernah dipasarkan,’’ kata Semarajaya. Ide pemasaran muncul setelah tingginya permintaan beras merah. Menurut Semarajaya, permintaan beras merah tak pernah sepi. Begitu teh kemasan diluncurkan, banyak diminati warga. Harga teh beras merah juga terjangkau. Proses pembuatannya sederhana. Beras merah disangrai, lalu didinginkan. Setelah dingin, dikemas menggunakan plastik dan siap dipasarkan. Teh beras merah ini diyakini mengandung protein tinggi. Sehingga, banyak diminati. Peredarannya masih seputaran Bali. Menurut Semarajaya, petani beras merah adalah turun-temurun. Sehingga, tradisi ini sulit dilepaskan. Setelah dipanen, padi disimpan. Semakin lama penyimpanan, kualitas merahnya bertambah bagus. Perlakuan ini bertolak belakang dengan padi biasa. Hasil panen padi merah juga tak banyak, rata-rata 5 ton per hektar. Jika diolah, 100 kg padi merah akan menghasilkan 63 kg beras. Harga gabah merah rata-rata Rp 9.000 per kilogram, sedang beras merah Rp 16.000 per kilogram, tergantung kualitas dan masa panen. Beras asli Bali ini diharapkan menjadi icon pariwisata. Ditambah lagi, lahan beras merah Jatiluwih selalu diminati wisatawan. l Budi Wiriyanto 2 - 8 Desember 2013

Bali Post/udi

15


OPINI

Korupsi Makin Jamak

S

udah 59 tahun (1954-2013) gerakan antikorupsi dilakukan di Indonesia, tanggal 9 Desember setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Antikorupsi. Tetapi belum kelihatan nyata hasilnya. Justru sebaliknya, korupsi menjadi semakin jamak dan marak sehingga hampir tiada hari tanpa (berita) korupsi. Sumber data Lembaga Transparency Internasional Indonesia (TII), Rabu 10 Juli 2013 menempatkan Indonesia berada di empat negara terbawah dalam urutan tingkat korupsi. Berdasarkan indeks persepsi korupsi (IPK) yang dilansirnya Indonesia berada di angka 32. Indeks persepsi korupsi ini merupakan indikator gabungan yang mengukur tingkat persepsi korupsi dari negaranegara. Dalam survei yang dilakukan TII, Indonesia menempati urutan 118 dalam urutan negara terkorup, dan Indonesia berada di bawah Thailand (urutan 88) dan Filipina (urutan 108). Sedangkan tiga negara di bawah Indonesia antara lain Vietnam, Laos dan Myanmar. Survei yang dilakukan Political Economic Risk Consultancy (PERC) juga mencatat Indonesia sebagai negara terkorup di kawasan Asia. Penanganan perkara korupsi melalui KPK dan Kejagung per tahun mencapai 1.600 hingga 1.700 perkara. Jumlah ini menduduki peringkat kedua di dunia setelah Cina yang mencapai 4.500 perkara. Bentuk dan modus korupsi yang terjadi sangat beragam, menggurita dan menggerogoti hampir semua lembaga negara tanpa kecuali. Mulai dari penyelewengan jabatan secara halus hingga pola-pola yang sangat transparan dan kasat mata. Bahkan, dalam beberapa kasus menunjukkan korupsi ternyata tidak hanya melanda daerah-daerah yang memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah, tetapi juga, daerah-daerah yang relatif miskin sumber daya alam. Singkatnya, sebab musabab terjadinya kasus korupsi tidak pernah ada penjelasan tunggal. Korupsi merupakan akumulasi berbagai kondisi yang di dalamnya, meminjam istilah Jeremy Pope, ‘bertemunya

16

2 - 8 Desember 2013

masih sebatas retorika politik. Hingga kini belum ada tanda-tanda berkurangnya penyalahgunaan kekuasaan. Dalam hampir semua APBD yang ada adalah semangat kepentingan pribadi dan partai politik yang mendominasi kehendak menyejahterakan masyarakat. Gerakan antikorupsi bukannya tidak ada, tetapi masih jauh dari harapan. Sejak tahun 1955, Menteri Keuangan Dr. Sumitro ketika bertemu dengan Dewan Pengawasan Keuangan meminta agar dewan itu melakukan penyelidikan di berbagai kementerian, jawatan mengenai geldelijk beheer dan pelanggaran hukum yang mungkin terjadi. Menteri Keuangan juga memerintahkan kepada Jawatan Akuntan Negeri untuk mengerahkan seluruh tenaga guna melakukan pemeriksanaan-pemeriksaan (Harian Mestika, 19 Agustus 1955). Setelah itu gerakan antikorupsi terus berlanjut dengan keluarnya berbagai bentuk kebijakan pemerintah, seperti: PeraWayan Gede Suacana turan Penguasa Militer Nomor PRT/ PM/06/1957; UU 24 prp/ 1960; Tim antara keinginan dan kesempatan secara Pemberantasan Korupsi (1967); UU bersama-sama’. Pemupukan keinginan 3/1971; Operasi Tertib (1977); Tap MPR untuk korupsi hadir, ketika proses pemi- No. XI/MPR/1998; UU 28 dan 31/1999; lihan kepala daerah, tidak mampu keluar KPKPN (1999); TGPTPK (1999); UU dari tradisi politik uang dalam berbagai 20 /2001; KPK-UU 30/ 2002; dan Timtas variasinya. Kesempatan terciptakan, aki- Tipikor (2004). bat lemahnya kontrol DPRD yang tidak Oleh karena penyebab, peluang dan memerankan fungsi pengawasan terhadap modus korupsi dari masa ke masa juga eksekutif, tetapi cenderung memprak- selalu berkembang, maka untuk mengatikkan ‘simbiosis-mutualistik’ dengan tasinya perlu dilakukan tiga pendekatan. eksekutif. Lembaga-lembaga keagamaan Pertama, sistemik dengan membenahi yang menjadi tumpuan kesadaran kritis dan memberdayakan suprastruktur maudan agen moralitas, cenderung memi- pun infrastruktur lembaga, termasuk perlih hubungan positif dengan pemerintah guruan tinggi sebagai penghasil SDM. daripada bergabung dengan kelompok Kedua, abolisionistik dengan meningmasyarakat sipil. katkan kesadaran hukum masyarakat dan Di samping itu, bangunan infrastruktur memberdayakan penegakkan hukum. hukum masih pasif dalam penjaga keadi- Ketiga, moralistik dengan memperkuat lan dan belum menempatkan diri sebagai benteng etika, moral birokrat dan polipenegak keadilan yang sebenarnya. tisi dengan cara mengurangi monopoli, Bahkan dalam beberapa kasus, masih ter- membatasi dan mengklarifikasi segala jebak pada penyakit konvensional dalam kewenangan serta menerapkan trans‘memperjual-belikan’ perkara. Kondisi paransi. birokrasi juga masih belum beranjak sebagai pangreh praja sehingga prinsip-prinsip Penulis, Ketua Pusat Kajian Integritas clean government and good governance dan Antikorupsi Univ. Warmadewa


J A J A K P E N DA PAT

Menurut Anda apakah caleg saat ini sudah ditentukan berdasarkan pendekatan kaderisasi

N = 678

tIDAK TAHU 1%

Parpol Abaikan Kaderisasi

R

ekrutmen calon anggota legislatif (caleg) 2014 -2019 diprediksi mengabaikan proses kaderisasi. Rekrutmen lebih didasari pada kepentingan elite partai serta kekuatan koneksi. Banyak kader militan tersisih oleh kepentingan dan rekayasa elite partai. Pandangan ini mengemuka ketika Pusat Data Bali Post menggelar jajak pendapat terkait dengan kaderisasi dalam rekrutmen caleg. Tercatat 62 persen responden berpendapat bahwa penentuan caleg saat ini lebih banyak berdasarkan kedekatan dengan elite partai dan dukungan finansial. Banyak kader partai militan yang terdepak dari daftar caleg karena kalah saing dalam melakukan lobi dan koneksi. Bahkan, sejumlah caleg yang kini terpampang di baliho merupakan muka lama yang pernah gagal merebut simpati pemilih. Responden menilai sejumlah parpol bahkan melakukan rekrutmen caleg berdasarkan sistem ‘’tembak’’ agar terpenuhinya kuota. Sejumlah caleg bahkan tak pernah menjadi politisi karena bersta-

ya

37%

BELUM

37%

tus PNS dan pengusaha. Sementara 37 persen responden yakin elite parpol telah mempertimbangkan kaderisasi dalam menentukan caleg yang lolos. Kaderisasi bagi sejumlah partai besar merupakan persyaratan internal. Terakomodasinya tokoh-tokoh karismatik yang tanpa melalui kaderisasi dinilai sudah berdasarkan pertimbangan politik. Prinsipnya, kata responden, caleg yang ditawarkan parpol telah melakukan tahapan verifikasi sesuai kriteria internal parpol bersangkutan. Selebihnya 1 persen responden tak merespons pertanyaan ini. Di lain pihak, terkait pilihan politik pemilih terhadap calon yang disodorkan parpol, tercatat ada 59 persen responden mengaku akan mencermati kualitas dan bobot caleg pendatang baru. Responden berpendapat kini saatnya melakukan perubahan politik atau alih generasi politik untuk kepentingan nasional. Selama ini, dominasi caleg incumbent dalam dunia politik tidak membawa perubahan yang signifikan terhadap perpolitikan nasional. Bahkan, ada kecenderungan para caleg incumbent sudah memiliki strategi yang

grafis/de wiryawan

menguntungkan karier politiknya secara personal. Selebihnya 35 persen responden mengaku akan tetap mempercayakan pilihan terhadap caleg incumbent. Namun, pilihan selektif tetap akan dilakukan. Responden menilai sejumlah caleg muka lama ada yang memiliki integritas yang bisa diandalkan untuk membela aspirasi publik. Responden meyakini dengan modal bansos yang dikelola caleg incumbent, ruang politisi karatan menduduki kursi DPRD/ DPR-RI tetap terbuka. Sisanya, 6 persen responden tak memberikan respons atas pertanyaan ini. Terkait dengan harapan responden ke depan, agar para politisi yang terpilih menjadi legislator benar-benar memperjuangkan aspirasi publik. Wakil rakyat yang mengabaikan aspirasi rakyat hendaknya introspeksi diri serta lembaga wakil rakyat jangan dijadikan bumper untuk mendukung persekongkolan menggunakan uang rakyat untuk kepentingan pribadi dan golongan. l Dira Arsana 2 - 8 Desember 2013

17


PENDIDIKAN

Bijaksana Kelola Plastik

K

egemaran masyarakat Bali menggunakan plastik untuk berbagai keperluan dinilai sangat mengkhawatirkan. Apalagi, mayoritas dari benda-benda berbahan baku plastik bersifat hanya sekali pakai. Akibatnya, tumpukan sampah plastik terlihat menggunung di mana-mana. Dibuang begitu saja tanpa disertai dengan upaya pemilahan. Kondisi ini jelas akan berdampak serius bagi lingkungan lantaran sampah plastik tidak bisa diurai oleh mikroorganisme yang hidup di dalam tanah. Di samping sangat potensial menghancurkan kesuburan tanah, bahanbahan kimia berbahaya yang terkandung dalam plastik itu juga bisa mengancam kesehatan manusia. Kekhawatiran terhadap bahayanya sampah plastik itu juga dilontarkan Kepala SMPN 4 Denpasar Drs. I Wayan Dhania, M.Pd. Menurut dia, sudah saatnya masyarakat Bali bijaksana mengelola sampah plastik. Bahkan, bila mungkin mengurangi pemanfaatannya dan meng-

gantikannya dengan bahan-bahan lain yang lebih ramah lingkungan. Kesadaran untuk bijaksana mengelola sampah plastik itulah yang kini ditanamkannya kepada segenap siswa SMPN 4 Denpasar. Sejak beberapa tahun lalu, pihaknya mentradisikan proses pemilahan antara sampah organik dan anorganik (khususnya plastik - red) sebelum dibuang ke tempat pembuangan sampah. ‘’Kebiasaan ini akan mengurangi beban berat yang dipikul lingkungan. Kesadaran untuk bijaksana mengelola sampah plastik ini memang sangat efektif jika ditanamkan sejak di bangku sekolah,’’ kata Dhania, beberapa waktu lalu. Selain membiasakan siswa memilah jenis sampah, pihaknya juga mendidik siswa agar mampu mengolah sampah jadi barang berharga. Untuk sampah organik seperti daun-daunan, pihaknya membangun bak penampungan khusus yang difungsikan untuk memproses sampah organik itu jadi kompos. Sedangkan

MBP/

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Mari Elka Pangestu mengamati berbagai benda kerajinan berbahan baku sampah plastik di ajang Sanur Village Festival 2013 lalu.

