__MAIN_TEXT__
feature-image

Page 1

Media Aesculapius Surat Kabar

Kedokteran dan Kesehatan Nasional Terbit Sejak 1970

Maret-April 2020 / Edisi 02 / Tahun XLIX / ISSN 0216-4996

@MedAesculapius |

beranisehat.com |

MA INFO

KESMAS

KABAR ALUMNI

Kuasai Tata Laksana Dislipidemia, Penyakit Era Kekinian hlm 2

Wabah Leptospirosis di Musim Hujan hlm 4

Setitik Cahaya Pengabdian di Bualemo hlm 7

0896-70-2255-62

Virus Corona Masuk Indonesia: Sudahkah Kita Siap? Sejumlah pihak mempertanyakan kapabilitas Indonesia di tengah kegentingan pandemi infeksi corona.

S

aat ini, dunia tengah digemparkan oleh infeksi virus SARS-CoV-2 yang diketahui memicu Coronavirus disease 2019 (Covid-19). Sejak mewabah di Tiongkok pada penghujung 2019 lalu, virus ini telah menjangkiti sejumlah negara. Rute transmisi melalui udara (air-borne transmission) dinilai menjadi latar belakang laju penyebarannya yang begitu cepat dan masif. Klaim Kebal Indonesia terhadap Covid-19 Di tengah puncak penyebaran virus corona ke sejumlah negara, Indonesia sempat dinyatakan bebas dari infeksi. Meskipun kini pemerintah secara resmi telah mengumumkan adanya pasien positif Covid-19, namun masih banyak pihak yang percaya bahwa virus ini kesulitan menginfeksi warga Indonesia. Beragam spekulasi muncul ke permukaan, salah satunya klaim yang menyebut Indonesia kebal terhadap infeksi virus corona. Terlebih ini memang bukan pertama kalinya Indonesia tampak tidak terlalu terdampak oleh wabah penyakit mendunia. Pada wabah virus SARS (severe acute respiratory syndrome) dan MERS (middle-east respiratory syndrome) beberapa tahun silam, laporan kasus tak begitu banyak. Padahal, Indonesia merupakan salah satu negara dengan mobilitas ke Timur Tengah yang cukup besar. Menanggapi hal tersebut, Ahli Penyakit Tropis dan Infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dr. Erni Juwita Nelwan, SpPD-KPTI, PhD, mencurigai adanya peranan genetik masyarakat Indonesia terhadap infeksi virus corona. “Memang bisa saja kerentanan kita untuk terkena virus ini berbeda, baik secara genetik ataupun ras,” terangnya. Di samping itu, kondisi lingkungan Indonesia diduga turut berpengaruh. Selaras dengan pendapat Erni,

dr. Anung Sugihantono, M.Kes, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, menjelaskan bahwa terdapat sebuah interaksi yang kompleks antara agen penyakit, lingkungan, dan manusia sebagai pejamu. “Seganas dan sebanyak apapun agennya, kalau berada dalam lingkungan atau pejamu yang tidak cocok untuk dihuni, pasti tidak akan menular,” jelas Anung.

diteruskan ke ground handling dan akhirnya sampai pada kami,” terang Hawani. Di samping itu, pihak KKP pun telah bekerja sama dengan pihak Angkasa Pura II untuk menyediakan spanduk digital dan video edukasi yang ditayangkan pada lokasi-lokasi strategis di bandara untuk meningkatkan kewaspadaan. Meskipun demikian, Hawani mengakui bahwa Bandara Soekarno-Hatta masih belum memiliki tempat karantina bagi imigran yang sehat, namun terpapar pasien suspek virus corona. Dengan demikian, mereka harus tetap dibawa ke tempat karantina yang disediakan oleh pemerintah pusat.

Keimigrasian Tetap Siap Siaga Pemerintah terus melakukan pengawasan ketat terhadap sektor imigrasi, terutama bandara, batas-batas tania/MA negara, dan pelabuhan sebagai lini pertama Kolaborasi Multisektoral Menjadi Kunci masuknya wisatawan ke Indonesia. Koordinator Pengawasan ketat di sektor imigrasi tak Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Tingkat bisa dijadikan satu-satunya harapan dalam I Bandar Udara Soekarno-Hatta Wilayah mencegah masuknya virus corona ke Indonesia. Kerja Halim Perdanakusuma, dr. Hawani Perlu diingat bahwa Covid-19 merupakan Frida Riamauli, dengan yakin menyatakan zoonosis sehingga penularan dari hewan liar, bahwa pihaknya telah siap melakukan tindakan seperti kelelawar, ayam, dan hewan lainnya pencegahan dan isolasi terhadap wisatawan yang sangat mungkin terjadi. Dalam menghadapi berpotensi menularkan virus corona. “Kita sudah kondisi tersebut, dokter dituntut untuk mampu pasang thermoscan di kedatangan internasional memahami prosedur diagnosis, isolasi, hingga untuk semua penumpang dan kru, menggunakan penanganannya. “Kalau dokternya tidak APD, seperti handscoon dan masker serta mencurigai infeksi corona maka akan repot. mempersiapkan kartu kewaspadaan kesehatan Dapat menyebabkan masalah karena hanya (health alert card),” tuturnya. memberikan antibiotik atau obat simptomatik Lebih lanjut, upaya deteksi dini dapat dan langsung melepaskan orang tersebut ke dilakukan bahkan sejak pendatang masih masyarakat,” jelas Erni. Dokter pun senantiasa berada di dalam pesawat. “Pilot pesawat akan harus memperbaharui pengetahuan dan proaktif memberitahu air traffic control apabila terdapat mencari informasi terkait virus corona, baik penumpang yang mengeluh demam atau sesak melalui kegiatan pelatihan, workshop, atau napas. Kemudian, informasi tersebut akan pertemuan ilmiah.

Indonesia Tak Sepenuhnya Mampu Mendiagnosis Covid-19?

P

enemuan kasus Covid-19 di Indonesia terbilang lebih lambat dibandingkan negara lainnya. Kondisi ini memunculkan pertanyaan terkait kemampuan Indonesia mendiagnosis Covid-19. Keraguan publik kian dikuatkan oleh pernyataan peneliti dari Harvard University yang sempat memasukkan Indonesia dalam daftar negara dengan kemampuan deteksi Covid-19 buruk. Sebagai salah satu negara dengan penerbangan langsung dari Wuhan selama periode wabah, kondisi Indonesia memang dianggap sebagai sebuah anomali. Kapabilitas negara dalam menemukan infeksi virus tersebut lantas dipertanyakan. Meskipun demikian, dr. Erni Juwita Nelwan, SpPD-KPTI, PhD memastikan bahwa Indonesia telah mumpuni dalam mendiagnosis Covid-19. “Kalau untuk diagnosis, insyaAllah

pemeriksaan PCR sudah bisa digunakan hingga konfirmasi kasus,” tegasnya. Litbangkes pun dipercayakan sebagai badan resmi yang berwenang mengerjakan uji diagnosis Covid-19. “Sebenarnya banyak lab yang bisa mengerjakan, namun ini demi menjaga kualitas pelayanan,” jelas Erni. Keyakinan Erni terbukti dengan pengumuman resmi pemerintah yang menyebut bahwa Indonesia kini memiliki pasien positif Covid-19 dan telah diisolasi sesuai prosedur. Walaupun sudah cukup sigap dalam menangani pasien Covid-19, pemerintah tetap menuai banyak kritik lantaran mekanisme screening pasien dengan batuk dan demam tak maksimal. Tak sedikit pihak menyayangkan langkah pemerintah yang tak melakukan pemeriksaan laboratorium untuk WNI yang dipulangkan dari negara terdampak. Rumor

terkait biaya reagen yang mahal kemudian menyeruak sebagai alasannya. Faktanya, penegakkan diagnosis Covid-19 memang hanya dapat dilakukan dengan pemeriksaan laboratorium. Namun, seseorang yang akan menjalani pemeriksaan harus memenuhi sejumlah kriteria, seperti demam ≥38oC, batuk, pneumonia, riwayat kontak, dan riwayat perjalanan ke negara terjangkit untuk kemudian digolongkan sebagai pasien dalam pengawasan. Apabila tidak memenuhi kriteria dalam kurun waktu yang ditentukan, seseorang dapat dinyatakan bebas dari Covid-19 dan tidak memerlukan pemeriksaan laboratorium. kareen, adit

Kemenkes bersama instansi terkait lainnya tengah mengupayakan peningkatan kualitas tenaga kesehatan di Indonesia terutama dalam konteks penanggulangan penyakit infeksi emerging seperti Covid-19. Salah satu implementasinya adalah dengan memastikan akses informasi terbaru untuk seluruh tenaga kesehatan. “Sebenarnya secara teknologi dan metodologi kita mampu, namun fasilitas pelayanan kita tidak merata secara kuantitas maupun kualitas,” ujar Anung. Selain persiapan tenaga kesehatan, seluruh sektor diharapkan turut andil dalam kesiapan Indonesia menghadapi wabah virus corona. Dalam hal ini, pemerintah pusat berperan dalam merangkul seluruh pihak untuk menyalurkan kontribusinya. Anung memaparkan bahwa seluruh aturan telah tertuang dalam Instruksi Presiden No. 4 Tahun 2019 tentang Peningkatan Kemampuan dalam Mencegah, Mendeteksi, dan Menanggapi Wabah Penyakit, Pandemi Global, Kedaruratan Nuklir, Biologi, dan Kimia. “Sejauh ini kita melihat bahwa inpres ini cukup efektif, nyatanya apa yang kita persiapkan sampai saat ini masih dalam jalur yang benar,” jelas Anung. Langkah yang diambil pemerintah cukup sigap dalam merespons ditemukannya pasien positif Covid-19 dengan mengerahkan sejumlah fasilitas kesehatan menjadi pusat rujukan Covid-19. Penanganan intensif pun diberikan untuk pasien demi mencegah penularan yang lebih luas. Pada akhirnya, penemuan kasus Covid-19 menjadi sebuah peringatan bagi seluruh pihak untuk lebih fokus mengendalikan pandemi. Pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat diharapkan mampu berjalan beriringan agar penyebaran Covid-19 tidak terus berkembang. kareen, adit

SKMA untuk Anda! Mari bersama membuat SKMA menjadi lebih baik.

