__MAIN_TEXT__
feature-image

Page 1

Media Aesculapius Surat Kabar

Kedokteran dan Kesehatan Nasional Terbit Sejak 1970

Juli-Agustus 2019 / Edisi 03 / Tahun XLVIII / ISSN 0216-4996

@MedAesculapius |

beranisehat.com |

KONSULTASI

ARTIKEL BEBAS

RUBRIK DAERAH

Penggunaan Omeprazol pada Pasien GERD dengan Antiplatelet hlm 3

Mengenal Sejuta Khasiat Daun Sirih

Lombok : Kampung Halaman Tempat Mengabdi dan Kembali

hlm

6

hlm

0896-70-2255-62

10

Menyibak Fakta Penyebab Kematian Massal KPPS

P

Pesta demokrasi terbesar di Indonesia telah usai, namun duka kematian sejumlah petugas KPPS masih terasa meninggalkan teka-teki

elaksanaan pemilihan umum (pemilu) 2019 menyisakan kisah pilu berupa hilangnya nyawa ratusan orang demi menyukseskan pesta demokrasi lima tahunan tersebut. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI tanggal 15 Mei 2019, tercatat 527 orang petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) meninggal dunia. Beban kerja yang tak sedikit akibat penggabungan pemilihan anggota legislatif dan presiden diduga menjadi penyebabnya. Sorotan pun menjurus kepada peran pemerintah, khususnya Komisi Pemilihan Umum (KPU) dalam mempersiapkan pemilu tahun ini. Persiapan Pemilu Menanggapi peristiwa tersebut, komisioner KPU DKI Jakarta, Deti Kurniawati, S.E., M.H., menjelaskan bahwa KPU memandangnya sebagai musibah. “Kami memiliki sikap mengakui ini sebagai sebuah musibah. Apakah ada unsur kesengajaan, tentunya tidak ada,” tegas Deti. Meskipun tidak memprediksi adanya korban jiwa, KPU telah memperkirakan bahwa pemilu tahun ini lebih berat dari pemilu sebelumnya. Beberapa langkah antisipasi juga telah dilakukan, seperti mengurangi jumlah pemilih dari 500 orang menjadi 300 orang tiap TPS, memperbanyak konsumsi setiap petugas dari satu kali menjadi tiga kali, serta memperpanjang waktu kerja hingga pukul 12.00 keesokan harinya. KPU mengaku telah mempersiapkan pemilu sesuai dengan UU No. 7 Tahun 2017

tentang Pemilu dan peraturan lainnya. Kendati demikian, terkait aspek kesehatan, peraturan hanya mewajibkan petugas KPPS sehat secara jasmani dan rohani yang dibuktikan dengan surat keterangan sehat. Hal ini diperkuat dengan pernyataan salah satu ketua KPPS di Jakarta, Erlina Susanti. Erlina menegaskan bahwa tidak ada persyaratan kesehatan spesifik dalam pendaftaran sebagai petugas KPPS. Proses pendaftaran pun terbilang sederhana. “Dari RT dan RW diajukan ke kelurahan, balik lagi ke kita, dan diminta sumpah, begitu saja,” ujar Erlina. Persiapan kesehatan vina/MA petugas pemilu dirasa masih kurang menyeluruh oleh sebagian pihak. Menurut konsultan penyakit okupasi, dr. Muchtaruddin Mansyur, MS, Sp.Ok, Ph.D., pemeriksaan kesehatan untuk petugas KPPS perlu dilakukan secara komprehensif sesuai dengan beban kerja mereka. “Bisa distandar, orang seperti apa yang tidak berisiko. Penyakit-penyakit yang menyertai itu harus di-screening. Itu harus dilakukan seleksi yang cukup,” ungkap Muchtaruddin. Selain screening kesehatan yang mencakup pengukuran kemampuan fisik, psikotes perlu dilakukan mengingat beban psikologis petugas KPPS yang tidak ringan. Di samping itu, perlu

diperhatikan pula aspek penunjang lainnya, seperti pengaturan administrasi dan lingkungan kerja. Muchtaruddin mengusulkan adanya minibreaks, yakni waktu istirahat singkat dengan frekuensi yang sering. “Pengaturan shift kerja, pengaturan waktu istirahat, dan mini-breaks itu penting. Lingkungan kerja juga perlu distandardisasi, harus memenuhi standar kualitas udara kerja,” jelasnya. Dinamika Kerja di TPS Tak hanya persoalan minimnya persiapan, beban kerja berlebihan turut disinyalir menjadi dalang fenomena kematian petugas KPPS. Deti menerangkan bahwa hasil perhitungan suara harus disalin manual oleh tujuh orang petugas KPPS. “Di DKI Jakarta, sebanyak 51 rekapitulasi harus ditulis jika semua saksi hadir,” ungkapnya. KPU mengaku telah memberikan bimbingan teknik serta mengimbau petugas KPPS untuk tidur bergantian. Faktanya, kelelahan membuat mereka bekerja tidak efisien, belum lagi terdapat petugas yang memaksakan diri untuk terjaga semalaman. Mereka juga mungkin menanggung beban psikologis dari warga yang ikut menyaksikan. Dengan beban kerja yang tinggi tersebut, Erlina merasa sosialisasi dan simulasi KPU

Mati akibat Kelelahan: Mungkinkah? Lelah ini, membunuhku.

B

eberapa waktu lalu, publik dihebohkan dengan berita kematian massal petugas KPPS. Berita ini kemudian memicu polemik terkait penyebab kematian. Sejumlah pihak berspekulasi bahwa para korban meninggal secara tidak wajar, tetapi tak sedikit pula yang mengaitkan faktor kelelahan sebagai penyebabnya. Lantas, benarkah kelelahan dapat menyebabkan kematian? Kelelahan berkaitan erat dengan overwork. Overwork didefinisikan sebagai suatu tindakan melakukan pekerjaan yang berlebihan melampaui batas kesanggupan seseorang. Saat mengalami overwork, seseorang dapat merasakan fatigue (kelelahan) yang acapkali berpengaruh terhadap waktu istirahatnya. Menurut dr. Muchtaruddin Mansyur, MS, Sp.Ok, Ph.D., orang dewasa memerlukan durasi

tidur setidaknya 6 jam sehari. “Enam jam sehari dan itu bukan sekadar durasi. Kapan seseorang tidur pun penting,” jelasnya. Muchtaruddin menegaskan bahwa baik durasi maupun waktu tidur berdampak pada kesehatan dan kebugaran. Sebagai contoh, seseorang tidak merasa bugar setelah tidur di siang hari meskipun dengan durasi yang cukup. Lebih lanjut, Muchtaruddin menerangkan bahwa kekurangan tidur memiliki konsekuensi berupa gangguan irama sirkadian yang mengatur aktivitas metabolisme tubuh. Irama ini diatur pada tingkat molekuler oleh ekspresi gen. Setiap sistem organ pun diatur oleh ekspresi gen dan protein sirkadian intraseluler yang berbedabeda. Menurut studi Lieberman, dkk., gangguan pada aktivitas molekuler dapat berimplikasi

negatif pada kerja tubuh melalui disregulasi sistem imun dan inflamasi. Salah satu sistem yang terkena dampaknya adalah sistem kardiovaskular. Gangguan tekanan darah dan metabolisme kardiomiosit dapat terjadi hingga berujung pada kematian sel dan disfungsi jantung. Selaras dengan teori yang ada, Deti Kurniawati, S.E., M.H. mengungkap kondisi komisioner KPU selama proses pemilu. “Kami awalnya tidak pernah tensi tinggi. Pas pemilu kemarin, kami itu mulai mengalami tensi tinggi. Kami mulai pusing bergantian terus drop bergantian,” tuturnya. Sejumlah teori membenarkan bahwa secara tidak langsung kelelahan dapat memicu kematian. Ada baiknya masyarakat diedukasi mengenai hal ini. jonathan, wira, kevin

terkait beban kerja KPPS masih kurang mendetil dan menyeluruh. Erlina mengaku cukup stres dengan beban kerja yang mereka emban. “Kerjanya seharian full, bahkan lebih dari satu hari. Karena ini banyak yang harus dikerjakan, kan? Belum lagi, kalau malam jadi kurang konsentrasi kerjanya sehingga banyak yang harus diulang,” terang Erlina. Istirahat yang dilakukan hanya sebatas waktu salat. Selain itu, minimnya sistem shift kerja yang dijalankan membuat petugas KPPS kelelahan, terlebih mereka harus kembali beraktivitas seperti biasa setelah tugas di TPS usai. Selain mempengaruhi hasil kerja, beban dan tuntutan yang dirasakan turut mengganggu tubuh secara psikologis dan fisik. Perubahan fisiologis terkait metabolisme, kardiovaskular, maupun respirasi dapat terjadi sebagai respons dari overwork. Kurangnya waktu tidur juga berpengaruh pada kesehatan. Muchtaruddin mengungkapkan bahwa manusia dewasa pada umumnya memiliki waktu tidur minimal 6-7 jam per hari. “Begitu di luar waktu tidur yang biasa, itu sudah terjadi perubahan irama sirkadian yang memicu inflamasi,” paparnya. Akibatnya, tidak heran jika terdapat petugas KPPS yang meninggal dunia. Langkah Konkret Pascapemilu Saat ini, KPU telah memberikan santunan sebesar Rp36 juta untuk setiap keluarga petugas KPPS yang meregang nyawa selama bersambung ke halaman 11

SKMA untuk Anda! Mari bersama membuat SKMA menjadi lebih baik.

!

1. Apakah konten SKMA bermanfaat/ relevan dengan kondisi kesehatan saat ini? 2. Apakah anda masih membutuhkan SKMA edisi selanjutnya? Jawab dengan format: Nama-Umur_Kota/Kabupaten_Unit Kerja_ Jawaban 1_Jawaban 2 Contoh: Rudiyanto_43_Jakarta Pusat_RSCM_Ya_Ya Kirim melalui WhatsApp/SMS ke 0896-702255-62 atau mengisi formulir pada bit.ly/ surveyskma Lima orang pengisi survei yang beruntung akan mendapatkan cenderamata dari Media Aesculapius


2

JULI - AGUSTUS 2019

DARI KAMI Pembaca SKMA yang berbahagia, tak terasa bulan berganti bulan di tahun 2019 hingga saat ini kita memasuki bulan Juli. Waktu yang berjalan dengan cepat di tahun 2019 ini juga diikuti dengan hadirnya peristiwa menarik untuk diberitakan. Sebagai surat kabar kesehatan yang menjadi lini depan informasi untuk seluruh daerah di Indonesia, SKMA akan terus hadir membawakan berita-berita aktual yang bermanfaat untuk menambah khazanah pengetahuan para pembaca sekalian. Berakhirnya pesta demokrasi tahun 2019 ternyata tidak menjadi titik akhir dari berita pembahasan mengenai segala aspeknya. Salah satu kontroversi yang hadir dan mewarnai jagat dunia jurnalistik setelah pemilihan umum 2019 berakhir adalah kematian banyak panitia kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS). Asumsi dan informasi mengenai penyebab kematian tersebut seolah tidak ada habisnya dan menjadi debat adu kusir. Sebenarnya, apa faktor-faktor yang menjadi penyebab kematian banyaknya panitia KPPS? Bagaimana sudut pandang ilmu kedokteran okupasi mengenai beban kerja panitia KPPS? Simak kupas tuntas beritanya hanya di rubrik Headline! Daun sirih memiliki banyak manfaat yang masih awam diketahui dan dapat menjadi potensi bahan aktif obat di masa yang akan datang. Penasaran mengenai sejuta manfaat daun ini? Buka rubrik Ilmiah Populer dan eksplorasi pengetahuan pembaca sekalian! Kejang demam pada anak tentu saja menjadi momok yang menantang bagi tenaga kesehatan, terutama dalam hal penatalaksanaannya. SKMA kembali mengulas penanganan kejang demam yang dapat disimak di rubrik Klinik! Pada edisi ini, secara eksklusif, SKMA menghadirkan Farida Farah Adiba yang merupakan Ketua Departemen Kajian dan Aksi Strategis (Kastrat) BEM IKM FKUI sebagai salah satu narasumber artikel tentang kontroversi Rancangan Undang-Undang (RUU) Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS). Oleh karena itu, tidak boleh dilewatkan untuk membaca rubrik Opini Humaniora! Artikel Rubrik Daerah yang mengungkap kisah-kisah teman sejawat kita menjadi lini depan kesehatan di daerah-daerah terpencil dan tertinggal di Indonesia kali ini meliputi dua dokter yang bertugas di Lamongan dan Lombok dapat pembaca lihat di rubrik Liputan. Untuk menutupi kata sambutan ini, tak habis-habisnya saya ingin mengajak para pembaca sekalian untuk memberi manfaat, sekecil apapun itu, apabila dilakukan dengan sepenuh hati, niscaya akan menjadi manfaat yang besar bagi orang lain yang membutuhkan!

Reyza Tratama Pemimpin Redaksi

MA FOKUS

Kupas Tuntas Beban Kerja Panitia KPPS

B

erakhirnya pesta demokrasi terbesar di Indonesia ternyata tidak menjadi akhir dari kontroversi dan perdebatan yang membahas berbagai aspek pemilu. Salah satu yang paling hangat diperbincangkan adalah kontroversi kematian panitia KPPS. Berita ini kemudian menjadi polemik di masyarakat terutama terkait penyebab kematiannya. Sebagian pihak berasumsi bahwa kematian yang terjadi tidak wajar karena jumlah kematian yang banyak, tetapi sebagian lain menganggap bahwa faktor kelelahan menjadi faktor terbesar penyebabnya. Kelelahan akibat bekerja sering disebut juga sebagai overwork merupakan tindakan melakukan pekerjaan yang berlebihan dan melampaui batas kesanggupan seorang individu. Overwork ini dapat memengaruhi waktu istirahat seseorang. Dalam sudut pandang ilmu kedokteran okupasi, satu orang dewasa memerlukan durasi tidur setidaknya enam jam dan apabila waktu tidurnya tidak adekuat, akan berakibat pada gangguan irama sirkadian yang mengatur metabolisme tubuh. Beberapa gangguan yang dapat terjadi antara lain gangguan tekanan darah dan metabolisme sel otot jantung. Gangguan ini bisa berujung kepada kematian. Waktu istirahat yang kurang menjadi salah satu hal yang dikeluhkan oleh panitia KPPS. Beban kerja yang diemban bahkan mencapai satu hari penuh dan dapat bertambah apabila banyak pekerjaan yang harus diulang. Belum lagi ditambah dengan minimalnya sistem shift yang menuntut para panitia KPPS bekerja lebih. Hal ini tentu menjadi salah satu faktor yang perlu dipertimbangkan karena beban kerja berlebihan berarti beban kerja tubuh akan meningkat. Beban kerja yang ditanggung oleh panitia KPPS serta beberapa akibat yang terjadi dari overwork sudah seharusnya menjadi evaluasi bagi pemerintah, terutama Komisi Pemilihan Umum (KPU) dalam menjaga kesehatan panitia KPPS. Perbaikan sistem beban kerja yang efisien dan adekuat wajib diterapkan pada pemilu selanjutnya untuk menghindari kejadian berulang dari kematian massal panitia KPPS.