18

2 - 8 Desember 2013

sampah plastik dipilah lagi dan dimanfaatkan sebagai bahan baku berbagai jenis barang kerajinan. Dengan begitu, sampah plastik itu akan memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi, karena didaur ulang jadi barang kerajinan. ‘’Kesadaran untuk bijaksana mengelola sampah plastik ini kami aplikasikan pada mata pelajaran keterampilan yang wajib diikuti oleh seluruh siswa,’’ katanya. Pada mata pelajaran keterampilan, kata dia, setiap siswa diwajibkan membuat satu jenis barang kerajinan dengan bahan baku sampah plastik. Dengan bimbingan para guru, mereka mampu menciptakan berbagai barang kerajinan seperti wadah pot bunga, clemek, tas untuk berbelanja ke pasar dan sebagainya. Selain mampu menciptakan barang kerajinan yang memiliki nilai ekonomi, upaya ini secara tidak langsung juga mampu mengurangi tumpukan sampah plastik yang sangat potensial mencemari lingkungan. ‘’Barang kerajinan berbahan baku sampah plastik ini merupakan salah satu produk kreativitas siswa yang khas di SMPN 4 Denpasar. Saat ini, kami juga sudah memiliki peralatan sederhana untuk memproses sampah plastik,’’ katanya dan menambahkan, SMPN 4 Denpasar sukses meraih penghargaan Sekolah Adiwiyata yang diberikan oleh pemerintah pusat kepada sekolah-sekolah yang dinilai mampu mengelola lingkungan sekolahnya dengan konsep ramah lingkungan. Dhania juga berharap, teknologi sederhana untuk mengolah sampah plastik menjadi benda-benda kerajinan bernilai ekonomis mulai diperkenalkan sejak jenjang pendidikan SD. Untuk kepentingan ini, Disdikpora di masing-masing kabupaten/kota di Bali bisa menggelar ajang kompetisi secara rutin untuk menggugah kreativitas siswa membuat karyakarya seni kerajinan dengan bahan baku sampah plastik maupun sampah-sampah anorganik lainnya yang bisa didaur ulang. ‘’Tentunya, kompetisi seperti ini sangat strategis untuk meningkatkan kepedulian siswa untuk bijaksana mengelola sampah plastik,’’ tegasnya. l Sumatika


Siswa SMA di Thailand sedang mencari donasi di jalan-jalan untuk pembangunan sekolah terpencil.

Penggalian Dana Sekolah ala Thailand JIKA kita membandingkan sekolah di Bali dengan Thailand, nyaris banyak persamaan. Misalnya, soal pendidikan budi pekerti, bahasa asing dan menumbuhkan rasa nasionalisme. Hanya saja rasa nasionalisme siswa di Thailand lebih teruji. Misalnya, soal perjuangan sosial mereka untuk membantu membangun sekolah. Mereka memiliki rasa peduli yang sangat tinggi untuk membangun pendidikan di daerah terpencil. Caranya mereka bergerombol (biasanya lima orang tiap lokasi) memasang foto sekolah yang akan dibantu ke pusatpusat perbelanjaan dan keramaian di Kota

Bangkok. Waktunya juga tak boleh mengganggu jam sekolah. Mereka koar-koar tanpa pengeras suara untuk memotivasi para pengunjung ikut memberi donasi untuk membantu kerusakan gedung di sebuah SD atau SMP yang kondisi gedungnya serba rusak. Termasuk membantu biaya pendidikan siswanya. Siswa yang laki-laki membawa kotak amal dan selalu mengucapkan terima kasih jika ada donatur yang memasukkan uang ke kotak. Tiap saat mereka juga melaporkan perbaikan sekolah yang sudah dibiayai oleh masyarakat. Hal ini berbeda dengan kondisi di Bali.

Tampaknya pembangunan sekolah hanya mengandalkan bantuan pemerintah dan komite sekolah. Kasubdin Dikmen Kota Denpasar, Drs. I Wayan Supartha, M.Pd., mengungkapkan pola dan semangat siswa Thailand ini perlu ditiru sekolah di Bali. Mereka ikut peduli nasib sekolah terpencil yang memerlukan bantuan dengan cara turun ke jalan mencari donasi. Sekalian juga menguji rasa jengah dan solidaritas mereka terhadap nasib pendidikan bersama. Ketiga, juga merupakan bagian dari rasa nasionalisme yang tinggi. l Sueca 2 - 8 Desember 2013

19


MANCANEGARA

Bentrokan di Mesir

Bangkitkan Memori Kelam

M

emori kelam tentang demonstrasi kembali membayangi Mesir. Lautan massa kembali memenuhi Tahrir Square dan bentrokan pun kembali terjadi. Setidaknya satu orang tewas ketika polisi anti huru-hara Mesir, didukung oleh kendaraan lapis baja, menyerbu lapangan di ibu kota negara, Kairo tersebut untuk membubarkan pengunjuk rasa. Aparat membalas lemparan batu pendemo dengan tembakan gas air mata. Seorang pejabat Kementerian Kesehatan mengatakan, sedikitnya 16 orang telah terluka dalam bentrokan, beberapa dengan luka tembak dalam demo memperingati demonstrasi mematikan 2011. Satu orang tewas terkena tembakan berdiameter peluru kecil (birdshot) selama bentrokan, kata kepala layanan darurat Ahmed al-Ansary. Namun belum jelas apakah korban adalah seorang pengunjuk rasa. Ratusan orang turun ke jalan menandai peringatan protes terhadap militer yang mengambil alih kekuasaan setelah penggulingan presiden Hosni Mubarak tahun 2011 lalu, sementara pengganti

Mubarak yang pada Juni 2012 terpilih secara demokratis, yakni Mohamed Morsi digulingkan. Mesir terpecah, antara pendukung Morsi dan orang-orang dari militer; namun pengunjuk rasa menuduh kedua sisi mengkhianati tujuan dari pemberontakan 2011 yang menggulingkan Presiden Hosni Mubarak. Bentrokan meletus dekat markas Liga Arab di salah satu sudut alunalun ikonik Tahrir. Para pengunjuk rasa menutup wajah mereka untuk memblokir gas air mata. “Saya di sini untuk membalas apa yang terjadi pada teman-teman saya yang tewas dalam Mohamed Mahmud. Tidak ada yang memberikannya hak-hak miliknya, “ kata salah satu pengunjuk rasa muda, Mohamed. Pada tahun 2011, setidaknya 43 pengunjuk rasa tewas selama beberapa hari bentrokan dengan polisi di Mohamed Mahmud, jalan dekat Tahrir Square. Bentrokan pada 19 November itu menandai pemberontakan serius pertama yang dihadapi oleh junta militer, pengambil alih kekuasaan setelah pengunduran diri

Mubarak pada Februari 2011. Kementerian dalam negeri mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pihaknya menangkap 14 perusuh, termasuk satu orang atas kepemilikan senapan rakitan dan menuduh para pengunjuk rasa berusaha menyerbu markas Liga Arab. Massa yang terlibat bentrokan dengan militer kemarin, bukanlah massa pro-Morsi. Massa menghimpun kekuatan berdemo karena kecewa adanya renovasi pada monumen di alun-alun yang diresmikan menandai tragedi Mohamed Mahmud. Para pengunjuk rasa menuduh pemerintah dan polisi merevisi sejarah pembantaian Mohamed Mahmud di tengah gelombang nasionalisme pro-militer setelah penggulingan Morsi. “Merayakannya untuk memuji tentara adalah provokasi. Kami di sini hari ini untuk berkabung atas pejuang,� kata Magda al - Masrya, salah seorang pendemo lainnya. Demo besarbesaran ini telah berlangsung beberapa hari. Apakah kejadian tahun 2011 lalu akan terulang kembali? l Gugiek Savindra


Pemindahan Batang Uranium Penuh Risiko Batang uranium akan dipindahkan dari kolam pendingin di gedung unit empat reaktor ke kolam lain yang lebih aman. Pihak operator Fukushima, Tepco, mengatakan diperlukan waktu lebih dari dua hari utuk memindahkan yang pertama dari 22 batang dan total akan memakan waktu sekitar setahun. Para ahli mengatakan ledakan hidrogen yang terjadi setelah gempa dan tsunami membuat sarana penyimpanan dan pendingin, sekarang menjadi sensitif atas gempa lebih lanjut. Tidak boleh terkena udara. Ketika tsunami menyerang, air meluap dari sistem pendingin di empat reaktor di Fukushima dan ada kekhawatiran beberapa batang uranium juga rusak akibat bencana tersebut. Persiapan pemindahan sudah dilakukan sejak awal November, antara lain dengan pembangunan sebuah derek baru untuk mengangkat batang uranium. Salah satu hal yang paling penting dalam proses pemindahan ini, menurut para ahli, adalah batang uranium harus tetap berada dalam kotak pendingin yang ikut diangkat saat pemindahan. Jika terjadi kontak langsung dengan udara maka ada risiko terlalu panas yang bisa menyebabkan kontaminasi. Sejak Jepang dihantam gempa dan tsunami dua tahun lalu, reaktor Fukushima menghadapi sejumlah masalah dalam beberapa waktu belakangan ini dengan Klik kebocoran terakhir terjadi 20 Oktober lalu akibat hujan lebat. Kebocoran reaktor pembangkit listrik Fukushima ini oleh banyak kalangan disebut sebagai bencana nuklir terburuk setelah Chernobyl, seperempat abad sebelumnya. Tiga inti reaktor bocor dari pembangkit Fukushima, mencemari udara, laut, dan makanan di kawasan Fukushima.

Lebih dari 160.000 warga di kota di utara Tokyo ini diungsikan. Pemerintah Jepang telah menyatakan bakal mengucurkan 500 juta dolar AS untuk menangani kebocoran radioaktif tersebut. Sementara operator pembangkit, Tokyo Electric Power Co (Tepco), pada

akhir Agustus 2013 mengakui juga ada kebocoran pada salah satu dari ratusan penampungan air pendingin reaktor, yang sebelumnya buru-buru dibangun setelah gempa. l Gugiek Savindra


DAERAH

Pasar Mangkrak

Kios Jadi Tempat Kos

B

angli sejatinya memiliki sejumlah pasar tradisional yang potensial untuk dikembangkan. Bangunan pasar yang ada di setiap kecamatan itu pun kondisinya terbilang cukup layak. Namun, keberadaan pasar tradisional itu tidak didukung dengan pengelolaan yang tepat. Sehingga mengakibatkan beberapa pasar tradisional tak jalan bahkan mati suri. Salah satunya, Pasar Yangapi di Desa Tembuku, Bangli. Kesan terbengkalai menyeruak saat memasuki lokasi pasar. Puluhan kios kosong nampak dalam kondisi rusak dan tak terurus. Padahal, di awal perencanaan pembangunan dan pengoperasiannya, Pasar Yangapi sempat menjadi pasar yang padat transaksi. Ramainya situasi pasar pada saat itu ternyata tidak mampu berlanjut sampai sekarang. Pasar tradisional milik pemerintah itu kini terkesan mati suri. Menurut Wakil Ketua DPRD Bangli I Made Sudiasa, terpuruknya Pasar Yangapi itu disebabkan oleh adanya perubahan kebijakan dalam pengelolaan pasar. Dituturkannya, dulu ketika didirikan pada masa pemerintahan Bupati Ladip, Pasar Yangapi selalu dipadati transaksi jualbeli. Bahkan, pedagang yang berjualan di pasar itupun banyak yang datang dari luar kabupaten, seperti daerah Nongan dan Menanga, Karangasem. Ramainya kondisi pasar, kata Sudiasa disebabkan oleh baiknya pengaturan hari pasaran Puluhan kios Pasar Yangapi di Desa Tembuku kosong dan dalam kondisi rusak serta tak terurus.

(pekenan) di pasar tersebut. Hari pasarannya berbeda dan tidak sama dengan hari pasaran pasar lainnya. “Ide awal pembangunan pasar, ketika masa pemerintahan Bupati Ladip sangat luar biasa, dengan keinginan membangun ekonomi masyarakat. Pertama ketika dioperasikan pun sangat ramai. Itu karena hari pasarannya diatur dengan baik,” ujarnya. Akan tetapi, pengelolaan pasar Yangapi lambat laun ternyata berubah seiring adanya pergantian pemegang kebijakan. Entah apa dasarnya, hari pasaran di Pasar Yangapi diubah menyamai hari pasaran beberapa pasar lainnya. Tentu saja, hal ini membuat kondisi pasar Yangapi yang pada mulanya ramai perlahan menjadi sepi. Banyak pedagang dan pembeli lebih memilih bertransaksi di pasar lainnya. Tidak hanya itu, politisi asal Desa Undisan, Tembuku ini juga menyayangkan minimnya terobosan pemerintah dalam merevitalisasi Pasar Yangapi saat ini. Pemerintah terkesan mengabaikan kondisi pasar yang sudah mulai rusak. Akibatnya, Pasar Yangapi pun menjadi mubazir. Bahkan, Sudiasa menyayangkan kondisi pasar yang semestinya

sebagai tempat transaksi jual beli malah beralih fungsi menjadi tempat tinggal. Beberapa kios yang seharusnya disewakan untuk tempat untuk berjualan, berubah menjadi tempat hunian semacam kos. “Dan kondisi sekarang ini menjadi keprihatinan kita,” imbuhnya. Terkait hal itu, Kepala Dinas Pendapatan Kabupaten Bangli Ketut Riang saat dikonfirmasi tak menampik kondisi itu. Bahkan, dirinya mengatakan hal itu sebagai permasalahan klasik yang dihadapi sejak beberapa tahun terakhir. Lesunya transaksi di Pasar Yangapi diakuinya lantaran belum baiknya pengaturan hari pasaran. Hari pasaran di Pasar Yangapi selama ini berbarengan dengan hari pasaran di pasar tradisional Bangbang. “Sementara warga yang dulunya berbelanja di Pasar Yangapi juga sebagian besar dari Bangbang. Itu sebabnya warga lebih memilih berbelanja di tempat yang lebih dekat,” ungkapnya. Lesunya Pasar Yangapi juga dikarenakan lokasi pasar tidak terlalu jauh dengan keberadaan Pasar Metra, dan sejumlah pasar tradisional lainnya. l Swasrina


MBP/dok

Pasar Seni Manggis yang dulu mangkrak, kini diubah menjadi pasar seni tradisional. Proyek perbaikannya sedang berjalan.

