Skip to main content

Edisi 16 Oktober 2017 | Ekbis NTB

Page 1

MINGGUAN TERBIT SEJAK 15 AGUSTUS 2016 E-mail: ekbisntb@gmail.com

SENIN, 16 OKTOBER 2017

Ekbis NTB

4 HALAMAN NOMOR 9 TAHUN KE 2 TELEPON: Iklan/Redaksi/ Sirkulasi (0370) 639543 Facsimile: (0370) 628257

Tembolak, Tudung Saji Tradisional Lombok yang Masih Eksis TUDUNG saji digunakan oleh masyarakat untuk menutup makanan agar terhindar dari lalat atau lainnya. Di Lombok sejak dahulu kala, masyarakat sudah memiliki tudung saji tradisional sebelum adanya tudung saji modern dari plastik seperti sekarang yang dikenal dengan nama tembolak. Tembolak terbuat dari daun lontar yang dibentuk melingkar dan berwarna cerah yang digunakan untuk menutup makanan atau dulang saat ada acara-acara besar. Halaman 2

○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○

Kekuatan Ekonomi dan Dunia Usaha NTB

Satgas Waspada Investasi Bidik Satu Travel Umroh di NTB TIM Waspada Investasi Pusat telah menerima laporan terkait dengan adanya perusahaan travel umroh yang berafiliasi dengan investasi bodong. Kantor pusatnya ada di NTB, sehingga tim sedang mengincarnya. Halaman 4

Ketika Pekerja Penyandang

Disabilitas Dipandang Sebelah Mata

(Ekbis NTB/uul)

Tidak ada manusia di dunia ini yang ingin terlahir cacat atau tidak normal. Semua pasti menginginkan lahir dengan kondisi fisik dan mental yang normal. Namun, bagi yang terlahir dengan kondisi tidak normal atau penyandang disabilitas, mereka juga menginginkan kesetaraan dengan manusia normal lainnya. Baik kesetaraan di bidang pendidikan atau dunia kerja. NAMUN saat mencari kerja, mereka banyak ditolak oleh perusahaan. Padahal, mereka memiliki skilI sesua dengan yang dibutuhkan perusahaan tersebut. Sementara di satu sisi ada UU Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas yang menekankan semua warga negara memiliki hak yang sama. Seperti apa pengalaman beberapa penyandang disabilitas ditolak bekerja saat melamar di perusahaan? Adalah Mar’aini, penyandang disabilitas dengan cacat fisik pada kaki sebelah kirinya memiliki pengalaman kurang menyenangkan saat mencari kerja. Wanita asal Wakan Lauk, Kelurahan Leneng, Praya, Lombok Tengah ini memiliki pengalaman yang pernah membuat dirinya kecewa ketika mencari kerja Bangil, Jawa Timur. Saat tamat sekolah, ia sempat masuk di salah satu panti di Bangil untuk menimba ilmu, khususnya keterampilan menjahit. Selesai mengikuti pelatihan, Mar – sapaan akrabnya memutuskan melamar pekerjaan di pabrik konveksi di Jawa Timur bersama temannya.

Bersambung ke hal 3

Winarna

Perlu Ada Kualifikasi KEBERADAAN Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas menekankan penyandang disabilitas memiliki hak yang sama dengan warga lainnya. Baik dalam mendapatkan pekerjaan atau pelayanan lainnya. Jika ada perusahaan atau instansi yang menolak penyandang disabilitas dalam bekerja telah melanggar undang-undang. ‘’Kalau sekarang kan sudah ada undang-undang yang menyatakan, jika penyandang disabilitas memiliki hak yang sama dengan orang normal untuk melamar pekerjaan di perusahaan,’’ ujar Winarna, M.Pd, pemerhati penyandang disabilitas di Mataram. Winarna mengatakan, penyandang disabilitas tidak semuanya bisa beraktivitas secara normal. Menurutnya, penyandang disabilitas dibagi menjadi dua. Yaitu cacat mental, yakni mentalnya kurang dan cacat fisik, di mana hanya fisiknya saja yang kekurangan. Ia menjelaskan, jika penyandang cacat mental hanya belajar untuk melatih kemandirian mereka, karena mereka sangat bergantung dengan orang lain.

Bersambung ke hal 3

Mar’aini

Berikan Porsi Khusus

Bersambung ke hal 3

(Ekbis NTB/bul)

PARA penyandang disabilitas telah mendapat perhatian lebih dari pemerintah. Mereka harus mendapatkan perlakukan yang sama dalam segala hal. Namun pada posisi, nampaknya mereka yang notabenenya tidak terlahir sempurna ini masih juga dipandang sebelah mata. Terutama ketika mereka ingin mendapatkan haknya untuk mendapat pekerjaan yang layak. Meski dengan keterbatasan secara fisik, bukan berarti para difabel tak mampu berbuat, seperti yang diperbuat oleh mereka yang memiliki fisik normal. Bisa jadi, mereka justru lebih mampu. Hanya saja, para difabel ini memang harus diberikan ruang. Ketua Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Provinsi NTB, Sri Sukarni mengatakan, mereka ingin agar hak-hak mereka, bisa didapatkan, sebagaimana orang normal pada umumnya. HWDI Provinsi NTB belum lama ini telah terbentuk.

(Ekbis NTB/dok)

Penyandang Disabilitas Masih Didiskriminasi

PERHATIAN pemerintah dan masyarakat terhadap kelompok disabilitas atau orang yang berkebutuhan khusus, secara umum sudah mulai membaik. Di sejumlah tempat publik sudah banyak terdapat fasilitas untuk membantu aktivitas kaum disabilitas. Namun yang berkaitan dengan akses pekerjaan, pemerintah dan pihak swasta harus tetap didorong agar memberikan perhatian yang serius. Sekretaris Komisi V Bidang Ketenagakerjaan DPRD NTB M Hadi Sulthon, S.Sos., kepada Ekbis NTB mengatakan, keterbatasan kemampuan yang dimiliki kelompok disabilitas tidak menghalangi mereka untuk beraktivitas dan berkarya. Disabilitas yang berkaitan dengan kondisi fisik tetap memiliki kemampuan bekerja dengan mengandalkan pikiran dan ilmu pengetahuan. ‘’Kaum disabilitas yang memiliki keterbatasan secara fisik, bisa bekerja di kantoran misalnya. Bekerja dengan otak itu saya pikir kita sama. Karena itu kita dorong pemerintah atau kalangan pengusaha untuk mengakomodir itu,’’ katanya.

Bersambung ke hal 3

iki karyawan minimal 100 orang dan kelipatannya, maka wajib memberikan kuota satu persen bagi tenaga kerja penyandang disabilitas. Terbaru, pemerintah menetapkan UU Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Dalam undang –undang ini ada dua yang diatur. Pertama, hak penyandang disabilitas dan kewajiban berbagai pihak untuk memenuhi hak tersebut. Penyandang disabilitas berhak untuk menduduki jabatan publik. Mereka berhak menjadi pejabat di tingkat lokal maupun nasional. Berdasarkan pasal 50 UU Penyandang Disabilitas, setiap pemberi kerja wajib menyediakan akomodasi yang layak dan fasilitas yang mudah diakses oleh tenaga kerja penyandang disabilitas. Pelanggaran terhadap kewajiban-kewajiban

tersebut juga bisa berujung penghentian kegiatan operasional, pembekuan izin usaha, dan pencabutan izin usaha. Dalam UU tersebut juga diatur, bahwa pemerintah, pemerintah daerah, Badan Usaha Milik Negara, dan Badan Usaha Milik Daerah wajib mempekerjakan paling sedikit dua persen penyandang disabilitas dari jumlah pegawai atau pekerja. Sementara itu, perusahaan swasta wajib mempekerjakan paling sedikit satu persen penyandang disabilitas dari jumlah pegawai atau pekerja. Kepala dinas mengatakan, pengawasan tetap dilakukan, karena berkaitan erat dengan norma-norma yang berlaku. Jika norma tersebut dilanggar, dengan ada pembuktian. Maka secara hukum harus diproses.

