terbit sejak 16 agustus 1948 perintis k. nadha
HARGA LANGGANAN Rp 90.000 ECERAN Rp 4.000
16 HALAMAN
NOMOR 2 TAHUN KE 72
Online:http://www.balipost.co.id http://www.balipost.com E-mail: balipost@indo.net.id Iklan/Redaksi/Sirkulasi (0361) 225764, 233801 Faksimile: 227418
Pengemban Pengamal Pancasila
MINGGU KLIWON, 18 Agustus 2019
balipost http://facebook.com/balipost
Pemerintah ingin mengembangkan beberapa wilayah metropolitan di luar Jawa supaya bisa menumbuhkan sumber-sumber ekonomi baru. Hal tersebut merupakan salah satu cara pemerintah untuk mengurangi ketimpangan antarwilayah.
BUPATI Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti memimpin apel Perayaan HUT ke-74 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia yang digelar di Lapangan Alit Saputra, Dangin Carik, Tabanan, Sabtu (17/8) pagi. Para pemimpin OPD memakai pakaian khas nusantara, sedangkan peserta apel mengenakan pakaian khas daerah
HAL. 11
DAERAH | HAL. 2
@balipost_com http://instagram.com/balipostcom
Merah Putih Terbesar
Sumber Ekonomi Baru
Bangkitkan Rasa Nasionalisme
@balipostcom http://twitter.com/balipostcom
RIBUAN komponen pemuda se-Bali, Sabtu (17/8) kemarin, menjadi pelaku sejarah membentangkan bendera terbesar di Indonesia di Lapangan Kapten Japa, Kesiman Kertalanggu, Denpasar. Pembentangan Sang Saka Merah Putih berukuran 120 meter x 80 meter serangkaian 74 tahun Kemerdekaan RI, HUT Pemprov Bali, dan mendukung Pergub Bali soal Bulan Bung Karno itu, dilakukan penuh khidmat dan semangat tinggi. Tampil sebagai Pembina Upacara Ketua Yayasan Kepustakaan Bung Karno I.B. Darmika Marhaen WPS alias Gus Marhaen.
DAERAH | HAL. 3
Peringati Hari Kemerdekaan RI
Gubernur Koster: Jadikan Momentum Mantapkan Visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali
GUBERNUR Bali Wayan Koster bertindak selaku inspektur upacara pada peringatan Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia di Lapangan Puputan Margarana Niti Mandala, Denpasar, Sabtu (17/8) pagi kemarin. Seusai memimpin upacara, Gubernur Koster menyampaikan bahwasanya peringatan ke-74 Hari Kemerdekaan RI merupakan momentum yang tepat untuk memantapkan program-program Pemprov Bali sesuai dengan visi ‘’Nangun Sat Kerthi Loka Bali’’. Program-program yang telah disusun agar dilaksanakan dengan sebaik-baiknya sesuai dengan perencanaan serta anggaran yang telah dimatangkan. Gubernur yang juga Ketua DPD PDI Perjuangan Bali itu menyampaikan, rencana kerja dan program yang dicanang-
kan, sejauh ini telah berpedoman pada program prioritas visi ‘‘Nangun Sat Kerthi Loka Bali’’, yang salah satunya adalah peningkatan sumber daya manusia Bali. Hal ini sangat relevan dengan tema HUT ke-74 Kemerdekaan RI, yakni ‘‘SDM Unggul, Indonesia Maju’’. “Hari ini, kita memperingati Hari Kemerdekaan RI. Mari kita jadikan momentum untuk memantapkan program yang telah kita susun sesuai visi ‘Nangun Sat Kerthi Loka Bali’. Mari kita ciptakan sumber daya manusia yang unggul dan memiliki daya saing, untuk senantiasa mampu bergerak bersama guna mewujudkan Bali Era Baru,” ujar Gubernur Koster. Peringatan Detik-detik Proklamasi, Sabtu (17/8) kemarin, berbeda dari sebelumnya. Tahun ini, peserta upacara ter-
masuk Gubernur, Wakil Gubernur Bali, dan Ketua DPRD Bali mengenakan busana adat Bali. Peserta yang berasal dari luar Bali juga memakai busana adat daerah masing-masing. HUT Ke-74 RI pun kental dengan nuansa budaya. “Peringatan HUT Ke-74 Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini di Bali, benar-benar berlangsung meriah dengan nuansa budaya. Pertama kali berbusana adat Bali,” ujar Gubernur Bali Wayan Koster usai upacara bendera. Hal. 11 Bukan Retorika UPACARA - Gubernur Bali Wayan Koster bertindak selaku inspektur upacara pada peringatan Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan RI, Sabtu (17/8) kemarin.
Jokowi Kenakan Busana Khas Bali
’’Bali Post’’ Menyapa Pembaca Setianya
Dari Gubernur Sampai Pedagang Pasar Badung 16 Agustus, tanggal istimewa bagi Bali Post, korannya krama Bali. Bali Post yang pertama kali bernama Suara Indonesia, tahun 2019 ini genap berusia 71 tahun. Selama tujuh dasawarsa itu, Bali Post tetap berkomitmen mendorong terwujudnya ajeg Bali. Tak sebatas pelestarian alam dan budaya, juga dalam penguatan ekonomi krama Bali. Hal itu pulalah yang dilakukan Bali Post pada Jumat (16/8) pagi. Bali Post kembali ‘’napak tilas’’ perjalanan sang perintis ketika menerbitkan lanjut mengedarkan Suluh Indonesia. ‘’Napak Tilas’’ itu diawali dari Jaya Sabha, rumah Gubernur Bali dan Pasar Badung yang dulu dikenal sebagai Peken Payuk. JUMAT pagi 16 Agustus 2019, lalu lintas di Denpasar masih sepi. Udara pun terasa masih dingin. Namun bagi ‘’petugas’’ pengantar koran tentu itu tak menjadi penghalang. Hal itu pulalah yang dilakukan Satria Naradha, tepat pada hari ulang tahun ke-71 Bali Post. Ia beriringan dengan ratusan karyawan Bali Post menyusuri jalan di Kota Denpasar. Pertama yang dituju adalah Jaya Sabha, rumah jabatan Gubernur Bali. Di rumah besar nan asri itu, Satria Naradha yang mengendarai motor jadul (jaman dulu) langsung disambut Gubernur Wayan Koster. Rombongan diterima di teras rumah yang dihiasai lampu taman yang temaram. Satria Naradha langsung menyerahkan koran edisi khusus HUT Ke-71 Bali Post kepada Gubernur. “Saya kira ini satu inisiatif yang sangat bagus untuk menggambarkan mengenai bagaimana perjuangan Bali Post, dalam hal ini berdirinya,” ujar Koster. Oleh karena itu, kemajuan yang sudah dicapai koran pertama di Bali ini tentu harus selalu dikaitkan dengan sejarah berdirinya Bali Post itu sendiri. “Agar apa yang menjadi misi dan tujuan didirikannya Bali Post sebagai satu media perintis pertama di Bali betul-betul bisa mengemban amanah masyarakat dan tentu saja bersinergi dengan pemerintah ke depan,” jelas Koster yang Ketua DPD PDI-P Bali ini. Pemprov Bali khususnya, lanjut Koster, sangat membutuhkan kehadiran Bali Post. Di dalam perkembangannya ke depan, Bali Post agar bisa mengakomodasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tak lebih dari 10 menit, rombongan pun beranjak dari Jaya Sabha. Kali ini tujuannya Pasar Badung. Di pasar yang dulu dikenal sebagai Peken Payuk ini, Satria Naradha langsung menyapa pembaca setia Bali Post. Selain membagikan Koran Bali Post secara gratis, juga diserahkan suvenir sebagai tali kasih. Penyerahan tanda kasih berupa tabungan Ajeg Bali, Discount Card Bali Post, Voucer Dana Duka. Tali kasih itu diserahkan secara simbolis oleh Pimpinan Kelompok Media Bali Post, Satria Naradha. Dirut PD Pasar Denpasar I.B. Kompyang Wiranatha menyambut baik sinergi media masa dengan pasar. Kegiatan yang dilakukan Bali Post yang masuk pasar ini dinilai menjadi sarana promosi bagi pasar yang dikelolanya. “Saya melihat ini sinergi yang sangat positif, karena juga bisa menjadi sarana promosi,” ujar mantan Ketua Komisi II DPRD Denpasar ini. (rin/ara)
Bali Post/eka
EDISI KHUSUS - Satria Naradha menyerahkan Koran Bali Post edisi khusus 16 Agustus 2019 kepada Gubernur Bali Wayan Koster, Jumat lalu. CMYK
PRESIDEN RI Joko Widodo kembali membuat publik Bali bangga. Ini lantaran busana yang dikenakannya dalam upacara bendera detik-detik proklamasi kemerdekaan RI di Istana Negara, Sabtu (17/8) kemarin, kental bernuansa Bali. Jokowi tampak gagah dalam balutan busana raja-raja di Bali. Busana adat berbahan bludru hitam lengkap dengan kerisnya itu diminta secara khusus oleh Presiden kepada Pemprov Bali lewat Dinas Kebudayaan. Sedangkan kain songket dan udeng yang dikenakan beserta riasannya dipersiapkan oleh Salon Agung. “Kami diminta oleh Istana untuk menyiapkan alternatif busana. Begitu juga Salon Agung diminta. Setelah itu, kita mengirimkan busana itu,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, I Wayan “Kun” Adnyana, Sabtu kemarin. Kun bersama pemilik Salon Agung, A.A. Ayu Ketut Agung, diundang ke Istana Negara dalam kaitan upacara detikdetik proklamasi dan persiapan rias busana Presiden. Sejak tiga tahun terakhir, Jokowi memang selalu mengenakan busana adat daerah dan baru tahun ini memilih busana adat Bali. Kun menambahkan, busana SELAMAT - Presiden Jokowi memberikan selamat kepada komandan upacara Kolonel Laut (P) Hariyo Poernomo seusai memimpin Upacara Peringatan Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ke-74 tahun 2019 di Istana Merdeka, Jakarta, Sabtu (17/8) kemarin.
untuk Presiden yang dipersiapkan oleh Dinas Kebudayaan menggandeng desainer, Turah Mayun. Selain busana bludru hitam, pihaknya juga sempat memberikan alternatif pilihan busana nuansa hitam dan merah. Untuk HUT Ke-74 RI ini, busana adat Bali secara keseluruhan dipersiapkan oleh Dinas Kebudayaan dan Salon Agung. Berbeda saat Presiden menghadiri Kongres V PDI-P di Sanur, beberapa waktu lalu, seluruh busana adat dipersiapkan oleh Dinas Kebudayaan. “Acuannya busana raja-raja Bali, bukan busana pengantin,” jelasnya. Tak hanya Jokowi, putranya Gibran Rakabuming dan cucunya Jan Ethes juga tampak mengenakan busana adat Bali. Hanya, busana yang dikenakan memang lebih sederhana. Menurut Kun, busana untuk Gibran dan Jan Ethes dipersiapkan secara pribadi oleh mereka sendiri. Sementara ibu negara, Iriana Joko Widodo, memakai baju adat Batak Simalungun, Sumatera Utara dan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla mengenakan pakaian
adat Aceh. Kun menilai positif pengenaan busana adat daerah dalam peringatan detik-detik proklamasi kemerdekaan RI. Terlebih dengan adanya Undang-undang No.5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. “Intinya memang negara sudah memiliki iktikad yang luar biasa untuk memajukan kebudayaan Indonesia. Jadi, sudah benar menjadikan kebudayaan sebagai haluan pembangunan nasional,” jelasnya. Kun melihat kekayaan budaya dan keberagaman Indonesia dari berbagai macam busana adat daerah yang dikenakan para peserta upacara. Hal ini luar biasa untuk menumbuhkan jiwa kebangsaan dan patriotisme. Di Bali sendiri, gubernur sudah membuat surat edaran agar pelaksanaan detikdetik proklamasi di seluruh Bali menggunakan busana adat. “Jadi, antara pusat dan daerah benar-benar sehaluan dalam upaya membangun karakter bangsa atau membangun kebudayaan yang berkepribadian sebagaimana Tri Sakti Bung Karno,” ujarnya. (kmb32)
Perayaan HUT Ke-74 Kemerdekaan RI
Pejabat di Buleleng Peragakan Busana Pengantin Khas Den Bukit MOMEN peringatan HUT ke-74 Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2019 dimanfaatkan untuk mensosialsiasikan dan melestarikan khazanah warisan leluhur di Buleleng. Salah satu warisan leluhur itu adalah busana dan model rias pasangan pengantin asli dari Den Bukit. Warisan itu dipertontonkan pada hari peringatan kemerdekaan, Sabtu (17/8) kemarin. Setelah mengikuti upacara, para pejabat setingkat kepala dinas (kadis) dan kepala badan (kaban), kepala bagian (kabag), dan direktur Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) mengikuti parade busana pengantin khas Buleleng. Parade dipimpin Bupati
Putu Agus Suradnyana (PAS) bersama Ny. Aries Suradnyana, Wakil Bupati dr. Nyoman Sutjidra, Sp.OG. didampingi Ny. Ayu Wardhani Sutjidra, Ketua DPRD Sementara Gede Supriatna dengan Ny. Hermawati Supriatna, dan Sekkab Buleleng Dewa Ketut Puspaka, M.P. mengandeng Ny. Indri Puspaka. Tidak heran, parade ini menyita perhatian para undangan dan warga Kota Singaraja. Ada sekitar 30 pasangan (suami istri -red) para pejabat mengenakan busana pengantin asli Buleleng. Suasana di lapangan Taman Kota Singaraja seakan menjadi tempat pernikahan massal. Hal. 11 Suasana Sukacita
BUSANA PENGANTIN - Bupati Putu Agus Suradnyana (PAS) bersama Ny. Aries Suradnyana memimpin parade busana pengantin khas Buleleng usai upacara HUT ke-74 Kemerdekaan RI tahun 2019, Sabtu (17/8) kemarin, di lapangan Taman Kota Singaraja.
2
Minggu Kliwon, 18 Agustus 2019
Dewan Setujui Ranperda APBD-P Rai Mantra Jadi Inspektur Apel Peringatan HUT Ke-74 Kemerdekaan RI di Kota Denpasar Kota Denpasar Tahun 2019 Sebut Telah Ideal dan Utamakan Kepentingan Rakyat
SIDANG Paripurna ke-15 Masa Persidangan II Tahun 2019 yang mengagendakan Pemandangan Umum dan Pendapat Akhir Fraksifraksi DPRD Kota Denpasar terhadap Ranperda Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD-P) Kota Denpasar Tahun 2019 digelar di Gedung DPRD Kota Denpasar, Jumat (16/8). Kendati memasuki masa akhir jabatan, anggota DPRD Denpasar periode 204-2019 semangat bekerjanya tak pernah surut. Dalam sidang paripurna yang dipimpin Ketua DPRD Denpasar I Gusti Ngurah Gede, seluruh fraksi di DPRD Denpasar menyetujui dan mengesahkan Ranperda Perubahan APBD Denpasar Tahun 2019. Hadir dalam kesempatan tersebut Wali Kota Denpasar I.B. Rai Dharmawijaya Mantra, Wakil Ketua DPRD Denpasar I Wayan Mariyana Wandhira, A.A. Ketut Asmara Putra, Made Muliawan Arya, Sekda Denpasar AAN Rai Iswara, unsur Forkompinda, serta pimpinan OPD di lingkungan Pemkot Denpasar. Pembacaan Pemandangan Umum dan Pendapat Akhir Fraksi diawali oleh Fraksi PDI Perjuangan yang dibacakan oleh I Wayan Suadi Putra. Fraksi PDI-P dengan memerhatikan pidato pengantar Wali Kota Denpasar serta pelaksanaan rapat internal fraksi bahwa komposisi belanja tidak langsung dan belanja langsung yang dirancang 48,72 persen dan 51,28 persen telah menunjukkan porsi ideal. Fraksi Partai Demokrat dalam pemandangan umum fraksi yang dibacakan Anak Agung Alit Putra juga menyetujui usulan Perubahan Ranperda APBD Denpasar Tahun 2019. Dengan semakin tingginya persentase belanja langsung menunjukkan semakin tingginya perhatian pemerintah terhadap belanja pembangunan dan pengembangan sarana prasarana terkait peningkatan pelayanan pada masyarakat. Fraksi Partai Gerindra dalam pemandangan umumnya yang dibacakan I Kompyang Gede juga menerima Ranperda Perubahan APBD Denpasar Tahun 2019. Fraksi Gerindra pun mengapresiasi sumber pendapatan yang mengalami peningkatan. Pihaknya juga memberikan apresiasi terhadap komposisi perbandingan belanja tidak langsung dan belanja langsung sudah cukup ideal dan pro-rakyat. Hal senada disampaikan Fraksi Partai Hanura yang dibacakan I.B.
Ketut Kiana yang menekankan bahwa postur anggaran APBD Denpasar saat ini telah menunjukkan tren positif. Selain itu, pihaknya memberikan apresiasi terhadap komitmen Pemkot Denpasar dalam meningkatkan pendapatan untuk mendukung pembangunan yang menyentuh langsung kepentingan masyarakat. Demikian halnya Fraksi Partai Golkar lewat juru bicaranya I Wayan Duaja senada dengan fraksi lainya di DPRD Denpasar. Fraksi Partai Golkar turut menyetujui pengesahan Ranperda Perubahan APBD Denpasar Tahun 2019. Dari Ranperda APBD-P Tahun 2019 ini, pendapatan daerah tahun anggaran 2019 setelah perubahan dirancang Rp 2,13 triliun lebih atau meningkat Rp 15,74 miliar lebih dari anggaran sebelum perubahan yakni Rp 2,12 triliun lebih, terdiri atas Pendapatan Asli Daerah yang dirancang meningkat menjadi Rp 909,1 miliar lebih atau meningkat Rp 36,6 miliar lebih dari anggaran sebelum perubahan Rp 872,4 miliar lebih. Selain itu, dana perimbangan yang terdiri atas dana bagi hasil pajak, bagi hasil bukan pajak, dana alokasi umum, dan dana alokasi khusus dirancang Rp 916,94 miliar lebih. Dana lain-lain pendapatan daerah yang sah seperti pendapatan hibah, dana bagi hasil pajak, bantuan keuangan, serta dana transfer lainnya dirancang Rp 310,05 miliar lebih. Belanja langsung dan tidak langsung setelah perubahan dirancang Rp 2,4 triliun lebih dengan komposisi belanja langsung 51,28 persen dan belanja tidak langsung 48,72
persen. Terkait adanya defisit anggaran yang dirancang Rp 316,2 miliar lebih sedianya akan ditutupi dengan pembiayaan daerah yang diperoleh sebesar Rp 323,3 miliar yang bersumber dari SILPA tahun anggaran 2018. Wali Kota Denpasar Rai Dharmawijaya Mantra mengapresiasi sinergitas, koordinasi, komunikasi, dan kerja sama antara eksekutif dan legislatif sehingga Ranperda Perubahan APBD Tahun 2019 dapat ditetapkan sesuai mekanisme. Sinergitas ini merupakan upaya bersama dalam rangka mewujudkan komitmen pelayanan kepada masyarakat. Rai Mantra juga menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada pimpinan dan segenap anggota dewan atas kesungguhan dan kerja samanya hingga saat ini. Kerja sama yang didukung koordinasi dan komunikasi yang sudah terbangun ini dapat mewujudkan suasana kondusif untuk mewujudkan komitmen pelayanan kepada masyarakat. “Mengingat masih adanya saran dan masukan, sedianya akan ditindaklanjuti sesuai urgensi dan manfaatnya sebagai pertimbangan dalam penyempurnaan dan pelaksanaan program berikutnya guna mendukung pembangunan di Kota Denpasar,” paparnya. Dalam sidang paripurna yang bisa dikatakan sebagai agenda terakhir anggota DPRD Denpasar periode 2014-2019 ini, dilantunkan pantun oleh Wakil Ketua DPRD Denpasar I Wayan Mariyana Wandhira serta ucapan selamat dan saling memaafkan antara segenap anggota dewan. (ad522)
PENUTUPAN – Wali Kota Denpasar I.B. Rai Dharmawijaya Mantra saat penutupan Sidang Paripurna DPRD Kota Denpasar, Jumat (16/8).
