Skip to main content

Edisi 20 Desember 2015 | Balipost.com

Page 4

PERNIK

4 BALI selalu memberi inspirasi seniman yang tumbuh-besar, ataupun yang singgah di Bali. Tetapi di manakah sesungguhnya peran seniman lokal sendiri di dalam “merawat”, “menjaga” dan meneruskan beragam ritus seni yang adi luhung. Bahkan memberi inspirasi bagi senimanseniman tidak hanya di Indonesia tetapi dunia. Tiga genre tari tradisi di Bali (Three Genre of Traditional Dance in Bali) yang terdiri dari sembilan tari tradisional Bali resmi dimasukkan ke dalam UNESCO Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity, atau Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan. Sidang ke10 Komite Warisan Budaya Takbenda UNESCO di Windhoek, Namibia, telah menetapkan tiga genre tari tradisi di Bali sebagai warisan budaya takbenda dunia. Sidang berlangsung pada Rabu siang (2/12/2015) waktu setempat. Tiga genre tari tradisi di Bali (Three Genre of Traditional Dance in Bali) yang terdiri dari sembilan tari tradisional Bali resmi dimasukkan ke dalam UNESCO Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity. Kesembilan tarian tradisional tersebut adalah Rejang, Sanghyang Dadari, dan Baris Upacara yang digolongkan sebagai tarian sakral; Topeng Sidhakarya, Sendratari Gambuh, dan Sendratari Wayang Wong yang digolongkan sebagai tarian semi-sakral; serta tari Legong Kraton, Joged Bumbung, dan Barong Ket “Kuntisraya”, yang digolongkan sebagai tarian hiburan (entertainment). Apakah “penghargaan “ ini jadi pemicu generasi muda Bali berkarya lebih bagus lagi dengan menggunakan “penghargaan itu sebagai inspirasi melahirkan karya terbaru. Untuk melengkapi catatan akhir tahun, Joss Wibisono, menulis buku Saling Silang Indonesia Eropa (Marjin Kiri, 2013) tentang saling pengaruh Indonesia dengan Eropa, dalam berbagai bidang, termasuk musik, tentunya. Dia juga seorang pemerhati budaya, pengamat sejarah dan kebudayaan yang telah puluhan tahun bermukim di Belanda menulis tentang peran musik tradisional di Bali untuk memperkaya musik di Barat. Semoga catatan ini memberi inspirasi dan spirit untuk kita semua. Selamat menyongsong tahun 2016. (red)

Minggu Pon, 20 Desember 2015

Lamat-lamat Gamelan Bali pada Musik Klasik Barat BULAN NOVEMBER 2015, het Muziektheater yaitu gedung opera Amsterdam, Ibu Kota Belanda, mementaskan dua opera karya komponis Prancis Francis Poulenc (1899-1963). Opera pertama berjudul "Dialogues des Carmélites" (Celoteh biarawati Karmelites) sedangkan opera kedua, lebih pendek dan surealistis, berjudul "Les mamelles de Tirésias" artinya payudara Tiresias.

BPM/ist

Dua setengah menit setelah dimulai, orkestra yang mengiringiDialogues des Carmélites segera memperdengarkan musik gamelan Bali. Pada bagian awal opera yang berlatar belakang Revolusi Prancis ini, bangsawan Le Marquis de la Force, salah satu tokohnya, bercerita tentang pemberontakan rakyat yang sempat dialaminya. Massa mengamuk dan wajah-wajah berkerut menahan takut, begitu tuturnya dalam bentuk nyanyian. Francis Poulenc menggubah musik yang jelas sekali bernafaskan gamelan Bali untuk menggambarkan kerunyaman revolusi. Thema Bali juga muncul pada bagian akhir prolog, musik pembuka Les mamelles de Tirésias, opera kedua Poulenc. Berbeda dengan opera pertama, musik pembuka opera kedua ini lebih tenang dan warna gamelan Bali yang terdengar pada menit keenam dimainkan oleh beberapa instrumen tiup dan piano. Bagaimana seorang komponis Prancis seperti Francis Poulenc bisa terpengaruh gamelan Bali? Lenggak-lenggok Bali untuk Mozart Pada tahun 1931 Poulenc hadirpadal’Exposition coloniale internationale (pameran kolonial internasional) yang digelar di Paris. Di sini sang komponis berkenalan dengan gamelan Gong Gebyar yang didatangkan dari desa Peliatan di Bali selatan. Inilah untuk pertama kalinya gamelan Bali tampil di pentas internasional. Waktu itu salah seorang tokoh masyarakat Peliatan adalah Tjokorda Gde Raka Soekawati yang juga anggota Volksraad (DPR zaman kolonial yang anggotanya tidak dipilih, tapi ditunjuk). Dia dibantu oleh seniman Jerman Walter Spies yang sudah menetap di pulau dewata dalam memilih penabuh gamelan dan penari yang dikirim ke Paris. Tahun 1931 Indonesia masih belum lahir, maka di Parisrombongan Bali ini menginduk pada pavilyun Belanda yang dalam bahasa Prancis disebut Pavillon de Pays-Bas dan pada peta tertera Indes Néerlandaises (Hindia Belanda). Mengkombinasikan unsur-unsur bangunan Kalimantan dan Minangkabau, gapura masuk pavilyun ini bergaya

