Surat Kabar Media Aesculapius (SKMA) edisi September-Oktober 2020

Page 1

Media Aesculapius Surat Kabar

Kedokteran dan Kesehatan Nasional Terbit Sejak 1970

September-Oktober 2020 / Edisi 02 / Tahun XLIX / ISSN 0216-4996

@MedAesculapius |

beranisehat.com |

MA INFO

ADVERTORIAL

SUARA MAHASISWA

Siap Tangani Malaria Hingga Tuntas

Memonitor Kadar Obat dengan Jam Pintar

Infodemi: Ancaman Baru di Tengah Pandemi hlm 6

hlm

2

hlm

4

0896-70-2255-62

Menanti Vaksin Covid-19 di Indonesia Secercah asa di tengah suramnya pandemi dalam negeri

S

eiring bergulirnya waktu, kondisi penyebaran Covid-19 di Indonesia kian memprihatinkan. Kontras dengan keberhasilan negara lain, Indonesia masih harus berjuang keras untuk memenangkan peperangan melawan virus corona. Di tengah situasi yang sulit tersebut, pemerintah terus mengusahakan berbagai hal, salah satunya pengembangan vaksin. Tak sedikit pihak yang kemudian menggantungkan harapannya pada vaksin sebagai senjata terakhir dalam mengeradikasi Covid-19. Saat ini, terdapat dua calon vaksin yang sedang dikembangkan secara paralel di Indonesia, yaitu vaksin Sinovac dan vaksin Merah Putih. Lantas, apakah vaksin akan menjadi jawaban atas kegusaran masyarakat selama ini? Dikembangkan oleh Pihak Berbeda Kedua kandidat vaksin yang tengah dikembangkan di Indonesia berasal dari dua perusahaan berbeda. Vaksin Sinovac yang dikembangkan oleh perusahaan asal Tiongkok, Sinovac Biotech Ltd., menjalani uji klinis tahap 1 pada April 2020 lalu untuk menguji keamanan pada hewan. Setelah terbukti aman, vaksin kemudian memasuki uji klinis tahap 2 untuk menilai keamanan, imunogenisitas, dan dosis pada sekitar 600-700 subjek. Kedua tahapan tersebut berlangsung di Tiongkok dengan hasil yang cukup menjanjikan. Kini, vaksin Sinovac telah memasuki uji klinis tahap 3, yakni uji keamanan dan efikasi pada manusia yang dilakukan di sejumlah negara, seperti Indonesia, Brasil, Bangladesh, Chili, Turki, dan Arab Saudi. Tahapan tersebut tidak dapat dilakukan di negara asalnya mengingat angka kejadian Covid-19 di Tiongkok sudah sangat rendah. Di Indonesia sendiri, uji klinis tahap 3 berlangsung di Pusat Penelitian Fakultas Kedokteran Universitas

D

Padjajaran (Unpad). “Targetnya November 2020 kita menyelesaikan preliminary report soal imunogenisitas, follow up subjek sampai Mei 2021, dan final report (selesai) pada Juni 2021,” tutur dr. Rodman Tarigan, SpA(K), M.Kes, Juru Bicara Uji Klinis Vaksin Covid-19 Unpad. Di saat bersamaan, vaksin Merah Putih tengah dikembangkan oleh Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman asal tanah air. Saat ini, pembuatannya masih berada di tahap preklinik, tepatnya pada proses pengembangan antigen sebagai calon vaksin. Proses tersebut diharapkan rampung pada bulan Februari-Maret 2021. Kemudian, bibit vaksin akan ditransfer ke PT Bio Farma (Persero) selaku pihak industri untuk dilanjutkan dengan uji klinis. “Memang butuh waktu yang cukup lama. Semua uji klinis baru bisa selesai akhir tahun 2021 dan produksi massal baru bisa dimulai awal tahun 2022,” tutur Prof. dr. Amin Soebandrio, PhD, SpMK(K), Direktur LBM Eijkman. Berada di Bawah Pengawasan BPOM Seluruh rangkaian uji klinis kedua vaksin berada di bawah pengawasan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). “Tugas kami adalah memastikan bahwa vaksin itu aman, berkhasiat, dan bermutu sebelum diedarkan, baik dengan menginspeksi protokol uji klinis maupun menilai validitas hasilnya,” jelas Dr. Lucia Rizka Andalusia, Apt., M.Pharm, MARS selaku Direktur Registrasi Obat BPOM. Saat ini, proses peninjauan uji klinis vaksin oleh BPOM tengah mempertimbangkan keadaan darurat pandemi sehingga efektivitas vaksin cukup ditinjau dari tingkat pembentukan titer antibodi.

Walaupun begitu, BPOM akan tetap memantau khasiat dan keamanan vaksin setelah disetujui dan beredar. “Kami akan mengawal uji untuk mengetahui jumlah titer antibodi yang terbentuk dan adanya kejadian ikutan pascaimunisasi,” tegas Lucia. Manakah yang Lebih Baik? Keamanan dan efikasi merupakan faktor yang menentukan keberhasilan suatu vaksin. Sebuah vaksin Covid-19 dianggap efektif apabila 90% orang yang diberikan vaksin dalam uji klinis fase 3 terhindar dari Covid-19. Saat ini, keamanan dan efikasi kedua vaksin belum dapat ditentukan hingga keduanya menyelesaikan seluruh rangkaian uji klinis. Meskipun demikian, vaksin Sinovac dinilai lebih aman karena menggunakan model “virus kiki/MA mati” meskipun imunogenisitas yang terbentuk tidak sebaik vaksin Merah Putih yang menggunakan dua subunit protein virus. Di sisi lain, vaksin Merah Putih diprediksi akan lebih baik dalam menangani Covid-19 di Indonesia karena dibuat dengan bibit virus Covid-19 yang bersirkulasi di Indonesia. “Vaksin yang baik harus dapat melindungi orang Indonesia dari virus yang bersirkulasi di Indonesia,” tukas Amin. Dari segi biaya pun, vaksin Merah Putih berpotensi lebih murah karena tidak memerlukan pemenuhan royalti untuk negara asal vaksin. Meskipun demikian, harga pasti kedua vaksin di pasaran masih belum bisa diketahui. “Kita pasti akan

Fenomena Klaim Palsu Obat Covid-19

i tengah penantian produksi vaksin secara massal, berbagai produk obat mengklaim mampu mencegah bahkan mengobati Covid-19. Di sisi lain, pemerintah dan sejumlah ahli dengan tegas menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada satu obat pun yang memiliki kemampuan dalam menyembuhkan infeksi virus corona. Hal tersebut tentunya memunculkan tanda tanya besar dan kebingungan masyarakat mengenai pengobatan Covid-19. Sebelum suatu obat dipercaya mampu menyembuhkan suatu penyakit, obat tersebut harus berhasil melalui rangkaian uji klinis. “Di antara obat-obat yang telah didaftarkan ke BPOM, belum ada yang menunjukkan hasil uji klinis yang aman dan berkhasiat,” ungkap Lucia. Di antara klaim obat palsu yang beredar, tak sedikit obat yang berbentuk ramuan herbal.

“Padahal, yang ada saat ini hanyalah sebagian obat herbal yang bersifat preventif, promotif, dan meningkatkan sistem imun saja,” ungkap Rani Wardani Hakim, Apt., M.Biomed, Staf Departemen Ilmu Farmasi Kedokteran FKUI. Banyaknya klaim palsu yang beredar tidak terlepas dari peran media massa yang kerap memelintir berita secara berlebihan. “Informasi yang disampaikan narasumber kadang dilebihkan dan dikurangkan. Seringnya sih dilebihkan, jadi bombastis,” ujar Rani. Fakta tersebut tentu berbahaya karena dapat memunculkan perasaan aman semu sehingga masyarakat abai pada protokol kesehatan. Edukasi publik mengenai hal tersebut sangat diperlukan meskipun cukup menantang. Obat herbal masih menjadi pilihan favorit masyarakat Indonesia sehingga banyak orang yang tidak berpikir dua kali sebelum menggunakannya. Sementara itu, sebagian

tenaga kesehatan terkesan antiherbal akibat beberapa pengalaman buruk yang dialami oleh pasien saat mengonsumsi obat herbal. Merespons fenomena tersebut, masyarakat diharapkan mau memahami bahwa tidak semua obat herbal aman dan sesuai dengan klaim yang beredar (keamanan suatu obat herbal dapat dicek di situs BPOM). Momentum ini juga harus digunakan oleh tenaga kesehatan untuk mulai mempelajari dan meneliti potensi herbal untuk dikembangkan sebagai obat. “Fanatik dengan herbal jangan, sangat anti juga jangan. Bila dokter-dokter di Indonesia antiherbal, kita tidak akan pernah menemukan obat baru dari tanaman Indonesia, padahal Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alam hayati,” tutup Rani. gaby, adit

memperhitungkan cost dan benefit-nya,” jelas Rodman. Indonesia Membutuhkan Keduanya Terlepas dari kelebihan dan kekurangan yang ada, Indonesia tentunya sangat membutuhkan suplai vaksin dari kedua perusahaan tersebut untuk memenuhi target nasional. Sejatinya, dibutuhkan setidaknya 70% populasi Indonesia atau lebih dari 170 juta orang yang harus diimunisasi untuk mencapai herd immunity terhadap SARS-CoV-2. Meskipun demikian, vaksin Merah Putih tetap direncanakan sebagai vaksin Covid-19 utama di Indonesia dan diharapkan mampu memenuhi setidaknya 50% kebutuhan vaksin dalam negeri. “Sesuai perjanjian Gavi COVAX, vaksin Sinovac hanya dapat menyuplai 20% kebutuhan dalam negeri. Oleh sebab itu, kita harus punya kemandirian dan bisa membuat vaksin sendiri,” tegas Amin. Melihat perkembangan uji klinisnya yang mendahului vaksin Merah Putih, vaksin Sinovac berpotensi lebih dulu menawarkan imunitas Covid-19 kepada masyarakat Indonesia. Walaupun begitu, Indonesia tetap menaruh harapan besar pada vaksin Merah Putih. Sudah selayaknya Indonesia sebagai negara besar memiliki kemandirian dalam membekali masyarakatnya dengan imunitas Covid-19, melalui pengembangan vaksin yang bibitnya bersumber dari Indonesia dan seutuhnya dikembangkan oleh anak-anak bangsa. Semoga vaksin Merah Putih dapat segera dinikmati oleh masyarakat dan memiliki kualitas yang dapat bersaing dengan vaksin-vaksin buatan luar negeri sehingga dapat menjadi sebuah persembahan istimewa untuk dunia. adit, gaby

Mari bersama membuat SKMA menjadi lebih baik.

