Issuu on Google+

30 | 24 - 30 Maret 2014

RP R P 20.000 20 00 000 000 00


DAFTAR ISI KILAS BERITA Hawa Panas as Membara Selimuti Australia 6 LAPORAN UTAMA Terkesan Dibodohi 8

DAERAH Pengelolaan Tanah Negara di Busungbiu

Pungutan Pemkab Tidak Ada Dasar Hukumnya 22 KESEHATAN Tindakan Medis Berakhir Buruk

Malapraktik atau Risiko Medis? 24

LENSA Tumpek Landep 26

Kasus Art Center Diskriminatif 10 ADVERTORIAL ”Udeng Poleng” Arjaya Dorong Perjuangan Otsus dan Infrastruktur untuk Bali 11 POLITIK Kampanye Terbuka Rawan Provokasi 12 ADVERTORIAL Sekar Jepun “Mengguncang” Jerman 14 EKONOMI Peningkatan Kuantitatif Bukan Jaminan Keberhasilan Koperasi 12 OPINI Ongkos Politik Mesti

OLAHRAGA Bayang-bayang Buruk Piala Dunia 2014 28 KRIMINAL  Kecanduan di Aceh Hijrah ke Bali 32 LINGKUNGAN Sinyal BPK dan Pengerukan Galian C 36 PARIWISATA Ketika Wisatawan ke Bali

JAJAK PENDAPAT Mengaudit Rekayasa Belanja Politik 17 PENDIDIKAN Hasil ”Try Out” UN SMA/SMK

EVENT Test Drive Luxio SENI ’’Say No’’ untuk

Didasari Ketulusan Hati 16

Matematika Tampil Sebagai ”Mesin Pembunuh” 18 MANCANEGARA Satu Tahun Paus Fransiskus

Memimpin Vatikan 20

Mimpi ke Pulau Dewata Berujung Petaka 38 40

Joged Porno 42

TRADISI Unik, ’’Mbed-mbedan’’

di Semate 44

PROPERTI Gorden

Pemanis Ruangan 46

HIBURAN Seni Mengendalikan

Emosi 48

PROFIL Suku Asmat ’’Kuasai’’

Monkey Forest 50

24 - 30 Maret 2014

3


DARI PEMBACA

Jalan ’’Berukir’’ di Ubud U

bud adalah kampung turis. Namun jalan dari Campuhan menuju Puri Ubud rata ‘‘berukir’’ seperti seninya Ubud, sangat ironis. Pemda harus cepat memperbaiki jalan itu karena PHR banyak datang dari Ubud jangan ditunda lagi, malu sama pelancong. Astawa Denpasar

Air Subak Gianyar B

arangkali Kota Gianyar di Bali adalah sebuah contoh amblasnya sawah di Bali yang mendekati kepunahan total. Dulu era tahun enam puluhan Kota Gianyar dikelilingi oleh sawah yang luas. Di sebelah barat GOR sekarang dulu adalah sawah yang luas, Jl. Kesatrian adalah sawah yang luas, di selatan Pasdalem sampai Abianbase adalah sawah yang luas, Desa Beng sampai ke rumah sakit adalah sawah yang luas. Tetapi sekarang boleh dikatakan 98 persen sawah itu sudah habis menjadi perumahan, perkantoran. Tegal ambengan seperti di Abianbase, Tedung sudah menjadi BTN. Siapakah yang patut menjaga sawah itu agar tidak punah? Barangkali nanti suatu saat anak-anak di Kota Gianyar tidak tahu apa yang namanya sawah. Sawah yang sudah habis, tetapi bendungan yang mengairi subak tersebut masih ada airnya. Secara logika dikemanakan air Subak Gianyar yang bersumber di bendungan Gitgit/Enjung dan sekitarnya? Apakah air itu tidak bisa digunakan untuk membersihkan got Gianyar yang sangat kotor dan sangat berbau seperti di Jl. Dipta? Nyoman Manda Br. Teges, Gianyar

Jalan Rusak dan Sempit S

aya mohon kepada Pemkab Kabupaten Karangasem, tolong perhatikan dari Culik ke Seraya jalannya rusak dan sempit, apa tidak bisa diperlebar? Daerah Amed sampai Seraya kan daerah pariwisata, harusnya bisa diperhatikan kondisi jalannya supaya tamu-tamu yang datang ke Karangasem puas. Guz lga Amed, Karangasem

Objek Wisata Jembrana O

bjek wisata di Kabupaten Jembrana mempunyai potensi cukup besar bisa dikembangkan. Di samping objek wisata spiritual yang kini sudah sering dikunjungi umat Hindu jika mengadakan perjalanan ke arah barat melalui Jembrana, pemandangan alamnya tidak usah diragukan lagi, dengan pohon kelapa terbentang luas dan hutan jatinya memberikan nuansa asri bagi yang melihatnya. Memang sementara ini wisatawan khususnya domestik Jembrana dilewati begitu saja dari pintu barat Gilimanuk terus meluncur ke Denpasar. Saya usulkan buat stop over dengan lokasi salah satu pantai. Misalkan Pantai Delod Berawah, di situ dibuat beberapa kamar mandi, disiapkan restoran yang bersih, sehingga wisatawan bisa istirahat sebentar sambil makan pagi tatkala menuju ke Denpasar atau sebaliknya pulang dari Denpasar mampir di tempat ini. I Made Jara Atmaja Jl. Nusa Indah, Gang II/3 Denpasar

4

Perintis K Nadha Pemimpin Umum ABG Satria Naradha Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab Wirata Redaktur Pelaksana/Wakil Penanggung Jawab Alit Purnata Sekretaris Redaksi Sugiartha Redaksi Alit Susrini, Alit Sumertha, Daniel Fajry, Dira Arsana,Mawa, Suana, Sueca, Yudi Winanto, Subrata, Budi Wiriyanto, Anggota Redaksi Denpasar Giriana Saputra, Oka Rusmini, Umbu Landu Paranggi, Subrata, Sumatika, Asmara Putra, Diah Dewi, Yudi Karnaedi, Wira Sanjiwani, Pramana Wijaya, Eka Adhiyasa, Dedy Sumartana, Parwata, Rindra, Agustoni, Widana, Ngurah Kertanegara, Manik Astajaya, Komang Suryawan. Bangli: Ida Ayu Swasrina, Buleleng: Dewa Kusuma, Mudiarta, Gianyar: Agung Dharmada, Karangasem: Budana, Klungkung: Bagiarta, Negara: IB Surya Dharma, Tabanan: Dewi Puspawati Jakarta Nikson, Hardianto, Ade Irawan NTB Agus Talino, Syamsudin Karim, Izzul Khairi, Raka Akriyani Surabaya Bambang Wiliarto Kantor Redaksi Jalan Kepundung 67 A Denpasar 80232. Telepon : (0361)225764, Facsimile: 227418, Alamat Surat: P.O.Box:3010 Denpasar 80001. Perwakilan Bali Post Jakarta, Bag.Iklan/Redaksi: Jl.Palmerah Barat 21F. Telp 021-5357602, Facsimile: 021-5357605 Jakarta Pusat. NTB: Jalam Bangau No. 15 Cakranegara Telp. (0370) 639543, Facsimile: (0370) 628257 Manajer Iklan: Suryanta, Manajer Sirkulasi: Budiarta, Alamat Bagian Iklan: Jl.Kepundung 67A, Denpasar 80232 Telp.: 225764, Facsimile : 227418 Senin s.d. Jumat 08.00-19.00, Sabtu 08.00-13.00, Minggu 08.00-19.00. Surat Izin Usaha Penerbitan Pers SK Menpen No. 005/SK/Menpen/SIUPP/A.7/1985 Tanggal 24 Oktober 1985, ISSN 0852-6515. Anggota SPS-SGP, Penerbit PT Bali Post. Rek. BCA KCU Hasanudin Denpasar AC: 0403070618 a/n PT. Bali Post. Rek. BRI Jl. Gajahmada Denpasar A/C: 00170 1000320 300 an Pt.Bali Post. Dicetak di Percetakan BP

24 - 30 Maret 2014

4


5


KILAS BERITA

Warga Keluhkan Jalan Jebol WARGA Banjar Pradi, Desa Songan, Bangli, kembali mengeluhkan kondisi jalan yang amblas, namun tidak kunjung mendapat penanganan dari pemerintah. Pasalnya, sudah lebih dari dua bulan, jalan yang telah tergerus sebagian tersebut belum diperbaiki. Warga khawatir kondisi itu akan semakin parah dan dapat membahayakan pengguna jalan. Selama ini, jalan yang jebol tersebut satusatunya akses masyarakat untuk menuju Pura Kawitan Kayu Selem. Selain untuk aktivitas ekonomi, jalan itu juga jalan utama pelajar menuju SD dan SMP. Warga setempat Gede Seridana, Senin (10/3) mengatakan, pascaamblas akibat diguyur hujan beberapa bulan lalu, kondisi jalan di wilayah itu kerap dikeluhkan warga. Pinggiran jalan banyak yang terkikis hingga menyisakan sebagian badan jalan. Selain nyaris putus, kondisi jalan dari atas sampai perbatasan juga sudah hancur. ‘’Jebolnya sudah lama. Tetapi sampai saat ini tidak pernah mendapat perbaikan. Memang beberapa waktu lalu sempat dilakukan pengecekan oleh PU, tetapi sampai saat ini tidak ada tindak lanjutnya,’’ kata Seridana.  Swasrina

MBP/ina

MBP/afp

Hawa Panas Membara Selimuti Australia

N

egeri Kanguru kembali harus melewati “musim panas membara” dengan lebih dari 150 rekor temperatur terpecahkan. Peringatan juga muncul jika gelombang panas dan kondisi yang membuat peluh bercucuran, akan semakin memburuk. Di antara rekor-rekor yang pecah, Perth mengalami temperatur malam hari paling panas sepanjang sejarah dengan 29,7 Celsius, Adelaide mencatat hawa paling hangat pada Februari mencapai 44,7 Celsius, sementara Sydney melewati musim panas paling kering dalam 27 tahun terakhir. Semua kondisi ini mengikuti kondisi tahun terpanas yang dialami oleh Aus-

tralia pada 2013, seperti dijelaskan oleh pengamat independen Climate Council, Senin (10/3). “Australia kembali mengalami musim panas yang marah,” jelas ilmuwan Climate Council, Tim Flannery, di mana organisasinya menganalisa data iklim dari seluruh penjuru negeri. “Kami mendapati catatan rekor sangat besar dari gelombang panas dan kondisikondisi cuaca ekstrim lainnya.” Australia Tenggara terus mengalami gelombang panas berkepanjangan seperti di Adelaide, Melbourne dan Canberra, sementara negara-negara bagian di South Australia, Western Australia dan Victoria diamuk oleh kebakaran semak belukar.  Agustoni/afp

Kandang Ayam Akhirnya Distop PEMBANGUNAN kandang ayam di Dusun Kelodan, Desa Busungbiu, Kecamatan Busungbiu, akhirnya distop. Hal ini karena Pemkab Buleleng belum menerbitkan izin pembangunan kandang ayam tersebut. Informasi yang dikumpulkan di lapangan menyebutkan, pembangunan kandang ayam tersebut dihentikan secara total. Selain meterial yang sudah diangkut dari lokasinya, pekerja juga mulai membongkar bangunan yang sudah dikerjakan sebelumnya. Pekerja ini mengaku tidak tahu persis alasan pembangunan kandang ayam itu dihentikan.

6

Mereka mengaku hanya disuruh oleh pemilik bangunan untuk membongkar bangunan yang sudah dikerjakan sebelumnya. “Tidak tahu, saya hanya diminta membongkar bangunannya dan memindahkan materialnya. Masalah apa penyebabnya tidak jadi dibangun kami tidak tahu sama sekali,” ujar seorang pekerja yang menolak menyebut identitasnya, Senin (10/3). Di tempat terpisah, Camat Busungbiu I Putu Sudimana Diana, ketika dimintai konfirmasi, membenarkan pembangunan kandang ayam di desanya itu sudah dihentikan oleh pemiliknya.  Mudiarta

MBP/mud

24 - 30 Maret 2014

6


’’Banyupinaruh’’

Seorang Warga Terseret Arus SAAT Banyupinaruh, Minggu (9/3), Pantai Saba, Blahbatuh, Gianyar, nyaris menelan korban. Seorang pengunjung Pantai Saba, Wayan Sudiarta asal Desa Kendran, Kecamatan Tegallalang, Gianyar, terseret arus sekitar pukul 07.10 wita. Korban dapat diselamatkan oleh rekannya dengan memberikan kantih perahu milik nelayan setempat. Informasi yang dihimpun di lokasi menyebutkan, saat Banyupinaruh, Pantai Saba telah ramai dikunjungi sejak pukul 05.00 wita. Wayan Sudiarta bersama lima orang temannya datang ke pantai tersebut hendak melaksanakan prosesi Banyupinaruh. Korban bersama temannya kemudian mandi di pantai itu, tepatnya di depan Pura Anyar Saba. Tak lama setelah itu, tiba-tiba korban tak kuasa mengendalikan arus laut sehingga terseret ke tengah beberapa meter. Korban yang berteriak minta tolong kemudian dibantu oleh teman-temannya. Warga, aparat keamanan dan petugas dari Balawista juga ikut membantu mengevakuasi korban. Saat terseret, korban sempat berada di tengah laut sekitar 45 menit. Korban diberikan pertolongan dengan sebuah kantih perahu, sehingga bisa bertahan. Kemudian perlahan korban ditarik menepi ke pantai. Seizin Kapolsek Blahbatuh Kompol Wayan Latra, Babinkamtibmas Desa Saba Aiptu Ketut Sedana mengatakan, korban yang tengah berada di tengah laut diupayakan keluar dengan dibantu kantih perahu oleh temannya.  Agung Darmada

MBP/dar

Pembangunan Halte Dikeluhkan PEMBANGUNAN halte di setiap pintu masuk desa di Jembrana mendapat keluhan masyarakat. Selain dinilai tidak tepat, anggaran untuk pembangunan halte itu dianggap terlalu besar. Letak halte juga dinilai kurang tepat, lantaran posisinya tidak berada di pinggir jalan utama yang dilalui bus antarkota dalam provinsi. Tokoh masyarakat Desa Tukadaya, Ketut Wisnu Wardana, Selasa (11/3), mengaku sangat menyayangkan adanya pembangunan itu yang terkesan tidak tepat. Apalagi pihaknya mendengar biaya untuk halte mencapai Rp 200 juta. ‘’Fungsinya juga tidak mendesak. Daripada untuk halte lebih baik anggaran itu digunakan untuk yang lain yang lebih bermanfaat di desa,’’ ujar mantan Perbekel Tukadaya itu. Kepala Dinas Perhubungan I Gusti Bagus Putra Riyadi mengatakan, anggaran

untuk tiap unit bangunan halte hanya Rp 48 juta. Tidak benar mencapai Rp 200 juta. Pembangunan halte itu juga melalui kajian yang matang dan bermanfaat bagi sistem transportasi di Jembrana.  Suryadarma

MBP/wan

Tolak Reklamasi

Ratusan Warga Sembahyang di Candi Narmada PERJUANGAN Jalak Sidakarya menolak reklamasi Teluk Benoa disambut elemen masyarakat lain. Salah satunya adalah Elemen Masyarakat Pesisir (EMP) Tolak Reklamasi. Dalam aksinya, Minggu (9/3), mereka tidak menggelar orasi. Mereka menggelar persembahyangan bersama di Pura Luhur Candi Narmada, Tanah Kilap. Aksi spiritual yang dimulai sekitar pukul 10.00 wita ini diikuti ratusan warga dan tokoh masyarakat pesisir Kota Denpasar. ‘’Perjuangan kita lewat jalur spiritual karena

Bali pulau seribu pura. Selama ini perjuangan rakyat menolak reklamasi tidak pernah direspons oleh pemimpin Bali. Maka dari itu kita sekarang berserah kepada Ida Batara yang berstana di Pura Candi Narmada, kita doakan pemimpinpemimpin Bali agar dibukakan hatinya, dibukakan pikirannya untuk tetap menjaga alam Bali, untuk menjaga kelestarian lingkungan yang ada di Bali,’’ ujar Koordinator Elemen Masyarakat Pesisir Tolak Reklamasi A.A. Ngurah Pujawan, S.E.  Rindra 24 - 30 Maret 2014

7

7


LAPORAN UTAMA

Terkesan Dibodohi

K

asus pengadaan sound system, lighting, genset, CCTV beserta kelengkapannya di Taman Budaya Bali yang lebih dikenal dengan kasus Art Center, kembali menggelinding. Dua pejabat, Ketut Suastika dan Mantara Gandi sudah diperiksa sebagai tersangka. Namun pemeriksaan itu, belum diikuti penahanan. Mereka masih diberikan bebas. Alasannya, kedua tersangka kooperatif, tidak saling memengaruhi serta diyakini tidak menghilangkan barang bukti. Bagaimana awal kasus ini terungkap ke publik?

Jauh sebelum menjadi temuan BPK, Bali Post telah mengingatkan bahwa proyek yang anggarannya Rp 21,1 miliar itu akan bermasalah. Berhari-hari koran ini mengingatkan bahwa proyek ini kemahalan. Namun, pihak Pemprov Bali menyatakan bahwa tidak terjadi kemahalan. Sebab pengadaannya sudah sesuai mekanisme pengadaan. Bahkan ketika DPRD Bali memanggil pihak Disbud Bali, jawaban yang didapat juga sama. Bahwa proyek tersebut tidak ada kemahalan. Atas silang pendapat kala itu, Bali Post pun mewawancarai praktisi yang bergerak di bidang sound system. Ia adalah Prihartana, S.E. yang bergelut di bidang audio system dan lighting. Ia menilai proyek itu kemahalan. Karena dari hitung-hitungan harga dengan spesifikasi yang ada seharusnya anggaran tidak mencapai Rp 10 miliar. ‘’Untuk barang dengan spesifikasi yang paling top saja hanya menghabiskan anggaran Rp 12 miliar,’’ ujar. Selain terlalu mahal, menurutnya, upaya Pemprov Bali membeli peralatan sound system dan lighting dengan anggaran sebesar itu hanya untuk keperluan Pesta Kesenian Bali (PKB) terkesan mubazir. Sebab, alat seperti sound system hanya mampu bertahan tiga hingga empat tahun setelah itu hasilnya tidak bagus lagi. Karena peralatan sound system terbuat dari kayu dan elemen besi yang bisa mengkarat. Sebagai masyarakat Bali, dirinya berharap pemerintah dapat bijak dalam hal anggaran dengan tidak buang-buang dana yang begitu besar hanya untuk membeli alat-alat yang spesifikasinya

8

24 - 30 Maret 2014

tidak masuk akal jika dianggarkan Rp 21 miliar. ‘’Saya baca di media, Kepala Dinas Kebudayaan Bali mengatakan pengadaan sound system di Taman Budaya sudah sesuai aturan, yang saya ingin tahu aturan yang mana. Saya kira beliau dan panitia tidak pernah tahu hu atau dengar tentang harga-harga dan an spesifikasi yang sebenarnya, sehingga ga terkesan dibodohi,’’ katanya. Anggota DPRD Bali Ketut ut Kariyasa Adnyana juga urung bicara. a. Ketika itu ia mengingatkan instansi si terkait yang bertanggung jawab terhadap erhadap proyek pengadaan sound system ystem dan lighting di Taman Budaya daya Bali bekerja ekstra cermat agar proyek tersebut tidak bermasalah masalah di kemudian hari. Dia juga berharap agar proyek tersebut tidak bernasib sama ma dengan proyek Bali Crisis Centre entre atau lebih dikenal dengan LED D TV yang jadi temuan BPK karena dinilai kemahalan. ‘’Kami berharap ap dan mengingatkan agar instansi terkait bekerja ekstra cermat sehingga hingga proyek pengadaan sound system dan lighting di Taman Budaya udaya Bali ini tidak bernasib samaa dengan proyek LED TV,’’ sarannya annya ketika bertemu dengan jajaran jaran Disbud Bali. Alat-alat sound system dan lighting yang dipasang di Taman aman Budaya bermerek JK Coustic, ustic, desain Amerika Serikat (AS) AS) namun buatan Cina. Termasuk asuk mike dan aksesoris kelengkagkapannya. Selain dianggap kemamahalan, sistem instalasinya juga uga

tidak standar di dunia audio pro. ‘‘Dari segi anggaran, saya menganggap alat-alat tersebut tidak relevan alias kemahalan,’’ ujar Prihartana. Untuk memastikan barang-barang tersebut buatan Cina, kata dia, sesungguhnya bisa melihatnya dengan membuka web yakni www.jkcoustic.com. Demikian pula jika mau melihat harga alatalat tersebut di negara asalnya, Cina, bisa dilihat di Google. ‘’Artinya, barang-barang desain Amerika buatan Cina itu bukannya jelek kualitasnya. Cuma, harganya saya duga terlalu mahal untuk spesifikasi barang yang dipasang,’’ katanya.

