Biar Kutulis Untukmu Sebuah Cerita Sejarah yang Lain

Page 1



Amanatia Junda, Andi Rezky “Chiki”, Arum Dayu, Astrid Reza, Erlin Pertiwi, Harjuni Rochajati, Hindra Setya Rini, Jayu Juli, Luna Kharisma, Martha Dada Gabi, Martha Hebi, Maya Sandita, Nerlian Gogali, Nur”Wucha” Wulandari, Riyana Rizki, Rully Mallay, Sumirah, Svetlana Dayani, Syska La Veggie, Wieke Dwiharti, Wulan Putri

i


Biar Kutulis Untukmu Sebuah Cerita Sejarah yang Lain © 2021, Amanatia Junda, Andi Rezky “Chiki”, Arum Dayu, Astrid Reza, Erlina Pertiwi, Harjuni Rochayati, Hindra Setya Rini, Jayu Juli, Luna Kharisma, Martha Dada Gabi, Martha Hebi, Maya Sandita, Nerlian Gogali, Nur “Wucha” Wulandari, Riyana Rizki, Rully Mallay, Sumirah, Svetlana Dayani, Syska La Veggie, Wieke Dwiharti, Wulan Putri

Cetakan Terbatas, Juni 2021 vi, 122 hlm, 17,6 x 25 cm Penanggungjawab Hindra Setya Rini Penyelia Aksara Dyah Permatasari Desain Buku Kurnia Yaumil Fajar Ilustrasi Sampul Depan Astrid Reza Ilustrasi Sampul Belakang Jayu Juli Ilustrasi Transisi Bab Nur “Wucha” Wulandari Jilid Buku @suns.bookstore Diterbitkan pertama kali oleh Panggilan Bersama Lansia, 2021 Email: bersamalansia@gmail.com Atas dukungan PERETAS (Perempuan Lintas Batas) Dicetak oleh SOKONG! Publish Email: sokongmenyokong@gmail.com di Yogyakarta, Indonesia Dilarang memperbanyak atau menggandakan sebagian atau seluruh isi buku ini untuk tujuan komersial. Setiap tindak pembajakan akan diproses sesuai hukum yang berlaku. Pengutipan untuk kepentingan akademis, jurnalistik, dan advokasi diperkenankan dalam batas ketentuan yang berlaku.

ii


iv. Pengantar 3

Catatan Reflektif: Menjadi Manusia, Luna Kharisma

9

Kelompok Eyang Svetlana 11 Menjadi Tua, Jayu Juli 14 Zine SimulacRoom, Jayu Juli 16 Na, De, dan Pertemuan Pertemuan, Maya Sandita

19 Kelompok Bu Wieke

21

22

Cara Membuat Bando, Wieke Dwiharti Wieke Dwiharti: Kreativitas Tak Mengenal Usia, Astrid Reza

31 Kelompok Mama Rully Metamorfosis, Mami Rully 33 34 Cerita Perjalanan, Riyana Rizki 38 Kata Kunci Merayakan Pertemuan, Riyana Rizki 39 Biografi Mami Rully, Lian Gogali

46 Catatan Reflektif: Melihat, Mendengar Merasakan, Wucha Wulandari 49 Kelompok Bu Erlin

52 53

Kembang Setaman, Bu Atik Zine Ruwahan, Putri

55 Kelompok Mama Martha

iii

57 64 65 67

Penari Lintas Generasi, Martha Hebi Sketsa Mama Martha, Syska La Veggie Teruntuk Sahabat-sahabatku, Penariangin “chiki” Perempuan Berkumpul Puan Lansia Peretas, Syska La Veggie

69 Kelompok Mbah Sumirah 71 Bersenandung Bersama Mbah Sumirah, Arum dayu 75 Barcode lagu, Mbah Sumirah dan Arum Dayu

77 Catatan Reflektif: Ketika Bertemu PerempuanPerempuan Lintas Batas; Meretas Pandemi & Tips Menua Bahagia. Aha!, Hindra Setya Rini 79 Catatan Proses “Kronik Pertemuan Perempuan Lintas Generasi di Masa Pandemi”, Amanatia Junda 82 Prapelaksanaan 98 Pelaksanaan Kegiatan 112 Pascapelaksanaan

116 Profil Tim Inti 117 Profil Kelompok 120 Halaman Catatan


Dear Oma, Mbah, Ibu, Mama, Mami, Kakak, Mbak, dan kawan-kawan Peretas semuanya yang kami kasihi.

idak terasa panggilan berkumpul

api. Obrolan di seputar lingkaran

bersama lansia telah memasuki

pertemanan kami dan kami bahas ulang

acara akhir. Kami dari Grup

pun berkutat pada, “Bagaimana media

Kelak Bakal Menua, sebagai pengampu

digital di masa pandemi ini dapat menjadi

kegiatan Panggilan Berkumpul Bersama

ruang alternatif, tidak dalam makna

Lansia: “Biar Kutulis untukmu Sebuah

memindahkan tempat saja, bukan from

Sejarah yang Lain,” ingin sekali

offline to online, atau fisik ke digital,

menyampaikan banyak kata. Sejujurnya,

tetapi lebih pada bagaimana kegiatan

perasaan kami telah melampaui kata-

online ini benar-benar melahirkan

kata untuk mengungkapkan betapa kami

respons baru terkait pengalaman manusia

merasa terberkahi oleh momen-momen

dalam realitas virtual? Meretas pandemi

pertemuan virtual yang telah kita lalui

dengan mengotak-atik teknologi,

bersama.

membongkar pasang ide, penyusunan metode berkumpul agar esensi dan rasa

Pada mulanya, kami maupun kawan-

“berkumpul” tidak hanya menjadi nonton

kawan Peretas yang lain dan banyak

“dokumentasi” atau jadi tumpukan

orang di luar sana mengira pandemi ini

“file” begitu saja, ternyata benar-benar

benar-benar sanggup menghancurkan

membutuhkan energi yang besar.

dunia. Kegiatan budaya dan seni dibatasi,

Rasa lelah yang asing, dinamika dalam

aktivitas berkumpul fisik dilarang. Siapa

kelompok, persiapan dengan berbagai

yang tidak bingung dan stres? Tepat

plan, serta kesigapan atas kemungkinan-

tahun lalu, jujur saja, kegelisahan terus

kemungkinan yang tak dapat dikendalikan

melanda. Gagasan kami mengenai

terjadi—dan jika listrik mati, itu adalah

berkumpul bersama lansia di panti

keniscayaan yang paling kami takuti.

wreda dan berkelana di tiga kota pupus, diliputi ketidakpastian dan kemungkinan

Pada akhirnya, dengan segala

“kegagalan” untuk dilaksanakan.

keterbatasan kami dan semangat kami

Kami semua kebingungan. Namun,

untuk belajar bersama melalui kegiatan

meskipun masa depan tampak sangat

meretas pandemi ini dapat terwujud.

tidak pasti, kami berusaha saling menjaga

Rangkaian pertemuan demi pertemuan

iv


sudah kita lalui bersama. Mulai dari

Mbak Erlin, Kak Rully, Mama Martha,

kelas pengantar yang kadang terkesan

Bu Wieke, dan Mbah Sumirah. Banyak

agak terasa berat, ya. Namun, di

sekali yang bisa kami pelajari dari beliau

sisi lain banyak sekali pengetahuan

semua. Menghayati laku lansia membuat

yang baru dan membuka kepala kita

kami merasa jauh lebih bersemangat

meski ada sedikit kecemasan kalau-

untuk terus berkegiatan, menepis

kalau nantinya melanggar etika saat

kecemasan-kecemasan sekaligus

berinteraksi dengan para narasumber

stigma-stigma tentang menjadi tua.

lansia. Seiring dengan selesainya

Terima kasih pula kami ucapkan kepada

kelas-kelas pengantar yang menjadi

kesepuluh kolaborator tersayang:

bekal bersama dalam melangkah,

Arum, Maya, Jayu, Bu Ati, Putri, Kak

yang paling membuat kami terkesan

Lian, Riyana, Syska, Chiki, dan Astrid,

terhadap kawan-kawan kolaborator juga

yang sudah berkomitmen penuh untuk

karena kesepakatan-kesepakatan atas

bergabung dalam rangkaian acara yang

pertimbangan rasa aman serta rasa adil

maraton. Tak lupa juga, kami ucapkan

sebagai manusia kerap kita bincangkan

terima kasih pada para koordinator

bersama dan sepakati bersama.

dan pendamping lansia, tanpa mereka

Bersama-sama bersedia melebur

kami akan semakin deg-degan

dengan terbuka, melepaskan asumsi-

mempersiapkan kegiatan ini: ada Mas

asumsi dan menanggalkan sejenak

Sapta, Kak Martha, Mbak Tisan, Mbak

bayangan-bayangan yang kadang

Pipit, dan Bimo. Dan juga terima kasih

diam-diam ada di pikiran kita sebelum

buat para narasumber kelas pengantar

pertemuan.

yang keren-keren: Mbak Veda, Mbak Grace, Mbak Heni, dan Mbak Lisa.

Dari persiapan panjang hingga puncak

Terakhir namun tak terkira, kepada

acara “Merayakan Pertemuan” kita, pasti

PERETAS, atas kesempatan yang

banyak sekali kekurangan kami selaku

diberikan untuk panggilan berkumpul

penyelenggara. Dari kesalahan teknis

bersama lansia ini dapat terwujud dan

hingga salah kata dan salah paham.

berjalan lancar. Terima kasih banyak!

Semoga diterima sebagai proses kami belajar dan dimaafkan dengan lapang

Akhir kata, memasuki tahun kedua

dada.

wabah Covid-19 yang belum kunjung usai ini, kami belajar menghadapi

v

Terima kasih kami ucapkan kepada para

pandemi dengan jauh lebih optimis.

narasumber kami tercinta: Mbak Svet,

Pandemi tidak lantas membuat kita


kehilangan teman, bahkan ternyata dapat bertemu teman-teman baru. Memunculkan perasaan-perasaan yang hangat dan juga benih-benih inspirasi dalam menjalani hari-hari. Kami bahagia, kawan-kawan semua telah terpanggil untuk menyelami proses kreatif dalam pertemuan lintas generasi. Ini baru permulaan, semoga nanti lahir perpanjangan gagasan serta kerjakerja kreatif lainnya setelah mengalami ini semua. Oleh karena itu, mari kita rayakan semangat, harapan, dan daya sintas kita di sepanjang masa pandemi ini, baik di ruang virtual maupun kenyataan sehari-hari kini, dengan suka cita perempuan lintas batas. Salam sehat & bahagia! Ttd.

Grup Kelak Bakal Menua: Hindra bersama Luna, Natia, Wucha

vi


Catatan Reflektif

Menjadi Manusia Luna Kharisma

anggilan Berkumpul Bersama

menjalankan semuanya secara virtual

Lansia adalah proses berpikir

online, mengandalkan layanan internet.

yang panjang bagi saya. Bisa

Rapat online, pertemuan online, berdebat

dikatakan sangat melelahkan, tetapi juga

online, terharu online, bertengkar online,

begitu menyenangkan. Saya beruntung

bercerita online, mengeluh online, dan

atas semua hal yang saya lalui dalam

semuanya yang serba online. Pilihan online

kegiatan ini, mulai dari mempersiapkan,

ini merupakan pilihan kerja terbaik yang

melaksanakan, hingga merefleksikannya.

saat ini bisa kami lakukan untuk tetap

Saya sungguh belajar banyak hal, sekaligus

merealisasikan gagasan bertemu lansia

juga stres atas berbagai persoalan.

di tengah pandemi ini, dan tentu saja

Proses kegiatan ini benar-benar lebih

pilihan ini memuat konsekuensi yang harus

melelahkan daripada mempersiapkan

kami terjang sampai kegiatan selesai.

sebuah pertunjukan teater. Semua energi

Segala teknis dan rencana-rencana telah

terasa terkuras habis secara fisik, mental,

kami susun sedemikian rapi, meski jelas

emosional, juga intelektual. Belum lagi

tetap bocor di sana-sini, dan harus kami

ini adalah proses pertama bagi kami

akui: kegiatan ini tak melulu tentang

berempat—Grup Kelak Bakal Menua—

kesempurnaan dan keberhasilan, tapi juga

untuk merancang dan melaksanakan

tentang catatan kegagalan.

Foto Kelak Bakal Menua

sebuah kegiatan bersama. Bisa

1

dibayangkan betapa serunya perdebatan

Saya pernah menangis tersedu setelah

di antara kami berempat! Dan tidak hanya

pertemuan antara kami, lansia, dan

berdebat, kami juga bertengkar. Mbak

kolaborator selesai, saya lupa kapan,

Hindra dengan pemikiran dan rencana-

tapi yang jelas saya menangis. Saya

rencana hebatnya yang rapi, detail, dan

merasa lelah dan ingin marah karena

terstruktur tentu dalam prosesnya akan

teknis yang kami rencanakan kacau dan

bertabrakan dengan spirit kerja Mbak

ambyar, juga merasa sangat kurang

Natia dan Mbak Wucha yang woles,

dan belum maksimal dalam memandu

misalnya. Belum lagi gesekan-gesekan

acara. Saya menangis karena tidak bisa

dengan saya yang keras kepala dan sudah

mengungkapkan yang saya rasakan

biasa menjadi sutradara di panggung

kepada teman-teman tim, sedangkan saya

pertunjukan. Ditambah dengan konsep

tahu betul mereka semua pasti juga lelah

kegiatan yang mengharuskan kami

dan berat. Tangis itu membuat


Hindra Nek aku jg jujur iki projek pertama yg berkolaborasi dgn perempuan semuanya aku excited sih dan kita sejak awal saling support aku ngerasanya, saling ngelengkapi dan bukan kompetisi.. serius iki.

😀

*Chat terarsip dalam Grup What’sApp Lansia pada 14/04/20.

2


Catatan Reflektif

Menjadi Manusia Luna Kharisma

anggilan Berkumpul Bersama

menjalankan semuanya secara virtual

Lansia adalah proses berpikir

online, mengandalkan layanan internet.

yang panjang bagi saya. Bisa

Rapat online, pertemuan online, berdebat

dikatakan sangat melelahkan, tetapi juga

online, terharu online, bertengkar online,

begitu menyenangkan. Saya beruntung

bercerita online, mengeluh online, dan

atas semua hal yang saya lalui dalam

semuanya yang serba online. Pilihan online

kegiatan ini, mulai dari mempersiapkan,

ini merupakan pilihan kerja terbaik yang

melaksanakan, hingga merefleksikannya.

saat ini bisa kami lakukan untuk tetap

Saya sungguh belajar banyak hal, sekaligus

merealisasikan gagasan bertemu lansia

juga stres atas berbagai persoalan.

di tengah pandemi ini, dan tentu saja

Proses kegiatan ini benar-benar lebih

pilihan ini memuat konsekuensi yang harus

melelahkan daripada mempersiapkan

kami terjang sampai kegiatan selesai.

sebuah pertunjukan teater. Semua energi

Segala teknis dan rencana-rencana telah

terasa terkuras habis secara fisik, mental,

kami susun sedemikian rapi, meski jelas

emosional, juga intelektual. Belum lagi

tetap bocor di sana-sini, dan harus kami

ini adalah proses pertama bagi kami

akui: kegiatan ini tak melulu tentang

berempat—Grup Kelak Bakal Menua—

kesempurnaan dan keberhasilan, tapi juga

untuk merancang dan melaksanakan

tentang catatan kegagalan.

sebuah kegiatan bersama. Bisa dibayangkan betapa serunya perdebatan di antara kami berempat! Dan tidak hanya berdebat, kami juga bertengkar. Mbak Hindra dengan pemikiran dan rencanarencana hebatnya yang rapi, detail, dan terstruktur tentu dalam prosesnya akan bertabrakan dengan spirit kerja Mbak Natia dan Mbak Wucha yang woles, misalnya. Belum lagi gesekan-gesekan dengan saya yang keras kepala dan sudah biasa menjadi sutradara di panggung pertunjukan. Ditambah dengan konsep kegiatan yang mengharuskan kami

3

Saya pernah menangis tersedu setelah pertemuan antara kami, lansia, dan kolaborator selesai, saya lupa kapan, tapi yang jelas saya menangis. Saya merasa lelah dan ingin marah karena teknis yang kami rencanakan kacau dan ambyar, juga merasa sangat kurang dan belum maksimal dalam memandu acara. Saya menangis karena tidak bisa mengungkapkan yang saya rasakan kepada teman-teman tim, sedangkan saya tahu betul mereka semua pasti juga lelah dan berat. Tangis itu membuat


saya berpikir ulang, kenapa saya mau

sekitar, termasuk juga hubungan saya

menerima tawaran Mbak Hindra untuk

dengan orang-orang lain yang lebih tua,

bergabung dalam agenda ini. Ingatan

apalagi bapak/ibu/nenek/kakek/lansia

saya berputar-putar tentang pertemuan

lain. Pola hubungan yang hegemonik ini

pertama saya dengan Mbak Hindra di

mendorong kita untuk berasumsi bahwa

Poso (Peretas: Panggilan Berkumpul 01,

bertemu dan berbicara dengan orang

Maret 2019). Kami menjadi akrab karena

yang lebih tua pasti selalu terbatas

obrolan tentang kisah ibu kami masing-

pada sikap yang hormat, hati-hati, rasa

masing yang sama-sama kami tukar-

tidak enakan/pekewuh, bicara yang

tangkapkan di dalam kamar penginapan.

sekadarnya agar tidak berbelit-belit

Kisah dua ibu lanjut usia yang menjalani

dan terlalu jauh, atau juga berujung

kehidupan dengan cara dan dayanya.

pada sempitnya cara pandang kita

Kisah Ibu yang seketika membuat saya

terhadap pola-pola obrolan yang bisa

terkoneksi dengan Mbak Hindra meski

atau mungkin dipercakapkan bersama

baru bertemu kali itu. Memori dan

mereka. Misalnya, kita merasa digurui,

percakapan kami tentang ibu, membuat

atau sering dinasihati yang bermacam-

saya mendadak seperti terkoneksi ulang

macam dan biasanya nasihat-nasihat itu

dengan para perempuan lansia yang

tidak sesuai dengan prinsip hidup yang

saya temui saat ini dalam Panggilan

selama ini kita jalani. Bahkan mungkin

Berkumpul Bersama Lansia. Kisah ibu

juga kita merasa menjadi yang lebih

kami adalah satu hal yang membuat

tahu dari para orang tua itu karena

saya menemukan kembali titik balik

faktor pendidikan kita yang lebih tinggi,

untuk terus memaknai pertemuan ini.

atau karena kehidupan kota yang kita bangga-banggakan dibandingkan

Belajar Bersama Lansia

mereka yang ada di desa. Begitu juga dengan orang-orang tua, merasa lebih

Hubungan antara orang tua atau orang

tahu dibanding yang lebih muda. Hal-hal

yang lebih tua terhadap yang lebih

yang menurut saya hegemonik ini selalu

muda selalu hegemonik. Setidaknya

muncul dan bergesekan dalam relasi

seperti itu yang sering saya temui di

antara yang muda dan yang tua. Bahkan,

“Pertukaran pengetahuan antara generasi muda dan para lansia terjadi secara setara. Kami saling belajar, belajar bersama. Kami tidak menganggap ada yang lebih ‘elite’ dari yang lainnya. Kedua belah pihak, dua atau tiga perempuan dari generasi yang berbeda bercakap dan bertukar cerita, bertukar energi, saling menghargai”. 4


penyebutan yang tua dan yang muda ini

antara generasi muda dan para lansia

pun juga sangat hegemonik.

terjadi secara setara. Kami saling belajar, belajar bersama. Kami tidak

Kekuatan yang hegemonik ini

menganggap ada yang lebih ‘elite’ dari

memunculkan kehati-hatian pula dalam

yang lainnya. Kedua belah pihak, dua

perjalanan menuju pertemuan antara

atau tiga perempuan dari generasi yang

para kolaborator dan lansia. Sering

berbeda bercakap dan bertukar cerita,

kali ketika rapat, beberapa kolaborator

bertukar energi, saling menghargai

merasa cemas dengan perbincangan

sehingga pengetahuan yang dihasilkan

apa yang akan mereka lontarkan ketika

juga tidak hanya dari satu arah saja.

sudah bertemu para lansia. Sering kali

Kami bertukar tangkap dengan lepas.

juga muncul kecurigaan-kecurigaan, seperti “kira-kira para lansia ngerti

Proses belajar yang setara ini tidak

enggak ya sama yang bakal aku

bisa terjadi apabila kita tak saling

tanyain?” atau “aku tu takut juga bakal

menempatkan diri dan memandang

matgay (baca: mati gaya)”. Kecurigaan-

orang lain sebagai subjek.

kecurigaan itu bertambah parah dengan kecemasan atas media yang kami

Bagi saya praktik “menatap subjek”

gunakan, yaitu Zoom Meeting. Media

ini sulit dilakukan, karena diri sering

online dicurigai sebagai sesuatu yang

kali dipenuhi asumsi, ekspektasi, atau

sifatnya “tidak murni”, “tidak asli”, atau

konstruksi berpikir masyarakat yang

hanya sebagai pengganti pertemuan

sangat patriarkis sehingga narasi-

langsung/fisik. Keluhan-keluhan yang

narasi kecil sesederhana pengetahuan

sudah hampir menjadi santapan setiap

memasak, misalnya, tidak dianggap

hari adalah seperti “wah coba kalau

sebagai suatu pengetahuan, atau tidak

ketemu langsung ya, pasti seru! Lah

dianggap sebagai sesuatu yang valid.

kalo online takut garing”, hingga “duh

Namun, dalam pertemuan kami bersama

bisa enggak ya oma-oma itu ngobrol

para lansia perempuan ini, praktik

online, tahu teknisnya enggak ya?” dan

‘menatap subyek’ menjadi sesuatu

kecemasan-kecemasan lain misalnya

yang embodied. Antara perempuan

atas trauma-trauma pribadi, atau

satu dan yang lainnya saling mengakui

trigger warning atas kisah-kisah yang

pengalaman hidup mereka sebagai

menyedihkan. Meskipun kecemasan-

narasi yang sama-sama penting.

kecemasan itu sangat beralasan—dan

Kesadaran atas narasi perempuan bagi

kami memang memikirkan semua

kami semua adalah ada dan penting.

kecemasan-kecemasan itu dan berusaha

5

mencari antisipasi bersama—tetapi

Saya pernah merasakan peristiwa

yang terjadi justru malah sebaliknya.

yang sekuat ini dan hanya sekali, yaitu

Pertemuan demi pertemuan kami lewati

saat saya melakukan riset tentang

bersama dengan sukacita. Dan ini yang

janda untuk kepentingan studi dan

penting, bahwa pertukaran pengetahuan

pertunjukan teater saya. Perasaan


yang kuat ini ternyata saya rasakan

kenikmatan-kenikmatan ini dalam

kembali dalam peristiwa pertemuan

bayangan saya mungkin bisa saja tidak

bersama para lansia. Saya sempat

hadir ketika perjumpaan bersama lansia

berpikir, apakah ini adalah produksi

terjadi secara fisik. Ada wilayah-wilayah

pengetahuan yang khas perempuan?

tafsir lain ketika kami mendengarkan

Produksi pengetahuan bersama yang

obrolan para lansia, ada lapisan-lapisan

bagi saya terasa begitu dekat dan

lain yang tak melulu harus terejawantah.

membumi. Namun, pertanyaan itu

Keharuan-keharuan ini, rasa saling

tidak saya lanjutkan kembali agar tidak

memiliki ini, bahkan kelelahan-kelelahan

terjebak pada legitimasi pengetahuan,

ini, ternyata bisa hidup dalam pertemuan

sedangkan apa yang saya dapatkan

virtual tanpa harus takut tereduksi oleh

ini begitu dinamis. Melegitimasinya

apapun bahkan oleh sinyal yang hidup-

menurut saya hanya akan merusak

mati sekalipun.

sifatnya yang indah dan cair. Hal lain yang perlu saya yakini setelah melalui perjalanan panjang dalam merencanakan hingga melaksanakan

Sejarah yang Lain dan Asumsi-Asumsi yang Berlepasan

Panggilan Berkumpul Bersama Lansia

Jika ada satu hal yang harus saya

adalah juga soal perlakuan kita pada

sebutkan dan membuat saya belajar

media, perantaraan untuk bertemu

lewat kegiatan ini adalah betapa

dengan manusia lain. Setelah banyak

asumsi-asumsi kita tentang manusia

diskusi yang terlewati soal media

lain selalu kelewat angkuh. Pengalaman

online, baik dalam peristiwa-peristiwa

bertemu dan belajar dengan kawan-

yang saya lalui, seperti kegiatan belajar

kawan kolaborator, para koordinator dan

mengajar, pertunjukan, seminar, FGD,

pendamping lansia, para narasumber

dramatic reading, hingga pertemuan

kelas pengantar, hingga para lansia

bersama lansia ini, saya mendapati

ternyata membuat saya perlu mencurigai

bahwa media online sebagai perantaraan

ulang segala asumsi-asumsi yang

bertemu bukan hanya sebagai substitusi

tumbuh di kepala saya sebelumnya, atau

atas pertemuan fisik yang harusnya

asumsi-asumsi yang muncul di sekitaran

terjadi. Teknologi ini ada untuk dicari

saya soal perempuan dan lansia. Salah

dan dimaknai ulang fungsinya oleh

satunya yang sederhana misalnya,

manusia. Bagi saya, pertemuan virtual

saya sudah berpikir bahwa mengobrol

tak akan bisa diperbandingkan dengan

dengan Mami Rully (lansia transpuan)

pertemuan fisik karena masing-masing

pasti rentan dengan kisah-kisah yang

mempunyai kenikmatan yang berbeda

menyakitkan sekaligus menyedihkan

pula. Melalui pengalaman bertemu

sehingga saya perlu menyampaikan

virtual, saya merasakan kenikmatan

pada Riyana bahwa ia mungkin harus

lain yang tidak saya temukan ketika

bersiap-siap trigger warning untuk

melakukan perjumpaan fisik, dan

dirinya sendiri. Ternyata, asumsi saya

6


salah total. Riyana dan Kak Lian bahkan

berlepasan, digantikan dengan narasi-

tidak perlu menangis mendengar kisah

narasi lain yang bermunculan, tentang

hidup Mami Rully yang penuh liku karena

geliat kehidupan, tangguhnya langkah,

Mami Rully menyampaikan dengan

pengalaman gagal, merawat tradisi, dan

sangat tenang, sangat bersemangat,

narasi-narasi lainnya yang tak kalah luar

bahkan terasa bahwa Mami Rully telah

biasa. Narasi-narasi itu seolah naik ke

melampaui pengalaman-pengalamannya

permukaan, menjadi “sejarah yang lain”

itu. Sehingga narasi yang muncul adalah

(seperti apa yang menjadi tajuk kegiatan

narasi keberdayaan, narasi tentang daya

kami: Biarlah Kutulis untukmu Sebuah

sintas yang luar biasa tangguh dari

Cerita Sejarah yang Lain), sesuatu yang

seorang perempuan.

sederhana yang menjadi memori kelak. Sejarah lain yang kini masuk ke celah

Berbeda lagi dengan pengalaman Jayu,

batin kami masing-masing.

saya dan Jayu sering mengobrol via chat Signal atau WA untuk membahas tentang bagaimana persiapan menghadapi Mbak Svetlana yang

Saling Hubung Tak Berkesudahan

merupakan penyintas ‘65 generasi

Juli 2019, jauh sebelum kegiatan

kedua. Obrolan apa yang akan sebaiknya

Panggilan Berkumpul Bersama Lansia,

dilontarkan lebih dulu ke Mbak Svet,

ibunda Mbak Hindra berpulang. Saya

kira-kira beliau tersinggung atau tidak,

merasa sangat kehilangan, meski kami

atau bayangan-bayangan bahwa obrolan

belum pernah bertemu. Diam-diam,

mereka nanti akan kurang bisa terbuka,

semakin hari saya semakin khawatir jika

dan perkiraan-perkiraan lainnya yang

suatu saat nanti harus berpisah dengan

kami cemaskan bersama. Ternyata

mamah saya. Saya tidak pernah sanggup

setelah Jayu dan Maya bertemu dengan

membayangkan bahwa kami harus saling

Mbak Svet, mereka cepat menjadi

meninggalkan nanti, entah siapa yang

akrab, akhirnya membuat grup WA,

duluan. Perjalanan hidup kami begitu

dan bahkan saling mengagumi satu

panjang dan penuh kenangan setiap

sama lain. Hal yang sama juga terjadi

tapaknya. Mamah saya seorang janda

di kelompok Bu Wieke-Astrid, Mama

yang meyakini bahwa perempuan bisa

Martha-Chiki-Syska, Mbah Sumirah-

hidup sendiri di atas kakinya tanpa perlu

Arum, dan Bu Erlin-Bu Ati-Putri. Melalui

dijajah oleh laki-laki.

proses pertemuan ini, asumsi-asumsi itu

“Sekeras apa pun semesta akan melibas, kenangan-kenangan itu akan tetap meranggas, hidup dalam sudut hati kita yang terdalam. Karena demikianlah kasih bekerja di dalam diri kita: manusia.” 7


Sejak dimulainya kegiatan Panggilan

terlalu tidak masuk akal untuk kami.

Berkumpul Bersama Lansia ini, saya

Sebagaimana kisah-kisah para perempuan

terus melewati kegiatan ini satu per satu

lansia yang saya temui, narasi-narasi milik

bersama Mamah pula, meski Mamah tak

Mamah adalah sejarah lisan yang berharga

pernah terlihat di layar Zoom. Apa yang

bagi saya. Ia adalah pengetahuan yang

dibahas bersama para perempuan lansia

begitu nyata ada di depan mata. Saya tak

itu juga kami bahas setelah tiap pertemuan

perlu takut kehilangan karena apa yang ia

selesai. Mamah hafal semua tembang-

bagi sejatinya telah saya miliki.

tembang (lagu) yang dinyanyikan oleh Mbah Sumirah karena tembang-tembang

Saya merasa bahwa apa yang saya

itu juga sering Mamah nyanyikan dulu

alami dalam perjalanan kegiatan ini, baik

sewaktu masih kanak-kanak. Sering kali

dengan Grup Kelak Bakal Menua, dengan

saya dan Mamah berdiskusi atas temuan-

Peretas, dengan para lansia, dan dengan

temuan yang dibicarakan dalam FGD

mamah saya, adalah sesuatu yang saling

bersama para kolaborator, tentang daya

terhubung dan tak pernah berkesudahan.

sintas perempuan, misalnya, tentang

Melalui proses ini saya juga pelan-pelan

semangat menari Mama Martha, atau

mengurai perasaan-perasaan tak menentu

keahlian Bu Erlin dalam meramu sesajen.

atas ketakutan saya ketika suatu saat

Kisah-kisah para lansia ini ternyata

harus berpisah dengan Mamah. Saya

membuka cerita dari Mamah pula. Mamah

yakin bahwa Mamah akan terus hidup di

mengulang kembali kisah masa-masa

hati saya, begitu pun sebaliknya, seperti

mudanya, kisah tari-tari tradisi yang

bagaimana Mbak Svet, Bu Erlin, Mbah

pernah dipelajarinya, kisah tentang dirinya

Sumirah, Mama Martha, Mami Rully, dan

yang jago nembang lagu tradisional anak-

Bu Wieke hidup dalam hati sanubari saya.

anak, kisah perempuan yang sebetulnya

Sekeras apa pun semesta akan melibas,

suka menulis puisi dan bahkan pernah

kenangan-kenangan itu akan tetap

menghasilkan satu novel utuh, kisah

meranggas, hidup dalam sudut hati kita

tentang anak perempuan yang sedari

yang terdalam. Karena demikianlah kasih

kanak-kanak telah kehilangan ibunya dan

bekerja di dalam diri kita: manusia.

harus merasakan mempunyai ibu sambung, kisah tentang pernikahan yang gagal, kisah tentang hantu dan hal-hal astral

Surakarta, 22 Mei 2021

yang pernah dilihat oleh Mamah, kisahkisah lain yang selama ini mungkin pernah kami perbincangkan, tetapi sulit kami maknai kembali. Perjalanan pertemuan bersama para lansia ini membawa arti bagi kami untuk terus berbincang, memaknai ulang, kadang juga tertawa untuk mempertanyakan kembali pengalamanpengalaman hidup yang mungkin terasa

8


Menjadi tua adalah ketidakberdayaan. Setiap ulang tahun, aku merasa kehilangan diriku sendiri dan enggan mendapatkan ucapan dari siapa pun bahkan keluarga sekalipun. Aku merasa pertambahan umur adalah sesuatu yang kondtradiktif, saat makin matang di

Kolase dan Foto Kelompok Mba Svet

situ pula makin mendekatkanku pada ketidakberdayaan. Dari tahun ke tahun, aku selalu gelisah dan resah. Segala perspektif menjadi negatif, aku takut dan mengerut di ujung lorongku sendiri dan berharap umurku tetap segini walaupun tentu saja pikiran dan mentalku harus melompat lebih jauh. Ada stigma dalam benakku bahwa menjadi tua akan berujung pada perilaku yang sama, yaitu kemunduran fisik dan mental. Lelah dan rebah.

