Page 1

Media

Surat Kabar

Aesculapius PERANGKO BERLANGGANAN KP JAKARTA PUSAT 10000 NO. 3/PRKB/JKP/DIVRE IV/2014

Kedokteran dan Kesehatan Nasional Terbit Sejak 1970

No. 04 06 l XLV XLVIl lSeptember-Oktober Juli-Agustus 2014 2015

Harga Rp3.000,00

MA Info

Info Spesialistik

Tak Gemetar Hadapi Preeklampsia Berat

Departemen Akupunktur Medik FKUI-RSCM

halaman 3

halaman 7

ISSN ISSN No. No. 0216-4966 0216-4966 Iptek

Transplantasi Feses Sebagai Penyelamat Pasien Infeksi Clostidium difficile halaman 4

Kontak Kami @MedAesculapius @mediaaesculapius beranisehat.com

Lansia, Populasi Khusus yang Terlupakan Jumlah lansia sebagai populasi khusus kian meningkat, sudah siapkah pemerintah menyambut perubahan trend kesehatan?

J

umlah populasi lanjut usia di Indonesia menduduki peringkat ketiga terbesar di Asia setelah Cina dan India. Jumlah ini mencapai sepuluh persen dari total penduduk Indonesia yaitu sekitar delapan belas juta jiwa. Selain itu, pada tahun 2020–2025, jumlah populasi ini diperkirakan akan meningkat melebihi lima belas persen dari total penduduk Indonesia, hingga sekitar 25 juta jiwa. Pertumbuhan populasi lansia yang cukup pesat ini memerlukan pelayanan khusus yang lebih baik. “Pasien usia lanjut memiliki karakteristik yang berbeda dibanding dengan pasien usia dewasa. Mereka bukan pasien dewasa tua, tapi memiliki karakteristik khusus,” jelas dr. Arya Govinda, SpPD-KGer, di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Atas latar belakang tersebut, dibentuklah suatu organisasi di bawah Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Persatuan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) bernama Perhimpunan Gerontologi Medik Indonesia (PERGEMI), yang saat ini diketuai oleh Prof. Dr. dr. Siti Setiati, SpPD-KGer, M.Epid. PERGEMI memiliki tiga program yang bertujuan untuk membantu pemerintah dan menyelenggarakan pendidikan berkesinambungan itu sendiri. Programprogram tersebut adalah pendidikan, pelayanan masyarakat, dan penelitian. Tujuan dari program pendidikan adalah menambah pengetahuan dan keterampilan terutama pada dokter, dokter spesialis, dan dokter konsultan geriatri dengan pendidikan yang berkesinambungan, berupa pelatihan workshop, simposium, dan kegiatan ilmiah. Program pelayanan masyarakat sebagai kegiatan penyuluhan, melibatkan lembagalembaga masyarakat di bidang usia lanjut, misalnya panti jompo. PERGEMI juga bekerja

P

elayanan kesehatan lansia di Indonesia bertujuan membangun masyarakat lanjut usia yang mandiri, sehat, aktif, dan produktif. Peningkatan angka harapan hidup akibat keberhasilan pembangunan harus diseimbangkan dengan peningkatan kuantitas dan kualitas pelayanan. Sebagai peringkat 71 dari 95 negara di dunia dalam hal pelayanan kesehatan lansia, Indonesia harus membenahi diri. Peringkat pertama diraih oleh negara Skandinavia, yaitu Norwegia. Apa yang mereka lakukan sehingga mereka menduduki peringkat pertama? Kuncinya

sama dengan Komisi Nasional Lansia dalam memberikan masukan dalam mengatasi permasalahan kesehatan lansia. Terakhir, program penelitian, diwujudkan dengan pelaksanaan penelitian multicenter sehingga diperoleh data nasional, meskipun perolehan datanya belum sempurna. Masalah yang Dihadapi Lansia Tidak semua lansia dikatakan sebagai pasien geriatri. Lansia yang dikatakan sebagai pasien geriatri adalah pasien dengan usia lebih dari 60 tahun dan mempunyai lebih dari dua masalah kesehatan atau terdapat keterbatasan aktivitas. Penuaan dan penurunan fungsi organ yang dialami lansia menyebabkan mereka lebih rentan terkena penyakit. Sayangnya, gejala yang tidak khas dari penyakit ini seringkali terlambat dideteksi sehingga memerlukan penanganan dengan pendekatan khusus yang dinamakan dengan pengkajian paripurna pasien geriatri. “Yang diperhatikan bukan hanya status fisik, tapi juga status fungsional, mental, afektif, sosial, dan lain sebagainya secara menyeluruh dan terpadu serta dilakukan dengan

pendekatan interdisiplin,” ujar Arya. Dari semua masalah kesehatan lansia, penyakit terbanyak adalah penyakit jantung koroner dan hipertensi. Gejala klinis yang ditampilkan cenderung tidak sama dengan tanda klinis penyakit pada pasien dewasa sehingga berdampak pada terlambatnya diagnosis dan pengelolaan, lebih beratnya penyakit, dan lebih lamanya proses penyembuhan atau pemulihan. Berdasarkan data dari kementerian kesehatan, masalah lain yang biasanya terjadi pada para lansia, yaitu malnutrisi, gangguan inkontinensia, gangguan keseimbangan, imobilitas, dan gangguan penggunaan polifarmasi. Untuk itu, diperlukan upaya dan perhatian lebih dari seluruh elemen masyarakat dalam menangani lansia ini, baik dari sisi pemerintah, tenaga medis, maupun masyarakat. Usaha Penanganan dari Pemerintah Berdasarkan data kementerian sosial RI, dari total 18 juta penduduk lansia terdapat 2,8 juta lansia yang terlantar di Indonesia. Dari kelompok ini kemudian dibagi kembali menjadi kelompok yang masih memiliki kemampuan untuk beraktivitas sehari-hari secara mandiri dan yang tidak. robby/MA Tentu saja, bantuan pelayanan kesehatan yang diberikan berbeda.

Kelompok lansia yang terlantar dan tidak memiliki kemampuan untuk beraktivitas menjadi perhatian utama pemerintah. “Lansia yang sejahtera tidak hanya dinilai dari sehat lahiriah, tetapi juga psikis, dan spiritualnya,” jelas Titiek Haryati, Direktur Pelayanan Sosial Lanjut Usia Kementrian Sosial RI. Pelayanan yang diberikan kepada lansia juga tidak boleh digeneralisasikan, melainkan disesuaikan dengan kebutuhan. Menurut Permenkes 79 tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Geriatri di Rumah Sakit, terdapat empat tingkatan pelayanan geriatri di RS berdasarkan kemampuan pelayanannya, yaitu tingkat sederhana, lengkap, sempurna, dan paripurna. Jenis pelayanan geriatri tingkat sederhana paling sedikit terdiri atas rawat jalan dan kunjungan rumah (home care). Sementara itu, pelayanan tingkat paripurna terdiri atas rawat jalan, klinik asuhan siang (day care), rawat inap akut, rawat inap kronik, rawat inap psikogeriatri, penitipan pasien geriatri, kunjungan rumah, dan hospice. Pelayanan untuk kesehatan lansia tidak hanya tersedia di rumah sakit, melainkan juga di Puskesmas. “Sekitar 78% puskesmas di Indonesia sudah memiliki pelayanan berbasis lansia,” ujar drg. Kartini Rustandi, M. Kes, Direktur Bina Upaya Kesehatan Dasar Kementrian Kesehatan RI. Pelayanan berbasis lansia yang dimaksud adalah pelayanan yang memerhatikan kepentingan lansia, misalnya tempat pendaftaran khusus lansia, pelaksanaan kegiatan seperti senam lansia, workshop kerajinan, dan cek kesehatan rutin. Selain itu, pelayanan lansia juga terdapat di institusi seperti panti dan lembaga masyarakat. Dalam pelayanan khusus lansia bersambung ke halaman 7

Pelayanan Primer Kesehatan Lansia di Indonesia: Sudah Sampai Mana? adalah penguatan layanan primer. “Tanpa pelayanan primer yang kuat, nanti semuanya sakit dan banyak yang dirawat sehingga bebannya sangat besar,” cetus drg. Kartini Rustandi, M.Kes. Jepang terkenal dengan piramida penduduknya yang berbentuk batu nisan. Negara ini juga melakukan pelatihan kepada perawat-perawat di layanan primer mereka. Dampaknya adalah pelayanan home care dan palliative care dapat berkurang. Saat ini, pelayanan kesehatan lansia di Indonesia sebagian masih ditangani oleh pelayanan rumah sakit. Padahal, masih banyak lansia yang seharusnya bisa diobati di

pelayanan primer. Pemerintah Indonesia saat ini berupaya menggeser agar pelayanan primer menjadi ujung tombak penanganan kesehatan lansia di Indonesia. Pelayanan primer lansia berfokus pada upaya pelayanan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Wujud nyata program yang sedang dijalankan adalah Puskesmas Santun Lansia yang saat ini sudah ada sekitar 800 buah. Program pada pelayanan tersebut sudah merupakan upaya yang sangat besar untuk investasi kesehatan Indonesia jika dilakukan secara masif. Namun, permasalahan yang sering terjadi adalah pelaksanaan program

yang tidak konsisten. Investasi kesehatan lansia Indonesia mungkin memang masih belum terlihat hasilnya, tetapi tidak menutup kemungkinan di masa depan akan berhasil meningkatkan kesehatan lansia secara menyeluruh. Perlu evaluasi, inovasi baru, dan pelaksanaan yang konsisten agar investasi kesehatan ini dapat berhasil ke depannya. Dan tentunya, perlu keterlibatan peran dari pemerintah, masyarakat, dan lembaga sosial untuk mewujudkan kesehatan dan kesejahteraan bagi lansia. awang


22

SEPTEMBER-OKTOBER 2015

DARI KAMI Assalamualaikum wr. wb. Salam sejahtera bagi kita semua.

