Page 1

Media Aesculapius Surat Kabar

Kedokteran dan Kesehatan Nasional Terbit Sejak 1970

No. 03 l XLVIII l Juli-Agustus 2018 ISSN No. 0216-4966 MA Info

Tanggap Kenali Insomnia dan Hadapi hingga Tuntas halaman 4

Suara Mahasiswa

Eksistensi Isu Kesehatan di Panggung Politik

Rubrik Daerah

Bertemu Banyak Kasus Jarang di Kabupaten Lumpur Lapindo

halaman 8

Kontak Kami @MedAesculapius beranisehat.com 0896-70-2255-62

halaman 11

Potret Nyata Kesehatan Jemaah Haji Indonesia Kesehatan jemaah haji telah menjadi salah fokus utama dalam kebijakan penyelenggaraan haji. Namun, masih ada saja jemaah yang belum layak pergi pada waktunya.

I

badah haji adalah kewajiban sekali seumur hidup bagi orang Islam yang mampu menunaikannya. Mampu dalam ibadah haji berarti memiliki biaya yang cukup serta mental dan fisik yang sehat. Jika kedua syarat tersebut tidak terpenuhi, ibadah haji pun tidak menjadi kewajiban. Biaya mungkin dapat dipenuhi dengan mudah, berbeda dengan kesehatan yang dipengaruhi banyak faktor. Sistem Komputerisasi Haji Terpadu Kesehatan (Siskohatkes) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mencatat adanya 13 calon jemaah haji yang tidak memenuhi syarat haji, 8849 calon menjalani rawat jalan, 147 calon menjalani rawat inap, dan 2 calon wafat sebelum sempat diberangkatkan. Kondisi ini tentu membuat kebijakan yang tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Republik Indonesia No. 15 Tahun 2016 tentang Istithaah Kesehatan Jemaah Haji dan Mekanisme Penetapan Istithaah di Kabupaten/Kota dipertanyakan. Peraturan Dinilai Berjalan Lancar Permenkes RI No. 15 Tahun 2016 yang berlatar belakang kebutuhan masyarakat ini dibentuk agar negara bisa mengatur kesehatan jemaah haji. Selain itu, Permenkes ini dibuat berdasarkan masukan dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Komisi Pengawas Haji Indonesia (KPHI), anggota DPR, serta tim pengawas pelaksanaan haji di Arab Saudi. Peraturan ini berisi mengenai Istithaah Kesehataan Jemaah Haji, yaitu kemampuan jemaah dari segi kesehatan, meliputi mental dan fisik, yang terukur dengan pemeriksaan serta dapat dipertanggungjawabkan. “Permenkes RI No. 15 Tahun

E

2016 berjalan dengan lancar karena ini adalah kebijakan negara yang harus diimplementasikan oleh negara itu sendiri. Permenkes RI ini didukung oleh semua stakeholder yang terkait dalam penyelenggaraan haji. Jadi, tidak ada alasan untuk tidak diimplementasikan dan tidak didukung,” ujar Kepala Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan RI, Dr. dr. Eka Yusuf Singka, MSc. Upaya kebijakan ini telah didukung dan disetujui oleh Direktorat Jenderal Penyelenggara Haji dan Umrah Kementerian Agama Republik Indonesia melalui penerbitan Surat Edaran No. 4001 Tahun 2018. Istithaah Kesehatan Haji di Lapangan Belum Ideal Permenkes ini juga mengatur tentang kewajiban calon jemaah untuk memberitahukan kondisi kesehatannya, baik fisik devi/MA maupun mental, ketika mendaftarkan diri. Dengan demikian, diharapkan jemaah haji dapat terpantau serta mampu menjalankan ibadahnya dengan lancar sesuai dengan tuntunan. “Ibadah haji itu harus memenuhi persyaratan kesehatan. Namun, pelaksanaan

ibadah haji masih jauh dari ideal ketika kita merujuk pada istithaah,” ucap dr. Muchtaruddin Mansyur, M.S., SpOk., PhD, Staf Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dan Kepala Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan 2016-2017. Pernyataan ini muncul dengan kesadaran bahwa kelayakan kesehatan dipengaruhi oleh banyak faktor, terutama faktor nonmedis. Salah satu faktor tersebut adalah waktu tunggu keberangkatan haji di Indonesia yang lumayan lama. Calon jemaah haji rata-rata baru bisa diberangkatkan setelah 15–30 tahun dari waktu pendaftaran. Selain itu, calon jemaah haji umumnya mendaftar ketika sudah merasa siap secara finansial dan psikologis yang mana baru tercapai ketika sudah memasuki dekade keempat atau lima kehidupannya. Akibatnya, jemaah haji yang sudah menginjak usia lanjut ini sangat rentan terhadap berbagai kondisi seperti ketidakseimbangan cairan dan elektrolit. Dalam Istithaah Kesehatan

Haji, jemaah yang berusia lebih dari 60 tahun termasuk dalam kelompok dengan status kesehatan risiko tinggi. Melirik kepada istithaah di dalam Permenkes No. 15 Tahun 2016 tersebut, terdapat tiga tahap pemeriksaan kesehatan yang harus dilakukan. Tahap pertama dilakukan oleh Tim Penyelenggara Kesehatan Haji Kabupaten/Kota di puskesmas dan/ atau rumah sakit saat calon jemaah haji mendapatkan nomor porsi. Tahap ini akan menentukan apakah calon jemaah haji termasuk dalam kelompok berisiko tinggi. Dalam hal ini, puskesmas berperan memberikan pembinaan kesehatan bagi calon jemaah haji berdasarkan hasil status risiko tersebut. Selanjutnya, pemeriksaan kesehatan tahap kedua dilakukan saat pemerintah sudah memberikan kepastian waktu keberangkatan. Pemeriksaan bertujuan untuk melihat kesiapan calon jemaah haji untuk berangkat. Tahap terakhir dilakukan oleh Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi saat calon jemaah haji akan diberangkatkan. Pada tahap ini, dilakukan penentuan akhir apakah calon jemaah haji jadi diberangkatkan. “Dalam tahap ini masih sering terjadi masalah karena tidak semua daerah siap. Akibatnya, masih ada jemaah haji yang tidak memenuhi syarat, tetapi diberangkatkan. Dengan demikian, pelaksanaan permenkes ini oleh daerah (puskesmas dan dinas kesehatan) masih belum optimal,” terang Muchtarrudin. Ketidaksiapan daerah ini dapat dilihat mulai dari adanya struktur organisasi PPIH atau tim pembinaan kesehatan haji bersambung ke halaman 11

Di Balik Layar Penyelenggaraan Ibadah Haji

SKMA untuk Anda

Dokter umum perlu memahami masalah di balik layar agar dapat menempatkan diri secara tepat.

Mari bersama membuat SKMA menjadi lebih baik.

valuasi terhadap penanganan medis pada jemaah haji masih terus disuarakan. Hal ini berawal dari terbaginya pelayanan haji menjadi sistem haji khusus yang tidak dikelola pemerintah dan memakan biaya lebih mahal serta sistem haji reguler yang berada di bawah manajemen pemerintah. Terbaginya sistem ini berakibat tidak semua jemaah haji mendapatkan prosedur medis yang sama. “Pelayanan haji reguler sudah lebih tersistem daripada pelayanan khusus,” terang dr. Chyntia Oliva Maurine Jasirwan, SpPD., PhD, Staf Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM sekaligus Petugas Kesehatan Haji 2017. Identifikasi dini populasi haji yang

memiliki faktor risiko wajib dilakukan sehingga langkah-langkah preventif dapat diinisiasi dengan segera. Dokter harus memahami kriteria istithaah atau kelayakan kesehatan jemaah haji. “Secara total ada 60 orang yang dirawat, padahal belum berangkat. Berarti memang tidak siap. Kalau siap, paling tidak baru sakit setelah sampai di Arab Saudi,” terang dr. Muchtaruddin Mansyur, M.S., SpOk., PhD, Staf Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas FKUI dan Kepala Pusat Kesehatan Haji 2016–2017. Kriteria kelayakan tersebut tertuang dalam pasal 10-13 Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 15 Tahun 2016 tentang Istithaah Kesehatan Jemaah

Haji. Faktor risiko yang harus diperhatikan adalah riwayat vaksinasi, riwayat penyakit (terutama tuberkulosis, hipertiroid, HIV/ AIDS, stroke, dan perdarahan saluran cerna), penyakit menular yang berpotensi menjadi wabah, gangguan kejiwaan, patah tulang (tungkai atau vertebra), serta hamil dengan usia kehamilan pada saat keberangkatan di bawah 14 atau di atas 26 minggu. Mengetahui faktor-faktor tersebut, upaya preventif terhadap serangan maupun perburukan penyakit yang termasuk ke dalam kriteria kelayakan kesehatan jemaah haji harus segera dilakukan agar mereka tetap memenuhi syarat istithaah dan mampu menjalankan ibadah dengan lancar. nathalia, rayhan, kelvyn

1. Apakah konten SKMA bermanfaat/ relevan dengan kondisi kesehatan saat ini? 2. Apakah anda masih membutuhkan SKMA edisi selanjutnya?

!

Jawab dengan format: Nama-Umur_Kota/Kabupaten_Unit Kerja_Jawaban 1_Jawaban 2

Contoh: Rudiyanto_43_Jakarta Pusat_RSCM_Ya_ Ya Kirim melalui WhatsApp/SMS ke 0822 229 229 362 atau mengisi formulir pada bit.ly/surveyskma Lima orang pengisi survei yang beruntung akan mendapatkan cenderamata dari Media Aesculapius


2

JULI

JULI - AGUSTUS 2018

DARI KAMI Pembaca yang terkasih, bulan telah berganti. Banyak event yang telah dan akan kita lalui sepanjang bulan ini, terutama menjelang Hari Ulang Tahun ke-73 Republik Indonesia dan Asian Games 2018. Tak tenggelam di tengah sibuknya berbagai kegiatan, kami tetap siap menghadirkan berita-berita kesehatan dari berbagai wilayah. Ibadah haji merupakan momen penting bagi umat muslim yang selalu menantikan saat menginjakkan kaki di Tanah Suci. Maka dari itu, semua persiapan hendaknya dilakukan dan dijaga tetap layak sampai tiba waktunya berangkat. Pertanyaannya adalah sudahkah upaya yang dilakukan cukup berarti hingga semua jemaah dapat pergi dan pulang dalam kondisi terbaiknya? Simak ulasannya dalam rubrik Headline. Bahasan berikutnya membicarakan penanganan pasien yang tak mungkin hanya berfokus pada penyakit saja. Banyak hal di sekitar pasien mampu memengaruhi perawatan dan kita hendaknya kreatif mengolah kondisi yang ada. Mari kita baca tata cara penanganan holistik pada pasien gagal ginjal kronis dalam Asuhan Kesehatan. Berbicara Asian Games tentu tak boleh tak kenal dengan sosok satu ini. Dr. dr. Ermita Isfandiary Ibrahim Ilyas, MS, AIFO, seseorang yang ikut merasakan jatuh bangun di balik perjuangan seorang atlet. Ikuti kisah hidup beliau dalam Suka Duka. Cerita seru juga datang dari hutan belantara Sulawesi Selatan. Dokter satu ini menikmati hobi berburu dan berinteraksi dengan alam liar. Langsung saja simak ceritanya dalam Senggang. Selamat membaca dan tetap semangat dalam berkarya!

Veronika Renny Pemimpin Redaksi

MA FOKUS

Jemaah Melek Teknologi, Sehat dari Awal hingga Akhir Sejak tahun 2017, pemerintah Indonesia telah meluncurkan inovasi guna mempermudah proses pelayanan kesehatan jemaah haji melalui kartu kesehatan haji (KKH) elektronik. Kartu ini diharapkan dapat meningkatkan kepatuhan jemaah dalam mengikuti pembinaan dan pemeriksaan kesehatan. Data yang tercakup di dalamnya antara lain riwayat kesehatan sebelum berangkat, selama berada di Tanah Suci, hingga pulang kembali ke Indonesia serta data diri. Kartu ini selain mempermudah jemaah karena tidak perlu lagi membawa-bawa buku catatan kesehatan, juga membantu petugas kesehatan untuk memantau risiko, kelayakan, dan kondisi terkini jemaah yang berdampak pada rencana penanganan secara komprehensif. Kementerian Kesehatan juga terus berinovasi dengan menciptakan Haji Sehat, suatu aplikasi berisi petunjuk kesehatan haji yang dapat diunduh melalui Play Store. Jemaah dapat menemukan nomor telepon penting dan tempat berobat jika sewaktu-waktu merasa tidak sehat selama di Arab Saudi. Melalui petunjuk ini, jemaah memiliki gambaran lebih jelas mengenai persiapan yang harus dilakukan sekaligus mengingat kembali informasi kesehatan yang telah disampaikan dalam pembinaan. Upaya pemerintah ini patut diacungi jempol mengingat saat ini teknologi telah semakin maju sehingga sebisa mungkin hendaknya dimanfaatkan untuk hal-hal positif. Hampir semua lapisan masyarakat juga memiliki telepon genggam, bahkan smartphone yang berarti informasi elektronik seharusnya dapat tersebar dengan mudah dan luas. Dari sudut pandang tenaga kesehatan, kemudahan di atas membantu pengawasan, terutama jemaah berisiko tinggi. Perlu diingat bahwa jemaah yang mengikuti ibadah haji umumnya sudah lanjut usia mengingat waktu tunggu menjadi jemaah bisa mencapai belasan tahun. Hipertensi, diabetes, dan penyakit ginjal merupakan penyakit kronis yang sangat mungkin diderita dan diuntungkan dengan adanya sistem seperti ini. Di lain pihak, alangkah baiknya bila pemerintah juga berusaha melihat dari sudut pandang jemaah yang telah berusia lanjut. Tidak semua jemaah memiliki status pendidikan tinggi. Tidak sedikit kelompok lanjut usia yang mungkin mulai mengalami penurunan kemampuan berpikir dan penerimaan informasi. Oleh karena itu, petunjuk yang jelas disertai bimbingan pada para jemaah terkait berbagai inovasi tersebut sebaiknya diberikan. Bagaimanapun, teknologi semacam ini tentunya diharapkan terus berkembang untuk memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat. Tak hanya menjelang keberangkatan, calon jemaah yang masih dalam masa tunggu pun sebenarnya terjangkau oleh inovasi tersebut. Dalam Peraturan Menteri Kesehatan No. 15 Tahun 2016 tentang Istithaah Kesehatan Haji juga tertulis bahwa pembinaan dapat diintegrasikan dengan upaya kesehatan masyarakat seperti posbindu, keluarga sehat, dan posyandu lansia. Dengan demikian, aplikasi teknologi juga dapat dilakukan sehingga semakin banyak pula pihak yang terlibat, tidak melulu merupakan urusan eksklusif petugas pelaksana haji.