!

1. Apakah konten SKMA bermanfaat/ relevan dengan kondisi kesehatan saat ini? 2. Apakah anda masih membutuhkan SKMA edisi selanjutnya? Jawab dengan format: Nama-Umur_Kota/Kabupaten_Unit Kerja_ Jawaban 1_Jawaban 2 Contoh: Rudiyanto_43_Jakarta Pusat_RSCM_Ya_Ya Kirim melalui WhatsApp/SMS ke 0896-702255-62 atau mengisi formulir pada bit.ly/ surveyskma2020


2

MARET-APRIL 2020

DARI KAMI Pembaca SKMA yang budiman, tiga bulan sudah masyarakat global dihebohkan oleh infeksi virus corona. Keputusan WHO menetapkan Covid-19 sebagai pandemi global dirasa cukup tepat mengingat penyebaran infeksi yang sudah meluas ke sejumlah negara. Tak main-main, infeksi pernapasan akut ini bahkan berdampak pada pelemahan sektor ekonomi negara terjangkit, termasuk Indonesia. Lantas, bagaimana persiapan Indonesia menghadapi Covid-19? Simak ulasannya di rubrik headline! Di tengah riuhnya penanganan virus corona, beberapa daerah di tanah air memasuki musim penghujan. Curah hujan yang cukup tinggi memicu genangan banjir di sejumlah kota. Banjir yang menggenang ternyata menyimpan ancaman leptospirosis yang begitu berbahaya. Kenali lebih jauh tentang infeksi dari tikus ini di rubrik ilmiah popular. Informasi terkini tentang isu penarikan ranitidin tak boleh dilewatkan oleh pembaca sekalian. Obat mag yang penggunaannya cukup luas di Indonesia ini sempat ditarik izin edarnya karena diduga mengandung zat pemicu kanker. Namun tak lama setelah kabar penarikannya, ranitidin akhirnya secara bebas dapat dipasarkan kembali. Lantas, amankah ranitidin dikonsumsi? Uraian lengkapnya ada di rubrik ilmiah popular. Kisah menarik tentang pengalaman dokter menjalani kesehariannya dapat ditemukan di rubrik liputan. Mengabdi di ujung utara Sulawesi menyisakan cerita yang menarik untuk dibagikan. Begitu pun kisah dokter yang tetap menggeluti hobi berwisatanya di tengah kesibukan. Indahnya pemandangan bawah laut Indonesia menjadi obat terbaik di kala suntuk menjalani keseharian di klinik. Akhir kata, selamat membaca dan beraktivitas. Semoga SKMA selalu memberikan inspirasi dengan berita kesehatan yang disebarkannya.

Nur Afiahuddin Tumpu Pemimpin Redaksi

MA FOKUS

Buntut Panjang Wabah Virus Corona

P

andemi infeksi virus corona sukses mengawali dekade baru. Sejumlah negara dibuat kalang kabut oleh flu yang bisa membunuh penderitanya ini. Setelah hampir tiga bulan berstatus aman, Indonesia akhirnya tunduk pada wabah Covid-19. Meskipun protokol penanganan telah diaktivasi, pemerintah Indonesia tampak kelabakan dalam menghadapi krisis ini. Persiapan Kemenkes dalam menangani wabah lantas menjadi sorotan. Tak sedikit pihak yang kemudian mempersalahkan Kemenkes mengingat angka penderita terus meningkat. Perkembangan wabah yang seakan tak berujung ini memancing kepanikan publik. Kesimpangsiuran informasi disinyalir menjadi penyebabnya. Pengumuman masuknya virus corona ke Indonesia direspons cukup berlebihan. Warga berbondong-bondong mengunjungi gerai masker dan cairan antiseptik agar tak tertular virus. Bahkan, beberapa bahan pokok ludes terjual demi memenuhi keserakahan warga yang tak beralasan. Situasi ini dimanfaatkan sejumlah oknum untuk menimbun barang ramai peminat. Alhasil, harga beberapa barang melambung tinggi hingga terkesan tak masuk akal. Di tengah peliknya penanganan infeksi corona, ekonomi nasional tampak kian memprihatinkan. Pemerintah harus pasrah menyaksikan neraca perdagangan yang terus merosot. Sektor pariwisata sebagai salah satu pemasok pendapatan tertinggi harus gulung tikar hingga waktu yang tak dapat dipastikan. Indonesia bukanlah satu-satunya negara yang begitu terdampak oleh Covid-19. Tiongkok rela mengistirahatkan sejenak perekonomiannya demi fokus memberantas wabah. Jepang terancam menunda perhelatan akbar olimpiade yang semula dijadwalkan tahun ini. Begitu pun Italia yang harus menutup akses dan mengisolasi warganya agar mata rantai penularan dapat dihentikan. Contoh tersebut dapat dijadikan acuan Indonesia dalam menyusun jalan keluar terbaik. Strategi jitu pemerintah dalam menyelesaikan masalah ini amat dinantikan. Stimulus ekonomi yang diluncurkan pemerintah paling tidak menjawab krisis kepercayaan masyarakat. Fokus penguatan ekonomi domestik diharapkan mampu mengatrol defisit dalam negeri. Akan tetapi, siasat ini kemungkinan menemui kebuntuan apabila mitigasi wabah tak berjalan semestinya. Peran masyarakat juga sangat diperlukan dengan tetap mengawal kebijakan serta kritis menyikapi informasi yang beredar. Akhirnya, sinergi seluruh pihak menjadi kunci keberhasilan pengentasan Covid-19.

KLINIK

MEDIA

AESCULAPIUS

MA INFO

Kuasai Tata Laksana Dislipidemia, Penyakit Era Kekinian

D

Mari simak panduan terkini Perkeni untuk tata laksana dislipidemia!

islipidemia adalah sebuah kelainan metabolisme lemak yang ditandai dengan peningkatan atau penurunan kadar fraksi lipid dalam darah. Dislipidemia merupakan kondisi yang cukup sering ditemui. Data Riskesdas tahun 2013 menunjukkan bahwa terdapat 35,9% penduduk Indonesia berusia ≥15 tahun memiliki kadar kolesterol abnormal (≥ 200 mg/dL). Dislipidemia dapat disebabkan oleh faktor genetik (hiperkolesterolemia familial) maupun penyakit-penyakit sekunder, seperti hipotiroidisme, sindrom metabolik, dan diabetes melitus. Dislipidemia sering kali tidak menimbulkan keluhan, tetapi dapat berujung pada komplikasi serius, seperti strok dan penyakit jantung koroner. Secara umum, pengobatan dislipidemia bertujuan untuk mencegah timbulnya gejala dan komplikasi. Tata laksana dibagi menjadi dua jenis, yaitu nonfarmakologis aur elia /M dan farmakologis. Tata laksana A nonfarmakologis, meliputi rekomendasi aktivitas fisik, nutrisi, dan kebiasaan merokok. Tata laksana farmakologis dibagi berdasarkan targetnya, yaitu terapi untuk hiperkolesterolemia, hipertrigliseridemia, dan kadar kolesterol HDL (K-HDL) rendah. Tata Laksana Nonfarmakologis Pasien dislipidemia dianjurkan untuk beraktivitas fisik minimal 30 menit sebanyak 4—6 kali seminggu. Jenis latihan yang bisa dilakukan, antara lain berenang, bersepeda, dan jalan cepat. Latihan resistensi otot juga dapat ditambahkan setidaknya dua kali seminggu. Hasil yang diharapkan adalah pelepasan kalori ≥200 kkal/hari. Selain itu, pasien dislipidemia juga dianjurkan untuk mengonsumsi aneka buah dan sayur (≥5 porsi/hari), biji-bijian (≥6 porsi/hari), ikan, dan daging tanpa lemak. Konsumsi serat disarankan sebanyak 10—25 gram per hari. Makanan yang mengandung banyak lemak jenuh, lemak trans serta kolesterol sebaiknya dibatasi. Kebiasaan merokok juga sebaiknya dihentikan mengingat rokok merupakan faktor risiko kuat penyakit kardiovaskular. Berhenti merokok setidaknya 30 hari dapat meningkatkan kadar K-HDL secara signifikan.