Bersambung ke hal 3

Penyandang Disabilitas Dilatih Menjadi Wirausaha Mandiri DINAS Perindustrian akan ambil bagian untuk memberdayakan para penyandang disabilitas. Mereka akan diberikan pelatihan agar menjadi wirausaha mandiri. Para penyandang disabiltas ini tak bisa dipungkiri bahwa mereka terkadang masih diabaikan. Padahal, di dalam kekurangan mereka (ketidaksempurnaan fisik), ada kelebihan yang harus dikembangkan. ‘’Dalam waktu dekat ini, Dinas Perindustrian Provinsi NTB akan memberikan pelatihan kepada 30 para penyandang disabilitas. Sebanyak 15 orang di Kecamatan Lingsar dan Narmada serta

15 orang di Kecamatan Gerung Lombok Barat,’’ sebut Kepala Dinas Perindustrian Provinsi NTB, Dra. Hj. Baiq Eva Nurcahyaningsih melalui Sekretaris Dinas, Bambang Sugeng Ariyadi, Kamis (12/10) lalu. Di Lingsar, para penyandang disabilitas akan diperkuat kemampuannya sebagai penenun. Sementara di Gerung, lebih diarahkan untuk memperkuat industri kerajinan anyaman. ‘’Sudah dilakukan mapping. Sementara baru dua titik ini yang kita tingkatkan keterampilannya karena kemampuannya sudah ada. Tingkatkan yang sudah ada, kemudian dengan pengembangan desain, pengembangan desain

produk,’’ ujarnya. Selama ini, potensi yang dimiliki penyandang disabilitas diabaikan. Atas dasar itu, Pemprov NTB memberikan pelatihan di dua lokasi untuk tahun ini agar mereka menjadi wirausaha mandiri. ‘’’Karena dengan kekurangannya, mereka justru memiliki kelebihan. Sangat paham tentang alat-alat yang mereka gunakan,’’ jelasnya. Menurutnya, pelatihan yang akan dilaksanakan bersifat aplikatif. Dinas Perindustrian melibatkan instruktur. Bambang Sugeng mengatakan, pada akhirnya yang diinginkan pemerintah, para penyandang disabilitas ini akan lebih produk-

tif dan memiliki income sendiri tanpa menunggu bantuan dari orang lain. Dinas Perindustrian juga akan bekerjasama dengan asosiasi penyandang disabilitas untuk melaksanakan program-program pemberdayaan. Bambang juga mengatakan, selain memberikan pemahaman tentang potensi usaha yang digiatkan oleh para penyandang disabilitas, pemerintah juga sedapat mungkin akan memberikan dukungan bantuan peralatan. ‘’Bantuan teknis dan non teknis bisa kita dukung. Dengan harapan ke depan mereka yang akan mempekerjakan orang, tidak mencaricari pekerjaan,’’ harapnya.(bul)

Apindo Siap Jadi Mediator

(Ekbis NTB/ris)

(Ekbis NTB/dok)

SEMUA pihak bisa mengambil peran atau melaporkan bila menemukan perusahaan melakukan diskriminasi terhadap penyandang disabilitas. Pemerintah daerah membuka tangan selebar-lebarnya sebagai fasilitator. Ajakan dan komitmen ini disampaikan oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi NTB, Drs.H.Wildan, menanggapi masih adanya perusahaan yang belum memberikan porsi bagi para penyandang disabilitas. Di dalam Undang-undang Nomor 4 Tahun 1997 jelas ditegaskan, setiap perusahaan swasta yang memil-

MUNCULNYA keluhan dari pengurus Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) wilayah NTB tentang sulitnya mereka mendapat pekerjaan di dunia usaha mendapat respons dari Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Wilayah NTB. Apindo NTB mengaku siap menjadi mediator untuk menjembatani mereka dengan dunia usaha. Ketua Apindo NTB Ni Ketut Wolini kepada Ekbis NTB, mengaku baru mengetahui ada himpunan disabilitas di kalangan perempuan ini. Secara umum, Apindo NTB sangat tertarik untuk bertemu dan sharing untuk membahas apa saja kesulitan mereka selama ini dalam mengakses pekerjaan di dunia usaha. ‘’Kita bisa bertemu dan menerima keluhan apa kesulitan mereka. Karena kami belum tahu apa kesulitan dan juga apa keahlian yang dimilikinya. Saat kami sudah mengetahui potensi dan keahlian masing-masing penyandang disabilitas. Kami dari Apindo akan mensinergikan dengan kalangan pengusaha yang sesuai dengan kemampuan mereka,’’ kata Wolini belum lama ini. Ia mengatakan, akses kerja untuk penyandang disabilitas tidak hanya menjadi tanggung jawab para pengusaha semata. Namun pemerintah juga memiliki tanggung jawab yang sama. Pemerintah daerah juga bisa menjadi mediator dalam hal ini dengan mempertemukan kalangan dunia usaha dengan kelompok disabilitas yang ada di NTB.

Bersambung ke hal 3


2

Ekbis NTB Senin, 16 Oktober 2017

Tembolak, Tudung Saji Tradisional Lombok yang Masih Eksis Tudung saji digunakan oleh masyarakat untuk menutup makanan agar terhindar dari lalat atau lainnya. Di Lombok sejak dahulu kala, masyarakat sudah memiliki tudung saji tradisional sebelum adanya tudung saji modern dari plastik seperti sekarang yang dikenal dengan nama tembolak. Tembolak terbuat dari daun lontar yang dibentuk melingkar dan berwarna cerah yang digunakan untuk menutup makanan atau dulang saat ada acara-acara besar. DESA Lelong, Kecamatan Praya Tengah merupakan daerah yang dikenal sebagai penghasil tembolak yang beredar di pasaran. Di desa ini ada 2 dusun yang menjdi sentra produksi tetapi yang paling dikenal adalah di Lendang Re yang sebagian besar penduduknya bekerja sebagai perajin tembolak. Menurut salah satu perajin tembolak, Amaq Nurhayati, produksi tembolak di dusunnya sudah ada sejak zaman nenek moyang. “Tapi modelnya masih sederhana dan biasa, tidak seperti sekarang,” terangnya saat ditemui Ekbis NTB beberapa waktu lalu di rumahnya. Dirinya sendiri sudah menja-

di perajin tembolak sudah puluhan tahun yang lalu. Menurutnya, proses membuat tembolak membutuhkan waktu yang lama, karena ada banyak proses yang dilalui sampai jadi ke tangan pembeli. “Pertama kita buat dulu lingkaran awalnya dari bambu. Kalau saya pakai satu bambu untuk 1 tembolak sehingga kuat,” jelasnya. Baru kemudian daun lontar diberi pewarna dan dijemur sampai kering. Proses selanjutnya yaitu membuat bagian atas tembolak atau hiasannya yang membutuhkan proses yang lama. “Saya masih menggunakan motif asli tembolak yaitu dengan menggunakan 4 warna. Tidak

Inspirasi

Bisnis

Berawal dari Usaha Kecil-kecilan BERAWAL dari pelatihan yang diikutinya pada tahun 2011 silam, membuat Baiq Rokh Hilmi memberanikan diri untuk memulai usaha kecil-kecilan. Awalnya, Rokh Hilmi membuat produk dengan dijual di sekitaran rumah dengan harga Rp 1.000/bungkus, karena modal masih terbatas. Namun, Emi — panggilan akrabnya, mengaku dari usaha kecilkecilan itu sekarang sudah bisa memproduksi banyak aneka olahan rumput laut yang menjadi bahan baku utamanya. “Ada keripik, kerupuk, kopi, dan lainnya dari rumput laut, tetapi kalau kerupuknya yang paling laku itu yang setengah jadi,” jelasnya. Kerupuk rumput laut buatannya ini banyak dikreasikan dengan bahan lainnya sehingga memiliki rasa dan bentuk yang unik, seperti bonggol pisang, rosella, sayuran, dan lainnya. “Yang pertama saya buat dulu kerupuk dari bonggol pisang yang memiliki banyak manfaat, makanya merk saya namanya Ares,” ujar wanita 47 tahun ini. Selain olahan dari rumput laut, Emi juga tidak hentinya berkreasi dengan menelurkan produk olahan terbaru salah satunya adalah kerupuk kolang-kaling. “Produknya baru mulai diperkenalkan soalnya melihat di sini kolang-kaling banyak serta kandungan gizinya banyak dan berkhasiat untuk mencegah penyakit,” jelasnya. Untuk membuat kerupuk, kolang-kaling dicampur dengan beberapa bahan agar rasanya enak. “Saya tidak pakai bahan yang banyak agar warna kolang-kalingnya tetap kelihatan,” ujarnya. Walaupun baru diperkenalkan, sudah banyak pembeli yang berminat dengan produknya ini. “Kemarin saat ada kunjungan dinas dari Sumatera Selatan minta untuk diajarkan produk ini karena di sana banyak dan terbuang sia-sia. Mereka juga minta produk setengah jadinya tetapi belum bisa saya sanggupi,” kata Emi. Untuk bahan baku rumput laut dan kolang-kaling diperolehnya di sekitaran Lombok karena bahan baku berlimpah. “Apalagi rumput laut sekarang sudah banyak petani yang menanam,” tambahnya. Setiap harinya, Emi bisa memproduksi sampai ratusan bungkus produk dibantu oleh 11 pekerjanya yang merupakan tetangga sekitar. Produksinya sendiri tersebar di Lombok Tengah, Lombok Barat dan KLU untuk produk setengah jadinya. “Pasaran produk saya sudah di toko oleh-oleh sama di supermarket disini. Yang penting produksi tetap lancar,” tukasnya. Harga produk makanan Ares ini dibanderolnya seharga Rp 11 ribu saja. “Saya ingin masyakarat bisa mendapatkan cemilan sehat karena produk saya ini bebas MSG dan dibuat sendiri,” ujarnya. Emi sering diundang menjadi pengajar atau instruktur sampai ke luar daerah untuk mengajarkan olahan makanan. Tidak heran, dirinya dan produknya juga banyak menerima penghargaan seperti Bintang 1 Keamanan Pangan untuk Industri Pangan dari BPOM RI, serta Kartini Masa Kini tahun 2017. “Saya berharap usaha saya ini bisa terus berkembang serta bisa membantu banyak orang,” harapnya. (uul)