KLINIK

MEDIA

AESCULAPIUS

MA KLINIK

Kenali Gangguan Fungsi Kognitif Pascacedera Otak Traumatik Target perawatan pasien cedera otak traumatik tidak cukup hanya bertahan hidup, tetapi yang jauh lebih penting adalah restorasi fungsi kognitifnya semaksimal mungkin seperti sebelum trauma. Cedera otak traumatik (Traumatic Brain Injury [TBI]) merupakan salah satu kasus trauma yang sering dijumpai di Instalasi Gawat Darurat (IGD). Data dari Departemen Neurologi FKUI-RSCM periode Juli-Desember 2017 melaporkan adanya 224 kasus dengan 78% diantaranya adalah laki-laki di rentang usia 20-30 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa pengembalian kualitas hidup pasien cedera otak traumatik harus dilakukan semaksimal mungkin agar mereka dapat bekerja lagi dan bermanfaat bagi keluarga serta orang sekitarnya. Cedera otak adalah suatu bentuk jejas pada otak yang terjadi akibat kekuatan mekanik eksternal, menyebabkan perubahan fungsi otak yang salah satunya adalah fungsi kognitif. Secara sederhana, fungsi kognitif otak manusia meliputi beberapa ranah, yaitu atensi, memori, fungsi eksekutif, bahasa, perseptual motor, dan visuospasial. Pada cedera otak traumatik, fungsi atensi, memori, dan eksekutif ikut terganggu. Manifestasi klinis gangguan ranah atensi berupa kesulitan berkonsentrasi, sukar melakukan beberapa pekerjaan dalam satu waktu, atau lambat dalam proses berpikir. Gangguan memori bisa berupa keterbatasan kemampuan mengingat informasi baru sejak terjadi cedera (amnesia anterograd) atau kejadian yang mendahului awitan cedera (amnesia retrograd). Gangguan fungsi eksekutif bisa terlihat dari kesulitan dalam pengambilan keputusan, perencanaan secara sistematis, dan pemecahan masalah. Dengan demikian, kualitas hidup pasien dapat terganggu. Penilaian fungsi kognitif adit/MA sangat diperlukan untuk mengenali dan mendeteksi gangguan ini secara dini. Beberapa pemeriksaan neurobehavior telah dikembangkan untuk mendeteksi gangguan fungsi kognitif, misalnya pada situasi pasien rawat jalan, kuesioner Rivermead merupakan alat penyaring untuk mendeteksi adanya keluhan terkait cedera otak traumatik. Tes ini terdiri dari enam belas nomor pertanyaan mengenai gejala atau keluhan somatik, psikis, dan fungsi kognitif yang bisa dialami pasien pascacedera otak traumatik pada semua spektrum klinisnya atau biasa disebut cedera kepala ringan, sedang, dan berat. Setiap nomor mewakili satu keluhan pasien dan memiliki rentang skor pilihan jawaban yang bertingkat sesuai intensitas yang dialami dalam 24 jam terakhir, mulai dari 0 (sama sekali tidak mengalami) hingga 4 (masalah berat). Keluhan terkait fungsi kognitif yang ditanyakan pada kuesioner ini antara lain sering lupa atau penurunan daya ingat, sulit konsentrasi, dan kebutuhan waktu yang

MEDIA AESCULAPIUS

lebih banyak untuk berpikir. Kuesioner ini bisa dikerjakan dengan mudah Narasumber: oleh pasien sendiri dr. Ramdinal Aviesena Zairinal, Sp.S Staf Medis Departemen Neurologi atau dipandu FKUI-RSCM dokter. Mengingat faktor tersebut, pemeriksaan ini dapat diterapkan secara luas, bahkan di puskesmas atau klinik layanan primer. Selain kuesioner Rivermead, terdapat Tes Orientasi dan Amnesia Galvaston (TOAG) untuk menilai adanya gangguan memori amnesia pascatrauma dan orientasi. Pasien yang telah sadar penuh (Skala Koma Glasgow 15) setelah mengalami trauma dapat segera diperiksa dengan metode ini. Tes ini terdiri dari empat belas pertanyaan yang mana tiap komponennya mempunyai nilai tertentu yang akan mengurangi skor akhir secara keseluruhan yaitu 100. Contohnya, bila pasien salah menjawab suatu pertanyaan yang bernilai 2 poin, skor akhirnya akan dikurangi 2 poin. Semakin banyak pasien salah menjawab, semakin rendah skor akhirnya. Pemeriksaan ini dilakukan secara berkala hingga pasien dapat mencapai skor akhir minimal 75. Durasi yang dibutuhkan untuk mencapai hal tersebut menggambarkan durasi lamanya amnesia pascatrauma yang dialami pasien. Beberapa tes lain yang dapat dikerjakan adalah Mini Mental State Examination (MMSE), Montreal Cognitive Assessment–versi Indonesia (MoCAINA), dan Frontal Battery Assessment (FBA). Semua alat ini memiliki karakteristik yang unik dan saling melengkapi dalam penentuan fungsi kognitif seseorang. Oleh karena kompleksitas prosedur pengerjaan tes-tes tersebut, pemeriksaan ini biasanya dilakukan oleh dokter spesialis saraf atau perawat dan terapis yang sudah terlatih. Pada akhirnya, gangguan fungsi kognitif adalah hal yang penting dievaluasi pada setiap pasien pascacedera otak traumatik. Semakin baik deteksi dini gangguan ini oleh setiap dokter, semakin cepat terapi kognitif diberikan, dan semakin baik pula kualitas hidup pasien. filbert

Pelindung: Prof. Dr. Ir. Muhammad Anis M. Met. (Rektor UI), Dr. dr. H. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP (Dekan FKUI) Penasihat: Dr. Arman Nefi, S.H., M.M. (Direktur Kemahasiswaan UI), dr. Affan Priyambodo Permana, SpBS(K) (Koordinator Kemahasiswaan FKUI) Staf Ahli: Seluruh Kepala Bagian FKUI/RSUPNCM, Prof. Dr. Ma’rifin Husein (CHS), dr. Muki Reksoprodjo, dr. Boen Setiawan, dr. Sudarso, dr. E. Oswari, DPH, Prof. Dr. Arjatmo Tjokronegoro, PhD, dr. Hapsara, DPH (Kemenkes RI), dr. Fahmi Alatas, Prof. dr. Marwali Harahap, SpKK, Prof. Dr. Umar Fahmi Achmadi, MPH Pembantu Khusus: Seluruh Alumni Aesculapius dan Media Aesculapius

Pemimpin Umum: Maria Isabella. PSDM: Dewi Anggraeni, Reyza Tratama, Yusuf Ananda, Teresia Putri. Pemimpin Produksi: Shafira Chairunnisa. Tata Letak dan Cetak: Idzhar Arrizal. Ilustrasi dan Fotografi: Kristian Kurniawan. Staf Produksi: Kania Indriani, Fiona Muskananfola, Devi Elora, Nathaniel Aditya, Anthonius Yongko, Irfan Kresnadi, Teresia Putri, Hansel T. Widjaja, Itsna Arifatuz Z., Kelvin Gotama, Skolastika Mitzy, Meutia Naflah G., Dewi Anggraeni, Bagus Radityo Amien, Arlinda Eraria Hemasari, Robby Hertanto, Anyta Pinasthika, Gabriella Juli Lonardy, Herlien Widjaja, Dinda Nisapratama. Pemimpin Redaksi: Veronika Renny Kurniawati. Wakil Pemimpin Redaksi: Levina Putri Siswidiani. Redaktur Senior: Rifka Fadhilah, Shierly Novitawati, Irma Annisa, Hiradipta Ardining, Tommy Toar, Farah Vidiast, Phebe Anggita Gultom, Clara Gunawan. Redaktur Desk Headline: Reyza Tratama. Redaktur Desk Klinik: Renata Tamara. Redaktur Desk Ilmiah Populer: Tiffany Rosa. Redaktur Desk Opini & Humaniora: Vannessa Karenina. Redaktur Desk Liputan: Aisyah Rifani. Reporter Senior: Puspalydia Pangestu, Salma Suka Kyana Nareswari, Camilla Sophi Ramadhanti. Reporter Junior: Joanna Erin, Fadlika Harinda, Abdillah Y Wicaksono, Maria Isabella, Nadhira Najma, Stefanus Sutopo, Nur Afiahuddin, Dina Fitriana, Farah Qurrota, Afiyatul M., Nathalia Isabella, Rayhan Farandy, Yuli Maulidiya, M. Ilham Dhiya, Filbert Liwang, Alexander Kelvyn. Pemimpin Direksi: Trienty Batari. Finansial, Sirkulasi, dan Promosi: Angela Kimberly, Koe Stella Asadinia, Tiara Grevillea, Felix Kurniawan, Elizabeth Melina, Faya Nuralda Sitompul, Jevi Septyani Latief, Heriyanto Khiputra, Tania Graciana, Novitasari Suryaning Jati, Rahma Maulidina Sari, Aisyah Aminy Maulidina, Ainanur Aurora, Yusuf Ananda, Agassi Antoniman, Alice Tamara, Safira Amelia, Syafira Nurlaila, Lowilius Wiyono, Jeremy Rafael, Iskandar Geraldi. Buku: Reganedgary Jonlean, Husain Muhammad Fajar Surasno, Nadira Prajnasari Sanjaya, Roberto Bagaskara, Tiroy Junita, Indah Fitriani, Sabrina Tan, Gilbert Mayer C, Marie Christabelle, Andi Gunawan K., Bunga Cecilia. Alamat: Media Aesculapius BEM IKM FKUI. Gedung C lantai 4, Rumpun Ilmu Kesehatan, Kampus UI Depok. E-mail: medaesculapius@gmail.com, Rek. 157-0004895661 Bank Mandiri Cabang UI Depok, website: beranisehat.com Alamat Redaksi/Sirkulasi: Media Aesculapius PO BOX 4201, Jakarta 10042, Harga Langganan: Rp18.000,00 per enam edisi gratis satu edisi (untuk seluruh wilayah Indonesia, ditambah biaya kirim Rp. 5.000,00 untuk luar Jawa), fotokopi bukti pembayaran wesel pos atau fotokopi bukti transfer via Bank Mandiri dapat dikirim ke alamat sirkulasi. MA menerima kiriman naskah dari pembaca untuk rubrik MA Klinik (khusus untuk dokter dan staf pengajar), Asuhan Keperawatan (khusus untuk perawat dan mahasiswa keperawatan) Sepuki, Suma, Suduk, Kolum, Arbeb, Kesmas, Seremonia, dan Konsultasi (berupa pertanyaan). Kirimkan email permohonan penulisan ke redaksima@yahoo.co.id dan kami akan mengirimkan spesifikasi rubrik yang Anda minati.

Kirimkan kritik dan saran Anda:

redaksima@yahoo.co.id

Website Media Aesculapius

beranisehat.com

Dapatkan info terbaru kami: @MedAesculapius


MEDIA

KLINIK

AESCULAPIUS

JULI

JULI - AGUSTUS 2018

3

KONSULTASI

Cermat Atasi Hepatitis B pada Ibu Hamil dan Menyusui

A

M

a/

H

epatitis merupakan peradangan pada hati yang disebabkan oleh virus, parasit, bakteri, dan sebagainya. Hepatitis yang disebabkan oleh virus terbagi menjadi hepatitis A, B, C, D, dan E. Hepatitis A dan E bersifat akut dan ditularkan secara fekal-oral sehingga berhubungan erat dengan pola hidup bersih dan sehat, sedangkan hepatitis B, C, dan D ditransmisikan melalui darah atau cairan tubuh dan dapat menjadi kronis. Di Indonesia, jenis hepatitis yang umumnya ditemukan adalah hepatitis B. Bahkan, Indonesia menduduki peringkat kedua negara dengan jumlah kasus hepatitis B terbanyak di Asia Tenggara. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar, diperkirakan prevalensi hepatitis pada semua umur di Indonesia meningkat dari 0,6% pada tahun 2007 menjadi 1,2% pada tahun 2013. Penularan virus Hepatitis B melalui darah atau cairah tubuh membuat hepatitis B kerap kali ditularkan oleh ibu hamil kepada anaknya. Ibu hamil yang terinfeksi virus Hepatitis B di Indonesia berkisar 1-5%. Penularan vertikal 95% terjadi pada masa perinatal dan 5% secara intrauterina. Infeksi virus ini pada ibu hamil dapat meningkatkan risiko kematian pada ibu dan bayi. Penderita hepatitis B memiliki tanda klinis bervariasi dari tanpa gejala, gejala

ringan tidak khas (lesu, nafsu makan berkurang, mual, demam ringan), gejala nyata dan khas (timbul warna kuning pada kulit dan nyeri perut sebelah kanan), hingga hepatitis berat atau fatal. Berdasarkan waktu timbulnya gejala, hepatitis B dapat dibedakan menjadi akut dan kronis. Pada hepatitis B akut, gejalagejala di atas biasanya akan berlalu dalam waktu satu sampai tiga bulan, sedangkan pada hepatitis B kronis, infeksi dapat berlangsung selama enam bulan atau lebih. Penegakan diagnosis hepatitis B pada ibu hamil tidak berbeda jauh dengan populasi umum. Diagnosis dapat ditegakkan melalui serangkaian anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Pada pemeriksaan fisik abdomen dapat ditemukan adanya pembesaran hati pada bagian kanan atas. Hasil HBsAg positif menandakan adanya infeksi dari virus hepatitis B. Pada pemeriksaan USG akan terlihat adanya pembesaran hati dan kenaikan densitas gamma dari parenkim hati. fio n