!

1. Apakah konten SKMA bermanfaat/ relevan dengan kondisi kesehatan saat ini? 2. Apakah anda masih membutuhkan SKMA edisi selanjutnya? Jawab dengan format: Nama-Umur_Kota/Kabupaten_Unit Kerja_ Jawaban 1_Jawaban 2 Contoh: Rudiyanto_43_Jakarta Pusat_RSCM_Ya_Ya Kirim melalui WhatsApp/SMS ke 0896-702255-62 atau mengisi formulir pada bit.ly/ surveyskma2020 Lima orang pengisi survei yang beruntung akan mendapatkan cenderamata dari Media Aesculapius


2

SEPTEMBER-OKTOBER 2019

DARI KAMI Penyeberan Covid-19 di Indonesia tak kunjung dapat ditaklukkan. Sejak kasus pertama diumumkan pada Maret lalu, lonjakan kasus infeksi baru terus terjadi. Segenap tenaga telah dicurahkan demi menekan angka penularan, tetapi tak juga membuahkan hasil maksimal. Vaksin digadang-gadang menjadi senjata terakhir dalam menghadapi infeksi virus corona. Tak sedikit pihak yang kemudian menggantungkan harapannya pada vaksin Covid-19. Lantas, akankah vaksin menjadi jalan keluarnya? Simak ulasan mendalam terkait persiapan vaksin Covid-19 di rubrik headline! Tak hanya kelimpungan dalam menghadapi Covid-19, Indonesia masih memiliki tugas besar untuk mengeradikasi malaria. Penjelasan mendalam terkait dasar penatalaksanaan malaria tersaji di rubrik klinik. Kabar baik datang dari Amerika Serikat. Ilmuwan asal Negeri Paman Sam berhasil mengembangkan teknologi jam tangan pintar yang mampu memonitor kadar obat dalam darah. Simak penjelasan mendalamnya di rubrik ilmiah populer! Penyebaran informasi terkait pandemi yang begitu masif di dunia maya menjadi ancaman tersendiri. Banyaknya informasi tidak benar yang berseliweran ditambah akses informasi yang semakin mudah berkontribusi pada karut-marutnya situasi pandemi. Sayangnya, tak banyak orang yang menyadari ancaman tersebut. Ulasan mendalam perihal fenomena tersebut tersaji di rubrik opini dan humaniora. Siapa bilang dokter tak bisa bermain video game? Di balik kesibukan dokter yang begitu padat dalam melayani masyarakat, seorang dokter justru menjadikan gim konsol sebagai pelarian di kala suntuk. Kisah menarik lainnya datang dari seorang dokter yang berhasil mengembangkan kegemarannya dalam bidang genetik untuk berkontribusi dalam percepatan penanganan pasien Covid-19. Simak kisah inspiratif kedua dokter tersebut dalam rubrik liputan! Akhir kata, selamat menikmati sajian informasi SKMA edisi ini. Tetap semangat dan selalu jaga kesehatan!

Nur Afiahuddin Tumpu Pemimpin Redaksi

MA FOKUS

Efektifkah PSBB Menekan Penyebaran Covid-19?

S

ekitar 270 provinsi, kota, dan kabupaten direncanakan akan tetap menggelar pilkada serentak di tengah pandemi Covid-19. Hal tersebut selaras dengan arahan Presiden Joko Widodo beserta Kementerian Dalam Negeri, DPR RI, KPU RI, dan pihak terkait lainnya yang menyepakati pelaksanaan pilkada serentak pada awal Desember 2020 mendatang. Presiden Joko Widodo berpendapat bahwa pilkada harus tetap bergulir karena tak ada satu pun orang yang bisa menjamin kapan Covid-19 akan berakhir. Untuk itu, pilkada harus diselenggarakan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan, seperti mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak. Selain itu, pemimpin baru yang terpilih dari pilkada diharapkan mampu menjadi jawaban untuk mengatasi krisis sosioekonomi selama pandemi. Pemerintah juga menegaskan bahwa kesehatan dan keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas utama. Tak tanggung-tanggung, pemerintah menggelontorkan anggaran tambahan sebesar Rp5 triliun untuk mendanai persiapan dan perlengkapan tambahan dalam pelaksanaan pilkada yang sesuai dengan protokol kesehatan. Namun, tak sedikit pihak yang kemudian mengkritisi penetapan kebijakan tersebut dan berharap pemerintah pusat bisa menunda pelaksanaan pilkada serentak. Kondisi penanganan pandemi yang belum stabil menjadi alasan di balik penolakan tersebut. Mereka menilai bahwa perayaan pesta demokrasi sangat berisiko menjadi media penularan infeksi virus yang masif. Tak hanya itu, anggaran pilkada sangat mungkin dialokasikan untuk membiayai proses penanganan pandemi dan keberlangsungan hidup masyarakat di tengah krisis. Jika dilihat dari segi legalitas, penundaan pilkada serentak masih sah secara hukum dan tugas kepala daerah bisa digantikan sementara oleh pelaksana tugas. Untuk itu, pilkada serentak selayaknya harus ditunda hingga kondisi pandemi mereda. Berkaca pada fakta di lapangan, sejumlah kasus pelanggaran protokol kesehatan oleh peserta pilkada dilaporkan terjadi di sejumlah daerah. Data yang dirilis oleh Bawaslu menujukkan peningkatan jumlah pelanggaran, yaitu 237 kasus dalam kurun waktu 26 September hingga 5 Oktober 2020 menjadi 375 kasus dalam kurun waktu 6-15 Oktober 2020. Tak hanya itu, Bawaslu juga menemukan adanya peningkatan jumlah kasus Covid-19 di lima provinsi yang disinyalir berhubungan dengan pelanggaran kampanye dan perkumpulan massa. Fakta tersebut menjadi pertanda bahwa protokol kesehatan belum ditaati dengan baik oleh seluruh peserta pilkada. Meskipun demikian, pemerintah berjanji akan lebih jeli dan tegas dalam menindak setiap jenis pelanggaran protokol kesehatan. Lantas, akankah pelaksanaan pilkada serentak 2020 menjadi keputusan yang tepat? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.

KLINIK

MEDIA

AESCULAPIUS

MA INFO

Sigap Tangani Malaria Hingga Tuntas Masih menjadi momok, jangan lupakan tata laksana malaria!

B

erdasarkan survei WHO pada tahun 2018, total kasus malaria di Indonesia diperkirakan mencapai 1,5 juta kasus dengan kasus terkonfirmasi sebanyak 261.617 kasus. Penyakit infeksius ini disebabkan oleh parasit Plasmodium yang tumbuh dan berkembang biak di dalam sel darah merah. Parasit tersebut masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk Anopheles. Dua spesies yang menjadi penyebab utama malaria di Indonesia adalah P. falciparum dan P. vivax. Seseorang dengan infeksi malaria akan mengeluhkan demam tinggi disertai menggigil dan berkeringat banyak. Selain itu, nyeri kepala, mual, muntah, diare, dan pegalpegal juga sering kali dikeluhkan. Dalam mengonfirmasi diagnosis, pemeriksaan apusan darah dengan mikroskop dan uji diagnostik cepat untuk deteksi antigen parasit dapat dilakukan. Jika pasien positif malaria, dokter dapat memberikan obat-obatan sesuai anjuran Kementerian Kesehatan RI. Tata Laksana Farmakalogis Malaria Tanpa Komplikasi Pasien yang positif terinfeksi malaria falciparum atau vivax diberikan pengobatan kombinasi artemisinin (ACT) dan primakuin. ACT yang digunakan adalah dihidroartemisinpiperakuin (DHP). DHP diberikan per oral dengan pilihan dosis berdasarkan berat badan. Selama tiga vina/MA hari, pasien dengan berat badan (BB) ≤ 5 kg mengonsumsi sepertiga tablet sehari; pasien dengan BB 5-10 kg mengonsumsi setengah tablet; pasien dengan BB 10-17 kg mengonsumsi satu tablet; pasien dengan BB 30-40 kg mengonsumsi satu setengah tablet; pasien dengan BB 40-60 kg mengonsumsi 3 tablet; pasien dengan BB 60-80 kg mengonsumsi 4 tablet; dan pasien dengan BB > 80 kg mengonsumsi 5 tablet. Pemberian primakuin mempertimbangkan jenis malaria yang menginfeksi. Penderita malaria falciparum hanya perlu menerima primakuin per oral dengan dosis 0,25 mg/kgBB pada hari pertama pengobatan. Untuk kasus malaria vivax, pemberian obat dilakukan selama 14 hari dengan dosis yang sama. Perlu diperhatikan bahwa primakuin tidak boleh diberikan pada ibu hamil, bayi berusia <6 bulan, ibu menyusui bayi <6 bulan, dan penderita defisiensi enzim G6PD. Dokter perlu mengedukasi pasien untuk memantau warna urine selama tiga hari pertama penggunaan primakuin. Pasien harus

