Page 1


Radik Sahaja


My Personal Branding Langkah-Langkah Membangun Identitas Karya Radik Sahaja/Cak RaSa ceritacakrasa.blogspot.com

Cetakan Pertama, Oktober 2012 Š 2012, Radik Sahaja/Cak RaSa 210000231 Diperuntukkan untuk memenuhi tugas UTS mata kuliah IMC 2 Personal Branding, Tahun Ajaran 2012-2013 Universitas Paramadina Jl. Gatot Subroto Kav. 97, Mampang, Jakarta 12790 T. +62-21-7918-1188 F. +62-21-799-3375 E-mail : info @ paramadina.ac.id http://www.paramadina.ac.id


DAFTAR ISI 1 Siapa Saya? 3 Langkah 1: Analisa Masalah 30 Langkah 2: Rencana & Program 37 Langkah 3: Bertindak & Berkomunikasi 42 Langkah 4: Evaluasi 43 Biodata


Siapa Saya? Sebelum jauh membahas tentang personal brand apa yang ingin saya ciptakan, alangkah lebih menyenangkan bila saya memerkenalkan diri terlebih dahulu secara singkat. Nama saya Radik Sahaja, lahir di Surabaya pada tanggal 11 Oktober 1991 dari pasangan Priyoko (jurnalis) dan Ine Indrati Sigit (PNS). Saya pun memiliki seorang adik bernama Daya Hatta. Pada awalnya, keluarga saya tinggal bersama nenek dan kakek di daerah Bratang Binangun, sampai akhir Desember 1995 pindah ke Perumahan Wisma Gunung Anyar (Wiguna). Pada umur 4 tahun saya mulai masuk TK di TK Lestari, dan dua tahun setelahnya saya terdaftar sebagai pelajar di SDN MA II 615. Mei 1999, saya berpisah dengan kedua orang tua saya dikarenakan ibu melanjutkan studi S2-nya di Philippines, enam bulan kemudian bapak kembali untuk membawa saya dan adik untuk pergi ke sana. Akibatnya saya harus berhenti di tengah jalan ketika menginjak kelas 2 semester kedua, dan kembali mengulang pada tingkatan yang sama di Holly Angels School, Philippines. Setahun kemudian, akhir Oktober 2000, masa sekolah ibu berakhir—bertepatan pula dengan kenaikan kelas sekolah dasar dan TK—dan kami kembali ke Indonesia. Untuk kedua kalinya saya bersekolah lagi di SD yang sama. Akan tetapi, meski melanjutkan ke kelas 3, saya harus sekelas dengan adik kelas. Hal tersebut membuat saya seolah-olah mengulang setahun, bukan karena tidak naik atau tinggal kelas, tetapi dikarenakan isi surat perjanjian dengan kepala sekolah, Bapak Karomen, yang dibuat sebelum hijrah ke Philipines. Setelah lulus SD, saya melanjutkan pendidikan ke SMPN 35. Tapi sayangnya selepas SMP, saya tidak

1


bisa meneruskan sekolah di Surabaya lagi. Karena ibu harus pindah kerja ke kantor Depkes di Jakarta. Dikarenakan belum adanya tempat tinggal di kawasan Jakarta, serta belum terselesaikannya urusan surat-surat kepindahan ibu, maka saya dan adik dititipkan di rumah nenek-kakek sejak tanggal 30 Juni 2007 di Cianjur. Di Cianjur, saya melanjutkan pendidikan ke SMAN 1 Cilaku – Cianjur. Selama SMA, saya mengikuti kegiatan-kegiatan ekstra kulikuler seperti Arlogi (sebuah ekstra kulikuler yang memelajari tentang beberapa software seperti Adobe Photoshop dan Corel Draw), dan Assast (nama untuk ekstra kulikuler sastra-teater). Sejak Mei 2010 hingga kini, saya terdaftar sebagai mahasiswa DKV di Universitas Paramadina.

2


Langkah 1: Analisa Masalah Mungkin ada yang bertanya apa kaitannya ‘personal brand’ dengan perjalanan hidup saya? Menurut saya, jelas ada kaitannya. Saya berpandangan bahwa sebuah brand, apapun itu bentuknya, tidak akan lepas dari yang namanya branding atau proses kreasi sebuah merek atau identitas. Dan proses kreasi itu dimulai sejak sesuatu itu diciptakan atau “dilahirkan�. Maka dari itu, sebelum mencoba menggambarkan personal brand yang ingin diciptakan, saya menceritakan riwayat hidup agar lebih memudahkan dalam penjabaran selanjutnya. Baiklah, demi memersingkat waktu, saya mulai saja rangkaian kisah ini. Terlahir, tumbuh, dan berkembang di lingkungan keluarga yang dekat dengan dunia literatur membuat saya akrab dengan kumpulan buku. Hal tersebut akhirnya menumbuhkan hobi membaca dalam diri saya; meski pada awal mulanya, ketika masih berusia 3-6 tahun, saya hanya tertarik buku yang mana di dalamnya terdapat gambar-gambar ilustrasi yang menarik. Gambar-gambar yang seolah-olah membentuk cerita dengan sendirinya berkat sedikit imajinasi seseorang yang belum mampu membaca berparagraf-paragraf. Ketertarikan akan buku semakin kuat seiring dengan cukup seringnya orang tua menghadiahkan buku-buku bergambar karakter dongeng anak dan tokoh film kartun yang populer pada masa itu. Suatu hari, orang tua membelikan satu set buku yang dikemas dalam sebuah tempat berbentuk sekolah bercat merah dengan gambar karakter-karakter khas fabel nan lucu. Pada bagian depan tempat tersebut terdapat sebuah belahan untuk dibuka

3


tepat membagi dua pintu bangunan sekolah tersebut. Di saat dibuka, di dalam tempat tersebut terdapat sekotak crayon dan beberapa buku berbentuk kotak yang tertata apik di tempat masing-masing; dimana di setiap tempat tersebut terdapat gambaran isi dalam buku yang berbeda-beda—mulai dari abjad, angka, mewarnai, cerita bergambar, hingga menghubungkan titiktitik untuk membentuk sebuah gambar. Bahan dasar dari tempat serta buku-buku tersebut adalah karton yang kira-kira setebal setengah sentimeter. Betapa senangnya saya mendapatkan sepaket buku tersebut. Memasuki usia 6 tahun, saya mulai gemar untuk mengikuti cerita serial-serial kartun setiap hari minggunya. Hari minggu pun menjadi hari yang paling ditunggu-tunggu, karena mulai pukul 06.00-09.00 hampir dapat dipastikan saya selalu duduk manis menonton serial kartun di layar kaca cembung. Kecintaan terhadap serial kartun semakin menjadi semenjak kepindahan ke Philippines pada November 1999. Serial Pokemon di Cartoon Network menjadi tontonan wajib hukumnya untuk diikuti jalan ceritanya. Karakter-karakter pada serial tersebut didesain sedemikian rupa hingga memiliki kekuatan tersendiri yang membuat Pokemon menjadi serial anime terpopuler pada waktu itu. Saya pun sempat mengoleksi Pokemon Card dan figur-figur karakter Pokemon—mulai dari yang palsu hingga yang orisinil. Kecintaan serial Pokemon itu pun yang membuat saya mengagumi hebatnya visualisasi sebuah imajinasi lewat sebuah desain karakter. Hal tersebut yang kian mendorong saya untuk mencintai animasi. Selain Pokemon, saya sesekali menyaksikan Scooby-Doo dan Dexter’s Laboratory pada channel yang sama. Dan untuk kali pertamanya, di sana saya membeli VCD Toy Story yang merupakan animasi CGI

