Issuu on Google+

ISSN: 1412-033X


THIS PAGE INTENTIONALLY LEFT BLANK


PENERBIT: Jurusan Biologi FMIPA Universitas Sebelas Maret Surakarta dan Puslitbang Bioteknologi dan Biodiversitas Universitas Sebelas Maret Surakarta ALAMAT PENERBIT/REDAKSI: Jl. Ir. Sutami 36A Surakarta 57126. Tel. & Fax.: +62-271-663375; Tel.: +62-271-646994 Psw. 387, Fax.: +62-271-646655. E-mail: biology@mipa.uns.ac.id. Online: www.biology.uns.ac.id. TERBIT PERTAMA TAHUN: 2000

ISSN: 1412-033X

TERAKREDITASI BERDASARKAN KEPUTUSAN DIRJEN DIKTI DEPDIKNAS RI No. 52/DIKTI/Kep/2002

PEMIMPIN REDAKSI/PENANGGUNGJAWAB: Sutarno SEKRETARIS REDAKSI: Ahmad Dwi Setyawan, Purin Candra Purnama, Elisa Herawati PENYUNTING PELAKSANA: Marsusi, Solichatun (Botani), Edwi Mahajoeno, Agung Budiharjo (Zoologi), Wiryanto, Kusumo Winarno (Biologi Lingkungan) PENYUNTING AHLI: Prof. Ir. Djoko Marsono, Ph.D. (UGM Yogyakarta) Prof. Dr. Hadi S. Alikodra, M.Sc. (IPB Bogor) Prof. Drs. Indrowuryatno, M.Si. (UNS Surakarta) Prof. J.M. Cummins, M.Sc., Ph.D. (Murdoch University Australia) Prof. Dr. Jusup Subagja, M.Sc. (UGM Yogyakarta) Prof. Dr. R.E. Soeriaatmadja, M.Sc. (ITB Bandung) Dr. Setijati Sastrapradja (Yayasan KEHATI Jakarta) Dr. Dedi Darnaedi (Kebun Raya Bogor) Dr. Elizabeth A. Wijaya (Herbarium Bogoriense Bogor) Dr. Yayuk R. Suhardjono (Museum Zoologi Bogor) BIODIVERSITAS, Journal of Biological Diversity mempublikasikan tulisan ilmiah, baik hasil penelitian asli maupun telaah pustaka (review) dalam lingkup keanekaragaman hayati (biodiversitas) pada tingkat gen, spesies, dan ekosistem. Setiap naskah yang dikirimkan akan ditelaah oleh redaktur pelaksana, redaktur ahli, dan redaktur tamu yang diundang secara khusus sesuai bidangnya. Dalam rangka menyongsong pasar bebas, penulis sangat dianjurkan menuliskan karyanya dalam Bahasa Inggris, meskipun tulisan dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar tetap sangat dihargai. Hingga nomor ini, jurnal dikirimkan kepada institusi-institusi yang meminta tanpa biaya pengganti, sebagai bentuk pertukaran pustaka demi mendorong penelitian, perlindungan dan pemanfaatan lestari keanekaragaman hayati. Jurnal ini terbit dua kali setahun, setiap bulan Januari dan Juli. Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta juga menerbitkan BioSMART, Journal of Biological Science untuk mempublikasikan tulisan ilmiah, baik hasil penelitian asli maupun telaah pustaka (review) dalam lingkup biologi murni dan ilmu-ilmu serumpun. Jurnal ini terbit dua kali setahun, setiap bulan April dan Oktober.


PEDOMAN UNTUK PENULIS Format penulisan pada nomor ini merupakan acuan utama bagi para penulis, adapun pedoman ini hanya merupakan ringkasannya. Setiap naskah harus disertai surat pengantar yang menyatakan bahwa tulisan merupakan hasil karya penulis atau para penulis dan belum pernah dipublikasikan. Penulis diminta mengirimkan dua kopi naskah dan satu disket ukuran 3 ½”, kecuali naskah yang dikirim melalui e-mail. Pada koreksi terakhir kembali diminta satu disket untuk pencetakan. Tulisan diketik pada satu sisi kertas putih, ukuran A4 (210x297 mm2), dalam satu kolom, menggunakan spasi ganda, jenis huruf Times New Roman, ukuran 12 point, dengan jarak tepi 2 cm di semua sisi. Program pengolah kata atau jenis huruf tambahan dapat digunakan, namun harus PC compatible dan berbasis Microsoft Word. Nama ilmiah (genus, spesies, author), dan kultivar atau strain disebutkan secara lengkap pada penyebutan pertama kali. Nama genus dapat disingkat setelahnya penyebutan yang pertama, kecuali menimbulkan kerancuan. Nama author dapat dihilangkan setelah penyebutan pertama. Misalnya pertama kali ditulis Rhizopus oryzae L. UICC 524, selanjutnya ditulis R. oryzae UICC 524. Nama daerah dapat dicantumkan apabila tidak menimbulkan makna ganda. Penyebutan nama ilmiah secara lengkap dapat diulang pada bagian Bahan dan Metode. Tatanama kimia dan biokimia mengikuti aturan IUPAC-IUB. Simbol-simbol kimia standar dan penyingkatan untuk nama kimia dapat dilakukan apabila jelas dan umum digunakan, misalnya pertama kali ditulis lengkap butilat hidroksitoluen (BHT) selanjutnya ditulis BHT. Ukuran metrik menggunakan satuan SI, penggunaan satuan lain harus diikuti nilai ekuivalen dengan satuan SI pada penyebutan pertama. Penyingkatan satuan, seperti g, mg, ml, dan sebagainya tidak diikuti titik. Indek minus (m-2, l-1, h-1) disarankan untuk digunakan, kecuali dalam hal-hal seperti “per-tanaman” atau “per-plot”. Persamaan matematika tidak selalu dapat dituliskan dalam satu kolom dengan teks, untuk itu dapat ditulis secara terpisah. Angka satu hingga sepuluh dinyatakan dengan kata-kata, kecuali apabila berhubungan dengan pengukuran, sedangkan nilai di atasnya dituliskan dalam angka, kecuali di awal kalimat. Pecahan sebaiknya dinyatakan dalam desimal. Dalam teks digunakan “%” bukannya “persen”. Pengungkapan ide dengan kalimat yang rumit dan berteletele perlu dihindari, sebaiknya digunakan kalimat yang efektif dan efisien. Naskah hasil penelitian diharapkan tidak lebih dari 25 halaman (termasuk gambar dan tabel), naskah telaah pustaka menyesuaikan, masing-masing halaman berisi 700-800 kata, atau sebanding dengan naskah dalam nomor penerbitan ini. Judul ditulis secara padat, jelas, dan informatif, maksimum 20 kata. Judul ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris untuk naskah dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris saja untuk naskah dalam bahasa Inggris. Naskah yang terlalu panjang dapat dibuat berseri, tetapi naskah demikian jarang diterbitkan jurnal ini. Judul pelari (running title) sekitar 5 kata. Nama penulis atau para penulis pada naskah kelompok ditulis secara lengkap dan tidak disingkat. Nama dan alamat institusi ditulis lengkap dengan nama dan nomor jalan (lokasi), kode pos, nomor telepon, nomor faksimili, alamat e-mail dan website. Pada naskah kelompok perlu ditunjukkan penulis untuk korespondensi beserta alamat dengan urutan seperti di atas. Abstract sebaiknya tidak lebih dari 200 kata, ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris untuk naskah dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris saja untuk naskah dalam bahasa Inggris. Kata kunci (Keywords) sekitar 5 kata, meliputi nama ilmiah dan daerah (apabila ada), topik penelitian dan metode-metode khusus yang digunakan. Pendahuluan (Introduction) sekitar 400-600 kata, meliputi latar belakang, tinjauan pustaka dan tujuan penelitian. Bahan dan Metode (Materials and Methods) sebaiknya ditekankan pada cara kerja dan cara analisis data. Hasil dan Pembahasan (Results and Discussion) ditulis sebagai satu rangkaian, pada tulisan yang cukup panjang sebaiknya dibuat beberapa sub judul. Pembahasan merupakan jawaban pertanyaan mengapa dan bagaimana hasil penelitian dapat terjadi, bukan sekedar mengungkapkan kembali hasil penelitian dalam bentuk kalimat. Pembahasan yang lengkap dan menyeluruh lebih disukai dari pada pembahasan yang tidak tuntas. Naskah telaah pustaka tanpa sub judul Bahan dan Metode, serta Hasil dan Pembahasan. Kesimpulan (Conclusion) sebaiknya tetap diberikan, meskipun biasanya sudah terungkap pada Hasil dan Pembahasan. Ucapan terima kasih (Acknowledgments) apabila diperlukan ditulis secara singkat. Gambar dan Tabel maksimum 3 halaman, dapat dibuat dengan tinta cina atau printer laser. Judul gambar ditulis di bawah gambar, sedangkan judul table ditulis di atas tabel. Foto dicetak pada kertas glossy dan diberi keterangan. Gambar berwarna dapat diterima apabila informasi ilmiah dalam naskah dapat hilang tanpa gambar tersebut. Setiap gambar dan foto sebaiknya menyertakan file digital. Penulis dianjurkan menyertakan foto atau gambar untuk sampul depan, meskipun tidak dimuat dalam naskah

sendiri. Tidak ada lampiran, semua data atau analisis data dimasukkan dalam Hasil dan Pembahasan. Pustaka dalam naskah ditulis dalam bentuk nama belakang penulis dan tahun. Pada kalimat yang diacu dari beberapa penulis, maka nama penulis diurutkan berdasarkan kebaharuan pustaka. Naskah yang ditulis oleh dua penulis, maka nama keduanya disebutkan, sedang naskah yang ditulis oleh tiga penulis atau lebih, maka hanya nama penulis pertama ditulis diikuti et al. atau dkk., misalnya: Sprent dan Sprent (1990) atau (Suranto et al., 1998; Baker and Manwell, 1991; Smith 1982a, b). Pada sitasi bertingkat digunakan kata cit atau dalam, misalnya (Gyorgy, 1991 cit Coward, 1999) atau Gyorgy (1991, dalam Coward, 1999). Daftar Pustaka diketik dengan spasi ganda. Sitasi mengikuti CBE-ELSE-Vancouver style dengan modifikasi sebagai berikut: Jurnal: Suranto, S., K.H. Gough, D.D. Shukla, and C.K. Pallaghy. 1998. Coat protein sequence of Krish-infecting strain of Johnson-grass mosaic potyvirus. Archives of Virology 143: 1015-1020. Buku: Sprent, J.l., and P. Sprent. 1990. Nitrogen Fixing Organisms: Pure and Applied Aspects. London: Chapman and Hall. Bab dalam buku: Baker, C.M.A. and C. Manwell. 1991. Population genetics, molecular markers and gene conservation of bovine breeds. In: Hickman, C.G. (ed.). Cattle Genetic Resources. Amsterdam: Elsevier Science Publishers B.V. Abstrak: Liu, Q., S. Salih, J. Ingersoll, R. Meng, L. Owens, and F. Hammerschlag. 2000. Response of transgenic ‘Royal Gala’ apple (Malus x domestica Borkh.) shoots, containing the modified cecropin MB39 gene to Erwinia amylovora [084]. Abstracts of 97th Annual International Conference of the American Society for Horticultural Science. Lake Buena Vista, Florida, 23-26 July 2000. Prosiding: Alikodra, H.S. 2000. Keanekaragaman hayati bagi pembangunan daerah otonom. Dalam: Setyawan, A.D. dan Sutarno (ed.). Menuju Taman Nasional Gunung Lawu, Prosiding Semiloka Nasional Konservasi Biodiversitas untuk Perlindungan dan Penyelamatan Plasma Nutfah di Pulau Jawa. Surakarta, 17-20 Juli 2000. Skripsi, Tesis, Disertasi: Purwoko, T. 2001. Biotransformasi Isoflavon oleh Rhizopus oryzae UICC 524 dan Aktivitas Antioksidan Isoflavon Aglikon dari Tempe terhadap Oksidasi Minyak Kedelai. [Tesis]. Jakarta: Universitas Indonesia. Informasi dari Internet: Rosauer, D. 1998. Forest Disturbance and Succession. http:// www.anu.edu.au/ Forestry/silvinative/ daniel/chapter1/1.1.html Naskah publikasi “in press” dapat disitasi dan dicantumkan dalam daftar pustaka. “Komunikasi pribadi” dapat disitasi, tetapi tidak dapat dicantumkan dalam daftar pustaka. Penelitian yang tidak dipublikasikan atau sedang dalam tahap pengajuan publikasi tidak dapat disitasi. Beberapa catatan tambahan. Naskah diketik tanpa tanda hubung (-), kecuali kata ulang. Penggunaan huruf “l” (el) untuk “1” (satu) atau “O” (oh) untuk “0” (nol) perlu dihindari. Simbol α, β, χ, dan lain-lain dimasukkan melalui fasilitas insert, bukan mengubah jenis huruf. Kata-kata dan tanda baca sesudahnya tidak diberi spasi. Kemajuan Naskah. Pemberitahuan naskah dapat diterima atau ditolak akan diberitahukan sekitar satu bulan setelah pengiriman. Naskah dapat ditolak apabila materi yang dikemukakan tidak sesuai dengan misi jurnal, kualitas materi rendah, format tidak sesuai, gaya bahasa terlalu rumit, terjadi ketidakjujuran keaslian penelitian, dan korespondensi tidak ditanggapi. Penulis atau penulis pertama pada naskah kelompok akan mendapatkan satu eksemplar jurnal yang memuat tulisannya selambat-lambatnya sebulan setelah naskah diterbitkan. Penulis akan kembali mendapatkan satu eksemplar jurnal nomor penerbitan berikutnya. PENTING: Penulis atau para penulis dalam naskah kelompok setuju memindahkan hak cipta (copyright) naskah yang diterbitkan BIODIVERSITAS, Journal of Biological Diversity kepada Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta. Penulis tidak lagi diperkenankan menerbitkan naskah secara utuh tanpa ijin penerbit. Penulis atau pihak lain diperkenankan memperbanyak naskah dalam jurnal ini selama tidak untuk tujuan komersial. Untuk penemuan baru, penulis disarankan mengurus hak patennya sebelum mempublikasikan dalam jurnal ini.


BIODIVERSITAS Volume 5, Nomor 2 Halaman: 43-47

ISSN: 1412-033X Juli 2004

Pengaruh pH dan Substrat Organik Terhadap Pertumbuhan dan Aktivitas Bakteri Pengoksidasi Amonia Effect of pH and organic substrate on growth and activities of ammonia-oxidizing bacteria DWI AGUSTIYANI1,♼, HARTATI IMAMUDDIN1, ERNI NUR FARIDAH2,OEDJIJONO2 1

2

Bidang Mikrobiologi, Pusat Penelitian Biologi-LIPI, Bogor 16122. Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto 53122. Diterima: 15 Januari 2004. Disetujui: 17 Mei 2004.

ABSTRACT The physiological character, especially the effect of pH and organic substrate on the growth and activity of some ammoniaoxidizing bacteria was carried out. The results show that eight out of twenty isolates have ability to reduce ammonium, two of them i.e. isolate AOB1 and AOB2 could reduce more than 90% of ammonium. The growth and activity to reduce ammonium to nitrite was attained optimum at pH 7-8. From the result also indicated that the growth and activity of both isolate AOB1 and AOB2 were higher on the organic carbon (acetate)-containing media. This finding indicated that both of isolate AOB1 and AOB2 were heterotrophic ammonia-oxidizing bacteria. Š 2004 Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta Keywords: organic substrate, acetate, ammonia-oxidizing bacteria, ammonium, nitrite.

PENDAHULUAN Bakteri pengoksidasi amonia yang bersifat autotrofik adalah kelompok bakteri yang terutama berperan dalam proses oksidasi amonia menjadi nitrit pada siklus nitrogen, juga pada proses peruraian nitrogen dalam sistem pengolahan limbah cair. Bakteri autotrofik yang berperan dalam oksidasi amonia menjadi nitrit adalah Nitrosomonas, Nitrosococcus, Nitrosospira, Nitrosolobus, dan Nitrosovibrio. Beberapa mikroorganisme yang bersifat heterotrofik juga dilaporkan mampu mengoksidasi amonia atau nitrogen organik menjadi nitrit atau nitrat (Sylvia et al., 1990). Mikroorganisme yang termasuk dalam golongan tersebut diatas antara lain adalah: fungi (Aspergillus) dan bakteri (Alcaligenes, Arthrobacter spp., dan Actinomycetes). Menurut Alexander (1977), Arthrobacter dan Aspergillus flavus mampu menghasilkan nitrat dalam media yang mengandung amonia sebagai sumber nitrogen. Bakteri autotrofik menggunakan CO2 sebagai sumber karbon, sedangkan bakteri heterotrofik menggunakan senyawa organik, seperti asetat, ♼ Alamat korespondensi: Jl. Ir. H. Juanda 18, Bogor 16122. Tel.: +62-251-324006. Faks.: +62-251-325854 e-mail: atitkanti@yahoo.com

piruvat, dan oksaloasetat sebagai sumber karbon. Laju pertumbuhan bakteri yang bersifat autotrofik lebih lambat dibandingkan dengan bakteri heterotrofik. Derajat keasaman (pH) merupakan salah satu faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan aktivitas bakteri pengoksidasi amonia (Esoy et al., 1998). Derajat keasaman (pH) optimum untuk pertumbuhan bakteri pengoksidasi amonia yang bersifat autotrofik berkisar dari 7,5 sampai 8,5 (Ratledge, 1994). Sedangkan bakteri yang bersifat heterotrofik lebih toleran pada lingkungan asam, dan tumbuh lebih cepat dengan hasil yang lebih tinggi pada kondisi dengan konsentrasi DO rendah (Zhao et al., 1999). Sampai saat ini ekologi populasi bakteri pengoksidasi amonia di alam masih belum diketahui dengan jelas. Hal ini disebabkan sulitnya mengisolasi dan mengkultivasi mikroorganisme pengoksidasi amonia. Klasifikasi bakteri pengoksidasi amonia terutama didasarkan pada morfologi sel, ultrastruktur membran dan karakter fisiologinya (Watson et al., 1989). Pada penelitian ini, sifat fisiologi beberapa isolat bakteri pengoksidasi amonia dipelajari. Kajian fisiologis ditekankan pada upaya mengetahui pengaruh tingkat keasaman (pH) dan sumber organik (asetat) terhadap pertumbuhan dan aktivitas bakteri pengoksidasi amonium.


44

B I O D I V E R S I T AS Vol. 5, No. 2, Juli 2004, hal. 43-47

BAHAN DAN METODE Media Media isolasi bakteri pengoksidasi amonia (Krummel dan Harms, 1982 dalam Watson et al., 1989). Komposisi: NH4Cl(535 mg), NaCl (584 mg), MgSO4. 7H2O (49,3 mg), CaCl2. 2 H2O (147,0 mg), KH2PO4 (54,4 mg), KCl (74,4 mg), FeSO4. 7H2O (973,1 μg), (NH4)6Mo7O24.4H2O (37,1 μg), MnSO4. 4H2O (44,6 μg), CuSO4.5H2O (25μg), ZnSO4. 7H2O (43,1 μg), H3BO3 (49,1μg), Cresol red (0,05%,1ml), Akuades (1 l). Bahan-bahan tersebut dilarutkan ke dalam akuades sampai volume 1000 ml, pH media 7,5-8 dengan penambahan HCl 1 N. Larutan tersebut kemudian disterilisasi dengan autoklaf pada suhu 121oC dengan tekanan 2 atm selama 15 menit Media pertumbuhan bakteri pengoksidasi amonia (media basal). Komposisi: KH2PO4 (725 mg), Na2HPO4 (1136 mg), MgSO4. 7H2O (50 mg), CaCl2. 2H2O (20 mg), Fe. EDTA (1 mg), Trace element (1 ml), Akuades (1 l). Trace element: Na2MoO4. 2H2O (10 mg), MnCl2. 4H2O (20 mg), ZnSO4. 7H2O (10 mg), CoCl2. 6H2O (0,2 mg), CuSO4. 5H2O (2 mg), Akuades (100 ml). Bahan-bahan di atas dilarutkan ke dalam akuades sampai volume 1000 ml, pH media 7,7 dengan penambahan HCl 1 N. Larutan tersebut kemudian disterilisasi dengan autoklaf pada suhu 121oC dengan tekanan 2 atm selama 15 menit. Sebagai sumber nitrogen ditambahkan 200 mg/l (NH4)2SO4 steril. Media organik. Pembuatan media organik sama dengan media basal ditambah dengan sodium asetat (20 mM) sebagai sumber karbon. Sebagai sumber nitrogen ditambahkan 200 mg/l (NH4)2 SO4 steril. Cara kerja Kultivasi bakteri pengoksidasi amonia Sumber isolat bakteri adalah lumpur (sludge) dari kolam aerasi pengolahan limbah industri minyak kelapa sawit, PT. Tania Selatan, Palembang. Lumpur sebanyak 1ml ditumbuhkan pada erlenmeyer (100 ml) yang berisi 50 ml media basal (pH 7,7) yang mengandung 200 mg/l (NH4)2SO4. Kultur tersebut kemudian diinkubasi pada suhu ruang diatas penggoyang (shaker). Selama inkubasi dilakukan pengamatan pertumbuhan mikroba nitrifikasi, yaitu dengan cara mengukur perubahan amonia dan pembentukan nitrit secara kualitatif, menggunakan indikator penentuan amonia dan indikator penentuan nitrit (Gerhardt et al., 1994). Pengamatan dilakukan secara berkala. Derajat keasaman (pH) di dalam kultur dipertahankan pada kisaran 7-8. Isolasi dan seleksi bakteri pengoksidasi amonia Kultur yang menunjukkan indikasi adanya pertumbuhan bakteri pengoksidasi amonia diambil dan diisolasi secara tabur. Kultur tersebut kemudian diinkubasi pada suhu ruang selama 3-5 hari. Isolat yang tumbuh kemudian dimurnikan dan dipindahkan pada media agar miring. Isolat yang diperoleh diseleksi kemampuan tumbuhnya dengan cara menumbuhkannya dalam erlenmeyer yang berisi 50

ml media basal. Kultur tersebut diinkubasi pada suhu ruang diatas penggoyang (shaker). Pertumbuhan bakteri pengoksidasi amonia ditentukan dengan mengukur perubahan amonia dan pembentukan nitrit secara kualitatif, menggunakan indikator penentu amonium dan indikator penentu nitrit (Gerhardt et al., 1994). Pengujian pertumbuhan isolat bakteri (pada media tanpa senyawa organik dan media organik) Isolat terseleksi ditumbuhkan ke dalam erlenmeyer yang berisi 50 ml media basal tanpa bahan organik (pH 7,7). Kultur tersebut diinkubasi pada temperatur 28°C diatas penggoyang (shaker) dengan kecepatan 115 rpm. Pertumbuhan ditentukan dengan cara mengukur kekeruhan (Optical density/OD) kultur bakteri tersebut dengan menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 430 nm dan mengukur penurunan konsentrasi amonia yang terjadi. Pengujian dengan cara yang sama juga dilakukan dengan menggunakan media organik. Pembuatan starter Isolat bakteri yang akan diuji diinokulasikan ke dalam erlenmeyer yang berisi 50 ml media basal. Kultur tersebut kemudian diinkubasi pada suhu ruang diatas penggoyang (shaker). Starter yang digunakan untuk pengujian selanjutnya ialah yang telah mencapai pertumbuhan eksponensial dengan kepadatan sel 107-108 sel/ml. Pengaruh pH terhadap pertumbuhan dan aktivitas bakteri pengoksidasi amonia (pada media tanpa senyawa organik dan media oganik) Starter sebanyak 10 % v/v ditumbuhkan ke dalam erlenmeyer yang berisi 50 ml media basal dalam bufer fosfat pH 5, 6, 7, 8 dan 9. Kultur tersebut kemudian diinkubasi pada suhu ruang diatas penggoyang (shaker) selama 72 jam. Selama inkubasi dilakukan pengamatan setiap 24 jam terhadap pertumbuhan dan kemampuannya dalam mengoksidasi amonia. Pertumbuhan ditentukan dengan menghitung jumlah sel bakteri menggunakan haemocytometer. Pengujian dengan cara yang sama juga dilakukan dengan menggunakan media organik. Parameter penelitian Parameter yang diukur adalah amonium (NH4-N), nitrit (NO2-N) dan nitrat (NO3-N). Konsentrasi amonium dan nitrit ditentukan dengan menggunakan metode yang tercantum dalam Standard Method (APHA, 1992) yang telah dimodifikasi. Konsentrasi nitrat (NO3-N) ditentukan dengan metode yang tercantum dalam SNI, (Anonim, 1990) yang telah dimodifikasi (Agustiyani dan Imamuddin, 2000). Analisis data Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis varian (ANOVA) berdasarkan uji F dengan tingkat kepercayaan 99% dan 95%. Jika ada beda nyata analisis dilanjutkan dengan uji BNT dengan taraf kesalahan 1% dan 5% (Steel dan Torrie, 1981).


AGUSTIYANI dkk. – Aktivitas bakteri pengoksidasi amonia

45

Tabel 1. Hasil isolasi bakteri pengoksidasi amonia dan pengujian pertumbuhan secara kualitatif. No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20.

Isolat AM I1 AM I2 (AOB1) AMDA3 AMDA4.1 AMDA4.2 AmB I1 AmB I2 AmB II1 AmB II2.1 AmB II2.2 AmB III NC I NC II1 NC II2 NC II3 NL2 EF4 AmOB1 AmOB2 (AOB2) NE

Karakteristik Morfologi Koloni berbentuk bulat sedang, tebal, putih, tepi rata Koloni berbentuk bulat kecil, tipis, transparan, tepi rata Koloni berbentuk bulat kecil, tipis, transparan, tepi tidak rata Koloni berbentuk bulat sedang, tebal, putih, tepi rata Koloni berbentuk bulat kecil, tipis, transparan, tepi rata Koloni berbentuk bulat kecil, tebal, putih, tepi rata Koloni berbentuk bulat sedang, tebal, putih, tepi rata Koloni berbentuk bulat kecil, tipis, putih, tepi rata Koloni berbentuk bulat sedang, tebal, putih, tepi rata Koloni berbentuk bulat sedang, tebal, putih, tepi tidak rata Koloni berbentuk bulat kecil, tipis, putih, tepi rata Koloni berbentuk bulat kecil, tipis, transparan, tepi rata Koloni berbentuk bulat kecil, tipis, transparan, tepi tidak rata Koloni berbentuk bulat sedang, tipis, transparan, tepi rata Koloni berbentuk bulat kecil, tipis, transparan, tepi rata Koloni berbentuk bulat sedang, tebal, putih, tepi tidak rata Koloni berbentuk bulat sedang, tebal, putih krem, tepi tidak rata Koloni berbentuk bulat sedang, tebal, putih, tepi rata Koloni berbentuk bulat sedang, tebal, putih krem, tepi rata Koloni berbentuk bulat kecil, transparan, tepi rata

Pengujian pertumbuhan secara kualitatif +++ +++ + +++ +++ + ++ +++ ++ ++ ++ ++ ++ +++ +++ +++

Keterangan: +++ = nitrit yang terbentuk banyak; ++ = nitrit yang terbentuk agak banyak; + = nitrit yang terbentuk sedikit; - = tidak terbentuk nitrit.

HASIL DAN PEMBAHASAN Isolasi dan seleksi Hasil isolasi bakteri dari sludge kolam aerasi pengolahan limbah industri minyak kelapa sawit, diperoleh 20 isolat. Isolat-isolat tersebut kemudian diseleksi kemampuan tumbuhnya dalam media basal yang mengandung amonium. Dari hasil pengujian diperoleh 16 isolat yang mampu tumbuh pada media amonium dan menunjukkan kemampuannya mengoksidasi amonium menjadi nitrit yang ditunjukkan dengan terbentuknya warna merah muda setelah penambahan indikator nitrit (Tabel 1.). Dari 16 isolat, 8 isolat menunjukkan kemampuan memproduksi nitrit lebih banyak daripada isolat lainnya (Tabel 1.). Delapan isolat tersebut kemudian diuji kemampuan tumbuhnya pada dua macam media basal amonium yaitu media basal tanpa senyawa organik dan media basal dengan senyawa organik (asetat). Pertumbuhan bakteri pengoksidasi amonia pada kedua media tersebut ditentukan berdasarkan tingkat kekeruhan (Optical Density; OD) dan kemampuannya menurunkan konsentrasi substrat. Hasil pengujian menunjukkan bahwa isolat AOB1 dan AOB2 mempunyai pertumbuhan paling baik, ditunjukkan dengan kekeruhan yang tinggi dan kemampuannya mereduksi amonia juga cukup tinggi (Tabel 2. dan 3.). Berdasarkan hasil pengujian tersebut, maka isolat bakteri AOB1 dan AOB2 dipergunakan untuk pengujian selanjutnya. Pengaruh pH terhadap pertumbuhan bakteri Hasil penghitungan jumlah sel bakteri pada perlakuan berbagai variasi pH dan uji BNT dari rata-

rata jumlah sel bakteri isolat AOB1 dan AOB2 ditampilkan pada Tabel 4 dan Tabel 5. Pada Tabel 4 dan 5 ditunjukkan bahwa jumlah sel bakteri meningkat sejalan dengan meningkatnya pH. Jumlah sel isolat bakteri AOB1 mencapai nilai optimal pada pH 7-8, sedangkan isolat bakteri AOB2 mencapai optimal pada kisaran pH 7-9. Tabel 2. Hasil pengujian pertumbuhan bakteri pengoksidasi amonia dalam media tanpa senyawa organik. Isolat NE NC1 AMDA 4-1 AMDA 4-2 AMI 1 AOB1 Am OB1 AOB2

Kekeruhan (OD) 0 hari 0,046 0,014 0,025 0,037 0,034 0,030 0,051 0,038

3 hari 0,080 0,100 0,159 0,154 0,133 0,222 0,196 0,290

7 hari 0,050 0,102 0,120 0,100 0,090 0,196 0,167 0,270

Konsentrasi + NH4 0 hari 7 hari 47,35 40,72 47,35 36,64 47,35 9,17 47,35 8,27 47,35 4,77 47,35 2,65 47,35 4,03 47,35 2,08

Tabel 3. Hasil pengujian pertumbuhan bakteri pengoksidasi amonia dalam media yang mengandung senyawa organik. Isolat NE NC1 AMDA 4-1 AMDA 4-2 AMI 1 AOB1 Am OB1 AOB2

Kekeruhan (OD) 0 hari 0, 057 0,083 0,023 0,062 0,033 0,032 0,058 0,060

3 hari 0,044 0,089 0,838 0,835 0,873 1,068 0,670 1,430

4 hari 0,052 0,092 0,830 0,770 0,675 1,050 0,575 1,195

Konsentrasi NH4+ 0 hari 4 hari 44,38 39,65 44,38 41,77 44,38 4,11 44,38 3,30 44,38 3,79 44,38 2,81 44,38 3,30 44,38 2,79


B I O D I V E R S I T AS Vol. 5, No. 2, Juli 2004, hal. 43-47

46

Jumlah sel rata-rata tertinggi dari kedua isolat bakteri dicapai pada perlakuan pH 8 dengan media yang mengandung senyawa organik asetat (P9) yaitu 35,20 x 106 sel per ml untuk isolat AOB1 dan 59,20 x 106 sel per ml untuk isolat AOB2. Jumlah sel bakteri cenderung menurun sejalan dengan menurunnya pH. Dari data diatas, diketahui bahwa pH sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan isolat bakteri AOB1 maupun AOB2. Pertumbuhan kedua isolat bakteri ini lebih baik pada media yang mengandung senyawa organik asetat. Tabel 4. Rerata jumlah sel isolat bakteri AOB1 pada berbagai variasi pH. Rataan jumlah sel AOB1 (x 106) P1 (pH 5, media tanpa organik) 4,16 b P2 (pH 6, media tanpa organik ) 4,53 c P3 (pH 7, media tanpa organik ) 21,97 f P4 (pH 8, media tanpa organik ) 22,85 fg P5 (pH 9, media tanpa organik ) 16,03 e P6 (pH 5, media dengan organik) 3,15 a P7 (pH 6,media tanpa organik) 13,52 d P8 (pH 7,media tanpa organik) 34,67 i 35,20 ij P9 (pH 8,media tanpa organik) P10 (pH 9, media tanpa organik ) 27,73 h Keterangan: Angka-angka yang diikuti huruf yang sama berarti tidak berbeda nyata pada tingkat kepercayaan 95%. BNT 0,05 = 0,0369. Kombinasi perlakuan

Tabel 5. Rerata jumlah sel isolat bakteri AOB2 pada berbagai variasi pH. Rataan jumlah sel AOB2 (x 106) P1 (pH 5, media tanpa organik) 4,35 ab P2 (pH 6, media tanpa organik ) 6,48 c P3 (pH 7, media tanpa organik ) 39,20 ef P4 (pH 8, media tanpa organik ) 41,60 efg P5 (pH 9, media tanpa organik ) 37,87 e P6 (pH 5, media dengan organik) 4,32 a P7 (pH 6,media tanpa organik) 24,29 d P8 (pH 7,media tanpa organik) 58,40 hi 59,20 hij P9 (pH 8,media tanpa organik) h P10 (pH 9, media tanpa organik ) 54,93 Keterangan: Angka-angka yang diikuti huruf yang sama berarti tidak berbeda nyata pada tingkat kepercayaan 95%. BNT 0,05 = 0,0345. Kombinasi perlakuan

Pengaruh pH terhadap aktivitas bakteri Aktivitas bakteri pengoksidasi amonium ditentukan dengan cara mengukur penurunan amonium dan pembentukan nitrit. Hasil penghitungan efisiensi penurunan amonium dan efisiensi pembentukan nitrit oleh aktivitas isolat bakteri AOB1 dan AOB2 ditampilkan pada Tabel 6 dan 7. Dari Tabel 6 dan 7 diketahui bahwa aktivitas isolat bakteri AOB1 dan AOB2 dalam mengoksidasi amonia menjadi nitrit sangat dipengaruhi oleh pH. Efisiensi penurunan konsentrasi amonia dan pembentukan nitrit mencapai optimal pada pH 7-8. Dari Tabel 6 dan 7 juga terlihat

adanya perbedaan aktivitas oksidasi amonium pada kedua media yang digunakan, pada media organik aktivitas kedua isolat bakteri lebih tinggi. Namun demikian nampak bahwa efisiensi penurunan amonium tidak linear dengan efisiensi pembentukan nitrit. Efisiensi penurunan amonium jauh lebih tinggi dibandingkan dengan efisiensi pembentukan nitrit. Isolat AOB1 mempunyai efisiensi penurunan amonium berkisar antara 9,71-99,25% dan efisiensi pembentukan nitrit berkisar antara 0,06-15,71%. Sedangkan isolat AOB2 mempunyai efisiensi penurunan konsentrasi amonia berkisar antara 14,8898,98% dan efisiensi pembentukan nitrit berkisar antara 0,15-28,22%. Efisiensi penurunan amonia tertinggi untuk isolat AOB1 sebesar 99,25% dan AOB2 sebesar 98,98%, akan tetapi efisiensi pembentukan nitritnya rendah yaitu 15,71% untuk isolat AOB1 dan 28,22% untuk isolat AOB2. Hal ini menunjukkan rendahnya aktivitas oksidasi amonium menjadi nitrit. Tabel 6. Efisiensi penurunan konsentrasi amonia dan pembentukan nitrit oleh aktivitas isolat bakteri AOB1 (inkubasi 72 jam). Isolat dan media

Efisiensi Efisiensi penurunan pembentukan amonia (%) nitrit (%) P1 (pH 5) 11,68 i 0,06 a AOB1 h P2 (pH 6) 48,56 0,25 abc Media d P3 (pH 7) 87,61 1,12 ef tanpa c P4 (pH 8) 89,82 1,30 efg organik ef 0,93 e P5 (pH 9) 81,61 P6 (pH 5) 9,71 Ij 0,15 ab g AOB1 P7 (pH 6) 59,84 1,41 abcd b P8 (pH 7) 95,88 8,49 hi Media a organik P9 (pH 8) 99,25 15,71 ij e 7,06 h P10 (pH 9) 83,10 Keterangan: Angka-angka yang diikuti huruf yang sama berarti tidak berbeda nyata pada tingkat kepercayaan 95%. BNT 0,05 = 0,0369 (untuk konsentrasi amonia) dan BNT 0,05 = 0,1050 (untuk konsentrasi nitrit). Perlakuan

Tabel 7. Efisiensi penurunan konsentrasi amonia dan pembentukan nitrit oleh aktivitas isolat bakteri AOB2 (inkubasi 72 jam). Efisiensi Efisiensi penurunan pembentukan amonia (%) nitrit (%) P1 (pH 5) 19,28 i 0,06 a AOB2 h P2 (pH 6) 52,24 0,30 c Media P3 (pH 7) 89,12 cd 2,62 f tanpa c P4 (pH 8) 90,14 3,05 g organik e P5 (pH 9) 82,07 2,11 de ij P6 (pH 5) 14,88 0,15 ab g AOB2 P7 (pH 6) 62,18 7,00 d Media P8 (pH 7) 95,67 b 22,09 h organik P9 (pH 8) 98,98 a 28,22 j P10 (pH 9) 80,67 ef 22,55 hi Keterangan: Angka-angka yang diikuti huruf yang sama berarti tidak berbeda nyata pada tingkat kepercayaan 95%. BNT 0,05 = 0,2984 (untuk konsentrasi amonia) dan BNT 0,05 = 0,1155 (untuk konsentrasi nitrit). Isolat

Perlakuan


AGUSTIYANI dkk. – Aktivitas bakteri pengoksidasi amonia

Dari hasil pengujian, diketahui bahwa aktivitas oksidasi amonia menjadi nitrit dari isolat bakteri AOB1 dan AOB2 lebih tinggi di media yang mengandung karbon organik asetat. Hal ini menunjukkan bahwa kedua isolat tersebut bersifat heterotrofik, karena mampu memanfaatkan senyawa organik sebagai sumber karbonnya. Jenie dan Rahayu (1993) menyatakan bahwa selain bakteri nitrifikasi autotrof, juga terdapat bakteri heterotrof yang selain mampu menggunakan senyawa organik, juga mampu memanfaatkan nitrogen anorganik, misalnya amonia, sebagai donor elektron dan sumber energi. Fakta kedua yang mendukung dugaan bahwa kedua isolat bakteri tersebut adalah bakteri pengoksidasi amonia yang bersifat heterotrofik adalah rendahnya aktivitas oksidasi amonium menjadi nitrit. Seperti dikemukakan Ambarsari (1999) bahwa bakteri nitrifikasi heterotrofik mempunyai aktivitas yang jauh lebih rendah dibandingkan bakteri yang bersifat autotrofik. Berbeda dengan bakteri nitrifikasi yang bersifat autotrofik, sebagian besar bakteri heterotrofik akan mengeluarkan nitrit atau nitrat jika fase pertumbuhannya telah aktif (Doxtader dan Alexander, 1966; Obaton et al., 1968; Verstraete dan Alexander, 1972). Dilaporkan juga bahwa beberapa bakteri heterotrofik, seperti P. pantotropha dan Alcaligenes faecalis hanya mampu mengoksidasi amonium menjadi hydroxylamine (Otte et al., 1999). Reaksi biokimia peruraian amonium oleh bakteri nitrifikasi yang bersifat heterotrofik antara lain adalah sebagai berikut: NH4+ Æ NH2OH Æ NOH Æ NO2- Æ NO3(Killham, 1986; Haynes, 1986). Dari reaksi diatas diketahui bahwa hasil akhir dari reaksi oksidasi amonium secara sempurna adalah nitrat (NO3-). Dalam penelitian ini nitrat tidak terdeteksi, hanya terdeteksi nitrit. Selain itu dalam penelitian ini hydroxylamine juga tidak diukur, sehingga belum bisa disimpulkan pola reaksi yang lengkap dari proses oksidasi amonium oleh isolat bakteri AOB1 dan AOB2. Oleh karena itu penelitian lebih lanjut masih perlu dilakukan. Pada pH 8, pertumbuhan sel isolat bakteri AOB1 dan AOB2 sangat baik. Seperti pada umumnya bakteri nitrifikasi, bakteri pengoksidasi amonia lebih menyukai lingkungan yang basa dengan tingkat pH optimal untuk pertumbuhan berkisar antara 7,5 sampai 8,5 (Imas et al., 1989 dan Ambarsari, 1999). Sedangkan pada pH 5, pertumbuhan maupun aktivitas oksidasi amonium oleh isolat bakteri AOB1 dan AOB2 menurun, hal ini menunjukkan terjadinya penghambatan. Pada pH yang rendah, membran sel menjadi jenuh oleh ion hidrogen sehingga membatasi transport membran. Keracunan yang terjadi pada pH rendah adalah karena sebagian substansi asam yang tidak terurai meresap ke dalam sel, sehingga terjadi ionisasi dan pH sel berubah. Perubahan ini menyebabkan proses pengiriman asam-asam amino dari RNA terhambat sehingga menghambat pertumbuhan dan bahkan dapat membunuh mikroba.

47

KESIMPULAN Dari penelitian ini diketahui bahwa derajat keasaman (pH) berpengaruh terhadap pertumbuhan dan aktivitas isolat bakteri AOB1 dan AOB2 dalam mengoksidasi amonia. Pertumbuhan dan aktivitas oksidasi amonia mencapai optimum pada kisaran pH 7-8. Isolat bakteri AOB1 dan AOB2 memperlihatkan pertumbuhan dan aktivitas yang jauh lebih baik pada media yang mengandung asetat. Fakta ini menunjukkan bahwa kedua isolat bakteri tersebut merupakan bakteri pengoksidasi amonia yang bersifat heterotrofik. Alur reaksi oksidasi amonium secara lengkap belum diketahui. DAFTAR PUSTAKA Agustiyani, D dan H. Imamuddin. 2000. Pertumbuhan kultur mikroba campuran pada senyawa amonium. Proseding Seminar Nasional Biologi XVI dan Konggres Nasional Perhimpunan Biologi Indonesia (PBI) XII, ITB Bandung, 25-27 Juli 2000. nd Alexander, M. 1977. Introduction to Soil Microbiology. 2 edition. Toronto: John Wiley and Sons. Ambarsari, H. 1999. Karakteristik dan peran bakteri penitrifikasi dalam usaha minimisasi amonia yang terakumulasi di dalam sistem akuakultur. Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia 1 (2): 43-52. Anonim. 1990. Kumpulan SNI Bidang Pekerjaan Umum Mengenai Kualitas Air. Jakarta: Departemen Pekerjaan Umum. American Public Health Association (APHA). 1992. Standard th Methods for the Examination of Water and Wastewater. 18 edition. Washington DC.: APHA. Doxtader, K.G., and M. Alexander. 1966. Nitrification by growing and replacement cultures of Aspergillus. Canadian Journal of Microbiology 12: 807-815. Esoy, A., H. Odegaard and G. Bentzen. 1998. The Effect of Sulphide and Organic Matter on The Nitrification Activity In Biofilm Procces. Water Science Technology 37 (1): 115-122. Gerhardt, P., R.G.E. Murray, W. A. Wood and N. R. Krieg. 1994. Methods for General Molecular Bacteriology. Washington DC.: American Society for Microbiology. Haynes, R.J. 1986. Mineral Nitrogen In the Plan-Soil System. London: Academic Press, Inc. Imas, T., R.S. Hadioetomo, A.G. Gunawan, dan Y. Setiadi. 1989. Mikrobiologi Tanah II. Bogor: PAU IPB. Jenie, B.S.L. dan W.P. Rahayu. 1993. Penanganan Limbah Cair Industri Pangan. Bogor: PAU Pangan dan Gizi IPB. Killham, K. 1986. Heterotrophic nitrification. In Prosser, J.I. (ed). Nitrification. Oxford: IRL Press. Obaton, M., N. Amarger, and M. Alexander. 1968. Heterotrofik nitrification by Pseudomonas aeruginosa. Archipes of Microbiology 63: 122-132. Otte S, J. Schalk, J.G. Kuenen, and M.S. Jetten. 1999. Hydroxylamine oxidation and subsequent nitrous oxide production by the heterotrophic ammonia oxidizer Alcaligenes faecalis. Applied Microbiologi and Biotechnology 51: 255-261. Ratledge, C. 1994. Biochemistry of Microbial Degradation. Amsterdam: Kluwer Academic Publisher. Steel, R.G.D. dan J.H. Torrie. 1981. Prinsip dan Prosedur Statistika. Suatu Pendekatan Biometrik. Jakarta: PT. Gramedia. Sylvia, D. M., J. J. Furbrmann, P. G. Hartel and D. A. Zuberer. 1990. Principles and Application of Soil Microbiology. New Jersey: Prentice Hall, Inc. Verstraete, W. and M. Alexander. 1972. Heterotrophic nitrification by Arthrobacter sp. Journal of Bacteriology 110: 955-961. Watson, S.W. , E. Bock, H. Harms, H.P. Koops, and A.B. Kooper. 1989. Nitrifiying bacteria. In: Staley, J.T., M.P. Bryant, N. Hennig, and J.G. Holt (eds). Bergey Manual of Systematic Bacteriology Vol. 3. Baltimore: Williams and Wilkins. Zhao, H.W., D.S. Mavinic, W.K. Oldham, and F.A. Koch. 1999. Controlling factors for simultaneous nitrification and denitrification in a two-stage intermittent aeration process treating domestic sewage. Water Resources 33 (4): 961-970.


BIODIVERSITAS Volume 5, Nomor 2 Halaman: 48-51

ISSN: 1412-033X Juli 2004

Pengkajian Nilai Gizi Hasil Fermentasi Mutan Aspergillus niger pada Substrat Bungkil Kelapa dan Bungkil Inti Sawit Evaluate the effect of mutans Aspergillus niger to the nutritive value of fermentation at coconut meal and karnel palm meal

1

LAELA SARI1, TRESNAWATI PURWADARIA2 Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI Cibinong-Bogor 16911 Balai Penelitian Ternak Ciawi PO Box 221 Bogor 16002

2

Diterima: 19 Pebruari 2004. Disetujui: 17 Mei 2004

ABSTRACT Agricultural wastes, such as coconut meal and kernel palm meal can be used to fulfill the need of feed for ruminants or monogastrics. Fermentation technology using Aspergillus niger has been reported allow to increase their nutritive value. Isolation of the asporogenous strain which could spored at room temperature but could not spored at 37oC is expected to sole the fermentation of spores in the fermentation product. The spore formation of mutants at the fourth day incubation time (10%) was less than the wild type (100%). The variance analysis of protein content in vitro Dry Matter Digestibility (IVDMD) and in vitro Protein Digestibility (IVPD) showed that the kind of mutants were interacted with the incubation time (P<0,01). The highest protein content of coconut meal was obtained from E27 mutant (33.0%), kernel palm meal was obtained from E14 mutant (31.4%) at the fourth day of incubation time. The highest IVDMD of coconut meal (62.1%), kernel palms meal (61.8%) at the fourth day incubation time and from all E27 mutant. The highest IVPD of coconut meal was obtained from E27 mutant (20.49%) at the fourth day incubation time, kernel palm meal was obtained from E27 mutant (18.66%) at the fourth days incubation time. Š 2004 Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta Keywords: mutant Aspergillus niger, coconut meal, kernel palm meal, fermentation.

PENDAHULUAN Pakan ternak sebagai sarana produksi ternak dirasakan petani cukup mahal, hal ini disebabkan ketersediaan bahan pakan yang berkualitas seperti tepung ikan, jagung dan bungkil kedelai belum memadai dan sebagian besar masih diimpor. Sebagai gambaran, pada tahun 1994 Indonesia mengimpor tepung ikan, jagung dan bungkil kedelai masingmasing sebanyak 227.213 ton, 1.109.253 ton dan 450.340 ton. Di lain pihak, berbagai limbah industri yang mungkin dapat digunakan sebagai bahan pakan ternak seperti bungkil kelapa dan bungkil inti sawit cukup banyak diproduksi di Indonesia (Sinurat dkk., 1998a,b; Ketaren dkk., 1999). Oleh karena itu perlu diteliti penggunaan bahan lain seperti bungkil kelapa dan bungkil inti sawit. Bahan tersebut merupakan bahan pakan yang murah, bernilai gizi tinggi, tidak bersaing dengan kebutuhan manusia dan dapat â&#x2122;Ľ Alamat korespondensi: Jl Raya Bogor KM 46 Cibinong 16911 Tel. +62-21-8754587; Fax. +62-21-8754588. Email: laelasari@yahoo.com

diproduksi tinggi dengan biaya serendah-rendahnya. Bungkil kelapa merupakan hasil dari ikutan pembuatan minyak kelapa, bungkil inti sawit merupakan hasil ikutan industri minyak sawit. Kedua bahan tersebut mempunyai faktor pembatas yaitu kandungan serat kasar yang cukup tinggi dan daya cernanya rendah. Daya cernanya berkurang dikarenakan proses pelumatan serat kasar memerlukan banyak tenaga dan enzim (Lubis, 1963), sehingga perlu dilakukan perlakuan pada kedua bahan tersebut agar kualitasnya lebih baik. Menurut Kompiang et al. (1994) dan Sinurat dkk. (1998a,b), teknologi untuk meningkatkan mutu bahan pakan adalah dengan fermentasi. Secara umum semua produk akhir fermentasi biasanya mengandung senyawa yang lebih sederhana dan mudah dicerna daripada bahan asalnya sehingga dapat meningkatkan nilai gizinya (Purwadaria et al., 1995; Sinurat dkk., 1996; Supriyati dkk., 1998). Fermentasi juga berfungsi sebagai salah satu cara pengolahan dalam rangka pengawetan bahan dan cara untuk mengurangi bahkan menghilangkan zat racun yang dikandung suatu bahan. Berbagai jenis mikroorganisme mempunyai kemampuan untuk meng-


ENDRI dkk., â&#x20AC;&#x201C; Pengaruh ekstrak buah Phaleria macrocarpa pada hepar Rattus norvegicus

konversikan pati menjadi protein dengan penambahan nitrogen anorganik ini melalui fermentasi. Kapang yang sering digunakan dalam teknologi fermentasi antara lain Aspergillus niger. A. niger merupakan salah satu jenis Aspergillus yang tidak menghasilkan mikotoksin sehingga tidak membahayakan (Gray, 1970). Proses fermentasi menggunakan kapang, selain pembentukan miselium selalu diikuti oleh pembentukan spora yang berguna untuk pembuatan inokulum pada proses fermentasi. Inokulum yang berupa spora merupakan starter yang baik dalam fermentasi (Purwadaria et al., 1994). Keberadaan spora dapat membuat turunnya daya cerna produk fermentasi dibandingkan dengan sel miselium dan merupakan bahan pencemar bagi kesehatan manusia, sehingga untuk alasan ini mutan yang hilang kemampuan berspora pada suhu tertentu akan mempunyai keuntungan. Mutan asporogenous A. niger telah dikembangkan dengan teknik mutasi ultra violet (Glenn dan Roger, 1988). Mutasi adalah suatu perubahan yang terjadi pada bahan genetik yang menyebabkan perubahan ekspresinya. Proses pembentukan mutan disebut mutagenesis. Radiasi dengan penyinaran ultra violet sering digunakan dalam studi mutagenesis (Yusuf, 1988; Iskandar dkk, 1995). Penelitian ini bertujuan untuk membentuk mutan asporogenous A. niger dengan menggunakan sinar ultra violet dan mengkaji nilai gizi produk fermentasi bungkil kelapa dan bungkil inti sawit.