MEDIA AESCULAPIUS

menghentikan pengobatan dan segera ke dokter bila warna urine berubah menjadi cokelat tua atau hitam. Tata Laksana Farmakologis Malaria Berat Pasien malaria tanpa komplikasi diperbolehkan untuk rawat jalan, sedangkan pasien malaria berat harus ditangani di rumah sakit dengan fasilitas yang memadai. Seseorang didiagnosis mengalami malaria berat bila ditemukan P. falciparum atau P. vivax dalam stadium aseksual serta mengalami setidaknya salah satu dari kondisi berikut: penurunan kesadaran, kelemahan otot, kejang berulang dalam 24 jam, asidosis metabolik, edema paru, syok, jaundice, perdarahan spontan abnormal, hipoglikemia, hiperlaktemia, anemia berat, hematokrit rendah, hiperparasitemia, dan gangguan fungsi ginjal. Untuk pasien malaria berat, dokter dapat memberikan artesunat secara intravena. Artesunat tersedia dalam vial berisi 60 mg asam artesunat beserta pelarut natrium bikarbonat 5% dalam ampul. Keduanya dicampur untuk membuat larutan natrium artesunat 1 ml. Selanjutnya, hasil pencampuran keduanya diencerkan lagi dengan dextrose 5% atau NaCl 0,9% sebanyak 5 ml untuk mencapai konsentrasi 10 mg/ml. Obat kemudian diberikan secara bolus perlahan-lahan. Dosis artesunat yang diberikan adalah 2,4 mg/kgBB. Pemberian dilakukan tiga kali pada hari pertama, yakni pada jam ke-0, 12, dan 24. Mulai hari kedua dan seterusnya, dosis pemberiannya adalah 2,4 mg/kgBB setiap 24 jam sehari hingga pasien mampu mengonsumsi obat secara oral. Obat oral yang digunakan sama dengan kasus malaria tanpa komplikasi. Malaria merupakan kasus yang harus dapat ditangani hingga tuntas secara mandiri oleh dokter umum, mulai dari diagnosis hingga penatalaksanaan. Dengan demikian, penting bagi dokter umum untuk mengetahui jenis terapi malaria yang tepat, khususnya dokter umum yang berpraktik di daerah endemis malaria, seperti Papua Barat dan NTT. alex

Pelindung: Prof. Ari Kuncoro, S.E., M.A., Ph.D. (Rektor UI), Prof. Dr. dr. H. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP (Dekan FKUI) Penasihat: Dr. Arman Nefi, S.H., M.M. (Direktur Kemahasiswaan UI), dr. Affan Priyambodo Permana, SpBS(K) (Koordinator Kemahasiswaan FKUI) Staf Ahli: Seluruh Kepala Bagian FKUI/RSUPNCM, Prof. Dr. Ma’rifin Husein (CHS), dr. Muki Reksoprodjo, dr. Boen Setiawan, dr. Sudarso, dr. E. Oswari, DPH, Prof. Dr. Arjatmo Tjokronegoro, PhD, dr. Hapsara, DPH (Kemenkes RI), dr. Fahmi Alatas, Prof. dr. Marwali Harahap, SpKK, Prof. Dr. Umar Fahmi Achmadi, MPH Pembantu Khusus: Seluruh Alumni Aesculapius dan Media Aesculapius

Pemimpin Umum: Gerald Aldian Wijaya. POSDM: Kevin Tjoa. Pemimpin Produksi: Marthin Anggia Sirait. Tata Letak dan Cetak: Gita Fajri Gustya. Ilustrasi dan Fotografi: Vina Margaretha Miguna. Infografis: Sakinah Rahma Sari. Staf Produksi: Siti Noor Aqilla, Alfianti Fauziah, Ayu Saraswati, Bernadette Jessica, Tania Meirianty, Arfian Muzaki, Aurelia Maria Prajna Saraswati, Hannah Soetjoadi, Mega Yunita, Devi Elora, Nathaniel Aditya, Anthonius Yongko, Kania Indriani, Fiona Valerie, Irfan Kresnadi, Shafira Chairunnisa, Teresia Putri, Hansel T. Widjaja, Itsna Arifatuz, Kelvin Gautama, Kristian Kurniawan, M. Idzhar Arrizal. Pemimpin Redaksi: Nur Afiahuddin Tumpu. Sekretaris Pemimpin Redaksi: Jonathan Hartanto. Chief Editor: Nathalia Isabella, Afiyatul Mardiyah. Redaktur Desk Headline: Jonathan Hartanto. Redaktur Desk Klinik: Billy Pramatirta. Redaktur Desk Ilmiah Populer: Elvan Wiyarta. Redaktur Desk Opini & Humaniora: Aughi Nurul Aqilla. Redaktur Desk Liputan: Mariska Andrea. Reporter Senior: Joanna Erin, Fadlika Harinda, Vanessa Karenina, Aisyah Rifani, Stefanus Sutopo, Reyza Tratama, Nadhira Najma, Renata Tamara, Tiffany R, Alexander Kelvyn, Dina Fitriana, Farah Qurrota, Filbert Liwang, M. Ilham Dhiya, Rayhan Farandy, Yuli Maulidiya, Sheila Fajarina Safety, Jessica Audrey, Lidia Puspita Hasri, Wira Titra Dwi Putra, Prajnadiyan Catrawardhana, Leonardo Lukito Nagaria. Reporter Junior: Albertus Raditya, Alexander Rafael, Amanda Safira, Gabrielle Adani, Ariestiena Ayu, Izzati Diyanah, Kareen Tayuwijaya. Pemimpin Direksi: Nur Zakiah Syahsah. Job dan Promosi: Sean Alexander. KSK: Gilbert Lazarus. SKMA: Vincent Kharisma. Staf Direksi: Engelbert Julyan, Laureen Celcilia, Regine Viennetta, Kevin Tjoa, Gerald Aldian, Mochammad Izzatullah, Andi Gunawan Karamoy, Bunga Cecilia Sinaga, Iskandar Purba, Jeremy Refael, Lowilius Wiyono, Marie Christabelle, Syafira Nurlaila, Alice Tamara, Angela Kimberly, Indah Fitriani, Reganedgary Jonlean, Sabrina Tan, Safira, Amelia, Trienty Batari. Alamat: Media Aesculapius BEM IKM FKUI. Gedung C lantai 4, Rumpun Ilmu Kesehatan, Kampus UI Depok. E-mail: medaesculapius@gmail.com, Rek. 157-0004895661 Bank Mandiri Cabang UI Depok, website: beranisehat.com Alamat Redaksi/Sirkulasi: Media Aesculapius PO BOX 4201, Jakarta 10042. MA menerima kiriman naskah dari pembaca untuk rubrik MA Klinik (khusus untuk dokter dan staf pengajar), Asuhan Keperawatan (khusus untuk perawat dan mahasiswa keperawatan) Sepuki, Suma, Suduk, Kolum, Arbeb, Kesmas, Seremonia, dan Konsultasi (berupa pertanyaan). Kirimkan email permohonan penulisan ke medaesculapius@gmail.com dan kami akan mengirimkan spesifikasi rubrik yang Anda minati.

Dapatkan info terbaru kami: www.beranisehat.com Media Aesculapius

@MediaAesculapius @Beranisehatcom

medaesculapius@gmail.com @wxx0340z

@MedAesculapius


MEDIA

AESCULAPIUS

KLINIK

SEPTEMBER - OKTOBER 2020

3

KONSULTASI

Benarkah Tingkat Kerentanan Covid-19 pada Anak Lebih Rendah? Pertanyaan: “Melihat jumlah kasus Covid-19 lebih banyak pada orang dewasa, benarkah pasien anak tidak lebih rentan terkena Covid-19 dibanding orang dewasa?” - dr.H, Jakarta