Tak mampu mengurusi keperluan sendiri, tertatih-tatih jika berjalan, senyumnya berpendar tanpa gigi. Sekilas, bayangan bayi-bayi lucu muncul di dalam kepala. Tergerak rasa ingin menghampiri dan berinteraksi. Namun, tahukah Anda bahwa sebenarnya mereka yang lanjut usia (lansia) juga demikian? Dalam edisi kali ini, disajikan dalam headline SKMA suatu masalah kesehatan di Indonesia yang melibatkan populasi karakter khusus bak anak-anak, yakni lansia. Preeklampsia kerap kali menghantui dokter yang menangani ibu hamil. Apakah sebaiknya dibiarkan saja dan menyerah tanpa daya ketika telah mengetahui pasien mengalami preeklampsia? Atau, sebenarnya ada upaya yang masih dapat dilakukan? Simak selengkapnya dalam rubrik MA Info. Tahukah Anda bahwa ilmu kedokteran Barat sudah berasimilasi pelan-pelan dengan kedokteran Timur? Akupunktur, cabang ilmu kesehatan legendaris dari Negeri Bambu tidak kalah soal evidencebased medicine-nya. Spesialisasi akupunktur sudah bukan hal yang tak wajar lagi. Apa yang lantas harus dilakukan jika ingin mendalami seluk-beluk akupunktur? Anda bisa baca infonya di rubrik Info Spesialistik. Transplantasi organ sudah tak asing lagi bagi masyarakat awam sekalipun. Ginjal, hati, bahkan jantung sudah bisa dipindahkan dari sang pendonor kepada penerima. Akan tetapi, tahukan Anda bahwa feses juga bisa ditransplantasikan, bukan sebagai keisengan, namun sebagai metode pengobatan? Lihat saja rubrik Iptek. Menjadi seorang spesialis kesehatan jiwa mungkin bukanlah jalan hidup yang terbilang menarik untuk ditempuh. Namun, berawal dari sekadar “tercemplung” ke pilihan kedua, seorang dokter akhirnya mencintai ilmu kesehatan jiwa. Siapakah sosok dokter tersebut? Lihat selengkapnya di rubrik Suka Duka. Wassalamualaikum wr wb,

Patria Wardana Yuswar Pemimpin Redaksi

MA FOKUS

Kartu Pintar Kesehatan: Masih Sekadar Mimpi?

D

i tengah perkembangan era telekomunikasi yang semakin pesat, kini informasi sudah semakin mudah untuk dipertukarkan. Kartu keanggotaan adalah salah satu bentuk kemajuan pengemasan informasi. Begitu beragam jenisnya, mulai dari kartu debit bank yang keanggotaannya ketat hingga kartu member minimarket yang kegunaannya sebatas perolehan poin. Cukup ditempelkan pada mesin scanner, kartu segera menampilkan segala data pemilik kartu di hadapan petugas. Setelah urusan selesai, kartu dengan mudah bisa diselipkan ke dalam dompet untuk dibawa kembali. Konsep yang tidak asing ini sudah merambah ke seluruh aspek kehidupan, tidak terkecuali kesehatan. Kartu pintar (smart card) di bidang kesehatan diyakini bisa menyimpan segala data pasien, seperti identitas, golongan darah, alergi, riwayat kebidanan, hasil laboratorium yang lampau, dan lain-lain. Kemungkinannya tidak terbatas. Dengan cara semacam ini, pasien cukup membawa kartu pintar miliknya ketika akan berobat. Lalu, dokter dengan mudah bisa mendapatkan riwayat kesehatan pasien selama ini sehingga menghilangkan ketidakakuratan yang seringkali menghambat proses pengobatan. Belum lagi jika dipikir soal administrasi. Waktu dan proses berbelit-belit yang selalu menyertai administrasi tiap rumah sakit, bisa dipangkas habis berbekal menempelkan kartu saja. Metode ini bukanlah hal baru. Jerman misalnya, sudah mulai mengoperasikan sistem ini sejak tahun 2006. Namun, pengaplikasiannya memang masih menemui sejumlah kendala. Keterbatasan akses internet dan perbedaan regulasi antarwilayah menjadikan sistem berbagi informasi seperti ini menjadi hambatan besar di Jerman. Biaya juga menjadi dilema tersendiri. Walau bisa memotong biaya yang besar, penyediaan infrastruktur elektronik semacam ini menyedot biaya yang juga tidak kalah besarnya. Belum lagi masalah keamanan data pasien. Alhasil, program ini berjalan tersendat-sendat di Jerman. Lantas, apakah Indonesia memiliki kesempatan untuk mencicipi buah kemajuan era digital ini? Semoga saja tidak menetap sebagai angan belaka saja.

KLINIK

MEDIA

AESCULAPIUS

MA KLINIK

Perangi Meningitis Tuberkulosis

M

eningitis tuberkulosis (TB) merupakan radang selaput otak dan medula spinalis akibat infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Prevalensi terbanyak terjadi pada anak-anak dengan morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Penyakit ini merupakan contoh adanya komplikasi dari TB primer yang terjadi pada 1% pasien TB aktif. Faktor risiko yang mengakibatkan berkembangnya meningitis tuberkulosis dari TB primer, antara lain infeksi HIV, diabetes melitus, keganasan, penggunaan alkohol berlebihan, malnutrisi, dan cedera kepala. Mortalitas pasien HIV positif lebih tinggi (60%) dibandingkan dengan pasien non-HIV (35%). Perjalanan kuman TB dimulai dari penyebaran secara hematogen. Ketika sampai di selaput otak (meninges), basil bakteri TB tersebut membentuk sebuah lesi. Apabila terjadi trauma kepala atau reaksi imunologi tertentu, bakteri TB yang terdapat dalam lesi tersebut pecah, kemudian menginfeksi ruang subaraknoid. Jangka waktu dan frekuensi terjadinya meningitis tuberkulosis bergantung pada umur dan imunitas setiap individu. Pada anak-anak, risiko tertinggi penyebaran bakteri TB pada sistem saraf pusat ini terjadi pada satu tahun pertama infeksi primer. Diagnosis Meningitis TB Gejala yang ditemukan pada pasien meningitis TB bersifat nonspesifik, berupa sakit kepala, demam, muntah, dan anoreksia. Khusus pada anak-anak, biasanya terjadi hambatan pada pertumbuhan, penurunan berat badan dan nafsu makan, gangguan tidur, serta nyeri abdomen. Pada pemeriksaan, juga dapat ditemukan kekakuan pada daerah leher, penurunan kesadaran, cerebral palsy, pembesaran kelenjar getah bening, hemiparesis, dan paraparesis. Terkadang, kejang-kejang dapat terjadi pada anak-anak. Komplikasi di daerah spinal berupa gangguan pada upper motor neuron atau lower motor neuron dapat ditemukan pada 10% kasus. Pada kasus meningitis, pemeriksaan cairan serebrospinal rutin dilakukan. dari pemeriksaan tersebut, ditemukan adanya leukositosis (10–1000 x 103 sel/mL) khususnya limfosit, kenaikan protein (0,5–3,0 g/L) dan glukosa plasma CSS (<50%). Untuk mengetahui agen penyebab meningitis, dilakukan pemeriksaan mikrobiologi. Pemeriksaan ini bertujuan untuk menemukan bakteri M. tuberculosis. Bakteri ini ditemukan pada 80% kasus pasien dewasa, namun hanya 15-20% pada kasus anak-anak. Metode lain yang dinda/MA dapat digunakan untuk mencari

MEDIA AESCULAPIUS

dr. Darma Imran, SpS(K) Divisi Neuroinfeksi dan Imunologi Departemen Neurologi FKUI-RSCM M. tuberculosis adalah nucleic-acid amplification (NAA) assays. Teknik ini memiliki sensitivitas sebesar 56% dan spesifisitas 98%. Tatalaksana Meningitis Tuberkulosis Beberapa obat yang dikonsumsi untuk mengatasi TB paru masih diberikan untuk pasien meningitis TB. Regimen utama untuk pengobatan meningitis tuberculosis, antara lain isoniazid (INH) dan rifampisin (R). Isoniazid memiliki sifat bakterisidal yang poten serta dapat menembus sawar darah otak, sementara rifampisin bersifat bakteriostatik dengan kemampuan menembus sawar darah otak yang lebih rendah dibandingkan isoniazid. Pirazinamid juga diberikan kepada pasien untuk melengkapi terapi dari kedua obat sebelumnya. Streptomisin dan etambutol jarang dipakai pada pengobatan meningitis tuberkulosis karena efek sampingnya yang secara signifikan dapat memengaruhi kinerja tubuh. Streptomisin tidak boleh diberikan untuk ibu hamil karena menyebabkan gangguan renal. Angka kejadian resistensi akibat streptomisin juga cukup tinggi sehingga penggunaannya dibatasi. Di sisi lain, konsumsi etambutol dapat berujung pada penurunan kemampuan penglihatan pasien. Dosis yang diberikan pada pasien meningitis TB mengikuti dosis saat pengobatan TB paru. Beberapa penelitian menganjurkan pemberian >5mg/kgBB isoniazid untuk pasien dewasa dan 10–20 mg/kgBB hingga maksimal 500 mg untuk pasien anak-anak. Untuk rifampisin, disarankan pemberian 20 mg/kgBB hingga maksimum 600 mg, sedangkan dosis pirazinamid 40 mg/ kgBB sampai batas maksimum 2 gram. Tak hanya itu, penggunakan deksametason pada pasien meningitis TB direkomendasikan sejak awal pengobatan hingga 6–8 minggu setelahnya. Penambahan golongan steroid ini terbukti mengurangi angka mortalitas pada tahap apapun dan dengan atau tanpa infeksi HIV. Progresivitas terbaik ditunjukkan oleh pasien grade 1 dengan penurunan angka kematian dari 30% pada tahun 2000 menjadi 14% pada tahun 2014. Apabila keadaan pasien membaik, dosis dapat dikurangi hingga batas standar. Beberapa penelitian mengatakan bahwa jangka waktu pengobatan yang baik adalah 6–12 bulan. Lamanya rentang waktu pengobatan ini disebabkan oleh ketidakpastiaan dari keparahan penyakit, perbedaan kemampuan setiap jenis obat untuk melewati sawar darah otak, resistensi obat yang susah terdeteksi, dan kepatuhan pasien dalam menjalankan terapi yang sulit dipantau.