Dihuni “Wong Samar� PASAR seni Manggis lama mangkrak. Kini, diperbaiki dengan anggaran APBD Karangasem senilai Rp 1,5 miliar. Namun, status pasar seni diubah lagi menjadi pasar seni tradisional. Proyek pasar ini sepertinya bolak-balik. Dulu proposal Bupati Karangasem ke Pusat, mengusulkan proyek untuk pembangunan pasar tradisional. Begitu dana pusat digelontorkan, pembangunan pasar itu digagas jadi pasar seni. Tujuannya untuk mendukung pelabuhan kapal pesiar. Namun, pelabuhan kapal pesiar mangkrak sampai kini, pasar seni itu pun mangkrak. Sering dikritik Dewan dan diprotes masyarakat atas mangkraknya bangunan pasar seni tersebut, Pemkab lantas banting stir. Pasar seni diubah menjadi pasar seni tradisional dan dikucurkan dana Rp 1,5 miliar untuk pembangunannya. Kini proyek itu sedang berjalan. Rupanya, dulu karena proposal proyek pengusulan pasar itu ke pusat untuk pembangunan pasar

tradisional guna mempercepat pengentasan masyarakat miskin di kabupaten tertinggal itu, pusat dengan enteng menggelontorkan dana lebih dari Rp 600 juta. Tanahnya sendiri milik Desa Pakraman Manggis, Karangasem. Lokasinya persis di depan setra (kuburan) setempat dan terkenal angker. Dulu ada warga yang mau pulang kampung sempat berhenti di pasar itu. Karena perutnya lapar, dia pun membeli nasi babi guling. Dia lahap makan, karena masakan sangat enak. Namun keesokan harinya, dia lewat lagi pulang kampung dari Denpasar. Dia kaget karena sama sekali tak ada pasar. Tak ada juga pedagang nasi babi guling. Karena penasaran, orang itu lantas bertanya kepada penduduk sekitarnya, di mana pedagang nasi babi guling itu. Namun, warga di sekitar lokasi yang ditanyai sembari tersenyum menjawab, sama sekali tak ada pasar di sana, apalagi orang jualan nasi babi gul-

ing. Barulah orang itu, kaget, bahwa dia telah berbelanja pada wong samar. Karena lokasi pasar di depan setra, DPRD Karangasem juga kerap mengkritik. Pasar itu ada menyebut pasar wong samar. Dewan pesimis, pasar itu berjalan optimal. Soalnya, di desa tetangganya, sudah ada pasar tradisional Ulakan yang sejak dulu ramai dan menjadi aset desa setempat. Anggota DPRD Nyoman Sadra mengatakan tak mungkin memindahkan keramaian pedagang dan pembeli pasar Ulakan ke pasar tradisional seni Manggis. Sementara, pelabuhan kapal pesiar juga sampai kini mangkrak. Sementara anggota DPRD lainnya Gde Tamu Sugiantara, berpendapat lebih baik Pemkab Karangasem merevitalisasi (memperbaiki) bangunan pasar desa yang banyak kondisinya memprihatinkan, seperti Pasar Rubaya, Tukad Deling atau Pasar Tukad Delundungan semuanya di Kecamatan Kubu. l Budana 2 - 8 Desember 2013

23


K E S E H ATA N

Neuropati, Penyakit Saraf Akibat Kekurangan Vitamin B

R

asa kesemutan sulit dideteksi. Kesemutan kerap muncul begitu saja. Banyak orang juga tidak mengetahui apa sebetulnya penyebab rasa kesemutan tersebut. Memang, kesemutan bukan merupakan hal aneh. Setiap orang sering mengalaminya, baik itu di tangan, kaki dan bagian badan lainnya. Banyak menganggap kesemutan itu suatu hal biasa-biasa saja. Anggapan itu merupakan kondisi rasional. Tetapi, realitasnya bisa jadi sedikit yang tahu, kesemutan maupun rasa lemas yang diderita pada anggota gerak tubuh, sesungguhnya merupakan salah satu penyakit saraf tepi. Dalam dunia kedokteran modern biasa disebut neuropati. Neuropati didefinisikan sebagai penyakit saraf tepi yang memiliki gejala kesemutan atau lemas pada kaki dan tangan. Munculnya tidak sesekali, tetapi sangat sering dan terus-menerus. Dokter Spesialis Saraf RS Sanglah, dr. Purwa Samantra, Sp.S(K). memaparkan, neuropati itu muncul lebih pada seseorang yang kekurangan vitamin B. ‘‘Penyakit saraf itu ada dua tipe yaitu saraf pusat dalam hal ini otak dan tulang belakang serta saraf tepi dalam konteks ini neuropati,” ujarnya. Jika neuropati ini dibiarkan terus, ternyata bisa berakibat vatal karena dapat terjadi kelumpuhan pada pasien. Dijelaskan, bila neuropati itu tidak diobati maka lama-kelamaan otot pada anggota gerak mengecil, lemas bahkan keriput. Dalam waktu yang lama kondisi ini bisa mengakibatkan kelumpuhan. Neuropati ternyata bisa menyerang siapa saja dan semua usia. Namun, umumnya menyerang orang yang beraktivitas tinggi namun kekurangan vitamin B. “Vitamin B sangat dibutuhkan saat tubuh aktif. Jika kita kekurangan vitamin B ini, sementara aktivitas kita sangat tinggi maka potensinya besar terkena neuropati,” ujar Purwa. Solusi penanganannya, lanjut Purwa, biasanya pasien akan diberikan asupan vitamin B. Namun, seperti penyakit saraf umumnya, neuropati tidak bisa dikategorikan sembuh total meski sudah diobati. Ukuran kesembuhan pasien penyakit saraf ini disebut Aktif Daily Living (ADL). Artinya pasien bisa mandiri melakukan aktivitas sehari-hari seperti makan, mandi, ganti baju dan lainnya. Kesembuhan penyakit saraf ini, parameternya dilihat dari nilai ADL-nya itu. Penyakit saraf ini tidak bisa pulih alias kembali seperti semula saat sebelum sakit. ‘’Jadi pasien yang sudah menderita penyakit saraf ini bisa mengalaminya lagi, jika pola hidup pasien itu tidak dijaga dengan baik,” papar Purwa. Karena itu, menjaga kesehatan sangat penting tidak hanya saja untuk menghindari penyakit saraf tetapi juga penyakit lainnya. Makan cukup dengan menu sederhana. Dengan catatan makanan telah terpenuhi empat sehat lima sempurna. Jangan makan berlebihan. Jika pola hidup dijaga dan konsumsi vitamin B maupun mineral tercukupi, niscaya orang tidak hanya terhindar dari penyakit neuropati, terhindar juga dari penyakit noninfeksi lainnya. l Wira Sanjiwani

24

2 - 8 Desember 2013


Kencing Manis Picu Neuropati SELAIN kekurangan vitamin B, penyakit neuropati juga termasuk penyakit komplikasi yang muncul akibat penyakit lain. Biasanya neuropati muncul pada penderita kencing manis atau penderita kanker. “Jika seseorang terkena kencing manis maka pasien ini berpeluang besar terkena neuropati,� papar Purwa. Tidak sedikit pasien dengan riwayat kencing manis dan kanker mengeluh kesemutan atau lemas pada anggota gerak tubuhnya. Kondisi tersebut sesungguhnya merupakan gejala neuropati. Karena itu wajib tubuh ini dijaga dengan mendapat asupan vitamin B yang memadai. Orang

yang memiliki potensi sakit kencing manis maupun kanker, lebih dulu harus mengobati penyakitnya itu, agar neuropatinya bisa disembuhkan atau bahkan tidak muncul. Pasien yang menderita kencing manis, kadar gula darahnya harus selalu dikontrol. Usahakan dijaga agar selalu rendah, sehingga tidak sampai menimbulkan komplikasi penyakit lain seperti neuropati. Hal yang sama juga berlaku untuk kanker. Selain sebagai penyakit komplikasi, neuropati juga bisa muncul jika terlalu sering mengonsumsi makanan tercemar seperti pestisida. Jika zat ber-

bahaya seperti pestisida terakumulasi di dalam tubuh, lama-kelamaan akan mengakibatkan kerusakan pada sistem saraf tepi dan menimbulkan neuropati. Untuk meminimalisir penyakit saraf tepi ini, pilihlah makanan yang sehat serta bebas bahan pengawet. Selain itu bebas zat berbahaya lainnya borax, zat pewarna, makanan yang mengandung unsur lilin dan formalinnya. Selektif dalam memilih makanan itu sangat penting mendapat prioritas utamanya dalam mengonsumsi makanan sehari-hari. l Wira Sanjiwani

Sarat Vitamin B CUKUP asupan gizi dalam makanan dan minuman akan dapat menghindarkan seseorang dari berbagai macam penyakit, khususnya penyakit neuropati. Agar penyakit ini tidak menimpa seseorang, idealnya perlu asupan makanan dan juga minuman yang sarat akan kandungan vitamin B. Selain larut dalam air, vitamin B juga berperan penting dalam metabolisme sel. Jenis vitamin B ada delapan, yakni B1, B2, B3, B5, B6, B7, B9 dan B12. Vitamin B1 banyak ditemukan pada sereal gandum, roti, daging merah, kuning telur, sayuran berdaun hijau, kacang-kacangan, jagung manis, beras merah, buah dan ragi. Vitamin B2 banyak bisa diperoleh pada produk gandum, susu, daging, telur, keju dan kacang polong. Vitamin B3 didapatkan pada makanan kaya protein seperti daging, ikan, susu, telur, kacang-kacangan, kentang dan kacang tanah. Vitamin B5 banyak ditemukan pada daging, kacang-kacangan dan sereal gandum. Vitamin B6 bisa diperoleh dari hati, daging, beras merah, ikan, mentega, benih gandum, sereal gandum dan kedelai. Vitamin B7 banyak ditemukan pada hati, kuning telur, sayuran hijau dan gandum. Vitamin B9 banyak ditemukan pada ragi, hati, sayuran hijau dan sereal gandum Sedangkan Vitamin B12 dapat dikonsumsi pada hati, daging, kuning telur, unggas dan susu. l Wira Sanjiwani

2 - 8 Desember 2013

25


LENSA


DAUR ULANG Pemulung memilah sampah plastik dari sampah basah untuk dijual kembali sebagai bahan daur ulang. Di musim penghujan seperti saat ini, sampah plastik menjadi salah satu penyebab banjir yang harus mendapatkan penanganan serius. Daur ulang menjadi salah satu solusi meminimalkan volume sampah plastik. Selain itu, mengumpulkan sampah plastik untuk didaur ulang bisa menjadi sumber penghasilan bagi penekunnya.

l Diah Dewi

MBP/eka


OLAHRAGA

Si Merak Pertontonkan Kemolekannya

T

idak seperti sosok Lord Shen dalam film “Kung Fu Panda 2� arahan sutradara Jennifer Yuh, Ronaldo laksana burung merak yang mengembangkan bulunya untuk mengingatkan publik di Stadion Friends Arena bahwa siapa yang p a n t a s d i h a rgai di Solna, Swedia itu.

Pertandingan kedua babak playoff Piala Dunia 2014 zona Eropa yang mempertemukan Swedia vs Portugal tidak semata pertemuan dua tim untuk memperebutkan tiket menuju putaran final di Brazil tahun depan. Duel di Solna tersebut adalah pertemuan Cristiano Ronaldo vs Zlatan Ibrahimovic, dua sosok pemain yang disegani di Eropa. I am here, teriak Ronaldo sambil membentangkan tangannya seperti burung merak yang mempertontonkan kemolekan bulunya. Ia melakukan itu setelah mencetak salah satu gol dari tiga yang digelontorkan ke gawang Swedia sebelum timnya menang 3-2. Portugal melenggang ke Brazil dengan unggul keseluruhan 4-2. Ronaldo pula yang mencetak gol tunggal kemenangan Portugal saat sebagai tuan rumah di pertandingan pertama.

Peserta Putaran Final Piala Dunia 2014 di Brazil Wakil Eropa Belanda, Italia, Belgia, Jerman, Swiss, Spanyol, Inggris, Rusia, Bosnia-Herzegovina, Kroasia, Yunani, Portugal, Prancis Asia Jepang, Australia, Iran, Korea Selatan Amerika Selatan Brazil (tuan rumah), Argentina, Kolumbia, Chili, Ekuador, Uruguay Amerika Utara, Tengah dan Karibia AS, Kosta Rika, Honduras, Meksiko Afrika Nigeria, Pantai Gading, Kamerun, Ghana, Aljazair

Selebrasi penyerang timnas Portugal Cristiano Ronaldo.