KLINIK

MEDIA

AESCULAPIUS

MA KLINIK

Pahami Diagnosis dan Tatalaksana Kusta Kusta, disebut juga lepra atau Morbus Hansen, merupakan penyakit infeksi granulomatosa kronik yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Penyakit ini biasanya mengenai kulit dan saraf tepi, selanjutnya dapat menyerang organ lain seperti mata, testis, hati, dan sumsum tulang. Penyakit ini merupakan salah satu penyakit menular yang menyebabkan masalah besar pada penderita, keluarga, dan masyarakat sekitar. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2018, Indonesia termasuk negara ketiga dengan kasus terbanyak di dunia setelah India dan Brazil dengan jumlah kasus baru 15.561. Indonesia sebenarnya telah berhasil mengeliminasi kusta secara nasional pada tahun 2000, namun masih terdapat beberapa provinsi yang belum tereliminasi di wilayah Indonesia timur. Gambaran klinis kusta sangat beragam dan dipengaruhi oleh imunitas selular penderita. Ridley dan Jopling pada tahun 1966 membuat klasifikasi penyakit kusta menjadi 5 tipe, yaitu tipe tuberculoid tuberculoid (TT), borderline tuberculoid (BT), mid borderline (BB), borderline lepromatous (BL) dan lepromatous lepromatous (LL). Untuk kepentingan penentuan pemilihan pengobatan, WHO membuat klasifikasi kusta menjadi tipe Pausibasilar (PB) yang merupakan tipe TT dan BT menurut Ridley dan Jopling, dan Multibasilar (MB) yang meliputi tipe BB, BL dan LL. Manifestasi klinis kusta umumnya ditengarai setelah muncul kelainan pada kulit daripada kelainan akibat kerusakan saraf tepi. Kelainan kulit sangat bervariasi, dapat berbentuk makula hipopigmentasi, kemerahan, plak eritema yang dapat berbatas tegas maupun difus, serta bentuk papular dan nodul. Kehilangan sensibilitas atau anestesi merupakan tanda klinis yang sangat penting untuk mengonfirmasi lesi kulit akibat kusta. Dalam perjalanan penyakit kusta, dapat terjadi episode akut yang disebut reaksi kusta. Pada reaksi reversal atau reaksi tipe 1, lesi akan bertambah aktif, lebih hannah/MA eritema dan edema pada sebagian lesi lama, dapat disertai neuritis akut. Pada reaksi kusta tipe 2, disebut juga reaksi eritema nodosum leprosum (ENL), akan muncul lesi berbentuk nodular, eritema, multipel dan terasa sakit, terutama pada ekstremitas. Organ lain dapat terlibat dengan gejala sistemik berupa demam, malaise, neurtis, nyeri sendi (artritis), iridosiklitis, orkitis, serta gangguan fungsi hati dan ginjal. Berbeda dengan reaksi reversal, lesi kulit pada reaksi ENL tidak menjadi lebih aktif. Petugas kesehatan harus dapat melihat perbedaan lesi kusta tanpa atau dengan reaksi karena

MEDIA AESCULAPIUS

sangat berkaitan dengan penentuan tata laksana. Diagnosis kusta ditegakkan berdasarkan tanda kardinal kusta, yaitu lesi kulit yang khas kusta Narasumber disertai anestesi, Dr. dr. Sri Linuwih SW Menaldi, SpKK (K) pembesaran saraf Ketua Kelompok Studi Morbus Hansen Indonesia tepi dengan gangguan sensibilitas area yang dipersarafinya, atau ditemukannya basil tahan asam (BTA) dari sediaan apus kerokan jaringan kulit. Apabila masih ragu, dapat dilakukan pemeriksaan penunjang yang lebih invasif, seperti histopatologis, serologis, maupun PCR. Biakan tidak dilakukan karena bakteri ini tidak tumbuh pada media buatan. Setelah penegakan diagnosis kusta, perlu ditetapkan tipe kusta agar dapat menentukan pemberian obat kusta dengan multidrug treatment (MDT) PB atau MB. Kusta tipe PB terdiri atas kapsul rifampisin 600 mg sekali sebulan dan tablet Dapson (DDS) 100 mg yang diberikan setiap hari. Kombinasi obat ini diberikan selama 6 bulan atau 6 dosis obat yang harus diselesaikan dalam 6 hingga 9 bulan. Untuk anak usia 10 hingga 14 tahun, rifampisin diberikan sebesar 300 mg dan tablet DDS 50 mg. Pada kusta tipe MB, selain rifampisin dan DDS, diberikan pula kapsul klofazimin 300 mg pada hari pertama, dikuti 50 mg pada hari-hari selanjutnya. MDT pada tipe MB ini diberikan selama 12 bulan, atau 12 dosis yang harus diselesaikan dalam 18 bulan. Dosis klofazimin untuk anak ialah 150 mg pada hari pertama dan dilanjutkan 50 mg tiga kali seminggu. Untuk anak berusia dibawah 10 tahun, dosis obat disesuaikan dengan berat badan. Obat MDT dikemas dalam bentuk blister obat yang memiliki warna berbeda untuk tiap tipe kusta dan usia penderita. Ibu hamil dan menyusui harus tetap minum obat agar anaknya tidak tertular. Pengobatan kusta seringkali terhambat akibat stigma diri maupun stigma sosial yang tertanam sejak ratusan tahun. Hal ini karena kusta dianggap penyakit akibat kutukan atau perbuatan dosa dan penyakit keturunan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencanangkan zero leprosy di tahun 2020 dan diharapkan kusta tidak lagi menjadi beban kesehatan masyarakat. Stigma terhadap kusta harus semakin dikikis agar program zero leprosy di tahun 2020 yang dicanangkan WHO dapat tercapai. billy

Pelindung: Prof. Dr. Ir. Muhammad Anis M. Met. (Rektor UI), Prof. Dr. dr. H. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP (Dekan FKUI) Penasihat: Dr. Arman Nefi, S.H., M.M. (Direktur Kemahasiswaan UI), dr. Affan Priyambodo Permana, SpBS(K) (Koordinator Kemahasiswaan FKUI) Staf Ahli: Seluruh Kepala Bagian FKUI/RSUPNCM, Prof. Dr. Ma’rifin Husein (CHS), dr. Muki Reksoprodjo, dr. Boen Setiawan, dr. Sudarso, dr. E. Oswari, DPH, Prof. Dr. Arjatmo Tjokronegoro, PhD, dr. Hapsara, DPH (Kemenkes RI), dr. Fahmi Alatas, Prof. dr. Marwali Harahap, SpKK, Prof. Dr. Umar Fahmi Achmadi, MPH Pembantu Khusus: Seluruh Alumni Aesculapius dan Media Aesculapius

Pemimpin Umum: Fadlika Harinda. PSDM: Irfan Kresnadi. Pemimpin Produksi: Kania Indriani. Tata Letak dan Cetak: Anthonius Yongko. Ilustrasi dan Fotografi: Fiona Muskananfola. Staf Produksi: Arfian Muzaki, Aurelia Maria Prajna Saraswati, Hannah Soetjoadi, Gita Fajri Gustya, Marthin Anggia Sirait, Mega Yunita, Sakinah Rahma Sari, Vina Margaretha Miguna, Devi Elora, Nathaniel Aditya, Anthonius Yongko, Irfan Kresnadi, Shafira Chairunnisa, Teresia Putri, Hansel T. Widjaja, Itsna Arifatuz Z., Skolastika Mitzy, Meutia Naflah G., Dewi Anggraeni. Pemimpin Redaksi: Reyza Tratama Audandi. Wakil Pemimpin Redaksi: Rayhan Farandy. Redaktur Senior: Veronika Renny Kurniawati, Renata Tamara, Tiffany Rosa, Afiyatul Mardiyah, M. Ilham Dhiya, Filbert Kurnia Liwang, Alexander Kelvyn. Redaktur Desk Headline: Nur Afiahuddin Tumpu. Redaktur Desk Klinik: Dina Fitriana. Redaktur Desk Ilmiah Populer: Farah Qurrota. Redaktur Desk Opini & Humaniora: Nathalia Isabella. Redaktur Desk Liputan: Yuli Maulidiya. Reporter Senior: Phebe Anggita Gultom, Clara Gunawan, Farah Vidiast, Maria Isabella, Joanna Erin, Fadlika Harinda, Vanessa Karenina, Aisyah Rifani, Stefanus Sutopo. Reporter Junior: Sheila Fajarina Safety, Mariska Andrea Siswanto, Kevin Wijaya, Jessica Audrey, Aughi Nurul Aqilla, Lidia Puspita Hasri, Billy Pramatirta, Jonathan Hartanto, Elvan Wiyarta, Wira Titra Dwi Putra, Prajnadiyan Catrawardhana, Leonardo Lukito Nagaria. Pemimpin Direksi: Andi Gunawan Karamoy. Finansial, Sirkulasi, dan Promosi: Kevin Tjoa, Gilbert Lazarus, Sean Alexander, Nur Zakiah Syahsah, Angela Kimberly, Koe Stella Asadinia, Tiara Grevillea, Ainanur Aurora, Agassi Antoniman, Yusuf Ananda, Safira Amelia, Syafira Nurlaila, Lowilius Wiyono, Jeremy Rafael, Iskandar Geraldi. Buku: Vincent Kharisma, Muhammad Izzatullah, Regan Edgary Jonlean, Husain Muhammad Fajar Surasno, Nadira Prajnasari Sanjaya, Roberto Bagaskara, Tiroy Junita, Indah Fitriani, Sabrina Tan, Gilbert Mayer C, Marie Christabelle, Bunga Cecilia. Alamat: Media Aesculapius BEM IKM FKUI. Gedung C lantai 4, Rumpun Ilmu Kesehatan, Kampus UI Depok. E-mail: medaesculapius@gmail.com, Rek. 157-0004895661 Bank Mandiri Cabang UI Depok, website: beranisehat.com Alamat Redaksi/Sirkulasi: Media Aesculapius PO BOX 4201, Jakarta 10042, Harga Langganan: Rp18.000,00 per enam edisi gratis satu edisi (untuk seluruh wilayah Indonesia, ditambah biaya kirim Rp. 5.000,00 untuk luar Jawa), fotokopi bukti pembayaran wesel pos atau fotokopi bukti transfer via Bank Mandiri dapat dikirim ke alamat sirkulasi. MA menerima kiriman naskah dari pembaca untuk rubrik MA Klinik (khusus untuk dokter dan staf pengajar), Asuhan Keperawatan (khusus untuk perawat dan mahasiswa keperawatan) Sepuki, Suma, Suduk, Kolum, Arbeb, Kesmas, Seremonia, dan Konsultasi (berupa pertanyaan). Kirimkan email permohonan penulisan ke redaksima@yahoo.co.id dan kami akan mengirimkan spesifikasi rubrik yang Anda minati.

Kirimkan kritik dan saran Anda:

redaksima@yahoo.co.id

Website Media Aesculapius

beranisehat.com

Dapatkan info terbaru kami: @MedAesculapius


MEDIA

KLINIK

AESCULAPIUS

JULI - AGUSTUS 2019

3

KONSULTASI

Penggunaan Omeprazol pada Pasien GERD dengan Antiplatelet Pertanyaan: Pasien dengan GERD seringkali berobat ke puskesmas. Omeprazole tidak diperbolehkan pada pasien yang menerima terapi dual antiplatelet karena akan mengurangi efikasi pengobatan. Apakah pemberian ranitidine atau antasida sebagai obat yang tersedia di puskesmas diperbolehkan untuk menggantikan regimen terapi GERD? Terima kasih sebelumnya dok. - dr. Jonathan Odillo (FKUI 2012)

marthin

/MA

G

astroesophageal Reflux Disease (GERD) merupakan kondisi penyakit yang ditandai dengan nyeri ulu hati atau sensasi seperti terbakar di dada karena naiknya asam lambung ke arah esofagus. Esofagus adalah bagian dari saluran pencernaan atas yang menghubungkan mulut dengan lambung. Penyakit asam lambung ini merupakan masalah kesehatan yang sering terjadi. GERD pada umumnya disebabkan karena tidak berfungsinya lower esophageal sphinchter (LES). LES merupakan otot sirkuler pada bagian bawah esofagus. LES memiliki fungsi sebagai pintu yang akan terbuka saat makanan atau minuman menuju lambung. Setelah makanan dan minuman masuk, LES akan kembali menutup untuk mencegah asam yang ada di lambung naik kembali ke arah esofagus. Jika LES longgar serta tidak dapat menutup dengan baik, maka asam lambung dapat keluar dari perut yang akan menyebabkan GERD. GERD dapat terjadi karena konsumsi obat-obat tertentu, karena faktor keturunan, stres, keadaan hamil, konsumsi makanan yang mengandung banyak lemak, gastroparesis, kelebihan berat badan, atau hiatus hernia. Gejala GERD yang sering dirasakan yaitu sensasi seperti terbakar pada bagian dada yang disertai nyeri pada daerah ulu hati. Akibatnya, pasien akan merasa tidak nyaman terutama setelah mengonsumsi makanan atau minuman. Untuk mendiagnosis GERD, dokter cukup menanyakan gejala-gejala yang pasien alami. Anamnesis perlu dilakukan secara terstruktur dan jelas.

Setelah itu, untuk menegakkan diagnosis, dokter dapat melakukan pemeriksaan penunjang seperti endoskopi. Setelah diagnosis ditegakkan, penanganan pasien GERD dapat dilanjutkan dengan pengobatan. Pengobatan GERD memiliki beberapa tahapan. Tahap awal yang paling mudah untuk dilakukan adalah mengganti menu makanan. Penggantian menu makanan dapat berupa makanan yang rendah lemak, tidak terlalu pedas, dan terlalu asin. Akan tetapi, ketika perubahan menu makanan tidak memberikan hasil yang maksimal, dokter dapat meresepkan regimen obat untuk GERD. Pada pengobatan GERD, kondisi pasien juga harus diperhatikan, seperti pasien yang sedang dalam pengobatan terapi dual antiplatelet. Terapi dual antiplatelet merupakan terapi antiplatelet yang menggunakan kombinasi aspirin dan second anti-clotting medication. Pemberian omeprazole pada pasien yang tengah menjalani terapi dual antiplatelet dapat mengganggu metabolisme antiplatelet itu sendiri. Misalnya pada penggunaan clopidogrel sebagai antiplatelet, omeprazole dapat memengaruhi availabilitas clopidogrel. Inhibitor pompa proton (PPI) sering diresepkan untuk mencegah komplikasi gastrointestinal pada pasien yang menerima agen antiplatelet seperti aspirin dan clopidogrel. Namun, PPI memiliki efek metabolisme pada sistem sitokrom P450 yang mungkin menghambat aktivasi clopidogrel. Hal ini akan berakibat pada kurangnya efektivitas terapi antiplatelet yang sedang dijalani pasien. Sebagai solusinya, pemberian omeprazole dapat diganti dengan regimen terapi GERD lainnya. Akan tetapi, bila di lapangan hanya ada dua pilihan antara ranitidin atau antasida, maka pemberian ranitidin lebih disarankan. Pada dasarnya, ranitidin memiliki

Narasumber Dr. Dra. Ari Estuningtyas, Apt., M.Biomed Departemen Farmakologi dan Terapeutik FKUI

tujuan yang sama dengan omeprazole, yakni menghambat sekresi asam lambung, meskipun lokasi kerjanya berbeda. Lain halnya dengan antasida yang hanya bekerja sebagai penetral. Oleh sebab itu, pemberian omeprazole pada pasien GERD yang sedang menjalani terapi dual antiplatelet lebih baik diganti dengan regimen terapi GERD jenis lain, misalnya ranitidin.

