Skip to main content

Edisi Minggu 26 Januari 2020 | balipost.com

Page 1

terbit sejak 16 agustus 1948 perintis k. nadha

HARGA LANGGANAN Rp 90.000 ECERAN Rp 4.000

12 HALAMAN

NOMOR 159 TAHUN KE 72

Online:http://www.balipost.co.id http://www.balipost.com E-mail: balipost@indo.net.id Iklan/Redaksi/Sirkulasi (0361) 225764, 233801 Faksimile: 227418

Minggu Umanis, 26 Januari 2020

Pengemban Pengamal Pancasila

balipost http://facebook.com/balipost

@balipostcom http://twitter.com/balipostcom

@balipost_com http://instagram.com/balipostcom

Usaba Muhu Muhu Diamankan

Siwaratri

Sanghyang Dedari “Masolah”

Polisi dan pecalang bersinergi mengamankan upacara “Ngusaba Muhu Muhu” di Desa Adat Timbrah, Karangasem. Mengapa?

Banyak pemahaman berbeda soal Siwaratri. Apa hakikat hari suci ini sebenarnya? Bali Orti | HAL. 7

Salah satu event menarik yang dinanti-nanti fotografer adalah Sanghyang Dedari saat masolah. Ikuti caranya biar hasil jepretannya bagus.

Daerah | HAL. 3

Fotografi | HAL. 8

12 Negara Terinfeksi Virus Corona WuhanBegitu cepat penyebaran virus Corona. Korban meninggal akibat wabah virus Corona mematikan di Tiongkok kini mencapai 41 orang hingga Sabtu (25/1) kemarin. Sementara itu jumlah kasus korban terinfeksi sudah melonjak nyaris mendekati 1.300 kasus. Sementara itu 12 negara dinyatakan positif terinfeksi virus ini. Salah satu dokter yang merawat pasien virus Corona, Liang Wudong, seperti dilansir Reuters dan Channel News Asia, meninggal Sabtu kemarin. Dokter ini bertugas di garis terdepan dalam memerangi wabah virus corona di Wu-

han, Provinsi Hubei. Komisi Kesehatan Hubei, Sabtu kemarin mengungkapkan bahwa di Wuhan sendiri korban meninggal mencapai 26 orang. Selain itu Komisi Kesehatan Nasional dalam pernyataan terpisah mengungkapkan bahwa setidaknya ada 444 kasus baru virus telah ditemukan dan

membuat jumlah korban menjadi 1.287 kasus. Penyakit ini telah menyebar ke-30 provinsi, daerah otonom dan kota. Wuhan dan 13 kota lainnya di Hubei telah diisolasi dan dikarantina untuk menahan penularan penyakit pernapasan yang mematikan. Akibat penutupan tersebut, banyak warga yang tidak

bisa mudik saat perayaan Tahun Baru. Perayaan di Wuhan pun jadi tak semeriah biasanya. Wabah virus Corona yang dimulai di Wuhan, kini menjadi perhatian seluruh dunia. Sejak wabah terjadi, Wuhan kini dijuluki sebagai ‘zombieland’ oleh para warga lokal yang ketakutan terjebak di dalam kota itu setelah pemerintah China menetapkan untuk menutup kota tersebut. Hal. 11 Korban Berjatuhan

Bali Nihil Jakarta ( Bali Post)Meski sudah merebak ke beberapa negara, Badan Kesehatan Dunia (WHO) belum menyatakan status wabah virus Corona sebagai darurat kesehatan global. Meski demikian, pemerintah Indonesia mengklaim sudah bersiap siaga. Vensya Sitohang, Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengatakan, Indonesia siap hadapi virus Corona. Sebanyak 100 rumah sakit disiapkan untuk rujukan penyakit infeksi emerging. “Agar masyarakat tenang, diedukasi, jangan sampai ada masuk ke Indonesia meski ada mobilitas tinggi. Kepanikan malah menimbulkan masalah, penyakit enggak ada malah panik,” kata Vensya kepada wartawan. Untuk menghadapi berbagai masalah ini, beberapa rumah sakit di Indonesia sudah disiagakan. Di Jakarta misalnya, ada beberapa rumah sakit pelayanan paru yang bisa dijadikan rujukan ketika ditemukan gejala-gejala penyakit tersebut. Tiga rumah sakit di Jakarta yang dijadikan rujukan nasional yakni, RSPAD Gatot Subroto, RSUP Persahabatan, dan RSPI Sulianti Saroso. Saat ini, Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso mengisolasi satu pasien terduga terjangkit Virus Corona.

BPM/edi

PANTAU-Petugas Bandara I Gusti Ngurah Rai memantau suhu tubuh penumpang menggunakan alat pemindai suhu tubuh di Terminal Kedatangan Internasional.

Delapan Penerbangan Denpasar-Wuhan Dibatalkan Mangupura (Bali Post)Sebanyak delapan penerbangan yang menghubungkan Wuhan, China, dengan Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, dibatalkan sebagai langkah antisipasi terhadap penye-

baran virus Corona melalui jalur penerbangan. “Penutupan rute penerbangan ini dilakukan mulai 23 Januari lalu pukul 11.00 UTC sampai 2 Februari pukul 15.59 UTC mendatang,” ujar Communication and

Tradisi ’’Ngejot’’ dengan Kue Penuh Makna TRA D ISI ngejot masih dilaksanakan masyarakat di Bali, tidak saja oleh umat Hindu, namun juga umat Budha etnis Tionghoa saat hari raya Imlek. Seperti yang dilaksanakan beberapa warga keturunan Tionghoa di Kintamani. Dua hari sebelum Imlek mereka membagikan bingkisan makanan kepada tetangga/umat lain di sekitar rumahnya. Isi bingkisannya terdiri dari kue dan buah. “Tradisi ini sudah kami lakukan secara turun temurun,” ungkap I Made Suardana atau Khu Bok Sun, salah seorang warga Tionghoa di Kintamani yang merayakan Imlek. Selain memasang pernak-pernik Imlek, warga Tionghoa di Kintamani juga menyiapkan aneka jenis kue. Suardana mengatakan beberapa kue yang wajib ada saat Imlek, yaitu kue keranjang, kue ku dan lapis. Ada juga tambahannya seperti kue bakpao, wajik dan lainnya. Hal. 11 Kue Mangkok

KUE Inilah jenisjenis kue yang dijadikan materi ngejot menjelang Imlek.

Nihil Sementara itu hasil laboratorium ketiga wisatawan asing yang dicurigai terinfeksi Corona di Bali telah keluar. Hasilnya semua negatif terinfeksi virus Corona. Sebelumnya, hasil laboratorium wisatawan asal Meksiko telah lebih dulu keluar, hasilnya negatif. Pada Sabtu (25/1), Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, dr. Ketut Suarjaya, MPPM., menegaskan bahwa kedua wisatawan lain juga negatif. Hal. 11 Hasil Negatif

Legal Manager PT Angkasa Pura I (Persero) Kantor Cabang Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali, Arie Ahsanurrohim, di Mangupura, Sabtu. Hal. 11 Dua Maskapai

Harmonisasi Warga Tionghoa dengan Krama Bali

Hari raya Imlek 2571 dikenal dengan shio Tikus Logam dirayakan dengan penuh suka cita oleh umat Budha keturunan Tionghoa di Bali, Sabtu (25/1) kemarin. Perayaan tahun baru China diisi dengan bersembahyang di kongco dan berkumpul bersama keluarga. Jika kita ingin melihat contoh harmonisasi hubungan warga Tionghoa sejak zaman lampau hingga sekarang dengan krama Bali kita bisa melihat di Kintamani. Bahkan sejumlah nama desa di Kintamani asal muasal dari Tionghoa seperti Langgahan, Kintamani, Pinggan, dll.

BPM/ina

SEMBAHYANG - Umat Tionghoa di Kintamani melaksanakan persembahyangan di Kongco.

Di Kintamani, keberadaan warga Tionghoa jumlahnya cukup banyak. Mereka tersebar di beberapa desa di Kecamatan Kintamani. Selama bertahuntahun mereka hidup berbaur secara harmonis dengan krama Bali dalam berbagai aktivitas. Desa Langgahan, merupakan salah satu Desa di Kintamani yang banyak dihuni warga keturunan Tionghoa. Ada sekitar 55 KK warga Tionghoa yang hidup di desa yang

berbatasan dengan Kabupaten Gianyar itu. Nama Desa Langgahan konon berasal dari bahasa China, yakni Loang An, yang merupakan nama salah satu desa di China. “Menurut sejarah, dulu leluhur kami ditempatkan di perbatasan oleh Raja Balingkang untuk menjaga perbatasan dan keamanan wilayah. Awalnya di desa kami hanya ada tiga KK. Hal. 11 Dusun Lampu

Mengenal Brahmavihara Arama Desa Banjar

Menjadi Cikal Bakal Toleransi dan Pluralisme di Tanah Air

SAAT Imlek warga Tionghoa selain ke konco juga ada yang ke vihara. Brahamavihara Arama di Desa Banjar, Kecamatan Banjar, Buleleng tergolong vihara tua di Bali. Ini karena vihara di Banjar Dinas Tegeha berdiri pertama kali di Bali setelah masa Kemerdekaan RI, juga simbol cikal bakal lahirnya budaya

toleransi dan pluralisme di Tanah Air. Brahmavihara Arama ini dibangun oleh Ida Ketut Jelantik yang dikenal sebagai sastrawan yang bertugas di Kementerian Agama. Dia menyukai meditasi hingga membentuk kelompok kebatinan di desanya. Tahun 1956, Ida Bagus Jelantik diundang ke

Watugong, Semarang menghadiri acara Budha Jayanti yang merupakan acara kebatinan dan spiritual. Saat itu Ida Ketut Jelantik berhalangan hadir hingga diutus keponakannya, Ida Bagus Giri, yang tak lain adalah ayah dari Ida Bagus Rahoela. Hal. 11 Metode Meditasi

BPM/mud

VIHARA- Brahmavihara Arama Desa Banjar selain menjadi tempat persembahyangan juga sebagai simbol toleransi beragama.


2

Minggu Umanis, 26 Januari 2020

Rai Mantra ”Ngaturang Bhakti” Siwaratri Tinjau Lokasi Tes CPNS, Sekda Dewa Indra Tak Ingin Ada Kecurangan Bersama di Pura Dalem Desa Sumerta SEKRETARIS Daerah (Sekda) Provinsi Bali, Dewa Made Indra meninjau lokasi Tes Kompetensi Dasar (TKD) CPNS dengan sistem CAT (computer assisted test) yang akan dilaksanakan di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Bali, Jalan Hayam Wuruk 152 Denpasar, Sabtu (25/1) kemarin. Peninjauan yang bertepatan dengan Tumpek Wariga ini dimaksudkan untuk memastikan kesiapan sarana dan prasarana pendukung kelancaran tes CPNS. Sekda Dewa Indra yang ditemui di sela-sela kegiatan peninjauan mengatakan ia ingin seluruh proses tes berjalan dengan baik, nyaman, transparan dan akuntabel. Untuk itu, ia mengingatkan seluruh jajaran yang duduk di kepanitiaan memperhatikan semua sarana pendukung berfungsi dengan baik. “Se-

muanya harus dicek dan dipastikan berfungsi dengan baik. Mulai dari ruangan, komputer, jaringan, tempat duduk hingga pendingin ruangan. Saya ingin tak ada gangguan teknis yang mengganggu konsentrasi para peserta sehingga mereka dalam menunjukkan kemampuan maksimal,” ujarnya. Tak hanya kenyamanan para peserta, pihak panitia juga menyiapkan ruang tunggu yang layak bagi orangtua atau kerabat peserta tes CPNS. Di ruang tunggu yang disediakan, mereka bisa melihat langsung hasil tes putra putri atau kerabat mereka. “Kami juga menyiapkan petugas kesehatan, parkir dan kantin yang memadai,” imbuhnya. Dewa Indra berharap, dukungan sarana dan prasarana yang telah dipersiapkan sedemikian matang dapat meniadakan komplain dari peserta yang ikut tes.

TINJAU - Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Bali, Dewa Made Indra meninjau lokasi Tes Kompetensi Dasar (TKD) CPNS dengan sistem CAT (computer assisted test) yang akan dilaksanakan di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Bali, Jalan Hayam Wuruk 152 Denpasar, Sabtu (25/1) kemarin.

Pada bagian lain, ia juga menyinggung komitmen Pemprov Bali dalam mewujudkan rekrutmen CPNS yang bersih dan transparan. Terkait dengan upaya mewujudkan transparansi, pihaknya menjamin pelaksanaan tes bebas dari joki karena panitia menerapkan sistem pengecekan identitas secara berlapis dan melibatkan unsur aparat keamanan dan penegak hukum. “Semua akan dicek, mulai dari tanda pengenal dan wajah para peserta. Kami juga akan mengundang Komisi 1 DPRD Bali, Kejaksaan, Polda Bali, BPKP, Ombudsman, dan Inspektorat untuk mengawal proses seleksi,” tandasnya. Proses seleksi yang telah disiapkan melalui sistem sedemikian rupa diharapkan akan menghasilkan SDM berkualitas yang menggerakkan mesin birokrasi. “Kalau proses rekrutmennya sudah seperti ini, saya yakin ke depannya tak ada PNS yang gaptek,” ucapnya. Menambahkan penjelasan Sekda Dewa Indra, Kepala BKD Ketut Lihadnyana menerangkan CAT penerimaan CPNS Pemprov Bali baru pertama kali dilaksanakan di BPSDM. “Sebelumnya sudah menggunakan CAT, tapi pelaksanaannya di Gedung BKN,” ungkapnya. Lihadnyana menginformasikan, jumlah peserta yang mengikuti tes CPNS kali ini sebanyak 36.193 yang akan bersaing untuk mengisi kebutuhan PNS di provinsi dan kabupaten/ kota se-Bali. “Untuk Provinsi Bali, pelamarnya mencapai 13 ribu lebih. Sedangkan formasi yang tersedia sebanyak 676. Kebanyakan tenaga

teknis yang kita butuhkan untuk mendukung program prioritas bapak gubernur,” terangnya. Dalam pelaksanaan tes kali ini, peserta akan dibagi dalam beberapa ruangan dengan satu sesi diikuti 400 peserta. Dalam sehari akan dilaksanakan lima sesi tes sehingga jumlahnya mencapai 2.000 peserta/hari. TKD CPNS akan dimulai pada Selasa (28/1), yang akan diawali dengan pelamar untuk pemprov. “Karena pelamar berjumlah 13 ribu lebih, tes untuk Pemprov Bali akan memakan waktu 7 hari. Berikutnya dilanjutkan untuk peserta yang melamar untuk CPNS kabupaten/ kota. Sehingga total waktu yang dibutuhkan mencapai 21 hari,” ucap Lihadnyana seraya berharap Pemerintah kabupaten/kota dan DPRDnya ikut mengawal proses seleksi ini. Senada dengan Sekda Dewa Indra, Lihadnyana menjamin proses seleksi CPNS akan bebas dari kehadiran joki. “Kalau berani, akan langsung ditangkap aparat. Kami sudah siapkan proses berlapis dan masing-masing peserta membawa identitas dengan barcode yang berbeda antara satu dengan yang lain,” tambahnya. Dalam peninjauan tersebut hadir pula Kadis Komunikasi, Informatika dan Statistik (Kominfos) Gede Pramana, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) I Gede Darmawa, Kasatpol PP Provinsi Bali Dewa Nyoman Rai Darmadi, serta perwakilan dari OPD terkait. (kmb)

Ny. I.A. Selly Mantra Buka Seminar Nasional Himpaudi Provinsi Bali

Tekankan Pendidikan Karakter Ingatkan Bahaya ”Gadget” bagi Anak

SEBAGAI upaya berkelanjutan untuk mendukung kreativitas Sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), beragam kegiatan dilaksanakan. Kali ini melalui Himpunan PAUD Indonesia (Himpaudi) Wilayah Bali, digelar seminar nasional bertajuk Inspirasi Reggio Emilla untuk mewujudkan merdeka belajar, kreativitas belajar PAUD era milenial 4.0. Kegiatan yang menghadirkan pendidik PAUD se-Bali ini, dibuka Bunda PAUD Kota Denpasar Ny. I.A. Selly Dharmawijaya Mantra di Dharmanegara Alaya Denpasar, Sabtu (25/1) kemarin. Hadir dalam kesempatan tersebut Kabid Pembinaan PAUD dan PNF Disikpora

Kota Denpasar, Ni Made Sugiantini, seluruh pengurus Himpaudi kabupaten/ kota se-Bali, serta pendidik PAUD se-Bali. Hadir pula narasumber yakni Prof. Hj. Netty Herawati. Ketua Panitia Kegiatan, Rahmani, dalam laporannya menjelaskan, di era revolusi industri 4.0 diharapkan guru PAUD mampu mendukung kreativitas anak. Sehingga dalam penerapannya mampu mendukung kebebasan belajar bagi anak. Dimana kegiatan ini diikuti 627 peserta dari kalangan umum dan pendidik PAUD. “Semoga seminar ini dapat menjadi ajang menambah ilmu untuk memberikan manfaat bagi anak didik,

SEMINAR - Bunda PAUD Kota Denpasar, Ny. I.A. Selly Dharmawijaya Mantra, saat menghadiri dan membuka Seminar Nasional Himpaudi Provinsi Bali di Dharmanegara Alaya Denpasar, Sabtu (25/1) kemarin.

khususnya dalam merdeka belajar,” jelasnya Ketua Pengurus Wilayah Himpaudi Provinsi Bali, Nyoman Sarjana, mengatakan keberadaan Himpaudi wajib memberikan manfaat yang maksimal. Hal ini secara khusus menitikberatkan pada kemajuan PAUD di Denpasar, Bali, dan Indonesia. “Ke depan kami akan terus membangun jembatan komunikasi, koordinasi dan bersinergi untuk kemajuan PAUD,” paparnya. Selly Mantra, dalam sambutannya mengatakan pihaknya sangat mengapresiasi pelaksanaan seminar nasional ini. Dimana pelaksanaan kegiatan ini diharapkan mampu menggetok tularkan kiat-kiat dalam pendidikan PAUD di era Milenial dan Revolusi Industri 4.0 ini. Di Kota Denpasar sendiri perkembangan PAUD menunjukkan hasil yang membanggakan. Hal ini terbukti dengan diraihnya Himpaudi Award oleh Bunda PAUD Kota Denpasar. Dimana penghargaan ini merupakan muara dari setiap inovasi dan terobosan sekaligus merupakan titik awal untuk terus berkarya

menuju Kota Layak Anak berkelanjutan. “Seminar ini tentunya sebagai suatu upaya untuk mengakomodasi keinginan melakukan segala upaya untuk memberikan pendidikan PAUD yang tepat sasaran sehingga mampu membuat anak senang dan menyukai kegiatan bermain dan belajar,” ujar Selly Mantra. Lebih lanjut dijelaskan, selain pendidik PAUD, orangtua juga memiliki peranan penting untuk pendidikan karakter anak. Hal ini dapat dilakukan salah satunya dengan adanya interaksi yang berkualitas baik antara anak dengan orangtua dan guru. Selly Mantra juga menekankan tantangan era milenial di revolusi industri 4.0 ini sangatlah kompleks. Dimana kemajuan teknologi tidak hanya berdampak positif, melainkan berpeluang memiliki dampak negatif. “Di sinilah peranan orangtua penting bagi anak, sehingga anak sejak kecil terbiasa berinteraksi. Tidak hanya bermain gadget semata dan pentingnya mengajarkan anak untuk bijak menggunakan gadget, termasuk bermedia sosial saat ini,” pungkasnya. (ad637)

Gelasis SMAN 7 Denpasar Libatkan 500 Siswa Se-Bali Denpasar (Bali Post) OSIS SMAN 7 Denpasar alias Sisma, secara rutin menggelar ‘Gelar Lomba Siswa’ yang diberi nama Gelasis Sisma. Gelasis Sisma 2020 digelar serentak pada Jumat (24/1) lalu dengan Bali Post sebagai media partner. Ketua OSIS SMAN 7 Denpasar Putra Suwastika mengatakan Gelasis Sisma 2020 melibatkan 500 siswa SD, SMP, dan SMA seluruh Bali. Mereka bersaing di lomba olimpiade kimia, tutor sebaya KSPAN, tutor sebaya SD, nyurat akasara Bali, fashion show, speech contest dan lain-lain. Gelasis bertujuan meng-

gali potensi siswa dan calon siswa SMAN 7 Denpasar ke depan. Begitu juga mengem-

bangkan bakat siswa dalam hal sain dan ajeg Bali. Sedangkan para juara

Bali Post/sue

NYURAT AKSARA BALI - Ketua OSIS Sisma, Putra Suwastika dan Nanda Jaya Pratama di sela-sela lomba nyurat aksara Bali di Gelasis.

dikatakan Putra Suwastika akan diprioritaskan dan direkomendasikan diterima di SMAN 7 Denpasar. Khusus lomba nyurat aksara Bali, kata Koordinator Ekstra Sapta Kariswara (nyurat lontar) yang juga Ketua Seksi Lomba, I Gede Nanda Jaya Pratama, diikuti 20 peserta SMP se-Bali. Mereka menulis aksara Bali bertemakan “Pemutering Gunung Mandara Giri”. Filsafat ini memberi pesan bahwa dalam kehidupan ini ada dua kubu, yakni Dharma (para dewa) dan Adharma (asura). Para siswa diharapkan membangun sifat-sifat dewa dan menghindari kelakuan asura. (025)

HARI Suci Siwaratri yang diperingati setiap Purwaning Tilem Sasih Kepitu dilaksanakan Umat Hindu di Bali. Tak terkecuali Desa Adat Sumerta yang juga menggelar persembahyangan Hari Suci Siwaratri bersama yang dipusatkan di Pura Dalem Desa Adat Sumerta, Denpasar, Kamis (23/1) malam. Hadir dalam kesempatan tersebut Wali Kota Denpasar, I.B. Rai Dharmawijaya Mantra, beserta jajaran Pemerintah Kota Denpasar. Wali Kota Denpasar juga turut memberikan dharma wacana di hadapan masyarakat dan krama Desa Adat Sumerta. Bendesa Adat Sumerta I Wayan Butuantara mengatakan, Hari Suci Siwaratri merupakan momentum penting bagi umat Hindu sebagai ajang mulat sarira atau introspeksi. Tentunya dalam setiap perayaan rutin dilaksanakan guna memberikan edukasi dan pemahaman bagi masyarakat. Khususnya tentang makna dan tujuan perayaan Hari Suci Siwaratri. “Dari pelaksanaan persembahyangan yang dilanjutkan dengan beragam kegiatan keagamaan seperti, makekawin, mageguritan, dan dharma tula, diharapkan memberikan pemahaman bagi masyarakat,” jelasnya. Rai Mantra menekankan, Hari Suci Siwaratri merupakan momen untuk merenungi segala

perbuatan yang telah dilaksanakan. Tentunya hal ini tidak hanya menjadi hari peleburan dosa, melainkan merenung untuk menjadi lebih baik ke depannya. Rai Mantra menjelaskan, jika dilihat dari dua suku kata, yakni Siwa dan Ratri, maka dapat diartikan sebagai upaya penyucian terhadap kegelapan diri. “Dosa itu tidak bisa ditebus dengan berbuat dosa, melainkan dengan mengakui dosa dan merenunginya untuk diampuni. Hal inilah yang sejatinya kita maknai dalam Hari Suci Siwaratri,” ujar Rai Mantra.