Pertanyaan: Bagaimana perawatan/kontrol yang dapat dilakukan pada ibu hamil dan menyusui penderita hepatitis B apabila fasilitas yang ada tidak memadai dan lokasi jauh dari rumah sakit? - dr. H, Lebak

Tidak ada perbedaan prinsip tata laksana hepatitis akut pada kehamilan dan tanpa kehamilan, yaitu istirahat yang cukup dan terapi simtomatik. Hal yang perlu dipertimbangkan adalah adanya kemungkinan penularan virus secara vertikal dan efek teratogenik penggunaan obat. Ibu hamil penderita hepatitis dengan viremia tinggi disarankan untuk mengonsumsi obat antivirus sejak minggu 28-32 kehamilan. Hal ini bertujuan untuk mengurangi transmisi virus dari ibu ke anak. Obat lini pertama yang diberikan adalah tenofovir dan telbivudin. Pada trimester ketiga sebelum melahirkan, pasien dapat diberikan lamivudin sebanyak 100 mg/hari. Kelahiran disarankan melalui operasi sesar dan dilakukan sebelum ketuban pecah. Pada fasilitas layanan kesehatan (fasyankes) primer dengan fasilitas yang terbatas dan jauh dari rumah sakit, penegakan diagnosis pasti menjadi hal penting. Pelayanan pada fasyankes diutamakan untuk memberikan edukasi dan pemantauan, baik terhadap ibu maupun bayi. Selanjutnya, bayi yang dilahirkan oleh ibu dengan hepatitis B perlu diberi suntikan HBIG 0,5 ml secara intramuskular pada lengan atas segera setelah dilahirkan. Selain itu, pada lengan atas sisi lainnya, vaksin hepatitis B harus diberikan kepada bayi selambat-lambatnya 12 jam pertama setelah kelahiran. Vaksin diberikan secara

Narasumber: Dr. dr. Dwiana Ocviyanti, Sp. OG(K) Departemen Medik Kebidanan dan Penyakit Kandungan RSCM-FKUI

intramukular dengan dosis 0.5 ml. Untuk pemberian vaksin ke-2 dan ke-3 dapat diberikan sesuai jadwal. Pada bayi prematur, vaksin hepatitis B diberikan dalam empat kali pemberian yaitu bulan ke-0, 1, 6, dan 8. Ibu dengan hepatitis B diperbolehkan untuk tetap menyusui bayinya. Saat ini belum ada penelitian yang menyatakan peningkatan risiko penularan hepatitis B melalui ASI. Hal ini dikarenakan penularan melalui saluran pencernaan membutuhkan titer virus yang lebih tinggi dibandingkan parenteral. Luka puting saat menyusui dapat meningkatkan risiko penularan sehingga bimbingan posisi menyusui yang baik dan pelekatan mulut bayi yang betul harus diberikan.

Kirimkan pertanyaan Anda seputar medis ke redaksima@yahoo.co.id. Pertanyaan Anda akan dijawab oleh narasumber spesialis terpercaya.

TIPS DAN TRIK

Sudahkah Anda Cermati Pemberian Prosedur Anestesi Umum? Pemberian anestesi menjadi bagian penting dalam prosedur operasi. Namun, masih ditemukan beberapa kasus komplikasi akibat anestesi umum.

A

nestesi merupakan prosedur pemberian obat yang menimbulkan hilangnya sensasi pada tubuh. Berdasarkan luas pengaruhnya pada tubuh, anestesi dibedakan atas anestesi lokal (hanya bagian tubuh tertentu) dan umum (seluruh tubuh). Prosedur ini banyak dilakukan di ruang operasi agar pasien yang sedang menjalani prosedur tidak merasakan nyeri. Anestesi memegang peranan yang sangat penting terutama bagi pasien dengan gangguan sistem kardiorespirasi. Hal ini dikarenakan peningkatan detak jantung dan laju napas yang tajam dapat berpotensi mengancam nyawa pasien. Oleh karena itu, seorang anestesiologis perlu memerhatikan dan memahami prosedur operasi umum secara tepat. Pertama, hal yang dilakukan adalah evaluasi praoperasi, rencana anestesi, dan pramedikasi. Evaluasi praoperasi dilakukan untuk mendapatkan informasi mengenai riwayat penyakit pasien dan besar risiko pasien selama menjalani prosedur. Informasi yang didapatkan dari evaluasi dapat membantu dokter dalam perencanaan anestesi. Kurang mendalamnya evaluasi dapat membahayakan pasien seperti yang terjadi pada sebagian besar komplikasi anestesi. Sementara itu, pramedikasi diberikan untuk membantu stabilisasi kondisi

fisiologis pasien. Langkah selanjutnya sekaligus yang utama adalah pemberian induksi. Pada tahap ini, obat anestesi diberikan secara intravena. Penting untuk memastikan kadar oksigen yang diberikan selalu sebesar 100% selama 2-5 menit pertama untuk menghilangkan nitrogen yang mengisi sebagian besar volume residu paru. Tindakan ini merupakan antisipasi terhadap kemungkinan apnea pada awal pemberian induksi. Langkah ketiga adalah pemeliharaan (maintenance). Maksudnya, anestesiologis perlu memantau pasien agar kadar obat anastesi dalam tubuhnya sesuai untuk pasien. Kadar anestesi yang tidak adekuat ditandai dengan maningkatnya tekanan

kri

stia

n/M

A

darah, takikardi, dan berkeringat. Sebaliknya, jika kadar anestesi terlalu berlebihan, denyut jantung dan tekanan darah pasien menurun hingga di bawah normal. Langkah selanjutnya adalah emergence atau awal sadar, yakni dengan membangunkan pasien. Proses ini perlu dilakukan secara bertahap, halus, dan dalam lingkungan yang terkendali. Waktu habisnya pengaruh obat perlu diperhatikan dengan baik oleh seorang dokter anestesi karena pelepasan alat-alat seperti selang endoktrakea memerlukan kesadaran pasien untuk melakukan refleks pernapasan. Setelah sadar dari pengaruh anestesi, pengawasan pasien perlu dilakukan agar dapat mengantisipasi kemungkinan adanya komplikasi umum pascaoperasi, seperti hipoksemia, hipotensi, hipotermia, nyeri, dan mual. Pasien harus dirawat di dalam ruang khusus pascaanestesi. Pengerjaan prosedur anestesi yang tepat dapat menyelamatkan lebih banyak nyawa. Oleh karena itu, sebagai dokter, pastikan Anda melakukan langkah-langkah prosedur anestesi dengan cermat dan tepat! farah

JASA PEMBUATAN BUKU Media Aesculapius menyediakan jasa penyusunan buku yang sangat fleksibel baik dalam hal desain cover dan isi, ukuran dan tebal buku, maupun gaya penulisan termasuk menyunting tulisan anda. Tak terbatas hingga penyusunan saja, kami siap melayani distribusi buku anda. Adapun buku yang pernah kami buat: buku biografi tokoh, buku pemeriksaan fisik berbagai departemen, buku jurnal, dan Kapita Selekta Kedokteran.

Hubungi Hotline MA: 0896-70-2255-62 (SMS/WhatsApp)


4

KLINIK

JULI

JULI - AGUSTUS 2018

MEDIA

AESCULAPIUS

MA INFO

Tanggap Kenali Insomnia dan Hadapi hingga Tuntas Ketika tidur menjadi sesuatu yang sulit dinikmati, sudahkah Anda mengetahui solusinya?

I

nsomnia didefinisikan sebagai persepsi subjektif terhadap kesulitan dalam inisiasi, durasi, konsolidasi, dan kualitas tidur, meskipun memiliki kesempatan yang cukup untuk tidur. Beberapa kondisi seperti pertambahan usia, jenis kelamin perempuan, gangguan psikologis, konsumsi dan penggunaan produk tertentu, serta status sosioekonomi yang rendah sering dikaitkan dengan gejala sulit tidur ini. Di Indonesia, sekitar 10% atau 23 juta jiwa dari total populasi mengalami insomnia. Prevalensi yang cukup tinggi ini memacu tenaga kesehatan untuk mendalami penyakit ini. Bahkan Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI) menuntut dokter umum untuk mampu mendiagnosis dan menata laksana insomnia hingga tuntas (kompetensi 4A). Pada 2008, American Academy of Sleep Medicine (AASM) merilis panduan klinis diagnosis dan manajemen insomnia. Panduan tersebut diharapkan mampu menyamakan persepsi dokter umum mengenai penegakan diagnosis dan tata laksana insomnia yang tepat. Diagnosis Insomnia Penegakan diagnosis diawali dengan evaluasi gejala dan riwayat perjalanan penyakit pasien melalui anamnesis. Evaluasi didasarkan pada lima kriteria, diantaranya keluhan utama, kebiasaan sebelum tidur, jadwal tidur dan terbangun, keluhan saat malam hari (nocturnal symptoms), dan

aktivitas di siang hari. Kesulitan untuk terlelap, selalu terjaga, dan merasa lelah ketika bangun tidur merupakan karakteristik utama yang sering dikeluhkan pasien. Informasi tambahan, seperti durasi, frekuensi, tingkat keparahan, waktu, dan riwayat pengobatan harus kan ditanyakan. Tak hanya ia/M A itu, keseharian dan status mental pasien serta penyakit penyerta yang diderita harus dievaluasi lebih lanjut untuk memastikan kemungkinan insomnia dipicu gangguan klinis lain. Kondisi lingkungan tidur seperti suhu, jenis kasur, penerangan, dan alat-alat yang berpotensi mengganggu serta menurunkan kualitas tidur juga wajib ditanyakan. Keterkaitan riwayat penyakit keluarga dengan kejadian insomnia diketahui cukup besar sehingga penting untuk diselidiki. Sejatinya, pemeriksaan fisik tidak merepresentasikan satupun tanda spesifik insomnia, tetapi pemeriksaan ini mampu

menyediakan informasi penting mengenai komorbiditas dan diagnosis banding insomnia. Gangguan sistem pernapasan, pencernaan, dan peredaran darah merupakan komorbiditas yang sering kali menunjukkan manifestasi insomnia. Obesitas, restriksi jalan napas, dan penambahan lingkar leher merupakan tanda klinis khas sleep apnea, salah satu diagnosis banding insomnia tersering. Informasi tambahan terkait kondisi pasien juga bisa didapatkan melalui penilaian hasil kuesioner yang diisi oleh pasien, meliputi kualitas tidur, derajat kantuk, dan status psikologis. Tata Laksana Insomnia Sebagai penyakit dengan etiologi multifaktorial, penatalaksanaan insomnia sangat bergantung pada informasi yang didapatkan saat penegakan diagnosis. Pada kondisi tertentu, perbaikan lingkungan tidur

dan restriksi kafein dengan aktivitas yang dibatasi mampu meningkatkan kualitas tidur pasien secara signifikan. Akan tetapi, intervensi tersebut tidak cukup bagi pasien insomnia primer yang dipicu oleh gangguan klinis lainnya. Untuk itu, diperlukan terapi definitif yang diberikan pada pasien dengan penurunan kesehatan dan gangguan aktivitas akibat insomnia untuk memperbaiki kualitas tidur. Terapi diawali dengan terapi psikologis dan kebiasaan yang terdiri atas tiga modalitas, yaitu kontrol stimulus, latihan relaksasi, dan cognitive behavioral therapy (CBT). Pendekatan multimodalitas ini merupakan baku emas terapi insomnia dengan efektivitas yang cukup tinggi dibanding modalitas terapi lainnya. Terapi farmakologis sangat bergantung pada respons pasien terhadap terapi psikologis dan kemunculan kebiasaan yang tidak sesuai harapan. Pertimbangan terhadap preferensi pasien, biaya, kontraindikasi, dan gejala yang dikeluhkan harus dilakukan sebelum pemberian terapi farmakologis. Benzodiazepine receptors agonist (BzRA) kerja cepat/intermediet, seperti zaleplon dan zolpidem menjadi rekomendasi terapi yang bisa diberikan untuk mengurangi latensi tidur pada pasien insomnia. Selain itu, golongan antidepresan, seperti trazodon, doksepin, dan tazapin diberikan jika terdapat komorbid depresi. afiahuddin

ASUHAN KESEHATAN

Perawatan Holistik bagi Pasien Gagal Ginjal Kronis Tidak cukup dengan tata laksana farmakologis dan nonfarmakologis, kualitas hidup pasien gagal ginjal kronis (GGK) juga perlu diperhatikan melalui perawatan holistik.

G

sosial, spiritual, dan kultural pasien GGK. Terapi pada aspek psikologis untuk menurunkan kecemasan, meningkatkan motivasi dan keberdayaan, meningkatkan semangat, dan harga diri penderita GGK dapat dikerjakan dengan Acceptance and Commitment Therapy (ACT). ACT membantu menganalisis sumber masalah yang dialami oleh pasien, mengajak penderita untuk menyadari masalah tersebut, dan menerima kenyataan yang dialaminya saat ini. Penderita kemudian diajak untuk berkomitmen menjadi pribadi lebih baik yang mau menjalani hidup dan memperjuangkan hidup bahagia. Salah satu upayanya yaitu menganjurkan kepada penderita untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, misalnya berdzikir bagi yang beragama Islam atau berdoa dan bernyanyi bagi agama lainnya. Hal tersebut dapat mengurangi kecemasan dan meningkatkan harga diri serta memenuhi kebutuhan penderita dilihat dari aspek spiritual. Hal yang tidak kalah penting adalah dukungan dari keluarga dengan menciptakan suasana yang kondusif. Dukungan keluarga hansel/MA

agal ginjal kronis terjadi apabila ginjal mengalami kerusakan ireversibel sehingga menurunkan fungsinya. Proses kerusakan ini berlangsung lama (perlahan) dan tidak disadari sampai akhirnya seseorang mengalami tanda dan gejala seperti mudah letih, mual, perubahan volume dan frekuensi buang air kecil, bengkak pada tungkai, gatal di seluruh tubuh, dan sebagainya. Menurut Bristowe (2015), mayoritas pasien penyakit kronis mengalami ketidakberdayaan, ketakutan, dan duka cita berlebih sehingga menyebabkan ketidakpastian prognosis penyakit. Hal ini diperparah dengan munculnya persepsi negatif proses terapi GGK yang mahal dan lama serta ketakutan akan kematian. Hal tersebut dapat menurunkan kualitas hidup penderita GGK. Oleh sebab itu, perawatan menyeluruh/ holistik bagi pasien GGK diperlukan. Perawatan ini tidak hanya sekedar terapi farmakologis (obat) atau nonfarmakologis (dialisis atau transplantasi ginjal), melainkan pemberian perhatian pada aspek psikologis,

JASA TERJEMAHAN Kabar Gembira! Media Aesculapius menyediakan jasa terjemahan IndonesiaInggris dan Inggris-Indonesia dengan waktu pengerjaan singkat (3 x 24 jam) serta hasil terjamin. Tidak hanya jasa terjemahan, kami juga menyediakan jasa pembuatan slide presentasi dan poster ilmiah sesuai kebutuhan Anda.