Kirimkan pertanyaan Anda seputar medis ke redaksima@yahoo.co.id Pertanyaan Anda akan dijawab oleh narasumber spesialis terpercaya.

TIPS DAN TRIK

Kuasai Pasang Infus pada Bayi dan Anak

I

Memasang infus pada anak kecil terkadang sulit akibat komplians yang rendah, berikut tips dan trik yang dapat digunakan!

nfus adalah sebuah prosedur pemberian cairan atau obat yang dilakukan secara langsung melalui pembuluh darah vena. Pemasangan infus melalui intravena pada anak sebaiknya baru diberikan apabila benarbenar dibutuhkan. Tidak semua penyakit membutuhkan pemasangan infus. Indikasi pemasangan infus yaitu apabila pasien memiliki kondisi yang gawat darurat seperti dehidrasi, keracunan, atau serangan jantung. Selain itu, pengobatan oral yang dinilai tidak efektif juga dapat menjadi indikasi pemasangan infus. Apabila kondisi anak diindikasikan untuk dipasang infus, maka jelaskan pada orang tuanya mengapa prosedur pemasangan infus perlu dilakukan dan efek samping yang mungkin terjadi. Risiko minor yang dapat terjadi berupa infeksi pada lokasi penyuntikan, emboli udara, atau pembuluh darah vena kolaps. Akan tetapi, jelaskan risiko itu tidak berbahaya dan akan diusahakan semaksimal mungkin agar tidak terjadi komplikasi. Setelah menjelaskan hal tersebut, minta persetujuan mereka untuk pemasangan infus. Merencanakan persiapan hal-hal yang perlu dilakukan penting dalam keberhasilan prosedur ini. Persiapan obat dan alat yang dibutuhkan sebaiknya dilakukan di luar ruangan agar anak tidak merasa cemas. Alat yang dibutuhkan berupa jarum IV kateter berukuran 22G atau 24G, swab alkohol, tourniquet, kassa

steril, plester, dan kantung infus atau obat yang akan diadministrasikan. Setelah itu, siapkan pula tenaga kesehatan lain sebagai asisten dalam pemasangan infus. Asisten ini berguna untuk membantu stabilisasi lokasi yang akan disuntik dan A

sa

/M kinah

pemasangan plester. Libatkan orang tua untuk membantu menenangkan anaknya, misalnya dengan memeluk atau memangku anaknya. Sebelum melakukan prosedur, tentukan terlebih dahulu lokasi vena yang akan dipasangkan infus. Pada neonatus, tangan dan kaki menjadi opsi utama. Vena saphena yang terletak di atas mata kaki merupakan lokasi yang dianjurkan terutama pada pasien yang syok. Vena pada kulit kepala juga menjadi opsi lokasi pemasangan infus meskipun kurang dianjurkan. Apabila lokasi pemasangan infus pada bayi diputuskan untuk dipasang di tangan atau kaki, papan atau bantal dapat digunakan untuk membantu memastikan tangan bayi tetap lurus. Setelah menentukan lokasi vena, selanjutnya bersihkan area tersebut dengan alkohol terlebih dahulu. Jangan lupa untuk memastikan tangan petugas medis bersih dan memakai sarung tangan sebelum melakukan tindakan. Setelah itu, pasang tourniquet dan masukkan kanula ke dalam pembuluh darah yang sudah ditentukan dengan sudut 30o dan lubang jarum menghadap ke atas. Apabila kanula sudah masuk ke dalam vena, anak atau bayi mungkin menangis atau memberontak. Pada saat itu, pastikan untuk menahan kanula agar tidak berpindah dan minta tolong asisten untuk memasangkan plester. Bilamana kanula gagal untuk masuk, jangan panik dan cari lokasi vena lain yang memungkinkan. mariska

JASA PEMBUATAN BUKU Media Aesculapius menyediakan jasa penyusunan buku yang sangat fleksibel baik dalam hal desain cover dan isi, ukuran dan tebal buku, maupun gaya penulisan termasuk menyunting tulisan anda. Tak terbatas hingga penyusunan saja, kami siap melayani distribusi buku anda. Adapun buku yang pernah kami buat: buku biografi tokoh, buku pemeriksaan fisik berbagai departemen, buku jurnal, dan Kapita Selekta Kedokteran.

Hubungi Hotline MA: 0896-70-2255-62 (SMS/WhatsApp)


4

KLINIK

JULI - AGUSTUS 2019

MEDIA

AESCULAPIUS

MA INFO

Kenali dan Cermat Tangani Askariasis “Cacingan? Ah, sudah biasa.� Namun, tahukah Anda kalau cacingan ternyata bisa berbahaya?

P

jumlah cacing di ususnya masih relatif sedikit. Ciri-ciri yang paling umum adalah ditemukannya cacing pada feses penderita. Gejala klinis yang timbul dapat dibagi ke dalam dua fase, yaitu fase migrasi dan fase intestinal. Fase migrasi terjadi ketika larva menyebar, terutama ke paruparu. Penyebaran ke paru menyebabkan gejala pneumonia, yaitu demam, ronki, serta batuk atau kesulitan bernafas. Pneumonia ini disertai peningkatan eosinofil dan IgE, keadaan yang disebut sindrom Loeffler. Fase intestinal jarang menimbulkan gejala klinis. Sakit perut dan diare dapat terjadi pada tahap infeksi lanjut, namun tidak selalu terjadi. Anakanak yang terserang infeksi askariasis kronik rentan sekali mengalami penurunan nafsu makan, malnutrisi, dan gangguan pertumbuhan akibat malabsorpsi

pada usus. Infeksi serius terjadi apabila cacing sampai mengobstruksi usus, bahkan menyebar dan juga menyumbat apendiks, saluran empedu, dan pankreas. Oleh sebab itu, penyakit cacingan yang satu ini harus segera dikenali dan ditangani sebelum menimbulkan komplikasi yang lebih berbahaya. Diagnosis askariasis dilakukan melalui pemeriksaan tinja untuk mengecek keberadaan telur Ascaris lumbricoides. Berat ringannya infeksi ditentukan dengan menghitung telur per gram feses menggunakan teknik Kato-Katz.

A

/M

ia

n ka

enyakit cacingan merupakan salah satu masalah yang banyak dijumpai di Indonesia, salah satunya adalah askariasis. Askariasis disebabkan oleh cacing Ascaris lumbricoides, sejenis nematoda golongan soil-transmitted helminthes (STHs). Prevalensi penyakit ini di Indonesia nyatanya masih tinggi, umumnya berkisar antara 4565%, namun dapat mencapai 80% di daerah tertentu dengan sanitasi yang buruk. Frekuensi terbesar terjadi pada anak-anak, khususnya kelompok usia 4-10 tahun. Habitat parasit ini identik dengan kondisi yang lembab dan hangat, sehingga tidak mengherankan jika sebagian besar kasusnya ditemukan di daerah tropis seperti Indonesia. Penyebaran infeksi cacing Ascaris terjadi melalui konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi oleh telur dari cacing tersebut. Selanjutnya, telur yang tertelan akan menetas menjadi larva di usus halus. Beberapa waktu kemudian, larva akan menembus dinding usus dan masuk ke aliran darah, lalu umumnya terbawa ke paru-paru. Larva bermigrasi melalui alveoli, bronkus, hingga ke trakea dan faring, di mana selanjutnya akan tertelan kembali dan masuk ke lambung serta usus halus untuk kedua kalinya, namun kini telah berkembang menjadi cacing dewasa. Di usus, cacing dewasa akan bertelur, yang nantinya dapat ditemukan pada feses penderita. Orang yang terinfeksi cacing Ascaris sering tidak menunjukkan gejala apapun, apalagi jika

Namun, hasil pemeriksaan feses bisa saja negatif pada 40 hari pertama infeksi karena parasit masih berada pada fase migrasi dan belum maturasi menjadi

cacing dewasa. Penghitungan sel darah lengkap (complete blood count) pada fase ini akan menunjukkan peningkatan jumlah eosinofil. Diagnosis juga dapat dibuat apabila cacing dewasa keluar langsung dari anus, mulut, atau hidung penderita. Menurut Pedoman Penanggulangan Cacingan pada Permenkes Nomor 15 tahun 2017, obat pilihan untuk mengatasi askariasis adalah albendazol dan mebendazol. Dosis albendazol untuk orang dewasa dan anak di atas 2 tahun adalah 400 mg per oral. Sementara itu, untuk anak usia 12-24 bulan, dosis yang direkomendasikan adalah 200 mg. Untuk mebendazol, dosis dewasa dan anak di atas 2 tahun adalah 500 mg. Kedua obat tersebut diberikan dalam dosis tunggal serta tidak dianjurkan untuk ibu hamil. Selain itu, pirantel pamoat juga dapat digunakan untuk mengatasi askariasis. Dosisnya adalah 10-11 mg/kg BB per oral, hingga maksimum 1 gram. Penanganan askariasis tidak cukup dilakukan melalui pengobatan saja, tetapi harus disertai dengan perubahan perilaku dan sanitasi. Biasakan perilaku hidup sehat, misalnya mencuci tangan dengan sabun dan air bersih sebelum makan dan setelah memegang hewan, mencuci sayuran dan buah-buahan dengan bersih sebelum dikonsumsi, serta menghentikan kebiasaan membuang air besar sembarangan. jessica

ASUHAN KESEHATAN

Tangani Kejang Demam, Atasi Kecemasan Orang Tua Tak panik atasi kejang si kecil dengan langkah-langkah komprehensif Jika kejang belum berhenti juga, berikan fenitoin intravena dengan dosis 20 mg/kgBB dengan pengenceran 10 mg/1 ml NaCl 0,9%. Kecepatan pemberian 1 mg/kgBB/menit. Apabila berhasil, 12 jam kemudian dilanjutkan dengan dosis pemeliharaan 5-7 mg/kgBB/ hari. Jika diberi fenitoin pun kejang belum teratasi, berikan

au / ia

l re A

M

Kejang demam merupakan kejang yang terjadi ketika suhu tubuh naik (> 38°C) karena proses ekstrakranial, seperti demam akibat infeksi saluran pernapasan, saluran pencernaan, saluran kemih, atau setelah imunisasi. Orang tua sering khawatir akan terjadinya epilepsi dan trauma pada otak. Oleh karena itu, kondisi ini memerlukan penanganan yang tepat. Sebagian besar kasus kejang akan berhenti send iri, tapi dapat juga berlangsung terus atau berulang. Ketika menghadapi anak dengan kejang, jalan napas harus dijaga agar tetap terbuka. Pengisapan lendir dan pemberian oksigen dilakukan teratur, intubasi dilakukan jika perlu. Selain itu, kebutuhan cairan, kalori, dan elektrolit harus diperhatikan. Suhu tubuh diturunkan dengan diseka air hangat. Demam diatasi dengan asetaminofen oral 10 mg/ kgBB, atau ibuprofen oral 20 mg/kgBB, masing-masing 4 kali sehari. Setelah itu, berikan obat untuk mengatasi kejang akut dan mencegah kejang berulang. Untuk mengatasi kejang akut, pasien diberikan diazepam intravena 0,3-0,5 mg/kgBB. Jika sulit mendapatkan jalur intravena, berikan diazepam rektal dengan dosis 5 mg jika BB < 10 kg dan 10 mg jika BB > 10 kg. Jika kejang belum berhenti, pemberian diazepam dilanjutkan dua kali dalam interval 5 menit.

fenobarbital intravena tanpa pengenceran dengan dosis 20 mg/kgBB, kecepatan pemberian 20 mg/menit. Jika fenobarbital berhasil, dosis pemeliharaan diberikan 4-6 mg/kgBB/hari. Pencegahan kejang yang berulang perlu dilakukan karena dapat menyebabkan kerusakan otak permanen. Hal ini dilakukan dengan profilaksis intermiten atau kontinu. Secara intermiten, profilaksis hanya diberikan ketika episode demam dengan diazepam 0,3 mg/kgBB/ kali setiap 8 jam. Sedangkan, profilaksis kontinu dilakukan hanya pada kasus tertentu seperti cerebral palsy. Profilaksis kontinu dilakukan selama 1 tahun dengan pemberian fenobarbital 4-6 mg/kgBB/hari dalam 2 dosis atau asam valproat 15-40 mg/kgBB/hari dalam 2-3 dosis. Jika setelah diberikan fenobarbital kejang tidak membaik, segera rujuk ke dokter spesialis. Edukasi juga perlu diberikan pada keluarga untuk mengatasi kecemasan, bahkan sebelum melakukan tindakan. Perlu diinformasikan bahwa kejang demam merupakan kondisi yang tidak mematikan dan biasanya hilang pada usia 5-6 tahun. Tidak ada risiko kerusakan otak apabila berlangsung kurang dari 30 menit. Namun, perlu diketahui bahwa penyakit yang sama dapat kambuh di kemudian hari. Penanganan secara komrehensif untuk kejang demam perlu dilakukan, meliputi edukasi, pencegahan, dan tata laksana yang sesuai.. catra

JASA TERJEMAHAN Kabar Gembira! Media Aesculapius menyediakan jasa terjemahan IndonesiaInggris dan Inggris-Indonesia dengan waktu pengerjaan singkat (3 x 24 jam) serta hasil terjamin. Tidak hanya jasa terjemahan, kami juga menyediakan jasa pembuatan slide presentasi dan poster ilmiah sesuai kebutuhan Anda.

Hubungi Hotline MA: 0896-70-2255-62 (SMS/Whatsapp)


MEDIA

ILMIAH POPULER

AESCULAPIUS

JULI - AGUSTUS 2019

5

KESMAS

Menuju Indonesia Bebas Kaki Gajah Tahun 2020

F

Sebagai salah satu negara endemik penyakit kaki gajah, pemerintah menargetkan Indonesia bebas kaki gajah pada tahun 2020. Apa upaya yang telah dilakukan?

ilariasis, atau lebih dikenal dengan kaki gajah, adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh cacing filaria. Cacing ini menginfeksi serta mengganggu sistem limfatik manusia yang berperan dalam kekebalan dan keseimbangan cairan tubuh. Penularan penyakit ini dapat terjadi melalui perantara nyamuk. Nyamuk dapat menyebarkan larva cacing ini setelah menghisap darah manusia yang terinfeksi. Saat ini diketahui terdapat setidaknya 23 jenis nyamuk yang dapat menjadi perantara penyebaran larva cacing tersebut. Beberapa di antaranya merupakan nyamuk perantara penyakit lain, seperti demam berdarah, malaria, dan cikungunya. Meskipun berbagai jenis nyamuk tersebut mudah ditemui, infeksi tidak dapat terjadi hanya dengan satu kali gigitan nyamuk. Infeksi filariasis dapat terjadi setelah gigitan berkali-kali selama beberapa bulan hingga beberapa tahun. Penyakit filariasis termasuk dalam kelompok penyakit tropis terabaikan (neglected tropical disease). Kelompok penyakit tersebut merupakan penyakit yang banyak ditemui di negara berkembang. Data World Health Organization (WHO) tahun 2014 menunjukkan bahwa 57% kasus filariasis dunia terjadi di kawasan Asia. Indonesia merupakan salah satu dari 9 negara Asia Tenggara yang endemik filariasis. Kasus filariasis di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya. Pada periode 20022014 terjadi peningkatan jumlah kasus dari 6.571

gita/MA

kasus menjadi 14.932 kasus. Pada tahun 2015, jumlah kasus filariasis yang terdata lebih rendah dibanding tahun sebelumnya, yaitu 13.032 kasus.