MEDIA AESCULAPIUS

Tata Laksana Farmakologis Prinsip terapi farmakologis untuk dislipidemia ialah menurunkan risiko terjadinya penyakit kardiovaskular. Pada kasus hiperkolesterolemia, pemberian obat golongan statin seperti simvastatin oral 5—80 mg atau atorvastatin oral 10—80 mg dapat dijadikan pilihan utama. Statin biasanya diberikan sekali sehari pada malam hari. Obat ini dikontraindikasikan bagi pasien dengan gangguan hati akut maupun kronik. Jika pemberian statin saja tidak mampu mencapai target kolesterol yang diharapkan atau pada pasien dengan nilai kolesterol LDL yang terlampau tinggi, pemberian statin dapat dikombinasikan dengan obat golongan lain. Kombinasi yang dapat diberikan antara lain statin dengan ezetimibe atau sekuestran asam empedu seperti kolesevelam oral 625 mg selama 2—3 hari. Kombinasi lainnya yaitu statin dengan inhibitor PCSK9, seperti alirocumab oral 75 mg dua kali seminggu atau evolocumab oral 140 mg dua kali seminggu. Rekomendasi berikutnya adalah untuk pasien dengan hipertrigliseridemia. Pada pasien dengan kadar trigliserida >200 mg/dL, statin masih menjadi pilihan utama. Untuk kasus trigliserida >500 mg/dL, direkomendasikan pemberian asam lemak ω-3 sebanyak 2—4 g/hari dan fibrat, seperti gemfibrozil 600 mg 2 kali sehari atau fenofibrat 45—300 mg satu kali sehari. Terapi kombinasi statin dengan fenofibrat direkomendasikan pada pasien berisiko tinggi dengan kadar TG >200 mg/dL. Target capaian ideal trigliserida adalah <150 mg/dL. Pada pasien dengan kadar K-HDL rendah, beberapa panduan internasional umumnya tidak merekomendasikan terapi farmakologis spesifik untuk meningkatkan kadar K-HDL. Rekomendasi yang diberikan hanyalah terapi nonfarmakologis berupa perubahan gaya hidup, seperti olahraga, penurunan berat badan, dan restriksi rokok. Terapi dengan statin dan fibrat hanya meningkatkan K-HDL sebesar 5—10%, sedangkan niasin tidak umum digunakan karena efek sampingnya. Sebagai gangguan yang semakin lazim ditemukan, pasien dislipidemia perlu ditangani dengan komprehensif. Terapi farmakologis dan nonfarmakologis perlu dilakukan dengan tepat agar tidak terjadi komplikasi kardiovaskular yang fatal. leo

Pelindung: Prof. Dr. Ir. Muhammad Anis M. Met. (Rektor UI), Prof. Dr. dr. H. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP (Dekan FKUI) Penasihat: Dr. Arman Nefi, S.H., M.M. (Direktur Kemahasiswaan UI), dr. Affan Priyambodo Permana, SpBS(K) (Koordinator Kemahasiswaan FKUI) Staf Ahli: Seluruh Kepala Bagian FKUI/RSUPNCM, Prof. Dr. Ma’rifin Husein (CHS), dr. Muki Reksoprodjo, dr. Boen Setiawan, dr. Sudarso, dr. E. Oswari, DPH, Prof. Dr. Arjatmo Tjokronegoro, PhD, dr. Hapsara, DPH (Kemenkes RI), dr. Fahmi Alatas, Prof. dr. Marwali Harahap, SpKK, Prof. Dr. Umar Fahmi Achmadi, MPH Pembantu Khusus: Seluruh Alumni Aesculapius dan Media Aesculapius

Pemimpin Umum: Gerald Aldian Wijaya. POSDM: Kevin Tjoa. Pemimpin Produksi: Marthin Anggia Sirait. Tata Letak dan Cetak: Gita Fajri Gustya. Ilustrasi dan Fotografi: Vina Margaretha Miguna. Infografis: Sakinah Rahma Sari. Staf Produksi: Siti Noor Aqilla, Alfianti Fauziah, Ayu Saraswati, Bernadette Jessica, Tania Meirianty, Arfian Muzaki, Aurelia Maria Prajna Saraswati, Hannah Soetjoadi, Mega Yunita, Devi Elora, Nathaniel Aditya, Anthonius Yongko, Kania Indriani, Fiona Valerie, Irfan Kresnadi, Shafira Chairunnisa, Teresia Putri, Hansel T. Widjaja, Itsna Arifatuz, Kelvin Gautama, Kristian Kurniawan, M. Idzhar Arrizal. Pemimpin Redaksi: Nur Afiahuddin Tumpu. Sekretaris Pemimpin Redaksi: Jonathan Hartanto. Chief Editor: Nathalia Isabella, Afiyatul Mardiyah. Redaktur Desk Headline: Jonathan Hartanto. Redaktur Desk Klinik: Billy Pramatirta. Redaktur Desk Ilmiah Populer: Elvan Wiyarta. Redaktur Desk Opini & Humaniora: Aughi Nurul Aqilla. Redaktur Desk Liputan: Mariska Andrea. Reporter Senior: Joanna Erin, Fadlika Harinda, Vanessa Karenina, Aisyah Rifani, Stefanus Sutopo, Reyza Tratama, Nadhira Najma, Renata Tamara, Tiffany R, Alexander Kelvyn, Dina Fitriana, Farah Qurrota, Filbert Liwang, M. Ilham Dhiya, Rayhan Farandy, Yuli Maulidiya, Sheila Fajarina Safety, Jessica Audrey, Lidia Puspita Hasri, Wira Titra Dwi Putra, Prajnadiyan Catrawardhana, Leonardo Lukito Nagaria. Reporter Junior: Albertus Raditya, Alexander Rafael, Amanda Safira, Gabrielle Adani, Ariestiena Ayu, Izzati Diyanah, Kareen Tayuwijaya. Pemimpin Direksi: Nur Zakiah Syahsah. Job dan Promosi: Sean Alexander. KSK: Gilbert Lazarus. SKMA: Vincent Kharisma. Staf Direksi: Engelbert Julyan, Laureen Celcilia, Regine Viennetta, Kevin Tjoa, Gerald Aldian, Mochammad Izzatullah, Andi Gunawan Karamoy, Bunga Cecilia Sinaga, Iskandar Purba, Jeremy Refael, Lowilius Wiyono, Marie Christabelle, Syafira Nurlaila, Alice Tamara, Angela Kimberly, Indah Fitriani, Reganedgary Jonlean, Sabrina Tan, Safira, Amelia, Trienty Batari. Alamat: Media Aesculapius BEM IKM FKUI. Gedung C lantai 4, Rumpun Ilmu Kesehatan, Kampus UI Depok. E-mail: medaesculapius@gmail.com, Rek. 157-0004895661 Bank Mandiri Cabang UI Depok, website: beranisehat.com Alamat Redaksi/Sirkulasi: Media Aesculapius PO BOX 4201, Jakarta 10042, Harga Langganan: Rp18.000,00 per enam edisi gratis satu edisi (untuk seluruh wilayah Indonesia, ditambah biaya kirim Rp. 5.000,00 untuk luar Jawa), fotokopi bukti pembayaran wesel pos atau fotokopi bukti transfer via Bank Mandiri dapat dikirim ke alamat sirkulasi. MA menerima kiriman naskah dari pembaca untuk rubrik MA Klinik (khusus untuk dokter dan staf pengajar), Asuhan Keperawatan (khusus untuk perawat dan mahasiswa keperawatan) Sepuki, Suma, Suduk, Kolum, Arbeb, Kesmas, Seremonia, dan Konsultasi (berupa pertanyaan). Kirimkan email permohonan penulisan ke medaesculapius@gmail.com dan kami akan mengirimkan spesifikasi rubrik yang Anda minati.

Kirimkan kritik dan saran Anda: medaesculapius@gmail.com

Website Media Aesculapius

beranisehat.com

Dapatkan info terbaru kami: @MedAesculapius


MEDIA

KLINIK

AESCULAPIUS

MARET-APRIL 2020

3

KONSULTASI

Bebas Obesitas sebelum Program Bayi Tabung Sejumlah komplikasi akibat obesitas yang mengancam keberhasilan bayi tabung. Pertanyaan: Salam, Dok. Sekarang saya bekerja di salah satu rumah sakit ibu dan anak swasta di kawasan Jakarta Pusat. Dalam praktik sehari-hari, sering saya temukan pasien obesitas dengan impaired glucose tolerance yang ingin menjalani program bayi tabung. Edukasi gizi apa yang sebaiknya saya berikan kepada pasien sebelum mereka menjalani program bayi tabung? – dr. T

I

mpaired glucose tolerance atau toleransi glukosa terganggu adalah kondisi kadar glukosa post prandial yang abnormal. Seseorang dikatakan memiliki toleransi glukosa terganggu atau pradiabetes melitus jika hasil tes toleransi glukosanya berada pada rentang 140—199 mg/dL. Kondisi meningkatnya kadar glukosa darah dari nilai normal disebabkan oleh menurunnya respons jaringan tubuh terhadap insulin. Normalnya, setelah makan, pankreas akan menyekresi insulin ke aliran darah. Hormon ini kemudian akan memicu sel-sel yang sensitif insulin, contohnya sel otot dan sel lemak, untuk mengekspresikan GLUT ke permukaan sel. GLUT adalah transporter sel yang penting untuk memindahkan glukosa dari darah ke dalam sel. Pada penderita obesitas terjadi peningkatan simpanan lemak tubuh. Kondisi tersebut dapat memicu sistem imun mengeluarkan sitokin proinflamasi yang akan memicu gangguan pada sel otot dan sel lemak sehingga gagal mengekspresikan GLUT meskipun insulin telah disekresikan ke dalam darah. Kondisi ini disebut resistensi insulin, yang menjadi penyebab toleransi glukosa terganggu.