Pelindung: Prof. Dr. Ir. Muhammad Anis M. Met. (Rektor UI), Dr. dr. Ratna Sitompul, SpM(K) (Dekan FKUI) Penasihat: Prof. Dr. Bambang Wibawarta, S.S., M.A. (Direktur Kemahasiswaan UI), dr. Ahmad Fuady, MSc (Koordinator Kemahasiswaan FKUI) Staf Ahli: Seluruh Kepala Bagian FKUI/RSUPNCM, Prof. Dr. Ma’rifin Husein (CHS), dr. Muki Reksoprodjo, dr. Boen Setiawan, dr. Sudarso, dr. E. Oswari, DPH, Prof. Dr. Arjatmo Tjokronegoro, PhD, dr. Hapsara, DPH (Kemenkes RI), dr. Fahmi Alatas, Prof. dr. Marwali Harahap, SpKK, Prof. Dr. Umar Fahmi Achmadi, MPH Pembantu Khusus: Seluruh Alumni Aesculapius dan Media Aesculapius

Pemimpin Umum: Indra Wicaksono. PSDM: Berli Kusuma, Dwitya Wilasarti, Annisaa Yuneva, Ferry Liwang, Laksmi Bestari, Aditya Indra Pratama. Pemimpin Produksi: Zharifah Fauziyyah. Wakil Pemimpin Produksi: Kartika Laksmi, Dhiya Farah Tata Letak dan Cetak: Vanya Utami Tedhy. Ilustrasi dan Fotografi: Aditya Indra Pratama. Website: Selvi Nafisa Shahab, Andrew John WS. Staf Produksi: Hafizh Ahmad Boenjamin, Stephanie Wijaya, Inda Tasha Bastaman, Andreas Michael S, Muhammad Reza Prabowo, Edo Rezaprasga, Meivita Sarah Devianti, Annisaa Yuneva, Arief Dimas Dwiputro, Karin Nadia Utami, Eiko Bulan Matiur, Rosyid Mawardi, Selvi Nafisa Shahab, Andrew John, Aditya Indra, Nobian Andre, Vanya Utami Tedhy, Zharifah Fauziyyah, Dhiya Farah, Kartika Laksmi, Herlien Widjaja, Gabriella Juli Lonardy, Anyta Pinasthika, Robby Hertanto, Dinarda Ulf Nadobudskaya, Fatira Ratri Audita, Dinda Nisapratama. Pemimpin Redaksi: Patria Wardana Yuswar. Wakil Pemimpin Redaksi: Sukma Susilawati. Redaktur Senior: Amajida Fadia Ratnasari, Paulina Livia Tandijono Ade Irma Malyana Artha, Zatuilla Zahra Meutia, Herdanti Rahma Putri, Halida Umi Balkis, Nadim Marchian Tedyanto, Tiara Kemala Sari. Redaktur Desk Headline: Ferry Liwang. Redaktur Desk Klinik: Edwin Wijaya. Redaktur Desk Ilmiah Populer: Andy William. Redaktur Desk Opini & Humaniora: Elva Kumalasari. Redaktur Desk Liputan: Nadia Zahratus Sholihat. Reporter Senior: Arief Kurniawan, Jusica Putri, Nabila Aljufri, Alima Mawar Tasnima, Berli Kusuma, Juniarto Jaya Pangestu. Reporter Senior: Fidinny Hamid, Rusfanisa, Yasmina Zahra Syadza. Reporter: Hiradipta Ardining, Irma Annisa Priyadi, JIhaan Hafirain, Jimmy Oi Santoso, Raditya Dewangga, Rifka Fadhilah, Shierly Novitawati, Tommy Toar Huberto. Pemimpin Direksi: Hardya Gustada. Finansial: Wilton Wylie Iskandar, Diadra Annisa Setio Utami, Damar Upahita, Indra Wicaksono, Fatimah Sania, Fahmi Kurniawan, Nurul Istianah, Faya Nuralda Sitompul, Jevi Septyani Latief, Heriyanti Khiputra, Tania Graciana. Sirkulasi dan Promosi: Catharina Nenobais, Anita Tiffany, Teguh Hopkop, Febrine Rahmalia, Ryan Reinardi Wijaya, Dyah Ayu, Novtasari Suryaning Jati, Rahma Maulidina Sari, Aisyha Aminy Maulidina. Buku: Indah Lestari, Fildzah Hilyati, Elvina J. Yunasan, Apri Haryono Hafid, Fadhli Waznan, Tiroy Junita. Alamat : Media Aesculapius BEM IKM FKUI. Gedung C lantai 4, Rumpun Ilmu Kesehatan, Kampus UI Depok. E-mail: redaksima@yahoo.co.id, Rek. 6691592 BNI Capem UI Depok website: beranisehat.com Alamat Redaksi/Sirkulasi : Media Aesculapius PO BOX 4201, Jakarta 10042, Harga Langganan: Rp 18.000,00 per enam edisi gratis satu edisi (untuk seluruh wilayah Indonesia, ditambah biaya kirim Rp. 5.000,00 untuk luar Jawa), foto kopi bukti pembayaran wesel pos atau foto kopi bukti transfer via BNI dapat dikirim ke alamat sirkulasi. MA menerima kiriman naskah dari pembaca untuk rubrik MA Klinik (khusus untuk dokter dan staf pengajar), Asuhan Keperawatan (khusus untuk perawat dan mahasiswa keperawatan) Sepuki, Suma, Suduk, Kolum, Arbeb, Kesmas, Seremonia, dan Konsultasi (berupa pertanyaan). Kirimkan email permohonan penulisan ke redaksima@yahoo.co.id dan kami akan mengirimkan spesifikasi rubrik yang Anda minati.

Kirimkan kritik dan saran Anda:

redaksima@yahoo.co.id

Website Media Aesculapius

beranisehat.com

Dapatkan info terbaru kami: @SKMAesculapius


MEDIA

KLINIK

AESCULAPIUS

JULI

SEPTEMBER-OKTOBER 2015

3

MA INFO

Tak Gemetar Hadapi Preeklampsia Berat Tingginya angka kematian ibu hamil akibat preeklampsia membuat para petugas kesehatan selalu waspada akan kejadian preeklampsia. Bagaimana cara mengatasinya? vena dalam, gagal ginjal akut, nekrosis tubular akut, trombositopenia, dan edema paru dengan menggunakan obatobatan. Setelah melakukan tata laksana pada penyakit penyulit, penanganan dilakukan berdasarkan usia kehamilan. Apabila usia kehamilan <37 minggu maka kehamilan dipertahankan selama mungkin sambil melakukan terapi medikamentosa, sedangkan pada usia kehamilan >37 minggu kehamilan dapat diakhiri setelah dilakukan terapi medikamentosa. Terapi medikamentosa yang dilakukan pada ibu hamil dengan preeklampsia berat adalah tirah baring ke kiri secara intermiten. Pasien kemudian diberikan infus ringer laktat atau ringer dekstrose 5% sesuai keadaan ibu hamil. Pemberian MgSO4 sebagai pencegah kejang diberikan dengan dosis awal (4g IV dalam 5â&#x20AC;&#x201C;10 menit) dan dosis lanjutan (1â&#x20AC;&#x201C;2 g/jam IV dalam 24 jam). Syarat pemberian MgSO4 pada preeklampsia adalah refleks adit/MA

P

reeklampsia secara umum dapat didefinisikan sebagai gejala klinis berupa hipertensi dan proteinuria pada ibu hamil akibat kelainan pada plasenta. World Health Organization (WHO) mencatatkan bahwa preeklampsia merupakan penyebab ketiga tertinggi kematian pada ibu hamil. Tidak mengherankan apabila petugas kesehatan seringkali merasa takut apabila mendapatkan kasus preeklampsia pada ibu hamil. Untuk itu, penting bagi para pelaku kesehatan untuk mengetahui bagaimana mengenali dan menatalaksana preeklampsia pada kehamilan. Berdasarkan tingkat keparahannya, preeklampsia dapat dibagi menjadi preeklampsia ringan dan berat. Preeklampsia ringan ditandai dengan tekanan darah sistolik >140 mmHg atau diastolik >90 mmHg dan proteinuria >300 mg/24 jam jumlah urin atau dipstick +1, sedangkan preeklampsia berat ditandai dengan tekanan darah sistolik >160 mmHg atau diastolik >110 mmHg dan proteinuria >5g/24 jam jumlah urin atau dipstick +2 dengan adanya salah satu gejala dari kenaikan kreatinin serum, edema paru, sianosis, nyeri epigastrium, gangguan otak, gangguan visus, gangguan fungsi hepar, dan sindrom HELLP (hemolysis, elevated liver enzyme levels, and low platelet). Hal pertama yang perlu dilakukan pada preeklampsia berat adalah mengatasi penyakit-penyakit penyulit seperti perdarahan intrakranial, trombosis

patella yang normal, pernapasan lebih dari 16 kali per menit, produksi urin lebih dari 100 cc pada 4 jam sebelumnya, dan tersedianya kalsium glukonat 10% sebagai antidot. Apabila syarat ini tidak terpenuhi, dapat digunakan 100 mg IV sodium tiopental, 10 mg IV diazepam, 250 mg sodium amobarbital, atau fenitoin dengan dosis awal dan dosis lanjutan. Pemberian obat antihipertensi dilakukan apabila didapatkan tekanan darah lebih dari 180/100 mmHg. Obat antihipertensi yang menjadi pilihan adalah nifedipin 10-20 mg oral dengan dosis maksimum 120 mg dalam 24 jam. Terapi selanjutnya pada ibu hamil dengan preeklampsia berat adalah terapi konservatif dan aktif. Terapi konservatif dilakukan apabila usia kehamilan lebih dari 37 minggu tanpa adanya gejala impending eklampsia dengan tujuan mempertahankan kehamilan hingga umur yang cukup. Pada terapi konservatif, terapi medikamentosa dipertahankan dengan perbedaan pada dosis

lanjutan yang diberikan intramuskular dan bukan intravena. Apabila status preeklampsia telah berubah menjadi ringan, setelah dirawat 2â&#x20AC;&#x201C;3 hari, pasien diizinkan pulang. Cara persalinan pada terapi konservatif apabila pasien inpartu adalah diutamakan per vaginam. Apabila pasien tidak inpartu, kehamilan terus dipertahankan. Terapi aktif dilakukan apabila ada indikasi pada ibu berupa kenaikan tekanan darah persisten pada ibu setelah 6 jam diberikan terapi medikamentosa, timbul tanda atau gejala impending eklampsia, gangguan fungsi hepar, gangguan fungsi ginjal, atau timbulnya onset partus. Tujuan terapi aktif adalah melakukan terminasi pada kehamilan. Indikasi pada janin untuk terapi aktif adalah umur kehamilan yang lebih dari 37 minggu, intrauterine growth restriction (IUGR), dan oligohidramnion. Terapi awal yang diberikan adalah terapi medikamentosa yang dilanjutkan dengan melahirkan bayi. Pada pasien yang sudah inpartu, kala II dapat diperpendek dan sectio caesarea dapat dilakukan apabila terjadi kegawatan pada ibu atau pasien merupakan primigravida. Apabila penderita belum inpartu, dapat dilakukan induksi atau sectio caesarea. jimmy

Kirimkan pertanyaan Anda seputar medis ke redaksima@yahoo.co.id. Pertanyaan Anda akan dijawab oleh narasumber spesialis terpercaya.