Hal tersebut bisa terjadi karena terdapat penderita filariasis yang telah meninggal dunia saat dilakukan pendataan ulang. Pada tahun 2016, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyatakan 29 provinsi endemik filariasis. Jumlah kasus filariasis yang tergolong rendah di Indonesia memang tidak mengancam jumlah penduduk Indonesia. Meskipun demikian, filariasis dapat menimbulkan masalah serius bagi penderitanya. Gejala awal yang ditimbulkan adalah demam dan pembengkakan kelenjar getah bening. Jika infeksi filariasis dibiarkan, penderita dapat mengalami pembengkakan pada alat kelamin, lengan, dan tungkai. Pembengkakan pada tungkai yang terjadi menyebabkan penyakit ini disebut kaki gajah atau elephantiasis. Pembengkakan yang terjadi dapat menetap dan menyebabkan kecacatan seumur hidup. Keadaan tersebut dapat menurunkan produktivitas penderitanya. Selain

itu, keadaan tersebut juga dapat menimbulkan masalah psikologis bagi penderitanya. Jika kasus filariasis dibiarkan berkembang, total kerugian ekonomi yang ditimbulkan oleh penurunan produktivitas penderita filariasis bagi negara dapat mencapai 13 triliun rupiah setiap tahunnya. Oleh karena itu, penyakit filariasis merupakan masalah serius dan memerlukan perhatian khusus. Dalam rangka mengatasi filariasis, pemerintah Indonesia telah menetapkan filariasis sebagai salah satu penyakit prioritas yang harus diberantas dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 7 tahun 2005. Peraturan tersebut diwujudkan dalam program Pemberian Obat Pencegahan Masal (POPM) di daerah endemik sekali setiap tahunnya. POPM harus dilakukan selama lima tahun berturutturut. Berdasarkan data dari Kemenkes RI per 25 September 2018, sebanyak 31 kabupaten/kota telah berhasil mengeliminasi filariasis. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa program POPM ini cukup efektif mengatasi kasus filariasis di Indonesia. Selain melakukan POPM, Kementerian Kesehatan juga menargetkan Indonesia bebas filariasis pada tahun 2020. Salah satu upaya untuk mencapai target ini adalah menetapkan bulan Oktober sebagai Bulan Eliminasi Penyakit Kaki Gajah (Belkaga). Partisipasi masyarakat dalam program Belkaga tersebut sangat diperlukan untuk mewujudkan Indonesia bebas filariasis tahun 2020. wira

INFO OBAT

Berantas Trichuriasis dengan Albendazol Dosis Tunggal

H

Apakah albendazol dosis tunggal cukup efektif untuk mengobati trichuriasis dibandingkan terapi alternatif lain?

idup di negara tropis menuntut dokter Indonesia untuk siap menghadapi berbagai penyakit infeksi. Salah satu penyakit yang dapat ditemui adalah trichuriasis yang disebabkan oleh cacing Trichuris trichiura. Saat ini, penggunaan albendazol masih menjadi pilihan terapi utama dalam mengatasi trichuriasis. Dalam melawan infeksi cacing, obat golongan benzimidazol ini mampu mengikat β-tubulin. Pengikatan ini menyebabkan terhambatnya polimerisasi mikrotubulus pada tubuh cacing. Dengan mekanisme ini, albendazol juga berpotensi untuk mengobati penyakit infeksi cacing selain trichuriasis, seperti ascariasis, strongyloidiasis dan infeksi cacing tambang. Pemberian albendazol biasa dilakukan secara oral. Tingkat absorpsi albendazol dalam tubuh terbilang sulit untuk diprediksi. Absorpsi obat ini dapat meningkat apabila dikonsumsi bersamaan dengan makanan yang mengandung lemak. Albendazol juga akan mengalami firstpass metabolism di hepar dan berubah menjadi bentuk aktifnya, yaitu albendazol sulfoksida. Senyawa aktif obat ini akan mencapai sirkulasi dalam waktu sekitar tiga jam setelah pemberian. Sebagian besar obat akan terikat ke protein plasma dan didistribusikan secara merata ke berbagai jaringan. Pada tahap berikutnya, senyawa obat akan melewati proses metabolisme lanjutan di hati. Metabolit dari obat ini utamanya akan dikeluarkan dari tubuh melalui urin. Secara keseluruhan, waktu paruh albendazol berkisar

antara 8-12 jam. Sama seperti banyak obat lain, pemberian albendazol memiliki beberapa efek samping, meskipun derajat gejala yang muncul tidak parah. Keluhan yang sering dirasakan adalah nyeri pada epigastrium, nyeri kepala, demam, rasa lelah, mual, diare, hingga insomnia. Pada terapi jangka panjang, albendazol juga bisa menyebabkan alopesia, pansitopenia dan peningkatan kadar enzim hati. Keluhan lain seperti reaksi alergi juga pernah dilaporkan, terutama pada terapi albendazol selama lebih dari satu minggu. Untuk mengobati trichuriasis, dosis albendazol yang digunakan adalah dosis tunggal sebesar 400 mg. Pada infeksi yang berat, terapi dapat diulang selama 2-3 hari. Dosis ini berlaku untuk anak-anak diatas dua tahun dan orang dewasa. Pada anak-anak di bawah dua tahun, pemberiannya perlu diperhatikan mengingat studi farmakologi albendazol pada rentang usia tersebut masih terbatas. Menurut WHO, pemberian albendazol pada anak-anak berusia satu tahun keatas masih dapat dilakukan dengan menimbang kemungkinan konsekuensi yang dapat timbul. Terdapat beberapa kelainan yang menjadi kontraindikasi pemberian albendazol. Salah satunya adalah pasien dengan riwayat alergi terhadap obat golongan benzamidazol. Selain itu, pasien dengan sirosis hati juga sebaiknya tidak diberikan terapi albendazol. Pada penggunaan jangka panjang, terapi albendazol memerlukan

pemeriksaan penunjang seperti tes darah dan pemeriksaan fungsi hati secara berkala. Kedua tes ini ditujukan untuk memonitor terapi. Dugaan terkait potensi teratogenik dari albendazol juga telah dibahas. Sayangnya, teori tersebut belum dapat dipastikan, mengingat fenomena tersebut baru dilaporkan pada studi terhadap hewan, bukan terhadap manusia. Akan tetapi, pemberian albendazol pada ibu hamil saat ini tidak direkomendasikan atas pertimbangan potensi teratogenik dari albendazol. Sebagai sesama turunan obat golongan benzimidazol, mebendazol juga dapat menjadi alternatif terapi untuk trichuriasis. Akan tetapi, pemberian albendazol dikatakan memiliki efikasi sekaligus efisiensi biaya yang lebih baik dibandingkan mebendazol, salah satunya karena pemberian albendazol untuk trichuriasis yang bersifat dosis tunggal. Akan tetapi, studi terbaru oleh Wendelin Moser (2017) dalam jurnal BMJ ternyata membantah hal tersebut. Wendelin telah melakukan metaanalisis dari literatur-literatur terkait terapi trichuriasis yang dipublikasikan dalam kurun waktu 19602016. Rata-rata tingkat kesembuhan dari albendazol

dan mebendazol berturut-turut adalah 30,7% dan 41,2%. Meskipun demikian, efektivitas obat tersebut secara statistik masih meningkat secara signifikan bila dibandingkan dengan pemberian plasebo. Dari hasil temuan di atas, dapat disimpulkan bahwa albendazol masih dapat dijadikan pilihan untuk terapi trichuriasis. Namun, pada praktiknya, obat pilihan terapi kembali pada ketersediaan obat di daerah, latar belakang, dan kondisi klinis pasien. Sebagai garda terdepan dalam peningkatan kesehatan masyarakat, sudah sepatutnya dokter umum piawai dalam menentukan terapi terbaik bagi pasiennya. leo

mega/MA


6

ILMIAH POPULER

JULI - AGUSTUS 2019

MEDIA

AESCULAPIUS

ARTIKEL BEBAS

Mengenal Sejuta Khasiat Daun Sirih Daun sirih merupakan salah satu tanaman herbal yang bermanfaat bagi kesehatan. Apa sajakah manfaatnya?

I

ndonesia adalah negara yang subur dan kaya akan keanekaragaman tumbuhan, termasuk tanaman herbal yang sering digunakan sebagai obat oleh masyarakat. Salah satu jenis tanaman herbal yang banyak dimanfaatkan adalah daun sirih, dengan khasiatnya dalam bidang kesehatan yang didukung banyak penelitian. Daun sirih, dengan nama latin Piper betle, dipercaya mampu menyembuhkan luka dan berbagai penyakit. Tak jarang kini ekstrak daun sirih diformulasikan dalam tablet sebagai obat. Jadi, apa sajakah sebenarnya manfaat daun sirih? Pertama, daun sirih berperan sebagai antimikroba yang dapat melawan berbagai jenis mikrooganisme seperti bakteri Streptococcus pyogenes, Staphylococcus aureus, dan Proteus vulgaris. Kandungan sterol dalam daun sirih berperan sebagai molekul bioaktif yang dapat menghambat aktivitas bakteri, termasuk bakteri penyebab bau mulut dan infeksi saluran kemih. Oleh karena itu, selain mampu menghilangkan bau mulut dan mencegah karies gigi, daun sirih dapat melawan infeksi saluran kemih. Ia juga bersifat antijamur sehingga dapat digunakan untuk penyakit dermatofitosis–penyakit kulit yang disebabkan oleh jamur kelompok dermatofit. Kedua, daun sirih berguna dalam perlindungan dinding saluran pencernaan. Kandungan allylpyrocatacol pada daun sirih dapat meningkatkan produksi mukus yang

melindungi mukosa lambung dari sekresi asam lambung, serta menjadi lapisan yang berperan dalam proses penyembuhan apabila terdapat luka di dinding saluran cerna. Arambewela dalam penelitiannya membuktikan efek gastroprotektif dari daun sirih baik menggunakan Hot Water Extract (HWE) maupun Cold Ethanolic Extract (CEE). Oleh karena itu, ekstrak daun sirih dapat bermanfaat bagi ulkus lambung. Ketiga, kandungan antioksidan daun sirih mampu menghambat radikal bebas yang membahayakan tubuh. Zat polifenol dalam daun tersebut berperan dalam proses peroksidasi sebagai bentuk inhibisi efek radikal bebas. Sebuah studi dengan subjek tikus Swiss Albino membuktikan bahwa ekstrak metanol dari daun sirih dan fraksinya dapat melawan karsinoma dan bersifat antitumor. Tidak hanya itu, sifat antioksidan ekstrak daun sirih juga memiliki efek antimalaria. Dalam studi yang mengevaluasi efek antimalaria daun sirih, ekstrak daun sirih mampu menargetkan radikal bebas dan menunjukkan aktivitas skizontisida yang dapat melawan Plasmodium penyebab malaria. Selain berbagai manfaat diatas, daun sirih juga memiliki efek antidiabetes. Pada uji toleransi glukosa, ekstrak air daun sirih terbukti mampu menurunkan kadar glukosa

darah. Dalam suatu penelitian pada model tikus diabetes yang diinduksi Streptozocin, terjadi penurunan kadar glukosa darah dan glukosa hati setelah pemberian ekstrak air daun sirih. Penelitian lain oleh Hewageegana Sujatha juga menyatakan bahwa kapsul daun sirih yang dibuat dari bubuk kering ekstrak air sirih berpotensi dalam mengobati pasien diabetes melitus tipe 2. Daun sirih yang bentuknya /MA

thin

mar

menyerupai jantung ternyata juga berkhasiat bagi sistem kardiovaskular. Daun sirih bersifat

kardiotonik--dapat memperkuat kerja otot jantung dan meregulasi ritme jantung agar berdetak secara teratur serta mengontrol tekanan darah. Efek pada sistem kardiovaskular ini dapat diamati langsung terutama pada seseorang yang mengonsumsi daun sirih dengan cara mengunyah. Dapat timbul keringat dan peningkatan jumlah air liur dikarenakan peningkatan sekresi katekolamin oleh korteks adrenal, yang juga dapat meningkatkan detak jantung dan tekanan darah. Sistem imun sebagai mekanisme pertahanan tubuh juga menjadi target dari pengobatan menggunakan ekstrak daun sirih. Studi secara in vitro menunjukkan bahwa ekstrak metanol dari daun sirih memicu proliferasi limfosit, reseptor interferon-C, dan produksi nitrat oksida, sehingga daun sirih berpotensi dalam terapi penyakit autoimun seperti rheumatoid arthritis dan lupus. Berbagai khasiat dari daun sirih yang telah dipaparkan menunjukkan bahwa tumbuhan tersebut memiliki banyak manfaat dalam kesehatan, sehingga daun sirih dapat dipertimbangkan sebagai salah satu pilihan alternatif dalam pengobatan. lidia