Lebih lanjut dikatakan, semasih manusia belum sepenuhnya mengetahui dan menyadari akan adanya dosa dalam diri, maka sepanjang itulah akan ada kegelapan. Tentunya Hari Suci Siwaratri sebagai pengingat bahwa dosa itu ada dan harus disadari dan diakui untuk memohon pengampunan. “Tentunya harus diisi dengan kegiatan yang positif dengan kesadaran, seperti Dharma Tula, Monobrata, Jagra, Upawasa, Mulat Sarira, dan mengendalikan Panca Indra sebagai wujud wiweka umat Hindu,” pungkas Rai Mantra. (ad636)

NGATURANG BHAKTI – Wali Kota Denpasar, I.B. Rai Dharmawijaya Mantra, saat ngaturang bhakti Siwaratri dan memberikan dharma wacana di Pura Dalem Desa Adat Sumerta, Denpasar, Kamis (24/1) lalu.

Bangkai Babi Dibuang ke Sungai

Dikhawatirkan Sebar Virus dan Cemari Air

Tabanan (Bali Post) Kasus kematian puluhan ekor babi diduga akibat virus ASF di Kecamatan Penebel kembali memunculkan persoalan baru. Sebab, banyak peternak yang membuang bangkai babi ke sungai. Bangkai-bangkai tersebut kemudian numplek di Bendungan Telaga Tunjung di Desa Timpag, Kecamatan Kerambitan, sehingga membuat warga setempat tidak nyaman. Pembuangan bangkai babi itu juga dikhawatirkan mempermudah penyebaran virus dan pencemaran air. Dari informasi yang dihimpun, pembuangan bangkai babi ini pertama kali diketahui pada Kamis (23/1) lalu oleh petugas jaga di Bendungan Telaga Tunjung. Sekitar pukul 10.00 Wita, petugas sedang mengecek kondisi bendungan. Ia melihat bangkai babi terbungkus karung mengapung di pinggir bendungan. Bangkai babi di bendungan itu sebanyak 5 karung dan ada juga yang tidak terbungkus. Camat Kerambitan, I Gusti Made Darma Ariantha, Sabtu (25/1) kemarin mengatakan, bangkai-bangkai babi tersebut diduga berasal dari daerah hulu. ”Ada kemungkinan dibuang sembarangan ke sungai dan numplek di bendungan karena muaranya di Bendungan Telaga Tunjung, pertemuan dua sungai di sini,” terangnya.

Terkait hal ini, pihaknya sangat menyayangkan lantaran bangkai babi yang semestinya dikubur justru dibuang ke sungai begitu saja, yang tentunya dikhawatirkan selain mencemari air, juga dapat mempermudah penyebaran virus. ”Masalah bangkai babi sudah ditangani. Kami sudah koordinasi, baik dengan Camat Penebel ataupun pihak kepolisian Penebel untuk dilakukan pengawasan agar tidak lagi ada masyarakat membuang bangkai babi ke sungai,” ucapnya. Ia menjelaskan, kegiatan evakuasi bangkai babi itu mendapat atensi langsung Kapolsek Kerambitan Kompol Dewa Gede Putra dan Perbekel Desa Timpag, I Wayan Ardika. Usai kegiatan penguburan babi, petugas baik dari pihak kepolisian, TNI dan warga, kembali melakukan

penelusuran di pesisir Telaga Telunjung. Hal ini dilakukan agar air Telaga Telunjung tidak tercemar. Apalagi air Telaga Tunjung ini sebagian diolah PDAM untuk disalurkan ke masyarakat Tabanan untuk dikomsumsi. Sementara itu, Wayan Ardika menyambut baik respons cepat yang dilakukan guna mengatasi keresahan masyarakat. “Kami tentu resah, sebab bangkai babi ini dapat mencemari air di Telaga Tunjung dan bersyukur sudah teratasi,” ucapnya. Seperti berita sebelumnya, puluhan babi milik warga dan peternak di Desa Jegu, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan mendadak mati hampir di sembilan banjar. Babi mati ini diduga terjangkit virus African Swine Fever (ASF) atau demam Babi Afrika. (kmb28)

LRT Bandara Ngurah Rai-Kuta Diharapkan Segera Terwujud

Denpasar (Bali Post) Rencana pembangunan light rapid transit (LRT) sepanjang sekitar 3,5 km yang menghubungkan Kuta dengan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, mendapat respons baik dari pemerintah Bali. Pihak Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Bali memandang positif rencana pembangunan infrastruktur transportasi ini. Bahkan, diharapkan segera terwujud karena pemprov juga mendorong pengembangan lintasan yang lain. Hal ini diungkapkan Kepala Dishub Provinsi Bali, I Gede Wayan Samsi Gunarta, belum lama ini. Ia mengatakan Angkasa Pura I (API) telah melakukan koordinasi dengan pihaknya beberapa waktu lalu. Rencana pembangunan LRT tersebut disebut sudah sesuai rencana induk. Sekarang ini masih pentahapan untuk memulai prakarsa dalam kerangka rencana induk KA Bali. “Kami memandang positif rencana ini (pembangunan LRT Bandara Ngurah Rai-Kuta-red). Mudah-mudahan hal ini benar-benar segera bisa terwujud dengan cepat,” kata Samsi Gunarta. Sementara itu, General Manager PT Angkasa Pura I (Persero) Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali, Herry A.Y. Sikado, mengaku belum bisa berkomentar terkait hal itu. Sebab direksi belum ada kajian. “Jadi saya belum bisa komentar apa-apa,” jawabnya singkat. Perlu diketahui, proyek LRT ini akan melibatkan pihak Korea Selatan. Bahkan penandatanganan nota kesepahaman telah dilakukan di Jakarta. Proyek LRT dengan nilai investasi sekitar 400 juta dolar AS (sekitar Rp 5 triliun) itu merupakan proyek PT Angkasa Pura I yang dibangun atas kerja sama dengan PT Nindya Karya (Persero), Korea Overseas Infrastructure & Urban Development CorBali Post/dok poration (KIND) dan Korea Rail Network I Gede Wayan Samsi Gunarta Authority (KRNA). (kmb21)

Perintis : K.Nadha, Pemimpin Umum: ABG Satria Naradha Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab: Dira Arsana Redaktur Pelaksana : Made Sueca Sekretaris Redaksi: Diah Dewi Redaktur Eksekutif: Parwata Koordinator Liputan: Nyoman Winata Redaksi: Daniel Fajry, Mawa, Subrata, Giriana Saputra, Wayan Sumatika, Wirata Anggota Redaksi Denpasar: Asmara Putra, Dedy Sumartana, Yudi Karnaedi, Pramana Wijaya, Eka Adhiyasa, Rindra, Ngurah Kertanegara, Made Miasa, Agung Dharmada, Oka Rusmini, Umbu Landu Paranggi, Maya, Nyoman Winata, Ketut Winata, Wira Sanjiwani. Bangli: IA Swasrina, Buleleng: Mudiarta. Gianyar: Manik Astajaya. Karangasem: Eka Parananda, Klungkung: Bagiarta, Negara: IB Surya Dharma, Tabanan: Dewi Puspawati. Jakarta: Hardianto, Ade Irawan. NTB: Agus Talino, Izzul Khairi, Raka Akriyani. Surabaya: Bambang Wiliarto Kantor Redaksi: Jalan Kepundung 67 A Denpasar 80232. Telepon (0361)225764, Facsimile: 227418, Alamat Surat: P.O.Box:3010 Denpasar 80001. Perwakilan Bali Post Jakarta, Bag.Iklan/Redaksi: Jl.Palmerah Barat 21F. Telp 021-5357602, Facsimile: 021-5357605 Jakarta Pusat. NTB: Jalan Bangau No. 15 Cakranegara Telp. (0370) 639543, Facsimile: (0370) 628257. Manajer Sirkulasi: I.B. Wirawan, Manajer Percetakan: Tri Iriana, Marketing/Pengaduan Pelanggan: IB. Wirawan Ombudsman: Jimmy Silalahi. Alamat Bagian Iklan: Jl.Kepundung 67A, Denpasar 80232 Telp.: 225764, Facsimile : 227418 Senin s.d. Jumat 08.00-19.00, Sabtu 08.00-13.00, Minggu 08.00-19.00. Tarif Iklan : Iklan Mini: minimal 2 baris maksimal 10 baris, Minggu s.d. Jumat Rp 49.500,- per baris, Sabtu Rp 64.350,- per baris Iklan Umum: < 100 mmk Rp 50.000 per mmk, >100 mmk Rp 55.000 per mmk. Iklan Keluarga/Duka Cita: Rp 40.000 per mmk. Advertorial Rp 25.000 per mmk. Iklan Warna: 2 warna Rp 55.000, 4 warna Rp 75.000 per mmk. Pembayaran di muka, iklan mendesak untuk dimuat besok dapat diterima sampai pukul 18.00. Alamat Bagian Langganan/Pengaduan Langganan: Jl.Kepundung 67A Denpasar 80232 Tel: 225764, Facsimile: 227418. Harga Langganan: Rp 90.000 sebulan, Pembayaran di muka. Harga eceran Rp 4.000. Terbit 7 kali seminggu. Surat Izin Usaha Penerbitan Pers: SK Menpen No. 005/SK/Menpen/SIUPP/A.7/1985 Tanggal 24 Oktober 1985, ISSN 0852-6515. Anggota SPS-SGP, Penerbit: PT Bali Post. Rek. BCA KCU Hasanudin Denpasar AC: 040-3070618 a/n PT. Bali Post. Rek. BRI Jl. Gajahmada Denpasar A/C: 00170 1000320 300 an Pt.Bali Post.  WARTAWAN BALI POST SELALU MEMBAWA TANDA PENGENAL, DAN TIDAK DIPERKENANKAN MENERIMA/MEMINTA APA PUN DARI NARA SUMBER


3

Minggu Umanis, 26 Januari 2020

Pelaksanaan Siwaratri di Unhi Berlangsung Khusyuk UNIVERSITAS Hindu Indonesia (Unhi) melaksanakan Hari Raya Siwaratri. Diawali dengan persembahyangan pertama di Pura Maha Widya Mandira pada Kamis (23/1) pukul 18.00 Wita. Di malam Siwaratri para mahasiswa dan segenap civitas akademika Unhi mendengarkan dharma wacana dan dharmatula oleh Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Dwaja Hari Murti pukul 21.00 Wita. Persembahyangan kedua dilakukan tengah malam pukul 24.00 Wita. Persembahyangan berlangsung khusyuk karena suasana semakin hening. Mengingat perjalanan Lubdaka di tengah hutan di malam Siwaratri memetik daun bila, para mahasiswa yang mengikuti perayaan sampai selesai pun

teringat cerita itu. Mahasiswa Unhi semester I, Ni Putu Rismayanti (18) asal Singapadu mengatakan, perayaan Siwaratri sangat berarti bagi umat Hindu. Apalagi dirinya sebagai mahasiswa Hindu. Sebagai mahasiswa, cerita-cerita bernafaskan Hindu harus diresapi dan dimaknai dengan baik. “Meskipun tidak sepenuhnya dapat menjalankan karma baik sebelumnya dan ke depan, namun kami merenungi segala perbuatan dan dosa yang pernah dilakukan. Ini menjadi pelajaran penting bagi kami ke depan untuk berbuat dan belajar lebih baik lagi,” ujarnya. Mahasiswa kembali mendengarkan dharma wacana dan dharma tula yang diberikan UKM Kedis

SIWARATRI - Persembahyangan dalam rangka Hari Raya Siwaratri di Unhi berlangsung khusyuk.

pukul 01.00 Wita. Rangkaian Siwaratri diakhiri dengan persembahyangan ketiga yang di-puput Pinandita Pura Maha Widya Mandira pada Jumat (24/1) pukul 06.00 Wita. Rektor Unhi, Prof. Dr. drh. I Made Damriyasa, M.S., mengatakan rangkaian Siwaratri seperti ini setiap tahun selalu dilaksanakan di Unhi. Ada beberapa rangkaian persembahyangan hingga keesokan paginya. Baginya Hari Raya Siwaratri merupakan malam perenungan dosa. “Jadi kita merenung apa yang telah kita lakukan. Tentu ke depannya supaya tidak terulang lagi dengan hal-hal yang kurang baik pernah kita lakukan selama ini, sehingga ke depannya kita tidak lagi mengulangi hal-hal yang sama,” jelasnya. Implementasinya, dalam pendidikan agama bagaimana mahasiswa khususnya, bisa melaksanakan hal ini sesuai dengan Sradha dan Bhakti-nya. Ketua Yayasan Pendidikan Widya Kerthi, Prof. Dr. Phil. I Ketut Ardhana, M.A., memaknai Siwaratri dengan melihat dari sudut pandang metafisika dan filsafatnya. Mengingat agama Hindu adalah agama yang dipraktekkan. Maka pada kesempatan malam Siwaratri lebih banyak membahas tentang apa yang dilakukan setiap hari sebagai sebuah praktek melalui malam perenungan Suci atau malamnya Siwa, dibahas filsafat Siwaratri dari sudut pandang keilmuan dan filsafatnya, yaitu tidak terlepas dari tiga persoalan yaitu tattwa, etika, dan susila. (ad634)

Perlunya Membumikan Subak Denpasar ( Bali Post)Untuk melestarikan subak kepada generasi milenial, perlu diawali dengan mencintai pertanian. Sebab pertanian sebagai pembangunan ekonomi, juga menjadi way of life bagi masyarakat petani di Bali. Nilai-nilai budaya pertanian ini perlu diketahui oleh anak muda Bali termasuk aktivitas subak sebagai

sistem irigasi tradisional. Hal itu diungkapkan pakar bidang pertanian yang juga Rektor Univ. Dwijendra Denpasar, Dr. Gede Sedana, M.M.A., belum lama ini. Dia mengatakan nilai budaya subak yang dilandasi oleh Tri Hita Karana diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia (world cultural heritage), justru kini men-

Dr. Gede Sedana

galami masalah, tantangan dan ancaman yang cukup serius sebagai akibat dari tekanan internal dan juga eksternal subak. Salah satu indikator dari tantangan dan ancaman tersebut adalah keengganan generasi muda untuk menekuni pekerjaan pertanian, khususnya di lahan sawah. Faktor penyebab yang utama, kata dia, adanya anggapan bahwa pendapatan dari usahatani padi masih relatif rendah jika dibandingkan dengan pendapatan dari luar-sektor pertanian. Kondisi ini tidak dapat dibiarkan jika tidak ingin keajegan subak mulai melemah yang bahkan menuju pada terdegradasinya nilai-nilai budaya subak. Mantan dekan Fakukltas Pertanian Undwi ini mengatakan pemerintah dan berbagai stakeholder perlu duduk bersama untuk menyusun perencanaan yang inklusif untuk melestarikan subak secara dinamis di tengah-tengah pesat pembangunan ekonomi dan pariwisata di Bali. Berbagai dimensi dalam pengembangan subak perlu diidentifikasi terlebih dahulu, seperti dimensi sosial, budaya, lingkungan (hidrologi, ekologi, ekosistem), teknis, ekonomis serta wisata dan dimensi lainnya. Pelestarian subak harus dibumikan di tengah-tengah masyarakat sehingga dapat ditumbuhkan jiwa mencintai subak untuk selanjutnya terimplementasi dalam kegiatan atau tindakan-tindakan yang membangun dan mengembangkan subak ke arah yang dinamis dan progersif. Implementasi ini harus didukung oleh kebijakan pemerintah yang kondusif bagi subak dan pihak-pihak lain yang bersentuhan secara langsung maupun tidak langsung dengan subak. (025)

Penjambret Berhasil Ditangkap

Sasar WNA Main Ponsel di Jalanan Kuta

USIANYA masih 18 tahun. Tetapi aksi I Ketut Pakeh dalam dunia jambret tergolong profesional. Bayangkan, awal tahun ini saja dia melakukan aksinya di dua TKP dan sasarannya warga negara asing (WNA) yang main ponsel di jalanan. Salah satu korbannya Vasylyna Zhuk (22) asal Ukraina. Korban dijambret di Jalan Raya Kuta, Badung, dekat SPBU, Minggu (19/1) lalu. “Setelah menjambret Apple IPhone X seharga Rp 12 juta milik korban, pelaku berhasil ditangkap di Jalan Blambangan, Kuta pada 22 Januari lalu,” ujar Kanitreskrim Polsek Kuta, Iptu I Putu Ika Prabawa, Sabtu (25/1) kemarin. Ia menjelaskan, pada Minggu pukul 20.40 Wita korban dibonceng temannya mengendarai sepeda motor. Saat melintas di Jalan Raya Kuta dekat SPBU, korban megeluarkan Iphone dari dalam tasnya. Saat itulah dari arah belakang datang pelaku mengendarai sepeda motor dan langsung merampas Iphone milik korban. Korban dan temannya sempat mengejar, tapi kehilangan jejak. Selanjutnya kasus ini dilaporkan dan ditangani Polsek Kuta. Setelah dilakukan penyelidikan, pelaku berhasil ditangkap. Hasil interogasi, pelaku mengaku baru beraksi di empat TKP. Pertengahan tahun 2019, dia menjambret bersama temannya di Jalan Dewi Sartika (Kartika Plaza) Kuta. Pelaku melakukan jambret pada 30 Desember 2019 di Jalan Raya Kuta, dekat Central Parkir dan IPhone X hasil jambret dijual Rp 2 juta. Dia juga menjambret pada 18 Januari 2020 bersama temannya di Jalan Raya Kuta, depan Dewi Sri Food Court, dan hasilnya IPhone XS, lalu dijual Rp 2 juta. Terakhir pelaku beraksi di Jalan Raya Kuta dekat SPBU dan akhirnya ditangkap. “Saat beraksi pelaku naik sepeda motor Yamaha NMax warna hitam. Kadangkadang temannya jadi joki, tapi pelaku sering beraksi sendiri,” ujarnya. (rah)

Desa Adat Kedonganan Gelar ”Melaspas, Pamahayu Jagat lan Pacaruan Tawur Balik Sumpah Utama”

BERTEPATAN dengan rahina Sukra Wage, Tilem Kapitu dalam penanggalan Bali, Jumat (24/1), Desa Adat Kedonganan melaksanakan prosesi upacara Pamelaspas Catus Pata, Pamelaspas Bale Desa, dan Penunggun Karang. Untuk di Catus Pata digelar upacara Pamahayu Jagat Lan Pacaruan Tawur Balik Sumpah Utama. Ratusan krama Desa Adat Kedonganan sejak pagi hari memadati kawasan Catus Pata untuk mengikuti prosesi ini. Bandesa Adat Kedonganan, Dr. I Wayan Mertha, S.E., M.Si., mengatakan selain pembersihan pascarenovasi bangunan Catus Pata dan wantilan, kegiatan ini bertujuan mengharmoniskan Bhuana Agung dan Buana Alit. Dengan demikian, lingkungan di seluruh wilayah Desa Adat Kedonganan bisa menjadi rahayu. “Untuk di Catus Pata, selain pamelaspasan juga digelar upacara Pamahayu Jagat lan Pacaruan Tawur Balik Sumpah Utama,” katanya. Dijelaskan, sebelum dilaksanakan pamelaspasan, pihak desa melakukan pemugaran terhadap bangunan fisik dari Catus Pata. Karena kondisi fisik sebelumnya sudah banyak mengalami kerusakan akibat umur bangunan yang sudah lama. Setelah rampungnya pembangunan fisik, barulah dilaksanakan upacara ini. “Prosesi ini juga mengawali pelaksanaan kegiatan karya Ngusaba Desa yang rencananya akan dilaksanakan pada tahun 2022,” kata Mertha didampingi Penyarikan I Made Sumerta. S.E., M.M., Ak. Bendesa yang juga dosen di Politeknik Pariwisata Bali ini menambahkan, untuk pendanaan memang bersumber dari desa adat. Selain itu,

ada juga dukungan dari beberapa usaha-usaha yang ada di desa Adat. Seperti dukungan dari LPD Kedonganan, Pasar Desa, BPKP2k dan The Bangsal. “Mereka semua diajak ikut berpartisipasi mendanai, selain juga ada pemasukan lain dari desa adat,” bebernya. Dengan selesainya pelaksanaan upacara ini, pihaknya berharap agar lingkungan dan semua masyarakat ke depannya bisa lebih baik lagi. Tidak hanya untuk di lingkungan rumah tangga, namun juga lebih baik dalam melaksanakan tugas dan pekerjaan. Upacara ini di-puput tiga sulinggih, yakni Ida Pedanda Siwa saking Griya

Telaga Sanur Denpasar, Ida Pedanda Buda saking griya Saraswati Sukawati, Gianyar, dan Ida Rsi Bujangga saking griya Jimbaran Badung. Sementara, untuk sarana upakara dibuat serati banten Desa Adat Kedonganan, prajuru, serta beberapa upakara ketunas di Ida Mpu saking Griya Agung Alas Arum Tegal Wangi Sesetan Denpasar. Pada upacara ini juga dilakukan pacaruan di 9 titik yang dipusatkan Catus Pata. Adapun sarana pacaruan yakni berupa banteng, kambing, asu belang bungkem, celeng plen, bebek bulu sikep, bebek belang kalung, dan ayam berbagai jenis. (k150)

MENDEM PADAGINGAN - Bandesa Adat Kedonganan, Dr. I Wayan Mertha, S.E., M.Si., saat mendem padagingan serangkaian upacara Malaspas Catus Pata serta upacara Pamahayu Jagat, Jumat (24/1).

