“Engkau telah menerima segala yang baik semasa hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat penghiburan dan engkau sangat” (Lukas 16:25)
Salah satu kisah yang diceritakan Yesus dan terkenal adalah tentang Lazarus dan orang kaya. Lazarus yang miskin, penuh borok, mengambil remah – remah nasi, pengemis, dengan kata lain tersisih dan terhinakan oleh si Kaya. Si Kaya yang berfoya – foya dalam kemewahan, dan tidak mempedulikan Lazarus. Hingga akhirnya dua –duanya meninggal dan Lazarus menerima penghiburan bersama Abraham sementara si Kaya menderita sengsara.
Dalam banyak perumpaan atau ajarannya Yesus sering menempatkan Si Kaya sebagai antagonis, seakan – akan menjadi Kaya itu jahat dan akan menderita di alam maut.
Yesus tidak melarang untuk menjadi kaya. Dalam setiap perumpamaan dan setiap ajarannya, bukan menjadi kaya yang menjadi dosa, tetapi menjadi kaya tanpa belas kasih dan tanpa pengampunan kepada sesama, terutama pada yang tertindas, dan tersisih.
Menjadi kaya dan berbelaskasihan itu pesan Yesus. Menjadi kaya, dan tidak menghiraukan Lazarus yang miskin yang tidur di pintu rumahnya, adalah dosa dia, Tidak memiliki belas kasih untuk memberi makan Lazarus atau menolongnya. Itulah pesan-Nya. Kita berhak dan bisa menjadi kaya tetapi yang penting apakah kita melihat ke sekeling kita?
Jangan – jangan “di pintu rumah kita” juga terbaring “Lazarus yang lemah dan miskin”?
Salam dan Berkah Tuhan Bagimu.
PERHATIAN
Misa Sabtu Sore 4 Oktober 2025
PEMBARUAN RELASI DALAM ALLAH
““Maka kamu akan kembali melihat perbedaan antara orang benar dan orang fasik, antara orang yang beribadah kepada Allah dan orang yang tidak beribadah kepadaNya. ” (Mal. 3:18).
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melihat kenyataan yang membingungkan: orang yang jujur dan tulus justru mengalami kesulitan, sementara orang yang sombong, bahkan curang, tampak hidup berkecukupan dan bahagia. Situasi seperti ini membuat kita bertanya-tanya: Apakah ada gunanya berbuat baik? Apakah beribadah kepada Allah sungguh membawa manfaat?
Pertanyaan ini bukan hanya milik kita di zaman sekarang Bangsa Israel di zaman Nabi Maleakhi pun pernah mengeluh hal yang sama. Mereka berkata, “Sia-sialah beribadah kepada Allah. Apakah untungnya kita memelihara ketetapan-Nya dan berjalan dengan pakaian kabung di hadapan TUHAN Semesta Alam?” (Mal 3:14) Mereka melihat bahwa orang fasik hidup senang, sedangkan orang benar justru menderita.
Namun Allah menegaskan melalui nabi-Nya: semua ucapan manusia didengar, semua perbuatan manusia dicatat. Allah tidak pernah tinggal diam.
Maleakhi menyampaikan bahwa ada “kitab peringatan” yang ditulis di hadapan Allah, berisi nama-nama orang yang takut akan Tuhan dan menghormati-Nya (Mal. 3:16). Kitab ini melambangkan perhatian Allah yang penuh kasih. Nama kita tidak hilang dari ingatan-Nya Seperti seorang ayah yang mengasihi anaknya, Allah menyebut mereka yang setia sebagai “milik kesayangan-Ku” (Mal. 3:17).
Sebaliknya, orang yang fasik dan menolak Allah akan berakhir pada kebinasaan. Maleakhi menggambarkannya dengan keras: mereka akan seperti jerami yang terbakar habis, tidak menyisakan akar dan cabang (Mal. 4:1). Tetapi bagi orang yang takut akan Tuhan, “akan terbit surya kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya” (Mal. 4:2).
Artinya jelas: Allah tidak menilai kebahagiaan dari kesuksesan lahiriah semata, melainkan dari kesetiaan hati kepada-Nya.
