Bali Post
balipost http://facebook.com/balipost
SEJAK 1948
@balipostcom http://twitter.com/balipostcom
@balipost_com http://instagram.com/balipostcom
Pengemban Pengamal Pancasila
Indonesia Diprediksi Panen Gempa Jakarta (Bali Post) Gempa bumu 6,9 SR yang menguncang Banten, Jumat (2/8) malam, menyebabkan lima meninggal dunia dan 223 rumah warga rusak berat, ringan, dan sedang di Jawa Barat. Hingga Sabtu (3/8) kemarin, sebagian warga masih mengungsi di lokasi yang lebih tinggi. Wilayah paling parah mengalami kerusakan adalah Cianjur, Sukabumi dan Kecamatan Mandalawangi, Pandeglang. Sementara itu, para ilmuwan memperkirakan pada 2019, Indonesia akan mengalami panen gempa. Aktivitas seismik bumi dengan gempa bumi bermagnitudo besar akan makin sering terjadi. Para ahli mengatakan, apabila dilihat secara geologi, baik dari lempengan dan patahan yang ada, gempa memang sudah pasti akan terjadi di Indonesia. “Wilayah Indonesia itu sangat berpotensi terjadi gempa bumi karena posisinya yang berada di pertemuan tiga lempeng utama dunia, yaitu Eurasia, Indoaustralia, dan Pasifik. Dari tumbukan ini terimplikasi adanya sekitar enam tumbukan lempeng aktif yang berpotensi memicu terjadinya gempa kuat,” kata Dr. Daryono dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
“Wilayah Indonesia panen gempa karena sangat kaya dengan sebaran patahan aktif atau sesar aktif. Ada lebih dari 200 yang sudah terpetakan dengan baik dan masih banyak yang belum terpetakan sehingga tidak heran jika wilayah Indonesia itu dalam sehari itu lebih dari sepuluh gempa yang terjadi,” kata Daryono. Sejumlah patahan aktif tersebut adalah patahan besar Sumatra yang membelah Aceh sampai Lampung, sesar aktif di Jawa, Lembang, Yogyakarta, di utara Bali, Lombok, NTB, NTT, Sumbawa, di Sulawesi, Sorong, Memberamo, di samping di Kalimantan. Sementara itu, peneliti utama bagian geologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Danny Hilman
Natawidjaja, menambahkan, posisi Indonesia dikenal berada di Cincin Api Pasifik (Ring of Fire) yaitu daerah ‘tapal kuda’ sepanjang 40.000 Km yang sering mengalami gempa bumi dan letusan gunung berapi yang mengelilingi cekungan Samudra Pasifik. Sekitar 90% dari gempa bumi yang terjadi dan 81% dari gempa bumi terbesar terjadi di sepanjang Cincin Api ini. Hal. 11 Sangat Merah
RUSAK - Warga duduk di rumahnya yang rusak akibat diguncang gempa di Kampung Karoya, Mandalawangi, Pandeglang, Banten, Sabtu (3/8) kemarin.
Ancaman Sunda Megathrust Makin Nyata Jakarta (Bali Post) Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan, ancaman Sunda megathrust memang nyata ada dan bisa saja terjadi sewaktuwaktu. “Itu adalah ancaman riil. Ancaman nyata yang bisa terjadi,” kata Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami
MEGATRUSHT Sunda Megatrusht yang mengancam sebagian besar Indonesia.
BMKG, Rahmat Triyono, di kantor BMKG, Jakarta Pusat, Sabtu (3/8) kemarin. Dia menjelaskan, ancaman Sunda Megathrust merupakan ancaman nyata di sepanjang Pantai Barat Sumatera. Jaraknya sekitar 200-250 Km di laut lepas. Kemudian, lanjut dia, di
Laut Jawa jaraknya juga sama. Hal ini terus sampai ke Bali ke arah timur. Kemudian ada di sisi utara Papua dan ada juga dari sumber tumbukan Pasifik. ‘’Kalau itu kekuatannya besar dan sumber gempanya dangkal tentunya bisa sangat memungkinkan terjadinya tsunami,” ujarnya. Lantaran itu, menurut dia, masyarakat di sepanjang jalur pertemuan lempeng tektonik harus selalu siaga karena memang sebuah ancaman yang riil. Sampai hari ini, menurut Rahmat, belum ada teknologi apa pun yang mampu memprediksi gempa terjadi. Sehingga
Munculnya ’’Pecalang Istri’’ Bagi warga Bali tentunya sudah tidak asing lagi dengan keberadaan pecalang. Pecalang tugasnya untuk mengamankan dan menertibkan desa, baik dalam keseharian maupun dalam hubungannya dengan penyelenggaraan upacara adat atau keagamaan. Tak salah jika selama ini tugas tersebut hanya dilakoni oleh krama pria. Menariknya, di Kabupaten Tabanan tepatnya di Desa Wangaya Gede, mereka memiliki pecalang istri atau perempuan. Menarik bukan? KEBERADAAN pecalang istri ini hanya bisa ditemukan saat rangkaian pujawali di Pura Luhur Batukaru, Kecamatan Penebel yang bertepatan saat Umanis Galungan. Jika pecalang pria pada umumnya bertugas dalam hal keamanan maupun parkir dan tugas lainnya
yang berhubungan dengan kelancaran upacara adat, tugas pecalang istri justru lebih spesifik yakni mengingatkan para pamedek khususnya pamedek istri (perempuan) dalam hal tata busana yang patut ke pura, begitu pun kerapian seperti rambut. Bukan tidak mungkin tugas
pecalang istri juga kian meluas dan dimiliki krama seluruh Bali. Keberadaan pecalang istri ini pun seperti disampaikan oleh Bendesa Adat Wangaya Gede I Ketut Sucipto selain untuk mengembalikan tata busana ke pura yang patut dan rapi, juga merupakan bagian dari emansipasi wanita. Sebab di Indonesia diakui tidak ada perbedaan laki-laki dan perempuan. Begitu pun saat pamedek yang tangkil ke Pura Batukaru juga tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Berjumlah 18 orang, pecalang istri ini ditunjuk dari 12 banjar adat di Desa Wangaya Gede. Mereka ditunjuk saat krama melaksanakan paruman di masing-masing banjar adat oleh Bendesa Adat Wangaya Gede. Bahkan tidak
ada persyaratan khusus karena siapa pun yang berminat dipersilakan untuk ngayah. Tugas mereka fokus di khayangan pura menegur pamedek yang berpakaian tidak rapi masuk ke utama mandala pura untuk sembahyang. Selama mereka bertugas, kata Ketut Sucipto, tidak ada insentif apa pun, karena mereka murni bersifat ngayah di Pura Batukaru. “Ini murni ngayah, tidak ada insentif, termasuk panitia tidak ada insentif,” katanya. Hal. 11 Pertama Kali
Persamaan Gender di Desa Adat Simbol Keikhlasan Jangan Digeneralisasi Perempuan Bali
Putri Koster
PECALANG selama ini identik dengan laki-laki yang mengenakan pakaian adat berupa saput dan udeng poleng. Namun hal tersebut didobrak dengan hadirnya pecalang istri di Desa Wongaya Gede, Penebel, Tabanan. Berbeda dengan pecalang laki-laki, para pecalang perempuan itu bertugas menertibkan dan membina para pamedek Pura Luhur Batukaru yang berpakaian tidak sopan saat tangkil. Keberadaan pecalang istri disambut positif oleh istri Gubernur Bali yang juga Ketua TP PKK Provinsi Bali, Ny. Putri Suastini Koster. Pecalang istri disebut sebagai bagian dari inovasi, dan juga simbol
keikhlasan. “Kalau hansip juga ada (perempuan, red), tentara, polisi juga ada, tidak apa-apa kalau ada pecalang istri,” ujarnya di Denpasar, belum lama ini. Menurut Putri Suastini Koster, para pecalang istri juga harus dilatih. Hal. 11 Pakaian Poleng
KEBERADAAN pecalang bagi masyarakat adat di Bali sangat signifikan dalam mendukung kelancaran aktivitas sosioreligius yang berlangsung selama ini. Bahkan, d a l a m Perda nomor 4 tahun 2019 tentang Desa Adat yang baru diketok palu, pemerintah provinsi memberi perhatian lebih bagi eksistensi
pecalang ke depannya. Sekretaris DPD Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali, I Made Dwija Suastana, S.H., M.H., mengatakan, dalam lontar Purwadigama disebutkan bahwa pecalang memiliki berbagai kompetensi. Di antaranya, wanen lan wirang, memiliki keberanian dalam bertindak atas nama kebenaran dan mampu bertindak adil. Belum lagi seorang pecalang harus celang lan cala, yakni memiliki kepekaan individual serta kecerdasan berpikir dan bertindak. Hal. 11 Bertindak Cepat
Pro-Kontra ’’Pecalang Istri’’
Berikan Hak Istimewa, Hanya Tangani Kasus Khusus Pecalang istri (wanita) boleh-boleh saja hidup di masyarakat Bali. Sebagai produk baru tentu menimbulkan pro dan kontra. Yang jelas tujuannya adalah baik yakni melibatkan warga dalam pengamanan swakarsa.
I Made Suarta
IGB Arthanegara
I Gusti Suwela
DI awal-awal mungkin kehadirannya masih diragukan, kurang ini dan itu, bahkan ada yang membela tak perlu ada pecalang istri karena tugasnya sebagai ibu rumah tangga sudah berat. Hal. 11 Haknya Diatur
dimohon kebijaksanaan masyarakat memahami bencana di daerah masing-masing. Kemudian memahami jalur evakuasi, tahu apa yang harus dilakukan saat bencana datang. Dia menambahkan, apabila ada warning trouble, jalur mana yang harus dilalui, dan arah-arah mana untuk tempat evakuasi. Untuk itu, pihaknya mengaku tak pernah lelah melakukan program mendatangi masyarakat, khususnya yang rawan bencana seperti gempa untuk mengedukasi mereka. Pemerintah daerah juga diminta cekatan dalam membuat jalur evakuasi. (kmb)
2
Minggu Umanis, 4 Agustus 2019
FIGUR Membentuk Kepribadian SUASANA halaman SMA (SLUA) Saraswati 1 Denpasar lain dari biasanya. Tampil semarak penuh dengan dekorasi Bali. Hampir semua ruang kosong dihiasi dengan nuansa kebalian guna menyambut calon siswa baru. Pohon jepun di depan sekolah dibalut dengan kain ciri khas sekolah yakni hijau muda. Sementara di dinding strategis terpampang foto siswa lengkap dengan prestasinya. Cara itu dilakukan Kepala SMA (SLUA) Saraswati 1 Denpasar, I Made Budiadnyana, M.Si., untuk memberi apresiasi atas prestasi siswanya, kemudian memperkenalkan sekaligus memotivasi siswa lain untuk mengukir prestasi yang mengharumkan nama baik sekolah. Model ini dia tiru dari sejumlah sekolah terbaik di Jakarta dan Yogyakarta. Jika siswanya menembus juara di Bali dan tingkat nasional, mereka dibuatkan foto besar berisi identitas siswa, kelas, hingga prestasinya. Ternyata anak-anaknya menyukai gaya ini. Mereka meraih juara Sekolah Ajeg Bali dan lomba LKTI tingkat nasional. Sekolah yang memiliki moto ‘’Smart is Crucial Personality is More’’ itu mengedepankan membentuk SDM yang cerdas penting, namun membentuk kepribadian jauh lebih penting daripada kecerdasan. Made Budiadnyana menegaskan, SLUA Saraswati 1 akan terus berbenah diri dan meningkatkan kualitas sehingga menjadi sekolah pilihan pertama bagi lulusan SMP di Denpasar. Sebagai SMA swasta tertua di Bali yang didirikan tahun 1952, SLUA Saraswati 1 Denpasar meminta pemerintah memberdayakan sekolah swasta agar jangan sampai nama sekolah swasta tinggal sejarah tanpa murid. ‘’Astungkara tahun ini masyarakat tetap mempercayakan anaknya dididik di SLUA Saraswati,’’ ujarnya. (sue)
BPM/wan
PUJAWALI - Pamedek berdesak-desakan saat puncak karya Eka Dasa Warsa Pengratep Pujawali di Pura Sakenan, Sabtu (3/8) kemarin.
’’Pamedek’’ Padati Puncak Karya Eka 23 Desa di Denpasar Gelar Dasa Warsa Pengratep Pura Sakenan Pilkel Serentak Oktober 2019
Denpasar (Bali Post) – Pesta demokrasi di tingkat desa atau pemilihan perbekel (pilkel) di Kota Denpasar direncanakan digelar Oktober mendatang. Sebanyak 23 desa dari 27 desa di Denpasar akan menggelar pilkel. Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Desa (BPMD) Denpasar telah melakukan sejumlah persiapan. Bahkan, regulasi tentang pemilihan perbekel juga sudah disetujui dewan untuk disahkan menjadi perda. Kepala BPMD Denpasar, I.B. Alit Wiradana, yang ditemui di Kantor Wali Kota belum lama ini mengatakan, pilkel serentak akan dilangsungkan pada Oktober 2019. Ada 23 desa akan menggelar pesta demokrasi di masingmasing desa. Sementara empat desa lainnya akan menyusul melakukan pesta demokrasi tahun berikutnya. Salah satu anggota Pansus XXIII yang membahas Ranperda Pilkel, I.B. Ketut Kiana, S.H., menyatakan, ada beberapa perubahan mendasar dalam pilkel kali ini. “Dibandingkan dengan Perda No.2 tahun 2016 tentang Pemilihan Perbekel, perda yang baru disahkan ini banyak mengalami perubahan,” jelas mantan Perbekel Sanur Kaja ini. Dikatakannya, salah satu ketentuan yang menga-
lami perubahan yakni masalah KTP calon perbekel. Dalam perda sebelumnya disebutkan KTP calon perbekel setidaknya dalam waktu enam bulan berada di desa setempat. Namun, dalam draf kali ini ketentuan dalam pasal tersebut dihapus. “Jadi, KTP calon perbekel tidak harus di desa itu. Ini mungkin karena sudah ada E-KTP,” ujar Kiana. Seperti diketahui, desa yang akan melakukan pilkel di Kecamatan Denpasar Utara yakni Dauh Puri Kaja, Pemecutan Kaja, Dangin Puri Kangin, Ubung Kaja, Peguyangan Kangin, Dangin Puri Kauh, dan Dangin Puri Kaja. Di Kecamatan Denpasar Barat tercatat Pemecutan Klod, Padangsambian Kaja, Padangsambian Klod, Dauh Puri Kangin, Dauh Puri Klod, Dauh Puri Kauh, dan Tegal Harum. Di Denpasar Timur adalah Desa Penatih Dangin Puri, Sumerta Kelod, Sumerta Kauh, Kesiman Petilan, dan Sumerta Kaja. Di Kecamatan Denpasar Selatan yakni Pemogan, Sidakarya, Sanur Kauh, dan Sanur Kaja. Sementara empat desa lainnya akan menyusul setahun kemudian, yaitu P e g u y a ngan Kaja, Kesiman Kertalangu, Dangin Puri Kelod, dan Desa Tegal Kerta. (kmb12)
Denpasar (Bali Post) -
Pujawali di Pura Sakenan, Desa Pakraman Serangan, Denpasar Selatan, rutin dilaksanakan setiap enam bulan sekali bertepatan dengan Saniscara Kliwon Wuku Kuningan atau hari suci Kuningan. Pada 2019 ini, pujawali di Pura Sakenan digelar dengan tingkatan upakara yang lebih besar, yakni Karya Eka Dasa Warsa Pengratep Pujawali Padudusan Agung Madulur Antuk Pamlehpeh Segara. Puncak karya berlangsung Sabtu (3/8) kemarin. Serangkaian karya tersebut, Wali Kota Denpasar I.B. Rai Dharmawijaya Mantra bersama Wakil Wali Kota Denpasar IGN Jaya Negara didampingi Sekda Kota Denpasar AAN Rai Iswara serta OPD terkait, turut melaksanakan bhakti pujawali. Wali Kota Rai Mantra bernostalgia dengan menggunakan jukung untuk menyeberang menuju Pura Sakenan dari Pantai Mertasari, Sanur. Turut hadir panglingsir Puri Kesiman sekaligus pangempon Pura Sakenan, A.A. Ngurah Gede Kusuma Wardana, anggota DPRD Kota Den-
pasar, tokoh masyarakat, serta pamedek yang tangkil. Rangkaian puncak karya diawali sesolahan Tari Rejang Dewa, Tari Topeng Panglemenbar, Topeng Penasar, dan Topeng Sidhakarya. Iringan suara genta dipadukan dengan merdunya lantunan kidung, Wayang Lemah dan suara gamelan menambah khidmat puncak karya yang digelar setiap 10 tahun sekali yang di-puput oleh Ida Pedanda Gede Sari Arimbawa, Ida Pedanda Gede Putera Telaga, dan Ida Pedanda Budha Jelantik Giri. Wali Kota Den-
pasar bersama Wawali Kota Denpasar berbaur bersama masyarakat melaksanakan persembahyangan bersama. Ada pun upakara yang dihaturkan meliputi Nyatur Muka Padudusan Agung Luwur Akasa Tapakan Ida Batara di Pura Sakenan, Nyatur Rebah Bebangkit, Sorohan Pulagembal Ayaban Ida Bhatara di Pura Pesamuan Agung, dan Nyatur Rebah Bebangkit, Sorohan Pulagembal Ayaban Ida Bhatara di Pura Dalem Sususnan Wadon. Wali Kota Denpasar dan Wawali Kota Denpasar usai persembahyangan menga-
takan, pelaksanaan Karya Eka Dasa Warsa Pengratep Pujawali Padudusan Agung merupakan wujud sradha bhakti umat kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa untuk menciptakan kerahayuan jagat. “Karya ini untuk memohon kerahayuan jagat, serta diharapkan masyarakat tetap menjaga kebersihan lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan, utamanya sampah plastik,’’ papar Rai Mantra. Panglingsir Puri Kesiman yang juga Pangempon Pura Ngurah Gede Kusuma Wardana didampingi Prawartaka Karya Ida Bagus Gede Pidada menjelaskan, pada hari suci Kuningan kali ini, pujawali di Pura Sakenan bertepatan dengan Eka Dasa Warsa. “Setiap 10 tahun sekali dilaksanakan Karya Pangratep Pujawali dengan
tingkatan upakara Madudus Agung dengan caru panca kelud ke pertiwi dan pakelem kambing, angsa, bebek, dan ayam ke segara,” ujar Gede Pidada. Seluruh rangkaian Karya Eka Dasa Warsa Pengratep Pujawali Padudusan Agung di Pura Sakenan dimulai Minggu (28/7) lalu yang diawali ngingsah, melaspas, dan macaru panca kelud. Rabu (31/7) dilaksanakan upacara melasti, mendak agung, dan mendak Siwi. Kamis (1/8) dilangsungkan upacara mapepada karya dan Sabtu (3/8) bertepatan dengan Kuningan dilaksanakan puncak karya. Setelah puncak karya, Ida Batara nyejer/ngadeg selama tujuh hari dengan dilaksanakan bhakti panganyar yang diawali oleh Pemkot Denpasar pada Minggu (4/8). . (kmb12)
Pelantikan Dewan agar Gunakan Busana Adat Bali Denpasar (Bali Post) – DPD PDI Perjuangan Provinsi Bali menginstruksikan Ketua DPRD yang posisinya sebagai petugas partai agar menggunakan busana adat Bali dalam pelantikan anggota DPRD Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Bali hasil Pemilu Serentak 2019. Instruksi tersebut ditandatangani Ketua dan Sekretaris DPD PDI Perjuangan Provinsi Bali Wayan Koster dan IGN
Jaya Negara. Penggunaan busana adat Bali untuk menampilkan wajah kebudayaan daerah sesuai Peraturan Gubernur Bali No.79 tahun 2018 tentang Hari Penggunaan Busana Adat Bali. Petugas partai yang menjadi Ketua DPRD juga diinstruksikan melakukan acara majayajaya di padma/palinggih di kantor DPRD sebelum pelantikan, sebagai tata laksana
kehidupan secara sekala dan niskala sesuai visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali. Untuk melaksanakan acara tersebut, perlu segera berkoordinasi dengan semua fraksi DPRD dan Sekretariat Dewan agar bisa dilakukan dengan sebaik-baiknya. Terakhir, penyelenggaraan pelantikan dilaksanakan dengan tertib, disiplin, dan bertanggung jawab dengan menampilkan suasana yang simpatik kepada
masyarakat dalam rangka mengemban kepercayaan dan harapan rakyat Bali. Sebelumnya, Sekretaris DPRD Bali Gede Suralaga menyatakan, 55 anggota dewan yang dilantik di tingkat provinsi akan mengenakan busana adat Bali. Hal ini menjadi menarik lantaran pakaian untuk pelantikan umumnya adalah PSL (Pakaian Sipil Lengkap). “Memang tidak ada di tatib (tata ter-
tib dewan -red). Ini adalah arahan dari pimpinan, baik gubernur maupun pimpinan kami di dewan,” ujarnya beberapa hari lalu. Selain di DPRD Bali, lanjut Suralaga, pelantikan memakai busana adat juga dilakukan di DPRD Buleleng dan DPRD Klungkung. Saat ini, anggota DPRD Bali terpilih sudah melakukan pengukuran busana adat. (kmb32)
Bernostalgia ’’Majukungan Tangkil’’ ke Pura Sakenan RAHINA Suci Kuningan yang jatuh setiap Saniscara Kliwon Wuku Kuningan merupakan hari besar Agama Hindu yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali. Hari suci Kuningan juga merupakan hari piodalan di Pura Sakenan, Desa Serangan, Kota Denpasar. Bagi sebagian besar masyarakat kota, khususnya para tetua, sebelum pesatnya perkembangan mode transportasi saat ini, jalur laut baik berjalan kaki jika air surut maupun menggunakan jukung saat air pasang menjadi pilihan utama untuk tangkil ke Pura Sakenan saat nemoning Pujawali Rahina Suci Kuningan sebelum memasuki kisaran tahun 1990-an. Keindahan itulah yang membuat Wali Kota Denpasar I.B. Rai Dharmawijaya Mantra bersama Ketua TP PKK Kota Denpasar Ny. Selly Dharmawijaya Mantra serta OPD terkait
ikut bernostalgia dengan menaiki jukung untuk tangkil serangkaian Karya Eka Dasa Warsa Pengratep Pujawali Padudusan Agung Madulur Antuk Pamlehpeh Segara di Pura Sakenan yang puncaknya jatuh pada Rahina Suci Kuningan, Sabtu (3/8) kemarin. Sekitar pukul 09.30 wita, Wali Kota Rai Mantra bersama rombongan telah berkumpul di kawasan Pantai Mertasari, Sanur. Menggunakan dua buah jukung/boat, rombongan bergerak menuju Pura Sakenan. Sekitar pukul 09.50, mereka tiba di kawasan Pura Sakenan. Selanjutnya, Wali Kota Rai Mantra bersama jajaran Pemkot Denpasar yang terdiri atas Wakil Wali Kota Denpasar IGN Jaya Negara, Sekda Kota Denpasar AAN Rai Iswara, OPD, dan masyarakat melaksanakan persembahyangan bersama. Diwawancarai terkait Jukung Nostalgia ini, Wali Kota Rai
Mantra mengatakan hal ini sebagai upaya memperkenalkan kembali bagaimana kebudayaan masyarakat Bali, khususnya Kota Denpasar tempo dulu yang hendak tangkil ke Pura Sakenan. Hal ini memberikan semangat tersendiri bagi pamedek. Selain kemudahan menuju akses Pura Sakenan, majukungan juga dapat menjadi wahana transportasi sekaligus berwisata menuju Pura Sakenan. “Kita tidak perlu berjalan jauh, karena dermaga sudah langsung di depan Pura Sakenan. Ini merupakan kebiasaan indah masa lampau. Saat ini, kita bersama-sama melestarikan hal tersebut dan bernostalgia memperkenalkan bagaimana peradaban masyarakat Kota Denpasar sebelum berkembangnya moda transportasi saat ini,” papar Rai Mantra. Sementara itu, Camat Denpasar Selatan I Wayan Budha
didampingi Perbekel Desa Sanur Kauh I Wayan Ada menjelaskan, saat ini terdapat dua dermaga yang melayani masyarakat untuk bernostalgia majukungan saat hendak tangkil ke Pura Sakenan. Dua dermaga tersebut yakni Segara Kodang Pamelisan, Kelurahan Sesetan, dan Pantai Mertasari, Desa Sanur Kauh. Wayan Ada menambahkan, masyarakat yang hendak tangkil ke Pura Sakenan dapat bernostalgia dengan menaiki mode transportasi laut yaitu jukung. Dengan merogoh kocek yang tergolong tidak mahal yakni Rp 10 ribu, mulai pukul 10.00 hingga 13.00 Wita, masyarakat dapat menyusuri lautan sepanjang 600 meter hingga di Pura Sakenan. “Saya kira ini lebih efisien. Selain untuk bernostalgia, tangkil ke Pura Sakenan menggunakan jukung juga dapat menghemat waktu sekaligus berwisata bahari,” ujarnya. (ara)
BPM/ara
MAJUKUNGAN - Wali Kota Denpasar I.B. Rai Dharmawijaya Mantra bersama rombongan majukungan menuju Pura Sakenan pada Rahina Kuningan, Sabtu (3/7) kemarin.