Perdiknas Denpasar Peringati HUT Ke-74 RI
Komitmen Cetak SDM Unggul dan Berkarakter PERKUMPULAN Pendidikan Nasional (Perdiknas) Denpasar memperingati HUT ke-74 RI dengan menggelar upacara bendera di halaman SMK Teknologi Nasional, Sabtu (17/8) pagi kemarin. Upacara bendera diikuti siswa, guru, dan karyawan di SMP Nasional dan SMK Teknologi Nasional yang merupakan dua unit di Perdiknas. Peserta upacara mengenakan busana adat Bali, dan kelompok paduan suara berdiri dalam balutan busana adat nusantara. Hal ini memunculkan suasana nasionalis di tengah kearifan lokal yang ada. Kepala SMK Teknologi Nasional, Ni Nyoman Sulasmini, S.Pd., selaku Pembina Upacara membacakan pidato Presiden RI Joko Widodo. Salah satunya menekankan pada bidang pendidikan, agar dunia pendidikan membentuk SDM unggul untuk kemajuan Indonesia. Ini sesuai tema HUT ke-74 RI yakni “SDM Unggul, Indonesia Maju”. “Kita selaku penyelenggara pendidikan diharapkan membentuk anak-anak yang unggul, bisa berinovasi, bisa berkreativitas, dan didasarkan akhlak mulia, budi pekerti,” ujarnya. Menurut Sulasmini, tema HUT RI sebetulnya telah sejalan dengan
visi dan misi Perdiknas khususnya SMK Teknologi Nasional. Anakanak tidak hanya diberikan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk bisa berinovasi dan berkreativitas. Mereka juga dibekali pendidikan karakter dan kepedulian terhadap lingkungan. Di lingkungan Perdiknas yang kini dipimpin Ketua Perdiknas Denpasar Dr. A.A. Ngurah Eddy Supriyadinata Gorda, bahkan sudah dikenal GTS atau Good, Trustworthy, Smart terkait penanaman pendidikan karakter untuk melahirkan generasi emas bangsa. “Visi dan misi lembaga pendidikan yang bernaung di bawah Perdiknas Denpasar, salah satunya membentuk anak-anak atau SDM yang unggul, bisa berinovasi, dan tentunya didasarkan karakter,” jelasnya. Selain upacara bendera memperingati HUT ke-74 RI, lanjut Sulasmini, SMK Teknologi Nasional juga menggelar berbagai perlombaan yang dipusatkan di sekolah pada 1516 Agustus lalu. Di samping untuk mengenang jasa pahlawan, lomba bertujuan menjalin persaudaraan di antara keluarga besar SMK Teknologi Nasional serta menjadi ajang kreativitas siswa, di antaranya
PERANGKAT UPACARA - Jajaran Perdiknas Denpasar yang terdiri atas SMP Nasional dan SMK Teknologi Nasional bersama siswa yang menjadi perangkat upacara bendera memperingati HUT ke-74 RI.
lomba membaca puisi serta lomba kewirausahaan. Para siswa mulai kelas X sampai XII membuka beberapa stan sebagai bentuk implementasi pelajaran wirausaha di SMK. “Kami berharap anak-anak bisa membangun jiwa kewirausahaan dari sejak dini,” ujarnya. Sementara itu, Kepala SMP Nasional Denpasar Ni Putu Supadmi, S.Pd. mengatakan, aneka perlombaan juga telah digelar di SMP Nasional. Usai upacara bendera dilakukan penyerahan hadiah lombalomba yang dilaksanakan 15 dan 16 Agustus, di antaranya lomba budaya Bali seperti menulis aksara Bali, pidarta basa Bali, dan puisi bahasa Bali, lomba puisi bahasa Indonesia, story telling dan lomba ketangkasan baris-berbaris. Selain itu, pihaknya kembali membangkitkan olahraga dalam permainan tradisional lewat lomba. “Sekarang kan dibangkitkan lagi masalah permainan tradisional, terutama permainan zaman dahulu yaitu metajog (enggrang), gala-gala, rompak, dan lomba tarik tambang,” ungkapnya. Menurut Supadmi, pihaknya ingin menanamkan kepada siswa agar mencintai budaya sendiri sekaligus menumbuhkembangkan pendidikan karakter. Misalnya dalam lomba tarik tambang, perlu ada gotong royong atau dalam lomba metajog butuh ketangkasan dan kegigihan. “Karakter itu betul-betul ditumbuhkembangkan di sini. Ditanamankan pada mereka sejak dini agar nanti menjadi SDM yang kuat dan tangguh,” jelasnya. Tak hanya kegiatan internal, Supadmi menyebut HUT ke-74 RI turut diperingati dalam kegiatan eksternal, yakni mengikuti gerak jalan santai yang diselenggarakan LPD Panjer, mengirim guru PKKn mengikuti Roadshow KPK pada Jumat (16/8), serta 50 siswa dan 7 guru menghadiri Roadshow Jelajah Negeri KPK di Art Center pada Sabtu (17/8), dan mengikuti Fun Bike Kota Denpasar di Parkiran Pasar Badung, Minggu (18/8) ini. (ad529)
PERINGATAN Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-74 digelar secara serentak hingga ke pelosok negeri, tak terkecuali di Kota Denpasar. Pemerintah Kota Denpasar turut menggelar apel bendera. Bertindak selaku Inspektur Upacara Wali Kota Denpasar I.B. Rai Dharmawijaya Mantra di Lapangan Lumintang, Sabtu (17/8) kemarin. Pelaksanaan apel yang berlangsung khidmat dengan balutan busana adat Bali ini turut dihadiri Wakil Wali Kota Denpasar IGN Jaya Negara, Ketua DPRD Kota Denpasar I Gusti Ngurah Gede, Sekda Kota Denpasar AAN Rai Iswara, Ketua TP PKK Kota Denpasar Ny. I.A. Selly D. Mantra, Ketua Gatriwara Ny. Gusti Ngurah Gede, Ketua WHDI Kota Denpasar Ny. Antari Jaya Negara, Ketua DWP Kota Denpasar Ny. Kerti Rai Iswara, Forkompinda Kota Denpasar, jajaran DPRD Kota Denpasar, veteran, serta seluruh undangan lainya. Sejak pagi hari, lagu-lagu wajib nasional telah berkumandang. Suasana khidmat dibalut semangat kemerdekaan memberikan nuansa khas perjuangan. Peringatan detik-detik Proklamasi diawali suara sirene yang dilanjutkan dengan pembacaan Teks Proklamasi. Pengibaran Sang Merah Putih pun berlangsung lancar dengan iringan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Dalam kesempatan tersebut turut ditampilkan senam kolaborasi antara Satuan Polisi Pamong Praja Kota Denpasar dan Marching Band Pemkot Denpasar serta turut dilaksanakan penandatanganan
INSPEKTUR UPACARA – Wali Kota Denpasar I.B. Rai Dharmawijaya Mantra saat menjadi Inspektur Upacara serta berfoto bersama pada peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan RI yang ke-74 di Lapangan Lumintang, Sabtu (17/8) kemarin. MoU bersama Lapas Kelas II A Kerobokan, penyerahan bantuan kursi roda, tongkat, alat bantu dengar, dan sembako, serta SK Pensiun bagi PNS di lingkungan Pemkot Denpasar. Wali Kota Denpasar I.B. Rai Dharmawijaya Mantra bersama Wakil Wali Kota Denpasar IGN Jaya Negara saat diwawancarai usai apel bendera menjelaskan, apel peringatan Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan RI yang ke-74 ini dilaksanakan dengan menggunakan busana adat Bali. Hal ini menurut Rai Mantra, merupakan suatu hal yang sangat baik untuk memperkuat kebinekaan di Indonesia. Selain itu, peringatan kali ini dengan balutan tema besar SDM Unggul Indonesia Maju sangat relevan
dalam menyikapi isu sosial dalam rangka mempercepat realisasi tentang visi misi pembangunan bangsa. Sebab, saat ini kita bersama-sama telah dihadapkan dengan era yang mengedepankan kompetisi global yang mengedepankan penguatan kompetensi. “Tentunya kami berharap kemajuan-kemajuan dan pengembangan pembangunan dapat terus dipercepat, bukan hanya infrastruktur tapi juga suprastruktur dan SDM. Jadi, kami sangat menyambut baik bahwa Indonesia dengan kebinekaannya dapat terus menjaga persatuan yang lebih kuat dengan terus meningkatkan kualitas SDM di tengah era persaingan global saat ini. Dirgahayu Republik Indonesia ke-74,” kata Rai Mantra. (ad524)
HUT Ke-74 RI di Tabanan Bernuansa Nusantara
Bangkitkan Rasa Nasionalisme BUPATI Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti memimpin apel Perayaan HUT ke-74 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia yang digelar di Lapangan Alit Saputra, Dangin Carik, Tabanan, Sabtu (17/8) pagi. Turut hadir pada apel tersebut Wakil Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya, I Ketut Suryadi, Ketua DPRD Tabanan periode 2014-2019 yang kini melenggang ke DPRD Provinsi, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Kabupaten Tabanan, Instansi Vertikal serta BUMD di lingkungan Pemkab Tabanan, Sekda Kabupaten Tabanan, para pejuang kemerdekaan (veteran), beserta seluruh OPD di lingkungan Pemkab Tabanan. Apel yang digelar sekitar pukul 10.00 Wita tersebut tampak berbeda dibanding apel-apel sebelumnya. Pasalnya, kali ini setiap OPD di lingkungan pemkab/pemkot diwajibkan memakai pakaian khas daerah dari daerah lain atau nuansa Nusantara, sedangkan peserta apel mengenakan pakaian khas daerah masing-masing. Begitu pun Presiden Joko Widodo saat memimpin Apel Perayaan Detikdetik Proklamasi Kemerdekaan RI ke-74 di Jakarta, mengenakan pakaian khas daerah Bali didampingi Ny. Iriana Jokowi dan Wakil Presiden mengenakan pakaian khas Daerah Istimewa Aceh. Selaku Inspektur Upacara, Bupati Eka terlihat anggun mengenakan pakaian kebaya berbalut bawahan kain endek merah, selaras dengan selendang merahnya. Bertindak sebagai komandan upacara Kapten Inf. I Wayan Supardi dari TNI. Detik-detik proklamasi dibacakan oleh I Nyoman Arnawa selaku Ketua Pimpinan sementara DPRD Kabupaten Tabanan. Ratusan peserta apel yang terdiri atas berbagai elemen masyarakat sangat khidmat mengikuti apel. Puncaknya saat pengibaran bendara Merah-Putih oleh Paskibra yang merupakan siswa-siswi terbaik SMA/ SMK baik negeri maupun swasta
di Kabupaten Tabanan. Mereka berwibawa dan penuh semangat nasionalisme mengibarkan bendera Merah-Putih. Usai apel, Bupati Eka menegaskan, semua elemen masyarakat Tabanan sangat enjoy dan gembira mengikuti pelaksanaan apel kali ini yang bertemakan nuansa Nusantara. Bagaimana tidak, apel kali ini sangat membangkitkan rasa cinta terhadap Ibu Pertiwi dan nasionalisme. “Ini enjoy banget, fun banget, rasa kedaerahan, rasa cinta terhadap Ibu Pertiwi, rasa nasionalisme itu semakin dibangkitkan,” ucapnya. Bupati Eka menyatakan, dengan memakai pakaian adat yang bernuansa Nusantara pada momen-momen seperti ini menimbulkan suatu kebanggaan menjadi Bangsa Indonesia. “Ini membuat kita bangga menjadi rakyat, menjadi Bangsa Indonesia yang mempunyai banyak, etnis, suku, dan budaya. Tempat lain kan belum tentu punya. Ini adalah harta karun kita. Pak Jokowi pun apel bertemakan Nusantara, kenapa kita tidak,” imbuhnya. Meski harus mengimbau dan
memilih baju daerah yang harus dipakai, Bupati Eka mengatakan itu bukanlah hal yang susah, namun banyak makna dan manfaat yang didapat. “Yang penting rasa nasionalisme kita tumbuh. Itu besar sekali manfaatnya untuk kita. Indonesia negara yang kaya raya banget yang punya harta luar biasa, khususnya seni dan budaya yang harus kita cintai. Kalau bukan kita yang mencintai, siapa lagi. Ayo nanti kita momen-momen apa saja pakai baju adat nasional,” ujarnya. Salah satu Kepala OPD yang saat itu ikut mendampingi Bupati Eka mengungkapkan sangat bangga mengenakan pakaian itu. Meskipun awalnya sempat bingung harus mencari di mana, karena rasa cintanya dia rela menyewa pakaian tersebut. Akhir kata, Bupati Eka mengucapkan Dirgahayu Republik Indonesia ke-74 diikuti beberapa kepala OPD yang mendampinginya. “Dirgahayu Republik Indonesia ke-74. Semoga semakin unggul dan semakin maju sumber daya manusianya sehingga Indonesia bisa lebih baik lagi,” tutup Bupati Eka. (ad527)
NUSANTARA – Peringatan HUT ke-74 RI di Tabanan yang bernuansakan nusantara membangkitkan rasa nasionalisme.
Kesan BTP (Ahok) pada Devdan Show KEHADIRAN Basuki Tjahaja Purnama (BTP) pada pertunjukan Devdan Show membawa kesan sendiri bagi penonton di Gedung Bali Nusa Dua Theatre (BNDT), Rabu (7/8) lalu. Karena selain
mendapatkan suguhan pertunjukan yang spektakuler (Devdan Show), penonton pada malam itu juga bisa bertatap langsung dan berfoto dengan BTP (Ahok). “Selain sound dan lighting yang
HADIRI – Basuki Tjahaja Purnama menghadiri pertunjukan Devdan Show di Gedung Bali Nusa Dua Theatre pada 7 Agustus lalu.
bagus, show ini sama seperti show yang ada di luar negeri yang pernah saya lihat. Tak disangka juga bahwa di Indonesia ada pertunjukan menari seperti ini,” ungkap BTP. Selain itu, BTP mengimbau agar pertunjukan tentang budaya seperti Devdan Show ini dilestarikan dan dijaga karena bagus untuk generasi muda saat ini untuk mengenal lebih dalam akan budaya Indonesia. ‘’Untuk merayakan dan memeriahkan kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-74 dan Hari Jadi Provinsi Bali yang ke-61, Devdan Show memberikan spesial harga untuk masyarakat Indonesia (WNI/ Kitas/KIMS) diskon 40% serta harga khusus bagi KTP Bali selama Agustus dan September 2019,’’ jelas General Manager Devdan kepada Ahok. (bns)
Perintis : K.Nadha, Pemimpin Umum: ABG Satria Naradha Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab: Dira Arsana Redaktur Pelaksana : Made Sueca Sekretaris Redaksi: Sugiartha Redaktur Eksekutif: Parwata Redaksi: Daniel Fajry, Mawa, Subrata, Diah Dewi, Giriana Saputra, Wayan Sumatika, Wirata Anggota Redaksi Denpasar: Asmara Putra, Dedy Sumartana, Yudi Karnaedi, Pramana Wijaya, Eka Adhiyasa, Rindra, Agustoni, Ngurah Kertanegara, Komang Suryawan, Made Miasa, Agung Dharmada, Oka Rusmini, Umbu Landu Paranggi, Maya. Bangli: IA Swasrina, Eka Prananda, Buleleng: Mudiarta. Gianyar: Manik Astajaya. Karangasem: Eka Parananda, Klungkung: Bagiarta, Negara: IB Surya Dharma, Tabanan: Dewi Puspawati,Wira Sanjiwani. Jakarta: Nikson, Hardianto, Ade Irawan. NTB: Agus Talino, Izzul Khairi, Raka Akriyani. Surabaya: Bambang Wiliarto. Banyuwangi: Budi Wiriyanto Kantor Redaksi: Jalan Kepundung 67 A Denpasar 80232. Telepon (0361)225764, Facsimile: 227418, Alamat Surat: P.O.Box:3010 Denpasar 80001. Perwakilan Bali Post Jakarta, Bag.Iklan/Redaksi: Jl.Palmerah Barat 21F. Telp 021-5357602, Facsimile: 021-5357605 Jakarta Pusat. NTB: Jalan Bangau No. 15 Cakranegara Telp. (0370) 639543, Facsimile: (0370) 628257. Manajer Sirkulasi: Budiarta, Manajer Percetakan: Tri Iriana, Marketing/Pengaduan Pelanggan: K. Budiarta. Ombudsman: Jimmy Silalahi. Alamat Bagian Iklan: Jl.Kepundung 67A, Denpasar 80232 Telp.: 225764, Facsimile : 227418 Senin s.d. Jumat 08.00-19.00, Sabtu 08.00-13.00, Minggu 08.00-19.00. Tarif Iklan : Iklan Mini: minimal 2 baris maksimal 10 baris, Minggu s.d. Jumat Rp 49.500,- per baris, Sabtu Rp 64.350,- per baris Iklan Umum: < 100 mmk Rp 50.000 per mmk, >100 mmk Rp 55.000 per mmk. Iklan Keluarga/Duka Cita: Rp 40.000 per mmk. Advertorial Rp 25.000 per mmk. Iklan Warna: 2 warna Rp 55.000, 4 warna Rp 75.000 per mmk. Pembayaran di muka, iklan mendesak untuk dimuat besok dapat diterima sampai pukul 18.00. Alamat Bagian Langganan/Pengaduan Langganan: Jl.Kepundung 67A Denpasar 80232 Tel: 225764, Facsimile: 227418. Harga Langganan: Rp 90.000 sebulan, Pembayaran di muka. Harga eceran Rp 4.000. Terbit 7 kali seminggu. Surat Izin Usaha Penerbitan Pers: SK Menpen No. 005/SK/Menpen/SIUPP/A.7/1985 Tanggal 24 Oktober 1985, ISSN 0852-6515. Anggota SPS-SGP, Penerbit: PT Bali Post. Rek. BCA KCU Hasanudin Denpasar AC: 040-3070618 a/n PT. Bali Post. Rek. BRI Jl. Gajahmada Denpasar A/C: 00170 1000320 300 an Pt.Bali Post. WARTAWAN BALI POST SELALU MEMBAWA TANDA PENGENAL, DAN TIDAK DIPERKENANKAN MENERIMA/MEMINTA APA PUN DARI NARA SUMBER
3
Minggu Kliwon, 18 Agustus 2019
Pemuda Se-Bali Bentangkan Bendera Merah-Putih Terbesar di Indonesia
Denpasar (Bali Post)Ribuan komponen pemuda se-Bali, Sabtu (17/8) kemarin menjadi pelaku sejarah membentangkan bendera terbesar di Indonesia di Lapangan Kapten Japa, Kesiman Kertalanggu, Denpasar. Pembentangan Sang Saka Merah-Putih berukuran 120 meter x 80 meter serangkaian 74 tahun Kemerdekaan RI, HUT Pemprov Bali, dan mendukung Pergub Bali soal Bulan Bung Karno itu, dilakukan penuh khidmat dan semangat tinggi. Tampil sebagai Pembina Upacara Ketua Yayasan Kepustakaan Bung Karno I.B. Darmika Marhaen WPS alias Gus Marhaen. Yayasan ini juga mensponsori Pemilhan Siswa dan Guru Ajeg Bali 2019. Kontan saja Sang Saka Merah-Putih memenuhi secara penuh luas Lapangan Kapten Japa. Para pengusung Merah-Putih datang dari ormas Garda Bali, KNPI se-Bali dan mahasiswa se-Bali serta didukung pelajar dari SMAN 3 Denpasar, SMKN 3 Denpasar, SMAN 7 Denpasar, SMA PGRI 4 Denpasar, SMK PGRI 3 Denpasar, SLUA Saraswati, dan Smansa. Hanya siswa SMA Dwijendra yang tak mengirimkan wakilnya. Mereka semua kompak membentangkan Merah-Putih dengan mengenakan pakaian adat Bali sesuai arahan Pergub Bali.
Acara spektakuler ini diawali pembacaan teks Pancasila dan Pembukaan UUD 1945, lalu dihibur oleh senam kreasi budaya Indonesia dari Lala Studio. Hadir senator DPD RI, Cok. Ratmadi, dan Ketua Yayasan Mahendradatta Shri IGN Wira Wedawitry WPS. Saat itu Gus Marhaen yang mengenakan atribut Bung Karno juga membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan RI yang mendapat aplaus luar biasa dari ribuan peserta apel. Puncaknya ketika ribuan komponen pemuda membentangkan Sang Saka MerahPutih diiringi lagu Indonesia
Raya. Sebagian berada di tengah naungan Sang Saka Mera-Putih, sebagian lagi memegang bendera sambil mengumandangkan ‘’Kami Indonesia’’. Gus Marhaen mengatakan, bendera yang dibentangkan masih menjadi yang terbesar di Indonesia dari sisi panjang dan lebar 3 : 2. Bendera ini masuk Rekor Muri No.4498, Oktober 2010 lalu. Dia mengungkapkan, semua komponen yang terlibat dalam pembentangan bendera terbesar ini akan dicatat dalam buku ‘’6.000 Tahun Bendera MerahPutih’’. Buku ini ditulis Prof.
Moh. Yamin yang kata pengantarnya ditulis oleh proklamator Bung Karno. Sebelum kerajaan, warna merah-putih sudah digunakan. Makanya semua insan yang teribat sekaligus menjadi pelaku sejarah kebangsaan kita. Bendera ini sudah mendapat lampu hijau dari Gubernur Bali Wayan Koster untuk di pajang di kawasan Renon. Bahkan, dalam waktu dekat Yayasan Kepustakaan Bung Karno juga akan mengkirab lukisan terbesar karya alm. Gunarsa bersama 1.945 lukisan koleksi Museum Proklamasi. Hal senada diungkapkan IGN Wira Wedawitry bahwa Sang Saka Merah-Putih harus tetap dijaga oleh generasi milineal kita mulai dari Bali. Sementara itu Cok. Ratmadi mengungkapkan rasa bangganya anak muda Bali bersemangat membentangkan Sang Saka Merah Putih sebagai bukti mereka cinta Pancasila. (025)
BPM/025
TERBESAR - Komponen pemuda Bali membentangkan bendera Merah-Putih terbesar di Indonesia di Lapangan Kapten Japa, Denpasar.
