Page 1

19

SELASA (WAGE) 17 SEPTEMBER 2013 11 ZULKAIDAH 1434 H HAPIT 1946

Facebook: www.facebook.com/beliapr

Twitter: @beliapr

E-mail: belia@pikiran-rakyat.com FOTO: STEFANNO

BM

ENGAPA ini harus proses hukum? Saya kira besar sekali manfaatnya. Ini untuk efek jera agar remaja-remaja yang lain, yang umurnya masih muda itu, tidak semata karena orang tuanya mampu lalu mereka membawa kendaraan. Apalagi tidak dilengkapi dengan SIM,” kata Hamidah Abdurrachman, komisioner Komisi Kepolisian Nasional. (Pikiran Rakyat, Selasa, 10/12/2013) Selama sepekan terakhir, wajah pemberitaan di media massa masih ramai mewartakan perihal kasus kecelakaan maut di tol Jagorawi yang melibatkan AQJ, anak dari seorag musisi terkenal Indonesia. Tercatat tujuh orang tewas dalam peristiwa ini. Insiden kecelakaan yang menimpanya pun sontak membuka mata kita semua. Gimana nggak? Ternyata realitas yang terjadi saat ini ya memang seperti itu: begitu bebasnya anak-anak di bawah umur untuk berkendara di jalan umum dengan tanpa SIM dan dampingan orang tua. Tanpa adanya pengawasan, mereka bisa dengan leluasa mengebut dengan kecepatan super yang tentu saja nggak hanya membahayakan diri sendiri, tapi juga jiwa orang lain. “Anak SMP sekarang banyak yang membawa kendaraan sendiri. Menurut saya, ini nggak lazim karena menurut kebijakan pemerintah, syarat mengendarai kendaraan harus di atas 17 tahun dan itupun harus punya SIM. Orang tua juga cukup banyak yang mengizinkan, namun nggak semua

Hidup Lebih Sehat, Lebih Aman, dan Lebih Amanah

M

ENEMPUH perjalanan dari rumah ke sekolah atau sebaliknya atau bepergian ke mana pun menggunakan kendaraan pribadi memang terasa lebih menyenangkan. Selain bisa memilih jalur sendiri, kita pun bisa mengatur sendiri kecepatan laju kendaraan kita. Lain halnya jika kita naik angkutan umum, tentu laju kecepatan kendaraan tersebut, sopirlah yang mengatur, dan jalur pun sudah ada ketentuannya. Belum lagi suasana di dalam angkutan umum yang disesaki oleh penumpang dengan bermacam-macam tabiat, sungguh membuat kita harus bersabar diri. Jika usia kita belum memenuhi syarat untuk memiliki SIM (Surat Izin Mengemudi), walaupun sudah piawai mengendarai kendaraan bermotor, tentu kita tidak bisa seenaknya menggunakan kendaraan tersebut ke mana pun kita mau. Akan lebih baik jika jarak tempat yang kita tuju tidak terlalu jauh, cukup berjalan kaki saja, atau naik sepeda. Anggap saja sambil berolahraga. Selain badan akan jadi sehat, kita pun jadi tidak melanggar aturan negara mengenai ketentuan SIM, serta lebih aman karena tidak harus mengendalikan laju kendaraan. Jika dihubungkan dengan kondisi udara yang kini semakin tercemar oleh asap kendaraan bermotor, sehingga semakin membuat tipis lapisan ozon, dengan meninggalkan kendaraan bermotor, itu berarti kita pun telah ikut menjaga kelangsungan kehidupan di bumi ini. Ini berarti kita telah amanah dalam menjaga bumi ini. Jika jarak tempuh tempat yang kita tuju cukup jauh, gunakanlah angkutan umum. Selain mengurangi kemacetan karena mengoptimumkan angkutan massal, juga melatih kemandirian kita. Seperti kemandirian dalam mengamankan barang-barang bawaan kita, kemandirian dalam memutuskan untuk memilih angkutan umum yang jalurnya sesuai dengan kepentingan kita, serta kemandirian didalam memutuskan naik atau turun dilokasi mana yang dekat dengan tempat tujuan kita. Kemandirian-kemandirian tersebut akan membuat sehat otak kita, karena membiasakan diri untuk senantiasa berkonsentrasi, serta berpikir untuk membuat keputusan-keputusan. Bagaimanapun pandainya kita mengendarai kendaraan bermotor dan postur tubuh kita telah tumbuh menjadi seseorang yang tinggi serta tegap hingga mampu menguasai kendaraan bermotor, jangan pernah memaksakan diri untuk mengendarainya selama belum memiliki SIM. Usia kita yang belum mencukupinya. Kesehatan, keamanan, dan memegang teguh amanah merupakan hal-hal yang lebih penting yang harus selalu kita jaga daripada sekadar berkendaraan tanpa memiliki SIM.***

pelajarnya. “Sekolah dan keluarga harus solid dan konsisten dalam mendidik anak agar mampu membedakan mana yang baik dan benar. Pendidikannya nggak bagus kalau membiarkan anak-anak (membawa kendaraan tanpa memiliki SIM),” ujar Pak Wahyudin seperti dilansir oleh PRFM News Channel, Kamis, (13/9). Kalau kamu search tagar #speedometer di Instagram, hmm lebih miris lagi! Coba lihat bagaimana ribuan remaja mengunggah foto-foto ketika speedometernya menunjukkan angka kecepatan tinggi. Bahkan ada yang mencapai 200 km/jam! Bisa dibayangin nggak sih seberapa besar potensi bahaya yang bakal terjadi? Salah satu contoh lain adalah kasus kecelakaan Dwigusta Cahya yang menewaskan satu keluarga asal Cilacap di Tol Purbaleunyi pada April silam. Pascakejadian tersebut, muncullah kehebohan karena di akun Instagramnya, sang tersangka sempat mengunggah foto speedometernya yang mencapai 160 km/jam.

VoxPop VoxPop

"Butuh kematangan tanggung jawab dan biasanya anak remaja belum mantap, emosi masih labil, di jalan masih suka panas jika ada yang menyalip mereka. Kemudian dari sisi tanggung jawab dan konsekuensinya mereka belum paham," ungkap Fitriani Yustikasari Lubis, SPsi, M Psi, dosen Psikologi Unpad Aksi anak mengendarai kendaraan bermotor sendiri karena nggak ada larangan keras dari orang tua. "Sebenarnya anak seringkali sudah diperingati, tapi tetap mencuri kesempatan, harusnya dibuat jera. Kenyataannya tidak. Harusnya ada batasan dan sanksi yang jelas. Misalkan baru kelas 1 SMP, ibunya bilang belum boleh, tapi kalau coba-coba naik punya temennya, dan nggak betul-betul dikasih sanksi, anak cuma melihat ini hanya omongan sebentar saja," ujarnya. By the way, memang nggak ada yang salah kok kalau kita udah bisa menyetir kendaraan, tapi bakalan jadi masalah besar kalau sampai mengendarainya di jalan umum dengan mengebut, usia di bawah umur, dan tanpa SIM pula. Lantas ini jadi tanggung jawab siapa? Banyak. Terutama sih orang tua karena dengan menerapkan pola asuhan yang benar, anak pun tidak akan berani macam-macam. Kita sebagai pelajar pun mesti tahu batasan, menaati hukum yang berlaku, dan nggak mengedepankan ego pribadi. Kalau udah celaka bakal banyak pihak yang dirugikan. So, be wise! ***