Bali. Sejarawati Belanda Marieke Bloembergen (dalam bukunya De koloniale vertoning alias pameran kolonial) mencatat bahwa pavilyun Belanda termasuk disukai oleh 33 juta pengunjung yang membanjiri pameran selama enam bulan ini. Tentu sajaini berkat gamelan Gong Gebyar dan penari Legong sebanyak 50 orang yang didatangkan langsung dari Bali. Sebelum itu, penampilan Hindia Belanda dalam pameran lain di Paris juga sudah dibanjiri pengunjung. Pada 1889, ketika digelar L’Exposition universelle (pameran semesta) dalam rangka seabad revolusi Prancis, pengunjung sangat menyukai Village javanais (Desa Jawa), nama pavilyun Belanda. Salah satunya adalah komponis Claude Debussy (1862-1918); dia sangat terpesona pada gamelan Sunda Sari Onéng yang pentas di situ. 42 tahun kemudian, pada 1931 itu,giliran Poulenc yang termehekmehekoleh gamelan Bali. Paling sedikit ada empat karja Poulenc jang terpengaruh Bali. Selain dua operadi atas, masih ada karya orkestra berjudul l’Histoire de Babar dan yang paling utama adalah konser untuk dua piano dalam d-minor, ciptaan tahun 1932. Konser tiga bagian inidiawali dengan dua hentakan pembuka yang langsung diikuti hembusan nafas Bali, dan berlanjut dengan kelincahan à la Mozart (komponis abad 18 asal Austria) yang jenaka. Terkadang muncul musik Afrika. Melankolis Mozart juga kentara pada bagian kedua yang lambat, Larghetto. Tapi warna Afrika, jazz dan Bali kembali terdengar di bagian ketiga. Tentu saja nafas utamanya tetap Mozart, karena memang padakonser dua piano ini Poulenc mendadani Mozart dengan lenggak lenggok Bali. Exposition coloniale internationalejuga dihadiri oleh Colin McPhee (1900-1964), komponis Kanada yang sebelumnya, di Amerika, sudah mendengar rekaman gamelan Bali. Jatuh cinta pada gamelan Gong Gebyar yang ditemuinya diParis, McPhee bergegas ke Bali. Ia ingin mendengar gamelan Bali di tempat asalnya, dan mempelajari serta merekam sebanyak mungkin.Dua kali pulang kampung, McPhee praktis menghabiskan dekade 1930an di