C

e/M

bij

A

ovid-19 terus mengalami peningkatan jumlah kasus setiap harinya. Kenyataan pahit ini seakan mengubur harapan masyarakat yang tengah bersiap menyongsong penerapan adaptasi kebiasaan baru. Tak hanya itu, kondisi darurat ini kemudian memunculkan fakta baru yang cukup memprihantinkan. Indonesia diketahui menjadi negara dengan angka kejadian dan kematian Covid-19 pada anak tertinggi di Asia Tenggara. Data IDAI per 29 Juni 2020 menunjukkan bahwa kasus kematian anak tertinggi akibat Covid-19 berada pada rentang usia 1-11 bulan, yakni sebesar 29%. Sejatinya, gejala Covid-19 pada anak relatif lebih ringan sehingga jarang menimbulkan kondisi yang fatal. Inilah yang menyebabkan angka kematian akibat Covid-19 pada anak lebih rendah daripada orang dewasa. Gejala yang paling sering ditemukan pada anak adalah demam tinggi disertai batuk. Gejala lain yang dapat muncul, meliputi hidung tersumbat, gejala saluran napas, atau gejala konstitusional, seperti sakit kepala, pusing serta letih. Selain itu, keluhan pada saluran cerna, seperti diare, mual, dan muntah juga sering kali ditemukan. Hal tersebut menyebabkan gejala Covid-19 pada anak dijuluki sebagai gejala “seribu wajah” akibat manifestasi gejala yang beragam. Tingkat kerentanan infeksi Covid-19 yang relatif rendah pada anak dipengaruhi

oleh sejumlah faktor. Salah satu hipotesis menyebutkan bahwa rendahnya tingkat kerentanan infeksi dilatarbelakangi oleh kondisi anak yang lebih sering terpapar infeksi virus sehingga sistem imun anak lebih siap dibandingkan dengan orang dewasa, baik dari antibodi maupun sel T memori. Selain itu, reseptor SARS-CoV-2 pada anak masih tergolong imatur sehingga tidak mampu menangkap virus dengan baik. Hal tersebut tentunya menguntungkan bagi tubuh anak sehingga tingkat kerentanan terhadap virus relatif lebih kecil. Faktor lain yang dipercaya menjadi alasan rendahnya tingkat kerentanan pada anak adalah sistem imun bawaan yang lebih baik. Kondisi saluran pernapasan anak relatif lebih bersih karena belum banyak terpapar polusi udara serta komorbiditas layaknya orang dewasa. Di sisi lain, fenomena badai sitokin yang khas pada infeksi virus SARS-CoV-2 tidak menimbulkan respon imun berlebihan pada anak. Meskipun demikian, anak tetap memiliki kemungkinan terinfeksi virus, tetapi gejala yang muncul tidak sehebat pada orang dewasa. Transmisi virus corona pada anak tidak hanya terjadi secara horizontal, tetapi juga

dapat terjadi secara vertikal melalui ibu. Penyebaran melalui droplet, airborne, orofekal serta transplasental sangat mungkin terjadi. Pemeriksaan awal, seperti anamnesis lengkap, melihat tanda dan gejala, dan penapisan awal melalui tes cepat perlu dilakukan. Apabila anak tidak mengeluhkan demam maupun gangguan saluran napas, tes cepat tidak perlu dilakukan. Penegakan diagnosis Covid-19 pada anak tetap sama seperti orang dewasa, yaitu dengan uji swab PCR sebagai baku emas. Hingga saat ini, terapi Covid-19 pada anak hanya sebatas terapi suportif. Pasien anak yang perlu dirujuk ke dokter spesialis anak adalah pasien yang menunjukkan tanda kegawatdaruratan, seperti sesak napas, gagal saturasi (syok), atau anak dengan komorbiditas, seperti kelainan jantung dan leukemia. Upaya dalam meningkatkan daya tahan tubuh anak terhadap infeksi virus dapat dilakukan dengan membiasakan anak berjemur di pagi hari selama 15 menit dan konsumsi makanan bergizi serta suplemen, seperti vitamin C dan D3. Edukasi untuk tetap di rumah, khususnya bagi ibu hamil dan anak harus terus digencarkan. Meskipun anak memiliki tingkat

Narasumber dr. Gartika Sapartini, SpA(K), MKes Staf Divisi Alergi Imunologi KSM Ilmu Kesehatan Anak RS Dr. Hasan Sadikin/Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung No. telp : 085100198284 Email : gartikasrizal@gmail.com kerentanan lebih rendah, kemungkinan penyebaran virus, khususnya dari orang dewasa, tetap ada. Terlebih jika orang tua anak merupakan tenaga kesehatan. izzati

Kirimkan pertanyaan Anda seputar medis ke redaksima@yahoo.co.id Pertanyaan Anda akan dijawab oleh narasumber spesialis terpercaya.

TIPS DAN TRIK

JASA TERJEMAHAN DAN PEMBUATAN BUKU

Injeksi Intraoseus: Jalan Pintas dalam Menyuntikkan Obat Seorang bayi datang dalam kondisi syok. Akses vena sudah dicoba beberapa kali namun tidak kunjung berhasil. Sebagai dokter jaga disana, apa yang dapat anda perbuat?

S

esuai namanya, injeksi intraoseus berarti menyuntikan zat melalui jaringan tulang. Selain untuk memasukkan zat ke sirkulasi sistemik, teknik ini juga bisa digunakan untuk menyuntikkan zat langsung ke sumsum tulang. Injeksi intraoseous biasa dipakai dalam keadaan gawat darurat, dimana akses vena tidak dapat tercapai. Beberapa indikasinya meliputi kasus henti jantung, syok, hipokalemia, serangan asma, luka bakar dan sepsis parah. Kontraindikasi tindakan ini meliputi fraktur pada lokasi penyuntikan, osteogenesis imperfekta, atau osteopetrosis. Penyuntikan paling sering dilakukan di tibia anterior bagian proksimal. Bila tidak memungkinkan, area distal femur ataupun dapat dijadikan alternatif lokasi penyuntikan. Ada beberapa alat dan bahan yang perlu disiapkan. Jarum ukuran 15-21G ataupun jarum untuk aspirasi sumsum tulang dapat digunakan sebagai alat penusuk. Sarung tangan steril, cairan antiseptik dan kassa steril juga harus tetap dipersiapkan sebagai upaya menjaga kesterilan area tindakan. 1 Terakhir, persiapkan lidokain 1% untuk anestesi serta cairan infus. Setelah meminta informed consent pada pasien atau keluarganya, pasang penyangga

di bawah lutut hingga posisinya menekuk sejauh 30o. Jangan lupa untuk mencuci tangan dan memasang sarung tangan sembari memastikan lokasi untuk

A

ayu/M

penyuntikan. Selanjutnya, bersihkan area di sekitar lokasi injeksi dengan cairan antiseptik.1 Penyuntikan anestesi lidokain juga dapat dilakukan sebelum penyuntikan dimulai. Injeksi pun dapat segera dimulai. Pastikan posisi jarum dengan posisi 90o kearah tulang.

Coba untuk memasukkan jarum lebih dalam dengan gerakan memutar seperti “bor mesin”. Jarum berhenti didorong ketika dirasakan sudah tidak ada tahanan, menandakan jarum sudah tepat menembus periosteum. Untuk memastikan ketepatan lokasi penyuntikan, lakukan aspirasi untuk mendapati ada tidaknya darah yang tersedot ke dalam jarum suntik. Apabila ingin memasukkan cairan secara intraoseus, ada beberapa hal yang perlu dperhatikan. Pertama, lepaskan tabung dari jarum suntik dan sambungkan dengan selang infus atau obat. Selanjutnya, coba alirkan sedikit (sekitar 3mL) cairan melalui selang. Amatit erlebih dahulu apakah terdapat cairan yang bocor ke lapisan bawah kulit. Apabila dipastikan tidak ada cairan yang bocor, barulah cairan infus dapat dimasukkan. Setelah pemasangan akses intraoseus berhasil, kita harus memastikan beberapa hal. Tanda vital dan klinis pasien harus dipantau berkala, terutama pasca diberikan cairan. Perhatikan juga apakah terdapat tanda-tanda edema di sekitar area tungkai bawah.1 Terakhir, perhatikan apabila ada komplikasi seperti ekstravasasi cairan ke subkutan, osteomielitis, abses subkutan atau luka epifisis. leo

Kabar Gembira! Media Aesculapius menyediakan jasa terjemahan Indonesia-Inggris dan Inggris-Indonesia dengan waktu pengerjaan singkat (3 x 24 jam) serta hasil terjamin. Kami juga menyediakan jasa penyusunan buku yang sangat fleksibel baik dalam hal desain cover dan isi, ukuran dan tebal buku, maupun gaya penulisan termasuk menyunting tulisan anda. Tak terbatas hingga penyusunan saja, kami siap melayani distribusi buku anda. Adapun buku yang pernah kami buat: buku biografi tokoh, buku pemeriksaan fisik berbagai departemen, buku jurnal, dan Kapita Selekta Kedokteran.

Hubungi Hotline MA: 0896-70-2255-62 (SMS/WhatsApp)-


4

SEPTEMBER-OKTOBER 2019

ILMIAH POPULER

MEDIA

AESCULAPIUS

KESMAS

Hipertensi: Lawan Lama, Ancaman Baru Waspada beban ganda di tengah pandemi

H

Hipertensi merupakan salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas terbesar di Indonesia. Data Riskesdas 2018 menunjukkan bahwa prevalensi hipertensi pada penduduk di atas 18 tahun berdasarkan pengukuran secara nasional mencapai 34,11%. Kesadaran pemeriksaan tekanan darah rutin juga masih rendah, terlihat dari rendahnya prevalensi berdasarkan diagnosis hipertensi yang diketahui, yaitu 8,36%, jika dibandingkan dengan prevalensi berdasarkan pengukuran. Hal tersebut menandakan bahwa banyak penduduk yang sebenarnya menderita hipertensi tetapi tidak menyadarinya. Menurut Pedoman Tatalaksana Hipertensi tahun 2015, hipertensi didefinisikan sebagai kondisi peningkatan tekanan darah sistolik ď‚ł140 mmHg dan/atau tekanan darah diastolik ď‚ł90 mmHg pada pemeriksaan berulang. Hipertensi dapat menyebabkan beberapa gejala, seperti sakit kepala, pusing, jantung berdebar-debar, dan rasa nyeri di dada. Walaupun demikian, sebagian besar penderita hipertensi justru tidak merasakan gejala apapun, padahal kondisi ini dapat menimbulkan berbagai komplikasi serius, seperti penyakit jantung koroner, strok, dan kematian jika tidak dikontrol dengan baik. Oleh sebab itu, hipertensi kerap disebut sebagai “Si pembunuh senyapâ€?.