4


(Computer Generated Imagery) pertama kali buat saya. Rasanya seluruh yang terdapat di dalam sana, tak hanya sebatas desain karakternya, adalah refleksi dari kehidupan nyata. Semenjak itu pula, saya berusaha untuk selalu menyaksikan animasi karya Disney-Pixar dari waktu ke waktu. Beberapa minggu setelahnya, secara bertahap, saya membeli VCD film Bambie, Toy Story 2, Little Mermaid, The Little Mermaid, The Little Mermaid 2, Tarzan, Mulan, A Bug’s Life, Aladdin, dan Dinousaur. Selama setahun tinggal di sana, saya mendapatkan banyak sekali kenangan seperti berinteraksi dengan pribumi harus menggunakan bahasa inggris, bersekolah di Holly Angels School dan mendapatkan teman-teman dekat di antaranya Daren, Dairil, Ronello, Wilfren, Jessica, Ruzzel, Mia, dan dua orang WNI Widia-Abu. Selama di sana, bapak saya yang memasak dan menjadikan spageti-telur-kornet menjadi menu andalan beliau. Sesekali kami pergi makan keluar di Rice Bowl atau Mc Donald’s. Sering saya dan adik dibelikan Happy Meal yang berhadiah mainan; bahkan sempat berburu mainan ketika diadakannya sale besar-besaran di salah satu gerainya. Alhasil sekoper penuh koleksi kami. Sewaktu ibu berkunjung ke sebuah desa pun saya mendapatkan pengalaman yang luar biasa, berkunjung ke pertenakan babi yang relatif lebih bersih daripada di Indonesia, saat kunjungan tersebut, seekor babi tengah mengalami proses melahirkan yang diawasi jalannya oleh seorang petugas; saya berdansa dengan seorang gadis manis yang saya taksir usianya 5 tahun di atas saya, dan kejadian mendekati maut pun terjadi ketika saya menaiki sebuah sepeda di jalanan menurun. Sebelumnya saya tak mengetahui bahwa sepeda tersebut ternyata tak berfungsi kedua remnya, sampai pada akhirnya sepeda tersebut membawa

5


saya melaju dengan kecepatan penuh akibat gravitasi bumi sebesar 9,8 m/s2 dalam teori fisika, dan saya berusaha menghentikan menggunakan kedua kaki, tetapi tetap saja kecepatan sepeda tersebut tak berkurang sedikit pun. Saya pasrah dan ikhlas seandainya saya harus terluka parah atau bahkan sampai kehilangan nyawa saat itu, karena di ujung turunan tersebut terdapat sebuah sungai dengan batu-batu besar telah siap menghadapi tumbukan saya. Sebuah keajaiban terjadi, di tengah keputusasaan, di ujung jalan seorang pria berhasil menghentikan sepeda saya, dan pria tersebut pun menyelamatkan saya dari malaikat pencabut nyawa. Saya mengucapkan terimakasih banyak kepada pria itu, dan sesaat setelahnya ibu saya menghampiri kami lalu berterimakasih pula kepada bapak tersebut. Ternyata ibu saya mengetahui peristiwa menegangkan yang saya alami beberapa menit sebelumnya. Saya baru tahu. Di akhir Oktober 2000, masa sekolah Ibu berakhir, dan kami kembali ke Indonesia. Saya pulang membawa kenang-kenangan dari Philippines bukan hanya sekedar rangkaian ingatan akan momen berharga selama di sana, tetapi pemberian dari teman-teman dekat saya di hari terakhir bersekolah di sana. Ruzzel memberikan topi kesayangannya yang sering ia kenakan ke sekolah, Jessica memberi sebuah dompet anyaman, Ronello memberikan sebuah mainan atlit gulat bercelana putih bercorak bendera Britania Raya, Wilfren memberi air matanya karena merasa kehilangan karena selama ini tak ada yang ingin berteman dekat dengannya, Mia menghadiahi rasa penasaran karena saat hari terakhir saya bersekolah di sana ia tidak datang ke sekolah, Daren & Dairil memberi waktu bermain bersama lebih lama dari biasanya dan bertukar bahasa antara Indonesia dan

6


Tagalog, sementara Widia-Abu mengucapakan perpisahan khas orang Indonesia. Pihak Holly Angels Scholl pun menghadiahi saya sebuah foto bersama teman sekelas, wali kelas, pengajar, dan pengurus sekolah lainnya.

Hidup pun harus dilanjutkan. Saya melanjutkan kelas 3 SD bersama adik-adik kelas. Beruntunglah, karena mereka semua tak ada yang keberatan akan kehadiran saya. Tak ada pula yang menganggap saya senior mereka, kami terlihat seperti satu angkatan—tanpa memedulikan pautan umur. ng cukup banyak memengaruhi pribadi saya pada tingkat akhir—kelas 6A. Mustofa namanya. Pak Fa, begitu orang-orang mengenal beliau, sering menyisipkan nasihat-nasihat bijak. Salah satu nasihat yang paling teringat oleh saya yakni pahlawan dan lawan itu beda tipis, contohnya Pangeran Diponogoro. Bagi bangsa Belanda dia dalah lawan; sementara di mata masyarakat Indonesia dipandang sebagai pahlawan. Dari sana saya yakin, sebenarnya tidak ada seseorang yang benar-benar ja-

7


hat di dunia ini, dan tak pernah ada pahlawan sejati. Semua tergantung dari persepsi-perspektif seseorang. Selama SD saya bisa dibilang tergolong sebagai anak yang rajin dan disiplin, karena saya selalu masuk kelas dan mengikuti pelajaran dengan baik sampai akhir—meskipun tidak tergolong sebagai murid yang aktif dan terkenal karena saya tidak pintar maupun kurang pintar alias berada di antara keduanya. Untuk urusan tugas pun saya tidak pernah telat dalam hal pengumpulannya, namun ketika kelas 5 dan 6 beberapa kali saya harus keluar kelas akibat tidak mengerjakan pe-er. Akan tetapi hal tersebut hanya berlangsung hingga akhir semester 1, setelahnya saya kembali menjadi murid yang rajin dan disiplin. Saya TIDAK INGIN GAGAL dalam menghadapi UAN nantinya.

8


Saya tak sendiri dalam melewati masa-masa SD. Saya memiliki beberapa teman dekat dan teman bermain yang cukup sering bercengkrama bersama. Wahyu, Jun, dan Mada menjadi teman bercengkrama pada waktu itu. Wahyu adalah orang pertama yang memerkenalkan saya tentang menggambar karakter. Ya meskipun masih dalam tahap imitasi, menggambar ulang karakter yang sudah ada, tokoh-tokoh serial kartun cukup booming pada waktu itu yakni Dragon Ball Z. Dari segi fisik, karakter orang pada serial tersebut jauh berbeda dari bentuk orang dalam serial Pokemon; lebih menonjolkan visualisasi dari badan-badan kekar dan berotot macam binaragawan. Ternyata tak mudah meniru gaya gambar karakter dengan otot-otot yang detil. Hal itu menjadi sesuatu yang baru yang patut untuk dicoba ditaklukkan, dikuasai. Sebuah tantangan. Tantangan adalah hal baru yang patut untuk dipelajari buat saya. Dan saya ingin belajar bagaimana cara menggambar anatomi manusia seperti yang tervisualkan pada karakter-karakter Dragon Ball Z. Saya berlatih hampir setiap malam setelah belajar, dengan harapan bisa menyerupai gambar karakter dalam poster Dragon Ball Z yang saya beli di pak lik mainan ketika pulang sekolah. Gagal, gagal, dan gagal. Tapi saya tak ingin menyerah begitu saja, saya tetap berusaha untuk berhasil meniru. Alhasil, semua proses belajar tersebut membuahkan hasil keberhasilan saya untuk MENIRU. Meskipun hanya 80% kemiripannya. Selain melakukan proses meniru dalam menggambar ulang karakter serial Dragon Ball Z, ketika SD, saya mulai tertarik dengan dunia sastra, pada saat itu masih se batas cerpen yang saya dapat dari berlang-