orang tua seperti itu karena di sisi lain punya rasa khawatir kalau anaknya berkendara tanpa SIM,” tutur Bu Novita, staf kesiswaan SMA Darul Hikam. Ia pun nambahin, jangankan siswa SMP, pelajar kelas X di sekolahnya pun nggak dibolehin bawa kendaraan. Kalau udah kelas XI dan XII baru boleh dengan syarat udah cukup umur. “Menurut psikologis anak, remaja adalah masanya bersenang-senang, nggak memikirkan risiko, dan pemikiran masih labil. Tahap remaja juga suka memacu adrenalin dan rasa ingin tahu dan mencobanya tinggi. Jadi kalau udah diperbolehkan bawa kendaraan sendiri, akibatnya mereka senang kebut-kebutan tanpa mikirin risiko,” kata Bu Novita. Dalam hukum memang udah jelas banget tercantum kalau anak yang belum cukup umur nggak bisa punya SIM, apalagi mengemudikan kendaraan. Kadisdik Jabar, Wahyudin Zarkasyi, bahkan bilang setuju banget kalau polisi menggelar razia di dekat sekolah. Malah kalau perlu sampai masuk sekolah supaya nggak ada siswa tanpa SIM yang bawa kendaraan. Orang tua pun diharapkan lebih tegas karena memberikan izin berkendara tanpa SIM sama aja dengan ngasih senjata. Ia juga meminta seluruh sekolah di Jabar untuk lebih ketat lagi mengawasi para

Al Qadr, Kelas VIII, SMPN 3 Rancaekek

Quotes

siswanti.hanifa@yahoo.co.id stefannors@hotmail.com

Perlu Enggak Sih Nyetir Sendiri?

Macherie Handriana, SMAN 15 Bandung KAYAKNYA dibiarkan aja deh kalau yang bawa motor ke sekolah, tapi yang bawa mobil dan nggak punya SIM ya nggak boleh. Zaman sekarang anak SMP aja udah banyak yang bawa motor berarti orang tua mereka juga mengizinkan tanpa SIM kan. Menurut aku, anak-anak zaman sekarang yang bawa mobil dan umurnya masih jauh dari prasyarat dapat SIM sih kayaknya cuma gaya-gayaan aja. Soalnya kelihatan keren karena masih kecil tapi udah bisa bawa mobil.

Royani Aliyah Hasbullah, SMA Sumatera 40 BAWA kendaraan tuh memudahkan transportasi kalau mau ke rumah teman dan sekolah, tapi memang sih harusnya belum boleh. Hehehe. Hampir 70 persen teman di sekolah bawa kendaraan sendiri dan kalau dari pihak sekolah sih cuma dilarang terlibat geng motor aja. Orang tua teman-temanku sih pada ngebolehin anaknya bawa motor, tapi papaku sendiri nggak ngebolehin karena belum punya SIM. Lagi pula kata beliau, emosi anak seumuran aku masih belum bisa terkontrol, takutnya kalau lagi marah ya kebut-kebutan.

Heru, SMKN 1 Serang MENURUT saya sih selagi tidak dilakukan untuk hal negatif, mengapa tidak diperbolehkan? Contohnya banyak pelajar khususnya SMA yang mengandalkan kendaraan bermotor untuk bersekolah seperti saya. Apabila pelajar tersebut belum waktunya mendapat SIM ya mau tidak mau harus beralih ke kendaraan umum. Seperti yang kita tahu sejak kenaikan harga BBM, ongkos angkutan umum pun naik. Nah dari situlah yang membuat saya sebagai pelajar kewalahan sekali untuk memilih nggak berkendara atau bawa kendaraan sendiri, terutama kalau lihat isi kantong pelajar. ***

Indeks:

siswanti.hanifa@yahoo.co.id

Bawa aku, bawalah nyawa di daging ini. Kilat meroket laju isi bensin penuhi.

Netral - Ngebut

20> Skul: SMK Negeri 2 Subang

21> Cerpen Keren: Nightmare

21> MusicTerritory: - Witching Hours Vol. 2 - 3rd Journal - Launching Vinyl 7” Avhath dan Haul

21> Aksi: - Pekan Seni Budaya Jabar 2013

22> Review: 22>Chat: White Shoes & The Couples Company


20

SELASA (WAGE) 17 SEPTEMBER 2013 11 ZULKAIDAH 1434 H HAPIT 1946 FOTO: STEFANNO

The DIY School

SMK Negeri 2 Subang

IY yang merupakan singkatan dari do it yourself alias mengerjakan sendiri adalah istilah yang lahir di kalangan indie. DIY dimaknai sebagai prinsip swasembada melalui pemenuhan kebutuhan diri sendiri secara mandiri. DIY juga mengacu pada gagasan bahwa setiap orang memiliki kemampuan untuk melakukan berbagai hal untuk dirinya sendiri tanpa perlu membeli dari orang lain atau membayar orang lain untuk melakukannya. Nah, ada satu sekolah yang punya prinsip sangat mirip dengan prinsip DIY, yaitu SMK Negeri 2 Subang. Skul yang punya 14 jurusan dari berbagai bidang, di antaranya teknologi, manufaktur, otomotif, pelayaran, dan pariwisata. Banyaknya jurusan dan tentunya banyaknya siswa, diimbangi dengan luas sekolah yang mencapai belasan hektare dengan banyak ruang kelas dan ruang praktik. Ketika memasuki sekolah ini, belia disambut oleh bangunan utama yang isinya ruang kepala sekolah, aula, dan beberapa ruangan lainnya. Satu hal yang unik, di depan bangunan utama ini terhampar paving block yang dibuat sendiri oleh para alumni SMK Negeri 2 Subang. Setiap paving block berukirkan nama pembuatnya. Jadi, jalan-jalan di sini serasa menyusuri walk of fame di Hollywood deh! Bapak Ajim, SPd, MM, selaku kepala sekolah bercerita banyak soal sistem pendidikan yang diterapkan di sekolah ini. Well, pada dasarnya sebagian besar masyarakat beranggapan bahwa sekolah hanyalah tentang mendapat nilai-nilai berupa angka yang bagus. Padahal, di dunia kerja dan masyarakat, yang dipandang bukanlah berapa nilai matematika, bahasa, atau mata pelajaran lainnya. Yang dipandang adalah sikap dan keahlian dari setiap individu. Sekolah ini kemudian mengadaptasi pola terapan kebijakan ekonomi protektif dalam kelas mandiri. Setiap kegiatan di SMK Negeri 2 Subang harus bisa mendukung kebutuhan sekolahnya, di antaranya seragam, makanan, dan air. Konsep ini meniru India dengan kebijakan swadesinya yang dilandasi oleh ajaran Mahatma