BAHAN DAN METODE Substrat dan mikroba Substrat yang digunakan adalah bungkil kelapa dan bungkil inti sawit yang diperoleh dari toko makanan ternak di daerah Bogor. Sedangkan mikroba yang digunakan adalah A. niger koleksi Balitnak Ciawi dan mikroba mutan E14 dan E27 (hasil penelitian ini). Teknik mutasi Spora galur A. niger tipe liar pada media PDA (Potato Dextose Agar) dilarutkan dengan larutan fisiologis dengan pengenceran 10-6. Setiap pengenceran dimasukkan ke dalam botol McCartney steril dan ditutup dengan rapat. Tempat untuk mutasi dibersihkan dengan alkohol 70%, kemudian disiapkan lampu Ultra Violet (Clemco 9015, 227 nm, 15 watt) dengan jarak 10 cm di atas cawan petri steril. Sampel dimasukkan ke dalam cawan petri tersebut dan disinari selama 2â&#x20AC;&#x2122; (Glenn dan Roger, 1988) lalu dimasukkan ke dalam botol McCaartney. Sebanyak 0,2 ml sampel ditumbuhkan pada cawan petri berisi media PDA lalu diinkubasikan selama 4 hari pada suhu 37oC. Setelah mutan yang tumbuh pada suhu 37oC diperoleh, maka dilakukan isolasi, dan ditumbuhkan pada media PDA dan diinkubasikan pada suhu kamar dan suhu 37oC. Selanjutnya dipilih

49

mutan yang dapat berspora pada suhu kamar namun tidak berspora pada suhu 37oC. Mutan tersebut ditumbuhkan pada cawan petri untuk dijadikan biakan inokulum. Proses fermentasi substrat padat Substrat berupa bungkil kelapa dan bungkil inti sawit masing-masing sebanyak 1 kg diberi larutan mineral (Modifikasi Ramos et al., 1993) dan dilarutkan dalam 800 ml air, campuran diaduk sampai homogen dan dikukus selama 30 menit. Setelah dingin, substrat diberi galur inokulum yang berbeda (E14, E27 dan tipe liar sebagai kontrol) dan diaduk sampai homogen. Setelah itu diletakkan dalam baki plastik dengan ketebalan 3cm secara aerob, lalu dinkubasikan pada suhu 37oC selama 4 hari. Uji analisis kimia Analisis kimia yang diuji menurut AOAC (1984) adalah kadar protein produk fermentasi dalam bentuk kadar protein sejati. Kadar protein sejati merupakan kadar protein kasar dengan kadar nitogen terlarut (X 6,25). Selanjutnya diuji daya cerna bahan kering dan daya cerna protein sejati secara in vitro dan protein tercerna. Nilai protein tercerna merupakan perkalian daya cerna protein dengan kadar protein. Rancangan penelitian Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan faktorial (Suntoyo, 1993) dengan 3 ulangan menggunakan 2 faktor yaitu faktor inokulum (3 isolat) dan faktor waktu inkubasi (0, 2, 3, dan 4 hari). Perlakuan yang diberikan meliputi masing-masing substrat percobaan yang difermentasikan dengan A. niger Balitnak tipe liar, E14 dan E27 (hasil penelitian ini), serta dipanen setelah 0, 2, 3 dan 4 hari. Analisis data Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam dan BNJ (Suntoyo, 1993).

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil mutasi Hasil mutasi dengan sinar UV menunjukkan adanya pembentukkan mutan asporogenous A. niger. Koloni kapang yang berspora pada suhu 37oC merupakan koloni tipe liar, sedangkan koloni yang tidak berspora merupakan koloni mutan (Tabel 1.). Koloni kapang yang tidak berspora tersebut dipisahkan dan dibiakkan pada suhu kamar dan suhu 37oC. Kemudian kedua mutan tersebut diuji lebih lanjut dengan menanamnya pada suhu kamar dan 37oC selama empat generasi. Setelah empat kali dipindahkan ternyata mutan tersebut tetap stabil dan mempunyai karakteristik serta sifat yang sama seperti pada generasi pertama (dilihat dari pengamatan pembentukan spora secara visual Tabel 2.).


B i o S M A R T Vol. 6, No. 2, Oktober 2004, hal. 48-51

50

Tabel 1. Pembentukan spora isolat mutan dan tipe liar A. niger pada suhu inkubasi 28oC dan 37oC. Proses Mutasi Waktu Pengenceran Suhu Suhu Jenis penyinaran spora kamar 37oC galur (menit) TL +++ ++++ E14 2 10-6 +++ -,+ -6 +++ -,+ E27 2 10 Keterangan: (-) = tidak berspora; (+) = berspora sedikit; (++) = Berspora sedang; (+++) = Berspora banyak; (++++) = Berspora sangat banyak/sangat rapat.

Tabel 2. Pertumbuhan A. niger TL, E14, dan E27 pada substrat bungkil kelapa dan bungkil inti sawit. Substrat

Hari ke 3

1

2

Bungkil kelapa TL E14 E27

4

-

-,+ -,+ +

++ ++ ++

### ++# ++#

Bungkil inti sawit TL E14 E27

-

-,+ -,+ +

++ ++ ++

### ++# ++#

Keterangan: (-) = Tidak tampak pertumbuhan; (-,+) = hifa tumbuh menutupi substrat Âą 50%; (+) = hifa tumbuh menutupi substrat Âą 70%; (++) = hifa tumbuh menutupi substrat 100%; (++#) = hifa tumbuh Âą 90%, dipinggir baki tumbuh spora Âą 10%; (###) = tumbuh spora warna hitam.

Fermentasi substrat padat Dilakukan analisis pada 0 (kontrol), 2, 3 dan 4 hari, namun tidak dilakukan pada waktu fermentasi satu hari, karena masa tersebut merupakan waktu adaptasi mikroba sehingga aktivitasnya belum optimal. Menurut Fardiaz (1988), fase adaptasi diperlukan mikroorganisme untuk menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan di sekitarnya. Tabel 3. dan Tabel 4. menunukkan adanya interaksi antara jenis mutan dan waktu inkubasi (P<0,01). Analisis ragam pengaruh jenis mutan terhadap kadar protein sejati berbeda nyata (P<0,01). Dibandingkan dengan tipe liar, mutan E14 dan E27 tumbuh lebih baik karena pertumbuhan spora mutan tersebut lebih sedikit dari tipe liar. Pada substrat bungkil kelapa dan bungkil inti sawit lamanya waktu fermentasi memperlihatkan adanya perbedaan nyata (P<0,01) terhadap kandungan protein. Kenaikan kadar protein pada substrat fermentasi padat diakubatkan oleh penambahan protein yang diperoleh dari perubahan nitogen inorganik menjadi protein sel selama pertumbuhan mikroba. Meningkatnya kadar protein ini ada hubungannya dengan pertumbuhan kapang A. niger. Makin subur pertumbuhan kapang makin tinggi pula kadar proteinnya, karena sebagian besar sel kapang merupakan protein.

Tabel 3. Nilai kadar protein, daya cerna bahan kering, daya cerna protein sejati, protein tercerna (%) A. niger tipe liar, mutan E14 dan E27 terhadap substrat bungkil kelapa. Analisis (%) Kadar protein Daya cerna bahan kering Daya cerna protein sejati Protein tercerna

Galur Tipe liar E14 E27 Tipe liar E14 E27

0 22,3a 21,9a 20,7a 38,7a 41,0ab 48,1bc

Tipe liar E14 E27

70,2b 63,0a 84,6e

Waktu inkubasi (hari) 2 3 4 29,5bc 28,4b 30,3bc 31,3c 32,2c 32,7c 31,6c 32,2c 33,0c 44,1b 46,9c 40,0ab 46,1bc 52,6cd 56,3d 51,8c 58,2d 62,1e 75,5c 83,3d 81,1d

71,7bc 81,3d 75,1c

60,5a 78,2c 78,1c

Tipe liar 8.63 13.01 13.32 12.12 E14 8.98 14.43 16.94 18.41 E27 9.96 16.37 18.74 20.49 Keterangan: *Huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata (P<0,05).

Tabel 3 menunjukkan protein tertinggi pada bungkil kelapa diperoleh pada mutan E27 (33%) dengan waktu inkubasi 4 hari. Sedangkan protein tertinggi pada bungkil inti sawit diperoleh pada mutan E14 (31,4%) dengan waktu inkubasi 4 hari (Tabel 4). Pada tipe liar terjadi penurunan kadar protein pada hari ke empat, karena pertumbuhannya berbeda pada jenis mutan maka yang terjadi disini adalah aktivitas kapang yang satu lebih rendah dari yang lainnya. Aktivitas kapang memecah protein substrat sehingga laju pertumbuhannya menurun. Metode yang digunakan untuk uji daya cerna bahan kering secara in vitro merupakan pendekatan untuk mengetahui gambaran kecernaan bahan kering produk (Saunders et al., 1973). Analisis sidik ragam daya cerna bahan kering dan protein sejati in vitro menunjukkan interaksi antara jenis inokulum dan waktu inkubasi (Tabel 3. dan Tabel 4.). Nilai daya cerna bahan kering in vitro bungkil kelapa tertinggi diperoleh pada mutan E27 (62,1%) waktu inkubasi 4 hari (Tabel 3.). Sedangkan nilai daya cerna bahan kering in vitro bungkil inti sawit tertinggi diperoleh pada mutan E27 (61,8%) waktu inkubasi 4 hari (Tabel 4.). Kecuali pada tipe liar waktu inkubasi 4 hari menunjukkan nilai daya cerna bahan kering terendah karena selama proses fermentasi kapang memproduksi enzim pengurai serat kasar. Pada tipe liar terjadi penurunan daya cerna bahan kering karena terbentuk spora lebih banyak daripada isolat mutan. Dinding sel spora lebih banyak mengandung serat daripada miselium sehingga lebih sukar dicerna dan menurunnya daya cerna bahan kering. Pada tipe liar terjadi pada hari ke empat penurunan daya cerna bahan kering, karena seratnya terurai sehingga daya cerna proteinnya meningkat. Pada tipe liar terjadi penurunan daya cerna terjadi karena terdapat spora yang tumbuh lebat pada hari ke empat, hal ini tersebut diduga karena spora meningkatkan kadar serat kasar bahan. Kadar serat


ENDRI dkk., â&#x20AC;&#x201C; Pengaruh ekstrak buah Phaleria macrocarpa pada hepar Rattus norvegicus

kasar yang tinggi mengakibatkan enzim pencernaan sukar menembus dinding sel dan menyebabkan zat gizi yang terdapat pada bahan tidak dapat dimanfaatkan sebaik mungkin. Pada mutan E14 dan E27 miseliumnya tumbuh subur namun hanya sedikit spora yang tumbuh pada hari ke empat, sehingga bahan tersebut lebih mudah dicerna dan dimanfaatkan.

51

Protein tercerna tertinggi pada bungkil kelapa terdapat pada mutan E27 (20,49%) dengan waktu inkubasi 4 hari. Protein tercerna tertinggi pada bungkil inti sawit terdapat pada mutan E27 (18,66%) dengan waktu inkubasi 4 hari.

UCAPAN TERIMA KASIH Tabel 4. Nilai kadar protein, daya cerna bahan kering, daya cerna protein sejati, protein tercerna (%) A. niger tipe liar, mutan E14 dan E27 terhadap substrat bungkil inti sawit. Analisis (%) Kadar protein Daya cerna bahan kering Daya cerna protein sejati Protein tercerna

Tipe liar E14 E27 Tipe liar E14 E27

Waktu inkubasi (hari) 0 2 3 19,9a 26,3bc 28,3c 18,2a 29,7cd 25,6b 19,1a 26,7bc 27,5bc 33,0a 35,2ab 42,5c 37,2b 42,6c 45,5cd 40,8bc 47,7d 54,5c

4 27,1bc 31,4d 30,2cd 32,4a 48,7d 61,8f

Tipe liar E14 E27

72,5b 65,7a 69,2ab

79,2cd 77,3cd 76,4bc

Galur

77,1c 74,6bc 81,6d

76,0bc 81,5d 72,9bc

Tipe liar 6,57 9,26 12,03 8,78 E14 6,77 12,65 11,65 15,29 E27 7,79 12,74 14,99 18,66 Keterangan: *Huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata (P<0,05).

Nilai daya cerna protein sejati tertinggi pada bungkil kelapa dan bungkil inti sawit diperoleh pada mutan E27, walaupun demikian untuk nilai gizi produk fermentasi nilai daya cerna berhubungan dengan kadar protein produk atau nilai protein tercerna. Nilai protein tercerna tertinggi pada bungkil kelapa diperoleh pada mutan E27 (20,49%) waktu inkubasi 4 hari (Tabel 3). Sedangkan nilai protein tercerna tertinggi pada bungkil inti sawit pada E27 (18,66%) waktu inkubasi 4 hari atau kapang ini terbaik untuk nilai gizi protein (Tabel 4). Isolat mutan menunjukkan nilai gizi protein lebih baik daripada nilai tipe lainnya karena beberapa mutan hasil ultra violet menunjukkan adanya peningkatan aktivitas enzim hidrolisis.

KESIMPULAN DAN SARAN Mutan pada fermentasi bungkil kelapa dan bungkil inti sawit menunjukkan hifa tumbuh 90%, di tepi baki tumbuh spora 10%, sedangkan tipe liar menunjukkan hifa dan spora tumbuh subur pada substrat (100%). Waktu inkubasi mempengaruhi kadar protein. Kadar protein yang paling baik diperoleh pada substrat bungkil kelapa pada mutan E27 (33%) dengan waktu inkubasi 4 hari. Kenaikan daya cerna bahan kering terjadi pada mutan E14 dan E27 sejalan dengan bertambahnya hari fermentasi. Daya cerna bahan kering yang paling baik diperoleh pada substrat bungkil kelapa pada mutan E27 (62,1%) dengan waktu inkubasi 4 hari.

Karya ilmiah ini merupakan bagian dari thesis sarjana penulis. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Balitnak, Ciawi untuk fasilitas yang diberikan dalam penelitian ini, juga kepada Tuti Haryati, M.Sc. atas segala bantuan dalam pekerjaan.

DAFTAR PUSTAKA AOAC. 1984. Official Methods of Analysis of the Association of Official Analytical Chemists. Washingtong D.C.: AOAC. Fardiaz, S. 1988. Fisiologi Fermentasi. Bogor: Pasca Sarjana PAUIPB & LSI IPB,. Glenn, D.R. and R.E. Roger., 1988. A solid substrate fermentation process for animal feed product, studies on funngal strain improvement. Australian Journal of Biotechnology 2 (1): 50-54. Gray, W.D., 1970. The Use of Fungi as Food and in Food Processing. Ohio: CRC Press. Iskandar, Y.M., I.Z. Udin dan A.T. Karossi. 1995. Strain Aspergillus oryzae untuk meningkatkan produksi alfa amilase. JKTI 5 (1): 29-33. Ketaren, P.P., A.P. Sinurat, D. Zainuddin, T. Purwadaria, dan I.P. Kompiang. 1999. Bungkil inti sawit dan produk fermentasinya sebagai pakan ayam pedaging. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner 4 (2): 107-112. Kompiang, I.P., A.P. Sinurat, S. Kompiang, T. Purwadaria, and J. Darma. 1994. Nutrition value of protein enriched cassava: Cassapro. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner 7 (2): 22-25. Lubis, D.A. 1963. Ilmu Makanan Ternak. Jakarta: PT Pembangunan. Purwadaria, T., T. Haryati, A.P. Sinurat, J. Darma, and T. Pasaribu. 1995. In vitro nutrient value of coconut meal fermented with Aspergillus niger NRRL 337 at different enzimatic incubation nd temperatures. 2 Conference on Agricultural Biotechnology Jakarta, 13-15 June 1995. Ramos. A.V., M. de la Torre, and C. Casas-Campillo. 1993. Solid Strate Fermentation of Cassava with Rhizopus oligosporus NRRL 2710. In Ferranti, M.P., and A. Fiechter (eds.). Production and Feeding of Single Cell Protein. London: Applied Science Publisher. Saunders, R.M, M.A. Corner, A.N. Booth, E.M. Bickoff, and G.O. Kohler. 1973. Measurement of digestibility of alfaefa protein concentrates by in vivo and in vitro methods. Journal of Nutrition 103: 530-535. Sinurat, A.P., P. Setiadi, T. Purwadaria, A.R. Setioko, dan J. Darma. 1996. Nilai gizi bungkil kelapa yang difermentasi dan pemanfaatannya dalam ransum itik jantan. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner 1 (3): 161-168. Sinurat, A.P., T. Purwadaria, A. Habibie, T. Pasaribu, H. Hamid, J. Rosida, T. Haryati, dan I. Sutikno. 1998. Nilai gizi bungkil kelapa terfermentasi dalam ransum itik petelur dengan kadar fosfor yang berbeda. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner 3 (1): 15-21. Sinurat, A.P., T. Purwadaria, J. Rosida, H. Surachman, H. Hamid, dan I.P. Kompiang. 1998. Pengaruh suhu ruang fermentasi dan kadar air substrat terhadap nilai gizi produk fermentasi lumpur sawit. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner 3 (4): 225-229. Supriyati, T. Pasaribu, H. Hamid, dan A.P. Sinurat. 1998. Fermentasi bungkil inti sawit secara substrat padat dengan menggunakan Aspergillus niger. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner 3 (3): 165-170. Suntoyo, Y. 1993. Percobaan, Perancangan, Analisis, dan Interpretasinya. Jakarta: PT. Gramedia. Yusuf, M. 1994. Mutasi. Bogor: Jurusan Biologi FMIPA IPB.


BIODIVERSITAS Volume 5, Nomor 2 Halaman 52-60

ISSN: 1412-033X Juli 2004

The Genus Koilodepas Hassk. (Euphorbiaceae) in Malesia 1

MUZAYYINAH1,♥, EDI GUHARDJA2, MIEN A. RIFAI3, JOHANIS P. MOGEA3, PETER VAN WALZEN4 Program Study of Biological Education, Department of PMIPA FKIP Sebelas Maret University Surakarta 57126, Indonesia. 2 Department of Biology, Faculty of Mathematic and Sciences, Bogor Agriculture University, Bogor Indonesia 3 "Herbarium Bogoriense", Department of Botany, Research Center of Biology -LIPI, Bogor 16013, Indonesia 4 Rijksherbarium Leiden, The Netherlands. th th Received: 8 December 2003. Accepted: 17 May 2004.

ABSTRACT The Malesian genus Koilodepas Hassk. has been revised based on the morphological and anatomical character using available herbarium collection in Herbarium Bogoriense and loan specimens from Kew Herbarium and Leiden Rijksherbarium. The present study is based on the observation of 176 specimens. Eight species has been recognized, namely K. bantamense, K. cordifolium, K. frutescns, K. homalifolium, K. laevigatum, K. longifolium, K. pectinatum, and two varieties within K. brevipes. The highest number of species is found in Borneo (5 species), three of them are found endemically in Borneo, K. cordisepalum endemically in Aceh, and K. homalifolium endemically in Papua New Guinea. A phylogenetic analysis of the genus, with Cephalomappa as outgroup, show that the species within the genus Koilodepas is in one group, starting with K. brevipes as a primitive one and K. bantamense occupies in an advance position. © 2004 Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta Keyword: Koilodepas Hassk., Malesia, outgroup, phylogenetic analysis, outgroup.

INTRODUCTION The genus Koilodepas belongs to the tribe Epiprineae of the subfamily Acalyphoideae. The characteristics of this tribe are flowers without a disk, pollen grains coarsely reticulate or perfora-tectate, indumentum stellate, inflexed in bud (except dorsifixed in Koilodepas), monoecious, pistillate calyx often accrescent, and seeds ecarunculate. The Epiprineae have been divided into two sub tribes Epiprinae and the monotypic Cephalomappinae (containing Cephalomappa). The characteristics of the sub tribe Epiprineae are: staminate calyx splitting into distinct segments, the pollen sexine rather coarsely reticulate, and the pistillate sepals often persistent and accrescent (Webster, 1994).

MATERIAL AND METHODS Material Material specimen of Koilodepas was collected in Malesia phytogeography area. The genus Koilodepas was presented based on 176 specimens from Kew Herbarium (K), the Rijksherbarium Leiden (L) and the Herbarium Bogoriense (BO). ♥ Alamat korespondensi: Jl. Ir. Sutami 31a, Surakarta 57126. Tel. & Fax.: +62-274-387781. e-mail: yayin@uns.ac.id

Methods The methods of research were morphological and leaf-anatomical description. The research had been used a large of herbarium specimens (i.e. 176 specimens) from Herbarium Bogoriense, Kew Herbarium, and Leiden Rijksherbarium. The material specimens were analyzed with Henning 86 programme.

RESULT AND DISCUSSION Morphology Characters like stipule shape, leaf margin, number of glands, hairs on the lower leaf surface, and flower morphology are used for the description of the species and for a study of the relationships within the genus. Stipules The genus has three forms of stipules, namely elliptical, deltoid, and angular. The margin of the stipules can either be pectinate, entire or serrate. The stipules of K. bantamense are triangular and the margin is serrate. The stipules of K. brevipes, K. cordisepalum, and K. homalifolium are triangular and the margin is entire. The shape of K. longifolium stipules is deltoid and the margins are entire or serrate. In K. laevigatum the stipules are deltoid and the margin is entire. The stipules of K. pectinatum are pectinate (Figure 1.).


MUZAYYINAH et al â&#x20AC;&#x201C; Koilodepas in Malesia

Figure 1. Stipuleâ&#x20AC;&#x2122;s and margin of Koilodepas. A. elliptical and pectinate, B. entire, C. serrate, D. entire, E. serrate.

53 in K. bantamense, K. homalifolium, and K. frutescens. The texture of the lamina is chartaceous in K. laevigatum and K. homalifolium, subcoriaceous in K. bantamense, K. frutescens, K. brevipes, K. pectinatum, and K. cordisepalum, and coriaceous in K. longifolium. The tertiary venation is scalariform, except in K. cordisepalum, where it is reticulate (Figure 2.).

Inflorescences The inflorescences are axillary racemous or branched spikes. The staminate flowers are arranged in glomerate heads. The bracts are cuneate with an entire margin and acute apex. The lobes of the calyx are acute and densely set with stellate long hairs. The number of stamens varies from 3 to 10. The filaments are basally united into an androphore. The filaments are subulate in K. laevigatum and obspathulate n the other species (Figure 3). The anthers are subapically dorsifixed. The pistillate flowers are solitary. The shape of the sepal is somewhat different in each species. The sepals of K. pectinatum are free, foliolate, cordate, chartaceous, with 6-8 lobes, persistent, the margin serrate, but K. cordisepalum has smaller. The sepals of K. brevipes Figure 2. Leaf of Koilodepas Hassk. showing the margin. A. K. codisepalum are free, subulate or elliptical, (glabrous, serrate, caudate); B. K. pectinatum (hairy, serrate, caudate); B1. The apex acute, 6-9 lobes, persistent. density of stellate hairs on the lower surface; C. K. laevigatum (glabrous, entire, In K. longifolium are free, caudate); D. K. brevipes var. stenosepalum (hairy, serrate, caudate); D1. The elliptical, and the apex obtuse. In density of stellate hairs on the lower surface; E. K. brevipes var. brevipes; E1. K. bantamense, they are connate, The density of stellate hairs on the leaf surface; F. K. homalifolium (glabrous, 5-lobed, apex obtuse. The calyx crenate, caudate). of K. frutescens has 6 or 7 lobes. The styles are connate in K. bantamense, K. brevipes, K. longifolium, K. frutescens, K. homalifolium, and K. Leaves pectinatum, and free in K. cordisepalum and K. The Leaves are simple, alternate, and elliptical. K. laevigatum (Figure 4.). pectinatum and K. brevipes are hairy on the lower leaf The number of stigmas is generally 3, but K. surface, but K. laevigatum, K. homalifolium, K. bantamense and K. frutescens has 6. The shape of bantamense, K. cordisepalum, and K. frutescens are the stigma is somewhat difference species, K. glabrous. The leaf margin of K. homalifolium is pectinatum, K. laevigatum, K. Pectinatum, K. crenate, when young crenulate. The leaf margin of K. cordisepalum, and K. brevipes have antennate laevigatum is entire, whereas in the other species it is stigmas; K. homalifolium and K. longifolium have serrate or dentate. A pair of glands is usually found at multifid stigmas; K. frutescens and K. bantamense the lower surface, near the base of the leaves, but have coralliform. The stigma surface is stellately hairy there are 3-7 pairs of glands in K. brevipes. The apex (Figure 4.). of the leaves is caudate, but acuminate to cuspidate


54

B I O D I V E R S I T AS Vol. 5, No. 2, Juli 2004, hal. 52-60

Koilodepas is found in the phytogeograpic area Malesia. K. pectinatum, K. brevipes, and K. laevigatum are endemic in Borneo. K. bantamense is found in Java and Sumatra. K. longifolium is widespread in West Malesia (Malay Peninsula, Sumatra and Borneo) K. homalifolium is endemic in Papua New Guinea. K. cordisepalum is found, so far, only in Aceh (Figure 5.).

Figure 3. Variation of staminate flowers. A. Staminate inflorescences; B. K. bantamense; C. K. pectinatum; D. K. homalifolium; E. K. longifolium; F. K. brevipes var. brevipes; G. K. brevipes var. stenosepalum; H. K. frutescens; I. K. laevigatum; J. K. cordisepalum.

Figure 4. Variation of pistillate flowers of Koilodepas Hassk. A. K. cordisepalum; B. K. longifolium; C. K. bantamense; D. K. brevipes var. stenosepalum; E. K. brevipes var. brevipes; F. K. homalifolium; G. K. pectinatum; H. K. frutescens; I. K. laevigatum. Types of sepals: free (A,D,E,G); connate (CFH); subconnate (B,I); types of styles: free (A,I), connate (B,C,D,E,F,G,H); types of stigma: antennate (A,E,G,I); multifid (B,F) and coralliform (C, H).

Figure 5. Distribution map of Koilodepas Hassk. ○ = K. bantamense;♦ = K. brevipes; ◊ = K. pectinatum; } = K. cordisepalum; ▲ = K. laevigatum; z = K. longifolium; = K. homalifolium; = K. frutescens.

Distribution

Phylogenetic analysis of Koilodepas The phylogenetic analysis of Koilodepas was performed using 21 characters and the genus Cephalomappa as an outgroup (Table 3.). The letter was selected because it is classified in the Cephalomappinae as the sister sub tribe of the Epiprineae. Tribe Cephalomappa seems to be the SE Asian genus which shares most primitive characters with Koilodepas, e.g. staminate flowers in racemes, styles free, pistillate calyx not accrescent or involucrate, and the filaments inflexed in bud (Webster, 1994). The analysis is performed using the Hennig 86 program with optional and all the characters unordered. Two cladogram (Figure 6.) were found 29 steps, consistency index = 0.93 and retention index = 0.89. This tree has short branch. K. brevipes as a primitive one and ending with the K. bantamense. The outgroup is separated from Koilodepas by a plesiomorph character of the outgroup namely staminate flowers is sessile (6), surface of staminate is not stellate but lepidote (7), stipulate absent (9), surface of fruit is echinate (17), surface of stigma is papillate (20), sepal of pistillate flowers aestivation is valvate (15), and the inflorescences is racemose (19). K. brevipes is separated from the other Koilodepas by the stigma shape (8), the type of marginal stipules (11) and the inflorescences (19). The varieties is allied by number of abaxial glands (3), hairs on leaves (4),


MUZAYYINAH et al â&#x20AC;&#x201C; Koilodepas in Malesia

55

Figure 6. Dendrogram of Koilodepas Hassk. bre: K. brevipes var. brevipes; brs: K. brevipes var. stenosepalum; pec: K. pectinatum; cor: K. cordisepalum; lae: K. laevigatum; lon: K. longifolium; hom: K. homalifolium; fru: K. frutescens; ban: K. bantamense.

stigma shape (8), petiolate length (12), and sepal shape of pistillate flowers (14). K. cordisepalum is separated from the other five Koilodepas by sepal shape of pistillate flowers (14), sepals of pistillate flowers (15), leaf shape (1), and venation (13). K. laevigatum is separated from the other species by stigma shape (4). K. longifolium is separated from the other two species by stigma shape (8), number of stigma (10), and styles (18). The last branch, K. frutescens is separated from K. bantamense by caducous stigma (16). Taxonomy Koilodepas Hassk., Bot. Zeit. (1856) 802; Hassk., Flora 40 (1857) 531 (Coelodpas); Retzia 1 (1858) 44; Miq., Fl. Ned. Ind I. (1859) 398; Hassk. Bull. Soc. Bot. Fr. 6 (1859) 713; Mull Arg. In DC. Prodr. 15. 2. (1866) 759; Baill., Hist. Pl. 5 (1874) 220; Hook. F, Fl. Brit. Ind. 5 (1890) 419; Boerl., Handl. Fl. Ned. Indie. 3 (1) (1900) 196; Bourd. For. Trees Travancore (1908) 345; J.J. Sm, Meded. Depart. Landb. 12 (1910) 379; Koord., Exkursionsfl. Java (1912) 489; Pax & K Hoofm. In Engl., Pflanzenr. Ed 4. 147. 7 (1914) 268; A.C. Sm, J. Arn. Arb. 23 (1942) 50; Pax & K Hoffm. In Engl. & Harms, Nat. Pflanzenfam. Ed. 2, 19C. (1931) 124; Airy Shaw, Kew Bull. 14 (1960) 283; Backer & Bakhuin. Fl. Java 1 (1963) 486; Whitemore, Tree Fl. Malay 2 (1973) 103. Airy Shaw, Kew Bull. Add. Ser. 4 (1975) 138; Airy Shaw. Kew Bull. Add. Ser. 8 (1980)

128; Airy Shaw. Kew Bull. 36 (1981) 609. Type: Koilodepas bantamense Hassk. Description Tree, monoecious. Indumentum of short and long stellate hairs. Stipules: elliptical, subulate or cuneate, margin entire or pectinate. Leaves: alternate, simple; petioles terete or ungulate, basally and apically pulvinate; lamina elliptical, subcoriaceous to coriaceous, rarely chartaceous, at the base flat (elevated in K. brevipes), base round, with one pairs of glands on lower surface (K. brevipes with 3-7 pairs of glands); margin entire, crenate, dentate, or serrate, with glands on the lower surface; apex cuspidate or caudate; upper surface smooth, glabrous; venation pinnate, flat to raised above, raised below, submarginally looped, secondary and tertiary veins scalariform, quartenery veins reticulate. Inflorescences: axillary, spikes to simple panicles; pistillate flowers 1-3 at the base and staminate flowers at the apex of the rachis. Bracts subulate to cuneate. Staminate flowers in glomerules, 7-10; calyx 3- or 4-merous, lobes rounded to acute, membranaceous, densely covered with stellate hairs; petals absent; stamens (3) 4-7 (10), filaments basally united, or spathulate (K. laevigatum, subulate); anther sub-apically dorsifixed, latrorse, 2 locular, opening length-wise, smooth; pistillode 1, small. Pistillate flowers: the sepal free, 5-9 lobes cordate or elliptical;


56

B I O D I V E R S I T AS Vol. 5, No. 2, Juli 2004, hal. 52-60

margin entire to serrate, apex acute to obtuse, densely covered with stellate-tomentose; petals absent; ovary superior, densely tomentose, 3-locular; ovules 1 per locule; style short to long, terete, with stellate hairs; stigmas 3 or 6, antennate , multifid or coralliform, persistent (coduceous in K. frutescens), apex bifid or bifurcate. Fruit: a rhegma, globular, 3lobed, tomentose, wall thick, glabrous inside, woody. Seeds: sub globular, surface smooth, glabrous, shining. Distribution. 8 species in the Malay Peninsula, Sumatra, Java, Borneo, and Papua New Guinea. Note: Leaf anatomy: abaxial surface of leaf hairy or glabrous; epidermis consisting of cells with sinuous to deeply sinuous anticline and slightly wavy walls; stomata elliptical. Key to the species

The description of three species can be seen below, i.e. Koilodepas bantamense Hassk., Koilodepas brevipes Merr. var. brevipes, Koilodepas brevipes Merr. var. stenosepalum (Airy Shaw) Airy Shaw, and Koilodepas frutescens (Blume.) Airy Shaw. Koilodepas bantamense Hassk Koilodepas bantamense Hassk., Bot. Zeit. 14 (1856) 802; Retzia 1 (1858) 45; Mull.Aarg. in DC., Prodr. 15 (2) (1866) 759; Engl. & Prantl, Nat. Pflanzenfam. (1896) 51; Boerl., Handl. Fl. Ned. Indie. 3 (1900) 286; J.J.Sm., Meded. Depart. Landb. 12 (1910) 380; Koord., Exkursionfl. Java 2 (1912) 489; Pax & K.Hoffm. in Engl., Pflanzenr. 4 (1914) 269; Planten. Bot. Gard. (1926) 291; Pax & K.Hoffm. in Engl. & Harms, Nat. Pflanzenfam. Ed. 2. 19c (1931) 125; A.C. Sm, J. Arn. Arb. 23 (1942); Airy Shaw, Kew Bull. 14. (1960) 384; Backer & Bakh. Brink., Fl. Java. 1 (1968) 486. Type: Hasskarl s.n. (L-holo). West Java, Banten (Figure 7-8).

1.a. Stipules elliptic, margin deeply and finely pectinate …………… …………..………………....... 1. K. pectinate b. Stipules deltoid or triangular, margin entire to serrate …..…………………………….. 2 2.a. Stipules deltoid ….………..…. 3 b. Stipules triangular .……..…... 5 3.a. Calyx of pistillate flowers connate ………….……… 2. K. frutescens b. Calyx of pistillate flowers subconnate ……………………….. 4 4.a. Filaments subulate, curveted; sepal of pistillate flowers with an aristate apex, stigma filamentose ……………….. 3. K. laevigatum b. Filaments spathulate, erected; sepal of pistillate flowers with an acute apex, stigma multifid …… ………………… 4. K. longifolium 5.a. Sepal of pistillate flowers free, persistent …………………… 6 b. Sepal of pistillate flowers connate, caduceus ………..… 8 6.a. Sepal of pistillate flowers cordate, apex of stigma antennate; indumentum of fruits with stellate hairs ………… 5. K. cordisepalum b. Sepal of pistillate flowers elliptical, apex of stigma bifid or antennate; indumentum of fruits tomentose …………………….. 7 7.a. Sepal of pistillate flowers with glands; stigma antennate; indumenta of leaf with stiff hairs in a rosette …………………… 6. K. brevipes var. stenosepalum b. Sepal of pistillate flowers no glands, stigma bifid; indumentum of leaf with stiff single stellate hairs …………………………… 7. K. brevipes var. brevipes 8.a. Sepal of pistillate flowers with 9 lobes, apex acute, stigma coralliform ….. 8. K. bantamense b. Sepal of pistillate flowers with 6 lobes, apex obtuse, stigma Figure 7. K. bantamense Hassk. A. twig with inflorescences; B. calyx of multifid …………………………. 9. staminate flower; C. staminate flower; D. pistillate flower; E. frit; F. opened fruit; K. homalifolium G. seed with brown dots (after Forbes 1532, BO).


MUZAYYINAH et al â&#x20AC;&#x201C; Koilodepas in Malesia

57 ovary, 2-2.25 by c. 2 mm, 9-lobed, with densely stellate hairs, apex acute, sometimes with glands between the lobes; ovary 2-3 by 2-2.5 mm, stigmas 6, 1.5-2 by c. 4 mm, coralliform; style absent; densely stellately to tomentosely hairy. Fruit; globose c. 1.4 by 1.5 cm, outside smooth; mesocarp, 2.5 mm thick. Seed sub globular, c.1 by 1 cm. Distribution. West Java: Banten, Pelabuhan Ratu; Sumatra: Lampung; North Sumatra: Sibolangit (Figure 9). Habitat: primary forest, alt: 350-500 m asl. Note: Specimens of Lorzing 5092, 5615, 16329 have abnormal form of flowers. Both the staminate and pistillate flowers have 7 or 9 interested calines on one axis. This phenomenon may be caused by insect damage, similar to Myrsine avenis (Sunarno in Sunarti, 1987).

Koilodepas brevipes Merr. Koilodepas brevipes Merr., Philipp. J. Sci. 30 (1926) 80; Airy Shaw, Kew Bull. 14 (3) (1960) 389. Kew Bull. Add. Ser 4 (1975) Figure 8. K. bantamense Hassk. A. twig with abnormal inflorescence; B. 138 Type: D.D. Wood 1291 (BOabnormal spike (after Lorzing 5615, BO). holo, K-iso), Borneo (Figure 11.). Shrub to tree, up to 10 m; dbh up to 20 cm, bark rough. Leaves: Tree. Branches smooth, densely covered with stellate hairs. Leaves: stipules 4-5 by 0.5 mm, stipules subulate, 5-12 by c. 1 mm, margin entire, subulate, erect, outside with grooves, covered with apex aristate to acuminate; petioles 2-10 by 1.5-3 stellate hairs, margin serrate, apically aristate; mm, covered with dense short stellate hairs; lamina petioles 6-8 by 1.2 mm, sulcatus, densely with stellate elliptical to above; 10-33 by 3.5-9 cm; coriaceous; hairs. Lamina elliptical, recurved, 8-22.5 by 1.8-5 cm, basally attenuate, with 3-7 pairs of glands; margin subcoriaceous; base obtuse to acute, with two glands dentate to serrate; glands in every apex of nerves the on lower surface; margin dentate but basally entire; margin, apex caudate; upper surface glabrous, lower glands in every tooth; apex acuminate to cuspidate, surface scabrous, densely covered by long and short upper surface glabrous; lower surface scabrous, with minute stellate hairs; venation on both sides, especially basally, nerves 12-14 pairs, submarginally looped, veins scalariform. Inflorescences 5-8 cm long; with the two or three spikes together; bracts, subulate, 1-5 mm long, glabrous, margin entire, apex acuminate; staminate part, sub globular, c.2 by 2.5 mm, consisting of 7-25 flowers. Staminate flowers: bracts. ovate c. 1.4 by 0.3 mm, ovate, glabrous, margin entire; calyx 3-4 lobed, tube c. 0.4 by 1 mm; lobes c. 0.85 by 0.35 mm, smooth, apex acute; Stamens (3) 4 or 5 (6); filaments 0.9-1.5 mm long, androphore 0.3-0.6 mm long, spathulate, pistillode c. 0.1 mm long. Pistillate flowers: pedicles 0.4-0.6 mm longs, sometimes sessile, glabrous; bract ovate. c. 1.0 by 0.3 mm, glabrous, apex acute; calyx enclosing Figure 9. Distribution map of K. bantamense Hassk.


58

B I O D I V E R S I T AS Vol. 5, No. 2, Juli 2004, hal. 52-60

stellate hairs; nerves 11-14 on either side, arching at apex, submarginally looped, veins scalariform. Inflorescences: spikes up to 10 cm long; at the base of rachis 1-3 pistillate flowers; bracts cuneate, 0.7-1 mm, densely covered with stellate hairs, apex acute; 2 glands at the base; staminate glomerulus, subglobose, c.2 by 2 mm, consisting of 6-10 flowers. Staminate flowers: bracts cuneate, apex acute, densely civered with stellate hairs; calyx tube 0.5-0.7 mm long, lobes 3, 0.2-0.5 mm long, apex acute; densely with stellate hairs; stamens 4-7; filament 1-2.25 mm long, basal connate, terete, androphore 0.1-1.75 mm long; pistillode 0.2-0.8 mm long. Pistillate flowers: bracts 1, cuneate, 0.5-1 by 1.5-2 mm long. Apex acute to acuminate, mostly glands at base; calyx 609 lobed, likes elliptical, 2-15 by 1-2 mm; covered with stellate hairs; glands at base. Ovary c. 2 by 2 mm; style 1-3 mm long, terete, covered with stellate hairs; stigmas 3, 0.5-8 mm long, antennate or multifid. Fruit, globular c. 2 by 5 mm, smooth, Figure 11. K. brevipes var brevipes; A. twig with inflorescences; B. staminate flower; C. pistillate flower; E. fruit; F. seed with brown dots (after Wiriadinata 802, shining, brown dotted. L). Distribution: Kalimantan (Borneo) (Figure 10). Habitat. Found in primary lowland forest on dry Key identification to the varieties of K. brevipes land, rolling hills and ridges. On sand stone, sand, 1.a. Sepals of pistillate flowers with glands at base; apex of (yellowish) black soil, yellow red soil. Altitude 30 to stigma antennate; indumentum of leaves with stellate 300 m asl. hairs in rosettes …………………..… var. stenosepalum Vernacular names: kayu gading (Kutai); ulas b. Sepals of pistillate flowers without at base apex of (Malay and Suluk). stigma bifid; indumentum of leaves with stiff single stellate hairs ……………….………………... var. brevipes

Figure 10. Distribution map of K. brevipes Merr. • = K. brevipes var. brevipes; ♦ = K. brevipes var. stenosepalum.

Koilodepas brevipes var. stenosepalum K. brevipes var. stenosepalum (Airy Shaw) Airy Shaw, Kew. Bull. Add. Ser. 4 (1975) 138- K. stenosepalum Airy Shaw, Kew Bull. 14 (1960) 390; Kew Bull. 16 (1963) 356. Type: L.L. Forman 442 (BOholo; L-iso) Borneo, Belayan River, Gunung Sahari (Figure 12.). Leaves: petioles ungulate, 3-6 by 1-3 mm; lamina elliptical, c 0-33 by 4-9 cm; base attenuate; margin dentate; apex caudate; surface basally covered with long stellate hairs. Inflorescences: spikes, 4-10 cm long, staminate flowers in glomerulus 3-4 by c. 4 mm, sessile; calyx 3-lobed; 1.5-2.5 by 0.9-1.5 mm; apex acute; tube 1-1.5 by c. 1 mm, lobes c. 1 by 1.5 mm, densely covered with stellate hairs; stamens 4-6; androphore 0.5-1.75 mm long; filament 1.9-2.55 mm


MUZAYYINAH et al â&#x20AC;&#x201C; Koilodepas in Malesia

Figure 12. K. brevipes var. stenosepalum (Airy Shaw) Airy Shaw. A. twig with inflorescences; B. calyx of staminate flower; C. staminate flower; D. pistillate flower; E. fruit; F. opened fruit; G. seed (A,E,F,G: after L.L. Forman 442, BO; C,D: after Kostermans 13949, BO,L)

59 Pflanzenr. IV. 147. VII (1914) 255; XIV (1(19) 35; Merr., J. As. Soc. Str. Br. (1921) 343. Ptychopyxis frutescens (Blume) Croizat, J. Arnold Arb. 23 (1942) 49. Type: G. Pomathus s.n. (L-holo) Borneo, Banjarmasin (Figure 14.). Small tree up to 12 m high, dbh 20-50 cm; bark rough. Leaves: stipules cuneate to subulate, 3-5 by 0.5-1 mm, margin entire or serrate, apex aristate; petioles 5-13 by 1-2.5 mm; lamina: elliptical to ovate, 8-17.5 by 2.5-5.5 cm, subcoriaceous, base cuneate; margin entire to serrate, apex acute; both surface glabrous; nerves 9-15, submarginallly looped, secondary and tertiary veins scalariform. Inflorescences: spikes or simple panicles, with 3-5 rachises, 7-13 cm long. Staminate glomerulus sub globular, 2-2.5 by 1.5-3mm, with 10-20 flowers; bract cuneate, 1-2 by 1-1.5 mm, apex acute; staminate flowers; tube 1.7-2 by 1.7-1.8 mm, lobes 0.5-0.6 mm long, membranaceous, densely stellate hairy; stamens 4-5; androphore 0.1-0.5 mm long; filaments spathulate, 0.5- 2 mm long; pistillode 0.2-0.3 mm long. Pistillate flower: densely stellately to tomentosely hairy; bract 3 and 2 bracteoles, 1,2-4 by c. 2 mm, bracteoles very short, cuneate, margin entire, apex acute, densely tomentose; calyx 7-lobed, tube c. 4 by 3 mm; apex obtuse; ovary 33.5 by 2.5-3 mm, densely tomentose; styles absent; stigmas 6, coralliform, 4 by 3 mm, caduceus. Fruit: c. 1.5 by 1.9 cm; peduncle 5-6 by 2.5-3 mm;

long; pistillode 1-1.2 mm long, apex bifid. Pistillate flowers: sessile; calyx persistent; tube with the top distinctly segment, subulate; 6-9-lobed; 10-15 by 11.5 mm, covered with stellate hairs, glands at base; ovary c. 2 by 2 mm; style terete, 1-4 mm long; stigmas 3, 1.8-8 mm long, antennate or multifid. Fruit: c. 1.5 by 1.5 cm. Seed sub globular, c. 1 by 1.2 cm. Koilodepas frutescens (Blume.) Airy Shaw K. frutescens (Bl.) Airy Shaw, Kew Bull. 14 (3) (1960) 385; Airy Shaw, Kew Bull. Add. Ser. 4 (1975) 138. Airy Shaw, Calpigyne frutescens Blume, Mus. Bot. Lugd. Bot. 2 (1956) 193; Mull.Arg. in DC., Prodr. 15 (2) (1866) 1255; Pax & K. Hoffm. In Engl.,

Figure 13. Distribution map of K. frutescens (Blume) Airy Shaw.


B I O D I V E R S I T AS Vol. 5, No. 2, Juli 2004, hal. 52-60

60

mesocarp 2.5-2.8 mm thick; inside smooth, densely tomentose. Seed sub globular, c. 1.6 by 8 mm. Distribution. N. Sumatra (Aceh) and N. & N.E; Borneo (Figure 13.). Habitat: Primary forest, hill top, blackish soil, dry land; rolling hill, yellow-red loamy soil. Alt: 80-600 m asl.

ACKNOWLEDGEMENTS The first author (M) would like to express her gratitude to Prof. Dr. Ir. Edi Guhardja, M.Sc., for the use of research facilities in the Post Graduate Programme, the Bogor Agriculture University and Dr. Johanis P. Mogea, Director of the Herbarium of Kew (K), and Director of the Rijksherbarium/ Hortus Botanicus Leiden (L) for sending specimens on loan. She was under deep obligation to Prof. Dr. Ir. Edi Guhardja, M.Sc., Prof. Dr. Mien A. Rifai and Dr. Johanis Figure 14. K. frutescens (Blume) Airy Shaw A. twig with inflorescences; B. calyx P. Mogea under whose supervisor of staminate flowers; C. staminate flower; D. pistillate flower; E. fruit; F. opened fruit; G. seed (A,E,F,G: after de Wilde 20317. L; B, C, D: after Pomathus s.n. L). this study has been carried out. She was also very grateful to Dr. Peter van Walzen (Rijksherbarium, Leiden) for some constructive discussions and valuable assistance as Croizat, L. 1942. Euphorbiaceae from the far East. Journal of the Arnold Arboretum 23: 45-67. well as criticism freely given during the course of this Hasskarl, J.K. 1856. Bot. Zeit. 14:802. study and writing of the manuscript. Moreover, She Hasskarl, J.K. 1858. Hortus Bogoriensis Descriptus Amstelodami. Sumptibus F. Gunst.44-50. had to thank Mintoro Priyadi, M.Si for preparing media and picture setting, and Drs. Sukarna MA, Hasskarl, J.K. 1859. Revisio Euphorbiacearum, quas nuper in Retzia et Horto Bogoriensis Descriptio. Bull. Soc. Bot. Fr. 6: Director of the Education Science Institute in Medan 712-719. for continously, encouraging her in this study. Hooker, J.D. 1890. Flora of Britis India. East Indian Compagny. 5: REFERENCE Airy Shaw, H.K. 1960. Note on Malaysian Euphorbiaceae. Kew Bulletin 14 (3): 381-391. Airy Shaw, H.K. 1963. Note on Malaysian and other Asiatic Euphorbiaceae. Kew Bulletin. 16: 352-370. Airy Shaw, H.K. 1969. Note on Malaysian Euphorbiaceae. Kew Bulletin. 23: 82-89. Airy Shaw, H.K. 1975. The Euphorbiaceae of Borneo. Kew Bulletin. Additional Serie 4: 137-149. Airy Shaw, H.K. 1981. Note on Malaysian Euphorbiaceae. Kew Bulletin. 36 (3): 609-615.

419. Merrill, E.D. 1916. Euphoebiaceae. The Philippines Journal of Science11: 66. Merrill, E.D. 1926. Euphoebiaceae. The Philippines Journal of Science30: 67-81. Pax and Hoffm, K. 1914. Das Pflanzenreich IV. 147. VII: 269 Rifai, M.A. 1976. Sendi-sendi Botani Sistematika. Lembaga Biologi Nasional- LIPI. Smith, J.J. 1910. Euphorbiaceae. In: S.H. Kooders & Th. Valeton (eds): Bijdrage 12 Tot de kennis der boomsoorten op Java. Meded. Dep. Landbouw 10: 379-383. Sunarti, S. 1987. Anatomi daun dan Taksonomi duku, kokosan dan pisitas. Floribunda. 1 (4): 1-3. Whitmore, T.C. 1973. Tree Flora of Malaya. 2: 34-105 Webster, G.L. 1994. Systematics of the Euphorbiaceae. Annals of Missouri Botanical Garden 81 (11): 79.


BIODIVERSITAS Volume 5, Nomor 2 Halaman: 61-65

ISSN: 1412-033X Juli 2004

Study of Calamus occidentalis J.R. Witono & J. Dransf. Species Commercial Values and Possible Utilization 1

TITI KALIMA1,♥, JASNI2 Forest Botany and Ecology, Center for Forest and Nature Conservation and Research Development, Bogor 16610. 2 Wood Anatomy, Center for Forest Product Technology and Research Development, Bogor 16610. Received: 12th December 2003. Accepted: 17th May 2004

ABSTRACT The selection of appropriate rattan for a certain use must be based on adequate information about its potency, anatomical structure, and chemical properties. Standards methods of inventory development by Curtis method was used to obtain data on its density and frequency. To know the anatomical structure of preparation were made according to Schultze method and microtome preparation according to Staining Paraffin Section with Safranin. While to know the chemical component of rattan stem the analyzed by Standard Industry Indonesia procedures. Calamus occidentalis is one among other Java rattan species which its distribution is limited in the area of Ujung Kulon National Park, West Java. C. occidentalis may be utilized for various purposes based on the following characteristics: species density of 21 cane/ha; and anatomical structure: fiber length of 2204 μm, fiber-wall thickness of 4.26 μm, vascular bundle diameter of 812.5 μm, metaxylem diameter of 293.75 μm, proxylem diameter of 43.5 μm, and phloem diameter of 37.5 μm. Its chemical components are cellulose (49.95%), lignin (22.39%), and air-dry moisture (12.27%). Based on the above information, C. occidentalis rattan species possibly can be used as an alternative substitute of Calamus manan, an endangered rattan species, because several properties of C. occidentalis has similar with that of C. manan. © 2004 Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta Keywords: commercial-value, possible utilization, Calamus occidentalis.

INTRODUCTION The technology development on the utilization of rattan and on the other hand the increasing demand of “manau” rattan species as raw material caused the attention directed to the utilization of the species which has sufficient potency and prospect in the future. One of the rattan species which can be categorized as a substitute and can be developed as a potential commodity is Calamus occidentalis. C. occidentalis is one among other Java rattan species which its distribution is limited in the area of Ujung Kulon National Park, West Java (Witono and Dransfield, 1998). Belong to Family of Arecaceae, and more recognized as solitary rattan (“rotan tunggal”).This rattan species are grown in lowland up to the elevation of 300 m asl (above sea level). If we look at its contribution on human need, almost all part of this rattan species are very beneficial, such as: canes, leaves, fruits and its palm- pith can be utilized. The properties of C. occidentalis stem in relation with the possible utilization has to be known through ♥ Alamat korespondensi: Jl. Gunung Batu 5, Bogor 16610, Indonesia. Tel. +62-251-633378, Fax. +62-251-633417. e-mail: kalima@forda.org.

information on the anatomical aspect, large proportion of fibers are found to be concentrated in the outer portion of the cane with the inside portion composed mostly of parenchyma; and chemical properties. The anatomical structure of C. occidentalis rattan cane has similarity to that of Calamus manan, so that it can be used as alternative substitute. The utilization of solitary rattan still needs further assessments, such as on: physical-mechanical properties, durability, and its processing method. In line with those mentioned above, this paper present several important information to develop the utilization of C. occidentalis a multipurpose plant species. The role of rattan as export commodity and producer of foreign exchange are still important and significant. The problem faced recently is how to maintain the raw material continuity of this commodity, in order remain as advantageous natural resources. So far C. occidentalis, become excellent for people surrounding forest area, because this rattan considered as sacred rattan. Where the activities of people who lives far from the forest area, utilized the natural resources as their livelihood especially as the hunter of this rattan species. This activity has disturbed to Ujung Kulon National park area, since long time ago, and the damage are increasing seriously. Resulting in disappearance of


B I O D I V E R S I T AS Vol. 5, No. 2, Juli 2004, hal. 61-65

62

the biotic in this ecosystem. The main problem in this matter is the method how to maintain this solitary rattan not disappears.