ASUHAN KEPERAWATAN

Perawatan Luka Harian pada Pasien Luka Bakar

L

Luka bakar dapat dialami oleh siapapun, dimanapun, dan kapanpun. Hidroterapi, debridemen, antibiotik, dan balutan menjadi andalan perawatan harian.

uka bakar merupakan cedera yang terjadi akibat kontak langsung ataupun paparan terhadap sumber panas, kimia, listrik, atau radiasi. Pasien yang mengalami luka bakar biasanya memperlihatkan beberapa gejala klinis seperti hipotermia, ketidakseimbangan cairan dan elektrolit, serta nyeri. Untuk membantu proses penyembuhan luka bakar pasien, perawat dapat melakukan perawatan luka harian dengan mempertimbangkan gejala klinis yang dialami klien. Perawatan luka bakar harian yang dapat dilakukan perawat dimulai ketika kondisi hemodinamik pasien sudah stabil, integritas kapiler sudah kembali, dan diuresis sudah mulai muncul. Keadaan tersebut umumnya tercapai sekitar 48â&#x20AC;&#x201C;72 jam setelah cedera. Perawatan luka harian meliputi pembersihan, debridemen jaringan nonvital, pemberian antimikroba topikal dan pembalutan luka. Pembersihan luka dengan teknik hidroterapi masih menjadi andalan dalam menangani luka bakar. Berikut ini adalah langkah-langkah dalam melakukan hidroterapi: 1. Siapkan bak mandi yang telah dibersihkan kemudian isi dengan salah satu jenis larutan antiseptik, contohnya larutan salin fisiologis. 2. Siram atau semprot daerah luka bakar klien selama maksimal 30 menit untuk mendapatkan hasil yang optimal dan

3.

mengurangi risiko kehilangan natrium. Untuk mencegah kontaminasi, bak mandi yang telah selesai digunakan harus selalu dibersihkan.

Sebagai catatan, pasien dengan kondisi hemodinamik yang tidak stabil tidak diperkenankan untuk mendapatkan perawatan dengan teknik hidroterapi. Setelah luka dicuci, perawat dapat melakukan debridemen, yaitu teknik menyingkirkan jaringan mati dari luka. Hal ini dilakukan untuk mencegah proliferasi bakteri sehingga luka menjadi cepat sembuh. Debridemen dilakukan setelah herlien/MA pembersihan luka agar jaringan mati pada luka lebih lunak dan mudah diangkat. Perawatan harian selanjutnya adalah pemberian antimikroba topikal yang biasanya melibatkan tindakan kolaborasi dengan dokter. Obat-obatan antimikroba tersebut diberikan satu atau dua kali sehari bergantung pada pembersihan, debridemen, dan inspeksi luka. Tidak ada obat tunggal yang digunakan secara umum, oleh karena itu pemberian antimikroba ini disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan pasien.

Langkah penanganan selanjutnya dapat menggunakan teknik balutan terbuka ataupun tertutup. Untuk metode terbuka, luka yang telah diberikan krim antimikroba dibiarkan terbuka tanpa balutan kain kasa. Sementara luka bakar dengan metode tertutup dilakukan menggunakan balutan kain kasa yang telah diresapi dengan krim antimikroba dan ditempelkan pada luka. Jika luka bakar terdapat pada daerah ekstremitas, kain kasa harus dibungkus dari bagian ekstremitas yang paling distal ke arah proksimal untuk mencegah gangguan sirkulasi. Perawatan luka harian pada klien yang mengalami luka bakar dapat dilakukan pada fase akut, yaitu sekitar 48â&#x20AC;&#x201C;72 jam setelah cedera. Bentuk perawatan luka yang diberikan meliputi pembersihan luka, debridemen, pemberian antimikroba topikal, dan pembalutan. Seluruh perawatan luka yang diberikan harus mempertimbangkan kondisi luka dan respons pasien agar penyembuhan dapat berlangsung secara optimal. hiradipta

PENAWARAN JASA Media Aesculapius selalu setia membantu Anda dalam hal jurnalistik dan sastra. Kami menyediakan jasa: 1.

2.

Terjemahan Kami menyediakan jasa terjemahan Indonesia-Inggris/ Inggris-Indonesia untuk jurnal dan textbook. Harga disesuaikan dengan materi dan waktu pengerjaan. Info lebih lanjut, hubungi: Faya Nuralda (087821989049)

Media partner Ingin acara Anda terpublikasi secara luas? Kami menyediakan jasa media partner untuk acara Anda. Info lebih lanjut, hubungi: Rahma Maulidina (081567850057)

3.

Ingin punya KSK IVmu sendiri? Dapatkan KSK IV di toko buku kesayangan Anda! Harga KSK IV (2 jilid): Rp 240.000,00* *harga tergantung masing-masing toko buku

Info lebih lanjut, hubungi: Indah Lestari (081807485400)


42

Ilmiah Populer

SEPTEMBER-OKTOBER 2015

MEDIA

AESCULAPIUS

IPTEK

Transplantasi Feses sebagai Penyelamat Pasien InfeksiClostridium difficile Ketika feses tidak lagi menjadi hal yang dibuang dan dijauhi.

B

elum akrab dengan istilah fecal microbiota transplantation (FMT)? FMT adalah suatu prosedur transplantasi suspensi feses sehat ke saluran gastrointestinal (GI) pasien. Prosedur ini memang belum banyak dikenal di Indonesia, namun ternyata sudah banyak dilakukan di beberapa negara di dunia. Walaupun baru beberapa tahun ini naik daun, FMT sudah ratusan tahun lalu dilakukan pada hewan. Pada manusia sendiri biasanya prosedur ini dilakukan pada penderita infeksi Clostridium difficile (ICD). ICD tepatnya disebabkan oleh enterotoksin maupun sitotoksin C. difficile yang mengakibatkan inflamasi pada mukosa usus. Akibatnya, terjadi diare. Tatalaksana ICD pada umumnya adalah pemberian metronidazol atau vankomisin. Akan tetapi, pada beberapa kasus, pemberian antibiotik ini bukannya menyembuhkan pasien, malah memperparah diare. Fenomena ini disebut dengan antibiotic associated diarrhea (AAD). Pada penelitian lebih lanjut, fenomena tersebut rupanya disebabkan oleh turunnya kolonisasi flora normal pada mukosa usus sehingga menyebabkan peningkatan

kolonisasi C. difficile yang memperberat diare. Setelah mendapat pengobatan, beberapa faktor risiko, seperti usia, penyakit komorbid, dan rawat inap di rumah sakit dapat menyebabkan rekurensi. Sekali terjadi rekurensi, maka risiko untuk kembali mengalami rekurensi bisa mencapai 65%. ICD rekuren bahkan jauh lebih sulit ditangani menggunakan antibiotik. Hal inilah yang mendorong peneliti untuk mengembangkan tatalaksana baru yang lebih efektif untuk mengatasi ICD maupun ICD rekuren. Feses memang identik dengan hal kotor seperti sisa metabolisme dan farah/MA bakteri. Akan tetapi, justru bakteri pada feseslah yang akan mengganti flora normal yang hilang setelah pemberian antibiotik. Peningkatan jumlah flora normal akan mengimbangi kolonisasi berlebihan C. difficile sehingga timbul kompetisi yang mengurangi kolonisasi C. difficile. Teori lain menyatakan bahwa

bakteri pada feses akan memicu sistem imun sehingga memfasilitasi perlawanan terhadap C. difficile. Hasil follow-up jangka panjang pada populasi pasien ICD dengan FMT menunjukkan tingkat kesembuhan mencapai 98%, sedangkan pemberian antibiotik ternyata memberikan efikasi yang lebih kecil. FMT diindikasikan pada penderita ICD dengan rekurensi minimal tiga episode ringan hingga sedang yang gagal diatasi dengan vankomisin atau ICD dengan rekurensi minimal dua kali yang menyebabkan penderita harus dirawat di rumah sakit. Tidak seperti transplantasi organ, transplantasi feses tidak memerlukan kecocokan antara donor dan resipien. Meskipun begitu donor feses juga harus memenuhi beberapa kriteria skrining donor seperti feses harus bebas dari ova dan

parasit serta toksin C. difficile, bebas narkoba, tidak menggunakan tindik atau tato dalam minimal enam bulan, dan tidak sedang menderita penyakit autoimun atau penyakit kronis. Tidak hanya donor, resipien juga harus menjalani prosedur tertentu sebelum FMT seperti puasa antibiotik minimal satu sampai tiga hari sebelum FMT dan prosedur pembersihan usus. Ada tiga cara transplantasi feses, yaitu melalui jalur nasoduodenal, transkolonoskopi, dan enema. Transplantasi melalui jalur nasoduodenal menggunakan bantuan nasogastric tube (NGT). Cara ini banyak digunakan pada pasien pediatri dan pasien dengan penyakit komorbid pada saluran GI bawah, namun kurang disukai karena beberapa pasien merasa jijik dengan sehingga komplikasi yang umum dijumpai adalah muntah. Cara kedua menggunakan bantuan kolonoskopi. Keuntungannya adalah penilaian status mukosa dapat dilakukan bersamaan dengan transplantasi, namun karena menggunakan alat, maka proses transplantasi berjalan cukup lama. Cara ketiga memiliki keuntungan lebih efektif, murah dan aman. shierly

ADVERTORIAL

ARC Vibrating Pen

Bantu Atasi Tremor Parkinson Dengan desain ergonomis dan dilengkapi teknologi kedokteran yang maju, inisiasi proyek ini memberikan kemudahan bagi penderita Parkinson.