D

Gandhi. Dengan kebijakan untuk berdikari ini, masyarakatnya jadi cinta produk dalam negeri. Hasilnya, ekonomi mereka tidak sering terguncang. Dari tadi belia udah sempet nyebut DIY, nah konsep itulah yang terlihat jelas dalam penerapan kelas mandiri. Kelas mandiri juga bertujuan menciptakan lulusan berjiwa entrepreneur yang dapat menjadi penggerak ekonomi untuk dirinya, keluarganya, orang di sekitarnya, dan tanah airnya. Berkaca dari negara tetangga, Singapura, memang kalau dilihat di peta bahkan tidak lebih besar dari Pulau Jawa, tetapi bisa menguasai dunia. Warga negaranya memang dididik untuk menjadi entrepreneur. Konon Singapura bisa mengasuransikan warga negaranya hingga 100 tahun ke depan. Ya, sebegitu hebatnya perekonomian Singapura! Selidik punya selidik, statistik menunjukan 17 persen warga negara Singapura adalah seorang entrepreneur, hanya 10 persen yang menjadi pekerja. Berbeda jauh dengan angka pengusaha di Indonesia. Ya, sayang sekali sampai saat ini sebagian besar masyarakat Indonesia masih punya mental pekerja, bukan pengusaha. Selain itu, kelas mandiri juga menanamkan kepercayaan diri siswanya bahwa mereka bisa menghasilkan apa yang mereka butuhkan, mencari uang sendiri, dan tidak tergantung pada siapa pun. Bahkan semasa sekolah pun siswa dididik untuk bisa menghidupi dirinya sendiri. Untungnya, sekolah ini menerapkan sistem industri yang juga mendukung kelas mandiri tersebut. Di SMK Negeri 2 Subang, siswa mendapatkan pelajaran dasar soal industri, bagaimana caranya berinteraksi sosial dan menghasilkan produk yang laku dijual. Enggak hanya itu, ada yang namanya teaching factory, di mana siswa menghasikan produk hasil sendiri dan dijual ke masyarakat luas. Produk yang dijual di antaranya air mineral, jus, nugget, bakso, dan ikan. Ada pula istilah teaching industry, yaitu siswa menerima order barang (seperti kabel, plasma, dan pakaian seragam) dari luar dengan standar yang ditetapkan oleh perusahaan yang memesan. The thing is, the students of SMK Negeri 2 Subang really get more than they can expect! ***

Pendidikan Karakter dengan Ketarunaan

D

I SMK Negeri 2 Subang, banyak hal unik yang membuat skul ini beda dengan skul lain! Pertama, seragam mereka enggak biasa. Alih-alih pakai seragam putih abu layaknya siswa SMA lain, mereka pakai seragam dengan warna yang berbeda. Kedua, badan semua siswa SMK Negeri 2 Subang tegap-tegap. Ketiga, ketika bertemu dengan guru, para siswa melakukan gerakan hormat seperti dalam upacara. Keempat, mereka punya rangkaian masa orientasi yang sangat unik! Masa orientasi memang lazim ada di hampir semua sekolah. Akan tetapi, di SMK Negeri 2 Subang ini berbeda! Ketika belia berkunjung ke sana, kebetulan para siswa baru sedang melaksanakan rangkaian masa orientasinya yang berlangsung selama tiga bulan. Mereka berseragam lapangan, membawa tas khas tentara. Tas mereka beratnya bertambah berkala selama tiga bulan. Jangan kaget ya! Yang bikin berat enggak lain dan enggak bukan adalah pasir. Hmm‌ secret revealed! Badan para siswa yang tegap ternyata salah satunya berkat tas tersebut. Ternyata, semua hal-hal enggak biasa alias luar biasa itu cuma satu akarnya, yaitu sistem yang dianut oleh sekolah ini. Seperti yang dijelaskan oleh Pak Lili Ramdani, SPd, selaku wakil kepala sekolah, sekolah ini menganut sistem yang namanya ketarunaan. Sistem ini sebenarnya adalah model pendidikan karakter yang berujung pada pencapaian sikap dalam arti luas. Yep, enggak cuma sikap yang baik, tetapi sehat badannya, kuat rohaninya, bermartabat hidupnya, berdisiplin tinggi, dan melestarikan budaya. Wah, yang begitu tuh calon pemimpin bangsa! *** hanifauziaramadhani@gmail.com

Try Bintang Nur Alam, XII NKN B

hanifauziaramadhani@gmail.com

Cobel

TRY merintis karier leadership-nya di SMK Negeri 2 Subang sejak awal masuk ke sekolah ini. Cowok satu ini sejak ospek terpilih menjadi komandan peleton yang memimpin pasukan dan menjadi calon taruna pilihan. Pada saat pelantikan, Try menjadi satu dari lima orang yang disemat oleh Wakil Gubernur Jawa Barat. Setelah menjadi taruna, Try terpilih menjadi Wakil Komandan Polisi Taruna dan kerap diundang untuk menghadiri pelantikan taruna atau acara-acara lainnya di Kabupaten Subang. Dan sekarang, Try tengah menjalani tugas sebagai Komandan Batalyon a.k.a Ketua OSIS.

Pitri Purnamasari, XI Tata Busman

Cobel

SEJAK masuk SMK Negeri 2 Subang, Pitri terpilih menjadi sekretaris dan bertugas membantu danton alias komandan peleton pada masa latihan dasar alias ospek. Oh, cewek satu ini juga pernah terpilih menjadi siswa terbaik dan sekarang menjabat sebagai komandan peleton. Cewek yang dikenal ramah ini memang sangat tertarik dengan hal-hal yang berkaitan dengan kepemimpinan. Katanya, ia ingin menjadi seorang pemimpin yang baik di masa depan. Selain sekolah, Pitri selalu membantu orang tuanya di rumah dan salah satu tujuan hidupnya adalah menjadi anak yang bisa dibanggakan oleh orang tuanya. *** hanifauziaramadhani@gmail.com

Suara Hati Pelajar

B

ANDUNG sebentar lagi ulang tahun, tapi udah punya early present yakni walikota baru. Kamu punya harapan apa sih, untuk Bandung baru ini? Sok kirimin opini Belia yang paling seru dan enggak bokis ke Redaksi belia, paling lambat hari Jumat (20/09/13) ke Kantor Redaksi �Pikiran Rakyat� Jln. Soekarno-Hatta No. 147 Bandung. Bisa juga lewat e-mail ke: belia@pikiran-rakyat.com. Inget, yang bukan pelajar dilarang ambil bagian! Opini yang dimuat melalui e-mail mendapat merchandise dari Pikiran Rakyat. (Hub. Bag. Marcomm Jln. Asia Afrika No. 77 Bandung) dengan menunjukkan kartu pelajar. Jangan telat ngirimnya ya!***

Pertama Kali Nyetir Mayang Nadhira Hasna, X-8, SMA Al-Ma'soem KALAU aku sendiri sih di umur 13 tahun ini aku sudah di izinkan untuk bisa belajar mengendari motor. Namun untuk membawanya ke sekolah atau jalan raya yang luas aku belum diizinkan oleh kedua orang tuaku. Mungkin karena faktor tidak punya SIM dan emosi diri yang belum stabil. Ya siapa tahu kalau kita mengendarainya dalam keadaan kitanya sedang sedih, marah atau banyak pikiran bisa berdampak pada keselamatan kita juga. Jadi, untuk bisa memiliki SIM diumur 17 tahun itu bukan umur yang tua kok! kelebihannya mungkin sudah cukup secara emosionalnya.

Livia Difyanty, X-H/18,, SMAK 1 BPK Penabur TEMA SHP kali ini menarik juga ya. Karena seperti ingin mengingatkan para remaja juga nih. Kalau saya sih sekarang masih baru belajar mobil sama papah di kompleks. Umur saya juga masih jauh banget buat dapetin SIM. Jadi kalau saya sih nanti aja buat dapetin SIM. Dan untuk umur 17 tahun baru bisa dapet SIM sih ga

terlalu tua juga kok. Itu kan usia standarnya anak-anak menyelesaikan tugasnya menjadi pelajar di tingkat SMA. Jadi wajar-wajar aja di umur segitu baru bisa dapet SIM. Sabar aja ya buat teman-teman yang belum bisa dapat SIM.

Mochammad Afif Ibadurrachman, XII A, SMK Daarut Tauhiid Boarding School SAYA termasuk yang "tua" dalam mengendarai kendaraan, di akhir umur 16 baru bisa mengendarai motor di jalanan, pas liburan kemarin tepatnya. Nah, kalo masalah SIM umur 17 itu sudah rata rata, kan itu umur dimana seseorang sudah halal untuk mengendarai. Jadi kalo kamu sudah punya kendaraan sendiri di umur 17, ga masalah langsung bikin SIM.***

Yosua Kurniawan, VIIIE/42, SMPK 5 BPK Penabur Bandung SAYA sendiri sih pertama kali mengendarai sepeda motor itu pada usia 12 tahun, tapi itu juga belum dibolehkan ke jalan raya, jadi hanya di sekitar komplek saja.