Peserta Upacara Peringatan Hari Kemerdekaan Upacara Peringatan Hari Kemerdekaan RI di Klungkung Kenakan Busana Adat Gunakan Busana Adat Nusantara
RI di Bangli Berlangsung Khidmat
PEMANDANGAN berbeda tampak pada upacara Hari Kemerdekaan RI di Lapangan Kapten Mudita, Bangli, Sabtu (17/8) kemarin. Untuk pertama kalinya peserta apel menggunakan busana adat Nusantara sebagai wujud implementasi semboyan Bangsa Indonesia “Bhinneka Tunggal Ika”. Pelaksanaan upacara peringatan Hari Kemerdekaan RI di Bangli berlangsung khidmat. Dalam apel tersebut Bupati Bangli I Made Gianyar selaku inspektur upacara mengenakan busana adat Bali Agung. Busana yang sama juga dikenakan Wakil Bangli Sang Nyoman Sedana Arta, Sekda Bangli Ida Bagus Giri
Putra, serta Pimpinan DPRD Bangli sementara. Sementara pimpinan OPD terlihat menggunakan pakaian adat dari provinsi lain yang ada di Nusantara. Dalam apel itu, pasukan pengibar bendera yang sebelumnya telah dikukuhkan, berhasil menjalankan tugasnya mengibarkan bendera Merah-Putih dengan sempurna. Ditemui usai pelaksanaan apel, Bupati Bangli I Made Gianyar mengaku baru pertama kali menggunakan busana adat Bali Agung. Ia pun sangat senang dan bangga menggunakan busana tersebut. Menurutnya, peringatan Hari Kemerdekaan merupakan momentum pemersatu bangsa yang
ADAT AGUNG - Bupati Bangli I Made Gianyar mengenakan busana adat Bali Agung saat apel peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-74 di Lapangan Kapten Mudita, Bangli, Sabtu (17/8) kemarin.
berlandaskan Bhinneka Tunggal Ika. “Bapak Presiden kita luar biasa. Kalau dulu kita tidak berani melakukan inovasi. Padahal untuk pakaian ini adalah salah satunya yang tidak harus mengikuti Belanda. Kita kan sudah dari dulu berbhineka Tunggal Ika,” ungkapnya. Bupati juga mengapresiasi kebijakan Gubernur Bali I Wayan Koster soal penggunaan busana adat Bali rutin pada hari tertentu serta saat apel Hari Ulang Tahun Provinsi Bali lalu. Terkait tema Hari Kemerdekaan RI ke-74 yakni “SDM Unggul Indonesia Maju”, Bupati Made Gianyar mengatakan, Pemkab Bangli sangat berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas SDM guna mencapai pembangunan Bangli yang sesuai harapan dan menuju masyarakat yang adil dan makmur. Dikatakannya, peningkatan kualitas SDM merupakan sebuah keharusan untuk kemajuan bangsa dan negara. Penguatan SDM menuju manusia unggul memiliki hubungan dengan peningkatan produktivitas kerja. Selain menggelar upacara bendera, peringatan Hari Kemerdekaan RI di Bangli diisi ziarah dan tabur bunga di Tugu Makam Pahlawan Kapten Anak Agung Anom Mudita di Desa Pengelipuran, Kubu, Bangli. Kegiatan tersebut dipimpin langsung Bupati Bangli dan diikuti pimpinan Forkompinda serta peserta apel lainnya. (ad530)
Bupati Suwirta Serahkan Remisi di Rutan Klungkung UPACARA Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-74 Tahun 2019 di Kabupaten Klungkung berlangsung khidmad. Upacara bendera dilaksanakan di Lapangan Puputan Klungkung, Sabtu (17/8) kemarin. Selaku Inspektur Upacara Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta. Hadir Wakil Bupati Klungkung I Made Kasta, Ketua sementara DPRD Klungkung A.A. Gde Anom bersama anggota, TP PKK Kabupaten Klungkung, Forkompinda, LVRI Kabupaten Klungkung. Upacara diikuti segenap jajaran pegawai, organisasi kemasyarakatan, dan siswa yang mengenakan busana adat Bali. Tepat pukul 10.00 Wita upacara peringatan Detik-detik Proklamasi dimulai. Diawali pembacaan naskah Proklamasi oleh Ketua sementara DPRD Klungkung A.A. Gde Anom. Selanjutnya Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) dari siswa SMA/K
se-Kabupaten Klungkung memasuki lapangan upacara. Mereka dibagi dalam barisan pasukan 17, pasukan 8, dan pasukan 45. Sementara selaku pembawa baki saat penaikan bendera Merah-Putih adalah Dewa Ayu Made Ari Laksmi Indrayani, siswi SMAN 1 Semarapura. Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta didampingi Wakil Bupati I Made Kasta ditemui usai upacara bendera mengucapkan Dirgahayu Republik Indonesia ke-74. Menurutnya, nuansa berbeda dengan pemakaian busana adat ini semakin memperkuat jati diri sebagai Bangsa Indonesia dengan keberagamannya. Tema “SDM Unggul Indonesia Maju” dapat diartikan sebagai pengakuan bahwa aset yang paling berharga di negara ini adalah sumber daya manusia, terlepas dari kekayaan sumber daya alam yang melimpah. “Kalau itu tidak dikelola dengan SDM yang
SERAHKAN BENDERA - Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta menyerahkan bendera Merah-Putih kepada pembawa baki Dewa Ayu Made Ari Laksmi Indrayani saat penaikan bendera Merah-Putih.
unggul, kesejahteraan itu mustahil akan terwujud,” ucapnya. Sejalan dengan tema itu, Bupati Suwirta menyatakan Pemkab Klungkung telah melakukan langkah dan upaya meningkatkan kualitas SDM dengan entrepreneur masuk desa, memberi motivasi generasi muda dan upaya lainnya. “Upaya-upaya itu juga merupakan implementasi tema perayaan tahun ini,” sebutnya. Ke depan, untuk memeriahkan perayaan selain menggelar malam hiburan, Bupati Suwirta akan mencoba membuat sebuah atraksi kolosal yang ditampilkan usai pelaksanaan upacara bendera dengan melibatkan TNI dan Polri. Sebelumnya, dalam apel di Rumah Tahanan Negara Kelas II B Klungkung, Bupati Suwirta juga menyerahkan remisi secara simbolis kepada sejumlah narapidana. Berdasarkan Keputusan Menteri Hukum dan HAM RI Nomor: PAS.965 PK.01.01.02 Tahun 2019 tentang Pemberian Remisi Umum (RU) Tahun 2019 kepada narapidana, sebanyak 56 narapidana mendapat remisi yang bervariasi antara 1 sampai 5 bulan. Dari jumlah tersebut, lima langsung bebas. Mereka di antaranya Ari Aini, kasus lakalantas mendapat remisi 1 bulan, I Nyoman Karma, I Wayan Yadnya (kasus pencurian masingmasing mendapat remisi 1 bulan), Tulus Agus Setiawan (kasus pencurian dengan remisi 2 bulan), dan Renaldi (kasus pencurian dengan remisi 3 bulan). (ad526)
Lulus Ujian Doktor di IHDN
Dalem Buat Disertasi Soal Bupati Artha Tatap Muka Bersama Veteran Pergeseran Makna ”Ulap-ulap” di Denpasar HUT Ke-74 RI
SERANGKAIAN memperingati HUT ke-74 RI di Jembrana, Bupati I Putu Artha menggelar tatap muka dengan para veteran, Sabtu (17/8) kemarin. Tatap muka yang diadakan di Gedung Mendopo Kesari, Kelurahan Banjar Tengah, Kecamatan Negara, seusai upacara bendera, juga dihadiri Wabup Jembrana I Made Kembang Hartawan, Sekda I Made Sudiada, Bupati periode 1990-2000 Ida Bagus Indugosa, unsur Forkopimda Jembrana serta pimpinan OPD di lingkup Pemkab Jembrana. Tatap muka dengan veteran yang juga menjadi salah satu agenda rutin Pemkab Jembrana serangkaian HUT RI ke-74 yang bertema ‘’Bangsa yang Besar adalah Bangsa yang tidak Melupakan Jasa-jasa para Pahlawan’’. Acara tatap muka bertujuan memperkuat silahturahmi dan nostalgia antarpara veteran. Pada kesempatan itu, Bupati Artha mengucapkan terima kasih atas perjuangan para veteran merebut kemerdekaan RI. “Apa yang kita nikmati sekarang tidak dicapai dengan mudah, melainkan hasil perjuangan yang sulit, dengan mengorbankan jiwa raga para pahlawan,” ujarnya. Orang nomor satu di Gumi Makepung ini pun mendoakan para veteran beserta keluarganya agar senantiasa diberikan kesehatan. “Kami sebagai generasi penerus akan berusaha mengisi kemerdekaan dengan berbagai inovasi pembangunan di segala bidang, termasuk percepatan pengentasan kemiskinan, agar kesejahteraan dapat dinikmati segenap lapisan masyarakat,” kata Artha. Bupati Arha bersama Wabup
I Made Kembang Hartawan juga menyerahkan bantuan sembako berisikan beras, minyak, susu, serta kebutuhan sehari hari lainnya. Sejumlah usulan disampaikan saat tatap muka. Diwakili Ketua Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Jembrana I Ketut Gede, para veteran mengucapkan terima kasih atas bantuan yang diberikan pemerintah daerah selama ini. ‘’Terima kasih atas perhatian pemerintah sudah responsif membantu kebutuhan kami. Tahun lalu sudah dibantu pakaian seragam bagi janda-janda veteran. Tahun ini kami minta bantuan sembako diuangkan saja agar memudahkan kami-kami yang sudah tua ini,” tandas Ketut Gede. Selain itu, diusulkan bantuan uang tunai bagi veteran yang meninggal dunia dan upacara keagamaan.
Berbagai usulan itu disambut baik oleh Bupati I Putu Artha. Dia mengaku akan berupaya menganggarkan bantuan tersebut. “Sepanjang regulasinya benar dan diperbolehkan mekanismenya oleh BPK, kami akan penuhi. yang penting anggarannya akan kami siapkan terlebih dahulu,” terang Bupati Jembrana. Artha juga menyebut bantuan yang diberikan tentu tidak boleh menyimpang dari regulasi yang ada. Seperti untuk kematian, sejatinya sudah ada santunan kematian kepada warga Jembrana. Program itu sudah berjalan selama ini. Berdasarkan data Dinas Sosial Jembrana, saat ini sebanyak 197 anggota veteran di Jembrana, yang terdiri atas 67 orang veteran pejuang dan 130 orang veteran janda. (ad532)
BERBINCANG - Bupati Jembrana I Putu Artha dan Wabup I Made Kembang Hartawan berbincang saat tatap muka dengan veteran di Mendopo Kesari, Sabtu (17/8) kemarin.
PROMOVENDUS I Gusti Ketut Dalem lulus ujian terbuka promosi Doktor Ilmu Agama Program Pascasarjana IHDN Denpasar dengan predikat sangat memuaskan. Dalem pun menyandang gelar Doktor setelah berhasil mempertahankan disertasinya berjudul “Penggunaan Ulap-ulap pada Bangunan Suci di Kota Denpasar”. “Judul itu saya angkat berdasarkan penelitian dan banyak fenomena yang terjadi di Kota sebagai Kota Budaya yang dicanangkan oleh Pak Wali Kota. Banyak terjadi pergeseran makna dan nilai di situ,” ujar Dalem di sela-sela Ujian Terbuka di Gedung Pascasarjana IHDN, Jalan Kenyeri, Denpasar, Jumat (16/8) lalu. Dalem mencontohkan, ulap-ulap yang dibuat sulinggih ada yang dipasang terbalik. Selain itu, ulapulap yang seharusnya dipasang pada palinggih kamulan justru dipasang pada palinggih taksu. Pria kelahiran Singapadu, Gianyar, 10 Januari 1955 ini juga menemukan penempatan perputaran aksaradasaksara yang keliru, karena arah purwa yang mestinya di atas malah ditaruh di sebelah kanan. Ada pula yang menambahkan rerajahan yang lain pada satu bentuk ulap-ulap agar terkesan lebih angker. Contoh pergeseran lain, ulap-ulap yang dipasang pada penjor. “Misalnya dalam penjor hari raya Galungan, ada di atas itu kain putih kuning dan diisi aksara suci seperti Ongkara. Nah, itu adalah sesungguhnya ulap-ulap yang dipasang pada bangunan suci. Sementara penjor itu bukan bangunan suci, tapi uparengga atau pelengkap dari pelaksanaan hari raya keagamaan,” paparnya. Dalem juga menemukan transformasi makna ulap-ulap setelah melihat langsung rerajahan berbentuk kaligrafi aksara dasabayu ditem-
pelkan pada mobil. Pemandangan tersebut baginya kurang mengenakkan untuk dilihat, apalagi mobil itu selalu dibawa berkeliling. Sementara pemilik mobil justru senang karena merasa aman dan terlindungi tanpa mengetahui maknanya. “Etikanya itu seharusnya dipasang pada bangunan suci. Tapi logikanya karena dia ingin memasang seperti itu, ingin merasa aman. Jadi, sudah bergeser maknanya,” jelas pria yang tercatat sebagai Dosen IHDN Denpasar ini Menurut Dalem, hidup dan mati agama tergantung pada “raja” atau dalam konteks ini adalah Wali Kota Denpasar. Wali Kota memiliki peran untuk menegaskan makna ulap-ulap sehingga diketahui masyarakat. Selain itu, lembaga umat seperti PHDI harus menertibkan pergeseran yang terjadi. Kota Denpasar sebagai kota budaya mesti menaruh perhatian pula pada budaya religius agar tidak terjadi salah kaprah di masyarakat. “Kalau dibiarkan akan terus terjadi pergeseran sehingga makna yang sesungguhnya itu kurang mengena,” pungkas pria yang aktif menulis alih aksara dan terjemahan lontar, buku, serta jurnal, dan majalah ini. Promotor Prof. Dr. Drs. I Nengah Duija, M.Si., mengatakan, tema yang diangkat dalam disertasi Dalem me-
mang sederhana. Akan tetapi ada suatu pertanyaan menarik terkait ulap-ulap. Apakah hanya simbol, identitas, yang digunakan atau tidak, tidak akan menjadi persoalan. Sementara otak manusia terdiri atas dua, yakni executive mind yang selalu bicara rasionalitas dan wandering mind yang bicara tentang totalitas. “Ketika kita bicara tentang rasional, maka semua atribut, gerak, tari, lukisan, aksara itu tidak akan bermakna. Tapi ketika wandering mind bekerja maka yang rasional ini akan tertutup. Di situlah muncul imajinasi, simbolisme,” ujarnya. Menurut Duija, masyarakat jangan menggunakan executive mind untuk berpikir tentang hal-hal yang bersifat abstrak seperti ulap-ulap. Namun, memakai wandering mind sebagai simbol masyarakat Bali menyatu dengan alam dan Tuhan. Mengingat, ulap-ulap mengandung identitas budaya karena ada aksara di dalamnya dan identitas religius. Kalau ulap-ulap hilang, dua identitas itu juga akan hilang. “PHDI, Majelis Desa Adat, pemangku, pinandita, mari kita gunakan wandering mind untuk mengkonstruksi ulap-ulap sebagai sebuah identitas yang tidak boleh ditinggalkan, apa pun zaman itu,” pungkasnya. (ad504)
Dr. Drs. I Gusti Ketut Dalem, M Si. (kiri) bersama Promotor Prof. Dr. Drs. I Nengah Duija, M.Si.
4
Minggu Kliwon, 18 Agustus 2019
Mengenal Lebih Dekat Kutil Kelamin KUTIL kelamin atau dalam bahasa medis disebut kondiloma akuminata merupakan Infeksi Menular Seksual (IMS) yang paling umum terjadi dan ditularkan melalui hubungan seksual baik oral, vaginal maupun anal. Kondiloma akuminata disebabkan oleh Virus Human Papillomavirus (HPV) tipe 6 dan 11. Infeksi ini dapat mengenai vagina wanita maupun penis pria. Pada wanita, kondiloma akuminata dapat berkembang dan menyebabkan kanker serviks karena sama-sama disebabkan oleh virus HPV. Kondiloma akuminata seringkali tidak terdeteksi karena bersifat asimtomatik (tanpa gejala) dan baru disadari penderita bila sudah muncul. Penyakit ini ditularkan terutama pada pasien yang melakukan seks tanpa kondom dan sering berganti pasangan atau sudah aktif secara seksual pada usia kurang dari 20 tahun. Dalam beberapa kasus (meskipun jarang) penyakit ini juga dapat ditularkan pada hubungan non-penetrasi seperti menyentuh genital sendiri kemudian menyentuh area genital pasangan atau penggunaan mainan seks bersama-sama. Kondisi seperti lembab dan keputihan pada wanita atau laki-laki yang tidak disunat dapat membuat kondiloma akuminata berjumlah banyak dan cepat menyebar. Selain itu kondisi tubuh pasien
WANITA - Pada wanita penyakit ini mengenai pubis, labia minora dan mayora, serviks dan anus. Sedangkan pada pria dapat muncul di daerah rambut kemaluan, batang penis, kepala penis, buah zakar hingga anus. Kondiloma akuminata muncul dengan gambaran datar dan menonjol yang awalnya kecil dan dapat membesar hingga seperti jengger ayam atau kembang kol. Kondiloma akuminata dapat muncul dalam beberapa minggu, bulan, hingga tahunan setelah kontak seksual dengan orang yang terinfeksi. Hal ini sangat tergantung pada sistem kekebalan tubuh.
dengan imunitas rendah (terkena HIV atau mengalami transplantasi organ) juga dapat memicu penyakit ini. Pubis Pada wanita penyakit ini mengenai pubis, labia minora dan mayora, serviks dan anus. Sedangkan pada pria dapat muncul di daerah rambut kemaluan, batang penis, kepala penis, buah zakar hingga anus. Kondiloma akuminata muncul dengan gambaran datar dan menonjol yang awalnya kecil dan dapat membesar hingga seperti jengger ayam atau kembang kol. Kondiloma akuminata dapat muncul dalam beberapa minggu, bulan, hingga tahunan setelah kontak seksual dengan orang yang terinfeksi. Hal ini sangat tergantung pada sistem kekebalan tubuh. Pada dasarnya pengobatan kondiloma akuminata berbeda-beda pada setiap pasien. Pengobatan akan dilakukan dan disesuaikan dengan kondisi dan gejala yang dialami pasien. Pengobatan dapat berupa pemberian obat oles berupa krim
secara berulang, teknik pembedahan seperti: bedah beku, bedah listrik, atau bedah eksisi-kuretase hingga penggunaan laser. Pada umumnya, kondiloma akuminata bersifat jinak dan hanya sebagian kecil yang akan berkembang menjadi kanker serviks yang disebabkan HPV tipe 16 dan 18. Kekambuhan merupakan hal yang lazim dijumpai, dan saat ini masih belum ada pengobatan yang dapat 100% mencegah timbulnya kekambuhan. Penting untuk pasien datang kontrol ke dokter hingga 3 bulan setelah pengobatan untuk mengevaluasi apakah timbul kekambuhan. Pada pasien dengan penurunan imunitas atau perilaku berisiko, evaluasi kekambuhan dapat lebih panjang. Vaksinasi Saat ini sudah terdapat vaksinasi untuk mencegah infeksi virus tersebut. Vaksin ini biasa dikenal dengan vaksin kanker serviks yang tersedia 2 macam di pasaran, yaitu vaksin bivalen (vaksin 2 tipe untuk mencegah virus HPV tipe 16 dan 18
yang menyebabkan kanker serviks) dan vaksin quadrivalen (vaksin 4 tipe untuk mencegah virus HPV tipe 6, 11, 16, dan 18 yang mencegah kutil kelamin dan kanker
serviks). Vaksin ini diberikan 3x dengan jadwal 0 bulan-1 atau 2 bulan-6 bulan. ldr. Ketut Alit Pinidha Savitri
Pada dasarnya pengobatan kondiloma akuminata berbeda-beda pada setiap pasien. Pengobatan akan dilakukan dan disesuaikan dengan kondisi dan gejala yang dialami pasien. Pengobatan dapat berupa pemberian obat oles berupa krim secara berulang, teknik pembedahan seperti: bedah beku, bedah listrik, atau bedah eksisikuretase hingga penggunaan laser. Pada umumnya, kondiloma akuminata bersifat jinak dan hanya sebagian kecil yang akan berkembang menjadi kanker serviks yang disebabkan HPV tipe 16 dan 18.
Pentingnya Peregangan Rubrik “Bugar� ini terbuka untuk umum. Bagi Anda yang memiliki problem masalah tubuh. Kirimkan ke Redaksi Bali Post, Jl. Kepundung 67 A Denpasar (80232) atau hubungi Adolfina Grace Tangkudung, Sekolah Senam Lala Studio, Jl. Veteran 66E, Puri Satria Denpasar, telp. 08123843259. Cantumkan kupon “Bugar� di sudut kiri amplop.
1
PEREGANGAN merupakan hal penting sebelum memulai kegiatan sehari-hari. Melenturkan otot tubuh agar terhindar dari cedera. Sebaiknya dilakukan setelah melakukan latihan pemanasan namun dapat juga ketika tengah
Gb. Ill: Posisi berdiri dengan kaki kanan sedikit ditekuk dan kaki kiri lurus di belakang sedangkan kedua lengan lurus ke atas pada posisi di samping telinga. Tahan 2x8 hitungan lalu rileks sejenak dan ulangi beberapa kali.
2
Gb. I: Posisi berdiri tegak bertumpu pada kaki kanan sedangkan kaki kiri ditekuk ke belakang. Tangan kanan lurus ke atas dan tangan kiri memegang pergelangan kaki kiri. Tahan 2x8 hitungan setelah itu lakukan juga pada arah berlawanan.
Gb. II: Ambillah posisi seperti yang nampak pada gambar, yaitu tekuk kaki kanan sedangkan kaki kiri lurus. Tahan 2x8 hitungan setelah itu lakukan juga pada kebalikannya.
Hai Kakak Kisara, aku Nengah. Aku mau tanya nih Kak, soalnya aku penasaran banget. Benar gak sih kalau saat pertama kali berhubungan seksual itu pasti keluar darah dari vagina? Kalau gak keluar darah berarti gak perawan ya Kak? Tolong dijawab ya Kak! seksual terjadi karena adanya perobekan pada selaput dara. Sebagian orang percaya bahwa selaput dara itu erat kaitannya dengan perawan atau tidak perawan. Sebagian orang berpikir bahwa saat selaput dara itu dirobek melalui hubungan seksual berarti si perempuan yang awalnya perawan berubah status menjadi tidak perawan. Pemikiran ini seringkali menimbulkan keresahan dan tekanan pada perempuan.
4
3
Gb. IV : Untuk meregangkan otot paha, luruskan kaki kanan dan kaki kiri ditekuk. Condongkan badan ke depan dengan kedua telapak tangan pada paha kanan, tahan 2x8 hitungan setelah itu lakukan juga pada arah berlawanan.
Kupon
Kisara Hai Nengah! Wah pertanyaan kamu keren banget. Okey, Kisara akan jawab dengan sederhana ya agar Nengah dan pembaca dapat memahami dengan mudah. Jadi, saat berhubungan seksual untuk pertama kali bisa saja mengeluarkan darah atau bahkan bisa juga tidak keluar darah sama sekali. Kenapa bisa seperti itu? Yuk kita bahas! Keluarnya darah saat behubungan
bekerja atau saat otot-otot tubuh terasa pegal dan kaku. Haruslah diingat, jangan melakukan gerakan menghentak. Baiklah ikuti contoh peragaan berikut ini bersama Sylvia Saputra dari Lala Studio.