P

enyakit Parkinson merupakan gangguan pada sistem motorik yang diakibatkan oleh hilangnya kemampuan sel otak untuk memproduksi neurotransmiter dopamin. Salah satu fungsi dopamin adalah sebagai pengontrol gerakan. Defisiensi dopamin ini berefek pada berkurangnya kemampuan tubuh untuk mengatur otot sehingga gerakan penderita Parkinson menjadi tidak terkendali. Pada awal munculnya penyakit Parkinson, pasien biasanya mengalami tremor pada beberapa bagian tubuhnya seperti tangan dan kaki. Oleh karena Parkinson bersifat kronis dan progresif, tremor yang terjadi semakin lama semakin tidak terkendali. Oleh sebab itu, pasien Parkinson seringkali mendapatkan kesulitan dalam melakukan aktivitasnya sehari-hari, termasuk menulis. Jika seorang pasien Parkinson mencoba untuk menulis, huruf-huruf dalam tulisannya tidak dapat dipertahankan ukurannya. Artinya, lama-kelamaan tulisannya menjadi terlalu kecil dan berantakan untuk dibaca. Perbedaan ukuran ini dapat dibandingkan antara huruf di awal dengan akhir paragraf dari hasil tulisan tangannya. Fenomena ini disebut dengan mikrografia, terjadi akibat kram pada otot-otot penggerak tangan. Dilatarbelakangi fenomena tersebut beserta keinginan untuk melengkapi kebutuhan para pasien Parkinson, diciptakanlah sebuah alat baru dalam dunia kedokteran dan kesehatan, yaitu ARC Vibrating Pen. Pulpen ini dilengkapi dengan fitur getar yang dapat diatur frekuensinya

sehingga bisa memfasilitasi pasien peningkatan-peningkatan dalam beberapa Parkinson untuk mengendalikan tremor hal, seperti desain pulpen wedge-shaped pada tangannya ketika menulis. Dengan agar lebih nyaman untuk digenggam dan menggunakan pulpen ini, pasien Parkinson penambahan tidak hanya dapat kembali menghasilkan tombol kontrol tulisan yang â&#x20AC;&#x2DC;dapat dibacaâ&#x20AC;&#x2122;, namun juga tidak perlu memaksakan diri untuk mengeluarkan usaha berlebihan saat menggerakan tangannya di atas kertas. Alat ini diciptakan oleh seorang desainer berumur 27 tahun yang didiagnosis menderita tumor otak. Setelah sembuh dari penyakitnya tersebut, ia merasa terpanggil untuk meningkatkan kualitas hidup penderita penyakit kronis dan progresif. Bersama tiga orang mahasiswa Inggris, pengembangan alat ini pun dilakukan bersama dengan ahli neurologi yang memang memiliki spesialisasi dalam penanganan penyakit Parkinson, tremor, dan gangguan motorik lainnya. Tidak hanya itu, proyek ini juga dibantu oleh seorang ahli biomekatronika yang mengerti dunia robotik dan ilmu saraf. Alat ini telah diuji coba pada 14 orang dengan gejala mikrografia dan membawa hasil berupa peningkatan A a/M keterampilan dan kemampuan ity d a menulis sebanyak 86%. Dengan menggunakan pulpen ini, tulisan tangan pasien Parkinson menjadi lebih besar, stabil, dan dapat terbaca oleh orang lain. Melihat hasil positif yang dibawanya, para perancang ARC Vibrating Pen kemudian melakukan

frekuensi getaran yang dapat disesuaikan dengan penggunanya. Amplitudo getaran pulpen tersebut rendah untuk membantu penggunanya menulis dengan jelas dan stabil. Getaran yang dihasilkan pulpen membantu penderita Parkinson untuk mengontrol otot motorik tangannya sendiri. Selain itu, pulpen ini juga dilengkapi dengan docking station yang sekaligus dapat menjadi tempat mengisi suplai baterai. Dengan desain yang ergonomis, penderita penyakit Parkinson tidak lagi kesulitan untuk memegang pulpen saat menulis. Kesulitan ini umumnya dapat mereka rasakan ketika menggunakan pulpen biasa karena bentuknya yang sangat tipis sehingga tidak cocok untuk menghasilkan genggaman yang stabil. Ke depannya, apabila ARC Vibrating Pen dapat membawa harapan baru bagi penderita penyakit Parkinson dan terus mendapat respons positif, para pengembangnya juga berencana untuk merancang alatalat baru yang dapat membantu para penderita penyakit Parkinson dalam menjalani kegiatan sehari-hari, seperti sikat gigi dan mouse komputer. irmapriyadi


MEDIA

AESCULAPIUS

ARTIKEL BEBAS

Ilmiah Populer JULI

SEPTEMBER-OKTOBER 2015

EBM

Systematic Review:

“Saya Mati Tujuh Jam Lalu” “Dari rigor mortis dan livor mortis, waktu kematian diperkirakan 7 atau 8 jam yang lalu, kira-kira pukul 02.00 atau 03.00...” -Ai Haibara

K

utipan di atas diambil dari salah satu kasus dari komik ternama Detektif Conan oleh Aoyama Gosho. Pembaca setia komik ini pasti banyak mendapati istilah-istilah tersebut dilontarkan baik oleh si detektif maupun petugas forensik di sepanjang edisi Detektif Conan. Bagaimana istilah-istilah tersebut dapat menentukan waktu kematian? Semudah itukah pada kenyataannya bagi patologis forensik dalam menentukan waktu kematian? Setidaknya ada tiga hal yang dapat menentukan waktu kematian, salah satunya livor mortis. Livor mortis adalah perubahan warna kulit menjadi ungu kemerahan pascakematian (post-mortem). Warna hijau juga bisa tampak karena degradasi hemoglobin menjadi sulfhemoglobin. Transformasi warna kulit timbul akibat sistem sirkulasi darah berhenti sehingga darah terakumulasi ke pembuluh darah superfisial suatu area tubuh. Contoh livor mortis adalah apabila mayat dibiarkan pada posisi tidur, maka akan terbentuk daerah berwarna merah pada punggungnya. Sementara itu, daerah punggung yang menempel pada bidang baring pasien akan berwarna putih pucat karena pembuluh darah mendapat penekanan (pressure pallor). Penekanan bisa disebabkan oleh pakaian yang ketat, permukaan tidak rata pada bidang baring, atau tonjolan ke arah tubuh mayat. Proses livor mortis dimulai 20–120 menit setelah kematian, lalu warnanya akan menetap setelah 10–12 jam. Oleh karena pembentukan warna ini bersifat progresif dan darah tidak membeku setelah kematian, jika masih ada darah yang belum terfiksasi setelah rentang waktu tersebut, maka bisa saja terbentuk livor mortis di daerah lain. Keunikan inilah yang membuat livor mortis sering digunakan untuk menentukan waktu kematian dan mengetahui kemungkinan mayat sudah dipindahkan dari tempat kejadian perkara (TKP) yang asli. Kedua, rigor mortis atau kekakuan pascakematian. Pada keadaan hidup, gerakan otot rangka manusia dibantu oleh protein aktin dan miosin. Kontraksi otot ditandai dengan interaksi antara permukaan protein aktin dan miosin, sementara relaksasi otot dipengaruhi protein lain, yaitu troponin yang menghalangi interaksi aktin dan miosin. ATP

SEGAR

5

(adenosine triphosphate) dibutuhkan untuk mengeluarkan ion Ca2+ dari reservoir-nya sehingga Ca2+ dapat mengangkat troponin dari aktin, berujung pada interaksi aktinmiosin. Beberapa jam pascakematian, deplesi glikogen terjadi pada mayat sehingga ATP tidak lagi terbentuk. Kekurangan ATP membuat otot tidak dapat berelaksasi sehingga akan terkesan “kaku” dalam posisi tertentu. Rigor mortis mulai terjadi pada 3–6 jam pascakematian, dimulai dari sendi kecil, seperti sendi temporomandibular, kemudian berlanjut ke sendi besar, misalnya siku dan lutut.

setelah kematian. Angka 1,5 menunjukkan bahwa dalam keadaan normal, mulai jam pertama sampai enam jam setelah kematian terjadi penurunan suhu sebesar 1,5°C. Dibandingkan penurunan suhu setelah enam jam, penurunan ini tergolong cukup lambat karena diperkirakan masih terjadi metabolisme anaerob atau insulasi dari jaringan untuk mengurangi kehilangan kalor. Oleh karena sangat dipengaruhi oleh suhu lingkungan dan hitungan waktu setelah kematian, algor mortis sebaiknya digunakan bila kematian diperkirakan belum lama terjadi. Walaupun kurang akurat, isi lambung juga bisa digunakan untuk memperkirakan waktu kematian. Makanan ringan biasanya dicerna dalam 30–60 menit, sedangkan makanan berat dalam waktu enam jam. Dengan melihat isi lambung jenazah, makanan terakhir yang dimakan dapat diketahui sehingga waktu kematian dapat diperkirakan secara kasar. Selain isi lambung, proses autolisis yang terjadi pascakematian juga dapat digunakan sebagai penentu waktu kematian. Pada 3–4 jam pascakematian, biasanya kornea mayat akan terlihat berawan. Perubahan tampilan kornea akan lebih parah pada korban kebakaran. Autolisis juga bisa terjadi pada kulit, misalnya pengelupasan kulit. Pada kondisi hangat, pengelupasan kulit bisa terjadi setengah jam pascakematian. Frase Latin “mortui vivos docent” (yang mati mengajari yang hidup) mengajarkan pentingnya penentuan waktu kematian demi penyusunan urutan kejadian sebelum kematian. Walaupun tidak dapat ditentukan secara pasti, penggunaan cara di atas setidaknya dapat menentukan rentang waktu kematian. Penentuan perkiraan waktu kematian juga tidak dapat diputuskan oleh sembarang orang karena keahlian dan pengalaman turut berperan dalam pemilihan metode yang tepat sehingga waktu kematian dapat ditentukan secara akurat. shierly

gaby/MA

Kekakuan terbesar terdapat pada daerah yang didukung oleh otototot besar, seperti lutut. Kekakuan terus berlangsung selama 36 jam. Setelah itu, protein-protein pada otot akan terdenaturasi sehingga kekakuan otot hilang. Sayangnya, rigor mortis dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya suhu lingkungan, suhu internal tubuh, dan aktivitas sebelum kematian. Sebagai contoh, pada kematian yang terjadi saat korban sedang demam akibat infeksi, rigor mortis-nya akan muncul lebih cepat dan berlangsung lebih singkat (<36 jam) pula. Suhu merupakan indikator ketiga waktu kematian. Algor mortis adalah perubahan suhu setelah kematian ke arah suhu lingkungan. Pengambilan suhu terbaik dilakukan pada bagian dalam tubuh (suhu internal) yang biasanya diambil dari rektum atau hati. Metode baru yang paling akurat adalah menggunakan termometer inframerah untuk mengukur suhu dari canalis auditorius eksterna, kemudian hasilnya digabungkan dengan evaluasi otak dari nomogram Henssge. Rumus algor mortis adalah 37,5°C−1,5(n), dengan “n” menunjukkan jam