(Ekbis NTB/uul)

Baiq Rokh Hilmi dengan produk andalannya.

seperti yang lain menggunakan bekas tenun untuk hiasannya,” kata Amaq Nurhayati. Setelah jadi, barulah semua bahan disatukan menggunakan cetakan agar hasilnya lebih rapi. “Dalam sehari kalau tidak banyak pekerjaan, bisa jadi 10 buah tembolak tapi itu sudah prosesnya lama,” jelasnya. Ia mengaku jika untuk membuat ratusan tembolak dirinya membutuhkan waktu sampai berbulan-bulan, karena hanya berdua dengan istrinya. “Mungkin besok bulan maulid selesainya ini,” tukasnya. Setelah selesai dirangkai, barulah tembolak diwarnai kembali dengan warna-warna

terang seperti merah agar menarik perhatian. “Modal yang saya keluarkan untuk membuat tembolak itu bisa sampai Rp 500 ribu untuk membeli bahan baku,” kata Amaq Nurhayati. Ia biasanya membeli bahan baku di pengepul di dusunnya. Jika ada modal, dirinya membayar pakai uang, tapi kalau ndak, dibayar dengan tembolak Diakuinya, kualitas tembolak menentukan harga tembolak di pasaran. Sementara kalau pengepul membeli tembolak di dirinya harus membayar Rp 5.000 per tembolak. Sementara di perajin lainnya, pengepul bisa membeli Rp 2.500/buah. Adanya tudung saji plastik, menurut Amaq Nurhayati, tidak menjadi permasalahan bagi tembolak tradisional. “Soalnya kalau pakai yang plastik itu, kotoran bisa masuk tapi kalau pakai ini kan rapat, aman jadinya,” jelasnya. Apalagi masih banyak masyarakat yang lebih menyukai tembolak lontar, karena war-

(Ekbis NTB/uul)

TEMBOLAK - Amaq Nurhayati sedang menunjukkan tembolak dari lontar. Tembolak jenis ini banyak dicari, karena diklaim lebih baik dari tudung plastik. nanya yang cerah, sehingga gampang dikenali. Tidak heran, tembolak buatan dusun ini bany-

ak dijual bahkan sampai Pulau Sumbawa dan Bali. “Kalau nyari tembolak, pasti sebutnya di

Lelong saja soalnya di sini saja yang buat dan paling dikenal,” klaimnya. (uul)

Bisnis Mahar Pernikahan yang Berkesan

MAHAR pernikahan merupakan salah satu hal yang tidak boleh dilupakan saat pernikahan. Tetapi bentuk mahar yang itu-itu saja menjadi peluang bagi pengusaha dengan membuat berbagai mahar pernikahan dengan bentuk yang unik dan menarik. Seperti yang dilakukan Hanayusma Riandani, pemilik Zoya House yang telah 3 tahun berbisnis mahar pernikahan unik. “Saya tertarik di bisnis ini karena ada teman yang buat seserahan sebelumnya, makanya saya penasaran untuk belajar tetapi saat itu belum ada pengajarnya,” jelasnya saat dihubungi beberapa waktu lalu. Hal ini membuat dirinya belajar secara otodidak melalui internet. Namun, apa yang dihasilkannya membuat banyak pem-

Hanna. inat dan samBahan mabutan konharnya pun sumen sanbermacamgat bagus. macam, mulai Tema yang dari uang kerdibuatnya tas , logam dan untuk mahar mukenah yang buatannya biasanya langada berbsung dari peagai macam mesan sendiri. tergantung “Kalau yang keinginan untuk sepakonsumen, sang pengantetapi biasantin, saya pakai ya berbentuk boneka barbie 1 dimensi, 2 atau boneka dimensi dan (Ekbis NTB/uul) flanel yang boks kaca. MAHAR Salah satu mahar perkawinan yang banyak dipesan saya beli sendi“Kalau teri,” jelas Hanna. manya ada calon pengantin di hari spesialnya. Ia mengaku, membuat mahar bermacam-macam seperti tema dan lainnya. Tetapi yang paling islami, inisial, siluet, kipas, banyak dipesan mahar dengan memiliki kesulitan tersendiri untuk masjid, sepasang pengantin, tema sepasang pengantin,” kata setiap temanya misalnya teknik

melipat uangnya.”Yang paling sulit itu membuat mahar dengan tema masjid dan kaligrafi. Kalau mudah bisa sehari jadi, kalau sulit bisa sampai 1 pekan atau lebih,” ujarnya. Oleh karenanya, para calon manten mesti memesan jauh hari sebelumnya jika ingin dibuatkan mahar unik. “Normalnya 3 minggu sebelumnya, bisa juga sebulan sebelumnya atau paling cepat 1 minggu,” katanya. Harga yang dibanderol Hana untuk produknya sendiri mulai dari Rp 90 ribu – Rp 1 juta. “Alhamdulillah peminatnya sudah sampai Pulau Sumbawa. Mereka banyak tahu dari sosial media,” ujarnya. Walaupun banyak usaha sejenis, dirinya tidak merasa tersaingi. “Yang penting pelayanan ditingkatkan,” tambahnya. (uul)

Mempercantik Rumah dengan Ukiran Kayu Tiga Dimensi KAYU memang banyak digunakan oleh masyarakat terutama perajin untuk diubah menjadi berbagai kerajinan yang bernilai tinggi. Apalagi jika diberi ukiran dengan motif dan tema yang menarik maka harga kerajinan tersebut akan semakin mahal. Selama ini, daerah yang terkenal dengan produk ukiran kayunya adalah Jepara yang sejak dulu menjadi sentra ukiran kayu. Tetapi ternyata tidak perlu jauh ke Jepara, di Ampenan tepatnya di jalan Arya Banjar Getas, Tanjung Karang terdapat galeri yang menghasilkan kerajinan ukiran kayu berkualitas tinggi. Menurut Joko Hermanto, pemilik Bumi Sasak Gallery, usaha yang dibangunnya sejak 4 tahun yang lalu ini membuat berbagai macam ukiran tergantung keinginan si pemesan. “Saya belajar mengukir memang turunan dari keluarga yang memang pecinta seni,” jelasnya saat ditemui beberapa waktu lalu di galerinya. Ia menjelaskan jika ukiran kayu yang diminati adalah ukiran 3 dimensi di mana gambar ukirannya dibuat timbul, sehingga gambarnya terlihat jelas. “Tetapi proses sampai jadi membutuhkan waktu yang lama karena prosesnya yang panjang,” kata Joko. Ia menjelaskan jika tahap pertama yang dilakukan adalah membuat bentuk kayunya yang diubah menjadi sesuai keinginan pemesan seperti pintu, jendela,

dinding, kaca, atau lainnya. Baru kemudian, dirinya menggambar tema yang diinginkan pada media kayu. “Untuk menggambarnya bisa membutuhkan waktu sampai 1 minggu karena harus detail dan disesuaikan dengan ukuran tempatnya,” jelasnya. Setelah digambar, barulah kemudian kayu akan diukir yang membutuhkan konsentrasi tinggi karena harus sesuai dengan gambar yang ada. “Misalnya seperti gambar naga, untuk sisiknya itu harus hati-hati diukirnya karena ukurannya kecil,” jelas Joko. Proses mengukir sendiri, terangnya, membutuhkan waktu sampai berbulan-berbulan. “Makanya harganya menjadi mahal karena prosesnya lama,” ujarnya. Tema yang paling banyak diminta adalah tema tumbuh-tum-

buhan dan hewan. Harga yang dibanderol untuk kerajinan ukiran kayu ini dihargai Joko mulai dari Rp 50 ribu sampai puluhan juta tergantung tingkat kesulitannya. Ia mengaku jika pemesannya kebanyakan perseorangan maupun dari pelaku usaha seperti pemilik hotel. “Kalau untuk hotel, kita sesuaikan dengan ukuran yang mereka minta,” ujarnya. Menurutnya peluang pasar di Lombok sendiri masih terbuka lebar apalagi pariwisata di sini yang sedang berkembang dengan pesat. Selain ukiran kayu, galerinya juga membuat cukli serta lukisan untuk menunjang interior rumah. “Cukli yang kita buat juga kita modifikasi agar desain cukli tidak hanya itu-itu saja,” akunya. (uul)

(Ekbis NTB/uul)

Joko Hermanto, pemilik Bumi Sasak Gallery sedang menggambar motif untuk dibuat menjadi kerajinan ukiran tiga dimensi belum lama ini.