Perintis : K.Nadha, Pemimpin Umum: ABG Satria Naradha Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab: Dira Arsana Redaktur Pelaksana : Made Sueca Sekretaris Redaksi: Sugiartha Redaktur Eksekutif: Parwata Redaksi: Daniel Fajry, Mawa, Subrata, Diah Dewi, Giriana Saputra, Wayan Sumatika, Wirata Anggota Redaksi Denpasar: Asmara Putra, Dedy Sumartana, Yudi Karnaedi, Pramana Wijaya, Eka Adhiyasa, Rindra, Agustoni, Ngurah Kertanegara, Komang Suryawan, Made Miasa, Agung Dharmada, Oka Rusmini, Umbu Landu Paranggi, Maya. Bangli: IA Swasrina, Eka Prananda, Buleleng: Mudiarta. Gianyar: Manik Astajaya. Karangasem: Eka Parananda, Klungkung: Bagiarta, Negara: IB Surya Dharma, Tabanan: Dewi Puspawati,Wira Sanjiwani. Jakarta: Nikson, Hardianto, Ade Irawan. NTB: Agus Talino, Izzul Khairi, Raka Akriyani. Surabaya: Bambang Wiliarto. Banyuwangi: Budi Wiriyanto Kantor Redaksi: Jalan Kepundung 67 A Denpasar 80232. Telepon (0361)225764, Facsimile: 227418, Alamat Surat: P.O.Box:3010 Denpasar 80001. Perwakilan Bali Post Jakarta, Bag.Iklan/Redaksi: Jl.Palmerah Barat 21F. Telp 021-5357602, Facsimile: 021-5357605 Jakarta Pusat. NTB: Jalan Bangau No. 15 Cakranegara Telp. (0370) 639543, Facsimile: (0370) 628257. Manajer Sirkulasi: Budiarta, Manajer Percetakan: Tri Iriana, Marketing/Pengaduan Pelanggan: K. Budiarta. Ombudsman: Jimmy Silalahi. Alamat Bagian Iklan: Jl.Kepundung 67A, Denpasar 80232 Telp.: 225764, Facsimile : 227418 Senin s.d. Jumat 08.00-19.00, Sabtu 08.00-13.00, Minggu 08.00-19.00. Tarif Iklan : Iklan Mini: minimal 2 baris maksimal 10 baris, Minggu s.d. Jumat Rp 49.500,- per baris, Sabtu Rp 64.350,- per baris Iklan Umum: < 100 mmk Rp 50.000 per mmk, >100 mmk Rp 55.000 per mmk. Iklan Keluarga/Duka Cita: Rp 40.000 per mmk. Advertorial Rp 25.000 per mmk. Iklan Warna: 2 warna Rp 55.000, 4 warna Rp 75.000 per mmk. Pembayaran di muka, iklan mendesak untuk dimuat besok dapat diterima sampai pukul 18.00. Alamat Bagian Langganan/Pengaduan Langganan: Jl.Kepundung 67A Denpasar 80232 Tel: 225764, Facsimile: 227418. Harga Langganan: Rp 90.000 sebulan, Pembayaran di muka. Harga eceran Rp 4.000. Terbit 7 kali seminggu. Surat Izin Usaha Penerbitan Pers: SK Menpen No. 005/SK/Menpen/SIUPP/A.7/1985 Tanggal 24 Oktober 1985, ISSN 0852-6515. Anggota SPS-SGP, Penerbit: PT Bali Post. Rek. BCA KCU Hasanudin Denpasar AC: 040-3070618 a/n PT. Bali Post. Rek. BRI Jl. Gajahmada Denpasar A/C: 00170 1000320 300 an Pt.Bali Post. WARTAWAN BALI POST SELALU MEMBAWA TANDA PENGENAL, DAN TIDAK DIPERKENANKAN MENERIMA/MEMINTA APA PUN DARI NARA SUMBER
3
Minggu Umanis, 4 Agustus 2019
”Ngusaba Tegen” di Buahan Hanya Boleh Pakai Ikan
Bangli (Bali Post) Bertepatan dengan hari raya Kuningan Sabtu (3/8) kemarin, krama Desa Adat Buahan, Kintamani, melaksanakan upacara Ngusaba Tegen. Sesuai namanya, dalam upacara tersebut banten yang dirangkai dari berbagai hasil bumi dibawa ke pura oleh krama dengan cara di-tegen
(dipikul). Bendesa Adat Buahan Made Antara mengatakan, upacara Ngusaba Tegen di Desa Buahan dilaksanakan setiap setahun sekali. Tepatnya pada penanggal pang telu sasih karo. Upacara dilangsungkan di Pura Dalem Pingit. Dalam upacara tersebut, masing-masing krama yang
BPM/ist
BANTEN TEGENAN - Banten tegenan yang dipersembahkan dalam upacara ngusaba tegen di Desa Buahan, Kintamani.
seluruhnya berjumlah 350 KK wajib membuat banten tegenan. Banten tegenan merupakan sebuah sarana persembahan yang dirangkai sedemikian rupa berisi pisang, aneka buah-buahan, dan jajan. Di dalam banten tegenan, pantang diisi daging ayam atau babi. Yang boleh hanya ikan. “Uniknya di situ, tidak boleh pakai daging ayam atau babi. Hanya ikan,” terangnya. Dikatakannya, banten tegenan dibawa ke Pura Dalem Pingit dari rumah masing-masing dengan cara ditegen. “Yang bawa krama lanang,” kata Antara. Upacara Ngusaba Tegen dilaksanakan mulai pukul 14.00 hingga 17.00 Wita. Upacara ini merupakan rangkaian dari upacara piodalan di Pura Dalem Pingit yang di-puput oleh Jero Kubayan. Yang juga unik, pelaksanaan upacara di pura setempat tidak memakai gong. Antara menambahkan, upacara Ngusaba Tegen yang rutin dilaksanakan krama Desa Adat Buahan memiliki makna ungkapan syukur dan terima kasih kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. “Salah satunya sebagai wujud terima kasih. Seperti sekarang kan di Desa Buahan turun hujan, masyarakat sangat bersyukur karena baik untuk pertanian,” jelasnya. (kmb40)
”Masuryak”, Tradisi Berebut Uang di Desa Adat Bongan Tabanan (Bali Post)Sudah menjadi tradisi turuntemurun warga Desa Adat Bongan Gede, Desa Bongan, Kecamatan Tabanan, merayakan Kuningan dengan cara unik yang dikenal dengan nama Masuryak. Upacara menyebarkan uang yang kemudian diperebutkan warga ini diyakini sebagai pengantar para leluhur kembali ke alam surga. Entah kapan mulai digelar tradisi ini, para tetua di Banjar Bongan Gede pun tidak mengetahuinya dengan pasti. Yang jelas tradisi ini sudah ada sejak dahulu kala dan tetap lestari hingga sekarang. Bahkan tradisi masuryak ini dibawa oleh masyarakat Bongan yang transmigrasi ke Lampung sekitar tahun 1958. I Nyoman Suandhi (60), warga Bongan Gede yang transmigrasi ke Lampung pada 1958, dan saat ini sedang merayakan Kuningan di Bongan Gede mengatakan, warga Bali yang transmigrasi ke Lampung tetap mempertahankan adat dan tra-
disi yang ada di Bali, termasuk tradisi masuryak. “Kami di Lampung tetap menjalankan tradisi masuryak setiap enam bulan sekali, tepatnya pada hari raya Kuningan,” jelasnya di sela-sela acara, Sabtu (3/8) kemarin. Warga yang tinggal di Desa Rama Dewa, Kecamatan Seputih Raman, Lampung Tengah ini menambahkan, prosesi masyurak di Lampung sama percis dengan yang ada di Bali. Hanya tidak seramai di Bali. Sebelum raja dewata (para leluhur) diantar menuju surga maka dilakukan prosesi masuryak. “Kita antarkan leluhur kembali ke surga dengan penuh suka cita dan bersorak atau masuryak,” ujar pensiunan kepala SD ini. Dikatakannya, tidak hanya tradisi masuryak yang dibawa ke Lampung. Tradisi mapatung juga masih dipertahankan masyarakat Bali yang ada di sana. “Jadi, semua tradisi adat dan budaya yang ada di Bali kami terapkan di Lampung, namun sesuai dengan situasi
dan kondisi yang ada,” tambah Suandhi. Seperti biasa, prosesi tradisi masuryak pada Kuningan diawali dengan melangsungkan persembahyangan di Pura Dalem, dilanjutkan persembahyangan di masing-masing sanggah atau merajan sekitar pukul 09.30 Wita. Setelah selesai, banten upakara Kuningan yang merupakan simbol dari para leluhur dibawa ke kori agung rumah masing-masing. Di depan pintu atau kori, segala macam banten sesanjen diupacarai oleh pemangku atau tetua, dilanjutkan dengan prosesi masuryak. Memberi leluhur bekal berupa uang kertas atau uang logam. Uang tersebut kemudian dilemparkan ke udara sambil masuryak (bersorak) lalu diperebutkan oleh banyak orang (laki, perempuan, anak-anak, dan dewasa). Besaran uang yang digunakan masuryak tergantung kemampuan warga. Paling tinggi Rp 5 juta dan terendah Rp 500 ribu. (kmb28)
MASURYAK - Tradisi Masuryak di Desa Adat Bongan Gede, Tabanan.
BPM/ist
BPM/eka
NGEREBEG - Krama Desa Adat Munggu, Mengwi, Badung, menggelar tradisi ngerebeg atau makotek bertepatan dengan Hari Raya Kuningan, Sabtu (3/8) kemarin.
”Ngerebeg” di Desa Adat Munggu untuk Tolak Bala
Mangupura (Bali Post)– Tradisi Ngerebeg atau yang sering disebut dengan makotek memiliki makna sebagai penolak bala. Diyakini bahwa roh-roh jahat yang akan mengganggu masyarakat ada di perempatan atau pertigaan jalan, sehingga tradisi ngerebeg dilakukan di perempatan atau di pertigaan jalan. Hal tersebut disampaikan Bendesa Desa Adat Munggu I Made Rai Sujana, di sela-sela ritual, Sabtu (3/8) kemarin. Menurutnya, ngerebeg merupakan suatu makna untuk mengusir roh-roh jahat yang hendak mengganggu masyarakat, khususnya di Desa Adat Munggu, Badung. Tradisi ini rutin digelar tiap enam bulan dalam perhitungan kalender Bali. Pelaksanaannya jatuh tepat pada Tumpek Kuningan. Ngerebeg juga merupakan upaya penghormatan kepada para pahlawan, yang awalnya ada saat masa kerajaan Mengwi. Untuk prosesi ritual, warga laki-laki membawa tongkat kayu pullet sepanjang sekitar 3,5 meter. Tradisi ngerebeg juga merupakan alat untuk mempersatukan warga. Disela-sela prosesi, Bendesa Desa Adat Munggu memaparkan secara sekilas
akan makna-makna tersebut. Dimulai dari kerajaan Mengwi yang dulu beristana di Munggu, dengan rajanya Ida Cokorda Nyoman Sakti Munggu. Saat itu kerajaan berupaya mempertahankan wilayah kekuasaannya di wilayah Blambangan, Jawa Timur. Sebelum pasukan Mengwi yang bernama Goak Selem berangkat, tepatnya pada hari Tumpek Kuningan, Raja Mengwi melakukan semedi di Pura Dalem Kahyangan Wisesa, Munggu. Sang raja pun mendapatkan wahyu dari semedinya tersebut. Kembalinya pasukan yang membawa kemenangan atau keberhasilan perang diperingati dengan tradisi ngerebeg. “Pada Tumpek Kuningan, tradisi ngerebeg terus diperingati di Desa Adat Munggu
yang merupakan suatu penghormatan atas kemenangan perang kerajaan Mengwi dan penghormatan kepada para pahlawan,” paparnya. Terkait tradisi sebagai tolak bala, Rai Sujana menceritakan, awalnya ngerebeg dilakukan dengan tombak. Pada masa penjajahan Belanda, tradisi ini sempat dilarang, karena dikira akan mengadakan pemberontakan. Beberapa kali tradisi ini sempat ditiadakan penyelenggaraannya. Akibatnya, terjadi wabah penyakit atau gerubug menyerang warga desa dan banyak yang meninggal dunia. Kondisi tersebut membuat beberapa tokoh adat dan agama melakukan negosiasi dengan Belanda, sehingga tradisi ngerebeg diizinkan kembali digelar. Tetapi sa-
rana yang dipakai bukan tombak, melainkan kayu pulet. “Dari keyakinan itu, tradisi ngerebeg sebagai penolak bala atau menjauhkan dari hal-hal yang negatif,” terangnya. Ngerebeg juga sebagai alat mempersatukan warga. Tradisi ini diikuti hampir seluruh kaum laki-laki umur 14 tahun ke atas dari 12 banjar yang ada di Desa Adat Munggu. Mereka saling bebaur membawa tongkat kayu berjalan mengelilingi wilayah desa. Saat tiba di beberapa tempat, seperti persimpangan jalan, mereka berkumpul dan menyatukan ujung tongkat membentuk piramida. Sesekali terlihat salah seorang pemuda memanjat tumpukan tongkat tersebut. Jadi, tradisi ini merupakan upaya mempersatukan anak-anak muda yang ada di wilayah 12 banjar adat di Desa Adat Munggu. Dengan pelaksanaan tradisi ini, diharapkan mereka berbuat hal-hal yang positif, mempererat rasa persatuan, dan kesatuan di antara kaum pemuda. (eka)
Anak 11 Tahun Diduga Dianiaya Ayah Kandungnya Denpasar (Bali Post) Seorang anak berusia 11 tahun di Desa Manggis, Karangasem, diduga dianiaya oleh ayah kandungnya. Penganiayaan yang diduga dilakukan lebih dari sekali itu membuat sang anak pincang dan trauma. Demikian terungkap saat konferensi pers Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Provinsi Bali, Jumat (2/8). Sekretaris LPA Bali Titik Suhariyanti mengungkapkan, dugaan kekerasan pemukulan yang dilakukan oleh seorang ayah, I Komang A (33) terhadap anak kandungnya, Putu SM (11), asal Desa Manggis, Karangasem, terjadi 26 Juli lalu. Kekerasan ini mengakibatkan sang anak mengalami patah tulang pada paha kiri. Dijelaskannya, awal mula LPA Bali melaporkan dugaan kasus kekerasan tersebut ke Polres Karangasem setelah ada seorang warga konsultasi masalah KDRT pada 25 Juli lalu. Sehari kemudian LPA Bali bersama Polres Karangasem (Kanit PPA) mengunjungi korban yang sedang dirawat
di RSUP Sanglah. Sesuai laporan, peristiwa penganiayaan anak kandung ini terjadi Rabu (24/7), sekitar pukul 14.00 Wita. Kejadian bermula saat anak ketiga pelaku, Komang SM, menangis. Karena dikira mengantuk, ibu korban kemudian menggendongnya. Ternyata anak tersebut tetap menangis yang membuat pelaku kesal. Oleh karena tidak diam-diam, pelaku langsung memukul punggung anak tersebut dengan kawat gantungan baju dua kali. Anak kedua, Kadek SM pun mendapat perlakuan yang sama. Kadek SM yang sedang menyapu dipukul juga menggunakan gantungan baju. Sementara sang anak sulung, Putu SM, yang berjalan terpincang-pincang kala menuju meja makan, diangkat dan dibanting oleh pelaku ke lantai. Pelaku juga memukul kepalanya dua kali, perut satu kali dan menjewer telinga kirinya. I Komang A selanjutnya memukul bagian paha korban berkali-kali sampai patah sambil mengatakan
‘‘bapak malu punya anak pincang’’. Korban Putu SM yang sampai terkencing-kencing terus dipaksa bangun oleh pelaku. Melihat korban menangis kesakitan dan pahanya patah, Komang A lantas mengangkat korban dan minta pertolongan kakaknya agar korban dibawa ke RSUP Sanglah diantar oleh paman pelaku dan ibu korb a n. Put u SM m a sih dirawat di RSUP Sanglah dan telah menjalani operasi pada 1 Agustus. Menurut informasi yang didapat Titik Suhariyanti, korban adalah anak dengan fisik normal. Akan tetapi karena sering dipukul dan dibanting lima tahun lalu, kakinya menjadi cacat sehingga jalannya pincang. Sejak dua tahun lalu, Putu SM terkena tumor di bagian panggul yang menyebabkan kakinya mengecil. Ibu korban juga sering mendapatkan perlakuan buruk seperti dipukul di bagian dada. “Ibu korban, DT, awalnya maju mundur tidak ingin melapor. Katanya diancam. Tapi kami katakan ini (pros-
es hukum) harus tetap jalan. Setelah kami memberi tahu bahwa cerita yang disampaikan pelapor merupakan KDRT berat, dia kemudian mau memberikan keterangan. Akhirnya ibu korban mau dibawa ke Polres Karangasem diantar Pak Kanit untuk di-BAP,” jelasnya. LPA Provinsi Bali pun sempat maju mundur menangani kasus ini. Sebab masih ada dua anak yang diajak pelaku. Pertimbangan ini membuat LPA Bali menahan mempublikasikan ke media massa, sebelum pelaku benar-benar ditetapkan sebagai tersangka. LPA Provinsi Bali akan melakukan pendampingan terhadap korban dan keluarganya. Terlebih lagi Putu SM dalam kondisi trauma luar biasa dan tidak mau kembali ke Manggis. Tidak hanya karena trauma lantaran perlakuan sang ayah, tetapi juga lantaran di-bully teman sekolahnya yang mengatai dirinya pincang. Padahal anaknya cerdas, juara Olimpiade IPA di Manggis dan juara catur. (kmb42)
’’Dirgayusa Bumi’’, Setelah 53 Tahun DULUNYA ada semacam parit kecil yang mengalirkan air jernih di luar areal pura. Sebagian air itu kemudian bermuara di sebuah kolam yang ada di kawasan bagian utama mandala pura sekarang. Namun, saat ini jejak-jejak itu sama sekali tidak tampak. Hilang bersama jalannya waktu. Demikian sekelumit kisah yang diceritakan beberapa panglingsir soal keberadaan Pura Dalem yang diempon oleh dua krama desa adat yakni Desa Adat Beng dan Gianyar. Sebelum seperti sekarang, pura yang letaknya di sebelah utara Kota Gianyar itu sejatinya terdiri atas dua pura. Namun, oleh dua tokoh saat itu yakni Raja Gianyar dan tokoh masyarakat asal Desa Beng Made Taku, kedua pura ini kemudian disatukan menjadi
Pura Dalem. Tidak ada yang ingat betul kapan pastinya proses itu. Mulai 1962, setelah Palebon Agung di Puri Gianyar pada 1961, pura ini mulai direhab. Sempat tersendat akibat meletusnya Gunung Agung tahun 1963, namun tetap dilanjutkan sampai akhirnya selesai dan digelarlah Karya Agung pada 1966. Kini setelah 53 tahun berlalu, karya serupa, ‘’Dirgayusa Bumi’’ kembali digelar. Sama seperti pada proses para leluhur dulu, kekompakan dan kebersamaan dua masyarakat desa adat yang jumlahnya 2.973 KK, benarbenar patut diacungi jempol. Menurut Bendesa Adat Beng Ida Bagus Putu Bawa dan Bendesa Adat Gianyar Dewa Made Swardana, proses dan prosesi Karya Agung Dir-
gayusa Bumi, Tawur Agung, Pedanaan, Ngenteg Linggih, Padududsan Agung, Ngusaba Dalem, dan Ngusaba Pitra, telah dipersiapkan sejak sekitar tiga bulan lalu. Beberapa eedan upakara sudah dilakukan, seperti macaru, Rsi Gana, mendem pedagingan, dan Mulang Pakelem di Danau Batur, serta Gunung Agung yang dilakukan bertepatan dengan Hari Raya Kuningan, Sabtu (3/8) kemarin. Pakelem di Gunung Agung dilakukan di Pura Pasar Agung. Manggala Prawarta Karya Dewa Made Sutanaya, S.H., dan I Wayan Sudamia, S.H., M.H., memuji soliditas masyarakat dalam melaksanakan upacara dalam skala besar ini. Hingga nanti puncaknya pada 14 Agustus mendatang, persiapan sudah mendekati
paripurna. Dukungan juga datang dari berbagai pihak, seperti Ida Bhagawan Blebar (A.A. Bharata yang mantan Bupati Gianyar) serta Bupati Gianyar I Made Agus Mahayastra yang hadir pada saat acara Rsi Gana, mendem dan melaspas, Kamis (1/8) lalu. Inti dari Karya Agung Dirgayusa Bumi ini adalah bagaimana memaknai kehidupan dengan lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, Ida Sang Hyang Widhi Wasa, dengan lebih memelihara, mencintai serta melestarikan semua ciptaan-Nya. Selain di areal Pura Dalem, gelaran karya juga dilakukan di Pura Prajapati yang berada di areal yang sama serta Pura Dalem Munduh yang letaknya berdekatan. (pal)
BPM/pal
PAKELEM - Karya Pakelem ke Gunung Agung dilakukan di Pura Pasar Agung, Sabtu (3/8) kemarin. Acara ini di-puput Pedanda Wayahan Dauh dari Griya Pita Maha, Desa Siangan, Gianyar.