ganan majalah Mentari. Hal itu menjadikan saya harus menambah membaca + menulis cerpen ke 9


dalam daftar hobi. Selain teman dekat, saya pun mendapatkan beberapa rival dari murid kelas 6B. Hampir setiap saat 6A dan 6B saling “menyerang”, tak ada yang terluka dalam peristiwa tersebut dikarenakan kami tidak sampai ribut secara anarkis layaknya pelaku tawuran, namun hanya sebatas saling kejar dan ledek-ledekan. Saya ingat siapa-siapa saja yang menjadi rival pada waktu itu, kesemuanya adalah perempuan. Dipta, Dewi, Cindi, Yelan, dan Kinanti merupakan rival yang sering menjadi lawan ejekmengejek. Saya menyematkan label “PENAMPAKAN” pada Dewi dikarenakan kulitnya yang paling putih, putih khas turunan orang-orang tionghoa, dibandingkan lainnya. Masa-masa SD yang menyenangkan. 2004, terjadi peralihan dari tingkatan SD menuju SMP. Yang sebelumnya masih sering dianggap “anak bawang”, kini beranjak menjadi individu yang mulai sedikit diakui keberadaannya. Setelah lulus dari SDN MA II, saya melanjutkan pendidikan ke SMPN 35; dimana pada tingkatan pertama mendapatkan wali kelas bernama Rr. Diestrini, atau yang lebih akrab dipanggil Bu Rini, untuk kelas 7F. Pada hari pertama diadakan pemilihan ketua kelas, dan Bu Rini menunjuk saya sebagai ketua kelas. Saya selama 6 tahun belum pernah yang namanya menjabat sebagai ketua kelas. Sebuah gelar yang pasti akan mengemban tanggung jawab yang besar. Tanggung jawab, dua kata tersebut sudah sering saya dengar sewaktu SD kemarin, tapi belum pernah tahu bagaimana 10


tanggung jawab itu berlaku. Benar saja, selama saya menjadi ketua kelas, timbul beberapa masalah dalam diri saya dan lingkungan kelas. Salah satu yang paling terekam jelas dalam ingatan yaitu ketika Bu Rini memberi pinjaman uang untuk mengganti biaya iuran kelas sebesar Rp 50.000. Saat itu saya merasakan benar-benar tidak enak dengan beliau, karena merasa telah gagal, G-A-G-A-L, mengemban amanat yang diberikan sejak hari pertama masuk. Belum lagi seorang teman memberi uang dengan nominal yang sama untuk membayarkannya ke beliau agar tak ada lagi utang ke beliau. Dan itu makin membuat saya tak ada bakat untuk menjadi seorang pemimpin. Pelajaran berharga yang saya dapat dari peristiwa tersebut yakni menjadi seorang pemimpin itu harus bisa bertanggung jawab, dan saya belum memilikinya. Saya perlu untuk belajar. Naik ke kelas 8, saya mendapatkan wali kelas bernama Pak Samali. Kata orang-orang sekitar, tingkatan ini akan menjadi titik “kenakalannya� seorang pelajar SMP. Benarkah itu?


Rasa-rasanya hal tersebut tidak berlaku untuk saya. Saya masih saja menjadi murid yang biasa-biasa saja. Tak ada rangking 10 besar, tak ikut dalam keanggotaan OSIS, ataupun prestasi-prestasi lainnya. Begitulah saya, selalu berada di antara orang yang terkenal karena prestasinya yang gemilang dan orang yang terkenal akibat catatan pelanggarannya yang terdulang. Selain bersahabat dengan Firman Al-Faris, Dyah Tursina Andriani, Nurul Aini, Atika Nazarah Husna, dan Sri Wahyu Handayani sejak kelas 7 lalu, saya akhirnya bersahabat dengan Dewi Permata Sari yang notabene menjadi rival saat SD. Kami lebih memilih berdamai dan bersahabat, meski sesekali saya tetap memanggilnya Penampakan. Karena sistem sekolah yang mengharuskan terjadinya pencampuran siswa dari tiap-tiap kelas pada tingkatan kedua ini, saya pun mendapatkan beberapa teman baru. Dan tentu saja pengajar yang belum pernah mengajar saat kelas 7F lalu dengan karakternya masing-masing. Dari sanalah saya mengenal Rizal Aditama dan Rizki Amin Yasir, yang pada akhirnya menjadi sahabat saya di kelas 8C. Kelas 8C pun menjadi titik pertemuan dengan beberapa guru “sanggrik�, sangar, salah satunya adalah Pak Tris. Beliau mengajar mata pelajaran Bahasa Jawa. Beliau adalah pribadi yang menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan dan kedisiplinan dalam kesehariannya, itu juga yang ia terapkan ketika jam pelajaran Bahasa Jawa berlangsung. Beliau pernah berkata bahwa bahasa jawa itu jauh lebih mulia dibandingkan bahasa inggris. Mengapa? Dikarenakan dalam bahasa inggris kita cuma mengenal satu kata “eat� untuk makan, dan itu berlaku untuk semua makhluk hidup. Sementara dalam bahasa jawa, terdapat enam kosa kata untuk makan

12


yakni nothol, mbadhok, nyekek, mangan, maem, dan dahar. Beliau juga pernah menasehati agar kita menjadi generasi muda yang terus menaruh hormat kepada orang yang lebih tua dari kita, salah satunya adalah dengan menundukkan kepala ketika dinasihati dan sedikit membungkukkan badan ketika lewat di hadapan orang yang lebih tua. Kedua nasihat ini yang kemudian menjadi salah satu prinsip hidup saya yakni RESPECT terhadap orang yang lebih tua. Ternyata “kenakalan� seorang pelajar SMP pada tingkatan ini tak hanya akibat dari perilaku yang nakal, tapi juga pada kelabilan emosi. Saya pun mengalaminya. Suatu hari, terjadi kesalahpahaman dengan salah satu teman sekelas, dan menyebabkan perkelahian. Untung tidak sampai menimbulkan luka atau bekas lebam di tubuh masing-masing, tapi saya masih bisa merasakan pukulannya di belakang kuping kanan hingga sampai rumah. Dari sana saya enggan terlibat dengan yang namanya perkelahian. Ketika kelas 8 pun pergaulan mulai merambah ke dunia maya, saya mengenal yang namanya internet. Seorang teman saya memerkenalkan MIrc dan Friendster. Saya mulai menggunakan nama RaSa yang merupakan singkatan dari nama panjang. Dari internet pula ketertarikan akan musik Reggae mulai terbangun, membuat saya mengunduh begitu banyak informasi seputar musik yang ditenarkan oleh Bob Marley. Dikarenakan saya dan Dyah berbeda kelas, maka kami sering surat menyurat. Memang terlihat biasa dan ketinggalan jaman mengingat pada saat itu sudah lumayan banyak yang menggunakan ponsel. Akan tetapi yang bikin berbeda dari kegiatan berkomunikasi lewat media surat pada umumnya yakni kami menggunakan

13


bahasa sandi yang diciptakan oleh Dyah. Dari kegiatan surat menyurat itu pulalah yang akhirnya membuat saya tertarik dengan puisi setelah Dyah mengirim beberapa. Saya pun belajar menulis puisi hampir di setiap adanya kesempatan.