Mantara Gandi di

MBP/dokk

8


Kata Prihartana, karena panitia sudah membuat aturan spesifikasinya, otomatis alat-alat tersebut sudah sesuai aspek. Tetapi, menurutnya, harganya kemahalan. Hitung-hitungannya, ditengarai ada selisih harga sekitar 60 persen dengan yang dianggarkan. Pihaknya tidak mempersoalkan siapa rekanan pemenang tender, tetapi yang penting wajar, dengan harga yang wajar pula. Sebelumnya, dalam Surat Pembaca Bali Post, Prihartana sempat mengatakan bahwa sepengetahuannya dari draf permintaan panitia tander untuk kebutuhan sound system, lighting dan lain-lainnya sangat tidak masuk akal dengan dana yang disiapkan Rp 21,1 miliar dengan spesifikasi barang yang diminta oleh panitia. Selaku masyarakat Bali yang selalu mengikuti perkembangan dunia audio system dan lighting, dalam surat pembaca itu ia menanyakan sejumlah hal, di antaranya siapa yang membuat spesifikasi kebutuhan sound system, lighting, genset untuk keperluan Art Centre? Apakah tidak kemahalan dan buangbuang dana yang begitu besar hanya dengan membeli seperangkat alat-alat yang spesifikasinya sangat tidak masuk akal jika dianggarkan Rp 21,1 miliar? Sepengetahuannya, barang-barang yang spesifiknya dibuat oleh panitia lelang pengadaan alat-alat di Art Centre, dengan anggaran Rp 21,1 miliar sangat luar biasa, karena dengan anggaran setengahnya dari yang dianggarkan pun barang yang akan dipasang bisa didapatkan. Peringatan tersebut akhirnya terbukti. BPK Perwakilan Provinsi Bali dalam temuannya menyebutkan ada pemahalan harga pada Pengadaan Belanja Modal Pengadaan Alat-alat Berat, Alat-alat Studio, Closed Circuit Television (CCTV), Instalasi Listrik dan Telepon pada Dinas Kebudayaan sebesar Rp 6,265 miliar lebih. Namun, Pemprov Bali lewat Karo Humas Drs. I Ketut Teneng, S.P., M.Si. membantah temuan itu merupakan kemahalan karena ada perbedaan perhitungan yang dilakukan pemprov dan BPK dan dari perhitungan pemprov temuan itu bukan bentuk pemahalan. Teneng mengatakan, masih terdapat perbedaan pandangan dalam hal menafsirkan terjadinya pemahalan. Misalnya pada pengadaan e-government, pihak BPK-RI melakukan perbandingan harga antara proses pengadaan melalui pihak

ketiga dengan proses pengadaan secara swakelola. Seharusnya, kata Teneng, perbandingan dilakukan atas hal-hal yang sifatnya sepadan yaitu antara pihak ketiga dengan pihak ketiga lainnya. Teneng lantas mengurai perbandingan harga pengadaan e-government antara menggunakan pihak ketiga dengan swakelola. Mengacu hasil perhitungan Aspiluki (Asosiasi Piranti Lunak Telematika Indonesia), jika dengan pihak ketiga nilainya mencapai Rp 5,562 miliar, sementara secara swakelola sebesar Rp 1,993 miliar. Sedangkan nilai kontrak Pemprov Bali Rp 5,653 miliar. Dalam hal penafsiran kemahalan, BPK membandingkan nilai kontrak Pemprov Bali dengan harga swakelola sehingga didapat selisih mencapai Rp 3,659 miliar. Seharusnya, tambah Teneng, BPK membandingkan nilai kontrak pemprov dengan perhitungan harga Aspiluki pihak ketiga dengan perbandingan Rp 5,653 miliar : Rp 5,562 miliar, sehingga selisihnya hanya berkisar Rp 100 jutaan. ‘’Hal itulah yang belum bisa kita terima dan masih perlu dikomunikasikan untuk mencapai satu pemahaman yang sama, termasuk juga dengan pengadaan lainnya yang dinilai kemahalan antara lain mobile screening system, pengadaan alat-alat berat, studio, closed circuit television dan instalasi listrik di Art Centre,’’ imbuhnya. Kini kasus itu telah bergulir di Kejati Bali. Bahkan BPK telah mengeluarkan rincian kerugian negara dalam proyek tersebut (belum dibuka oleh Kejati). Kita wajib menunggu penyidikan yang dilakukan Kejati Bali, apakah benar terjadi kemahalan seperti yang tertuang dalam temuan BKP atau hanya dianggap kesalahan administrasi?  Pusat Data

MBP/dok

9


LAPORAN UTAMA

Kasus Art Center

Diskriminatif

K

ejaksaan Tinggi (Kejati) Bali dalam menangani kasus dugaan korupsi dinilai diskriminatif dan tebang pilih. Penilaian itu disampaikan Ketua BCW Putu Wirata Dwikora, Rabu (12/3) . Ia menyayangkan sikap penyidik yang tebang pilih, diskriminatif dan tidak adil dalam menangani kasus korupsi. Itu terlihat jelas pada dua kasus yang sekarang mencuat yakni perkara IHDN dan dugaan korupsi pengadaan sound system, CCTV dan lighting di Taman Budaya Art Center. Perbedaan yang sangat mencolok itu manakala penyidik menahan Prof. Made Titib, dkk., dalam perkara dugaan korupsi pemgadaan 16 items proyek di sana. Sedangkan tersangka kasus Art Center yang sudah diperiksa sebagai tersangka masih dibiarkan begitu saja, dengan dalih bahwa tersangka kooperatif, tidak akan menghilangkan barang bukti, dan tidak dikhawatirkan melakukan suatu koorporasi dan tekanan sesama tersangka. “Ini patut kita sayangkan. Ini diskriminatif. Penyidik Kejati Bali dalam penanganan para tersangka IHDN sudah ditahan, sementara dalam kasus korupsi Art Centre, Kejaksaan tidak menahan tersangka. Alasan penahanan memang bersifat subjektif dan menjadi kewenangan penyidik. Tapi subjektivitas kewenangan itu kan ada logikanya,’’ tandas Putu Wirata Dwikora. Dia memandang, karakteristik orang yang ditetapkan sebagai tersangka berdasarkan bukti permulaan yang cukup, adalah melepaskan diri dari tuduhan, melepaskan diri dari saksi yang memberatkan dan karenanya mereka berupaya lepas dengan memengaruhi saksi, menghilangkan barang bukti, dan upaya-upaya lainnya. ‘’Dalam kasus IHDN ataupun kasus Art Centre, kecenderungan tersangka tidaklah berbeda. Kalau penyidik membedakannya, itulah pertanyaan kita, pertanyaan

masyarakat,’’ imbuh Putu Wirata. Dalam kasus Art Centre, kata pria yang juga pengurus PHDI, ada beberapa hal yang samar-samar dan sepertinya tak jelas bagi penyidik. Salah satunya, soal siapa yang menetapkan HPS (harga perkiraan sendiri), yang tak diakui oleh tersangka Suastika, Kadisbudpar Bali maupun Mantara Gandi, Kepala UPT Taman Budaya. Lantas, bagaimana soal penghitungan kerugian negara yang sebelumnya diaudit oleh BPK Perwakilan Bali? Wirata mengatakan, ini juga menjadi pertanyaan. Sebab, kalau benar sudah ada hasil audit tentang jumlah kerugian keuangan negara, tetapi penyidik tidak membukanya secara transfaran, bagi BCW itu merupakan tanda tanya besar. Selama ini, memang Kejati Bali melalui Kasipenkum Humas Kejati Bali, Ashari Kurniawan, tidak mau menjelaskan soal kerugian riil dalam perkara ini, walau mengakui bahwa audit BPK Perwakilan Bali sudah diserahkan. ‘’Apa alasan penyidik tidak mau membuka informasi itu ke publik? Nama-nama tersangka saja sudah diekspos, kasusnya dibuka ke publik. Lalu mengapa hasil audit masih disimpan. Sebab, itu bukanlah rahasia negara dan merupakan satu rangkaian dalam kasus tipikor yang ditangani Kejati. Untuk bandingan, Penyidik telah mengekspos nama-nama tersangka (walau inisial dan publik tahu orangnya), maka hasil audit pun menjadi hak masyarakat untuk mengetahui, serta berpartisipasi mengontrolnya,” sesalnya. Sebelumnya, Kasipenkum Humas Ke-

jati Bali, Ashari Kurniawan, Senin (10/3) mengakui adanya perbedaan penanganan perkara tersebut. Namun bukan berarti perbedaan dalam hal prioritas, tekanan politik, atau karena pejabat aktif. “Dalam kasus IHDN ditakutkan adanya saling mempengaruhi, intervensi satu sama yang lainnya. Makanya penahanan pun dilakukan secara terpisah, ada yang di Rutan Gianyar ada di LP Kerobokan. Indikasi adanya untuk mempengaruhi dalam kasus IHDN ini sangat kuat, sehingga kami menahan mereka,” tandas Ashari Kurniawan. Sedangkan dalam perkara dugaan korupsi pengadaan sound system, lighting, dan CCTV, kata Ashari, belum ada indikasi saling memengaruhi. Dia menjelaskan, dalam melakukan penahanan itu, penyidik mempertimbangkan sejumlah hal. Di antaranya menghilangkan barang bukti, saling memengaruhi satu sama yang lain, serta tidak kabur. Dia menambahkan, dalam penanganan kasus korupsi, tidak mau ada desakan atau tekanan politik mana pun, termasuk tekanan pejabat aktif. “Ini tidak ada tekanan pejabat atau politik mana pun,” jelasnya. Saat ditanya soal kerugian negara? Ashari Kurniawan mengatakan bahwa pihaknya tidak akan menyampaikan hasil penghitungan kerugian negara dari BPK Perwakilan Bali itu, karena dikhawatirkan akan menjadi polemik. “Nanti saja saat pembacaan dakwaan, di sana kan jelas berapa kerugian negaranya,” pinta Ashari.  Ngurah

Ardha Candra Art Center Denpasar

10

24 - 30 Maret 2014

10


ADVERTORIAL

”Udeng Poleng” Arjaya

Dorong Perjuangan Otsus dan Infrastruktur untuk Bali PERJUANGAN di pemerintah pusat untuk mendapatkan otonomi khusus (otsus) bagi Bali masih harus menempuh perjalanan panjang dan itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh juga keseriusan tekad dan strategi lobi serta pola komunikasi yang tepat dari para wakil rakyat baik di DPR-RI maupun DPD-RI untuk menggolkan otsus untuk Bali itu yang diyakini sebagai jalan bagaimana Bali mendapatkan perhatian lebih atas keunikan adat budayanya yang berkontribusi pada sektor pariwisata. Perjuangan mendapatkan otsus ini dalam perspektif Ketua Komisi I DPRD Bali Made Arjaya juga merupakan bagian dari upaya menjaga Bali yang menjadi bagian integral dalam filosofi dan landasan perjuangan Arjaya yakni dengan konsep “Pohon yang tumbuh di tanah Bali”. Konsep ini sebagai representasi bagaimana ke depan harus menjaga Bali dengan kelestarian kehidupan adat, budaya yang bernapaskan kehidupan agama Hindu Bali. Bagi Arjaya yang juga calon DPD-RI itu dengan ciri khas ber-udeng poleng itu, otsus untuk Bali ini guna menjaga kelestarian kultur adat budaya Bali yang menjadi kekuatan pariwisata Bali. Menurut putra tokoh PDI-P (alm) Nyoman Lepug itu otsus untuk Bali sangat penting menyangkut beberapa hal yang mesti didapatkan Bali atas keunikan kultur adat budaya Bali. Pertama, harus ada reinvestasi terhadap keunikan adat budaya Bali. Kedua bagaimana Bali mendapat perimbangan dalam hal keuangan. Daerah atau provinsi yang menghasilkan hasil hutan, minyak bumi, batu bara mendapat dana perimbangan dari pemerintah pusat. “Kenapa kita di Bali tidak mendapat dana perimbangan. Apa pariwisata tidak menghasilkan uang? Kenapa kita tidak mendapat perimbangan dari hasil pariwisata kita? Untuk menjadi adat budaya yang menjadi bagian integral dari destinasi pariwisata di Bali ini kan butuh biaya. Untuk menjaga itu jadi kita meminta hak

kita. Apa yang dihasilkan Bali untuk pemerintah pusat agar dikembalikan juga Bali misalnya dengan otsus,” papar politisi PDI-P asal Sanur itu. Ditambahkan, dalam otsus ini ada dua hal penting yang sepenuhnya dikelola di provinsi yakni masalah kependudukan dan tata ruang sebab wilayah Bali ini kecil. Sebab jika semuanya otonomi diarahkan ke provinsi lalu DPRD hanya setingkat provinsi seperti di DKI Jakarta maka akan ada penolakan dari pemerintah kabupaten/kota. Misalnya, pajak pariwisata dalam bentuk PHR (Pajak Hotel Restoran) ditarik ke provinsi hal itu akan menimbulkan penolakan dari pemerintah kabupaten/kota. “Lalu kapan otsus untuk Bali ini bisa kita dapatkan kalau ada penolakan terjadi dari pemerintah kabupaten/ kota sebab semuanya ditarik ke provinsi. Jadi ada tiga poin dalam otsus ini yakni bagaimana kita mendapat dana perimbangan dari pusat, bagaimana masalah kependudukan dan tata ruang bisa di provinsi. Tetapi kalau kita bawa otsus sepenuhnya ke provinsi dan tidak ada DPRD kabupaten/kota pasti hal itu ditolak,” kata Arjaya yang kisah serta kiprah maupun perjuangan politiknya dan membangun kesejahteraan rakyat terdokumentasikan lewat buku biografi berjudul “Made Arjaya, Nyawa Bali,” itu. Sebagai upaya menjaga kelestarian adat budaya Bali terkait juga bagaimana hasil pariwisata Bali memberikan kesejahteraan bagi masyarakat Bali dan tidak hanya dinikmati orang luar, Arjaya selalu mencoba mengaungkan dan mengimplementasikan filosofi “pohon yang tumbuh di tanah Bali” sebagai landasan perjuangan untuk Bali. Dalam perspektif Arjaya, konsep “pohon yang tumbuh di tanah Bali” terdiri atas unsur akar (agama Hindu di Bali), tanah (tanah Bali itu sendiri berserta lingkungannya), batang (masyarakat Bali), kulit (soroh di Bali atau dalam konteks yang lebih universal yakni profesi misalnya petani, nelayan, pengusaha dan lainnya), ranting atu dahan (keturunan masyarakat Bali),

Arjaya

daun (budaya), bunga (seni budaya), dan buah (pariwisata). Sebagai landasan Perjuangan di DPD RI nanti, Arjaya juga menegaskan, komitmennya mendorong pemerintah pusat lebih memerhatikan pembangunan infrastruktur di Bali dalam upaya pemerataan pariwisata dan pembangunan di Bali. Menurutnya minimal harus ada lagi jalan tembus dari Bali Utara ke Bali Selatan, Bali Timur dan Bali Barat. Kemudian bagaimana bandara di Buleleng juga segera terealisasi. Pembangunan di Nusa Penida yang selama ini masih dipandang sebelah mata juga menjadi perhatian serius Arjaya. Menurutnya, sudah saatnya Nusa Penida mendapat perhatian serius dalam hal infrastruktur dan akses transportasi dengan membangun bandara di Nusa Penida, menambah kapal Roro di Nusa Penida, pembangunan dermaga dan lainnya. Pelabuhan Tanah Ampo di Karangasem dan Celuk Bawang di Buleleng juga harus diperbaiki dan terus dikembangkan juga untuk mendukung pariwisata kapal pesiar (cruise) agar tidak hanya terpusat di Pelabuhan Benoa di Bali Selatan.  Widana 24 - 30 Maret 2014

11


POLITIK

Kampanye Terbuka Rawan Provokasi

P

emilu Legislatif 2014 memasuki tahapan kampanye. Partai politik dan ribuan caleg kini beradu strategi menjaring suara. Kampanye terbuka dengan menggelar rapat umum pun digulirkan untuk membidik jabatan politik. Namun, kampanye terbuka sebagai bentuk kampanye dialogis di tempat umum sangat rawan provokasi. Pelibatan juru kampanye (jurkam) yang tidak santun sangat rentan memicu gejolak. Jurkam bisa jadi menebar provokasi yang pada gilirannya membuat citra partai terseret. Kehadiran juru kampanye (jurkam) dalam kampanye terbuka ini juga patut diwaspadai. Isu-isu politik yang digulirkan kerap mendiskreditkan lawan politik, sehingga parpol harus mempertimbangkan secara matang pemilihan jurkam. ‘’Jurkam potensial menyulut provokasi. Untuk itu, parpol harus cerdas memilih jurkam agar paparan visi dan misi politiknya tak menimbulkan

12

antipasti politik,’’ ujar pengamat politik Dr. Luh Runiti Rahayu. Menurutnya, parpol harus mengelola isu-isu politik secara santun dan menghindari menerjunkan juru kampanye dengan menebar isu-isu politik yang mengarah pada praktik provokasi massa. Bahkan, mantan Ketua KPUD Kota Denpasar Ray Misno mengingatkan agar para jurkam benar-benar bijaksana dalam mengelola isu politik sehingga tak memancing emosi massa lawan politiknya. Jurkam jangan sampai menjadi provokator agar masa kampanye terbuka di Bali bisa dilewatkan dengan damai. Jurkam memiliki potensi besar menghasut massa melakukan hal-hal di luar kewajaran agenda politik. ‘‘Untuk itu, parpol agar selektif dalam memilih jurkam saat kampanye terbuka,’’ sarannya. Dr. Runiti Rahayu mengatakan, ada banyak cara yang bisa dilakukan caleg untuk menarik simpatik pemilih, mulai memilih cara yang jujur dan cara-cara

yg tidak jujur, seperti melakukan money politik, membeli suara rakyat untuk kepentingan politiknya. Jika dicermati kecenderungan yang terjadi di masyarakat, pemilih lebih melihat pada karakter si caleg dan bukan lagi pada janji-janji yang tidak terkomitmen secara jelas. Periode masa kampanye terbuka beberapa hari lagi akan berlangsung, pertanyaannya seberapa efektifkah kampanye terbuka itu mampu memberikan nilai tambah terhadap dukungan politik caleg. Mantan Anggota KPU Bali ini mengatakan kampanye terbuka, dari sisi pencitraan partai bisa memberikan efek ganda, jika konsep kampanye terbuka itu berjalan tertib dan santun, maka citra partai akan positif di mata masyarakat. Sebaliknya apabila kampanye terbuka dari partai justru yang terjadi adalah hal sebaliknya, kerusuhan dan kemacetan yang merugikan kepentingan masyarakat, maka akan memberikan dampak negatif

24 - 30 Maret 2014

12


yang tidak saja merugikan partai, juga para calegnya. Terganjal Biaya Trekait dengan besaranya biaya politik, kampanye terbuka banyak partai malah mengabaikan sistem kampanye ini. Kampanye terbuka juga akan membuat biaya politik makin mahal. Untuk sekali kampanye terbuka atau rapat umum biayanya bisa menembus Rp 2 miliar rupiah. Ironisnya, anggaran politik yang besar ini tak sebanding dengan efektivitas dukungan politik. Kondisi itu diakui Ketua DPD Partai Demokrat Bali Made Mudarta dan politisi Partai Golkar Dewa Ayu Putu Sri Wigunawati. Mudarta mengatakan, biaya dalam pelaksanaan kampanye rapat umum sangat tinggi dan mahal. Bahkan, menurut Mudarta bisa mencapai miliaran rupiah. Rinciannya untuk biaya transportasi, logistik peserta kampanye, kemudian biaya sewa panggung, sound system, menyewa penyanyi, anggaran untuk pengamanan serta biaya operasional lainnya.