Chindy Maria Orizani M.Kep.Ns. Kepala Bagian Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Akademi Keperawatan Adi Husada Surabaya ini mencakup dukungan informasional, seperti meningkatkan kepedulian dan melek informasi tentang GGK serta dukungan instrumental, seperti menyediakan sarana dan membantu pemenuhan kebutuhan dasar penderita GGK. Mengajarkan terapi okupasi dapat meningkatkan kemandirian penderita dilihat dari aspek ekonomi. Tentunya, seluruh upaya tersebut akan meningkatkan kualitas hidup penderita GGK. Pemberian advance care planning dapat membantu pencapaian harapan dan tujuan realistis penuh damai di akhir hayat penderita GGK. ilham

Hubungi Hotline MA: 0896-70-2255-62 (SMS/Whatsapp)


MEDIA

AESCULAPIUS

Ilmiah Populer

JULI

JULI - AGUSTUS 2018

5

KESMAS

Terhambatnya Pengendalian HIV/AIDS Kelompok masyarakat dengan HIV/AIDS sesungguhnya memerlukan uluran tangan yang dengan pasti dapat menjangkau mereka.

T

serta melakukan advokasi kepada pemerintah lokal untuk mengurangi beban biaya terkait HIV/AIDS. Dalam program pengendalian ini, tidaklah mudah untuk mencapai tujuan pemberantasan virus tersebut selambat-lambatnya tahun 2030 sesuai ucapan kepala United Nations Programme on HIV/AIDS (UNAIDS) di PBB. Salah satu hambatan yang terjadi adalah jangkauan dan kepatuhan dari kebijakan masih sulit dicapai, terutama di daerah perifer dan terpencil. Upaya untuk mencapai berbagai lapisan komunitas masyarakat dalam pengendalian HIV/ AIDS tidaklah mudah. Pendekatan terhadap kelompok lesbian, gay, bisexual, and transgender (LGBT) dan kelompok dengan id

zh

A

/M

ar

idak dapat dipungkiri bahwa angka pengidap HIV/AIDS di Indonesia cukup tinggi dengan kenaikan jumlah setiap tahunnya. Pada 2016, tercatat sekitar 36,7 juta orang menderita HIV/AIDS. Angka tertinggi berada di DKI Jakarta dengan jumlah 40.502 orang, diikuti Jawa Timur dengan 35.168 orang, dan Papua sebanyak 27.052 orang. Pengidap laki-laki lebih banyak daripada perempuan dan mayoritas terjadi pada usia produktif dengan kisaran 20-39 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa setiap provinsi di Indonesia memiliki risiko yang berbeda terhadap HIV/AIDS. Oleh karena itu, pemerintah membuat sebuah kebijakan untuk mengendalikan HIV/ AIDS yang bertajuk “Getting to Zeroes”. Kebijakan ini bertujuan untuk menurunkan dan meniadakan infeksi baru HIV, kematian akibat kondisi AIDS, dan menghapuskan diskriminasi terhadap orang dengan HIV/ AIDS (ODHA). Bermacam-macam strategi dirancang untuk menyukseskan kebijakan tersebut, seperti menemukan secara dini pasien dengan infeksi HIV, meningkatkan cakupan pemberian dan retensi antiretroviral (ARV), melakukan perawatan jangka panjang, memperluas pemeriksaan HIV, memperbaiki fasilitas pelayanan kesehatan,

angka pengidap tinggi terhambat akibat stigma dan diskriminasi masyarakat. Selain itu, berkurangnya bantuan dana dari lembaga donor asing juga memperburuk keadaan. Padahal, Indonesia sangat bergantung terhadap dana internasional karena dana dari pemerintah hanya dapat digunakan untuk perawatan serta pengobatan dan kurang berfokus pada pencegahan HIV/AIDS. Selain itu, fasilitas khusus yang diperlukan ODHA masih belum cukup. Salah satu contohnya adalah pada ibu hamil dengan HIV/AIDS yang harus meningkatkan usaha pencegahan transmisi virus secara vertikal dari ibu ke bayi. Diperlukan pula klinik khusus

HIV/AIDS yang menyediakan skrining HIV, akses obat ARV, dan ketersediaan obat-obatan lainnya. Berbagai kondisi di atas merupakan “pekerjaan rumah” yang berat bagi pemerintah dan seluruh masyarakat. Untuk menanggulangi masalah ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) berencana untuk menggencarkan pendekatan terhadap kelompok heteroseksual. Salah satu rencana yang terlibat adalah pembangunan fasilitas kesehatan yang ramah terhadap kelompok tersebut di sepuluh kota di Indonesia. Selain itu, para penyedia layanan kesehatan di fasilitas tersebut akan memperoleh pelatihan komunikasi dengan heteroseksual. Dari segi pemerintahan, dilakukan upaya pengembangan kebijakan operasional tingkat daerah serta perencanaan bersama untuk meningkatkan berbagai layanan di daerah yang meliputi penilaian kebutuhan, ketersediaan, dan kesenjangan sumber daya serta pelayanan dan pendanaan oleh pihak pemerintah daerah. Besar harapannya agar setiap terobosan yang dilakukan dapat terealisasi dengan baik sehingga angka penderita HIV/AIDS di Indonesia dapat menurun dengan signifikan. dina

INFO OBAT

Trastuzumab: Tidak Lagi Ditanggung BPJS? Trastuzumab telah keluar dari daftar obat yang ditanggung BPJS Kesehatan. Sebenarnya, seberapa baikkah obat ini untuk terapi kanker payudara?

K

anker payudara merupakan penyebab kematian tertinggi pada perempuan di Indonesia. Progresinya yang cepat menyebabkan pentingnya penanganan sejak dini, baik secara medikamentosa maupun nonmedikamentosa. Dari beberapa jenis obat untuk kanker payudara, trastuzumab merupakan salah satu obat yang dulunya umum digunakan. Trastuzumab (Herceptin®) merupakan obat lini pertama yang digunakan penderita kanker payudara. Obat berupa antibodi monoklonal ini bekerja pada human epidermal growth factor receptor (HER-2). Penempelan molekul trastuzumab pada reseptor HER2 akan menginhibisi

penempelan ligan alami reseptor tersebut sehingga menekan regulasi gen yang terekspresi berlebih pada penderita kanker. Trastuzumab untuk kanker payudara metastatik diberikan sebagai monoterapi pascaregimen kemoterapi, terapi kombinasi dengan paclitaxel untuk pasien tanpa kemoterapi sebelumnya, dan terapi kombinasi dengan inhibitor aromatase untuk pasien kanker payudara metastatik positif reseptor hormon. Pada kanker payudara tahap awal, trastuzumab diberikan pascaoperasi. Trastuzumab untuk adenokarsinoma lambung diberikan bersama capecitabine atau 5-fluorouracil dan cisplatin. Indikasi lain pemberian trastuzumab meliputi kanker

anthon/MA

gastroesophageal junction. Farmakokinetik trastuzumab bergantung pada dosis. Waktu paruh rata-rata selama 5,8 hari pada dosis perawatan sebesar 2 mg/kg berat badan. Kadar stagnan tercapai antara minggu ke-16 hingga minggu ke-32. Konsentrasi terendah dalam tubuh dapat mencapai 79 μg/ml, sedangkan konsentrasi tertinggi dapat mencapai 123 μg/ml. Administrasi trastuzumab dilakukan setelah uji untuk HER-2 dilakukan. Obat ini diberikan melalui infus intravena, bukan bolus. Terapi trastuzumab dapat dilakukan setiap minggu dan setiap tiga minggu. Pada perawatan mingguan, loading dose sebesar 4 mg/kgBB diberikan selama sembilan puluh menit. Selama infus terpasang, pasien dimonitor untuk kemungkinan gejala demam dan menggigil. Loading dose diikuti oleh subsequent dose sebesar 2 mg/kgBB melalui infus intravena selama tiga puluh menit. Apabila terapi diberikan setiap tiga minggu, dosis loading dose adalah sebesar 8 mg/kgBB diikuti 6 mg/kgBB subsequent dose. Perawatan untuk kanker payudara metastatik dilakukan hingga terlihat adanya perkembangan, sedangkan perawatan kanker payudara tahap awal dilakukan selama satu tahun. Apabila pasien tidak mengonsumsi obat selama satu minggu atau kurang, trastuzumab segera diberikan tanpa menunggu siklus pemberian berikutnya. Trastuzumab dikontraindikasikan secara mutlak bagi pasien dengan alergi terhadap trastuzumab atau bahan-bahan yang terkandung di dalamnya. Pemberian

trastuzumab harus diperhatikan secara seksama pada pasien dengan kardiomiopati karena dapat meningkatkan peluang terjadinya disfungsi miokardial simtomatik sebesar 4-6 kali lipat. Layaknya pemasangan infus pada umumnya, pemasangan infus untuk trastuzumab dapat menimbulkan efek samping demam, menggigil, mual, diare, infeksi, fatigue, dan muntah. Selain itu, pemberian trastuzumab juga dapat menyebabkan eksaserbasi neutropenia yang diinduksi kemoterapi dan toksisitas paru. Baru-baru ini, publik dihebohkan oleh penghapusan trastuzumab dari daftar obat yang ditanggung BPJS Kesehatan. Menurut pihak Kementerian Kesehatan, penghapusan ini merupakan langkah yang tepat mengingat harga trastuzumab yang amat mahal di pasaran, yaitu mencapai Rp25.000.000,00 per obat. Selain itu, pertimbangan lainnya adalah kurangnya efektivitas trastuzumab pada kanker payudara yang telah bermetastasis. Sebagai pengganti trastuzumab, pasien kanker payudara dapat menggunakan obat jenis inhibitor aromatase yang ditanggung BPJS Kesehatan. Inhibitor aromatase memiliki tiga generasi yang mana generasi ketiganya memiliki dua tipe, yaitu tipe steroid (exemestane) serta nonsteroid (imidazole, anastrozole, dan letrozole). Selain harganya relatif murah, inhibitor aromatase generasi ketiga memiliki efektivitas yang baik dan paling umum digunakan untuk kanker payudara stadium awal dan lanjut. farah


6

JULI

JULI - AGUSTUS 2018

Ilmiah Populer

MEDIA

AESCULAPIUS

ARTIKEL BEBAS

Si Hijau Pembasmi Jantung Koroner Di antara berbagai manfaat untuk tubuh, kelor juga menyimpan segudang khasiat untuk kesehatan jantung.

P

enyakit kardiovaskular merupakan kumpulan penyakit yang menimbulkan gangguan fungsi jantung dan pembuluh darah. Salah satu jenis penyakit kardiovaskular dengan mortalitas tertinggi adalah penyakit jantung koroner (PJK). World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa setiap tahunnya terdapat lebih dari empat juta kematian secara global akibat PJK. Bahkan, WHO menegaskan bahwa angka tersebut akan terus meningkat hingga lebih dari dua kali lipat pada 2030. Di Indonesia, PJK menjadi penyebab kematian terbesar dengan persentase 12,9% dari seluruh kematian setiap tahunnya. Tingginya prevalensi tersebut tidak terlepas dari paparan faktor risiko yang banyak terjadi di masyarakat. Kadar lipid darah yang tidak seimbang akibat pola hidup tidak teratur diketahui menjadi faktor risiko utama pencetus PJK. Dislipidemia merupakan gangguan metabolisme lemak yang menyebabkan ketidakseimbangan kadar lemak total tubuh. Gangguan ini ditandai dengan penurunan kadar high density lipoprotein (HDL) atau “kolesterol baik” dan peningkatan kadar trigliserida serta low density lipoprotein (LDL) yang sering dikenal sebagai “kolesterol jahat”. LDL dan trigliserida berlebih akan melekat pada dinding-dinding pembuluh darah, khususnya pembuluh darah koroner. Perlekatan tersebut dapat menginduksi respons radang yang dapat berlanjut hingga

aterosklerosis. Akibatnya, terjadi penyumbatan aliran karena dinding pembuluh darah dipenuhi LDL dan jaringan ikat. Kurangnya suplai darah menuju jantung menyebabkan kematian miosit dan mengganggu sistem peredaran darah sistemik. Jika terus dibiarkan, dapat berujung pada gagal jantung, bahkan kematian. Seiring meningkatnya prevalensi PJK dengan dislipidemia sebagai faktor risiko utama, kebutuhan akan terapi untuk menjaga kadar lemak tubuh dalam batas normal juga terus meningkat. Sejumlah farmakoterapi spesifik seperti statin menjadi terapi pilihan dengan tingkat keberhasilan yang cukup baik. Terlepas dari seluruh kelebihannya, terdapat sejumlah efek samping. Di samping itu, pelayanan kesehatan yang kurang memadai menyulitkan masyarakat untuk

