Edisi 20 September 2017 | Suara NTB

Page 1

HARIAN UNTUK UMUM TERBIT SEJAK 1 MARET 2004 LANGGANAN LOMBOK Rp.85.000 SUMBAWA Rp.90.000 ECERAN Rp 5.000

SUARA NTB

16 HALAMAN NOMOR 159 TAHUN KE 13

Online :http://www.suarantb.com E-mail: hariansuarantbnews@gmail.com

RABU, 20 SEPTEMBER 2017

Pengemban Pengamal Pancasila

TELEPON: Iklan/Redaksi/Sirkulasi (0370) 639543 Facsimile: (0370) 628257

Antisipasi Kejahatan Perbankan

Pengamanan ATM Berlapis hingga Perangkat Canggih

(Suara NTB/bul)

M. Harsono

DUA perbankan pelat merah Bank BRI, dan Bank BNI menaikkan langkah waspadanya, setelah tertangkapnya pelaku kejahatan perbankan asal Bulgaria, yang gagal membobol isi mesin ATM milik BRI di Gili Trawangan pada minggu kedua September 2017 ini. Jaringan sindikat penjahat perbankan asal Eropa Timur paling diwaspadai oleh perbankan, karena aksi-aksinya di berbagai tempat di Indonesia, salah satunya NTB. Kendati demikian, aparat penegak hukum dan perbankan sendiri tak ingin kalah langkah. Bersambung ke hal 15

(Suara NTB/bul)

Akhmad Indra

Dugaan Penyimpangan Bansos

Disnakeswan Serahkan Dokumen Permintaan Kejari Lotim Mataram (Suara NTB) – Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) NTB membenarkan Kejaksaan Negeri (Kejari) Lombok Timur (Lotim) sedang memproses laporan masyarakat terkait dugaan penyimpangan penyaluran bantuan sosial (Bansos) sapi kepada salah satu kelompok tani ternak di Lombok Timur (Lotim). Disnakeswan bahkan telah menyerahkan seluruh dokumen yang diminta Kejari Lotim beberapa waktu lalu. “Itu hanya laporan biasa. Kemudian kita dimintai (Kejari Lotim) data, itu saja. Kita berikan data lengkap sudah. Dilengkapi foto-foto penyerahan bantuan, lengkap,” kata Kepala Disnakeswan NTB, drh. H. Aminurahman, M.Si dikonfirmasi Suara NTB di kantornya, Selasa (19/9) siang kemarin. Aminurahman mengatakan, pemberian Bansos yang

TO K O H Kunci Entaskan Kerak Kemiskinan PROGRAM-program pengentasan kemiskinan diminta harus fokus untuk menyentuh 13 persen masyarakat miskin dan sangat miskin di NTB. Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan kerak kemiskinan di NTB mencapai 13 persen. ‘’Kerak kemiskinannya sekitar 13 persen. Ini bukan tidak mungkin dicapai (dientaskan), tetapi harus fokus. Kemarin sudah mengerucut dengan program penanggulangan kemiskinan by name by address,’’ kata Kepala BPS NTB, Dra. Endang Triwahyuningsih ketika dikonfirmasi Suara NTB di Mataram, Selasa (19/9) siang kemarin. Bersambung Endang Triwahyuningsih ke hal 15

sedang dibidik Kejari Lotim itu merupakan pemberian bantuan sapi kepada salah satu kelompok tani ternak di Lotim. Namun ia tak hafal jumlah anggaran yang diberikan untuk kelompok tani ternak tersebut. Aminurahman merasa yakin mekanisme dan prosedur pemberian bantuan sapi tersebut telah sesuai aturan yang berlaku. Bahkan, ia menyata-

kan pemberian bantuan sapi sekitar beberapa bulan lalu itu sudah didokumentasaikan dengan baik. Kemudian ada berita acara serah terima barang yang disaksikan Dinas Peternakan Kabupaten Lotim. ‘’Insya Allah kita yakin (tidak menyimpang). Kita berikan foto lengkap pemberian bantuan sapi dengan peternaknya. Bersambung ke hal 15

’’

Itu hanya laporan biasa. Kemudian kita dimintai (Kejari Lotim) data, itu saja. Kita berikan data lengkap sudah. Dilengkapi fotofoto penyerahan bantuan, lengkap. H. Aminurahman (Suara NTB/dok)

Terdakwa Kasus BBGRM Bima Setor Kerugian Negara Mataram (Suara NTB) Dalam posisi sedang diadili di Pengadilan Tipikor Mataram, terdakwa kasus dugaan korupsi pengadaan kaos program Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) Bima bersikap kooperatif. Dia menyetor kerugian negara melalui Jaksa Penuntut Umum (JPU) sebesar Rp 120 juta. Terdakwa Rusdin berharap, dengan begitu hukumannya bisa lebih ringan. Pengembalian kerugian negara itu diwakilkan kepada Miftah, SH, selaku kuasa hukum terdakwa Rusdin Selasa (19/9) kemarin di Gedung Kejati NTB. Uang kemudian diterima tim JPU Budi Tri Dadi Wibawa, SH, Riozin, SH, Marolah, SH dan Hademan, SH. Setelah diterima JPU secara resmi dan dilengkapi berita acara, di ruangan itu juga uang kemudian diserahkan ke pihak bank, tempat penitipan pengembalian kerugian negara. Miftah menjelaskan, penyerahan uang itu sebagai sikap kooperatif klien-