Beranjak ke kelas 9, saya kembali dipersatukan dengan teman-teman ketika kelas 7, hanya saja dua teman yang namanya berada di absen paling atas harus bergeser ke kelas 9E dan tiga orang dari kelas 9G menjadi keluarga baru bagi kelas 9F. Saya tahu bahwa kelas 9 adalah puncak terakhir yang harus ditaklukkan sebelum menyeberang dan berganti seragam menjadi putih-abu. Saya bermimpi bisa menjadi siswa SMAN 16 atau SMA Muhamaddiyah 2 Surabaya (SMAMDAS). Saya tak pernah main-main dalam berusaha untuk mengejar mimpi-mimpi selama ini. Saya sungguh-sungguh dan sepenuh hati dalam menjalani proses untuk meraihnya. Berjuang dengan semangat Bonek, semangat Bung Tomo. Hampir setiap sore dan malam dalam seminggu berjuang guna memperoleh ilmu sebanyak-banyaknya. Di sore hari, saya bersepeda motor ke tempat kursus, Ipiems dan kediaman Pak Hardio, guru matematika. Dan malam harinya, harus belajar dengan guru privat, Pak Yayan, dirumah. Tak lupa juga tentunya, untuk mengimbangi perjuangan tersebut, saya beribadah dan bertawakal kepada Allah SWT.

14


Alhasil dari perjuangan itu, saya berhasil lulus dengan nilai yang cukup memuaskan. Kini target berikutnya adalah menjadi siswa SMAN 16 atau SMAMDAS. Sayangnya, saya gagal lolos tahap seleksi siswa baru SMAN 16. Sempat putus asa karenanya, tapi beruntung saya lolos tes seleksi SMAMDAS. Badge SMAMDAS pun seketika terbayang telah terpasang di lengan kiri saya. Sayangnya selepas SMP, saya tidak bisa meneruskan sekolah di Surabaya lagi. Karena ibu harus pindah kerja ke kantor Depkes di Jakarta. Dikarenakan belum adanya tempat tinggal di kawasan Jakarta, serta belum terselesaikannya urusan surat-surat kepindahan ibu, maka saya dan adik dititipkan di rumah nenek-kakek sejak tanggal 30 Juni 2007 di Cianjur. Pada awalnya, saya merasa tak betah tinggal di tempat yang berbeda 1800 latar budayanya. Sorotan mata mereka seolah menganggap diri saya yang keturunan orang jawa, terlebih Jawa Timur, ini sebagai ancaman baru di tanah Parahyangan tersebut. Seperti masih terbelenggu dengan kebencian akibat kesalahpahaman antara Raja Hayamwuruk dan Raja Galuh. Salah paham yang melahirkan kebencian berkelanjutan. Enih, sebutan untuk nenek dari pihak ibu, selalu berpesan kepada saya untuk menjadi orang yang rendah diri dan tidak sombong, harus tahu aturan yang berlaku di tempat kita tinggal, dan harus serius dalam mewujudkan mimpi disertai dengan ibadah serta doa. Seiring berjalannya waktu, secara perlahan nan pasti, saya berhasil beradaptasi dengan struktur pola kehidupan masyarakat di sana. Mengikuti darah sunda yang diwariskan dari keluarga ibu.

15


Saya telah berhasil membuktikan bahwa perbedaan latar belakang tak akan menjai kendala apabila mengikuti seluruh norma-norma yang berlaku pada suatu tempat. Dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Merubah sedikit dari jati diri sesuai dengan tempat tinggal. Dan proses adatapsi itu saya beri nama BUNGLON.

Ketika semester kedua di tingkatan pertama, wali kelas X-8 Pak Ahmad Suryana memromosikan novel Laskar Pelangi yang dibilang beliau bagus dan inspiratif. Selama ini saya belum pernah membaca novel, hanya sebatas cerpen di majalah anak-anak ketika SD. Saya sempat ragu untuk membelinya, sampai pada akhirnya ketika berkunjung ke kos orang tua di kawasan Tebet, saya membelinya di sana. Laskar Pelangi menjadi novel pertama yang membuat saya kian tertarik akan dunia sastra. Selama tinggal di Cianjur saya pun memeroleh beberapa sahabat. Euis N. S., Resi A., Nevi Y., Sinta S. F., M. Eri M., Agie N. P., Listia W. S., Nurul Ambar, dan Dyah A. Di samping bersahabat dengan mereka, kegemeran saya akan musik Reggae kian berkembang menjadi cinta. Dan hampir seluruh siswa seangkatan mengenal saya sebagai pecinta reggae. Mereka pun memberi label “Anak Reggae�, bahkan sampai ada seorang teman

16


selalu memanggil saya Regge. Identitas diri saya selama SMA di sana adalah Pecinta Reggae, bukan lagi orang Jawa Timur yang nyasar ke daratan sunda. Kegemaran untuk menulis puisi pun mulai menjadi rutinitas buat saya setiap harinya. Setiap apa yang saya dengar, lihat, pikir, dan rasakan dituangkan dalam baitbait yang sedemikian rupa, meski masih sering menggunakan bahasa sehari-hari. Maka dari itu, kala itu, saya memberi istilah untuk puisi saya “RANGKAIAN BAHASA PERASAAN�. Saya menulis puisi sama halnya dengan bercerita dengan sahabat pada momen curhat. Hanya untuk meringankan beban pikiran. Selain menulis puisi menggunakan tangan, saya pun sering menuangkan uneg-uneg ke dalam bentuk Rangkaian Bahasa Perasaan di komputer dekstop. Hampir setiap pulang sekolah saya menyalakan komputer dan mulai menulis hal-hal yang dirasakan selama sehari. Setiap ada waktu, saya pergi ke warnet untuk memosting Rangkaian Bahasa Perasaan pada blog pertama yang dibuat sejak SMP. Pada kelas XI, saya mulai merasakan kebosanan akan potongan rambut yang dari TK hingga SMP selalu pendek. Saya pun mengamati adanya kemonotonan gaya rambut siswa di sana; emo dan belahan pinggir. Maka saya ingin berbeda dari mereka.

17


Diferensiasi pun saya lakukan dengan cara membiarkan rambut saya panjang dan mengkribo, ditambah sedikit tak tersisirnya rambut. Membuat saya memiliki ciri khas yang lain selain sebagai pecinta reggae. Saya juga mulai menggunakan nama Cak RaSa untuk akun blogspot dan beberapa jejaring sosial. Cak saya tambahkan di depan inisial nama lengkap saya agar mengidentifikasikan bahwa saya ini orang Surabaya - Jawa Timur Pada tingkatan ini, saya menjadi wakil ketua ekstrakulikuler T.I yang diberi nama Arlogi, setelah bergabung sejak kelas X. Melalui Arlogi, saya belajar banyak hal tentang software, dan saya paling semangat ketika kelas XII mata pelajaran T.I memberikan materi tentang Corel Draw 12 dan Adobe Photoshop CS 2. Selain Arlogi, saya sempat mengikuti beberapa ekskul seperti Gempala (pecinta alam) dan Assast (sastra-teater). Akan tetapi karena merasa apa yang menjai visi-misi Gempala tak sesuai dengan perilaku pengurus inti, saya akhirnya memutuskan untuk keluar dan memfokuskan diri pada Assast serta Arlogi. Selama bergabung dengan Assast banyak sekali pelajaran yang pernah saya dapatkan, seperti jangan pernah malu asal tidak malu-maluin, berani berekspresi dan mengungkapkan persepsi kita melalui seni, serta harus saling melengkapi kekurangan antar anggota dengan kelebihan yang dimiliki dari tiap-tiap anggota. Ketika buku tahunan disusun, seluruh siswa diwajibkan untuk menulis biodata diri mereka, termasuk cita-cita di dalamnya. Dengan mantap saya menulis desainer grafis pada kolom cita-cita. Mengapa harus memakai grafis? Hal itu dikarenakan ketika saya ditanya oleh salah seorang guru kelas XII tentang ingin jadi apa sepuluh tahun ke depan, saya hanya menjawab