Masalah ini menjadi makin serius di tengah pandemi Covid-19. Berbagai penelitian menemukan bahwa penderita hipertensi berisiko tinggi mengalami komplikasi Covid-19. Sebuah kajian sistematis membuktikan bahwa pasien Covid-19 dengan komorbiditas hipertensi ditemukan secara signifikan memiliki derajat keparahan dan tingkat kematian yang lebih tinggi dibandingkan pasien tanpa hipertensi. Mekanisme pasti yang mengaitkan kedua penyakit tersebut memang belum diketahui secara pasti. Akan tetapi, terlepas dari hal tersebut, angka kejadian Covid-19 yang terus menanjak di Indonesia menjadikan hipertensi sebagai suatu masalah serius yang gita/ MA perlu turut diperhatikan. Berbagai upaya promotif dan preventif telah digalakkan Kemenkes dalam rangka mengendalikan tingginya angka hipertensi di Indonesia. Beberapa langkah yang direkomendasikan

untuk mengendalikan hipertensi adalah memeriksakan kesehatan secara rutin, menjalani pengobatan dengan patuh dan teratur, diet gizi seimbang, aktivitas fisik yang cukup serta menghindari faktor risiko, seperti asap rokok, alkohol, dan zatzat karsinogenik lainnya. Pemeriksaan tekanan darah secara rutin sangat penting untuk mendeteksi hipertensi lebih dini sebelum munculnya berbagai komplikasi. Anjuran mengurangi kunjungan ke fasilitas kesehatan untuk hal yang tidak terlalu mendesak dapat berdampak pada pasien hipertensi. Di satu sisi, mereka seharusnya melakukan kontrol rutin ke dokter untuk menjalani pemeriksaan tekanan darah dan mendapat peresepan obat. Namun, di sisi lain kunjungan tersebut dapat menjadi ancaman risiko paparan Covid-19. Menanggapi hal tersebut, Kemenkes mengeluarkan panduan bagi orang dengan faktor risiko di era pandemi.

Selain langkah-langkah pengendalian hipertensi yang telah disebutkan sebelumnya, pasien dengan faktor risiko sangat dianjurkan untuk mematuhi protokol kesehatan pencegahan Covid-19 dengan benar. Pasien hipertensi dianjurkan untuk tetap rutin memeriksakan tekanan darah di rumah, meminum obat secara teratur serta menyimpan nomor kontak dokter mereka untuk menanyakan kelanjutan konsumsi obat. Untuk mengurangi mobilisasi ke fasilitas kesehatan, pasien mendapatkan keringanan berupa peresepan obat untuk dua bulan. Penanggulangan Covid-19 tidak terlepas dari pengendalian kejadian penyakit tidak menular yang tinggi di tengah masyarakat Indonesia. Langkah-langkah yang disebutkan di atas tidak kalah penting dibanding pencegahan Covid-19. Mari kendalikan hipertensi dengan benar sebelum Indonesia kewalahan menghadapi beban penyakit ganda di tengah perjuangan melawan pandemi ini! jess

ADVERTORIAL

Memonitor Kadar Obat dengan Jam Tangan Pintar

T

eknologi kedokteran berkembang begitu pesat dari waktu ke waktu. Salah satu inovasi yang cukup menggembirakan adalah pengembangan teknologi personalized medicine, yaitu pemberian tata laksana pasien sesuai karakteristik setiap individu pasien. Tepat obat, tepat pasien, dan tepat dosis merupakan aspek yang ingin dicapai dalam teknologi ini. Demi mencapai tujuan tersebut, dikembangkan sebuah jam tangan pintar yang dapat mendeteksi kadar obat di dalam tubuh. Peneliti gabungan dari University of California, Los Angeles (UCLA) dan Stanford School of Medicine berada di balik penemuan luar biasa tersebut. Hasil penelitian mereka dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Science of the United States of America berjudul Noninvasive wearable electroactive pharmaceutical monitoring for personalized therapeutics yang terbit pada bulan Juli 2020. Jam tangan pintar ini memanfaatkan keringat yang dihasilkan oleh tubuh untuk dianalisis secara elektrokimia. Ketika seseorang mengonsumsi obat, molekul bebas obat di dalam darah akan berdifusi ke dalam keringat dan disekresikan. Sebagian besar obat memiliki kadar yang sebanding jumlahnya ketika berada di dalam keringat dan darah. Prinsip inilah yang dimanfaatkan dan dikembangkan oleh para peneliti untuk memperkirakan konsentrasi obat target di dalam darah secara nonivasif melalui keringat yang dihasilkan oleh tubuh. Selama ini, pemberian dosis obat kepada pasien hanya didasarkan pada panduan standar

Permudah pemantauan kadar obat dalam darah secara nonivasif melalui jam tangan pintar yang direkomendasikan oleh industri farmasi. Rekomendasi tersebut berdasarkan rerata statistik dari percobaan yang dilakukan kepada sampel percobaan berjumlah kecil. Akan tetapi, saat rekomendasi dosis tersebut diaplikasikan, seorang individu bisa saja mengalami efek samping, dosis terapeutik yang tidak optimal, dan/atau farmakoterapi yang inefektif karena memiliki karakteristik tubuh yang unik. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi kemungkinan masalah tersebut adalah dengan personalized therapeutic drug monitoring (TDM). TDM dapat dijadikan acuan dosis dengan memantau dinamika profil farmakokinetika dari obat yang diresepkan selama masa pemberian. Di sisi lain, teknik TDM yang dikenal selama ini bersifat invasif, mahal, dan memerlukan waktu lama karena diperlukan pengambilan sampel darah lalu dianalisis di laboratorium khusus. Jam tangan pintar yang tengah dikembangkan lebih mudah digunakan dan memiliki mobilitas cukup tinggi untuk melakukan fungsi TDM secara nonivansif. Cukup dengan memanfaatkan keringat yang dihasilkan tubuh, kadar obat dalam darah dapat diprediksi. Alat ini juga mampu memantau kadar obat secara real-time dan kontinu sehingga kadar terapeutik serta toksisitas obat dapat dideteksi lebih dini untuk mecegah timbulnya efek samping. Penelitian lebih lanjut masih diperlukan dalam pengembangan jam tangan pintar ini. Studi klinis berskala besar perlu dilakukan untuk mengetahui korelasi yang tepat antara kadar obat

di dalam keringat dan darah sehingga didapatkan profil farmakokinetika berbasis keringat yang sesuai. Hal tersebut dapat meningkatkan akurasi jam tangan pintar dalam memantau kadar obat di dalam tubuh. Selain itu, perlu dikembangkan pula mekanisme pemantauan kadar obatobatan dengan satu jam tangan saja apabila pasien mengonsumsi lebih dari satu jenis obat. Penggunaan jam tangan pintar untuk memantau kadar obat dalam tubuh ke depannya diharapkan dapat memberikan terapi yang tepat untuk masingmasing individu. Prinsip tepat obat, tepat pasien, dan tepat dosis diharapkan dapat tercapai dengan penggunaan alat tersebut. Cukup dengan memanfaatkan keringat, pemberian dosis obat untuk setiap individu bisa lebih optimal sehingga efek samping yang tidak diharapkan dari penggunaan suatu obat dapat dicegah. sef

/MA

nah

han


MEDIA

AESCULAPIUS

ILMIAH POPULER

SEPTEMBER - OKTOBER 2020

5

IPTEK

Metode Augmentasi Vertebra Perkutan: Vertebroplasti atau Kifoplasti? Terapi menjanjikan bagi fraktur kompresi vertebra akibat osteoporosis

F

raktur kompresi vertebra (FKV) merupakan salah satu komplikasi tersering dari osteoporosis. Risiko fraktur meningkat seiring dengan bertambahnya usia, khususnya pada perempuan usia >50 tahun. Faktor risiko lain berupa riwayat jatuh, penggunaan kortikosteroid, konsumsi alkohol, merokok, defisiensi vitamin D, dan riwayat depresi. Lebih dari dua per tiga kejadian FKV bersifat asimtomatik dan diagnosis ditegakkan secara insidental dengan segmen T8-L4 yang paling sering terlibat. FKV ditandai dengan nyeri punggung akut atau kronik, deformitas kifosis, penurunan tinggi badan, dan terganggunya aktivitas harian karena nyeri. Pada kondisi akut, pasien dengan FKV mengeluhkan nyeri hebat mendadak pada punggung yang dipengaruhi oleh perubahan posisi, manuver valsava seperti batuk atau bersin, dan mengangkat benda berat. Pada pemeriksaan fisik biasanya tidak ditemukan kelainan, tetapi deformitas kifosis dan spasme otot atau nyeri pada area garis tengah punggung bisa dijumpai. Komplikasi FKV, meliputi kelemahan otot, ulkus dekubitus, hiperkoagulasi, gangguan fungsi pernapasan, hingga kompresi medula spinalis. Penatalaksanaan FKV dapat dilakukan secara konservatif maupun operatif. Tata laksana konservatif, meliputi pemberian antinyeri, tirah baring, penggunaan bracing, dan rehabilitasi. Namun, terapi konservatif memiliki keterbatasan, seperti kesulitan memperbaiki deformitas kifosis, demineralisasi tulang serta rekurensi FKV akibat tirah baring yang bisa berakhir pada nyeri punggung kronik. Terapi