Dituduh Mencuri Dikeroyok hingga Tewas Polisi Sebut Muncul Kasus Baru

Mangupura (Bali Post) Seorang pria dikeroyok hingga kritis oleh sejumlah orang di Jalan Legian, Kuta, Jumat (24/1) lalu. Kabar yang beredar, pelaku dituduh mencuri sepeda motor. Ada juga yang bilang dia maling helm. Sempat dirawat di RSUP Sanglah, pria asal Jember, Jawa Timur ini akhirnya meninggal dunia. “Ya, sudah meninggal. Terlepas benar tidaknya yang bersangkutan mencuri, yang jelas sudah muncul tindak pidana baru (pengeroyokan). Pimpinan kami memerintahkan untuk memroses kasus ini,” tegas Kanitreskrim Polsek Kuta, Iptu I Putu Ika Prabawa, Sabtu (25/1) kemarin. Setelah kondisinya kritis, korban langsung dibawa ke RSUP Sanglah. Tapi sayang nyawa korban tidak bisa diselamatkan. Keluarga

korban akan melaporkan kejadian ini ke Polsek Kuta. Hasil penyelidikan dan pengecekan CCTV di Jalan Legian, dugaan pria asal Jember ini mencuri helm belum bisa dibuktikan. “Rekaman CCTV, orang tersebut seperti linglung. Anehnya, dia sudah pakai helm lalu ambil helm orang lain dan dipakai. Padahal dia masih pakai helm dan dilakukannya beberapa kali. Kalau orang normal kan tidak begitu?” ungkapnya.

Saat ini pihaknya masih menunggu laporan keluarga korban. Meski demikian pengumpulan alat bukti dan pemeriksaan saksisaksi sudah dilakukan. Video pengeroyokan tersebut viral di media sosial (medsos). Dari video tersebut terlihat jelas wajah orang-orang yang memukul dan menganiaya korban. Tentu saja rekaman video tersebut akan dijadikan alat bukti kasus pengeroyokan tersebut. (kmb36)

Polisi Amankan Pelaksanaan Usaba Muhu Muhu

Amlapura (Bali Post) Aparat kepolisian dari Polres Karangasem bersinergi dengan pecalang Desa Adat Timbrah melakukan pengamanan serangkaian pelaksanaan upacara Ngusaba Muhu Muhu. Apalagi pada Sabtu (25/1) kemarin dilaksanakan acara pemotongan hewan berupa sapi. “Pengaman ini bertujuan untuk memberikan rasa aman dan nyaman kepada seluruh warga yang akan melaksanakan rangkaian acara Usaba Muhu Muhu. Selain itu, juga mengurangi terjadinya kemacetan lalu lintas di seputaran areal tempat acara dilaksanakan,” kata salah satu anggota Bhabinkamtibmas Desa Pertima, Aiptu I Nyoman Suweden kemarin. Suweden menambahkan, Desa Adat Timbrah, Pertima, Karangasem ini menjadi salah satu desa tua di Bali. Setiap ritual adat dan keagamaan di desa ini, selalu menyimpan keunikan dengan tujuan yang mulia untuk menjaga keutuhan dan kerukunan warganya. Seperti ritual Usaba Muhu Muhu ini yang dilaksanakan dalam bentuk caru desa untuk nyomia bhuta kala menjadi bhuta hita. Sehingga warga setempat senantiasa hidup di antara keharmonisan alam semesta. “Prosesi undagi saat menyembelih sapi sebagai sarana caru ini selalu menyedot perhatian warga sekitar. Sapi yang diikat di sebuah tiang beton, ketika disembelih undagi terlihat sangat menegangkan. Sapi yang meronta-ronta saat disembelih membuat warga sekitar tegang,” katanya. (kmb41)

Bali Post/kmb41

POTONG HEWAN - Prosesi serangkaian acara pemotongan hewan berupa sapi serangkaian pelaksanaan upacara Ngusaba Muhu Muhu di Desa Adat Timbrah.


4

Minggu Umanis, 26 Januari 2020

Lingkungan dan Pola Asuh

Pengaruhi Pembentukan Kepribadian Remaja PERNAH menonton Film Joker yang disutradarai Todd Phillips? Cerita seru psikologis Amerika Serikat dengan pemeran utama Joaquin Phoenix bisa menjadi gambaran bagaimana lingkungan sosial sangat mempengaruhi seseorang berubah perilaku dan emosionalnya. Joaquin yang berperan sebagai Arthur Fleck adalah tokoh yang memiliki gangguan psikis yang menyebabkan tawa tak terkendali. Gangguan yang dialami secara biologis dan psikis ini diperparah dengan kondisi lingkungannya yang membuatnya sangat tertekan. Joaquin yang belakangan baru mengetahui bahwa ibunya memiliki gangguan kejiwaan juga membuatnya terpukul. Ia kehilangan pekerjaan, dijebak teman dengan kepemilikan pistol, kondisi ekonomi yang tidak baik dan harapan besar memiliki seorang ayah, memicu Joaquin melakukan perbuatan–perbuatan anarki seperti melukai diri sendiri hingga orang lain. Demikian gambaran seseorang bisa melukai diri sendiri dengan bunuh diri termasuk melukai orang lain. Hal ini menjadi gambaran betapa pentingnya menjaga kondusivitas lingkungan untuk memberikan otak dan hati kita tempat yang nyaman. Satu hal yang menarik dalam cerita itu adalah, dengan gangguan psikis yang dialami itu, Joaquin mendapat penanganan dari layanan sosial untuk mendapatkan obatnya. Banyaknya kasus bunuh diri dan kekerasan yang terjadi di Bali dan Indonesia pada umumnya seharusnya mampu memetik makna dari film Joker. Demikian juga seperti yang disampaikan dr. IA Putu Asthi, Sp.KJ., dokter spesialis kesehatan jiwa RS Bali Mandara belum lama ini. Bunuh Diri Asthi mengatakan ada empat faktor yang mempengaruhi seseorang untuk melukai diri sendiri, yaitu faktor biologis, psikologis, spiritual, sosiologis. Yang mempengaruhi orang bunuh diri tidak hanya dari satu faktor tapi beberapa faktor. Setiap orang membentuk pola di dalam otaknya sendiri–sendiri. Pembentukan pola ini juga dibentuk oleh lingkungan, selain juga keturunan (faktor risiko). “Kalau memang dia ada

keturunan yang depresi, biasanya risiko untuk menurunkan itu akan lebih besar, jadi kita harus memperbaiki lingkungannya,” tandasnya. Belum tentu juga orang yang memiliki faktor risiko memiliki keluarga yang depresi, keturunannya akan depresi. Hal itu tergantung juga pada lingkungan dan pola asuh. Dokter spesialis jiwa hanya mengobati biologisnya dengan pemberian obat– obatan. Obat–obatan itu akan menstabilkan hormon–hormon penyebab depresi seperti serotonin, dopamin. Ide– ide bunuh diri yang muncul dalam diri pasien terus ditekan untuk mengurungkan niat bunuh diri. Pola Asuh Keempat faktor tersebut sangat bergantung pada keluarga termasuk pola asuh keluarga. “Kita harus melihat komunikasi dengan keluarganya bagaimana, pola asuhnya bagaimana,” ujarnya. Hal yang diungkapkan Asthi sama persis dengan kondisi yang dialami Joaquin, dimana saat ia kecil ia menerima banyak kekerasan dari ibu angkatnya. Sayangnya, di Bali khususnya layanan sosial peduli kesehatan mental masih minim. Di Denpasar hanya ada satu, yaitu Rumah Berdaya. Rumah Berdaya ini pun lebih mengutamakan pemberdayaan pada ODS (Orang Dengan Skizofrenia). Sementara, orang atau remaja yang mengalami depresi berat belum memiliki tempat atau wadah untuk menyembuhkan hati dan pikirannya. Remaja yang mengalami masalah dengan psikisnya, akan kentara dari perubahan perilakunya. Maka dari itu keluarga harus menyadari perubahan itu dan cepat melakukan penanganan agar tidak sampai melukai

Rubrik “Bugar” ini terbuka untuk umum. Bagi Anda yang memiliki problem masalah tubuh. Kirimkan ke Redaksi Bali Post, Jl. Kepundung 67 A Denpasar (80232) atau hubungi Adolfina Grace Tangkudung, Sekolah Senam Lala Studio, Jl. Veteran 66E, Puri Satria Denpasar, telp. 08123843259. Cantumkan kupon “Bugar” di sudut kiri amplop.

diri, yaitu bunuh diri. “Menangis, tidak mau sekolah, mengurung diri di kamar, orangtua seharusnya aware dengan kondisi anaknya,” ujarnya. Jika kondisi ini terjadi, orang tua diharapkan tidak sungkan membawa ke psikiatri karena psikiatri akan memberikan penanganan yang terbaik. Tidak hanya berupa terapi farmakalogi tapi juga terapi psikologis. Stres Kondisi remaja yang terlihat berubah perlu diperbaiki komunikasi dan faktor stresnya. Karena remaja masih labil, belum tahu cara memanajemen stres, kepribadiannya juga belum matang. Namun sebelum menginjak remaja, orang tua harus bisa membentuk kepribadian anaknya agar menjadi pribadi yang kuat, mulai sejak kecil dan terus dikuatkan hingga remaja. “Stres yang tidak mampu dikontrol akan membuat seseorang tidak mampu berpikiran panjang. Untuk menciptakan pribadi yang kuat termasuk menangani stres adalah keluarga,” tandasnya. Media juga memiliki peran menularkan ide-ide bunuh diri. Sehingga media harus selektif dan hati-hati menampilkan berita tentang bunuh diri. Belakangan banyak kasus bunuh diri diekspos. Di media. “Itu harus berhati-hati karena itu akan memicu perilaku yang sama,” ujarnya. Masyarakat yang membaca dan kebetulan mengalami dan merasakan hal yang sama, akan mudah meniru perilaku tersebut. Di era serba modern menurutnya yang perlu disaring adalah diri sendiri, saring informasi, komunkasi. “Kalau kebablasan tanpa kontrol akan menjadi bunuh diri,” imbuhnya. (may)

STRES - Stres yang tidak mampu dikontrol akan membuat seseorang tidak mampu berpikiran panjang. Untuk menciptakan pribadi yang kuat termasuk menangani stres adalah keluarga.

Sehat dan Bugar AWAL tahun 2020 ini marilah kita mulai dengan latihan yang menyenangkan dengan menggunakan handuk agar impian bentuk paha kencang jadi kenyataan. Lakukan dengan santai setiap pagi bersama instruktur Made Yuni dari Lala Studio.

2 Gb. II Kedua kaki tutup rapat dan kedua lengan lurus depan dada. Menekukkan kedua lutut sambil mengarahkan kedua lengan ke atas. Ulangi hingga 4x8 hitungan.

4

3 Gb. III Untuk mengombinasikan gerakan tangan dan kaki, yaitu menyilangkan kedua lengan sambil menekukkan kedua lutut.

1 Gb. I Posisi berdiri tegak kedua lengan lurus ke atas memegang handuk. Angkat tekuk kaki kanan/kiri bergantian sambil mengarahkan handuk ke depan dada ulangi hingga 4x8 hitungan.

Kisara SIAPA sih yang gak pernah dengar kata move on? Hampir semua dari kita sering mendengar bahkan mengucapkan kata satu ini. Biasanya, move on selalu dihubungkan dengan hubungan percintaan. Semisal, putus dari pacar atau move on dari kenangan masa lalu. Nah, terus sebenarnya move on itu apa sih? Move on adalah serapan dari bahasa Inggris yang bermakna ‘pindah’, tetapi banyak orang yang mengasumsikan kata move di sini dengan arti yang berbeda, seperti pindah ke lain hati, pindah ke lingkungan lain, ataupun melupakan kenangan yang buruk dari masa lalunya. Tergantung perspektif dan siapa individu yang meng-

gunakan kata ini. Move on itu bersifat genera (umum), gak selalu tentang masalah percintaan tergantung pada setiap individu dalam mengartikannya. Biasanya yang mengartikan move on sebagai permasalahan dalam hubungan percintaan adalah kalangan remaja dan kalangan anak kuliah, remaja berusia 13 hingga umur 22 tahun. Karena dalam usia

Gb. IV Awali dengan berdiri tegak kedua kaki tutup rapat dan kedua lengan lurus ke belakang memegang handuk. Angkat handuk setinggi kemampuan Anda sambil menekukkan kedua lutut. Awali tahun 2020 ini dengan kegiatan yang dapat membugarkan tubuh serta membentuk tubuh ideal dan keluarga besar LKP Lala Studio mengucapkan Selamat Tahun Baru 2020.

”Move On” Bukan Berarti Melupakan tersebut kebanyakan individu terbilang dalam kategori yang masih labil dari segi emosional. Sudah banyak contohnya, sudah putus dengan pacarnya tapi masih belum bisa melupakannya. Ini memang kejadian yang sering terjadi pada usia ini. Biasanya temannya menyarankan untuk move on atau pindah ke lain hati atau membuka diri untuk menerima cinta dari pasangan yang lain. Sesungguhnya obat menyembuhkan hati, bangkit dari masa lalu dan move on bukan soal melupakan kenangan atau seseorang, melainkan bergerak maju. Kalau kamu berdiam

dalam kesepian dan kegelapan, duduk lesu menunggu waktu menyembuhkan, kamu sedang memasung diri dalam kenangan. Rasanya tentu berat, perih, dan seperti tidak ada harapan lagi ketika ekspektasi tidak sesuai dengan realita yang kamu inginkan, tapi kamu harus memaksakan diri bergerak, bergerak, dan terus bergerak maju setiap hari agar hatimu bisa pulih dan berbahagia lagi. Sebuah studi yang dilakukan di Ohio State University menemukan bahwa selama salah satu bagian otak bernama hipokampus masih berjalan normal, maka manusia tidak mungkin lupa

pengalamanpengalamannya di masa lalu. Hal yang sama juga berlaku dengan pengalamanmu, entah bersama pasangan atau orang di sekitarmu, maupun kenangan masa lalumu. Kamu akan selalu bisa mengingatnya, kecuali kamu mengidap Alzheimer. Semakin kamu memaksa diri untuk melupakan sebuah pengalaman, maka otak akan semakin memperkuat memorinya dan mengabadikan rasa

sakitnya agar nantinya tidak tersandung di hal yang sama. Jadi, untuk kamu yang masih menganggap bahwa kamu perlu melupakan untuk move on, tenang aja, kamu gak perlu berusaha melupakan kenangan atau pengalaman burukmu. Seperti pepatah bilang, pengalaman adalah guru terbaik. Untuk move on dan melangkah maju, yang perlu kamu lakukan adalah menerima hal-hal itu. Ketika kamu menerima hal burukmu, maka kebahagian dan hari baru akan menyambutmu. Karena, kamu tidak bisa memulai halaman baru.


5

Minggu Umanis, 26 Januari 2020

Capricorn Peruntungan: Mengalah demi kemenangan, itu adalah langkah yang tepat dan harus dipikirkan minggu ini. Tidak perlu memaksakan diri, jika keadaan mengharuskan Anda untuk mengalah dulu. Minggu ini saat yang tepat untuk observasi agar dapat mengetahui situasi yang sebenarnya. Kesehatan: Segala sesuatunya diambil sisi positifnya sehingga tidak sampai menimbulkan jengkel di hati. Asmara: Mengalah sajalah, buat apa bersikap ingin menang sendiri hanya untuk urusan yang sepele. Aquarius Peruntungan: Pengalaman pahit di masa lalu hendaknya dijadikan cermin bukan sebagai trauma. Bekerjalah dengan semangat karena minggu ini peruntungan Anda cukup bagus dan cukup menjanjikan. Kesehatan: Kondisi badan cukup prima, pikiran bisa berpikir dengan jernih dan hati bisa tetap tenang. Asmara: Semakin kuat saja hubungan cinta Anda, karena pengertian dan rasa saling percaya di antara kalian berdua. Pisces Peruntungan: Di balik kemujuran tersebut muncul hambatan-hambatan sehingga dalam melangkahkan kaki harus lebih berhati-hati. Waspadai orang yang lama tidak Anda jumpai, jangan mudah begitu saja percaya dengan segala ucapannya. Kesehatan: Omongan orang tidak perlu dimasukkan hati, percuma saja karena itu hanya akan membikin hati panas. Asmara: Selama tidak melanggar prinsip yang ada, mengapa tidak Anda penuhi saja. Aries Peruntungan: Hari-hari tetap cerah dan tenang serta jauh dari marabahaya. Suasana yang berprospek cerah ini sebaiknya benar-benar dimanfaatkan, jangan hanya mengandalkan bisnis yang sudah ada. Kesehatan: Hindari buah yang terlalu masam, ada baiknya Anda mengonsumsi buah-buah yang manis saja. Asmara: Ucapannya yang pedas itu muncul karena terbawa oleh suasana hati yang masih kacau. Taurus Peruntungan: Cobaan yang lumayan berat merupakan ujian untuk bisa meraih kesuksessan di masa mendatang. Hadapilah semua itu dengan sabar, bila perlu positif thinking saja. Kesehatan: Tak perlu hati panas dibawa ke tempat istirahat, karena itu akan benar-benar mengganggu sekali. Asmara: Hari-hari yang Anda lalui bersamanya akan terasa indah dan menyenangkan. Gemini Peruntungan: Coba lebih fokus dengan pekerjaan, tanpa mendengarkan dan memperhatikan perkataan orang lain. Cobalah Anda diam jika kondisi di sekitar Anda tampak kurang begitu baik. Kesehatan: Patuhilah anjuran dokter dan jangan sekali-kali melanggarnya agar kondisi badan Anda cepat pulih kembali. Asmara: Pasti semua itu akan menemukan jalan keluarnya, yang penting Anda tetap berusaha dan tidak lupa selalu berdoa. Cancer Peruntungan: Teruslah melangkah dan tak perlu ragu mengambil keputusan penting karena posisi perbintangan Anda masih berada pada jalur yang menguntungkan. Sikap rekan sekerja yang kurang simpati dengan diri Anda sebaiknya bisa disikapi dengan pikiran positif. Kesehatan: Tak perlu menuruti selera kalau ternyata hanya akan menimbulkan masalah. Apalagi saat ini karier anda benar-benar membutuhkan kondisi badan yang prima untuk menunjangnya. Asmara: Yakinlah dengan kelebihan yang ada dalam diri sendiri, itu akan menolong dari rasa minder yang berlebihan. Leo Peruntungan: Order sudah mulai mengalami penurunan. Maka dari itu prestasi kerja harus ditingkatkan, agar tidak sampai mengalami kemunduran yang terlalu berlebihan. Kesehatan: Belajarlah menerima realita yang ada dan usahakan segala sesuatunya disesuaikan dengan kemampuan yang ada. Asmara: Alangkah baiknya jika sekali-sekali memberinya surprise kepadanya, supaya hatinya tidak selalu jengkel. Virgo Peruntungan: Masih ada kesempatan dan peluang yang bisa dimanfaatkan. Kemujuran masih membayangi sehingga apa yang Anda kerjakan hari ini akan dapat menemui keberhasilan. Kesehatan: Walaupun kondisi badan sepintas tidak ada masalah, jika tidak dijaga dengan benar, maka bisa jatuh sakit. Untuk itu, berhati-hatilah. Asmara: Cobalah lebih berpikir bijaksana, cukup dengan kata-kata lembut maka hati si dia akan tentram. Libra Peruntungan: Kekecewaan yang Anda rasakan akan sulit dan lama dihilangkan. Ada baiknya harapan tersebut walau sudah di depan mata dihadapi dengan perasaan biasa-biasa saja. Terpenting tetap selalu berusaha pantang menyerah. Kesehatan: Aktivitas di siang hari cukup berat sehingga perlu memanfaatkan waktu istirahat di malam sehari seoptimal mungkin. Asmara: Sangatlah menyakitkan jika si dia sampai jatuh cinta, sedangkan diri Anda hanya mengganggapnya sebagai teman. Scorpio Peruntungan: Suasana hati terasa lebih tenang dan emosi juga lebih stabil, sehingga Anda tetap bisa beraktivitas dengan kondisi puncak. Kinilah saatnya bagi anda untuk unjuk gigi. Kesehatan: Teruslah patuhi saran dokter, jangan sekali-kali Anda melanggarnya jika tidak ingin ada masalah di kemudian hari. Asmara: Turuti saja segala kemauannya, selama itu masih dalam batas-batas kewajaran. Sagitarius Peruntungan: Masih ada kemujuran walaupun persoalan-persoalan baru mulai datang mengganggu. Maka dari itu, bila ada problem baru cobalah disikapi dengan sungguh-sungguh dan janganlah sekali-kali meremehkan. Kesehatan: Sakit kepala biasanya diobati ala kadarnya bisa sembuh. Akan tetapi jika belum sembuh juga ada baiknya Anda periksakan ke dokter. Asmara: Topik pembicaraan yang bisa merusak suasana ada baiknya disimpan dulu.