Kuliner

Nikmatnya Ayam Gongso di Warung Mbok Wo SEMAKIN banyaknya tempat makan dengan menu menggoda membuat pilihan pecinta kuliner menjadi beragam. Salah satu yang perlu dicoba adalah lalapan di Warung Mbok Wo yang berlokasi di jalan Dakota Rembiga. Di tempat makan ini menyediakan berbagai lalapan ayam, ikan, bebek dan lainnya dengan citarasa yang menggugah selera. Menurut Supriyadi, selaku supervisor Warung Mbok Wo, warung ini sudah ada sejak tahun 2016 silam. “Tempatnya pertama ada di Cemara, baru sebulan ini pindah ke sini,” jelasnya. Ia menjelaskan warung Mbok Wo itu merupakan bentuk kecintaan pemiliknya pada Lombok, sehingga membuat menu-menu masakan Jawa yang sudah disesuaikan dengan citarasa Lombok yang pedas. Menu andalan di warung Mbok Wo, kata Supriyadi, adalah ayam geprek dan ayam gongso. “Menu ayam gepreknya diberi sambal bawang setelah ayamnya digeprek baru kemudian dicampur rata, sedangkan kalau ayam gongso itu sambalnya ditumis,” jelasnya. Nama menu ayam gongso diambil dari kata gongso yang berarti tumis dalam bahasa Jawa. Rasa ayam Gongso di tempat ini sangat enak karena sambalnya loyal dan meresap ke dalam daging ayamnya. Wadah penyajiannya juga unik yaitu menggunakan wajan berukuran kecil menambah keunikan tampilan menu ini. Tingkat kepedasan sambal juga bisa disesuaikan sesuai keinginan konsumen. Selain menu

ayam, warung Mbok Wo juga menyediak menu bebek, nila, terong, dan tempe. “Di sini juga bisa tambah nasi sepuasnya sampai kenyang tanpa biaya tambahan,” kata Supriyadi. Hal inilah yang membuat warung Mbok Wo banyak menjadi pilihan pecinta kuliner untuk bersantap. “Kebanyakan yang ke sini adalah anak sekolah atau mahasiswa karena harganya bersahabat dengan kantong mereka,” tambahnya. Harga menu di warung Mbok Wo berkisar antara Rp 5-28 ribu untuk menu makanan dan Rp 4-7 ribu untuk menu minumannya. “Kita juga menerima delivery order melalui Gojek atau Mjek,” kata Supriyadi. Tampilan warung makan dengan konsep minimalis juga membuat pengunjung betah makan dan lokasinya yang mudah dijangkau dari pusat kota. (uul)

(Ekbis NTB/uul)

Menu ayam Gongso di Warung Mbok Wo.

Pemimpin Umum: Agus Talino Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab: Raka Akriyani Redaktur Pelaksana: Marham Koordinator Liputan : Akhmad Bulkaini Redaktur : Marham, Zainudin Syafari, Akhmad Bulkaini Staf Redaksi Mataram : U'ul Efriyanti Prayoba Lombok Barat: M.Haeruzzubaidi, Lombok Tengah : Munakir. LombokTimur: Rusliadi, Yoni Ariadi. KLU : Johari. Sumbawa Barat : Heri Andi. Sumbawa : Arnan Jurami, Indra Jauhari. Dompu : Nasrullah. Bima : Rafiin. Tim Grafis : A.Aziz (koordinator), Didik Maryadi, Jamaludin, Mandri Wijaya Kantor Redaksi : Jalan Bangau No. 15 Cakranegara Telp. (0370) 639543, Facsimile: (0370) 628257. Tarif Iklan : Iklan Baris : Rp 20.000/baris Min 2 baris max 10 baris (1 baris 30 character). Display B/W (2 kolom/lebih): Rp 30.000/mmk. Display F/C : Rp 35.000/mmk. Iklan Keluarga : Rp 20.000./mmk. Iklan Advertorial : Rp 15.000/mmk. Iklan NTB Emas (1 X 50 mmk): Rp 500.000/bulan (25 X muat). Iklan Peristiwa : Rp 350.000/kavling. Alamat Bagian Langganan/Pengaduan Langganan: Jalan Bangau No. 15 Cakranegara Telp. (0370) 639543, Facsimile: (0370) 628257. Harga Langganan: Rp 85.000 sebulan (Pulau Lombok) Rp 90.000 sebulan (Pulau Sumbawa), Pembayaran di muka. Harga eceran Rp 5.000. Terbit 1 kali se-minggu. Penerbit: PT Suara NTB Pers. Percetakan: PT Bali Post.

Ekbis NTB

Wartawan

Ekbis NTB

selalu membawa tanda pengenal, dan tidak diperkenankan menerima/meminta apa pun dari nara sumber.


Ekbis NTB

Ekbis NTB Senin, 16 Oktober 2017

Dari Hal. 1 Berbekal pengumuman lowongan lewat radio, Mar dengan hati mantap mempersiapkan lamaran pekerjaan dan mendatangi perusahaan yang membuka lowongan. Ketika memasuki perusahaan konveksi yang dituju, Mar memasukkan lamaran pekerjaannya. Bukannya mendapat sambutan yang bagus, Mar justru tidak mendapat respons dan ditolak memasukkan lamaran. Pegawai yang ada di tempat itu langsung menolak lamaran pekerjaan dan mengatakan lowongan sudah ditutup. ‘’Pegawai di sana bilang jika sudah tidak ada lowongan setelah melihat kondisi fisik saya. Padahal jelas-jelas pengumumannya masih terpasang,’’ tuturnya pada Ekbis NTB, Rabu (11/10). Tidak terbayang bagaimana kecewanya dirinya saat itu. Bagaimana tidak, ketika ada sebuah lowongan di salah satu perusahaan, justru ditolak, karena kondisi fisiknya. Akhirnya Mar pun memutuskan kembali ke Lombok. Berbekal keterampilan yang dimiliki, Mar pun akhir mendapatkan pekerjaan sebagai tukang jahit di Penujak, Kecamatan Praya Barat, Lombok Tengah. Di tempat ini, Mar pun bekerja selama 5 tahun, sebelumnya akhirnya memutuskan keluar dan membuka usaha sendiri. Selama bekerja di tempat lamanya, Mar mengaku mendapat perlakuan yang baik dari pemilik tempat jahit. Malahan, dirinya diminta mencari penjahit lain dari kalangan disabilitas untuk bekerja di tempat itu. Alasan dirinya diminta mencari pekerja baru dari kalangan disabilitas, karena tidak banyak tingkah saat kerja. ‘’Kalau kami bekerja selalu tekun, dibandingkan orang normal yang banyak mintanya dan izinnya,’’ jelasnya. Sementara dengan membuka usaha sendiri, Mar menuturkan, merasa lebih bebas dan tidak perlu izin saat tidak masuk kerja. Apalagi ia ingin

mandiri dan berorganisasi memperjuangkan nasib para penyandang disabilitas yang terkadang masih mendapat perlakuan belum adil di tengah masyarakat. ‘’Kalau sudah capek bisa istirahat. Beda kalau kerja sama orang lain. Setidaknya ada penghasilan sendiri,’’ ungkap Bendahara Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Lombok Tengah ini. Pengalaman senada juga pernah dialami Nurul Asikin – salah satu penyandang disabilitas di Puyung. Meski sekarang ini, Nurul – sapaan akrabnya mengaku, jika penyandang disabilitas sudah tidak kesulitan lagi dalam mencari pekerjaan. Namun, ada saja orang yang memandang sebelah mata pada keahlian dan kompetensi yang dimiliki mereka. Kasus ini bukanlah menjadi penghalang bagi mereka untuk terus mencari keadilan di dunia kerja, karena keterampilan yang dimiliki sama dengan manusia normal lainnya. Dengan keterampilan yang dimiliki – khususnya keterampilan menjahit, malahan Nurul memberikan pelatihan menjahit dan terbuka bagi semua orang. Di samping itu, usaha menjahit yang dibukanya pun tetap jalan dan menerima pesanan dari banyak orang. Nurul mengaku, pernah bekerja di sebuah koperasi di wilayah Ubung, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah. Atas pertimbangan fisik dan jarak yang jauh, Nurul pun berhenti dan membuka usaha sendiri. ‘’Saya lebih memilih untuk membuka usaha sendiri, karena waktunya fleksibel,’’ ujarnya. Untuk itu, Nurul berharap agar perusahaan manapun memberikan kesempatan bekerja bagi penyandang disabilitas tanpa ada diskriminasi. Apalagi para penyandang disabilitas saat bekerja lebih tekun dan banyak diandalkan. (uul)