SEGAR

Dokter Terhebat belum datang? Apa kalian mau tanggung jawab kalau dia kenapa-kenapa?” Air mata menyeruak, mengalir deras tanpa sepengetahuannya. Di tengah amarahnya, lelaki itu tidak bisa menolak skenario terburuk yang mungkin terjadi. Ia tidak mau berpisah dengan anaknya. Seketika, ekor matanya menangkap sosok dengan jas putih. Dalam sekejap, lelaki itu berlari mendekati sang dokter, nalurinya mengatakan dokter itulah yang bertanggung jawab atas anaknya. Amukan emosi tidak tertahan lagi, ia langsung mencengkeram kerah Dharma. “Dok! Kenapa dokter lama sekali datangnya? Anak saya sudah sekarat tahu! Dia habis kecelakaan … dia butuh operasi segera!” Dharma tersenyum tipis, memegang tangan sang lelaki dengan lembut. “Bapak tenanglah. Saya akan berusaha sebaik mungkin untuk menolong anak Bapak. Saya mohon doanya. Setelah itu, tolong jaga anak Bapak baikbaik.” Seketika genggaman lelaki itu melemah, melepaskan kerah sang dokter. Lantas Dharma berjalan menuju kamar operasi. “Apa-apaan dokter itu? Dia tidak mengerti, ya? Keadaan gawat begini kenapa dia malah santaisantai saja!” Tidak A

erkali-kali ia melirik pada jarum jam, lalu mengembalikan pandangannya pada telepon di atas meja. Keringat dingin Dharma mengucur deras. Hanya 10 menit waktu berlalu, tapi sudah 10 jam rasanya dia menunggu. Tidak sabar, juga tidak siap. Cepatlah, kenapa belum juga? Batinnya menyahut. Ia mendengar kabar ada kecelakaan dan diminta untuk siap siaga, tidak seharusnya ia di sini, tapi ia tidak bisa tenang sebelum mendapat kabar. Tuhan, kumohon. Akhirnya, telepon itu berdering. Secepat kilat ia mengambil gagangnya. “Halo?” “Pak …,” seorang wanita menjawab dengan suara lirih. Isakan tangis mencegahnya untuk bicara. “Bu, ada apa? Ibu tenang dulu, ya. Bapak tidak mengerti kalau Ibu tidak tenang.” Sang Istri berusaha mengumpulkan tenaga. Ia tidak tega, tapi suaminya harus tahu. Ia menyampaikan kabar sebisanya, suaminya menyimak dengan gugup. Seketika, gagang telepon itu terjatuh. *** “Dokter! Di mana dokternya?” Bentak seorang lelaki di meja administrasi. Antara marah dan sedih, emosinya tercampur aduk. “Kami sudah menghubungi dokternya, Pak, dia sedang jalan ke sini. Bapak harap tenang dulu,” bisik seorang suster pada lelaki itu. Di tempat yang banyak pasien seperti ini, menjaga ketenangan menjadi satu norma yang dilanggar lelaki itu. “Mana bisa saya tenang! Anak saya sedang sekarat dan dokter yang menanganinya malah

git a/M

B

Dibalik keteguhan seseorang, kita tidak tahu apa yang telah ia lalui, ataupun apa yang sedang ia hadapi. mampu menahan diri, seorang perawat yang mendampingi sang dokter menegur ayah pasien. “Pak, Bapak tolong jangan bicara sembarangan. Dokter Dharma, anaknya—“ *** “Dokter Dharma belum datang juga, ya? Dia yang bertugas, kan? Operasinya harus segera dimulai.” “Aku tahu, tapi apa dia bisa melakukan operasi ini, ya? Aku dengar, anaknya kecelakaan, dan katanya parah sekali.” “Lho, di kampungnya? Dia enggak pulang ke sana?” “Katanya ditangani sama dokter setempat, makanya dari tadi dia menunggu kabar. Harusnya sekarang sudah selesai.” Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, Dharma masuk, mengejutkan kedua asistennya. “Kenapa kalian? Ayo, siap-siap,” senyum tertoreh di wajahnya seperti biasa. Kedua asisten saling menatap, mereka langsung bersiap-siap, sembari mencuri lihat ekspresi sang Dokter. Bagaimanapun dipandang, mereka tidak dapat mengirangira hasil operasi anaknya, wajahnya lebih sulit dibaca dari biasanya. Yang jelas, mereka hanya bisa fokus pada operasi

yang akan mereka tangani. Seluruh anggota tim sudah hadir, operasi dapat dimulai. Pandangan Dokter terarah pada pasiennya: seorang anak kecil yang barangkali sebaya dengan anaknya. Seketika, rentetan ingatan membersit di kepalanya. Ayah, kalau sudah besar aku ingin jadi dokter seperti Ayah! Soalnya keren sekali kalau pakai jas putih, Ayah juga selalu menyelamatkan nyawa orang. Ayah adalah dokter paling hebat di dunia! Apa menurut Ayah aku bisa jadi seperti Ayah? Dharma ingat apa yang diucapkan anaknya waktu, ia ingat mengusap kepala anaknya dengan bahagia, ia ingat betapa suci senyum anaknya. Kebanggaan dan kebahagiaannya. Ia menggelengkan kepalanya. Tangannya gemetar. Ingin rasanya melihat anaknya untuk terakhir kali. Maaf, Ayah tidak dapat menolongmu, Nak. Entah bagaimana, ia merasa sepasang tangan mungil menggenggam tangannya. Jangan khawatir, Ayah, kan, dokter paling hebat di dunia. Sosok itu hilang, pun dengan gemetar tangannya. Walau sesaat, harapannya terkabul. Dharma memantapkan hatinya, demi menjadi dokter yang dicita-citakan anaknya. “Kita mulai operasinya.” catra


MEDIA

AESCULAPIUS

ILMIAH POPULER

IPTEK

Membunuh Virus Flu dengan Sinar Far-UVC Teknologi sinar far-UVC dapat membunuh virus tanpa merusak jaringan tubuh manusia

I

nfluenza merupakan salah satu penyakit infeksi saluran pernapasan yang masih menjadi masalah kesehatan utama dalam masyarakat. Influenza disebabkan oleh virus influenza yang dapat menular melalui udara dari orang ke orang. Influenza tergolong ke dalam self-limiting disease yang dapat sembuh dengan sendirinya pada individu sehat dalam waktu 3-7 hari. Akan tetapi, bagi sebagian individu dengan daya tahan tubuh yang rendah, seperti pada anak-anak, orang lanjut usia, atau penderita penyakit imunosupresi, influenza dapat berisiko mengalami komplikasi pada organ lain, misalnya pada jantung dan bahkan bisa berujung kematian. Upaya pencegahan penularan influenza terus dilakukan dengan cara membunuh mikroorganisme penyebab influenza. Dalam upaya tersebut, sebelumnya peneliti telah menemukan bahwa sinar UVC konvensional dapat menginaktivasi virus penyebab influenza. Akan tetapi, penggunaan sinar UVC konvensional ini berdampak negatif bagi tubuh manusia karena bersifat karsinogenik dan kataraktogenik. Penelitian terus dilakukan dan dikembangkan hingga pada tahun 2018 ditemukan bahwa sinar farUVC efektif dalam membunuh virus influenza dan tidak merusak jaringan tubuh. Penggunaan sinar far-UVC sebelumnya telah dibuktikan dapat membunuh bakteri MRSA (Methicillinresistant S. aureus). Hal ini mendorong peneliti untuk kemudian meneliti efek sinar far-UVC terhadap virus influenza.

Penelitian dilakukan dengan menggunakan alat dengan ruang iradiasi UV khusus yang meliputi komponen bubbler air untuk input udara lembab, desikator untuk input udara kering, nebulizer, baffles, pengukur kelembaban relatif dan suhu, pengukur partikel, band-pass filter, pompa, BioSampler, dan Lampu far-UVC. Lampu far-UVC yang digunakan merupakan tiga lampu excimer mengandung campuran gas Kr-Cl yang dominan memancarkan cahaya pada panjang gelombang 222 nm. Pompa pada alat akan memberi tekanan pada nebulizer untuk membentuk aerosol dan mengendalikan virus yang masuk. Filter diletakkan pada input dan output udara. Lampu far-UVC disusun secara vertikal dan diarahkan ke

hannah/MA

jendela agar terpapar aerosol yang melintas secara horizontal. Virus H1N1, salah satu jenis virus influenza, digunakan dalam uji efek penggunaan sinar far-UVC ini. Virus H1N1 yang telah diinjeksikan pada sel epitel mamalia kemudian dimasukkan melalui lubang input virus ke dalam ruang iradiasi khusus dengan

dosis sinar far-UVC 222-nm sebanyak 0; 0.8; 1.3; dan 2.0 mJ/cm2. Setelah keluar dari area paparan sinar far-UV, sel yang terinfeksi virus akan keluar dan terdeteksi pada BioSampler. Setelah itu, suspensi virus yang terkumpul pada BioSampler diamati menggunakan teknik pewarnaan imunofluoresen. Hasil menunjukkan bahwa sinar far-UVC dengan dosis rendah yaitu 2 mJ/cm2 terbukti efektif dalam menginaktivasi virus flu H1N1 sebanyak >95%. Sebagai perbandingan, dengan alat yang bekerja dengan cara yang serupa, dilakukan observasi juga dengan menggunakan lampu UVC germisidal konvensional 254 nm. Sesuai dengan prinsip biofisik sinar far-UVC, sinar ini dapat melewati dan menonaktifkan bakteri dan virus yang berukuran kecil. Daya serapnya yang kuat pada bahan biologis menghasilkan efek positif sehingga sinar far-UVC tidak dapat menembus dan merusak lapisan sel kulit manusia. Hal ini menunjukkan bahwa sinar far UVC bersifat tidak sitotoksik terhadap sel dan jaringan manusia jika dibandingkan dengan percobaan dengan menggunakan sinar UVC germisidal konvensional 254 nm. Keuntungan lain dari penggunaan sinar far-UVC ini adalah sinar far-UVC cenderung lebih efektif untuk semua mikroba aerosol jika dibandingkan dengan metode vaksinasi. Dengan demikian, penggunaan sinar far-UVC di fasilitas umum seperti rumah sakit, sekolah, dan bandara dapat digunakan untuk membantu mengatasi epidemi influenza dan mencegah penularan influenza. lidia

ADVERTORIAL

Kontrol Kadar Glukosa Terkini dengan

Continous Glucose Monitoring

P

Perkembangan teknologi mempermudah banyak pihak termasuk pasien diabetes dalam mengontrol kadar glukosanya

eningkatan kadar gula darah meningkatkan komplikasi jangka panjang terhadap pembuluh darah. Seseorang dengan diabetes mellitus seringkali mengkhawatirkan kadar gula darah secara terus menerus terutama saat makan dan beraktivitas. Untuk itu, pasien dengan diabetes mellitusâ&#x20AC;&#x201D; terutama tipe 1â&#x20AC;&#x201D;membutuhkan kontrol kadar glukosa yang baik untuk menurukan risiko komplikasi akut maupun kronik. Saat ini, telah muncul teknologi baru untuk menggantikan alat pendeteksi kadar glukosa berupa glukometer dengan Continuous Glucose Monitoring (CGM). Glukometer memiliki beberapa kekurangan, di antaranya kurang dapat mengidentifikasi variabilitas glikemik dan episode hipoglikemik atau hiperglikemik karena kontrol yang bersifat sementara. Kontrol sementara ini terjadi karena adanya rasa nyeri akibat tusukan jarum pada setiap tes glukometer. Sedangkan, CGM menggunakan sensor sampel glukosa terbaru berupa cairan interstisial. Cairan interstisial mengandung nutrisi untuk sel, termasuk glukosa, dan berada di sekeliling sel. Sistem sensor glukosa tersebut mengukur glukosa di cairan interstisial dengan memasukkan filamen peka glukosa ke jaringan subkutanâ&#x20AC;&#x201D;jaringan di bawah dermis. Kadar glukosa dalam cairan interstisial selalu mengikuti glukosa dalam darah, meskipun dengan sedikit waktu tunda. Penundaan ini

diperkirakan antara 5-10 menit dalam beberapa penelitian. Sebagaimana alat ukur lain, alat CGM juga perlu dikalibrasi terlebih dahulu sebelum digunakan. CGM tersusun atas sensor, reader, dan aplikasi di ponsel pintar. Sensor kecil diletakkan pada lapisan subkutan bagian belakang lengan selama kurang lebih 7 hari. Selanjutnya, kapan dan dimana saja, pengguna dapat menempelkan reader ke sensor sehingga kadar glukosa dapat terbaca. Data kemudian dihubungkan secara nirkabel ke aplikasi dalam ponsel pintar. Pengguna dapat mengecek kadar glukosa sebelum dan sesudah beraktivitas. Data yang masuk ke aplikasi pada ponsel pintar akan membuat grafik tren perubahan kadar glukosa. Beberapa CGM memiliki fitur khusus, meliputi alarm yang dapat berbunyi ketika kadar glukosa terlalu rendah atau tinggi, pencatatan aktivitas fisik, obatobatan dalam perangkat di samping kadar glukosa, dan pengunduhan data ke ponsel pintar A atau komputer agar M n/ a lebih mudah melihat fi r a tren glukosa. Beberapa model CGM bahkan dapat mengirim informasi langsung ke orang terdekat pasienâ&#x20AC;&#x201D;baik orang tua, pasangan, maupun pengasuh. Contohnya, ketika kadar glukosa anak turun menjadi sangat rendah

dalam semalam, CGM dapat diatur untuk membangunkan orang tua dari kamar mereka. Dibandingkan dengan glukometer, alat ini membantu dengan lebih baik untuk mengelola kadar glukosa setiap harinya, mengurangi keadaan darurat hipoglikemi, dan membutuhkan lebih sedikit fingerprick test. CGM memiliki manfaat yang lebih besar untuk digunakan seharihari. Kelemahan alat GCM ini adalah ia tidak dapat dijadikan dasar dalam mengambil keputusan terapi pasien, sehingga masih tetap membutuhkan tes glukometer. Selain itu, alat ini juga lebih mahal daripada glukometer. Kondisinya yang harus diletakkan pada lapisan subkutan juga membuat pasien kurang nyaman pada awalnya. CGM direkomendasikan kepada mereka yang sedang menjalani terapi insulin intensif, sering tidak sadar mengalami hipoglikemia, dan sering mengalami kadar glukosa darah yang tinggi. Dalam beberapa penelitian, CGM dinyatakan efektif untuk diabetes mellitus tipe 1. Teknologi pemantauan kadar glukosa kian berkembang untuk masa depan. CGM kini dikembangkan menjadi Flash Glucose Monitoring (FGM) yang telah dikalibrasi oleh pabrik, dan masa penggantiannya lebih lama daripada CGM, yaitu 14 hari. Masa depan untuk CGM dan FGM cukup menjanjikan dengan semua penelitian yang sedang berlangsung, sehingga berpotensi memberikan dampak besar bagi kualitas hidup pasien diabetes mellitus dan mengurangi beban diabetes mellitus secara umum. aughi

JULI - AGUSTUS 2019

7

JOURNAL READING

Terapi CAR T Cell untuk Menyembuhkan Kanker

T

erapi Chimeric Antigen Receptor T Cell Therapy (CAR T Cell Therapy) menggunakan sel T dari sistem imun pasien yang dibiakkan secara in vitro. Latar belakang penelitian ini adalah kemampuan limfosit sel T yang dikenal dapat membunuh sel target yang terinfeksi atau tumor. Sel limfosit ini mampu bekerja dengan cepat tanpa perlu mengidentifikasi antigen spesifik tumor. Berdasarkan peran limfosit sel T, dirancang terapi CAR T cell dengan mengombinasikan antibodi monoklonal yang bersifat sitotoksik dan fungsi memori sel limfosit T. Chimeric antigen receptor sendiri merupakan fusi protein yang tersusun atas domain rekognisi antigen ekstraseluler, domain rekognisi antigen intraseluler, dan regio transmembran. Domain rekognisi antigen ekstraseluler dapat mendeteksi antigen spesifik sel tumor, sedangkan domain rekognisi intraseluler berguna untuk meningkatkan aktivasi dan efek sel T. Oleh karena itu, CAR T cell yang sudah dimodifikasi dapat mengenali Tumor Associated Antigen (TAA) dan kemudian membunuh sel tumor tersebut. Terapi ini telah terbukti berhasil untuk menyembuhkan keganasan hematologi seperti leukemia limfoblastik akut dan kronik serta limfoma. Data juga menyatakan bahwa angka keberhasilan CD19 CAR T-Therapy mencapai 90% pada pasien leukemia dewasa maupun anak-anak. Akan tetapi, terapi ini dinilai kurang efektif pada tumor padat yang ganas. Terapi ini juga memiliki kendala seperti efek samping yang dapat membahayakan nyawa pasien, yaitu sindrom pelepasan sitokin yang hebat. CAR T cell dibuat dengan mempurifikasi dan memodifikasi sel T hingga mengekspresikan reseptor antigen chimeric. Sel T harus dimurnikan dari sel B dan monosit yang mengontaminasi, karena keberadaan residu dapat menyebabkan limfoma akibat reaktivasi virus Epstein-Barr. Struktur dari CAR telah melewati tiga generasi. Generasi pertama CAR memiliki efek yang buruk karena hanya mengandung domain pengikatan antigen dan domain transmembran. Selanjutnya diikuti oleh generasi kedua dan ketiga dengan penambahan domain costimulatory. Sel CAR generasi ketiga yang diinfus kepada pasien dapat mengenali dan melisiskan sel tumor dengan cepat. Efek jangka panjang dan efektivitas terapi CAR T cell belum diketahui, dan dibutuhkan penelitian lebih lanjut. Adapun terapi ini biasanya dikombinasikan dengan IL-15 untuk meningkatkan persinyalan sehingga sifat sitotoksik terhadap sel tumor lebih poten. Selain itu, terapi ini juga dapat dikombinasikan dengan kemoterapi karena data klinis menunjukkan agen kemoterapi dapat meningkatkan kemampuan sitotoksik sel CAR. Daftar Pustaka: Wang L, Dou M, Ma Q, Yao R, Liu J. Chimeric antigen receptor (CAR)-modified NK cells against cancer: Opportunities and challenges. Int Immunopharmacol [Internet]. 2019 Sep;74:105695. Available from: https://www.ncbi. nlm.nih.gov/pubmed/31254958


8

OPINI & HUMANIORA

JULI - AGUSTUS 2019

MEDIA

AESCULAPIUS

SUARA MAHASISWA

Nalar Kritis Hadapi Kontroversi RUU PKS RUU PKS melegalkan tindakan aborsi, zina, dan prostitusi, benarkah?