Diasuh Oleh : Ki Wongso Wijoyo Berlaku : 26 Januari - 1 Februari 2020

Harmonisasi Hidup Manusia dengan Alam Śatam virañjanyat śatam yaksmān pavpat (Atharva Veda 19.36.4) “Tumbuhan sayur Asparagus melahirkan 100 putra-putra hebat dan membasmi 100 jenis penyakit.” Menghargai ciptaan berarti menghormati Penciptanya. Merusak ciptaan berarti tidak menghargai Sang Pencipta. Seperti itulah kesadaran umat Hindu yang selalu menghargai alam semesta beserta isinya ini sebagai bentuk penghormatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mantra dari Atharva Veda di atas mewakili seluruh ajaran dan tradisi luhur para penganut ajaran Veda, bahwa Tuhan menciptakan segala jenis pepohonan dan tumbuhan penuh tujuan mulia. Tidak ada ciptaan Tuhan yang tanpa makna dan tanpa tujuan mulia. Orang hanya perlu memahami, memelihara, dan memanfaatkannya dengan benar. Sebagai contoh tumbuhan sayur Asparagus, ia mempunyai manfaat sangat banyak. Jika para ahli menyebutkan manfaat Asparagus 7 atau bahkan belasan, maka Veda menyebutkan Asparagus memiliki ratusan manfaat. Asparagus hanya mewakili (terutama dalam artikel ini) jutaan tumbuhan lain yang memiliki manfaat tiada terhingga, demi kesehatan, kesejahteraan, dan kemuliaan hidup manusia terutamanya. Hidup berdampingan dan selaras dengan alam adalah bagian dari ajaran Tri Hita Karana yang telah menjadi bagian hidup tidak terpisahkan serta menjiwai seluruh ajaran Sanātana Dharma. Menghargai alam adalah salah satu cara untuk menjadikan hidup manusia menjadi lebih sejahtera. Manusia hidup dari alam, oleh karenanya wajib menjaga dan menghargai alam. Adalah sebuah kesalahan besar bila manusia tidak menghargai dan menjaga alam, hanya bisa mengambil hasilnya saja untuk kepentin-

Redaktur Khusus weda

WAKYA Darmayasa

gan dan kepuasan diri. Manusia memang berhak memanfaatkan seluruh sumber daya alam yang ada di atas muka bumi ini karena semua itu adalah waranugraha dari Hyang Widhi. Semua telah diciptakan oleh-Nya demi kesejahteraan umat manusia. Akan tetapi, manusia juga memiliki kewajiban untuk menjaga dan melestarikan alam. Weda mengajarkan bahwa manusia boleh “memakan” Ibu Pertiwi, tetapi hendaknya “memakan” Ibu Pertiwi dengan cara menambah alam dan lingkungan menjadi semakin indah, asri, subur menghijau serta memanfaatkan demi kesejahteraan hidup semua. Manusia tidak dianjurkan untuk “membunuh” alias menghancurkan bumi yang sangat indah ini. Ada banyak cara dalam menjaga dan melestarikan lingkungan. Leluhur bangsa kita mengajarkan untuk hidup damai dan harmonis dengan alam. Budayawan Batak, Idris Pasaribu, mengatakan bahwa masyarakat Batak memiliki tradisi bila menebang satu pohon harus menggantinya dengan 3 pohon. Bukan hanya sebagai pengganti, menanam tiga pohon juga berguna untuk cadangan bagi generasi mendatang. Selain itu, pohon yang ditebang tidak boleh yang berada di sekitar kampung agar tidak mengganggu sumber air. Sedangkan leluhur masyarakat Bali menjaga hutan dengan menyayangi, menghormati, mengkeramatkannya, termasuk hewan yang ada di dalamnya. Sumber air dijaga dengan menjadikan sumber air itu sebagai tempat suci. Tidak heran kalau di setiap sumber air besar selalu ada palinggih-nya (tempat pemujaan). Beberapa suku bangsa di Indonesia masih memiliki hutan yang dikeramatkan. Hanya

MIMBAR AGAMA

PDT. I P WIDIARSANA, S.Th. KETIKA renungan ini disiapkan, saudara-saudara kita Tionghoa sedang menyiapkan diri menyambut Tahun Baru Imlek. Oleh karena itu melalui ruang mimbar agama ini, kami juga mengucapkan Gong Xi Fat Cay–Selamat Tahun Baru Imlek. Konsep dasar perayan Tahun Baru ini adalah pembaruan, menutup yang lama dan menyambut yang baru. Semoga kita semua mendapat hal terbaik dan sukses selalu. Viral juga di media sosial ketika renungan ini disiapkan video seorang nenek ditendang dan dimarahi oleh seorang pria karena diduga mencuri. Nenek tersebut diketahui bernama Rubingan (60), warga Dusun Kranggan I, Desa Jatitirto, Berbah, Kabupaten Sleman. Terinspirasi oleh itu, kemudian dipilih judul untuk renungan mimbar agama

brolan BALE BANJAR ARIDUS FENOMENA munculnya kerajaan atau keraton serta orang yang mengaku raja akhir-akhir ini cukup menggegerkan sebagian masyarakat. Meski ada yang kontra karena paham betul kalau negara ini sejak 17 Agustus 1945 dinyatakan sebagai republik yang berkedaulatan rakyat yang dipimpin presiden, yang pro juga ada. Menanggapi hal tersebut, Wakil Presiden RI, K.H. Ma’aruf Amin, menyatakan gejala tersebut sekelas khalifah, bahkan ada yang mengaku diri nabi dan hal ini mengindikasikan banyak orang yang sakit. Untuk itu, Wapres akan mengoptimalkan asosiasi

orang-orang tertentu boleh masuk untuk mengambil tumbuhan yang jenis dan jumlahnya ditentukan secara adat. Suku Kajang di Sulawesi Selatan (kompasiana.com) memiliki hutan keramat Borong Karamaka yang boleh dimasuki orang hanya jika ada acara ritual adat. Mengeramatkan hutan beserta segala isi yang ada di dalamnya sering dianggap sebagai tahayul dan kuno. Sedangkan orang yang berpikir bijak melihatnya sebagai local genius masyarakat dalam upaya melestarikan lingkungan. Melalui Keputusan Presiden RI No. 24 Tahun 2008, Pemerintah Indonesia telah menetapkan tanggal 28 November sebagai Hari Menanam Pohon Indonesia, dan bulan Desember sebagai Bulan Menanam Nasional (BMN). Keputusan ini menunjukkan kepedulian pemerintah terhadap kelestarian lingkungan, khususnya kelestarian keberadaan pepohonan sebagai paru-paru dunia. Keputusan Presiden ini patut mendapat dukungan aktif dari seluruh masyarakat terutama umat Hindu yang kaya dengan ajaran dan tradisi harmonisasi manusia dengan lingkungan. Keberadaan pohon sangatlah penting bagi kehidupan manusia dan hewan. Melalui proses fotosintesanya, pohon menghasilkan oksigen yang dibutuhkan oleh semua makhluk untuk bernapas. Akar pohon mampu menahan tanah dan mencegah longsor. Daun-daunnya menghambat laju curah hujan dan menghambat tergerusnya lapisan atas tanah yang subur. Keberadaan pepohonan menandakan kawasan subur. Pohon dan tumbuhan lainnya memiliki peranan penting dalam sebuah ekosistim. Hancurnya kawasan hutan akan menyebabkan hancurnya ekosistem karena rusaknya rantai makanan. Umat Hindu sangat berkepentingan dengan kelestarian alam karena sarana ritual persembahyangan umat Hindu diambil dari alam. Bhagavadgītā mengajarkan cara berbhakti mempersembahkan daun, bunga, buah, dan air dengan penuh bhakti, maka Tuhan

akan menerimanya (patram puspam phalam toyam yo me bhaktya prayacchati). Langsung atau tidak langsung, ajaran ini “memaksa” umat Hindu untuk menanam pohon agar bisa mendapatkan daun, bunga, buah, dan air sebagai sarana memuja Tuhan, diiringi doa agar hujan turun teratur dan bumi menumbuhkan berbagai jenis tumbuhan yang cukup untuk menghidupi manusia (kāle varsatu parjanya prthivī sasyaśālinī). Di India, masyarakat Hindu hingga sekarang masih melakukan penghormatan pada pepohonan, khususnya pohon-pohon yang disucikan, seperti Tulasi (ocimum sanctum), pohon boddhi (ficus religiosa), sejenis pohon “ancak”, beringin (ficus benjamina), mangga (mangifera indica), nim/intaran (azadirachta indica), kelapa (cocos nucifera), berbagai jenis bunga dan rumput yang disucikan, dan lain-lain. Masyarakat Hindu di Gunungkidul secara teratur melaksanakan upacara yang disebut Wisuda Bumi. Upacara tersebut sebagai bentuk penghormatan pada bumi yang telah memberi kemakmuran dan juga memohon karunia Hyang Parama Kawi agar tidak terjadi bencana di muka bumi ini. Di Bali, selain praktik keseharian dalam hidup, umat Hindu melakukan penghormatan pada pohon pada hari khusus (Saniscara Kliwon Wariga) yang disebut Tumpek Wariga, Tumpek Bubuh, Tumpek Uduh, dan Tumpek Pangatag, sebagai penghormatan pada Dewa Sangkara yang telah memberi anugerah berupa berbagai macam tumbuhan yang bermanfaat bagi hidup manusia. Bhagavad-gītā menyebutkkan bahwa kehidupan bertumpu pada yajña atau persembahan suci karena semua makhluk hidup dilahirkan dari makanan. Makanan dilahirkan dari hujan. Dan hujan turun karena pelaksanaan persembahan-persembahan suci yajña. Selanjutnya, persembahan suci yajña terlahir dari perbuatan (annād bhavanti bhūtāni parjanyād anna-sambhavah, yajñād bhavati parjanyo

yajñah karma-samudbhavah). Yajña merupakan praktik keagamaan. Tujuan agama ada pada praktik, bukan sekadar pada teori ajaran. Ketika pelestarian alam hanya pada teori, sedangkan dalam praktiknya orang merusak alam, maka terjadilah berbagai bencana alam seperti banjir dan tanah longsor. Tri Hita Karana harus dipraktikkan antara lain dengan cara tidak membuang sampah sembarangan, memisahkan sampah organik dan non organik, mengurangi penggunaan plastik, dan lain-lain. Dalam perayaan Tumpek Wariga, selain ungkapan rasa angayubagia (syukur), umat Hindu juga memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar tumbuh-tumbuhan yang ditanamnya dapat memberi hasil yang terbaik sesuai yang diharapkan. Biasanya diiringi dengan doa yang diucapkan dalam bentuk ucapan Bali sehari-hari, misalnya, “Mabuah pang ngeed… ngeed… ngeed.” (semoga berbuah lebat… lebat… lebat). Selain sebagai bahan pangan, bahan upacara, dan sumber kehidupan lainnya, keberadaan pepohonan juga memberi rasa keindahan pada batin. Orangorang berwisata ke gunung atau kebun raya untuk menikmati kesegaran udara di tengah hijaunya pepohonan. Para Rakawi masa lalu juga memuji-muji keindahan hutan dan gunung. Dalam Kakawin Partha Yajña misalnya, pada kisah perjalanan Arjuna menuju Gunung Indrakila, terdapat sejumlah bait yang mengisahkan keindahan alam yang dilalui Sang Arjuna. Salah satunya adalah, “bunga seruni kuning bagaikan subang mas menarik hati, ada pohon sanggalangit, kurawaka (red amaranth, sejenis bayam berwarna merah), kemuning, semua berbunga lebat, di bawahnya ada mata air jernih, tempat Arjuna berdiri dan mencuci muka (sarunī ri ya mās kadi suwen araras). Tumpek Wariga bukan sekadar ritual memohon anugerah panen yang berlimpah, tetapi merupakan langkah nyata pelestarian alam dengan landasan agama spiritual.

Kejahatankah Mencuri Itu?

seperti tertulis di atas. “Kejahatankah Mencuri itu?“ Judul renungan mimbar agama Kristen ini terkesan menampakkan keragu-raguan atas tindakan mencuri. Jika kita mengacu kepada 10 Hukum Tuhan, salah satu hukum berbunyi “Jangan Mencuri” (Keluaran 20:15). Juga ada pasal-pasal, ukuran hukum dan ukuran hukumannya dalam KUHP negeri kita. Karenanya, jelas mencuri adalah sebuah kejahatan yang dilarang menurut hukum agama dan hukum negara. Meskipun demikian, sebaiknya kepastian sikap ini simpan dahulu, karena kita hendak mencari bahan-bahan pertimbangannya di tengah masyarakat. Pertama, jika ada orang yang hendak mencuri motor misalnya, ada orang berteriak “maling-maling!”. Bergegaslah orang berlari menuju arah datangnya teriakan dan siap mengejar serta menangkap seseorang yang diduga sebagai malingnya. Jika telah tertangkap, digebuki oleh massa hingga babak belur. Artinya, ia menjadi korban “main hakim sendiri”. Kenyataan itu menunjukkan bahwa massa sepakat menghukum orang yang berbuat jahat dan tindakan mencuri memang sebuah kejahatan. Untuk tanggapan massa yang be-

gitu spontan, kita bersyukur, sebab orang masih peka dalam membedakan kebaikan dan kejahatan, kendati kita tidak setuju dengan praktik main hakim sendiri. Kedua, pernah terjadi dalam sebuh polemik yang dipicu oleh sebutan “kampung maling” kita temukan sikap yang sebaliknya. Artinya, seorang pejabat tersinggung saat dianggap berasal dari lingkungan “kampung maling”, padahal lembaga yang dipimpinnya adalah lembaga yang terhormat. Aneh, karena sebutan “kampung maling“ punya alasan yang cukup mendasar, sehingga tak usah marahlah dengan sebutan itu. Bahkan, sekiranya negara disebut “negara maling” asal alasannya berdasar, orang tidak boleh marah karenanya. Ketiga, dalam praktik di tengah masyarakat kita jumpai upaya pemberantasan korupsi sejak zaman dahulu hingga masa kini. Kita pernah mengenal adanya Tim Pemberantasan Korupsi, Tim Gabungan Pemberantasan Korupsi dan sekarang KPK. Celakanya, praktik korupsi masih merambah ke mana-mana. Betapa tidak, para pejabat dan abdi negara, hamba hukum dan orang terhormat, pada umumnya praktis telah dan masih tergoda oleh masalah itu. Masih-

kah dapat diharapkan kelangsungannya untuk masa depan? Hanya waktu yang akan membuktikan. Keempat, bentuk pencurian yang lain misalnya mencuri waktu, sehingga waktu kerja tersita karena dipakai mencari objekan demi menambah gaji. Mencuri kewenangan dengan menyalahgunakan kekuasaan dan wewenang, lalu memeras masyarakat untuk keperluan mereka. Atau melakukan pungutan liar, dengan terlebih dahulu menakut-nakuti warga. Mencuri hak orang dengan menerima suap untuk membuka akses ke suatu arah dan dialah yang memegang “kuncinya”, padahal orang lain berhak mendapat pelayanannya. Ada banyak cara untuk melakukan tindakan yang dapat dikategorikan sebagai “pencurian”. Untuk mengatasinya, di dalam hati kita semua perlu ada kejujuran, tetapi sayang kejujuran itulah yang masih langka di negeri kita. Kelima, ada juga “pencurian” dalam arti yang lain, misalnya kita sering bicara adanya “mencuri start” dalam kaitannya dengan kegiatan olahraga, pemilihan umum, pemilihan kepala daerah dan pemilihan presiden. Bagaimana dengan “mencuri start” pasangan calon pengantin saat menunggu hari H pemberkatan nikah mer-

eka dan bersanding di pelaminan? Nah, itu biasanya disebut pasangan “MBA” (Marriage by Accident). Kesemuanya itu adalah jeisjenis “pencurian” akibat sikap tidak sportif, tidak kesatria dan sikap mengabaikan nilai kekudusan. Sama juga merugikan pihak-pihak lainnya. Tegasnya, ada “sesuatu” yang hilang akibat tindak pencurian oleh seseorang. Nyata bagi kita, kendati orang mengetahui, bahwa mencuri itu tindakan kejahatan, orang cenderung membiarkan saja berlaku dengan maksud mencari aman sendiri. Juga biar si pelaku sendiri yang bertanggung jawab langsung kepada Tuhan. Atau jika orang hendak berharap, bahwa pada dasawarsa-dasawarsa yang akan datang julukan negeri semisal negeri terkorup di Asia atau dunia hilang dari negeri kita. Semoga anak cucu kita benarbenar hidup dalam suasana kebenaran yang dijunjung tinggi oleh seluruh bangsa. Demikan pula pencurian-pencurian dalam arti yang lain-lain. Maka kita sedang memperjuangkannya pada masa kini dan keberhasilannya dapat mereka nikmati kelak. Marilah kita ikut berjuang dengan mereka yang menghendaki terjadinya perbaikan.

Malu Dong, Jadi Raja Palsu! kerajaan, sehingga tidak ada lagi muncul kerajaan-kerajaan baru. “Tentu yang dimaksud sakit oleh Pak Ma’aruf bukan sakit perut, sakit jantung dan penyakit terkait badan, menurutku, penyakit kejiwaan atau mental. Aku jadi teringat ikhwal delusi dan halusinasi. Dalam tinjauan pakar mental, delusi diperikan sebagai gangguan mental yang penderitanya tidak bisa membedakan kenyataan dan imajinasi, menyebabkan dia meyakini dan bersikap sesuai hal-hal yang dipikirkan. Halusinasi dikatakan gejala diakibatkan sensasi yang diproses otak penderitanya, mempengaruhi kerja indranya. Berpijak pada kedua pengertian tersebut, baik delusi maupun halusinasi, katanya merupakan gangguan mental membuat penderitanya meyakini sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi. Mengkhayal jadi raja di negeri yang sudah jelas memproklamasikan diri sebagai Negara Kesatuan

Republik Indonesia sejak 75 tahun silam, sungguh aneh dan menggelikan. Boleh teringat dan tidak melupakan sejarah, namun harus sadar, di mana tanah dipijak di situ langit dijunjung. Bila hasrat menjadi raja sulit dibendung, lebih baik menjadi anggota kesenian ketoprak, ludruk dan di Bali ada drama gong, di sanalah minta berperan sebagai raja. Boleh jadi raja serius, juga jadi raja buduh atau sinting, yang selalu mengundang gelak para penonton,“ ulas Rubag. “Ulasanmu tentang delusi dan halusinasi membangkitkan ingatanku ikhwal hiperealitas. Hiperealitas adalah ketidakmampuan kesadaran hipotetis membedakan kenyataan dan fantasi, terutama dalam budaya postmodern yang dibanjiri teknologi tinggi, khususnya di bidang informasi dan komunikasi. Konsep ini pertama kali dicetuskan Jean Baudrillard yang dikaitkan dengan simulakra. Kehadiran TV, gadget bermuatan android yang membuat hand-

phone bermulti fungsi, serta internet yang awalnya melahirkan e-mail lalu digilas facebook, twitter, path, whats-up dan lain-lain, membuat hiperealitas mengusir kenyataan. Seperti kata Baudrillard, hari ini kepala kita diguyur hujan lebat informasi, namun kering makna. Sebab, dengan hiperealitas, kepalsuan bersatu dengan keaslian, masa silam berbaur dengan masa kini, fakta berkelindan dengan rekayasa, tanda palsu mewakili realitas, celakanya dusta bersenyawa dengan kebenaran. Dengan kemajuan IT yang menyebar hiperealitas, orang-orang yang berkhayal jadi raja, punya kesempatan menyalurkan hasrat meski menuai tawa dan cemooh dari masyarakat yang paham kenyataan. Ini dilakukan pencitraan yang ilmunya bernama imagologi dan alatnya simulakra. Dibekingi relasi kuasa, baik berupa modal politik, kekuasaan, harta dan ilmu pengetahuan, para raja palsu mempengaruhi pengikutnya

dengan simulasi. Khayalan masa lampau yang melayang-layang di langit diturunkan ke bumi dan dengan segala cara dipromosikan sebagai kenyataan. Simulakra hakikatnya tindakan menduplikasi fotokopi yang aslinya tidak pernah ada,“ papar Nyoman Sudiantara. “Raja palsu atau raja buduh menurutku lebih berbahaya daripada rajasinga, hahaha. Ini akibat hiperealitas yang membaurkan masa lalu dengan masa kini. Orang yang berpendidikan sangat tinggi, terlihat dari titel akademiknya, berperilaku lebih konyol dari orang buta huruf. Padahal putra yang potensial mewarisi tahta kerajaan Inggris saja, mengungsi ke Kanada bersama istrinya untuk hidup sebagai orang biasa. Kalau di Bali ada gerakan, ‘Malu dong buang sampah sembarangan‘, untuk para pemimpi jadi raja aku berseru, malu dong jadi raja palsu!“ komentar Made Surjanegara.


