Senin Umanis, 5 September 2011
LINGKUNGAN
7
Problema Sampah di Bali WAJAH Bali sempat tercoreng oleh sampah. Gara-gara tumpukan sampah di pantai sempat membuat Bali heboh dunia. Harus diakui sampah menjadi persoalan besar bagi Bali terutama di Kota Denpasar dan Badung. Sampah-sampah tak hanya menumpuk di pojok kota, sungai dan pantai pun tercemar sampah. Khusus sampah di Pantai Lebih banyak disebabkan perilaku pemilik hotel yang tak jauh dari pantai membuang sampahnya ke pantai. Pasalnya per hari Bali menghasilkan 15 ribu kubik sampah yang tak tertampung di tempat pembuangan akhir (TPA). Badan Lingkungan Hidup Bali sempat kelimpungan gara-gara pemberitaan sampai. Tak hanya sibuk memberikan klarifikasi dan cara penanggulangan sampah. Sampai cara pengolahan sampah dipamerkan di Taman Budaya. Hal ini tentu tujuannya masyarakat dapat memahami peliknya problema sampah. Sekaligus diharapkan masyarakat mengubah perilaku membuang sampah sembarangan. ‘’Perilaku membuang sampah sembarangan ini menjadi problema paling serius ketimbang sampahnya. Termasuk sampah yang mencemari pantai di antaran-
ya berasal dari hotel-hotel di sekitar pantai,’’ kata Kepala Badan Lingkungan Hidup Bali Anak Agung Alit Sastrawan, beberapa waktu lalu. Pihaknya tengah merancang kegiatan yang berkaitan penanganan sampah yang melibatkan semua pihak. Diharapkan upaya tersebut mampu mengubah mind set dan orientasi untuk pengurangan sampah dari tingkat hulu sampai hilir. Terlebih dengan keterbatasan lahan yang ada serta kapasitas TPA yang makin tidak mampu menampung volume sampah, sehingga perlu dukungan masyarakat untuk bisa mengelola sampah secara mandiri. Berdasarkan data di BPH Bali, produksi sampah yang tidak terkontrol mencapai 15.000 meter kubik. Sampah-sampah tersebut berasal dari hulu sungai hingga ke hilir yang bermuara di laut. Saat ini, di Bali terdapat
2.766 tempat sampah dan 62 mobil truk sampah, namun jumlah itu tidak memadai karena kapasitas daya tampung sampah di TPA Suwung, Denpasar, hanya mampu menampung maksimal 5.500 kubik sampak per hari. Akibatnya, sebagian besar sampah lainnya terbuang atau berceceran hingga mencemari pantai-pantai seperti di Bali Selatan. Pemerintah kabupaten/kota kewalahan mengatasi masalah sampah karena keterbatasan anggaran maupun jumlah petugas kebersihan. Dari pengamatan semua sampah yang tidak terkontrol itu dibiarkan tercecer di manamana. Dari jumlah tersebut, 60-70 persen merupakan sampah organik, sisanya sampah plastik atau kimiwai. Sebenarnya, jika sampah-sampah tersebut bisa dikelola secara baik seperti diolah kembali menjadi bahan bermanfaat lainnya, termasuk kompos, bisa mengurangi beban sampah di Bali. Untuk sampah dari hulu ke hilir, pihaknya telah gencar mengampanyekan dengan sistem 3R (reduce, reusde dan recycle). Selain itu, diadakan kampanye pengurangan sampah melibatkan partisipsi 100 sekolah di seluruh Bali (pusdat/berbagai sumber)
Sungai Tercemar Limbah Logam Berat di Denpasar PENCEMARAN air sungai menjadi persoalan gawat di kota kota besar. Denpasar sebagai salah satu kota besar air sungainya sudah masuk dalam katagori tercemar. Pencemaran ini menurut penelitian Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Denpasar disebabkan oleh limbah rumah tangga dan industri sablon rumahan. Industri sablon ini membuang air limbahnya ke sungai. Selain itu sungai di Denpasar juga tak layak lagi untuk mandi karena tercemar limbah pabrik tahu. Atas hasil penelitian ini BLH Kota Denpasar merekomendasikan agar air sungai dan selokan tidak digunakan sebagai sumber air minum,