MATERIAL AND METHOD Deciding sample plot To obtain the primary data from C. occidentalis species, a thorough exploration and collection of all rattan species material both fertile and sterile were executed. Data collection was conducted during period of August 1997. The forest condition in this area remains good. Continuous plot transect was adopted, 2 transect within 1 km distance. A sample plot of 10m x 10m size was established in each transect and resulting in a total of 200 plots with total areas of 2 ha. Rattan data consisting of species and number of stem were recorded in tally sheet and analyzed using Curtis method (Mueller-Dumbois and Ellenberg, 1974). Each of collected herbarium specimens was processed using alcohol. The identification for scientific name had been conducted in Herbarium Botany of Forest and Nature Conservation Research and Development Center, and Herbarium Bogoriense. All data recorded were tabulated and further analyzed to describe the rattan potency. The formula adopted for the calculation are: (i) Density: number of individual per area unit, (ii) Frequency: the percentage of existing plant in the experimental plots without considering the number of the individual. Determining the microscopic properties To know the anatomical structure of C. occidentalis species two kinds of preparation were made to determine its microscopic properties. Maserasi preparation was made according to Schultze method and microtome preparation according to â&#x20AC;&#x153;Staining Paraffin Section with Safraninâ&#x20AC;? (Mandang and Rulliyati, 1986). While to know the chemical component of rattan stem the analyzed by Standard Industry Indonesia (SII) procedures (Anon., 1981).

RESULT AND DISCUSSION To obtain the information on the possible utilization of C. occidentalis stem, has to be supported by adequate either data or information. Following are data on: Morphological characteristics Calamus occidentalis J.R. Witono & J. Dransf. Local name: rotan tunggal, rotan keramat (Sundanese) Description: Solitary high climbing rattan with stems up to 100 m height, looping in lower part of stem. Stem without sheaths 2 - 3 cm in diameter, with sheaths up to 4 - 7 cm in diameter; internodes between 18-30 cm lengths. Leaf sheaths green when fresh, drying brownish green, covered in caduceus brown indumentums, and armed with short black irregularly arranged spines, to 14 mm length by 2 mm width at the base. Knee conspicuous. Ocrea illdefined. Leaves cirrate to 244 cm length including cirrus; cirrus up to 150 cm length with brown claws; petiole about 2.7 cm length. Leaflets up to on each side rachis, regularly arranged, lanceolate, apex acuminate, base acute, middle longest about 15-34

Figure 2. Calamus occidentalis. a. leaf sheath, b. petiole, c. portion of rachis with leaflets, d. cirrus, e. first branched of inflorescence, f,g. young fruit (Dransfield 1437 & Kalima 37).


KALIMA and JASNI â&#x20AC;&#x201C; Study of Calamus occidentalis

cm length by 3-6 cm width, the surfaces concolours, green when fresh, drying yellowish green, mid and marginal veins on adaxial surface armed with black bristles, secondary parallel veins very thin. Inflorescence eflagellate, branched to 3 orders, partial inflorescence up to 17, the longest to 62 cm length; rachis branch tightly tubular, to 9 x 1.6 cm, rachillae to 22 mm length, sessile, basally enclosed by the branch, with ca 12-15 flowers on each side; rachilla bracts and bracteoles explanate, with dentate margins and bearing sparse brown scales. Fruit globose-ovoid, 17-19 x 12-15 mm, covered in 15 vertical rows of straw colored scale. Seed ca 10 mm diameter, irregularly pitted and warded; endosperm deeply ruminate, embryo basal. Habitat: lowland forest, primary and secondary forest, alluvium soil, volcanic soil, rocky, at the altitude of 200 m above sea level. Distribution: West Java and endemic at Ujung Kulon National Park (Cibandawaoh, Cibunar, Cidaon, and Mount Payung), (Figure 1a, b). The specimen observed: Ujung Kulon Nature Reserve: J. Dransfield 1437, 1438, 1485, N 1971; 2529, 15, VI (fertile). Ujung Kulon National Park: T. Kalima 37. 11 August 1997 (sterile) (Figure 2). Research results of Kalima (1999 and 2001) stated that solitary rattan has a good prospect, so it can be expected as structural material, handicraft, etc. Figure 1a. Young plant of C. occidentalis

Potency of C. occidentalis rattan species The population density for each species are various while C. occidentalis has a relatively low density (20 stem/ha, and 23 stem/ha). This evidence showed that C occidentalis existence and distribution in the Park areas are very low or rare (Kalima, 2001). However, C. occidentalis population and its existence in this area are threatened due to human disturbance such as uncontrolled extraction by community. According to recent observation, the solitary rattan species in this Park has a relatively well and good potency among of other things, it is believed as a holy rattan and it has a high economic value. During research study there were a great number of people from far distance areas visiting this holy place, most of them coming by foot to Sanghiang Sirah, which is located near Mount Payung areas. They were not only visiting and praying but also seeking and collecting C. occidentalis which is believed as a holy one and has a magical power. This kind of manner is obviously resulted in a continuous and drastically decreases of the respected species due to its intensive extraction. In addition, this kind of rattan considered as a rare one and has limited distribution in this area or else called as an endemic species. Based on its strength and durability analysis, C. occidentalis are closed to C. manan. It has a relatively good bending strength properties and powerful as well. This species considered as a potential one and can play a significant role in ethno botanic field of study.

Figure 1b. Mature plant of C. occidentalis

63


B I O D I V E R S I T AS Vol. 5, No. 2, Juli 2004, hal. 61-65

64

Anatomical structure of rattan Several results of investigation on anatomical structures of rattan are presented in Table 1. Metaxylem is a xylem with the biggest diameter, has a function as the duct for mineral nutrient from roots to leaves. Based on the observation results on one vascular bundle there is only one metaxylem. Protoxylem is a xylem which is form firstly in a newly grown internodes, its diameter generally are smaller than metaxylem (Figure 3 a, b). In the radial section one can see that cell wall of protoxylem are spiral form which rolled up densely, this is the factor why rattan generally easy to bend. Phloem are existed in vascular bundle has a similar parenchyma distribution pattern i.e. in one vascular bundle always exist two phloem, in left side and right side of metaxylem (Figure 3 a, b). Anatomical structure of rattan stem which is tightly related with the durability properties of rattan, the size of pores (metaxylem, phloem, and basic parenchyma, if the anatomical structure is big, rattan is less durable because it is easy to attack by insect and laid their eggs, and hatch there, rattan will be attacked by these insect. Research results of Jasni and Supriatna (1999), informing that manau rattan are resistant to the attack of destroying insect, so this rattan is categorized into Resistance Class/Susceptibility I (very resistant). Rattan destroying insect is called powder post beetle, the species is Dinoderus minutus Farb. Observation showed that the pores or the size of metaxylem, phloem of C. occidentalis rattan are almost similar to that of rotan manau; this is means that the resistance of C. occidentalis is also the same. The fiber length and fiber-wall thickness are the most important parameter in determining the strength of rattan. The longer the fiber and the thicker the fiber-wall, the higher its strength and the heavier the rattan. Fiber length and fiber-wall thickness are supporting its mechanical properties (Bhat and Thulasidas, 1993; Rachman, 1996). Research results of Rachman (1966) stating that C. manan rattan, is the best rattan species and easy to bend, and this species is the most salable in market. But, C. manan is rarely now. Table 1. Anatomical structure of two rattan species

Scientific name

Metoxylem diameter (μm)

Proxylem diameter (μm)

Phloem diameter (μm)

C. occidentalis C. manan

293.75 228.2

43.5 37.5

37.5 40.2

Figure 3a. C. occidentalis. Vascular bundles with one two phloem fields (P), one mataxylem vessel (M), protoxylem (R), fiber sheaths (F), and ground parenchyma (G), cross section.

Figure 3b. C. manan. Vascular bundles with one two phloem fields (P), one metaxylem vessel (M), protoxylem (R), fiber sheaths (F), and ground parenchyma (G), cross section.

Based on the results mentioned above, where C. occidentalis rattan has the fiber length of 2204 μm, longer than that of C. manan (1586.7 μm) and fiberwall thickness of 4.26 μm almost the same as that of C. manan, so C. occidentalis rattan species probably can be utilized as an alternative to substitute C. manan rattan species which rarely found in natural forest (Figure 3a, b). Fiber

Length (μm) 2204 1586.7

Thickness (μm) 4.26 5.4

Table 2. Cellulose, lignin and air-dry moisture content (%) of two rattan species. Scientific name C. occidentalis C. manan

Cellulose (%)

Lignin (%)

49.95 39.05

22.39 22.22

Air-dry moisture content (%) 12.27 13.92

Chemical composition of rattan Other than anatomical structure of C. occidentalis rattan stem, chemical composition of rattan is also important in determining the strength of rattan. Chemical content of investigated rattan and chemical content of C. manan as comparison are presented in Table 2. Based on Table 2, the chemical component content of C. occidentalis rattan


KALIMA and JASNI â&#x20AC;&#x201C; Study of Calamus occidentalis

are also almost the same as that of C. manan. Cellulose, a long chain, linear molecule of sugar is belonging to holocellulose. Cellulose and lignin content can correlate significantly with rattan strength. In this regard, cellulose can contribute to the tensile strength of rattan due to presence of strong covalent bonds in the pyranose rings and between glucose units of the cellulose polymer chain. Consequently, the higher the cellulose content the stronger the modulus of rupture of rattan. Almost similar to cellulose content, lignin can also provide significant strength of the rattan. Likewise, the greater the lignin content, the stronger the bonds between fibers in rattan (Rachman, 1996). Based on those mentioned above, cellulose and lignin content of C. occidentalis rattan species are a bit higher (49.95% and 22.39%) than that of C. manan rattan species, so this C. occidentalis rattan species can be utilized. From the anatomical and chemical content point of view, C. occidentalis rattan species, can also utilized as an alternative to substitute C. manan rattan. Problem solving alternative From the results mentioned before, it can be showed that C. occidentalis rattan species can be utilized for various requirements if supported by basic properties of existing rattan species. If observed, the problems and challenges are revolving on raw material, and development plan of rattan species. From the results mentioned before can be showed that C. occidentalis rattan species make possible to be utilized as an alternative to substitute C. manan. In providing raw material, the required efforts to be done are how to select the substitute rattan species, so the quality tend to increase and relatively guaranteed. In these matters, two methods have to do. First, through the potency of existing substitute rattan species. Second, through its several basic properties, it is that C. occidentalis rattan species is made possible to be utilized as an alternative for substituting C. manan rattan. Third, through direction of the development. According to first method, based on the research results on C. occidentalis rattan species from the discussion before has a good prospect as the substitute. Therefore, in the effort to increase the potency of this rattan species, the development of cultivation on the plant species becomes a determinant matter. In case of basic properties, the mentioned C. occidentalis rattan species has supported the main function of as further mechanical technology development. In relation with the development direction of C. occidentalis rattan species, become a good opportunity for researchers, related entrepreneur or NGO (non government organization). This has to be done in the effort to prevent extinction

65

of the species, to maintain the species and stabilizing in controlling the rattan species. To maintain the continuity of raw material without decreasing its function and role as advantageous raw material, the enhancement of sustainability are required either insitu or ex-situ and also the cultivation of C. occidentalis rattan species. Those efforts are involving the community even institution to decide the management system becomes a positive action which has to be enhanced. Not less important, research has to be enhanced continuously from species inventory up to technology engineering on the processing method in order to make easier in enhancing its quality.

CONCLUSION AND RECOMMENDATION C. occidentalis rattan species as one of species which has a good potency to be developed as substitute of manau rattan species. From data of anatomical structure, and chemical contents, the stem of C. occidentalis can be used for various possible utilization. Fiber cell proportion, fiber length which is relatively long, high cellulose lignin content, it make possible and fulfill condition as an alternative material. In line with the development of the C. occidentalis rattan species, the physical properties, mechanical properties, etc. of known rattan species has reinvestigated as a substitute species.

REFFERENCES Anonymous. 1981. Standard Industri Indonesia. Cara Uji Kadar Lignin Kayu dan Pulp. Jakarta: Departemen Perindustrian Republik Indonesia. SII-0578-1981. Bhat, K.M.N. and P.K. Thulasidas, 1993. Anatomy and identification of South Indian rattan (Calamus sp.). IAWA Journal 14 (1): 63-76. Jasni and N. Supriatna. 1999. The resistance of eight rattan species against the powder post beetle Dinoderus minutus Farb. Proceeding of the Fourth International Conference of Wood Science, Wood Technology and Forestry, Missenden th th Abbey. 14 -16 July. Wycame-England: Forest Products Research Centre, Buckinghamshire Chilters University College Hight Wycame. Kalima, T., 1999. Kunci identifikasi 17 jenis rotan untuk kawasan Taman Nasional Ujung Kulon, Jawa Barat. Buletin Penelitian Hutan 618: 31-64. Kalima, T., 2001 Taksonomi dan Potensi jenis rotan Endemik (Calamus occidentalis J.R. Witono & J. Dransfield) di Taman Nasional Ujung Kulon, Jawa Barat. Buletin Penelitian Hutan 625: 43-48. Mandang,Y.I dan S.Rulliyati. 1986. Anatomi Dolok. Diktat Kursus Pengujian Rotan. Angkatan I. Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan. Departemen Kehutanan. Mueller-Dombois,D. and H. Ellenberg. 1974. Aims and Methods of Vegetation Ecology. New York: John Wiley and Sons. Rachman, O. 1996. Peranan Sifat Dasar terhadap Perilaku Elastoplastisitas Rotan. [Dissertasi]. Bogor: Program Pascasarjana IPB. Witono, J.R. and J. Dransfield. 1998. A new species of Calamus (Palmae) fom Java. Kew Bulletin 53 (3): 747-751.


BIODIVERSITAS Volume 5, Nomor 2 Halaman: 66-70

ISSN: 1412-033X Juli 2004

Deskripsi Jenis-jenis Anggota Suku Rhizophoraceae di Hutan Mangrove Taman Nasional Baluran Jawa Timur Species description of Rhizophoraceae family in mangrove forest at Baluran Nasional Park East Java SUDARMADJI Jurusan Biologi FMIPA Universitas Jember, Jember 68121 Diterima: 10 Desember 2003. Disetujui: 17 Mei 2004.

ABSTRACT Research about species description of Rhizophoraceae family in mangrove forest at Baluran National Park was conducted from June to October 2003. The method were plot and survey. There were nine species of Rhizophoraceae. The species at mangrove were Bruguiera cylindrica, B. gymnorrhiza, B. sexangula, Ceriops decandra, C. tagal, Rhizophora apiculata, R. lamarckii, R. mucronata, and R. stylosa. In addition, the number species of Rhizophoraceae family in the mangrove forest at Baluran National Park were more completely than another places, because it was found more than 75 percent species of Rhizophoraceae. Š 2004 Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta Key words: Rhizophoraceae, mangrove forest, Baluran National Park.

PENDAHULUAN Di Taman Nasional Baluran, keberadaan hutan mangrove tersebar hampir di seluruh pesisir kawasan tersebut. Hutan mangrove relatif mendominasi hutan pantai taman nasional ini (Sudarmadji, 1998; 2000). Secara umum, hutan mangrove mempunyai fungsi sebagai penghalang terjadinya erosi, ombak, dan angin besar. Di samping itu, hutan mangrove mempunyai fungsi lain, yaitu fungsi fisik, fungsi biologis, dan fungsi ekonomi. Jika ditinjau dari fungsi fisiknya, kehadiran hutan mangrove adalah berfungsi sebagai penghalang datangnya ombak dan angin, karena letaknya yang ada di tepi pantai, sedangkan dari fungsi biologis kehadiran hutan mangrove berfungsi untuk membantu proses pemijahan dan sebagai tempat asuhan bagi ikan dan hewan laut lainnya, dan dari fungsi ekonomi hutan mangrove banyak menghasilkan berbagai sumber ekonomi, misalnya kayu, tanin, rayon, dan lain-lain (Tomlinson, 1986). Berdasarkan vegetasi penyusunnya, hutan mangrove dapat dibedakan atas tiga macam, yaitu hutan mangrove utama (major mangrove), yaitu hutan mangrove yang tersusun atas satu jenis tumbuhan â&#x2122;Ľ Alamat korespondensi: Jl. Kalimantan III/25, Jember 68121. Tel.: +62-331-334293. Fax.: +62-331-330225. e-mail: sdji@telkom.net

saja; hutan mangrove ikutan (minor mangrove), yaitu mangrove yang terdiri atas jenis-jenis campuran; dan tumbuhan asosiasi (associated plants), yaitu berbagai jenis tumbuhan yang berada di sekitar hutan mangrove yang kehidupannya sangat bergantung pada kadar garam, dan kelompok tumbuhan ini biasanya hidup di daerah yang hanya digenangi air laut pada saat pasang maksimum saja (Tomlinson, 1986). Vegetasi penyusun hutan mangrove yang ada di Indonesia ini tergabung dalam 37 suku tumbuhan, yang terdiri atas pohon (14 suku), perdu (4 suku), terna (5 suku), liana (3 suku), epifit (10 suku ), dan parasit (1 suku). Untuk suku Rhizophoraceae, yang semua anggotanya terdiri atas pohon meliputi Bruguiera cylindrica, B. exaristata, B. gymnorrhiza, B. sexangula, Ceriops decandra, C. tagal, Kandelia candel, Rhizophora apiculata, R. mucronata, dan R. stylosa (Kartawinata dkk., 1978), dan ada 22 suku di antaranya terdapat di hutan mangrove Taman Nasional Baluran, dengan suku Rhizophoraceae yang mempunyai jenis paling banyak jumlahnya (Sudarmadji, 2000). Pertumbuhan setiap jenis tumbuhan akan menyesuaikan dengan lingkungan sekitarnya, sehingga morfologi yang terjadi akan berbeda antara satu tempat dengan tempat yang lain (Steenis, 1958 dalam Kartawinata dkk., 1978). Oleh sebab itu, morfologi tumbuhan mangrove yang terdapat di Taman Nasional Baluran adalah khas untuk tempat tersebut, mengingat kondisi lingkungannya berbeda


SUDARMADJI â&#x20AC;&#x201C; Mangrove di TN Baluran

pula. Dengan demikian tumbuhan mangrove di daerah tersebut mempunyai deskripsi morfologi yang berbeda pula (Sudarmadji, 1998). Telah banyak penelitian yang dilakukan di kawasan hutan mangrove Taman Nasional Baluran, namun yang mencakup deskripsi (pertelaan) dari masing-masing jenis dan khususnya seluruh jenis yang tergabung dalam suku Rhizophoraceae belum pernah dilakukan. Atas dasar hal itulah, maka tulisan ini bertujuan untuk mengungkapkan deskripsi (pertelaan) dari species tumbuhan penyusun suku Rhizophoracea yang terdapat di hutan mangrove Taman Nasional Baluran.

Gatel

67

BAHAN DAN METODE Lokasi dan waktu penelitian Penelitian ini dilakukan di seluruh kawasan hutan mangrove yang ada di Taman Nasional Baluran, yang meliputi daerah Pantai Uyahan, Si Runtoh, Popongan, Batu Sampan, Kelor, Bama, Kajang, Si Rondo, Si Macan, Bilik, dan Gatel (Gambar 1.). Penelitian ini dilaksanakan selama lima bulan, yaitu pada bulan Juni-Oktober 2003.

Bilik

Merak

Sirondo Simacan

Balanan

Bekol

Gunung Baluran

Gambar 1. Daerah penelitian di Taman Nasional Baluran.


68

B I O D I V E R S I T AS Vol. 5, No. 2, Juli 2004, hal. 66-70

Alat dan bahan Alat yang digunakan meliputi peta rupa bumi digital (Bakosurtanal, 2001), kompas prismatik, GPS, rol meter, kantong plastik, gunting ranting, pres tumbuhan, tali rafia, tali plastik, tiang pancang, blangko pengumpul data, penggaris, loupe 10 x, alat tulis menulis, dan buku identifikasi. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi alkohol 70%, kertas label, kertas koran, karet gelang, dan isolasi plastik. Teknik pengambilan spesimen Spesimen dikumpulkan menggunakan metode plot dan metode jelajah. Metode jelajah ini dilakukan sebagai pelengkap untuk mendapatkan spesimen yang tidak ditemukan dengan metode plot. Kedua metode ini dapat dilakukan di masing-masing lokasi, yang hutan mangrovenya tidak terlalu luas, sehingga diharapkan spesimen yang dikumpulkan menjadi lebih lengkap (Sudarmadji, 1998). Di setiap lokasi dibuat tiga buah transek yang masing-masing tegak lurus terhadap garis pantai, dan setiap transek dibuat plot dengan ukuran 10 x 10 m, yang letaknya berselang-seling sepanjang transek yang telah dibuat. Jarak antara plot yang satu dengan plot lainnya adalah 25 m, sedangkan jarak antara transek yang satu dengan lainnya adalah 100 m. Tiap transek dibuat sejauh (setebal) hutan mangrove yang ada, sehingga jumlah plot yang dapat dibuat pada setiap transek sangat bergantung pada tebal tipisnya hutan mangrove yang ada di setiap lokasi penelitian. (Cox, 1974; Mueller-Dombois dan Ellenberg. 1974). Cara pengumpulan data Data dikumpulkan dengan mengidentifikasi setiap spesimen jenis tumbuhan mangrove yang ditemukan, karakteristik masing-masing spesimen diamati dengan menggunakan loupe yang berukuran 10 x. Semua data yang berupa ciri karakteristik tersebut, dimasukkan ke dalam blangko pengumpul data yang telah disiapkan (Cox, 1974). Analisis data Data yang telah terkumpul dari lapangan, kemudian dicocokkan dengan deskripsi dari masingmasing jenis tumbuhan dan herbarium yang telah teruji validitasnya. Buku rujukan utama yang digunakan untuk mengidentifikasi spesimen dari lapangan adalah karya Ashton (1988); Backer dan Bakhuizen v.d. Brink, Jr. (1963); Chapman (1976); Ding-Hou (1958); Fernando dan Pancho (1980); Kitamura et al., (1997); Noor dkk. (1999); dan Tomlinson (1986). HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan pengumpulan data yang dilakukan dengan teknik plot dan teknik jelajah, serta identifikasi menggunakan berbagai referensi sebagaimana telah disebutkan di atas; diketahui bahwa suku Rhizophoraceae memiliki tiga marga dengan sembilan jenis, sebagaimana pada Tabel 1.

Tabel 1. Jenis-jenis anggota suku Rhizophoraceae di Taman Nasional Baluran. No.

Jenis

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Bruguiera cylindrica (L.) Lamk. Bruguiera gymnorrhiza (L.) Lamk. Bruguiera sexangula (Lour.) Poir. Ceriops decandra (Griff.) Ding-Hou Ceriops tagal (Perr.) C. B. Rob. Rhizophora apiculata Blume Rhizophora lamarckii Montr. Rhizophora mucronata Lamarck Rhizophora stylosa Griff.

Deskripsi dari masing-masing jenis ditemukan tersebut adalah sebagai berikut.

yang

Bruguiera cylindrica (L.) Lamk. Perawakan: pohon kecil, tinggi dapat mencapai 4 m, batang silindris, kulit luar batang berwarna abuabu, relatif halus dengan sedikit lentisel. Percabangan biasanya monopodial. Daun: tunggal, letak berlawanan, permukaan atas hijau muda, bentuk bulat panjang, ukuran panjang 8-10 cm, tangkai daun 3-4,5 cm. Karangan bunga: terletak di ketiak daun, tersusun atas 3 bunga, bunga kecil ukuran 8-10 mm, panjang tangkai 8 mm, mahkota berwarna putih, kelopak 8, hijau kekuningan. Buah: ukuran 5-10 mm, hipokotil silindris dengan sedikit bengkok pada bagian ujungnya, warna bagian pangkal hijau dan bagian ujung sedikit ungu kecoklatan, panjang 10-15 cm, diameter 0,5 cm. Akar: papan yang pendek. Habitat: pada daerah sedikit tanah liat, dan kadangkala pada daerah yang sedikit berbatuan (Ashton, 1988; Backer dan Bakhuizen v.d. Brink, 1963; Chapman, 1976; DingHou, 1958; Fernando dan Pancho, 1980; Kitamura et al., 1997; Noor dkk., 1999; Tomlinson, 1986). Bruguiera gymnorrhiza (L.) Lamk. Perawakan: pohon, tinggi dapat mencapai 20 m, kulit kayu abu-abu kehitaman, kasar, berlenti sel dan bercelah. Daun: tunggal, permukaan hijau tua, permukaan bawah hijau kekuningan, tulang daun kadangkala berwarna kemerah-merahan, tersusun berlawanan, ujung runcing, bentuk elip sampai bulat panjang, ukuran panjang 8-15 cm, lebar 4-6 cm. Bunga: soliter, terletak di ketiak daun, kelopak berjumlah 10-14, bentuk genta, warna merah sampai merah muda, mahkota runcing dan sedikit pendek dari kelopak, benangsari berpasang-pasangan dan melekat pada daun mahkota. Buah: bulat, diameter 1,5-2 cm, hipokotil halus, mirip cerutu, berwarna hijau tua sampai ungu kecoklatan, ujung tumpul, panjang 7-15 cm, diameter 1,5-2 cm. Akar: akar papan yang melebar, disertai akar lutut. Habitat: tanah basah, yang sedikit berpasir (Ashton, 1988; Backer dan Bakhuizen v.d. Brink, 1963; Chapman, 1976; DingHou, 1958; Fernando dan Pancho, 1980; Kitamura et al., 1997; Noor dkk., 1999; Tomlinson, 1986).


SUDARMADJI – Mangrove di TN Baluran

Bruguiera sexangula (Lour.) Poir. Perawakan: pohon, tinggi dapat mencapai 10 m, kulit kayu kasar, berwarna abu-abu gelap. Daun: tunggal, tersusun berlawanan, bentuk elip, ujung meruncing, ukuran panjang 6-12 cm, lebar 3-6 cm, warna hijau kekuningan. Bunga: soliter, terletak di ketiak, kelopak 10-14, berwarna hijau kekuningan, mahkota 10-11, berwarna putih dan coklat setelah tua. Buah: bulat, diameter 1,5-2 cm, berwarna hijau sampai ungu kecoklatan, hipokotil diamet 1-1,5 cm, panjang 6-10 cm. Akar: akar papan yang sedikit melebar pada bagian pangkal. Habitat: tanah basah, yang sedikit berpasir (Ashton, 1988; Backer dan Bakhuizen v.d. Brink, 1963; Chapman, 1976; DingHou, 1958; Fernando dan Pancho, 1980; Kitamura et al., 1997; Noor dkk., 1999; Tomlinson, 1986). Ceriops decandra (Griff.) Ding-Hou Perawakan: perdu sampai pohon, tinggi dapat mencapai 3 m, kulit batang relatif halus, warna abuabu kekuningan. Daun: tunggal, letak berlawanan, permukaan atas licin, warna hijau muda sampai tua, ujung membulat, bentuk elip bulat memanjang, ukuran panjang 4-6 cm, lebar 2-3 cm. Karangan bunga: bergerombol, berjumlah 5-10 bunga, dengan tangkai bunga pendek, terletak di ketiak daun, kelopak 5, warna hijau , daun mahkota 5, warna putih kecoklatan. Buah: bulat, warna merah kecoklatan, hipokotil mirip pensil, panjang 9-15 cm, halus, beralur, dan sedikit berbintil pada bagian ujungnya. Akar: sedikit tampak adanya akar papan. Habitat: tanah agak kering dan sedikit berpasir (Ashton, 1988; Backer dan Bakhuizen v.d. Brink, 1963; Chapman, 1976; Ding-Hou, 1958; Fernando dan Pancho, 1980; Kitamura et al., 1997; Noor dkk., 1999; Tomlinson, 1986). Ceriops tagal (Perr.) C. B. Rob. Perawakan: perdu sampai pohon, tinggi dapat mencapai 3 m, kulit batang bagian bawah sedikit mengelupas, warna abu-abu kecoklatan. Daun: tunggal, letak berlawanan, warna hijau muda sampai tua, bagian tepi daun seringkali melengkung ke dalam, ujung membulat, bentuk bulat telur terbalik sampai elip, ukuran panjang 4-8 cm, lebar 2-3 cm. Karangan bunga: bergerombol di ujung tandan, berjumlah 5-10 bunga, dengan tangkai bunga panjang, terletak di ketiak daun, kelopak 5, berwarna hijau, daun mahkota 5, berwarna putih kecoklatan, tangkai benangsari lebih panjang dari kepala sarinya. Buah: bulat, warna merah kecoklatan, hipokotil mirip pensil, panjang 9-18 cm, diameter 8-12 mm, beralur, dan sedikit berbintil pada permukaannya. Akar: sedikit tampak adanya akar papan. Habitat: tanah liat agak kering dan sedikit berpasir. Biasanya berdampingan dengan C. decandra (Ashton, 1988; Backer dan Bakhuizen v.d. Brink, 1963; Chapman, 1976; Ding-Hou, 1958; Fernando dan Pancho, 1980; Kitamura et al., 1997; Noor dkk., 1999; Tomlinson, 1986).

69

Rhizophora apiculata Blume Perawakan: pohon, tinggi dapat mencapai 15 m, batang berkayu, silindris, kulit luar batang berwarna abu-abu kecoklatan dengan celah vertikal, muncul akar udara dari percabangannya. Daun: permukaan halus mengkilap, ujung runcing dengan duri, bentuk lonjong, ukuran panjang 3-13 cm, pangkal berbentuk baji, permukaan bawah tulang daun berwarna kemerahan, tangkai pendek. Karangan bunga: terletak di ketiak daun, umumnya tersusun atas 2 bunga, yang bertangkai pendek, kelopak 4, berwarna coklat kekuningan, mahkota 4, berwarna keputihan, putik 1 berbelah 2, panjang 0,5–1 mm. Buah: warna coklat, ukuran 2-3 cm, bentuk mirip buah jambu air, hipokotil silindris berdiameter 1-2 cm, panjang dapat mencapai 20 cm, bagian ujung sedikit berbintik-bintik, warna hijau keunguan. Akar: tunjang. Habitat: tanah basah, berlumpur, berpasir (Ashton, 1988; Backer dan Bakhuizen v.d. Brink, 1963; Chapman, 1976; Ding-Hou, 1958; Fernando dan Pancho, 1980; Kitamura et al., 1997; Noor dkk., 1999; Tomlinson, 1986). Rhizophora lamarckii Montr. Perawakan: pohon, tinggi dapat mencapai 8 m, kulit luar batang berwarna abu-abu kecoklatan, dengan sisik-sisik yang mudah dikupas, bercelah dangkal. Daun: bentuk bulat panjang, ujung runcing dengan duri, panjang 5-15 cm, permukaan bawah berwarna kehijauan, berbintik-bintik hitam tidak merata, mirip dengan daun R. apiculata. Bunga: karangan bunga bertangkai, panjang 1,5–2 cm, tiap tangkai terdiri atas 4 bunga (jarang 2 bunga) tunggal, mahkota 4, kelopak 4, berwarna kehijauan dan sedikit merah. Buah: steril dan dan tidak pernah menghasilkan buah dan biji. Akar: tunjang. Habitat: tanah lumpur berpasir (Chapman, 1976; Kitamura et al., 1997; Tomlinson, 1986). Rhizophora mucronata Lamk. Perawakaan: pohon, tinggi dapat mencapai 20 m, kulit batang kasar, berwarna abu-abu kehitaman. Daun: bentuk elip sampai bulat panjang, ukuran 1016 cm, ujung meruncing dengan duri (mucronatus), permukaan bawah tulang daun berwarna kehijauan, berbintik-bintik hitam tidak merata. Karangan bunga: tersusun atas 4-8 bunga tunggal, kelopak 4, warna kuning gading, mahkota 4, berambut pada bagian pinggir dan belakang, benang sari 8. tangkai putik panjang 1–2 mm dengan ujung berbelah dua. Buah: bentuk mirip jambu air, ukuran 2-2,3 cm, warna hijau kekuningan, hipokotil silindris berdiameter 2-2,5 cm, panjang dapat mencapai 90 cm, dengan permukaan berbintik-bintik, warna hijau kekuningan. Akar: tunjang. Habitat: tanah berlumpur dalam dan sedikit berpasir (Ashton, 1988; Backer dan Bakhuizen v.d. Brink, 1963; Chapman, 1976; Ding-Hou, 1958; Fernando dan Pancho, 1980; Kitamura et al., 1997; Noor dkk., 1999; Tomlinson, 1986).


70

B I O D I V E R S I T AS Vol. 5, No. 2, Juli 2004, hal. 66-70

Rhizophora stylosa Griff Perawakan: pohon, tinggi dapat mencapai 15 m, permukaan batang berwarna abu-abu kehitaman, bercelah halus. Daun: permukaan atas halus, mengkilap, ujung meruncing, dengan duri, bentuk lonjong dengan lebar bagian tengah, ukuran panjang 8-12 cm, permukaan bawah tulang daun berwarna kehijauan, berbintik-bintik hitam tidak merata. Karangan bunga: terletak di ketiak daun, bercabang 2-3 kali, masing-masing cabang 4-16 bunga tunggal, kelopak 4, berwarna kuning gading, mahkota 4, berwarna keputihan, benang sari 8, tangkai putik jelas (stilus), panjang 0,4-0,6 cm. Buah: mirip bentuk jambu air, warna coklat, ukuran 1,5-2 cm, hipokotil berdiameter 2-2,5 cm, permukaan halus, panjang dapat mencapai 30 cm. Akar: tunjang. Habitat: tanah basah, sedikit berlumpur, berpasir (Backer dan Bakhuizen v.d. Brink, 1963; Chapman, 1976; DingHou, 1958; Fernando dan Pancho, 1980; Kitamura et al., 1997; Noor dkk., 1999; Tomlinson, 1986).

KESIMPULAN Jenis-jenis tumbuhan mangrove yang tergabung dalam suku Rhizophoraceae yang ditemukan di Taman Nasional Baluran dapat dikatakan relatif lengkap, karena ditemukan lebih dari 75 persen jumlah jenis dari suku tersebut. Di samping itu ditemukan pula satu jenis mangrove, yang jarang ditemukan di Pulau Jawa yaitu Rhizophora lamarckii di daerah penelitian tersebut.

DAFTAR PUSTAKA Ashton, P.S. 1988. Manual of the Non-Dipterocarp Trees of Sarawak Volume II. Kuala Lumpur: Dewan Bahsa dan Pustaka Sarawak Branch For Forest Department Sarawak. Backer, C.A. and R.C. Bakhuinzen van den Brink Jr. 1963. Flora of Java. Volume: 1. Groningen: N. V. P. Noordhoff. Bakosurtanal. 2001. Peta Rupabumi Digital Indonesia Lembar 1708-(121-124) 1: 25.000. Bogor: Bakosurtanal. Chapman, V.J. 1976. Mangrove Vegetation. Vaduz: J. Cramer. Cox, G.W. 1974. Laboratory Manual of General Ecology. Dubuque: Wm. C. Brown Publishers. Ding-Hou, L. 1958. Rhizophoraceae. Dalam van Steenis, C. G. G. J. (ed.) Flora Malesiana Series I Volume 5: 429-493. Djakarta: Noordhoff-Kolff N.V. Fernando, E.S. and J.V. Pancho. 1980. Mangrove trees of the Philippines. Sylvatropica, The Philippines Forest Research Journal 5 (1): 33-51. Kartawinata, K., S. Adisoemarto, S. Soemodihardjo, dan I.G.K. Tantra. 1978. Status Pengetahuan Hutan Bakau Di Indonesia. Prosiding Seminar Ekosistem Hutan Mangrove di Jakarta: MAB Indonesia dan Lembaga Oseanologi Nasional. Kitamura, S., C. Anwar, A. Chaniago, and S. Baba. 1997. Handbook of Mangroves in Indonesia (Bali & Lombok). Denpasar: ISME. Mueller-Dombois, D. and H. Ellenberg. 1974. Aims and Methods of Vegetation Ecology. New York: John Wiley & Sons. Noor, Y.R., M. Khazali, dan I.N.N. Suryadiputra. 1999. Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia. Bogor: Wetlands International Indonesia Programme. Sudarmadji. 1998. Species Composition of Mangrove Forest at Baluran National Park. Unpublished Special Problem. Los Ba単os: Department of Botany, UPLB. Sudarmadji. 2000. Vegetation Structure and Edaphic Factors of Mangrove Forest at Baluran National Park, East Java, Indonesia. [Ph.D. Dissertation]. Los Ba単os: University of the Philippines Los Ba単os. Sudarmadji. 2003. Komposisi Jenis Mangrove di Pantai Si Runtoh Taman Nasional Baluran. Berkala Penelitian Hayati 8 (2): 75-79. Tomlinson, P.B. 1986. The Botany of Mangroves. Cambridge: Cambridge University Press.


BIODIVERSITAS Volume 5, Nomor 2 Halaman: 71-76

ISSN: 1412-033X Juli 2004

Keanekaragaman Tumbuhan dan Populasinya di Gunung Kelud, Jawa Timur Plant diversity and population in Mount Kelud, East Java INGE LARASHATI♥ "Herbarium Bogoriense", Bidang Botani, Pusat Penelitian Biologi-LIPI, Bogor 16002 Diterima: 15 Desember 2003. Disetujui: 17 Mei 2004.

ABSTRACT Mount Kelud is an upper shed Brantas area which has high potential plant diversity. But the land in that upper shed had experienced much erosion. Beside erosion process, human disturbances in the resort added the burdens to the existence of the vegetation. That is why the existence and condition of the plants must be monitored and studied. Assessment of the plants was conducted through literature studies, field surveys and using quadrate plot methods Oosting (Kent & Paddy, 1992) 0.75 ha each at different altitudes (600 m, 800 m and 1000 m) above sea level. The results showed that a total number of 125 species belonging to 94 genera, and 49 families were recorded. All three plots were dominated by Dendrocalamus asper and Villebrunea rubescens. © 2004 Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta Keywords: plants, diversity, population, Mount Kelud, East Java.

PENDAHULUAN Gunung Kelud adalah salah satu dari gugusan gunung-gunung yang terdapat di Jawa Timur dengan tinggi sekitar 1731 m dpl (di atas permukaan laut). Hutan di kawasan cagar alam gunung Kelud dikelompokkan dalam tipe hutan hujan dataran rendah dengan topografi berbukit sangat terjal. Di dalam kawasan ini terdapat sejumlah hulu anak sungai Brantas antara lain Kali Konto, Kali Ngobo, Kali Jengglong yang membelah Kabupaten Kediri. Kali Putih, Kali Semut yang melewati Kabupaten Blitar dan Pegunungan Gajah Mungkur. Keberadaan kawasan ini sangat penting karena berfungsi sebagai hidroorologis mengingat bahwa Kali Brantas adalah sungai terpanjang di Jawa Timur dengan total aliran mencapai 320 km (Heddy, 1996). Hutan di kawasan gunung Kelud ini mengalami kerusakan sejak dua abad yang lalu (Smiet, 1990). Kerusakan terjadi sebagai akibat penebangan liar, perencekan untuk kayu bakar dan pemangkasan sebagai pakan ternak (Hadipoernomo, 1980 dan Abdulhadi, 1981). Selain akibat gangguan manusia, kawasan ini mempunyai kondisi kemiringan dan ♥ Alamat korespondensi: Jl. Ir. H. Juanda 22, Bogor 16002. Tel.: +62-251-322035. Fax.: +62-251-336538. e-mail: herbogor@indo.net.id.

panjang lereng cukup besar menjadikan rawan erosi. Laju erosi yang terjadi pada Hulu Brantas menyebabkan terjadinya sedimentasi pada waduk Selorejo dan waduk Karangkates (Machfudh, 1984). Kondisi tanah yang demikian sangat berpengaruh terhadap keanekaragaman tumbuhan. Pemanfaatan sumberdaya hutan telah menunjukkan gangguan terhadap keseimbangan ekosisitem hutan. Survei keanekaragaman tumbuhan di wilayah ini belum banyak dilakukan, hanya ada laporan perjalanan singkat yang ditulis puluhan tahun yang lalu (van Steenis, 1972). Untuk menambah informasi mengenai keberadaan tumbuhan di sekitar gunung Kelud telah dilakukan analisis tumbuhan, sebagai salah satu upaya untuk mengetahui keanekaragaman tumbuhan dan populasinya serta mempelajari dinamika hutan di kawasan tersebut. BAHAN DAN METODE Waktu dan tempat Penelitian dilaksanakan pada bulan PebruariMaret 2000, di sekitar kaki gunung Kelud, Jawa Timur pada ketinggian antara 600-1000 m dpl, terletak ± 60 km sebelah selatan Malang. Menurut Oldeman (1980) hujan di daerah itu termasuk tipe agoklimat C yang mempunyai 5-6 bulan curah hujan lebih dari 200 mm/bulan dan 2-4 bulan curah hujannya kurang dari


B I O D I V E R S I T AS Vol. 5, No. 2, Juli 2004, hal. 71-76

72

100 mm/bulan. Pada umumnya musim kemarau di tipe agroklimat C mempunyai curah hujan berkisar 75-80 mm/bulan. Teknik pengumpulan data Sebelum berangkat ke lokasi, dilakukan pengumpulan data terlebih dahulu berupa studi literatur. Kemudian dilakukan penjelajahan/ survei untuk mengetahui gambaran umum dan menentukan lokasi yang akan diamati. Penelitian ini tidak mencakup seluruh kawasan cagar alam yang terletak di puncak, dipilih lokasi yang dianggap mewakili, yaitu pada ketinggian 600 m , 800 m dan 1000 m dpl. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuadrat mengikuti cara Oosting (dalam Kent dan Paddy, 1992). Pada masing-masing ketinggian dibuat petak penelitian berukuran 50 m x 50 m. Dari setiap petak dibuat anak petak berukuran 10 m x 10 m untuk pencacahan pohon. Pada anak petak tersebut dibuat sub-sub petak berukuran 5 m x 5 m untuk pencacahan anak pohon. Pencacahan tumbuhan bawah dilakukan dalam sub anak petak ukuran 1 m x 1 m. Identifikasi jenis Pengumpulan spesimen tumbuhan dilakukan untuk keperluan identifikasi. Pengamatan secara morfologis dilakukan di lapangan, dan untuk spesimen yang belum diketahui jenisnya dikumpulkan dan diatur pada kertas koran bekas serta dimasukkan ke dalam kantung plastik. Selanjutnya spesimen tersebut diberi alkohol 70% hingga cukup basah supaya tidak membusuk yang kemudian dikeringkan di Herbarium Bogoriense, Bogor. Identifikasi dilakukan dengan menggunakan buku Flora of Java (Backer dan Bakhuizen van den Brink, 1963, 1965, 1968) dan membandingkan dengan spesimen yang ada di Herbarium Bogoriense, Bogor. Analisis data Analisis data menggunakan metode kuadrat untuk menghitung kerapatan, frekuensi dan dominansi masing-masing jenis tumbuhan. Kerapatan adalah jumlah individu suatu jenis per hektar; frekuensi dihitung berdasarkan jumlah petak dimana suatu jenis yang didapati dibagi dengan jumlah total petak; dominansi dinyatakan dengan luas bidang dasar dari setiap jenis per hektar untuk pohon dan anak pohon. Untuk tumbuhan bawah digunakan persentase penutupan tajuk. Nilai relatif dari ketiga parameter tersebut dapat dihitung dengan cara berikut (Cox, 1992). Nilai penting Untuk mengetahui jenis tumbuhan yang mendominasi di suatu petak penelitian dilakukan analisis dengan menghitung nilai penting setiap petak penelitian. NP = KR + FR + DR

NP = Nilai Penting ; KR = Kerapatan Relatif ; FR = Frekuensi Relatif dan DR = Dominansi Relatif Keanekaragaman jenis Untuk mengetahui keanekaragaman jenis dihitung dengan menggunakan rumus Shannon-Wienner (Kent dan Paddy, 1992), sebagai berikut: i=n

Hâ&#x20AC;&#x2122; =-â&#x2C6;&#x2018; pi log pi i=1

Hâ&#x20AC;&#x2122; = indeks keanekaragaman jenis pi = proporsi jumlah individu jenis ke-i dengan jumlah individu semua jenis Indeks kesamaan jenis Untuk mengetahui kesamaan komposisi jenis dari dua contoh yang dibedakan dihitung dengan rumus Jaccard (Kent dan Paddy, 1992) sebagai berikut: a SJ =

a+b+c

Sj = koefisien kesamaan Jaccard a = jumlah jenis yang terdapat pada kedua contoh yang dibandingkan b = jumlah jenis yang terdapat pada contoh 1 c = jumlah jenis yang terdapat pada contoh 2 HASIL DAN PEMBAHASAN Keanekaragaman jenis Pada ketinggian 600-700 m dpl kondisi medan bergelombang dengan kemiringan lereng sangat curam. Jumlah pohon dan anak pohon yang berhasil dikoleksi di kawasan ini masing-masing tercatat 29 jenis. Dengan luas bidang dasar 24,27/ha untuk jenis pohon, sedangkan kerapatan pohon di kawasan ini tergolong rendah (320 pohon/ha) dibandingkan dengan pengamatan pada ketinggian 800 dan 1000 m dpl (708 pohon/ha). Hal tersebut diduga karena kawasan ini relatif masih dekat dengan aktivitas penduduk. Tetapi untuk anak pohon, kerapatan tergolong tinggi yaitu 772 anak pohon/ha dibandingkan dengan dua ketinggian yang berbeda lainnya yaitu hanya mencapai 464 anak pohon/ ha dan 576 anak pohon/ha. Dendrocalamus asper mendominasi kawasan dengan nilai penting 50,78. (Tabel1.). Demikian pula untuk anak pohon, yang melimpah adalah Dendrocalamus asper dan Croton argyratus. Melimpahnya Dendrocalamus asper kemungkinan besar disebabkan oleh adanya gangguan manusia. Whitmore (1984) menyatakan bahwa bambu Dendrocalamus asper dapat berkembang baik di hutan yang terbakar atau hutan yang mengalami kerusakan yang parah, namun di lokasi pengamatan bukan disebabkan oleh kebakaran hutan tetapi oleh kegiatan penebangan.


LARASHATI – Vegetasi Gunung Kelud

73

sangat penting keberadaannya bagi kelangsungan hidup hewan pemencar bijibijian. No. Jenis LBD Fr Kr Dr NP Indeks keanekaragaman jenis (H’) pohon 1 Dendrocalamus asper 5541,91 17,90 23,75 9,13 50,78 tercatat 2,92 hasil perhitungan tersebut 2 Croton argyratus 8477,58 9,00 8,75 13,97 31,72 menggambarkan bahwa pohon-pohon pada 3 Ficus infectoria 11726,06 6,00 5,00 19,32 30,32 ketinggian ini memiliki tingkat 4 Ficus sp 10156,76 3,00 2,50 16,74 22,24 keanekaragaman tinggi dibandingkan dengan 5 Lithocarpus sundaicus 1813,12 6,00 7,50 2,98 16,48 keanekaragaman pohon-pohon di dua 6 Ficus variegata 708,21 1,50 1,25 11,68 14,43 ketinggian yang berbeda. Indeks 7 Sterculia oblongata 91,98 6,00 6,25 1,50 13,75 keanekaragaman yang tinggi tidak dapat 8 Elaeocarpus petiolatus 903,40 4,50 5,00 1,48 10,98 dijadikan sebagai indikator untuk menentukan 9 Lain-lain jenis 1486,05 46,10 60,00 3,30 109,4 10 Jumlah 60669,07 100,00 100,00 100 300 jumlah jenis yang melimpah. Karena jumlah Keterangan: LBD = luas bidang dasar (cm²); Fr = frekuensi (%); Kr jenis yang melimpah ditentukan oleh nilai = kerapatan pohon(/ha); Dr = dominansi; NP = nilai penting, penting suatu jenis. Pengamatan pada ketinggian 700-800 m dpl. Kawasan ini memiliki topografi medan mendatar sampai landai dengan sebagian Tabel 2. Nilai relatif jenis-jenis pohon pada ketinggian 700-800 m kanopi terbuka. Di kawasan ini banyak jenisdpl kawasan hutan Gunung Kelud (berdasarkan NP > 10%) jenis dari suku Urticaceae dan Euphorbiaceae . Laportea stimulans adalah jenis yang sangat No. Jenis LBD Fr Kr Dr NP melimpah baik pohon maupun anak pohon 1 Laportea stimulans 20586,81 15,09 30,14 31,19 76,42 seluruhnya mencapai 76 individu, dengan nilai 2 Villebrunea rubescens 14886,41 9,43 16,17 22,58 48,18 penting 76,42 (Tabel 2.). 3 Lithocarpus sundaicus 5023,26 5,66 6,61 7,62 19,89 Villebrunea rubescens merupakan jenis 4 Bischoffia javanica 5457,93 5,66 3,67 5,70 17,61 yang melimpah setelah Laportea stimulans. 5 Amoora aphanamixis 3428,46 3,77 5,82 5,27 14,85 6 Croton argyratus 1724,34 5,66 5,14 2,62 13,42 Melimpahnya kedua jenis ini diduga karena 7 Evodia latifolia 2080,52 3,77 4,41 3,16 11,34 kerusakan hutan oleh aktivitas manusia. 8 Glochidion arborescens 3217,00 3,77 1,47 4,88 10,12 Karena apabila kerusakan diakibatkan letusan 9 Lain-lain jenis 9547,05 47,19 26,5 14,39 88,14 gunung berapi atau kebakaran, maka yang 10 Jumlah 65951,78 100 100 100 300 akan berkembang dengan baik adalah jenisKeterangan: LBD = luas bidang dasar (cm²); Fr = frekuensi (%); Kr jenis Casuarina sp atau Albizia sp (van = kerapatan pohon (/ha); Dr = dominansi dan NP = nilai penting, Steenis, 1972). Laportea stimulans dan Villebrunea rubescens dikelompokkan sebagai jenis-jenis sekunder (van Steenis, 1972 dan Riswan, 1982). Selain itu jenis-jenis Tabel 3. Nilai relatif jenis-jenis pohon pada ketinggian 800-1000 m yang banyak ditemukan adalah Lithocarpus dpl di kawasan hutan Gunung Kelud (berdasarkan NP > 10%), sundaicus, Bischoffia javanica, Amoora No. Jenis LBD Fr Kr Dr NP aphanamixis, Croton argyratus, Evodia 1 Villebrune rubescens 27467,56 18 24,293 31,13 73,42 latifolia dan Glochidion arborescens. Indeks 2 Ostodes paniculata 27113,71 12 22,598 30,72 65,32 keanekaragaman jenis (H’) pohon tercatat 3 Mallotus paniculata 8123,18 10 19,209 9,20 38,41 2,61 sedikit lebih rendah dibandingkan 4 Laportea stimulans 5084,86 6 12,429 5,77 24,19 dengan pada ketinggian 600-700 m dpl, 5 Lain-lain jenis 78046,61 54 21,53 23,18 98,66 namun untuk anak pohon tercatat paling tinggi Jumlah 88237,94 100 100 100 300 dibandingkan dengan pada dua ketinggian Keterangan: LBD = luas bidang dasar (cm²); Fr = frekuensi (%); Kr yang berbeda yaitu 2,36. Diduga hal ini terjadi = kerapatan pohon (/ha); Dr = dominansi; NP = nilai penting. karena pada ketinggian ini memiliki topografi medan yang agak mendatar hingga landai dan kanopi terbuka. Jumlah pohon yang berhasil dikoleksi dikawasan ini tercatat 31 jenis. Luas bidang Jenis pohon utama lain diantaranya adalah Ficus dasar (LBD) pohon tergolong paling rendah hanya infectoria, Lithocarpus sundaicus, Sterculia oblongata mencapai 6,6 per ha. Hal tersebut mencerminkan dan Elaeocarpus petiolatus. Ficus infectoria dan bahwa pohon kecil (berdiameter < 30 cm) cukup Artocarpus elasticus merupakan jenis pohon yang tinggi keadaan tersebut diduga karena banyaknya memiliki diameter mencapai 111-120 cm dengan intensitas cahaya yang masuk mengakibatkan tinggi tajuk 40-49 m. Perbedaan dua jenis pohon ini permudaan lebih banyak. Kartawinata (1989) sangat mencolok ditinjau dari tinggi pohon dan menyatakan bahwa topografi medan, sifat-sifat fisik ukuran batangnya dibandingkan dengan pohon dan kimia tanah sangat berpengaruh terhadap kondisi lainnya di kawasan ini. Jenis-jenis Ficus di hutan ini tersebut. Tabel 1. Nilai relatif jenis jenis pohon pada ketinggian 600-700 m dpl kawasan hutan Gunung Kelud (berdasarkan NP > 10%)


B I O D I V E R S I T AS Vol. 5, No. 2, Juli 2004, hal. 71-76

74

Tabel 4. Daftar jenis dan suku tumbuhan di kawasan hutan gunung Kelud. No. Nama jenis 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65

Abelmoschus moschatus Medik. Acronychia trifoliata Zoll. Actinodaphne glomerata Nees. Actinodaphne procera Nees. Alternanthera sessilis (L.) D C. Amoora aphanamixis Roem. & Schult. Anthropyum sp Antidesma montanum Bl. Antidesma tetandrum Bl. Arcypteris sp Ardisia crispa (Thunb.) D C. Ardisia lanceolata Roxb. Artocarpus elasticus Reinw. ex Bl. Artocarpus heterophyllus Lmk. Baccaurea racemosa (Reinw.) ex Bl. M.A. Bischoffia javanica Bl. Blumea balsamifera (L.) D C. Borreria latifolia (Aubl.) K.Sch. Bridelia glauca Bl. Butea monosperma (Lmk.) Taub. Caesalpinia crista Auct.non.L. Calamus ciliaris Bl. Callicarpa longifolia Auct. non. Lamk. Cassia occidentalis Linn. Cassia siamea Lamk. Cayratia genisculata (Bl.) Gagn. Cayratia trifolia (L.) Domin. Celtis cinamomea Lind.ex Planch. Chloranthus officinalis Bl. Corypha elata Roxb. Costus specious (Koen.) Croton argyratus Bl. Cryptocarya nitens K. & V. Curculigo latifolia Dryand.ex W.T. Ait. Dendrocalamus asper (Schult.f) Backer. ex Heyne. Desmodium gangeticum (L.) D C. Desmodium trifoliastrum Miq. Dillenia excelsa Gilg. Dinochloa scandens (Blume.ex Nees.) O.K. Diplazium esculentum Swartz. Dracontomelum mangiferum Bl. Dysoxylum amooroides Miq. Elaeagnus latifolia L. Elaeocarpus floribunda Bl. Elaeocarpus petiolatus (Jack) Wall. Elatostema sesquifolium (Reinw.ex Bl.) Hassk. Eugenia aquea Burm.f Eugenia polyantha Wight. Eupatorium inulifolium H.B.K Eupatorium riparium Reg. Eupatorium triplinerve Vahl. Evodia glabra Bl. Evodia latifolia D C. Ficus callosa Willd. Ficus hispida L . F Ficus infectoria Roxb. Ficus recurva Bl. Ficus sp 1 Ficus sp2 Ficus variegata Bl. Firmiana malayana Kosterm. Forrestia mollissima (Bl.) Kds. Geophila repens (L) I.M. Johnston. Globba marantina L. Glochidion arborescens Bl.