K

ekerasan seksual adalah suatu masalah yang cukup besar di Indonesia dan korbannya kerap kali sulit mendapat keadilan. Hal ini didukung oleh data dari Komnas Perempuan bahwa terdapat sekitar 2.979 kasus kekerasan seksual di tahun 2017. Data dari tahun sebelumnya pun memiliki angka yang tinggi Pada kenyataannya, kasus kekerasan seksual yang dilaporkan tidak sebesar yang sebenarnya terjadi. Sebagai contoh, kasus pemerkosaan sangat banyak yang diselesaikan dengan “damai” akibat pemerkosaan cenderung dipandang sebagai aib korban. Hal inilah yang menyebabkan banyak korban dan kerabat terdekatnya memilih untuk bungkam. Hal ini juga didukung dengan data yang menunjukkan bahwa sekitar 50% kasus yang dilaporkan hanya diselesaikan dengan mediasi. Bahkan banyak dari mediasi tersebut tidak mempertimbangkan keadaan psikologis korban, misalnya korban dinikahkan dengan pelaku. Masalah ini kemudian memicu pembentukan Rancangan Undang-Undang (RUU) Penghapus Kekerasan Seksual (PKS). Sebelum adanya peraturan ini, ada beberapa landasan hukum terkait kekerasan seksual namun masih terbatas. Salah satu contoh adalah Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang tertulis bahwa pemerkosaan adalah bentuk pelanggaran atas norma kesusilaan. Peraturan ini dianggap kurang memihak korban karena perlakuan kekerasan seksual itu hanyalah soal moralitas dan mengurangi derajat tindak pidana. Dalam proses disahkannya RUU ini, banyak muncul miskonsepsi yang membuat beberapa pihak menolak peraturan ini. Miskonsepsi ini

dapat dibagi menjadi 3 kelompok. Pertama, RUU PKS dianggap melegalkan zina, prostitusi, dan aborsi. Kedua, dalam RUU PKS pasal perkosaan dalam perkawinan (marital rape) dan pendidikan seksual dianggap tidak perlu. Ketiga, asas hukum “lex posteriori derogate legi priori” yang berarti hukum terbaru akan menyampingkan hukum yang lama. Apabila kita cermati kembali RUU PKS sesungguhnya tidak melegalkan zina, prostitusi, dan aborsi. Dalam RUU PKS tertulis bahwa tindakan tersebut yang dilakukan secara terpaksa akan diberikan hukuman. Hal ini membentuk miskonsepsi dalam masyarakat bahwa RUU ini berarti memperbolehkan tindakan tersebut atas dasar sukarela. Disinilah pentingnya untuk memahami bahwa asas hukum “lex posteriori derogate legi priori” bukan berarti UU baru akan meniadakan UU yang lebih lama dengan materi yang sama. RUU PKS memang tidak mengatur zina, prostitusi, dan aborsi yang dilakukan secara sukarela karena sudah ada peraturan lain yang mengatur. Contoh dari kasus diatas adalah UU No.36 tahun 2009 pasal 75 ayat 1 dan 2 yang menyatakan setiap orang tidak boleh melakukan tindakan aborsi kecuali terdapat

indikasi kedaruratan medis atau kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis pada korban. RUU PKS tidak menghapus peraturan tersebut karena dari segi materi memang berbeda. Disini RUU PKS mengatur mengenai aborsi paksa yang bertujuan melindungi korban, sedangkan UU No. 36 tahun 2009 mengatur tentang boleh tidaknya aborsi dilakukan oleh seseorang secara sukarela. Oleh karena itu, RUU PKS tidak melegalkan aborsi dan tidak menghapus hukum yang melarang aborsi. Adapun untuk pasal marital rape dan pendidikan seksual keduanya sangat Sakinah/MA diperlukan. Marital rape adalah perkosaan kepada seseorang yang sudah dinikahi. Hal ini juga merupakan salah satu bentuk KDRT terhadap perempuan. Jumlah korban terus meningkat menurut Komnas Perempuan. Peraturan ini sebenarnya sudah diatur dalam UU tentang penghapusan KDRT, perbedaannya di RUU PKS jenis pidana diperluas sesuai tindakan pelaku dan adanya fasilitas pemulihan untuk korban. Terakhir yaitu adanya miskonsepsi mengenai pendidikan seks mendorong orang untuk berbuat seks atau pornografi. Padahal apabila pendidikan tersebut diberikan dengan tepat, anak dapat memahami peran gender dan

Farida Farah Adiba Ketua Departemen Kajian dan Aksi Strategis BEM IKM FKUI 2019 Universitas Indonesia Tingkat III

mengurangi risiko terjadinya kekerasan seksual. Oleh karena itu, tidak ada alasan kuat untuk menolak RUU ini. RUU ini adalah langkah awal untuk menjamin hak korban kekerasan seksual dan memastikan pelaku mendapat hukuman yang tepat.

KO L U M

Refleksi Idulfitri: Mengapa Kita Pergi?

H

“Tidak, ini bukan materi Islami. Baca dulu lalu coba mengerti.”

alo, apa kabar? Semoga kamu yang sedang membaca berada dalam kondisi baik-baik saja. Sedikit menyinggung tentang Idulfitri beberapa waktu lalu, kisah ini akan berbicara mengenai penemuan jati diri. Ah, tentu saja petualangan seperti ini sudah terasa sangat membosankan. Namun, tidak apa-apa, biarkan saya menulis terlebih dahulu dengan senang hati dan sisanya baru pembaca boleh komentari. Tak apa, masih banyak waktu, janganlah menjadi orang yang berkomentar melulu tanpa tahu malu. Kisah ini akan membawa saya dan Anda menuju sebuah rutinitas yang dilakukan banyak orang ketika menjelang Idulfitri. Kisah ini membahas tentang apa yang seharusnya dilakukan ketika sedang pergi jauh. Iya, pulang. Pulang ketika Idulfitri tentu saja identik dengan pulang ke peraduan—mudik. Mudik. Tentu bukan hal yang asing lagi. Sedapnya lebaran tidak lengkap tanpa mudik. Bukan hanya bagi pemeluk agama yang merayakan, semua orang juga ikut mudik dalam rangka menikmati cuti bersama tersebut. Mudik tentu saja dilakukan bagi siapa saja yang memiliki desa nan jauh di mata namun dekat di hati. Namun apa mau dikata, terkadang waktu, keuangan, atau pekerjaan tak mengizinkan para perantau di kota besar kembali untuk sekadar sungkem sebagai tanda bakti dan hormat kepada keluarga. Hal ini tentu saja membuat keluarga harus menanggung beratnya

Substansi terpenting dari mudik adalah rindu. Apalagi momen untuk sekadar melihat pergi dan pulang. Kita semua akan pergi dan wajah cantik adik sepupu saja harus menunggu meninggalkan jejak lalu kembali pulang saat takbir kemenangan berseru. Mudik ini memang malam suntuk atau ketika surya sudah muncul sarana paling baik untuk memuaskan emosi jiwa di ufuk. Siapa yang tidak pernah melakukan itu? yang kian meningkat antara dua entitas yang Mudik bukanlah hanya tentang perjalanan saat berpisah jauh. Keluarga dan diri sendiri. Idulfitri, tapi sebuah proses yang dilalui ketika Banyak rindu yang harus sudah pergi terlalu jauh dan hendak dibayar ketika pulang. Dalih kembali. yang selalu digunakan Mudik adalah proses adalah karena cinta perpindahan dari dimensi entah itu mencintai waktu dan tempat yang sanak, teman berbeda. Sebuah proses hidup, atau yang akan selalu kita alami tempat dulu bahkan jika suatu saat bertumbuh. nanti sudah diciptakan alat Rindu memang teleportasi yang membawa tidak bisa lepas kita ke mana saja tanpa dari cinta. harus memikirkan biaya tiket Berbicara pesawat yang melambung tentang mudik tinggi. Proses agar kita kembali dan keindahan di ke rumah itu selalu ada meskipun dalamnya, apakah hanya sepersekian detik saja. Rumah salah jika kita tidak bukan semata-mata soal kampung mudik? Kebetulan mega/MA halaman tetapi bisa apa saja yang selalu kita saja penulis merupakan rindukan setelah pergi terlalu lama. perantau yang memiliki desa cukup jauh dari Pergi untuk meraih banyak hal ini adalah tempat perantauan sehingga membahas mudik sesuatu yang selalu kita agung-agungkan karena cukup mudah. Apakah yang tidak memiliki sifatnya mendewasakan. Keluar dari rumah kampung halaman tidak akan pernah merasakan sebagai zona nyaman membuat kita banyak mudik? Oh, jangan khawatir! Penulis tidak belajar. Sebuah proses yang mendewasakan ini membahas tentang mudik secara nyata, tetapi juga harus dilewati bersama karena tidak hanya kembali kepada mudik secara substantial.

Rizky Farandi Mubasir Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Tingkat III bermanfaat untuk diri sendiri tetapi juga untuk sekitar, termasuk untuk “rumah” kita. Bukankah itu alasan dari banyaknya pertanyaan tetangga sana-sini seperti “kapan menikah?” atau “kapan lulus wisuda?” karena ketika orang itu pergi seharusnya mereka kembali ke rumah dengan hasil dari pergi jauh; sebuah jawaban mengapa mereka menjadi seperti ini. Selamat pergi dan bertransformasi, namun jangan lupa untuk selalu kembali. Rumah selalu menjadi tempat yang tepat untuk refleksi diri; seberapa jauh sudah pergi dan seberapa baik kita saat ini.


MEDIA

OPINI & HUMANIORA

AESCULAPIUS

JULI - AGUSTUS 2019

9

SUKA DUKA

Dari Jombang hingga Jepang Datang ke Jakarta berbekal gelar dokter, kecintaannya meneliti membawanya hingga ke Jepang

d

r. Isabella Kurnia Liem, M. Biomed, PA., PhD, biasa dipanggil Bella, lahir pada 22 Mei 1974 di Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Pada 1992, Bella menginjakkan kakinya untuk pertama kali di dunia kesehatan dengan berkuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret. Ia menyelesaikan pendidikan kedokterannya dan mendapatkan gelar dokter pada tahun 1998. Tak lama selepas lulus, Bella menikah pada Januari 1999. Satu bulan setelahnya, ia mengikuti suaminya yang pindah ke Jakarta dan mencari peruntungan di ibukota. Memulai karirnya dari nol, perempuan berambut pendek ini sudah berkeinginan untuk menjadi dosen sejak lulus menjadi dokter. Sempat menjadi asisten dosen Patologi Klinik semasa berkuliah, Bella sempat ingin menjadi staf di Departemen Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Sayangnya, keterbatasan dana yang ia miliki mengurungkan niatnya menjadi staf Departemen Patologi Klinik karena untuk menjadi staf harus menempuh pendidikan dokter spesialis terlebih dahulu. Saat itu, Bella juga mendengar adanya lowongan pekerjaan di Departemen Anatomi. Akhirnya, Bella memilih untuk bekerja di sana dan diterima pada Maret 1999. Pada tahun 2000, terjadi peralihan status UI menjadi PTN-BHMN. Hal ini mengakibatkan adanya peralihan status kepegawaian. Namun, Bella baru ditetapkan sebagai pegawai UI setelah lebih dari 12

tahun menunggu. Selama 12 tahun itu, Bella menyandang status pegawai honorer. Akibatnya, ratusan kredit kerja yang ia kumpulkan selama 12 tahun hangus ketika ia ditetapkan sebagai pegawai UI. Hal ini sungguh disesalkan Bella. Sementara menunggu status kepegawaiannya, Bella menempuh pendidikan S2. Ketika mulai mendalami ilmu anatomi di FKUI, Bella menyadari bahwa anatomi merupakan ilmu yang dalam dan cukup berkembang, tidak seperti yang orang-orang bayangkan. Salah satu cabang ilmu anatomi yang ia sukai ialah embriologi. Sayangnya, ilmu embriologi di Indonesia belum begitu berkembang saat itu. Setelah bertanya-tanya ke sejawat di FKUI, Bella menemukan bahwa penelitian embriologi yang maju berada di Jepang. Dua bulan setelah menyelesaikan pendidikan S2-nya pada Agustus 2003, Bella melanjutkan studi S3 ke Hiroshima University, Jepang dengan berbekal beasiswa dari Jepang. Selama di Jepang, Bella fokus dalam penelitian-penelitian yang memanipulasi embrio. Bella mendapatkan kesempatan untuk mempresentasikan karyanya di sebuah konferensi ilmiah internasional. Dalam konferensi itu, ia dapat bertemu dengan berbagai pakar embriologi internasional yang bahkan menjadi penulis buku teks embriologi yang rutin dibacanya. Seorang partisipan juga sangat tertarik dengan penelitian Bella hingga terus mempertanyakan karyanya tersebut dengan sangat kritis bahkan hingga

konferensi sudah dibubarkan. Semua pengalaman tersebut sungguh memotivasi Bella untuk belajar lebih giat. Pergolakan batin sempat dialami Bella ketika melaksanakan studinya. Penelitian yang mengharuskannya untuk memanipulasi makhluk hidup membuatnya merasa berdosa karena seperti “bermain menjadi tuhan”. Namun, profesor pembimbingnya disana menegurnya dan berkata, “Kamu melakukan ini bukan untuk main-main belaka tetapi untuk ilmu pengetahuan.” Perkataan itu menyadarkannya bahwa ia melakukan hal tersebut untuk tujuan mulia sehingga tidak perlu merasa bersalah. Akhirnya, Bella menyelesaikan studi S3-nya pada tahun 2009, lalu kembali ke Indonesia. Ketika kembali, Bella melanjutkan karirnya sebagai staf Departemen Anatomi. Karena terbiasa dengan kehidupan di Jepang yang serba cepat, wanita yang saat ini menjabat sebagai Ketua Departemen Anatomi ini sempat merasa ‘kesal’ dengan Indonesia yang cenderung lamban. “Di sana, pesan antibodi hanya perlu menunggu beberapa hari. Di sini, pesan reagen saja bisa 2-3 bulan,” keluhnya. Meski begitu, wanita berusia 45 tahun ini tidak mau terbuai dengan kehidupan nyamannya selama di Jepang. Ia tetap ingin mengabdi di Indonesia agar negeri ini juga bisa berkembang. Kini, Bella terus aktif melakukan riset maupun mengajar. billy

fiona/MA

Biodata

1. 2. 3. 4.

dr. Isabella Kurnia Liem, M. Biomed, PA., PhD: Departemen Anatomi FKUI Ketua Departemen Anatomi FKUI Ketua Cluster Indonesia Museum of Health and Medicine IMERI FKUI Kepala Bagian Teknis Laboratorium Terpadu FKUI Kepala Laboratorium cGMP, Unit Pelayanan Terpadu Teknologi Sel Punca RSCM-FKUI

RESENSI

Mengarungi Laut Demi Mengubah Hidup Melebihi khatulistiwa, di sisi lain dunia, dapatkah kita mengubah sedih mereka menjadi tawa?