Nabi Maleakhi mengingatkan umat agar tetap setia dalam relasi dengan Allah. Yesus sendiri menegaskan kebenaran itu dan membawanya pada puncak kasih. Pada malam terakhir bersama murid-murid-Nya, Ia berkata:
“Tidak ada kasih yang lebih besar daripada ini, yaitu jika seseorang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh. 15:13).
“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti perintah-perintah-Ku” (Yoh. 15:14).
“Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu” (Yoh. 15:12).
Ketaatan kepada Allah tidak lagi dipandang sebagai kewajiban yang berat, melainkan sebagai ungkapan kasih Orang yang mengasihi Yesus akan menuruti firman-Nya, bukan karena takut hukuman, tetapi karena yakin akan kasih yang menyelamatkan.
Allah tidak menghendaki umat-Nya hidup dalam penderitaan. Gereja pun selalu berusaha agar umat dapat hidup layak, berpendidikan, dan sejahtera Namun, kebahagiaan sejati tidak berhenti pada kesejahteraan duniawi. Semua harta, jabatan, dan kenikmatan akhirnya berakhir dengan kematian.
Yang menentukan adalah bagaimana kita hidup di dunia ini: apakah kita taat kepada Allah dan mengasihi sesama? Itulah bekal menuju kehidupan yang akan datang. Santo Agustinus pernah berkata, “Hatiku gelisah sebelum beristirahat dalam Engkau, ya Tuhan ” Kegelisahan manusia hanya terobati ketika ia menemukan kebahagiaan sejati dalam Allah.
Refleksi untuk Umat
1.Apakah kita pernah merasa kecewa melihat orang jahat tampak lebih bahagia daripada orang benar?
2.Apakah kita sungguh percaya bahwa ketaatan dan kasih kepada Allah adalah jalan menuju kebahagiaan sejati?
3.Bagaimana kita mewujudkan kasih Yesus dalam kehidupan sehari-hari di keluarga, di lingkungan kerja, di tengah masyarakat?
4.Apa saja hal yang sering membuat kita sulit menaati perintah Tuhan untuk saling mengasihi, dan bagaimana kita berjuang melawannya?
Iman mengajarkan kita untuk tidak terjebak dalam cara pandang dunia yang serba cepat menghitung untung dan rugi. Allah melihat lebih dalam, sampai ke lubuk hati manusia. Ia mencatat setiap sikap setia, dan Ia menjanjikan kasih serta keselamatan bagi mereka yang tetap taat kepada-Nya
Semoga kita senantiasa memperbarui relasi dengan Allah: mendengarkan firman-Nya, melakukannya dalam hidup sehari-hari, dan menanggapi kasih Yesus dengan kasih yang nyata kepada sesama Karena hanya dalam itulah, kita akan menemukan damai sejahtera dan kebahagiaan sejati bukan hanya di dunia ini, tetapi juga dalam kehidupan abadi bersama Allah.
Disarikan dari Buku BKSN
Peringatan Orang Kudus :
Santo Sirakus, Pengaku Iman – 29 September
Santa Theodota dari Philipopolis, Martir – 29 September
Mikael, Gabriel, dan Rafael, Malaikat Agung – 29 September
Santo Hieronimus, Imam dan Pujangga Gereja – 30 September
Santo Remigius, Uskup dan Pengaku Iman – 1 Oktober
Santa Theresia dari Kanak – Kanak Yesus, Perawan dan Pelindung Karya Misi –1 Oktober
Santo Romanus dari Italia, Pertapa – 1 Oktober
Pesta Para Malaikat Pelindung – 02 Oktober
Santo Leger atau Lutgar, Martir – 02 Oktober
Santa Fransiskus Borgia, Pengaku Iman – 03 Oktober
Santo Ewaldus Bersaudara, Martit – 03 Oktober
Santo Kuintinus, Martir – 4 Oktober
Santo Fransiskus dari Asisi, Pengaku Iman – 04 Oktober
Santo Fransiskus dari Assisi
Saudara bagi Semua Ciptaan
Santo Fransiskus dari Assisi (1181/1182 – 1226) adalah salah satu santo yang paling dicintai di seluruh dunia. Ia dikenal bukan hanya sebagai pendiri Ordo Fransiskan, tetapi juga sebagai seorang pencinta perdamaian, pembaharu Gereja, dan sahabat semua ciptaan. Kehidupannya menjadi teladan tentang bagaimana Injil dapat dijalani secara radikal dengan kesederhanaan, kerendahan hati, dan kasih yang tulus. Fransiskus lahir di Assisi, Italia, dari keluarga pedagang kain yang cukup kaya. Semasa mudanya, ia dikenal sebagai pemuda periang, gemar berpesta, dan penuh ambisi. Bahkan, ia sempat bercita-cita menjadi ksatria terkenal Namun, sebuah pengalaman sakit keras setelah ditawan dalam perang mengubah arah hidupnya. Dalam sakit itu ia mulai merenungkan arti hidup dan mendengarkan suara Tuhan yang memanggilnya
Titik balik hidup Fransiskus terjadi ketika ia berdoa di depan salib di gereja San Damiano yang rusak Ia mendengar suara Kristus berkata: “Fransiskus, perbaikilah rumah-Ku yang hampir roboh ini.” Awalnya ia menafsirkan secara harafiah dengan memperbaiki gerejagereja kecil di sekitar Assisi. Namun, kemudian ia sadar bahwa panggilannya lebih luas: memperbarui Gereja melalui kesederhanaan Injil.