Nama suku Malvaceae Rutaceae Lauraceae Lauraceae Amaranthaceae Meliaceae Vitariaceae Euphorbiaceae Euphorbiaceae Tectaria group Myrsinaceae Myrsinaceae Moraceae Moraceae Euphorbiaceae Euphorbiaceae Compositae Rubiaceae Euphorbiaceae Papilionaceae Caesalpiniaceae Arecaceae Verbenaceae Leguminosae Leguminosae Vitaceae Vitaceae Ulmaceae Chloranthaceae Palmae Zingiberaceae Euphorbiaceae Lauraceae Hypoxidaceae Poaceae Papilionaceea Papilionaceae Dilleniaceae Poaceae Poaceae Anacardiaceae Meliaceae Elaeagnaceea Elaeocarpaceae Elaeocarpaceae Urticaceae Myrtaceae Myrtaceae Compositae Compositae Compositae Rutaceae Rutaceea Moraceae Moraceae Moraceae Moraceae Moraceae Moraceae Moraceae Sterculiaceae Commelinaceae Rubiaceae Zingiberaceae Euphorbiaceae

66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 117 118 119 120 121 122 123 124 125

Glochidion rubrum Bl. Grewia acuminata Juss. Guioa diplopetala (Hassk.) Radlk. Harpulia arborea (Blanco.) Radlk. Isoglossa sp Jaegeria sp Lansium domesticum Corr. Laportea stimulans (L.f.) Gaud. ex Miq. Leea indica (Burm.f) Merr. Leucosyke alba Z & M Lithocarpus pseudomoluccus (Bl.) Rehd. Lithocarpus sundaicus (Bl.) Rehd. Litsea robusta Bl. Litsea tomentosa Bl. Macaranga rhizinoides (Bl.) M.A Macaranga tanarius (L.) M.A Maesopsis emanii Engl. Malaisia scandens (Lour.) Planch. Mallotus moluccanus Auct.non.(L) M.A Mallotus paniculata (Lmk) M.A Michelia montana Bl. Mycetia cauliflora Reinw. Mycetia javanica (Bl) Reinw.ex Korth. Nauclea orientalis Auct.non. (L.) L. Neonauclea excelsa (Bl.) Merr. Ochrosia acuminata Valet. Oplismenus compositus (L.) Beauv. Ostodes paniculatus Bl. Paspalum conjugatum Berg. Pavetta indica L. Piper betle L. Planchonella nitida Dubard. Poikilospermum suaveolens (Bl.) Merr. Pollia secundiflora (Bl.) Bakh.f. Pometia pinnata J.R & G. Forst. Pouzolzia sanguinea (Bl) Merr. Pseuduvaria reticulata Miq. Psychotria fimbricalyx Miq. Psychotria viridiflora Reinw.ex Bl. Pterospermum javanicum Jungh. Radermachera glandulosa (Bl.) Miq. Sapindus rarak D C. Saurauia bracteosa D C. Stachytarpheta indica (L.) Vahl. Sterculia foetida Linn. Sterculia javanica R. Br. Sterculia oblongata Bl. Symplocos costata (Bl) Choisy. Synedrella nodiflora Gaertn. Syzygium lineatum (D.C) Merr & Perry. Syzygium polyanthum (Wight.) Walp. Syzygium pycnanthum Merr. & Perry. Syzygium sexangulatum (Miq.) Amsh. Tabernaemontana macrocarpa Jack. Turpinia sphaerocarpa Hassk. Villebrunea rubescens (Bl.) Bl. Vitex pubescens Vahl. Voacanga grandiflora (Miq.)Rolfe. Xanthophyllum excelsum Miq.

Euphorbiaceae Tiliaceae Sapindaceea Sapindaceae Acanthaceae Sapindaceae Anacardiaceae Urticaceae Vitaceae Urticaceae Fagaceea Fagaceea Lauraceae Lauraceae Euphorbiaceae Euphorbiaceae Rhamnaceae Moraceae Euphorbiaceae Euphorbiaceae Magnoliaceae Rubiaceae Rubiaceae Apocynaceea Rubiaceae Apocynaceae Poaceea Euphorbiaceae Poaceae Rubiaceae Piperaceea Sapotaceae Moraceea Commelinaceae Sapindaceae Moraceea Anonaceae Rubiaceea Rubiaceae Sterculiaceae Bignoniaceae Sapindaceea Saurauiaceae Verbenaceae Sterculiaceae Sterculiaceae Sterculiaceae Symplocaceae Compositae Myrtaceae Myrtaceae Myrtaceae Myrtaceae Apocynaceea Staphyleaceae Urticaceae Verbenaceae Apocynaceea Polygalaceae

Pengamatan pada ketinggian 800-1000 m dpl, terletak pada punggung gunung dengan topografi medan bergelombang sampai terjal dengan kanopi hampir seluruhnya tertutup. Kondisi hutan ini masih cukup baik diduga karena jauh dari aktivitas penduduk. Pohon yang dapat dikoleksi dari ketinggian ini tercatat hanya 28 jenis. Jenis-jenis yang


LARASHATI â&#x20AC;&#x201C; Vegetasi Gunung Kelud

melimpah di hutan ini adalah Villebrunea rubescens dengan nilai penting 73,42 dan Ostodes paniculata dengan nilai penting 65,32, baik pada tingkatan pohon maupun anak pohon(Tabel 3.). Dari tiga ketinggian yang berbeda, kerapatan pohon tertinggi terdapat pada kawasan ini tercatat 708 per ha yang di dominasi oleh jenis Villebrunea rubescens. Villebrunea rubescens merupakan satu komunitas dari enam komunitas yang pernah ditemukan di gugusan gunung Kawi, gunung Anjasmoro dan gunung Kelud (Smiet, 1992). Jenis ini biasa tumbuh sangat melimpah di lembah atau di jurang yang dalam di sekitar gunung Kelud (Clason, 1935). Selain itu jenis yang banyak dijumpai adalah Mallotus paniculata dan Laportea stimulans . Indeks keanekaragaman jenis (Hâ&#x20AC;&#x2122;) pohon pada ketinggian 800-1000 m dpl ini tergolong paling rendah dibandingkan dengan dua ketinggian yang berbeda, yaitu hanya mencapai 2,23. Demikian pula Indeks keanekaragaman (Hâ&#x20AC;&#x2122;) anak pohon hanya mencapai 2,22. Kent dan Paddy (1992) menyatakan bahwa Nilai Indeks keanekaragaman (Hâ&#x20AC;&#x2122;) berkisar antara 07. Berdasarkan kisaran nilai tersebut, maka nilai indeks keanekaragaman pada ketinggian 800-1000 m dpl tergolong rendah. Rendahnya indeks keanekaragaman pohon dan anak pohon, diduga karena kawasan ini jauh dari aktivitas penduduk. Faktor lain yang menentukan keanekaragaman jenis tumbuhan tidak hanya pengaruh dari fisik dan kimia saja, namun juga keberadaan hewan dan manusia (Kartawinata, 1989). Luas bidang dasar (LBD) pohon tercatat paling tinggi terdapat di ketinggian ini yaitu 35,30 per ha yang di dominasi oleh suku Euphorbiaceae. Euphorbiaceae tercatat sebagai suku yang berperan pada awal proses pemulihan hutan setelah mendapat gangguan (Soemarno, 2001).Tumbuhan bawah yang berhasil dikoleksi dari hutan ini tercatat 38 jenis (Tabel 4.). Jenis yang melimpah adalah Cayratia trifolia, Chloranthus officinalis, Costus specious, Pollia secundiflora, Psychotria fimbricalyx, dan Stachytarpetha indica. Pada tingkat tumbuhan bawah sebagian besar berupa gulma dan hanya satu dua jenis saja sebagai tumbuhan asli hutan. Kesamaan jenis Dari hasil analisis kesamaan jenis pada tiga ketinggian yang berbeda, ternyata nilai indeks kesamaan jenis pohon sangat rendah. Ketiga lokasi kajian terdapat perbedaan komposisi yang nyata. Indeks kesamaan paling tinggi hanya mencapai 22,22% yaitu antara lokasi pada ketinggian 600-700 m dpl dan lokasi pada ketinggian 800-1000 m dpl. Kedua ketinggian tersebut memiliki kesamaan kondisi medan, yaitu sangat terjal dengan kemiringan lereng yang besar. Jenis-jenis pohon yang sama terdapat pada kedua ketinggian tersebut adalah Laportea stimulans, Evodia glabra, Lithocarpus sundaicus dan Villlebrunea rubescens; sedangkan untuk anak pohon yang sama adalah Callicarpa longifolia, Laportea

75

stimulans, Leea indica, Lithocarpus sundaicus, Syzygium polyanthum, Syzygium pycnanthum dan Villebrune arubescens. Indeks kesamaan terendah adalah antara lokasi pada ketinggian 600-700 m dpl dan lokasi pada ketinggian 700-800 m dpl yaitu sebesar 15,38%. Jenis-jenis pohon yang sama terdapat kedua lokasi tersebut adalah Bischoffia javanica, Croton argyratus, Evodia glabra, Laportea stimulans, Lithocarpus sundaicus dan Villebrunea rubescens. Tumbuhan bawah yang sama pada dua lokasi tersebut adalah Laportea simulans, Leea indica dan Michellia montana. Dari ketiga ketinggian berbeda yang dibandingkan, nilai indeks kesamaan tidak mencapai 50% (Tabel 5.), sehingga secara kese-luruhan nilai indeks kesamaan jenis yang dibanding-kan relatif rendah. Fenomena tersebut menggam-barkan semakin rendahnya nilai Indeks Kesamaan, maka semakin rendah tingkat kemiripannya. Hal ini diduga karena adanya variasi tanggap yang berbeda dari setiap jenis terhadap kondisi lingkungannya. Tabel 5. Indeks kesamaan (Sj) pohon, anak pohon dan tumbuhan bawah pada tiga ketinggian yang berbeda di kawasan hutan gunung Kelud, Jawa Timur. Pohon

Anak pohon

Tumbuhan bawah

600-700 m

15,38%

27,41%

32,43%

700-800 m

22,22%

28,07%

28,33%

900-1000 m

21,73%

21,56%

27,92%

Ketinggian

KESIMPULAN Kawasan hutan gunung Kelud, Jawa Timur memiliki keanekaragaman jenis tumbuhan yang cukup tinggi, khususnya pada ketinggian antara 600-1000 m dpl ditemukan 125 jenis yang tergolong ke dalam 94 marga dan 49 suku, dari jumlah jenis tersebut tidak ditemukan jenis-jenis yang menjadi karakteristik tumbuhan sekunder. Dari tiga ketinggian yang diteliti, pada ketinggian 600-700 m dpl merupakan daerah yang paling berat tingkat kerusakkannya. Hal tersebut terbukti dengan melimpahnya jenis Dendrocalamus asper. Komunitas Villebrunea rubescens yang banyak ditemukan dan melimpah di ketinggian antara 7001000 m dpl, merupakan satu komunitas yang tersisa dari enam komunitas yang pernah ditemukan oleh Smiet (1992) di sekitar gunung Kawi, gunung Anjasmoro, dan gunung Kelud. Euphorbiaceae adalah suku yang mendominasi di daerah pengamatan yang anggotanya banyak tumbuh di pinggir-pinggir hutan. Kesamaan jenis pada tiga ketinggian yang berbeda tergolong rendah tercatat tidak mencapai 50% sehingga tumbuhan di kawasan hutan ini memiliki variasi yang cukup besar. Keanekaragaman vegetasi di kawasan hutan gunung Kelud cukup tinggi dan sangat berpotensi oleh karena


76

B I O D I V E R S I T AS Vol. 5, No. 2, Juli 2004, hal. 71-76

itu faktor ekologi dan konservasi perlu diperhatikan dengan serius serta dilakukan secara berkelanjutan. Masyarakat sekitar hutan perlu mendapat penyuluhan akan pentingnya hutan oleh stakeholder terkait. DAFTAR PUSTAKA Abdulhadi, R. 1981. Laporan Perjalanan ke Konto Pujon, Malang Jawa Timur. Bogor: LIPI. Backer, C.A and R.C. Bakhuizen van den Brink Jr. 1963. Flora of Java. Vol. 1. Groningen: P.Noorhoof. Backer, C.A and R.C. Bakhuizen van den Brink Jr. 1965. Flora of Java. Vol. 2. Groningen: P.Noorhoof. Backer, C.A and R.C. Bakhuizen van den Brink Jr. 1968. Flora of Java. Vol. 3. Groningen: P.Noorhoof. Clason,1935. Botanical analysis recolonization. Bulletin Jardin Botanique de Buitenzorg 3 (13): 509-518. Cox, G.W. 1992 Laboratory Manual of General Ecology. Second Ed. Dubuque, Iowa: Wm. C. Brown Company Publisher. Hadipoernomo. 1980. Effects of manâ&#x20AC;&#x2122;s behaviour on the Konto river basin: the problems and efforts to settle them. Duta Rimba 6 (38): 21-32. Heddy, S. 1996. Analisis keragaman vegetasi di daerah sebelum dan sesudah bendungan Karangkates suatu pandangan ekologi. Dalam: Suwarsono, H. dan M. Kurniati (eds.) PrinsipPrinsip Dasar Ekologi Bahasan tentang Kaidah Ekologi dan Penerapannya. Jakarta: P.T. Raja Grafindo Persada.

Kartawinata, K. 1989. Keanekaragaman flora dalam hutan pamah. Dalam Seminar Regional Aspek Konservasi dalam Pembangunan Sumberdaya Hutan Tropika Humida di Kalimantan. Samarinda, 18-19 Oktober 1989. Kent, M. and C. Paddy. 1992. Vegetation Description and Analysis: a Practical Approach. London: BelhavenPress. Machfud. 1984. Watershed management strategy trough the control of erosion variable at Sumber Brantas sub watershed. Duta Rimba 71-72: 19-28. Oldeman, L.R. 1980. An Agro-climatic Map of Java. Contribution from the Central Research Institute for Agriculture no. 17. Bogor: CRIA. Riswan, S. 1982. Ecological Studies in Primary, Secondary and Experimentally Cleared Mixed Forests Dipterocarp Forest and Kerangas Forest in East Kalimantan, Indonesia. [Thesis]. Aberdeen: University of Aberdeen. Smiet, A.C. 1990. Forest ecology on Java: conversion and usage in a historical perspective. Journal of Tropical Forest Science 2 (4): 286-302. Smiet, A.C. 1992. Forest ecology on Java: human impact and vegetation of montane forest. Journal of Tropical Ecology 8 (2): 129-152. Soemarno, S. 2001. Struktur dan Komposisi Vegetasi pada Tapak Tebang dan Pola Pemulihan Tapak Prasarana Pasca Pembalakan Mekanis di Sikundur Taman Nasional Gunung Leuser. [Tesis]. Jakarta: Universitas Indonesia. van Steenis, C.G.G.J. 1972. The Mountain Flora of Java. Leiden: E.J. Brill & Co. Whitmore, T.C. 1984. Tropical Rain Forest the Far East. Oxford: Oxford University Press.


BIODIVERSITAS Volume 5, Nomor 2 Halaman: 77-80

ISSN: 1412-033X Juli 2004

Keanekaragaman Anggrek di Situ Gunung, Sukabumi Orchids diversity of Situ Gunung, Sukabumi NINA RATNA DJUITAâ&#x2122;Ľ, SRI SUDARMIYATI, HENDRIUS CANDRA, SARIFAH, SITI NURLAILI, RULLY FATHONY Jurusan Biologi FMIPA Institut Pertanian Bogor, Bogor 16144 Diterima: 13 Nopember 2003. Disetujui: 17 Mei 2004.

ABSTRACT Study on the orchids diversity was conducted in Situ Gunung, sub district of Kadudampit, district of Sukabumi, West Java. There were 41 collection numbers, consist of 18 terrestrial orchids, 22 epiphyte orchids, and one saprophyte orchid, belong to 26 genera and 41 species. There were eight species of flowering orchids and the rest were not at flowering stage. Agrostophyllum bicuspidatum J.J.Sm, Plocoglottis acuminata Bl dan Appendicula sp. were commonly found at Situ Gunung. Species orchid of Calanthe triplicata (Willemet) Ames and Plocoglottis acuminata Bl found in a clumped group. Tainia elongata J.J. Sm was the only endemic orchid in Java from this situ. Š 2004 Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta Keywords: orchids, Situ Gunung, Sukabumi.

PENDAHULUAN Anggrek merupakan salah satu suku tumbuhan yang memiliki banyak anggota. Terdapat sekitar 25.000 jenis anggrek yang telah dideskripsikan (Schuttleworth et al., 1970). Sebagian besar keanekaragamannya terpusat di kawasan tropis dan subtropis. Di Indonesia terdapat sekitar 5000 jenis anggrek (Puspitaningtyas dan Mursidawati, 1999). Dari jumlah tersebut, kurang lebih 731 jenis terdapat di Pulau Jawa, dan 642 jenis terdapat di Jawa Barat (Comber, 1990). Keindahan bentuk bunga serta distribusi yang luas menyebabkan anggrek menjadi tanaman yang populer (Cady dan Rotherham, 1981). Oleh sebab itu banyak pemulia tanaman yang melakukan pernyilangan anggrek untuk mendapatkan tanaman yang lebih unggul baik dalam keragaman bentuk, warna bunga, maupun ornamentasi bunganya, sehingga diperoleh kultivar yang lebih unik dan menarik. Puspitaningtyas dan Mursidawati (1999) menyatakan bahwa anggrek alam atau anggrek liar sering menjadi bahan utama untuk mendapatkan jenis-jenis hibrida yang komersial, namun keberadaan jenis angrek liar sering kali terancam kepunahan dengan semakin sempitnya lahan, karena banyak â&#x2122;Ľ Alamat korespondensi: Jalan Pajajaran Baranangsiang Bogor 16144, Indonesia Tel. & Fax.: +62-251-345011. e-mail: nrdjnina@lycos.com

dipakai untuk pemukiman, perkebunan atau karena adanya kerusakan alam. Ditambah lagi dengan adanya pengambilan anggrek alam tanpa mempertimbangkan kelestariannya. Di beberapa tempat seperti di Ciapus Bogor dapat dijumpai anggrek-anggrek liar yang diperjualbelikan secara bebas seperti Macodes, Anoethochilus, dan Schoenorchis. Pengambilan anggrek liar secara terus menerus tanpa disertai usaha membudidayakannya tentu sangat merugikan keberadaan anggrek tersebut, karena dapat menyebabkan kepunahan. Agar keberadaan jenis-jenis anggrek di suatu wilayah dapat diketahui dengan baik, diperlukan suatu penelitian berupa eksplorasi dan inventarisasi. Eksplorasi bertujuan untuk mengambil contoh tanaman yang mempunyai nilai ekonomi dan nilai ilmu pengetahuan yang penting, sedangkan inventarisasi bertujuan untuk mendata keragaman jenis tanaman di suatu kawasan, sehingga apabila nantinya kawasan tersebut mengalami perubahan ekosistem, sudah tersedia data keragaman floranya (Mujahidin dkk., 2002). Penelitian tentang anggrek telah dilakukan di berbagai tempat. Mujahidin dkk. (2002) meneliti keanekaragaman anggrek di Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun yang menghasilkan 31 marga dan 52 jenis. Mahyar dan Sadili (2003) yang melakukan penelitian ulang di tempat tersebut menemukan 74 marga dan 258 jenis anggrek. Di daerah lainnya seperti di Cagar Alam Gunung Sim-


78

B I O D I V E R S I T AS Vol. 5, No. 2, Juli 2004, hal. 77-80

pang Cianjur juga ditemukan anggrek yang meliputi 49 marga dan 114 jenis (Puspitaningtyas dkk., 2002). Semakin banyak informasi tentang anggrek yang didapatkan dari berbagai daerah tentunya akan semakin baik karena data yang diperoleh menjadi semakin lengkap. Oleh karena itu penulis mencoba untuk meneliti keberadaan jenis anggrek di Situ Gunung. Daerah ini merupakan taman wisata alam yang termasuk dalam wilayah Desa Kadudampit, Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Secara geografi, kawasan ini terbentang di antara 106'54'37''-106'55'30'' BT dan 06'39'40''06'41'12'' LS. Situ Gunung memiliki tipe iklim B, dengan curah hujan berkisar 1611-4311 mm per tahun. Dengan iklim seperti ini, diduga Situ Gunung merupakan tempat yang baik bagi tumbuhnya anggrek liar (Anonim, 2003). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman anggrek di Situ Gunung, Sukabumi.

BAHAN DAN METODE Tempat dan waktu Pengambilan koleksi dilakukan di Situ Gunung Desa Kadudampit, Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat pada tanggal 7-9 Juli 2003. Pengamatan spesimen dilakukan di Laboratorium Taksonomi Tumbuhan Jurusan Biologi FMIPA Institut Pertanian Bogor. Cara kerja Koleksi dilakukan dengan metode survei secara acak dengan cara menjelajahi jalan setapak mulai dari bawah sampai ke atas bukit. Anggrek yang ditemukan di tanah dan di pohon diambil sampelnya, lalu dimasukkan ke dalam kantung plastik. Selanjutnya diberi kertas koran lembab. Bunga anggrek yang rontok disimpan dalam botol berisi alkohol 70 %, sedangkan yang masih segar tetap dibiarkan pada tanamannya. Anggrek yang telah dikumpulkan, ditanam sebagai koleksi hidup dengan menggunakan media pakis untuk anggrek epifit dan media tanah untuk anggrek terrestrial. Koleksi disimpan di rumah kaca Jurusan Biologi FMIPA IPB Bogor. Anggrek saprofit tidak dapat dipertahankan keberadaannya karena cepat mati. Semua anggrek yang terkoleksi diidentifikasi dengan cara mencocokkan sampel koleksi dengan buku-buku flora anggrek, khususnya Orchids of Java (Comber, 1990) dan Orchids of Sumatra (Comber, 2001). Selain itu, dilakukan juga pencocokkan dengan koleksi hidup yang ada di Rumah Anggrek Kebun Raya Bogor.

HASIL DAN PEMBAHASAN Keberadaan suatu jenis anggrek pada umumnya berhubungan dengan lingkungan. Banyak anggrek yang sensitif terhadap suhu dan ketinggian. Kawasan

Situ Gunung yang berada di ketinggian 950-1036 m dpl dan suhu 16-28oC (Anonim, 2003), ternyata merupakan tempat yang cocok bagi tumbuhnya anggrek-anggrek liar. Berbagai jenis anggrek ditemukan mulai dari bawah bukit hingga ke atas punggung bukit. Sebagian besar anggrek tersebut tumbuh di cabang pohon bersama dengan tumbuhan lain, seperti paku sarang burung atau dengan tumbuhan lumut. Sebagian lagi tumbuh pada ranting yang telah jatuh, ada juga yang tumbuh di tanah atau pada tumpukan seresah dan dedaunan yang telah menjadi humus. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh 41 nomor koleksi anggrek yang terdiri atas 18 anggrek terestrial, 22 anggrek epifit dan 1 anggrek saprofit. Jumlah marga yang berhasil ditemukan sebanyak 26 sedangkan jumlah jenisnya sebanyak 41. Anggrek terestrial umumnya mempunyai daun yang lebar, helaiannya relatif tipis, tidak sukulen dan mempunyai banyak rambut akar. Anggrek epifit umumnya mempunyai daun tebal seperti kulit, mulut daun tersembunyi, akarnya tidak berambut kecuali pada bagian yang menempel pada tumbuhan lain. Anggrek saprofit tidak mempunyai daun karena telah tereduksi menjadi sisik-sisik (Suryowinoto,1987). Jenis-jenis anggrek yang dijumpai di Situ Gunung disajikan pada Tabel 1. Sebagian besar anggrek tersebut dapat tumbuh di lingkungan baru, yakni di rumah kaca Jurusan Biologi FMIPA IPB Bogor, namun beberapa jenis di antaranya tidak dapat beradaptasi dengan lingkungan baru sehingga mati. Salah satunya adalah Apostasia wallichii R.Br., dimana pada lingkungan baru daunnya segera menjadi coklat, mengering dan akhirnya mati. Anggrek tersebut diduga mempunyai adaptasi yang rendah terhadap lingkungan baru. Hal ini sesuai dengan pernyataan Comber (1990) yang menyebutkan bahwa jenis ini memang sangat rentan terhadap pemindahan, sehingga kalau ditanam di tempat baru, biasanya akan mati. Anggrek lainnya masih tetap bertahan hidup walaupun kondisinya tidak sebaik seperti di habitat semula. Dari 6 anak suku anggrek yang ada di dunia (Comber, 1990), hanya 5 yang ditemukan di Situ Gunung. Anggrek dari anak suku Cypripedioideae tidak ditemukan di kawasan ini. Apostasioideae merupakan anak suku yang paling kecil jumlah anggotanya dibandingkan anggrek jenis lain, karena hanya terdiri atas dua marga yaitu Apostasia dan Neuwiedia (Hunt, 1978). Apostasioideae yang ditemukan di Situ Gunung hanya marga Apostasia. Anggrek yang termasuk ke dalam Apostasioideae mempunyai dua benangsari, sehingga ada juga yang mengklasifikasikanya ke dalam anak suku Diandroideae (Shukla dan Misra, 1979) Salah satu anggota Apostasioideae adalah A. wallichii. Berbeda halnya dengan anggrek lain, jenis ini tidak mempunyai bibir (labellum), karena mahkota ketiga tidak terdiferensiasi menjadi labellum (Comber, 1990). Pada anggrek lainnya, mahkota dengan jelas


DJUITA dkk. â&#x20AC;&#x201C; Anggrek di Situ Gunung

79

Tabel 1. Jenis-jenis anggrek yang ditemukan di Situ Gunung, Sukabumi. No

Anak Suku

Marga

Jenis

Habitat

1

Apostasioideae

Apostasia

Apostasia wallichii R.Br

T

2

Epidendroideae

Agrostophyllum

Spatoglottis Tainia

Agrostophyllum bicuspidatum J.J. Sm A. laxum J.J. Sm Appendicula cornuta Bl Appendicula sp. Bulbophyllum angustifolium (Bl) Lindl B. lobbii Lindl B. obtusipetalum J.J. Sm Bulbophyllum sp. Calanthe triplicata (Willemet) Ames Coelogyne longifolia (Bl) Lindl Dendrobium lamellatum (Bl) Lindl D.mutabile (Bl) Lindl D. reflexitepalum J.J.Sm Dendrobium sp. Dendrochilum pallideflavens Bl Eria iridifolia Hook f. E. monostachia Lindl Eria sp. Epigeneium sp. Flickingeria grandiflora (Bl) A.D. Hawkes Liparis rheedii (Bl) Lindl L. viridiflora (Bl) Lindl Malaxis latifolia J.E.Sm Nephelaphyllum pulchrum Bl N. tenuiflorum Bl Plocoglottis acuminata Bl P. javanica Bl Spatoglothis aurea Lindl Tainia elongata J.J.Sm

E E E T E E E E T E E E E E E E E E E E T T T T T T T T T

Appendicula Bulbophyllum

Calanthe Coelogyne Dendrobium

Dendrochilum Eria

Epigeneium Flickingeria Liparis Malaxis Nephelaphyllum Plocoglottis

3

Orchidoideae

Aphyllorchis

Aphyllorchis pallida Bl

S

4

Spiranthoideae

5

Vandoideae

Goodyera Lepidogyne Macodes Cleisostoma Cymbidium

Goodyera reticulata Bl Lepidogyne longifolia Bl Macodes petola (Bl) Lindl Cleisostoma javanicum (Bl) Garay. Cymbidium ensifolium (L.) Sw C. lancifoium Hook Cymbidium sp. Scoenorchis juncifolia Bl. Ex. Reinw. Trixpermum acutilobum J.J. Sm. Vanda sp.

T T T E T T T E E E

Schoenorchis Thrixpermum Vanda Keterangan: E = epifit, S = saprofit, T = terestrial.

terdiferensiasi menjadi labellum (Comber, 2001). Berdasarkan Tabel 1. diketahui bahwa anggrek dari Situ Gunung yang mempunyai keragaman jenis paling tinggi berasal dari anak suku Epidendroideae. Anggotanya memiliki satu benang sari, sehingga beberapa penulis juga mengklasifikasikannya ke dalam anak suku Monandroideae (Shukla dan Misra, 1979). Keempat anak suku lainnya juga digolongkan ke dalam Monandroideae. Pada saat eksplorasi terdapat beberapa jenis anggrek yang ditemukan sedang berbunga. Jenisjenis tersebut adalah A. wallichii, A. pallida, C.

triplicata, D. mutabile, L. longifolia, S. juncifolia T. elongata, dan P. acuminata. Pada anggrek A. pallida tidak dijumpai daun. Anggrek tersebut merupakan anggrek saprofit yang telah kehilangan kemampuannya dalam mengambil gas CO2 dan zat-zat anorganik dari tanah (Suryowinoto, 1987). Karena tidak dapat berfotosinteis maka anggrek ini hidup sebagai saprofit. Anggrek lainnya hanya ditemukan fase vegetatifnya saja. Anggrek mempunyai bermacam-macam bentuk. Tabel 1. menunjukkan beberapa jenis anggrek yang menarik secara morfologi. Anggrek A. bicuspidatum


80

B I O D I V E R S I T AS Vol. 5, No. 2, Juli 2004, hal. 77-80

mirip tumbuhan paku, A. wallichii daunnya mirip rumput, dan L. longifolia daunnya mirip pandan. Adanya kemiripan bentuk daun anggrek dengan tumbuhan lain kadang-kadang menyulitkan identifikasi bagi peneliti pemula, terutama apabila anggrek tersebut tidak berbunga. Namun hal ini dapat diatasi dengan mencocokkan sampel pada koleksi anggrek hidup, misalnya di Kebun Raya Bogor. Beberapa anggrek mempunyai daun yang indah bahkan lebih menarik daripada bunganya. Contohnya adalah M. petola yang mempunyai corak daun berurat kuning atau keperakan G. reticulata mempunyai urat daun menjala berwarna putih keperakan, N. pulchrum dan N. tenuiflorum juga mempunyai daun yang menarik. Keempatnya disebut juga sebagai anggrek daun. G. reticulata bahkan disebut juga sebagai anggrek permata karena keindahan daunnya (Schuttleworth et al., 1970). Semua anggrek yang diidentifikasi merupakan anggrek yang umum dijumpai, kecuali T. elongata yang bersifat endemik di pulau Jawa. Beberapa jenis yang paling sering ditemukan yaitu P. acuminata, A. bicuspidatum dan Appendicula sp. Anggrek yang disebut pertama umumnya tumbuh mengelompok pada tanah di lereng bukit, sedangkan anggrek yang kedua tumbuh dalam rumpun kecil pada batang pohon. Anggrek yang ketiga ada yang tumbuh sendiri-sendiri, namun ada pula yang tumbuh berumpun.

KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian diperoleh 41 nomor koleksi terdiri dari 18 anggrek terrestrial, 22 anggrek epifit dan satu anggrek saprofit. Semuanya terdiri

atas 26 marga dan 41 jenis. Anggrek yang paling sering ditemukan adalah A. bicuspidatum, Appendicula sp. dan P. acuminata. Jenis-jenis yang tumbuh mengelompok adalah C. triplicata dan P. acuminata. Anggrek yang ditemukan di kawasan ini merupakan anggrek yang umum dijumpai kecuali satu jenis anggrek, yaitu T. elongata merupakan anggrek endemik di Jawa.

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2003. Kabupaten Sukabumi dalam Angka Tahun 2003. Sukabumi: BPS Cady, L and E.R. Rotherham.1981. Australian Native Orchids in Colour. Sydney: AH & AW Reed Pty Ltd. Comber, J.B. 1990.Orchids of Java. London: The Bentham-Moxon Trust Royal Botanic Gardens. Comber, J.B. 2001. Orchids of Sumatra. Kinabalu: Natural History Publications (Borneo). Hunt, P.F. 1978. Orchidaceae. The Orchid Family. In: Dod, B (ed.). Flowering Plants of the World. Oxford: Oxford University Press. Mahyar, U.W., dan A.Sadili. 2003. Jenis-Jenis Anggrek Taman Nasional Gunung Halimun. Bogor: Biodiversity Conservation Project LIPI-JICA- PHKA. Mujahidin, S.P., M. Marjuki, D. Supriadi, Rahmat, Atjim, dan T. Jodi. 2002. Eksplorasi Anggrek Jawa. Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Banten. Bogor: Pusat Konservasi Tanaman Kebun Raya Bogor -- LIPI. Puspitaningtyas, D.M. dan S. Mursidawati. 1999. Koleksi Anggrek Kebun Raya Bogor. Vol. 1, No. 2. Bogor: UPT Balai Pengembangan Kebun Raya-LIPI. Puspitaningtyas, D.M. Solehudin, M. Haris, Rukman, Oman, dan Acim. 2002. Eksplorasi Anggrek di Cagar Alam Gunung Simpang Cianjur, Jawa Barat. Bogor: Pusat Konservasi Tanaman Kebun Raya Bogor â&#x20AC;&#x201C; LIPI. Schuttleworth, F.S., H.S. Zim, and G.W. Dillon. 1970. A Golden Guide Orchids. New York: Western Publishing Company, Inc. Shukla, P and S.P. Misra. 1979. An Introduction to Taxonomy of Angiosperms. New Delhi: Vikas Publishing House Pvt Ltd. Suryowinoto, M. 1987. Mengenal Anggrek Alam Indonesia. Jakarta: PT. Penebar Swadaya.


BIODIVERSITAS Volume 5, Nomor 2 Halaman: 81-84

ISSN: 1412-033X Juli 2004

Potensi Hutan Bukit Tapak Sebagai Sarana Upacara Adat, Pendidikan, dan Konservasi Lingkungan The potency of Bukit Tapak forest as means for traditional ceremony, environmental conservation, and education I WAYAN SUMANTERA♥ UPT Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya “Eka Karya” Bali-LIPI. Tabanan, Bali 82191. Diterima: 15 Desember 2003. Disetujui: 17 Mei 2004.

ABSTRACT Bukit Tapak (1903 m) the natural reserve of Batukau I (816.4 ha) is one of three natural reserve area of Batukau (1762.8 ha, 1974). Located at the tourism object of Bedugul, the eastern part boundaries to the Botanic Garden Eka Karya-LIPI (154.5 ha, 1959) and settlement of Candikuning area (1152 family, 4475 persons) and near the three lakes of the water resources of Bali; Beratan, Buyan and Tamblingan lake. The special plants; cemara geseng (Casuarina junghuhniana Miq.), cemara pandak (Dacrycarpus imbricatus (Blume) de Laub.), nyabah (Pinanga arinasaensis J.R. Witono), paku kidang (Dicksonia blumei Planch.), and purnajiwa (Euchresta horsfieldii (Lesch.) Benth.). The pioneer plant of the hill is cemara geseng and the endemic is cemara pandak. The plant of needle leaves that basically the existence of Bali Botanical Garden as the conservation ex situ flora of noodle leaves especially at the eastern Indonesian area. Nyabah, which is supposed to be the new kind of palm named Arinasa, driven from the staff name who is the pioneer of the conservation. Paku kidang is rare. There are ethnobotany plants of ritual ceremony such as: kayu tulak (Schefflera sp.), kayu tulung (Brasaia sp.), penjalin (Calamus sp.), paku pidpid (Nephrolepis sp.), trijata (Medinilla speciosa (Blume ex Mart.) Blume), etc. Balinese people believe that forest is holly and sacred. But because of the existence of Pura Teratai Bang (16 century) at the slope, moslem cemetery (found in 1938) at the peak, and other needs (climbing, food, medicine, etc.), it can not be avoided the entrances of people that caused the forest is damaged. The forest reservation needs the approach to the local people, so the solution are morally and integration. The use of the forest which is potential as the environment education facilities conservation and other alternatives such as: horticulture, the improvement of the people economy discussed here to be the input for the forest conservation wisely and continuously. © 2004 Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta Keywords: Bukit Tapak, traditional ceremony, environment, conservation, education.

PENDAHULUAN Cagar Alam Batukau, Bali dikukuhkan pada tahun 1979 berdasarkan SK. Menteri Pertanian No. 716/Kpts./Um.11/745 tanggal 29 Nopember 1974. Arealnya seluas 176,2 ha meliputi tiga kawasan hutan yakni Batukau I (Bukit Tapak) 810,4 ha, Batukau II (Bukit Pohen) 388,2 ha, dan Batukau III (Bukit Lesung) 564,2 ha. Hutannya yang lebat dengan kepadatan 125 pohon/ha memiliki tumbuhan khas asli alamiah cemara pandak (Dacrycarpus imbricatus (Blume) de Laub.) dan cemara geseng (Casuarina junghuhniana Miq.) yang pada waktu Gubernur Bali Ida Bagus Mantra digunakan acuan sebagai upaya menolak adanya mega-proyek listrik panas bumi, ♥ Alamat korespondensi: Candikuning, Baturiti, Tabanan, Bali 82191. Tel. & Fax.: +62-368-21273. e-mail: direkbg@singaraja.wasantara.net.id.

yang dikawatirkan berdampak negatif pada lingkungan Bali (Anonim, 1988). Cagar Alam Batukau I Bukit Tapak (1903 m dpl), di bagian timur berbatasan dengan Kebun Raya Eka Karya-LIPI (154,5ha, 15 Juli 1959) dan pemukiman desa Candikuning (1152 KK, 4475 jiwa). Pada puncak bukit tumbuh lebat cemara geseng sebagai tumbuhan pioner karena mampu tumbuh pada tanah tandus berkat dukungan akarnya yang mampu menambat nitrogen. Tumbuhan khas lain yang ditemukan antara lain cemara pandak, nyabah (Pinanga arinasaenis J.R. Witono), paku kidang (Dicksonia blumei Planch.), purnajiwa (Euchresta horsfieldii (Lesch.) Benth.), lempunah (Cyathea contaminans (Hook.) Copel.), dan peji (Pinanga coronata (Blume ex Mart.) Blume). Jauh sebelum ditetapkan sebagai cagar alam, di kawasan Bukit Tapak sudah ada bangunan masyarakat sekitarnya. Di puncak bukit terdapat kuburan Islam/keramat yang ditemukan oleh Salim pencari rotan tahun 1938. Makam ini banyak


82

B I O D I V E R S I T AS Vol. 5, No. 2, Juli 2004, hal. 81-84

diziarahi umat, terutama pada hari lebaran (ketupat). Di kaki bukit terdapat Pura Teratai Bang dari abad 16 yang berdampingan dengan sumber belerang. Pura keramat ini dikelola warga dusun Bukit Catu, Candikuning dengan piodalan pada Tumpek Landep (Bali, odalan: senjata atau alat dari besi) (Anonim, 1988). Keanekaragaman tumbuhan Bukit Tapak bermanfaat banyak bagi lingkungan sekitarnya. Berfungsi menjaga siklus hidrologi, sumber air minum, dan sumber air untuk ketiga danau di sekitarnya, yakni danau Beratan, danau Buyan, dan danau Tamblingan yang merupakan sumber air Bali. Di samping itu, berperan pula menahan erosi atau banjir pada tanah vulkanis yang mudah longsor. Adanya cemara pandak dan cemara geseng yang berdaun jarum menjadi inspirasi pembangunan Kebun Raya Eka Karya Bali (154,5 ha, pada awalnya 50 ha), sebagai tempat konservasi ex situ tanaman berdaun jarum khususnya dari kawasan timur Indonesia. Secara tradisional penduduk lokal memanfaatkan keduanya dalam upacara adat Hindu, bahan obat, pakan, peralatan, dan tanaman hias (Anonim, 1988). Dalam upaya pendidikan dan konservasi lingkungan, pemanfaatan potensi etnobotani hutan Bukit Tapak terutama dalam upacara adat merupakan media komunikasi budaya yang patut diberdayakan, selain potensi lain seperti kajian botani dan sosioekonomi. Kajian potensi hutan dalam tulisan ini bertujuan agar masyarakat atau pelajar yang ingin memasuki kawasan Bukit Tapak dapat memanfaatkan kearifan lokal untuk berpartisipasi aktif dalam melestarikan tumbuhan secara bijak dan lestari. BAHAN DAN METODE Dengan metode eksploratif dikumpulkan potensi tumbuhan Bukit Tapak berupa tumbuhan khas yang digunakan dalam upacara adat. Pelaksanaannya dengan penelusuran pustaka, dan inventarisasi tumbuhan hutan yang digunakanpada upacara adat Hindu di Pura Teratai Bang dan masyarakat sekitarnya. Penelitian dilakukan pada bulan April-Juli 2003 untuk mendapatkan keragaman tum-uhan etnobotani, yang berguna sebagai media komunikasi budaya, pendidikan, dan konservasi lingkungan. HASIL DAN PEMBAHASAN Cagar Alam Batukau I Bukit Tapak yang berbatasan dengan Kebun Raya Eka Karya, pemukiman penduduk Candikuning, serta adanya Pura Teratai Bang dan Kuburan Islam di dalamnya, menjadikan masuknya warga ke kawasan yang dilindungi tersebut. Perbedaan kepentingan antara konservasi hutan dan keperluan masyarakat menjadikan adanya benturan kepentingan tak terelakan yang patut dicarikan solusinya secara bijak dan berkesinambungan. Dalam era reformasi sekarang tentunya masyarakat tidak boleh dilarang begitu saja masuk

hutan, terutama untuk mencari tumbuhan yang secara tradisional digunakan secara turun-temurun seperti untuk upacara adat, obat, pakan, dan keperluan lain (kayu bakar, tali, dan peralatan). Upaya konservasi untuk mengantisipasi permasalahan ini telah dilakukan dengan berbagai cara, seperti adanya proyek kehutanan memanfaatkan tanaman berguna, pakan rumput gajah, maupun bambu sebagai tumbuhan penyangga agar dapat mengurangi masuknya penduduk ke hutan. Kemajuan pariwisata secara langsung mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat Candikuning, dengan menjadi petani sayur, peternak sapi dan pedagang di pasar wisata Candikuning yang secara tidak langsung akan mengurangi orang mengambil tumbuhan hutan. Dalam menjaga kelestarian hutan Bukit Tapak yang luas, tentunya tidak dapat mengandalkan petugas, yang hanya tiga orang di KSDA Candikuning. Sangat membutuhkan partisipasi semua pihak terutama masyarakat sekitar, di samping mencari solusi alternatif yang dimulai dari pendidikan lingkungan. Berbagai model paket pendidikan dapat dimanfaatkan, di antara model kebun raya meliputi: Repling = Rute Pendidikan Lingkungan; rute tanaman hias, rute tanaman upacara adat, rute hutan tropis, dan rute tanaman purba (Hendarti dan Nugraha, 1997); Apik = Aktifitas Pendidikan Interaktif, seperti mencari jejak, tanaman dan lingkungan, mengenal tumbuhan dan klasifikasi tumbuhan, jalur hutan hujan tropis, dan jalur tanaman berguna Bali (Meredith 1999); dan Elup = Enam Jalur Perjalanan (Adjie, 1999), etnobotani, tanaman upacara adat, budaya, dan lain-lain. Semuanya ditujukan agar orang yang masuk hutan sadar etika pelestarian seperti dengan menghayati makna slogan pencinta lingkungan, sehingga bila ke hutan â&#x20AC;&#x153;jangan mengambil sesuatu kecuali gambar/ foto, jangan membunuh sesuatu kecuali waktu, jangan meninggalkan sesuatu kecuali jejakâ&#x20AC;?. Sebagai upaya menggali potensi hutan Bukit Tapak untuk diberdayakan dalam program pelestarian tumbuhan, maka diadakan penelitian lapang dan penelusuran pustaka. Berdasarkan penelitian tumbuhan hutan Cagar Alam Batukau I Bukit Tapak pada upacara adat di Pura Teratai Bang pada Tumpek Landep 19 April 2003 setiap 210 hari (6 bulan Bali) dan masyarakat sekitarnya pada bulan April-Juli 2003, maka dapat diketahui 10 jenis tumbuhan khas dan 15 jenis digunakan dalam upacara adat Hindu. Tumbuhan khas adalah cemara pandak, cemara geseng, nyabah, paku kidang, lempunah, lemputu (Cyathea latebrosa (Wall) Copel.), purnajiwa, anggrek macan (Vanda tricolor Lindl.), pradah (Garcinia cerlebica Linn), dan dadem (Ficus fistilosa Reinw. ex Blume). Tumbuhan yang digunakan upacara adat adalah cemara geseng, cemara pandak, biu lalung (Musa sp.), nyabah, peji, ambengan (Imperata cylindrica Beauv.), dadap (Erythrina sp.), tiing (Bambusa sp.), kayu tulak (Schefflera sp.), kayu tulung (Brasaia sp.), penjalin (Calamus sp.), paku pidpid (Nephrolepis sp.), trijata (Medinilla speciosa (Blume ex Mart.)


SUMANTERA â&#x20AC;&#x201C; Potensi adat, pendidkan, dan konservasi hutan Bukit Tapak Blume), kepelan (Mangletia glauca Blume), dan anggur bogor (Passiflora ligularis A. Juss.). Tumbuhan khas di Bukit Tapak meliputi: 1. Cemara geseng (C. junghuhniana) merupakan tanaman pioner karena akarnya mampu menambat nitrogen, tumbuh subur menghijau di puncak. Getahnya untuk obat sakit perut, daunnya untuk upacara adat ngaben, dan kayunya untuk tangkai peralatan (madik, kandik, dan dapak). 2. Cemara pandak (D. imbricatus), merupakan tumbuhan endemik. Kayu yang berserat halus diminati sebagai bahan bangunan dan mebel. 3. Palem nyabah (P. arinasaensis) diidentifikasi sebagai jenis baru dan diberikan nama honor staf Kebun Raya Bali Ida Bagus Ketut Arinasa yang berperan besar dalam upaya pelestariannya. Palem ini mulai jarang, karena anakannya sulit menjadi tumbuhan dewasa. 4. Paku kidang (D. blumei), tumbuh terbatas di sekitar Pura Teratai Bang, yang kini habitatnya telah terkubur oleh perluasan sarana pelayanan pura. Paku tiang langka ini berbulu kecoklatan pada pohon dan tulang daun, sehingga indah sebagai tanaman hias. 5. Paku lempunah (C. contaminans) adalah paku tiang yang berbulu putih pada pangkal daunnya. Sebagai tanaman hias, bentuknya bagaikan payung di taman. Batang yang diserut menampakkan rupa yang artitistik untuk karya seni. 6. Paku lemputu (C. latebrosa), paku tiang yang batang dan tangkai daun berduri hitam-keras. Keberadaannya terancam, terutama akar dan batang, karena dijadikan media anggrek. Batangnya untuk tiang rumah tidak permanen seperti kandang sapi, huma, dapur, dan pelinggih pura. 7. Purnajiwa (E. horsfieldii), tumbuh baik pada humus di bawah pepohonan, namun sulit dibudidayakan. Pemburu berupaya mendapatkan buahnya. Buah hitam ini sulit didapatkan, hingga timbul kepercayaaan bahwa buahnya disenangi macam. Buahnya yang pahit berguna untuk obat kecing manis, sakit perut, afrodisiak, dan lain-lain. 8. Peji (P. coronata), palem alami yang di daerah pegunungan berguna sebagai pengganti kelapa dalam upacara adat, daunnya untuk anyaman sengkui. Bermanfaat sebagai tanaman hias atau penggarah pinggir jalan. 9. Anggrek macan (V. tricolor), berbunga besar dan loreng menyerupai bulu macan, sehingga sangat menarik sebagai tanaman hias. Keberadaannya sudah jarang, serung diambil orang sebelum sempat berbunga untuk meneruskan turunannya. 10. Pradah (G. celebica), manggis hutan yang dapat ditanam sebagai tanaman hias. Kayunya berguna sebagai tongkat bertuah, sebagai penolak bala. 11. Dadem (F. fistilosa), mudah ditanam dengan stek batang, petani memanfaatkan sebagai tanaman pagar dan daunnya sebagai pakan sapi, terutama pada musim kemarau, saat persediaan rumput tidak mencukupi.