4
Minggu Umanis, 4 Agustus 2019
Sekte Bali Masa Kini
SEKTE identik dengan zaman dahulu sebagai aliran kepercayaan masyarakat kala itu. Sekte pun dikatakan sebagai kelompok atau golongan. Tak dapat dimungkiri sekte juga diartikan sebagai kelompok keagamaan atau politik yang memisahkan diri dari kelompok yang lebih besar akibat adanya perbedaan pandangan. Apa pun itu yang jelas Kamus Besar Bahasa Indonesia menyatakan bahwa sekte merupakan kelompok golongan orang yang mempunyai kepercayaan atau pandangan agama yang sama, yang berbeda dari pandangan agama yang lazim diterima oleh para penganut agama tersebut (KBBI, 1990:797). Berubahnya zaman tidak membuat segenap yang namanya sekte ketinggalan zaman. Tanpa disadari sekte sebagai kelompok atau golongan eksis mengikuti perkembangan zaman. Hanya tampil dalam bentuk yang berbeda. Dulu sekte lebih eksis dalam hal niskala berupa kepercayaan, tetapi zaman modern ini tak hanya sebatas niskala, melainkan di sekala pun sangat berkembang. Itulah sekte modern sebagai kelompok atau golongan yang eksis masa kini, masa modern ini. Sekta Zaman Dulu Tahun 988 M Bali dipimpin oleh raja suami-istri bergelar Dharma Udayana Warmadewa dengan Sri Gunapriya Dharma Patni selama kurang lebih 23 tahun dari 9881011 M. Masa kepemerintahannya terjadi berbagai perubahan yang hampir menyangkut seluruh tatanan kehidupan masyarakat Bali, baik di politik, sosial, budaya maupun keyakinan (agama). Namun yang lebih menonjol mengenai keyakinan akibat masyarakatnya menganut berbagai aliran kepercayaan yang disebut dengan sekte.
Beberapa sumber menyatakan, kala itu sebagian besar masyarakat Bali berkeyakinan Indra yaitu menyembah gunung dan bulan, selain lima sekte lainnya. Sehingga saat itu ada enam sekta. Soeka (1993:4) menyatakan ke-6 sekte itu adalah Sambu, Brahma, Indra, Wisnu, Bayu, dan Kala. Pendapat lain juga menyatakan kala itu di Bali terdapat 9 sekte, yakni Siwa Sidhanta, Pasupata, Bhairawa, Wesnawa, Bodha atau Sogata, Rsi, Brahmana, Sora serta Ganapatya (Goris, 1986:4). Uraian tersebut menggambarkan kala itu masyarakat Bali menganut berbagai aliran kepercayaan sebagai keyakinannya. Walaupun secara umum hanya nampak 6 sekte dalam artian pengikutnya lebih banyak, tetapi yang pengikutnya sendikit tetap berpengaruh di lingkungan masyarakat maupun di pemerintah. Sebab, keberadaan sekte tersebut masing-masing menempuh jalannya sendiri-sendiri sehingga di masyarakat tidak adanya persatuan dalam hal berkeyakinan walaupun berada dalam satu wilayah maupun suku.
Kisara Lutut Keropos ‘’Hai kak, kenalin aku Diki dari Klungkung dan sekarang masih SMA. Aku mau tanya dong kak, bener gak sih kalo sering onani sendiri bisa bikin lutut sama tulang kita keropos, kak? Tolong dijawab ya kak. Makasi kakak kisara.” Hai Diki, salam kenal ya! Nah kali ini kita akan bahas soal mitos atau fakta onani. Ada anggapan bahwa karena keseringan masturbasi atau onani bisa bikin dengkul kopong. Biasanya, kita sering mengetuk dengkul teman untuk memastikan apakah dia sering onani atau tidak. Tapi, apakah keseringan masturbasi benar-benar bisa bikin dengkul kopong dan berbunyi? Masturbasi atau onani berarti pengeluaran mani (sperma) tanpa melakukan sanggama/hubungan seksual. Di kalangan pria masturbasi sering dijadikan guyonan sebagai salah satu penyebab kemandulan. Guyonan ini muncul karena mengeluarkan terlalu banyak sperma bisa menyebabkan pria kehabisan saat menikah. Padahal jumlah dari sperma tidak dipengaruhi oleh banyaknya masturbasi. Selanjutnya melakukan masturbasi dianggap bisa menurunkan kekuatan dari tulang khusus di lutut. Beberapa pria sering membandingkan lutut satu dengan lain. Kalau tempurung lutut bisa digerakkan atau terlalu rapuh, biasanya pria sering masturbasi. Nah, benar gak sih seperti itu? Hingga saat ini belum ada penelitian yang menyatakan kalau melakukan masturbasi atau onani pada pria dapat menyebabkan pengeroposan tulang. Selain itu, tidak ada hubungan antara mengeluarkan sperma terlalu sering dengan pengeroposan tulang khususnya di bagian kaki dan lutut. Lutut mana pun, jika dik-
Menyadari segala kemampuannya belum mampu mengatasi masalah sosial keagamaan rakyatnya, akhirnya raja dan ratu dengan bijaksana mendatangkan rohaniwan bernama Mpu Kuturan beragama Budha aliran Mahayana yang tiba di Bali 1001 M. Mpu Kuturan menjalankan tugasnya menata kehidupan beragama masyarakat dengan mengadakan pertemuan agung yang disebut dengan samuan tiga. Secara aklamasi samuan tersebut menyetujui lima butir keputusan, salah satunya adalah ketiga aliran agama yaitu Budha Mahayana, Siwa, dan Bali Aga dengan semua sektenya sepakat melebur diri ke dalam satu paham yang dinamakan paham Tri Murti/Tri Sakti/Tri Tunggal. Keputusan tersebut menghasilkan masyarakat yang sosioreligius yakni kumpulan masyarakat sosial religi lengkap dengan pura sebagai tempat pemujaannya baik itu kahyangan tiga setiap desa adat, rong telu setiap pekarangan, dan sebagainya. Sejak itu kehidupan masyarakat Bali kala itu menjadi lebih tertib, aman, rukun, dan damai.
Rubrik “Bugar” ini terbuka untuk umum. Bagi Anda yang memiliki problem masalah tubuh. Kirimkan ke Redaksi Bali Post, Jl. Kepundung 67 A Denpasar (80232) atau hubungi Adolfina Grace Tangkudung, Sekolah Senam Lala Studio, Jl. Veteran 66E, Puri Satria Denpasar, telp. 08123843259. Cantumkan kupon “Bugar” di sudut kiri amplop.
Sekte Modern Membayangi masa pemerintahan Raja dan Ratu UdayanaMahendradatta yang didasari atas berbagai aliran kepercayaan yang disebut dengan sekte sebagai bentuk perbedaan di niskala yang berpengaruh di dunia nyata (sekala) yaitu di lingkungan masyarakat dan pemerintah. Tak dimungkiri kala itu masyarakat seolah-olah terbelah atau mengelompok dalam satu wilayah, sehingga tidak menutup kemungkinan terjadi berbagai perselisihan maupun pertentangan yang didasari atas keteganganketegangan yang mengganggu ketenteraman masyarakat. Disadari atau tidak, keadaan Pulau Bali zaman modern ini hampir menyerupai keadaan seperti saat bertahtahnya raja dan ratu. Bahkan sekarang lebih parah dibandingkan kala itu. Dulu hanya perbedaan di niskala berdampak di sekala. Namun sekarang perbedaan di niskala yang tidak sendikit masyarakat Bali telah membentuk kelompok atau golongan baru (sekte) berdasarkan paham dan pandangan yang berbeda-beda yang masih dalam satu agama (Hindu), satu leluhur (Bali), serta satu adat dan budaya (Bali). Begitu pula di sekala telah terbentuk golongan baru (sekte) berupa kelompok, geng, crow, clab, dan sebagainya dalam satu suku (Bali), satu provinsi (Bali), satu pulau (Bali), satu bahasa daerah (Bali), serta satu sebutan manusia (Bali). Dilihat atau tidak, akibat sekte-
sekte tersebut terutama di sekte sekala menyebabkan huru-hara tak terelakkan dengan terjadinya berbagai tragedi dan peristiwa yang tidak manusiawi di tanah yang konon katanya sebagai surga dunia. Buktinya berkali-kali ditayangkan di televisi yang menegangkan urat mata dan telinga ketika menyaksikan dan mendengar peristiwaperistiwa yang mengerikan terjadi di jalan maupun di gedung-gedung baik yang dilakukan perorangan atau berkelompok, entah itu antara yang diserang maupun yang menyerang. Yang jelas kejadian itu masih dikategorikan bersaudara, sebab antara pelaku dan korban masih berlebel I Wayan, I Made, I Komang, I Ketut. Didengar maupun tidak, akibat sekte-sekte tersebut terutama sekte niskala sering menimbulkan masyarakat Bali pakrimik yang didasari atas ketidaksepahamannya sama-sama menjadi manusia Hindu Bali, ketidaksepahamannya menjalankan adat, ketidaksepahamannya melaksanakan upacara membina keharmonisan baik itu parhyangan, palemahan maupun pawongan. Akibatnya tak jarang berdampak dalam madadia maupun mabanjar menimbulkan rasa ‘’sungkan” dalam patedunan seolah-olah adanya perbedaan yang berujung seperti kasepekang atau di-sepekang. Keadaan seperti ini, mungkinkah akan ada raja dan ratu bijaksana seperti Udayana Mahendradatta yang mampu mengatasi
berbagai polemik masyarakatnya? Sehingga Bali mawali seperti sebutannya menjadi pulau surga yang masyarakatnya sosioreligius dikelilingi seribu pura lengkap dalam pemujaannya kaya akan adat, tradisi, dan budaya. Bukan sebaliknya menjadi pulau balibalian (pulau tontonan) yakni menjadi bahan tertawaan orang-orang selat tukad atau krama tamiu atas kekacauan tatanan di masyarakat yang membangga-banggakan konsep huru-hara. Ataukah mungkin akan adanya Mpu Kuturan jilid II sebagai rohaniwan intelektual spiritual dengan segenap kawikan-nya mampu mengatur tatanan masyarakat serta melebur segala huru-hara di niskala maupun sekala? Atau sebaliknya, apakah mungkin akan adanya kesadaran dari masyarakat Bali itu sendiri atas segenap kekeliruannya selama ini menjadi umat Hindu Bali? Seandainya semuanya tidak. Artinya semakin menjadijadi. Selanjutnya, masihkah Bali ini sebagai pulau surga dunia dengan segenap adat, tradisi, budaya, dan keramah-tamahan masyarakatnya? Tidakkah generasi berikutnya menerbitkan buku ‘’Babad Bali Benyah’’!
I Gede Pariadnya
Penyuluh Agama Hindu Non-PNS Ds. Sakti, Nusa Penida, Klungkung
PENTINGNYA STRETCHING/PEREGANGAN
MELAKUKAN stretching tiap pagi setelah bangun tidur akan sangat bermanfaat, terutama bagi pembaca yang supersibuk dan tidak punya banyak waktu untuk melakukan olahraga. Dengan melakukan stretching pada bagian-bagian tubuh misalnya pinggang, lengan, pinggul, maka aliran darah jadi lancar dan mulailah hari-hari ceria penuh semangat. Ikuti contoh peragaan berikut ini bersama Nita dari Lala Studio yang rajin melakukan stretching tiap pagi.
Gb. Ill : Untuk mempertahankan postur tubuh tetap tegak, tetaplah pada posisi duduk bersila dan kedua lengan lurus ke atas di samping telinga, tahan pada 2x8 hitungan lalu rileks dan ulangi beberapa kali.
2 Gb. II : Untuk pinggul, ambilah posisi seperti yang nampak pada gambar yaitu merebahkan kedua lutut ke arah kiri lalu tahan 1x8 hitungan setelah itu ke arah kanan dengan hitungan yang sama pula.
etok-ketok, pasti akan berbunyi. Nyaring atau tidaknya bukanlah gara-gara intensitas onani, tetapi bisa jadi pengeroposan tulang. Tulang keropos biasanya terjadi secara alami pada usia tua karena menurunnya laju pembentukan tulang. Berarti, kalau kamu masih muda dan jarang mengonsumsi makanan dan minuman yang mengandung kalsium, bukan berarti kamu bisa santaisantai untuk menghadapi penyakit tulang seperti osteoporosis. Makin nyaring lutut diketok, makin besar pula kemungkinan tulangmu mengalami pengeroposan. Jadi, masalahnya bukan pada sering onani atau tidak, tetapi apakah rajin mengonsumsi makanan dengan kadar kalsium cukup atau tidak ya sahabat KISARA.
3
4
1 Gb. I : Posisi duduk tegak dengan kaki bersila, lengan kiri rileks sedangkan lengan kanan ke atas hingga pada posisi di atas kepala. Condongkan badan sedikit ke kiri dan tahan 1x8 hitungan setelah itu lakukan juga mencondongkan badan ke kanan.
Kupon
Gb. IV : Dengan posisi yang sama, luruskan lengan kiri ke arah kanan dan ditekan oleh lengan kanan den gan posisi menyiku tegak, tahan 1x8 hitungan setelah itu lakukan juga pada arah berlawanan dengan hitun gan yang sama pula. Awali aktivitas di pagi hari dengan sejenak melakukan stretching dan salam bugar dari Lala Studio.
5
Minggu Umanis, 4 Agustus 2019
Capricorn Benahi pertahanan Anda yang tampak mulai rapuh dan mudah sekali diterobos orang lain. Lakukan koreksi dengan seobjektif mungkin, pergunakan rasio daripada perasaan agar langkah yang diambil tidak sampai menjadi kacau balau. Apa sulitnya berlaku hidup sederhana agar biaya hidup tidak terus membengkak. Asmara: Anda kok selalu rewel saja sih? Apa tidak takut ditinggal pergi? Hubungan percintaan Anda sebenarnya tidak ada masalah yang memusingkan, suasananya lagi berbahagia. Aquarius Sekalipun ada peluang sebaiknya Anda tetap berhati-hati karena ada hawa jahat yang mengelilingi perbintangan Anda. Diminggu ini bisa direnungkan kembali support dari teman-teman Anda yang tampak lain dari biasanya. Jangan terjebak oleh permainan mereka yang terkadang terkesan ambil jalan pintas. Cobalah Anda berjalan di atas rel Anda sendiri.Jangan berlaku boros walaupun income masih lumayan tinggi diminggu ini. Asmara: Jangan takabur membuat janji-janji kosong, karena itu akan menyakitkan saja jika Anda tak bisa memenuhinya. Pisces Jangan meremehkan persoalan yang ada, walaupun untuk itu Anda harus bersikap lebih hati-hati dan tidak seenaknya bertindak. Anda bisa lebih teliti lagi agar tidak terjadi masalah yang memusingkan, terutama ucapan harus benar-benar dijaga. Ada kejutan rejeki yang cukup menentramkan hati, hanya saja Anda tetap harus bisa memanage-nya. Asmara: Kurang begitu harmonis, maka dari itu cobalah Anda bersikap yang lebih manis dan menyenangkan. Aries Di minggu ini nasib lumayan mujur, hanya saja rintangan yang datang tidak bisa dipandang remeh, harus dihadapi dengan penuh konsentrasi. Begitu juga dengan prestasi Anda yang sudah bagus ini, jangan sampai hancur hanya gara-gara persoalan sepele, dimana Anda kurang bisa mengalah untuk kemenangan yang lebih besar. Peningkatan penghasilan akan membuat Anda bisa bernafas lega. Asmara: Semua itu tergantung kepada sikap Anda sendiri, jika bisa bersikap manis maka suasananya akan berubah menjadi tenang dan membahagiakan. Taurus Diminggu ini tampak cukup mujur sehingga Anda tak perlu ragu bila akan melakukan spekulasi ataupun melaksanakan berbagai urusan penting. Begitu juga dengan semua perintah dari atasan kerjakan dengan sungguh-sungguh. Ada barang obralan yang kurang baik bagi Anda, walau begitu baik-baik aja bila ingin melihat akan tetapi waspadai barang yang mudah pecah. Asmara: Hawanya kurang enak, maka dari itu cobalah untuk lebih sabar dan bijaksana dalam menyikapi permasalahan yang muncul diminggu ini. Gemini Berhati-hatilah menuangkan kecurigaan yang belum tentu betul, usahakan untuk tidak memunculkan diminggu ini sekalipun hawa kemujuran masih terasa. Tak mudah membikin keputusan karena dihadapkan pada dua permasalahan yang sama-sama membingungkan, untuk itu jangan sembrono. Pelajari tawaran-tawaran investasi dan sisihkan uang untuk ditabung daripada diobral untuk sesuatu hal yang tak penting. Asmara: Selama permasalahan itu masih bisa dibicarakan dengan baik-baik, maka usahakan untuk tidak menggunakan kekerasan. Cancer Masih terlampau dini untuk menyikapi suatu permasalahan yang timbul diminggu ini, yang ada hubungannya dengan kejadian dimasa lalu. Jangan anggap remeh setiap persoalan yang timbul walau sepintas terlihat sepele hadapi segala sesuatunya dengan penuh konsentrasi dan kewaspadaan. Jika Anda memutuskan untuk membeli baju dan sepatu baru, usahakan ditempat yang obral dan penuh discount. Asmara: Jangan bermain-main dengan cinta, jika tidak ingin pusing nantinya.