Pasien obesitas dengan resistensi insulin dapat mengalami berbagai komplikasi. Salah satunya adalah polycystic ovarian syndrome (PCOS), yaitu kondisi yang ditandai dengan ketidakteraturan siklus menstruasi. Akibatnya, fertilisasi sulit terjadi. Selain gangguan fertilisasi, bayi yang lahir dari ibu dengan toleransi glukosa terganggu cenderung mengalami hipoglikemia (kadar gula darah rendah) dan lahir dengan berat badan di atas 4.000 gram. Selain itu, anak juga rentan terhadap penyakit degeneratif pada masa yang akan datang. Untuk mencegah terjadinya A M u/ komplikasi di atas, dokter ay umum dapat memberikan edukasi gizi kepada calon ibu sebelum ia menjalani proses kehamilan. Sebelum pasien menjalani program bayi tabung, penurunan indeks massa tubuh (IMT) pasien ke nilai normal dapat disarankan. Akan tetapi, perlu dicatat bahwa penurunan berat badan harus dilakukan dengan cara yang sehat dan bebas efek samping. Calon ibu dapat menjalani diet seimbang rendah kalori disertai dengan aktivitas fisik rutin. Aktivitas fisik yang dianjurkan adalah latihan aerobik yang dilakukan sedikitnya 150 menit per minggu. Latihan aerobik yang dapat dilakukan, antara lain jalan cepat, bersepeda, atau berenang. Diet seimbang yang dapat diedukasikan kepada pasien bisa berdasarkan panduan “Isi Piringku” yang diluncurkan oleh Kementerian Kesehatan RI. Berdasarkan panduan tersebut, setengah dari isi piring makan pasien harus

berupa buah dan sayuran. Setengah sisanya diisi dengan karbohidrat dan lauk-pauk. Pada pasien obesitas, porsi karbohidrat cukup seperempat isi piring. Dengan diet yang tepat, berat badan akan turun sehingga progresivitas resistensi insulin dapat dicegah. Faktanya, kebiasaan konsumsi sayur dan buah-buahan masyarakat Indonesia sangatlah rendah. Padahal, buah dan sayur sudah cukup mengenyangkan dengan jumlah kalori yang jauh lebih rendah. Sebagai contoh, segelas sayur atau dua buah jeruk mengandung energi 50 kkal yang setara dengan satu sendok teh minyak atau 40 mL santan. Selain porsi dan proporsi makanan, cara pengolahan makanan juga penting untuk diperhatikan. Proses pengolahan makanan dengan cara digoreng atau menggunakan santan perlu dihindari. Selain itu, pasien obesitas juga harus mengurangi konsumsi makanan atau minuman manis karena dapat meningkatkan kadar gula darah dengan cepat sehingga memperparah resistensi insulin. Terkait diet bagi calon ibu, kebutuhan nutrisi harian tidak terlepas dari pemenuhan vitamin. Kecukupan asam folat (vitamin B9) adalah salah satunya. Vitamin yang penting dalam perkembangan janin tersebut perlu disiapkan sejak tiga bulan sebelum konsepsi. Asam folat dapat diperoleh dari sayur-sayuran hijau. Konsumsi sayuran hijau tetap diperlukan meskipun calon ibu juga mengonsumsi suplemen asam folat.

Narasumber dr. Steffi Sonia, M.Gizi, SpGK Staf Departemen Ilmu Gizi FK UI Email : steffisonia@gmail.com Setelah edukasi dan anjuran gizi dijalankan, dokter dapat melakukan pemantauan berat badan pasien, idealnya 1-2 kali sebulan. Targetnya adalah terjadi penurunan berat badan sebesar 10% dalam 6 bulan. Dokter perlu merujuk pasien ke dokter spesialis gizi klinik apabila berat badan pasien tidak kunjung turun setelah tiga bulan percobaan. Pasien yang sudah mengalami komplikasi atau pasien dengan IMT ≥40 kg/m2 juga termasuk indikasi untuk langsung dirujuk ke dokter spesialis gizi klinik. alex

Kirimkan pertanyaan Anda seputar medis ke medaesculapius@gmail.com Pertanyaan Anda akan dijawab oleh narasumber spesialis terpercaya.

ASUHAN KESEHATAN

JASA TERJEMAHAN DAN PEMBUATAN BUKU

Kejang Demam pada Anak: Siapa Takut? ejang demam merupakan fenomena yang sering ditemukan pada anak-anak, terutama anak berusia enam bulan hingga lima tahun. Kejang demam diasosiasikan dengan demam >38o C yang tidak disebabkan oleh infeksi sistem saraf pusat atau kelainan metabolik lainnya. Meskipun keadaan ini sering memicu kekhawatiran orang tua, kejang demam umumnya tidak berbahaya dan bukanlah suatu kondisi serius. Kejang demam dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu kejang demam sederhana dan kompleks. Kejang demam sederhana berlangsung <15 menit dan tidak berulang dalam 24 jam. Sebaliknya, kejang demam kompleks berlangsung >15 menit, berulang dalam 24 jam, dan biasanya terjadi pada satu bagian tubuh saja. Ketika pasien anak datang dengan kejang demam, terapi farmakologis dapat diberikan untuk meredakan kejang akut dan sebagai profilaksis untuk mencegah kejang berulang. Anak yang mengalami kejang akut dapat segera diberikan diazepam rektal dengan dosis 0,5 mg/ kgBB atau lorazepam 0,1 mg/kgBB. Praktisnya, anak dengan berat badan di bawah 10 kg dapat langsung diberikan diazepam rektal 5 mg dan anak dengan berat badan di atas 10 kg dapat

diberikan diazepam rektal 10 mg. Diazepam juga dapat diberikan secara intravena (IV) dengan dosis 0,3—0,5 mg/kgBB/kali (maksimal 20 mg) jika akses IV dapat diperoleh dengan mudah. Jika kejang tidak kunjung berhenti, diazepam rektal atau IV dapat diberikan dua kali dengan interval lima menit. Namun, jika kejang masih berlangsung setelah dua kali pemberian obat, anak dapat diberikan fenitoin IV dengan dosis awal 20 mg/kgBB. Fenitoin 10 mg diencerkan dalam 1 ml larutan NaCl 0,9%, lalu diberikan dengan kecepatan 1 mg/kgBB/menit (maksimal 50 mg/menit) dengan dosis awal maksimal 1000 mg. Jika kejang masih berlanjut, pemberian fenobarbital IV tanpa pengenceran dengan dosis 20 mg/kgBB dengan kecepatan pemberian 20 mg/menit dapat dilakukan. Anak perlu dirujuk apabila kejang tidak membaik setelah pengobatan lini ketiga. vina/ MA

K

Terkesan menakutkan, kejang demam harus dihadapi dengan tenang Sebagai profilaksis kejang berulang, anak dapat diberikan diazepam oral atau rektal dengan dosis 0,3 mg/kgBB/kali. Profilaksis hanya diberikan saat anak demam, terutama dalam waktu 24 jam sejak timbulnya demam. Untuk kasus tertentu, seperti kejang demam dengan status epileptikus atau jika anak mengalami defisit neurologis yang nyata, pemberian profilaksis secara kontinu selama satu tahun dapat dilakukan. Profilaksis kontinu yang diberikan berupa fenobarbital dengan dosis 4—6 mg/kgBB/ hari yang dibagi dalam 2 dosis atau asam valproat dengan dosis 15—40 mg/kgBB/hari yang dibagi dalam 2—3 dosis. Selain menatalaksana kejang demam akut, keluarga pasien juga perlu diedukasi tentang prognosis kejang demam. Hal ini akan membantu meredakan kekhawatiran mereka, terutama jika kondisi tersebut kembali terjadi di masa depan. jessica

Kabar Gembira! Media Aesculapius menyediakan jasa terjemahan Indonesia-Inggris dan Inggris-Indonesia dengan waktu pengerjaan singkat (3 x 24 jam) serta hasil terjamin. Kami juga menyediakan jasa penyusunan buku yang sangat fleksibel baik dalam hal desain cover dan isi, ukuran dan tebal buku, maupun gaya penulisan termasuk menyunting tulisan anda. Tak terbatas hingga penyusunan saja, kami siap melayani distribusi buku anda. Adapun buku yang pernah kami buat: buku biografi tokoh, buku pemeriksaan fisik berbagai departemen, buku jurnal, dan Kapita Selekta Kedokteran.

Hubungi Hotline MA: 0896-70-2255-62 (SMS/WhatsApp)-


4

ILMIAH POPULER

MARET-APRIL 2020

MEDIA

AESCULAPIUS

KESMAS

Waspada Leptospirosis di Musim Hujan Genangan air di sejumlah daerah memicu penyebaran infeksi dari hewan pengerat

L

eptospirosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan bakteri Leptospira interogans. Leptospirosis termasuk zoonosis, yaitu penyakit yang ditularkan oleh hewan kepada manusia. Anjing, marmut, tikus, dan hewan pengerat lainnya menjadi vektor penularan infeksi ini. Tikus menjadi hewan utama penular leptospirosis pada manusia. Awalnya, kuman leptospirosis menetap, membentuk koloni, dan berkembang biak di dalam tubulus ginjal tikus. Kemudian, kuman tersebut ikut mengalir dalam filtrat urin tikus yang mungkin akan mencemari genangan air. Bakteri leptospirosis biasanya menginfeksi manusia melalui kulit yang terluka atau selaput mukosa yang bersentuhan langsung dengan genangan air tercemar. Leptospirosis bersifat musiman. Di Indonesia, insidensi leptospirosis meningkat pada musim hujan. Bahkan, menurut International Leptospirosis Society, Indonesia termasuk dalam salah satu negara dengan insidensi dan mortalitas leptospirosis tertinggi di dunia. Penyakit ini biasanya jarang dilaporkan karena gejalanya menyerupai penyakit lain. Akan tetapi, WHO memprediksikan bahwa sekitar 873.000 kasus leptospirosis terjadi setiap tahunnya dengan angka kematian mencapai 40.000 kasus.