Fransiskus memilih hidup miskin, melepaskan harta keluarganya, dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Ia mulai menghayati hidup sebagai pengemis kecil, melayani orang sakit kusta, dan memberitakan damai. Cara hidupnya menarik banyak orang muda lain yang kemudian membentuk komunitas awal Ordo Saudara Dina (Ordo Fratrum Minorum).
Salah satu hal yang membuat Fransiskus begitu dicintai adalah kedekatannya dengan hewan. Baginya, semua makhluk adalah saudara yang diciptakan oleh Allah.
Serigala di Gubbio: Penduduk kota Gubbio pernah diteror oleh seekor serigala buas yang menyerang ternak dan manusia. Fransiskus mendekati serigala itu, membuat tanda salib, dan dengan lembut berkata: “Saudaraku Serigala, berhentilah menyerang Jika engkau lapar, aku akan memintakan makanan bagimu.” Ajaibnya, serigala itu jinak dan tinggal berdamai bersama penduduk, seakan menjadi bagian dari komunitas mereka
Khotbah kepada burung-burung: Suatu hari Fransiskus melihat kawanan burung di padang. Ia berhenti dan berkata kepada mereka tentang kasih Allah dan kewajiban untuk selalu bersyukur Burung-burung itu, menurut kisah para saudara, tetap diam mendengarkan seolah-olah mengerti. Kisah ini menegaskan pandangannya bahwa semua ciptaan dapat memuji Sang Pencipta. Di tengah Perang Salib Kelima (1219), Fransiskus melakukan sesuatu yang sangat berani: ia menyeberangi garis perang menuju kamp Muslim untuk menemui Sultan Malik al-Kamil di Mesir. Bukannya dihukum mati, Fransiskus justru diterima dengan penuh hormat. Keduanya berdialog dalam semangat saling menghargai Meskipun tidak mengubah keyakinan satu sama lain, perjumpaan itu menjadi tanda bahwa damai dan persaudaraan bisa melampaui tembok perbedaan agama. Pada tahun 1224, saat berdoa di Gunung La Verna, Fransiskus menerima stigmata, yaitu tanda luka Kristus di tubuhnya. Hal ini menandakan persatuannya yang mendalam dengan penderitaan Yesus. Ia wafat di Assisi pada 3 Oktober 1226, sambil memuji Tuhan dalam kesederhanaan dan sukacita. Dua tahun kemudian, Paus Gregorius IX mengkanonisasinya sebagai santo.
Santo Fransiskus dari Assisi tetap relevan hingga hari ini. Ia adalah pelindung lingkungan hidup, binatang, dan ekologi. Ajarannya menginspirasi banyak gerakan perdamaian dan keadilan. Paus Fransiskus sendiri mengambil nama dari santo ini untuk menegaskan misi Gereja yang sederhana, dekat dengan orang miskin, dan peduli pada bumi sebagai rumah bersama.