Merawat Pohon ”Brahmana” yang Penuh Makna dan Guna Vipro vrkso mulakanyatra sandhya Veda sakha dharma-karmani patram Tasman mulam yatnato raksaniyam Chinnemule naiva vrkso na sakha (Devi Bhagavata Purana 11.16.6) “Pohon Brahmana akarnya adalah sandhya, empat Weda adalah cabang dan rantingnya, sedangkan dharma dan karma adalah daun-daunnya. Berhati-hatilah menjaga Pohon Brahmana tersebut karena jika akarnya terpotong, maka pohon dan cabang-cabangnya akan menjadi musnah habis tanpa sisa sama sekali.” Brahmana pada sloka di atas diumpamakan sebagai sebuah pohon. Akar pohon adalah sandhya, yaitu sembahyang tepat waktu, yang dalam hal ini berarti trisandhya. Cabang dan ranting dari pohon Brahmana adalah Pustaka Suci Catur Weda yaitu Rg Weda, Yajur Weda, Sama Weda dan Atharwa Weda. Selainnya, dharma dan karma adalah daun-daunnya. Itulah analogi brahmana sebagai sebatang pohon (brahmana) seperti yang disebutkan di dalam pustaka suci Devi Bhagatana Purana. Di masyarakat, ada brahmana formal, ada pula brahmana yang tidak formal. Brahmana formal menekuni tugas-tugas ke-brahmana-annya dan melayani masyarakat dalam menjalankan kegiatan keagamaan, lengkap dengan pemakaian pakaian serta atribut atau perlengkapan ke-brahmanaan lainnya. Sedangkan brahmana non-formal juga menekuni puja sembahyang dan aktivitas keagamaan spiritual tanpa ciri-ciri ke-brahmana-an secara luar. Mereka yang tekun dalam mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan melakukan aktivitas-aktivitas di jalan ke-Tuhan-an, adalah seorang brahmana. Tekun serta sungguh-sungguh dalam belajar dan mengajar aja-
Sagitarius Cobalah dipikir seribu kali sebelum melangkah karena penyesalan akhir tiada gunanya lagi. Situasi diminggu ini menuntut Anda untuk lebih hati-hati dan teliti dalam menelaah setiap kejadian yang muncul agar bisa meraih hasil yang optimal. Keuangan masih baik dan lancar sehingga hati akan merasa tenang dan tak gelisah. Ajakan teman yang sekiranya hanya akan membuang-buang uang saja lebih baik Anda tolak. Asmara: Semua permasalahan akan bisa diselesaikan dengan penuh kesabaran dan ketenangan, untuk itu hindari emosi jika hanya akan memperburuk suasana saja.
Diasuh Oleh : Ki Wongso Wijoyo Berlaku : 4 Agustus - 10 Agustus 2019
weda
WAKYA Darmayasa
ran-ajaran mulia dari pustakapustaka suci Weda, melaksanakan upacara-upacara keagamaan, itulah kewajiban yang ditekuni oleh seorang brahmana. Sangat ketat mengontrol diri dalam hal makan dan lain-lain yang menunjang ke-brahmana-annya, menekuni tapa, vrata, yoga, dan samadhi. Itulah brahmana sejati. Pustaka Smrti Sastra, Bhagavadgita dan-lain-lain memberikan daftar persyaratan seorang brahmana. Secara definisi, brahmana sebagai dimaksudkan oleh ajaran suci Weda sebagai brahmana yang memang brahmana adalah “brahman janati iti brahmanah”, bahwa seorang brahmana adalah seorang penekun spiritual yang sudah mengetahui Brahman atau Tuhan Yang Maha Esa. Sebuah sutra penting bertujuan mengingatkan brahmana formal dan nonformal akan tujuan sejati seorang brahmana. Dengan demikian, baik brahmana formal maupun nonformal sangat perlu merenungkan hal ini, bahwa pustaka suci menganalogikan brahmana sebagai sebatang pohon (brahmana) yang tangguh. Jika ada brahmana yang menginginkan pohon brahmananya tumbuh subur, menghijau, rindang, memberikan buah yang banyak matang manis, memberikan bunga-bunga berwarna-warni harum, memberikan kesejukan pada setiap orang yang melewati, mendekati, berlindung di bawahnya dan memanfaatkan pohon, bunga, buah, batang dan lain-lainnya, maka ia harus menjaga akar pohon brahmana-nya. Sang Pohon Brahmana akan sangat berhati-hati dalam menjaga serta merawat agar jangan sampai akarnya terpotong
sembahyang tepat waktu hendaknya diberikan perhatian penting oleh seorang brahmana. Sandhya artinya sembahyang. Penekanan penting perlu diberikan dalam pemakaian kata sandhya untuk menyebutkan sembahyang, karena sembahyang itu ada waktunya, bukan semaunya brahmana untuk melakukannya. Terlebih-lebih jika hal itu dilakukan dengan alasan bahwa pada zaman sekarang orang banyak kesibukan. Seharusnya, seorang brahmana yang berada di dalam jalan ke-brahmana-an akan menjaga dengan ketat agar dirinya tidak melakukan sembahyang (tri-) sandhya semau dirinya. Sembahyangnya akan menjadi sebuah keharusan dan dalam sentuhan waktu yang tepat. Sekali lagi hal itu disebabkan oleh istilah sembahyang yang dipergunakan adalah (tri-)sandhya. Dalam Bahasa Sanskerta, sandhya adalah sandhi. Di dalam bahasa Indonesia kata sandhi menjadi kata sendi (per-sendi-an). Wikipedia menyebutkan sendi merupakan perhubungan antar tulang sehingga tulang dapat digerakkan. Perlu dicatat ada dua kata penting yakni “perhubungan” dan “dapat digerakkan”. Sendi adalah perhubungan antar dua hal/benda yang memberikan manfaat “dapat digerakkan”. Demikian pula, persentuhan atau perhubungan antar dua waktu dapat mengakibatkan “gerak energi spiritual”. Persentuhan atau perhubungan antar malam dan pagi dalam tradisi Weda dinamakan brahma muhurta. Pada saat-saat penuh karunia spiritual itulah para brahmana memilih waktu-waktu untuk sembahyang pagi. Secara tradisi umat Hindu memahami brahma muhurta dimulai pada pkl. 04.50 sampai matahari terbit. Cara lain yang sederhana untuk memahami brahma muhurta adalah dimulai antara 48 menit sebelum matahari terbit dan 48 menit sesudah matahari terbit. Akhirnya setelah terbiasa mengikuti saat-saat brahma muhurta maka perlahan orang mendekatkan kebiasaan sembahyang sandhya paginya pada waktu
tepat brahma muhurta, yaitu 1 jam 36 menit sebelum matahari terbit sampai dengan 48 menit sebelum matahari terbit. Itulah saat-saat yang tepat untuk “menangkap” kesempatan dimana Brahman (Tuhan) menganugrahkan karunia spiritual melalui praktik agama spiritual khusus terutamanya melalui pengucapan mantram. Pengisian getaran suara mantram pada saat-saat brahma muhurta menyebabkan praktik agama spiritual menjadi penuh keberhasilan. Diantara mantram-mantram, Gayatri merupakan mantram yang selalu mengawali dan menjadi terpenting dalam praktik agama spiritual brahma muhurta. Oleh karena itu, mantram Gayatri juga dinamakan Sandhya Mantram, yaitu mantram yang harus diucapkan pada saat-saat brahma muhurta dan waktu-waktu lainnya yang diperuntukkan melakukan sembahyang sandhya. Di luar Brahma Muhurta, baik sebelum maupun setelahnya, sembahyang yang dilakukan oleh (brahmana) yang tegas dan ketat dalam mempertahankan disiplin sembahyangnya dianggap gagal. Jika orang bersembahyang pada pagi jam 9 atau 10 maka saat itu dianggap sudah tidak tepat untuk melakukan sandhya pagi. Kemudian sandhya berikutnya dilakukan oleh brahmana pada persambungan/perhubungan pagi dengan siang itu bertepatan pada tengah hari, tepat ketika matahari berada di atas kepala. Itulah muhurta atau waktu yang paling tepat untuk melaksanakan sandhya. Selanjutya sandhya senja hari dilakukan pada perhubungan waktu siang dengan malam, tepatnya sore dengan malam yang dinamakan Sandhyakala (senjakala), saat matahari sudah merunduk dan bersiap-siap untuk tenggelam di ufuk Barat, tetapi langit masih kelihatan memberi warna kemerahan. Itulah waktuwaktu bagi para brahmana untuk bersembahyang sandhya, karena sandhya bukan hanya sembahyang melainkan sembahyang tepat waktu.
jari oleh kita yang sudah dewasa dari anak-anak kecil ini? Mengapa mereka justru mendapat perhatian istimewa dari Yesus? Anak-anak kecil yang masih umumnya polos dan lugu, jujur dan sederhana pikirannya. Mereka belum terkontaminasi dengan logika-logika manusia, setidaknya belum separah kita yang sudah lebih lama hidup di dunia. Anak kecil tidak khawatir apabila mereka ada dekat orang tuanya, mereka akan merasa aman dan percaya penuh pada orang tuanya, dan menuruti orang tuanya tanpa banyak tanya. Yesus mengatakan bahwa seharusnya kita pun seperti itu dalam menyambut Kerajaan Allah. Dia mengingatkan kita untuk belajar dari anak-anak kecil ini. “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barang siapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya. “(Lukas 18:17). Kembali kepada Matius pasal 19, sesudah Yesus menegur muridmurid-Nya, Dia pun meletakkan tangan-Nya di atas kepala anakanak itu dan memberkati mereka. (Matius 19:15). Yesus mengasihi anak-anak kecil, bahkan memandang mereka secara istimewa, dan mengingatkan kita untuk memandang Kerajaan Allah dengan mata anak kecil. Hidup kita yang sudah dewasa ini su-
dah terkontaminasi dengan begitu banyak hal, sehingga kita menjadi sulit untuk mengerti kehendak Tuhan dan percaya sepenuhnya pada Tuhan. Terlalu sering kita memaksakan logika-logika kita sendiri, sehingga sadar atau tidak kita justru menutup pintu dari berkat-berkat yang disediakan Tuhan bagi kita bahkan pada akhirnya menutup sendiri pintu keselamatan yang sudah Dia anugerahkan kepada kita. Keluguan anak-anak kecil yang polos, jujur dan bisa percaya sepenuhnya ini akan selalu rawan dari serangan si jahat. Iblis dan antekanteknya tidak akan suka melihat ada anak-anak yang tumbuh menjadi terang, bersinar sejak di usia kecilnya. Itulah sebabnya sebagai orang tua kita harus sadar akan pentingnya menanamkan Firman Tuhan dan pengenalan yang baik akan pribadi Allah lewat Yesus. Orang tua harus mampu menjadi sumber bagi mereka untuk mengenal Yesus. Itu bukan hanya tugas guru sekolah minggu saja tetapi para orang tua hendaklah berperan aktif dan nyata untuk membimbing anak-anaknya. Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk itu, misalnya dengan mengambil cerita-cerita yang mencerminkan kebenaran sebelum mereka tidur, melibatkan mereka dalam membangun mesbah Tuhan dan bersama-sama memuliakan Tuhan, membiasakan mereka rajin berdoa dan sebagainya. Selain itu, apakah kita masih merasa terpaksa untuk mengantarkan mereka untuk mengenal Kristus? Semua ini penting untuk kita pikirkan agar kita tidak menyesal di kemudian hari.
Anak-anak kecil seharusnya disambut dan bukan dilarang untuk datang kepada Yesus. Lihat apa kata Yesus berikut ini. “Maka Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka: Barang siapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barang siapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku.” (Markus 9:36-37). Mungkin kita bukan secara sengaja menghambat atau menghalangi mereka untuk datang kepada-Nya, tetapi kita harus waspada agar jangan sampai tanpa sadar kita malah menjadi tersangka utama yang menghalangi anak-anak kita sendiri untuk datang kepada Yesus. Teguran Yesus kepada orang-orang yang berbuat seperti ini sesungguhnya sangatlah keras. “Barang siapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya ini, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut.” (Markus 9:42). Anak-anak sesungguhnya adalah titipan atau anugerah dari Tuhan yang harus kita pertanggungjawabkan dan urus dengan sebaik mungkin. Oleh karena itu, urusan parenting atau mengasuh/ membesarkan/mendidik anak bukanlah hal yang bisa sambil lalu saja atau tidak mendapat prioritas utama dibanding urusan lain seperti mencari uang dan sebagainya. Membekali mereka dengan pendidikan formal tentu baik, tetapi jangan lupa untuk membawa mereka mengenal Yesus sejak masa kecil mereka.
untuk menginap di tempatnya, kasus itu tidak dibawa ke ranah hukum. Cuma didenda dan damai! Pengutil WNA pun sering tertangkap basah saat beraksi di beberapa pusat perbelanjaan dan videonya ditayangkan di FB. Perampokan bersenjata yang senapannya hasil rampasan dari seorang aparat keamanan, sempat menggegerkan masyarakat Bali. Memang seorang berhasil dibikin mampus oleh aparat, dua ditangkap dan seorang yang dianggap biang keroknya berhasil buron. Mudah-mudahan semua bisa digulung oleh aparat secepatnya, “ tutur Rubag. “Kalau boleh beropini, ini adalah salah satu dari jebakan globalisasi. Pergerakan globalisasi bukan hanya semata di bidang ekonomi demi meratakan kemakmuran katanya. Di bidang hukum, politik, sosial dan budaya tidak terkecuali, malah kini kejahatan. Hebatnya, negara-negara Blok Timur yang warganya puluhan tahun dibelenggu otoriterisme komunis, dengan berakhirnya Perang Dingin, kini menikmati kebebasan dengan suka-cita berbalut demokrasi. Di antaranya ada yang menyalurkan kebebasan di ranah kriminal. Per-
ampokan bersenjata yang kau ceritakan, pelakukanya konon warga negara Rusia, pecahan inti atau terbesar dari Uni Soviet. Baru-baru ini kubaca di media daring, orangorang Rusia dan Bulgaria yang ada di Bali sekarang mendapat pengawasan yang ketat dari aparat keamanan dan Imigrasi. Namun pihak Imigrasi setengah mengeluh menyatakan, karena peralatan yang masih terbatas, instansinya tidak bisa melakukan pengawasan sempurna terhadap orang asing dengan jumlah 7-10 ribu datang per hari. Untuk itu, diminta seluruh masyarakat ikut mengawasi dan bila menemukan orang asing bergerombol dan dicurigai gerak-geriknya, diharapkan segera melapor ke pihak Imigrasi dan aparat keamanan terkait. Ya, itu pernyataan yang rendah hati dan kita harus merespons secara positif. Sebab tugas untuk membela negara dan bangsa adalah kewajiban seluruh WNI, “ komentar Nyoman Sudiantara. “Setuju! Asalkan aparat yang berwenang segera merespons setiap laporan, kalau bisa jangan sampai menyulitkan yang melapor. Bali harus tetap aman,
nyaman dan tenteram! Kalau Bali sekarang nyaris menjadi tempat sampah masyarakat internasional, itu tidak terlepas dari gejolak keamanan, politik, ideologi dan sosial dunia. Antropolog sosial, Arjun Appadurai yang mengkaji pergerakan arus globalisasi menulis ada lima dimensi penyebaran yang disebutnya landscape. Mediascape, Technoscape, Ethnoscape, Ideoscape, Finanscape! Penyebaran manusia disebutnya Ethnoscape. Ini bisa terjadi lewat pariwisata, transfer ilmu pengetahuan, pelarian politik, bisnis, namun arus penyebaran kriminal tidak diulas dalam teorinya. Datangnya arus kejahatan dari berbagai bangsa ke Bali, bagiku, merupakan bagian dari Ideoscape. Sebab mengacau keamanan dan ketertiban lewat kejahatan, bisa jadi tindakan awal untuk meruntuhkan kedaulatan sebuah negara. Marilah kita jaga Bali agar tidak menjadi Tempat Pembuangan Akhir Sampah Masyarakat Internasional atau TPASMI. Apalagi Bali sudah punya gerakan “Malu Dong Buang Sampah Sembarangan”, sampah masyarakat alias penjahat jangan dibiarkan merajalela!,“ tegas Made Surjanegara.
Chinnemule, yaitu akarnya terpapras, terkapak apalagi tercabut habis. Jika hal itu terjadi, maka naiva vrksah na sakha, semuanya akan menjadi habis dalam sekejap. Pohon itu tidak akan eksis lagi, apalagi cabang-cabang dan ranting-rantingnya, semuanya tidak akan ada sama sekali. Demikian pula jika ada seorang brahmana yang tidak sembahyang, mengabaikan sembahyang trisandhya-nya. Brahmana tersebut dianggap sudah memotong akar dari pohon brahmana-nya. Sekali seorang brahmana tidak bersembahyang maka hal itu disamakan dengan satu kali mengayunkan kapak ke akar pohon brahmananya. Jika keesokan harinya brahmana kembali tidak melaksanakan (tri)-sandhya, maka sama saja dengan ia kembali mengayunkan kapak tajam berbahaya ke akar pohon brahmana-nya. Lama-lama, semakin sering seorang brahmana mengayunkan kapak ke akarnya, sedikit demi sedikit menebang akarnya, maka pohon brahmana itu secara perlahan-lahan mulai menjadi layu dan kering. Pohon yang akarnya terkapak terus menerus akan mempengaruhi kelangsungan hidup pohon itu. Makanan-makanan untuk pohon tidak bisa diambil, tidak bisa disalurkan ke batang, cabang, ranting, daun, bunga dan buah. Semakin lama ia tidak melakukan (tri)-sandhya, maka pohon brahmana itu akan menjadi layu dan kering. Akhirnya, tidak akan ada lagi pohon brahmana itu. Ya, pada akhirnya ia hanya menunggu petani datang mengambil pohon itu untuk dirobohkan dan dijadikan kayu bakar. Kegunaan pohon (brahmana) itu akhirnya hanya untuk memasak di dapur atau sebagai bahan “ngidu” (menghangatkan badan) bagi orang-orang yang berada di daerah dingin, untuk membakar ikan di tepi danau atau tepi laut oleh para nelayan, atau untuk membuat api unggun oleh adik-adik pramuka sambil menyanyikan lagu “api kita sudah menyala”. (Tri-)Sandhya yang artinya
MIMBAR AGAMA
Biarkan Anak-anak Datang kepada-Ku PDT. I P WIDIARSANA, S.Th.
“Tetapi Yesus berkata, “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepadaKu; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga.” (Matius 19:14) Leo Rencana akhir-akhir ini cukup berjalan lanBanyak orang tua yang tidak car dan memuaskan, akan tetapi diminggu ini Anda jangan sembrono, apalagi mereme- menyadari bahwa anak-anak ini hkan persoalan yang muncul, sebab tidak selamanya pun penting untuk mengenal Yekesuksesan itu membawa kebaikan, kadang-kadang sus sejak usia kecil, terlebih di zabisa menjadi senjata makan tuan kalau tidak bisa man sekarang di mana perusakan menjaganya. Asmara: Buat apa terlalu dipikirin, enjoy moral lewat berbagai media sudah menyentuh anak-anak kecil baik saja dengan semua itu. yang terang-terangan maupun yang tidak kasatmata. Tanpa sadar Virgo Tidak selamanya impian hanya ada di anak-anak kita menjadi target sasaangan-angan saja, jika mau menindak- ran penyerangan si jahat, dan itu lanjutinya dengan serius dan penuh keya- mudah kita pahami karena anakkinan, maka akan besar kemungkinan untuk dapat anak kecil akan jauh lebih mudah merealisasikannya. Maka dari itu, cobalah sekali lagi dihancurkan, diracun dan diserang dengan hati yang tenang dan pas. Asmara: Adalah hal ketimbang orang dewasa yang cara yang wajar jika dalam mengarungi samudra asmara berpikirnya sudah lebih baik. Apa jadinya kalau kita lengah, itu tidak selalu mulus jalannya. mengira bahwa mereka masih terlalu kecil untuk ‘dicekoki’ FirLibra Jangan bersantai ria diminggu ini, karena man Tuhan tapi lantas dari sisi tingkah laku Anda sangat menentukan lain membiarkan iblis dan anteksekali bagi kesuksesan karier dan bisnis anteknya di dunia meracuni mereka yang lagi ditekuni ini. Cobalah terus ditingkat- dengan rupa-rupa strategi? Berbkan prestasi kerjanya agar tidak kesulitan dalam agai tayangan dan lagu yang tanpa meraih setiap peluang yang cukup banyak dan terbuka sadar kita biarkan untuk mereka lebar. Asmara: jangan hanya diam terpaku meman- tonton dan dengar, cara-cara berdang sidia yang lagi kacau pikirannya, segera ambil tindakan yang dapat meringankan beban pikirannya. Scorpio Tak perlu menuruti gejolak hati yang terkadang jika sudah dirasuki oleh amarah, maka tak bisa lagi berpikir dengan jernih, untuk itu selalu pergunakan logika dan rasio agar bisa terhindar dari pengambilan keputusan yang salah. Pemasukan diminggu ini cukup baik, hanya saja pengeluaran yang tampak membengkak terus dan sulit untuk dikendalikan. Asmara: Tetaplah menjaga sikap dan ucapan Anda agar suasana hatinya tetap terjaga. Apalagi saat ini sidia lagi kacau pikirannya, sehingga anda harus lebih tahu diri.
Redaktur Khusus
pikir dunia yang semakin jauh dari kebenaran cepat atau lambat akan membuat anak-anak yang masih polos dan lugu terkontaminasi dengan hal-hal yang berpotensi besar merusak masa depan mereka. Anak-anak Anda butuh bimbingan, dan mereka pun perlu untuk dikenalkan kepada Yesus sejak dini. Bagaimana sebenarnya Tuhan Yesus memandang hal ini? Kita bisa melihat reaksinya saat ada orang-orang yang membawa anak-anak mereka datang kepadaNya untuk diberkati, yaitu dalam Injil Matius pasal 19. Beberapa orang tua yang melihat kehadiran Yesus ingin anak-anak mereka diberkati. Karenanya mereka pun datang menghampiri Yesus. Pada saat itu, murid-murid Yesus bukannya mengakomodasikan keinginan para orang tua, mereka justru memarahi para orang tua tersebut. “Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan mendoakan mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu.” (Matius 19:13). Lihatlah bagaimana reaksi Yesus akan hal ini. “Tetapi Yesus berkata: “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orangorang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga.”(ay 14). Apa hal menarik yang bisa dipela-
Cegah Tpasmi!