Ia mencontohkan, jika didatangkan 10 ribu massa dengan biaya transportasi dan logistik (makan dan minum) serta untuk baju kaos per orang Rp 100 ribu, maka sudah dihabiskan dana Rp 1 miliar. Belum lagi dana untuk biaya sewa panggung, sound system, menyewa hiburan atau penyanyi, anggaran untuk pengamanan serta biaya operasional lainnya sehingga total biaya politik untuk sekali kampanye rapat umum bisa mencapai Rp 1,5 miliar hingga Rp 2 miliar. Selain itu, mahalnya biaya kampanye rapat umum ini menjadi celah bagi pemodal besar atau pihak investor untuk melakukan bargaining atau deal-deal politik tertentu dengan parpol tertentu melalui pendanaan yang ditawarkan investor. Sebagaimana diakui sejumlah pimpinan parpol dan calon DPD bahwa para investor ini gentayangan mencari caleg potensial untuk dibiayai kampanye tentu dengan deal-deal politik tertentu setelah menjabat. Politisi Partai Golkar Dewa Ayu Putu Sri Wigunawati juga mengakui biaya politik sangat mahal dan bisa mencapai

miliaran rupiah untuk melaksanakan kampanye rapat umum dengan pengerahan massa. “Biayanya memang mahal bisa mencapai miliaran untuk biaya logistik, keamanan, hiburan, sound system dan lainnya,� katanya. Sri Wigunawati yang juga Ketua Pemenangan Wilayah Golkar Badung, Tabanan, dan Jembrana itu menilai kampanye rapat umum ini hanya menghabiskan dana besar tetapi tidak efektif untuk menambah pundi-pundi perolehan suara. Di sisi lain, sebelumnya Partai Golkar Bali memastikan diri melaksanakan kampanye rapat umum di Lapangan Lumintang, Denpasar, 17 Maret mendatang dengan perkiraan massa yang dihadirkan mencapai 5 ribu orang. Saat ditanya berapa biaya politik yang disediakan untuk kampanye rapat umum itu, Sri Wigunawati mengatakan, sejauh ini belum ada kepastian anggaran. Namun ia memastikan dana yang dihabiskan tidak sampai Rp 1 miliar dan kemungkinan berkisar di bawah Rp 500 juta.  Dira Arsana/Widana

13


ADVERTORIAL

Bupati Badung berfoto bersama penari dan tim promosi dari Badung.

Sekar Jepun “Mengguncang” Jerman PADA ajang Pameran Perdagangan dan Pariwisata Internasional terbesar di kawasan Eropa yakni Internationale Tourismus Borshe (ITB) Berlin di Kota Messe Jerman, Tim Promosi Pariwisata Kabupaten Badung yang dipimpin langsung oleh Bupati Badung Anak Agung Gde Agung bersama asosiasi dan pelaku pariwisata, dimeriahkan dengan penampilan tarian maskot Badung Sekar Jepun, tarian klasik Oleg Tamulilingan serta tarian kreasi lainnya selama berlangsungnya pameran di Paviliun Indonesia ITB Berlin. Menurut Kabag Humas dan Protokol Badung A.A. Gede Raka Yuda, perhelatan promosi pariwisata internasional ITB Berlin 2014, 5-9 Maret lalu mendapat perhatian serius dari Bupati Badung A.A. Gde Agung. Selain aktif mempromosikan pariwisata Bali khususnya Kabupaten Badung, Bupati Gde Agung juga mengajak seniman badung untuk unjuk

14

24 - 30 Maret 2014

kebolehan memeriahkan event internasional tersebut. Raka Yuda, Selasa (11/3) kemarin, menjelaskan dalam pameran pariwisata terbesar di dunia tersebut, para penari/seniman Badung diberi kesempatan mempertunjukkan seni budaya bali. Sejak event dibuka, para seniman Badung telah mulai melakukan pemantasan tari khususnya di tempat hiburan di paviliun Indonesia. Jenis tarian yang dipentaskan yakni tarian maskot Kabupaten Badung Sekar Jepun yang ditarikan oleh A.A. Mas Sudarningsih, tari klasik Oleg Tamulilingan oleh A.A. Mas Sudarningsih dan Ida Bagus Yudistira, serta tari Kebyar Duduk dan baris ditarikan Ida Bagus Yudistita. “Pementasan pertama tari Sekar Jepun di Hotel Kempinski dan pementasan kedua di paviliun Indonesia berupa tari Sekar Jepun, Oleg Tamulilingan, Kebyar Duduk, dan Baris,” jelasnya. Pementasan tari Bali ini mendapat apresiasi dari para pengunjung, sehingga stand Kabupaten Badung selalu

dipadati pengunjung ITB Berlin. Raka Yuda menjelaskan, pada event tersebut Bupati Gde Agung melakukan promosi dengan gencar berbagai destinasi pariwisata, keunikan budaya dan tradisi, hingga akomodasi pariwisata yang ada di Bali khususnya di Kabupaten Badung. Upaya promosi tersebut diharapkan benar-benar menghasilkan kontribusi positif atas pertumbuhan kunjungan wisatawan ke Bali khususnya Badung. Lebih lanjut dikatakannya, dalam melakukan sales mission, Bupati Badung senantiasa mengedepankan keramahtamahan dan penuh senyum menyapa setiap pengunjung di stand pameran. Tak hanya itu, Bupati Gde Agung juga memberikan suvenir bagi setiap pengunjung. Ini dilakukan sebagai upaya memperkenalkan dan mengangkat derajat produk kerajinan Kabupaten Badung di mata dunia.  Humas Badung


EKONOMI

Peningkatan Kuantitas Bukan Jaminan Keberhasilan Koperasi

K

emampuan pengelolaan koperasi di Bali perlu ditingkatkan. Jajaran pengurus koperasi perlu meningkatkan kompetensi diri dan mempelajari secara seksama aturan permainan sebagai ketetapan yang sangat perlu diikuti oleh pelaku utamanya. Langkah ini akan makin menguatkan Bali sebagai provinsi koperasi yang berhasil di Indonesia. Sayangnya, peningkatan dalam pembangunan koperasi di Bali belum diikuti dengan manajemen koperasi yang baik. Ini tercermin dari perkembangan koperasi selama periode 2011-2012. Jumlah koperasi aktif naik sebanyak 4,47 persen per tahun (dari 3.883 unit di 2011 menjadi 4.066 unit 2012), sedangkan koperasi yang gagal atau tidak aktif turun 4,48 persen (4.352 unit 2011 dan 4.514 unit 2012). Sedangkan, modal sendiri naik 4,62 persen, bahkan modal luar pun naik 9,56 persen, volume usaha turun 2,71 persen, sisa hasil usaha turun 3,02 persen, sementara aset naik 10,38 persen. Setidaknya, menurut Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Bali Prof. Dr. Ketut Rahyuda, S.E., MSIE. perkembangan koperasi di Bali menggambarkan bahwa pengelolaan koperasi belum sehat. Sebab, bila terdapat jumlah usaha yang gagal semakin menurun, sedangkan perkembangan koperasi yang aktif semakin meningkat mestinya terjadi peningkatan hasil usaha. Namun, kenyataannya sisa hasil usaha semakin menurun. Begitu juga bila terjadi peningkatan modal sendiri dan pertumbuhan modal asing semakin besar, semestinya volume usaha menjadi semakin besar. “Ternyata volume usaha semakin turun, anomali apa yang terjadi dalam pengelolaan koperasi di Bali. Ini artinya koperasi di Bali belum sehat,” ujar Prof. Rahyuda di Denpasar, Rabu (12/3) . Menurutnya, permasalahan yang dihadapi koperasi di Pulau Dewata merupakan masalah penting. Untuk itu koperasi harus dikembalikan pada porsi yang sesungguhnya guna mendorong

peningkatan kesejahteraan masyarakat bangsa dan sekaligus diarahkan menjadi soko guru ekonomi Bali. Dikatakan, peningkatan secara kuantitatif belum menjamin bahwa koperasi di Bali berhasil. Lihat saja perkembangan koperasi selama tiga tahun terakhir 2010 hingga 2012. Hingga 2010 terdapat 383 unit yang tidak aktif atas 4.149 unit koperasi. Artinya, secara kuantitatif terdapat 0,092 atau mendekati 10 persen yang ada relatif gagal. Sedangkan, 2011 kegagalan koperasi 469 unit atas 4.352 unit koperasi. Jumlah koperasi yang tidak aktif itu secara absolut meningkat dibandingkan 2010. “Artinya koperasi yang gagal hampir 11 persen koperasi di Bali sudah tidak aktif. Ini cukup memprihatikan. Tetapi, bila manajemen mampu tunduk dengan syaratsyarat yang dibutuhkan dan pengawasan koperasi semakin baik maka menghindarkan atau meminimalisir kegagalan usaha koperasi bukan hal berat,” tegasnya. Kepala Dinas Koperasi dan UKM Bali,

Dewa Nyoman Patra sebelumnya mengatakan, perkembangan gerakan koperasi di Bali sangat mengembirakan. Kuantitas dan kualitas koperasi di Bali meningkat tajam. Bali juga sudah menjadi provinsi penggerak koperasi. “Harapan kami dengan undang-undang yang baru koperasi akan mampu berkontribusi secara lebih maksimal dalam menggerak+kan perekonomian masyarakat,” harapnya. Dikatakan, selama ini salah satu titik lemah koperasi adalah sulitnya untuk menghimpun dana dari anggota, baik dalam bentuk tabungan maupun deposito. Sebab, anggota atau masyarakat masih ragu dengan keamanan dananya yang tersimpan di koperasi.  Parwata

LAPORAN

Bisnis Bali Info Bisnis di Bali

MBP/dok

Suasana Rapat Akhir Tahun (RAT) Koperasi. 24 - 30 Maret 2014

15


OPINI

Ongkos Politik Mesti Didasari Ketulusan Hati

P

emilu legislatif semakin dekat, salah satu yang menarik untuk dibahas adalah isu tentang maraknya peredaran uang di masa-masa kampanye. Sumbangansumbangan dari para caleg walaupun dibungkus dengan cara apa pun, sangat rawan money politic. Politik uang adalah suatu bentuk pemberian atau janji menyuap seseorang baik supaya orang itu tidak menjalankan haknya untuk memilih maupun supaya ia menjalankan haknya dengan cara tertentu pada saat pemilihan umum. Pembelian suara bisa dilakukan menggunakan uang atau barang. Untuk menjadi seorang anggota legislatif, salah satu yang sangat penting dan harus ada pada masing-masing kandidat adalah uang. Zaman sekarang ini sulit menarik simpati massa tanpa uang. Jadi dengan kata lain orang yang pantas untuk mencalonkan diri sebagai anggota DPR di tingkat daerah maupun pusat, salah satunya adalah mereka yang bermodal besar. Uang yang dimaksud di sini tentu bukan membeli suara pemilih atau praktik money politic melainkan cost politic atau ongkos potitik yang diperlukan untuk menarik perhatian masyarakat. Pada saat para kandidat berkampanye memerlukan beragam atribut, pamet, baliho dan sebagainya termasuk pada saat mobilisasi atau pengerahan massa yang memerlukan hiburan-hiburan, donasi, konsumsi dan transportasi yang tidak sedikit. Sudah menjadi rahasia umum, para caleg memerlukan dana yang tidak sedikit, mereka merogoh koceknya puluhan hingga ratusan juta bahkan menembus angka miliaran rupiah untuk membiayai kebutuhannya. Ketentuan dari partai politik yang membebankan biaya kepada kadernya masing-masing membuat tidak sedikit dari para caleg di masing-masing partai politik harus merelakan tabungannya terkuras habis bahkan hingga menjual asetnya, seperti mobil, rumah, tanah, perhiasan dan barang-barang berharga

16

24 - 30 Maret 2014

lainnya. Aturan pemilu pun mau tidak mau telah membuat para kandidat mengandalkan kekuatan uangnya. Ongkos politik adalah keniscayaan yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun yang ingin maju sebagai calon anggota legislatif, entah dia yang dari hatinya benar-benar ingin mengabdikan diri bagi daerahnya, maupun mereka yang sekadar ingin mengejar kekuasaan. Masyarakat tentu berharap mereka yang terpilih nanti adalah mereka yang tidak mengharapkan uang yang sudah dihabiskannya bisa kembali selama lima tahun masa jabatannya nanti. Jika pemakaian dana besar-besaran dikeluarkan dengan ketulusan, maka tidak ada salahnya. Bukankah setiap orang tidak dilarang untuk menyantuni atau memberikan peluang kerja bagi sesama. Yang terpenting adalah mereka tidak mengharapkan uang itu kembali pada saat menjadi pejabat. Karena jika itu yang terjadi, cara termudah mengembalikan dana tersebut pada saat menjabat adalah dengan cara korupsi. Sebenarnya uang yang dikeluarkan

oleh para caleg tidak semuanya terbuang percuma, karena selain biaya-biaya promosi seperti: baliho, spanduk, brochure, kartu nama, iklan di media cetak maupun elektronik, dan sebagainya, ada pula dana yang dipergunakan untuk sumbangan langsung kepada warga masyarakat, baik berupa uang tunai maupun berupa sembako antara lain beras, minyak goreng, gula dan sejenisnya, ada juga yang berupa barang-barang seperti seperangkat gamelan, perlengkapan olahraga, atau berupa perbaikan-perbaikan fasilitas umum seperti pengaspalan gang, pembuatan papan pengumuman RT, perbaikan tempat ibadah, atau dalam bentuk layanan kesehatan gratis dan lain sebagainya. Sebaliknya, jika tidak ada ketulusan, maka akan rawan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Seperti pengalaman lima tahun lalu ada caleg perempuan yang meninggal dunia beberapa saat setelah pemilihan legislatif berlangsung. Penyebabnya karena shock mendengar berita perolehan suaranya yang tidak sesuai dengan target. Kasus lain, akibat tidak bisa menahan diri seorang caleg perempuan menggantung dirinya hingga tewas, beberapa saat setelah mengetahui kekalahannya. Akibat dari dana ratusan juta yang dihabiskan untuk sosialisasi ternyata tidak sebanding dengan perolehan suara yang dihasilkan. Ada caleg pria yang marah-marah kepada konstituennya dan meminta kembali barang-barang yang telah diberikan karena target suara yang dijanjikan oleh warga tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Tentu tidak ada yang berharap kejadian lima tahun lalu terulang kembali. Apa pun yang hasilnya nanti, harus diterima oleh para kandidat dan pendukungnya dengan lapang dada sebagai wujud dari kedewasaan berpolitik. Penulis, pemerhati masalah sosial, alumnus Pascasarjana Undiknas dan Unud


J A J A K P E N DA PAT

Mengaudit Rekayasa Belanja Politik

D

ana kampanye kini menjadi salah satu tolak ukur kepatuhan caleg terhadap administrasi. Lambat menyetor laporan dana kampnye caleg bahkan parpol terancam dicoret dari kepesertaan pemilu. Namun, acuan baru untuk menekan praktik transaksi suara dinilai hanya menjadi syarat administratif. Besaran dana kampanye dan pelaporannya sulit dipantau walaupun KPU melibatkan Pusat Pelaporan dan Anlisis Transaksi Keuangan (PPATK). Publik menduga besaran dana kampanye yang disajikannya tak mewakili realita, mengingat banyak agenda politik sangat rentan masuk ranah hukum jika dilaporkan secara terbuka. Besar kemungkinan belanja partai politik atau caleg untuk lolos menjadi wakil rakyat jauh melebihi plafon dana yang dilaporkan ke KPU. Demikian terungkap ketika Pusat Data Bali Post menggelar jajak pendapat terkait dana kampanye partai politik dan calon legislatif. Jajak dilakukan dengan mengajukan kuesioner dan wawancara via telepon. Berdasarkan tabulasi atas pengakuan dan jawaban responden, ada indikasi terjadi rekayasa atas dana kampanye yang dilaporkan. Terdapat 54 persen responden yang mengaku parpol dan caleg tidak melaporkan dana kampanye secara jujur. Dana kampanye yang direkap dan dijadikan rujukan kepatuhan oleh KPU ini hanya pelengkap administrasi. Penyimpangan dan rekayasa atas deretan angka-angka belanja politik tidak mencerminkan fakta lapangan. Selebihnya, 43 persen responden yakin bahwa pelaporan dana kampanye ini mewakili rencana belanja partai politik dan caleg menghadapi Pemilu 2014. Setidaknya, besaran dana kampanye ini harus dipertanggungjawabkan penggunaannya secara riil. Sebagai amanat UU Pemilu, pelaporan dana kampanye semestinya akurat dan riil secara administratif. Kalaupun ada belanja politik di luar pelaporan itu akan sangat sulit dideteksi. Jadi, menurut responden berapa pun besaran belanja politik yang dirancang itulah angka riil secara administrasi. Selebihnya, 3 persen responden tak memberikan respons atas dana kampanye yang diajukan caleg dan parpol. Terkait keberanian KPU mendiskualiďŹ kasi yang mengabaikan pelaporan dana kampanye, 55 persen responden mengaku yakin. Komisioner KPU pasti tegas menyikapi ketentuan Pemilu 2014 termasuk dana kampanye. Pelanggaran terhadap dana kampanye ini merupakan pelanggaran UU yang saksinya juga sangat tegas yakni dicoret dari kepesertaan pemilu. Komisioner KPU tak akan bermain-main dengan ketentuan dan sanksi terkait dana kampanye. Selebihnya, 43 persen responden mengaku tidak yakin sanksi pencoretan terhadap parpol dan caleg yang lambat menyetor dana kampanye akan ditempuh KPU. Selama ini, kata responden, ruang toleransi terhadap pelanggaran aturan kampanye

sangat terbuka. Larangan kampanye sebelum masa kampanye yang dilanggar para caleg dan parpol juga tak ada sanksinya. Bahkan, dalam hal penertiban baliho caleg dan parpol, KPU juga lambat bersikap. Responden juga mengaku hingga saat ini belum mendengar ada caleg yang dicoret karena dana kampanye. Sedangkan, 2 persen responden lainnya tidak memberikan komentar terhadap sanksi pelanggaran dana kampanye. Umumnya mereka mengaku tak tertarik menyikapi masalah politik dan tak paham betul ketentuan UU Pemilu.  Dira Arsana

24 - 30 Maret 2014

17


PENDIDIKAN

Hasil ”Try Out” UN SMA/SMK

Matematika Tampil sebagai ”Mesin Pembunuh”

H

asil try out atau ujian pemantapan Ujian Nasional (UN) SMA/ SMK telah didistribusikan oleh Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Provinsi Bali kepada Disdikpora kabupaten/kota. Hasil try out itu menunjukkan mata pelajaran Matematika menjadi “mesin pembunuh” atau sangat potensial menjadi penyebab ketidaklulusan siswa pada UN 2014 mendatang. Pasalnya, para peserta try out masih banyak yang mengantongi nilai 4,0 ke bawah pada mata pelajaran tersebut. Kepala Disdikpora Provinsi Bali TIA

mendapatkan hasil yang jelek pada UN sesungguhnya. “Banyak peserta try out UN yang memeroleh nilai 4,0 ke bawah pada mata pelajaran Matematika dan ini terjadi pada ketiga program di jenjang pendidikan SMA termasuk SMK,” ujar Kusuma Wardhani. Pada Program Bahasa yang diikuti 3.447 orang peserta, kata dia, tercatat 3.044 orang peserta (88,39 persen) meraih nilai 4,0 ke bawah untuk mata pelajaran Matematika. Pada Program IPA yang diikuti 13.965 orang peserta, tercatat 9.032 orang peserta (64,73 persen) mendapatkan

Melihat hasil try out UN SMA/SMK yang digelar Disdikpora Provinsi Bali belum lama ini, Mata pelajaran Matematika sangat potensial jadi “mesin pembunuh” atau penyebab ketidaklulusan siswa pada UN 2014 mendatang.