Sepintas Canda

Lagi-lagi Uang Istri (I): “Dok, Saya ingin tuntut dokter! Dokter ini sudah melakukan malpraktik terhadap suami saya! Keluhan suami saya kemarin kan hanya gatal-gatal, masa setelah minum obat dari dokter suami saya langsung meninggal?!“ D: “Hah? Yang kemarin saya kasih ke suami ibu kan obat nyamuk. Suami ibu gatal-gatal karena digigit nyamuk. Harusnya obat itu disemprot!” I: (pingsan)

Orang Jakarta: “Apakah kamu tahu? Tukang ojek di Jakarta dapat memperoleh uang sebesar 9 juta rupiah dalam sebulan!” Orang Daerah: “Apakah kamu tahu? Dokter di daerah dapat memperoleh…. Ah, Lupakan!” Pentingnya Komunikasi Ada seorang pasien datang berobat dengan keluhan gatal-gatal. Pasien (P): “Dok, badan saya gatal-gatal semua dok!” Dokter (D): “Oh, coba sini saya lihat.” P: “Bagaimana, Dok?” D: “Hmm, ini hanya gatal biasa. saya berikan obatnya.” P: “Terima kasih banyak, Dok.” Keesokan harinya sang istri pasien datang menghampiri dokter

Tidak Masuk Akal

Ini

anyta/MA

Pasien: “Dok, saya tidak bisa buang air kecil, Dok.” Dokter: “Sejak kapan, Pak?” Pasien: “Sejak kecil, saya tidak tahu caranya.” Dokter: “……” tommy

Keamanan Penggunaan Terapi Statin pada Pasien

D

ewasa ini, terapi antiretroviral (ARV) telah menjadi pilihan utama pada pasien HIV. Penggunaan terapi ini banyak meningkatkan kesintasan pada pasien HIV karena dapat mengurangi viral load serta mengurangi morbiditas terkait HIV. Akan tetapi, pemberian ARV ini secara tidak langsung menyebabkan morbiditas baru, yaitu penyakit tidak terkait HIV, seperti penyakit jantung. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pasien HIV memiliki risiko lebih tinggi dua kali lipat mengalami infark miokardium. Beberapa faktor ditengarai sebagai penyebab terjadinya infark miokardium meliputi inflamasi kronik, disfungsi endotel, ataupun efek samping aterosklerosis dari ARV. Meski banyak digunakan untuk mengatasi dislipidemia, statin belum banyak diberikan pada pasien HIV. Hal ini disebabkan karena adanya kekhawatiran interaksi statin dengan ARV sehingga dilakukan systematic review mengenai evaluasi pemberian statin pada HIV. Sebanyak 33 penelitian yang berhubungan dengan ARV, HIV, dan statin didapatkan melalui pencarian tingkat lanjut. Penelitian yang tidak berhubungan kemudian dieksklusi sehingga hanya tersisa 18 artikel yang besar sampelnya bervariasi, mulai dari 12 hingga 301 orang. Didapatkan bahwa atorvastatin, pravastatin, dan rosuvastatin cukup aman dikombinasikan bersama ARV. Sebanyak tiga penelitian membuktikan bahwa pravastatin tidak menimbulkan efek signifikan pada pasien yang menggunakan ARV. Penelitian lain juga menunjukkan hal yang sama pada atorvastatin dan rosuvastatin. Selain memiliki keamanan untuk dikonsumsi, ketiga jenis statin tersebut juga berefek signifikan terhadap dislipidemia pada pasien HIV. Didapatkan bahwa terjadi penurunan kadar LDL masing-masing sebesar 20%, 25%, dan 18% pada atorvastatin, rosuvastatin, dan pravastatin. Selain itu, ketiga statin tersebut menunjukkan penurunan efek subklinis pada pasien jantung yang juga terinfeksi HIV dengan cara menurunkan kadar ApoB dan rasio ApoB/A1. Akan tetapi, seluruh jenis statin tidak memiliki efek terhadap kadar viremia serta jumlah CD4. Meskipun terdapat beberapa jenis statin yang terbukti aman dan bermanfaat untuk mencegah penyakit jantung pada pasien HIV, beberapa statin dikontraindikasikan bagi pengguna ARV seperti simvastatin yang memiliki toksisitas yang tinggi apabila digabungkan dengan ARV golongan PI akibat kadar sistemiknya yang akan meningkat apabila digabungkan. Hingga saat ini, belum ada penelitian dengan skala yang cukup besar untuk meneliti efek statin pada HIV. Akan tetapi, dengan meningkatnya angka penyakit jantung pada HIV, penggunaan statin perlu dipertimbangkan mengingat telah ada data yang menunjukkan bahwa atorvastatin, rosuvastatin, dan pravastatin terbukti bermanfaat untuk mencegah penyakit jantung pada pasien terinfeksi HIV. jimmy Referensi: Feinstein MJ, Achenbach CJ, Stone NJ, Jones DML. A systematic review of the usefulness


62

SEPTEMBER-OKTOBER 2015

OPINI & HUMANIORA

MEDIA

AESCULAPIUS

SUKA DUKA

dr. Natalia Widiasih Raharjanti, SpKJ(K), MPdKed: Bersikap Positif Hadapi Tantangan Hidup Tidak ada hal dalam hidup ini yang terjadi tanpa alasan, termasuk jalan hidup sebagai dokter psikiatri yang awalnya tidak direncanakan.

S

ejak kecil, cita-cita bungsu dari tiga bersaudara ini adalah menjadi seorang guru. Akan tetapi, impian tersebut berbenturan dengan keinginan orang tua yang menghendakinya menjadi dokter. Tidak punya pilihan lantaran kendala biaya, orang tua Natalia mewajibkannya untuk masuk fakultas kedokteran negeri. Melalui jalur UMPTN, perempuan yang semasa sekolah selalu menjadi juara kelas ini pun resmi menjadi mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Saat menjadi mahasiswa, Natalia merupakan pribadi yang kurang percaya diri. “Dulu,saya tidak pernah merasa diri saya punya kelebihan, minder pokoknya. Biasanya kalau diberi kepercayaan, saya langsung bilang tidak terlebih dahulu.” ungkapnya. Setelah lulus dari FKUI, Natalia berencana mengambil pendidikan spesialis. Saat itu, dua pilihan yang diminatinya adalah spesialis kandungan dan kedokteran jiwa. Karena tidak ingin membebani orang tua, Natalia menabung dari penghasilannya sebagai dokter umum untuk membiayai pendidikan spesialisnya. Tidak hanya itu, Natalia pun gigih mencari tambahan penghasilan dengan berjualan kerajinan eceng gondok buatan tetangganya. “Justru dari jualan-jualan itu saya dapat penghasilan banyak,” kenangnya sembari tertawa. Setelah uang yang terkumpul dirasa

cukup, Natalia mengikuti serangkaian ujian masuk pendidikan spesialis di FKUI. Namun, takdir hanya mengizinkannya lolos pilihan kedua, yakni kedokteran jiwa. Meskipun sempat kecewa, Natalia tetap berusaha positif menerimanya. “Saya tipe orang yang istilahnya di tempatkan di mana saja akan hidup, jadi saya berusaha menjalani saja. Karena saya akan berusaha mencari apa yang bisa saya sukai,” terangnya. Perjalanan Menemukan Jati Diri Bagi lulusan terbaik Magister Pendidikan Kedokteran FKUI tahun 2011 ini, banyak terjadi perubahan dalam hidupnya ketika sedang menjalani pendidikan spesialis. Pengalamannya berinteraksi dengan banyak orang dan pelajaran yang didapatkannya membuat Natalia merasa menemukan jati diri yang sebenarnya hingga membawanya menjadi pribadi yang lebih percaya diri. Kecintaan Natalia pada profesinya dimulai pada saat dirinya telah menjadi dokter. Impian masa kecil sebagai guru terwujud dalam perannya memberikan edukasi dan informasi kepada pasien. Ada kebahagiaan yang tidak terbayarkan bagi perempuan kelahiran Jakarta ini jika melihat pasien yang ditanganinya sembuh. “Bayaran dokter terbesar adalah ketika dia bisa melihat pasien mampu mengatasi gangguannya,” ujar Natalia.

Memetik Hikmah dari Profesi Berprofesi sebagai psikiater membuat Natalia berlatih memaknai suatu masalah, sehingga tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa depan. “Sebenarnya guru kita adalah pasien-pasien kita,” ujarnya. Peran psikiater tidak terbatas hanya pada diagnosis dan pemberian obat. Tugas psikiater membantu pasien kembali ke fungsi optimal menjadi tantangan tersendiri bagi Natalia. Sebab, komponen penting dari pengobatan gangguan jiwa adalah modifikasi lingkungan, termasuk keluarga. Rasa kemanusiaannya sebagai dokter diuji pada banyak kasus pasien gangguan jiwa yang ditelantarkan oleh keluarga. Natalia pun secara sukarela mengeluarkan uang pribadinya untuk memberikan obat bagi pasiennya karena tidak bisa mengandalkan bantuan dari rumah sakit. “Dengan kita membantu orang, pada akhirnya kita akan ditolong orang lain,” ujar Natalia mantap. Natalia selalu berprinsip bahwa hidup pasti akan berubah. Meskipun kadang hidup tidak berjalan sesuai kehendak, ia percaya bahwa kesulitan bukanlah akhir dari segalanya. Baginya yang terpenting adalah untuk tidak pernah berhenti, tetap berusaha serta, “Do all with your heart,” pesannya kepada dokter Indonesia saat menutup perbincangan. rifka

Nama Lengkap: dr. Natalia Widiasih Raharjanti, SpKJ(K), M.PdKed Tempat dan Tanggal Lahir: Jakarta, 9 Desember 1973 Riwayat Pekerjaan : • Ketua PPDS Ilmu Kedokteran Jiwa FKUI (2013-saat ini) • Ketua Divisi Psikiatri Forensik di Dept. Psikiatri Forensik FKUI (2008-saat ini) • Staf Pengajar program pendidikan dokter umum dan Spesialis Ilmu Kedokteran Jiwa di FKUI (2007-saat ini) Riwayat Pendidikan: • Program Brevet on Psychotherapy, Fakultas Psikologi Universitas Padjajaran bekerja sama dengan Rhino Belanda (2008-2012) • Program Magister Pendidikan Kedokteran FKUI (2010-2011) • Program Pendidikan Dokter Spesialis-I Ilmu Kedokteran Jiwa, FKUI (2002-2006) • Program Pendidikan Dokter Umum, FKUI (1993-1996) Karya Ilmiah: • Association of rs1344706 in the ZNF804A gene with schizophrenia in a case/control sample from Indonesia (2013) • Buku ajar Psikiatri FKUI (2012) • Preliminary Report on Mental Health Survey in DI Yogyakarta and Central Java after the Earthquake (2006)

RESENSI

Kala Kemelut Sistem Layanan Kesehatan Berujung Jalan Buntu

internet

Terbentur kesana kemari oleh sistem kesehatan yang ‘katanya’ dibuat untuk kemaslahatan masyarakat. Terdengar familiar?