Berikan Porsi Khusus Dari Hal. 1 Istilah disabilitas sebenarnya memiliki arti keterbatasan diri yang bisa berupa fisik, intelektual, mental, sensorik, dan emosional dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Dapat mengalami hambatan untuk berpartisipasi secara penuh dengan warga negara lainnya berdasarkan kesamanan hak. UU Nomor 8/2016 tentang Penyandang Disabilitas esensinya adalah untuk mewujudkan kesamaan kesempatan bagi penyandang disabilitas. Sehingga dapat menyalurkan potensi dalam segala aspek penyelenggaraan negara dan masyarakat. ‘’Kita ingin belajar untuk tidak ada lagi diskriminasi terhadap mereka. Karena yang dilihat adalah kualitas seseorang. Bukan keterbatasan yang dimilikinya atau tampilannya. Otak yang bekerja sekarang ini. Banyak ahli IT yang memiliki keterbatasan fisik, namun skillnya sangat bagus,’’ katanya. Terkait dengan akses bekerja, Pemprov NTB dan kabupaten/kota diminta untuk memperhatikan mereka. Misalnya dalam kegiatan bursa kerja yang secara rutin dilaksanakan oleh Dinas Tenaga Kerja Provinsi NTB, kelompok disabilitas harus mendapat porsi yang sesuai. Misalnya dari 100 tenaga kerja yang dibutuhkan, pihak perusahaan

harus diwajibkan mengakomodir penyandang disabilitas yang memiliki kemampuan di bidangnya dalam jumlah tertentu. ‘’ Di NTB, di kabupten/ kota kita terus dorong dalam perekrutan tenaga kerja agar mewajibkan mengakomodir kaum disabilitas. Ini bagian dari bentuk perhatian negara terhadap mereka. Kalau tidak demikian, kita telah melakukan dikriminasi,’’ katanya. Menurut politisi PAN ini, ada banyak penyandang disabilitas yang sudah berkiprah di jalur politik. Melaksanakan tugas-tugas legislatif dengan baik dan bekerja dengan penuh dedikasi. Penyandang disabilitas juga banyak yang menjadi pengajar di lingkungan kampus dan mentransfer ilmu pengetahuan yang dimilikinya kepada mahasiswa. Ada banyak lagi penyandang disabilitas yang bekerja di sektor-sektor menantang, namun mampu dikerjakan dengan baik. ‘’Di negara-negara berkembang, kelompok disabilitas sangat dihargai. Terlebih mereka yang memiliki potensi dalam bidang tertentu. Dengan sudah adanya regulasi tentang disabilitas di negara kita, semua pihak kita dorong agar mengimplementasikan substansi UU tersebut, termasuk dalam akses memperoleh pekerjaan,’’ katanya. (ris)

Koperasi Syariah Raudhatul Jannah, Koperasi Berbasis Masjid DENGAN niat memakmurkan Masjid serta memakmurkan para jamaahnya, menjadi cikal bakal didirikannya Koperasi Syariah Raudatul Jannah Pagutan yang berlokasi di Jalan Sapta Pesona No.37, Pagutan Barat, Kota Mataram. Menurut ketua koperasi Syariah, H. Siswandi Suwarono, koperasi ini baru didirikan 30 Mei 2017 lalu. “Diawali dengan adanya sosialisasi dari Dinas Koperasi Kota Mataram baru kemudian jamaah Masjid sepakat mendirikan koperasi,” katanya kepada Ekbis NTB. Ia mengatakan bahwa infaq dan sedekah yang dikumpulkan oleh takmir Masjid selama ini hanya digunakan untuk membangun Masjid dan manusianya. “ Namun dengan adanya koperasi ini, transaksi ekonomi bisa dilakukan di Masjid bahkan ada juga yang menjual barangnya di Masjid,” tukasnya. Layanan yang diberikan oleh koperasi syariah Raudhatul Jannah Pagutan ini, kata Siswandi, yang baru berjalan hanya jual

beli sembako. Sembako dilayani dengan cara delivery order dimana petugas koperasi mengantarkan langsung barang ke rumahnya. Para pembeli yang ingin memesan bisa datang langsung ke Masjid di saat-saat waktu shalat tiba. “Disana mereka memesan dan sepakat dengan harga barangnya,” katanya. Sembako yang disediakan di Masjid yang menjadi pusat koperasi mulai dari beras, gula, minyak goreng serta kebutuhan lainnya. Sambutan masyarakat dengan adanya koperasi syariah ini cukup baik, terlihat dari cukup banyaknya anggota yang dimiliki koperasi yaitu sebanyak 52 anggota. “Yang menjadi pengurus koperasi harus siap berkorban untuk mengantar agar memberikan pelayanan prima,” kata Siswandi. Harga sembako yang diberikan oleh koperasi ini tidak terlalu bermasalah walaupun sama dengan harga pasar. “Setiap belanja di koperasi, kita akan memberikan cashback dengan diskon

sampai 10% dari keuntungan bahkan sampai 50% dari keuntungan,” jelasnya. Cashback tersebut dikembalikan kepada jamaah dalam bentuk tabungan untuk hari raya bahkan sampai tabungan umrah juga untuk simpanan wajib dan pokok. Selain jual beli sembako, koperasi ini juga melayani pembiayaan barang yang harganya disepakati kemudian. “Misalnya mau membeli motor, nanti kita belikan baru ada akadnya untuk menyepakati harga, kemudian dicicil tanpa ada bunga,” tukasnya. Siswandi berharap dengan adanya koperasi syariah ini bisa terus memakmurkan Masjid. Apalagi Masjid yang banyak jamaahnya sehingga bisa menjadi peluang. Ia menambahkan adanya koperasi bisa memakmurkan para jamaahnya yang datang beribadah. “Misalnya kami bisa menyediakan sarapan atau snack bagi jamaah yang shalat subuh di masjid,” terangnya. (uul)

(Ekbis NTB/yon)

PROMOSI - Supervisor Rumah Kreatif Lotim Wahyudi menunjukkan salah satu kerajinan dari pelaku UKM di Lotim yang saat ini dipromosikan.

Jual Produk Melalui ’’Go Digital’’

Konversi Gas Elpiji di Pulau Sumbawa Kembali Ditunda HINGGA tahun 2017 ini masyarakat di Pulau Sumbawa belum bisa menikmati gas elpiji bersubsidi 3 Kg dari pemerintah. Awalnya pada bulan Oktober 2017, pembagian perdana paket kompor gas elpiji bersubsidi akan dilakukan oleh pemerintah pusat. Namun Ditjen Migas Kementerian Energi dan Sumber daya Mineral (ESDM) menunda konversi minyak tanah ke gas elpiji di Pulau Sumbawa karena persoalan anggaran. Hal itu disampaikan Kepala Bidang Energi Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Provinsi NTB, Yuliadi Ismono kepada Ekbis NTB. Ia mengatakan, awalnya sebanyak 254 ribu calon penerima paket gas elpiji akan dibagikan tahun ini. Dari jumlah itu jatah untuk kelompok rumah tangga sebanyak 249 ribu calon penerima, dan jatah untuk kelompok usaha mikro sebanyak 5.299 calon penerima. “ Konversinya mestinya tahun ini namun diundur tahun depan, setelah kami konsultasi ke Jakarta ke Dirjen Migas langsung ketemu sama PPKnya tern-

(dok/Ekbis NTB)