Kusuma Wardhani, S.H., M.M. mengatakan, pada try out UN tahun ini Disdikpora Bali tidak menetapkan persentase peserta yang lulus maupun tidak lulus. Namun hanya menetapkan persentase peserta try out UN yang memperoleh nilai 4,0 ke bawah untuk masing-masing mata pelajaran, sehingga perlu mendapat perhatian khusus agar tidak kembali

18

24 - 30 Maret 2014

nilai 4,0 ke bawah untuk mata pelajaran Matematika. Pada Program IPS yang diikuti 8.066 orang peserta, nilai Matematika juga jeblok. Tercatat 7.184 orang peserta (89,22 persen) mendapatkan nilai 4,0 ke bawah. Mata pelajaran Matematika juga menjadi batu sandungan bagi peserta try out UN SMK. Dari 23.837 orang

peserta, tercatat 20.766 orang peserta (87,17 persen) meraih nilai 4,0 ke bawah. Disusul Bahasa Inggris 12.952 orang peserta (54,37 persen) mendapat nilai 4,0 ke bawah. Sedangkan nilai Bahasa Indonesia relatif baik, hanya 5.726 atau 24,04 persen yang meraih nilai 4,0 ke bawah. “Dari hasil try out UN ini, pihak sekolah harus memberikan pengayaan khusus kepada siswa-siswanya pada mata pelajaran Matematika. Kendati begitu, bukan berarti mata pelajaran lainnya bisa diabaikan, karena persentase peserta try out UN yang mendapatkan nilai 4,0 ke bawah pada mata pelajaran lainnya juga relatif tinggi,” ujarnya. Dilihat dari sebaran hasil try out UN SMA per sekolah, kata dia, SMAN 1 Singaraja mencatat prestasi terbaik untuk Program Bahasa dengan nilai rata-rata 39,81. Disusul SMAN 1 Mengwi (39,48), SMAN 1 Amlapura (38,01), SMAN 1 Ubud (37,86) dan SMAN 1 Sukawati (36,11). Peringkat lima besar terbaik untuk Program IPA dicatat SMAN 7 Denpasar dengan nilai rata-rata 48,08, disusul SMAN 1 Denpasar (47,76), SMAN 4 Denpasar (47,43), SMAN 3 Denpasar (46,60) dan SMAN 1 Gianyar (46,24). Sedangkan peringkat lima besar terbaik untuk Program IPS dicatat SMAN Bali Mandara dengan jumlah nilai rata-rata 43,35, disusul SMAN 4 Denpasar (40,59), SMAN 3 Denpasar (38,73), SMA Dyatmika Denpasar (37,96) dan SMAN 1 Gianyar (36,25). Sementara peringkat lima besar terbaik untuk jenjang pendidikan SMK dicatat SMK Farmasi Bintang Persada (17,32). Disusul SMK Par. Bali Global Ashram Gianyar (15,83), SMK Farmasi Saraswati 3 Denpasar (15,42), SMK Kesehatan Bali Madika (15,28) dan SMKN 4 Denpasar (15,05).  Sumatika


Tampak peserta dharma wacana didampingi guru pembimbingnya saat Festival Remaja Bali 2014 di Kota Denpasar. Di luar lomba mobil perpustakaan keliling Bali Post diserbu guru.

Dari Festival Remaja Bali

Ajak Remaja Bali Lestarikan Budaya FESTIVAL Remaja Bali 2014 untuk Kota Denpasar usai sudah. Event bergengsi yang digelar Kelompok Media Bali Post bekerja sama dengan Yayasan Dwijendra Pusat Denpasar melibatkan para remaja ini berlangsung meriah. Lomba-lomba bertemakan seni dan budaya digelar dengan penuh semangat. Salah satu di antaranya yakni lomba dharma wacana. Kegiatan penyampaian ilmu agama ini tidak hanya mampu melestarikan budaya Bali, tetapi juga mampu mengajak para masyarakat terutama para remaja Bali agar mengerti tentang pendalaman agama Hindu. Lomba diikuti 85 peserta untuk kategori SMP dan SMA/SMK. Para juara akan di-setting sebagai pedharma wacana di Bali TV dengan tema bebas sesuai ajaran agama Hindu. Makanya dewan juri diambil dari kalangan budaya, Depag dan praktisi. Di luar lomba, Bali Post mengerahkan mobil perpustakaan keliling yang menawarkan buku-buku agama Hindu, adat dan budaya Bali. Tampak perpustakaan keliling ini juga diminati guru dan siswa. Pada lomba dharma wacana tingkat SMP, Kadek Sawitri Paramesti asal SMP Dwijendra Denpasar tampil sebagai juara I,

disusul Ni Kadek Weni Diah Gayatri asal SMP Dwijendra Denpasar sebagai juara II, I Wayan Dian Anindya Bhaswara asal SMPN 1 Denpasar sebagai juara III, dan juara harapan diraih oleh Luh Putu Ani Sindi Asri A asal SMP PGRI 2 Denpasar. Untuk lomba dharma wacana tingkat SMA/SMK, juara I diraih oleh Farida Meriasari asal SMAN 4 Denpasar, juara II diraih oleh Ayu Rai Oktaviani asal SMK Dwijendra Denpasar, juara III oleh I.A. Agung Chandra Kumala asal SMA Dwijendra Denpasar, dan untuk juara harapan diraih oleh Devi Adhi Septiani asal SMA Dwijendra Denpasar. Kadek Sawitri Paramesti dan Ni Kadek Weni Diah Gayatri berkata, berhasil memboyong gelar juara I dan II pada lomba dharma wacana tingkat SMP menjadi suatu kebanggaan bagi diri sendiri, orang tua, dan juga sekolah. Apalagi baru kali pertamanya ikut lomba seperti ini. Remaja SMP Dwijendra ini berharap ke depan event seperti ini bisa terus ada, lebih meriah dan lomba-lombanya bisa ditambah lagi untuk menggali prestasi dan potensi remaja. “Perasaan saya senang, bangga, dan nggak nyangka. Sebelumnya belum pernah ikut, jadi baru pertama kali,” ujar Weni.

Kadek Sawitri Paramesti mengaku begitu antusias mengikuti lomba dharma wacana hingga ia mempersiapkan diri dari pagi-pagi buta, “Tadi pagi bangunnya jam setengah empat, terus berangkatnya jam setengah lima, sampai di sekolah saya dirias sama pembina trus sembahyang sebelum mengikuti lomba,” ujarnya. Sawitri mengatakan, selain merupakan hobi, kegiatan dharma wacana juga ia ikuti di sekolah dan di rumah. “Latihannya setiap hari di sekolah dan di rumah. Pembina juga diberitahu seperti bagianbagian mana yang kurang penekanan. Pas dapet giliran lomba saya merasa sangat gugup, tetapi setelah menghadap dewan juri, semua rasa gugup saya hilang seketika,” imbuh siswi kelas VII SMP Dwijendra Denpasar ini. Ke depannya Sawitri berharap agar kegiatan lomba dharma wacana dan Festival Remaja Bali diadakan setiap tahun untuk menjaga ajeg Bali. “Kegiatan ini sangat bagus apabila diadakan setiap tahun, Bali menjadi ajeg karena budaya dharma wacana yang lestari bisa membuat orang-orang mengerti tentang pendalaman agama Hindu,” tandasnya. Wiyata

M andala 24 - 30 Maret 2014

19


MANCANEGARA

Satu Tahun Paus Fransiskus Memimpin Vatikan

S

atu tahun sudah Paus Fransiskus memimpin Vatikan, Roma. Segala kegiatannya selalu diperhatikan oleh masyarakat di seluruh dunia. Paus Fransiskus pun banyak melontarkan komentar yang mengundang reaksi dunia, seperti isu gay sampai ateis atau isu sensitif yang menjadi perhatiannya. Namun, upaya agresif untuk mereformasi skandal keuangan di Vatikan belum sempat dikomentarinya. “Apa yang telah terjadi hanya ‘gempa bumi’ kecil di internal pemerintahan Tahta Suci,” kata analis Vatikan, George Weigel, saat bertemu secara pribadi dengan Paus Fransiskus. Pujian pun banyak mengalir melihat satu tahun kinerja Paus Fransiskus di Vatikan. Thomas Reese, seorang imam Yesuit yang juga seorang analis National Catholic Reporter, mengatakan jelas bahwa Francis telah membersihkan masalah keuangan di Vatikan secara cepat. Sebelumnya, sempat ada skandal Vatileaks dengan tuduhan kecurangan keuangan. Contohnya saat Vatikan membayar USD741 ribu untuk membuat kandang Natal di Lapangan Santo Petrus. “Fransiskus, yang berasal dari tempat yang jauh, tidak berniat melakukan pekerjaan ini,” tambah Weigel. Paus kelahiran Argentina ini memilih

20

24 - 30 Maret 2014

mengikuti acara selama satu minggu penuh bersama dengan para kardinal dan uskup di Alban Hills, dekat Roma. Sementara itu, jajak pendapat Italia menyatakan bahwa kepopuleran Paus Fransiskus mencatat rating tertinggi di antara paus lainnya yang menjabat sebelum dirinya. Di tangan Fransiskus, keuskupan terlihat memiliki gaya yang berbeda. Paus Fransiskus merupakan orang Amerika Latin pertama, sekaligus Yesuit pertama yang memimpin Gereja Katolik Roma. Sejak ia menjabat, peziarah yang datang ke Roma meningkat sangat pesat. Fransiskus juga mencatat rating tinggi di media sosial, di mana 11 juta orang yang berbicara dalam 9 bahasa menjadi pengikutnya di Twitter. Koresponden BBC David Willey di Roma mengatakan bahwa rating Fransiskus tetap masih tinggi meski laporan PBB belum lama ini menuding Gereja Katolik secara sistematis menutup-nutupi puluhan ribu kasus pelecehan anak oleh para pastur yang dilaporkan ke Vatikan. Paus sendiri mengecam setiap tindakan kultus individu. “Menggambarkan paus seperti superman, seperti bintang, kelihatannya menghina,” katanya. Lelaki berusia 77 tahun ini telah menunjuk sejumlah

penasihat baru yang akan membantunya menjalankan tugas-tugas gereja dan berencana akan melakukan reformasi besarbesaran terhadap pengelolaan keuangan Vatikan dan skandal bank Vatikan yang menjadi bahan pembicaraan di manamana. Namun, saat ini belum ada tanda-tanda adanya perubahan dalam ajaran Katolik mengenai kontrasepsi buatan dan aturan selibat terhadap uskup. Sikap welas asih Paus, terutama keinginannya untuk merangkul orang percaya yang sudah lama meninggalkan misa dan umat Katolik yang bercerai yang dilarang untuk menerima komuni, tidak diterima oleh para kardinal tradisional. Sama halnya dengan sikapnya terhadap kaum gay, di mana ia mengatakan bahwa ia tidak akan menghakimi mereka, yang sangat berbeda dari pendahulunya, Paus Benediktus, yang menyebut homoseksual “jahat “. Peringatan setahun Fransiskus menjabat sebagai paus, tidak dirayakan secara resmi, suatu langkah yang dinilai para pengamat Vatikan, merupakan upaya untuk menjalankan keinginan Paus yang ingin menjauhkan diri dari kemegahan dan upacara.  Gugiek Savindra


Ledakan Gas Tewaskan Enam Orang WALI Kota New York Bill de Blasio telah mengonfirmasi bahwa ledakan tersebut karena adanya kebocoran gas. Ledakan yang menewaskan dua orang ini bahkan telah dilaporkan 15 menit sebelumnya. “Kebocoran gas dilaporkan 15 menit sebelum insiden. 250 petugas pemadam kebakaran berada di tempat kejadian di Harlem,” ungkap De Blasio. Wali Kota de Blasio mengatakan, jika ledakan tersebut merupakan kejadian paling yang pernah ada. “Ini adalah tragedi yang paling buruk di mana hampir 20 terluka dan 6 orang tewas,” tambah dia. Sebelumnya, telah terjadi ledakan di dekat Park Avenue dan 116th Street in East Harlem serta meruntuhkan dua bangunan apartemen. Seorang saksi mata melaporkan mendengar ledakan besar sekitar pukul 09.00 waktu setempat. Satu bangunan lima lantai tampaknya hancur menjadi puing-puing, dan gambar dari tempat kejadian menunjukkan bangunan kedua juga rusak parah. De Blasio mengatakan, ada laporan kebocoran gas yang masuk 15 menit sebelum kejadian. “Laporan itu menjadi satu-satunya indikasi bahaya,” ujar de Blasio. Petugas yang berwenang untuk memperbaiki kebocoran itu memang datang. Namun ledakan keburu terjadi. Pemadam kebakaran sudah berada di lokasi dan menyiramkan air ke arah bangunan yang diduga terbakar. Asap putih terlihat mengepul dengan intensitas tinggi ke lingkungan sekitar gedung yang terletak di jalan 116th and Park. Sistem transportasi kereta bawah tanah di Stasiun Grand Central New York dihentikan sementara oleh pihak keamanan. Polisi, pemadam kebakaran, dan petugas medis sudah di lokasi untuk mengevakuasi para korban luka.  Gugiek Savindra

24 - 30 Maret 2014

21


DAERAH

Pengelolaan Tanah Negara di Busungbiu

Pungutan Pemkab Tidak Ada Dasar Hukumnya

P

engelolaan aset pemerintah berupa kebun kopi di Desa Sepang Kelod dan Desa Sepang, Kecamatan Busungbiu nampaknya tidak berjalan optimal. Pememerintah daerah yang diberikan hak guna usaha (HGU) dari pemerintah pusat ternyata hanya bisa mengolah tanah subur tersebut seadanya saja. Pemerintah daerah menyerahkan pengelolaan tanah itu kepada lebih dari 500 petani penggarap. Setiap tahun pemkab mendapat setoran hasil penjualan kopi dari petani penggarap dengan jumlah bervariasi antara 10 kilogram hingga satu kuintal setiap tahunnya. Namun, sejak izin HGU tanah seluas 488,005 hektar tersebut habis masa berlakunya tahun 1995, pertanggungjawaban dana tersebut tidak jelas dan terindikasi terjadi pungutan liar (pungli). Selama izin HGU tidak berlaku lagi, setoran hasil penjualan kopi tetap disetor petani penggarap. Sementara pemerintah daerah hanya mencatat penyetoran hasil penjualan kopi tahun 2008, 2009, dan tahun 2011. Mencuatnya dugaan pungli dana setoran penjualan hasil kopi tersebut dibongkar Ketua Komisi B DPRD Buleleng Putu Mangku Budiasa. Politisi PDI Perjuangan ini telah mengantongi sejumlah data tentang praktik pungli penyetoran dana penjualan kopi di dua desa tersebut. Tak hanya kalangan dewan, aparat kepolisian pun mulai menyelidiki kasus tersebut. Putu Mangku Budiasa mengatakan, pengelolaan tanah milik pemerintah yang kini berstatus tanah negara bebas itu tidak optimal dan malah terindikasi pungli. Ini karena pemerintah daerah tidak memiliki dasar hukum untuk memungut setoran hasil penjualan kopi dari petani. Pasalnya, izin HGU sudah habis masa berlakunya tahun 1995 dan tidak diper-

22

24 - 30 Maret 2014

panjang kembali oleh pemerintah daerah. Sementara fakta di lapangan petani penggarap rutin menyetor hasil kebun tersebut dengan jumlah bervariasi. Kopi tersebut dikumpulkan di kantor perbekel kemudian dijual dan uangnya disetor kepada pemerintah daerah. Penyetoran dana hasil penjualan kopi tersebut tidak jelas dan terindikasi dinikmati oleh oknum pejabat. Mangku mencontohkan, dari tahun 1995 hingga 2013 yang lalu setoran dana penjualan kopi hanya tercatat tiga tahun saja yakni tahun 2008, 2009 dan tahun 2011. Selain itu ada bukti lain bahwa setoran hasil penjualan kopi tahun 2010 sesuai kuitansi sebesar Rp 23 juta ternyata dananya belum masuk ke kas daerah. Padahal dana itu telah disetor ke Bagian Perwat. Bahkan, dua PNS yang sebelumnya bertugas di Perwat dan Aset Daerah ini menandatangani penyetoran hasil penjualan kopi tersebut. Selain itu, dewan memiliki data setoran dana hasil penjualan kopi tahun 2011 senilai Rp 50 juta belum sempat disetorkan dan dana itu kini masih disimpan di brankas kantor perbekel. “Ini fakta bahwa pengelolaan tanah itu sangat tidak optimal dan sekarang malah terindikasi pungli karena tidak ada dasar hukum memungut setoran itu,� katanya. Budiasa menambahkan, untuk menyelesaikan permasalahaan ini pemerintah mesti mengambil langkah cepat. Pemerintah harus cepat memperjelas status pengelolaan tanah tersebut kepada pusat. Hal ini penting karena jika dibiarkan mengambang, maka bisa saja akan terjadi permasalahan lain yang dapat memengaruhi situasi di daerah. Sementara untuk pertanggungjawaban setoran dana penjualan kopi juga harus diselesaikan, dan sambil menunggu kepastian teknis pengelolaan terhadap

Kebun kopi milik pemerintah pusat di Desa Sepang Kelod dan Desa Sepang Kecamatan Busungbiu seluas 488,05 hektar sejak tahun 1995 tidak lagi dikelola oleh pemerintah daerah.

tanah tersebut, pemerintah diminta menghentikan memungut setoran hasil penjualan kopi dari petani penggarap. Sementara dana hasil penjualan kopi yang belum disetorkan, dewan menyarankan agar disimpan di LPD setempat. Sekretaris Daerah (Sekda) Buleleng Ir. Dewa Ketut Puspaka, M.P. menegaskan, langkah awal pemerintah daerah dalam waktu dekat ini akan berkonsultasi ke Badan Pengawas Keuangan Pemerintah (BPKP). Langkah ini ditempuh agar secepatnya pemerintah daerah mendapat kepastian hukum atas dana setoran dari hasil kebun tersebut, baik yang telah disetor ke kas daerah maupun yang masih disimpan kantor perbekel. Puspaka tidak menampik jika dana hasil penen kebun kopi seluas 488,005 hektar itu belum memiliki dasar hukum yang jelas setelah izin Hak Guna Usaha (HGU) pengelolaan kebun tersebut berakhir tahun 1995 lalu. Bahkan, dirinya mengaku tidak mengetahui persis proses izin HGU pengelolaan lahan itu. Terkait permintaan Komisi B DPRD Buleleng untuk menghentikan penyetoran dana hasil penjualan panen kopi untuk tahun berikutnya, Puspaka menyatakan sepakat dengan usul tersebut.  Mudiarta


Sekdes Sepang Ketut Astika Wijaya Giri

Akan Dijadikan Kebun Bambu Hitam BERAKHIRNYA masa izin Hak Guna Usaha (HGU) kebun milik pemerintah pusat di Desa Sepang Kelod dan Desa Sepang, Kecamatan Busungbiu sejak tahun 1995, kini muncul keinginan warga di dua desa bertetangga tersebut untuk memohon kebun itu menjadi hak milik. Keinginan warga tersebut sudah disampaikan kepada dewan di Buleleng. Konon keinginan warga atas kebun seluas 488,05 hetar tersebut karena lebih dari 500 petani penggarap sudah menguasai kebun itu sejak zaman kemerdekaan (tahun 1945). Informasi dikumpulkan di lapangan menyebutkan, kebun milik pemerintah tersebut sejak dahulu merupakan tanah desa adat. Sejak itu sebagian besar warga Desa Sepang Kelod dan Desa Sepang menjadi petani penggarap. Oleh petani tanah tersebut kemudian ditanami kopi, cengkeh, dan kakao. Dalam perjalanannya, kebun tersebut kemudian dimohon oleh pemerintah daerah pada waktu itu zaman Bupati Hartawan Mataram. Permohonan tersebut kemudian disetujui dan pemerintah daerah diberikan izin Hak Guna Usaha (HGU). Kebun itu kemudian dikelola oleh Perusahaan Daerah (PD) Swatantra bersama petani yang sejak awal menggarap kebun

tersebut. Bahkan, dalam perjalanan itu mantan Bupati Hartawan Mataram secara lisan berjanji kepada petani penggarap akan memperjuangkan agar kebun itu bisa dimohon menjadi tanah hak milik. Hingga izin HGU berakhir tahun 1995, ternyata keinginan warga memohon kebun tersebut belum juga terwujud hingga sekarang. Kini petani di dua desa itu mengusulkan kembali untuk memohon kebun tersebut menjadi tanah hak milik. Sekretaris Desa (Sekdes) Sepang Kecamatan Busungbiu Ketut Astika Wijaya Giri membenarkan jika petani penggarap kebun yang kini berstatus tanah negara bebas itu sedang memohon menjadi tanah hak milik. Keinginan itu juga sudah disampaikan kepada dewan dengan harapan keinginan warganya itu dapat diperjuangkan. “Benar warga kami menginginkan kebun itu dimohon menjadi tanah hak milik karena dari sejarahnya warga kami itu yang pertama menjadi penggarap. Kebetulan izin HGU sudah habis masa berlakunya, sehingga muncul keinginan warga kami dan memang pada zaman Bupati Hartawan Mataram warga kami dijanjikan akan difasilitasi untuk memohon kebun menjadi tanah hak milik,� katanya. Menurut Asitika, dari informasi yang beredar kini muncul rencana pemerintah

mengontrakkan kebun tersebut kepada pemilik modal (investor - red). Kabar masuknya investor ini sejak izin HGU kepada PD Swatantra telah habis masa berlakunya. Konon, investor ini akan menjadikan kebun tersebut untuk kebun bambu hitam. Atas kabar yang beredar itu, warga mulai resah. Jika investor diberikan izin menyewa kebun itu akan merugikan petani penggarap di desanya. Selain itu, perubahan tanaman dari komoditi kopi, cengkeh dan kakao menjadi bambu hitam akan mengancam kondisi lingkungan Desa Sepang yang rawan longsor dan hasilnya diyakini kalah dengan tanaman yang sekarang ini. Atas keinginan warga Desa Sepang itu, Ketua Komisi B DPRD Buleleng Putu Mangku Budiasa mengaku sudah menerima keinginan warga untuk memohon kebun di desa tersebut menjadi tanah hak milik. Namun dewan belum berani memberikan keputusan karena sebelum mengambil keputusan dewan perlu melakukan kajian bersama anggota dewan lainnya. Senada diungkapkan anggota Komisi B DPRD Buleleng Komang Wandira Adi. Dikatakan, sepanjang tidak bertentangan dengan aturan yang ada lembaga dewan pasti akan ikut berjuang untuk kepentingan masyarakat.  Mudiarta Loka Antara 24 - 30 Maret 2014

23


K E S E H ATA N

Tindakan Medis Berakhir Buruk

Malapraktik atau Risiko Medis?