Kisah hidup Santo Fransiskus mengingatkan kita bahwa kekudusan dapat dijalani dalam kesederhanaan sehari-hari: lewat persaudaraan, kasih pada ciptaan, dan hidup damai. Seperti doanya yang terkenal, “Tuhan, jadikanlah aku pembawa damai-Mu” , semoga kita pun menjadi alat kasih Allah bagi sesama dan seluruh ciptaan.
Disarikan dari berbagai sumber
STIGMATA
Kata stigmata berasal dari bahasa Yunani stígma (jamak: stígmata) yang berarti “tanda” atau “bekas tusukan.” Dalam dunia kuno, istilah ini dipakai untuk menyebut tanda pada tubuh budak, tentara, atau hewan untuk menunjukkan kepemilikan. Dalam tradisi Kristen, kata ini berkembang untuk menunjuk pada luka-luka yang serupa dengan luka sengsara Yesus Kristus di salib.
Stigmata dipahami sebagai suatu karunia rohani luar biasa (gratia gratis data), di mana seseorang menerima tanda-tanda fisik yang menyerupai luka-luka Kristus: di tangan, kaki, lambung, dan kadang di kepala (mahkota duri) atau di punggung (cambukan) Gereja memandang stigmata bukan sebagai tujuan, melainkan sebagai tanda partisipasi seseorang dalam penderitaan Kristus dan sebagai sarana pengudusan pribadi serta kesaksian iman
Kasus stigmata pertama yang terdokumentasi dalam Gereja adalah Santo Fransiskus dari Asisi (1181–1226), yang menerima luka-luka Kristus pada tahun 1224 di Gunung Alvernia saat berdoa dan mengalami penglihatan serafim yang tersalib. Sejak itu, sejumlah orang kudus dan mistikus juga menerima stigmata, antara lain:
Santa Katarina dari Siena (1347–1380) – menerima stigmata tersembunyi
Santa Rita dari Cascia (1381–1457) – menerima luka mahkota duri di dahinya. Santa Gemma Galgani (1878–1903) – seorang mistikus muda dari Italia, mengalami stigmata secara berulang setiap minggu pada masa Prapaskah.
Santo Padre Pio dari Pietrelcina (1887–1968) – menerima stigmata permanen yang berlangsung lebih dari 50 tahun, dan menjadi salah satu kasus yang paling diselidiki oleh medis.
Gereja Katolik bersikap hati-hati terhadap fenomena stigmata. Gereja biasanya menugaskan tim medis dan teolog untuk meneliti apakah luka tersebut dapat dijelaskan secara alami atau benar-benar merupakan tanda supranatural. Tidak semua klaim stigmata diakui, sebab ada kemungkinan sugesti psikologis atau bahkan rekayasa. Namun, dalam kasus yang autentik, Gereja melihat stigmata sebagai tanda kasih Allah yang mendalam dan partisipasi istimewa dalam misteri salib Kristus. Lebih dari sekadar tanda fisik, stigmata menunjukkan kesatuan mesra dengan Kristus yang menderita Para mistikus yang menerimanya biasanya memiliki kehidupan doa yang mendalam, kesalehan luar biasa, dan pelayanan penuh kasih. Stigmata mengingatkan umat beriman bahwa panggilan Kristiani sejati adalah ikut memikul salib Kristus dalam kehidupan sehari-hari
Penerima stigmata yang diakui Gereja
1224 – Santo Fransiskus dari Asisi
1375 – Santa Katarina dari Siena
1441 – Santa Rita dari Cascia
1592 – Santa Veronica Giuliani
1678 – Beata Margaret Mary Alacoque (pengalaman mistik dengan luka hati Yesus)
1830-an – Beata Anna Katharina Emmerick
1899 – Santa Gemma Galgani
1918 – Santo Padre Pio
Untuk Bidang/Subbidang, Kategorial, Lingkungan, atau siapa saja yang mengadakan acara, silahkan kirim photo - photo dokumentasinya kepada Tim Komsos atau melalui email komsostheresiaprapatan@gmail.com disertai narasi/paparan singkat tentanga acara tersebut. Komsos akan memposting di instagram paroki dan dimuat di Warta Paroki. Narasi singkat bisa dengan format 5W+1H (Apa, Siapa, Dimana, Kapan, Berapa, Bagaimana, dll).