mengakses pengobatan definitif dislipidemia. Masalah ini menjadi pertimbangan peneliti untuk mengembangkan studi mengenai efektivitas bahan alam dalam menurunkan kadar lemak darah sebagai alternatif pengobatan yang aman dan mudah dijangkau oleh seluruh golongan. Kelor, tanaman berbunga famili Moringaceae, merupakan tanaman endemik Asia dan Afrika. Tanaman dengan daun kecil yang tersusun majemuk ini sejak dahulu diketahui menyimpan banyak khasiat bagi kesehatan. Pada masa kerajaan Hindu di India, daun kelor yang irun /MA diremas telah digunakan untuk mengurangi sakit kepala dan menghentikan perdarahan. Di Indonesia, daun kelor dikonsumsi sebagai campuran sayuran. Konsumsi daun kelor secara rutin dipercaya mampu meningkatkan

produksi ASI ibu hamil. Selain itu, ia juga dipercaya mampu mencegah sejumlah masalah kesehatan, seperti hemoroid, hipertensi, demam, radang tenggorokan, serta infeksi mata dan telinga. Senyawa flavonoid seperti kuersetin dan kaempferol pada daun kelor diketahui memiliki efek antioksidan yang poten. Kedua senyawa ini mampu mencegah terjadinya stres oksidatif akibat radikal bebas sebagai faktor penting dalam patogenesis aterosklerosis. Kandungan fitosterol berupa β-sitosterol mampu menurunkan kadar LDL total plasma secara langsung serta menurunkan absorpsi lemak usus sehingga ekskresi kolesterol lebih optimal. Auratiamida asetat juga dapat ditemukan dalam ekstrak kelor. Senyawa ini memiliki efek anti radang melalui pencegahan sekresi mediator kimiawi limfosit, seperti TNF-α dan IL-2, yang meningkatkan respons radang pada proses penumpukan LDL di dinding pembuluh darah. Penelitian in vivo pada tikus dan kelinci menunjukkan respons penurunan LDL dan trigliserida serta peningkatan HDL yang signifikan setelah induksi ekstrak daun kelor. Efek serupa ditemukan pula oleh studi pada pasien dislipidemia. Terjadi perbaikan kadar lipid total setelah konsumsi tablet ekstrak daun kelor selama empat puluh hari. Berdasarkan hasil studi tersebut, terlihat bahwa daun kelor berpotensi untuk menjadi alternatif terapi dislipidemia. afiahuddin

SEGAR

Teka Teki Silang: Ayo Asah Ingatanmu! MENDATAR 2. Penyakit mata kronis yang ditandai dengan kekeruhan pada lensa mata; merupakan penyebab nomor satu kebutaan di Indonesia 4. Protein pada lensa yang ditemukan dalam jumlah paling banyak 6. Pada xanthelasma, terjadi endapan ....... di sekitar kelopak mata 8. Grafik (chart) yang umum digunakan untuk memeriksa ketajaman visual 9. Sel yang menerima stimulus cahaya redup (dim light) 10. Kanker pada retina yang sering terjadi pada anak-anak MENURUN 1. Gangguan degeneratif pada lansia, ditandai dengan berkurangnya elastisitas lensa mata 2. Infeksi Acanthamoeba pada mata dapat menyebabkan .... 3. Jumlah lapisan pada kornea 5. Salah satu obat untuk glaukoma dari golongan beta-blocker 6. Bagian mata paling luar yang transparan 7. Pinguecula pada mata dapat berkembang menjadi .... nadhira/MA


MEDIA

AESCULAPIUS

Ilmiah Populer

JULI - AGUSTUS 2018

7

JOURNAL READING

IPTEK

Gene Editing: Harapan atau Masalah Baru? Saat penemuan baru menjanjikan hasil luar biasa, perlu diperhatikan pula risiko yang dapat timbul.

S

alah satu bentuk perkembangan teknologi saat ini adalah penemuan tool kit gene editing yang memungkinkan modifikasi materi genetik. Tool kit gene editing memberi harapan besar bagi dunia kesehatan. Sebelum teknik ini ditemukan, modifikasi materi genetik dilakukan melalui rekombinasi homolog yang baru dapat selesai dalam waktu lebih dari satu tahun. Kini terdapat setidaknya tiga jenis tool kit gene editing yang cukup populer, yakni ZFNs, TALENs, dan CRISPR-Cas9. Meski penemuan tool kit gene editing memiliki banyak potensi bagi dunia kesehatan, barubaru ini sebagian peneliti mengingatkan “bahaya� yang dapat timbul. Di antara ketiga jenis tool kit gene editing, CRISPR-Cas9 merupakan alat terbaru yang lebih unggul dibanding pendahulunya. Ia menggunakan kombinasi protein dan RNA rantai pendek sebagai penanda spesifik sekuens DNA yang akan dipotong. Kelebihan CRISPR-Cas9 yang cukup menonjol adalah kemudahannya dalam bekerja dengan target baru. Pemotongan target DNA baru dengan ZFNs dan TALENs memerlukan encoding protein dengan segmen DNA yang cukup besar (500-1500 bp) untuk setiap target. Sementara itu, pemotongan target DNA baru dengan CRISPR-Cas9 hanya memerlukan penggantian 20-bp protospacer gRNA yang dilakukan melalui subkloning sekuens nukleotida ke dalam backbone plasmid gRNA. Sampai saat ini, CRISPR-Cas9 telah digunakan untuk memodifikasi kondisi genetik ragi, nematoda, lalat buah, ikan zebra, tikus, monyet, dan pada sel tertentu

dari manusia. Harapannya, tool kit gene editing, khususnya CRISPR-Cas9 akan dikembangkan menjadi teknologi terapeutik untuk mengatasi kelainan genetik pada manusia. Bahkan, metode tersebut diklaim memiliki prospek untuk mendesain bayi. Namun, di balik istimewanya kemampuan tool kit gene editing ini, terdapat risiko yang cukup besar. Sebuah jurnal oleh Haapaniemi Emma et al, melaporkan hasil penelitian mengenai CRISPR-Cas9 yang dapat menginduksi DNA damage response melalui aktivasi p53. Hal tersebut dapat mengganggu proses gene editing pada sel yang normal. Jurnal tersebut menuliskan bahwa penghambatan sinyal kerusakan DNA oleh aktivasi p53 dapat meningkatkan efisiensi dari tool kit gene editing yang tepat pada sel yang normal. Akan tetapi, penghambatan sinyal tersebut juga dapat meningkatkan kerentanan sel terhadap chromosomal rearrangement dan mutasi genetik. Salah satu hal yang dapat dilakukan terkait permasalahan tersebut adalah memahami lebih jauh mengenai respons kerusakan DNA yang diinduksi Cas9.

Ihry Robert J., et al melaporkan bahwa gene editing menggunakan CRISPR-Cas9 bersifat toksik dan dapat membunuh cukup banyak human pluripotent stem cells (hPSCs). Munculnya jurnal-jurnal yang melaporkan risiko gene editing tidak bertujuan untuk menghentikan penelitian mengenai tool kit gene editing. Darren Griffin, ahli genetika dari Kent University, mengatakan bahwa hampir semua penanganan medis memiliki dampak positif dan negatif. Oleh sebab itu, penelitian mengenai berbagai dampak tool kit gene editing perlu diperdalam. Tidak dapat dipungkiri bahwa penemuan tool kit gene editing menjanjikan potensi yang cukup besar bagi itnsaMA dunia kesehatan. Akan tetapi, diperlukan berbagai penelitian lebih lanjut. Selain risiko yang dapat timbul dari tool kit gene editing, perlu dipertimbangkan pula aspek etik yang dapat timbul jika akan diterapkan pada manusia. Penting bagi seluruh pihak yang terlibat dalam gene editing untuk memanfaatkan dampak positif secara maksimal dan mengurangi dampak negatif yang dapat timbul guna meningkatkan perkembangan dunia kesehatan. yulimaulidiya

ADVERTORIAL

Cepat Kenali Jaringan Kanker dengan

MasSpec Pen

Prosedur operasi menjadi lebih cepat dan aman melalui kemudahan deteksi jaringan endeteksi jaringan kanker secara akurat amat penting pada sebuah operasi. Mass Spectrometry Pen (MasSpec Pen) adalah alat menyerupai pulpen yang dikembangkan oleh ilmuwan dari Universitas Texas di Austin untuk mengidentifikasi jaringan kanker dengan cepat dan cukup akurat. Alat ini memiliki sistem analisis kimiawi dan telah diujikan pada 20 sampel jaringan kanker dan 253 jaringan normal pasien secara ex vivo. Ditemukan bahwa alat tersebut dapat mendeteksi jaringan kanker payudara, paruparu, tiroid, otak, dan ovarium. MasSpec Pen memiliki sensitivitas sebesar 96,4%, spesifisitas sebesar 96,2%, dan keakuratan sebesar 96,3%. Proses deteksi dilakukan langsung pada massa dan alat tersebut terhubung dengan mesin serta perangkat lunak analisis yang mengandung data-data mengenai jaringan kanker. Penggunaan alat ini cukup mudah,

yaitu dengan menempelkan ujungnya ke jaringan yang akan dianalisis selama tiga detik. Dari ujung MasSpec Pen akan keluar satu tetes air sebanyak 10 mikroliter yang melarutkan molekul-molekul larut air di jaringan sehingga air dan molekul tercampur. Kemudian, air akan terpompa masuk ke dalam alat untuk dianalisis mesin dengan algoritma yang dapat mengidentifikasi protein, lipid, dan metabolit dari jaringan tersebut. Hasil pemeriksaan dapat diperoleh dalam waktu sepuluh detik. Dibandingkan dengan prosedur yang biasa dilakukan, MasSpec Pen lebih efektif dan efisien dalam mendeteksi jaringan kanker. Pada umumnya, tindakan yang dilakukan oleh tenaga medis saat operasi adalah potong beku. Teknik diagnosis secara patologi anatomik tersebut bertujuan untuk mengidentifikasi jaringan yang diperoleh sebagai jaringan kanker atau normal. Pengambilan jaringan dilakukan dalam suhu dingin dan preparat dianalisis dengan mikroskop. Hasil dapat diperoleh paling lambat 30 menit, sedangkan MasSpec ka nia /M A

M

JULI

Pen bekerja dalam waktu sepuluh detik. Waktu yang singkat ini dapat meminimalkan risiko bagi pasien, seperti infeksi atau efek negatif anestesi saat operasi berlangsung. Selain itu, MasSpec Pen juga telah diuji dalam operasi tikus yang memiliki tumor dan terbukti bahwa alat ini tidak merusak jaringan. Diagnosis kanker klinis dan intraoperatif secara in vivo maupun ex vivo mampu dilakukan dengan MasSpec Pen. Namun, dengan harga sekitar setengah juta dolar, MasSpec Pen tergolong alat yang sangat mahal. Alat ini biasanya hanya dapat dimiliki laboratorium penelitian berteknologi tinggi. Selain itu, sistem integrasi alat yang berukuran cukup besar membuatnya sulit untuk ditempatkan di dalam ruang operasi. Pengambilan jaringan juga perlu dilakukan pada beberapa bagian untuk dianalisis. Ke depannya, peneliti akan berupaya membuat MasSpec Pen yang lebih sensitif dari sebelumnya, murah, serta kecil agar dapat dibawa masuk maupun keluar ruang operasi. Selain itu, alat ini juga akan diuji ke lebih banyak sampel jaringan serta diujikan di dalam proses operasi untuk melihat keberhasilannya dalam waktu sekitar dua bulan. dina

Risiko Kejadian Stroke setelah Lima Tahun Pascastroke Iskemik Ringan

R

isiko kejadian stroke berulang pascagangguan serebrovaskular di masa lampau merupakan salah satu ancaman bagi pasien. Namun, risiko terjadinya stroke saat ini menurun karena meningkatnya kemampuan diagnosis maupun tata laksana setelah insiden transient ischemic attack (TIA) atau stroke iskemik ringan. Diperlukan penelitian untuk menilai risiko kejadian stroke lima tahun mendatang pada pasien dengan TIA, meskipun sebelumnya telah terdapat penelitian mengenai prognosis pasien satu tahun pascaTIA. Sebuah studi kohort prospektif oleh Amarenco dkk menggunakan data yang diperoleh dari TIAregistry.org pada Juni 2009 hingga Desember 2011. Proyek tersebut melibatkan 61 pusat stroke untuk mendata insidensi stroke pada pasien pasca-TIA. Pada studi ini, terdapat 3.847 pasien yang tersebar pada 42 pusat dengan data follow-up pasien lebih dari 50% selama 5 tahun dan turut berperan dalam studi. Studi menunjukkan bahwa primary outcome (stroke, sindrom koroner akut, dan kematian akibat penyakit kardiovaskular) terjadi pada 496 pasien. Sebanyak 96 pasien meninggal akibat sebab kardiovaskular, 297 mengalami stroke yang tidak fatal, dan 76 mengalami sindrom koroner akut yang tidak fatal. Dari 496 pasien dengan primary outcome, 235 pasien mengalami kejadian tersebut pada tahun kedua hingga kelima sehingga perbandingan kejadian pada tahun pertama setelah TIA dengan tahun kedua sampai kelima memiliki kesamaan. Stroke terjadi pada 345 pasien dengan 149 pasien (34,2%) terkena pada tahun kedua hingga kelima. Hasil di atas menunjukkan besar risiko terjadinya primary outcome setelah lima tahun pasca-TIA adalah 12,9% (95% CI 11,814,1). Selain itu, risiko pasien mengalami stroke adalah 9,5% (95% CI 8,5-10,5). Bila dibandingkan dengan studi sebelumnya, ditemukan peningkatan risiko dua kali lipat, tetapi menurun ketika dibandingkan dengan studi terdahulu yang dilakukan sebelum pendekatan stroke terkini yang lebih modern. Pada analisis multivariat, diperoleh hasil bahwa stroke dengan subtipe kausatif stenosis ipsilateral akibat aterosklerosis, kardioemboli, dan small-vessel disease merupakan prediktor stroke berulang pada tahun kedua sampai kelima. Hasil tersebut konsisten dengan studi prognosis satu tahun pertama di mana stenosis ipsilateral akibat aterosklerosis merupakan penyebab rekurensi tertinggi. Berdasarkan hasil dan analisis di atas, dapat disimpulkan bahwa pada pasien dengan TIA terdapat risiko tetap selama lima tahun pertama dengan setengah kasus terjadi antara tahun kedua hingga kelima. Hasil ini memicu upaya-upaya untuk menurunkan risiko stroke berulang melalui tindakan pencegahan sekunder. filbert Referensi: Amarenco P, LavallĂŠe PC, Monteiro Tavares L, Labreuche J, Albers GW, Abboud H, et al. Five-Year Risk of Stroke after TIA or Minor Ischemic Stroke. N Engl J Med. 2018;378(23):2182-90


8

JULI

JULI - AGUSTUS 2018

OPINI & HUMANIORA

MEDIA

AESCULAPIUS

SUARA MAHASISWA

Eksistensi Isu Kesehatan di Panggung Politik Menjelang pesta demokrasi tahun 2019, bagaimana janji politisi mengenai kesehatan?