M

asih segar dalam ingatan kasus ditangkapnya tiga orang dokter di Manado, Sulawesi Utara, atas tuduhan malapraktik. Tiga orang dokter ini, masing-masing dr. Ayu, dr. Hendry dan dr. Hendy. Mereka melakukan tindakan operasi caesar emergency, berujung pasien yang ditangani meninggal saat proses operasi. Setelah menjalani proses hukum dan sempat ditahan, ketiga dokter ini akhirnya dinyatakan tidak bersalah melalui keputusan inkrachtt (berkekuatan hukum tetap) dari lembaga tertinggi peradilan MA. Lalu, seperti apa kriteria tindakan medis yang menujukkan hasil buruk termasuk tindakan malapraktik itu? Dalam menganalisis sebuah tindakan medis, yang menuai komplain masyarakat, apalagi kasus itu berlanjut ke ranah hukum. Ada bagian yang bertu-

gas yaitu Divisi Medikolegal. Divisi ini melakukan konsultasi dengan bagian hukum di tempat pelayanan kesehatan dalam hal ini rumah sakit. Divisi itu menganalisis apakah tindakan medis itu sudah dilakukan sesuai aturan hukum, standar operasional maupun langkah-langkah medis yang benar. “Analisis itu dilakukan untuk menentukan posisi kasus mulai dari rentang baik, sedang hingga buruk,” kata Kepala Divisi Medikolegal SMF Kedokteran Forensik RS Sanglah dr. Dudut Rustyadi, Sp.F. Kasus masuk dalam rentang baik, jika dari analisis ditemukan dokter bekerja sesuai aturan dan prosedur yang berlaku. Kategori outcome buruk, tindakan itu disebut risiko medis. Artinya mekanisme yang dilakukan tidak sesuai SOP atau standar operasional procedurall – dilakukan dengan baik . Kasus sedang artinya fifty-fity. Bisa jadi dokter melakukan tindakan benar, tetapi hasilnya tidak seperti yang diinginkan. ‘’Jika masuk dalam rentang buruk, berarti ada ketidaksesuaian tindakan dengan standar pelayanan medis dan operasional serta aturan yang berlaku. Untuk rentang buruk ini, dokter mendapatkan sanksi,’’ jelas Dudut.

Kejadian malapraktik dapat diartikan sebuah tindakan medis yang menyebabkan hasil tidak diinginkan. Outcome-nya buruk karena adanya medical error alias proses tindakan yang tidak sesuai standar. Kata Dudut, tindakan yang tidak sesuai standar meliputi tiga hal yaitu adanya kelalaian, lack of skill dan professional misconduct atau tindakan yang disengaja. ‘’Contoh dari professional misconduct ini adalah pelanggaran etika seperti kasus aborsi yang disengaja tanpa adanya indikasi medis,’’ tutur Dudut. i Lebih lanjut dipaparkan proses yang tidak sesuai standar masuk dalam tipe t kelalaian, dibagi menjadi tiga, yaitu k malfeasance, misfeasance, nonfeasance. m Untuk malfeasance, kelalaian di mana U seorang dokter mengambil keputusan s salah atau tidak sesuai indikasi yang kuat. s Contohnya pasien diberi makan melalui C selang. Sebenarnya hal itu tidak perlu s dilakukan. Kategori misfeasance merud pakan kelalaian. Seorang dokter telah p tepat memberikan tindakan, hanya saat t pengerjaannya tidak sesuai standar. p Kelalaian yang masuk ke kategori nonfeasance adalah kelalaian di mana dokter f tidak melakukan tindakan yang meski t ia i harus lakukan. Contohnya pemberian suntikan antibiotik kepada pasien. ‘’Hars usnya dokter melakukan uji coba alergi u terlebih dahulu, sebelum pasien disuntik t antibiotik. Namun dalam pengerjaannya a tidak dilakukan. Kelalaian ini masuk ke t dalam nonfeasance,’’ tutur Dudut. d Divisi medikolegal lanjut Dudut, tidak bekerja sendiri. Divisi ini melakut kan k koordinasi dengan rumah sakit atau dokter yang mendapatkan aduan dari d masyarakat, komite medis, SMF terkait m serta dengan penasehat hukum. Ada dua s penyelesaian masalah aduan medis ini. p Penyelesaiannya melalui kekeluargaan P lewat penjelasan kepada pasien atau lewat l ranah hukum jika aduan dilanjutkan ke proses pidana.  Wira Sanjiwani

24

24 - 30 Maret 2014


’’Outcome’’ Buruk Tak Selamanya Malapraktik HASIL tak diinginkan alias outcome buruk dari sebuah tindakan medis, sesungguhnya tidak selamanya masuk ke dalam kasus malapraktik. Setiap dokter pasti selalu berusaha melakukan yang terbaik demi kesembuhan pasiennya. Namun kembali lagi kepada ‘’takdir’’, yang merupakan kuasa Tuhan. Tubuh manusia itu sangat kompleks. Sering muncul pemicu tidak terduga saat tindakan diberikan. dr. Dudut Rustyadi, Sp.F mengatakan, tuduhan malapraktik hendaknya tidak dengan gamplang disangkakan apalagi peristiwa itu kemudian di-blow up. ‘’Sering masyarakat langsung menghakimi dokter. Dokter dicap melakukan malapraktik jika outcome yang dihasilkan buruk. Jika kasus seperti ini sering terjadi, akibatnya muncul Defense Mechanism dilingkungan profesi dokter.

Kasus ini sudah pasti memberikan implikasi negatif pada pelayanan kesehatan,’’ ujar Dudut. Defense mechanism artinya pertahanan diri yang dilakukan dokter. Dalam konteks ini, dokter akan trauma, dia tidak akan berani mengambil tindakan proaktif. Alasannya, dokter tidak akan merasa percaya diri lagi, menangani kasus emergency untuk menghindari potensi outcome buruk. ‘’Ini jelas kontraproduktif. Bisa muncul ketakutan, akibat dicap malapraktik apabila outcome-nya buruk. Imbasnya dokter tentu tidak berani mengambil tindakan-tindakan emergency. Ini namanya Defense Mechanism,’’ papar Dudut. Karena itu, ia berharap jika ada outcome buruk dalam sebuah tindakan kesehatan yang dilakukan dokter, hendaknya dibicarakan terlebih dahulu

antara pasien dan dokter. Pihak dokter pun harus mampu memberikan penjelasan yang bisa diterima masyarakat yang mengalami kasus itu. Jika dokter telah bekerja sesuai aturan dan prosedur yang benar, sebetulnya tidak perlu takut dalam menjalankan kewajibannya, yang penuh risiko. Beberapa komplain memang diterima RS Sanglah. Dikatakan dari pasien dirawat lebih lama, pengoperasian yang dilakukan dua kali atau adanya pasien meninggal dunia setelah mendapatkan perawatan. ‘’Tetapi komplain itu dapat diselesaikan secara kekeluargaan. Cara-nya memberikan penjelasan kepada pasien maupun keluarganya dengan baik. Selama ini belum ada kasus malapraktek di RS Sanglah, apalagi dibawa ke ranah hukum,’’ papar Dudut  Wira Sanjiwani 24 - 30 Maret 2014

25


LENSA

TUMPEK LANDEP Umat Hindu melakukan upacara terhadap peralatan berbahan besi, termasuk mesin cetak, saat perayaan Tumpek Landep yang berlangsung, Sabtu (22/3) lalu. Perayaan Tumpek Landep identik dengan upacara untuk peralatan seperti keris dan senjata-senjata yang berbahan besi.


MBP/Eka


OLAHRAGA

Bayang-bayang Buruk Piala Dunia 2014

J

ika kompetisi menghasilkan kemenangan dan kekalahan, apa yang didapat Brazil jika gagal menjadi juara pada Piala Dunia 2014 ini? Jauh sebelum turnamen ini dibuka pada 13 Juni mendatang mereka sudah melihat kekalahan lain. Kekalahan jauh yang menyakitkan. Badan sepak bola internasional FIFA menunjukkan kekhawatirannya sejak Brazil gagal menyelesaikan pembangunan 12 stadion pada batas akhir penyerahan Desember lalu. Hanya enam yang siap digunakan dan hingga tiga bulan jelang upacara pembukaan tiga stadion belum selesai termasuk Stadion Sao Paulo yang menjadi venue upacara pembuka dan pertandingan perdana antara Brazil melawan Kroasia 13 Juni mendatang. Menteri Olahraga Brazil Aldo Rebelo menjanjikan stadion-stadion tersebut akan siap tepat waktu dan pelaksanaan turnamen empat tahunan tersebut aman dari segala gangguan. Ini berhubungan dengan ancaman unjuk rasa warga yang mengecam buruknya perhatian pemerintah terhadap

kepentingan publik sedangan untuk Piala Dunia dana yang dikucurkan mencapai miliaran dolar AS. Muncul kekhawatiran terbaru yakni kekurangan pasokan listrik. Kebanyakan pembangkit listrik di Brazil menggunakan tenaga air sedangkan negara itu memasuki musim kemarau saat Piala Dunia digelar. Dengan kondisi hujan terlalu kecil intensitasnya dibandingkan tahun-tahun sebelumnya dan air di waduk-waduk di bawah level normal, maka potensi kekurangan pasokan listrik amat besar. “Kecuali air meningkat hingga level buruk, mungkin tidak akan ada kesulitan pasokan listrik selama 2014 ini,� isi pernyataan dari kantor Kementerian Pertambangan dan Energi Brazil yang khusus memantau unit pembangkit listrik. Sepanjang Februari ini, pemadaman listrik terjadi di 11 negara bagian termasuk di kota-kota tempat penyelenggaraan pertandingan Piala Dunia. Namun otoritas perlistrikan negeri itu menyebut kasus itu akibat kerusakan teknis atau konsleting. Cuiaba yang belum sepenuhnya menyelesaikan pembangunan Stadion Arena

Panthanal, menghadapi ujian lebih serius tidak hanya sepanjang turnamen ini. Kota kecil di wilayah barat semula akan disulap menjadi metropolis baru dengan jalanan yang lebih modern dan sistem kereta api cepat yang membawa penumpang dari bandara langsung menuju pusat kota untuk Piala Dunia nanti. Faktanya tak berbeda dengan 11 kota lainnya yang menjadi tuan rumah, sejumlah proyek di kota itu gagal mencapai penyelesaian sesuai jadwal dan ditunda. Sejak Brazil mendapat hak menyelenggarakan Piala Dunia pada 2007, politisi menjanjikan 8 miliar dolar untuk pembangunan 58 bandara, kereta api bawah tanah dan proyek-proyek skala nasional lainnya. Sebagai tambahan, anggaran 3,5 miliar dolar digunakan untuk pembangunan dan renovasi 12 stadion yang akan dipakai menjadi tuan rumah pertandingan. Hingga tiga bulan sebelum turnamen dibuka rencana pembangunan kereta api bawah tanah diganti dengan jalur bis di Kota Belo Horizonte. Pembangunan terminal udara yang baru juga dibatalkan.

Jaringan monorel yang belum tuntas pembangunannya di Sao Paulo. Padahal proyek tersebut dirancang untuk menyukseskan transportasi massal Piala Dunia 2014 Juni-Juli mendatang.

MBP/ap

28

24 - 30 Maret 2014


Di Salvador, pembangunan jaringan kereta api bawah tanah diserahkan pada perusahan swasta dan pengerjaannya baru dimulai setelah Piala Dunia usai. Landas pacu di Bandara Rio de Janaeiro yang akan ditambah untuk Piala Dunia, tidak jelas kelanjutannya dan mungkin baru selesai untuk Olimpiade Rio 2016. Revolusi jaringan kereta api dengan sistem monorail di Kota Manaus batal karena undang-undang tidak mengizinkan proyek tersebut. Keluhan terkait masalah infrastruktur dalam turnamen sepak bola ini bukan hal baru. “Masalahnya mereka (Brazil) memulai proyek tersebut sangat terlambat dan kini mereka meningkatkan usahanya hingga lipat dua untuk segera menyelesaikan pembangunan stadion. Akhirnya begitu banyak hal baik terlewatkan begitu saja,” kata Viotor Matheson, ekonom olahraga di College of the Holy Cross, Worcester, Massachusetts, dalam wawancara dengan The Associated Press. Piala Dunia seharusnya menjadi batu loncatan bagi sebuah negara memulai era baru. Dan dalam hal ini Brazil seharusnya menunjuk supremasinya di pentas dunia sebagai negara yang menunjukkan perkembangan pesatnya. “Dunia akan menyaksikan negara yang modern dan inovatif,” janji mantan Menteri Olahraga Brazil Orlando Silva dalam tulisannya di koran Folha de

S.Paulo pada 2011, beberapa bulan sebelum dia dicopot dari jabatannya karena skandal. “Kami mengorganisasi penyelenggaraan terbaik sepanjang sejarah Piala Dunia.” Di tengah lambatnya pembangunan stadion dan kecaman yang membuat malu bangsa itu, warga juga marah akibat buruknya fasilitas publik dan tingginya biaya hidup serta skandal korupsi yang merajalela. Pada saat bersamaan digelar pesta yang menghamburkan dana milaiaran dolar di depan mata mereka. “Kini, kita menyaksikan tahapan akhir dari drama ini yakni penyajian yang perlu dan minim dari sebuah event menarik,” jelas Profesor Paulo Resende di sekolah bisnis Fundacao Dom Cabral, di Belo Horizonte. Tidak hanya Brazil yang mengalami krisis persiapan jelang pelaksanaan Piala Dunia. Empat tahun lalu Afrika Selatan mendapat kritik pedas soal pengamanan. Negeri yang tinggi tingkat kriminalitasnya itu bekerja habis-habisan mengerahkan unit-unit keamanannya di detik-detik akhir untuk menyukseskan acara itu dan berhasil. Bagaimana dengan Brazil? Sekjen FIFA Jerome Valcke seperti dikutip Agence France-Presse menegaskan bahwa turnamen Piala Dunia menghabiskan biaya 1,3 miliar dolar yang merupakan uang lembaga itu sendiri. Dana tersebut tidak diambil dari anggaran publik dan

dalam hal ini masyarakat Brazil. Brazil menghabiskan 11 miliar dolar untuk menyiapkan turnamen ini. 3,5 miliar dolar untuk pembangunan atau renovasi 12 stadion di mana 80 persen dananya diambil dari anggaran negara padahal setahun lalu mantan Presiden Luiz Inacio Lula da Silva berjanji tidak akan menggunakan anggaran negara untuk proyek ini. Kini sedikitnya 4 stadion diprediksi akan menjadi white elephants, proyek tidak efisien dan cenderung merugi. Kota Cuiaba di negara bagian Mato Grosso misalnya. Di stadion ini dibangun Stadion Arena Pantanal yang berkapasitas 42 ribu penonton atau bisa menampung 45 ribu penonton dengan menyingkirkan papan reklame di sekitar lapangan seusai Piala Dunia nanti. Namun kota ini hanya memiliki dua klub sepak bola di mana pada setiap pertandingan hanya disaksikan 500 orang penonton saja di Stadion Presidente Eurico Gaspar Dutra. Asisten pelatih timnas Carlos Alberto Parreira menyebut persiapan Piala Dunia 2014 ini sebagai lelucon. “Memang Piala Dunia memerlukan stadion, tetapi tidak semata-mata stadion saja. Penggemar tak bisa hidup di dalam stadion,” kata Parreira yang membawa Brazil juara dunia pada 1994 dan kini menjadi asisten pelatih Luiz Felipe Scolari. Cuiaba yang menjadi ibu kota negara Mato Grosso juga dijanjikan jaringan kereta api cepat seharga 670 juta dolar yang awalnya dipersiapkan untuk turnamen ini. Namun hingga proyek itu tidak jelas kelanjutanya dan dijanjikan tuntas akhir tahun ini. Wilayah terpencil yang terletak 250 km dari perbatasan Bolivia, dihuni kurang dari sejuta penduduk. Kota metropolis yang dikenal sebagai “Gerbang Selatan Amazon” itu menggantungkan diri dari bisnis agrobisnis Stadion Arena Pantanal di Kota Cuiaba, negara bagian Moto Grosso yang dikebut pembangunannya itu serta industri peteruntuk Piala Dunia. Kota di pedalaman itu memiliki penduduk kurang dari sejuta jiwa dengan dua klub naknya yang mencapai sepak bola yang dalam setiap pertandingan hanya disaksikan 500 penonton. Renovasi Bandara Marechal 29 juta atau melebihi Rondon juga belum tuntas. Sedangkan di pinggiran kota dibangun “Kanal Besar” yang merupakan jalur jumlah pendudukanya. alternatif transportasi untuk menghindari kemacetan menuju Stadion Arena Pantanal.

 Yudi Winanto MBP/ap

24 - 30 Maret 2014

29


OLAHRAGA

I Putu Dian Ananta

Kembali Bela Perseden

P

MBP/nan

Nama Tempat/Tgl Lahir Istri Anak

30

24 - 30 Maret 2014

: I Putu Dian Ananta : Denpasar, 14 April 1982 : Ni Putu Juhevin : I Gede Kenzi Ananda

emain sepak bola identik dengan perantauan. Bertanding dari satu kota ke kota lain setiap pekan menjadi menu wajib. Untuk mengembangkan karier, berpindah dari satu klub ke klub lain merupakan hal lumrah. Akan tetapi pada saat nantinya, pasti kembali ke daerah kelahiran. Itu pula perjalanan I Putu Dian Ananta yang kini menjadi kiper utama Perseden Denpasar. Pria yang cukup lama melanglang buana keluar daerah membela tim-tim di luar Bali ini, memutuskan kembali bersama tim Laskar Catur Muka yang membesarkan namanya di kancah persepakbolaan Bali hingga menjadi seperti sekarang. Dian pulang kampung karena ingin dekat dengan keluarga terutama sang buah hati I Gede Kenzi Ananda yang kini membutuhkan perhatian lebih setelah sekian lama ditinggal mengadu nasib di luar daerah. Selain itu, ia memiliki ambisi besar mengangkat kembali nama Perseden seperti pada masa jayanya dulu. ”Saya ingin membawa Perseden berlaga di kasta yang lebih tinggi, yaitu masuk Divisi Utama dan kemudian berlaga di Liga Super Indonesia (LSI),” paparnya. Kalau Bali memiliki kesebelasan yang berkiprah Divisi Utama dan LSI, Dian yakin pemain asal Pulau Dewata yang saat ini bermain di luar daerah, akan memilih membela tim yang ada di tanah kelahirannya. Sejauh ini sejumlah pemain sepak bola Bali berkarier di luar, seperti I Gede Sukadana, Kadek Wardana (Arema Cronus Malang), Made Wirawan (Persib Bandung), dan A.A. Ngurah Nanak (Persija Jakarta). ”Daerah lain mempunyai klub-

klub yang berkompetisi di Divisi Utama dan Liga Super, kenapa Bali sebagai daerah objek wisata dunia tidak memiliki? Namun, untuk merealisasikan itu harus didasari kerja keras, pembinaan yang baik, dan didukung sarana-prasarana yang memadai. Tanpa semua itu, mustahil tim sepak bola Bali mampu bermain di dua kompetisi tertinggi di Indonesia tersebut,” terang Dian. Dia juga berharap Bali memiliki stadion berstandar nasional dan internasional. Apalagi, Timnas U-19 akan datang ke sini untuk melakukan uji coba serangkaian Tur Nusantara pada Mei mendatang. ‘’Rasanya malu kalau timnas mau ke Bali, namun kita tidak memiliki stadion yang memadai. Saya harap dengan hadirnya timnas, pemerintah dan instansi terkait di Bali termotivasi untuk segera membangun stadion yang megah,” ujarnya. Dian menggeluti sepak bola mengikuti jejak ayahnya Nyoman Ambara yang mantan pemain dan sekarang menjadi pelatih Perseden. Dia awalnya dimasukkan Sekolah Sepak Bola (SSB) Perseden. Dari sini pemain kelahiran Denpasar, 14 April 1982 ini kemudian naik ke tim junior dan senior. Setelah mengibarkan bendera Persekaba Badung pada 2002-2004, dia balik lagi ke Perseden. Pada 2005 hengkang ke Mojokerto Putra, selanjutnya membela Persid Jember, Persikab Bandung (Divisi Utama), dan Persiram Raja Empat (LSI) masing-masing satu musim. Puncak kariernya terjadi saat ikut mempromosikan Persidafon Dafonsoro ke LSI pada 2010 yang dibelanya hingga 2013.  Putu Eka Parananda


KRIMINAL

Kecanduan di Aceh Hijrah ke Bali

G

anja benar-benar memabukkan. Hal itu pula yang dialami tersangka Nanda Mardiano (45), yang selama ini tinggal di Jalan Linggar Udayana, Banjar Peraduan, Desa Jimbaran, Kuta Selatan (Kutsel). Tersangka Nanda yang sehari-hari bekerja sebagai montir dan pemain musik jazz ini mengaku, mengonsumsi ganja sejak berusia 13 tahun saat dia masih tinggal di Aceh. Dia kemudian hijrah ke Bali tahun 1993 dengan niat mencari pekerjaan. Tetapi kecanduannya mengkonsumsi ganja di tanah kelahirannya, Aceh, tidak bisa dihilangkannya. “Di sini kan susah mendapatkan ganja. Jadi saya beralih ke heroin. Agar dosisnya tidak berlebihan, saya mengkonsumsi metadon (mengurangi kecanduan),” ujar pria berambut gondrong ini. Bosan mengkonsumsi heroin, dan beralasan sangat berbahaya bagi kesehatannya, sejak tahun 2013 Nanda justru

kembali mengkonsumsi ganja hingga saat ini. Dalam setiap 1 ons, pria yang juga penggemar motor tua ini mengaku membeli mulai dari Rp 500 ribu hingga Rp 600 ribu. Ganja tersebut biasanya dipesan setiap empat minggu hingga dua bulan, atau tergantung pemakaiannya. “Kalau heroin efeknya sangat berbahaya. Tetapi kalau ganja, bisa membersihkan paru-paru,” jelasnya. Padahal ganja belum terbukti bermanfaat bagi kesehatan seperti yang dikiranya. Sebaliknya, ganja membuat orang ketergantungan, bahkan dapat menganggu kesehatan hingga menyengsarakan kehidupan. Kebiasaan Nanda mengonsumsi barang haram ini akhirnya dicium warga di sekitar tempat tinggalnya. Warga curiga karena sering ada orang tak dikenal yang bertandang ke rumah tersangka Nanda di Jalan Linggar Udayana, Banjar Perarudan, Desa Jimbaran, Kutsel, terutama

MBP/wiadnyana

Tersangka Nanda Mardiano didampingi Kasat Narkoba Polresta Denpasar, Kompol Agus Tri Waluyo (kanan), memperlihatkan ganja kering seberat setengah kilogram.