A

in/M

rth

ma

Saat ini, Indonesia sedang memasuki musim penghujan. Intensitas hujan yang meningkat memicu genangan air di sejumlah daerah. Kondisi tersebut tentu meningkatkan faktor risiko penularan leptospirosis. Genangan air hujan atau banjir dapat bercampur dengan urin hewan yang mengandung bakteri leptospira. Risiko penularan leptospirosis pun semakin

meningkat jika seseorang dengan luka di kulitnya berkontak langsung dengan air yang terkontaminasi bakteri. Dilansir dari harian Kompas, Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Karanganyar, Katarina Iswati, mengatakan bahwa hingga pertengahan Februari 2020, terdapat tujuh orang terdiagnosis leptospirosis dan lima di antaranya meninggal dunia. Leptospirosis berat atau weil disease memang memiliki mortalitas yang cukup tinggi karena dapat memicu gangguan ginjal, hati, dan pembuluh darah. Oleh karena itu, kewaspadaan terhadap leptospirosis perlu ditingkatkan mengingat ancaman komplikasi yang cukup serius. Pencegahan leptospirosis perlu dilakukan secara holistik melalui program promotif dan preventif. Seluruh pihak, khususnya pemerintah harus tanggap melakukan program pengendalian leptospirosis terutama di daerah endemis. Sanitasi yang baik dan pengendalian banjir perlu dilakukan sejak dini untuk mencegah penyebaran bakteri leptospira. Sosialisasi terkait kewaspadaan terhadap leptospirosis juga perlu dilakukan, khususnya pada populasi yang rentan terjangkit.

Sektor pelayanan kesehatan juga perlu dipersiapkan dengan baik. Tenaga kesehatan perlu meningkatkan kewaspadaan dan persiapan dalam terapi pasien yang datang ke fasilitas kesehatan. Pemeriksaan menyeluruh terkait gejala, tanda klinis serta faktor risiko pada pasien perlu digali dengan baik agar diagnosis dapat segara ditegakkan dan terapi dapat dilakukan secepat mungkin. Masyarakat perlu diedukasi dengan baik terkait informasi penyakit dan pengendalian faktor risiko leptospirosis. Anjuran untuk menghindari genangan air perlu diberikan untuk mengurangi risiko penularan. Selain itu, anjuran untuk segera datang ke tempat pelayanan kesehatan apabila memiliki gejala yang identik dengan leptospirosis perlu disosialisasikan, terutama jika pasien mengalami gejala weil disease. Gejala yang timbul berupa kuning pada seluruh tubuh dan mata serta nyeri betis yang dapat disertai perdarahan, anemia, gangguan kesadaran, dan demam. Banyak kasus yang terlambat ditangani karena masyarakat kurang menyadari dan cenderung menganggap remeh gejala yang dialaminya. safety

INFO OBAT

Tak Lagi Ragu Menggunakan Ranitidin

B

eberapa waktu lalu, dunia kesehatan Indonesia dihebohkan dengan penarikan massal ranitidin oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Langkah sigap diambil BPOM menyusul peringatan yang dikeluarkan oleh United States Food and Drug Administration (US FDA) dan European Medicines Agency (EMA) untuk pasien dan tenaga kesehatan terkait penemuan senyawa karsinogenik N-nitrosodimethylamine (NDMA) pada beberapa produk ranitidin. Menindaklanjuti peringatan US FDA dan EMA tersebut, pada 17 September 2019, BPOM menerbitkan informasi awal mengenai kandungan kecil NDMA dalam ranitidin yang ditujukan untuk seluruh tenaga kesehatan di tanah air. Selanjutnya, pada tanggal 11 Oktober 2019, BPOM memerintahkan seluruh industri pemegang izin edar untuk menghentikan produksi dan distribusi ranitidin. Ranitidin merupakan obat yang sering digunakan untuk menekan produksi asam lambung. Obat yang telah lolos uji mutu dan keamanan BPOM sejak tahun 1989 ini merupakan obat golongan antagonis reseptor histamine-2 (H2). Bersama dengan antasida dan proton pump inhibitor (PPI), antagonis reseptor H2 termasuk dalam jenis obat pilihan yang berperan dalam mengurangi derajat keasaman lambung. Antagonis reseptor H2 mengurangi sekresi asam lambung dengan cara mencegah terjadinya ikatan antara histamin dengan reseptor H2 pada sel parietal lambung secara reversibel. Terhambatnya pembentukan ikatan tersebut menghalangi aktivasi adenil siklase pada sel parietal yang mampu mengurangi pembentukan cyclic adenosine monophosphate

Menguak fakta di balik penarikan massal ranitidin (cAMP). Berkurangnya pembentukan cAMP kemudian menghambat aktivitas protein kinase sehingga sekresi asam lambung oleh pompa H+/ K+-ATPase berkurang. Ranitidin dinilai cukup efektif dalam mengatasi asam lambung. Ranitidin melewati metabolisme tahap pertama di hati sehingga memiliki bioavailabilitas sekitar 50%. Eliminasi obat ini dilakukan melalui metabolisme hati, filtrasi glomerulus, dan sekresi oleh tubulus ginjal. Untuk itu, penurunan dosis diperlukan pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal dan hati. Efektif dalam menurunkan sekresi asam lambung, ranitidin digunakan untuk mengatasi berbagai gangguan pada lambung, seperti gastroesophageal reflux disease (GERD), ulkus peptikum, tukak lambung nonulkus serta mencegah terjadinya perdarahan akibat gastritis dipicu stres. Ranitidin merupakan obat nokturnal yang lebih aktif mengurangi sekresi asam lambung pada malam hari sehingga

akan lebih efektif jika dikonsumsi sebelum tidur. Jika diberikan dengan dosis yang sesuai, ranitidin mampu menghambat sekresi asam lambung hingga 60%-70% dalam kurun waktu 24 jam. Dosis ranitidin yang direkomendasikan adalah 150 mg sebanyak dua kali sehari atau 300 mg jika dikonsumsi sebelum tidur. Selama ini, ranitidin dinilai cukup aman dalam penggunaannya. Efek samping ranitidin, seperti diare, sakit kepala, kelelahan, mialgia, dan konstipasi hanya terjadi pada kurang dari 3% pasien. Efek samping jangka panjang, seperti galaktorea dan ginekomastia sangat jarang dilaporkan. Meskipun belum terbukti mengandung senyawa teratogenik, ranitidin diketahui mampu menembus plasenta dan diekskresikan

arfian/MA

melalui ASI. Untuk itu, ranitidin tidak dianjurkan bagi wanita hamil dan ibu menyusui karena keamanannya belum terbukti secara klinis. Selain itu, ranitidin juga dapat mengganggu metabolisme obat lain melalui jalur sitokrom P450 yang mengakibakan waktu paruh beberapa obat menjadi lebih panjang. Selain itu, ranitidin juga menghalangi metabolisme etanol sehingga kadar etanol dalam darah meningkat. Penarikan ranitidin tidak disebabkan oleh interaksi maupun efek sampingnya. Penarikan ranitidin yang dilakukan oleh BPOM dilakukan akibat ditemukannya beberapa produk ranitidin yang tercemar oleh senyawa NDMA. NDMA merupakan zat turunan nitrosamin yang bersifat karsinogenik sehingga dapat menyebabkan kanker jika dikonsumsi dalam jangka panjang dan melebihi ambang batas, yaitu sebesar 96 nanogram per hari. Walaupun sempat ditarik, pada tanggal 21 November 2019 BPOM akhirnya mengumumkan produk-produk ranitidin yang dapat kembali diedarkan. Saat ini, tenaga kesehatan dan pasien tidak perlu khawatir lagi menggunakan ranitidin dalam mengatasi berbagai gangguan lambung. Efek samping minimal, kinerja yang relatif efektif, dan harga yang murah menjadi alasan ranitidin dipilih untuk mengurangi asam lambung. Akan tetapi, masyarakat tetap harus berhati-hati dalam memilih produk ranitidin yang dikonsumsi. Produk yang aman tentunya memiliki sertifikasi izin edar dari BPOM. amanda


MEDIA

AESCULAPIUS

ILMIAH POPULER

MARET-APRIL 2020

5

IPTEK

Sel Punca: Pengobatan Mutakhir Masa Depan Sel punca digadang-gadang menjadi teknologi pengobatan termutakhir untuk segala jenis penyakit. Benarkah demikian?