MENINGKATNYA kriminalitas di Bali akhir-akhir ini cukup memprihatinkan. Sebab, para pelaku bukan hanya Warga Negara Indonesia, justru yang mencemaskan kian banyak warga asing yang berlabel “turis“ terlibat dalam kejahatan. Bukan lagi sebatas menipu, mencopet dan mengutil, bahkan perampokan dengan kekerasan dan bersenjata api. Bila tidak dilakukan tindakan tegas dan pengawasan ketat dari pihak berwenang serta masyarakat, cepat atau lambat julukan The Island of Thousands Temples akan menjadi The Island of Thousands Crimes. “Aku khawatir kalau Bali menjadi tempat sampah masyarakat internasional, karena ditengarai WNA pelaku kriminal ada yang termasuk daftar pencarian orang di negaranya. Bahkan yang baru belajar jadi penjahat di negaranya, di Bali menjadi mahir. Kasus pembobolan ATM di beberapa tempat di Bali dengan menggunakan tehnik skimming, para pelakunya kebanyakan orang asing . Baru-baru
brolan BALE BANJAR ARIDUS ini kutonton di FB, tampak satu keluarga turis asing yang check out dari penginapan, ternyata di dalam koper mereka tersimpan barang-barang milik penginapan. Awalnya mereka gigih tidak mengaku, namun setelah tas dan koper mereka dibongkar dan properti penginapan didapat, tanpa malu-malu mereka minta maaf. Lucunya, tetap demi menjaga sopan-santun dan hubungan baik dengan agen yang mengirim tamu-tamu tersebut
Bali
6
Redité Umanis, 4 Agustus 2019
BPM/dok
TAMIANG – Rerainan Kuningan madué makatah cihna. Sinalih tunggilnyané marupa tamiang, endongan miwah sané tiosan sané jagi kadagingin ring palinggih-palinggih wiadin ring wewangunan paumahan.
Rerainan Suci Kuningan
Nyuksmayang Paica Amertha lan Kasukerthan Jagat SOANG-soang krama sané magama majanten nénten lémpas saking kawéntenan rerainan suci, utamanipun ring kauripan krama Hindu Bali sané saking nguni naminin sakadi sané munggah ri sajeroning tattwa lan daging sastra agama saking panglingsirnyané. Napimalih soangsoang rainan suci kawéntenané mapaiketan sareng rerainan
suci tiosan. Sios punika, kramané taler kataminin budaya marupa tata-titi ngamargiang upacara miwah makatah upakara sané kawigunayang ring rerainan inucap. Sakadi ring dinané dibi, rainan Kuningan sané mapaiketan pisan ring kawéntenan rainan Galungan sané sampun lintang. Rainané mangkin wantah ngranjing ring raina Manis Kuningan pinaka
Bencingah
Mabinayan sareng Galungan SAKADI sané sampun kauningayang, rerainan suci Galungan sampun majanten madampingan sareng Kuningan sané ngawinang nyabran 210 raina apisan nepet ring Wuku Dungulan miwah Kuningan kramané ngamargiang kalih rerainan ageng. Yadiastun mapaiketan, kekalih rerainan inucap madué cihna soang-soang. Sangkaning punika, kramané ngamargiang sekancan parikrama miwah pidabdab ping kalih nyanggra kalih rerainan i wawu, antuk selat galah saking Galungan nuju Kuningan dasa raina sinah upakara sané kanggén ring Kuningan prasida kadabdabang pungkuran utawi risampun krama wusan ngamargiang paileh utawi eédan Galungan. Manut Jero Plasa, upakara sané kaaturang ring Galungan mabinayan pisan utawi nénten pateh sareng sané kaaturang ring Kuningan. Duaning manut sakadi dresta ring genah dané, sané kaaturang ri kala Galungan kaunggahang ka palinggih-palinggih inggih punika banten-banten sesodan madaging antuk tumpeng lan nasi soda. Sakéwanten sané kaaturang ri kala Kuningan marupa selanggi taler papiringan utawi rayunan sané madaging antuk ulam masisit, krupuk, ulam urutan, calon miwah rerasmén kacang lan saur. Indik ulam sané kaanggén wantah ulam bawi nanging nganutin malih sareng désa mawacara utawi tata-titi ring désa inucap duaning wénten sané nénten ngawigunayang bawi, wénten sané ngawigunayang ulam kebo. Indik parikrama mabanten tatkala Kuningan ka pura-pura rumasuk ring merajan soang-soang ketah kakawitin jam kutus semengan kantos jam dasa utawi tur nénten nyantos lintang tajeg surya sampun kapuputang. Duaning kajantenang yéning ring galahé punika, Ida Bhatara taler para leluur miwah Dewa Hyang sampun mawali ka swargaloka. Matiosan sareng Galungan sané mabantennyané prasida kamargiang kantos sanja. “Punika mawinan mangda nénten nyantos lintang galah, akéh krama sané sampun ngawitin mabanten saking merajan ring galah kantun ngedas lemah antuk upakara sané sampun kajangkepang tur kadabdabang dibi sanjané. Asapunika taler indik maturan ka pura-pura sawewidangan banjar majanten taler kamargiang sesemeng-semengnyané duaning mangda gelisan prasida nunas tirta ring pura désa, pura puseh lan pura dalem duaning jagi kanggén ring merajan malih jebosnyané,” Jero Plasa nartayang. (was)
Kruna Basa Bali
AKSARA BALI
BAhAsa INDONESIA
1.
dérés
1.
eders/,
iris
2.
desek
2.
d)s)k/,
dekati
3.
detia
3.
edtê,
raksasa
4.
déwék
4.
edewk/,
pribadi
5.
diaksa
5.
dêk×,
ahli, pakar
6.
dibia
6.
dibê,
pandai
7.
dilah
7.
dil;,
nyala
8.
dilap
8.
dilp/,
terbakar
9.
dileng
9.
di2*,
juling
10. diwang 10. diw*,
luar
panguntat saking eédan rerainan sané rauh ipun nyabran 210 raina apisan. Sakéwanten pamuputnyané kamargiang antuk parikrama ngabut penjor ring raina Pagatwakan. Yadiastun mapaiketan sareng Galungan, nanging rainan Kuningan madué makatah parikrama utawi eédan sané mabinayan sareng Galungan. Rerainan Kuningan rauh nyabran raina Saniscara Kliwon wuku Kuningan sané raris kabaosang Tumpek Kuningan. Tatkala punika, krama Hinduné nyantenang yéning Ida Sanghyang Widhi Wasa kairing antuk Para Déwata lan Pitarapitari tumurun ka mercapada maicayang makatah waranugrahannyané sané mawinan kramané ngaturang makatah
upakara majeng ring Ida. Yéning katilik saking krunanipun, Kuningan mawit saking kruna “kuning” sinalih tunggil soroh warna ring jagat pinaka cihna saking “amertha” utawi arta berana wiadin kasukertan lan karahajengan. Sios punika prasida taler kaartosang antuk “kauningan” sané tegesnyané wantan “kapradnyanan” utawi kawagedan ri sajeroning angga sarira. Dadosné prasida kabaosang yéning tetujon saking rerainan suci Kuningan punika wantah nunas ica lan nyuksmayang wara nugraha marupa amertha, kasukertan karahajengan miwah kawagedan majeng ring Ida Sanghyang Widhi Wasa antuk prabawan Ida pinaka Ida Bhatara Mahadewa sané mapralambangan antuk
warna kuning tur magenah ri genah kauh utawi Pascima taler katur majeng ring para Pitara-pitari. Ngeninin indik parikrama upacara utawi ngaturang upakaranyané taler wénten kapatutanipun. Manut sané munggah ring Lontar Sunarigama, upacara ngaturang sesaji utawi aturan ring Kuningan punika kamargiang ri kantun semeng duaning ri tengai tepet kajantenang Para Dewata lan Pitara-pitari sampun mawali ka swarga utawi kabaosang antuk “Dewa mur mwah maring Swarga”. Risampuné parikrama upacara saha pamuspan wusan kamargiang, raris kalanturang antuk pidabdab nyurud banten sané manut Jero Mangku I
Ketut Mandia, S.Ag., M.Ag., Ketua Yayasan Bali Aparigraha banten surudan punika beciknyané raris katunas tur kaajeng yadiastun akidik olih krama inucap sané tegesnyané wantah nyurud ayu. Nanging sujatinné ring upacara makasami, upakara sané katurang punika sapatutné kaajeng akidik risampunné kasurud antuk kapatutan kahanannyané nénten usak miwah kantun becik kaajeng olih kramané. Malih dané maosang, sané patut taler kaélingang wantah ngawigunayang makatah sarana utawi uparengga sané kagantungang ring wewangunan paumahan, palinggih miwah ring pakarangan umah. Minakadi marupa tamiang niyasa saking Cakra utawi sanjata Ida Bhatara
Wisnu, Panah niyasa Nagapasa utawi sanjata Ida Bhatara Mahadewa lan Endong niyasa saking Moksala utawi sanjata Ida Bhatara Rudra. Makatetiga punika sané ketah kaanggén tur kagantungang olih kramané pinaka cihna nunas ica karahayuan lan kasidhian saking Ida Sanghyang Widhi Wasa masarana antuk pralambang sanjata déwata inucap. “Tatkala punika ring makatah wewidangan wénten taler kamargiang upacara panyambutan majeng ring alit-alit sané durung ketus gigi miwah para panglingsir sané sampun manados kumpi ring kulawarga irika. Upakara sané kaanggén wantah upakara panyambutan biasa kémanten,” dané nartayang. (was)
Upakara lan Upacara ring Kuningan
Ngawigunayang Kalih Soroh Selanggi SAKADI sané sampun kawedar i wawu, rerainan suci Kuningan wantah rerainan sané rauh nyabran 210 raina apisan nepet ring Saniscara Kliwon wuku Kuningan. Yadiastun pinaka eédan saking rerainan suci Galungan sané rauh ipun sampun dumunan, nanging rerainan i wawu madué cecihnan wiadin tata-titi sané mabinayan. Minakadi indik upacara sané kamargiang tatkala punika wiadin soroh upakara sané katurang. Manut saking sané kapanggihin tatkala Kuningan, krama Hindu utamanipun ring Bali ketah ngaturang upakara sané madaging antuk ajengan utawi nasi kuning. Punika kajantenang pinaka niyasa kasukertan lan suksmaning manah antuk sekancan wara nugraha sané sampun kapaicayang Ida Sanghyang Widhi Wasa. Sios punika kuning satmaka warna pralambang saking Ida Bhatara Mahadewa sané manut pangider-ider bhuana malinggih ring kauh utawi Pascima, punika mawinan Ida raris kasiwi antuk sarana marupa ajengan kuning. Tata-titi upacaranyané,
upakara sané munggah ring kamulan minakadi pejati asoroh, banten danan, selanggi kalih lan canang pesucian katur ring rong tengah sakéwanten ring kiwa lan tengen madaging antuk banten soda kuning, banten danan lan selanggi kalih. Upakara sané katur ring palinggih tios marupa banten soda kuning, banten danan lan selanggi kekalih taler upakara ayaban minakadi banten ayaban sanistané matumpeng pitung bungkul, tebog lelima lan banten prayascita miwah byakaonan. Indik ngaryanin tebog, wakulan tebog kadagingin antuk ajengan kuning, saur, kacang botor, ulam calon taler kadagingin antuk caling-calingan saking klapa magoréng miwah kadagingin antuk don intaran kalih. Taler katancebang wewayangan saking buah gedang matah utawi saking busung lelima sané kagenahang ring kiwa, tengen, arep, ungkur lan tengah utawi “nyatur desa”. Ngeninin indik tattwa saking tebog, nasi pinaka niyasa saking amertha, kacang botor niyasa tapa, don intaran niyasa kasukertan, caling-calingan
Dura désa
niyasa kapradnyanan, calon pinaka kawibawan tur wewayangan niyasa prabawa Ida Sanghyang Widhi Wasa. Selanggi sané kawigunayang sujatiné wantah niyasa saking Sanghyang Tri Purusa sané macihna satyam, siwam lan sundaram inggih punika Ida sané maicayang pikayunan sané kukuh, kasucian lan kasukertan ring jadmané sami. Manut Jero Plasa, Jero Sarati Banten utawi juru upakara saking Banjar Nyelati, Kuwum, Mengwi, Badung wénten kalih soroh selanggi sané jagi kawigunayang tatkala Kuningan, inggih punika selanggi sané kakaryanin saking don nangka miwah selanggi sané kakaryanin saking ron utawi don jaka. Pabinayannyané tios saking lakar ngaryaninnyané taler indik ajengan ipun, duaning kekalih inucap mabinayan ajengan sané kadagingin nanging indik ulam miwah sané tiosan pateh kémanten. Manawita selanggi inucap kakaryanin saking don nangka sinah sané kadagingin wantah rayunan utawi ajengan kuning sakéwanten yéning sané malakar antuk ron sinah
BPM/ist
SELANGGI – Upakara sané katurang tatkala Kuningan taler macihna. Sinalih tunggilnyané ngawigunayang selanggi sané kakaryanin antuk don jaka wiadin don nangka. Ring selanggi punika pacang kadagingin rayunan kuning miwah makatah ulam ipun. madaging antuk rayunan putih. Dané malih maosang, ring rerainan inucap taler kawigunayang plawa saking don intaran miwah kautsahayang mangda ngawigunayang bunga ratna anggén ngias palinggih, inggian ratna barak wiadin
putih. “Manawita nénten prasida ngamolihang wawu prasida nénten ngawigunayang bunga inucap tur plawanyané prasida taler kagentosang antuk don kayu mas manawita nénten wénten don intaran,” asapunika dané nartayang. (was)
Perang Topat
Dresta ”Unik” ring Sasak Lombok
BPM/ist
SATIOS ring Bali, makudang-kudang dresta budaya taler nglimbak ring wewidangan Lombok. Ring Bali wénten dresta sané mawasta Perang Tipat antuk sarana tipat, ring Lombok pamekas ring wewidangan Lingsar, Lombok Barat wénten taler dresta sané ngawigunayang sarana tipat. Dresta sané kasengguh “unik” punika kasub kasengguh Perang Topat. Perang topat kamargiang nganutin wilangan kalénder Sasak sinarengan Rarak Kembang Waru (aasnyané bungan waru) ring Purnamaning sasih Kapitu. Perang puniki kakawitin antuk ngiterin sesaji marupa ajengan, woh-wohan, miwah asil gumi tiosan sané kawigunayang pinaka aturan. Sajeroning perang topat, wénten krama sané mapupul ring natar Pura Gaduh, wént-
en taler krama sané mapupul ring natar wangunan Kemaliq, wangunan sané kasuciang olih umat Muslim Sasak. Mawinan punika, wénten kalih sekaa sané pacang maperang. Tipat sané kawigunayang maperang salanturnyané pacang katunas saha kasambehang ring carik wiadin tegalan krama. Perang puniki taler matetuek nunas karahayuan, kalanduhan saha kasukertan sané maliah sakadi sabeh katipat saha kangken pinaka sesari sané madaging toya kahuripan. Kahanan inucap nyihnayang kramané ngaturang rasa suksmaning manah ring Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dresta sané kamargiang tumurun puniki taler madué tetuek sané mautama majeng krama Hindu wiadin Islam ring Sasak sané ngamargiang dresta inucap. Majeng umat Hindu, dresta
puniki kamargiang sinarengan Pujawali ring Pura Taman Lingsar pinaka cihna rasa suksmaning manah majeng Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Majeng umat Islam, dresta puniki wantah upacara Haul majeng Sang Waliyullah sané kaprecaya pinaka panyebar Islam ring Lingsar. Perang topat wantah sinalih tunggil dresta miwah kasugihan budaya daérah sané nyihnayang rasa manyama ring tengahing kebhinekaan. Perang topat kamargiang tan parasa kroda wiadin sangkaning mamusuh. Samian kamargiang madasar rasa bagia ngamecikang karumaketan mayama braya, masameton pantara umat magama. Antuk rasa bagia, perang topat puniki kadadosang niyasa sajeroning ngemit rasa pasametonan pantara umat. (pusdat/berbagai sumber)
Nyastra
Redité Umanis, 4 Agustus 2019 MARA té nyaluk nyandikalaang, nyeng gati angsengan guminé, lebihan tekén mengpeng nyeng Sasih Karoné. Ampun tebel té kain klambiné né anggona, misi nyaluk jikét, jalér lantang. Sirah ampun makaput songkok benang wol, awak makaput makaukud, lima makaput selop tebel, batis masih makaput kaos tebel, kari masih ngalih saput né tebel anggona magremong. Mua dogén ngenah. Negak ngelut entud Wayahan Supat di balé ané di ampiké. “Seduhang kupi?” Samben patiluplup baana tuptup-tuptupan keneh Wayahan Supaté. Lemuh té kurenan Wayahan Supaté macapatan, makesiab masih Wayahan Supat, kanti makejengan baana awak Wayahan Supaté. Lima batis ten gati makrisikan. Jagut kari apit entud. Lakar nyautin raos kurenan, mara matingtingan sirah Wayahan Supaté. “Ten makita.” “Ampun tawang nyeng angsengan guminé, jumahan kénten laku.” “Numan ya.” Pesuan uling di paon kurenan Wayahan Supaté, napi kadén ukana aliha, napi kadén né ukana jemaka. Kipak-kipek, kingal-kingel, bengang-benong, tileh ten inget-inget baana. Imih, niki mara ya. Engsap ten gati dadi ajak inget. “Lamun kénten, tiang lakar nutugang maketog malu.” “Nggih.” Kanti ampun pragat kurenan Wayahan Supaté di paon ngetogang lungsuran banten Galungané, kari Wayahan Supat negak ngelut entud, jagut apit entud, tundu neket di temboké. Ten sakit mirib tundunné, ampun uling tuniné gati té kénten negak. “Madaran kénten malu.” “Déréng makita.” “Makejang ten makita, makejang déréng makita, masaré naké.” “Déréng kiap.” Ngabot makemikan baana kurenan Wayahan Supaté. Kurenan ten dadi ajinang. Kurenan ten dadi runguang. Nika bakat sangetang. Makaad kurenan Wayahan Supaté uling di ampiké. Mubet jelanan, makrubung saput, nyingkrung kurenan Wayahan Supaté lakar masaré. Cara wénten anak nguduhang, makita gati Wayahan Supat makipekan ka embakan umahné. Dapetanga anaké cerik, ané kaukina Putu Bagus, ingkeg-ingkeg majalan lakar nyagjag. Ngadébras bangun Wayahan Supat, saput entunganga, ten inget nyaluk sandal, ngénggalang nyagjagin anaké cerik. Sangkola, singala, prekenga anaké cerik. Jeg mabiok yéh paningalan Wayahan Supaté. Di baléné ampun abina, ampun bareng-bareng ajaka masaput, kari masih prekenga anaké cerik. “Sangkan ten maklambi té Putu? Kéné té nyeng guminé.” “Ongkeb tiang, Guru.” Embet cekian Wayahan Supaté, payu ngutang sungkéan baana. Angsengan guminé né nyeng napi awak Wayahan Supaté né nyeng? Napi keneh Wayahan Supaté né nyeng? Deketanga pipin Wayahan Supaté ka gidat anaké cerik. Nyeng gati-gati, lebihan tekén nyeng angsengan guminé. Ngelus sarung lima né kenawan, makaukud usud-usudina ragan anaké cerik, masih nyeng gati-gati. Nyumingkin mabiok yéh paningalan Wayahan Supaté. “Putu ampun ngajeng?” “Ampun, Guru. Tiang kari wareg.” Sabilang Wayahan Supat nanjénin anaké cerik nika dedaaran, kénten dogén
Galungan Sasih Kasa Komang Berata pasaut anaké cerik. Ampun melid gati, ampun busan-busan Wayahan Supat ngorahin anaké cerik nika, “Guru né ngelahang ragan Putuné, Putu masih né ngelahang guru driki. Napi né wénten driki, Putu masih né ngelahang. Lamun ampun wénten né lebeng, wénten né dadi ajeng, peraha Putu ngajeng bareng-bareng ajak kakan-kakan Putuné driki. Guru manyama ajak gurun Putuné. Putu manyama ajak kakan-kakan Putuné driki. Raga manyama, ten dadi lek, ten dadi jejeh.” Niki mara madan anak cerik dueg ten tuyuh muruk. Mulihan umah Wayahan Supaté ten pati nyak. Ampun paksa mara nyak. Kudu-kudu nyak, negak acepok ten makisel-kiselan. Pesuang dampingin dedaaran, ten pati nyak jemaka. Ampun wadahang, pagisinin dedaarané, mara nyak daara. Nyak jemet gati anaké cerik madaaran, demen baana Wayahan Supat nepukin kinyukan anaké cerik. Amangkinan, déréng taén anaké cerik nika macarikan madaaran. Yén marasa ten lakar telah baana naar, kénjanganga malu dedaarané né ampun wadahang. Ampun telah baana naar né akénjang, mara ngimbuhang. Matingtingan Wayahan Supat. Prekenga nyingal anaké cerik ajaka ka paon. Nyingal di kébot, nganéhin Wayahan Supat nyemak dedaaran, awaregan Wayahan Supaté. “Mangkin selegang malu Putu ngajeng. Lamun kari kuangan, nyanan nagih naké nggih.” “Sopin naké tiang, Guru.” Empah baana engsek keneh Wayahan Supaté, gigisan baana pesun yéh paningalan Wayahan
Supaté, mara pesu manying anaké cerik. Anak cerik ampun matuuh sia oton, ampun kelih, tumbén nagih pasopin. Dugas déréng matuuh limang oton, pepes Wayahan Supat ngesopin anaké cerik dedaaran. Nagih pakpakang masih pepes. Pasop-pasopina, kinyuk-kinyukanga, gelek-gelekanga, telah baana dedaarané apiring. Mara ukan bin jemakanga dedaaran, “Suud, Guru, ampun wareg tiang.” Mara gati melah tegak Wayahan Supaté ngabin mrekeng anaké cerik di baléné, bales gati mabiok ujané. Dugas Wayahan Supaté nyangkol nyingal mrekeng anaké cerik uling di embakan umahé, maan matolihan menék Wayahan Supat, pakracak bintangé di langité. Uling dija tekan gulemé kanti kéné bales ujané? Aget! Aget! Maan daatan panak biuné né mara celacara dajan umah Wayahan Supaté. Aget ten dadi kelidin. “Bin mani guru lakar medek ka Lempuyang Luhur?” Papenga baana keneh Wayahan Supaté mireng patakon anaké cerik. Anak cerik déréng nawang madan langkahlangkahan, déréng taén ajaka luas kijakija, anak cerik mara matuuh sia oton, perahné ampun kelas nol besar nanging ten sekolahanga di Taman Kanak-kanak, uling dija nawang madan Lempuyang Luhur? Sira né taén ajaka ngortaang Lempuyang Luhur? “Kénten ja acep-acepan guruné. Sina napi ten wénten lepet. Kenapi ukana, Putu?” “Dadi tiang nutug guru mrika?”