83

Tumbuhan di Bukit Tapak yang digunakan dalam upacara adat oleh masyarakat sekitarnya mencakup: 1. Cemara geseng (C. junghuhniana), daunnya berguna sebagai simbul rambut pada upacara pengabenan. 2. Cemara pandak (D. imbricatus), daunnya berguna sebagai simbul rambut pada upacara pengabenan dan komponen â&#x20AC;&#x153;daunâ&#x20AC;? sesajen canang. 3. Biu lalung (Musa sp.), adalah pisang alami yang umumnya tumbuh kurang subur, sehingga hanya berbuah satu sisir pada tandannya. Bersama beringin (Ficus benyamina L.), ancak (Ficus rumphii Bl.), uduh (Caryota mitis Lour), dan peji dikenal sebagai lima tumbuhan surga (pancavriksha), sehingga digunakan untuk personifikasi surga dengan memasangnya pada tempat pemujaan utama, maupun bangunan darurat sanggah Tawang dan sanggah Tutuan (Supartha, 2000). 4. Nyabah (P. arinasaensis), da-unnya sebagai pengganti daun kelapa dalam upacara adat seperti untuk sengkui. Upihnya se-bagai klukuh wadah tuak pada upacara perkawinan. 5. Peji (P. coronata), bersama uduh dan biu lalung digunakan sebagai sarana sanggah Surya/ Tawang Sthana Sang Hyang Widiwasa/Tuhan Yang Maha Esa (Siregar dkk., 2002). Anyaman daunnya untuk sengkui, menggantikan daun kelapa yang tidak terdapat di pegunungan. 6. Ambengan (I. cylindrica) adalah rumput suci berkat mendapatkan percikan tirtha amertha (air kehidupan), sehingga daunnya dibutuhkan untuk upacara penyucian seperti untuk memercikan tirtha, serta sebagai karowista ikat kepala saat upacara penyumpahan, potong gigi, tiga bulanan anak, dan medwijati (Siregar dkk., 2002). 7. Dadap (Erythrina sp.), dijuluki kayu sakti berkat keampuhan seperti daunnya untuk upacara penawar (tepung tawar). Pucuknya sebagai sarana tetandingan banten agar sakti secara niskala. Batangnya sebagai tiang hidup sanggah Turus Lumbung. Kayunya untuk bahan bakar api suci Pala Asep (Sumantera, 1993). 8. Tiing (Bambusa sp.), selalu dibutuhkan dalam setiap upacara adat, paling tidak sebagai semat untuk penjahit banten/sesajen. Manfaat lainnya adalah untuk penjor, sanggah cucuk, kelakat, wadah, sate, bumbung tirtha, tali, dan lain-lain. 9. Kayu tulak (Schefflera elliptica Harms), tumbuhan liana yang dipercaya sebagai tanaman penolak bala, sehingga digunakanuntuk banten dan ditanam di samping pintu masuk pekarangan (Surayin, 1992). Mudah diperbanyak dengan stek batang, dan dibudidayakan sebagai tanaman hias. 10. Kayu tulung (Brassaia sp.), daunnya diperlukan untuk upacara pengabenan dan tanamannya dipercaya bertuah menolong mencapai kedamaian keluarga, sehingga baik ditanam di pekarangan atau untuk pot di dalam ruangan. 11. Penjalin (Calamus sp.), batangnya untuk tali dandan penuntun rombongan upacara adat agar


84

B I O D I V E R S I T AS Vol. 5, No. 2, Juli 2004, hal. 81-84

seiring sejalan mencapai kedamaian hidup sebagai tujuan upacara, seperti dapat disaksikan pada upacara ngaben untuk â&#x20AC;&#x153;menarikâ&#x20AC;? wadah saat menuju kuburan (setra). 12. Paku pidpid (Nephrolepis sp.), merupakan paku hias yang daunnya dibutuhkan untuk hiasan ceniga pada sanggah cucuk dan sebagai daun pelawa dari tumbuhan pegunungan (Supartha, 2000). 13. Trijata (M. speciosa), dipercaya sebagai pohon surga, sehingga digunakan pada banten Dewa Yadnya dan sanggah Surya sebagai personifikasi surga agar lebih mudah dihayati. 14. Anggur bogor (P. ligularis) merupakan tanaman introduksi yang didatangkan Kebun Raya Bali dari Bogor, sehingga dinamai demikian. Kini buah ini telah menyebar ke hutan setelah dimakan kera, burung, dan lain-lain. Buahnya merupakan bahan persembahan pada pajegan upacara adat, sebagai rasa syukur ke hadapan-Nya yang telah melimpahkan buah. 15. Kepelan (M. glauca) termasuk kayu harum (merik) yang disucikan, sehingga dibutuhkan pura, terutama untuk panel ukiran. Keberadaan tumbuhan Bukit Tapak tidak lepas dari gangguan manusia yang memburunya, sehingga terjadi erosi genetis pada beberapa jenis tumbuhan. Tumbuhan cemara pandak, anggrek macan, trijata, dan kepelan mulai sulit ditemukan. Nyabah, paku kidang, dan purnajiwa termasuk tumbuhan langka, sehingga perlu upaya pelestarian seperti yang dilakukan Kebun Raya Bali dengan mengkoleksinya. Pemanfaatan potensi tumbuhan Bukit Tapak perlu dibatasi karena merupakan kawasan konservasi Cagar Alam. Kalaupun ada pendakian sambil sembahyang ke kuburan di puncaknya, supaya kegiatan tersebut dilakukan seminimal mungkin dan tidak merusak tumbuhan alaminya. Untuk mengetahui keanekaragaman jenis tumbuhan Bukit Tapak dapat dilakukan tanpa harus langsung melakukan koleksi di kawasan tersebut, yakni dengan memperlajari aneka tumbuhannya yang telah dikoleksi Kebun Raya Bali. Pendidikan tersebut dapat mendorong kepedulian pada lingkungan dan upaya konservasi. Untuk menjaga keberadaan tumbuhan alami, perlu upaya perbanyakan baik oleh lembaga konservasi maupun masyarakat. Pembibitan diperlukan untuk memenuhi permintaan konsumen, sehingga tidak lagi terjadi pengambilan langsung ke hutan. Upaya budidaya dapat meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar selain dari bidang pariwisata, sehingga mengurangi kebiasaan buruk menganggu tumbuhan di hutan. Kebun Raya Raya Bali yang berbatasan di sebelah barat dengan Bukit Tapak, sangat besar maknanya sebagai zone penyangga untuk mengurangi intensitas masuknya orang ke hutan, sehingga kondisi hutan ini jauh lebih baik sejalan dengan membaiknya penanganan Kebun Raya Bali dalam 30 tahun terakhir. Pengunjung kebun raya yang berlimpah setiap tahun, sekitar 265.773 orang (Siregar, 2002), telah meningkatkan jumlah

pedagang, sehingga dapat mendorong peningkatan pendapatan mayarakat. Pada saat ini, banyak anggota masyarakat yang telah mampu membeli bahan bakar masak non kayu seperti gas elpiji dan minyak tanah, sehingga tidak perlu mencari lagi kayu bakar ke hutan. Tanaman koleksi dan program pendidikan lingkungan di kebun raya merupakan upaya nyata agar masyarakat dapat lebih mengenal manfaat tumbuhan dan menyadari perlunya upaya pelestarian, sehingga sejalan dengan fungsi hutan Bukit Tapak sebagai kawasan konservasi in situ. KESIMPULAN Penelitian mendapatkan 10 jenis tumbuhan khas dan 15 jenis tumbuhan yang berguna dalam upacara adat. Erosi genetis menyebabkan cemara pandak (D. imbricatus), anggrek macan (V. tricolor), trijata (M. speciosa), dan kepelan (M. glauca) sudah sulit ditemukan. Nyabah (P. arinasaenis), paku kidang (D. blumei), dan purnajiwa (E. horsfildii) termasuk tumbuhan langka, sehingga perlu upaya melestarikan seperti telah dilakukan oleh Kebun Raya Bali dengan mengkoleksinya sebagai tanaman koleksi. Adanya kuburan Islam di puncak dan Pura Teratai Bang di kaki timur Bukit Tapak yang menjadi tujuan berziarah, menyebabkan sulitnya membatasi orang yang memasuki Cagar Alam Batukau I. Oleh karena itu, untuk meminimalkan gangguan kelestarian perlu upaya pendidikan lingkungan, seperti pemanfaatan tanaman koleksi kebun raya untuk perbanyakan bibit dan penelitian, serta peningkatan taraf hidup masyarakat, sehingga merubah pola hidup dari menggunakan bahan bakar kayu ke bahan bakar lain yang akhirnya menggurangi kebiasaan merambah hutan. DAFTAR PUSTAKA Anonim. 1988. Buku Informasi Konservasi Sumber Daya Hutan Propinsi Bali. Bali: Kanwil Kehutanan Propinsi Bali. Adjie, B. 1999. Enam Jalur Perjalanan di Kebun Raya Bali. Bali: Kebun Raya Eka Karya Bali-LIPI. Hendarti, l. dan E. Nugraha. 1997. Rute Pendidikan Lingkungan (Repling) di Kebun Raya Bali. Bali: RMI-Hanns Seidel Foundation-Kebun Raya Bali. Meredith, S., I.B.K. Arinasa, B. Adjie, dan I.W. Sumantera. 1999. Aktifitas Pendidikan Lingkungan (APIK) Kebun Raya Bali. Bali: Kebun Raya Adelaide-Eka Karya Bali. Siregar, M., I.N. Lugrayasa, D. Mudiana, dan Hartutiningsih. 2002. Koleksi Tanaman Upacara Adat Kebun Raya Bali. Bali: UPT Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Eka karya Bali-LIPI. Siregar, M. 2002. Laporan Tahunan 2002. Bali: UPT Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Eka karya Bali-LIPI. Sumantera, I.W. 1993. Pemanfaatan dadap sebagai upaya mendukung pelestariannya di Bali. Makalah Seminar Nasional Biologi XI. Perhimpunan Biologi Indonesia-Universitas Hasanuddin, Ujung Pandang, 20-21 Juli 1993 Supartha, N.O. 2000. Fungsi Tumbuhan dalam Upacara Agama Hindu. Proseding Seminar Nasional Etnobotani III, UNUD Denpasar Bali 5-6 Mei 1988. Laboratorium Etnobotani, Balitbang Botani, Puslitbang Biologi-LIPI. Surayin, I.A.P. 1992. Melangkah ke Arah Persiapan UpacaraUpacara Yadnya. Denpasar: PT Upada Sastra.


BIODIVERSITAS Volume 5, Nomor 2 Halaman: 85-88

ISSN: 1412-033X Juli 2004

Pengujian Mikroba sebagai Pupuk Hayati terhadap Pertumbuhan Tanaman Acacia mangium pada Pasir Steril di Rumah Kaca Effect of microbe as fertilizer on the growth of Acacia mangium on the sand sterile in green house SRI PURWANINGSIH♥ Bidang Mikrobiologi, Puslit Biologi-LIPI, Bogor 16122 Diterima: 13 Pebruari 2004. Disetujui: 17 Mei 2004.

ABSTRACT An experiment on the effect of microbe as fertilizer on the growth of Acacia mangium on the sand sterile in greenhouse. The aim of the experiment the effect and potency of the microbe as fertilizer to increase the growth of A. mangium. The experiment was carried out in green house condition in Microbiology division, Research Center for Biology-LIPI with sterile sand medium. The Rhizobium strains used of: 1.Bio 199R, 2. Bio 203R, 3. Bio 205R, 4 Bio 238R, 5. Bio 251R, 6.Bio 7R, and 7. mixed strains (Bio 199R+Bio 203R+Bio 205R+Bio 238R+Bio 251R+Bio 7R) The controls were uninoculated with Rhizobium strain and without urea fertilizer (K1), uninoculated and with urea fertilizer equal 100 kg/ha (K2). The research design was Completely Randomized Design with three replications for each treatment. The plants were harvested after 70 days; the parameters of investigation were the dry weight of canopy, roots, nodules root, total plants, number of nodules and “symbiotic capacity”. The results showed that all of experiment plant able to from nodule. Strain number of mixed strains has given the best results on the growth of A. mangium plant. © 2004 Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta Keywords: Rhizobium strain, Acacia mangium.

PENDAHULUAN Acacia mangium merupakan tanaman yang termasuk dalam famili Leguminosae (polongpolongan) dan merupakan salah satu jenis tanaman HTI (Hutan Tanaman Indrustri). Tanaman ini merupakan tanaman yang dapat tumbuh dengan cepat, perakarannya luas, mampu beradaptasi pada tanah yang miskin unsur hara dan tahan terhadap kekeringan, serta mempunyai nilai ekonomi tinggi, kayunya mempunyai kualitas yang cukup baik khususnya sebagai bahan pulp/kertas maupun mebel. Selain itu tanaman ini mampu bersimbiosis dengan bakteri penambat nitrogen (Rhizobium) dan melaksanakan proses penambatan N bebas dari udara, sehingga tanaman dapat memenuhi kebutuhan unsur N melalui penambatan secara hayati sehingga mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan pupuk N buatan. Keberadaan unsur hara nitrogen sangat penting bagi setiap kehidupan, khususnya mikroba tanah dan ♥ Alamat korespondensi: Jl. Ir. H. Juanda 18, Bogor 16122. Tel.: +62-251-324006. Faks.: +62-251-325854 e-mail: rizal_pur@yahoo.com

tanaman Leguminosae. Unsur nitrogen termasuk unsur utama dan merupakan faktor pembatas dalam pertumbuhan, sehingga merupakan kunci keberhasilan pertumbuhan tanaman. Bakteri penambat nitrogen (Rhizobium) mempunyai kemampuan menambat nitrogen bebas (N2) dari udara dan merubahnya menjadi amonia (NH3) yang akan diubah menjadi asam amino yang akan digunakan oleh tanaman untuk tumbuh dan berkembang (Alexander, 1977). Cadangan nitrogen di alam meliputi 78% volume atmosfer, tetapi tidak tersedia bagi tanaman (Allen dan Allen, 1981). Namun secara alami unsur nitrogen ini dapat tersedia apabila lingkungan kaya bakteri penambat nitrogen yang biasanya bersimbiosis dengan kelompok tanaman dari famili Legumonosae. Penambatan nitrogen secara biologis diperkirakan menyumbang lebih dari 170 juta ton nitrogen ke biosfer pertahun, 80% merupakan hasil dari simbiosis antara bakteri Rhizobium dengan tanaman Leguminosae (Peoples et al., 1997 dalam Prayitno, 2000). Salah satu alternatif untuk memperbaiki kondisi tanah dan lingkungan serta meningkatkan kesuburan tanah adalah dengan teknologi pemupukan secara hayati, yaitu dengan menginokulasi mikroba pemacu pertumbuhan (bakteri penambat nitrogen) pada benih/bibit atau tanah maupun keduanya pada


B I O D I V E R S I T AS Vol. 5, No. 2, Juli 2004, hal. 85-88

86

tanaman. Pengaruh inokulasi akan terlihat nyata apabila digunakan pada lahan yang mengandung unsur hara atau ketersediaan air rendah, sehingga inokulasi dapat mempercepat pemulihan lahan (Carpenter dan Allen, 1988), mampu bersaing dan beradaptasi terhadap lingkungannya, serta cocok dengan tanaman inangnya (Yutono, 1985). Kerjasama antara mikroba yang diinokulasikan dan tanaman serta unsur-unsur hara dalam tanah sangat diperlukan dalam pertumbuhan tanaman A. mangium untuk mencapai hasil yang maximum, karena tidak semua biakan Rhizobium mampu hidup bersimbiosis dan efektif melaksanakan proses penambatan nitrogen dari udara bebas. Dengan adanya biakan terpilih maka pemberian inokulum sebagai pupuk hayati dapat tercapai secara optimal. Berdasar hal tersebut, dilakukan penelitian ini untuk mendapatkan inokulum yang cocok dan efektif serta efisien dalam upaya meningkatkan pertumbuhan tanaman. Biakan yang efektif diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk hayati, terutama untuk tanaman A. mangium.

Sebagai kontrol tanaman tanpa diinokulasi dan tanpa ditambah pupuk N (K1), dan tanaman tanpa diinokulasi dan ditambah pupuk N setara dengan 100 kg/ha (K2). Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan masing-masing perlakuan 3 kali ulangan. Untuk mempertahankan kelembaban (24%) dilakukan penyiraman setiap hari dengan menggunakan larutan hara tanpa N terikat seperti yang dilakukan oleh Saono dkk. (1976). Komposisi larutan hara (10 liter larutan A + 10 ml larutan B + 100 ml larutan C + 10 ml larutan D) disajikan pada Tabel 1a. Tanaman dipanen pada umur 70 hari, parameter yang diamati adalah bobot kering tajuk, akar, bintil akar, tanaman total, dan jumlah bintil, komponen tersebut dikeringkan dalam oven dengan suhu 105oC selama 24 jam. Untuk mengetahui kemampuan bersimbiosis (Sc) biakan-biakan Rhizobium yang diinokulasikan dilakukan penetapan dengan menggunakan cara Brockwell et al (1965) sebagai berikut: I-U Sc = ----------------N-U

BAHAN DAN METODE Penelitian dilakukan di rumah kaca Bidang Mikrobio-logi, Pusat Penelitian Biologi-LIPI, dengan menggunakan pasir steril, dalam pot-pot plastik berukuran 0,5 galon. Sebanyak 1,8 kg pasir steril digunakan sebagai media tumbuh, kemudian setelah biji ditanam di atasnya ditambah pasir yang telah dicampur dengan parafin dan benzol (steril) setinggi 2 cm sebagai penutup biji yang ditanam. Biakan yang digunakan adalah (i) Bio 199R (isolat dari Acacia villosa), (ii) Bio 203 R (isolat dari Albizia sinensis), (iii) Bio 205R (isolat dari Albizia saponaria), (iv) Bio 238R (isolat dari Erythrina fusca), (v) Bio 251R (isolat dari Pterocarpus indicus), (vi) Bio 7R (isolat dari Vigna silindrica), dan (vii) biakan campuran (Bio 199R+Bio 203R+Bio 205R+Bio 238R+Bio 251R+Bio7R).

Sc = I = U

=

N

=

kemampuan bersimbiosis. rata-rata bobot kering tajuk tanaman yang diinokulasi. rata-rata bobot kering tanaman tanpa diinokulasi dan tanpa N (K1). rata-rata bobot kering tanaman tanpa diinokulasi dan ditambah N (K2).

Nilai Sc dibagi dalam 4 katagori yaitu: E (sangat efektif) jika Sc>0,67, e (efektif) jika 0,33<Sc<0,67, e(kurang efektif) jika Sc<0,33, dan I (tidak efektif) jika Sc<0. Selain dengan Sc, pengujian tingkat keefektifan dilakukan juga dengan membandingkan bobot kering tanaman total yang diuji dengan bobot kering tanaman kontrol yang ditambah dengan pupuk N (K2) yang dinyatakan dengan persen seperti yang dikemukakan oleh Date (dalam Vincent, 1982)

Tabel 1a. Komposisi larutan hara (larutan A, B, C, dan D). Larutan A.

Standar larutan calcium sulfur

B.

Standar larutan ferric citrate Standar larutan fosfat

C.

D.

Standar larutan trace element

Kandungan unsur CaSO42H2O MgSO47H2O akuades steril ferric citrate akuades steril KH2PO4 KOH akuades steril MnSO4H2O ZnSO45H2O CuSO45H2O NaMoO22H2O H3BO3 CaCl26H2O) akuades steril

HASIL DAN PEMBAHASAN Jumlah 2,5 g 2,5 g 10 liter 30 g 1 liter 34 g 1,96 g 1 liter 1g 0,25 g 0,25 g 0,06 g 0,50 g 0,05 g 1 liter

Hasil penelitian menunjukkan bahwa biakanbiakan Rhizobium yang diinokulasikan terhadap tanaman A. mangium semuanya mampu membentuk bintil akar, hal ini menunjukkan bahwa semua biakan tersebut dapat bersimbiosis secara efektif dan efisien dengan tanaman tersebut, yang ditandai dengan pertumbuhan vegetatif tanaman yang diinokulasi lebih bagus dibandingkan dengan tanaman kontrol tanpa diinokulasi dan tanpa dipupuk N (K1). Seperti yang dilaporkan oleh Stowers dan Elkan (1980), bahwa kemampuan simbiosis yang efektif dan efisien diketahui bahwa biakan Rhizobium yang diinokulasikan mampu membentuk bintil akar, yang berarti pengikatan nitrogennya berjalan dengan baik.


PURWANINGSIH â&#x20AC;&#x201C; Mikroba pupuk hayati Acacia mangium

Parameter yang diamati menunjukkan bahwa untuk tinggi tanaman, nilai tertinggi diperoleh pada tanaman yang diinokulasi dengan biakan campuran pada pengukuran umur 4, 6, dan 8 minggu, masingmasing mengalami peningkatan sebesar 85, 83%, 69,93%, dan 76,9%, serta biakan Bio 7R dan biakan campuran pada umur 10 minggu, keduanya mengalami peningkatan sebesar 59,01% dibandingkan dengan tanaman tanpa diinokulasi dan tanpa dipupuk N (K1). Untuk jumlah daun, nilai tertinggi diperoleh pada tanaman yang diinokulasi dengan biakan campuran pada pengamatan umur 4, 6 dan 8 minggu, masing-masing mengalami peningkatan sebesar 128,75%, 46,18%, 53,2% dibandingkan dengan tanaman tanpa diinokulasi dan tanpa dipupuk N (K1). Pada umur 10 minggu jumlah daun tertinggi diperoleh pada tanaman yang diinokulasi dengan biakan Bio 7R dan biakan campuran, keduanya mengalami peningkatan sebesar 50,09%. Untuk bobot kering tajuk, akar, bintil akar dan tanaman total nilai tertinggi pada tanaman yang diinokulasi dengan biakan campuran, masingmasing mengalami peningkatan sebesar 70,37%, 60%, 0%, 68,22% dibandingkan dengan tanaman tanpa diinokulasi dan tanpa dipupuk N (K1) (Tabel 1., 2., dan 3.). Tabel 1. Nilai rata-rata tinggi tanaman pertumbuhan tanaman A. mangium yang diinokulasi dengan mikroba (cm) Umur (minggu) 4 6 8 10 Bio 199R 2,66 ab 3,66 a 4,66 ab 6,00 ab Bio 203R 3,00 ab 3,66 a 5,00 ab 6,00 ab ab a ab Bio 205R 2,66 3,66 5,00 3,33 ab ab bc bc Bio 238R 3,66 5,33 6,00 7,66 ab ab ab abc Bio 251R 3,00 4,00 5,66 7,66 ab abc abc cd Bio 7R 3,33 4,66 7,00 9,00 b Campuran 4,33 c 5,66 c 7,66 d 9,00 b a a a K1 (tanpa N) 2,33 3,33 4,33 5,66 a K2 (+N) 3,33 abc 3,66 abc 5,66 abc 7,00 ab BNT 5% 1,26 1,60 1,54 3,06 Keterangan: nilai yang diikuti dengan huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 0,05 uji BNT. Perlakuan

Tabel 2. Nilai rata-rata jumlah daun pertumbuhan tanaman A. mangium yang diinokulasi dengan mikroba. Umur (minggu) 4 6 8 10 Bio 199R 2,66 a 4,00 a 4,66 a 6,00 ab Bio 203R 2,66 a 4,33 ab 5,66 b 7,66 bc a ab b Bio 205R 2,33 4,33 5,33 6,33 ab a ab b Bio 238R 3,00 4,33 5,33 6,00 ab a a b Bio 251R 2,66 4,00 5,33 7,66 bc Bio 7R 5,33 b 6,00 ab 7,00 c 8,00 c b b c Campuran 5,00 6,33 7,66 8,00 c K1 (tanpa N) 2,33 a 4,33 ab 5,00 a 5,33 a K2 (+N) 2,66 a 4,33 ab 5,66 b 6,66 abc BNT 5% 1,15 2,1 0,91 1,71 Keterangan: nilai yang diikuti dengan huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 0,05 uji BNT. Perlakuan

87

Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa untuk semua parameter pertumbuhan yang diamati terdapat perbedaan yang nyata antar biakan, hal ini menunjukkan bahwa biakan tersebut mempunyai kemampuan simbiosis yang efektif yang mana mampu menambat nitrogen dari udara secara maksimal, sehingga pertumbuhan tanaman lebih baik. Pasaribu (1983) mengemukakan bahwa simbiosis yang efektif dan efisien akan menghasilkan N tertambat yang tinggi, dimana N dapat digunakan oleh tanaman untuk tumbuh dan berkembang, sehingga pertumbuhannya akan menjadi lebih baik. Dari keseluruhan parameter yang diamati diketahui bahwa dari tujuh biakan yang diinokulasikan diperoleh hasil pertumbuhan yang sangat bervariasi, tetapi apabila dibandingkan dengan tanaman yang tidak diinokulasi dan tidak dipupuk N (K1) terjadi kenaikan pertumbuhan, hal ini berarti bahwa ada kecocokan/keserasian antara biakan yang diinokulasikan dengan tanaman inang. Keberhasilan inokulasi tergantung pada keefektifan dan efisiensi dari biakan yang berperan, dan mempunyai keserasian dengan tanaman inangnya (Sumarno dan Harnoto, 1983). Freire (1977) menambahkan bahwa teknik dan waktu inokulasi juga sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil. Ke-7 biakan Rhizobium yang diinokulasikan terhadap tanaman A. mangium menunjukkan kemampuan bersimbiosis. Biakan Bio 238R, Bio 251R, Bio 7R dan campuran menunjukkan nilai Sc yang sangat efektif dan biakan Bio 199R dan Bio 205R menunjukkan efektif, hal ini berarti bahwa simbiosis ke-6 biakan tersebut dengan tanaman A. mangium cukup efektif, sedangkan biakan Bio 203R menunjukkan hasil yang kurang efektif (Tabel 4). Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya faktor ketidakcocokan antara biakan dengan tanaman inang, misalnya tanaman yang diinokulasi dengan biakan Bio 203R hasilnya tidak efektif karena biakan tersebut dari tanaman Acacia sinensis.

Tabel 3. Nilai rata-rata bobot kering tajuk (BKT), akar (BKA), bintil akar (BKB), dan tanaman total (BKTT) terhadap pertumbuhan tanaman A. mangium yang diinokulasi dengan mikroba (gram). Perlakuan

BKT c

BKA ab

BKB

BKTT a

Bio 199R 0,74 0,64 0,0157 1,3957 bc ab cd ab Bio 203R 0,59 0,76 0,0192 1,3789 b bc cd abc Bio 205R 0,70 0,77 0,0213 1,4913 bcd cd de bcd Bio 238R 0,81 0,84 0,0297 1,6797 def d de cde Bio 251R 0,86 0,83 0,0255 1,7155 ef Bio 7R 0,88 d 0,76 cd 0,0285 de 1,6685 cde Campuran 0,92 d 0,88 e 0,0337 e 1,8337 f a a K1 (tanpa N) 0,54 0,55 0 1,0900 a d bc K2 (+N) 0,87 0,72 0 1,5900 cde BNT 5% 0,11 0,09 0,0073 0,0248 Keterangan: nilai yang diikuti dengan huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 0,05 uji BNT.


B I O D I V E R S I T AS Vol. 5, No. 2, Juli 2004, hal. 85-88

88

Seperti dikemukakan oleh Bergensen (1982) yang menyatakan bahwa ketidakefektifan bintil akar, seperti perkembangan bintil akar yang tidak sempurna akibat ketidaksesuaian antar biakan Rhizobium dengan tanaman inang maupun biakan yang diinokulasikan mempunyai hubungan yang serasi dengan tanaman A. mangium. Kenyataan ini sejalan dengan hasil penelitian Yutono (1985) yang menyatakan bahwa simbiosis antara strain-strain Rhizobium dengan jenis tanaman Leguminosae terdapat perbedaan keserasian, bahkan perbedaan keserasian itu dapat pula terjadi antara strain Rhizobium dengan varietas Leguminosae. Tabel 4. Pembintilan, jumlah bintil, nilai â&#x20AC;&#x153;symbiotic capacityâ&#x20AC;? dan prosentase keefektifan mikroba yang diinokulasikan terhadap tanaman A. mangium (umur 70 hari). Pembintilan Bio 199R + Bio 203R + Bio 205R + Bio 238R + Bio 251R + Bio 7R + Campuran + 14,00 b K1 (tanpa N) K2 (+N) BNT 5% Perlakuan

Jumlah Symbio- Kapasitas Sc (%) bintil tic riil nisbi a 9,00 e 0,60 87,77 9,33 a e0,15 86,72 10,66 a e 0,48 93,79 a E 0,81 105,64 10,66 11,33 ab E 0,96 107,89 ab E 1,03 104,93 11,00 E 1,15 115,33 0 0 3,28

0 0 -

0 0 -

0 0 -

Dari hasil pengujian kemampuan bersimbiosis dapat disimpulkan bahwa walaupun biakan-biakan Rhizobium yang diinokulasikan mampu menginfeksi suatu tanaman, namun belum tentu biakan tersebut efektif terhadap tanaman inangnya (A. mangium). Seperti dikatakan Usman (1983), bahwa suatu bakteri yang dapat menginfeksi tanaman inang tertentu tidak selalu efektif. Banyak jenis Rhizobium yang sangat atau cukup efektif pada suatu tanaman, namun sama sekali tidak efektif atau inefektif parsial pada tanaman lain, dimana biakan tersebut dapat menambat N, namun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan N tanaman inangnya. Prosentase keefektifan biakan Rhizobium yang tertinggi dijumpai pada tanaman yang diinokulasi dengan biakan campuran, diikuti tanaman yang diinokulasi dengan biakan Bio 251R, Bio 238R, Bio 7R, Bio 205R, Bio 199R, dan terendah pada tanaman yang diinokulasi dengan biakan Bio 203R. Prosentase keefektifan ini sangat bervariasi tergantung dari jenis biakan yang diinokulasikan dan kecocokan terhadap tanaman inang, apabila cocok maka akan terjadi simbiosis yang efektif. Selain itu faktor lingkungan dan fisiologi juga sangat berpengaruh. Bergensen (dalam Gibson, 1980) mengemukakan bahwa pembentukan bintil akar yang baik dari hasil penambatan N pada akar tanaman legum merupakan suatu rangkaian yang kompleks dari proses fisiologi yang meliputi interaksi antara tanaman inang dengan biakan yang diinokulasikan.

KESIMPULAN Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa semua biakan yang diinokulasikan mampu membentuk bintil akar, namun tidak semua biakan efektif untuk tanaman A. mangium. Hasil terbaik diperlihatkan oleh biakan campuran (yang terdiri dari biakan Bio199R+ Bio203R+Bio205R+Bio238R+Bio251R+Bio7R). Biakan tersebut dapat dikembangkan sebagai inokulum pupuk hayati untuk tanaman A. mangium. DAFTAR PUSTAKA nd

Alexander, M. 1977. Soil Microbiology. 2 edition. New York: John Wiley and Sons, Inc. Allen. O.N and E.K. Allen. 1981. The Leguminosae; A. Source Book of Characteristics Uses and Nodulation. Winconsin: The University of Winconsin Press. Bergensen. F.J. 1982. Root Nodules of Legume. Chichester: Structure and Function Research Studies Press. Brockwell. J.F.W. Hely, and C.A. Neal-Smith. 1965. Some Symbiotic as effective field nodulation of Lobus hipidus. Australian Journal of Experimental Agriculture and Animal Husbandry 6 (23): 365-370. Carpenter, A.T and F.F. Allen. 1988. Responses of Hedysanum boreale nutt to mycorrhizas and Rhizobium: plant and soil nutrient changes in a disturbed shrubsteppe. New Phytology 109: 125-132. Freire, J.R.J. 1977. Inoculation of Soybean. In. J.M. Vincent. A.S Whitney and J. Bose (eds). Exploiting the Legume Rhizobium symbiosis in Tropical Agriculture. Coll. Trop. Agric. Misc. Publ. 145. Hawaii: Department of Agronomy and Soil Science, University of Hawaii. Gibson. A.H. 1980. Host determinants in nodulation and nitrogen fixation. Advancea in Legume Science. England: University of Reading. Pasaribu, D., N. Sunarlim, M. Fathan, M. Sudjadi, Hartono, dan L. Sumarsono. 1988. Maksimalisasi Hasil Kedelai di WonosariYogyakarta. Identifikasi Komponen dan Paket tehnologi Kacang-kacangan pada Lahan Tegalan. Bogor: Balai penelitian tanaman Pangan, Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Prayitno, J., J.J. Weinman, M.A. Djordjevic, and B.G. Rolfe. 2000. Pemanfaatan protein pendar hijau (green fluoresecent protein) untuk mempelajari kolonisasi bakteri Rhizobium. Prosiding Seminar Nasional Biologi XVI: 372-277. Saono. S., H. Karsono, and D. Suseno. 1976. Studies on the effect of different rhizobial strains on Phaseolus lunatus in sand culture. Annales Bogoriense 6 (3): 143-154. Stowers. M.D and G.H. Elkan. 1980. Criteria for selecting infektive and efficient strains of Rhizobium for use in tropical agriculture. North Caroline Agriculture Service Technology Bulletin: 264. Sumarno dan Harnoto. 1983. Kedelai dan cara bercocok tanamnya. Bulletin Teknik. No 6: 67. Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Usman, R. 1983. Penelitian Mengenai Isolasi, Media Pembiakan serta Metode Pengelompokan Species Rhizobium. [Disertasi]. Bandung: Universitas Padjadjaran,. Vincent, J.M. 1982. Nitrogen Fixation in Legumes. New York: Academic Press. Yutono. 1985. Inokulasi Rhizobium pada kedelai. Dalam Somaatmadja., S., M. Ismunadji, Sumarno, M. Syam., S.O. Manurung, dan Yuswadi (ed). Kedelai. Bogor: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Puslitbangtan.


BIODIVERSITAS Volume 5, Nomor 2 Halaman: 89-95

ISSN: 1412-033X Juli 2004

R E V I E W:

Sebaran Ekologi Jenis-jenis Dipterocarpaceae di Indonesia Ecological distribution of Dipterocarpaceae species in Indonesia PURWANINGSIHâ&#x2122;Ľ Bidang Botani, Pusat Penelitian Biologi-LIPI Bogor 16122 Diterima: 25 Pebruari 2004. Disetujui: 17 Mei 2004

ABSTRACT Dipterocarpaceae is one of the biggest family with >500 species in the world, and most of dipterocarps population are grown in Indonesia which have high economical value of wood. One of the most important value from dipterocarps species is high on endemicities; there are up to 128 species (53.78%) from 238 dipterocarps species in Indonesia. Distribution of dipterocarps species would be affected by some factors especially edaphic, climate, and altitude. In Indonesia the dipterocarps species distribution could be shown from islands groups, number of species and forest types. Based on the observation of herbarium collection in Herbarium Bogoriense the distribution of the most dipterocarps species was in the altitude of 0-500 m and 500-1000 m on the dipterocarps forest type. Kalimantan and Sumatra were the two bigger islands with have the dipterocarps species distributed relatively high on population and species. Š 2004 Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta Keywords: Dipterocarpaceae, ecological distribution, altitude, Indonesia.

PENDAHULUAN Indonesia termasuk dalam kawasan fitogeografi Malesia yang memiliki kawasan hutan hujan tropis terbesar setelah Brazil, hal ini berkaitan dengan keanekaragaman jenis tumbuhan yang sangat tinggi dan formasi hutan yang beragam (Tabel 1.). Dipterocarpaceae (dipterocarp) merupakan salah satu suku besar dengan jumlah jenis di seluruh dunia mencapai 506 jenis, tergolong dalam 14 marga yang sebagian besar (76%) jenis tumbuh di kawasan Malesia, terutama di Indonesia. Secara geografis, persebaran jenis dipterocarp tidak merata di wilayah Indonesia, berbeda dengan jenis dari suku lain misalnya Myrtaceae, Euphorbiaceae, Lauracaeae, Moraceae, dan Annoceae yang umumnya mempunyai persebaran luas (pantropis) (Bawa, 1998). Secara ekologi jenis dipterocarp mempunyai beberapa faktor pembatas untuk pertumbuhan dan penyebarannya. Faktor yang paling menentukan adalah faktor tanah, iklim dan ketinggian tempat. Pada umumnya Dipterocarpaceae tumbuh pada jenis tanah podsolik merah kuning dengan ketinggian dibawah 1300 m dpl., dan curah hujan >1000mm per â&#x2122;Ľ Alamat korespondensi: Jl. Ir. H. Juanda 22, Bogor 16122. Tel.: +62-251-322035. Fax.: +62-251-336538. e-mail: herbogor@indo.net.id

tahun (Whitmore, 1975). Jumlah marga dan jenis dipterocarp di Asia memiliki diversitas lebih tinggi dibanding Afrika dan Amerika. Kekayaan dipterocarp di kawasan Malesia juga tertinggi di daerah yang lebih basah. Dipterocarpaceae Asia menduduki habitat yang sangat bervariasi (Symington, 1943) dari pantaidaratan, sungai-gambut dan lahan kering, undulatingdataran, punggung, lereng, lembah, dan tanah yang subur-miskin nutrient (hara). Di Semenanjung Malaya terdapat beberapa zonasi tipe habitat berdasarkan ketinggian tempat (altitude), yakni: ketinggian 0-300 m (low undulating dipterocarp forest), 300-750 m (hill dipterocarp forest), dan 750-1200 m (upper dipterocarp forest). Sedangkan untuk Kalimantan zonasi ini akan berbeda. Hutan dipterocarp, khususnya pada daerah basah di kawasan Malesia, mempunyai kekayaan jenis flora dan fauna terbesar di dunia. Hutan gambut air tawar (freshwater swamp), khususnya di bagian yang lebih kering akan lebih kaya jenis dipterocarp dibandingkan dengan gambut tebal yang akan miskin jenis (Corner, 1978, dalam Jacobs, 1988). Jenis dipterocarp umumnya berupa pohon menjulang (emergent trees) yang pertumbuhannya lambat dan kayunya digunakan sebagai bahan bangunan, apabila jenis-jenis ini dieksploitasi secara terus menerus maka lama-kelamaan akan mengalami pengurangan jumlah populasi yang sangat drastis


B I O D I V E R S I T AS Vol. 5, No. 2, Juli 2004, hal. 89-95

90

dan untuk memulihkannya menjadi hutan primer akan memakan waktu yang sangat lama. Kayu Dipterocarpaceae mempunyai nilai ekonomi yang tinggi, sehingga menguasai perdagangan kayu internasional, khususnya di Asia Tenggara (Apannah, 1998). Selain kayunya juga terdapat beberapa produk minor non kayu dari dipterocarp seperti minyak, damar, resin, dan kamper, akan tetapi hasil non kayu ini sering diabaikan karena nilai ekonominya tidak sebesar kayu. Dipterocarp merupakan sumber penting untuk menghasilkan resin. Resin dipterocarp terdapat dua macam yaitu (i) resin cair yang mengandung bahan-bahan resinous dan minyak esensial yang sering disebut sebagai oleoresin dan (ii) resin keras yang sering disebut sebagai damar. Kamper (kapur barus) dihasilkan oleh Dryobalanops aromatica terutama di daerah Sumatera Utara dan Johor. Kamper ini didapatkan dari rongga atau aluralur kulit batang dalam bentuk padat atau cairan terang disebut sebagai minyak kamper. Minyak (mentega) tengkawang (illipe nuts) dihasilkan dari biji dipterocarp yang buahnya besar. Biasanya mentega tengkawang ini digunakan untuk campuran coklat dan kosmetika. Oleh karena itu buah tengkawang banyak diekspor ke luar negeri yaitu Eropa dan Jepang. Dipterocarp yang menghasilkan biji tengkawang adalah Shorea sect. Pachycarpae, misalnya Shorea pinanga, Sh. stenoptera, Sh. macroptera, dan Sh. mecistopterix (Tantra, 1979). Di Kalimantan masyarakat di sekitar hutan membuat minyak goreng dari buah tengkawang (Anderson, 1975). Pada hutan hujan lahan pamah yang selalu hijau (evergreen lowland forest) terlihat pohon-pohon menjulang tinggi mencapai 45 m atau lebih dan sejumlah besar pohon menjalin hidup bersama. Tidak terdapat jenis yang benar-benar dominan dan biasanya 2/3 atau lebih dari pohon mencuat (emergent trees) bersifat individual dan kontribusinya tidak lebih dari 1% dari total jumlah jenis. Dalam formasi ini

terdapat tiga lapisan pohon: lapisan atas (top layer) adalah pohon-pohon mencuat yang tingginya > 40 m, umumnya adalah pohon dari jenis primer antara lain Dipterocarpaceae; lapisan dibawahnya dengan tinggi pohon 24-36 m biasanya lapisan ini jumlah jenisnya lebih besar dan terdiri dari banyak suku; serta lapisan bawah dengan tinggi 10-15 m yang biasanya merupakan pohon kecil dan tahan terhadap naungan.

DIPTEROCARPACEAE DI INDONESIA Dipterocarpaceae di Indonesia tersebar tidak merata di setiap pulau, menurut Ashton (1982) bahwa penyebaran dipterocarp ke arah timur keanekaragamannya semakin kecil. Keanekareagaman jenis dipterocarp secara lokal pada masing-masing marga tidak merata, bahkan terdapat beberapa marga yang tidak dijumpai di belahan Indonesia timur. Dipterocarpaceae di kawasan Indonesia mencapai 62% (238 jenis) dari jumlah jenis yang terdapat di kawasan Malesia (386 jenis). Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia merupakan tempat yang cocok untuk pertumbuhan dipterocarp, terutama di Indonesia bagian barat (Tabel 2.). Terdapat 4 marga yang penyebarannya meluas di kawasan Malesia yaitu Anisoptera (11 jenis, 10 jenis terdapat di Malesia), Vatica (65 jenis, 55 jenis di Malesia), Hopea (102 jenis, 84 jenis di Malesia), dan Shorea (194 jenis, 163 jenis di Malesia) (Ashton, 1982). Kalimantan dan Sumatera merupakan dua pulau besar yang memiliki persebaran kelompok jenis dipterocarp cukup menonjol, baik dari populasi maupun jumlah jenisnya. Bahkan sebagian besar hutan primer yang masih tersisa di Kalimantan vegetasinya masih didominasi oleh dipterocarp sehingga sering disebutnya sebagai hutan Dipterocarpaceae. Apannah (1998) mengatakan bahwa Kalimantan dan Sumatera merupakan pusat pertumbuhan Dipterocarpaceae di

Tabel 1. Formasi hutan hujan tropis. Tipe hutan Hutan hujan tropis

Iklim Selalu basah (everwet)

Tanah-air

Tidak berair Pedalaman (dry-land)

Berair (kadang secara periodik)

Kemarau musiman Hutan luruh (monsoon)

Lokasi

Kering moderat tahunan Kering tergantung musim

Jenis tanah

Elevasi

Formasi hutan Hutan hujan lahan pamah tropis Hutan hujan perbukitan tropis Hutan hujan pegunungan tropis Hutan sub-alpin tropis Hutan kerangas Hutan bukit kapur Vegetasi pantai Hutan mangrove (bakau) Hutan air-payau Hutan gambut Hutan rawa air-tawar Hutan rawa musiman

-

0-1000m 1000-1500m 1500-3000m >3000m Pasir podsolik Lahan pamah Limestone Lahan pamah Tanah gambut Selalu tergenang Tergenang secara periodik -

-

-

Hutan luruh basah tropis Formasi lain dengan meningkatnya musim kemarau

Pantai Air-asin Air payau Air tawar Tanah eutropik

-

Hutan hujan semi-evergreen tropis


PURWANINGSIH â&#x20AC;&#x201C; Sebaran Dipterodarpaceae di Indonesia

91

Tabel 3. Sebaran jenis dipterocarp di Kepulauan Indonesia. J Sl 4 (6,8%) 0 (0%) 2 (4,7%) 2 (4,7%) 1 (1,7%) 2(3,4%) 1 (0,7%) 2 (1,4%) 1 (8,3%) 1(8,3%) 0 (0%) 0 (0%) 0 (0%) 0 (0%) 0 (0%) 0 (0%) 0 (0%) 0 (0%) 9 (2,59%) 7 (2,01%)

M Irian Jaya Jumlah %-tase 0 (0%) 0 (0%) 59 16,95 1 (2,4%) 1 (2,4%) 42 12,07 2 (3,4%) 10 60 17,24 2 (1,4%) 0 (0%) 152 43,68 1(8,3%) 1(8,3%) 12 3,45 0 (0%) 0 (0%) 9 2,59 0 (0%) 0 (0%) 9 2,59 0 (0%) 0 (0%) 4 1,15 0 (0%) 0 (0%) 1 0,29 6 (1,72%) 12 (3,45%) 348

11 16 11 3 2 6 77 24 2 152

1 4 2 3 2 7 36 3 1 59

1 6 2 3 3 9 26 2 0 52

1 5 1 2 3 4 36 3 0 55

1 2 1 1 0 0 7 2 0 14

1 2 1 0 1 2 3 0 0 10

0 0 0 0 0 2 8 2 0 12

Cotylelobium

Parashorea

Gambut Pantai Kerangas Bukit kapur Rawa air tawar Tepi sungai Lahan pamah Bukit Peg. rendah Jumlah

Dryobalanops

Tipe Hutan

Anisoptera

Tabel 5. Sebaran jenis dipterocarp di beberapa tipe hutan. Dipterocarpus

daerah lembab (humid). Di kawasan hutan dataran rendah yang belum banyak terganggu, khususnya di pedalaman Kalimantan populasi jenis dipterocarp terlihat dominan, dari data spesimen yang ada di Herbarium Bogoriense ternyata Kalimantan menyimpan paling banyak jenis dipterocarp yaitu Âą 200 jenis (tidak termasuk Kalimantan Utara). Penyebaran jenis dipterocarp di Asia meluas di seluruh daratan yang terbagi dalam beberapa mintakat secara geografis ataupun secara klimatis. Jenis dipterocarp di Indonesia terbagi menjadi dua kelompok berdasarkan jumlah jenisnya, kelompok besar terdiri dari 4 marga yaitu Shorea, Vatica, Dipterocarpus, dan Hopea, dalam kelompok ini jumlah jenisnya lebih dari 10 dan kelompok yang kedua adalah marga kecil diantaranya Anisoptera, Dryobalanops, Parashorea, dan Cotylelobium.

NT 2 (3,4%) 0 (0%) 1 (1,7%) 0 (0%) 0 (0%) 0 (0%) 0 (0%) 0 (0%) 0 (0%) 3 (0,86%)

Vatica

S 25 (42,4%) 10 (23,8%) 14 (23,3%) 52 (%) 4 (3,6%) 2 (1,8%) 3 (2,7%) 1 (0,9%) 0 (0%) 111 (31,9%)

Hopea

K 28 (47,6%) 26 (61,9%) 30 (50%) 95 (62,5%) 4 (33,3%) 7 (77,8%) 6 (66,7%) 3 (75%) 1 (100%) 200 (57,47%)

Shorea

Marga Dipterocarpus Vatica Hopea Shorea Anisoptera Dryobalanops Parashorea Cotylelobium Upuna Total

0 1 1 1 0 0 2 1 0 6

Tabel 2. Marga dipterocarp dengan jumlah jenisnya yang terdapat di Indonesia dan Malesia. Jumlah jenis di Indonesia Malesia 95 161 Shorea 35 55 Vatica 38 54 Dipterocarpus 44 84 Hopea 7 10 Anisoptera 8 10 Parashorea 7 7 Dryobalanops 1 1 Upuna 0 1 Neobalanocarpus 3 3 Cotylelobium Total 238 386 Marga

Keberadaan jenis 59% 64% 70% 52% 70% 80% 100% 100% 0% 100% 62%

Tabel 4. Sebaran jenis dipterocaps berdasarkan ketinggian tempat. Marga Dipterocarpus Hopea Shorea Vatica Anisoptera Parashorea Dryobalanops Cotylelobium Upuna

0-500 24 41 64 27 3 3 5 1 1

Ketinggian tempat (dpl.) 500-1000 1000-1500 >1500 17 1 10 2 52 13 10 5 4 1 3 2 3 1 -

Tabel 6. Jenis dipterocarp yang tumbuh di daerah gambut. Jenis gambut 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25.

Anisoptera marginata Korth. Dipterocarpus coriaceus Sloot. Dipterocarpus elongatus Korth. Dipterocarpus semivestitus Sloot. Dipterocarpus tempehes Sloot. Dipterocarpus validus Bl. Dryobalanops oblongifolia Dyer ssp. occidentalis Ashton Dryobalanops rappa Becc. Hopea pentanervis Sym Shorea albida Sym (ex Thomas) Shorea balangeran (Korth.) Burck Shorea foraminifera Ashton Shorea hemsleyana (King) King ex Foxw. ssp. hemsleyana Shorea longiflora (Brandis) Sym. Shorea macrantha Brandis Shorea pachyphylla Ridl. Shorea palembanica Miq. Shorea platycarpa Heim Shorea scabrida Sym. Shorea sumatrana (Sloot.ex Thorenaar) Sym. Shorea teysmanniana Dyer ex Brandis Shorea uliginosa Foxw. Vatica chartacea Ashton Vatica pauciflora (Korth.) Bl. Vatica teysmaniana Burck


B I O D I V E R S I T AS Vol. 5, No. 2, Juli 2004, hal. 89-95

92

Tabel 7. Jenis dipterocarp yang tumbuh di daerah kerangas. Jenis kerangas 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16.

Cotylelobium lanceolatum Craib. Dipterocarpus borneensis Sloot. Hopea kerangasensis Ashton Hopea micrantha Hook.f. Hopea pterygota Ashton Shorea coriacea Burck Shorea induplicata Sloot. Shorea materialis Ridl. Shorea multiflora (Burck) Sym. Shorea retusa Meijer Shorea revoluta Ashton Shorea richetia Sym. Vatica brunigii Ashton Vatica compressa Ashton Vatica parvifolia Ashton Vatica rotata Ashton

Berdasarkan Flora Malesiana, pulau Indonesia terbagi menjadi 7 bagian pulau besar (Ashton, 1982) (Tabel 3.). Sebaran dipterocarp sebagian besar berada di Kalimantan (200 jenis; 57.5%) dan Sumatera (111 jenis; 31.9%), sedangkan ke arah timur tidak lebih dari 4% pada setiap pulau dan yang paling miskin jenis dipterocarp adalah Nusa Tenggara. Dari 10 marga yang terdapat di Indonesia ternyata marga Shorea yang paling beragam jenisnya dan sebagian besar tumbuh di Kalimantan, beberapa marga seperti Dryobalanops, Dipterocarpus, dan Parashorea penyebarannya tidak mencapai Indonesia bagian timur. SEBARAN EKOLOGI DIPTEROCARPACEAE Persebaran jenis dipterocarp sangat tergantung pada faktor alam yang mempengaruhi pertumbuhannya, terdapat dua faktor pembatas yaitu iklim dan ketinggian tempat. Pada umumnya dipterocarp terdapat pada daerah tropis basah dengan curah hujan >1000 mm per tahun dan/atau musim kemarau (kering) kurang dari 6 bulan, sehingga dipterocarp tumbuh subur di hutan lahan pamah hujan tropis (lowland rain forest) (Whitmore, 1988) dengan ketinggian tempat tidak lebih dari 1500 m dpl. Faktor iklim sangat mempengaruhi penyebaran dipterocarp, berdasarkan data curah hujan (Schmidt dan Ferguson, 1951, dalam Whitmore, 1975) perbandingan bulan hujan dan bulan kering mempunyai nilai Q yang rendah, artinya kawasan Indonesia sebagian besar termasuk beriklim basah dan sebagian kecil saja yang beriklim kering seperti Nusa Tenggara. Di Indonesia, jenis dipterocarp tidak mampu tumbuh pada ketinggian lebih dari 1500 m dpl. Semakin tinggi altitudenya semakin sedikit diketemukan jenis dipterocarp, bahkan pada ketinggian >1500 m dpl di Indonesia tidak diketemukan jenis Dipterocarp, sedangkan di wilayah lain seperti di Brunei, jenis Shorea ovata, Sh. Longisperma, Hopea cernua, dan Hopea beccariana Burk mampu tumbuh pada ketinggian 1750 m.