melainkan hanya dapat digunakan untuk pertanian dan penyiraman tanaman. Rata-rata tingkat pencemaran bakteri e-coli dalam air sungai dan selokan di Denpasar telah melebihi ambang batas. Selain e-coli dari limbah rumah tangga, pencemaran dari deterjen limbah-limbah sabun juga masuk kategori berat. Belum lagi limbah-limbah logam berat dan asam nitrat ini semua masuk ke sungai,’’ ujar seorang pejabat lingkungan di Denpasar. Parahnya pencemaran sungai di Denpasar tak terlepas dari berkurangnya halaman belakang. Makin padatnya pemukiman membuat tak se-
jengkal tanahpun disisakan untuk halaman belakang seperti dulu lagi. Tak pelak hampir seluruh limbah rumah tangga dibuang melalui sebuah pipa ke sungai. Khusus untuk logam berat banyak berasal dari industri sablon rumahan yang tidak memiliki instalasi pengolahan limbah. Karena itu, guna meminimalisasi tingkat pencemaran air sungai dan selokan di Denpasar, Pemkot Denpasar sedang mengembangkan program sanitasi masyarakat yaitu membangun sistem pengolahan limbah per kawasan yang dikelola secara swadaya oleh masyarakat setempat. (pusdat/berbagai sumber)
Bali Post/ist
TERCEMAR - Sungai-sungai di Kota Denpasar tercemar sampah dan limbah.
Bali Post/ist
WAJAH TERCORENG - Wajah Pantai Bali sempat tercoreng gara-gara sampah.
Sampah dan Problematikanya MASALAH lingkungan sudah jelas menjadi permasalahan dan tanggung jawab kita semua. Baik-buruknya lingkungan adalah dampak dari apa yang sudah kita perbuat terhadap alam. Salah satu contohnya adalah kebiasaan membuang sampah sembarangan yang bisa menyebabkan pencemaran pada tanah, pencemaran air. Sewaktu hujan sampahsampah tersebut akan membuat sungai meluap dan mengakibatkan banjir sehingga ekosistem di sungai pun terancam. Membuang sampah di selokan/got pun mengakibatkan saluran air tersumbat, sehingga menimbulkan bau yang tidak sedap dan mengakibatkan luapan. Tampaknya masalah sampah ini menjadi persoalan pelik di kota-kota.
Dari ulah yang dianggap biasa, semacam membuang sampah ternyata bisa mengakibatkan banjir. Misalkan akibat banjir, banyak orang yang kehilangan harta benda, munculnya berbagai macam penyakit serta kekurangan persediaan air bersih. Sampah dalam pengertian umum adalah bahan yang tidak memiliki nilai atau tidak berharga untuk digunakan secara biasa atau khusus dalam produksi atau pemakaian, barang rusak atau cacat. Menurut Dr. Tandjung, M.Sc., sampah adalah sesuatu yang tidak berguna lagi, dibuang oleh pemiliknya atau oleh pemakai semula. Dari pengertian di atas jelaslah bahwa sampah adalah benda yang dibuang karena secara fungsi dan kegunaan sudah
tidak bisa digunakan lagi. Yang menjadi permasalahan bukanlah sampahnya, namun kebiasaan manusia membuang sampah sembarangan.Untuk memanfaatkan dan mengurangi masalah lingkungan akibat sampah, manusia mulai mengolah sampah menjadi sesuatu yang baru dan bisa digunakan kembali. Berdasarkan asalnya, sampah dapat digolongkan menjadi dua, sampah anorganik dan sampah organik. Sampah organik adalah sampah yang berasal dari tumbuhan dan hewan. Sampah organik mudah diuraikan. Salah satunya yang sering kita temukan adalah sampah rumah tangga, misalnya sampah-sampah dari dapur seperti sisa tepung, kulit buah-buahan, sayuran, dan lain-lain. Sampah organik bisa