MBP/ap


Kemenangan penuh ketegangan di partai tandang itu menjadikan media Portugal mengguyur timnas dengan pujian. Ini dikarenakan Ronaldo dkk diprediksi tidak mampu menghadapi hadangan serangan Swedia yang akan tampil habis-habisan. “Kolosal”, “Yang Terbesar”, “Kami Mempunyai Manusia Super”, “Halo Brazil” kata sejumlah judul berita koran di negeri yang berpenduduk 11 juta jiwa namun mampu menghasilkan pemain sepak bola kelas dunia. Korankoran itu memberi nilai maksimal 10 pada penampilan mesin gol klub Real Madrid itu. Sukses di Solna itu juga memberi catatan tersendiri. Ronaldo menyamai rekor gol Pauleta di timnas Portugal. Ia pun mempunyai peluang memecahkan rekor pendahulunya Luis Figo yang 109 kali tampil di timnas. Ronaldo memerlukan 19 pertandingan lagi. Kendati demikian, pemain kelahiran Madeira 5 Februari 1985 itu dinilai belum memberi kontribusi besar bagi tanah airnya seperti yang telah dilakukan pada klubnya Manchester United dan Real Madrid, meski dalam 10 pertandingan kualilifikasi Piala Dunia ini, ia menghasilkan 8 gol dan dua kali memberikan assist. Sembilan tahun lalu, ia nampak menangis saat Portugal dipermalukan Yunani 0-1 di final Piala Eropa. Saat itu usianya 19 tahun dan telah dimasukkan ke tim utama bersama Pauleta, Maniche, Deco, Figo dan Ricardo Carvalho oleh pelatih Luiz Felipe Scolari yang kini menangani timnas Brazil. Namun tim Samba Eropa itu harus takluk oleh gol semata wayang Angelos Charisteas dan tuan rumah dipaksa mengakui kehebatan tim Para Dewa Yunani. Ronaldo mencetak dua gol sepanjang turnamen itu. Dalam tiga turnamen besar berikutnya, Ronaldo hanya menghasilkan masing-masing satu gol di Piala Eropa 2008, Piala Dunia 2006 dan 2010. Dewi keberuntungan menaunginya saat tampil di putaran final Piala Eropa 2012 dengan menghasilkan tiga gol. Namun langkah Portugal terhenti di semifinal setelah ditundukkan sang juara Spanyol dalam adu penalti. Bagaimana dengan kali ini? Ia tetap

diperhitungkan setelah mencetak tiga gol ke gawang Irlandia Utara pada babak penyisihan Grup F, September lalu. Tetapi Portugal kalah bersaing dengan Rusia yang ditangani pelatih Italia Fabio Capello dengan selisih 1 poin dan hanya menjadi runner-up. Apalagi di playoff harus menghadapi Swedia. Tiket ke playoff dimanfaatkan dengan menggusur tim Kuning-Biru termasuk di antaranya dengan menghasilkan tiga gol. Bahkan ketiga gol tersebut terkesan identik yakni memanfaatkan celah pada pertahanan dan Ronaldo menyelesaikan umpan terobosan lewat aksi individual. Adalah Joao Moutinho yang melepaskan umpan jauh yang diselesaikan Ronaldo pada menit ke-50, 77 dan 79 itu. Ibrahimovic maupun pelatih Swedia Erik Hamren mengakui kecerdasan Ronaldo dalam membuat penyelesaian seperti itu. Itu semua berawal dari serangan total yang membuahkan dua gol Ibrahimovic yang membuat Swedia sempat unggul 2-1. Namun setelah itu serangan balik Portugal menghancurkan mimpi Ibrahimovic yang mungkin ini menjadi kesempatan terakhirnya tampil di Piala Dunia. “Saya tahu Portugal memerlukan diriku. Karena itu saya di sini,” tegas Ronaldo kepada stasiun televisi Portugal seusai pertandingan. Selebrasinya memang terkesan angkuh yakni dengan merentangkan tangan dan kedua kaki dan membelakangi penonton tuan rumah yang dipaksa membaca nama RONALDO dan nomor 7 di punggungnya. Namun Ronaldo perlu membuat pembuktian terhadap ucapan Presiden FIFA bahwa dirinya memang commander of the field. Namun kali ini bukan perkara rambutnya yang klimis dan tertata rapi, namun ketiga gol tersebut sebagai jawabannya di lapangan. Blatter sempat melontarkan pujian setelah pertandingan itu bahwa penampilan Ronaldo di Solna “fantastis.” Namun sebelumnya pemain bersangkutan telah mengantisipasinya dengan pernyataan. “Saya tak harus menjawab pernyataan seseorang. Tetapi inilah jawabanku di lapangan,” ujar peraih penghargaan Ballon d’Or 2008. Portugal, negeri yang menghasilkan penjelajah dunia seperti Bartolomeus Dias, Vasco da Gama dan Afonso de

Albuquerque di lautan dan Eusebio, Figo, Rui Costa di lapangan hijau, kembali tampil di Piala Dunia setelah 1966, 1986, 2002, 2006 dan 2010. Tim asuhan Paolo Bento itu berusaha mengulang penampilan terbaik Portugal yang mencapai posisi ketiga di Piala Dunia 1966 di Inggris. Konflik Blatter vs Ronaldo memang telah usai tapi dampaknya berlanjut. Tenggat waktu pemberian suara untuk penghargaan Ballon d’Or tahun ini pun di perpanjang. Seharusnya para juri memberikan suaranya pada akhir pekan lalu sebagai batas akhir. Namun hanya sedikit suara yang masuk sehingga batasnya dimundurkan sampai Kamis atau selesainya pertandingan kualifikasi Piala Dunia. Apakah ini tanda-tanda Ronaldo yang sepanjang tahun ini telah menghasilkan 66 gol, akan mendapat dukungan lebih banyak dari para juri setelah menciptakan tiga gol ke gawang Swedia? Jika iya, ini menjadi kesempatan untuk memperbaharui persaingan dengan Lionel Messi (Barcelona) yang merenggut penghargaan serupa empat kali berturut-turut (2009, 2010, 2011, 2012). Ronaldo yang musim ini menghasilkan 32 gol di semua kompetisi, menjadi pesaing utama Messi selain Franck Ribery (Bayern Munich) dalam perebutan gelar Pemain Terbaik Dunia itu. FIFA akan menyerahkan trofi etrsbeut pada 13 Januari mendatang. Ronaldo mencetak 13 gol dalam enam pertandingan terakhir atau sebelum setelah Blatter mengritik penampilannya di lapangan. Bahkan diketahui pula bahwa Blatter lebih suka permainan Messi yang membuat perebutan gelar tersebut semakin sengit. Messi sendiri kini harus istirahat akibat cedera hamstring. Penyerang asal Argentina itu menghasilkan 14 gol dalam 16 pertandingan terakhir, diyakini tidak akan bermain hingga akhir Desember. Namun Messi masih bisa tersebut saat dia menerima penghargaan Golden Boot untuk ketiga kalinya sebagai penghargaan atas kemampuannya mencetak gol terbanyak di dataran Eropa. l Yudi Winanto

2 - 8 Desember 2013

29


OLAHRAGA

Layar Dicoret dari PON 2016

Bali Terancam

C

abang olahraga (cabor) layar selalu mendulang medali emas untuk kontingen Bali di kancah PON selama ini. Namun, tradisi tersebut dipastikan tidak berlanjut karena cabor perairan itu dicoret alias tidak dipertandingkan pada PON XIX/2016 di Jawa Barat. Penghapusan itu dilakukan dikarenakan tuan rumah Jabar tidak memiliki sarana dan prasarana untuk menggelar pertandingan layar. Berita itu bagai petir di siang bolong buat Pengurus Provinsi Persatuan Olahraga Layar Seluruh Indonesia (Pengprov Porlasi) dan atlet selancar angin Bali. KONI Bali juga terkena imbasnya karena bakal kehilangan sejumlah medali emas yang selama ini rutin disumbangkan cabor ini. Peringkat kesembilan yang dicapai kontingen Bali pada PON XVII/2008 di Kaltim dan PON XVIII/2012 di Riau terancam melorot di Jabar. Ketua Pengprov Porlasi Bali I Gusti Made Oka Sulaksana paling menjerit dan kecewa dengan tidak dipertandingkannya layar di arena PON 2016. Bisa dimengerti karena cabor ini mempertandingkan 14 kelas dan ia bertekad membawa pulang empat medali emas dari Jabar. ‘’Kalau benar nanti layar dihapus, apa boleh buat habislah Bali karena empat keping emas akan melayang sia-sia,’’ ungkapnya. Oka yang juga atlet dan pelatih Porlasi Bali menganggap keputusan itu menyalahi aturan yang telah disetujui karena sebelumnya Jabar sudah menyatakan siap menjadi tuan rumah. Ia manyebut mustahil alasan yang dikemukakan daerah tersebut yang diketahuinya memiliki tempat yang bagus untuk menggelar pertandingan selancar serta didukung peralatan dan atlet yang memadai. ‘’Tidak ada alasan menghapus layar karena Jabar lebih banyak memiliki atlet daripada Bali. Lagi pula dalam setiap PON sedikitnya dua medali emas mereka bisa raih,’’ kilahnya. Selain itu, dilihat dari PON sebelumnya, Jabar mempunyai peluang lebih besar untuk

30

2 - 8 Desember 2013

meraih medali karena atletnya lebih komplit dibandingkan Bali. ‘’Saya yakin, jika layar dilombakan, minimal Jabar bisa menyabet beberapa medali, sebab banyak memiliki atlet potensial. Jabar juga mempunyai pantai indah yang cocok untuk olahraga layar,’’ ungkap Oka Sulaksana. Ia agak lega setelah menanyakan langsung kepada Ketua Pengprov Porlasi Jabar, dan mendapat jawaban bahwa layar tetap dipertandingkan di PON 2016. Tuan rumah hanya menghapus kelas-kelas yang tidak bisa diikuti akibat ketiadaan atlet. Oka juga menerima informasi bahwa penghapusan layar baru dilontarkan KONI Jabar, sehingga keputusannya belum final. Seandainya terjadi kemungkinan terburuk di mana layar benar-benar dicoret pada PON 2016, Oka mengaku akan tetap membina atlet Bali untuk dipersiapkan menghadapi event lain. Pihaknya tidak fokus pada satu event saja karena masih ada kejuaraan lainnya di luar PON. ‘’Selama ini pembinaan atlet layar di Bali bukan sekadar untuk PON 2016, tetapi juga ajang lainnya, termasuk SEA Games dan Asian Games. Tak hanya itu, saya juga mempersiapkan atlet menjelang PON 2020 mendatang,’’ tambahnya. Oka yang langgangan merebut medali emas di PON dan SEA Games semakin fokus membina atlet karena ingin segera pensiun. Ia tidak mau pembinaan atlet selancar angin di Bali putus di tengah jalan kendati belum mempunyai tempat khusus untuk menggelar latihan. Apalagi, sudah terbukti atlet Pulau Dewata mampu bersaing di tingkat nasional dan ajang internasional. Pada PON 2012 di Riau, cabang selancar Bali memperoleh tiga medali, yakni 1 emas, 1 perak dan 1 perunggu. Emas diraih Oka Sulaksana, perak disumbangkan I Komang Suartana sedangkan perunggu diperoleh Gede Subagiasa. l I Putu Eka Parananda

Atlet selancar angin berlatih di Sanur.


MBP/dok


KRIMINAL

Parkir Bandara Diguncang Korupsi Rp 28 Miliar

D

i tengah gencarnya Bali berjuang untuk memperoleh pendapatan dari perusahaan milik BUMN yang ‘’mencengkeramkan’’ kakinya di Pulau Dewata, malah terungkap kasus dugaan penyalahgunaan dana parkir di Bandara Ngurah Rai dengan nilai kerugian Rp 28 miliar. Kasusnya bukan terjadi tahun ini, melainkan periode 2009-2011. Menurut Kasipenkum Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bali Ashari Kurniawan, kasus ini awalnya dibidik tim Intel Kejati Bali yang diawali dengan pengumpulan data (puldata) hingga proses penyelidikan. Setelah sekian waktu melakukan penyelidikan, tim intel akhirnya menemukan indikasi kerugian negara mencapai Rp 28 miliar. Dalam kasus ini, empat orang diduga terlibat. Ketika tiba dalam proses penyidikan, kasus dugaan korupsi ini diambil-alih Kejaksaan Agung (Kejakgung). Hal itu dilakukan berdasarkan nilai kerugian negara yang ditimbulkannya sangat tinggi. Setelah mendapatkan data-data dan

sebelum dilakukan penangkapan, penyidik berusaha memanggil pihak-pihak yang diduga terlibat kasus ini. Tetapi orang yang dipanggil, salah satunya Mikhael Maksi (43) selaku Manajer Operasional PT PT Penata Sarana Bali (PSB), yang selama ini mengelola parkir di bandara, kerap mangkir. Hal itu tentu saja membuat aparat kejaksaan geram, sehingga terus menggencarkan pencarian. Mereka mengintai kediaman pria kelahiran Manggarai, NTT, tahun 1971 silam tersebut, di Perum Pegending Permai Mutiara IX/,15 Dalung, Kuta Utara, tetapi tidak ditemukan. Tim kejaksaan tak patah arang. Melalui pencarian yang cukup melelahkan, tim gabungan Kejakgung dan Kejati Bali ini akhirnya menciduk Mikhael Maksi di sebuah warung babi guling di kawasan Kuta pada Kamis (31/10) lalu pukul 23.00. Berikutnya petugas kejaksaan menciduk tersangka Indra Pura Barnoza, kelahiran Jakarta pada 9 September 1986. Dari catatan di kejaksaan, Indra tinggal di Jl. Buaran II Dalam III No. 10, Klender, Du-

MBP/DenPost/kmb

Tersangka kasus dugaan korupsi dana parkir Bandara Ngurah Rai masing-masing Rudi Jhonson Sitorus, Mikhael Maksi, dan Indra Pura Barnoza saat dilimpahkan ke Kejari Denpasar pada 19 November lalu.