D

i penghujung tahun 2019, Kementerian Riset dan Teknologi RI meresmikan Pusat Produksi Sel Punca dan Produk Metabolit Nasional. Hal ini disambut baik oleh sejumlah kalangan karena dianggap menjadi babak baru perkembangan dunia medis Indonesia. Pengembangan sel punca yang diyakini sebagai solusi dari berbagai macam penyakit begitu dinantikan. Lantas, apa sebenarnya sel punca? Seberapa menjanjikannya manfaat sel ini? Mari simak lebih lanjut! Tubuh manusia tersusun atas lebih dari 200 jenis sel, misalnya sel kulit, sel saraf, ataupun sel otot. Sel punca atau stem cell merupakan jenis sel yang aktif membelah diri secara terkontrol dan mampu berubah menjadi berbagai jenis sel lain. Hal ini yang menjadikan sel punca disebut sebagai sel induk dari sel-sel tubuh lainnya. Terdapat beberapa jenis sel punca yang diklasifikasikan berdasarkan banyaknya turunan sel yang dapat dibentuk. Klasifikasi tersebut, meliputi sel punca pluripoten, multipoten, oligopoten, dan unipoten. Sel pluripoten adalah jenis sel punca dengan kemampuan paling luas dalam membentuk berbagai jenis sel lain. Sementara itu, unipoten adalah sel punca yang hanya dapat membentuk satu jenis sel tubuh saja. Kemampuan sel punca dalam membentuk sel lain merupakan kunci utama dalam pengobatan. Beberapa jenis sel dalam tubuh manusia, seperti sel saraf, memiliki kemampuan regenerasi yang lambat dan terbatas. Jika sel tersebut rusak, maka regenerasi sulit terjadi. Kehadiran sel punca diharapkan mampu

mengatasi masalah tersebut. Sel-sel yang mengalami kerusakan dapat digantikan oleh sel punca yang diatur sedemikian rupa sehingga membentuk sel yang sama. Tidak hanya berfungsi sebagai pengganti, sel punca juga bermanfaat dalam pengujian efektivitas obat di luar tubuh manusia. Saat ini, penggunaan sel punca dalam terapi medis telah banyak dilakukan. Salah satunya adalah transplantasi

a/MA

aqill

sumsum tulang. Sel punca pada sumsum tulang mampu membentuk berbagai jenis sel darah sehingga dapat digunakan pada pasien yang memiliki masalah hematologi. Meskipun demikian, terapi berbasis sel punca pada organ tubuh lain masih sangat terbatas dan masih terus dikembangkan hingga saat ini. Upaya pengobatan menggunakan sel punca tentunya harus memperhatikan sumber sel punca itu sendiri. Sel punca unipoten dapat

diperoleh dari jaringan tubuh dewasa, seperti sumsum tulang. Sel multipoten dapat diperoleh dari jaringan plasenta. Sementara itu, sel punca pluripoten yang paling luas potensinya dapat diperoleh dari jaringan embrio manusia. Sel punca memang menjadi suatu harapan besar di dunia medis. Penyakit kronis dan degeneratif, seperti diabetes, parkinson, hingga kebutaan berpotensi untuk dapat disembuhkan dengan terapi sel punca. Akan tetapi, di balik kehebatan sel punca yang begitu menggiurkan, berbagai keterbatasan muncul. Masalah etik menjadi salah satu keterbatasan pengembangan sel punca hingga saat ini. Berbagai penelitian sel punca di dunia telah dibatasi untuk hanya menggunakan jaringan matur atau plasenta. Beruntung, pada tahun 2007, peneliti Jepang berhasil merekayasa sel tubuh matur menjadi sel pluripoten. Teknik ini disebut dengan induced pluripotent stem cell (iPSC). Keterbatasan lain yang dihadapi dalam pengembangan terapi sel punca adalah risiko penggunaannya. Penelitian mengenai efek samping sel punca masih perlu dilakukan untuk menghindari efek penolakan tubuh. Selain itu, terapi ini perlu memerhatikan risiko timbulnya keganasan. Karena biaya yang dikeluarkan tidak sedikit, aspek ekonomi harus turut dipertimbangkan agar tidak terjadi kesenjangan dalam penggunaannya. Melalui pusat studi dan produksi sel punca nasional yang telah terbentuk, pengembangan terapi sel punca di Indonesia diharapkan akan semakin maju dan mampu bersaing secara global. wira

JASA PEMBUATAN SYMPOSIUM HIGHLIGHT

Media Aesculapius menyediakan jasa pembuatan Symposium Highlight. Symposium highlight adalah peliputan sebuah seminar atau simposium, yang kemudian hasilnya akan dicetak dalam sebuah buletin, untuk dibagikan pada peserta seminar. Simposium yang telah kami kerjakan antara lain PIT POGI 2010, ASMIHA 2016, ASMIHA 2017, JiFESS 2016, JiFESS 2017, AFCCASMIHA 2019 dan lain-lain.

Hubungi Hotline MA: 0896-70-2255-62 (SMS/Whatsapp)

SEGAR

Ragam Penyakit Infeksi di Indonesia Mendatar 4. Virus yang paling sering menyebabkan diare pada anak-anak. 5. Parasit yang ditransmisikan oleh nyamuk Anopheles sp. 7. Bakteri yang menyebabkan kejang otot. 8. Penyakit ini paling sering ditransmisikan oleh hewan pengerat. 11. Fase lanjut infeksi HIV. 14. Menyebabkan diare cair seperti air cucian beras. Menurun 1. Penyakit pemicu katarak, kelainan jantung, dan tuli sensorineural pada janin. 2. Penyakit kaki gajah. 3. Batuk kronik disertai bercak darah dan demam. 6. Virus yang diasosiasikan dengan unta. 9. Penyakit yang disebabkan oleh infeksi cacing pita. 10. Bakteri penyebab demam tifoid.


6

OPINI & HUMANIORA

MARET-APRIL 2020

MEDIA

AESCULAPIUS

SUARA MAHASISWA

Menjamurnya Fakultas Kedokteran Baru: Sekadar Kuantitas Belaka? Pertaruhan mutu di balik meledaknya jumlah sekolah kedokteran di Indonesia

S

ekolah kedokteran tampaknya tak pernah sepi peminat. Terbukti, jurusan ini menduduki peringkat teratas dengan persaingan paling ketat pada Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) tahun 2019. Sejumlah kampus pun seakan berlomba-lomba untuk membuka fakultas kedokteran baru dalam merespons tingginya peminat. Namun, kuantitas belum tentu menentukan kualitas. Sebanyak 22 dari 90 fakultas kedokteran di Indonesia masih terakreditasi C. Beberapa di antaranya bahkan memiliki persentase kelulusan ujian kompetensi mahasiswa program pendidikan dokter (UKMPPD) di bawah 50%. Hal ini menunjukkan bahwa selain jumlah, mutu fakultas kedokteran juga perlu menjadi perhatian. Awalnya, banyaknya peminat dan kurangnya dokter di Indonesia menjadi alasan klasik pembukaan fakultas kedokteran massal. Pernyataan tersebut kemudian memunculkan banyak pertanyaan. Apakah jumlah dokter di Indonesia masih kurang? Nyatanya, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menunjukkan bahwa saat ini Indonesia memiliki 174.000 orang dokter. Setiap tahunnya, Indonesia juga berhasil meluluskan ribuan dokter baru, misalnya saja pada tahun 2019 terdapat 12.000 lulusan yang tersebar di seluruh Indonesia. Hal tersebut menunjukkan jumlah dokter di Indonesia telah melebihi kebutuhan yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan RI yaitu 45 dokter per 100.000 penduduk. Lantas, sebenarnya apa masalah utama yang dihadapi Indonesia? Fakta tersebut kian menegaskan bahwa

pemenuhan jumlah bukan lagi isu sentral yang harus diselesaikan melainkan pemerataan dokter ke seluruh daerahlah akar permasalahannya. Jumlah dokter di daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) terasa kurang karena populasi dokter terpusat di provinsi besar, seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Yogyakarta. Terkonsentrasinya dokter di daerah tertentu mengakibatkan dokter di daerah terpencil harus memikul tanggung jawab yang lebih besar. Minimnya fasilitas kesehatan dan pendapatan disinyalir menjadi salah satu penyebab munculnya masalah ini. Berkaca dari surplus sakina dokter di h/MA Indonesia, pembukaan fakultas kedokteran baru tampaknya tidak diperlukan dalam waktu dekat. Sudah saatnya Indonesia lebih fokus meningkatkan kualitas dokter. Salah satu caranya adalah meningkatkan kualitas pendidikan, terutama bagi fakultas yang masih terakreditasi C dan memiliki tingkat kelulusan rendah dalam UKMPPD. Kebijakan moratorium fakultas kedokteran yang mulai diberlakukan pada tahun 2016 merupakan langkah yang tepat agar mutu menjadi fokus

dalam pendidikan kedokteran. Sayangnya, peraturan ini belum dilaksanakan sepenuhnya. Sejak kebijakan moratorium diberlakukan, sebanyak 14 universitas telah mendapatkan izin untuk menyelenggarakan pendidikan kedokteran, namun sebagian besar di antaranya belum memenuhi standar. Pemerintah juga perlu lebih serius dalam mengurus masalah kronis pemerataan dokter ke seluruh wilayah Indonesia. Kebijakan internship dokter umum yang dinilai membantu mengatasi masalah ini tidak membuat para dokter ingin menetap di daerah. Sejumlah alternatif penyelesaian, seperti memperbaiki fasilitas dan infrastruktur serta meningkatkan kesejahteraan dokter di daerah 3T dapat dipilih. Fasilitas dan kebutuhan yang terjamin diharapkan dapat mengusir keraguan dokter untuk mengabdi di daerah-daerah terpencil di Indonesia. Peningkatan jumlah dokter melalui penambahan jumlah fakultas kedokteran bukan menjadi jawaban atas permasalahan kesehatan nasional. Kuantitas dokter yang meningkat harus seimbang dengan peningkatan kualitasnya. Hal

Amanda Safira Aji Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini menjadi penting karena dokter berkaitan erat dengan nyawa manusia. Dokter adalah garda terdepan dalam mengawal kesehatan dan memegang peranan penting menentukan taraf kesehatan suatu bangsa. Proses membentuk dokter yang kompeten membutuhkan perjalanan yang sangat panjang. Sistem pendidikan perlu diintegrasikan dengan sistem penyebaran dokter nantinya agar perbaikan mutu dan distribusi dokter tak lagi menjadi persoalan. amanda