P

ada tanggal 27 Juni 2018, pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak digelar di 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten. Masa kampanye calon kepala daerah dimulai sejak bulan Februari hingga Juni. Tak hanya untuk menarik simpati masyarakat, para kandidat berlomba-lomba menyosialisasikan gagasan terbaiknya untuk mendulang suara. Kesehatan merupakan tantangan aktual yang berkaitan erat dengan kesejahteraan rakyat. Sayangnya, isu kesehatan belum memiliki pamor setinggi isu pendidikan dan ekonomi untuk disorot secara khusus dalam janji kampanye. Berkaca pada Pilkada tahun 2017, hanya 18 kandidat gubernur dari 7 provinsi di Indonesia yang mencantumkan kesehatan dalam visi misi mereka. Ironisnya, hanya 2 kandidat yang menyatakan akan melakukan integrasi jaminan kesehatan daerah dengan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Isu kesehatan sering kali dimaknai terbatas pada konsep pelayanan kesehatan. Hal tersebut tercermin dari program yang diajukan, yaitu lebih banyak berfokus pada pembangunan infrastruktur dan kualitas pelayanan. Bahkan, janji manis kandidat mengenai pengadaan kartu khusus dan program yang bersifat transaksional seperti kesehatan gratis masih dijumpai. Gagasan tersebut sebenarnya tidak lagi relevan di era JKN. Tahun 2019 kelak bukan hanya menjadi tahun politik dengan digelarnya pesta demokrasi. Tahun depan merupakan penentuan apakah Indonesia berhasil mencapai Universal Health Coverage (UHC). Data BPJS Kesehatan melaporkan bahwa

jumlah peserta program JKN per 1 Juli 2018 adalah 199.133.927. Angka tersebut hanya berkisar 75,1% dari jumlah penduduk Indonesia yaitu 265 juta jiwa pada tahun 2018. Upaya peningkatan kepesertaan JKN perlu dilakukan oleh seluruh pihak, salah satu caranya adalah mengintegrasikan program JKN dengan program kesehatan di daerah. Beberapa pemimpin daerah sebelumnya sudah melakukan hal itu dan seharusnya kebijakan tersebut dilanjutkan oleh kepemimpinan berikutnya. Sangat disayangkan jika pemimpin daerah yang baru justru hadir dengan kebijakan yang bertentangan dengan program nasional. Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan mengamanatkan minimal 10% APBD dialokasikan untuk program kesehatan. Faktanya, berdasarkan data APBD 2017, hanya 177 dari 542 daerah provinsi, kabupaten, dan kota yang memenuhi kewajiban tersebut. Oleh karena itu, komitmen pemerintah daerah dalam mengalokasikan irfan/MA anggaran untuk kesehatan masih harus terus ditingkatkan. Komitmen tersebut pun seharusnya diangkat dalam kampanye

Pilkada. Isu kesehatan di dunia politik harus dimaknai lebih luas dari sekadar akses dan kualitas pelayanan. Para politisi lebih baik tidak lagi berkampanye mengenai layanan kesehatan gratis. Program yang bersifat peningkatan kualitas layanan seperti dokter keliling, puskesmas 24 jam, dan pembangunan infrastruktur pun harus disusun secara rasional dan tidak hanya mengikuti tren. Hal penting lainnya adalah jangan sampai janji-janji kesehatan dijual dengan menggadaikan kesejahteraan tenaga kesehatan. Permasalahan kesehatan menuntut solusi konkret yang menyelesaikan akar masalah. Program kesehatan yang cerdas senantiasa memberdayakan masyarakat dan berorientasi terhadap pencegahan. Rencana program kesehatan yang tepat dapat menjadi cara untuk meningkatkan elektabilitas kandidat. Sebaliknya, program yang disusun tanpa perhitungan anggaran yang sesuai dan tidak sejalan dengan sistem yang berlaku dikhawatirkan tidak mampu laksana dan hanya menjadi angan semata.

Fona Qorina Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Tingkat III Menyongsong tahun 2019, isu kesehatan diharapkan menjadi fokus yang disoroti di panggung politik. Calon presiden kelak harus memiliki pengetahuan mengenai sistem kesehatan nasional dan pembangunan kesehatan berkelanjutan. Masyarakat pun diimbau untuk cerdas memilih kandidat dengan mempertimbangkan kualitas dan kematangan gagasan. Janji-janji kampanye yang dielu-elukan oleh pasangan calon, terutama tentang kesehatan, sejatinya hadir bukan hanya untuk mengantarkan mereka ke kursi kekuasaan, melainkan menjadi sebuah jaminan bahwa kesejahteraan rakyat adalah harga mati yang harus senantiasa mereka junjung.

KOLUM

Bystander Effect: Pengamat Pendosa

M

Diriku di tengah keramaian, tapi di tengah kesulitan dan tak seorang pun datang membantu.

aret 1964, seorang wanita muda baru saja menyelesaikan pekerjaannya dan pulang sekitar pukul 03.00 dini hari. Setelah memarkirkan mobilnya, ia berjalan menuju apartemennya melalui sebuah jalanan sepi Kota New York. Di tengah perjalanan, ia merasa diikuti seseorang. Wanita tersebut mempercepat langkahnya, tapi tiba-tiba sebuah pisau sudah terhunus masuk ke tubuhnya. Rasa takut yang menyelimutinya menggugah refleks untuk berteriak minta tolong. Sayangnya, tak satu pun bantuan datang. Malam itu, di jalan sepi Kota New York, Kitty Genovese, 28 tahun, meninggal dunia dengan beberapa luka tusuk serta tanda-tanda pemerkosaan. Pihak kepolisian Kota New York segera menyelidiki kasus tersebut setelah menemukan jasad Kitty. Beberapa aparat kepolisian meminta keterangan dari warga yang rumahnya berada di sekitar lokasi kejadian. Siapa sangka, 38 orang warga mengaku menyaksikan pembunuhan tersebut, tapi tak satu pun dari mereka tergerak untuk membantu Kitty atau sekedar menghubungi pihak kepolisian. Kelalaian ini disebutkan merupakan kebiasaan masyarakat New York yang memang terbilang apatis. Lima tahun kemudian, Bibb Latane dan John M. Darley memutuskan untuk melakukan penelitian yang dapat memberikan penjelasan mengenai sikap tersebut. Dalam penelitiannya, Latane dan Darley

membangun konsep yang disebut dengan muncul tidak mengindikasikan perasaan “bystander effect�. mereka yang sesungguhnya. Sikap bystander Bystander merupakan seseorang yang dipengaruhi oleh sikap orang lain yang juga melihat atau mendengar sebuah keadaan berada pada situasi tersebut. Apabila orang darurat, tetapi tidak terlibat secara langsung. lain menginterpretasikan keadaan tersebut Oleh karena itu, bystander effect dapat sebagai keadaan yang tidak darurat, seorang didefinisikan sebagai sebuah bystander cenderung fenomena keenganan untuk menganggap seorang bystander untuk kejadian tersebut kurang membantu korban dalam darurat dibandingkan keadaan darurat apabila apabila ia berada pada situasi tersebut dalam situasi tersebut terdapat bystander lainnya. sendirian. Seseorang yang sedang Teori kedua adalah mengalami bystander effect beban tanggung jawab tidak serta-merta bersifat yang terbagi. Meskipun apatis dan tidak peduli. seseorang memang Sering kali seorang bystander menginterpretasikan menunjukkan tanda-tanda sebuah situasi bersifat kecemasan dan ketakutan darurat dan merasa akan dampak yang mungkin bahwa dirinya harus terjadi apabila dirinya tidak melakukan sesuatu, segera bertindak. ia tetap dihadapkan Latane dan Darley pada pilihan apakah dalam penelitiannya dirinya harus bertindak memaparkan dua penjelasan atau tidak. Bagaimana yang mungkin mendasari seorang individu putri/MA fenomena ini. Teori menetapkan pilihannya pertama menjelaskan bahwa keberadaan kembali dipengaruhi oleh keberadaan orang lain di tempat kejadian perkara orang lain. Keberadaan sejumlah saksi pada dapat memengaruhi interpretasi seorang situasi yang sama akan menyebabkan beban bystander terhadap keadaan darurat yang tanggung jawab seseorang akan terbagi tengah berlangsung. Biasanya, respons yang kepada beberapa orang yang menyaksikan

Talitha Vania S. Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Tingkat III kejadian tersebut. Akibatnya, rasa keharusan untuk bertindak pada situasi darurat berkurang pada masing-masing bystander. Terlepas dari berbagai pemicu bystander effect, masyarakat seharusnya menyadari bahwa sesungguhnya manusia dibekali oleh simpati dan empati untuk dapat merasakan seporsi kecil perasaan korban. Apabila tindakan untuk membantu korban mungkin untuk dilakukan, sebagian besar orang sebaiknya bertindak untuk mengurangi penderitaan tersebut. Syukurlah, norma-norma yang menuntut manusia untuk memiliki tanggung jawab terhadap sesamanya pada sebagian besar masyarakat sesungguhnya menyebabkan bystander effect tidak selalu dominan dalam setiap situasi darurat.


MEDIA

OPINI & HUMANIORAJULI

JULI - AGUSTUS 2018

AESCULAPIUS

9

SUKA DUKA

Dedikasi Puluhan Tahun untuk Fisiologi Olahraga

L

ahir dan besar di Makassar, Dr. dr. Ermita Isfandiary Ibrahim Ilyas, MS, AIFO harus mengikuti suaminya pindah ke Jakarta setelah menyelesaikan pendidikan kedokterannya di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (FK UNHAS). Meskipun harus menolak tawaran untuk melanjutkan studi spesialis di FK UNHAS, Ermita akhirnya memutuskan untuk mengambil program magister biomedik jurusan fisiologi di FKUI. “Kalau tidak ada yang mau menjadi dosen, siapa yang akan mengajar calon-calon dokter nanti?” ujarnya saat ditanya alasan memilih program tersebut. Setelah menyelesaikan studinya pada tahun 1989, ia mengikuti suaminya lagi ke Australia dan menetap di sana selama tiga tahun. Di Australia inilah Ermita bercerita banyak tentang keikutsertaannya dalam berbagai kursus di Canberra College yang tersertifikasi oleh Australian Sports Medicine Federation. Salah satu kursus tersebut adalah bidang cedera olahraga. Setelah mengambil kursus, ia ditawari bekerja di Australian Football League kelas junior. “Saya merasakan kursus di sana itu sangat applicable. Di sana saya langsung menangani cedera di lapangan. Jadi, saya benar-benar memiliki pengalaman. Ditambah lagi, standar operasional di sana sangat baik sehingga tidak bisa sembarangan,” kenang Ermita. Selain itu, ia juga mengambil kursus di bidang fitness untuk mempelajari cara melatih resistance training, aerobik, hingga harus membuat sendiri satu contoh kelas aerobik. Setelah kembali ke Indonesia, Ermita

nadhira/MA

Segudang cerita setelah mengabdi puluhan tahun sebagai ahli fisiologi olahraga dan dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI).

mendapatkan tawaran untuk bekerja di Komisi Medis Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB-PASI). Ia yang kini telah menjadi ketua Komisi Medis PBPASI selama 22 tahun menceritakan bahwa pada awalnya hanya ada satu ruangan kecil untuk pemeriksaan medis para atlet. Belum ada tim medis selain dokter yang memadai. “Akhirnya, saya usulkan bahwa tidak bisa seperti ini. Harus ada fisioterapis, ahli gizi, psikolog, pediatris, dan lainnya,” paparnya. Berkat usulannya tersebut, PB-PASI mulai

mendatangkan berbagai ahli medis tersebut, termasuk pediatris langsung dari Singapura. Tim ini juga akhirnya diberikan ruang tambahan yang digunakan sebagai klinik dan ruang tes doping. Menurut Ermita, bergabung dengan PB-PASI memberikannya banyak sekali ilmu. “Di PB-PASI itu bagus sekali karena ada banyak kursus yang diadakan oleh International Association of Athletics Federation untuk para tim medis dan pelatih, seperti kursus kedokteran olahraga

dan rehabilitasi,” terang Ermita. Berbagai kursus tersebut membantunya terutama dalam berkomunikasi dengan pada pelatih. Pengalamannya di Komisi Medis PB-PASI juga mempermudah kegiatan mengajar. Tidak jarang ia membagikan pengalaman tersebut sebagai contoh kasus nyata yang dapat ditemui di bidang fisiologi olahraga. Selain menjadi pengurus PB-PASI, Ermita juga merupakan anggota Komisi Medis Asian Athletics Association. Ia sering dikirim ke berbagai kejuaraan atletik tingkat Asia untuk mengawasi urusan medis atlet. Dalam hal ini, Ermita bertindak sebagai pengawas dan penghubung antara petugas medis dan panitia kejuaraan. Meskipun senang dapat mengunjungi berbagai negara, ia mengaku bahwa kadang tugasnya ini dapat memakan waktu hingga larut malam. Ermita juga menceritakan pengalamannya dalam menangani Muhammad Zohri yang baru-baru ini meraih medali emas dalam Kejuaraan Dunia Atletik Junior 2018. Ermita menceritakan bahwa sebelum berangkat ke Finlandia, Zohri ternyata sempat mengalami keluhan nyeri di paha. Hal ini tentunya langsung ditangani oleh Komisi Medis PB-PASI dengan mendatangkan osteopath langsung dari Singapura. “Ketika tahu Zohri menang, saya menangis saking senangnya karena setelah hampir 30 tahun akhirnya ada juga yang juara,” ujar Ermita senang. Ia berharap untuk ke depannya, para atlet dan pelatih semakin menerapkan sport science. Tak hanya atletik saja, tetapi juga cabang lainnya. nadhira