18


desainer. DESAINER. Sang guru tersebut pun langsung berbicara soal mode-mode dan ranah fashion yang sama sekali saya tidak tahu istilah-istilah yang dilontarkan beliau. Maka dari itulah saya menambahkan kata GRAFIS di belakang kata desainer untuk kolom citacita. Lagi-lagi saya harus mengalami perpindahan untuk kedua kalinya. Setelah tamat SMA, saya pindah dan berkumpul kembali dengan orang tua di Depok. Tiga tahun hidup bersama enih-aki memberikan banyak pengalaman yang berharga buat kehidupan saya. Bersama mereka saya belajar untuk hidup apa adanya. Ada dua pilihan universitas yang disarankan oleh orang tua pada waktu itu, yakni Universitas Indonesia atau Universitas Gunardama. Kedua universitas tersebut dipilih dikarenakan letaknya yang masih berada di kawasan Depok. Saya sempat mengikuti SIMAK UI dengan pilihan jurusan TI dan Sastra Inggris. Ya, sastra inggris. Ibu ingin saya memerdalam kemampuan bersastra saya selain berbahasa inggris. Sayangnya, saya gagal dalam SIMAK UI tersebut. Kemudian, bapak mencari-cari informasi tentang kampus dengan jurusan desain grafis yang memiliki jaminan kualitas. Ternyata Universitas Gunadarma tidak memilikinya, melainkan multimedia. Maka dipilihlah Universitas Paramadina dengan jurusan DKV-nya. Saya mengikuti tes seleksi yang diadakan di kampus. Tes seleksi itu terbagi menjadi tiga tahap yakni PEPT (semacam TOEFL di Paramadina), tes gambar, dan terakhir wawancara. Semua berhasil dilewati dengan lancar, kecuali wawancara. Karena harus menunggu giliran yang cukup lama, maka ada kejenuhan dan kebosonan muncul. Saya pun jadi kurang bersemangat

19


dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan. Tapi, walau begitu, alhamdulillah saya lolos dan nama saya tercantum di daftar pengumuman mahasiswa baru pada web resmi Paramadina. Saya yakin, inilah jalan takdir saya. Di desain, BUKAN sastra inggris ataupun T.I. Dalam bayangan saya, DKV itu hanya mencakup kegiatan gambar menggambar saja. Ternyata, seiring dengan proses belajar dari semester ke semester, DKV adalah jurusan yang paling kompleks. Kekompleksan itu dikarenakan DKV mencakup banyak sekali ilmu-ilmu lain selain menggambar. DKV atau desain berkaitan dengan teknologi, budaya, politik, humaniora, sosial, ekonomi, psikologi, dan komunikasi.

20


Masalah kerap kali timbul dalam berkomunikasi secara lisan. Pada awalnya saya tak tahu mengapa bisa terjadi, tetapi setelah saya instropeksi diri dan bertanya ke beberapa sahabat SMP ternyata salahnya ada pada pihak saya. Saya yang dari dulu selalu berada di antara orang yang terkenal dengan prestasinya dan orang yang populer karena kenakalannya, membuat saya tumbuh menjadi pribadi yang lebih banyak diam dan memilih menjadi penonton ketimbang pelaku kehidupan. Selama ini saya lebih banyak berkomunikasi menggunakan bahasa visual—tulisan & gambar, hanya bicara sesekali untuk menimpali obrolan. Hal tersebut akhirnya membuat lafal bicara kurang terdengar jelas apa maksudnya. Nurul Aini, sahabat yang kini menjadi mahasiswa psikologi, mengatakan bahwa saya harus banyak-banyak melatih berkomunikasi secara lisan dengan orangorang sekitar. Ia juga menambahkan, bahwa saya harus belajar dalam mengontrol emosi yang sering berubah karena suasana hati agar orang-orang di sekitar merasa nyaman. Kedua masalah itu yang hingga kini masih sering saya hadapi, dan saya sudah melakukan perubahan meski harus banyak berusaha lagi ke depannya. Masalah takkan menjadi penghalang selama berusaha untuk bersahabat dengan yang namanya masalah. Kegemaran membaca pun mulai menjamah novelnovel cukup tebal. Sewaktu SMA dulu hanya membaca Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan Edensor; ketika resmi menjadi mahasiswa, menamatkan tetralogi karya Andrea Hirata dengan membaca Maryamah Karpov. Kemudian, mulai beralih ke Perahu Kertas, Filosofi Kopi, Madre karya Dewi “Dee� Lestari. Dilanjutkan membaca Padang Bulan, Cinta di Dalam Gelas, dan Sebelas Pa-

21


triot karya Andrea Hirata. Selama liburan semester 4 lalu, serial Supernova— yang telah diterbitkan sebanyak empat episode dari total keseluruhan enam—berhasil terselesaikan. Andrea Hirata dan Dewi “Dee� Lestari menjadi penulis yang menginspirasi serta memotivasi saya untuk terus mengasah kemampuan dalam hal menulis. Belum lagi ketika saya mendatangi acara book signing Supernova 4: Partikel yang diselenggarakan di Gramedia Depok, kian terpacu keinginan saya untuk menjadi novelis. Akan tetapi, siapa yang mau menerima naskah dari seorang penulis tanpa nama yang menjanjikan untuk dijual? Lagipula di luar sana sudah banyak berjubel penulis-penulis berusia lebih muda yang telah memiliki tempat di hati pecinta novel. Terkadang bila melihat realita ini saya ingin rasanya mengurungkan niat untuk menjadi novelis, dan lebih memfokuskan diri ke dunia seni visual. Tetapi, saya masih percaya kepada Tuhan bahwa siapapun yang kuat dalam memimpikan sesuatu, dan berjuang keras dalam meraihnya sembari membayangkan mimpinya, maka peluang untuk mendapatkan mimpi tersebut semakin dekat. Banyak orang yang bilang bahwa saya telah salah jurusan karena saya ingin menjadi novelis atau sastrawan. Tapi bagi saya, novelis bukan satu-satunya visi atau mimpi yang harus saya perjuangkan, masih ada mimpi lainnya yang juga harus diupayakan. Yakni desainer karakter. Ternyata tak hanya saya saja yang mengalami hal serupa. Adlinda Firdienta adalah kenalan yang kemudian menjadi sahabat dari pertemanan di Facebook. Dia me pakan salah satu mahasiswi DKV di Institut Seni In-

donesia Yogyakarta, kami memiliki kesamaan hobi yakni menulis cerpen dan membaca novel. Yang membedakan 22


saya dan dia adalah saya bercita-cita menjadi desainer karakter, sedangkan dia bermimpi menjadi brand manager. Melalui jurusan DKV yang sudah dipilih, saya pun berharap mampu mengenal lebih jauh tentang bagaimana membangun sebuah brand, bukan hanya sekedar menjadi tukang gambar. Saya ingin ilmu-ilmu yang didapat ketika kuliah ini mampu menunjang langkah saya untuk menjadi apa yang saya impikan dan dapat diterapkan dalam keseharian. Saya sempat berbicara tentang keinginan saya menjadi novelis kepada kedua orang tua dan para sahabat. Mereka semua selalu mendukung apapun yang saya lakukan selama hal tersebut masih membawa dampak positif untuk perkembangan diri. Lahirlah sebuah konsep dalam hidup saya bahwa jiwa ini terbagi menjadi 4 sektor, yakni Tuhan-agama, desain, sastra, dan reggae.