32

2 - 8 Desember 2013

ren Sawit, Jakarta Timur. Dia sebelumnya dibekuk di Jakarta dan sempat ditahan di Rutan Kejakgung. Dalam kasus ini, Indra memegang jabatan Jenderal Manajer PT PSB. Begitupun tersangka Rudi Jhonson Sitorus (staf administrasi PT PSB), yang kelahiran Medan pada 25 Juni 1982, ditangkap tim khusus Kejakgung. Pria yang beralamat di Perum Purnawira Blok X/16 Denbar ini, juga diciduk di Jakarta. Sedangkan bos (Dirut) PT Penata Sarana Bali (PBS) Ketut Chris Wisnu Sridana (CS) berstatus DPO. Menariknya, Chris sempat diberitakan sudah ditahan oleh Kejati Bali. Tetapi, dia tidak ikut dilimpahkan ke Kejari Denpasar. Kejaksaan juga bergerak cepat. Mereka kemudian menyita rumah megah milik Chris di Perumahan Bougenville di Denbar. “Kalau tidak percaya, lihat saja,” ujar petugas kejaksaan. Benar saja. Di rumah mewah bertingkat dan Nomor 8A tersebut dipasangi plang oleh Kejakgung. Rumah sang Dirut PT PSB ini ditempel tulisan “Kejaksaan Agung RI: Pengumuman tanah ini disita oleh Kejaksaan Agung RI berdasarkan perintah penyitaan dari Direktur penyidikan Jaksa Agung Muda, Tindak Pidana Khusus Nomor print – 66/f.2/fd.1/10/2012 tanggal 22 Oktober 2012. Dan penetapan pengadilan Negeri Denpasar Nomor/ Khusus/PEN.PID/2013PN.DPS tanggal 29 April 2013”. Selain menyita rumah milik Chris, Kejakgung menyita aset tanah di tujuh lokasi berbeda. Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Denpasar Jaya Kesuma membenarkan penyitaan aset milik Chris yang diduga diperoleh dari hasil korupsi tersebut.


Geredeg Tersangka Korupsi Pipanisasi SETELAH dua tahun lebih kasusnya digantung Polda Bali, status Bupati Karangasem I Wayan Geredeg akhirnaya ditegaskan. Geredeg sudah tersangka sejak 2011,’’ ujar Dir. Reskrimsus Polda Bali Kombes Pol. Drs. Suryanbodo Asmoro. Bupati dua periode yang dijagokan Partai Golkar ini terjerat kasus dugaan tindak pidana korupsi Pekerjaan Kontruksi Jaringan Air Bersih atau Air Minum (pipanisasi) di empat kecamatan di Karangasem. Bersama Geredeg, ada delapan tersangka lainnya yakni IWA, IKY, GBB, KS, IKE, PTH, BMO dan KN. Didampingi Kabid Humas Polda Bali Kombes Pol. Drs. Hariadi, Suryanbodo mengatakan untuk IWA resmi ditetapkan sebagai tersangka sejak 25 Agustus 2011. Sedangkan, tersangka IKY, GBB, KS, IKE (sejak 4 Oktober 2011) dan tersangka PTH, BMO serta KN (sejak 6,7, 10 Oktober 2011). Penetapan semua tersangka itu setelah penyidik memeriksa sedikitnya 28 saksi. Ia mengatakan, banyak kendala yang dihadapi penyidik terkait lamanya menangani kasus ini. Salah satu kendalanya, berapa sejatinya kerugian

negara dalam kasus ini. Sebab, hingga sekarang, pihaknya masih berkoordinasi dan supervisi dengan KPK. ‘’Kami masih melakukan koordinasi dan supervisi dari KPK,’’ ucapnya. Untuk mengkaji kerugian negara dan melakukan koordinasi serta supervisi dari KPK, maka dilaksanakan gelar perkara di Kejati Bali, cek fisik oleh ahli dari ITB dan KPK, melaksanakan gelar perkara di ITB dan KPK serta penyerahan data kuantitas pipa, rencana kerja dan syarat serta rencana anggaran dan biaya. Sejak kasus ini ditangani, lanjutnya, berkas perkara untuk tersangka IWA, sudah beberapa kali bolak-balik ke Kejaksaan. Bahkan, jika dihitung sudah lima kali. Bolak-baliknya berkas itu, tentu ada kekurangan yang harus dilengkapi. ‘’Sekarang ini, penyidik masih bekerja dan melengkapi berkas itu sesuai petujuk Jaksa,’’ terangnya. Geredeg yang juga Ketua DPD Golkar Karangasem ini setiap kali ditanya kasus pipanisasi yang membelitnya, ia selalu berkelit. Ia mengaku belum pernah mendapatkan surat pemberitahuan bahwa dia menjadi tersangka. Bahkan Geredeg membantah dirinya korupsi. Ia berdalih air dari proyek itu, sudah dinikmati masyarakat. Sementara seperti diberitakan selama ini ada proyek pipanisasi untuk empat kecamatan yakni Manggis, Karangasem, Abang dan Kubu tahun 2009. Anggaran dari APBD Karangasem dengan plafon anggaran Rp 29 miliar lebih. Namun dalam tender yang dimenangkan PT Adi Karya, dana yang dipakai sebesar Rp 27 miliar lebih. Padahal, PT Waskita Karya kerja sama operasi (KSO) dengan PT Karya Putra Perkasa milik saksi Ketut Budiarsa, S.K.M., menawar lebih rendah yakni Rp 26 miliar. Namun entah kenapa, PT Adi Karya yang diberikan mengerjakan proyek itu. Pada tahun 2009, proyek itu tidak selesai. Dilanjutkan lagi pengerjaannya pada 2010 dan diberikan kepada PT Adi Karya mengerjakan proyek itu lagi. Tahun itu pun, pekerjaan proyek dinilai tidak bagus. Ada pipa tidak ditanam dalam sehingga menyembul di pinggir badan jalan. l Asih Purnama 2 - 8 Desember 2013

I Wayan Geredeg

33


DenPost/suryawan

KRIMINAL

Hendak ke Uluwatu Malah Masuk Jurang


P

ariwisata Bali heboh. Enam orang tewas, empat di antaranya wisatawan (turis) Cina, serta dua lainnya yakni sopir dan guide, tewas akibat bus pariwisata Anom nopol DK 9251 A, yang mereka naiki, masuk jurang di Jalan Pantai Suluban, Pecatu, Kutsel, Senin (18/11) sore lalu. Padahal awalnya wisatawan yang ditangani Happy Bali Travel, Tuban ini, bermaksud berwisata ke Puru Uluwatu untuk melihat sunset. Sebelumnya, mereka makan di Bule Ocean, tidak jauh dari lokasi kejadian. Tetapi, belum sampai di tempat tujuan, bus yang dinaiki turis Cina ini rupanya tak kuat menanjak di sebelah selatan Jl. Pantai Suluban. Menurut dua warga yang melihat kejadiannya, saat mesin bus mati, dua bule yang kebetulan lewat di sana membantu mengganjal ban belakang bus dengan batu. Sopir kemudian menstater hingga mesinnya hidup. Namun sebelum sampai di atas tanjakan, mesin bus kembali mati. Nah saat itulah bus meluncur ke bawah lalu jatuh ke jurang berkedalaman sekitar 15 meter. “Kejadiannya sekitar dua kilometer dari areal parkir Pura Uluwatu. Saya sama sekali tidak dengar kejadiannya, padahal rumah saya dua ratus meter dari sana,” kata warga lainnya. Begitu menghantam tebing, atap bus berada di bawah dan menghantam bebatuan di bibir kali kering. Bagian atas bus, terutama bagian depannya paling parah. Kondisinya ringsek dan isi bus berantakkan. Kursi bus juga hancur. Akibat kejadian itu, enam nyawa melayang. Mereka adalah sang guide yang asal Surabaya, Prigita Ester Susila Budi Arjoyo (40), sopir bus Agus Balitian Usman (36) yang asal Buleleng, sisanya turis Cina: Liu Baosheng (65), Ding Guo Zeng (52), Qin Ping Zhao (56), dan Jinli Zhao (50) tahun. SeBus pariwisata Anom nopol DK 9251 A yang hancur akibat masuk jurang di Jalan Pantai Suluban, Pecatu, Kutsel, Senin (18/11) sore lalu. Akibat kejadian ini, enam orang tewas, empat di antaranya wisatawan Cina.

dangkan korban luka yakni Mangna Li (57), Xian Ming Peng (52), Zhili Yangn (50), Huhuan Rong (48), Guo Ai Jlom (48), Gao Hang Sun (51), Yun Hae Peng (56), Hangiang Ping (40) dan Yingjian Zeng (44). Kasatlantas Polresta Denpasar Kompol Nyoman Nuryana mengatakan pihaknya telah melakukan olah TKP. Petugas mengecek lokasi kejadian dan bangkai bus yang teronggok di jurang tersebut. Polisi belum dapat memastikan penyebab kecelakaan bus itu, karena polisi masih melakukan penyelidikan secara mendalam. “Kami masih menyelidikinya, sehingga belum bisa disimpulkan,” tegas Kompol Nuryana. Tim Labfor Mabes Polri juga turun ke lokasi kejadian untuk memeriksa kondisi bus. Dari ruang kemudi hingga ban depan bus diperiksa secara cermat, namun petugas enggan berkomentar. Dir. Lantas Polda Bali Kombes Benone J.L. menambahkan, sejumlah kasus kecelakaan pernah terjadi di sana. Hal itu karena selain situasi gelap, juga minim rambu lalin dan marka jalan. “Kami akan berkoordinasi dengan pemda dan instansi terkait untuk menambah marka jalan,” tegasnya. Selain faktor kondisi jalan, faktor niskala agaknya tak bisa diabaikan begitu saja. Mangku Dalem Desa Pecatu I Nyoman Tetes (58) mengungkapkan, jembatan di Jl. Pantai Suluban, tempat bus Anom masuk jurang, selama ini dikenal tenget (angker). “Jembatan itu dibangun tahun 2000. Wilayahnya memang angker karena di sisi bukit utara (timur jalan) ada Pura Batu Bihi,” tegasnya. Menurut Tetes, sejak jembatan tersebut dibangun, sering terjadi kecelakaan di sana. Dulu pernah ada truk pengangkut koral yang masuk jurang. Tetapi truk nahas itu tidak sampai ke dasar jurang karena tertahan pohon jati. “Truk itu jatuh di sisi barat jembatan, dan sopirnya selamat,” kata pemilik lahan di seputar jembatan ini. Sementara bus Anom yang masuk jurang, kata Tetes, diselamatkan satu tonggak kayu sebesar lengan orang dewasa. Kayu tersebut menembus atap dan bodi bus bagian belakang sebelah kanan (dekat pintu belakang). Kayu itulah yang menahan bus sehingga

tidak jatuh ke dasar jurang. “Coba kalau tidak ada kayu itu, pasti bus nyungsep ke dasar jurang dan saya yakin pasti meledak. Hebatnya, hanya satu batang kayu mampu menahan bus sebesar itu,” tegasnya. Angkernya jembatan di Jalan Pantai Suluban ini juga diami pemilik lahan tempat I Wayan Somer, S.H. Menurut dia, terlepas dari kondisi jalan yang terjal, di lokasi jatuhnya bus Anom memang angker dan kerap ada penampakan. Salah satunya ular besar yang melintang di jalan pas di tanjakan tersebut. Ular itu dipercaya sebagai ancangan Ida Batara yang berstana di Pura Goa Batu Hitam di sebelah timur bagian atas jurang. Somer yang juga pengawas Balawista Kuta Selatan ini mengatakan, ancangan Ida Batara di Pura Goa Batu Hitam sangat banyak. Terkadang ada warga melihat orang serba hitam melintas tiba-tiba. Somer pernah mengalaminya sendiri yaitu melihat ular raksasa yang menghadangnya. Saat itu sekitar pukul 03.00 dini hari, Somer hendak mengantar orang ke rumah sakit dan melewati Jalan Pantai Suluban. Tiba-tiba di tanjakan di sebelah selatan, dia dihadang ular besar. Somer segera berhenti dan membiarkan ular melintas karena dia yakin itu merupakan ancangan Ida Batara. Kecelakaan yang menimpa bus Anom ini, kata Somer, bukanlah merupakan yang pertama kalinya. Sekitar lima tahun lalu ada truk pengangkut pasir yang juga meluncur mundur ke sisi barat jalan. Untung saja sopir dan kernetnya selamat. Selain itu, tiga bulan lalu ada bus yang menyenggol pembatas jalan namun tidak sampai jatuh ke jurang, termasuk sebuah mobil pick-up yang juga kecelakaan di sana namun tidak ada korban jiwa. “Sudah lebih dari empat kali terjadi kecelakaan di sini, belum lagi wisatawan yang naik motor,” paparnya.