Terimakasih
Injil Yohanes adalah kitab keempat dalam Perjanjian Baru, sekaligus penutup dari keempat Injil kanonik. Injil ini berbeda secara mencolok dari ketiga Injil Sinoptik (Matius, Markus, dan Lukas), baik dari segi gaya bahasa, struktur, maupun isi teologisnya. Jika Injil Sinoptik lebih menekankan peristiwa-peristiwa historis kehidupan Yesus, Yohanes justru menyoroti makna rohaninya yang lebih dalam
Tradisi Gereja sejak awal mengaitkan Injil ini dengan Yohanes, murid yang dikasihi Yesus, salah satu dari kedua belas rasul. Yohanes juga diyakini sebagai penulis Surat-surat Yohanes dan Kitab Wahyu Namun, para ahli modern memperdebatkan hal ini. Ada yang berpendapat bahwa Injil Yohanes ditulis oleh komunitas murid-murid Yohanes, yang dikenal sebagai Komunitas Yohanes, berdasarkan pengajaran rasul Yohanes sendiri
Meski ada perdebatan, Injil ini jelas menampilkan seorang saksi mata yang memiliki kedekatan istimewa dengan Yesus, seperti terlihat dalam detail-detail kisah (misalnya tentang jam tertentu, tempat, atau percakapan pribadi).
Kebanyakan sarjana menempatkan penulisan Injil Yohanes sekitar tahun 90–100 M, sehingga merupakan Injil terakhir yang ditulis Tempat penulisan diduga di Efesus, sebuah kota besar di Asia Kecil (sekarang Turki), tempat Yohanes tinggal pada masa tuanya.
Konteks saat itu adalah Gereja yang sudah bertumbuh di tengah dunia YunaniRomawi. Banyak umat Kristen berlatar belakang non-Yahudi, dan Gereja menghadapi tantangan filsafat Yunani, ajaran gnostik, serta ketegangan dengan sinagoga Yahudi.
Ciri-ciri Khas Injil Yohanes
1.Prolog teologis (Yoh 1:1-18) yang menegaskan bahwa Yesus adalah Firman (Logos) yang menjadi manusia.
2.Tujuh tanda mukjizat, seperti mengubah air menjadi anggur di Kana, menyembuhkan orang buta sejak lahir, dan membangkitkan Lazarus. Mukjizatmukjizat ini disebut “tanda” karena menunjuk pada identitas Yesus sebagai Putra Allah.
3.Percakapan rohani yang panjang, seperti dengan Nikodemus, perempuan Samaria, dan para murid
4.“Aku adalah…” (ego eimi) – Yesus berulang kali menyatakan identitas-Nya: “Akulah roti hidup”, “Akulah terang dunia”, “Akulah gembala yang baik”, dll.
5.Penekanan pada kasih dan persatuan – terlihat jelas dalam doa Yesus untuk murid-murid-Nya (Yoh 17).
Injil Yohanes menyoroti identitas ilahi Yesus secara paling eksplisit dibanding Injil lainnya. Yohanes menekankan bahwa Yesus adalah Firman yang sejak kekal bersama Allah, dan bahwa keselamatan datang melalui iman kepada-Nya.
Beberapa tema teologis utama:
Terang dan gelap: Yesus hadir sebagai terang yang mengalahkan kegelapan
Hidup kekal: bukan sekadar setelah mati, tetapi pengalaman relasi dengan Allah sejak sekarang
Kasih: perintah baru Yesus agar murid-murid saling mengasihi menjadi pusat kehidupan kristiani.
Injil Yohanes sejak awal dianggap sangat penting dalam Gereja Bapa-bapa Gereja seperti
Santo Ireneus dan Santo Agustinus banyak mengutipnya. Bahkan sampai hari ini, Injil Yohanes sering menjadi teks utama dalam liturgi Paskah dan pembinaan iman, karena menyingkapkan kedalaman misteri Kristus.
Fun Fact: Injil Yohanes
·Simbol tradisional Injil Yohanes adalah elang, karena teologinya yang tinggi dan dalam dianggap seperti elang yang terbang menembus langit.
·Kata “kasih” (agape) dan “hidup” (zoe) muncul jauh lebih sering dalam Injil Yohanes dibanding Injil lainnya.