Bali

6

Redité Umanis, 26 Januari 2020

Rahinan Suci Siwaratri

Panguleng Manah ring Purwanining Tilem Kapitu PINAKA sinalih tunggil pakardin Ida Sanghyang Widhi Wasa sampun majanten manusané jagi ngamargiang kahuripannyané antuk makudang-kudang pidabdab lan parikrama. Antuk pikayunan lan solah sané mabina-binayan taler Sad Ripu ring angga soangsoang, sampun majanten jagi ngawinang makudang-kudang kahanan sajeroning pidabdab krama inucap ngamargiang kahuripan. Nénten arang taler jagi nemu kawéntenan sané nénten becik utawi sané ring Agama Hindu ngranjing ring sajeroning dosa. Yadiastun asapunika, kramané taler kaicén makudangkudang tetuek lan tattwa agama mangda prasida ngamanggihin kahanan sané becik tur patut saha nénten mapikayunan ngamargiang parikrama sané kabaos dosa. Ngeninin indiké punika, ring katattwan agama Hindu wénten rerahinan suci Siwaratri sané wawu lintang puniki tur ring pakraman ketah kasengguh anduk rahina panebusan dosa. Kadek Satria, S.Ag. M.Pd.H., dosen Tattwa ring Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar sané

taler Ketua Penyuluh Agama Non-PNS Nasional maosang, Siwaratri utawi rerahinan sané rauhnyané nganutin sasih utawi awarsa apisan punika sujatiné wantah rerahinan mapikayunan, ngulengang manah miwah rerahinan suci Ida Bhatara Siwa mapaica wara nugraha ring i manusané. Dresta punika kamargiang ring purwanining tilem Kapitu utawi arahina sadurung tilem Kapitu, duaning kajantenang pinaka wengi sané pinih peteng sajeroning awarsa. Ring pakraman, kantun akéh sané mapikayunan yéning rahinan suci Siwaratri punika wantah rahina ngicalang sahananing dosa sané kadruénang ring padéwékan soang-soang, nanging sujatiné punika wantah rahina paleburan dosa antuk ngawitang malih pidabdab setata mapikayunan, mawicara saha becikbecik maparilaksana bénjang pungkuran mangda nénten wénten malih parilaksana sané kasengguh dosa. “Duaning Ida Bhatara Siwa sajeroning Tri Murti pinaka déwaning palebur sekancaning parindikan ring jagat puniki. Dadosné antuk

Sampun Magentos SIWARATRI wantah rerahinan suci sané patut kamargiang olih krama Hindu pamekas ring Bali. Minakadi antuk ngamargiang pamuspan ping tiga utawi prasida ngamargiang pidabdab Tri Brata Siwaratri utawi bebratan sané patut kamargiang ring rahina inucap. Sangkaning becik lan lewih brata inucap, sinah patut setata kamargiang ring pakraman. Sakadi sané sampun ketah kapanggihin ring pakraman mangkin, dresta inucap ketah kamargiang olih para yowana Hindu pamekas ring Bali. Sakéwanten manut I Kadek Satria, S.Ag. M.Pd.H., pungkuran puniki pidabdab ngamargiang Siwaratri akéh sampun magentos, nénten sakadi sapatutnyané. Yéning katilik ring pidabdabnyané sané patut wantah kamargiang ring asiki genah minakadi ring pura utawi pasraman antuk majagra kalemah sinambi ngamargiang pamuspan ping tiga miwah mabligbagan indik agama utawi prasida becik ngamargiang Tri Brata Siwaratri. Sakéwanten ring kahanannyané mangkin akéhan kamargiang kantos kalemah antuk nangkil ka pura-pura maidehan jagi ngaturang pamuspan. Punika nénten kaucap iwang sakéwanten sampun magingsir saking kapatutan lan tetuek rahinan suci Siwaratri inucap inggih punika becik-becik miasa miwah ngulengang pikayunan majeng ring Ida Bhatari Siwa jagi nunas panuntun mangda prasida maparikrama becikan malih bénjang pungkuran tur nénten malih ngamargiang sané nénten becik. Yéning pidabdabnyané sakadi asapunika, sinah krama wiadin yowanané ngulengang pikayunanipun wantah ring margi kémanten, nénten kaaturang majeng ring Ida Bhatara Siwa napi malih nénten arang taler prasida kapanggihin parindikan sané nénten kapikayunin utawi nénten kaaptiang sadurungnyané minakadi indik pikobet ring margi. Indiké punika kapanggihin duaning akéhan krama pamekas para yowana durung tatas uning tur éling indik pamargi rahinan Siwaratri inucap rumasuk indik parikrama sané patut inggih punika becikan wantah kamargiang ring asiki genah kémanten. “Sakéwanten tiang nyantenang yéning indiké punika prasida kabecikang malih antuk setata nganikain wiadin ngicénin piteket lan dharma wacana indik ngamargiang Siwaratri sané becik miwah sapunapi tetujon lan tatatitinipun,” baos dané. (was)

Kruna AKSARA BALI

BPM/dok

SIWARATRI – Rainan Siwaratri pinaka rainan suci sané becik pisan kamargiang, tios saking ngamargiang pamuspan wiadin puja pangastuti katur majeng ring Ida Bhatara Siwa, pidabdab punika becik taler kadagingin antuk pabligbagan indik Agama Hindu wiadin Dharma Wacana miwah Dharma Tula pasraman wiadin kampus ngamargiang pamuspan sané katur majeng ring Ida Bhatara Siwa tur kaselingang antuk ngamargiang pabligbagan wiadin Dharma Tula indik agama. Indik pamuspannyané jagi kamar-

giang ping tiga, luiré; sanja ngawit jam nem, kaping kalih ring tengahing ratri, miwah sané pinih untat ngedaslemah ring jam pat utawi jam lima semengan. “Dresta Siwaratri puniki patut kamargiang duaning krama

Hindu ring Bali akéhan ngamargiang katattwan Siwa Siddhanta antuk Ida Bhatara Siwa pinaka manggalaning sajeroning Bhatara sami. Sios punika pidabdab inucap kamargiang pinaka jalaran mapikayunan saha

ngulengang manah indik sekancan parindikan sané sampun kamargiang awarsa lintang mangda parilaksana kaon nénten malih kamargiang ring warsa bénjang pungkuran,” dané nartayang. (was)

Katattwan I Lubdaka

Bencingah

Basa Bali

ngamargiang Siwaratri puniki, kramané nunas wara nugraha mangda Ida lédang mapaica panuntun mangda iraga prasida ngamargiang kahuripan antuk pidabdab sané becikan,” baos dané. Siwaratri taler kamargiang antuk ngelarang Tri Brata Siwaratri, inggih punika tetiga pidabdab sané patut kamargiang ring wengi inucap. Sané kapertama wantah Jagra sané maartos kramané nénten sirep awenginé punika, sané kaping kalih Upawasa utawi nénten ngajeng lan maineman ring awengi inucap, sané kaping tiga wantah Mono Brata utawi nénten mabaosan sané nénten becik. Indik pidabdab dresta inucap kamargiang wantah mabina-binayan duaning nganutin dresta lan kapatutan ring soang-soang wewidangan. Punika taler dados cihna kawéntenan agama Hindu sané fléksibel duaning pidabdabnyané prasida kamargiang nganutin kapatutan ring soangsoang genah. Sakéwanten sané ketah tur akéh kamargiang ring Bali, Siwaratri kalaksanayang ring pura, wewidangan suci,

BAhAsa INDONESIA

1. ginik

1. ginik/,

geli

2. gipih

2. gipi;,

bersemangat

3. girang

3. gir*,

riang

4. giri

4.

giri,

gunung

5. gisi

5.

gisi,

pegang

6. gita

6. git,

tembang

7. glogor

7. egÞoeg(o,

kandang

8. goak

8.

egowk/,

gagak

9. gocoh

9. egoeco;,

pukul

10. gogo

10. egoego,

rogoh

Sang Juru Boros Ngruruh Kawicaksanan SIWARATRI wantah sinalih tunggil rerahinan suci sané rauh nyabran awarsa apisan nemonin Purwanining Tilem Kapitu pinaka rahina utawi wengi pinih peteng ring awarsa. Rahina punika taler kajantenang pinaka rahina sané pinih becik ngulengang pikayun tur nglebur sekancan parikrama kaon sané sampun kamargiang mangda bénjang pungkuran nénten malih maparilaksana sakadi punika. Punika makacihna yéning rerahinan Siwaratri wantah rahina sané becik tur patut kamargiang saha kapikayunang tetueknyané olih krama Hindu. Sané dados cihna saking rerahinan puniki wantah satua sané kasub mapaiketan ring Siwaratri. Kabaosang olih I Kadek Satria, S.Ag. M.Pd.H. wantah satua I Lubdaka reriptan Mpu Tanakung sané kadasarin antuk makudang-kudang Purana minakadi Padma Purana, Siwa Purana miwah Skanda Purana. Ring satua inucap kawedar indik juru boros sané mawasta I Lubdaka sané geginannyané wantah ngungsi ka tengahing alas jagi maboros beburon sané ulamnyané jagi kaajeng wiadin kaadol ring pasar. Tan paunin-

gayang antuk ipun ring purwanining tilem Kapitu utawi Siwaratri, ipun ngungsi ka alasé nanging nénten polih beburon kantos wengi. Santukan sampun wengi tur nénten prasida budal, raris ipun menék ka taru Bilva sané wénten ring sisin telaga antuk pikayunan mangda nénten katadah beburon alas minakadi macan saha ngantosang manawi wénten beburon sané jagi rauh ka telaga nginem toya sané prasida kaborosin. Mangda nénten kiap tur ulung,

Dura désa

ipun ngepik-ngepik don taru inucap saha kaulungang ka telaga kantos semengan sané tan pauningayang antuk ipun wantah madaging lingga Siwa. Ipun nénten uning napi sané sampun kamargiang punika wantah pidabdab Brata Siwaratri. Risampuné ipun padem raris atmannyané prasida nuju Siwaloka. Punika kabaosang Satria madué tetuek, Lubdaka pinaka juru boros wantah niyasa manusa, geginannyané maboros sekancan beburon

utawi Pasu nanging Ida Bhatara Siwa taler kasengguh pinaka Pasupati utawi prabu saking sekancan beburon. Dadosné kartosang yéning I Lubdaka wantah niyasa manusa sané setata mautsaha mangumbara ngruruh tur nuju Ida Bhatara Siwa. Tatkala kapetengan ipun menék ke taru Bilva sané tegeh niyasa manusané sami tatkala kapetengan tur jagi nyepiang raga majanten jagi mapikayunan becik saha nincapang pikayunan ngruruh kawicaksanan sané kaniyasayang antuk taru Bilva inucap. “Sios punika, napi sané kamargiang taler niyasa saking éling ring raga indik sekancan pidabdab lan dosa sané sampun kamargiang pinaka manusa,” baosnyané. Malih dané nartayang, boya tutur I Lubdaka kémanten sané mapaiketan ring rerainan Siwaratri inucap, wénten taler sané siosan. Minakadi ring Siwa Purana kasatuayang indik kalewihan Brata Siwaratri ring Jnana Samhita sané maosang indik Rsi antuk bhaktanyané mawasta Suta nyatuayang indik Rurudruha pinaka manusa sané kalintang durjana nanging prasida ngamolihang

kabecikan tur nuju Siwaloka risampuné naenin ngamargiang brata Siwaratri. Ring Skanda Purana kabaosang indik sisya mawasta Lomasa nunas baos ring gurunyané inggih punika Para Rsi indik manusa kalintang durjana mawasta Canda sané éling ring raga raris masalin dados becik saha prasida nuju Siwaloka. Wénten taler ring Padma Purana sané maosang indik Raja Dilipa sané mabebaosan sareng Rsi Wasistha indik juru boros mawasta Nisada sané polih genah becik nuju Siwaloka wusan ngamargiang Brata Siwaratri. Ring Garuda Purana taler kabaosang indik kalewihan Brata Siwaratri pinaka panyawis Ida Bhatara Siwa ring pamitakén Ida Bhatari Parwati indik brata sané pinih becik tatkala jagi nglebur dosa. “Antuk makudang-kudang daging sastra agama utawi Purana i wawu satmaka cihna yéning brata Siwaratri wantah becik pisan tur kajantenang jagi ngawinang manusa sané papa durjana prasida nuju Siwaloka. Punika mawinan pidabdabnyané wantah patut kalaksanayang,” dané nartayang. (was)

Tandang Mendet

Sesolahan ”Ritual Adat” Ngayu-ayu AKÉH soroh sesolahan asli Indonesia sané nglimbak ring makudang-kudang wewidangan. Nyabran wewidangan majanten madué sesolahan tradisional antuk gerakan taler cihna sané matios-tiosan. Sinalih tunggilnyané sakadi sesolahan tradisional sané wénten ring Lombok, sesolahan inucap macihna pisan tur janten matiosan sareng sesolahan ring genah tiosan. Tandang Mendet wantah aran sesolahan inucap. Tandang Mendet mawit saking kruna “Mendet” sané maartos bagia utawi kasidan krama Desa Sembahulun (Sembalun) sajeroning ngemit bibit pada merah saking makudang-kudang mrana. Antuk kasidan punika, karipta sesolahan olih Nek Kertanegara sané magenah ring Rumah Adat Berugak Reban Bande Desa Sembalun Bumbung ring genah ngamargiang upacara adat Ngayu-ayu. Sesolahan inucap Tandang Mendet. Tandang Mendet kasolahang nyabran tigang warsa pinaka runtutan saking upa-

cara “ritual adat” ngayu-ayu. Satios kasolahang pinaka runtutan upacara, Tandang Mendet taler kasolahang pinaka panyambutan sané wilangan praginannyané kaanutang ring acara sané kamargiang. Nanging, ri kala kasolahang ring upacara Ngayu-ayu, pragina sané masolah nénten dados kawewehin utawi kakirangin, nanging patut nganutin ‘ritual adat’ sané kamargiang. Sesolahan puniki kasolahang olih pitung diri pragina sané makta tumbak, adiri pragina makta taméng, miwah adiri pragina makta pedang. Punika mawinan wénten sia diri pragina sané masolah. Utawi sia diri pragina makta tumbak, adiri makta taméng, miwah adiri makta pedang, mawinan akéhnyané wénten solas diri pragina sané masolah. Pragina sané makta taméng nyinahang sinunggil pamucuk payudan. Sané makta pedang pinaka pepatih, miwah pragina sané makta tumbak nyinahang bala wadwa wiadin prajurit sané pacang mayuda.

BPM/ist

Sesolahan sané kairingang antuk gamelan tradisional tembang pangkureong miwah tembang pengrum puniki sarat pisan antuk tetuek kahuripan. Gerakan sajeroning sesolahan puniki kapah dados kalih luiré penambung (nglepas mantra-mantra ngélingang para atma sané wénten ring we-

widangan Sembalun) miwah sesolahan tumbak sané kamargiang olih para prajurit sané wirang. Sajeroning gerakan inucap, tetuek sesolahan Tandang Mendet nyinahang yéning Gumi Sembalun kantun madué krama, klebitan pedang ka duur matetuek nyinahang rasa suksmaning manah ring Ida Sang Hyang

Widhi Wasa, klebitan pedang ka sor ngélingang yéning i manusa metu saking tanah tur mawali ka tanah utawi pertiwi. Gerakan-gerakan tiosan sajeroning sesolahan Tandang Mendet puniki sarat pisan antuk tetuek sané mabuat sajeroning kahuripan. (pusdat/berbagai sumber)


Redité Umanis, 26 Januari 2020

NGEET pisan Mén Sanggra wekasan rumasa sida bungah, degdeg jroning manah, tegteg maring tangkah, tan malih nyemah matanah-tanah, sesampuné ngamargiang jengah, kaulurin somah, ngabénang pianak déréng sinah, kapastikayang padem malah, ring panyingkiran alas wayah, mangda atmané ten salah ulah kasasar lampah. Pamuput sayan ngangenin ati, anaké lingsir malah malih ngati-ati, tan rahina tan wengi gering nyakit ati kamati-mati, doning nora bukti, tan pasaksi, wantah ortén-orténan orti anték-anték nrepati mélanin kompeni, ngamusuhin gumi padidi, pianak nemu pati, tadah mregapati, tangkah témbak mimis besi. “Nggraaa….Nggraaa…?” “Nah suudang amonto nyambat sara Méméné! Yan saja ia mati apang melah-melah majalan, yan ia nu idup apang melah-melah mulih …!” “Kénkén sujatiné Cai Nggra? Inguh Mémé ngenyetang…” Ketah saking nguni, kramaning anak istri, asa rasané gumanti mamurti. Pan Sanggra tan banget masadah ring rasa, nanging matadah ning pariksa pratiaksa. Kantun gamang indik kahanan pianaknyané, napi jati sampun padem sakadi panulamé, napi kantun maurip sakadi pangarepé. Pan Sanggra wantah nagingin pamineh somah, doning i mémé sané pinih raket ring raré, pinih banget ngrasayang baat-ingan, pinih leket ring panes-tis, saking kantun marupa manik akletik jroning weteng, ngembas ngemban dados wang kaweng. “Tiang las Sanggra mati, kéwala tusing las ulah pati salah pati, atmané kasasar. Jalan abénang panaké Beli!” Raos Mén Sanggra punika setata ngieng-ngieng ring koping Pan Sanggra, sané ngawinang I Sanggra kaabénang, yata durung janten pisan idup kalawan matiné. Sawuku sampun atiwa-tiwa mamargi, tan pasawa apitui. Sané kaapti ten mabukti, sané nyelé ati malah mamurti. Mawantiwanti pangucap gumi, pianak kaucap bani-bani, nglawan sri nrepati. Mén Sanggra yén upami, asah idup kalawan mati. Inguh tambis buduh, sampun labuh, malih katandruh. I Malén glincak-glincak, tan surud-surud masesimbing, wastu katandruhin olih Pan Sanggra. “Apa alih Ci mai Lén? Glandangglindeng sing karuan ada alih Ci. Ci Nyekenang I Sanggra? “Néh, kan sing pelih munyin Cangé Beli.” “Unduk apa to Lén?” “Panak Belié.” “Kénkén panak Beliné?” “Ajum-ajuman, nyelap ngejotang bangké ka alasé.” “Sing suud-suud Ci melihang I Sanggra. Kanti ia suba dadi bangké nu duga baan Ci melihang. Apa gedé sajan utang ia tekén Ci? Panyingkiran

Nyastra

Nyingkir-5 (Padem ring Panyingkiran…?) I Madé Suarsa las mati mélanin gumi. Ci anték-anték Anak Agung Penjilat Kompeni, apa bélanin Ci? Belog ajak abanjar, didian Ci nampedang.” “Cang suba marasa belog. Suba marasa ngelah panak belog, sakéwala belog iané tusing taén ngaé kéweh. Panak Beliné dueg, setata ngaé kéweh.” “Ci mula setata nagih aluh. Tusing nyak ajak kéweh. Cara jani nyén nyak kéweh, nyén bani nyingkir nglawan Kompeni?” Rumasa kéweh I Malén kandikain setata netesang kasujatian kahanan Madé Sanggra, kumantos ten polih ipun ngurusang kulawarga, ten polih ngaritang sampi padang, ten polih makarya ka sawah, tan polih matekap, nglampit, ngasah ngeneng, pragat lemah-peteng ngindeng netesang kasujatian Madé Sanggra. “Bagaimana saudala Malén. Koé gagal lagi?” “Maaf Tuan.” “Koé telus saja maaf maaf. Koé secepatnya halus tau, di mana itu olang saudara Sanggla belada. Tangkap itu orang segela, hidup atawa mati! Ngelti!!!” “Ngerti Tuan.” Ten engsap-engsap I Malén ring pabesen Kepala Polisi Welanda Van der Péter sané negesang ring I Malén pinaka Kelihan Banjar. Kekes ny-

aliné I Malén katekain, katakénin, lan katekenin olih Polisi Welanda kasarengin polisi saking Gianyar. Mén Sanggra ngawit ten arsa nunas. Sampun tigang rahina ten keni napi-napi, setata nyambat sara I Sanggra. Urip Pan Sanggra kadi kajepit batu. Sampun sedih ngenyetang pianak ten karuan-karuan, maweweh ngenyetang somah seger ten guanguan. “Kénkén né Méméné? Makejang keneh Méméné suba tuutin Beli, sakéwala Méméné tusing karuankaruan seger…? Seger naké, liu nu lakar itungang, apang tusing kumuh ngitungan enééééé dogén…!” Pramangkin Mén Sanggra engsek, rumasa sampun meratin somah, wastu wusan uyang masesambatan. Paningalané prumpung nengneng puyung, sakémaon toya ning nyelét saking bilang samping jlinjingan paningalané kalih. Sadurung mapléngkasan ngrereh pabuan, ngémpok muncuk basé, ngolésin pamor, ngepéh gambir, ngepah nyaket buah, nginang, masigsig mako, Pan Sanggra alus ngusapain riin yéh paningalan somah. Suaran ayam sambung-sinambung langah, ajebos, apalet raris siep. Cihna sirep raré, sawetara dauh pat wengi. Pan Sanggra maklebet rumasa jagi kalahin somah. Sampun awuku Mén Sanggra tan nunas napi-napi.

Napi malih dedaaran, toya aketélan jua nénten. “Méméné, kénkén ya kal idup Beliné? Suba kalain pianak, jani bin Méméné lakar ngalahin. Nggra, énggalang ja Ci mulih yan Ci nu idup, apang seger mémén Ciné. Ci dogén dané ngidaang nyegerang. Nanang suba nyerah…!” Durung puput pakaeng Pan Sanggra, asliaban katon jadma soléh nylibsib bungkil dlima dauh paoné. Soléh doning sané biasa slasah-slisih drika paling banter I Malén lan pianak-pianakipuné, nyama-nyama sarurung, sami ten wénten madrebé jejaeg sakadi punika. Pan Sanggra cenidra, anték-anték Malén nylisib, utawi manusa sakti madaya corah nekain. “Ih nyén Ci?” “Cang Nang.” “Cang nyén?” “Sanggra.” “Sanggra?” Lipia ring padéwékan sada pérot lantaran naenin labuh ring pangkung sisin umané, makasuak Pan Sanggra nyagjagin pianaknyané, nylekep sinambi nekep bibih I Sanggra wastu nénten katah ngraos, mangda ten katanggehang sapatekanipuné. “Nang…” “Nengil, nengil, tengilang awaké, jlema liu slasah-slisih, nyanan tawanga benya teka, tangkepa Ci!” “Tangkepa, Cang sing kénkén. Cang ba siap.” “Nah, bin pidan ta urus. Jani mémén Ciné jalan urus!” Sareng kalih ngungsi pasaréan Mén Sanggra. Tan sah, napi sané nibénin Mahatma Gandhi duké riin, nibénin Pan Sanggra sané mangkin. Bulan-bulanan Gandhi nyantos ring samping Bapannyané gering rahat, wekasan mangda tastas ngaton Bapannyané padem ring sampingipuné. Nanging katinggal ajebos antuk banget Gandhi dahat kadaut ring somah, ri kanjekan ipun mawali sawus atemu tangan, Bapannyané sampun ngalahin. “Mé…” “Nggra…” Tulén sakadi Carita Sam Pik, pegat munyi, pegat angkihan. Jakti-jakti wantah paduma abuku ngraos, ritatkala digelis Sang Hyang Kala Mretiu nyabut Sang Hyang Atma saking stula sarirannyané Mén Sanggra. Pan Sanggra nguni sampun lascarya. Kamanah antuk ipun sampun nguni somahnyané patut sampun padem. Rinasa-nasa atman somahnyané sampun lepas saking angga, sakadi anglayang-nglayang luhuring angga sampun kaku. sakémawon wantah kantun nyantos sapatekan I Sanggra. I Malén gegangsaran ancab-ancab nglapor ring Kantor Bivak yéning I Sanggra sampun mawali, sampun dados tangkep. -0-