Sebagian besar jenis dipterocarp tumbuh di daerah lereng dan punggung bukit, tumbuh sebagai pohon menjulang (emergent) dengan tinggi mencapai 50 m (strata A). Pohon-pohon tersebut biasanya mempunyai nilai komersial yang tinggi (Ashton, 1982). Di Indonesia berdasarkan hasil pengamatan koleksi herbarium di Herbarium Bogoriense, terlihat bahwa penyebaran dipterocarp yang paling banyak pada ketinggian 0-500 m dan 500-1000 m (Tabel 4.). Dari hasil pemilahan data berdasarkan tipe hutan (Tabel 5.) terlihat bahwa tipe hutan yang paling banyak diduduki jenis dipterocarp adalah hutan lahan pamah, perbukitan, tepi sungai, dan hutan pantai, sedangkan pada tipe hutan yang kondisinya ekstrim dimana tanahnya miskin hara dan drainasenya jelek akan mempengaruhi jumlah jenis yang mampu tumbuh pada kondisi tersebut. Pada beberapa tipe hutan ekstrim seperti hutan gambut, bukit kapur, dan hutan kerangas terlihat sedikit jenis yang mampu beradaptasi pada kondisi tersebut (Tabel 6. dan 7.). Hal ini mungkin karena pemencaran bijinya kurang baik, biji mudah rusak dan mudah terisolasi secara alami seperti pada sungai kecil di lembah-lembah, serta cepatnya perubahan faktor tanah (Ashton, 1972). Menurut Maury-Lechon dkk. (1998), endemisitas di Kalimantan lebih rendah (58-55%, 158-155/267 jenis) dibandingkan Sri Lanka (98%, 43/44 jenis), India (85%, 11/13 jenis) dan New Guinea (73%, 11 /15 jenis). Terdapat tiga marga besar dipterocarp endemik di Malesia, yaitu marga Upuna di Kalimantan, Neobalanocarpus di Malaya, dan Dryobalanops di dataran Sunda (Sumatera, Kalimantan, dan Malaya). Dipterocarpaceae mempunyai nilai endemisitas yang tinggi yaitu 128 jenis (53,78%) dari 238 jenis dipterocarp yang terdapat di Indonesia. Kalimantan mempunyai jenis endemik yang tinggi yaitu 103 jenis (80,47%), hal ini menunjukkan adanya hubungan dengan pemencaran biji dan sifat biji yang recalcitrant yaitu tidak tahan lama (Tabel 8.). Tabel 8. Jenis dipterocarp yang populasinya sedikit di alam. Dipterocarpaceae â&#x20AC;&#x153;langkaâ&#x20AC;? 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19.

Dipterocarpus conformis Sloot.ssp. conformis Dipterocarpus fusiformis Ashton Dipterocarpus gracilis Bl. Hopea bancana (Boerl.) Sloot. Hopea bullatifolia Ashton Hopea depressinerva Ashton Hopea latifolia Sym Hopea pedicellata (Brandis) Sym Parashorea globosa Sym. Shorea andulensis Ashton Shorea blumutensis Foxw. Shorea cordata Ashton Shorea macrobalanos Ashton Shorea obovoidea Sloot. Vatica bantamensis (Hassk.) B.H. ex Miq. Vatica congesta Ashton Vatica havilandii Brandis Vatica parvifolia Ashton Vatica ridleyana Brandis


PURWANINGSIH â&#x20AC;&#x201C; Sebaran Dipterodarpaceae di Indonesia

Upuna merupakan jenis tunggal di Kalimantan dan juga merupakan jenis endemik di Indonesia. Pemencaran biji berkaitan dengan pola pembungaan, untuk jenis dipterocarp pola pembungaan di dalam hutan tidak terjadi setiap tahun, tetapi mempunyai interval waktu yang tidak teratur dengan intensitas yang bervariasi, dimana kadang-kadang pembungaan melimpah (Krishnapillay dan Tompsett, 1998). Contoh, pada tahun 1955 di Sabah 2/3 dari 200 jenis dipterocarp berbunga. Pembungaan pada beberapa jenis dipterocarp ada yang terjadi setiap 2 tahun dan ada pula setiap 5 tahun. Pembungaan dipterocarp membutuhkan sinar matahari yang cukup, hal ini terlihat pada pohon menjulang, dimana kebutuhan sinar matahari sangat banyak sehingga pada waktu musim pembungaan hampir seluruh tajuknya berbunga, sedangkan pohon-pohon dipterocarp yang

93

berada pada lapisan di bawahnya pembungaan akan terjadi secara sporadis, yakni hanya pada cabangcabang yang terkena matahari langsung. Umur pohon untuk bisa berbunga juga bervariasi, pada pohon menjulang dapat bertahun-tahun untuk mencapai usia berbunga, tergantung pada kondisi lingkungan hutan. Pohon dipterocarp yang ditanam memiliki usia pembungaan setelah 15-30 tahun. Jenis dipterocarp mempunyai kecepatan tumbuh yang sangat bervariasi, beberapa jenis yang tidak toleran terhadap intensitas cahaya rendah mempunyai kecepatan tumbuh yang tinggi. Usia dewasa dicapai setelah berumur sekitar 60 tahun, dan usia hidupnya diduga dapat mencapai Âą 250 tahun. Sedangkan jenis lain yang toleran terhadap naungan akan mempunyai kecepatan pertumbuhan yang lambat, tetapi usianya bisa mencapai 1000 tahun (Ashton, 1982).

Tabel 9. Jenis endemik yang terdapat di Kepulauan Indonesia. Jenis endemik

K

S

J

NT

SL

M

I

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. 40.

+ + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + +

+ + + + -

+ -

-

+ -

-

+ + + + + + + -

Anisoptera grossivenia Sloot. Anisoptera marginata Korth. Cotylelobium burkii (Heim) Heim Dipterocarpus applanatus Sloot. Dipterocarpus caudiferus Merr. Dipterocarpus cinereus Sloot. Dipterocarpus confertus Sloot. Dipterocarpus geniculatus Vesque ssp. geniculatus Dipterocarpus littoralis Bl. Dipterocarpus mundus Sloot. Dipterocarpus stellatus Vesque ssp. parvus Ashton Dipterocarpus tempehes Sloot. Dryobalanops beccarii Dyer Dryobalanops fusca Sloot. Dryobalanops keithii Sym. Dryobalanops lanceolata Burk Dryobalanops rappa Becc. Hopea altocollina Ashton Hopea andersonii Ashton Hopea aptera Ashton Hopea bancana (Boerl.) Sloot. Hopea bullatifolia Ashton Hopea celebica Burck Hopea celtidifolia Kosterm. Hopea centipeda Ashton Hopea dasyrrachis Sloot. Hopea enicosanthoides Ashton Hopea fluvialis Ashton Hopea inex pectata Ashton Hopea iriana Sloot. Hopea megacarpa Ashton Hopea micrantha Hook.f. Hopea nigra Burck Hopea nodosa Sloot. Hopea novoguineensis Sloot. Hopea ovoidea Ashton Hopea papuana Diels Hopea paucinervis Parijs Hopea pterygota Ashton Hopea rudiformis Ashton


B I O D I V E R S I T AS Vol. 5, No. 2, Juli 2004, hal. 89-95

94

Tabel 9. Jenis endemik yang terdapat di Kepulauan Indonesia (lanjutan). Jenis endemik

K

S

J

NT

SL

M

I

41. 42. 43. 44. 45. 46. 47. 48. 49. 50. 51. 52. 53. 54. 55. 56. 57. 58. 59. 60. 61. 62. 63. 64. 65. 66. 67. 68. 69. 70. 71. 72. 73. 74. 75. 76. 77. 78. 79. 80. 81. 82. 83. 84. 85. 86. 87. 88. 89. 90. 91. 92. 93. 94. 95. 96. 97. 98. 99. 100.

+ + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + +

+ + + + -

-

-

+ -

-

+ + -

Hopea scabra Ashton Hopea similis Sloot. Hopea sphaerocarpa (Heim) Ashton Hopea tenuinervula Ashton Parashorea aptera Sloot. Parashorea macrophylla Wyatt-Smith ex Ashton Parashorea parvifolia Wyatt-Smith ex Ashton Parashorea smythiesii Wyatt-Smith ex Ashton Parashorea tomentella (Sym.) Meijer Shorea agamii Ashton Shorea albida Sym (ex Thomas) Shorea amplex icaulis Ashton Shorea andulensis Ashton Shorea angustifolia Ashton Shorea argentifolia Sym. Shorea asahii Ashton Shorea beccariana Burck Shorea brunescens Ashton Shorea carapae Ashton Shorea colaris Sloot. Shorea confusa Ashton Shorea conica Sloot. Shorea cordata Ashton Shorea coriacea Burck Shorea crassa Ashton Shorea domatiosa Ashton Shorea elliptica Burck Shorea faguetioides Ashton Shorea fallax Meijer Shorea ferruginea Dyer ex Brandis Shorea flaviflora Wood ex Ashton Shorea foraminifera Ashton Shorea furfuracea Miq. Shorea hypoleuca Meijer Shorea induplicata Sloot. Shorea leptoderma Meijer Shorea longiflora (Brandis) Sym. Shorea macrobalanos Ashton Shorea macrophylla (De Vriese) Ashton Shorea mecistopteryx Ridl. Shorea montigena Sloot. Shorea myrionerva Sym.ex Ashton Shorea obovoidea Sloot. Shorea obscura Meijer Shorea ochracea Sym. Shorea ochrophloia (Sym.apud Desh) Strugnell Shorea pachyphylla Ridl. Shorea parvistipulata Heim Shorea patoensis Ashton Shorea pilosa Ashton Shorea pinanga Scheff. Shorea polyandra Ashton Shorea quadrinervis Sloot. Shorea retusa Meijer Shorea richetia Sym. Shorea rubella Ashton Shorea rubra Ashton Shorea rugosa Heim Shorea sagittata Ashton Shorea scaberrima Burck


PURWANINGSIH â&#x20AC;&#x201C; Sebaran Dipterodarpaceae di Indonesia

95

Tabel 9. Jenis endemik yang terdapat di Kepulauan Indonesia (lanjutan). Jenis endemik

K

S

J

NT

SL

M

I

101. 102. 103. 104. 105. 106. 107. 108. 109. 110. 111. 112. 113. 114. 115. 116. 117. 118. 119. 120. 121. 122. 123. 124. 125. 126. 127. 128. 129.

+ + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + +

+ + + -

+ -

-

+ -

+ -

-

Shorea selanica Bl. Shorea slootenii Wood ex Ashton Shorea smithiana Sym. Shorea splendida (De Vriese) Ashton Shorea stenoptera Burck Shorea superba Sym. Shorea xanthophylla Sym. Upuna borneensisSym. Vatica albiramis Sloot. Vatica badiifolia Ashton Vatica bantamensis (Hassk.) B.H. ex Miq. Vatica cauliflora Ashton Vatica chartacea Ashton Vatica congesta Ashton Vatica dulitensis Sym. Vatica endertii Sloot. Vatica flavovirens Sloot. Vatica globosa Ashton Vatica granulata Sloot. Vatica micrantha Sloot. Vatica oblongifolia Hook.f. Vatica obovata Sloot. Vatica pentandra Ashton Vatica rotata Ashton Vatica rynchocarpa Ashton Vatica sarawakensis Heim Vatica soepadmoi Ashton Vatica teysmaniana Burck Vatica vinosa Ashton

Keterangan: K: Kalimantan, S: Sumatera, J: Jawa, NT: Nusa Tenggara, Sl: Sulawesi, M: Maluku, I: Irian (Papua).

PENUTUP Populasi jenis Dipterocarpaceae saat ini sedang mengalami degradasi yang sangat cepat. Hal ini disebabkan proses pembalakan yang terjadi secara terus menerus dengan skala besar, sehingga dapat berakibat terhadap keberadaan jenis tersebut. Tabel 8. memperlihatkan beberapa jenis anggota famili Dipterocarpaceae yang keberadaan/populasinya di alam sudah mulai menurun. Oleh karena itu, taksa bernilai ekonomi tinggi ini perlu perhatian serius agar terjaga kelestariannya.

DAFTAR PUSTAKA Anderson, J.A.R., 1975. The potential of illipe nuts (Shorea spp.) as an agricultural crop. In: Wiliams (ed.). Proceedings of Symposium on Southeast Asian Plant Genetic Resources, Bogor-Indonesia. 20-22 March, 1975. Bogor: BIOTROP. Apannah, S., 1998. A Riview of Dipterocarps: Taxonomy, Ecology and Sylviculture. CIFOR. Bogor-Indonesia. Ashton, P.S., 1972. Precursor to a taxonomic revision of Ceylon Dipterocarpaceae. Blumea 20: 357-366. Ashton, P.S., 1982. Dipterocarpaceae. In: Van Steenis, C.G.G.J (ed.) Flora Malesiana (9): 237-552.

Ashton, P.S., 1988. Dipteocarp biology as window to the understanding of tropical forest structure. Annual Review of Ecology and Systematics 19: 347-370. Bawa, K.S (1998). Conservation of genetic Resources in the Dipterocarpaceae. Biogeography and evolutionary Systematics of Dipterocarpaceae. In: Apannah, S. and J.M. Turnbull (eds.). A Riview of Dipterocarps: Taxonomy, Ecology and Sylviculture. Bogor: CIFOR. Jacobs, M., 1988. The Dipterocarps. In: Earl of Cranbrook (ed.) Malaysia. Key Environments Series. Oxford: Pergamon Press. Krishnapilly, B. and P.B. Tompsett, 1998. Seed Handling. Biogeography and evolutionary systematics of Dipterocarpaceae. In: Apannah, S. and J.M. Turnbull (eds.). A Riview of Dipterocarps: Taxonomy, Ecology and Sylviculture. Bogor: CIFOR. Maury-Lechon, G. and L. Curtet, 1998. Biogeography and evolutionary Systematics of Dipterocarpaceae. In: Apannah, S. and J.M. Turnbull (eds.). A Riview of Dipterocarps: Taxonomy, Ecology and Sylviculture. Bogor: CIFOR. Symington, C.F., 1943. Forester manual of dipterocarps. Malayan Forest Record no. 16. Kuala Lumpur: Forest Department. Tantra, I.G.M., 1979. The establishment of tengkawang plantations in Indonesia. In: Proceedings of the Symposium on Management of Forest Production in Southeast Asia, April, 1922, 1977. Bangkok-Thailand, Biotrop Special Publication No.4. Bogor: BIOTROP. Whitmore, T.C., 1975. Tropical Rainforest of the Far East. Oxford: Clarendon Press. Whitmore, T.C., 1988. Forest types and forest zonation. In: Earl of Cranbrook (ed.) Malaysia. Key Environments Series. Oxford: Pergamon Press.


BIODIVERSITAS Volume 5, Nomor 2 Halaman: 96-104

ISSN: 1412-033X Juli 2004

R E V I E W:

Acacia nilotica (L.) Willd. ex Del. dan Permasalahannya di Taman Nasional Baluran Jawa Timur Acacia nilotica (L.) Willd. ex Del. and Problematical in Baluran National Park, East Java D J U F R I 1,2, â&#x2122;Ľ

1

2

Jurusan PMIPA FKIP Universitas Syiah Kuala Banda Aceh 23111 Mahasiswa Program Doktor Pascasarjana Institut Pertanian Bogor 16144 Diterima: 10 Desember 2003. Disetujui: 17 Mei 2004.

ABSTRACT Acacia nilotica (L.) Del. is a thorny wattle native in India, Pakistan and much of Africa. This acacia is widely distributed in tropical and subtropical Africa from Agypt and Mauritania to South Africa. In Africa and the Indian Subcontinent, Acacia nilotica is extensively used as browse, timber and fire-wood species. The bark and seeds are used as source of tannins. The species is olso used for medicinal purposes. Bark of Acacia nilotica has been used for treathing haemorrhages, colds, diarrhoea, tuberculosis and leprosy; while the roots have been used as an aphrodisiac and the flowers for treathing syphillis lessions. The invasion of Acacia nilotica has resulted in the reduction of savanna in Baluran National Park reaching about 50%. Pressure to the savanna has a great impact on the balance and preservation of whole ecosystem in Baluran. Š 2004 Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta Key words: Acacia nilotica, biology, ecology, grassland, Baluran National Park.

PENDAHULUAN Akasia (Acacia nilotica) diperkirakan berasal dari India, Pakistan, dan juga banyak ditemukan di Afrika. Sekarang ini telah dikenal beberapa spesiesnya seperti A. nilotica sub spesies indica, A. leucoploea Willd., A. farnesiana Willd., A. ferruginea DC., A. catechu Willd., A. horrida (l.f) Willd., A. sinuata (Lour.) Merr., A. pennata Willd., dan A. senegal Willd. (Brenan, 1983). Akasia tersebar luas di Afrika tropis dan subtropis dari Mesir dan Mauritania sampai Afrika Selatan. Beberapa spesies tersebar luas di Asia Timur seperti Birma. Acacia nilotica sub spesies indica juga tumbuh di Ethiopia, Somalia, Yaman, Oman, Pakistan, India, dan Myanmar. Kemudian juga berhasil ditanam di Iran, Vietnam (Ho Chi Min City), Australia (Sydney dan Queensland) dan di Karibia (Brenan, 1983). Sub spesies ini umum dijumpai pada tanah dengan kandungan liat yang tinggi, tetapi dapat juga tumbuh pada tanah lempung berpasir yang dalam dan di area dengan curah hujan yang tinggi. Umumnya tumbuh di dekat jalur air terutama di â&#x2122;Ľ Alamat korespondensi: Jl. Ciremai Ujung 18 RT 04 RW 02 Bantarjati Atas Bogor 16153 Tel. +62-251-359860. Fax. +62-251-384242. e-mail: arrijani@yahoo.com

daerah yang sering mengalami banjir dan sangat toleran terhadap kondisi salin. Tumbuhan ini dapat tumbuh pada area yang menerima curah hujan kurang dari 350-1500 mm per tahun. Spesies ini dilaporkan sangat sensitif terhadap kebekuan/dingin, namun dapat tumbuh pada area dimana rata-rata temperatur bulanan sangat dingin yaitu 160C (Gupta, 1970). Menurut Duke (1983) A. nilotica berasal dari Mesir Selatan lalu tersebar ke Mozambique dan Natal, kemudian di introduksi ke Zanzibar, Pemba, India dan Arab. Saat ini A. nilotica merupakan gulma yang menimbulkan masalah serius di Afrika Selatan. Di Australia, sebagian besar area A. nilotica dijumpai di Queensland dengan laju invasi dilaporkan masih rendah terutama di bagian utara, New South Wales, dan Australia Selatan. Data yang diberikan Bolton dan James (1985) menunjukkan invasi sekitar 6,6 juta ha, atau 25% dari luas padang rumput Mitchell, dengan kepadatan sekitar 0,6 juta ha. Distribusi dan kepadatan spesies ini terus menunjukkan peningkatan (Reynold dan Carter, 1990). A. nilotica yang di introduksi ke Indonesia merupakan sub spesies indica. Introduksi dilakukan pada tahun 1850, melalui Kebun Botani di Kalkuta (India) dengan tujuan untuk menjadikan tumbuhan ini sebagai salah satu tumbuhan yang memiliki nilai komersial yaitu sebagai penghasil getah (gum) yang


DJUFRI â&#x20AC;&#x201C; Acacia nilotica di TN Baluran

berkualitas tinggi. Namun setelah tumbuhan ini ditanam di Kebun Raya Bogor, ternyata produksi getahnya sangat rendah sehingga pohon-pohon tersebut ditebang 40 tahun kemudian. Introduksi tumbuhan ini ke Taman Nasional Baluran di Banyuwangi Jawa Timur tidak diketahui secara pasti, diperkirakan terjadi pada tahun awal 1960-an atau sebelumnya. Tujuan introduksi ini adalah sebagai sekat bakar untuk menghindari menjalarnya api dari savana ke kawasan hutan jati (Anonim, 1999). Namun invasi A. nilotica di Taman Nasional Baluran telah menyebabkan terdesaknya berbagai jenis rumput sebagai komponen utama penyusun padang rumput Baluran. Rumput merupakan sumber pakan utama satwa di daerah tersebut. Dengan adanya A. nilotica, pertumbuhan rumput terdesak, sehingga satwa mencari pakan lain, salah satunya adalah daun dan biji A. nilotica. Namun sebagai sumber pakan utama, rumput tetap tidak dapat tergantikan (Sabarno, 2002). Fenomena ini tentunya dapat mengakibatkan terganggunya keseimbangan ekosistem Taman Nasional Baluran, misalnya berkurang dan menyusutnya pakan utama bagi herbivora. Kondisi ini pada gilirannya dapat mengancam keberadaan satwa herbivora di kawasan ini. Kondisi padang rumput Baluran saat ini sedang mengalami proses perubahan dari ekosistem terbuka yang didominasi suku Poaceae (rumput-rumputan) menjadi areal yang ditumbuhi A. nilotica. Pada tempat-tempat tertentu pertumbuhan Acacia ini sangat rapat sehingga membentuk kanopi tertutup, akibatnya beberapa jenis rumput tidak mampu hidup di bawahnya. Kejadian ini kemungkinan disebabkan kompetisi kebutuhan cahaya atau adanya faktor alelopati. Untuk memperoleh jawaban atas fenomena tersebut perlu dilakukan kajian mengenai A. nilotica ini.

DESKRIPSI A. nilotica tergolong pohon kecil (treeless) dengan tinggi 2,5-20 m, namun ada yang mencapai 25 m. Memiliki satu batang utama (monopodial), percabangan dapat terjadi dekat permukaan tanah dan membentuk bagian puncak pohon yang bulat atau mendatar. Kulit kayu dari batang dan cabang utama berwarna kelabu hingga hitam atau kecoklatan dengan permukaan yang kasar oleh adanya celahcelah atau retakan-retakan longitudinal. Percabangan ke arah atas. Duri berpasangan berukuran 1-13 cm, lurus hingga membentuk sudut 1100-1200, ujung duri runcing, berwarna putih hingga keperakan. Daun berwarna hijau terang, kadang sedikit kusam. Ibu tangkai daun memiliki 1-2 kelenjar. Anak daun berpasangan berjumlah 7-36 pasang, panjang anak daun 1-7 x 0,5-1,5 mm. Bunga majemuk berwarna kuning dengan bau menyengat, memiliki rambutrambut halus. Bunga ditopang oleh ibu tangkai bunga

97

yang panjangnya 1,5-4,5 cm. Diameter mahkota setiap anak bunga 6-15 mm. Bunga biseksual atau jantan saja. Buah tunggal atau sepasang pada ujung tangkai yang kuat, coklat gelap hingga abu-abu, lurus hingga berlekuk-lekuk. Kulit buah seperti beludru, panjang 5-20 cm x 1,2-2,2 cm. Jumlah polong yang dihasilkan adalah 2-3 polong per 1000 anak bunga sehingga setiap pohon mampu menghasilkan 143150 polong atau rata-rata 832 polong per pohon (Anonim, 1999).

HABITAT Sejumlah fakta menunjukkan bahwa A. nilotica merupakan gulma di habitat asalnya yaitu Afrika Selatan (Holm et al., 1979), namun di kawasan lainnya ditanam untuk keperluan kehutanan atau untuk mereklamasi lahan yang mengalami degradasi (Purl dan Khybri, 1975; Shetty, 1977). Di Asia dan Afrika, polong dan biji tumbuhan ini dimakan oleh hewan peliharaan seperti sapi, biri-biri, kambing dan unta (Gupta, 1970). Spesies hewan yang lainnya juga memakan polong dan bijinya, misalnya rusa Thompson, rusa Dorces, dikdik, gajah, jerapah, kuda, dan kambing pegunungan (Lamprey et al., 1974). Pemencaran biji sebagian besar dilakukan oleh hewan-hewan yang memakan biji tersebut. Di Australia biji disebarkan oleh hewan peliharaan. Di Afrika dan India, juga banyak insekta yang menyerang biji dewasa. Menurut Duke (1981) A. nilotica tumbuh dengan subur di daerah yang kering, pada ketinggian 101340 m dpl. Jenis ini hidup pada kisaran kondisi yang luas, juga tumbuh dengan baik pada kisaran variasi tanah yang luas, kelihatannya sangat berkembang pada tanah aluvial, tanah lapisan atas tipis berwarna hitam (black cooton soils), tanah liat, juga dapat tumbuh pada kondisi tanah yang miskin unsur hara (N.A.S, 1980). Kisaran hidupnya dari gurun subtropis ke subtropis kering sampai gurun tropis ke zona kehidupan kering hutan tropis. A. nilotica dilaporkan juga toleran terhadap presipitasi tahunan berkisar 3,8-22,8 dm (rata-rata dari 12 kasus = 12,0 dm), ratarata temperatur tahunan 18,7-27,80C (rata-rata dari 12 kasus = 24,10C), dan pH berkisar 5-8 (rata-rata dari 10 kasus = 6,9).

SIKLUS HIDUP Model identifikasi enam tahapan A. nilotica adalah kumpulan biji (seedbank), anakan (seedling), remaja (juvenile), dewasa (adult), bunga (flowers), dan biji di dalam polong (seeds-in-pods). Bunga dan biji di dalam polong merupakan fase endogen yaitu: fase hidup dari anakan sampai dewasa. Pendekatan siklus hidup tersebut termasuk di dalamnya pemilihan


98

B I O D I V E R S I T AS Vol. 5, No. 2, Juli 2004, hal. 96-104

bunga yang mengalami aborsi dan polong yang mengalami kerusakan akibat kekeringan, misalnya perbedaan laju perkembangbiakan polong yang bergantung pada kemampuan spesifik kohor pada kondisi lingkungan di tempat hidupnya. Model inkoperasi yang digunakan bergantung pada ukuran kompetisi intraspesifik (Thomas dan Weiner, 1989). Konsep mekanisme inkoperasi dipengaruhi oleh zona (Mitchell, 1969) dan teori lapangan ekologi (Walker dan Dowling, 1990). Pohon dewasa yang menempati wilayah yang luas akan menghasilkan kanopi, anakan, dan remaja dengan densitas yang tinggi. Di asumsikan bahwa tumbuhan berkompetisi secara eksklusif untuk memperebutkan ruang di luar kanopinya selama terjadi musim kering, tetapi mereka juga toleran terhadap kepadatan yang tinggi selama periode basah dan pada tempat-tempat yang lembab (misalnya di sepanjang sungai atau pantai). Dalam siklus tersebut juga termasuk mekanisme untuk perkecambahan, kerusakan biji, mekanisme pengawetan tumbuhan, pertumbuhan, maturasi, pengaruh kepadatan terhadap pertumbuhan dan mortalitas, reproduksi (termasuk yang mengalami aborsi), herbivora, kompetisi interspesifik dengan spesies rumput dan perbedaan pemencaran biji dalam kaitannya dengan pola penyimpanan (stoking) (Radford et al., 1999). FENOLOGI Di Queensland, A. nilotica berbunga dari Maret sampai Juni dengan warna biji hijau, muncul pada tahun-tahun kering Juli sampai Desember. Produksi daun dan serasah ditentukan oleh kondisi kelembaban tanah (Carter dan Cowan, 1988) dan gugur mencapai di atas 75% pada musim kering. Kenyataan bahwa di Sudan masa pembungaan tidak beraturan, tetapi yang umum dalam periode September dan munculnya anakan Januari-Mei. Rontoknya daun secara intensif terjadi pada April-Mei dengan pembentukan daun kembali (refoliasi) MaretApril. Produksi daun dan serasah dipengaruhi oleh faktor yang sama yaitu curah hujan, sedangkan temperatur berpengaruh terhadap pembungaan dan pembentukan buah. Di Australia buah yang matang jatuh dari bulan Nopember-Pebruari (Khan, 1970). PRODUKSI BIJI Produksi biji A. nilotica sangat tergantung pada ketersedian air. Pohon-pohon yang ditanam di sepanjang saluran air (drainase), dam atau selokan, produksi biji setiap tahun tinggi. Di tempat dengan sumber air yang tidak permanen, maka produksi biji rendah (hanya sedikit buah per pohon) kecuali pada musim dengan jumlah curah hujan yang signifikan. Sepanjang 3 km dari saluran air (bore drain) menurut

hasil riset dari Stasiun Riset Toorak (Toorak Risearch Station) mengestimasi produksi biji pada tahun 1986/1988 dan 1987/1988 adalah 18,6 dan 24 juta biji. Ada korelasi yang kuat antara basal area dengan jumlah biji yang dihasilkan (Bolton et al., 1987). Umur biji yang diproduksi oleh pohon pada saluran air adalah antara 10 dan 12 bulan, tetapi dapat juga lebih panjang. Biji yang dihasilkan tergolong keras bila tidak ada suplai air yang permanen. Bila polong yang mengandung biji jatuh, akan segera dimakan hewan dan akan disebarkan. Biji yang mati cepat dikonsumsi, dan direduksi oleh predasi seperti insekta. Misalnya insekta jenis Caryedon serratus (Coleoptera; Bruchidae) sebagai kumbang yang sering dijumpai di dalam biji dan Bruchidius sahbergi Schilsky (Coleoptera: Bruchidae). Insekta masuk ke dalam biji dengan cara melubangi. Ada pemikiran menggunakan insekta dalam upaya pengendalian secara biologi. Namun, pengendalian secara biologi yang demikian sangat tidak efektif, karena hewan akan segera makan buah saat sudah matang (Lamprey et al., 1974). Pemencaran biji A. nilotica terjadi dengan beberapa cara. Pemencaran dengan jarak yang sangat jauh dilakukan oleh hewan dengan memakan biji, kemudian membawanya ke tempat yang berjarak sangat jauh, yang dapat mencapai 1000 km atau lebih. Beberapa cara penyebaran biji lainnya dapat terjadi misalnya oleh angin dan air. Sapi sangat efektif sebagai agen dalam pemencaran biji mencapai 81% biji yang ditelan dibawa oleh hewan masih dalam keadaan utuh. Hasil tes menunjukkan bahwa paling sedikit 41% dari biji tersebut dapat berkecambah secara cepat (Harvey, 1981). Pemencaran biji oleh biri-biri melalui tiga mekanisme berikut: (i). Biji dikeluarkan bersama air liurnya dan buah polong mengalami kerusakan (35%), biasanya dijumpai di bawah pohon; (ii). Biji dikeluarkan bersama air liur bersama material muntahan (14%). (iii). Biji yang tersisa di dalam pencernaan hewan (2%). Perjalanan biji di dalam saluran pencernaan kurang lebih 6 hari. Pemencaran biji oleh kambing dilakukan dengan cara yang sama dengan biri-biri yaitu dengan cara mengeluarkan biji bersama air liurnya sekitar 24%, dibuang bersama kotoran sekitar 2,3%. Biji yang dimuntahkan (passed) oleh biri-biri dan kambing lebih dari 80% dapat berkecambah (viable). Pemencaran biji jarak pendek dalam bentuk tumpukan lumpur yang menempel pada kuku hewan selama periode hujan (basah) atau melalui angin yang dapat menerbangkan polong dari pohon yang tinggi dengan jarak mencapai 25 m. Banjir dapat membawa biji untuk jarak yang sangat signifikan. Di sepanjang sejumlah selokan di Barat Daya Queensland banyak tumbuh A. nilotica. Hal ini terjadi karena polong terakumulasi di dalam selokan tersebut. Sistem drainase ke teluk Carpentaria dan danau Eyre menyebabkan invasi A. nilotica di tempat tersebut sangat signifikan mengingat terjadi penyebaran secara inter dan intra (Harvey, 1981).


DJUFRI – Acacia nilotica di TN Baluran

KANDUNGAN KIMIA A. nilotica dilaporkan mengandung L-arabinose, catechol, galactan, galactoaraban, galactose, Nacetyldein kolic, N-acetyldein kolic acid, sulphoxides pentosan, saponin, dan tanin. Biji mengandung protein kasar 18,6%, ekstrak eter 4,4%, serat 10,1%, ekstrak nitrogen bebas 61,2%, abu 5,7%, silika 0,44%, fosfor 0,29%, dan kalsium 0,9% (Duke, 1983). Menurut Pande et al. (1982) banteng jantan memperoleh biji dan kulit biji (2:1) pada kondisi harian padang rumput yang kering, bobot mencapai 1,82, 0,91, dan 5,35 kg. Total bobot yang diterima/100 kg berat badan adalah 1,40 kg. Hewan menyimpan 20,8 g N dan 7,4 g Ca per hari, tetapi keseimbangan P adalah rendah. Walker (1980) mengemukakan kandungan C/P pada pohon A. nilotica (browse) 12,9%, dan serat kasar 15,2% (Duke, 1983; McMeniman et al., 1986a). Daun A. nilotica sangat mudah dicerna dan mengandung protein yang tinggi (Tabel 1.), mikro nutrien dengan pengecualian sodium cukup memadai untuk kebutuhan hewan. Kandungan asam amino sama dengan beberapa daun rumput yang ada di padang rumput Mitchell di Australia. Dalam buah mengandung asam glutamat dan aspartat yang tinggi tetapi kandungan asam aminonya rendah (Tabel 2.). Asam amino methionin yang merupakan asam amino esensial untuk pertumbuhan domba, tidak dijumpai pada buah yang berasal dari Australia, namun ada di dalam biji bahan yang diambil dari Afrika (McMeniman et al., 1986b). Kandungan tanin kental tinggi di dalam seluruh komponen organ (browsed). Kandungan dalam polong 5,4%, daun 7,6%, kulit batang 13,5%, dan ranting 15,8%. Total polifenolik dalam buah berkisar 30-60% (Ehoche et al., 1983; Reed, 1986; Tanner et al., 1990). Level tanin yang tinggi pada bagian tumbuhan terikat dengan protein pada level tinggi, yang dapat meningkatkan produksi hewan secara signifikan. Banteng memakan 45% minyak hasil ekstrak biji A. nilotica menunjukkan diet reduksi tambahan berat (68 g/hari-16 g/hari) dan terjadi pengurangan sebanyak 5% (Pande et al., 1982). Selain itu kandungan tanin A. nilotica yang dapat dimanfaatkan untuk membuat kue biji katun (cake seed) yang berperan dalam melindungi rumen dari degradasi protein. Termasuk 5% tanin (kemungkinan total polifenolik), tambahan berat basah dari anak biribiri meningkat mencapai 36%; 10% di antaranya termasuk dari rata-rata penambahan per hari menurun mencapai 18% (Ehoche et al., 1983). Biribiri yang memakan polong A. nilotica yang mengandung bahan kasar 204-347 g/hari mempunyai laju pertumbuhan lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan makanan yang dikontrol (Tanner et al., 1990).

99

Tabel 1. Kandungan nutrien daun dan buah A. nilotica (McMeniman et al., 1986b).

Parameter Protein (%) Fat (%) NFE (%) CF (%) ADF (%) Ash (%) Tanin (%) Lignin (%) P (%) Ca (%) Mg (%) Na* (%) K (%) Si (%) S (%) Cl (%) Cu (mg/kg) Zn (mg/kg) Mn (mg/kg) Fe (mg/kg) ME (mg/kg) OMD (%)

Buah (polong dan biji) Mean ± SD Sampel Mean ± SD Sampel 29 28 13,92 ± 2,53 12,30 ± 2,03 13 23 6,63 ± 3,41 1,93 ± 1,14 19 22 60,99 ± 3,41 63,68 ± 7,35 13 23 10,35 ± 2,85 13,92 ± 2,53 8 2 20,38 ± 6,35 25,44 ± 4,16 22 23 9,29 ± 2,95 5,26 ± 1,29 13 2 7,62 ± 100 5,45 ± 1,48 6 6,95 ± 2,17 – – 15 18 0,23 ± 0,22 0,26 ± 0,21 15 18 2,53 ± 1,13 0,64 ± 0,19 11 70 0,18 ± 0,08 0,13 ± 0,02 < 0,32 5 < 0,01 4 9 5 1,25 ± 0,79 1,28 ± 0,22 4 9 0,45 ± 0,47 0,24 ± 0,21 4 2 0,26 ± 0,03 0,59 ± 0,11 3 2 0,70 ± 0,26 0,36 ± 0,04 – 6 4 6,43 ± 0,90 4 2 25,63 ± 9,20 28,50 ± 9,76 4 2 90,25 ± 19,00 26,50 ± 0,71 4 2 428 ± 205 100 ± 86,27 9 2 8,69 ± 1,09 10,19 ± 0,16 3 67,20 1 69,90 ± 5,20 Daun

Tabel 2. Komponen asam (McMeniman et al., 1986b). Asam Amino Lysin Histidin Arginin As. Aspartik Threonin Serin As. Glutamik Prolin Glisin Alanin Valin Methionin Isoleusin Tyrosin Phenylalanin Cystin Leusin

amino

(%)

A.

nilotica

Komposisi asam amino (%) Buah Buah Inti Kulit Muda Tua Daun Biji Biji 4,98 2,63 5,07 28,69 3,20 4,58 8,97 11,81 4,05 4,59 5,00 0,00 3,06 2,34 3,23 2,35 5,45

4,08 2,57 2,64 36,53 2,74 4,27 6,57 15,52 3,17 3,71 4,65 0,00 2,51 2,12 2,47 2,34 4,12

6,17 2,34 5,92 11,19 4,92 5,03 11,87 5,73 5,71 6,62 6,10 1,86 4,92 4,00 5,52 2,66 9,41

6,38 2,34 10,39 9,54 3,16 4,91 15,06 5,81 0.00 4,33 4,05 6,89 3,62 3,11 4,23 5,91 8,79

11,92 12,03 3,80 16,95 3,65 8,99 10,43 3,90 0.00 3,81 3,47 0,78 2,81 2,47 2,93 6,95 5,12

Biji 7,69 2,58 10,04 10,72 3,10 5,59 14,01 4,72 0,00 3,87 3,19 5,22 2,97 2,99 3,33 9,87 7,41

KEGUNAAN A. nilotica memiliki nilai tambah yang dimanfaatkan di berbagai benua. Di Afrika dan benua India, A. nilotica digunakan secara sebagai pakan ternak (browse) dan sebagai

telah anak luas kayu


100

B I O D I V E R S I T AS Vol. 5, No. 2, Juli 2004, hal. 96-104

bakar (Gupta, 1970; Mahgoub, 1979; New, 1984). Batang dan biji digunakan sebagai sumber tanin (New, 1984; Shetty, 1977). Spesies ini juga digunakan untuk bahan obat. Batangnya dapat digunakan untuk mengobati penyakit ambien (haemorrhages), pilek, tuberkulosis, dan penyakit kusta. Akarnya dapat digunakan sebagai perangsang birahi (aphrodisiac) dan bunganya untuk mengobati penyakit sipilis (New, 1984). Getah Acacia sinegal kadang-kadang digunakan sebagai bahan tambahan dalam pembuatan getah arabik (arabic gum) walaupun mutunya tergolong rendah (Gupta, 1970). Di Sudan A. nilotica digunakan untuk bahan baku pembuatan kertas dan pembuatan pulp yang memiliki kualitas setara dengan kayu di daerah tropis (Nasroun, 1979). Menurut Duke (1983) bagian kulit kayu A. nilotica mengandung tanin, digunakan untuk penyamakan dan celupan kulit berwarna hitam. Kulit kayu yang muda digunakan sebagai serat, rantingnya digunakan untuk bahan tusuk gigi (chwstickes). Pohonnya menghasilkan getah arabik (arabic gum). Getah arabik digunakan untuk membuat lilin, tinta, korek api, dan cat (N.A.S, 1980). Di Sudan polongnya yang lunak, dan tunasnya digunakan untuk pakan ternak seperti unta, biri-biri, dan kambing, diyakini dapat meningkatkan produksi susu. Bijinya merupakan makanan penting bagi sapi. Kulit biji yang dibakar kadang-kadang digunakan sebagai penyedap dan kemudian dihaluskan sebagai bahan celupan untuk pakaian berwarna hitam oleh wanita Nankani. Di Sudan pohon digunakan untuk penghutanan kembali (reforestation) terutama di daerah yang sering mengalami banjir. Getahnya berwarna putih-kuning, bagian tengah kayu digunakan untuk bahan bangunan, pipa air, papan, alat membajak, lemari, stir mobil, gagang martil, dan untuk keperluan lainnya. Hasil kayunya sangat berkualitas, tahan terhadap api dan sangat baik dijadikan kayu arang. Cairan ekstrak buahnya banyak mengandung tanin (18-23%) menunjukkan aktivitas melawan sejumlah mikroorganisme antara lain: Chrococcus, Clostridium, Coelastrum, Cosmarium, Cycclotella, Euglena, Microcystis, Oscillatoria, Pediastrum, Rivularia, Spirogyra, dan Spirulina (Ayoub, 1983). Masyarakat Zulu menggunakan kulit kayu A. nilotica untuk obat batuk, masyarakat Chipi menggunakan akarnya untuk obat tuberkulosis (TBC). Masyarakat Masai kulit kayunya digunakan untuk minuman yang memabukkan dan akarnya digunakan sebagai jamu-jamuan, diyakini berfungsi untuk memberi rangsangan keberanian, sebagai aphrodisia, dan digunakan juga sebagai obat impotensi. Di Afrika Kulit kayu digunakan sebagai obat diare, disentri, dan penyakit kusta. Daunnya digunakan sebagai tapal untuk obat borok. Pada masyarakat Hatwell getah dan kulit kayunya digunakan untuk mengobati kanker dan tumor (telinga, mata, dan biji kemaluan) dan untuk menyembuhkan penyakit hati dan limfa, condylomas,

dan dapat menurunkan berat badan. Dikatakan juga dapat menyembuhkan kanker, pilek, kongesti, batuk, diare, disentri, demam, sakit empedu, pendarahan, ambien, leucorrhea, opthalmia, sklerosis, cacar dan tuberkulosis. Kulit kayu, getah, daun, dan polong yang masih muda sangat baik untuk menurunkan kadar gula darah dan dapat digunakan sebagai makanan kunyah. Di Senegal daun dan polongnya digunakan sebagai antiscorbutic, di Ethiopia digunakan sebagai lactogogue. Kulit kayunya dibuat sebagai minuman jamu untuk mengobati penyakit usus dan diare. Sedian yang lainnya digunakan untuk mengobati batuk, obat kumur, obat sakit gigi, opthalmia, dan borok sipilis. Di Tonga, akarnya digunakan untuk mengobati tuberkulosis. Di Lebanon resin dan bunga A. nilotica dicampur digunakan sebagai bahan infus untuk memulihkan orang baru sakit tipus. Di Afrika, kayunya digunakan untuk mengobati cacar. Masyarakat Nubians Mesir meyakini penderita diabetes dapat mengkonsumsi karbohidrat tidak terbatas sepanjang mereka secara rutin mengkonsumsi bubuk polong A. nilotica. Ekstrak dari spesies ini juga dapat menyembuhkan beberapa macam penyakit yang disebabkan oleh jamur (Umalkar et al., 1976). Di India digunakan secara ekstensif sebagai kayu bakar dan arang kayu, spesies ini juga digunakan dalam industri lokomotif dan kapal api. Di Sudan, A. nilotica sengaja ditanam sebagai bahan baku industri. Nilai kalor getah dari kayunya mencapai 4.800 kcal/kg, bagian dalam kayu (heartwood) mencapai 4,950 kcal/kg. Spesies ini juga mempunyai nodul sehingga dapat memfiksasi nitrogen bebas (Duke, 1983). PENGARUH A. NILOTICA TERHADAP PRODUKSI RUMPUT Di padang rumput Mitcheell (barat daya Queensland) kehadiran A. nilotica menekan produksi padang rumput sangat mengejutkan mencapai 50% pada penutupan kanopi pohon 25-30% atau 2 m2 basal area per hektar (Gambar 1). Penutupan kanopi maksimum dan basal area untuk A. nilotica di Barat Daya Queensland sekitar 35% dan 3,5 m2/hektar. Nilai tersebut terkait dengan rata-rata tahunan adalah sama dengan yang ditemukan pada komunitas Euclayptus dan Mulga. Teknik perhitungannya menggunakan persamaan berikut: y = A + B* e-kx dimana:

y = hasil spesies herba x = basal area pohon k = garis slope

Berkaitan dengan hal tersebut di atas generalisasinya dikembangkan oleh Scanland dan Burrows (1990) menunjukkan bahwa slope dari kurva (nilai k)


DJUFRI â&#x20AC;&#x201C; Acacia nilotica di TN Baluran

dapat berubah karena faktor kelembaban dan nutrien (potensi lingkungan) setempat. Di bawah kondisi ideal maka bentuk kurva cenderung datar (flat), dengan terjadinya penekanan rumput secara linier dengan basal area pohon, oleh karenanya kondisi akan memburuk selama musim kering, sehingga pohon dapat meningkatkan produksi rumput secara mengejutkan. Produksi tahunan spesies tumbuhan berlangsung sebentar saja ternyata tidak menunjukkan pengaruh terhadap kepadatan pohon.

Gambar 1. Pengaruh invasi A. nilotica terhadap produksi padang rumput (kg/ha) di Mitcheell Queensland (Carter et al., 1990).

Implikasi ekologi menggunakan A. nilotica sebagai sumber pakan (browse) adalah kurang tepat karena mempercepat kerusakan lahan. Pohon A. nilotica berkompetisi dengan rumput terhadap keterbatasan kelembaban tanah, mengurangi suplai makanan, dan meningkatkan tekanan terhadap padang rumput yang tersisa terutama rumput perenial yang digemari oleh herbivora. Sejumlah fakta dari monitoring lapangan menyarankan bahwa strategi pengembalaan dengan menggunakan biri-biri dapat mengendalikan sebagian kecil perkecambahan A. nilotica. Sapi kurang berpengaruh terhadap perkecambahan A. nilotica. Survei yang dilakukan oleh Bolton dan James (1985) menunjukkan bahwa hanya biri-biri yang memperlihatkan pengurangan secara cepat dan signifikan terhadap A. nilotica dibandingkan sapi atau

101

campuran kedua hewan tersebut. Terakhir dicoba menggunakan kambing untuk mengendalikan A. nilotica menunjukkan bahwa, pada saat musim kering kambing mengurangi jumlah perkecambahan dan penutupan kanopi pohon (Carter et al., 1990). BEBERAPA KELEBIHAN A. NILOTICA SEBAGAI SPESIES INVASIF Introduksi tumbuhan yang ditanam dengan sengaja maupun tidak dari pohon legum dapat menyebabkan bencana lingkungan misalnya A. nilotica. Sejumlah karakter A. nilotica yang menyebabkan spesies ini dapat tersebar dengan cepat karena: (i) Anakan dari pohon muda terlindung dari pengembalaan (grazing) karena berduri, (ii) Perkembangbiakan aktif oleh pengguna lahan di awal-awal tahun, (iii) Jarak pemencarannya yang jauh melalui mekanisme (hewan peliharaan, satwa liar dan banjir), sehingga penyebarannya tidak dapat dikontrol, (iv) Produksi biji sangat besar (di atas 175.000/pohon), (v) Biji dapat hidup untuk jangka waktu yang lama, (vi) Tumbuhan muda dapat tumbuh dengan cepat, (vii) Toleran terhadap pengembalaan, kekeringan, api, dan salinitas, (viii) Merupakan pohon kecil pada habitat yang sering terbakar akan menyerbu secara cepat, (ix) Pohon dapat hidup dalam jangka waktu yang panjang (30-60 tahun), (x) Kemungkinan dapat tumbuh pada kisaran iklim yang ekstrim (Carter et al., 1990). Pelajaran yang berharga yang dapat diambil dari invasi ini dan sejumlah saran yang perlu diperhatikan bahwa semua tumbuhan introduksi harus disaring dan diteliti secara cermat. Penyaringan tersebut termasuk observasi di lingkungan habitat asalnya dan di kawasan tempat diintroduksi meliputi: (i) Mengukur produksi biji dan lamanya hidup; (ii) Menentukan metode pemantauan pemencaran biji; (iii) Pengujian kerentanan perkecambahan dan pohon berukuran kecil sebagai pakan ada atau tanpa duri; (iv) Analisis bioiklim dan tanah untuk memprediksi potensinya di tempat yang baru; (v) Meneliti pengaruh insekta predator tumbuhan patogen dan pengendalian tumbuhan dengan api di lingkungan asalnya; (vi) Meneliti metode praktis untuk mengendalikan baik secara kimia, mekanis dan biologi sebagai gulma yang bersifat sangat invasif (Carter et al., 1990). Beberapa kesulitan untuk melakukan pengendalian terhadap spesies ini adalah: (i) Tidak dapat diramal pola pertumbuhannya setelah dipindahkan ke tempat lain, sehingga tidak ada patogen aslinya, insekta dan hewan pemakan browse; (ii) Tidak dapat diramal keadaan di bawah kondisi iklim yang baru, baik untuk dikelola maupun kaitannya dengan api, selain itu potensi genful spesies tidak penting di kawasan endemik; (iii) Penyimpangan genetik atau hibridasi dapat merubah karakter tumbuhan yang diintroduksi (Carter et al., 1990). Sekali spesies di introduksi maka diperlukan upaya yang dapat menjawab: (i) Monitoring jangka


102

B I O D I V E R S I T AS Vol. 5, No. 2, Juli 2004, hal. 96-104

panjang (tidak hanya ditunjukkan untuk 50-100 tahun), (ii) Aksinya sangat cepat jika dikaitkan dengan masalah gulma. Tidak dapat dipungkiri bahwa satu tumbuhan gulma biasanya tidak mungkin untuk dieliminasi dan tindakan biasanya menyangkut pengendalaian penyebaran (sangat mahal dan sering menjadi proses yang sia-sia). Dengan demikian diperlukan perubahan strategi pengelolaan baru untuk mengatasinya dan menguasai pengaruh dari gulma. Pengendalian secara biologi dapat secara sempurna, namun tidak dapat diandalkan sebagai upaya terakhir. Para ilmuwan berkeyakinan bahwa semua tumbuhan introduksi dianggap gulma sebelum diperoleh bukti sebaliknya (Carter et al., 1990). INVASI A. NILOTICA DI TAMAN NASIONAL BALURAN Saat ini A. nilotica telah tersebar di hampir seluruh savana yang ada di Kawasan Taman Nasional Baluran Banyuwangi Jawa Timur antara lain Savana Bekol, Kramat, Kajang, Balanan, Lempuyang, Dadap, Asam Sabuk, Curah Udang, Widuri, dan Merak. Pada savana Kramat, Kajang, dan Balanan, tumbuhan ini telah membentuk kanopi yang tertutup. Savana yang belum terinvasi seluruhnya hanya savana Talpat. Selain di daerah savana, tumbuhan ini juga ditemukan di daerah hutan pantai misalnya Kelor dan Popongan (Anonim, 1999). Kondisi iklim dan alam di Taman Nasional Baluran merupakan faktor yang sangat mendukung cepatnya penyebaran serta suburnya pertumbuhan A. nilotica. Intensitas cahaya matahari yang tinggi dan kekeringan merupakan pendorong utama dimakannya biji-biji tumbuhan ini oleh herbivora seperti banteng (Bos javanicus), rusa (Cervus timorensis), kijang (Mutiacus muntjak), kerbau liar (Bubalus bubalis) dan babi hutan (Sus sp.). Akibatnya biji-biji yang keluar bersama kotoran satwa tersebut tersebar di seluruh kawasan yang dilintasi oleh satwa tersebut. Intensitas cahaya yang tinggi ditambah curah hujan yang cukup tinggi sepanjang tahun 1998 dan 1999 telah merangsang pertumbuhan biji-biji yang dorman. Akibatnya pada savana Bekol yang kondisinya terbuka setelah pembongkaran A. nilotica dilakukan, dalam waktu yang tidak terlalu lama akan segera ditumbuhi kembali oleh anakan A. nilotica. Kecepatan pertumbuhan anakan di savana Bekol tergolong sangat pesat, dalam waktu yang singkat sudah dapat mencapai tinggi 100 cm. Hal ini terlihat dari kondisi savana Bekol setelah kegiatan pencabutan anakan A. nilotica yang dilakukan pada tahun 1998/1999 seluas 175 ha, telah ditumbuhi kembali, dan kerapatannya sekarang sudah mencapai tingkat mengkhawatirkan. A. nilotica tergolong ke dalam tumbuhan yang toleran terhadap kondisi kering (xerofit) yaitu tumbuhan yang dapat hidup dengan baik pada kelembaban udara yang rendah, sehingga dalam

kondisi air yang terbatas (curah hujan yang rendah) tumbuhan ini mampu melakukan regenerasi vegetatif. Hal ini dapat dilihat karena tumbuhnya kembali tunastunas dorman yang terdapat di sisa-sisa tonggak yang belum tercabut dan dibakar atau pada batangbatang pohon yang tertinggal. Pada musim hujan pertumbuhan tunas-tunas dorman tersebut berlangsung cepat dan subur sehingga dengan segera membentuk kumpulan A. nilotica berupa semak berduri yang rapat dan sulit untuk ditembus, dengan mencapai tinggi 4,5 m dan lebar tajuk 1,5 m. Pertumbuhan A. nilotica tahun 1998/1999 terjadi sangat pesat sehingga tidak sesuai lagi dengan rencana kerja pengendalian yang telah disusun pada tahun sebelumnya (Anonim, 1999). Savana Baluran sebagai salah satu ciri khas dan identitas Taman Nasional Baluran mempunyai arti sangat penting yang apabila kelestariannya terganggu, akan berpengaruh terhadap ekosistemekosistem lainnya. Oleh karena itu setiap tekanan atau gangguan terhadap kelestarian ekosistem ini harus ditangani secara sungguh-sungguh. Salah satu gangguan yang cukup mengkhawatirkan dan merupakan ancaman terbesar bagi kelestararian ekosistem ini adalah semakin luasnya invasi A. nilotica. Kecepatan tumbuh dan penyebaran tanaman eksotik ini telah mengakibatkan penurunan kualitas dan kuantitas savana Baluran, serta merubah pola prilaku satwa liar herbivora yang salah satu komponen habitatnya adalah padang rumput atau savana (Sabarno, 2002). Kualitas suatu padang rumput dapat diketahui dari beberapa parameter, antara lain produktivitas dan daya dukungnya. Pengamatan di lapangan menunjukkan produktivitas dan daya dukung padang rumput Taman Nasional Baluran terhadap kebutuhan pakan satwa menurun. Menurut Alikodra dalam Sabarno (2002) produktivitas suatu kawasan merupakan modal yang secara ekonomis menguntungkan untuk mengembangkan populasi suatu satwa sampai pada tingkat tertentu. Beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas produktivitas padang rumput yaitu suksesi, persaingan, jenis rumput, pengaruh musim dan overgrazing. Sedangkan daya dukung yang optimal menunjukkan suatu keseimbangan antara produksi rumput pada periode tertentu dengan jumlah satwa yang merumput. Oleh karena itu suatu kawasan mempunyai daya dukung rendah apabila jumlah satwa yang merumput lebih tinggi dari pada nilai daya dukung optimal. Menurut Utomo dalam Sabarno (2002) padang rumput Bekol yang luasnya seluas 75 ha, memiliki produktivitas sebesar 13.700 gr/ha/hari. Menurut Syarif dalam Riyawati (1999) kebutuhan rusa per hari adalah 10% berat tubuh, yaitu rata-rata 5,5 kg/hari/ekor, maka savana Bekol seluas 75 ha hanya mampu mendukung kurang lebih 114 ekor rusa dewasa. Dengan demikian padang pengembalaan Bekol sudah tidak dapat mendukung kehidupan satwa secara optimal, mengingat dalam sensus


DJUFRI â&#x20AC;&#x201C; Acacia nilotica di TN Baluran

ditemukan kurang lebih 192 ekor rusa di dalamnya. Studi kasus di atas menunjukkan bahwa savana di Taman Nasional Baluran tidak lagi optimum dalam mendukung kehidupan satwa liar yang ada, sehingga kelestariannya semakin terancam dan populasinya akan semakin menurun. UPAYA PENANGGULANGAN Upaya penanggulangan invasi A. nilotica telah banyak dilakukan, baik dengan cara mekanis maupun kimia. Pertimbangan yang diambil dalam pemberantasan A. nilotica selain aspek ekologi juga aspek ekonomi, karena kegiatan yang dilakukan di suatu kawasan pelestarian (Taman Nasional) berbeda dengan kegiatan lain di luar. Menurut hasil evaluasi, kegiatan pemberantasan A. nilotica secara kimiawi kurang efektif dan efisien. Metode ini membutuhkan biaya yang besar dalam pengadaan bahan kimia dan tidak signifikan dengan luas areal serta kerapatan tegakan yang harus dimusnahkan (Anonim, 1999). Pemberantasan secara mekanis dengan penebangan/pemotongan belum berhasil optimal. Bahkan memicu pertumbuhan biji-biji yang dorman dan regenerasi vegetatif dari tonggak yang tertinggal (trubusan), dimana satu tonggak dapat tumbuh 5-6 batang/cabang baru (Anonim 1999). Begitu juga dengan cara pengkatrolan, karena membutuhkan waktu yang lama sehingga tidak efisien. Sedangkan dengan cara pembongkaran dengan buldoser, dianggap cukup efektif, akan tetapi dampak pembalakan/lahan bekas pembongkaran tonggak berpengaruh terhadap perubahan struktur tanah. Kegiatan yang dilakukan saat ini yaitu penebangan dan pembakaran tonggak, diikuti dengan pencabutan anakan (seedling). Kegiatan ini membutuhkan tenaga kerja yang banyak, kontinuitas dan pengawasan yang cermat. Pemberantasan A. nilotica pada saat ini baru dapat dilaksanakan dengan kecepatan rata-rata pembongkaran seluas 62,3 ha per tahun. Sehingga perkiraan waktu yang diperlukan untuk membersihkan seluruh savana dari invasi tanaman eksotik ini adalah 73 tahun, dengan asumsi areal yang dibersihkan tidak terinvasi kembali oleh A. nilotica (Anonim, 1999). PENUTUP Meskipun manfaat Acacia nilotica sangat banyak, namun di Indonesia belum dimanfaatkan secara optimal. Kehadiran A. nilotica di Taman Nasional Baluran pada saat ini justru menjadi masalah karena telah merubah struktur dan komposisi spesies penyusun padang rumput di tempat tersebut. Telah dilakukan sejumlah upaya untuk mengendalikannya, namun sampai saat ini belum berhasil ditemukan suatu strategi yang jitu untuk mengendalikan invasi A. nilotica tersebut.