nya dalam kasus tersebut. Meski tetap merasa tidak bersalah karena tidak menerima sepeserpun dari proyek pengadaan kaos senilai Rp 692 juta itu, kliennya tetap merasa bertanggung jawab dari sisi pidana sehingga ingin memulihkan kerugian negara. ‘’Dan hari ini (kemarin), kami menyerahkan kerugian negara itu,’’ jelasnya. Harapan besarnya, akan menjadi pertimbangan JPU untuk mengajukan tuntutan ke kliennya. Lebih dari itu, pertimbangan majelis hakim untuk menjatuhkan putusan. Sebenarnya kerugian negara total dari kasus BBGRM senilai Rp 230 juta, dipicu pengadaan kaos yang terindikasi fiktif dari rekanan proyek. Namun karena pertimbangan ekonomi, terdakwa yang menjabat Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) ini hanya mampu mengembalikan Rp 120 juta. ‘’Jadi semampunya klien kami ya sebesar ini,” ujarnya.

Sementara Ketua Tim JPU Budi Tri Dadi Wibawa yang menerima penyerahan itu menjelaskan, pihaknya mengapresiasi sikap terdakwa yang mengembalikan kerugian negara di tengah persidangan. Diakuinya, sikap kooperatif terdakwa itu akan jadi dasar pertimbangan penentuan tuntutan ke terdakwa. “Nanti kita lihat pada saat persidangan, tentu ini akan jadi pertimbangan kami nanti,” tegasnya. (ars)

MENGHITUNG JPU Budi Tri Dadi Wibawa menghitung uang pengembalian kerugian negara dari terdakwa kasus BBGRM Bima.

(Suara NTB/dok)

KO M E N TTAA R

Giliran Direktur PD.BPR Lobar Diperiksa

Reformasi PT. GNE KALANGAN DPRD NTB meminta Pemprov melakukan reformasi PT. Gerbang NTB Emas (GNE). Keberadaan PT. GNE selama ini banyak menuai kritik dari para wakil rakyat yang duduk di Gedung Udayana karena dinilai kontribusinya terhadap daerah masih minim. Bersambung ke hal 15

Mataram (Suara NTB) Sejumlah Direktur Perusahaan Daerah (PD) Bank Perkreditan Rakyat (BPR) sudah dimintai keterangan di tingkat penyelidikan dan penyidikan. Giliran Direktur PD.BPR Lombok Barat (Lobar), H. Muhammad Husni diperiksa, Selasa (19/9) kemarin, terkait lanjutan penyidikan dugaan korupsi pada proses merger PD.BPR menjadi PT. Bank BPR NTB. Bersambung ke hal 15 (Suara NTB/ars)

Mori Hanafi (Suara NTB/dok)

Keuntungan Tak Menjanjikan

Tidak Terbit

Dua Investor Angkat Kaki dari RPH Banyumulek

Berkaitan dengan Tahun Baru Islam 1439 H, pada Kamis (21/9), SUARA NTB tidak terbit. Kami akan terbit kembali Jumat (22/9). Untuk itu kepada pembaca dan relasi iklan harap maklum. Terima Kasih Penerbit

(Suara NTB/dok)

MERUGI - Proses pemotongan sapi di RPH Banyumulek beberapa waktu lalu. Namun, kegiatan pemotongan sapi di RPH tersebut sekarang sudah tidak ada lagi, menyusul dua investor angkat kaki dari pengembangan daging beku di RPH tersebut karena merugi.

Mataram (Suara NTB) – Bisnis pengelolaan Rumah Potong Hewan (RPH) Banyumulek Lombok Barat (Lobar) belum menguntungkan bagi investor. Tercatat, dua investor yang merupakan BUMN, yakni PT. Berdikari dan PT. Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) sudah angkat kaki dari pengembangan daging beku di RPH tersebut. ‘’Sudah ada investor. Tapi

angkat tangan itu. Investor yang ada sudah melakukan uji coba tetapi tak berlanjut. Mungkin terkait dengan modal dan SDM. Tingginya fluktuasi harga sapi potong. Hasil kajian awalnya mereka untung, ternyata dia rugi,’’ kata Direktur Utama (Dirut) PT. Gerbang NTB Emas (GNE), Drs. H. Syahdan Ilyas, MM dikonfirmasi Suara NTB di Mataram, Selasa (19/9) siang

kemarin. Menurutnya, bisnis pengolahan daging beku di RPH butuh modal yang besar. Daripada mereka terus merugi, kata Syahdan, akhirnya angkat kaki dan berhenti bekerjasama. Syahdan menyatakan, dengan modal Rp 10 miliar saja masih tidak cukup untuk pengembangan RPH Banyumulek. Bersambung ke hal 15


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Issuu converts static files into: digital portfolios, online yearbooks, online catalogs, digital photo albums and more. Sign up and create your flipbook.