Tetap fit sepanjang hari dengan melakukan peregangan secara rutin dan salam bugar dari Lala Studio.
Darah dan Hubungan Seksual Setiap perempuan di dunia memiliki bentuk selaput dara yang berbeda, ada yang tebal, tipis, lebar, dan sebagainya. Belum tentu saat penis masuk ke dalam vagina, selaput dara tersebut akan robek atau bisa saja robek hanya saja tidak keluar darah. Bahkan, ada perempuan yang selaput daranya robek karena olahraga-olahraga yang berat/esktrem seperti berkuda, bela diri, bersepeda, dll. Nah, selaput dara itu juga ada yang bersifat fleksibel jadi bisa saja saat berhubungan seksual tidak robek. Bahkan
ada yang selaput daranya baru robek saat melahirkan, loh. Jadi, kalau Nengah dan pembaca masih berpikir bahwa tolak ukur perempuan baik itu dari selaput daranya, tolong mulai diubah, ya! Satu lagi nih yang penting untuk para pembaca ketahui, bahwa ada kok perempuan yang lahir tanpa selaput dara. Nah kalau seperti itu, apakah ia juga mau dikatakan tidak perawan dari lahir? Tentu tidak, kan. Perawan dan tidak perawan itu hanya konstruksi masyarakat saja, loh Nengah. Itu hanya dibuat untuk menilai perem-
puan itu apakah perempuan baik-baik atau tidak, padahal baik atau tidaknya perempuan gak ada kaitannya dengan keperawanan. Kalau perempuan dinilai dengan keperawanannya, lalu kenapa lakilaki tidak dinilai dengan keperjakaannya juga, ya kan? Nah, maka dari itu, yuk mulai ubah persepsi kita mengenai arti keperawanan agar kita bisa menilai orang lain khususnya perempuan lebih objektif lagi. Begitu ya Nengah, yang bisa Kisara jelaskan. Semoga bisa diterima dan dipahami!
5
Minggu Kliwon, 18 Agustus 2019
Capricorn Kehidupan: “Mengalah demi kemenangan” itu adalah langkah yang tepat dan harus dipikirkan di minggu ini. Janganlah memaksakan diri jika keadaan memang mengharuskan Anda untuk mengalah. Kesehatan: Usahakan Anda selalu tidur dengan tenang tak perlu terus memikirkan persoalan dan permasalahan yang lagi Anda hadapi saat ini. Manfaatkan waktu istirahat dengan sebaik-baiknya. Cinta: Yang namanya bunga kehidupan itu pasti ada maka jika hubungan lagi memanas sebaiknya hindari ambil keputusan penting. Aquarius Kehidupan: Rintangan tiba-tiba datang menghadang di minggu ini, hadapi dengan tenang dan penuh semangat sehingga bisa cepat teratasi. Usulan dari luar sebaiknya jangan cepat diterima mentah-mentah begitu saja, ulas dan pertimbangkan dulu . Kesehatan: Walau agak batuk-batuk akan tetapi kondisi badan relatif masih lebih baik dan terjaga. Terhadap gunjingan omongan orang yang cukup memerahkan telinga dan membikin hati panas itu, sebaiknya bisa disikapi dengan lebih sabar dan bijaksana. Cinta: Tetap ceria dan hampir tidak ada gangguan yang perlu dikhawatirkan. Pisces Kehidupan: Tidak ada yang perlu dicemaskan di minggu ini karena cukup baik dan mujur. Tak perlu ragu untuk melakukan terobosan penting, tetaplah berjalan dengan konsep-konsep yang telah Anda buat dan rencanakan. Kesehatan: Hindarilah begadang sampai larut malam, karena kondisi badan Anda masih rentan terhadap angin malam. Cinta: Yakinlah bahwa semua ini pasti akan berlalu maka bersikaplah yang tenang dan menyenangkan. Aries Kehidupan: Mulai adakan evaluasi dan koreksi atas kerja sama yang telah Anda lakukan bersama partner dan kolega Anda agar yang baik bisa ditingkatkan sedangkan yang buruk bisa dihilangkan. Di minggu ini tak perlu ragu untuk melakukan terobosan dan keputusan penting. Kesehatan: Meskipun cukup sibuk akan tetapi kondisi badan Anda masih cukup sehat dan prima. Begitu juga suasana hati masih nampak ceria dan bahagia selalu. Cinta: Hindari bersikap ingin menangnya sendiri. Taurus Kehidupan: “Biar lambat asal selamat”, faktor kecerobohan haruslah diwaspadai karena seakan dominan sekali menghiasi langkah Anda di minggu ini, begitu juga terhadap tawaran yang datang secara mendadak sebaiknya jangan diberi keputusan dulu sebelum dilakukan evaluasi untung ruginya. Kesehatan: Berusahalah untuk selalu berolahraga ringan di pagi hari, agar selain badan selalu sehat juga pikiran akan terasa segar dan jernih. Cinta: Terimalah realita yang ada dengan hati yang senang. Gemini Kehidupan: Kesempatan baik sudah di pelupuk mata, pengalaman pahit di masa lalu hendaknya dijadikan sebagai guru yang paling berharga. Bekerjalah dengan semangat karena di minggu ini peruntungan Anda cukup bagus. Kesehatan: Jangan biarkan kebiasaan buruk merusak badan Anda, cobalah Anda sadari bahwa kesehatan itu mahal dan ternilai harganya. Cinta: Jangan dengarkan omongan orang karena hanya akan bikin sakit hati dan tak ada untungnya. Cancer Kehidupan: Usahakan di minggu ini bekerja serileks mungkin agar rencana dapat berjalan dengan lancar. Terhadap berbagai rongrongan yang muncul dari orang lain, sebaiknya biarkan saja tak perlu terlalu ditanggapi tetapi hanya perlu diwaspadai. Kesehatan: Jangan berhenti untuk selalu mengkonsumsi air putih. Begitu juga dengan makanan terlalu masam sebaiknya bisa dihindari dulu untuk saat ini. Cinta: Hubungan cinta Anda mulai goyah karena kurang adanya pengertian dan rasa saling percaya, maka dari itu segera instropeksi diri Anda. Leo Kehidupan: Tantangan dan permasalahan yang muncul di minggu ini hadapi dengan penuh kepercayaan diri. Omongan sumbang dari luar sebaiknya ditanggapi dengan hati tenang. Kesehatan: Biasakan untuk berbicara dengan benar juga dengan intonasi yang wajar, agar kebiasaan Anda yang selalu berbicara dengan berapi-api tidak sampai mengganggu faktor kejiwaan Anda. Perbanyaklah mendengarkan siraman rohani agar pikiran dan hati bisa selalu tenang dan damai. Cinta: Sikapi dengan hati yang sabar dan pikiran yang tenang serta mau mengalah agar hubungan percintaan dengannya bisa berjalan menyenangkan. Virgo Kehidupan: Jangan biasakan mencari kesalahan orang lain, ada baiknya Anda mulai fokus dengan urusan dan permasalahan yang lagi dihadapi saat ini. Begitu juga terhadap orang yang mencari kesalahan Anda sebaiknya tak perlu ditanggapi dengan emosi. Kesehatan: Cukup baik dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tetaplah jalani kehidupan sehari-hari ini dengan hati ceria agar seberat apapun masalah yang Anda tanggung akan tetap terasa ringan. Cinta: Apa tidak terpikir dalam pikiran Anda jika selalu menyakiti hatinya maka suatu saat akan menjadi bumerang buat Anda sendiri. Libra Kehidupan: Di minggu ini situasi dan kondisi memang cukup berat dan banyak menguras pikiran serta tenaga maka kerjakan rencana dulu rencana yang ringan-ringan saja, tidak perlu terlalu memaksakan diri. Kesehatan: Jika terasa ada keanehan dengan kondisi badan Anda, maka jangan segan-segan untuk segera membawa ke dokter, agar dapat segera dilakukan tindakan preventif jika memang ada penyakit yang harus disembuhkan. Cinta: Suasana bisa kembali mesra dan harmonis, pertahankan dengan selalu menjaga topik pembicaraan agar suasana tetap terjaga. Scorpio Kehidupan: Mulai ada penurunan yang cukup signifikan maka segera dipikirkan bagaimana caranya untuk mulai meningkatkan prestasi. Jangan mengikuti hawa malas yang cukup kuat di minggu ini. Kesehatan: Kondisi badan tak perlu terlalu dirisaukan, segalanya cukup meyakinkan dan baik adanya. Hanya saja tetap jaga kebersihan makanan. Cinta: Usahakan untuk lebih percaya kepadanya dan tetap menjaga kesabaran dalam menghadapi berbagai semua cobaan yang menerpa. Sagitarius Kehidupan: Di minggu ini semakin mujur, hanya saja kewaspadaan tetap harus ditingkatkan terutama terhadap masalah yang muncul secara tibatiba sebaiknya hadapi dengan serius dan sepenuh hati agar tidak menjadi problem yang memusingkan di kemudian hari. Kesehatan: Kurangi banyak jajan di luar rumah sebab selain faktor higienis yang perlu dicermati juga akan mengurangi biaya pengeluaran. Cinta: Pandang permasalahan dari berbagai sisi jangan hanya satu sudut pandang saja agar tidak timbul kesalahpahaman di antara kalian berdua.
Diasuh Oleh : Astrologer Ki Wongso Wijoyo Berlaku : 18 - 24 Agustus 2019
Merawat Pohon ”Brahmana” yang Penuh Makna dan Guna (2-habis) Vipro vrkso mulakanyatra sandhya Veda sakha dharmakarmani patram Tasman mulam yatnato raksaniyam Chinnemule naiva vrkso na sakha (Devi Bhagavata Purana 11.16.6) “Pohon Brahmana akarnya adalah sandhya, empat Weda adalah cabang dan rantingnya, sedangkan dharma dan karma adalah daun-daunnya. Berhati-hatilah menjaga Pohon Brahmana tersebut karena jika akarnya terpotong, maka pohon dan cabangcabangnya akan menjadi musnah habis tanpa sisa sama sekali.” Akar “Pohon Brahmana” adalah sandhya, bersembahyang tepat waktu tiga kali dalam sehari (Tri-sandhya). Ketika orang menyiramkan air secara teratur pada akar pohon, memberikan pupuk, mencabuti tumbuhan-tumbuhan lain di sekitar akar pohon maka pohon itu akan tumbuh dengan baik dan subur. Pohon akan memberikan buah yang manis dan bunga harum berwarna-warni. Akar “pohon brahmana” adalah sandhya atau sembahyang tepat waktu. Cabang dan ranting dari pohon brahmana, yaitu Pustaka Suci Catur Weda (Rg, Yajur, Sama dan Atharwa Weda) akan berkembang dengan baik jika sandhya mendapat perhatian penting. Demikian pula dharma dan karma sebagai daun-daun dari pohon brahmana juga akan dapat dijalankan dengan baik jika seorang brahmana mempertahankan (tri)sandhya dengan teguh. Mengapa brahmana harus bersembahyang tepat waktu? Keberadaan brahmana di masyarakat sangat menentukan kemajuan masyarakat. Sedangkan eksistensi dan kemajuan seorang brahmana sangat ditentukan oleh pelaksanaan sembahyang (tri)-sandhya. Devi Bhagavata Purana memberikan perumpamaan seorang brahmana yang tidak melaku-
Redaktur Khusus weda
WAKYA Darmayasa
kan sembahyang sandhya dipersamakan dengan sebuah pohon tanpa akar. Pada saat-saat persentuhan antar waktu yang dinamakan sandhya, seorang brahmana dianjurkan untuk mengucapkan mantram Gayatri. Waktu sandhya (sandhyakala) yang penuh dengan kemuliaan dan energi spiritual tersebut kemudian disentuhkan dengan getaran suara mantram, makai a akan memijarkan percikan-percikan energi spiritual luar biasa. Jika pada saat-saat sandhya tersebut orang mengingat Tuhan, bersembahyang, berjapa atau bermeditasi, sekecil apa pun pelaksanaannya maka ia akan memberikan hasil besar. Semakin mendekati tepat waktu sandhya maka sembahyang yang dilakukan, meditasi, pembacaan kitab suci atau mantram-mantram suci akan memberikan hasil semakin besar. Para brahmana, yang ada di jalan ke-brahmana-an, atau mereka yang ingin menjadi brahmana, wajib melakukan sembahyang sandhya tiga kali tepat waktu karena sandhya diumpamakan sebagai aktivitas penting dalam usaha merawat dan memperkuat akar pohon brahmana. Selanjutnya ada cabang dan ranting pohon brahmana, yaitu seorang brahmana harus memperlajari pustaka suci Weda beserta cabang dan rantingnya. Pohon yang tidak mempunyai cabang dan ranting, ia akan tegak berdiri sebagai tongkat saja. Pohon tersebut tidak akan memberikan bunga yang harum semerbak berwarna-warni, daun-daun rimbun, atau buahbuah yang manis. Demikian pula jika seorang brahmana ingin menampilkan, menunjukkan, menaburkan bunga, buah, daun-daun segala jenis kesejahteraan, kemuliaan dan segala jenis pelayanan indah di
Menjadi brahmana tidak mudah karena harus melakukan tapa, vrata, yoga, samadhi yang terus menerus. Anak brahmana pun harus melewati disiplin brahmana terlebih dahulu sebelum menjadi brahmana. Anak seorang dokter harus melewati kuliah kedokteran. Lulus ujian dan mendapatkan ijazah barulah ia menjadi dokter. Kelahiran di keluarga brahmana memberikan kesempatan luas seseorang menjadi brahmana karena samskara atau benih-benih kemuliaan brahmana sudah tertanam di dalam dirinya sejak kecil. Selain Tri-sandhya, brahmana juga tekun belajar dan mengajar pustaka suci. Tidak ada brahmana yang tanpa pustaka suci. Brahmana melakukan tugas-tugas keagamaan, membantu orang-orang supaya hidupnya menjadi lebih damai, tenang, sejahtera di dunia ini, dan di alam-alam setelah meninggal. Bagi orang kebanyakan, aturan “sesananing brahmana” akan terasa sebagai “bom atom”. Sesuai aturan, brahmana harus bersembahyang ketat Tri-sandhya, tiga kali sehari, harus membaca pustaka suci Weda, harus melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan spiritual, tapa, vrata, yoga, samadhi, sedangkan keberadaan waktu tidak memungkinkan. Dalam keadaan seperti itu, apa yang dapat dilakukan? Selain menyesuaikan dengan desa (tempat, daerah), kala (waktu, zaman), dan patra (orangnya, individu atau masyarakatnya), penyederhanaan praktik keagamaan juga dapat dilakukan. Tentu saja penyederhanaan yang masih berada dalam koridor aturan peraturan atau sesananing brahmana yang dibenarkan. Misalnya, selain mantram “mini” Gayatri, terdapat pula cara bersembahyang yang dinamakan Manasa Puja, yaitu bersembahyang melalui pikiran. Jika persembahan lengkap Sodasopacara, yaitu enam belas jenis persembahan tidak dapat dilakukan maka orang dapat melakukan Pancopacara atau lima jenis persembahan. Manasa Puja adalah sembahyang yang dilakukan di dalam
pikiran. Mempersembahkan dupa, bunga dan lain-lain semua dilakukan dalam batin. Manasa Puja memungkinkan orang yang kesulitan waktu atau kekurangan lainnya tetap dapat menjalankan sembahyangnya. Jika brahmana tidak melakukan sembahyang sandhya, ada konsekuensinya, yaitu sandhya yena na vijnata, sandhya yenanupasita, jivamana bhaved sudro mrtyasvacabhijayate, bahwa mereka yang tidak memahami sandhya, yang tidak menjalankan sembahyang tri-sandhya, maka jivamana bhaved sudro, ia sudah mengalami kejatuhan semasih hidup. Setelah lahir kembali ia akan dilahirkan (mrtah svacabhijayate) dalam kelahiran rendah. Dalam Manasa Puja, semua persembahan dilakukan hanya di dalam batin. Mempersembahkan bunga, dupa, buah, lampu dipa dan lain-lain dilakukan di dalam hati disertai mantram pada setiap persembahan. Misalnya, mempersembahkan harum-haruman cendana akan disertai mantram “Om lam prthviyatmakam gandham parikalpayami”. Persembahan dalam bentuk pertiwi, bija-mantram yang dipergunakan adalah lam (berhubungan dengan cakra Muladhara). Persembahan bunga dihubungkan dengan akasa, berhubungan dengan visuddha cakra di daerah tenggorokan maka bija-mantram ham yang dipergunakan, “Om ham akasatmakam puspam parikalpayami”. Dupa dipersembahkan dalam bentuk angin dengan bija-mantram yam, “Om yam vayvatmakam dhupam parikalpayami”. Persembahan lampu dipa dilakukan dengan bija-mantram ram, “Om ram vanyatmakam dipam parikalpayami”. Berikutnya dengan bija-mantram vam, di cakra bawah pusar, “Om vam amrtatmakam naivedam nivedami”. Selanjutnya menyerahkan diri dan segalanya pada Tuhan, “Om som sarvatmakam sarvopacaram samarpayami”. Manasa Puja dilakukan dengan kesadaran sraddha bhakti yang ning suci nirmala ditujukan pada ista-devata masing-masing.
disangsikan lagi kebenaran dan pahalanya. Akan lebih meyakinkan lagi, bila disempurnakan dalam konteks kehidupan sehari-hari. Hanya saja dalam praktiknya ajaran bhakti ini lebih dominan diwujudkan sebatas ritual, sehingga disebut ngaturang bhakti atau mabhakti saja. Padahal kata orang bijaksana, “teori yang baik adalah praktik. Lagipula Hindu itu agama amalan bukan hafalan, sehingga yang dipentingkan adalah tindakan. Salah satu bentuk tindakan, yang bahkan tergolong sederhana tetapi bermakna yang dapat dilakukan adalah dengan menerapkan konsep “Bhatre”, akronim dari kata “Bhakti-Tresna-Eling”. Secara teoritis, ajaran bhakti masih berada di tataran konsep, yang tentunya dapat diimplementasikan ke dalam bentuk “bhakti” ke hadapan Hyang Widhi, dengan cara “nyakup lima nylepit bunga” (ngaturang sembah bhakti). Lalu “tresna” (cinta, kasih sayang) kepada sesama umat manusia dengan cara “nyakup lima ngenjuh dana” (mapitulung); kemudian yang sangat penting dan
tidak boleh diabaikan adalah perilaku “eling” terhadap keberadaan lingkungan alam beserta segala isinya, dengan cara “nyakup lima miara sarwa maurip” (merawat makhluk hidup). Dengan konsep “bhatre” umat dengan mudah, dan murah dapat menjadi penyembah Tuhan dengan cara melayani dalam bingkai hasrat mencintai, menyayangi dan mengasihi segenap makhluk-Nya. Inilah model bhakti terintegrasi, mulai tingkat bawah/ rendah ke tingkat atas/tertinggi. Sebab, Tuhan baru akan memberikan berkah anugerah bukan lantaran umat rajin ngaturang sembah (ritual), akan tetapi ketika umat memulainya dengan bhakti yang sangat berarti bagi tumbuh berkembangnya segenap makhluk hidup lainnya. Jika dianalogikan, bhakti model “bhatre” (bhakti-tresnaeling) ini diandaikan seperti sebuah battery sebagai sumber energi listrik. Kalau battery soak (ngedrop), bisa dicas agar tetap bisa digunakan untuk menyambung atau menangkap sinyal/gelombang/frekuensi atau aliran listrik. Begitupun dengan konsep “bhatre” juga harus disiplin, rajin dan rutin dicas, agar tetap bisa “menyambung hubungan” dengan Hyang
Widhi. Cara ngecas “bhatre” tentunya dengan disiplin berbhakti ke hadapan Hyang Widhi, lalu rajin membantu/melayani sesama dan juga dengan rutin memelihara atau melestarikan keberadaan alam lingkungan, dimana tumbuh berkembang segenap makhluk hidup (tumbuhan dan khewan) yang tanpa banyak orang menyadari sebenarnya sangat berjasa menghidupi sekaligus melangsungkan kehidupan manusia. Apa yang selama ini dilakukan umat Hindu dengan lebih memusatkan perhatian pada praktik bhakti ritual, dengan mengalokasikan dana/materi sebesar-besarnya hanya untuk kepentingan upacara yadnya memang tidak salah, namun akan lebih baik dan bermakna lagi jika disinergikan sekaligus diintegrasikan menjadi sewaka bhakti, memberikan pelayanan dengan cara yang jauh lebih berguna bagi upaya menumbuhkan solidaritras sosial, sebagaimana diamanatkan dalam ajaran tattwam asi dan kepedulian terhadap pelestarian lingkungan alam (sarwam idham kuthem bhukem), demi sarwa sukhinah bhawantu, tercapainya kondisi segenap makhluk ciptaan-Nya dalam keadaan sejahtera, sentosa dan bahagia.