FOTO: LIONI BEATRIX

S

EREN taun atau serah tahun adalah syukuran yang dilakukan setiap tahun. Bersyukur atas apa yang Tuhan berikan, air, tanah, udara, alam, dan kehidupan. Dalam kegiatan ini, masyarakat menyumbangkan sebagian dari hasil panen mereka. Tidak terkecuali di kasepuhan Cipta Gelar. Cipta Gelar terletak di Desa Sinar Resmi, kurang lebih 200 km di sebelah barat daya Bandung, termasuk ke dalam Kabupaten Sukabumi. Berbatasan langsung dengan Provinsi Banten yang dipisahkan oleh Sungai Cibarengkong, sungai yang airnya digunakan sebagai sumber daya penggerak turbin penghasil listrik. Sebagai desa yang masih memegang teguh tradisi nenek moyangnya, seren taun yang ke-645 diadakan pada 29 Agustus sampai 3 September. Berbagai kegiatan pun digelar untuk memeriahkan acara ini, mulai dari topeng kolot, angklung buhun,

wayang golek, sampai dangdut. Komoditas utama desa ini adalah padi. Oleh karena itu, pada proses seren taun, warga menyumbangkan satu gedeng padi. Gedeng adalah satu ikat padi yang telah dijemur sampai kering. Gedeng sumbangan warga kemudian disimpan dalam lumbung atau leuit yang disakralkan oleh warga dan kasepuhan, diberi nama Leuit Jimat. Padi pada jimat tidak dapat digunakan oleh warga ataupun kasepuhan. Padi tersebut adalah cadangan makanan desa yang hanya dapat dipinjamkan kepada warga yang sedang mengalami kesulitan beras. Warga tersebut harus membayar atau mengembalikan sejumlah gedeng padi yang dipinjam dari jimat pada saat ia telah dapat memproduksi padi kembali dan memiliki kelebihan cadangan padi. Keunikan lain dari padi Cipta Gelar adalah, padi dapat bertahan selama beberapa tahun sebelum akhirnya rusak, bahkan sampai 10-15 tahun tanpa mengalami perubahan warna, bau, ataupun rasa. Setiap keluarga umumnya memiliki satu leuit yang berisi cadangan padi untuk dimakan selama 2-3 tahun ke depan. Warga Cipta Gelar diharamkan untuk menjual beras atau nasi, tetapi mereka dapat menjual padi. Berbeda dengan

FOTO: LIONI BEATRIX

kasepuhan yang tidak diperbolehkan oleh adat untuk memperjualbelikan padi, beras, ataupun nasi. Warga hanya dapat menjual padi bila dirasa cadangan padi mereka telah mencukupi untuk 2-3 tahun, atau sekitar 600 gedeng. Sistem bercocok tanam dan penyimpanan padi di Cipta Gelar banyak dipelajari oleh peneliti-peneliti Indonesia bahkan mancanegara. Untuk menjaga kesuburan tanah, warga hanya diperbolehkan untuk bertanam padi satu kali dalam satu tahun. Bibit padi yang digunakan adalah padi hasil panen sebelumnya. Idealnya bibit dari satu gedeng padi dapat menghasilkan 50 gedeng padi yang dihitung setelah musim panen. Cipta Gelar adalah kasepuhan yang masih menjaga nilai, budaya, adat, dan tradisi nenek moyang. Terdapat banyak kearifan lokal yang dapat dipetik dari pola kehidupan warganya. *** Arif Setiawan


21

SELASA (WAGE) 17 SEPTEMBER 2013 11 ZULKAIDAH 1434 H HAPIT 1946

FOTO: STEFANNO

D

Hayu Urang Nyunda! kaulinan urang lembur dan pergelaran seni kontemporer. Seru pisan! Berbagai karya seperti lukisan dan instalasi sangat menarik untuk diapresiasi, seperti karya dari Henry Louise, Adam Jabbar, Abun Adira, Isa Perkasa, Ratman D. Setjadipura, dan Deden Sambas. Di Monju pula berbagai komunitas turut menggelar booth dengan mengedepankan karya-karya seni mereka seperti Kreator (Kreasi Art Trotoar) Seniman Bangun Pagi, Studio Hitam Drawing Art Gallery, hingga seni buhun ‘Beluk’ dari Banjaran Kab. Bandung. Nggak kalah seru dengan helaran di outdoor, area ruang pameran Monju juga dibikin semakin edukatif dengan adanya pameran kujang. Di sini pengunjung dap-

IGELAR selama seminggu penuh dari Sabtu-Jumat (7-13/9), Pekan Seni Budaya Jawa Barat 2013 punya daya magnetis besar yang menyedot perhatian. Orang-orang dari berbagai usia turut hadir menyempatkan diri menikmati sajian kesenian khas dari 26 kota dan kabupaten se-Jabar. Dengan mengambil tempat di Monumen Perjuangan Rakyat Jabar (Monju) dan Bale Rumawat Universitas Padjadjaran (Unpad), Jalan Dipatiukur, Bandung, rangkaian acara yang disuguhkan dalam event ini memang sayang banget kalau sampai dilewatkan. Selain festival lawak, kita juga dapat menikmati helaran seni lainnya kayak

at melihat hamparan banyak jenis kujang beserta penjelasan setiap unitnya lho. Ikut disiarkan juga video proses pembuatan kujang sejak tahap peleburan, pembentukan, hingga penyempurnaan di Desa Sukawening, Kec. Pasirjambu, Ciwidey, Kab. Bandung. Menarik! Hal asyik lainnya tentu saja Festival Wayang Internasional yang digelar gratis di Unpad, Kamis-Jumat (12-13/9). Selama dua hari, acara satu ini kerap dipenuhi penonton yang sebagian besar adalah siswa sekolah. Mereka antusias ingin menyaksikan bagaimana seni wayang dari negara lain beraksi hingga rela duduk berdempetan di tangga Bale Rumawat. Sebanyak 7 negara turut memeriahkan

Pekan Seni Budaya Jabar 2013

perhelatan ini seperti Sydney Puppet Theatre (Australia), Magisch Theatertje (Belanda), Roppers Edutainment Production Inc. (Filipina), Wayang Punakawan Nusantara (Madagaskar), Mascots and Puppets Specialists (Singapura), Cengis Ozek Shadow Theatre (Turki), dan Wayang Motekar (Indonesia). Benar-benar acara yang edukatif dan bernilai kultural tinggi deh. Jabar memang punya seabrek potensi seni dan budaya yang keren dan berdaya tarik, apalagi nilai estetisnya pun mampu memberikan nilai ekonomis. Luar biasa, yuk kita lestarikan dan kelola dengan baik!*** siswanti.hanifa@yahoo.co.id