32

24 - 30 Maret 2014

pada malam hari. Tak ingin terjadi hal-hal yang tak diinginkan, warga kemudian melaporkan kejadian itu ke polisi. Pada Sabtu (1/3) lalu aparat Sat. Reserse Narkoba Denpasar mendatangi tempat tinggal Nanda. Kebetulan saat itu sepeda motor milik Nanda nangkring di teras rumah bedengnya. “Anggota kami langsung melakukan penggerebekan sekitar pukul 18.45,” ujar Kasat Narkoba Polresta Denpasar Kompol Agus Tri Waluyo, Rabu (5/3) lalu. Selain mengamankan tersangka Nanda, polisi mengamankan barang bukti berupa ganja beralaskan koran di atas meja seberat 1,45 gram dan tas ransel yang yang berisi 12 paket ganja seberat 248,84 gram. Total barang bukti itu mencapai 516,06 gram atau setara dengan setengah kilogram. Meski ganja tersebut diakuinya untuk dipakai sendiri, namun dilihat dari jumlah barang bukti yang cukup banyak, polisi menduga ganja itu untuk diedarkan. Hanya tersangka tidak mau mengakuinya terus terang lantaran takut terjerat hukuman lebih berat. Di hadapan Kasat Narkoba Polresta Denpasar Kompol Agus Tri Waluyo, tersangka Nanda mengakui bahwa yang siap hisap itu hanya digunakannya sendiri, bukan untuk diedarkan. Dia membelinya dari seseorang yang bernama Rambe serta diperantarai Parlin. Transaksi dilakukan dengan sistem tempel di suatu lokasi yang sulit dikenali orang lain. “Saya memesan ganja dan menyerahkan uangnya kepada Parli. Dia lalu mencarikan ganja itu ke Rambe,” ujar Nanda, sambil menujukkan paket ganja yang diamankan polisi. Berdasarkan hasil penyidikan, tersangka Nanda lalu dijerat undang-undang pemakai dan kepemilikan sesuai Pasal 127 ayat (1) UU No. 35 Tahun 2009 tentang narkotika.  Wiadnyana


Gara-gara Gaji Manajer Kafe Tebas Satpam

G

ara-gara melontarkan katakata kasar, dan melontarkan ancaman, M.Rizal (28) yang satpam Kafe Mirama di Jalan Ceningan Sari, Sidakarya, Densel, kena batunya. Dia ditebas manajer kafe tempatnya bekerja, tersangka Komang Sukadana di tempat kos Rizal di Jalan Ceningan Sari No. 2A Gang 1, Denpasar, Kamis (6/3) lalu. Kronologi kejadiannya, Rizal yang asal Padang, Sumatera Barat ini, minta gaji yang belum diterimanya, sehari sebelum malapetaka menimpanya yakni Rabu (5/3) lalu pukul 07.30. Tetapi ketika itu Rizal menagih gaji dengan cara tidak sopan. Dia melontarkan nada keras, plus ancaman. Setelah itu, Rizal berlalu dari tempatnya bekerja menuju tempat kosnya, kemudian menceritakan kejadian yang dialaminya kepada sang pacar, Susilawati (28) alias Icha. Rizal mengatakan bahwa dia belum mendapat gaji dan sudah dipecat. Tetapi saat bercerita itu, belum terjadi apa-apa pada Rizal. Nah, keesokan harinya yakni Rabu (5/3) sekitar pukul 07.30, Rizal dan Icha yang masih tertidur nyenyak di kamarnya didatangi enam orang yang membawa pedang. Keenam orang itu, salah satunya manajer Kafe Mirama, tersangka Komang Sukadana, menggedor-gedor pintu sambil meneriaki Rizal agar keluar kamar. Mendengar hal itu, Icha yang ketakutan segera membuka pintu. Tak mau terjadi hal-hal yang fatal, cewek itu bergegas lari ke Jalan Raya Sesetan. Dia meninggalkan pacarnya, Rizal, sendirian di kamar bersama keenam orang itu. Tersangka Sukadana lalu masuk kamar Rizal dan menebas satpam kafe tersebut. Sedangkan kelima rekan Sukadana berjaga-jaga di luar kamar. Mereka menunggu dan mengantisipasi kalau-kalau teman-teman Rizal datang dan menyerang. Icha yang berada di jalan raya, melihat pacarnya berlari hanya mengenakan celana dalam dan baju kaos warna hitam. Rizal saat itu memegang jari kirinya dan minta tolong kepada warga karena pung-

gungnya berdarah. Mendapati kejadian tersebut, pacar korban segera melapor ke Polsek Densel. Sedangkan korban segera dilarikan RSUP Sanglah, sekitar pukul 08.45, yang diantar polisi di pos jaga Jl. Diponegoro. Dari hasil pemeriksaan paramedis, korban mengalami luka tusuk di punggung, paha kiri, luka lengan kanan, dan kiri, serta kelima jari tangan kirinya putus. Kepala IRD RSUP Sanglah dr. Krisna Wibawa mengatakan, korban mesti intensif di IRD, dan harus dioperasi. Di tempat terpisah, petugas Polsek Densel segera menuju TKP. Mereka menemukan kondisi kamar Rizal berantakan: kaca jendela pecah, pintu kamar mandi rusak, dan ada bercak darah di lantai, serta di tembok. Tidak itu saja, polisi juga menemukan potongan jari kelingking di depan SPBU di Jalan Raya Sesetan. Pascakejadian, pelaku penebasan yakni Manajer Kafe Mirama Sukadana,

akhirnya menyerahkan diri ke Polsek Densel. Dia lalu ditetapkan sebagai tersangka. Pria bertubuh tambun ini resmi ditahan dan dijerat Pasal 351 KUHP tentang penganiayaan. Sedangkan lima rekan Sukadana, yang sebelumnya ikut dengan tersangka ke tempat kos Rizal di Jalan Ceningan Sari Gang I No. 1 A, Densel, berstatus saksi. Kapolsek Densel Kompol Nanang Prihasmoko, Jumat (7/3) lalu, mengatakan berdasarkan keterangan saksi-saksi, tersangka Sukadana menebas Rizal sendirian. Manajer Kafe Mirama ini memang benar cekcok gara-gara gaji dengan korban.  Wiadnyana

MBP/ist

Tersangka Sukadana saat menyerahkan diri ke Polsek Densel, karena menebas satpam setempat M. Rizal, gara-gara gaji. 24 - 30 Maret 2014

33


KRIMINAL

Istri Pembunuh Wartawan Itu Akhirnya Ditahan

K

ian banyak saja anggota legislatif yang tersandung bansos. Kali ini yang ketahuan belangnya karena diduga menilep dana untuk kain PKK Bangli, yakni terdakwa Hening Puspitarini. Wanita kelahiran Karanganyar, Jateng, 10 Juli 1973 ini, mulai Jumat (7/3) akhirnya ditahan seusai disidangkan di Pengadilan Tipikor Denpasar. Hal ini melalui penetapan majelis hakim No. 12/ Tah.Hk/Pen.Pid.Sus/TPK/2014/PN.Dps. Istri pembunuh wartawan, A.A. Prabangsa itu, ditahan di Rumah Tahanan (Rutan) Bangli selama 30 hari ke depan, yakni mulai 7 Maret hingga 5 April mendatang.

Menariknya, Hening satu rutan dengan suaminya Susrama, dan iparnya yang mantan Bupati Bangli Nengah Arnawa. Sebelum disidangkan dan dijebloskan ke sel, Hening tidak ditahan walau statusnya sudah tersangka. Penyidik beralasan, penahanan terdakwa mesti mendapat izin dari mendagri sesuai aturan yang berlaku. Tetapi majelis hakim pimpinan Dr. Made Suweda berpandangan lain. Dalam penetapan majelis hakim bernomor No. 12/Tah.Hk/Pen.Pid.Sus/TPK/2014/ PN.Dps., Hening akhirnyta merasakan juga pengapnya hotel prodeo. Atas perintah penahanan itu, Hening sempat duduk gelisah di kursi terdakwa, di-

saksikan putrinya. Dia mungkin sebelumnya tak menduga kalau tidak ditahan, mengingat masih berstatus anggota DPRD Bali. Jaksa penuntut umum (JPU) masingmasing Nyoman Sucitrawan, I Gede Arthana, dan Ni Nyoman Nadiyawati, silih berganti membacakan dakwaan di depan persidangan. Sebagaimana surat dakwaan, akibat ulah terdakwa Hening, negara dalam hal ini Pemprov Bali, mengalami kerugian Rp 776.900.000. Jumlah kerugian negara tersebut diperoleh berdasarkan perhitungan BPK Perwakilan Bali No. SR 739/ PW22/5/2013 tertanggal 15 November 2013.

MBP/Adhi Wijaya

Terdakwa Hening Puspitarini dikawal polisi setelah disidangkan di Pengadilan Tipikor Denpasar menuju Rutan Bangli, Jumat (7/3) lalu.

34

24 - 30 Maret 2014


Dana bansos berupa hibah itu semestinya disalurkan kepada enam kelompok PKK tahun 2011 yang berada di wilayah Kayubihi, seperti kelompok PKK Dinas Kayubihi, Banglet, Gebagan, Mampeh, dan dinas lainnya (berjumlah enam). Atas dakwaan itu, jaksa menjerat terdakwa Hening dengan dakwaan primer: Pasal 2 ayat (1) jo Pasal 18 (1) huruf b, UU No. 31 Tahun 1999 tentang tindak pidana korupsi, sebagaimana yang diubah dan ditambah ke dalam UU No. 20 Tahun 2001 atas perubahan UU No.31 Tahun 1999, jo Pasal 64 ayat 1 KUHP, serta dakwaan subsider: Pasal 3 jo Pasal 18 (1) huruf b, UU No. 31 Tahun 1999 tentang tindak pidana korupsi, sebagaimana yang diubah dan ditambah ke dalam UU No. 20 Tahun 2001 atas perubahan UU No. 31 Tahun 1999, jo Pasal 64 ayat 1 KUHP. Setelah disidangkan, terdakwa Hening dikawal ketat aparat Polresta Denpasar. Bahkan satu pleton polisi disiagakan di Pengadilan Tipikor di Jl. Tantular, Denpasar. Wanita berusia 41 tahun ini kemudian digiring masuk mobil kejaksaan bernopol DK 733 SP. Di dalam mobil, selain dikawal jaksa dari Kejati Bali, Hening juga dikawal polisi. Dia tiba di Rutan Bangli sekitar pukul 13.15 dengan diantar sejumlah kerabatnya. Kasipidsus Kejaksaan Negeri (Kejari) Bangli, Eka Widdyara, yang juga anggota tim JPU mengakui bahwa ipar mantan penguasa Bangli dua periode, Nengah Arnawa (juga menghuni LP) ini, ditahan berdasarkan penetapan hakim tipikor yang menyidangkan kasusnya.

Alasan penahanan itu dilakukan demi lancarnya proses persidangan. ‘’Setelah sidang, Hening langsung kami titipkan ke Rutan Bangli,’’ tegas Eka Widdyara saat itu. Kepala Rutan Bangli, Dedy Setyawan, juga mengakui menerima penahanan Hening. Wanita yang berpenampilan seronok setiap diperiksa di Kejati Bali di Denpasar ini, menempati ruang khusus perempuan Rutan Bangli. Sayang, ketika sejumlah wartawan hendak mewawancarainya, Hening menyatakan, tidak siap karena masih capai. Sedangkan Kasubsi Pelayanan Tahanan, Made Malena Adiputra, didampingi Kepala Keamanan Lapas, Ida Bagus Ketut Pustika, sebelum ditahan, sesuai prosedur, pihak rutan mengecek kondisi kesehatan Hening. ‘’Hasil pemeriksaan oleh dokter rutan, dia dinyatakan sehat,’’ kata Malena, seizin Karutan Dedy Setyawan. Setelah administrasinya lengkap, Hening langsung ditahan di blok wanita tepatnya di Wisma Widuri kamar nomor 4. Di dalam kamar berukuran 3 meter X 4 meter itu, dia bersama dua narapidana (napi) lainnya yakni Cokorda Istri Tresnadewi (kasus korupsi) dan Komang Sutini, napi kasus pembuangan bayi asal Dusun Payuk, Tembuku, Bangli. Setelah masuk rutan, wanita kelahiran 10 Juli 1973 itu akan menjalani masa pengenalan lingkungan (mapenaling). Penyesuaian diri di rutan itu direncanakan berlangsung selama tujuh hari dari masa paling lama 30 hari. ‘’Jika masa selama

satu minggu bisa dilalui, bisa mengikuti apa yang diperintahkan petugas rutan, maka mapenaling dianggap selesai sehingga dia diperlakukan sama dengan tahanan lain,’’ tegas Malena. Jika selama tujuh hari, Hening masih stres, maka masa penyesuaiannya ditambah. Mengenai suami Hening, yang terpidana seumur hidup (Susrama), pihak rutan memastikan mereka tidak bisa berbaur seenaknya. Walau berada di dalam rutan yang sama, Susrama menempati blok II di Wisma Bougenvile. ‘’Mereka tidak bisa bertemu semaunya. Kecuali ada urusan yang mendesak, kemungkinan diizinkan bertemu. Itu juga berada di bawah pengawasan petugas sehingga jelas apa yang mereka bicarakan,’’ terang Malena. Demikian juga jika ada kegiatan bersama, antara tahanan laki-laki dan perempuan, tetap disekat. Walau di ruangan sama, biasanya dipisahkan oleh petugas rutan yang duduk di tengah-tengah. Tentang status Hening sebagai anggota DPRD Provinsi Bali aktif, pihak rutan tidak mau ambil risiko dengan memberikan perlakukan khusus. Semua tahanan diperlakukan sama. Jika memang harus nyapu, semua tahanan juga harus menyapu.  Puspajingga


LINGKUNGAN

Alam Karangasem bopeng, galian C terus dikeruk.

Sinyal BPK dan Pengerukan Galian C

P

anorama alam Karangasem benarbenar indah. Makin ke tengah pemandangan alam pegunungan makin terasa. Potensi pasirnya berlimpah di seputar wilayah Gunung Agung tersebut. Mulai dari wilayah Rendang, Selat, Bebandem, Abang sampai Kubu. Namun potensi alam galian C yang tak bisa diperbaharui ini karena terus dikeruk oleh warganya membuat alam makin bopeng. Di sana-sini nuansa bopeng sangat kentara. Tengoklah wilayah Sebudi Selat, pasir yang terus dikeruk tanpa ada rehabilitasi menimbulkan banyak kubangan galian C. Kondisi serupa jika diamati ketika melihat alam pegunungan yang indah sekitar Bebandem-Tanah Aron Budakeling. Galian C terus dikeruk, meski lokasinya di atas 500 meter di atas permukaan laut (MDPL). Padahal, dari Perda Karangasem dan Perda Provinsi Bali, galian C tidak diperbolehkan di lokasi ketinggian lebih dari 500 MDPL. Indikasi pengerukan galian C besar-

36

24 - 30 Maret 2014

besaran itu diperkuat sinyal temuan BPK soal kehilangan pajak galian C sampai Rp 5,78 miliar. Tak hanya penggali yang menjual pasir besar-besaran, truk pengangkut galian C cenderung memuat melebihi tonase. Kepala Dinas pendapatan Daerah (Kadispenda) Karangasem Nengah Toya membenarkan adanya temuan BPK soal kehilangan pajak sampai Rp 5,78 miliar. Namun kehilangan tersebut karena kelebihan angkut galian C oleh sopir truk. Di mana, untuk pasir maksimal truk angkutan mesti membawa 7 m3. Namun, kadangkala ada sopir truk yang mengangkut lebih dari 7 m3, misalnya sampai 12 m3. Namun, pajak yang dipungut dianggap mengangkut 7 m3. Jadinya, BPK menghitung kelebihan angkut atau yang dibawa sopir truk dikalikan selama 1,5 tahun, sehingga ditemukan ada kehilangan potensi pajak Rp 5,78 miliar. Ke depan, katanya, guna tak ada temuan serupa, pihaknya bakal berkoordinasi apakah dengan Pol PP. Di mana

kapasitas angkut galian C diperketat. Demikian juga kalau memang, sopir truk mengangkut lebih dari 7 atau 8 m3, maka bayar pajaknya harus sesuai. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menemukan Pemkab Karangasem kehilangan potensi pajak mineral bukan logam dan batuan (MBLB) atau pajak galian C sebesar Rp 5,78 miliar. Temuan itu berdasarkan hasil pemeriksaan atas PAD tahun anggaran 2012 dan 2013 semester I. Kehilangan potensi penerimaan MBLB itu, tentu mengakibatkan kerugian daerah sebesar itu. Dari laporan BPK itu disebutkan pembayaran pajak MBLB tidak sesuai dengan jumlah volume angkut senyatanya. Toya membantah besarnya temuan itu karena dipakai untuk upah pungut. ‘’Itu bukan hilang karena dipakai upah pungut. Namun kehilangan potensi penerimaan,’’ katanya.  Budana