M

dokumen penerbit

Judul

 

: The Surgery Ships

Genre

: Dokumenter

Tahun Rilis

: 2017

Jumlah Episode

:8

Sutradara

: Alex Barry

Produser

: Rebecca Barry

engisahkan para dokter dan perawat relawan, “The Surgery Ships” merupakan serial film dokumenter yang merekam perjuangan mereka bagi dunia. Africa Mercy, rumah sakit terapung yang dijalankan oleh organisasi Mercy Ships, membawa para relawan yang terpanggil untuk menolong ke daratan Afrika. Di sana, mereka harus menghadapi berbagai kasus sulit yang menguras tenaga dan jiwa. Semulia apapun tujuan mereka, tim Africa Mercy dengan tenaga kerja yang terbatas harus menghadapi pilihan berat: menentukan mana yang harus ditolong dan tidak ditolong. Tantangan tim medis ini tidak dimulai di kamar operasi. Sejak kapal mulai melabuh, di hadapan mereka terhampar lautan manusia yang sudah menunggu untuk mendapatkan perawatan medis secara cuma-cuma. Walau baru tiba, mental mereka sudah diuji dengan pikiran “mampukah saya bertahan dengan semua ini?” Para dokter dan perawat relawan harus belajar untuk fokus menangani pasien satu per satu dan memprioritaskan pasien mana yang harus ditangani terlebih dahulu. Selain itu, tidak jarang ditemukan pasien yang memiliki prasangka buruk seperti mereka akan dimakan atau ginjal mereka diambil oleh tenaga medis tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa sekadar menaikkan pasien ke kapal sudah menjadi tantangan sendiri. Kedatangan mereka tentunya membawa harapan bagi banyak orang, walau tidak sedikit harapan tersebut harus berakhir dengan tangis.

Terlalu banyak harapan yang menunggu, namun sangat sedikit yang dapat mereka penuhi. Misalnya, orang tua yang memiliki tumor ganas tetapi tidak dipilih untuk dirawat karena tidak akan efektif jika tidak dilakukan bersamaan dengan kemoterapi. Di sisi lain, tindakan yang mereka lakukan berhasil mengubah kehidupan pasien. Banyak di antara pasien memiliki kasus membahayakan. Bibir sumbing yang membuat bayi tidak bisa menyusui, tumor yang walaupun jinak tetapi begitu besarnya hingga dapat menyebabkan asfiksia, dan kontraktur kaki yang menyebabkan seorang anak dikucilkan. Serial film dokumenter ini juga dapat menimbulkan perasaan haru bagi para penonton. Misalnya, ketika kaki anak dengan gigantisme dapat melompat girang dan mewujudkan impian kecilnya—memakai sepatu. Operasi tumor yang membungkus saraf pusat di wajah, walau sangat sulit, tetapi membuat pasien sangat bangga. “Ya, ampun, coba kamu lihat diriku sekarang, aku sangat tampan!” Sahut seorang pasien pada temannya melalui telepon. Beberapa adegan menunjukkan berbagai deformitas seperti tumor dan adegan bedah yang dapat membuat beberapa orang tidak nyaman. Namun. film ini tetap dibawakan dengan baik dan bersifat edukatif. Hal positif lainnya adalah film ini bisa meningkatkan empati para penontonnya. Melalui “The Surgery Ships”, produser juga membuka jendela penonton dalam melihat dunia luar di mana infrastruktur kesehatan tidak sekokoh tempat mereka berada. catra

JASA PEMBUATAN SYMPOSIUM HIGHLIGHT Media Aesculapius menyediakan jasa pembuatan Symposium Highlight. Symposium highlight adalah peliputan sebuah seminar atau simposium, yang kemudian hasilnya akan dicetak dalam sebuah buletin, untuk dibagikan pada peserta seminar. Simposium yang telah kami kerjakan antara lain PIT POGI 2010, ASMIHA 2011, ASMIHA 2016, ASMIHA 2017, JiFESS 2016, JiFESS 2017, dan lain-lain. Hubungi Hotline MA: 0896-70-2255-62 (SMS/Whatsapp)


10

JULI - AGUSTUS 2019

LIPUTAN

MEDIA

AESCULAPIUS

R UBRIK DAERAH

Lombok : Kampung Halaman Tempat Mengabdi dan Kembali

K

embali ke kampung halaman merupakan keinginan yang terkadang tidak bisa terwujud bagi seorang dokter. Hal itu tidak terjadi pada dr. Asri Meiy Andini, seorang dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tahun 2011. Beliau mendapat kesempatan untuk kembali dan mengabdi ke kampung halaman melalui program internship. Dini menjalani internship di RSUD Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat selama 8 bulan dan di Puskesmas Kayangan Kabupaten Lombok Utara selama 4 bulan. Setelah itu, beliau menjalani program PTT (Pegawai Tidak Tetap) di Puskesmas Puyung, Kabupaten Lombok Tengah dari Maret sampai Desember 2018. Saat ini, beliau telah diterima sebagai PNS dan ditempatkan di Puskesmas Banyumulek. Ilmu yang diperoleh Dini selama bertahuntahun di ibu kota diterapkannya untuk kampung halaman. Beliau memilih untuk tidak mengabdi di ibu kota saat banyak dokter lain berebut kursi di ibu kota. Ketika gempa mengguncang Lombok pada Agustus 2018, Dini menemukan beberapa pasien bayi dengan perdarahan kepala dan kejang. Program internship dan PTT mempertemukannya dengan berbagai kasus lain seperti gigitan ular, cedera kepala, hipertensi, gagal ginjal, dan yang paling banyak dari semua itu adalah persalinan di usia muda. Satu pengalaman yang paling berharga bagi Dini adalah ketika melakukan resusitasi neonatus pada bayi baru lahir dengan multiple congenital anomaly. Saat itu Dini sedang ada di bangsal, tepatnya

Ketika kampung halaman menjadi tempat belajar ketika berjaga di ruang NICU (Neonatal Intensive Care Unit). Beliau diminta dokter spesialis anak untuk ikut membantu proses

fiona/MA

persalinan di ruang operasi. Ternyata bayi tersebut lahir dengan asfiksia berat, multiple congenital anomaly, dan sepsis. Dini bersama dengan dokter spesialis anak kemudian melakukan resusitasi neonatus dari pagi sampai siang. Persiapan rujukan ke rumah sakit yang fasilitasnya lebih lengkap serta pemberian informed consent tentang tindakan dan rencana rujuk pun dilakukan. Akan tetapi, pada akhirnya beliau pun harus melakukan breaking bad news kepada keluarga pasien karena ternyata pasien tidak tertolong. Bayi ini merupakan anak pertama dari seorang ibu muda dengan usia 20 tahun. Hal yang menjadi masalah adalah ibu muda ini tidak pernah memeriksakan kandungannya selama masa kehamilan. Pernikahan usia muda dan kurangnya pemahaman masyarakat mengenai pentingnya asuhan antenatal merupakan masalah yang memang banyak terjadi di daerah tersebut.Masalah lain yang ditemui Dini ketika menjalani internship ialah perihal obat emergency dan alat diagnosis penunjang. Beberapa obat emergency sangat kurang jumlahnya dibandingkan dengan kebutuhan. Alat penunjang diagnosis seperti EKG pun tidak ada. Hal ini tentu harus menjadi fokus pemerintah dan masyarakat untuk mengatasi agar tidak terjadi masalah karenanya. Lokasi yang terpencil juga menjadi kendala baginya. Namun dibalik semua itu, beliau merasa banyak mendapat manfaat dari program internship. Berkat program tersebut, beliau mampu

dr. Asri Meiy Andini FKUI 2011 Puskesmas Banyumulek, Kab. Lombok Barat, NTB Tingkat IV Angkatan 2010 mengaplikasikan ilmu yang didapat saat kuliah, belajar langsung dari pasien, konsulen, dan sesama dokter internship. Beliau pun dapat belajar komunikasi dan budaya, serta lebih percaya diri dalam mengambil keputusan. Selain itu, sembari mengabdi, beliau juga dapat menyempatkan diri untuk jalan-jalan ke destinasi wisata yang Indah di Lombok.

SEPUTAR KITA

Jangan Remehkan Adiksi!

A

jessica/MA

diksi merupakan salah satu masalah mental dan perilaku yang semakin merajalela di dunia, juga di Indonesia, dengan dampak kesehatan yang tak lagi dapat diabaikan. Hal inilah yang mendasari diangkatnya tema “Kecanduan Zat Adiktif dan Game” sebagai salah satu topik simposium MAJESTYNAS 2019 yang berjudul “Let’s talk about neuropsychiatric: Getting More Aware About Neuropsychiatric Through a Comprehensive Approach.” Simposium ini diadakan pada tanggal 30 Juni 2019, bertempat di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Jakarta. “Adiksi secara umum dapat dibagi menjadi dua, yaitu drug addiction dan behavioral addiction,” jelas dr. Adhi Wibowo Nurhidayat, SpKJ(K), MPH, sebagai pengantar awal topik tersebut. Masing-masing kelompok adiksi kemudian dibagi lagi menjadi beberapa kategori. Adhi membagi drug addiction menjadi 4 kategori besar, yaitu narkoba tradisional, narkoba jenis baru atau new psychoactive substances (NPS), legal drugs, dan obat-obatan resep dokter atau prescription drugs. Pembahasan kali ini ia fokuskan pada jenis narkoba tradisional dan NPS. Narkoba tradisional merupakan kategori narkoba yang telah dikenal sejak dulu. Bahkan, Adhi menekankan, narkoba jenis ini sudah beredar di Indonesia sejak zaman penjajahan Belanda. Contohnya adalah metamfetamin, heroin, ekstasi, dan sebagainya. Rokok dan alkohol juga termasuk dalam zat adiktif jenis ini. Salah satu cara pemakaian narkoba adalah

Waspada dan kenali berbagai jenis adiksi, jangan sampai terjerat di dalamya

melalui jarum suntik. “Hati-hati dengan pecandu suntik,” tegas Adhi, “Penelitian menunjukkan bahwa seorang pecandu suntik, dalam 1 tahun, bisa tidur dengan 6 wanita yang berbeda.” Hal ini tentunya dapat meningkatkan risiko terjangkit penyakit menular seksual, misalnya HIV/AIDS. Jenis narkoba kedua yang Adhi bahas adalah narkoba jenis baru atau NPS. Menurut World Drug Report 2017, jumlah penggunaan NPS kini sudah melebihi narkoba tradisional. Oleh karena itu, penting sekali untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap narkoba jenis ini. Contohnya adalah zombie drugs, khat (teh Arab), tembakau super, ganja sintetis, dan sebagainya. Ganja sintetis mirip sekali dengan ganja dari segi bentuk, bau, dan penggunaannya.

Akan tetapi, sama sekali tidak ada kaitannya dengan tumbuhan ganja, bahkan memiliki gejala klinis yang lebih dahsyat. Beberapa jenis NPS bentuk cair juga dimasukkan ke dalam vape atau rokok elektrik. Ironisnya, Indonesia tak luput dari pasar narkoba baru ini. “Dari 9 penggolongan NPS yang ada, 8 di antaranya sudah masuk ke Indonesia,” ujar Adhi. Selain kecanduan narkoba, behavioral addiction atau adiksi perilaku juga merupakan jenis adiksi lain yang perlu diwaspadai masyarakat. Penelitian telah menunjukkan bahwa reward pathway dari adiksi perilaku sama dengan adiksi narkoba. Salah satu adiksi perilaku yang ditekankan Adhi adalah adiksi internet, terutama di kalangan

remaja. Bahkan, Indonesia berada pada peringkat keenam pengguna internet terbanyak di dunia. Kecanduan internet mencakup kecanduan game online, cybersex, pornografi, judi online, dan sebagainya. Adiksi internet dapat menyebabkan seseorang mengabaikan aktivitas sehari-hari demi bermain internet, misalnya lupa makan, tidur, belajar dan bekerja, hingga mengabaikan kehidupan sosialnya. Hal ini akan berdampak buruk pada relasinya terhadap orang lain, kehidupan akademis, serta pekerjaannya. Oleh sebab itu, penting bagi dokter umum untuk mengenali gejalanya dan merujuk para pecandu ke psikiater ketika adiksi perilaku tersebut menjadi semakin tidak wajar. jessica


MEDIA

AESCULAPIUS

JULI - AGUSTUS 2019

11

SEPUTAR KITA

Membentuk Tubuh yang Ideal dengan Body Contouring Mengenal lebih jauh mengenai ‘seni memahat’ tubuh