FOTO: RANGGA FAJAR NUGRAHA & STEFANNO

Dua Aliran Musik di Bilangan Riau

I

Witching Hours Vol. 2

M

Chill and Relaxing

ESKI Bandung tengah digempur berbagai acara pada Sabtu (14/9), suasana di Vanilla Kitchen and Wine, Jalan Cimanuk 11, Bandung, tetap semarak dengan hadirnya pengunjung yang menantikan Witching Hours Vol. 2. Gelaran ini menampilkan empat band 'the next big thing' yang didaulat untuk mengisi malam minggu di sana dengan chill and relax: Mustache and Beard, Answer Sheet, Munthe, dan Banda Neira. Setelah Munthe membawakan bermacam karyanya seperti “UGLY (U Got to Love Yourself)” dan “Perfect Hard Love”, Banda Neira langsung hadir nggak pakai lama. Band yang identik dengan nelangsa pop ini memang paling ditunggu oleh ratusan penonton yang memadati venue sejak awal acara. Tembang-tembang manis nan kelam dari duo tersebut tak ayal bikin penonton tersedot perhatiannya, kayak “Hujan di Mimpi”, “Di Atas Kapal Kertas”, dan nggak ketinggalan musikalisasi puisi “Rindu” dari Subagio Sastrowar-

doyo. Selain lagu “Di Beranda” yang merayakan kepulangan mereka ke Bandung, Banda Neira juga bawain lagu milik band fa-

A

K e r e n

Mengapa Malas ke Perpustakaan? FOTO: WWW.ST-HUGHS.OX.AC

H

AMPIR di setiap sekolah tentu memiliki perpustakaan sendiri. Namun sayang, terkadang perpustakaan tersebut sepi pengunjung, hanya ramai dikunjungi pada saat hari wajib kunjung ke perpustakaan. Mengapa malas ke perpustakaan? Kemajuan teknologi internet sehingga memungkinkan kita mencari informasi dengan cepat hanya lewat mesin-mesin pencari, seharusnya tidak menjadi alasan kita untuk malas ke perpustakaan. Untuk pelajar setingkat kita, perpustakaan masih memiliki banyak manfaat kok, seperti: 1. Hemat listrik, pulsa, dan hemat waktu Dengan belajar melalui buku-buku yang tersedia di perpustakaan, selain gratis, membaca buku cetak tidak memerlukan listrik seperti halnya komputer, sehingga jika ada pemadaman listrik, kita masih bisa belajar ditempat yang terang. Selain itu, tidak memerlukan pulsa untuk terhubung ke internet. Dengan berhemat, sama dengan mengurangi beban orangtua kita bukan? Saat membaca buku pun kita tentu akan fokus pada bahan yang dibahas dalam buku tersebut. Lain halnya dengan jika kita belajar lewat internet, biasanya “gangguan” untuk berselancar ke situs-situs yang lain yang tidak berhubungan dengan pelajaran kita,

Kembalinya Era Piringan Hitam

ada mayat manusia. Kakiku kembali kelelahan, napasku terengah-engah. Petir lagi-lagi mengagetkanku dan membuat tebing di hadapanku terlihat. Suaraku pecah seketika, banyak sekali peti mati yang tergantung di tebing itu. Saat itu juga aku tak sadarkan diri. Aku terbangun, kulihat ibu sedang menyingkap tirai jendela. Teriakkanku langsung memenuhi ruangan. “Aaaa!!”***

Tria Farizah, XII IPS 3, SMAN 1 Dukupuntang Kabupaten Cirebon

acapkali datang, hingga waktu kita banyak tersita untuk hal-hal lain selain belajar. 2. Kesehatan mata terjaga Dengan belajar lewat buku cetak, kesehatan mata kita pun akan terjaga. Lain jika kita belajar lewat media elektronik, sedikit banyaknya mata kita akan terpapar cahaya dari layar alat-alat tersebut. 3. Ada interaksi antara kita dan buku Dengan memilih suatu buku cetak untuk kita baca, anggota tubuh kita yang lain akan ikut membantu kita memudahkan mengingat materi yang dibahas dalam buku tersebut. Tangan kita akan membolak-balik halamannya, tangan kita bisa merasakan sampul buku dan keseluruhan dari buku tersebut, dan tangan kita pun akan membantu kita membuat catatan-catatan kecil, semacam kesimpulan, atau memberi garis bawah pada pokok-pokok bahasan yang cukup penting. Menuliskan suatu catatan kaki, akan membantu otak kita mengingat materi tersebut, serta memudahkan kita membukanya kembali manakala di waktu lain kita membutuhkannya kembali. Dengan memanfaatkan perpustakaan, kita

stefannors@hotmail.com

Launching Vinyl 7” Avhath dan Haul

Nightmare

sepertinya awan mendung akan segera menurunkan air. Dan benar, aku berlari mencari tempat berteduh untuk menghindari hujan. Gelap. Aku terus melangkah masuk kedalam gua agar air hujan semakin jauh dariku. Aku duduk untuk megistirahatkan kaki, mengedarkan pandangan pada sekeliling. Petir mengagetkanku dan menyiratkan cahaya yang menyinari apa yang aku duduki, “Aaaaa!” aku berlari keluar dari gua, menerobos hujan deras. Aku ketakutan, karena yang aku duduki barusan adalah peti mati yang di dalamnya

3rd Journal

ketemu dimana," kata Husni sem bari tertawa. Nah, belia sempat berbicara den gan salah satu tamunya nih yaitu, Cotswolds. Grup musik yang digawangi oleh Teddy (vokal), Dwi ky (gitar), Sesa (bass), dan Farras (drum) ini treb entuk tahun lalu dan terinsiprasi musik post punk di akhir ‘70-an. Dengan Taman Nada, dua grup ini men jalani tur 8 kota yang dinamakan Bladhus Tour dan sala h satunya mampir ke gigs di Riau ini. "Kami berpikir musik di Surabaya tuh banyak, tapi ngga terlalu dikenal di luar Sura baya. Makanya kami tur dan salah satunya ke Bandun g ini. Crowdnya seru dan asik," kata Teddy sam bil mengelap keringat karena sehabis tampil. Keberadaan gigs-gigs seperti 3rd Journal, khususnya di Bandung selain untuk alas an komersial ternyata bisa membantu band-band yang sedang meniti kariernya di scene musik Indonesi a belia. Sayangnya banyaknya gigs saat ini menjadik an beberapa band tidak berfilosofi dalam musik, seka dar tampil dan bersenang-senang. Padahal, mus ik adalah sarana untuk mengedukasi penonton, melalui lirik lagu penonton dapat terdoktrin. So, belia jika punya band yuk mulai berfilosofi dalam lagu -lagunya!

FOTO: STEFANNO

FOTO: DOK.

siswanti.hanifa@yahoo.co.id

C e r p e n

KU berteriak dan meminta ibu membuang lukisan yang di bawanya kemarin dari toko antik. Aku tak mau melihatnya lagi, dan aku tidak mau mengingat mimpi semalam. Menyeramkan. “Ih, ibu dapat itu dari mana?” Aku bergidik melihat lukisan yang dibawa oleh ibu, terlihat disana ada orang-orang sedang melaksanakan ritual pemakaman. “Jangan seperti itu pada kebudayaan nusantara, ini lukisan Suku Toraja. Baguskan?” Ibu mengelap lukisan itu lagi agar bersih dari debu. Tak ada bintang yang bertaburan di langit,

voritnya, Float, untuk pertama kali. Ternyata mereka bakal ikut berpartisipasi dalam konser Float 2 Nature di Dieng, Jawa Tengah pada November mendatang lho! “Bandung identik dengan musik indie dan ide-ide kreatif musik sekarang juga berdatangan dari kota lain seperti Jakarta, Jogja, dan Lampung. Kalau band massive kan udah sering kelihatan dimana-mana, nah Witching Hours ingin jadi wadah bagi bandband indie untuk perform dan musiknya dinikmati banyak orang. Untuk pemilihan band-nya, Witching Hours nggak identik dengan band kota kembang doang. Misalnya Mustache and Beard yang band kampus atau Answer Sheet dari Yogya. Witching Hours memang jadi paket komplit tersendiri. Rasanya seluruh indera bisa merasakan sensasi yang sama. Ketika lidah sedang asyik kulineran, mata dan telinga juga turut dimanjakan dengan sajian musik yang pas dan perform keren dari para pengisi acara. Nggak heran kalau antusias pengunjung selalu besar terhadap perhelatan satu ini. Bravo! ***