selalu mengunjungi unit pasukannya sebelum mereka berangkat bertempur. Itu pertanda, kaisar minta segenap pilot Kamikaze untuk melayaninya dan mematuhi perintah atasan mereka. Pernyataan yang membuatku merinding bahwa semua pasukan Kamikaze tidak pernah berpikir tentang sekarat dan kematian. Sekarat bagi mereka adalah proses terakhir dari tugas, sedangkan kematian bagi mereka adalah kemuliaan. Kami juga diperintahkan untuk tidak pulang bila gagal dalam pertempuran. Seperti pilot yang ikut menyerang Pearl Harbour, Letnan Fusata yang tahu pesawatnya tertembus peluru, daripada pulang dia memilih menyeruduk pangkalan udara AS, sehingga porak-poranda. Karena itulah sering kita baca di buku perang bahwa banyak kapal induk AS meledak akibat cerobong asap kapal dimasuki pesawat jenis Mitsubishi A5M5 Nol., yang berukuran kecil, “ ulas Rubag. “ Edwin O Reischauer dalam
buku ‘Manusia Jepang‘ menuturkan kisah aneh tapi nyata dari seorang pilot Kamikaze. Pilot ini merupakan kepala regu dari beberapa pesawat yang bertugas mencegat musuh di udara. Nahas, dari belasan pesawat yang dipimpinnya, cuma dia bersama empat rekannya kembali ke pangkalan kendati kelima pesawat dalam kondisi bolong-bolong tertembus peluru musuh. Turun dari pesawat, kepala regu melapor pada komandan pangkalan ikhwal kegagalan pasukannya saat itu. Begitu kata terakhir terucap, sang Kepala Regu terjungkal, sehingga semua yang hadir terkejut dan mendekatinya. Ternyata tubuh yang bersangkutan sangat dingin dan ada beberapa lubang di dadanya. Petugas medis di pangkalan menyatakan bahwa almarhum sudah meninggal setengah jam sebelumnya, yakni saat masih menerbangkan pesawat. Reischauer menerangkan bahwa selain punya keberanian dan sikap ksatria, para perwira serdadu Jepang diwajibkan menekuni
meditasi beraliran Zen. Karena ilmu kebatinan tersebutlah pilot itu bisa bertahan untuk merampungkan tanggung jawabnya. Aku juga setuju pendapat bahwa serdadu Dai Nippon di Perang Dunia II, dari prajurit hingga perwira tinggi, memiliki kepribadian yang kuat, disiplin dan setia pada kaisar. Makanya tanpa pernyataan kaisar, Jepang menyerah tanpa syarat pada Sekutu, 15 Agustus 1945, serdadu Jepang tidak akan meletakkan senjata,” komentar Nyoman Sudiantara. “Luar biasa, sikap hormat dan loyal pada kaisar agaknya tetap berlanjut hingga kini. Belum pernah kubaca atau kudengar ada warga Jepang yang membuli atau menghujat kaisar dan warga kekaisaran. Beda dengan kita di Indonesia ya? Malah saat perang usai Jenderal Hideki Tojo yang pernah mernjabat Menteri Perang Kekaisaran Jepang, dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan internasional, 23 Desember 1948, dengan tuduhan kejahatan perang.
jalan dharma kepada yang lain, maka dia harus membaca pustaka-pustaka suci Weda. Seorang brahmana yang melakukan pembacaan pustaka suci Weda setiap hari akan menjadikan cabang dan ranting dari pohon brahmana itu dihias oleh daundaun menghijau, bunga-bunga yang berwarna warni dan buahbuah yang manis untuk dibagikan kepada orang lain. Pohon tidak mengambil bunga dan buah untuk dirinya melainkan dibagikannya kepada yang lain. Brahmana belajar pustaka suci Weda tidak hanya untuk dirinya sendiri melainkan membagikan kepada masyarakat luas tanpa pamerih. Daun-daun yang subur menghijau menyebabkan pohon menjadi menarik dan memberikan kesejahteraan kepada yang lain. Daun-daun pohon brahmana adalah pelaksanaan dharma dan karma. Dharma dilaksanakan melalui praktikpraktik agama spiritual dan kewajiban-kewajiban suci lainnya. Karma adalah perbuatan-perbuatan yang memuliakan yang lain. Perbuatan-perbuatan yang indah, pelayanan kepada yang lain, selalu menyejahterakan yang lain, semua itu menjadi daun-daun “rindang menghijau” dari pohon brahmana. Jika ada brahmana tidak melakukan aktivitas memuliakan yang lain, ia harus bertanya pada dirinya, “Pohon brahmana-ku sudah ada daunnya atau belum?”. Atau, “Apakah pohon brahmana-ku sudah memberikan buah dan bunga?” Brahmana yang menginginkan ke-brahmana-annya bertahan ajeg, selain sembahyang yang tepat sandhya, ia juga harus membaca pustaka suci Weda beserta cabang dan rantingnya, dan juga menabur kemuliaan melalui kegiatan dharma dan karma. Brahmana yang mempergunakan harta benda, pengetahuan, kesempatan, kekuatan dan lain-lain di jalan dharma akan memperoleh segala kesuksesan di dalam hidupnya, “yato dharmah tato jayah” – sabarinyan gawaya ri dharma ta pwa, niyata kita ri jayakěn yawat marikana, di mana ada dharma maka di sana selalu ada kesuksesan dan kemenangan.
MIMBAR AGAMA
Melayani Melalui Bhakti I Gusti Ketut Widana Bhakti berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya cinta kasih atau kasih sayang yang bersifat tulus ikhlas dan tanpa pamrih. Objek bhakti ini bisa tertuju pada Tuhan secara vertikal (niskala), lebih bagus lagi diterapkan secara horisontal kepada sesama. Khusus bhakti kepada sesama insan manusia, kata kuncinya adalah pelayanan: manava seva madhava seva (melayani manusia sama dengan melayani Tuhan. Tentang hal ini, Swami Vivekananda menyatakan: “Pandanglah setiap pria, wanita dan anak-anak sebagai Tuhan. Saudara tidak akan mampu menolong siapapun, saudara hanya dapat melayani mereka. Layanilah anak-anak Tuhan itu, layani Tuhan itu sendiri, jikalau saudara mempunyai kehormatan untuk berbuat demikian. Lakukanlah itu sebagai suatu pemujaan”. Lanjutnya: “Manusia hidup di dunia harus seperti daun teratai, ia tumbuh di
dalam air, tetapi tidak pernah dibasahi oleh air; begitulah seharusnya orang hidup di dunia, hatinya menghadap Tuhan, tangannya menghadap pada pekerjaan”. Merealisasi ajaran bhakti sebenarnya mudah dan alamiah, tetapi menjadi masalah bahkan acapkali mendatangkan musibah ketika bertransformasi menjadi ‘bati’. Bentuk bhakti yang tidak lagi mengalir dari rasa kasih sayang atau cinta kasih yang tulus ikhlas, tetapi telah berkembang menjadi ekspresi perilaku yang selalu berharap pamrih terhadap apapun yang dilakukan, demi mendapat keuntungan pribadi yang berhubungan dengan materi. Ini namanya bhakti manadi bati, tidak lagi berasal dari kasih sayang tetapi berangkat dari motif “ngalih bati”. Konotasi kata cinta kasih di sini berubah menjadi ‘baru mencintai kalau sudah dikasih’ (diberi/mendapat) sesuatu. Kata “terima kasih” pun bisa berubah arti menjadi “terima dulu, baru dikasih (diberi/dibalas) Secara konsepsional, ajaran bhakti memang tak dapat
Hormat dan Loyal pada Kaisar MUSUH yang dianggap paling gila dan berperilaku aneh oleh Amerika dalam pengalaman perangnya adalah serdadu Jepang. Di samping tidak kenal takut dan melakukan tindakan ekstrem, mereka lebih memilih bertempur sampai mati daripada menyerah pada musuh. Terutama para penerbang pesawat tempur dalam Perang Pasifik atau Perang Dunia II, yang berjulukan Kamikaze. Pearl Harbour, markas armada tempur Amerika Serikat di Hawai hancur lebur diserang secara mendadak 7 Desember 1941 oleh para Kamikaze. Itulah awal terjadinya Perang Pasifik antara pasukan Jepang versus Sekutu dan bila tidak dikeroyok pasukan beberapa negara, Dai Nippon sulit dikalahkan. “ Awalnya ada yang berpendapat bahwa para Kamikaze dicuci otaknya sehingga bisa berperilaku aneh dan berani mati, namun pendapat tersebut
brolan BALE BANJAR ARIDUS tidak benar. Mantan Kamikaze, Hisao Horiyama, yang tidak jadi mati karena perang lebih cepat usai sebelum dia dapat tugas bertempur, menukas opini itu. Menurutnya, pasukan Kamikaze dipilih dari anak-anak muda yang patriotik, ultranasionalis dan setia pada kaisar, yang dipercaya sebagai keturunan Dewa Matahari atau Amaterasu Omikami. Horiyama menuturkan, Kaisar Hirohito secara pribadi
Bali
6
Redité Kliwon, 18 Agustus 2019
NGREBEG – Pinaka sinalih tunggil dresta tetamian budaya, ngrebeg ring Tegalalang wantah dresta sané kamargiang pinaka eédan piodalan ring Pura Duur Bingin. Sané macihna wantah para pamiletipun mapayas soléh. Awaknyané mawarna kantos méweh kauningayang.
Dresta Ngrebeg Tegalalang
Ngiterin Désa antuk Angga Mawarna lan Mapayas Soléh DRESTA wantah makatah parikrama sané sampun kamargiang ring galah-galahnyané saking nguni nyantos mangkin pinaka tetamian panglingsir. Kawéntenan makatah dresta punika taler nyinahang maka-
tah pikayunan wiadin tata-titi lan kapatutan sané kaanutin utawi kamargiang ring masané nguni. Yadiastun nénten arang kramané mangkin nénten éling ring tattwa sané kasinahang saking dresta kekunan inu-
Bencingah
Nyinahang Tenget Pinaka sinalih tunggil dresta ring wewidangan Gianyar, ngrebeg sané kamargiang ring Désa Pakraman Tegalalang katengetang pisan tur patut kamargiang ring galah ipun. Tios pinaka sinalih tunggil tetamian budaya saking para panglingsir, ngrebeg taler kamargiang pinaka éédan utawi sinalih tunggil dudonan upacara yadnya sané kamargiang ring Pura Duur Bingin Désa Pakraman Tegalalang. Manut Drs. I Wayan Mupu, M.Pd.H. nguni dresta inucap naenin nénten kamargiang, nanging sané kapanggihin wantah pikobet miwah kahanan nénten becik ring pakraman. Minakadi ketah kapanggihin panyungkan ring pakraman wiadin beburonan keni grubug miwah gering sané kaucap soléh. Dané taler maosang yéning dresta inucap wantah dresta saking masan raja-raja inguni tur kantun kamargiang kantos mangkin tur satmaka nugesang yéning tetamian panglingsir inucap wantah tenget pisan. Nanging cihna tengetnyané naenin taler kapanggihin ring pakraman, tatkala wénten montor truk sané makta bias mapapasan sareng parikrama mamargi ngrebeg. Tatkala punika sangkaning kaca jendélanyané maampakan, sinah wénten muncuk penjor papah jaka utawi unggar-unggar sané muncuknyané macelep ka tengah genah sopir inucap. Sangkaning das-dasan keni panyingakan ipun tur karasayang jagi ngulgul kahananipunné, sinah muncuk inucap kakeleg olih sopir i wawu. Nanging sengkala kapanggihin duaning ring lekokan margi baleran wusan ipun nglintangin pidabdab ngrebeg inucap, montor truknyané malingeb ka sisin margi, supirnyané padem risampun ipun ring jeroné. Kocap wénten taler krama sané padem sangkaning maurugan antuk bias saking truk inucap. Ngawit saking kawéntenan kapiambengan inucap, kramané nénten kayun maparilaksana sané nénten patut napi malih jagi ngulgul pidabdab saking dresta inucap utamanipun kantos ngeleg muncuk unggar-unggar sané kabakta para yowana miwah alit-alité. “Tiang nyantenang parikrama dresta puniki nénten jagi ical tur setata kamargiang manawita kawéntenan Pura Duur Bingin setata ajeg kahananipun asapunika krama panyungsung kantun bhakti ring Ida Bhatara sané malingga-malinggih irika,” dané nartayang. (was)
Kruna Basa Bali
AKSARA BALI
BAhAsa INDONESIA
1. dolop
1. edoelop/,
mencuri
2. doleg
2. edo2g/,
benci
3. dongsok
3. edoe\uæok/,
dorong
4. doning
4.
edon&,
karena
5. drebé
5.
dÔeb,
milik
6. dudus
6.
dudus/,
asapi
7. duka
7. duk,
marah
8. dulu
8.
hulu
9. duluh
9. dulu;,
cari, ikut
10. dulur
10. dulu(,
kerabat
dulu,
cap tur mapikayunan miwah maparilaksana kirang becik ngeninin indik dresta inucap sakadi sané ketah kapanggihin ring gatra-gatra dewasané mangkin. Sujatiné kawéntenan tur kaajegan dresta punika jagi ngawinang kramané prasida uning tur éling indik makatah tetuek lan tattwa i nguni mangda prasida kamargiang ring masanné mangkin. Punika mawinan nénten akidik dresta sané kantun lestari tur nglimbak kawéntenan ipun ring pakraman utamanipun ring Bali sané pamarginnyané akéhan kamargiang ring upacara yadnya agama Hindu. Sinalih tunggilnyané sakadi parikrama dresta ngrebeg ring Tegalalang. Dresta punika wantah dresta sané kamargiang ngeninin indik piodalan ring Pura Duur Bingin Désa Tegalalang sané pamucuk karyanyané wantah rauh nyabran raina Wras-
pati Umanis Wuku Pahang. Manut Drs. I Wayan Mupu, M.Pd.H., Ketua Majelis Alit Désa Pakraman Kecamatan Tegalalang, dresta inucap kajantenang pinaka jalaran ngaturang ajengan majeng ring para rencangan Ida Bhatara sané marupa wong samar miwah sané tiosan antuk ajengan alit miwah ajengan ageng sané kalanturang antuk mamargi ngiterin Désa Tegalalang. Tetujonnyané mangda sekancan bala miwah kaon sawewidangan désané prasida mawali ka genahnyané soang-soang tur nénten ngulgul krama sajebag Tegalalang. Dresta punika jagi kamargiang olih krama saking banjar sawewidangan Désa Pakraman Tegalalang, luiré; Banjar Gagah, Pejengaji, Tegalalang, Triwangsa, Tegal, Tengah lan Penusuan. Pidabdabnyané kamargiang ring raina Buda utawi araina sadurung pamucuk karya. Kakawitin
ring jam dasa semeng antuk nunas paica utawi ajengan sadurung para angga mamargi ngrebeg. Saking Pura Duur Bingin pidabdabnyané kalanturang ngiterin désa kairing antuk gegambelan, risampunné rauh ring Pura Prajapati Désa Pakraman Tegalalang, raris mararian ajebos irika duaning jagi kamargiang pamuspan asapunika taler ritatkala sampun rauh ring catuspata désa lan ring Pura Prajapati sané malih asiki duaning ring Désa Pakraman Tegalalang wénten kakalih setra sané magenah ring danginan miwah dauhan. “Wusan punika pamilet mawali malih ka Pura Duur Bingin ngaturang pamuspan raris kaicén budal ka jero soangsoang. Krama sané ngiring nénten kadadosang budal ritatkala parikrama ngrebeg durung puput kamargiang duaning wénten kahananné i nguni krama asapunika nemu kah-
anan nénten becik minakadi labuh wiadin risampunné ring jero ngraris keni sungkan,” baos dané. Malih kabaosang, krama sané nyarengin dresta ngiring ngrebeg puniki wantah krama sané kantun wimuda minakadi ngawit saking tuuh ngranjing TK kantos para yowana utawi angga sekaa teruna. Tatkala mamargi, nénten kadagingin antuk masesolahan tur soangsoang pamiletnyané taler makta unggar-unggar utawi penjor sané kakaryanin saking papah jaka miwah papah punyan salak sané mateges nyikiang raga sareng tetanduran duaning kawéntenan jadmane nénten prasida kalempasin saking tetanduran inucap. Sané taler dados cihna saking dresta puniki wantah kahanan para pamiletnyané, makasami jagi mapayas soléh tur awaknyané mawarna-warni sangkaning kadagingin cét warna sakita
Kadulurin antuk Parikrama Ngasas
arepnyané nyantos méweh kauningin sapasira krama utawi anak alit lan yowana inucap. Punika wantah niyasayang para wong samar utawi memedi sané jakti nénten kauningayang sapunapi wangun wiadin rupanipun yadiastun kajantenang kawéntenannyané nampek sareng kawéntenan kramané. Yéning ring masanné nguni awak krama inucap nénten kadagingin warna sakadi asapunika nanging wantah rambutnyané kagumbranggambringang saha kadagingin kraras kémanten. “Nénten arang yowanané punika nagingin warna nenga-nenga ring awaknyané minakadi putih kalawan selem duaning kajantenang ring “gumin samar” wénten taler sané bancih sakadi manusa. Tetuek punika satmaka cihna yéning kawéntenan ring niskala nénten sanget mabinayan sareng ring sekala,” baos dané. (was)
Alit-alit Ngayah Ngrereh Makatah Sarana ring Pakraman DRESTA ngrebeg ring Désa Tegalalang wantah dresta sané patut kamargiang ring galah sané sampun kajantenang sadurungnyané. Ngeninin indik galah punika kamargiang wantah ring Buda Kliwon Wuku Pahang utawi araina sadurung piodalan ring Pura Duur Bingin Désa Pakraman Tegalalang. Antuk makatah cihna saking dresta inucap ngawinang pidabdabnyané ngangobin pisan tatkala kasinahang pinaka sinalih tunggil wangun dresta tenget éédan saking karya piodalan. Punika mawinan wénten makatah parikrama sané patut kamargiang sadurungnyané. Ngeninin indiké punika, limang raina sadurung parikrama dresta inucap kamargiang majanten kadulurin antuk parikrama ngasas utawi ngre-
reh makatah sarana sané kawigunayang ring upacara inucap. Akéhan sané karereh marupa makatah soroh don-donan, jejukutan, bunga, woh-wohan miwah sané siosan. Manut Drs. I Wayan Mupu, M.Pd.H. tatkala karereh, krama inucap nénten dados nulak napi malih jagi némbahang krama sané rauh ngambil utawi nunas druén krama inucap ring teba utawi ring tegalannyané jagi kanggén ring pura. Duaning manut saking awig-awig, ngasas wantah parikrama ngambil makatah druén krama désa pakraman kanggén ring upacara yadnya ring pura minakadi marupa klapa, tiing, busung miwah tiosan. Asapunika taler kabaosang olih Jero Mangku I Gusti Nyoman Raka, jero mangku Pura Duur Bingin Désa Pakraman Tegalalang, kirang langkung
Dura désa
limang raina inucap krama jagi ngayah makarya sanganan miwah makatah sarana upakara ring pura. Sangkaning punika alit-alit utawi yowana inucap jagi ngaturang ayah-ayah ring palinggih antuk parikrama ngranjing ka soang-soang paumahan utawi pakarangan jagi ngasas. Sarana sané sampun kapolihang raris kabakta ka pura tur ipun kaicén “paica alit” marupa ajengan sané sampun makaput antuk busung. “Alit-alit punika jagi ngrereh utawi nunas ka umah-umah krama sajebag Désa Pakraman Tegalalang nanging ketah taler alit-alit utawi yowana punika taler ngrereh lakaran ring pakarangan, teba utawi tegalannyané soang-soang raris kaaturang ka pura,” baos dané. Nénten arang paumahan krama sané sadurungnyané
sampun karereh druénipun olih alit-alit sané ngayah jagi karereh tur katunasin malih. Yadiastun asapunika krama inucap kaaptiang mangda lascarya ngicénin lakaran sané kaaptiang kaambil jagi kaaturang ring pura. Pidabdabnyané wantah kadulurin antuk alit-alit inucap mataken dumun indik kawéntenan sarana utawi lakaran ring pakarangan inucap. Yéning sampun kabaosang wénten tur kaicén wawu alit-alit inucap ngrereh utawi ngalap. Nanging sané satmaka soléh kapanggihin wantah naénin kahanannyané wénten krama sané katunasin nénten ngaturang druénnyané ka pura yadiastun sujatinné ipun madué tetanduran utawi woh-wohan minakadi gedang sané jagi katunas inucap. Tatkala punika sinah kaaptiang olih alit-alit inucap mangda