Saya berharap keempat sektor tersebut bisa terus berjalan selaras dalam hidup saya. Masih berkembangnya stigma masyarakat bahwa seorang desainer grafis itu tak lebih dari seseorang yang ahli dalam urusan software, seperti Adobe Photohsop, semata. Terlebih masih kurangnya penghargaan untuk desainer sebuah karakter dan karakter bermuatan lokal menjadi ancaman buat kelangsungan sektor desain dalam diri saya. Saya miris melihat nasib desainer karakter seperti Drs. Suyadi alias Pak Raden yang hingga kini tak jelas nasibnya atas hak cipta Si Unyil dan kawan-kawan. Pekerja seni di Indonesia masih banyak yang diperlakukan seperti sapi perah. Saya pun masih berpeluang untuk mengembangkan gaya menulis dan menggambar karakter menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Serta memerluas ilmu karena banyaknya sahabat yang studi di jurusan yang berbeda. Di semester 2, tepat ketika dijadwalkannya UAS mata kuliah Fotografi Desain, aki—sebutan untuk kakek dari pihak ibu—meninggal dunia. Beberapa hari sebelumnya, saya sempat mencarikan taksi malam-malam ketika almarhum mengalami sesak nafas, dan menemani ke rumah sakit bersama enih. Setelah merasa baikan, almarhum diizinkan untuk kembali ke rumah. Sekitar dua hari setelahnya, almarhum kembali dilarikan ke rumah sakit yang sama, dan saat itu almarhum harus benar-benar dirawat intensif. Dan keluarga saya secara bergantian menginap di rumah sakit. Pada dua hari terakhir, saya menjenguk beliau. Dan beliau tampak jauh lebih baik. Maka, ketika jadwal UAS Fotografi Desain, saya berani meninggalkan beliau dan menyesal mengapa harus meninggalkan almarhum dan

23


memilih untuk berangkat ke kampus siang hari. Di tengah jalan saya mendapat telepon dari bapak, dan bertanya tentang posisi saya sudah dimana. Kala itu saya tengah berada di kemacetan yang diakibatkan orang-orang yang penasaran akan peristiwa tertabraknya pengendara motor oleh commuterline. Dan alam pun menurunkan gerimis mistisnya di tengah cerahnya langit. tentang sampai jam berapa ujian berlangsung. Saya sampai kampus, dan mengikuti ujian yang telah dimulai sekitar sepuluh sebelumnya. Di saat saya mengerjakan soal-soal, bapak kembali menelepon, dan kali itu langsung mengatakan bahwa aki telah meninggal. Saya tak tahu apa yang harus saya lakukan. Saya baru menjawab beberapa soal, haruskah saya izin untuk meninggalkan kelas? Tidak. Hidup memang sarat akan pilihan, dan pilihan terberat buat saya untuk terus melanjutkan mengerjakan soal ujian, dan melewatkan momen terakhir. Setelah berakhir waktu untuk mengerjakan soal, saya termenung sejenak. Saya mencoba menutupi kesedihan dengan bersikap tenang seperti biasanya. Ketika saya ingin mengumpulkan tugas, dosen pengajar menyuruh saya untuk memperbaiki label CD yang menurut beliau sama sekali tidak mencerminkan anak DKV. Saya hanya bisa menahan geram, dan langsung tancap gas ke rumah

24


Sesampainya di rumah, suasana sepi. Saya pikir jasad almarhum tengah diurus di dalam. Namun, ketika saya masuk dan mengetahui tidak terlihat jasad almarhum. Rupanya, jasad beliau langsung dibawa saat itu juga menggunakan ambulans menuju Cianjur. Saya, bapak, dan adik menyusul pada malam harinya. Di rumah Cianjur saya melihat jasad almarhum telah dibalut kain kafan beralaskan tikar di ruang tamu. Saya menyesal mengapa harus meninggalkan almarhum siang itu. Saya sedih karena beliau tak bisa menyaksikan perjuangan saya untuk menjadi sarjana. Tetapi saya tak ingin larut terlalu lama, cukup untuk sesaat. Suatu saat almarhum pernah menasihati saya bahwa saya harus bersungguh-sungguh dalam belajar, dan terus melatih bahasa inggris karena itu penting buat diri saya ke depannya. Oleh karena itu, selama kuliah saya tidak pernah main-main. Saya sungguh-sungguh dalam belajar dan mengerjakan seluruh tugas yang diberikan. Saya rela untuk begadang bahkan tidak tidur malam sekalipun untuk menyelesaikan tugas sebagai bentuk tanggung jawab saya kepada diri saya sendiri dan demi membahagiakan orang tua, enih dan almarhum aki, serta para sahabat yang hingga hari ini terus mendukung saya. Saya tak ingin gagal dan membuat mereka semua kecewa lalu bersedih. Saya ingin melihat air muka-muka itu memancarkan kebahagiaan ketika saya berhasil, terlebih kedua orang tua karena mereka telah membanting tulang untuk membiayai segala sesuatu yang saya butuhkan dalam menunjang terwujudnya impian saya itu. Bila ditanya bagaimana kriteria sukses buat saya, maka saya akan menjawab secara sederhana sukses

25


itu berhasil menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Akan tetapi, jika dikaitkan dengan cita-cita saya, maka sukses adalah berhasil menjadi seorang novelis yang karya-karyanya diterbitkan oleh penerbit sekelas Bentang Pustaka dan Gramedia, serta menjadi desainer karakter yang memasukkan unsur-unsur lokal seperti Indieguerillas yang sukses dalam re-design karakterkarakter tradisional menjadi sesuatu yang tampak modern. Tantangan untuk sebagai seorang novelis di Indonesia selain banyaknya deretan penulis novel yang lebih dulu berkarya adalah masih rendahnya minat baca masyarakat terhadap buku bacaan seperti novel. Akan tetapi, sejauh ini, di antara novelis-novelis tersebut masih banyak yang menulis menggunakan bahasa tidak sesuai dengan kaidah EYD. Hal ini mampu menjadi peluang buat saya.

26


.: Kesimpulan: Kekuatan: - Cukup luasnya jaringan pertemanan - Keinginan untuk belajar hal baru - Berani menghadapi resiko - Bersungguh-sungguh dengan impian - Rajin - Memiliki passion dalam dunia sastra - Mencintai desain karakter Kekurangan: - Emosi yang belum terkontrol sempurna - Lafal Bicara yang kurang jelas - Cenderung pendiam & tertutup Peluang: - Masih sedikitnya novelis berkaidah EYD - Masih sedikit desainer karakter bernilai lokal - Gaya menulis yang masih bisa berkembang Ancaman: - Banyaknya novelis yang lebih dulu berkarya - Kurang dihargainya profesi desainer karakter - Minat baca masyarakat masih rendah

27


Langkah 2: Rencana & Program Personal branding is public impression of you, not only about your expression to the public. Saya setuju dengan pernyataan tersebut. Sebuah personal brand akan dikatakan gagal atau cacat apabila pesan yang disampaikan oleh seseorang ditangkap berbeda oleh orang lain. Bisa jadi kesalahan itu terjadi karena perilaku atau sikap kita kurang sesuai dengan kesan dari orang lain yang diharapkan oleh kita. Oleh karena itu dalam membangun personal brand yang saya inginkan, saya harus menyusun beberapa strategi dan analisa target market terlebih dahulu. Berikut akan saya paparkan. Seperti yang diketahui sebelumnya, saya bercitacita dan bermimpi ingin menjadi seorang novelis yang dikenal secara nasional, dan menjadi desainer karakter dengan unsur-unsur keindonesiaan. Sejak SMA saya rajin menulis cerpen, dan sempat menyusun sebuah naskah drama untuk penampilan tugas bahasa indonesia. Sayangnya, dikarenakan harus fokus memersiapkan diri dalam menghadapi UAN, maka saya terpaksa meninggalkan sejenak hobi menulis. Hobi itu kembali memanggil saya ketika pada semester 3 mendapat tugas membuat sebuah narasi untuk mata kuliah Penulisan Populer. Sekejap saya mengingat sebuah peristiwa yang terjadi saat semester 2 di kelas 9, sebuah peristiwa yang tak akan pernah kulupakan. Dalam mengerjakan tugas tersebut sempat terkendala dengan data-data yang dibutuhkan. Beruntung sahabat saya Sizul, Siti Zulaikhah, memiliki hobi mengabadikan perjalanan hidupnya dalam diary Semalam sebelum deadline saya mengerjakan tu-