R

umah Sakit Cipto Mangunkusumo bersama Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (RSCM-FKUI) kembali mengadakan seminar menarik yang bertajuk Body Contouring in Obesity. Seminar ini diadakan pada tanggal 24 Juni 2019. Seminar yang dimulai pukul 12.00 WIB dan berlangsung selama 1 jam ini dikemas dalam bentuk webinar. Webinar sendiri merupakan serangkaian seminar kedokteran yang disiarkan secara daring. Hal ini menjadikan tema-tema yang diangkat dalam webinar dapat diakses secara luas tanpa terbatas tempat dan waktu. Pembicara pada seminar ini, Dr. dr. Theddeus O.H. Prasetyono SpBP-RE(K), sangat antusias dalam menjelaskan materi yang dibawakannya. “Walaupun dengan bahasa yang sophisticated, saya harap seminar ini dapat lebih membuka wawasan saudara sekalian untuk lebih mengenal perihal masalah estetik,” ujar Theddeus. Tujuan diadakannya seminar ini ialah untuk menambah wawasan rekan-rekan sejawat mengenai ilmu yang terkadang banyak menarik minat pasien dengan berat badan berlebih. Body contouring, prosedur yang tidak terlalu asing di kalangan masyarakat awam. Pada dasarnya prosedur ini ibarat memahat patung. “Body contouring digunakan untuk membentuk bentuk tubuh yang ideal, bukan untuk mengurangi berat badan atau menghilangkan selulit. Bila diibaratkan, prosedur ini seperti (saat) kita memahat patung,” jelas Theddeus. Prosedur body contouring yang paling

terkenal adalah abdominoplasty yang dilakukan pada bagian abdomen. Prosedur yang lebih dikenal dengan nama tummy tuck surgery ini termasuk dalam prosedur bedah terbuka. Oleh sebab itu, prosedur bedah ini mengharuskan insisi yang cukup panjang dari satu sisi ke sisi lain pada abdomen. “Saya sering mengibaratkan panjang inisisinya bisa sepanjang Surabaya di sini (sisi pinggang sebelah kiri) sampai Jakarta di sini (sisi pinggang sebelah kanan),” jelas Theddeus. Karena prosedur yang terbuka ini, kandidat abdominoplasty untuk body contouring tidak bisa sembarangan. “Syarat abdominoplasty adalah harus sehat, bugar, dan tidak berencana untuk hamil”, terangnya. “Tetapi, planning untuk hamil bukan kontraindikasi mutlak. Pasien masih boleh hamil, namun minimal harus ada jarak 1-2 tahun setelah abdominoplasty,” pungkasnya. Terdapat beberapa teknik abdominoplasty, yaitu miniabdominoplasty, umbilical float, traditional, fleur-de-lis, atau belt lipectomy. Dengan berbagai macam prosedur yang ada, pasien dapat melakukan body contouring sesuai dengan kondisinya masing-masing. Bahkan, bila pasien ingin disertai dengan prosedur pengangkatan lemak subkutis, prosedur abdominoplasty dapat disertai dengan liposuction. Banyaknya pilihan prosedur ini juga menjadi cara untuk mengurangi komplikasi dari abdominoplasty. Walaupun dengan risiko komplikasi sistemik yang paling besar diantara prosedur bedah plastik lainnya, persentase angka kematian pada prosedur abdominoplasty masih

berkisar 0,008%. “Komplikasi sistemik yang mungkin adalah Venous Thromboembolism yang mungkin dapat menyebabkan DVT atau pulmonary embolism. Meskipun demikian, dengan persentase kematian sebesar 0,008%, prosedur abdominoplasty masih dianggap sebagai prosedur yang aman,” jelas Theddeus sekaligus sebagai penutup dari sesi seminar. Dengan semakin berkembangnya ilmu body

Anthon/MA

contouring, diharapkan seminar body contouring ini dapat menjadi bekal dokterdokter, khususnya dokter-dokter yang ingin melanjutkan spesialisasi ke bidang bedah plastik. elvan

R UBRIK DAERAH

Lamongan dan Pengalaman yang Berkesan Pengalaman adalah guru yang paling berharga. Dari pengalaman mengabdi di Lamongan, saya belajar banyak hal

S

dr. Suaydiy Okdiyanzah dr.suaydiyokdiyanzah@gmail.com Puskesmas Batumarmar Pamekasan, Jawa Timur

eperti halnya perasaan orang yang berhutang, begitu pula yang saya rasakan selepas menyelesaikan pendidikan di Universitas Indonesia. Saya adalah putra daerah sisi timur pulau jawa yang diberikan kesempatan mengenyam pendidikan kedokteran di universitas terbaik di Indonesia disertai dengan pembiayaan penuh yang saya peroleh dari salah satu program beasiswa. Begitu besar rasa berhutang saya kepada masyarakat yang secara tidak langsung membiayai saya untuk menjadi seorang dokter. Hal itulah yang menuntun saya untuk membuang jauh segala keinginan mengabdi di tempat “favorit” yang menjadi

tujuan para dokter untuk mengabdi sehingga saya memutuskan kembali ke Jawa Timur. Lamongan adalah kota yang saya pilih untuk memulai pengabdian saya di Jawa Timur melalui program internship. Lamongan memang bukan tergolong daerah terluar, terpencil, dan tertinggal tapi percaya lah masih banyak desa di kota ini yang tidak terjamah oleh tenaga kesehatan. Akses menuju ke rumah sakit di kota tidaklah mudah karena kendala jarak yang sangat jauh, fasilitas jalan, dan penerangan yang kurang memadai, serta faktor ekonomi menjadi penghalang warga di beberapa desa di Lamongan untuk berobat ke kota. Rumah Sakit Muhammadiyah Lamongan sebagai wahana internship yang saya tuju menjadi perantara saya untuk bisa menyelami beberapa desa di kota ini. Rumah sakit ini rupanya sudah lama menyadari kesulitan warga desa untuk bisa mengakses pelayanan kesehatan dan bisa kontak dengan seorang dokter. Melalui klinik satelit yang dimilikinya, rumah sakit di bawah organisasi Muhammadiyah ini memberikan kemudahan bagi warga di beberapa lokasi desa agar bisa mendapatkan akses pelayanan kesehatan. Desa Bulubrangsi, Solokuro, dan Brondong adalah tempat dimana klinik satelit tersebut berada. Selama menjalani program internship di rumah sakit ini, saya secara bergantian dengan beberapa dokter lainnya ditugaskan untuk menempati klinik satelit tersebut. Berbagai pengalaman luar biasa terekam jelas dalam ingatan saya selama menjalani tugas di desa tersebut. Tidur sendiri saat malam di klinik yang berada di tengah desa yang relatif sepi dengan fasilitas “seadanya” saya jalani selama bertugas di desa Bulubrangsi. Adrenalin yang

naik turun ketika saya mendadak harus menjadi seperti dokter spesialis karena pasien rawat inap dengan indikasi rujuk menolak untuk di rujuk ke rumah sakit saya lakukan selama bertugas di desa Solokuro. Suasana sauna, berteman angin laut, aroma pesisir yang khas, dan suara deburan ombak yang menemani saat tidur juga saya rasakan saat saya bertugas di Brondong karena kliniknya berada persis di sisi dermaga. Karakteristik pasien yang hampir sama dengan alasan yang nyaris serupa, yaitu keterbatasan ekonomi menjadikan angka penolakan rujuk di klinik-klinik tersebut cukup tinggi. Disinilah keilmuan saya diasah. Menangani pasien sepsis dengan antibiotik dan obat suportif seadanya, pasien DHF dengan nilai hematokrit dan trombosit dalam nilai kritis, pasien dengan hiperglikemia bahkan CVA beberapa kali harus saya hadapi. Melatih kemampuan untuk mengedukasi pasien dan keluarga mengenai kondisinya saat ini yang

mengharuskan untuk dilakukan prosedur rujukan bukanlah hal yang mudah. Faktor penghalang yang saya sebutkan sebelumnya menjadi musuh utama yang harus saya runtuhkan sehingga pasien bersedia untuk dilakukan rujukan. Namun, sepertinya seringkali upaya itu menemui jalan buntu. Dengan keterbatasan fasilitas di setiap klinik saya harus mampu mengubahnya menjadi “rumah sakit mini” sehingga pasien tetap bisa saya tangani semaksimal mungkin. Dari pengalaman-pengalaman disinilah keilmuan dan wawasan saya bertambah, sehingga melalui tulisan ini saya ingin menyampaikan kepada teman sejawat bahwa masih banyak daerah di negeri ini yang memerlukan kita. Bukan seberapa banyak keilmuan dan fasilitas yang kita miliki melainkan seberapa kuat niat dan tekad kita untuk menolong sesama yang akan menjadi penentu keberhasilan kita untuk menjalani profesi yang sangat mulia ini. lidia

Menyibak Fakta...

sambungan dari halaman 1

proses pemilu berlangsung. Salah satu bentuk evaluasi untuk pemilu selanjutnya adalah penyediaan jaminan kesehatan yang saat ini belum tersedia bagi petugas KPPS. Hal tersebut turut ditekankan oleh Muchtaruddin. “Jaminan kesehatan, proteksi, itu harus. Ada norma kerja demikian,” tuturnya. Petugas KPPS yang terbukti meninggal atau sakit akibat bertugas sebagai KPPS berhak mendapat kompensasi sesuai undang-undang. Hal ini juga mencakup gangguan kesehatan mental yang mungkin terjadi. Petugas KPPS yang mengalami disabilitas mental perlu mendapatkan kompensasi untuk mengganti upah hari produktif yang hilang. Fenomena kematian petugas KPPS merupakan fenomena nasional yang menjadi tanggung jawab seluruh pihak terkait. Untuk itu, dibutuhkan sinergitas untuk menemukan solusi terbaik. Demi menatap pemilu 2024 yang lebih baik, sejumlah perbaikan diperlukan, meliputi screening kesehatan menyeluruh pada tahap prapemilu, pendekatan administratif disertai pengendalian lingkungan kerja pada tahap pelaksanaan, hingga penyediaan jaminan perlindungan kesehatan pada tahap pascapemilu. jonathan, wira, kevin


12

LIPUTAN

JULI - AGUSTUS 2019

MEDIA

AESCULAPIUS

SEREMONIA

Paperun 2019: Peduli Literasi dengan Berlari

billy/MA

P

ada 24 Juni 2019, Harian Kompas bersama Asia Pulp & Paper Sinarmas menyelenggarakan “PAPERUN Charity Fun Run 5K (PAPERUN 2019)”. Ajang lari dengan tujuan meningkatkan budaya literasi ini dilaksanakan di kawasan Thamrin. Sekitar

2.000 peserta berpartisipasi dalam kegiatan lari sejauh 5 km tersebut. Seluruh biaya pendaftaran nantinya akan didonasikan dalam bentuk buku ke beberapa daerah di Indonesia. Acara dimulai pada pukul 06.30 WIB dengan kata sambutan dari Gubernur DKI Jakarta. billy

Kersos FTUI x FKUI : Mengabdi untuk Masyarakat

dokumen penyelenggara

J

umat, 21 Juni 2019, Tim Kersos FTUI bekerjasama dengan Departemen Pengabdian Masyarakat BEM IKM FKUI 2019 menyelenggarakan pengobatan massal. Kegiatan yang bertujuan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat ini diadakan di

Kampung Cipayanggu, Desa Harjawana, Banten. Sejumlah 23 orang mahasiswa FKUI dibawah supervisi dokter FKUI melakukan pengukuran tanda vital, anamnesis, hingga peresepan obat. Diharapkan acara ini dapat bermanfaat bagi semua pihak. leo

SENGGANG

Tetap Aktif Bermain Basket “Tidak hanya kesenangan dan kesehatan yang diperoleh dari permainan bola basket, tetapi juga sebuah keluarga yang menyenangkan”

D

i tengah kesibukan menjadi seorang dokter, terkadang sulit sekali meluangkan waktu untuk menekuni suatu hobi. Namun tidak demikian halnya dengan dr. Elyas Aditya Pradana, sosok dokter yang kini sedang berada pada tingkat akhir PPDS Mata di FKUI. Sejak dulu hingga menjadi dokter kini, Elyas tetap rutin melakukan hobinya, yaitu bermain basket. Pendidikan kedokteran yang terkenal dengan kepadatan jadwalnya tidak membuat Elyas meninggalkan olahraga yang sudah ia cintai sejak masa sekolah. Bermula dari masa SMP, Elyas mencoba bermain basket karena kebetulan di sekolahnya hanya ada lapangan basket. Ternyata, berangkat dari sana, ia sangat menikmati olahraga ini. Ia pun bergabung dengan tim basket sekolah. Olahraga tersebut masih ia tekuni sampai SMA dan kuliah. Saat ini, Elyas masih sering mengikuti seminat basket bersama anak-anak FKUI lainnya. Biasanya ia ikut berlatih tiga kali seminggu: Rabu, Jumat, dan Minggu. Selain itu, Elyas juga berlatih setiap Selasa dan Sabtu dengan komunitas basket lain. “Jadi lumayan sering basket sih, seminggu bisa 5 kali,” ujarnya seraya tertawa. Tantangannya, Elyas akui, adalah mencari waktu untuk tetap bisa rutin berlatih. Dulu ketika koas ataupun di tingkat awal PPDS, jadwalnya cukup padat sehingga sulit meluangkan waktu. Akan tetapi, ia masih menyempatkan untuk setidaknya tetap basket seminggu sekali. Untungnya, kini di tingkat akhir PPDS, waktunya agak lenggang jadi ia bisa kembali rutin berlatih.

Nama Lengkap dr. Elyas Aditya Pradana Jabatan PPDS Mata Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Alamat Jl. Salemba Tengah 2 No.1A, Senen, Jakarta Pusat, 10440 Alamat Email adidiyed@gmail.com

dokumen pribadi

Selama kuliah, Elyas sangat menikmati bermain basket dengan tim basket FKUI. Apalagi, FKUI kala itu cukup sering menjadi juara terutama di Olimpiade UI. Tidak hanya di lingkungan UI, ia dan timnya juga pernah menjadi juara pada lomba Dentistry FKG Trisakti, di Mustopo, dan beberapa lomba lainnya. Kemenangan di lomba Dentistry pada sekitar tahun 2010 merupakan pengalaman lomba yang sangat berkesan untuk Elyas. Pasalnya, saat itu ia diberi kesempatan bermain yang banyak, dan kebetulan, kualitas bermainnya juga sedang baik.

Rutinitas bermain basket, baik di FKUI maupun di komunitas lain, membuat Elyas dapat bertemu banyak orang dari berbagai latar profesi. Ditambah lagi, meski ia merasa bagian dari angkatan yang sudah cukup tua, Elyas senang masih bisa bertemu lintas angkatan dengan adik-adik hingga angkatan 2018 yang juga ikut seminat basket. Bagi Elyas, pertemanan dengan sesama penyuka basket merupakan salah satu hal yang paling menyenangkan dari olahraga ini. Di tengah kecintaannya terhadap basket, Elyas juga memiliki pengalaman buruk terkait hobinya tersebut. Tahun lalu, ia menderita ruptur

ACL (anterior cruciate ligament) full thickness akibat cedera saat bermain basket. Alhasil, ia harus dioperasi. Setelah tindakan pun, proses pemulihannya cukup lama hingga memakan waktu kurang lebih 1 tahun. Saat itu, Elyas cukup sedih karena harus berhenti bermain basket untuk waktu yang lama. Namun, hal itu tidak membuatnya kapok dan berhenti menikmati olahraga ini. “Sukanya dalam bermain basket tetap lebih banyak dari dukanya kok,” katanya dengan mantap sambil tersenyum. Menekuni hobi bermain basket merupakan suatu hal yang membawa manfaat besar bagi hidupnya. Ia seakan mendapat sebuah keluarga, apalagi teman-teman seperjuangan basketnya dulu hingga kini masih sering bertemu dan bermain bersama. Terlebih lagi, bermain basket juga merupakan sarananya untuk rutin berolahraga, yang tentunya bermanfaat pula bagi kesehatannya. jessica

Profile for Berani Sehat

Surat Kabar Media Aesculapius (SKMA) edisi Juli-Agustus 2019  

Surat Kabar Media Aesculapius (SKMA) edisi Juli-Agustus 2019  

Advertisement

Recommendations could not be loaded

Recommendations could not be loaded

Recommendations could not be loaded

Recommendations could not be loaded