digunakan sebagai pupuk kompos. Sampah anorganik sangat sulit diurai dan membutuhkan waktu yang lama agar bisa terurai. Contohnya sampah plastik, almunium, besi, kaca, dan sebagainya. Untuk mengolah sampah anorgaik harus melalui proses. Sampahsampah plastik bekas makanan dan minuman tersebut dengan proses daur ulang akan bisa menghasilkan barang baru (bukan sampah lagi), misalkan tas, ikat pinggang, suvenir, dompet dan sebagainya. Pandangan terhadap sampah ternyata tidak melulu menghasilkan bau yang tidak sedap. Jika manusia bisa mengolah sampah dengan tepat maka akan menghasilkan barang baru, bahkan bisa menjadi sumber penghasilan. (pusdat/berbagai sumber)
Sampah dan Pencemaran
Masuk Sepuluh Masalah Besar di Bali BALI menghadapi sepuluh masalah besar. Di antaranya sampah, pencemaran, krisis air, abrasi pantai, kerusakan terumbu karang, pencemaran air laut dan sungai dan masalah besar lainnya. Di antara masalah besar tersebut, sampah termasuki persoalan paling pelik. Volume sampah perkotaan di Bali setiap hari rata-rata mencapai 5.094 meter kubik. Namun dari jumlah sampah tersebut tak bisa ditangani secara tuntas. Hal itu diakui Kepala Badan Lingkungan Hidup Provinsi Bali Anak Agung Gde Alit Sastrawan di Denpasa. Hal ini sekaligus menjadi tantangan dalam mewujudkan ‘’Pulau Bersih dan Hijau’’ (Bali Clean and Green). Karena itu, masalah sampah harus dapat ditangani secara tuntas,” harapnya. Masyarakat, kata dia, hendaknya mempunyai kesadaran dan tanggung jawab yang besar terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan. Kesadaran dan tanggungjawab ini yang digaungkan pejabat tersebut memang bukan hal baru. Hal ini terus menerus diingatkan karena betapa masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam membuang sampah pada tempatnya. Atau menyediakan bak sampah. Karena itu masyarakat tetap diharapkan membuang sampah pada tempat-tempat yang telah disediakan. Hal ini akan mempermudah petugas kebersihan ketika memungut dan mengangkutnya ke tempat
pembuangan akhir (TPA) sampah. Perilaku masyarakat yang demikian itu, diakui secara tidak langsung mendukung program Bali bersih dan provinsi hijau. Harus diakui sampah dan masalah kebersihan di Bali menjadi keluhan utama wisatawan mancanegara di Pulau Dewata. Selain sampah ada sepuluh masalah lainnya yang menjadi sorotan wisatawan. Untuk itu, Gubernur Bali Mangku Pastika berharap masalah itu ditangani dengan baik agar Bali tetap menjadi daerah tujuan wisata masyarakat internasional. Masalah yang menjadi sorotan
turis, di antaranya kemacetan lalu lintas dan atrean yang panjang di Bandara Ngurah Rai, Bali, baik kedatangan maupun keberangkatan. “Hal itu menjadi tanggung jawab bersama dalam mengatasi berbagai permasalahan yang selama ini menjadi sorotan wisatawan,” katanya. Selain sampah, masalah yang kini juga dihadapi Bali menyangkut air permukaan yang telah mengalami tekanan secara signifikan, baik kualitas maupun kuantitas. Empat buah danau mengalami sedimentasi dan pendangkalan, air bawah tanah pada daerah-daerah padat aktivitas pariwisata terintrusi air laut.