30


gas tersebut dengan panduan data-data yang dibutuhkan dari Sizul. Ketak-ketik sana-sini, hapus, ketak-ketik lagi, dan akhirnya sebuah narasi berjudul Sebuah Nisan berhasil terselesaikan. Keesokan harinya, naskah narasi itu saya kumpulkan ke dosen. Dan tanpa saya duga, ternyata saya over dalam menulis tugas narasi. Naskah narasi saya tersaji dalam 23 lembar, dan seorang teman sekelas bercoloteh bahwa itu bukan sebuah cerpen melainkan novel mini. Yap, novel. Malam harinya, sama seperti yang sudah sering dilakukan, saya memosting cerpen tersebut ke dalam blog kedua saya yakni ceritacakrasa.blogspot.com. Semenjak itu pula hobi menulis saya meletup-letup seakan tak mampu terbendung, terlebih mendapat dukungan orang tua dan para sahabat. Saya pun putuskan untuk terus melatih kemampuan menulis. Dan saya serius mengikrarkan pada diri sendiri, bukan lagi sekedar cita-cita dalam bentuk mimpi, untuk menjadi penulis (novelis) nasional dan dikenal banyak orang seperti Dee dan Andrea Hirata pada sepuluh tahun mendatang. Sedangkan untuk desainer karakter akan lebih banyak digunakan dalam ilustrasi novel saya nantinya. Untuk menjadi seorang novelis sekelas Dee atau Andrea Hirata memang tidaklah mudah, diperlukan tindakan nyata dan tekad yang kuat. Maka, selama menimba ilmu di bangku kuliah, liburan semesterlah masa yang paling saya cintai. Mengapa? Karena hanya saat liburan semester saya benarbenar memiliki banyak waktu luang untuk mengasah kemampuan menulis saya, mencoba-coba meniru gaya menulis orang lain hingga menemukan ciri khas dalam tulisan saya nantinya. Dengan penuh keyakinan, cepat atau lambat akan saya temukan identitas pada karya

31


saya. Pada libur semester 3 saya mencoba mengembangkan alur cerita Sebuah Nisan menjadi sebuah skrip novel yang saya kasih judul Hidup Ini Seperti Puisi. Tak mudah memang memerdalam plot sastra 21 lembar tersebut menjadi sastra dengan jumlah halaman 200 lembar A4 untuk sebuah skrip novel. Jumlah tersebut merupakan salah persyaratan skrip novel dari Bentang Pustaka. Sayang, libur semester 3 berakhir, berakhir pula waktu saya untuk menyalurkan hobi menulis. Saya harus mengenakan kembali “seragam” mahasiswa desain, dan mengembalikan jiwa saya ke sektor DESAIN. Saya pikir semester 3 merupakan tahapan yang paling banyak “invasi”—istilah saya untuk keadaan dimana tugas-tugas bejubel dan mengantri untuk diselesaikan sebelum jatuh tempo, serta membuat pola tidur saya terganggu karena harus begadang bahkan tidak tidur malam sama sekali—nyatanya tidak. Makin ke sini, makin sering “invasi” saya dapatkan, dan beban yang dirasakan pun makin berat. Maka dari itu, misi saya yang pertama adalah lulus kuliah tepat waktu, dan berharap hingga akhir nanti tidak ada satu mata kuliah pun harus diulang. Akan tetapi, saya tetap membeli novel-novel atau buku-buku yang bernilai investasi buat ikrar untuk menjadi penulis novel di kala ada waktu senggang. Hal ini juga berguna untuk mengetahui perkembangan ragam novel yang ada di pasaran. Seperti yang telah terceritakan pada Langkah 1 di awal tadi, sejak SMA saya mulai aktif menggunakan nama inisial Cak RaSa. Oleh karena itu, saya ingin memertahankan citra positif selama menggunakan nama tersebut. Tentu hal ini akan menjadi poin plus di hada-

32


pan penerbit nantinya. Misi selanjutnya adalah ketika saya telah lulus nanti, saya ingin memfokuskan diri menulis dan tetap mencari tahu bagaimana varian novel yang ada. Setelah mengetahui hal tersebut, maka saya dapat mengetahui genre novel yang seperti apa, saya akan mencoba mengikuti genre tersebut, namun tetap memertahankan gaya menulis saya dengan tema yang berbeda—saya tahu bahwa diferensiasi itu perlu. Selanjutnya mengirim naskah ke penerbit. Apabila jumlah hasil dari penjualan terlihat bagus, dan saya sudah cukup dikenal dan dipertimbangkan dalam dunia sastra Indonesia, maka saya akan mengeluarkan novel Hidup Ini Seperti Puisi. Hal terakhir yang perlu saya lakukan untuk mencapai visi saya adalah terus mengembangkan kemampuan menulis dan belajar untuk menyajikan karya-karya yang lebih baik dari waktu ke waktu. Kemampuan dan gaya menulis yang dimiliki sekarang tidak akan cukup di kemudian hari karena ranah sastra berubah seiring dengan perkembangan zaman. Oleh karena itu, proses pengembangan menulis tidak boleh berhenti karena merasa puas ketika telah berhasil, harus selalu dikembangkan. Menurut saya, dunia sastra adalah dunia tempat imajinasi, realitas, mimpi, dan harapan menjadi satu. Gabungan keempatnya mampu mengimpuls pembaca untuk ikut larut, merasakan seolah-olah tengah berada dalam alur cerita yang diciptakan. Saya sebagai calon seorang novelis memahami bahwa lingkungan dan orang-orang sekitar memengaruhi pembentukan gaya menulis. Saya ambil contoh dari proses penulisan narasi Se-

33


buah Nisan yang mana di dalamnya diceritakan tentang bagaimana kisah persahabatan dan cinta membentuk cerita yang berkesan. Di dalam cerpen tersebut pun, saya mencoba merefleksikan bagaimana persahabatan dan cerita cinta tersebut mendekati dengan realitas para pembaca sehingga cerpen tersebut mampu memengaruhi mereka. Demi mencapai tujuan menjadi seorang novelis sekelas Dee dan Andrea Hirata selain mengimplentasikan misi-misi, juga butuh pengomunikasian. Pengomunikasian yang dimaksud adalah komunikasi personal yang menjelaskan tentang siapa diri kita, dan bagaimana feedback yang diberikan oleh publik terhadap pesan yang telah disampaikan. Dalam kasus saya adalah cara menyampaikan bahwa saya punya kemampuan untuk menjadi seorang novelis berskala nasional, sebelum pada akhirnya go internasional layaknya Andrea Hirata. Target komunikasi yang dimaksud tentunya adalah, pengamat dan pecinta seni sastra. Target komunikasi tersebut dapat dibagi ke dalam beberapa kategori sebagai berikut:

Primary Target

Demografis: Usia: 13-19 tahun Jenis kelamin: Perempuan Pekerjaan: Pelajar Kelas Ekonomi: Menengah ke atas Pendidikan: SMP-SMA Geografis: Target berdomisili di kota-kota besar Psikografis: Para pelajar yang gemar membaca novel, dan suka akan sesuatu yang dapat meningkatkan daya imajinasi

34


Secondary Target

Demografis: Usia: 19-23 tahun Jenis kelamin: Perempuan Pekerjaan: Mahasiswa Kelas Ekonomi: Menengah ke atas Pendidikan: Sedang mengikuti kegiatan perkuliahan Geografis: Target berdomisili di kota-kota besar Psikografis: Para mahasiswa yang gemar membaca novel untuk refreshing, dan suka akan sesuatu yang dapat meningkatkan daya imajinasi

Untuk memermudah dalam menjaring orang-orang yang berada dalam kategori primary target, saya akan melakukan komunikasi ke orang tua, sekolah, atau tempat yang sering dikunjungi mereka.