NSTRUMEN keras menghantam seluruh ruangan seketika Teddy mulai memaink an lagu ”Fire” karya bandnya Cotswolds asal Surabaya . Band tersebut datang ke Bandung bersama Tam an Nada (Surabaya) untuk manggung di acara 3rd Journal yang diselenggarakan oleh Glas s Like ent. Acara yang dimulai pada pukul 19.00 WIB tersebut juga menghadirkan Mr. Sonjaya & Cath uspatha. Ini merupakan ketiga kalinya Glass Like membuat acara dengan konsep band-band yang seda ng tur, untuk bermain di Bandung. "Ini rangkaian yang ketiga, bera rti sebelumnya kita punya event The Journal dan 2nd Journal, konsep eventnya mengundang band-ba nd yang lagi tur. Pertama band dari Jakarta, kedu a dari Jogja, nah kalau yang sekarang kita keda tangan tamu dari Surabaya, Taman nada sama Cots wolds," kata Yogie selaku perwakilan dari Glass Like Ent. Uniknya dalam acara ini panitia tidak hanya mengundang band-band untuk tam pil di panggung, tetapi dijadikan ajang juga untu k mempertemukan komunitas-komunitas musik di Surabaya "Selain itu, tujuannya juga silaturah . mi dengan komunitas-komunitas musik yang suka bikin gigs di Jawa dan luasnya di seluruh Indo nesia," kata Yogie. Kali ini memang 3rd Journal pun ya misi sendiri dalam mengundang tamu, yaitu lintas Taman Nada dan Mr. Sonjaya mem aliran. iliki kemiripan dalam bermusik, dengan lagu-lag u yang lebih landai dan sendu. Sedangkan Cotswolds dan Cathuspatha lebih condong mem ainkan musik yang lebih enerjik dan memomp a semangat. Walaupun begitu belia, mereka berempat sukses menyanjung para penonton. "Bagus kok. Perbedaannya tahu n ini ya dari band-bandnya yang tidak satu genre, terus kan ini ada yang tur jadi pengen tahu dan bagus ternyata bandnya. Kemudian ini jadi ajan g silaturahmi juga sama temen-temen di acara ini, soalnya kalau tidak ada acara kayak gini bing ung juga mau

M

ENIKMATI rilisan fisik dari sebuah karya musik memang menjadi kepuasan tersendiri. Selain trennya kini kembali berkembang, rilisan fisik juga punya nilai autentik. Nggak heran beberapa musisi memutuskan untuk merilis karya lewat piringan hitam (vinyl), seperti yang dibikin Avhath dan Haul. Kedua band tersebut bikin split album yang acara peluncurannya dihelat di Chinook Cafe and Resto, Jalan Riau 191, Bandung, Jumat (13/9). “Mungkin karena collectible, sekarang juga banyak yang mengoleksi vinyl. Selain itu, sebagian besar vinyl juga diburu karena memang bagus secara kualitas,” ujar Miko, promosi dari Maternal Disaster. Dalam launching party tersebut, mereka juga menyediakan paket vinyl dan merchandise Avhath dan Haul bagi penonton. Gelaran ini juga nggak sekadar peluncuran split album karena turut diramaikan oleh Gaung, Echolight, Terapi Urine, dan Vrosk. Meskipun di awal acara masih terbentuk suasana yang belum cair antar penonton, toh hal itu akhirnya nggak kejadian lagi saat Gaung didaulat tampil sebagai pembuka. Sesuai dengan namanya, band ini segera menggaung dengan merobek suasana yang

sempat beku. Berbondong-bondong penonton pun mulai menggerakkan kaki dari tempatnya berpijak untuk semakin mendekati stage. Meski minim komunikasi, aroma progressive rock yang dilemparkan Gaung dengan chaos tanpa memberi jeda di setiap pergantian lagunya bikin venue mulai memanas. Atmosfer itu makin bertambah saat Echolight jadi giliran berikutnya. Band yang akhir tahun nanti bakal meluncurkan full album, bikin acara meledak. Dari “Traffic Thriller” sampai “Black Stolen Boxes”, energi musikal yang mereka keluarkan seakan nggak pernah habis. Mendengar dan menontonnya aja udah serasa kayak ngebut di track balapan dengan kecepatan super. Pecah! “Kriteria untuk pilih band-band ini untuk main karena mereka punya potensi bagus, tapi nggak terekspos media. Bisa dibilang underrated, jadi kami fasilitasi. Sebenarnya kami juga nggak nutup diri untuk kerjasama dengan band baru yang nggak terekspos. Sekalian untuk mengangkat scene karena bosan juga dengan scene sendiri yang band pengisinya itu-itu aja,” tambah Miko. Sedikit bocoran nih, dalam rangka memperingati satu dasawarsa Maternal Disaster beberapa bulan lagi, Miko bilang kemungkinan bakal bikin suatu eksibisi artwork dengan mengundang guest star yang diboyong dari negeri Paman Sam. Ada yang bisa nebak, siapa yang bakal ditampilin? *** siswanti.hanifa@yahoo.co.id

pun berarti ikut mensukseskan gerakan membaca, serta memanfaatkan fasilitas yang telah disediakan negara/sekolah untuk kita, tidak membuatnya menjadi mubazir. Bukankah memubazirkan sesuatu yang bermanfaat itu perbuatan dosa? Oleh sebab itu, ayo ke perpustakaan!*** Safira Kayyisa Zakiyah, kelas VIII SMPN 18 Bandung


22

SELASA (WAGE) 17 SEPTEMBER 2013 11 ZULKAIDAH 1434 H HAPIT 1946

FOTO: STEFANNO

R.I.P.D

Studio Durasi

: Robert Schwentke : Ryan Reynolds, Jeff Bridges, Kevin Bacon, Mary-Louise Parker, Stephanies Szotak : Universal Pictures (2013) : 1 jam 36 menit

N

ICK (Reynolds) adalah seorang polisi di Kota Boston yang bekerja di R.I.P.D (Rest in Peace Department). R.I.P.D adalah agensi yang merekrut polisi-polisi yang sudah mati dan ditugaskan untuk menangkap ”Deados”, arwah manusia yang mati penasaran dan hidup berbaur dengan manusia di bumi. Deados adalah mereka yang tidak berhasil melintas menuju kehidupan selanjutnya baik ke surga maupun neraka. Mereka tinggal di bumi dan menciptakan sejumlah kejahatan dan kekacauan di tengah-tengah kehidupan manusia yang masih hidup. Nick semasa hidupnya adalah seorang polisi yang jujur, dengan partner bernama Bobby (Bacon). Suatu ketika, saat mereka sedang melakukan penangkapan, mereka tidak sengaja menemukan sejumlah emas. Emas tersebut disimpan dan Nick menguburkannya di taman rumahnya sebagai simpanan untuk dia dan istrinya, Julia (Szotak). Nick yang merasa bersalah berencana untuk menyerahkan emas ”curian” tersebut. Namun, sebelum dia sempat melakukannya, Bobby sang partner menembaknya hingga Nick tewas. Nah, sesaat setelah kematiannya, tiba-tiba Nick dibawa menuju markas R.I.P.D. dan bertemu dengan Mildred Proctor (Parker), calon atasannya di agensi tersebut. Setelah dijelaskan mengenai R.I.P.D., Nick yang masih ingin bertemu dengan istrinya yang masih hidup