Santa Theresia dari Liseux (Bagian 3)
“Mencintai
dalam Penderitaan”
Hidup Theresia di biara bukan tanpa tantangan. Ia harus berhadapan dengan berbagai cobaan rohani dan fisik. Penyakit TBC yang dideritanya sejak muda perlahan melemahkan tubuhnya. Rasa sakit yang hebat menjadi bagian hidupnya setiap hari.
Namun, Theresia tidak menyerah. Ia justru melihat penderitaan sebagai kesempatan untuk semakin dekat dengan Kristus yang menderita. Dalam penderitaannya, ia tetap memancarkan kasih, doa, dan kesabaran. Bahkan, ia menulis pengalaman imannya dalam buku rohani terkenal “Kisah Suatu Jiwa” (Story of a Soul), yang hingga kini dibaca oleh jutaan orang di seluruh dunia.
Buku itu berisi kesaksian imannya: ia tidak berusaha melakukan hal besar, tetapi memilih untuk mempercayai kasih Allah dalam setiap detik hidupnya. Baginya, penderitaan bukanlah akhir, melainkan jalan menuju persatuan sempurna dengan Yesus.
“Aku tidak takut pada penderitaan. Satu hal yang kutahu: semakin besar penderitaan kita, semakin besar pula kasih Allah untuk kita.”
Pesan bagi kita: penderitaan bisa menjadi jalan menuju kesucian. Jika dijalani dengan iman, penderitaan bukan menghancurkan, melainkan memurnikan hati kita agar semakin menyerupai Kristus.
SUB BIDANG LINGKUNGAN HIDUP
Dalam rangka kegiatan dan penilaian Lomba Eco Office untuk Rumah Ibadat Berbudaya Lingkungan yang diselenggarakan oleh Dinas Lingkungan Hidup Kota Balikpapan maka Pastor Paroki menghimbau kepada umat untuk dapat melakukan hal sebagai berikut:
Menempatkan sampah ke dalam tempat sampah yang telah disediakan
Menghemat pemakaian listrik dan air dalam Lingkungan Gereja Mengajak seluruh umat berpartisipasi aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan Gereja.
Catolic Family Minestry atau CFM Kasri akan mengadakan Camp Wanita berhikmat ke 6 pada tanggal 24-26 Oktober 2025 di hotel Pacific Balikpapan. Informasi lebuh lanjut bisa menghubungi no yang tertera di spanduk
DPP PSE akan membuat angket untuk mendukung kinerja sub bidang PSE( Pengembangan Sosial Ekonomi) bagian dari DPP Pelayanan Diakonia. Mohon kerjasama umat untuk bisa partisipasti mengisi angket yang kami bagikan melalui Ketua Kring dan Ketua Kategorial
Mari Belajar Bersama:
KURSUS FILSAFAT STFT WIDYA SASANA MALANG dilaksanakan secara online Pada 23 September – 18 November 2025, setiap hari Selasa (pukul 19 0020.30) Via Zoom dan Youtube Live Streaming.
Tema: "FILSAFAT DAN ETIKA SOSIAL" (dalam 9 pertemuan) Silahkan Join & Free (Tidak dipungut biaya)
Hubungi CP berikut untuk bergabung dalam grup Kursus Filsafat STFT Widya Sasana: http://wa.me/081217770833
Mohon Anda juga berkenan menyebarkan kegiatan Kursus Filsafat ini. Terima kasih.
Sehubungan dengan HUT Pesta Pelindung Santa Theresia pada Bulan Oktober, maka akan diadakan beberapa perlombaan yang dapat diikuti oleh seluruh umat, dengan kegiatan perlombaan sebagai berikut:
20 September 2025 : Ranking Satu (mengenai Kitab Suci) -
21 September 2025 : Kuis Cerdas Cermat Alkitab
27 September 2025 : Gobak Sodor dan Domino Umum
28 September 2025 : Volly terpal & Sepakbola Sarung
04 Oktober 2025 : Dance Tabola Bale anak dan remaja, Mewarnai anakanak, & Fashion Show Lansia
Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Sdri. Aquina atau Sekretariat Paroki.