103

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 1999. Rancangan Pencabutan Seedling/Anakan Hasil Pembongkaran secara Mekanis, 150 ha di Savana Bekol. Taman Nasional Baluran. Banyuwangi: Taman Nasional Baluran. Ayoub, S.M.H. 1983. Algicidal properties of Acacia nilotica. Fitoterapia 53 (55-56): 175-178. Bolton, M.P., J.O. Carter, and W.J. Dorney. 1987. Seed production in Acacia nilotica subsp. indica (Berth.) Brenan. In: Proceeding of Weeds Seed Biology Workshop, Orange, N.S.W. September 1987. Bolton, M.P. and James P.A. (1985). A survey of prickly acacia (Acacia nilotica) in five Western Queensland shires. Stock Routes and Rural Lands Protection Board, Brisbane. Internal Report, Nopember 1985. Brenan, J.P.M. 1983. Manual on taxonomy of Acacia species: present taxonomy of four species of Acacia (A. albida, A. senegal, A. nilotica, A. tortilis). Rome: FAO. Carter, J.O. and Cowan, D.C. 1988. Phenology of Acacia nilotica th subsp. indica (Berth.) Brenan. In: Proceeding 5 Biennial Conference, Australian Rangelands Society. Longreach, Queensland. pp. 9-12. Carter, J.O., Newman, P. Tindale, P. Cowan, D. and Hodge, P.B. 1990. Complementary grazing of sheep and goats on Acacia th nilotica, In Proceedings 6 Biennial Conference. Australian Rangelands Society. Carnovan, Western Australia, pp. 271272. Duke, J.A. 1981. Handbook of Legums of World Economic Importance. Plenum Press. New York. Duke. 1983. Medicinal Plants of the Bible. Owerri, New York: Trado-Medic Books. Ehoche, O.W., Y.M. Theresa, V. Buvanendran, and I.F. Adu. 1983. The nutritive value of tannin treated cottonseed cake for growing lambs. Journal of Animal Production Research 3: 1525. Gupta, R.K. 1970. Resource survey of gummiferous acacias in Western Rajasthan. Tropical Ecology 11: 148-161. Harvey, G.J. 1981. Recovery and viability of prickly acacia (Acacia nilotica subsp. indica seed ingested by sheep and cattle. In: Proceedings, 6 th Australian Weeds Conference, I: pp. 197201. Holm, L.G., J.V. Poncho, J.P. Herberger, and D.L. Plucknett, 1979. A Geographical Atlas of World Weeds. New York: John Wiley and Sons. Khan, M.A.W. 1970. Phenology of Acacia nilotica and Eucalyptus microtheca at Wad Medani (Sudan). The Indian Forester 96: 226-248. Lamprey, H.F., G. Halevy, and S. Makacha, 1974. Interaction between Acacia, bruchid seeds (Acacia nilotica) for use as livestock feed. Animal Feed Science and Technology 11: 4548. Mahgoub, S. 1979. On the subspecies of Acacia nilotica in the Sudan. Sudan Silva 4: 57-62. McMeniman, N.P., I.F. Beale, and G.M. Murphy, 1986a. The nutritional evaluation of south-west Queensland pasture. I. The botanical and nutrien content of diets selected by sheep grazing on mitchell grass and mulga/grassland association. Australian Journal of Agricultural Research 37: 289-302. McMeniman, N.P. 1986b. The nutritional evaluation of south-west Queensland pasture. II. The intake and digestion of organic matter and nitrogen by sheep grazing on mitchell grass and mulga/grassland association. Australian Journal of Agricultural Research 37: 303-314. Mitchell, K.J. 1969. Simulation of the growth of oven-aged stands of white spruce. Yale University School of Forestry Bulletin 75: 148. N.A.S. 1980. Firewood Crops, Scrub and Tree Species for Energy Production. Washington, DC.: National Academy of Sciences. Nasroun, T.H. 1979. Pulp and paper making properties of some tropical hardwood species grown in the Sudan. Sudan Silva 4: 22-32. New, T.R. 1984. A Biology of Acacia. Melbourne: Oxford University Press.


104

B I O D I V E R S I T AS Vol. 5, No. 2, Juli 2004, hal. 96-104

Pande, M.B., P.M. Talpada, Z.N. Patel, L.P. Purohit, and P.C. Shukla, 1982. Note on processed babul feeding to mature Kankrej bullocks. Indian Journal of Animal Science 52: 798799. Purl, D.N. and M.L. Khybri. 1975. Economics of chambal ravine afforesttion. Indian Forester 101: 448-451. Reed, J.D. 1986. Relationship among soluble phenolic, insoluble proanthocyanidins and fibre in East African Browse Species. Journal of Range Management 39: 5-7. Radford, I.D., D.J. Kriticos, M. Nicholas, and J.R. Brown, 1999. Towords an integrated approach to management of Acacia nilotica in northern Austrlaia. Proceedings of the VI International Rangland Congress, Jul. 17-23 1999. Townsville. Reynolds, J.A. and J.O. Carter. 1990. Woody weeds in central western Queensland In: Proceedings 6 th Biennial Conference, Australian Rangelands Society, Carnarvon, Western Australia. pp. 304-306. Riyawati. 1999. Studi Jenis Pakan Rumput Rusa Timor (Cervus timorensis) di Savana Bekol Balai Taman Nasional Baluran Banyuwangi Jawa Timur. [Skripsi]. Malang: Institut Pertanian Malang. Sabarno, M.Y. 2002. Savana Taman Nasional Baluran. Biodiversitas 3: 207-212

Scanland, J.C. and W.H. Burrows. 1990. Woogy overstory impact on herbaceus understorey in Eucalyptus spp. Communities in central Queensland. Australian Journal of Ecology 15: 191-197. Shetty, K.A.B. 1977. Social forestry in Tamil Nadu. Indian Farming 26: 82. Tanner, J.C., J.D. Reed, and E. Owen. 1990. The nutritive value of fruits (pods with seeds) from four Acacia spp. Copared with extrated noug (Guizotia abyssinica) meal as supplements to maize stover for Ethiopian higtland sheep. Animal Production 51: 127-133. Thomas, S.C. and J. Weiner. 1989. Including competitive asymmetry in measure of local interference in plant populations. Oecologia 80: 349-355. Umalkar, C.V., S. Begum, K.M.A. Nehimiah. 1976. Inhibitory effect of Acacia nilotica extracs on pectolytic enzyme production by some pathogenic fungi. Indian Phytopathology (publ. 1977) 29 (4): 469-470. Walker, B.H. 1980. A review of browse and its role in livestock production in southern Africa. P. 7-24. In: LeHouerou, H.N. (ed.). Browse in Africa. Addis Ababa, Ethiopia: International Livestock Centre for Africa. Walker, J. and T.I. Dowling. 1990. A non-stochastic, physiologically-based model of plant invasion using ecological field theory. Plant Protection Quarterly 6 (1): 10-13.


BIODIVERSITAS Volume 5, Nomor 2 Halaman: 105-118

ISSN: 1412-033X Juli 2004

R E V I E W:

Ekosistem Mangrove di Jawa: 2. Restorasi Mangrove ecosystem in Java: 2. Restoration AHMAD DWI SETYAWAN1,2, KUSUMO WINARNO1,2, PURIN CANDRA PURNAMA1 1

2

Jurusan Biologi FMIPA Universitas Sebelas Maret Surakarta 57126 Program Studi Ilmu Lingkungan, Program Pascasarjana, Universitas Sebelas Maret Surakarta 57126 Diterima 15 Desember 2002. Disetujui 15 Juli 2003.

ABSTRACT The restoration of mangroves has received a lot of attentions world wide for several reasons. Mangrove ecosystem is very important in term of socio-economic and ecology functions. Because of its functions, wide range of people paid attention whenever mangrove restoration taken place. Mangrove restoration potentially increases mangrove resource value, protect the coastal area from destruction, conserve biodiversity, fish production and both of directly and indirectly support the life of surrounding people. This paper outlines the activities of mangrove restoration on Java island. The extensive research has been carried out on the ecology, structure and functioning of the mangrove ecosystem. However, the findings have not been interpreted in a management framework, thus mangrove forests around the world continue to be over-exploited, converted to aquaculture ponds, and polluted. We strongly argue that links between research and sustainable management of mangrove ecosystem should be established. Š 2003 Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta Key words: mangrove, restoration, management, Java.

PENDAHULUAN Ekosistem mangrove di Jawa mengalami penurunan sangat drastis, akibat tingginya tekanan penduduk yang berimplikasi pada besarnya kegiatan pertambakan, penebangan hutan, reklamasi dan sedimentasi, serta pencemaran lingkungan. Ekosistem mangrove memiliki fungsi sosial-ekonomi, sosial-budaya, dan peran ekologi yang sangat penting, sehingga banyak pihak (stakeholders) yang memberi perhatian lebih untuk mengembalikan fungsi ekosistem ini melalui restorasi. Restorasi mangrove dapat menaikkan nilai sumber daya ini, memberi mata pencaharian penduduk, mencegah kerusakan pantai, menjaga biodiversitas, menjaga hasil tangkapan perikanan, serta mempengaruhi kehidupan masyarakat di sekitarnya baik secara langsung atau tidak langsung (Setyawan dkk., 2003). Terdapat tiga kata kunci yang penting dalam manajemen ekosistem mangrove, yaitu restorasi, kreasi (pembentukan), dan pengkayaan spesies (Lewis, 1990; Mish, 1989). Restorasi adalah tindakan

â&#x2122;Ľ Alamat korespondensi: Jl. Ir. Sutami 36A Surakarta 57126 Tel. & Fax.: +62-271-663375. e-mail: biology@mipa.uns.ac.id

untuk mengembalikan sesuatu ke kondisi semula; kreasi adalah tindakan untuk membuat, menemukan atau menghasilkan sesuatu; sedangkan pengkayaan adalah menambahkan atau menaikkan sesuatu (Mish, 1989). Selanjutnya muncul istilah rehabilitasi sebagai payung yang mencakup istilah restorasi dan kreasi (Streever, 1999). Menurut Whitten et al., (2000) restorasi adalah suatu taktik untuk mengembalikan lahan yang terdegradasi ke kondisi asli atau mendekati kondisi asli, sedangkan rehabilitasi adalah suatu strategi manajemen untuk mencegah degaradasi suatu lanskap dan menjadikannya bermanfaat. Di samping itu terdapat pula istilah reforestasi dan afforestasi. Menurut Lewis dan Streever (2000), reforestasi adalah penanaman mangrove pada bekas area hutan mangrove, sedang afforestasi adalah penanaman mangrove pada area yang semula bukan hutan mangrove. Tulisan ini bermaksud menjelaskan aktivitas restorasi ekosistem mangrove khususnya di Jawa, sehingga fungsinya dapat kembali seperti semula. Penelitian yang luas telah dilakukan untuk memahami ekologi, struktur dan fungsi ekosistem mangrove. Namun, temuan-temuan tersebut belum diterapkan dalam kerangka kerja manajemen, terbukti hutan mangrove di seluruh dunia terus mengalami penurunan terutama akibat eksploitasi berlebih,


106

SETYAWAN dkk. – Ekosistem mangrove di Jawa: 2. Restorasi

konversi ke tambak ikan dan udang, serta pencemaran lingkungan. Oleh karena itu perlu kiranya mengaitkan penelitian mangrove dengan manajemen lestari ekosistem tersebut.

SEJARAH RESTORASI MANGROVE Penanaman dan pengelolaan mangrove memiliki sejarah panjang di Asia Tenggara (Watson, 1928), meskipun catatan tertua mengenai manajemen mangrove sebagai penghasil kayu terdapat di Sundarbans, suatu hutan mangrove seluas 6.000 km2 di perbatasan India dan Banglades, yang dikelola sejak 1769, dimana rencana kerja lengkap pengelolaannya telah disempurnakan pada tahun 1893-1894 (Chowdhury dan Ahmed, 1994). Hutan mangrove seluas 40.000 ha di Matang, Malaysia yang dikelola sejak 1902 untuk menghasilkan kayu bakar (Watson, 1928), merupakan contoh tertua dan terbaik manajemen hutan mangrove (Khoon dan Eong, 1995). Pada saat ini mangrove dikelola secara terintegrasi untuk budidaya ikan dan udang (Primavera, 1995), ekoturisme (Bacon, 1987), mencegah erosi (Teas, 1977), eksperimen biologi (Rabinowitz, 1978), melindungi dari badai (Hamilton dan Snedaker, 1984), dan merestorasi kerusakan ekosistem akibat tumpahan minyak (Duke, 1996). Restorasi ekosistem mangrove yang rusak antara lain dibahas oleh Watson (1928), Noakes (1951), Chapman (1976), Lewis (1982), Hamilton dan Snedaker (1984), Lewis (1990a, 1990b), Crewz dan Lewis (1991), CintronMolero (1992), Saenger dan Siddiqi (1993), Siddiqi et al. (1993), dan Field (1996). Penanaman kembali hutan-hutan daratan yang rusak (reboisasi) telah dilakukan selama ratusan tahun, namun reboisasi ekosistem mangrove baru akhir-akhir ini mendapatkan perhatian serius, seperti di Indonesia, Malaysia, Banglades, dan Cina. Banglades mempelopori penghutanan mangrove dengan sukses sejak 1966 di atas tanah seluas 113.000 ha (Choudhury, 2000). Malaysia sejak 1980 menanam berbagai tumbuhan mangrove untuk membatu regenerasi alami dan memantapkan penutupan hutan (Hassan, 1981). Penghutanan mangrove di Cina dimulai pada akhir 1950-an dan diaktifkan lagi pada tahun 1980 (Baowen et al., 1997). Di Indonesia, reboisasi mangrove diawali di Sinjai, Sulawesi pada tahun 1985 diprakarsai sekelompok nelayan. Kesuksesan upaya ini mendorong reboisasi mangrove di seluruh Indonesia (Choudhury, 1996). Di atas kertas, rehabilitasi mangrove mendapatkan perhatian cukup besar dalam Strategi Nasional Pengelolaan Mangrove di Indonesia (Anonim, 2003), namun implementasi di lapangan tampaknya masih jauh dari harapan. Kegagalan beberapa kegiatan restorasi ditengarai karena pendekatan “proyek” yang menyebabkan lemahnya manajemen pelaksanaan. Silvikultur mangrove (penanaman, pemeliharaan, dan pemanenan) telah dilaksanakan sejak abad ke-

19 di Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Vietnam (Teas, 1980; Teas et al., 1975). Kegiatan manajemen meliputi penanaman, penjarangan, penyiangan spesies yang tidak dikehendaki, dan persemaian propagul, khususnya Rhizophora. Informasi silvikultur mangrove untuk restorasi relatif masih sedikit. Pada saat ini telah diketahui spesies-spesies pohon yang dapat digunakan untuk restorasi, namun kegiatan penciptaan ekosistem yang bernilai bagi perikanan dan konservasi masih jarang (Kaly dan Jones, 1996). Salah satu upaya mengintegrasikan perikanan dan konservasi mangrove dilakukan oleh Perhutani dan masyarakat di pantai utara Jawa dengan sistem “empang parit” (“tambak tumpangsari”). Sistem ini merupakan pengetahuan asli masyarakat Indonesia, dimana pada hutan mangrove dibuat lajur-lajur tambak untuk memelihara ikan, atau sebaliknya di atas tambak dibuat lajur-lajur tumbuhan mangrove, misalnya di Brebes, Pemalang, Cirebon, Indramayu, Purwakarta, Karawang, dan Tanggerang (Anonim, 1991, 1997; Fitzgerald dan Savitri, 2002; Fitzgerald, 1997, 2002; Tessar dan Insan, 1993; Hartina, 1996; Widiarti dan Effendi, 1989). Di Jawa, sejarah restorasi ekosistem mangrove tidak banyak dicatat, namun berbagai individu dan lembaga, baik pemerintah maupun swasta, diyakini terlibat dalam kegiatan ini meskipun jumlahnya relatif terbatas. Salah satu contoh restorasi hutan mangrove yang dilakukan secara kontinyu dan cukup berhasil adalah penanaman Rhizophora spp. di sepanjang pantai utara Rembang, khususnya di kecamatan kota. Pada tahun 1980-an, pemerintah setempat bersama para pihak melakukan restorasi ekosistem mangrove pada area dengan panjang sekitar 3000 m, dan lebar antara 100-300 m. Pada saat ini tegakan yang terbentuk sudah dapat menjalankan fungsi utamanya sebagai penahan gelombang laut, angin dan mencegah pantai dari abrasi. Untuk menjaga kelestarian tumbuhan ini, masyarakat setempat diikutsertakan dalam kelompok-kelompok tani yang memiliki hak untuk memanen ekosistem yang ada, dengan tetap memperhatikan kelestariannya. Salah satu kegiatan terkait konservasi yang cukup berhasil adalah pembibitan Rhizophora spp. untuk memenuhi kebutuhan bibit proyek-proyek rehabilitasi hutan bakau di Jawa. Kawasan ini merupakan salah satu pusat pembibitan Rhizophora spp. terbesar di Jawa. Pantai utara Rembang merupakan tidal flat bagi sungai-sungai di sekitarnya, seperti Sungai Delok, Sungai Anyar, dan Sungai Lasem, sehingga memungkikan terus berlanjutnya perluasan ekosistem mangrove ke arah laut. Suatu tindakan yang hingga saat ini masih terus dilakukan oleh pemerintah setempat. Pada akhirnya lokasi ini bernilai konservasi karena menarik berbagai hidupan liar yang megah, khususnya spesies-spesies burung air. Di samping itu terdapat pula nilai edukasi dan turisme, dimana sering disinggahi pelancong di jalur pantura dan menjadi lokasi praktikum dan penelitian mahasiswa dari Universitas Sebelas Maret Surakarta, Universitas


B I O D I V E R S I T AS Vol. 5, No. 2, Juli 2004, hal. 105-118

Diponegoro Semarang, dan lain-lain (ADS, 20022003, pengamatan pribadi). Upaya restorasi mangrove dengan pola serupa, yakni memberi peran aktif kepada masyarakat juga dilakukan di Probolinggo, Jawa Timur (Sudarmadji, 2003, komunikasi pribadi). Tampaknya pelibatan aktif masyarakat merupakan salah satu unsur utama keberhasilan pengelolaan kawasan pesisisir (Suara Pembaruan, 03/03/2002). Salah satu contoh upaya restorasi mangrove yang kurang berhasil terjadi di muara Sungai Bogowonto, satu-satunya ekosistem mangrove di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan berbatasan dengan Propinsi Jawa Tengah. Upaya ini telah dilakukan sejak tahun 1990-an, namun hasilnya tidak memuaskan. Tidak adanya kesamaan persepsi antara para pihak yang berkepentingan tampaknya menjadi penyebab utama kegagalan. Universitas, lembaga swadaya masyarakat, dan sebagian organ pemerintah setempat merasa berkepentingan untuk menjaga kelestarian ekosistem mangrove. Pengusaha dan sebagain organ pemerintah lainnya mencoba mengambil keuntungan ekonomi dengan membuat tambak. Adapun masyarakat setempat secara turun-temurun memanfaatkan tepian lahan untuk bertani dan bagian tengah untuk padang penggembalaan kerbau (Bos bubalis). Semua kepentingan tersebut tidak dikelola secara integratif, sehingga boleh jadi saling merugikan. Upaya konservasi dengan mengembalikan lahan menjadi hutan mangrove dapat menafikan upaya pengusaha untuk membuat tambak dan upaya petani untuk terus memanfaatkannya sebagai lahan bertani dan menggembalakan ternak. Upaya pembuatan tambak dapat menggusur lahan bercocok tanam dan penggembalaan ternak, serta berpotensi menghancurkan lahan mangrove yang tersisa. Sedangkan upaya petani mempertahankan lahan untuk bertanam dan menggembala ternak dapat menghambat upaya perluasan tambak dan mematikan benih mangrove yang diharapkan dapat menyebar dan menutupi seluruh laguna sebagaimana dahulu. Apabila tidak dikelola dengan tepat, permasalahan ini akan menghabiskan energi, dana, dan sumber daya tanpa hasil yang memadahi (ADS, 2002-2003, pengamatan pribadi). Kegiatan restorasi lahan mangrove di Jawa dengan ukuran yang signifikan, antara lain juga telah dilakukan di teluk Jakarta, Muara Angke, Bekasi, Indramayu, Pemalang, Tegal, dan Demak dengan dipelopori oleh Yayasan Mangrove Indonesia) (Anonim, 2003). Kegiatan restorasi juga dilakukan di Segara Anakan oleh Badan Pengelola Kawasan Segara Anakan (BPKSA) (Suara Pembaruan, 19/04/2003), muara sungai Porong oleh Pemerintah Kabupaten Sidoarjo (Republika Online, 15/07/2002), Telukawur-Semat, Jepara oleh Universitas Diponegoro Semarang (Suara Merdeka, 09/04/2003), dan lain-lain. Dalam jumlah yang lebih kecil, kegiatan ini diyakini banyak di lakukan di berbagai lokasi, termasuk pada muara-muara sungai di pantai selatan Jawa, misalnya di Purworejo dan Kebumen (ADS, 2002-2003, pengamatan pribadi).

107

TUJUAN RESTORASI Tujuan utama restorasi mangrove adalah mengelola struktur, fungsi, dan proses-proses ekologi pada ekosistem tersebut, serta mencegahnya dari kepunahan, fragmentasi atau degradasi lebih lanjut (Anonim, 2001). Restorasi diperlukan apabila ekosistem telah terdegradasi dan berubah jauh, tidak dapat memperbaharui diri secara alami untuk kembali ke kondisi semula, serta tidak dapat melaksanakan fungsi sebagaimana mestinya, sehingga memerlukan pengelolaan dan perlindungan (Stevenson et al., 1999; Morrison, 1990). Pada kondisi ini, homeostasis ekosistem secara permanen terhenti, sehingga menghambat proses suksesi sekunder secara normal untuk menyembuhkan area yang rusak (Stevenson et al., 1999). Konsep ini belum banyak dibahas, pembahasan baru dilakukan antara lain oleh Detweiler et al. (1976), Ball (1980), dan Lewis (1982). Tujuan restorasi lainnya adalah memperkaya landskap, mempertahankan keberlanjutan produksi sumberdaya alam (khususnya perikanan dan kayu), melindungi kawasan pantai, serta fungsi sosial budaya (Watson, 1928; Field, 1996; Morrison, 1990; Lewis, 1992, Aksornkoea, 1996; Stevenson et al., 1999). Tujuan restorasi perlu ditetapkan berdasarkan masukan dari para pihak dan merupakan konsensus bersama, sehingga mendapat dukungan secara luas (Fitzgerald, 1997), tanpa dukungan para pihak setempat keberhasilan restorasi dalam jangka panjang sangat kecil (Primavera dan Agbayani, 1996). Keuntungan restorasi komunitas mangrove meliputi: konservasi dan pengembalian spesies yang pernah ada, spesies yang memiliki daerah jelajah luas, dan burung-burung migran; mendaur-ulang nutrien dan menjaga keseimbangan nutrisi pada muara sungai; melindungi jaring-jaring makanan pada hutan mangrove, muara, dan laut; menjaga habitat fisik dan tempat pembesaran anakan berbagai spesies laut komersial; melindungi lahan dari badai, menjaga garis pantai, dan mengendapkan lumpur; meningkatkan kualitas dan kejernihan air dengan menyaring dan menjebak sampah dan sedimen yang dibawa air permukaan dari hulu sungai. Pada akhirnya, preservasi ekosistem mangrove membantu menjaga keseluruhan kondisi alami dan keindahan panorama muara sungai dan nilai ekonomi kawasan pesisir (Anonim, 2001). Dalam restorasi mangrove kadang-kadang hanya fungsi tertentu saja yang ingin dikembalikan, karena beberapa parameter seperti kondisi dan tipe tanah, serta spesies tumbuhan dan hewan telah berubah (Lewis, 1990b, 1992). Restorasi yang bertujuan mengembalikan suatu area sepenuhnya ke kondisi alami seperti sebelum dibangun, memiliki tingkat kegagalan jauh lebih tinggi dibandingkan restorasi karakter dan fungsi ekosistem tertentu saja (Lewis et al., 1995). Restorasi ke tipe habitat asli kemungkinan juga bukan pilihan terbaik untuk skala regional, khususnya apabila ekosistem yang rusak hanya


108

SETYAWAN dkk. â&#x20AC;&#x201C; Ekosistem mangrove di Jawa: 2. Restorasi

bagian kecil dari suatu tipe ekosistem yang umum, namun apabila tipe ekosistem tersebut sangat langka maka restorasi ke kondisi asli barangkali diperlukan (Cairns, 1988). Dalam tulisan ini, hanya disinggung praktek restorasi mangrove dengan tujuan melindungi pantai, mengembalikan tambak yang rusak, serta mengatasi kerusakan akibat tumpahan minyak.

Pelindung pantai Di kawasan yang penuh aktivitas dan padat penduduk, restorasi dapat ditujukan untuk melindungi pantai (Stevenson et al., 1999). Di pantai utara Jawa, abrasi merupakan fenomena yang sering terjadi, seperti di Tangerang (Media Indonesia, 19/08/2002, 03/10/2003), Jakarta (Media Indonesia, 17/06/2002), Indramayu (Pikiran Rakyat, 27/12/2002; Republika Online, 17/04/2002; Suara Pembaruan, 07/07/2002, 11/12/2002; Pikiran Rakyat, 14/03/2003), Cirebon (Media Indonesia, 08/04/2003), Brebes (Media Indonesia, 28/07/2003), Tegal (Kompas, 06/08/2002), Pemalang, Pekalongan (Media Indonesia, 31/05/2002; Republika Online, 15/07/2003), Kendal, Semarang, Demak, Jepara, dan Pati (Kompas, 15/08/2002; Suara Merdeka, 26/01/2003). Pembabatan mangrove di beberapa kawasan terkait erat dengan kerusakan ekosistem ini, meskipun dapat pula terjadi karena perubahan arus laut akibat pengerukan pasir (Pikiran Rakyat, 04/04/2002; Media Indonesia, 15/09/2003), reklamasi pantai (Kompas, 06/10/2003), gangguan/pemindahan muara sungai (Kompas, 10/11/2002), dan kerusakan terumbu karang (Whitten et al., 2000). Restorasi ekosistem mangrove diharapkan dapat memulihkan kondisi lingkungan seperti semula, meskipun harapan ini tidak selalu berhasil mengingat pada kasus tertentu kerusakan yang timbul bersifat permanen sehingga penanaman mangrove tidak dapat mengatasi, tanpa perubahan kondisi-kondisi lain yang menyebabkan perubahan arus laut. Di samping itu kesembuhan ekosistem mangrove bersifat jangka panjang, dimana pada kasus tertentu, kecepatan abrasi jauh melebihi kemampuan tumbuhnya mangrove. Meskipun pada akhirnya abrasi akan terhenti dengan sendirinya apabila pola arus laut kembali seimbang. Dalam hal ini pembangunan tanggul dan pemecah gelombang tampaknya lebih sesuai (Pikiran Rakyat, 27/12/2002).

Restorasi mangrove pada bekas tambak udang Restorasi secara khusus dapat pula ditujukan untuk mengembalikan bekas tambak udang ke ekosistem mangrove. Hingga kini sangat sedikit laporan berkenaan dengan restorasi tambak (Stevenson dkk., 1999). Pembangunan tambak udang merupakan salah satu penyebab utama kerusakan ekosistem mangrove di Jawa. Tambak ikan memiliki sejarah panjang di Jawa, dimana bandeng (Chanos chanos) telah dibudidayakan sejak abad ke-15, namun pada

tahun 1970 terjadi akselerasi pertambakan, khususnya dengan ditemukannya metode budidaya intensif udang di tambak (Fitzgerald dan Savitri, 2002), sehingga sejumlah besar area mangrove di pantai utara Jawa diubah menjadi tambak. Namun tambak udang intensif berkonsekuensi pada perubahan kondisi hidrologi, edafit (tanah sulfat asam), penyakit, dan pencemaran lingkungan, sehingga ratusan hektar tambak beserta sarana produksinya dibiarkan rusak tidak terurus (Setyawan dkk., 2002). Dalam kondisi demikian, Stevenson et al. (1999) menyarankan agar dilakukan restorasi mangrove pada tambak udang yang rusak, diikuti pembukaan area mangrove baru untuk tambak udang. Pengamatan di beberapa kawasan pantai utara Jawa menunjukkan, tingginya sedimentasi menyebabkan garis pantai cenderung terus menuju ke arah laut, dengan segaris mangrove tepi sebagai batas antara laut dengan lahan budidaya masyarakat, umumnya berupa tambak bandeng, tambak udang atau tambak garam. Mangrove tepi ini sekaligus berfungsi sebagai pelindung dari ombak, badai, dan abrasi. Dalam periode tertentu, luasan dataran lumpur yang ditumbuhi mangrove cukup untuk diubah menjadi tambak dengan menyisakan segaris mangrove tepi, biasanya berupa tegakan Avicennia atau Rhizophora. Pembukaan kawasan mangrove ini umumnya dimulai dengan proses pelelangan oleh aparat desa setempat, sehingga area ini berubah dari tanah publik menjadi tanah pribadi. Dalam hal ini, tambak lama letaknya akan semakin jauh dari pantai, akumulasi perubahan kondisi hidrologi, edafit, penyakit, dan pencemaran lingkungan menyebabkan tambak ini tidak lagi ekonomis untuk diusahakan. Upaya untuk mengembalikan area ini kembali ke ekosistem mangrove merupakan tindakan mahal, mengingat tanah tersebut merupakan milik pribadi, serta adanya perubahan pola hidrologi. Akibatnya banyak bekas-bekas tambak yang dibiarkan tidak terawat (Jawa: bera). Dalam jumlah cukup signifikan, kondisi demikian dapat dijumpai pada â&#x20AC;&#x153;cekunganâ&#x20AC;? antara gunung Muria dan gunung Lasem, salah satu produsen bandeng budidaya terbesar di Jawa, yang meliputi Kabupaten Pati dan Rembang. Pada kondisi ketersediaan air tawar mencukupi, secara gradual bekas tambak dapat diubah menjadi sawah, seperti di sepanjang pesisir Demak, meskipun untuk itu perlu dibangun tanggul dan bendungan untuk mencegah masuknya air laut di kala pasang (ADS, 2002-2003, pengamatan pribadi). Di Indonesia, upaya restorasi mangrove pada bekas tambak udang dalam luasan yang signifikan dan cukup berhasil antara lain dilakukan di teluk Benoa, Bali. Budidaya udang di kawasan ini dimulai pada tahun 1991, dan program restorasi dimulai sejak tahun 1995, dimana sekitar 350 ha tambak udang rusak ditanami mangrove kembali. Penanaman dimulai dari bekas tambak paling dekat daratan menuju arah laut (Stevenson dkk., 1999).


B I O D I V E R S I T AS Vol. 5, No. 2, Juli 2004, hal. 105-118

Restorasi akibat tumpahan minyak Mangrove yang mati akibat tumpahan minyak dapat direstorasi untuk mengembalikan fungsi dan penampakannya. Langkah ini dapat mempercepat kesembuhan ekosistem. Biasanya restorasi hanya ditekankan pada satu atau beberapa spesies kunci, restorasi ekosistem mangrove yang kompleks secara keseluruhan tergantung pada proses alami. Regenerasi baik secara alami maupun buatan segera setelah tumpahan minyak tidak mungkin dilakukan, karena minyak yang tersisa akan mematikan atau menghambat pertumbuhan mangrove. Contoh toksisitas pasca tumpahan minyak ditunjukkan di Panama tahun 1986, dimana propagul Rhizophora yang ditanam 4 dan 6 bulan pasca kecelakaan semuanya mati, sedang propagul yang ditanam 9 bulan atau lebih setelah kecelakaan dapat hidup (IPIECA, 1993). Lama waktu degradasi racun minyak bumi tergantung tipe tanah, arus pasang surut, dan curah hujan. Penanaman mangrove tidak harus menunggu racun tersebut sepenuhnya hilang. Regenerasi alamiah mangrove yang mati akibat tumpahan minyak dapat terjadi, tetapi proses ini kemungkinan sangat lambat karena adanya sisa-sisa minyak yang beracun, kurangnya suplai propagul dari kawasan sekitarnya atau hambatan propagul untuk mencapai lokasi, akibat adanya sisa-sisa batang dan akar mangrove mati yang menghalanginya (IPIECA, 1993). Regenerasi buatan atas ekosistem mangrove yang rusak oleh tumpahan minyak dapat dipercepat dengan mengganti tanah tercemar pada lubang penanaman dengan tanah dari daratan, baru ditanami propagul. Dapat pula dengan menanam bibit pada wadah yang memisahkannya dari tanah tercemar, dengan berjalannya waktu wadah ini akan rusak dan toksisitas tanah akan menurun, sehingga bibit dapat tumbuh normal. Dapat pula dilakukan pembibitan propagul, sehingga bibit akan siap ditanam pada saat toksisitas tanah sudah menurun. Cara regenerasi di atas berhasil diterapkan di Panama, dimana area seluas 75 ha ditanami lebih dari 86.000 bibit mangrove. Dua tahun pasca tumpahan minyak, saat regenerasi alami mulai terbentuk, bibit hasil penanaman telah mencapai tinggi 1 meter dengan tingkat keberhasilan hidup lebih dari 90% (IPIECA, 1993). Di Jawa restorasi ekosistem mangrove yang rusak akibat tumpahan minyak bumi tampaknya belum pernah dilakukan. Dalam skala Indonesia, hal ini pernah dilakukan di delta Mahakam, Kalimantan Timur dengan bibit Sonneratia caseolaris (Dutrieux et al., 1990). Di Jawa, dampak negatif tumpahan minyak bumi terhadap ekosistem mangrove dapat diamati di sekitar sungai Donan, Segara Anakan, Cilacap dimana terdapat industri pengilangan minyak. Kawasan ini secara periodik terpengaruh tumpahan minyak baik dari industri tersebut maupun kapal-kapal tangker yang melayaninya. Ukuran pohon mangrove yang dekat dengan lokasi tersebut umumnya lebih kecil, lebih pendek, dan lebih jarang dibandingkan lokasi yang jauh (Hardjosuwarno, 1989).

109

KERANGKA KERJA RESTORASI Secara umum dapat diformulasikan tiga langkah utama untuk meriset restorasi habitat mangrove, yaitu: (i) menggambarkan status ekosistem, serta menentukan tujuan dan kriteria keberhasilan restorasi (Lewis, 1990; Kusler dan Kentula, 1990; Pratt, 1994), (ii) pengembangan teknologi, meliputi pemilihan spesies, penentuan perlu tidaknya pekerjaan fisik dan restorasi buatan (Kaly dan Jones, 1996), (iii) menilai keberhasilan restorasi, berdasarkan besarnya biaya dan kecepatan kesembuhan ekosistem (Henry dan Amoros, 1995), yakni kembalinya aspek fungsional ekosistem tersebut (Kaly dan Jones, 1996). Restorasi biasanya ditekankan pada penanaman tumbuhan mangrove, namun sebelumnya perlu diketahui penyebab kerusakan, menghilangkan penyebab tersebut, dan membiarkan proses penyembuhan secara alami (Lewis dan Streever, 2000; Hamilton dan Snedaker, 1984). Keberhasilan restorasi mangrove akan meningkat apabila kondisi habitat telah diidentifikasi; memperhatikan hak milik atas tanah dan rencana perlindungan habitat liar secara menyeluruh; pengelolaan hidrologi dan introduksi tumbuhan asing untuk memperkaya, merestorasi, dan menjaga keanekaragaman spesies; dan terdapat peraturan perundang-undangan yang tegas (Anonim, 2001). Hutan mangrove dapat memulihkan diri sendiri tanpa upaya restorasi melalui suksesi sekunder pada periode 15-30 tahun, apabila siklus hidrologi normal dan tersedia biji atau propagul dari ekosistem mangrove di sekitarnya (Watson, 1928; Lewis, 1982; Cintron-Molero, 1992). Regenerasi buatan hanya diperlukan untuk mempercepat proses alami (McKee dan Faulkner, 2000) atau apabila kesembuhan alami tidak mungkin terjadi akibat perubahan homeostasis yang terlalu jauh (Lewis dan Streever, 2000). Kegagalan melihat penyebab degradasi merupakan penyebab utama kegagalan restorasi mangrove. Menurut Sanyal (1998) antara tahun 1989-1995 area seluas 9,050 ha di Bengali Barat, India ditanam mangrove, namun tingkat keberhasilannya hanya 1,52%. Sebaliknya Soemodihardjo et al. (1996) melaporkan bahwa hanya 10% area yang ditebangi di Tembilahan, Indonesia (715 ha) yang memerlukan penanaman ulang, sebab kawasan tersebut masih menyisakan lebih dari 2.500 seedling alami setiap ha. Mangrove dapat juga dibentuk dengan menghutankan kawasan intertidal yang tidak bervegetasi atau area lain yang secara alami tidak memungkinkan kedatangan propagul mangrove, misalnya tanah timbul, namun area ini sering juga melayani tujuan ekologis lain seperti menjadi tempat mencari makan burung-burung air (Lewis dan Streever, 2000). Penanaman ini juga dapat mempengaruhi vegetasi akuatik lain seperti padang lamun (Phillips dan McRoy, 1980). Terdapat lima langkah penting bagi keberhasilan restorasi mangrove (Lewis dan Marshall, 1997):


110

SETYAWAN dkk. â&#x20AC;&#x201C; Ekosistem mangrove di Jawa: 2. Restorasi

(i) Pemahaman autekologi setiap spesies mangrove, meliputi pola reproduksi, distribusi propagul, dan pemantapan seedling. (ii) Pemahaman pola hidrologi yang mempengaruhi distribusi, pemantapan, dan pertumbuhan spesies mangrove yang diinginkan. (iii) Pemahaman perubahan lingkungan yang dapat mencegah suksesi sekunder secara alami. (iv) Restorasi sifat hidrologi, dan bila memungkinkan penggunaan propagul alami. (v) Penanaman dilakukan apabila jumlah rekruitmen alami tidak mencukupi untuk penyembuhan.

KEBERHASILAN DAN KEGAGALAN RESTORASI Pada bagian pertama tulisan ini telah dikemukakan kondisi terkini ekosistem mangrove di Jawa, termasuk keterancaman dan kerusakan (Setyawan dkk., 2003). Keberhasilan restorasi mangrove antar lokasi sulit digeneralisasikan, karena tergantung kondisi lingkungan setempat dan spesies yang ditanam, sehingga perlu diketahui pola yang mendasari terbentuknya tegakan mangrove (Field, 1998a). Umumnya pola hidrologi dianggap sebagai faktor utama yang mempengaruhi daya tahan dan pertumbuhan seedling mangrove (Field, 1996, 1998b). Oleh karena itu, mangrove ditanam pada lokasi dengan ombak kecil, dimana tingkat erosi pantai minimal. Pengetahuan zonasi spesies mangrove diperlukan untuk menentukan area yang sesuai untuk spesies yang berbeda (Kairo et al., 2001). Zonasi ini merupakan hasil toleransi lingkungan dan pilihan fisiologis setiap spesies (Rabinowitz, 1978). Setiap spesies mangrove mempunyai suatu cakupan toleransi yang spesifik terhadap parameter-parameter lingkungan, seperti kadar garam, genangan pasang surut, keteduhan, elevasi daratan dan lain-lain. Hal ini membatasi zona yang sesuai bagi keberadaannya. Sonneratia alba dan Rhizophora akan tumbuh pada perbatasan ekosistem mangrove dengan laut, sebab tidak mampu menoleransi fluktuasi konsentrasi garam yang besar, sedang Ceriops tagal dan Avicennia marina dapat menoleransi kadar garam yang tinggi sehingga ditemukan pada batas ekosistem mangrove dengan daratan. Oleh karena itu, Sonneratia dapat ditanam pada dataran lumpur yang berbatasan langsung dengan laut, sedangkan Ceriops dan Avicennia dapat ditanam pada lokasi kering yang berbatasan dengan daratan (Kairo et al., 2001). Faktor penting lainnya yang menentukan keberhasilan proyek restorasi adalah tingkat kerjasama dari masyarakat dan para pemimpin lokal. Tekanan populasi lokal akan mempengaruhi struktur dan fungsi ekosistem mangrove di sekitarnya. Pendidikan lingkungan dapat mendorong keterlibatan aktif dan keikutsertaan publik yang lebih besar. Keduanya merupakan isu penting dalam manajemen dan konservasi mangrove. Keputusan manajemen

menyertakan masukan lokal akan lebih berhasil dan mendapatkan dukungan politis lebih besar. Dua pendekatan telah digunakan di restorasi area mangrove yang terdegradasi, yaitu regenerasi buatan dan alami (Kairo et al., 2001). Keberhasilan harus dapat diukur sebagai derajat dimana fungsi ekosistem alami yang digantikan dapat ditingkatkan. Hal ini tidak hanya ditentukan berdasarkan spesies yang hadir dan fungsi yang terkait denganya, tetapi juga sifat fisik, kimia dan biologi habitat. Ekosistem yang direstorasi juga harus dapat merespon cekaman dan perubahan lingkungan sepanjang waktu sebagaimana ekosistem alami. Beberapa faktor penting yang terkait dengan keberhasilan restorasi wetland adalah kemampuan untuk mengakses dan membuat kembali hidrologi, serta mengelola dan melindungi wetland baru dalam jangka panjang (Kusler dan Kentula, 1990). Secara ringkas, faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam restorasi mangrove mencakup stabilitas tanah dan pola penggenangan (Pulver, 1975), pasang surut dan ombak (Lewis, 1992, Field, 1996), elevasi (Hoffman et al., 1985), salinitas dan aliran air tawar permukaan (Jiminez, 1990), ketersediaan propagul (Loyche, 1989, Kairo et al., 2001), predasi propagul (Dahdouh-Guebas et al., 1997, 1998), jarak dan kerapatan (FAO, 1985, Kairo et al., 2001), eradikasi gulma (Saenger dan Siddique, 1993), teknik pembibitan (Siddique et al., 1993), pemantauan (Lewis, 1990b), keikutsertaan masyarakat (Kairo dkk., 2001) dan biaya yang dibutuhkan (Field, 1998a). Di Jawa, kegagalan restorasi mangrove dapat disebabkan oleh kesalahan pemahaman pola hidrologi, perubahan arus laut, tipe tanah, pemilihan spesies, penggembalaan hewan ternah, sampah, kelemahan manajemen, dan ketiadaan partisipasi masyarakat (ADS, 2002-2003, pengamatan pribadi). Kelemahan manajemen dan tidak adanya peran aktif masyarakat merupakan penyebab utama kegagalan restorasi di beberapa lokasi di Jawa, selain akibat melanggar langkah-langkah penting lain. Kegagalan restorasi mangrove di muara Bogowonto antara lain juga disebabkan kesalahan pemilihan sumber propagul dan pemahaman pola genangan. Penanaman Sonneratia spp. dengan bibit dari Segara Anakan Cilacap ke Sungai Bogowonto pada tahun 1997 menunjukkan kegagalan pertumbuhan akibat adanya genangan. Secara alami, setiap tahun di musim kemarau muara Sungai Bogowonto mengalami penggenangan sekitar 4-6 minggu. Hal ini terjadi karena terbentuknya gumuk pasir (sanddunes) yang membendung muara sungai. Bendungan ini akan jebol dengan sendirinya ketika volume air yang terbendung melimpah. Bibit Sonneratia spp. dapat bertahan hingga tahun 1999, karena pada tahun 1998 tidak terjadi genangan yang cukup berarti akibat curah hujan dan debit air sungai cukup tinggi sepanjang tahun sehingga mampu menembus gumuk pasir di muara sungai. Namun pada musim kemarau


B I O D I V E R S I T AS Vol. 5, No. 2, Juli 2004, hal. 105-118

tahun 1999, kembali terjadi genangan selama 6 minggu, sehingga hampir semua populasi Sonneratia spp. dari Segara Anakan Cilacap mati terendam, namun populasi lokal tetap bertahan (Tjut S. Djohan, 2001, komunikasi pribadi). Pengamatan isozim oleh penulis menunjukkan adanya perbedaan pola pita isozim populasi Sonneratia spp dari kedua lokasi tersebut. Menurut McPhaden (1999), badai El Nino South Oscillation (ENSO) pada tahun 1997-1998 merupakan yang terbesar sepanjang sejarah, hingga mencurahkan cukup banyak air ke kawasan barat Pasifik, setelah sebelumnya menyebabkan kekeringan hebat. Di samping itu kegagalan juga disebabkan perumputan oleh kerbau, sebagaimana terjadi pada populasi Rhizophora spp (ADS, 20022003, pengamatan pribadi). Di pantai selatan Jawa, kegagalan restorasi juga terjadi di muara sungai Cakrayasan, Purworejo dan muara sungai Luk Ulo, Kebumen. Pada tahun 2000, dilakukan restorasi ekosistem mangrove di kedua lokasi ini dengan spesies Rhizophora spp. Di muara sungai Cakrayasan, kegagalan restorasi kemungkinan besar disebabkan akumulasi sampah dari hulu sungai pada awal musim hujan. Sampah, seperti lembaran plastik, kantung plastik, tali dan lainlain menutupi area penanaman sehingga anakan mangrove tidak dapat tumbuh sempurna, bahkan sebagian besar seedling yang perakarannya masih lemah ikut terhanyut ke laut. Di pantai utara Jawa, di sepanjang muara-muara sungai di Demak, Jepara, Pati, dan Rembang, kematian seedling akibat â&#x20AC;&#x153;terjeratâ&#x20AC;? sampah domestik merupakan kejadian umum. Secara unik â&#x20AC;&#x153;penjeratanâ&#x20AC;? ini juga dilakukan oleh sejenis algae lembaran, Ulva spp. Spesies ini hidup mengapung di tepi pantai dangkal terbuka, yang juga merupakan lokasi yang umum didatangi propagul alami, dan dipilih dalam program penghijauan mangrove. Pada saat air pasang, Ulva akan terangkat ke atas, dan ketika air surut akan tersangkut, melekat, dan mati pada seedling mangrove, sehingga menghambat pertumbuhan dan mematikan seedling tersebut. Kondisi ini menyebabkan kerugian yang cukup berarti pada program penghijauan bakau di tepi pantai Pasar Banggi, Rembang. Di Segara Anakan, kegagalan restorasi akibat sampah, kurang teramati mengingat luasnya area mangrove tersebut (ADS, 2002-2003, pengamatan pribadi). Ancaman terbesar ekosistem mangrove di kawasan ini adalah sedimentasi (Winarno dan Setyawan, 2002). Di muara sungai Luk Ulo, Kebumen selain sampah, pola genangan, dan jenis tanah berpasir yang cenderung kurang cocok bagi Rhizophora; tampaknya penggembalaan merupakan penyebab utama kegagalan restorasi. Lokasi mangrove yang direstorasi merupakan area penggembalaan ternak sapi (Bos sondaicus), sehingga seedling yang ditanam tidak tersisa akibat perumputan. Hal sama terjadi di muara sungai Bogowonto, dimana area mangrove merupakan kawasan penggembalaan kerbau (Bos

111

bubalis), sehingga seedling alami hanya dapat bertahan di kawasan yang sulit dijangkau ternak, sedangkan penanaman sengaja hanya dapat dilakukan pada area yang dipagari, yang biasanya telah rusak sebelum seedling cukup tinggi, sehingga akan dimakan kerbau (ADS, 2002-2003, pengamatan pribadi). Di pantai utara Jawa, kegagalan restorasi juga dapat disebabkan perubahan arus laut. Hal ini terjadi pada pantai-pantai terabrasi, dimana penanaman mangrove akan sia-sia, selama penyebab utama abrasi belum diatasi, karena seedling yang ditanam ikut tergerus arus laut. Salah satu contoh keberhasilan penanaman mangrove untuk mencegah abrasi ditemukan di kawasan Bulak-Semat, Jepara. Pada tahun 1980-an pantai di kawasan ini terabrasi akibat kerusakan terumbu karang dan pembabatan hutan mangrove. Pembuatan tanggul pemecah gelombang dan penanaman mangrove terbukti dapat mengurangi efek abrasi. Pada saat ini Rhizophora yang ditanam langsung berbatasan dengan bibir laut, dan tanah dibawahnya ditutupi pasir putih, menunjukkan garis pantai berhenti di bawah tegakan komunitas ini (ADS, 2002-2003, pengamatan pribadi).