Ketika Pekerja Penyandang Disabilitas Dipandang Sebelah Mata

3

Distributor gas elpiji 3 Kg di Pulau Lombok sedang menurunkan barang di sebuah agen. yata di undur, ditunda karena satu dan lain hal karena keterkaitan dengan Kementerian Keuangan. Awalnya kita mau melakukan pembagian paket perdana untuk 254 ribu KK itu ya mundur jadinya sampai tahun depan, mudahan tahun depan tetap diendorse” kata Yuliadi. Yuliadi mengatakan, akibat belum diberlakukanya konversi minyak tanah ke gas elpiji di Pulau Sumbawa, kasus penyelundupan gas bersubsidi dari Lombok ke Sumbawa masih marak terjadi. Bisnis ilegal ini cukup menggiurklan karena gas

elpiji 3 Kg dari Lombok memiliki harga yang jauh lebih tinggi di Pulau Sumbawa. Sementara minyak tanah bersubsidi dari Sumbawa dibawa secara ilegal ke Lombok.” Biasanya minyak tanah digunakan untuk omprongan tembakau. Saya beberapa kali jadi saksi ahli untuk kasus seperti ini,” katanya. Sebagaimana diketahui, program konversi gas elpiji 3 Kg di Pulau Lombok sudah dilaksanakan sejak tahun 2011 lalu, namun masyarakat di pulau Sumbawa belum menikmati gas elpiji bersubsidi tersebut. (ris)

Perbankan Berupaya Tingkatkan DPK

Daya Tarik Fitur Produk, Kualitas Layanan dan Promosi PERBANKAN secara nasional, termasuk di NTB terus berupaya meningkatkan Dana Pihak Ketiga (DPK) dengan beragam pola yang menarik. Bagi bank, DPK atau biasa disebut dengan Liabilities Products atau Funding atau Deposits merupakan sumber likuiditas yang sangat penting. Biasanya DPK merupakan komponen penyusun utama dalam likuiditas perbankan. Direktur Retail Banking Permata Bank, Bianto Surodjo kepada Ekbis NTB mengatakan, kekuatan likuiditas perbankan juga merupakan cermin kemampuannya dalam melakukan fungsi intermediasi. Disamping penyumbang likuiditas, DPK juga menjadi sumber penghasilan bagi perbankan. Bank-bank saat ini memberikan perhatian yang besar pada elemen pelayanan. Salah satu ukuran yang biasa digunakan adalah Survei MRI yang diadakan setiap tahun. Menurut Bianto, sejumlah perbankan juga mengukur Customer Engagement, yaitu seberapa jauh nasabah mau memberikan rekomendasi pada suatu bank. Promosi juga menjadi elemen yang sangat penting dalam meningkatkan bisnis DPK perbankan. Promosi dapat dilakukan dengan undian, hadiah langsung, promosi biaya, merchant discount maupun bentuk-bentuk yang lainnya. Bianto mencontohkan, Permata Bank berusaha meningkatkan DPK dengan menjaga keseimbangan antara peningkatan fitur produk, kualitas layanan dan promosi. Misalnya dalam hal pelayanan kepada nasabah, para nasabah maksimal menunggu hanya 8 menit untuk dilayani oleh teller. Ada

juga jaminan layanan customer service dengan waktu tunggu maksimal 15 menit,” Itu pertama di Indonesia. Permata Bank memberikan jaminan waktu menunggu untuk nasabah,” kata Bianto. Upaya meningkatkan DPK juga terus berinovasi mengembangkanprodukdanlayananuntukmengapresiasi dan mempertahankan loyalitas nasabah. “ Misalnya kami memberikan cashback di Supermarket, SPBU, Toko Online: 10 persen setiap tanggal 20 & 17 dan 5 persen tanggal lainnya. Kemudian bebas biaya tarik tunai di semua ATM, tanpa syarat,” terangnya. Adapun produk-produk DPK sangat beragam dan memiliki fungsi yang berbeda-beda, baik untuk bank maupun nasabah. Yang paling umum, produk DPK perbankan yaitu giro, tabungan, deposito berjangka, dan sertifikat deposito. Sementara produk-produk dan jasa-jasa penunjang DPK meliputi Kartu ATM/ Kartu Debit, Produk-produk Electronics Channel, seperti Mesin ATM, Mobile Banking, Internet Banking dan sebagainya. Fasilitas kartu debit bagian dari upaya memanjakan nasabah dalam rangka peningkatan DPK. Kartu debit di Indonesia pada umumnya digunakan bukan hanya untuk pembayaran merchant, melainkan juga sebagai kartu ATM. Dari tahun ke tahun, perkembangan kartu debit dan ATM di Indonesia sangat baik. Tahun 2015 misalnya, jumlah kartu ATM dan kartu debit sebanyak 113 juta di Indonesia, tumbuh menjadi 128 juta di tahun 2016. Sementara jumlah kartu kredit di tahun 2015 sebanyak 16,9 juta, tumbuh menjadi 17,4 juta di tahun 2016. (ris)

Penyandang Disabilitas Masih Didiskriminasi Dari Hal. 1 Anggotanya sudah lebih dari 100 orang para penyandang disabilitas. Dengan wadah ini, mereka ingin lebih kuat berjuang atas kesamaan hak. Sri Sukarni pada media ini menyebut contoh kasus ketika salah satu dari mereka tidak diberikan ruang untuk bekerja sama sekali di perusahaan. Meskipun ini kasus lama. Tetapi catatan pahit tentang penolakan bekerja penyandang disabilitas ini diharapkan ditutup rapat-rapat oleh perusahaan. Pemerintah telah mengeluarkan Undang-undang yang mengatur bahwa perusahaan harus memberikan porsi sebesar 2 persen kepada penyandang disabilitas untuk terlibat di perusahaan. Namun tidak semunya memberlakukan itu. Hanya perusahaan-perusahaan tertentu saja, ia menyebut salah satu perusahaan ritel modern. Sementara di perusahaan-perusahaan lainnya, masih jarang kita menjumpai

peran para penyandang disabilitas. ‘’Kami memiliki harapan, dengan undang-undang yang baru, perusahaan bisa mempekerjakan para penyandang disabilitas,’’ demikian Sri Sukarni. Tentu yang diharapkan, tidak sekadar mereka diterima bekerja begitu saja di perusahaan. Sarana atau akses khusus bagi penyandang disabilitas juga harusnya dipersiapkan. ‘’Apakah teman-teman ini sudah mampu mengakses tempatnya bekerja, ini juga menjadi hal yang sangat penting. Misalnya, jalur khusus untuk penyandang disabilitas di perusahaan-perusahaan,’’ katanya. HWDI Provinsi NTB sementara ini telah mendapat sebanyak 105 orang jumlah penyandang disabilitas. Namun jika dihitung potensinya, jumlahnya mencapai 3 ribuan se NTB. Lantas bagaimana kesiapan mereka menghadapi dunia kerja? Sri Sukarni mengatakan, para penyandang disabilitas, terutama generasi-generasi terbaru, ratarata latar belakang pendidikan-

nya sudah baik. Setidaknya, telah memiliki ijazah SMA, bahkan mulai muncul para penyandang disabilitas lulusan perguruan tinggi. Artinya, tak perlu waktu panjang untuk mendidiknya jika dibutuhkan bekerja di perusahaanperusahaan. Tinggal memberinya kesempatan, kata Sri Sukarni. Beberapa di antaranya para penyandang disabilitas ini bahkan telah memiliki sertifikat komptensi, hasil mengikuti kegiatan-kegiatan pelatihan. Sertifikat tersebut, barang tentu juga kuat untuk memberikan mereka kesempatan bersaing. Terhadap hak-haknya untuk mendapat pekerjaan yang layak dan setara, HWDI akan membangun komunikasi yang intens dengan perusahaan-perusahaan, atau asosiasi yang mewadahinya. Pun dengan pemerintah daerah terkait. “Kami akan bergerak, bila masih ada anggota kami yang memiliki kompetensi, tetapi ditolak oleh perusahaan. Saat ini kami masih akan membangun koordinasi dulu,” demikian Sri Sukarni.(bul)