pulau dewata. Pada 1936, ketika kembali sebentar Amerika dan Meksiko, McPhee mencipta karyanya yang paling terkenal Tabuh-Tabuhan, toccata untuk orkestra dan dua piano. Gubahan ini terdiri dari tiga bagian, bagian pertama Ostinato - Animato, bagian kedua Nocturne - Tranquilo dan bagian ketiga, Finale - Quieto e misterioso. Menetap di New York selama Perang Dunia II, McPhee berkenalan dengan Benjamin Britten (1913-1976), komponis Inggris yang mengungsi ke Amerika. Sebagai penganut pasifisme yang anti perang, Britten menolak mobilisasi dan wajib militer, karena itu dia terpaksa hengkang ke negara Paman Sam. Gamelan Bali Melayat Kematian di Venezia McPhee segera memperkenalkan gamelan Bali kepada Britten. Maka berjangkitlah “virus” Bali pada komponis Inggris ini yang sebenarnya sudah mencari-cari alam suara dan tangga nada yang lain, seolah jenuh dengan tangga nada musik barat. Mereka berdua juga sempat merekam transkripsi piano gamelan Bali, hasil garapan McPhee. Seusai perang Britten bertemu Poulenc di Paris dan pada 16 Januari 1955, keduanya tampil sebagai solis pada pementasan konser untuk dua piano dalam d-minor karya Poulenc di London. Setahun kemudian, pada Januari 1956, Benjamin Britten dan Peter Pears, penyanyi tenor pasangan hidupnya, melawat ke Bali selama beberapa minggu. Rupanya, seperti McPhee, Britten juga ingin melihat, merasakan dan mendengar sendiri Bali. Paling sedikit ada tiga karya Britten yang terpengaruh gamelan Bali. Pertama musik balet Prince of the Pagodas, kemudian opera Owen Wingrave dan opera terahir Britten Death in Venice atau “Kematian di Venezia”.Belakangan pelbagai gedung opera Eropa makin sering mementaskan Death in Venice, apalagi pada tahun 2013, ketika mengenang 100 tahun Britten. Opera ini didasarkan pada novella Thomas Mann Der Tod in Venedig, terbitan 1911. Britten bekerja sama dengan Myfanwy Piper sebagai penulis librettoatau syair opera.

Opera yang dipentaskan untuk pertama kali tahun 1973 ini sebenarnya bersifat perenungan perjalanan hidup Gustav von Aschenbach, tokoh utamanya. Dia adalah seorang pengarang terkenal, beberapa novelnya sukses besar, tapi ternyata tidak bisa lagi menggoreskan satu katapun pada catatannya. Ia mengalami writer’s block, semacam sindrom tak bisa menulis. Baru ketika bertemu pemuda Polandia Tadzio di Venezia, Von Aschenbach sadar akan keindahan maka inspirasi kembali mengalir ke dalam kalbunya. Ini digambarkan dengan bagus oleh Britten. Musiknya tibatiba berubah menjadi musik Bali. Gamelan Bali masih terdengar pada satu adegan lagi, ketika berlangsung apa yang disebut The Games of Apollo. Di sini tampil Apollo, dewa musik Yunani purba, menyanyi di sekeliling pemudapemuda teman Tadzio yang sibuk bermain bola di pantai Venezia. Nyanyian Apollo (bersuara countertenor yaitu suara pria falsetto) sangat mempesona, terutama karena melodinya pentatonis Bali. Gamelan Bali, berbeda dengan gamelan Jawa, tidak terlalu mengenal nyanyian. Tapi dalam Death in Venice,gamelan Bali malah digunakan bukan saja dalam nyanyian tunggal, tapi juga sebagai nyanyian paduan suara. Britten tidak luput dari kritik. Langkah beraninya menggunakan melodi gamelan Bali disebut sebagai eksotisme. Ia dituding menggunakan gamelan sebagai sesuatuyang jatuh dari langit. Gamelan yang tidak ada pada kosanadanya, tiba-tiba terdengar. Lebih parah lagi dia dicap tidak berupaya terlebih dahulu memahami gamelan Bali. Sebenarnya kalau kita dengar dengan seksama, maka dalam Peter Grimes, opera pertama Britten, sudah bisa didengargamelan Bali, walaupun memang lamat-lamat belaka. Di bagian akhir opera, ketika Peter Grimes diburu warga desa karena anak asuhnya ditemukan tewas, juga lamat-lamat terdengar gamelan Bali. Jadi gamelan Bali sudah lama ada dalam karya-karya Britten. Baru pada Death in Venice, opera terakhirnya, gamelan Bali terdengar dengan jelasnya. Maka Francis Poulenc, Colin McPhee dan Benjamin Britten adalah komponis-komponis