Begitu obsesifnya diriku saat ini dengan usia muda karena aku merasa belum bisa mencapai semua yang kuinginkan dari seluruh waktu yang kupunya. Lalu sejauh mana aku akan mulai menerima dengan sukarela untuk menghadapi fase kehidupan yang tak mungkin ditolak ini? (kecuali aku mati duluan tentunya). Sesungguhnya, tulisan ini untukku menjadi kontemplasi yang sejatinya mau tidak mau membuatku berpikir ulang:

“Mau apa nanti ketika aku memasuki usia tua?” Kata tua selalu memiliki konotasi intrinsik negatif dalam pola pikirku selama ini karena aku tidak memiliki figur yang menunjukkan bahwa menjadi tua itu menyenangkan. Tidak ada satu pun orang lanjut usia di sekitarku yang menjalani kehidupan mereka tanpa penyesalan, sekalipun itu hanya satu penyesalan. Mungkin beberapa merasa bahagia, tapi belum tentu merasa puas. Pasti ada ambisi yang tertinggal dan harus ditinggal. Masa tua menjadi masa menakutkan karena hanya tinggal menghabiskan waktu menunggu

9


Prestasi Memaafkan

Syukur pada Tuhan

Lansia Bahagia

Aktivitas Fisik

Budaya

Silaturahmi

Kemakmuran

Hubungan Baik dengan Keluarga

Sehat Agama

*diambil dari materi Kelas Pengantar Berkumpul Barsama Lansia yang disusun oleh Heni Wardatur Rohmah, penggerak posyandu lansia.

10


Menjadi Tua Jayu Juli

Menjadi tua adalah ketidakberdayaan. Setiap ulang tahun, aku merasa kehilangan diriku sendiri dan enggan mendapatkan ucapan dari siapa pun bahkan keluarga sekalipun. Aku merasa pertambahan umur adalah sesuatu yang kondtradiktif, saat makin matang di situ pula makin mendekatkanku pada ketidakberdayaan. Dari tahun ke tahun, aku selalu gelisah dan resah. Segala perspektif menjadi negatif, aku takut dan mengerut di ujung lorongku sendiri dan berharap umurku tetap segini walaupun tentu saja pikiran dan mentalku harus melompat lebih jauh. Ada stigma dalam benakku bahwa menjadi tua akan berujung pada perilaku yang sama, yaitu kemunduran fisik dan mental. Lelah dan rebah. Begitu obsesifnya diriku saat ini dengan usia muda karena aku merasa belum bisa mencapai semua yang kuinginkan dari seluruh waktu yang kupunya. Lalu sejauh mana aku akan mulai menerima dengan sukarela untuk menghadapi fase kehidupan yang tak mungkin ditolak ini? (kecuali aku mati duluan tentunya). Sesungguhnya, tulisan ini untukku menjadi kontemplasi yang sejatinya mau tidak mau membuatku berpikir ulang:

“Mau apa nanti ketika aku memasuki usia tua?” Kata tua selalu memiliki konotasi intrinsik negatif dalam pola pikirku selama ini karena aku tidak memiliki figur yang menunjukkan bahwa menjadi tua itu menyenangkan. Tidak ada satu pun orang lanjut usia di sekitarku yang menjalani kehidupan mereka tanpa penyesalan, sekalipun itu hanya satu penyesalan. Mungkin beberapa merasa bahagia, tapi belum tentu merasa puas. Pasti ada ambisi yang tertinggal dan harus ditinggal. Masa tua menjadi masa menakutkan karena hanya tinggal menghabiskan waktu menunggu

11


mati dengan ketidakberdayaan. Lalu, datanglah garis takdir yang akhirnya menjadikanku ikut dalam proyek bersama lansia ini. Dari awal aku yakin bahwa ini adalah jalan yang membawaku untuk membuka pikiran yang telah tersumbat sejak lama. Saat awal pertemuan dan perkenalanku dengan mereka di ruang virtual, dengan Mbak Svet, Kak Rully, Mbak Wieke, Mbah Sumirah, Mama Martha dan Bu Erlin, sesungguhnya banyak hal yang membuncah yang ingin aku dengar dari beliau-beliau ini. Bagaimana caranya mereka melewati perjalanan—hampir ratarata 70 tahun—selama ini dengan latar belakang mereka? Apa yang ada di benak mereka sebagai lansia saat ini? Adakah impian masa muda yang akhirnya harus mereka lupakan akibat dari derunya waktu yang mengejar? Dari menit ke menit, jam ke jam, pertemuan ke pertemuan yang kami lalui, sedikit banyak aku telah mengambil pandangan bahwa mereka sama seperti setiap kelompok lain dalam masyarakat, yaitu terdapat perbedaan besar di antara para lansia yang semuanya memiliki kemampuan, latar belakang, perilaku, sikap, nilai, dan pandangan berbeda tentang kehidupan. Dan perbedaan ini membuatku jadi tertarik, bahwa masa ini adalah masa yang juga patut dirayakan. Mbak Svet contohnya, sejak kecil tumbuh dengan ditempa ujian kehidupan yang membuatnya menjadi lebih kuat dan lebih logis memandang hidup. Juga menjadikannya lebih peka terhadap sekelilingnya karena selalu memosisikan dirinya sebagai orang lain. Bahkan setelah itu semua, di masa tua ini beliau menjadi lebih santai dalam menghadapi gelombang kehidupan dan yakin bahwa semua ada waktunya. Semua ada tempatnya. Ambilah jeda dan beristirahatlah untuk memeluk diri sendiri. Masa muda adalah masa panas, masa tua adalah masa sejuk. Masa dimana waktunya berdamai dan memaafkan. Atau Kak Rully, yang menghadapi usia senjanya dengan mendedikasikan hidupnya untuk orang lain yang membutuhkan pertolongan. Di usia tualah justru beliau lebih produktif dan lebih berkontribusi untuk orang lain. Dengan previlese-nya beliau tidak hanya bergerak sendiri, tapi juga mengajak orang-orang yang termarginalkan untuk mengurai stigma masyarakat dengan menabur kebaikan dan kasih sayang tanpa memandang bulu. Tentu saja buah kebaikan ini tidak hanya tumbuh untuk dirinya

12


sendiri, tapi juga untuk sekitarnya. Tumbuh membesar dan menjadi rantai ekosistem yang penuh cinta. Begitu juga dari Mama Martha aku belajar bahwa sebagai orang yang lebih tua justru memiliki kesempatan besar untuk membentuk generasi berikutnya, memiliki lebih banyak hal untuk diajarkan dan diberikan kepada dunia pada tahap kehidupan ini daripada sebelumnya. Seperti ilmu tarian dan budaya adat istiadat yang beliau turunkan untuk generasi anak dan cucunya. Warisan itu akan terus lestari tak tergerus zaman seperti apa yang dicita-citakannya sampai di usia ini. Banyak lagi pelajaran-pelajaran berharga lain yang aku dapatkan dari Mbak Wieke, Mbah Sumirah, dan Bu Erlin mengenai “waktu-waktu emas untuk mencintai diri sendiri”. Dari mereka, aku cukup tersadar bahwa masa muda bukanlah segalanya yang diinginkan. Justru kita lebih bisa membiarkan hal-hal bodoh berlalu dan melanjutkan menikmati hidup dengan lebih memahami diri. Menjadi tua tidak perlu lagi membuat banyak keputusan besar mengenai jalan hidup yang malah membuat stres (dan tentu saja sekarang aku sedang berada dalam tahap ini). Lalu, apakah setelah ini aku (masih) takut untuk menjadi tua? Tentu saja masih, tetapi syukurnya tidak lagi ragu untuk menyambutnya. Setidaknya kini aku tahu aku harus memegang kunci. Kunci untuk memiliki usia tua yang menakjubkan bergantung pada apa yang aku lakukan sekarang, sama seperti pelajaran-pelajaran yang aku dapatkan dari hasil mendengarkan cerita hidup beliau-beliau. Menjadi tua cukup menikmati pilihan yang sudah dibuat. Karena pengalaman hidup sering kali membawa hikmat. Dan perspektif. Dan itu adalah komoditas berharga yang tidak dimiliki anak muda. Masa tua adalah masa emas untuk memeluk diri sendiri sepenuh hati. Cinere, 4 Mei 2021

Salam hangat,

Jayu Juli 13


>>> Konsep zine sejatinya memiliki etos D.I.Y/Do It Yourself yang menekankan pada semangat kemandirian dan kerja sama, menolak untuk bergantung dengan struktur-struktur yang ada bagaimanapun hasilnya nanti. Orang aneh, kutu buku, kuper, serta mereka yang dikucilkan oleh lingkungan adalah karakter orangorang yang biasanya membuat zine di Amerika. Mereka merayakan kehidupan mereka yang tak tampak tadi menjadi sebuah wujud yang begitu jelas di depan orang, lewat zine-zine mereka. (Stephen Duncombe dalam buku berjudul Notes From The Underground: Zines and The Politics of Alternative

Judul zine ini adalah simulacRoom,

Culture). Zine ini untuk saya adalah

di mana saya memliki tujuan untuk

karya output yang sangat personal

mempresentasikan salinan memori

dalam pertemuan ini.

realitas kami selama kehidupan yang dijalani, di mana ada memori yang

Di mana dalam pertemuan-pertemuan

sangat diingat, setengah diingat, ingin

kami, kami saling bercerita,

dilupakan, atau bahkan terlupakan

mendengarkan, menggali dan

sendiri.

menimpali, seperti laiknya zine yang penuh dengan tempelan kolase visual

Kami saling bongkar tempel memori-

yang tumpang tindih saling melengkapi

memori tersebut dalam ruang virtual.

di ruang kosong.

Di situlah ruangan kami. Dan yang spesialnya lagi di sini, untuk pertama kalinya Mbak Svet menulis lagi setelah sekian lama tidak menulis sampai selesai. Beliau menulis lagi khusus untuk zine ini.

>>>

14


15


>>> Konsep zine sejatinya memiliki etos D.I.Y/Do It Yourself yang menekankan pada semangat kemandirian dan kerja sama, menolak untuk bergantung dengan struktur-struktur yang ada bagaimanapun hasilnya nanti. Orang aneh, kutu buku, kuper, serta mereka yang dikucilkan oleh lingkungan adalah karakter orangorang yang biasanya membuat zine di Amerika. Mereka merayakan kehidupan mereka yang tak tampak tadi menjadi sebuah wujud yang begitu jelas di depan orang, lewat zine-zine mereka. (Stephen Duncombe dalam buku berjudul Notes From The Underground: Zines and The Politics of Alternative

Judul zine ini adalah simulacRoom,

Culture). Zine ini untuk saya adalah

di mana saya memliki tujuan untuk

karya output yang sangat personal

mempresentasikan salinan memori

dalam pertemuan ini.

realitas kami selama kehidupan yang dijalani, di mana ada memori yang

Di mana dalam pertemuan-pertemuan

sangat diingat, setengah diingat, ingin

kami, kami saling bercerita,

dilupakan, atau bahkan terlupakan

mendengarkan, menggali dan

sendiri.

menimpali, seperti laiknya zine yang penuh dengan tempelan kolase visual

Kami saling bongkar tempel memori-

yang tumpang tindih saling melengkapi

memori tersebut dalam ruang virtual.

di ruang kosong.

Di situlah ruangan kami. Dan yang spesialnya lagi di sini, untuk pertama kalinya Mbak Svet menulis lagi setelah sekian lama tidak menulis sampai selesai. Beliau menulis lagi khusus untuk zine ini.

>>>



>>> Konsep zine sejatinya memiliki etos D.I.Y/Do It Yourself yang menekankan pada semangat kemandirian dan kerja sama, menolak untuk bergantung dengan struktur-struktur yang ada bagaimanapun hasilnya nanti. Orang aneh, kutu buku, kuper, serta mereka yang dikucilkan oleh lingkungan adalah karakter orangorang yang biasanya membuat zine di Amerika. Mereka merayakan kehidupan mereka yang tak tampak tadi menjadi sebuah wujud yang begitu jelas di depan orang, lewat zine-zine mereka. (Stephen Duncombe dalam buku berjudul Notes From The Underground: Zines and The Politics of Alternative

Judul zine ini adalah simulacRoom,

Culture). Zine ini untuk saya adalah

di mana saya memliki tujuan untuk

karya output yang sangat personal

mempresentasikan salinan memori

dalam pertemuan ini.

realitas kami selama kehidupan yang dijalani, di mana ada memori yang

Di mana dalam pertemuan-pertemuan

sangat diingat, setengah diingat, ingin

kami, kami saling bercerita,

dilupakan, atau bahkan terlupakan

mendengarkan, menggali dan

sendiri.

menimpali, seperti laiknya zine yang penuh dengan tempelan kolase visual

Kami saling bongkar tempel memori-

yang tumpang tindih saling melengkapi

memori tersebut dalam ruang virtual.

di ruang kosong.

Di situlah ruangan kami. Dan yang spesialnya lagi di sini, untuk pertama kalinya Mbak Svet menulis lagi setelah sekian lama tidak menulis sampai selesai. Beliau menulis lagi khusus untuk zine ini.

>>>



>>> Konsep zine sejatinya memiliki etos D.I.Y/Do It Yourself yang menekankan pada semangat kemandirian dan kerja sama, menolak untuk bergantung dengan struktur-struktur yang ada bagaimanapun hasilnya nanti. Orang aneh, kutu buku, kuper, serta mereka yang dikucilkan oleh lingkungan adalah karakter orangorang yang biasanya membuat zine di Amerika. Mereka merayakan kehidupan mereka yang tak tampak tadi menjadi sebuah wujud yang begitu jelas di depan orang, lewat zine-zine mereka. (Stephen Duncombe dalam buku berjudul Notes From The Underground: Zines and The Politics of Alternative

Judul zine ini adalah simulacRoom,

Culture). Zine ini untuk saya adalah

di mana saya memliki tujuan untuk

karya output yang sangat personal

mempresentasikan salinan memori

dalam pertemuan ini.

realitas kami selama kehidupan yang dijalani, di mana ada memori yang

Di mana dalam pertemuan-pertemuan

sangat diingat, setengah diingat, ingin

kami, kami saling bercerita,

dilupakan, atau bahkan terlupakan

mendengarkan, menggali dan

sendiri.

menimpali, seperti laiknya zine yang penuh dengan tempelan kolase visual

Kami saling bongkar tempel memori-

yang tumpang tindih saling melengkapi

memori tersebut dalam ruang virtual.

di ruang kosong.

Di situlah ruangan kami. Dan yang spesialnya lagi di sini, untuk pertama kalinya Mbak Svet menulis lagi setelah sekian lama tidak menulis sampai selesai. Beliau menulis lagi khusus untuk zine ini.

>>>



>>> Konsep zine sejatinya memiliki etos D.I.Y/Do It Yourself yang menekankan pada semangat kemandirian dan kerja sama, menolak untuk bergantung dengan struktur-struktur yang ada bagaimanapun hasilnya nanti. Orang aneh, kutu buku, kuper, serta mereka yang dikucilkan oleh lingkungan adalah karakter orangorang yang biasanya membuat zine di Amerika. Mereka merayakan kehidupan mereka yang tak tampak tadi menjadi sebuah wujud yang begitu jelas di depan orang, lewat zine-zine mereka. (Stephen Duncombe dalam buku berjudul Notes From The Underground: Zines and The Politics of Alternative

Judul zine ini adalah simulacRoom,

Culture). Zine ini untuk saya adalah

di mana saya memliki tujuan untuk

karya output yang sangat personal

mempresentasikan salinan memori

dalam pertemuan ini.

realitas kami selama kehidupan yang dijalani, di mana ada memori yang

Di mana dalam pertemuan-pertemuan

sangat diingat, setengah diingat, ingin

kami, kami saling bercerita,

dilupakan, atau bahkan terlupakan

mendengarkan, menggali dan

sendiri.

menimpali, seperti laiknya zine yang penuh dengan tempelan kolase visual

Kami saling bongkar tempel memori-

yang tumpang tindih saling melengkapi

memori tersebut dalam ruang virtual.

di ruang kosong.

Di situlah ruangan kami. Dan yang spesialnya lagi di sini, untuk pertama kalinya Mbak Svet menulis lagi setelah sekian lama tidak menulis sampai selesai. Beliau menulis lagi khusus untuk zine ini.

>>>



>>> Konsep zine sejatinya memiliki etos D.I.Y/Do It Yourself yang menekankan pada semangat kemandirian dan kerja sama, menolak untuk bergantung dengan struktur-struktur yang ada bagaimanapun hasilnya nanti. Orang aneh, kutu buku, kuper, serta mereka yang dikucilkan oleh lingkungan adalah karakter orangorang yang biasanya membuat zine di Amerika. Mereka merayakan kehidupan mereka yang tak tampak tadi menjadi sebuah wujud yang begitu jelas di depan orang, lewat zine-zine mereka. (Stephen Duncombe dalam buku berjudul Notes From The Underground: Zines and The Politics of Alternative

Judul zine ini adalah simulacRoom,

Culture). Zine ini untuk saya adalah

di mana saya memliki tujuan untuk

karya output yang sangat personal

mempresentasikan salinan memori

dalam pertemuan ini.

realitas kami selama kehidupan yang dijalani, di mana ada memori yang

Di mana dalam pertemuan-pertemuan

sangat diingat, setengah diingat, ingin

kami, kami saling bercerita,

dilupakan, atau bahkan terlupakan

mendengarkan, menggali dan

sendiri.

menimpali, seperti laiknya zine yang penuh dengan tempelan kolase visual

Kami saling bongkar tempel memori-

yang tumpang tindih saling melengkapi

memori tersebut dalam ruang virtual.

di ruang kosong.

Di situlah ruangan kami. Dan yang spesialnya lagi di sini, untuk pertama kalinya Mbak Svet menulis lagi setelah sekian lama tidak menulis sampai selesai. Beliau menulis lagi khusus untuk zine ini.

>>>



>>> Konsep zine sejatinya memiliki etos D.I.Y/Do It Yourself yang menekankan pada semangat kemandirian dan kerja sama, menolak untuk bergantung dengan struktur-struktur yang ada bagaimanapun hasilnya nanti. Orang aneh, kutu buku, kuper, serta mereka yang dikucilkan oleh lingkungan adalah karakter orangorang yang biasanya membuat zine di Amerika. Mereka merayakan kehidupan mereka yang tak tampak tadi menjadi sebuah wujud yang begitu jelas di depan orang, lewat zine-zine mereka. (Stephen Duncombe dalam buku berjudul Notes From The Underground: Zines and The Politics of Alternative

Judul zine ini adalah simulacRoom,

Culture). Zine ini untuk saya adalah

di mana saya memliki tujuan untuk

karya output yang sangat personal

mempresentasikan salinan memori

dalam pertemuan ini.

realitas kami selama kehidupan yang dijalani, di mana ada memori yang

Di mana dalam pertemuan-pertemuan

sangat diingat, setengah diingat, ingin

kami, kami saling bercerita,

dilupakan, atau bahkan terlupakan

mendengarkan, menggali dan

sendiri.

menimpali, seperti laiknya zine yang penuh dengan tempelan kolase visual

Kami saling bongkar tempel memori-

yang tumpang tindih saling melengkapi

memori tersebut dalam ruang virtual.

di ruang kosong.

Di situlah ruangan kami. Dan yang spesialnya lagi di sini, untuk pertama kalinya Mbak Svet menulis lagi setelah sekian lama tidak menulis sampai selesai. Beliau menulis lagi khusus untuk zine ini.

>>>



Konsep zine sejatinya memiliki etos D.I.Y/Do It Yourself yang menekankan pada semangat kemandirian dan kerja sama, menolak untuk bergantung dengan struktur-struktur yang ada bagaimanapun hasilnya nanti. Orang aneh, kutu buku, kuper, serta mereka yang dikucilkan oleh lingkungan adalah karakter orangorang yang biasanya membuat zine di Amerika. Mereka merayakan kehidupan mereka yang tak tampak tadi menjadi sebuah wujud yang begitu jelas di depan orang, lewat zine-zine mereka. (Stephen Duncombe dalam buku berjudul Notes From The Underground: Zines and The Politics of Alternative

Judul zine ini adalah simulacRoom,

Culture). Zine ini untuk saya adalah

di mana saya memliki tujuan untuk

karya output yang sangat personal

mempresentasikan salinan memori

dalam pertemuan ini.

realitas kami selama kehidupan yang dijalani, di mana ada memori yang

Di mana dalam pertemuan-pertemuan

sangat diingat, setengah diingat, ingin

kami, kami saling bercerita,

dilupakan, atau bahkan terlupakan

mendengarkan, menggali dan

sendiri.

menimpali, seperti laiknya zine yang penuh dengan tempelan kolase visual

Kami saling bongkar tempel memori-

yang tumpang tindih saling melengkapi

memori tersebut dalam ruang virtual.

di ruang kosong.

Di situlah ruangan kami. Dan yang spesialnya lagi di sini, untuk pertama kalinya Mbak Svet menulis lagi setelah sekian lama tidak menulis sampai selesai. Beliau menulis lagi khusus untuk zine ini.



Na, De, dan Pertemuan-Pertemuan Maya Sandita Lemari pendingin. De terperangkap di sana, di sebuah tatakan telur di samping tomat yang merah cerah warnanya. Seperti baru terbangun dari tidur yang panjang, De linglung dengan apa yang ia alami sekarang.

“Hai, aku Na.”

De terperanjat. Gumpalan kuning dalam cangkangnya ikut melompat. “Astaga! Kau bicara?” katanya sembari membetulkan duduk seperti semula.

“Kenapa? Kau juga bicara.”

De tak menjawab lagi. Ia masih sangsi tapi ini benar-benar terjadi. Tomat merah itu bicara. Padanya. Pada sebutir telur mentah di sampingnya.

“Hei, Na! Apa kau ingat? Kau punya janji cerita yang

belum tamat!” Sekelompok sayur-sayuran bersorak dari rak bawah. De dan Na menengok hati-hati. Takut mereka terguling dan pecah. “Yang mana?” Na si Tomat balas bertanya dengan suara yang tak kalah nyaring pula.

“Kemarin kau sampai pada cerita ... hmm ...,” Sawi

berusaha mengingat, tapi Kol menyambar cepat, “Terakhir kemarin sampai pada saat kau dalam kotak kayu, lalu beberapa tomat bonyok bergelinding di depanmu. Bahkan ada yang

16


sobek kulitnya. Ada lain yang pecah dan mengeluarkan isinya yang juga berwarna merah.”

“Oh ya ...,” balas Na lagi. “Kau bisa geser sedikit? Aku kurang

nyaman. Di sini agak sempit,” katanya pada De si Telur. Sayangnya De bergeser terlalu jauh, ia jatuh, lalu memecahkan cangkangnya yang rapuh. Lemari pakaian. De berusaha bernapas dengan susahnya. Ia lagi-lagi bangun di tempat yang tak pernah ia duga. Sambil menarik dan membuang udara susah payah, sesuatu menyapanya dalam gelap.

“Hai, aku Na.”

De tercekik belitan dirinya sendiri. Ia di sebuah penggantung besi dalam lemari. De sebuah dasi. “Siapa itu yang bicara? Apa kau Tomat?” Lalu Na tertawa. “Bagaimana bisa ada tomat dalam lemari pakaian? Di sini adanya segala sesuatu yang bisa membuatmu menawan. Bukan yang bisa kau makan sampai kekenyangan.”

“Lalu kau apa?”

“Aku? Diri.”

“Diri?” “Ya.”

“Mengapa ada Diri di dalam lemari?”

“Sesekali aku perlu sunyi.”

“Lalu, apa benar diri bisa membuatmu menawan?”

“Menurutmu?” De tak mengerti dengan pertanyaan sesulit ini. Tapi tentu ia mencoba berpikir meski itu membuat ia tercekik sampai napasnya yang terakhir

17


Lemari buku.

“Hai, De!”

Sudut kepala De terantuk kaca transparan. Ia terbangun dan segera duduknya ia betulkan. De bergeser ke belakang benar dan bersandar.

“Hai, De!” Ia lagi-lagi disapa.

De mencari sumber suara, sembari bertanya, “Bagaimana kau tahu namaku?”

“Aku membaca.”

De lantas menemukan sebuah benda. “Kau ini kaca, tanpa mata. Bagaimana bisa kau mengeja kata-kata?” “Kupikir kaulah yang tahu jawabannya. Bukankah kau ini gudangnya ilmu, jendela dunia?” De makin tak mengerti. Sakit kepalanya semakin menjadi-jadi. Ia diam sekian lama. Lama dan berlama-lama. Sampai halamannya usang, sampai rayap memamahnya mulai dari bagian depan dan belakang. Lemari televisi. De tertidur di depan sebuah televisi yang menyala. Tak ada siaran di sana. Yang ada hanya warna abu-abu dan miliaran semut bergerak-gerak di situ. Seorang bayi di pangkuannya. Di depan De, di atas meja, ada sebuah buku usang, sepiring kue kering, dan tomat. “Kau menunggu siapa sekian pekan? Apa sebaiknya kupanggilkan? Jika perlu kuseduhkan kopi. Agar obrolan kalian nanti dapat dinikmati.” Aku menawarkan. De mengangguk pelan. Aku berandai Na ada di teras depan. Demikian tak lengkapnya pertemuan-pertemuan.

Batam, 2 Mei 2021

18


19


Lemari buku.

“Hai, De!”

Sudut kepala De terantuk kaca transparan. Ia terbangun dan segera duduknya ia betulkan. De bergeser ke belakang benar dan bersandar.

“Hai, De!” Ia lagi-lagi disapa.

De mencari sumber suara, sembari bertanya,Apa “Bagaimana kau tahu namaku?” yang kamu pikirkan tentang lansia

perempuan, apa yang ingin kamu dapatkan dari kegiatan bersama lansia, dan apa yang akan kamu bagi kepada De lantas menemukan sebuah benda. “Kau ini kaca, tanpapara mata.lansia Bagaimana perempuan?*

“Aku membaca.”

bisa kau mengeja kata-kata?” “Kupikir kaulah yang tahu jawabannya. Bukankah kau ini gudangnya ilmu, jendela dunia?”

Astrid

De makin tak mengerti. Sakit kepalanya semakin menjadi-jadi. Ia diam sekian Saya adalah mereka diusang, kemudian hari. rayap lama. Lama dan berlama-lama. Sampai halamannya sampai cerita-cerita, memamahnya mulai dari bagianMencatat depan dan belakang.pengalamanpengalaman mereka, dan berkegiatan Lemari televisi.

bersama. Memasak, bergerak, berdiskusi. Memaknai pemaknaan pengalaman

mereka sebagai perempuan usianya. De tertidur di depan sebuah televisi yang menyala. Tak adadisiaran di sana. Yang ada hanya warna abu-abu dan miliaran semut bergerak-gerak di situ. Seorang bayi di pangkuannya. Di depan De, di atas meja, ada sebuah buku usang, sepiring kue kering, dan tomat. “Kau menunggu siapa sekian pekan? Apa sebaiknya kupanggilkan? Jika perlu kuseduhkan kopi. Agar obrolan kalian nanti dapat dinikmati.” Aku menawarkan. De mengangguk pelan. Aku berandai Na ada di teras depan. Demikian tak lengkapnya pertemuan-pertemuan.

Batam, 2 Mei 2021 *salah satu pertanyaan yang terdapat dalam GoogleForm Panggilan Berkumpul Bersama Lansia

20


21


Wieke Dwiharti: Kreativitas Tak Mengenal Usia Astrid Reza Catatan Awal Bersama Lansia

saya jadi cukup menikmati proses

Sejak awal ketika tim Peretas (Hindra,

bisa mencapai titik untuk membuat

Luna, Wucha, dan Natia) mengontak

sebuah poster yang dipublikasikan.

saya untuk terlibat dalam proyek

Selain undangan poster ini, Hindra dan

#bersamalansia adalah untuk membuat

Luna juga mengundang saya untuk

poster manual dari kolase untuk

terlibat. Saya pun mengiyakan tawaran

tema proyek ini. Saya pertama kali

ini.

menyusunnya. Ternyata proses saya menggeluti kolase selama satu tahun

mencoba teknik kolase di sebuah pameran seorang kawan lama saya,

Tema #bersamalansia menggelitik saya.

Ika Vantiani (@vantiani), yang saya

Saya sudah kehilangan orang-orang

datangi di Yogyakarta pada akhir

lansia terdekat saya dan tak memiliki

2019 dan mengikuti workshop kecil

seorang pun lagi. Saya tak mengenal

yang dilakukannya. Saya menemukan

eyang dan eyang putri saya dari ayah

keasyikan dalam memotong-motong

saya, sejak lahir. Saya mengenal opa

imaji dan menempelkannya di atas

saya dalam ingatan saya yang pekat

kertas. Saya merasa menemukan ruang

hanya sampai umur empat tahun.

kreativitas eksplorasi yang baru. Lalu

Setelah itu ia terkena strok dan dalam

pandemi tiba, saya menemukan diri

memori saya ia menghabiskan sisa

saya mengisi halaman-halaman jurnal

hidupnya duduk di sebuah pojokan

dengan kolase demi kolase sehingga

ruang keluarga rumah oma saya, hingga

ada satu bundel jurnal kolase yang

saya tidak bisa mengucapkan selamat

berisi kolase dan semua catatan saya

tinggal yang paling akhir ketika ia

sepanjang pandemi. Dengan tema

meninggal karena saya berada di luar

maupun dengan kebebasan berkreasi

negeri di saat SMA kelas 2. Kedua orang

sesuka hati. Dalam pandemi ini saya

tua saya pun telah tiada, ibu saya pada

bertahan menata dan mengekspresikan

waktu usia saya 23 tahun dan ayah saya

semua hal dalam sebuah jurnal visual.

ketika saya berusia 25 tahun.

Ketika Hindra menantang saya

Dalam ingatan, saya mengenai sosok

untuk membuat poster manual dan

lansia, yang tertua adalah oma saya, ia

mengeditnya secara manual pula,

meninggal pada usia 86 tahun, di tahun

22


2014. Saya pun tidak bisa berada di

masing-masing. Tidak sampai satu

sana di momen ia meninggal. Hubungan

jam dengan panduan Ibu Wieke,

kami kompleks dan rumit. Saya

kami semua memakai bando buatan

mengetahui dengan pasti bahwa proses

sendiri dan menyulap diri menjadi

berdamai dengan kehilangan adalah

Frida Kahlo dalam versi kami masing-

proses yang panjang dan datang dari

masing. Banyak dari kami yang sudah

waktu ke waktu bagai gelombang.

melupakan keterampilan tangan, mencoba dan melakukan sesuatu

Kedua orangtua saya meninggal di

dengan tangan lagi selalu menjadi hal

usia 60-an, ibu saya tepat di usia 60

yang menyenangkan.

tahun dan ayah saya di usia 67 tahun. Jadi saya tidak memiliki bayangan

Hindra memberikan saya satu bekal

yang lain mengenai lansia. Memori

map hijau folder plastik dari Ibu Wieke

saya dalam keluarga penuh dengan

yang dibuatnya sendiri halaman per

ketidakberdayaan, penyakit, rumah

halaman. Ada keterangan macam-

sakit, kematian, dan kehilangan. Saya

macam mengenai Bagus Bagus, merek

terkadang merasa tumbuh tanpa sosok

fashion pakaian jadi yang dimilikinya.

yang dituakan di sekitar keluarga saya.

Ada profil kecil Ibu Wieke dan portofolio. Contoh motif tenun dari

Dengan berbagai pertimbangan

berbagai daerah yang ditempelkan

#bersamalansia Hindra memasangkan

dan diberikan keterangan tulis tangan.

saya dengan Ibu Wieke Dwiharti.

Juga kreasi dari Bagus Bagus yang

Berbicara dengan Ibu Wieke, saya

dibatik dan diberi pewarna alam. Tidak

tiba-tiba merasa menyambung waktu

lupa juga tiga bagian akhir termasuk

berhadapan dengan seseorang yang

petunjuk membuat aksesori ala Bagus

seumuran oleh ayah saya sebelum saya

Bagus yang bisa kita coba sendiri di

kehilangan keduanya.

rumah: kalung, anting, dan bando. Halaman-halaman ini dikerjakannya

Kebetulan-Kebetulan dan Nostalgia Kota Hujan

23

secara personal, penuh warna dan dengan sketsa-sketsa kecil Ibu Wieke.

Sejak awal saya mencoba tak mencari

Pembicaraan kami dimulai dari

tahu apa pun mengenai Ibu Wieke,

kebetulan yang pertama, tempat Ibu

memfilter kebiasaan generasi milenial

Wieke tinggal: Bogor. Dari Bogor

seperti saya yang meng-google

segalanya mengalir. Bogor adalah kota

segalanya. Ibu Wieke muncul dalam

kelahiran ibu saya. Tempat tinggal Ibu

layar Zoom pertama kali, memandu

Wieke sekarang di Sentul adalah tempat

kami membuat bando dari sisa perca

saya sering kali nongkrong bersama

kain. Membuat kami semua dalam

teman-teman di kala remaja. Bogor

hitungan menit bergulat dengan

bagi saya penuh dengan nostalgia masa

benang, kain perca, dan bola-bola

kecil, campur aduknya ingatan dan

benang pom-pom. Bersama kawan-

perasaan. Bagi Ibu Wieke, Bogor adalah

kawan yang lain kami mengobrol

masa lalu dan masa sekarang. Memori

santai, sambil sibuk dengan tangan

kami berdua berkelindan di antaranya.


Perbedaan generasi kami cukup jauh.

para mahasiswanya untuk belajar di

Dua puluh delapan tahun. Saya hampir

Kebun Raya dan saya sewaktu masih

seumuran dengan anak Ibu Wieke yang

kanak sering menemaninya.

paling besar Swasti, sedangkan anak keduanya Smita terhitung masih adik

Dari pembicaraan pertama kami, kami

kelas saya. Ibu saya, Ibu Wieke, saya,

memiliki banyak kemiripan kesejarahan.

dan Smita kami semua alumni Regina

Baik secara kota asal tinggal, sekolah

Pacis Bogor. Ini adalah kebetulan kami

yang sama, bahkan kantor yang sama.

yang kedua. Regina Pacis Bogor adalah satu sekolah Katolik tertua di Kota

Kebetulan ketiga adalah bahwa Ibu

Bogor yang letaknya berseberangan

Wieke bekerja di majalah GADIS pada

langsung dengan Istana Bogor.

tahun 1981. Dua puluh tahun kemudian saya bekerja di majalah yang sama di

Ibu Wieke lahir di Jakarta pada tahun

tahun 2001. Pertemuan kami melalui

1955. Ayahnya berasal dari sebuah

proyek #bersamalansia, saya rasa

kampung kecil di antara Tasikmalaya

bukan kebetulan. Karena kebetulan

dan Ciamis, yaitu Imbanagara, Jawa

yang terlalu banyak bagi saya adalah

Barat. Ibunya asli dari Sumedang. Ibu

perjodohan semesta.

Wieke sempat dibesarkan di Bogor di kala ayahnya bekerja di Goodyear Pajajaran tempat saya latihan basket

Ibu Wieke dan Perjalanan Bagus Bagus

di pertengahan 1990-an. Ia kemudian

Yang saya sadari dalam mendengarkan

berkuliah di Antropologi UI, masuk

Ibu Wieke adalah ia merupakan bagian

pada tahun 1974 dan menyelesaikannya

dari generasi yang berpengaruh dalam

di tahun 1981.

membentuk arus perkembangan fesyen

di Jalan Pemuda, tak jauh dari GOR

majalah untuk remaja perempuan Banyak memori dari Kota Bogor,

dan kemudian ke fesyen segmen

mewarnai perjalanan Ibu Wieke. Ia pun

perempuan lebih dewasa di dekade

beberapa kali bolak balik berpindah

selanjutnya (generasi saya, 1990-

tempat tinggal antar Bogor dan

an). Memiliki pengalaman yang mirip

Jakarta. Kami membicarakan segalanya

walaupun berbeda generasi di majalah

mengenai kota itu. Dari cuaca, keluarga,

GADIS, membuat saya melihat sosok

perubahan, sekolah, dan makanan-

yang berbeda dalam Ibu Wieke. Ada

makanan favorit kami. Lalu tentu saja

semangat yang lain yang saya temukan

Kebun Raya Bogor. Akhir-akhir ini di

dalam proses Ibu Wieke bercerita

masa pandemi, ia sering kali ke Kebun

mengenai Bagus Bagus.

Raya, entah untuk bertemu temantemannya (dengan protokol kesehatan)

Selepas beralih profesi dari kontributor

ataupun ikut tur kecil-kecilan di dalam

majalah GADIS dan kemudian beralih

Kebun Raya. Saya merasa ingatan

ke majalah MODE, ia pada awalnya

mengenai ibu saya bermunculan

memprakarsai Bagus Bagus berlima

sembari ia menceritakan tempat-tempat

dengan kawan-kawannya di tahun

ini. Ibu saya sering sekali membawa

1995. Namun pada tahun 2000, hanya

24


Ibu Wieke yang melanjutkan usaha

Mendengarkan cerita-cerita Ibu Wieke

ini hingga sekarang, mereknya pun

tentang bagaimana ia bertemu dengan

berubah menjadi Bagus Bagus oleh

para penenun lokal, membawa saya

WD (singkatan dari Wieke Dwiharti).

ke berbagai sudut-sudut pelosok

Keberaniannya untuk beralih profesi dan

Indonesia. Kami mendiskusikan

sekarang sebagai desainer pakaian jadi,

bagaimanakah cara para perempuan

bukanlah sesuatu yang dibangunnya

penenun bercerita dengan tenunan

dalam sehari. Banyak proses yang

yang dihasilkannya, apakah cerita dari

dilaluinya selama 25 tahun terakhir.

sebuah tenunan adalah gabungan

Naik turun perjalanannya berwirausaha

tenunan dari sekian cerita sejak nenek

dan sekarang ia bisa bertahan di masa

moyang mereka ketika mereka tidak

pandemi ini yang banyak menghantam

memiliki kemampuan bercerita secara

UMKM di seluruh Indonesia.

tertulis maupun oral. Apakah bercerita itu bisa dilakukan dengan cara-cara

Kacamata dan kesadaran Ibu

lain yang kreatif? Apakah kita bisa

Wieke dengan latar belakang

membawa dan mengenakan cerita kita

pendidikan antropologi membuatnya

bersama?

mengeksplorasi kain tenun dari berbagai penjuru Nusantara. Ia memilih

Melalui Bagus Bagus, saya

kain tenun sebagai bahan dasar untuk

mendengarkan bagaimana Ibu Wieke

desain dan produksi Bagus Bagus.

menjalin proses panjangnya berada

Kain tenunnya berasal dari Baduy

di dunia fesyen dan menjadi pelaku di

(Banten), Bali, Lombok, Sumbawa,

dalamnya sebagai desainer pakaian jadi.

Flores, Rote, Sabu, Timor, Sulawesi, dan

Keluarga ayahnya di Imbanagara adalah

Maluku. Selain dari itu bahan natural,

pembatik tradisional sampai tahun

pengerjaannya yang non-industrial dan

1965-1970-an. Ia bercerita bagaimana

non-mesin, seiring pertimbangannya

senangnya ia melihat orang membatik

mengenai fesyen yang berkelanjutan

ketika pulang kampung di masa itu.

dan mengurangi dampak pencemaran

Ibu Wieke juga banyak mengemukakan

lingkungan yang ditimbulkan oleh

keprihatinannya bagaimana kerajinan

industri fesyen yang pada umumnya

membatik hilang di kampungnya atau

bergerak cepat dan masif. Ia mengolah

di wilayah Jawa Barat pada umumnya.

sisa-sisa perca kain tenun dengan

Begitu juga keterampilan menenun di

sangat kreatif untuk menjadi aksesori

berbagai daerah yang semakin kurang

unik ataupun item fesyen lainnya.

diminati generasi mudanya. Seolah ini

Ia pun memastikan bahwa komunitas

juga menandakan kemunduran nilai-

dan para penenun di mana ia bekerja

nilai kebudayaan lokal yang sebenarnya

sama berangkat dari asas saling

sangat beragam dan penuh nilai

membutuhkan dan menguntungkan.

kebijaksanaan lokal.

Komitmen ini dibuktikannya selama proses Bagus Bagus yang sudah

Kekhasan dan kemampuannya

menginjak nyaris 25 tahun.

memadupadankan berbagai jenis tekstil dan corak warnanya membuat Bagus

25

Bagus sering terlibat dalam kerja sama


bersama pemerintah daerah untuk

sentuhan-sentuhan personal ini sangat

mengembangkan dan menghidupkan

penting.

tekstil-tekstil lokal. Memberi sentuhan desain yang baru agar pengolahan tekstil

Di sisi yang lain sampai hari ini Bu

lokal dapat berkembang dan memiliki

Wieke aktif di Forum Kajian Antropologi

peluang dalam industri fesyen nasional.

Indonesia (FKAI) yang dibentuk pada tahun 2003. Di mana ia menjabat

Banyak perjalanan ke berbagai tempat

menjadi sekretaris. Mereka masih

yang menginspirasinya baik di dalam

menyelenggarakan acara tahunan

negeri dan di luar negeri, salah satunya:

seperti Koentjaraningrat Memorial

India. Ibu Wieke sangat mengagumi

Lecture (KML), yang menghadirkan

bagaimana India mengembangkan

guru besar-guru besar antropologi

industri tekstil lokalnya, dengan

untuk mengajar dalam kuliah umum.

mendirikan Kementerian Tekstil

Selain itu FKAI menggelar berbagai

sejak 1985. Menurutnya untuk secara

pameran kebudayaan, dalam pameran

sistematis membantu, meregenerasi

ini ia banyak melibatkan diri dengan

pengrajin/penenun, membangun sistem

menampilkan dunia tenun yang

revitalisasi kekayaan tekstil-tekstil

digelutinya melalui Bagus Bagus.

Nusantara di Indonesia, kepedulian dan dukungan pemerintah di tingkatan yang

Saya belajar sangat banyak dalam cerita

lebih serius perlu dilakukan.

Ibu Wieke mempertahankan usaha yang dibinanya hampir 25 tahun terakhir.

Bagus Bagus sudah terlibat dalam

Beragam cerita, jatuh bangunnya.

banyak pameran, seperti dengan Women

Bagaimana ia pun menanam harapan

International Club Dekranas, Ina Craft,

untuk usahanya diteruskan secara

Gelar Batik Nasional, dan lain-lain. Juga

perlahan oleh anaknya, walaupun ia

muncul dalam berbagai fashion show

mengetahui bahwa proses itu kemudian

di Indonesia Fashion Week, Batam Jazz

akan berbeda. Bagaimana ia bertahan

Fashion, Festival Sarung Indonesia,

di masa pandemi ini dan bagaimana ia

dan masih banyak lagi. Namun bagi

terus-menerus berkreasi hingga saat

Ibu Wieke yang paling menyenangkan

ini. Konsistensinya dalam berwirausaha

untuknya adalah membuka open

dan mempertahankan kreativitasnya

house untuk koleksi terbarunya dan

untuk saya mengagumkan, saya masih

mengundang kolega/langganan untuk

belajar mengembangkan wirausaha

acara showcase yang lebih intim

saya di tahun keenam. Pengalaman Ibu

di studio rumahnya. Sesuatu yang

Wieke banyak membuat saya berefleksi.

dirindukan untuk dilakukannya lagi ketika

Membangun semangat, produktif, tak

pandemi ini sudah mereda dan berlalu.

kenal lelah dalam berkarya, dan tetap

Karena dalam acara semacam ini ada

berkreasi hingga di usia 60-an menjadi

semacam interaksi yang tak tergantikan,

pelajaran sangat penting yang saya

ia bisa dengan detail bercerita mengenai

pelajari dari Ibu Wieke. Sebagai sosok

proses koleksi yang dibuatnya secara

perempuan yang bekerja, berkeluarga,

personal, melibatkan ruang sosial yang

dan selalu memiliki/mengelola ruang

lebih akrab dan kekeluargaan. Untuknya

untuk tetap berkarya secara pribadi.

26


Mencatat Pertemuan Virtual dan Berbagi Cerita

Saya merasa proses saya mendengarkan dan menggali cerita-cerita Ibu Wieke sampai hari ini, walaupun dilakukan

Perempuan Antargenerasi

secara virtual dan dalam waktu yang

Banyak memori tentang kota, tentang

yang tidak saya sangka.

singkat dapat menembus batas-batas

sosok Ibu yang mengalir dari obrolanobrolan kami. Saya kehilangan sosok

Di tengah masa pandemi ini,

ibu saya di usia 23 tahun. Walaupun

saya merasa betapa berharganya

saya belum mengatakan langsung pada

menemukan dan berkesempatan

Bu Wieke, tetapi saya sangat menikmati

merekam secara pribadi proses

setiap obrolan dengannya. Bu Wieke

hidup seorang Ibu Wieke. Di tengah

dan ibu saya sama-sama berpotongan

banyak masa kehilangan, baik dalam

rambut pendek. Sosoknya pun mirip,

hidup saya dan di masa pandemi ini,

bertubuh mungil, aktif, berkacamata

menemukan kesempatan berinteraksi

dan sama-sama memiliki kesadaran

dengan seseorang yang dikategorikan

fashion yang tinggi. Keduanya

lansia, telah mematahkan banyak

pun terpelajar sehingga kami bisa

mitos, pandangan, dan kepercayaan

mengobrol macam-macam.

saya tentang lansia. Bahkan bisa jadi proses ini turut menyembuhkan

Ibu Wieke dan saya memiliki hobi yang

banyak luka kehilangan dan memori

hampir sama. Kami berdua memiliki

kesedihan yang mewarnai hubungan-

jiwa pejalan. Sejak masa kuliah ia sering

hubungan personal saya dengan orang

ikut naik gunung bersama teman-teman

tua saya. Di dalam banyak perjalanan

kuliahnya. Sebelum masa pandemi,

saya selepas tiadanya orang tua saya,

ia sering mengorganisir perjalanan

saya diingatkan kembali bahwa sosok

untuk kawan-kawan dekatnya dalam

yang kita tuakan bisa kita temukan

kelompok kecil ke berbagai tempat

di mana saja dan ke mana pun kita

di pelosok Indonesia. Semua obrolan

pergi. Sebagai keluarga besar manusia,

kami menempuh jarak-jarak yang

pertemuan mengajarkan kita untuk

panjang menuju Sabang sampai

menghargai momen yang sekarang

Merauke. Kadang-kadang bahkan

dan semua kemungkinan interaksi

nyasar sampai India atau Vietnam

yang bisa kita lakukan, jika kita ingin

Utara, membicarakan berbagai jenis

mendengarkan nilai kebijaksanaan yang

tekstil dari berbagai wilayah, keramaian

sedang dituturkan.

pasar dan perjalanan-perjalanan menuju

27

tempat-tempat para pembuatnya.

Begitu banyak pelajaran yang

Saya mengingat pembicaraan saya

bisa diambil dalam berbagi cerita

dengan Hindra sebelum memulai

antargenerasi perempuan. Sampai

proyek ini, saya kira saya akan berada

saya di penghujung catatan ini,

dalam wilayah yang asing ketika

saya bisa menemukan diri saya

akan mengenal Ibu Wieke dan cerita

yang mengapresiasi setiap usaha,

perjalanan hidupnya. Namun, di banyak

keterbukaan, pandangan, dan

sisi kami memiliki banyak kemiripan.

semangat berbagi dalam diri Ibu


Wieke. Kreativitas yang dimilikinya

keluarganya di Sentul, Bogor, sekaligus

menginspirasi saya untuk menyusun

berziarah ke makam kedua orang tua

sebuah jurnal tekstil eksperimen

saya. Sesuatu yang baru yang membuat

yang sedang saya kerjakan dengan

saya tetap memercayai harapan.

teman saya, Tarlen Handayani (@vitarlenology), sebagai hadiah kenang-kenangan yang saya rasa bisa

Yogyakarta, 2 Mei 2021

diteruskan dan diisi oleh Ibu Wieke. Tentu saja interaksi dan hubungan kolaborasi kami tidak akan berhenti di akhir #bersamalansia. Mungkin saja ini adalah sebuah awal. Yang paling lucu lagi adalah kebetulan saya yang terakhir dengan Ibu Wieke, belum lama ini kami baru mengetahui bahwa tanggal ulang tahun Segara, cucu pertama Bu Wieke, sama dengan anak saya Bhumy. Mereka terpaut sembilan tahun. Utang pertama yang saya harus lunasi setelah pandemi berlalu adalah menengok Ibu Wieke dan

28


29


30


Aku terlahir sebagai ulat kepompong Menempel di dinding daun menjelma Sebagai kupu-kupu cantik Menari dan mengepakkan sayap-sayapku Patah Di setiap dahan dan ranting aku hinggap Selalu ada mata mengintai Seakan ingin menangkap dan memangsaku Antara hasrat dan rasa kagum Bukankah warna dan pesona yang kutebarkan Adalah bagian dari kebesaran Ilahi Kenapa engkau selalu mengingkari Nikmat keindahan dan keagungan Pelengkap kedamaian di dunia

Foto Kelompok Mami Rully

Selalu ada pertanyaan Atas keganjilanku Karena kau melupakan Penciptaku dan sabda alam Tak ada satu pun makhluk Ciptaan-Nya sia-sia Semua sama yang membedakan adalah amal perbuatannya Bila pun aku menjadi kupu-kupu Setidaknya aku telah bersedekah menyuguhkanmu “lukisan” Pandangan yang menenteramkan.

Rully Waikelo-Sumba Barat, 1 Juni 1978

31


Apa yang kamu pikirkan tentang lansia perempuan, apa yang ingin kamu dapatkan dari kegiatan bersama lansia, dan apa yang akan kamu bagi kepada para lansia perempuan?*

Riyana Kata lansia perempuan mengingatkan saya pada alm. nenek yang menjadi

single parent untuk lima orang anak. Memutuskan bercerai karena tidak

mau dipoligami kemudian sendirian

menghidupi kelima anaknya. Nenek suka menjahitkan saya dan boneka barbie

saya baju. Ia pencerita yang baik dan

saya penyimak yang kurang ajar suka

menyela dengan pertanyaan sebab tak

sabar. (Para) nenek adalah perempuan kuat yang menyimpan jutaan cerita

dan pengalaman hidup yang sedang memakai “pakaian menua”. Bersama

para nenek, saya tidak ingin mendapat apa-apa. Sebab saya rasa saya pun

tidak bisa memberi apa-apa.Tapi saya

rasa, saya bisa menjadi pendengar yang baik. Dan jika saya beruntung saya bisa

menuliskan cerita mereka agar orang lain juga bisa menyimaknya seperti saya.

*salah satu pertanyaan yang terdapat dalam GoogleForm Panggilan Berkumpul Bersama Lansia

32


metamorfosis Aku terlahir sebagai ulat kepompong Menempel di dinding daun menjelma Sebagai kupu-kupu cantik Menari dan mengepakkan sayap-sayapku Patah Di setiap dahan dan ranting aku hinggap Selalu ada mata mengintai Seakan ingin menangkap dan memangsaku Antara hasrat dan rasa kagum Bukankah warna dan pesona yang kutebarkan Adalah bagian dari kebesaran Ilahi Kenapa engkau selalu mengingkari Nikmat keindahan dan keagungan Pelengkap kedamaian di dunia Selalu ada pertanyaan Atas keganjilanku Karena kau melupakan Penciptaku dan sabda alam Tak ada satu pun makhluk Ciptaan-Nya sia-sia Semua sama yang membedakan adalah amal perbuatannya Bila pun aku menjadi kupu-kupu Setidaknya aku telah bersedekah menyuguhkanmu “lukisan” Pandangan yang menenteramkan.

Rully Waikelo-Sumba Barat, 1 Juni 1978

33


cerita perjalanan /1/ kau membuka diri telanjang kau di pelukan yang tepat /2/ kau mempersiapkan perjalanan berpindah kau membuka kopermu berserakan kau di kamar yang tepat /3/ kau menemukan alamat memutuskan untuk menetap kenyamanan kau di rumah yang tepat /4/ kau menemukan pengeras suara mulai bicara begitu begini biar paham sana sini kau memasang volume yang tepat /5/ kau masih di perjalanan berpindah di-tempat kau merencanakan yang tepat

Riyana Rizki Masbagik, 3 April 2021

34


melihat cerita aku melihatmu sebagai cerita bukan wajah senja

Riyana Rizki Masbagik, 21 April 2021

menjadi tua lusa aku memahat hidup membuat garis tak beraturan dalam sepekan ke depan aku akan mewarnainya dengan sisa lipstik yang kusiapkan sejak belia bulan depan kau akan melihat hasil pahatku carilah titik akhir kuberikan semua lipstik yang tersisa jika kau menemukannya

Riyana Rizki Masbagik, 21 April 2021

35


penjelajah waktu di depan layar menjawab bertanya mengenang belajar liku-deru merekam-ingatan lalu datang dalam momentum temu kembali mundur maju sebagai aku mendatang di depan layar wajahmu menjelma mesin waktu aku sebelum pulang

Riyana Rizki Masbagik, 22 April 2021

36


upaya merekam kebaikan kau merekam kebaikan mencoba menulisnya menjadi puisi tapi kau gagal sebab kebaikan tidak berwujud kata

Riyana Rizki Masbagik, 22 April 2021

37


Riyana Rizki Masbagik, 1 Mei 2021

Masbagik, 1 Mei 2021 Riyana Rizki

38


Biografi Mami Rully Lian Gogali

39


40


41


42


43


44


45


Catatan Reflektif

Melihat, Mendengar, dan Merasakan Wucha Wulandari

ingga tulisan ini berhasil

meninggal. Kemudian saya dirawat oleh

saya selesaikan, saya masih

Kai (Kakek) dan Nenek di Samboja,

memikirkan kisah refleksi

Kalimantan Timur. Nenek dan Kakek

seperti apa yang akan saya ceritakan

mengelola pabrik gabah (padi) dan

selama berproses bersama kawan-

perkebunan merica. Saya sempat diajari

kawan, baik Grup Kelak Akan Menua

cara menanam dan mengolah merica.

maupun kolaborator Bersama Lansia.

Selang 2 catur wulan, saya pindah ke

Hampir seluruh tulisan refleksi dari

Bontang untuk ikut tinggal bersama

kolaborator: Hindra, Luna, hingga

tante saya. Puang Pappi saya dari

tulisan catatan proses yang ditulis

Sulawesi Selatan sering menggunjungi

oleh Natia telah tuntas saya baca.

dan menemani saya. Puang Pappi kerap

Pun proses pendokumentasian yang

kali mengajak saya menjelajah suatu

tentu saja “mengharuskan” saya untuk

daerah hanya dengan berjalan kaki dan

menyimak segala hasil rekaman selama

berbincang dengan banyak orang. Saya

kurang lebih 78 jam. Mendengar,

sering bertanya banyak hal, kadang

menonton, mendengar, kemudian

dia menjawab kadang tidak, karena

mengulang lagi setiap rekaman yang

lupa. Sering kali dia yang lebih banyak

terekam selama kurang lebih 4.680

bercerita, tetapi tidak menarik bagi saya

menit, lalu diolah menjadi video

yang masih terbilang anak-anak berusia

pendek berdurasi 13 menit dan 25

8-15 tahun.

menit sebagai video perjalanan proses “Bersama Lansia”.

Dan waktu pun terus berjalan. Selama berproses dengan tim Bersama Lansia,

Interaksi bersama Lansia bukan hal

tentu sudah dikisahkan dalam catatan

yang baru bagi saya. Sejak kecil,

proses bagaimana dinamika proses

karena ibu saya bekerja dan ayah saya

persiapan dan strategi di tengah

menderita penyakit TBC, mengharuskan

pandemi COVID-19.

saya dirawat oleh Puang Pappi (Kakek) dan Puang Jipa (Nenek) pada saat saya

Ketika Mbak Hindra meminta kami

tinggal di Marros, Sulawesi Selatan.

mengirimkan foto wajah untuk diproses

Ketika saya berusia 8 tahun, ayah saya

pada sebuah aplikasi yang mampu

46


memprediksi wajah kita menjelang

Sering kali saya gusar, tak jarang juga

usia lansia, pada saat itu saya melihat

saya kurang teliti dengan tanggung

berkali-kali transformasi yang dihasilkan.

jawab sebagai pendokumentasi. Kerap

Saya mbatin (berkata dalam hati) “Loh

kali saya merasa beberapa hal kurang

kok saya mirip nenek di Sulawesi?”

fleksibel atau lentur. Namun, lagi-lagi

Sudah pasti sore itu ingatan saya

saya coba memahami dan merasakan

melayang-melayang ke masa-masa

gelora isi kepala dengan informasi

bersama Puang Pappi, Kai, dan Nenek.

yang diterima, baik dari tim maupun

Kembali pada ingatan dan perasaan

dari seluruh kolaborator. Juga tentang

kehilangan kesempatan untuk lebih

kendala teknologi, mencari solusi-solusi

lama lagi mendengar mereka bercerita.

yang perlu segera diupayakan tanpa

Banyak cerita tentang mereka yang

harus membuat panik tim.

belum saya ketahui. Proses ini berulang kali membuat Di awal proses berdiskusi bersama

saya merasa terjatuh. Namun, semakin

Hindra, Natia, dan Luna, saya begitu

berjalannya waktu, saya mulai

antusias. Kepala saya penuh dengan

memahami pola kerja rekan satu tim.

gagasan dan segala macam bentuk

Saya mulai memahami kapan harus

metode yang mungkin pernah saya

berbicara dan hal genting apa yang

terapkan atau tabungan metode yang

harus disampaikan menurut proyeksi

selama ini pernah terpikirkan atau

pemikiran dan literatur yang coba

dipelajari. Namun, ketika ego semakin

saya sharing, secukupnya. Bersiap

membuncah, kenangan dengan Puang

dengan buah pikir dan metode yang

Pappi, Kai, dan Nenek beriringan

akan disampaikan atau diterapkan oleh

berkeliaran di kepala saya. “Yuk, Wucha,

kawan-kawan.

belajar mendengar!” begitu kalimat yang muncul di kepala saya.

Bagi saya, berproses dengan kawankawan dalam program Bersama Lansia

47

Proses mendengar dan menyimak

adalah dengan kesadaran penuh

adalah hal paling sulit yang pernah

untuk belajar “mendengar”, hal yang

saya jalani sepanjang hampir satu tahun

menantang sekaligus meresahkan.

berproses dalam program ini. Bagi saya,

Sampai saya merasakan dengan benar

proses ini sangat berharga, yaitu seperti

apa yang dimaksud dengan menyimak,

belajar memahami pola kerja dan cara

memahami, dan meresapi. Kesan dan

pandang Mbak Hindra, Natia, dan Luna;

perasaan kawan-kawan kolaborator

meresapi kisah-kisah Mbah Sumirah, Bu

diekspresikan dengan sederhana, namun

Wieke, Bu Erlin, Bu Svetlana, Mami Rully,

membekas di hati, jauh dari ekspektasi

Mama Martha; menyimak kawan-kawan

dan mengalir. Begitu yang saya tangkap

seniman Peretas, Jayu, Maya, Wulan

mengenai cara kawan-kawan menyikapi

Putri, bu Atiek, Chiki, Syska, Astrid,

proses kolaborasi ini. Menahan ego

Arum Dayu, Lian Gogali, Riyana; dan

dan menemukan diri saya sebagai

kemudian, bagaimana memposisikan diri

bagian yang tak terpisahkan untuk

pada proses kolaborasi ini.

mencatat kisah-kisah perjalanan, bukan


untuk kami saja, tetapi untuk generasi selanjutnya. Sampai di titik proses ini bukan hanya memori Puang Papi, Kai, dan Nenek saya saja yang datang menghampiri, melainkan juga tentang mama saya. Saat ini, Mama sedang memasuki fase menuju lansia, atau meminjam istilah Bu Erlin “pra-lansia”. Bagaimana saya saat ini dan kemudian hari menyikapi usia lanjut mama saya di tengah jarak antara kami berdua? Sebuah bekal pertanyaan bagi saya pribadi. Saya haturkan terima kasih untuk Hindra, Natia, Luna, dan seluruh kawan-kawan yang telah terlibat dalam proses Bersama Lansia, baik secara langsung maupun tidak. Karena tanpa kalian, kami tidak bisa Menuliskan Sejarah yang Lain.

Balikpapan, 30 Mei 2021

48


Foto Kelompok Mba Erlin

49


untuk kami saja, tetapi untuk generasi selanjutnya. Sampai di titik proses ini bukan hanya memori Puang Papi, Kai, dan Nenek saya saja yang datang menghampiri, melainkan

Apa yang kamu pikirkan tentang lansia perempuan, apa yang ingin kamu sedang memasuki fase menuju lansia, atau dapatkan dari kegiatan bersama lansia, meminjam istilah Bu Erlin “pra-lansia”. dan apa yang akan kamu bagi kepada Bagaimana saya saat ini dan kemudian para lansia perempuan?* juga tentang mama saya. Saat ini, Mama

hari menyikapi usia lanjut mama saya di

tengah jarak antara kami berdua? Sebuah bekal pertanyaan bagi saya pribadi. Saya haturkan terima kasih untuk Hindra,

Putri

Natia, Luna, dan seluruh kawan-kawan yang telah terlibat dalam prosesPengalaman Bersama saya menjadi caregiver utk ibu saya yang mengidap schizophrenia, Lansia, baik secara langsung maupun saya sering membayangkan tidak. Karena tanpa kalian, kami membuat tidak bisa Menuliskan Sejarah yang Lain.

masa tua saya sendiri, apakah jika saya

diberkahi umur panjang saya akan baik-

baik saja? Atau apa saya sudah mewarisi Balikpapan, 30 Mei 2021

trauma dan kondisi mental tertentu?

Dan apakah saya akan mewariskannya juga pada anak perempuan saya?

Saya berharap saya bisa memperoleh gambaran yg lebih luas, bagaimana

memori dan trauma bekerja, bagaimana keduanya bisa saja kita wariskan

kepada generasi berikut tanpa kita

sadari. Semoga saja saya bisa berbagi

semangat dan jika memungkinkan, dapat berkarya bersama.

*salah satu pertanyaan yang terdapat dalam GoogleForm Panggilan Berkumpul Bersama Lansia

50


51


Kembang Setaman Bu Atik

Bunga ada di setiap sesajen, perayaan, dan ritual tradisi. Penuh harap keindahan dan harumnya menguar mengantar doa dan mantra ke Yang Maha Kuasa. Judul: Kembang Setaman Teknik: rajut crochet Bahan: benang wol sintetik Dimensi : lingkaran rotan diameter 90 cm Karya ini terinspirasi dari obrolan dengan Mbak Erlin bersama Wulan Putri tentang ritual tradisi yang sudah semakin jarang dilakukan oleh generasi kita terutama yang tinggal di perkotaan. Dan bunga menjadi elemen terpenting di setiap ritual di mana intinya adalah untuk mensyukuri tiap tahap kehidupan dari daur hidup manusia. 52


53


Kembang Setaman Bu Atik

Bunga ada di setiap sesajen, perayaan, dan ritual tradisi. Penuh harap keindahan dan harumnya menguar mengantar doa dan mantra ke Yang Maha Kuasa. Judul: Kembang Setaman Teknik: rajut crochet Bahan: benang wol sintetik Dimensi : lingkaran rotan diameter 90 cm Karya ini terinspirasi dari obrolan dengan Mbak Erlin bersama Wulan Putri tentang ritual tradisi yang sudah semakin jarang dilakukan oleh generasi kita terutama yang tinggal di perkotaan. Dan bunga menjadi elemen terpenting di setiap ritual di mana intinya adalah untuk mensyukuri tiap tahap kehidupan dari daur hidup manusia.



Kembang Setaman Bu Atik

Bunga ada di setiap sesajen, perayaan, dan ritual tradisi. Penuh harap keindahan dan harumnya menguar mengantar doa dan mantra ke Yang Maha Kuasa. Judul: Kembang Setaman Teknik: rajut crochet Bahan: benang wol sintetik Dimensi : lingkaran rotan diameter 90 cm Karya ini terinspirasi dari obrolan dengan Mbak Erlin bersama Wulan Putri tentang ritual tradisi yang sudah semakin jarang dilakukan oleh generasi kita terutama yang tinggal di perkotaan. Dan bunga menjadi elemen terpenting di setiap ritual di mana intinya adalah untuk mensyukuri tiap tahap kehidupan dari daur hidup manusia.



Kembang Setaman Bu Atik

Bunga ada di setiap sesajen, perayaan, dan ritual tradisi. Penuh harap keindahan dan harumnya menguar mengantar doa dan mantra ke Yang Maha Kuasa. Judul: Kembang Setaman Teknik: rajut crochet Bahan: benang wol sintetik Dimensi : lingkaran rotan diameter 90 cm Karya ini terinspirasi dari obrolan dengan Mbak Erlin bersama Wulan Putri tentang ritual tradisi yang sudah semakin jarang dilakukan oleh generasi kita terutama yang tinggal di perkotaan. Dan bunga menjadi elemen terpenting di setiap ritual di mana intinya adalah untuk mensyukuri tiap tahap kehidupan dari daur hidup manusia.



Kembang Setaman Bu Atik

Bunga ada di setiap sesajen, perayaan, dan ritual tradisi. Penuh harap keindahan dan harumnya menguar mengantar doa dan mantra ke Yang Maha Kuasa. Judul: Kembang Setaman Teknik: rajut crochet Bahan: benang wol sintetik Dimensi : lingkaran rotan diameter 90 cm Karya ini terinspirasi dari obrolan dengan Mbak Erlin bersama Wulan Putri tentang ritual tradisi yang sudah semakin jarang dilakukan oleh generasi kita terutama yang tinggal di perkotaan. Dan bunga menjadi elemen terpenting di setiap ritual di mana intinya adalah untuk mensyukuri tiap tahap kehidupan dari daur hidup manusia.



Kembang Setaman Bu Atik

Bunga ada di setiap sesajen, perayaan, dan ritual tradisi. Penuh harap keindahan dan harumnya menguar mengantar doa dan mantra ke Yang Maha Kuasa. Judul: Kembang Setaman Teknik: rajut crochet Bahan: benang wol sintetik Dimensi : lingkaran rotan diameter 90 cm Karya ini terinspirasi dari obrolan dengan Mbak Erlin bersama Wulan Putri tentang ritual tradisi yang sudah semakin jarang dilakukan oleh generasi kita terutama yang tinggal di perkotaan. Dan bunga menjadi elemen terpenting di setiap ritual di mana intinya adalah untuk mensyukuri tiap tahap kehidupan dari daur hidup manusia.



Kembang Setaman Bu Atik

Bunga ada di setiap sesajen, perayaan, dan ritual tradisi. Penuh harap keindahan dan harumnya menguar mengantar doa dan mantra ke Yang Maha Kuasa. Judul: Kembang Setaman Teknik: rajut crochet Bahan: benang wol sintetik Dimensi : lingkaran rotan diameter 90 cm Karya ini terinspirasi dari obrolan dengan Mbak Erlin bersama Wulan Putri tentang ritual tradisi yang sudah semakin jarang dilakukan oleh generasi kita terutama yang tinggal di perkotaan. Dan bunga menjadi elemen terpenting di setiap ritual di mana intinya adalah untuk mensyukuri tiap tahap kehidupan dari daur hidup manusia.



Kembang Setaman Bu Atik

Bunga ada di setiap sesajen, perayaan, dan ritual tradisi. Penuh harap keindahan dan harumnya menguar mengantar doa dan mantra ke Yang Maha Kuasa. Judul: Kembang Setaman Teknik: rajut crochet Bahan: benang wol sintetik Dimensi : lingkaran rotan diameter 90 cm Karya ini terinspirasi dari obrolan dengan Mbak Erlin bersama Wulan Putri tentang ritual tradisi yang sudah semakin jarang dilakukan oleh generasi kita terutama yang tinggal di perkotaan. Dan bunga menjadi elemen terpenting di setiap ritual di mana intinya adalah untuk mensyukuri tiap tahap kehidupan dari daur hidup manusia.



Kembang Setaman Bu Atik

Bunga ada di setiap sesajen, perayaan, dan ritual tradisi. Penuh harap keindahan dan harumnya menguar mengantar doa dan mantra ke Yang Maha Kuasa. Judul: Kembang Setaman Teknik: rajut crochet Bahan: benang wol sintetik Dimensi : lingkaran rotan diameter 90 cm Karya ini terinspirasi dari obrolan dengan Mbak Erlin bersama Wulan Putri tentang ritual tradisi yang sudah semakin jarang dilakukan oleh generasi kita terutama yang tinggal di perkotaan. Dan bunga menjadi elemen terpenting di setiap ritual di mana intinya adalah untuk mensyukuri tiap tahap kehidupan dari daur hidup manusia.



Kembang Setaman Bu Atik

Bunga ada di setiap sesajen, perayaan, dan ritual tradisi. Penuh harap keindahan dan harumnya menguar mengantar doa dan mantra ke Yang Maha Kuasa. Judul: Kembang Setaman Teknik: rajut crochet Bahan: benang wol sintetik Dimensi : lingkaran rotan diameter 90 cm Karya ini terinspirasi dari obrolan dengan Mbak Erlin bersama Wulan Putri tentang ritual tradisi yang sudah semakin jarang dilakukan oleh generasi kita terutama yang tinggal di perkotaan. Dan bunga menjadi elemen terpenting di setiap ritual di mana intinya adalah untuk mensyukuri tiap tahap kehidupan dari daur hidup manusia.



54


Masih ingatkah dengan masa kecil

Ada tarian yang sudah familier dengan

Anda? Ya, saat Anda duduk di

para siswa. Ada pula hasil kreasi baru.

bangku sekolah dasar. Biasanya kalau

Mama Martha menarikan beberapa

melanggar aturan atau terlambat tiba di

gerakan sebagai contoh. Ia minta

sekolah ada hukuman. Kalau di Sumba,

mereka menirukannya. Lima belas menit

ada yang kena cubit di pantat, kena

kemudian “hukuman” selesai. Anak-anak

“habok” (pukul) pakai mistar kayu atau

boleh masuk lagi untuk belajar bersama

sapu lidi, disuruh berlutut, bersihkan

teman-temannya.

halaman, bersihkan kamar mandi, dan

Foto Kelompok Mama Martha

ragam hukuman lainnya.

Kalau kelas sebelah kosong karena guru berhalangan mengajar, Mama Martha

Martha Dada Gabi (72 tahun) yang

memanfaatkannya. Dia menjelaskan

biasa disapa Mama Martha dari Desa

satu-dua hal tentang pelajaran terkait,

Homba Karipit, Kecamatan Kodi Utara,

sebelum mengajak para siswa belajar

Sumba Barat Daya, NTT memiliki cara

menari.

yang unik. Jika anak-anak didiknya membuat kesalahan, mereka akan

Suka Seni dan Menikah

mendapatkan hukuman menari.

Mama Martha orang Loura, salah

Kenapa? Karena dia seorang penari.

satu suku di Pulau Sumba. Suku ini

Hukuman kepada para muridnya kerap

mendiami kawasan di utara Sumba. Ia

ia jadikan ajang seleksi calon penari.

pindah ke Homba Karipit pada tahun 1967 mengikuti tugasnya sebagai

55

Seorang siswa yang terlambat datang

guru di SMP Katolik Wonakaka.

sekolah diminta menunggu di luar kelas.

Sekolah ini berada di bawah naungan

Jika beberapa siswa yang terlambat,

Yayasan Persekolahan Nusa Cendana

mereka diminta berbaris layaknya

(Yapnusda) yang berafiliasi dengan

penari menyambut tamu. Mama Martha

Gereja Katolik di Sumba. Dia mengajar

menirukan suara gong dan tambur

Ilmu Falak dan Bahasa Indonesia.

dengan mulutnya: “Dol dul dollu dol

Setelah diangkat menjadi PNS ia

dollu ….” Mereka diminta memeragakan

mengajar di SD Katolik Homba Karipit

gerakan-gerakan tarian tradisional Kodi.

hingga pensiun pada tahun 2007.


Mama Martha:

Halo, selamat sore ... (melambaikan tangan).

Luna: Selamat sore Mama Martha. Mama tadi sudah melihat videonya Chiki menari, kan?

Mama Martha:

Aduh keren! Saya rasa bangga sekali. Dalam waktu singkat bisa menirukan gaya tarian itu. Top! Kalau saya bandingkan melatih saya punya anak-anak Kodi, masih butuh waktu dua-tiga bulan baru bisa. Tapi ini top sekali. (bertepuk tangan). Saya bangga sekali ada orang luar yang bisa menirukan tariannya orang Sumba, tapi membawa dengan begitu mantap.

Chiki:

(Sembari mengusap mata dan tersenyum) Iya, soalnya waktu percakapan sama Mama Martha, Mama Martha menyampaikan keresahannya akan generasi sekarang, ya. Anak sekarang itu menari cuma kayak di aplikasi tapi tidak mau mendalami tarian asli dari Indonesia.

Mama Martha:

Keasliannya hampir hilang karena dicampur dengan macam dangdut-lah dance-lah. Tapi Mbak Chiki hebat sekali (mengacungkan jempol).

* Terarsip dalam transkrip Merayakan Pertemuan, 22 April 2021.

56


Penari Lintas Generasi1 Martha Hebi

Masih ingatkah dengan masa kecil

Ada tarian yang sudah familier dengan

Anda? Ya, saat Anda duduk di

para siswa. Ada pula hasil kreasi baru.

bangku sekolah dasar. Biasanya kalau

Mama Martha menarikan beberapa

melanggar aturan atau terlambat tiba di

gerakan sebagai contoh. Ia minta

sekolah ada hukuman. Kalau di Sumba,

mereka menirukannya. Lima belas menit

ada yang kena cubit di pantat, kena

kemudian “hukuman” selesai. Anak-anak

“habok” (pukul) pakai mistar kayu atau

boleh masuk lagi untuk belajar bersama

sapu lidi, disuruh berlutut, bersihkan

teman-temannya.

halaman, bersihkan kamar mandi, dan ragam hukuman lainnya.

Kalau kelas sebelah kosong karena guru berhalangan mengajar, Mama Martha

Martha Dada Gabi (72 tahun) yang

memanfaatkannya. Dia menjelaskan

biasa disapa Mama Martha dari Desa

satu-dua hal tentang pelajaran terkait,

Homba Karipit, Kecamatan Kodi Utara,

sebelum mengajak para siswa belajar

Sumba Barat Daya, NTT memiliki cara

menari.

yang unik. Jika anak-anak didiknya membuat kesalahan, mereka akan

Suka Seni dan Menikah

mendapatkan hukuman menari.

Mama Martha orang Loura, salah

Kenapa? Karena dia seorang penari.

satu suku di Pulau Sumba. Suku ini

Hukuman kepada para muridnya kerap

mendiami kawasan di utara Sumba. Ia

ia jadikan ajang seleksi calon penari.

pindah ke Homba Karipit pada tahun 1967 mengikuti tugasnya sebagai

57

Seorang siswa yang terlambat datang

guru di SMP Katolik Wonakaka.

sekolah diminta menunggu di luar kelas.

Sekolah ini berada di bawah naungan

Jika beberapa siswa yang terlambat,

Yayasan Persekolahan Nusa Cendana

mereka diminta berbaris layaknya

(Yapnusda) yang berafiliasi dengan

penari menyambut tamu. Mama Martha

Gereja Katolik di Sumba. Dia mengajar

menirukan suara gong dan tambur

Ilmu Falak dan Bahasa Indonesia.

dengan mulutnya: “Dol dul dollu dol

Setelah diangkat menjadi PNS ia

dollu ….” Mereka diminta memeragakan

mengajar di SD Katolik Homba Karipit

gerakan-gerakan tarian tradisional Kodi.

hingga pensiun pada tahun 2007.

1. Tulisan ini pernah dipublikasikan dalam buku berjudul Perempuan (Tidak) Biasa di Sumba Era 1965-1998. Penerbit Rasibook, 2020.


Selain pandai menari, Mama Martha

Menari, menurut Mama Martha, tidak

juga suka bernyanyi dan olahraga.

sekadar menggerakkan tangan dan

Pada tahun itu ada pula seorang guru

kaki. Ada ekspresi jiwa yang tercetus

muda, Gregorius Gheda Kaka (1945-

di sana. Setiap tarian mengandung

2005), yang juga menggemari seni tari

pesan: gembira, sedih, bersyukur, dan

dan tarik suara. Pak Goris—demikian ia

sebagainya.

disapa oleh para murid dan koleganya— bahkan suka mencipta lagu dalam gaya

“Kita menari harus sesuai dengan pesan

Kodi dengan syair bahasa lokal maupun

yang mau kita sampaikan. Karena itu

Indonesia. Dia juga fasih menabuh

iramanya kadang lembut, tetapi pada

gong dan tambur untuk mengiringi

bagian-bagian tertentu kita harus

tari-tarian Kodi. Mereka berdua selalu

ekspresif,” jelasnya.

menjadi pendukung utama kegiatan seni di sekolah maupun di kalangan

Anak, Sarana Uji Coba

mudi-muda di Desa Homba Karipit atau

Mula-mula sarana uji coba tarian baru

dalam kegiatan gereja.

adalah anak sekolah. Kemudian setelah keempat anak kandung beranjak

Saling jatuh cinta tak terelakkan

remaja, merekalah yang menguji coba

karena sering berjumpa. Lalu mereka

tarian-tarian baru tersebut.

memutuskan menikah pada 12 Oktober 1969. Mama Martha akhirnya menetap

Patricia Kaka atau Trice, anak ketiga

di Kodi. Perkawinan dua orang penyuka

dan satu-satunya perempuan menjadi

seni ini melahir karya-karya baru.

penari mengikuti gerak-gerik Mama

Mereka saling melengkapi. Jika Mama

Martha. Sementara Wilhelmus Ngongo

Martha menciptakan sebuah gerakan

Pala (Pastor Wili, anak pertama),

tari, sang suami akan menciptakan lagu,

Heribertus Ra Mone (Heri, kedua)

mengaransemennya untuk mengiringi

dan Oktavianus Kaka (LW, keempat)

tarian tersebut. Irama gong dan tambur,

menjadi penabuh gong dan tambur.

dua alat musik utama dalam tarian

Adakalanya LW juga ikut ronggeng2

tradisional Kodi disesuaikan dengan

mendampingi Trice. “Tim” ini mengalami

lagu dan tarian. Sementara untuk

latihan yang keras. Tak jarang sapu lidi

keperluan mengiringi misa, gong dan

mendarat di betis atau diteriaki jika

tambur dikombinasikan dengan musik

melakukan gerakan yang salah.

orgel dan gitar. “Kalau sudah latihan, tidak kenal waktu “Kami latihan menari dan menyanyi

lagi. Kami wajib tahu tarian dan irama

hingga larut malam, ya jam satu atau

gong-tambur. Gerakan kaki dan tangan

dua pagi baru berhenti. Kami kadang

harus sesuai, detail. Setelah itu kami

bertengkar gara-gara lagu dan tarian.

diminta ikut memperkenalkan tarian

Juga irama gong yang tidak sesuai.”

ke anak-anak lain,” tutur Trice, kini

Mama Martha tertawa lepas mengenang

menetap di Jakarta.

semua peristiwa itu. 2. Ronggeng atau “ore” dalam bahasa Suku Kodi adalah menari yang dilakukan oleh para lelaki.

58


Bagi yang menghabiskan masa kecilnya

Hangapung dalam tradisi Kodi adalah

di Desa Hombakaripit, sejak tahun 1970

kebiasaan memberi persembahan

hingga saat ini, tentu mengenal Mama

kepada para leluhur di Parona

Martha atau malah pernah menjadi

(kampung besar) di mana semua

murid tarinya. Karena Mama Martha

anggota klan berkumpul. Biasanya

merasa anak-anak penting mengetahui

dilakukan menjelang Bulan Nyale

dan mencintai budayanya maka dia

dalam penanggalan agama Marapu.

selalu menyasar anak-anak sejak dini.

Gerakan-gerakan dalam tarian ini menggambarkan cara memetik

“Sejak saya pindah ke Kodi, kalau saya

pinang dan sirih, mengiris tembakau,

lihat anak perempuan, dalam hati saya

menumbuk padi menjadi beras,

sudah bisik, dia anak Kodi, harus bisa

menangkap ayam, dan perjalanan ke

menari Kodi,” kata Mama Martha. Tahun

Parona, sebelum persembahan dihantar

1982, Mama Martha mendirikan Sanggar

ke kuburan para leluhur.

Hangapung. Dalam wadah inilah dia mengembangkan dan mendidik anak

Menari Katitika (kutilang) bercerita

muda untuk mencintai tarian.

tentang perilaku burung kutilang. Ada

Tarian Tradisional

gerakan terbang dan bermain dengan kawanannya. Sementara Tin Tunggalo

Kecintaannya terhadap dunia seni

adalah permainan anak-anak Kodi yang

membuat Mama Martha terinsipirasi

diangkat ke dalam tarian.

untuk menciptakan gerak tarian dari cerita rakyat ataupun tradisi Kodi. “Ada

Tarian Wonakaka mengisahkan

lima tarian yang kami angkat dari tradisi

perjalanan hidup Wonakaka Kodi

Kodi. Setiap gerakan tangan maupun

yang berjuang melawan kompeni

kaki ada filosofi dan penjelasannya,”

Belanda di Kodi pada 1933. Tarian ini

ujar perempuan yang mulai belajar

disertai sebuah lagu ciptaan Pak Goris

menari sejak usia 9 tahun di bangku

sebagai pengiring. Syairnya antara lain

kelas 3 SDK Weetabula.

berisi ajakan kepada anak-anak muda meneladani keberanian Wonakaka

Lima tarian yang dimaksud Mama

melawan kesewenang-wenangan.

Martha adalah Coco Leko, Hangapung, Katitika,Tin Tunggalo, dan Wonakaka

“Tarian ini lahir dari hasil penelitian

Tarian Coco Leko (membuai bayi

kami tentang Wonakaka selama sepuluh

bernama Leko) mengisahkan cara

tahun, sejak 1978 hingga 1988. Kami

menimang, memandikan, memijat dan

bentuk tim dan menelusuri kehidupan

menidurkan bayi. Gerakan dalam tarian

Wonakaka,” kata Mama Martha.

menggambarkan seorang ibu yang sedang membuai anaknya.

Anggota tim antara lain: Anton Ra Ikit, Gregoris Gheda Kaka, Andreas Ra

59

Hangapung berupa tarian persembahan

Mone, Teodora Ego dan Thomas Ola

kepada para dewa dan leluhur.

Dosing Nai. Hasil dokumentasi mereka


dibukukan secara sederhana dan

Nenggo pahijolo dimulai dari memetik

menjadi bahan rujukan paling lengkap

kapas, memintalnya menjadi benang,

tentang Wonakaka hingga sekarang.

mengatur benang hingga ditenun menjadi selembar kain. Nenggo ikit

“Tim kami namanya SGM, Suka Gugah

adalah kisah kehidupan seekor burung

Massa. Kami masuk ke kampung-

elang. Cara ia terbang, mengintai anak

kampung, ya tapak tilas menelusuri

ayam, dan menerkamnya. Kadang

perjalanan Wonakaka. Bahkan malam

anak ayam terlepas dari paruhnya dan

pun kami tetap jalan, pakai lampu

diterkam kembali untuk dimangsa.

gas (petromaks). Waktu itu belum

Nenggo loro ana mirip dengan Coco

ada listrik. Masyarakat hanya pakai

Leko adalah proses merawat anak.

lampu pelita,” kenang Mama Martha

Saat menceritakan setiap tarian, Mama

tertawa lepas. Sambil meneliti

Martha langsung berdiri memeragakan

tentang Wonakaka, Mama Martha

gerakan-gerakan tarian tersebut. Irama

memakai kesempatan tersebut untuk

gong dan tambur ditiru dengan suara

mengidentifikasi tarian-tarian rakyat

dari mulutnya.

Kodi. Tidak jarang, dia mengajak para ibu di kampung- kampung untuk menari

“Kalau nenggo ndara menceritakan

bersama. Cara ini memudahkan mereka

perilaku seekor kuda. Bagaimana

menggali informasi.

seekor kuda melompat, menendang, mendepakkan kaki depannya, dan

Mendokumentasikan Tarian Kodi

kemudian kembali tenang. Nanti ada

Mama Martha khawatir di masa

irama berjalan kuda. Semua diciptakan

mendatang anak-anak di Kodi tidak lagi

dari kebiasaan sehari-hari atau apa

mengenali tarian-tarian leluhur mereka.

yang terjadi di tengah masyarakat,”

Karena itu ia telah mendokumentasikan

terang Mama Martha.

pati nggaba (irama kuda berjalan mengentak) untuk menggambarkan

sebisa-bisanya tarian-tarian dalam memuat sinopsis tarian-tarian.

Undangan Menari dan Melatih

“Biar anak cucu dan generasi

Sebagai seorang penari dan pelatih tari,

mendatang bisa tahu budayanya, jadi

Mama Martha sering diundang untuk

kami buat sinopsis tarian- tarian Kodi.

menari di berbagai acara. “Pertama kali

Ada penjelasannya di setiap tarian,”

keluar Sumba tahun 1988 waktu Paus

kata Mama Martha.

Yohanes Paulus II datang ke Maumere,

tradisi Kodi dalam catatan yang

Flores. Kami menari di Lapangan Tarian yang sudah didokumentasikan

Samador. Kemudian tahun 1996 ke

antara lain nenggo ikit (menari elang),

Ende dan tahun 2010 ke Alor,” kata

nenggo ndara (menari kuda), nenggo

perempuan yang lahir 5 Februari 1947

loro ana (menggendong anak), nenggo

ini.

pahijolo (memintal kapas).

60


Di Sumba, dia kerap diudang menari di

dulu adalah Ati Horo, Dece Horo, Idi

Weetabula dan Waikabubak. “Waktu

Pandango, dan Murni Horo,” kata Mama

Mama Ima kepala SMA, dia minta saya

Martha.

untuk latih tari di sekolah. Pernah juga waktu akan pentas tarian Pati Bebe,

GANEFO (Games of the New Emerging

saya melatih anak sekolah. Untung

Forces) adalah pesta olahraga negara-

kebanyakan yang akan menari itu

negara berkembang yang dicetuskan

adalah anak murid saya waktu masih

Presiden Soekarno. Pertama kali

SD, SMP jadi mudah,” tutur perempuan

diselenggarakan pada 10-22 November

bercucu sembilan ini.

1963 diikuti 2.000 lebih atlet dari 51 negara di Asia, Afrika, Eropa, dan

Awalnya, Mama Martha belum mahir

Amerika Latin. GANEFO tidak hanya

menari Kodi. Dia hanya menguasai

acara olahraga tetapi juga ada acara

tarian dari Loura dan Wewewa.

seni. Pesta olahraga ini menjadi ajang

Meskipun sekilas tarian dari tiga

pertukaran budaya selain kandungan

daerah ini mirip, namun ada beberapa

isu politik di dalamnya. Tetapi GANEFO

perbedaan mendasar yaitu entakan kaki

hanya berlangsung dua kali, yakni tahun

dan irama gong.

1963 dan 1966. GANEFO III yang akan digelar tahun 1970 akhirnya batal dan

“Sejak di Kodi dilatih Mama Mayorga

kemudian GANEFO dibubarkan.

dan Maria Rehi Teda. Entakan kaki beda sekali, lalu kaki harus dijinjit dan geraknya cepat. Awalnya saya rasa

Peristiwa 1965

kayak ayam yang kena jirat di kaki.

Saat pindah ke Kodi aroma peristiwa

Kaku. Tapi saya nekat. Saya belajar

1965 masih terasa. Untungnya tidak

betul,” ujar Mama Martha tertawa.

berpengaruh pada dunia seni yang ia

Mama Martha mulai menjadi pelatih

tekuni. Meski situasi tidak mencekam

tari sejak 1968. “Murid pertama antara

seperti di Jawa, Sumatra, dan daerah

lain Rambu Ranggabola, Murni Horo,

lain di NTT, tetapi Mama Martha masih

Dece Horo, Fermina Palonda Mada

ingat beberapa interaksinya dengan

dan Rosalia Maharendi. Mereka, kelas 1

perempuan anggota Gerwani dan

dan kelas 2 SMP waktu itu,” kata Mama

Barisan Tani Indonesia (BTI).

Martha. Belakangan beberapa muridnya menjadi tim inti penari dan melatih

“Tahun 1975 waktu mereka dibebaskan,

bersama Mama Martha.

mereka wajib lapor dan harus punya foto diri. Kebetulan di wilayah Kodi,

Tahun 1962 Mama Martha berlatih

Bapa yang punya kamera. Jadi Bapa

menari untuk mengisi acara dalam

sudah yang foto mereka. Saya sempat

GANEFO di Jakarta. “Karena untuk

omong-omong dengan mereka. Rata-

keperluan GANEFO, jadi kami kasih

rata sudah umur 60 hingga 70 tahun,”

nama tarian GANEFO. Kami ikut seleksi

jelas Mama Martha.

dan sekaligus melatih peserta. Namun, saya tidak ikut ke Jakarta. Yang ke sana

61


Para anggota Gerwani dan BTI di Kodi

Diskusi dilakukan pula dengan pastor

adalah petani-petani sederhana yang

yang akan memimpin misa sehingga

tidak paham politik. Karena itu menurut

tidak mengganggu kekhusyukan misa.

Mama Martha, mereka juga bingung kenapa ditangkap.

Untuk keperluan inilah mereka menciptakan tarian-tarian baru yang

“Saya tanya kamu tahu itu PKI? Mereka

sesuai dengan tata liturgi dalam Gereja

bilang tidak. Mereka senang karena

Katolik. Misalnya, ada tarian pembukaan

dibagikan pacul dan beras, jadi mereka

yang digunakan untuk menghantar

rame-rame daftar jadi anggota. Masa

pastor ke altar, tarian persembahan

itu sulit sekali dapat bahan makan. Ada

dan tarian-tarian ordinarium untuk

uang tapi tidak ada barang. Kelaparan

menyatakan kemahamuliaan dan

hebat di Sumba. Jadi itu yang menjadi

kemegahan Tuhan. Tarian-tarian hasil

alasan utama mereka mendaftar jadi

karya mereka tetap dipergunakan

anggota agar bisa dapat beras juga

hingga saat ini dalam acara-acara

dapat alat pertanian,” kata Mama

gereja di Kodi.

Martha. Rupanya daftar nama mereka jatuh ke tangan rezim Orde Baru.

“Sampai sekarang saya dan kawan

Mereka pun ditahan tanpa diadili dan

kawan penari zaman dulu, ya penari tua,

wajib lapor setelah bebas dari penjara.

sesekali masih diminta menari di gereja. Kami dengan senang hati menari,”

Tarian Inkulturasi

Mama Martha tertawa. Mereka sering

Pasca-Konsili Vatikan II dalam

menyebutkan nama tim penarinya

Gereja Katolik tahun 1962-1965, tata

antara lain: Katrina Radu Pala (alm),

liturgi (ibadah) di berbagai negara

Albina Dita Maha, Lusia Mone, Theresia

beradaptasi dengan budaya setempat

Ndita Kodi, Fermina Palonda Mada,

(inkulturasi). Demikian pula di Sumba.

Heldigard T. Bota, Paulina Rangga Ndari

Mama Martha menjadi bagian perintis

dan Margaretha Hona Mbuku.

dijuluki penari lansia. Mama Martha

enkulturasi di Gereja Katolik Homba Karipit.

Lagu-lagu karya suaminya juga tercetak dan menjadi bagian dari Buku

“Kami di Paroki Santa Maria

Nyanyian Madah Bakti yang diterbitkan

Hombakaripit mulai menerapkan

oleh Pusat Musik Liturgi (PML) yang

inkulturasi sekitar tahun 1973, masanya

didirikan oleh pakar musik gereja,

Pater Luke (Pater Ludger Locke, 1936-

Pastor Edmund Prier, SJ dan menjadi

1997). Tarian Kodi mulai masuk ke

buku nyanyian gerejawi Katolik di

dalam liturgi di gereja,” terangnya.

Indonesia.

Namun, hal ini tidak serampangan

Menari Sampai Mati

dilakukan. Mereka berembuk serius dengan pastor dan dewan paroki

Tahun 2018 penulis menyaksikan Mama

tentang mana tarian yang boleh dan

Martha menari. Saat itu ia menghadiri

tidak boleh dilakukan di dalam gereja.

upacara pemakaman Rofinus Ngila

62


Kaka, adik Pak Goris, di Waingapu Sumba Timur. Mama Martha menari bersama keluarga lainnya. Banyak tamu yang terheran-heran, “Kok ada yang meninggal tapi riuh dengan bunyi gong dan tambur, serta orang menari dengan gembira?” cetus para pelayat. “Dalam tradisi Kodi, menari dalam acara kematian punya makna khusus. Tarian itu sebagai penghormatan dan persembahan terakhir bagi yang meninggal. Jadi kadang ada pelayat yang bukan penari, tetapi ingin memberikan ungkapan belasungkawanya. Ia akan ikut menari bersama,” jelas Mama Martha. “Jadi kalau saya mati nanti, harus ada yang menari buat saya seperti saya yang ingin menari sampai saya tidak kuat lagi,” ujar Mama Martha. Apa boleh buat. Menari sudah merasuk jauh ke dalam jiwa Mama Martha.

63


64


Teruntuk Sahabat-sahabatku Andi Rezky Hardiyanti “Chiki”

Pertemuanku bersama Mama Martha melalui platform digital selama sebulan ini, telah menghimpun segala semangat untuk hidup lagi. Bahkan di tengah kondisi pandemi dan pertemuan dalam jaringan. Mama Martha dengan senyum yang begitu ceria mampu menularkan kehangatan di dalam relung-relung hatiku. Dari Mama Martha aku belajar beberapa tari, tetapi pilihanku jatuh kepada tari kayu tumbang. Tarian ini merupakan representasi dari energi hutan; kesedihan dan kemarahan alam atas ulah tangan manusia. Tarian ini seketika mengingatkan aku kondisi di kotaku yang saat itu baru saja dihempas badai angin kencang. Secara teknis, cukup sulit mempelajari tarian hanya dari layar tablet. Aku tidak bisa melihat detail kaki, tangan, dan lambaiannya. Berbekal dari video pertemuan yang kurekam sedikit-sedikit dan keterangan-keterangan dari Mama Martha, aku melatih tangan dan kakiku. Pernah suatu kali terlintas dalam benakku untuk menyontek dari kanal YouTube, namun ternyata niatku terhenti karena ternyata informasi mengenai tarian ini sangat minim di internet. Mama Martha telah memberitahu bahwa kayu tumbang merupakan salah satu tarian yang sangat klasik yang sudah hampir tidak ditarikan lagi oleh anak muda masa kini. Dari sini, aku hanya mengandalkan instingku sebagai penari seadanya. Saat Mama Martha bilang tarian ini tidak ditarikan lagi oleh generasi saat ini, hatiku berdecak lemas. Aku teringat pada kawan-kawanku yang tergerus arus modernisasi saat ini yang beramai-ramai mengunggah video dance singkat di media sosialnya. Semakin hari minat melestarikan budaya pada generasi penerus makin berkurang. Hal ini tentu menjadi keresahan

65

tersendiri bagiku terlebih lagi Mama Martha.


Jujur saja, aku tidak berekspektasi tinggi pada hasil latihanku untuk tari kayu tumbang. Aku meneguhkan keyakinanku dan memercayakan gerakanku pada instingku saja. Aku tak mengira Mama Martha akan menyambutnya dengan begitu terbuka dan hangat. Rasa haru menyeruak begitu saja. Kita memang tidak bisa meremehkan kekuatan rasa. Aku tidak menyangka dua orang yang berbeda generasi dengan passion yang sama dan keresahan yang sama bertemu mampu menaklukkan ruang dan waktu. Sekadar untuk berbagi dan ceritacerita. Aku sungguh sangat berterima kasih pada semua orang yang terlibat dan mewakafkan waktu serta pikirannya untuk menyusun program yang menghangatkan kalbu ini. Dari sini, aku membangun sudut pandang baru dalam memandang masa depan dan yang lebih menakjubkan adalah mengintip, menyentuh, dan memaknai “vibes” menjalani hari-hari tuaku kelak.

Salam penuh kasih,

Penariangin.

66


Pertemuan Berkumpul Puan Lansia Peretas Syska La Veggie

Program Panggilan Bersama Lansia ini saya pilih dan ikuti karena saya tertarik untuk mengetahui kisah hebat dan cerita sejarah lain dari para oma yang terpilih menjadi nara sumber dalam program ini. Sejak awal saya membayangkan, bagaimana saya ketika tua nanti, apakah sibuk ngurusi cucu dan kerja domestik, atau akan tetap eksis berkarya dan tetap kritis? Maka saya rasa perlu untuk mengetahui kisah inspiratif para nara sumber lansia tersebut, untuk memotivasi saya agar tetap aktif dan produktif hingga menjadi oma. Mereka bukan hanya sekadar lansia semata, tapi merupakan orang-orang yang memiliki kisah hidup yang menginspirasi dan tetap produktif di usia senja. Para nara sumber lansia dengan beragam latar profesi dan disiplin yang berbeda mempunyai sisi keunikan tersendiri. Saya sendiri mendapati nara sumber dari Sumba Barat Daya, yaitu Martha Dada Gabi. Saya juga satu kelompok dengan Chiki, kawan peretas dari Makassar. Kami memanggilnya Mama Martha. Seorang penari dengan usia lebih dari 70 tahun asal Sumba yang masih aktif menari hingga sekarang. Mama Martha merupakan pribadi yang menyenangkan, penuh semangat, dan selalu tampil ceria. Ia mempunyai daya ingat yang cukup tajam serta pengetahuan yang luas sehingga topik pembicaraan beragam. Selain mengajari kami menari dan bermusik secara langsung melalui layar virtual zoom meeting, Mama Matha juga memberi banyak sekali cerita pengalaman dan pengetahuan lainnya. Kami mendapat informasi tentang beragam motif kain Sumba sekaligus cara proses pembuatannya, makanan khas Sumba, hingga aktivitas keseharian yang ada di Sumba.

67


Mama Martha merupakan seorang multitasking. Ia merupakan nenek, ibu, sekaligus guru bagi banyak orang. Dalam setiap pertemuan, Mama Martha selalu didampingi keluarganya, terutama Kak Matha Hebi, saudara-saudari lainnya hingga cucunya pun dikenalkan. Sebuah keluarga yang lahir dari pasangan penari yang kemudian juga mewarisi tradisi tarian tersebut. Keluarga yang sangat humble, dengan sukacita menjawab pertanyaan-pertanyaan dari saya dan Chiki, bahkan mereka dengan riang gembira melakukan pertunjukan menari dan bermusik kepada kami. Sungguh pertunjukan virtual yang menyenangkan. Di usia yang sudah setua itu, Mama Martha mengaku masih kuat menari semalam suntuk hingga pagi, bahkan mengalahkan stamina para penari muda. Menari adalah dirinya. Menari bagi Mama Martha bukan hanya sekadar hobi dan rutinitas, menari seperti sebuah doa atau ritual, seperti rasa syukur atas kehidupan, alam, bahkan penghibur saat dukacita. Meskipun saya sama sekali tidak bisa menari, saya sangat mempelajari dan tertular atas spirit yang Mama Martha tunjukkan. Program ini bukan hanya sekadar panggilan berkumpul, melainkan lebih dari itu. Merayakan sebuah pertemuan yang tak biasa. Menuliskan sebuah cerita sejarah yang lain yang kami dapat dari para puan lansia hebat untuk puan hebat lainnya. Semakin termotivasi aktif dan produktif dalam berkarya dan menjalani hidup yang lebih semangat hingga usia senja. []

68


Foto Kelompok Mbah Sumirah

69


Mama Martha merupakan seorang multitasking. Ia merupakan nenek, ibu, sekaligus guru bagi banyak orang. Dalam setiap pertemuan, Mama Martha selalu didampingi keluarganya, terutama Kak Matha Hebi, saudara-saudari lainnya hingga cucunya pun dikenalkan. Sebuah keluarga yang lahir dari pasangan penari yang kemudian juga mewarisi tradisi tarian tersebut. Keluarga yang sangat humble, dengan sukacita menjawab pertanyaan-pertanyaan dari saya dan Chiki, bahkan mereka dengan riang gembira melakukan pertunjukan menari dan bermusik kepada kami. Sungguh pertunjukan virtual yang menyenangkan.

Pindai kode QRmasih di bawah untuk Di usia yang sudah setua itu, Mama Martha mengaku

mendengar Nyanyian Mbah Sumirah! kuat menari semalam suntuk hingga pagi, bahkan mengalahkan stamina para penari muda. Menari adalah dirinya. Menari bagi Mama Martha bukan hanya sekadar hobi dan rutinitas, menari seperti sebuah doa atau ritual, seperti rasa syukur atas kehidupan, alam, bahkan penghibur saat dukacita. Meskipun saya sama sekali tidak bisa menari, saya sangat mempelajari dan tertular atas spirit yang Mama Martha tunjukkan. Program ini bukan hanya sekadar panggilan berkumpul, melainkan lebih dari itu. Merayakan sebuah pertemuan yang tak biasa. Menuliskan sebuah cerita sejarah yang lain yang kami dapat dari para puan lansia hebat untuk puan hebat lainnya. Semakin termotivasi aktif dan produktif dalam berkarya dan menjalani hidup yang lebih semangat hingga usia senja. []

https://s.id/NyanyianMbahSumirah

70


Bersenandung Bersama Mbah Sumirah Arum Dayu

Hangat. Kesan pertama saya saat berkenalan dengan Mbah Sumirah. Saya mendapat kesempatan untuk berkenalan dan berbincang dengan seorang lansia dari Wonosari, Gunungkidul dalam sebuah program bernama Bersama Lansia. Meski kami dipertemukan secara daring dan belum pernah bertatap muka secara langsung, saya langsung merasa nyambung dengan simbah yang humoris ini. Usianya hampir sama seperti ibu saya, jadi ya rasanya seperti ngobrol dengan ibu sendiri. Bahasa yang kami gunakan campur-campur, kadang berbahasa Jawa dan juga berbahasa Indonesia. Berbincang tentang hal remeh-temeh di keseharian kami. Seru. Satu hal yang membuat kami betah untuk ngobrol berjamjam adalah kesukaan kami bernyanyi. Mbah Sumirah gemar sekali bernyanyi, terutama lagu-lagu anak-anak berbahasa Jawa. Kecanggungan dan kekikukan langsung sirna ketika kami bernyanyi. Dalam setiap pertemuan kami saling bergantian menyanyikan dan bercerita lagu favorit kami, kemudian pada akhirnya kami bernyanyi dan membuat lagu bersama. Saling merespons dari celetukan-celetukan obrolan menjadi ide sebuah lagu. Berikut beberapa lagu yang berhasil diciptakan selama proses pertemuan daring tersebut. Lagu ini dinyanyikan dengan irama lagu anak “Naik-Naik ke Puncak Gunung”. Lagu ini merupakan gubahan kelompok lansia Dharma Bakti di Wonosari, Gunungkidul.

71


LANSIA DHARMA BAKTI Menjalani usia senja harus dengan gembira Menjalani usia senja senyum sehat ceria Kiri kanan kulihat semua kami saling menyapa Kiri kanan kulihat semua semangat saling menjaga Kelompok lansia Darma Bakti tempat kami berjanji Tuk bahagia di usia senja juga saling berbagi Kiri kanan kulihat semua kami saling menyapa Kiri kanan kulihat semua semangat saling menjaga Dalam setiap pertemuan, Mbah Sumirah sangat aktif untuk menceritakan aktivitasnya dari mulai bangun tidur. Bagi Mbah Sumirah, pagi hari menjadi waktu penting karena merupakan awal menjalani hari. Semangatnya menjalani aktivitas dimulai dengan menyambut terbitnya matahari, memberi makan ayam peliharaannya, merawat dan menyiram tanaman-tanaman di kebunnya baru kemudian Mbah Sumirah melanjutkan aktivitasnya untuk berjualan di Pasar. Berikut adalah lagu tentang aktivitas Mbah Sumirah yang dimulai pada pagi hari berjudul Wayah Esuk

WAYAH ESUK cipt . Mbah Sumirah Wayah esuk srengengene njedul Tangi turu wayahe podo makaryo Ati bungah sumringah tansah gumregah Poro simbah mesem ngguyu karo aku Esuk esuk jago kluruk ana kandang Ayo podo dipakani nganggo jagung Kembang abang ijo sing ono kebonan Ayo podo disiram supoyo subur Ayo sopo melu aku menyang pasar Ojo lali cuci tangan lan maskeran Nggawa blanjan kiwo tengen ditelateni Golek rejeki akeh sitik disyukuri 72


WAKTU PAGI Pagi hari, matahari terbit Bangun tidur waktunya untuk bekerja Hati senang gembira dan bersemangat Ayo kakek nenek senyum tertawa bersama saya Pagi hari ayam jago berkokok di kandang Ayo diberi makan jagung Bunga merah hijau yang ada di kebun Ayo disiram agar supaya subur Ayo siapa ikut saya pergi ke pasar Jangan lupa cuci tangan dan memakai masker Hati hati membawa membawa belanjaan kiri kanan Mencari rejeki banyak sedikit disyukuri Lagu berikutnya terinspirasi dari makanan favorit mbah Sumirah yaitu, tahu dan tempe. Mbah Sumirah suka sekali makan tahu dan tempe dipadu dengan nasi hangat dan sambal cokak

TAHU TEMPE Cipt. Mbah Sumirah Tahu tahu tempe asale mung soko dele Kabeh kabeh mbutuhake jalaran murah regane Blonjo sithik cukup butuhe Tahu tahu tempe asale mung soko dele Gawe pikuate rogo wong sing podo rekoso Kanggo tambah tenaga Tahu tahu tempe asale mung soko dele Pangan kang akeh gizine Uga sehat kandungane Disenangi sopo wae

TAHU TEMPE Tahu tahu tempe asalnya dari kedelai Semua orang membutuhkan karena murah harganya Belanja sedikit sudah mencukupi 73


Tahu dan tempe asalnya dari kedelai Membuat badan kuat orang-orang yang susah payah Memberi tambah tenaga Tahu dan tempe asalnya dari kedelai Makanan yang banyak gizinya Juga sehat kandungannya Disukai siapa saja Selain lagu-lagu baru yang kami ciptakan, Mbah Sumirah juga sering menyanyikan beberapa lagu dolanan anak-anak berbahasa Jawa, seperti “Lindri”, “Menthok-Menthok”, “Pitik tukung”, “Kodok Ngorek” dan lain-lain. Saya sangat senang dan menikmatinya ketika Mbah Sumirah menyanyikan lagu-lagu itu untuk saya. Salah satu lagu yang berkesan dan saya suka adalah lagu berjudul “Lindri”, begini liriknya.

LINDRI Lindri Adang telong kati lawuhe botok Teri a ditutul mak net net a diemplok plok a mak telep telep macak gulu cingkring aduh yayi sendal pancing aduh ndang krek krek pung aduh ndang krek krek nong Lagu ini bercerita tentang seorang anak perempuan bernama Lindri yang sedang lahap memakan nasi dengan lauk pepes ikan teri. Setelah kenyang makan, anak ini sangat senang dan gembira menari sambil geleng-geleng kepala. Demikian catatan singkat dari pertemuan saya dengan Mbah Sumirah. Saya mencoba larut untuk menikmati kebersamaan kami dalam mengobrol dan bernyanyi. Saya tidak banyak mencatat tentang hal-hal detail dari obrolan kami. Saya membiarkan percakapan berjalan mengalir tanpa harus berpikir apa yang harus dicapai di akhir pertemuan yang digagas oleh Bersama Lansia. Karena bagi saya, pertemuan dan pertemanan ini baru saja dimulai. Terima kasih untuk pertemuannya :)

74


75


Perahu kertas dapat dibongkar, dibaca, dan dipasang kembali.

76


Catatan Reflektif

Ketika Bertemu Perempuan-Perempuan Lintas Batas: Meretas Pandemi & Tips Menua Bahagia. Aha! Hindra Setya Rini

aya niscaya akan menua dan

tentu ada, kekecewaan atas harapan

renta. Bulan April lalu saya

juga pasti pernah mendera, tetapi

berulang tahun, sudah tentu

sampai saat ini apa yang telah ditekuni,

angka untuk umur saya jumlahnya

baik Mama Martha sebagai penari

bertambah besar. Kalau panjang umur

dan Mbak Wieke sebagai desainer

20 atau 37 tahun mendatang, dalam

fesyen, masih berjalan. Konsistensi

rentang usia 60-an itu saya akan sebaya

dan mimpi tentang dunia seni yang

dengan Mbak Erlin, Mbak Svetlana, Kak

digeluti juga masih besar: Mama Martha

Rully, Mbah Sumirah, Mbak Wieke, dan

yang terus menerus tanpa lelah untuk

Mama Martha. Namun, apakah beliau-

mencoba menurunkan “keahlian dan

beliau itu tampak renta tak berdaya?

pengetahuannya” kepada generasi

Oh, sama sekali tidak! Bertemu dengan

muda sebagai penerus dan penjaga

perempuan-perempuan generasi di

tradisi di daerahnya, sementara Mbak

atas saya ini jauh sekali dari bayangan

Wieke terus mengembangkan produk-

saya dulu soal “menjadi tua” dan

produk fesyennya secara kreatif, up-to-

meluruhkan imaji-imaji saya kalau nanti

date dan tetap gaya!

tua saya takut tidak lagi bisa melakukan apa yang saya senangi. Pertemuan

Dari Mbak Svet dan Mbak Erlin, saya

ini banyak menjawab pertanyaan-

belajar tentang hidup bahwa kita tidak

pertanyaan saya tentang masa tua

pernah bisa memilih untuk dilahirkan

yang saya khawatirkan, sekaligus juga

oleh orangtua mana atau siapa. Sebagai

memberikan tuntunan “laku” yang

anak, dari Mbak Erlin dan Mbak Svet

mungkin saya akan “tiru” saat saya

saya belajar bagaimana untuk “survive”

kehilangan alasan bertahan atas apa

menjalani hari-hari dengan melakukan

yang telah saya yakini dan bela.

hal-hal yang disenangi. Melakukan yang bisa dilakukan tetapi juga tidak berhenti

Dari Mama Martha dan Mbak Wieke,

untuk terus mau belajar dan terbuka

saya belajar tentang passion yang tak

serta berdamai pada diri sendiri. Mbak

lekang sepanjang usia. Jatuh bangun

Erlin mengajari untuk jangan lupa



Catatan Reflektif

Ketika Bertemu Perempuan-Perempuan Lintas Batas: Meretas Pandemi & Tips Menua Bahagia. Aha! Hindra Setya Rini

aya niscaya akan menua dan

tentu ada, kekecewaan atas harapan

renta. Bulan April lalu saya

juga pasti pernah mendera, tetapi

berulang tahun, sudah tentu

sampai saat ini apa yang telah ditekuni,

angka untuk umur saya jumlahnya

baik Mama Martha sebagai penari

bertambah besar. Kalau panjang umur

dan Mbak Wieke sebagai desainer

20 atau 37 tahun mendatang, dalam

fesyen, masih berjalan. Konsistensi

rentang usia 60-an itu saya akan sebaya

dan mimpi tentang dunia seni yang

dengan Mbak Erlin, Mbak Svetlana, Kak

digeluti juga masih besar: Mama Martha

Rully, Mbah Sumirah, Mbak Wieke, dan

yang terus menerus tanpa lelah untuk

Mama Martha. Namun, apakah beliau-

mencoba menurunkan “keahlian dan

beliau itu tampak renta tak berdaya?

pengetahuannya” kepada generasi

Oh, sama sekali tidak! Bertemu dengan

muda sebagai penerus dan penjaga

perempuan-perempuan generasi di

tradisi di daerahnya, sementara Mbak

atas saya ini jauh sekali dari bayangan

Wieke terus mengembangkan produk-

saya dulu soal “menjadi tua” dan

produk fesyennya secara kreatif, up-to-

meluruhkan imaji-imaji saya kalau nanti

date dan tetap gaya!

tua saya takut tidak lagi bisa melakukan apa yang saya senangi. Pertemuan

Dari Mbak Svet dan Mbak Erlin, saya

ini banyak menjawab pertanyaan-

belajar tentang hidup bahwa kita tidak

pertanyaan saya tentang masa tua

pernah bisa memilih untuk dilahirkan

yang saya khawatirkan, sekaligus juga

oleh orangtua mana atau siapa. Sebagai

memberikan tuntunan “laku” yang

anak, dari Mbak Erlin dan Mbak Svet

mungkin saya akan “tiru” saat saya

saya belajar bagaimana untuk “survive”

kehilangan alasan bertahan atas apa

menjalani hari-hari dengan melakukan

yang telah saya yakini dan bela.

hal-hal yang disenangi. Melakukan yang bisa dilakukan tetapi juga tidak berhenti

77

Dari Mama Martha dan Mbak Wieke,

untuk terus mau belajar dan terbuka

saya belajar tentang passion yang tak

serta berdamai pada diri sendiri. Mbak

lekang sepanjang usia. Jatuh bangun

Erlin mengajari untuk jangan lupa


bahagia dengan mencari “me-time” jika penat. Dari Mbak Svet saya belajar untuk terus merawat kenangan melalui hobi yang mungkin bisa saya lakukan saat saya tua nanti, seperti memasak resep masakan baru, membaca buku-buku, menanam dan memelihara hewan kesayangan …. Dari Mbah Sumirah dan Kak Rully, saya belajar tentang dedikasi dan “mengikuti kata hati” untuk melakukan yang membuat diri bahagia. Ketika di masa tua memilih untuk lebih memperhatikan kesejahteraan orang lain di sekitarnya, merasakan makna bahagia dengan lebih sederhana. Bahagia melihat teman bahagia. Tubuh yang menua tak menjadi halangan untuk tetap menjelajah wilayahwilayah yang jauh untuk bertemu dan membantu yang perlu dibantu. Dari beliau-beliau semua saya belajar untuk terus bergerak: baik gerak-gerak kecil yang sering dianggap “remehtemeh” tetapi sebenarnya juga bisa berfungsi sebagai aktivitas menjaga kesehatan sekaligus juga sumber inspirasi dalam berkarya, maupun langkah-langkah besar yang ditempuh berkenaan dengan isu-isu yang lebih besar dari diri mereka sendiri terhadap sekitar. Untuk menutup refleksi ini, pada akhirnya saya sadar bahwa usia tak bisa dikira. Apalagi pandemi yang tak kunjung ketahuan usainya. Saya hanya berdoa untuk semua perempuan-perempuan lintas batas ini—sebagai teman baru maupun teman lama yang saya temui dalam rangkaian pertemuan ini diberi kesehatan dan umur lebih lama, begitu juga saya—semoga bisa bertemu kembali di lain waktu!

78


dipaksa sekaligus memaksa diri mengubah detail-detail kecil perilaku dan rutinitas sehari-hari. Wabah membuat kita terus memeriksa ulang gagasan-gagasan mengenai kegiatan tatap muka, apalagi berkumpul dalam jumlah besar. Pergeseran-pergeseran

Catatan panjang ini terbagi mejadi tiga bagian utama yang secara sederhana berupaya merangkum proses persiapan; kegiatan inti, rangkaian pertemuan dengan lansia; dan proses pengumpulan keluaran, pemikiran, dan karya apaapa saja yang bisa didokumentasikan bersama. Di sela-sela ketiga bagian

konsep kegiatan berkumpul Perempuan

utama itu kami juga menyelipkan

Lintas Batas (Peretas) dengan lansia

kepingan-kepingan suara yang tercecer

di sini menjadi penting untuk dicatat karena beberapa sebab: 1) Praktik berkumpul para perempuan lintas

dari arsip digital Grup WhatsApp, Grup Signal, rekaman Zoom, notula rapat, dan transkrip FGD. Meski mustahil

generasi jarang sekali didokumentasikan

menggambarkan seluruh rangkaian

secara khusus; 2) Covid-19 merupakan

proses demi mengawetkan segala

momen historis yang mengubah tatanan

pemikiran dan rasa, tulisan yang sedang

dunia, termasuk cara bertemu dan

Anda baca ini merupakan sedikit

berkumpul masyarakat; 3) Cara kerja sesama perempuan menjadi penting untuk diarsipkan, agar kelak jejak arsip semacam ini menjadi salah satu

banyak upaya kami untuk memberikan gambaran besar, detail-detail yang mungkin saja luput dan mudah terlupakan, hingga kata-kata kunci

bahan refleksi yang kuat bahwa praktik

yang menuntun kita semua kepada

konsolidasi gerakan perempuan terus

pembacaan lebih jauh mengenai cara

mengalami perkembangan di tengah

79

Kronik Pertemuan Perempuan Lintas Generasi di Masa Pandemi

Kita bagian dari miliaran orang yang

para perempuan lintas batas memaknai

keterbatasan dan kondisi keadilan

gagasan, praktik berkumpul, dan

gender yang belum merata.

menarasikan pengalaman.


bahagia dengan mencari “me-time” jika penat. Dari Mbak Svet saya belajar untuk

Catatan terus merawat kenangan melalui hobi

Proses

yang mungkin bisa saya lakukan saat saya tua nanti, seperti memasak resep masakan

Kronik Pertemuan Perempuan Lintas Generasi Dari Mbah Sumirah dan Kak Rully, saya di Masa Pandemi baru, membaca buku-buku, menanam dan memelihara hewan kesayangan ….

belajar tentang dedikasi dan “mengikuti kata hati” untuk melakukan yang

membuat diri bahagia. KetikaAmanatia di masa

Junda

tua memilih untuk lebih memperhatikan kesejahteraan orang lain di sekitarnya, merasakan makna bahagia dengan lebih sederhana. Bahagia melihat teman bahagia. Tubuh yang menua tak menjadi halangan untuk tetap menjelajah wilayahwilayah yang jauh untuk bertemu dan membantu yang perlu dibantu. Dari beliau-beliau semua saya belajar untuk terus bergerak: baik gerak-gerak kecil yang sering dianggap “remehtemeh” tetapi sebenarnya juga bisa berfungsi sebagai aktivitas menjaga kesehatan sekaligus juga sumber inspirasi dalam berkarya, maupun langkah-langkah besar yang ditempuh berkenaan dengan isu-isu yang lebih besar dari diri mereka sendiri terhadap sekitar. Untuk menutup refleksi ini, pada akhirnya saya sadar bahwa usia tak bisa dikira. Apalagi pandemi yang tak kunjung Kronik ini disusun setelah rangkaian kegiatan ketahuan usainya. Saya hanya berdoa Panggilan Berkumpul Bersama Lansia berakhir pada untuk semua perempuan-perempuan 22 April 2021. Keinginan mencatat proses kegiatan lintas batas ini—sebagai teman baru mulanya lahir dari gagasan menuliskan maupun teman lama yang pada saya temui sejarah yang lain untuk perempuan-perempuan dalam rangkaian pertemuan ini diberi namun setelah melalui masa persiapan yang kesehatan dan umur lebih lansia, lama, begitu panjangkembali di tengah wabah Covid-19, kami menyadari juga saya—semoga bisa bertemu di lain waktu!

bahwa sejarah yang lain juga sedang terjadi pada peradaban manusia.

80


81

Kita bagian dari miliaran orang yang

Catatan panjang ini terbagi mejadi tiga

dipaksa sekaligus memaksa diri

bagian utama yang secara sederhana

mengubah detail-detail kecil perilaku

berupaya merangkum proses persiapan;

dan rutinitas sehari-hari. Wabah

kegiatan inti, rangkaian pertemuan

membuat kita terus memeriksa ulang

dengan lansia; dan proses pengumpulan

gagasan-gagasan mengenai kegiatan

keluaran, pemikiran, dan karya apa-

tatap muka, apalagi berkumpul dalam

apa saja yang bisa didokumentasikan

jumlah besar. Pergeseran-pergeseran

bersama. Di sela-sela ketiga bagian

konsep kegiatan berkumpul Perempuan

utama itu kami juga menyelipkan

Lintas Batas (Peretas) dengan lansia

kepingan-kepingan suara yang tercecer

di sini menjadi penting untuk dicatat

dari arsip digital Grup WhatsApp, Grup

karena beberapa sebab: 1) Praktik

Signal, rekaman Zoom, notula rapat,

berkumpul para perempuan lintas

dan transkrip FGD. Meski mustahil

generasi jarang sekali didokumentasikan

menggambarkan seluruh rangkaian

secara khusus; 2) Covid-19 merupakan

proses demi mengawetkan segala

momen historis yang mengubah tatanan

pemikiran dan rasa, tulisan yang sedang

dunia, termasuk cara bertemu dan

Anda baca ini merupakan sedikit

berkumpul masyarakat; 3) Cara kerja

banyak upaya kami untuk memberikan

sesama perempuan menjadi penting

gambaran besar, detail-detail yang

untuk diarsipkan, agar kelak jejak

mungkin saja luput dan mudah

arsip semacam ini menjadi salah satu

terlupakan, hingga kata-kata kunci

bahan refleksi yang kuat bahwa praktik

yang menuntun kita semua kepada

konsolidasi gerakan perempuan terus

pembacaan lebih jauh mengenai cara

mengalami perkembangan di tengah

para perempuan lintas batas memaknai

keterbatasan dan kondisi keadilan

gagasan, praktik berkumpul, dan

gender yang belum merata.

menarasikan pengalaman.


Pra-Pelaksanaan Tercetus dan Terbentur Berulang Kali Siang itu, 21 Maret 2020, grup WhatsApp (WA) Lansia dibuat oleh Hindra Setya Rini setelah menghubungi satu per satu teman perempuannya untuk terlibat lebih jauh dalam gagasan

Panti Werdha Hargo Dedali, Surabaya: Awalnya didirikan khusus untuk lansia janda veteran, sekarang dibuka untuk lansia pada umumnya.

yang ia cetuskan: Ayo kita bikin kegiatan di panti wreda dengan teman-

Tujuan yang tertulis di proposal saat

teman Peretas dan Oma-Oma Lansia.

itu menekankan bahwa kunjungan

Tawarannya menarik Luna Kharisma

dari satu panti ke panti yang lain

(Luna), Amanatia Junda (Natia), dan

merupakan sebuah cara perempuan

Nur Wulandari (Wucha). Di antara

belajar kepada para perempuan lansia

mereka berempat, hanya Wucha yang

yang “terpinggirkan” untuk menghayati

pernah berkegiatan dengan lansia

laku di hari tua nanti sekaligus

dalam pembuatan film dokumenter

sebuah itikad menuliskan sejarah lisan

kelompok Dealita. Gagasan Hindra

tentang aktivitas mereka selama ini

berakar sangat personal, saat kepergian

di ruang publik. Penghayatan dan

ibu kandung, ibu mertua, dan ibu

pengarsipan ini penting sebagai salah

angkatnya dalam rentang waktu yang

satu sumber semangat dan inspirasi

berdekatan membuatnya tersadar

dalam berkesenian dan berproses

bahwa kelak ia pun akan menjadi tua.

kreatif selanjutnya. Grup WA yang

Meski tiada seorang pun yang tahu

dinamakan Grup Lansia ini dipenuhi

seberapa panjang umur manusia, Hindra

oleh pertukaran gagasan untuk

ingin menghayati laku menjadi tua

menyusun proposal kegiatan. Mereka

bersama perempuan-perempuan lainnya

berempat membayangkan betapa

agar lebih matang menjalani usia senja

serunya perjalanan dalam rombongan

kelak. Grup WA yang terbentuk itu

perempuan (kurang lebih 20 orang) ke

pun langsung diisi oleh pembahasan-

tiga kota di Pulau Jawa.

pembahasan teknis mengenai rincian perjalanan dan kegiatan di tiga panti

Akan tetapi, ketika presentasi konsep

wreda di tiga kota.

kegiatan dengan pengurus Peretas (13 April 2020), pemilihan tempat ini

Ketiga panti wreda yang dipilih yakni: Rumah Singgah Waria di Depok, Jabar: Satu-satunya panti khusus trans-perempuan lansia di Indonesia.

pun langsung mendapat pertanyaan dari Dhyta Caturani. Sepenting apa pemilihan lokasi kegiatan di panti wreda? Apakah memungkinkan kalau salah satu lokasi diganti kunjungan

Panti Jompo Waluya Sejati Abadi, Jakarta: Satu-satunya panti yang diresmikan oleh Presiden Gus Dur untuk lansia penyintas 1965.

ke organisasi lansia? Apa perbedaan berkunjung di panti dan di rumah lansia?

82


Hindra memilih mengadakan Panggilan Berkumpul di panti wreda karena dua pertimbangan: 1) Secara teknis kegiatan akan terkonsentrasi di satu tempat di satu kota, daripada harus mengunjungi satu per satu ke rumah para lansia; 2) Apakah panti jompo/wreda bisa dilihat

Hindra: Gaes, kalau yang kubaca beritaberita, kebijakan panti jompo tu nggak boleh ada kunjungan.. boleh kalau pandemi udah selesai. Wkwkwk selesainya kapan hanya Tuhan yg tau.. Jadi walaupun tahun depan covid udah selesai, justru yg dipegang adalah covid belum selesai. Kalau beritanya kan covid sampai 2 tahunan.. vaksinnya jg segitu kira-kira baru ada….. 2

😞

sebagai strategi para lansia untuk berkumpul dan bertahan bersama di

Dalam kondisi kebingungan

masa tua ketimbang hidup sendiri-

merumuskan metode berkumpul,

sendiri dan bergantung pada bantuan

Pengurus Peretas akhirnya memutuskan

langsung keluarga?

jadwal Panggilan Berkumpul untuk keempat tim (Lansia, Susur Selubung,

Konsep kegiatan berupa perjalanan

Papua, dan Rejang Lebong) baru

ke tiga kota ini pun mulai mendapat

akan dilaksanakan di 2021. Sembari

tantangan dari ketidakpastian

menunggu tahun baru yang tampaknya

situasi di tengah masa Pembatasan

juga sama absurdnya dengan tahun

Sosial Berskala Besar . Pembahasan

2020, agenda persiapan diperpanjang,

mengenai konsep kegiatan di grup

diisi dengan berbagai rapat, seperti

WA Lansia, diselingi dengan topik-

rapat penyesuaian anggaran di bulan

topik kebijakan pemerintah, seperti

Juni-Agustus, rapat sebulan sekali

kartu prakerja, protokol kesehatan, dan

untuk pengguliran perubahan konsep

normal baru. Gencarnya pemberitaan

kegiatan ke teman-teman Peretas yang

mengenai Covid-19 dan kepanikan

lain sejak September hingga November.

yang ditimbulkannya membuat situasi

Di satu sisi, timbul kelegaan karena

semakin tidak menentu. Ditambah

persiapan yang panjang akan membuat

pula kebijakan pemerintah yang

acara inti semakin matang nantinya,

berubah-ubah dalam mengantisipasi

tetapi di sisi lain sebenarnya grup

sekaligus mitigasi pandemi, membuat

Kelak Bakal Menua3 juga harap-harap

perencanaan agenda berkumpul pun

cemas apakah masih memungkinkan

kesulitan mencapai kata final.

pertemuan fisik dengan lansia terjadi

1

di 2021? Sementara, risiko generasi Sasaran utama para oma-oma dalam

di bawah lansia menjadi orang tanpa

perjalanan ke panti wreda ini membuat

gejala Covid-19 (OTG) sangat besar,

Hindra, Luna, Natia, dan Wucha

sehingga interaksi langsung dengan

menyadari bahwa sangat berisiko

lansia semakin perlu dibatasi.

mengadakan pertemuan fisik dengan

83

para lansia yang masuk kategori

Metode berkumpul sekaligus metode

kelompok rentan Covid-19. Pihak panti

berkesenian berubah drastis akibat

wreda pun mayoritas meniadakan jam

pandemi. Pembahasan mengenai topik

kunjungan.

ini pun sempat muncul di Grup WA

1  Kebijakan lockdown yang diterapkan pemerintah Indonesia dalam versi lebih longgar. 2 Chat yang terarsip dalam Grup WA Lansia pada 16/06/20. 3 Nama grup ini baru muncul belakangan saat surat undangan Panggilan Berkumpul Bersama Lansia terbit di laman situs resmi Peretas.


Lansia pada 12 Juni 2020. Bagaimana pun Hindra, Wucha, Luna, dan Natia juga merupakan pekerja seni dan industri kreatif yang terdampak pula oleh Covid-19. Mereka yang biasa terlibat dalam acara, festival, pameran, diskusi, riset lapangan, lokakarya, pertunjukan, dan semacamnya menjadi kehilangan pekerjaan yang biasa dilakukan di tahun-tahun sebelum pandemi. Sebagian pekerja seni dan budaya mengubah bentuk kegiatan luring menjadi daring. Meski demikian, pemanfaatan medium digital ini pun menimbulkan banyak

sendiri ketika nonton pertunjukan, kami bayanginnya gitu, atau bahkan bisa merespon dgn cara yg tak terduga. Intine adalah mencoba menata, mengorganisir, atau bahkan meretas algoritma2 dan cara kerja media digital itu sendiri. Ada ga ya kemungkinan kayak gitu? Itu pertanyaan besarnya. Kalo mungkin, caranya gimana.. Sedang dicari

🤣🤣😂😂😂😂

🤣

Hindra: Intinya piye itu medium bukan “hanya” memindahkan yg fisik ke digital. Dipamerkan digital. Tapi gimana yg online bisa ngerespon dan juga bisa sedikit merasakan virtual realitynya hahaha tp mbahase wae mumet. Luna: Iya. Kalo Cuma kita ngeliat pertunjukan online kayak misal di yutup gitu ya sama aja kek nonton dokumentasi pertunjukan…4

pertanyaan: Sejauh apa bisa efektif? Bagaimana menciptakan irisan yang

Pembahasan mengenai kegiatan

pas antara ruang digital dan ruang

kesenian secara daring pun akhirnya

social distancing? Bagaimana kesenian

membawa mereka berempat kembali

tetap berjalan di era digital, di masa

ke bahasan teknis berkumpul bersama

pandemi, di dalam konteks new normal?

lansia. Dalam bayangan mereka, lansia

Pembahasan mengenai topik ini muncul

mungkin tidak terbiasa dengan kegiatan

ketika di ranah seni mulai muncul

daring (mereka berempat sendiri pun

berbagai kegiatan yang mencoba

untuk rapat perlu beradaptasi dengan

mencari jalan alternatif, seperti Hibah

sekian banyak aplikasi meeting: Skype,

Karya Normal Baru yang dilakukan oleh

Go to Meeting, Video Call WhatApp,

Biennale Jogja, dan Festival Teater

Jitsi, Uber Conference, dan Zoom).

Online. Luna: ….Semuanya masih pake logika yg sama, cuma mindah ruang aja, dari panggung ke media digital. Tapi ga diikuti dengan kondisinya, respon, gagasan, dll. Karena media digital kan punya persoalannya sendiri. Dia punya cara kerja, algoritma, dll yg itu kayak membentuk sistem dan selama ini kita hanya ngikutin itu. Kalo menurutku nek kayak gitu sih apa bedanya gitu..? Sama aja.. Jadi kalo ngomongin kesenian dan gagasan tanpa ngobrolin medianya, juga kurang menurutku.. Karena jane itu satu rangkaian. Media, bukan cuma media digital sih. Ya intinya alternatif medianya. Mo kayak apa sih? ….Tawarannya udah mulai ngarah ke penyikapan medianya. Meskipun hasilnya belum ada ya, emang susah ngatasine. Membayangkan sebuah platform atau media atau apalah, yg penonton juga bisa ikut andil dan punya performatif

4  Chat terarsip dalam Grup WA Lansia 12/06/20.

Hindra nyaris putus asa bahwa kegiatan berkumpul bersama lansia dapat dilakukan di situasi wabah. Ia merasa tidak bijak semisal tetap memaksakan bentuk pertemuan fisik ketika virus Covid-19 bahkan bisa menjangkiti seseorang tanpa kemunculan gejala apa pun. Hindra: Btw setelah ngobrol” sama temenku yg bersinggungan dengan para lansia, aku jadi pesimis . Didepan berasa semua plan kita runtuh ….eniwe, kalau proyek ini hanya bisa dikerjakan memang mensyaratkan covid bener-bener gak ada, itu bisa jadi kita gak bisa menjalankan ini sampai kondisi memungkinkan. Jadi kalau akhirnya

😅

84


kepending lagi gimana menurut kalian?... ya mereka sudah di rumah, dan aktivitas berkumpul mereka (setiap Kamis, dan ada kegiatan besar setiap dua bulan sekali) yg sebelum covid itu berhenti sejak Maret.5

Natia dan Wucha masih mencoba optimistis. Mereka berpikir bahwa ketiadaan kegiatan kumpul-kumpul dan sosialisasi sesama lansia pasti berpengaruh pada kondisi psikis omaoma. Mereka berdua sepakat perlu ada survei kecil-kecilan kepada lansia mengenai gagasan berkumpul di masa pandemi. Sementara Luna masih tetap berkeyakinan bahwa masih ada cara alternatif untuk meretas pandemi, meski pertemuan fisik dibatasi. Natia: Menurutku mbak, sblm asumsi semakin jauh, sebaiknya lngsung tanya2 ke orang2 lansianya juga sih. Ke komunitas lansia selain yg kita sasar juga, misal. Meski mungkin ntar dijawab sama2 bingung, belum tau pasti, stdknya kita tau keinginan mereka gimana. Atau pendapat pribadi org2 lansia gimana? Ntar aku coba ngobrol jg sama budeku yg ikut komunitas lansia di deket rumahnya.6

Namun Hindra tetap berkeyakinan bahwa yang perlu ditanya bukan lansianya tapi siapa yang mengoordinasi kelompok lansia atau keluarga dari lansia yang bertanggungjawab pada mereka. Ia berpikir pintu masuk untuk menemukan lansia harus berangkat dari komunitas, bukan pribadi, karena selain lansia yang akan dipilih nanti tetap sebagai perwakilan/representasi suatu kelompok, dan jika ketemu fisik langsung dengan lansia seorang diri justru semakin berisiko dan rumit terkait protokol kesehatan dan perizinan.

Perdebatan singkat itu bermuara kembali pada bahasan membongkarpasang ide berkumpul bersama lansia. Apakah tetap nekat melakukan perjalanan ke tiga kota? Apa sebaiknya berkonsentrasi di satu kota saja? Apakah tetap ke panti wreda? Apakah justru daring? Jika iya, bagaimana teknis kegiatannya? Rapat selanjutnya, sebelum presentasi konsep kegiatan untuk kedua kalinya bersama tiga tim terpilih lainnya, menghasilkan empat versi tawaran konsep Panggilan Berkumpul Bersama Lansia. Secara ringkas, empat metode (lihat Tabel 1) yang ditawarkan terbagi dalam kategori kegiatan luring, kegiatan hibrid (luring dan daring), serta kegiatan daring. Dalam presentasi itu sebenarnya telah terlihat bahwa Hindra, Luna, Wucha, dan Natia mulai menyiapkan diri untuk mengadakan kegiatan daring secara keseluruhan dengan para lansia. Pergeseran konsep ini disepakati bersama pada 27 Juni 2020. Menilik awal terbentuknya ide pada Maret 2020, hanya berselang tiga bulan kemudian, Covid-19 yang telah menyebar di Indonesia meruntuhkan ekspektasi konsep perjalanan yang seru dan menyenangkan ke tiga kota menjadi sebatas berdiam diri di depan laptop dan ponsel masing-masing di rumah, menyapa kawan-kawan dari jauh. Apa serunya kalau begitu? Kesepakatan menggunakan metode berkumpul daring membawa konsekuensi yang jauh lebih besar.

85

5 Chat terarsip dalam Grup WA Lansia 18/06/20. 6 Chat terarsip dalam Grup WA Lansia 18/06/20.


No.

Versi

Konsep Kegiatan

1

Plan A

Rombongan Peretas dan kolaborator di luar Peretas melakukan perjalanan selama dua minggu, mengunjungi satu per satu tiga panti jompo.

2

Plan B

Tiga lokasi panti wreda dan komunitas (Depok, Jakarta, Surabaya). Rombongan Peretas dan kolaborator di luar Peretas dibagi menjadi tiga kelompok dan masing-masing kelompok hanya berfokus di satu lokasi. Jika tidak berada di lokasi, peserta dapat menyaksikan kegiatan melalui video online.

3

Plan C

Hanya memilih dua komunitas lansia dalam satu kota (lokasi: Yogyakarta). Metode berkumpul berbentuk shift/ bergantian untuk membatasi kerumunan, ruang untuk kegiatan berkumpul dipisah sesuai jenis keseniannya.

4

Plan Meretas

• •

Pandemi • •

Tidak ada kegiatan berkumpul secara fisik sama sekali. Lokasi tidak terbatas pada tiga panti jompo/ komunitas tetapi juga memungkinkan mengundang komunitas lansia dari luar Jawa. Metode berkumpul bisa menggunakan ponsel dengan layanan video WA, Zoom, surat-menyurat. Mekanisme kegiatan: • Mendata seniman dan lansia perempuan sesuai kriteria yang diperlukan. • Mendata pendamping dan mitra lokal terkait kelancaran teknis kegiatan. • Mengirimi para lansia terpilih paket hamper/kit kegiatan seni yang telah mereka pilih. • Workshop dengan seniman via online selama 6 kali pertemuan (kegiatan diselingi dengan mengobrol santai antara Oma dan seniman dan pencatat untuk arsip sejarah lisan). Tabel 1. Konsep Kegiatan

Covid-19 mengubah medium, lokasi,

ini dibayangkan? Bagaimana mengatasi

komposisi narasumber, durasi hingga

problem etis dalam rekaman yang

alur kegiatan. Di awal Juli 2020, Wucha

dibuat? Selama ini menurutnya, kita

dan Hindra terlibat percakapan alot

kekurangan catatan/arsip tentang

mengenai bagaimana tim menyikapi

bagaimana perempuan bekerja.

dokumentasi kegiatan. Percakapan

Sementara Naomi mengingatkan

itu merupakan turunan dari masukan-

kembali tantangan mengarsipkan lewat

masukan pengurus Peretas dalam rapat

video, bagaimana karakter narasumber,

27 Juni 2020.

bagaimana kalau cerita ini tidak menyenangkan, apakah ini yang lansia

Lisabona menanyakan bagaimana

inginkan? Jangan menempatkan lansia

mekanisme pencatatan dan

sebagai objek karena sering kali kita

pengarsipan, lantas buat apa catatan

terjebak pada sisi “eksotis” lansia.7

dan arsip tersebut? Pengalaman siapa yang dicatat? Bagaimana produk arsip

Saat itu Wucha merasa mulai

7 Notulensi Rapat Online Peretas, 27 Juni 2020. Via Go To Meeting.

86


menemukan metode rekam jarak jauh.

Hindra berpikir untuk mengantisipasi

Ia sadar bahwa aktivitas meretas

problem etik berkaitan dengan

pandemi ini merupakan catatan sejarah

dokumentasi audiovisual, perekaman

yang penting yang tidak mungkin

kamera mungkin bisa berasal dari

terulang lagi, setidaknya dalam jangka

ruang kamar kolaborator Peretas

waktu panjang ke depan, sehingga

masing-masing yang sudah familier

eksplorasi teknik perekaman dan

dengan Zoom atau teknis perekaman

teknologi menjadi tantangan baru

kamera via video HP/WA daripada

baginya.

harus mengunjungi rumah lansia, atau meminta bantuan jarak jauh pada

Menurut Hindra, nilai penting dari

pendamping/keluarga lansia seperti

dokumentasi audio-visual juga setara

yang ditawarkan Wucha. Karena ini

dengan jurnal keluaran yang kelak

pertemuan virtual maka Hindra merasa

akan dicetak, sama-sama sebagai

tidak perlu mengambil gambar-gambar

arsip. Fokus pendokumentasian

yang mensyaratkan datang ke lokasi

bukan melulu pada lansia, melainkan

narasumber. Selain cara tersebut lebih

lebih pada pertemuan antara peserta

rumit secara teknis dan kurang efektif

Peretas dan lansia yang terlibat. Hindra

di masa pandemi, menurut Hindra

membayangkan keluaran tersebut

tantangan pendokumentasian kegiatan

berfokus pada video dokumentasi

ini terletak pada bagaimana mengolah

kegiatan seni dan bukan dalam rangka

visual dari tangkapan rekaman-rekaman

berkarya. Bayangan ini terbentuk dari

pertemuan daring secara kreatif dan

pertanyaan-pertanyaan dan masukan

tetap “bunyi”.

kritis pengurus Peretas mengenai perlunya merenungkan kembali perkara

Diskusi mengenai perkara etik ini

dokumentasi visual, memperjelas

menjadi salah satu ciri khas yang kuat

metode pendokumentasian serta tujuan

dalam mematangkan konsep Panggilan

dari kegiatan ini.

Berkumpul Bersama Lansia. Luna mengusulkan bahwa tim Kelak Bakal

Wucha membayangkan teknis

Menua perlu mengobrol lebih jauh

pendokumentasian bisa dari tiga

terkait pendokumentasian dengan

sudut pandang sekaligus: dari lansia,

Lisabona Rahman, yang sudah lebih

kolaborator seniman, dan anak/

dalam terjun di dunia pengarsipan

perawat lansia. Ia berpikir kebutuhan

media visual. Konsep kegiatan yang

untuk pendokumentasian audiovisual

tadinya hendak berkumpul dalam

menjadi menarik dan penting dibedah.

waktu yang singkat di ruang publik

Bagaimana peran video ini dalam

seperti aula atau halaman gedung panti

konteks pertemuan daring? Bagaimana

wreda lalu bergeser ke ruang-ruang

supaya video dokumentasi juga selaras

virtual dengan durasi pertemuan yang

dengan keluaran yang lain? Apakah

intens dan mau tak mau berpotensi

posisinya sebagai behind the scene atau

menangkap latar privat kehidupan

dalam bentuk video yang lain?

seseorang, ternyata membawa konsekuensi yang cukup serius.

87


Hindra menyebutnya riskan eksploitasi,

menemukan kelompok lansia yang

sementara Luna menyebutnya

secara latar belakang dekat dengan

problematik.

tema awal yang diajukan (penyintas ‘65, veteran dan transpuan)? Apakah

Andai pandemi Covid-19 tidak

ada kemungkinan kelas sosial lansia

merajalela, kegiatan ini bisa dilihat

bergeser, misal dipilih dari kelas yang

sebagai perjalanan para seniman dan

melek teknologi?

kolaborator, mengunjungi satu per satu tempat berkumpulnya oma-oma

Sementara Natia melihat bahwa banyak

dengan “rasa” belajar yang kuat. Lantas,

sekali tantangan teknis yang akan

apakah pandemi dan pertemuan virtual

dihadapi ketika menjalani Plan Meretas

tetap dapat melahirkan rasa belajar

Pandemi nanti, sehingga ia merasa

yang kuat, alih-alih memunculkan

bahwa yang paling penting dalam

perasaan pasrah, bahwa setidaknya

kegiatan ini yakni adanya keberagaman

kegiatan tetap berjalan pun sudah patut

perempuan lansia. Medium online yang

disyukuri?

sebelumnya tampak sebagai alternatif yang membosankan, sebenarnya

Kecemasan melanggar batas etika

merupakan suatu kelebihan untuk dapat

ini juga disebabkan oleh pengalaman

menjangkau keterlibatan perempuan

yang benar-benar baru bagi mereka

yang lebih luas.

berempat. Baik Hindra, Luna, Natia, maupun Wucha belum pernah terlibat

Pembahasan berlanjut ke kelompok

dalam kegiatan lintas generasi

perempuan eksil di Belanda. Dari

dalam medium daring. Meski sesama

kolaborator luar Peretas, Perkawanan

perempuan, menghadapi perempuan

Perempuan Menulis (PPM) yang

yang jauh lebih sepuh dari usia mereka

rencananya akan terlibat sebagai

menimbulkan perasaan sensitif, takut

pencatat sejarah lisan, masih agak

tidak peka pada kondisi dan status

ragu apakah akan cukup efektif

lansia.

medium online untuk wawancara dan pencatatan. Mereka menyarankan salah

Tantangan berikutnya, yakni sejauh

satu cara komunikasi yang mungkin

mana eksplorasi metode berkumpul

efektif digunakan, yakni surat-menyurat

daring dapat menghadirkan kelompok

alih-alih mengondisikan oma-oma harus

lansia yang sesuai untuk Panggilan

beradaptasi demi pertemuan daring

Berkumpul. Apakah lokasi diperluas,

yang intens. PPM mengusulkan oma-

dari yang tadinya Yogyakarta

oma eksil di Belanda menjadi salah

seperti pada Plan C, akhirnya dapat

satu kelompok lansia yang diundang.

menjangkau wilayah geografis mana

Perkumpulan eksil tersebut sangat aktif.

pun asalkan mempunyai akses internet

Para anggotanya meski rata-rata usia

yang cukup baik? Apakah dipersempit

70 tahun ke atas, masih cakap menulis

menjadi kategori lansia yang relatif

surel. Pembahasan menjadi semakin

masih produktif? Apakah perlu riset

panjang. Perempuan lansia seperti

dahulu dengan sistem kuesioner untuk

apakah yang dicari?

88


Oma-Oma eksil di Belanda mempunyai

mendalam obrolannya? Apakah perlu

situs yang secara rutin menerbitkan

mencari 12 lansia untuk dipasangkan

buletin berkala. Hindra merasa itu

dengan 12 seniman? Apakah simulasi

merupakan sebuah kemewahan.

pertemuan di pra-pelaksanaan

Menurutnya, lansia yang mau disasar

diperlukan?

adalah para perempuan yang mungkin sejarahnya belum pernah dituliskan,

Di luar pembahasan secara internal,

bukan yang sudah terbiasa menuliskan

pengurus Peretas mengadakan

sejarahnya sendiri. Saat itu, sedikit

beberapa sesi diskusi di mana empat

banyak ekspektasi tim mengenai judul

tim yang terpilih—termasuk grup Kelak

kegiatan “Biar Kutulis untukmu Sebuah

Bakal Menua—untuk mempresentasikan

Sejarah yang Lain” masih berkutat

ulang rancangan kegiatan sekaligus

pada cerita-cerita tangguh dari masa

perkembangannya, kemudian mendapat

lalu muram para perempuan yang

masukan dari para narasumber yang

terpinggirkan. Kelak, ekspektasi ini

diundang secara khusus. Sesi diskusi

perlahan memudar seiring dengan

pertama diselenggarakan pada

berkembangnya pemikiran mengenai

pertengahan Oktober.

perkara etik dan substansi Panggilan Berkumpul. Saat itu sebenarnya Wucha cenderung masih membuka kemungkinan untuk berkolaborasi dengan kelompok lansia mana pun. Ia yakin akan ada banyak hal menarik di luar ekspektasi jika yang terlibat semakin beragam. Diskusi sering kali berhenti di tataran teknis, karena memang terasa sulit merumuskan agenda secara detail sementara metode telah bergeser cukup jauh dari gagasan semula. Jika Natia dan Wucha cenderung lebih berani menyambut kemungkinankemungkinan baru yang secara drastis berubah dari rancangan awal, Hindra dan Luna masih menahan diri agar secara teknis pertemuan kegiatan ini nanti dapat berjalan sesuai dengan keterlibatan awal yang diharapkan serta substansi tujuan pertemuannya tercapai. Apakah pertemuan daring nanti satu seniman berpasangan dengan satu lansia supaya fokus dan

89

Undangan terbatas untuk kawan-kawan Peretas Berkumpul: Pakaroso! BAGAIMANA MENGORGANISIR DI TENGAH KETIDAKPASTIAN? Rabu, 14 Oktober 2020 Pk 18.30 WIB / 19.30 WITA / 20.30 WIT via Zoom Kami mengundang kalian untuk belajar bersama dari rancangan kegiatan (1) “Susur Selubung” yang diampu oleh Maria Ludvina Koli (Iin) dan akan berlangsung di Kampung Wuring, Maumere, NTT, serta (2) “Perempuan dan Lingkungan Hidup,” yang diampu oleh Lica Veronika, Linda Tania, Rinta Yusna, dan Resti Purwaningrum, dan akan diadakan di Desa Sumber Urip, Bengkulu. Selain menjadi kesempatan untuk teman-teman mengenali kegiatan-kegiatan Panggilan Berkumpul yang akan terjadi pada 2021, rancangan dua kegiatan ini akan menjadi studi kasus untuk mendiskusikan urgensi, antisipasi masalah logistik, dan berbagai isu lain ketika mengorganisir kegiatan di tengah ketidakpastian situasi pandemi Covid-19 dalam konteks Indonesia. Bersama kita akan hadir pula Andy Yentriyani (Komnas Perempuan, Sekolah Pemikiran Perempuan) dan Irma Hidayana (Laporcovid.org, Kios Ojo Keos) yang akan menanggapi dan memberi masukan sesuai pengalamannya dari berbagai kerja-kerja lapangan


Poin-poin yang disampaikan dua narasumber di atas sangat penting

Undangan terbatas untuk kawan-kawan Peretas Berkumpul: Pakaroso!

untuk direnungkan lebih lanjut sebelum mengeksekusi Panggilan Berkumpul di 2021. Irma Hidayana menekankan bahwa Covid-19 masih akan bertahan di tahun depan. Awal 2021 belum bijak jika tetap ingin mengadakan pertemuan

*Bagaimana mengintimkan kebersamaan di tengah keterbatasan berkumpul?* Selasa, 3 Oktober 2020 Pk 18.30 WIB/19.30 WITA/20.30 WIT

fisik. PCR wajib dilakukan untuk peserta

Durasi: 2 jam

luar kota, jadi perlu menganggarkan pos

Via Zoom

kesehatan yang lebih besar dari tahuntahun sebelumnya. Sementara data pemerintah mengenai zonasi wilayah Covid-19 tidak benar-benar akurat, jadi sebaiknya meminta masukan pihak yang mempunyai data pembanding jika tetap akan mengadakan pertemuan fisik. Sedangkan Andy Yentriyani lebih banyak menekankan pada pokok-pokok isu perempuan yang disasar, mengenali dengan baik pihak kolaborator yang terlibat dan mencoba mengosongkan ekspektasi terlebih dahulu. Dari sesi diskusi pertama, bayangan untuk

Mari berkumpul lagi untuk berdiskusi tentang keintiman sosial, kebersamaan, dan pengalaman ketubuhan di tengah kenyataan migrasi acara fisik ke ruang daring selama pandemi masih berlangsung. Dalam sesi kali ini, kita akan belajar bersama dari rancangan kegiatan “Biar Kutulis Untukmu Sebuah Cerita Sejarah yang Lain,” yang diampu oleh Hindra Setya Rini, Luna Kharisma, Amanatia Junda, Nur Wucha Wulandari, serta kegiatan “Seni Peka Lingkungan Berperspektif Perempuan: Ruang Kolaborasi Seniman Perempuan Papua dan Peretas 01” yang diampu oleh Asrida Elizabeth dan Pitra Hutomo. Bersama kita akan hadir pula dua penanggap, yaitu Wilma Chrysanti, kawan berkumpul Pakaroso!, sekaligus salah satu pendiri LabTanya, dan Andy Yentriyani yang telah bermurah waktu menyempatkan diri lagi untuk berbagi pengetahuan bersama kita.Sesi ini akan dimoderatori oleh Dhyta Caturani.

menciptakan pertemuan lintas generasi yang intim dan personal semakin konkret.

Sesi diskusi malam itu merupakan

Mulai muncul ide mengkreasi kegiatan

presentasi rancangan kegiatan untuk

seni yang sederhana untuk dilakukan

ketiga kalinya selama 2020, dari

oleh seniman Peretas dan lansia agar

proposal awal hingga pergeseran bentuk

pertemuan daring bisa berlangsung cair

pertemuan dari luring ke daring. Dalam

dan hangat, seperti berbagi resep masak,

presentasi kali ini grup Kelak Bakal

senam, merajut, dan bersama-sama

Menua juga menyajikan perkembangan

menciptakan sebuah lagu. Pertanyaan

terbaru, seperti tiga kelompok lansia yang

selanjutnya, bagaimana memasangkan

akhirnya dipilih: Kelompok Penyintas ‘65

seniman A dengan lansia B? Apakah

(Yogya), Kelompok Lansia Transpuan

pihak lansia yang memilih pasangan

(Yogya), dan Kelompok Lansia Eksil

kolaborator, berdasarkan ketertarikannya

(Belanda). Lini masa dan tahapan-

melakukan aktivitas seni tertentu? Apa

tahapan kegiatan di 2021 pun telah

sebaiknya berpegang dari obrolan dengan

dirinci. Materi presentasi tampak matang.

koordinator kelompok lansia alih-alih

Namun, yang membuat tim ini terhenyak

menyodori tiap lansia yang akan diajak

adalah masukan kritis Andy Yentriyani

bergabung dengan kuesioner?

yang menanyakan pertimbangan apa

90


saja dalam memilih kelompok lansia

Natia sempat bertemu Raisa dari PPM

yang memiliki latar terpinggirkan? Jika

untuk membahas kemungkinan menjadi

tujuan kegiatan adalah menghayati

penghubung kelompok lansia eksil.

laku menua, mengapa tidak mengambil kategori lansia dari latar belakang

Menjelang akhir tahun, dinamika

seniman atau pekerja kreatif?

Grup Kelak Bakal Menua menukik tajam. Persiapan yang telah berjalan

Pertanyaan Andy memantik diskusi

sekitar sembilan bulan sejak grup

lanjutan di suatu sore. Sembari

WA Lansia terbentuk terasa sangat

memasak dan makan, Natia, Hindra,

melelahkan. Terlebih nyaris seluruh

Wucha dan Luna bercakap melalui

proses penggodokan ide dilakukan

video call WhatsApp dan membuahkan

secara daring. Hindra, Natia, Luna, dan

kesimpulan bahwa yang diinginkan

Wucha belum pernah duduk bersama

keempat anggota Grup Kelak Bakal

di warung kopi untuk membahas segala

Menua adalah mendengar kisah hidup

perubahan di masa persiapan. Meski

para perempuan yang terpinggirkan

keempatnya berangkat dari persepsi

oleh negara. Jika mengambil kategori

yang sama atas ide yang dicetuskan

lansia dengan latar belakang yang

Hindra, namun motivasi dan latar

umum, tak ubahnya menyimak kisah

belakang masing-masing membuat

hidup nenek sendiri atau rekan senior di

potensi konflik cukup besar. Hindra dan

lingkar komunitas kesenian. Meskipun

Luna mempunyai latar komunitas teater

pada prosesnya, kesimpulan pikiran

yang kuat, Wucha dari komunitas film

awal mereka tersebut berubah dan

dan pemberdayaan remaja, sementara

berkembang.

Natia berasal dari komunitas sastra dan literasi, sehingga iklim dan budaya

Pada bulan November, mendekati

organisasi yang memengaruhi mereka

tenggat waktu pengumpulan proposal

berbeda.

final, Grup Kelak Bakal Menua mulai

91

membuat janji temu koordinator

Benturan demi benturan terjadi

kelompok lansia dan kolaborator

berulang kali, mulai dari ranah

luar Peretas. Dari komunitas Kiprah

subtansi Panggilan Berkumpul, corak

Perempuan (KIPPER), disarankan

kepemimpinan, teknis pendokumentasi-

mengajak lansia penyintas ‘65 generasi

an dan anggaran, luring versus

kedua. Pipit Ambarmirah, koordinator

daring, problem etik, sasaran peserta

KIPPER, mengatakan bahwa selama

kegiatan, hingga protokol kesehatan.

ini kegiatan-kegiatan yang dibuat

Akumulasi kecemasan, salah paham,

atau yang sudah didokumentasikan,

ketidaksepakatan, dan ganjalan-

cenderung berfokus kepada penyintas

ganjalan lainnya akhirnya tumpah di

generasi pertama. Generasi kedua yang

rapat evaluasi internal yang memakan

merupakan anak dari penyintas jarang

waktu nyaris lima jam via Zoom

didengar kisahnya, karena “dianggap”

Meeting. Meski akhirnya sama-sama

tidak sepenting penyintas yang

menarik napas lega, ini belum apa-apa.

mengalami langsung peristiwa 65. Pada

Mereka masih bersiap masuk ke agenda

bulan Desember, Hindra, Wucha, dan

inti.


Bergeser dan Belajar Bersama

Peretas adalah seniman, sehingga tetap relevan memasukkan kategori seniman lansia. Jumlah total perempuan lansia yang diundang berubah dari dua belas

Hari keempat di tahun baru 2021, Grup

ke enam orang saja.

Kelak Bakal Menua berkonsolidasi kembali. Rapat siang itu terdiri dari dua

Tantangan mencari tiga orang seniman

sesi. Sembari makan dan mengenakan

lansia gampang-gampang susah,

masker perawatan wajah, Natia, Wucha,

meski Hindra, Luna, Wucha, dan

Hindra, dan Luna membahas agenda

Natia aktif di lingkaran seni budaya.

program Januari–Juni, perubahan lini

Hal ini baru disadari oleh mereka

masa kegiatan, teknis administratif,

berempat, bahwa relasi pertemanan

komitmen dan kontrak. Yang menarik

lintas generasi sesama perempuan di

dalam rapat kali ini, terdapat

dunia seni cukup terbatas. Pengurus

pembahasan solidaritas Covid-19.

Peretas menawarkan daftar nama-nama

Seandainya ada peserta maupun

seniman lansia yang kiranya tertarik

penyelenggara yang terkena Covid-19,

untuk bergabung. Akhirnya, menjelang

sehingga tidak dapat melakukan

kelas pengantar dimulai, Bu Ati,

pertemuan atau menyelesaikan tugas,

anggota Peretas, merekomendasikan

maka remunerasi tetap dibayarkan

seniornya kuliah dulu yang kini

dengan syarat dan ketentuan yang

menjadi desainer busana di Bogor.

telah disepakati . Sebenarnya, sejak

Selanjutnya, Hindra mengundang Mama

Maret tahun lalu, di awal pembahasan

Martha, penari Sumba, yang profilnya

mengenai proposal kegiatan, Hindra

direkomendasikan melalui situs Cipta

telah mengatakan pentingnya dana

Media Ekspresi. Ia mengontak Martha

“bab kemalangan”. Meskipun jika nanti

Hebi, penulis profil tersebut untuk

tidak terpakai, bijaknya tetap ada

meminta bantuan menjadi penghubung

alokasi untuk perkara semacam itu,

kepada Mama Martha.

8

mengingat para pelaku seni umumnya tidak difasilitasi asuransi kerja saat terlibat dalam proyek-proyek kesenian. Pergeseran rancangan kegiatan terjadi kembali setelah berdiskusi dengan pengurus Peretas mengenai penyesuaian-penyesuaian yang diperlukan setelah rapat evaluasi di akhir tahun, seperti mundurnya PPM sebagai pencatat sejarah lisan, serta kelompok lansia eksil diganti dengan kelompok seniman lansia. Yang menjadi pertimbangan, mayoritas kolaborator

Gambar 1. Komposisi Tiga Kelompok Lansia yang Terkumpul

8 …dibayarkan sebagian kepada rekan yang mengambil alih tugasnya dan sebagian untuk support dana kesembuhan akibat Covid-19 (Notulensi 4 Januari 2021).

92


Gambar 2. Komposisi 10 Kolaborator Panggilan Berkumpul Bersama Lansia

Menjelang kegiatan inti, pencarian

yang tak terpikirkan sama sekali oleh

lansia pun mendapat improvisasi.

mereka berempat. Kelak, di pertemuan

Pada 8 Februari 2021, Hindra dan

besar dan kecil, Mbah Sumirah

Natia hadir di acara bedah buku “Terus

mengeluarkan jiwa seninya, sebagai

Melangkah: Kisah Lansia Menjalin Gerak

seorang penyanyi dan pencipta lagu.

Bersama” yang diselenggarakan oleh

93

Erat Indonesia, lembaga swadaya yang

Jika mekanisme pencarian lansia

berfokus pada pemberdayaan lansia.

harus menghubungi satu per satu

Dalam acara virtual tersebut, mereka

komunitas-komunitas terkait, pencarian

berdua menyimak kisah seorang

kolaborator lebih mudah, anggota

perempuan usia lanjut dari Gunungkidul

Peretas di luar empat pengusul

yang luar biasa. Mbah Sumirah

program terpilih diberi opsi voting.

namanya. Beliau seorang pedagang

Apakah tertarik berkumpul dengan tim

di pasar dan menjadi ketua komunitas

Rejang Lebong, Papua, Susur Sungai,

lansia di daerahnya. Pembawaannya

atau Lansia? Dari hasil voting tersebut

ceria dan sering tersenyum. Dari acara

terdapat sembilan anggota Peretas

tersebut, Grup Kelak Bakal Menua

yang memilih gabung di Panggilan

mulai berani melebarkan spektrum

Berkumpul Bersama Lansia. Mereka

sasaran lansia. Meski bukan berasal dari

kemudian diminta mengisi formulir

komunitas penyintas, minoritas, dan

untuk mengetahui motif ketertarikan,

seniman, energi positif Mbah Sumirah

harapan, dan bidang seni yang

susah untuk diabaikan. Beliau bercerita

dihayati/hobi. Sementara, terdapat

bahwa komunitasnya juga membantu

satu kolaborator seniman di luar

mengurus KTP para lansia yang belum

Peretas yang sudah lama tertarik ingin

punya kartu identitas. Sebuah isu krusial

bergabung, Arum namanya, seorang


No.

Komposisi Kelompok Kecil

Pertimbangan

1

Mba Svet Jayu Maya

Mbak Svet suka membuat kue. Jayu dan Maya juga suka memasak. Mungkin Jayu akan tertarik membuat ilustrasi dari kisah hidup Mbak Svet, dan Maya dari formulir yang diisi berkeinginan menulis naskah teater.

2

Bu Erlin Bu Ati Putri

Selama pandemi, Bu Erlin menjual konektor masker hasil kerajinan meronce, dipasangkan dengan Bu Ati seorang perajut, dan Putri yang ahli di pendokumentasian audiovisual.

3

Mami Rully Kak Lian Riyana

Mami Rully merupakan pimpinan komunitas transpuan di Yogyakarta. Mungkin akan banyak cerita yang menarik tentang kepemimpinan dan pemberdayaan masyarakat yang dapat ditulis oleh Riyana yang bergerak di bidang sastra, dan Lian, seorang aktivis perempuan di Poso.

4

Mama Martha Chiki Syska

Mama Martha dipasangkan dengan Chiki yang juga sesama penari. Syska dari seni rupa mungkin tertarik membuat sketsa tarian mereka saat kegiatan berlangsung.

5

Bu Wieke Astrid

Bu Wieke seorang desainer busana. Beliau sempat mengirimkan arsip berupa kumpulan berbagai jenis kain tradisional dan catatan tutorial membuat berbagai macam kerajinan dari kain perca. Astrid yang sedang tertarik membuat kolase dan jurnalling mungkin bisa mengolah arsip tersebut menjadi lebih menarik.

6

Mbah Sumirah Arum

Mbah Sumirah dan Arum sama-sama berlatar belakang keluarga Jawa. Kendala bahasa jadi bisa diantisipasi. Keduanya pun sama-sama gemar menyanyi. Mungkin mereka dapat membuat lagu bersama.

Tabel 2. Pertimbangan Enam Kelompok Kecil

musisi. Sehingga, total peserta yang

susunan kelompok terlebih dahulu,

nantinya akan berpasangan dengan

berdasarkan kesesuaian minat dan

para lansia ada 10 perempuan.

latar belakang, seperti yang tertera di formulir pendaftaran. Pendekatan ini

Sebelum momen perkenalan antara

dibuat oleh penyelenggara sebagai

lansia dengan kolaborator berlangsung,

pintu masuk untuk masing-masing

mereka telah dibagi dalam enam

kolaborator dan narasumber lansia lebih

kelompok kecil. Jadi, empat lansia

mudah membuka obrolan di dalam grup

nantinya akan dipasangkan dengan

kecilnya nanti. Dan saat musyawarah,

masing-masing dua kolaborator,

semua kolaborator sepakat dengan

sementara dua lainnya dipasangkan

pembagian ini. Berikut ke enam

dengan masing-masing satu

kelompok kecil tersebut: (lihat Tabel 2).

kolaborator. Pembagian kelompok ini sebenarnya bersifat terbuka saat

Menuju pertemuan, Grup Kelak Bakal

agenda musyawarah berlangsung

Menua mengadakan empat sesi

pada 3 Maret 2021, tetapi Grup Kelak

kelas pengantar, yang dimaksudkan

Bakal Menua mencoba menawarkan

sebagai ruang belajar mengenai aspek-

94


aspek yang perlu dipahami bersama

mayoritas bermuara pada diskusi

sebelum masuk ke agenda inti. Topik

mengenai problem etis. Dalam

untuk keempat kelas tersebut antara

presentasinya, Veda, advokat keadilan

lain: Kekerasan Berbasis Gender

gender dan HAM, menekankan pada

Online, Pendokumentasian yang

etika peliputan dan penceritaan kisah

Tidak Eksploitatif, Sejarah Lisan, dan

korban. Veda juga berbagi cerita-

Berkumpul Bersama Lansia. Topik yang

cerita di lapangan saat ia mendampingi

terakhir muncul belakangan.

banyak penyintas. Luna yang sepanjang kelas pengantar menjadi moderator, menggarisbawahi bahwa terdapat tiga hal yang perlu diperhatikan oleh pihak yang akan mereproduksi kisah penyintas: 1. melindungi konten dan arsip yang dihimpun, mulai dari tempat penyimpanan sampai mekanisme publikasi; 2. adanya persetujuan (consent); dan 3. menghormati privasi narasumber. Inti dari mereproduksi cerita yang mengandung unsur isu-isu kekerasan yakni pentingnya partisipasi aktif narasumber.

Gambar 3. Poster Keempat Kelas Pengantar

Ketika menghadiri acara bedah buku ERAT, Hindra dan Natia menyadari pentingnya belajar mengenai lansia secara umum, dan salah satu narasumber acara tersebut, Heni Wardatur Rohmah, merupakan seorang

Veda: Apakah harus mempertimbangkan konteks politik? Jawabannya iya. Kita bertanya ke diri sendiri, ini apa tujuannya? Bagi saya ketika membikin cerita ini apakah akan merugikan korban? Bisa jadi konteks sosial dan politik lansia berbeda dengan konteks politik dan sosial saya sebagai pihak yang mendampingi atau wawancara. Seberapa jauh intervensi kita ketika proses mendengarkan? Kita kan tidak mendengarkan secara kosong. Tapi ada proses yang terjadi dalam diri, berdialog dengan diri kita yang punya pengetahuan yang berbeda. Saya memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, selalu ada dialog dalam diri.9

penggerak posyandu lansia. Keempat

Di Kelas Pengantar Dokumentasi,

kelas pengantar ini selain dihadiri oleh

Lisabona, pelaku arsip dan studi film,

10 kolaborator, juga terbuka untuk

memantik diskusi dengan menceritakan

koordinator dan pendamping lansia

pengalamannya menemukan berkaleng-

serta para anggota Peretas yang lain.

kaleng gulungan rol film di toko antik di dekat Kantor Kedutaan Indonesia

95

Secara garis besar, materi yang

di Bonn, Jerman. Dari harta karun

disampaikan oleh keempat narasumber

tersebut, ia memasuki konteks politik

kelas pengantar memunculkan

di masa film itu dibuat sekaligus

pertanyaan-pertanyaan kritis yang

mengalami proses panjang untuk

9 Terarsip dalam Notula Kelas KBGO, 24 Februari 2021.


merestorasi sekaligus memaknai arsip

Heni, narasumber kelas tersebut,

itu dengan irisan masa lalu pribadinya.

mencoba menyemangati para kolaborator.

Lisabona menggarisbawahi tiga hal utama

Ia percaya kelompok lansia adalah orang-

yang selalu ia pertanyakan berulang

orang yang paling aktif menjaga jalinan

kali saat sedang meneliti arsip-arsip

silaturahmi sehingga mereka sebenarnya

audio-visual: 1. persetujuan (consent), 2.

terbuka untuk obrolan-obrolan yang baru

posisi pribadi si peneliti, 3. dampak yang

dan intens. Dalam presentasinya, lansia

ditimbulkan dari kerja pengarsipan dan

memiliki tiga kebutuhan utama: 1. rasa

publikasi.

aman, 2. rasa memiliki dan dimiliki, dan 3.

Lisa: Persoalannya adalah kalau memori itu negatif. Bagaimana kita menghadapinya? Dalam kasus aku masih berjalan. Dalam kasus Efi sudah selesai, happy ending, ada kenangan dan nostalgia. Tapi gimana kalau tentang something about traumatic? Kadang, kan, ada rasa bersalah, wah kok gue bikin orang ingat sesuatu yang traumatik dan berat? Apalagi kita punya tanggung jawab membawanya ke publik. Kadang kita enggak mikir hak milik pribadi orang pas kita bawa ke publik, misal mendengar cerita langsung para lansia, di bagian informasi sangat sensitif, ada yang negatif dan positif. … kalau dokumennya menyenangkan ketularan seneng, haru. Refleksi dari saya saat melihat film tentang Pulau Buru dan Timor Timur kesel duluan. Tapi setelah kesel terus apa?10

Pertanyaan-pertanyaan seputar teknis interaksi dengan lansia, hal-hal apa saja yang boleh atau jangan dilakukan, muncul di Kelas Pengantar Berkumpul Bersama Lansia. Ini sebenarnya menunjukkan kecemasan kolaborator meningkat karena khawatir tidak bisa mengalir ketika mengobrol dengan lansia, atau takut menyinggung perasaan lansia.

aktualisasi diri. “Sama dengan kita yang belum umur 60 tahun, kita butuh media dan sebagainya untuk aktualisasi diri, agar merasa bermakna, lansia tidak terkecuali,” ucap Heni. Di Kelas Pengantar Sejarah Lisan, Grace Leksana, peneliti sejarah, menerangkan sejarah lisan sebagai metode alternatif dalam mencari perspektif dan pemahaman baru terhadap satu peristiwa atau isu. Ia menekankan subjektivitas dalam metode ini. Bagaimana narator menyusun narasi? Apa yang tidak dibicarakan tapi tercermin dari hal-hal lain seperti kebiasaan, tingkah laku, intonasi, dan sebagainya? Grace menyatakan bahwa sejarah lisan bukan berfokus pada ketepatan fakta, tetapi pada imajinasi, interpretasi, dan simbolisasi. Dari sesi diskusi, catatan wawancara mengenai kata-kata kunci yang refleks diulang-ulang oleh narasumber penting untuk dimaknai

Riyana Rizki: Ketika berkomunikasi dengan lansia ada rambu-rambu perilaku/sikap, topik, atau pilihan kata tertentu yang harus dihindari?

lebih dalam. Menurut Lian, berdasarkan

Jayu Julie : Durasi yang tepat dan paling enak untuk ngobrol2 virtual berarti harus mengikuti dari oma-omanya ya? kalau misal kasusnya begitu, berarti kita tidak boleh menginterupsi waktu ya seandainya misal durasinya jadi sangat lama? Atau lebih baik sejak awal kita menyepakati waktunya?11

perempuan sebenarnya penuh dengan

pengalamannya semasa meneliti di kawasan konflik Poso, wawancara dengan simbol. Peneliti perlu mengenali konteks kultural narasumber dan mencoba masuk dari obrolan-obrolan tentang hal-hal sederhana. Melalui ruang-ruang domestik, seperti dapur dan halaman rumah akan mendorong perempuan mengeluarkan

10 Terarsip dalam Notula Kelas Dokumentasi yang Tidak Eksploitatif, 26 Februari 2021. 11 Terarsip dalam Kolom Komentar Zoom Kelas Berkumpul Bersama Lansia

96


suaranya. Lantas, dengan medium

seperti yang diungkapkan oleh

online apakah perempuan khususnya

Jayu, “Kalau dari aku sih yang jadi

perempuan lansia akan merasa nyaman

kebingungan itu, gimana ya cara yang

untuk bercakap dan bercerita? Dari

‘aman’ untuk menggali informasi secara

diskusi tersebut poin yang perlu

virtual dengan beliau-beliau ini? Karena

digarisbawahi yakni keluaran/output

kalau bertemu secara langsung kan kita

dari kolaborator yang beraneka rupa

bisa ada sentuhan emosional secara

nantinya, perlu dijahit dan diantar

langsung/physically atau mungkin

dengan narasi yang membuatnya

bisa sambil santai mengerjakan hal

bernilai sebagai dokumen sejarah lisan.

lain sambil bercerita.”12 Begitu pula Maya, sempat merasa ngeblank, efek

Keempat Kelas Pengantar dan

dari kelas pengantar. Ia mengira yang

ditambah satu kelas diskusi dengan

diinginkan penyelenggara adalah

para koordinator serta pendamping

menulis temuan sejarah lisan sementara

lansia sangat berguna sebagai bekal

ia semula berencana membuat naskah

bersama untuk mematangkan metode

teater sebagai keluaran. Dalam sesi

berkumpul dan metode pencatatan.

musyawarah, selain untuk memberikan

Namun, di satu sisi kelas-kelas yang

gambaran singkat mengenai pergeseran

membawa isu-isu berat dan sesi

rancangan kegiatan yang telah

diskusi yang terkadang menjadi terasa

disusun, merumuskan komitmen dan

sangat serius, membuat Grup Kelak

konsekuensi yang perlu disepakati

Bakal Menua dan para kolaborator

bersama, serta pembagian kelompok

mempertanyakan kembali posisi

kecil, prinsip-prinsip bersama perlu

mereka dalam kegiatan ini. Apakah

dibahas demi berangkat dari garis

kami peneliti, teman ngobrol, teman

pemahaman yang sama sebelum

berkesenian, pembuat karya, atau event

menjalani agenda inti.

organizer? Bagaimana mengantisipasi problem etis yang potensial terjadi saat proses bertemu dengan lansia? Bagaimana keluaran kegiatan ini dibayangkan? Apakah kolaborator harus mempunyai momen wawancara “semiterstruktur” dengan daftar pertanyaan? Apakah tujuan pertemuan ini untuk menggali cerita sedalam

“Pertemuan” bukan “Karya”, sebagai “Teman” bukan “Peneliti”. Mengondisikan ruang aman, Menciptakan ruang kolaborasi,

mungkin dan menuliskannya ulang?

Merefleksikan pengalaman

Apakah ini kerja riset yang mencoba

perempuan lintas generasi,

mengambil jalur alternatif dengan pendekatan seni? Apakah membuat

Mengarsipkan cerita dalam

karya, refleksi kreatif dari pertemuan

berbagai bentuk.13

berbeda dengan arsip sejarah lisan? Beberapa kolaborator tampak resah,

97

12. Terarsip dalam Kolom Komentar di Zoom Kelas Pengantar Dokumentasi yang Tidak Eksploitatif. 13. Kata kunci yang terhimpun dalam slide Musyawarah Mufakat, 3 Maret 2021.


Pelaksanaan Kegiatan Pertemuan Demi Pertemuan

Gambar 4. Tampilan Video Bumper Panggilan Berkumpul Bersama Lansia yang Diolah dari Karya Kolase Astrid

Memasuki pertengahan Maret,

Pertemuan Besar Pertama

perjumpaan antara sepuluh kolaborator

diselenggarakan pada 16 Maret 2021.

dan enam lansia akhirnya dapat

Menghadirkan Mbak Svetlana dan Mbak

diselenggarakan. Perjumpaan ini

Erlin14 yang berasal dari komunitas

dinamakan pertemuan besar agar

KIPPER di Yogyakarta. Persiapan acara

semua bisa saling mengenal dan

menjadi cukup rumit karena Mbak Svet

tercipta suasana yang hangat

dengan antusias menawarkan membuat

terlebih dahulu sebelum masuk ke

kue kering untuk dibagikan kepada

pertemuan-pertemuan kecil yang

peserta pertemuan, sementara Mbak

intens. Terdapat tiga kali pertemuan

Erlin nantinya akan memberi workshop

besar yang diselenggarakan sesuai

meronce konektor masker. Itu artinya

dengan tiga kategori kelompok lansia.

paket berisi kue kering dan bahan

Persiapan pertemuan besar ini bagi

membuat konektor masker harus sudah

Hindra, Wucha, Luna, dan Natia cukup

ada di meja para kolaborator sebelum

mendebarkan karena pada akhirnya

acara dimulai. Konsep perjumpaan

momen yang ditunggu-tunggu dapat

ini adalah makan kue dan meronce

terjadi. Mereka mencoba merancang

bersama.

bagaimana rangkaian pertemuan besar tidak menjadi sekadar perjumpaan

Acara berlangsung sangat seru. Para

virtual yang monoton dan begitu-

peserta antusias unboxing hampers/

begitu saja. Di sinilah titik Plan Meretas

membuka bingkisan masing-masing.

Pandemi dibuktikan, baik dari sisi

Menariknya, tiap peserta mendapat

teknis, ragam acara, dan atmosfer yang

dua kotak kue kering yang berbeda.

tercipta.

Serasa lebaran. Sambil mencicipi

14. Penyebutan pada nama lansia yang beragam, sesuai dengan permintaan lansia masing- masing dan mengikuti penyebutan oleh koordinator lansia yang sering terdengar.

98


nastar, bajigur, dan putri salju para

kue kering terbatas dan kendala jarak

kolaborator berebut menanyakan resep

pengiriman menjadi pertimbangan

dan berkenalan dengan Mbak Svet.

besar; bagaimana jika kolaborator

Sebelum sesi meronce bersama, peserta

terlalu penasaran dengan isi bingkisan

menonton video keseharian Mbak Erlin

dan memakan kue kering tersebut

sebagai pembuat masakan kenduri

sebelum hari-H Pertemuan Besar?;

atau sajen. Tak kalah menarik, saat

dan bagaimana jika salah satu lansia

peserta sibuk merangkai satu per satu

terdeteksi positif Covid-19 setelah

manik-manik menjadi tali penghubung

menjalani tes rapid antigen? Persiapan

masker, Mbak Erlin dengan ramah dan

di hari H memang mensyaratkan

ceria menjawab semua pertanyaan

yang berkumpul fisik saat itu untuk

kolaborator, termasuk tentang hobinya

streaming Zoom harus menjalani tes

naik sepeda motor seorang diri ke

antigen. Rencana yang berkumpul saat

mana-mana.

itu Hindra selaku koordinator, Wucha dan kru dokumentasi, Mbak Svet dan Mbak Erlin serta pendamping mereka berdua. Tetapi, Mbak Erlin batal pergi ke lokasi di mana segala alat streaming sudah disiapkan. Hasil tesnya positif. Kepanikan terjadi karena Mbak Erlin belum pernah mengoperasikan Zoom dan beliau harus tetap berada di rumah.

Gambar 5. Unboxing Hampers Kue Kering di Pertemuan Besar Pertama.

Panitia sebisa mungkin memandu Mbak Erlin mengoperasikan Zoom, sementara acara tengah berjalan dan mustahil

13:56:54

From Lian: Mbak Svet punya rencana bikin buku tulisan resepresep ini nggak ya? Kaya neh resepnya.

13:57:48

From Pipit: Mbaaa, ini Sophia ga mau berhenti ambil kue saljunya

13:58:00

From Chiki: adik saya senang kue mentega From Astrid: Sama anakku putri salju dicemil ga berenti From Pipit: iya sama Mba Astrid, putri salju kesukaan anakku.15

13:58:46 13:59:00

Di balik layar, kejadian tak terduga berkaitan dengan hal teknis tetap

mendampingi Mbak Erlin secara langsung untuk menghindari kontak fisik.

Gambar 6. Peserta Pertemuan Besar Memamerkan Hasil Karyanya Berupa Konektor Masker dari Manik-Manik.

terjadi. Beberapa bisa diantisipasi,

99

yang lainnya luput terpikirkan

Pertemuan Besar Kedua

bahkan di luar kendali seperti: jika

diselenggarakan pada 18 Maret 2021.

ada peserta di luar kolaborator yang

Menghadirkan Mbah Sumirah dan

ingin ikut berpartisipasi apakah

Mami Rully (Gambar 7 & 8). Kru

memungkinkan? Sementara bingkisan

dokumentasi dan live streaming Zoom

15. Ekspresi keseruan makan kue yang terarsip di kolom komentar Zoom Pertemuan Besar 16 Maret 2021.


pergi ke rumah Mbah Sumirah di

Martha didampingi oleh Kak Martha,

Gunung Kidul, untuk memastikan acara

begitu bersemangat menjelaskan

berjalan lancar terkait teknis dan akses

bermacam-macam tarian sekaligus

internet. Sebelum berkenalan, para

makna dari tarian-tarian tersebut.

peserta menonton video keseharian Mbah Sumirah di rumahnya dan

Di sesi Bu Wieke (Gambar 10), video

di pasar. Saat video menampilkan

tutorial membuat hiasan kepala

Mbah Sumirah naik sepeda motor

dari kain perca membuka momen

seorang diri menuju pasar, sontak para

perkenalan ini. Para kolaborator

kolaborator mengeluarkan ekspresi

bersemangat menjahit sobekan-

kekaguman. “Mbah Sumirah masih naik

sobekan kain perca di atas bandana

motooooor....hebaaaat!” ketik Bu Ati

yang sudah mereka persiapkan

di kolom komentar. Acara perkenalan

sebelumnya. Sambil memandu

mengalir dengan hangat. Terlebih Mbah

lokakarya sederhana membuat hiasan

Sumirah berimprovisasi menyanyikan

kepala, Bu Wieke juga menerangkan

lagu “Gundul Pacul” dan “Lindri”, lagu

berbagai macam kain tradisional

dolanan anak. Sementara itu, dalam

yang bisa dikreasikan untuk berbagai

video Mami Rully, terdapat pembacaan

kerajinan. Para kolaborator tampak

puisi yang syahdu.

sangat menikmati kegiatan ini. Bahkan Sophia, anak perempuan Lian, ikut

Di sesi perkenalan dengan Mami Rully,

berpartisipasi membuat hiasan kepala.

para kolaborator membuka bingkisan berisi selendang dari kain celup ikat

Durasi rata-rata tiga pertemuan besar

yang diproduksi oleh kawan-kawan

berlangsung selama dua setengah jam.

transpuan dari Yayasan Kebaya.

Masing-masing di akhir acara, panitia

Kedua narasumber lansia tersebut

membuat bilik kecil pertemuan Zoom

tampak sama-sama antusias menjawab

(breakoutroom) untuk mengumpulkan

pertanyaan-pertanyaan kolaborator.

tim-tim kecil agar dapat berunding

Momen lucu juga sempat tertangkap

menyusun jadwal pertemuan

kamera. Mbah Sumirah tertidur di

selanjutnya.

tempat duduknya ketika acara masih berlangsung karena menolak beranjak

Pertemuan kecil dirancang sebagai

dari depan kamera untuk istirahat.

ruang berkumpulnya lansia dan kolaborator secara tertutup agar

Pertemuan Besar Ketiga

suasana intim dan intens dapat

diselenggarakan pada 20 Maret 2021.

terbangun di antara mereka. Pertemuan

Menghadirkan Bu Wieke dan Mama

kecil ini dilakukan sebanyak empat

Martha. Pertemuan dibuka dengan

kali dalam rentang waktu dua minggu.

menonton video tari Kayu Tumbang dan

Sehingga total pertemuan sebanyak

tarian Kuda dari perempuan-perempuan

4 x 6 kelompok kecil, 24 pertemuan.

Kodi di Sumba. Dilanjutkan dengan para

Untuk memudahkan proses pertemuan

kolaborator yang berebut bertanya

dan pengarsipan, pihak penyelenggara

seputar tarian khas di sana. Mama

memutuskan bahwa semua pertemuan

100


Gambar 7 & 8. Kiri: Mbah Sumirah Menyanyikan Lagu Dolanan. Kanan: Mami Rully Membacakan Puisi.

Gambar 9. Chiki, Salah Satu Kolaborator, Menanyakan Tentang Filosofi Warna Pakaian Adat yang Digunakan Penari Kodi dan Menanyakan Tips Menghafal Gerakan Tari Sampai Usia Senja.

Gambar 10. Peserta Pertemuan Besar 20 Maret 2021 Memamerkan Bandana yang Menyerupai Hiasan Kepala Frida Kahlo dari Sisa-Sisa Kain Perca.

101


kecil juga termediasi melalui aplikasi

Panduan etik dan teknis pendamping

Zoom. Wucha, sebagai pendokumentasi

koordinator kurang lebih hampir sama

visual, bertanggung jawab menjamin

dengan panduan untuk kolaborator

kelancaran teknis pertemuan kecil tanpa

hanya saja terdapat tambahan poin:

terlibat di dalam percakapan peserta

tidak melibatkan diri secara aktif

kelompok kecil. Di balik layar, sempat

dalam percakapan antara narasumber

terjadi beberapa salah catat dan

dan kolaborator, sehingga tidak

salah paham jadwal, saking padatnya

mengintervensi cerita Oma/Eyang/

pertemuan kecil selama dua minggu

Simbah, kecuali narasumber meminta

tersebut.

bantuan untuk masalah teknis dan kendala bahasa.

Sebelum pertemuan kecil dimulai, Grup Kelak Bakal Menua juga

Dalam praktiknya, pertemuan demi

menyediakan panduan etik dan

pertemuan berlangsung mengalir. Para

teknis terkait pertemuan. Panduan

kolaborator dan lansia lebih banyak

ini lahir dari proses diskusi selama

mengobrol ke sana kemari hingga

persiapan, kelas pengantar dan respons

lupa durasi percakapan, bahkan ada

para kolaborator. Panduan terbagi

pertemuan yang nyaris bertahan empat

tiga: untuk lansia, kolaborator, dan

jam lamanya. Nuansa akrab, hangat,

pendamping. Berikut susunan panduan

riuh, dan sesekali hening terasa begitu

tersebut (Gambar 11 & 12).

intim. Di pertemuan kecil antara Mbah

Gambar 11. Panduan untuk Lansia

102


Gambar 12. Panduan untuk Kolaborator

103


Sumirah dan Arum, banyak diisi dengan

Lain halnya, tim Mami Rully. Beliau

menyanyi bersama. Baik itu lagu-lagu

dengan aktivitas yang padat, sering

Mbah Sumirah maupun lagu ciptaan

bertemu virtual dengan Lian dan Riyana

Arum. Mbah Sumirah menyanyikan lagu

di kantor Yayasan Kebaya. Sempat

dolanan dan Arum yang mengiringi

terekam kejutan ulang tahun untuk

dengan ukulele. Di pertemuan antara

Mami Rully oleh para transpuan di

Bu Wieke dan Astrid lebih mirip reuni

kantor tersebut, membuat Riyana dan

sebab secara kebetulan banyak sekali

Lian ikut merasakan haru. Sementara

kesamaan yang terdapat dalam mereka

itu, di tim Mbak Erlin, Bu Ati, dan

berdua, mulai dari keduanya sama-sama

Putri sempat mengalami shelter tour

berasal dari Bogor, sekolah di SMA yang

secara virtual. Mbak Erlin yang positif

sama, hingga tempat kerja yang sama.

semenjak pertemuan besar berlangsung sedang karantina di wisma khusus di

Pertemuan kecil Mbak Svet dan Maya

Yogyakarta. Beliau tampak segar dan

serta Jayu lebih banyak membahas

ceria. Sembari menunjukkan kamar

resep makanan, pola pengasuhan, dan

dan bagian gedung wisma yang

kisah hidup Mbak Svet yang luar biasa.

lainnya, beliau bilang tips menghadapi

Pembahasan mengenai pola asuh ini

Covid-19 yakni positive thinking dan

juga sangat khas karena pengetahuan

membahagiakan diri sendiri. Beliau

perempuan lintas generasi terjadi di

merasa karantina semacam ini sebagai

sini, seperti saat berbagi tips untuk

piknik, libur sejenak dari aktivitas

Maya yang baru saja melahirkan,

merawat cucu-cucunya. “Saya sudah

bagaimana agar bayi cepat tidur. Lalu,

sering mendapat stigma yang lebih

di tim Mama Martha, Chiki, dan Syska

buruk dari Covid ini. Jadi mau omongan

juga belajar banyak hal mengenai

orang gimana, saya anggap saja angin

macam-macam tarian suku Kodi dan

lalu. Kita harus melawan diri kita sendiri

filosofinya. Suasana pertemuan mereka

untuk tidak ikut terpuruk,” ucapnya sore

seperti berkunjung ke rumah kerabat,

itu di depan teras wisma yang sepi.

karena Mama Martha suka duduk di teras depan rumah dan anak-anaknya juga sesekali ikut berbagi cerita.

Temuan dari Pertemuan Kecil

Gambar 13 & 14. Kiri: Mama Martha dan Chiki Menari Bersama. Kanan: Mbak Erlin Shelter Tour Sembari Menikmati Suasana Angin Sore di Wisma yang Lengang.

104


Gambar 15 & 16. Kiri: Mbah Sumirah dan Arum Menyanyi Bersama. Kanan: Mbak Svet Mengobrol tentang Pengalamannya Membesarkan Anak.

Gambar 17 & 18. Kiri: Bu Wieke Sedang Menyimak Cerita Perjalanan Spiritual Astrid. Kanan: Ketika Sedang Asyik Mengobrol dengan Lian dan Riyana, Mami Rully Mendapat Kejutan Ulang Tahun dari Kawan-Kawan Yayasan Kebaya.

Forum Group Discussion (FGD) atau

Jamboard yang perlu diisi bersama

Diskusi Kelompok Terpumpun dilakukan

yakni: 1. Kesan dan Pengalaman, 2.

dua kali untuk berbagi cerita dan

Temuan dan Pengetahuan, 3. Kata

pengalaman para kolaborator setelah

Kunci, 4. Yang Telah/Akan Dilakukan.

mengalami empat kali pertemuan kecil

Di papan Kesan dan Pengalaman,

dengan para lansia. FGD ini selain

mayoritas kolaborator menuliskan

dimaksudkan untuk mengumpulkan

bahwa pertemuan mereka terasa hangat

temuan-temuan yang penting untuk

dan menyenangkan karena para lansia

dicatat, juga sebagai diskusi terbuka

tampak sangat bersemangat, terbuka,

untuk merancang satu kali acara

dan berkarakter optimistis serta aktif.

besar, penutup rangkaian Panggilan

Sementara temuan dan pengetahuan

Berkumpul Bersama Lansia. Alat

yang dibagikan kolaborator bervariasi,

bantu yang digunakan dalam FGD

seperti Arum belajar lagu-lagu dan

yakni Jamboard, semacam papan

gending Jawa dari Mbah Sumirah; Putri

tulis interaktif agar para kolaborator

dan Bu Ati belajar mengenai berbagai

dapat menempel sticky notes berisi

ritual daur hidup tradisi Jawa dari Mbak

ungkapan-ungkapan mereka.

Erlin; Maya dan Jayu belajar banyak tentang pola asuh anak dan prinsip

105

FGD pertama dilaksanakan pada 30

hidup Mbak Svet; Lian dan Riyana

Maret 2021. Sesi ini terbagi dalam

belajar mengenai identitas transpuan

empat pertanyaan atau empat papan

dari Mami Rully; Chiki dan Martha


Gambar 19. Salah satu hasil FGD sesi 1 Panggilan Berkumpul Bersama Lansia

belajar mengenai ragam tradisi Suku

bebas menyampaikan apa pun terkait

Kodi dari Mama Martha; tidak hanya

pertemuan kecil yang telah berakhir.

tarian tetapi juga kain tradisional dan ragam ritual di sana; dan Astrid

Astrid: …. Karena dulu aku merasa usia

lebih menggarisbawahi pandangan-

lansia nggak aktif tuh repot banget

pandangan Bu Wieke yang visioner

sih, kalau mereka kehilangan tujuan

terkait tekstil etnik dan fashion.

hidup kayak nggak tau mau ngapain, atau orang-orang biasanya umur-umur

Temuan-temuan dalam FGD pertama

segini ketika mereka dipensiunkan

terasa kurang dalam dan cerita-

atau memensiunkan diri malah lebih

cerita yang keluar kurang mengalir.

mudah ngedrop. Dan aku ngerasa

Hal ini kemungkinan disebabkan oleh

dari kemarin kita terus ngobrol selain

dua faktor: pertama, FGD pertama

sama Bu Wieke, sama yang lain, karena

dilakukan ketika empat pertemuan

mereka rata-rata punya aktivitas yang

kecil belum benar-benar selesai di

konsisten. Rutinitas, konsistensi. Itu

masing-masing kelompok; kedua,

penting banget, sih. Sedangkan misal

empat topik yang menjadi panduan

ngobrol sama Mbak Wieke tuh apa yang

FGD dan cara interaktif dengan

diobrolin nggak habis-habis (tertawa).

mengisi Jamboard justru membuat

Apa aja bisa dibahas, maksudnya dia

kolaborator harus berpikir lebih dahulu

masih sangat up to date dengan banyak

dan perhatian terdistraksi oleh alat

hal. ….kita mendengar kata lansia,

bantu tersebut. Oleh karena itu, FGD

selalu mikir orang yang sudah lebih tua

kedua pada 6 April 2021 metodenya

dan tidak aktif gitu. Sedangkan kalau

diubah. Tidak menggunakan Jamboard

aku dengar dari cerita-cerita ini, kan,

terlebih dahulu, tetapi langsung

mereka orang-orang yang super aktif.

menyimak cerita dan ungkapan

Bahwa di usia lanjut pun justru kenapa

pemikiran para kolaborator. Mereka

mereka masih bisa bertahan, misalnya

106


di masa pandemi ini kan kerasa ya.

produktif. Kan, kalau lihat alur hidupnya

Ya karena mereka masih sangat aktif.

kan pada awal-awal masih tentang diri

Masih melakukan sesuatu. Masih

sendiri dan keluarga. Semakin kemari

melakukan hal-hal yang penting apa

tuh semakin untuk orang lain … karena

pun itu, sepersonal apa pun bentuknya.

sebagai transpuan bukan hanya tentang

Jadi asosiasi bahwa lansia itu menjadi

dirinya. Sudah selesai dengan dirinya.

usia yang tidak produktif menurutku

Menggumuli persoalan yang dialami

salah besar sih. Karena dengan kita

transpuan di sekitar, tapi juga bukan

cuma ngobrol ngalor-ngidul aja banyak

tentang waria saja, juga memikirkan

banget sih yang bisa didapat.

orang lain yang bahkan tidak masuk dalam kategori transpuan. … Kita itu

Arum: Merespons tadi yang sudah

udah punya asumsi duluan tentang

dikatakan Mbak Astrid dan Jayu soal

transpuan, lengkap itu asumsinya

lansia produktif, ya benar juga. Mbah

dan dibongkar habis oleh Kak Rully

Sumirah juga sangat produktif seperti

(tertawa). Asumsi soal tidak diterima

yang kita tahu ke mana-mana naik

keluarga, ah selesai. Asumsi dia

motor setiap hari … terus kalau dari

mengalami penolakan, dibantu orang

obrolan kami, menurutku dia tuh orang

banyak …. Pokoknya itu ternyata salah.

pekerja keras dan ulet. Karena kan

Saya berpikir bahwa membicarakan

kalau dia cerita ke aku dia sekolah cuma

soal kata korban dengan membicarakan

sampai SD … Dia selalu bilang kalau

minoritas harus diperiksa lagi. Karena

dia dari keluarga yang ndak punya.

menggunakan dua kata itu kita terjebak

Bapaknya itu tukang kayu yang bekerja

pada kategori-kategori yang dibangun

di Bali. Ibunya saat dia lulus SD bilang,

oleh baik pemerintah, militer… state-

nggak usah, perempuan itu mah bantu

lah ya atau standar masyarakat. Karena

di dapur. Tapi begitu dia lulus, akhirnya

waktu pertama kali dimasukkan ke grup

dia merantau ke Jogja, kerja di sebuah

kecil ini, oh Kak Rully ini transpuan.

pabrik limun. Nah, pokoknya semua

Lengkap di kepalaku korban dan

hal dikerjakan. Dia tuh kayaknya nggak

minoritas karena disertai oleh daftar

bisa diam … dia pernah berkunjung ke

asumsi yang diciptakan oleh pemerintah

Bandung dia sempatin belanja pakaian

dan dipelihara masyarakat. Sehingga

di pasar baru terus dia jualin di pasar

jatuhnya tadi kayak kata Kak Riyana,

Gunungkidul. Terus dia kreditin baju-

kita sudah siap-siap berderai air mata

baju yang dia jual. Kalau aku melihat

waktu mau menyimak kisah Kak Rully.

tuh dia memang nggak bisa diem. Kalau

Saya belajar banyak bahwa dalam

diem kayaknya gelisah.

kategori yang kita sebut minoritas atau orang yang belum diakui tidak

107

Lian: Yang biasanya dibicarakan oleh

selalu ada yang bantu, tapi kuat

pemerintah soal produktif itu lah … ya

pada dirinya. Punya cara pemaknaan,

usia-usia seperti Kak Rully 60 tahun,

punya filosofi, interpretasi yang

dianggap tidak produktif. Tapi ternyata

menguatkan dirinya yang utuh. Cara

kalau lihat alurnya yang kita catat ya

mereka mendeskripsikan, menghayati,

Kak Riyana, semakin ke sini kok semakin

memaknai pengalaman mereka yang


utuh ini harusnya didengar oleh banyak

legitimasi di dalam masyarakat

orang….

tersebut sebenarnya berpengaruh pada terbatasnya akses dan ruang aktualisasi

Putri: Yang aku tahu, Bu Erlin besar

diri lansia. Sehingga perempuan lansia

dengan mbahnya dan dia juga

jarang sekali dirujuk sebagai sumber

membesarkan cucunya. Ia sekarang

pengetahuan yang kuat. Padahal dari

mengasuh cucunya. Aku tidak tahu

merekalah banyak sekali pengetahuan

apakah Bu Erlin masih kerja produktif,

yang diperoleh kolaborator, mulai dari

menghasilkan uang, tapi yang pasti

cara mereka memelihara dan merawat

menurutku ketika orang berusia lanjut

tradisi budaya (kain, sesaji, tarian, dan

tatkala dia masih punya kesehatan,

lagu dolanan) hingga petikan-petikan

kalaupun mereka tidak mengerjakan

penting dari kisah perjalanan hidup

kerja produktif tapi kerja-kerja

manusia, (seperti: prinsip, pola asuh,

reproduktif mereka pun masih berlanjut.

ketangguhan, identitas dan kerja sosial).

Kupikir ini banyak terjadi di keluarga lain. Kayak aku ketika harus bekerja, aku nggak punya orang tua, akhirnya nitipin anak ke mertua. Jadi di usia lansia pun kerja reproduktif masih menyokong

Merayakan Pertemuan, Merajut Asa Bertemu Kembali

kerja produktif yang masih berjalan di dalam sebuah keluarga.

Setelah menjalani empat kelas pengantar, technical meeting,

Benar saja, FGD yang berlangsung

musyawarah, diskusi dengan

selama dua setengah jam terasa pendek

koordinator, tiga kali pertemuan besar,

karena begitu banyak cerita yang bisa

empat kali pertemuan kecil, dan dua

disimak. Dari kutipan-kutipan notula

sesi FGD, tibalah Panggilan Berkumpul

FGD 2 di atas diketahui bahwa meski

Bersama Lansia di penghujung

cerita yang dibagi berbeda-beda,

kegiatan. Pertemuan-pertemuan virtual

tetapi terdapat persamaan-persamaan

yang terasa intens dan maraton ini

pemikiran para kolaborator terhadap

ditutup dengan sebuah acara yang

lansia. Pada akhirnya, benang merah

meriah, penuh sukacita dan diwarnai

dalam panggilan berkumpul ini dapat

haru yang bahagia. Awalnya agenda ini

dijahit bersama dengan cara mengecek

bernama acara penutupan, tetapi para

kembali asumsi-asumsi dan ekspektasi

kolaborator jauh lebih sepakat untuk

yang tadinya telah terbentuk sebelum

menamainya “Merayakan Pertemuan”

mengalami pertemuan. Dari pertemuan-

karena pada dasarnya persahabatan

pertemuan yang intens dan intim, dari

lintas generasi dengan keenam

menyimak kisah hidup maupun rutinitas

perempuan lansia baru saja dimulai.

lansia, perlahan para kolaborator

Dengan semangat merayakan, harapan

menyadari bahwa selama ini stigma

itu juga dinyalakan kembali. Kelak

mengenai lansia adalah kelompok usia

ketika masa pandemi berakhir, semoga

nonproduktif terbantahkan. Stigma

mereka semua yang terlibat dalam

yang dibangun oleh negara dan

panggilan berkumpul ini dapat bertemu

media, yang juga sering kali mendapat

dan berkumpul secara fisik.

108


Gambar 20. Slide Refleksi Kolaborator Disarikan dari Temuan-Temuan FGD 2 dan Dipresentasikan di dalam Acara Merayakan Pertemuan.

Merayakan Pertemuan pada 22 April

ceria. Ia berpikir Merayakan Pertemuan

2021 mempunyai susunan acara yang

masih dalam rangka merayakan Hari

cukup panjang. Penyelenggara, para

Kartini karena jatuh pada tanggal yang

lansia, dan para kolaborator ingin

berdekatan. Mami Rully di akhir acara

mempersembahkan berbagai tayangan,

nanti akan mengamen, juga tampak

kegiatan interaktif, dan pertunjukan

bersanggul manis.

sehingga pertemuan virtual ini berbeda dari pertemuan-pertemuan virtual yang

Sebagai pembuka, Mbah Sumirah

pernah mereka hadiri sebelumnya. Di

menyanyikan “Wayah Esuk” yang

momen inilah, Plan Meretas Pandemi

diiringi ukulele oleh Arum. Kemudian

mendapat porsi kolaborasi paling besar.

video highlight rangkaian pertemuan besar dan kecil diputar. Video ini

Sembari menunggu peserta berkumpul,

menampilkan seluruh lansia dan

video bumper buatan Wucha telah

kolaborator serta kegiatan-kegiatan

mengisi layar dengan lagu dari The

dan obrolan yang telah terjadi dengan

Chordettes berjudul “Mr. Sandsman”

durasi sebelas menit. Meski berdurasi

yang seakan telah menjadi musik latar

cukup singkat, video ini dapat

Panggilan Berkumpul Bersama Lansia.

menangkap momen-momen seru, lucu,

Acara dimulai dengan Luna sebagai

serius, dan haru dalam kebersamaan

pembawa acara memperkenalkan para

lintas generasi. Disusul sesi respons

lansia karena ini untuk pertama kalinya

audiens setelah slide refleksi kola-

Peretas di luar sepuluh kolaborator

borator ditampilkan (lihat Gambar 20).

dapat hadir, dan pertama kalinya

109

pula keenam perempuan lansia dapat

Selanjutnya, acara sampai pada sesi

berkumpul dalam satu layar. Tampak

kuis interaktif. Para peserta telah

Mbak Erlin yang sengaja mengenakan

menyiapkan kertas kosong dan spidol

kebaya berwarna merah tersenyum

masing-masing. Pertanyaan kuis


tersebut hanya empat buah, tapi seru

di halaman keluaran kolaborator.

sekali membaca satu per satu jawaban

Setelah kuis berakhir, video Maya

dari peserta acara.

membacakan cerpen Mbak Svet ditayangkan. Cerpen Mbak Svet ini

Menjadi lansia itu …

dapat dibaca di zine yang dibuat oleh Jayu. Berikutnya, Mbah Sumirah tampil

Momen apa yang paling

kembali, berduet dengan Mbak Tisan,

berkesan selama pertemuan

putrinya, untuk menyanyikan tiga lagu

kecil? Ngobrol di Zoom itu rasanya … Berkumpul lintas generasi itu rasanya …

dolanan. Lalu video Chiki diputar. Ia mencoba menginterpretasi tarian yang diajarkan Mama Martha dan diiringi musik dari video orang Kodi. Momen ini sangat mengharukan, karena Mama Martha yang terlambat hadir karena harus melayat, tiba-tiba muncul bertepatan dengan video Chiki menari. Ia memberi pujian pada Chiki dan membuat Chiki menangis haru.

Kata-kata kunci yang muncul dari

Sesi kuis muncul kembali. Kali ini

empat pertanyaan di atas dirangkai

terinspirasi oleh kuis zaman TVRI masih

Riyana menjadi karya seni yang berada

berjaya, “Berpacu dalam Melodi”. Kuis

(Gambar 21) “Bagi mereka menjadi lansia itu produktif dan bahagia,” simpul Luna saat membaca satu persatu jawaban Bu Wieke, Mbak Erlin, Mbah Sumirah, Mami Rully dan Mbak Svet.

110


ini memutar empat lagu lawas yang merupakan tembang kenangan para lansia. Acara menjadi semakin meriah dan hangat. Para peserta berebut menebak lagu baik secara langsung maupun mengetik jawabannya di kolom

15:50:11

From Natia: aku belom lahiir

15:52:41

From Lian Gogali: lirikan matamu

15:52:50

From jayu juli: Romaaa

15:54:29

From Lian Gogali: Prahu layar

komentar Zoom Meeting. 15:55:21

From Tria Nin: Tonight I celebrate my love - Peabo Brysonpara & Roberta Flack Kuis telah selesai, peserta masih 15:57:11 From Astrid Reza: aw aw aw

ingin menyanyi bersama. Efi, anggota Peretas yang hadir saat itu, didapuk 15:45:38

From pitra: madu dan racun

untuk menyumbangkan sebuah lagu

15:45:51

From Naomi Srikandi: madu dsn racuyun

dengan ukulelenya. Kemudian Mami

15:45:51

From angka: gombloh

15:45:58

From Astrid Reza: mama martha duluan

15:46:00

From Syska La Veggie: Busyet cepet bangettt

di jalanan. Acara yang berlangsung

15:46:01

From Chiki 2 langsung

oleh musik, lagu, dan sukacita.

15:47:30

From Wucha: sampai selesaiii g nehhh lagunyaa

15:47:54

From jayu juli: liriknya dong biar bisa karokean hahaha

15:48:33

From pitra: aduuh lupaaa

15:48:36

From Lian Gogali: odee

15:48:43

From jayu juli: iwan fals bukan si

15:49:00

From jayu juli: kaya lagu luar

15:49:24

From Rezky Chiki: Dona Dona?

15:49:28

From Lian Gogali: kayaknya tau

15:49:40

From hrochajati: today

15:50:03

From Syska La Veggie: Lagu angkatan taon brp?

✨: mama martha

Rully dan Mbok Slamet, pasangan duet mengamennya, juga menyumbangkan tiga lagu yang biasa mereka mainkan dua setengah jam tersebut dipenuhi Hindra yang membacakan ungkapan terima kasih tak dapat membendung harunya. Ia terkenang dari proses persiapan yang panjang. Dan pada sore itulah puncak pertemuan dirayakan bersama, kolaborasi yang begitu indah antarsesama perempuan, antarlintas

111

😅

generasi di masa wabah. Merayakan Pertemuan ditutup dengan menyanyi bersama lagu “Lansia Dharma Bakti” ciptaan Kelompok Lansia Dharma Bakti yang dipandu oleh Mbah Sumirah dan Arum Dayu.


Pascapelaksanaan Pengalaman Berkumpul yang Termediasi Pandemi merupakan momen ketika

dikhawatirkan tidak berlangsung

sekejap dunia tampak berhenti

menggairahkan.

bergerak, peradaban manusia terguncang demikian hebat, hingga apa

Merancang panggilan berkumpul secara

pun di depan sana tampak tak pasti.

daring tentu berhadapan dengan

Namun, di momen yang sama, manusia

problem teknis sebagai tantangan

mengerahkan segala daya resiliensi-

utama. Dari detail pertemuan yang

nya. Berbagai cara inovatif dan kreatif

tak terbayangkan, samar-samar

bermunculan untuk merespons situasi

terbayangkan, sampai akhirnya

ini sebagai bentuk upaya meretas

terbayangkan, perkara teknis yang

pandemi. Salah satunya dengan

cukup rumit sangat menguras energi

memanfaatkan teknologi seoptimal

dan rawan konflik internal. Apalagi

mungkin, terutama internet untuk

ketika perkara teknis bersinggungan

menggantikan kegiatan-kegiatan tatap

dengan perkara etik dan estetika.

muka secara langsung, untuk mengubah

Sering kali, rapat-rapat persiapan yang

kerumunan fisik yang berbahaya

mau tak mau daring pun menyimpan

menjadi kerumunan virtual.

salah paham dan bias komunikasi yang lebar.

Panggilan Berkumpul Bersama Lansia

Hindra: Gurrls, mau tanyak jujur nih.. btw kalian capek nggak sih berdaring ria selama projek” sampai akhir tahun ini? Kok aku berasa lelaaah banget ya.. apa aku aja? Tipsnya kalian apa supaya tetap menyala apinya?16

juga mengandalkan media daring sebagai satu-satunya solusi yang paling bijak untuk mengadakan pertemuan. Para lansia yang merupakan kelompok rentan Covid-19 dan para kolaborator Peretas yang tersebar di banyak daerah

Salah satu topik yang muncul di Grup

di Indonesia, adalah alasan utama

WA Lansia di masa prapelaksanaan

mengapa rancangan awal perjalanan ke

kegiatan mengindikasikan bahwa

tiga panti wreda di tiga kota berubah

pertemuan-pertemuan virtual

total. Perubahan ini membawa banyak

yang sekilas tampak ringan (tidak

konsekuensi sehingga revisi berkali-kali

memerlukan mobilisasi tinggi) ternyata

terjadi, baik dari segi kuantitas yang

juga dapat berpengaruh ke kesehatan

terlibat, pergeseran lini masa kegiatan,

mental. Namun, ungkapan-ungkapan

kategori kolaborator dan lansia,

yang muncul untuk menjawab

anggaran yang diasumsikan terserap

pertanyaan “Ngobrol di Zoom itu

lebih sedikit karena bentuk kegiatan

rasanya …” seperti hujan di kemarau

daring (ternyata tetap menyerap pos-

panjang, seketika menghapus kelelahan

pos operasional dengan cukup besar),

Hindra.

maupun segi kualitas pertemuan yang 16 Terarsip dalam Chat Grup WA Lansia pada 05/12/20.

112


Bu Wieke: “Nggak mandi nggak apa-apa.” Mami Rully: “Asyik!”

pendamping Mama Martha, melalui chat WhatApp.

Mbak Erlin: “Gayeng juga!”

Peran koordinator dan pendamping

Astrid: “Melampaui batas.”

pun penting untuk dicatat. Mereka yang

Riyana: “Lintas zona waktu dan wilayah.”

menghubungkan dengan lansia-lansia

Syska: “Berasa dekat dan murah.” Maya: “Bisa nyambi sambil momong.”

hebat, ikut membantu menyiapkan materi video dan sebagainya, serta senantiasa mendampingi jika sewaktuwaktu terjadi kendala teknis selama

Kutipan-kutipan di atas berasal dari

pertemuan. Martha Hebi rela menempuh

jawaban para peserta sesi kuis interaktif

perjalanan lintas kota berjarak sekira

di acara Merayakan Pertemuan.

5 jam demi memastikan pertemuan

Kegiatan daring menjadi salah

daring Mama Martha berjalan

satu keuntungan bagi perempuan-

lancar, termasuk sesekali membantu

perempuan yang terbiasa multitasking

membahasakan ulang respons atau

atau melakukan beberapa hal dalam

pertanyaan dari kolaborator.

waktu bersamaan. Maya contohnya. Menjelang kegiatan inti dimulai, ia

Persinggungan antara teknologi,

melahirkan seorang bayi laki-laki.

etika dan estetika dalam Panggilan

Namun karena sangat antusias dengan

Berkumpul Bersama Lansia terjadi

kegiatan ini, ia bahkan menyempatkan

dalam berbagai fitur teknologi

diri bergabung di kelas pengantar

dan aplikasi yang digunakan untuk

meski masih berada di rumah sakit. Ia

komunikasi, pelaksanaan pertemuan,

mengikuti pertemuan demi pertemuan

pengarsipan dan pencatatan, materi

dengan menggendong dan menyusui

publikasi, media untuk menguatkan

anaknya. Energi yang luar biasa seperti

komitmen, dan produk/dokumen

itulah yang menular ke para kolaborator

pendukung lainnya seperti pada bagan

lain, melintasi zona waktu dan wilayah.

(Gambar 22)

Bahkan semangat yang terus menyala itu berasal dari antusiasme dan

Perlahan, Grup Kelak Bakal Menua

keterbukaan para lansia untuk terus

menyadari bahwa pandemi menawarkan

berpartisipasi aktif dalam pertemuan

ruang eksplorasi yang begitu

virtual.

menantang. Kegiatan jarak jauh dengan metode berkumpul daring melahirkan

“Mama Martha bahagia sekali. Saya

etika dan estetikanya sendiri. Di ranah

wartakan pada banyak orang bahwa

estetika, ruang kolaborasi itu terasa

Mama Martha adalah narasumber.

semakin hidup ketika kegiatan telah

Sebagai seniman. Dan gairah para

sampai di acara Merayakan Pertemuan

lansia yang mendengarkan kabar baik

dan semakin berwarna di dalam buku

ini mulai bergolak lagi. Kata mereka,

yang tengah Anda baca ini.

‘ohhh jadi kita yang sudah tua ini bisa juga eee…,’” ungkap Martha Hebi,

113


Gambar 22. Kelindan Teknologi dan Metode yang Digunakan dalam Proses Persiapan, Pelaksanaan Pertemuan, dan Pengarsipan

Album Kenangan sebagai Arsip Alternatif

menghasilkan pemaknaan-pemaknaan baru mengenai masa pandemi dan pertemanan lintas generasi. Tak terbatas hanya menjadi serakan

Secara sederhana, dokumentasi yang

arsip digital, pemaknaan-pemaknaan

dicetak menjadi buku ini merupakan

tersebut dirangkai bersama dengan

album kenangan untuk menyimpan

komposisi yang begitu indah, kemudian

memori mengenai Panggilan Berkumpul

menjelma suara, “Biar Kutulis untukmu

Bersama Lansia. Dalam proses

Sejarah yang Lain.” Sesuai judul buku

penyusunannya, para kolaborator

ini, sejarah yang lain itu mewujud

bebas mencatat rasa, kesan, refleksi,

sebuah arsip alternatif.

pengetahuan dan interpretasi mereka terhadap pertemuan intens yang

Para penulis dan pencipta karya

sudah mereka alami. Sebagian bentuk

di dalam buku ini mencoba

keluaran/output terasa seperti sebuah

menggabungkan metode sejarah lisan

karya, contoh: ilustrasi, puisi, cerpen

dengan metode seni untuk menyusun

maupun artwork. Sebagian yang lain

sebuah arsip alternatif. Jika dalam

terasa seperti surat, catatan personal

pertemuan-pertemuan virtual, aktivitas

dan rangkuman perjalanan hidup

seni ibarat jembatan untuk mencairkan

seseorang.

suasana dan mewarnai percakapan, sedangkan dalam penyusunan keluaran,

Yang menyenangkan dari proses

seni adalah medium eksplorasi untuk

penyusunan buku ini, semua perempuan

mengangkat beragam pemikiran dan

yang terlibat dalam Panggilan

rasa ke permukaan. Sehingga dari enam

Berkumpul Bersama Lansia mengalami

kelompok kecil lahir berbagai keluaran/

pertemuan virtual dengan beragam

output.

rasa yang melintas dari layar gawai dan laptop masing-masing, perlintasan itu

114


Chiki yang telah menari di Merayakan

baik berbentuk teks, grafis, maupun

Pertemuan, menuliskan catatan

audiovisual, merupakan kepingan-

personalnya, Syska mengantarkan

kepingan sejarah yang diantarkan oleh

sketsa Mama Martha menari dengan

sebuah kronik pertemuan yang panjang,

catatan personal juga, pun Martha

agar menyatu dalam alur Panggilan

Hebi turut menyumbangkan tulisannya

Berkumpul Bersama Lansia, menubuh

mengenai biografi Mama Martha.

dalam ruang tumbuh yang diarsipkan.

Kemudian Riyana menyajikan lima buah puisi yang indah, Lian juga turut

Demi menutup kronik pertemuan

mengolah lini masa hidup Mami Rully

perempuan lintas generasi ini, saya,

dalam bentuk yang kreatif, dan Mami

sebagai pencatat proses pada akhirnya

Rully sendiri menyumbangkan satu

turut mengucapkan terima kasih setulus

puisi lamanya. Di kelompok Mbak

hati kepada semua yang tergerak dan

Erlin, Bu Ati membuat kerajinan rajut

bergerak dalam Panggilan Berkumpul

crochet berdiameter hampir satu meter

Bersama Lansia. Di sini saya menulis

dan Putri menyusun keluaran yang

dari banyak sudut pandang, dari

sarat berisi catatan refleksi, potongan

kejujuran serta keterbukaan para

sejarah hidup Mbak Erlin serta tulisan

perempuan ketika mengalami dan

dan ilustrasi mengenai beberapa

memaknai proses kolaborasi. Tiada

ritual tradisi Jawa. Di kelompok Mbak

momen yang tak berkesan, betapa

Svet, Jayu membuat zine berjudul

pun terpisah oleh jarak dan terbatas

“Simulacroom” dengan ilustrasi-

layar antarlayar. Semoga buku ini

ilustrasi dari cat air, terdapat pula dua

dapat menjadi kenang-kenangan untuk

buah cerpen yang ditulis oleh Maya

keenam perempuan lansia yang hebat.

dan Mbak Svet sendiri. Sementara itu,

Dan kelak, ketika dibaca ulang oleh para

Astrid menuliskan catatan pertemuan

perempuan di masa depan, arsip ini

dengan mendalam dan Bu Wieke

dapat menjadi salah satu jejak gerakan

menyumbangkan catatan kreatifnya

perempuan yang menyimpan energi

yang berisi potongan kain perca

untuk terus mengakar, tumbuh, dan

serta tutorial membuat hiasan kepala.

bermekaran. Semoga.

Terakhir, Arum menuliskan catatan personalnya beserta lirik-lirik lagu dolanan yang juga ia terjemahkan dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia. Suara Mbah Sumirah yang khas saat menyanyikan lagu dolanan juga terarsip dalam buku ini melalui kode Scan QR yang menghubungkan pembaca dengan tautan YouTube. Di balik sampul belakang, terselip sekeping cakram padat yang berisikan video dokumentasi Panggilan Berkumpul Bersama Lansia. Semua keluaran ini,

115


Hindra Setya Rini, 39 tahun. Hobi: Kuliner, menonton film, & seni. Kegiatan/pekerjaan sehari-hari: Ibu rumah tangga, perancang program, & pedagang. Profesi: Seniman, Fasilitator, Ko-Pendiri BIOSCIL (bioskop kecil).

Luna Kharisma, 28 tahun.

Grup Kelak Bakal Menua

Hobi: Bernyanyi dan berteater. Kegiatan/pekerjaan sehari-hari: Pekerja seni. Profesi: Sutradara dan/atau aktor teater. Aktif di Kelompok: Ruang Mirat, Surakarta.

Amanatia Junda, 30 tahun. Hobi: Tidur dan mencoba hal-hal baru. Kegiatan/pekerjaan sehari-hari: Di rumah saja. Profesi: Freelance editor dan penulis. Aktif di Kelompok: Perkawanan Perempuan Menulis.

Nur ‘Wucha’ Wulandari, 29 tahun. Hobi: Food Hunter. Kegiatan/pekerjaan sehari-hari: Ngelamun dan mengasuh Semaya Studio. Profesi: Filmmaker. Aktif di Kelompok: Semaya Studio.

116


Svetlana Dayani, 65 tahun. Hobi: Memasak dan membaca. Kegiatan/pekerjaan sehari-hari: Memasak, membaca, menulis.

Kelompok Eyang Svet

Aktif di kelompok: Kiprah Perempuan

Jayu Juli, 32 tahun. Hobi: Drawing. Kegiatan/pekerjaan sehari-hari: Ibu rumah tangga. Profesi: Seniman dan Financial Personal Assistant.

Maya Sandita, 27 tahun Hobi: Menulis cerpen, nyobain resep. Kegiatan/pekerjaan sehari-hari: Mengurus rumah tangga. Profesi: Seniman teater.

Wieke Dwiharti, 66 tahun.

Kelompok Bu Wieke

Hobi: Menonton film, berenang. Kegiatan/pekerjaan sehari-hari: RT dan pemilik bagusbagusbyWD Aktif di kelompok: FKAI (Forum Kajian Antropologi Indonesia) dan MWN (Mitra Wastra Nusantara).

Astrid Reza, 38 tahun. Hobi: Menjurnal, yoga, jalan-jalan Kegiatan/pekerjaan sehari-hari: Menulis, membaca, dan berjualan di @Banyuripan. Profesi: Penulis/Penerjemah/Periset, Astrologer Aktif di kelompok: Ruang Arsip dan Sejarah Perempuan (RUAS), Yogyakarta

117


Rully Mallay, 60 tahun. Hobi: Travelling. Kegiatan/pekerjaan sehari-hari: Volunteer di beberapa yayasan & CBO.

Kelompok Mami Rully

Aktif di kelompok: Kiprah Kebaya sebagai pengelola program.

Nerlian Gogali, 43 tahun. Hobi: Menulis, jalan, masak, dan menanam. Kegiatan/pekerjaan sehari-hari: Direktur Institut Mosintuwu Aktif di kelompok: Institut Mosintuwu, Aliansi Penjaga Danau Poso, Ekspedisi Poso.

Riyana Rizki Yuliatin, 27 tahun. Hobi: Sudah dua tahun tidak memiliki hobi spesifik, yang penting bikin tenang dan perasaan lapang akan dilakukan. Kegiatan/pekerjaan sehari-hari: Menulis, menyulam, mengajar, dan mengamati orang. Profesi: Dosen. Aktif di kelompok: Pekerja seni independen.

118


Erlina Pertiwi, 59 tahun. Hobi: Jalan-jalan, surat menyurat (dulu). Kegiatan/pekerjaan sehari-hari: Momong cucu, kumpulan (sebelum pandemi)

Kelompok Bu Erlin

Aktif di kelompok: Kiprah Perempuan (Kipper)

Harjuni Rochajati, 54 tahun. Hobi: Membaca, jalan-jalan, nonton film, crafting. Kegiatan/pekerjaan sehari-hari: Membuat pekerjaan tangan/ crafting Profesi: Crafter. Aktif di kelompok: RajutKejut, Craftday.

Wulan Andayani Putri, 35 tahun. Hobi: Motret. Kegiatan/pekerjaan sehari-hari: Ibu rumah tangga yang nyambi kelola komunitas. Profesi: Sejarawan publik. Aktif di kelompok: Lini institut untuk program Perempuan Berkabar

119


Martha Dada Gabi, 74 tahun. Hobi: Menari, menyanyi, dan volleyball (main voli terakhir usia 71 tahun).

Kelompok Mama Martha

Kegiatan/pekerjaan sehari-hari: Berkebun, latihan menari, mengunjungi anak-cucu di Sumba dan luar Sumba (rutin). Aktif di kelompok: Paduan suara gereja (penyanyi) dan Kelompok Tari Lansia (penari dan pelatih).

Syska La Veggie, 32 tahun. Hobi: Meenggambar, memasak. Kegiatan/pekerjaan sehari-hari: Ibu tunggal, dan berkesenian Profesi: Perupa Aktif di kelompok: Art Down Forum

Andi Rezky Hardiyanti, 29 tahun. Hobi: Membaca gestur orang (tapi enggak bisa-bisa). Kegiatan/pekerjaan sehari-hari: Kuliah, juru bahasa isyarat dan menari. Profesi: Seniman pertunjukan dan juru bahasa isyarat.

Kelompok Mbah Sumirah

Aktif di kelompok: Lembaga Kesenian Batara Gowa, Komunitas seni 4 Titik, forum diskusi Lesstalk.

Sumirah, 69 tahun. Hobi: Menyanyi tembang jawa. Kegiatan/pekerjaan sehari-hari: Jualan di pasar dan di rumah. Aktif di kelompok: Lansia Dharma Bakti.

Arum Tresnaningtyas Dayuputri, 37 tahun. Hobi: Bernyanyi. Profesi: Seniman, musisi, bekerja untuk Common Room. Aktif di kelompok: Omnispace.

120


121