pembedahan berupa stabilisasi dengan dorsal instrumentation hanya diindikasikan pada pasien dengan deformitas berat atau disertai defisit neurologis. Namun, akibat kualitas tulang yang kurang baik, terapi pembedahan sering kali gagal dan menyebabkan nyeri punggung persisten, gangguan neurologis, dan keterbatasan aktivitas. Metode augmentasi vertebra perkutan, seperti vertebroplasti dan kifoplasti dapat menjadi terapi pilihan pada kasus FKV akibat osteoporosis. Secara umum, metode ini diindikasikan pada pasien yang gagal dengan terapi konservatif atau nyeri hebat yang mengganggu kualitas hidup pasien. Metode augmentasi vertebra bersifat minimal invasif, yaitu tindakan dilakukan secara perkutan di bawah pengawasan mart image intensifier atau hin/M A fluoroskopi sehingga luka operasi relatif lebih kecil. Vertebroplasti dilakukan dengan menyuntikkan cairan cement berisi polymethylmethacrylate ke intratrabekula korpus vertebra menggunakan jarum yang dimasukkan secara transpedikular. Sementara itu, kifoplasti dilakukan dengan menempatkan inflatable balloon device berisi

cairan kontras untuk mengembangkan korpus vertebra sehingga vertebra yang kolaps dapat diperbaiki. Selanjutnya, cairan kontras tersebut dikeluarkan dan diganti dengan cement. Saat ini, masih terdapat kontroversi dalam menentukan prosedur augmentasi vertebra yang lebih baik. Berdasarkan studi metaanalisis dan telaah sistematik yang dilakukan oleh Wang et al., kifoplasti lebih baik dalam mengurangi kyphotic wedge angle, meningkatkan tinggi korpus vertebra pascaoperasi, dan memiliki angka komplikasi kebocoran semen yang lebih rendah dibanding vertebroplasti. Kelebihan dari prosedur vertebroplasti, antara lain dapat dilakukan dengan anestesi lokal, khususnya pada pasien yang memiliki risiko dilakukan anestesi umum, waktu operasi yang lebih singkat, dan biaya yang lebih rendah dibanding kifoplasti. Namun, studi Zhu et al. menunjukkan bahwa kedua prosedur tersebut memiliki efek yang baik dalam menurunkan intensitas nyeri dan tingkat disabilitas pasien. Penatalaksanaan FKV bertujuan untuk mengurangi nyeri, stabilisasi fraktur, memperbaiki kualitas hidup, dan mencegah rekurensi. Pemilihan terapi konservatif,

metode augmentasi vertebra ataupun terapi pembedahan dengan dorsal instrumentation harus mempertimbangkan usia, kondisi klinis, tingkat aktivitas fisik, dan kualitas hidup pasien. Berdasarkan studi literatur terbaru, metode augmentasi vertebra secara perkutan hanya dilakukan pada fraktur akut yang terkonfirmasi melalui pemeriksaan MRI, nyeri berat, dan keterbatasan fungsi aktivitas harian setelah menjalani terapi konservatif selama minimal tiga minggu. dr. Wilton Wylie Iskandar, diulas oleh dr. S. Dohar A. L. Tobing, SpOT(K)

SEGAR

Saraf Kranial Carilah 12 nama saraf kranial secara mendatar, menurun, miring, maupun tersusun terbalik!

JASA PEMBUATAN SYMPOSIUM HIGHLIGHT

Media Aesculapius menyediakan jasa pembuatan Symposium Highlight. Symposium highlight adalah peliputan sebuah seminar atau simposium, yang kemudian hasilnya akan dicetak dalam sebuah buletin, untuk dibagikan pada peserta seminar. Simposium yang telah kami kerjakan antara lain PIT POGI 2010, ASMIHA 2011, ASMIHA 2016, ASMIHA 2017, JiFESS 2016, JiFESS 2017, dan lain-lain.

Hubungi Hotline MA: 0896-70-2255-62 (SMS/Whatsapp)


6

SEPTEMBER-OKTOBER 2019

OPINI & HUMANIORA

MEDIA

AESCULAPIUS

SUARA MAHASISWA

Infodemi: Bentuk Ancaman Baru di Tengah Pandemi Pandemi Covid-19 tidak hanya menyerang dunia nyata

P

ada Februari 2020, Direktur Jenderal World Health Organization (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, memberikan peringatan akan bahaya laten yang muncul dari pandemi Covid-19. “Kita tidak hanya melawan sebuah epidemi, kita juga melawan sebuah infodemi,” ucap Tedros. WHO sudah mengantisipasi bahwa pertarungan melawan virus corona tidak hanya terjadi di dunia nyata, tetapi juga dunia maya. Infodemi didefinisikan sebagai melimpahnya informasi secara akut yang menyebabkan publik kesulitan memperoleh sumber dan pedoman yang dapat dipercaya. Fenomena tersebut sudah terjadi pada sejumlah peristiwa besar sebelumnya, seperti pandemi flu Spanyol, perang dingin, dan penyerangan 11 September. Akan tetapi, pesatnya perkembangan teknologi informasi saat ini membuat infodemi yang terjadi pada pandemi Covid-19 jauh lebih mencekam. Dewasa ini, ketersediaan informasi di dunia maya sangatlah melimpah. Sejak pertengahan Juli hingga Agustus 2020, sebanyak 361 juta video berlabel “COVID-19” diunggah ke YouTube. Sebanyak 19.200 artikel ilmiah telah dipublikasi di Google Scholar sejak pandemi dimulai. Pada Maret 2020, terdapat sebanyak 550 juta cuitan mengandung istilah “coronavirus”, “corona virus”, “covid19”, “covid-19”, atau “pandemic”. Kebebasan untuk mengedarkan informasi di dunia maya membuat informasi yang tersebar jauh lebih banyak dari kapasitas yang bisa diterima setiap orang. Bahaya Infodemi Kuantitas tidak menjamin kualitas.

KO L U M

Informasi terkait pandemi Covid-19 yang melimpah di dunia maya justru mampu menghambat bahkan mengancam proses penanganan pandemi. Pertama, akses terhadap informasi yang membeludak dapat mengaburkan fakta dengan hoaks. Lambat laun, hal tersebut akan memicu disonansi kognitif yang dapat mengurangi kualitas hidup. Kedua, disonansi kognitif yang ditimbulkan dapat berakibat pada penurunan kepercayaan publik terhadap otoritas berwenang. Contoh konkretnya adalah tentang aturan penggunaan masker. Di awal pandemi, masyarakat diimbau tidak menggunakan masker dengan tujuan melindungi stok masker untuk tenaga kesehatan. Akan tetapi, seiring berkembangnya pandemi, M ar th pemerintah mengharuskan in /M A semua orang menggunakan masker. Inkonsistensi tersebut dapat mengikis kepercayaan masyarakat pada pemerintah. Ketiga, infodemi dapat secara langsung membahayakan orang, terutama ketika informasi yang diberikan menimbulkan mispersepsi. Hal tersebut tergambarkan pada peningkatan laporan keracunan disinfektan beberapa jam setelah Donald Trump, Presiden Amerika

Serikat, mengatakan akan mengeksplorasi penggunaan disinfektan injeksi sebagai obat Covid-19. Keterlibatan Multisektoral Infodemi tidak dapat dicegah, tetapi dapat dikontrol. Dibutuhkan keterlibatan multisektoral agar informasi dapat dikendalikan sehingga publik masih bisa mengakses informasi yang benar. Menanggapi kenyataan tersebut, WHO sebagai aktor utama penanggulangan Covid-19 dunia telah melakukan beberapa langkah jitu. WHO menyelenggarakan konferensi infodemiologi pertama di dunia pada 30 Juni-16 Juli 2020 untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya infodemi dan merumuskan upaya penanggulangannya. Acara tersebut diselenggarakan secara virtual dan dihadiri lebih dari tujuh ribu peserta dan panelis dari lintas disiplin. WHO juga bekerja sama dengan lebih dari lima puluh platform media sosial untuk memastikan pesan kesehatan dan sumber terpercaya selalu muncul pada saat pengguna internet mencari informasi terkait Covid-19. Di Indonesia, gerakan melawan hoaks salah satunya gencar dilakukan oleh Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), yaitu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang dibentuk oleh Harry Sufehmi pada September 2015 untuk menanggapi maraknya hoaks yang beredar pada pemilu tahun 2014. Tahun ini, Harry bersama

Risyad Abiyyu Siregar, S.Ked. Mahasiswa Tingkat V Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia lebih dari 80.000 relawan lainnya mengarahkan fokusnya untuk memberantas hoaks terkait pandemi Covid-19. Pemerintah Indonesia tampaknya belum menaruh perhatian lebih pada infodemi. Hal tersebut sangat disayangkan karena infodemi akan terus mengganggu proses penanggulangan Covid-19 hingga penanggulangan definitif seperti vaksin telah ditemukan dan digunakan secara luas. Harapan besar ada di pundak Presiden Joko Widodo serta segenap kabinet untuk menyadari bahaya yang dapat timbul dari infodemi. Selanjutnya, dibutuhkan segera rumusan kebijakan tepat sasaran untuk mengendalikan infodemi di Indonesia. Ariestiana