gedangnyané i wawu gelis berek tur jakti nénten sué wusan punika woh-wohan inucap berek tur nénten dados kaajeng malih. Risampuné ngranjing ring raina Buda tur yowana sané jagi ngrebeg sampun mapayas, wawu ipun kaicén nunas “paica ageng” utawi ngajeng magibung matatakan antuk klakat utawi klangsah. “Alitalit sané sampun mapayas tur jagi ngrebeg punika wantah niyasa saking réncangan utawi panjak Ida Bhatara ring Pura Duur Bingin sané marupa wong samar. Sangkaning punika, tatkala nunas paica inucap majanten parikramanyané jagi magarang tur nénten prasida trepti asapunika taler nénten dados kadabdabang mangda becik sané kocap punika wantah parikrama réncangan Ida,” dané nartayang. (was)
Dresta Presean
Niyasa ”Kejantanan” Krama Lanang ring Sasak Lombok SUARAN gamelan khas Lombok manados pamungkah dresta sané sampun mayusa panyatusan warsa puniki. Dresta sané kasub ring suku Sasak, Lombok puniki wantah dresta turun tumurun suku Sasak sané kantun kalestariang kantos mangkin. Dresta inucap kawastanin Dresta Presean, pinaka niyasa ”kejantanan” krama lanang ring Pulo Lombok, Nusa Tenggara Barat. Pangawitnyané Presean kamargiang ri kala para wadwa nyinahang kagirangannyané wus mayudha ring kalangan. Presean utawi ketah kasengguh masiat atuk rotan puniki wantah dresta sané macihna pisan. Presean kamargiang olih Pepadu, kekalih krama lanang sané makta senjata rotan (penyalin) miwah makta
énde pinaka taméng. Pasiat puniki kapucukin olih kalih pakembar. Luiré; Pakembar Sedi, sané wénten ring sisi kalangan, miwah Pakembar Tengah, sané wénten ring tengahing kalangan. Salami siat inucap mamargi, soangsoang pepadu saling siatin. Siat inucap kamargiang salami limang paletan. Sané menang sajeroning dretsa inucap katilik saking makudang-kudang parindikan. Kapertama, angga sang pepadu ngamedalang rah, sinah sané menang wantah pepadu sané nénten ngamedalang rah. Prasida taler kabaosang puput sangkaning galah masiat sampun telas yéning desta inucap kamargiang pinaka acara penyambutan tamiu. Kaping kalih, yéning
sang pepadu prasida kukuh masiat kantos limang paletan, sané menang kacingakin saking skor sané pinih ageng. Satios pinaka kasenian turun tumurun, dresta inucap taler matetujon nguningin kawirangan, kacacepan, miwah kawagedan soang-soang pepadu sajeroning masiat. Tawahnyané, para pepadu nénten kapalih sadurungnyané, nanging wawu kapalih ri kala acara pacang kakawitin. Wénten kekalih tatacara ngruruh pepadu, luiré katepak olih pakembar utawi wénten krama sané nantangin para panonton mangda kayun ngamargiang Presean. Yadiastun sajeroning pamarginnyané wantah masiat, Dresta Presean madué tetuek sané becik, ngemit katreptian
manyama braya, saling asihin, tur nénten masengit-sengitan. Parindikan punika kacihnayang antuk saling gelut pantara pepadu ring pamuput pamargin dresta inucap. Sajeroning panglimbaknyané, satios kamargiang pinaka dresta, Presean taler ketah kamargiang ri kala pa-
nyambutan tamiu wiadin tontonan majeng wisatawan sané rauh ka Lombok. Parindikan inucap kamargiang pinaka utsaha nglestariang Dresta Presean miwah nguningayang majeng krama yéning Dresta Presean kantun ajeg kalestariang kantos mangkin. (pusdat/berbagai sumber)
Redité Kliwon, 18 Agustus 2019
I Sempol I Nyoman Jegog PAN Raka madué pianak kekalih. I Gedé Raka sané kelihan, jumenek ring umah tua, ring Bangli, miwah adinipuné Ni Nyoman Rai, mapikuren ka Tabanan. Ni Nyoman Rai madué pianak kekalih, I Wayan Parwata miwah I Madé Parnata. Ni Nyoman Rai ketah kapungkusin Mén Parwata. “Ampura pesan, Pa, Beli pada! Suba makelo tiang makurenan ka Tabanan, kapah-kapah tiang maan mulih, kacunduk tekén Bapa ajak Beli jumah!” sapunika ngawit Mén Parwata mabaos ring bapa rupakanipun, miwah belinipun ring Bangli, sesampuné cucu-cucunipun kaajak malali ka Panelokan olih bapak miwah uwanipunné. “Nah, da to sangetanga, Luh! Kéwala suba paturu seger, sing kénkén. Nto pianak Luhé, I Wayan suba sesai nélpon nyama-nyamanné dini, ngortayang kahanan kulawargané jumah kauh di Tabanan!” sapunika panyawis anaké odah, Pan Raka. “Dikénkéné langsung ia I Wayan teka, malali ajahan ajaka adinné dini Ni Madé Sri. Amonto gén Beli ba kanggo!” sapunika panyawis belinipuné, I Gedé Raka. “Unduk kahanan jumah kauh, setata baat baan tiang minehin, Pa! Nu cerik-cerik panak tiangé, I Wayan ajaka adinné, suba kalahina lacur baan bapanné. Aget ngelah pénsiunan, ada anggon tiang nyekolahang pianaké, sida bantas tamat sekolah guru, tur suba pada magaé dadi guru. Ia I Wayan mara ngelah pianak luh aukud, kalahina lacur baan kurenan-
né.” Majanggelan Mén Parwata nyatua, dwaning ngembeng-ngembeng yéh paningalanipuné nurabias tan sida antuka naenang sedih ipunné. “Da sangetanga pesan nyedihang ané suba liwat, Luh! Idup kalawan matiné, tuah Ida Sang Hyang Titah sané nitahang. Jani suba ada cucu dadua, nto té kertiang, tunas icayang, apang sida ja pait getihné!” sapunika anaké odah, Pan Raka mapiteket. “Kéto, suba té kéto! Ané sanget anggon tiang pakenehan, Pa, unduk matin mantun tiangé, kurenan I Wayané, buka agigis sakitné, ngamar mara duang peteng, kagetan lacur. Yadiastun unduké nto atiban suba liwat, mara ibi rasayang tiang, Pa!” “Buka munyin bapané mara, da bas sanget Luh nyebetang! Anak angkihan baan nyilih!” Anaké odah meneng ajahan, mecuk alis nunggalang manah, raris lantur mabaos: “Nto ipah Luhé, Dong Klinyar, ané mawit uli Sanur, patut tangarin. Ia anak riseb, nglarang aji wegig. Pianak-pianakné miwah somahne, kadén sing enu. Ia ané ngencanin, patut tangarin, Luh! Biasané anaké ngelarang kekéto, ngalih-alihin kapelihan timpal!” “Anak bisa kéto ia, Pa? Mara tawang tiang! Padalem I Wayan jani ia balu. Aget mantun tiangé ané cerikan, kurenanné I Madé, becat trampil magarapan. Ia polos, nyak rungu tekén pianak, keponakan, tekén tiang dadi anak tua. Semengan mara tiang bangun, tiang napetang dedaaran nasi suba ada. Ia ané makrépakan di paon. Ngikenang cerik-ceriké masuk, lantur ngateh ka sekolah. Ia nglantas masih majalan masuk.” “Yan suba kéto, bantas ningeh gen, Bapa milu masih demen kenehé!” “Ia I Wayan, ada kénkén kenehné tekén adinné dini, pianak beliné ané cerikan? Sesai ja tepuk beli craratcrurut ajaka dadua, beli sing taén nakonin,” I Gedé Raka nyambungin. “Pidé ada keneh pianak-pianaké luh muani buka dadua, sedeng melaha, demen tiang beli!” sapunika Men Parwata nimbal. Wawu amunika baos Men Parwata, curhat sareng bapa miwah belinipuné, kagetan rauh cucu-cucunipuné saking malali ka Panelokan, katugtugin olih I Wayan Parwata, miwah misanipuné, Ni Made Sri Tapini, pianak ipun I Gede Raka. Alit-alité nyagjagin anaké odah, sarwi ngenjuhang bungkusan: “Pyang, niki gapgapan baju, bapaké numbasang di Panelokan, Pyang!” sapunika anaké alit, raris kaabin olih anaké odah, tur kausap-usap sirahnyané, kabatek rasa sayangné, tur mataken: “Né, nyen ja adané? Ba masuk?” “Tiang Luh Gedé Santini, Pyang. Sampun kelas kalih SD, Pyang!” “Né, ané bagus né, nyén ja adané? Engsap Kompyang.” “Tiang Putu Agustina, Pyang. Wawu kelas satu SD, Pyang.” “Béh, dueg-dueg Kompyang maka dadua. Selegang malajah nah! Sing dadi mablanja liu-liu!” “Inggih, Pyang!” sapunika nandes sibarengan sareng kalih. “Nto ané luh pianak I Wayané, Pa. Ané cerikan muani, pianak iané I Made, Pa,” Men Parwata nyekenang. Raris I Putu malaib kelés saking pabinan anaké odah, nyagjag ka krangkéng asuné. Ring krangkéngé sané mapelok-pelok, akéh asu Kintamani, magedénan maalitan, dwaning
Pan Raka kamulan miara asu Kintamani, kapanakang, raris kaadol ring koperasi Peternak Anjing Kintamaniné. Anaké odah sareng nugtugin I Putu ka kandangé. “Demen Tu kén kuluk? Amun demen, né ané cerik-cerikan pilihin, mara ipuan Kompyang melas ngajak inané, ngantosang petugas Koperasiné gen lakar ngadepang.” “Tu demen, Pyang. Niki sané putih, Pyang. Ané putih tulus.” Asu sané kapilih punika, raris kaejuk olih anaké odah tur kausap-usap, kaenggangang bungutnyané. “Béh, kuluk melah né, Tu. Bulunné putih, layahné maclondéng selem, buka marajah.” “Kénkén melahné, Pyang?” nyelag I Wayan Parwata, sané taler seneng ring kuluk. “Kuluk ané kéné koné panulak desti.” “Nah, amun kéto, to ba tunas aukud aba ka Tabanan!” Anaké odah raris nuturin I Wayan carané miara kuluk, apang setata bersih bulunnyané, tur mokoh. Manut Pan Raka, asu Kintamani élah ngajahin, midep munyi. Kuluké punika kocap sampun mavaksin wawu apisan. Sesampuné pada ngajeng, Mén Parwata, I Wayan Parwata, I Gedé Raka sareng pianak ipun mabaosan serius pisan. Mén Parwata ngawitin. “Kené Luh, Beli Wayané makelo suba balu, sing ada ngayahin. Men kénkén keneh Luhé, nyak ngayahin Beli Wayané, ngayahin mémé jumah kauh di Tabanan. Mémé suba ngancan tua, Luh. Mémé nyatua pepojolan, sing bisa nyatua pang dawa, Luh!” Ni Madé Sri Tapini, pragat kenyem-kenyem dogén nyawis pitakén Mén Parwatané, dwaning sujatinipun Ni Made sampun sué mapacukan baos sareng I Wayan Parwata. I Wayan taler kenyus-kenyus kéwanten. I Gede Raka, bapanipun Ni Madé malih nyekenang; “Men kénkén Luh, kéto pangidihan méméné kauh, nyak Luh mapikuren ngajak Beli Wayané, apa sing? Pang demen té keneh Bapa, keneh méméné ningehang. Bapa dong ja ngorog-ngorogang pianak. Déwék suba kelih, suba pantes ngalih kurenan. Nyak apa sing?” Ni Made pragat maanggutan, tur makakeb di pabinan Mén Parwatané. I Wayan Parwata nimbal, sakadi nglawan-nglawanin mabaos riang arep reramanipuné “Mé, Pa, sujatiné tiang suba mapaiketan baos jak adiné tur cumpu lakar mapikuren. Ampurayang tiang Bapa, sing taén tiang nyatua seken ngajak Bapa lan Mémé dini.” “Nah yan suba kéto, sedeng melaha!” Sami pada égar ring pamuput bebaosé. Dwaning sampun lingsir, Mén Parwata sakulawarga mapamit ring anaké odah, miwah kulawarganipun sané wenten ring Bangli jaga mawali ka Tabanan. Rauh ring Tabanan sampun sanja. Wenginé punika, sami alit-alité ngortain I Made Parnata lan kurenanipuné, indik kamelahan Gunung Baturé. Kasuén-suén dwaning sampun saling tresnain, pasametonané sayan leket, rauh padéwasané, I Wayan Parwata kajangkepang ring Ni Made Sri Tapini, saha pawidi widanan sané saderana, kasaksiang bendesa adat, perbekel, miwah kulawarganipun. Ri wengi pangawit patemoné, tembé sang kalih matemu ri kala masaré,
madué prabot saking sué tan manggé, sesampun pada mungkah langsé, angga melah luung tan mapanganggé, manah sang kalih pateh semara. Saling dopdop saling gelut, kadi ayam mapruput, Ni Madé nglier siat-siut, aringeté nyrétcét ngantos ka sikut. Sapunika sang kalih setata namtamin kasukan suarga sekalané. Kuluk Kintamaniné sané putih, I Sempol mategul ranté besi, setata medem ring undagan baléné. Madaging kadi baos pekaknyané ring Bangli, I Sempol gelis ngresep madingehang baos sang miara. Nemonin wengi Kajeng Kliwon, karasayang mlekpek upek gerah, ngantos tan mrasidayang mabaju I Wayan lan Ni Made ring metén ba daja, uyang blasak, raris I Wayan mabaos; “Dé, ajaka di balé gedéné ba delod sirep, kakéné di tengah ungkeb rasayang Beli! Mirib gulem langité.” “Jalan, Beli! Tiang masih ungkeb. Mirib tisan di baléné, reh tuara matémbok, pragat nganggo kordén gén pasirepané!” Sang kalih ngojog balé gedéné ba delod. I Sempol sané pules ring undagan baléné, nrajang bangun maekin gustiné, ikuh ipun égal-égol. “Pol, Pol, ngoyong!” sambil ngusap-usap tundun asuné. I Sempol jibrag-jibrag, sinambi ikuh ipun kitir-kitir. Sang kalih mabahan pada-pada bulig nyalig, saling ulig saling lantig, kauyak si bukit mentig, muputang swadharman sang alaki rabi ring paturon. Durung polih nyriep becik, kagetan I Wayan miragi I Sempol ngehkeh undagan baléné, kruat-kruit nagih mangda kalébin. Nembé I Sempol matingkah sapunika. I Wayan bangun, katampekin asuné; “Kénkén, Pol? Kal kija?” I Sempol paliatné mrengang, jibrag-jibrag nagih ngeléb. I Wayan raris ka pawaregan, ngambil tasik pabaang pekaknyané ring Bangli, sarwi nunas basma ring cangkem paoné. I Sempol kacolekin basma ring gidatné. Tasiké kasambehang ngiterin balé gedéné. Ni Made taler kacolekin basma. “Apa né Beli? Apa to sambehang Beli?” Panyawis I Wayané cutet kisi-kisi; “Uyah! Sirepang ibané, Dé!” I Sempol kakelésang saking saka baléné, gelis malaib ka natahé maid rante. Mailehan I Sempol ngendus-endusin, kadi asu pelacak druén Polisiné. Sawetara tengah wengi, I Sempol kraung-kraung, kaselagin macakal tan papegatan. Yan amunapi suéné, kagetan sakadi makerah, sakéwanten wantah munyinipuné sané kapiragi olih I Wayan. Ni Madé ngejer jejeh, kaplekur kurenanipuné, mabaos kisikisi; “Ada cicing lénan ibusan Beli? Dadi tumbén I Sempol matingkah kéto?” “Tawie! Endepang déwéké, Dé! Antosang pang suud I Sempol uyut!” Wusan ngongkong, suaran I Sempol ngaéng, ngaéng, magobeg-gobegan, sakadi mésbés méong. Méh wénten duang panginangan, raris I Sempol ka undagan baléné, ciplak-ciplak makinyukan. I Wayan bangun; “Apa amah iba, Pol?” I Sempol pragat kitirkitir ikuhne. Bénjangné, iur gatrané, ngortaang Mén Sapleg, sané ketah kajeritin Dong Klinyar, padem di pasarénané, awakné sebuh-sebuh makaukud ngantos ka sirah. Wénten maosang, Dong Klinyar kaon di pasiatan nemonin Kajeng Kliwoné sané dibi. -0-
Kadek Raya Renata Dewanti
Satua
Meled dados Pragina ”Profesional”
I Belog Mantu (9) Kaketus saking Satua-satua Bali (IV) DITU mara marasa bapan Luh Sari tekén kena belog-belog busan-busan baan I Belog. Tan sapira sebet kenehné, engsek ia mapangsegan sing mamunyi-munyi biin. Mamunyi ia acepok, “Da nyai nyebetang nah Luh tuyuh mumpunin, tuah ya I Belog nyilurin ubin bapané. Ubin bapané ubi tuah luung-luung lusuh-lusuh. Moné baana nyengahin bapa, yén sing mati ia baan bapa nayanang sing lega-lega nyet bapané. Mani buin kaajak ka alasé, buin kejep dong teka ia. Kal ajak ngalih duk sig paklicakan macané, pang amaha terasné baan macané.” Sedekan ia ngomong kéto di baléné, I Belog teka suba di durin baléné. Dingeha omongané kéto, nyaru ia magending buka ané ibi puané. “Don sénté don pléndo, don kacang don bausé, kéto cang I Luh.” Telah gendingné majeritan ia, “Luh, Luh Sari, suba lebeng ubiné? Idih bedik nah. Apa icang teked jumah nyuung, malah icang kendel kadén icang ubi tuah tegen icang, masilur laada jak bapan Luhé. Negen bungkil tiing, kenyel icang mumpunin sing nyak lebeng-lebeng. Dong ubin icangé ya bakat tegena baan I Bapa? Kén suba lebeng? Idih ja alaad.” Ni Luh Sari bareng bapanné nglek ati ngorahang mumpunin bungkil tiing. Bawak orahanga suba telah. Suud ia ngomong kéto, buin mamunyi bapan Luh Sari, “Belog, mani jalan ngalih duk ka alasé, barengin bapa. Bakal anggon raab sanggahé, apa onyangan suba uug.” Masaut I Belog, “Nah Bapa.” Suba ia masanggup kéto, kendel pesan keneh bapan Luh Sariné. Kenehné bakal ngapus I Belog apang mati sarap macan. Gelising satua énggal, maniné pasemengan majalan ia ajaka dadua ka alasé ngalih duk. Di alasé wayah tongos paklicakan macané.
Nyastra
(Masambung)
RING widang seni pamekas masesolahan, anak alit puniki waged pisan. Ipun ketah masolah inggian ngaturang ngayah, péntas ring festival, utawi nyarengin lomba. Ring sekolahnyané, ring SD Saraswati 3 Denpasar, siswa kelas VI puniki taler sampun langganan dados pragina sané masolah ring acara-acara seni tiosan. “Tiang sampun biasa ngigel ngawit TK,” baos Kadek Raya Renata Dewanti, sapunika aran panjangnyané. Anak alit sané embas ring Denpasar, 11 Januari 2008 sumeken pisan malajahang raga ring widang kasenian. “Tiang precaya, kasenian minakadi masesolahan boya wantah prasida ngibur krama kémanten, akéh tetuek becik sané prasida kapolihang,” baosnyané. Yadiastun durung molihang selah masolah ka dura negara, Raya— sapunika ipun ketah kasambat sampun ketah masolah ring acaraacara penting, minakadi ring Pesta Kesenian Bali (PKB), Nawanatya, pentas ring acara resmi ring Gedung Swaka Darma, Bandara Ngurah Rai miwah ring Lapangan Puputan Badung. “Tiang marasa bangga daweg kapertama masolah ring PKB warsa 2018. Sadurungnyané titiang wantah ngipi kémanten prasida masolah ring kalangan Ardha Candra, nanging ipian tiangé punika sampun prasida kamargiang,” baosnyané seneng. Sajeroning makesenian, akéh sané kalintangin anak alit sané meled dados pragina profesional puniki. Ipun naen kasengkala, tangan kiwané naen lung santukan labuh wus
ngamargiang gladi bersih. Antuk parindikané punika, ipun urung ngayah ngigel tur patut mararian salami nem bulan. “Tiang marasa sebet kala punika. Nanging, tiang kantun semangat ngaturang ngayah ngigel, mawinan risampuné seger tiang mawali malih ngayah,” ipun nyaritayang. Sajeroning seni sesolahan, Raya waged ring makudang-kudang igelan Bali inggian klasik wiadin kreasi anyar, minakadi; Legong Keraton, Condong, Manukrawa, Puspawresti, Sekar Jempiring, Sekar Jagat, Margapati, Tari Saraswati, Tenun, Panyembrahma, Pendet, Oleg Tamulilingan, Janger, Rejang. Satios punika, pianak I Made Budiarta, S.PT - Ketut Rai Ambarawati, S.E puniki taler sampun akéh molihang préstasi sané becik, minakadi; Jayanti I Tari Manukrawa ring PSR SD tingkat Gugus Untung Surapati, tingkat Kecamatan Dentim, kantos tingkat Kota Denpasar sané kamargiang Disdikpora (2017), Jayanti II Legong Keraton Langke Sari Lomba Legong Keraton Lasem IV olih Dinas Kebudayaan Kota Denpasar (2018), Jayanti I Tari Sekar Jempiring - PSR kaping 35 Kota Denpasar (2019), Jayanti I Seni Tari - FLS2N Kota Denpasar (2019), miwah kantun akéh prestasi tiosan sané nénten prasida katlatarang iriki.kmb
7 Cerakén Lengkara Punggelan geguritan puniki kanggén ngulati basa lan aksara Bali. Kapunggel saking Geguritan Cokli sané kakawi olih Djelantik Santha. Kaolah antuk : Pangremba Bali Orti
pupu;d*d*, Pupuh Dangdang 15.hudu;b)li, Uduh Beli,
somæun*hiw*pnmæi,
sampunang iwang panampi, mn;titê*,
manah titiang, tenÙnÓ)nélrn/,
tan wénten jalaran, g)d)gÉ&h\ánã)lien,
gedeg ring anggan Beliné, npimli;jg\mã¡l/,
napi malih jaga ngambul, ensy\*wnÓ;b)li,
né sayangang wantah Beli, ekwlmnehrunÑ;,
kéwala manahé rundah, hnÓ¡kÐ)l\)nÉ&luhu(,
antuk kelangen ring Luhur, m\áihinuæU(yenm)dl/,
manggihin suryané medal, kdihrd/, kadi arad,
mn;titêe\mwli,
manah titiangé mawali, kdibudu;ks)mrn/.
kadi buduh kasemaran.
