22
Kamis Paing, 1 September 2011
Bahaya Pewarna Sintetis pada Makanan Bali Post/ist
Ashanty, ”Bidadari’’ untuk Keluarga Anang KESUKSESAN dalam karier telah dicapai oleh Anang Hermansyah. Setiap single yang ia ciptakan selalu mendapat tempat di belantika musik Tanah Air. Di balik kesuksesan tersebut tentunya terbesit harapan untuk segera mendapat pasangan agar ia bisa membesarkan kedua anaknya, Aurel dan Azriel, yang beranjak remaja. Anak memang menjadi perhatian utama Anang selain mencari jodoh. Tidak mudah baginya untuk membesarkan dua orang anak seorang diri, namun Anang bersyukur dapat menjalaninya dengan baik. “Itu bukan hal mudah untuk aku jalanin, itu yang lebih aku pikirkan. Kalau masalah jodoh kalau ada nanti juga akan terbangun harus sabar,” tuturnya saat ditemui di rukonya di Kawasan Radio Dalam, Jakarta Selatan, Rabu (31/ 8) kemarin. Mencari pengganti sosok ibu untuk kedua anaknya, diakui Anang, bukan tugas yang mudah. Menjalin hubungan dengan Ashanty pun ia anggap tugas yang tidak mudah. “Aku pun ke keluarga Ashanty bukan hal yang mudah, karena yang pasti keluarganya juga banyak pemikiran berbeda-beda. Karena dari keluarganya Ashanty juga tidak kepingin kegagalan karena Anang pernah gagal, aku pun memahaminya,” tuturnya. Anang menyerahkan sepenuhnya perihal jodoh ini kepada Tuhan. Selain berjuang menjalin hubungan dengan Ashanty, Anang juga berusaha memberi pengertian kepada anak-anaknya terkait dengan kedekatannya dengan Ashanty. Ia mengaku tak ingin membuat anak-anaknya terlalu jauh mengharapkan. “Aku enggak kepingin anak-anakku mengalami kekecewaan kalau terlalu jauh mengharapkan, aku memberikan pemahaman dengan berdoa, bersabar. Aku bilang anak-anak jangan cuma sepihak minta pengertiannya. Anak-anak juga harus memberi pengertian juga ke tantenya (Ashanty),” tuturnya. Meski demikian, Anang tak pesimis dengan hubungannya ini. Ia merasa Ashanty adalah jawaban atas doanya selama ini. “Insya Allah sejauh ini masalah (jodoh) sudah mulai terjawab. Ya, bisa aja sesuai dengan kehendak dengan Ashanty jadi bidadari untuk kita bertiga,” pungkasnya. (net/pusat data)
Kamis, 1 September 2011 05.52 Mars Indonesia Raya 05.54 Mars Bali Jagadhita 05.56 Lagu Ngastitiang Bali 06.00 Puja Trisandya 06.05 Dharma Wacana Ngulati Tikeh Emas Bag.3 06.35 Seputar Bali Pagi 07.05 Bali Channel 07.35 Lintas Mancanegara 08.05 Happy Holy Kids 08.35 Gita Merah Putih 09.00 Suara Dewan 10.00 Get Reel Music 10.30 Gita Merah Putih 11.00 Smile Home Shopping 12.00 Puja Trisandya 12.05 Dharma Wacana Gayatri Mantram Menepis Badai Bag.1 12.30 Berita Siang 13.00 Gita Merah Putih 13.30 Klip Bali