w vie re

Sutradara Pemain

menyanggupi untuk bergabung dengan R.I.P.D. tanpa memikirkan konsekuensi dan hal-hal baru yang belum diketahuinya. Bersama Roy Pulsipher (Bridges), partner barunya yang semasa hidupnya adalah seorang sherrif koboi, Nick harus memecahkan sejumlah misteri yang berhubungan dengan kematiannya, Deados, dan konspirasi licik yang memungkinkan terjadinya invasi kaum yang sudah mati di muka bumi. Semuanya ternyata berhubungan dengan mantan partnernya semasa hidup, Bobby. ”R.I.P.D” adalah film komedi yang kocak, sangat menghibur, dengan pilihan cerita yang cukup unik. Kelucuan-kelucuan muncul dari duo karakter Nick dan Roy yang oleh manusia biasa penampakannya terlihat seperti seorang kakek-kakek Cina yang renta (Nick) dan seorang cewek seksi dengan penampilan yang sangat menggoda (Roy). Sayang, plot cerita ”R.I.P.D” terlalu mudah ditebak, dengan ending yang juga terlalu biasa. Jadinya film yang udah punya semua modal buat jadi film yang sangat keren terjebak menjadi film popcorn Hollywood yang hanya punya satu kelebihan, yaitu menghibur, enggak lebih. Terlepas dari itu, film ini pas banget buat kamu jadiin tontonan nomat di bioskop favorit kamu. *** syauqy_belia@yahoo.com

Ways to Live Forever : Sally Nicholls : 216 halaman : PT GPU

w vie re

Penulis Tebal Penerbit

B

UKU ini adalah karya fiksi yang berbalut fakta-fakta menakjubkan. ”Ways to Live Forever” ditulis oleh Sally Nicholls ketika usianya 23 tahun. Buku ini berkisah tentang Sam, seorang anak yang mengidap leukemia. Diceritakan dalam buku ini, Sam hobi mengumpulkan cerita dan fakta serta menulis pertanyaanpertanyaan yang menurut dia tak ada jawabannya. Ceritanya, buku ”Ways to Live Forever” ini adalah catatan harian Sam. Di buku ini, terdapat banyak daftar, cerita, foto, dan berbagai pertanyaan serta fakta yang dikumpulkan Sam selama minggu-minggu terakhir kehidupannya. ”Namaku Sam, umurku sebelas tahun. Aku suka mengumpulkan cerita dan fakta-fakta yang fantastis. Aku mengidap leukemia. Saat kalian membaca buku ini, kemungkinan aku sudah pergi,” begitulah yang tertulis di halaman awal buku ini. ”Ways to Live Forever” diawali dengan daftar tentang diri Sam. Daftar-daftar tersebut nggak berakhir sampai situ. Ada daftar tentang penampilan Sam, hal yang ingin ia lakukan, hal-hal favoritnya, kiat-kiat hidup abadi, fakta tentang ayahnya, tentang balon zeppelin, dan tentang kematian. Ya, buku ini bicara cukup banyak soal kematian. ”Ways to Live Forever” menyuguhkan sudut pandang lugu dari seorang anak yang penasaran tentang apa rasanya mati dan apa yang akan terjadi setelah ke-

matian. Dari buku ini, kita bisa memaknai kematian dengan cara yang berbeda. Ada satu bagian di mana Sam mencurahkan kegundahannya kepada Granny, sang nenek. Lalu neneknya berkata mati itu ibarat ulat yang berubah menjadi kupu-kupu. Katanya, memang menakutkan, sama seperti si ulat ketakutan kalau hendak menjadi kepompong. Akan tetapi, apa jadinya kalau semua ulat berpikir, ”Oh, tidak, aku bakal menjadi kepompong, ini tidak adil?” Bisa-bisa mereka tidak akan pernah berubah menjadi kupukupu. Yang dimaksud Granny, mati itu adalah tahap selanjutnya dalam kehidupan dan tidak ada yang perlu ditakuti. Sally Nicholls mengajak emosi pembacanya menari-nari. Dari mulai merasakan kegamangan seorang anak belasan tahun menghadapi kematian, kesedihan dan ketidakberdayaan seorang ayah menghadapi situasi, kegirangan bocah yang mimpi-mimpinya terwujud, hingga kehampaan seorang kawan yang ditinggal mati. Satu lagi, kesedihan ketika memikirkan mengapa Sam tidak diberi kesempatan hidup lebih lama. Seandainya saja Sam diberi kesempatan untuk tumbuh dewasa, mungkin dia akan tumbuh besar menjadi pria tampan dan menjadi ilmuwan yang hebat. Belia siap-siap saja untuk tersenyum dan menangis saat membaca buku ini!***

Bawa Indonesia

White Shoes & The Couples Company

ke Skandinavia dan Eropa Apa guna malu-malu kucing Meong meong di belakang suaranya nyaring Jangan suka diam-diam kucing Meong-meong Sudah menerkam sebelumnya berunding

D

ENGAN lihai dan energik, Sari melantunkan tembang ”Aksi Kucing” sembari menari layaknya di disko era ’70an. Sambutan hura penonton, khususnya kaum Adam, mengiringi permainan langkah kaki serta derai suara merdu Sari. Rio (gitar akustik) & Ricky (kontra bas) ikut nimbrung menjadi backing vocal dengan menyahut Meong Meong! Tabuhan drum Navid, lengkingan gitar Saleh, dan jari-jari lihai Mela pada keyboard menggenapi permainan grup musik White Shoes & The Couples Company (WSATCC) pada malam itu. Belia kali ini berkesempatan untuk mewawancarai WSATCC di sela-sela waktu mereka sebelum manggung di acara pensi SMA. Walaupun mereka baru saja sampai dan ada yang di antara mereka masih ada yang mengisi perut, wawancara pun dimulai dengan santai. Belum lama ini WSATCC baru saja menyelesaikan tur mereka ke Skandinavia dan Eropa. Negara-negara yang beruntung dikunjungi mereka adalah Finlandia, Swedia, Denmark, dan Jerman. Rangkaian tur yang dimulai dari tanggal 25 Mei ini dimulai dari Kota Helsinki dan berakhir pada tanggal 2 Juni di Berlin. ”Awalnya main di festival di Finlandia,

World Village Festival, dari Helsinki naik kapal ke Stockholm, ke Copenhagen, dan terakhir di Berlin. Sangat menyenangkan banyak hal-hal yang seru, nambah networking,” ucap Sari Di Helsinki WSATCC diundang untuk tampil di World Music Festival yang bertempat di Kaisaniemi Park serta Railway Square. Uniknya, kedatangan mereka bertepatan dengan masuknya musim panas di daerah tersebut, jadi anak-anak muda saat itu sedang getol mencari acara. ”Kami diundang langsung oleh pihak World Music Festival di Helsinki di Finlandia, ya itu festival musik musim panas ya, jadi free untuk masyarakat, terus kayaknya yang datang ada yang dari luar Finlandia juga. Ada juga band dari Cina, Afrika, Filipina, macam-macam. Ketemu banyak orang, terus kotanya juga sepi tapi di saatsaat rame. Kayak waktu kami lagi manggung itu ada sekitar 40.000-an satu hari,” jelas Saleh Beda tempat beda cerita, setelah sebelumnya tampil di panggung besar, ketika di Copenhagen WSATCC manggung di pub/bar yang namanya Global Copenhagen. Lagi-lagi penampilan mereka digandrungi anak-anak muda yang lagi nyari tempat asik untuk nongkrong. ”Salah satu tempat panggung/disco/ballroom dan lumayan populer. Ada yang jauh-jauh dari Malmo (salah satu daerah di Denmark) ke pub itu untuk nonton kami manggung. Luculah mereka sampai mengurangi kuliah gitu. Kami juga terkejut sih, macam-macam yang datang. Abis itu kami tampil di rumah seni namanya ZKU, di rumah seni ini mereka pertama kali ngundang band indie pop. Semuanya areanya beda-beda, yang dateng juga dari orang-orang seni,” ujar Sari. Dalam masalah pemilihan lagu di