KABUPATEN Lombok Timur (Lotim) dengan jumlah penduduk sekitar 1,3 juta jiwa memiliki mata pencaharian yang cukup beragam, baik bergerak di bidang pertanian, perkebunan bahwa yang tekun menggeluti beragam usaha kerajinan. Khusus untuk kerajinan yang masuk dalam Usaha Kecil dan Menengah (UKM), di Kabupaten Lotim terbilang masih lesu. Demikian disampaikan Supervisor Rumah Kreatif Lotim Wahyudi, Kamis (12/10). Menurutnya, melihat potensi besar tersimpan pada UKM di Lotim yang tercatat cukup banyak baik dalam bentuk kerajinan bambu, kain tenun maupun gerabah. Rumah Kreatif Lombok Timur (Lotim) hadir di tengah-tengah masyarakat. Rumah Kreatif yang dibina langsung Pertamina, ujarnya, cukup menarik perhatian masyarakat sekitar. Pasalnya, meski Rumah Kreatif yang berhadapan dengan bangunan Sinar Bahagia Elektronik Pancor itu berukurun tidak terlalu megah. Namun bagi siapapun yang berkunjung akan dimanjakan dengan beraneka ragam kerajinan dari berbagai wilayah di Kabupaten Lotim, mulai dari gerabah Penakak, kerajinan bambu Desa Loyok, maupun Kain Tenun Pringgasela dan lainnya. “Keberadaan Rumah Kreatif ini untuk mendongkrak UKM agar mampu bersaing serta dapat memasarkan produknya secara go digital,” jelasnya. Diakuinya, Rumah Kreatif Lotim yang terletak di Pancor merupakan salah satu dari Rumah Kreatif yang tersebar di sejumlah daerah di Indonesia. Keberadaannya saat ini sudah mulai dirasakan oleh para pelaku UKM. Dimana, Rumah Kreatif tidak hanya bergerak untuk memasarkan produk UKM dengan bekerjasama dengan salah satu aplikasi online, Belanja.com. Melainkan, Rumah Kreatif juga secara langsung melakukan pembinaan terhadap para pelaku UKM, baik beruba pendampingan manajemen, pengelolaan keuangan, peningkatan kualitas barang serta sejumlah pendampingan lainnya. “Pembinaan langsung terhadap para pelaku UKM juga kita lakukan, pendataan sudah kita lakukan,”sebutnya. Bahkan selain pembinaan, sambungnya, Rumah Kreatif Lotim juga memberikan bantuan bagi para pelaku UKM. Tentunya, bantuan yang diberikan kepada para pelaku UKM tersebut sesuai dengan kebutuhan dari UKM itu sendiri dalam mengembangkan usahanya masing-masing. “Intinya kita akan terus melakukan pemberdayaan terhadap para pelaku UKM ini, sehingga ke depan UKM di Lotim bangkit yang tentunya berpengaruh terhadap kesejahteraan masyarakat itu sendiri,” ujarnya. (yon)

Perlu Ada Kualifikasi Dari Hal. 1 ‘’Kita juga tahu jika penyandang cacat mental memiliki IQ yang rendah. Sehingga harus diajarkan berkali-kali karena daya tangkapnya yang lambat,’’ jelas Kepala SLB Darma Wanita Provinsi NTB ini. Sedangkan penyandang cacat fisik seperti tuna rungu, kata Winarna, tidak terlalu sulit untuk beraktivitas seperti yang lain karena bagian fisik lainnya masih bisa digunakan secara normal. ‘’Yang cacat fisik seperti ini banyak yang bekerja, baik mandiri atau di perusahaan,’’ ujarnya. Ia mengatakan, jika anakanak penyandang cacat fisik ringan ini sudah siap kerja, karena saat sekolah di SLB juga dibekali dengan berbagai keterampilan. ‘’Banyak juga setelah tamat SMP di SLB mereka melanjutkan sekolah ke SMK untuk memperdalam keterampilan mereka,’’ jelasnya. Kebanyakan penyandang disabilitas, kata Winarna, menyukai keterampilan di bidang teknologi. Karena tidak membutuhkan pergerakan yang banyak. ‘’Makanya sekarang juga banyak penyandang disabilitas yang masuk perguruan tinggi untuk menimba ilmu,’’ ujarnya. Menurutnya, penyandang disabilitas perlu diberikan kesempatan di dunia kerja

karena mereka memiliki kemampuan yang tidak jauh berbeda dengan orang normal. Jika mereka ingin melamar kerja di perusahaan, menurut Winarna juga harus memperhatikan kualifikasi yang dibutuhkan oleh perusahaan tersebut. ‘’Jangan juga asal memasukan lamaran tanpa melihat persyaratannya,’’ jelasnya. Menurutnya, peluang mereka untuk mendapatkan pekerjaan sekarang sangatlah besar karena adanya peraturan yang melindungi penyandang disabilitas. ‘’Mereka juga banyak sekarang yang bekerja di hotel, karena kemarin ada siswa kami yang melamar ke sana,’’ tambahnya. Winarna mengatakan, agar penyandang disabilitas ini siap kerja dan siap bersaing dengan yang lain membutuhkan dukungan dari semua pihak yag terlibat. ‘’Yang paling penting adalah orang tua dengan memberikan pendidikan bagi anakanaknya,’’ tambahnya. Ia menjelaskan bahwa sekarang kesadaran orangtua untuk menyekolahkan anaknya sudah tinggi, tidak seperti beberapa tahun sebelumnya. ‘’Dengan pendidikan mereka bisa memiliki bekal untuk hidupnya ke depan. Serta keterampilan yang bisa diasah, sehingga kalau mereka tidak melamar pekerjaan bisa digunakan untuk hidup mandiri,’’ ujarnya. (uul)

Apindo Siap Jadi Mediator Dari Hal. 1 Apindo NTB saat ini memiliki anggota yang cukup banyak yaitu sekitar 3000 anggota di seluruh NTB. Mulai dari pengusaha mikro hingga pengusaha-pengusaha berskala besar. Anggota Apindo juga memiliki ragam usaha . Sehingga memungkinkan para penyandang disabilitas diakomodir sesuai dengan keahlian masing-masing. ‘’Saya pada intinya sangat menyambut baik aspirasi terhadap penyandang disabilitas. Tak kenal maka tak sayang, tentu kita ingin bertemu dengan himpunan ini dulu baru kita rumuskan sektor apa saja yang sesuai dengan kemampuan mereka,’’ tambahnya. Selama ini, ia belum mengetahui lebih detil apakah sudah ada pengurus atau anggota Ap-

indo NTB yang mulai mengakomodir penyandang disabilitas di perusahaannya. Namun ke depannya, kerjasama yang baik antara dunia usaha dengan pihak lain, termasuk dengan himpunan masyarakat yang berkebutuhan khusus akan terus ditingkatkan. Apindo yakin bahwa setiap individu memiliki potensi untuk berkembang sesuai dengan minat dan bakatnya masing-masing, termasuk dari kalangan disabilitas ini. Mereka memiliki potensi yang terkadang dibutuhkan oleh dunia usaha. Misalnya usaha pijat refleksi nantinya diharapkan bisa mengakomodir disabilitas tuna netra yang biasanya memiliki keahlian di bidang itu atau sesuai dengan keahlian lainnya. “ Kami akan menjadi mediator mereka dengan para pengusaha itu,” katanya.(ris)

Laporkan Diskriminasi Penyandang Disabilitas Dari Hal. 1 H. Wildan meyakini saat ini sudah ada perusahaan-perusahaan yang menampung pekerja para penyandang disabilitas. Termasuk di pemerintah daerah, Disnakertrans Provinsi NTB te-

lah menyiapkan ruang bagi para penyandang disabilitas. Salah satunya, telah ditempatkan di Bagian Keuangan. “Maka dari itu, kalau ada yang ditemukan, laporkan, nanti tim kami yang akan turun menindaklanjutinya,” tegasnya. (bul)


Ekbis NTB

Ekbis NTB Senin, 16 Oktober 2017

4

Hari Kesehatan Jiwa dan Hari Kanker Payudara Sedunia di Inspiratif Expo

SMAN 7 Mataram Tampilkan Kesenian Tradisional Lombok INSPIRATIF Expo Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik (Kominfotik) NTB pada pekan ke 8, Minggu (15/10) dimanfaatkan Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Mutiara Sukma NTB untuk merayakan puncak Hari Kesehatan Jiwa Sedunia yang jatuh pada tanggal 10 Oktober lalu. Hadir juga dari pihak RSUP yang merayakan Hari Kanker Payudara Sedunia yang tepat jatuh, Minggu (15/10) kemarin. Acara semakin meriah oleh penampilan kesenian tradisional oleh SMAN 7 Mataram, sehingga menjadikan momen Inspiratif Expo pada Car Free Day di depan Kantor Diskominfotik NTB semakin meriah. Panggung Inspiratif Expo Diskominfotik NTB ajang generasi muda berprestasi dan OPD berkinerja “Sampaikan Informasi Bermanfaat”, didukung Harian Suara NTB/Ekbis NTB, Lombok Post, LombokTV, iNewsTV, TVRI NTB, MetroTVNTB, TV9, RRI Pro 2 FM Mataram dan Radio Global FM Lombok. Tema Hari Kesehatan Jiwa Sedunia tahun ini adalah “Kesehatan Jiwa di Tempat Kerja”. Dengan berseragam serba oranye, para petugas RSJ Mutiara Sukma mengkampanyekan