KO L U M

Batu Kerikil di Perjalanan

A

Tersandung bukan sebuah alasan untuk berhenti

Aku adalah orang yang sangat berambisi. Dokter merupakan citacitaku sedari kecil. Siang dan malam aku membayangkan diriku menjalankan profesi mulia tersebut. Hanya memikirkan bisa menolong pasien saja dapat membuatku takjub. Angka-angka yang kudapatkan di sekolah memberikanku secercah harapan tentang kehidupan di masa yang akan datang. Kita semua tahu bahwa aku membutuhkan kerja keras untuk menggapai cita-citaku. Prestasi demi prestasi kuukir. Semua rintangan berhasil kulewati dengan baik. Aku tumbuh menjadi siswi yang pandai dalam berbagai bidang. Pencapaian ini memberikanku semangat untuk berusaha lebih keras lagi. Aku juga sering membatu teman-temanku untuk bersama menggapai mimpi karena bagiku semua orang berhak untuk berprestasi. Niat baik ini diterima oleh seluruh temanku. Aku memberikan dan mendapatkan dorongan ayu/MA yang serupa. Orang tuaku pun senantiasa mendukung, baik dalam kasih sayang maupun keuangan. Aku merasa kebahagiaan ini patut kubagikan pada sekitar. Hari berganti dengan cepat bagai sedang berlari. Puji syukur kepada Tuhan, aku mendapatkan kampus yang kuinginkan. Tidak akan aku sia-siakan kesempatan ini. Lantas, aku

mempersiapkan diri untuk menjalani hari di kampus impianku. Awalnya, aku dapat berdiri tegak menghadapi semua rintangan yang ada. Namun menginjak tahun ketiga, betapa terkejutnya aku melihat bilangan yang tertulis dengan warna merah tepat sejajar dengan namaku pada sebuah pengumuman. Sekilas, kepalaku terasa berat dan berusaha keras untuk tidak menampilkan ekspresi kecewaku. Hal ini tidak sesuai dengan rencana yang kupersiapkan. Berulang kali aku mempertanyakan kembali kemampuanku. Ingin rasanya berlari menghampiri kedua orang tuaku dan menghirup semangat dari pelukan mereka, tetapi aku tak sampai hati memberikan hasil tersebut kepada mereka. Aku kehilangan seluruh cita-citaku. Motivasi yang dulu mendorongku hilang bagai ditelan bumi. Seakan tak ada harapan lagi, rasanya aku ingin berhenti saja. Pertanyaan atas kesanggupanku untuk mengemban tugas mulia tersebut mulai

memenuhi pikiranku. Jika sejak dulu aku pandai dalam berbagai hal, mengapa aku memilih jalur ini? Di antara banyaknya jalur yang lebih mudah, mengapa harus ini? Apakah aku sudah memiliki jalan yang tepat? Segala harapanku lenyap dan aku hanya terdiam lesu. Temanku pun pergi entah kemana, aku merasa sendiri dan kesepian. Sedikit penyesalan mulai meracuni pikiranku, teringat tentang segala pengorbananku untuk mereka saat dulu berjuang bersama. Bukankah teman harus saling membantu saat suka maupun duka? Mungkin ini yang banyak disebut orang sebagai tahap pendewasaan. Mungkin ini yang disebut kenyataan tidak selalu sesuai dengan rencana dan harapan. Perlahan, aku berusaha untuk memahami situasi yang sedang menimpaku. Lambat laun, aku sadar bahwa aku bukanlah sebuah kegagalan. Sebut aku sebagai kegagalan jika memutuskan untuk berhenti. Aku semakin sadar bahwa aku perlu berusaha lebih keras untuk mencapai hal yang kuinginkan. Satu kegagalan tidak menggambarkan masa depanku. Aku memutuskan untuk berupaya lebih giat untuk ujian yang menanti karena aku bukan seorang pengecut. Aku bukan anak kecil lagi. Aku tidak boleh menyalahkan keadaan termasuk mempertanyakan teman-temanku yang tengah berusaha pada jalannya sendiri. Fakta bahwa

Ariestiana Ayu Ananda Latifa Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Tingkat II kami berada di jalan yang berbeda cukup membuatku mengerti. Mereka juga bukan anak kecil lagi. Mereka juga harus terus berlari mengejar masa depan. Kenyataan yang menampar membuat aku belajar untuk melihatnya dengan mata terbuka. Sesungguhnya harapan itu masih ada, kegagalan ini hanya seperti tersandung oleh batu kerikil di tengah jalan. Aku memutuskan untuk mengangkat kerikil tersebut dan berjalan tegak melewatinya. Semangat akan kembali kubangun dan cita-cita kembali kurajut. ariestiana


MEDIA

AESCULAPIUS

LIPUTAN

MARET-APRIL 2020

7

SEPUTAR KITA

Risiko Transient Neurologic Symptoms pada Lidokain: Amankah? Menyibak pro dan kontra penggunaan lidokain dalam dunia anestesi spinal

L

idokain merupakan salah satu obat anestesi lokal yang sudah tidak asing lagi di kalangan dokter umum maupun dokter spesialis. Peran lidokain dalam penanganan kasus seperti aritmia ventrikular membuat lidokain memiliki peran yang sangat vital. Akan tetapi, keamanan penggunaan lidokain masih menjadi perdebatan hingga kini. Penggunaan lidokain sering kali dikaitkan dengan sejumlah penyakit ataupun gejala tertentu seperti transient

13–15 Februari 2020 di ShangriLa Hotel, Jakarta menghadirkan Prof. Dr. R. Eddy Rahardjo, dr., SpAn, KIC, KAO sebagai pihak pro, Dr. Sudadi, dr., SpAn, KNA, KAR sebagai pihak kontra serta Susilo Chandra, dr., SpAn-KAR, FRCA, KAO sebagai moderator. Menilik sejarah penggunaannya, lidokain dianggap sebagai penyebab sindrom cauda equina pada tahun 1991. Sebuah laporan kasus pada tahun 1995 mendapatkan bahwa sebanyak 5% dari 37% pasien yang menerima anestesi dengan lidokain mengalami TNS. Gejala ini membuat pasien merasakan nyeri pada area bokong, pinggang belakang, tungkai serta lutut yang terkadang disertai sensasi seperti terbakar pada beberapa jam setelah dilakukan Dokumen penyelenggara neurologic symptoms (TNS). anestesi spinal dan bertahan Kontroversi penggunaan lidokain dalam hingga sepuluh hari. anestesi spinal menjadi salah satu topik Sudadi menyampaikan bahwa insidensi diskusi dalam 17th Indoanesthesia 2020 yang TNS pada kelompok pasien yang menggunakan diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran lidokain adalah sebesar 24%, lebih tinggi dan Universitas Indonesia bekerja sama dengan signifikan dibandingkan dengan penggunaan Persatuan Dokter Spesialis Anestesi dan Terapi bupivakain, prilokain, maupun prokain. Intensif (Perdatin) Jaya. Mengusung tema “PRO Sebaliknya, pada pasien yang menggunakan CON DEBATE: Lidocaine in Spinal Anesthesia”, bupivakain, TNS hanya muncul pada satu kasus diskusi yang dilaksanakan pada Kamis–Sabtu, saja. Lokasi keluhan yang dilaporkan pasien

mencakup daerah bokong (40%), paha belakang (80%), dan kaki (10%). Secara kimiawi, lidokain merupakan senyawa neurotoksik yang memiliki kelarutan lebih tinggi dalam lemak dan air jika dibandingkan dengan tetrakain, atidokain, dan bupivakain. Semakin kecil ukuran molekul lipofilik suatu obat, maka semakin cepat pula interaksi obat dengan reseptor pada kanal natrium. “Tidak ditemukan pasien yang meninggal karena TNS, sebab tidak ada dampak yang berkepanjangan,” jelas Eddy. Obat simptomatik seperti OAINS dapat diberikan untuk mengurangi gejala dengan atau tanpa intervensi lebih lanjut. Sebanyak lima publikasi ilmiah menyebutkan bahwa insidensi TNS masih tergolong rendah, sedangkan delapan publikasi ilmiah lainnya menyebutkan insidensi TNS lebih tinggi dalam populasi pasien yang lebih sedikit. Di akhir diskusi, Sudadi menjelaskan, ”Lidokain menjadi penyebab TNS dan dengan mengetahui penyebab serta faktor predisposisi diharapkan dokter dapat mencegah serta menanggulangi apabila terjadi TNS”. Eddy menambahkan bahwa hal utama yang harus diperhatikan adalah kewaspadaan dokter, khususnya dokter anestesi. Terkadang dokter berjalan dalam ketidaktahuan dan masalah yang tidak dapat ditemukan penyebabnya secara pasti. Masing-masing obat memiliki risiko, tetapi keselamatan pasien menjadi prioritas sembari memikirkan berbagai alternatif lain. “Semua obat akan baik di tangan yang baik,” tegas Eddy. Izzati

KABAR ALUMNI

Setitik Cahaya Pengabdian di Bualemo Kisah tentang mengabdi, berbagi ilmu serta mendalami budaya

dr. Irvin Rembrant Holleritz Sitompul Dokter Umum irvinrembrant@gmail.com

G

orontalo menjadi salah satu wahana favorit pilihan para lulusan dokter untuk menjalankan internship. Salah satu provinsi termuda di Pulau Sulawesi tersebut tersohor atas keramahan dan kebaikan hati warganya. Cerita mengenai keramahan masyarakat Gorontalo pun sampai ke telinga dr.