Dua Sisi Keberuntungan Merasa beruntung bukan berarti benar-benar untung

Apakah seseorang bisa menilai keberuntungan orang lain? Dalam lingkup yang lebih kecil, bisakah dia bisa menilai keberuntungannya sendiri? Suara desiran ombak di laut mengiringi napas terengah seorang anak laki-laki berpakaian lusuh. Tanpa kenal waktu, ia berlari hingga lebih dari dua jam. Ia berhenti sejenak mengambil napas setelah melihat tujuannya sudah di depan mata. Puskesmas terdekat. Walau puskesmas hampir tutup, untungnya masih ada satu dokter dan apoteker yang menyambutnya hangat. “Apakah ada yang bisa Saya bantu, Dik?” tanya dokter. Anak itu segera menyodorkan uang yang tidak seberapa di tangannya sambil berkata, “Tolong beri Ibu saya obat, ia kesakitan dan terbaring lemah di rumah.” Apakah anak itu tidak beruntung karena ibunya sakit atau beruntung menemukan puskemas tersebut? Ternyata, sang ibu mengalami radang lambung yang dibiarkan bertahun-tahun hingga parah. “Kamu bisa ambil obatnya di apotek sebelah, ya,” ucap dokter sambil membuka pintu ruangannya. Dengan terburu-buru, sang anak mengambil obat tersebut lalu berlari pulang. Perjalanan dua jam harus kembali ia tempuh. Satu jam kemudian, dokter dan apoteker selesai membereskan puskesmas dan bersiap pulang. Tiba-tiba, sang dokter terkejut melihat obat anak laki-laki tadi masih ada di meja apotek. Rasa panik, takut, dan bingung mulai

menyelimuti dadanya. Ia bergegas mencari berceceran hingga hampir serupa dengan batuapoteker untuk memastikan yang telah terjadi. batu kecil di tanah. Ia menangis. Mendadak Apoteker mengaku keliru lantaran sibuk pikirannya buntu sampai akhirnya satu-satunya membereskan obat di belakang sehingga tidak hal yang terpikirkan olehnya adalah kembali ke memperhatikan obat yang diambil anak tersebut. puskesmas sambil membawa pecahan gelas obat Lantas, muncul pertanyaan, yang tersisa. obat apa yang anak tersebut Melihat anak bawa? Setelah mendata tersebut datang kembali, obat di sekitar meja dokter dan apoteker pemberian obat, terkesiap dari tempat mereka pun duduknya. “Bagaimana menemukan satu ibunya? Apakah masih obat yang hilang. baik-baik saja? Apa Mereka semakin kemungkinan terburuk tidak bisa berkataitu sudah terjadi?” kata ketika menyadari Pertanyaan itu memenuhi obat yang terbawa benak mereka. seharusnya tidak boleh “Aku terjatuh dan diberikan pada kondisi obat ini pecah sebelum aku ibu anak tersebut. Alih-alih sempat memberikannya membaik, kondisi ibunya kepada ibuku,” jelas sang mungkin akan memburuk atau anak dengan wajah muram. Tania/MA bahkan tak tertolong lagi. Sementara itu, Dokter dan apoteker tersebut menghela mereka tidak tahu cara mengabarkan sang anak napas lega. Mereka langsung meminta maaf lelaki yang sudah terlampau jauh meninggalkan dan menjelaskan kepada anak laki-laki itu puskesmas. Mereka bingung, saling tatap, bahwa ia salah mengambil botol obat yang kemudian hanya bisa berdoa, menyerahkan dapat memperburuk kondisi ibunya. Kemudian, semua yang tidak bisa lagi diupayakan. mereka memberikan obat yang seharusnya Di sisi lain, sang anak yang terlalu kepada anak itu. bersemangat itu tersandung akibat medan yang Jika ditilik kembali, apakah anak itu tidak ia tempuh sangat berbatu-batu dan curam. Ia beruntung karena jatuh akibat jalanan curam terjatuh dan obat yang digenggamnya pecah dan berbatu-batu atau beruntung karena ternyata

Kareen Tayuwijaya Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Tingkat III jalanan itu mencegah ibunya meminum obat yang salah? Sang anak kembali berlari, kali ini dengan semangat dan keyakinan yang baru. Tentunya, lebih hati-hati. Hatinya diliputi syukur atas keyakinan bahwa ada yang menjaga ibu dan dirinya. Walaupun penuh peluh dan harus terjatuh, ia mengerti alasan semua ini terjadi. Ia percaya bahwa tidak semua keberuntungan adalah keberuntungan dan tidak semua ketidakberuntungan adalah ketidakberuntungan. Jadi, apakah ini kisah ketidakberuntungan atau keburuntungan? Kareen


MEDIA

AESCULAPIUS

LIPUTAN

SEPTEMBER - OKTOBER 2020

7

SEPUTAR KITA

Cegah Kanker Serviks dengan Vaksin HPV Kenali risiko dan lakukan pencegahan terhadap kanker serviks!

M

enurut data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2019, kanker serviks menempati posisi kedua sebagai kanker dengan kejadian tertinggi pada wanita di Indonesia dengan prevalensi 23,4 per 100.000 penduduk dan angka kematian mencapai 13,9 per 100.000 penduduk. Persentase cakupan penapisan kanker serviks pun terbilang sangat rendah, yaitu kurang dari 5%. Hal inilah yang mendorong Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia melaksanakan seminar “The 9th EMBRYO” pada Sabtu, 15 Agustus 2020. Salah satu topik yang diangkat adalah “Vaksin HPV, Apakah Perlu?” dan dibawakan oleh Dr. dr. J.M. Seno Adjie, SpOG(K). Kanker serviks diawali oleh infeksi human papillomavirus (HPV) yang membawa materi genetik DNA. Berdasarkan tingkat keganasannya, HPV dapat dibagi menjadi risiko tinggi dan risiko rendah. HPV risiko tinggi, seperti HPV tipe 16 dan 18 merupakan penyebab utama terjadinya kanker serviks. Umumnya, HPV akan menyerang sel-sel basal pada leher rahim. Protein E6 dan E7 yang dimiliki oleh HPV menyebabkan supresi gen P53 dan protein retinoblastoma (pRb) yang berfungsi untuk menghambat pertumbuhan kanker. Supresi dari kedua gen tersebut menyebabkan sel-sel terus bertambah dan berkembang tanpa kendali. Proses tersebut akan terjadi selama bertahuntahun sebelum akhirnya menjadi kanker. Salah satu langkah utama dalam mencegah kanker serviks adalah vaksinasi HPV. Pemberian

KABAR ALUMNI

vaksin telah terbukti menurunkan prevalensi munculnya lesi abnormal yang menjadi cikal bakal dari kanker serviks. Vaksin HPV bekerja sebagai profilaksis dari beberapa tipe virus HPV, terutama HPV tipe 16 dan 18. Vaksin HPV dibuat menggunakan teknologi rekombinan, yaitu pemanfaatan viruslike protein (VLP) sebagai agen vaksin yang merupakan hasil kloning dari viral capsid gene L1. Gen tersebut berperan dalam replikasi virus sehingga memiliki imunogenisitas kuat dalam menciptakan antibodi yang baik terhadap HPV. Mengingat penyebaran virus HPV melalui kontak seksual, administrasi vaksin HPV idealnya dilakukan sebelum individu melakukan kontak seksual. Pemberian vaksin HPV di Indonesia mengikuti rekomendasi yang ditetapkan oleh Indonesia Society of Gynecologic Oncology (INASGO), yaitu pada usia 10 sampai 55 tahun. Terdapat tiga jenis vaksin HPV yang dapat digunakan, yaitu vaksin bivalent,

Dokumen penyelenggara

quadrivalent, dan nonavalent. Akan tetapi, jenis nonavalent belum masuk ke Indonesia. Pemberian vaksin HPV diberikan dalam tiga seri, yaitu vaksin pertama (bulan 0), selanjutnya diberikan satu bulan (vaksin bivalent) atau dua bulan setelahnya (vaksin quadrivalent), dan enam bulan setelah pemberian pertama. Vaksin diberikan sebanyak dua dosis pada usia 9 sampai 14 tahun, sedangkan pada usia 15 tahun ke atas diberikan tiga dosis. Penelitian menunjukkan bahwa vaksin HPV aman karena tidak mengandung DNA virus dan memiliki efek

samping yang minim. Di akhir materi, Seno mengatakan bahwa kanker serviks sangat berpotensi untuk dicegah. Hal tersebut didasari atas ketersediaan vaksin, penapisan secara rutin yang dapat mengidentifikasi lesi prakanker, dan pengobatan lesi prakanker yang memadai sebelum berkembang menjadi kanker serviks. “Vaksin HPV dan screening merupakan usaha terbaik untuk mengeradikasi kanker serviks” ujar Seno sembari menutup presentasinya. amanda

Melawan Covid-19 di Balik Kontainer Pengalaman unik seorang dokter di kala pandemi

dr. Robby Hertanto FKUI 2013, MA desk Produksi Jabatan: Assistant Director Lab Genomik Solidaritas Indonesia PCR Lab Advisor PT Kartika Bina Medikatama/Medika Plaza