rangkaian tur ini, WSATCC tidak ambil pusing, Sering dikatakan bahwa ketika tampil di festival tertentu musiknya harus menyesuaikan dengan festival tersebut. Lain dengan WSATCC yang pede saja memainkan musik mereka, bahkan tembang ”Tjangkurileung” yang berbahasa Sunda tetap dimainkan mereka. ”Ya kami bawain yang kami punya cuek aja sih mereka. Justru mereka mengharapkan lagu kami sendiri, kalau nge-cover lagu orang mungkin mereka kecewa. Kurator musiknya juga berpikir untuk menghadirkan yang variatif tidak lagi yang orang-orang sudah tahu seperti Bon Jovi. Sekaligus mengedukasi masyarakat sana. Jadi sebenarnya kayak ajang networking indie pop tetapi dari berbagai negara,” kata Saleh Selain tur Eropa, baru-baru ini juga WSATCC merilis minialbum yang berjudul ”White Shoes & Couples Company Menyanyikan Lagu-Lagu Daerah”. Album ini berisi 5 lagu, yaitu ”Jangi Janger”, ”Tjangkurileung”, ”Te O Rendang O”, ”Lembe-Lembe”, dan ”Tam Tam Buku”. ”Lagu daerah di Indonesia kan banyak banget ya, gua pribadi juga banyak yang gak tau. Nah, kami mencoba untuk mengapresiasi lagu-lagu yang sebenarnya variatif banget lagu-lagu daerahnya,” tutur Saleh. Nah, untuk proyek ke depannya WSATCC akan merilis album baru dan film tahun depan, tetapi masih dirahasiakan oleh mereka. Kata Sari, ”Pokoknya yang berbau optimis deh”. Selain itu mereka akan mempromosikan lagu-lagu daerah hasil aransemen mereka lewat tur. Wah, banyak yah yang bisa ditunggu dari WSATCC, wajib ditiru nih nasionalisme mereka, sukses terus!*** stefannors@hotmail.com

hanifauziaramadhani@gmail.com

Right Thoughts, Right Words, Right Action

B

w vie re

Artist : Franz Ferdinand Label : Domino Records (2013) Durasi : 35 menit 4 detik

UTUH waktu empat tahun bagi Franz Ferdinand buat merilis materi album baru mereka. Band asal Skotlandia yang terdiri atas Alex Kapranos (vox, guitar), Bob Hardy (bass), Nick McCarthy (guitar, keys), dan Paul Thomson (drums) ini, terakhir merilis ”Tonight: Franz Ferdinand” pada tahun 2009 silam, sebelum akhirnya merilis album keempat mereka yang diberi tajuk ”Right Thoughts, Right Words, Right Action”. Selain merilis album ini dalam versi single CD yang terdiri atas sepuluh lagu, juga terdapat versi double CD yang menyertakan sesi rekaman live di salah satu studio di London. Buat kamu yang udah akrab dengan warna musik yang diusung band indie rock ini, pasti udah hafal dengan irama rock yang agak dance-y dan sedikit terinfluence warna musik punk. Warna yang sama masih setia mereka sajikan dalam album keempat mereka ini. Namun, sejumlah eksplorasi sound yang baru dan unik membuat album keempat ini terdengar berbeda dengan materi-materi sebelumnya. Di antaranya adalah penggunaan brass section dan sound keyboards di beberapa lagunya, tetapi tentu saja cabikan gitar dengan efek distorsi yang ”crunch” tetep menjadi kekhasan Franz Ferdinand.

Single pertama album ini, ”Right Action”, adalah satu lagu rock yang sangat danceable, dengan beat drums dan kocokan gitar yang funky. Di lagu ini, dalam potongan liriknya berulangulang dinyanyikan judul dari album, ”Right Thoughts, Right Words, Right Action”. Lagu yang sangat ear-friendly dan enak buat sing-along. ”Love Illumination”, lagu yang menjadi single kedua dirilis pada hari yang sama dengan lagu ”Right Action”. Lagu yang sangat nge-rock dengan beat yang energik. Sementara itu, ”Evil Eye” yang menjadi single ketiga adalah satu lagu dengan sound-sound yang terdengar ”horror” tapi tetep nge-rock Ala Franz Ferdinand. Dengan permainan tempo yang enggak lazim, lagu ini terdengar sangat nakal sekaligus menyenangkan. Lewat album keempatnya, ”Right Thoughts, Right Words, Right Action”, Franz Ferdinand kembali mampu menampilkan musik rock yang khas gaya mereka dengan sejumlah pembaruan-pembaruan yang mengasyikkan. Penggunaan instrumen dan soundsound yang di luar kewajaran, serta eksplorasi warna musik yang lebih dinamis membuat album terbaru dari Franz Ferdinand ini enak untuk disantap. *** syauqy_belia@yahoo.com

SMA Taruna Bakti Proudly Presents Malam Pergelaran Kesenian ”Jayavara”

September, 21st 2013 SMA Taruna Bakti, Jln. LLRE Martadinata No. 52 Bandung BERASAL dari bahasa Sansekerta ”jay” yang artinya kejayaan dan ”avara” yang artinya anak muda. Konsep malam pergelaran kesenian SMA Taruna Bakti tahun ini adalah untuk membangkitkan kembali kejayaan anak muda Indonesia yang telah lama terlupakan dengan cara menjunjung tinggi nasionalisme, persatuan, dan disalurkan melalui karya ekspresi kreatif anak muda Indonesia.

Malam Pagelaran Kesenian SMA Taruna Bakti kali ini difokuskan pada ide konsep yang sangat bertema anak muda dan diharapkan dapat dijadikan inspirasi bagi anak muda Indonesia untuk dapat menjunjung tinggi nasionalisme dan persatuan.

Rumah Musik Harry Roesli Teater SMA Taruna Bakti Fashion Show SMA Taruna Bakti SMP Taruna Bakti Angklung Charts Cheerleader Jendela Ide Bedug Jepang Etc.

Presenting: Music Performances by Pure Saturday as a Guest Star Artist Music Performances by Bands Audition

Ticket Price: IDR. 35.000 Contact Person: Ichsan08179209209 More Information: Twitter @MPKJayavara

SELURUH warga SMPN 39 Bandung membentangkan spanduk berisi komitmen bersama kesiapan dukungan SMPN 39 menjadi sekolah adiwiyata, Senin (2/9/2013), di kampusnya Jalan Holis No. 439 Bandung. Dalam acara ini, Komunitas lingkungan GGH (Go Green and Health) juga siaga menunggu orang-orang yang akan 'menabung' sampah. Roadshow Adiwiyata ini turut dimeriahkan oleh ekskul kesenian, kabaret, senam zumba, dan pemberian penghargaan kepada kelas terbersih. * ISTIMEWA

Whether you sniff it, smoke it, eat it, or shove it up your ass, the result is the same: addiction.

-- William S Burroughs

Epaper belia 17 september 2013  

Cover BELIA edisi 17 September 2013, pemenang Bronze Winner The Best of Java Indonesia Young Rea­ders Awards (IYRA) 2014

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you