Masalah lain, abrasi pantai, kerusakan terumbu karang, kerusakan vegetasi hutan mangrove dan pencemaran air laut dan sungai. Semuanya itu, menurut Gubernur Pastika, akibat perilaku manusia yang mengabaikan aspek-aspek kelestarian lingkungan hidup. Karena itu diperlukan tindakan nyata untuk mencegah dan melarang aktivitas industri-industri yang mencemari lingkungan hidup. Untuk itu pemprov dengan pemkab/pemkot serta seluruh komponen masyarakat di Bali bekerja sama dengan baik dalam mengatasi pelbagai masalah itu. (pusdat/berbagai sumber)
Cara Efektif Mengatasi Pencemaran Air CARA mengatasi pencemaran air sudah banyak dilakukan. Namun belum ada yang efektif mengatasi masalah ini. Pencemaran air adalah masalah yang kerap timbul dalam lingkungan masyarakat negara berkembang. Indonesia salah satunya. Pencemaran yang terjadi ini akibat ulah manusia. Ulah manusia membuang sampah mengotori sungai atau got, limbah cair pabrik yang dibuang begitu saja, atau bahkan dari bahan bakar pada tangki yang bocor atau di kawasan kilang. Pencemaran air ini berakibat buruk bagi alam sekitar, termasuk tanaman dan hewan yang hidup di air karena habitatnya tercemar oleh limbah. Pada manusia sendiri dapat menyebabkan gangguan kesehatan seperti gatal-gatal dan lain sebagainya. Untuk itu permasalah ini harus segera ditanggulangi. Cara efektif mengatasi pencemaran air adalah mempertahankan sumber-sumber air. Sumber air yang masih
bersih hendaknya tetap dipertahankan kebersihannya. Jangan sampai ikut tercemar, karena jika sudah tercemar akan sulit membersihkannya. Menanam tanaman-tanaman berkayu tebal. Tanaman-tanaman yang berkayu tebal dapat menyerap air dengan baik. Dengan begitu, persediaan air tanah mencukupi dan sumber air bersih dapat terjaga. Tidak membuang sampah ke sungai. Jika sampah yang dibuang dari satu rumah tangga masuk ke sungai saja sudah mengotori sungai. Bagaimana halnya jika setiap rumah tangga yang ada di Indonesia membuang sampah rumah tangga mereka ke sungai. Sungai menjadi sangat kotor dan tercemar. Pendangkalan sungai pun terjadi yang akhirnya dapat menyebabkan banjir. Banjir mengalirkan air tercemar ke kawasan pemukiman yang dapat menyebabkan wabah penyakit, seperti diare dan lain sebagainya. Mendaur ulang semua sam-
pah yang bisa didaur ulang. Usahakan sampah bisa didaur ulang. Tidak membuangnya ke sungai atau got. Hal ini dilakukan agar perairan di sekitar masyarakat tidak tercemar. Jika tercemar, biasanya menimbulkan bau tidak sedap. Hal ini sangat menganggu masyarakat dalam menjalankan aktivitas mereka. Penyuluhan pembuangan limbah industri. Industri-industri yang mengeluarkan limbah cair hendaknya diberi penyuluhan agar mereka melakukan pengolahan limbah sebelum dibuang ke sungai. ‘’Ini perlu pengawasan ketat dari pemerintah-pusat. Sebab sampai saat ini, masih banyak industri yang membuang limbah cairnya begitu saja ke sungai. Mereka tidak menghiraukan dampak yang akan timbul pada masyarakat yang hidup di area tersebut. Penyuluhan bagi pengguna transportasi laut.Bagi masyarakat pengguna traportasi laut hendaknya diberikan penyulu-
han agar memastikan kendaraan mereka tidak bocor sehingga tidak mencemari air laut. Kilang-kilang minyak hendaklah didirikan sejauh mungkin dari kawasan permukiman, agar tidak membahayakan masyarakat sekitar. Jika terjadi kebocoran minyak yang mencemari laut, maka binatang-binatang laut akan terganggu ekosistemnya. Pemerintah hendaknya membuat peraturan yang tegas untuk pembuangan limbah beracun. Dengan peraturan yang ketat, maka para pengusaha akan berpikir berulang kali untuk membuang limbah cairnya begitu saja. Pengolahan limbah yang mahal sudah menjadi risiko mereka sebagai pengusaha. Maka jika Anda akan mendirikan sebuah industri, buatlah industri yang ramah lingkungan. Selain lebih murah, Anda pun tidak akan dibenci oleh masyarakat dan lembaga-lembaga pencinta lingkungan. (pusdat/berbagai sumber)
Bali Post/ist
TUMPUKAN SAMPAH - Memancing dari atas tumpukan sampah di Tukad Badung.