Nyoman Kirana Putri Maira Wiadnyana

Satua

”Pengalaman” pinaka Guru sané Utama

Galuh Payuk (9) Kaketus saking Satua-satua Bali (V) KACARITA lingsir sanja suba lantas teka I Tiwas luh muani uli ngalih gaé. Nu joh suba asira jukut bé siapé, wiréh basangné suba seduk gati. Lantas ngomong, “Béh nyén sih ngaé jukut bé siap, nyursur bonné nganteg mai. Nyai tusing ngadek?” “Yéh sajaan né,” kéto pasaut Mén Tiwasé. “Yéh to to nanangé, tingalin ja! Dadi kedas gati natahé laadé masampatang, nyén sih olas nyampatang. Yéh ih Pan Tiwasé, mai ja delokin, to dadi ada magenep di lenggatan paoné, nyén ja ngejang? Yé ih, né nasi suba lebeng, ento bé gerang mabasa blingbing, déngdéng pada ento di klakaté, ento jukut bé siap mawadah payuk. Beneh ya nyursur bonné ngiruk cunguh. Yé cirin kénkén ya né aah Bapané?” Masaut Pan Tiwas, “Cirin kénkén nyen orahang, jabin cirin basang betek. Nah, jalan té suba daar dogén, nyak ya ngranaang mati, dong suud ya kéné kesakitan ngalih dedaaran!” Ngomong Mén Tiwas, “Ah endén té malu awak ngiwasin payuk, sing nyen palinga tekén anaké ngaénang dedaaran. Mimi aget nu di tongosné, yan ento ilang tekan mati awaké sedih.” Suba suud kéto lantas ia madaar. Béh nyendi-nyendi koné sopan Pan Tiwasé baan tumben naar ané jaan-jaan. Sesubané pada suud madaar, lantas mapaomongan ajaka dadua, ngomongang undukné makejang suba pada ada lebeng matah di umahné. Buin mani semengané, I Tiwas luh muani tusing ngalih gaé, nanging ia mengkeb di durin kubunné, sawiréh ia makeneh nawang anaké ané ngaba magenepan ka kubunné. Kacarita suba dauh telu sawatara, dingeha munyin kéné di arep kubunné, “Troktoktok dengkok-dengkok-dengkok.” (Masambung)

ANAK alit puniki yukti jegég tur alep pisan. Aran jangkepnyané Nyoman Kirana Putri Maira Wiadnyana. Dané sané ketah kasengguh Kirana puniki akéh madué kasenengan sané pamuput prasida ngateh dané ngamolihang makudang-kudang prestasi. Kawagedan taler kasenengan dané taler prasida ngawi bangga tur bagia rerama sareng kulawargandané. “Kasenengan taler kabisan sané kaduénang sampunang kasumbungang kémanten, nanging patut kasinahang tur kauji majalaran nyarengin lomba,” baos Kirana. Murid kelas V SD Sarasawati 3 Denpasar puniki maosang, nyarengin lomba boya sawates nguji kabisan, nanging taler nincapang pauningan saha nincapang kabisan sané kaduénang. Sapunapi kémanten asilnyané pastika wénten pikenoh becik sané kapolihang. “Tiang nyarengin lomba boya sawates mangda polih juara, nanging lewih ring ngruruh pengalaman. Kocap, pengalaman wantah guru sané mautama,” weweh Kirana sinambi makenyung. Anak alit sané embas ring Denpasar, 25 Juni 2009 puniki sampun madué akéh pengalaman sajeroning nyarengin makudangkudang lomba. Soroh lomba sané kasarengin akéhan indik nyinahang daging pikayunan majalaran ekspresi miwah kruna, inggian ring lomba seni lan budaya Bali. Dané ketah nyarengin lomba nyurat miwah ngwacén puisi mabasa

Bali miwah mabasa Indonesia, masatua, mapidarta, miwah utsawa dharmagita. “Satios punika, tiang ketah nyarengin lomba seni tradisi taler budaya Bali,” baos Karina. Kirana ngangken ketah makarya puisi. Minakadi makarya puisi antuk murda “Tanah Airku”, “Bunda”, miwah “Guruku”. Yéning masatua, dané naen masatua indik Itihasa. Daweg punika dané ngambil carita indik bhakti Sang Bima majeng ring Bhagawan Drona. Kirana nyinahang carita punika antuk agem-ageman sané ngulangunin pisan. “Sajeroning carita punika, tiang patut sida masolah sakadi Bima, Raksasa, Dewa-dewi miwah Sang Guru Bhagawan Drona. Ketah tiang ngawigunayang property miwah piranti sané kabuatang manut carita sané kalampahang,” Kirana nyaritayang. Pianak kaping tiga pasangan I Gede Ari Wiadnyana - Ni Nyoman Maya Ratna Sari Dewi Thama puniki sampun mupulang makudang-kudang prestasi saking kasenengan dané punika. Minakadi; Juara I Lomba Puisi Bali tingkat SD se Bali KBOR Stikom Bali 2019, Juara II Lomba Bercerita tingkat SD se-Kota Denpasar 2019, Juara II Lomba Bercerita Prov. Bali 2019, Juara II Lomba Mapidarta Basa Bali tingkat SD sané kamargiang olih SMP Negeri 3 Denpasar 2019, Juara Harapan II Lomba Utsawa Dharma Gita Provinsi Bali 2019, Juara I Lomba Berpidato tingkat SD Book Fair Kota Denpasar 2018, miwah Juara II Lomba Puisi SD se-Bali Undiknas warsa 2017.(kmb)

7 Cerakén Lengkara Punggelan geguritan puniki kanggén ngulati basa lan aksara Bali. Kapunggel saking Geguritan Cokli sané kakawi olih Djelantik Santha. Kaolah antuk : Pangremba Bali Orti

pupu;mijil/. Pupuh Mijil 9.kp&tigmenomyekosi,

Kaping tiga Manomaya Kosi, h\ásenhlus/,

angga sané alus, enkw\unã¡ai÷nÑËiyen,

né kawangun Budhi Indriané, senksubåÛ\unæÉibdi,

sané kasub ngwangun pribadi, hlusßiw;w)ci,

alus miwah weci, ctu(ewdenmnunÓ¡n/.

Catur wédané manuntun. 10.kp&h)mætÙijÂnmyekosi,

Kaping empat Vijnanamaya Kosi, h\án&pmin);,

angganing pamineh, enkw\unÀnÓ¡kéÄnen,

né kawangun antuk Jnanané, sk&cucudßljh*buai,

saking cucud malajahang budhi, ds(pulk$`i,

dasar pula kerti, k(m|lenm\put/.

karma phalané mangaput

Saking Langit Bali Sepet yéh paningalan sané ngetél mapinda manik bulan tur aturang ring wengi mangda galang bintang-bintang keneh milu ngumbang nuju kanem nyujuh kapitu gulem dedet rasa sepet

Mapunya apa adané ané mentik dini di selagan kenehé sajabaning putek kadung mapunya ngilit tangkah kadi kaleleb yéh mata sing nyidayang kampih mausehan nyilem ka dasar dalem apa buin kruna konden pragat Nengah Patra 1941


8

Minggu Umanis, 26 Januari 2020

Ular Naga Panjang

Sajak Ibu Tanah Sengketa ibuku tanah selasih kau sudah tahu air yang mengalir di sepanjang sungai ini bersumber dari mata air yang diperah dari puting susu ibuku betapa nikmat kau kecap sambil menebarkan petaka di tanah yang diupacarai untuk para dewa (terkutuklah jika membiarkan orang-orang hitam berjubah kekuasaan menggusur ibuku dari tanah moyangnya)

Pada tubir kenangan masa kanak-kanak kaki-kaki kita berjajar berpegang pundak teman sejawat mengular bersenandung dua anak lain menjadi gapura tempat lintasan kenangan berkelebat selaik ular naga meninggalkan kesan di pundak kisah sebaik itu, satu per satu kita mengucap pisah

ibuku tanah selasih adalah ibu yang mengupacari setiap nafas kehidupan bagi semua mahluk. ibuku tanah selasih adalah ibu yang memeram akar tembuniku di ubun-ubunnya ibuku tanah selasih adalah ibu yang dengan berani bertelanjang dada menghadang deru mesin-mesin bulldozer ibuku tanah selasih adalah ibu yang meyerahkan seluruh tubuhnya untuk kau nikmati dala m pesta mabuk air mata ibuku tanah selasihadalah ibumu karena kau telah menikmati tubuh ibumu sendiri di balik bayang gerhana masihkah punya kehormatan dalam nafsu serakahmu?

Sampai malam purnama kemarin aku masih menyimpan nama-nama kalian meski pisah kita masih teman bermain dan berjaga dengan keriangan tak satu pun luput dari ingatan. Ika Marwah Taman bermain, 2020

Di Studio Made Budhiana pohon - pohon liar di kanvas basah di kertas using burung - burung terperangkap di dalamnya bersarang dan memeram tualang penyair adakah kau tebar sihir dengan mantra tanpa kata?

GM. Sukawidana Denpasar, Desember’19

lautan warna berurai disusur angin menempel di dinding - dinding kayu ini wilayah pengayauan baru tapi tak kudapatkan akar cambium yang menyimpan pahatan jejak moyang pohon - pohon liar merambat ke seluruh pembuluh darahku bermuara di kanvas - kanvas basah di kertas - kertas usang GM. Sukawidana Denpasar, 2018

Sabda Kunci

Singsing Lengan Pudar Sabda tak selalu benar Sabda mereka Mereka yang berteriak pada rapat Padahal matanya tertidur Mereka suarakan damai Padahal lubuknya bertarung Kau tak perlu kunci Semua pintu telah kau buka Untuk apa benda kecil Dan kau terbelenggu Kau bahkan tak paham Engkau diluar Atau didalam Kau tak butuh kunci Kau adalah kunci Kunci adalah nafasmu

Titik kian memudar Tampak jauh menyingsing liar Tak guna nafas panjang Kau singsing lengan Celana komprang, sobek Liarlah Angkuhkan damaimu Kalau kau diikat dengan tali Kau adalah pisau Kalau kau dihantam dengan batu Engkaulah air itu Kalau kau menolak larut Sebab kita doa ditunggu maut Edwin Anugerah Pradana Surabaya, 2018

Prosesi Ngandusin karya Gabriella Okki Alfian

Trance Trance karya Gabriella Okki Alfian

Edwin Anugerah Pradana Surabaya , 2018

Sanghyang Dedari Masolah 1 karya Gabriella Okki Alfian

Mengabadikan Sanghyang Dedari ”Masolah”

BALI dengan keragaman seni, adat dan budayanya yang khas, unik dan eksotis, ibarat samudra mahaluas bagi seorang fotografer yang tak pernah tuntas untuk diarungi. Sepanjang tahun, selalu saja ada event atau festival budaya menarik yang sangat menantang untuk diabadikan. Salah satu event menarik yang senantiasa dinanti-nanti fotografer adalah pementasan Sanghyang Dedari di Desa Adat Geriana Kauh, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem. Tarian sakral yang dipentaskan setahun sekali atau bertepatan dengan Purnama Kedasa ini sudah mendapatkan pengakuan dari United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sebagai warisan budaya dunia yang hampir punah. Jika Anda tertarik mengabadikan Sanghyang Dedari ini, berikut tips praktis dari Gabriella Okki Alfian yang bisa dijadikan panduan. Patuhi Aturan Menurut fotografer yang sudah meraih berbagai prestasi membanggakan di kompetisi fotografi, memotret event budaya apalagi yang bersifat sakral seperti Sanghyang Dedari, seorang fotografer tidak hanya dituntut memiliki kemampuan fisik yang prima semata. Namun, ada semacam “rambu-rambu” yang wajib ditaati oleh para fotografer untuk mengabadikan momen tersebut. Mulai dari masalah etika,

perizinan, adat budaya setempat, situasi lingkungan memotret, cuaca dan peraturan panitia. Agar bisa memotret acara seperti festival dengan baik, ada baiknya membekali diri dengan pengetahuan budaya yang berhubungan dengan event tersebut. Misalnya, apakah makna dan tujuan dari pementasan Sanghyang Dedari tersebut, peralatan apa yang digunakannya dan siapa saja yang terlibat didalamnya. Tak kalah pentingnya adalah mengetahui rangkaian acaranya karena dari situ kita bisa mengatur posisi pemotretan, apa yang perlu dipotret, dan sebagainya. Pastikan datang lebih awal dan siap dengan peralatan fotografi yang paling tepat untuk mengeksekusi momen tersebut. “Dalam sebuah event budaya, pihak panitia biasanya menerapkan beberapa peraturan. Misalnya, izin akses masuk ke tempat acara, batas pemotretan dan sebagainya. Pahami dan patuhi aturan yang dibuat panitia, karena hal ini nantinya berhubungan dengan perlengkapan fotografi yang harus dibawa,” ujarnya. Tak kalah pentingnya, kata Gabriella, hormati adat-istiadat masyarakat setempat. Mengingat event itu digelar di lingkungan pura, maka gunakanlah pakaian adat sehingga akses menuju lokasi acara tidak terhambat hanya lantaran masalah pakaian. Jika ada ketentuan larangan memotret

dengan menggunakan flash atau posisi memotret tidak boleh berdiri, maka patuhilah aturan tersebut. Memahami dan menghormati adat istiadat dimana kita akan memotret bersifat mutlak, sehingga kita tidak mendapat masalah yang nantinya membuat kesempatan kita untuk mengabadikan event itu terbuang sia-sia. “Ingat selalu menjaga jarak dengan pelaku festival sehingga mereka dapat beraktivitas dengan nyaman tanpa merasa terganggu. Mengingat objek yang kita potret bersifat religius atau sakral, maka pastikan kehadiran kita di sana tidak mengganggu prosesi atau ritual tersebut,” katanya mengingatkan. Kondisi lowlight Lantas, peralatan fotografi apa saja yang harus dibawa? Menurut Gabriella, lensa dengan focal lenght 24-70 mm dan 70-200 mm sudah mencukupi. Atau jika mau lebih aman lagi dan tidak mau dibebani dengan peralatan fotografi yang berat, sangat disarankan membawa lensa sapu jagat atau lensa dengan focal lenght 18-300 mm atau 18200 mm. Lensa ini memungkinkan kita mengabadikan objek dari jarak dekat maupun dari jarak yang agak jauh. “Saat memotret Sanghyang Dedari, kita akan dihadapkan dengan kondisi pencahayaan yang sangat minim atau lowlight yang memaksakan kita menggunakan ISO tinggi. Jadi, pastikan kamera kita memang andal digunakan

untuk kondisi seperti itu. Terkait pengaturan speed, diafragma, ISO, white balance, komposisi dan sebagainya, itu sangat tergantung dengan kondisi di lapangan,” tegasnya. Gabriella menuturkan, pementasan Sanghyang Dedari diyakini sebagai media penolak bala dan kesuburan dalam proses bercocok tanam. Tarian ini diawali dengan prosesi ngandusin atau pengasapan yang merupakan sebuah prosesi penting, yakni penghadiran yang gaib melalui asap atau pasepan. Asap dan bau-bau-an tertentu akan cepat mengantarkan kekuatan tersebut masuk ke dalam wadahnya, yakni penari perempuan yang belum akil balig. Asap juga media yang paling cepat mengantar kesadaran penari dalam wilayah trance. Prosesi ini dilakukan di dalam pura dan dipimpin oleh seorang pemangku. Saat prosesi ini berlangsung hanya kaum perempuan yang diperbolehkan masuk ke dalam areal pura tersebut. Setelah para penaril memasuki kondisi trance, mereka akan dibopong oleh ibu-ibu warga setempat untuk keluar dari pura menuju pelataran desa yang telah disiapkan untuk menari. “Selama pemotretan, ingat selalu mematuhi segala peraturan yang telah ditetapkan oleh panitia. Jangan sampai keberadaan kita di sana justru menganggu kekhusyukan krama desa adat dalam mengikuti ritual tersebut,” katanya mengingatkan. (ian)

Sanghyang Dedari Masolah 2 karya Gabriella Okki Alfian

Menari di Bawah Hujan karya Gabriella Okki Alfian


Bud aya

Minggu Umanis, 26 Januari 2020

9

’’Caru Nawa Gempang’’ Hindari Penampakan Bhuta Cuil Pengganggu Siswa Denpasar (Bali Post)Jika ada sejumlah sekolah siswanya kerauhan, itu akibat diganggu oleh makhluk halus berwajah aneh-aneh. Dalam ajaran Hindu, tugas tersebut dilakukan oleh Bhuta Kala Cuil. Hal ini disebabkan banyak hal, seperti lahan tersebut belum pernah diupacarai, pernah terjadi pembunuhan atau masalah lain. Sebab kemungkinan besar lahan belum pernah di-prateka memunculkan Bhuta Cuil yang tugasnya menampakkan makhluk aneh guna menganggu siswa atau penghuninya. Untuk menetralisir energi negatif tersebut perlu diadakan upacara C a r u Nawa Gem-

pang. Upacara inilah yang dilakukan di SMK PGRI 3 Denpasar, bertepatan dengan puncak upacara Padudusan, Mendem Padagingan gedung dan parahyagan baru di sekolah tersebut, Jumat (24/1) lalu. Upacara di-puput Ida Pedanda Putra Lor Singarsa dari Griya Buduk, Badung. Upacara Caru Nawa Gempang, menurut Ida Pedanda Putra Lor Singarsa adalah bagian dari Tawur Wrespati Kalpa dengan hewan korban seekor kambing, anjing belang bungkem, angsa dan sembilan ayam. Caru ini tergolong tingkat madya untuk mengharmoniskan alam lahan sekolah. Caru Nawa Gempang bertujuan melakukan pembersihan sekala lan niskala segala jenis leteh dan energi negatif atau bhuta kala d i

Ida Pedanda Putra Lor Singarsa

sembilan penjuru lahan sekolah. Dengan demikian siswa dan guru tak diganggu oleh penampakkan wajah yang aneh-aneh saat belajar dan mengajar. Energi negatif tersebut, kata Ida Pedanda, bisa berupa kehidupan yang belum pernah di-prateka atau pernah terjadi masalah lain pada penghuni sebelumnya. Jika tidak di-prateka, akan mengundang kehadiran Bhuta Cuil yang bertugas menampakkan wajah-wajah aneh kepada penghuninya. Inilah yang dikhawatirkan akan muncul di sekolah jika tak lebih awal diupacarai. Upacara ini, kata Ida Pedanda, sangat penting pada lahan-lahan baru yang belum pernah di-prateka atau diupacari. Apalagi bekas lahan sengketa dan lama dikosongkan sehingga banyak mengundang makhluk halus. Caru Wrespati Kalpa diambil agar semua energi negatif berada pada tempatnya alias nyomia serta tak mengganggu makhluk lain. Sedangkan upacara Ngenteg Linggih diartikan sebagai langkah awal permulaan proses kehidupan guna menjalani proses berikutnya. Kepala SMK PGRI 3 Denpasar, Drs. I Nengah Madiadnyana, M.M., membenarkan Karya Ngenteg Linggih dan Caru Nawa Gempang serta Wrespati Kalpa dilakukan karena lahan 22 are sebelum dijadikan sekolah lama tak digunakan alias ditelantarkan. Upacara ini dilakukan agar energi negatif tak menganggu warga sekolah. Makanya semua energi negatif di seluruh penjuru di-prateka oleh Sulinggih kemudian di-larung ke laut. ‘’Sekalipun dengan biaya besar,

upacara ini kami pilih agar warga sekolah nantinya merasa aman dan nyaman menjalankan tugasnya. Siswa tak diganggu Bhuta Cuil yang suka menampakkan yang aneh-aneh,’’ tegasnya. Upacara Melaspas dan Ngenteg

Linggih di SMK PGRI 3 Denpasar diawali dengan Mendem Padagingan di palinggih Padmasana, Tugu Karang dan Indrabelaka. Saat itu dipentaskan wayang kulit dengan judul ‘’Sutasoma’’ oleh dalang Ida Bagus Ngurah, mantan Kepala SMAN

8 Denpasar. Sementara tari Rejang Dewa ayah-ayah dari putri para guru, Baris Gede serta Topeng dilakukan siswa Trigriska. Sementara Rejang Renteng oleh guru dan karyawan. Upacara diakhiri dengan persembahyangan bersama. (025)

NAWA GEMPANG - Nengah Madiadnyana ngayab Caru Nawa Gempang dengan korban kambing guna nyomia bhuta kala agar tak mengganggu siswa di sekolah.

Tumpek Wariga, Pemujaan kepada Dewa Kesuburan Mangupura (Bali Post) “Kaki-kaki, i dadong dija? I dadong jumah gelem kebus dingin ngetor. Ngetor nged, nged, nged, buin selai lemeng Galungan, apang mabuah nged”. Doa tersebut diucapkan umat Hindu di Bali pada pohon atau tanaman berbuah yang dimilikinya saat Tumpek Wariga, Sabtu (25/1) kemarin. Pengucapan kalimat tersebut dilakukan saat menghaturkan sesaji pada pohon yang kemudian menggetarkannya atau memukul pohon itu dengan batu. Hal tersebut diterangkan I Ketut Suwena, seorang petani di Buduk,

JOB VACANCY LOWONGAN KERJA “Dcr Tenaga CS Wanita, di Jl.Cargo, Hub.(0361) 415929" B.BP.004.01.20.0000628

Dcr 2Sales,2Operation,2Driver Travel Hub.0361-235700 B.BP.004.01.20.0000633

Dcr PRT Asuh Anak,Tgl .dalam Hub.087862433316 B.BP.001.01.20.0000574

LOKER

SERVICE

BIRO JASA

Badung, Sabtu (25/1) kemarin. Menurutnya, ritual pada Tumpek Wariga atau yang sering disebut Tumpek Uduh atau Tumpek Bubuh tersebut merupakan perayaan untuk pemujaan dewa penguasa kesuburan. Tumpek Wariga dirayakan tiap enam bulan dalam perhitungan kalender Bali, yakni pada Wuku Wariga, Saniscara, Kliwon. Sekitar 25 hari sebelum hari raya Galungan. Oleh karena itu Tumpek Wariga juga disebut dengan Tumpek Pangarah atupun Tumpek Pangatag. “Pada ritual yang dilakukan saat Tumpek Uduh, di sini untuk memberi tahu pohon agar berbuah

lebat. Karena lagi 25 hari akan Galungan”, kata Suwena. Pensiunan pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Badung ini menambahkan, bahwa pohon yang diupacarai saat Tumpek Uduh biasanya pohon kelapa atau tumbuhan buah-buahan. Dengan ritual tersebut diharapkan tanaman berbuah seperti kelapa dan lainnya dapat berbuah dengan lebat menjelang hari raya Galungan. “Dengan ritual ini diharapkan pohon dapat berbuah banyak, supaya buahnya tersebut dapat dipakai magalungan”, tambah Suwena. (eka)

Dicari Sopir SIM B1 Pria Umur Max. 35th&Helper Pria max 30th untuk kerja di Perusahaan CV Surya Buana Jl.Sekar Sari No. 23 Dps Timur Hub.081337070443

Dcr Sopir SimA/B1,Ceker,Gudang usia max 35th,min SMA,Lamaran PT.Maya Bali Utama Jl.Gatsu II BI No.6 Dps Hp.08124646409

Dicari min SMK/SMA: Staf Adm, Cleaning Service, Gardener, Teknisi Komputer/IT,Waiter/ss, F&B Product (Pastry,Kitchen) Kirim ke Bali Bakery, Jl.Raya Kuta 65, Kuta Telp.755149.