RESENSI

Apa yang Membuat Hidupmu Layak Untuk Dijalani? “One day I was a doctor treating the dying, and the next I was a patient struggling to live” – Paul Kalanithi

P

dokumen penerbit

Judul  

: When Breath Becomes Air

Genre

: Autobiografi

Penulis

: Paul Kalanithi

Penerbit

: Penguin Random House

Jumlah halaman : xix + 218 halaman

ada usia tiga puluh enam tahun, di akhir perjalanannya sebagai residen bedah saraf, Paul Kalanithi didiagnosis menderita kanker paru stadium IV. Seketika, mimpi yang ia rencanakan bersama istrinya, Lucy Kalanithi, menguap begitu saja. Ditulis selama ia menjalani perawatan, “When Breath Becomes Air” mengisahkan transformasi Paul dari seorang mahasiswa kedokteran yang bertanya-tanya tentang arti hidup, lalu menjadi seorang ahli bedah saraf yang bekerja pada organ paling kritis bagi identitas manusia, hingga akhirnya menjadi seorang pasien sekaligus seorang ayah. Berasal dari keluarga yang memiliki latar belakang tenaga medis, Paul awalnya tidak berminat menjadi dokter. Ia menempuh pendidikan sastra Inggris dan biologi manusia di Universitas Standford, kemudian meraih gelar master sejarah dan filsafat sains di Cambridge. Ia berharap dapat menemukan apa yang membuat hidup bermakna dari buku-buku dan karya sastra yang ia pelajari, namun ia tidak menemukan jawabannya. Konsep “manusia fisiologis-spiritual” yang diusung oleh seorang penyair Amerika akhirnya mendorong Paul untuk menempuh pendidikan lagi di bidang kedokteran. Di paruh pertama buku ini, Paul memberikan kisah yang menarik tentang perjalanan yang telah ia lalui, mulai dari pengalaman pertamanya melihat kadaver ketika masih mahasiswa, hingga berbagai kasus yang telah ia tangani selama menjadi

residen bedah saraf. Dari kisahnya, pembaca dapat mengetahui bahwa Paul memiliki pemahaman yang baik tentang hubungan dokter-pasien. Pengetahuan, kemampuan, dan dedikasi yang tinggi membuat karirnya cemerlang. Semuanya berubah ketika ia sampai di tahun terakhirnya sebagai residen. Rasa sakit punggung yang dideritanya selama beberapa waktu ternyata merupakan gejala dari penyakit kanker paru yang dideritanya. Menguapnya mimpi yang ia dan Lucy rencanakan sejak lama menuntut mereka untuk merencanakan masa depan yang baru. Rencana memiliki anak, kelanjutan karir Paul sebagai spesialis bedah saraf, serta jumlah waktu yang tersisa untuk hidup merupakan bahan perenungan Paul yang tertuang dalam buku ini. Buku ini diakhiri dengan peristiwa kelahiran putri Paul dan Lucy, kemudian ditutup dengan epilog yang ditulis oleh Lucy untuk mengenang kepergian Paul pada tanggal 9 Maret 2015. Bentuk narasi yang cukup banyak ditemukan pada buku ini sekilas akan memberikan kesan monoton. Namun, jika pembaca mendalami buku ini dengan cermat, pelajaran berharga yang ditulis dengan sangat indah akan banyak ditemukan dalam setiap perenungan Paul. Kenyataan bahwa buku ini mengisahkan kehidupan penulisnya sendiri membuatnya meninggalkan dampak yang luar biasa kepada setiap pembaca. fiya

JASA PEMBUATAN SYMPOSIUM HIGHLIGHT Media Aesculapius menyediakan jasa pembuatan Symposium Highlight. Symposium highlight adalah peliputan sebuah seminar atau simposium, yang kemudian hasilnya akan dicetak dalam sebuah buletin, untuk dibagikan pada peserta seminar. Simposium yang telah kami kerjakan antara lain PIT POGI 2010, ASMIHA 2011, ASMIHA 2016, ASMIHA 2017, JiFESS 2016, JiFESS 2017, dan lain-lain. Hubungi Hotline MA: 0896-70-2255-62 (SMS/Whatsapp)


JULI

10

JULI - AGUSTUS 2018

Liputan

MEDIA

AESCULAPIUS

RUBRIK DAERAH

Peran Kuliah Kerja Nyata di Daerah Perifer Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan program pengabdian sebagian besar perguruan tinggi di Indonesia.

P

robolinggo adalah kabupaten yang indah. Setelah sekian lama, saya akhirnya kembali berkunjung ke daerah ini untuk mengikuti kuliah kerja nyata (KKN) bersama semua mahasiswa semester tujuh Universitas Negeri Jember. Tepatnya di Desa Gunggungan Lor, Kecamatan Pakuniran, Kabupaten Probolinggo. Rangkaian kegiatan KKN yang saya ikuti dimulai sejak 16 Juli hingga 29 Agustus 2018 yang diawali dengan pembekalan, dilanjutkan dengan lokakarya, dan diakhiri dengan penutupan. Satu kelompok KKN terdiri dari sembilan orang mahasiswa yang dibimbing oleh satu dosen pembimbing lapangan. Pelaksanaan KKN Tematik lebih tepatnya berada di Kabupaten Probolinggo, dengan pelaksanaan di 50 desa. Program KKN Tematik diharapkan dapat menyelesaikan masalah stunting dan sanitasi yang ada di masyarakat.

fi

A

/M

a on

KKN diadakan oleh sebagian besar perguruan tinggi di Indonesia dengan membawa misi mulia. Bagi pemerintah dan masyarakat, mahasiswa diharapkan dapat menerapkan ilmu yang didapat selama masa kuliah untuk membantu membangun kehidupan masyarakat desa. Dari segi pendidikan, dengan adanya interaksi dan pengalaman mencicipi kondisi kehidupan bermasyarakat, KKN juga diharapkan mampu menyeimbangkan kemampuan otak kiri dan kanan mahasiswa. Selama menjalani kegiatan ini, kami berusaha menggali latar belakang terhambatnya pertumbuhan anak yang mengarah pada terjadinya stunting. Selain marak diadakan pernikahan dini yang berakibat pada kurangnya kualitas kehamilan serta kelahiran, banyak bayi yang dinilai rentan mengalami gangguan pencernaan. Bayi-bayi tersebut kemudian tidak mendapatkan asupan nutrisi sesuai kebutuhan sehingga terjadi hambatan tumbuh kembang. Maka dari itu, kami berusaha menjalin kerja sama dengan

pemerintah daerah, masyarakat, dan warga dengan mengadakan suatu kegiatan yang bertujuan membangun desa ini berupa pelaksanaan lomba memasak makanan sehat berbasis MPASI dan pembuatan tempat sampah dari bahan kayu atau bambu bekas. Publikasi kegiatan tersebut diberikan melalui pendekatan langsung ketika kami ikut serta dalam kegiatan desa dan mengadakan penggalakan program kesehatan maupun kepedulian lingkungan yang dijunjung oleh pemerintah setempat. Memang pada kenyataannya, rencana yang telah disusun tidak selalu berjalan mulus. Interaksi singkat dan program sederhana yang kami lakukan tidak dapat serta merta mengubah pola pikir masyarakat. Salah satu contohnya adalah masalah pernikahan dini yang sudah menjadi suatu kewajaran. Kesulitan lain yang kami temui menyangkut antusiasme masyarakat. Sebagian masyarakat yang sudah merasa memiliki taraf hidup layak serta adanya kemajuan teknologi membuat orang-orang nyaman dengan urusan masing-masing dan kurang berpartisipasi dalam kegiatan ini. Terlepas dari hasil KKN tersebut, saya melihat bahwa kegiatan ini memfasilitasi para mahasiswa untuk saling bergotong royong dalam satu wadah pengabdian darma perguruan tinggi, pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Selain itu, mahasiswa sebagai agen intelektual juga dapat belajar mengintegrasikan kehidupan masing-masing dengan masyarakat, tidak

Imelda Nafa Pawestri Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Jember Tingkat IV Angkatan 2010 Kontak : 082234222962 Email : imeldanafa12@gmail.com Alamat : Jalan Mastrip No. 65, Kecamatan Sumbersari, Kabupaten Jember hanya hidup eksklusif dalam lingkungan kampus.

SEPUTAR KITA

Langkah Tepat Memilih Antibiotik untuk Sepsis Sepsis dapat berujung pada kematian jika tidak ditangani dengan pemberian antibiotik yang tepat. Lantas, langkah apa yang harus diambil?

P

ada Sabtu, 21 Juli 2018 pukul 07.30–08.35 WIB dilaksanakan Morning Symposium 6 di Ballroom C, Hotel Shangri-La, Jakarta. Simposium ini merupakan salah satu rangkaian acara International Meeting on Respiratory Care Indonesia (RESPINA) 2018. RESPINA 2018 mengangkat tema “Caring the Journey of Togetherness, Focus on: Respiratory Failure” dengan tujuan memberikan informasi terkini di bidang respirasi. Keseluruhan rangkaian

dokumen acara nadhira/MA

kegiatan yang terdiri dari simposium dan workshop ini dilaksanakan pada tanggal 20–21 Juli 2018 dan bertempat di Rumah Sakit Pusat Infeksi (RSPI) dr. Sulianti Saroso dan Hotel Shangri-La, Jakarta. Salah satu topik pada Morning Symposium 6 adalah “First Line Antibiotic in Sepsis” yang dibawakan oleh dr. Sutji Astuti Mariono, SpP. Pada kesempatan tersebut, Sutji menjelaskan betapa pentingnya para dokter untuk memilih antibiotik yang

tepat dalam penanganan sepsis. Sepsis adalah suatu komplikasi dari infeksi yang sudah terjadi secara sistemik. Sepsis dapat dikategorikan berat apabila telah terjadi disfungsi organ dan hipoperfusi jaringan. “Memilih antibiotik untuk pasien sepsis sangatlah krusial,” tegas Sutji sebelum memulai inti pembahasan. Pemberian antibiotik juga tidak boleh terlambat. Hal ini penting untuk diingat karena berdasarkan studi, pasien yang menerima antibiotik dalam kurun waktu 3–12 jam memiliki risiko kematian sebesar 14% lebih tinggi dibandingkan dengan yang menerima antibiotik dalam waktu kurang dari tiga jam. “Tiap rumah sakit memiliki pola resistensi dan sensitivitas patogennya masing-masing,” ujar Sutji. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan ketika menangani pasien sepsis. Hal pertama yang harus dilakukan adalah mendapatkan kultur patogen penyebab sepsis. Hasil kultur menentukan jenis antibiotik yang tepat untuk digunakan. Selanjutnya, kembali lagi ditegaskan untuk tidak menunda pemberian antibiotik, meskipun harus dilakukan pengambilan sampel untuk kultur. Sterilisasi dalam darah dapat berlangsung dengan sangat cepat setelah pemberian antibiotik. Oleh karena itu, harus selalu diperhatikan jenis antibiotik yang telah diberikan terkait

hasil kultur bisa jadi dipengaruhi pemberian obat tersebut. Terdapat tiga prinsip dasar dalam memberikan antibiotik untuk pasien sepsis: start early, broad spectrum, dan prevent resistance. Start early berarti pemberian antibiotik harus diberikan dari awal secara intravena dalam kurun waktu satu jam pertama setelah onset syok septik. Tak hanya itu, farmakologi dari obat yang diberikan harus diperhatikan. Pengetahuan yang dalam terkait obat tersebut membantu pencapaian durasi terapi secara optimal. Prinsip kedua adalah broad spectrum yang mengacu pada pemberian antibiotik spektrum luas. Terapi empirik awal yang diberikan harus mencakup minimal satu antibiotik yang efektif terhadap semua jenis patogen, salah satunya adalah karbapenem. Terapi kombinasi juga dianjurkan, tetapi pemberiannya tidak boleh lebih dari 3–5 hari. Perlu diingat bahwa pemberian antibiotik spektrum luas juga dapat menimbulkan masalah baru, yaitu resistensi bakteri. Oleh karena itu, prinsip dasar terakhir yang harus diperhatikan adalah mencegah resistensi. Hal ini dapat dilakukan dengan mengoptimalkan durasi pemberian antibiotik dan mengubah jenis antibiotik ke spektrum yang lebih sempit. nadhira


MEDIA

AESCULAPIUS

Liputan

JULI

JULI - AGUSTUS 2018

11

SEPUTAR KITA

Mengulas Lebih Dalam Infeksi Saluran Kemih Berulang Pasien ISK datang berulang? Bagaimanakah mekanisme terjadinya ISK berulang?