Irvin Rembrant Holleritz Sitompul. Dokter muda lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini sebelumnya telah menyusun kriteria daerah pilihannya. Terletak di luar Pulau Jawa atau Sumatra, warga bersahabat, dan tentunya belum pernah ia datangi sebelumnya menjadi beberapa alasan Irvin menjatuhkan pilihan pada Kabupaten Bualemo, Gorontalo sebagai tempat magang. Berbekal cerita pengalaman dan sejumlah tips penting dari senior, Irvin memulai satu tahun masa internship di Kabupaten Bualemo. Empat bulan pertama dihabiskan di puskesmas dan delapan bulan berikutnya di RS Tani dan Nelayan. Selama di puskesmas, Irvin menyaksikan pelaksanaan program fasilitas kesehatan primer untuk masyarakat, seperti program pengadaan jamban, promosi kesehatan, pemberantasan sarang nyamuk, dan imunisasi anak. Tak hanya itu, program puskesmas keliling menyisakan kesan tersendiri bagi Irvin. Pengalaman melintasi laut menuju desa nelayan yang terpencil sangat berkesan baginya. Selama bertugas, Irvin kerap menemukan pasien dengan keluhan yang cukup memprihatinkan. Uniknya, beberapa pasien dengan tinja berdarah yang mengalami anemia berat masih bisa beraktivitas seperti biasanya. Kebiasaan warga Bualemo mengonsumsi makanan pedas setiap hari disinyalir menjadi pemicu. Konsumsi sayur dan buah yang rendah turut memegang andil. Keberadaan sejumlah obat “dewa” oplosan yang dijual bebas menjadi

faktor pemicu perdarahan saluran cerna masyarakat yang sulit untuk dikendalikan. Setahun mengabdi di Bualemo memberikan Irvin sejumlah pelajaran berharga. Internship menjadi ajang pembelajaran tentang cara

A pendekatan hannah/M pasien dengan latar belakang yang berbeda-beda. Ia menyadari bahwa teknik komunikasi yang dipakai untuk setiap orang bervariasi. Pasien datang dari berbagai kalangan—pejabat elit, seperti anggota DPRD dan bupati hingga nelayan dan petani— membuatnya sadar bahwa pendekatan yang digunakan pun harus berbeda.

Irvin mengaku bahwa ia dituntut untuk mampu memikirkan terapi yang tak hanya tepat namun juga mampu laksana. Apabila ada petani yang datang dengan keluhan nyeri punggung bawah, anjuran utama yang diberikan adalah mengurangi aktivitas mengangkat beban berat. Akan tetapi, perlu dipikirkan bahwa satusatunya sumber penghasilan petani adalah bekerja di ladang yang mengharuskannya memikul beban berat. Apabila seorang dokter hanya fokus pada anjuran tersebut, seorang petani mungkin saja kesulitan untuk menafkahi keluarganya karena sedang tidak bekerja. Selain itu, edukasi mengenai nutrisi juga harus mempertimbangkan kondisi rendahnya ketersediaan sayur dan buah di Bualemo. Untuk itu, cukup penting untuk menilik keseluruhan aspek yang dimiliki oleh pasien sebelum memilih terapi dan anjuran yang ingin diberikan. “Menjadi dokter itu bukan semata-mata memikirkan obatnya apa, melainkan juga memikirkan alternatifnya supaya pasien tetap bisa kerja,” pungkas Irvin. gaby


8

MARET-APRIL 2020

LIPUTAN

MEDIA

AESCULAPIUS

SEREMONIA

Berani Gundul di Hari Kanker Anak Sedunia

dokumen penyelenggara

Y

ayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI) menggelar acara Berani Gundul 2020 pada 16 Februari 2020 di Mal Gandaria City. Bertajuk “No More Borders for Childhood Cancer” dan “Let’s Give Them Hope–Together We Can”, kegiatan ini diadakan dalam rangka memperingati hari kanker anak sedunia. Acara diawali dengan penggalangan

SENGGANG

dana yang turut dimeriahkan oleh pentas musik dan peragaan busana. Melalui acara ini, panyelenggara berharap lebih banyak masyarakat yang peduli pada penderita kanker anak. alex

Mengabdi dan Asah Kompetensi dengan Sirkumsisi Massal

dokumen penyelenggara

M

inggu, 16 Februari 2020, berlangsung sirkumsisi massal yang diselenggarakan oleh Tim Bantuan Medis FKUI bekerja sama dengan Yayasan Pusat Peradaban Islam (YPPI). Berlokasi di AQL Islamic Center Jakarta Selatan, acara ini diikuti oleh 25 orang peserta. Mengusung tema “Ceria Bersama Anak Pejuang Dakwah AQL

Islamic Center dan Khitanan Massal”, kegiatan ini bertujuan untuk membantu khitanan anak para pejuang dakwah sekaligus menjadi sarana pemenuhan kompetensi mahasiswa. izzati

Sekali Menyelam, Semangat Bekerja Didapat Menyusuri indahnya laut Nusantara di tengah kesibukan

M

engecap gelar “lifelong learner”, seorang dokter dituntut untuk selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan. Tak hanya itu, beban kerja yang cukup tinggi turut melengkapi keseharian dokter yang begitu padat. Tak jarang, tekanan-tekanan tersebut memicu kejenuhan serta keinginan berhenti sejenak untuk sekadar menghela napas. Menikmati hobi kemudian menjadi salah satu alternatif pilihan sembari menanggalkan atribut profesi. Hal inilah yang dilakukan oleh dr. Adji Widjaja yang menjalankan kegemaran pelesirannya di tengah kesibukannya sebagai dokter umum. Jiwa petualang Adji tumbuh sejak masih duduk di bangku kuliah dan terus berlanjut hingga kini. Meskipun sudah berkeluarga, pria kelahiran 3 April ini terus aktif untuk mengunjungi berbagai situs pariwisata di dalam maupun luar negeri. Bahkan, Adji kerap kali mengajak istri dan ketiga anaknya untuk berwisata bersama. Dalam kurun waktu setahun, Adji menyempatkan diri untuk berdarmawisata sebanyak minimal tiga kali. Wisata laut dipilih Adji sebagai destinasi wisata favoritnya. Sejumlah pantai di Indonesia sudah pernah disinggahi mulai dari Aceh hingga Papua. “Yang bagus-bagus ya, Indonesia Timur,” jelas Adji. Menurutnya, Indonesia Timur memiliki pantai yang terjaga kebersihannya dengan ombak yang indah. Pasir putih bersih nan halus menjadi daya tarik tersendiri. Adji memilih untuk melakukan wisata laut ke kawasan timur Indonesia sekitar bulan November hingga Februari. Dalam kurun waktu tersebut, hujan intensitas tinggi biasanya mengguyur

Nama Lengkap : dr. Adji Widjaja Alamat Email : adjiwijaya@yahoo.com Alamat : Jl. Tomang Asli No. 27, Jakarta Barat, 11430

dokumen pribadi

kawasan barat Indonesia sehingga perairannya akan menjadi keruh. Oleh karena itu, Indonesia Timur menjadi tujuan wisata pantai yang paling tepat. Tak hanya duduk dan menikmati sinar mentari, Adji gemar menjelajahi keindahan bawah laut dengan snorkeling dan diving. Berbagai jenis terumbu karang dan biota laut dapat disaksikan dengan mata telanjang. Adji mengaku bahwa diving membantunya dalam melihat lebih dekat kondisi bawah laut Indonesia secara langsung. Dari sekian pantai yang pernah ia singgahi, Adji memilih Wakatobi dan Raja Ampat sebagai situs wisata laut yang memiliki pemandangan terumbu karang terbaik. “Raja Ampat

terkadang tidak perlu diving. Dari atas saja sudah keliatan,” ujar Adji. Tidak selalu sesuai harapan, dokter yang berpraktik di bilangan Tomang, Jakarta Barat ini menyayangkan kondisi beberapa destinasi wisata di Indonesia. “Indonesia sebenarnya bagus namun sarananya kurang,” keluhnya. Fasilitas yang kurang mumpuni berdampak pada biaya transportasi yang cukup besar. Adji mengaku bahwa biaya yang dikeluarkan untuk mengunjungi Raja Ampat tidak jauh berbeda dengan biaya berlibur ke Korea Selatan. Biaya yang tinggi tersebut terdiri dari biaya moda tranportasi udara sebanyak dua kali ditambah dengan biaya perahu cepat menuju tempat tujuan.

Berpraktik di klinik pribadi miliknya, Adji merasa cukup fleksibel dalam menyesuaikan jadwal liburan. Selain berwisata bersama keluarga, sering kali Adji juga berwisata sendiri. Adji tergabung dalam biro perjalanan wisata bersama dengan para pelancong lainnya. Bagi Adji, hobi yang ia geluti memberikan banyak manfaat bagi kehidupannya. Selain pengalaman baru, berwisata memberi warna pada hidupnya. Dengan menyelam, suntikan semangat berhasil didapatkan sebelum memulai kembali rutinitas harian sebagai seorang dokter. ariestiana

Profile for Berani Sehat

Surat Kabar Media Aesculapius (SKMA) edisi Maret-April 2020  

Surat Kabar Media Aesculapius (SKMA) edisi Maret-April 2020  

Advertisement

Recommendations could not be loaded

Recommendations could not be loaded

Recommendations could not be loaded

Recommendations could not be loaded