PT.Kura Kura membutuhkan Bus Driver SIM B1 Umum Gaji Menarik + Incentive, Lamaran + CV: eka_e@kura2bali.com Jl. Bypass Ngurah Rai No.88 Kelan Tuban Badung Ph:0361-708761

B.BP.001.01.20.0000520

B.BP.004.01.20.0000631

B.BP.001.01.20.0000627

B.BP.004.01.20.0000600

TUMPEK WARIGA Seorang petani buah tengah melakukan ritual pada pohon buahnya di Buduk, Mengwi, Badung saat Tumpek Wariga, Sabtu (25/1) kemarin.

Wanted / Job Offer Assistant / Graphic Design for an international company.Skills required:good organizational ability & English Please contact Tom at: tom@wla.us.com / Whatsapp +49 176 8305 9432 B.BP.004.01.20.0000560

Dicari Markom pengalaman tidak diutamakan. Kirim CV ke iklanbp@yahoo.co.id telp. 081 802 411 818 G.01

Dicari Staff Analis Kredit Laki-laki min SMK Akunting Hub.081337613731

B.BP.004.01.20.0000536

Dibutuhkan Housekeeping untuk vila di Kerobokan,081558582536

PROPERTY

BIRO JASA

DIJUAL TANAH

Sy Siap Bantu bayarkan,Laporkn

Djl Tnh Kav aspek Perum.Dentim dkt dr Jl.Induk 081337141817

Pajak Hotel & Restaurant,Toko

B.BP.001.01.20.0000635

B.BP.004.01.20.0000561

DIJUAL MOBIL SUZUKI

Dijual APV Arena GX 2011 warna Hitam Hub.0818356132

B.BP.001.01.20.0000630

PROPERTY DISEWAKAN GUDANG

NPWP,SIUP. HP:081.338.344.155 B.BP.001.01.20.0000105

KEHILANGAN Hlg Buku Keur Nosin 4D56C90357

Disewakan 2 are Gudang+Kantor Jl.Gatsu I Hp.081999915888

8 DK8819BZ An.Norman, Denpasar

B.BP.001.01.20.0000624

B.BP.001.01.20.0000625


10

Rem ja

Tak Mesti Tampil Eksotis untuk Dapatkan ’’Follower’’ dan ’’Like’’ INSTAGRAM saat ini menjadi salah satu media sosial yang populer di kalangan remaja, termasuk bagi kalangan remaja Bali. Terbukti banyak orang Bali yang kini sukses berkat menjadi selebgram. Selebgram berasal dari kata selebritis dan instagram. Mereka yang menyandang status sebagai selebgram adalah orang yang memiliki banyak pengikut atau follower dan setiap postingannya mendapatkan banyak like. Akhir–akhir ini, jumlah selebgram terus meningkat. Menjadi selebgram adalah sebuah bentuk kreativitas yang didukung oleh kecanggihan teknologi berupa media sosial. Menjadi selebgram juga tidak mudah, karena memb ut uhka n b a ny a k ide yang unik

dan menarik sebagai bahan untuk membuat konten yang kreatif. “Diperlukan keahlian lainnya, seperti foto dan video editing untuk mempercantik tampilan feed di Instagram,” kata Anak Agung Mia Intentilia, S.IP., M.A., pemerhati komunikasi media sosial. Dosen Undiknas ini mengatakan, menjadi selebgram adalah sebuah kebebasan untuk berekspresi di Instagram. Saat ini banyak selebgram yang menggunakan video-video lucu untuk menyampaikan pesan-pesan sosial dan hal itu mudah diterima oleh masyarakat. Namun di sisi lain, tentu ada beberapa kritik yang muncul. Terutama dalam hal ada orang-orang yang mengunggah fotofoto eksotis mereka. Itu adalah hak setiap orang dalam mengekspresikan diri melalui foto. Belum tentu semuanya bertujuan hanya untuk mencari follower atau like. Akan tetapi, lanjutnya, harus disadari juga oleh generasi muda risiko dalam menggunggah foto yang terlalu eksotis, seperti ada kemungkinan pihak-pihak tertentu menggunakan foto-foto tersebut untuk hal-hal negatif. Kesadaran ini perlu bagi remaja sebagai bahan pertimbangan sebelum menggunggah foto mereka. Selama mereka sudah sadar tentang adanya risiko ini dan tetap ingin mengunggah foto yang menunjukkan ekspresi diri, rasanya hal tersebut adalah hak dari masingmasing orang. Mia mengharapkan p e m a n f a a t a n teknologi melalui media

sosial digunakan dengan hatihati, sehingga lebih banyak manfaat positif yang bisa didapat dibandingkan halhal negatif. Perlu adanya selfcontrol yang baik dari diri sendiri untuk menggunakan media sosial dengan bijak. (dar)

AWS, ’’Youtuber’’ Berbahasa Nusa Penida KADEK Alit Werdi Suputra (AWS) adalah salah satu youtuber asli Nusa Penida yang hits. Ia dikenal luas karena video-videonya yang lucu. Bersama rekannya, Nyoman Mandra, AWS membuat beberapa video pendek yang kemudian diungguh di akun media sosialnya, terutama youtube. Video lawakan yang dibuatnya menggunakan bahasa khas Nusa Penida, dan berhasil menghibur para subscriber-nya. Saat ini kanal youtube-nya telah diikuti 82.300 subscriber. Ia pun kini telah menjelma menjadi youtuber Nusa Penida yang banyak mendapat job untuk mempromosikan akomodasi pariwisata Nusa Penida. Ditanya tentang bagaimana awal mulanya AWS menjadi content creator youtube, ia menceritakan berawal dari hobinya membuat video dan design saat masih kuliah. Semenjak kuliah di Sekolah Teknik Design, ia sudah mulai membuat content video. Setelah lulus AWS sering membuat video berbahasa Bali. Karena sempat tinggal di Nusa Penida selama lima bulan, akhirnya memutuskan membuat video dengan menggunakan berbahasa Nusa Penida. Lebih lanjut Alit me-

nyatakan, menjadi youtuber perjalanannya tidak segampang orang bayangkan. Perlu kerja keras dan kreativitas yang tinggi. Bahkan ia sempat dikatakan melakukan hal sia-sia oleh teman-temannya. “Beberapa teman mengatakan saya tidak menghasilkan apa-apa. Tetapi saya tetap optimis karena percaya apa pun yang dilakukan dengan tujuan baik pasti hasilnya juga baik. Benar saja, selain banyak dikenal orang, saya juga sudah bisa menghasilkan dari youtube. Kini malah beberapa pengusaha meminta saya mengiklankan produk usaha mereka. Sesekali saya juga diundang dalam seminar tentang contant creator,” ungkap Alit Werdi yang berasal dari Banjar Jurangaya, Nusa Penida, Klungkung. Disinggung tentang rencananya ke depan, Alit Werdi mengungkapkan akan tetap membuat video youtube yang lebih kreatif. Selain itu, akan terus mengembangkan usaha advertising berbasis digital dan media sosial. I t u m e njadi pilihannya, mengingat zaman sekarang lebih banyak orang menggunakan instagram, facebook, dan youtube, di samping itu merupakan hobinya selama ini. (win)

Kadek Alit Werdi Suputra

BPM/win

Minggu Umanis, 26 Januari 2020

Yessy Diana

Tak Sangka Jadi Selebgram PERKEMBANGAN teknologi informasi yang semakin pesat telah memunculkan banyak media sosial (medsos), seperti Facebook, Instagram, dan Youtube yang dimanfaatkan kebanyakan orang untuk mempublikasikan karya-karya terbaiknya. Bahkan tak jarang masyarakat umum memanfaatkan medsos untuk mencari sumber informasi ter-hits yang berkembang di tengah masyarakat. Kesempatan inilah yang dimanfaatkan sejumlah orang kreatif, terutama anak-anak muda untuk meraup rezeki. Bermodalkan kecapakan dalam berkomunikasi dan berpenampilan menarik, mereka mampu mengekplorasikan diri dalam sebuah video, yang kemudian diunggah di akun medsos-nya, sehingga menarik banyak viewer mengikutinya. Semakin banyak pengikut (follower) yang dimiliki, maka endors semakin banyak pula. Hal ini dirasakan sendiri oleh Yessy Diana. Dara cantik kelahiran Batununggul, 20 Desember 1993 ini kini telah menjelma menjadi salah satu selebgram ternama Bali yang laris endors. Ini berawal dari keisengan meng-upload sebuah hasil karya berupa lagunya di Instragram, Yessy Diana pun tidak menyangka bisa mendapat respons positif dari para penggemarnya. Dari sana follower-nya terus meningkat. Bahkan saat ini telah mencapai 290 ribu pengikut. “Sebenarnya aku nggak ada niat menjadi selebgram, karena aku hanya berkarya, tetapi karyaku ketahuan di medsos dan ternyata disukai banyak follower. Jadi, tak ada strategi khusus agar disenangi sama follower, tetapi aku berkarya untuk menjadi diri-sendiri dan tentunya karya yang positif,” ujar pemilik nama lengkap Dewa Ayu Yessy Diana Ningsih ini. Setelah mempunyai banyak penggemar dan sering warawiri di Instagram, pelantun tembang ‘Pada Ngelahang’ dan ‘Jomblo Bahagia’ ini mengaku banyak mendapatkan job untuk memperkanalkan suatu produk. Namun tidak sembarang

produk mau ia promosikan. “Nggak semua endors diambil, cuma endors makanan, video vila, hotel, baju, dan tas. Untuk produk wajah dan kecantikan lainnya tidak aku ambil,” tandasnya. Menjadi salah satu selebgram ternama di Bali saat ini, Yessi Diana tidak menampik bahwa dirinya pernah mendapatkan bully dari haters-nya. Namun ia tidak mau ambil pusing, apalagi apa yang dilakukannya tidak pernah menyinggung seseorang, bahkan merugikan orang lain. Ia berkarya untuk menghibur orang, tetapi pada prinsipnya tetap menjadi diri-sendiri dan apa adanya. “Beberapa ada saja yang komen buruk ke postinganku, terutama karya-karya vidieoku. Di kolom komentar 1 atau 2 orang yang komen buruk. Ya, mereka ku anggap cuma cari perhatian biar aku respons. Soalnya yang berkomentar buruk kebanyakan yang aku respons malah senang,” pungkasnya. Tidak hanya menjadi selebgram, Yessy Diana juga seorang penyanyi Bali yang banyak penggemar saat ini. Sejumlah karya lagu telah diciptakannya. Terakhir ia merilis single ‘Wantah Beli’. Selain itu, Yessy Diana seorang aktris Bali. Sejumlah film telah diperankannya. Bahkan, pernah menjadi peran utama pada film ‘Leak’ edisi 2. Dia juga menjadi salah satu pemeran pada film ‘Napak Pertiwi’ yang konsepnya identik dengan agama, adat dan budaya Bali. Saat ini ia terlibat dalam proses penggarapan film ’Nyi Rimbit’. Seperti diketahui, Yessy Diana mengawali kariernya menjadi foto model, lalu terlibat langsung dalam beberapa video klip musik Bali, kemudian memberanikan diri berkarier solo dengan single pertamanya ‘Pada Ngelahang’. (win)

Survei Terhadap 700 Remaja di Bali

20–30 Persen Berbagi Foto Vulgar 46 Persen Mengakses Video Porno HAMPIR semua remaja memiliki media sosial (medsos) baik instagram, facebook, akun youtube maupun twitter. Medsos dapat memberi dampak positif dan negatif. Sebuah lembaga sosial yang bergerak untuk remaja Kita Sayang Remaja (Kisara), pernah melakukan survei terhadap 700 remaja di Bali. Hasilnya, 97 persen remaja melakukan aktivitas berbagi foto dengan memanfaatkan medsos. Dari 97 persen itu, dua persen remaja berbagi foto vulgar, bugil atau tanpa busana. Koordinator Klinik Remaja Kisara PKBI, dr. I Gusti Ngurah Pramesemara, S.Ked., M.Biomed., mengungkapkan hal itu belum lama ini. Ia menegaskan, aktivitas itu dilakukan secara sadar oleh remaja. Sebesar 30 persen foto dibagi ke teman–teman di grupnya, sisanya dibagi ke pasangannya baik pacar maupun partner seksualnya. Dari 700 remaja tersebut, 20–30 persen pernah mendengar atau mengetahui temannya berbagi foto vulgar. “Saat ditanya, hanya dua persen yang melakukan aktivitas berbagi foto vulgar. Tapi yang mengetahui temannya berbagi foto vulgar 20–30 persen,” ujarnya. Untuk video, 46 persen dari 700 remaja sudah mengakses dan berbagi video porno. Ada yang mendapatkannya lewat grup WhatAspp, sebagian besar mengaksesnya di twitter. “Twitter itu kan mungkin karena bisa berbagi link. Pemerintah kita tidak bisa mengintervensi twitter, kalau yang lain persetujuannya sudah ada. Twitter tak mau, mereka tetap free, base-nya tetap di Amerika sana, tidak mau di Indonesia,” ungkap Pramesemara. Menurutnya, source paling besar untuk mendapat link atau akses video porno adalah di twitter sesuai pengakuan remaja. Sementara youtube, facebook, dan instagram sudah ada sistem sensor sehingga konten berbau pornografi akan langsung terblokir. Sebesar 20 persen dari 46 persen remaja yang

mengakses video porno membaginya ke teman mereka. Hal lain yang terungkap dari survei itu adalah penggunaan medsos oleh remaja rata-rata 2–3 jam sehari. Fenomena remaja memanfaatkan medsos tidak hanya berbagi video dan foto, tetapi mengikuti tren influencer. “Permasalahannya tidak semua influencer itu baik, tidak semua positif, mengajarkan remaja yang bagus. Mereka seolah–olah membentuk image remaja atau kehidupan yang sekarang seperti yang mereka (influencer) punya, padahal tidak semua remaja bisa mengikuti hal tersebut,” bebernya. Selain itu, banyak berita bohong yang disampaikan seperti mitos–mitos seputar seksual. Berdasarkan pengalaman praktiknya di rumah sakit, remaja bahkan yang usianya di atas remaja kerap mengeluhkan soal body composition-nya. Laki–laki mengeluhkan tidak memiliki rambut, kumis atau jenggot karena sekarang sedang tren pria berambut. Perempuan mengeluhkan payudara yang

besar, V shape, dan dagu. Hal itu membuat remaja minder dan stres dengan komposisi tubuhnya. Ia tidak memungkiri remaja kita sudah terpapar video–

video porno sehingga membanding–bandingkan dengan dirinya seperti ukuran penis yang merasa kecil dan durasi yang lama. Padahal semua yang dilihat remaja dalam

video adalah rekayasa. Secara tidak langsung, remaja yang tidak bisa memilah dan memahami dengan baik fungsi medsos, menjadi tidak percaya diri. (may)


INspirasi

Minggu Umanis, 26 Januari 2020

Kegiatan di Vihara Dharmayana Kuta Diupacarai Secara Hindu

BPM/edi

TARI NAGA - Sejumlah seniman membawakan tari Naga saat prosesi Tolak Bala menyambut Tahun Baru Imlek 2571, di Kuta.

Hasil Negatif

Dari Hal. 1 “Nggih, barusan keluar hasilnya negatif semua. Jadi Bali nihil kasus ini,” ujarnya. Direktur RS Bali Mandara Dinas Kesehatan Provinsi Bali, dr. Bagus Darmayasa, mengatakan coronavirus merupakan keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit ringan sampai berat seperti common cold atau pilek dan penyakit yang serius seperti MERS dan SARS. Untuk 2019-nCoV masih belum jelas penularannya. Tapi diduga dari hewan ke manusia karena kasus yang muncul di Wuhan semua memiliki riwayat kontak dengan pasar hewan

Huawan. Lanjutnya, gejala Novel Corona Virus (2019 –nCoV) adalah demam lebih dari 38 derajat celcius, batuk, sesak napas yang membutuhkan perawatan di rumah sakit. “Gejala ini diperberat jika penderita adalah usia lanjut dan mempunyai penyakit penyerta lainnya seperti penyakit paru obstruktif menahun atau penyakit jantung,” ujarnya. Bila melakukan perjalanan ke China terutama Kota Wuhan, masyarakat diminta tetap waspada dan jangan panik, terapkan PHBS (perilaku hidup bersih dan

Dua Maskapai

Dari Hal. 1 Ia mengatakan, penutupan penerbangan sementara waktu itu sesuai dengan Notam G0108/20 yang diterbitkan oleh International Notam Office Beijing terkait antisipasi penyebaran virus yang awalnya mewabah di wilayah Wuhan tersebut. Notam adalah pemberitahuan yang disebarluaskan melalui peralatan telekomunikasi. Delapan penerbangan rute Bali-Wuhan atau sebaliknya yang dibatalkan itu, merupakan penerbangan yang dioperasikan oleh dua maskapai penerbangan nasional yaitu, Lion Air dan Sriwijaya Air. Arie menambahkan, pihaknya juga akan selalu memperbarui informasi perkembangan Notam internasional dari China terkait diperpanjang atau dipercepat penutupan penerbangan dari dan ke Kota Wuhan. “Sehingga nanti jika sudah ada update Notam dari Beijing ketika sudah bisa dibuka kembali maka otomatis jadwal penerbangan akan segera dibuka untuk melayani para penumpang,” katanya. Untuk penerbangan yang menghubungkan berbagai

wilayah di China dengan Bali, Arie menjelaskan secara regular ada 15 penerbangan per hari di luar jadwal penerbangan carter. Khusus untuk penerbangan yang menghubungkan Bandara Ngurah Rai dengan Bandara Wuhan, ia mengatakan penerbangan tersebut frekuensinya tiga kali dalam seminggu atau penerbangan carter. Pihaknya mencatat jumlah wisatawan asal China ke Bali rata-rata per hari mencapai 3.300 orang. Tingginya jumlah wisatawan asal China tersebut menurutnya juga menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan secara khusus untuk mengantisipasi virus Corona baru itu. “Ini menjadi atensi kami secara khusus karena pariwisata Bali tidak boleh terganggu, namun harus diimbangi upaya mitigasi untuk mencegah virus itu masuk Bali,” ujar Arie Ahsanurrohim. Bahkan dia menegaskan virus ini belum berdampak pada penurunan penumpang asal Tiongkok. Langkah Antipati Pengelola Bandara Ngurah Rai, Bali, terus melakukan

Wuhan menunjukkan seorang pria tergeletak bergeming di tanah setelah dia menghela napas dan terbatuk, lalu pingsan saat mengantre untuk mendapatkan perawatan. Sungguh mengerikan. Hanya dalam beberapa hari saja penyakit ini menyebabkan 12 negara terinfeksi virus ini. Negara tersebut yakni China, Prancis, Jepang, Australia, Malaysia, Nepal, Singapura, Korea Selatan, Taiwan, Thailand, AS dan Vietnam. Singapura dan Malaysia melaporkan

tiga warganya terinfeksi virus ini. Sementara Presiden Jokowi menyatakan hingga kini Indonesia masih nihil kasus ini. Namun demikian Presiden meminta Kemenkes melakukan penjagaan ketat dan pelayanan kesehatan di tiap pintu masuk bandara. Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom menyebut penyebaran virus Corona sudah jadi krisis di Tiongkok tapi belum bisa dikatakan sebagai krisis kesehatan global. (ant/*)

umat agar selalu diberikan keberuntungan dan terhindar dari mara bahaya. Sedangkan kue lapis yang bentuknya berlapis-lapis, bermakna permohonan umat agar selalu diberikan rezeki yang berlimpah dan berlapis-lapis. Ketua Maga Budhi (Ketua Majelis Agama Budha) di Kabupaten Bangli, Putu Mudiarta, menyebutkan selain kue

yang wajib disiapkan saat Imlek, yakni kue mangkok, wajik, lapis, dan kue ku, ada juga tambahannya seperti kue gambir, kue dodol, dan kue cang. Dia mengatakan kue-kue tersebut biasanya disiapkan dua hari sebelum hari raya. Kue-kue itu dijadikan sebagai persembahan saat persembahyangan sehari sebelum dan saat Imlek. (ina)

Kue Mangkok

Dari Hal. 1 Bagi warga Tionghoa, kuekue tersebut ternyata punya makna tersendiri. Suardana menjelaskan, kue keranjang yang memiliki rasa manis sebagai makna permohonan umat agar selalu harmonis dengan keluarga. Kue mangkok/kue ku yang berbentuk mekar pada bagian atasnya dan berwarna merah memiliki makna permohonan

langkah antisipasi terkait penyebaran virus Corona. Selain memasang dua alat thermal scanner di pintu kedatangan internasional, pihak bandara juga melibatkan petugas yang ada di dalam seperti security untuk mengawasi dengan ketat, terutama wisatawan asal Wuhan yang tiba di bandara. General Manager PT Angkasa Pura I (Persero) Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali, Herry A.Y. Sikado, mengatakan pihaknya selalu waspada dengan menggunakan alat thermal scanner yang sudah dipasang beberapa waktu lalu. Ia mengatakan security yang bertugas di lapangan diminta untuk menggunakan masker jika ada wisatawan yang terinfeksi virus tersebut. “Sejauh ini belum ada (terdetaksi terjangkit virus Corona-red). Mudah-mudahan ya... jangan sampai ada,” harapnya. Dia mengakui virus ini belum berdampak pada jumlah kunjungan wisatawan, asal Tiongkok ke Bali. Justru malah sedikit meningkat karena akan ada hari raya Imlek. (ant/jay)