Judul : John Q Genre : Drama, Thriller Tahun Rilis : 2002 Aktor : Denzel Washington, Daniel E. Smith, Robert Duvall, James Woods, Anne Heche, Kimberly Elise, Ray Liotta, Eddie Griffin Sutradara : Nick Cassavete

T

idak meratanya pelayanan kesehatan bagi si miskin dan si kaya ternyata bukan masalah di negara berkembang saja. Negara adidaya seperti Amerika Serikat sekalipun masih berkutat dengan masalah pemerataan jaminan kesehatan untuk rakyatnya. Problematika berskala negara ini

diangkat dan dikemas secara dramatis dalam film John Q. John Q mengisahkan sebuah keluarga miskin di Amerika yang terdiri atas suami, istri, serta seorang anak lelaki. Bintang papan atas Denzel Washington berakting sebagai tokoh utama, John Quincy Archibald, suami

sekaligus ayah yang hangat dan penyayang. Ia bekerja 20 jam per hari sebagai buruh pabrik, namun penghasilannya tetap tidak cukup untuk mengatasi masalah finansial keluarga yang kian hari kian menumpuk sementara istrinya, Denise, hanya pegawai supermarket. Cerita diawali saat sang anak, Mike, jatuh pingsan ketika bermain baseball. Sesampainya di rumah sakit, John dan Denise kemudian diberi tahu berita mengejutkan, Mike menderita gagal jantung kongestif dan satu-satunya jalan untuk menyembuhkannya hanya dengan transplantasi jantung. Keadaan diperburuk dengan pemberitahuan bahwa tindakan transplantasi jantung tidak dibiayai oleh asuransi kesehatan sementara rincian biaya transplantasi jantung yang harus dibayar mencapai $250.000. Bahkan, sekedar untuk dapat memasukkan nama anaknya ke dalam daftar resipien organ, John harus menyiapkan uang muka sebesar $75.000 kepada pihak rumah sakit. Ketegangan yang muncul di paruh film diawali oleh tekad John untuk menyelamatkan nyawa sang anak. Sadar akan beban biaya yang begitu besar, John pin menjual barang-barangnya miliknya, mencari donasi, hingga mencoba jalur advokasi pada pihak asuransi. Namun demikian, uang yang terkumpul dari beragam upaya tersebut hanya cukup untuk membayar separuh dari total biaya pengobatan. Terbutakan oleh

keputusasaan, John kemudian menyandera sejumlah orang dalam ruang gawat darurat rumah sakit tempat anaknya dirawat. John menuntut untuk menukarkan total sebelas sandera yang terdiri dari beberapa pasien, perawat, serta dokter jantung anaknya dengan jaminan nama anaknya dimasukkan dalam daftar resipien. Film ini dapat membuka mata penonton perihal masih lemahnya sistem pelayanan kesehatan di Amerika. Masih banyak pula rumah sakit yang orientasinya bukan pada kesembuhan pasien, melainkan pada seberapa banyak keuntungan yang bisa diperoleh. Tokoh John Quincy diperankan Denzel dengan sangat baik hingga yang menyaksikan juga turut merasakan kesedihan yang dialami John. Meskipun cerita dalam film ini merupakan fiksi, apa yang terjadi pada keluarga John dapat terjadi pada siapa saja. Film ini memberi pesan bahwa untuk mendapatkan status kesehatan yang lebih baik, semestinya sistem layanan kesehatan tidak membebani pasien dengan rentetan prosedur administrasi yang sulit. Semestinya, tidak ada pula kesenjangan pelayanan kesehatan antara orang kaya dan miskin. Kendatipun memiliki alur yang konvensional dan mudah ditebak, film ini patut ditonton karena menyuguhkan nilai-nilai yang penting untuk diketahui. dipta


MEDIA

Liputan

AESCULAPIUS

JULI

SEPTEMBER-OKTOBER 2015

7

SEPUTAR KITA

Mutasi Gen BCR-Abl Hambat MMR pada LGK

D

Pengobatan leukemia sebagai salah satu penyakit katastropik ternyata telah melalui penelitian yang pelik. Berbagai penelitian telah diinisiasi untuk mengurangi angka morbiditas dan mortalitas yang diakibatkannya.

ilatarbelakangi oleh tingginya insidens leukemia granulositik kronik (LGK) di berbagai belahan dunia serta masih terdapatnya kelemahan pada aspek terapi penyembuhan sebelumnya, sebuah penelitian berjudul “Peran Mutasi Gen BCR-Abl Pada Perjalanan Klinis Pasien Leukemia Granulositik Kronik (LGK): Kaitannya dengan Aspek Terapi Imatinib Mesylate (IM)” dilaksanakan dengan tujuan untuk membuktikan kaitan antara mutasi gen BCR-Abl dan beberapa faktor prediksi lain dengan hasil pengobatan IM pasien LGK di Indonesia. Penelitian yang dilakukan oleh Dr. dr. Hilman Tadjoedin, SpPD-KHOM ini berjalan sejak 1 September 2009 dan telah mendapatkan pengakuannya dalam acara Sidang Promosi Doktor FKUI pada Kamis, 9 Juli 2015. Acara yang digelar di Ruang SAF FKUI Salemba ini dihadiri oleh Prof. Dr. dr. Sarwono Waspadji, SpPD-KEMD sebagai Ketua Tim Penguji yang akan mengesahkan gelar doktor bagi peneliti. Dalam sesi presentasi oleh peneliti, Hilman menjelaskan latar belakang penelitian, kondisi saat ini dan hasil studi literatur yang telah dilakukan, metode penelitian, serta hasil yang didapatkan. LGK merupakan kanker darah yang paling sering ditemukan di dunia, tak

irmapriyadi/MA

terkecuali Indonesia. Lebih dari 50% penyakit kanker, termasuk leukemia, biasanya diikuti atau didahului oleh penyakit lainnya terutama kelainan kardiovaskular, otak, diabetes, asma, paru, dan ginjal. Eksistensinya sangat kompleks dan tak heran membutuhkan kompetensi, tenaga, dan uang yang besar untuk menaklukan kanker. “Sampai saat ini, belum bisa dipastikan penyebab utama LGK. Dalam penelitian sebelumnya, terdapat 200 pasien LGK dengan riwayat penyakit yang berbeda-beda”, ujar

INFO SPESIALISTIK

Departemen Akupunktur Medik FKUI-RSCM

S

ejak 500 tahun silam, akupunktur telah menjadi metode pengobatan yang terkenal dapat mengobati berbagai kelainan. Pada setiap 30% dari jumlah RS/institusi yang ada, kebutuhan akan dokter spesialis akupunktur medik minimal 1 orang. Dalam rangka memenuhi kebutuhan akan dokter spesialis akupuntur medik, Departemen Akupunktur Medik FKUIRSCM telah menghasilkan 146 orang lulusan dokter spesialis yang bekerja di RS pemerintah maupun swasta. Program studi akupunktur medik telah diselenggarakan oleh FKUI-RSCM sejak 2011 dan Hospital-Based RSCM sejak 1967. Acuan kurikulum yang digunakan berasal dari program spesialis akupunktur di beberapa negara, seperti Meksiko, Brasil, dan Rumania yang telah disesuaikan dengan kondisi di Indonesia. Terdapat sepuluh penyakit terbanyak yang ditangani dengan metode akupunktur, yaitu osteoartritis genu, low back pain, obesitas, hernia nukleus pulposus (HNP), ischialgia, hipertensi, post-stroke, mialgia, cervical syndrome, dan diabetes melitus. Peserta didik harus menyelesaikan 77 SKS yang harus diselesaikan dalam program studi ini dalam waktu minimal tiga tahun atau enam semester. Persyaratan usia calon PPDS akupunktur medik adalah <35 tahun untuk kelas reguler. Bagi calon yang dikirim oleh dinas/instansi pemerintah dan TNI/POLRI, persyaratan usianya adalah 36-40 tahun. Calon PPDS harus

Hilman. “Prevalensi terbanyak pasien yang menderita LGK adalah orang-orang berusia lanjut karena banyak masalah gangguan organ sehingga meningkatkan risiko terkena kanker. Namun, bukan mustahil pada usia muda, kanker dapat menjalari tubuh kita,” tambahnya. Dalam penelitian ini, pengobatan yang diamati bersifat spesifik (terapi target). Preparat yang menjadi bahan penelitian adalah imatinib mesylate (IM). Preparat ini memiliki kemampuan menghambat

aktivitas enzim tirosin kinase protein BCRAbl sehingga dinamakan tirosin kinase inhibitor (TKI). Ukuran keberhasilan terapi menggunakan IM dinilai berdasarkan kriteria European Leukemia Net (ELN), dengan melihat complete hematologic response (CHR) bulan ke3, ke-6 dan ke-12, complete cytogenetic response (CCyr) bulan ke-6 dan/atau ke-12, serta major molecular response (MMR) bulan ke-18. Pada penelitian, ditemukan adanya mutasi pada gen BCR-Abl yang terjadi sebelum pemberian obat pertama kali. Mutasi ini diduga berperan dalam menurunkan kerja IM sehingga keberhasilan pengobatannya belum tinggi. Perbedaan kode gen BCR-Abl menyebabkan protein BCR-Abl mengalami perubahan konformasi dan membuat IM sulit berikatan dengan protein BCR-Abl. Alhasil, pencapaian nilai CHR dan MMR yang diharapkan tidak dapat terpenuhi. Kesimpulan penelitian yang menggunakan desain nested case control ini terletak pada mutasi gen BCR-Abl sebelum pemberian IM yang mengurangi kecenderungan tercapainya MMR bulan ke-18. Tingkat keberhasilan pasien yang tidak mengalami mutasi gen BCR-Abl untuk mencapai MMR bulan ke-18 lebih tinggi. Namun, penelitian ini belum bisa membuktikan adanya hubungan antara mutasi gen BCR-Abl dengan pencapaian CHR. irmapriyadi