pentingnya memperhatikan kesehatan jiwa di tempat kerja demi terjaganya produktivitas. “Seperti lirik lagu Indonesia Raya, bangunlah jiwanya, bangunlah raganya, untuk Indonesia Raya. Jadi kesehatan jiwa itu yang utama. Ketika sehat jiwa maka sehat raga!” ujar Direktur RSJ Mutiara Sukma NTB dr. Elly Rosila Widjaya, SpKJ. MM, yang menyampaikan materi di depan masyarakat yang hadir pada acara. Selain memberikan penyuluhan, pihak RSJ juga memberikan tes kesehatan jiwa gratis kepada masyarakat dan beraneka doorprize menarik kepada masyarakat seperti sepeda, TV, Handphone, Rice Cooker, dan aneka hadiah menarik lainnya. Tampil juga Waras Band, group vocal yang beranggotakan pasien RSJ yang sembuh total didampingi oleh petugas medis. Setelah kampanye Kesehatan Jiwa oleh RSJ, tampil juga pihak RSUP dengan para surviver kanker payudara mengenakan seragam serba pink, menyampaikan pentingnya menjaga kesehatan payudara bagi para wanita. Wanita diminta untuk rajin mengecek payudara masing-masing, baik secara individu maupun pemeriksaan secara medis. “Kanker payudara lebih banyak membunuh daripada

kanker serviks. Jika masih stadium awal kemungkinan untuk sembuh bisa 100% tetapi kalau sudah masuk stadium 3-4 kemungkinan untuk sembuh sangat kecil. Maka periksakanlah kesehatan payudara Anda,” jelas dr. Ramses. Penonton semakin banyak mengerubungi panggung Inspiratif Expo , ketika SMAN 7 Mataram menampilkan pertunjukan peresean, karate, Tari Rudat, Tari Selemor Ate dan Tembang Asmarandane dalam empat bahasa, Bahasa Sasak, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Bahasa Jepang. “Saya paling suka sama atraksi karate yang tadi dari Dea itu. Dia cewek dan keren. Inspiratif Expo kali ini keren!” ujar Edy, salah seorang penonton. Tidak hanya panggung yang meriah, stan Inspiratif Expo juga diramaikan oleh komunitas Buku Ini Aku Pinjam BIAP dengan buku-buku yang dapat dipinjam oleh penonton. Dari anak-anak sampai orang tua tampak antusias meminjam buku-buku dari komunitas literasi tersebut. “Adanya stan ini bisa mengundang masyarakat untuk gemar membaca, semoga ke depannya stan Inspiratif Expo bisa lebih banyak lagi didatangi oleh komunitas literasi,” komentar Nadya, salah satu MC Inspiratif Expo. (*)

(Ekbis NTB/ist)

Kepala Diskominfotik NTB Tri Budiprayitno menyalami salah satu pengunjung Inspiratif Expo yang beruntung mendapat hadiah berupa sepeda dari RSJ , Minggu (15/10).

(Ekbis NTB/ist)

Persembahan tembang Asmaradane dari SMAN 7 Mataram, Minggu (15/10).

(Ekbis NTB/ist)

Penampilan grup tari rudat SMAN 7 Mataram.

(Ekbis NTB/ist)

Siswa SMAN 7 Mataram menunjukkan kepiawaiannya bermain peresean pada acara Inspiratif Expo yang digelar Diskominfotik NTB, Minggu (15/10).

(Ekbis NTB/ist)

(Ekbis NTB/ist)

Dea, salah satu atlet karate menunjukkan kepiawaiannya di Inspiratif Expo Diskominfotik NTB.

Penampilan grup tari SMAN 7 Mataram di Inspiratif Expo, Minggu (15/10).

Berhubungan dengan Investasi Bodong

Satgas Waspada Investasi Bidik Satu Travel Umroh di NTB TIM Waspada Investasi Pusat telah menerima laporan terkait dengan adanya perusahaan travel umroh yang berafiliasi dengan investasi bodong. Kantor pusatnya ada di NTB, sehingga tim sedang mengincarnya. “Nama perusahaannya R.M. Kantor pusatnya ada di NTB dan beroperasi di luar NTB, dia termasuk beroperasi secara illegal,” kata Ketua Tim Satgas Waspada Investasi, Tongam L. Tobing pada pada kegiatan pelatihan wartawan Bali Nusra yang dilaksanakan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Bedugul, Bali Sabtu (14/10) kemarin. Ia tidak menyebutkan secara detail bagaimana model penawaran umroh yang dilaksanakan oleh travel tersebut. Biasanya, tak jauh beda dengan yang dilaksanakan oleh First Travel yaitu memberangkatkan jamaah dengan modal yang dimiliki jamaah lainnya. Laporan telah diterima oleh tim dari masyarakat di Jawa Timur. Karena itu, tim telah mendorong Kementerian Agama untuk melapor ke aparat penegak hukum. Sebenarnya, tidak hanya satu perusahaan travel umroh saja yang sedang diincar di NTB. termasuk beberapa je-

(Ekbis NTB/bul)

Tongam L.Tobing nis perusahaan yang menawarkan iming-iming investasi kepada masyarakat, namun kantor pusatnya tidak di NTB. Jenis investasi dari berbagai perusahaan yang saat ini dibidik itu beragam, tidak hanya travel umroh.”Talk Fushion juga ada di NTB, Swissindo juga,” ujarnya. Tongam memaparkan secara umum tentang investasi illegal yang saat ini marak dengan skema saling mengajak. Satgas Waspada Investasi yang anggotanya OJK, Kepolisian, Kejaksaan, BKPM, Kemeterian Perdagangan, Kementerian Koperasi dan UMKM, dan Kementerian Komunikasi dan Informatika terus bergerak membidik target.

Dengan perluasan anggota seperi BI, PPATK, Kemendagri, Kemenag, Kemenristek dan Dikti, serta Kemendikbud. Ia menambahkan, investasi ilegal ini dapat dikenali dengan mudah, bila masyarakat memahami ciri-cirinya. Diantaranya memberikan iming-iming keuntungan tinggi lebih dari 10 persen, pemberian jaminan, perekrutan anggota baru dengan mendapatkan keuntungan bonus dan cashback besar. Ada juga sebagian investasi bodong menggunakan testimoni pemuka agama, pejabat publik, menjanjikan penarikan dana aman, tetapi tidak memiliki badan hukum yang jelas. “Masyarakat tertarik karena sebagian besar ingin cepat mendapatkan keuntungan dalam jumlah besar tanpa harus bekerja besar. Akhirnya masyarakat menjadi malas,” imbuhnya. Karena itu, kenali investasi ilegal dengan melihat legalitasnya seperti izin-izin perusahaan serta logis. Biasanya investasi itu menggunakan sistem jaringan seperti Multi Level Marketing (MLM). Investasi yang benar itu, investasi property, beli emas, atau di pasar modal (saham, reksadana),” tambah Tongam. (bul)

Fintech Belum Mengancam Perbankan di NTB ERA modern tanpa disadari telah banyak memberi dampak yang tidak diharapkan. Di kotakota besar, peralihan kebutuhan dari pola konvensional ke sistem digital perlahan telah memangkas peran manusia. Misalnya saja soal digitalisasi layanan perbankan. Di kota-kota besar, muncul kabar adanya kebijakan pemangkasan karyawan bank yang dilakukan oleh manajemen, setelah Fintech di rilis. Fintech ini sendiri diartikan sebagai Financial Technology atau transaksi keuangan menggunakan teknologi. Keberadaan Fintech bertujuan untuk membuat masyarakat lebih mudah mengakses produk-

produk keuangan, mempermudah transaksi dan juga meningkatkan literasi keuangan. Cakupan bisnis Fintech Indonesia memiliki banyak jenis, antara lain startup pembayaran, peminjaman (lending), perencanaan keuangan (personal finance), investasi ritel, pembiayaan (crowdfunding), remitansi, riset keuangan. “Tapi dampaknya di NTB, kami belum menerima laporan,” kata Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi NTB, Farid Faletehan. Di kota-kota besar, ia mengakui teknologi memang telah memangkas keterlibatan karyawan bank. Kendati demikian, Farid belum khawatir soal pengaruhnya di NTB.

Alasannya, provinsi ini memiliki topografi wilayah yang ratarata pedesaan. Artinya, kecenderungannya masih butuh layanan kantor-kantor perbankan. Tentu kebutuhan tenaga manusia masih diperlukan didalamnya. Keberadaan kantor-kantor pelayanan bank, justru menurutnya akan sangat membantu masyarakat untuk meningkatkan literasi tentang layanan keuangannya. Sebab, dari layanan langsung lembaga keuangan ini, masyarakat juga belajar. Fintech yang wujudnya adalah layanan teknologi dunia maya, masih butuh waktu bagi masyarakat NTB untuk menyesuaikannya. (bul)


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Edisi 16 Oktober 2017 | Ekbis NTB by e-Paper KMB - Issuu