PENAMPILAN makanan termasuk dari segi warnanya, memang sangat berpengaruh untuk menggugah selera. Pewarna makanan merupakan benda berwarna yang memiliki afinitas kimia terhadap makanan yang di warnainya. Tujuan pemberian warna dimaksudkan agar makanan terlihat lebih berwarna sehingga menarik perhatian konsumen. Bahan pewarna umumnya berwujud cair dan bubuk yang larut di air. Zat pewarna sendiri secara luas digunakan di seluruh dunia. Di Indonesia, sejak dahulu orang banyak menggunakan pewarna makanan tradisional yang berasal dari bahan alami, misalnya kunyit untuk warna kuning, daun suji untuk warna hijau. Ada dua jenis zat warna yang biasa digunakan dalam pengolahan pangan, yaitu pewarna alami dan sintetis. Semua zat pewarna alami dapat digunakan dalam pengolahan pangan, tetapi tidak begitu dengan pewarna sintetis. Pewarna sintetis yang biasa digunakan dalam pengolahan pangan biasa disebut dengan Food Colour. 1. Pewarna Makanan Alami (Food Colour) Pewarna alami merupakan pewarna yang berasal dari tumbuh-tumbuhan atau hewan yang lebih aman untuk dikonsumsi. Contohnya karotenoid adalah kelompok zat warna yang meliputi warna kuning, oranye, dan merah. Biasanya terdapat pada tomat, wortel, cabai merah, dan jeruk. Sedangkan dari hewan terdapat dalam lobster dan kulit udang. 2. Pewarna Sintesis (Non Food Colour) Pewarna buatan/sintetis adalah pewarna yang biasanya dibuat dipabrik-pabrik dan berasal dari suatu zat kimia. Pewarna ini digolongkan kepada zat berbahaya apabila dicampurkan ke dalam makanan. Pewarna sintetis dapat menyebabkan gangguan kesehatan terutama pada fungsi hati dalam tubuh kita. Contohcontoh zat pewarna sintesis
yang digunakan antara lain indigoten, allura red, fast green, tartrazine. Bahaya jika Digunakan pada Makanan Proses pembuatan zat pewarna sintetik biasanya melalui perlakuan pemberian asam sulfat atau asam nitrat yang sering kali terkontaminasi oleh arsen atau logam berat lain yang bersifat racun. Pada pembuatan zat pewarna organik sebelum mencapai produk akhir, harus melalui suatu senyawa antara yang kadang-kadang berbahaya dan sering kali tertinggal dalam hasil akhir, atau terbentuk senyawa-senyawa baru yang berbahaya. Untuk zat pewarna yang dianggap aman, ditetapkan bahwa kandungan arsen tidak boleh lebih dari 0,00014 persen dan timbal tidak boleh lebih dari 0,001 persen, sedangkan logam berat lainnya tidak boleh ada. Kelarutan pewarna sintetik ada dua macam yaitu dyes dan lakes. Dyes adalah zat warna yang larut air dan diperjualbelikan dalam bentuk granula, cairan, campuran warna dan pasta. Digunakan untuk mewarnai minuman berkarbonat, minuman ringan, roti, kue-kue produk susu, pembungkus sosis, dan lain-lain. Lakes adalah pigmen yang dibuat melalui pengendapan dari penyerapan dyes pada bahan dasar, biasa digunakan pada pelapisan tablet, campuran adonan kue, cake dan donat. Rhodamin B Rhodamin B adalah salah satu pewarna sintetik yang tidak boleh dipergunaan untuk makanan, selain itu pewarna
Bali Post/ist