Korban Berjatuhan

Dari Hal. 1 Tapi, hal itu tidak membuat penduduk lokal berhenti merekam pemandangan mengerikan dari apa yang terjadi di Wuhan. Sejumlah rekaman ramai beredar di media sosial yang memperlihatkan bagaimana korban berjatuhan akibat virus mengerikan itu. Rekaman itu menunjukkan sejumlah warga yang terinfeksi pingsan di jalanan, di setiap sudut kota yang terisolasi itu. Seperti dilaporan Daily Star, salah satu video yang diunggah langsung dari Kota

sehat), hindari kontak dengan hewan atau pasar hewan, hindari kontak langsung dengan orang sakit, gunakan masker dan terapkan etika batuk. Pencegahan yang bisa dilakukan, yaitu sering mencuci tangan memakai sabun, gunakan masker jika batuk atau pilek, konsumsi gizi seimbang, perbanyak sayur dan buah, berhati- hati kontak dengan hewan, rajin berolaharaga dan istirahat yang cukup, jangan mengonsumsi daging yang tidak dimasak, bila batuk pilek dan sesak napas segera ke fasilitas kesehatan. (may)

Minggu, 26 Januari 2020 05:00 Wita 05:30 Wita 05:52 Wita 05:54 Wita 05:56 Wita 06:00 Wita 06:05 Wita 06:35 Wita 07:00 Wita 07:35 Wita 08:00 Wita 09:00 Wita 09:05 Wita

Bali TV Shop Kalung Omkara Gayatri Mantra Mars Indonesia Raya Mars Bali Jagadhita Lagu Ngastitiang Bali Puja Trisandya Dharma Wacana Dewa Yadnya Kapemangkuan Dan Prajuru (6) Bali Channel Tourist TV Klip Anak Sehat & Bugar Aerobik dan body lenguage pemula Seputar Bali Pagi Akhir Pekan Seputar Bali Terkini Solusi Alternatif Marion Sam

09:30 Wita 10:00 Wita 10:05 Wita 10:30 Wita 11:00 Wita 11:05 Wita 11:30 Wita 12:00 Wita 12:05 Wita 12:30 Wita 13:00 Wita 13:30 Wita 14:30 Wita 15:00 Wita 15:05 Wita 15:30 Wita 16:00 Wita

Belajar Menggambar Menggambar Katak Seputar Bali Terkini Bali Channel Tourist TV Ocydia Home Shopping Seputar Bali Terkini Bali TV Shop Kalung Omkara Bali Channel Tourist TV Puja Trisandya Bali TV Shop Kalung Omkara Ocydia Home Shopping Bali Channel Tourist TV Lejel Homeshopping Tembang Bali Seputar Bali Terkini Bali TV Shop Kalung Omkara Bali Channel Tourist TV Harmoni Bali

17:00 Wita 17:30 Wita 18:00 Wita 18:05 Wita 19:30 Wita 20:00 Wita 21:00 Wita 21:30 Wita 22:30 Wita 23:00 Wita 23:05 Wita 23:30 Wita 00:00 Wita

Bali TV Shop Kalung Omkara Ocydia Home Shopping Puja Trisandya Seputar Bali Malam Bali TV Shop Kalung Omkara Samatra Artis Bali Dwi Negari Bali TV Shop Kalung Omkara Indi Band Generation Asrini Saputri dan Sunari Rockers Bali TV Shop Kalung Omkara Seputar Bali Terkini Ocydia Home Shopping Kris - Kriminal Sepekan Solusi Alternatif Marion Sam

Vihara Dharmayana Kuta merupakan salah satu dari sembilan tempat ibadah Tridharma yang memuja Tan Hu Cin Jin sebagai Shing Bing utama. Vihara yang dulunya bernama Leeng Gwan atau Leeng Gwan Bio, diperkirakan sudah berdiri sejak tahun 1750. Sejak masa itu sudah ada pertukaran kebudayaan atau akulturasi budaya yang masih terjaga hingga saat ini. Menurut penuturan Penangung jawab Vihara Dharmayana, Adi Dharmaja, keberadaan Vihara ini sudah ada sejak masa perdagangan zaman kerajaan dulu. Karena Kuta merupakan jalur perdagangan, lokasi vihara berdekatan dengan sungai yang ada di Kuta. “Karena merupakan kawasan perdagangan, maka lokasi vihara berdekatan dengan sungai,” katanya Adi Dharmaja, Sabtu (25/1)kemarin.

Dikatakannya, terkait sejarah keberadaan vihara, sempat dilakukan penelitian oleh seorang profesor asal Jepang. Menurutnya, sejarah dari Vihara Dharmayana Kuta, ada kaitan dengan keberadaan Pura Taman Ayun, di Mengwi. Yang mana, pembangunan Taman Ayun, diarsiteki oleh Yang Mulia Kongco Tan Hu Cin jin. Konon Tan Hu Cin Jin ini terkenal sangat pintar dalam berbagai pengetahuan dan keterampilannya, antara lain sebagai sinse, pakar hong shui, arsitek bangunan, dan pertamanan. “Menurut sejarah, beliaulah yang membangun Pura Taman Ayun, karena dahulu Kerajaan Mengwi daerah kekuasaanya sampai di Blambangan,” bebernya. Diceritakannya, arsitek Tan dulu menetap sementara di Kerajaan Blambangan pada masa pemerintahan Pangeran Danureja (1697-1736). Di sana,

sun Kembangsari menjadi wilayah yang paling banyak dihuni warga Tionghoa dengan jumlah sekitar 65 KK. Diungkapkan Mudiarta, selama ini warga Tionghoa di Kintamani hidup berbaur dengan sangat harmonis bersama penduduk Bali yang dominan menganut agama Hindu. Baik dalam aktivitas sosial, budaya maupun religius. Salah satu wujud keharmonisan dua umat itu bisa dijumpai saat pelaksanaan upacara piodalan di Pura Dalem Desa Langgahan. War-

ga etnis Tionghoa pemeluk Budha ikut bergotong royong mempersiapkan upacara di Pura Khayangan Tiga desa tersebut. Mereka juga dilibatkan dalam kepanitiaan. Tak hanya itu meski pemeluk Budha, mereka juga ikut melaksanakan persembahyangan bersama. Begitu juga sebaliknya, saat ada sijit (upacara piodalan yang dilaksanakan umat Budha) di Konco Dewa Bumi yang ada di dalam areal Pura Dalem, umat Hindu di desa setempat juga ikut ber-

sembahyang di sana dengan membawa sarana berupa banten. Tradisi seperti ini sudah berjalan dan diwariskan masyarakat Desa Langgahan sejak lama. Sebagai warga yang sudah tinggal sejak lama di Kintamani, Mudarta mengatakan warga Tionghoa di Desa Langgahan juga menggunakan nama khas Bali. Semisal Putu, Made, Nyoman dan lainnya. Namun mereka juga tetap punya nama Cina yang biasanya dipakai untuk panggilan sehari-hari. (ina)

Metode Meditasi

Dari Hal. 1 Setelah mengikuti Budha Jayanti itu, Ida Bagus Giri mendalami ajaran Budha yang disebutnya cocok dengan historis leluhur di Bali dengan memakai metode meditasi hening. Hingga akhirnya tahun 1958 kelompok kebatinan yang dipimpin Ida Bagus Giri melangsungkan meditasi bersama di sekitar objek wisata Air Panas Banjar. Mulai 1969, karena anggota kelompok meditasi semakin banyak akhirnya dipindah ke Banjar Tegehe yang sekarang tempat vihara saat ini. Lokasi vihara dipilih oleh Ida Ketut Jelantik karena memenuhi persyaratan pembangunan tempat meditasi. Awalnya, pembangunan Brahmaviraha Arama Banjar berdiri di atas lahan seluas 30 are. Hanya ada beberapa bangunan pemujaan utama, aula meditasi dan taman lengkap dengan patung Sang Budha. Vihara terus dikembangkan dan diresmikan pada tahun 1971, hingga kini luasnya sekitar 9 hektar. Di atas tanah ini dibangun pagoda, darma sala, kuti, aula meditasi, lonceng dan bangunan pendukung lain. Ketua Yayasan Giri Rakito Mahatera, Ida Bagus Rahoela, Sabtu (25/1) kemarin mengatakan, sesuai warisan yang diteruskannya, vihara ini tidak saja untuk persembahyangan Umat Budha,

Hindu Bali dengan Tionghoa yang sudah mengakar sejak dahulu. Bahkan kata dia, untuk prosesi upacara, biasanya untuk mengawali, pasti memakai banten menurut umat Hindu di Bali. “Bahkan saat pamelaspasan Pagoda di Vihara, diupacarai menurut ajaran Hindu dengan di-puput oleh Pedanda Siwa Buda. Setelah itu baru dilanjutkan dengan tradisi Tionghoa,” ucapnya. Tidak hanya mengadopsi tradisi dan budaya Bali, sebagian besar pangempon keluarga besar vihara sudah berkeluarga dengan warga sekitar. Sehingga kata dia, dalam menjaga kerukunan antarumat beragama, apabila ada kegiatan di banjar maupun di desa, keluarga besar dari Dharma Semadi ikut ngayah. “Kalau ada undangan dari banjar atau dari desa, kami pasti hadir,” katanya. (edi)

Dusun Lampu

Dari Hal. 1 Lama kelamaan berkembang menjadi banyak seperti sekarang,” ungkap Ketua Maga Budhi (Ketua Majelis Agama Budha) di Kabupaten Bangli, Putu Mudiarta. Selain Langgahan, desa/ dusun di Kintamani yang selama ini juga banyak dihuni warga Tionghoa, yakni Dusun Lampu, Desa Catur yang berbatasan dengan Kabupaten Badung, Dusun Kembangsari Desa Satra yang berbatasan dengan Kabupaten Buleleng dan Desa Kintamani. Dari keempat desa/dusun itu, Du-

arsitek Tan membangun sebuah istana di daerah Macan Putih Blambangan. Pada masa itu Blambangan yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Mengwi di Bali, Raja Mengwi mengirim utusan ke Blambangan menitahkan kepada Pangeran Danureja agar segera menugaskan arsitek Tan dan para pekerja ke Mengwi, untuk membangun istana dan taman yang indah. Terkait KongCo Bio Kuta didirikan oleh komunitas Tionghoa Kuta-Bali dan sekitarnya. Tempat yang menjadi vihara ini sebagai tempat bersemayamnya Yang Mulia Kongco Tan Hu Cin Jin yang diyakini dapat memberi perlindungan, kesejahteraan dan kebahagiaan bagi para keluarga pengabdinya. Jika melihat dari sejarah masa lalu, di Vihara Dharmayana Kuta telah terjadi akulturasi budaya antara budaya

Patung Budha - Patung Budha pada Brahmaviraha Arama. juga dibebaskan kepada siapapun yang akan mencari kedamaian dan mendapat pencerahan batin dipersilakan menggunakan fasilitas di vihara. Karenanya, vihara ini dikenal sebagai cikal bakal budaya toleransi dan menjunjung nilai-nilai pluralisme. “Waktu ayah kami mendirikan ini (vihara-red), siapapun yang datang dipersilakan, baik itu Budha atau umat lain. Beliau membangun vihara ini dengan penuh

makna dalam mengajarkan kita tentang toleranasi dan pluralisme,” katanya. Sejumlah vihara juga dibangun di beberapa desa lain di Buleleng. Salah satunya adalah Vihara Dharma Rangsi di Desa Pemaron, Kecamatan Buleleng. Vihara yang dibangun dengan awal sebagai tempat makekawin ini disumbangkan oleh almarhum I Made Reta. Dia menyumbangkan sekitar 5 are tanahnya untuk dibangun

BPM/mud

vihara dan diresmikan pada 1981. Saat ini, ada 24 kepala keluarga (KK) Umat Budha di Desa Pemaron rutin melakukan persembahyangan di vihara ini. Menurut Sekretaris Yayasan Dharma Rangsi Nyomam Suardana, sejak dibangun sampai sekarang keberadaan vihara tetap menunjukan toleranasi dengan umat lain. Ini dibuktikan dengan berbaurnya Umat Budha dalam kehidupan sehari-hari. (mud)


MINGGU UMANIS, 26 Januari 2020

Bagus Yoga Setiawan

Juara Bersama Persijap PERSIJAP Jepara merebut gelar juara pada kompetisi sepak bola Liga 3 Nasional 2019. Sukses naik ke kasta Liga 2 musim 2020 ini, tidak terlepas dari andil Bagus Yoga Setiawan yang sebelumnya berlatih bersama Perseden Denpasar. Yoga bergabung bersama Perseden beberapa pekan. Oleh karena tenaganya tidak diperlukan, ia kemudian berlabuh ke Persijap. Hanya merumput sebulan, pemain sayap ini sudah menerima bonus seolah-olah bekerja setahun. “Saya sangat terharu menerima bonus yang nilainya lumayan,” sebut putra tunggal pasangan I Gede Sandi Arta dan Arumawati ini. Pria kelahiran Magetan, 7 Agustus 1998 ini tiba di Jepara saat Persijap melakoni babak 32 besar nasional. Ia tidak sempat bermain melawan Perseden, tetapi diturunkan ketika meladeni Persidago Gorontalo dan PS Mamuju Sulbar. Yoga mulai menendang bola di SSB Birlian Legian, kemudian berguru ke Jimah Sport Academy dan Bali Soccer Boys (BSB) yang dilatih Budi Santoso. Selanjutnya Yoga bergabung ke Arema Malang dan mendapat beasiswa di Akademi Villa 2000 Jakarta. Ia sempat membela Borneo FC dan pernah berkostum PS Badung. Yang membanggakan, Yoga membawa tim SMP Negeri 2 Kuta menjadi juara Liga Pelajar Indonesia (LPI) Provinsi Bali dan berlaga di tingkat nasional. Namanya terjaring tim pemandu bakat dan berhak berguru ke Akademi Frenz United Malaysia selama beberapa tahun. Akan tetapi surat pemanggilan terlambat tiba di sekolahnya. Padahal rekan seangkatan Yoga yang menimba ilmu di Negeri Jiran, kini merumput pada berbagai klub Liga 1. “Saya hobi bermain bola sejak kecil, persisnya ketika duduk di bangku kelas II SD. Saya bercita-cita menjadi anggota TNI-AD, sebab ingin membela negara,’’ tutur Yoga. (nel)

TUMBANG - Petenis Rusia Anastasia Pavlyuchenkova menumbangkan unggulan kedua, Karolina Pliskova (Ceko), dengan skor 7-6, 7-6 pada pertandingan babak ketiga tunggal putri turnamen Australia Terbuka di Melbourne, Sabtu (25/1) kemarin.

Mangupura (Bali Post) –

Kejuaraan sepak bola Piala Dunia U-20 Tahun 2021 adalah pertaruhan, bukan saja bagi Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), tetapi juga nama Bangsa Indonesia di dunia internasional. Untuk itu, pengurus PSSI harus mampu menjadi tuan rumah terbaik. Apalagi Presiden Joko Widodo sudah berkirim surat ke Presiden FIFA yang menyatakan kesiapan Indonesia menjadi tuan rumah. Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali, menyampaikan itu pada Kongres Biasa PSSI 2020 di Kuta, Badung, Sabtu (25/1) kemarin. “Saya harapkan seluruh bangsa Indonesia mendukung dan menyukseskan hajatan sepak bola Piala Dunia U-20. Kita harus bangga mendapatkan kepercayaan dari FIFA sebagai tuan rumah Piala Dunia,” ujarnya. Menurutnya, pemerintah sangat mendukung penyelenggaraan Piala Dunia U-20 karena belum tentu bisa mengadakan 20 tahun mendatang. Makanya kesempatan kali ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk menjadi tuan rumah

yang baik dan harus sukses. Dipercaya menjadi tuan rumah Piala Dunia tidaklah mudah, karena itu segala persiapan harus matang. Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan menambahkan, penyelenggaraan Piala Dunia U-20 tinggal setahun lagi. Kalau dirunut dengan padatnya persiapan, harus segera ada kepastian dari FIFA mengenai stadion yang akan ditetapkan pada kompetisi tersebut. FIFA hanya merekomendasikan empat stadion, sedangkan PSSI awalnya mengusulkan 10 stadion, dan akhirnya diambil jalan tengah enam stadion. “Keputusannya nanti saat utusan FIFA datang ke Indonesia sekitar akhir bulan ini. Enam stadion itu semuanya

sangat memenuhi syarat dan FIFA nanti akan melihatnya, termasuk verifikasi persyaratan yang harus dilengkapi,” kata Iriawan. Luar Papua Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko-PMK) Muhadjir Effendi, menyebutkan 10 dari 37 cabang olahraga (cabor) yang dipertandingkan pada PON XX/2020 di Papua, kemungkinan dipertandingkan di luar Papua. “Ada kemungkinan penambahan beberapa cabang olahraga tapi tidak dipertandingkan di Papua, namun di tempat lain. Itu akan dibicarakan lagi antara KONI dan PB-PON, berapa cabang lagi yang mau

disusulkan,” ungkap Muhadjir di Timika. Menurut dia, beberapa cabor yang rencananya dipertandingkan di luar Papua itu sifatnya masih tentatif. Pemerintah akan menawarkan ke provinsi lain di luar Papua, apakah mereka siap menyelenggarakan pertandingan cabor-cabor tersebut. Tentu akan dipertimbangkan dari sisi pembiayaan dan fasilitas yang tersedia, karena tidak mungkin membangun fasilitas yang baru. Muhadjir Effendi didampingi Wakil Ketua I KONI Pusat, Mayjen (Purn) TNI Suwarno dan Sekda Provinsi Papua TA Hery Dosinaen meninjau sejumlah fasilitas yang nantinya dijadikan arena pertandingan PON XX Papua di Kabupaten Mimika. Kunjungan ke Timika ini merupakan rangkaian lawatan Menteri PMK ke empat kota utama penyelenggara PON XX yaitu Merauke, Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura dan Kabupaten Mimika. (kmb/ant)

PBSI Pilih 20 Pemain Hari Ini, ”Road Race” Luh Masri Optimis Rebut Emas di PON Hadapi Piala Asia di Singaraja

Jakarta (Bali Post) – Pengurus Pusat Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) mengumumkan susunan pemain yang akan mewakili Indonesia di ajang Badminton Asia Team Championships (BATC) 2020. Sebanyak 20 atlet (10 putra dan 10 putri) dipilih untuk berpartisipasi dalam kejuaraan beregu putra dan putri se-Asia yang akan dilangsungkan di Rizal Memorial Coliseum, Manila, Filipina, 11-16 Februari. Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI, Susy Susanti, dalam siaran pers yang diterima di Jakarta Sabtu (25/1) kemarin, menyatakan BATC ini adalah pemanasan sebelum Piala Thomas dan Uber. ‘’Kami turunkan tim terbaik. Target di ajang ini yang penting lolos dulu ke final Piala Thomas dan Uber, lalu memantapkan posisi peringkat

unggulan tim,” ujarnya. Dari komposisi pemain, tim putra Indonesia berpeluang besar mempertahankan gelar juara karena diperkuat oleh tunggal putra Anthony Sinisuka Ginting dan Jonatan Christie, serta ganda putra Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo dan Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan. Sementara di tim putri, pemain sektor tunggal putri Fitriani tidak dimasukkan ke dalam tim inti dan digantikan oleh pemain muda Putri Kusuma Wardani. “Di tunggal putri tidak ada Fitriani karena kepercayaan diri dia sedang drop. Kalau kami paksa dan dia kalah lagi, bisa frustrasi. Jadi, sebaiknya dia latihan lagi supaya ada pembenahan, sampai merasa siap. Kami turunkan pemain muda untuk menambah pengalaman,” tambah Susy. (ant)

BPM/ant

MASUK TIM - Ganda putri Greysia Polii/Apriyani Rahayu yang meraih gelar juara Indonesia Masters 2020, masuk dalam tim ke kejuaraan beregu Asia.

Denpasar (Bali Post) Kejuaraan balap motor jalan raya (road race) memperebutkan Piala Bupati Buleleng Seri I digelar di lintasan Jalan Dewi Sartika dan Udayana, Singaraja, Minggu (26/1) ini. Lomba ini melibatkan sekitar 300 pembalap yang berdatangan dari kota dan kabupaten se-Bali. Ketua Harian Pengprov IMI, Tony Susiartono, di Denpasar Sabtu (25/1) kemarin, mengemukakan kejuaraan ini dibagi dalam tiga seri. Seri II digelar Mei dan Seri III dihelat pada November mendatang. Seri I melombakan banyak kelas karena diikuti pembalap veteran termasuk kelas sporting race. Pembalap yang tampil di antaranya Ucil, Snopi, Jeni dan Krisna. Mereka menunggang dan memacu motornya melintasi Jalan Dewi Sartika hingga Udayana sepanjang 800-900 meter. Para pembalap road race Bali ini selanjutnya diharapkan bisa mengikuti Kejurnas Region III (Bali, NTB, NTT). (022)

Denpasar (Bali Post) Luh Masri Dianawati merupakan satu-satunya atlet muaythai Bali yang lolos ke PON Papua di nomor way kru (seni). Tiket itu direbutnya setelah meraih medali emas pada PraPON Wilayah Tengah (Bali, DKI, Jabar, Jatim, Banten, Kaltim, NTB) di Cilangkap, Jaksel, pada Desember 2019. Langkahnya gagal diikuti atlet Bali lainnya, Angga Permana, karena hanya mendapat perak di nomor tarung. Pelatih muaythai Bali Wayan Suwita di Denpasar beberapa hari lalu menuturkan, Masri dan Angga pernah menghuni Pelatnas SEA Games. Hanya keduanya tidak jadi turun di ajang olahraga se-Asia Tenggara karena nomor tarung kelas 54 kg dan kelas 48 kg tidak dipertandingkan pada SEA Games 2019 di Filipina. Masri menebus-

nya dengan mendulang emas di ajang Pra-PON. Suksesnya berlanjut setelah mengalahkan juara Wilayah Timur (Sulawesi, Maluku, Papua). Oleh sebab itu, Suwita optimis Masri berpeluang menyabet emas jika dikirim ke PON Papua “Asalkan dia berlatih langsung ke Thailand,” ucapnya. Menurutnya, dewan juri yang bertugas di Pra-PON dan PON didatangkan dari Negeri Gajah Putih. Selain itu, lawan-lawan berat Masri berada di Wilayah Tengah mampu mengalahkan atlet Wilayah Timur dan tinggal berhadapan meladeni juara Wilayah Barat. “Pelatih muaythai Thailand memuji gerakan dan bodi Masri,” jelasnya. Timnas muaythai Thailand pernah berlatih bersama atlet Bali di Pulau Dewata selama 10 hari. (022)

BPM/ist

Luh Masri Dianawati


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Edisi Minggu 26 Januari 2020 | balipost.com by e-Paper KMB - Issuu