2 - 8 Desember 2013

35


EKONOMI

Bisnis Mokas Kian Suram

B

isnis motor bekas (mokas) tinggal “separuh nyawa”, sepertinya sebuah ungkapan yang sama sekali tidak ditampik para pelakunya. Masa depan usaha jual beli kuda besi bekas tersebut dinilai makin suram. Bahkan tak sedikit, para pemilik usaha mokas yang berencana banting setir dan mencoba peruntungan di bisnis lain. Seperti apa? Sejak roda dua hadir sebagai salah satu sarana transportasi publik yang paling merakyat, segala sesuatu yang berkaitan dengan roda dua menjadi magnet bagi pelaku usaha. Usaha seperti bengkel, toko suku cadang, diler resmi dan showroom mokas pun makin menjamur. Tak sedikit pelaku usaha yang sukses menapaki laju bisnis di segmen tersebut. Sebut saja di seputaran Kota Denpasar, terdapat puluhan bahkan ratusan bengkel sepeda motor lengkap dengan suku cadang yang bersaing berebut ceruk pasar. Demikian juga dengan diler resmi dan showroom mokas yang tak mau ketinggalan. Semua jenis usaha tersebut memiliki segmen pasar masing-masing. Namun, pertumbuhan bisnisnya tentu saja tak luput dari perubahan. Persaingan di semua segmen pun kian ketat. Entah itu persaingan antarbengkel, toko suku cadang, diler dan showroom mokas, semuanya saling berebut konsumen dengan strategi masing-masing. Kendati demikian, rupanya tak semua usaha tersebut mampu bertahan di tengah persaingan. Salah satunya adalah usaha jual-beli mokas. Yang menarik, justru munculnya pengakuan dari para pelaku bisnis mokas yang mulai beranggapan bisnis yang mereka geluti tak lagi potensial dan tak akan bertahan lama. Sebelumnya, I Nyoman Seniweca, Ketua Pengurus Daerah Ikatan Motor Indonesia (IMI) Bali mengatakan, sampai saat ini sepeda motor memang masih menjadi pilihan masyarakat karena menimbang kecepatan dan ketepatan waktu. Dengan menggunakan roda dua, masyarakat akan lebih praktis melakukan aktivitas diband-

36

2 - 8 Desember 2013

ingkan dengan menggunakan roda empat. Permintaan roda dua pun terus meningkat dari tahun ke tahun. Dinas Perhubungan, Informasi dan Komunikasi Provinsi Bali, mencatat pertumbuhan sepeda motor dalam kurun waktu 12 tahun terakhir rata-rata naik 10,01 persen. Dari data tersebut, jumlah sepeda motor di Bali sudah di atas 1,5 juta unit. Setiap hari, sampai 500 sepeda motor baru dibeli oleh konsumen. Pada 1998 tercatat sepeda motor sebanyak 436.614 unit dan pada akhir 2010 meningkat menjadi 1.509.750 unit. Dengan besarnya jumlah pertumbuhan tersebut, lantas kenapa para pelaku di bisnis motor bekas justru mengatakan bisnis mereka tak lagi potensial? Pertanyaan tersebut tentu saja hanya bisa dijawab oleh para pelakunya. Salah satunya disampaikan oleh H. Dedik Sunardi, owner Ummi Motor di Jalan Kartini. Ia mengaku pasrah melihat kondisi pasar saat ini. Penjualan unit mokas di tempatnya tiap tahun turun drastis. Kondisi tersebut tak hanya dialami olehnya, melainkan oleh semua rekan pedagang mokas lain. Menurutnya, persaingan terbesar tentu saja datang dari kemudahan akses motor baru. Terlebih, hingga saat ini kredit mokas selalu ‘’dianaktirikan’’ oleh lembaga-lembaga pembiayaan. Lantaran bisnis mokas dinilai tak prospektif untuk digarap sebagaimana halnya motor baru. Dedik menilai, kondisi ini membuat para pelaku di segmen ini berpotensi gulung tikar alias bangkrut. Sebut saja penjualan di tempatnya, sepanjang tahun ini penjualan terjun bebas hingga 50 persen dibandingkan tahun lalu. Tahun 2012 lalu, ia mengaku masih mampu memasarkan hingga 50 unit tiap bulan, tetapi tahun ini paling banyak hanya 25 unit. ‘’Terus turun, penjualan tahun 2012 lebih sedikit dibanding 2011. Tahun ini bahkan lebih parah, penjualan hingga Oktober turun hingga 50 persen dibanding tahun 2012. Tahun depan mungkin akan lebih parah lagi, akibatnya kami mulai

mempertimbangkan menggeluti usaha lain,” ujarnya. Kondisi tersebut, tentunya berpengaruh terhadap kondisi kredit motor bekas. Saat ini kredit motor bekas bagaikan dianaktirikan oleh lembaga pembiayaan. Dibuktikan dengan besaran bunga kredit motor bekas yang tetap berada di kisaran 2,5-2,75 persen. Kredit motor baru jauh lebih rendah di kisaran 1,75-2 persen. ‘’Perbandingan besaran bunga tentu saja berpotensi mengurungkan niat pembeli motor bekas dengan cara kredit dan memilih motor baru. Sementara 80 persen konsumen motor bekas membeli dengan cara kredit,” tambah pengusaha yang tergabung dalam perkumpulan diler motor bekas se-Bali atau disingkat BUMCA ini. Selain dihadapkan dengan perbedaan bunga yang mencolok, para pelaku di pasar mokas juga dihadapkan dengan kenaikan BI rate yang membuat biaya administrasi pembelian secara kredit meningkat. Wayan Suparta, pemilik showroom mokas Putra Motor di Jalan Cokroaminoto mengaku, meski bunga kredit tidak dinaikkan oleh pihak leasing, mereka mensiasati dengan menaikkan biaya administrasi paling tidak 10 persen untuk pembelian mokas. Diakuinya, saat ini besaran administrasi kredit dari sisa utang untuk jangka waktu satu tahun sebesar Rp 550 ribu, dua tahun Rp 650 ribu, dan tiga tahun sebesar Rp 700 ribu. Angka tersebut, tentu saja makin membuat jera para calon konsumen mokas. Terlebih selain besaran bunga dan biaya administrasi, calon konsumen juga dihadapkan dengan wajib asuransi setiap melakukan pembelian unit mokas, dengan besaran 1-1,2 persen dari sisa utang. ‘’Tidak salah kalau bisnis motor bekas dikatakan bisnis yang hanya tinggal memiliki separuh nyawa,” pungkas Suparta. LAPORAN

Bisnis Bali Info Bisnis di Bali


Pupuk Ilegal Isi Kekurangan Pupuk Kimia PETANI di Buleleng belum lama ini dikabarkan kesulitan mendapatkan pupuk kimia bersubsidi untuk memupuk tanamannya. Hal ini juga sempat menjadi pembahasan di lembaga DPRD Buleleng. Tapi apa boleh buat, ternyata kekurangan pasokan pupuk tersebut akibat penurunan jatah pupuk bersubsidi dari pemerintah pusat ke petani di Buleleng. Sementara petani banyak kekurangan pupuk kimia bersubsidi, berbagai jenis pupuk ‘’baru’’ beredar di pasar dengan janji menyuburkan, membuat buah lebih lebat, daun lebih ranum dan lainnya. Pupuk yang kemudian disebut ilegal ini, membuat was-was petinggi pertanian di Bali. Pupuk ilegal ini didefinisikan pupuk yang sudah kedaluwarsa, izin edarnya sudah habis dan ada juga pupuk yang tidak terdaftar dalam rekomendasi izin edar dari Departemen Kementerian Pertanian RI.

Tujuan pemupukan untuk menyediakan unsur hara yang kurang atau sebagai pengganti unsur hara yang telah habis diserap oleh akar tanaman. Dalam proses pertumbuhan serta perkembangan tanaman dibutuhkan berbagai macam unsur hara, baik berupa hara makro maupun hara mikro. Adapun unsur hara makro yang dibutuhkan oleh tanaman adalah nitrogen (N), fosfor(P), kalium (K), kalsium (Ca), magnesium (Mg), dan belerang (S). Unsur hara mikro yang dibutuhkan oleh tanaman adalah besi (Fe), mangan (Mn), boron (B), seng (Zn), tembaga (CU), molybdenum (Mo), dan klor (CL). Ketersediaan hara makro dan hara mikro yang seimbang akan membuat tanaman menjadi sehat. Sayangnya, manfaat pupuk yang begitu besar tersebut dan juga ketergantungan petani terhadap pupuk untuk hasil produksi

pertanian, dimanfaatkan sejumlah kalangan untuk mendapatkan untung, yakni imingiming mampu meningkatkan kualitas dan volume produksi pertanian. Sebenarnya penggunaan pupuk ilegal tersebut malah mengancam produktivitas petani, bahkan makin menurunkan tingkat kesuburan tanah. Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Bali Ida Bagus Wisnuardana mengungkapkan, selama ini peredaran pupuk ilegal di lapangan cukup banyak. Untungnya dari pantauan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Bali melalui tim pengawas pupuk dan pestisida, penjualan pupuk ilegal ini kurang dilirik oleh petani di Bali selama ini. LAPORAN

Bisnis Bali Info Bisnis di Bali

Grup Hardys Holdings Jalin Kerja Sama dengan Bank Papua KOMITMEN Grup Hardys Holdings dan Bank Papua menjadi mitra strategis dalam pembiayaan modal bagi pengembangan bisnis 9 core business utama GH Holdings. Hal ini adalah bagian dari kontruksi pertumbuhan bisnis yang dibangun oleh GH Holdings melalui transformasi ke-4 Grup Hardys yang dimulai pada tahun 2010. Presiden Direktur Hardys GH Holding Ir. I Gede Agus Hardiawan mengatakan, saat ini GH Holdings terus bertumbuh dengan target capex di tahun 2013 yang mencapai 1,3 triliun dan pertumbuhan bisnis sebesar 35 persen. Sedangkan, di sektor ritel dengan 33 outlet yang dimiliki, GH Holdings mampu menjadi marketleader dengan marketshare terbesar di Bali, sesuai data yang dikeluarkan Nielsen Indonesia dengan rata-rata kunjungan normal per bulan mencapai 1,5 juta kunjungan ke seluruh HardysMalls di Bali. “Kami saat ini juga memiliki dan mengelola 15 malls di Bali dan Jawa Timur dengan anchort tenant Carrefour, Giant dan Ramayana. Tahun ini, Grup Hardys Holdings juga melakukan ekspansi bisnis di Nusa Tenggara Barat melalui pembangunan NTB City Center yang terdiri dari Condotel, Malls dan Convention Center di lahan seluas 3,3 Ha di pusat Kota Mataram, dari target membangun 4 malls,” terang Gede Agus Hardiawan dalam jumpa pers di Denpasar, Rabu (20/11). Dikatakan, dalam bisnis properti residensial melalui HardysLand yang telah memiliki 81 Ha Land Bank, GH Holdings sudah memulai

proses cut and fill untuk proyek pembangu- besar dalam mengembangkan bisnis Bank nan Jimbarwana Green Villas di lahan seluas Papua di Bali. Harapan kami kerjasama yang 30 hektar di Jembrana. Menyusul Nusa Dua dilakukan akan terus meningkat di masa deGreen Villas, Batubulan Green Villas serta pan,” ucapnya. Dijelaskan, bentuk kerja sama - kerja sama usaha lainnya. “Hal ini menjadi modal utama bagi GH yang dilaksanakan antara GH Holdings denHoldings untuk menjadi mitra strategis bagi gan Bank Papua adalah dukungan pembiayaan Bank Papua, sehingga mampu bertumbuh bisnis ritel melalui PT Hardys Retailindo bersama dan menjadi entri point bagi rencana (HardysRetail) dan bisnis Property melalui pengembangan bisnis Bank Papua di Bali,” PT Hardys Global Investindo salah satu unit bisnis HardysHotels yang membangun ungkapnya. Sementara Direktur Utama Bank Papua, POP!Harris Hotel Singaraja. “Ekspansi Bisnis Bank Papua di Bali Johan Kafiar menyatakan, kerja sama ini berdasarkan pada komitmen dan kepercayaan memberikan peluang bisnis yang baik di tendengan pertumbuhan bisnis Grup Hardys/GH gah pertumbuhan ekonomi Bali yang baik,” Holdings melalui 9 core business utamanya. katanya. (par) Diantaranya, HardysRetail (PT Hardys Retailindo), Hardys Property (PT Hardys Propertindo), HardysLand (PT Hardys Realtindo), HardysHotels (PT Hardys Hotel Indonesia), HardysAgro (PT Bali Agro Lestari Indah), HardysFunzone (PT Sarana Rekreasi Keluarga Indonesia), HardysInvestment (PT Hardys Corpora), HardysTrans (PT Sarana Transportasi Indonesia Indah), dan HardysAdvertising (PT Sarana Media Advertindo). “Kerjasama pembiayaan Presiden Direktur Hardys GH Holding Ir. I Gede Agus Haryang dilaksanakan bersama diawan didampingi jajarannya foto bersama dengan Direktur GH Holdings, menjadi langkah Utama Bank Papua, Johan Kafiar.


PARIWISATA

MBP/dok

Keberadaan pedagang acung yang kerap menganggu kenyamanan wisatawan berdampak buruk terhadap pariwisata Kintamani. Wisatawan pun mulai meninggalkan kawasan tersebut dan memilih destinasi lain yang lebih nyaman.