Dalam rangka HUT Pelindung Paroki St. Theresia, akan diselenggarakan jalan sehat dan bazaar pada hari Sabtu, 04 Oktober 2025. Panitia menyediakan kaos jalan sehat yang dapat dipesan melalui masing-masing ketua lingkungan atau melalui panitia yang membuka stand di depan pintu masuk gereja. Biaya kaos sebesar Rp 100.000
Sebagai ungkapan syukur kita atas HUT Pesta Pelindung gereja Santa Theresia Balikpapan, kami mengundang Bapak/Ibu, sdra/i untuk menyampaikan ucapan syukur kedalam Buku Sejarah gereja Santa Theresia yang akan dicetak sebagai kenangan kita bersama.
Buku dengan ukuran A4 akan berisi foto & ucapan dari kita, dengan detail sbb :
1 Hal cover belakang : Rp 8.000.000
1 Hal cover dalam : Rp 7.000.000
1 Hal tengah. : Rp. 5.000.000
1 Hal dalam : Rp 2.500.000
½ Hal dalam : Rp 1.500.000
¼ Hal dalam : Rp 500.000
Foto :
• Dapat dikirim ke email : komsostheresiaprapatan@gmail.com
• Jika ada ucapan pribadi, dapat dilampirkan
Untuk pendaftaran dapat mengunjungi meja panitia di depan pintu gereja setelah misa
Dalam Rangka Puncak Pesta Pelindung Paroki :
1.Akan diadakan acara Jalan santai, reli kitab suci, bazar makanan, aneka lomba & panggung gembira yang akan di laksanakan pada : Hari Sabtu , 4 Oktober 2025,bertempat di Basement gereja ST.Theresia jl. Prapatan. Kami mengundang seluruh umat untuk ikut meramaikan.
2.Tersedia Kupon doorprice dengan hadiah utama Sepeda motor dan hadiah hiburan yang menarik lainnya dengan harga 10 ribu rupiah. Kupon doorprice & kupon bazar bisa dibeli di depan gereja sehabis misa atau melalui ketua lingkungan. 3.Kami panitia menerima Sumbangan doorprize dari umat yang ingin berpartisipasi sebagai ungkapan syukur atas HUT paroki. Doorprize berupa barang elektronik atau perlengkapan rumahtangga. Info lebih lanjut silahkan menghubungi Bp.Berni & Sdr Aquina
4.Sehubungan dengan pelaksanaan bazar pada acara pesta pelindung, sie bazar membuka kesempatan bagi UMKM dan pengusaha makanan untuk membuka stand bazar
-Harga stand bazar makanan : 300.000 rupiah per meja -Harga stand sponsorship :500.000 rupiah per meja
13 September 2025
Pemenang edisi 11:
Nicholas A Satya Lingk. Martadinata
El Kana Lingk. Damai
Erni Sumanti Lingk. Markoni
Untuk Edisi 12, mohon maaf TTS libur
Telah berpulang ke rumah Bapa di surga.
Nama : Mike Richard Mantiri
Lahir : Balikpapan 9 Feb 1980
Meninggal : Balikpapan 12 Sept 2025
Lingkungan : Santa Maria Immaculata
Alamat : Cluster Somerset Blok DH No 2 Komplek Balikpapan Baru
Ibadah penghiburan telah dilaksanakan pada
Jumat 12 Sept 2025 di rumah duka pukul 19.30
Ibadah pelepasan telah dilaksanakan pada
Minggu 14 Sept 2025 Pukul 10.30 di rumah duka
Misa requiem telah dilaksanakan pada
Minggu 14 Sept 2025 di Gereja St Theresia Pukul 11.30 oleh Rm Khasmir MSF
Pemakaman telah dilaksanakan Setelah misa Requiem
Redaksi Warta Paroki menerima kiriman karya dari anak – anak SEKAMI atau REKAT. Karya bisa berupa tulisan (cerpen, anekdot, artikel, atau puisi) atau gambar (kartun, karikatur, lukisan) tema bebas tetapi diutamakan yang berhubungan dengan Gereja.
Kiriman yang dimuat akan mendapatkan bingkisan/hadiah menarik dari Redaksi.
“Kita harus meninggalkan masa depan ke tangan Tuhan"
Santa Theresia of Liseux