TEKNIK RESTORASI Kebanyakan restorasi hanya bertumpu pada penanaman pohon mangrove, kurang memperhatikan struktur komunitas dalam jangka panjang atau kaitannya dengan ekosistem di sekitarnya (Kusler dan Kentula, 1990; Simberloff, 1990). Kebanyakan proyek restorasi mangrove hanya bersangkutan dengan introduksi pohon mangrove, dengan harapan hidupan lain seperti kepiting, meiofauna, algae, ikan, dan fauna mangrove lain akan mengikuti dengan sendirinya ketika habitat yang dibuat telah mapan (Kaly dan Jones, 1996). Biasanya restorasi hanya ditekankan pada satu atau beberapa spesies kunci, restorasi ekosistem mangrove yang kompleks secara keseluruhan tergantung pada proses alami berikutnya (IPIECA, 1993). Teknik restorasi meliputi introduksi biji atau propagul, anakan pohon, atau pohon yang lebih besar. Penanaman biji atau propagul dapat dilakukan secara langsung di area yang direstorasi, atau disemaikan dahulu hingga setinggi 0,3-1,2 m (Thorhaug, 1990). Penyemaian biji atau propagul menjadi anakan pohon dapat meningkatkan keberhasilan penanaman dibandingkan menanamnya secara langsung (Hannan, 1975; Thorhaug, 1990), meskipun demikian suatu eksperimen di kawasan tropis Australia menunjukkan bahwa keberhasilan hidup dan pertumbuhan bibit mangrove tidak ada perbedaan signifikan antara benih hasil semaian, cangkokan, dan benih yang ditanam langsung (Kaly dan Jones, 1996). Strategi menghilangkan makrofauna pada awal restorasi dapat membantu pertumbuhan mangrove, karena menjadi pemangsa atau parasit propagul dan


112

SETYAWAN dkk. â&#x20AC;&#x201C; Ekosistem mangrove di Jawa: 2. Restorasi

tumbuhan muda. Smith (1987a,b,c) menemukan bahwa kepiting merupakan predator bibit mangrove yang signifikan, dan dapat mempengaruhi distribusi spesies di hutan mangrove. Kepiting dapat memusnahkan sama sekali Avicennia marina dengan mengkonsumsi 100% propagul. Menurut Tampa dan Tampa (1988), Kumbang parasit Coccotrypes fallax (Scolytidae) dapat mengerumuni sampai 95% propagul dan seedling. Menurut Kitamura et al. (1997), jenis hama dan penyakit utama seedling mangrove pada kebun bibit di Bali adalah kepiting, kumbang dan tikus.

RESTORASI FISIK HABITAT Sebelum dilaksanakan penanaman tumbuhan mangrove, perlu dilakukan restorasi fisik habitat sehingga memungkinkan tumbuhan mangrove yang ditanam dapat tumbuh sehat. Secara umum habitat fisik yang perlu diperhatikan mencakup pola hidrologi, kondisi tanah dan adanya bahan pencemar. Hidrologi. Ekosistem mangrove sudah lama dikenal sebagai pelindung dan pemantap garis pantai (Othman, 1994), sehingga selamat dari angin topan dan gelombang laut, namun mangrove hanya dapat mempengaruhi tingkat pengendapan sedimen atau erosi, tetapi tidak mengendalikannya (Gill, 1971; Hannan, 1975). Oleh karena itu pada pantai yang terabrasi akibat perubahan arus laut, tetap memerlukan tanggul pemecah ombak seperti batu, kuadrapot, tiang pancang, karung goni atau bekas ban (Teas et al., 1975; Hannan, 1975). Struktur tersebut dapat mempercepat kesembuhan ekosistem mangrove (Lin dan Beal, 1995) dan mendorong terbentuknya mangrove baru pada kawasan sekitarnya. Hidrologi yang mempengaruhi keberhasilan restorasi mangrove, meliputi: pola pasang surut (frekuensi dan periode), ketinggian sedimen dan drainase, serta masukan air tawar (Kaly dan Jones, 1996). Kegagalan restorasi seringkali akibat sulitnya memperbaiki pola hidrologi (Kusler dan Kentula, 1990). Pada area dimana terjadi sedimentasi pasir, kemungkinan diperlukan pengerukan untuk mencapai tanah mangrove yang kaya bahan organik. Restorasi hidrologi termasuk menghubungkan kembali area dengan laut terbuka sehingga terjadi arus pasang surut yang normal (Brockmeyer et al., 1997, Turner dan Lewis, 1997), serta pembatasan pengaruh gelombang akibat lalu lintas perahu (Knutson et al., 1981). Kondisi tanah. Tanah sulfat asam (acid soil), yang umum ditemukan pada area mangrove di seluruh dunia tropis serta diakibatkan oleh oksidasi dan asidifikasi sedimen yang mengandung pirit ketika penggalian dan pengeringan, merupakan tantangan potensial dalam restorasi ekosistem mangrove (Brinkman dan Singh, 1982). Tanah ini dapat memiliki pH 2 (Kaly dan Jones, 1996). Brinkman dan Singh (1982) mengurangi kondisi sulfat asam dengan

mengeruk tanah di permukaan tambak yang dikeringkan setebal 15 cm dan ditambahkan kapur untuk mencegah pelepasan asam. Cara lain adalah menggenangi tanah dengan air pasang dan membiarkan waktu untuk mengoksidasi asam sebelum ditanami kembali. Tanah dikembalikan ke kondisi anoksik sebagaimana area lumpur pasang surut alami. Di ekosistem mangrove tropis, bakteri tanah memainkan peranan penting dalam jejaring makanan benthos, seperti memineralisasikan detritus organik dan mendaur ulang nutrien penting (Kaly dan Jones, 1996). Oleh karena itu, proses biogeokimia alami perlu didorong untuk menumbuhkan bakteri (Alongi, 1994). Polutan. Mangrove merupakan ekoton antara kawasan daratan dan laut, sehingga pencemaran yang terjadi di darat maupun di laut dapat menumpuk di kawasan ini. Salaha satu jenis bahan pencemar yang menarik adalah tumpahan minyak bumi. Dalam suatu studi, Sonneratia caseolaris, digunakan sebagai tumbuhan pionir dan ditanam pada tanah yang terpolusi minyak di delta Mahakam, sebagian dari lokasi ini juga terpolusi pupuk nitrat dan sisa-sisa dispersan minyak. Dalam hal ini restorasi diarahkan hanya untuk mengembalikan satu spesies mangrove yang paling kuat sebagai starter. Minyak mempengaruhi kematian dan pertumbuhan seedling yang ditanam, tetapi dispersan berpengaruh lebih buruk lagi. Untuk itu area mangrove yang tertumpahi minyak sebaiknya tidak disemprot dispersan dan penanaman ditunda hingga beberapa bulan (Dutrieux et al., 1990).

REGENERASI ALAMI Regenerasi mangrove secara alami menggunakan biji dan propagul alami (wildlings) sebagai sumber bibit, sehingga komposisi spesies yang tumbuh tergantung pada populasi mangrove tetangganya. Kemampuan mangrove menyebar dan tumbuh dengan sendirinya tergantung pada kondisi hutan, arus pasang surut, dan stabilitas tanah (Kairo et al., 2001). Pada famili Rhizophoraceae, propagul dilengkapi dengan hipokotil runcing yang akan jatuh dan menanam diri sendiri pada lumpur tidak jauh dari induknya (La Rue dan Muzik, 1954), namun apabila propagul tersebut jatuh pada saat air pasang atau ombak tinggi, kadang-kadang tidak dapat menancap di lumpur, bahkan tersapu dan terbawa arus laut, hingga tumbuh jauh dari induknya (Rabinowitz, 1978; van Speybroeck, 1992). Penebangan hutan mangrove secara berlebihan dapat menurunkan stabilitas tanah, sehingga propagul dan anak pohon mudah dihanyutkan ombak dan regenerasi alami sulit terbentuk (Kairo et al., 2001). Di Malaysia, direkomendasikan agar disisakan sebanyak 12 pohon induk per ha, sebagai penyuplai biji regenerasi alami (Tang, 1978, FAO, 1994), namun pada lokasi-lokasi dengan tingkat regenerasi rendah jumlah tersebut dapat dinaikkan. Di Thailand,


B I O D I V E R S I T AS Vol. 5, No. 2, Juli 2004, hal. 105-118

penggunaan pohon induk diganti lajur-lajur mangrove yang tidak ditebangi untuk menjaga regenerasi (FAO, 1985). Kelebihan dan kekurangan regenerasi alami dan regenerasi buatan tersaji pada Tabel 1. Tabel 1. Kelebih dan kekurangan regenerasi secara alami (Kairo et al., 2001). Kelebihan • • • •

Lebih murah. Tidak memerlukan tenaga kerja dan peralatan. Lebih sedikit disturbansi pada tanah. Pertumbuhan anakan pohon lebih subur.

Kekurangan • • • • • •

Spesies pengganti kemungkinan berbeda dengan spesies semula. Ketiadaan pohon induk menyebabkan bibit sedikit atau tidak ada. Pengkayaan genetika sulit terjadi. Ombak laut dapat menyebabkan sulit mapan. Terjadi predasi bibit oleh makrofauna (seperti kepiting dan siput). Jarak tanam, asal dan komposisi spesies bibit sulit dikontrol.

REGENERASI BUATAN Regenerasi mangrove secara alami dapat berlangsung lambat, karena perubahan kondisi tanah, pola hidrologi, dan terhambatnya suplai bibit. Regenerasi buatan pertama-tama harus memperbaiki pola hidrologi dan penanaman hanya dilakukan jika rekrutmen alami tidak mencukupi atau kondisi tanah menghalangi pemantapan alami. Penanaman mangrove telah berhasil dilaksanakan di Indonesia, Malaysia, India, Filipina, Thailand, dan Vietnam. Kebanyakan spesies yang ditanam termasuk dalam famili Rhizophoraceae, Avicenniaceae, dan Sonneratiaceae (Kairo et al., 2001). Teknik regenerasi buatan umumnya menggunakan propagul, kadang-kadang anak pohon (tinggi < 1,2 m), tetapi jarang menggunakan pohon kecil (tinggi > 6 m). Metode ini sudah digunakan sejak Watson (1928) hingga kini (Kogo et al., 1987, Qureshi, 1990, Siddique et al., 1993). Propagul Rhizophora sering dipilih karena memiliki hipokotil panjang sehingga dapat ditancapkan langsung di lapangan, namun teknik ini tidak dapat digunakan pada anggota genus mangrove lain. Pada umumnya, propagul ditanam dengan jarak 1 meter (10.000 per ha). Pada mangrove, angka kematian bibit awal relatif rendah, tetapi tingkat daya hidup yang diharapkan biasanya hanya sekitar 50%, sehingga diperoleh kepadatan hutan mangrove dewasa yang ideal, sekitar 1.000 pohon per hektar (1 pohon per 10 m2). Penanaman anak pohon sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan, meskipun dapat pula ditanam sepanjang tahun (Kairo et al., 2001).

113

Pada spesies mangrove tertentu ketersediaan propagul tergantung musim. Propagul mangrove yang telah masak dikoleksi dari pohon induk, dari bawah pohon atau dari pantai. Pada Rhizophora dan Ceriops warna hipokotil dapat digunakan untuk membedakan propagul muda dari yang masak. Pada Avicennia, propagul masak dapat dipetik dengan mudah dari induknya dengan meninggalkan kelopak. Propagul hasil koleksi dapat disimpan dalam kantung plastik lembab selama tiga hari hingga beberapa minggu, di tempat teduh, untuk meningkatkan daya tahan terhadap serangan kepiting (Watson, 1928, DahdouhGuebas et al., 1997). Propagul juga dapat dilindungi dengan mengecat hipokotil atau meletakkannya dalam buluh bambu (FAO, 1994). Sepanjang kelembaban dijaga, propagul mangrove dapat disimpan selama enam bulan (Kairo et al, 2001). Pada saat penanaman anak pohon baik dari kebun pembibitan atau hutan alam perlu dilakukan upaya melindungi akar, baik ketika dicabut atau ditanam. Hal ini biasanya dilakukan dengan menyekop anak pohon dengan diameter tanah separuh tinggi anak pohon. Daya tahan propagul atau anak pohon lebih baik (80-100% dari 70.000 setelah 24 bulan) dibanding pohon kecil (< 5% setelah 12 bulan). Anak pohon dari kebun pembibitan memiliki daya tahan lebih tinggi (80-100% setelah 24 bulan) dibandingkan seedling alami (Kairo et al., 2001). Bibit mangrove dapat pula diperoleh dengan mencangkok, misalnya pada Rhizophora mangle, Avicennia germinans, dan Laguncularia racemosa (Calton dan Moffler, 1978). Keberhasilan teknik ini tergantung spesies, terdapat perbedaan signifikan (p<0,001) keberhasilan pertumbuhan akar antara Sonneratia alba (58,8%), Lumnitzera racemosa (36,5%), dan Xylocarpus granatum (4,4%). Regenerasi buatan memiliki beberapa keuntungan antara lain: distribusi dan komposisi spesies dapat diatur, tumbuhan dapat diperkaya secara genetik, dan serangan hama dapat dikendalikan (Field, 1998a).

SPESIES YANG DITANAM Informasi teknik pembibitan mangrove memusat pada beberapa spesies mangrove mayor. Dari sekitar 60 spesies pohon dan semak mangrove mayor dan minor, serta sekitar 20 spesies tumbuhan asosiasi, hanya 12 spesies yang biasa digunakan untuk restorasi, yaitu Rhizophora, Avicennia, Sonneratia, Bruguiera, Heritiera, Lumnitzera, Ceriops, Excoecaria, Xylocarpus, Nypa, Cassurina, dan Hibiscus. Penentuan spesies yang dipilih tergantung pada tekstur tanah, kadar garam, dan lama penggenangan, serta iklim mikro lainnya (Choudhury, 1996; 2000). Di kebanyakan negara, pada mulanya penanaman mangrove dilakukan dengan propagul atau seedling yang dikumpulkan dari lantai hutan. Sekarang material yang digunakan adalah seedling alami, biji atau propagul, dan seedling pembibitan. Hutan


B I O D I V E R S I T AS Vol. 5, No. 2, Juli 2004, hal. 105-118

1

Tabel 2. Teknik penanaman beberapa spesies mangrove yang utama di Bali (Kitamura dkk., 1997).

Musim buah

Rhizophora mucronata September-Desember

Rhizophora apiculata Desember-Pebruari

Bruguiera gymnorrhiza Mei-Desember

Sonneratia alba

Avicennia marina

Ceriops tagal

April-Juni dan September-Oktober Buah jatuh dari pohon, biji mengapung di air tawar.

Desember-Pebruari

Agustus-Desember

Berat buah tanpa kelopak 1,5 g, panjang > 1,8 cm. Sebelum ditanam direndam air semalam untuk membuang kulitnya. Tanah tepi tambak.

Kotiledon kuning, panjang > 20 cm, dipilih propagul yang bebas penyakit.

Buah kuning hingga cokelat, permukaan biji cokelat kekuningan dengan bintik-bintik kelabu, tali ari tampak.

Tanah tepi tambak.

Tanah tepi tambak.

Biji dipendam sedalam 1/3 panjangnya, diletakkan bebas dari pasang surut hingga berakar. 30%. Disiram dua kali sehari pada saat tidak ada pasang, dan sekali ketika ada pasang, saat air surut. Tikus, kepiting, dan ulat. Tikus memakan biji, , diatasi dengan memasang jaring keliling kebun. Kepiting memakan tunas muda dan daun, diatasi dengan memasang lembaran plastik keliling kebun. Ulat diatasi dengan memasang jaring halus keliling kebun.

Biji dipendam sedalam 5 cm.

Biji diletakkan di atas tanah dengan posisi radikula di bawah.

50%. Mengikuti arus pasang surut, dan disiram pada saat air surut.

30%. Mengikuti arus pasang surut, dan disiram pada saat air surut.

Tidak ada yang cukup berarti.

Tidak ada yang cukup berarti.

6-7 bulan, tinggi seedling > 20 cm, jumlah daun > 2 pasang. Polibag dibuang dan 1/3 bagian propagul dibenamkan.

3-4 bulan, tinggi seedling > 20 cm, jumlah daun > 2 pasang. Polibag dibuang.

Kriteria buah

Kotiledon hijau muda atau kuning, panjang > 50 cm, dipilih propagul yang bebas penyakit.

Kotiledon merah, panjang > 20 cm, diameter > 1,4 cm, dipilih propagul yang bebas penyakit

Kotiledon hijau tua hingga merah, panjang > 20 cm.

Media tanam

Tanah tepi tambak.

Tanah tepi tambak.

Tanah tepi tambak.

Pembibitan

Propagul ditancapkan sedalam 10 cm.

Propagul ditancapkan sedalam 5 cm.

Propagul ditancapkan sedalam 5 cm.

Naungan Pengairan

50% Mengikuti arus pasang-surut.

50%. Mengikuti arus pasang-surut.

30%. Mengikuti arus pasang-surut.

30%. Mengikuti arus pasang-surut dan pengairan buatan setiap hari.

Hama dan penyakit

Kepiting, ulat, dan kumbang. Kepiting memakan propagul baru, diatasi dengan meletakkan pangkal bibit setinggi 20 cm di atas dasar. Ulat dan kumbang memakan ujung propagul, diatasi secara manual.

Tidak ada yang cukup berarti.

Tidak ada yang cukup berarti.

Lama pembibitan

4-5 bulan, tinggi seedling > 55 cm, jumlah daun 2 pasang.

4-5 bulan, tinggi seedling > 30 cm, jumlah daun 2 pasang.

Penanaman

Polibag dibuang dan 1/3 bagian propagul dibenamkan.

Polibag dibuang dan 1/3 bagian propagul dibenamkan.

3-4 bulan, tinggi seedling > 35 cm, jumlah daun > 3 pasang. Polibag dibuang dan 1/3 bagian propagul dibenamkan, pada penaman langsung kelopak tidak dibuang.

Tikus, kepiting, dan ulat. Tikus memakan biji, daun muda dan tunas muda, diatasi dengan memasang jaring keliling kebun. Kepiting memakan tunas muda dan daun, diatasi dengan memasang lembaran plastik keliling kebun. Ulat diatasi dengan memasang jaring halus keliling kebun. 5-6 bulan, tinggi seedling > 15 cm, jumlah daun > 3 pasang. Polibag dibuang.

Cara mengatasi

Tanah yang dicampur 30% pupuk kandang. Biji dipendam sedalam separuh panjangnya, dua biji per pot.

3-4 bulan, tinggi seedling > 30 cm, jumlah daun > 3 pasang. Polibag dibuang.

Xylocarpus granatum September-Desember


B I O D I V E R S I T AS Vol. 5, No. 2, Juli 2004, hal. 105-118

mangrove alami biasanya memiliki sejumlah besar seedling alami. Mereka sering kali sama tingginya umurnya bervariasi mulai dari 1-6 tahun. Seedling alami yang bangsor, halus, dan sehat memiliki kemampuan tumbuh lebih baik (Choudhury, 1996). Penggunaan biji dan propagul di penghutanan mangrove biasa dilakukan, khususnya propagul vivipar. Beberapa spesies tumbuhan mangrove memerlukan kebun pembibitan. Di Bali, pembibitan dilakukan terhadap Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata, Bruguiera gymnorrhiza, Sonneratia alba, Avicennia marina, Ceriops tagal, dan Xylocarpus granatum (Kitamura dkk., 1997). Di Jawa, pembibitan umumnya dilakukan terhadap Rhizophora spp. seperti dilakukan kelompok tani di pesisir Rembang, Probolinggo, dan Perhutani di Indramayu. Para petani membibitkan Rhizophora untuk memenuhi kebutuhan proyek-proyek restorasi mangrove. Proyek-proyek ini sering kali identik dengan penanaman bakau yang memiliki bentuk perakaran khas. Masyarakat di pantai utara Jawa juga biasa menggunakan seedling alami Rhizophora, Avicennia dan Sonneratia untuk menguatkan tanggultanggul tambak, terutama yang berbatasan langsung dengan sungai atau laut (ADS, 2002-2003, pengamatan pribadi).

TEKNIK PEMBIBITAN DAN PENANAMAN Di Bali, pembibitan dilakukan di kebun persemaian yang letaknya di lokasi mangrove, sehingga bibit dapat beradaptasi dengan kondisi lingkungan di area penanaman. Seedling ditanam dalam polibag yang diisi tanah, dimana penyiraman umumnya mengikuti arus pasang laut. Penanaman langsung propagul Rhizophora dimungkinkan pada lokasi yang dangkal (Kitamura dkk., 1997). Di Rembang, pembibitan tidak dilakukan pada area khusus, tetapi di bawah tegakan mangrove yang agak terbuka atau di tepian area mangrove, pada batas dengan daratan. Propagul ditanam pada polibag yang cukup tinggi untuk mengurangi pemangsaan oleh kepiting (ADS, 20022003, pengamatan pribadi). Cara pembibitan berbagai spesies mangrove antara lain dipublikasikan oleh Choudhury (1994, 1996, 2000) berdasarkan penelitian di Banglades, namun dalam tulisan ini hanya dikemukan cara pembibitan mangrove tujuh spesies di Bali oleh Kitamura et al. (1997), mengingat kedekatan ekosistemnya dengan Jawa (Tabel 2.). Penanaman seedling umumnya dilakukan pada bulan Desember s.d. Januari, pada awal musim hujan. Waktu penanaman juga memperhatikan kalender hijriah, dimana penanaman dilakukan seminggu setelah tanggal 14 atau 15 saat pasang sedang rendah. Bibit yang digunakan biasanya berketinggian sekitar 60 cm, bibit yang lebih tinggi dapat ditanam pada area dengan tingkat penggenangan lebih dalam, tetapi bibit dengan ketinggian lebih dari 1,5 m sebaiknya tidak digunakan. Di Indonesia dan

115

Malaysia biasanya dipilih propagul dalam praktek penanaman, sehingga spesies yang ditanam umumnya Rhizophora (Choudhury, 2000). Penanaman mangrove memerlukan masa perawatan intensif sekitar 75 hari setelah tanam, dimana diperlukan penggantian bibit yang tersapu ombak, tererosi, dimakan kepiting, bibit yang tidak sehat dan mati serta menjaga drainase, membuang sampah, dan menjaga dari erosi. Semak-semak mangrove yang tebal dapat terbentuk setelah 5 tahun. Adapun pohon mangrove dewasa dengan tinggi lebih dari 5 m, akar penyangga kuat, rangkaian akar nafas luas, dan kanopi rapat dapat terbentuk dalam waktu 15 tahun (Choudhury, 1996). Perbedaan signifikan komposisi dan keanekaragaman fauna mulai teramati 5 tahun setelah penanaman. Kepadatan makrofauna tanah pada ekosistem yang direstorasi lebih tinggi daripada ekosistem yang dibiarkan terbuka, serta sama dengan ekosistem alami (Kairo et al., 2001).

PEMANTAUAN AREA RESTORASI Area restorasi mangrove perlu dipantau (Tabel 3). Tabel 3. Aktivitas pemantauan mangrove (Field, 1998b).

setelah

penanaman

Aktivitas

Tindakan di lapangan

Memantau perkembangan spesies Memantau laju pertumbuhan sejalan dengan umur

Mengecek kebenaran asal usul propagul dan biji Mengamati kerapatan sapling dan pohon, diameter batang, tinggi dan volume pohon. Mengukur pertambahan tahunan. Mengamati struktur batang, nodus, fenologi, pembuahan, serta resistensi terhadap hama dan penyakit. Menyiapkan penjelasan ilmiah mengenai kegagalan ini. Mencatat asal sampah dan langkah yang diambil untuk mengatasinya. Mencatat tingkat kelebatan, regenerasi buatan atau alami. Mencatat pertumbuhan pohon.

Memantau pertumbuhan sifat-sifat khusus Mencatat tingkat kegagalan anak pohon Mencatat tingkat akumulasi sampah Mengatur kerapatan seedling dan anak pohon pada tingkat optimum Memperkirakan total biaya akhir proyek restorasi

Memantau dampak penebangan hutan mangrove di sekitarnya Memantau sifat-sifat ekosistem mangrove yang direstorasi

Mencatat semua pengeluaran, meliputi persiapan lokasi, koleksi propagul, pembibitan di kebun, penanaman di lapangan dan lain-lain. Hal ini merupakan catatan restorasi jangka panjang Mengukuran secara terinci mengenai fauna, flora dan parameter lingkungan dari ekosistem hasil restorasi dan membandingkannya dengan ekosistem mangrove alami.


116

SETYAWAN dkk. â&#x20AC;&#x201C; Ekosistem mangrove di Jawa: 2. Restorasi

Pemantauan tumbuhan mangrove yang telah ditanam sangat diperlukan untuk menjamin keberhasilan program restorasi. Parameter yang perlu diperhatikan dalam proyek restorasi disajikan pada Tabel 3. Aktivitas ini serupa dengan aktivitas yang dilakukan pada proyek kehutanan pada umumnya (Field, 1998b).

PENUTUP Mangrove merupakan ekosistem yang menghubungkan hidupan laut dan daratan, serta menjadi daerah penyangga dan ekoton antar kedua hidupan tersebut. Semua aktivitas yang dilakukan di darat dan di laut dapat mempengaruhi eksistensi ekosistem ini. Nilai penting ekosistem mangrove telah diketahui secara luas, namun hingga kini penurunan luasan mangrove di seluruh dunia yang terus berlanjut. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara teori yang menyatakan perlunya pemanfaatan ekosistem mangrove secara lestari dan praktek yang menunjukkan dilaksanakannya pemanfaatan secara tidak lestari. Mangrove merupakan ekosistem yang sangat viabel. Ekosistem mangrove yang rusak dapat memulihkan diri sepanjang faktor-faktor lingkungan seperti pola hidrologi, kondisi tanah, dan ketersediaan propagul mendukung, namun pada kondisi daya lenting terpatahkan perlu dilakukan campur tangan dengan melakukan regenerasi secara buatan. Teknik manajemen mangrove yang ada saat ini sering kali gagal untuk mempertahankan kelestarian sumber daya ini. Untuk itu perlu dilakukan pendekatan yang lebih luas dengan mengintegrasikan manajemen kawasan pesisir, dengan memasukkan unsur-unsur penting seperti ekologi, sosial ekonomi, dan sosial budaya sehingga dapat memenuhi hajat hidup orang banyak, sekaligus memelihara biodiversitas secara luas.

DAFTAR PUSTAKA Aksornkoae, S. 1996. Reforestation in mangrove forests in Thailand, A case study in Pattani Province. In Field, C.D. (ed.) Restoration of Mangrove Ecosystems. Okinawa: International Society for Mangrove Ecosystems. Alongi, D.M. 1994. The role of bacteria in nutrient recycling in tropical mangrove and other coastal benthic ecosystems. Hydrobiologia 285: 19-32. Anonim. 1991. Application social forestry strategy by using silvofishery system for supporting national food production. Bandung: Perum Perhutani Unit III West Java. Anonim. 1997. Empang parit di Desa Randusanga Kulon, Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes. Kehutanan Indonesia 6: 31-34. Anonim. 2001. Mangroves, Multi-Species Recovery Plan for South Florida. southeast.fws.gov/vbpdfs/commun/mn.pdf. Anonim. 2003. Strategi Nasional Pengelolaan Mangrove di Indonesia. Jakarta: Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup. Bacon, P.R. 1987. Use of wetlands for tourism in the insular Caribbean. Annals of Tourism Research 14: 104-117. Ball, M. C. 1980. Patterns of secondary succession in a mangrove forest in south Florida. Oecologia (Berl.) 44: 226-235.

Baowen, L. 1997. The present situation and prospects of mangrove afforestation in China. World Forestry Congress 1997. Brinkman, R., and V.P. Singh, 1982. Rapid reclamation of fishponds on acid sulphate soils. In Dost, H. & N. van Breemen (ed.). Proceedings of the Bangkok Symposium on Acid Sulphate Soils. ILRI. Wageningen, Nederlands, Publication 31: 318-330. Brockmeyer, R.E. Jr., J.R. Rey, R.W. Virnstein, R.G. Gilmore, and L. Ernest. 1997. Rehabilitation of impounded estuarine wetlands by hydrologic reconnection to the Indian River Lagoon, Florida (USA). Wetlands Ecology and Management 4 (2): 93-109. Cairns, J. 1988 Restoration ecology: the new frontier. In Restoration of Damaged Ecosystems, Volume 1. Boca Raton, Flo.: CRC Press. Calton, J.M. and M.D. Moffler. 1978. Propagation of mangroves by air-layering. Environmental Conservation 5: 147-150 Chapman, V.J. 1976. Mangrove Vegetation. Liechtenstein: J.Cramer Verlag. Choudhury, J.K. 1994. Mangrove re-afforestation in Bangladesh. Proceedings on the Workshop on ITTO Project Development and Dissemination of Re-afforestation Techniques on Mangrove Forests: 18-20 April 1994. Bangkok Thailand. Choudhury, J.K. 1996. Mangrove forest management. Mangrove Rehabilitation and Management Project in Sulawesi. Jakarta: Asia Development Bank. Choudhury, J.K. 2000. Sustainable management of coastal mangrove forest development and social needs. Mangroves and Other Coastal Forests. www.fao.org/montes/ foda/wforcong/ PUBLI/PDF/V6E_T386.PDF. Chowdhury, R.A., and I. Ahmed. 1994. History of forest management. In Hussain Z. and G. Acharya (ed.). Mangroves of the Sundarbans, Vol. 2: Bangladesh. Gland, Switzerland: IUCN Wetlands Program. Cintron-Molero, G. 1992. Restoring mangrove systems. In Thayer, G.W. (ed.). Restoring the Nationâ&#x20AC;&#x2122;s Marine Environment. Maryland: Maryland Seagrant Program, College Park. Crewz, D.W. and R.R. Lewis. 1991. An evaluation of historical attempts to establish emergent vegetation in marine wetlands in Florida. Florida Sea Grant Technical Publication No. 60, Gainesville, Flo:.Florida Sea Grant College. Dahdouh-Guebas, F., M. Verneirt, J.F. Tack, and N. Koedam. 1997. Food preferences of Neosarmatium meinerti de Man (Decapoda: Sesarminae) and its possible effect on the regeneration of mangroves. Hydrobiologia 347: 83-89 Dahdouh-Guebas, F., M. Verneirt, J.F. Tack, D. Van Speybroeck, and N. Koedam. 1998. Propagule predators in Kenyan mangroves and their possible effect on regeneration. Marine and Freshwater Research 49: 345-350 Detweiler, T.E., F.M. Dunstan, R.R. Lewis, and W.K. Fehring. 1976. Patterns of secondary succession in a mangrove community. Proceedings of the Second Annual Conference on Restoration of Coastal Plant Communities in Florida. Tampa, FL: Hillsborough Community College. Duke, N. 1996. Mangrove reforestation in Panama: an evaluation of planting areas deforested by a large oil spill. In: Field C. (ed.) Restoration of Mangrove Ecosystems. Okinawa: International Tropical Timber Organization and International Society for Mangrove Ecosystems. Dutrieux, E., F.Martin, and A. Debry. 1990. Growth and mortality of Sonneratia caseolaris planted on an experimentally oilpolluted soil. Marine Pollution Bulletin 21: 62-68. FAO. 1985. Mangrove Management in Thailand, Malaysia and Indonesia. Rome: FAO Environment Paper. FAO. 1994. Mangrove Forest Management Guidelines. Rome: FAO Forestry Paper. Field, C. 1996. Restoration of mangrove Ecosystems. Okinawa: International Tropical Timber Organization and International Society for Mangrove Ecosystems. Field, C. 1998a. Rationales and practices of mangrove afforestation. Marine and Freshwater Research 49: 353-358 Field, C. 1998b. Rehabilitation of mangrove ecosystems: an overview. Marine Pollution Bulletin 37: 383-392 Fitzgerald, B. 2002. Case study 5: integrated mangrove forest and aquaculture systems (silvofisheries) in Indonesia. In Macintosh D.J., M.J. Phillips, R.R. Lewis, and B. Clough. Annexes to the


B I O D I V E R S I T AS Vol. 5, No. 2, Juli 2004, hal. 105-118 Thematic Review on Coastal Wetland Habitats and Shrimp Aquaculture. Case studies 1-6. Report prepared under the World Bank, NACA, WWF and FAO Consortium Program on Shrimp Farming and the Environment. Work in Progress for Public Discussion. Published by the Consortium. Fitzgerald, B. and L.A. Savitri. 2002. Case study 6: integration of silvofisheries into coastal management and mangrove rehabilitation in Java, Indonesia. In Macintosh D.J., M.J. Phillips, R.R. Lewis, and B. Clough. Annexes to the Thematic Review on Coastal Wetland Habitats and Shrimp Aquaculture. Case studies 1-6. Report prepared under the World Bank, NACA, WWF and FAO Consortium Program on Shrimp Farming and the Environment. Work in Progress for Public Discussion. Published by the Consortium. Fitzgerald, W.J. 1997. Silvofisheries-an environmentally sensitive integrated mangrove forest and aquaculture system. Aquaculture Asia 2 (3): 9-17. Gill, A. M. 1971. Mangroves-is the tide of public opinion turning? Fairchild Tropical Garden Bulletin 26: 5-9. Hamilton, L.S. and S.C. Snedaker. 1984. Handbook for Mangrove Area Management. Honolulu: Environment and Policy Institute, East-West Center. Hannan, J. 1975. Aspects of red mangrove reforestation in Florida. Proceedings of the Second Annual Conference on the Restoration of Coastal Vegetation in Florida. Hardjosuwarno, S. 1989. The impact of oil refinery on the mangrove vegetation. BIOTROP Special Publications 37: 187192. Hartina, 1996. Evaluasi Usaha Tumpang Sari Empang Parit di RPH Cemara, BKPH Indramayu, KPH Indramayu. [Tesis]. Yogyakarta: Program Pascasarjana UGM. Hassan, H.H.A. 1981. A Working Plan for the Second 30-year Rotation of the Matang Mangrove Forest Reserve Perak 198089. Perak, Malaysia: State Forestry Department Publication. Hoffman, W.E., M.J. Durako, and R.R. Lewis. 1985. Habitat restoration in Tampa bay. In: Simon, S.A.F., R.R. Lewis, and R.R. Whiman. (eds.) Treat, Proc. Tampa Bay Area Scientific Inf. Symp. Tampa: Florida Sea Grant College & Bellwether Press. IPIECA. 1993. Biological Impact of Oil Pollution: Mangroves. IPIECA Report No. 4. London: International Petroleum Industry Environmental Conservation Association. Jimenez, JjA. 1990. The structure and function of dry weather mangroves on the Pacific coast of Central America, with emphasis on Avicennia bicolor forests. Estuaries 13: 182-192 Kairo, J.G., F Dahdouh-Guebas, J. Bosire, and N. Koedam. 2001. Restoration and management of mangrove systems — a lesson for and from the East African region. South African Journal of Botany 67: 383-389. Kaly, U.L. and G.P. Jones. 1996. Mangrove Restoration: a Potential Tool for Ecosystem Management of Coastal Fisheries. Queensland: Department of Marine Biology, James Cook University, Queensland, Australia. Khoon, G.W. and O.J. Eong. 1995. The use of demographic studies in mangrove silviculture. Hydrobiologia 295: 255-261. Kitamura, S., C. Anwar, A. Chaniago, and S. Baba. 1997. Handbook of Mangroves in Indonesia; Bal & Lombok. Denpasar: The Development of Sustainable Mangrove Management Project, Ministry of Forest Indonesia and Japan International Cooperation Agency. Knutson, P.L., J.C. Ford, M.R. Inskeep, and J. Oyler. 1981. National survey of planted salt marshes (vegetative stabilization and wave stress), Journal of the Society of Wetland Scientists 1, 129-156. Kogo, M., D. Kamimura, and T. Miyagi. 1987. Research for rehabilitation/reforestation of mangroves in Truk Island. In: Mangroves of Asia and the Pacific: Status and Management. Technical Report of the UNDP/UNESCO Research and Training Pilot Programme on Mangrove Ecosystems in Asia and the Pacific (RAS/79/002). Quezon City, Phillipines: UNESCO. Kompas, 06/08/2002. 29 Hektar Pantai Muara Reja Terkena Abrasi Kompas, 06/10/2003. Reklamasi Pantai Jakarta Memperparah Abrasi Kompas, 10/11/2002. Pantai Dadap Direklamasi Untuk Tempat Wisata

117

Kompas, 15/08/2002. Parah Abrasi di Pantura Kusler, J.A. and M.E. Kentula. 1990. Wetland Creation and Restoration: The Status of the Science. Washington: Island Press. La Rue, C.D. and T.J. Muzik. 1954. Does mangrove really plant its seedling. Nature 114: 661-662 Lewis, R.R. 1982. Low marshes, peninsular Florida. In Lewis, R.R. (ed.). Creation and restoration of coastal plant communities Boca Raton, FL.: CRC Press. Lewis, R.R. 1990a Creation and restoration of coastal wetlands in Puerto Rico and the US Virgin Islands. In Kusler, J.A. and M.E. Kentula (ed.) Wetland Creation and Restoration: The Status of Science. Washington: Island Press. Lewis, R.R. 1990b. Wetlands restoration/creation/enhancement terminology: suggestions for standardization. In J.A. Kusler and M.E. Kentula (eds.) Wetland Creation and Restoration: The Status of the Science. Island Press, Washington, D.C., USA. Lewis, R.R. 1992. Coastal habitat restoration as a fishery management tool. In Stroud, R.H. (ed.) Stemming the Tide of Coastal Fish Habitat Loss; Proceedings of a Symposium on Conservation of Coastal Fish Habitat, Baltimore, MD, USA, March 7-9 1991. National Coalition for Marine Conservation, Inc., Savannah, Georgia, USA. Lewis, R.R. and M.J. Marshall. 1997. Principles of successful restoration of shrimp aquaculture ponds back to mangrove forests. Programa/resumes de Marcuba ‘97, September 15/20, Palacio de Convenciones de La Habana, Cuba. Lewis, R.R., and B. Streever. 2000. Restoration of mangrove habitat. WRP Technical Notes Collection (ERDC TN-WRP-VNRS-3.2). Vicksburg, MS.: U.S. Army Engineer Research and Development Center. www.wes.army.mil/el/wrp. Lewis, R.R., J.A. Kusler, and K.L. Erwin. 1995. Lessons learned from five decades of wetland restoration and creation in North America. pp. 107-122 In Montes, C., G. Oliver, F. Molina, and J. Cobos (eds.) Bases Ecologicas para la Restauracion de Humedales en la Cuenca Mediterranea. Proceedings of a meeting held at the University of La Rabida, Spain. 7-l 1 June 1993. Junta de Andaluca, Spain. Lin, J. And J.L. Beal. 1995. Effects of mangrove marsh management on fish and decapod communities. Bulletin of Marine Sciences 57: 193-201. Loyche M. 1989. Mangrove of West Africa — the forest within the sea. Mangroves and Fish. IDAF Newsletter 9: 18-31 McKee, K.L., and P.L. Faulkner. 2000. Restoration of biogeochemical function in mangrove forests. Restoration Ecology 8: 274-259 McPhaden, M.J. 1999. Genesis and evolution of the 1997-1998 El-Nino. Science 283: 950-954. Media Indonesia, 03/10/2003. Abrasi Pantura Tangerang Makin Mengkhawatirkan Media Indonesia, 08/04/2003. 20 Km Pantura Cirebon dan Indramayu Mengalami Abrasi Media Indonesia, 15/09/2003. Nelayan Keluhkan Pengerukan Pasir Laut Media Indonesia, 17/06/2002. 124 Pantai di Indonesia Mengalami Kerusakan Media Indonesia, 19/08/2002. Desa-desa di Pesisir Tangerang Makin Terancam Abrasi Media Indonesia, 28/07/2003. Ribuan Hektare Tambak di Brebes, Cirebon, dan Indramayu Lenyap Terkena Abrasi Media Indonesia, 31/05/2002. Pantai Slamaran di Pekalongan Alami Abrasi Mish, F.C. (ed.). 1989. Webster’s ninth new collegiate dictionary. Springfield, MS.: Merriam-Webster Inc. Morrison, D. 1990. Landscape restoration in response to previous disturbance. In: Turner, M.G. (ed.) Landscape Heterogeneity and Disturbance. New York: Springer-Verlag. Noakes, D.S.P. 1951. Notes on the silviculture of the mangrove forest of Matang, Perak. Malaysian Forester 14: 183-196. Othman, M.A. 1994. Value of mangroves in coastal protection. Hydrobiologia 285: 277-282. Phillips, R.C. and C.P. McRoy (eds.). 1980. Handbook of Seagrass Biology and Ecosystem Perspective. New York: Garland STPM Press. Pikiran Rakyat, 04/04/2002. Pantai Pakisjaya Dikeruk Warga Khawatirkan Abrasi.


118

SETYAWAN dkk. â&#x20AC;&#x201C; Ekosistem mangrove di Jawa: 2. Restorasi

Pikiran Rakyat, 14/03/2003. Ribuan Hektare Pantai Habis Digerus Abrasi. Pikiran Rakyat, 27/12/2002. 20 Kilometer Pantai Rusak Karena Abrasi. Pratt, J.R. 1994. Artificial habitats and ecosystem restoration: Managing for the future. Bulletin of Marine Sciences 55: 268275. Primavera, J.H. 1995. Mangroves and brackish water pond culture in the Philippines. Hydrobiologia 295: 303-309. Primavera, J.H. and R.F. Agbayani. 1996. Comparative strategies in community based mangrove rehabilitation programs in the Philippines. Proceedings of the ECOTONE V Regional Seminar: Community Participation In Conservation, Sustainable Use and Rehabilitation of Mangroves In Southeast Asia. Ho Chi Minh City, Vietnam, 8-12 January, 1996. Mangrove Ecosystem Research Centre (MERC), and Vietnam National University. Pulver, T.R. 1975. Suggested mangrove transplanting techniques. Proceedings of the Second Annual Conference on the Restoration of Coastal Vegetation in Florida. Qureshi MT. 1990. Experimental plantation for rehabilitation of mangrove forests in Pakistan. Mangrove Ecosystem Occasional Papers 4. UNESCO, COMAR, UNDP Rabinowitz, D. 1978. Early growth of mangrove seedlings in Panama, and hypothesis concerning the relationship of dispersal and zonation. Journal of Biogeography 5: 113-133. Republika Online, 15/07/2002. Kawasan Pantai Sidoarjo Akan Ditanami 20.000 Pohon Mangrove. Republika Online, 15/07/2003. Sejumlah Tambak Terkena Dampak Abrasi. Republika Online, 17/04/2002. Abrasi Laut Ancam Permukiman Ratusan Warga Indramayu. Saenger, P. and N.A. Siddique. 1993. Land from the sea: the mangrove afforestation proqramme of Bangladesh. Ocean and Coastal Management 20: 23-29. Sanyal, P. 1998. Rehabilitation of degraded mangrove forests of the Sunderbans of India. Program of the International Workshop on the Rehabilitation of Degraded Coastal Systems. Phuket Marine Biological Center, Phuket, Thailand. 19-24 January 1998. . Setyawan, A.D., K. Winarno, P.C. Purnama 2003. REVIEW: Ekosistem Mangrove di Jawa: 1. Kondisi Terkini. Biodiversitas 4 (2): 133-145. Siddique, N.A., M.R. Islam, M.A.S. Khan, and M. Shahidullah. 1993. Mangrove nurseries in Bangladesh. International Society for Mangrove Ecosys stems Occasional Papers No.1. Okinawa: International Society for Mangrove Ecosystems. Simberloff, D. 1990. Reconstructing the ambiguous: Can island ecosystems be restored? In Towns, D.R., C.H. Daugherty, and I.A.E. Atkinson. Ecological Restoration of New Zealand Islands; Conservation Sciences Publication No. 2. Wellington: Department of Conservation, New Zealand. Smith, T.J. 1987a. Seed predation in relation to tree dominance and distribution in mangrove forests. Ecology 68: 266-273. Smith, T.J. 1987b. Effects of seed predators and light level on the distribution of Avicennia marina (Forsk.) Vierh. in tropical, tidal forests. Estuarine, Coastal and Shelf Science 25: 43-51. Smith, T.J. 1987c. The influence of seed predators on structure and succession in tropical tidal forests. Proceedings Ecological Society Australia 15: 203-211.

Soemodihardjo, S., P. Wiroatmodjo, F. Mulia, and M.K. Harahap. 1996 Mangroves in Indonesia, a case study of Tembilahan, Sumatra. In Fields, C. (ed.) Restoration of Mangrove Ecosystems. Okinawa: International Society for Mangrove Ecosystems. Stevenson, N.J., R.R. Lewis, and P.R. Burbridge. 1999. Disused shrimp ponds and mangrove rehabilitation. In Streever, W. (ed.). An International Perspective on Wetland Rehabilitation. Dordrecht: Kluwer Academic Publishers. Streever, W. (ed.). 1999. An International Perspective on Wetland Rehabilitation. Dordrecht: Kluwer Academic Publishers. Suara Merdeka, 09/04/2003. Kampanye Tanam Bakau di Telukawur. Suara Merdeka, 26/01/2003. Abrasi Pantai di Kendal dan Demak. Suara Pembaruan, 03/03/2002. Pengelolaan Pesisir Harus Libatkan Warga Lokal Suara Pembaruan, 07/07/2002. Abrasi Mengancam Desa Limbangan Suara Pembaruan, 11/12/2002. Pendangkalan dan Abrasi di Jawa Mengkhawatirkan Suara Pembaruan, 19/04/2003. 25.000 Batang Mangrove Ditanam di Segara Anakan Suara Pembaruan, 30/06/2002. Dilema Lingkungan Akibat Tambak Udang Tampa, S. and P. Tampa. 1988. Establishment and growth of mangrove seedlings in mangrove forests of southern Thailand. Ecological Research 3: 227-238. Tang, H.T. 1978. Regeneration stocking adequacy standards. Malaysian Forester 41: 176-182 Teas, H.J. 1977. Ecology and restoration of mangrove shorelines in Florida. Environmental Conservation 4: 51-58 Teas, H.J. 1980. Saline silviculture. 2nd International Workshop on Biosaline Research, La Paz, Baja, California sur, Mexico. Teas, H.J., W. Jurgens, and M.C. Kimball. 1975. Planting of red mangroves (Rhizophora mangle L.). In: Lewis RR (ed.) Proceedings of the 2nd Annual Conference on the Restoration of Coastal Vegetation, Florida; May 17, 1975, Hillsborough Community College, Tampa, Florida. Tessar, B. dan K.I. Insan. 1993. Melacak gubug akhir hutan bakau. Warta Konservasi Lahan Basah 2 (2): 8-9. Thorhaug, A. 1990. Restoration of mangroves and seagrasseseconomic benefits for fisheries and mariculture. In Berger, J.J. (ed.) Environmental Restoration: Science and strategies for restoring the earth ed. Washington, D.C.: Island Press. Turner, R.E. and R.R. Lewis. 1997. Hydrologic restoration of coastal wetlands. Wetlands Ecology and Management 4 (2): 65-72. van Speybroeck, D. 1992. Regeneration strategy of mangroves along the Kenyan coast: A first approach. Hydrobiologia 247: 243-251 Watson, J.G. 1928. Mangrove forests of the Malay Peninsula. Kulala Lumpur: Malaysian Forest Records No. 6 Whitten, T., R.E. Soeriaatmadja, and S.A. Afiff. 2000. The Ecology of Java and Bali. Singapore: Periplus. Widiarti, A. and R. Effendi. 1989. Socio-economic aspects of brackishwater pond forest in mangrove forest complex. Symposium Mangrove Management in Indonesia. Biotrop Special Publication No. 37: 275-279. Winarno, K. dan A.D. Setyawan. 2003. REVIEW: Penyudetan Sungai Citanduy, buah simalakama konservasi ekosistem mangrove Segara Anakan. Biodiversitas 4 (1): 63-72.


THIS PAGE INTENTIONALLY LEFT BLANK


ISSN: 1412-033X

Pengaruh pH dan Substrat Organik Terhadap Pertumbuhan dan Aktivitas Bakteri Pengoksidasi Amonia DWI AGUSTIYANI, HARTATI IMAMUDDIN, ERNI NUR FARIDAH, OEDJIJONO

43-47

Pengkajian Nilai Gizi Hasil Fermentasi Mutan Aspergillus niger pada Substrat Bungkil Kelapa dan Bungkil Inti Sawit LAELA SARI, TRESNAWATI PURWADARIA

48-51

The Genus Koilodepas Hassk. (Euphorbiaceae) in Malesia MUZAYYINAH, EDI GUHARDJA, MIEN A. RIFAI, JOHANIS P. MOGEA, PETER VAN WALZEN

52-60

Study of Calamus occidentalis J.R. Witono & J. Dransf. Species Commercial Values and Possible Utilization TITI KALIMA, JASNI

61-65

Deskripsi Jenis-jenis Anggota Suku Rhizophoraceae di Hutan Mangrove Taman Nasional Baluran Jawa Timur SUDARMADJI

66-70

Keanekaragaman Tumbuhan dan Populasinya di Gunung Kelud, Jawa Timur INGE LARASHATI

71-76

Keanekaragaman Anggrek di Situ Gunung, Sukabumi NINA RATNA DJUITA, SRI SUDARMIYATI, HENDRIUS CANDRA, SARIFAH, SITI NURLAILI, RULLY FATHONY

77-80

Potensi Hutan Bukit Tapak Sebagai Sarana Upacara Adat, Pendidikan, dan Konservasi Lingkungan I WAYAN SUMANTERA

81-84

Pengujian Mikroba sebagai Pupuk Hayati terhadap Pertumbuhan Tanaman Acacia mangium pada Pasir Steril di Rumah Kaca SRI PURWANINGSIH

85-88

REVIEW: Sebaran Ekologi Jenis-jenis Dipterocarpaceae di Indonesia PURWANINGSIH

89-95

REVIEW: Acacia nilotica (L.) Willd. ex Del. dan Permasalahannya di Taman Nasional Baluran Jawa Timur DJUFRI

96-104

REVIEW: Ekosistem Mangrove di Jawa: 2. Restorasi AHMAD DWI SETYAWAN, KUSUMO WINARNO, PURIN CANDRA PURNAMA

105-118

Gambar sampul depan: Koilodepas frutescens (Blume) Airy Shaw Terbit dua kali setahun


Biodiversitas vol. 5, no. 2, July 2004 (abstract in English)