35


.: Kesimpulan: Dalam membangun personal brand yang saya inginkan, saya harus menyusun beberapa strategi dan analisa target market terlebih dahulu. Visi: Menjadi novelis bertaraf nasional, sebelum go internasional, dan desainer karakter dengan nilai-nilai lokal Misi: - Lulus kuliah - Memfokuskan diri untuk menulis - Terus belajar agar mampu mengikuti perkem bangan zaman Target komunikasi saya adalah pengamat dan pecinta seni sastra > Demografis: Usia: 13-19 tahun Jenis kelamin: Perempuan Pekerjaan: Pelajar Kelas Ekonomi: Menengah ke atas Pendidikan: SMP-SMA > Geografis: Target berdomisili di kota-kota besar > Psikografis: Para pelajar yang gemar membaca novel, dan suka akan sesuatu yang dapat meningkatkan daya imajinasi

36


Langkah 3: Bertindak & Berkomunikasi Saluran marketing komunikasi yang saya gunakan adalah Personal dan Nonpersonal. Melalui saluran personal pesan disampikan oleh objek orang yang akan menyampaikannya, sedangkan nonpersonal akan dibantu proses penyampaiannya melalui media-media komunikasi; baik itu above the line, below the line, maupun through the line. Berikut media yang akan digunakan beserta waktunya: 1) Jejaring Sosial; seperti Facebook, Twitter, dan Youtube Media ini dapat dikelola setiap hari, kecuali Youtube dikarenakan akan difungsikan untuk mengomunikasikan bila ada event. Twitter dan Facebook digunakan untuk menyuarakan sesuatu yang saya anggap penting, seperti realita hidup masa kini, kata-kata inspirasi, atau penggalan dari cerpen/novel terbaru saya. Di Facebook, saya telah membuat sebuah halaman bernama Dunia Cak RaSa. 2) Web dan Blog Pribadi Kedua media ini sangatlah penting, selain memuat kumpulan cerpen atau informasi kegiatan lainnya, juga berfungsi memuat artikel-artikel yang berhubungan dengan sastra dan kehidupan. Web diperbarui sebulan sekali, sedangkan blog setiap seminggu sekali 3) Seminar atau Meet & Greet Kegiatan ini akan lebih mudah mendekatkan diri dengan target sasaran saya, karena informasi yang didapat akan disampaikan dengan teknik Word of Mouth. Kegiatan ini bisa bekerja sama dengan pihak

37


sekolah, kampus, atau toko buku. Dalam seminar ini dipakai pula media seperti standing banner, brosur, dan kaos 4.) DeviantArt Media ini difungsikan terutama untuk memuat karyakarya desain karakter saya. Selain itu, bisa juga diisi kutipan-kutipan cerpen/novel, puisi, dan kata-kata inspiratif lainnya dengan tampilan yang lebih interaktif. Media ini akan diperbarui kontennya sesuai dengan kebutuhan.

38


Berdasarkan perencanaan media komunikasi yang telah dipilih disni saya susun gambaran anggran biaya yang saya keluarkan untuk proses ini adalah:

RENCANA KEGIATAN PROMOSI Personal Brand Radik Sahaja PENCAPAIAN PROMOSI: • Membangun kesadaran (awareness) identitas Radik Sahaja pada target audience dan target market • Menginformasikan akan kredibilitas Radik Sahaja dalam menulis • Memersuasi target market untuk menjadi pembaca karya Radik Sahaja • Menarik target untuk bekerjasama PENCAPAIAN PROMOSI: Untuk mencapai hal tersebut di atas telah ditentukan media komunikasi yang akan digunakan yaitu melalui media social (account facebook, twitter, website dan blog) dan seminar (diperlukan media cetak pendukung). PERENCANAAN MEDIA: Penyampaian pesan pada tahap awal 1. Facebook Rp 0,2. Twitter Rp 0,3. Blog Rp 0,4. DeviantArt Rp 0,5. YouTube Rp 0,5. Website Rp 100.000,- (100mb) 7. Media cetak (print add) Rp 900.000,- (1 kali seminar)

39


Penyampaian pesan pada tahap lanjutan 1. Facebook Rp 0,2. Twitter Rp 0,3. Blog Rp 0,4. DeviantArt Rp 0,5. YouTube Rp 0,6. Website Rp 100.000,- (100mb) 7. Media cetak (print add) Rp 450.000,- (1 kali seminar) MARKET GROUP: Target sasaran disini dibagi menjadi 2 target utama dan target pendukung: Sasaran utama 60% para pelajar SMP-SMA (untuk lebih detail bisa diliat pada BAB II telah dijelaskan target sasaran secara jelas) Sasaran sekunder 40% para mahasiswa DETIL MEDIA: Facebook: dapat diupdate setiap hari. Diadakan diskusi online pada halaman bernama Dunia Cak RaSa seminggu sekali. Twitter : dapat diupdate setiap hari. Website: dilakukan pembaruan informasi setiap 1 bulan sekali. Blog: dilakukan pembaruan informasi seminggu sekali. DeviantArt: media ini akan diperbarui kontennya sesuai dengan kebutuhan. YouTube: akan difungsikan untuk mengomunikasikan bila ada event Seminar/Meet & Greet: dilakukan sesuai dengan permintaan dan kerja sama yang bisa dilakukan dengan berbagai pihak, terutama civitas akademik dan toko buku.

40


RENCANA KEGIATAN PROMOSI Media cetak untuk kebutuhan kegiatan promosi melalui seminar atau meet & greet: 1. Standing Banner Ukuran 60 X 120cm, Full Color (4/0) jumlah 4 unit 2. Brochures Ukuran A4 Full Color(4/4), Art Paper 210 gr, jumlah 100 exp 3. Kaos All size, Ukuran sablon A4, Sablon menggunakan cat ablon rubber, jumlah 100 buah.

41


Langkah 4: Evaluasi Apa visi saya akan berhasil dicapai? Ada peluang untuk berhasil dicapai, namun tak menutup kemungkinan akan gagal untuk dicapai. Itulah hidup, manusia hanya mampu hidup dalam keabu-abuan dikarenakan ada Tuhan atas harapan serta mimpi-mimpi saya. .: Peluang untuk BERHASIL Peluang program dan strategi yang telah saya susun berhasil maka saya akan mendapatkan citra positif sebagai penulis novel di mata pengamat dan pecinta sastra, serta orang-orang dekat. Otomatis kemampuan saya pun akan meningkat dan berhasil menjadi novelis yang punya nama. Pada akhirnya yang saya dapat .: Kemungkinan untuk GAGAL Kemungkinan jika program dan strategi saya gagal adalah ketika terjadi gangguan saat penyampaian pesan, seperti adanya isu negatif terkait dengan brand personal saya. Isu tersebut harus segera diklarifikasi agar personal brand saya tidak jatuh atau rusak lebih parah lagi.

42


My Personal Branding  

Buku ini disusun untuk memenuhi tugas UTS mata kuliah Komunikasi Pemasaran Terpadu (Integrated Marketing Communication / IMC) pada semester...

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you