lainnya yang dilarang adalah Metanil Yellow Rhodamin B memiliki rumus molekul C28H31N2O3Cl, dengan berat molekul sebesar 479.000. Rhodamin B berbentuk kristal hijau atau serbuk-unggu kemerah-merahan, sangat mudah larut dalam air yang akan menghasilkan warna merah kebiru-biruan dan berflourensi kuat. Selain mudah larut dalam air juga larut dalam alkohol, HCl dan NaOH. Rhodamin B ini biasanya dipakai dalam pewarnaan kertas, di dalam laboratorium digunakan sebagai pereaksi untuk identifikasi Pb, Bi, Co, Au, Mg, dan Th. Rhodamin B sampai sekarang masih banyak digunakan untuk mewarnai berbagai jenis makanan dan minuman (terutama untuk golongan ekonomi lemah), seperti kue-kue basah, saus, sirup, kerupuk dan tahu (khususnya Metanil Yellow), dan lain-lain. Tanda-tanda dan gejala akut bila terpapar Rhodamin B: 1. Jika terhirup dapat menimbulkan iritasi pada saluran pernapasan. 2. Jika terkena kulit dapat menimbulkan iritasi pada kulit. 3. Jika terkena mata dapat menimbulkan iritasi pada mata, mata kemerahan, udem pada kelopak mata. 4. Jika tertelan dapat menimbulkan gejala keracunan dan air seni berwarna merah atau merah muda. Metanil Yellow juga merupakan salah satu zat pewarna yang tidak diizinkan untuk ditambahkan ke dalam bahan makanan. Metanil Yellow digunakan sebagai pewarna untuk produk-produk tekstil (pakaian), cat kayu, dan cat lukis. Metanil juga biasa dijadikan
14.00 Gita Merah Putih 14.30 Kidung Interaktif 15.30 Gita Shanti 16.00 Galeri Musik 17.00 Sekilas Berita 17.05 Dunia Pendidikan 17.30 Dharma Wacana Gayatri Mantra Menepis Badai Bag.2 18.00 Puja Trisandya 18.10 Seputar Bali 19.00 Giliran Anda 19.30 Orti Bali 20.00 Solusi Alternatif : Q Rack 21.00 Lintas Mancanegara 21.30 Sekilas Berita 21.35 Suluh Indonesia 22.00 Sekilas Berita 22.05 Simakrama Gubernur 23.00 Gita Merah Putih 23.30 Bali Channel 24.00 Penutup
indikator reaksi netralisasi asam basa. Berikut adalah beberapa jenis pewarna sintetis/buatan yang populer dan efek samping yang ditimbulkan: 1. Tartrazine (E102 atau Yellow 5) Tartrazine adalah pewarna kuning yang banyak digunakan dalam makanan dan obat-obatan. Selain berpotensi meningkatkan hiperaktivitas anak, pada sekitar 1 - 10 dari sepuluh ribu orang, tartrazine menimbulkan efek samping langsung seperti urtikaria (ruam kulit), rinitis (hidung meler), asma, purpura (kulit lebam) dan anafilaksis sistemik (shock). Intoleransi ini tampaknya lebih umum pada penderita asma atau orang yang sensitif terhadap aspirin. 2. Sunset Yellow (E110, Orange Yellow S atau Yellow 6) Sunset Yellow adalah pewarna yang dapat ditemukan dalam makanan seperti jus jeruk, es krim, ikan kalengan, keju, jeli, minuman soda dan banyak obat-obatan. Untuk sekelompok kecil individu, konsumsi pewarna aditif ini dapat menimbulkan urtikaria, rinitis, alergi, hiperaktivitas, sakit perut, mual, dan muntah. 3. Ponceau 4R (E124 atau SX Purple) Ponceau 4R adalah pewarna merah hati yang digunakan dalam berbagai produk, termasuk selai, kue, agar-agar dan minuman ringan. Selain berpotensi memicu hiperaktivitas pada anak, Ponceau 4R dianggap karsinogenik (penyebab kanker) di beberapa negara, termasuk Amerika Serikat, Norwegia, dan Finlandia.