barat utama yang terpengaruh gamelan Bali. Mereka menggunakan kosanada Bali dalam pelbagai karya mereka. Lebih penting lagi, Bali mereka pakai untuk menerobos tradisi romantisme yang sepanjang abad 19 begitu dominan di barat. Selain ketiganya, masih ada beberapa nama yang tidak terlalu dikenal, seperti Theo Smit Sibinga (1899-1958) Paul Seelig (1876-1945), Walter Niemann (1876-1953) serta Alexandre Tansman (1897-1986). Belakangan orang juga menyebut nama Walter Spies (1895-1942). Gamelan Bali ternyata juga mengilhami mereka dalam berkarya. Tapi berlainan dengan tiga perintis di atas, pelbagai komponis ini masih berkutat pada tradis romantik. Gamelan Bali tidak mereka gunakan untuk mendobrak aliran itu. Mungkin karena itulah karya mereka tidak banyak dimainkan lagi. Di abad 21 ini Bali tetap menarik banyak komponis, bukan saja komponis internasional tapi juga komponis Indonesia sendiri. Jaya Suprana, Ananda Sukarlan dan Krisantini Markam adalah contoh para komponis yang terilhami oleh gamelan Bali. Gitaris I Wayan Balawan bisa disebut sebagai wakil blantika musik pop yang bahkan menggunakan instrumen gamelan Bali dalam lagulagu ciptaannya. Di luar negeri ada Snta Wullur, seorang komponis Belanda keturunan Indonesia yang antara menggubah Bali in blue. Lalu komponis Amerika Wayne Vitale yang menggubah Jagul untuk dua piano. Kemudian Gareth Farr, komponis Selandia Baru yang menggubah Jangan lupa untuk piano solo dalam rangka mengenang pemboman Bali 2002. Dan masih ada komponis Hongaria yang terkenal György Ligeti. Dia menggubah Galam Barong, sebuah karya kompleks walaupun hanya untuk piano tunggal. Dalam hampir seabad gamelan Bali terus menginspirasi komponis manapun. Esai ini hanya melacak asal usul pengaruh gamelan Bali pada musik klasik barat. Zaman sekarang pasti lebih banyak lagi komponis yang terilhami gamelan Bali, di manapun dia berada. Apa lagi memperhatikan betapa gamelan Bali sekarang sudah mendunia, tersebar di mana-mana.

Merayakan Murni

Merayakan Perempuan dalam Seni di Bali Jejak perempuan dalam dunia seni rupa di Bali bisa diibaratkan sebagai oase di tengah gurun pasir. Jika bukan karena minimnya arsip yang mencatat perjalanan kesenimanannya, kurangnya partisipasi perempuan dalam event seni rupa pun semakin menjauhkannya dalam jangkauan radar/ perhatian publik seni. Entah karena perempuan perupa Bali luput dari perhatian atau dalam segi karya dan intelektualitas masih dinilai tidak representatif tampil dalam ruang pameran. Namun dalam perkembangannya, Seniwati tetap membawa risiko akan kecenderungan karya dengan visual yang sama. Jumlah pelukis tradisi yang mendominasi kelompok ini belum siap secara mental mengikuti arus perkembangan seni. Meskipun seorang pelukis tradisi telah meraih pencapaian teknisnya namun tema-tema dalam lukisan yang sifatnya repetitif, (melulu) mengenai alam, ritual, dan kehidupan sosial. Karya-karya semacam ini ternyata mengalami kesulitan untuk menyesuaikan dengan paradigma seni yang selalu membutuhkan suatu pembaharuan baik dari segi estetika dan isu-isu kekinian. Tema-tema dalam lukisan tradisi kerap dianggap delusif dan berbeda semangat zamannya. Hingga kemunculan IGAK Murniasih yang menjadi anomali diantara perempuan pelukis lainnya di dalam kelompok Seniwati. Perjalanan Murniasih sebagai pelukis sesungguhnya di luar dugaan dalam konstelasi seni rupa Indonesia mengingat latar belakang akademisnya yang non-seni. Lahir pada 4 Juli 1966 dan meninggal pada 11 Januari 2006, keberaniannya mengangkat tema-tema di seputar tubuh perempuan yang kerap dianggap tabu ternyata justru menarik minat intelektual untuk melakukan kajian terhadap karyanya.Setelah kematiannya, nasib karya-karyanya nyaris tidak terdengar bahkan kondisi studionya di daerah Nyuh Kuning, Ubud telah dirobohkan karena habis masa kontrak.