“Dadi. Mangkin driki naké Putu ajak guru sirep. Mani jam pat nglemahang guru nundun Putu, bangun naké nggih. Kanggoang majalan.” “Nggih, Guru. Driki naké sirep, ampunang mulihan.” Tumbén gati anaké cerik nyak ngisinin pangidih Wayahan Supaté. Ngidep gati anaké cerik. Orahina ngelut, nyak ngelut. Orahina ngupkup, nyak ngupkup. Orahina magaleng lima, nyak magaleng lima. Masaput bareng-bareng, leplep gati pasarén Wayahan Supaté ngelut mrekeng anaké cerik. Ten ja Putu Bagus adan anaké cerik nika. Wayahan Supat né mamengkung ngaukin Putu Bagus. Ten bisa Wayahan Supat nuturang, makita gati Wayahan Supat ngaukin anaké cerik nika Putu Bagus. “Gedé nika adan tiangé, Guru.” “Guru né makita ngaukin Putu Bagus, dadi, nggih?” “Nggih dadi nika, Guru.” Seléh gati anaké cerik nika. Adeg lanjar, kulit putih bersih, bok ingel, sebeng alep ngisengin, kenyem ngenyudin. Kalekadan mirib né ngaba aget né ngaba lepet. Buduh gati Wayahan Supat tekén anaké cerik nika, makita nyuang nganggon anak cerik sodet. Ten tepuk baan pelih, ten tepuk baan lepet, pepes gati gurun anaké cerik melagéndahang. Cara anaké cerik nika wed gedeg guru, wed gedeg mémé. Ngelah té anak cerik mara aukud gati, payuan anaké cerik kutanga jumah, ingan padaduanan malali malegan-legan. “Baang ngidih déh anaké cerik.” “Cai ngelahang, juang suba!” Solas tiban kelihan Wayahan Supat, kénten kepit raos gurun anaké cerik. Ampun singala anak cerik, anaké cerik ten nyak nutug Wayahan Supat. Lemeslemesina, anduh-anduha, sanggupsanggupanga magenep anaké cerik, ten masih nyak. Orahang katakutan guru, katakutan mémé, ten taén celéd anaké cerik malali mulih Wayahan Supaté. Dija koné anak cerik maan keneh ngayuh? Dija koné gurun anaké cerik, mémén anaké cerik, maan keneh samun? Tepukina melagéndahang anaké cerik, ngénggalang Wayahan Supat nyemak nyangkol anaké cerik ajaka mulih Wayahan Supaté. Kénten baana ngulanin anaké cerik, ten masih nyak nutug Wayahan Supat. Kénten baana melagéndahang anaké cerik, kari masih anaké cerik sayang tekén guru, sayang tekén mémé. Bangun-bangunan Wayahan Supat, dapetanga anaké cerik ampun ten wénten. Baan leplepné masaré, ten maan enten Wayahan Supat. Ngénggalang Wayahan Supat ka paon, ngendihang kompor. Makadadua endihanga komporné. Dadua nungkedang panci cenik-cenik di komporé, pang énggalan maluab yéhé lakar anggona mandus. Masépan-sépan mandus. Masépan-sépan mapanganggo. Masépan-sépan nyemak canang sekar, nyemak dupa, nyemak korek api. Masépan-sépan majalan mulih anaké cerik. Teked-tekedan di natah umah anaké cerik, ngelur gerung-gerung Wayahan Supat ngeling. “Putu Bagus…” Dapetanga anaké cerik di betén capcapan umahé, majalér dogén, negak ngelut entud, jagut apit entud, tundu neket di pancogan ampiké. Malaib Wayahan Supat nyagjag ukan mrekeng nyingal. Anaké cerik ampun kekeh. -0-
I Made Putra Wantara
Satua
Ngripta Iringan Gamelan Tari Dolanan
Satua I Belog Mantu (8) Kaketus saking Satua-satua Bali (IV) SUBA jani keto, saluka tegenanne bapan Luh Sarine baan I Beloh tur majalan maluan mulih. Suba joh lantas ia ngomong padidiana, “Jan pang betekanga ibanne ngamah bungkil tiing. Duga baana sing matanjenan ngamah takilan asepala gedenne.” Lantas teked jumahne, suba peteng ngejang tategenan, ngenjit suluh, lantas ia ka paon mubuh, sambilanga mlablab ubi asepala. Suba lebeng madaar ia keneng-keneng awaregan. Jani crita bapan Luh Sari suud manjus tusing ia buin malihin tategenan. Jeg saluki tategenanne ecet-ecet. Teked jumahne kaukina pianakne, “Luh, ne bapa maan ubi pang liu. Kema jani lablab ka paon, jak a daar nyen. Ubi gede-gede pesan buin lusuh-lusuh.” Masaut pianakne, “Nah Pa, jani icang ka paon.” Suba keto glebuganga tegenanne di arepan paonne, kalahina ka balene lantas masare ngilangang kenyelne. Api gupuh pianakne ka paon ngendihang api, nyusutin payuk, jemaka bungkil tiinge tegenan bapanne. Kadena saja tuah ubi, jemakanga tiuk mabudi ngedasin. Sabilang godota katos, sabilang godota katos. Ngrengkeng ia padidiana, “Ubi apa kene katos alah kayu.” Dingeha baan bapanne, “Ia tuah ubi kayu adanne, dong sing katos, tara enden lepah pumpunin, jeg te pumpunin dogen!” Suba jani keto, tutu pianakne. Punpunina dogen ingen suba lepah lebengne, balihina ubine nu masih blegeran buka bungkil tiinge. Napi angkida abana ka balene, edengina bapanne kene ia, “Bapa, kenyel icang mumpunin ubine nguda ya nu katos sing nyak lebeng, usudin icang blegeran buka bungkil tiinge.” Masaut bapanne, “Ngudiang tara? Ken, nang mainang suluhina, saja ya bungkil tiing.” (Masambung)
SAJERONING Pesta Kesenian Bali (PKB) pastika wénten acara Dolanan ring Parade Gong Kebyar Anak-anak. I Made Putra Wantara wantah sinalih tunggil penggarap tabuh (iringan gamelan) dolanan sané prasida ngwedar nada gamelan sané masaih sareng kawéntenan alit-alité. Karyannyané sederana, nanging anut ring karakter alit-alit, kreatif, taler nénten gelis ngawi waneh. Punika mawinan ngawit warsa 2013 ipun setata kajudi ngarap iringan gamelan tari dolanan duta Kabupaten Tabanan. Dolanan wantah sinalih tunggil kasenian sané pinih kajantosang nyabran pamargin Pesta Kesenian Bali. Kauri-
pan saraina alit-alité ketah kangkat saha kawedar pinaka seni sesolahan sané atraktif. Kauripan alit-alit sané seneng maplalianan kawedar antuk seni sesolahan sané kairingang antuk seni suara miwah seni tabuh. Sajeroning ngarap iringan dolanan punika, I Made Putra Wantara maosang, patut uning ring konsep tari dolanan inucap. Yadiastun sampun wénten konsep, gending-gending sané kawigunayang sajeroning dolanan prasida kauwah manut pabuat saking tari dolanan sané kasolahang. Sesolahané taler mangda nganutin panglimbak aab jagat sakdi mangkin. Tetujoné mangda dolanan sané kawedar prasida ngarad kayun sang panonton nyaksiang. Yadiastun asapunika, pakem saki n g
tari dolanan kantun pageh kamargiang. “Tiang makarya iringan dolanan kantun tetep madasar pakem sané wénten, minakadi wénten kawitan, pepeson, pangawak, pangecet, miwah pakaad. Sadurungnyané, patut wikan taler mamilih soroh plalianan tradisional manut tema PKB. Rumasuk taler ring indik vokal taler nada lagu miwah iringan mangda anut ring kauripan alit-alit,” baosnyané. Kabaosang malih, sajeroning makarya iringan dolanan, anggané setata mabebaosan sareng sekaa indik ide saha plalianan napi sané pacang kawedar. Sané utama, ide sané kawedar mangda nganutin pangimbak aab jagat sakadi mangkin, mawinan prasida ngwedar dolanan sané inovatif. “Yadiastun asapunika, tiang pastika nénten ngicalang tetuek saking tari dolanan inucap. Mawinan nénten lémpas saking kawéntenan tradisi saha pakem,” Putra Wantara negesang. Satios makarya iringan gamelan tari dolanan, lanang sané embas ring Tabanan, 3 April 1987 puniki taler naen makarya tabuh kreasi miwah iringan tari kreasi. Naen taler ngarya iringan tari dolanan Mewayangwayangan, Pesisi Soka, Bangkep, miwah sané tiosan. “Satios ngarap iringan tabuh wiadin gamelan, tiang taler ketah sareng péntas. Tiang naen péntas kantos ka samian kabupatén ring Bali miwah ring dura Bali. Yéning ka dura Negara, tiang durung polih. Nika wantah angen-angen sané durung polihang tiang,” baos guru seni budaya ring SMA 4 Denpasar puniki makenyem.
7 Cerakén Lengkara Punggelan geguritan puniki kanggén ngulati basa lan aksara Bali. Kapunggel saking Geguritan Cokli sané kakawi olih Djelantik Santha. Kaolah antuk : Pangremba Bali Orti
pupu;d*d*, Pupuh Dangdang 14.mr&t^`,
Maring Tirtha, gu[ÕihyuhlietÇokÞi,
Gusti Ayu Alit Cokli, ms)smãt/,
masesambat, skdiklrn/,
sakadi kalaran, \duhu*pnulemen,
ngaduung panulaméné, smãimrhupÀ\inum/,
sambi maraup anginum, \ur;sib)tnÂeknin/,
Ngurah Sibetan nakénin, \udhdims)smãtn/,
nguda Adi masesambatan, npiewnÓ)nuælitÐhê±n/,
napi wénten salit kahyun, m)nwib)lienhiw*,
menawi Beli né iwang, hmæury*,
ampurayang, eyn&b)lisjp)li;,
yéning Beli saja pelih, k)z&he\án±ewkÓitê*.
kenying anggén nuwék titiang.
Saking Langit Bali Swaran Talenan Ené anggon ngicalang seduk Geginané setata nabuh Saling sahutin Tusing mamilih gending Setata ngasorang awak Yasané maka swadharma Natwang déwék sangkan pasaja Natakin pedih ngunggahang lega Awiji mepah tetelu Basa jukut daging liyu Rebut ya incang-incangang Tiuk blakas pasangihang Walung keras daging alotan Jukut polih ya dangan Bebungkah gegantung wewija Tetiga wiwitan rasa Dija ada rasa Sinah ditu ada lega Elud-elud mapunduh Swaran talenan nyihnayang gemuh I Gedé Suwartama
8
Minggu Umanis, 4 Agustus 2019
Ampas Kopi Redaksi Mingguan mengundang Anda untuk berpartisipasi dalam rubrik “Kartun” ini. Tulis nama dan alamat lengkap dibalik gambar kartun. Kirim ke Redaksi Bali Post Jalan Kepundung 67a Denpasar.
Di Semenanjung Tanah Blambangan menyeberangi Selat Bali aku memijakkan kaki di tanah Blambangan (tak terasa asing masih sepertinya di rumah sendiri) jika kau datang ke tanah Blambangan lihatlah pucuk padi di sepanjang huma dendang sekawanan burung melintasi senja pulang ke sarang memeram mimpi dan aku akan bercerita tentang hari - hari yang kureguk sepanjang waktu di sini di antara lekuk tubuh penari gandrung dan bau keringat perjaka penambang belerang aku mencari jejak dan bau wangi sri tanjung adakah yang masih tersisa? para nelayan pesisir muncan di bawah terik matahari garang mendendangkan lagu ole olang jari - jemarinya lincah menebar jaring kehidupan sementara anak - anak laut menyelam memburu sekeping uang logam dengan bahasa tubuhnya sendiri (hari ini masih ada cinta untuk dituai)
I Wayan Nuriarta
di balik bayang pepohonan dan hamparan padang luas taman meru betiri aku menyadap suara igau satwa liar sorot matanya terasa ada yang aneh dan penuh curiga “jangan ada yang menarik pelatuk bedil dari gagangnya di sini rumah kedamaian bagi siapa saja!” di tanah blambangan asap pedupaan meniti puncak padmasana ada hening jiwa di antara kidung para sulinggih aku mencium aroma tanah yang sama dengan tanah moyangku! Gm. Sukawidana (Blambangan, 2015 Denpasar 2018)
Sang Hyang Patahunan Di sela reruntuhan itu berceritalah Sang Hyang Patahunan mengabdilah Airlangga! pada kebenaran dan keadilan tinggalkan sejenak keduniawian di sini kekuasaan disepuh kencana kau akan mengerti jalan nirvana
Bagong Soebardjo
tapakilah tangga batu itu, Airlangga! saat purna kau bersemedi jadilah pamong yang mengayomi basuhlah wajah keduniawianmu pada patirtan suci leburkan Rupadatu kelak kisahmu akan abadi di sini di bumi Patakan Agus Buchori
Muasal Puisi Kita memulainya dengan mengenal aksara mengasosiasikannya dengan benda benda tiba tiba ia bermakna saat kita memadukannya meski ada yang bilang ia hanya tanda bukankah segala di dunia ini perlu penanda
di meja itu aroma kopi menghambur kegetiran pagi hari ditandaskan merawat semangat dan kenangan di bibir gelas Yu Rasmi nyala api itu menyapa bibirmu kau hisap rencana rencana harimu pernahkah kau sadari sedangkan harimu kau hanya menjalani kau hembuskan jelaga kekalutanmu melesat bersama egomu saat kau terduduk dan teringat betapa hidup itu hanyalah anugerah hanya perlu menerima di dalamnya sebagaimana ampas kopi kunyahlah jangan kau muntahkan karena menikmati berbeda dengan mengonsumsi Agus Buchori
Upacara Tanah Pesisir sekawanan anak pesisir bermain api sambil meracik mantra nenek moyangnya dengan tangan gemetar ditabur bara api ke langit pekat bintang-bintang berjatuhan membakar hutan- bakau di sepanjang pesisir “duh! bape! bape! tujuh jimat yang kau berikan sebagian kupendam dalam tembuni sebagian lagi kurajah di lidah jadikan kilatan api di mataku menadah mantra para seteruku!” baju zirah kulit lokan rajahan magis kulit kayu mantra hitam suku pedalaman menggelindingkan bola api jatuh di ubun-ubun anak lanang ”tiuplah angin penuh mantra laknat kutuk para dewa menjauhlah! ini tanah pesisir yang penuh sengketa!” anak-anak pesisir dengan perahu bapanya menyusuri kabut di denyar nadi dicarinya muara di detak jantung sambil memanggil-manggil datangnya angin mengapa saat surut air payau tak surut? sementara gelisah laut menghempaskan dendam di tanah-tanah timbun para tetua suaranya parau menyeru anak lanangnya “pulanglah! pulang! di rumah tua anak perawan menanti pinangan!” langit kelam matahari berkabut legam kulit anak-anak pesisir tak serupa legam kulit moyangnya! adakah aku dapatkan jejak purba peladang garam di pasir-pasir pesisir ini jika sengketa tak berakhir?