Saking Langit Bali Ngerug Bencana Sayaga ri kala wengi Sadia ri kala galang Gerudug bencana, pabriak panjak masuryak Pajerit jerit ngalih selamat Para jana, praja miwah rupaka makasami mamesik Ngwangun tudung guleman Ngwangun paon anggén nyakan Ngwangun sami mangda rahayu Kibaran kuning masliweran Nunas ica ring HyangWidhi Anggén majalaran Selamat makasami I Kadek Darsika Aryanta
8
Minggu Kliwon, 18 Agustus 2019
Potret Diri Jabal Nur Redaksi Mingguan mengundang Anda untuk berpartisipasi dalam rubrik “Kartun” ini. Tulis nama dan alamat lengkap dibalik gambar kartun. Kirim ke Redaksi Bali Post Jalan Kepundung 67a Denpasar.
kepada cahaya yang berkhalwat, batu-batu dan rongga goa menjelma cahaya bilik hening cahaya tempat cahaya mewirid cahaya berdenyutan dibasuh jernih cahaya. kepada cahaya, sang maha cahaya mengutus cahaya untuk menyampaikan cahaya. cahaya menerima cahaya, membaca cahaya. o semesta cahaya tumpah memenuhi langit dan bumi cahaya. rukuk sujud cahaya berkilau lembut, hening menafasi lahir batin tubuh fakir cahayaku. bismillah. lHerry Lamongan Makkah, 15.01.2019
Tahun Baru Çaka I Wayan Nuriarta
kenangan memang kekal, tapi kentrung, wayang dan sandur tinggal cerita, sayangku. tinggal suluk senyap. kita coba membangkitkannya kembali lewat dialog. lewat musyawarah seutas tembang kita timba yang tradisi agar kembali menafasi hiruk pikuk zaman yang simpang siur oleh whatsapp, riuh pesan-pesan singkat surat cintamu. aku kesepian. kita gali kearifan lokal yang tertimbun debu peristiwa ratusan tahun supaya berseri lagi mengibarkan kemerdekaan dendang dalam sepiku membikin tangan-tangan berlepasan utuh kembali bergandengan memahat kehendak bumi, berdaulat atas tanah sendiri lHerry Lamongan 14.08.2019
Ihwal Diri
nyepi pada kalender 2019. sepi di luar sepi dalam masing-masing diri aku baca tahun Çakamu 1941. api padam bunyi padam. segala yang cahaya yang suara diheningkan. sangyang paramasunyatma suwung jagat alit suwung jagat agung menyatu dalam tubuh berhening dalam nyepi
Cemas, begitulah rasa yang rajin hadir Ketika potongan-potongan mimpi Menjadi arang lalu lesap bersama kabut
wahai, kepada itu suwung kenallah akan pribadi sepenuhnya maka paham kelak diri fana dengan yang hakiki. lHerry Lamongan Lamongan, 06.03.2019
Pada pokok pohon yang tumbuh di puluhan tahun Musim pun kadang menyalahi hadirnya Pada bunga yang mekar dan wangi Bukan tunas buah yang muncul Angin yang entah telah setia Setia mengintai Kelopak pun berguguran Berserak dan lengket bersama getah Namun, kambium mengukir dirinya Membuat jejak pada alur waktu Menjadi peta bernama Dan peta itu bernama kota pengharapan
Dermaga
I Dewa Komang Mahadewa
lWinar Ramelan
Bergegas, begitulah langkah perjalanan Meski pundak sarat dengan beban Memanggulnya sampai di tujuan Oleh panggillan rindu yang tak mampu didiamkan Lambaian seperti serbuk hujan Menyambut kedatangan Mengantar kepergian Kelopak hati entah berbunga Atau menciut oleh kesedihan Air mata kadang seperti riak di pantai Membasahi dengan riangnya Meski menghapus jejak kaki Ketika langkah tak mampu di hentikan Biar kapal kan membawa Kita lepaskan beban pada lambungnya Dan mengenang kembali lambaian Senyum pun mengembang pada keikhlasan Ini dermaga Tempat singgah sementara Sebelum palung laut menyambut Dalam larung dan menjadi pasir keabadian
Bajra Bagaskara
Fotografi
Mengarak Petulangan karya I Wayan Sumatika
Instruksi karya I Wayan Sumatika
Titian Rindu Masihkah harus kau pinjam isi kepalaku Sedang helaian rambut telah kuberikan Sebagai titian ketika rindu menderamu Helaian yang menyerupai gelombang di lautan Menepis sengatnya siang, menjadi sehangat ketika senja tiba dengan warna magentanya Helaian itu kadang terpilin menjadi jalinan erat Antara rindu dan keinginan kadang menyatu Bukan lagi keliaran yang berkelindan Namun gemulai yang menjadikan gebu mereda Isi dalam kepala, bukan lagi kesah atau keluh Helaian mayang telah fasih menjaga Agar keluh menjadi peluh saja Bukan lagi genangan keruh Cukup dengan hujan doa yang menderas Untuk mensucikan isi kepala Dan cangkang tempat tumbuh mayang Yang menandai matangnya usia Dari hitam hingga berganti warna Di sini rindumu mengental Dan rinduku menyambut Dalam altar keabadian
lWinar Ramelan
lWinar Ramelan
Komposisi ”Rule of Space”
Menciptakan Rasa Gerak dan Aktivitas RULE of space atau aturan ruang merupakan sebuah teknik untuk menciptakan rasa gerak dan aktivitas dalam komposisi sebuah foto. Intinya, memanfaatkan ruang negatif untuk membuat objek utama tampil lebih menonjol sehingga perhatian penikmat foto tersebut langsung tertuju ke objek utama dalam foto. Dengan kata lain, teknik ini menciptakan ruang negatif yang berhubungan dengan objek foto sehingga melahirkan kesan gerak dan aktivitas yang kuat. Sebagai contoh, kesan gerak dan aktivitas dapat dilihat pada foto berjudul “Mengarak Petulangan”. Di sini, rule of space berkaitan dengan arah objek dalam foto yaitu menghadap atau bergerak ke arah mana. Ruang yang tersisa atau negative space di depan sekelompok pria yang mengarak petulangan (salah satu sarana dalam upacara Ngaben di Bali, red) menjelaskan bahwa mereka sedang bergerak maju. Kesan gerak yang serupa juga terlihat pada foto berjudul ”Bersepeda di Kota Tua” yang mengabadikan seorang ibu sedang mengajari putranya naik sepeda. Teknik komposisi rule of space tidak terbatas hanya untuk memotret manusia dan aktivitasnya. Namun juga sangat efektif untuk mengabadikan berbagai satwa, baik yang bergerak cepat maupun bergerak perlahan. Teknik ini juga umum diterapkan untuk memotret mobil maupun sepeda motor untuk menciptakan kesan gerak yang kuat dari objek foto tersebut. Mengapa kita harus menggunakan teknik rule of space? Seperti diuraikan di atas, teknik ini sangat efektif untuk menampilkan gerakan dan kecepatan. Sisakan ruang negatif di depan objek utama sehingga penikmat foto akan langsung merasakan objek dalam foto itu sedang bergerak dan menuju ke ruang tersebut. Teknik rule of space juga mampu menghasilkan kedalaman dan menambah pesona pada sebuah foto. Dengan menambahkan ruang negatif ke arah pandangan objek utama akan menggugah imajinasi penikmat foto pada ruang negatif dan bertanyatanya apa yang mungkin terjadi di luar foto tersebut. Lantas, bagaimana cara menerapkan rule of space saat menentukan komposisi sebuah foto? Sebagai panduan, komposisi sebuah foto setidaknya memiliki ruang negatif sebanyak dua kali lipat dibandingkan dengan ruang positif. Aturlah ruang negatif di sekitar objek utama foto secermat mungkin untuk menciptakan kesan kesederhanaan, sehingga perhatian penikmat foto akan terfokus pada objek utama foto. Dengan kata lain, objek utama tetap harus tampil menonjol. (ian)
Soa Payung karya I Wayan Sumatika
Bersepeda di Kota Tua karya I Wayan Sumatika
Minggu Kliwon, 18 Agustus 2019
BALI GLOBAL CLASSIFIED ADS
9
IKLAN MINI - IKLAN PELUANG EMAS
Sarana promosi, mempertahankan, memperluas pasar serta meningkatkan citra perusahaan, Paling efektif, mini biaya, maksimal hasilnya � Tarif iklan Mini/Baris
: Minggu s/d Jumat : Rp 49.500,- per baris, Sabtu : Rp 64.350,- per baris (30 character), minimum 2 baris, maksimum 10 baris (bayar dimuka), Adlibs Radio Global/Genta/Besakih Rp 50.000 (3 x siar) � Iklan Peluang Emas : Rp 795.000,- maksimum ukuran 1 kolom X 3 cm, 10 kali muat/bulan (bayar dimuka) tidak termasuk iklan lowongan/dijual/dikontrakkan rumah, tanah, ruko, mobil, dll. Tarif khusus 72 tahun Bali Post. Iklan mendesak untuk dimuat besok, diterima sampai pukul : 18.00 Wita � Materi iklan diserahkan berupa file dalam bentuk CD/Flashdisk dengan format: Coreldraw, Photoshop atau Iklan Anda di desain langsung di bagian iklan Bali Post, GRATIS! � BCA 040 - 2784847 A/n. PT Bali Post, BRI Denpasar 00170 - 1000320300 PT Bali Post
JOB VACANCY LOWONGAN KERJA Staff Akuntansi SMEA,S1 Lam: Bali Coffee Jl.Veteran 86 Dps SMA/WA : 081805628430
B.BP.001.08.19.0000520
Bth sopir,Ass Manager, Pria, Bisa Bhs .Inggris,Bawa Lam ke Jl.Tkd. Badung 18/9 Renon/WA: 081338336235 / 081236525145
B.BP.001.08.19.0000470
Cr staff bs eyelash & nail gel, Tangkuban perahu 0819 99038555
B.BP.004.08.19.0000536
Cr Sopir Srbt bs matik+PRT wnt bs naikMtr,tgldlm,085238127777
B.BP.004.08.19.0000533
BIRO JASA
BIRO JASA
BIRO JASA
Bu.Sopir(20-40th)min SMU, SIM A,sehat, jujur, tangungjawab WA.081236714552/085237021110 B.BP.001.08.19.0000503
Dbthkan Sales Bahan Bangunan Berpngalaman Area Bali.Lamaran Kpd PT.Jaya Santosa Surabaya Dikirim ke Jl.Tkd Balian 177 sebelah Batako wijaya Renon Dps,081330068742(Bapak Budi)
B.BP.001.08.19.0000495
Dist Prodk Nestle/KAO/Fumakila Cr:Sales TO/Spv/TF,Sopir SIM A /B,Admin MD,Tng Srbt/Gdg,u/Dps Tbn,Ngr,Klk,Singaraja,Krgsem Krm Jl.Ry Sempidi 2 Dps B.BP.001.08.19.0000497
DIJUAL MOBIL
Dcr Housekeeping Staff Gj.2400 +BPJS+U.Service,Bhs Inggris, Pria. Hub.0817339664 B.BP.001.08.19.0000518
Dcr Kepala Bag.Kredit & AO.Lam Kirim ke PT.BPR Picu Manunggal Sejahtera Jl.Prof.IB Mantra No.88X Hub.467745,08593123388
B.BP.001.08.19.0000502
Dibutuhkan 2 org Tkg Kebun & 1 Satpam.Lamaran diantar segera ke Sekolah Dyatmika, Jl.Pucuk Bang,Br.Tangtu,Kesiman,Dentim B.BP.004.08.19.0000508
Dicari pembantu RT untuk jaga anak di Dps hub.081916255457 B.BP.001.08.19.0000519
SERVICE
Dicari Waitress pnglman Gj.2,4Jt Barometer Cafe Renon Dps 08113979191 B.BP.004.08.19.0000435
Kitami Cafe, property baru di Kuta,memerlukan tenaga Waiter /ess sebanyak 5 orang. Fresh graduate. Kirim lowongan ke hr@dwarakavillas.com
B.BP.004.08.19.0000512
Koperasi Sekolah BH Menkop Bth Manager Kop,Hr Menarik,Jenjang Karier Hub:tugasbali@yahoo.com B.BP.001.08.19.0000383
Pelaks Pry Vila bs Autocad krm ke gekmang.utari69@gmail.com B.BP.001.08.19.0000237
Sopir,Tng Serabutan,ART Tnggal Dalam&Pengawas:085103167222 B.BP.001.08.19.0000416
Surf Company Need : Graphic Designer, skills software adobe, Min D2 Send CV: balisurflife33@gmail.com B.BP.004.08.19.0000360
Villa Seminyak Housekeeping pengalaman SMS 081999882123 B.BP.004.08.19.0000511
Dicari Markom pengalaman tidak diutamakan. Kirim CV ke iklanbp@yahoo.co.id telp. 081 802 411 818 G.01
Informasi pasang iklan Telepon � Denpasar : (0361) 225764 (hunting) WA. 081802411818 e-mail:iklanbp@yahoo.co.id, iklan@balipost.co.id
DIJUAL MOBIL
PROPERTY
DAIHATSU
KOST
Daihatsu Luxio’X Silver Th2015 Akhir,Kondisi Bagus,Jual 124Jt Nego 0361-9072526
Kos 8,5A 4,1M.Sawah 10A 145J/A Rmh Lt3 Kuta 990Jt,08123816666
B.BP.001.08.19.0000465
PROPERTY DIJUAL TANAH
Dijual Tanah Jl.Tukad Bilok 1 Are,SHM Hub:081246050899 TP
B.BP.001.08.19.0000427
KEHILANGAN Hilang BPKB No.Pol D 1678 DA, Nosin F22 503904 A/N Susanto N B.BP.001.08.19.0000498
Hlg BPKB No.B0197523-O atas nama I Made Wisaka DK 1443 QX
B.BP.001.08.19.0000150
B.BP.001.08.19.0000499
Obral Bln ini 600Jt/A.Sbl 780Jt 5A Jl.LC12M B.Tomo,08123816666
Hlg BPKBNo.J06589887-ODK1762 AB-Atas Nama I Wyn Darmayuda
B.BP.001.08.19.0000426
B.BP.001.08.19.0000500
10
Minggu Kliwon, 18 Agustus 2019
Mendatar: 1. Biola 3. Kepingan papan tipis yang dipakai atap rumah 5. Pancing 7. Rasa tidak senang 8. Adik (Bali) 9. Rente ; Bunga uang 11. North American free trade agreement 13. Tujuan perbuatan ; Kehendak 14. Bahasa semit yang digunakan bangsa-bangsa di timur tengah 15. Nomor pokok anggota 16. Cepat tepat ; Cerdas cermat 18. Pulau terbesar di kawasan karibia 20. Kecamatan di Kab.Pasaman, Sumatra Barat yang terdiri dari dua nagari dan 18 jorong 21. Orang bodoh ; Keledai 22. Keras hati ; Sesuai aturan 26. Cabang olahraga yang memakai alat sejenis pedang bulat berujung tumpul 30. Yang 31. Jaring 32. Montok (Bali) 34. Kali (Bali) 35. Dulu disebut babu 36. Bagian dari tanaman/tumbuh-tumbuhan 38. Dibeli 39. Melompat sambil berjumpalitan di udara 40. Dewa api 41. Harga (Bali) 42. Yang 43. Kelompok penyelenggara pemungutan suara 44. Tiruan suara lebah terbang atau peluru melayang 45. Nama huruf ke-19 abjad Arab
CAPD, Cuci Darah Tanpa Mesin untuk Pasien Gagal Ginjal Tahap Akhir PENYAKIT Ginjal adalah kelainan yang mengenai organ ginjal. Penyakit ini timbul akibat berbagai faktor, misalnya infeksi, tumor, kelainan bawaan, penyakit metabolik atau degeneratif, dan lain-lain. Penyakit ginjal kronis, biasanya timbul secara perlahan dan sifatnya menahun. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, menunjukkan bahwa prevalensi penduduk Indonesia yang menderita gagal ginjal sebesar 0,2% atau 2 / 1.000 penduduk. Berdasarkan jenis kelamin, prevalensi gagal ginjal pada laki-laki (0,3%) lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan (0,2%). Berdasarkan karakteristik umur prevalensi tertinggi pada kategori usia di atas 75 tahun (0,6%), di mana mulai terjadi peningkatan pada usia 35 tahun ke atas. Jumlah pasien hemodialisis baik pasien baru maupun pasien aktif sejak tahun 2007 sampai 2016 mengalami peningkatan, terutama pada tahun 2015 hingga 2016. Gagal ginjal merupakan penyakit katastropik nomor 2 yang paling banyak menghabiskan biaya kesehatan setelah penyakit jantung. Data Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan Kemenkes tahun 2016 menunjukkan adanya peningkatan beban biaya kesehatan untuk pelayanan penyakit katastropik. Pada tahun 2014, penyakit katastropik menghabiskan biaya kesehatan sebesar 8,2 triliun, tahun 2015 meningkat menjadi 13,1 triliun kemudian tahun 2016 sebanyak 13,3 triliun. Pada awalnya, penyakit ginjal kronis tidak menunjukkan gejala yang khas sehingga
penyakit ini sering terlambat diketahui. Tanda dan gejala yang timbul karena penyakit ginjal sangat umum dan dapat ditemukan pada penyakit lain seperti tekanan darah tinggi, perubahan frekuensi buang air kecil dalam sehari, adanya darah dalam urine, mual dan muntah serta bengkak, terutama pada kaki dan pergelangan kaki. Bila ditemukan tanda dan gejala penyakit ginjal, maka yang harus dilakukan adalah kontrol gula darah pada penderita diabetes, kontrol tekanan darah pada penderita hipertensi, dan pengaturan pola makan yang sesuai dengan kondisi ginjal. Tiga pilihan terapi bagi pasien penyakit ginjal kronis yang dapat dilakukan, yakni hemodialisis (HD), dialisis peritoneal (CAPD), dan transplantasi ginjal. Studi menunjukkan bahwa transplantasi ginjal merupakan terapi yang terbaik bagi pasien penyakit ginjal kronis, tetapi kelangkaan organ hidup dan kurang diterimanya penggunaan donor dari orang yang telah meninggal membatasi pilihan pasien hanya pada HD atau DP. Berdasarkan Indonesian Renal Registry (IRR) tahun 2016, sebanyak 98% penderita gagal ginjal menjalani terapi hemodialisis dan 2% menjalani terapi dialisis peritoneal (CAPD). Dengan semakin bertambahnya penderita gagal ginjal kronis dan kurangnya
Metode CAPD cuci darah melalui perut pasien.
fasilitas untuk melakukan hemodialisis maka kita tidak dapat berharap pada satu metode saja untuk melakukan cuci darah, oleh sebab itu terapi dialisis peritoneal harus semakin ditingkatkan. Metode CAPD bekerja dengan membersihkan racun dalam darah dan membuang cairan berlebih menggunakan membran pada tubuh, yaitu peritoneal membran (lapisan pada perut), sebagai penyaring racun. Sebelum memulai dialisis peritoneal, diperlukan operasi untuk memasukkan kateter peritoneal, yaitu sebuah tabung plastik lunak yang membawa larutan dialisis masuk dan keluar dari perut. Dialisis peritoneal dilakukan tanpa mesin dan dapat dilakukan saat melakukan kegiatan seharihari. Dialisis dilakukan dengan menempatkan sekitar dua liter cairan dialisat ke dalam perut yang kemudian disaring oleh lapisan membran dalam perut. Hal ini dilakukan dengan cara menghubungkan kantong plastik yang berisi cairan pembersih ke dalam perut melalui kateter. Menaikkan kantong plastik setinggi bahu akan menyebabkan gravitasi menarik cairan ke dalam perut. Setelah kantong kosong, kantong plastik dilepas dan dibuang. Ketika pertukaran (memasukkan dan mengeluarkan cairan) selesai, cairan yang berisi hasil penyaringan yang dilakukan lapisan dalam perut dikeluarkan dari perut dan dibuang. Proses ini biasanya dilakukan tiga, atau empat kali dalam periode 24 jam saat terjaga, selama aktivitas normal. Setiap pertukaran memakan waktu sekitar 30 hingga 40 menit. Pada saat proses penggantian, pasien dapat menjalani aktivitas dengan normal. Ini merupakan salah satu kelebihan dialisis peritoneal dibandingkan dengan hemodialisa yang dilakukan di klinik atau rumah sakit. Selain itu, keuntungan CAPD dibandingkan dengan hemodialisis di klinik atau rumah sakit adalah, waktu yang lebih fleksibel, dapat dikerjakan di mana saja dengan syarat tempat yang digunakan harus bersih untuk menghindari infeksi, berkurangnya efek samping hemodialisis seperti muntah, mual, kram dan juga penurunan biaya yang dikeluarkan oleh pasien maupun pemerintah dalam hal ini sebagai penyedia jaminan kesehatan. dr. I Gusti Ngurah Agung Tresna Erawan, M.Biomed, Sp.PD. Staf Divisi Ginjal dan Hipertensi, KSM/Departemen Ilmu Penyakit Dalam, RSUP Sanglah Denpasar
Menurun: 1. Ragam bahasa 2. Tidak dipiara orang 3. Si pelaut pahlawan cerita dari timur tengah 4. Inisiatif ; Ikhtiar 5. Kera besar 6. Seroja 10. Terompah kayu tempo dulu 12. Mendasar 17. Dikte 19. Gagasan 23. Anak perempuan cina 24. Gadamala 25. Penyucian diri yang membawa pembaharuan rohani 27. Nicotinamid mononucleotide 28. Anjing tanah ; Orong-orong 29. Nama belakang actor pemeran Benyamin dalam film Benyamin Biang Kerok 33. Sado beroda empat 34. Sangat rumit ; Sulit 37. Duit
Ketentuan Menjawab Jawaban ditulis pada kertas dan masukan ke dalam amplop serta tempelkan guntingan kupon TTS No. 410 dan cantumkan identitas lengkap serta nomor telepon/HP. Kirim ke Sekretariat Redaksi Bali Post Jl. Kepundung 67 A Denpasar 80232, paling lambat Sabtu 31 Agustus 2019. Pemenang diumumkan pada Koran Bali Post Minggu 8 September 2019. Hadiah disediakan untuk 5 (lima) pemenang (@Rp.200.000,-) dan 1 (satu) tiket masuk Bali Zoo untuk keluarga (2 dewasa + 2 anak). Tiket langsung diambil ke Bali Zoo, Singapadu, Gianyar. Pemenang di Denpasar, Badung, Tabanan dan Gianyar agar mengambil hadiahnya langsung ke kantor Bali Post tiap hari kerja dengan memperlihatkan identitas diri. Hadiah untuk pemenang di luar daerah tersebut akan dikirim lewat pos. Jawaban TTS No. 408 Mendatar: 1. BESAKIH 5. TABANAN 9. NIKEL 10. ADJUVAN 11. ATS 13. RENUNG 15. A R U T U S (SUTURA) 16. GARJITA 17. SENI 19. ULEK 20. SAGU 21. BAUD 22. KUKU 25. APES 28. GALAKSI
30. RENGAS 31. INULIN 32. COR 34. BOHEMIA 35. RONDE 36. N A S I N A M (MANISAN) 37. DAKSINA Menurun: 1. BONDRES 2. SAKENAN 3. KILANG 4. HUMA 5. TUAS 6. BAJERA 7. NOVOTEL
Untuk pembaca Bali Post Mingguan (BPM), kami membuka rubrik baru “Permata Hati”. Rubrik ini mengangkat isi buah hati yang baru lahir, yang berulang tahun atau akan berulang tahun. Juga pasangan yang menikah di minggu tersebut atau yang merayakan ulang tahunpernikahan. Kirim foto menarik dan tulisan data lengkap identitas diri, orangtua serta komentar singkat. Semua data dikirim lewat email redaksibalipost@yahoo.com dengan kode Permata Hati. Bisa juga naskah dan foto dikirim ke Sekretariat Bali Post. Jl. Kepundung 67 A Denpasar, telp. (0361) 225764.