Kintamani

Luntur di Tangan Pengasong

E

ra tahun 90-an, kawasan Kintamani sempat menjadi primadona pariwisata di Bali. Jumlah kunjungan wisatawan ke kawasan yang me-nyuguhkan pemandangan alam menakjubkan itu mengalami kenaikan yang sangat signifikan. Bahkan, kawasan sejuk yang dikenal dengan keindahan panorama gunung dan Danau Batur ini menjadi icon pariwisata Kabupaten Bangli. Hanya saja, sejalan dengan perkembangannya, keinginan pemerintah yang mengebu-gebu, ternyata tidak didukung dengan tindakan masyarakat, termasuk juga pemerintah dalam menjaga citra pariwisata Kintamani. Pamor Kintamani di mata wisatawan pun luntur akibat ulah pengasong atau dagang acung. Tak sedikit para wisatawan, baik lokal maupun mancanegara yang masih mengeluhkan buruknya kenyamanan kondisi wisata di Kintamani. Permasalahan yang sering dikeluhkan wisatawan pun terbilang kompleks. Mulai dari sarana jalan yang tidak memadai hingga masalah keberadaan sejumlah pengasong yang kerap berkeliaran dan memaksa wisatawan untuk membeli barang dagangannya. Tawaran yang mereka lakukan ke para wisatawan

38

2 - 8 Desember 2013

pun kadang disertai de-ngan nada setengah memaksa. Seperti yang terlihat di kawasan penelokan Kintamani. Para pedagang acung yang banyak mangkal di pinggir jalur wisata ini kerap mengejar-ngejar wisatawan yang ingin sekadar menikmati pemandangan gunung dan danau dari kejauhan. Kendati wisatawan sudah menolak dan mengatakan tidak membeli, namun para pedagang yang sebagian besar merupakan warga lokal setempat terkesan membandel dan nekat terus mengejar wisatawan. Tak hanya di Penelokan, pemandangan seperti ini juga masih kerap ditemukan di kawasan Dermaga Kedisan. Wisatawan yang hendak menyeberang ke Desa Trunyan biasanya dihampiri sejumlah pedagang suvenir. Bahkan, untuk meyakinkan para wisatawan, mereka berusaha memperlihatkan tanda pengenal (ID Card) sebagai tanda pengenal yang menyatakan bahwa mereka merupakan pedagang resmi Pemkab Bangli. Kabid Bina Objek Disbudpar Bangli Wayan Merta, saat dikonfirmasi tak membantah kondisi tersebut. Dia mengakui, di kawasan wisata Kintamani masih banyak pedagang acung yang kerap mengejar

wisatawan. Berdasarkan pendataan terakhir yang dilakukan pihaknya pada 2011 lalu, tercatat sebanyak 615 pedagang acung yang tersebar di kawasan wisata Kintamani. Bahkan, menurutnya, jumlah itu kemungkinan mengalami kenaikan saat ini. Selain upaya pembinaan terhadap pedagang acung, pihaknya pun sudah melakukan penertiban aksi pedagang yang sering dikeluhkan wisatawan itu dengan pemberian id card sebagi tanda pengenal ke sejumlah pedagang acung itu. Hal itu sudah dilakukan pihaknya sejak tiga tahun yang lalu. Tujuannya yakni untuk memudahkan saat adanya complain dari wisatawan. Ke depan, untuk menekan kesan semrawut di kawasan Kintamani, pihaknya juga berencana akan merelokasi sejumlah pedagang acung di Penelokan ke sebuah tempat yang layak yang akan disediakan pemerintah. “Kami juga berencana untuk merelokasi pedagang acung ke toko yang sedang kami upayakan. Dan mudahmudahan itu bisa cukup untuk menampung ratusan pedagang, sehingga nantinya dapat menekan pedagang yang berkeliaran seperti sekarang,� harapnya. Swasrina


Dicoret dari Daftar ”Tour”

T

ahun 90-an kawasan wisata Kintamani itu masih disertakan dalam paket tour oleh wisatawan terutama Cina. Namun, lantaran kehadiran para pedagang acung yang menganggu kenyamanan wisatawan, kawasan itu pun dicoret dari daftar tujuan wisatawan. Ketua DPD Asosiasi Biro Perjalanan (Asita) Bali Ketut Ardana mengatakan, banyak hal negatif yang dialami wisatawan yang berkunjung ke Kintamani, akibat perilaku oknum-oknum pelaku wisata, termasuk masyarakatnya, yang memalak tamu. Para pedagang acung juga terus-menerus mengejar wisatawan agar membeli dagangannya. “Di antara 370 biro perjalanan wisata yang mendatangkan wisatawan ke Bali, beberapa ada yang tidak menjual paket wisata Kintamani. Ini didasarkan laporan kekerasan yang dialami wisatawan akibat ulah pedagang acung secara

berulang-ulang,” ungkapnya. Pemerintah Kabupaten Bangli diharapkan segera melakukan penataan di kawasan tersebut untuk memulihkan citra pariwisata di mata wisatawan asing. “Kalau Pemkab Bangli sudah melakukan pembenahan di Kintamani, kami siap mengajak perwakilan BPW di Bali, masing divisi untuk melihat kondisi Kintamani termasuk kawasan Geopark Gunung Batur,” janjinya. Adanya perbaikan dan penataan kawasan tersebut memang akan membuat BPW maupun wisatawan kembali melirik objek wisata Kintamani. Pemkab Bangli harus terus menata keberadaan pedagang acung, sehingga keindahankeindahan Geopark Gunung Batur, dan Danau Batur bisa semakin banyak dikunjungi wisatawan. Wakil Ketua GIPI Bali Bagus Sudibya dalam kesempatan itu juga meminta Pemkab Bangli segera melakukan pe-

nataan pedagang acung yang menjadi perhatian dari pengelola objek wisata Kintamani.  “Memang untuk menata pedagang acung ini perlu dibuat aturan yang jelas. Seperti halnya membuat perda pedagang acung,” sarannya. Dia menegaskan, praktik pemerasan dan penjualan barang secara paksa kepada wisatawan tidak boleh lagi terjadi di Kintamani. Pedagang acung yang mencari nafkah di kawasan itu perlu didik agar tidak lagi melakukan tindakan kekerasan yang mengganggu kenyamanan wisatawan yang berlibur ke Kintamani. “Untuk memudahkan pengawasan, pedangang acung juga wajib diberikan lisensi. Pedagang acung yang sudah memiliki izin mudah di kontrol oleh aparat pemerintah termasuk oleh pedagang acung yang tidak memiliki izin,” pungkasnya.

Wisatawan lokal mengambil gambar di kawasan Kintamani

Parwata

MBP/dok

2 - 8 Desember 2013

39


EVENT

Napak Tilas I Gusti Ngurah Rai

P

eringatan Hari Pahlawan dan Puputan Margarana ditandai dengan kirab lambang Pasukan Ciung Wanara dan surat Pimpinan Dewan Perjuangan Daerah Bali I Gusti Ngurah Rai, belum lama ini. Perjalanan pahlawan nasional ini berjuang melawan penjajah dimulai dari Kabupaten Jembrana dan berakhir di Taman Pujaan Bangsa Margarana. Kegiatan yang berlangsung di seluruh kabupaten/kota ini disesuaikan dengan rute gerilya I Gusti Ngurah Rai dan pasukannya.

MBP/tim bp

MBP/tim bp

MBP/tim bp

40

Diah Dewi

MBP/tim bp

MBP/tim bp

18 - 24 November 2013

MBP/tim bp


MBP/Edi

MBP/Edi

MBP/Edi

MBP/Edi

”OUTLOOK” 2014

S

eminar outlook ekonomi kembali digelar PT Bank Negara Indonesia (BNI) dan Bali Post belum lama ini. Seminar yang membahas tentang tren ekonomi 2014 ini menghadirkan sejumlah pembicara yakni pakar ekonom Faisal Basri, Wali Kota Denpasar IB Rai Mantra, dan Mr. Joger yang dimoderatori Prof. Ramanta. Acara dengan tema “Peranan Ekonomi Kreatif bagi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia” ini dihadiri pula CEO BNI Wilayah Denpasar Suwaluyo, Wakil Pemimpin Divisi Treasury Saktimaya Murti, Head of Business Banking BNI Wilayah Denpasar Eben Esser Naenggolan, dan Head of Network and Services Widianto.

MBP/Edi

Diah Dewi

2 - 8 Desember 2013

41


KULINER

Klepon yang Membuat ’’On’’

K

lepon Gianyar menjadi camilan favorit masyarakat lokal dan asing. Meskipun banyak makanan modern bermunculan, tapi jajanan tradisional tetap eksis sampai saat ini. Anggapan bahwa klepon adalah makanan desa yang tergolong murahan tampaknya salah, lantaran keberadaannya semakin laris manis di pasaran. Salah satu yang tidak asing di kalangan masyarakat Gianyar adalah klepon dari Banjar Sengguan Kawan, Gianyar. Dari sudut selera, jajan kelepon ini benar-benar membuat kita on. Salah satu pembuat dan pengusaha klepon dari Sengguan Kawan Desak Ketut Rai menyampaikan, “Sampai sekarang kami masih melestarikan klepon karena keberadaannya sudah dikenal wisatawan asing. Mereka yang ingin mencoba biasanya datang langsung ke dapur kami untuk melihat proses pengolahannya. Bahkan tidak sedikit yang ingin ikut membuat.” Bagi masyarakat Gianyar, kata Desak Rai, klepon tidak hanya dibeli untuk camilan pendamping kopi atau teh, tetapi juga untuk hidangan tamu, upacara keagamaan seperti pernikahan, potong gigi dan acara resmi

42

2 - 8 Desember 2013

seperti seminar dan rapat-rapat di kantor pemerintahan. “Apabila ada yang beli untuk acara, mereka sampai order 1.000 bungkus yang tiap bungkus isinya 4 biji,” terangnya. Selain dibeli wisatawan asing dan masyarakat lokal, sambung Desak Rai, klepon Sengguan Kawan sering ikut serta dalam festival makanan tradisional. Saat itu otomatis banyak yang ingin mencicipi sehingga keberadaannya tetap dikenal masyarakat mancanegara. “Saya membuat klepon sejak tahun 60-an, saat itu sering ditunjuk ikut lomba kategori jajan dan masakan daerah ke pulau-pulau seluruh Indonesia dan klepon sering dapat nominasi bahkan juara. Yang paling berkesan adalah ketika diundang untuk membuat makanan tradisional ke Istana Presiden di Jakarta,” tuturnya ramah. Dia menyampaikan, agar klepon tetap digemari masyarakat, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yakni bahannya harus alami. “Kami di sini menggunakan air campuran daun suji untuk mewarnai. Sementara untuk pemanis menggunakan gula merah asli dari Dawan, Klungkung yang dikenal memiliki kualitas baik

dan bagus untuk dikonsumsi,” terang Desak Rai. Pengolahan klepon, katanya, cukup sederhana dan hampir sama dengan yang lain yaitu terdiri dari campuran tepung ketan dan tepung beras. Campuran bahan tersebut dilumatkan dengan air daun suji hingga menjadi adonan. Kemudian adonan dibentuk bola, dilubangi dan diisi gula merah di dalamnya. “Bola-bola klepon ini kemudian direbus beberapa menit hingga matang dan mengambang. Klepon kemudian dicelupkan sebentar dalam air dingin agar tidak lengket. Terakhir, klepon ditaburi dengan parutan kelapa,” jelasnya. Saat ini, Desak Rai bisa menjual klepon 2.000 bungkus per hari. Selain klepon dia juga membuat jajanan tradisional lainnya seperti pisang rai, pasung, kue talam, sumping, bantal dan masih banyak lagi. “Dari sekian jajan tersebut klepon yang paling digemari wisatawan asing. Mereka kebanyakan dari Malaysia, Jepang, Cina dan Australia,” imbuhnya. IGA Ocha LAPORAN


”Senggol-senggolan” di Pasar Senggol Gianyar

B

erjalan di tengah keramaian, berdesakan, “senggol-senggolan” namun kemudian menikmati aneka sajian kuliner yang sangat menggugah selera, itulah pengalaman di Pasar Senggol Gianyar. Sebagian besar dari Anda mungkin sudah mengalaminya. Kalau belum, ayooo... Pasar Senggol Gianyar menjadi salah satu pusat wisata kuliner di kota Gianyar. Berbagai hidangan seperti lauk pauk dan jajanan Bali dijual di sini. Pengolahannya juga unik dan klasik karena dibuat dengan bahan bakar kayu. Kini, pasar senggol yang terletak di depan Pasar Umum Gianyar, tepatnya di Jl. Ngurah Rai selalu ramai dikunjungi masyarakat lokal dan wisatawan asing. Untuk sampai di tempat ini, diperlukan waktu kira-kira tiga puluh menit dari Kota Denpasar. Di lokasi ini ada dua titik lokasi belanja yakni Pasar Umum Gianyar yang dibuka dari pukul 03.00 hingga siang hari. Pasar ini khusus menjual kebutuhan rumah tangga sehari-hari serta sarana upacara. Yang kedua adalah pasar senggol yang terletak di depan pasar umum itu sendiri. Pasar ini dibuka

pada sore hari hingga malam yang khusus menjual berbagai makanan khas. Petugas parkir pasar Dewa Made Putra mengatakan, ketika pasar senggol mulai dibuka pada sore hari, para pedagang tampak ramai mendirikan tenda-tenda makanan. Saat itu pula para pembeli dari kalangan anak-anak, remaja, orang tua termasuk wisatawan asing mulai berdatangan. “Ciri khas pasar ini terletak pada makanan yang dijual. Kebanyakan para penjual menyediakan babi guling dengan berbagai jenis racikan yang berbeda seperti digoreng, direbus, dipanggang, dipepes, atau dicampur dengan berbagai macam sayur,” terangnya. Selain babi guling, kata Made Putra, tempat yang sudah menjadi wisata kuliner ini juga menjual makanan tradisional lainnya seperti ayam betutu, lalapan ikan dan ayam, ayam bakar, ikan bakar, capcay, gado-gado, aneka ikan goreng, soto, bakso, sambal, sate, tipat sayur, barbagai macam serombotan yaitu sayur urap dengan campuran bumbu kelapa parut dan sayur kacang. Dijual juga berbagai pepes seperti pepes babi, ayam, lindung, pindang tongkol. Selain itu, ada pula kue

tradisional seperti pasung, klepon, kolak, laklak dan pukis,” jelasnya. Sementara itu, Kepala Pasar Umum Gianyar I Nengah Nama Artawan menyampaikan, dengan adanya pasar senggol di depan Pasar Umum Gianyar, menyebabkan lokasi tersebut terus eksis dan dikenal sebagai pusat belanja. “Keberadaan pasar senggol ini dikelola desa adat bekerja sama dengan pemerintah daerah. Saat ini, keberadaanya sudah menjadi kegemaran masyarakat sebagai pusat kuliner,” terangnya. Untuk kebersihan dan keamanan lokasi ini, imbuh Artawan, sudah ditangani oleh pemerintah daerah. “Petugas keamanan saat ini sudah ada belasan orang, sementara kebersihan sudah ditangani oleh dinas kebersihan dan pertamanan kota. Karena lokasi pasar berdekatan dengan jalan raya, di sini juga sudah ada polisi lalu lintas untuk menertibkan kendaraan dan menyeberangkan pejalan kaki,” katanya. IGA Ocha LAPORAN