mungkin kita ciptakan tanda kita sendiri dengan kata kata yang bersuara dari benakmu dan olah rasa pembacamu
I Wayan Nuriarta
Fotografi
Negeri di Awan karya Gede Agus Sunantara
Golden Morning karya Made Adi Dharmawan
Gm. Sukawidana Serangan, 2017 - 2019
kadang ada kejutan saat kata itu terlepas ia menyuarakan sendiri tandanya dan seringkali kita silang sengkarut dibuatnya Agus Buchori
Tips Berburu ”Sunrise” dan ”Sunset” TIDAK bisa dimungkiri, foto-foto dengan nuansa sunrise (matahari terbit) dan sunset (matahari tenggelam) seringkali mengundang decak kagum bagi yang melihatnya. Sunrise dan sunset memang merupakan salah satu moment terbaik untuk menghasilkan foto yang berkarakter kuat. Namun, memotret sunrise dan sunset bukanlah hal yang mudah. Berikut tips dan trik memotret sunrise dan sunset agar mendapatkan foto dengan hasil yang memuaskan. Syarat utama untuk mendapatkan foto sunrise dan sunset yang memuaskan, tentu saja kita sudah harus berada di lokasi pemotretan sebelum moment sunrise dan sunset itu tiba. Pastikan datang lebih awal sehingga Anda bisa mempersiapkan segala peralatan fotografi dengan matang. Pastikan kamera, lensa, tripod dan aksesoris lainnya sudah terpasang serta disetel dengan baik. Pastikan juga Anda sudah tahu dari titik sebelah mana akan melakukan pemotretan. Agar komposisi akhir foto keren, lakukan observasi tempat sebelumnya. Saat memotret sunrise dan sunset, gunakan mode manual dan ISO diatur serendah mungkin. Dengan ISO rendah, kualitas foto akan bagus. Selanjutnya, pilih aperture f/8 sampai f/16. Dengan bukaan yang relatif kecil, ruang tajam menjadi besar dan pemandangan yang luas bisa tajam semua, kemudian atur shutter speed sampai lightmeter jatuh di titik nol saat menekan setengah tombol shutter. Biasanya shutter speed akan jatuh lebih lambat dari satu detik sesaat sebelum matahari terbit. Idealnya mengunakan self-timer atau exposure delay supaya saat kita menekan tombol shutter, kamera tidak goyang dan hasil foto tajam. Saat memotret sunrise dan sunset, maksimalkanlah filter yang ada di kamera Anda. Jika Anda pengguna kamera DSLR, carilah fitur White balance Cloudy. Fitur ini akan membuat foto lebih hangat dan warna lebih kuning kecoklatan pada warna matahari. Di samping itu, gunakan pula mode metering spot untuk mendapatkan exposure yang tepat. Ingat, jangan hanya terpaku pada objek matahari semata. Anda harus melihat suasana sekeliling juga. Bisa jadi ada banyak sekali objek menarik yang akan memperindah foto sunrise dan sunset Anda. Prinsipnya, kreativitas tetap harus menjadi yang utama. Selamat berburu sunrise dan sunset! (ian)
Morning Activity karya Gede Agus Sunantara
Morning is Broken karya Gede Suweca Antara
Minggu Umanis, 4 Agustus 2019
BALI GLOBAL CLASSIFIED ADS
9
IKLAN MINI - IKLAN PELUANG EMAS
Sarana promosi, mempertahankan, memperluas pasar serta meningkatkan citra perusahaan, Paling efektif, mini biaya, maksimal hasilnya � Tarif iklan Mini/Baris
: Minggu s/d Jumat : Rp 49.500,- per baris, Sabtu : Rp 64.350,- per baris (30 character), minimum 2 baris, maksimum 10 baris (bayar dimuka), Adlibs Radio Global/Genta/Besakih Rp 50.000 (3 x siar) � Iklan Peluang Emas : Rp 795.000,- maksimum ukuran 1 kolom X 3 cm, 10 kali muat/bulan (bayar dimuka) tidak termasuk iklan lowongan/dijual/dikontrakkan rumah, tanah, ruko, mobil, dll. Tarif khusus 71 tahun Bali Post. Iklan mendesak untuk dimuat besok, diterima sampai pukul : 18.00 Wita � Materi iklan diserahkan berupa file dalam bentuk CD/Flashdisk dengan format: Coreldraw, Photoshop atau Iklan Anda di desain langsung di bagian iklan Bali Post, GRATIS! � BCA 040 - 2784847 A/n. PT Bali Post, BRI Denpasar 00170 - 1000320300 PT Bali Post
JOB VACANCY LOWONGAN KERJA Dcr Marketing pnglman min.2th, Tng Operasional,kend.sendiri, pnmpln mnarik.Gaji,Bns tinggi. Hub WA saja 085 738 562 009
B.BP.001.08.19.0000050
Dcr Pengirim & Sales Farmasi Min SMU,Jujur,Rajin,Ulet Hub:0361-484613WA:08165401713
B.BP.001.08.19.0000007
Dcr Terapist wanita pengalaman Canggu 08113804020
Dcr:FO,B.Boy,HK,Driver,Laundry Engineering,Scurity,Garden:new arenahotelkutabali@gmail.com B.BP.164.08.19.0000036
Dicari Kasir shift malam, pagi Gaji,Bonus,THR. Dapurku,Jl.WR Supratman No.275 depan SPBU Hub:081939084292 B.BP.001.08.19.0000019
Dicari Pemborong unt bangunan Lt.3 Luas 1100m2. 081339102188 B.BP.001.07.19.0000754
Dicari Sopir & Tukang Setrika utk Neo Laundry H.082144061718
Dicari:HK,Teknisi Listrik utk villa Seminyak. CV ke admin@balivillasrus.com. Jln.Sunset Road 125A,Seminyak
SERVICE
SERVICE
B.BP.004.07.19.0000904
B.BP.001.08.19.0000004
B.BP.031.08.19.0000048
Sgra Admin,Komp, L/P, P.Kawe 58. HP:081238226287 B.BP.004.07.19.0000947
Villa Seminyak Housekeeping pengalaman SMS 081999882123 B.BP.004.08.19.0000040
Dicari Markom pengalaman tidak diutamakan. Kirim CV ke iklanbp@yahoo.co.id telp. 081 802 411 818 G.01
DIJUAL MOBIL HONDA
Jual Mbl Jazz RS th 2013 Wrn.Pth Metik 082145717821
B.BP.004.08.19.0000047
BIRO JASA
PROPERTY DIJUAL RUMAH
Rmh Jl.Imambonjol Perum Mutiara,087860846839/081805531078 B.BP.164.08.19.0000035
Jl Rumah Kos2an 5K,LT 106m2,Jl Mataram Kuta 087888378445/WA B.BP.154.08.19.0000052
PROPERTY DIJUAL TANAH
3A bs ambil 1A Jl.Glogor Carik Gg.Kangguru No.2. 085101818655 B.BP.154.08.19.0000053
Informasi pasang iklan Telepon � Denpasar : (0361) 225764 (hunting) WA. 081802411818 e-mail:iklanbp@yahoo.co.id, iklan@balipost.co.id
10
Minggu Umanis, 4 Agustus 2019
Mendatar: 1. Disukai dan dikagumi 4. Nama depan calon presiden kira baru-baru ini 8. Ahli bangsa-bangsa 10. V a r i a n m o b i l H o n d a 11. Gas saraf ; Senyawa organofosfat sintetik yang sangat beracun. 12. Universitas Diponegoro 14. Lagi ; Sekali lagi 16. Dewan perwakilan rakyat 17. Obat kusta 18. Huruf 20. Tiga serangkai 24. Tolol ; Bodoh sekali 26. Komisaris polisi 30. Ini (Bali) 32. Yang tidak disebutkan namanya 33. Safir 35. Suram ; Muram 37. Cela ; Aib ; Tidak sempurna 38. Payung udara 39. Khayalan 40. Suami 41. Hal yang terlarang
Latihan Fisik untuk Diabetes Mellitus Tipe 2 DEWASA ini dunia sedang mengalami wabah penyakit baru, yaitu ketidakaktifan fisik (physical inactivity) yang sering diistilahkan sebagai sedentary lifestyle. Kondisi ini sejalan dengan perkembangan dan kemajuan teknologi yang memungkinkan manusia untuk beraktivitas seminimal mungkin. Berbagai penelitian menunjukkan bukti yang kuat bahwa ketidakaktifan fisik (physical inactivity) meningkatkan risiko berbagai penyakit, terutama non-communicable diseases seperti penyakit jantung koroner, stroke, diabetes tipe 2, kanker payudara dan kanker usus, dan berkorelasi terhadap perpendekan usia harapan hidup. Ketidakaktifan fisik menyebabkan 9 persen kematian dini, yakni 5.3 juta kematian dari total 57 juta kematian di seluruh dunia pada tahun 2008. Walau ketidakaktifan fisik tidak bisa sama sekali dieliminasi, tetapi dengan mengurangi ketidakaktifan fisik sekitar 10 persen hingga 25 persen saja akan dapat mengurangi risiko kematian sebanyak 533.000 hingga 1,3 juta setiap tahunnya. Diperkirakan bahwa dengan mengeliminasi inaktivitas fisik tubuh akan bisa meningkatkan harapan hidup manusia di dunia hingga 0.68 tahun (rentang antara 0.41-0.95 tahun). World Health Organization (WHO) mengkhawatirkan terjadinya peningkatan drastis kejadian obesitas dan diabetes tipe 2, salah satunya diakibatkan ketidakaktifan fisik (sedentary lifestyle). Obesitas
dan diabetes telah menjadi epidemi penyakit dunia, saat ini di seluruh dunia diperkirakan lebih dari 1,1 miliar orang dewasa mengalami kelebihan berat badan dan sekitar 312 juta di antaranya mengalami obesitas, akibatnya diperkirakan proposi masyarakat yang mengalami diabetes akan meningkat dari 171 juta menjadi 366 juta di tahun 2030. Kondisi obesitas dan diabetes di Indonesia pun tergolong memprihatinkan, data International Diabates Federation (IDF) menunjukkan, jumlah penyandang diabetes di Indonesia diperkirakan sebesar 8,5 juta pada tahun 2013 dan menempati urutan ketujuh tertinggi di dunia. Pada penyakit Diabetes Mellitus Tipe 2 (DM2) diawali terjadinya resistensi insulin atau penurunan sensitifitas insulin jaringan, ini erat kaitannya dengan penurunan kapasitas fungsional mitokondria. Berbagai penelitian menemukan bukti kuat hubungan latihan fisik terhadap pencegahan maupun penanganan DM2, hal ini terutama diakibatkan rangsangan latihan fisik pada biogenesis mitokondria dan peningkatan kapsitas oksidatif mitokondrian di otot rangka. Otot rangka sendiri berperanan pada 80-90 persen jaringan sensitif insulin, dan
mempengaruhi sekitar 50 persen dari laju metabolism basal. American Diabetes Association (ADA), American Heart Association (AHA) dan American College of Sports Medicine (ACSM) telah memberikan rekomendasi pada pasien DM2 untuk melakukan latihan fisik aerobik paling tidak 150 menit per minggu, dikombinasikan dengan latihan fisik pengencangan otot (resistance exercise) tiga kali per minggu dengan intersitas moderat. Kombinasi latihan fisik aerobik dan resistance exercise secara klinis telah terbukti lebih efektif dalam pencegahan maupun penanganan DM2. Dari beberapa penelitian awal yang kami lakukan pada lansia penderita DM2 di wilayah kota Denpasar, didapatkan kombinasi latihan pengencangan otot (resistance exercise) dengan latihan senam lansia (aerobic exercise), lebih efektif dalam mengendalikan gula darah pasien dibandingkan latihan senam lansia saja. Aktifitas tersebut dilakukan 3-4 kali setiap minggu dengan durasi latihan pengencangan otot selama 15-20 menit, diikuti latihan senam lansia 40-45 menit. Latihan fisik begitu besar manfaatnya bagi kesehatan tubuh, baik sebagai pencegahan penyakit maupun sebagai pengobatan penyakit, bahkan sebagai rehabilitasi pascasakit. Sayangnya latihan fisik hanya bisa bermanfaat dengan optimal apabila dilakukan dengan benar, karena ia tidak bisa dikapsulkan mau-
BKSDA Aceh Lepas Liarkan Tiga Satwa Dilindungi PETUGAS Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh melepasliarkan tiga jenis satwa liar yang dilindungi Undang Undang di kawasan hutan Kabupaten Aceh Besar. Ke tiga satwa liar tersebut jenis Kukang (Nycticebus coucang), burung Elang Dada Putih (Haliaeetus leucagoster), dan Beruk (Macaca nemestrina), yang dinilai sudah layak untuk dilakukan pelepasliaran dengan segera. “Ketiga ekor satwa ini sudah dewasa, sudah menunjukkan tanda liar, sehat, lincah, atau aktif dan tidak cacat sehingga dinilai layak dan bisa bertahan hidup mencari serta mudah menemui makan di hutan,” kata Koordinator Perawatan Satwa dari BKSDA Aceh Taing Lubis di Aceh Besar, pekan ini. Ia menjelaskan, Kukang
dan Elang Dada Putih merupakan satwa dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.106 tahun 2018 tentang jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi. Sebelum dilepasliarkan, satwa tersebut mendapat rehabilitasi secara bervariasi, ada yang membutuhkan waktu satu bulan bahkan ada yang lima bulan. Sementara Kukang yang dilepasliarkan itu sudah berumur sekitar satu tahun. Dan sebelumnya ditemukan warga di kawasan Blang Bintang Aceh Besar. “Kemudian diserahkan ke BKSDA, lalu kita rawat. Kita lihat kondisinya baik setelah menjalani perawatan kita putuskan untuk secepatnya dilepasliar. Saat dilepasliar-
kan kukang sangat aktif, begitu kita letakkan langsung beradaptasi di pohon,” ungkap Taing. Kemudian Elang Dada Putih sebelumnya juga berada di tangan masyarakat, bahkan sempat dipelihara dan dipotong kukunya. Namun kini kuku dan bulu elang tersebut sudah tumbuh panjang kembali. “Kita lihat dia (elang) sudah berbagai macam terbang di kandang, sudah tidak sanggup lagi tinggal di kandang jadi kita putuskan untuk lepas liar,” ungkap Taing. BKSDA Aceh melepasliarkan satwa liar tersebut bersama Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Lamjabat, yang juga konsen dalam mengawasi pelepasliaran satwa dilindungi Undangundang. (ant)
Menurun: 1. Musik pendahuluan sebelum nyanyian yang sebenarnya 2. Pantai utara 3. Pengikisan oleh air 5. Salah satu instrumen dalam gambelan bali 6. Kota besar dari Negara bagian Florida, AS. 7. Pihak penentang yang mengkritik kebijakan pihak yang berkuasa 9. Pintu gerbang 10. Perih dan sakit di kulit (Bali) 13. Daerah aliran sungai 15. Buluh atau bambu 19. Jajan 21. Organisasi buruh internasional 22. Cekung 23. Kutuk ; Sumpah 24. Kota suci hindu yang terletak di tepi sungai gangga 25. Bola masuk gawang 27. Penyakit ditularkan oleh kutu tikus 28. “Chorando Se Foi” 29. Alat pemotong 31. Pengikut/pemeluk suatu agama 34. Referensi 36. Yang paling penting ; Terbaik pun disuntikan, juga tidak cukup hanya diniatkan saja. Latihan fisik bukan sekadar hobi maupun kesenangan, tapi adalah kebutuhan hidup agar bisa tetap sehat, dan karena itu latihan fisik bukan sekadar aktifitas waktu luang, tapi meluangkan waktu untuk beraktifitas. Untuk mengubah paradigm lama tentang latihan fisik tentu tidak dengan mudah, diperlukan perubahan pola dan gaya hidup atau sering dikenal sebagai lifestyle changing. Dunia kedokteran saat ini sudah menyadari pentingnya mengubah gaya hidup hingga di tahun 2000-an muncul kelompok dokter yang menamai dirinya “Lifestyle Medicine”, yang menitikberatkan perbaikan pola dan gaya hidup, yaitu dalam bidang nutrisi/ diet, latihan fisik, manajemen stress dan penanganan penyalahgunaan obat dan zat adiktif. Pentingnya pemahaman akan Lifestyle Medicine dalam
Ketentuan Menjawab Jawaban ditulis pada kertas dan masukan ke dalam amplop serta tempelkan guntingan kupon TTS No. 409 dan cantumkan identitas lengkap serta nomor telepon/ HP. Kirim ke Sekretariat Redaksi Bali Post Jl. Kepundung 67 A Denpasar 80232, paling lambat Sabtu 10 Agustus 2019. Pemenang diumumkan pada Koran Bali Post Minggu 18 Agustus 2019. Hadiah disediakan untuk 5 (lima) pemenang (@Rp.200.000,-) dan 1 (satu) tiket masuk Bali Zoo untuk keluarga (2 dewasa + 2 anak). Tiket langsung diambil ke Bali Zoo, Singapadu, Gianyar. Pemenang di Denpasar, Badung, Tabanan dan Gianyar agar mengambil hadiahnya langsung ke kantor Bali Post tiap hari kerja dengan memperlihatkan identitas diri. Hadiah untuk pemenang di luar daerah tersebut akan dikirim lewat pos. Jawaban TTS No. 407 Mendatar: 1. PATRIOTIK 5. ARNAL 8. REL 9. SPONGE 12. ORGEL 13. ROKER 15. ODAH 16. BNO (Blass Nier Overzicht) 17. ANTAN 19. NYI 21. HAID 22. ETNA 23. SAR 25. BTW 27. ISI 28. RUM 29. ADA 30. ABK 32. KIA
34. ADM 36. UNRI 37. UBEK 38. NUH 40. INSAN 43. KAO 44. IMAN 45. ISTAL 47. EKSIS 48. CEMETI 50. TKI 51. ASTRA 52. PRAMBANAN Menurun: 1. PATRUN 2. RASE 3. OJO 4. KREDO 5. ALOHA
masyarakat menjadi dasar bagi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Warmadewa untuk mengadakan seminar kesehatan bertajuk Warmadewa Global Health Conference 2019 dengan Lifestyle Medicine menjadi salah satu topik utamanya. Dalam seminar ini akan dibahas mengenai latihan fisik, kesehatan mental, penyakit infeksi dan herbal medicine. Seminar ini akan diadakan pada tanggal 1314 September 2019 di Ruang Widya Sabha Utama, Gedung Rektorat Universitas Warmadewa, Jalan Terompong no. 24 Denpasar. Info lebih lengkap dan registrasi dapat dilakukan melalui http://wghc2019.confcircle. org dan email: ghcwarmadewa@gmail.com Dr. Tanjung Subrata, MRepro. Dosen di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Unviersitas Warmadewa
6. NUGAT 7. LELONTEK 10. PRAHARA 11. GONDA 14. KRITIK 16. BISMA 18. NOT 20. YES 24. RAMBO 25. BAUKSIT 26. WARNET 27. ISTIMEWA 31. BIU 33. INA 35. DUANE 39. HALUAN 41. SUSUT 42. NISTA 43. KACIP 46. SITA 49. EAM
Pemenang TTS No. 407 1. I Putu Umbara Yasa Br.Ketapang, Desa Lelateng, Kec.Negara, Kab.Jembrana (HP:081-339-493-XXX) 2. Ni Wayan Juni Arsini Jl.Raya Denpasar – Gilimanuk. No.85, Desa Lalang Linggah, Kec.Selemadeg Barat, Kab.Tabanan (Hp:081-933-104-XXX) 3. Ni Wayan Suryani Jl.Tukad Campuan, Sukawati, Kab.Gianyar (HP:085-792-442-XXX) 4. Ni Ketut Yuliani Jl.Raya Jimbaran No.A38, Kec.Kuta Selatan, Kab.Badung (Hp:081-999-837-XXX) 5. Nengah Vico Br.Beluhu Kauh, Desa Tulamben, Kec.Kubu, Kab.Karangasem (Hp:081-999-744-XXX) 1 (satu) pemenang mendapatkan tiket masuk Bali Zoo. Tiket bisa langsung diambil ke Bali Zoo, Singapadu, Gianyar. Nama : I Nengah Punia Alamat : Jl.Badak Agung I No.3, Renon Denpasar (Hp:081-805-559-XXX)
Minggu Umanis, 4 Agustus 2019
Sangat Merah
BPM/ant
GEMPA - Warga mengumpulkan puing-puing rumahnya yang rusak akibat diguncang gempa di Pandeglang, Banten, Sabtu (3/8) kemarin.
Tanggung Jawab ”Pecalang Istri” Perlu Dipilah
ADANYA pecalang istri saat pujawali di Pura Luhur Batukaru disambut positif oleh perempuan Tabanan. Hanya, jika hendak diterapkan dalam kehidupan beragama dan berbudaya, tugas dan tanggung jawab pecalang istri ini harus dipilah sehingga tidak mengganggu ayah-ayahan atau tugasnya yang lain. Salah satu tokoh warga Penebel, Ni Made Dewi Trisnayanti, mengatakan, adanya pecalang istri di Pura Luhur Batukaru saat pujawali merupakan hal yang positif. Dalam artian, saat memberikan teguran atau
menyampaikan aturan terutama pada perempuan dan anak-anak, bisa menggunakan pendekatan yang lebih lembut. Terlebih sekarang ini dengan pengaruh modernisasi, pakem berbusana saat ke Pura khususnya pada pamedek perempuan mulai sedikit menyimpang. “Dengan adanya pecalang istri tentu bisa langsung memberikan teguran dengan lebih keibuan. Sehingga pakem berbusana kebaya saat bersembahyang ke Pura tidak menyimpang,” ujarnya. Meski positif lanjut Dewi, jika memang pecalang istri ini diterapkan di seluruh Ta-
banan diharapkan tugasnya dipilah. Contohnya berjaga saat pujawali saja. Sebab, menurut Dewi, perempuan Bali masih memiliki tugas ayah-ayahan lain. “Jadi, janganlah semua tanggung jawab pecalang diberikan. Harus dipilah,” ujarnya. Hal yang sama juga dipaparkan Ketua Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Bantas Lestari, Nyoman Sarasmini. Ia menyambut positif adaya pecalang istri dalam konteks menjaga ketertiban saat ada pujawali. ‘’Sebab, cara berpakaian perempuan Bali saat sembahyang ke Pura saat ini
Haknya Diatur Namun, munculnya pecalang istri juga tak boleh dilarang. Itu hak semua warga negara. Tingga haknya diatur harus sama dengan pecalang laki-laki. Budayawan yang juga Rektor IKIP PGRI Bali, Dr. I Made Suarta, S.H., M.Hum., mengatakan, kehadiran pecalang istri benar-benar fenomenal di masyarakat Bali. Namun, dia ingatkan posisinya bukan lantaran karena terpaksa, melainkan karena memang keperluan di lapangan yang menghendaki demikian. Makanya, dia ingin pecalang istri yang sudah rela meninggalkan tugas hariannya sebagai ibu rumah tangga juga diperhitungkan hak-hak istimewanya. Seperti hansip yang bebas dari leluputan (pengeluaran) banjar dan desa adat. Bahkan, hak pecalang istri istimewa lagi. Misalnya dibebaskan dari segala jenis iuran banjar desa dan pajak daerah. Selain bebas dari segala jenis peson-peson, bila perlu pecalang istri
diberikan honor oleh desa atau banjar atau pihak yang memanfaatkan. Yang penting lagi, kata pemain arja laki ini, ketika rahinan gumi yang memerlukan kehadiran seorang ibu rumah tangga, mereka juga diberikan hak istimewa tidak harus hadir di acara yang diperlukan. Ini baru namanya menghargai seorang perempuan Bali, kata Made Suarta tokoh masyarakat Sesetan ini. Pengamat budaya Drs. IGB Arthanegara, S.H., M.H., M.Pd. sependapat pecalang istri tak perlu dipro-kontrakan. Mereka wajar hadir ketika ada permasalahan yang melibatkan wanita. Misalnya sangat lebih etis jika pecalang wanita yang diberikan tugas untuk mengatur krama istri. Bahkan dalam beberapa hal, pecalang istri jauh lebih jernih berpikir dalam mengambil sebuah keputusan. Bagi tokoh masyarakat Nyelati, Badung ini, pecalang istri harus ditempatkan sesuai dengan posisinya. Toh di dunia ini juga ada polisi wanita, mengapa mereka (pecalang istri) tak
boleh hadir. Kedua, banyak masalah pengamanan memerlukan tangan halus pecalang wanita. Makanya, kata dia, mari kita sambut mereka sebagai pahlawan yang mau mengorbankan pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga. ‘’Hak–hak istimewa patut mereka terima, bahkan lebih baik KK miskin dientaskan dengan cara menjadi pecalang istri,’’ tegasnya. Guru Ajeg Bali, Drs. I Gusti Suwela, justru menilai berbeda. Sekalipun di dunia hamkamnas ada polisi wanita, namun bagi dia kehadiran pecalang istri di Bali belum pada saatnya. Kalaupun ‘’dipaksakan’’ hanya tepat mereka dilibatkan untuk mengatasi masalah perselingkuhan. Saat pengerebekan di TKP pada kasus perselingkuhan atau mamitra ngalang memerlukan kehadiran pecalang istri. ‘’Kami nilai belum saatnya pecalang wanita hadir jika tugas dan perannya sama dengan pecalang laki-laki. Kalau hanya menegur pamedek wanita agar berpakaian sopan, tak masalah,’’ tegasnya. (sue)
Minggu, 4 Agustus 2019 0 5:00 Wita Gayatri Mantra 05:52 Wita Mars Indonesia Raya 05:54 Wita Mars Bali Jagadhita 05:56 Wita Lagu Ngastitiang Bali 06:00 Wita Puja Trisandya 06:05 Wita Dharma Wacana Upacara Manusa Yadnya dan Pitra Yadnya (2) 06:35 Wita Bali Channel Tourist TV 07:00 Wita Klip Anak 07:35 Wita Sehat & Bugar Aerobik Mix 08:00 Wita Seputar Bali Pagi Akhir Pekan 09:00 Wita Seputar Bali Terkini 09:05 Wita Kartun Adi Parwa (1) 09:30 Wita Belajar Menggambar Menggambar Art
10:00 Wita 10:05 Wita 10:30 Wita 11:00 Wita 11:05 Wita 11:30 Wita 12:00 Wita 12:05 Wita 12:30 Wita 13:00 Wita 13:30 Wita 14:30 Wita 15:30 Wita 16:00 Wita
Paper Jerapah Seputar Bali Terkini Bali Channel Tourist TV Ocydia Home Shopping Seputar Bali Terkini Bali Channel Tourist TV DW TV Puja Trisandya Dharma Wacana Upacara Manusa Yadnya dan Pitra Yadnya (3) Ocydia Home Shopping Wirasa Peduli Sesama Lejel Homeshopping Tembang Bali Bali Channel Tourist TV Seputar Bali Terkini
16:05 Wita 17:00 Wita 17:30 Wita 18:00 Wita 18:05 Wita 19:30 Wita 20:00 Wita 21:00 Wita 22:00 Wita 22:05 Wita 23:00 Wita 23:05 Wita 23:30 Wita
Lila Cita Sanggar Tari Bali Kundalini Jimbaran (1) Inovator Ocydia Home Shopping Puja Trisandya Seputar Bali Malam Kris Samatra Artis Bali Trio Srikandi Indi Band Generation Elina Dewi Seputar Bali Terkini Lila Cita Calonarang Denkayu, Madri Pralaya (5) Seputar Bali Terkini Ocydia Home Shopping Folk Song
sudah mulai agak menyimpang dari pakem. Dengan adanya pecalang istri bisa ditegur dengan lebih luwes,’’ ujarnya. Jika nantinya pecalang perempuan diterapkan di daerah lain menurut Sarasmini tentu harus ada sosialisasi terlebih dahulu sehingga para perempuan siap menjalankan tugasnya ke depan. ‘’Namanya tugas ngayah, tentu harus disiapkan terlebih dahulu,’’ paparnya. (san)
‘’Mungkin kalau kita melihat ke dunia, itu kelihatan bahwa Indonesia itu sangat merah dibandingkan dengan yang lain. Jepang, misalnya merah juga, Filipina saya pikir merah juga. California itu merah juga karena di situ ada zona San Andreas Fault yang besar dan bergerak sangat cepat,” tegasnya. Perbandingan Indonesia dengan bagian lain dunia dilakukan dengan menggunakan global seismic hazard atau bahaya seismik global. Danny menjelaskan zonasi seismic hazard dia representasikan adalah potensi guncangan gempanya, yang direpresentasikan dengan nilai percepatan gravitasi, G, makin tinggi yah makin banyak guncangannya. “Nilai G lebih dari 5 menjadi merah. Nilai 3 dengan 5, kuning. Yang ada di bawahnya hijau biru dan sebagainya. Itu kelihatan bahwa Indonesia itu sangat
merah dibandingkan dengan yang lain,” ujar Danny. Ilmuawan lain memaparkan panen gempa terjadi di seluruh dunia, terutama di daerah tropis. Peningkatan frekuensi guncangan sendiri diyakini terjadi karena perubahan kecepatan rotasi bumi. Padahal perubahan rotasi ini mungkin tak terlalu terasa oleh manusia. Sebab, perubahan rotasi ini sangat kecil, mengubah panjang waktu dalam sehari dalam hitungan mili detik. Hubungan erat antara meningkatnya magnitude guncangan dan aktivitas seismik bumi dengan kecepatan rotasi bumi diteliti oleh Roger Bilham of the University of Colorado dan Rebecca Bendick of the University of Montana. Meski tak tahu persis mengapa mereka berhubungan, ilmuwan ini menduga bahwa perubahan pada perilaku inti bumi adalah alasannya. Ilmuwan telah merekam seluruh gempa bumi dengan magnitude 7 Skala Richter
Pakaian Poleng Sama halnya dengan pecalang laki-laki. Terlebih jika ada tata cara pada halhal tertentu yang memang harus sama. Misalnya dari segi pakaian, bisa disesuaikan karena pecalang sudah lekat dengan image pakaian poleng. “Keberadaan pecalang istri juga bagian dari kesetaraan gender,” imbuhnya. Berkaitan dengan tugas
pecalang istri untuk menertibkan dan membina tata cara berpakaian adat ke pura yang sopan, selama ini pun Putri Suastini Koster juga concern dengan hal itu. Salah satunya memanfaatkan momen seperti Pesta Kesenian Bali (PKB) XLI beberapa waktu lalu, agar sekaligus bisa dijadikan panutan untuk hal-hal tertentu seperti dalam berbusana atau tata bahasa. Sebagai contoh, Ketua Dekranasda Provinsi Bali ini sering
atau lebih besar sejak 1900. Mereka menemukan bahwa gempa lebih sering terjadi ketika kecepatan rotasi bumi berubah. “Perputaran bumi memang sedikit berubah, kadang-kadang hanya dalam hitungan milidetik. Itu bisa diukur dengan sangat akurat oleh jam atom,” kata Bilham seperti dilaporkan The Guardian. Sayangnya, sulit untuk memprediksi di mana gempa akan terjadi. Kendati demikian, Bilham mengatakan bahwa mereka menemukan sebagian besar gempa bumi akan terjadi di dekat katulistiwa. Namun, para ahli dari Selandia Baru telah menentang pandangan ilmuwan Amerika tersebut. Dr. Virginia Toy dan dosen geologi tektonik lain dari Universitas Canterbury, Dr. Tim Stah, mengatakan bahwa terlalu dini untuk mencapai sebuah kesimpulan tanpa pengujian tambahan yang dilakukan oleh kelompok penelitian lain. (kmb)
kali bingung melihat payas agung yang mestinya untuk acara pernikahan malah dipakai oleh MC. Padahal filosofi riasan tersebut sangat agung. Tatanan ini harus dikembalikan sehingga ada perbedaan antara busana atau riasan untuk sendratari, teater atau kegiatan keagamaan. “Ayo kita buktikan, di mana pun tugas kita, apa pun, lakukan tanggung jawab dengan baik,” pesannya kepada para pecalang istri. (rin)
Bertindak Cepat Selain itu, para pecalang yang juga disebut jagabhaya ini juga dituntut dapat bertindak cepat dan tepat apabila ada situasi urgen, seperti kriminalitas di desa, bencana alam, dan hal lainnya yang dipandang perlu ditangani perangkat adat yang eksis di Bali ini. Tanpa mendikotomi gender, dikatakan tidak heran tugas-tugas pecalang kebanyakan diemban oleh kaum laki-laki di desa adat, mengingat kompleksitas permasalahan yang menjadi tanggung jawabnya. Di sisi lain, krama istri di desa adat telah mempunyai tugas yang paten dalam rutinitas adatnya seperti sebagai srathi upakara, pengayah dapur umum, dan kepengayahan lain yang sangat vital diperankan
oleh krama istri. Bahkan, pembagian tugas ngayah ini telah berpuluh-puluh bahkan ratusan tahun dilaksanakan oleh krama adat di Bali sesuai porsi dan fungsi desa mewacara di masingmasing desa adat. Terkait dengan dibentuknya pecalang istri di sebuah desa di Tabanan, menurutnya harus dikembalikan lagi ke desa adat bersangkutan, apakah benar-benar urgen diperlukan oleh mereka, apalagi telah diputuskan dalam parum desa adat kaitannya dengan karya di Pura Sad Kahyangan. “Saya kira telah melalui pertimbangan matang oleh para prajuru adat di sana dan bersifat temporer. Kalaupun memang diperlukan mendesak tentu desa adat telah memikirkan dampak ke depannya,” ujar Dwija Suastana Sabtu (3/8) kemarin.