P

HP: 087878393916 Email: robbyher85@gmail.com

andemi Covid-19 tentunya menjadi topik perbincangan utama semua orang di tahun 2020. Peristiwa yang berhasil mengusik kehidupan banyak orang itu tentunya akan tercatat sebagai sejarah kelam peradaban manusia. Perubahan besar turut dialami oleh dr. Robby Hertanto di tengah pandemi. Dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu tengah sibuk mengurusi laboratorium PCR (polymerase chain reaction) untuk diagnosis Covid-19 asuhannya. Saat ini,

Robby bekerja sebagai asisten direktur Lab. Genomik Solidaritas Indonesia dan konsultan Lab. PT Kartika Bina Medikatama yang memiliki laboratorium drive thru pertama di Jakarta. Pengalaman Robby dalam dunia laboratorium cukup unik. Robby memang sudah memiliki ketertarikan terhadap genetika medis sejak kuliah. Alih-alih segera menjalankan internship setelah lulus pada tahun 2019, Robby memilih untuk berkecimpung di dunia laboratorium. Siapa sangka keputusannya tersebut membawa Robby turut berkontribusi menangani pandemi. Saat ini, laboratorium rintisan pria 25 tahun itu mampu menangani ribuan sampel Covid-19 per hari. Kegiatan Robby dalam pekerjaannya tersebut cukup bervariasi, mulai dari mengurus marthin/MA konstruksi laboratorium berupa kontainer, menyiapkan peralatan, hingga merekrut tenaga kerja. Hingga suatu saat pada pertengahan tahun 2020, ia sempat diminta untuk mendirikan laboratorium di NTB. Akhirnya, ia memutuskan mendirikan labotarium dalam sebuah kontainer agar tidak memakan banyak waktu serta biaya. Pembuatan labotarium tersebut dilakukan di Jakarta yang selanjutnya dikirimkan ke NTB.

Tak sampai di situ saja, Robby pun masih harus memastikan kontainer tersebut siap dipakai sesampainya di NTB. Protokol kesehatan yang ketat mengharuskan Robby diisolasi di dalam kontainer saat pertama kali tiba di NTB. Setelah serah terima dilakukan, Robby cukup kesulitan melatih staf lokal yang hendak bekerja. Standar laboratorium yang tidak memperkenankan staf masuk ke dalam kontainer secara bersamaan memaksa Robby untuk memberi arahan dari luar kontainer melalui sisi jendela atau menggunakan telepon seluler dengan kondisi sinyal yang tidak begitu baik. Pengalaman tersebut membuat ia tersadar akan pentingnya menghargai kebebasan sebelum pandemi melanda. Walaupun terbilang sibuk dan minim hari libur, Robby mengaku senang menggeluti pekerjaannya tersebut. Sejak mulai merintis laboratorium, ia belajar banyak hal baru di luar bidang kedokteran, seperti manajemen, pemasaran, negosiasi, hingga teknik dan konstruksi. Di sisi lain, Robby mengakui bahwa beban kerja yang dirinya terima terlalu besar. Ia menyayangkan masih kurangnya dukungan pihak terkait sehingga angka pertambahan kasus Covid-19 terus melonjak setiap harinya. Imbasnya, beban kerja terus meningkat dan

ketersediaan bahan serta peralatan semakin menurun. Pengalaman Robby di dunia laboratorium terbilang masih seumur jagung. Namun, pelajaran yang dapat dipetik dan diberikan begitu banyak. Ia mengaku bahwa dirinya masih perlu banyak belajar. Terlebih lagi, Robby sangat ingin berkarier bidang genetika medis dan penyakit infeksius. Walaupun belum berpraktik sebagai klinisi, Robby menekankan betapa pentingnya peran profesi dokter bagi komunitas. Ia berpesan terutama bagi dokter muda yang lulus tahun ini agar tidak lengah saat terjun ke dunia kerja di tengah pandemi. “Tetap semangat dan perbanyak membaca panduan medis terbaru agar selalu siap bekerja di tengah pandemi,” tutupnya. wira


8

LIPUTAN

SEPTEMBER-OKTOBER 2019

MEDIA

AESCULAPIUS

SEREMONIA

Berani Beraksi Lawan Kekerasan Seksual

A

sian Medical Student’s Association Universitas Indonesia (AMSA-UI) berhasil menggelar acara AMSA-UI Gives Back (AUGB) 2020 pada 23 Agustus 2020. Mengusung tema “Beraksi: Bersama Kita Lawan Kekerasan Seksual di Indonesia”, acara tahunan tersebut mengangkat

dokumen penyelenggara

isu kekerasan seksual yang masih terus terjadi akibat kurangnya edukasi tentang seksualitas bagi masyarakat. Bekerja sama dengan Lentera Sintas Indonesia, AUGB menyuguhkan seminar daring dan studi kasus dengan diskusi komprehensif melalui aplikasi Zoom. kareen

Edukasi Masyarakat Bersama RECON

arfian/MA

S

elama bulan Agustus 2020, Relawan Covid-19 Nasional (RECON) di bawah naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI gencar melakukan edukasi kepada masyarakat mengenai kebiasaan baru dalam menghadapi Covid-19 melalui program “31 Hari Tantangan

#SiapAdaptasi”. Sebanyak 15 ribu relawan dari seluruh Indonesia dikerahkan untuk melakukan edukasi secara daring. “Edukasi dapat dimulai dari kita, dari hal-hal kecil, ke orang-orang terdekat,” ungkap Aditya selaku Ketua RECON. amanda

SENGGANG

Kegemaran Masa Kecil yang Abadi Bermain gim juga bisa membawa manfaat

M

enggeluti dunia kedokteran sering kali menghadirkan perasaan penat yang berujung pada penurunan produktivitas. Sebagian orang memanfaatkan istirahat untuk mengatasi kondisi tersebut, sebagian lainnya memilih untuk melakukan hobi demi membangun semangatnya kembali. Hal serupa juga dialami oleh dr. Patria Wardana Yuswar yang senang bermain gim konsol untuk mengisi waktu luang. Kegemaran Patria pada gim konsol sudah muncul sejak ia masih duduk di bangku TK. Bersama dengan saudaranya, ia memulai hobi tersebut dengan memainkan playstation edisi pertama. Menariknya, kegemaran masa kecil tersebut menemaninya tumbuh hingga saat ini. Patria mengaku bahwa ia telah mengoleksi lebih dari 200 compact disk sejak pertama kali ia memainkan gim video tersebut. Dokter kelahiran Padang itu memilih mode single-player sebagai jenis permainan yang paling ia sukai. “Aku lebih mencari story dari tokoh utama di game-nya,” ungkap Patria. Terlebih lagi, berbagai jenis permainan saat ini menyuguhkan alur cerita yang lebih menarik. Akhir cerita dalam permainan sangat bergantung pada pilihan-pilihan yang diambil oleh pemain pada setiap levelnya. Hal tersebut tentunya dapat mengasah mentalitas dalam mengambil keputusan. Berbeda halnya dengan permainan mode multiplayer. Permainan multiplayer dapat memperluas lingkaran pertemanan karena mayoritas gim dimainkan secara daring. Jenis permainan tersebut juga dapat memberikan wawasan dalam mengatur strategi dan kerja

Nama Lengkap : dr. Patria Wardana Yuswar Tempat, Tanggal Lahir : Padang, 1 Oktober 1993 Jabatan : Dokter Umum Dokter Magang Departemen IPD Divisi Ginjal dan Hipertensi RSCM

bije/MA

sama tim untuk melawan kelompok musuh yang dihadapi. Tak hanya itu, dokter lulusan FKUI itu juga merasakan bahwa kemampuan Bahasa Inggrisnya meningkat akibat paparan yang ia dapatkan selama bermain. “Karena dipaparkan terus, kemampuan bahasa Inggris pasif aku lumayan walaupun nggak les,” jelas Patria. Selain itu, kemampuan dalam memecahkan masalah juga berkembang saat memainkan gim yang membutuhkan analisis dalam mencari jalan keluar, misalnya puzzle. Jadwal profesi dokter yang tidak menentu menjadi tantangan tersendiri bagi Patria untuk tetap meluangkan waktu

bermain gim konsol. “Kalau lagi banyak kesibukan, jadi nggak sempat main. Apalagi kalau sampai dua mingu nggak main, rasanya seperti ada yang kurang,” ungkap Patria. Di sisi lain, terkadang ada saatnya timbul keinginan untuk bermain lebih lama dari seharusnya. Imbasnya, beberapa tanggung jawab pekerjaan harus terbengkalai. Patria cukup bersyukur terlahir di keluarga yang tidak mempermasalahkan kegemarannya tersebut. Bahkan, salah satu saudaranya memiliki pusat permainan dengan 30 unit komputer di Sumatra. Istrinya pun tidak mempermasalahkan kesenangannya dalam bermain gim.

Dukungan dari keluarga dan temannya tersebut menjadi semangat bagi Patria untuk mengoleksi berbagai jenis gim konsol terkini. Sebagai penutup, Patria mengutarakan bahwa semua hobi pasti memiliki manfaat. Dalam bermain gim konsol, manfaat dalam jangka pendeknya mungkin tidak terlihat. Manfaatnya baru terasa setelah digeluti cukup lama. Begitu pula dengan hobi lainnya, keuntungan akan didapatkan asal ditekuni dengan baik. “Game ada manfaatnya dalam jangka panjang. Seperti yang Aku bilang tadi, segi bahasa, mentalitas, dan lebih matur menghadapi masalah,” pungkas Patria. icha


Issuu converts static files into: digital portfolios, online yearbooks, online catalogs, digital photo albums and more. Sign up and create your flipbook.