Harga Naik, Rem Keruk Galian C SEORANG sopir truk galian C Wayan Selamet (46) asal Rendang, Karangasem, belum lama ini meringis menahan sakit di punggung kakinya yang bengkak. Saat berjalan, dia terpaksa nengkleng (menggunakan satu kaki). Selamet dibawa ke UGD bersama seorang temannya sesama sopir truk, gara-gara terjatuh dari atas batu karang. Saat asyik mancing ikan di atas batu karang Pantai Bugbug, dua pekan lalu, dia terjatuh setelah diterjang ombak besar. Untung Selamet berenang setelah ombak surut. Padahal, kata Selamet dirinya sudah tenggelam, bersama seorang rekannya Ketut Suasta (35). Mereka memancing bertiga. Dua rekan Selamet sesama sopir truk galian C asal Jembrana dan Tabanan. Saat tercebur ke laut, Selamet merasakan sudah seperti tidak sadarkan diri. Namun dia merasakan keajaiban, bagai ada kekuatan lain yang menolong. Selamet memancing ikan, guna mengusir stres. Stres karena harga pokok galian C

di Karangasem dinaikkan sepihak pemkab setempat. Selamet, dkk. mengaku stres karena tak mampu membayar cicilan truknya. Kini harga pokok galian C naik tinggi. Tentunya, pajaknya naik. Jadi, sulit menjual pasir kepada konsumen dengan harga tiba-tiba melambung. ‘’Kami sudah lebih seminggu tidak kerja cari pasir. Masih mencocokkan harga dengan bos (pengepul pasir - red). Kebanyakan teman juga sempat mogok kerja, ada sopir truk teman kami demo di Jembrana,’’ ujar Selamet. Sopir truk galian C yang membeli pasir ke galian C atau galian mineral bukan logam, yang dipantau, Sabtu (1/3) sempat menurun drastis jumlahnya ke Karangasem. Penyebabnya, kata sejumlah sopir galian C, mereka mogok. Soalnya, pajak galian C di Karangasem melonjak tajam. Dari informasi di Pemkab Karangasem, kenaikan pajak galian C berdasarkan SK Bupati Karangasem No: 90/hk/2014 tertanggal 23 Januari 2014, tentang Kenaikan

Harga Material Hasil Produksi. Kenaikan harga produk galian C dan kenaikan pajak, diberlakukan per 1 Maret 2014. Dari SK itu, ada yang mencapai cukup tinggi. Misalnya, kalau dulu beli pasir cor Rp 800 ribu satu truk, setelah kenaikan bakal membeli jenis pasir yang sama dengan volume sama mencapai Rp 2 juta. Harga lama untuk pasir dan batu (Sirtu) harga sirtu Rp 13.750 per m3, pajaknya dulu Rp 90.250 per liter dengan volume angkut maksimal 7 m3. Harga baru sirtu Rp 17.500 per m3, pajaknya Rp 122.500. Untuk Basal (batu tabas) Rp 40 ribu per m3, pajaknya Rp 200 ribu, kini yang baru harga basal Rp 100 ribu per m3 dengan pajak Rp 500 ribu, dengan maksinal truk mengangkut 5 m3. Sementara untuk batu andesit (batu kelas A) harganya Rp 400 ribu per m3 dengan pajak Rp 100 ribu dengan angkutan maksimal 5 m3.  Budana

Grup Hardys/GH Holdings Patuhi Ketentuan Upah Minimum “Optimistis Wujudkan Misi Menjadi Wadah Berkarier Terbaik Generasi Muda & Profesional di Bali”

GRUP Hardys/GH Holdings terus berupaya untuk mewujudkan misi menjadi wadah berkarir terbaik bagi generasi muda dan profesional di Bali. Salah satunya melalui pembenahan struktur penggajian yang dilaksanakan secara serentak di seluruh unit bisnis di GH Holdings. Hal ini disampaikan oleh Mega Esti Roh Ani, SE. selaku Direktur Human Capital & General Affair seusai Rapat Regular Direksi pembahasan hasil monitoring dan evaluasi realisasi struktur gaji terbaru 2014 dan dukungan IT System bersama seluruh jajaran direksi yang dilaksanakan di Cempaka Room Head Office, Jalan Tukad Pakerisan 100 X, Panjer pada Senin (10/3). Dijelaskan Mega, realisasi struktur gaji yang diaplikasikan di tahun 2014 telah mengacu ketentuan upah minimum yang disyaratkan oleh pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten/kota. “Sistem pengupahan kami di atas upah minimum yang disyaratkan, nilai tersebut belum termasuk insentif KPI (Key Perfomance Indicator) dan bonus, jadi dengan memeroleh penilaian kinerja yang baik dan syarat bonus tercapai, penghasilan yang diterima di level paling bawah pun cukup besar dan sangat kompetitif,” paparnya. Masih menurut Mega, GH Holdings juga memberlakukan kenaikan gaji rata-rata 21,5

persen, sebagai bagian dari tanggung jawab level pengurus perusahaan dan manajemen perusahaan untuk meningkatkan kesejahteraan bekerja sama dengan perusahaan jasa asuransi karyawan sejalan dengan pertumbuhan bisnis Prudential. yang dicapai perusahaan. Di satu sisi, pengusaha muda asal PenyarinIr. Gede Agus Hardyawan, Presiden Direk- gan, Jembrana, yang menamatkan pendidikan tur sekaligus founder GH Holdings didampingi di Fakultas Teknik Industri, Institut Teknologi Ketut Rukmini, SP. selaku Komisaris Utama Bandung (ITB) tersebut mengungkapkan, dalam keterangan persnya menyatakan penera- segala bentuk program tersebut tidak terlepas pan standar upah minimun yang dilakukan di dari pertumbuhan bisnis GH Holdings yang GH Holdings dari tahun ke tahun selalu dilak- dicapai dengan dukungan masyarakat Bali. sanakan secara patuh, sesuai dengan peraturan “Kami mengucapkan terima kasih kepada pemerintah baik kabupaten maupun provinsi. seluruh stakeholder terutama masyarakat Bali Penerima penghargaan Wajib Pajak Dengan yang terus-menerus memberikan dukungan Kontribusi Terbesar 2013 melalui PT Hardys fanatisme dan kecintaan kepada Grup HarRetailindo yang akrab disapa Gede Hardy ini dys, ini adalah modal utama bagi kami untuk menyatakan, pengembangan sumber daya mewujudkan cita-cita menjadi perusahaan manusia, menjadi prioritas utama dalam Ren- kebanggaan masyarakat yang senantiasa eksis cana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) di negeri sendiri,“ tukasnya. 2014 diseluruh PT di bawah naungan GH Holdings. “Misi kami di bidang sumber daya manusia adalah menjadi wadah berkarir terbaik bagi generasi muda dan profesional di Bali,” tegasnya. Wujudnya, selain memberikan salary yang kompetitif, GH Holdings juga menerapkan sistem pensiun melalui skema PPUKP (program pensiun untuk kompensasi pesangon) bekerja sama dengan Bank Muamalat dan Komisaris dan Direksi GH Holdings berfoto bersama seusai rapat asuransi kesehatan plus pada komisaris & direksi


PARIWISATA

Ketika Wisatawan ke Bali

Mimpi ke Pulau Dewata Berujung Petaka

T

ak pernah terbesit di benak wisatawan akan menjadi korban kejahatan selama berlibur ke Bali. Impian mereka menginjakan kaki di pulau para dewata justru berujung petaka. Paul Robb Laturell (54), warga negara Amerika Serikat yang tewas ter-

bunuh di Jalan Banteng Denpasar, Rika Sano wisatawan Jepang yang ditemukan tewas membusuk di sebuah lahan kosong, Jalan Mertanadi, Kuta, dan Noelene Gay Bischoff (54) bersama putrinya, Yvana Jeana Yuri Bischoff (14) tewas saat berlibur di Bali.

Mereka merupakan secuil dari warga asing yang harus meregang nyawa saat berlibur ke Pulau Seribu Pura. Wajar, jika tak sedikit wisatawan terutama mancanegara kini meragukan ke keamanan dan kenyamanan yang dijanjikan pemerintah setempat.

MBP/dok

Keindahan alam dan budaya menjadikan Bali sebagai surga bagi wisatawan. Namun, kesan ini sirnah ketika kunjungan mereka ke Pulau Dewata berujung petaka.

38

24 - 30 Maret 2014


Anggota Badan Promosi Pariwisata Indonesia (BPPI) Nyoman Kandia menyayangkan hingga kini upaya pemerintah untuk memberikan rasa nyaman dan aman kepada wisatawan belum sesuai harapan. Hal itu ditunjukkan dengan adanya kasus pembunuhan, perampokan yang menimpa orang asing di Bali. “Sangat disayangkan kondisi dan kenyamanan Bali belum sesuai harapan. Pemerintah harusnya bisa menjamin keamanan Bali lebih bagus,” ucapnya. Parahnya, banyaknya tindak kejahatan dan penipuan yang menimpa wisatawan mancanegara yang berlibur di Bali menjadi konsumsi publik di negara-negara yang kini memasok wisatawan ke Pulau Dewata. “Jelas

dampaknya Bali tak aman jadi konsumsi berita negatif bagi pesaing Bali seperti Malaysia, Singapura dan Thailand, selain negara yang warganya banyak ke sini,” katanya. Dia mengakui, banyaknya tindak kriminalitas yang melibatkan warga asing yang berlibur ke Pulau Dewata ini telah mengusik keamanan dan kenyamanan Bali sebagai destinasi pariwisata dunia. Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Bali Ngurah Wijaya menegaskan, meski aksi kriminalitas bisa terjadi di seluruh dunia, namun tindak kriminalitas yang menimpa warga asing di Bali harus mendapat perhatian serius aparat penegak hukum. “Kriminalitas memang bisa terjadi di mana saja, termasuk negara besar.

Namun, ini harus menjadi perhatian pemerintah agar tidak berdampak negatif terhadap citra pariwisata,” ujarnya. Dia berpendapat, banyaknya kasus yang menimpa warga asing akibat maraknya akomodasi yang tidak berizin, sehingga tidak memenuhi standar keamanan yang ditetapkan. “Mereka yang menjadi korban tindak kriminalitas kebanyakan menginap di vila, kos-kosan, pemondokan yang notabena tidak memiliki izin,” sebutnya seraya berharap pemerintah terus menggencarkan penertiban akomodasi pariwisata yang tidak berizin, sehingga bisa meminimalisir tindak kriminalitas terhadap warga asing.  Parwata

Keamanan dan Kenyamanan di Bali Terusik

B

anyaknya tindak kriminalitas yang melibatkan warga asing yang berlibur ke Pulau Dewata ini telah mengusik keamanan dan kenyamanan Bali sebagai destinasi pariwisata dunia. Adanya kekerasan bahkan sampai digorok hingga meninggal, pemerkosaan terhadap wisatawan Australia, termasuk kecelakaan yang berujung maut saat menikmati atraksi wisata tentu akan memberi dampak citra negatif pariwisata. Pakar pariwisata Unud Drs. Putu A n o m , M . P a r. m e n g a t a k a n , b a g i wisatawan, Bali yang didambakan sebagai Pulau Surga justru jadi neraka.Tingginya kasus yang menimpa wisatawan saat berlibur di Bali menimbulkan dampak negatif terhadap pariwisata Bali. “Insiden buruk yang menimpa warga asing di Bali akan cepat tersebar ke seluruh dunia melalui dunia maya maupun situs jejaring sosial yang kian tidak terbatas. Kondisi ini mencerminkan keamanan dan kenyamanan di Bali sudah terusik,” katanya. Hal itu dikatakan Putu Anom tujuh unsur sapta pesona tidak berjalan

mulus. Pemerintah, Polri, TNI harus bersinergi dengan masyarakat untuk menjaga keamanan Bali. Kendati, memang belakangan ini banyak terjadi bunuh diri, pembunuhan dengan berbagai motif terutama motif ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidup atau ingin hidup prestise, tetapi dengan cara tidak wajar. Dia berpendapat, pemerintah harus kendalikan migrasi penduduk yang ilegal agar tidak banyak menimbulkan masalah kerawanan sosial yang ujungujungnya tidak lain pemenuhan kebutuhan hidup. Jadi Bali sekarang sudah tidak aman dan nyaman bagi wisman. Untuk itu, aparat dan penegak hukum harus cepat ambil sikap tegas. “Inilah fenomena sosial yang terjadi ibarat masyarakat Indonesia, termasuk Bali melakoni budaya rabas, di mana prilaku manusia tidak terkendali seperti kuda liar lepas dari kandang, semua dilabrak, baik norma, tata susila, tanpa prikemanusian,” katanya. Bank Indonesia (BI) mencatat penerimaan visa kunjungan saat kedatangan atau Visa on Arrival (VoA) dari turis asing yang datang berlibur ke Bali

selama triwulan IV/2013 sebesar 16 juta dolar AS, berkurang dari periode sama sebelumnya 18,7 juta dolar. Kondisi tersebut sejalan dengan indikator pertumbuhan penerimaan VoA yang sedikit melambat dari 15,14 persen menjadi 14,54 persen (yoy). Terkait jumlah kunjungan wisatawan mancanegara yang pertumbuhannya di triwulan IV/2013 melambat dari sebelumnya 20,65 persen menjadi 14 persen (yoy). Jumlahnya kunjungan wisman di triwulan IV/2013 sebanyak 872.950 orang, sedikit melorot jika dibandingkan dengan kunjungan di triwulan III/2013 yang mencapai 912.726 orang. Perlambatan jumlah kunjungan ini terkonfirmasi oleh perlambatan Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang di triwulan IV/2013 yang tumbuh 61,35 persen (yoy). Untuk triwulan IV, kunjungan wisman ke Bali masih didominasi oleh pelancong asal Australia, Cina, Malaysia, dan Jepang, dengan peranannya masing-masing 25,79 persen, 9,85 persen, 6,99 persen, dan 5,90 persen.  Parwata

24 - 30 Maret 2014

39


EVENT TEST DRIVE LUXIO - PT Astra Daihatsu Motor (ADM) selaku Agen Pemegang Merk (APM) Daihatsu di Indonesia menyelenggarakan test drive new Luxio dengan konsep “jelajah kuliner unik nusantara”. Kegiatan ini berlangsung belum lama ini diikuti 110 jurnalis dari seluruh Indonesia.

MBP/Ist

BALI FLASHOLIC - Manager Telkomsel Branch Denpasar Kusnandar (kanan) menyerahkan apresiasi utama program Bali Flasholic berupa sepeda motor Yamaha Mio kepada Ni Nyoman Sri Asih, pelanggan simPATI asal Sanur di GraPARI Diponegoro belum lama ini.

Raih sukses dengan menginformasikan kegiatan/usaha, tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), peluncuran produk, dan promosi lainnya melalui rubrik Event dengan menghubungi bagian Iklan Bali Post - (0361) 225764. Penyampaian materi dilakukan dua minggu sebelum penerbitan.

MBP/Ist

TABU CHALLENGE - (ki-ka) I Wayan Gunarta, Hera Laxmi Devi dan Nanang Tri Suseno dalam acara “Tabu Challenge” yang diselenggarakan Minggu (2/3) kemarin di Kuta. Guna menjajal kehandalan jaringan UMTS 900MHz yang dimilikinya, Indosat menggelar kompetisi yang dinamakan “Tabu Challenge” di Bali belum lama ini.

40

24 - 30 Maret 2014


MBP/Edi

MBP/Manik

LUNCURKAN LOOP - GM Sales Telkomsel Regional Bali Nusra, Gatot P. Utomo (dua kiri) bersama dengan personel group band Alexa saat peluncuran Telkomsel Loop untuk segmen anak muda, belum lama ini di Grapari Denpasar. Serangkaian dengan acara tersebut digelar konser yang melibatkan 100 artis di 10 kota besar di Indonesia.

MBP/Ist RACING TEAM - Astra Motor Racing Team (ART) Bali tahun ini bertekad untuk semakin mengokohkan eksistensinya di arena balap nasional dan regional. 24 - 30 Maret 2014

41


SENI

Tari Joged MBP/Budarsana

42

24 - 30 Maret 2014


’’Say No’’ untuk Joged Porno

B

eberapa waktu lalu, media sosial sempat heboh dengan pro-kontra soal joged yang dikategorikan porno. Bukannya tanpa alasan, di beberapa tempat memang ditemukan tari joged yang mengutamakan porno aksi ketimbang pakem joged sebagai sebuah pakem seni serta tari pergaulan. Sebenarnya, pada tahun 1980-an joged bumbung menjadi seni pertunjukan yang sangat popular. Tak hanya disukai kaum pria, tetapi juga digandrungi oleh kaum perempuan baik dari kalangan anak-anak hingga tua. Bukan apa-apa, soal joged porno ini terus diingatkan agar semua pihak eling dan memahami kaidah utama seni itu sendiri. Sekali lagi, say no untuk joged porno. Pasalnya, sebagai seni pergaulan, joged bumbung menjadi ajang untuk mengadu kepiawaian menari. Sebab, tiap pentas, penari joged selalu mengajak penonton untuk ikut menari yang disebut pengibing. Antara penari joged dan pengibing (penari lawan joged) tidak mau tampil apa adanya. Mereka berlomba-lomba menampilkan ekspresi gerak terbaiknya. Seorang penari joged ataupun pengibing dianggap bagus, bila keduanya mampu saling mengisi. Artinya penggambaran keakuran pasangan kekasih sangat kental. Keakuran itu sering juga diungkapkan dalam permainan majaran-jaranan dimana si pengibing menunggang kuda dan joged sebagai penumpangnya. Intinya penari joged tampil sesuai dengan pakem atau uger-uger-nya yang benar. Wiraga (penguasaan teknik tari, wirama (penguasaan musik iringan), wirasa (penghayatan tema), serta tata rias busana benarbenar menjadi sajian seni. Beda dengan perkembangan joged belakangan. Citra kesenian milik masyarakat Bali itu terpuruk. Gerak-geraknya tidak lagi mengutamakan keindahan rasa, melainkan cenderung erotis seakan tak bermoral. Penari joged, secara sengaja memperlihatkan hal-hal tabu yang sangat beda dengan joged yang dulu. Tim Pembina Seni Provinsi Bali Ni Made Astini, S.Sn. saat melakukan pembinaan di Kota Denpasar mengatakan, maraknya aksi joged porno yang terjadi belakangan ini membuat citra kesenian joged kini sedikit tercoreng. Para penari tidak lagi mengutamakan ekspresi gerak, melainkan gerak-gerak layak sensor. Mengantisipasi

hal tersebut perlu kesadaran dan upaya semua pihak untuk menangkalnya. Salah satunya adalah kegiatan pembinaan yang digelar rutin menjelang dihelatnya Pesta Kesenian Bali (PKB). “Sayang rasanya jika kesenian ini tercoreng,” ujar Astini. Kesenian joged di setiap ajang PKB selalu mendapat apreasiasi yang luar biasa dari para pencintanya. Karenanya, pemimpin sanggar maupun seniman diingatkan untuk selalu berpedoman pada pakem ataupun uger-uger tari

joged yang sesungguhnya. Saat itu, Astini melakukan pembinaan terhadap Sekaa Joged “Swara Giri” selaku duta Kota Denpasar. Tim yang terdiri dari 5 orang tersebut diterima langsung Kadis Kebudayaan Md. Mudra pada Senin (10/3).  Budarsana LAPORAN

www.bali-travelnews.com


TRADISI

Unik, ’’Mbed-mbedan’’ di Semate

J

ika di Banjar Kaja Sesetan, Denpasar, ada tradisi Omed-omedan, di Desa Adat Semate Kelurahan Abianbase, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, ada Mbed-mbedan. Tradisi itu sama-sama dilakukan setiap tahun, tepatnya saat ngembak geni sehari setelah hari raya Nyepi. Sebelum melakukan tradisi Mbedmbedan, krama Desa Adat Semate

44

24 - 30 Maret 2014

menuju Pura Desa/Puseh melakukan persembahyangan bersama. Masingmasing krama membawa sarana upakara berupa tipat bantal, dipersembahkan kepada Ida Batara, sebagai wujud syukur telah dianugerahkan kerahayuan. Selanjutnya, krama desa menuju depan Pura Desa/Puseh menggelar tradisi Mbed-mbedan. Tradisi unik ini sempat vakum selama kurang lebih 40 tahun,

baru kemudian sejak beberapa tahun lalu dibangkitkan kembali. Seperti apa upacara atau tradisi tersebut? Mbed-mbedan di Desa Adat Semate mirip olahraga tarik tambang. Namun, tali yang digunakan sepesial dari batang pohon menjalar, yang oleh masyarakat Semate disebut bun kalot. Bun kalot ini diambil di wilayah kuburan Desa Semate.