TRADISI

Upacara �Naur Palebuh� Ketulusan Mempersembahkan Sesuatu

M

ade Supada, warga Banjar Paketan di Desa Pakraman Buleleng, sempat galau. Ayahnya, Nengah Mastra, meninggal tahun 1964. Kakaknya, Made Badung, meninggal tahun 2003. Namun, bukan karena ayah dan kakaknya meninggal sehingga ia jadi galau berkepanjangan, melainkan karena ia belum sempat naur palebuh di Pura Desa secara lengkap dengan hati yang puas. Saat masih hidup Nengah Mastra dan Made Badung adalah krama Tri Datu di Desa Pakraman Buleleng. Di Desa Pakraman Buleleng, menjadi krama Tri Datu adalah sebuah jabatan. Merekalah krama yang dibolehkan naik-turun di pura saat digelar upacara agama. Karena dianggap sebagai pejabat, maka setelah meninggal mereka wajib naur palebuh berupa babi hitam dengan berat sekitar 80-100 kilogram. Made Supada mengatakan, palebuh untuk sang ayah sebenarnya sudah dibayar beberapa tahun lalu. Namun ia merasa tidak puas, karena hanya mengaturkan satu ekor babi. Sehingga ketika digelar upac-

ara naur palebuh massal pada purnama kalima, Minggu (17/11) lalu, ia bersama keluarganya mengaturkan sekaligus dua ekor babi; satu ekor palebuh ayahnya, satu ekor lagi palebuh kakaknya. “Sekarang baru saya merasa puas,� kata Made Supada yang saat ini menggantikan ayah dan kakaknya menjadi krama Tri Datu di Desa Pakraman Buleleng. Upacara naur palebuh di Pura Desa memang sebuah upacara unik yang mungkin hanya ada di Desa Pakraman Buleleng. Pada purnama kalima lalu, diselenggarakan upacara naur palebuh massal yang dilakukan oleh 32 keturunan dari mantan krama Tri Datu di Desa Pakraman Buleleng. Masing-masing keturunan mantan pejabat itu menghaturkan satu ekor babi sehingga dalam upacara itu terdapat 32 ekor babi. Prosesi upacara naur palebuh itu dilakukan mulai pukul 08.00 wita. Awalnya warga yang naur palebuh berkumpul bersama prajuru dan warga Desa Pakraman Buleleng di Catus Pata, perempatan Jalan Veteran dan Jalan Gajah Mada Singaraja. Dari Catus Pata, babi diarak

dengan berjalan kaki menuju Pura Desa. Begitu sampai di Pura Desa, babi itu kembali diarak berkeliling pura sebanyak tiga kali. Baru kemudian dilaksanakan proses persembahyangan. Usai persembahyangan, babi kemudian dipotong dan daging dibagikan krama Tri Datu, prajuru dan para pemangku di Kahyangan Tiga serta krama pangayah. Selain itu beberapa bagian daging babi juga diambil oleh warga keturunan mantan pejabat itu sebagai sarana upacara di merajan atau di pura dadia masing-masing. Bukan hanya krama Tri Datu yang wajib naur palebuh di Pura Desa Pakraman Buleleng. Orang yang pernah menjabat sebagai bupati dan klian desa pakraman, sedahan dan punggawa di Buleleng juga wajib naur palebuh. Bahkan palebuh untuk bupati dan klian desa pakraman berupa kerbau. Klian Desa Pakraman Buleleng Nyoman Sutrisna mengatakan, upacara naur palebuh itu sudah menjadi tradisi dan sudah masuk dalam awig-awig Desa Pakraman Buleleng. Dalam awig-awig itu disebutkan, orang yang menjadi Bu


pati Buleleng wajib naur palebuh berupa kerbau setelah meninggal atau di-aben. Hal yang sama juga berlaku bagi Klian Desa Pakraman Buleleng yang juga wajib naur palebuh berupa kerbau. Sementara untuk pejabat Tri Datu wajib naur babi. Hingga saat ini, mantan Bupati Buleleng yang sudah meninggal yang belum naur palebuh adalah Hartawan Mataram yang menjadi Bupati periode 1967-1978. “Jika ada mantan pejabat atau mantan Bupati yang belum naur palebuh, kami selalu lakukan pemberitahuan kepada keturunannya,� katanya. Apa sanksinya jika tak lakukan naur palebuh? Ternyata tak ada sanksi apa-apa. Menurut Nyoman Sutrisna, naur palebuh adalah bentuk dari ketulusan mempersembahkan sesuatu ketika seseorang diberikan suatu rezeki, kedudukan, atau jabatan. Jika tak naur palebuh, sanksinya mungkin hanya rasa tak enak dan selalu diliputi rasa bersalah. Adnyana Ole Salah seorang krama tri Datu “ngetisang tirta� kesejumlah palinggih saat upacara naur pelebuh


TTRRAADDI ISSI I

Pertahankan ’’Krama Tri Datu’’

M

eski berada dalam arus pusaran gaya hidup kota, Desa Pakraman Buleleng tetap mempertahankan berbagai keunikan dan kekhasan daerahnya. Pertama, mempertahankan eksistensi warga Tri Datu atau krama negak atau krama petang dasa. Kedua, tradisi melasti setelah hari Nyepi yakni pada purnama sasih kadasa. Siapa krama Tri Datu? Krama Tri Datu adalah simbolis dari pengiring Ki Barak Panji (yang kemudian menjadi Raja Buleleng yang dikenal dengan nama Anglurah Panji Sakti) ketika berangkat dari Klungkung ke Buleleng. Jumlah pengiring itu 40 orang. Keempat puluh orang itu dianggap sebagai krama negak yang

secara turun-temurun mendapatkan sejumlah keistimewaan. Pakaian krama negak itu pun berbeda dengan warga lainnya, di mana destar-nya putih, baju hitam, saput merah. Warna putih hitam merah itu adalah perwujudan dari Tri Murti (Brahma, Wisnu, Iswara). Sekitar tahun 1815 keadaan di Buleleng kacau balau karena diterjang banjir bandang. Lalu 40 krama negak itu dipanggil untuk mengamankan warga, lalu selanjutnya dipercaya sebagai pengawal adat, budaya dan hal lain yang mengancam Buleleng. Bahkan, dari 40 krama negak itu secara turun-temurun lantas dipilih menjadi penyarikan desa atau juru surat yang sekarang disebut klian desa.

Ketika mereka diberikan kedudukan, nantinya setelah meninggal keturunannya wajib naur palebuh di Pura Desa, tradisi unik yang mungkin hanya ada di Desa Pakraman Buleleng. Upacara ini digelar pada purnama kalima lalu. Sebanyak 32 keturunan dari mantan krama Tri Datu di Desa Pakraman Buleleng menyelenggarakan upacara tersebut. Masing-masing keturunan mantan pejabat itu menghaturkan satu ekor babi sehingga dalam upacara itu terdapat 32 ekor babi. Selain krama Tri Datu, mantan pejabat seperti bupati juga mesti melakukan upacara ini. Adnyana Ole


MBP/ole

Babi hitam dipersembahan krama Tri Datu saat upacara naur palebuh pada purnama kalima lalu.


GAYA HIDUP

Gaun Pengantin dan Aplikasi ’’Handmade’’

M

emilih wedding gown (gaun pengantin) adalah salah satu bagian penting rencana pernikahan. Kali ini, Putri Mertaningsih menghadirkan desain wedding gown yang seksi, feminin dan mewah. Melalui label Dinda Rella, ia membuat gaun yang mengambil inspirasi garis rancang dari arah tren mode di Eropa yang dilengkapinya dengan elemen handmade. Yang menarik adalah detil yang berfokus di bagian leher, dada, dan pinggang, sedangkan bagian lainnya dibiarkan menjuntai dan melambai. Hal ini agar saat pandangan diarahkan ke bagian wajah atau atas tubuh, akan terlihat aura keindahannya. Pilihan material berupa silk (sutra) dan satin, dan yang indah dan jatuh dan melayang selanjutnya memberikan kesan lebih slim dan sempurna pemakainya. Untuk menonjolkan kesan mewah, di antara desainnya pun dihadirkan busana dengan tail atau “ekor” baju yang cukup panjang. Untuk warna, Putri lebih memilih putih dan off white, agar tampil lebih elegan. Perpaduan elegan, seksi dan mewah berbalut detail handmade akan menjadikan kesan pernikahan yang menakjubkan dan tak terlupakan. Laporan


PROFESI

Spa, Gaya Hidup Modern

S

aat ini, istilah spa sangatlah populer. Banyak usaha pariwisata yang berkecimpung di usaha ini. Maka tidak heran, apa-apa kemudian tambah dengan salon dan spa, Hotel N” Spa, Gym and Spa dan lainnya. Pokoknya, apaapa spa. Salah satu pegiat usaha ini adalah Ni Nyoman Pujiarini. Dimulai dengan rasa jengah, kini menjadi seorang pengelola

dan produsen spa herbal. Saat ini, ada tiga usaha spa yang sudah dikelolanya. Semua itu masih bekerja sama dengan pihak hotel yang ada di kawasan Kuta dan di Ubud. Spa miliknya memang beda dari yang lainnya. Produksi bahan spa itu bernama Sari Herb. Bahannya benar-benar herbal dan sangat khas. Begitu juga para therapies yang memberikan sentuhan penuh aura positif. Produk spa buatannya bernama herbal compress. Produk ini paling banyak dicari untuk saat ini. Menurut para pelanggannya, kualitasnya baik, dan pas untuk menghangatkan badan, melancaran sirkulasi darah, menghaluskan kulit, obat gatal-gatal, rematik, dan obat sakit perut pascabersalin. Bagaimana kemudian sampai kepincut dengan spa? Wanita kelahiran, Gianyar, 21 Mei 1978 ini sebelumnya memang awam terhadap benda hasil alam itu. Apalagi yang namanya spa. Kata itu sangat asing di telinganya, walau ia berada dan tinggal di desa internasional, Ubud. Karena tekad yang kuat, ia akhirnya belajar dan tahu. “Saya mengenal spa gara-gara ditantang oleh wisatawan Jepang. Ia membawa bahan spa dari Thailand yang terbungkus rapi. Tanpa membukanya, saya langsung disuruh mencium baunya kemudian mencarikan rempah-rempah seperti yang ada di dalamnya. Wah, gila banget,” kata Puji mengenang pengalamannya. Meski tidak memiliki ilmu dan dasar pertanian, wanita asal Desa Peliatan Ubud itu merasa tertantang hingga langsung menyusuri daerah-daerah di Bali untuk mendapatkan rempah yang dimaksud. Di samping itu, ia juga banyak membaca buku, sehingga tahu berbagai jenis rempah yang ada. “Saya memiliki keyakinan, Indonesia dan Bali khususnya pasti memiliki rempah yang lebih banyak daripada Thailand,” ucapnya.

Setelah mendapatkan rempah itu, ibu dari seorang putra ini kemudian melakukan percobaan. Semua rempah itu dicari manfaat dan kegunaannya. Mula-mula, semua jenis rempah itu ditimbang lalu dicampur untuk membuat herbal. “Untuk mendapatkan hasil, kami berproses sangat lama yakni hampir dua tahun,” imbuhnya. Aw a l n y a m e n c a m p u r 1 4 j e n i s macam ternyata tidak cocok, kemudian 12 jenis juga tak cocok, lalu 11 jenis baru cocok dan sesuai dengan herbal dari Thailand itu. Dalam campuran itu sudah ada umbi-umbian, buah, daun, batang, dan akar. Untuk tes dilakukan. Di Jepang sebanyak empat kali. “Kami mulai melakukan penyelidikan sejak 2001 kemudian 2003 baru launching produk dan 2004 baru menjual produk,” ungkapnya. Dari pengalaman ini, terang Puji, Bali ternyata sangat kaya akan bahan spa. Bahkan, kualitasnya sangat baik yang 80 persen merupakan obat. Hampir semua tanaman yang tumbuh di Bali itu bisa dimanfaatkan sebagai obat. Memang, satu tumbuhan itu bisa berbeda fungsi, seperti daunnya beracun dan batangnya jadi obat dan bisa juga sebaliknya. Produk itu sudah terbungkus dari kain yang bentuknya bulat. Rempah itu kemudian diterapi dengan teknik yang diciptakan sendiri yaitu teknik masas dengan menggunakan kekuatan yanmg melebih dari orang biasa. Jadi, spa bukanlah sesuatu yang asing lagi. Dan bahkan kini menjadi sebuah gaya hidup masyarakat perkotaan modern pada umumnya. Banyak dari Anda mungkin sudah mengalaminya. Kalau belum, tidak ada salahnya toh untuk mencoba? Budarsana LAPORAN


Bali Post 14 | 2 - 8 Desember 2013

Cukup Bukti, Kenapa Takut?

RP 20.000


Majalah Bali Post Edisi 14