4. Allura Red (E129) Allura Red adalah pewarna sintetis merah jingga yang banyak digunakan pada permen dan minuman. Allura Red sudah dilarang di banyak negara lain, termasuk Belgia, Prancis, Jerman, Swedia, Austria dan Norwegia. Sebuah studi menunjukkan bahwa reaksi hipersensitivitas terjadi pada 15% orang yang mengkonsumsi Allura Red. Dalam studi itu, 52 peserta yang telah menderita gatal-gatal atau ruam kulit selama empat minggu atau lebih diikutkan dalam program diet yang sama sekali tidak mengandung Allura Red dan makanan lain yang diketahui dapat menyebabkan ruam atau gatal-gatal. Setelah tiga minggu tidak ada gejala, para peserta kembali diberi makanan yang mengandung Allura Red dan dimonitor. Dari pengujian itu, 15% kembali menunjukkan gejala ruam atau gatal-gatal. 5. Quinoline Yellow (E104) Pewarna makanan kuning ini digunakan dalam produk seperti es krim dan minuman energi. Zat ini sudah dilarang di banyak negara, termasuk Australia, Amerika, Jepang dan Norwegia karena dianggap meningkatkan risiko hiperaktivitas dan serangan asma. Oleh karena itu sebaiknya konsumen sebelum membeli makanan dan minuman, harus meneliti kondisi fisik, kandungan bahan pembuatnya, kehalalannya melalui label makanan yang terdapat di dalam kemasan makanan tersebut agar keamanan makanan yang dikonsumsi senantiasa terjaga. (pusdat/berbagai sumber)
Bali Post/ist
Membedakan Pewarna Alami dan Buatan MAKANAN olahan seperti kue, permen, minuman suplemen, dan es krim cenderung mengandung kadar pewarna tambahan (aditif) yang tinggi. Pewarna tambahan, baik alami maupun buatan, digunakan dalam industri makanan karena berbagai alasan, di antaranya untuk mengimbangi pemudaran warna karena paparan cahaya, udara, perubahan suhu dan kelembaban, memperbaiki variasi warna, menguatkan warna yang terjadi secara alami, mewarnai bahan makanan yang tak berwarna, membuat makanan lebih menarik sehingga mengundang selera. Beberapa studi ilmiah telah mengaitkan penggunaan pewarna buatan dengan hiperaktivitas pada anak-anak. Hiperaktivitas adalah suatu kondisi di mana anak mengalami kesulitan untuk memusatkan perhatian dan mengontrol perilaku mereka. Sebagai langkah keamanan memang lebih baik mengonsumsi makanan yang tidak diwarnai. Jika diwarnai, sebaiknya yang menggunakan pewarna alami, karena dijamin tidak membahayakan. Bali Post/ist
Berikut ciri-ciri visual yang
dapat digunakan sebagai patokan dalam memilih makanan di pasaran: 1. Pewarna Alami Warna agak suram, mudah larut dalam air, membutuhkan bahan pewarna lebih banyak (kurang mampu mewarnai dengan baik), membutuhkan waktu lama untuk meresap kedalam produk. 2. Pewarna Buatan Warna cerah sekali, tidak
mudah larut dalam air, membutuhkan bahan pewarna lebih sedikit, karena dalam konsentrasi rendah sudah mampu mewarnai dengan baik, cepat meresap ke dalam produk. Makanan yang diwarnai dengan pewarna Non Food Colour akan cerah sekali, karena pewarna cepat meresap kedalam produk. Biasanya tempat atau bejananya juga akan berwarna, sukar sekali dihilangkan meskipun telah dicuci. Begitu pun bila kita pegang,
Bali Post/ist
maka bekas pewarna akan tetap menempel.
Bali Post/ist
Ada beberapa hal yang perlu kita lakukan untuk mencegah bahaya pewarna makanan di lingkungan keluarga dan lingkungan sekitar, yaitu: - Tanamkan pemahaman kepada anak-anak kita untuk tidak jajan sembarangan. Makanan yang dimasak di rumah tentu jauh lebih aman daripada jajanan yang kita tidak tahu proses pembuatannya seperti apa. Akan lebih baik jika anakanak membawa bekal makan-
an/minuman sendiri dari rumah. - Mengampanyekan agar bersikap hati-hati terhadap makanan/jajanan di luar rumah. Makanan/minuman dengan warna yang mencolok sebaiknya dihindari, karena ada kemungkinan menggunakan pewarna yang bukan untuk makanan. - Jangan alihkan anak-anak dari jajanan “biasa” di sekitar kita ke junk food yang juga sama-sama berisiko membahayakan kesehatan. (pusdat/berbagai sumber)