Bun kalot itu sudah ada sejak ratusan tahun, menjalar di sebuah pohon kroya. Bun ini dipotong beberapa meter untuk digunakan sebagai sarana Mbed-mbedan. Menariknya, peserta Mbed-mbedan tak hanya dari kalangan truna-truni, tetapi juga para panglingsir. Dalam tradisi ini peserta tak mementingkan unsur menangkalah. Dalam pelaksanaan tradisi ini peserta laki-laki berhadapan dengan lawan laki-laki, sedangkan peserta perempuan berhadapan dengan lawan perempuan. Mula-mula tali dari bun kalot itu dipegang

masing-masing lawan dengan jumlah peserta dan kekuatan yang sama. Setelah aba-aba dimulai, masing-masing peserta menunjukkan kekuatannya. Tali ditarik dengan sekuat tenaga. Pada saat peserta saling menunjukkan kekuatannya, ada krama yang bertugas menggelitik tubuh peserta. Peserta yang tak tahan gelitikan, tentu akan melepas pegangannya, sehingga kekuatannya menjadi melemah. Permainan dinyatakan selesai manakala peserta berhasil menarik tali yang dipegang lawan. Begitulah seterusnya, hingga semua peserta mendapat kesempatan tampil. Sorak gembira membahana ketika peserta mampu menarik lawan dengan gigihnya. Peserta selalu bersemangat tiap kali tradisi Mbed-mbedan ini digelar. Kira-kira berlangsung beberapa jam, permainan tradisi ini diakhiri dengan sukacita. Setelah Mbed-mbedan selesai, krama kemudian berkumpul, menikmati lungsuran tipat bantal bersama-sama. Suana kekeluargaan dan kebersamaan betulbetul tampak dalam upacara atau tradisi itu. Boleh dikatakan, krama Desa Adat Semate membuka lembaran hari pertama pasca-Nyepi Tahun Baru Saka (ngembak geni) dengan spirit kebersamaan. Diawali dengan persembahyangan bersama, terlibat dalam pelaksanaan tradisi atau upacara warisan leluhur secara bersama-sama, kemudian menikmati lungsuran paican Ida Batara (berupa tipat bantal) secara bersama-sama pula. Setelah upacara, diisi dengan saling memaafkan. Bendesa Adat Semate I Gede Suryadi, S.H. mengatakan, Mbed-mbedan ini sudah ada sejak lama di Desa Adat Semate. Tradisi atau upacara ini sempat vakum selama 40 tahun. Baru sejak beberapa lalu digelar kembali. Tradisi warisan leluhur ini mungguh dalam Raja Purana Desa Adat Semate. Mbed-mbedan tak terlepas dari keberadaan Desa Adat Semate. Dalam Raja Purana itu dikisahkan, Rsi Mpu Bantas melakukan perjalan suci ke sebuah hutan yang ditumbuhi kayu putih. Di situ beliau bertemu dengan sanak keturunan Mpu Gnijaya. Beliau sempat bertanya kepada warga, kenapa berada Mbed-mbedan di Desa Adat Semate Kelurahan Abianbase, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung.

di wilayah hutan itu. Karena hutan itu angker, Rsi Mpu Bantas menyarankan warga membuat tempat pemujaan agar selamat. Warga melakukan pertemuan untuk menentukan nama pura tersebut, tetapi terus terjadi tarik ulur. Lama tidak menemukan titik temu, Rsi Mpu Bantas memberikan nama Kahyangan tersebut Putih Semate, karena wilayah ini ditumbuhi kayu putih dan wilayah itu dinamakan Semate karena warga telah bersatu dalam pikiran dan tidak mau tunduk dengan orang lain dan berketetapan tinggal di wilayah ini (sehidup semati). Setelah itu pura dan desa itu dibuatkan upacara pada Tahun Saka 1396 atau 1474 Masehi. Sebelum meninggalkan Desa Semate menuju perjalaan ke arah utara, Rsi Mpu Bantas sempat mengucapkan Bhisama: ‘’Hai anak-anaku sekalian. Karena kalian dalam mengadakan musyawarah terjadi pembicaraan tarik ulur dalam mengambil suatu keputusan, sebagai tanda peringatan, wajib kalian melakukan upacara Mbed-mbedan setiap tahun yaitu pada sasih kadasa tanggal pisan (sehari setelah Nyepi) mohon keselamatan dan anugerah Tuhan/Hyang Batara dengan mengaturkan upakara daksina suci pada pura yang menjadi sungsungan kalian lengkap dengan segehan. Demikian harus diingat, jangan sampai dilupakan.’’ ‘’Berdasarkan hal itulah kami melaksanakan Mbed-mbedan ini,’’ ujar Suryadi.  Subrata 24 - 30 Maret 2014

45


ER TPRRAODPI S I TI

Gorden Pemanis Ruangan

H

ampir dipastikan tiap rumah memiliki pintu dan jendela. Gunanya, tiada lain untuk pencahayaan yakni agar ruangan menjadi terang, juga untuk masuknya udara lebih banyak sehingga ruangan terasa lebih sejuk dan nyaman. Namun jika matahari bersinar terang dengan panas menyengat, pintu maupun jendela perlu ditutupi dengan gorden. Sebagai salah satu interior yang ada di rumah, gorden biasanya dipasang pada jendela, pintu, atau penghubung antarruangan. Salah satu fungsi gorden adalah sebagai penghalau agar aktivitas di dalam ruangan tidak terlihat atau sekadar pembatas. Fungsi lainnya juga mampu mencegah masuknya sinar matahari ke dalam ruangan. Sinar matahari yang terik dapat mengganggu kenyamanan penghuni dalam ruangan juga dapat merusak perabot yang ada di sekitarnya. Selain menghalau panas sinar matahari secara langsung yang masuk ke dalam rumah, fungsi gorden juga untuk mempercantik ruangan. Desain gorden terutama untuk rumah minimalis sendiri banyak jenisnya, dari yang sederhana sampai yang mewah. Namun dalam memilih gorden, haruslah sesuai dengan interior rumah. Bentuk dan motif gorden juga harus sesuai dengan desain interior rumah. Motif dan ukuran gorden sangat memengaruhi keindahan desain dari rumah. Banyak model yang disediakan oleh para produsen gorden, dari model yang klasik, elegan, sampai yang sederhana. Model gorden dapat dipilih sesuai model ruangan dan desain interiornya. Rumah minimalis yang sederhana cocok menggunakan model gorden yang sederhana pula. Yang dimaksud gorden sederhana di sini bukanlah yang murahan dan kualitasnya jelek, tetapi lebih pada model

46

24 - 30 Maret 2014

dan warnanya. Namun yang jelas, baik gorden mewah ataupun yang sederhana memiliki motif dan desain yang beragam serta banyak. Gorden dengan motif yang bagus juga tidak harus mahal. Banyak gorden dengan harga murah tetapi memiliki motif yang bagus dan banyak macamnya. Biasanya yang membedakan hanya kualitas bahannya saja. Selain model dan harga gorden, untuk memilih gorden juga harus disesuaikan dengan tema dan desain rumah. Gorden yang bagus adalah gorden yang sesuai dengan jendela dan tema ruangan. Gorden yang tidak sesuai dengan desain ruangan akan sangat mengganggu pemandangan. Jika desain rumah adalah minimalis, tentunya gorden yang digunakan juga harus minimalis. Namun harus diingat, walaupun minimalis tetapi tetap terlihat modern dan cantik untuk dipandang. Pemilihan model gorden rumah minimalis juga harus sesuai dengan jendela rumah. Dalam pemilihan gorden anda harus selalu memperhatikan tema rumah, bentuk jendela dan tentu saja budget. Gorden yang sesuai dengan jendela dan tema ruangan akan terlihat bagus dan menyatu dengan rumah. Gorden rumah minimalis yang sesuai adalah gorden yang sederhana dan tidak memakan banyak tempat pada jendela rumah. Kesimpulannya, kehadiran tirai atau gorden dalam suatu ruangan haruslah dapat memperindah suatu ruangan. Sebab, gorden juga mampu memberikan suasana atau nuansa tertentu di samping fungsi utama yang dimiliki. Beragam model, motif dan warna dari gorden memberi kebebasan lebih untuk memilih gorden yang disukai. Gorden haruslah dapat sebagai pemanis interior ruangan.  Sugiarta/Pusdat


Bukan Sekadar Penutup Jendela ADA beberapa hal yang dapat menjadi pertimbangan saat akan memilih gorden dalam rumah. Kegunaan atau fungsi yang diharapkan dari gorden dapat menjadi pertimbangan dalam memilih gorden. Dekorasi gorden yang baik akan menyempurnakan ruangan dan dapat membuat kita merasa nyaman. Karenanya, pertimbangkan hal-hal yang diinginkan sehingga kehadiran gorden benar-benar sebagai pelengkap yang menarik untuk interior rumah, bukan hanya sebagai penutup jendela. Jika hanya sebagai penghias ruangan atau sebagai partisi ruangan, penggunaan gorden berjenis vitrase dapat dipilih. Model yang terbuat dari manik-manik, kerang, atau batu-batuan dapat menjadi pemanis ruangan. Tetapi, tentu saja model seperti ini tidak dapat menutup dengan sempurna sehingga tidak cocok jika ingin menggunakan gorden untuk menutup pandangan dari orang di luar. Ada berbagai macam pilihan bahan yang dapat digunakan sebagai pembuat gorden. Tiap bahan memiliki ciri masing-masing. Dalam penentuan bahan, biasanya bergantung pula dengan model yang ingin dibuat dan fungsi yang diinginkan pada gorden. Apakah menginginkan gorden berkesan lentur, ringan atau gelap dan mampu memendam suara. Beberapa bahan yang sering dipakai dalam pembuatan gorden antara lain lamborgini yang memiliki sifat lentur. Bahan yang ringan seperti katun, satin, linen atau polyester. Jenis lainnya adalah beludru, organza dan paloma yang lebih berat dan juga dapat membuat kedap suara dan menyerap sinar matahari. Gorden akan menjadi penyempurna desain suatu ruangan. Memilih gorden yang sesuai dengan desain rumah khususnya ruangan, akan menjadikan keseluruhan tema ruangan tercipta dengan baik. Salah satu cara paling mudah adalah dengan memilih gorden yang warnanya sesuai dengan warna dinding dan furnitur yang ada di sekitarnya. Model gorden haruslah disesuaikan dengan desain rumah. Misalnya untuk rumah bergaya klasik, dapat memilih gorden dengan model dan desain yang rumit. Sedangkan untuk rumah bergaya minimalis, tentu gordennya dengan model minimalis. Kita bisa memilih gorden satu warna polos. Dalam hal ini penentuan warna, model dan motif menjadi hal yang terutama. MBP/pusdat

 Sugiarta/Pusdat 24 - 30 Maret 2014

47


HIBURAN

Seni Mengendalikan Emosi

K

ecakapan seseorang mengelola emosi tergantung kepribadian, kecerdasan dan kondisi lingkungan di sekitarnya. Seseorang dalam keadaan tertentu, mengalami keadaan yang menimbulkan emosi dan sulit ditahan. Emosi yang sering hadir, merupakan kekuatan mendesak yang kadang-kadang membuat yang menyakitkan dalam hidup kita. Emosi manusia merupakan, perasaan sangat gembira untuk prospek baru, menangis karena kita telah terluka atau perasaan ketika mencintai. Demikian juga halnya dengan stres. Beban kerja yang menumpuk serta konik keluarga termasuk sosial bisa menjadi pemicu stres. Kegagalan dalam dunia politik juga akan menggiring seseorang stres bahkan mengalami gangguan kejiwaan. Untuk itu, seseorang mestinya cerdas dan seni dalam mengelola emosi dan stres. Keadaan ini mampu mendikte pikiran kita dana mengantarkan kita melakukan tindakan atas emosi dan sering membuat keputusan yang kurang akurat. Untuk itulah mengelola emosi sangatlah penting untuk dilakukan agar, keputusan yang dibuat tidak akan disesali dikemudian hari. Ada banyak langkah dan seni mengendalikan emosi. Seperti banyak aspek dalam kehidupan, emosi sebaiknya bertemu dengan rasa dan pola pikir perspektif yang logis, namun hal tersebut bukan emosi untuk membuat diri menggindari jatuh cinta atau melompat kegirangan ketika mendapat berita baik karena hal tersebut merupakan emosi yang baik namun, jenis emosi negatif yang harus ditangani dengan sangat hatihati. Emosi negatif seperti marah, iri hati atau kepahitan cenderung bisa lepas kendali terutama ketika banyak pemicunya. Seiring berjalannya waktu, emosi akan tumbuh seperti rumput liar. Perlahan kondisi pikiran akan berfungsi pada perasaan merugikan dan mendominasi kehidupan sehari-hari. Jika pernah bertemu dengan seseorang yang secara konsisten marah atau bermusuhan? sebenarnya, mereka tidak dilahirkan seperti itu. Tetapi karena membiarkan emosi tertentu untuk bangkit dalam diri dengan begitu lama sehingga emosi menjadi perasaan bawaan yang timbul terlalu sering. Ada beberapa langkah cara menetralisir emosi negatif untuk mendapatkan kembali pikiran rasional dalam setiap situasi yang terjadi di antaranya dengan jangan be-

48

24 - 30 Maret 2014

reaksi secara cepat. Bereaksi dengan segera, pemicu emosi dapat menjadi kesalahan besar. Sebelum menyangkal sebuah argumen saat emosional, ambil napas dalamdalam dan menstabilkan rasa emosi yang luar biasa. Lanjutkan bernapas selama lima menit sampai detak jantung kembali normal. Ketika menjadi lebih tenang, tegaskan kepada diri sendiri bahwa keadaan ini, hanya sementara. Kita juga bisa mencari penyaluran emosi yang positif. Ketika emosi sudah tidak bisa dibendung, pergi kepada seseorang yang dipercaya dan menceritakan kepada mereka apa yang terjadi. Mendengar pendapat selain diri sendiri, akan memperluas kesadaran pikiran. Mentransfer emosi dari dalam diri di atas kertas juga bisa dilakukan. Banyak orang yang merasa terbantu dengan melibatkan ke dalam latihan agresif, seperti kickboxing atau seni bela diri untuk melepaskan perasaan. Jalan lainnya, dengan bermeditasi dan nyanyian untuk kembali ke keadaan yang lebih tenang. Lakukan kegiatan apa pun yang paling cocok, dalam rangka untuk membebaskan diri dari emosi terpendam. Lalu, bagaimana dengan stres. Masalah dan tantangan seringkali menimbulkan stres yang bisa mengganggu pencapaian tujuan. Oleh karena itu, para pengawas satuan pendidikan harus pula memiliki kemampuan mengelola stres. Stres adalah suatu kondisi

tegangan (tension) baik secara faal maupun psikologis yang diakibatkan oleh tuntutan dari lingkungan yang dipersepsi sebagai ancaman. Stres merupakan bagian dari kondisi manusiawi. Dalam batas tertentu, stres membantu kita agar tetap termotivasi (eustress). Tetapi kadang-kadang kita terlalu banyak mendapatkan stres sehingga menurunkan kualitas kinerja kita (distress). Oleh karena itu, kita perlu memiliki kemampuan mengelola stres. Untuk bisa mengelola stres, maka langkah yang harus kita lakukan adalah: mengenali gejala-gejala stres, memahami faktor-faktor penyebab stres, dan melatih diri melakukan mekanisme penanganannya (coping mechanism). Gejala Stres memengaruhi seluruh diri kita. Kondisi stres dapat diamati dari gejala-gejalanya, baik gejala emosional/ kognitif maupun gejala ďŹ sik. Jika kita dapat menandai gejala-gejalanya, maka kita akan dapat mengelolanya. Seseorang yang stres tidak berarti harus memiliki/menampakkan seluruh gejala ini, bahkan satu gejala pun sudah bisa kita curigai sebagai pertanda bahwa seseorang mengalami stres. Namun kita juga perlu menyadari bahwa gejala-gejala ini bisa juga merupakan indikator dari masalah lain, misalnya karena memang benar ada gangguan kesehatan secara ďŹ sik.  Pusdat BP


Kreatif di Tengah Kegelisahan

MBP/dok

Raditya Dika

BERKECIMPUNG di industri kreatif, penulis Raditya Dika mengartikan kreatif sebagai gaya hidup. Ketika kreatif diadopsi sebagai gaya hidup, seseorang akan mulai berpikir secara kreatif. “Kreativitas dekat dengan wawasan. Kalau wawasannya luas, kita berarti punya pilihan dalam menulis,” katanya saat ditemui di konferensi pers “Mandiri Creativepreneur Corner 2014” di kawasan Senayan, Jakarta. Penulis buku “Kambing Jantan” ini mengaku kreativitas yang dimilikinya lahir dari kegelisahan dirinya. Mengaku sebagai pribadi yang tertutup, ia menghabiskan waktunya untuk berpikir dan membaca. “Kreativitas itu mencari kegelisahan kemudian kita tuangkan. Daripada nyampah di

Twitter, nangis, mending kita bikin komik, misalnya,” katanya. Menurutnya, semakin gelisah seseorang, ia akan semakin mengenali dirinya sendiri. Orang pun harus peka terhadap kegelisahan yang dialaminya sendiri agar dapat menuangkannya ke dalam bentuk tulisan, misalnya. “Ketika sudah bisa menciptakan nilai terhadap apa yang kita buat, baru nilai itu kita jual, katanya dan menambahkan kreativitas tidak selalu tentang jualan. Ia mengatakan, dirinya tidak menganggap orang lain sebagai pesaingannya. Baginya, semakin banyak orang yang menjadi penulis, industri kreatif akan semakin dilihat karena menjadi semakin besar.  Pusdat BP


DESTINASI

Suku Asmat ’’Kuasai’’ Monkey Forest

U

nik dan menjadi tontonan menarik. Berbagai aktivitas keseharian suku Asmat disajikan secara live kepada para wisatawan yang sedang berkunjung di Daya Tarik Wisata (DTW) Monkey Forest Ubud. Mereka menari-nari dengan kekuatan roh para leluhurnya, membuat penonton terkagum-kagum. Apalagi disertai demonstrasi mengukir, sungguh sebuah budaya nusantara yang unik. Mulai dari seni ukir, seni anyam, seni tari, seni suara yang telah berkembang sejak zaman primitif sampai sekarang. Dalam sajian seni itu, masyarakat Asmat tampak menyatu dengan budayanya. Itulah sebuah kegiatan kolaborasi antara suku Asmat dengan Desa Pakraman Padang Tegal, Ubud, khususnya dalam bidang seni dan budaya. Pameran seni suku Asmat itu dibuka oleh Wakil Bupati Gianyar Made Mahayastra, Senin (10/3) ditandai dengan memakaikan pakaian kebesaran panglima perang kepada Mahayastra sebagai bentuk penghormatan. Pameran berlangsung selama lima hari.

I Ketut Budiana selaku ketua panitia mengatakan, sama halnya dengan masyarakat Bali masyarakat Asmat juga memiliki kepercayaan yang kuat pada roh leluhur yang melindungi kehidupan mereka. Guna menghormati para leluhur, suku Asmat selalu melakukan upacara adat yang disertai dengan pentas tari dan nyayian unik. “Cara-cara menghormati leluhur itu yang dipamerkan di Monkey Forest Ubud,” katanya. Dalam pameran itu, 27 orang masyarakat Asmat menggelar atraksi workshop, menari dan demonstrasi mengukir khas Asmat. Selain untuk memberikan sajian unik kepada para pengunjung, pameran ini juga diharapkan membawa dampak yang baik bagi perkembangan pariwisata di Ubud serta berkembangnya pariwisata di Kabupaten Asmat. Kepala Bidang Promosi Pariwisata Kabupaten Asmat selaku Ketua Rombongan Marcus Rudolf Mbait mengatakan, tujuan kegiatan ini untuk memperkenalkan kerajinan-kerajinan seni dan kebudayaan suku Asmat sebagai penopang

pembangunan pariwisata. “Suku Asmat adalah salah satu suku yang mendiami tanah Papua bagian Selatan, diapit oleh dua kabupaten yaitu Timika dan Merauke,” terangnya. Populasinya terbagi dua, yakni mereka yang tinggal di Pesisir Pantai dan pedalaman. Keduanya memiliki perbedaan satu sama lainnya dalam hal cara hidup, struktur sosial dan ritual. Kabupaten Asmat sendiri terbentuk pada tahun 2014 dengan ibu kotanya di Agats. “Hal ini bisa dilihat dari hasil karya seniman Asmat dalam mengukir patung,” ujarnya. Marcus Rudolf Mbait menambahkan, dipilihnya Money Forest sebagai tempat kegiatan, karena memiliki visi yang sama dalam pelestarian lingkungan. “Ubud sebagai destinasi yang memiliki daya tarik tersendiri baik dari segi seni, adat maupun budayanya,” imbuhnya.  Budarsana www.bali-travelnews.com LAPORAN

MBP/budarsana

Tarian suku Asmat disajikan secara live kepada para wisatawan yang sedang berkunjung di Daya Tarik Wisata (DTW) Monkey Forest Ubud.

50

24 - 30 Maret 2014



Majalah Bali Post Edisi 30