Pecalang istri yang dibentuk untuk ditugaskan di Pura Khayangan Batukaru tersebut sebenarnya baru pertama kali. “Jadi, ini baru pertama kali, tugas perdananya saat pujawali di Pura Batukaru,” jelasnya. Menurut Sucipto, tugas pecalang istri menegur pamedek yang berpakaian tidak patut. Contohnya, tidak boleh pamedek memakai kamen jadi yang belahannya sampai kelihatan paha. Tidak boleh memakai baju kebaya lengan pendek, selendang tidak boleh digunakan di bahu serta rambut pamedek tidak boleh magambahan (terurai). Minimal harus diikat dengan rapi atau memakai sanggul. “Pada prinsipnya, kami ingin mengembalikan budaya adat Bali yang sesungguhnya. Jadi, kalau
ada yang berpakaian tidak patut itu akan ditegur oleh pecalang istri kita. Selama pujawali kemarin, banyak pamedek yang ditegur, diharapkan pujawali berikutnya tak mengulangi lagi,” ujarnya seraya mengatakan, pecalang istri ini juga bertugas pada saat pujawali dan Karya Agung di Pura Batukaru 2020 mendatang. Ciri khas pecalang perempuan ini juga terlihat dari pakaian yang dikenakan. Yakni kebaya warna putih, di pinggir kebaya ada warna poleng (hitam putih), kamen hitam di depanya berisi warna poleng, selendang warna poleng dan berisi tulisan pecalang di bagian belakang dan dilengkapi nametage. Sucipto menambahkan sampai saat ini keberadaan pecalang perempuan ini belum dikukuhkan dan rencananya akan diberikan
Ketua Divisi Strategik dan Urgen Paiketan Krama Bali ini mengatakan, persamaan gender dalam melakukan dharma di desa adat hendaknya disikapi secara bijak tanpa perlu digeneralisasi. Desa pakraman yang lain tidak perlu latah ikutikutan meniru. Pihaknya menilai, pembentukan pecalang istri tersebut mungkin bersifat lokal sesuai keperluan sesaat. Secara kodrati, tentu kembali lagi kesanggupan krama istri di sana memikul beban tambahan sebagai pecalang plus rutinitas kerumahtanggaan lainnya. “Aktivitas ngayah apa pun bentuknya hendaknya membuat krama Hindu Bali bahagia bukan membebani,” ujarnya. Sesuai dengan semangat Perda nomor 4 tahun 2019 tentang Desa Adat, para pemangku kepent-
Pertama Kali
pelatihan dengan menggandeng Polres Tabanan untuk diberikan pembekalan. “Rencana kami akan mengundang Polres agar dalam bertugas pecalang kami lebih baik dan mengerti tugas-tugas pokok pecalang,” terangnya. Menurut salah satu pecalang istri, Ni Made Yuni Suastini, pembentukan pecalang istri ini baru pertama kali. Dia pun menyambut baik keberadaan pecalang istri tersebut. “Ini baru pertama kali, saya merasa senang bertugas,” ujarnya. Ia mengakui saat bertugas masih banyak menemukan pamedek yang belum menggunakan pakaian tidak patut. Khususnya para remaja yang rambutnya kurang rapi. Ada pula yang selendangnya digunakan syal. “Setelah kami tegur mereka kemudian merapikan rambutnya dan mengi-
ingan di kabupaten/kota hendaknya mulai menyiapkan diri bagaimana memaksimalkan potensi pecalang yang sudah ada. Misalnya dengan dibuatkan dan dianggarkan programprogram pelatihan guna meningkatkan kompetensi pecalang desa adat dalam hal pelatihan penanganan bencana alam, bela diri sebagai jagabhaya desa, penanganan kebakaran, antisipasi dini bahaya narkoba, serta pelatihan pengaturan lalu lintas bersama pihak kepolisian dan pihak-pihak terkait lainnya. “Hal-hal riil ini saya kira lebih relevan dan urgen dibuatkan blue print-nya oleh para pimpinan daerah ketimbang program populis yang tidak relevan dengan mobilitas masyarakat Bali yang harus berpacu dengan kemajuan zaman,” ujarnya. (win)
katnya. Sehingga kelihatan rapi kembali,” jelasnya. Terkait keberadaan pecalang istri, Ketua Majelis Madya Tabanan I Wayan Tontra menyambut baik hal tersebut. Pasalnya, menurut cerita dulu sempat ada pecalang istri di Pura Batukaru, namun tidak berjalan. “Desa Adat bisa mengembangkan dirinya secara positif. Sejarahnya dulu memang ada, dan sekarang ada kembali saya berterima kasih kepada para pemrakasa,” ujarnya. Dia pun menyebutkan untuk di Tabanan sendiri baru pertama kali diketahui ada di Pura Batukau. Sementara untuk daerah lain dia sendiri belum mengetahui. “Saya mendukung, tidak ada larangan sepanjang Desa Pakraman bisa menerima, itu boleh,” ucap Tontra yang juga Ketua PHDI Kabupaten Tabanan. (bit)
balipost http://facebook.com/balipost
@balipostcom http://twitter.com/balipostcom
@balipost_com http://instagram.com/balipostcom
Minggu Umanis, 4 Agustus 2019
Hasil Muskablub Ditembuskan ke PBTI Mangupura (Bali Post)Hasil Muskablub Pengkab Taekwondo Indonesia (TI) Badung yang memunculkan nama Ketua Umum Ni Putu Yeni Ekawati telah ditembuskan ke PBTI. Bahkan jajaran pengurus TI Badung telah memohon rekomendasi dari KONI Badung, dan hingga kini ditunggu surat rekomendasinya. Ketua Umum Pengkab TI Badung masa bakti 2019-2023 Ni Putu Yeni Ekawati, Kamis (1/8) lalu menambahkan, dalam waktu dekat ini insan taekwondo masih berkonsentrasi pada pelaksanaan Porprov Bali di Tabanan. Selanjutnya, Pengkab TI Badung juga berniat menyusun program seperti Ujian Kenaikan Tingkat (UKT). “Namun saat ini masyarakat Bali masih fokus merayakan Hari Raya Kuningan,” jelas Yeni. Sementara, Wakil Ketua II Pengkab TI Badung Ade Iwan Setiawan menjelaskan, jajaran pengurus ke KONI Badung di terima pengurus Agung Rawat. Iwan Setiawan yang juga juru bicara 14 dojang pendukung Yeni Ekawati, menggaris bawahi intinya skuad Porprov Badung tetap dipertahankan. Bahkan, Iwan optimis tim Taekwondo Badung kembali mempertahankan gelar juara umum pada hajatan multievent dua tahunan antarkabupaten dan kota se-Bali, yang dihelat di Tabanan pada September nanti. “Permasalahan ini hanya sebatas organisasi bukan bertujuan mematikan karier atlet atau membinasakan. Apalagi terdapat banyak atlet unggulan yang tersebar pada 14 dojang ini,” tandas Iwan. (022)
Ade Iwan Setiawan
BPM/ist
Messi Dilarang Tampil Tiga Bulan oleh CONMEBOL
Asuncion-
Bintang Argentina Lionel Messi dilarang membela tim nasionalnya selama tiga bulan, dan dijatuhi denda 50.000 dolar AS, Jumat waktu setempat, oleh badan sepak bola Amerika Selatan CONMEBOL setelah mengkritik keras CONMEBOl pada Copa America lalu. Pemain Barcelona berusia 32 tahun itu menuduh CONMEBOL korupsi setelah ia dikartumerah wasit saat melawan Chile pada pertandingan perebutan tempat ketiga di Brazil, bulan lalu. Messi dibuat marah oleh dua insiden selama Copa berlangsung di Brazil. Argentina tidak mendapat klaim dua penaltinya saat kalah 0-2 melawan Brazil pada semifinal Copa America yang mendorong Messi mengeluarkan pernyataan bahwa Brazil telah diskenariokan juara Copa 2019 oleh CONMEBOL. Ketika diusir ke luar lapangan saat Argentina menang 2-1 melawan Chile, Messi tak bisa lagi menahan amarahnya. “Korupsi dan wasit
telah menghalangi orang menikmati sepak bola dan kedua hal itu agak merusak sepak bola,” kata Messi waktu itu, seperti dilansir AFP. Pernyataan CONMEBOL dalam laman web-nya tidak menyebutkan alasan Messi dihukum dengan cuma merujuk pasal 7.1 dan 7.2 aturan disiplin. Salah satu klausa merujuk kepada “perilaku hinaan dan ofensif atau membuat protes fitnah dalam bentuk apa pun.” Larangan ini membuat Messi hanya absen pada be-
berapa pertandingan persahabatan yang dijalani Argentina, tapi tidak sampai absen pada pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2022 di Qatar, mulai Maret tahun depan. Argentina menghadapi dua pertandingan persahabatan di Amerika Serikat bulan depan melawan Chile dan Meksiko, lalu Oktober melawan tuan rumah Jerman. Messi terpaksa absen pada tiga pertandingan itu, dan baru bisa membela timnas lagi November mendatang. (afp/ant)
Tiga Tim Besar Ikuti Tournament Sepakbola Trofeo TRR CUP KU-35 2019 Amlapura (Bali Post)Tiga klub sepak bola yang memiliki nama besar bakal ikut ambil bagian dalam Tournament Sepak Bola Trofeo Cup KU-35 2019 yang bakal berlangsung di Lapangan Umum Werdhi Yowana Rendang, Karangasem, Minggu (4/8) sore ini. Kejuaraan ini digember serangkaian HUT Tunas Remaja Rendang (TRR) 2019. Ketua Umum TRR Rendang I Putu Eka Antoni Sukma Jaya di dampingi pembina I Nengah Subangsawan, Sabtu (3/8) kemarin mengungkapkan, Tournament Sepakbola Trofeo TRR Cup 2019 ini digelar dalam rangka memperingati HUT TRR Rendang 2019. Kata dia, sebelum digelarnya Tournamen Trofeo CUP KU35 ini, lebih dulu telah dilaksanakan Tournament SSB KU-12 pada Minggu (28/7) lalu. “Untuk Puncak HUT akan dilaksanakan pada 11 Agustus. Pada puncak acara digelar sejumlah hiburan rakyat sekaligus penyerahan piala kepada para juara untuk KU12 termasuk para juara trofeo KU-35,” ujarnya Putu Antoni. Putu Antoni menambahkan, untuk peserta Tournament TRR Cup KU-35 diikuti tim-tim yang memiliki nama besar seperti Legend Mitra Devata, Karangasem All Star, dan tuan rumah TRR sendiri. Dimana trofeo ini diyakini bakal berlangsung seru.
Pasalnya, tim Legend Mitra Devata merupakan tim yang dihuni mantan-mantan pemain profesional yang sempat membela klub-klub besar di Liga Indonesia. Jadi, dengan terlibatnya pemain seperti Komang Mariawan eks Persikota, IB Mahayasa, I Wayan Sukadana eks Gelora Dewata, Gangga Mudana eks Persija Jakarta bakal memberikan pengalaman dan ilmu bagi pemain untuk bisa memberikan perlawanan dilapangan hijau. “Kami harap semua tim yang berpartisifasi termasuk tuan rumah TRR Rendang bisa tampal semaksimal mungkin. Khusus untuk pemain TRR bisa mencari ilmu dari mantan pemain-pemain dari tim yang berlaga. Karena lewat tournament ini, pemainpemain TRR bisa terus mengasah kemampuan untuk nantinya mengikuti kompetisi. Kita harap warga bisa datang kelapangan untuk menyaksikan tournament ini, sehingga bisa memberikan hiburan kepada masyarakat Rendang,” katanya. Dia menjelaskan, tournament yang diselenggarakan ini bukan semata-mata hanya untuk sepak bola saja. Karena selain bertujuan untuk membangkitkan persepakbolaan di Kecamatan Rendang, melakukan reunian dan silahturahmi dengan para pemain, tapi kegiatan ini juga mengusung misi kemanusian
BPM/kmb41
SIAP - Tim Karangasem Legend Mitra Devata yang di huni para pemain eks Liga Indonesia Ikut ambil bagian dalam Tournament Sepakbola Trofeo Cup KU-35 2019 yang bakal berlangsung di Lapangan Umum Werdhi Yowana Rendang, Karangasem, Minggu (4/8) sore ini. yakni memberikan sejumlah bantuan kepada warga kurang mampu. “Kita harap kegiatan yang dilaksanakan bisa berjalan dengan lancar. Dan kita juga berharap kegiatan ini tidak berhenti sampai di sini. Tapi, bisa menjadi agenda rutin yang terus dapat dilaksanakan setiap tahunnya,” jelas Putu Antoni. Sementara pelatih tim
Karangasem All Star, Koming Sudiarta mengakui kalau timnya sudah siap untuk mengikuti tournament nanti. Kata dia, sebelum tampil pihaknya sudah mempersiapkan tim lewat beberapa kali uji coba dengan tim di Karangasem. Sebab, tim yang ikut berpartisifasi merupakan tim memiliki nama besar. Terlebih Legend Mitra Devata dihuni
para pemain eks klub-klub Liga Indonesia. “Tim sudah siap berpartisifasi dalam tournament nanti. Kita minta semua pemain tampil lepas tanpa beban di lapangan. Ini kesempatan bagus bagi para pemain untuk menimba ilmu serta menambah pengalaman bermain lewat pemainpemain profesional,” kata Sudiarta. (kmb41)
Sepak Bola dan Futsal Tabanan Uji Coba ke Banyuwangi
Tim Futsal Porprov Tabanan
BPM/ist
Tabanan (Bali Post)Tim Porprov sepak bola dan futsal Tabanan telah melakukan try out ke Banyuwangi pada Juli lalu. Alhasil, tim sepak bola Porprov Tabanan dikalahkan tim liga 3 Banyuwangi Putra 0-3, sedangkan tim futsal menaklukkan tim pra Porprov Banyuwangi dengan skor 7-4. Akan tetapi, tim futsal Porprov Tabanan harus mengakui ketangguhan klub Liga Futsal Nusantara Scudetto Banyuwangi dengan skor 3-10. Tim sepak bola Porprov Tabanan sempat menjajal tim Porprov Jembrana, dan hasilnya Porprov Tabanan kalah 3-5. Di Jembrana tim futsal Porprov Tabanan menahan seri 3-3 saat meladeni Porprov Jembrana di GOR Kresna Jvara Negara. Sekum Askab PSSI Tabanan
Putu Sugi Darmawan, di Tabanan Sabtu (3/8) kemarin menjelaskan, pihaknya telah menetapkan tim definitif sepak bola sebanyak 20 pemain, sedangkan tim futsal 15 pemain. Untuk tim sepak bola Porprov Tabanan dilatih Ngurah Jovi Saputra, sedangkan tim futsal dipoles I Made Urip Karistiawan. Sementara, venue sepak bola di Lapangan Debes dan venue futsal di GOR Baru Debes. Menurut Sugi, skuad sepak bola Tabanan bertumpu pada materi Piala Soeratin tahun lalu. “Kekuatan tim kami agak pincang, karena empat pemain kami bergabung ke Bali United,” ungkap Sugi. Sugi mengevaluasi, untuk futsal para pemain Porprov dituntut lebih meningkatkan fisik dan stamina. “Anak–anak biasanya fisiknya kedodoran di menit– menit akhir,” ujar Sugi. (022)