H

asil pemeriksaan mikrobiologi dapat menjadi sumber kebingungan bagi dokter umum dalam menangani kasus infeksi saluran kemih (ISK). Pemeriksaan yang seharusnya berguna untuk membantu dokter dalam menyusun rencana terapi bisa jadi justru lebih sulit untuk diinterpretasikan karena temuan mikroorganisme yang tidak diharapkan. “Semua mikroorganisme yang ada di saluran cerna bisa menjadi penyebab infeksi saluran kemih,” tutur Dr. dr. Yeva Rosana, M.S., Sp.MK(K), dalam presentasi yang berjudul “Microbiology Aspect of Recurrent UTI (Biofilm and UPEC)”. Pembahasan tersebut merupakan salah satu topik pada Simposium Kursus Penyegar dan Penambah Ilmu Kedokteran (KPPIK) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia 2018 oleh bagian Continuing Medical Education-Continuing Professional Development (CME-CPD) FKUI. Bertempat di Sheraton Grand Jakarta Gandaria City Hotel, acara ini dilaksanakan pada hari Sabtu dan Minggu, 14-15 Juli 2018. Mikroorganisme yang terlibat dalam ISK pada umumnya berasal dari saluran cerna dan vagina bila penderitanya perempuan. Mikroorganisme dapat menyebabkan infeksi melalui mekanisme kolonisasi di saluran kemih dan ascending atau pergerakan menuju saluran yang lebih proksimal. Akan tetapi, kolonisasi saja tanpa diikuti gejala klinis

terkait ISK juga dapat terjadi. Oleh karena itu, penentuan diagnosis membutuhkan pemeriksaan urinalisis. Pemeriksaan urine yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan urine dipstick atau carik celup dan kultur urine yang merupakan baku emas. Pemeriksaan urine dipstick untuk mendeteksi ISK biasanya memeriksa dua parameter yaitu kadar leukosit esterase (LE) dan nitrit. Pemeriksaan carik celup bersifat skrining dan urine yang paling baik untuk dianalisis adalah urine pagi midstream. Banyak faktor yang dapat menyebabkan pemeriksaan ini menjadi positif palsu seperti terlalu lama dibiarkan atau adanya kontaminasi oleh sumber lain. ISK yang penanganannya tidak tuntas dapat berlanjut menjadi ISK berulang. “Setiap orang yang pernah mengalami sistitis, mempunyai risiko untuk berulang,” ujar Yeva. Faktor risiko yang mendukung terjadinya ISK berulang adalah pengosongan kandung kemih yang tidak sempurna saat berkemih, adanya batu, atau keberadaan benda asing, seperti kateter, di saluran kemih. Bakteri utama penyebab ISK berulang adalah UroPathogenic Escherichia Coli (UPEC). Bakteri UPEC memiliki faktor virulensi berupa adhesin, toksin, flagela, dan kemampuan mengikat besi sehingga efektif dalam menginfeksi saluran kemih. Kemampuan adhesi UPEC pada kerusakan mukopolisakarida di epitel saluran kemih

hansel/MA

menyulitkan bakteri untuk dibilas dari kandung kemih saat buang air kecil. Selain faktor virulensi, UPEC juga dapat membentuk biofilm sehingga ISK yang dialami semakin sulit untuk diterapi. Biofilm merupakan kemampuan bakteri untuk berkumpul, baik dengan spesies yang sama maupun berbeda. Kemampuan membentuk biofilm secara umum dimiliki semua bakteri yang dapat menyebabkan ISK, tetapi utamanya dimiliki oleh E. coli dan Pseudomonas. Bakteri-bakteri yang berkoloni

tersebut dapat saling melindungi dan saling berkomunikasi. “Mekanisme pembentukan biofilm masih belum diketahui, tetapi diduga ada gen yang berperan membantu komunikasi bakteri,” tambah Yeva. Pada akhirnya, ISK berulang dapat dicegah dengan pemeriksaan mikrobiologi yang baik guna menentukan penyebab dan terapi serta mencegah terbentuknya biofilm. filbert

RUBRIK DAERAH

Bertemu Banyak Kasus Jarang di Kabupaten Lumpur Lapindo Ketika pengalaman sebagai koas justru menjadi pegangan dan guru.

dr. Najmah Muhammad Kuddah najmah.kuddah@gmail.com RS Siti Khodijah Sepanjang Sidoarjo, Jawa Timur

T

idak seperti kebanyakan cerita tentang susahnya hidup di pedalaman selama internship, saya berkesempatan mengabdi di Kabupaten Sidoarjo, daerah yang berbatasan dengan Surabaya. Dengan hanya berjarak 15 menit dari Masjid Agung Surabaya, bisa disimpulkan letaknya masih berada di sekitar kota. Rumah sakit tempat saya bekerja bertipe B yang banyak menerima rujukan dari kabupaten lain di Jawa Timur. Di sana saya banyak menemukan kasus jarang dan belajar banyak di dalamnya. Salah satu kasus jarang yang saya temui adalah sindrom vena kava superior (SVKS). Pasien datang dengan sesak dan bengkak yang hanya ditemui di ekstremitas atas. Dari anamnesis riwayat keganasan disangkal. Pasien baru saja dirawat kurang dari enam bulan lalu dan dari foto toraks

sebelumnya tidak ditemui adanya massa paru. Berdasarkan pemeriksaan fisik, saya menyimpulkan diagnosis mengarah ke SVKS, walaupun tidak didukung dengan anamnesis. Ketika masih koas, banyak konsulen yang berpesan, “Sekali kita melihat suatu kasus menarik, tidak akan lupa selamanya.” Begitulah yang saya rasakan ketika melihat pasien ini, saya sangat yakin kasus ini adalah SVKS berdasarkan pengalaman beberapa anthon/MA kali memeriksa pasien SVKS di RS Persahabatan Jakarta. Dokter UGD dan beberapa teman internship tempat saya bekerja tidak sependapat, tetapi hasil foto toraks ulang memperlihatkan adanya massa paru yang mendesak vena kava superior sehingga pasien didiagnosis SVKS. Beberapa pemeriksaan lanjutan dilakukan untuk menegakkan diagnosis sebelum dirujuk ke RS tipe A. Ketika berdiskusi, ternyata dokter UGD dan teman internship saya belum pernah menemukan kasus SVKS secara langsung. Dari pengalaman tersebut, saya menyadari betapa beruntungnya saya dapat bertemu kasus jarang ini selama koas. Saya jadi menyadari pentingnya pemeriksaan yang lengkap dan sistematis. Tidak cukup dengan anamnesis, kemampuan pemeriksaan fisik

yang tajam juga akan menentukan diagnosis. Hal-hal yang dianggap sederhana ketika kuliah akan menjadi tonggak utama saat kita terjun di dunia kerja. Maka dari itu, satu pesan yang ingin saya petik dan bagikan adalah tetap “bermental koas” selamanya, bahkan saat di dunia kerja, selalu merasa tidak tahu, belum cukup, dan belum bisa. Kebiasaan seorang dokter umum adalah sering kali merasa nyaman di zonanya. Padahal tidak ada orang yang tetap berdiri di titik yang sama. Pilihannya hanya dua: bertambah maju

Potret Nyata...

atau mundur, disadari atau tidak. Kasus di atas hanyalah sebagian kecil kasus jarang yang saya temui. Beberapa kasus lain adalah Guillain-Barre syndrome pada ibu hamil, systemic lupus erythematosus pada laki-laki, pecahnya aneurisme otak pada dewasa muda, dan lain-lain. Selama internship, saya berusaha menulis dan mengirimkan kasus menarik yang saya temui ke forum ilmiah. Tentu saja laporan kasus tersebut sederhana, hanya dari sudut pandang seorang dokter umum. Namun, hal ini akan mengingatkan saya nantinya bahwa ilmu saya masih terlalu jauh dari sempurna, bahwa saya masih belum mengetahui banyak hal. Bagi calon teman sejawat yang masih koas, pesan saya adalah manfaatkan masa klinik dengan sebaik-baiknya sebagai modal ilmu dan masa internship nantinya sebagai wadah untuk mengaplikasikannya. Stay foolish, stay hungry.

sambungan dari halaman 1

puskesmas, kemampuan figur pelaksana penyelenggaraan kesehatan haji tingkat daerah, prosedur pengorganisasian pemeriksaan dan pembinaan kesehatan haji tingkat daerah, hingga sarana dan prasarana. “Tetapi yang penting adalah political will dari pemerintah daerah untuk membantu pelaksanaan penyelenggaraan kesehatan haji di daerahnya,” tutur Muchtarrudin. Peranan Dokter Umum di Garda Terdepan Peran dokter umum dalam pelaksanaan istithaah sangat penting, terutama sebagai pengevaluasi dan pemberi promosi kesehatan calon jemaah haji. Dr. Chyntia Olivia Maurine Jasirwan, SpPD., PhD, Staf Departemen Ilmu Penyakit Dalam Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo-FKUI sekaligus Petugas Kesehatan Haji 2017 mendorong dokter umum untuk terjun langsung ke daerah. “Para dokter juga bisa membantu meningkatkan taraf kesehatan jemaah haji dengan mengadakan penyuluhan di daerahnya masing-masing untuk mengatasi perbedaan kesiapan dari setiap daerah,” ujar Chyntia. nathalia, rayhan, kelvyn


12

JULI

JULI - AGUSTUS 2018

Liputan

MEDIA

AESCULAPIUS

SEREMONIA

Jalan Santai Menyemarakkan HUT ke-72 Bhayangkara

Imunisasi Pagi untuk Anak yang Lebih Sehat

dokumen penyelenggara

D

alam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-72 Bhayangkara, Polres Pandeglang menyelenggarakan gerak jalan santai di Alun-alun Kabupaten Pandeglang pada tanggal 1 Juli 2018. Kegiatan berlangsung meriah dan diikuti oleh

ribuan peserta dari jajaran Polres Pandeglang, TNI, Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (FORPIMDA), dan masyarakat. Polres Pandeglang berharap gerak jalan santai ini dapat mempererat hubungan antara polisi dan masyarakat Pandeglang. fiya

dina/MA

I

munisasi Pagi yang diadakan oleh Klinik Sehat Suko Asih di Sukoharjo, Jawa Tengah ini tampak ramai pengunjung. Pada pukul tujuh pagi, kegiatan yang dilakukan tanggal 1 Juli 2018 ini sudah dipenuhi oleh puluhan

orang tua beserta anaknya yang mengantre untuk mendapatkan imunisasi. Kegiatan ini dilaksanakan setiap minggu pada hari Minggu pagi yang bertujuan memberikan pelayanan kepada ibu dan anak guna memantau kesehatan anak. dina

SENGGANG

Asyik Berburu di Tengah Belantaranya Hutan “Kesibukan tak akan menghalangi kegemaran menembakku”

D

i era serba modern seperti saat ini, berburu mungkin menjadi salah satu aktivitas yang kurang menarik lagi. Kondisi ekonomi masyarakat yang lambat laun semakin membaik, mendorong mereka berbondong-bondong menanggalkan kebiasaan nenek moyang ini. Namun, tidak demikian dengan dr. H. Ichwan Meinardi, SpPK, M.Kes. Kepala instalasi laboratorium klinik RSUD Jeneponto, Sulawesi Selatan ini menjadikan berburu sebagai olahraga rutin yang tidak hanya menyehatkan, tetapi juga mampu melatih kesabarannya. Kebiasaan berburunya ini diawali oleh kecintaannya terhadap dunia persenjataan. Iwan, begitu sapaan akrabnya, mulai menjajal dunia tembak-menembak sejak duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar. Keseriusannya itu pun berbuah manis dan mengantarkan Iwan meraih gelar juara ketiga dalam turnamen tembak sasaran 10 meter Perbakin Unhas tahun 1988. Meskipun tampak berseberangan dengan dunia yang kini digelutinya, Iwan mengaku bahwa berburu mampu memberikan sejuta manfaat untuknya. “Melatih kesabaran, konsentrasi, dan fokus. Nantinya halhal tersebut sangat berguna saat kembali bekerja,” ungkap Iwan. Berburu mampu memperbaiki kinerjanya sebab perasaan senang dan bahagia selalu muncul dengan sendirinya begitu ia berada di dalam hutan. Bagaimana tidak, selain hanya menekan pelatuk, Iwan juga mengalami pengalaman lucu dan tak terlupakan. “Saya pernah menembak babi, tiba-tiba babinya balik

Nama Lengkap dr. H. Ichwan Meinardi, SpPK, M.Kes. Jabatan Kepala Instalasi Laboratorium Klinik RSUD Jeneponto, Sulawesi Selatan Alamat Jl. Bonto Te’ne No.5, Makassar, 90221 Alamat Email ichwanmeinardy@gmail.com

dokumen pribadi

mengejar. Saya langsung lari terbirit-birit,” ucapnya. Selain itu, kondisi fisik serta pikiran yang segar selepas berburu serta bercengkerama dengan alam liar membuat dirinya semakin bersemangat dalam mencapai prestasi kerja yang lebih baik. Bertahun-tahun menggeluti kegiatan berburu, Iwan merasa bahwa kegemaran ini mampu memperluas relasi dan menambah wawasannya terkait perkembangan teknologi persenjataan. Masih ada lagi manfaat secara spiritual yang didasari oleh kesadarannya mengenai keindahan alam sebagai ciptaan Tuhan beserta kewajibannya sebagai manusia untuk selalu menjaga kelestarian alam.

Selama menggeluti hobi berburunya, Iwan tak jarang dihadapkan pada sejumlah hambatan yang cukup berarti. Ketersediaan sarana dan prasarana latihan menembak dinilai Iwan masih sangat kurang memadai. Selain itu, biaya pengadaan unit senjata yang tidak murah membuatnya terkadang berpikir dua kali untuk melanjutkan hobi uniknya ini. Habitat alami hewan buruan yang kini semakin tergusur oleh pemukiman warga juga menjadi kendala tersendiri bagi Iwan. “Tempat tinggal hewan-hewan juga sudah terganggu maka sensasinya sudah tidak seperti dulu lagi,” jelas Iwan. Akan tetapi, di balik hambatan-hambatan tersebut masih

terdapat perasaan cinta terhadap dunia berburu yang berhasil membuatnya bertahan hingga saat ini. Lebih lanjut, Iwan menuturkan harapannya terkait kondisi olahraga menembak di Indonesia. “Semoga pemerintah lebih serius memerhatikan olahraga menembak dengan memperbanyak tempat latihan dan mempermudah penyediaan alat tembak agar masyarakat juga lebih kenal,” tutur Iwan. Tak lupa, Iwan juga berpesan kepada para pekerja di luar sana, khususnya dokter yang memiliki hobi unik dan dipandang berseberangan dengan kesibukan yang digelutinya agar tidak takut dan terus menekuni hobi tersebut. Selama mampu mengendalikan diri dan memiliki manajemen waktu yang baik, hobi apa pun masih bisa dilakukan. afiahuddin

SKMA Juli-Agustus 2018  
SKMA Juli-Agustus 2018  
Advertisement