(Redaksi)
MANUSA YADNYA
Kebahagiaan kembali dirasakan pasangan I Putu Eka Parananda dengan Ni Wayan Aryaningsih. Kebahagiaan hadir menyusul lahirnya putra kedua yang diberi nama Kadek Bagas Widyasamika pada Rabu (31/7). Pada Kamis (8/8) Bagas telah menjalani upacara kepus pusar di kediamannya di Banjar Batumadeg, Desa Besakih, Rendang, Karangasem. Semoga kelak Bagas bisa menjadi anak yang suputra serta mampu membahagiakan kedua orang tua.
CMYK
8. NONGSOK 12. TAJI 14. GANGGAS 15. ATRAKSI 18. ISU 19. UDA 22. KARABIN 23. KINGHUS 24. CALO 26. PELANGI 27. SANDERA 28. GARMEN 29. INAREK (KERANI) 32. CALM 33. ROAD
Pemenang TTS No. 408 1. Gusti Ayu Seriudani Jl.Tempekan Dalem No.159, Desa Mayong, Kec.Seririt, Kab.Buleleng (Hp:087-760-268-XXX) 2. Ida Ayu Suartini Dsn.Lepang, Desa Takmung, Kec.Banjarangkan, Kab.Klungkung (Hp:082-122-439-XXX) 3. Ahmad Ainun Najib Kampung Utara, Desa Perante, Kec.Asembagus, Kab.Situbondo, Jawa Timur (Hp:081-999-353-XXX) 4. Suciani Sedayu Selatan, Kec.Kediri, Kab.Lombok Barat, Mataram, NTB (Hp:087-861-778-XXX) 5. Ni Komang Mita Juniasri Smk Pgri 5 Denpasar, Jl.Kenyeri, Kel.Sumerta, Denpasar Timur (Hp:089-536-727-8XXX) 1 (satu) pemenang mendapatkan tiket masuk Bali Zoo. Tiket bisa langsung diambil ke Bali Zoo, Singapadu, Gianyar. Nama : I Gst. Bgs. Surya Dharma
Alamat : Lingk.Padang Kerta Kelod, Kel.Padang Kerta, Kec. Karangasem, Kab.Karangasem (Hp:081-805-559-XXX)
Minggu Kliwon, 18 Agustus 2019
Pemindahan Ibu Kota, Ciptakan Pertumbuhan Sumber Ekonomi Baru
Jakarta (Bali Post) Pemerintah ingin mengembangkan beberapa wilayah metropolitan di luar Jawa supaya bisa menumbuhkan sumber-sumber ekonomi baru. Hal tersebut merupakan salah satu cara pemerintah untuk mengurangi ketimpangan antarwilayah, di samping melanjutkan berbagai pengembangan berbagai kawasan ekonomi di luar Jawa dan melanjutkan industrialisasi dalam bentuk hilirisasi hasil tambang maupun perkebunan. Hal tersebut disampaikan Presiden Joko Widodo dalam pidato Penyampaian RUU APBN Tahun Anggaran 2020 Disertai Nota Keuangan dan Dokumen Pendukungnya, pada Rapat Paripurna Pembukaan Masa Sidang I DPR RI Tahun Sidang 2019-2020. Sidang tersebut digelar di Ruang Rapat Paripurna, Gedung Nusantara MPR/DPR/DPD RI, Jakarta, Jumat (16/8). “Selama ini, denyut kegiatan ekonomi secara umum masih terpusat di Jakarta dan Pulau Jawa sehingga Pulau Jawa menjadi sangat
padat dan menciptakan ketimpangan dengan pulaupulau di luar Jawa. Apabila kita membiarkan hal ini berlanjut tanpa ada upaya yang serius, maka ketimpangan akan semakin parah,” jelas Presiden. Untuk itu, pemerintah berencana memindahkan ibu kota ke Pulau Kalimantan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi baru sekaligus memacu pemerataan dan keadilan ekonomi di luar Jawa. Menurut Presiden, ibu kota baru dirancang bukan hanya sebagai simbol identitas, tetapi juga repre-
sentasi kemajuan bangsa dengan mengusung konsep modern, smart, and green city, memakai energi baru dan terbarukan, serta tidak bergantung kepada energi fosil. “Dukungan pendanaan bagi pemindahan ibu kota akan sekecil mungkin menggunakan APBN. Kita dorong partisipasi swasta, BUMN, maupun skema Kerja sama Pemerintah Badan Usaha (KPBU),” imbuhnya. Selain meningkatkan pembangunan SDM, Presiden mengatakan, pemerintah melanjutkan pemban-
gunan infrastruktur dan konektivitas antarwilayah, terutama di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Untuk infrastruktur di luar kawasan 3T, pemerintah menekankan perbaikan manajemen, tata kelola, dan kerangka regulasi agar makin mendukung transformasi ekonomi. “Infrastruktur terus dibangun ke seluruh pelosok dan difokuskan pada konektivitas di sepanjang rantai pasok, menghubungkan pasar dengan sentra-sentra produksi rakyat mulai dari pertanian, perikanan, perkebunan, dan industri termasuk UMKM. Kita juga akan meneruskan pembangunan Moda Raya Terpadu (MRT) dan transportasi massal lainnya, agar keseluruhan sistem transportasi di kotakota besar semakin efisien, semakin bersih dari polusi,
dan terkoneksi secara menyeluruh,” paparnya. Dukungan pembangunan infrastruktur juga dilakukan melalui skema pembiayaan kreatif, seperti Kerja sama pemerintah dengan badan usaha (KPBU). Partisipasi swasta dalam penyediaan infrastruktur publik melalui skema pembiayaan kreatif semacam ini, lanjut Presiden, dilakukan dengan memerhatikan prinsip value for money. “Di sektor pariwisata pada tahun 2020, pemerintah memprioritaskan pembangunan empat destinasi wisata secara lintas sektor dan terintegrasi. Destinasi pariwisata tersebut meliputi Danau Toba, Candi Borobudur, Labuan Bajo, dan Mandalika,” ujarnya. Sementara itu, subsidi energi untuk BBM, listrik, LPG 3 kilogram, serta sub-
sidi pupuk terus diperbaiki agar tepat sasaran dan efektif membantu rakyat yang kurang mampu. Hal itu bertujuan agar menjaga efisiensi dan daya saing ekonomi serta meningkatkan produktivitas petani. Presiden menegaskan, belanja pegawai yang meningkat harus dikaitkan dengan reformasi birokrasi, baik di pusat maupun di daerah. Birokrasi yang tidak melayani dan menghambat investasi, serta tidak responsif terhadap kebutuhan rakyat harus dipangkas. Anggaran belanja barang yang boros dan membebani APBN harus dihapus. “Pemerintah tetap memperhatikan kesejahteraan aparatur negara dengan mempertahankan kebijakan penggajian yang sudah ada melalui pemberian gaji dan pensiun ke-13 serta Tun-
KPK Sebut Jokowi Tak Lupakan Penindakan Jakarta (Bali Post) – Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Agus Rahardjo menilai Presiden Joko Widodo tidak melupakan penindakan dalam hukum terkait pidato kenegaraan yang disampaikan di depan sidang bersama DPD dan DPR, Jumat (16/8). “Dari isi pidatonya, Presiden bukan melupakan penindakan yang keras dalam hukum tetapi dalam waktu yang sama beliau ingin pencegahan yang menghasilkan penyelamatan uang negara itu juga perlu menjadi ukuran kita. Oleh karena itu, dalam hal ini mungkin orientasi kita sedikit dibagi,” ucap Agus usai mengikuti upacara HUT ke-74 RI di gedung KPK, Jakarta, Sabtu kemarin. Oleh karena itu, lanjut Agus, nantinya KPK juga akan mempublikasikan hasil pencegahan yang telah dilakukan, tidak hanya pada penindakan. “Jadi, nanti
yang kita laporkan bukan hanya hasil penindakan tetapi juga hasil dari pencegahan karena saya yakin teman-teman di pencegahan telah melakukan banyak hal baik untuk mendorong pendapatan resmi daerah maupun penataan aset dan lain-lain. Itu saya yakin menghasilkan uang yang tidak kecil potensinya,” tuturnya. M e n ur ut A g us , unt uk menghalangi terjadinya korupsi dan menyelamatkan uang negara tersebut maka diperlukan pencegahan yang lebih baik, pencegahan lebih terarah, dan pencegahan yang lebih mengidentifikasikan tempat yang strategis. “Makanya, nanti dalam pencegahan juga perlu diukur. Pencegahan yang kami lakukan kemudian menghasilkan potensi berapa itu perlu diukur. Ada hitungannya tetapi tidak pernah kami publikasi. Jadi, makanya saya kemarin waktu keluar
Model busana dan rias pengantin dari Bali Utara tercipta pada zaman kerajaan. Model busana dan riasan ini dikenal dengan busana rias pengantin adalah Payas Agung Ningrat Buleleng. Bupati Putu Agus Suradnyana usai parade mengatakan, peringatan HUT Kemerdekaan dijadikan momentum dalam mengisi kemerdekaan dalam suasana sukacita dan mengedepankan prisip gotong royong. Salah satu wujud hal itu adalah mengajak para pejabat di daerahnya mengenalkan busana pengantin asli Buleleng. Model busana dan rias pengantin di daerahnya memiliki ciri khas. Salah satunya adalah pemakaian songket. Desainnya tidak sama dengan daerah lainnya. Selain itu, dari segi payas-nya memakai payas agung Ningrat yang dahulu khusus dilakukan di lingkungan puri. “Sama seperti di pemerintah pusat di mana HUT Kemerdekaan kita rayakan dengan sukacita dan gotong royong membangun Buleleng dan salah satu sukacita itu adalah parade busana pengantin khas Buleleng yang kami lakukan hari ini,” katanya. Menurut Bupati, sasaran dari parade busana pegantin ini adalah media edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat terkait warisan leluhur
dalam pemakaian songket dalam kehidupan. Dengan cara ini, pihaknya optimistis ke depan akan memberi efek positif membangkitkan kerajinan songket asli Buleleng. Kalau perajin terus berkarya dan songket semakin sering digunakan dan tidak terbatas pada hari-hari tertentu saja, maka tujuan besarnya adalah songket dapat dilestarikan dan bebas dari pengaruh pemakaian kain dari daerah lain. “Kita punya sentra penghasil songket seperti di Desa Jinang Dalem, Lingkungan Beratan dan daerah lainnya. Kalau semakin sering kita gunakan songket, perajin tertarik berkarya dan songket tidak punah disaingi oleh berbagai jenis kain dari luar daerah di zaman modern,” jelasnya. Hal senada diungkapkan Sekkab Buleleng Ir. Dewa Ketut Puspaka, M.P. Dikatakan, edukasi dalam rangkaian melestarikan warisan leluhur Bangsa melalui momen tertentu seperti saat HUT Kemerdekaan sangat tepat dilakukan. Untuk itu, dalam kegiatan seperti ini perlu dilakukan. Harapnnya, semakin sering dan banyak pihak yang berpartisipasi, maka warisan leluhur seperti busana tradisional ini menjadi lestari. “Busana pengantin ini adalah salah satu bentu kearifan lokal, dan parade busana tradisional lewat momen seperti HUT Kemerdekaan dan momen lain penting terus digalakkan,” katanya.
Sementara salah satu peserta Gede Suyasa yang menjabat Asisten III Sekkab Buleleng mengatakan, selain edukasi dengan mensosialisasikan lewat parade pada acara tertentu, busana pengantin asli Buleleng ini perlu dilindungi melalui kebijakan pemerintah. Mantan Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Buleleng ini menyebut, perlindungan itu bisa saja dilakukan dengan regulasi di daerah dan melakukan kajian ilmiah terkait pakem (gayared) Payas Agung Ninggrat Buleleng. Cara ini penting dilakukan karena sekarang dan beberapa tahun ke depan generasi muda bisa saja tidak mengenal pakem busana pengantin asli Buleleng. Apalagi belakangan mucul tren gaya busana pengantin modifikasi. Kalau tidak dilindungi dengan pemahaman, bisa saja busana pengantin di Den Bukit benar-benar punah karena sudah dipengaruhi busana pengantin modifikasi itu sendiri. “Ini ide sangat bagus. Ke depan perlu diimbangi dengan kebijakan dan kajian ilmiah, sehingga pakem asli busana pengantin Buleleng ini diketahui dan diterapkan. Kalau ini tidak dilakukan bisa saja gaya busana asli akan hilang karena modifikasi itu menghilangkan keasliannya,” jelas birokrat dari Desa Tejakula, Kecamatan Tejakula ini. (ad528)
Minggu, 18 Agustus 2019 05:00 Wita 05:52 Wita 05:54 Wita 05:56 Wita 06:00 Wita 06:05 Wita 06:35 Wita 07:00 Wita 07:35 Wita 08:00 Wita 09:00 Wita 09:05 Wita
Gayatri Mantra Mars Indonesia Raya Mars Bali Jagadhita Lagu Ngastitiang Bali Puja Trisandya Dharma Wacana Ngusaba Nini (2) Bali Channel Tourist TV Klip Anak Sehat & Bugar Senam Bersama Serangkaian HUT Ke- 71 Bali Post Seputar Bali Pagi Akhir Pekan Seputar Bali Terkini Kartun Kuru Setra Parwa(1)
09:30 Wita 10:00 Wita 10:05 Wita 10:30 Wita 11:00 Wita 11:05 Wita 11:30 Wita 12:00 Wita 12:05 Wita 12:30 Wita 13:00 Wita 13:30 Wita 14:30 Wita 15:30 Wita
Belajar Menggambar Menggambar Manusia (2) Seputar Bali Terkini Bali Channel Tourist TV Ocydia Home Shopping Seputar Bali Terkini Bali Channel Tourist TV Mahadewi Meraup rezeki Melaui Bisnis On Line Puja Trisandya Dharma Wacana Ngusaba Nini (3) Ocydia Home Shopping Wirasa Peduli Sesama Lejel Homeshopping Tembang Bali Bali Channel Tourist TV
HADIAH SEPEDA Presiden Joko Widodo (kedua kanan) memberi hadiah sepeda kepada tamu undangan yang mengenakan pakaian baju adat terbaik seusai memimpin Upacara Peringatan Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ke-74 tahun 2019 di Istana Merdeka, Jakarta, Sabtu (17/8). Peringatan HUT RI tersebut mengangkat tema SDM Unggul Indonesia Maju.
pidato itu coba anak-anak (di KPK) kumpulkan data itu kemudian kami publikasi,” ungkap Agus. Sebelumnya dalam pidato kenegaraannya, Presiden menyatakan bahwa “ukuran kinerja para penegak hukum dan HAM juga harus diubah termasuk kinerja pemberantasan korupsi”. “Penegakan hukum yang keras harus didukung. Penegakan HAM yang tegas harus diapresiasi tetapi keberhasilan para penegak hukum bukan hanya diukur dari berapa kasus yang diangkat dan bukan hanya berapa orang dipenjarakan. Harus juga diukur dari berapa potensi pelanggaran hukum dan pelanggaran HAM bisa dicegah, berapa potensi kerugian negara yang bisa diselamatkan. Ini perlu kita garis bawahi. Oleh sebab itu, manajemen tata kelola serta sistemlah yang harus dibangun,” katanya. (ant)
Suasana Sukacita
16:00 Wita 16:05 Wita 17:00 Wita 17:30 Wita 18:00 Wita 18:05 Wita 19:30 Wita 20:00 Wita 21:00 Wita 22:00 Wita 22:05 Wita 23:00 Wita 23:05 Wita 23:30 Wita
Seputar Bali Terkini Harmoni Bali Inovator Ocydia Home Shopping Puja Trisandya Seputar Bali Malam Kris Samatra Artis Bali Mercy Band Indi Band Generation Strong dan Vimora Band Seputar Bali Terkini Lila Cita Calonarang Rarung Duta, Sanggar Kama Sutra (4) Seputar Bali Terkini Ocydia Home Shopping Folk Song
jangan Hari Raya (THR). Pemerintah juga menyiapkan reformasi skema program pensiun dan Jaminan Hari Tua (JHT) untuk aparatur negara,” jelasnya. Berbagai belanja tersebut, kata Presiden, diharapkan dapat mendorong tercapainya sasaran pembangunan pada tahun 2020, yakni penurunan pengangguran ke tingkat 4,8 persen sampai 5,1 persen. Selain itu, kemiskinan diharapkan dapat terus diturunkan di kisaran 8,5 persen sampai 9,0 persen, dan ketimpangan menurun di kisaran 0,375 sampai 0,380. “Pemerintah juga optimistis pembangunan kualitas manusia dapat terus ditingkatkan dengan target IPM (indeks pembangunan manusia) mencapai 72,51 pada tahun 2020,” tandasnya. (kmb4)
Bukan Retorika
Menurut Koster, penggunaan busana adat Bali sesuai Peraturan Gubernur Bali No. 79 tahun 2018 sekaligus mewujudkan Prinsip Trisakti Bung Karno. Khususnya “sakti” yang ketiga yaitu berkepribadian dalam kebudayaan. Prinsip ini menjadi sesuatu yang nyata dalam tindakan, bukan lagi sekadar retorika yang diucapkan. “Astungkara, inilah upaya untuk
memperkokoh identitas, karakter dan jati diri Krama Bali yang harus terus digelorakan kepada generasi muda secara terus-menerus ke depan, memelihara peradaban yang adiluhung,” paparnya. Mantan anggota DPR RI ini menilai penggunaan busana adat daerah saat peringatan HUT RI merupakan sesuatu yang bagus. Pihaknya akan memberi masukan kepada presiden agar setiap tahunnya, peserta upacara bendera detik-detik
proklamasi kemerdekaan RI di seluruh Indonesia mengenakan busana adat daerah masing-masing. “Saya kira bagus untuk membangkitkan spirit nilai-nilai budaya, kebinekaan. Saya kira itu bagus untuk membangun persatuan dan kesatuan Indonesia,” jelasnya. Terlebih, lanjut Koster, Presiden Jokowi tahun ini mengenakan busana adat Bali dalam upacara bendera peringatan detik-detik proklamasi kemerdekaan RI di Istana Negara.
Dinas Kebudayaan Provinsi Bali yang diminta untuk menyiapkan beberapa alternatif busana, sebelum akhirnya diputuskan memakai baju bludru hitam dan keris. Sebelumnya, Jokowi juga mengenakan busana adat Bali saat menghadiri pembukaan Kongres V PDI-P di Sanur, Denpasar beberapa waktu lalu. Busana itu bahkan terus dikenakannya saat melakukan kunjungan kerja ke Malaysia setelah menghadiri Kongres PDI-P. (kmb)
MINGGU KLIWON, 18 Agustus 2019
BPM/eka
UPACARA BENDERA - Krama Bali sedang melaksanakan upacara bendera memperingati HUT ke-74 Kemerdekaan Republik Indonesia. Upacara bendera dilaksanakan di lapangan Gedung Pers Bali Ketut Nadha, Sabtu (16/8) kemarin.
HUT ke-71 Bali Post
Bali Post merayakan HUT ke-71 pada Jumat (16/8). Dalam kesempatan tersebut beberapa pihak menyempatkan diri berkunjung ke kantor Bali Post di Jl. Kepundung 67A Denpasar.
‘’Bali Post’’ Temui Pembaca Setia di Pasar Badung
Bangkitkan Ekonomi Kerakyatan PADA usia ke-71 tahun, Bali Post tetap berkomitmen menjaga keajegan Bali. Mempertahankan budaya, alam, ekonomi, serta peradaban manusia Bali telah menjadi komitmen awal sejak Bali Post bernama Suara Indonesia. Terkait HUT ke-71 tahun 2019 ini, Bali Post mengingatkan kembali tentang ketahanan ekonomi krama Bali. Pasar tradisional sebagai salah satu penggerak ekonomi kerakyatan harus tetap hidup di tengah persaingan pasar modern. Karena itu, serangkaian peringatan HUT ke-71 Bali Post, dilakukan sebuah gerakan “turun lapangan” ke pasar tradisional. Jajaran Bali Post, Jumat (16/8) pagi, menyapa para pembaca setia di Pasar Badung. Seiring aktivitas pasar yang semakin ramai, seluruh jajaran Kelompok Media Bali Post ikut berbaur menemui para pedagang yang menjadi pembaca setia Bali Post. Para pedagang juga diberikan suvenir sebagai tanda kasih. Penyerahan tali kasih berupa tabungan Ajeg Bali Koperasi Krama Bali, Discount Card Bali Post, Voucer Dana Duka untuk pengabenan dilakukan secara simbolis CMYK
oleh Pimpinan Kelompok Media Bali Post Satria Naradha kepada pedagang. Langkah ini dilakukan untuk bisa tetap menjaga kelangsungan denyut nadi ekonomi kerakyatan di pasar tradisional. Salah satu pedagang di Pasar Badung, Ni Nyoman Wandri (60), menyampaikan terima kasih atas perhatian Bali Post terhadap pedagang. Terlebih, dirinya juga diberikan Tabungan Ajeg Bali serta paket lainnya. Pedagang asal Peguyangan ini mengaku sudah berjualan sejak puluhan tahun. Los yang ditempatinya dirintis oleh ibunya sejak ia masih kecil. “Saya berjualan sejak puluhan tahun, mewarisi los ibu saya,” ujar pedagang bumbu-bumbuan ini. Dirut PD Pasar Denpasar I.B. Kompyang Wiranatha menyambut baik sinergi media massa dengan pasar. Kegiatan yang dilakukan Bali Post yang masuk pasar ini dinilai menjadi sarana promosi bagi pasar yang dikelolanya. “Saya melihat ini sinergi yang cukup positif, karena juga bisa menjadi sarana promosi,” ujar mantan Ketua Komisi II DPRD Denpasar ini. (kmb12)