Pemerintah dan Lansia...

sambungan dari halaman 1

dibutuhkan tidak hanya peran tenaga medis, melainkan juga peran pendamping sosial dan spiritual. Peran multidisplin ilmu dapat kita lihat dari beragam jenis pelayanan geriatri yang tersedia, di antaranya hospice, perawatan paliatif, serta pendampingan psikis dan agama yang diberikan kepada pasien dengan penyakit terminal. Diterapkannya tim terpadu ini tidak hanya dapat menyediakan pelayanan yang komprehensif, tetapi juga efisien dan tepat sasaran, misalnya pada jenis pelayanan home care, umumnya pendamping sosial yang melakukan kunjungan ke rumah. Laporan hasil kunjungan ini baru nantinya ditindaklanjuti oleh pihak puskesmas atau rumah sakit. Selain menjadi narahubung pasien dan tenaga medis, pendamping sosial juga bertugas memberikan pelayanan pemenuhan kebutuhan dasar lansia, terutama bagi kelompok yang terlantar dan tidak dapat beraktivitas secara mandiri. Di samping itu, pendamping sosial juga memberikan pembinaan parenting skill kepada keluarga, yaitu pemahaman bagaimana cara memberikan perawatan dan pelayanan yang baik kepada lansia. “Keluarga adalah kebahagiaan hakiki bagi lansia,” ujar Titiek. Sebaik-baiknya lingkungan bagi lansia adalah keluarganya. Oleh karena itu, diperlukan penyediaan lingkungan yang suportif, aman, dan nyaman sehingga lansia Indonesia dapat berkembang menjadi individu yang aktif, mandiri, dan produktif di masa tua. jihaan, puspalydia, awang

dinda/MA

memiliki skor TOEFL ≥500 dan nilai IPK ≥2,75. Kemudian, calon PPDS juga harus memenuhi persyaratan administrasi, lulus ujian kesehatan dan psikotes/MMPI. Tak ketinggalan, lulus tes tertulis, OSCE, dan wawancara juga menjadi persyaratan. Saat ini, jumlah PPDS di departemen akupunktur medik FKUI-RSCM adalah 55 orang dengan staf pengajar berjumlah 16 orang. Dalam penelitian untuk mengembangkan metode terapi, departemen ini bekerjasama dengan beberapa departemen terkait, seperti departemen ilmu kesehatan mata, urologi, THT, radioterapi, ilmu penyakit dalam, anestesiologi, geriatri, neuro-onkologi, neuro rehabilitasi, PJT, HCU, kulit-kelamin dan obstetri ginekologi. Untuk meningkatkan kompetensi di bidang akupunktur, tahun ini departemen akupunktur medik FKUI-RSCM berencana untuk mengadakan kerjasama pendidikan dan penelitian dengan universitas lain di luar negeri serta mengirim staf untuk melanjutkan studi program doktoral ke luar negeri. sukma

Saya yang bertandatangan di bawah ini, Nama: Pekerjaan: Alamat Lengkap (untuk pengiriman):

FORMULIR BERLANGGANAN

Telepon/HP: Email: memohon untuk dikirimi Surat Kabar Media Aesculapius selama kurun waktu (beri tanda silang): 1. Enam edisi (GRATIS 1 edisi): Rp18.000,00 2. Dua belas edisi (GRATIS 2 edisi): Rp36.000,00 Biaya kirim ke luar pulau Jawa Rp5.000,00 per enam edisi. Cara pembayaran: 1. Wesel pos ke Redaksi MA FKUI 2. Transfer ke rekening Media Aesculapius di BNI Capem UI Depok No. 0006691592 Mohon untuk menyertakan bukti pembayaran baik bukti transfer maupun fotokopi wesel pos dengan formulir berlangganan ke MA.

( ) Nama Lengkap


82

SEPTEMBER-OKTOBER 2015

Liputan

MEDIA

AESCULAPIUS

SEREMONIA

DEVICE (Dermatovenereology in Everyday Clinical Practice) 2015: Seluk Beluk Penggunaan Obat Kulit

Temu Pemangku Kepentingan Prahara Internship

fatira/MA

aisyah/MA

S

enin, 24 Agustus 2015, Departemen Kajian dan Aksi Strategis (Kastrat) BEM IKM FKUI bekerja sama dengan Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia (ISMKI) mengadakan diskusi publik “Darurat Internship” di Gedung RIK UI Depok. Diskusi ini menghadirkan dr. Daeng M. Faqih, MH. Kes. (Komite Internship Dokter Indonesia), dr. Zaenal Abidin, MH (Ikatan Dokter Indonesia), drg. Yana Yojana (Badan PPDSM Kesehatan), dr. Emil Bachtiar Moerad, SpP (Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia), Dr. dr. Ratna Sitompul, SpM(K) (Dekan FKUI), dan dr. Abdurrahman Hadi (Perwakilan Alumni UKMPPD). tommy

P

ada Sabtu, 1 Agustus 2015 lalu, Panitia Lulusan Dokter (PLD) FKUI 2015 bekerja sama dengan Departemen Kulit dan Kelamin RSCM mengadakan seminar dan workshop “DEVICE (Dermatovenereology in Everyday Clinical Practice)” yang bertempat di Ruang Auditorium RSCM Kirana. Tampak hadir dr. Eliza Miranda, SpKK (kiri), Prof. Dr. dr. Purwantyastuti Ascobat, M.Sc, SpFK (tengah), dan dr. Githa Rahmayunita, SpKK (kanan) sebagai pembicara pada sesi kedua seminar yang membahas penggunaan obat rasional pada penyakit kulit. rifka

SENGGANG

Seimbang dalam Hidup adalah Kunci Kebahagiaan Banyak anggapan bahwa game hanya berdampak buruk bagi seseorang. Nathanne telah berhasil membuktikan sebaliknya.

B

eberapa orang mengenal dr. Nathanne Septhiandi, SpA sebagai “si jenius pecinta game”. Bukan tanpa alasan beberapa orang mengenalnya demikian. Di sela-sela kesehariannya dalam menangani pasien, Nathanne masih menyempatkan diri untuk bermain game di waktu kosongnya. “Keseimbangan dalam dunia kedokteran sangat dibutuhkan. Buat saya, bermain game

jimmy/MA

dapat menjadi pelipur di saat lelah ataupun jenuh belajar,” tutur lelaki yang akrab disapa Nate ini. Dokter memang dikenal dengan kesibukannya dalam menangani pasien serta terus belajar agar tetap dapat mengikuti perkembangan ilmu terbaru. Akan tetapi, tidak melulu waktu seorang dokter hanya diisi dengan pasien dan belajar. Hal itu diungkapkan oleh Nathanne. “Kalau yang

lain saat waktu kosong diisi dengan tidur atau lainnya, saya mengisi waktu dengan bermain game supaya dapat menghilangkan penat belajar,” tutur Nathanne. Lelaki kelahiran tahun 1985 ini mengaku menyukai bermain game sejak kecil. Ia terpengaruh oleh kedua saudara laki-lakinya yang sering mengajaknya bermain game. Anak kedua dari empat bersaudara tersebut mengaku menyukai game sejak tahun ‘90-an hingga saat ini. Meskipun frekuensi bermain game sangat berkurang semenjak Nathanne menginjak dunia kedokteran, ia mengaku masih memainkan beberapa game. “Sekarang sudah tidak sesering dulu, namun beberapa game yang dapat dimainkan di mana saja (lewat smartphone, red) masih sering” ujar Nathanne. Berbagai game telah Nathanne gandrungi sejak kecil, dari Atari dan Nintendo keluaran tahun ‘90-an hingga permainan yang dapat dimainkan lewat smartphone yang populer saat ini. Nathanne mengaku tidak pernah mendapat larangan dari orang tuanya untuk bermain game. “Orang tua tidak pernah melarang karena orang tua sudah percaya saya dapat mengatur waktu,” kenang Nathanne. Nathanne mengenang saat ia sekolah dan kuliah, akhir pekan seringkali ia habiskan hingga larut malam untuk bermain game. Namun, hal tersebut tak lantas membuat Nathanne miskin prestasi. Nathanne merupakan salah satu lulusan terbaik saat kuliah. Ia berhasil lulus dari FKUI

dengan status cum laude, baik saat preklinik maupun klinik. Bahkan, Nathanne sempat meraih indeks prestasi (IP) sempurna yaitu 4,0 saat kuliah. Tidak hanya brilian di bidang akademis, Nathanne juga sangat aktif di bidang organisasi. Ia tercatat pernah menjadi anggota empat organisasi sekaligus saat kuliah. Hal tersebut menjadi prestasi tersendiri bagi Nathanne karena dapat berprestasi sekaligus tetap dapat menjalankan hobinya. Bagi Nathanne, selain untuk rekreasi, game juga dapat menjadi sarana untuk mengenal junior maupun seniornya di kampus. Ia mengaku dapat mengenal juniornya yang berbeda hingga 12 tahun melalui game. “Jadi bisa kenal banyak sejawat melalui game,” ujar Nathanne. Nathanne mengaku bahwa game juga sedikit banyak dapat membantunya dalam kehidupan sehari-harinya saat menangani pasien. “Selain untuk rekreasi, game juga dapat meningkatkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah. Jadi dapat bermanfaat juga,” tuturnya. Nathanne mengaku dengan menyeimbangkan hidupnya antara belajar dan rekreasi sedikit banyak membawanya ke tahapan yang telah ia capai saat ini. Menghindari stres dianggap Nathanne sangat penting untuk menggapai prestasi. “Keseimbangan dalam hidup sungguh membawa kebahagiaan dalam hidup saya,” tutupnya. jimmy

SKMA Edisi September-Oktober 2015  
Advertisement