BPM/ist

Komunitas Untuk memperingati 10 tahun kematiannya, sebuah komunitas yang

berbasis di daerah Batubulan yaitu Ketemu Project and Space menginisiasi sebuah program bertajuk “Merayakan Murni” dengan fokus utamanya yaitu mendukung perkembangan Yayasan Murni melalui pengarsipan karyakarya dan data tulisan mengenai Murni. Kemudian mengajak segenap seniman baik di Bali maupun diluar Bali untuk merespons tema-tema yang diangkat Murni ke dalam karya mereka yang rencananya akan direalisasikan tahun depan melalui sejumlah pameran. Pada peluncuran program ini (8/12), Budi Agung Kuswara selaku pendiri Ketemu Project and Space memaparkan awal mula program ini bisa mulai diwujudkan. Gagasan untuk menghidupkan kembali Murni, selain dari segi karya-karyanya yang masih relevan dengan persoalan konsep tubuh dan seksualitas pun didukung oleh suaminya, Mondo -laki-laki berdarah Itali yang sangat memuja pemikiran dan karya-karya Murni. Mengenai sudut pandang oposisi biner ini kerap nampak pada karya perempuan perupa di Indonesia yaitu Arahmaiani dalam karya performanceHis-Story. Dalam performance ini tampak seorang laki-laki menuliskan kalimat berbahasa Inggris dan Jepang yang kurang lebih mengenai sejarah yang ditulis dengan darah, disisi lain Arahmaiani hadir sebagai seorang perempuan yang memperhatikannya. Secara intrinsik performance tersebut telah menyatakan bahwa sejarah bersifat maskulin atau dengan kata lain realitas dikonstruksi oleh yang superior. Dalam hal pertentangannya dengan laki-laki dan ideologi patriarki seperti

dalam karyanya tersebut, Arahmaiani menggunakan tubuhnya sebagai aktor sedangkan jika dibandingkan dengan Murni, ia memindahkan tubuhnya ke dalam kanvas dengan lebih tematis. Tubuh perempuan yang tematis dalam karya Murni hadir bukan sebagai tubuh realis atau yang mirip dengan realitasnya. Hal ini ditegaskan oleh Acep Iwan Saidi (2008: 213) mengenai konsep tubuh Murni yang hadir sebagai tubuh yang mengalami proses semiosis sehingga ia cenderung lebih bersifat simbolik. Maka yang menjadi fokus dalam lukisan Murni bukan kehadiran tubuh secara visual, melainkan bagaimana tubuh tersebut bisa menjadi tanda untuk mengomunikasikan gagasan yang disampaikan. Dramatis Hadir dengan teknik Pengosekan dengan warna-warna cerah nan dramatis serta garis outline pada figur lukisannya, membaca dan mengamati karya-karya lukis Murni maka akan muncul dua kata kunci yang menjadi gagasannya dalam berkarya. Selain itu, interaksi seksual yang banyak ditampilkan oleh Murni adalah hubunganhubungan yang ganjil, liar, dan imajinatif. Misalnya saja dalam karya “Bikin Pleasure” yang menampilkan tubuh perempuan yang disenggamai oleh senjata tajam (arit) dalam dominasi warna merah dalam latar belakangnya yang cukup mengintervensi objek visual di dalamnya. Arit yang merupakan alat pemotong rumput telah beralih fungsi menjadi pemberi sensasi terhadap tubuh. Karya tersebut tentu hadir sebagai paradoksdalam interaksi sek-

sual. Rasa sakit telah dimaknai sebagai sumber kenikmatan tentu hal ini juga mengindikasikan adanya kecendrungan sadomasokhisme dalam beberapa karya Murni yang lain. Kemudian yang kedua adalah feminisme jika dicermati dari konteks Murni dalam berkarya dengan menampilkan visual tubuh dan dirinya sebagai representasi dari permasalahan yang dihadapi oleh banyak perempuan dalam lingkungan sosial dan kultural. Dalam konteks sosial hidupnya, Murni adalah seorang perempuan berdarah Bali yang juga hidup dalam normanorma dan adat yang berkembang di sana. Dalam struktur masyarakat adat Bali, perempuan memiliki posisi yang lebih rendah dibanding dengan kaum laki-laki. Sehingga dalam berbagai hal perempuan memiliki berbagai keterbatasan untuk mengungkapkan gagasannya secara politik maupun kebebasan dalam mengekspresikan dirinya. Perempuan dalam struktur adat Bali dibelenggu oleh norma dan konstruksi sosial lainnya. Bahkan mungkin tidak hanya di Bali, hal ini bisa terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. Dalam konteks inilah kehadiran karya Murni dapat dimaknai sebagai pendobrak nilai dan norma yang selama ini direkatkan pada diri perempuan. Melalui program “Merayakan Murni” kita akan melihat bagaimana relevansi dari jejak dan pemikiran murni dalam konteks sosial hari ini. -Citra Sasmita, perupa dan alumni workshop penulisan kritik senirupa DKJ 2015


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook