Surat Kabar Media Aesculapius (SKMA) edisi Mei-Juni 2019

Page 1

Media Aesculapius Surat Kabar

Kedokteran dan Kesehatan Nasional Terbit Sejak 1970

Mei-Juni 2019 / Edisi 02 / Tahun XLVIII / ISSN 0216-4996

@MedAesculapius |

beranisehat.com |

MA INFO

IPTEK

RUBRIK DAERAH

Langkah Komprehensif Mendiagnosis Pasien Talasemia hlm 4

Mikroplastik: Ukuran Kecil, Bahaya Besar

Lembata: Tantangan Baru di Dunia Internship hlm 11

hlm

5

0896-70-2255-62

Isu Kesehatan Mental: Mau Dibawa ke Mana? Isu kesehatan mental terus bergulir setiap tahunnya. Dimana peran pemerintah dalam mencari titik terang penyelesaian masalah ini?

G

angguan mental masih menjadi salah satu penyebab utama disabilitas global. Pada tahun 2016, populasi dengan gangguan mental dan penyalahgunaan zat mencapai 1,1 miliar jiwa dan menempatkan depresi serta gangguan ansietas sebagai jenis gangguan dengan angka kejadian tertinggi, yaitu 268 dan 275 juta jiwa. Angka tersebut diperkirakan akan terus meningkat. Depresi diprediksi akan menjadi beban penyakit dengan prevalensi tertinggi kedua di dunia setelah HIV/AIDS pada tahun 2030. Di Indonesia sendiri, sekitar 9 juta jiwa dilaporkan menderita depresi pada tahun 2017. Angka tersebut diikuti oleh prevalensi bunuh diri yang mencapai 4,5 dari 100.000 orang pada tahun 2017. Secara keseluruhan, data Riskesdas menunjukkan bahwa rerata angka gangguan mental mengalami penurunan, yaitu 11,6% atau sekitar 19 juta penduduk pada tahun 2007 menjadi 6% atau sekitar 14 juta penduduk pada tahun 2013. Meskipun prevalensi menunjukkan grafik penurunan, gangguan mental di Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah yang cukup rumit untuk segera diselesaikan. Hal tersebut tidak terlepas dari mortalitas dan morbiditas gangguan mental yang begitu luar biasa ditambah dengan fasilitas penanganan yang masih perlu ditingkatkan. Potret Fasilitas Kesehatan Jiwa di Indonesia Isu kesehatan mental di Indonesia yang cukup memprihatinkan ternyata tidak diikuti oleh penyediaan fasilitas dan sumber daya layanan kesehatan mental yang memadai. Salah satu hal yang patut disoroti adalah minimnya ketersediaan tenaga kesehatan jiwa. Pada tahun

2016, Indonesia hanya memiliki 773 psikiater (0,32/100.000 orang), 451 psikolog klinis (0,15/100.000 orang), dan 6.500 perawat jiwa (2/100.000 orang). Angka tersebut tentu tidak sebanding dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai seperempat miliar. Padahal, standar jumlah tenaga psikolog dan psikiater yang ditetapkan oleh WHO adalah 1:30 ribu orang atau sekitar 3,33 per 100.000 orang. Selain itu, jumlah rumah sakit jiwa di Indonesia juga masih belum memadai. Terhitung kania/MA hanya 27 dari 34 provinsi di Indonesia yang memiliki rumah sakit jiwa (RSJ) pada tahun 2016 dengan rincian 35 RSJ pemerintah dan 14 RSJ swasta. Belum meratanya pelayanan kesehatan umum ke seluruh pelosok disinyalir menjadi akar permasalahan rendahnya angka fasilitas kesehatan jiwa. “Sebagian besar puskesmas di wilayah Timur Indonesia belum memiliki psikolog dan 30% puskesmas tidak memiliki

dokter umum sehingga persoalan kesehatan jiwa di daerah tersebut belum tertangani secara maksimal,� ungkap dr. Eka Viora, SpKJ, Direktur Bina Kesehatan Jiwa Kementrian Kesehatan RI. Akses masyarakat terhadap layanan kesehatan jiwa yang minim berimbas pada rendahnya pengetahuan dan keterbukaan masyarakat tentang kesehatan mental. Ketidaktahuan masyarakat ini pun semakin memupuk pola pikir keliru dalam menyikapi isu kesehatan mental. Misalnya saja, gangguan mental seringkali dikaitkan dengan gangguan makhluk astral atau rendahnya tingkat religiusitas agama tertentu sehingga masyarakat cenderung mempercayakan penanganannya pada praktik pengobatan alternatif. Teknik pengobatan yang disediakan pun beragam, mulai dari terapi herbal hingga terapi suntikan nilainilai agama yang indikasi dan keamanan dalam penggunaannya patut dipertanyakan. Mirisnya, tak jarang ditemui masyarakat yang memperlakukan orang dengan gangguan mental

Mengintip Strategi Pengendalian Gangguan Mental Negara Lain Dengan prevalensi dan mortalitas yang tinggi secara global, lantas bagaimana negara lain menyikapi isu kesehatan mental?

K

ebijakan pemerintah terkait kesehatan jiwa diperlukan sebagai tolok ukur pencegahan, penanganan, dan rehabilitasi gangguan mental, serta menjadi bentuk promosi kesehatan mental kepada masyarakat. Kebijakan tersebut harus terealisasi mengingat gangguan mental dapat berdampak nyata pada kehidupan penderita. Tak sedikit penderita yang tidak mendapatkan penanganan dasar dan harus menerima stigma negatif serta diskriminasi. Pada tahun 1990, Chili untuk pertama kalinya memberlakukan kebijakan terkait penanganan isu kesehatan mental di level nasional. Pemerintah setempat menempatkan sedikitnya satu tenaga ahli kesehatan jiwa di setiap distrik. Integrasi kesehatan jiwa ke dalam

sistem pelayanan primer menjadi strategi utama yang dijalankan. Kemudian, pada tahun 1999 kebijakan nasional baru yang lebih komprehensif disertai alokasi dana yang memadai berhasil menggandakan jumlah psikiater di sistem pelayanan umum dan mengintegrasikan psikolog ke dalam sepertiga fasilitas layanan primer. Di Australia, depresi menduduki peringkat pertama penyebab disabilitas. Negeri kanguru tersebut untuk pertama kali memberlakukan kebijakan kesehatan jiwa pada tahun 1992. Melalui program lima tahun yang berjalan hingga tahun 1998, Australia berhasil melakukan reformasi kesehatan mental nasional. Terjadi peningkatan pendanaan dan jumlah staf layanan masyarakat. Selain itu, terjadi penurunan rumah sakit jiwa mandiri yang kontras dengan

meningkatnya jumlah penanganan kasus psikiatri akut di rumah sakit umum. Menurut WHO, visi dari implementasi kebijakan dalam ranah kesehatan jiwa adalah tercapainya pelayanan kesehatan yang efektif biaya, akses mudah, dan merata. Tentunya, hal tersebut dapat dicapai dengan penyediaan pelayanan yang berkualitas di semua tingkat, penyediaan tenaga ahli, disertai keikutsertaan seluruh pemangku kebijakan. Untuk itu, strategi yang dibuat bertujuan untuk menciptakan akses pelayanan merata, melindungi hak asasi orang dengan gangguan mental, mengubah persepsi negatif masyarakat, dan menyediakan pelayanan yang terintegrasi dan tersedia luas di masayarakat. mariska, safety, catra

bak aib yang harus disembunyikan. Beberapa tindakan, seperti kekerasan fisik, mengurung pasien dalam ruangan tertutup, dan memasung atau merantai pasien masih sering ditemukan. Padahal, sejak 1977 pemerintah Indonesia telah mengeluarkan peraturan berupa pelarangan keras terhadap aktivitas pemasungan. Walaupun demikian, praktik ilegal tersebut mulai banyak ditinggalkan seiring semakin banyaknya komunitas masyarakat peduli terhadap kesehatan mental. Komunitas tersebut muncul dan tumbuh di antara keterbatasan fasilitas dan tenaga kesehatan jiwa dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran dan menghapus stigma negatif masyarakat tentang kesehatan mental. Langkah Konkret Pemerintah Sebagai upaya memperbaiki citra kesehatan mental di Indonesia, Kementerian Kesehatan telah mengambil beberapa langkah serius untuk meningkatkan kesadaran, mempermudah akses pelayanan kesehatan mental dan konsultasi kejiwaan, serta mengurangi angka bunuh diri. Bentuk usaha konkret yang dilakukan, meliputi meningkatkan layanan kesehatan jiwa pada fasilitas pelayanan kesehatan (Fasyankes) primer, membuka layanan konseling di RSJ melalui telepon, membuka hotline pencegahan percobaan bunuh diri, merilis aplikasi Sehat Jiwa yang dapat membantu masyarakat mengkonfirmasi kondisi kesehatan jiwanya, serta mengesahkan UU No. 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa.Usaha pemerintah tersebut tidak luput dari sejumlah kritikan dari berbagai pihak. Beberapa poin yang harus segera ditindaklanjuti, bersambung ke halaman 11

SKMA untuk Anda! Mari bersama membuat SKMA menjadi lebih baik.

!

1. Apakah konten SKMA bermanfaat/ relevan dengan kondisi kesehatan saat ini? 2. Apakah anda masih membutuhkan SKMA edisi selanjutnya? Jawab dengan format: Nama-Umur_Kota/Kabupaten_Unit Kerja_ Jawaban 1_Jawaban 2 Contoh: Rudiyanto_43_Jakarta Pusat_RSCM_Ya_Ya Kirim melalui WhatsApp/SMS ke 0896-702255-62 atau mengisi formulir pada bit.ly/ surveyskma2019 Lima orang pengisi survei yang beruntung akan mendapatkan cenderamata dari Media Aesculapius


2

MEI - JUNI 2019

DARI KAMI Pembaca SKMA yang budiman, memasuki pertengahan tahun 2019 telah diwarnai oleh berbagai peristiwa, tidak terkecuali di bidang kesehatan. SKMA terus berkomitmen untuk menghadirkan beritaberita serta topik-topik kesehatan yang sedang hangat diperbincangkan untuk membantu para tenaga kesehatan yang bekerja di seluruh pelosok Indonesia. Isu kesehatan jiwa seakan-akan tidak pernah luput dan lepas dari jagat berita kesehatan di Indonesia. Setelah pesta demokrasi berakhir, isu ini kembali hangat di jagad berita karena beberapa calon anggota legislatif yang mengalami gangguan jiwa karena kalah dalam kontestasi pemilihan umum. Sebenarnya, bagaimana potret fasilitas kesehatan jiwa di Indonesia? Dan apa langkah konkret pemerintah dalam menanganinya? Simak beritanya eksklusif hanya di rubrik Headline! Bahasan lain yang tidak boleh luput dari bacaan wajib anda adalah ulasan mengenai pendekatan klinis dan tata laksana muntah pada anak hanya di rubrik Klinik. Selain itu, mungkin pemirsa sekalian penasaran mengenai bahaya mikroplastik yang saat ini sedang marak diangkat di media sosial. Ulasan lengkap mengenai bahaya mikroplastik secara tajam dapat dibaca langsung di rubrik Ilmiah Populer. Tak boleh ketinggalan juga ulasan menarik yang mengangkat sisi humanisme dari tenaga kesehatan di rubrik Opini Humaniora. Kali ini, SKMA mengangkat suka duka dari seorang dokter forensik. Selain itu, rubrik liputan juga tidak boleh dilewatkan! Terdapat laporan menarik tentang simposium dengan gaya modern dan millenial yang disebut sebagai webinar. Apa itu webinar dan materi apa yang dibawakan? Jangan lewatkan artikelnya! Mengkahiri kata sambutan ini, tak lupa saya ingin mengajak pemirsa sekalian untuk aktif dan berprestasi dalam bidang masing-masing serta selalu berkarya demi maju dan makmurnya Indonesia.

Reyza Tratama Pemimpin Redaksi

MA FOKUS

Potret Kesehatan Jiwa di Indonesia: Peran Pemerintah dan Stigma Masyarakat

P

ada tahun 2030, diperkirakan depresi akan memimpin beban morbiditas akibat penyakit dini nomor dua setelah HIV/AIDS. Sekitar 9 juta orang dilaporkan menderita depresi di Indonesia di tahun 2017. Hal ini menunjukan betapa besarnya beban penyakit yang diakibatkan oleh gangguan jiwa. Sehingga, isu kesehatan jiwa saat ini tidak boleh dianggap sebagai isu asal lewat saja. Namun, sangat disayangkan, besarnya angka prevalensi gangguan jiwa tidak berbanding lurus dengan kualitas layanan kesehatan yang memadai dan sumber daya yang mumpuni. Standar jumlah tenaga psikolog dan psikiater yang ditetapkan oleh WHO adalah 3,33 untuk 100 ribu orang, namun di Indonesia rasionya hanya mencapai 0,15 – 0,32 untuk 100.000 orang. Angka ini tentu jauh di bawah standar. Kurangnya sumber daya manusia ini ditambah lagi dengan belum meratanya tenaga kesehatan ke seluruh pelosok Indonesia. Pemerintah sendiri sudah berupaya untuk menangani hal ini dengan mengeluarkan UU No. 18 Tahun 2004 tentang Kesehatan Jiwa yang mencakup usaha mempermudah akses pelayanan kesehatan mental dan konsultasi kejiwaan serta peningkatan layanan hotline untuk pencegahan bunun diri. Namun, masalah klasik dalam upaya pemerintah tetap saja muncul, yaitu kurangnya sosialisasi dan implementasi peraturan yang sudah dibuat membuat arah kebijakan pelayanan kesehatan jiwa di Indonesia seakan jalan di tempat. Masalah lain yang muncul dalam upaya peningkatan kesadaran pentingnya kesehatan jiwa adalah stigma masyarakat yang menganggap gangguan jiwa sebagai sebuah kutukan yang mempermalukan nama keluarga dan perlu disembunyikan. Namun, seiring dengan hangatnya isu kesehatan jiwa di media sosial, stigma ini sedikit demi sedikit terkikis. Saat ini, banyak sekali pegiat-pegiat media sosial yang menekankan pentingnya kesadaran kesehatan jiwa diri sendiri dan tidak menganggap gangguan jiwa sebagai sebuah aib. Namun, stigma buruk gangguan jiwa masih ada dan sangat kental terlihat, terutama di daerah-daerah yang masih belum terjamah oleh media sosial. Sehingga, edukasi kesehatan jiwa melalui fasilitas layanan kesehatan primer perlu digalakkan dan tidak boleh dianggap sebelah mata lagi. Belum konkretnya implementasi kebijakan tentang kesehatan jiwa oleh pemerintah dan stigma buruk tentang gangguan jiwa menjadi sebuah batu sandungan yang sangat menganggu. Indonesia sepertinya masih harus menempuh langkah panjang berliku dalam penerapan pelayanan kesehatan gangguan jiwa yang berkualitas.

KLINIK

MEDIA

AESCULAPIUS

MA KLINIK

Belum Pasti Penyebabnya, Bisakah Kanker Paru dicegah? Pengendalian faktor risiko merupakan hal penting untuk pencegahan kanker paru.

K

anker paru merupakan jenis kanker terbanyak pengendalian faktor di dunia dan nomor tiga terbanyak di Indonesia. risiko dan skrining. Kanker paru dapat terjadi secara primer—berasal Sementara untuk dari epitel bronkus—atau sekunder—berasal dari metastasis kelompok berisiko oleh tumor primer di luar paru. Gejalanya sama seperti dengan gejala penyakit paru lainnya yaitu batuk kronik, terkadang disertai respirasi perlu Narasumber dahak dan darah, sesak napas, serta nyeri dada. Batuk mendapat prosedur dr. Elisna Syahruddin, Ph.D, Sp.P biasanya terjadi jika ada masa sentral atau lesi intrabronkus. diagnosis yang tepat. Staf Medis Departemen Pulmonologi Sementara sesak napas dapat terjadi karena volume paru Prosedur dan Kedokteran Respirasi FKUI-RSCM berkurang akibat atelektasis, efusi pleura masif atau sindrom diagnosis untuk vena cava superior. Gejala lain yang dapat ditemukan adalah kanker paru adalah penurunan berat badan atau gejala lain yang berkaitan dengan dengan anamnesis lesi metastasisnya. Gejala lain tersebut sangat bergantung untuk mengetahui gejala dan faktor risiko yang diikuti pada letak tumor primernya. pemeriksaan fisik untuk mengidentifikasi adanya tanda Klasifikasi kanker paru primer berdasarkan jenis patologi yang mengarah pada kanker paru bahkan kegawatan yang anatomi atau sel kanker adalah kanker paru jenis karsinoma mengancam. Setelah itu, dilakukan foto toraks PA lateral. sel kecil (KPKSK=SCLC) dan kanker paru jenis karsinoma Bronkoskopi dilakukan untuk memastikan diagnosis bukan sel kecil (KPKBSK=NSCLC). Kelompok KPKBSK sekaligus mengambil spesimen untuk pemeriksaan sitologi sendiri terdiri dari banyak jenis sel dengan karakteristik dan atau histopatologi. Untuk menentukan stadium penyakit, respons terapi yang berbeda, misalnya adenokarsinoma, pemeriksaaan dilanjutkan dengan CT-scan toraks dan karsinoma sel skuamosa, dan sebagainya. Sementara itu, kadang diperlukan untuk mengarahkan ke tindakan lain stadium kanker paru dibagi berdasarkan sistem TNM edisi seperti TTNA dan biopsi untuk pengambilan spesimen. 8. T untuk tumor, N untuk keterlibatan getah bening dan M Brain scan dengan kontras juga sebaiknya dilakukan untuk metastasis. Staging kanker paru mulai dari stadium Ia, meski belum ada gejala neurologis. Ib, IIa, IIb, IIIa, IIIb, IIIc, IVa dan IVb. Pilihan terapi kanker paru tergantung pada jenis Penyebab pasti kanker paru primer belum jelas, tetapi sel kanker dan stadium penyakitnya. Modalitas terapi pencegahan dapat dilakukan kanker paru terdiri dari bedah, dengan pengendalian radioterapi, kemoterapi, terapi A n/M arfia faktor risiko. Faktor risko target dan immunoterapi. yang dapat dikendalikan Terapi untuk kanker paru jenis antara lain : (1) paparan karsinoma sel kecil (KPKSK) asap rokok. Perokok aktif adalah kemoterapi dan/ memiliki risiko lebih besar atau radioterapi. Terapi daripada bekas perokok. untuk KPKBSK berlaku Jenis, lama, jumlah rokok ketentuan khusus. Bedah perhari dan dalamnya diindikasikan untuk isapan mempunyai pengaruh KPKBSK stage I dan peningkatan risiko. Rokok II. Stage IIIa diberikan elektrik, vape, dan sishapun neoadjuvan kemoterapi 2 - 3 berisiko terhadap terjadinya kanker paru. (2) Polusi udara siklus sebelum bedah. Kemoterapi, terapi target, dan dalam maupun luar ruangan. Polusi tersebut dapat berasal immunoterapi dapat diberikan pada stage I atau II yang dari paparan karsinogen, kadar gas radon yang tinggi di tidak memenuhi syarat untuk bedah. Terapi KPKBSK rumah, dan dapur penuh asap dengan ventilasi rumah yang stage lanjut yaitu stage IIIb-IVb adalah kemoterapi. buruk. Namun, terapi target anti EGFR dapat diberikan jika hasil Walaupun belum ditemukan metode skrining kanker tes mutasi EGFR positif, demikian juga anti ALK jika hasil paru, terdapat usaha yang dapat dilakukan untuk mendeteksi IHK ALK positif. Immunoterapi dapat diberikan jika hasik dini kanker paru. Hal tersebut adalah memberikan edukasi IHK PD-L1 positif >50%. Tes mutasi EGFR dilakukan kepada orang yang mempunyai faktor risiko untuk melakukan untuk jenis adenokarsinoma karena angka kepositifan pemeriksaan paru dan foto toraks secara berkala minimal 1x sangat kecil pada jenis lain. Tes IHK ALK dan PD-L1 setahun. sebaiknya dilakukan jika hasil test mutasi EGFR negatif Dalam rangka menurunkan insidens kanker paru, (wild type) karena behubungan dengan respon terapi. kelompok tidak berisiko juga perlu diberikan edukasi. Untuk Prosedur terapi yang rumit ini dapat mengingatkan bahwa kelompok berisiko, pasien perlu diberi edukasi pula untuk perlu upaya pencegahan yang lebih ditingkatkan lagi. lila

MEDIA AESCULAPIUS

Pelindung: Prof. Dr. Ir. Muhammad Anis M. Met. (Rektor UI), Prof. Dr. dr. H. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP (Dekan FKUI) Penasihat: Dr. Arman Nefi, S.H., M.M. (Direktur Kemahasiswaan UI), dr. Affan Priyambodo Permana, SpBS(K) (Koordinator Kemahasiswaan FKUI) Staf Ahli: Seluruh Kepala Bagian FKUI/RSUPNCM, Prof. Dr. Ma’rifin Husein (CHS), dr. Muki Reksoprodjo, dr. Boen Setiawan, dr. Sudarso, dr. E. Oswari, DPH, Prof. Dr. Arjatmo Tjokronegoro, PhD, dr. Hapsara, DPH (Kemenkes RI), dr. Fahmi Alatas, Prof. dr. Marwali Harahap, SpKK, Prof. Dr. Umar Fahmi Achmadi, MPH Pembantu Khusus: Seluruh Alumni Aesculapius dan Media Aesculapius

Pemimpin Umum: Fadlika Harinda. PSDM: Irfan Kresnadi. Pemimpin Produksi: Kania Indriani. Tata Letak dan Cetak: Anthonius Yongko. Ilustrasi dan Fotografi: Fiona Muskananfola. Staf Produksi: Arfian Muzaki, Aurelia Maria Prajna Saraswati, Hannah Soetjoadi, Gita Fajri Gustya, Marthin Anggia Sirait, Mega Yunita, Sakinah Rahma Sari, Vina Margaretha Miguna, Devi Elora, Nathaniel Aditya, Anthonius Yongko, Irfan Kresnadi, Shafira Chairunnisa, Teresia Putri, Hansel T. Widjaja, Itsna Arifatuz Z., Skolastika Mitzy, Meutia Naflah G., Dewi Anggraeni. Pemimpin Redaksi: Reyza Tratama Audandi. Wakil Pemimpin Redaksi: Rayhan Farandy. Redaktur Senior: Veronika Renny Kurniawati, Renata Tamara, Tiffany Rosa, Afiyatul Mardiyah, M. Ilham Dhiya, Filbert Kurnia Liwang, Alexander Kelvyn. Redaktur Desk Headline: Nur Afiahuddin Tumpu. Redaktur Desk Klinik: Dina Fitriana. Redaktur Desk Ilmiah Populer: Farah Qurrota. Redaktur Desk Opini & Humaniora: Nathalia Isabella. Redaktur Desk Liputan: Yuli Maulidiya. Reporter Senior: Phebe Anggita Gultom, Clara Gunawan, Farah Vidiast, Maria Isabella, Joanna Erin, Fadlika Harinda, Vanessa Karenina, Aisyah Rifani, Stefanus Sutopo. Reporter Junior: Sheila Fajarina Safety, Mariska Andrea Siswanto, Kevin Wijaya, Jessica Audrey, Aughi Nurul Aqilla, Lidia Puspita Hasri, Billy Pramatirta, Jonathan Hartanto, Elvan Wiyarta, Wira Titra Dwi Putra, Prajnadiyan Catrawardhana, Leonardo Lukito Nagaria. Pemimpin Direksi: Andi Gunawan Karamoy. Finansial, Sirkulasi, dan Promosi: Kevin Tjoa, Gilbert Lazarus, Sean Alexander, Nur Zakiah Syahsah, Angela Kimberly, Koe Stella Asadinia, Tiara Grevillea, Ainanur Aurora, Agassi Antoniman, Yusuf Ananda, Safira Amelia, Syafira Nurlaila, Lowilius Wiyono, Jeremy Rafael, Iskandar Geraldi. Buku: Vincent Kharisma, Muhammad Izzatullah, Regan Edgary Jonlean, Husain Muhammad Fajar Surasno, Nadira Prajnasari Sanjaya, Roberto Bagaskara, Tiroy Junita, Indah Fitriani, Sabrina Tan, Gilbert Mayer C, Marie Christabelle, Bunga Cecilia. Alamat: Media Aesculapius BEM IKM FKUI. Gedung C lantai 4, Rumpun Ilmu Kesehatan, Kampus UI Depok. E-mail: medaesculapius@gmail.com, Rek. 157-0004895661 Bank Mandiri Cabang UI Depok, website: beranisehat.com Alamat Redaksi/Sirkulasi: Media Aesculapius PO BOX 4201, Jakarta 10042, Harga Langganan: Rp18.000,00 per enam edisi gratis satu edisi (untuk seluruh wilayah Indonesia, ditambah biaya kirim Rp. 5.000,00 untuk luar Jawa), fotokopi bukti pembayaran wesel pos atau fotokopi bukti transfer via Bank Mandiri dapat dikirim ke alamat sirkulasi. MA menerima kiriman naskah dari pembaca untuk rubrik MA Klinik (khusus untuk dokter dan staf pengajar), Asuhan Keperawatan (khusus untuk perawat dan mahasiswa keperawatan) Sepuki, Suma, Suduk, Kolum, Arbeb, Kesmas, Seremonia, dan Konsultasi (berupa pertanyaan). Kirimkan email permohonan penulisan ke redaksima@yahoo.co.id dan kami akan mengirimkan spesifikasi rubrik yang Anda minati.

Kirimkan kritik dan saran Anda:

redaksima@yahoo.co.id

Website Media Aesculapius

beranisehat.com

Dapatkan info terbaru kami: @MedAesculapius


MEDIA

KLINIK

AESCULAPIUS

MEI - JUNI 2019

3

KONSULTASI

Langkah Jitu Hadapi Muntah pada Anak

Survei primer untuk tata laksana kegawatdaruratan dan survei sekunder untuk manajemen definitif angat diperlukan. Pertanyaan: “Di tempat internship saya, sering ditemukan pasien anak yang datang dengan keluhan mual dan muntah. Bagaimana pendekatan klinis pada keluhan muntah pada anak? Kemudian anti emetik apakah yang aman diberikan pada anak? Edukasi apa yang dapat diberikan kepada orang tua pasien jika terjadi muntah?� – Dr. D

M Jawaban :

untah adalah keluarnya isi saluran cerna akibat kontraksi usus dan otot dinding torakoabdominal. Muntah berbeda dengan regurgitasi, yaitu keluarnya isi perut sampai rongga mulut tanpa usaha. Mual adalah sensasi spontan yang terjadi sebelum muntah. Muntah secara fisiologis merupakan peristiwa yang melibatkan motorik somatik yang dikendalikan oleh pusat muntah dan kemoreseptor trigger zone di medula. Saat melakukan evaluasi anak dengan muntah, prinsip pendekatan klinis awal ialah impresi awal untuk menilai anak yang kita periksa datang dengan kegawatan atau tidak. Evaluasi terhadap appearance, work of breathing, dan circulation to skin (disebut sebagai pediatric assessment triangle) dilakukan maksimal dalam 1 menit untuk menentukan tata laksana awal sambil melakukan primary survey. Ketika menghadapi anak dengan muntah, harus dicari entah anak mengalami dehidrasi atau bahkan syok hipovolemia. Tatalaksana awal tentunya melakukan rehidrasi, baik secara oral (dengan cairan oralit), melalui selang nasogastrik, ataupun pemberian intravena (cairan kristaloid) bila anak tetap muntah saat

rehidrasi melalui selang nasogastrik atau karena terjadi dehidrasi berat hingga syok hipovolemia. Kondisi tersebut harus ditangani sejak awal. Jika muntah terjadi persisten, kemungkinan penyebab kelainan sistemik harus dievaluasi dan ditentukan dengan segera entah hal ini merupakan kasus bedah (obstruksi saluran cerna) atau bukan. Pemeriksaan fisik yang menyeluruh dan cermat pasca tatalaksana awal diharapkan dapat melengkapi anamnesis untuk menentukan diagnosis kerja agar pemeriksaan penunjang yang diperlukan dapat dilakukan atau keluarga diinformasikan mengenai kemungkinan dirujuk ke rumah sakit dengan fasilitas yang aurelia /MA diperlukan untuk mengatasi penyakit dasarnya. Bila dokter umum mendeteksi bahwa muntah diakibatkan kelainan di saluran cerna, setelah dilakukan tatalaksana awal perlu dievaluasi beberapa hal pada anamnesis (secondary survey). Anamnesis saat secondary survey diperlukan untuk mencari etiologi penyebab muntah dan perlu ditentukan muntah terjadi akut, berulang, kronik, atau persisten. Pada umumnya, muntah akut yang tidak disertai kelainan pada primary survey disebabkan oleh infeksi virus yang sering self-limiting, termasuk keluhan gastroenteritis. Bila diagnosis kerja adalah gastroenteritis,

prinsip tata laksana 5 pilar WHO perlu dilakukan, yaitu mengatasi dehidrasi, meneruskan ASI dan nutrisi setelah dehidrasi teratasi, memberikan zinc selama 10-14 hari, memberikan antibiotik jika diduga shigellosis, kolera, disentri basiler maupun amuba, dan komunikasi dengan orang tua kiat menangani anak di rumah termasuk kapan anak perlu dibawa kembali ke fasilitas kesehatan. Pemberian dosis tunggal ondansentron per oral pada anak dengan diare akut non-dehidrasi berat terbukti cukup efektif untuk mengatasi muntah dibandingkan domperidon maupun plasebo. Prinsip rehidrasi dan penggunaan obat yang rasional tetap perlu diperhatikan. Regurgitasi dan muntah berulang sering terjadi secara fisiologis pada bayi yang berangsur berhenti pada usia 6 bulan, dan sebagian berhenti pada usia 1 tahun. Sepanjang kurva tumbuh bayi normal dan tidak ada masalah dengan pemberian ASI, maka bayi tidak perlu diobati, cukup dengan membuat posisi kepala bayi lebih tinggi. Bila terdapat kecurigaan adanya penyakit refluks gastroesofageal (GERD) yang disertai dengan feeding problem dan gangguan pertumbuhan maupun perkembangan, anak perlu dirujuk ke dokter spesialis anak. Bila muntah disertai dengan gejala alarm,

Narasumber Dr. dr. Pramita Gayatri Dwipoerwantoro, Sp.A(K) Ketua Program Studi Spesialis-2 Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM Ketua Tim CPD (Continuing Professional Development) Ikatan Dokter Anak Indonesia Email : pramitagd@yahoo.com kecurigaan diagnosis GERD dapat ditegakkan. Pemberian ranitidin 5-10mg/kg/hari atau omeprazol 1-4 mg/kg/hari dapat diberikan selama 2-4 minggu. Apabila saat pemberian terjadi perbaikan gejala, pasien mungkin mengidap GERD dan perlu dirujuk ke dokter spesialis anak untuk evaluasi lanjut. Gejala alarm yang dapat dijumpai antara lain gagal tumbuh, penolakan makan, disfagia, batuk, dan nyeri ulu hati pada anak yang lebih besar. billy Kirimkan pertanyaan Anda seputar medis ke redaksima@yahoo.co.id Pertanyaan Anda akan dijawab oleh narasumber spesialis terpercaya.

TIPS DAN TRIK

Langkah Tepat melakukan Pungsi Arteri

P

M elakukan pungsi arteri dengan tepat akan menghasilkan analisis gas darah (AGD) yang akurat

ungsi arteri merupakan tindakan pengambilan darah pada pembuluh darah arteri yang kemudian digunakan sebagai sampel untuk analisis gas darah (AGD). Pungsi arteri harus dilakukan dengan teknik yang tepat agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti arteriospasme atau kontraksi arteri, perdarahan, kerusakan saraf, dan pingsan sebagai respon vasovagal. Oleh karena itu, pungsi arteri ini hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang sudah terlatih sesuai standar prosedur. Pungsi arteri memiliki ciri khas yang membedakannya dengan pungsi vena. Jumlah gas terlarut dalam pembuluh darah arteri cenderung konstan pada seluruh pembuluh darah arteri di sekujur tubuh. Dengan begitu, pungsi arteri dapat dilakukan di setiap pembuluh darah arteri karena sampel darah arteri yang dihasilkan akan mewakili jumlah gas terlarut yang ada dalam tubuh. Sebelum melakukan pungsi arteri, pastikan bahwa pasien telah bersedia dan mengerti mengapa pungsi arteri dilakukan. Perlu juga identifikasi adanya kontraindikasi pungsi

arteri, meliputi sirkulasi kolateral yang tidak lancar dengan hasil Allen’s test negatif, lokasi pungsi arteri berdekatan dengan infeksi terbuka atau penyakit pembuluh darah perifer, dan adanya koagulopati atau pengobatan dengan antikoagulan dosis sedang dan tinggi. Selain itu, jangan lupa pula untuk mencuci tangan. Peralatan yang dibutuhkan harus dipersiapkan.

gita/M

A

Peralatan yang diperlukan meliputi spuit 3 mL, heparin, gabus penutup jarum, alcohol swabs, sarung tangan, kain pengalas atau handuk kecil, nierbeken, kasa, dan plester. Setelah memastikan peralatan lengkap, lakukan pengisian heparin sebanyak 1 mL pada spuit 3 mL yang berfungsi untuk mencegah pembekuan darah. Tentukan lokasi pungsi arteri dengan

mengecek pulsasi arteri. Pilihlah pulsasi yang terbesar dan terjelas. Pungsi arteri dapat dilakukan pada arteri radialis, arteri brachialis, dan arteri femoralis. Namun, lokasi pungsi arteri yang sangat disarankan adalah arteri radialis yang terletak pada pergelangan tangan searah ibu jari. Gunakan handuk kecil sebagai pengganjal pada bagian bawah pergelangan tangan. Usapkan alcohol swabs pada lokasi pungsi arteri. Pastikan kembali pulsasi arteri pada lokasi pungsi menggunakan jari tengah dan jari telunjuk, lalu regangkan kedua jari agar kulit disekitarnya menjadi tegang untuk tempat penusukan. Posisikan spuit 3 mL yang telah berisi heparin dengan sudut 45o dari titik tempat penusukan. Lalu, masukkan jarum spuit secara perlahan untuk meminimalisasi terjadinya risiko spasme arteri. Tekanan arteri perlahan akan terus menekan penghisap spuit. Hentikan saat spuit telah terisi Âą2 cc, tarik jarum spuit dengan hati-hati dan segera tutup ujung jarum dengan gabus. Letakkan spuit pada wadah berisi es batu. Tutup bekas tusukan dengan kasa steril dan plester. Terakhir, jangan lupa untuk merapikan kembali peralatan dan membuang sampah bekas prosedur pungsi. lidia

JASA PEMBUATAN BUKU Media Aesculapius menyediakan jasa penyusunan buku yang sangat fleksibel baik dalam hal desain cover dan isi, ukuran dan tebal buku, maupun gaya penulisan termasuk menyunting tulisan anda. Tak terbatas hingga penyusunan saja, kami siap melayani distribusi buku anda. Adapun buku yang pernah kami buat: buku biografi tokoh, buku pemeriksaan fisik berbagai departemen, buku jurnal, dan Kapita Selekta Kedokteran.

Hubungi Hotline MA: 0896-70-2255-62 (SMS/WhatsApp)-


4

KLINIK

MEI - JUNI 2019

MEDIA

AESCULAPIUS

MA INFO

Langkah Komprehensif Mendiagnosis Pasien Talasemia Berada dalam daerah sabuk talasemia, dokter Indonesia dituntut untuk cakap dalam menangani penyakit tersebut dengan segala keterbatasan yang ditemui di lapangan.

H

emoglobin (Hb) merupakan unit fungsional dalam darah yang mengangkut oksigen ke jaringan. Pada penderita talasemia, terjadi mutasi pada gen pengode rantai hemoglobin. Hal ini menyebabkan strukturnya menjadi kurang stabil sehingga oksigenasi ke jaringan menjadi terhambat. Indonesia memiliki angka yang tinggi dalam hal pembawa gen talasemua. Bahkan, angka pembawa gen talasemia diprediksi akan semakin meningkat setiap tahunnya. Sayangnya, penegakkan diagnosis talasemia di fasilitas kesehatan daerah perifer masih belum optimal. Keterbatasan fasilitas penunjang untuk diagnosis serta kurangnya kecakapan dokter dalam mendiagnosa pasien talasemia menjadi akar masalah yang belum terselesaikan. Melakukan Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik pada Pasien Talasemia Menurut SKDI (Standar Kompetensi Dokter Indonesia), seorang dokter umum harus mampu melakukan anamnesis dan konseling pada pasien talasemia secara mandiri. Oleh sebab itu, penting bagi seorang dokter untuk menegakkan diagnosis talasemia secara tepat. Di tahun 2018, Kementrian Kesehatan RI merilis Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tatalaksana Talasemia. Menurut pedoman tersebut, penegakkan diagnosis talasemia mencakup anamnesis, pemeriksaan fisik dan

Pemeriksaan Lanjutan pada Pasien pemeriksaan penunjang. Talasemia Pasien talasemia biasanya datang Pemeriksaan darah tepi lengkap menjadi dengan keluhan pucat ataupun perut pemeriksaan penunjang dasar untuk menilai membuncit yang diakibatkan oleh adanya kelainan hematologi. Kadar Hb dibawah 7 hepatosplenomegali. Riwayat transfusi darah gr/dL, nilai MCV < 80 fL dan MCH < 27 pg berulang mengimplikasikan kondisi anemia (gambaran anemia mikrositik hipokromik) yang mungkin mengarah kepada talasemia. Selain perjalanan penyakit, suku dan etnis pasien dapat ditemukan pada kasus talasemia. Meskipun demikian, temuan tersebut belum perlu diketahui untuk menilai angka kejadian bisa spesifik mengarahkan kepada diagnosis talasemia di daerah asal pasien. Manifestasi talasemia. Untuk memastikan klinis biasanya mulai muncul di usia kecurigaan talasemia, 6 bulan. pemeriksaan penunjang Tampilan fisik yang sering yang direkomendasikan ditemui pada pasien antara lain adalah sediaan hapus kulit pucat, sklera kuning, darah tepi, elektroforesis hepatosplenomegali, hemoglobin dan high gangguan pubertas, performance liquid perawakan pendek, dan chromatography hiperpigmentasi kulit. (HPLC). Pasien talasemia juga Pada gambaran dapat menunjukkan darah tepi, dapat tampilan wajah ditemukan dengan dahi gambaran menonjol, celah mata menyempit, jarak antar dua mata melebar, serta adanya kelainan sakinah/MA gigi dan rahang. Tampilan wajah tersebut disebut sebagai facies cooley.

anemia mikrositik hipokromik, eritrosit berinti dengan sel target, anisopoikilositosis dalam derajat sedang hingga parah. Total sel neutrofil pada sediaan juga dapat meningkat (neutrofilia). Sebaliknya, kasus talasemia dengan splenomegali memiliki jumlah sel leukosit, neutrosit, dan trombosit justru cenderung menurun. Pemeriksaan elektroforesis maupun HPLC pada dasarnya bertujuan untuk menilai variasi Hb secara kuantitatif. Pada kasus talasemia, variasi Hb yang dominan adalah penurunan HbA2 dan peningkatan HbF serta HbE. Proporsi HbF bisa mencapai > 90% pada kasus talasemia berat. Akan tetapi, temuan HbA2 yang normal belum tentu menyingkrkan diagnosis talasemia Analisis DNA juga bisa dilakukan apabila memungkinkan. Pemeriksaan ini merupakan uji molekuler yang menilai keberadaan gen pembawa talasemia. Selain dipakai untuk mengkonfirmasi talasemia b-mayor, pemeriksaan ini juga dapat mendiagnosis adanya variasi talasemia seperti talasemia b-silent dan talasemia a. Pada kenyataannya, tidak semua pemeriksaan di atas dapat dilakukan di seluruh fasilitas kesehatan di Indonesia. Pemahaman menyeluruh mengenai talasemia dan kecakapan melakukan diagnosis menjadi dua hal yang perlu dikuasai dokter Indonesia, mengingat talasemia masih menjadi ancaman bagi masyarakat kita. leo

ASUHAN KESEHATAN

Stroke Hemoragik: Perlunya Perawatan Berkesinambungan

S

Agar lebih maksimal, stroke harus ditangani secara berkesinambungan.

troke merupakan salah satu penyakit yang disebabkan oleh gangguan sirkulasi di otak dan dapat menyebabkan gangguan neurologik fokal yang timbul dari suatu proses patologis serta dapat terjadi secara tiba-tiba. Berdasarkan kondisi patologisnya, stroke dibedakan menjadi stroke hemoragik dan iskemik. Stroke hemoragik adalah stroke yang timbul karena pecahnya pembuluh darah di otak yang menyebabkan pendarahan dan dapat terjadi kematian jaringan. Sementara itu, stroke iskemik merupakan stroke yang terjadi karena embolus atau trombus. Pasien yang menderita stroke hemoragik memerlukan tata laksana medis segera karena progesivitasnya yang tinggi. Setelah pasien stroke hemoragik menjalani tata laksana medis, penting bagi pasien untuk mendapatkan asuhan keperawatan yang berkesinambungan untuk mengontrol kondisi fungsional dari sistem sirkulasi pasien. Perawatan ini menjadi kunci yang penting dalam meningkatkan kualitas kesehatan pasien pascatatalaksana medis. Perawatan atau intervensi yang diberikan pada pasien sangat bergantung pada keadaan pasien saat itu. Oleh sebab itu, sangat penting bagi tenaga medis untuk melakukan observasi terhadap kondisi pasien. Observasi ini meliputi penurunan marthin/MA kekuatan otot,

perfusi jaringan, kelemahan fisik, kerusakan otak, serta tanda-tanda vital. Intervensi yang dilakukan dapat berbedabeda bedasarkan kondisi pasien. Pada pasien dengan penurunan kekuatan otot, perlu dilakukan terapi mobilisasi sendi 5 x 24 jam agar sendi tidak kaku dan tidak terjadi atrofi otot. Terapi mobilisasi ini perlu dimonitor dan dikaji perkembangannya. Pada pasien dengan penurunan perfusi jaringan otak, perlu dilakukan perfusi jaringan yang adekuat selama 5 x 24 jam. Kepala pasien perlu diletakkan agak tinggi dalam posisi netral disertai dengan akses monitor terhadap status neurologis, status respirasi, dan bunyi jantung. Pada pasien dengan risiko infeksi, tenaga medis perlu melakukan observasi selama 3 x 24 jam yang meliputi suhu, kelembapan kulit, status hidrasi, serta gejala infeksi. Pada pasien dengan defisit perawatan diri dan kerusakan integritas kulit, perlu dilakukan observasi selama 5 x 24 jam. Dalam observasi ini, tenaga medis dapat membantu pasien dalam perawatan diri, misalnya adalah mandi. Untuk merawat integritas kulit, tenaga medis dapat memberikan pijatan lembut pada daerah yang tertekan serta memberikan pelembab pada kulit yang pecah-pecah. Asuhan keperawatan di atas juga perlu

JASA TERJEMAHAN Kabar Gembira! Media Aesculapius menyediakan jasa terjemahan IndonesiaInggris dan Inggris-Indonesia dengan waktu pengerjaan singkat (3 x 24 jam) serta hasil terjamin. Tidak hanya jasa terjemahan, kami juga menyediakan jasa pembuatan slide presentasi dan poster ilmiah sesuai kebutuhan Anda.

Elvan Wiyarta Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Tingkat II Angkatan 2017 dilaksanakan secara berkesinambungan. Hal ini bertujuan agar pasien memiliki kesadaran untuk menjaga diri serta meningkatkan kualitas kesehatan pasien. Oleh sebab itu, pasien juga perlu diedukasi tentang penyakit stroke dan perawatannya. Hal-hal tersebut diharapkan mampu memberikan asuhkan keperawatan yang holistik. elvan

Hubungi Hotline MA: 0896-70-2255-62 (SMS/Whatsapp)


MEDIA

AESCULAPIUS

ILMIAH POPULER

MEI - JUNI 2019

5

KESMAS

Indonesia Darurat Stunting Kondisi menghawatirkan perlu penanganan yang cepat

S

tunting adalah kondisi kekurangan gizi dalam rentang waktu kronis, sehingga menimbulkan gangguan pertumbuhan pada anak. Selain kegagalan bertumbuh, stunting juga memengaruhi perkembangan anak dan metabolisme tubuh. Oleh sebab itu, gangguan ini dapat menggambarkan kondisi nutrisi yang diberikan pada anak tersebut. Efek terburuk dari stunting adalah kurang berkembangnya otak dengan baik sehingga generasi penerus Indonesia berpotensi untuk menjadi generasi yang justru menjadi beban bukan menjadi pembangun bangsa. Stunting bukanlah permasalahan yang ringan. Banyaknya anak yang mengalami stunting dapat menggambarkan kondisi pangan daerah yang bersangkutan. Hal inilah yang tergambar pada beberapa daerah di Indonesia. Tentu kondisi ini menjadi hal yang perlu diperhatikan karena permasalahan stunting di Indonesia masih tergolong tinggi. Data Riskesdas tahun 2018 menunjukkan persentase stunting (tinggi badan/umur) sebesar 30,8%. Walaupun terdapat penurunan dari data Riskesdas tahun 2013 (37,2%), persentase tersebut masih tergolong tinggi bila dibandingkan dengan target WHO (20%). Selain itu, data dari Pemantauan Status Gizi (PSG) tahun 2017 menunjukkan prevalensi balita stunting di Indonesia adalah sebesar 29,6%.

Angka ini juga masih lebih tinggi dibandingkan batasan WHO. Persentase–persentase yang melewati ambang batas ini menunjukkan stunting menjadi sebuah masalah yang A

a/M

i kan

mengkhawatirkan di Indonesia. Stunting pada anak dapat disebabkan karena adanya gangguan penyerapan nutrisi pada saluran pencernaan atau kurangnya asupan

nutrisi pada makanan. Kurangnya asupan gizi pada balita, terutama pada 1000 hari pertama, merupakan penyebab utama permasalahan stunting di Indonesia. Keseimbangan gizi, baik pada ibu maupun anak, juga perlu diperhatikan. Data dari Kemenkes RI menunjukan bahwa di Indonesia 1 dari 5 ibu hamil kekurangan gizi, 7 dari 10 ibu hamil kekurangan kalori dan protein, 5 dari 10 balita kekurangan protein, dan 7 dari 10 balita kekurangan kalori. Selain faktor gizi, faktor ekonomi keluarga, kerentanan infeksi, serta akses sanitasi yang layak juga menjadi hal yang perlu diperhatikan. Oleh sebab itu, diperlukan kajian yang komprehensif dalam menanggulangi masalah stunting di Indonesia. Penanganan stunting di Indonesia telah berusaha dioptimalkan pada tahun 2018. Penegakan lima pilar penanggulangan stunting menjadi dasar pemerintah untuk bekerja sesuai agenda yang telah ditetapkan. Lima pilar tersebut meliputi: (1) komitmen dan visi kepemimpinan, (2) kampanye nasional

dan komunikasi perubahan perilaku, (3) konvergensi, koordinasi konsolidasi program pusat, daerah, dan desa, (4) Gizi dan ketahanan pangan, dan (5) pemantauan dan evaluasi. Penerapan lima pilar ini juga didukung dengan pendanaan dari pemerintah. Pada tahun 2018, pemerintah mengalokasikan dana sebesar Rp568.420.953.000,00 untuk menangani masalah stunting. Dana tersebut digunakan dalam berbagai program kesehatan masyarakat seperti pelayanan antenatal dan peningkatan status gizi. Melihat kondisi stunting di tahun sebelumnya, perlu ada penanganan yang lebih gencar dari pemerintah dalam menanggulanginya. Stunting, pada tahun 2019, ternyata direspons oleh pemerintah berupa pengalokasian dana sebesar Rp9.874.059.322.806,00. Selain itu, pada tahun 2019, lima pilar penanggulangan stunting lebih dititik-beratkan pada peningkatan kesadaran dan perubahan perilaku, terutama untuk mencegah stunting di periode 1000 hari pertama. Pemerintah terus berupaya memberikan respons cepat dan tepat untuk masalah stunting. Namun, masalah stunting bukan hanya menjadi masalah pemerintah saja. Stunting merupakan masalah bersama sebagai satu bangsa. Oleh sebab itu, kita sebagai masyarakat juga harus ikut ambil bagian dalam memahami, menanggulangi, dan mengedukasi sesama kita. elvan

INFO OBAT

Rifampisin: Si Pembunuh Kuman Tuberkulosis “Rifampisin adalah antibiotik yang harus digunakan sesuai dosis untuk meningkatkan efektivitas kerja obat dan mencegah kemungkinan terjadinya resistensi basil tuberkulosis.�

T

uberkulosis sampai saat ini masih menduduki posisi 10 besar penyakit penyebab kematian terbesar di dunia. Pada tahun 2017, terdapat kurang lebih 1,6 juta kematian yang disebabkan oleh tuberkulosis (TB). Berdasarkan data statistik WHO 2017, Indonesia menempati posisi ketiga penderita tuberkulosis (TB) terbanyak di dunia setelah India dan Tiongkok dengan total penderita mencapai lebih dari 1 juta jiwa. Pengobatan untuk tuberkulosis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis adalah antibiotik seperti rifampisin, isoniazid, etambutol, dan pirazinamid. Rifampisin merupakan bentuk semisintetik dari kelompok obat antibiotik rifamisin yang dihasilkan oleh

bakteri Streptomyces mediterranei. Obat ini bersifat asam, memiliki komponen ion zwitter, dan larut dalam lemak dan pelarut organik. Rifampisin dapat menghambat pertumbuhan bakteri gram positif, bakteri gram negatif, dan beberapa jenis virus. Obat ini bekerja terutama terhadap sel yang sedang tumbuh. Mekanisme kerja rifampisin adalah menghambat kerja enzim DNA-dependent RNA polymerase yang dimiliki oleh bakteri dan mikroorganisme lainnya sehingga pembentukan rantai RNA dapat dihambat. Selain itu, pada kadar yang lebih tinggi, rifampisin dapat menghambat sintesis RNA mitokondria. Pemberian rifampisin dilakukan per oral

sakinah/MA

dengan kadar puncak pada plasma 2-4 jam setelah administrasi. Umumnya, rifampisin diberikan dalam bentuk tablet 600 mg dan menghasilkan kadar dalam plasma sebesar 7 pg/mL. Setelah diserap di dalam saluran cerna, obat ini akan dieksresikan melalui empedu dan sirkulasi enterohepatik. Penyerapan obat ini dapat dihambat oleh adanya makanan sehingga biasanya dikonsumsi sebanyak satu kali sehari dan setengah jam sebelum makan. Dalam waktu 6 jam setelah dikonsumsi, obat ini akan segera mengalami deasetilasi dalam empedu membentuk deasetil rifampisin yang memiliki aktivitas antibakteri penuh. Setelah dimetabolisme oleh tubuh, obat ini akan dieliminasi dari tubuh dengan waktu paruh sekitar 1,5-5 jam dan akan memanjang pada kondisi kelainan fungsi hepar. Obat ini dapat larut dengan baik di air dan menimbulkan warna merah pada urin, ludah, tinja, sputum, air mata, atau bahkan keringat. Eksresi melalui urin hanya sekitar 30% sehingga tidak perlu dilakukan penyesuaian dosis pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal. Rifampisin sendiri jarang sekali menimbulkan efek yang tidak diinginkan. Dengan dosis biasa, kurang dari 4% penderita tuberkulosis mengalami efek toksik akibat konsumsi rifampisin, terutama di liver. Namun, gejala-gejala seperti ruam kulit, demam, mual, dan muntah seringkali terjadi. Gangguan saluran cerna berupa rasa tidak enak di lambung, mual, muntah, nyeri kolik, dan diare kadang-kadang memerlukan pemberhentian dari terapi. Selain itu, beberapa keluhan yang berhubungan dengan sistem saraf, seperti rasa lelah, mengantuk, sakit kepala, bingung, sukar berkonsentrasi, sakit pada tangan dan kaki,

hingga melemahnya otot juga dapat terjadi. Penggunaan obat ini juga dapat menimbulkan reaksi hipersensitivitas, seperti demam, pruritus, urtikaria, berbagai macam kelainan kulit, eosinofilia, dan rasa sakit pada mulut dan lidah. Efek teratogenik rifampisin tidak diketahui secara pasti, tetapi penggunaan obat ini sebaiknya dihindari pada masa kehamilan. Rifampisin di Indonesia terdapat dalam bentuk kapsul 150 mg dan 800 mg. Selain itu, rifampisin juga terdapat dalam bentuk tablet 450 mg dan 600 mg, serta suspensi dengan kadar obat 100 mg/5 mL. Beberapa sediaan telah dikombinasi dengan isoniazid atau dalam bentuk kombinasi dosis tetap bersama antibiotik lain. Dosis untuk orang dewasa dengan berat badan kurang dari 50 kg adalah 450 mg/hari dan untuk orang dewasa dengan berat badan lebih dari 50 kg adalah 600 mg/hari. Untuk anak-anak, dosis yang biasa digunakan adalah 10-20 mg/kgBB per hari dengan dosis maksimum 600 mg/hari. Obat tuberkulosis ini tersedia dan diperoleh secara gratis di puskesmas-puskesmas yang ada di Indonesia. Pasien yang telah memeriksakan dirinya dan terbukti mengalami tuberkulosis dapat membawa hasil pemeriksaan mereka untuk mendapatkan obat tuberkulosis secara gratis. Dengan adanya program ini, masyarakat diharapkan untuk mengikuti semua pengobatan selama minimal 6 bulan tanpa putus. Pengobatan yang tidak tuntas dapat menyebabkan resistensi dari basil penyebab tuberkulosis yang membutuhkan tata laksana yang lebih kompleks lagi nantinya. kevin


6

ILMIAH POPULER

MEI - JUNI 2019

MEDIA

AESCULAPIUS

ARTIKEL BEBAS

Asuhan Antenatal: Langkah Jitu Atasi Kematian Ibu dan Anak Kehamilan merupakan suatu masa yang berlangsung sembilan bulan di dalam rahim ibu. Namun, selama kehamilan, baik janin maupun ibu dapat menghadapi masalah yang serius dan rentan yang dapat berdampak pada kematian janin atau bahkan ibu.

D

alam pencapaiannya, Indonesia sudah bekerja keras untuk keberhasilan sebagian besar program SDGs. Namun sayangnya, tingkat kematian bayi dan wanita hamil di Indonesia masih cukup tinggi. Penyebab utama kematian bayi baru lahir, yaitu asfiksia, BBLR (bayi berat lahir rendah), dan infeksi. Sedangkan pada ibu, kematian pada umumnya disebabkan oleh perdarahan pascapersalinan, infeksi, preeclampsia/eclampsia, persalinan tidak lancar, dan abortus. Untuk meminimalisasi angka kematian janin maupun sang ibu, tindakan yang cepat dan efektif dari petugas kesehatan sangatlah dibutuhkan. Keterlambatan dalam mengambil keputusan, merujuk, dan mengobati malah akan meningkatkan risiko kematian bagi janin dan ibu. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa kehamilan harus mendapatkan pengawasan yang rutin oleh petugas kesehatan. Asuhan antenatal adalah suatu pelayanan yang diberikan oleh petugas kesehatan terhadap wanita hamil dalam rangka menjamin perkembangan janin dan kesehatan ibu yang optimal saat kehamilan. Asuhan antenatal bertujuan untuk menurunkan angka kematian ibu dan janin melalui tindakan deteksi dan penanganan dini terkait masalah kehamilan dan persalinan. Komponen yang terlibat dalam asuhan antenatal adalah identifikasi

SEGAR

risiko, pencegahan dan manajemen penyakit terkait kehamilan, serta usaha mendidik dan mempromosikan kesehatan terkait kehamilan. Kehamilan membutuhkan diet yang sehat dan mengandung gizi seimbang, yang mencakup: karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral yang mencukupi kebutuhan ibu dan fetus. Tercukupinya gizi seimbang menjadi faktor utama yang memengaruhi perkembangan janin hingga kelahiran bayi itu sendiri. Assessment ibu dan janin yang dikandung juga cukup esensial untuk menilai kemungkinan bahaya yang dapat terjadi pada bayi maupun ibu. Assessment yang dilakukan pada janin mencakup pergerakan janin, perkembangan janin, denyut jantung janin, hingga pemeriksaan USG. Selain itu, assessment yang dilakukan pada ibu antara lain memeriksa ada atau tidaknya riwayat hipertensi, anemia, infeksi saluran kemih, infeksi HIV/AIDS, hingga konsumsi

rokok, narkoba, dan minuman beralkohol. Jika ditemukan kelainan atau faktor risiko yang dapat membahayakan kehamilan, tindakan preventif yang cepat dan tepat harus diambil. Dalam pelaksanaannya, asuhan antenatal dianjurkan untuk dilaksanakan sebanyak minimal empat kali selama kehamilan untuk mengurangi kemungkinan risiko komplikasi yang terjadi saat kehamilan dan persalinan. Pertemuan pertama dilakukan pada trimester pertama, pertemuan kedua dilakukan pada trimester kedua, dan dua pertemuan terakhir dilakukan pada trimester ketiga. Selama pertemuan asuhan antenatal, petugas kesehatan akan melakukan anthon/MA

pemeriksaan tanda vital (tekanan darah, suhuj badan, frekuensi nadi, frekuensi napas), berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas, ada tidaknya edema atau kulit pucat, dan status generalis dari pasien. Selain itu, petugas kesehatan akan melakukan pemeriksaan dan pengukuran tinggi fundus uteri (menggunakan pita ukur bila usia kehamilan di atas 20 minggu), vulva/perineum, serviks, uterus, kelenjar bartholini, uretra (bila usia kehamilan di bawah 12 minggu), tanda-tanda infeksi, dan cairan pada uterus. Selanjutnya, auskultasi denyut jantung janin menggunakan fetoskop atau doppler juga dilakukan jika usia kehamilan sudah lebih dari 16 minggu). Petugas kesehatan juga dapat melakukan pemeriksaan penunjang, seperti kadar hemoglobin, apusan darah tebal dan tipis, urinalisis, tes sifilis, BTA, dan USG sesuai dengan indikasi dan keperluan dari petugas kesehatan. Ibu akan dibekali dengan materi konseling dan edukasi yang penting terkait proses kehamilan yang dimilikinya. Jika terjadi abnormalitas keadaan ibu ataupun janin yang dikandungnya, ibu tersebut akan segera dirujuk ke dokter spesialis anak yang dapat menangani masalah tersebut. Asuhan antenatal ini merupakan usaha yang dapat menurunkan angka kematian bayi dan ibu di Indonesia. Dengan demikian, SDGs untuk masalah ini dapat tercapai. kevin

Obat Anti Tuberkulosis (OAT) Carilah 10 nama obat di bawah ini yang dapat digunakan untuk menangani tuberkulosis!

jonathan/MA

KUNCI JAWABAN: Isoniazid, Rifampin, Pyrazinamide, Ethambutol, Streptomycin, Linezolid, Capreomycin, Cycloserine, Levofloxacin, Ethionamide.


MEDIA

ILMIAH POPULER

AESCULAPIUS

7

JOURNAL READING

IPTEK

Mikroplastik: Ukuran Kecil, Bahaya Besar Keberadaan mikroplastik menjadi buah bibir selama beberapa tahun terakhir. Apakah keberadaannya benar-benar mengancam manusia?

P

enemuan plastik telah memberi kemudahan bagi kehidupan manusia. Namun, di balik kemudahan tersebut, plastik menyisakan masalah besar, yaitu limbah plastik yang tidak terurai. Belum usai dengan masalah limbah, publik dikejutkan dengan keberadaan mikroplastik di berbagai produk seperti produk kosmetik, air kemasan, dan hidangan laut. Keberadaan mikroplastik dikhawatirkan menimbulkan dampak kesehatan bagi manusia. Mikroplastik adalah partikel plastik yang berukuran kurang dari 5 mm. Mikroplastik berasal dari plastik yang mengalami fragmentasi dan beberapa produk rumah tangga, seperti pasta gigi, sabun, dan produk kosmetik, yang dikenal dengan microbeads. Mikroplastik mudah terbawa air dan berakhir di laut. /MA Mikroplastik yang berada vina di laut akan terkonsumsi oleh biota laut dan terjadi introduksi mikroplastik dalam rantai makanan. Sebagian biota laut tersebut merupakan sumber hidangan laut bagi manusia. Saat ini, ratusan spesies hewan laut diketahui telah terkontaminasi dengan mikroplastik. Beberapa hewan akuatik tersebut adalah kerang, ikan, udang, cacing , dan binatang laut. Mikroplastik dapat masuk ke dalam tubuh

hewan melalui saluran cerna dan insang yang nantinya menyebar ke seluruh tubuh. Ironisnya, mikroplastik ditemukan pada kulit dan hati dengan jumlah tertinggi 80 persen pada jenis ikan tertentu. Mikroplastik bahkan dapat ditemukan pada embrio ikan medaka (Oryzias lattipes) dan zebrafish (Dania rerio). Akumulasi mikroplastik dapat terjadi di dalam tubuh hewan yang terkontaminasi. Studi lebih lanjut menunjukkan adanya dampak mikroplastik bagi kesehatan hewan laut. Pada tingkat molekular dan sel, mikroplastik menurunkan kualitas dan kuantitas sel kelamin tiram, meningkatkan respons stres pada beberapa spesies crustascea, memicu pembentukan granulositoma pada kerang, dan merangsang respons imun pada ikan. Selain itu, mikroplastik dapat memberikan efek sistemik seperti penurunan fungsi pencernaan, perubahan respons imun, dan perubahan aktivitas saraf. Sampai saat ini, dampak mikroplastik bagi kesehatan manusia belum dapat dipastikan. Namun, berbagai organisasi dunia seperti GESAMP (Joint Group of Experts on the Scientific Aspects of Marine Environmental Protection) dan berbagai penelitian menganjurkan untuk mewaspadai kemungkinan buruk yang dapat terjadi. Fakta bahwa mikroplastik telah terkonsumsi manusia serta dampak negatif mikroplastik pada biota laut menjadi dasar peringatan tersebut.

Karakteristik pada mikroplastik berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan. Partikel plastik memiliki sifat hidrofobik sehingga dapat menembus sel dan jaringan tubuh seperti yang ditemukan pada hewan laut. Sifat ini dikhawatirkan dapat menembus plasenta dan otak. Saat ini, diketahui lebih dari 90 persen mikroplastik yang terkonsumsi manusia akan terbuang melalui feses. Mikroplastik yang tidak dapat terbuang dapat menembus saluran cerna dan masuk ke dalam sirkulasi darah atau limfatik. Mekanisme tersebut memungkinkan mikroplastik terakumulasi di sel dan organ tertentu dan memicu respons imun. Respons yang dapat dihasilkan tubuh berupa inflamasi, proliferasi sel, serta kematian sel. Hewan laut yang terkontaminasi ditemukan terdapat inflamasi dan stres oksidatif di berbagai organ. Partikel mikroplastik dan bahan aditif yang menyertainya dapat bersifat toksik. Jenis plastik tertentu dan beberapa bahan aditif yang digunakan diketahui bersifat toksik dan karsinogenik pada jumlah besar. Sifat partikel plastik yang tidak dapat terdegradasi diperkirakan dapat menimbulkan efek serupa dengan jumlah besar. Pengetahuan yang ada saat ini belum mampu menunjukkan bahaya mikroplastik pada manusia. Namun, mikroplastik sangat berpotensi menimbulkan masalah kesehatan. Beberapa negara bahkan sudah melarang penggunaan microbeads. Oleh karena itu, kewaspadaan terhadap penggunaan mikroplastik perlu ditingkatkan. wira

ADVERTORIAL

Kontrol Pengobatan Asma dengan

Smart Inhaler

Penggunaan inhaler dapat dikontrol dan dipantau dengan smart inhaler

A

MEI - JUNI 2019

sma merupakan salah satu penyakit alat ini dimulai dengan sensor pada smart inhaler kronik pada sistem pernapasan dimana yang mendeteksi dan merekam penderita asma terdapat peradangan dan penyempitan menggunakan inhaler. Setiap kali digunakan, saluran napas sehingga menimbulkan gejala sensor akan mencatat tanggal, waktu, tempat, sesak napas, mengi, dan batuk. dan dosis penggunaan inhaler. Data ini Kesulitan bernapas ini seringkali selanjutnya dikirim melalui bluetooth membuat penderita asma sangat yang dapat dipasang pada perangkat bergantung pada inhaler, suatu elektronik seperti handphone, alat bantu terapi pernapasan tablet, atau laptop. Penderita asma untuk mengatasi sesak napas kemudian akan menerima notifikasi pada asma. Inhaler ini berisi pengingat berupa suara dan gambar obat asma, seperti bronkodilator dari perangkat elektronik yang dan kortikosteroid, untuk dapat telah disambungkan dengan smart langsung disalurkan ke saluran inhaler sehingga penderita asma pernapasan sehingga dapat dapat mengetahui dosis obat asma bereaksi lebih cepat. Terapi yang telah dikonsumsi dan kapan pernapasan jangka panjang ia harus menggunakan inhaler lagi. pada asma sering membuat Data penggunaan smart inhaler ini penderitanya menjadi tidak dikumpulkan dan dapat dibagikan patuh dalam mengonsumsi obat dengan dokter pribadi si penderita fiona/MA melalui inhaler. Penderita asma asma untuk pemantauan penggunaan juga kerap kali menggunakan inhaler secara inhaler dan terapi pengobatan asma. berlebihan, terutama saat serangan asma akut. Kemampuan smart inhaler dalam mencatat Saat ini, telah dibuat sebuah teknologi yang penggunaan inhaler ini sangat menguntungkan dinamakan smart inhaler untuk mengontrol bagi penderita asma. Smart inhaler berguna penggunaan inhaler pada penderita asma. untuk mengingatkan penderita asma terkait Smart inhaler adalah inovasi terbaru dosis penggunaan inhaler sehingga terapi dari inhaler yang dapat mencatat frekuensi pengobatan asma lebih terkendali dan teratur. penggunaan inhaler dan memiliki kemampuan Data penggunaan inhaler yang dapat diakses pengiriman data melalui bluetooth. Cara kerja pada perangkat elektronik memudahkan

penderita asma untuk mengetahui frekuensi penggunaan inhaler. Tak hanya menguntungkan bagi penderita asma, smart inhaler juga dapat membuat dokter yang menangani penderita asma lebih mudah untuk memantau penggunaan inhaler pada pasiennya. Dokter yang menangani pasien asma dapat menggunakan data dari smart inhaler untuk mengambil keputusan tata laksana selanjutnya. Kesadaran pasien akan pemantauan oleh dokter akan meningkatkan kepatuhan dalam konsumsi obat asma. Dengan begitu, pengobatan asma akan menjadi lebih efektif dan terkontrol. Kekurangan dari smart inhaler ini adalah saat ini belum dapat diperjualbelikan secara luas. Penelitian tentang efektivitas penggunaan smart inhaler untuk penderita asma masih terus dilakukan. Namun, beberapa penelitian telah menunjukkan hasil yang positif terhadap penggunaan smart inhaler. Salah satu penelitian yang dilakukan oleh Chan dkk, menyatakan bahwa kepatuhan anak penderita asma usia sekolah meningkat dalam enam bulan dengan penggunaan smart inhaler. Selain itu, penelitian merchant dkk melihat pendapat pasien terhadap smart inhaler dimana 79% subjek penelitian menyatakan ‘sangat puas’ dan merasakan manfaat saat menggunakan smart inhaler serta 40% subjek penelitian menyatakan smart inhaler mudah digunakan dan dimengerti. lidia

Keberhasilan dan Keamanan Monoterapi Pioglitazone pada Diabetes Melitus Tipe 2

D

iabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit resistensi insulin. Salah satu obat penyakit ini adalah pioglitazone. Pioglitazone adalah satu-satunya obat antidiabetes saat ini yang memiliki efek meningkatkan sensitivitas insulin pada jaringan. Namun, risk-benefit ratio dari penggunaannya masih perlu dianalisis lebih lanjut. Sebuah meta-analisis terhadap 16 penelitian monoterapi obat antidiabetes di seluruh dunia dengan metode uji acak terkontrol dilakukan untuk mengetahui keberhasilan dan keamanan pioglitazone. Penelitian yang digunakan dipublikasi antara tahun 2002 dan 2017. Semua penelitian tersebut melibatkan 2.681 sampel kasus diabetes tanpa komplikasi yang dikelompokkan berdasarkan obat yang diterima dan durasi terapi di atas 12 minggu. Penilaian utama keberhasilan terapi dilihat dari perubahan HbA1c dan penilaian sekunder dilihat dari gula darah puasa (FBS), homeostasis model assessment-insulin resistance (HOMA-IR). Sementara itu, keamanan terapi dinilai dengan perubahan tekanan darah, LDL, HDL, kolesterol total, trigliserida, dan efek samping lain yang timbul. Hasil meta-analisis tersebut menunjukkan penggunaan pioglitazone menimbulkan penurunan tidak signifikan HbA1c sebesar 0,05% (CI: 95%, -0,21—0,11; p=0,56) dan penurunan FBS secara signifikan sebesar 0,24 mmol/l (CI: 95%, -0,48—0,01; p=0,04) dibanding obat lain. Pioglitazone dan obat lain memberikan efek hampir sama pada HOMA-IR (WMD: 0,05; CI: 95%, -0,49—0,59; p=0,86). Analisis subgrup menunjukkan pioglitazone menurunkan HbA1c 0,12% lebih rendah dari metformin dan hampir sama dengan sulfonylurea (SU) dan DPP-4 inhibitor. Pioglitazone juga menurunkan FBS secara signifikan dibanding DPP-4 inhibitor dan penurunan ini lebih baik dibanding metformin dan SU, tetapi tidak signifikan. Dalam hal keamanan, pioglitazone meningkatkan tekanan darah secara tidak signifikan dibandingkan obat pembanding, yakni 1,05 mmHg (CI: 95%, -4,29—2,19; p=0,52) dan menurunkan trigliserida 0,71 mmol/l (CI: 95%, -1,70—0,28; p=0,16), tetapi tidak mampu menurunkan LDL dan kolesterol total. Pioglitazone berisiko menimbulkan edema perifer secara signifikan, sehingga perlu dipertimbangkan pemberiannya untuk penyakit jantung. Obat ini tidak berpengaruh signifikan terhadap timbulnya hipoglikemia dan gangguan sistemik. Kasus kanker kantong kemih pada monoterapi pioglitazone juga tidak ditemukan. Berdasarkan meta-analisis tersebut, pioglitazone memiliki manfaat dan risiko yang berimbang. Pioglitazone baik untuk memulihkan kondisi hiperglikemia, hiperlipidemia, dan hipertensi. Pioglitazone juga dapat menjadi alternatif metformin untuk memperbaiki kadar HbA1c.Namun, penggunaan pioglitazone perlu dihindari pasien panyakit jantung. wira Referensi: Alam F, Islam A, Mohamed M, Ahmad I, Kamal MA, Donelly R, Idris I, Gan SH. Efficacy and safety of pioglitazone monotherapy in type 2 diabetes mellitus: a systematic review and meta-analysis of randomised controlled trials. Scientific Report. 2019 Mar 29; 9 (1):5398.


8

OPINI & HUMANIORA

MEI - JUNI 2019

MEDIA

AESCULAPIUS

SUARA MAHASISWA

Fenomena Voluntourism di Dunia Medis: Tepatkah? Pengabdian disertai keinginan berlibur menjadi pertanyaan. Etis atau tidak etis, siapa yang bisa menjawab?

A

khir-akhir ini, kegiatan voluntourism— gabungan kegiatan kerelawanan dan turisme—semakin marak dilaksanakan. Di Indonesia, kegiatan ini lebih dikenal sebagai ‘ekspedisi sosial’ ke suatu wilayah yang juga merupakan tempat-tempat wisata andalan Indonesia seperti Raja Ampat dan Lombok. Kegiatan ini dilaksanakan oleh berbagai kalangan, mulai dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang membiayai penuh seluruh kegiatan hingga perusahaan yang mematok harga tertentu. Prinsip kegiatan voluntourism memang menarik. Di satu sisi, berlibur memang merupakan kegiatan yang dicari banyak orang. Hal ini terlihat dari nilai industri turisme yang berkontribusi terhadap 30% perekonomian dunia. Di sisi lain, kesempatan untuk berkontribusi pada masyarakat dapat meningkatkan kepercayaan diri seseorang. Penggabungan kedua kegiatan ini tentunya dapat meningkatkan perasaan positif relawannya. Tak heran pada tahun 2017, industri ini telah bernilai lebih dari US$173 triliun. Kegiatan voluntourism sendiri memiliki beragam spesialisasi. Di antara berbagai spesialisasi tersebut, bidang kesehatan merupakan salah satu bidang yang paling dibutuhkan. Pro-Kontra Voluntourism Voluntourism, khususnya di dunia medis, telah banyak memicu pro dan kontra. Relawan kesehatan dibutuhkan dalam jumlah besar sehingga apapun motivasi mereka, bertambahnya jumlah relawan menjadi

sangat berarti. Selain itu, kegiatan ini dapat meningkatkan kemampuan tindakan medis para relawan – khususnya bagi yang masih berada pada tahap pendidikan. Tidak jarang pula, relawan mengikuti kegiatan voluntourism untuk membangun resume mereka. Beberapa studi juga mengklaim bahwa kegiatan ekspedisi sosial ini memiliki manfaat bagi komunitas yang

arfian/MA

ditujunya, seperti peningkatan perekonomian lokal. Namun, kegiatan voluntourism ini tidak luput dari berbagai masalah, khususnya secara etis. Misalnya, beberapa relawan diketahui mendapat tugas yang berada di luar kompetensi mereka. Hal ini utamanya terjadi bila kegiatan tersebut dijalani oleh relawan yang masih berstatus mahasiswa. Selain itu, pada kegiatan voluntourism yang dilakukan dalam waktu sebentar, fenomena prinsip pemberdayaan berkelanjutan tidak dapat dilakukan.

Sebaliknya, komunitas lokal dapat mengalami ketergantungan terhadap “kebaikan” relawan. Membangun Etika dalam Kegiatan Voluntourism Pemaparan di atas seakan-akan menunjukkan bahwa sebagian besar keuntungan dari voluntourism didapatkan oleh relawan, sedangkan komunitas yang dibantunya lebih banyak mendapatkan kerugian. Meskipun begitu, pelaksanaan kegiatan tersebut tampaknya tidak dapat dihentikan. Hal ini terkait dengan nilai industrinya yang begitu besar. Selain itu, manfaat kegiatan tersebut juga tidak dapat diabaikan. Melalui modifikasi kegiatan voluntourism menjadi lebih etis dan mengakomodir kebutuhan komunitas, kegiatan tersebut dapat menjadi hal yang positif. Penyelesaian masalah melalui upaya modifikasi kegiatan ini sebenarnya telah dilakukan pemangku kebijakan, tepatnya melalui perumusan aturan baku pelaksanaan voluntourism. Salah satunya dapat kita lihat dari Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) yang menerbitkan petunjuk best practice kegiatan tersebut pada 2018 lalu. Petunjuk tersebut menegaskan pentingnya keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan komunitas tujuan dan kebutuhan relawan, perencanaan yang baik, serta penugasan relawan sesuai kemampuannya. Peraturan terkait voluntourism bidang medis sendiri pernah dikeluarkan oleh Association of American Medical Colleges yang menekankan bahwa mahasiswa hanya dapat melakukan tindakan di

Adriana Viola Miranda Mahasiswa Berprestasi III Tahun 2019 Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia bawah pengawasan profesional. Aturan semacam ini belum banyak dirumuskan di dunia sehingga dapat dikembangkan untuk ke depannya. Sebagai penutup, kegiatan voluntourism yang ditata dengan baik sebenarnya dapat memiliki dampak yang besar bagi masyarakat. Manfaat itu tidak hanya dari sisi ekonomi saja, tetapi juga dari ketersediaan tenaga medis. Penataan kegiatan voluntourism ini haruslah didasarkan pada fakta di lapangan, serta dilaksanakan secara menyeluruh di berbagai negara dengan voluntourism yang sedang berkembang, termasuk di Indonesia. lila

KO L U M

Aku Tidak Puas

A

Manusia selalu cenderung ingin lebih. Tak heran keberhasilan orang lain berujung rasa iri hati yang tak kunjung henti.

ku menatap daftar nilai yang ada di hadapanku. Peringkat 6, begitu tertulis di kotak kanan bawah kertas tersebut. Kulihat ibu tersenyum bangga, kemudian mengusap kepalaku lembut. “Wah, anak ibu tiap tahun selalu masuk 10 besar. Dulu waktu ibu sekolah, ibu hampir pernah tak naik kelas.” ujarnya sambil tertawa kecil. Bukannya senang dengan perkataan ibu, hatiku justru dipenuhi rasa sedih yang luar biasa. Aku tidak puas. “Ana!” Sebuah suara dari belakang memanggilku. Lyn, teman baikku, melambaikan tangan dan berjalan ke arahku.. “Bagaimana nilai rapormu?” tanyanya padaku. “Cukup baik,” aku menjawab, seraya memaksakan seulas senyum pada bibirku. “Lumayan, peringkat enam. Kau bagaimana?” Dalam hati, aku tak ingin mendengar jawabannya. “Wah selamat ya! Aku juga senang dapat peringkat 2. Yah, semoga Mama bisa bangga kali ini.” ujar Lyn sambil tersenyum. Aku memaksakan diri untuk ikut tertawa meskipun mataku merontak ingin menangis. Bagaimana tidak? Selama ini, aku selalu berjuang mati-matian untuk setidaknya masuk lima besar tetapi bahkan sampai akhir masa SMA ini pun tak pernah tercapai. Aku sudah belajar mati-matian, tapi apa boleh buat, Lyn memang selalu lebih cerdas. Sementara aku? Hanya seorang murid bodoh. Aku iri atas pencapaiannya. Aku tidak puas dengan diriku.

Tiga bulan berlalu. Hari pengumuman kelulusan kampus akhirnya tiba. Aku membuka hasilku di komputer dengan perasaan campur aduk. LULUS, kata itu terpampang di layarku. Namun, aku tidak berhasil lolos di kampus pilihan pertama dan keduaku. Aku dinyatakan lulus di pilihan ketiga dengan jurusan yang sama, teknik sipil. Ayah dan ibu senang luar biasa. Rasa bangga itu terlihat begitu nyata ketika mereka langsung mengabari seluruh keluargaku kalau aku lulus PTN. Tapi apakah aku senang? Tidak, aku tidak puas. Aku menatap A /M lia layar handphonee r au ku dengan ragu. Aku menghubungi nomor sahabatku dengan segala keraguan. “Hai Lyn, bagaimana hasilmu?” tanyaku. “Puji Tuhan, aku berhasil masuk di fakultas kedokteran pilihanku,” jawabnya di ujung sana. “Kau juga selamat ya! Aku baru saja akan meneleponmu, aku dengar kau berhasil masuk teknik sipil yang selama ini kau idam-idamkan itu. Kau memang hebat!” katanya sambil tertawa

bahagia. Hatiku terasa seperti tertusuk. Mengapa ia selalu berhasil dalam segala hal yang ia lakukan? Lagi-lagi, aku merasa iri terhadapnya. Aku tidak tahu sampai kapan rasa tidak puas ini selalu menghantuiku. Tahun berganti tahun. Aku sudah bekerja, menikah, dan baru saja melahirkan seorang anak perempuan. Meski sudah jarang bertemu Lyn, kami masih sering saling menelepon dan menanyakan kabar. Biar bagaimanapun, Lyn adalah sahabat terbaikku. Terakhir kudengar, Lyn baru saja mendapat izin praktik dan kini bekerja di sebuah rumah sakit ternama. Lyn memang selalu membanggakan. Sore itu, kedatangannya ke rumah sakit untuk menjengukku pascamelahirkan cukup mengejutkan. Kami berbincang lama. Sudah lama sekali rasanya tidak berbagi kisah dengannya. “Ana, kau ingin tahu sesuatu?” ujar Lyn di tengah perbincangan kami. Aku menatap dia dan menunggunya melanjutkan. “Selama ini, sebenarnya aku iri padamu,” katanya sambil setengah tertawa malu. “Kau tak perlu hidup di bawah tekanan ekspektasi orang tua yang begitu tinggi, ayah ibumu sangat pengertian, kau bisa memilih jurusan sesuai maumu tanpa dipaksa,

Jessica Audrey Mahasiswi Faku=ltas Kedokteran Universitas Indonesia Tingkat II dan hidup damai berkeluarga.” Pengakuannya membuat aku tertegun. Siapa sangka, seorang Lyn yang selama ini aku anggap sempurna, bisa iri terhadap orang sepertiku? Satu hal yang kusadari, keinginan manusia seakan tak pernah berkata cukup. Seseorang pernah berkata kepadaku, “Rumput tetangga akan selalu terlihat lebih hijau.” Sulit untuk mensyukuri apa yang ada pada kita; kita cenderung iri melihat keberhasilan orang lain dan mengingininya. Ambisi memang tidak akan pernah memuaskan. Hidup hanya akan menjadi indah ketika kita belajar untuk mensyukuri setiap kisah di dalamnya. jessica


MEDIA

AESCULAPIUS

OPINI & HUMANIORA

MEI - JUNI 2019

9

SUKA DUKA

Dr. Fitri Ambar Sari, SpF, MPH. : Dokter Sekaligus Penegak Hukum Ketika dokter harus berurusan dengan pengadilan

D

r. Fitri Ambar Sari, SpF, MPH. adalah seorang dokter spesialis forensik dan medikolegal lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Saat ini, Fitri mengabdikan dirinya menjadi staf pengajar di Departemen Forensik dan Medikolegal FKUI. Selain itu, beliau juga menjadi penanggung jawab di RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo. Dokter yang lahir di Bandung pada tanggal 30 Oktober 1980 ini juga aktif menjadi anggota Komite Etik dan Hukum di RSUPN Cipto Mangunkusumo. Ketertarikan Fitri terhadap hal-hal yang berbau hukum dan forensik semakin besar sejak menjadi mahasiswa klinik. Merasa telah menemukan “panggilan jiwanya”, Fitri segera melanjutkan studinya di bidang spesialisasi Forensik dan Medikolegal setelah mendapatkan gelar dokter. Tepatnya pada tahun 2005, Fitri diterima menjadi salah satu residen spesialis Forensik dan Medikolegal di FKUI. Setelah empat tahun menimba ilmu, Fitri berhasil mendapatkan gelar spesialis forensik . Selama hampir 10 tahun berkarir sebagai dokter spesialis Forensik dan Medikolegal, perspektif Fitri terhadap dunia forensik sedikit demi sedikit berubah. Fitri melihat bahwa dunia forensik ternyata tidak hanya sematamata mengurusi autopsi jenazah. Dokter forensik memiliki peran yang sangat krusial di dalam penegakan hukum apalagi saat ini kasus penganiayaan dan kasus hukum lainnya sangat marak terjadi.

RESENSI

P

Bagi Fitri, dokter forensik memiliki tantangan dan tanggung jawab tersendiri karena dokter forensik tidak hanya fokus bergerak di dunia medis saja, tetapi juga harus bergerak di bidang hukum. Dalam memberikan visum maupun keterangan terkait kondisi klinis pasien, Fitri harus memastikan segala hal yang dilakukannya dapat dipertanggungjawabkan di muka hukum. Secara tidak langsung, keterangan yang beliau berikan bisa memengaruhi vonis yang dijatuhkan oleh hakim. Oleh sebab itu, sisi profesionalitas dan integritas beliau sebagai dokter benar-benar diuji. Kasus demi kasus telah Fitri hadapi. Tidak jarang, Fitri harus bersabar menangani permintaan pihak penyidik yang selalu harus dipenuhi dengan cepat. Meskipun terdapat banyak tekanan, Fitri berusaha tetap mengikuti semua rangkaian pemeriksaan sesuai dengan prosedur. Menurut beliau, kunci dalam mengatasi masalah tersebut adalah komunikasi. Seorang dokter harus bisa mengomunikasikan prosedur yang dilakukan kepada pihak penyidik yang secara notabene tidak mendalami ilmu kedokteran. Jika terjalin komunikasi yang baik, setiap pihak dapat memahami perannya masingmasing. Fitri juga kerap kali menemui berbagai hambatan di lapangan. Memang jika dibandingkan dengan negara maju, perkembangan ilmu forensik di Indonesia belum seperti negara-negara tersebut. Terbatasnya metode yang tersedia membuat

proses pemeriksaan maupun autopsi tidak berjalan dengan optimal. Kurangnya sumber daya manusia di bidang forensik juga menjadi kendala yang masih terjadi di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa belum banyak dokter yang terpanggil untuk menjadi seorang dokter forensik padahal permintaan kasus di Indonesia seakan tidak ada habisnya. Fitri juga tidak pernah menganggap posisinya sebagai dokter forensik berada diatas profesi-profesi penegak hukum lain. Beliau selalu menghormati profesi lain tanpa berusaha membanding-bandingkan profesi mana yang lebih superior. Penegakkan hukum merupakan suatu hal yang membutuhkan kolaborasi dari berbagai profesi. Beliau percaya bahwa rasa hormat dari orang lain akan timbul dengan sendirinya ketika kita juga sudah menghormati orang lain. Kisah Fitri menyajikan perspektif baru tentang kedokteran forensik di ranah hukum. Segala tantangan yang dihadapi membuat profesionalitas dan integritas sebagai seorang dokter bernar-benar harus dijunjung tinggi. Hal penting yang perlu digarisbawahi adalah profesi dokter sangat berkaitan dengan orang lain sehingga nilai-nilai menghormati orang lain harus selalu diamalkan setiap saat. leo

Narasumber Dr. Fitri Ambar Sari, SpF, MPH. Staf Pengajar pada Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran UIRSUPN Dr Cipto Mangunkusumo

Dokter di Jalan Kemanusiaan: Impian Gila Seorang Dokter Gila Diawali dengan hujatan, dilanjutkan dengan tawaan, ditutup dengan kekaguman

ada tahun 1960, ketika sedang duduk di bangku sekolah di kota Padang, Lie Tek Bie menyampaikan cita-citanya untuk menjadi seorang dokter di depan kelas. Namun, impiannya hanya mendapatkan cibiran dan tawaan oleh seisi kelas. Lie yang hidup di dalam kemiskinan saat itu dianggap mustahil dapat masuk ke jurusan kedokteran. Buku “Dokter di Jalan Kemanusiaan” merupakan buku biografi yang mengisahkan mengenai kehidupan Lie Tek Bie, nama kecil bagi Lie Dharmawan, yang dapat bersekolah kedokteran di Jerman hingga akhirnya dapat mendirikan rumah sakit apung (RSA) pertama di Indonesia. Bagian awal dari buku ini memberikan kisah yang menyentuh hati mengenai masa kecil Lie Dharmawan. Berasal dari keluarga yang serba kekurangan, Lie harus menjalani hidupnya dengan sederhana. Ayah Lie sudah meninggal dunia pada saat ia berumur sepuluh tahun. Demi membiayai pendidikan Lie dan keenam saudaranya, ibu Lie terpaksa bekerja serabutan. Di masa kecilnya, Lie terpaksa melihat adiknya meninggal akibat diare akut. Mulai dari detik itu, Lie bertekad untuk menjadi seorang dokter. Namun, cobaan demi cobaan seakan tak pernah habis menguji Lie untuk memenuhi tekadnya.Bagian selanjutnya dari buku ini mengisahkan mengenai perjuangan panjang Lie untuk menjadi dokter. Pada awalnya, Lie diterima oleh salah satu fakultas kedokteran

di Jakarta. Namun, kampusnya hancur dibakar massa sehingga ia pun harus bekerja serabutan dan menabung agar dapat kembali berkuliah. Lie pun nekat mendaftarkan dirinya ke sekolah kedokteran di Jerman meskipun tanpa dukungan beasiswa. Kini, Lie sudah menjadi dokter dengan empat spesialisasi. Terdapat kisah yang cukup menarik mengenai pekerjaan yang dilakukan Lie untuk memenuhi biaya kuliah dan kehidupannya seperti menjadi kuli serta bekerja membersihkan kotoran lansia di panti jompo.Bagian akhir dari buku ini menceritakan mengenai Lie yang pulang mengabdikan dirinya kembali di Indonesia karena rasa nasionalismenya. Tergerak oleh rasa kemanusiaan yang tinggi, Lie pun bermimpi untuk mendirikan rumah sakit apung dalam rangka “menjemput bola” masyarakat Indonesia dengan akses kesehatan yang terbatas. Dalam mewujudkan mimpinya, tak jarang Lie ditertawai oleh kolega-koleganya hingga dijuluki “dokter gila”. Pada akhirnya, Lie berhasil membangun rumah sakit apung pertama di Indonesia serta mengadakan program dokter terbang yang dapat menjangkau daerah terpencil. Berbagai kisah dalam kehidupan Lie Dharmawan disajikan dengan sangat apik di buku ini. Banyak pesan berharga dan kata-kata mutiara mengenai perjuangan dan nilai-nilai kemanusiaan terselip di baris-baris buku ini. Meskipun kadang terdapat berbagai istilah kedokteran yang mungkin sulit dimengerti oleh

masyarakat awam, kisah hidup dan perjuangan Lie tetap dapat dijadikan pelajaran dan inspirasi bagi siapa saja. jonathan

JASA PEMBUATAN SYMPOSIUM HIGHLIGHT Media Aesculapius menyediakan jasa pembuatan Symposium Highlight. Symposium highlight adalah peliputan sebuah seminar atau simposium, yang kemudian hasilnya akan dicetak dalam sebuah buletin, untuk dibagikan pada peserta seminar. Simposium yang telah kami kerjakan antara lain PIT POGI 2010, ASMIHA 2011, ASMIHA 2016,

dokumen penerbit

ASMIHA 2017, JiFESS 2016, JiFESS 2017, dan lain-lain.

Judul : Dokter di Jalan Kemanusiaan: Biografi Dr. Lie Dharmawan Genre

: Biografi

Penulis Triharyanto

: Silvie Tanaga, Basilius

Penerbit Gramedia

: Kepustakaan Populer

Jumlah halaman : xvii + 228 halaman

Hubungi Hotline MA: 0896-70-2255-62 (SMS/Whatsapp)


10

LIPUTAN

MEI - JUNI 2019

MEDIA

AESCULAPIUS

R UBRIK DAERAH

Menemukan Keluarga Baru di Tengah Masyarakat Ketika dokter dari kota besar mengunjungi pasien di daerah terpencil. Apa yang mereka rasakan?

Narasumber dr. Ika Aulia Kirana 0812434234234 Rumah Sakit Muhammadiyah, Lamongan, Jawa Timur

S

eorang dokter tidak bisa hanya diam di ruang praktik kemudian menunggu pasien datang. Tidak hanya politisi, seorang dokter sudah selayaknya terjun ke masyarakat untuk menjangkau berbagai daerah. Hal ini yang dirasakan oleh dr. Ika Aulia Kirana. Wanita kelahiran Purworejo, 3 April 1994 ini melakukan internship di Rumah

Sakit Muhammadiyah Lamongan dan Pusat Kesehatan Masyarakat (PKM) Kembangbahu Lamongan. Beliau sengaja memilih wahana internship bukan di kota besar karena ingin lebih berbaur dengan masyarakat daerah. Sebagaimana pandangan orang, dokter adalah profesi yang dihormati. Dokter sangat dihargai terutama ketika mereka datang ke daerah terpencil. Permasalahan yang masih cukup pelik di Indonesia adalah akses pelayanan kesehatan untuk daerah terpencil. Beberapa pasien memiliki perjuangan lebih dalam memperoleh layanan kesehatan yang seharusnya menjadi hak bagi dirinya. Oleh karena itu, pihak Rumah Sakit Muhammadiyah Lamongan mengadakan kegiatan home visit. Kegiatan ini membawa Ika bertemu dengan banyak orang dan menemukan “keluarga” di berbagai desa. Kegiatan home visit melibatkan para dokter internship yang diberi kesempatan untuk melakukan follow up pasien dan mengumpulkan evaluasi dari pasien terhadap pelayanan rumah sakit. Di sela kegiatan tersebut, Ika juga menyelipkan edukasi tentang kesehatan meliputi pola hidup sehat,

ASI eksklusif, dan pengobatan rutin untuk pasien diabetes mellitus serta hipertensi. Ika bersama dokter internship lain mengunjungi beberapa pasien yang tinggal di desa terpencil dengan jarak cukup jauh dari rumah sakit. Ada rasa bahagia yang membekas di hati beliau saat bertemu dengan pasien yang melempar senyum

dokumen narasumber

padanya. Ketika pasien dikunjungi, mereka juga akan merasa lebih diperhatikan dan dihargai. Hubungan antara dokter dan pasien ini akan membuat strategi pengobatan maksimal. Hal ini mengingatkan beliau bahwa perjuangan pasien untuk memperoleh layanan kesehatan tidak mudah.

Sebuah potret yang menarik adalah ketika mengunjungi rumah pasien, Ika dijamu dengan berbagai macam makanan dari hasil bumi sampai barang dagangan di warung milik pasien. Beliau diperlakukan seperti keluarga sendiri. Ketika itu, beliau merasa menjadi bagian dari warga desa. Daerah mereka jarang dikunjungi oleh dokter sehingga ketika ada dokter yang datang mereka akan lebih menghargai dan menghormatinya. Walaupun terkadang ada perbedaan bahasa yang menghambat, itu tidak menjadi masalah karena mereka juga berkomunikasi dengan hati. Kedatangan dokter di daerah terpencil selalu menjadi hal yang ditunggu-tunggu. Tak jarang ketika dokter datang, setiap pasien memanggil saudara dan tetangga mereka untuk ikut diperiksa. Hal ini menunjukkan bahwa mereka sebenarnya sadar akan kesehatan diri namun akses yang tidak memadai menjadi hambatan. Ketika menjadi dokter internship seperti ini, Ika merasa mulai menjadi dokter yang sesungguhnya. Beliau diberi tanggung jawab untuk menatalaksana pasien dari awal sampai akhir sehingga terbiasa untuk praktik mandiri di kemudian hari. Bagi Ika, internship adalah ajang pembelajaran untuk membangun hubungan interpersonal dengan masyarakat, tidak hanya di kota besar namun juga di daerah. Pengabdian tidak mengenal daerah, sementara keluarga tidak pula mengenal suku dan bangsa. lila

SEPUTAR KITA

WEBINAR: Kenal Gagal Ginjal Secara Daring Mengenal lebih jauh tentang gagal ginjal

P

ada bulan April, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) menyelenggarakan seminar lewat web yang disebut WEBINAR. Seminar dengan memanfaatkan teknologi interface ini memungkinkan para peserta seminar untuk mengikuti seminar secara lebih fleksibel tanpa terbatas tempat. Peserta dapat dengan mudah mengakses tautan yang dikirimkan lewat e-mail dan akan segera tersambung ke laman internet yang menampilkan seminar secara

Dokumen penyelenggara

langsung dari gedung IASTH, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Seminar ini diselenggarakan dua hari, yakni Senin, 6 Mei 2019 dan Selasa, 7 Mei 2019 yang dimulai pada pukul 12.00 hingga 13.00. Seminar ini bertemakan penyakit ginjal yang lebih difokuskan pada gagal ginjal. Seminar ini dibuat sebagai bentuk edukasi pada rekan-rekan dokter tentang gagal ginjal disertai dengan informasiinformasi terbaru tentang gagal ginjal. Pada seminar hari pertama yang

berlangsung pada tanggal 6 Mei 2019, terdapat beberapa yang dibahas terkait dengan diagnosis klinis serta penilaian patologi klinis terhadap hematuria dan proteinuria. Narasumber yang mengisi seminar pada hari pertama adalah Prof. Dr. dr. Parlindungan Siregar, SpPDKGH dan Dr. dr. Diana Aulia, SpPK(K). “Pendekatan hematuria dan proteinuria merupakan hal penting yang harus dilakukan dalam diagnosis gagal ginjal”, ujar Diana Aulia. Di seminar hari pertama, banyak dibahas mengenai hal-hal yang berhubungan dengan pentingnya analisis hematuria dan proteinuria sebagai komponen dalam penegakan diagnosis gagal ginjal. Selain itu, Parlindungan Siregar juga menekankan pentingnya pendekatan proteinuria dan hematuria pada orang dewasa. “Pada diagnosis gagagl ginjal pada orang dewasa, peran pendekatan proteinuria dan hematuria memegang peran penting”, ujar Parlindungan Siregar. Selain itu, beliau juga membahas mengenai perbedaan antara hematuria yang terjadi karena berasal dari glomerulus dengan yang terjadi di luar glomerulus. “Hal ini (asal hematuria) penting untuk diperhatikan”, tekan Parlindungan Siregar. Pada seminar hari kedua yang berlangsung pada tanggal 7 Mei 2019, terdapat beberapa yang dibahas terkait dengan anemia pada gagal ginjal serta pembahasan mengenai RetHE (Reticulocyte Hemoglobin Equivalent). Narasumber yang mengisi seminar pada hari pertama adalah Dr. dr. Aida Lydia, SpPDKGH, PhD dan dr. Ninik Sukartini, SpPK(K).

Anemia sendiri memiliki peran yang penting dalam diagnosis gagal ginjal. Ginjal yang sehat akan menghasilkan hormon eritropoietin (EPO) yang merupakan hormon penginduksi produksi eritrosit. Dengan keadaan ginjal yang rusak (gagal ginjal), kandungan EPO dalam darah akan menurun dan akan menunjukkan gambaran anemia pada kondisi klinis pasien. Dalam hal terkait anemia inilah peran Ret-HE menjadi penting. Ret-HE merupakan kadar zat besi di dalam retikulosit yang baru diproduksi dari sumsum tulang. Penggunaan Ret-HE ini merupakan parameter baru yang mampu menunjang anemia pada gagal ginjal dngan cara yang cepat, mudah, dan murah Hal yang menarik dari seminar ini adalah adanya kesadaran untuk menekankan pentingnya penyakit gagal ginjal di Indonesia. Edukasi ini ditawarkan dan dikemas dengan cara yang sangat menarik, yakni melalui media elektronik dengan memanfaatkan teknologi. Hal ini tentu membuat penyampaian informasi dapat menjangkau lebih banyak peserta karena tidak terbatas tempat. Hal ini membuat seminar ini memiliki sifat yang fleksibel sekaligus informatif. Sebagai rangkuman, seminar ini merupakan seminar yang membahas mengenai gagal ginjal dan komponen-komponen diagnosisnya. Seminar ini membuka wawasan rekan-rekan dokter untuk lebih memahami gagal ginjal itu sendiri. Diharapkan dengan adanya seminar ini, dokter-dokter lebih awas mengenai diagnosis penyakit ginjal, khususnya gagal ginjal. elvan


MEDIA

LIPUTAN

AESCULAPIUS

MEI - JUNI 2019

11

SEPUTAR KITA

Berpuasa Saat Hamil, Amankah? Ketika kebutuhan gizi yang meningkat selama kehamilan bertabrakan dengan puasa, bagaimana dampaknya?

S

ejalan dengan dimulainya bulan Ramadhan pada awal Mei 2019, seminar Fasting in Medicine: Meet the Expert mengangkat tema besar berpuasa dilihat dari berbagai sudut pandang kedokteran. Seminar ini diadakan pada 7 Mei 2019 di Auditorium Lantai 4, Gedung Administrasi Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) dan diselenggarakan oleh RSUI sendiri. Salah satu sesi seminarnya, How Fasting Affects Physiology and Hormones in Pregnancy, dibawakan oleh Dr. dr. Rima Irwanda, Sp.OG(K), membahas seputar dampak puasa bagi ibu hamil dan janin yang dikandungnya. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa janin sangat membutuhkan nutrisi yang berasal dari ibunya. Hal umum juga yang menjadi pertanyaan, dapatkah seorang ibu yang hamil berpuasa tanpa memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin? “Kalau misalnya kita lihat, puasa itu pasti ada perubahan, bukan hanya pola makan, tapi gaya hidup dan pola hidup juga berubah,” ujar Rima. Terdapat beberapa penelitian yang membuktikan bahwa puasa memiliki dampak baik terhadap kesehatan, seperti mengurangi stres oksidatif, mengurangi inflamasi, dan memperbaiki sensitivitas insulin. Namun, penelitian-penelitian tersebut masih dilakukan pada populasi umum, sementara pada populasi ibu hamil belum banyak dilakukan. Beberapa hormon dalam kehamilan telah diteliti bahwa kadarnya dapat dipengaruhi

oleh puasa. Salah satu hormon yang paling dipengaruhi akibat puasa ialah leptin. Selama puasa, terjadi penurunan kadar leptin, tetapi tidak diikuti dengan kenaikan berat badan maupun indeks massa tubuh. Penyebabnya belum diketahui secara pasti, namun diduga hal ini terjadi karena rendahnya leptin diikuti oleh rendahnya insulin pada saat kehamilan. Asupan cairan berkurang ketika seseorang berpuasa. Secara nalar, cairan ketuban seharusnya akan berkurang akibat cairan tubuh ibu yang berkurang. Namun, penelitian menunjukkan bahwa jumlah cairan ketuban pada ibu hamil yang berpuasa dengan yang tidak ternyata tidak berbeda signifikan. “Hatihati karena minumnya kurang, risiko untuk terjadi bakteriuria asimtomatik sehingga risiko terkena ISK lebih besar,” tambah Rima. Untuk itu, ibu hamil yang berpuasa perlu diedukasi untuk tetap minum yang cukup dan melakukan pemeriksaan urin lengkap. Selain itu, ternyata terdapat perbedaan pada profil lipid pada ibu yang berpuasa. Kadar HDL-nya lebih tinggi, sementara kadar LDL, trigliserida, dan VLDL lebih rendah dibandingkan ibu hamil yang tidak berpuasa. “Jadi, sebenarnya puasa itu dapat menyeimbangkan profil lipid pada wanita hamil,” jelas Rima. Lemak viseral pada ibu yang berpuasa juga cenderung lebih rendah. Hal ini mengurangi risiko ibu untuk terkena diabetes. Terhadap bayi dalam kandungan, berpuasa

vina/MA

tidak memengaruhi berat badan lahir maupun risiko berat lahir rendah. Meskipun berat janin tidak terpengaruh, suatu penelitian ternyata menunjukkan berat plasenta lebih kecil pada ibu yang berpuasa. “Karena berat janin tetap normal, mereka mengatakan bahwa efisiensi plasenta yang meningkat,” terang Rima. Tetapi, Rima juga mengatakan, pengaruh berat plasenta yang rendah terhadap bayi di masa yang akan datang

masih belum diketahui. Secara umum, berpuasa aman untuk dijalani oleh ibu hamil. Selain memiliki beberapa keuntungan, kerugian yang dialami ketika berpuasa juga tidak begitu signifikan, asalkan dalam batas yang wajar. “Sebelum puasa, ibu hamil harus datang ke bidan atau dokter untuk meyakinkan bahwa dirinya sehat,” tutup Rima. billy

R UBRIK DAERAH

Lembata: Tantangan Baru di Dunia Internship Ketika fasilitas kesehatan tak seindah yang dibayangkan, apakah yang akan kau lakukan?

Mochamad Iskandarsyah Agung Ramadhan, MD (Dhany) Internship Doctor at Lewoleba Hospital / Lewoleba Health Center, Lembata, NTT Manager of Professions and Career Development Division ILUNI FMUI of 2019 (2017-2022) Faculty of Medicine (Batch of 2012), Universitas Indonesia Telepon : 081316601093 (SMS/WA) LINE : iskandarology

“D

imana Lembata?” Itulah respons banyak orang ketika mengetahui bahwa saya menjalani internship di daerah tersebut. Kabupaten yang beribu kota di Lewoleba ini adalah pulau kecil hasil pemekaran dari Kabupaten Flores Timur dan kini termasuk ke dalam wilayah terpencil, terluar, dan tertinggal (3T). Listrik padam dan hilang sinyal

sudah menjadi hal lumrah di sini. Saat ini, saya berada pada akhir rotasi di RSUD Lewoleba yang merupakan rumah sakit tipe C. Meski menjadi pusat rujukan tingkat kabupaten, fasilitas yang ada di RSUD Lewoleba jauh di bawah standar. Di sini, hanya ada spesialis di bidang mayor ditambah spesialis anestesi dan residen patologi klinik. Obat-obatan dan pemeriksaan penunjang terbatas dan sering tidak tersedia. Kami sering merujuk pasien ke Maumere, Kupang, atau Makassar. Pasien yang dirujuk harus menempuh perjalanan dengan kapal, yang bahkan tidak rutin ada, selama 2-24 jam atau pesawat selama 40 menit, namun tentunya dengan harga tiket yang mahal. Keterbatasan ini menyebabkan banyak kasus yang tidak tertangani baik, contohnya stroke. Bukan tidak pernah saya menyaksikan pasien stroke yang mengalami kematian di Lembata, seperti pengalaman saya berikut ini. Saya sedang jaga di UGD rumah sakit ketika seorang ibu berusia 40-an tahun datang sambil dibopong kerabatnya, tidak sadarkan diri. Ia diketahui sedang mengikuti arisan ketika tibatiba merasa nyeri kepala hebat dan lemah di sisi kiri. Di tengah perjalanan menuju RS, pasien sempat kejang dan muntah. Tekanan darah pasien saat tiba adalah 240/140 mmHg. Dilihat dari profil klinisnya, pasien ini terkena stroke hemoragik. Ketika saya periksa, pasien sudah mengalami herniasi unkal. Kemungkinan besar, perdarahan yang dialami pasien bersifat masif. Dengan klinis seperti ini, pasien seharusnya diperiksa CT-scan dan dilakukan kraniotomi dekompresi, namun sayang sekali keduanya tidak dapat dilakukan di sini. Merujuk pasien ke Kupang atau Makassar saat itu mustahil karena

pasien non-transportable dan harus dirujuk via kapal. Sayangnya, kapal ke Kupang baru ada 3 hari lagi. Akhirnya, terapi yang diberikan terbatas pada penurunan tekanan darah dengan nikardipin, penanganan peningkatan tekanan intrakranial dengan manitol, pemberian sitikolin, serta transfer pasien ke ruang ICU. Prognosis pasien saat itu sudah jelas buruk. Oleh karena itu, saya mengedukasi suami pasien namun gita/MA tetap mengusahakan tata laksana yang optimal bagi pasien. Setelah 3 hari perawatan di ICU, pasien akhirnya meninggal. Hal yang membuat saya sedih adalah ia masih relatif muda dan memiliki anak yang usianya masih kecil.

Isu Kesehatan...

Berangkat dari minimnya optimalisasi penanganan stroke, ditambah dengan ketiadaan spesialis saraf, saya berinisiatif membuat alur tata laksana stroke yang disesuaikan dengan fasilitas yang ada. Internship merupakan masa transisi dari pendidikan kedokteran ke dunia kerja. Memilih bekerja di tempat yang minim fasilitas seperti ini memberikan tantangan tersendiri bagi saya untuk melatih penalaran klinis. Pada akhirnya, saya berpesan untuk menjadikan internship sebagai wadah untuk mengembangkan minat sejawat sebagai dokter. Semoga pengalaman yang saya bagikan bermanfaat bagi pembaca sekalian. jessica

sambungan dari halaman 1

meliputi peraturan pelaksanaan UU No. 18 tahun 2014 yang masih belum ditetapkan hingga sekarang, hotline pencegahan percobaan bunuh diri yang ditutup karena kurangnya jumlah penelepon akibat sosialisasi ke masyarakat yang minim, serta arah kebijakan pemerintah yang masih belum tepat. “Arah kebijakan kesehatan mental di Indonesia masih berkutat di area kuratif, belum memberikan porsi yang sama pada tahap preventif, promotif maupun rehabilitatif,” tegas Ilham Akhsanu Ridlo, S.KM., M.Kes, Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga. Pada akhirnya, kesehatan mental masih merupakan masalah serius yang harus diselesaikan. Sudah jelas bahwa pemerintah akan kewalahan dan tidak mampu menangani masalah ini sendirian tanpa peran serta masyarakat. Untuk itu, seluruh pihak yang terlibat harus bersinergi untuk memikirkan jalan keluar terbaik yang harus diambil. Perbaikan pola pikir masyarakat dan penyediaan fasilitas pendukung memadai menjadi perhatian utama yang harus diprioritaskan. mariska, safety ,

catra


12

LIPUTAN

MEI - JUNI 2019

MEDIA

AESCULAPIUS

SEREMONIA

World Lupus Day 2019:

Kenali Gizi Seimbang Melalui EOTY 2019

dokumen penyelenggara

P

ada hari Rabu, 1 Mei 2019, diadakan kegiatan Event of The Year (EOTY) 2019. Pada tahun ini, EOTY dilaksanakan di Kampung Lio, Depok. Acara dengan tema “Gizi Seimbang” ini diselenggarakan oleh Asian Medical Students’ Association Universitas Indonesia

(AMSA-UI). Rangkaian kegiatan yang dilaksanakan berupa penyuluhan mengenai gizi seimbang, pembagian sembako, senam bersama, serta skrining kesehatan untuk ibu dan anak. jonathan

Bersama Kenali Lupus

lidia/MA

M

inggu, 28 April 2019, Perhimpunan Reumatologi Indonesia menyelenggarakan peringatan World Lupus Day 2019 di area Car Free Day (CFD) Sudirman, Jakarta. Tema yang diangkat pada tahun ini adalah “Stand for Lupus, Together We Can”. Menurut Ketua Acara World

Lupus Day 2019, dr. RM Suryo Anggoro, SpPD-KR, peringatan ini penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang lupus. Berbagai kegiatan seperti fun walk, senam lupus, dan talkshow turut diadakan untuk memeriahkan acara ini. lidia

SENGGANG

Keluarga dan Pekerjaan: Ketika Harus Memilih Di tengah ingar-bingar kesibukan karir, masihkah kita ingat akan keluarga kita?

M

udah untuk lupa akan orangorang di rumah ketika seseorang memiliki karir yang menanjak. Namun, tidak demikian bagi Dr. dr. Aria Kekalih, MTI. Baginya, keluarga adalah nomor satu. Aria memegang teguh prinsip work-family balance. Di sela-sela kesibukannya, Aria selalu berusaha untuk meluangkan waktu bagi keluarganya. Saat ini, Aria sudah berkeluarga dan dikaruniai seorang anak yang berusia 11 tahun. “Setelah kulihat-lihat, hobiku selama ini ialah mencari kegiatan yang bisa dikerjakan bersama anak, istri, dan juga bapak-ibuku,” ujar Aria. Kesibukan karir yang membuatnya harus berangkat pagi buta dan pulang malam cukup mengurangi waktu untuk berinteraksi dengan keluarganya. Dapat menghabiskan waktu bersama keluarganya menjadi suatu kepuasan tersendiri bagi Aria. Tidak perlu mulukmuluk, sekadar wisata berkeliling Jakarta sambil mencicipi transportasi umum sudah cukup memuaskan Aria. “Standar saja sih, tapi selagi semuanya masih bisa (jalan-jalan, red), aku bersyukur karena ada juga orangorang yang sudah pakai kursi roda dan tidak bisa ikut jalan-jalan,” katanya. Meski sudah berkeluarga, Aria tetap memerhatikan kedua orang tuanya yang sudah pensiun. “Orang tua juga perlu untuk berinteraksi dengan orang lain. Kalau di rumah saja sendiri, mereka bisa jadi lebih stress,” ucap Aria. Walau terkesan biasa saja, Aria sungguh menikmati setiap momen yang ia habiskan bersama keluarganya. Karena kesibukannya, paling-paling Aria hanya bisa meluangkan

Nama Lengkap : Dr. dr. Aria Kekalih, MTI Tempat, Tanggal Lahir : Pekanbaru, 17 April 1981 Jabatan : - Ketua Divisi Epidemiologi dan Biostatik Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas FKUI - Coordinator of Open Content: Center of e-Learning Cluster IMERI FKUI Alamat Email : aria.kekalih@gmail.com

dokumen pribadi

waktu satu bulan sekali untuk beraktivitas bersama keluarganya. “Mungkin jarang bisa bersama keluarga termasuk bapak dan ibu, tetapi begitu ada momennya, rasa puasnya itu berkali lipat,” ujar Aria. Quality time bersama keluarga ia habiskan dengan saling berbincang-bincang dan berbagi kejadian yang dialami sehari-hari. Satu hal yang Aria sayangkan yaitu di era kini, orang cenderung tenggelam dalam dunia maya di gawai masing-masing. Aria selalu membatasi anaknya dalam menggunakan smartphone, terutama ketika sedang bersama keluarga. “Dengan adanya

HP ini, somehow kemampuan kita untuk memecah suasana saat berkumpul itu jadi susah,” keluhnya. Oleh karena itu, Aria selalu berusaha untuk mencari aktivitas menarik yang bisa dinikmati bersama sekaligus edukatif, misalnya berkunjung ke museum. Mencari aktivitas menarik yang bisa dinikmati oleh tiga generasi juga bukanlah hal yang mudah. Dibandingkan anaknya yang masih muda dan energik, orang tua Aria sudah memasuki usia senja sehingga ketahanan fisiknya sudah terbatas. Salah satu pengalaman menariknya yaitu ketika berkunjung ke wahana Jurassic Park di

Universal Studio Singapura yang cukup menantang bagi lansia. “Aku deg-degan memikirkan, bagaimana nanti turunnya?”, kenang Aria. Keluarga merupakan bagian vital yang tidak boleh kita lupakan. Aria sungguh memahami itu dan selalu berusaha untuk dapat membahagiakan keluarga dan orang tuanya kapanpun ia bisa. Memang terkesan sederhana, namun Aria merasa bahwa bisa membahagiakan orang tua dan anaknya di tengah hiruk pikuk karirnya merupakan satu hal spesial yang mampu ia lakukan selagi masih mampu. billy


Issuu converts static files into: digital portfolios, online yearbooks, online catalogs, digital photo albums and more. Sign up and create your flipbook.